Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

HUKUM TABARRUK

Marilah kita sekarang meneliti dan membaca kutipan dibawah mengenai dalil-dalil Tabarruk yang telah kami singgung sebelumnya di atas. Ada golongan yang keliru dalam memahami tabarruk pada Rasulallah saw., bekas-bekas peninggalannya, ahlul baitnya dan para pewaris beliau yaitu para ulama dan para waliyullah. Mereka kemudian menganggap setiap orang yang menempuh jalan tersebut berbuat syirik dan sesat. Orang-orang seperti ini berpandangan sempit dan berpikiran pendek dalam menghadapi masalah-masalah tersebut.

Tabarruk berasal dari kata Barakah. Makna atau arti tabarruk ialah mengharapkan keberkahan dari Allah swt. dengan sesuatu yang mulia dalam pandangan Allah swt.. Juga tabarruk ini mempunyai pengertian sama dengan tawassul/istighotsah, yang telah kami kemukakan tadi.
Terkadang Allah swt. menjadikan beberapa benda menjadi sumber berkah agar menjadi sebab untuk mencapai tujuan yang dikehendaki-Nya. Allah swt. juga menginginkan agar manusia mengetahui bahwa terdapat benda-benda, tempat-tempat, waktu-waktu dan pribadi-pribadi yang memiliki kesakralan karena mempunyai kedudukan khusus di mata Allah swt. Sehingga semua itu dapat menjadi sarana Allah swt memberkati orang untuk mencapai ke sembuhan dari penyakit, pengkabulan do’a, pensyafa’atan dalam peng- ampunan dosa dan lain sebagainya.
Tabarruk boleh dilakukan dengan barang-barang, tempat atau orang dengan syarat, sesuatu yang digunakan dalam tabarruk itu mulia dalam pandangan Allah swt. Misalnya pribadi Rasulallah saw., pusaka-pusaka peninggalannya, makamnya dan sebagainya. Tabarruk juga boleh dilakukan dengan pribadi para waliyullah, para ulama dan orang shalih lainnya, termasuk pusaka-pusaka peninggalan mereka dan tempat-tempat pemakamannya atau lain- nya yang juga pernah mereka jamah atau mereka jadikan tempat untuk ber-ibadah dan berdzikir pada Allah swt.
Benda-benda pusaka atau tempat-tempat peninggalan mereka tersebut nilai kemuliaannya bukan karena benda atau ruangan tersebut tapi karena kaitan- nya dengan kemuliaan orang atau pribadi yang pernah memanfaatkan benda dan tempat tersebut dengan bertaqarrub (mendekatkan diri) pada Allah swt. Sehingga pada benda atau tempat tersebut pernah turun rahmat Allah, di jamah atau didatangi malaikat Allah hingga menjadi sarana yang dapat menimbulkan perasaan tenang dan tenteram. Inilah keberkahan yang di minta oleh orang yang bertabarruk dari Allah swt.

Juga syarat lainnya bahwa orang yang bertabarruk harus mempunyai keyakinan penuh, bahwa sarana-sarana (benda atau ruangan) yang dijadikan tabarruk itu tidak dapat mendatangkan manfaat maupun madharat tanpa seizin Allah swt. Sebab semua manfaat dan madharat berada dalam kekuasaan Allah swt. sepenuhnya.

  • Berkah dan Tabarruk dalam al-Quran

Kita sebagai seorang muslim yang meyakini akidah Tauhid pasti meyakini bahwa Allah swt. adalah Pencipta (Khaliq) dan Pengatur (Rab) alam semesta. Dengan kesempurnaan absolut (mutlak) yang Dia miliki, Ia men- ciptakan dan mengatur alam semesta. Segala yang ada di alam semesta ini tiada yang tidak tercipta dari-Nya. Oleh karenanya, tidak satupun yang berada di alam ini pun tidak tergantung kepada-Nya, termasuk dalam kelangsungan eksistensi dan hidupnya. Allah swt Pemilik segala otoritas kesempurnaan.
Dalam al-Quran, penggunaan kata ‘berkah’ sering akan kita jumpai. Sebagaimana dalam pembahasan syafa’at, ilmu ghaib dan sebagainya, secara mendasar dan murni (esensial) berkah dan pemberian berkah hanya berasal milik dan hak priogresif Allah swt. semata. Oleh karenanya, kita jumpai ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah swt. memberikan berkah kepada makhluk-makhluk-Nya. Contoh ayat-ayat yang Allah swt. telah mem- berkati seseorang sehingga berkah itu terdapat pada diri pribadi-pribadi yang di berkati tersebut:

 Berkaitan dengan Nabi Nuh as beserta pengikutnya, Allah swt berfirman: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu…” (QS Hud: 48)

 Berkaitan dengan Nabi Ibrahim as Allah swt berfirman: “Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: “Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya..” (QS an-Naml: 8).

 Berkenaan dengan Nabi Ishak as Allah swt berfirman: “Kami limpahkankeberkatan atasnya dan atas Ishaq…” (QS as-Shaafat: 113).

 Berkenaan dengan Nabi Isa as Allah swt berfirman: “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada…” (QS Maryam: 31).
Sedang ayat-ayat yang menyatakan bahwa ada beberapa tempat yang telah diberikan berkah oleh Allah swt sehingga tempat itu menjadi tempat yang sakral, seperti:

 Allah swt. telah memberi berkah kepada Masjidil Haram di Makkah: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (QS Aali Imran: 98).
 Allah swt telah memberi berkah kepada Masjidil Aqsha di Palestina: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami…” (QS al-Isra’: 1).

 Allah swt telah memberi berkah kepada lembah Aiman: “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah Aiman pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu…” (QS al-Qoshosh: 30).
Dan terkadang yang menjadi obyek berkah Ilahi adalah sesuatu (benda) sampai pada pohon dan waktu. Sebagai contoh:

 Allah swt. telah memberikan berkah kepada al-Qur’an: “Dan Al-Qur’an itu adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS al-An’am: 155).

 Allah swt telah memberikan berkah kepada pohon zaitun: “Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya)…” (QS an-Nur: 35).

 Allah swt telah memberkahi air hujan: “Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkati lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam” (QS Qof: 9).

 Allah swt telah memberkati waktu malam dimana al-Qur’an turun (lailatul Qadar): “ Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi..” (QS ad-Dukhon: 3).

Setelah mengetahui obyek-obyek berkah Ilahi maka mungkin saja timbul pertanyaan; bagaimana para umat terdahulu, apakah mereka juga mengambil berkah? Allah swt. dalam al-Qur’an menjelaskan hal tersebut seperti yang dicantumkan dalam ayat-ayat berikut:

 Dalam surat al-Baqarah ayat 248 Allah swt telah mengisahkan tentang pengambilan berkah Bani Israil terhadap Tabut (peti) yang didalamnya tersimpan barang-barang sakral milik kekasih Allah, Nabi Musa as. Allah swt berfirman: “Dan nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman”.

Menurut riwayat, ‘Peti’ itu adalah peti dimana nabi Musa waktu bayi telah di letakkan oleh ibunya ke sungai Nil dan mengikuti aliran sungai sehingga di temukan oleh istri Fira’un, untuk diasuh. Para Bani Israil mengambil peti itu sebagai obyek untuk mencari berkah (tabarruk). Setelah Nabi Musa as meninggal dunia, peti itu disimpan oleh washi (patner) beliau yang bernama Yusya’, dan di dalamnya disimpan beberapa peninggalan Nabi Musa yang masih berkaitan dengan tanda-tanda kenabian Musa. Setelah sekian lama, Bani Israil tidak lagi mengindahkan peti tersebut, hingga menjadi bahan mainan anak-anak di jalan-jalan. Sewaktu peti itu masih berada di tengah-tengah mereka, Bani Israil masih terus dalam kemuliaan. Namun setelah mereka mulai melakukan banyak maksiat dan tidak lagi mengindahkan peti itu, maka Allah swt. menyembunyikan peti tersebut dengan mengangkatnya ke langit. Sewaktu mereka diuji dengan kemunculan Jalut mereka mulai merasa gunda. Kemudian mereka mulai meminta seorang Nabi yang diutus oleh Allah swt ketengah-tengah mereka. Allah swt. mengutus Tholut. Melalui dialah para malaikat pesuruh Allah mengembalikan peti yang selama ini mereka remehkan.

Az-Zamakhsari dalam menjelaskan apa saja barang-barang yang berada di dalam peti itu menyatakan: “Peti itu adalah peti Taurat. Dahulu, sewaktu Musa berperang (melawan musuh-musuh Allah) peti itu diletakkan di barisan paling depan sehingga perasaan kaum Bani Israil merasa tenang dan tidak merasa gunda…adapun firman Allah yang berbunyi ‘dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun’ berupa sebuah papan bertulis, tongkat beserta baju Nabi Musa (as) dan sedikit bagian dari kitab Taurat” (Lihat Tafsir al-Kasyaf jilid 1 halaman 293).

Mengenai tabut itu Ibnu Katsir didalam kitab Tarikh-nya mengetengahkan keterangan yang ditulis oleh Ibnu Jarir sebagai berikut:
“Mereka yakni ummat yang disebut dalam ayat di atas setiap berperang melawan musuh selalu memperoleh kemenangan berkat tabut yang berisi Mitsaq (Taurat). Dengan tabut yang berisi sisa-sisa peninggalan keluarga Nabi Musa dan Nabi Harun itu Allah swt. menciptakan ketenangan bagi mereka dalam menghadapi musuh. Selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan, bahwa tabut itu terbuat dari emas yang selalu dipergunakan untuk mencuci (membersihkan) hati para Nabi”. (Al-Bidayah Wan-Nihayah jilid II hal. 8).

 Dalam Tafsir-nya Ibnu Katsir juga mengatakan, bahwa didalam tabut itu berisi tongkat Nabi Musa, tongkat Nabi Harun, dua buah lembaran Taurat dan pakaian Nabi Harun. Sementara orang mengatakan didalam tabut itu terdapat sebuah tongkat dan sepasang terompah.(Tafsir Ibnu Katsir, jilid I hal. 313).

 Al-Qurthubi mengatakan: “bahwa tabut itu diturunkan Allah kepada Nabi Adam as. dan disimpan turun-temurun hingga sampai ketangan Nabi Ya’qub as., kemudian pindah tangan kepada Bani Israil. Berkat tabut itu orang-orang Yahudi selalu menang dalam peperangan melawan musuh, tetapi setelah mereka berbuat durhaka kepada Allah, mereka dapat dikalahkan oleh kaum ‘Amaliqah dan tabut itu berhasil dirampas dari tangan mereka (kaum Yahudi)”. (Tafsir Al-Qurthubi jilid III/248).

Lihatlah, betapa Nabi yang diutus oleh Allah swt. kepada Bani Israil itu telah memerintahkan kepada Bani Israil untuk tetap menjaga peninggalan Nabi Musa dan Nabi Harun berupa peti dengan segala isinya yang mampu memberikan ketenangan pada jiwa-jiwa mereka. Pemberian ketenangan melalui peti itu tidak lain karena Allah swt telah memberikan berkah khusus kepada peninggalan kedua Nabi mulia tersebut. Sehingga sewaktu Bani Israil tidak lagi mengindahkan peninggalan yang penuh barakah itu maka Allah swt menguji mereka dan tidak lagi memberkahi mereka. Ini sebagai bukti betapa sakral dan berkahnya peninggalan itu, dengan izin Allah swt.

Ummat yang disebut dalam ayat di atas selalu bertawassul atau bertabarruk dengan tabut yang mereka bawa kemana-mana dan selalu menang didalam setiap peperangan. Apa yang dilakukan oleh umat itu ternyata tidak dicela atau dipersalahkan oleh Allah swt.

Dalam ayat lain Allah menjelaskan tentang pengambilan berkah seorang pribadi mulia seperti Nabi Ya’qub a.s. terhadap baju putranya, Nabi Yusuf as. Allah swt berfirman: “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku (baju Nabi Yusuf) ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku” (QS Yusuf: 93). Dalam kisah itu, saudara-saudara Nabi Yusuf telah melaksanakan perintah saudaranya itu. Ayah Nabi Yusuf (Nabi Ya’qub) yang buta akibat selalu menangisi kepergian Yusuf pun akhirnya pulih penglihatannya karena diusap oleh baju Yusuf. Itu semua berkat barakah yang dicurahkan oleh Allah swt. kepada baju/gamis Yusuf.

Az-Zamakhsyari kembali dalam kitab tafsir-nya menjelaskan tentang hakekat baju Yusuf dengan mengatakan: “Dikatakan: itu adalah baju warisan yang di hasilkan oleh Yusuf dari permohonan (do’a). Baju itu datang dari Sorga. Malaikat Jibril telah diperintahkan untuk membawanya kepada Yusuf. Di baju itu tersimpan aroma sorgawi yang tidak ditaruh ke orang yang sedang mengidap penyakit kecuali akan disembuhkan. (Tafsir al-Kasyaf jilid 2 hal. 503).

Tentu sangat mudah bagi Allah swt. untuk mengembalikan penglihatan Nabi Ya’qub tanpa melalui proses pengambilan berkah semacam itu. Namun harus kita ketahui hikmah di balik itu. Terkadang Allah swt. menjadikan beberapa benda menjadi ‘sumber berkah’ agar menjadi ‘sebab’ untuk mencapai tujuan yang dikehendaki-Nya. Selain karena Allah swt. juga meng- inginkan agar manusia mengetahui bahwa terdapat benda-benda, tempat-tempat, waktu-waktu dan pribadi-pribadi yang memiliki kesakralan karena mempunyai kedudukan khusus di mata Allah swt., sehingga semua itu dapat menjadi ‘sarana’. Allah swt. memberkati orang untuk mencapai kesembuhan dari penyakit, pengkabulan do’a, pensyafa’atan dalam pengampunan dosa, dan lain sebagainya.

Jika para nabi biasa memiliki kemuliaan semacam itu, lalu bagaimana dengan benda-benda (seperti: mihrab dan mimbar….), tempat (seperti: rumah, masjid dan makam…), waktu (seperti: peringatan hari wafat, kelahiran/maulud, perkawinan, hijrah, Isra’-Mi’raj..) dan mengenang ke utamaan (melalui bacaan kitab Burdah, Maulid Diba’, Barzanji …) yang berkaitan langsung dengan pribadi agung seperti Rasulullah saw., penghulu para nabi dan rasul, makhluk Allah yang paling sempurna sebagaimana yang telah dicantumkan dalam berbagai ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shohih? Pikirkanlah!

  • Dalil-dalil Tabarruk para Sahabat dari bekas air wudhu Nabi saw.:

– …Urwah Al-Tsaqafi, salah seorang utusan Makkah melaporkan pada kaumnya: “Orang Islam itu luar biasa! Demi Allah aku pernah menjadi utusan menemui raja-raja. Aku pernah berkunjung pada kaisar Kisra dan Najasyi. Demi Allah belum pernah aku melihat sahabat-sahabat mengagungkan rajanya seperti sahabat-sahabat mengagungkan Muhammad saw. Demi Allah, jika ia meludah, ludahnya selalu jatuh pada telapak tangan salah seorang di antara mereka. Mereka usapkan ludah itu kewajahnya dan kulitnya. Bila ia memerintah mereka berlomba melaksanakannya, bila ia hendak wudhu, mereka hampir berkelahi untuk memperebutkan air wudhunya. Bila ia ber bicara mereka merendahkan suara dihadapannya. Mereka menundukkan pandangan dihadapannya karena memuliakan nya”.(HR. Bukhori 3: 255)
Hadits yang semakna di atas, banyak diriwayatkan oleh para perawi dan penghafal hadits yaitu kisah kedatangan Urwah bin Mas’ud as-Tsaqofi kepada kaum Quraisy pra perjanjian damai (Suluh) di Hudaibiyah. Kala itu ia heran melihat prilaku sahabat terhadap Nabi saw., ia mengatakan –menjelaskan apa yang dilihatnya–: “Tiada beliau melakukan wudhu kecuali mereka (sahabat) bersegera (untuk mengambil berkah). Tiada beliau meludah kecuali merekapun bersegera (untuk mengambil berkah). Tiada selembar rambut pun yang rontok kecuali mereka memungutnya”. Dalam riwayat lain disebutkan; “Demi Allah, sewaktu Rasul mengeluarkan dahak dan dahak itu mengenai telapak tangan seseorang maka orang tadi akan mengusapkannya secara rata ke seluruh bagian muka dan kulitnya. Jika beliau memerintahkan sesuatu niscaya mereka bersegera (untuk melaksana- kannya). Jika beliau mengambil air wudhu maka mereka bersegera seakan-akan hendak saling membunuh memperebutkan (bekas air) wudhu beliau”. (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 halaman 66 dalam kitab al-Wudhu’ dan jilid 3 halaman 180 dalam kitab al-Washoya, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 5 halaman 423 dalam hadits panjang nomer-18431, Kitab as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 9 halaman 219 bab al-Muhadanah ‘ala an-Nadhar Lilmuslimin, Kitab Sirah Ibnu Hisyam jilid 3 halaman 328, Kitab al-Maghozi karya al-Waqidi jilid 2 halaman 598 dan Kitab Tarikh al-Khamis jilid 2 halaman 19).
– Thalq bin ‘Ali meriwayatkan: “Kami keluar (meninggalkan daerah) sebagai perutusan kepada Rasulallah saw. Setelah beliau saw. kami bai’at, kami shalat bersama beliau. Kemudian kepada beliau kami beritahukan bahwa kami masih mempunyai bi’ah (gereja atau kuil). Kepada beliau kami minta agar diberi sebagian dari sisa air wudhunya. Beliau lalu menyuruh orang mengambilkan air, kemudian berwudhu dan berkumur lalu menumpahkan bekas air kumurnya ke dalam sebuah tempat/wadah. Kepada kami beliau berkata: ‘Pulanglah, dan setibanya didaerah kalian hancurkanlah bi’ah kalian itu lalu siramlah tempat itu dengan air ini, kemudian bangunlah masjid di atasnya’. Kami katakan pada beliau bahwa daerah kami, amat jauh, dan air akan menguap habis karena (dalam perjalanan) udara sangat panas. Beliau memberi petunjuk: ‘Tambahkan saja air (kedalam wadah), air ini akan menjadi lebih baik’ “. (Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam Al-Misykat nr. 716).
Tidak ragu lagi bahwa dalam jiwa perutusan itu terdapat rahasia (semangat) yang amat kuat yang mendorong mereka minta air bekas wudhu Rasulallah saw. Padahal kota Madinah tidak pernah kekurangan air dan didaerah tempat tinggal orang itu sendiri banyak air. Mengapa mereka mau bersusah payah membawa sedikit air dari Madinah ke daerahnya yang menempuh jarak cukup jauh dan dalam keadaan terik matahari? Tidak lain adalah ber- tabarruk pada Rasulallah saw.dengan bekas air wudhu beliau.
– Dari Abu Juhfah, beliau berkata: “Aku mendatangi Nabi sewaktu beliau ber ada di Qubbah Hamra’ dari Adam. Kulihat Bilal (al-Habasyi) mengambil air wudhu Nabi. Orang-orang bergegas untuk berwudhu juga. Barang siapa yang mendapatkan sesuatu dari air wudhu tadi maka akan mengguna- kannya sebagai air basuhan. Namun bagi siapa yang tidak mendapatkannya maka ia akan mengambil dari basahan (sisa wudhu) yang berada di tangan temannya”.
Dalam lafadh itu dikatakan: “Rasul pergi menuju Hajirah bersama kami, lalu beliau mengambil air wudhu. Kemudian orang-orang mengambili air bekas wudhu beliau untuk dijadikan bahan basuhan (dalam berwudhu)” (Lihat: Kitab Shahih al-Bukhari jilid 1 halaman 55 dalam kitab wudhu bab Isti’malu Fadhli Wudhu’in Nas, Kitab shohih al-Muslim jilid 1 halaman 360, Kitab Sunan an-Nasa’i jilid 1 halaman 87, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 5 halaman 398 hadits ke-18269, Kitab as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 1 halaman 395 dalam bab al-Iltiwa’ fi Hayya ‘ala as-Shalah dan Kitab ad-Dala’il an-Nubuwah karya al-Baihaqi jilid 1 halaman 183).
– Dari Ibnu Shahab, beliau berkata: “Aku mendapat kabar dari Mahmud bin Rabi’, ia berkata: Dia adalah orang yang Rasul telah meludah pada wajah- nya, saat itu ia adalah kanak-kanak di daerah mereka. Berkata Urwah, dari al-Masur dan selainnya –masing-masing saling mempercayai temannya–: Ketika Nabi melaksanakan wudhu, seakan mereka hendak saling bunuh-membunuh
untuk mendapatkan air wudhu beliau” (Lihat: Kitab Shahih al-Bukhari jilid 1 halaman 55 dalam kitab wudhu bab Isti’malu Fadhli Wudhu’in Nas, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 6 halaman 594 hadits ke-23109 dan Kitab Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 246).
I
bnu Hajar dalam mensyarahi/menerangkan makna hadits tersebut menyata- kan: “Apa yang dilakukan Nabi terhadap Mahmud, kalau tidak karena tujuan bersendau gurau, atau untuk memberi berkah kepadanya. Hal itu sebagai- mana yang pernah beliau lakukan kepada anak-anak para Sahabat lainnya” (Fathul Bari jilid 1 halaman 157 dalam bab Mata Yashihhu Sima’ as-Shoghir).
– Dari Sa’ad, beliau berkata; Aku mendengar dari beberapa sahabat Rasul seperti Abu Usaid, Abu Humaid dan Abu Sahal ibn Sa’ad, mereka mengata- kan: “Suatu saat, Rasulullah mendatangi sumur Badho’ah kemudian beliau mengambil wudhu melalui ember lantas (sisanya) dikembalikan ke dalam sumur. Kemudian beliau mencuci mukanya kembali, dan meludah ke dalam- nya (ember) dan meminum airnya (sumur). Dan jika terdapat orang sakit di zaman beliau maka beliau bersabda: ‘Mandikan dia dengan air sumur Bidho’ah’, maka ketika dimandikan, seakan simpul tali itu telah lepas (sembuh)”. (Lihat: Kitab at-Thobaqoot al-Kubra jilid 1/2 halaman 184 dan Kitab Sirah Ibnu Dahlan jilid 2 halaman 225).
– Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, beliau berkata: “Ketika aku sakit yang tak kunjung sembuh, Rasulullah menjengukku. Rasulullah mengambil air wudhu, kemudian beliau siramkan sisa air wudhu beliau, kemudian sembuh lah penyakitku” (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 halaman 60/jilid 7 halaman 150/jilid 8 halaman 185 dan jilid 9 halaman 123).
 Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, beliau berkata: “Sewaktu Nabi ber-wudhu pada sebuah wadah, kemudian (sisa air tadi) aku tuang ke dalam sumur milik kami” (Lihat: Kitab Kanzul Ummal jilid 12 halaman 422 hadits ke-35472).
– Sewaktu Rasulullah saw. datang ke pasar, beliau melihat Zuhair berdiri untuk menjual barang. Tiba-tiba beliau datang dari arah punggungnya lantas memeluknya dari belakang hingga tangan beliau menyentuh dadanya. Kemudian Zuhair merasakan bahwa orang itu adalah Rasulullah. Dia berkata: ‘Aku lantas mengusapkan punggungku pada dadanya untuk mendapatkan berkah dari beliau’ ”. (Lihat: Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 3 halaman 938 hadits ke-12237, Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 6 halaman 47 yang telah dinyatakan keshohihannya dengan menyatakan bahwa perawinya semuanya dapat dipercaya (tsiqoh) dan Kitab Sirah Dahlan jilid 2 halaman: 267).

Hadits-hadits di atas ini termasuk bukti yang cukup kuat dan terkenal, yang menunjukkan tabarruk kepada beliau saw. dan dengan petilasan (bekas) air wudhunya. Dengan petilasan air wudhu beliau saw. bisa menyembuhkan penyakit. Setelah membaca hadits-hadits di atas dan hadits lainnya, apakah orang masih egois dan fanatik kepada ulamanya, yang selalu menyangkal adanya barokah pada pribadi seseorang? Apakah perbuatan itu tidak ter- golong qhuluw (berlebih-lebihan)yang menyebabkan orang terjerumus ke dalam kesyirikan? Ini juga harus dijawab dengan adil dan konsekwen dari golongan pengingkar!

  • Dalil Tabarruk anak-anak para Sahabat kepada Nabi saw.:

– Imam Muslim dalam kitab Shohih-nya jilid 1 halaman 164, bab Hukmu Bauli at-Thifl ar-Rodhi’ atau pada jilid 6 halaman 176, bab Istihbab Tahnik al-Maulud menjelaskan secara gamblang tentang prilaku para Salaf Sholeh dalam mengambil berkah Rasulallah saw. untuk anak-anak mereka. Atas dasar itu, Ibnu Hajar dalam kitab al-Ishobah jilid 3 halaman 638 (detailnya pada: Huruf wau, bagian pertama, bab wau kaf, tarjamah Walid bin Uqbah, nomer 9147) menjelaskan: “Setiap bayi pada masa hidup Rasulullah di hukumi sebagai pribadi yang telah melihat Rasul. Hal itu karena syarat-syarat terlaksananya kaum Anshar dalam mendatangkan anak-anak mereka kepada Rasul agar dipeluk dan diberi berkah (tabarruk) telah terpenuhi”. Hingga dikatakan: ‘Sewaktu Makkah ditaklukkan (fath), para penghuni Makkah pun berdatangan kepada Nabi dengan membawa anak-anak mereka supaya dapat dibelai (diusap) kepalanya oleh beliau yang kemudian beliau do’akan’ ”.

– Dari ummu Qais: “Suatu saat dia mendatangi Rasululah dengan membawa serta anaknya yang masih kecil, yang masih belum memakan makanan. Rasulullah meletakkanya di pangkuannya. Tiba-tiba anak itu kencing di pakaian beliau. Kemudian beliau meminta air dan menyiramkannya (pada pakaian) dan tidak mencucinya”. (Shohih al-Bukhari jilid 1 hal. 62 kitab al-Ghasl; Sunan an-Nasa’i jilid 1 hal.93 bab Baul as-Shobi al-Ladhi lam Ya’kul at-Tho’am; Sunan at-Turmudzi jilid 1 hal. 104; Sunan Abu Dawud jilid 1 hal. 93 bab Baul as-Shobi Yushibus Tsaub; Sunan Ibnu Majah jilid 1 hal. 174).
Ibnu Hajar berkata: “Dari hadits ini memberikan beberapa pengertian, penekanan akan pergaulan secara baik, rendah diri (Tawadhu’), memeluk anak bayi dan pemberian berkah dari pribadi yang memiliki kemuliaan, dan membawa anak kecil pra dan pasca kelahiran” (Fathul-Bari jilid 1 hal. 326 kitab al-Wudhu’ bab Baul as-Shobi hadits ke-223).
– Dari Ummul Mukminin Aisyah: “Dahulu, Rasulullah selalu didatangkan bayi (kepadanya) yang kemudian beliau peluk mereka untuk diberi berkah“.(Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 7 halaman 303 kitab al-Wudhu bab 59 bab Baul as-Shibyan hadits ke-223).
– Dari Abdurrahman bin ‘Auf, beliau berkata: “Tiada seorang yang baru melahirkan kecuali bayi itu didatangkan kepada Rasul untuk dido’akan”. (Lht. Kitab al-Mustadrak as-Shohihain karya al-Hafidz al-Hakim an-Naisaburi jilid 4 hal.479; Kitab al-Ishobah karya Ibnu Hajar jilid 1 hal.5 dalam Khutbah kitab, bagian kedua).

– Dari Muhammad bin Abdurrahman pembantu (maula) Abi Thalhah yang berbicara tentang Muhammad bin Thalhah, beliau berkata: “Sewaktu Muhammad bin Thalhah lahir, aku membawanya kepada Rasulullah untuk dipeluk dan dido’akannya. Hal itulah yang dilakukan Rasul kepada para bayi yang ada”. (Lihat: Kitab al-Ishobah karya Ibnu Hajar jilid 5 halaman 5 pada Khutbah Kitab, bagian kedua).

  • Tabarruk para Sahabat dari air dan sisa minum Nabi saw.:

– Dari Abi Musa, beliau berkata: “Rasulallah mengambil air pada sebuah tempat. Beliau membasuh kedua tangan dan wajahnya. Kemudian kembali memuntahkan air itu ke dalamnya. Beliau bersabda: ‘Minumlah kalian berdua dari (air) itu, dan sisakanlah untuk muka dan leher kalian berdua’”.(Shohih al-Bukhari jilid 1 hal.55 kitab al-Wudhu bab Isti’mal Fadhli Wudhuin Naas).

Ibnu Hajar berkata: “Tujuan dari semua itu –memuntahkan kembali air– adalah untuk memberikan berkah kepadanya (air)”. (Fathul Bari jilid 1 halaman 55 kitab Wudhu bab Isti’mal Fadhli Wudhuin Nas, dan atau jilid 8 halaman 37 bab Ghozwah at-Tha’if).
Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Aku telah meminum (air) sementara aku dalam keadaan puasa. Bersabda (Rasulallah): ’Kenapa kamu melaku kan hal itu’? Ia berkata: ‘Demi untuk mendapat sisa minummu, karena aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya sedikit pun. Aku tidak mampu untuk menyia-menyiakannya. Ketika aku mampu melakukannya maka aku akan meminumnya’”. (Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 7 halaman 575 hadits ke-26838 dan Kitab at-Thabaqot al-Kubra jilid 8 halaman 109).

  • Tabarruk para Sahabat dengan keringat, rambut dan kuku Nabi saw.:

– Nabi saw. tidur siang dirumah Ummu Sulaim, yang punya rumah menampung keringat beliau saw. pada sebuah botol. Ketika Nabi saw. ter bangun dan bertanya: ‘Apa yang engkau lakukan?’. ‘Ya Rasulallah kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kami’. Nabi saw. menjawab; ‘Ashabti, Engkau benar’! (HR. Muslim 4:1815; Musnad Ahmad 3:221-226).
– Dari Anas bin Malik, beliau berkata: “Ummu Salamah selalu menghampar- kan tikar kulit untuk Nabi, kemudian beliau tidur di atas hamparan tersebut. Sewaktu beliau tertidur, ia (Ummu Salamah .red) mengambil keringat dan rambut Nabi dan diletakkan ke dalam botol dan dikumpulkan dalam tempat minyak wangi”. (Shohih al-Bukhari jilid 7 halaman 14 kitab al-Isti’dzan).

Ibnu Hajar dalam mensyarahi riwayat ini mengatakan: “Dengan menyebut- kan rambut dalam kisah ini sangatlah mengherankan sekali. Sebagian orang menyatakan bahwa rambut beliau tersebar (terurai) ketika berjalan. Kemudian ketika aku melihat riwayat Muhammad bin Sa’ad yang masih samar. Riwayat itu memiliki sanad (jalur) yang shahih dari Tsabit bin Anas, bahwa sewaktu Nabi saw. mencukur rambutnya di Mina Abu Thalhah meng- ambil rambut beliau dan menyerahkannya kepada Ummu Salamah. Dia me- letakkannya ke dalam tempat minyak wangi. Ummu Salamah berkata: ‘Beliau datang ke (rumah)-ku dan tidur di atas hamparan milikku sehingga keringat beliau mengalir (terkumpul)’ ”. (Kitab Fathul Bari jilid 11 halaman 59 atau Kitab Thabaqot al-Kubra jilid 8 halaman 313).
 Abu Hurairah ra berkata bahwa seorang laki-laki menemui Nabi saw. berkata: “Ya Rasulallah, saya akan menikahkan anak perempuan saya, saya ingin sekali engkau membantu saya dengan apapun. Nabi saw. bersabda: ‘Aku tidak punya apa-apa’. Rasulallah saw.bersabda: ‘Tapi besok datanglah padaku bawa botol yang mulutnya lebar…’. Pada esok harinya ia datang lagi, Nabi saw. meletakkan kedua sikunya di atas botol dan keringat beliau saw. mengalir memenuhi botol itu’”. (Fath al Bari 6: 417, Sirah Dahlan 2:255, Al Bidayah Wa Al-Nihayah 6: 25).
Kita tidak tahu apa yang dilakukan sahabat dengan sebotol keringat itu. Mungkin digunakan sebagai minyak wangi –seperti Ummu Salamah– atau mewasiatkan pada ahli warisnya supaya botol (walau keringatnya sudah kering) dikuburkan bersama jasadnya (seperti Anas bin Malik). Ini tidak lain mengenang dan memuliakan Atsar (bekas) serta tabarruk yang berkaitan dengan orang yang dicintai! Kenyataan ini berarti menunjukkan bahwa Rasulallah saw. membenarkan dan meridhai perbuatan para sahabat tersebut. Beliau saw. juga sebagai contoh bagi umatnya, bila perbuatan tersebut sebagai pengkultusan atau berbau kesyirikan dan lain sebagainya, maka beliau saw. tidak akan mengizinkan dan melakukannya.
– ‘Utsman bin ‘Abdullah bin Muwahhab menuturkan; “Keluargaku menyuruh aku datang kepada Ummul Mu’minin Ummu Salamah membawa air dalam sebuah mangkuk. Ia keluar membawa wadah air terbuat dari perak. Di dalamnya terdapat beberapa guntingan rambut Rasulallah saw. Ketika itu orang yang menderita sakit mata atau penyakit lainnya mengirim pesuruh kepadanya membawa wadah (makhdhabah), yang lazim digunakan untuk mencelupkan sesuatu. ‘Utsman bin Abdullah berkata lebih lanjut: ‘Aku mencoba melihat apa yang berada didalam genta, ternyata kulihat ada guntingan-guntingan rambut berwarna kemerah-merahan’ ”. (HR. Bukhori dalam kitabnya Al-Libas bab Mayudzkaru Fisy-Syaib).
Imam Al-‘Aini mengatakan, bahwa keterangan mengenai soal di atas tersebut sebagai berikut: “Ummu Salamah menyimpan sebagian dari guntingan rambut Rasulallah saw., yang berwarna kemerah-merahan, ditaruh dalam sebuah wadah seperti genta. Banyak orang diwaktu sakit bertabarruk pada rambut beliau saw. dan mengharap kesembuhan dari keberkahan rambut tersebut. Mereka mengambil sebagian dari rambut itu lalu dicelupkan ke dalam wadah berisi air, kemudian mereka meminumnya. Tidak lama kemudian penyakit mereka sembuh. Keluarga ‘Utsman mengambil sedikit air itu, ditaruh dalam sebuah wadah dari perak. Mereka lalu meminumnya dan ternyata penyakit yang mereka derita menjadi sembuh. Setelah itu mereka menyuruh ‘Ustman mencoba melihat dan ternyata dalam genta itu terdapat beberapa guntingan rambut berwarna kemerah-merahan”. (Lihat ‘Umdatul-Qari Syarh Shahih Al-Bukhori jilid 17 hal. 79).
– Sewaktu Muawiyah akan wafat, ia mewasiatkan agar dikuburkan dengan baju, sarung dan selendang juga sebagian rambut Nabi. (Lihat: Kitab al-Ishobah jilid 3 halaman 400, Kitab Tarikh Damsyiq jilid 59 halaman 229 dan Kitab as-Sirah al-halabiyah jilid 3 halaman 109)
– Sewaktu Umar bin Abdul Aziz hendak meningal dunia, ia membawa rambut dan kuku Nabi seraya berkata: “Jika aku mati maka letakkan rambut dan kuku ini pada kafanku” (Lihat: Kitab at-Thobaqoot jilid 5 halaman 406 tentang [tarjamah] Umar bin Abdul Aziz).

– Baluran mayat (Hanuth) jenazah Anas bin Malik terdapat sejumput misik dan selembar rambut Rasulullah. (Lihat: Kitab at-Thobaqoot jilid 7 halaman 25 tentang [tarjamah] Anas bin Malik)
– Salah seorang putera Fadhl bin ar-Rabi’ telah memberikan tiga lembar rambut kepada Abu Abdillah (yaitu; Ahmad bin Hanbal) sewaktu beliau di penjara. Lantas beliau berkata: “Ini adalah bagian rambut Nabi”. Abu Abdillah mewasiatkan agar sewaktu beliau meninggal hendaknya masing-masing rambut tadi diletakkan pada kedua belah matanya, sedang satu sisanya di letakkan pada lidahnya. (Lihat: Kitab Shifat as-Shofwah jilid 2 halaman 357).
– Dari Abdullah bin Muhib, beliau berkata: “Istriku menyuruhku untuk pergi ke Ummu Salamah dengan membawa gelas berisikan air –dengan pegangan tangan Israil seukuran tiga jari– dan terdapat di dalamnya sepotong rambut Nabi. Jika terdapat seseorang yang terkena mata (penyakit ‘ain .red) ataupun sesuatu (yang lain) maka akan dikirim kepadanya alat pemacar (pewarna rambut .red). Kemudian kulihat dengan berjinjit, ternyata di situ kudapati terdapat rambut merah”. (Kitab Shohih al-Bukhari jilid 7 hal. 207).
– Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnad-nya mengetengahkan riwayat dari Ibnu Sirin yang menuturkan bahwa; ‘Ubaidah As-Salmani menyampaikan hadits tersebut kepadaku. Kemudian ia berkata: ‘Jika aku mempunyai se helai saja dari rambut beliau saw., itu lebih kusukai daripada semua perak dan emas serta apa saja yang berada di permukaan bumi dan dalam perutnya’.
– Riwayat yang disebut oleh Al-mala dalam As-Sirah: “Ketika Abu Thalhah membagikan beberapa helai rambut Rasulallah saw. kepada sejumlah orang sahabat, Khalid bin Al-Walid minta agar ia diberi rambut ubun-ubun beliau saw. Abu Thalhah memberi apa yang diminta oleh Khalid. Terbukti berkah rambut ubun-ubun beliau itu Khalid sering meraih kemenangan dalam ber bagai peperangan”. (‘Umdatul Qari Syarh Al-Bukhori, Jilid 8 hal. 230-231).
– Dari Anas bin Malik ra, beliau berkata: “Aku melihat Rasulullah sedang di pangkas rambutnya oleh tukang potong, sedang para sahabat mengerumuni nya dan mereka tidak membiarkan sehelaipun rambut beliau jatuh melainkan disalah satu tangan mereka” (Kitab shahih Muslim dengan syarah Imam Nawawi jilid 15 hal.83; Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 3 hal.591; as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 7 hal. 68; Kitab as-Sirah al-Halabiyah jilid 3 halaman 303; Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 5 halaman 189 dan Kitab Musnadaat ibn Malik hadits ke-11955).
 Dari Abdullah bin Zaid, beliau berkata: “…maka Rasulullah dipangkas rambutnya dengan mengenakan baju, lalu beliau memberikannya (rambut) kepada orang-orang (sahabat) untuk dibagi. Kemudian beliau memotong kuku yang kemudian diberikan kepada sahabatnya. Ia (Abdulah bin Zaid) berkata: ‘Kudapati hal itu diwarnai dengan pacar, yaitu; rambut beliau’ “. (Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 4 hal. 630 hadits ke-16039; as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 1 hal.68; Majma’ az-Zawa’id jilid 4 hal. 19).
– Dari Abu Bakar, beliau berkata: “Tiada Fath (penaklukan tanpa peperang an .red) terbesar yang dilakukan Islam melainkan Fath Hudaibiyah. Akan tetapi kala itu, orang-orang banyak yang kurang memahami hubungan antara Muhammad dengan Tuhannya…Suatu hari, ketika haji wada’, aku melihat Suhail bin Amr berdiri di tempat penyembelihan (binatang kurban) dekat dengan Rasulullah bersama ontanya yang saat itu beliau menyembelih onta dengan tangannya sendiri. Kemudian beliau memanggil tukang cukur untuk mencukur rambut kepalanya. Aku melihat Suhail memunguti rambut beliau yang berjatuhan. Aku melihatnya meletakkan (rambut tadi) di kelopak matanya. Aku mengingat keengganan beliau (untuk menghapus), sehingga beliau menetapkan pada hari Hudaibiyah untuk menulis kata Bismillahir- Rahmanir Rahim”. (Lihat: Kitab Kanzul Ummal karya Muttaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 10 halaman 472 hadits-30136).
– Dari Ibnu Syirin, beliau berkata: “Aku berkata kepada Ubaidah; ‘Kami memiliki rambut Nabi. Kami mendapatkannya dari Anas ataupun dari keluarga Anas’. Ia bekata: ‘Jika aku memiliki selembar rambut saja maka akan lebih kusukai daripada dunia beserta isinya’ ”. (Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 hal. 51 kitab al-Wudhu, bab al-Maa’ al-Ladzi Yughsal Sya’rul Insan).
– Al-Waqidi menjelaskan bahwa Ummul Mukminin Aisyah telah ditanya: “Dari mana engkau mendapatkan rambut itu?. Ia berkata: ‘Sesungguhnya sewaktu Rasulallah mencukur kepala beliau di haji maka orang-orang memisahkan rambutnya. Kami mendapatkannya sebagaimana orang-orang pun mendapat kannya’ ”. (Lihat: Kitab al-Maghozi jilid 3 halaman 1109).

Jika rambut Rasulallah saw. seperti rambut kebanyakan orang, mengapa para tokoh Salaf Sholeh mengharapkannya, bahkan menghendaki rambut itu dikubur bersamanya sewaktu meninggal dunia, untuk pengobatan dan lain sebagainya? Apakah itu juga tergolong perbuatan syirik? Benarkah para tokoh Salaf Sholeh melakukan kesyirikan? Apakah riwayat-riwayat di atas dan berikut ini yang jelas berkaitan dengan Tawassul, Tabarruk semuanya dhoif/lemah, maudhu’, palsu walaupun diriwayatkan oleh pakar-pakar ulama hadits karena berlawanan dengan paham golongan pengingkar? Ini yang harus dijawab oleh golongan pengingkar secara adil dan konsekwen!

  • Dalil Tabarruk para Sahabat dari gelas, piring Nabi saw.:

 Dari Sahal bin Sa’ad pada sebuah hadits, beliau berkata: “Suatu hari aku mendapati Rasul duduk-duduk dengan para sahabat beliau di Saqifah Bani Saidah, lalu beliau bersabda: ‘Berilah kami minum, wahai Saha!’. Kemudian aku keluarkan gelas ini dan kuberi minum mereka dengannya. (perawi berkata) Kemudian Sahal mengeluarkan gelas tersebut dan memberi kami minum dengan menggunakan gelas tersebut. Dia berkata: ’Kemudian Umar bin Abdul Aziz memintanya, dan iapun lantas memberikannya kepadanya’”. (Shohih al-Bukhari jilid 6 hal. 352 dalam kitab al-Asyrabah; Shohih al-Muslim jilid 6 hal.103 bab Ibahat an-Nabidz lam Yasytari wa lam Yashir Muskiran).
 Dari Anas: “Sesungguhnya gelas Nabi telah pecah. Kemudian pecahan tadi diikat dengan rantai perak. Berkata ‘Ashim: ‘Aku melihat gelas itu dan minum menggunakan gelas tersebut’ ”. (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 4 halaman 47 dalam bab Bad’ul Khalq).

 Abu Burdah berkata: “Abdullah bin Salam berkata kepadaku: ‘Engkau akan kuberi minum dengan menggunakan gelas yang pernah dipakai Nabi’”. (Kitab Shohih al-Bukhari jilid 6 halaman 352 dalam kitab al-Asyribah).
 Dari Shofiyah binti Buhrah, beliau berkata: “Pamanku Faras telah meminta kepada Nabi sebuah piring yang pernah dilihatnya dipakai makan oleh Nabi. Beliau memberikannya kepadanya. Dia berkata: Dahulu, Umar jika datang kepada kami, ia akan mengatakan: ‘Keluarkan buatku piring Rasulullah. Aku keluarkan piring tersebut, kemudian ia memenuhinya dengan air Zamzam, dan meminum sebagian darinya, selebihnya ia percikkan ke wajahnya’ ”. (Lihat: Kitab al-Ishobah jilid 3 halaman 202 dalam huruf Fa’ pada bagian pertama berkaitan dengan (tarjamah) Ibnu Faras nomer ke-6971; Kitab Usud al-Ghabah jilid 4 halaman 352 pada huruf Fa’, Faras ‘Amm (paman) Shofiyah nomer ke-4202 dan Kitab Kanzul Ummal jilid 14 halaman 264).
Apa beda antara gelas biasa yang tidak pernah dipakai oleh Rasulallah dengan gelas bekas bibir Rasulallah sehingga menyebabkan para sahabat mulia yang tergolong tokoh Salaf Sholeh merebutkannya? Apakah perbuatan itu tidak tergolong qhuluw (berlebih-lebihan) yang menyebabkan orang ter- jerumus ke dalam kesyirikan? Apakah golongan pengingkar berani menyata- kan bahwa itu perbuatan tercela yang diajarkan oleh para sahabat yang tergolong tokoh para Salaf Sholeh? Mereka harus konsisten dengan pahamnya yang menyatakan bahwa perbuatan itu adalah syirik, yang me- niscayakan bahwa para sahabat telah mengajarkan kesyirikan kepada kita.

  • Tabarruk para Sahabat dari tempat tangan dan bibir Nabi saw.:

– Dalam sebuah kisah yang berkaitan dengan kedatangan Nabi ke rumah Abu Ayyub al-Anshari sewaktu beliau baru berhijrah ke Madinah, Abu Ayyub berkata kepada Beliau: “Kami menyiapkan untuk beliau makan malam dan lantas mengirim (hidangan) baginya. Sehingga jika beliau mengembalikan sisa-sisa (makanan)nya maka aku dan Ummu Ayyub akan mengusap-usap bekas tangan beliau dan memakannya, untuk mengharap berkah. Hingga akhirnya suatu malam, kami mengirim buat beliau makanan yang terdapat bawang merah dan bawang putih di dalamnya. Rasul saw. menolaknya, sehingga kami tidak mendapati bekas tangan beliau. Akhirnya kudatangi beliau dengan perasaan takut. Aku tanyakan: ‘ Wahai Rasulullah, demi ayahku, engkau dan ibuku, engkau telah menolak hidanganmu sehingga kami tidak mendapati bekas tanganmu’? Beliau saw. menjawab: ‘Aku mendapatkan bau pohon ini (bawang). Dikarenakan aku adalah lelaki yang selalu bermunajat (maka menjauhinya), adapun kalian, makanlah darinya..’ ”. (Kitab al-Bidayah wa an-Niayah jilid 3 halaman 201; Kitab Sirah Ibnu Hisyam jilid 2 halaman 144 dan Kitab ad-Dala’il karya al-Baihaqi jilid 2 halaman 510)
– Dari Anas: “Sewaktu Rasul memasuki rumah Ummu Sulaim, beliau mendapati di rumah tersebut terdapat Qirbah (tempat air dari kulit) yang ter gantung dan di dalamnya terdapat air. Kemudian beliau mengambilnya dan meminum langsung dari bibir (Qirbah), dengan posisi berdiri. Ummu Sulaim mengambilnya dan memotong bibir Qirbah tadi yang kemudian disimpannya” (Lihat: Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 7 halaman 520 hadits ke-26574 dan atau Kitab at-Thobaqaat jilid 8 halaman 213)

– Dari Abdurrahman bin Abi Umrah yang diriwayatkan dari neneknya, Ummu Kultsum. Beliau berkata: “Sewaktu Rasul memasuki rumahku, beliau mendapati Qirbah tergantung yang berisi air. Beliau saw. meminum darinya. Kemudian kupotong bibir Qirbah dan kuangkat, mengharap berkah dari bekas bibir Rasulullah” (Lihat: Kitab Sunan Ibnu Majah jilid 2 halaman 1132 dan atau Kitab Usud al-Ghabah jilid 5 halaman 539 dalam huruf Kaf mengenai (tarjamah) Kultsum pada nomer 7243)
Pertanyaan yang sama juga bisa dilontarkan dan harus dijawab oleh golongan pengingkar dengan jujur: Apakah perbuatan yang telah dikemuka- kan semua dalam bab tawassul dan tabarruk ini tergolong Syirik? Apakah hal itu meniscayakan bahwa para Sahabat yang tergolong Salaf Sholeh telah mengajarkan kepada kita kesyirikan? Beranikah golongan pengingkar menvonis para sahabat di atas tadi telah melakukan kesyirikan? Mana bukti bahwa ajaran golongan pengingkar hendak menumbuhkan dan menyebar- kan ajaran para Salaf Sholeh? Salaf Sholeh yang mana yang hendak mereka hidupkan ajarannya?, padahal segenap Salaf Sholeh membolehkan dan mengamalkan tawassul dan tabarruk! Pikirkanlah!!

  • Tabarruk Para Sahabat dari Peninggalan Nabi saw.:

Untuk lebih menguatkan akan argumentasi diperbolehkannya tabarruk dalam syari’at Nabi Muhammad saw, maka di sini akan kita lanjutkan kajian kita pada telaah hadits-hadits yang menyebutkan bahwa para Salaf Sholeh telah bertabarruk kepada peninggalan Rasul saw., setelah wafat beliau. Dimana semua itu selama ini dianggap sebagai bentuk kesyirikan oleh kaum yang mengaku-ngaku sebagai penghidup ajaran dan manhaj Salaf Sholeh. Mari kita sama-sama perhatikan secara teliti uraian hadits-hadits di bawah ini:
 Diriwayatkan dari Muhammad bin Jabir, berkata: “Aku mendengar ayahku berkisah tentang kakekku, bahwa beliau adalah delegasi pertama Nabi dari Bani hanafiyah. Suatu saat kudapati dia menyiram kepalanya dan berkata: ‘Duduklah wahai saudara penghuni Yamamah, siramlah kepalamu!’. Aku siram kepalaku dengan air bekas siraman Rasulullah…maka aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, berilah aku potongan dari pakaianmu agar aku dapat merasakan ketentraman’. Beliau saw. memberikannya kepadaku. Selanjut- nya berkata Muhammad bin Jabir: ‘Ayahku berkata bahwa kami biasa menyiramkannya buat orang sakit untuk memohon kesembuhan’”. (Lihat: Al-Ishabah 2/102 huruf Sin bagian pertama, tarjamah Sayawis Thalq al-Yamani nomer 3626)
Jika apa yang dimiliki Rasulallah sama dengan milik kebanyakan orang, mengapa dia meminta kain Rasulallah untuk mendapat ketentraman (isti’nas)? Dan buat apa air bekas siraman kepala Rasulallah itu disimpan dan bahkan dijadikan sarana permohonan kesembuhan? Jika itu semua masuk kategori syirik, maka selayaknya golongan pengingkar tidak perlu mengaku sebagai penghidup ajaran dan manhaj Salaf Sholeh, tetapi peng- hidup ajaran Khalaf Thaleh (lawan Salaf Sholeh).
 Diriwayatkan dari Isa bin Thahman, berkata: “Anas menyuruh untuk mengeluarkan sepasang sandal yang memiliki dua tali, sedang kala itu aku berada di samping Anas. Aku dengar Tsabit al-Banani berkata: ‘Itu adalah sandal Rasulallah’ ”. (Lihat: Shohih Bukhari 7/199, 4/101, al-Bidayah wa an-Nihayah 6/6 dan Thabaqoot karya Ibnu Sa’ad 1/478)

Jika sandal Rasulallah sama dengan sandal-sandal manusia lain yang tidak layak disimpan dan ditabarruki, buat apa sahabat menyimpannya? Apakah sahabat kurang pekerjaan sehingga menyimpan sandal yang sudah tidak dipakai, atau bahkan sudah rusak? Tentu ada hikmah dibalik penyimpanan tersebut, salah satunya adalah untuk mengambil berkah dari Rasul, melalui sandal beliau.
 Dalam sebuah riwayat, Rasulallah bersabda: “Barangsiapa yang ber- sumpah di atas mimbarku dan dia berbohong walaupun terhadap selainnya maka selayaknya ia bersiap-siap mendapat tempat di neraka” (Lihat: Musnad Ahmad bin Hanbal 4/357 hadits ke-14606 dan Fathul Bari 5/210).
Ini semua membuktikan bahwa betapa sakralnya mimbar Rasulallah saw., menurut lisan Rasulallah sendiri, dan para sahabat pun meyakini hal itu. Terbukti bahwa Zaid bin Tsabit takut untuk bersumpah di mimbar Rasulallah saw. ketika menghukumi Marwan. (Lihat: Kanzul Ummal karya al-Muttaqi al-Hindi al-Hanafi 16/697 hadits ke-46389).
Bukan hanya itu, dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Yazid bin Abdullah bin Qoshith menjelaskan bahwa; “Aku melihat para sahabat Nabi sewaktu hendak meninggalkan masjid, mereka menyentuh pucuk mimbar yang menonjol yang (lantas dikemudian hari terletak) di sisi kanan kubur kemudian mereka menghadap kiblat dan berdo’a” (Lihat: at-Thabaqot al-Kubra 1/254 tentang mimbar Rasulalllah).
Bahkan dalam riwayat Ibrahim bin Abdurrahman bin Abdul Qori menyebut- kan bahwa; “Beliau melihat Umar meletakkan tangannya ke tempat duduk Nabi di atas mimbar, lalu mengusapkannya ke mukanya”. (Lihat: at-Thabaqot al-Kubra 1/254 tentang mimbar Rasulallah dan ats-Tsuqoot karya Ibnu Hibban halaman 9). Jika golongan pengingkar selalu menyatakan syirik buat pengambilan berkah –dari para penziarah yang datang ke Masjid Nabawi di kota Madinah dari mimbar Rasulallah, maka apakah layak kelompok ini mengaku sebagai ‘penghidup Sunah menurut ajaran Salaf Sholeh’? Ataukah mereka lebih layak disebut sebagai ‘penghidup bid’ah menurut ajaran Khalaf Thaleh?
Guna mempersingkat tulisan maka kami hanya menyebutkan beberapa hadits saja. Namun, di sini akan kita singgung beberapa riwayat beserta rujukannya dengan harapan para pembaca yang budiman dapat merujuk kembali ke tekts aslinya.
Dalam beberapa riwayat dan hadits lain disebutkan bahwa, ada beberapa hadits seperti yang membahas tentang Anas bin Malik yang dikubur dengan tongkat Rasulallah saw. (al-Bidayah wa an-Nihayah 6/6); para sahabat meng ambil berkah dari cincin Rasulallah dengan meniru bentuknya (Shahih Bukhari 7/55; Shohih Muslim 3/1656; an-Nasa’i 8/196; Musnad Ahmad bin Hanbal 2/96 hadits ke-472); para sahabat yang mengambil berkah dari sarung Rasulallah dengan memakainya secara bergilir dan dijadikannya kafan (Shahih Bukhari 7/189, 2/98, 3/80, 8/16; Sunan Ibnu Majah 2/1177; Musnad Ahmad bin Hanbal 6/456 hadits ke-22318; Fathul Bari 3/144 tentang hadits 1277); Muawiyah bin Abi Sufyan yang bersikeras membeli selendang Rasulallah untuk dibawa mati dan menjadi kafannya (Tarikh Islam karya adz-Dzahabi 2/412; as-Sirah al-Halabiyah 3/242;Tarikh Khulafa’ karya as-Suyuthi hal:19); hadits Ummu Athiyah tentang kehadiran Rasul ketika anak putrinya meninggal dan mengambil berkah dari sarungnya (Shohih Bukhari 2/74 kitab Jana’iz bab pemberian Kafur; Shohih Muslim 2/647; Musnad Ahmad 7/556 hadits ke-26752; Sunan an-Nasa’i 4/31 dan as-Sunan al-Kubra 3/547 bab 34 hadits ke-6634 dan atau 4/6 bab 72 halaman 6764).

  • Tabarruk para Sahabat dari Tempat Shalat Nabi saw.:

 Dari Musa bin Uqbah, beliau berkata: “Aku melihat Salim bin Abdullah bingung memilih tempat di jalanan untuk melaksanakan shalat. Dikatakan bahwa dahulu ayahnya pernah melaksanakan shalat di tempat itu. Dan ia pernah melihat bahwa Rasulallah saw. juga pernah melaksanakan shalat di tempat itu. Nafi’ berkata, ‘bahwa Ibnu Umar menjelaskan bahwa Rasulullah pernah melaksanakan shalat di tempat-tempat itu’. Aku bertanya kepada Salim karena aku tak pernah melihat Salim kecuali dia mengikuti Nafi’ dalam (memanfaatkan) semua tempat-tempat yang ada, kecuali mereka berdua berbeda dalam pada tempat sujud (masjid) sebagaimana kemuliaan alat putar penggiling (riha’)”. (Shohih Bukhari 1/130, Al-ishobah 2/349 pada huruf ‘Ain’ pada bagian pertama, tarjamah Abdullah bin Umar, nomer 4834, Al-Bidayah wa an-Nihayah 5/149 dan Kanzul Ummal karya Muttaqi al-Hindi al-Hanafi 6/247)
Dari hadits di atas itulah akhirnya Ibnu Hajar dalam mensyarahinya mengatakan; “Dari Shoni’ bin Umar dapat diambil pelajaran tentang disunnah kannya mengikuti peninggalan dan kesan Nabi untuk bertabarruk padanya”. (Fathul Bari 1/469; menurut as-Shorim: 108 dinyatakan bahwa Imam Malik menfatwakan; ‘Sunnah melakukan shalat di tempat-tempat yang pernah dibuat shalat oleh Nabi’. Pernyataan yang sama juga terdapat di kitab al-Isti’ab yang sebagai catatan kaki dari Al-Ishabah tentang Abullah bin Umar).
Tetapi pada kenyataannya, mengapa para muthawwi’ (rohaniawan sekte Wahabi) berusaha menghalang-halangi para jama’ah haji yang ingin ber tabarruk dan melakukan shalat di Gua Hira’ tempat menyendiri Rasulallah saw. yang beliau pakai untuk beribadah dan shalat di sana, dengan alasan Rasulallah saw. dan Salaf Sholeh tidak pernah memberi contoh hal tersebut?
 Ibnu Atsir berkata bahwa, ”Ibnu Umar adalah pribadi yang seringnya selalu mengikuti kesan dan peninggalan Rasulullah saw., sehingga nampak beliau berdiam di tempat (Rasulallah pernah berdiam di situ), dan melakukan shalat di tempat yang Rasulallah pernah melakukan shalat di situ, dan sampai pohon yang pernah disinggahi oleh Nabi saw. (untuk berteduh) pun di singgahinya, bahkan beliau (Ibnu Umar) selalu menyiraminya agar tidak mati k keringan”. (Lihat: Usud al-Ghabah 3/340, terjemah Abdullah bin Umar, nomer 3080. Dan hal serupa –dengan sedikit perbedaan redaksi– juga dapat dilihat dalam kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal 2/269 hadits ke-5968, Shohih Bukhari 3/140; Shohih Muslim 2/1981)

Apakah tabarruk Ibnu Umar tersebut tergolong syirik dan berlebih-lebihan (kultus) terhadap Rasulallah? Apakah mungkin pribadi mulia nan agung seperti Ibnu Umar melakukan perbuatan syirik yang dicela oleh Rasulallah saw.? Jika ya, lantas kenapa para Salaf Sholeh tidak pernah menegurnya, bukankah diamnya mereka berarti meridhoi hal yang sesat? Beranikah golongan pengingkar menyatakan bahwa itu adalah Syirik? Ataukah mereka terpaksa melegalkan perbuatan yang mereka anggap syirik itu? Ataukah mereka ini akan memutar balik makna riwayat-riwayat yang berkaitan Tawassul, Tabarruk sampai sesuai dengan pahamnya?
 Dari Anas bin Malik; “Sesungguhnya Ummu Sulaim meminta agar Rasulallah datang ke rumahnya dan melakukan shalat di rumahnya supaya ia dapat mengambilnya (bekas tempat shalat Rasulallah) sebagai mushalla. Rasulallah pun datang. Dia (Ummu Sulaim) sengaja memerciki tikar dengan air, kemudian Rasulallah melaksanakan shalat di atasnya yang di-ikuti oleh beberapa sahabat lainnya”. (Sunan an-Nasa’i jilid 1halaman 268 kitab masajid, bab 43 as-Sholat alal Hashir hadits 816).
 Dari Anas bin Malik; “Salah seorang pamanku membuat satu makanan, lalu berkata kepada Nabi: ‘Aku ingin engkau datang ke rumahku untuk makan dan shalat’. Dan (Anas) berkata: ‘Beliau saw. datang ke rumah sedang di rumah terdapat batu-batu (hitam). Beliau dipersilahkan ke salah satu sudut yang telah dibersihkan. Kemudian beliau saw. melakukan shalat, kami pun mengikutinya’ ”. (Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 249, kitab al-Masajid, bab al-Masjid fi ad-Daur, hadits 756; dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 3 halaman 130 dengan dua sanad atau dalam kitab Musnad Anas bin Malik hadits 11920)
 Suatu saat, datang Atban bin Malik salah seorang sahabat Rasulallah dari Anshar yang mengikuti perang Badr bersama Rasulallah saw. kepada Rasulallah seraya berkata: ‘”Wahai Rasulullah, telah lemah penglihatanku maka aku melakukan shalat bersama kaumku. Jika hujan turun dan meng- genangi lembah yang membentang antara tempatku dengan tempat mereka sehingga aku tak dapat melakukan shalat bersama mereka di masjid mereka ‘Wahai Rasulallah, aku mengharap engkau datang mengunjungiku dan me- laksanakan shalat di rumahku’. Rasululah saw bersabda kepadanya: ‘Aku akan melaksanakannya, insya-Allah’. Atban berkata: Keesokan harinya, di waktu siang, datanglah Rasulallah besama Abu Bakar. Kemudian Rasulallah meminta izin kepadaku dan akupun memberikannya izin. Beliau tidak duduk ketika memasuki rumah dan langsung bersabda; ‘Dibagian manakah engkau ingin aku mengerjakan shalat di rumahmu?’. Aku tunjuk satu sudut yang berada di rumahku. Rasulullah berdiri dan bertakbir. Kami pun turut berdiri dan mengambil saf untuk melakukan shalat dua rakaat dan membaca salam”.(Shohih Bukhari 1/115, 170 dan 175; Shohih Muslim 1/445, 61& 62)
Anehnya, dalam menetapkan pelarangan bertabarruk pada tempat-tempat dan benda-benda yang dianggap sakral (muqaddas), al-Ulyani dalam kitab “at-Tabarruk al-Masyru” hal: 68-69” berargumen dengan hadits Atban bin Malik yang disinyalir dalam kitab shohih Bukhari dan Shohih Muslim di atas untuk menetapkan ‘pengharaman tabarruk pada tempat dan benda’. Mengenai komentar Al-Ulyani lihat dan baca halaman selanjutnya yaitu pada kalimat Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan di bab ini.

  • Dalil Tabarruk dari Pusara (Kuburan) Rasulallah saw.:

Pada kajian lalu telah kita sebutkan beberapa hadits yang menjelaskan bahwa para Salaf Sholeh telah melakukan pengambilan berkah dari peninggalan-peninggalan Rasulallah saw. seperti sandal, tongkat, baju, bahkan mereka selalu mengusap-usap mimbar Nabi saw. dan mengusapkan nya ke mukanya. Semua perbuatan itu jelas-jelas dilarang oleh para rohaniawan madzhab Wahabi (Muttauwi’) terhadap para jama’ah haji yang ingin melakukannya sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat ter- hadap mimbar Rasulallah saw.
Kajian dan telaah kita berikut ini pada pembahasan; ‘Tabarruk terhadap Kuburan/Pusara’ yang jelas-jelas dilarang oleh kaum Wahabi, pengikut ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab yang sering mengatakan penghidup ajaran para Salaf Sholeh (Salafi). Padahal kalau kita teliti paham mereka banyak yang bertentangan dengan ajaran Salaf Sholeh dan prinsip dasar Ahlusunah wal Jama’ah, termasuk masalah pembolehan tabarruk terhadap kuburan/makam Rasulullah saw. Kaum muslimin yang pernah berziarah ke makam suci Rasulullah akan dengan jelas mengetahui bagaimana perlakuan para rohaniawan madzhab Wahabi itu, ketika mereka hendak mengusap tempat-tempat yang para sahabat Rasul saw. mengamalkannya.
 Dawud bin Abi Shaleh mengatakan: “Suatu saat Marwan bin Hakam datang ke Masjid (Nabawi). Dia melihat seorang lelaki telah meletakkan wajahnya di atas makam Rasul. Kemudian Marwan menarik leher dan mengatakan: ‘Sadarkah apa yang telah engkau lakukan?’. Kemudian lelaki itu menengok kearah Marwan (ternyata lelaki itu adalah Abu Ayyub al-Anshari ra) dan mengatakan: ‘Ya, aku bukan datang untuk seonggok batu, aku datang di sisi Rasulallah’. Aku pernah mendengar Rasulallah bersabda: ‘Sewaktu agama dipegang oleh pakarnya (ahli) maka janganlah menangis untuk agama tersebut. Namun ketika agama dipegang oleh yang bukan ahlinya maka tangisilah’ ”. (Lihat: Mustadrak ala as-Shohihain karya al-Hakim an-Naisaburi Jilid: 4 Halaman: 560 Hadits ke-8571 atau Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi Jilid: 4 Halaman 1404).
Juga riwayat semacam itu bisa dirujuk didalam kitab-kitab: Ibnu Hibban dalam shahihnya, Imam Ahmad (5:422), Tabarani didalam Mu`jam al-Kabir (4:189) dan didalam ‘Awsat’ disahkan oleh Haithami dalam al-Zawa’id (5:245), Al-Hakim dalam Mustadrak (4:515), Al-Dhahabi menshahihkan juga, al-Subki didalam Shifa’ al-Siqam halaman 126, Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2:261f, Haithami dalam al-Zawa’id 4:2). Hadits di atas (dari Hakim an-Naisaburi) telah dinyatakan keshohihannya oleh adz-Dzahabi. Sehingga tidak ada seorang ahli hadits lain yang meragukannya.
Atas dasar hadits di atas maka, as-Samhudi dalam kitab Wafa’ al-Wafa’ jilid: 4 halaman: 1404 menyatakan bahwa; “jika sanad haditsnya dinyatakan baik (benar) maka menyentuh tembok kuburan (makam) tidak bisa dinyatakan makruh”. Nah, jika hukum makruh saja tidak bisa ditetapkan apalagi hukum haram, sebagai perwujudan dari perbuatan syirik sebagaimana yang ‘dihayal kan’ oleh madzhab Salafi (baca: Wahabi).

Hadits di atas itu jelas menunjukkan disamping ziarah kepada Rasulallah saw. juga pengambilan barokah dari makam Rasulallah saw. Ziarah kubur dengan tujuan pengambilan barokah semacam itu tidaklah mengapa, bukan tergolong syirik ataupun bid’ah sebagaimana yang dianggap oleh kaum Wahhabi. Bila tidak demikian mengapa Abu Ayyub ra. tidak cukup beri salam dan berdo’a kepada Allah swt. tanpa di iringi dengan menempelkan wajah- nya di atas pusara Nabi saw.?
Dalam konteks riwayat itu juga tidak jelas di sebutkan apa penyebab teguran Marwan terhadap Abu Ayyub. Ada banyak kemungkinan di sini. Yang jelas bukan karena syirik atau bid’ah, karena kalau benar semacam itu niscaya Marwan akan tetap bersikeras melarang perbuatan Abu Ayyub tersebut. Bila orang ingin menjalankan Amar makruf nahi munkar tidak perduli siapa yang berbuat (baik itu sahabat maupun bukan sahabat) harus dicegah perbuatan munkarnya. Lalu mengapa Marwan menghentikan tegurannya ketika melihat bahwa yang melakukannya adalah Abu Ayyub?
Adapun teguran Marwan jelas tidak bisa disamakan dengan teguran para muthowwi’ (rohaniawan Wahhabi) di sekitar tempat-tempat suci di Saudi Arabia. Karena muthowwik itu dengan jelas langsung menvonis syirik, bukan karena rasa khawatir syirik, tidak lain karena kesalahan mereka dalam memahami dan mempraktekkan kaidah Syadzudz Dzarai dan dalam menentukan tolak ukur antara Tauhid dan syirik.
Bila apa yang dilakukan Abu Ayyub al-Anshari seorang sahabat besar Rasulallah itu tergolong perbuatan syirik (sebagaimana paham kaum Wahabi) maka mungkinkah seorang sahabat besar semacam beliau melaku- kan perbuatan syirik atau akan berbuat sesuatu yang berbau kekufuran atau kesyirikan? Sudah Tentu Tidak Mungkin! Beranikah golongan pengingkar menyatakan bahwa Abu Ayyub al-Anshari pelaku syirik karena tergolong penyembah kubur (quburiyuun)?
 Abu Darda’ dalam sebuah riwayat menyebutkan: “Suatu saat, Bilal (al-Habsyi) bermimpi bertemu dengan Rasulallah. Beliau bersabda kepada Bilal: ‘Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidak perhatianmu (jafa’)? Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?’. Selepas itu, dengan perasa- an sedih, Bilal segera terbangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju ke Madinah. Bilal mendatangi kubur Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulallah) datang. Bilal mendekap dan mencium keduanya”. (Tarikh Damsyiq jilid 7 halaman: 137; Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar jilid: 1 hal. 208; Tahdzibul Kamal jilid: 4 hal. 289, dan Siar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi jilid: 1 Halaman 358)
Bilal menganggap ungkapan Rasulallah saw. dalam mimpinya sebagai teguran dari beliau saw., padahal secara dhohir beliau saw. telah wafat. Jika tidak demikian, mengapa sahabat Bilal datang jauh-jauh dari Syam menuju Madinah untuk menziarahi Rasulallah saw.? Kalau Rasulallah benar-benar telah wafat sebagaimana anggapan golonganpengingkar bahwa yang telah wafat itu sudah tiada maka Bilal tidak perlu menghiraukan teguran Rasulallah itu. Apa yang dilakukan sahabat Bilal juga bisa dijadikan dalil atas ketidakbenaran paham Wahabisme –pemahaman Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab– tentang pelarangan bepergian untuk ziarah kubur sebagaimana yang mereka pahami tentang hadits Syaddur Rihal.

 Ibnu Hamlah menyatakan: “Abdullah bin Umar meletakkan tangan kanan- nya di atas pusara Rasul dan Bilal pun meletakkan pipinya di atas pusara itu”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ Jilid: 4 Halaman: 1405)
Apa maksud Ibnu Umar dan Bilal meletakkan tangan di pusara Rasulallah? Mengapa ulama madzhab Wahabi menvonnis syirik kepada penziarah yang ingin mengusap teralis besi penutup pusara Rasulallah saw. dan kedua sahabatnya? Apakah mereka ini juga menganggap semua hadits yang telah dikemukakan itu dho’if, palsu, maudhu’ dan lain sebagainya, karena ber- lawanan dengan pahamnya?
 Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib kw. bahwa: “Sewaktu Rasulullah di- kebumikan, Siti Fatimah –puteri Rasul satu-satunya– bersimpuh disisi kuburan Rasulallah dan mengambil sedikit tanah makam Rasulallah kemudian diletakkan dimukanya dan sambil menangis ia pun membaca be- berapa bait syair….”. (al-Fatawa al-Fiqhiyah karya Ibnu Hajar jilid 2 hal.18, as-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hal.340, Irsyad as-Sari jilid 3 hal. 352 dsb.nya)
Jika apa yang dilakukan Siti Fatimah tersebut adalah Syirik atau Bid’ah maka mengapa ia melakukannya? Apakah dia tidak pernah mengetahui apa yang telah diajarkan oleh ayahnya (Rasulullah)? Apakah mungkin khalifah Ali bin Abi Thalib membiarkan istrinya terjerumus ke dalam kesyirikan dan Bid’ah yang dilarang oleh beliau saw. (versi Wahabisme)? Bukankah keduanya adalah keluarga dan sahabat Rasulallah yang tergolong Salaf Sholeh, yang konon akan diikuti oleh kelompok Wahabi?
 Seorang Tabi’in bernama Ibnu al-Munkadir pun pernah melakukannya (bertabarruk kepada kuburan Rasulallah). “Suatu ketika, di saat beliau duduk bersama para sahabatnya, seketika lidahnya kelu dan tidak dapat berbicara. Beliau langsung bangkit dan menuju pusara Rasulallah dan meletakkan dagunya di atas pusara Rasulallah kemudian kembali. Melihat hal itu, seseorang mempertanyakan perbuatannya. Beliau menjawab: ‘Setiap saat aku mendapat kesulitan, aku selalu mendatangi kuburan Nabi’ ”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ Jilid: 2 Halaman: 444)
Atas dasar hadits-hadits tadi akhirnya as-Samhudi menyatakan dalam kitab Wafa’ al-Wafa’-nya (jilid: 1 Halaman: 544) bahwa; “Mereka (para sahabat) dan selainnya (Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in) sering mengambil tanah dari pusara Rasulallah. Aisyah (ummul mukminin) ra. membangunnya dan menutup pusara itu dengan terali. Dikatakan: ‘Ditutup olehnya (Aisyah) karena menghindari habisnya tanah pusara dan kerusakan bangunan di atasnya’ ”.
Masihkah golongan pengingkar yang mengatas namakan diri sebagai pengikut dan penghidup ajaran Salaf Sholeh itu hendak menuduh kaum muslimin yang bertabarruk terhadap peninggalan Nabi sebagai pelaku syirik dan bid’ah? Kalaulah secara esensial pengambilan berkah dari kuburan adalah syirik maka setiap pelakunya harus diberi titel musyrik, tidak peduli sahabat Rasulallah atau pun orang awam biasa! Beranikah golongan ini menjuluki mereka sebagai “para penyembah kubur” (Kuburiyuun)?, sebagai mana istilah ini sering diberikan kepada kaum muslimin yang suka mengambil berkah dari kuburan Nabi dan para manusia kekasih Allah (Waliyullah) lainnya?

  • Antar Para Sahabat pun Saling Bertabarruk:

Pertama-tama, kita akan melihat beberapa tekts tentang: apakah diperboleh- kan mengambil berkah dari selain Nabi, seperti para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ Tabi’in dan para manusia sholeh dan bertakwa pasca masa mereka? Kita di sini akan melihat beberapa tekts yang membuktikan bahwa para sahabat satu dengan yang lain dan diantara mereka telah saling mengambil berkah. Sedang kita tahu bahwa, menurut Ahlusunah wal Jama’ah, semua sahabat adalah Salaf Sholeh yang layak ditiru dan diikuti.
 Imam an-Nawawi dalam kitab “al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab” (jilid 5 hal. 68) dalam Kitabus-Shalat dan dalam Babus-Shalatul-Istisqo’ yang menukil riwayat bahwa Umar bin Khatab telah meminta do’a hujan melalui ‘Abbas (paman Rasulallah) sebagaimana yang telah kita kemukakan sebelumnya dengan menyatakan: ‘Ya Allah, Dahulu jika kami tidak mendapat hujan maka kami bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami, lantas engkau meng- anugerahkan hujan kepada kami. Dan kini, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi-Mu, maka turunkanlah hujan bagi kami. Kemudian turun lah hujan’. (Ibnu Hajar juga menyatakan bahwa; Abu Zar’ah ad-Damsyiqi juga telah menyebutkan kisah ini dalam kitab sejarahnya dengan sanad yang shahih).
 Dalam kitab yang sama di atas, disebutkan bahwa Muawiyah telah meminta hujan melalui Yazid bin al-Aswad dengan mengucapkan: “Ya Allah, kami telah meminta hujan melalui pribadi yang paling baik dan utama di antara kami (sahabat, red). ‘Ya Allah, kami meminta hujan melalui diri Yazid bin al-Aswad. Wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu kepada Allah’. Ia mengangkat kedua tangannya diikuti oleh segenap orang (yang berada disekitarnya). Maka mereka dianugerahi hujan sebelum orang-orang kembali ke rumah masing-masing”.
Ibnu Hajar dalam kitab ‘Fathul Bari’ (Syarah kitab Shohih al-Bukhari) pada jilid 2 halaman 399 dalam menjelaskan peristiwa permintaan hujan oleh Umar bin Khatab melalui Abbas, menyatakan: “Dapat diambil suatu pelajaran dari kisah Abbas ini yaitu, dimustahabkan (sunnah) untuk meminta hujan melalui pemilik keutamaan dan kebajikan, juga ahlul bait Nabi”.
 Ibnu Atsir dalam kitab ‘Usud al-Ghabah’ (Jilid: 3 Halaman: 167) dalam menjelaskan tentang pribadi [tarjamah] Abbas bin Abdul Mutthalib pada nomor ke-2797 menyatakan: “Sewaktu orang-orang dianugerahi hujan, mereka berebut untuk menyentuhi Abbas dan mengatakan: ‘Selamat atasmu wahai penurun hujan untuk Haramain’. Saat itu para sahabat mengetahui, betapa keutamaan yang dimiliki oleh Abbas sehingga mereka mengutama- kannya dan menjadikannya sebagai rujukan dalam bermusyawarah”.
 Sewaktu Umar bin Khatab melamar Ummu Kultsum (putri Ali bin Abi Thalib), ia mengatakan: ‘Aku ingin masuk menjadi bagian dari Rasulallah’.

 As-Samhudi dalam kitab “Wafa’ al-Wafa’” (jilid 2 hal. 448) menyatakan bahwa; ”Dahulu, Ali bin Abi Thalib selalu duduk di depan serambi yang ber- hadapan dengan kuburan (Rasulallah, red). Disitu terdapat pintu Rasulallah yang didepannya terdapat jalan yang dipakai Nabi keluar dari rumah Aisyah untuk menuju Masjid (Raudhah). Di tempat itulah terdapat tiang (pilar) tempat shalat penguasa (amir) Madinah. Ia (Ali bi Abi Thalib) duduk sambil menyandari tiang itu. Oleh karena itu, Al-Aqsyhary mengatakan: ‘Tiang tempat shalat Ali itu hingga kini sangat disembunyikan dari para pengunjung tempat suci (Haram) agar para penguasa dapat (leluasa) duduk dan shalat di tempat itu, hingga hari ini’. Disebutkan bahwa tempat itu disebut dengan ‘Tempat para Pemimpin’ (Majlis al-Qodaat) karena kemuliaan orang yang pernah duduk di situ (yaitu Ali bin Abi Thalib, red)”.
 Dalam kitab yang sama di atas, as-Samhudi (pada jilid 2 hal. 450) menukil dari Muslim bin Abi Maryam dan pribadi-pribadi lain yang menyatakan: “Pintu rumah Fatimah binti Nabi saw. terletak di ruangan segi empat yang berada di sisi kubur. Sulaiman berkata: Muslim telah berkata kepadaku: ‘Jangan engkau lupa untuk mengerjakan shalat di tempat itu. Itu adalah pintu rumah Fatimah dimana Ali bin Abi Thalib selalu melewatinya’ ”.
 Ibn Sa’ad dalam kitab ‘at-Thabaqoot al-Kubra’ (jilid 5 hal. 107) menukil riwayat yang menyatakan: “Sewaktu Husein bin Ali bin Thalib meninggalkan Madinah untuk menuju Makkah, ia bertemu dengan Ibn Muthi’ yang sedang menggali sumur. Ia berkata kepada Husein: ‘Aku telah menggali sumur ini tetapi tidak kudapati air dalam ember sedikit pun. Jika engkau berkenan untuk mendo’akan kami kepada Allah dengan berkah’. Husein berkata: ‘Berikan sedikit air yang kau punya’!. Kemudian diberikan kepadanya air lalu ia meminumnya sebagian dan berkumur-kumur dengan air tadi kemudian mengembalikannya ke dalam sumur. Seketika itu sumur menjadi memancar- kan air dengan melimpah” .
 Ibnu Hajar dalam kitab ‘as-Showa’iq al-Muhriqoh’ (halaman 310 pasal ke-3 tentang hadits-hadits yang berkaitan dengan ahlul bait) menyebutkan: “Ketika ar-Ridho (salah seorang keturunan Rasulallah, red) sampai di kota Naisabur, orang-orang berkumpul disekitar kereta tunggangannya. Ia mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta sehingga dapat dilihat oleh khalayak. Kemudian (sambil memandanginya) mereka berteriak-teriak, menangis, menyobek-nyobek baju dan melumuri dengan tanah, juga men- ciumi tanah bekas jalannya kendaraannya…”. (Hal ini juga dinukil oleh as-Sablanji dalam kitab ‘Nur al-Abshar’ halaman: 168, pasal Manaqib Sayid Ali ar-Ridho bin Musa al-Kadzim)
Di atas tadi adalah sebagian contoh bahwa para sahabat pun telah ber- tabarruk dari pribadi-pribadi yang dianggap lebih mumpuni dari sisi kebaikan dan ketaatan dibanding dengan yang lain. Ini sebagai bukti bahwa meng- ambil berkah dari orang-orang sholeh dan dianggap lebih bertakwa memiliki legalitas dalam ajaran Islam, karena para Salaf Sholeh telah melakukannya.
Dari kisah di atas juga dapat dipahami bahwa, tidak semua sahabat memiliki kemuliaan yang sama, terdapat perbedaan derajat ketakwaan dan keutama- an di antara mereka. Dan dari nukilan riwayat-riwayat tadi dapat diambil kesimpulan bahwa, hanya orang-orang yang Sholeh dan bertakwa saja yang dapat diambil berkahnya, baik pribadi orang Sholeh itu, do’anya maupun peninggalan-peninggalannya. Adapun orang yang tidak sholeh dan takwa, obyek-obyek yang tidak memiliki kesakralan Ilahi, maka jelas sekali bahwa semua itu diluar dari obyek kajian kita.
Dari riwayat-riwayat itu juga dapat kita ambil pelajaran untuk menjawab anggapan orang-orang seperti al-Jadi’ dalam kitabnya yang berjudul “At-Tabarruk; ‘Anwa’uhu wa Ahkamuhu” halaman: 261 dan as-Syatibi -dalam karyanya yang berjudul ‘al-I’tisham’ jilid 2 halaman: 9, dimana keduanya sepakat bahwa; ‘Tabarruk hanya diperbolehkan kepada diri dan peninggalan Rasulallah saja’. Hal itu karena mereka beralasan bahwa Rasulallah tidak pernah memerintahkannya. Selain itu, alasan lainnya adalah; ‘Tidak ada riwayat yang menjelaskan legalitas prilaku semacam ini’ (tabarruk kepada pribadi selain Nabi). Bahkan as-Syatibi menyatakan bahwa; ‘Barangsiapa yang melakukan hal itu maka tergolong bid’ah, sebagaimana tidak diper- bolehkannya mengawini perempuan lebih dari empat’.
Telah jelas riwayat-riwayat di atas membuktikan bahwa para Sahabat telah mengambil berkah kepada sesama sahabat yang dianggap lebih utama dari sisi ketakwaan. Entahlah mengapa al-Jadi’ dan as-Syatibi tidak pernah menemukan riwayat-riwayat semacam itu?. Lagi pula, jika bertabarruk kepada sahabat adalah bid’ah, mengapa sahabat Umar telah bertabarruk kepada Abbas? Apakah khalifah Umar telah melakukan Bid’ah, karena melakukan satu perbuatan yang Rasulallah saw. tidak pernah memerintah- kan dan mencontohkannya? Beranikah orang menvonis sahabat seperti Umar bin Khatab (khalifah kedua) sebagai ahli Bid’ah?
Walaupun Rasulallah saw. tidak pernah memerintahkannya tetapi bukan berarti otomatis bertabarruk selain kepada beliau saw. itu sebagai amalan bid’ah, haram dan sebagainya. Mengapa justru al-Jadi dan as-Syatibi berani melarangnya?, sedangkan Rasulallah saw. sendiri tak pernah melarangnya!
Sekarang yang menjadi masalah adalah, jika tadi telah ditkemukakan bahwa selain peninggalan Nabi saw., peninggalan para Sahabat Nabi pun boleh untuk diambil berkahnya sewaktu masa hidup mereka, bagaimana dengan perkara tadi setelah kewafatan mereka? Dan yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya adalah; Bolehkah kita (kaum muslimin) mengambil berkah dari orang biasa (bukan Nabi dan juga bukan Sahabat Nabi) namun dia tergolong orang Sholeh dan bertakwa? Apakah pengambilan berkah dari mereka hanya sebatas sewaktu mereka masih hidup ataukah juga diperbolehkan untuk mengambil berkah dari jenazah (jasad orang yang telah mati) dan kuburan mereka? Untuk menjawab syubhat ini –selain telah kita singgung sebelumnya bahwa para sahabat telah mengambil berkah dari kuburan Rasulallah akan kita jelaskan berikut ini bahwa tidak hanya dibatasi pada orang Sholeh yang masih hidup saja, bahkan pasca kematiannya pun masih bisa (legal) untuk ditabarruki, tidak seperti sangkaan golongan pengingkar yang dengan tegas menyatakannya sebagai perbuatan syirik.

  • Jenazah dan Kuburan/Pusara Ulama yang Diambil Berkah:

Setelah kita mengetahui pendapat (baca: fatwa) para ulama Ahlussunnah dari berbagai madzhab perihal legalitas mengambil berkah (tabarruk) dari berbagai peninggalan Nabi saw. setelah wafat beliau terkhusus pusara suci beliau saw. dan dari para manusia sholeh lainnya, kini kita akan melihat bagaimana kaum muslimin pun melanjutkan dan menerapkan syiar Islam ini kepada kuburan para sahabat Rasulallah saw. dan ulama mereka.
 Kuburan Bilal al-Habsyi –seorang sahabat besar dan muadzin Rasulallah– yang berada di Damaskus (Syiria) adalah salah satu dari manusia mulia kekasih Allah dan Rasul-Nya yang selalu diziarahi dan diambil berkah oleh banyak dari kaum muslimin. Bukan hanya kaum muslim awam saja yang mencari berkah darinya, namun para Waliyullah pun turut berdo’a dan mengambil berkah darinya. (Lihat: Rihlah bin Jubair halaman: 251)
 Kuburan Abu Ayyub al-Anshari (di Istanbul, Turki) juga termasuk yang di ambil berkahnya. Al-Hakim an-Naisaburi menjelaskan: “Mereka bertekad, menziarahi dan mencari berkah hujan jika ditimpa kekeringan.” (Lihat: al-Mustadrak ‘ala as-Shohihain jilid: 3 halaman: 518 atau Ibnu al-Jauzi dalam Shofwah al-Shofwah jilid: 1 halaman: 407)
 Makam sahabat besar Suhaib ar-Rumi juga termasuk yang dicari berkahnya. Bahkan as-Samhudi sendiri pernah mencoba tanah kuburannya untuk mengobati demam. Begitu juga dengan kuburan Hamzah bin Abdul Mutthalib –paman Nabi dan penghulu para syahid– dimana as-Samhudi menukil ucapan az-Zarkasyi yang menyatakan: “Tanah makam Hamzah di ambili oleh orang-orang untuk pengobatan”. (Wafa’ al-Wafa’ jilid 1 hal. 69).
 Salah seorang sahabat Rasulallah saw. yang bernama Abu ‘Amr Sa’ad bin Muadz al-Anshari yang dalam kitab Siar A’lam an-Nubala jilid 1 halaman 279 disebutkan bahwa kematiannya menyebabkan ‘Arsy goncang kuburan- nya menjadi salah satu tempat pengambilan berkah. Disebutkan bahwa salah seorang telah mengambil tanah pekuburannya kemudian membawa- nya pergi. Setelah lama ternyata berubah menjadi misik. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ karya as-Samhudi jilid 1 halaman 115)
 Makam Umar bin Abdul Aziz salah seorang khalifah dari Bani Umayyah (wafat tahun 101 H) menjadi sasaran pencari berkah. Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh adz-Dzahabi. (Tadzkirah al-Huffadz jilid 1 hal. 339).
 Pusara salah seorang cucu Rasulullah yang bernama Imam Ali bin Musa ar-Ridho yang kuburannya berada di Thus juga menjadi
obyek ziarah dan pencarian berkah. Abu Bakar Muhammad bin Muammal mengatakan: “Ketika kami keluar bersama Imam ahli Hadits Abu Bakar bin Khuzaimah beserta ‘Adilah Abi Ali ats-Tsaqofi yang disertai dengan beberapa orang syeikh kita yang ingin menziarahi Ali bin Musa ar-Ridho di kota Thus. Beliau mengatakan: ‘Aku melihat betapa penghormatan, kerendahan dan perendah- an dirinya –yaitu Ibnu Khuzaimah– terhadap kuburan itu hingga kami heran dibuatnya’ ”. (Tahdzib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar al-Asqolani jilid 7 hal. 339)

 Abdullah bin al-Haddani yang terbunuh (syahid) pada ‘hari Tarwiyah’ di tahun 183 H juga merupakan salah seorang yang kuburannya menjadi obyek pencarian berkah kaum muslimin.
Mereka mengambil tanah pekuburannya. Tanah itu ibarat misik yang kemudian mereka taburkan di baju mereka. (Lihat: Hilliyatul Auliya karya Abu Na’im al-Isbahani jilid: 2 halaman: 258 atau kitab Tahdzib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar al-Asqoilani jilid: 5 halaman: 310)
 Kuburan Ma’ruf al-Karakhi pun termasuk yang dicari berkahnya oleh kaum muslimin. Ibnu al-Jauzi dalam hal ini menyatakan: “Kuburannya terletak di Baghdad nampak menonjol dan diambil berkahnya. Ibrahim al-Harbi mengatakan: ‘Kuburan Ma’ruf adalah obat yang mujarab’ ”. (Lihat: Shofwah al-Shofwah Jilid: 2 Halaman: 324)
 Kuburan al-Khidr bin Nashr al-arbali (wafat tahun 567 H) seorang ahli fikih dari mazhab Syafi’i kuburannya dijadikan tempat pencarian berkah. Ibnu Katsir dalam menukil ungkapan Ibnu Khalkan mengatakan: “Kuburannya diziarahi, dan aku telah menziarahinya lebih dari sekali. Kulihat orang-orang mengerumuni kuburannya dan mencari berkah darinya”. (Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir jilid: 12 halaman: 353)
 Kuburan Nuruddin Mahmud bin Zanki (wafat tahun 569 H) –beliau adalah pejuang dan penguasa negeri Syam (Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah Jilid: 12 Halaman: 306)- juga termasuk yang dicari berkahnya. Ibnu Katsir dalam hal ini menyatakan: “Kuburannya berada di Damaskus yang selalu diziarahi, digelayuti jendelanya, diberi minyak wangi dan dicari berkahnya setiap saat” (Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah Jilid: 12 Halaman: 353)
 Kuburan Imam al-Bukhari (pemilik kitab Shohih) pun tidak luput dari pencari berkah dari kaum muslimin. As-Subki dalam menjelaskan wafat beliau, menyatakan: “Adapun tentang tanah (kuburan), mereka telah meninggikan tanah kuburannya sehingga nampak menonjol. Sampai-sampai para penjaga tidak mampu menjaga kuburan tersebut. Kami telah melupakan diri kami sendiri, lantas kami menyerbu kuburan tersebut bersama-sama. Hingga sulit bagi kami untuk sampai ke kuburan tersebut.” (Lihat: Thobaqoot as-Syafi’iyah jilid: 2 halaman: 233 atau kitab Siar A’lam an-Nubala karya adz-Dzahabi jilid: 12 halaman: 467)

Dan masih banyak lagi kuburan-kuburan lain yang menjadi pusat ziarah mau pun pencarian berkah yang terdapat di berbagai negara seperti; Irak, Syiria, Mesir, Pakistan, Yordania, Yaman, Iran, Indonesia, Malaysia, Singapore dan negara-negara lainnya. Kuburan-kuburan itu adalah pusara-pusara para kekasih Ilahi yang diperbolehkan bagi setiap muslim untuk menziarahinya dan mencari berkah darinya, berdasarkan syariat Islam yang diajarkan oleh Rasulallah melalui sahabat-sahabat mulia beliau yang menjadi sandaran kesepakatan ulama Ahlusunnah dalam memberikan fatwa legalitas ber- tabarruk. Jika hal tersebut tetap dinyatakan oleh golongan pengingkar sebagai perbuatan ghuluw, syirik, maka apa kata mereka ketika melihat kuburan dan jenazah Ahmad bin Hanbal yang diakui sebagai Imam hadits mereka dan jenazah Ibnu Taimiyah diperlakukan sama semacam itu oleh kelompok dari mereka sendiri?
Marilah kita lihat apa yang terjadi dengan kuburan Imam Ahmad bin Hanbal dan jenazah Ibnu Taimiyah:
Ibnu Hanbal: Kuburan Imam Ahmad bin Hanbal (wafat tahun 241 H) nampak menonjol dan masyhur menjadi tujuan ziarah para penziarah dan tempat pencarian berkah. (Lihat: Mukhtashar Thabaqoot al-Hanabilah halaman: 14)
Ibnu Taimiyah: Ibnu Katsir mengisahkan: “Dalam menghantar (tasyi’) jenazahnya orang-orang berbondong-bondong hingga iringan jenazahnya memenuhi jalanan. Semua orang menyerbunya dari segala penjuru sehingga kerumunan kian bertambah ramai. Mereka melempar sapu tangan dan sorban mereka di atas keranda guna mengambil berkah. Kayu-kayu keranda jenazah banyak yang putus akibat terlampau banyak orang yang bergelayut- an. Mereka juga meminum air bekas memandikan jenazahnya untuk mencari keutamaan (tayammun)….mereka bersedia membeli sisa-sisa kayu bidara (sidir, bekas memandikan jenazah) dan membagi-baginya diantara mereka…dan bahkan dikatakan bahwa; ‘Benang yang diberi air raksa (zibaq) yang diletakkan pada jasadnya untuk menghalau kutu-kutu pun mereka beli dengan harga seratus lima puluh dirham”. (Lihat: al-Bidayah wa an-nihayah jilid: 14 hal. 136 atau pada kitab al-Kuna wa al-Alqob jilid: 1 halaman: 237)
Jika pencari berkah dari kuburan dan dari jenazah (orang mati) adalah syirik atau bid’ah, maka penziarah kubur Imam Ahmad bin Hanbal semuanya para ahli bid’ah dan kaum musyrik. Lebih kasihan lagi pengantar jenazah Ibnu Taimiyah, betapa tidak, karena para pengantar jenazahnya berebutan untuk mengambil barokah dari keranda, minum air bekas memandikan jenazah beliau dan lain sebagainya.

  • Mari kita rujuk lagi macam-macam bentuk riwayat lainnya yang berkaitan dengan Tabarruk

– Samiri, (pada zaman Nabi Musa as.) yang mengambil barakah dari tanah dimana Jibril as melaluinya. Ketika Samiri mengambil dan melemparkan tanah pada patung anak sapi yang dibuatnya, patung jadi bisa bersuara, karena berkah dari tanah bekas jejak malaikat Jibril as.tersebut. Firman Allah swt:
(Samiri menjawab): “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahui nya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”. (S Thaahaa [20] ayat 96)
Hampir semua ahli tafsir menginformasikan bahwa yang dmaksud dengan jejak Rasul dalam ayat di atas adalah jejak malaikat Jibril a.s.

 Begitu juga firman Allah swt. agar menjadikan tempat berdirinya Nabi Ibrahim as. waktu membangun Ka’bah sebagai tempat sholat: ..’Dan jadikan lah sebagian maqam (tempat berdiri) Ibrahim tempat sholat’. (Al-Baqarah:125). Disini menunjukan bahwa Allah swt. memuliakan Rasul-Nya Ibrahim as. dan menjadikan tempat berdirinya beliau sebagai tempat yang mulia yang dianjurkan manusia untuk melakukan sholat pada tempat tersebut dan pengambilan barokah.
Silahkan juga rujuk tentang riwayat para sahabat percaya bahwa rumah yang pernah dimasuki Rasulallah ada barakahnya. (Bukhari,jilid 5, Buku 58, nomer 159, Ahmad Musnad 3:98 #11947, Bukhari, jilid 7, Buku 71, Nomer 647, Malik in al-Muwatta; Buku 50 nomer 50:4:10, Abu Dawud, 41: 5206).
– Mu’adz Ibnu Jabal dan Bilal (ra) datang kemakam Nabi duduk menangis dan mengusapi mukanya dengan tanah itu. (Ibnu Majah 2:1320).
– Nabi memerintahkan para sahabat untuk mengambil berkah dari sumur di mana onta betina Nabi Sholeh minum disitu. (Bukhari, jilid 4, Buku 55, no 562).
Menurut riwayat sumur Nabi Sholeh a.s.ada dikota ‘Asir di Saudi Arabia dekat perbatasan Yaman. Banyak para sahabat waktu itu diantaranya; Ali bin Abi Thalib, Mu’az bin Jabal, Abu Musa Al- Asy’ari (ra) diutus oleh Rasulallah saw. ke Yaman dan sahabat lainnya diutus untuk dakwah keluar kenegara-negara selain Hijaz (sekarang Saudi Arabia) misalnya Khalid bin Walid ke Najran, Utsman bin Abi ‘Ash ke Tsaqif dan sebagainya.
Nah, kalau sumur yang ontanya Nabi Sholeh as pernah minum air disana berapa waktu silam sebelum zaman Nabi saw. saja masih bisa menjadikan barokah apalagi bekas-bekas peninggalan manusia yang mulia dan taqwa yakni Rasulallah saw. atau para sahabat dan para waliyullah yang mana mereka semua dimuliakan oleh Allah swt. Jadi penghormatan serta peng ambilan barokah dari tempat yang suci tidak sama dengan menyembahnya!
 Firman Allah swt. kepada Nabi Musa a.s.: “Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa“. (QS Thaahaa:12).
Allah swt. sendiri menyatakan lembah Thuwa adalah tempat yang suci sehingga Nabi Musa as. ditempat ini diperintahkan untuk menanggalkan terompahnya sebagai penghormatan (ta’dhim) pada tempat tersebut. Ini bukti bahwa ada tempat-tempat yang disucikan oleh Allah swt. Apa mungkin Allah swt. memerintahkan sesuatu yang berbau syirik? Sudah tentu tidak mungkin! Dengan demikian kita harus bisa membedakan antara ta’dhim/penghormatan dan ibadah!
 Khalifah Umar ra. ketika mengunjungi Ka’bah berkata pada Hajar Al-Aswad: ‘Kamu tidak bisa apa-apa, tapi saya menciummu untuk mengikuti Rasulallah saw.’ Atas ucapan Khalifah Umar ini khalifah Ali kw. berkata pada khalifah Umar sebagai berikut: ‘Rasulallah saw. berkata dihari pengadilan hajar Al-Aswad akan menjadi perantara (saksi) atas orang-orang’. (Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasai, Al-Baihaqi, At-Tabharani dan Al-Bukhari dalam kitab Risalahnya) dan khalifah Umar ra berterima kasih pada Amirul mukminin Ali bin Thalib kw.
Golongan Salafi/Wahabi menyebarkan versi hadits terakhir di atas ini dengan mengurangi dari riwayat aslinya. Mereka menceritakan hanya sampai kata-kata khalifah Umar ra. saja, dan membuang perkataan khalifah Ali kw. yang menyatakan bahwa Hajar al-Aswad akan menjadi wasilah atau perantara pada hari pengadilan nanti. Golongan ini tidak siap untuk mengambil pengajaran dari sebagian isi dari Al-Qur’an dan Sunnah karena berlawanan secara langsung dengan keyakinan literalisme mereka. Sayangnya ulama-ulama mereka berusaha sebisa mungkin menyembunyikan atau menolak hadits-hadits yang telah kami kemukakan, supaya orang-orang tetap tidak tahu mengetahui hadits-hadits seperti itu. Sedangkan pengikut-pengikutnya hanya mengikuti apa yang diucapkan oleh para ulama mereka ini.
Mengenai hajar aswad Ibnu Hibban dalam kitab Shohih-nya mengatakan: “Bahwa Nabi saw. bersabda: ‘Al-hajaru war ruknul yamaaniyyu yahutthul khataayaa hatthan’. Artinya: “Hajar aswad (batu hitam) dan rukun yamani menggugurkan dosa sebanyak-banyaknya”. (dinukil dari kitab Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq jilid 5 cet.pertama hal. 152). Banyak riwayat lain mengenai hajar aswad ini.
 Diriwayatkan oleh Imam Muslim (Lihat kitab Al-Libas Wa Az-Zinah jilid 3, halam 140) sebagai berikut: “Asma binti Abubakar As-Shiddiq ra menuturkan, bahwa ia pernah mengeluarkan jubah thayalisah (yaitu pakaian kebesaran yang lazim dipakai oleh raja raja Persia), pada bagian dada dan dua lipatan yang membelahnya berlapiskan sutera mewah. Menurut Asma itu adalah jubah Rasulallah saw. yang dulu disimpan oleh Aisyah ra. Setelah Aisyah wafat jubah itu disimpan oleh Asma. Asma mengatakan, bahwa Nabi saw. semasa hidupnya pernah memakai jubah tersebut dan sekarang , kata Asma, jubah itu kami cuci dan kami manfaatkan untuk bertabarruk mohon kesembuhan bagi penderita sakit ”.
 Imam al-Bukhari dalam kitab shahih-nya menuliskan satu bab khusus tentang “Tentang baju besi (untuk perang .red), tongkat, pedang, gelas dan cincin Nabi, serta apapun yang dilakukan para khalifah pasca (wafat) beliau saw. dari barang-barang tersebut yang belum disebutkan; dari rambut, sandal dan nampan yang diambil berkahnya oleh para sahabat dan selainnya, pasca wafat beliau” (bab; Maa dzakara min Dir’un Nabi wa ‘Ashohu wa Saifihi wa Qodhihi wa Khotamihi wa Maa Ista’mala al-Khulafa’ Ba’dahu min Dzalika Mimma Lam Yudzkar Qisamatuhu, wa min Sya’rihi, wa Na’lihi wa Aaniyatihi mimma tabarraka Ashabuhu wa Ghairuhum ba’da Wafatihi). Hanya Imam Bukhari yang menyebutkan bab tersebut dalam kitab Shahih beliau, yang tidak dilakukan dalam kitab enam (Kutub as-Sittah) yang menjadi kitab standart Ahlusunah wal Jama’ah yang ada. (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 4 halaman 46 di bab yang sama)
 Imam Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah meriwayatkan, bahwa ‘Asma binti Abubakar pada suatu hari mengeluarkan sehelai jubah, kemudian berkata kepada orang-orang yang hadir: ’Dahulu Rasulallah saw. memakai jubah ini. Jubah ini kami cuci dan airnya kami gunakan untuk menyembuhkan orang-orang sakit’.
 Ibnu Qusaith dan Al-‘Utbi dalam kitab ‘Thabaqat’ yang disusun oleh Ibnu Sa’ad mengatakan, bahwa para sahabat Nabi pada saat memasuki masjid Nabawi mengusapkan tangan pada mimbar Rasulallah saw. yang berdekat- an dengan makam beliau dengan maksud bertabarruk dan bertawassul. Mereka kemudian menghadap kiblat lalu berdo’a.
Dalam Thabaqat ini Ibnu Sa’ad Abdurrahman bin ‘Abdulqadir juga mengata- kan, “bahwa ia melihat ‘Abdullah bin ‘Umar Ibnul Khattab ra. bertabarruk dengan mengusapkan tangannya pada tempat duduk Rasulallah saw. yang berada di mimbar beliau, kemudian mengusapkan tangan itu pada wajah- nya”. Dalam riwayat yang lain lagi, Abdurrahman mengatakan; “bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar juga mengusapkan tangannya pada bagian mimbar yang dahulu sering dipegang oleh Rasulallah saw.”.
 Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa menurut sebuah riwayat, Ibnu Umar pernah meletakkan tangannya pada tempat duduk di mimbar Rasulallah saw., kemudian ia mengusapkan tangannya ke wajah.

 Ibnu Taimiyah mengemukakan sebuah riwayat berasal dari Ahmad bin Hanbal, bahwa ia Imam Ahmad membolehkan orang mengusap mimbar dan rumanahnya (benda bulat dari kayu yang berada di atas mimbar (kuno), tempat berpegang pada saat orang sedang berkhutbah). Ibnu Taimiyah juga meriwayatkan bahwa “Ibnu ‘Umar, Sa’id bin Al-Musayyab dan Yahya bin Sa’id salah seorang ulama Fiqih di Madinah semuanya pernah melaku- kan hal seperti itu”. (Lihat Iqtidha As-Shirathil Mustaqim, halaman 367).
 Dinukil dari Syeikh al-Allamah Ahmad bin Muhamad al-Maqri (al-Maliki) –wafat tahun 1041 H– dalam kitab Fathu al-Muta’al bi Shifat an-Ni’al, dinukil dari Waliyuddin al-Iraqi yang menyatakan: al-Hafidh Abu Sa’id bin al-‘Ala menyatakan: “Aku melihat ungkapan Ahmad bin Hanbal pada cetakan/bagian lama (juz’ qodim) dimana terdapat tulisan tangan Khath bin Nashir (Keterangan: beliau adalah al-Hafidh Muhammad bin Nashir Abul Fadhl al-Baghdadi wafat tahun 505 H dimana Ibnu Jauzi dalam kitab al-Muntadham jilid: 18 halaman: 103 Nomer: 4201 menjelaskan bahwa beliau adalah hafidh [penghapal/penjaga] yang kuat dan dapat dipercaya) dan dari beberapa al-Hafidh lainnya yang menyatakan bahwa; ‘Sesungguhnya Imam Ahmad (bin Hanbal) pernah ditanya tentang mencium kubur Nabi dan mencium mimbar nya. Lalu beliau berfatwa: Hal itu tidak mengapa’”.
Ia (al-Hafidh Abu Sa’id bin al-‘Ala) berkata: “Aku tunjukkan hal itu kepada at-Taqi Ibnu Taimiyah kemudian dia terkejut dengan hal itu dengan menyata- kan: ‘Aku heran dengan Ahmad yang sangat mulia disisiku, begini ungkapannya atau kandungan ungkapannya’. Kemudian (al-Hafidh Abu Sa’id bin al-‘Ala) berkata lagi: ‘Adakah keanehan dari hal itu sedang kita telah mengisahkan berkaitan dengan Ahmad bahwa ia telah mencuci baju as-Syafi’i (Ibn Idris) dan lalu meminum air bekas cucian tadi’ “. (Lihat: Manaqib Ahmad karya Ibnu Jauzi halaman: 609, atau Al-Bidayah waan-Nihayah karya Ibnu Katsir jilid: 1 halaman: 365 pada kejadian tahun 241 H).
LIhat riwayat ini, Ibnu Taimiyah dikala mendengar bahwa Imam Ahmad ber- fatwa membolehkan tabarruk terhadap kuburan Rasulallah saw.dan Imam Ahmad sendiri bertabarruk dari perasan cucian baju Imam Syafi’i, ia hanya mengatakan: “Aku heran dengan Ahmad yang sangat mulia disisiku, begini ungkapannya atau kandungan ungkapannya”? Kalau memang ini bid’ah dan syirik mengapa Ibnu Taimiyyah tidak mengatakan: “Imam Ahmad telah me- lakukan bid’ah atau syirik dan ia adalah ahli bid’ah dan musyrik yang ajarannya harus dijauhi bahkan diperangi dan darah serta hartanya halal!”.
 Imam Ahmad bin Hanbal sendiri pernah juga bertabarruk dan Al-Hafidz membenarkannya. Hal itu dituturkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad (putera Imam Ahmad). ‘Saya pernah melihat ayahku mengambil sehelai rambut Rasulallah saw. lalu dicium dengan mulutnya. Bahkan saya pernah melihatnya menempelkan rambut Rasulallah saw. pada matanya, kemudian mencelup kannya dalam air lalu diminumnya air itu bertabarruk mohon kesembuhan. Saya pernah juga melihat ayahku memegang piring Rasulallah saw., kemudian dicucinya lalu ia minum air yang berada dipiring itu. Saya pun pernah melihat ayahku minum air Zam-zam bertabarruk mohon kesembuh an, dan setelah itu ia mengusap-usap tangan dan mukanya dengan air tersebut’.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal ini telah bertanya pada ayahnya mengenai orang yang menyentuh atau mengusap-usap rummanah mimbar Rasulallah saw. dan mengenai orang yang mengusap-usap atau mencium Hajar Al-Aswad (batu hitam yang terletak dipojok Ka’bah). Sebagai jawaban beberapa pertanyaan tersebut ayah beliau Imam Ahmad bin Hanbal berkata: ‘Saya berpendapat hal itu tidak ada salahnya!. Semoga Allah melindungi semua dan ayahmu dari pendapat kaum Khawarij dan dari berbagai bid’ah (Lihat Siyaru A’lami-Nubala’ jilid 11 hamalan 312).
 Dinukil dari Ibnu Jama’ah (as-Syafi’i) yang menyatakan; Abdullah bin Ahmad bin Hanbal pernah menceritakan perihal ayahnya. Ia (Abdullah) meriwayatkan: ‘Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang seseorang yang menyentuh mimbar Rasulallah dan bertabarruk dengan mengusap-usap juga menciumnya. Dan melakukan kuburan sebagaimana hal tadi (mengusap dan mencium) dengan tujuan mengharap pahala Allah’. Beliau menjawab: “Tidak mengapa”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ jilid: 4 halaman: 1414).
 Syeikh Ibnu Hajar berfatwa: “Sebagian menggali dasar hukum dari legalitas mencium Hajar Aswad dengan diperbolehkannya mencium segala yang memiliki potensi untuk diagungkan dari manusia ataupun selainnya (benda, red)” (Lihat: al-Wafa’ al-Wafa’ Jilid 4 Halaman: 1405)
 Syeikh Ibrahim al-Bajuri berfatwa: “Dimakruhkan mencium kuburan dan menyentuhnya kecuali untuk bertabarruk maka tidak makruh” (Lihat: Syarh al-Fiqh as-Syafi’i Jilid:1 Halaman: 276)
 Syeikh Muhibbuddin at-Thabari berfatwa: “Diperbolehkan mencium dan menyentuh kuburan. Itu merupakan perbuatan para ulama dan orang-orang sholeh” (Lihat: Asna al-Matholib jilid: 1 halaman: 331 atau sebagaimana yang dinukil dalam kitab Wafa’ al-Wafa’ jilid: 4 halaman: 1407)
 Syeikh ar-Ramli as-Syafi’i berfatwa: “Jika kuburan Nabi, wali atau seorang alim disentuh ataupun dicium untuk tujuan tabarruk maka tidak mengapa” (Lihat: Kanzul Matholib karya al-Hamzawi halaman: 219)
 Syeikh Az-Zarqoni al-Maliki menfatwakan: “Mencium kuburan hukumnya makruh, kecuali jika bertujuan untuk tabarruk maka tidak makruh” (Lihat: Syarh al-Mawahib jilid: 8 halaman: 315).
 Syeikh al-Adwi al-Hamzawi al-Maliki menfatwakan: “Tiada keraguan lagi bahwa mencium kuburan mulia (Rasulallah) tidak akan dilakukan kecuali untuk bertabarruk. Hal itu lebih utama dalam pembolehannya dibanding dengan tabarruk untuk kuburan para kekasih Allah (awliya’)” (Lihat: Kanzul Matholib halaman: 20 dan Masyariq al-Anwar jilid: 1 halaman: 140).
 Syeikh Syihabuddin al-Khoffaji al-Hanafi menyatakan berkaitan dengan ungkapan yang mengatakan: ‘Dimakruhkan menyentuh, mencium dan menempelkan dada’. Beliau menjawab dengan menfatwakan: “Hal ini (hukum makruhnya) tidak ada kesepakatan padanya. Atas dasar itulah Ahmad dan Thabari mengatakan bahwa; tidak mengapa mencium dan menyentuhnya” (Lihat: Syarh as-Syifa’ jilid: 3 halaman: 171 dan atau sebagaimana yang dinukil oleh Syamhudi dalam Wafa’ al-Wafa’ jilid: 4 halaman: 1404)
 Imam Muslim mengetengahkan hadits dari Anas yang mengatakan: “Pada suatu hari Rasulallah saw. datang kerumah kami, kemudian beliau tidur hingga berkeringat. Ibuku datang membawa sebuah botol (wadah) lalu mewadahi keringat beliau yang menetes. Setelah bangun tidur beliau saw. bertanya: ‘Hai Ummu Sulaim, Apakah yang telah engkau perbuat?’ Ibuku menjawab: ‘Keringat (anda) ini hendak kujadikan minyak wangi dan itu merupakan minyak wangi yang paling harum baunya’ “.
 Tabarruk pernah juga dilakukan oleh Rasulallah saw.dalam Isra’ yaitu dari Al-Baitul Haram ke Al-Baitul Maqdis. Ditengah perjalanan beliau turun dari Buraq yang dikendarainya kemudian menunaikan shalat dibeberapa tempat tertentu, seperti di Thur Sina, Di Baitul Laham (Betlehem, tempat kelahiran Nabi ‘Isa as.), dan lain-lain sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab hadits dan sirah (sejarah) Nabawiyyah.
 Tabarruk dengan petilasan/bekas orang-orang wali dan shalih itu juga di perkenankan oleh syariat. Imam Al-Hafidz Al’Iraqi dalam kitabnya yang berjudul Fathul Muta’al meriwayatkan bahwa Ahmad bin Hanbal mem- perbolehkan orang mencium makam Rasulallah saw., makam para waliyullah dan orang shalih lainnya, sebagai tabarruk. Ketika Ibnu Taimiyah melihat orang berbuat seperti itu, ia keheran-heranan. Selanjutnya Imam Al’Iraqi berkata padanya: “Apa anehnya? Bukankah kami telah meriwayat-kan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal bertabarruk dengan minum air bekas cucian baju Imam Syafi’i? Bahkan Ibnu Taimiyah sendiri juga meriwayatkan, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal bertabarruk dengan petilasan Imam Syafi’i.
 Dalam kitab Al-Hikayatul Mantsurah imam ahli hadits yang bernama Al-Hafidz Ad-Dhiya Al-Maqdisy mengatakan bahwa Imam Abdulghani Al-Hanbali ketika menderita penyakit bisul lama tak dapat sembuh, ia ber- tabarruk dengan mengusapkan bisulnya pada makam Imam Ahmad bin Hanbal, dan ternyata segera sembuh.
 Al-Khatib dalam Tarikh-nya mengatakan, ketika tinggal di Iraq beberapa waktu lamanya Imam Syafi’i bertabarruk dengan ziarah kemakam Abu Hanifah.
Kita sayangkan, golongan pengingkar berwatak keras kepala, dan merasa paling benar sendiri, paling suci dan paling memahami syari’at Islam. Sayang sekali masih ada kelompok muslimin yang terpengaruh dan mengikuti ajaran-ajaran golongan ini. Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah swt. sehingga bisa menjalani agama Islam yang benar. Amin.
Contoh perbuatan tabarruk yang sampai sekarang bisa dilihat masyarakat muslimin yaitu mengusap dan mencium batu hitam (Hajr Al Aswad) dan minum air Zam-zam, berdo’a ditempat-tempat tertentu: di ‘Arafah, Mina, Muzdalifah (Masy’aril Haram) serta sholat di masjid-masjid tertentu dan sebagainya. Tempat-tempat tertentu yang telah ditetapkan sebagai manasik ibadah haji, disitu kaum muslimin berdo’a, bersembah sujud kepada Allah swt. dan lain-lain.

  • Komentar Al-Ulyani al-Ulyani dalam kitab “at-Tabarruk al-Masyru” hal: 68-69” mengenai hadits Atban bin Malik & jawabannya

Walaupun runtutan artikel tabarruk sebelumnya sudah mampu menjawab beberapa problem yang dilontarkan oleh golongan pengingkar, namun kali ini, kita akan mengkonsentrasikan secara khusus dalam menjawab beberapa isu pengikut sekte Wahabi yang digunakan untuk pengkafiran (menuduh kaum muslim sebagai pelaku syirik dan bid’ah) kaum muslimin.

Untuk mempersingkat, kita akan ambil beberapa masalah (dibawah ini) yang sering mereka ungkapkan dengan menengok dari karya salah seorang misionaris madzhab Wahabi yang bernama Ali bin Nafi’ al-‘Ilyani yang menolak, mengharamkan atau mensyirikkan Tabarruk dan jawaban dari golongan yang membolehkan Tabarruk.

  • Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan:

“Kondisi kaum Jahiliyah dahulu, sebagaimana yang dimiliki kebanyakan manusia, mereka menginginkan mendapat tambahan harta dan anggota kabilah, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan keduniawian. Dengan begitu melalui perminta berkah (tambahan) terhadap berhala-berhala yang mereka sembah, dengan mengharap tambahan kebaikan yang berlebih. Mereka meyakini bahwa patung-patung itu adalah para pemberi berkah. Anehnya, walau orang yang meyakini bahwa berkah itu datangnya dari Allah pun masih meyakini bahwa patung-patung itu adalah sarana yang mampu menentramkan dan penghubung antara mereka dengan Allah. Untuk merealisasikan yang mereka inginkan, akhirnya mereka mengambil berhala itu sebagai sarana. Hal ini sesuai dengan ayat: “…kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah denga sedekat-dekatnya…” (QS az-Zumar: 3) dari sini jelas sekali bahwa, tabarruk (mengharap berkah) selain dari Allah adalah perwujudan dari ajaran kaum musyrik zaman Jahiliyah. (Lihat: kitab Tabarruk Masyru’ halaman 53)

  • Jawabannya:

Selain telah kita singgung –dalam kajian terdahulu– bahwa, beberapa nabi Allah yang mengajak umat manusia kepada ajaran tauhid ternyata juga melakukan pengambilan berkah. Begitu juga ternyata Nabi kita (Muhammad saw) –yang sebagai penghulu para nabi dan rasul bahkan paling mulianya makhluk Allah yang pernah Dia ciptakan– pun telah membiarkan orang mengambil berkah darinya. Jika mencari berkah (tabarruk) adalah haram–karena syirik– maka tentunya para nabi di setiap zaman adalah orang pertama yang menjauhinya, bahkan melarang orang lain. Namun kenapa justru mereka malah melakukannya? Lagi pula, apa yang di-isukan oleh kelompok Wahabi di atas tadi, selain tidak sesuai dengan al-Qur’an, Hadits dan bukti sejarah dari Salaf Sholeh hingga para imam madzhab, juga jauh dari logika pemahaman ayat itu (az-Zumar:3) sendiri. Beberapa alasan berikut ini:
Pertama: Semua orang tahu bahwa setiap prilaku pertama kali dinilai oleh Islam dilihat dari niatnya. Dengan kata lain, hal primer dalam menentukan esensi baik-buruk sebuah perbuatan kembali kepada niat. Bukankah Rasulallah saw. pernah menyatakan: “Setiap perbuatan kembali kepada niatnya…” (Hadits Muttafaq Alaihi). Tentu, niat seorang musyrik dengan niat seorang muslim akan berbeda dan tidak bisa disamakan.

Kedua: Dalam ayat itu (Az-Zumar:3) disebutkan: “kami tidak menyembahmereka melainkan…” di situ terdapat kata “Menyembah” yang meniscayakan bahwa kaum musyrik Jahiliyah meyakini ’sifat ketuhanan’ buat obyek (patung-patung) yang dimintainya berkah, selain Allah. Mereka telah menyembah patung itu dan menyekutukan Allah dalam masalah penyembah an. Dan tentu essensi penyembahan adalah meyakini ‘sifat ketuhanan’ yang disembahnya. Tanpa keyakinan itu (sifat ketuhanan), mustahil mereka menyebut kata ‘sembah’. Jelas, sebagaimana yang sudah pernah kita singgung pada tulisan terdahulu bahwa, sekedar sujud di depan sesuatu tidak serta merta masuk kategori menyembah. Bukankah dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah telah
memerintahkan para malaikat dan jin untuk bersujud di hadapan dan untuk nabi Adam? Bukankah nabi Ya’qub beserta anak-anaknya telah sujud di depan nabi Yusuf? Ini yang membedakan antara prilaku kaum musyrik dengan kaum muslimin, dalam pengambilan berkah. Ini merupakan hal yang bersifat esensial sekali dalam prilaku per ibadatan. Kaum muslimin selain tidak meyakini kepemilikan sifat ketuhanan selain Allah, sehingga obyek selain Allah memiliki kelayakan untuk di sembah, juga meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta ini berasal dari kehendak Ilahi, karena hanya Dia Yang Maha kuasa nan sempurna, dan yang layak disembah.
Ketiga: Ayat dari surat az-Zumar tadi Allah swt. tidak menyatakan; “kami tidak mengambil berkah mereka melainkan…” tapi dikatakan; “kami tidak menyembah mereka melainkan…” sebagai penguat dari alasan kedua tadi. Dikarenakan kaum musyrik zaman Jahiliyah tidak meyakini adanya hari akhir –seperti disebutkan dalam akhir-akhir surat Yasin maka mereka akhirnya meyakini bahwa patung-patung itu juga memiliki kekuatan secara inde- pendent dari Allah swt. sehingga muncul di benak mereka untuk meyakini bahwa berhala itu juga mampu menjauhkan segala mara bahaya dari mereka dan memberikan manfaat kepada mereka. Tentu keyakinan kaum muslimin berbeda dengan apa yang mereka yakini. Dan tentu pula kaum muslimin tidak pernah berpikir semacam itu. Semua kaum muslim meyakini bahwa segala yang ada di alam semesta ini turun dari izin dan kehendak Allah swt., termasuk pemberian berkah. Karena Allah swt.sumber segala yang ada di alam semesta ini.

  • Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan:

Legalitas tabarruk dari tempat-tempat atau benda-benda yang dianggap mulia bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari yang dinyatakan oleh ‘Atban bin Malik yang termasuk sahabat Rasulallah dari kelompok Anshar, yang turut dalam perang Badar. Ketika dia mendatangi Rasulullah, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, telah lemah pengelihatanku, padahal aku mengimami shalat pada kaumku. Jika turun hujan maka banjir selalu menggenangi lembah yang menghubungkanku dengan mereka, sehingga aku tidak dapat mendatangi masjid mereka, dan shalat bersama mereka Aku ingin engkau datang ke rumahku dan shalat di rumahku, sehingga aku menjadikannya (tempat itu) sebagai mushalla”. Mendengar hal itu Rasul bersabda: ‘Aku akan melakukannya, insya-Allah”. Kemudian berkata ‘Atban: ‘Keesokan harinya, Rasul bersama Abu Bakar datang, ketika menjelang tengah hari. Rasul meminta izin masuk, dan diberi izin. Beliau tidak duduk sewaktu memasuki rumah, dan langsung menannya- kan: ‘Dimana engkau menginginkan aku melakukan shalat?’. Dijawab: ‘Aku mengisyaratkan pada salah satu sudut rumah’. Rasulullah berdiri dan ber- takbir. Kami pun mengikutinya berdiri dan mengambil shaf (barisan shalat). Beliau melakukan shalat dua rakaat dan kemudian mengakhirinya dengan salam” (Shahih Bukhari, jilid 1 halaman 170/175 atau Shahih Musim jilid 1 halaman 445/61/62).
al-Ulyani dalam kitab “at-Tabarruk al-Masyru” hal: 68-69” berargumen dengan hadits Atban bin Malik yang disinyalir dalam kitab shohih Bukhari dan Shohih Muslim di atas untuk menetapkan ‘pengharaman tabarruk pada tempat dan benda’. Dalam kitabnya ini dia menyatakan:

“Hadits di atas tidak membuktikan bahwa sahabat ‘Atban hendak mengambil berkah dari tempat shalat Rasul. Namun ia ingin menetapkan anjuran Rasul untuk selalu melakukan shalat berjama’ah di rumahnya, ketika tidak dapat mendatangi masjid karena lembah digenangi air. Atas dasar itu ia meng- hendaki Rasul membuka (meresmikan) masjid di rumahnya. Dan oleh karenanya, Bukhari memberikan bab pada kitabnya dengan; “Bab Masjid di Rumah” (Bab al-Masajid Fil Buyuut). Sebagaimana Barra’ bin ‘Azib melaku- kan shalat di masjid yang berada di dalam rumahnya secara berjama’ah. Ini termasuk hukum fikih beliau. Dari semua itu memberikan pemahaman bahwa Rasul mengajarkan (sunnah) shalat berjama’ah di rumah dikala memiliki hajat. Sebagaimana Rasul tidak pernah menegur sahabat Barra’ bin ‘Azib sewaktu melakukan shalat berjama’ah di masjid rumahnya. Padahal itu semua terjadi pada zaman pensyariatan (tasyri’) Islam. Dan mungkin saja maksud dari sahabat ‘Atban tadi adalah untuk mengetahui dengan pasti arah kiblat, karena Rasulullah tidak mungkin menunjukkan arah yang salah”. (Lihat: Tabarruk Masyru’ halaman 68-69).

  • Jawabannya:

Itu adalah kemungkinan interpretasi yang diberikan al-Ulyani dari hadits di atas tadi. untuk mengkritisinya maka marilah kita perhatikan poin-poin di bawah ini:

Pertama: Tidak diragukan lagi bahwa semangat sahabat ‘Atban untuk mendirikan shalat jama’ah di rumah adalah ‘salah satu’ sebab, tetapi ‘bukan satu-satunya’ sebab. Karena kita dapat melihat dengan jelas, bagaimana sahabat ‘Atban sangat menghendaki tabarruk dari tempat shalat Rasulallah. Dan Nabi pun mengetahui tujuan sahabatnya itu. Atas dasar itu, Rasulallah langsung menanyakan tempat yang dikehendaki sahabatnya untuk dijadikan mushalla, dirumahnya. Jika isu sekte wahabi di atas itu benar maka selayak-nya Nabi shalat di sembarang tempat, di rumah sahabatnya tadi, mungkin di ruang tamu, ruang tengah, atau di tempat yang terdekat dengan pintu masuk. Dan kenyataannya, Nabi menanyakan terlebih dahulu; “Dimana engkau menginginkan aku melakukan shalat?”. Dengan kata lain, Rasulallah tahu bahwa sahabatnya itu akan mengambil berkah dari tempat shalat beliau saw.. Jika apa yang dinyatakan oleh al-Ulyani benar maka seharusnya Rasulallah saw. langsung melakukan shalat di rumahnya, tanpa menanya- kan dengan redaksi dan model pertanyaan semacam itu.
Kedua: Kalaupun apa yang dinyatakan al-Ulyani benar bahwa tujuan sahabat ‘Atban tadi adalah ingin memastikan kebenaran arah kiblat karena ia tidak dapat melihat dengan baik, dengan cara mendatangkan Rasulallah saw. kerumahnya, maka hal inipun sulit diterima. Dikarenakan untuk mem- peroleh arah kiblat yang benar oleh ‘Atban yang penglihatannya lemah, bisa saja ia meminta tolong anggota keluarga, sanak-famili ataupun melibatkan sahabat Rasulallah lain untuk memberikan arahan yang sesuai arah kiblat yang benar, bukan dengan memangil Rasulallah, apalagi dilanjutkan dengan pelaksanaan dua rakaat shalat oleh Rasulallah saw.. Dan dikarenakan Rasulallah hanya shalat dua rakaat (diwaktu siang sebagai mana tekts hadits) maka ini membuktikan bahwa shalat yang dilakukan Rasulallah adalah shalat sunah, bukan shalat wajib. Oleh karenanya, jika Rasulallah hanya berfungsi sebagai penunjuk arah kiblat yang benar, buat apa beliau melakukan shalat sunah, cukup memberitahu dengan lisan dan tunjuk saja.

Ketiga: Perkiraan penulis madzhab Wahabi tadi selain tidak sesuai dengan bukti-bukti (qarinah) yang ada, juga apa yang ia perkirakan dan yang di pahaminya tidak lebih baik dari apa yang dipahami oleh pribadi agung seperti Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab Syarah Bukharinya. Allamah Ibnu Hajar al-Asqolani berkaitan dengan hadits tadi mengatakan:a. “Dalam hadits ‘Atban yang meminta Nabi melaksanakan shalat dirumahnya dan Nabi pun memenuhi keinginan tersebut adalah bukti pembolehan (hujjah) akan tabarruk atas kesan dan peninggalan para manusia shaleh”. (Lihat: Fathul Bari 1/469)
b. Sewaktu Nabi diundang dan diminta untuk melakukan shalat, hal itu tiada lain adalah agar pemilik rumah dapat mengambil berkah (tabarruk) dari tempat shalat tadi. Maka dari itu beliau bertanya tentang tempat yang memang dikhususkan untuk itu…”. (Lihat: Fathul Bari 1/433)
Keempat: Taruhlah benar –jika kita terpaksa ‘bertoleransi’ dengan pendapat penulis Wahabi tersebut– apa yang dinyatakan oleh penulis Wahabi yang berkaitan dengan hadits Rasul dari sahabat ‘Atban tadi, maka bagaimana menurut para pengikut Wahabi berkaitan dengan banyak riwayat lain yang berkaitan dengan para sahabat seperti pada kasus yang dapat kita lihat diantaranya pada riwayat-riwayat berikut ini:
a. Dari Anas bin Malik; Sesungguhnya Ummu Sulaim meminta agar Rasulallah datang ke rumahnya dan melakukan shalat di rumahnya supaya ia dapat mengambilnya (bekas tempat shalat Rasul) sebagai mushalla. Lantas Rasul pun datang. Dia (Ummu Sulaim) sengaja memerciki tikar dengan air, lantas Rasul melaksanakan shalat di atasnya yang diikuti oleh beberapa sahabat lainnya. (Sunan an-Nasa’i jilid 1halaman 268 kitab masajid, bab 43 as-Sholat alal Hashir hadits 816).
b. Dari Anas bin Malik; Salah seorang pamanku membuat satu makanan, lantas berkata kepada Nabi: “Aku ingin engkau datang ke rumahku untuk makan dan shalat”. Dan (Anas) berkata: Lantas beliau datang ke rumah sedang di rumah terdapat batu-batu (hitam). Lantas beliau dipersilahkan ke salah satu sudut yang telah dibersihkan. Kemudian beliau melakukan shalat, lantas kami pun mengikutinya. (Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 249, kitab al-Masajid, bab al-Masjid fi ad-Daur, hadits 756, atau dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 3 halaman 130 dengan dua sanad, atau dalam kitab Musnad Anas bin Malik hadits 11920)
Hadits-hadits di atas jelas menyatakan inginnya pengambilan barokah dari Rasulullah saw, pada tempat sholat mereka, tidak seperti hadits ‘Atban yang masih mungkin disalahpahami oleh al-‘Ulyani. Hadits-hadits semacam itu (Hadits ‘Atban) banyak akan kita dapati dalam kitab-kitab para imam ter- kemuka lainnya.
Lantas giliran kita kembali bertanya kepada pengikut sekte Wahabi: Apakah tujuan Shahabiyah Ummu Sulaim agar kaum muslimin melakukan shalat berjama’ah di rumahnya bersama Rasulallah sebagaimana tujuan sahabat ‘Atban yang telah meminta Nabi saw. shalat di rumahnya, untuk menunjukan arah kiblat? Apakah ada tujuan lain yang dapat kita lihat dalam fenomena Ummu Sulaim selain tabarruk (mencari berkah) dari Rasulullah saw? Apakah paman sahabat Anas tadi –yang tentunya pengelihatannya masih kuat– juga bertujuan sama seperti sahabat ‘Atban yang pengelihatannya sudah lemah, untuk mengetahui dan memastikan arah kiblat?
Jika tujuan mereka bukan untuk mengambil berkah dari tempat shalat Nabi bahkan ingin menjelaskan kepada Rasulallah saw. akan ketidakhadirannya di shalat jama’ah Rasul, apakah tidak cukup sekedar memberitahu (meminta izin) Rasulallah akan penyebab ketidakhadirannya di masjid untuk melakukan shalat jama’ah karena adanya uzur atau terdapat kepentingan lain sehingga diketahui oleh Nabi? Mengapa mereka malah meminta Rasulallah saw. melakukan shalat di bagian tertentu dari rumahnya sehingga mereka nantinya juga akan shalat di tempat tersebut?
Ada sebagian golongan Wahabi berargumen bahwa tidak ada perbedaan antara masjid Nabawi dengan masjid-masjid yang lain. Ini pernyataan yang cukup aneh yang keluar dari makhluk yang mengaku sebagai umat Muhammad. Betapa tidak, walaupun masjid Nabi di kota Madinah telah terjadi perluasan dan perombakan, namun wilayah dan tempat bangunan asli masjid Nabawi masih terjaga (tidak berpindah lokasinya) dan dapat dikenali oleh banyak orang. Ditempat-tempat bangunan asli itulah, dahulu Nabi beserta para sahabat beliau melakukan shalat dan ibadah ritual lainnya. Bagaimana masjid Nabawi dinyatakan sama dengan masjid-masjid biasa lainnya sedang tempat bekas shalat Nabi yang bukan masjid saja dicari oleh para sahabat untuk pengambilan berkah dengan turut melakukan shalat di tempat berkah tersebut? Dan di kitab-kitab standart Ahlusunah wal jama’ah dapat kita jumpai berbagai riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan masjid Nabawi dibanding masjid-masjid lainnya, selain masjidil Haram tentu- nya. Riwayat-riwayat semacam itu akan banyak kita dapati dalam buku-buku hadits terkemuka Ahlusunnah. Tentu di sini kita tidak akan menyebutkan hadits-hadits atau bukti sejarah karena mengingat banyaknya halaman dibuku ini.

  • Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan:

“Jika seseorang tinggal di Makkah, Madinah ataupun Syam untuk meng harap berkah dari Allah dari tempat tersebut, baik dari sisi berkah rizki mau pun menghindari fitnah maka ia akan diberi kebaikan yang banyak. Namun jika seseorang melampaui batas dalam bertabarruk dengan cara menyentuh-nyentuh tanah, batu, pohon-pohonan yang ada di daerah tersebut atau meletakkan tanahnya di air untuk pengobatan atau semisalnya maka hal itu akan menyebabkan dosa, bukan pahala. Karena ia telah melakukan tabarruk yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasul dan para generasi pertama Islam”. (Lihat: Tabarruk Masyru’ halaman 42).

  • Jawabannya:

Untuk menjawab isu sekte Wahabi dalam masalah ini, mari kita perhatikan poin-poin di bawah ini:
Dalam kajian yang lalu telah kita sebutkan bahwa, para sahabat yang ter- golong Salaf Sholeh telah sering melakukan pengambilan berkah dengan mengusap-usap mimbar Rasulallah sembari berdo’a. Sahabat Ibnu Umar mengusap bekas tempat duduk Rasulallah di atas mimbar kemudian meng- usapkan kedua telapak tangannya ke raut mukanya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya, termasuk Rasulallah saw. telah mengusap-usap kepala dan badan seseorang sembari mendo’akannya yang menunjukkan bahwa terdapat kekhususan dalam usapan beliau saw. Karena jika tidak, maka do’a Rasul untuk kesembuhan mereka saja sudah cukup, kenapa mesti harus pakai mengusap-usap anggota tubuh seseorang?
Apa tujuan Rasulallah saw. melakukan hal tersebut kalau bukan mem- berikan barakah yang beliau miliki, hasil karunia khusus Ilahi yang diberikan kepada setiap kekasih-Nya? Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam banyak sekali riwayat-riwayat yang ada. Di sini kita akan sebutkan beberapa dari riwayat tersebut sebagai contoh saja:
a. Ummul Mukminin Aisyah ra. pernah menyatakan: “Sesungguhnya Nabi pernah membaca do’a perlindungan untuk sebagian keluarganya dengan mengusap tangan kanannya sembari mengucapkan do’a: ‘Ya Allah, Tuhan manusia, jauhkanlah bencana (darinya). Sembuhkanlah ia, karena Engkau Maha penyembuh. Tiada obat selain dari-Mu. Obat yang tidak menyisakan penyakit…’ ” (Sahih Bukhari jilid:7 halaman: 172)
b. Dari Abi Hazim mengatakan; aku mendapat kabar dari Sahal bin Sa’ad bahwa Rasulullah saw. pada perang Khaibar bersabda: “Akan aku serahkan panji (bendera perang) ini besok kepada seseorang yang Allah akan membuka (pertolongan-Nya) melalui kedua tangan orang tersebut. Dia (orang tadi) adalah seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah beserta Rasul-Nya pun mencintainya”. Ia (perawi) berkata: “Akhirnya orang-orang begadang untuk menunggu siapakah gerangan yang akan di anugerahi panji tadi. Ketika pagi telah tiba, orang-orang mendatangi untuk mengharap dianugerahi kemuliaan tadi”. Perawi berkata: Rasul bersabda: ‘Dimanakah Ali bin Abi Thalib?’. Dijawab: ’Ada wahai Rasul. Ia sedang sakit mata’. Rasulallah bersabda: ‘Datangkanlah ia’! Lalu di datangkanlah Ali. Kemudian Rasulallah memberikan ludahnya ke mata Ali sembari mendo’a- kannya. Sembuhlah penyakitnya seakan tidak pernah mengalami sakit. Kemudian Rasulallah memberikan panji tersebut kepada Ali”. (Sahih Bukhari jilid 4 hal. 30/207; Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 5 hal. 333; as-Sunan al-Kubra karya Nasa’i jilid 5 hal. 46/108; Musnad Abi Ya’la jilid 1 hal. 291; al-Mu’jam al-Kabir karya Tabrani jilid 6 hal. 152 dan kitab Majma’ az-Zawa’id jilid: 6 halaman: 150).
c. As-Samhudi berkata: “Dahulu, jika Rasulallah dikeluhi oleh seseorang akibat luka atau borok, lantas beliau mengatakan ungkapan tersebut pada jarinya sembari meletakkan jempol (tangan) beliau ke tanah, kemudian meng angkatnya dengan mengungkapkan: ‘Dengan menyebut nama Allah, dengan debu tanah kami, dan dengan ludah sebagian dari kami, akan disembuhkan penyakit kami. Dengan izin Allah’ ”. (Wafa’ al-Wafa’ jilid 1 hal. 69. penjelasan semacam ini juga akan kita dapati dalam hadits Sahih Bukhari jilid 7 hal. 172 dari Ummul Mukimin Aisyah dengan sedikit perbedaan redaksi)
Dalam banyak hadits juga disebutkan bahwa tanah Madinah memiliki keberkahan khusus dari Allah untuk kesembuhan penyakit. Itu semua berkat keberadaan Rasulallah saw. bersama para kekasih Allah , baik dari sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan para manusia sholeh lainnya. Kita akan melihat beberapa contoh saja dari hadits-hadits Rasulallah saw. tersebut:a. Rasulallah bersabda: “Debu Madinah menjadi pengobat dari penyakit sopak” (Kanzul Ummal, karya Mutaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 13 halaman 205 atau kitab Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi as-Syafi’i jilid 1 halaman 67)
b. Rasulallah bersabda: “Sesungguhnya melalui debunya (Madinah) menjadi penyembuh dari segala penyakit”. (Kanzul Ummal, karya Mutaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 13 halaman 205 atau kitab Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi as-Syafi’i jilid 1 halaman 67)
c. Rasulallah bersabda: “Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sesungguhnya tanahnya (Madinah) adalah pengaman dan penyembuh penyakit sopak”. (Kanzul Ummal, karya Mutaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 13 hal. 205 atau kitab Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi as-Syafi’i jilid 1 halaman 67)
Jika tanah Madinah secara umum memiliki keberkahan semacam itu maka bagaimana dengan tanah di sisi pusara Rasulallah saw. yang disitu jasad suci beliau saw. –makhluk Allah termulia dikebumikan? Lantas salahkah (tergolong bid’ah atau syirik) dan tidakkah sesuai dengan ajaran (hadits) Rasulallah jika ada seseorang yang mengambil tanah Madinah untuk mengambil berkah darinya, baik untuk mengobati penyakitnya, atau sekedar disimpan untuk bertabarruk? Mana yang sesuai dengan ajaran Rasul; orang yang bertabarruk dengan tanah Madinah, ataukah yang menyatakan bahwa bertabarruk terhadap tanah semacam itu tergolong bid’ah atau syirik, sebagaimana yang diaku oleh kelompok Wahabi?
Ini semua menjadi bukti bahwa, Allah swt. telah menganugerahkan beberapa kemuliaan kepada beberapa tempat, yang kemudian disakralkan oleh masyarakat muslim. Madinah beserta tanahnya tergolong tempat yang di muliakan oleh Allah swt. dengan anugerah khusus semacam itu. Sehingga di sakralkan oleh kaum muslimin, sesuai dengan apa yang diungkapkan melalui lisan suci Rasulullah saw. Jika Nabi sendiri –sebagai makhluk Allah termulia, pembenci Syirik nomer wahid– menjadikan tanah mulia penuh berkah kota Madinah sebagai sarana (wasilah) pengobatan (tabarruk), apakah pengikut beliau dapat divonis bid’ah atau syirik ketika mengikuti ajaran dan saran beliau saw. tadi?
Jika tanah Madinah dinyatakan sebagai penuh berkah karena Rasulallah pernah hidup di sana dan dikebumikan di situ, lalu bagaimana dengan Hajar Aswad, rukun-rukun (pojok-pojok) yang berada di Ka’bah, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, Shafa dan Marwah, Arafah, Mina, gua Hira’ dan gua Tsur yang semua adalah tempat-tempat sakral dan bersejarah buat Nabi dan orang-orang yang mencintai junjungannya tersebut? Apakah ketika bertabarruk dari tempat-tempat semacam itu lantas divonis dengan bid’ah dan syirik, sebagai mana kita lihat perbuatan kelompok sekte Wahabi terhadap kaum muslimin dari pelosok dunia yang menjadi tamu Allah d haramain? Mengapa kaum Wahabi melarang dengan keras orang yang ingin ‘menyentuh’, ‘mengusap’ dan ‘mencium’ hal-hal sakral tadi untuk bertabarruk, dengan alasan bid’ah dan syirik, atau alasan karena tidak ada contoh langsung dari Rasulallah?, padahal banyak sekali contoh dari Rasulallah saw. dan salaf Sholeh!! Siapakah sekarang yang bid’ah, golongan muslimin yang mengikuti sunnah Rasulallah saw. atau golongan pengingkar ini?
Sayang, madzhab Salafi (baca.Wahabi) dan pengikutnya merasa paling benar dan paling mengerti dalam hukum syari’at. Semoga Allah swt. memberi hidayah kejalan yang benar kepada kaum muslimin. Amin

  • Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan:

Salaf Sholeh telah melarang pengambilan berkah dan penghormatan yang berlebihan terhadap mereka. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Anas, ats-Tsauri, Ahmad dan sebagainya. Imam Ahmad pernah berkata: ‘Siapa diriku sehingga kalian datang kepadaku? ‘Pergilah dan tulislah hadits’!. Dan sewaktu beliau ditanya tentang sesuatu maka akan menjawab: ‘Bertanyalah kepada ulama’!. Ketika ditanya tentang penjagaan diri (wara’) beliau mengatakan: ‘Haram buatku berbicara tentang wara’, jika Byisr hidup niscaya ia akan menjawabnya’. Beliau juga pernah ditanya tentang ikhlas, lantas menjawab: ‘Pergilah kepada orang-orang zuhud! Kami memiliki apa sehingga kalian datang kepada kami?’. Suatu saat seseorang datang kepada nya dan mengusapkan tangannya ke bajunya dan kemudian mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya. Imam Ahmad marah dan mengingkari hal tersebut dengan keras sembari berkata: ‘Dari siapa engkau mengambil perkara semacam ini’ (Lihat: Tabarruk Masyru’ halaman 86).

  • Jawabannya:

Untuk menjawab isu penulis madzhab Salafi/Wahabi di atas, hendaknya kita perhatikan beberapa poin di bawah ini:
Terbukti bahwa ternyata penulis Wahabi tadi memahami sesuatu hal yang berbeda dengan kenyataannya. Apa yang dilakukan para imam madzhab tadi dalam mengingkari tabarruk orang-orang terhadap dirinya, bukan berarti pengingkaran mereka terhadap keyakinan tabarruk itu sendiri. Harus dibeda- kan antara mereka melarang orang bertabarruk kepada dirinya, dengan dari semula menentang keyakinan tabarruk. Sebagaimana yang sudah kita jelaskan bahwa, para imam madzhab itu sendiri telah melakukan tabarruk.

Dan apa yang disunting oleh penulis Wahabi tadi tidak lain adalah tergolong sikap ‘rendah diri’ (tawadhu’) para imam madzhab tadi, terkhusus berkaitan dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Dimana kita tahu bahwa ‘tawadhu’’ me- rupakan salah satu bentuk dan sikap nyata dari setiap ulama yang sholeh. Terbukti bahwa Imam Ahmad bin Hanbal tidak menvonis orang yang ber- tabarruk terhadapnya dengan sebutan-sebutan pengkafiran sebagaimana yang dilakukan oleh sekte (Wahabisme) yang konon mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal dari sisi metode (manhaj) dan pola pikir, serta sepak terjangnya. Itu semua karena para ulama madzhab tahu bahwa tabarruk bukan ter- golong prilaku syirik ataupun bid’ah yang harus disikapi tegas dengan bentuk pengkafiran, seperti yang dilakukan sekte Wahabi. Dengan bukti lain bahwa, mereka sendiri –sebagaimana yang telah kita singgung di urutan artikel tabarruk sebelumnya telah melakukan tabarruk terhadap para ulama dan manusia sholeh yang hidup sezaman atau sebelum mereka. Bahkan sebagian mereka telah bertabarruk terhadap kuburan para ulama dan manusia sholeh.
Kalaulah ungkapan Imam Ahmad tadi tidak diartikan sebagai sikap tawadhu’ beliau, bahkan diartikan dengan sebenarnya, maka ungkapan beliau seperti: ‘Siapa diriku sehingga kalian datang kepadaku? Pergilah dan tulislah hadits’! atau ungkapan beliau; ‘Bertanyalah kepada ulama’, meniscayakan bahwa kita (kaum muslimin, juga pengikut sekte Wahabi) tidak perlu menjadikan Imam Ahmad bin Hanbal sebagai rujukan, karena beliau bukan ulama. Namun terbukti bahwa, ternyata kelompok Wahabi pun yang selama ini ‘mengaku’ (konon) menjadikan Imam Ahmad sebagai panutannya, justru tidak konsisten terhadap ungkapan Imam Ahmad tadi. Lalu mana konsistensi kelompok Wahabi dalam memahami dan melaksanakan ungkapan Imam Ahmad?
Bila kita toleransi lagi dengan sekte Wahabi dan membenarkan pendapat mereka bahwa Imam Ahmad bin Hanbal melarang orang bertabarruk dengan pribadi orang, maka larangan Imam Ahmad itu pun terbantah dengan banyak hadits shohih yang telah kami kemukakan di atas yang melegalkan Tabarruk, termasuk Imam Ahmad sendiri ikut meriwayatkannya. Jadi yang benar ialah Imam Ahmad tidak mengharamkan Tabarruk tetapi yang melarang Tabarruk itu ialah imam dari sekte Wahabi dan pengikutnya itu sendiri dengan meng- atas namakan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah!
Entah dalil mana lagi yang dijadikan argumen oleh golongan pengingkar dalam menyatakan kesyirikan dan kebid’ahan prilaku tabarruk atau tawassul Mereka tidak memiliki argumen apa pun berkaitan dengan hadits, riwayat, maupun bukti sejarah, apalagi al-Quran yang membuktikan bahwa tabarruk adalah perbuatan bid’ah maupun syirik!!
Dari sini jelas sekali bahwa, Allah swt. telah menganugerahkan kesakralan khusus kepada beberapa obyek tertentu dari makhluk-Nya agar manusia menjadikannya sebagai sarana tabarruk atau tawassul. Dan terbukti bahwa Nabi Muhammad bin Abdillah saw. bukan hanya tidak melarang, bahkan beliau sendiri telah mencontohkan kepada umatnya bagaimana melakukan tabarruk dari obyek-obyek sakral tadi. Dan ajaran itu berjalan terus dari generasi ke generasi hingga kita sekarang ini.
Walaupun kajian kita secara khusus berkaitan dengan tabarruk, namun dari seri kajian tabarruk ini pun kita juga telah bisa menetapkan secara global bahwa, obyek tabarruk dapat kita jumpai pada berbagai bentuk, seperti:
1- Tempat; seperti; Kota Madinah, Arafah, Muzdalifah, Mina, gua Hira, gua Tsur, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, atau makam-makam orang sholeh…dsb.nya

2- Benda; seperti; Mushaf Al-Quran, semua penginggalan Nabi, Sahabat, Ulama dan manusia sholeh lainnya…dsb.nya.
3- Orang/pribadi agung; seperti; mengenang manusia-manusia mulia dari para nabi, syuhada’, shalihin berkaitan dengan zaman kelahiran, wafat atau momen-momen penting dalam sejarah hidup mereka…dan sebagainya. Atas dasar itu para pecinta Rasul sering membaca berbagai bentuk shalawat dan puji-pujian untuk Rasul, seperti tercantum didalam kitab-kitab Maulid Diba’, Burdah, Barzanji, Shalawat Badr…dan sebagainya.
4- Waktu; seperti; waktu-waktu yang disakralkan oleh Allah secara langsung atau yang berkaitan dengan momen khusus kehdupan manusia kekasih Ilahi. Atas dasar itu kaum muslimin memperingati acara-acara seperti; Maulid Nabi, Isra’ mi’raj, Nuzulul Quran…dan sebagainya. Wallahu A’lam.
Dengan contoh riwayat-riwayat di atas ini cukup bagi kita bahwa tabarruk atau tawassul itu mustahab/baik malah menjadikan do’a dan amalan kita lebih cepat diterima oleh Allah swt. Orang-orang yang mengingkari atau menyesatkan amalan tersebut tabarrruk, tawassul merekalah yang membuat bid’ah yang menyembunyikan hadits-hadits shohih atau memutar- balik maknanya tentang perbuatan-perbuatan sahabat baik dizaman hidup- nya Rasulallah saw atau sesudah wafatnya atau perbuatan para salaf yang telah kami kemukakan dibuku ini.
Perbuatan-perbuatan para sahabat mengenai tabarruk, tawassul pada waktu beliau saw. masih hidup tidak ditegur atau dilarang oleh Nabi malah diridhai oleh beliau saw. Begitu juga perbuatan para sahabat dan istri Nabi saw. setelah wafatnya beliau saw. juga tidak ada sahabat lainnya yang mencela, mensyirikkan perbuatan mereka. Demikian pula perbuatan antara para ulama pakar yang telah kami kemukakan juga! Renungkanlah!
Memang golongan pengingkar ini tidak bisa membedakan antara tabarruk, tawassul, ta’dzim dengan penyembahan atau pengkultusan. Dengan peng- haraman, pensyirikan mereka tentang masalah ini, seakan-akan mereka ini merasa lebih pandai, taqwa dan lebih mengetahui syari’at Islam dibanding- kan dengan Rasulallah saw., para kerabat, para sahabatnya serta para ulama pakar yang melakukan tawassul, tabarruk , ta’dzim dan sebagainya! Saya berlindung pada Allah dalam hal ini.
Begitu juga tidak ada terlintas dipikiran orang-orang muslimin bahwa mereka menyembah Ka’bah, karena ruku’, sujud menghadap bangunan batu tersebut atau menyembah hajar aswad karena mencium dan mengusap-usapnya atau meyembah kuburan karena berdiri khidmat dihadapan kuburan atau mencium kuburan itu. Bila ada seorang muslim yang berkeyakinan bahwa dia beribadah demi karena Ka’bah, Hajar Al-Aswad dan kuburan, maka akan hancurlah keimanan dan ke Islamannya.
Jadi yang penting semuanya disini adalah keyakinan atau niat dalam hati, karena semua amal itu tergantung pada niatnya Apa salahnya bila orang ingin mencium, mengusap kuburan Rasulallah saw.atau para ahli taqwa lainnya, selama niat orang tersebut hanya sebagai ta’dzim, tabarruk bukan sebagai penyembahan?
Memang golongan pengingkar selalu mengarang-ngarang, menafsir, menyangka perbuatan seseorang seenaknya saja karena tidak sepaham dengan pendapatnya, seakan-akan mereka tahu niat didalam hati setiap orang.

Insya Allah dengan keterangan sederhana dan dalil-dalil mengenai tawassul, tabarruk yang cukup jelas ini dapat membuka hati dan pikiran kita untuk mengetahui amalan mana yang diridhoi oleh Allah swt. dan Rasul-Nya. Semoga hidayah dan taufiq dari Allah swt., selalu dilimpahkan pada kaum muslimin. Amin. Insya Allah dengan adanya kutipan ini bisa memberi manfaat bagi kami sekeluarga khususnya dan semua kaum muslimin lainnya dan kita semua bisa melaksanakan amalan-amalan yang diridhoi-Nya, sehingga kita tidak mudah mencela kaum muslimin yang melakukan perbuatan-perbuatan tertentu tersebut mengusap-usap, mencium dan sebagainya bekas-bekas para Nabi, wali…. yang telah kami kutip dan kumpulkan sebagai perbuatan syirik, munkar atau sesat dan sebagainya!

Wallahu a’lam.

Sumber

27 June 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

HUKUM MENGAMBIL BERKAT DENGAN PENINGGALAN NABI ( TABARRUK )

Sesiapa yang mengatakan tabarruk dengan rambut Nabi saw dan barang peninggalan Nabi saw sebagai bidaah atau syirik atau sesat, maka orang yang mengatakan demikian telah kufur dan lebih sesat lagi. Orang ini mengingkari hadis Sahih.

Sekalian banyaknya hadis-hadis sahih dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim bahawa:

1. Para sahabat berebut-rebut menadah air wudhuk yang jatuh dari anggota tubuh Rasulullah saw, untuk mendapatkan keberkatan baginda. (Sahih Bukhari, no 186).

2. Malah mereka yang tak dapat air wudhuk baginda, mereka ambil pulak dari sahabat lain yang dapat dari Nabi saw. (Sahih Bukhari, no 369 & 5521)

3. Rasulullah saw sendiri apabila mencukur rambutnya ketika Haji Wada’, haji terakhir baginda, baginda memberi pada seorang sahabat, dan baginda menerintahkannya agar diagih-agihkan kepada sahabat lain. (Hadis Muttafaqun ‘Alaih – Sahih Bukhari & Sahih Muslim, no 2298)

4. Seorang sahabat meminta dari Rasulullah saw satu kain yang baru sahaja dihadiahkan oleh seorang wanita kepada baginda. Sahabat yang lain marah, sebab sahabat yang mintak tu takde adab, tapi sahabat tu cakap dia nak keberkatan kain tu je sebab pernah disentuh Nabi. (Sahih Bukhari, no 5689)

5. Asma binti Abu Bakar menjadikan jubah Rasulullah saw sebagai ubat, dicelupkan jubah baginda ke dalam air dan diberi minum orang-orang sakit dan TIDAK ADA seorang sahabat pun mengingkari perbuatan beliau, dan perbuatan ini dilakukan selepas baginda wafat. (Sahih Muslim 2069 & 3855)

Imam Nawawi ketika menyebutkan hadis tabarruk dengan jubah Nabi saw di dalam Syarah Sahih Muslim, setelahnya beliau berkomentar:

“Dan di dalam hadis ini merupakan dalil atas dianjurkan bertabarruk dengan bekas-bekas (peninggalan) orang-orang soleh dan pakaian mereka “

6. Rasulullah saw menjadikan air liur orang mukmin sebagai penawar bagi penyakit suatu kaum di kalangan Muslim. (Sahih Muslim, no 5413)

7. Seorang sahabat meminta Rasulullah saw solat di dalam rumahnya satu kali, supaya dia boleh mendapatkan keberkatan untuk beliau membuat musolla (tempat solat) di tempat sama Rasulullah solat. Baginda siap tanya pada sahabat tu “Dimana kamu mahu aku bersolat?” (Sahih Bukhari, no 1130)

8. Rasulullah saw berdoa di Maqam Ibrahim (tempat Nabi Ibrahim berdoa) sebagai bertabarruk dengan kedudukan Nabi Ibrahim, dan Allah memuji baginda dalam surah Ali Imraan ayat 97.

9. Sayyiduna Umar selepas ditikam di perut, beliau meminta seorang sahabat agar meminta kebenaran dari isteri Nabi saw untuk dikebumikan di sebelah maqam baginda dan Abu Bakar. Beliau berkata “tidak ada yang lebih ku pentingkan berbanding mendapatkan tempat pembaringan itu”. (Sahih Bukhari, no 1328)

10. Sahabat-sahabat Nabi (khususnya Abu Muslim) jika bermusafir akan solat sunat di tempat-tempat yang Nabi saw pernah solat, untuk mengambil keberkahannya. (Sahih Bukhari, no 469).

11. Sahabat Nabi saw yang masih kecil minum bekas air wudhuk Nabi saw dan melihat khatamun nubuwwah di belakang tubuh Nabi saw. (Sahih Bukhari, no 2345)

12. Sahabat Nabi, Ubaidah berkata jika dia memiliki rambut Nabi, itu adalah yang lebih baik dari dunia dan segala isinya. (Sahih Bukhari, no 168)

13. Anas bin Malik menyimpan peluh Nabi saw di dalam botol minyak wangi dan menyimpan rambut baginda. Beliau meminta untuk ditanamkan bersama peluh dan rambut baginda ketika matinya. (Sahih Bukhari, no 5925)

14. Para sahabat bertabarruk dengan kahak/air ludah Nabi saw, riwayat dari Urwah (Fathul Bari, jilid. 5, hlm. 341)

15. Para sahabat dan isteri Nabi menggunakan rambut baginda untuk merawat penyakit ain yang menimpa penduduk Madinah selepas kewafatan Nabi saw. (Fathul Bari, jilid. 10 hlm. 353)

16. Sahabat merawat sakit mata dengan ludah Nabi saw (Sahih Muslim, no 4423)

*Ni baru dari Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Belum amik riwayat dari kitab-kitab hadis lain lagi seperti Sunan Tirmidzi, Musnad Ahmad, Sunan Ibnu Majah, Muwatha’ Imam Malik dan lain-lain.

Belum amik lagi kisah-kisah dan riwayat-riwayat perbuatan salafus soleh dan ulama-ulama muktabar bertabarruk dengan orang soleh selain Rasulullah saw.

Pesanan saya, belajar lagi, sebelum sesuka hati menghukum itu bidaah, itu sesat, itu syirik, itu kurafat.

ABU SUNNAH
TMG

https://m.facebook.com/sunnahrasulullah12/photos/a.990309187716714.1073741827.990303737717259/1045549988859300/?type=3&source=48

26 June 2016 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Hukum mencium mushaf Al Quran

image
Soalan:
Ketika saya masih anak-anak, orang tua saya membiasakan saya mencium mushaf Al-Qur’an setelah mengajinya, dan kebiasaan itu hingga sekarang masih terus saya lakukan, bahkan tertular ke anak-anak saya.
Sebenarnya, bagaimana hukumnya mencium mushaf Al-Qu’ran itu? Sunnahkah? Meski tidak tahu dalilnya, saya menganggap itu sebagai suatu hal yang baik. Terima kasih.

Jawab:

Kami kutip dari NU Online (Nahdatul Ulama Indonesia) bahwasannya kebiasaan mencium mushaf pada dasarnya lebih karena mengagungkan Al-Qur`an yang berisi petunjuk dariAllah swt.

Sedang mengenai hukum mencium mushaf itu sendiri menurut keterangan yang terdapat dalam kitab al-Itqan fi ‘Ulumil Qur`an yang ditulis oleh Jalaluddin as-Suyuthi adalah sunah.

Alasan yang dikemukakan beliau adalah bahwa sahabat Ikrimah bin Abu Jahl sering melakukan hal tersebut. Di samping itu karena mushaf Al-Quran adalah anugerah dari Allah swt. Karenanya, kita disunahkan untuk menciumnya sebagaimana kita disunahkan mencium anak kecil kita.

Alasan lain yang dikemukakan sebagian ulama—sebagaimanadikemukakan Jalaluddin As-Suyuthi—adalah bahwa kesunahan mencium mushaf itu dikiaskan atau dianalogikan dengan kesunahan mencium Hajar Asw

ad.
يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْمُصْحَفِ لِأَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِيجَهْلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يَفْعُلُهُ وَبِالْقِيَاسِ عَلَى تَقْبِيلِالْحَجَرِ الاَسْوَدِ ذَكَرَهُ بَعْضُهُمْ وَلِأَنَّهُ هَدْيُهُ مِنَ اللهِتَعَالَى فَشِرعَ تَقْبِيلُهُ كَمَا يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْوَلَدِ الصَّغِيرِ

“Disunahkan mencium mushaf karena Ikrimah bin Abu Jahl melakukaknnya, dan (dalil lain) adalah dengan dikiaskan dengan mencium HajarAswad sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama, dan karena mushaf Al-Qur`an merupakan anugerah dari Allah swt. Karenanya disyariatkan menciumnya seperti disunahkannya mencium anak kecil. (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, al-Itqanfi ‘Ulumil Qur`an, Bairut-Dar al-Fikr, juz, II, h. 458).

Demikian jawaban singkat yang dapat kami paparkan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Sering-seringlah membaca Al-Qur`an dan merenungkan kandungan maknanya karena itu merupakan anugerah dan petunjuk Allah swt.

Sumber

25 June 2016 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Antara tanda baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang bukan urusannya

Baginda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam meninggalkan pesan kepada umatnya dengan satu pesanan yang pendek tetapi sangat padat dan barakah.
Apa pesanan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam?
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه ) حديث حسن رواه الترمذي وغيره .
Maksudnya : Daripada Sayyiduna Abi Hurairah radhiyallahu anhu kata beliau : Telah bersabda Junjungan Besar Sayyiduna Rasulullah sallallahu alaihi wasallam :

( Antara tanda baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang bukan urusannya)

Pesanan Nabi ini ada beberapa perkara kita perlu teliti :

1) Muslim yang baik adalah yang menyibukkan dirinya pada sesuatu yang berfaedah pada dirinya. Maksud sebaliknya, jika seseorang itu menyibukkan diri pada sesuatu yang tidak berfaedah bagi dirinya maka ini bukanlah seorang yang baik.

2) Bilamana seseorang muslim itu menyibukkan dirinya bukan pada yang sepatutnya maka dia perlu bimbang kerana ianya salah satu tanda bahawa Allah taala berpaling daripadanya.
Telah berkata Sayyiduna al-Hasan al-Basri radhiyallahu anhu :
من علامة إعراض الله عن العبد : أن يجعل شغله فيما لا يعنيه
Maksudnya : Antara tanda Allah berpaling tidak memberikan rahmat dan inayah kepada hambaNya ialah disibukkan hamba tersebut dengan sesuatu yang tidak berfaedah dan berkaitan dengannya.

3) Jika umat Islam beramal dengan hadis ini sahaja, sudah cukup untuk menjadikan dunia ini aman daripada jenis manusia yang kesemua perkara ingin dibahaskan.

Maka tidak akan lahirlah Ustaz berlagak menjadi pakar perubatan sedang dia bukan ahlinya. Doktor berlagak jadi muhaddis dan fuqaha sedang dia bukan ahlinya.

Pelajar sibuk menjadi pengulas politik sehingga kesemua orang salah dan ulama pun salah jika bertentangan dengan pandangannya.
Maka porak perandalah dunia disebabkan kelompok sebegini.

Semoga Allah taala mengurniakan kita insaf dan amal di dalam ilmu.

Ustaz Nazrul Nasir

25 June 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Bila Lailatul Qadr berlaku.

(Dari Bahagian Tarekat Tasauwuf – Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan)

image

Bila Lailatul Qadr berlaku.

Ulamak berselisih pendapat tentang bilakah berlakunya Lailatul Qadr. Di dalam Kitab Fath al-Bari fi Syarh Sahih al-Bukhari menyebutkan ada 46 pendapat ulamak berhubung bilakah berlakunya Lailatul Qadr. Ada yang menyatakan ianya berlaku setiap 7 tahun sekali sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muhammad bin al-Hanifah, ada yang menyatakan ianya berlaku pada setiap bulan, ada yang menyatakan ianya berlaku pada awal Ramadhan, sebahagian lagi mengatakan ianya berlaku pada setengah bulan Ramadhan yang kedua, ada mengatakan ianya berlaku pada malam ke-17 Ramadhan dan jumhur mengatakan ianya berlaku pada 10 malam yang terakhir bulan Ramadhan.
Imam Syafie mengatakan Lailatul Qadr itu terkandung dalam 10 hari yang terakhir Ramadhan pada malam yang ganjil iaitu malam ke 21 dan malam ke 23.

Formula Ulamak Tafsir Yang Semasa[1],
Lailatul Qadr berlaku pada malam ke 27 Ramadhan. Hal ini berdasarkan kepada 2 perkara dalam Surah al-Qadr iaitu:
i) Allah mengulang-ulangkan perkataan ( لَيْلَةُ القَدْرِ ) pada 3 tempat dan perkataan ( لَيْلَةُ القَدْرِ ) terdapat 9 huruf. Sehubungan dengan itu 3 x 9 = 27.
ii) Surah al-Qadr mengandungi 30 patah perkataan. Perkataan ( هِيَ ) pada ayat yang terakhir surah ini berada di kedudukan yang ke 27.

Formula Imam Ghazali,
Malam Lailatul Qadr ditentukan berdasarkan bilakah hari awal Ramadhan itu jatuh.
1 Ramadhan. Lailatul Qadr
_______________ ___________________
Isnin Mlm 21 Ramadhan
Sabtu Mlm 23 Ramadhan
Khamis Mlm 25 Ramadhan
Selasa/Jumaat Mlm 27 Ramadhan
Ahad/Rabu Mlm 29 Ramadhan
Justeru, al-Syeikh Yusuf Khattar Muhammad menyatakan hikmah tidak ditentukan Lailatul Qadr secara yakin adalah supaya kita sentiasa melakukan ibadah kepada Allah pada setiap malam dalam bulan Ramadhan khususnya pada 10 malam yang terakhir. Sabda Nabi S.A.W,
فَالتَـمِسُوهَا فِى العَشْرِ الأَوَاخِرِ فِى الوِتْرِ

Yang bermaksud, Maka kamu carilah ia (Lailatul Qadr) pada 10 malam terakhir (bulan Ramadhan) iaitu pada malam yang ganjil.[2]

Tanda-tanda berlakunya Lailatul Qadr.

Ulamak berkata: Tanda-tanda berlakunya Lailatul Qadr seperti kurangnya salakan atau lolongan anjing, kurangnya suara kaldai, air masin bertukar menjadi tawar, ada yang dapat melihat makhluk ciptaan Allah tunduk sujud kepada-Nya dan mendengar mereka berzikir.
Terdapat sebuah hadith daripada Jabir bin Samrah menyatakan,
لَيْـلَةُ القَدْرِ لَيْـلَةُ مَطَرٌ وَرِيحٌ

Yang bermaksud, Lailatul Qadr ialah malam yang hujan dan berangin[3].

Selain itu, kita akan dapat melihat pada keesokan paginya cahaya sinaran matahari yang cerah dan hari tersebut tidak terlalu panas dan tidak terlalu sejuk.

[1] Al-Nafahat al-Nuraniyah fi Fadhail al-Ayyam wa al-Layali wa al-Syuhur al-Qomariyah, al-Syeikh Yusuf Khattar Muhammad, Matba’ah Nadhr, 2001, bab Lailatul Qadr hlmn 201.

[2] Fath al-Bari bi Syarh Sohih al-Bukhari, al-Hafiz Ahmad bin Ali bin hajar al-Asqolani, Dar al-Fikr, 1996, Kitab Fadl Lailatul Qadr, Jld 4, 786
[3] Fath al-Bari bi Syarh Sohih al-Bukhari, al-Hafiz Ahmad bin Ali bin hajar al-Asqolani, Dar al-Fikr, 1996, Kitab Fadl Lailatul Qadr, Jld 4, 791

25 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

ADAKAH ANDA MUJTAHID”

(Maulana Hussin Abdul Qadir Yusufi)

PETIKAN KULIAH

“ADAKAH ANDA MUJTAHID”

oleh MAULANA HUSSEIN

KAEDAH-KAEDAH PARA IMAM MUJTAHID menurut SYEIKH MUHADDITH INDIA, MAULANA SYAH ABDUL AZIZ

1. Beliau merupakan anak kepada Syah Waliyullah Ad-Dehlawi.

2. Katanya dalam menyelesaikan masalah khilaf seperti percanggahan hadis, maka imam mujtahid memiliki kaedah-kaedahnya.

3. Imam Malik berpegang kpd amalan penduduk madinah krn ia tempat tinggal Rasulullah saw, padanya ada sahabat besar yang dekat dengan Rasulullah saw. Cth mcm larangan waktu solat pada tiga waktu termasuk waktu tgh hari.

Imam Malik melihat orang madinah solat nafilah (sunat) pada waktu tgh hari (zawal). Maka Imam Malik berpegang riwayat waktu karahah solat ada dua dan bukan tiga seperti dalam riwayat.

Maka riwayat itu disisi Imam Malik mansukh atau marjuh.Kata ibnu qayyim (murid ibn taymiyah) ;

من أصول مالك اتباع عمل أهل المدينة وإن خالف الحديث (بدائع الفوائد)
“Diantara dasar Imam Malik ialah menuruti amalan penduduk Madinah walau amalan xselari dengan hadis.”

4. Maka tatkala ijtihad Imam kelihatan bercanggah dengan hadis (sebenarnya xbercanggah) maka kita perlu tahu bahawa imam mengetahui banyak riwayat. Dan mereka memilih riwayat yang tepat.

Memilih yang rajih disisinya. Seperti riwayat dua waktu karahah sebagaimana diriwayatkan dalam bukhari dan diamalkan oleh ahlul madinah.

5. Jangan mudah mentohmah ulamak xjumpa hadith. Ulamak hidup zaman khairul qurun disebut xjumpa hadis, sedangkan kita duk syarrul qurun sangka kita lebih jumpa hadis.

6. Imam Syafie berpegang pada amalan hijazi serta menyelidiki padanya. Maksudnya jika hadis kelihatan berlawanan, maka beliau akan selaraskan maknanya. Tatkala ke mesir & iraq, beliau terima riwayat daripada thiqat. Bila didapati riwayat itu lebih kuat dari amalan penduduk hijaz, maka terbitlah dlm mazhabnya qaul qadim (pendapat lama) dan qawl jadid (baru).

7. Imam Ahmad Ibn Hanbal biasanya amalkan zahir hadis. Tetapi dgn cara khususkan mengikut punca hadis, sababul wurud. Oleh yg demikian banyak disandarkan mazhabnya kpd golongan zhahiriyah(gol yang amal zahir hadis/literal)

8. Akhirnya mazhab hanbali dirosakkan oleh puak yang mencampurkan mazhab hanbali dengan akidah mujassimah.

9. Cth, dalam mazhab hanbali, ada hadis nabi saw tatkala seseorang bangun tidur, kena basuh tangan. Kerana xtahu dimana letaknya masa tidur. Disisi imam ahmad,jika xbasuh, kalau celup tangan dalam air samada bernajis atau x, maka air yg dicelup akan jadi bernajis.

Imam syafie pula berijtihad dengan melihat pelbagai sudut. Seperti amalan orang arab yang tidur memakai kain, yang beristinjak tanpa air dan cuaca panas yang tatkala tidur orang arab berpeluh. Begitulah kaedah-kaedah ulamak mujtahid. Bukan hukum secara jahil seperti yang berlaku hari ini.

10. Adapun imam abu hanifah, melihat syariat ada dua bahagian. Pertama kaedah umum yg jadi dasar hukum. Cth sempurna jual beli melalui ijab qabul. Kedua apabila berlaku kejadian yg merupakan juzuk,seolah2 menepati pengecualian kaedah umum, maka mujtahid kena jaga kaedah umum.cth jualan barang akan batal dengan adanya syarat fasid (rosak).

Adapun kaedah juzuk yg berlaku pada kisah jabir yang jual unta pd Rasulullah saw yang mensyaratkan selepas bayar dia akan naik unta lagi sampai madinah, maka ia menyalahi kaedah dan tidak dibuat sandaran hukum disisi abu hanifah .

– Catatan ringkas alfaqir mudir Mtdhs Darul Hadis Sabah di kuliah “adakah anda mujtahid siri3” di Madrasah Huffaz Darul Hadis Sabah, kota kinabalu jam 11.42 malam (20.06.2016)
Mudir MTDHS Ust Mat Razali

image
Maulana Hussein

24 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

[Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar Menurut Sebahagian Ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah]
image

1. Menurut Syaikhul Islam Zakaria Al-Ansari ciri-ciri malam lailatul qadar adalah tidak panas mahu pun dingin, dan pada keesokan harinya mentari terbit tidak terlalu menyilaukan. Hal ini berdasarkan Riwayat Imam Muslim.Mengenai hikmahnya ada 2 pendapat: pertama, itulah tanda-tanda yang Allah jadikan menandai lailatul qadar; dan yang kedua, hal itu disebabkan banyaknya malaikat yang bergantian turun ke bumi dan kembali naik ke langit, hingga sinar mentari dan pancarannya terhalang dengan sayap-sayap dan tubuh-tubuhnya yang lembut
في اسنى المطالب:
(وعلامتها عدم الحر والبرد) فيها (و) أن (تطلع الشمس صبيحتها) بيضاء (بلا كثير شعاع) لخبر في مسلم ورد بهذه الصفة وفي حكمته قولان أحدهما أنها علامة جعلها الله لها ثانيهما أن ذلك لكثرة اختلاف الملائكة في ليلتها ونزولها إلى الأرض وصعودها بما تنزل به فسترت بأجنحتها وأجسامها اللطيفة ضوء الشمس وشعاعها قال في المجموع فإن قيل أي فائدة لمعرفة صفتها بعد فواتها فإنها تنقضي بطلوع الفجر فالجواب من وجهين أحدهما أنه يستحب أن يكون اجتهاده في يومها الذي بعدها كاجتهاده فيها، ثانيهما المشهور في المذهب أنها لا تنتقل فإذا عرفت ليلتها في سنة انتفع بذلك في الاجتهاد فيها في السنة الثانية وما بعدها ويسن لمن رآها كتمها قال النووي في شرح مسلم لا ينال فضلها إلا من أطلعه الله عليها فلو قامها إنسان ولم يشعر بها لم ينل فضلها وقد ينازعه فيه قول المتولي يستحب أن يقصد إلى التعبد في هذه الليالي كلها حتى يحوز الفضيلة.
2. Imam Ramli juga turut menyatakan perkara yg sama dengan syaikhul Islam Zakaria Al-Ansari malam lailatul qadar adalah tidak panas maupun dingin, dan pada keesokan harinya mentari terbit tidak terlalu menyilaukan.
وعلامتها عدم الحر والبرد فيها، وأن تطلع الشمس صبيحتها بيضاء بلا كثير شعاع، وحكمة ذلك أنه علامة لها، أو أن ذلك لكثرة اختلاف الملائكة ونزولها وصعودها فيها فسترت بأجنحتها وأجسامها اللطيفة ضوء الشمس وشعاعها
3. Menurut Imam Ramli lagi malam 21 dan 23 merupakan malam yg dijangkakan lailatul Qadar menurut Imam Syafie. Malam 21 berdasarkan hadith bukhari-muslim manakala malam 23 berdasarkan hadith riwayat muslim
(وميل الشافعي) – رضي الله عنه – (إلى أنها ليلة الحادي والعشرين) (أوالثالث والعشرين) منه يدل على الأول خبر الصحيحين وعلى الثاني خبر مسلم وهذا نص المختصر، والأكثرون على أن ميله إلى أنها ليلة الحادي والعشرين لا غير، والأصح أنها تلزم ليلة بعينها وأرجاها بعد ما مر بقية أو تارة وفيها للعلماء نحو ثلاثين قولا
4. Dalam kitab mausuah alfiqhiyyah alkuwaitiyyah ada satu perbahasan panjang sekali mengenai lailatul qadar ini. Tanda-tanda Lailatul Qadar
Ulama berkata:
Tanda-tanda lailatul qadar dapat diketahui orang yang dikehendaki Allah dari hamba-hambaNya di bulan Ramadhan pada tiap tahun.
Hal ini kerana hadis-hadis, khobar-khobar orang-orang sholeh, dan riwayat-riwayat mereka ada. Diantaranya:
Hadis riwayat Ubadah bin Shomit Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’:
” Sesungguhnya tanda Lailatul Qadr adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya. Dan sesungguhnya, tanda Lailatul Qadr adalah, matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu”
Dari Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam:
“Sesungguhnya mentari terbit pagi itu bersinar tanpa terik”
Dan juga warid dari qoul Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu: Sesungguhnya Mentari terbit tiap hari diantara dua tanduk setan, kecuali di pagi hari Lailatul Qadar.
علامات ليلة القدر:
٩ – قال العلماء:
لليلة القدر علامات يراها من شاء الله من عباده في كل سنة من رمضان، لأن الأحاديث وأخبار الصالحين ورواياتهم تظاهرت عليها فمنها ما ورد من حديث عبادة بن الصامت رضي الله عنه مرفوعا: إنها صافية بلجة كأن فيها قمرا ساطعا ساكنة ساجية لا برد فيها ولا حر ولا يحل لكوكب أن يرمى به فيها حتى تصبح وأن من أمارتها أن الشمس صبيحتها تخرج مستوية ليس لها شعاع مثل القمر ليلة البدر ولا يحل للشيطان أن يخرج معها يومئذ (١) .
وعن أبي بن كعب رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم: إن الشمس تطلع يومئذ لا شعاع لها (٢) .
ومنها ما ورد من قول ابن مسعود رضي الله عنه (أن الشمس تطلع كل يوم بين قرني شيطان إلا صبيحة ليلة القدر) (٣) .
Disediakan oleh:
Pertubuhan Penyelidikan Ahlussunnah Wal Jamaah
Johor Bahru, Johor

24 June 2016 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

WAKTU MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH

(With FB Masjid Negeri Negeri Sembilan)

image

Alyasak Berhan
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
Diriwayatkan daripada Ibn Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “Rasulullah sollallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah iaitu satu gantang daripada kurma, atau satu gantang daripada sya’ir (gandum), ke atas setiap hamba, merdeka, lelaki, wanita, kecil dan besar daripada kaum muslimin. Baginda juga memerintahkan agar ia ditunaikan sebelum manusia keluar menunaikan solat (sunat Aidul Fitri) (Riwayat al-Bukhari no. 1503)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
Diriwayatkan daripada Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “Rasulullah sollallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari daripada perbuatan sia-sia dan perkataan keji, serta untuk memberi makan kepada orang miskin. Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum solat (sunat Aidul Fitri), maka ia merupakan zakat yang diterima dan barangsiapa yang mengeluarkannya sesudah solat (sunat Aidul Fitri), maka ia merupakan satu sedekah daripada sedekah-sedekah (sedekah biasa). (Riwayat Abi Daud no. 1609, Ibn Majah no. 1927 dan al-Daraqutni)
Waktu mengeluarkan zakat fitrah terbahagi kepada 5 waktu, iaitu:

1. Waktu Wajib.
Dengan memperolehi sebahagian waktu daripada bulan Ramadhan dan sebahagian waktu daripada bulan Syawal; iaitu seseorang yang hidup dan memenuhi syarat-syarat wajib zakat ketika tenggelam matahari malam hari raya (1 Syawal).

2. Waktu fadhilah (sunnah).
Hari raya (1 Syawal) setelah terbit fajar (subuh) dan sebelum menunaikan solat hari raya Aidul Fitri. Paling afdhalnya adalah waktu selepas solat subuh.

3. Waktu Harus.
Iaitu, mulai dari awal bulan Ramadhan.

4. Waktu Makruh.
Iaitu, setelah solat Aidul Fitri sehingga tenggelamnya matahari 1 Syawal melainkan kerana kemaslahatan seperti menanti kerabat atau orang fakir yang soleh (maka hukumnya tidak makruh).

5. Waktu haram.
Melambatkan zakat fitrah sehingga tenggelam matahari hari raya (1 Syawal) melainkan kerana keuzuran. Maka harus melewatkan zakat kerana keuzuran seperti menunggu hartanya yang tiada (bersamanya) atau tidak menemui orang yang berhak menerima zakat ketika itu. Justeru, zakat tersebut diambilkira sebagai zakat qadha’ dan dia tidak berdosa (kerana ada keuzuran).
اليسع
Wallahu A’lam…

Rujukan;
Al-Taqrirat al-Sadidah fi al-Masail al-Mufidah 418
http://tolibilmi.blogspot.my/2016/06/waktu-mengeluarkan-zakat-fitrah.html

22 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

SUARA GENDERANG “PERANG BADR “ MASIH TERDENGAR HINGGA KINI

image

(Foto ilustrasi Perang Badar Al Kubra)

Disaat Abuya Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki (ra) Menceritakan tentang kisah pengalaman pribadi beliau saat muda. Dimana kala itu, Beliau sering diajak oleh abahnya, yakni Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki berziarah ke Madinah yakni ke makam Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa Shahbihi wasallam.

Dizaman dulu, Jalan yang ditempuh untuk menuju ke Madinah ialah melewati jalan lama ( Thariq Qadim ), dinamakan jalan lama dikarenakan pemerintahan Arab Saudi sekitar tahun 1985 an membuat jalan baru dan dikasih nama “ Thoriq al-Hijrah “ yang relatif lebih luas dan lebih dekat jarak tempuhnya dibanding dengan jalan lama.

Namun dijalan yang baru ini tidak melewati beberapa tempat yang bersejarah yang pernah dilewati oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa Shahbihi wasallam, seperti daerah “ USFAN “, dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa Shahbihi wasallam dan para Sahabat-sahabatnya pernah singgah disana.

Dan ada juga sumur yang sangat bersejarah, yang mana sumur tersebut awalnya airnya berasa asin dan pahit, namun berubah tawar setelah diludahi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa Shahbihi wasallam.

Sedangkan jalan yang baru tersebut juga tidak melintasi daerah “ Badr “ yang mana pada perang Badr tersebut adalah suatu peristiwa peperangan pertama antara kaum muslimin dan kaum kafir.

Lanjut cerita, ketika Sayyid Alawi bersama rombongannya ( yang didalamnya juga terdapat Abuya Sayyid Muhammad ) berangkat menuju Madinah, dan sesampainya di Badr, biasanya langsung melakukan ziarah, kemudian beristirahat disana, namun kali ini beliau beristirahat dulu di salah satu rumah yang mana rumah tersebut miliknya salah satu rumah orang yang masih punya keturunan ahli Badr tersebut.

Ketika dimalam hari yang sunyi nan dingin, Sayyid Alawi beserta rombongan sedang duduk-duduk santai didepan halaman rumah tersebut, tiba-tiba mereka mendengar suara genderang yang dipukul oleh orang banyak. Awalnya terdengar sayup bertalu-talu namun semakin lama semakin terdengar jelas.

Kemudian Sayyid Alawi pun bertanya kepada sang pemilik rumah, “ Suara apa itu ?, apa ada acara disini ?”
“ tidak wahai Sayyid, itu suara sudah biasa terdengar disaat malam sepi seperti ini “ jawab sang tuan rumah,
“ Lalu suara apa itu “ Tanya Sayyid Alawi, “ itu suara genderang Ahli Badr yang masih terdengar hingga saat ini “ jawab sang tuan rumah.

Sebagian yang lain ketika mendengar suara itu merasa merinding dan ketakutan, namun lain halnya dengan Sayyid Alawi yang tetap tenang, dan menganggapnya biasa-biasa saja, karena beliau sendiri juga sudah lama mengetahuinya, namun baru kali ini mendengarnya secara langsung.

Dan suara ini juga pernah Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-maliki dengar ketika beliau berziarah ke Ahli Badr diwaktu malam bersama para murid-muridnya yang senior.

Wallahu A’lam…

Kisah ini diambil Dari Petikan Taklim Bersama Abuya Sayyid Muhammad Bin Alawi Bin Abbas Al Maliki Al Hasani ra.
—————————————–

Semoga kita bisa mengambil banyak hikmah dari kisah diatas terutama kisah perang Badar, seperti yang tertuang di dalam Al-Qur’an:
Pasukan kecil mampu mengalahkan pasukan yang lebih besar dengan izin Allah. Allah berfirman,

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“…Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al Baqarah: 249)

Mereka…
Mereka menang bukan karena kekuatan senjata
Mereka menang bukan karena kekuatan jumlah personilnya
Mereka MENANG karena berperang dalam rangka menegakkan kalimat Allah dan membela agamaNya…

Saudara-saudariku,
Jangan kita terpanah dengan kemenangan masa lalu, hendaknya kaderasi islami tidak boleh berhenti, Islam akan terus digerogoti dan muslim dan muslimah akan menjadi sasaran utamanya oleh kaum kafir, sampai kapan ?
Allah menjawabnya:
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha’ kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka” (QS. al-Baqarah: 120).

Sumber FB Pondok Habib

Nama-Nama Para Pejuang Perang Badar adalah Sebagai berikut :

1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w.
2. Abu Bakar as-Shiddiq r.a.
3. Umar bin al-Khattab r.a.
4. Utsman bin Affan r.a.
5. Ali bin Abu Tholib r.a.
6. Talhah bin ‘Ubaidillah r.a.
7. Bilal bin Rabbah r.a.
8. Hamzah bin Abdul Muttolib r.a.
9. Abdullah bin Jahsyi r.a.
10. Al-Zubair bin al-Awwam r.a.
11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim r.a.
12. Abdur Rahman bin ‘Auf r.a.
13. Abdullah bin Mas’ud r.a.
14. Sa’ad bin Abi Waqqas r.a.
15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
16. Anasah al-Habsyi r.a.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib r.a.
24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah r.a.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
26. Salim (maula Abu Huzaifah) r.a.
27. Sinan bin Muhsin r.a.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
31. Syuja’ bin Wahab r.a.
32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
33. Yazid bin Ruqais r.a.
34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
35. Rabi’ah bin Aksam r.a.
36. Thaqfu bin Amir r.a.
37. Malik bin Amir r.a.
38. Mudlij bin Amir r.a.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
46. Al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
47. Mas’ud bin Rabi’ah r.a.
48. Zus Syimalain Amru bin Amru r.a.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
50. Amir bin Fuhairah r.a.
51. Suhaib bin Sinan r.a.
52. Abu Salamah bin Abdul Asad r.a.
53. Syammas bin Uthman r.a.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
55. Ammar bin Yasir r.a.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
57. Zaid bin al-Khattab r.a.
58. Amru bin Suraqah r.a.
59. Abdullah bin Suraqah r.a.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) r.a.
62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi r.a.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
65. Amir bin Rabi’ah r.a.
66. Amir bin al-Bukair r.a.
67. Aqil bin al-Bukair r.a.
68. Khalid bin al-Bukair r.a.
69. Iyas bin al-Bukair r.a.
70. Uthman bin Maz’un r.a.
71. Qudamah bin Maz’un r.a.
72. Abdullah bin Maz’un r.a.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
74. Ma’mar bin al-Harith r.a.
75. Khunais bin Huzafah r.a.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
77. Abdullah bin Makhramah r.a.
78. Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
80. Hatib bin Amru r.a.
81. Umair bin Auf r.a.
82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
84. Amru bin al-Harith r.a.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
86. Safwan bin Wahab r.a.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
88. Sa’ad bin Muaz r.a.
89. Amru bin Muaz r.a.
90. Al-Harith bin Aus r.a.
91. Al-Harith bin Anas r.a.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi r.a.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi r.a.
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
102. Abdullah bin Sahl r.a.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
104. Ubaid bin Aus r.a.
105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd r.a.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi r.a.
108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah r.a.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
123. Tha’labah bin Hatib r.a.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi r.a.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
130. Jubr bin ‘Atik r.a.
131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
133. Abdullah bin Jubair r.a.
134. Asim bin Qais bin Thabit r.a.
135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
137. Salim bin Amir bin Thabit r.a.
138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah r.a.
142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
148. Abdullah bin Rawahah r.a.
149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah r.a.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
154. Abdullah bin Abbas r.a.
155. Yazid bin al-Harith bin Qais r.a.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah r.a.
158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah r.a.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
161. Abdullah bin Umair r.a.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
163. Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai r.a.
166. Aus bin Khauli bin Abdullah r.a.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
170. Amir bin Salamah r.a.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
172. Amir bin al-Bukair r.a.
173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah r.a.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
176. Aus bin al-Somit r.a.
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah r.a.
178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
182. Amru bin Iyas r.a.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
194. Dhamrah bin Amru r.a.
195. Ziyad bin Amru r.a.
196. Basbas bin Amru r.a.
197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
202. Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
207. Hubaib bin Aswad r.a.
208. Thabit bin al-Jiz’i r.a.
209. Umair bin al-Harith bin Labdah r.a.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr r.a.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid r.a.
222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
225. Abdullah bin Abdi Manaf r.a.
226. Jabir bin Abdullah bin Riab r.a.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
228. An-Nu’man bin Yasar r.a.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
233. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid r.a.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman r.a.
242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah r.a.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
245. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
257. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari r.a.
260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza r.a.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid r.a.
268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
272. Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
274. Ishmah al-Asyja’i r.a.
275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru r.a.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit r.a.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit r.a.
285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith r.a.
286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi r.a.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
291. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.
292. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim r.a.
295. Sulaim bin Milhan r.a.
296. Haram bin Milhan r.a.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
299. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah r.a.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah r.a.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal r.a.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
313. Oleh bin Syuqrat r.a. (khadam Nabi s.a.w.)

Ya Allah, himpunkanlah kami bersama mereka di akhirat kelak. Aameen.

copy & paste dari fb Pondok Ledang

NOTA:

#‎Syahid‬ : Adapun dipihak tentera Muslimin hanya 14, iaitu 6 orang dari kalangan Muhajirin dan 8 orang dari kalangan Anshar, yang gugur sebagai syuhada`. Antara yang gugur sebagai syahid adalah:

Dari kalangan ‪#‎Muhajirin‬

♡ Ubaidah bin al-Harits – beliau tercedera sewaktu pertempuran satu sama satu, dicederakan oleh Utbah bin Rabi’ah. Kakinya putus di dalam pertempuran tersebut dan kemudiannya wafat di as-Safra’.

♡ ‘Umair bin Abu Waqqash – beliau dibunuh oleh ‘Amru bin Abdul Al-Amiri. Umair adalah seorang remaja yang turut serta berjihad. Kisahnya diriwayatkan oleh al-Bazzar, juga disebut didalam Majma Zawaaid. Kisahnya …. ketika kaum Muslimin menuju ke Badar, ikutlah seorang remaja bernama ‘Umair bin Abi Waqqash yang berusia 16 tahun. Beliau mengikut secara terendap-endap agar pemergiannya ini tidak diketahui oleh kaum Muslimin. Beliau khuatir penyertaannya tidak dibenarkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم. Tatkala melihat keadaan itu, abangnya, Sa’ad bin Abi Waqqash bertanya kepadanya mengapa. Beliau menjawab: “Aku takut ditolak oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم , padahal aku sangat ingin turut serta, barangkali Allah memberikan kesyahidan kepadaku”. Hal itupun terjadi dimana Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم menolaknya kerana ‘Umair masih muda. Maka ‘Umair pun menangis. Hal tersebut membuatkan Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم terharu lalu akhirnya mengizinkan beliau turut serta. Dan akhirnya harapan ‘Umair untuk mendapat syahid diperkenankan Allah.

♡ Dzu Syimalain Umair bin ‘Abd Amr,

♡ ‘Aqil bin al-Bukhair,

♡ Mihja bin Sholeh bekas hamba Sayyidina Umar,

♡ Shafwan bin Baidha’ dari Bani al-Harits bin Fihr. Beliau dibunuh oleh Thuaimah bin ‘Ady.

Dari kalangan ‪#‎Anshar‬

♡ Sa’ad bin Khaitsamah,

♡ Mubasysyir bin ‘Abdul Mundzir,

♡ Yazid bin al-Harits,

♡ ‘Umair bin al-Humam – beliau di bunuh oleh Khalid bin al-A’lam al-Alqami. Beliau adalah merupakan perajurit Islam pertama yang gugur syahid di medan Badar. Ketika pertembungan antara tentara Muslimin dengan tentera Musyrikin kian hampir. Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bersabda: Majulah menuju syurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Mendengar seruan itu Umair bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم apa benar syurga itu seluas langit dan bumi? Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم menjawab: Ya! Seluas, langit dan bumi. ‘Umair berkata Bakh! Bakh! (Bagus! Bagus!). Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bertanya, apa maksudmu dengan mengatakan Bakh! Bakh!. ‘Umair menjawab: Demi Allah! Ya Rasulullah, aku tidak mengatakannya melainkan aku sangat berharap menjadi penghuninya. Rasulullah صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم berkata: Sesungguhnya engkau termasuk penghuni syurga.

♡ Rafi bin al-Mu’alla,

♡ Haritsah bin Suraqah bin al-Harits,

♡ Auf bin al-Harits bin Rif’ah bin Sawad,

♡ Mu’awwidz bin al-Harits bin Rif’ah bin Sawad

Sebagaimana disebut oleh Imam an-Nawawi bahwa peperangan Badar berlaku pada hari Jummat 17 Ramadhan tahun ke-2 dari Hijrah. Maka sesungguhnya, tanggal 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah merupakan hari yang menyaksikan pembelaan Ahli Badar kepada Baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم, sungguh tidak ada orang yang lebih setia, lebih memuliakan dan lebih mencintai Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم melebihi kesetiaan dan kecintaan Ahlul Badr, رضي الله عنهم أجمعين kepada Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Badar juga menyaksikan kecintaan perajurit Islam kepada syahid

Dari Sumber.

22 June 2016 Posted by | Informasi, Tazkirah | Leave a comment

Nuzul Al-Quran 17 Ramadan

image

(Dari Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan)

Mengapa Nuzul Al-Quran diperingati pada malam 17 Ramadan?

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam QS al-Anfal 41 bahawa Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam pada hari Furqan, pembeza antara haq dan batil, pada saat bertemunya dua pasukan, pasukan umat Islam dan Musyrikin pada perang Badar. Bilakah kejadiannya?

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan beberapa dalil atsar, diantaranya:

ﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﻗﺎﻝ: ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻴﻠﺔ اﻟﻔﺮﻗﺎﻥ، ﻟﻴﻠﺔ اﻟﺘﻘﻰ اﻟﺠﻤﻌﺎﻥ، ﻓﻲ ﺻﺒﻴﺤﺘﻬﺎ ﻟﻴﻠﺔ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻟﺴﺒﻊ ﻋﺸﺮ ﻣﻀﺖ ﻣﻦ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ.
ﻭﻫﻮ اﻟﺼﺤﻴﺢ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﻐﺎﺯﻱ ﻭاﻟﺴﻴﺮ.

(Sayidina) Ali berkata bahwa malam Furqan adalah malam bertemunya dua pasukan, di pagi harinya malam Jumaat 17 bulan Ramadan. Ini adalah pendapat sahih menurut pakar peperangan dan ahli sejarah (Tafsir Ibnu Katsir 4/66)

Memperingati Nuzul Al- Quran

Bolehkah memperingati Nuzul Al-Quran? Mufti al-Azhar Syaikh Athiyah memberi pedoman umum tentang hukum peringatan:

ﻓﺎﻟﺨﻼﺻﺔ ﺃﻥ اﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺄﻳﺔ ﻣﻨﺎﺳﺒﺔ ﻃﻴﺒﺔ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ ﻣﺎ ﺩاﻡ اﻟﻐﺮﺽ ﻣﺸﺮﻭﻋﺎ ﻭاﻷﺳﻠﻮﺏ ﻓﻰ ﺣﺪﻭﺩ اﻟﺪﻳﻦ، ﻭﻻ ﺿﻴﺮ ﻓﻰ ﺗﺴﻤﻴﺔ اﻻﺣﺘﻔﺎﻻﺕ ﺑﺎﻷﻋﻴﺎﺩ، ﻓﺎﻟﻌﺒﺮﺓ ﺑﺎﻟﻤﺴﻤﻴﺎﺕ ﻻ ﺑﺎﻷﺳﻤﺎء

Kesimpulannya, “peringatan” dengan tema-tema yang baik hukumnya adalah boleh selama tujuannya sesuai syariat dan pelaksanaannya sesuai aturan agama. Tidak ada pengaruh peringatan disebut perayaan. Sebab penilaian terdapat pada subtansi isinya, bukan pada namanya (Fatawa al-Azhar 10/120)

Ustaz Ma’ruf Khozin

22 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

7 WASIAT RASULULLAH SAW

Berkata Abu Dzar bahawa Rasulullah SAW
berwasiat kepadaku dengan 7 perkara:

1) Supaya aku mencintai orang orang miskin dan
yang dekat dengan mereka.
2) Beliau memerintahkan aku agar aku melihat
kepada orang yang berada di bawahku dan
tidak melihat kepada orang yang berada di
atasku.
3) Beliau memerintahkan agar aku menyambung
silaturahimku meskipun mereka berlaku kasar
kepadaku.
4) Aku dianjurkan agar memperbanyakkan ucapan
‘laa hawla wa laa quwwata illa billah’ (tidak ada
daya dan upaya kecuali dengan pertolongan
Allah).
5) Aku diperintah untuk mengatakan kebenaran
walaupun pahit.
6) Beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan
orang yang mencela dalam berdakwah kepada/
di jalan Allah.
7) Beliau melarang aku agar tidak meminta minta
sesuatu pun kepada manusia.
[ Hadis Riwayat Ahmad ]

Sumber FB Pondok Habib

22 June 2016 Posted by | Hadis, Tazkirah | Leave a comment

PETIKAN KULIAH HADIS MAUDHU’ oleh MAULANA HUSSEIN ABDUL KADIR

(Bicara Hadith Bersama Ustaz Mohd Khafidz Soroni)

1. Imam-imam mazhab menerima hadis-hadis dari sahabat dan tabiin dan mengkaji halus setiap hadis untuk diterima hujahnya dan buat hukum feqah untuk kita beramal.
2. Justeru amalan berterusan dari imam mazhab tersebut diamalkan kita sampai hari ini.
3. Pengikut imam mazhab yang empat tadi juga adalah alim dalam ilmu hadis seperti Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani yang mensyarahkan Sahih Bukhari iaitu Fathul Bari bermazhab syafie. Juga Imam Badrudin ‘Aini yang mensyarahkan sahih bukhari Umdatul Qari juga ikut Ijtihad Imam Abu Hanifah. Mereka ini orang-orang hebat yang ikut Imam Mazhab.
4. Pengikut Imam Mazhab juga alim besar dan ada yang mencapai tahap mujtahid juga seperti anak murid Imam Syafie seperti Imam Muzani.
5. Sekarang ada yang pelik ialah munculnya golongan yang sebut hanya nak amal Quran dan Sunnah namun mengambil nas hujjah dari Imam yang keras dalam penilaian hadis. Seperti Imam Ibnul Jauzi, Ibnu Hibban, Ibnu Taymiyah, Ibnu Qayyim, Imam Jauzaqani yang dianggap sekumpulan muhaddisin yang keras dalam penilaian hadis.
6. Sedangkan ada ulamak hadis yang sederhana dan adil dalam penilaian seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Zakaria Al-Ansari.
7. Ada hadis yang mencapai hasan dan dhaif yang sah disisi muhaddisin muktadil dianggap oleh puak-puak tertentu sebagai hadis maudhuk pada penilaian ulamak yang keras (Mutasyaddid) lalu menghukum amalan tersebut salah dan menyalahkan amalan masyarakat.
8. Jika benar nak amal Quran dan Sunnah, ikhlas nak mengajar hadis mesti bawa keseluruhan disiplin ilmu hadis dan bawa akhlak Rasulullah SAW. Pastikan hadis yang nak dimaudhu’kan itu adakah ia dimaudhu’kan oleh jumhur muhaddisin atau tidak. Atau ia hanya dimaudhu’kan oleh hanya beberapa muhaddis sahaja.
9. Jika hadis itu disepakati muhaddisin sebagai maudhu’ maka xsalah menyebarkan kepalsuannya bahkan sepatutnya kita bagitahu ia palsu. Namun jika status maudhu’nya masih khilaf, kita jgn cepat sangat sebar kepada masyarakat.
10. Cth hadis الموت كفارة لكل مسلم . Imam Ibnul Jauzi dan Saghani kata hadis ni maudhu’. Sedangkan Ibnu Al-‘Arabi menegaskan hadis ini sahih. al-‘Iraqi kata riwayat ni datang dengan banyak jalur riwayat yang membawanya sampai darjat hasan. al-Hafiz Al-Iraqi menghafaz 100 ribu hadis berserta sanad dan dianggap ulamak hadis yang bersikap sederhana. Kata Ibn Hajar, hadis ini xbermaksud mati itu hapus segala dosa muslim, namun ia penghapusan dosa sekadar yang dikehendaki oleh Allah Taala sahaja. Maka ia xbercanggah dengan nas.(Al-Fawaid Al-Majmu’ah Lis Syaukani)
11. Hari ni golongan yang cepat menyalahkan sesuatu kitab sedangkan mereka pun gagal nak buat dan tulis satu kitab setanding kitab yang dipersalahkan. Cth salahkan Fadhail Amal xboleh baca. Walhal Maulana Zakariya Kandahlawi yang mencapai gelaran syeikhul hadis dan ra’isul muhaddithin bahkan mengarang pelbagai kitab antaranya Kanzul Mutawari syarah sahih bukhari dengan puluhan jilid satu tajuk menulisnya. Jika sekadar ada hadith dhaif dan kesilapan lalu dihentam, maka kitab mana lagi yang hendak dibaca. Kitab sunan juga ada hadith dhaif. Bahkan kitab sehebat bukhari xlepas dari kritikan oleh ulamak beraliran keras seperti ibnul jauzi yang mengatakan hadis didalam sahih bukhari sebagai dhaif. Bahkan ibnul jauzi menyebut imam tirmidzi muatkan 17 hadis maudhuk dalam kitabnya. Namun Ibnu Hajar jawab balik dengan menghukumnya hasan dan dhaif.
12. Jika fuqaha muhaddisin dan muhaddisin muktadil dahulu dah amal, apa lagi yang kita nak susah pertikaikan. Kerana mereka sudah menilai dengan ilmu yang mencukupi dengan syaratnya. Namun kita pula sibuk-sibuk cungkil semula sedangkan syarat ilmu xcukup. Sebagai cth hanya membawa 1 pandangan dan aliran pandangan walhal meninggalkan pembelaan ulamak seperti Al-Hafiz Ibnu Hajar.
13. Ulamak-ulamak dahulu memudahkan penyampaian kepada masyarakat mengamalkan sesuatu hadis dengan diringkaskan penyampaian. Kerana mereka memahami setakat mana kemampuan masyarakat dalam menyerap ilmu. Hal ini bukan bermakna ulamak-ulamak seperti ulamak alam melayu dulu jahil dibidang hadis. Namun mereka sebenarnya bijak dalam taklim.
14. Akhirnya sebagai awam rujuklah pakar – pakar ilmu dan luaskanlah pengajian. Semoga Allah memberkati kesungguhan kita mencari ilmu.

Wallahu A’lam semoga Allah tetapkan kita dalam kebenaran Ilmu.

(Petikan ringkas dari Kuliah Subuh Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi berkenaan Hadis Maudhu’ di Masjid Nurul Hidayah Kg Bangka-Bangka Sabah. Catatan daripada Mudir MTDHS.)

18 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Tazkirah | Leave a comment

DAHULU AKU PAK WAHHAB SEKARANG AKU BERTAUBAT…

Sebenarnya banyak golongan yang berpangkat Dr, agamawan atau sesiapa pun yang ada penyakit Wahhabi ini tidak akan mengaku bahawa mereka mempunyai fahaman Wahhabi. Malah, mereka marah apabila diri mereka digelar sebagai WAHHABI.
Adakah Wahhabi ini ajaran sesat? Bukan saya yang berkata begitu. Tetapi para ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang berpendapat bahawa Wahhabi adalah satu fahaman yang sesat dari segi akidah, menyesatkan umat Islam dan tergelincir daripada fahaman Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang sebenar.
Syeikh Ahmad Zaini Dahlan al-Hasani, Mufti Mazhab Syafie di Makkah al-Mukarramah di zamannya menyatakan di dalam kitabnya, al-Durar al-Saniyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah:
“Zahirnya Wahhabi merupakan bala yang didatangkan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Ia juga merupakan fitnah daripada sebesar-besar fitnah yang muncul dalam agama Islam yang mengganggu ketenteraman fikiran, menghangatkan orang-orang yang berakal dan mengelirukan orang-orang yang kurang berakal, lantaran diterjah oleh pemikiran dan ajaran mereka yang meragukan. Sedangkan mereka berselindung di sebalik label PENEGAK AGAMA”.
Sesat jalan dan haluan tidak mengapa. Tetapi, jangan kita menjadi sesat dan keliru dalam pemikiran sehingga mengeluarkan satu hukum yang salah. Selepas itu, mengkafirkan dan mendatangkan dalil dengan alasan si pelaku masuk api neraka atau seorang yang sudah berdusta dalam agamanya.
Gempar seketika apabila seseorang yang ada jawatan dalam politik menjelaskan bahawa Wahhabi bukan ajaran sesat. Malah, dia bersungguh-sungguh mendatangkan beberapa enakmen dan pandangan daripada pihak tertentu untuk menyatakan Wahhabi tergolong dalam Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Saya berpendirian bahawa sesiapa pun yang bergelar Muslim, tidak dibenarkan mengkafirkan dan membidaahkan sesuatu perkara jika ibadah atau amalan itu tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW. Kita juga bersetuju jika ibadah dan amalan itu dipandang baik. Malah, majoriti ulama’ berpandangan bahawa ia tidak menjadi masalah dan boleh diamalkan.
Jadi, di manakah Wahhabi jika dikatakan sesat? Sesatnya mereka itu akibat tidak menemui sumber dalam pengeluaran hukum agama dan penjelasan ulama’. Maka selama itulah mereka sesat kerana tidak memahami dengan baik fiqh agama dan tidak menghormati pandangan ulama yang membenar dan memperakui jalan ibadah itu.
Seperkara lagi, bilakah WAHHABI dikatakan bersifat maksum dan tidak pernah bersalah? Mereka inilah punca berlakunya WABAK penyakit yang lebih teruk daripada penyakit kanser sehingga umat Islam berpecah-belah dan saling mencaci dan memaki sesama mereka. Adakah Wahhabi begitu maksum untuk dimuliakan dan diagung-agungkan?
Tidak ada ajaran yang lebih teruk daripada fahaman WAHHABI yang berani memaki dan menghina para ulama’ terdahulu? Adakah Islam diajar menghina ulama’ pewaris nabi? Adakah mereka ini layak untuk dikatakan tidak sesat dan melampaui batas dalam agama?
Apabila seseorang disyaki dan cenderung kepada penyakit ini, maka ia layak digelar sebagai WAHHABI MODEN. Gelaran ini terbuka untuk sesiapa yang ada ciri-ciri tidak menghormati pandangan ulama’ walaupun anda seorang Mufti!
Jika benar kita adalah seorang yang adil dan wasatiyyah, kita tidak akan memberi ruang kepada anak-anak WAHHABI mendapat peluang, kedudukan dan jawatan di negara ini. Sedangkan merekalah sebenarnya siang dan malam melalui kuliah-kuliah mereka membawa perpecahan dan juga fitnah di negara ini. Bahkan mereka yang memulakan dahulu budaya bercakap bohong dan mendabik dada seolah-olah mereka sahaja yang betul dan pendapat ilmuwan lain semuanya salah.
Tangan-tangan Ahli Sunnah juga perlu diperhatikan. Jangan kita sesekali terpalit dan turut berjasa menaikkan WAHHABI di negara ini. Janganlah kita merencatkan perjuangan sejati para pejuang sejati Ahlus Sunnah Wal Jamaah di negara ini. Sekian lama kita memberi; janganlah lupa dan cepat lupa diri.
Ahlus Sunnah Wal Jamaah dahulu tidak pernah berhutang dengan pemerintah, orang-orang politik dan orang-orang yang ada kepentingan diri. Pondok dan madrasah terbina teguh dengan keikhlasan tuan-tuan guru yang mengajarkan ilmu tauhid dan zikir terhadap pengenalan diri. Malah, itulah juga benteng menolak bala daripada Ilahi.
Ahlus Sunnah Wal Jamaah bukanlah jemaah atau pertubuhan untuk menonjolkan mereka sebagai yang terbaik. Tetapi Ahlus Sunnah adalah mereka yang berani mempertahankan nama Allah SWT dan agama-Nya. Jangan kita menjadi paku-pakis terlompat di sana-sini sehingga hilang identiti diri. Pening dan keliru anak-anak Islam memikirkan orang yang mengatakan WAHHABI ini benar ketika berada di majlis kita untuk berucap dan merasmikan sesuatu majlis. Sedangkan dalam masa yang sama, mereka ini juga memberi ruang dan bertepuk tampar sesama Pak Wahhabi ini. Adakah Ahlus Sunnah sudah terpesona dengan jawatan dan pangkat mereka?
Soalan yang perlu ditanya, bilakah masa PAK-PAK WAHHABI ada meminta maaf kepada Ahlus Sunnah? Sedangkan mereka tidak pernah minta maaf setelah menghina IMAM-IMAM kita. Di manakah keadilan untuk kita apabila WAHHABI disahkan sebagai ajaran murni, sedangkan kesalahan mereka amat ketara di media dan segala saluran mereka.
Kita boleh DUDUK dengan WAHHABI setelah mereka membuat pengakuan terbuka bahawa selama ini mereka tersilap berfatwa, lalu memohon maaf dengan ikhlas setelah melemparkan tuduhan dan fitnah kepada kita semua.
Saya adalah orang yang pertama yang akan bersalam dengan mereka dan berkata, “Jangan buat lagi, ya! Pening orang awam. Kami sudah ok di Malaysia dengan 1000 dalil.”
Ahlus Sunnah tidak akan pernah berhutang dengan mereka melainkan orang-orang yang ada membina hubungan dan rangkaian dengan mereka. Guru sendiri difitnah, bermesra pula dengan tauke-tauke WAHHABI.
Ya Allah! Padamkan kesesatan dan kekeliruan di negara ini daripada tangan orang-orang yang keliru dan terhijab.
Kuatkanlah kesatuan para pejuang sejati Ahlus Sunnah Wal Jamaah di negara ini.
Sebagai penutup bicara, saya bawakan kisah taubat seorang ulama’ Wahhabi.
Syeikh Muhammad Abdul Salam al-Kazimi al-Hasani, seorang ulama’ di Jami’ah al-Ghauthiyyah Daka, Bangladesh berkata sambil menangis:
“Mazhab Wahhabi adalah mazhab yang berbahaya dan meruntuhkan masyarakat Islam. Akidah yang melencong ini mendatangkan fitnah. Golongan Wahhabi menyatakan bahawa kami mengikut al-Quran dan Sunnah, tetapi apa yang sebenarnya berlaku ialah mereka mengikut telunjuk syaitan”.
Syeikh Muhammad Abdul Salam akhirnya bertaubat. Setelah beliau keluar daripada fahaman Wahhabi, beliau berkata:
“Aku adalah seorang Wahhabi, kemudian aku bertaubat”.

(Manar al-Huda bil. 68 Rabiulakhir 1419H bersamaan Ogos 1998: 19.)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kiriman : FB Ustaz Yunan A Samad

13 June 2016 Posted by | Aqidah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Andalusia Kisah Menyayat Hati

image
Telah berlaku satu kisah di zaman silam Andalusia. Setelah sekian lama kaum Muslimin berperang dengan puak Kristian, namun Kaum Muslimin tidak menang dan tidak kalah. Ini telah menimbulkan tanda tanya dan keresahan di kalangan orang-orang Islam, termasuklah seorang wanita Islam yang merasakan bahawa sesuatu perubahan perlu dibuat supaya kemenangan berpihak semula kepada orang Islam.

Dia berkata, setelah sekian lama tentera Islam dipimpin oleh kaum lelaki namun tidak juga berjaya mendapat kemenangan, maka tibalah masanya kaum wanita pula di beri peluang dan dilantik untuk ,memimpin tentera Islam. Dalam keadaan tedesak itu, kaum lelaki telah ,menerima usul tersebut dan wanita berkenaan dilantuk menjadi ketua dan panglima tentera Islam. Dengan kehendak Allah, di bawah pimpinan wanita itu, tentera Islam telah berjaya mencapai kemenangan.

Di dalam keceriaan dan kegemilangan kemenangan tersebut, dan seperti yang lazim setelah tamat perang, wanita berkenaan ditemukan dengan pemimpin perang puak Kristian yang telah menjadi orang tawanannya. Bermula dari pandanagn pertama, hatinya telah tertarik dan terpikat dengan ketua tentera Kristian yang tampan itu. .Lama kelamaan rasa tersebut mekar menjadi cinta yang tidak tertahan-tahan lagi. Dia mengajak tawanan itu memeluk Islam supaya boleh dipersuamikannya tetapi tawanannya itu telah menolak. Berkali-kali dia memujuk tetapi tawanannya tetap menolak malahan mencadangkan pula agar wanita tersebut memeluk agama kristian supaya mereka dapat bersama memadu kasih yang sekian lama telah berbunga di hati masing-masing.

Akhirnya wanita tersebut kecundang, jatuh dan tersungkur dilanda cinta yang begitu ghairah dan hebat yang telah memadamkan segala cintanya kepada Allah, Islam dan kebenaran. Demi cintanya itu dia murtad dan memeluk agama Kristian.

Peristiwa sedih dan malang ini benar-benar terjadi dalam sejarah umat Islam. Ia patut menjadi pengajaran kepada kita iaitu sesiapa yang membelakangkan syariat-Nya, pasti natijahnya tidak selamat. Memanglah semua orang Islam mahukan kemenangan di dalam peperangan menentang musuh. Tetapi kemenangan itu mesti dicapai di dalam pengaruh dan lingkungan syariat. Syariat Allah tidak boleh dikesampingkan di dalam perjuangan menuju keredhaan-Nya.
Syarat-syarat menjadi pemimpin dalam Islam amat jelas. Antaranya, pemimpin mesti orang lelaki. Wanita tidak dibenarkan menjadi pemimpin kepada lelaki.

Soal kepimpinan di tangan lelaki ini bukanlah satu diskriminasi. Maha suci Tuhan daripada menzalimi dan melakukan diskriminasi terhadap makhluk-makhluk-Nya. Bahkan Tuhan Itu Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Adil bererti meletakkan sesuatu itu pada tempatnya. Maka kedudukan wanita itu bukan sebagai pemimpin tetapi ada peranannya yang tersendiri sesuai dengan fitrah mereka. Wanita lebih berperanan sebagai sayap kiri kepada lelaki, iaitu sebagai pembantu kepada kaum lelaki. Sayap kiri juga sangat penting kerana tanpanya mana mungkin seekor burung mampu terbang tinggi di udara. Sebab itu ada pepatah berkata; “Di belakang seorang lelaki itu (sama ada kejayaan atau kejatuhannya) ada seorang wanita.”

Dalam Islam, wanita dibenarkan malah diperlukan oleh masyarakat Islam membuat kerja-kerja lain sepertimana kaum lelaki biasa. Mereka boleh menjadi pekerja mahir atau orang-orang profesional seperi doktor, jurutera, akauntan, arkitek dan juga sebagai pendidik, jururawat dan sebagainya. Hanya perlu berada di bawah kepimpinan orang lelaki.
Itulah kehendak Allah yang sangat-sangat mengetahui akan hikmahnya.

WaLlahu a’lam.

Oleh: Abdul Rahim

10 June 2016 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

Slogan Wahabi membawa kerosakan

Slogan Wahabi membawa kerosakan Ummah menuju kepada Pemikiran Islam Moderate, Liberal dan terdedah kepada ajaran atau pemikiran yang sesat lagi menyesatkan.

Mengapa sedemikian ?

Mari kita lihat Slogan ini!

1.”Jangan Ikut Ulama, ikut Al-Quran dan Sunnah ”

2.”Jangan Ikut Ulama, Ikut Nabi”

Tahukah anda Slogan diatas adalah sangat merbahaya?

Tahukah anda apakah Objektif Utama 2 Slogan diatas?

Dari manakah Slogan itu datang?

Slogan ini datangnya dari ajaran sesat seperti:
-Millah Abraham
-Anti Hadith
-Syiah
-wahabi / extremist
-liberal
-aminah wadud
-murtadin
-Atheis/Pagan
Kerana kesemua ajaran sesat di atas mempunyai Objektif Utama iaitu menjauhkan Anak muda dan orang awam daripada berpegang pada ulama.Ini kerana selagi ada ulama ahlisunnah waljamaah kesemua ajaran sesat ini susah menyebarkan dakyah atau fahaman sesat mereka.
sekarang tibalah masanya kita membunyikan siren,Loceng wisel “kecemasan” kerana anak muda dan orang awam yang terpengaruh oleh slogan wahabi ini sudah berada dalam tahap pemikiran yang kritikal yang akan hampir kepada radikal membahayakan diri mereka dan orang lain serta mencemarkan kesucian agama islam.

Ya Slogan diatas mempunyai OBJEKTIF utama iaitu “MENOLAK ULAMA” mereka bukan membawa orang awam supaya mengikut Al-Quran Sunnah dan Mengikut Nabi.Akan tetapi mereka menyemaikan benih kebencian terhadap ulama dan sedikit demi sedikit orang awam menolak ulama serta berani menghina ulama.Jika orang awam menolak ulama jadilah mereka mentafsir Al-Quran dan Hadith mengikut hawa nafsu,logik akal fikiran mereka sendiri.Hal ini boleh menjerumuskan orang awam kepada fahaman sesat Anti Hadith kerana Hadith daripada rantaian sanad dari ulama.

Hari ini Wahabi dan musuh islam mengajarkan anak muda dan orang awam menolak dan menghina ulama.Esok lusa pula anak muda kita sudah berani mengkafirkan dan menghukum sesat kepada ibu bapa mereka sendiri.

(Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=640164109471249&id=157646017723063%5D

6 June 2016 Posted by | Ibadah, Informasi, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

MENGHIDUPKAN KALBU MENURUT SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

image

“Wahai kalian yang kalbunya mati, kalian harus senantiasa mengingat Tuhan kalian, membaca Kitab-Nya, mengikuti Sunnah Rasul-Nya, dan menghadiri majelis-majelis zikir. Dengan demikian kalbu kalian akan hidup kembali, sebagaimana bumi yang mati dihidupkan kembali dengan hujan yang menyegarkan.

Dzikir yang terus-menerus adalah penyebab kebaikan yang terus-menerus di dunia ini dan di akhirat nanti. Apabila kalbu seseorang sehat, maka zikir akan menjadi hal yang terus-menerus terjadi di dalamnya. Zikir terukir di seputarnya dan di seluruh ruangnya, sehingga matanya boleh saja tertidur, tetapi kalbunya akan selalu mengingat Tuhannya. Dia mewarisi ini dari Nabinya Saw., yang biasa mengingat Allah di setiap saat.

Hamba-hamba Tuhan secara normal akan tidur hanya jika kantuk menguasai mereka secara tak tertahankan lagi, meskipun ada sebagian orang di antara mereka yang dengan sengaja tidur satu jam di malam hari, sebagai cara untuk membantu diri mereka agar bisa bangun sepenuhnya sepanjang sisa malamnya. Dengan memberikan sedikit kelonggaran ini kepada kepada kebutuhan diri rendahnya (nafs), mereka akan menenangkannya dan mencegahnya dari mendatangkan kesulitan serius kepada mereka.

Alkisah, diceritakan bagaiman seorang yang saleh—semoga Allah Yang Mahatinggi melimpahkan rahmat-Nya kepadanya—sedang memegang seuntai tasbih dan menggunakannya untuk menghitung puji-pujiannya kepada Tuhan, sampai suatu saat dia tertidur. Kemudian dia terbangun dan melihat bahwa biji-biji tasbihnya masih berputar di tangnnya, sementara lidahnya masih mengucapkan zikir kepada Tuhannya.

Seorang saleh yang lain lagi biasa memaksa dirinya untuk tidur di sebagian malam, dan akan mendapati dirinya siap untuk itu tanpa betul-betul membutuhkan istirahat. Ketika ditanya tentang hal itu, dia berkata: “Kalbuku melihat Tuhanku.” Dia mengatakan kebenaran dalam apa yang dikatakannya, sebab mimpi yang benar (manâm shâdiq) adalah wahyu dari Allah. Apa yang dia sukai ada di dalam tidurnya.

Apabila seseorang dekat kepada Allah, maka malaikat-malaikat-Nya akan diberi tugas mengawasinya setiap saat. Jika dia tidur, mereka akan duduk di arah kepalanya dan di arah kakinya; mereka menjaganya baik di depannya maupun di belakangnya. Setan mungkin akan mencoba menggodanya, tetapi dia tidak akan merasakan kedekatannya, sebab dia tidur dalam penjagaan Allah, dan dalam penjagaan-Nya dia akhirnya akan terjaga kembali. Apakah dia bergerak ataukah diam, dia selalu dalam penjagaan Allah Yaang Mahatinggi.
Ya Allah, jagalah kami dari semua keadaan, dan :Berilah kami kebaikan di dunia ini, dan kebaikan di akhirat juga, dan jagalah kami dari siksa neraka! (QS 2:201).”

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Jala Al-Khawathir

(Sumber : FB Tasawuf Underground)

2 June 2016 Posted by | Bersama Tokoh, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Isteri tidak mempunyai tanggungjawab dalam rumahtangga?

Dr Khalif Muammar

Akhir-akhir ini sering kedengaran sebahagian ustaz-ustaz popular yang mengatakan bahawa isteri tidak mempunyai apa-apa tanggungjawab di rumah melainkan bersolek dan mengandungkan anak, tugas kerja rumah ditanggung oleh suami dan bukan isteri, alasannya tiada dalil yang menyatakan bahawa isteri bertanggungjawab untuk membuat kerja-kerja rumah.

Tiadanya dalil (nas) secara spesifik atas sesuatu perkara tidak bermakna sesuatu perkara itu boleh ditolak, kerana para ulama’ juga menggunakan dalil akal, uruf, selain daripada nas al-Qur’an dan al-Sunnah. Tidaklah munasabah, bertentangan dengan common sense, isteri duduk diam tanpa apa-apa kerja di rumah sedang suami bertungkus lumus mencari nafkah di luar dan bila balik pula suami juga perlu menyiapkan makanan, menyuci pakaian, jika tidak mampu maka suami perlu menyediakan khadam bagi isterinya. Pandangan ini adalah pandangan yang ekstrim, melampau, kerana terlalu literal dan tidak menggunakan akal fikiran dalam memahami ajaran Islam. Uruf juga menuntut agar isteri melakukan kerja-kerja rumah sebagai usaha meringankan beban suami di luar, jika isteri tidak melaksanakan tanggungjawabnya maka ia akan menggundang kemarahan suami, dan mentaati suami adalah suatu kewajipan dalam Islam.

Sememangnya Rasulullah saw membasuh pakaiannya sendiri, menguli roti yang dimakannya, tetapi itu adalah untuk meringankan beban isterinya, dan kemuliaan peribadinya yang tidak suka menyusahkan orang lain. Ia tidak sama sekali bermakna isteri tidak memiliki apa-apa tugas di rumah.

Mengapa tidak diambil kisah Siti Fatimah puteri Rasulullah yang mengadu sakit-sakit badan kerana banyak kerja rumah yang dilakukannya seraya meminta kepada Rasulullah agar diberikan seorang khadam, namun jawapan Rasulullah malah menyuruh Fatimah ra agar bersabar dan membanyakkan berzikir agar semua kepenatan itu diberi ganjaran yang setimpal oleh Allah SWT.

Sememangnya pandangan bahawa isteri tidak bertanggungjawab terhadap kerja-kerja di rumah akan diminati oleh ramai orang, khususnya apabila terdapat sebahagian kaum wanita yang diperhambakan di rumah oleh sebahagian suami, namun kedua-dua pandangan sama ada yang memperhambakan mahupun yang mentuankan isteri adalah pandangan yang ekstrim, kerana kedua-duanya akan menyebabkan ketidakharmonian dan keruntuhan institusi keluarga.

Keharmonian institusi keluarga bergantung kepada keadilan, di mana setiap individu mengetahui dan melaksanakan tugas dan tanggungjawab masing-masing dengan baik. Perlu adanya kesalingan, jika suami bekerja di luar maka isteri bekerja di rumah, jika dua-dua di luar maka perlu ada mekanisme agar kerja di rumah diringankan.

Islam adalah agama yang adil, ia tidak mendiskriminasikan dan menzalimi mana-mana pihak, tetapi meletakkan setiap orang di tempatnya masing-masing demi kebaikan bersama.

1 June 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Keutamaan Selawat

image

Keutamaan Selawat

ﻗﺎﻝ ﺭﺟﻞ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﺃﺭﺃﻳﺖ ﺇﻥ ﺟﻌﻠﺖ ﺻﻼﺗﻲ ﻛﻠﻬﺎ ﻋﻠﻴﻚ؟ ﻗﺎﻝ: ﺇﺫﻥ ﻳﻜﻔﻴﻚ اﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﺃﻫﻤﻚ ﻣﻦ ﺩﻧﻴﺎﻙ واخرتك . رواه احمد بسند حسن

Sahabat bertanya: “Wahai Rasul Allah. Apa pendapat engkau jika selawat saya seluruhnya untukmu?” Rasulllah shalla Allahu alaihi wa sallama bersabda: “Jika begitu, Allah akan mencukupi apa yang menjadi keresahanmu dari urusan dunia dan akhirat” (HR Ahmad, Hadis Hasan)

Kredit : Ustaz Ma’ruf Khozin

Sumber : FB Jabatan Mufti Kerajaan Negeri  Selangor.

31 May 2016 Posted by | Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Jangan jadi orang yang lalai

image

Share image

27 May 2016 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

Cari Ilmu kerana Allah

image

25 May 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Ramai Orang Muda Menyebut Dalil Agama –

 Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Akan muncul di akhir zaman nanti, suatu kaum yang terdiri dari orang-orang muda yang masih mentah fikirannya (cetek faham agamanya). Mereka banyak mengucapkan perkataan Khairil Bariyah (firman Allah dan hadis Rasul), tetapi iman mereka masih lemah. Pada hakikatnya mereka telah keluar agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Di mana sahaja kamu dapat menemuinya, maka hapuskanlah mereka itu, siapa yang dapat menghapus mereka, kelak akan mendapat pahala di hari kiamat. ”  (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan dapat dilihat juga sekarang banyak orang-orang bukan Islam yang menggunakan hujjah-hujjah dari AlQuran dan AlHadith yang mana mereka membuat komentar menurut kefahaman mereka sendiri sedangkan mereka tidak faham dengan Islam.

Sumber

22 May 2016 Posted by | Hadis, Informasi, Tazkirah | Leave a comment

Hari ramai orang jahil berlagak alim

image

21 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

NISFU SYA’ABAN

Oleh:Ustaz Ahmad Lutfi Al-Linggi

image

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَتَدْرُونَ لِمَ سُمِّيَ شَعْبَانَ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمْ. قَالَ: ِلأَنَّهُ يَتَشَعَّبُ فِيهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ.

Yang bermaksud, Tahukah kamu kenapa bulan ini dinamakan Sya’aban? Para sahabat menjawab: Allah dan RasulNya mengetahui. Baginda ﷺ bersabda: Ianya dinamakan demikian kerana bercabang-cabang dan banyak kebaikan padanya.

Firman Allah:

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ.

Yang bermaksud, Pada malam yang berkat itu, dijelaskan (kepada malaikat) tiap-tiap perkara yang mengandungi hikmat serta tetap berlaku, (tidak berubah atau bertukar). Al-Dukhaan: 4

‘Ikrimah dan sebahagian ulama’ tafsir menjelaskan bahawa perkataan malam pada ayat ini bermaksud malam Nisfu Sya’aban.

Di sini dinyatakan kelebihan malam Nisfu Sya’aban sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ: أَلاَ مُسْـتَغْفِر فَأَغْفِر لَهُ، أَلاَ مَسْتَرْزق فَأَرْزُقهُ، أَلاَ مُبْتَلى فَأُعَافِيه، أَلاَ كَذَا، أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطلعُ الفَجْر.

Yang bermaksud, Rasulullah ﷺ telah bersabda: Apabila tiba malam Nisfu Sya’aban maka kamu hidupkanlah malamnya dan kamu berpuasa di siang harinya, sesungguhnya Allah turun (hampir) padanya dari terbenam matahari ke langit dunia dan berfirman: Sekiranya terdapat orang yang memohon keampunan maka Aku ampunkannya, sekiranya terdapat orang yang meminta rezeki maka Aku beri rezeki kepadanya, sekiranya terdapat orang yang ditimpa bala maka Aku sejahterakannya, sekiranya begitu… sekiranya begini… sehinggalah terbitnya fajar. (Riwayat Ibnu Majah)

Sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا لَيْلَةَ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لأَكْثَرَ مِنْ شَعْرِ غَنَمِ بَنِى كَلْبٍ.

Yang bermaksud, Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’aban maka diberikannya keampunan terlebih banyak daripada bulu kambing Bani Kalb. (Riwayat daripada Imam Ahmad, al-Tirmizi dan Ibnu Majah)

Terdapat pula dalam hadith yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah ﷺ
telah bersabda:

أَتَانِى جِبْرِيلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَقَالَ يَا مُحَمَّدٌ هَذِهِ لَيْلَةُ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَأَبْوَابُ الرَّحْمَةِ، فَقُمْ وَصَلِّ وَارْفَعْ رَأْسَكَ وَيَدَيْكَ إِلَى السَّمَاءِ. فَقُلْتُ يَا جِبْرِيلُ مَا هَذِهِ اللَّيْلَةُ؟ فَقَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ تُفْتَحُ فِيهَا ثَلاَثُمائَةِ بَابٍ مِنَ الرَّحْمَةِ، فَيَغْفِرُ اللهُ تَعَالَى لِجَمِيعِ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ مَنْ كَانَ سَاحِرًا أَوْ كَاهِنًا أَوْ مُشَاحِنًا أَوْ مُدْمِنَ خَمْرٍ أَوْ مُضِرًّا عَلَى الزِّنَا أَوْ آكِلَ الرِّبَا أَوْ عَاقَ الوَالِدَيْنِ أَوِ النَّمَّامِ أَوْ قَاطِعَ الرَّحِمِ، فَإِنَّ هَؤُلاَءِ لاَ يُغْفِرُ لَهُمْ حَتَّى يَتُوبُوا وَيَتْرُكُوا. فَخَرَجَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ فَصَلَّى وَبَكَى فِى سُجُودِهِ وَهُوَ يَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُبِكَ مِنْ عِقَابِكَ وَسَخَطِكَ وَلاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ الحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى.

Yang bermaksud, Jibril a.s pernah datang kepadaku pada malam Nisfu Sya’aban seraya berkata: Wahai Muhammad, inilah malam yang dibuka padanya pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat. Maka bangunlah kamu, bersolatlah dan angkatlah kepala dan kedua tanganmu ke langit. Maka aku bertanya: Wahai Jibril malam apakah ini? Maka jawabnya: Inilah malam yang dibuka padanya tiga ratus pintu rahmat, Allah mengurniakan keampunan bagi mereka yang tidak menyenyutukan sesuatu dengan Allah dan rahmat ini tidak diberikan kepada tukang sihir, tukang tenung nasib, orang yang bermarah-marahan, orang yang kekal meminum arak, orang yang berzina, orang yang makan lriba, orang yang derhaka kepada ibu bapanya, tukang mengadu domba dan orang yang memutuskan silaturrahim. Maka sesungguhnya mereka itu tidak diampunkan sehingga mereka bertaubat dan meninggalkan perbuatan tersebut. Lalu Nabi ﷺ pun keluar dan bersolat sambil menangis dalam sujudnya dan diucapkannya: Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau daripada seksaan dan kemurkaanMu. Dan tidaklah aku dapat menghitung segala pujian kepadaMu, Engkau sebagaimana Engkau memuji diriMu sendiri maka bagiMu segala pujian sehingga Engkau redha.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسٌ لَيَالٍ لاَ تُرَدُّ فِيهِنَّ الدَّعْوَةُ: أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَةُ الجُمُعَةِ، وَلَيْلَةُ الفِطْرِ، وَلَيْلَةُ النَحْرِ. ابن عساكر عن أبي أمامة رضي الله عنه.

Yang bermaksud, Sabda Nabi ﷺ: Lima malam yang dimustajabkan doa ialah malam awal Rejab, malam Nisfu Sya’aban malam Jumaat, malam hari raya Fitri dan malam hari raya Qurban[1].

Imam Syafi‘e berkata: Lima malam yang dimustajabkan doa ialah malam Jumaat, malam 2 hari raya, malam awal Rejab dan malam Nisfu Sya’aban.

Daripada Saidina Umar Abdul Aziz r.a, beliau menulis kepada pegawainya di Basrah:

“Bagi kamu empat malam yang istimewa dalam setahun. Pada malam tersebut Allah mengagihkan kerahmatanNya sepenuhnya. Malam-malam itu ialah malam awal Rejab, malam Nisfu Sya’aban, malam Idul Fitri dan malam Idul Adha”.

Apabila tiba bulan Rejab, Rasulullah ﷺ berdoa dengan doa ini,

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَب وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Justeru, pada Nisfu Sya’aban kita digalakkan untuk berpuasa di siangnya serta menghidupkan malamnya dengan memperbanyakkan ibadah seperti membaca al-Quran, beristighfar dan melakukan solat sunat. Kemudian mohonlah doa supaya diampunkan segala dosa, ditutup sebarang keaiban, dimurahkan rezeki dan dimudahkan segala kesusahan.

Rujukan:

Al-Quran Pimpinan al-Rahman.

Al-Nafahat al-Nuraniyyah, Syeikh Yusof Khattar.

Lato’if al Ma’arif, Ibnu Rejab al-Hanbali.

21 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Kisah Jenazah Wali Pada Zaman Nabi Musa A.S :

Terdapat seorang lelaki pada zaman Nabi Musa A.S yang meninggal dunia. Orang ramai tidak mahu menguruskan jenazahnya kerana kefasikan lelaki ini. Mereka kemudiannya membuang jenazahnya ke sebuah tempat yang kotor dan busuk. Allah S.W.T kemudiannya memberikan wahyu-Nya kepada Nabi Musa A.S. Allah berfirman “Wahai Musa, seorang lelaki telah meninggal dunia, tetapi orang-orangmu telah mencampakkan jenazahnya di tempat yang kotor, sedangkan dia ialah kekasih (wali) daripada kekasih-Ku, mereka tidak mahu memandikannya, mengkafankannya dan mengebumikan jenazahnya, maka engkau pergilah, uruskan jenazahnya.”

Kemudian Nabi Musa A.S pun berangkat ke tempat tersebut. Nabi Musa A.S bertanya, “beritahulah aku tempatnya.” Mereka pun bersama-sama menuju ke tempat tersebut. Ketika Nabi Musa A.S melihat mayatnya, orang-orangnya pun bercerita tentang kefasikannya. Lalu Nabi Musa A.S berbisik kepada Tuhan-Nya dengan berkata, “Ya Allah, Engkau memerintahkanku untuk menguruskan mayatnya, sedangkan orang-orangku menjadi saksi atas kejahatannya, maka Engkau lebih tahu daripada mereka.”
Kemudian Allah berfirman, “Wahai Musa, benarlah kata-kata kaummu tentang perilaku lelaki ini semasa hidup. Namun, ketika dia menghampiri ajalnya, dia memohon pertolongan dengan tiga perkara, jika semua orang yang berdosa memohon dengannya, pasti Aku akan mengampuninya dirinya demi Allah, Zat yang Maha Mengasihani.” Tanya Nabi Musa “Ya Allah, apakah tiga perkara itu?”
Allah berfirman, “Ketika dia diambang kematiannya :

1) Dia Benci Kemaksiatan Dalam Hati..
Pertama sekali dia berkata, “Ya Tuhanku, Engkau tahu akan diriku, penuh dengan kemaksiatan, sedangkan aku sangat benci kepada kemaksiatan dalam hati, tetapi jiwaku terkumpul tiga sebab aku melakukan maksiat walaupun aku membencinya dalam hatiku iaitu: hawa nafsuku, teman yang jahat dan iblis yang laknat. Inilah yang menyebabku terjatuh dalam kemaksiatan, sesungguhnya Engkau lebih tahu daripada apa yang aku ucapkan, maka ampunilah aku.”

2) Mencintai Orang Soleh..
Kedua dia berkata, “Ya Allah,Engkau tahu diriku penuh dengan kemaksiatan, dan tempat aku ialah bersama orang fasik, tetapi aku amat mengasihi orang-orang yang soleh walau aku bukan dari kalangan mereka, kezuhudan mereka dan aku lebih suka duduk bersama mereka daripada bersama orang fasik. Aku benci kefasikan walau aku adalah ahli fasiq”.

3) Mengharap Rahmat Allah Dan Tidak Berputus Asa
Ketiga dia berkata ” Ya Allah, jika dengan meminta untuk dimasukkan kedalam syurga itu akan mengurangkan kerajaanMu, sudah pasti aku tidak akan memintanya, jika bukan Engkau yang mengasihaniku maka siapakah yang akan mengasihaniku ?”.
Lelaki itu kemudian berkata lagi, “Ya Allah, jika Engkau mengampuni dosa-dosaku bagai buih di pantai, maka bahagialah kekasih-kekasihMu, Nabi-NabiMu, manakala syaitan dan iblis akan merasa susah. Sebaliknya jika Engkau tidak mengampuniku, maka syaitan dan iblis akan bersorak kegembiraan dan para NabiMu dan kekasihMu akan merasa sedih. Oleh itu, ampunilah aku wahai Tuhan Pencipta Sekalian Alam, sesungguhnya Engkau tahu apa yang aku ucapkan.”
Maka, Allah pun berfirman, “Lantas Aku mengasihaninya dan Aku mengampuni segala dosanya, sesungguhnya Aku Maha Mengasihani, khusus bagi orang yang mengakui kesalahan dan dosanya di hadapanku. Hamba ini telah mengakui kesalahannya, maka Aku ampuninya. Wahai Musa, lakukan apa yang Aku perintahkan, sesungguhnya Aku memberi keampunan sebab mulianya orang yang menguruskan jenazahnya dan menghadiri pengebumiannya.”

Kisah ini menunjukkan kita tidak boleh sama sekali berputus asa dari rahmat Allah yang amat luas walau apa jua sekalipun.Firman Allah “Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu “( Surah Al-A’raf : 156).

Semoga Allah mengampuni segala dosa kita. Amiin.

(Riwayat Wahhab Bin Munabbih ,Kitab Tawwabin Susunan Imam Ibnu Qudamah )

Sumber: FB Liwa ul Hamd

21 May 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Tujuh Keutamaan Bergaul Dengan Ulama’

Oleh : Syeikh Abul Laits

Barangsiapa duduk dalam majlis ilmu bersama seorang yang berilmu, tetapi tidak mampu menghafaz sedikitpun ilmu yang disampaikan di sana, maka dia telah mendapatkan tujuh kemuliaan :

Pertama : Dia mendapatkan pahala yang disediakan bagi para penuntut ilmu.

Kedua : Selama duduk di dalam majlis itu, dia terhindar dari perbuatan dosa.

Ketiga : Rahmat ALlah menghampirinya ketika dia keluar dari rumah menuju majlis itu.

Keempat : Ketika orang-orang yang berada dalam majlis ilmu tersebut memperoleh rahmat, maka dia juga akan memperoleh bahagian darinya.

Kelima: Selama dia mendengarkan kajian di dalam majlis itu, dia tercatat sebagai seorang yang sedang beribadah kepada ALlah.

Keenam : Ketika dia sedih kerana kurang mampu memahami kajian yang disampaikan, maka kesedihannya itu menjadi sebuah penghubung untuk mendekatkan diri kepada ALlah.

Ketujuh : Di majlis itu, dia akan melihat kemuliaan seorang yang berilmu dan kehinaan seorang penderhaka. Akhirnya dia akan menyukai ilmu dan membenci perbuatan fasik.

Sumber : Muhammad Nawawi bin Umar al Jawi, Nasa’ihul ‘Ibad, Bungkul Indah, Surabaya – Indonesia, hal 46.

19 May 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Apabila sudah sampai masa nya Allah akan angkat Ilmu dari dada Umat

image

Sampai sekarang golongan ahlul sunnah waljamaah belajar secara talaqqi dengan para ulama dengan bersanad yg sahih bersambung-sambung drpd guru kepada guru kepada guru sehinggalah bersambung kpd tabiat tabie, tabien, paea sahabat dan seterusnya kps Rasulullah SAW.

Dan amalan ini tetap diamalkn sehinggalah sampai ke akhir zaman walaupun ada golongan mutakhirin ini yg mengatakan bahawa sanad sudah lg tidak penting, bahkan ramai yg mengutuk institusi pondok kononnya tak up-to-date, tidak berfikiran terbuka, malah belajar melalui google atau internet, Facebook, Telegram, Youtube dan lain2 itu lebih sahih berbanding belajar lutut bertemu lutut, belajar dengan ulama daripada kulit ke kulit…

Apabila telah sampai masanya, akan Allah angkat ilmu, namun bukan dengan cara menghilangkan mushaf2 al Quran atau hadis, tulisan2 pada buku atau menghapuskannya sama sekali, akan tetapi Allah akan mematikan para ulama. Mungkin sekali pada zaman itu adalah zaman kemuncak bahawa ramai yg sudah tidak lg percaya kpd para ulama krn para ulama difitnah satu persatu sehingga terpadamlah akhlak terhadap para ulama, sehingga diangkat para ulama dengan dimatikan oleh Allah……..

Akhir zaman, tidak akan ada lg sesiapa yg bersedih setiap kali mendengar berita kematian ulama, bahkan mereka tidak mengenali ulama yg telah meninggal satu persatu…….

Kerana bg umat akhir zaman yg telah tertipu dengan golongan2 yg memusuhi para ulama krn tidak setuju dgn isu2 khilafiyyah, google, internet, facebook dan buku2 keluaran mereka yg radd keilmuan para ulama lebih penting drpd ulama yg berpegang dgn pegangan ahlulsunnah waljamaah yg sahih, wasatiyyah…….

Nauzubillah..

Mudah2an Allah sentiasa memelihara kita agar sentiasa duduk dengan para ulama, mati dalam keadaan husnul khatimah, mati dlm keadaan masih berpegang teguh dengan pegangan ahlul sunnah waljamaah…..

Sumber

16 May 2016 Posted by | Informasi, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

Kelompok Besar (al-Sawad al-a’zam), Orang Asing (al-Ghuraba’) dan Kebenaran

[1] Kelompok minoriti tidak semestinya terpuji, betul, dan di jalan yang benar. Jangan ingat hanya kerana Allah SWT banyak menyebut, memuji golongan sedikit, mafhum: “sedikit di kalangan hambaKu yang bersyukur…(QS Saba’:13)” ; “berapa banyak kumpulan sedikit mampu mengalahkan kumpulan besar…” (QS Al-Baqarah:249)  atau Nabi SAW memuji, mafhum: “beruntunglah mereka yang asing (al-ghuraba’) maka kita pun merasakan golongan “sedikit” itu terpuji lalu ingin menjadi kelompok yang kecil atau minoriti. Kelompok seperti ISIS,  Qadiani, Ayah Pin,  pun semuanya sedikit dan minoriti tetapi mereka semua bathil dan ajaran mereka sesat dan menyesatkan. Ajaran sesat hari ini semuanya minoriti.

[2] Yang ramai atau majoriti juga tidak semestinya betul. Agama Kristian mempunyai 2.2 billion penganut di seluruh dunia manakala ajaran Islam dikatakan sekitar 1.6 billion saja. Bukan bermakna ajaran Kristian itu benar walaupun majoriti.

[3] Lalu bagaimana sikap kita dan cara memahaminya? Maka hendaklah kita melihat konteksnya bila ketikanya kelompok kecil dipuji dan bilakah pula kita disaran bersama golongan majoriti yang berada di atas jalan kebenaran.

[4] Golongan sedikit yang dipuji ialah mereka yang benar-benar beramal dengan ajaran Islam dan hakikat hari ini mereka yang beramal dengan Islam dengan sesungguhnya jauh lebih sedikit berbanding dengan umat Islam yang pada nama saja. Tengok perbandingan  jumlah mereka yang ke masjid dan ke tempat-tempat hiburan sudah cukup untuk mendapat gambaran awal itu. Ini kerana jalan ke Neraka itu disukai nafsu seperti mana hadith dari Anas bin Malik RA  bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Syurga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)

[5] Tetapi dalam memilih untuk  beramal dan mengambil hukum hakam, kita diperintahkan untuk mengikut pandangan ramai atau pandangan majoriti. Majoriti siapa? Bukan majoriti orang awam Tom, Dick and Harry (Pak Mat atau Mak Timah), tetapi ahli ilmu, ulama yang benar di kalangan mujtahid yang dipanggil “al-Sawad al-azam”. Sebab itu ada istilah “ijma” dan “ittifaq” yang merujuk kepada pandangan ramai atau kesepatan mujtahid dan ulama. Kita ditegah mengikut pandangan ganjil, pelik, berseorangan (isolated) atau disebut “syaz”. Ini menunjukkan minoriti tidak semestinya betul dan terpuji sepanjang masa.

[6] Ambil contoh memakan “daging khinzir”. Ijma’ ulama menghukumkan khinzir haram dimakan mana-mana bahagian sekalipun. Tetapi ada pandangan pelik, ganjil (syaz) yang mengatakan yang haram dimakan hanya “daging” (لحم) khinzir saja kerana kata mereka ayat atau hadis yang melarang menyebut spesifik “daging khinzir”, adapun bahagian khinzir yang lain (seperti perut, lemak, tulang babi dll) boleh dimakan. Ini pandangan pelik menyalahi Ijma’ dan kita ditegah mengikutinya. Mahukah kita memperjudikan agama kita dengan mengikuti pandangan minoriti sebegini? Ini bukan soal memilih pemimpin politik tetapi memilih fatwa dan hukum hakam untuk beramal di dunia yang kesilapannya akan membawa kesengsaraan berpanjangan di Akhirat kelak. Silap memilih pemimpin politik, 5 tahun sekali boleh ditukar.

[7] Perintah untuk bersama dengan pandangan majoriti ulama ramai (bukan majoriti orang awam) banyak disebutkan dalam al-Qur’an dan al-Hadith. Antaranya Sabda Baginda SAW, mafhumnya:
إنّ أمّتي لا تجتمع على ضلالة فإذا رأيتم الإختلاف فعليكم بالسواد الأعظم
“Sesungguhnya umat aku  tidak akan berhimpun dalam kesesatan. Jika kamu melihat perselisihan (dalam kalangan mereka), maka hendaklah kamu mengikuti kumpulan terbesar (al-sawadul a’zam). (HR Ibn Majah).

[8] Lalu apa yang harus diajar kepada masyarakat awam? Ajarlah mereka agar bersama dengan pandangan majoriti ulama Ahlul Sunnah wal Jamaah kerana itulah lebih selamat dan hampir mustahil majoriti ulama yang ikhlas itu tersalah atau berpakat dalam kebathilan. Dalam masa yang sama ingatkan mereka kuatkan semangat kerana ketika kita beramal dan berpegang teguh dengan ajaran Islam itu, pasti kita akan terasa terasing, minoriti kerana tidak ramai manusia di sekeliling yang mentaati Allah SWT, melawan hawa nafsu sedangkan ramai yang lebih suka mengikut hawa nafsu mereka.

[9] Kesimpulannya, beramallah dengan apa yang disepakati oleh majoriti ulama (al-sawad al-a’zam) walaupun mungkin akhirnya kita hanya menjadi minoriti (al-ghuraba’)  di dunia akhir zaman yang semakin rosak yang majoriti penghuninya tidak lagi berpegang dengan kebenaran, ajaran Islam dan lalai daripada mengingati Allah SWT. Wallahu’alam.

Dr Nik Roskiman.

15 May 2016 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Apakah mazhab akidah MAJORITI para Alim Ulama?

Apakah mazhab akidah MAJORITI para Alim Ulama?

al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi berkata:
ثُمَّ بَعْدَهُمْ شَيْخُ النَّظَرِ وَإِمَامُ اْلآَفَاقِ فِي الْجَدَلِ وَالتَّحْقِيْقِ أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنِ إِسْمَاعِيْلَ اْلأَشْعَرِيُّ الَّذِيْ صَارَ شَجاً فِيْ حُلُوْقِ الْقَدَرِيَّةِ …. وَقَدْ مَلأَ الدُّنْيَا كُتُبُهُ، وَمَا رُزِقَ أَحَدٌ مِنَ الْمُتَكَلِّمِيْنَ مِنَ التَّبَعِ مَا قَدْ رُزِقَ، لِأَنَّ جَمِيْعَ أَهْلِ الْحَدِيْثِ وَكُلَّ مَنْ لَمْ يَتَمَعْزَلْ مِنْ أَهْلِ الرَّأْيِ عَلىَ مَذْهَبِهِ.
“Pada generasi berikutnya adalah Guru Besar pemikiran dan pemimpin berbagai daerah dalam hal perdebatan dan penelitian, Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari yang telah menjadi kesedihan dalam kerongkongan kaum Qadariyah … Buku-bukunya telah memenuhi dunia. Tak seorang pun dari ahli kalam yang memiliki pengikut sebanyak beliau, karena semua ahli hadits dan semua ahl al-ra’yi yang tidak mengikuti Mu’tazilah adalah pengikut madzhabnya”. (Al-Baghdadi, Ushul al-Din, hal. 309-310).
al-Imam Tajuddin al-Subki juga berkata:
وَهُوَ يَعْنِيْ مَذْهَبَ اْلأَشَاعِرَةِ مَذْهَبُ الْمُحَدِّثِيْنَ قَدِيْمًا وَحَدِيْثًا.
“Madzhab Asya’irah adalah madzhab para ahli hadits dulu dan sekarang”. (Al-Subki, Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubra, juz 4, hal. 32.)

Jika kita renungi dan melihat kelompok al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah, maka kita akan mengetahui bahawa mereka adalah para pembawa warisan ilmu Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah para perawi hadits imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah, Malik, Ahmad bin Hanbal, ath-Thabrani, ad-Daruquthni, Sa’id bin Manhsur, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, ath-Thayalisi, Abu ‘Awanah, ad-Darimi, al-Bazzar, Abu Ya’la dan lainnya. Mereka kalangan al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah menjadi para perawi imam-imam Hadits tersebut.

Tidak anda temukan satu sanad pun yang menyampaikan anda pada satu kitab, kecuali sanadnya ada dari kalangan al-Asy’ariyyah atau al-Maturudiyyah. Dan anda akan menemukan bahwa mereka adalah para perowi kitab hadits dan para pensyarah al-Bukhari seperti al-Kirmani, Ibnu Baththal, Ibnul Arabi, Ibnu ath-Thin, al-‘Aini, al-Qasthalani dan lainnya. Para pesnyarah Muslim seperti imam Nawawi, ‘Iyadh, al-Qurthubi, al-Ubay, as-Sanusi dan selainnya, demikianlah seterunsya anda akan menemukan bahwa merekalah para perowi dan pensyarah hadits. Mereka para musnid (pemilik sanad) kepada kitab-kitab hadits dan syarahnya. Mereka juga para perowi al-Quran dengan qiro’ahnya dan paa penafsir al-Quran.

Setiap orang di muka bumi ini yang membaca al-Quran dengan qiro’ah riwayat Hafsh dari ‘Ashim, maka sudah pasti dan wajib sanadnya melalui al-Muzahi, al-Asqathi, asy-Syibramilisi, Abdurrahman al-Yamani, an-Nashir ath-Thbalawi dan syaikh Islam Zakariyya al-Anshari. Sedangkan mereka semua adalah dari kalangan al-Asy’ariyyah. Demikian juga dalam ilmu Nahwu dan para pengarang kamus Mu’jam, seperti al-Jauhari, Ibnu Mandzhur, al-Fairus Abadi, al-Fayumi, az-Zubaidi, mereka semua dari kalangan al-Asy’ariyyah. Anda juga akan mendapatkan bahwa para ulama ahli fiqih madzhab Malikiyah, Syafi’iyyah, Fudhala Hanabilah adalah mayoritas dari kalangan al-Asy’ariyyah, sedangkan Hanafiyyah dari kalangan al-Maturudiyyah. Demikian juga dalam ilmu hadits, semua dari kalangan al-Asy’ariyyah atau al-Maturudiyyah.

Sungguh tidaklah kita membaca satu kitab hadits pun dengan sanadnya, pasti akan melalui perawi-perawi yang berakidahkan al-Asy’ariyyah atau al-Maturudiyyah dan bersandar kepada mereka. Maka jika ada segelintir orang yang menghina/menyesatkan al-Asy’ariyyah atau al-Maturudiyyah maka mereka adalah orang yang bakal ditimpa kecelakaan atau Jika ada yg mengatakan Asyaariyah bukan majoriti maka sungguh mereka dari golongan yg jahil.

Ini kerana al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah mengisi di semua bidang keilmuan agama, mereka al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah adalah para perawi dan penaqal hadits, para pensyarah hadits, para perowi qiro’ah al-Quran, para ulama ahli fiqih, para ulama ahli Nahwu dan lainnya. Dan segelintir orang yang menghina ini, pasti dan senantiasa memerlukan selamanya kepada para ulama al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah dalam semua bidang ilmu agama Islam.

Tidak akan sah sanad keilmuan mereka dalam al-Quran, hadits, bahasa dan fiqih, kecuali perawi dan rijalnya dari kalangan al-Asy’ariyyah atau al-Maturudiyyah. Karena para ulama al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah mengisi semua sanad keilmuan.

Rujujan: http://www.aswj-rg.com/2014/01/imam-abul-hasan-al-asyari-dan-asyariyyah.html

(Sumber: Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group – Johor)

14 May 2016 Posted by | Ibadah, Informasi, Tazkirah | Leave a comment

Hukum Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban dengan Ibadah dan Doa Bagian 3

image

Al Imam Ishak Ibnu Rohaweih (seorang ahli hadits besar dan guru dari Al Imam Al Bukhari) menyatakan bahwa memakmurkan malam nisfu sya’ban di masjid dengan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah bukanlah perkara yang bid’ah.

Pernyataan Al Imam Ishak ibnu Rohaweih tersebut diriwayatkan oleh Harb Al Karmani dalam Al Masail. Beberapa ulama lain juga berpendapat bahwa memakmurkan malam nisfu sya’ban dengan beribadah adalah bukan perkara yang dilarang oleh agama, namun mereka berpendapat bahwa memakmurkannya di rumah (bukan secara berkelompok di masjid) adalah lebih baik. Di antara mereka adalah Al Imam Al Auza’i (salah seorang pemimpin ulama di Negeri Syam).

Diriwayatkan oleh Al Imam Al Baihaki dalam As Sunan Al Kubro bahwa Al Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘anhu telah berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa do’a dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala pada 5 malam, yaitu malam jumat, malam Idul Fitri, malam Idul Adha, malam pertama bulan rajab, dan malam nisfu sya’ban.” Sebagaimana diriwayatkan oleh Amiril Mukminin Umar Ibnu ‘Aziz menuliskan surat kepada wakil atau gubernurnya di Basrah, “Hendaknya engkau memperhatikan 4 malam dalam 1 tahun, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala memcurahkan rahmat-Nya yang sangat besar pada 4 malam tersebut, yaitu malam pertama pada bulan suci rajab, malam nisfu sya’ban, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha. ”

Apa yang kami paparkan di atas adalah beberapa kutipan yang dinyatakan oleh para ulama besar, walaupun di sana juga banyak ulama lain yang tidak menyetujui tentang malam nisfu sya’ban. Namun ketidaksetujuan mereka adalah ijtihad mereka, sebab memakmurkan malam nisfu sya’ban dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah permasalahan ijtihad (masalah far’iyah/masalah cabang, bukan masalah akidah).

Ini adalah masalah yang luas, yang memerlukan kelapangan dada. Bagi yang menyetujuinya silahkan dan bagi yang tidak menyetujuinyapun silahkan.

Perkara ijtihad disebutkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam, “Orang yang berijtihad, apabila dia benar dalam ijtihadnya maka mendapatkan 2 pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala, dan apabila dia salah dalam ijtihadnya maka mendapatkan 1 pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala.”

Diantara hadits yang shahih ialah yang diriwayatkan oleh Al Imam At Tabrani, sebagaimana telah diriwayatkan dan dishahihkan  oleh Al Imam Ibnu Hibban dari Muadz bin Jabbal Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam bersabda,
يطلع الله إلى جميع خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن
“Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan perhatian-Nya kepada seluruh makhluk-Nya pada malam nisfu sya’ban. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang saling berdengki satu sama lain.”

(Sumber: http://www.alhabibahmadnoveljindan.org/hukum-menghidupkan-malam-nisfu-syaban-dengan-ibadah-dan-doa-bagian-3/)

13 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

APAKAH DENGAN MENGIKUT PEGANGAN MAJORITI ULAMA’ KITA AKAN SELAMAT?

SIAPAKAH SEBENARNYA AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH….APAKAH DENGAN MENGIKUT PEGANGAN MAJORITI ULAMA’ KITA AKAN SELAMAT?

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda yang bermaksud:”Sesungguhnya umat aku (umat Islam) tidak akan berhimpun dalam kesesatan. Jika kamu melihat perselisihan (dalam kalangan mereka), maka hendaklah kamu mengikuti sawadul a’zhom (majoriti umat Islam). Sesungguhnya, sesiapa yang terasing, maka dia akan terasing dalam neraka” -Hadits riwayat Ibn Majah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda lagi yang bermaksud:”…Barangsiapa yang keluar daripada jamaah walaupun sejengkal, maka dia sudahpun memenggalkan agama Islam…” -Hadits riwayat Imam Ahmad
Dalam hadits-hadits ini, Rasululullah صلى الله عليه وسلم melarang setiap individu muslim daripada keluar daripada kelompok umat Islam, dengan menyalahi aqidah kelompok umat Islam.

Bahkan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga menegaskan bahawa, orang yang bercanggah dengan jamaah atau menyalahi majoriti umat Islam (sawadhul a’zhom) dalam masalah usul (pokok iaitu masalah aqidah), maka dia dianggap sebagai syaz, iaitu: orang yang terasing ataupun terpinggir daripada kelompok umat Islam.

Imam As-Subki menjawab persoalan pertama mengenai manhaj Al-Asy’ari:
واعلم أن أبا الحسن الأشعري لم يبدع رأيا ولم يُنشِ مذهبا وإنما هو مقرر لمذاهب السلف، مناضل عما كانت عليه صحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم فالانتساب إليه إنما هو باعتبار أنه عقد على طريق السلف نطاقا وتمسك به، وأقام الحجج والبراهين عليه فصار المقتدي به في ذلك السالك سبيله في الدلائل يسمى أشعريا
“Ketahuilah bahawasanya Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari tidaklah mengadakan suatu pendapat yang baru dan tidak juga mengada-adakan mazhab yang baru. Beliau sebenarnya ialah orang yang membenarkan dan menguatkan mazhab-mazhab As-Salaf (dalam aqidah) dan membela apa yang dipegang oleh para sahabat Rasulullah – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-. Adapun menisbahkan (mazhab) kepada beliau adalah dari sudut bahawasanya beliaulah yang memperkemaskan manhaj (aqidah) As-Salaf dengan kukuh lalu berpegang dengannya. Maka, beliau juga yang mendirikan hujah-hujah dan dalil-dalil terhadap aqidah As-Salaf tersebut lalu orang yang mengikut manhaj dan penghujahan tersebut dan melalui jalan pendalil aqidah beliau dinamakan sebagai Asy’ari” [Tabaqat As-Syafi’iyyah 2/254]

Imam Tajuddin As-Subki berkata:
هؤلاء الحنفية والشافعية والمالكية وفضلاء الحنابلة ولله الحمد في العقائد يد واحدة كلهم على رأي أهل السنة والجماعة يدينون الله تعالى بطريق شيخ السنة أبي الحسن الأشعري رحمه الله، لا يحيد عنها إلا رعاع من الحنفية والشافعية لحقوا بأهل الاعتزال، ورعاع من الحنابلة لحقوا بأهل التجسيم…
“Para ulama’ Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Malikiyyah dan sebahagian ulama’ Hanabilah yang mulia, Alhamdulillah, dalam masalah aqidah, bersatu dalam pegangan Ahlus-Sunnah wal Jamaah yang beragama (beraqidah) kepada Allah s.w.t. dengan manhaj Sheikhus Sunnah Abu Al-Hasan Al-Asy’ari r.a., yang mana tiada siapa yang terpesong darinya melainkan segelintir pengikut Hanafiyyah dan Syafi’iyyah yang terbabit dengan ahli Muktazilah dan sebahagian Hanabilah yang terbabit dengan ahli Tajsim. [Mu’id An-Ni’am: 62]

Imam Murtadha Az-Zabidi berkata dalam Syarh Al-Ihya’ (1/7):
إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية.
Maksudnya: Jika disebut Ahlus-Sunnah wal Jamaah, maka maksud dengan mereka adalah Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah.”
Telah berkata Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang bermaksud:”…Dan sesungguhnya pada jamaah itu ada rahmat, dan pada perpecahan itu ada azab.” Maka berkatalah Abu Umamah al-Bahili: “Hendaklah kamu bersama dengan sawadhul a’zhom”…-Hadits riwayat Imam Ahmad, al-Bazzar dan ath-Thabrani.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda lagi yang bermaksud:”…Aku tidak menyembunyikan sesuatupun (daripada kebenaran). Hendaklah kamu semua bertaqwa dan bersama-sama dengan jamaah. Janganlah kamu berpecah (mengikut golongan yang terkeluar daripada jamaah). Sesungguhnya (dengan keluar dari jamaah) itulah kesesatan. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى tidak akan menghimpun umat Muhammad dalam kesesatan” -Hadits riwayat ath-Thabrani.

Oleh :Ustaz Mohd Hanif Bin Mohd Salleh.
Juma’at 6 Sya’ban 1437H

13 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

ANTARA SYIRIK DAN ZUHUD

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Jauhilah sifat syirik, baik syirik lahiriah ataupun batiniah. Sifat syirik lahiriah seperti menyembah patung atau berhala, sementara syirik batiniah seperti bersandar kepada makhluk dan hanya memerhatikan kepadanya, baik dalam kemudharatan ataupun dalam manfaat.

Di antara manusia ada orang yang memiliki dunia, tetapi dia tidak mencintainya; dia memiliki dunia tetapi tidak dimiliki dunia; dunia mencintainya tetapi dia tidak mencintai dunia; dunia lari di belakangnya, tetapi dia tidak lari ke belakang mengejarnya; dia memanfaatkan dunia tetapi dunia tidak berhasil memanfaatkannya; dan dia berhasil memisahkan diri dari dunia, tetapi dunia tidak memisahkan diri darinya.

Dia benar-benar telah membuat hatinya menjadi baik karena Allah Azza wa Jalla, sedangkan dunia tak mampu merusaknya. Maka, dia mampu mengatur dunia, sementara dunia tak akan mampu mengaturnya. Karena itu, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik harta yang bermanfaat adalah harta orang yang shaleh.” Beliau juga bersabda, “Tidak ada kebaikan dalam dunia ini, kecuali bagi orang yang berkata begini dan begitu.” Beliau mengisyaratkan bahwa orang itu memisahkan dunia dengan tangannya dalam berbagai segi yang baik.

Maka, hendaklah engkau membiarkan dunia di tanganmu untuk kebaikan hamba-hamba Allah Azza wa Jalla. Keluarkanlah dunia dari hatimu hingga dunia sama sekali tidak membahayakanmu. Janganlah kenikmatan dunia dan perhiasannya menipumu. Sebab, tidak lama lagi engkau akan pergi dan dunia pun akan pergi setelah kepergianmu.”

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

(Sumber: FB Tasawuf Underground)

13 May 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

AMALAN SEMASA PINDAH RUMAH BARU

image
AMALAN SEMASA PINDAH RUMAH BARU, samada rumah sewa yg dh lama di tinggalkan kosong atau rumah baru siap.

1. Azan
Melaungkan azan ketika pertama kali masuk rumah baru. Ia juga baik bagi bangunan yang telah lama ditinggalkan dan tidak dihuni oleh sesiapa. Dalam sebuah hadis, Rasulullah s.a.w. pernah memberitahu bahawa sekiranya sesebuah bangunan (premis/rumah) itu terlalu lama dikosongkan (tanpa penghuni) ianya akan dimasuki sejenis makhluk halus (jin yg dikenali sbgai Al-‘Ammar) yang suka tinggal di rumah yang tidak berpenghuni.

2. Membaca surah Al-Baqarah
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasululuuah s.a.w. bersabda yang bermaksud; “Janganlah kamu jadikan rumahmu seperti kubur (hanya untuk tidur), sesungguhnya syaitan akan lari dari rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah.” Selalunya bila masuk rumah baru kita hanya membaca Yaasiin sahaja. Sepatutnya Surah Al-Baqarah yang menjadi pilihan untuk dibaca apabila memasuki rumah baru.

3. Banyakkan Solat dan Membaca Al-Quran
Dalam sebuah hadis lain pula, Rasulullah s.a.w. juga menggalakkan agar kita memperbanyakkan solat dan membaca Al-Quran di dalam rumah atau bangunan yang baru diduduki. Baginda bersabda yang bermaksud: “Sinarilah rumahmu dengan memperbanyakkan solat dan membaca Al-Quran.” (hadis riwayat Al-Baihaqi)

4. Baca Surah Yassin, Al-Fatihah dan Al-Ikhlas
Amalkan membaca surah Yassin setiap malam terutamanya 7 malam pertama anda menduduki rumah atau bangunan. Baca juga surah Al-Fatihah sebanyak satu kali, surah Al-Ikhlas 3 kali, selawat ke atas nabi sebanyak 7 kali, ayat Kursi sekali, tetapi di ayat terakhir bacalah sebanyak 7 kali.

5. Pagar Rumah Secara Islam
Perbuatan memagar rumah dengan menanam atau menggantung sesuatu di penjuru atau sudut-sudut tertentu di rumah atau bangunan yang diduduki dengan kepercayaan bahawa benda tersebut akan menjaga dan memelihara keselamatan penghuninya adalah perbuatan yang bertentangan di sisi Islam. Bagaimana pun ada cara yang dibolehkan dan digalakkan mengikut ajaran Islam. Caranya ialah dengan ‘memagar rumah’ dengan merenjis air Yassin di sekeliling rumah.

Ikut panduan berikut:
Ambil air kemudian baca surah Al-Fatihah, ayat Kursi, Surah 3 Kul (Al-Ikhlas, Al-Falaq dan Al-Nas). Kemudian tiup ke dalam air tersebut perlahan-lahan hingga habis nafas. Setelah itu, jirus dan renjiskan air tersebut ke setiap penjuru rumah dengan mulai dengan penjuru yang terletak di sebelah kanan dan penjuru seterusnya, mengikut arah berlawanan jarum jam.

Sumber: Persatuan Kaunseling Syarie – PAKSI

13 May 2016 Posted by | Ibadah, Informasi, Tazkirah | Leave a comment

ISLAM TIDAK MEMUSUHI BUDAYA SETEMPAT

image

Kedatangan Islam tidak pernah memusnahkan budaya setempat melainkan budaya tersebut bercanggah dengan Islam. Apabila Islam masuk ke China, budaya masyarakat Cina masih kekal. Senibina masjid adalah senibina tempatan masyarakat Cina tetapi pegangan Islam mereka sama dengan kita semua. Begitu juga apabila Islam tiba di India. Islam yang sama tetapi adat-budaya yang tidak bercanggah dengan Islam masih kekal.
Islam di nusantara juga begitu. Kamu boleh terus memakai kain pelikat dan tidak perlu merasa kurang Islam kerana tidak memakai jubah. Bahkan kain pelikat yang kamu pakai itu mirip kepada apa yang Baginda SAW juga sering pakai, kain seakan kain ihram.

~ Sheikh Dr. Umar Faruq Abd-Allah

Oleh: Nik Roskiman
(Di siarkan di FB Jabatan Mufti Negeri Sembilan).

8 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Kenapa perlu marah-marah?

Kata ulama, manusia yang pagi-pagi sudah marah-marah atas perkara yang kecil atau “bad mood” adalah dalam golongan manusia yang hati kecilnya tidak dapat menerima atau tidak berpuas hati dengan takdir Allah kepadanya.

Secara langsungnya, marah-marah pada awal pagi ini telah berjaya mencuri kebahgiaan, ketenangan dan kedamaian pada hari tersebut.

Kita tidak sedar kesan marah-marah kita itu. Selalunya kita akui kita redha, tapi hakikatnya akhlak kita mempamerkan hal yang berlainan. Perangai kita tunjuk yang sebaliknya. Sebab apa? Sebab apa yang kita cakap itu hanya pembohongan diri dan hakikatnya hati kita tidak berpuas hati dengan Allah.

Sebagai hamba-Nya, kita wajib redha dengan ketentuan takdir Allah SWT kerana setiap apa yang ditetapkan oleh  Allah itu pasti ada sebab musababnya dan terbaik daripada-Nya. Allah Maha Mengetahui.

Renungi diri…
Kita akan tahu siapa kita bila selalu cermin-cermin diri kita pada setiap pagi. Cermin diri kita, perbaikilah hubungan kita  dengan Allah dan jadilah orang-orang yang redha dan bersyukur. Redha dan terima apa saja ketetapan Allah kepada kita dengan hati terbuka. Pastinya ada hikmah di setiap apa yang Allah tetapkan kepada hamba-Nya.

Selalu ucapkan dan zikirkan ‘Astaghfirullah hal azim’ dan ‘La hawlawala Quwwata illa billaah’ bagi mengubati, merawat dan mendidik hati kita untuk sabar dan redha dengan segala ketentuan Allah.

“Syaitan tidak akan mencuri rumah, kenderaan, harta, pangkat, pekerjaan kita. Tapi syaitan terus mengintai kita untuk mencuri keimanan yang kita miliki. Kerana syaitan sangat memahami, yang paling berharga dalam setiap diri manusia itu adalah IMAN”

Muhasabah diri dan pandang diri…
agar akhirnya selamat dan sejahtera diri.

Oleh: Ukhti Siti

7 May 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Pakaian Ulama Silam Bersimbolik

image

Para Syaikhul Islam dan Mufti pada pemerintahan Uthmaniyyah memakai kasut berwarna biru mengambil kepada makna langit yang tinggi.

Ini menunjukkan ketinggian ilmu pengetahuan mereka.

Setiap warna itu punya makna.

Serban mereka yang besar biasanya adalah kafan yang akan digunakan ketika wafat kelak. Ini menyebabkan mereka sentiasa mengingati mati.

Lengan baju yang luas adalah sebagai tempat meletakkan helaian kertas-kertas dan kitab sebagai tanda memuliakan alat ilmu.

Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah mengatakan kepada penuntut ilmu dan para ulama pada zamannya :

عظموا عمائمكم و وسعوا أكمامكم

Maksudnya : Besarkan serban-serban kamu dan luaskan lengan-lengan baju kamu.

Ini sebagai memuliakan ilmu yang ditanggungnya.

Ilmu itu mulia , maka alatnya juga dimuliakan. Apatah lagi yang dipilih Allah taala menanggung ilmu yang mulia tersebut?

Itupun masih sombong dengan ulama? Ajibb.. :)

Oleh: Ustaz Nazrul Nasir

7 May 2016 Posted by | Informasi, Tazkirah | Leave a comment

Bertanya lah kamu kepada Alim Ulama

Umat Islam yang mengamalkan amalan ibadah selama ini melalui petunjuk para alim ulamak sudah selamat. Kerana mereka telah mengikut perintah Allah dan RasulNya. Dalam Surah an Nahl ayat 43 dan Surah Al anbiya’ ayat 7
Tafsirnya: “Maka bertanyalah kamu kepada Ahlu’dz Dzikri jika kamu tidak mengetahui.”
dan juga pengiktirafan oleh Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam sebagai pewaris nabi.
Manakala yang tidak mahu mengikut para alim ulamak dan memandai-mandai dalam urusan agama dalam bahaya dan membahayakan orang lain yang mengikutinya.
Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :
ALLah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan antara kebahayaan yang lain juga adalah apabila golongan ruwaibidhah semakin melata.
عَن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ. [أخرجه أحمد (2/291، رقم 7899)، وابن ماجه (2/1339، رقم 4036) قال البوصيرى (4/191): هذا إسناد فيه مقال، والحاكم (4/512، رقم 8439) وقال : صحيح الإسناد]
Terjemahan:
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu helah, yang mana pada waktu itu orang yang berdusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan berdusta. Pengkhianat akan diberi memegang amanah dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berpeluang bercakap ialah golongan Ruwaibidhah”.
Ada sahabat bertanya: “Apakah dia Ruwaibidhah itu?” Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Orang lelaki hina yang memegang urusan orang ramai”. (Hadis riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim, kata beliau: Sahih sanadnya)

Oleh: Ibnu Nafis

4 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Uwais Al Qarni

image

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka’bah karena Rasullah SAW berpesan “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do’a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do’a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Sumber: “Cerita ini diambil dari buku ’20 Kisah Sahabat dan Thabiin’ terbitan Qibla karangan Ummuthoriq el khanzo.”
Subhanallah

Majlis Ta’lim La Zikra.

3 May 2016 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

ADAKAH ZIKIR SECARA BERJEMAAH ITU BIDAAH?

Sheikh Allamah Prof. Dr. Ali Jum’ah (Mufti Mesir) mengatakan (Dalam buku beliau “Al-Bayan“)

Bahawa: “Berhimpun untuk melakukan zikir secara berjemaah dalam satu halaqah (perhimpunan) merupakan suatu amalan sunnah yg bersandarkan dalil syarak”.

Dalil-dalilnya:-

Al-Quran :
“Allah s.w.t berfirman ertinya: “Bersabarlah kamu (tekunlah kamu) takkala bersama dengan orang-orang yang yang menyeru kepada Tuhan mereka (berdoa dan berzikir),samada petang ataupun pagi,dalam mengharapkanNya”

(Al-Kahfi: 28)

Hadis :
Nabi Muhammad S.A.W bersabda ertinya:

“Sesungguhnya,bagi malaikat itu,sekumpulan malaikat yang berlegar-legar dalam mencari ahli zikir.

Maka,apabila mereka (malaikat) mendapati satu kaum berzikir kepada Allah S.W.A, mereka (malaikat) akan berkata (kepada sesama para malaikat yang lain) :

“Marilah segera kepada hajat kamu (apa yang kamu hajati)” Maka, mereka menaungi golongan yang berzikir (secara berjemaah tersebut) dengan sayap-sayap mereka sehingga ke langit dunia”.

Hadis – (Riwayat Al-Bukhari)

Dari Mu’awiyah r.a. telah berkata, bahawasanya Nabi s.a.w. pernah keluar menuju ke halaqah para sahabat Baginda s.a.w.. Lalu, Baginda s.a.w. bertanya (kepada para sahabat yang berhimpun tersebut) :

“Apa yang menyebabkan kamu semua duduk berhimpun ini?” Mereka menjawab: “Kami duduk untuk berzikir kepada Allah s.w.t., memujiNya terhadap nikmatNya takkala Dia memberi hidayah kepada kami dalam memeluk Islam.”

Sehinggalah sabda Nabi s.a.w.: “Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku dan memberitahuku bahawa Allah s.w.t. berbangga terhadap kamu di hadapan mara malaikat”

(hadis riwayat Muslim)

Dari Abi Hurairah r.a. telah berkata,bahawa Rasulullah s.a.w. telah bersabda yang bermaksud :

“Tidaklah duduk sesuatu kaum,akan suatu majils untuk berzikir kepada Allah,melaikan para malaikat akan menaungi mereka,akan terlimpah rahmat ke atas mereka,dan Allah s.w.t. juga akan memperingati mereka”.

(hadis riwayat Muslim)

Imam An-Nawawi dalam syarah beliau mengatakan bahawa:

“Hadis ini menunjukkan tentang kelebihan majlis-majlis zikir dan kelebihan orang-orang yang berzikir,serta kelebihan berhimpun untuk berzikir beramai-ramai“.

FAHAMILAH DALIL-DALIL INI DAN LAPANGKANLAH DADAMU

27 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Menuntut Ilmu Bertalaqqi

Tidak sepatutnya timbul polemik  “talaqqi” atau “tidak talaqqi” bagi penuntut ilmu khususnya ilmu syariyyah.

Ini kerana , sememangnya tugas tholibul ilmi itu ialah mencari, menadah, membahas, menilik dan tenggelam di dalam ilmu.

Jika semua menyedari dan insaf dengan perkara tersebut, maka sudah pasti tiada istilah “candu talaqqi” dan sebagainya.

Namun, sistem persijilan telah sedikit sebanyak mengubah jalan hidup pelajar sekarang. Istilah penuntut ilmu sudah lagi kurang sesuai kepada mereka yang hanya melihat sijil semata-mata bukan isinya. Maka tidak salah jika saya katakan bahawa penuntut terbahagi kepada dua bahagian :

1) Penuntut Ilmu

2) Penuntut Sijil

Bezanya juga sangat ketara kerana ilmu tiada had masanya. Manakala sijil punya had masa tertentu.

Ilmu melahirkan adab dan amal, manakala sijil tidak menjanjikan adab dan amal.

(Saya bukan menafikan kebaikan sijil kerana ianya wasilah pada zaman ini. Maka baca tulisan ini dengan matang bukan dengan persepsi.)

Sepatutnya Tholibul Ilmi pada zaman sekarang perlu merasa tercabar sentiasa dengan tahap kefahamannya terhadap ilmu Syariyyah khususnya dan ilmu-ilmu Am umumnya.

Cuba buka kitab Syarhul Mawaqif karangan al-Imam Jurjani rahimahullah, Hasyiah Syihabuddin Al-Khafaji a’la Tafsir al-Baidhawi , Fathul Wahhab Syarah Manhaj al-Thullab karangan al- Imam Syaikhul Islam Zakariyya al-Ansori, Hasyiah al-Attor a’la Jam’il Jawami’ , Syarah Bahrul Ulum karangan al-Imam Abdul Aliyy al- Madrasi, Syarah Syamsiah karangan Al-Imam Saaduddin Taftazani .

Adakah kita mampu memahami perbahasan gergasi-gergasi ulama Islam terdahulu ini?

Jika kita tidak mampu , maka sepatutnya kita menangis kerana kita telah mengkhianati istilah ” Tholibul Ilmi”.

Ini kerana penuntut ilmu sekarang , mereka akan menjadi kelompok manusia yang akan dituntut dan diikuti pada masa akan datang.

Bagaimana perasaan orang yang mengikuti kita nanti, sedang dia tidak mengetahui bahawa orang yang dia ikuti hanya pendakwa ilmu semata-mata bukannya ilmuan hakiki.

Ilmu yang kita tuntut dan yang disusun rapi oleh para ulama dan solihin terdahulu tidak lain hanyalah sebagai alat untuk berkhidmat kepada al-Quran dan Sunnah Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Jika alatnya kita tiada malah lemah dalam memahaminya, bagaimana mungkin kita akan berkhidmat kepada Usulnya? Tidak hairan jika al-Quran dan Hadis ditafsir mengikut kehendak hati dan rasa-rasa.

Maka sayugialah bagi kita merasa insaf dan menangisi kelalaian kita.

IKHLAS

Cuma , jalan ilmu ini jalan yang sangat berat. Jalan yang menjanjikan mulia dan agung. Maka perlu niat yang benar-benar ikhlas ketika menuntutnya. Jika kita melihat sahabat kita lalai dalam tugasnya sebagai Tholibul Ilmi, maka kita nasihati , tetapi bukanlah untuk merendahkannya namun perlu sematkan niat kasihkan dirinya semoga dia tidak mengkhianati tugasnya. Jangan sekali-kali menganggap orang lain lebih rendah daripada yang menasihati.

Kepada yang dinasihati, janganlah menganggap bahawa penasihat itu memperlekehkan dirinya tetapi menganggap yang menegur inilah sahabat terbaiknya yang kasihkan dirinya. Tidak mahu dirinya terus terbuai angan-angan kosong tanpa persediaan yang rapi menghadapi tentangan masa mendatang.

Namun , jika yang menegur punya sifat bongkak takabbur, manakala yang ditegur punya ego dan tidak mengaku kelemahan, maka polemik ini akan berterusan sehingga kiamat.

Tiada kesudahannya.

Puncanya satu : Tidak ikhlas menegur, Tidak Ikhlas Menerima Teguran.

Semuanya kembali kepada IKHLAS.

Ya Allah kurniakanlah kami ikhlas di dalam perkataan dan amalan kami. YA RABB!!

image
Ustaz Nasrul Nasir

25 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Dakwah Yang Tidak Dahulukan Kasih Sayang ::

Hari ini ramai orang yang bercakap tentang seruan kepada Islam, sedangkan jiwa mereka kering dari pancaran kasih sayang, malah dipenuhi kekerasan dan permusuhan. Al-Quran dan Hadith digunakan untuk tujuan permusuhan dan menyenangkan nafsunya. Kasih sayang dihancurkan. Manusia yang diseru tidak melihat sinar kasih sayang terpancar di wajah mereka.

Kebanyakan para pendakwah mendahulukan berita ancaman dari memberi kasih sayang. Mereka utamakan perkhabaran tentang azab Allah dari sifat kecintaan dan pengampun Allah. Mereka sebenarnya pembunuh harapan di dada-dada manusia yang yang mencari setitis harapan. Dakwah penuh dengan kekakuan, bersidang dalam dewan-dewan yang mewah, membentangkan kertas-kertas kerja yang memperlihatkan idealisma yang hebat, tetapi perkara yang amat diperlukan oleh manusia di sekeliling mereka tidak dititikberatkan, iaitu kasih sayang.

Masyarakat memerlukan orang yang bertanya khabar pada mereka, yang membantu kesusahan mereka, yang memberi kata-kata harapan, yang menghulurkan tangan kasih sayang demi membawa kepada kebenaran.
Islam adalah gambaran kasih sayang Allah di alam ini. Mereka yang membawanya mestilah mengamalkan sifat keTuhanan dan sifat kenabian iaitu kasih sayang. Dalam sebuah rumahtangga, isteri merasai ketenangan, anak-anak merasai kedamaian. Mulakan kasih sayang pada dirimu dan dalam rumahtanggamu sebelum kamu lontarkan kepada dunia luar. Jika kamu majikan, sinarkan pada pekerjamu. Jika kamu pemimpin masyarakat, pancarkan pada mereka. Jika anda seorang ulama’, lunakkan bahasamu, hubungkan jiwa kamu dengan manusia yang mengharap pimpinanmu dengan kasih sayang. Jauhkan bertelagah dalam masalah khilafiah, supaya umat ini tidak terdidik dengan kebencian. Halakan tujuan dakwahmu kepada dunia yang rosak di depan dengan ikhlas dan kesedaran ubudiyyah kepada Allah.

Dakwah mesti berasaskan kasih sayang. Kemungkaran mestilah dicegah dengan hikmah. Jangan biarkan manusia mengekalkan kemungkaran, nescaya dunia akan dimurkai Allah dan manusia yang tidak berdosa juga akan menerima azab. Lihatlah negara yang tidak mencegah kemungkaran, mereka dilemparkan kesengsaraan. Demi kasih sayang pada negara dan umat manusia, bangunkanlah amal ma’aruf nahi mungkar, agar segala bala terangkat dari kita.

Manusia yang membela dan mencintai kemungkaran, adalah manusia yang tidak memahami hakikat kasih sayang. Perbuatan mereka menghancurkan generasi mereka sendiri. Akibat mereka membiarkan kemungkaran yang kecil berleluasa berlaku, akhirnya ia menjadi penyakit yang merbahaya kepada generasi mereka, kepada anak-anak mereka, kepada cucu mereka. Hari ini, kita sudah melihat anak-anak tidak lagi menghormati ibubapa, tidak menghormati guru-guru. Anak-anak sudah tidak mengenal Allah. Mereka mencintai nafsu dan syaitan. Siapakah yang telah melakukan jenayah ini? Soalan yang perlu pada jawaban…
Hari ini gerakan dakwah sudah banyak yang tersasar pedoman. Mereka lebih menumpukan ketajaman pemikiran pada anggotanya dari semaian iman dan kasih sayang. Dakwah bergerak dengan idealisma sedangkan manusia di depan mereka rosak disebabkan kehilangan kasih sayang. Mereka sepatutnya pendokong kasih sayang, bukan penyebar kebencian dan permusuhan.

Gerakan Kristian berjaya kerana menonjolkan aspek kasih sayang sebagai wajah mereka, sedangkan kasih sayang yang mereka tonjolkan akan menghancurkan kehidupan manusia di akhirat nanti. Gerakan Islam menonjolkan hukum dan membelakangi kasih sayang, sehingga masyarakat terasa mereka jahil. Harapan mereka tertimbus di bawah hukum-hukum yang didatangkan tanpa didahulukan pengisian iman sebagai tunjang.

Ulama’-ulama’ bercakaran didepan orang-orang jahil. Penyelesaiam masalah tidak didahulukan kasih sayang dan kebenaran tetapi mencari kemenangan. Hancurlah umat kerana pemimpin yang tidak memberi kasih sayang kepada rakyat, hancurlah kepimpinan kerana ulama’-ulama’ tidak memberi nasihat dengan kasih sayang, hancurlah ulama’ lantaran ulama’ tiada kasih sayang.

Sumber

24 April 2016 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Isteri tidak boleh dibebankan dengan kerja rumah?

Akhir-akhir ini sering kedengaran ustaz-ustaz popular yang mengatakan bahawa isteri tidak mempunyai apa-apa tanggungjawab di rumah melainkan bersolek dan mengandungkan anak, tugas kerja rumah ditanggung oleh suami dan bukan isteri, alasannya tiada dalil yang menyatakan bahawa isteri bertanggungjawab untuk membuat kerja-kerja rumah.

Tiadanya dalil (nas) secara spesifik atas sesuatu perkara tidak bermakna sesuatu perkara itu boleh ditolak, kerana para ulama’ juga menggunakan dalil akal, uruf, selain daripada nas al-Qur’an dan al-Sunnah. Tidaklah munasabah, bertentangan dengan common sense, isteri duduk diam tanpa apa-apa kerja di rumah sedang suami bertungkus lumus mencari nafkah di luar dan bila balik pula suami juga perlu menyiapkan makanan, menyuci pakaian, jika tidak mampu maka suami perlu menyediakan khadam bagi isterinya. Pandangan ini adalah pandangan yang ekstrim, melampau, kerana terlalu literal dan tidak menggunakan akal fikiran dalam memahami ajaran Islam. Uruf juga menuntut agar isteri melakukan kerja-kerja rumah sebagai usaha meringankan beban suami di luar, jika isteri tidak melaksanakan tanggungjawabnya maka ia akan menggundang kemarahan suami, dan mentaati suami adalah suatu kewajipan dalam Islam.

Sememangnya Rasulullah saw membasuh pakaiannya sendiri, menguli roti yang dimakannya, tetapi itu adalah untuk meringankan beban isterinya, dan kemuliaan peribadinya yang tidak suka menyusahkan orang lain. Ia tidak sama sekali bermakna isteri tidak memiliki apa-apa tugas di rumah. Mengapa tidak diambil kisah Siti Fatimah puteri Rasulullah yang mengadu sakit-sakit badan kerana banyak kerja rumah yang dilakukannya seraya meminta kepada Rasulullah agar diberikan seorang khadam, namun jawapan Rasulullah malah menyuruh Fatimah ra agar bersabar dan membanyakkan berzikir agar semua kepenatan itu diberi ganjaran yang setimpal oleh Allah SWT.

Sememangnya pandangan bahawa isteri tidak bertanggungjawab terhadap kerja-kerja di rumah akan diminati oleh ramai orang, khususnya apabila terdapat sebahagian kaum wanita yang diperhambakan di rumah oleh sebahagian suami, namun kedua-dua pandangan sama ada yang memperhambakan mahupun yang mentuankan isteri adalah pandangan yang ekstrim, kerana kedua-duanya akan menyebabkan ketidakharmonian dan keruntuhan institusi keluarga. Keharmonian institusi keluarga bergantung kepada keadilan, di mana setiap individu mengetahui dan melaksanakan tugas dan tanggungjawab masing-masing dengan baik. Perlu adanya kesalingan, jika suami bekerja di luar maka isteri bekerja di rumah, jika dua-dua di luar maka perlu ada mekanisme agar kerja di rumah diringankan.

Islam adalah agama yang adil, ia tidak mendiskriminasikan dan menzalimi mana-mana pihak, tetapi meletakkan setiap orang di tempatnya masing-masing demi kebaikan bersama.

Ustaz Dr Khalif Muammar

23 April 2016 Posted by | Muamalat (Keluarga), Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Ingat Mati

Jam yang kita miliki, jika kehabisan bateri, maka jam tersebut sudahpun mati namun masih boleh kita hidupkannya dengan menukar kepada bateri yang baru tetapi apabila sudah berhenti denyutan jantung ataupun nadi kita, tidak ada lagi yang boleh menghidupkan kita setelah kita mati kecuali Allah.

Hadis riwayat Hitsami dan at Thabrani disebut bahawa sesseorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, apakah di akhirat nanti ada seseorang yang dikumpulkan bersama-sama para syuhada ?. Rasulullah menjawab, “Ada… iaitu orang yang selalu mengingati kematian sebanyak 20 kali sehari semalam”.

Mengingati mati akan membuatkan kita bertambah semangat untuk melakukan ketaatan kepada Allah.Ini berbeza dengan mereka yang lari dari mengingati kematian.., dia akan bermalas-malas melakukan ketaatan, seringkali menangguhkan ibadat solat dan senantiasa memasang angan-angan yang panjang untuk masa depan dunianya tanpa memikirkan masa depan akhiratnya yang lebih utama untuk difikirkan.

Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. -Al Jumu’ah:8.

Maksud “lari” dalam ayat ini ialah, seseorang itu melarikan dirinya daripada mengingati kematian kerana cita-citanya untuk memburu kemewahan dunia akan terhalang jika terlalu memikirkan tentang kamatian.Sungguh banyak taburan ayat-ayat di dalam Al-Quran tentang kematian tetapi seringkali dilupakan oleh manusia.Di antaranya:

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya. -Qaaf:19.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan -Al Waqi’ah:60.

فَلَوْ لآ إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لاَّ تُبْصِرُونَ فَلَوْ لآ إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ تَرْجِعُونَهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan. Padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.Tapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah). Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar.-Al Waqi’ah:83-87.

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. -An Nisa’:78

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ }

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.-Al Anbiya:34-35

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).-Az Zumar:30.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. -Ali Imran:185.

Cukuplah dengan beberapa ayat ini sebagai peringatan kepada kita semua agar tidak menongkat langit seolah-olah kematian masih lambat lagi.Malah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sudah menyampaikan pesannya kepada kita

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ (جة 4236,ت 3550, الصحيحة 757, وهو حديث حسن)

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun. Dan sangat sedikit di antara mereka yang melewati itu.”-HR Ibnu Majah, Tirmidzi,

Baginda Nabi Shallallahu alaihi wassalam juga bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ ……

Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, iaitu kematian……..

Ustaz Mohd Hanif Mohd Saleh

23 April 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Kisah Saidina Uthman menangis di kubur

Suatu hari, Sayidina Usman Ibn Affan radhiyallahu anhu. berjalan melintasi sebuah kawasan kubur. Tiba-tiba Sayidina Usman berhenti melangkah dan terdiam, Kemudian, air matanya mengalir setitis demi setitis, hingga mambasahi janggutnya.

Melihat Sayidina Usman menangis teresak-esak di tepi kuburan itu, datang seorang sahabat lalu bertanya : “Wahai Amirul Mukminin, engkau selalu menyebut Syurga dan Neraka serta segala penderitaan di hari akhirat, tetapi aku tidak pernah melihat engkau menangis semasa engkau memperkatakannya. Tapi hari ini apabila engkau berjalan di tepi kuburan, engkau menangis pula. Apa sebabnya wahai Amirul Mukminin?”

Jawab Sayidna Usman : “Kerana Nabi Shallallahu alaihi wassalam telah bersabda, ‘Kubur ini tempat pertama dari tempat-tempat akhirat dan tempat terakhir dari tempat-tempat dunia. Sesiapa yang selamat dari kubur itu, maka apa yang sudahnya adalah lebih ringan. Dan sesiapa yang tidak selamat darinya, maka apa yang berlaku sesudahnya akan lebih berat lagi.’”

Kita semua akan ditempatkan di dalam kubur..persoalannya, apakah kita akan selamat ataupun tidak ketika berada di dalamnya.Jika ditakdirkan oleh Allah, kita dapat mengetahui keadaan mereka di alam barzakh dengan menemuduga pengalaman mereka setelah dikuburkan, sudah pasti kita akan merasa takut untuk berada di dalamnya, namun bagi mereka yang tidak beriman ataupun ragu-ragu dengan adanya azab kubur, akan menganggap itu semua kisah dongeng yang dibuat-buat untuk menakutkannya dan ianya adalah untuk menghalang dirinya enjoy sepuas-puasnya di atas dunia yang dirasakan adalah Syurga kemewahan hidup baginya….,apatah lagi dengan takhta, jawatan, pangkat, kedudukan, wang yang banyak, kediaman yang besar, isteri yang cantik, aset harta merata-rata sehinggakan mereka merasa begitu sayang sekali untuk diwariskan kepada orang lain setelah penat mereka memburunya jika mereka mati.

Ust Mohd Hanif Mohd Saleh

23 April 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Rugi besar siapa yang tidak dapat melihat Nabi SAW di hari Akhirat

Tazkirah Jumaat yang Mulia:

Sayidatina Aisyah ra meriwayatkan: “Aku pernah menjahit baju di bilikku, tiba-tiba lampu padam, bilik menjadi gelap dan jarum terjatuh…

Ketika aku cuba meraba-raba mencari jarum itu, tiba-tiba Nabi SAW datang kepadaku dari pintu bilik. Baginda mengangkat lampu dan wajahnya.

Demi Allah yang tiada Tuhan selainnya, sesungguhnya telah terang setiap penjuru bilik dengan cahaya wajah Baginda sehinggalah aku dapat menjumpai kembali jarumku, kerana nur yang memancar.

Kemudian aku menghadap kepadanya, lalu aku berkata: “Engkau lebih mulia daripada ayah dan ibuku wahai Rasulullah. Sungguh terang cahaya wajahmu.”

Nabi SAW berkata: “Wahai Aisyah, rugi besar kepada sesiapa yang tidak dapat melihatku pada hari Kiamat.” Aku bertanya: “Siapakah orang yang tidak boleh melihat engkau pada hari Kiamat wahai Rasulullah?”

Baginda menjawab: “Rugi besar kepada sesiapa yang tidak dapat melihatku pada hari Kiamat.”

Aku (Aisyah) bertanya lagi: “Siapakah yang tidak boleh melihat engkau pada hari Kiamat wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Mereka yang ketika namaku disebut di sisi mereka, dia tidak berselawat ke atasku”.

(Riwayat Ahmad dan Tirmizi)

Marilah kita perbanyakkan berselawat ke atas Nabi Muhammad SAW dan kaum keluarganya yang mulia.

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه اجمعين.

Ustaz Zamihan Al Ghari

22 April 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

AMANAH ILMU vs KHIANAT

Guru yang mulia Syaikhuna Jamal Faruq al-Daqqaq al-Hasani hafizahullah ada menceritakan pada kami sepertimana yang disampaikan oleh guru beliau al-Allamah Syeikh Ismail Sodiq al-Adawi rahimahullah betapa amanah di dalam ilmu sangat dituntut dan menjadi keaiban bagi seorang ilmuan mengkhianati ilmu yang dipelajarinya.

Ceritanya :

Al-Azhar pada zaman dahulu jika ingin memberikan kepada para pelajarnya Syahadah Alimiyyah ( sijil tertinggi yang membolehkan seseorang itu mengajar di Masjid al-Azhar al-Syariff) maka akan diadakan ujian di dalam 12 bidang ilmu.

Jika pelajar tersebut lulus kesemua 12 ilmu tersebut maka dia mendapat kelulusan untuk mengajar kesemua bidang ilmu tersebut. Ada yang hanya diberikan izin mengajar 3 atau 4 sahaja bidang. Ada yang hanya dibenarkan mengajar 1 bidang sahaja.

Ada juga yang tidak dibenarkan langsung untuk mengajar sebarang bidang ilmu !!

Diantara sekian ramai penuntut ilmu yang akan mengambil ujian tersebut salah seorang daripadanya adalah anak kepada Syaikhul Azhar pada waktu tersebut ( tidak pasti siapakah Syaikhul Azhar tersebut kerana Syaikhuna menukilkan tanpa menyebutkan nama Syaikhul Azhar tersebut).

Selesai hari pertama ujian, sedang Syaikhul Azhar tersebut bersama dengan anaknya melangkah keluar daripada Masjid Agung al-Azhar al-Syariff, datang seorang lelaki bertanya soalan kepada Syaikhul Azhar tersebut .

Soalannya :

” Tuan Syaikh yang mulia, saya ingin bertanya , apakah warna anjing Ashabul Kahfi yang disebutkan di dalam al-Quran?? ”

Syaikhul Azhar terkejut dengan soalan tersebut lalu menjawab :

” Saya tidak pernah pula terfikir tentang perkara tersebut. Nanti saya akan rujuk semula di dalam kitab-kitab para ulama”

Setelah pulang, sepanjang malam Syaikhul Azhar tersebut membelek segala kitab Tafsir dan kitab-kitab karangan ulama bagi mencari jawapan ” warna anjing Ashabul Kahfi”.

Setelah lama membelek kitab-kitab , datang anaknya yang esok akan menduduki ujian Syahadah Alimiyyah  lalu berkata kepada ayahnya :

” Sudahlah ayah, saya kasihan melihat ayah sehingga tidak tidur malam mencari jawapan bagi soalan remeh tersebut. Ayah beri sahaja apa pun jawapan kepada lelaki tersebut, sudah pasti dia akan menerimanya kerana ayah adalah Syaikhul Azhar!”

Terdiam Syaikhul Azhar tersebut.

Keesokannya, anak Syaikhul Azhar tersebut diuji oleh beberapa ulama adakah dia mampu menguasai 12 bidang ilmu tersebut dan diberikan izin mengajar di Masjid Agung al-Azhar al-Syariff.

Setelah ujian selesai, kesemua ulama bersetuju memberikan Syahadah Alimiyyah kepada anak Syaikhul Azhar tersebut.

Tetapi yang mengejutkan, Syaikhul Azhar sendiri tidak bersetuju dengan keputusan para ulama lain. Malah melarang syahadah agung itu diberikan kepada anaknya sendiri. Maka para ulama bertanya kepada beliau, apa yang menyebabkan beliau mengagalkan anak beliau sendiri yang ternyata berkebolehan dan alim.

Maka Syaikhul Azhar itu lalu menjawab :

” Ini adalah kerana sikapnya yang sangat enteng dengan ilmu, malah bersikap khianat dengannya. Semalam, ketika aku mencari jawapan tentang warna anjing Ashabul Kahfi, dia malah memberikan cadangan kepadaku untuk menjawab dengan jawapan yang bohong hanya kerana pangkat dan kedudukanku yang tinggi menyebabkan orang yang bertanya sudah tentu akan mempercayainya.

Maka orang sebegini tidak layak menjadi pendidik dan tidak layak memimpin ummat”

P/S : Perhatikan akhlak solihin terdahulu, berbeza dengan sikap kita sekarang.

Asal punya pangkat dan kedudukan, asal diangkat oleh masyarakat, asal dipandang sebagai alim, asal pandai berceramah maka semua mahu dibahas, semua mahu dijawab walaupun ilmu tidak benar-benar kukuh.

Malah lebih berat, berbohong pula pada masyarakat.

Kasihan masyarakat, terpaksa menerima pembohongan dan pendustaan sedang mereka hauskan kebenaran dan amalan.

Pimpinlah kami Ya Allah.. Berkat NabiMu sallallahu alaihi wasallam.

Ustaz Nazrul Nasir

22 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Beberapa displin menerima kandungan ceramah dan tulisan ilmuan

Beberapa displin menerima kandungan ceramah dan tulisan ilmuan itu adalah :-

1)      Semak latar belakang penceramah dan kenali bidang apakah kepakaran beliau. Imam Malik Bin Anas berkata :
إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون
Ertinya : ” Sesungguhnya pengambilan ilmu ini adalah agama, maka telitilah dari mana kamu ambilinya (ilmu) agamamu ”  ( Siyar A’lam An-Nubala, 5/343)

2) Dapatkan komen dari ilmuan lain yang tidak ‘memusuhi’ penceramah yang anda ingin dengarinya.  Ia penting untuk mendapatkan gambaran akan siapakah ia dan sejauh manakah info yang disampaikannya boleh diterima pakai.

3) Mendengar dan membaca dengan faham penerangan sehingga habis dan tidak memotong separuh-separuh kerana ia mungkin sahaja akan menyebabkan perkataan penceramah difahami di luar konteksnya. Petikan-petikan di youtube biasanya kurang dari 10 minit, justeru kemungkinan ia di luar konteks adalah wujud dan pelru berhati-hati mengambilnya. Begitu juga petikan-petikan tulisan seseorang tokoh. Buatlah rujukan dan carilah sumber dan konteks penuh tulisan ilmuan yang berkenaan.

4) Jangan ambil serius sebarang cercaan yang dilontarkan oleh ilmuan kepada mana-mana tokoh dan individu lain. Kebanyakkannya dilontarkan secara tidak adil dan salah faham semata-mata.

5)  Mendengar satu ceramah dari mula sehingga habis dalam satu masa. Membaca satu tulisan juga hingga habis. Jika anda mendengar atau membaca sekerat dan sekerat, ia menjauhkan anda dari mendapat kefahaman bermanfaat dari ceramah dan tulisan tersebut.

6) Sebaiknya, dapatkan penceramah dan penulis yang mampu mengutarakan isi yang disertai dengan ayat dan hadis secara nasnya.  Ia adalah sebaik-baiknya kerana ia akan mendekatkan anda dengan sumber asas. Namun, mempunyai nas tidak semestinya intrepertasinya dan penggunaannya adalah betul dan tepat. Tidak dinafikan terdapat penceramah yang tidak membaca sebarang nas, tetapi semua kandungannya bertepatan dengan al-quran dan hadis. Kesimpulannya, kebijaksanaan anda dalam memilih adalah amat perlu dalam hal ini.

7) Setelah mendapat seusatu ilmu atau kesimpulan dari sesuatu ceramah penulisan, janganlah terlalu taksub atau ikut sehingga mengunci fikiran dan minda dari sebarang pandangan ilmuan lain yang berbeza.

8) Sampaikan ilmu yang diperolehi dengan amanah dan tidak mengubah suainya sesuka hati serta menisbahkannya kepada ilmuan asal. Ia dengan mudah boleh mengakibatkan salah faham dan kesan buruk kepada penceramah asal. Banyak terjadi, sesuatu dakwaan dinisbahkan kepadanya sedangkan ia adalah hasil ubahsuai pendengar atau anak muridnya.

#DrZaharuddinAbdRahman
Presiden MURSHID

22 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

MANFAAT ZIKIR BAGI KITA

image

Syekh Ibnu Athaillah mengatakan, “Tidak ada ibadah yang lebih bermanfaat bagimu daripada dzikir. Sebab, dzikir adalah ibadah yang bisa dilakukan orang tua dan orang sakit yang sudah tidak mampu lagi berdiri, rukuk, dan sujud.
Bersihkan cermin hatimu dengan khalwat dan dzikir hingga kelak kau berjumpa dengan Allah SWT.

Hatimu harus selalu ingat Allah sehingga cahaya menyinarimu. Jangan seperti orang yang ingin menggali sumur, kemudian ia menggali di satu tempat sedalam satu jengkal lalu menggali di tempat lain sedalam satu jengkal pula. Jadi, airnya tidak akan pernah keluar. Akan tetapi, galilah di satu tempat sehingga airnya memancar.

Hai hamba Allah, agamamu adalah modalmu. Jika kau telah menyia-nyiakan modalmu, sibukkan lisan dengan berdzikir mengingat-Nya, sibukkan hati dengan cinta kepada-Nya, dan sibukkan tubuhmu dengan menaati-Nya. Tanamlah wujudmu di tempat menanam hingga benih muncul dan tumbuh. Siapa yang memperlakukan hatinya sebagaimana petani memperlakukan tanahnya, pasti hatinya bersinar.”

–Syekh Ibn Atha’illah dalam Taj Al-‘Arus

18 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Mencintai orang soleh

Mencintai orang soleh; “Adalah termasuk didalam ‘Fitnah’, jika seseorang itu berpikir bahawa dia boleh memahami Al-Quran dan Sunnah tanpa bimbingan para ulama. Perlukan panduan ulama. Orang-orang soleh. Salah satu cara untuk mendidik diri kita akan bersemangat didalam mengerjakan ibadah kepada Allah سبحانه وتعالى yakni memandang wajah ulama’.”

“Kata Imam Abdullah Alwi Al-Haddad; “Mencintai orang-orang soleh ini adalah sa’adah yakni kebahagiaan dunia dan akhirat. Awal darjat kesolehan seseorang itu adalah apabila mereka mencintai orang-orang soleh yang dahulu. Mencintai ulama. Orang yang tidak mencintai orang soleh maka ianya bukan daripada kalangan orang-orang yang soleh.”

“Manusia yang paling buruk sekali adalah yang membenci orang-orang soleh. Apabila seseorang itu ingin menjadi soleh, dia perlulah mencintai orang yang soleh dan mencintai para sahabat Baginda Nabi ﷺ dan Ahlul Bait Baginda Nabi ﷺ. Inilah merupakan satu sifat daripada orang yang soleh.”

“Apabila seseorang itu mencintai orang-orang yang soleh, para sahabat Baginda Nabi ﷺ dan Ahlul Bait Baginda Nabi ﷺ , ia akan menjadi penyebab untuk dirinya menjadi orang yang soleh. Tanda kedua orang soleh, adalah apabila mereka sentiasa menyebut dan berdoa kepada kedua ibu bapa mereka. Jika kedua ibu-bapa mereka sudah meninggal dunia, maka pohonlah keampunan kepada mereka.”

“Sekiranya mereka masih hidup, maka berdoalah untuk kebaikan mereka. Sekiranya kita rajin berdoa kepada kedua ibu-bapa kita, InsyaAllah. Kita akan digolongkan dikalangan orang-orang soleh.”

“Nabi ﷺ menyebutkan di dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Daripada Abu Hurairah Radhiyallahu’Anhu katanya Nabi ﷺ bersabda, “Apabila anak Adam(manusia) meninggal dunia maka terputuslah semua(pahala) amal perbuatannya kecuali 3 perkara iaitu;”

“Yang pertama adalah Sedekah jariah. Yang kedua, Ilmu yang bermanfaat. Yang ketiga, Anak soleh yang mendoakan kedua ibu bapanya. Tidak akan berdoa seseorang anak itu baik lelaki mahupun perempuan kepada kedua ibu-bapanya melainkan ianya adalah merupakan daripada anak yang soleh. Dan akan digolongkan bersama orang-orang yang soleh.”

Daripada Al-Habib Kadzim Bin Ja’afar As-seggaf.

18 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Berkata salah seorang penghuni kubur….

image

“Sesungguhnya ketika di dunia aku telah berusaha gigih siang dan malam untuk menghimpun kekayaan.Dengan usaha gigihku itu dapatlah aku memiliki beberapa buah rumah, memiliki berbagai-bagai jenama kenderaan, menyimpan wangku di beberapa buah bank tetapi sayang seribu kali sayang……penat lelahku menghimpunkan semuanya, kini dimiliki oleh orang lain, yang paling menyedihkan hatiku, anak-anakku bercakaran sesama sendiri merebut semua yang telahku himpunkan, sementara isteri yang telahku tinggalkan, sudah dikahwini oleh orang lain yang turut menikmati segala harta hasil dari penat lelahku selama di dunia…..kenapa isteri dan anak-anakku sudah melupakan aku yang sendirian di sini sedangkan mereka semua bergembira mendapat habuan hasil usaha gigihku….
Bukankah mereka tahu bahawa aku redha meninggalkan seruan azan di masjid demi perniagaanku agar tidak terjejas, aku redha meninggalkan menuntut ilmu agama kerana ia akan menyibukkan diriku sehingga terhakis masa untukku menumpukan kepada perniagaanku…., apakah isteri dan anak-anakku tahu apa nasibku di dalam kubur ini.., sungguh tergamak sekali mereka semua meletakkanku sendirian di sini,,,, aku tak tahan dengan bau busuk yang ada di sini…., aku tak tahan kepanasan di sini…, aku tak tahan setiap detik dan saat, aku diajukan berbagai-bagai persoalan sehinggakan aku tidak dapat berehat langsung….., tolonglah aku wahai anak-anak dan isteriku…., tolonglah aku…, sakitnya bukan kepalang ku rasakan di sini…tolonglah aku………….”

Oleh : Ustaz Mohd Hanif

14 April 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

“Sekiranya kamu melihat kebenaran dengan ramainya pengikut bermakna kamu telah salah faham”

image

Wahai ikhwan,

Terlebih dahulu Al faqir memohon kemaafan kerana tulisan ini boleh menyebabkan kamu semua merasa tidak senang,dan mungkin ada marah atau tidak setuju dengan Al faqir.

Demi Allah Al faqir menyayangi ikhwan semua, beberapa kali Al faqir memikirkan utk menulisnya tapi untuk menyatakan apa yang ada pada isi hati ini.

Imam Al Ghazali ada menyatakan dalam kitabnya Ayyuhai Walad “Sekiranya kamu melihat kebenaran dengan ramainya pengikut bermakna kamu telah salah faham”.

Fahamilah betul2 ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah, rujuklah kpd org yg alim lagi jujur dalam ilmu,nescaya kamu akan dapati ianya perjalanan yg benar lagi lurus yg mengikuti ulama2 terdahulu yg berantaian sehingga sampai kepada Baginda Sollallahu alaihi wassallam.

Imam2 besar seperti Imam As Syafie dan seumpamanya ( semoga Allah merahmati mereka ) yg tidak ragu lagi keilmuannya,adalah antara imam2 Ahli Sunnah Wal Jamaah, maka adalah tidak wajar sama ada ulama atau ahli2 ilmu di zaman kita hari ini memandang rendah Imam As Syafie atau imam2 yg lain dengan mengatakan cukuplah dgn Al Quran dan Hadis tidak perlu kpd mazhab2 yg lain. Benarlah kata Imam Al Ghazali yg menyatakan hijab ilmu antara hijab yg besar untuk sampai ke Allah.Menolak tasawuf,mazhab2 imam2 besar merupakan masalah yg besar dan ini mengelirukan orang awam.

Walaupun mereka tokoh hebat dalam ilmu atau dakwah,ada seorang tokoh dakwah hebat dalam pidatonya berjaya menarik orang kepada agama Islam,tapi malangnya menolak tasawuf dan merendahkan kedudukan imam2 besar Ahli Sunnah Wal Jamaah.ketokohan mereka kita tetap kita hormati namun mempertikaikan tasawuf dan imam2 besar adalah sesuatu yg mengelirukan masyarakat umum.

Wahai ikhwan, kesianlah masyarakat kalau macam tu,marilah kita buka hati kita, berlapang dada untuk menerima kebenaran, caranya solat sunat taubah kemudian banyakkan berselawat dan mohonlah kepada Allah agar ditunjukkan kebenaran dan dihilangkan kekeliruan ini, nescaya Allah akan hilangkan kekeliruan ini.

Cukuplah jangan maki memaki,hina menghina pada orang yg tidak bersependapat dgn kita janganlah hilangkan adab ajaran agama kita yg mulia ini,Al faqir tidak bersetuju dgn tokoh dakwah ini tetapi Al faqir tidak mahu mencelanya kerana jasanya ada pada agama kita tapi jasa imam2 besar Ahli Sunnah Wal Jamaah lagi besar dari jasanya, adapun Al faqir tiada apa2 hanya insan faqir.

Wassalam,maafkan Al faqir atas tulisan ini jika tidak bersetuju terpulanglah.

Al-Fadhil Ustaz Mustaffa Kamal Bin Hamzah
(Penel Tanyalah Ustaz TV9)

13 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Keagungan Tradisi Ilmu Islam

image

Allah s.w.t. memuliakan umat Islam dengan menjadikan sistem talqqqi sebagai nadi bagi penyebaran ilmu Islam. Ilmu-ilmu Islam disebarkan secara talaqqi di mana seorang murid mengambil ilmu tersebut dengan kaedah “pertemuan” dengan gurunya dalam rangka untuk mewarisi ilmu-ilmu Islam secara riwayah dan dirayah.

Sistem talaqqi ini bermula sejak zaman Rasulullah s.a.w. lagi di mana Baginda s.a.w. mengambil Al-Qur’an secara bertalaqqi kepada malaikat Jibril a.s.. Lalu, para sahabat meriwayatkan ajaran dan panduan dalam memahami Al-Qu’ran daripada hadith-hadith Nabi s.a.w. yang diriwayatkan secara talaqqi daripada Rasulullah s.a.w. itu sendiri.

Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w., Al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir iaitu diriwayatkan secara beramai-ramai sehingga tidak ada keraguan lagi dalam keaslian teks Al-Qur’an yang diriwayatkan melalui ramai para huffaz (penghafaz Al-Qur’an tersebut).

Namun, hadith-hadith Rasulullah s.a.w. kebanyakkannya diriwayatkan secara perorangan (individu-individu tertentu) sehingga terkadang boleh membawa kepada keraguan dalam isi hadith yang diriwayatkan oleh perawi hadith tersebut. Maka, timbullah kaedah penelitian terhadap sanad-sanad periwayatan hadith dalam meneliti keadaan perawi hadith itu sendiri bagi memastikan ketulenan hadith-hadith Nabi s.a.w..

Setelah itu, munculnya zaman pembukuan hadith-hadith dan ilmu Islam, maka para musnid (ulama’ yang membukukan hadith-hadith dalam buku-bukunya) menghimpunkan hadith-hadith yang diriwayatkan secara bersanad lalu ditulis di dalam musnad mereka (kitab himpunan hadith mereka) lelu menyebarkan musnad mereka kepada murid mereka dengan kaedah periwayatan hadith yang muktabar dalam ilmu mustolah hadith.

Murid-murid kepada ulama’ yang menghimpunkan hadith-hadith dalam buku mereka meriwayatkan kepada murid-murid mereka pada generasi seterusnya dengan penuh teliti terhadap keaslian isi kandungan musnad-musnad guru mereka tersebut, samada meriwayatkannya secara “guru membaca kepada murid” ataupun murid membaca dan guru menyemak bacaan tersebut”.

Setelah itu, pembukuan ilmu-ilmu Islam yang lain turut berkembang dalam pelbagai bidang ilmu yang lain seperti ilmu aqidah, tafsir, fiqh dan sebagainya. Namun, tradisi meriwayatkan buku-buku tersebut tetap tidak terlepas daripada manhaj talaqqi secara bersanad, bagi memastikan murid-murid mendapat isi kandungan asli buku-buku tersebut dan memastikan murid-murid tersebut memahami isi kandungan buku-buku tersebut, dengan melalui syarahan ulama’-ulama’ penulis buku-buku tersebut.

Sistem talaqqi terus dipelihara dan dijadikan manhaj tradisi ilmu Islam dalam memelihara keaslian warisan ilmiah Islam (turath). Para ulama’ salafus-soleh amat mengambil berat tradisi mewariskan turath Islami secara bersanad melalui manhaj talaqqi dalam tradisi pembelajaran dalam umat Islam.

Sumber.

13 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Memberi Salam dan Menjawab Salam

image

SITUASI YANG MAKRUH MEMBERI SALAM

Walaupun memberi  salam itu sangat dituntut, tetapi ada tempat dan ketikanya kita di larang ( makruh) berbuat demikian :

Di antara tempat dan ketika ianya dimakruhkan adalah seperti berikut :

1. Memberi salam kepada orang yang sedang buang air. Dalam hal ini, dimakruhkan memberi salam. Sekiranya orang seperti ini diberi salam, tidak wajib ke atasnya menjawab salam tersebut.

2. Orang yang sedang tidur atau mengantuk.

3. Mengucapkan salam kepada orang yang sedang azan, iqamat dan sembahyang.

4. Orang yang makan sedang makanan berada di mulutnya. Sekiranya dia diberi salam ketika itu, maka tidak wajib ke atasnya menjawab salam itu. Akan tetapi jika dia makan tetapi tidak ada makanan dalam mulutnya, maka tidak mengapa diberi salam dan salam itu wajib dijawab.

5. Ketika sedang khutbah Jumaat. Imam an-Nawawi berpendapat, makruh memberi salam kepada jamaah yang hadir,  kerana mereka disuruh untuk berdiam diri mendengarkan khutbah.

6. Orang yang sedang membaca al-Qur’an, menurut pendapat Imam Abu al-Hasan al-Wahidi, adalah lebih afdal tidak memberi salam kepadanya. Jika dia diberi salam, cukup baginya menjawab dengan isyarat. Akan tetapi jika dijawabnya dengan lisan, sambungan  bacaan al-Qur’annya dimulai lagi dengan Isti‘adzah

7. Makruh memberi salam kepada orang yang membaca talbiah  ketika berihram, kerana memutuskan talbiah itu adalah makruh. Tetapi jika dia diberi salam, maka dijawabnya salam itu dengan lisan (bukan dengan isyarat).

8. Makruh juga hukumnya jika seseorang itu memberi salam dengan mengatakan ‘alaikassalam’  sungguhpun begitu, wajib dijawab salam tersebut, kerana ianya termasuk dalam kategori salam, sepertimana yang diriwayatkan daripada Abu Jurai al-Hujaimi Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

Maksudnya: “Aku telah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu aku berkata :  Ya Rasulullah! Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jangan awak katakan “alaikassalam” kerana  sesungguhnya ucapan “alaikassalam” itu adalah salam untuk orang-orang yang telah mati.”                                                                                                                                                            (Hadis riwayat Abu Daud dan at-Termizi)

9. Makruh memberi salam dengan isyarat, ini berdasarkan keterangan dari Jabir Radhiallahu ‘anhu bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Janganlah kamu memberi salam seperti orang-orang Yahudi, kerana sesungguhnya mereka memberi salam menggunakan  dengan kepala,  tangan  dan isyarat.”                                                                                        (Hadis riwayat an-Nasa’i)

Adapun larangan ini ditujukan khas bagi sesiapa yang mampu memberi salam tetapi tidak mengucapkannya, kecuali jika ada keuzuran, seperti orang bersembahyang, bisu dan orang yang diberi salam itu jauh jaraknya sepertimana yang diriwayatkan daripada ِAsma’ Radhiallahu ‘anha, beliau berkata:

Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melalui dalam masjid dan dalamnya terdapat sekumpulan wanita yang duduk, maka Baginda memberi isyarat salam dengan tangan Baginda.”                                                          (Hadis riwayat at-Termizi)                            

10. Menentukan salam kepada seseorang atau kumpulan tertentu. Kita ditegah menentukan salam kepada seseorang yang tertentu, kerana salam bertujuan kemesraan, damai dan persaudaraan. Jika menentukan salam, ianya akan menimbulkan buruk sangka serta perasaan iri hati yang membawa kepada permusuhan.                            
Dalam hubungan ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Maksudnya: “Sesungguhnya Allah menjadikan salam itu sebagai cara penghormatan bagi ummat kita juga sebagai tanda kesejahteraan bagi orang-orang Zimmi yang ada dalam lindungan kita.”  (Hadis riwayat al-Baihaqi)

Sumber:
state mufti’s office brunei darussalam http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2005/ic43_2005.htm

30 March 2016 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Belajar Zaman Dulu VS Zaman Sekarang🤓

🤗
✒Zaman Dulu, sanggup tak tidur sebab menuntut ilmu.
Zaman Sekarang, sanggup tak belajar kerana banyak tidur.

✒Zaman Dulu, sanggup berjalan jauh demi ilmu.
Zaman Sekarang, belajar jauh-jauh sebab nak berjalan-jalan.

✒Zaman Dulu, masalah fiqh ditanya kpd Ulama’.
Zaman Sekarang, masalah fiqh dibincang dan didebat dlm group whatsApp.

✒Zaman Dulu, takut nak keluarkan fatwa.
Zaman Sekarang, semua orang mengaku jadi mufti dan sesuka hati menghukum orang dan mengeluarkan fatwa.

✒Zaman Dulu, belajar 20 tahun masih berasa jahil.
Zaman Sekarang, belajar 2 jam dalam encik google dah mengaku alim.

✒Zaman Dulu, belajar sebab nak mengenal Allah.
Zaman Sekarang, belajar sebab nak dikenali dan dipuji orang.

✒Zaman Dulu, Tok Guru masuk kelas tanpa bawa kitab kerana alimnya,
Zaman Sekarang, anak murid yang tak bawa buku sebab malasnya.

Sekadar Muhasabah utk diri sendiri dan para pembaca……

22 February 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Banyak nya pahala bila solat di masjid/surau

Wow!!!….banyaknya pahala boleh dibuat..BILA SOLAT DI MASJID/SURAU.

INSYAALLAH KITA AKAN PEROLEHI :

1. Pahala sahut seruan azan
2. Pahala melangkah ke masjid
3. Pahala masuk masjid.
4. Pahala melangkah kaki kanan kedalam masjid
5. Pahala doa masuk masjid
6. Pahala solat tahiyyatul masjid
7. Pahala i’tikaf
8. Pahala solat berjamaah
9. Pahala takbiratul ihram bersama imam
10. Pahala amin bersama imam
11. Pahala rapatkan sof,
12. Pahala luruskan sof
13. Pahala dengar tilawah quran
14. Pahala hubung silaturrahim
15. Pahala duduk dalam majlis zikir
16. Pahala duduk dalam majlis ilmu
17. Pahala jadi makmum
19. Pahala membersihkan masjid
20. Pahala menuntut ilmu
21. Pahala nasihat menasihati
22. Pahala sedekah ditabung masjid
23. Pahala mempelajari bacaan Quran yang betul melalui bacaan imam.
24. Pahala mengingatkan imam jika beliau lupa
25. Pahala menghidupkan sunnah Rasulullah saw
26. Pahala menghidupkan syiar agama Islam
27. Pahala doa keluar masjid dan dengan langkah kiri..

Daripada darjat-darjat ini, berapa yang tidak boleh dicapai jika solat berjemaah dirumah?

Oleh itu marilah kita berjemaah di masjid/surau sedapat yang mungkin.‪

#‎BahagianDakwahJakim

21 February 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

BILA BERNIAGA, JANGAN KUTIP HUTANG, JANGAN KENA MATAHARI

Hassan Al Basri merupakan seorang ulama dan ahli perniagaan. Beliau ada 2 orang anak lelaki. Sebelum beliau meninggal, beliau telah memanggil kedua anak lelaki nya, lalu berpesan,..
Bila ayah telah tiada lagi di dunia ini, kamu berdua hendaklah meneruskan perniagaan ayah. Cuma ada 2 perkara ayah nk kamu lakukan.
1.BILA KAMU BERNIAGA ,JANGAN KUTIP HUTANG2. BILA KAMU BERNIAGA, JANGAN KENA MATAHARI

Lalu Hassan Al Basri pun meninggal dunia. Masa berlalu dan selang beberapa tahun, perniagaan si adik semakin merosot dan terus merosot. Manakala perniagaan si abang semakin maju dan maju.

Satu hari si Ibu (balu Hassan Al Basri) memanggil anak nya si adik.

Lalu bertanya,Si ibu : Wahai adik, kenapa perniagaan mu semakin hari semakin merosot ?

Jawab si adik: Saya ikut pesan ayah.

Si ibu : Apa ayah mu pesan ?

Jawab si adik :Ayah berpesan, kalau berniaga jangan kutip hutang. Jadi, semua yang berhutang dengan saya, saya tak pernah minta bayaran. Kalau mereka nak bayar, mereka bayar. Kalau mereka tak bayar, saya tak kan kutip bayaran.Ayah pesan lagi, kalau berniaga, jangan kena matahari. Jadi saya kalau kemana mana mesti bawa payung. Jadi saya tak kena matahari sebagaimana pesan ayah.

Kemudian, si ibu pergi berjumpa dengan si abang pula, lalu bertanya.

Si ibu : Wahai abang, ibu lihat perniagaan mu semakin hari semakin maju, apa yang kamu lakukan ?

Jawab si abang : Saya ikut pesan ayah.

Si ibu : Apa ayah mu pesan ?

Jawab si abang:Ayah pesan, KALAU BERNIAGA JANGAN KUTIP HUTANG. Jadi , semua saya JUAL TUNAI. Maka, tak ada orang berhutang dengan saya. Saya ikut pesan ayah, saya tak perlu kutip hutang. Semua bayar tunai.Kedua , ayah pesan. KALAU BERNIAGA JANGAN KENA MATAHARI. Jadi saya keluar ke kedai waktu subuh. Lepas solat subuh, saya tak tidur, terus ke kedai. Malam baru saya pulang ke rumah. Jadi, saya tak kena matahari.*

Moral of the story“““““““““““““““““““““

Perbezaan MENTAFSIR sesuatu perkara menjadikan arah hidup yang berbeza.

Kalau kita kata ibadah itu hanya lah di tikar sembahyang semata-mata, nanti kita akan meninggalkan kewajipan mencari nafkah terhadap keluarga,kewajipan terhadap negara dan ummah keseluruhan nya.

Jadi, belajar lah dari ramai guru, banyak membaca untuk tambahkan ilmu, minta Allah swt beri petunjuk, mohon Allah swt bimbing kehidupan kita, semoga Allah swt memberikan taufik dan hidayah.

Mudah mudahan, dengan kefahaman yang betul, kita di muliakan oleh Allah swt di dunia dan di akhirat.

Nabi Muhamamad saw, pernah bersabda;”Siapa yang Allah swt mahu kan kebaikan bagi diri nya, akan di fahamkan pada agamanya dengan sebenar benar kefahaman”.

Kredit : Hidayatul Karimah

‪#‎bahagiandakwahjakim

18 February 2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

MEMBAKAR SESUATU YANG BERBAU “WANGI” ADALAH SUNNAH BUKAN DUKUN

Hukum membakar wangi2an
Membakar dupa wangi ketika berdzikir, membaca al-Qur’an, berada di majlis ilmu maka wangi-wangian (tathayyub) hukumya sunnah berdasarkan senangya Nabi Muhammad Saw.Pada sesuatu yang harum dan nabi senang dengan wewangian.Beliau Saw. sering memakainya dan mendorong para sahabat untuk menggunnakanya.
(Lihat dalam kitab Bulghat ath-Thullab halaman53-54).ﻣﺴﺌﻠﺔ ﺝ: ﺍﺧﺮﺍﻕ ﺍﻟﺒﺨﻮﺭ ﻋﻨﺪ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻛﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺃﻥ ﻭﻣﺠﻠﺲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻟﻪ ﺍﺻﻞ ﻓﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺍﻥ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺤﺐ ﺍﻟﺮﻳﺢ ﺍﻟﻄﻴﺐ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﻳﺤﺐ ﺍﻟﻄﻴﺐ ﻭﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻬﺎ ﻛﺜﻴﺮﺍﺑﻠﻐﺔ ﺍﻟﻄﻼﺏ ﺹ ٥٣ – ٥٤.
“Membakar dupa atau kemenyan ketika berdzikir pada Allah dan sebagainya seperti membaca al-Qur’an atau di majlis-majlis ilmu, mempunyai dasar dalil dari al-Hadits yaitu dilihatdari sudut pandang bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Saw.menyukai bau wangi dan menyukai minyak wangi dan beliau pun sering memakainya.”
(Bulghat ath-Thullab halaman 53-54).ﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﺒﺨﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ ﺣﻴﻦ ﻳﻤﻮﺕ ﻻﻧﻪ ﺭﺑﻤﺎ ﻇﻬﺮ ﻣﻨﻪ ﺷﺊ ﻓﻴﻐﻠﺒﻪ ﺭﺍﺋﺤﺔ ﺍﻟﺒﺨﻮﺭ

“Sahabat-sahabat kita (dari Imam Syafi’i) berkata:“Sesungguhnya disunnahkan membakar dupa di dekat mayyit karena terkadang ada sesuatu yang muncul maka bau kemenyan tersebut bisa mengalahkan/menghalanginya.”

(Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab juz 5 halaman 160)

9 February 2016 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Sifat kasih mengasihi

Sifat Kasih Mengasihi; “Barangsiapa yang kasih kepada yang ada dibumi, maka dia akan dikasihi mereka yang dilangit. “Rasulullah ﷺ bersabda; “Kamu tidak mungkin masuk syurga jika tidak beriman. Kamu tidak mungkin beriman jika tidak kasih-mengasihi.” Rasulullah ﷺ menggandingkan iman dan kasih-sayang.”

“Jadi, tidak mungkin seseorang mendakwa dirinya beriman kalau jiwanya tidak punya kasih-sayang kepada orang lain. Orang yang tiada kasih sayang kepada orang lain itu dusta dalam imannya. Lalu Rasulullah ﷺ mengakhiri hadisnya dengan mengatakan, “Mahukah kamu aku tunjukkan satu amalan yang kalau kamu buat, kamu saling kasih-mengasihi?”

“Nabi Muhammad ﷺ tidak sebut kamu akan jadi beriman atau masuk syurga, tapi disebut kamu akan saling mengasihi. Ini kerana syurga dan iman tanpa kasih-sayang takkan mungkin diperoleh oleh seseorang yang mendakwa dirinya beriman. Sambung baginda, “Sebarkan salam.”

“Apakah maksudnya? Adakah cukup dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum?” Tidak. Kita kena memahami dengan lebih dalam lagi apa maknyanya. Orang muslim itu orang lain selamat dari mulut dan tangannya. Kalau orang maki kepada kita, jangan kita maki balik kepadanya kerana itu bukan sifat orang yang benar beriman.”

“Salah seorang as-solehin yang merupakan auliya, di maki ketika berada di mimbar, tetapi ketika ditanya anaknya kenapa dia tidak membalas makian orang itu terhadapnya. Jawabnya; “Sejak bila kamu lihat ayah kamu ini memaki orang lain? Biarkan orang lain memaki, sesungguhnya makian orang lain takkan merendahkan atau mengangkat darjat kita di sisi Allah سبحانه و تعالى.”

“Kecuali kalau kita menyikapi sikap orang yang memaki kepada kita dengan tidak memaki kepada sesiapa pun juga. Kata baginda Rasulullah ﷺ, “Memaki orang ialah perbuatan orang fasiq, membunuh orang ialah perbuatan orang kafir.” Inilah ajaran Nabi Muhammad ﷺ.”

“Sebarkan salam dan jaga diri, lidah, tangan untuk orang lain selamat daripada kita, walaupun orang itu maki, caci atau mengabaikan kepada kita. Kalau kita tidak boleh mendatangkan manfaat kepada orang, jangan mendatangkan mudarat kepada orang lain.”

“Dan Sifat lemah lembut itu lahir dari sifat kasih sayang hatta terhadap yang disayangi atau dibenci. Berakhlaklah dengan mengambil bahagian melalui Asma’ul Husna-Nya yang tercermin melalui kesan atsar pada ciptaan-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda; “Sesungguhnya Allah menyukai sifat lemah lembut pada setiap perkara. Sifat lemah-lembut yang ditunjukkan kepada orang yang disayangi atau kepada orang yang bikin marah kepada dirinya tidak menunjukkan sikap kasar. Maka orang ini adalah Rahimun Rafiq. Orang yang punya kasih sayang dan lemah-lembut. ”

“Tidak digunakan kelembutan pada kekasaran kecuali kelembutan pasti akan menang. Dan tidak mendatangkan kelembutan ke atas sesuatu, pasti mendatangkan keburukan. Lembut bilamana digunakan, pasti akan berkesan. Paling kurang pun tidak mendatangkan kemudaratan. Tapi kekasaran, digunakan walaupun tujuannya baik, pasti mendatangkan kemudaratan.
Kerana Rasulullah ﷺ dalam mendidiknya adalah lemah lembut.”

“Saidina Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه وأرضاه mengatakan; “Allah سبحانه وتعالى mempunyai bekas di atas muka bumi ini. Yang dimaksudkan bekas itu bukannya bekas fizikal. Bekas yang boleh menempati Allah سبحانه وتعالى ialah hatinya. Hati yang paling disukai oleh Allah سبحانه وتعالى daripada sifat hati itu ialah yg paling kuat imannya dan paling lembut kemudian yang paling halus hatinya.”

“Yang kuat imannya didalam keyakinannya. Berlemah-lembut kepada kaum mukminin. Dan berpegang teguh kepada agama Allah. Hati yang boleh menempatkan Allah سبحانه وتعالى ialah hati yang lembut amat disukai oleh Allah سبحانه وتعال. Maka hati yang keras adalah hati yang dibenci oleh Allah سبحانه وتعالى.”

“Orang mukmin, orang lain selamat daripada dirinya, yakni orang tidak takut kerana garangnya atau buruknya perangai kita. Tidak diberi nama seorang Muslim itu Muslim kecuali orang lain selamat daripada lisan dan tangannya. Tidak diberikan nama seorang Mukmin itu Mukmin, melainkan orang lain merasa aman dengannya. Sifat kasih mengasihi. Inilah agama yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.”

Daripada Sayyidil Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid.

Sumber: Raudhatul Muhibbin

1 February 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Hendaklah berhati hati dalam menggelar seseorang dalam bidang ilmu.

Ahli Bidang Ilmu; “Hendaklah kamu berhati-hati dalam menggelar seseorang dalam bidang ilmu. Katakan jika seandainya seseorang yang bukan daripada bidang teknologi, tiba-tiba mengatakan ‘Syeikh Muhammad Nuruddin itu seorang pakarnya teknologi.’ Adakah kalian akan percaya?’ Tidak percaya bukan.
Mengapa tidak percaya?
“Kerana seseorang yang mengatakan begitu bukan daripada kalangannya juga. Yang mempunyai pengetahuannya juga dalam bidangnya teknologi. Ingin mengatakan seseorang itu pakar teknologi harus seseorang itu diakui keahliannya juga oleh orang yang bidangnya juga. Yang dalam kalangan yang mempunyai pengetahuan yang tinggi juga dalam bidang teknologi.”
“Untuk mengatakan seseorang itu faqih, harus daripada seseorang yang sememangnya faqih juga. Ingin dikatakan seseorang itu pakar hadis, perlu daripada orang yang sememangnya diakui pakar didalam bidang hadis juga. Tidak boleh daripada kalangan orang yang tidak tahu dan tidak mengerti mengenai ilmu hadis. Justeru, mengelarkannya pakar hadis.”
“Lihat sahaja Musnid Sedunia, Syeikh Yasin Isa Al-Fadani, begitu juga Maulana Zakariyya Al-Kandahlawi, ini layak digelar pakar hadis. Kerana apa? Ulama ulama hadis yang mengiktiraf mereka sebagai pakar hadis. Bahkan ulama sedunia. Hari ini mudah saja seseorang memberi gelaran kepada si fulan si fulan. Si fulan pakar hadis, si fulan pakar itu pakar ini.”
“Yang memberi gelaran tersebut adalah seorang pilot, seorang pramugara, seorang pomen kereta, daripada kalangan orang awam yang bukan ahlinya dalam sesuatu bidang ilmu. Justeru memberikan gelaran-gelaran yang tertentu. Para ulama pon takut untuk mengelarkan diri mereka pakar hadis.”
“Ajibb. Di zaman sekarang. Mudah saja menjadi pakar dalam bidang tertentu kerana diangkat melalui gelaran-gelaran yang diberikan oleh orang awam. Akhirnya yang bercelaru orang awam juga, kerana angkara kita meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.”
Daripada TG Sheikh Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki.
Like
Share
267 people like this.
Raudhatul Muhibbin
Ahli Bidang Ilmu; “Hendaklah kamu berhati-hati dalam menggelar seseorang dalam bidang ilmu. Katakan jika seandainya seseorang yang bukan daripada bidang teknologi, tiba-tiba mengatakan ‘Syeikh Muhammad Nuruddin itu seorang pakarnya teknologi.’ Adakah kalian akan percaya?’ Tidak percaya bukan.
Mengapa tidak percaya?

“Kerana seseorang yang mengatakan begitu bukan daripada kalangannya juga. Yang mempunyai pengetahuannya juga dalam bidangnya teknologi. Ingin mengatakan seseorang itu pakar teknologi harus seseorang itu diakui keahliannya juga oleh orang yang bidangnya juga. Yang dalam kalangan yang mempunyai pengetahuan yang tinggi juga dalam bidang teknologi.”

“Untuk mengatakan seseorang itu faqih, harus daripada seseorang yang sememangnya faqih juga. Ingin dikatakan seseorang itu pakar hadis, perlu daripada orang yang sememangnya diakui pakar didalam bidang hadis juga. Tidak boleh daripada kalangan orang yang tidak tahu dan tidak mengerti mengenai ilmu hadis. Justeru, mengelarkannya pakar hadis.”

“Lihat sahaja Musnid Sedunia, Syeikh Yasin Isa Al-Fadani, begitu juga Maulana Zakariyya Al-Kandahlawi, ini layak digelar pakar hadis. Kerana apa? Ulama ulama hadis yang mengiktiraf mereka sebagai pakar hadis. Bahkan ulama sedunia. Hari ini mudah saja seseorang memberi gelaran kepada si fulan si fulan. Si fulan pakar hadis, si fulan pakar itu pakar ini.”

“Yang memberi gelaran tersebut adalah seorang pilot, seorang pramugara, seorang pomen kereta, daripada kalangan orang awam yang bukan ahlinya dalam sesuatu bidang ilmu. Justeru memberikan gelaran-gelaran yang tertentu. Para ulama pon takut untuk mengelarkan diri mereka pakar hadis.”

“Ajibb. Di zaman sekarang. Mudah saja menjadi pakar dalam bidang tertentu kerana diangkat melalui gelaran-gelaran yang diberikan oleh orang awam. Akhirnya yang bercelaru orang awam juga, kerana angkara kita meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.”

Daripada TG Sheikh Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki.

Sumber: Raudhatul Muhibbin

12 January 2016 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Akhir zaman pembidato ramai ulama kurang

Zaman Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam, sahabat, tabi’ien dan tabi’ut tabi’ien, orang yang mampu berijtihad dan dijadikan rujukan amat sedikit. Bahkan di antara ulamak salafussoleh sendiri amat takut untuk berfatwa walaupun menguasai disiplin ilmu yang cemerlang dan diperakui para alim ulamak muktabar di zamannya. .

Apabila ada yang bertanya sesuatu persoalan, ada yang menunding menyuruh bertanyakan kepada mereka yang lebih arif kerana takut untuk mengeluarkan fatwa.

Ada juga yang ditanyakan banyak persoalan, tetapi ulamak salafussoleh hanya menjawab beberapa persoalan sahaja dan mereka lebih menyenangi perkataan Wallahua’lam kerana risau akan tersalah mengeluarkan fatwa.

Akhir zaman ini pula terbalik, makin ramai pula yang berebut-rebut hendak memberi fatwa, ada yang setiap hari mengeluarkan fatwanya mengulas isu-isu semasa hingga mentohmah umat Islam yang lain, ada pula yang jahil tukil dengan latarbelakang pendidikan agama yang sangat lemah merendah-rendahkan alim ulamak, berani menulis beberapa buku aqidah dan syariat dengan kaedah ‘copy paste’ semata-mata kemudian mencabar ilmuwan agama menjawab bukunya, ada pula yang fasih menukil kalam ulamak mazhab tetapi banyak kesilapan dan dengan kefahaman yang batil. Dan mereka ini pula diikuti oleh orang awam dan diangkat sebagai pemimpin.

Allahu ! Gerunnya memikirkan akhir zaman, Islam semakin asing.

11 January 2016 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

KEPENTINGAN TABAYYUN ( MENYEMAK ASAS KEBENARAN )

Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah, lalu dia menyampaikan sesuatu yang tidak baik tentang seorang temannya. Lalu Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah berkata kepadanya: Sekarang kami terpaksa menyiasat perkara ini! Jika kamu dusta, maka kamu termasuk dalam golongan orang yang dinyatakan dalam firman Allah SWT:

Maksudnya: “Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa suatu berita, maka SELIDIKILAH (untuk menentukan) kebenarannya.”

(Surah al-Hujurat: 6)

Jika sekiranya kamu bercakap benar, maka kamu tergolong dalam kumpulan orang yang dikatakan dalam firman Allah SWT:

Maksudnya: “Yang suka mencaci, lagi yang suka menyebarkan fitnah hasutan (untuk memecah belahkan orang ramai)”

(Surah al-Qalam: 11)

Tetapi, jika kami memaafkan kamu dengan syarat kamu tidak akan melakukannya lagi? Lelaki itu menjawab: Maafkan sahaja, hai Amirul Mukminin, saya tidak akan mengulanginya lagi perbuatan itu.

Yusuf al-Qaradhawi, al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, hlm. 604-606.

Sumber: Jabatan Mufti Negeri Sembilan

6 January 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Mengetuk Pintu Rezeki

By: Muhammad Azhari

PENDAHULUAN

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita amat memerlukan rezeki dalam meneruskan hidup.Tanpa rezeki manusia tidak boleh hidup.

Tetapi persoalannya ialah di mana terletaknya pintu rezeki? Dan bagaimana ingin membukanya?

Sebagai umat Islam kita tahu bahawa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki. Tanpa izin Allah, kita tidak akan dapat meraih rezeki dariNya.

Tetapi dalam usaha kita untuk mendapat rezeki, apakah kriteria-kriteria yang Allah inginkan supaya rezeki itu sampai kepada kita?

Apakah perbezaan antara rezeki yang diberkati dan tidak diberkati?

ALLAH MAHA PEMBERI REZEKI

Kita mengetahui bahawa Allah itu bersifat ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Allah menjamin rezeki setiap makhluknya. Setiap rezeki ada ujiannya. Bukanlah ujian itu bersifat bala, tetapi sebagai pengajaran buat hamba-hambaNya untuk lebih berusaha dan menjadi lebih berkualiti.

Sesungguhnya Allah itu Maha Pembuka Rezeki dan Allah juga boleh menutup rezeki makhlukNya.

ISTIGHFAR PEMBUKA REZEKI

Rasulullah s.a.w bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Berdasarkan hadis di atas jelas pada kita bahawa salah satu kunci pembuka rezeki adalah istighfar, yang bermaksud memohon ampun.

Dengan melazimi istighfar, seseorang itu akan dibukakan pintu rezeki dari sumber yang tidak disangka-sangka.

DOSA PENUTUP REZEKI

Rasulullah s.a.w bersabda,”Sesungguhnya seorang hamba boleh tertahan rezekinya kerana dosa yang dilakukannya.” (HR.Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).

Hadis ini menunjukkan pada kita bahawa tertahannya rezeki itu adalah berpunca dari dosa yang kita lakukan.

Dosa itu bersifat negatif. Dan rezeki itu bersifat positif. Rezeki itu terhalang dek kerana dosa yang dilakukan.

Dosa-dosa seperti meninggalkan solat, mengumpat, memfitnah, menolak hukum Allah secara terang-terangan, dan sebagainya menjadi punca kenapa rezeki itu tersekat.

Dan penyelesaian bagi menghapus dosa yang kita lakukan ialah dengan perbanyakkan istighfar.

ISTIDRAJ

Kadang-kadang kita terfikir bagaimana masih terdapat orang yang dilimpahi rezeki yang banyak sedangkan dia banyak melakukan maksiat dan kejahatan. Rasululullah saw bersabda:

Apabila kamu melihat bahawa Allah swt memberi nikmat kepada hambaNya yang selalu membuat maksiat (durhaka), ketahuilah bahawa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah swt. “(Diriwayatkan oleh at-Tabrani).

Jelas pada hadis di atas bahawa jika seseorang itu diberi rezeki sedangkan dia berdosa itu tandanya dia sudah diistidrajkan oleh Allah swt.

Istidarj bermaksud pemberian nikmat Allah swt kepada manusia yang mana pemberian itu tidak diredhaiNya.

Maka berawasilah setiap muslim akan istidraj ini. Jangan biarkan diri kita diistidrajkan oleh Allah

SOLAT DHUHA

Solat dhuha juga merupakan kunci bagi pintu rezeki. Banyak hadis yang menerangkan tentang kelebihan solat dhuha.

“Wahai anak Adam! Bersembahyanglah untuk AKu di awal pagi, nescaya Aku akan mencukupimu di akhirnya” (Riwayat Ahmad).

Hadis Qudsi ini menganjurkan kita untuk mengerjakan solat Sunat Dhuha yang faedahnya Allah swt memberi jaminan terhadap keperluan-keperluan manusia pada setiap hari.

Rasulullah saw juga bersabda:

“Pada tiap-tiap pagi lazimkanlah ats tiap-tiap ruas anggota seseorang kamu bersedekah; tiap-tiap tahlil satu sedekah, tiap-tiap takbir satu sedekah, menyuruh buat baik satu sedekah dan cukuplah (sebagai ganti) yang demikian itu dengan mnegerjakan dua rakaat solat sunat dhuha. “ (Riwayat Bukhari dan Muslim)

TAQWA DAN PEMBUKA REZEKI

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesiapa yang bertaqwa kepada Allah(dengan mengerjakan suruhan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya), nescaya akan diberikannya kelapangan (jalan keluar dari segala perkara yang menyusahkannya). Dan diberikanya rezeki yang tidak disangka-sangka. Dan (ingatlah), sesiapa yang bertawakal (berserah diri bulat-bulat) kepada Allah, maka dicukupkan baginya (keperluan untuk menolong dan menyelamatkannya). Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala yang di kehendaki-Nya. Allah telahpun menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu. – (Ayat 2 & 3 Surah At-Talaq)
Ayat ini juga terkenal dengan nama ayat seribu dinar. Daripada ayat ini, ia menjelaskan kepada kita bahawa dengan menjadi orang yang bertaqwa,maka baginya rezeki yang tidak disangka-sangka, dikeluarkan daripada sebarang kesempitan dan dicukupkan baginya segala keperluan.

Maka marilah kita bertaqwa pada Allah swt dengan sebenar-benar taqwa.

Allah sudah memberi jaminan yang jelas buat hamba-hambaNya bahawa dengan menjadi hamba yang bertaqwa dan beramal solah, Allah akan memberikan rezeki dan mencukupkan segala keperluan hidupnya.

Dan sudah tentu kelapangan hati dan kebahagiaan dunia dan akhirat kita harapkan.

PENUTUP

Sebagai pengajaran pada topik ini:

1. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi Rezeki.

2. Untuk membuka pintu rezeki, beberapa syarat perlu dipenuhi.

3. Rezeki terhalang kerana dosa.

4. Perbanyakkan istighfar supaya Allah melapangkan hidup kita.

5. Berawasilah dengan istidraj kerana amat merugikan kita apabila kitadisesatkan Allah dengan nikmat dunia.

6. Akan tetapi orang-orang yang berusaha mencari hidayah Allah, maka Allah akan membantuNya.

7. Jadilah hamba yang bertaqwa kerana padanya juga ada kunci pintu rezeki.

“Dari Allah Kita Datang Kepada Allah Jualah Kita Dikembalikan Kelak”

Wallahualam.

5 January 2016 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Hukum Mendoakan Orang Bukan Islam

Nota Editor: Artikel ini asalnya telah dikongsikan oleh Ustaz Abu Basyer di Facebook.

Terdapat empat keadaan adakah boleh kita mendoakan kepada orang bukan Islam?

Perkara-perkara tersebut adalah seperti berikut :

PERTAMA: Mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah.

Para Ulama telah sepakat (Ijma’) akan bolehnya hal ini, diantara dalilnya adalah hadits berikut:

Abu Hurairah -radliallahu anhu- mengatakan: (Suatu hari) At-Thufail dan para sahabatnya datang, mereka mengatakan: “ya Rasulullah, Kabilah Daus benar-benar telah kufur dan menolak (dakwah Islam), maka doakanlah keburukan untuk mereka! Maka ada yg mengatakan: “Mampuslah kabilah Daus”. Lalu baginda mengatakan: “Ya Allah, berikanlah hidayah kepada Kabilah Daus, dan datangkanlah mereka (kepadaku). (HR. Bukhari 2937 dan Muslim 2524, dg redaksi dari Imam Muslim)

Hadits berikut juga menunjukkan bolehnya mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah:
Abu Musa -radliallahu anhu- mengatakan: “Dahulu Kaum Yahudi biasa berpura-pura bersin di dekat Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam-, mereka berharap baginda mahu mengucapkan doa untuk mereka “yarhamukallah (semoga Allah merahmati kalian)”, maka baginda mengatakan doa: “yahdikumullah wa yushlihabalakum (semoga Allah memberi hidayah kepada kalian, dan memperbaiki keadaan kalian)” (HR. Tirmidzi 2739 , dan yg lainnya, dishohihkan oleh Syeikh Albani)
KEDUA: Mendoakan kebaikan dalam perkara dunia.

Hal ini dibolehkan kerana adanya contoh dari Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam-… lihatlah dalam hadis di atas, baginda mendoakan kepada Kaum Yahudi:

“Semoga Allah memberi kalian hidayah, dan memperbaiki keadaan kalian”

Ada juga ikrar (persetujuan) Rasulullah –Shallallahu Alaihi Wasallam– dalam hal ini:

Abu Said al-Khudri mengatakan: (Suatu saat) Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- menugaskan kami dalam Sariyyah (pasukan kecil), lalu kami singgah di suatu kaum, dan kami meminta mereka agar menjamu kami tapi mereka menolaknya. Lalu pemimpin mereka terkena sengatan haiwan, maka mereka mendatangi kami, dan mengatakan: “Adakah diantara kalian yg boleh meruqyah sakit kerana sengatan Kalajengking?”. Maka ku jawab: “Ya, aku boleh, tapi aku tidak akan meruqyahnya kecuali kalian memberi kami kambing”. Mereka mengatakan: “Kami akan memberikan 30 kambing kepada kalian”. Maka kami menerima tawaran itu, dan aku bacakan kepada (pemimpin)nya surat Alhamdulilah sebanyak 7 kali, maka ia pun sembuh, dan kami terima imbalan (30) kambing.

Abu Sa’id mengatakan: Lalu ada sesuatu yg mengganjal di hati kami (dari langkah ini), maka kami mengatakan: “Jangan tergesa-gesa (dengan upah kambing ini), sampai kalian mendatangi Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam-.
Abu sa’id mengatakan: Maka ketika kami mendatangi baginda, aku menyebutkan apa yg telah kulakukan. Baginda mengatakan: “Dari mana kau tahu, bahawa (Alfatihah) itu Ruqyah?, ambillah kambingnya dan berilah aku bagian darinya”. (HR. Tirmidzi [2063] dengan redaksi ini, kisah ini juga diriwayatkan di dalam shahih Bukhari [2276] dan shahih Muslim [2201]).

Hadits ini menjelaskan bolehnya kita me-ruqyah orang kafir agar sakitnya sembuh, dan ini merupakan bentuk dari tindakan mendoakan kebaikan untuk mereka dalam urusan dunia. Tidak salah kita mendoakan kesembuhan mereka jika mereka sakit.

Diantara dalil dalam masalah ini adalah dibolehkannya kita menjawab salamnya orang kafir, walaupun bolehnya hanya seringkas “wa’alaikum“, sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu Alaihi Wasallam-:

“Jika seorang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah dengan ucapan: “Wa’alaikum“. (HR. Bukhari [5788], dan Muslim [4024]).

Ada juga contoh dari salah seorang Sahabat Nabi dalam masalah ini:

Uqbah bin Amir al-Juhani -radhiallahu anhu- menceritakan: bahawa dia pernah berpapasan dengan seseorang yang gayanya seperti muslim, lalu orang tersebut memberi salam kepadanya, maka ia pun menjawabnya dengan ucapan: “wa’alaika wa rahmatullah wabarakatuh”… Maka pelayannya mengatakan padanya: Dia itu seorang Nasrani!… Lalu Uqbah pun beranjak dan mengikutinya hingga ia mendapatkannya, maka ia mengatakan: “Sesungguhnya rahmat dan berkah Allah itu untuk Kaum Mukminin, akan tetapi semoga Allah memanjangkan umurmu, dan memperbanyak harta dan anakmu” (HR. Bukhori dalam kitabnya Adabul Mufrod 1/430, dan dihasankan oleh Syeikh Albani)

Banyak ulama yg memberi batasan: bahwa orang kafir yg didoakan kebaikan, harus bukan dalam kategori kafir harbi (yakni kafir yg memerangi Kaum Muslimin)… Dan ini sangatlah tepat… Syeikh Albani -rahimahullah- mengatakan:

Akan tetapi, orang yg mendoakan kebaikan harus memperhatikan, bahawa orang kafir tersebut bukanlah musuh (perang) bagi Kaum Muslimin. (Ta’liq Kitab Adab Mufrod 1/430).

KETIGA: Mendoakan agar dosa mereka diampuni, setelah mereka mati dalam keadaan kafir.

Para ulama telah sepakat (Ijma’) bahawa hal ini diharamkan:

Imam Nawawi -rahimahullah- mengatakan: “Adapun menyolati orang kafir, dan mendoakan agar diampuni dosanya, maka ini merupakan perbuatan haram, berdasarkan nas al-Quran dan Ijma’. (al-Majmu’ 5/120).

Ibnu Taimiyah -rahimahullah- juga mengatakan: Sesungguhnya memintakan maghfiroh untuk orang-orang kafir tidak dibolehkan, berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’. (Majmu’ul Fatawa 12/489)

Dan dalil paling tegas dalam masalah ini adalah firman Allah Ta’ala:

Maksudnya, “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim.” (Surah at-Taubah ayat 113)

KEEMPAT: Mendoakan agar diampuni dosanya ketika mereka masih hidup.

Hal ini dibolehkan dengan Dalil hadits berikut:

Abdullah bin Mas’ud mengatakan: “Seakan-akan aku sekarang melihat Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam- bercerita tentang seorang Nabi, yang dipukul oleh kaumnya hingga bercucur darah, dan ia mengusap darah tersebut dari wajahnya, tetapi ia tetap mengatakan: “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka itu tidak tahu”. (HR. Bukhori 3477).

Memang Hadis ini tidak tegas mengatakan bahawa Nabi yang mendoakan ampunan tersebut adalah Nabi Muhammad –Shallallahu Alaihi Wasallam-… Namun ada riwayat lain yg tegas mengatakan bahawa doa tersebut juga diucapkan oleh Nabi kita Muhammad –Shallallahu Alaihi Wasallam– kepada kaumnya yg masih kafir:

Sahal bin sa’ad mengatakan: Aku telah menyaksikan Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam- saat gigi serinya patah, wajahnya terluka, dan helm perang di kepalanya pecah… sungguh aku juga tahu siapa yg mencuci darah dari wajahnya, siapa yang mendatangkan air kepadanya, dan apa yang ditempatkan dilukanya hingga darahnya mampet… Adalah Fatimah puteri Muhammad utusan Allah yang mencuci darah dari wajah, dan Ali -radliallahu anhu- yang mendatangkan air dalam perisai… maka ketika Fatimah mencuci darah dari wajah ayahnya, dia membakar tikar, sehingga ketika telah menjadi abu, ia mengambil abu itu, lalu menaruhnya di wajah baginda, hingga darahnya mampet… ketika itu baginda mengatakan: “Telah memuncak kemurkaan Allah atas kaum yang melukai wajah Rasulullah”… lalu baginda diam sebentar, dan mengatakan: “Ya Allah ampunilah kaumku, kerana sesungguhnya mereka itu tidak tahu”. (HR. Tobaroni, dan Syeikh Albani dalam Silsilah Shohihah [7/531] mengatakan: Sanadnya Hasan atau Shohih).

Diantara dalil dalam masalah ini adalah Mafhum Mukholafah dari firman Allah berikut:

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapanya, tidak lain hanyalah kerana suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapanya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahawa bapanya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (Surah at-Taubah ayat 113-114)

Ayat ini mengaitkan “larangan memintakan ampun untuk Kaum Musyrikin”, dengan keadaan “sesudah jelas bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka”. Sehingga sebelum jelas menjadi penghuni neraka, boleh di mintakan ampun… Dan telah shohih dari Ibnu Abbas, bahawa maksud dari firman Allah yg ertinya: “Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapanya itu adalah musuh Allah” adalah “setelah mati dalam keadaan kufur”. Sehingga sebelum kematiannya, masih boleh dimintakan ampun.

Berikut Atsar dari Ibnu Abbas tersebut:

Sa’id bin Jubair mengatakan: Ada salah seorang ayah meninggal, dan dia seorang Yahudi, sehingga putranya (yang muslim) tidak mengikuti (jenazah)nya, lalu hal itu diceritakan kepada Ibnu Abbas, maka beliau mengatakan: “Tidak sepatutnya ia melakukannya, (alangkah baiknya) apabila ia memandikannya, mengikuti (jenazah)nya, dan memintakan ampun baginya ketika masih hidup… kemudian Ibnu Abbas membaca ayat (yg artinya): “Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapanya itu adalah musuh Allah, ia pun berlepas diri darinya”, maksudnya: “ketika ia mati dalam keadaan kafir”. (Mushonnaf Abdurrozzaq 6/39).

Dan kesimpulan bolehnya memintakan ampun bagi orang-orang kafir selama masih hidup ini, juga banyak dinyatakan oleh para ulama, diantaranya:

Imam At-Thobari –rohimahulloh-, beliau mengatakan dalam tafsirnya:

Sekelompok ulama’ telah menafsiri firman Allah (yg ertinya): Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya)… -hingga akhir ayat-; bahawa larangan dari Allah untuk memintakan ampun bagi kaum musyrikin adalah setelah matinya mereka (dalam keadaan kafir), kerana firman-Nya (yg ertinya): “sesudah jelas bagi mereka, bahawasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim”. Mereka mengatakan: “alasannya, kerana tidak ada yg boleh memastikan (bahawa dia ahli neraka), kecuali setelah ia mati dalam kekafirannya, adapun saat ia masih hidup, maka tidak ada yang boleh mengetahui hal itu, sehingga dibolehkan bagi Kaum Mukminin untuk memintakan ampun bagi mereka. (Tafsir Thobari 12/26)

Dan inilah pendapat yg dipilih oleh beliau dalam tafsirnya. (lihat Tafsir Thobari 12/28)

Imam Al-Qurtubi juga mengatakan dalam tafsirnya:

Banyak ulama mengatakan: “Tidak mengapa bagi seorang (muslim) mendoakan kedua orang tuanya yg kafir, dan memintakan ampun bagi keduanya selama mereka masih hidup. Adapun orang yg sudah meninggal, maka telah terputus harapan (untuk diampuni dosanya). Ibnu Abbas mengatakan: “Dahulu orang-orang memintakan ampun untuk orang-orang mati mereka, lalu turunlah ayat, maka mereka berhenti dari memintakan ampun. Namun mereka tidak dilarang untuk memintakan ampun bagi orang-orang yg masih hidup hingga mereka meninggal”. (Tafsir Qurtubi 10/400)

Inilah pendapat paling kuat dalam masalah ini, kerana bersandarkan dalil dari Al-Qur’an, Hadits, dan Perkataan Shahabat… Kerana banyak dari kalangan ulama, memilih pendapat ini… Namun ada dua hal yg perlu digaris bawahi di sini:

– Bahwa yg lebih afdhol adalah mendoakan orang yg kafir agar diberikan hidayah masuk Islam… Kerana inilah yang sering dilakukan oleh Nabi –Shallallahu Alaihi Wasallam-, dan inilah yg telah disepakati bolehnya oleh para ulama.
– Ampunan yg sempurna tidak akan diberikan kepada orang kafir, selama dia masih kafir… Sehingga erti dari doa meminta ampunan untuk mereka adalah: ampunan dari sebagian dosa selain kesyirikan dan kekafirannya, atau ampunan untuk semua dosanya dengan jalan diberi hidayah dahulu untuk masuk Islam.

Sekian… wallahu Ta’ala a’lam…

Sumber : Islam Itu Indah
.

5 January 2016 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Haji dan Umrah: Layakkah aku menjadi Tetamu Allah?

 

 

 


 

Musim cuti sekolah selain sinonim dengan majlis perkahwinan dan kenduri untuk meraikan pasangan yang telah diijab-kabulkan, ianya juga dikaitkan dengan program Umrah dan Ziarah bagi mereka yang berkemampuan untuk mengunjungi Makkah al-Mukarramah. Malah program umrah dan ziarah ini menjadi agenda tahunan bagi mereka yang telah mendapat nikmat melalui kunjungan ke Tanah Suci dan ibadah yang dilakukan di sana. Pelbagai tujuan dan gelagat manusia yang tersingkap disebalik keghairahan untuk mengunjungi Kota Suci ini. Ada yang pergi kerana ingin melancong dan melihat dengan lebih dekat disamping merasai sendiri kemuliaan Tanah Haram sebagaimana yang sering menjadi buah mulut para jemaah yang telah pernah mengunjunginya. Ada juga yang berazam untuk mengambil pengalaman pertama sebelum dijemput untuk menunaikan ibadah haji yang difardhukan.

 Walaupun kunjungan kita ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah Umrah yang sunat, namun harus difahami ibadah umrah juga adalah ibadah yang penting untuk dihayati, dipelajari manasiknya (cara perlaksanaannya) dan dimurnikan tujuan serta niat untuk melaksanakannya. Janganlah pula keghairahan itu nanti menjadi penyebabkan kepada kita terjebak dalam maksiat yang berganda disebabkan kejahilan yang kita bawa apabila melangkahkan kaki ke sana.

Kategori Tetamu Allah

Saudaraku, fahamilah bahawa ibadah umrah juga adalah ibadah utama bagi yang mampu dan telah terpanggil untuk menunaikannya. Daripada Abu Hurairah RA bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Orang-orang yang menunaikan haji dan umrah adalah tetamu Allah. Apabila mereka memohon kepadanya, pasti diperkenankan. Dan apabila mereka memohon keampunan kepadaNya, pasti diampunkan.” (Riwayat Nasa’i, ibnu Hibban dan Hakim).

Orang-orang yang menunaikan haji dan umrah adalah para tetamu Allah. Manakala kedudukan dan tahap kesempurnaan jemputannya pula dapat ditentukan berdasarkan kepada ciri-ciri keutamaan dan keadaan persiapan seseorang jemaah sebelum terpilih dan dipilih untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Secara umumnya para tetamu Allah tergolong kepada tiga kategori;

  1. Tetamu yang dijemput dengan rahmat dan keredhaanNya
  2. Tetamu yang diterima dalam keadaan kemurkaanNya.
  3. Tetamu yang diterima tetapi tidak jelas kedudukannya.

Ketiga-tiga golongan ini termasuk dalam jaminan Allah SWT, iaitu doa dan taubat mereka akan dikabulkan Allah SWT jika mereka memohon bersungguh-sungguh kepada-Nya serta memenuhi segala syaratnya. Namun terdapat perbezaan dari segi layanan Allah SWT kepada mereka setelah mana mereka tersenarai dalam jemputan-Nya itu.

a.      Tetamu yang dijemput dengan rahmat dan keredhaanNya

Golongan pertama ialah tetamu yang dijemput dengan rahmat dan keredhaanNya adalah dikalangan mereka yang telah membuat persiapan seawal niat dan azam untuk menunaikan haji serta umrah lagi. Antara persiapan yang telah mereka persiapkan;

  1. Membersihkan jiwa batiniah melalui taubat yang bersungguh-sungguh disamping memperbanyakkan doa-doa khusus supaya dijemput sebagai tetamu-Nya.
  2. Mempersiapkan diri dengan ilmu amali ibadah haji dan umrah seawal mungkin agar jelas difahami dengan rasa penuh keyakinan di dalam hati pada perlaksanaan dan penghayatan serta hikmahnya.
  3. Memberi tumpuan dan meningkatkan kualiti ibadah fardu seperti solat, zakat serta puasa malah diperkemaskan dan ditunaikan berserta amalan sunat dengan sebaik mungkin.
  4. Hubungan sesama manusia diperbaiki, jika ada dosa dan pernah membuat kejahatan kepada sesama insan maka ia akan bersegera memohon kemaafan kepada mereka.
  5. Dilangsaikan segala hutang yang mampu dijelaskan disamping membuat perancangan dengan teliti agar tidak membebankan mereka yang ditinggalkan.
  6. Mempersiapkan semua keperluan yang patut bagi meringankan segala bebanan dan tanggungjawab yang bakal ditinggalkan dengan secara yang halal. Mereka ikhlas melakukan yang demikian demi mencari redhanya Tuhan.

Keikhlasan mereka itu adalah antara penyebab kepada segala urusan mereka dipermudahkan Allah SWT. Malah sepanjang menunaikan ibadah haji dan umrah juga akan berada dalam ketenangan dan dilimpahi bantuan daripada Allah SWT. Mereka ini telah benar-benar menghayati dan mempraktikkan suruhan Allah SWT sebagai bekalan menuju kepada keredhaan-Nya, sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan hendaklah kamu membawa bekal dengan secukupnya, kerana sebaik-baik bekal itu ialah Takwa (memelihara diri), dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal (yang dapat memikir dan memahaminya).”(Surah al-Baqarah: 197)

 

Bekalan takwa mereka ialah pemeliharan diri daripada sifat-sifat mazmumah yakni sifat-sifat keji, memiliki ilmu serta praktikal ibadah yang sempurna. Disamping itu juga, mereka mempunyai kefahaman dalam ertikata yang sebenarnya dalam meningkatkan penghayatan pada ibadah dengan belajar untuk memperbaiki diri dalam setiap praktik amalan haji dan umrah. Memperelokkan hubungan mereka dengan Allah SWT melalui penyempurnaan iman dan kecintaan yang hakiki kepada Ilahi, serta menyantuni manusia dalam semua keadaan sebagai pelengkap keindahan akhlak dan adab melalui hablum minannas, hubungan mereka semasa manusia.

 

b.     Tetamu yang diterima dalam keadaan kemurkaanNya.

Manakala golongan kedua iaitu tetamu yang diterima dalam keadaan kemurkaan Allah SWTialah mereka yang sebaliknya.  Ada yang pergi ke Makkah dengan niat hanya untuk berziarah atau melancong dan mengalami sendiri pengalaman sebagaimana yang digembar-gemburkan oleh kebanyakkan orang yang telah menziarahinya.

Ada juga yang dalam keadaan terpaksa mengerjakan ibadah haji kerana mengikut suami, ibu bapa, keluarga, majikan, kelab atau jemaah tertentu. Ada juga yang merasai kewajipan itu pada dirinya lantas ia berusaha melayakkan dirinya, namun pelbagai niat dan persepsi yang dilahirkan hanya sekadar ‘melepaskan batuk di tangga sahaja’ tanpa membuat persiapan yang menyeluruh merangkumi niat, bekalan ilmu, iman dan amalan. Kebanyakkannya benar-benar berharap mendapat yang terbaik tetapi tidak menepati syarat. Tidak kurang juga yang hanya tangkap muat, asal terlaksana ibadah haji dan umrah sudah dianggap memadai.

Satu ketika seorang sahabat Nabi SAW, Abdullah Bin Umar RA apabila melihat rombongan haji sedang melewati satu jalan, beliau berkata: “Pada hari ini, para jemaah haji menjadi semakin berkurangan dan pengembara-pengembara semakin bertambah ramai.”

Ungkapan beliau itu bermaksud, para kekasih Allah SWT yang sebenar semakin sedikit. Iaitu mereka yang pergi menunaikan ibadah haji kerana Allah SWT disamping untuk mengambil faedah dan tarbiah daripadanya semakin berkurangan. Sementara dikalangan mereka yang tidak ikhlas telah bertambah dengan hebatnya. Justeru ia menyeru ke arah kesederhanaan dan menjauhkan segala kemewahan dan keseronokan.

Mana tidaknya, jemaah haji sekarang ini lebih didedahkan kepada segala kemudahan yang tersedia bermula dari bimbingan ibadah haji sehinggalah kepada pakej-pakej yang ditawarkan. Malah persekitaran dan aktiviti di tanah suci juga telah menampakkan kemewahan dan bersifat keduniaan. Perkara ini sedikit sebanyak akan mempengaruhi sikap dan tindakan dalam persiapan dan keadaan sebagai tetamu Allah.

Inilah cabaran terbesar di zaman kita ini. Justeru, para jemaah haji hendaklah menunjukkan tanda keghairahan cinta kepada Allah SWT, dan bukannya tanda cinta kepada kemewahan, kesenangan atau kecantikan yang bersifat keduniaan. Membuktikan bahawa pemergiannya untuk menunaikan ibadah haji itu semata-mata mencari keredhaan Allah SWT agar tidak tergolong dalam salah satu daripada golongan yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Akan datang kepada manusia suatu masa, umatku melakukan haji kerana empat perkara: Orang kaya melaksanakan ibadah haji kerana melancong. Orang pertengahan menunaikan haji kerana berniaga. Orang miskin menunaikan haji kerana meminta-minta. Orang qari dan para ilmuaan menunaikan haji kerana riya’ dan nama.”  (Riwayat al-Dailamy)

Ujian adalah kifarah        

Namun sifat pengampunnya Allah SWT masih memberi ruang dan peluang untuk para hamba-Nya bertaubat dan menginsafi diri. Walaupun hadirnya mereka mengundang kemurkaan Allah SWT disebabkan sikap yang ada pada diri mereka iaitu memberi keutamaan kepada nafsu dan bukannya untuk menyatakan ketaatan kepada Allah SWT. Tetapi Maha Pengasihnya Allah SWT masih membuka tawaran keampunan untuk hamba-hamba-Nya bertaubat dan menginsafi diri.

Justeru kepayahan, kesakitan, tekanan yang wujud semasa, sebelum atau selepas menunaikan haji dan umrah adalah kifarat serta ujian Allah SWT untuk para hamba-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadis sahih daripada Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudri, bahawa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Tidaklah seorang mukmin dilanda kecemasan, kelelahan dan kesedihan, melainkan Allah SWT akan menghapuskan segala kesalahannya.”(Riwayat Muslim)

 

 Inilah hakikatnya komunikasi tanpa suara antara Tuhan dengan para hamba-Nya. Ujian terkecil malah yang terbesar adalah takdir Allah SWT. Ia mempunyai maksud tertentu untuk dibuat penilaian. Bagi para tetamu Allah khususnya, ia adalah sebagai ingatan atau kifarat daripada dosa moga hamba-Nya itu akan segera bertaubat, menyedari segala kesilapan sama ada dengan Allah SWT ataupun sesama manusia. Ujian juga bermaksud qisas (pembalasan) ke atas dosa-dosa kita. Setiap perbuatan dosa mesti dihukum, sama ada di dunia ataupun di akhirat, kecuali jika kita telah bertaubat bersungguh-sungguh sehingga Allah SWT mengampuni dosa-dosa tersebut.

Ujian sebenarnya melatih kita untuk mengubah ketrampilan diri bagi mendapat sifat-sifat terpuji. Sabar, redha, tawakal, baik sangka, mengakui diri sebagai sebagai hamba yang lemah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, harapkan pertolongan Allah SWT, merasai dunia hanya nikmat sementara dan sebagainya. Semuanya ini tidak dapat kita bezakan melainkan melalui ujian yang disediakan Allah SWT mengikut tahap keimanan kita bagi mencetuskan segala sifatmahmudah dalam diri.

Natijahnya apabila mampu membuat diri terasa berdosa ianya juga adalah hasilan dari sifat terpuji yang telah kita miliki. Kadang-kala Allah SWT dedahkan dosa yang dilakukan hingga ramai orang tahu. Bukannya untuk menghina tetapi untuk memberi ingatan agar kita segera bertaubat dan tidak meneruskan dosa itu sampai bila-bila.

Banyak kisah pengalaman dari para jemaah haji atau umrah yang bertemu dengan pelbagai keadaan manusia yang dibukakan keaibannya oleh Allah SWT.  Mungkin itulah dia kifarat yang kadang-kala sehingga mencederakan perlaksanaan ibadah haji dan umrahnya. Bagaimana pula status haji atau umrahnya itu? Hanya Allah SWT sahaja yang mengetahuinya. Kita hanya mampu bersangka baik dan menilai dari lahiriah perbuatannya sahaja. Bila sah pada syarak maka sahlah hajinya. Terpulanglah kepada Allah SWT untuk menentukan nilai penerimaannya berdasarkan keikhlasan yang telah ditunjukkan sepanjang proses perlaksanaan ibadah tersebut.

Bagi mereka yang dikasihi Allah SWT, di dunia lagi Allah SWT hukum, tidak di akhirat, dengan didatangkan kesusahan, penderitaan, kesakitan dan sebagainya. Sekiranya kita boleh sabar dan redha, tentulah ada ganjaran pahala untuk kita. Sebaliknya kalau kita tidak boleh bersabar dan tidak redha malah merungut-rungut, mengeluh dan memberontak, ianya hanya akan menambah dosa pada diri kita. Begitulah Allah Yang Maha Pengasih kepada para hambaNya, tidak mahu menghukum kita di akhirat kerana penderitaan di akhirat yakni di neraka berpuluh-puluh kali ganda lebih dahsyat daripada penderitaan di dunia.

Ujian juga adalah untuk menilai sejauhmana keyakinan kita kepada Allah SWT. Semakin diuji sepatutnya semakin bertambah iman, dan semakin hampir kita dengan Allah SWT. Firman Allah yang bermaksud;

“Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, pada hal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang bersabar.”

(Surah ali-Imran: 142)

Namun begitu, kegagalan dalam menghayati hikmah ini menyebabkan kita bertambah jauh dengan Allah SWT; mengeluh dan menyesali takdir Allah SWT. Apatah lagi ianya akan menjauhkan kita untuk mengapai kesempurnaan haji dan umrah yang mabrur lagi bertadabbur.

c.      Tetamu yang diterima tetapi tidak jelas kedudukannya.

Seterusnya golongan ketiga iaitu tetamu yang diterima tetapi tidak jelas kedudukannya.Mereka dalam kategori ini pergi menunaikan haji dan umrah hanyalah sekadar kebetulan. Sekadar memenuhi kehendak semasa ataupun dalam keadaan terpaksa apabila sering disapa orang, rakan-rakan atau sanak saudara yang telah pergi menunaikannya. Seolah-olahnya hanya sebagai menyahut cabaran.

Suatu ketika saya pernah ditanya berkenaan dengan adanya dikalangan jemaah haji yang datang ke Makkah untuk menunaikan haji dan umrah sedangkan sebelum itu dia telah banyak melakukan dosa. Malah setelah pulang dari menunaikan haji pun ia masih lagi meneruskan amalan-amalan dosa yang pernah dilakukannya malah lebih hebat lagi. Bila ditanya, dia seolah-olah mempermain-mainkan saja teguran tersebut.

Ada antara mereka yang menjawab dengan angkuh; “Kau tengok aku. Aku nampak Kaabah, tak terasa panas, tak pernah sesat macam orang yang aku selalu dengar kisah-kisah aneh di Makkah tu. Itu menunjukkan aku okeylah. Tuhan merestui aku. Kalau aku jahat tentu aku ditimpa macam-macam insiden malang seperti yang diceritakan dalam kisah-kisah aneh tu. Ini tidak. Aku okey, okey saja..'”

Tidak mustahil, ada juga jemaah haji setelah pulang ke tanah air dengan keadaan selamba berterusan membuat dosa seperti membeli nombor ekor atau ramalan (loteri), mendedahkan aurat, menipu, rasuah, khianat dan sebagainya. Inilah sebuah realiti yang berlaku dikalangan para jemaah yang tidak memahami tujuan kefarduan ibadah haji dan umrah yang terdapat padanya latihan, hikmah serta pengajaran.

Perlu diingat, kisah-kisah misteri atau bala kesusahan bukanlah satu kemestian berlaku kepada setiap orang yang berdosa atau yang tidak betul niat dan tujuannya. Ia hanyalah tarbiah Allah SWT untuk mendidik para tetamu-Nya yang datang serta memiliki keazaman dan niat mengabdikan diri kepadaNya. Kadang-kala ianya bermanfaat sebagai pengajaran supaya hamba-hamba-Nya yang ikhlas itu sedar dan ingat untuk kembali bertaubat.

Namun hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala tujuan yang tersirat di dalam hati-hati manusia, ikhlas ataupun tidak. Boleh jadi Allah SWT akan membiarkan orang yang penuh dengan dosa dan leka akan terus lalai dengan kehidupannya. Na’uzubillahi min zalik. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah (Allah) Ar-Rahman melanjutkan baginya satu tempoh yang tertentu, hingga apabila mereka melihat apa yang dijanjikan kepada mereka, – sama ada azab sengsara dunia ataupun azab kiamat.”(Surah Maryam: 75)

Kesan dari pengabaian kepada dosa mengakibatkan akalnya sudah tidak mampu lagi membezakan antara ibadah dan adat. Biasanya apabila akal tidak berfungsi dengan sempurna sebagaimana sepatutnya, ingatan serta nasihat sudah tidak berguna lagi. Akal pada saat itu telah diseliputi nafsu yang akan membinasakan dirinya sendiri.  Keadaan beginilah yang seharusnya kita takuti dan berusaha menjauhinya. Bila dosa sudah dianggap nikmat serta mengaburi pandangan mata hati maka Allah SWT akan membiarkan kita terus leka dengan kehidupan di dunia ini tanpa hidayah-Nya.

Tanpa mengenali baik dan buruk yang terdapat dalam diri, akan menyebabkan kita hanyut dalam khayalan sendiri tanpa petunjuk dan bimbingan daripada Ilahi. Inilah pentingnya “Tazkiyatul Nafs” yakni membersihkan hati dan jiwa dari sifat-sifat keji dan dari segala penyakit serta keaiban yang akan menyebabkan kita buta dari mengenali Allah SWT dan perkara-perkara kebaikan dalam kehidupan.

Justeru jika tidak dibendung dan diperbaiki, mereka yang termasuk dalam golongan ketiga ini mungkin akan menjadikan amalan haji atau umrah ini hanya sekadar kebanggaan untuk ditunjuk-tunjuk bahawa mereka juga bertaubat serta beribadah. Namun hakikat sebaliknya, taubat mereka hanyalah kepura-puraan, tagis mereka hanyalah kemunafikan lantas mereka pulang ke tanah air dalam keadaan angkuh dengan Allah SWT dan riak sesama manusia.

Mereka kekal menjadi manusia yang derhaka kepada Allah SWT. Ibadah haji dan umrah dapat dilaksanakan dengan sempurna tetapi kewajipan menutup aurat masih diabaikan, segala perintah dan hukum Allah SWT masih dipertikai, malah segala perkara yang merupakan ibadah masih dicuai. Sesungguhnya mereka ini adalah insan malang yang tersungkur di hadapan pintu syurga.  “Ya Allah selamatkanlah kami dari keadaan ini.”

Sesungguhnya tidak ada ibadah yang paling buruk melebihi ibadahnya seorang yang fasiq(pelaku dosa besar dan dosa kecil yang terus menerus) tanpa taubat sebelumnya. Adakah kita berharap rahmat dan redha-Nya sedangkan kita tidak menjauhi larangan-Nya? Ketahuilah, bahawa syarat daripada ibadah yang diterima Allah SWT semestinya diawali dengan taubatan nasuha, taubat yang bersungguh-sungguh lahir dari hati yang penuh penyesalan, berhenti daripada segala kelakuan yang jahat, tinggalkan segala bentuk maksiat, sedangkan perkara itu semua merupakan penghalang kepada ibadah kita.

 

Kesimpulan

Saudaraku, layakkah bagi kita melakukan perjalanan panjang menuju Baitullah al-Haram untuk memenuhi panggilan-Nya sedangkan kita masih dalam keadaan zalim pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita? Tidakkah kita malu sebagai pelaku maksiat mendatangi Baitullah al-Haram hanya untuk diusir dan ditolak amalan serta doa? Maka jika kita ingin diterima atas panggilan ibadah haji atau umrah, bersihkanlah diri dari noda dan dosa, serta penuhilah perintah dan jauhi larangan-Nya sebelum keberangkatan kita menuju tanah yang Allah SWT muliakan.

Dengan membuang semua perkara yang dapat menghalangi ibadah haji dan umrah kita, bererti kita telah mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan-Nya, maka bersiaplah sebagaimana persiapan orang yang akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Tinggalkan wasiat kepada keluarga, anak dan isteri, kerana seorang musafir sangat dekat dengan musibah kecuali bagi orang yang mendapat perlindungan Allah SWT sahaja.

 
Sumber:
Mohamad Zaki Hilmi

9 December 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Penjelasan tentang sambutan Maulidur Rasul

Oleh: Raudhatul Muhibbin

Maulidur Rasul; “Orang yang bikin maulid nabi, memang itu tak ada dizaman Nabi, adakah yg tak ada dizaman Nabi, lalu dibuat selepas zaman Nabi dikatakan salah, atau bidaah disebabkan dengan dalil Nabi tak buat? Maka orang yang buat apa Nabi tak buat maka ianya bidaah?”

“Kita kena sepakat dahulu dengan dalilnya sebelum menghukum sesuatu dengan dalilnya.

Perkara yang ditinggalkan Nabi adalah tak bermaksud larangan. Apa yang Nabi tak buat, atau yang Nabi tinggalkan tak bererti dilarang untuk kita membuatnya. Contoh, Nabi solat tarawikh lalu Nabi tinggalkan. Lalu Nabi tak buat lagi sampai akhir hayat Nabi. Adakah dilarang solat tarawikh?”

“Rasulullah ﷺ melihat sahabat untuk makan dhob, lalu Nabi tak makan. Nabi tinggalkan, Adakah dhob bermakna tak boleh dimakan? Kata Nabi; “Apa yang aku perintahkan, tunaikan mengikut apa yang kamu mampu. Apa yang aku larang maka tinggalkan.”

“Yang Nabi tak buat, Nabi tak kata apa-apa pun. Berapa banyak dizaman sahabat apa yang tak dibuat Nabi, tapi dibuat oleh sahabat.

Al-Quran dibukukan dizaman Saidina Abu Bakar r.a, tak dibuat dizaman Rasulullah ﷺ, Al-Quran hurufnya dibariskan dizaman Uthman tak dibuat dizaman Rasulullah.”

“Maulid Nabi ﷺ, dibuat pertama kalinya pada Abad kelima, ketika itu sudah ada ramai kaum muslimin yang jauh daripada agama. Maka datang seseorang ulama yang nak tarik kembali ummat islam kepada Islam. Imam As-Suyuthi rah, menulis sebuah kitab dalil khas tentang maulid.”
“Nak menilai Maulid itu bukan dilihat dari namanya, tapi yang penting contentnya yakni pengisian didalamnya itu yang menjadi penilaiannya. Zaman kita sekarang, kalau golongan Si Fulan yang berda dalam gembira, kita sakit hati. Kerana hati kita problem. Hati gelap. Tak ada kasih sayang. Di zaman kita sekarang, nak bergembira dengan perkara-perkara yang baik, tak boleh. Bid’ah!”

“Suka-suka membidahkan orang. Lebih teruk lagi mengkafirkan orang. Nabi susah payah dakwah orang lain masuk islam, kamu senang-senang mengkafirkan orang lain. Tak boleh. Ini adalah bercanggah dengan Agama.
Nak bergembira dengan perkara yang baik, tak dibolehkan. Kaum Muslimin gembira dengan kemenangan mengalahkan Kaum Romawi. Disambut kemenangannya.”

“Kita ini mendapatkan hidayah kerana Rasulullah ﷺ. Kita mendapat ini Islam, perjuangan Rasulullah ﷺ. Tak boleh kita gembira di Hari Kelahiran Rasulullah ﷺ? Kita bergembira dengan Hari Kelahiran Rasulullah ﷺ 12 Rabi’ul Awwal nak menyebut Maulid Nabi ﷺ saja, bid’ah!?”

“Timbangan apa yang kamu gunakan? Timbangan neraca yang rosak, tak boleh nak menimbang sesuatu tepat pada tempatnya. Dalam masalah kegembiraan itu bukan Dzat gembiranya, akan tetapi motif kegembiraan itu apa sebabnya dan kedua cara apa yang kita gunakan untuk gembira?”

“Dua perkara penting, yang pertama Motif atau Sebab. Yang kedua, Bentuk kegembiraan itu bagaimana kita lakukannya? Kalau sebab kegembiraan anak kita berjaya,dapat 9A, atau baru balik daripada luar negara belajar, kita nak buat apa namanya? Kenduri kesyukuran.”

“Kalau kita buat satu Doa Keselamatan dengan tari-menari yang dilarang oleh Agama, dengan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah سبحانه وتعالى.ini gembira bukan pada tempatnya. Memang bercanggah dalam Syarak. Walaupun nak bergembira dengan anak balik berjaya adalah perkara yang menjadi kebanggaan dan kegembiraan khususnya pada ahli keluarga, silakan bergembira.”

“Gembira kita itu kerana sebagai simbol atau tanda ingin mensyukuri nikmat Allah سبحانه وتعالى.. Tapi cara mengungkapkan kegembiraan mesti ditimbang dengan Syarak.
Kita nak meraikan Maulid Nabi Muhammad ﷺ, baik atau tak baik? kita nak mengingati Sejarah, Sirah, Akhlak, Budi Pekerti RasuluLlah ﷺ. Didalamnya ada ilmu. Baik atau tak baik? Maka tak ada seorang pun akan berkata tak baik.”
“Kemudian cara kita nak mengungkapkannya macam mana?
Kita duduk didalam Masjid, kita Iqtikaf didalam Masjid, kita Selawat kepada Rasululllah ﷺ, kita berzikir kepada Allah سبحانه وتعالى. Ada penceramah yang berceramah menyampaikan ilmu. Baik atau tak baik?”

“Fadhilat iqtikaf dapat, silatuhrahmi dapat, kemudian dia dapat ilmu, dapat Selawat, Zikir pun dapat. Pahala pon dapat. Makanya, baik atau tak baik? Kita kalau tak nak buat baik, jangan dihalang orang lain nak buat baik. Jangan dihalang orang yang nak melakukan perkara yang baik. Kelak, kita akan ditanya oleh Allah سبحانه وتعالى kenapa halang orang nak buat baik?”

Daripada Sayyidil Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid.

8 December 2015 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Pohon SAHABI

image

Bagi yg belum tahu.
Pohon Sahabi yang menjadi saksi bisu pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Biarawan Kristen bernama Bahira. Telah ditemukan kembali oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dan otoritas pemerintah Yordania. ketika memeriksa arsip negara di Royal Archives.

Mereka menemukan referensi dari teks-teks kuno yang menyebutkan bahwa Pohon Sahabi Berada di wilayah padang pasir diutara Yordania.
Setelah 1400 tahun berlalu, pohon ini ditemukan masih hidup dan tetap tumbuh kokoh di tengah ganasnya gurun Yordania
*
bersama beberapa ulama terkenal termasuk Syekh Ahmad Hassoun, Mufti Besar Suriah, Pangeran Ghazi. Mengadakan pengamatan dan ternyata benar pohon tua itulah yang disebutkan dalam catatan biarawan Bahira.
Kini Pohon tersebut dilestarikan oleh pemerintah Yordania dan dipantau secara rutin keberadaannya.
*
Keberadaan pohon ini memang cukup unik dan dinilai tidak cocok tumbuh dilingkungan sekitarnya.
Pasalnya lingkungan sekitar pohon itu, merupakan tanah kering dan sangat gersang, sementara pohon Sahabi menjadi satu-satunya pohon yang tumbuh subur dengan daun yang rimbun.
*
Kondisi ini menentang kegersangan dan ketiadaan warna dari lingkungan di sekitar pohon. Meskipun kekuatan matahari ditengah gurun sangat terik, namun akan terasa teduh ketika berada di bawah pohon ini.
*
Tiga manuskrip kuno yang ditulis oleh Ibn Hisham, Ibn Sa’d al-Baghdadi, dan Muhammad Ibn Jarir al-Tabari menceritakan tentang kisah Bahira yang bertemu dengan bocah kecil calon rasul terakhir.
*
Saat itu Muhammad baru berusia 9 atau 12 tahun. Ia menyertai pamannya Abu Thalib dalam perjalanan untuk berdagang ke Suriah.
*
Pada suatu hari, Biarawan Bahira mendapat firasat, kalau ia akan bertemu dengan sang nabi terakhir.. tiba tiba ia melihat rombongan kafilah pedagang Arab, dan melihat pemuda kecil yang memiliki ciri-ciri sesuai yang digambarkan dalam kitabnya.
*
kemudian Bahira mengundang kafilah tersebut dalam sebuah perjamuan.
Semua anggota kafilah menghadiri kecuali anak yang Ia tunggu-tunggu. Ternyata. Muhammad kecil sedang menunggu di bawah pohon untuk menjaga unta-unta.
*
Bahira keluar mencarinya dan ia sangat takjub menyaksikan cabang2 pohon Sahabi merunduk melindungi sang pemuda dari terik Matahari. Dan segumpal awan pun ikut memayungi ke manapun IA pergi.
Bahira pun meminta agar bocah kecil tersebut diajak serta berteduh dan bersantap dalam perjamuan.
Dia pun segera meneliti dan menanyai pemuda kecil ini. dan menyimpulkan bahwa Dia adalah utusan terakhir yang dijelaskan dalam Alkitab.
Bahira pun meyakinkan paman anak itu yakni Abu Thalib untuk kembali ke Makkah, karena orang-orang Yahudi tengah mencari Muhammad SAW untuk membunuhnya .
*
Setelah berselang 1400 tahun kemudian, pohon yang pernah meneduhi Muhammad itu masih berdiri tegak, menjadi satu-satunya pohon yang berhasil hidup di tengah padang pasir gersang.
Pohon ini secara ajaib diawetkan oleh Allah untuk waktu yang panjang. Namun siapapun masih bisa menyentuh dan berlindung di bawah cabangnya yang senantiasa rimbun.
*

Oleh: Madad Maulana Husein > AHBABUL MUSTHOFA (para pecinta sayyidina Muhammad saw)

8 December 2015 Posted by | Informasi, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

KITA APABILA SAKIT AKAN MENGELOH. TETAPI TAHUKAH ANDA HIKMAHNYA DISEBALIK SAKIT ITU?

Apabila Allah SWT memberi kita sakit, ia adalah sesuai dengan daya tahan kita sebagai hamba-Nya, dan antara hikmahnya :

1) Sakit itu Zikrullah.
Mereka yang diuji dengan sakit lebih sering menyebut nama Allah berbanding di waktu sihatnya.

2) Sakit itu Istighfar.
Kita akan mudah teringat akan dosa kita ketika sakit sehingga mudah bibir untuk beristighfar memohon ampun.

3) Sakit itu Muhasabah.
Orang yang sakit akan lebih banyak waktu utk merenung diri dalam sepi dan menghitung bekal untuk dibawa apabila kembali ke rahmatullah.

4) Sakit itu Jihad.
Orang yang sakit tidak boleh menyerah kalah, diwajibkan untuk berikhtiar sedaya upaya agar cepat sembuh.

5) Sakit itu Ilmu.
Sakit akan membuat kita mencari ilmu spt belajar tentang khasiat herba, menghafal ayat syifa’, ruqiyyah dll sbg penawar dan pendinding dari sakit. Pengalamannya pula lebih menyediakan kita untuk mencorak hidup yg boleh mengelakkan berulangnya penyakit itu. Dan, berkongsi pengalaman ini dengan orang lain.

6) Sakit itu Nasihat.
Mereka yang sakit selalu suka menasihati yang sihat agar mjaga diri. Yang sihat pula menasihati yang sakit agar bersabar.

7) Sakit itu Silaturrahim
Ahli keluarga, sahabat dan jamaah yang jarang berjumpa akan datang menziarahi, penuh senyum, rindu mesra dan dengan buah tangan lagi.

8) Sakit itu Gugur Dosa.
Anggota badan yg sakit akan mendapat penyucian daripada dosa yg telah dilakukan.

9) Sakit itu Mustajab Doa.
Orang yang sakit mustajab doanya. Imam As-Suyuthi mengelilingi kota mencari orang yang sakit agar dapat mendoakannya.

10) Sakit itu Menyusahkan Syaitan.
Orang yang sakit apabila diajak maksiat tak mahu dan tak mampu, malah disesalinya.

11) Sakit itu sedikit tertawa dan banyak menangis.
Satu sikap keinsafan yang di sukai oleh Anbiya’ dan makhluk di langit.

12) Sakit meningkatkan kualiti ibadah.
Solat orang sakit lebih khusyuk terutama dalam rukuk dan sujudnya apabila ia banyak bertasbih dan beristghfar, berdoa n meminta ampun agar sakitnya segera sembuh.

13) Sakit itu memperbaiki akhlak.
Kesombongan terkikis. Sifat tamak dipaksa tunduk. Peribadi akan menjadi santun, lembut dan tawadhu’.
14) Sakit mengingatkan kita akan Mati
Membuatkan kita sentiasa beringat untuk lebih beramal dan beribadat.
Ayuh Zikir, Fikir, Syukur & Sabar.

Semoga kita mendapat rahmat dan keampunan daripada Allah s.w.t.

(Bahagian Dakwah, JAKIM)

8 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Memilih Sahabat



Apabila kita ingin bersahabat,

janganlah kerana kelebihannya kerana mungkin dengan 1 kelemahan, kita mungkin akan menjauhinya

Andai kita ingin berteman,

janganlah kerana kebaikkannya kerana mungkin dengan 1 keburukkan, kita mungkin akan membencinya.

 

Andai kita inginkan seorang teman,

janganlah kerana sifat cerianya kerana andai dia tidak pandai menceriakan, kita mungkin akan menyalahkannya.

 

Andai kita inginkan sahabat yang 1, janganlah kerana ilmunya kerana apabila dia buntu, kita mungkin akan memfitnahnya.

 

Andai kita ingin bersahabat, terimalah dia seadanya, kerana dia sahabat, yang hanya manusia biasa, jangan diharapkan terlalu sempurna, kerana kita sendiri pun tidak tahu apakah diri kita sudah cukup sempurna mengikut kehendak Allah SWT yang sebenar-benarnya.

 

*Bersederhanalah dalam persahabatan InsyaAllah kita tidak akan melihat kelemahan itu sebagai 1 kelemahan.

Sumber: Bahagian Dakwah, JAKIM


 

2 December 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Kisah Rasulullah SAW bersama Pemuda Ahli Syruga


3 Amalan Seorang Pemuda Hingga Di Sebut Ahli Syurga? Bagaimanakah Dengan Hanya 3 Amalan Beliau Digelar Ahli Syurga?? ikuti Kisah Ini

“Di salah satu sudut Masjid Nabawi terdapat satu ruang yang kini digunakan sebagai ruang khadimat.

Dahulu di tempat itulah Rasulullah SAW Sentiasa berkumpul bermusyawarah bersama para Shahabatnya radhiallaahu ‘anhum. Di sana Beliau Rasulullah SAW memberi taushiyyah, bermudzakarah, dan ta’lim. Suatu ketika, saat Rasulullah SAW memberikan taushiyyahnya, tiba-tiba Beliau SAW berucap,

“Sebentar lagi akan datang seorang pemuda ahli surga.”

Para Shahabat r.hum pun saling Memandang Antara satu Sama Lain , di sana ada Abu Bakar Ash Shiddiqradhiallaahu ‘anhu, Utsman bin Affanradhiallaahu ‘anhu, Umar bin Khattabradhiallaahu ‘anhu, dan beberapa Shahabat lainnya.

Tak lama kemudian, datanglah seorang pemuda yang Kelihatan Sangat sederhana. Pakaiannya sederhana, penampilannya sederhana, wajahnya masih basah dengan air wudhu.

Di tangan kirinya Memegang sandalnya yang sederhana Juga. Di kesempatan lain, ketika Rasulullah SAW berkumpul dengan para Shahabatnya, Beliau Rasulullah SAW pun berucap,

“Sebentar lagi kalian akan melihat seorang pemuda ahli surga.”

Dan pemuda sederhana itu datang lagi, dengan keadaan yang masih tetap sama, sederhana. Para Sahabat yang berkumpul pun Mula hairan , siapa dengan pemuda sederhana itu? Bahkan Hingga kali Ketiga Rasulullah SAW mengatakan hal yang sama.

Bahwa pemuda sederhana itu adalah seorang ahli surga. Seorang Shahabat, Mu’adz bin Jabbalradhiallaahu ‘anhupun berasa penasaran. Amalan apa yang dimiliki Pemuda Itu sampai Rasul menyebutnya pemuda ahli surga?

Maka Mu’adzradhiallaahu’anhu berusaha mencari Jawapan. Ia berdalih sedang Bertengkar dengan ayahnya dan meminta izin untuk menginap beberapa malam di kediaman si pemuda tersebut. Si pemuda pun mengizinkan. Dan mulai saat itu Mu’adz mengamati setiap amalan pemuda tersebut.

Malam pertama, ketika Mu’adz bangun untuk tahajud, pemuda tersebut masih terlelap hingga datang waktu subuh. pada Waktu shubuh, mereka bertilawah. Diamatinya bacaan pemuda tersebut yang masih Tidak Lancar, dan tidak begitu fasih. Ketika masuk waktu dhuha, Mu’adz bergegas menunaikan solat dhuha, sementara pemuda itu tidak.

Keesokkannya, Mu’adz kembali mengamati amalan pemuda tersebut. Malam tanpa tahajjud, bacaan tilawah Tidak Lancar dan tidak begitu fasih, serta di pagi harinya tidak solat dhuha. Begitu pun di hari ketiga, amalan pemuda itu masih tetap sama. Bahkan di hari itu Mu’adz shaum sunnah, sedangkan pemuda itu tidak shaum sunnah.

Mu’adz pun semakin Hairan dengan ucapan Rasulullah SAW. Tidak ada yang istimewa dari amalan pemuda itu, tetapi Beliau SAW menyebutnya sebagai pemuda ahli surga. Hingga Mu’adz pun langsung mengungkapkan Kehairanannya pada pemuda itu.

“Wahai Saudaraku, sesungguhnya Rasulullah SAW menyebut-nyebut engkau sebagai pemuda ahli surga.

Tetapi setelah aku amati, tidak ada amalan istimewa yang engkau amalkan. Engkau tidak tahajjud, bacaanmu pun tidak begitu fasih, pagi hari pun kau lalui tanpa solat dhuha, bahkan shaum sunnah pun tidak. Lalu amal apa yang engkau miliki sehingga Rasul SAW menyebutmu sebagai ahli surga?”

“Saudaraku, aku memang belum mampu tahajjud.

Bacaanku pun tidak fasih. Aku juga belum mampu s0lat dhuha. Dan aku pun belum mampu untuk shaum sunnah. Tetapi ketahuilah, sudah beberapa minggu ini aku berusaha untuk menjaga tiga amalan yang baru mampu aku amalkan.”

“Amalan apakah itu???”

“Pertama, aku berusaha untuk tidak menyakiti orang lain. Sekecil apapun, aku berusaha untuk tidak menyinggung perasaan orang lain. Baik itu kepada ibu bapakku, isteri dan anak-anakku, kerabatku, tetanggaku, dan semua orang yang hidup di sekelilingku.

Aku tak ingin mereka tersakiti atau bahkan tersinggung oleh ucapan dan perbuatanku.”

kisah Pemuda Ahli Syurga

“Subhanallah…kemudian apa??”

“Yang kedua, aku berusaha untuk tidak marah dan memaafkan. Kerana yang aku tahu bahwa Rasullullah tidak suka marah dan mudah memaafkan.”

“Subhanallah…lalu kemudian??”

“Dan yang terakhir, aku berusaha untuk menjaga tali silaturrahim. Menjalin hubungan baik dengan siapapun. Dan menyambungkan kembali tali silaturrahim yang Sudah terputus.”

“Demi Allah…engkau benar-benar ahli surga.

Ketiga amalan yang engkau sebut itulah amalan yang paling sulit aku amalkan.”

~Wallahu a’lam Semoga Memberi Pengajaran Kepada Kita Semua!!

2 December 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Ulama hadis dan ulama fiqh adalah pembimbing ummah

Nabi Muhammad SAW tidak sebutpun bahawa sesuatu hadis itu bertaraf sahih, hasan, daif atau palsu. Yang menentukan hadis sahih, hasan dan daif, adalah ijtihad ulama… Jadi itu adalah jasa ulama-ulama hadis.

Bila kita ikut ulama fiqh, ulama fiqh mesti pakar tentang hadis, sebab itu Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafie dan Imam Ahmad adalah juga pakar-pakar hadis Nabi SAW. Jadi, ulama fiqh dan imam-imam mazhab, adalah juga ulama hadis, dan mereka memberi sumbangan bukan setakat menentukan hadis-hadis sahih, hasan atau daif melalui ijtihad taraf hadis, bahkan mereka melakukan lebih usaha iaitu dengan menyertakan kefahaman yg tepat terhadap Quran dan sunnah melalui fiqh Quran dan Sunnah.

Sebab itu, di kalangan pendokong-pendokong mazhab terdapat ribuan ulama hadis, contohnya dalam mazhab Syafie terdapat Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar al-asqalani, Al-Haithami dan lain-lain. Mereka juga adalah ulama hadis, namun melangkah lebih kehadapan membicarakan kefahaman hadis-hadis Nabi SAW, lantas digolongkan juga mereka sebagai ulama fiqh.

Benarlah kata-kata Sykh Zakaria al-Kandahlawi yang mengajar Sahih Bukhari semenjak umur 20 tahun sehingga umurnya 80 tahun mengatakan: “Semakin lama aku mensyarahkan Hadis-hadis Sunan Sittah, aku semakin yakin kebenaran imam-imam mazhab”.

Kata-kata yg sama saya pernah baca drpd pentahqiq Ahmad Syukri yg menyatakan semakin lama aku semakin cenderung kepada pandangan Imam Syafie.

Jadi, jika anda melihat-melihat imam-imam tu sesat bila anda baru bermula belajar Quran dan hadis, anda sebenarnya bermasalah, atau guru anda bermasalah!

Allahu al-musta’an.

 

Oleh : Prof Dr Asmadi Mohamed Naim


 

25 November 2015 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Amalan istimewa di hari Juma’at…

1. Membaca surah al-Kahfi pada malam Juma’at. Bila tidak sempat membacanya di malam hari, boleh membacanya di siang hari. (HR. Ad-Darimi, An-Nasa’i, Al Hakim)

2. Membaca surah Al-Sajdah dan surah Al-Insan secara sempurna pada dua rakaat solat Subuh. (HR. Bukhari dan Muslim dan yang lainnya)

3. Memperbanyakkan selawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. (HR. Abu Dawud)

4. Orang lelaki wajib melaksanakan solat Juma’at. (Lihat: Syarh al-Mumti’: 5/7-24)

5. Dianjurkan mandi sunat. (HR. Muslim)

6. Memakai wangi-wangian, bersiwak atau menggosok gigi, serta mengenakan pakaian yang paling baik. (HR. Ahmad)

7. Berangkat lebih awal menuju ke masjid. (HR. Muttafaqun ‘alaih)

8. Saat menunggu kedatangan khatib/imam, dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan solat, selawat, zikir mahupun membaca Al-Qur’an.

9. Dianjurkan mendekatkan diri ke arah khatib untuk mendengarkan khutbah. (HR. Abu Dawud)

10. Dianjurkan juga menghadapkan wajah ke arah khatib saat khutbah sedang berlangsung. (HR. Abdurrazzaq dan Al-Baihaqi)

11. Wajib mendengarkan khutbah dengan baik. Bagi siapa yang sibuk sendiri dengan bermain batu kerikil atau berbicara pada saat khutbah sedang berlangsung, maka Juma’atnya sia-sia. (Muttafaqun ‘Alaih)

12. Saat masuk ke masjid, disunnahkan mengerjakan solat dua rakaat terlebih dahulu sebelum duduk mendengarkan khutbah. Hal ini berlaku sekalipun khutbah sedang berlangsung. (HR. Muslim)

13. Setelah menunaikan solat Juma’at disunnahkan mengerjakan solat sunnah dua rakaat atau empat rakaat dengan dua kali salam. (HR.Muslim)

14. Berdoa di penghujung hari Juma’at. (Muttafaqun ‘Alaih)

Semoga bermanfaat…
Wallahu Taala a’lam.

Sumber.

12 November 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

JANGAN MENZALIMI SESAMA MANUSIA

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sudah kami katakan sebelumnya, bahwa kekuatan MUHAMMAD dalam memegang teguh keadilan itu, bukanlah semata-mata karena berbangga-banggaan dengan kerendahan hati atau hanya bersenang-senang dengan kelezatan berbuat adil. Tidak! MUHAMMAD memegang teguh keadilan, karena penghargaannya terhadap keadilan itu sendiri.

Karena kesadarannya akan hakekat dan kedudukannya di tengah masyarakat sebagai bagian dari masyarakat, sebagai seorang yang sama dengan mereka. Maka sudah menjadi kewajiban beliau dan juga menjadi kewajiban semua orang untuk berlaku adil. Setiap penyimpangan dari neraca itu akan merusak dan mendatangkan bencana terhadap seluruh kehidupan. Beliau memegang teguh pada keadilan lebih dari siapapun. Karena beliau memang diciptakan untuk keadilan dan untuk itu pulalah beliau diutus.

MUHAMMAD punya pandangan yang unik tentang keadilan. Beliau tidak hanya menjadikan keadilan sebagai keutamaan manusia belaka. Malah keadilan itu diletakkannya di tempat yang tertinggi. Bahkan keadilan telah menjadi watak dan Akhlak Allah SWT. Dan merupakan metode yang telah diwajibkan bagi diri-NYA sendiri.
Dalam sebuah HADITS QUDSI Allah SWT berfirman:
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya telah AKU haramkan atas diri-KU perbuatan zhalim dan Aku jadikan ia diharamkan di antara kamu; maka janganlah kalian saling berbuat zhalim.” [1]

Maka jika MUHAMMAD mengetengahkan Tuhan-nya Yang Maha Kuasa melaksanakan kehendak-Nya, bahkan telah mengharamkan kezaliman pada diri-Nya, tentulah Dia memandang kezaliman itu suatu dosa yang tiada taranya di antara dosa-dosa umat manusia.

Sehubungan dengan itu, beliau saw banyak mengeluarkan ancaman dan peringatan keras terhadap kezaliman.

Beliau Saw bersabda:
“Jauhilah kezaliman, sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.

“Waspadalah terhadap do’a orang yang dizalimi. Sesungguhnya antara dia dengan Allah tidak ada tabir penyekat.” (HR. Mashabih Assunnah)

“Do’anya seorang yang dizalimi terkabul meskipun dia orang jahat dan kejahatannya menimpa dirinya sendiri.” (HR. Ahmad)

“Do’a orang yang teraniaya diangkat Allah menembus awan dan dibukakan pintu langit baginya, seraya Allah berfirman padanya; “Demi Keagungan-KU, Aku akan membelamu sampai kapan pun.”
“Waspadalah terhadap do’a orang yang teraniaya, karena do’anya naik ke langit seperti bunga api.”

Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi):
“Dengan keperkasaan dan keagungan-KU, AKU akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam waktu yang akan datang. AKU akan membalas terhadap orang yang melihat seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak menolongnya.” (HR. Ahmad)

Oleh sebab itu, maka WASPADALAH..! Janganlah sekali-kali berbuat zalim.

Menurut junjungan kita MUHAMMAD saw;
“kezaliman akan memakan keutamaan (kebaikan) si zalim seperti halnya api memakan sekam.”

MUHAMMAD Saw senantiasa melarang ummat manusia agar tidak berbuat zhalim antar sesama mereka sebab perbuatan zhalim diharamkan dan akibatnya amat fatal baik di dunia mau pun di akhirat. Dan karena Hari Kiamat itu merupakan suatu hari pengadilan semesta untuk menetapkan pahala dan dosa umat manusia seluruhnya, maka Rasulullah saw senantiasa menampilkan potret si zalim dengan segala keburukannya.
Pada hakekatnya, setiap orang akan mengalami kiamatnya sendiri-sendiri. Dan hukum qishash itu senantiasa terlaksana. Hari qishash itu tergantung dari Anda, dan itulah yang akan menampilkan kiamat Anda. Janganlah ada yang mencoba-coba berkata: “Mana mungkin ada Hari Kiamat?” Padahal orang itu sangat dekat dengan hari kiamatnya sendiri.

MUHAMMAD Saw bersabda, memperingatkan si zalim akan hari pembalasan:
“Waspadalah sungguh-sungguh terhadap kezaliman itu. Karena orang yang datang dengan kebaikan-kebaikannya di Hari Kiamat, dan ia mengira bahwa kebaikan-kebaikannya itu akan menyelamatkannya. Tiba-tiba tidak putus-putus datang pengaduan dari orang lain, yang mengadukan: “Ya Allah! Hamba-Mu itu telah melakukan kezaliman padaku.” Maka firman Allah: “Hapuskan (kurangkan) bagian pahala dari kebaikannya itu”. Dan begitulah seterusnya sampai tidak tersisa kebaikannya itu walau sedikit pun. Dan apabila sdh tidak tersisa lagi amal kebaikannya, maka dosa-dosa orang yang pernah dizaliminya, akan dibebankan pada dirinya.”

Tindakan qishash bagi kezaliman itu pasti terjadi dan secara tiba-tiba datangnya. Tentang hal ini Beliau saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menangguhkan (mengulur-ulur) azabnya terhadap orang zalim dan bila Dia mengazab-nya tidak akan luput (tidak akan di lepaskan lagi).” (HR. Muslim)

Kemudian Rasulullah membacakan doa dalam surat Hud ayat 102: Allah Ta’ala berfirman,
“Dan begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS Huud:102)

MUHAMMAD saw mengingatkan kepada kita semua tentang betapa buruknya perbuatan zalim itu, namun Beliau saw juga selalu mengingatkan kita tentang betapa luasnya kekuasaan dan ampunan Allah terhadap para hamba-Nya. Karena itu, bila sedang lupa hingga tergelincir kedalam perbuatan maksiat (menzalimi diri sendiri), maka hendaklah seorang Mukmin bersegera dalam melaksanakan taubat kepada Allah serta meminta maaf kepada saudara kita yang terzalimi, dan tidak menunda-nunda taubat, sebab kita tidak pernah mengetahui kapan ajal menjemput sehingga kita mati sebelum sempat bertaubat hingga menyebabkan kita memperoleh murka-Nya.

Beliau selalu memberikan harapan kepada kita agar senantiasa bersangka’an baik terhadap Allah, dan hendaknya tidak berputus asa dari mengharap rahmat-Nya serta meyakini sepenuhnya bahwa Dia pasti mengampuni sebesar apa pun dosa-dosa hamba-Nya. selama ia tidak berbuat syirik terhadap-Nya.

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri.” (QS Yuunus:44)

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt berfirman:
“ Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya ia hanyalah perbuatan-perbuatan kalian yang aku perhitungkan bagi kalian, kemudian AKU cukupkan buat kalian; barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya sendiri.” (HR.Muslim)

[Makna kata “Perbuatan zhalim”: Kezhaliman artinya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, yaitu melampaui batas; dan Makna “Aku cukupkan buat kalian”: adalah AKU membalas kalian berdasarkan perbuatan kalian baik kecil mau pun besar, yaitu di akhirat kelak.]

Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan Aku sekali-kali tidak menzhalimi hamba-hamba-Ku.” (QS Qaaf:29).
Sikap zalim dan bakhil (kikir) adalah akar dari kegelapan hati dan yang dapat menyebabkan pelakunya mendapatkan siksa yang pedih.

Maka dengan kasih sayangnya, MUHAMMAD berupaya untuk menghilangkan kezaliman dari hati manusia dengan peringatan yang tegas, agar kita tidak terjerumus dan mengalami kesengsaraan di hari kiamat kelak.

Rasulullah SAW bersabda,
“Takutlah kamu akan berbuat zalim! Karena perbuatan zalim itu menyebabkan kegelapan di hari Kiamat.” (HR.al-Bukhary dan Muslim)
“Jauhilah kekikiran, sesungguhnya kekikiran telah membinasakan (umat-umat) sebelum kamu, mereka saling membunuh dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan.” (HR. Bukhari)

Dalam sabdanya yang lain:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengulur-ulur bagi pelaku kezhaliman hingga bila Dia menyiksanya, Dia tidak akan membuatnya lolos (dapat menghindar lagi).” (HR.al-Bukhary)

“Barangsiapa menzalimi orang lain terhadap sejengkal lahan maka kelak dia akan dililit dengan tujuh petala bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

MUHAMMAD SAW sangat menentang segala bentuk kezaliman, dan karenanya, beliau senantiasa memperingatkan umatnya tentang balasan Allah terhadap orang-orang yang berbuat zalim dengan sabdanya dalam hadits-hadits berikut ini:

“Barangsiapa berjalan bersama seorang yang zalim untuk membantunya dan dia mengetahui bahwa orang itu zalim maka dia telah ke luar dari agama Islam”. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

“Kebaikan yang paling cepat mendapat ganjaran ialah kebajikan dan menyambung hubungan kekeluargaan, dan kejahatan yang paling cepat mendapat hukuman ialah kezaliman dan pemutusan hubungan kekeluargaan.” (HR. Ibnu Majah)

“Bila orang-orang melihat seorang yang zalim tapi mereka tidak mencegahnya dikhawatirkan Allah akan menimpakan hukuman terhadap mereka semua.” (HR. Abu Dawud)

Betapa indahnya hadis diatas.., yang merupakan sebagian kecil dari ribuan untaian kata-kata penuh hikmah, yang keluar dari lisan seorang insan suci nan mulia. seorang hamba dan utusan Allah, yang nota bene adalah seorang yang ummi (seorang yang tidak bisa membaca dan menulis), akan tetapi untaian mutiara hikmah yang telah disabdakannya. yang seluruhnya terhimpun dalam kitab-kitab hadits shahih yang menjadi rujukan ke-dua bagi ummat Islam (setelah al-Qur’an), sungguh telah melampaui kata-kata mutiara dari semua ahli hikmah yang pernah ada di muka bumi ini.

Subhanallah..

CATATAN KAKI
[1] Naskah hadits (Qudsi) selengkapnya:
“Wahai para hamba-KU, sesungguhnya telah AKU haramkan atas diri-KU perbuatan zhalim dan AKU jadikan ia diharamkan di antara kamu; maka janganlah kalian saling berbuat zhalim.
“Wahai para hamba-Ku, setiap kalian adalah sesat kecuali orang yang telah AKU beri petunjuk; maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya AKU beri kalian petunjuk.”
”Wahai para hamba-Ku, setiap kalian itu adalah lapar kecuali orang yang telah AKU beri makan; maka mintalah makan kepada-KU, niscaya AKU beri kalian makan.”
”Wahai para hamba-Ku, setiap kalian adalah telanjang kecuali orang yang telah AKU beri pakaian; maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya AKU beri kalian pakaian.”
”Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat kesalahan di malam dan siang hari sedangkan AKU mengampuni semua dosa; maka minta ampunlah kepada-Ku, niscaya AKU ampuni kalian.”
”Wahai para hamba-Ku sesungguhnya kalian tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada-KU sehingga kalian bisa membahayakan-KU dan tidak akan mampu menyampaikan manfa’at kepada-KU sehingga kalian bisa memberi manfa’at pada-KU.”
“Wahai para hamba-Ku, andaikata hati generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian sama seperti hati orang paling taqwa di antara kamu (mereka semua adalah ahli kebajikan dan takwa), maka ketaatanmu itu tidaklah menambah sesuatu pun dari Kekuasaan-KU.”
”Wahai para hamba-Ku, andaikata hati generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian sama seperti hati orang paling fajir (bejad) di antara kalian (mereka semua ahli maksiat dan bejad), maka semua itu, tidaklah mengurangi sesuatu pun dari kekuasaan-Ku.”
”Wahai para hamba-Ku, andaikata generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian berada di bumi yang satu (satu lokasi), lalu meminta kepada-Ku, lantas AKU kabulkan permintaan masing-masing mereka, maka hal itu tidaklah mengurangi apa yang ada di sisi-KU kecuali sebagaimana jarum bila dimasukkan ke dalam lautan.”
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya ia hanyalah perbuatan-perbuatan kalian yang aku perhitungkan bagi kalian kemudian AKU cukupkan buat kalian; barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji ALLAH dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya sendiri.”
(HR.Muslim)

Pesan-Pesan Hadits
Hadits ini merupakan hadits Qudsi, yaitu Hadits yang diriwayatkan Rasulullah SAW dari Rabb-nya.

Perbedaan antara Hadits Qudsi dan Al-Qur’an di antaranya adalah:
Bahwa al-Qur`an al-Kariim adalah mukjizat mulai dari lafazhnya hingga maknanya sedangkan Hadits Qudsi tidak memiliki kemukjizatan apa pun – Bahwa shalat tidak sah kecuali dengan al-Qur`an al-Kariim sedangkan Hadits Qudsi tidak sah untuk shalat – Bahwa al-Qur`an al-Kariim tidak boleh diriwayatkan dengan makna sementara Hadits Qudsi boleh.

Hadits tersebut menjelaskan bahwa Allah Ta’ala Maha Suci dari semua sifat kekurangan dan cela, di antaranya berbuat zhalim, di mana Dia berfirman, “Sesungguhnya telah Aku haramkan atas diri-Ku perbuatan zhalim.”

Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.
Amin.

**
Dipetik dari buku berjudul NABI MUHAMMAD JUGA MANUSIA (dengan penambahan seperlunya) karya: Khalid Muhammad Khalid.

6 November 2015 Posted by | Ibadah, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Kelebihan Solat di Masjid

BILA SOLAT DI MASJID,
In Sya Allah kita akan perolehi:

image

1. Pahala sahut seruan azan
2. Pahala melangkah ke masjid
3. Pahala masuk masjid.
4. Pahala melangkah kaki kanan kedalam masjid
5. Pahala doa masuk masjid
6. Pahala solat tahiyyatul masjid
7. Pahala i’tikaf
8. Pahala solat berjamaah
9. Pahala takbiratul ihram bersama imam
10. Pahala amin bersama imam
11. Pahala rapatkan sof,
12. Pahala luruskan sof
13. Pahala dengar tilawah quran
14. Pahala hubung silaturrahim
15. Pahala duduk dalam majlis zikir
16. Pahala duduk dalam majlis ilmu
17. Pahala jadi makmum
19. Pahala membersihkan masjid
20. Pahala menuntut ilmu
21. Pahala nasihat menasihati
22. Pahala sedekah ditabung masjid
23. Pahala mempelajari bacaan Quran yang betul melalui bacaan imam.
24. Pahala mengingatkan imam jika beliau lupa
25. Pahala menghidupkan sunnah rasulullah saw
26. Pahala menghidupkan syiar agama Islam
27. Pahala doa keluar masjid dan dengan langkah kiri..

Daripada darjat2 ini, berapa yg tidak boleh dicapai jika solat berjamaah dirumah?

Oleh itu marilah kita berjemaah di masjid/surau sedapat yg mungkin.

Wallahu’alam..

2 November 2015 Posted by | Tazkirah | 1 Comment

Antara tanda kita sayang kepada Nabi Muhammad ﷺ:

1. Mencintai Allah SWT dan hari Akhirat (harap dan takut)
2. Berzikir dan mengingati Allah SWT sebanyak-banyak siang dan malam serta menunaikan solat lima waktu
3. Berselawat kepada Rasulullah ﷺ sekurang-kurangnya 10 kali pagi dan 10 kali petang
4. Mengikut ajaran Rasulullah ﷺ dengan sepenuh hati, membaca hadith dan sirah Baginda ﷺ
5. Beramal dengan sunnah Rasulullah ﷺ meliputi akidah, syariah dan muamalah yang dibawanya.
6. Berdakwah kepada ummah, mengajak kepada perkara kebaikan dan mencegah kemungkaran
7. Menjadikan Rasulullah ﷺ manusia yang dicintai melebihi kecintaan kepada harta dan kehidupan dunia.
8. Menziarahi makam Rasulullah ﷺ di Madinah.

Perbanyakkan selawat ke atas junjungan besar Nabi Muhammad ﷺ.

26 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali

Kumpulan Nasehat Imam Al-Ghazali – Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali mengajukan 6 pertanyaan.

Pertanyaan Pertama,”Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman,dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “MATI”. Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)

Pertanyaan kedua, “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”.. Murid-muridnya ada yang menjawab bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Pertanyaan yang ke tiga, “Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, lautan dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “NAFSU” (Al A’Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan ke empat, “Apa yang paling berat di dunia ini?”. Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban itu benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini.Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT,sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang ke lima, “Apa yang paling ringan di dunia ini?”.
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.

Lantas pertanyaan ke enam, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang… Benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling tajam adalah “LIDAH MANUSIA”. Karena melalui lidah, Manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Itulah enam pertanyaan dari murid Imam Al-Ghazali, yang admin kutip dari situs http://lingkaranqalbu.blogspot.com/2013/08/kumpulan-nasihat-imam-al-ghazali.html.

Nah jika diatas adalah 6 nasehat dari Imam Al-Ghazali, berikut ini dalah kata bijak dari beliau yang sangat memotivasikan kita semua untuk beribadah kepada Allah, berikut ini :

Terimalah alasan yang benar, sekalipun dari pihak lawan

Jangan segan segan kembali kepada yang benar, manakala terlanjur salah dalam memberikan keterangan.

Berikan contoh dan teladan yang baik kepada murid dengan melaksanakan perintah agama dan meninggalkan larangan agama, agar demikian apa yang engkau katakana mudah diterima dan diamalkan oleh murid.

Dengarkan dan perhatikan segala yang dikatakan oleh ibu bapakmu, selama masih dalam batas batas agama.

Selalulah berusaha mencari keredhaan orang tuamu.

Bersikaplah sopan santun, ramah tamah dan merendah diri terhadap orang tuamu.

Bila mencari teman untuk mencapai kebahagian akhirat, perhatikanlah benar benar urusan agamanya. Dan bila mencari teman untuk keperluan duniawi, maka perhatikanlah ia tentang kebaikan budi pekertinya.

Sabar dan tabahlah dalaml menghadpi segala persoalan.

Besikaplah lemah lembut dan sopan santun dengan menundukan kepala.

Janganlah sombong terhadap sesama mahluk, kecuali terhadap mereka yang zalim.

Bersikap tawadduklah dalam segala bidang pergaulan.

Janganlah suka bergurau dan bercanda
Bersikap lemah lembut terhadap murid dan hendaklah dapat menyesuaikan diri atau mengukur kemampuan murid.
Hendaklah sabar dan teliti dalam mendidik muridnya yang kurang cerdas.

Jangan berkeberatan menjawab, “aku kurang mengerti,” jika memang belum mampu menjawab sesuatu masalah.

Pusatkanlah perhatian kepada murid yang sedang bertanya, dan memahami benar isi pertanyaanya.

Cepat cepatlah memenuhi panggilan agama.

Jauhilah larangan larangan agama.
Janganlah menentang terhadap takdir Allah SWT.

Berpikirlah selalu tentang nikmat nikmat dan keagunga-Nya.Menangkanlah yang hak dan gugurkanlah yang batil.
Rendahkanlah hatimu kepada Allah SWT.

Sesalilah segala perbuatan yang tercela dan merasa malulah dihadapan Allah SWT.

Hindarilah segala tipu daya yang tidak terpuji dalam mencari nafkah, dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT selalu melimpahkan segala usaha kebaikan apapun sertailah dengan tawakkal kepadanya.

Hendaklah seseorang menerima masalah masalah yang dikemukakan oleh muridnya.

Belum pernah saya berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada jiwa saya sendiri, yang kadang-kadang membantu saya dan kadang-kadang menentang
saya. (Imam Al Ghazali)

Barangsiapa yang memilih harta dan anak – anaknya daripada apa yang ada di sisi Allah, niscaya ia rugi dan tertipu dengan kerugian yang amat besar. (Imam Al Ghazali)

Barangsiapa yang menghabiskan waktu berjam – jam lamanya untuk mengumpulkan harta kerana ditakutkan miskin, maka dialah sebenarnya orang yang miskin. (Imam Al Ghazali)

Barangsiapa yang meyombongkan diri kepada salah seorang daripada hamba – hamba Allah, sesungguhnya ia telah bertengkar dengan Allah pada haknya.
(Imam Al Ghazali)

Berani adalah sifat mulia kerana berada di antara pengecut dan membuta tuli. (Imam Al Ghazali)

Pemurah itu juga suatu kemuliaan kerana berada di antara bakhil dan boros. (Imam Al Ghazali)

Bersungguh – sungguhlah engkau dalam menuntut ilmu, jauhilah kemalasan dan kebosanan kerana jika tidak demikian engkau akan berada dalam bahaya kesesatan. (Imam Al Ghazali)

Cinta merupakan sumber kebahagiaan dan cinta terhadap Allah harus dipelihara dan dipupuk, suburkan dengan shalat serta ibadah yang lainnya.(Imam Al Ghazali)

Ciri yang membedakan manusia dan hewan adalah ilmu. Manusia adalah manusia mulia yang mana ia menjadi mulia kerana ilmu, tanpa ilmu mustahil ada kekuatan. (Imam Al Ghazali)

Hadapi kawan atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan kegembiraan, kerelaan penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan menampakkan sikap angkuh dan sombong. (Imam Al Ghazali)

Ilmu itu kehidupan hati daripada kebutaan, sinar penglihatan daripada kezaliman dan tenaga badan daripada kelemahan. (Imam Al Ghazali)

Yang paling besar di bumi ini bukan gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni neraka. (Imam Al Ghazali)

Kita tidak akan sanggup mengekang amarah dan hawa nafsu secara keseluruhan hingga tidak meninggalkan bekas apapun dalam diri kita. Namun jika mencoba untuk mengendalikan keduanya dengan cara latihan dan kesungguhan yang kuat, tentu kita akan bisa. (Imam Al Ghazali)
Sifat utama pemimpin ialah beradab dan mulia hati.
(Imam Al Ghazali)

Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan kehendak yang berlebih-lebihan. (Imam Al Ghazali)

Kalau besar yang dituntut dan mulia yang dicari,maka payah melaluinya, panjang jalannya dan banyak rintangannya. (Imam Al Ghazali)

Jadikan kematian itu hanya pada badan kerana tempat tinggalmu ialah liang kubur dan penghuni kubur sentiasa menanti kedatanganmu setiap masa. (Imam Al Ghazali)

Pelajari ilmu syariat untuk menunaikan segala perintah Allah SWT dan juga ilmu akhirat yang dapat menjamin keselamatanmu di akhirat nanti.(Imam Al Ghazali)

Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad. (Imam Al Ghazali)

Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati dan bahkan merambah ke segala hal.
(Imam Al Ghazali)

Ilmu adalah cahaya. Demikian kata imam syafi’I dalam syairnya. Karena ilmu begitu penting, Rasulullah saw memerintahkan, “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahad.” Namun, ilmu saja tidak cukup. Ilmu harus dimanfaatkan, dengan mengajarkan dan –yang terpenting- mengamalkannya. Imam Al-Ghazali, penulis kitab Ihya Ulumuddin, pernah mengirim surat kepada salah seorang muridnya. Melalui surat itu, Al-Ghazali ingin menyampaikan tentang pentingnya memadukan antara ilmu dan amal. Berikut petikannya.

Anakku…
Nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya. Karena, ia keluar dari mulut yang tidak biasa merasakan pahitnya nasihat. Sesunggunya siapa yang menerima ilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka pertanggungjawabann ya akan lebih besar. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Orang yang paling berat azabnya pada hari kiamat kelak adalah orang berilmu (‘alim; ulama) yang tidak memanfaatkan ilmunya.”

Anakku…
Janganlah engkau termasuk orang yang bangkrut dalam beramal, dan kosong dari ketaatan yang sungguh-sungguh. Yakinlah, ilmu semata tak akan bermanfaat-tanpa mengamalkannya. Sebagaimana halnya orang yang memiliki sepuluh pedang Hindi; saat ia berada di padang pasir tiba-tiba seekor macan besar nan menakutkan menyerangnya, apakah pedang-pedang tersebut dapat membelanya dari serangan macan jika ia tidak menggunakannya? ! Begitulah perumpamaan ilmu dan amal. Ilmu tak ada guna tanpa amal.

Anakku…
Sekalipun engkau belajar selama 100 tahun dan mengumpulkan 1000 kitab, kamu tidak akan mendapatkan rahmat Allah tanpa beramal.
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39)

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 110)

Anakku…
Selama tidak beramal, engkau pun tidak akan mendapatkan pahala. Ali Karramallahu wajhahu berkata, “Siapa yang mengira dirinya akan sampai pada tujuan tanpa sungguh-sungguh, ia hanyalah berangan-angan. Angan-angan adalah barang dagangan milik orang-orang bodoh.

Al-Hasan Al-Basri rahimahullah berkata, “Meminta surga tanpa berbuat amal termasuk perbuatan dosa.”
Dalam sebuah khabar, Allah SWT berfirman, “Sungguh tak punya malu orang yang meminta surga tanpa berbuat amal.”

Rasulullah saw bersabda, “Orang cerdas ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya dan berbuat untuk setelah kematian. Dan orang bodoh ialah siapa yang memperturut hawa nafsunya dan selalu berangan-angan akan mendapatkan ampunan Allah.”

Begadang mata untuk kepentingan selain Wajah-Mu adalah sia-sia Dan tangis mereka utk sesuatu yg hilang selain-Mu adalah kebatilan, dan hiduplah sesukamu karna toh kamu akan mati juga.

Cintailah orang sesukamu sebab kamu toh akan berpisah dgnnya, dan berbuatlah sesukamu karna sesungguhnya kamu akan menuai ganjarannya.

Anakku, apa pun yang kamu peroleh dari mengkaji ilmu kalam, debat, kedokteran, administrasi, syair, astrologi, arud, nahwu & sharf, jgn sampai kau sia-siakan umur untuk selain Sang Pemilik Keagungan.

Aku pernah menilik dalam kitab Injil sebuah ungkapan Isa a.s: Sejak mayat diletakkan di atas peti jenazah hingga diletakkan di bibir kubur, Allah melontarkan 40 pertanyaan dengan segala Keagungan-Nya. Demi Allah, pertanyaan pertama yang dia ajukan adalah: Hamba-Ku, telah Kusucikan pandangan makhluk bertahun-tahun, tetapi mengapa tak kau sucikan pandangan-Ku sesaat pun, padahal setiap hari Aku melihat ke kedalaman hatimu.

Mengapa kau berbuat demi selain-Ku, padahal engkau bergelimang dgn kebaikan-Ku, ataukah engkau telah tuli & tak mendengar!

Nak, ilmu tanpa amal adalah kegilaan, & amal tanpa ilmu adalah kesia2an. _Imam Al-Ghazali dlm Ayyuhal-Walad

inShare
RELATED POSTS :

Dahsyatnya Istighfar 100x Sehari, Cobain Deh
Khasiat dan Fadilah istigfar – Saya punya kenalan seorang ustad yang sukses menjadi penolong banya… Read More…
Kumpulan Nasehat Imam Al-Ghazali
Kumpulan Nasehat Imam Al-Ghazali – Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. La… Read More…

26 October 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Madah dan Sajak, Mutiara Kata, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

Lelaki Dayus Menurut Islam — MyIbrah.com

Bukan mudah menjadi suami kerana tanggungjawab yang digalas oleh suami adalah sangat besar terutama dalam bab tanggungjawab mereka terhadap isteri mereka dan anak-anak perempuan mereka. Bagi memudahkan kefahaman, tulisan ringkas ini akan fokus kepada isu lelaki dayus yang dimaksudkan oleh Nabi s.a.w tidak akan masuk syurga.

Nabi s.a.w bersabda:

ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة: العاق لوالديه، والمترجلة، والديوث. رواه أحمد والنسائي

Ertinya: Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat (bermakna tiada bantuan dari dikenakan azab) mereka di hari kiamat: Si penderhaka kepada ibu bapa, si perempuan yang menyerupai lelaki dan si lelaki dayus. (H.R. Ahmad dan An-Nasaie; Albani mengesahkannya Sahih : Ghayatul Maram, no. 278)

Dalam sebuah hadith lain pula:

ثلاثةٌ قد حَرّمَ اللهُ – تَبَارَكَ وَتَعَالَى – عليهم الجنةَ : مُدْمِنُ الخمر ، والعاقّ ، والدّيّوثُ الذي يُقِرُّ في أَهْلِهِ الخُبْثَ . رواه أحمد والنسائي .

Ertinya: Tiga yang telah Allah haramkan baginya syurga: Orang yang ketagih arak, si penderhaka kepada ibu bapa dan si dayus yang membiarkan maksiat dilakukan oleh ahli keluarganya. (H.R. Ahmad)

Malah banyak lagi hadith-hadith yang membawa makna yang hampir dengan dua hadith ini. Secara ringkasnya, apakah dan siapakah lelaki dayus?

Erti Dayus

Dayus telah disebutkan dalam beberapa riwayat athar dan hadith yang lain iaitu:

1. Sabda Nabi s.a.w:

وعن عمار بن ياسر عن رسول الله قال ثلاثة لا يدخلون الجنة أبدا الديوث والرجلة من النساء والمدمن الخمر قالوا يا رسول الله أما المدمن الخمر فقد عرفناه فما الديوث قال الذي لا يبالي من دخل على أهله

Ertinya: Dari Ammar bin Yasir berkata, ia mendengar dari Rasulullah s.a.w bersabda: Tiga yang tidak memasuki syurga sampai bila-bila iaitu si dayus, si wanita yang menyerupai lelaki dan orang yang ketagih arak. Lalu sahabat berkata: Wahai Rasulullah, kami telah faham erti orang yang ketagih arak, tetapi apakah itu dayus? Bersabda Nabi s.a.w: Iaitu orang yang tidak memperdulikan siapa yang masuk bertemu dengan ahlinya (isteri dan anak-anaknya). (H.R. At-Thabrani; Majma az-Zawaid, 4/327 dan rawinya adalah thiqat)

Dari hadith di atas, kita dapat memahami bahawa maksud lelaki dayus adalah si suami atau bapa yang langsung tiada perasaan risau dan ambil endah dengan siapa isteri dan anaknya bersama, bertemu, malah sebahagiannya membiarkan sahaja isterinya dan anak perempuannya dipegang dan dipeluk oleh sebarangan lelaki lain.

2. Pernah juga diriwayatkan dalam hadith lain, soalan yang sama dari sahabat tentang siapakah dayus, lalu jawab Nabi:-

قالوا يا رسول الله وما الديوث قال من يقر السوء في أهله

Ertinya: Apakah dayus itu wahai Rasulullah? Jawab Nabi: Iaitu seseorang (lelaki) yang membiarkan kejahatan (zina, buka aurat, bergaul bebas) dilakukan oleh ahlinya (isteri dan keluarganya)

Penerangan Ulama Tentang Lelaki Dayus

Jika kita melihat tafsiran oleh para ulama berkenaan istilah dayus, ia adalah seperti berikut:

هو الذي لا يغار على أهله

Ertinya: Seseorang yang tidak ada perasaan cemburu (kerana iman) terhadap ahlinya (isteri dan anak-anaknya) (An-Nihayah,2/147 ; Lisan al-Arab, 2/150)

Imam Al-‘Aini pula berkata: Cemburu lawannya dayus. (Umdatul Qari, 18/228)

Berkata pula An-Nuhas:

قال النحاس هو أن يحمي الرجل زوجته وغيرها من قرابته ويمنع أن يدخل عليهن أو يراهن غير ذي محرم

Ertinya: Cemburu (iaitu lawan kepada dayus) adalah seorang lelaki itu melindungi isterinya dan kaum kerabatnya dari ditemui dan dilihat (auratnya) oleh lelaki bukan mahram. (Tuhfatul Ahwazi, 9/357)

Disebut dalam kitab Faidhul Qadir:

فكأن الديوث ذلل حتى رأى المنكر بأهله فلا يغيره

Ertinya: Seolah-olah takrif dayus itu membawa erti kehinaan (kepada si lelaki) sehingga apabila ia melihat kemungkaran (dilakukan) oleh isteri dan ahli keluarganya ia tidak mengubahnya. (Faidhul Qadir, 3/327)

Imam Az-Zahabi pula berkata:

فمن كان يظن بأهله الفاحشة ويتغافل لمحبته فيها فهو دون من يعرس عليها ولا خير فيمن لا غيرة فيه

Ertinya: Dayus adalah sesiapa yang menyangka (atau mendapat tanda) bahawa isterinya melakukan perkara keji (seperti zina) maka ia mengabaikannya kerana cintanya kepada isterinya, maka tiada kebaikan untuknya dan tanda tiada kecemburuan (yang diperlukan oleh Islam) dalam dirinya. (Al-Kabair, 1/62)

Imam Ibn Qayyim pula berkata:

قال ابن القيم وذكر الديوث في هذا وما قبله يدل على أن أصل الدين الغيرة من لا غيرة له لا دين له فالغيرة تحمي القلب فتحمى له الجوارح فترفع السوء والفواحش وعدمها يميت القلب فتموت الجوارح فلا يبقى عندها دفع البتة

Ertinya: Sesungguhnya asal dalam agama adalah perlunya rasa ambil berat (protective) atau kecemburuan (terhadap ahli keluarga), dan barangsiapa yang tiada perasaan ini maka itulah tanda tiada agama dalam dirinya, kerana perasaan cemburu ini menjaga hati dan menjaga anggota sehingga terjauh dari kejahatan dan perkara keji, tanpanya hati akan mati maka matilah juga sensitiviti anggota (terhadap perkara haram), sehingga menyebabkan tiadanya kekuatan untuk menolak kejahatan dan menghindarkannya sama sekali.

Dayus Adalah Dosa Besar

Ulama’ Islam juga bersetuju untuk mengkategorikan dayus ini dalam bab dosa besar, sehingga disebutkan dalam satu athar:

لَعَنَ اللَّهُ الدَّيُّوثَ ( وَاللَّعْنُ مِنْ عَلَامَاتِ الْكَبِيرَةِ فَلِهَذَا وَجَبَ الْفِرَاقُ وَحَرُمَتْ الْعِشْرَةُ)

Ertinya: Allah telah melaknat lelaki dayus (laknat bermakna ia adalah dosa besar dan kerana itu wajiblah dipisahkan suami itu dari isterinya dan diharamkan bergaul dengannya) (Matalib uli nuha, 5/320)

Walaupun ia bukanlah satu fatwa yang terpakai secara meluas, tetapi ia cukup untuk menunjukkan betapa tegasnya sebahagian ulama dalam hal kedayusan lelaki ini. Petikan ini pula menunjukkan lebih dahsyatnya takrifan para ulama tentang erti dayus dan istilah yang hampir dengannya :

والقواد عند العامة السمسار في الزنى

Ertinya: Al-Qawwad (salah satu istilah yang disama ertikan dengan dayus) di sisi umum ulama adalah broker kepada zina. (Manar as-sabil, 2/340 , rawdhatul tolibin, 8/186)

Imam Az-Zahabi menerangkan lagi berkenaan perihal dayus dengan katanya:

الديوث وهو الذي يعلم بالفاحشة في أهله ويسكت ولا يغار وورد أيضا أن من وضع يده على امرأة لا تحل له بشهوة

Ertinya: Dayus, iaitu lelaki yang mengetahui perkara keji dilakukan oleh ahlinya dan ia sekadar senyap dan tiada rasa cemburu (atau ingin bertindak), dan termasuk juga ertinya adalah sesiapa yang meletakkan tangannya kepada seorang wanita yang tidak halal baginya dengan syahwat. (Al-kabair, 1/45)

Cemburu Dituntut Islam & Jangan Marah

Ada isteri yang menyalahkan suami kerana terlalu cemburu, benar cemburu buta memang menyusahkan, memang dalam hal suami yang bertanya isteri itu dan ini menyiasat, saya nasihatkan agar isteri janganlah memarahi suami anda yang melakukan tindakan demikian dan jangan juga merasakan kecil hati sambil membuat kesimpulan bahawa suami tidak percaya kepada diri anda. Kerap berlaku, suami akan segera disalah erti sebagai ‘tidak mempunyai kepercayaan’ kepada isteri.

Sebenarnya, kita perlu memahami bahawa ia adalah satu tuntutan dalam Islam dan menunjukkan anda sedang memiliki suami yang bertanggungjawab dan sedang subur imannya.

Selain itu, bergembiralah sang suami yang memperolehi isteri solehah kerana suami tidak lagi sukar untuk mengelakkan dirinya dari terjerumus dalam lembah kedayusan. Ini kerana tanpa sebarang campur tangan dan nasihat dari sang suami, isteri sudah pandai menjaga aurat, maruah dan dirinya.

Nabi s.a.w bersabda:

من سعادة ابن آدم المرأة الصالحة

Ertinya: Dari tanda kebahagian anak Adam adalah memperolehi wanita solehah (isteri dan anak). (H.R. Ahmad, no. 1445, 1/168)

Memang amat beruntung, malangnya tidak mudah memperolehi isteri solehah di zaman kehancuran ini, sebagaimana sukarnya mencari suami yang tidak dayus. Sejak dulu, agak banyak juga email dari pelbagai golongan muda menyebut tentang keterlanjuran mereka secara ‘ringan’ dan ‘berat’, mereka ingin mengetahui cara bertaubat.

‘Ringan-ringan’ Sebelum Kahwin

Jika seorang bapa mengetahui ‘ringan-ringan’ anak dan membiarkannya, ia dayus. Ingin ditegaskan, seorang wanita dan lelaki yang telah ‘ringan-ringan’ atau ‘terlanjur’ sebelum kahwin di ketika bercinta, tanpa taubat yang sangat serius, rumahtangga mereka pasti goyah. Kemungkinan besar apabila telah berumahtangga, si suami atau isteri ini akan terjebak juga dengan ‘ringan-ringan’ dengan orang lain pula.

Hanya dengan taubat nasuha dapat menghalangkan aktiviti mungkar itu dari melepasi alam rumahtangga mereka. Seterusnya, ia akan merebak pula kepada anak-anak mereka, ini kerana benih ‘ringan-ringan’ dan ‘terlanjur’ ini akan terus merebak kepada zuriat mereka. Awas!!

Dalam hal ini, semua suami dan ayah perlu bertindak bagi mengelakkan diri mereka jatuh dalam dayus. Jagalah zuriat anda. Suami juga patut sekali sekala menyemak handphone isteri, beg isteri dan lain-lain untuk memastikan tiada yang diragui. Mungkin ada isteri yang curang ini dapat menyembunyikan dosanya, tetapi sepandai-pandai tupai melompat akhirnya akan tertangkap jua.

Pasti akan ada wanita yang kata, “Habis, kami ini tak payah check suami kami ke ustaz?” Jawabnya, perlu juga, cuma topic sekarang ni sedang menceritakan tanggungjawab suami. Maka perlulah fokus kepada tugas suami dulu.

Cemburu seorang suami dan ayah adalah wajib bagi mereka demi menjaga maruah dan kehormatan isteri dan anak-anaknya.

Diriwayatkan bagaimana satu peristiwa di zaman Nabi:

قَالَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ : لَوْ رَأَيْتُ رَجُلاً مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسّيْفِ غَيْرُ مُصْفِحٍ عَنْهُ ، فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه على آله وسلم فَقَالَ : أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ ؟ فَوَ الله لأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ ، وَالله أَغْيَرُ مِنّي ، مِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ الله حَرّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن.

Ertinya: Berkata Ubadah bin Somit r.a: Jika aku nampak ada lelaki yang sibuk bersama isteriku, nescaya akan ku pukulnya dengan pedangku, maka disampaikan kepada Nabi akan kata-kata Sa’ad tadi, lalu Nabi s.a.w bersabda : Adakah kamu kagum dengan sifat cemburu (untuk agama) yang dipunyai oleh Sa’ad? Demi Allah, aku lebih kuat cemburu (ambil endah dan benci demi agama) berbandingnya, malah Allah lebih cemburu dariku, kerana kecemburuan Allah itulah maka diharamkan setiap perkara keji yang ternyata dan tersembunyi. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Lihat betapa Allah dan RasulNya inginkan para suami dan ayah mempunyai sifat protective kepada ahli keluarga dari melakukan sebarang perkara keji dan mungkar, khasnya zina.

Bila Lelaki menjadi Dayus?

Secara mudahnya cuba kita lihat betapa ramainya lelaki akan menjadi DAYUS apabila:

1. Membiarkan kecantikan aurat, bentuk tubuh isterinya dinikmati oleh lelaki lain sepanjang waktu pejabat (jika bekerja) atau di luar rumah.

2. Membiarkan isterinya balik lewat dari kerja yang tidak diketahui bersama dengan lelaki apa dan siapa, serta apa yang dibuatnya di pejabat dan siapa yang menghantar.

3. Membiarkan aurat isterinya dan anak perempuannya dewasanya terlihat (terselak kain) semasa menaiki motor atau apa jua kenderaan sepanjang yang menyebabkan aurat terlihat.

4. Membiarkan anak perempuannya ber’dating’ dengan tunangnya atau teman lelaki bukan mahramnya.

5. Membiarkan anak perempuan berdua-duaan dengan pasangannya di rumah kononnya ibu bapa ‘sporting’ yang memahami.

6. Menyuruh, mengarahkan dan berbangga dengan anak perempuan dan isteri memakai pakaian yang seksi di luar rumah.

7. Membiarkan anak perempuannya memasuki akademi fantasia, mentor, gang starz dan lain-lain yang sepertinya sehingga mempamerkan kecantikan kepada jutaan manusia bukan mahram.

8. Membiarkan isterinya atau anaknya menjadi pelakon dan berpelukan dengan lelaki lain, kononnya atas dasar seni dan lakonan semata-mata. Adakah semasa berlakon nafsu seorang lelaki di hilangkan? Tidak sama sekali.

9. Membiarkan isteri kerja dan keluar rumah tanpa menutup aurat dengan sempurna.

10. Membiarkan isteri disentuh anggota tubuhnya oleh lelaki lain tanpa sebab yang diiktiraf oleh Islam seperti menyelematkannya dari lemas dan yang sepertinya.

11. Membiarkan isterinya bersalin dengan dibidani oleh doktor lelaki tanpa terdesak dan keperluan yang tiada pilihan.

12. Membawa isteri dan anak perempuan untuk dirawati oleh doktor lelaki sedangkan wujudnya klinik dan hospital yang mempunyai doktor wanita.

13. Membiarkan isteri pergi kerja menumpang dengan teman lelaki sepejabat tanpa sebarang cemburu.

14. Membiarkan isteri kerap berdua-duan dengan pemandu kereta lelaki tanpa sebarang pemerhatian.

Terlalu banyak lagi jika ingin coretkan di sini. Kedayusan ini hanya akan sabit kepada lelaki jika semua maksiat yang dilakukan oleh isteri atau anaknya secara terbuka dan diketahui olehnya, adapun jika berlaku secara sulit, suami tidaklah bertanggungjawab dan tidak sabit ‘dayus’ kepada dirinya.

Mungkin kita akan berkata dalam hati: “Jika demikian, ramainya lelaki dayus di kelilingku.”

Lebih penting adalah kita melihat, adakah kita sendiri tergolong dalam salah satu yang disebut tadi. Awas wahai lelaki beriman, jangan kita termasuk dalam golongan yang berdosa besar ini. Wahai para isteri dan anak-anak perempuan, jika anda sayangkan suami dan bapa anda, janganlah anda memasukkan mereka dalam kategori dayus yang tiada ruang untuk ke syurga Allah s.w.t. Sayangilah dirimu dan keluargamu. Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Akhirnya, wahai para suami dan ayah, pertahankan agama isteri dan keluargamu walau terpaksa bermatian kerananya. Nabi s.a.w bersabda:

من قتل دون أهله فهو شهيد

Ertinya: Barangsiapa yang mati dibunuh kerana mempertahankan ahli keluarganya, maka ia adalah mati syahid. (H.R. Ahmad; sahih menurut Syeikh Syuaib Arnout)

Sumber: http://www.zaharuddin.net/

Anda mungkin juga meminati:
Mendidik Isteri Cara Rasulullah S.A.W
Jelaskan Mana Halal dan Haram Kepada Anak
6 Sikap Isteri
Linkwithin

24 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

~ TERAPI IMAN ~

Allah panjangkan umur kita sehingga sekarang…
Allah kekalkan iman kita sehingga sekarang…
Allah berikan petunjuk, hidayah dan taufiq-Nya hingga sekarang..
Allah lanjutkan pemberian rezeki-Nya hingga sekarang…
Allah anugerahkan kesihatan kepada kita sehingga sekarang…
Dan banyak lagi nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan-Nya kepada kita selama ini.

Kemudian Allah tanya kita berkali-kali dalam surah al-Rahman..
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan. (Surah al-Rahman: 13)

*Semoga kita tak termasuk dalam golongan hamba Allah yang kufur nikmat.

Bahagian Dakwah, JAKIM

24 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

BAGAIMANA NABI MAKAN?

[Sedikit perkongsian pengajian Syamail Muhammadi, Maulana Hussin, Masjid UKM]

1. Sahabat pada mulanya tak makan ayam, sebab mereka lihat ayam makan najis. Tapi, apabila mereka lihat Nabi makan ayam, mereka pun makan.

2. Nabi suka memulakan santapannya dengan buah labu.

3. Nabi tak pernah makan atas meja, kata Sayidina Anas.

4. Nabi makan roti yang dibuat daripada barli (roti tu kasar dan keras berbanding roti daripada tepung halus)… Kuahnya pula ada buah labu.

[Maulana Hussin bergurau, “Nabi tak makan roti yang halus. Siapa makan roti halus, bidaah. ;-)]

5. Para Sahabat, seperti Anas bin Malik mula menyukai makan buah labu setelah mengetahui Nabi suka makan labu.

6. Ummu Salamah r.ha hidangkan kepada Nabi rusuk kambing yang dipanggang. Kemudian Nabi tidak memperbaharui wuduknya walaupun sebelum itu, apabila baginda makan makanan yang disentuh api, Baginda selalu berwuduk. Tapi akhir-akhir hayat baginda, jika makan makanan sebegitu, baginda tidak lagi berwuduk. Ulama suruh kita pegang amalan yang terkemudian kerana dikira amalan yang terdahulu dikira mansukh.

[Lihat nota selit]

7. Sahabat-sahabat pernah makan di dalam masjid. Ini menunjukkan boleh makan di dalam masjid asalkan tidak mengotorkan dan niat iktikaf.

8. Nabi suka makan kambing terutama di bahagian lengan kerana bahagian itu cepat masak dan memandangkan ia cepat boleh dimakan.

9. “Daging yang paling baik ialah di bahagian belakang.” Hadis.

[Ulama rumus, kedua-duanya digemari oleh Nabi]

10. Nabi suka makanan lebihan yang dimakan oleh orang lain. Kebiasaannya, Baginda akan beri sahabat makan dulu. Yang lebih daripada tu baru Baginda makan.

[Nota selit bagi point no 6, 8 dan 9]

Cara Ahli Fekah Mengeluarkan Hukum Dari Hadis.

[Jika terjumpa hadis yang bercanggah, mula-mula himpun kedua-dua hadis. Jika dua-dua tak boleh himpun, baru tarjih. Ulama kata ada Jika tarjih pun tak boleh, baru ‘nasikh’ dan ‘mansukh’.]

Contohnya, Nabi balik rumah tapi tiada makanan. Lalu, Baginda berpuasa pada hari itu.

[Nabi pun hidup dalam kesusahan tapi Baginda tidak pernah merungut dengan kehidupannya. Isteri Baginda pula tidak berleter mengenai kesusahan mereka]

Imam Abu Hanifah melarang orang yang berpuasa sunat membatalkan puasanya, sama seperti sengaja membatalkan solat sunat yang sedang didirikan. Namun, di sisi Imam Syafii, orang yangberpuasa sunat, boleh berbuka jika tidak mampu meneruskan puasa atau terdapat apa-apa kekangan.

Masing-masing ada dalil.

(Tulisan Khairy Tajudin Novelis)

24 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

JALAN KITA BUKAN JALAN MELAKNAT, MENUDUH DAN MENCACI-MAKI

(“Taushiyyah Al-Habib Umar bin Hafidz yang Meruntuhkan Hati”)

Di hadapan kita ada qudwah (teladan), Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang mukmin tidak melaknat, menuduh dan berkata keji.” “Aku tidak diutus sebagai pelaknat ataupun berteriak-teriak di pasar.”

Baginda Saw. bukan pencaci, bukan pula pelaknat. Begitu juga dengan pengikut baginda dari kalangan ulama, tidak ada diantara mereka pelaknat yang suka melaknat orang. Bukan juga pencaci, yang mencaci bahkan terhadap orang awam. Apatah lagi terhadap para ulama, terlebih lagi para sahabat Nabi Saw. dan tabi’in. Mereka (para sahabat dan tabi’in) adalah sumurnya penghargaan, asas kehormatan.

Metode (dakwah) yang baik dan benar tidak ada caci maki sama sekali. Nabi Saw. tidak diutus untuk mencaci dan memaki. Tidak pula seorang wali Allah bertugas untuk mencaci atau memaki. Tidak pula berdiri hakikat ilmu dengan caci maki sama sekali!

Tidaklah berdiri suatu madzhab dengan caci maki kecuali madzhab iblis dan madzhab pengikut iblis, pada setiap waktu dan masa. Merekalah yang terbiasa meneruskan tradisi caci maki terhadap manusia, melaknat manusia, memancing emosi dan menanam kebencian di antara umat Islam.

Adapun para Nabi, para ulama dan para wali, mereka menebar kasih, menyebar persaudaraan, menyebarkan akhlaq, menyebarkan kesucian hati, menyebarkan sikap menghargai, selalu menetapkan batasan, mengekang hawa nafsu, bersifat sabar dan menahan amarah. Inilah jalan yang ditempuh para nabi, para wali, para ulama dan orang-orang shaleh

23 October 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

KEUTAMAAN ASYURA

(Oleh :Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan).

PANDUAN HUKUM : Bubur Asyura’

KEUTAMAAN ASYURA

Tersebut di dalam kitab Mukasyafah al-Qulub hal.263 susunan Imam al-Ghazali disebutkan:

“Dan telah datang athar yang banyak pada keutamaan hari Asyura’, antaranya (adalah kerana – pada hari tersebut):

Diterima taubat Nabi Adam عليه السلام; diciptakan Nabi Adam; Adam عليه السلام dimasukkan ke dalam syurga; ‘arasy, kursi, langit, bumi, matahari, bulan dan bintang-bintang diciptakan; Nabi Ibrahim عليه السلام dilahirkan dan diselamatkan daripada api Raja Namrud; selamatnya Nabi Musa عليه السلام dan pengikutnya dari (dikejar fir’aun); tenggelamnya fir’aun dan tenteranya; Nabi ‘Isa عليه السلام dilahirkan dan diangkatkan ke langit; Nabi Idris عليه السلام diangkat ke tempat yang tinggi; berlabuhnya bahtera Nabi Nuh عليه السلام di atas bukit Judi; dikurniakan kepada Nabi Sulaiman عليه السلام sebuah kerajaan yang besar; dikeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan; dikembalikan penglihatan Nabi Ya’kub (yang kabur sebelumnya); dikeluarkan Nabi Yusuf عليه السلام dari telaga; disembuhkan penyakit Nabi Ayyub عليه السلام dan hujan yang pertama diturunkan dari langit ke bumi.

Manakala di dalam Kitab Hasyiah I’anah al-Tolibin karangan Sayyid Bakri al-Syato hal.417/2, antara peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Asyura’ adalah ;

“Nabi Adam عليه السلام bertaubat kepada Allah dan taubat baginda diterima; Nabi Idris عليه السلام diangkat oleh Allah ke tempat yang tinggi; Nabi Nuh عليه السلام diselamatkan Allah keluar dari perahunya; Nabi Ibrahim عليه السلام diselamatkan Allah dari api Raja Namrud; Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa عليه السلام; Nabi Yusuf عليه السلام dibebaskan dari penjara; Penglihatan Nabi Yaakub عليه السلام yang kabur dipulihkan Allah kembali; Nabi Ayyub عليه السلام disembuhkan Allah dari penyakitnya; Nabi Yunus عليه السلام selamat keluar dari perut ikan Nun; Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah; Nabi Sulaiman عليه السلام dikurniakan kerajaan yang besar; Hari pertama Allah menciptakan alam; Hari pertama Allah menurunkan rahmat ke bumi; Hari pertama Allah menurunkan hujan dari langit; Allah menjadikan ‘arasy; Allah menjadikan Luh Mahfuz; Allah menjadikan qalam; Allah menjadikan malaikat Jibril عليه السلام; Nabi Isa عليه السلام diangkat ke langit ………”

ASAL-USUL BUBUR ‘ASYURA’ MASYARAKAT MELAYU

Salah satu tradisi yang diadakan di kampung-kampung setiapkali menjelang bulan Muharram adalah membuat bubur Asyura’. Adapun mengenai tradisi ini ada disebut di dalam kitab Risalah al-Musalsal al-Amiriyyah yang dicetak bersama-sama syarahannya pada halaman 26;

“Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebahagian orang daripada memasak bubur (pada hari Asyura) adalah merupakan suatu perkara bidaah. Asal-usulnya adalah bersandarkan kepada apa yang berlaku kepada Nabi Nuh عليه السلام tatkala baginda keluar dari kapal pada hari ‘Asyura’, orang-orang yang bersama baginda telah mengadu kelaparan. Lalu dikumpulkan saki baki bekalan mereka yang terdiri daripada pelbagai bijiran-bijiran seperti beras, kacang dal dan sebagainya. Setelah itu mereka pun memasak bijiran-bijiran tersebut di dalam periuk lalu mereka pun makan sehingga ia menyenyangkan mereka. Oleh itu, ia adalah merupakan makanan yang pertama dimasak di atas muka bumi selepas berlakunya taufan. Maka berdasarkan peristiwa ini, manusia telah menjadikan ianya sebagai suatu anjuran pada hari tersebut (Asyura’). Hal ini TIDAK MENGAPA dilakukan terutamanya perbuatan memberi makan kepada orang-orang faqir dan miskin adalah merupakan sebahagian tausi’ah (meluaskan belanja) bagi mereka yang mampu dan tidak mampu. Maka perluaskankanlah akhlaknya bersama kaum kerabat dan keluarga serta maafkanlah orang-orang yang menzaliminya kerana terdapat athar berkaitan hal tersebut.”

Hal ini juga telah disebutkan di dalam Kitab Jam’u al-Fawaid wa Jawahir al-Qalaid yang dikarang oleh al-‘Allamah Syeikh Daud bin ‘Abdullah al-Fatani pada halaman 132:

“(Dan kata) Syeikh Ajhuri dan aku lihat bagi orang yang lain nasnya bahawasanya (Nabi) Nuh (عليه السلام) tatkala turunnya dari safinah (bahtera) dan orang yang sertanya mengadu kepadanya dengan lapar dan telah habis segala bekal mereka itu. Maka menyuruh akan mereka itu bahawa mendatangkan dengan barang yang lebih daripada bekal mereka itu. Maka mendatangkan ini dengan segenggam gandum, dan ini dengan kacang ‘adas dan ini dengan kacang ful (pol) dan ini dengan setapak tangan kacang himmasun (kacang kuda) hingga sampai tujuh biji-bijian bagi jenisnya dan adalah ia pada hari Asyura’, maka mengucap Nabi Nuh عليه السلام dengan bismillah dan dimasakkan dia, maka sekaliannya dan kenyang mereka itu dengan berkat Sayyiduna Nuh عليه السلام . Firman Allah Taala:

قيل يا نوح اهبط بسلام منا وبركات عليك وعلى أمم ممن معك وأمم سنمتعهم

(Maksudnya) Dikatakan: Hai Nuh, turunlah olehmu dengan sejahtera daripada kami dan berkat atasmu dan atas umam (umat-umat) sertamu dan umam (umat-umat) yang kami sukakan mereka itu. (Surah Hud: 48)

(Dan) adalah demikian ini pertama-tama makanan yang dimasakkan di atas muka bumi kemudian daripada taufan. Maka mengambil segala manusia akan dia sunat pada hari Asyura’ dan adalah padanya itu pahala yang amat besar bagi orang yang mengerjakan yang demikian itu dan memberi makan segala fuqara (orang-orang yang faqir) dan masakin (orang-orang yang miskin), maka dinamakan bubur Asyura’. Dan jika bidaah sekalipun, (maka ia) bidaah hasanah dengan qasad itu.”

Disebutkan dalam kitab:

1. Hasyiah I’anah al-Tolibin (al-Sayyid al-Bakri hal.417/2)

2. Nihayah al-Zain (Syeikh Nawawi Banten hal.192)

2. Nuzhatul Majalis (Syeikh Abdul Rahman al-Usfuri hal.172)

3. Jam’ul Fawaid ( Syeikh Daud al-Fatani hal.132);

“Bahawasanya tatkala bahtera Nabi Nuh alaihissalam berlabuh di bukit Judi pada hari Asyura’, maka berkatalah baginda kepada umatnya :

“Himpunkan apa yang kamu miliki daripada makanan yang lebih. Maka dibawalah satu genggam daripada kacang Baqila’ iaitu kacang ful dan satu genggam kacang Adas dan Ba’ruz dan tepung dan kacang Hinthoh sehingga menjadi tujuh jenis biji bijian yang dimasak”

Maka berkata Nabi Nuh alaihissalam; “Masaklah sekaliannya kerana kamu sudah mendapat kesenangan sekarang.”

Maka berdasarkan kisah inilah sebahagian kaum muslimin menjadikan makanan mereka itu daripada biji bijian yang dinamakan BUBUR ASYURA’ (bubur yang dimasak sempena hari kesepuluh dalam bulan Muharam). Itulah masakan yang pertama dimasak di atas permukaan bumi setelah berlakunya banjir besar dan taufan yang melanda bumi.

Syeikh Ibn Hajar al-‘Asqolani bersyair dengan katanya;

في يوم عاشوراء سبع تهرس بر أرز ثم ماش عدس

وحمص ولوبيا والفول هذا هو الصحيح والمنقول

“Pada Hari Asyura’ terdapat tujuh yang dimakan iaitu Gandum (tepung), Beras, kemudian Kacang Mash (kacang kuda) dan Kacang Adas (kacang dal).

Dan Kacang Himmas (kacang putih) dan Kacang Lubia ( sejenis kacang panjang) dan kacang Ful. Inilah kata-kata yang sohih dan manqul (yang dinukil daripada kata-kata ulamak).”

Daripada apa yang dibahaskan di atas, maka difahami bahawa sejarah BUBUR ASYURA’ ini diambil daripada peristiwa arahan dan perintah Nabi Nuh as kepada umatnya ketika dahulu.

Oleh itu, adakah salah bagi kita mengambil apa yang dilaksanakan oleh umat terdahulu dan apa yang diarahkan oleh Nabi Nuh alaihissalam kepada umatnya untuk kita pula laksanakannya?

Perkara ini bukanlah termasuk dalam hukum hakam yang ada nasakhnya dalam Syariat Islam. Ianya hanya sekadar kisah dan peristiwa yang perlu diambil iktibar dan dihayati oleh umat manusia dan seterusnya beriman dan menghampirkan diri kepada Allah Taala dengan sebenar-benar taqwa.

Andai arahan tadi merupakan suatu perintah, maka kita mengatakan ia merupakan al-Syar’u Man Qablana iaitu perkara syariat yang berlaku pada zaman dan umat terdahulu yang tidak dinasakhkan untuk menjadikan iktibar dan panduan hidup berterusan umat akan datang.

Maka BUBUR ASYURA’ merupakan salah satu daripada perkara yang disebutkan sebagai al-Syar’u Man Qablana yang boleh kita amalkan dalam kehidupan kita dan ia tidaklah di anggap sebagai suatu BIDAAH atau perkara yang bertentangan dengan kehendak syariat.

Tanggapan sebahagian orang yang mengatakan perkara ini BIDAAH dan adat semata-mata adalah tidak benar. Adat juga boleh menjadi ibadah andai perkara seperti memasak BUBUR ASYURA’ ini kita jadikan sebagai amalan untuk mengingati dan menghayati peristiwa yang berlaku di zaman Nabi Nuh alaihissalam. Kerana kelalaian dan lupa dengan tuntutan beragama, dan disebabkan menuruti kehendak nafsu yang rakus, maka Allah tenggelamkan mereka sehingga tiada suatu pun yang tinggal dan disimpan untuk dimakan melainkan sedikit sahaja.

Maka tidak salah kita adakan Majlis Memasak BUBUR ASYURA’ dengan penghayatan tersebut dan bertujuan untuk memberi makan kepada keluarga, faqir miskin yang sangat memerlukan dan menjamu orang yang berbuka puasa dan sebagainya. Ia akan dihitung sebagai Ibadah yang mulia di sisi Allah Taala Insya Allah.

Hal ini juga bertepatan dengan riwayat Imam al-Tabarani dan Imam al-Baihaqi yang telah meriwayatkan daripada Sayyidina Abu Sa`id al-Khudri, Sayyidina Abu Hurairah, Sayyidina Jabir dan Sayyidina Ibn Mas`ud r.’anhum bahawa Junjungan solallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Sesiapa yang memberi keluasan / kelapangan (keluasan rezeki) kepada keluarganya pada hari Asyura`, maka Allah akan meluaskan rezekinya sepanjang tahun tersebut.”

Berhubung hadis ini, para muhaddisin berbeza pendapat berkaitan statusnya, ada yang mensabitkannya dan ada yang mendhaifkan. Imam al-Suyuti dalam “al-Durar al-Muntathirah” halaman 186 menyatakan hadis ini sebagai thabit dan sahih.

Imam Ibn Rejab menulis dalam “Latoif al-Ma’arif” halaman 113, bahawa Imam Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Kami telah mengamalkan hadis ini selama 50 atau 60 tahun, maka tidak kami lihat melainkan kebaikan.”
اليسع
والله أعلم

Status Hadis Meluaskan Belanja Kaum Keluarga Pada Hari ‘Asyura’ (Ditakhrij oleh Dr Hafidz Soroni):

حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- : « من وسع على عياله فى يوم عاشوراء وسع الله عليه فى سنته كلها » وفي رواية: من وسَّعَ على عياله في النفقة يومَ عاشوراء ، وسَّعَ الله عليه سائر سَنَتِهِ. قال سفيان: إنا قد جربناه، فوجدناه كذلك.

Terjemahan hadis Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang meluaskan (belanja) kaum keluarganya pada hari Asyura’, maka Allah akan melapangkannya pada tahun tersebut seluruhnya”. Dalam satu riwayat: “Barangsiapa yang meluaskan nafkah kaum keluarganya pada hari Asyura’, maka Allah akan melapangkannya sepanjang tahun tersebut”.

Kata Sufyan: Sesungguhnya kami telah mengujinya, lalu kami dapati ianya benar.

Hadis ini berdasarkan kajian, didapati telah diriwayatkan oleh lima orang sahabat Nabi sollallahu alaihi wa sallam, iaitu:

1. Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu anhu: iaitu riwayat Ibn Abi al-Dunya dalam al-’Iyal (no. 385), al-Hakim al-Tirmizi (3/14), al-Tabarani dalam al-Awsat (no. 9302), dan al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman (no. 3794). Dalam sanadnya ada Muhammad bin Isma’il al-Ja’fari yang munkar al-hadith (al-Haythami, 3/189).
2. Ibn Mas’ud radhiallahu anhu: iaitu riwayat Ibn ’Adi (5/211), al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman (no. 3792), dan Ibn Hibban dalam al-Du’afa’ (3/97), serta al-Tabarani dalam al-Kabir (no. 10,007) dengan lafaz:
(من وسع على عياله يوم عاشوراء لم يزل فى سعة سائر سنته)
dan dalam sanadnya ada al-Haysam bin al-Syaddakh yang sangat daif (al-Haythami, 3/189).

3. Jabir radhiallahu anhu : iaitu riwayat al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman (no. 3791), kata beliau: Isnadnya dhaif. Juga diriwayatkan dalam al-Istizkar oleh Ibn ’Abd al-Barr dengan lafaz:
(من وسع على نفسه وأهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته)
dan al-Hafiz Ahmad al-Ghumari menyatakan bahawa perawi-perawi sanadnya adalah perawi-perawi al-Sahih.

4. Abu Hurairah radhiallahu anhu : iaitu riwayat Ibn ’Adi dan al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman (no. 3795).

5. Ibn ’Umar radhiallahu anhu : iaitu riwayat al-Daraqutni dalam al-Afrad dan al-Khatib al-Baghdadi dalam Ruwat Malik.

Dr. Muhammad Abu al-Laith al-Khairabadi dalam kitabnya al-Marwiyyat fi Fadl Laylah al-Nisf min Sya’ban wa al-Tawsi’ah ’ala al-’Iyal Yaum ’Asyura’ fi Mizan al-Naqd al-Hadithi (hlm. 115) merumuskan bahawa hadis ini berdasarkan jalan-jalan riwayatnya adalah hasan li-ghairih. Hukum beliau ini bersepakatan dengan ramai ulama hadis yang tidak menolak hadith ini seperti al-‘Iraqi, al-Sakhawi, al-’Ajluni, al-Suyuti, al-Munawi, Ibn ‘Arraq dan lain-lain. Sebelum Dr. Abu al-Laith, al-Hafiz al-‘Allamah Sayyid Ahmad al-Ghumari رحمه الله sebenarnya telahpun membincangkan takhrij hadis ini secara detail dan menghukumnya sebagai sahih di dalam risalah beliau:
(هدية الصغراء بتصحيح حديث التوسعة يوم عاشوراء)

Wallahu a’lam.

Ustaz Alyasak Berhan

23 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Sebab-sebab Malaikat Rahmat Tak Masuk Rumah

Soalan:
Bolehkan ustaz jelaskan apakah perkara-perkara yang menyebabkan malaikat rahmat tak masuk rumah kita?

Jawapan:
Antara Sebab KENAPA Malaikat Rahmat tidak memasuki rumah anda

Rumah orang yang memutuskan hubungan Silatul Rahim.

Rumah orang yang memakan harta anak yatim secara haram.

Rumah yang memelihara anjing.

Rumah yang banyak menyimpan gambar yang mencerca Para Sahabat Nabi, orang yang telah mati dan sebagainya.

Rumah yang mengumandangkan nyanyian yang memuja selain daripada Allah SWT.

Rumah yang sering meninggikan suara.

Rumah yang didiami mereka yang syirik kepada Allah SWT seperti tukang tilik, ahli sihir dan nujum.

Rumah yang menggunakan perhiasan daripada emas seperti pinggan dan mangkuk daripada emas.

Rumah yang makan makanan yang berbau seperti bauan rokok, perokok, penagih dadah .

Rumah yang didiami mereka yang sentiasa bergelombang dengan maksiat.

Rumah yang didiami mereka yang melakukan dosa-dosa besar.

Rumah yang didiami mereka yang derhaka kepada kedua ibu bapa.

Rumah pemakan riba, interest.
Rumah yang mengamalkan budaya syaitan seperti kumpulan rock black metal.

Rumah yang memiliki patung-patung.

Rumah yang memiliki loceng seperti loceng gereja.

Rumah yang didiami peminum arak.

Rumah yang mempercayai tukang tilik.

Rumah yang didiami mereka yang mendapat laknat Allah SWT, pemakan rasuah, pemberi rasuah dan mereka yang mengubah kejadian Allah SWT seperti wanita yang mencukur bulu kening, wanita yang memakai gelang atau rantai di kaki.

Rumah yang didiami mereka yang berhadas besar tanpa mandi Janabah/Junub.

Rumah yang melakukan pembaziran ( berhias dengan berlebihan ).

Rumah yang melakukan maksiat di dalamnya.

Nota Editor: Artikel ini asalnya telah dikongsikan oleh Ustaz Abu Basyer di Blog Tanyalah Ustaz.

21 October 2015 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Penawar bagi Hati – Jauhi 3 Perkara | Nasbun Nurain

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani. (Hujurat:12)

Rasulullah saw juga telah bersabda yang bermaksud,“Berhati-hatilah kamu dengan berprasangka kerana sesungguhnya berprasangka itu adalah sebohong-bohong ucapan. dan janganlah kamu mengintip dan janganlah kamu saling dengki mendengki, dan janganlah kamu saling benci membenci, dan janganlah kamu saling jerumus menjerumuskan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara” (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

Jangan Berprasangka atau Sangka Buruk

Al-Hujurat [12] Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa

Walaupun luaran (perbuatan) itu asalnya daripada dalaman (hati), bersangka baiklah dengan orang lain. Ada juga manusia yang terpaksa melakukan kejahatan kerana terpaksa dan dia sendiri tidak menyukainya. Ada juga manusia yang menyembunyikan kebaikannya daripada pandangan mata manusia.

Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan ahli neraka pada pandangan mata manusia, padahal sebenarnya dia adalah ahli syurga. Dan sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan ahli syurga pada pandangan mata manusia, padahal dia sebenarnya adalah ahli neraka” (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

Janganlah Mengintip Untuk Mencari Kesalahan

Al-Hujurat [12] dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang…

Bahkan Islam melarang seseorang melihat atau memandang ke dalam rumah orang lain sebelum diizinkan. Dalam sebuah hadith Rasulullah s.a.w bersabda:Sesiapa yang mengintip ke dalam rumah sebelum diberi izin untuk masuk ke dalam, maka sesungguhnya dia tidak meminta izin (Hadith Riwayat Abu Daud).

Abu Hurairah r.a melaporkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, “Tidaklah kamu bersalah jika seseorang mengintip ka dalam rumahmu tanpa izin dan kamu memukulnya mengunakan batu dan mencederai matanya.” (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim).

Intipan yang dibenarkan hanyalah intipan oleh pihak yang menjaga keselamatan negeri atau negara.

Jauhi Daripada Mengumpat

Jauhilah kamu daripada mengumpat kerana dosa mengumpat itu lebih besar bahayanya daripada zina. Sesungguhnya seseorang lelaki itu terkadang dia berzina lalu bertaubat maka Allah menerima akan taubatnya. Dan sesungguhnya orang yang mengumpat itu tidak diampuni baginya sehingga dimaafkan oleh orang yang diumpatnya. (Diriwayatkan oleh Abu Asy-Syeikh dari Jabir r.a.)

Zina adalah dosa seorang manusia itu dengan Allah SWT dan terampun dengan bertaubat (melainkan zina yang dilakukan dengan isteri orang, maka perlu dimaafkan oleh si-suami). Mengumpat juga adalah satu dosa besar tetapi hanya orang yang diumpat sahaja boleh memaafkan dosa mengumpat itu. Kesan daripada perbuatan mengumpat adalah sangat buruk. Diantara contohnya ialah; boleh memusnahkan sesebuah rumah tangga atau merosakkan imej seseorang.

Mengumpat ialah menceritakan keburukan seseorang di belakangnya, walaupun perkara itu benar.

Salah seorang sahabat Nabi (saw) bertanya: “Apakah itu mengumpat?” Rasulullah (saw) menjawab: “Menyebut sesuatu mengenai saudaramu di belakangnya yang dia tidak suka.” Selanjutnya Sahabat itu bertanya: “Dan masihkah dikatakan mengumpat sekiranya apa yang disebutkan mengenainya itu benar terdapat padanya?” Rasulullah (saw) menjawab: “Dalam hal demikian (iaitu jika yang disebutkan itu memang benar) maka sebenarnya itulah mengumpat; tetapi jika apa yang disebutkan itu palsu, maka kamu telah memfitnahnya.

Mengumpat hanya dibenarkan sekiranya perlu untuk menyelamatkan seseorang daripada sesuatu penipuan atau kejahatan, namun kejahatan itu tidak boleh diceritakan secara terus-terang.

An-Nisaa [148]….Allah tidak suka kepada perkataan-perkataan buruk yang dikatakan dengan berterus-terang (untuk mendedahkan kejahatan orang); kecuali oleh orang yang dianiayakan. Dan (ingatlah) Allah sentiasa Mendengar, lagi Maha Mengetahui.

Hukum mengumpat itu haram melainkan pada 6 tempat yang diharuskan mengumpat padanya iaitu :

1. Orang yang mengadu pada penguasa tentang kezaliman seseorang dengan menyebut nama orang zalim itu dan perbuatannya bertujuan untuk menghentikan kezalimannya

2. Orang meminta tolong bagi menghilang maksiat pada sesuatu tempat kepada yang berkemampuan dengan menyebut nama pelaku maksiat dan kesalahannya bertujuan untuk menghentikan maksiat itu

3.Orang yang meminta fatwa daripada yang berkelayakan tentang sesuatu masalah yang terpaksa menyebut nama dan kelakuan seperti seorang isteri bertanya tentang hal suaminya dan sikapnya yang buruk

4. Orang yang menakutkan orang Islam lain tentang kejahatan seseorang supaya terselamat daripada keburukan orang itu seperti menyebut kelakuan jahat seseorang perempuan yang diingini untuk dikahwini bila ditanya agar bakal suaminya tidak tertipu dan selamat

5. Menyebut nama seseorang yang masyhur dengan nama buruk seperti Amin Tempang dan sebagainya

6.Menyebut nama orang yang menzahirkan kejahatannya bertujuan supaya orang lain berhati-hati dengannya dan juga agar dia menghentikan kesalahannya itu.

Sumber: Tuan Guru Maulana

21 October 2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Adab Masuk Rumah Baru Dalam Islam

image

(Nota : Artikel ini asalnya telah dikongsikan oleh Ustaz Abu Basyer di Blog Tanyalah Ustaz).

Abu Malik al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ada bersabda:
Maksudnya: “Apabila seorang lelaki hendak masuk ke rumahnya maka hendaklah dia Berkata: “Ya Allah! Aku memohon kepadaMu sebaik-baik tempat masuk dan sebaik-baik Tempat keluar. Dengan nama Allah kami masuk dan dengan nama Allah kami keluar dan kepada Allah Tuhan kami, kami berserah”. Kemudian hendaklah seseorang itu memberi salam ke Atas keluarganya.” (Hadis riwayat Abu Daud)

Jika rumah yang hendak dimasuki itu tidak ada orang yang berada di dalamnya, maka berilah Salam ke atas diri sendiri dengan mengucapkan
Ertinya: “Salam sejahtera ke atas kami dan ke atas hamba-hamba Allah yang sahih.”

Adapun salah satu hikmat membaca atau menyebut nama Allah ketika hendak masuk rumah Itu adalah supaya mengindarkan syaitan turut masuk dan bermalam di dalam rumah.

Berikut adalah beberapa perkara yang sepatutnya diamalkan serta sesuai dengan ajaran Islam serta sunnah Rasulullah SAW ketika melangkah memasuki rumah baru :-

1. Azan.

Melaungkan azan ketika pertama kali masuk opis/umah baru. Ia juga baik bg bangunan yg telah lama ditinggalkan dan tidak dihuni oleh sesiapa.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah s.a.w. pernah memberitahu bahawa sekiranya sesebuah bangunan (premis/rumah) itu terlalu lama dikosongkan (tanpa penghuni) ianya akan dimasuki sejenis makhluk halus (jin yg dikenali sbgai Al-’Ammar) yg suka tinggal di umah yg tidak berpenghuni.

2. Membaca surah Al-Baqarah.

Sebuah hadis yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW. bersabda yg bermaksud; “Jangan lah kamu jadikan rumahmu seperti kubur (hanya utk tidur), sesungguhnya syaitan akan lari dari rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah.”

3. Banyakkan solat dan membaca Al-Quran.

Dlm sebuah hadis lain pula, Rasulullah SAW. juga menggalakkan agar kita memperbanyakkan solat dan membaca Al-Quran di dalam rumah atau bangunan yang baru diduduki. Baginda bersabda yg bermaksud;
“Sinarilah rumahmu dengan memperbanyakkan solat dan membaca Al-Quran.” (Hadis Riwayat Al-Baihaqi)

4. Baca Surah yassin, Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.

Amalkan membaca surah Yassin setiap malam terutamanya tujuh malam pertama anda menduduki rumah atau bangunan. Baca juga surah Al-Fatihah sebanyak satu kali, surah Al-Ikhlas 3 kali, selawat ke atas nabi senayak 7 kali, ayat Kursi sekali, tetapi di ayat terakhir bacalah sebanyak 7 kali.

5. Pagar rumah cara menggunakan ayat-ayat al-Quran ..

Perbuatan memagar rumah dengan menanam atau menggantung sesuatu di penjuru atau sudut2 tertentu di rumah atau bangunan yg diduduki dgn kepercayaan bhw benda tersebut akan menjaga dan memelihara keselamatan penghuninya adalah perbuatan yang bertentangan di sisi Islam. Bgmanapun ada cara yg dibolehkan dan digalakkan mengikut ajaran Islam.

Caranya dengan dengan membaca surah yasin kemudian baca surah Al-Fatihah, ayat Kursi, Surah 3 Kul (Al-Ikhlas, Al-Falaq dan Al-Nas). kemudian tiup ke dalam air tersebut perlahan2 hingga habis nafas. Setelah itu, renjis keliling rumah dan renjiskan air tersebut ke setiap penjuru dalam rumah dengan mulai dengan penjuru yg terletak di sebelah kanan dan penjuru seterusnya mengikut arah berlawanan jarum jam. Membaca ayat kursi semasa merenjiskan air tersebut. Air jampi yang telah di bacakan ayat-ayat al-Quran mengandungi gelombang yang laju dan sangat tak di sukai oleh syaitan dan jin kafir.

Islam tidaklah menekankan amalan yang hanya khusus ketika masuk rumah, tetapi amalan-amalan yang berterusan yang perlu dihidupkan di dalam rumah, antaranya;

1.1. Memasuki rumah dengan membaca Bismillah dan doa yang makthur dari Nabi SAW. Begitu juga ketika keluar dari rumah.

1.2. Menjaga ahli rumah agar sentiasa berada dalam ketaatan dan menjauhi maksiat dan munkar. Firman Allah (bermaksud); “Wahai orang-orang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu…” (Surah at-Tahrim ayat 6). Berkata Imam Qatadah (tatkala menghurai ayat ini); ‘yakni kamu menyuruh mereka supaya mentaati Allah dan menegah mereka dari memaksiatiNya serta kamu melaksanakan tanggungjawab kamu terhadap mereka dengan agama Allah, kamu memerintahkan mereka dengannya dan membantu mereka untuk melaksanakannya. Apabila kamu melihat mereka melakukan maksiat, tegahlah mereka”. Menurut Imam Muqatil; “Menjadi suatu kewajipan ke atas setiap lelaki muslim untuk mengajar ahli-ahli keluarganya (isteri dan anak-anaknya) apa yang difardhukan Allah ke atas mereka dan apa yang ditegah Allah dari mereka”. (Rujuk: Tafsir Ibu Kathir)

1.3. Setiap ahli rumah menunaikan kewajipan masing-masing mengikut agama; kewajipan sebagai suami dan bapa, kewajipan sebagai isteri dan ibu dan kewajipan sebagai anak. Sabda Nabi SAW.; “Setiap kamu adalah penjaga dan setiap kamu akan ditanya tentang orang-orang di bawah jagaannya. Pemimpin Negara adalah penjaga bagi rakyatnya dan dia akan ditanya berkenaan orang di bawah jagaannya (yakni rakyatnya). Seorang lelaki adalah penjaga bagi ahli keluarganya dan dia akan ditanya tentang ahli keluarga di bawah jagaannya. Seorang wanita adalah penjaga bagi rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang berada di bawah jagaannya…”. (HR Imam al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar r.a.).

2. Menghidupkan bi-ah Islam di dalam rumah, antaranya dengan;

a) Membaca al-Quran di dalam rumah. Sabda Nabi SAW.; “Jangan kamu jadikan rumah-rumah kamu sebagai kubur. Sesungguhnya syaitan melarikan diri dari rumah yang dibacakan di dalamnya surah al-Baqarah” (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

b) Mengerjakan solat-solat sunat di dalam rumah. Sabda Nabi SAW.; “Kerjakanlah solat –wahai manusia- di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya solat yang paling afdhal ialah seseorang mengerjakan solat di rumahnya kecuali solat yang fardhu” (HR Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Thabit r.a.). Dalam hadis yang lain baginda bersabda; “Kerjakanlah sebahagian solat kamu dirumah kamu. Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu ibarat kubur”. (HR Imam Muslim dari Jabir r.a.)

c) Mengajak ahli keluarga bersama-sama beribadah. Sabda Nabi SAW.; “Jika seorang lelaki mengejutkan ahli keluarganya pada waktu malam, lalu mereka mengerjakan solat dua rakaat bersama-sama, nescaya mereka berdua akan ditulis/disenaraikan di kalangan lelaki-lelaki yang banyak berzikir dan perempuan-perempuan yang banyak berzikir” (HR Imam Abu Daud dari Abi Said r.a.). Dalam hadis yang lain, Rasulullah s.a.w. bersabda; “Allah mengasihi seorang lelaki yang bangun menunaikan solat malam, kemudian ia mengejutkan isterinya…Begitu juga, Allah mengasihi seorang perempuan yang bangun menunaikan solat malam, kemudian ia mengejutkan suaminya…” (HR Abu Daud dari Abu Hurairah r.a.).

d) Hidupkan budaya memberi salam. Anas r.a. menceritakan bahawa Rasulullah SAW. bersabda kepadanya; “Wahai anakku! Jika kamu masuk menemui ahli keluargamu (di rumah kamu) maka berilah salam kepada mereka, nescaya akan dilimpahi keberkatan ke atas kamu serta ahli rumah kamu” (HR Imam at-Tirmizi dari Anas r.a.). Rasulullah s.a.w. pernah bertanya para sahabat baginda; “Mahukah aku tunjukkan kepada kamu suatu amalan yang jika kamu lakukan nescaya kamu akan saling berkasih-sayang?”. Jawab mereka; “Ya”. Lalu baginda bersabda; “Hidupkan budaya memberi salam antara sesama kamu” (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.).

e) Mempraktikkan adab-adab Islam di dalam rumah. Antara adab-adab Islam yang perlu dipraktikkan oleh ibu-bapa serta ahli keluarga di rumah ialah adab ketika makan, adab ketika masuk dan keluar tandas, adab berpakaian, adab anak-anak ketika hendak masuk ke bilik ibu-bapa (terutamanya apabila anak-anak telah mumayyiz), adab keluar dan masuk rumah, adab tidur dan bangun dari tidur dan sebagainya. Adab-adab ini amat penting kerana ia melibatkan amalan dan rutin harian yang boleh memberi contoh berkesan kepada anak-anak dalam meningkatkan roh keislaman mereka. Umar bin Abi Salamah r.a. menceritakan: “Semasa saya masih kanak-kanak di bawah jagaan Rasulullah SAW., suatu ketika saya makan dalam keadaan tangan saya bergerak sana sini mengambil makanan yang ada di dalam talam (sedang orang makan bersama). Lalu Rasulullah s.a.w. menasihatkan saya; “Wahai anakku! Mulakan makan dengan menyebut nama Allah (membaca Bismillah), kemudian makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari makanan yang berada di depanmu”. (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim).

3) Jika ingin memohon perlindungan untuk rumah, lakukanlah sebagaimana yang diajar oleh Nabi SAW, antaranya ialah dengan membaca al-Quran dan doa-doa perlindungan yang makthur dari baginda. Sabda Nabi s.a.w.; “Janganlah kamu menjadikan rumah-rumah kamu ibarat kubur.

Sesungguhnya rumah yang dibacakan di dalamnya surah al-Baqarah, rumah itu tidak akan dimasuki Syaitan” (HR Imam Muslim dan at-Tirmizi dari Abu Hurairah r.a.). Sabda Nabi s.a.w.; “Sesiapa singgah/berhenti di satu tempat, lalu ia membaca “أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرّ مَا خَلَقَ” (Aku berlindung dengan kalimah-kalimah Allah yang sempurna dari kejahatan segala makhluk ciptaannya), nescaya tidaka ada sesuatupun dapat memudaratkannya hingga ia berpindah” (HR Imam Muslim dari Khaulah binti Hakim r.a.)

4. Demikianlah sebahagian dari amalan-amalan di dalam rumah yang digalakkan oleh Islam yang sabit dari hadis-hadis yang soheh dari Nabi s.a.w.. Dengan melakukan amalan-amalan tersebut, Insya Allah rumah kita akan sentiasa dilindungi dari Iblis dan Syaitan dan ahli keluarga kita akan senantiasa diberkati Allah.

Wallahu a’lam.

20 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

APA ADA PADA SOLAT?

Antaranya:
1) Dalam solat ada membesarkan Allah
Setiap bacaan solat adalah untuk membesarkan Allah. Ia bermula dengan takbiratul ihram lagi. Kita lafazkan bahawa Allah yang maha agong dan maha besar.
Jika orang membesarkan Allah, dia akan menjadi mausia yang mengaggap kecil pada dunia. Dan jika seseorang itu telah mengaggap kecil pada dunia, maka dia tidak akan takut dan gentar pada urusan dunia.
2) Dalam solat ada meminta petunjuk
Petunjuk jalan yang lurus bukan sahaja dalam bab agama, tetapi dalam setiap keputusan hidup kita. Allah letakkan doa itu di dalam surah al-Fatihah iaitu “Ihdinas Siratal Mustaqim”.
3) Dalam solat ada minta ampun pada dosa.
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud. “Rabbigfirli…… (ampunkan aku)
4) Dalam solat ada minta kasih sayang dari Allah
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “warhamni…. (kasihanilah aku)
5) Dalam solat ada meminta cukup bagi keperluan kita
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “wajburni… (cukupkan aku..)
6) Dalam solat ada minta kemuliaan
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “warfa’ni…(angkatlah darjat aku…)
7) Dalam solat ada minta rezki
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud. “warzukni….( rezkikanlah aku…)
8) Dalam solat ada minta kesihatan.
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “wa’aafini,,” (afiatkan aku…)
9) Dalam solat ada ucapan syahadah
Ia sebagai mengingatkan perjanjian kita pada dua syahadah iaitu penyaksian bahawa tiada yang disembah melainkan Allah dan Nabi Muhamad itu adalah pesuruh Allah. Ia diletakkan dalam tahyat awal dan tahyat akhir
10) Dalam solat ada selawat pada Nabi SAW
Nabi mengatakan bahawa, barangsiapa berselawat pada ku sekali, pasti Allah akan berselawat dan memberikan keselamatan padanya 10 kali. Allah letakkanselawat ini di dalam tahyat awal dan tahyat akhir.
Maha suci Allah yang menganugerahkan pada kita solat dan kebaikan solat itu kembali pada kita. Jika manusia tidak bersolat, ia tidak sekali-kali mengurangkan kebesaran dan keagongan Allah bahkan akan berlakulah kehinaan terhadap orang tersebut.

Sumber : Jakim

20 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Kisah Bidadari Syurga

Di kota Suffah tinggallah seorang pemuda bernama Zahid. Ia hidup pada zaman Rasulullah SAW. Setiap hari ia tinggal di Masjid Madinah. Zahid memang bukan pemuda tampan. Di usianya yang ke-35, ia belum juga menikah.

Suatu hari, ketika Zahid sedang mengasah pedangnya, tiba-tiba Rasulullah datang dan mengucapkan salam kepadanya.

Zahid terkejut dan menjawabnya dengan gugup. “Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau tampak sendiri saja”, sapa Rasulullah SAW.

“Allah bersamaku, wahai Rasulullah”, jawab Zahid.

“Maksudku, mengapa selama ini engkau masih bujang..? apakah tak ada dalam benakmu keinginan untuk menikah..?”, tanya beliau lagi.

Zahid menjawab, “Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, apalagi wajahku sangat tak memenuhi syarat, siapa wanita yang mau denganku..?”.

“Mudah saja kalau kau mau..!” kata Rasulullah menimpali.

Zahid hanya termangu. Tak lama kemudian Rasulullah memerintahkan pembantunya untuk membuat surat lamaran untuk melamar wanita bernama Zulfah binti Said. Ia anak bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan cantik jelita. Surat itupun diberikan kepada Zahid untuk kemudian diserahkan kepada Said. Setiba di sana ternyata Said tengah menerima tamu. Maka usai mengucapkan salam, Zahid menyerahkan surat tersebut tanpa masuk ke dalam rumah.

“Said saudaraku, aku membawa surat untukmu dari Rasulullah yang mulia”, kata Zahid.

Said menjawab, “Ini adalah kehormatan buatku”.

Surat itu dibuka dan dibacanya.

Alangkah terkejutnya Said usai membaca surat tersebut. Tak heran karena dalam tradisi bangsa Arab selama ini, perkawinan yang biasanya terjadi adalah seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan pula. Orang yang kaya harus kawin dengan si kaya juga. Itulah yang dinamakan “sekufu” (sederajad).

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah..?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihatku berbohong..?”

Dalam suasana demikian, Zulfah datang dan bertanya, “Ayah.. mengapa engkau tampak tegang menghadapi tamu ini..? Apa tak lebih baik bila ia disuruh masuk..?”

“Anakku, Ia adalah seorang pemuda yang sedang melamarmu. Dia akan menjadikan engkau istrinya”, kata Said kepada anaknya.

Di saat itulah Zulfah melihat ayahnya, ia pun menangis sejadi-jadinya. “Ayah banyak pemuda yang lebih tampan dan kaya raya, semuanya menginginkan aku. Aku tak mau, Ayah..!” jawab Zulfah merasa terhina.

Said pun berkata kepada Zahid, “Saudaraku, engkau tahu sendiri anakku merasa keberatan. Bukannya aku hendak menghalanginya. Maka sampaikanlah kepada Rasulullah SAW bila lamaranmu di tolak”.

Mendengar nama Rasulullah SAW disebut sang ayah, Zulfah berhenti menangis dan bertanya, “Mengapa ayah membawa-bawa nama Rasulullah SAW..?”

Said menjawab, “Lelaki yang datang melamarmu ini adalah karena perintah Rasulullah.”

Serta merta Zulfah mengucap istigfar berulang kali dan menyesali kelancangan perbuatannya itu. Terus, wanita muda itu berkata kepada sang ayah, “Mengapa ayah tidak mengatakannya sejak tadi bila yang melamarkan lelaki itu adalah Rasulullah SAW. Kalau begitu keadaanya, nikahkan saja aku dengannya. Karena aku teringat firman Allah : ‘Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil Allah dan Rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.’ (An-Nur : 51).”

Hati Zahid bagai melambung entah ke mana. Ada semburat suka cita yang tergambar dalam rona wajahnya. Bahagia, itu yang pasti ia rasakan saat itu. Setiba di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid..?” tanya Rasulullah.

“Alhamdulillah diterima, wahai Rasulullah,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan..?” tanya Rasulullah lagi.

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Rasulullah.. aku tidak memiliki apa-apa.”

Rasulullah pun menyuruhnya pergi ke rumah Abu Bakar, Utsman dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan sejumlah uang yang cukup, Zahid pergi ke pasar untuk belanja persiapan pernikahan. Bersamaan dengan itu Rasulullah menyeru umat Islam untuk berperang menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, ia melihat kaum muslimin telah bersiap dengan persenjataanya. Zahid bertanya, “Ada apa ini..?”
Shahabat menjawab, “Zahid.., hari ini orang kafir akan menghancurkan kita. Apakah engkau tidak mengetahuinya..?”
Zahid pun beristigfar beberapa kali sambil berkata, “Wah, kalau begitu aku lebih baik menjual perlengkapan perkawinan ini dan aku akan membeli kuda terbaik.”

“Tetapi Zahid, malam nanti adalah bulan madumu. Apakah engkau akan pergi juga..?” kata para shahabat menasehati.

“Tidak mungkin aku berdiam diri..!” jawab Zahid tegas.

Lalu Zahid membaca ayat, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah : 24).

Akhirnya Zahid melangkah ke medan pertempuran sampai ia gugur.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.” Lalu Rasulullah membacakan surat Ali Imran ayat 169 – 170.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) telah mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Para Shahabat pun meneteskan air mata. Bagaimana dengan Zulfah..?

Mendengar kabar kematian Zahid, ia tulus berucap, “Ya.. Allah.. alangkah bahagianya calon suamiku itu. Andai aku tak dapat mendampinginya di dunia, izinkanlah aku mendampinginya di akhirat kelak.” Demikian pintanya, sebuah ekspresi cinta sejati dari dunia hingga akhirat. Cinta yang bersemi oleh ketaatan kepada titah Rasulullah SAW, meski semula hati berontak.

(Dikutip dari buku “Ayat-Ayat Pedang – Kisah Kisah Pembangun Semangat Juang” Oleh : Layla TM)

Sumber: KIsah Islami

20 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Ujian Musibah Tanda Hamba Dikasihi

Daripada Anas RA katanya, telah bersabda Rasulullah SAW,
“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang hambanya, disegerakan bagi hamba itu balasan sewaktu di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki dengan hambanya keburukan ditangguh pembalasan itu supaya disempurnakannya di hari kiamat. Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya besarnya pahala itu bergantung pada besarnya ujian, sesungguhnya Allah itu apabila dia mengasihi sesuatu kaum dia menguji mereka dengan kesusahan. Sesiapa yang reda dengan kesusahan itu akan mendapat keredhaan Allah dan siapa yang tidak redha maka dia akan menerima kemurkaan Allah.”
(At-Tirmizi)

Huraian Hadith:
Orang beriman akan diuji menurut tahap keimanan dan kedudukan mereka di sisi Allah.

Bersabar menghadapi bala atau penyakit akan menghapuskan dosa.
Di antara tanda-tanda seseorang itu disayangi Allah ialah bala ujian yang ditimpakan ke atasnya.

Oleh itu kita wajib bersabar atas kesusahan yang menimpa kita agar tidak ditimpa bala dua kali, yang keduanya ialah kerugian luput pahala.
Seseorang yang sabar menghadapi kesusahan hidup adalah sebagai tanda bahawa dia dikasihi Allah. Orang yang tidak dikasihi Allah dilambatkan balasannya iaitu sampai ke hari kiamat.
Seseorang yang bersabar menghadapi kesusahan akan diberi ganjaran yang setimpal dengan kesusahan yang dihadapi itu.

Seseorang yang ingin menjadi hamba yang dikasihi Allah dia hendaklah bersedia menerima ujian yang diturunkan Allah kepadanya, sebaliknya seseorang yang tidak redha menerima ujian Allah dia akan dibenci Allah.

Sumber Jakim

20 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Banyak ulama, banyak pendapat ulama ini menyusahkan

Catitan daripada Daurah hadits Kitab Sunan Tirmidzi bersama Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi di Pondok Ledang, Bandar Baru Uda, Johor Bahru semalam (6 September 2014)..

Telah hadir seorang hamba Allah kepada Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi dan berkata ia, “banyak pendapat ulama ni, menyusahkan dih..banyak mazhab ni, menyusahkan dih..”

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi menjawab, “kenapa kamu tak salahkan Allah (Subhanahu wata’ala) terus? atau pun tak salahkan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) terus?”

Terkejut dia mendengar jawapan itu, dan berkata, “kenapa kata gitu?”

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi menjawab, “para Imam Mazhab, para ulama ni bukan suka-suka nak berbeza pendapat, tetapi mereka hanya menyatakan sesuatu hukum di perintah oleh Allah Subhanahu wata’ala daripada ayat al-Quran..

Ada ayat al-Quran itu, Allah Subhanahu wata’ala datangi ia dengan kalimah bahasa arab yang apabila di terjemahkan keluar lebih daripada satu makna, seperti ;

firman Allah Subhanahu waTa’ala :

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوَءٍ

“Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu dengan menahan diri mereka (iaitu dalam iddah) selama tiga qurru.”

Daripada kalimah ثَلاَثَةَ قُرُوَءٍ ini, Imam Syafie dan Imam Hanafi telah berbeza dalam menafsirkannya, Imam Syafie menafsirkannya dengan makna “3 kali suci”, manakala Imam Hanafi menafsirkanya dengan makna “3 kali haid”..

Apabila di tafsirkanya berbeza, maka hukumnya berbeza..

3 kali suci maknanya ;

haid datang : tak kira,
suci dari haid : 1 qurru,
haid datang : tak kira,
suci dari haid : 2 qurru,
haid datang : tak kira,
suci dari haid : 3 qurru,

Ini pendapat Imam Syafie dalam menafsirkan ia dengan makna 3 kali suci, barulah seseorang wanita itu habis iddahnya..

Ada pun Imam Hanafi pula ;

haid datang : 1 qurru,
suci dari haid : tak kira,
haid datang : 2 qurru,
suci dari haid : tak kira,
haid datang : 3 qurru.

Apabila makna ini berbeza bagi Imam Syafie dan Imam Hanafi, maka daripada makna berbeza ini keluar daripadanya 8 hukum hanya berkisah tentang ini sahaja..

Maka kamu nak salah kat siapa sekarang ini? kamu nak salahkan Imam Syafie dan Imam Hanafi yang menafsir berbeza ke? kenapa tak salahkan Allah yang datangkan ayat al-Quran dengan kalimah bahasa Arab yang memberi makna lebih daripada satu? kalau Allah datangkan ayat al-Quran dengan maknanya satu sahaja, jelas maknanya, maka tak berbezalah pendapat banyak ni, jadi kenapa tak salahkan Allah??”

Terdiam pucat lelaki itu..

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi menyambung, “kamu salahkan para Imam Mazhab kerana banyak pendapat tentang sesuatu hukum, kamu katakan mereka menyusahkan, kenapa kamu tak salahkan juga Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam)?

Ada perbuatan yang Rasulullah buat, tetapi kemudian Rasulullah larang..ada perbuatan yang Rasulullah larang, tetapi kemudian Rasulullah buat..ada perbuatan yang para sahabat buat dan Rasulullah tak pernah lakukannya, tetapi Rasulullah tak larang dan tak suruh..dan lain-lain lagi..

Jadi daripada perbuatan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) dan para sahabat ini, maka para Imam Mazhab, para ulama yang ada ilmunya, mereka berbeza pendapat di dalam memahaminya dan menyatakan sesuatu hukum tentangnya..

Lalu kamu nak salah kat siapa sekarang ni? kat Imam Mazhab? kat ulama?

Kenapa tak salahkan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) yang buat perbuatan berbeza beza? kenapa Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) tak buat satu perbuatan sahaja untuk sesuatu ibadat? kan senang, tetapi kenapa Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) buat begitu? kenapa tak salahkan baginda Nabi?”

Bertambah terdiam pucat lelaki itu..

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi menyambung lagi, “para Imam Mazhab, para ulama yang ahlinya ini, mereka ini dah memudahkan kita, mereka telah berusaha siang dan malam mengkaji ayat al-Quran dan hadits bagi menyatakan sesuatu hukum, menyusun sesuatu ibadat itu..untuk siapa? untuk kita, sepatutnya kita mengucapkan terima kasih kepada mereka..tetapi kita pula marah kepada mereka, kita pula salahkan mereka..”

Terdiam seketika lelaki itu, dan berkata, “ya, saya salah dalam hal ini..”

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi berkata lagi, “sepatutnya kamu tak boleh cakap macam tu, kamu tak faham pendapat ulama berbeza itu kerana kamu tak berusaha belajar tentangnya, kalau kamu belajar tentangnya, baru lah kamu faham betapa adanya pendapat mereka ini memudahkan kehidupan kita, perbezaan pendapat itu nampak zahirnya seperti rumit dan menyusahkan, tetapi jika kita mempelajarinya dengan betul betul, kita akan dapati perbezaan pendapat itu lagi memudahkan kita, ada gunanya dan ada hikmahnya..”

Wallahua’lam..

Oleh Nazri Radzi

16 October 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Ciri-ciri dosa yang tidak diampuni Allah SWT

Disaat kita hidup aman cukup makan tidur selesa, pernahkah kita berfikir tentang dosa kita? Dosa besar dan kecil. Kita meminta diampunkan dosa kepada Allah, namun terdapat dosa yang tidak akan diampun oleh Allah. Mari baca 6 dosa yang tidak diampun ini.

1- Makan harta anak yatim secara haram.
( untuk menghapuskan dosa tersebut pemakan harta anak yatim mesti membayar kembali harta yang telah digunakan serta memohon maaf kepada anak yatim tersebut . Jika anat yatim tersebut memaafkan perbuatannya, barulah boleh bertaubat kepada Allah SWT. Seandainya anak yatim tersebut tidak memaafkan perbuatannya maka dosanya tidak terhapus).

2- Menuduh wanita solehah berzina.
( Orang yang menuduh wanita solehah hendaklah memohon maaf kepada wanita tersebut, jika wanita solehah tersebut memaafkan, maka terhapuslah dosa tersebut dan bolehlah penuduh bertaubat kepada Allah SWT. sekiranya wanita solehah tidak memaafkannya maka dosa tidak terhapus dan tidak boleh bertaubat kepada Allah SWT ).

3- Lari dari medan Jihad yang memperjuangkan kalimah Allah SWT.
( Mereka yang lari dari medan jihad adalah mereka yang dayus dan tidak layak memasuki Syurga, cuba kaji dalam sejarah Islam hukuman mereka yang lari dari medan Jihad sehingga Rasulullah SAW terpaksa menunggu Arahan Allah SWT untuk memaafkan kesalahan tersebut ).

4- Melakukan sihir.
( Mereka belayar sihir dan pengamal sihir adalah mereka yang Syirik kepada Allah SWT, memang tidak layak bertaubat kepada Allah SWT melainkan mengucap kembali kalimah Syahadah dan mesti menyerah kepada kerajaan Islam untuk melaksanakan hukuman yang sewajarnya ).

5- Bersyirik kepada Allah SWT atau menyamakan kedudukan Allah SWT dengan makhluk.
( Dosa syirik atau menyamakan Allah SWT dengan makhluk samada melalui niat,percakapan dan perbuatan yang disedari atau tidak disedari maka dosa ini tidak boleh bertaubat kecuali dengan mengucap kembali kedua Kalimah Syahadah dan pemerintah Islam mesti melaksanakan hukuman hudud barulah Allah SWT rela menerima kembali amal ibadat seseorang hamba yang telah menduakan Allah SWT atau menyamakan Allah SWT atau menyengutukan Allah SWT).

6- Membunuh Para Nabi yang diutuskan oleh Allah SWT.
( Mereka yang membunuh Para Nabi hendaklah dihukum bunuh dan terserah kepada Allah SWT untuk mengazab mereka. Rasulullah SAW pernah mengutuskan utusan untuk membuuh mereka yang menghina atau mengejek Allah SWT dan Rasulullah SAW semasa penubuhan Negara Islam Madinah).

Kitab Tanbihul Ghafilin , Jilid 1 & 2. M/S : 532

8 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

KEBAHAGIAAN itu bukanlah terletak pada banyaknya harta

KEBAHAGIAAN itu bukanlah terletak pada banyaknya harta wang ringgit, bukan pada besarnya rumah kediaman, bukan pada hebatnya kenderaan yang dimiliki, bukan pada tingginya jawatan kau perolehi ataupun bukan pada apa jua yang kau idam-idamkan, angan-angankan, harap-harapkan, cita-citakan di dalam dunia yang fana ini..

TETAPI KEBAHAGIAAN hakiki itu terletak pada jiwa nurani yang sentiasa berusaha mendekatkan diri pekerti kepada Allah Subhanahu Wa Taala, bila diri dekat dengan Allah s.w.t jiwa akan rasa tenang bila diri semakin jauh dengan Allah s.w.t (kerna angkara dosa/maksiat) hati mula rasa gundah-gulana dan hilang punca dan arah…
Marilah kita dekatkan diri dengan Allah s.w.t sentiasa…Kasih sayang Allah s.w.t sentiasa melangit luas tiada sempadan buat kita semua…Hanya kepada Allah s.w.t tempat kita mengadu dan meminta apa jua pertolongan…

7 Indikator kebahagian di dunia ini :
1. Hati yang selalu bersyukur
2. Pasangan hidup yang soleh/solehah
3. Anak-anak yang soleh, cerdik dan hebat
4. Lingkungan hidup yang kondusif untuk iman kita
5. Memiliki harta yang halal
6. Semangat untuk memahami/mendalami agama Islam
7. Dikurnia umur yang berkat

We love Allah..We love Rasulullah…

‪Bahagian Dakwah JAKIM

7 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Tasawwuf, Tariqah & Sufi

Akhir-akhir ini sering kita mendengar tomahan-tomahan daripada beberapa pihak yang cuba mengaitkan tasawwuf, tariqah dan sufi sebagai sebahagian daripada ajaran fahaman syiah tanpa mengemukakan bukti-bukti yang nyata.

Ingin penulis menukil kata-kata Tuan Guru Syeikh Nuruddin al Banjari hafizahullah :
(Hanya segelintir sahaja yang mampu meneliti secara adil. Bahkan sikap keterlaluan mereka, telah sanggup menjadikan tasawwuf sebahagian sifat yang tercela dan dicaci. Dengan sebabnya boleh menggugurkan sifat-sifat tercela dan dicaci. Dengan sebabnya boleh menggugurkan kelayakan seseorang untuk menjadi saksi dan menghilangkan sifat ‘adalah (tidak fasiq). Sehingga dik “Apabila dipersoalkan, kenapa? Maka dijawabnya : “Kerana beliau seorang sufi.”

Apa yang pelik dan menghairankan ialah apabila kita perhatikan terdapat segelintir golongan yang mencela tasawwuf, jelas menentang, malah bermusuhan terhadap pengamalnya dan juga yang sering mengingkarinya, mereka ini telah melakukan perkara yang dilakukan oleh ahli Tasawwuf. Setelah itu tanpa segan silu telah memetik ungkapan kata-kata tokoh-tokoh sufi di dalam ucapan dan khutbah mereka di atas mimbar Jumaat serta halakah pengajian. Ada yang penuh bangga dan angkuh berucap : “Berkata al Fudhail bin Iyadh, berkata al-Junaid, berkata Hasaan al-Basri, berkata Sahl al-Tustari, berkata al-Muhasibi dan berkata Bishru al-Hafi.

Kesemua mereka itu merupakan imam-imam, paksi, tiang, tonggak dan binaan tasawuf. Kitab-kitab tasawuf dipenuhi dengan ucapan-uacapan, kisah-kisah, moral dan kesempurnaan mereka. Saya tidak pasti adakah dia tidak mengetahui atau sengaja berpura-pura tidak tahu, buta atau sengaja memejamkan mata?)

Perbezaan Tariqah dengan Tasawwuf

Walaupun kedua-dua istilah, tariqah dan tasawwuf itu sama pengertian atau maksudnya, namun jika diteliti secara terperinci, maka kita akan dapati masih ada juga sedikit perbezaan antara kedua-duanya.

Misalnya, apabila kita mahu menjelaskan sesuatu aliran dhikr, maka biasanya kita akan menyebut : Tariqah Ahmadiyah atau Tariqah Qadiriyyah atau Tariqah Naqsyabandiyyah atau sebagainya lagi. Kita tidak pernah mendengar orang menyebut atau melihat orang menuliskan : Tasawwuf Ahmadiyyah atau Tasawwuf Qadariyyah atau Tasawwuf Naqsyabandiyyah atau sebagainya lagi. Apa yang pernah kita dengar dan temui dalam tulisan-tulisan ialah : Tasawwuf Salafi, Tasawwuf Falsafi atau seumpamanya lagi. Keadaan ini membuktikan adanya perbezaan sedikit antara tariqah dengan tasawwuf.

Definisi tariqah oleh Maulana Zakariyya al Kandahlawi rahimahullah di dalam kitabnya al-Syari’ah wa al-Tariqah menjelaskan bahawa tariqah itu ialah jalan yang boleh menyampaikan seseorang mukmin ke darjat ihsan itu ialah tasawwuf, maka amat nyatalah bagi kita bahawa tariqah itu ialah jalan mujahadahnya, sedangkan tasawwuf itu pula adalah natijahnya atau hasil mujahadah itu sendiri.

Jadi, dengan mempelajari ilmu tasawwuf kita dapat mengenal penyakit-penyakit mazmumah dan mengubati penyakit-penyakit tersebut dengan ubatnya iaitu sifat-sifat mahmudah. Penyakit-penyakit ini tidak dapat dihukum dengan hukum Feqah kerana penyakit ini tempatnya di hati manakala hukum Feqah itu bersifat fi’liyah (perbuatan/perlakuan) seharian kita baik dalam bab ibadat mahupun muamalat.

Golongan sufi.

Siapakah golongan sufi yang sering disalahfahami oleh golongan yang menolak ajaran tasawuf ini?

Dipetik dari kitab al Ghunyah Lithalibi Thariq al-Haq karangan Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah :
Istilah sufi sendiri menurut asal-usulnya berasal dari kata “al-mushafah” yang bermaksud hamba yang dibersihkan oleh Allah. Kerana itulah sufi didefinisikan sebagai orang yang bersih (suci) dari jebakan-jebakan nafsu, terhindar dari cela-cela diri, menempuh jalan terpuji, istiqamah menjalani kenyataan hakiki (haqaiq) dan tak merasakan ketenteraman hati dengan seorang pun dari kalangan makhluk (khalaiq). Ada juga yang mendefinisikan tasawwuf dengan “berkata dan berlaku benar dengan Allah dan berbudi baik dengan makhluk”.

Manakala orang awam seperti kita yang menempuh jalan salik (jalan yang pernah ditempuh oleh para sufi) disebut sebagai “Mutashawwif iaitu orang yang berusaha menjadi sufi. Kesimpulannya, para sufi itu terdiri dari golongan wali-wali Allah.

Apa kaitannya Tasawwuf, Tariqah dan Sufi dengan ajaran Syiah?

Ini adalah satu dakwaan yang pelik kerana Ajaran Syiah itu salah satu daripada pecahan-pecahan firqah yang disebut dalam sebuah hadith Baginda salallahu alaihi wasallam yang bermaksud :
“Demi Tuhan yang memgang jiwa Muhammad ditanganNya, akan berfirqah umatKu sebanyak 73 golongan, yang satu masuk syurga dan yang lain masuk neraka.”
Bertanya para sahabat : “ Siapakah golongan yang tidak masuk neraka itu ya Rasulullah?”
Nabi menjawab : “Ahlussunnah wal Jamaah”
(Hadith Riwayat Imam Thabrani)

Setelah dikaji oleh para ulama Usuluddin, pembahagian 73 itu ialah seperti berikut secara ijma’ :
Syiah 22 aliran
Khawarij 20 aliran
Muktazilah 20 aliran
Murjiah 5 aliran
Najariah 3 aliran
Jabariah 1 aliran
Musyabihah 1 aliran
Ahlussunnah wal Jamaah 1 aliran.

Kita semua sedia maklum bahawa semua tokoh-tokoh sufi adalah berfahaman Ahlussunah wal Jamaah. Erti Ahlussunnah ialah penganut Sunnah Nabi dan erti wal Jamaah ialah penganut i’tiqad sebagai i’tiqad Jamaah sahabat-sahabat Nabi. I’tiqad Nabi dan para sahabat telah lama termaktub dalam Al Quran dan dalam Sunnah Rasul secara terpisah-pisah, belum tersusun secara rapi dan teratur, kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh ulama Usuluddin yang besar iaitu, Syeikh Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari (260-324H) kemudian orang menamakan kaum pegangan ahlussunnah wal Jamaah sebagai Asya’irah.

Di dalam kitab “Ihtihaf Sadatul Muttaqin” karangan Imam Muhammad bin Muhammad al Husni az Zabidi, iaitu kitab syarah dari kitab “Ihya Ulumuddin” karangan Imam Ghazali yang bermaksud ;
“Apabila disebut kaum Ahlussunnah wal Jamaah, maka maksudnya ialah golongan yang mengikut fahaman Asyari dan fahaman Abu Mansur al Maturidi.”

Ciri-ciri ringkas fahaman Syiah

1. Mengatakan Sayyidina Ali radiyallahuanhu adalah khalifah yang sepatutnya dilantik selepas kewafatan Rasulullah salallhu alaihi wasslam dengan bersandarkan hadith “Ghadir Khum.”

2. Menggantikan nama ‘khalifah’ kepada ‘Imam’.. Ahlussunnah wal jamaah merujuk Imam untuk para ulama muktabar.

3. Pengertian ‘Ahli Bait’ bagi kaum SYIAH ialah Siti Fatimah, saidina Ali, saidina Hasan & Husein, menantu dan cucu cucu Nabi. Isteri-isteri Nabi s.a.w menurut mereka bukan Ahli Bait (keluarga baginda s.a.w).

4. Orang berfahaman SYIAH percaya kepada silsilah 12 Imam dan imam yang ke-12 ialah Imam Mahdi. Menurut kepercayaan mereka, Imam yang ke 12 tidak wafat tapi melainkan lenyap bersembunyi di suatu tempat persembunyian di sebuah rumah di kota Samara’ (Iraq). Hingga kini mereka yang di Samara’ berkumpul tiap malam di rumah tersebut di depan lubang yang ada dalam rumah itu dan memanggil-memanggil agar Imam itu keluar.

5. Pandangan sebahagian kaum SYIAH terhadap Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar & Sayyidina Uthman radiyallahu anhu adalah perompak/perampas terkutuk bahkan ada yang mengkafirkan mereka. Nauzubillah. Walaupun SYIAH aliran Zaidiyyah tidak mengutuk mereka, fahaman tersebut tergelincir daripada aqidah yang haq (benar).

6. Persoalan Imam yang lenyap adalah perkara pokok dalam fahaman SYIAH. Fahaman Imamah percaya, bahawa Imam yang ke-12 telah lenyap dan akan muncul kembali. Syiah Ismailiyah pula berkeyakinan Imamnya yang ke-7 yakni Ismail Bib Jaafar Shadiq telah lenyap & akan lahir pada akhir zaman. Manakala Syiah lain beranggapan yang imam yang ke-5 akan muncul pada akhir zaman.

7. Antara aliran-aliran Syiah ada terdapat Sabaiyah yakni aliran Abdullah bin Saba’. Dia pernah mengatakan bahawa dalam kitab Taurat, setiap Nabi mempunyai Washi (semacam putera mahkota) dan Sayyidina Ali ialah putera mahkota dari Nabi Muhammad s.a.w.

Menurut dia lagi, Sayyidina Ali diangkat ke langit ketika terbunuh dan yang terbunuh itu bukan Saiyyidina Ali. Akan tetapi hanyalah orang yang menyerupai beliau sebagaimana cerita Nabi Isa a.s. Manakala kononnya suara-suara guruh adalah suara Sayyidina Ali yang marah dengan tindak tanduk Sayyidina Muawiyah. Mereka akan mengucap ‘Assalamualaikum ya Amirul Mukminin’ apabila mendengar bunyi guruh.

8. Sebahgian daripada mereka percaya bahawa ruh Imam-imam itu turun-menurun dari Imam Ali hingga ke imam ke-12 sehingga roh menjadi sangat suci.

9. Fahaman Syiah Beri’tiqad (percaya / berpegang) dengan at-Taqiyah, yakni menyembunyikan

10. Tidak menerima Ijma’ kerana bagi mereka membenarkan ijma bermaksud mendengar pendapat orang diluar faham Syiah. Fahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah menerima qias & ijma’ sebagai sumber hukum selepas al-Quran & Sunnah.

11. Nikah Muta’ah adalah halal menurut fahaman Syiah. Menurut para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, pernikahan muta’ah adalah tidak sah. Maka bagaimana mereka mengaku mereka adalah Ahlul Bait (keluarga baginda Nabi Muhammad s.aw) sedangkan nasab mereka putus kerana pernikahan yang tidak sah?

Inilah fahaman syiah yang perlu diketahui serba sedikit secara ringkas agar kita menjauhi fahaman ini.

Keterangan yang keliru : Fahaman ini bukan diasaskan oleh Sayyidina Ali radiyallahu anhu. Selain daripada itu, ada orientalis menerangkan bahawa fahaman syiah itu iallah fahaman yang mencintai saiyidina Ali atau golongan yang mencintai ahlul bait Rasulullah. Ia satu keterangan yang sangat keliru kerana Ahlus sunnah wal Jamaah dan seluruh umat islam mencintai ahlul bait khususnya sayidina Ali radiyallahu anhu.

Kesimpulannya, tuduhan mengaitkan tasawwuf, tariqah dan sufi dengan ajaran syiah merupakan satu tuduhan yang bersifat terburu-buru tanpa meneliti dengan adil yakni bertanya atau merujuk terlebih dahulu kepada ahlinya sendiri. Ajaran ini sudah ada semenjak dari zaman Rasulullah salallahu alaihi wasallam, tinggal lagi ia tidak diberi nama tasawwuf sebagaimana ilmu-ilmu yang lain seperti feqah, usulluddin, ilmu tajwid, ilmu nahu dan banyak lagi untuk dinyatakan. Wallahua’lam ,

Oleh ,

Ust Uthman Daud
— with Ahyarrudin Yusof

7 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

MILIK AYAH & IBU…RAMAI YANG TAK TAHU…

Terdapat sebuah pertanyaan di suatu Majlis Taklim pada sesi tanya jawab pengajian.

Penanya: Wahai Syeikh, Ibuku tinggal menumpang bersamaku dirumahku dan terjadi masalah antara Beliau dengan isteriku.

Syeikh: Ulangi pertanyaanmu..!!

Penanya: Ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku.

Syeikh: Cuba ulangi pertanyaanmu..!!

Penanya: Ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku.

Syeikh: Ulangi lagi pertanyaanmu..!!

Penanya: Ibuku tinggal menumpang bersamaku.

Syeikh: Ulangi sekali lagi pertanyaanmu..!!

Penanya: Wahai Syeikh, tolong biarkan aku menyelesaikan dulu pertanyaanku, jangan anda potong.

Syeikh: Pertanyaanmu salah, yang benar engkaulah yang hidup menumpang pada ibumu, meski rumah itu milikmu dan atas namamu..

Penanya: Iya Syeikh, kalau demikian selesai sudah permasalahannya..

Syeikh: Jangan derhaka wahai anak, jangan derhaka wahai menantu..!!
Kamu dengan seluruh hartamu adalah milik ibumu.

RasululLah SAW bersabda: “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayah Ibumu” [HR. Ibnu Majah no. 2291]

1. Setitik air mata ibu jatuh, 10 kebajikan anak hilang, ibu-ibu jangan jatuh air mata dan anak jangan bagi ibu jatuh air mata. Biarlah Ibu menangis kerana Anak Berjaya dan bukan sedih kerana Angkara Anak.

2. Kalau balik tengah malam, buka lampu tengok dan tatap muka Ibu/anak, sebab wajah orang tidur akan menampakkan segalanya

ADA 3 MATA YG TIDAK DIJILAT API NERAKA..

» Melihat kaabah sehingga menitis air mata.
» Membaca Al-Qur’an sehingga menitis air mata.
» Memandang wajah Ibu yang sedang tidur /sedar hingga berlinangan air mata.

Orang yang kita kena tengok dan selalu pandang dalam hidup, tengok masa tidur.

» Anak
» Ibu
» Suami /Isteri

1. Adalah menjadi satu dosa jika kita mengguna jari telunjuk untuk menunjukkan sesuatu pada Ibu/bapa.

2. Barang siapa yang tidak mendoakan ibu/bapa selepas sembahyang buat ibu yang sudah meninggal maka dikira dia anak derhaka walaupun pada waktu ibu/bapanya hidup dia tak pernah menderhaka. Maksudnya jika ibu/bapa masih hidup atau telah tiada, selepas setiap solat kita mesti mendoakannya.

3. Doa orang yang masih hidup makbul untuk orang yang hidup dan mati. Jadi doakanlah Ibu/bapa kita yang telah tiada.

4. Ketika melalui kubur, perlahankan kenderaan (jika sedang menaiki kenderaan) dan beri salam, mereka akan doakan kita “berkatilah si pulan ini” dan jika tak bagi salam, mereka akan kata “celakahlah orang ini” Jadi, jangan lupa bagi salam.

5. Tanda-tanda siksa Allah atas muka bumi ini antara lain simpan harta sampai mati tak pernah keluarkan zakat.

6. Sesiapa yang bersedekah selalu, takkan miskin orang itu selamanya.

7. Jika mak ayah kita sudah meninggal dan semasa hayatnya kita ada peruntukkan wang untuk dia, bila mak kita dah takde teruskan memberi peruntukkan itu sebagai sedekah.
“Ya Allah, aku sedekahkan bagi pihak ibu/bapaku, semoga pahala sedekah ni sampai kepada ibu/bapaku”.
Itu yang yang buat ibu/bapa kita bahagia di sana.

8. Kalau kita susah nak bersedekah, bayangkan wajah Ibu/bapa kita baru kita ringan tangan nak bersedekah.

9. Allah panjangkan usia Ibu/bapa supaya mereka sakit dan nyanyuk untuk beri syurga pada anak2nya. Jagalah mereka dengan baik In shaa Allah, syurga balasannya. Jadi kalau tahu ibu/bapa sakit, berebutlah menjaga ibu/bapa kita. Besar sangat pahalanya.

10. Allah kalau boleh tak nak kita masuk neraka jadi Allah takkan matikan seseorang dalam keadaan kotor dan berdosa jadi dia bagi kita sakit/malu/miskin untuk mmbersihkan kita sebelum dia mengambil kita.
Ya Allah jadikan hari-hari kami penuh dengan bakti kami kepada orangtua kami dan berkatilah kehidupan kami..Aamiin Ya Rabbal A’lamiin.

7 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Letakkan ADAB lebih ke hadapan daripada ILMU

Ulama Muda Utara
Usrah Asar

Letakkan ADAB lebih ke hadapan daripada ILMU.. Begitulah pesanan Guru Kami.. Semua orang ada guru masing-masing.. Walaupun para guru kita ada yang berbeza pandangan dan berbeza pendapat, tapi antara mereka tidak ada langsung pertelagahan kerana mereka meletakkan ADAB dihadapan mendahului ILMU.. Namun, anak murid di bawah ini yang langsung tidak ada sikap tasammuh yakni berlapang dada bertikam lidah siang dan malam semata-mata nak tunjuk guru mereka sahaja yang betul, dan guru orang lain yang salah.. Isu khilafiah ini sudah berabad lamanya telah diselesaikan dan dihuraikan dengan panjang dan mendalam oleh para ‘alim ulama’ terdahulu.. Jadi mengapakah kita nak kata pandangan ulama’ terdahulu salah dan menyimpang manakala pendapat guru kita sahaja yang betul.. Jangan sesekali ada sikap tercela ini yakni sikap ‘ASOBIYYAH bererti beranggapan bahawa guru kepada orang lain yang salah manakala guru kita sahaja yang betul semuanya..

Sebab itu kena mengaji ADAB dahulu sebelum mengaji ILMU.. ILMU tanpa ADAB ibarat burung yang bercita-cita untuk terbang tinggi namun langsung takdak bulu pelepah.. Maka, lebih baik berdiam daripada bercakap tentang perkara yang kita tak tahu menahu.. Tak perlu untuk turut serta berdebat tentang hal yang memang bukan bidang kita seolah-olah kita lagi hebat daripada Mufti.. Tengoklah para ‘alim ulama’ kita, mereka menghormati antara satu sama lain walaupun ada yang berbeza pandangan dan pendapat.. Apa salahnya kita sebagai anak murid, mencontohi sikap mereka.. Para Guru kita sangat² menjaga diri mereka daripada fitnah, tetapi adakala anak² muridnya sendirilah yang menyebabkan fitnah menimpa kepada Guru mereka.. Ambik paham bab nie.. Pesanan khas untuk diri sendiri yang cukup² jahil takdak ilmu, takdak adab, lagho & hina dina..

Al-Faqir Ilallah, Abu Fadhil Ridhauddin
21 Zulhijjah 1436 H

5 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Hukum Menggunakan Telefon Bimbit Ketika Khutbah Jumaat

Dalam era perkembangan sains dan teknologi zaman ini, berbagai-bagai peralatan baru dan canggih muncul bagaikan cendawan. Salah satu daripada peralatan tersebut, yang dimiliki oleh kebanyakan orang pada masa kini ialah telefon bimbit.

Tidak dinafikan bahawa tuntutan keperluan hidup di zaman yang serba canggih dan moden ini menjadikan penggunaan telefon bimbit seakan-akan satu kemestian kerana kewujudannya banyak membantu mempermudahkan tugas dan pekerjaan. Di samping itu, ia juga mampu mempermudahkan perhubungan sesama kaum keluarga, sanak-saudara, rakan-taulan dan sebagainya. Selain aplikasi-aplikasi perhubungan, terdapat juga berbagai jenis dan bentuk aplikasi yang lain seperti aplikasi-aplikasi peringatan waktu sembahyang, penunjuk arah qiblat, maklumat, berita, permainan game dan sebagainya yang boleh diakses dengan beberapa petikan jari sahaja.

Penggunaan telefon bimbit ini tidaklah menjadi kesalahan selama mana kemudahannnya tidak digunakan ke arah sesuatu yang menyalahi hukum Syara’. Namun apa yang merungsingkan, keghairahan terhadap penggunaan telefon bimbit ini ada kalanya boleh menyebabkan sebilangan orang lalai dan terlalu asyik sehingga mereka sentiasa membawa dan menggunakannya tanpa mengira kesesuaian masa dan tempat. Bahkan ada kalanya ketika sembahyang pun telefon bimbit ini akan dibawa bersama tanpa mematikan (switch off) atau menutup bunyinya terlebih dahulu. Maka akan kedengaranlah bunyi-bunyi nada dering dan sebagainya yang pastinya akan mengganggu kekhusyukan pemiliknya dan kekhusyukan jemaah yang lain jika bersembahyang jemaah. Bukti yang paling nyata dapat dilihat dengan jelas ketika perhimpunan Sembahyang Fardhu Jumaat. Ketika khatib sedang membacakan khutbah Jumaat, akan kelihatan segelintir jemaah tanpa rasa segan silu menggunakan telefon bimbit untuk menghantar pesanan ringkas (sms), berkomunikasi melalui halaman rangkaian sosial, melayari halaman internet, bermain game dan sebagainya. Apakah pandangan Syara’ mengenai perkara ini?

Tuntutan Diam Ketika Khatib Membaca Khutbah Jumaat

Khutbah merupakan salah satu daripada lima syarat sah Sembahyang Fardhu Jumaat. Ia adalah wasilah terbaik untuk menyampaikan dan menerima nasihat, peringatan serta mesej-mesej ukhrawi dan duniawi kepada masyarakat Islam. Ini kerana pada hari Jumaat, kaum muslimin duduk berhimpun dan sembahyang bergandingan di antara satu dengan yang lain, tanpa mengira bangsa, pangkat ataupun rupa.

Sunat bagi orang yang menghadiri Sembahyang Fardhu Jumaat menghadapkan muka ke arah imam (ke arah qiblat) kerana menurut Imam Khatib Asy-Syarbini Rahimahullah, ini adalah adab, dan selain itu ianya sekaligus membolehkan mereka tetap menghadap qiblat. Perbuatan ini juga sekaligus lebih mempermudahkan seseorang itu untuk menumpukan sepenuh
perhatian terhadap khutbah Jumaat yang disampaikan oleh khatib.

Disunatkan juga bagi jemaah untuk diam dan mendengar khutbah Jumaat dan makruh bagi mereka berkata-kata sepertimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam telah bersabda:

Maksudnya: “Jika engkau mengatakan kepada sahabatmu “dengarkanlah (khutbah)” padahal imam pada waktu itu sedang berkhutbah, maka sesungguhnya engkau benar-benar telah berkata sia-sia.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Maksud “sia-sia” di sini ialah bertentangan dengan sunnah, adab, dan mengakibatkan rugi pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat walaupun sembahyangnya masih dikira sah.

Dapatlah difahami daripada hadits ini bahawa apa pun jenis katakata mahupun perbualan adalah dilarang sama sekali ketika khutbah Jumaat sedang dibacakan atau disampaikan. Ini kerana jika kata-kata seorang jemaah yang menyuruh seorang jemaah yang lain supaya diam dan mendengar khutbah itu pun sudah dikategorikan sebagai sia-sia, sedangkan perbuatan itu merupakan satu suruhan ke arah kebaikan, maka apatah lagi kata-kata biasa atau perbualan kosong semata-mata.

Akan tetapi tidak makruh ke atas orang yang mendengar khutbah Jumaat itu berkata-kata jika terdapat darurat, misalnya kerana hendak menyelamatkan orang buta yang hampir terjatuh ke dalam parit atau ternampak binatang berbisa seperti kala jengking atau ular menghampiri seseorang. Maka dalam hal seperti ini, tidaklah dilarang orang yang mendengar khutbah Jumaat itu berkata-kata, bahkan wajib baginya melakukan demikian. Akan tetapi lebih baik (sunat) baginya untuk menggunakan isyarat sahaja jika dia mampu mengelakkan daripada berkata-kata.

Menurut Imam An-Nawawi Rahimahullah, bagi mereka yang dapat mendengar khutbah, diam mendengarkan khutbah Jumaat itu adalah lebih utama daripada membaca al-Qur’an, berzikir dan sebagainya. Ini kerana terdapat qaul (pendapat) yang mengatakan bahawa diam untuk mendengar khutbah Jumaat itu adalah wajib.

Adapun bagi orang yang tidak dapat mendengar khutbah pula, misalnya kerana duduk jauh daripada imam ataupun suara imam tidak dapat didengar, maka adalah lebih utama baginya pada ketika itu membaca al-Qur’an terutamanya Surah Al-Kahfi, bersalawat, bertasbih, berzikir dan sebagainya dengan suara yang perlahan supaya tidak mengganggu jemaah-jemaah yang lain.

Hukum Menggunakan Telefon Bimbit Ketika Khutbah Jumaat

Adapun perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khatib membaca khutbah Jumaat boleh diqiyaskan kepada maksud sebuah hadits sahih yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

Maksudnya: “Sesiapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian dia (pergi ke masjid) untuk menunaikan Sembahyang Fardhu Jumaat, lalu mendengar dan tidak bercakap (ketika khutbah disampaikan), maka diampuni dosa-dosanya yang ada di antara hari Jumaat itu dan hari Jumaat berikutnya dan ditambah tiga hari lagi. Dan sesiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu (ketika khutbah), maka dia telah berbuat sia-sia”. (Hadits riwayat Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan jelas telah menegaskan bahawa barangsiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu ketika khutbah Jumaat itu telah melakukan suatu perbuatan yang sia-sia. Maksud “sia-sia” dalam hadits ini sepertimana yang telah diterangkan sebelum ini ialah bertentangan dengan sunnah, adab dan mengakibatkan rugi pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat walaupun sembahyangnya masih dikira sah.

Menurut ulama, larangan dalam hadits tersebut tidak hanya terbatas terhadap bermain dengan anak batu sahaja, bahkan larangan tersebut menyeluruh terhadap semua perbuatan yang boleh menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat.

Jika dinilai dan diteliti, perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khutbah dibacakan ini adalah lebih buruk lagi daripada perbuatan bermain dengan anak batu kerana perbuatan seperti bermain game, melayari halaman internet, berkomunikasi melalui halaman rangkaian sosial dan sebagainya itu adalah sangat jelas lebih menghilangkan kekhusyukan dan menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat.

Jadi sangat jelas di sini bahawa perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khatib membaca khutbah Jumaat adalah suatu perbuatan yang bertentangan dengan sunnah dan adab yang menuntut kita supaya diam dan meninggalkan segala perbuatan yang boleh menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat. Oleh itu, perbuatan ini sayugianya ditinggalkan kerana ianya mengakibatkan kerugian yang sangat besar, iaitu kehilangan pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat.

Perhimpunan Sembahyang Fardhu Jumaat itu bukannya lama, tidak ada kerugian apa-apa jika telefon bimbit ditutup seketika atau langsung tidak perlu di bawa ke dalam masjid. Tinggalkanlah buat seketika segala perkara dan urusan duniawi yang kurang penting apatah lagi yang sia-sia. Hadirkanlah hati dan seluruh anggota tubuh badan zahir dan batin, dan isikan seluruh jiwa raga dengan perisian rasa khusyu’, taat, taqwa dan penghambaan yang mutlak terhadap Allah Subhanahu wa Ta’aala untuk mendengarkan khutbah dan seterusnya mendirikan Sembahyang Fardhu Jumaat.

Sumber: Mufti Brunei
Di petik dari Blog Islamituindah

 

2 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Dua Ancaman Melengahkan Taubat

MANUSIA dilahirkan dalam keadaan fitrah tetapi kerana perbuatannya sendiri yang berlawanan dengan acuan ajaran Islam atau perintah Allah, maka terpalit dosa.

Kita sebagai manusia biasa harus menerima hakikat kita tidak pernah terlepas daripada kesalahan serta kekhilafan yang dipengaruhi oleh suasana lingkungan, bisikan syaitan dan kehendak nafsu. Disebabkan itu, apabila melakukan kesalahan, kita perlu segera bertaubat.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Setiap Bani Adam itu bersalah dan berdosa, dan sebaik-baik orang yang bersalah ialah mereka yang bertaubat.”

Bagi hati yang dipenuhi keinsafan, sudah tentu tidak mahu berterusan berada dalam dosa, sepanjang waktu berusaha mencari jalan membersihkan diri dengan bertaubat supaya dapat beralih daripada kegelapan kepada cahaya hidayah.

Bertaubat adalah suruhan Allah dan amalan rutin Rasulullah SAW yang wajib dilaksanakan segera tanpa berlengah. Malangnya suruhan ini dipandang sepi dengan alasan ‘masa masih panjang lagi.’

Alasan itu sangat dangkal dan jahil kerana taubat bukan khusus untuk golongan tua kerana kematian tidak mengira usia. Persoalannya apakah kita boleh hidup sampai tua? Kita sedia maklum orang yang sengaja melambat-lambatkan memohon ampun dan bertaubat akan berdepan dua bahaya besar.

Pertama, hatinya penuh dengan karat akibat perbuatan maksiat atau keingkaran dilakukan tanpa henti kepada Allah sehingga menjadi sangat susah untuk mengikis dan menghapuskannya.

Kedua, maut atau penyakit datang sebelum sempat ia membersihkan karat di hati, ia menemui Allah SWT dalam keadaan hatinya penuh kekotoran dosa dan pasti menyeretnya kepada suasana hidup tidak selamat di akhirat nanti.

Oleh itu, apabila menyedari telah melakukan dosa, maka segeralah minta ampun daripada Allah SWT dengan bertaubat. Orang yang bertaubat atas dasar kerelaan, keinsafan, ikhlas hati dan bersungguh-sungguh hendaklah yakin Allah SWT pasti menerima taubatnya.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Barang siapa yang bertaubat sesudah melakukan kejahatan, memilih jalan lurus, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya dan Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Surah AI-Maidah, ayat 39)

Ni’mat Shidqi dalam bukunya Pembalasan: Syurga atau Neraka berkata, ayat 82 surah Toha meletakkan syarat mengenai taubat iaitu memilih jalan yang benar, mengerjakan amalan soleh untuk menebus kesalahan lalu, meninggalkan kejahatan dan menukar sikap dari buruk kepada baik.

Sebelum penyesalan menjadi tidak berguna dan tangisan menjadi sia-sia, kita hendaklah bersikap positif iaitu segera bertaubat dan terus giat melakukan kebaikan secara berterusan.

Sumber: IslamItuIndah.My

23 September 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Tabiat Wanita yg menjurus ke Neraka

image

Sebagai peringatan untuk para wanita dipaparkan suatu peristiwa di suatu Eid, di mana seorang wakil telah dilantik dari kaum wanita untuk bertemu dengan Rasulullah SAW untuk meminta baginda SAW memberi ucapan khusus untuk kaum wanita.

Baginda bersetuju dan menyuruh mereka berkumpul di Baabun Nisaa’.

Setelah kaum wanita berkumpul, Bilal pergi memanggil Rasulullah SAW. Baginda pun pergi ke sana , dan memberi salam dan memberi tazkirah seperti berikut:

“Assalamu’alaikum, wahai kumpulan/kaum wanita. Wahai kaum wanita, Aku lihat kamu ini lebih banyak di neraka”.

Seorang wanita lalu bangun bertanya, “Apakah yang menyebabkan yang demikian? Adakah sebab kami ini kufur?’
Rasulullah SAW menjawab, “Tidak. Bukan begitu. Tetapi ada dua tabiat kamu yang tidak elok yang boleh menjerumuskan kamu ke dalam neraka:

1.Kamu banyak mengutuk/menyumpah.
2.Kamu suka kufurkan ( nafikan) kebaikan suami

Kemudian baginda SAW mengingatkan kumpulan wanita supaya:
Banyak beristighfar dan bersedekah

Keterangan:
Yang dimaksudkan dengan mengutuk/menyumpah ialah seperti contoh di bawah:

Contoh 1 – Katakan kita lama menunggu bas. Tetapi bas masih tak kunjung tiba, akibat geram dan marah kita mungkin berkata, “Driver bas ni dah mampus agaknya.” Perkataan mampus itu termasuk dalam erti kata menyumpah. Lisan wanita memang terlalu cepat menyumpah. Kadang-kadang pakaian, perkakas rumah, hatta suami pun kena sumpah.

Contoh 2 – Tengah memasak gas habis. Kita mungkin berkata “Celaka punya gas. Masa ni jugak nak habis.” Yang dimaksudkan kufur di sini bukan kufur I’tiqad tetapi bererti tidak mengiktiraf Kebaikan di sini bermaksud tanggungjawab yang telah ditunaikan oleh suami.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah pernah ditanya oleh seorang suami yang kurang faham apa yang dimaksudkan dengan ‘kufurkan kebaikan suami’.

Rasulullah SAW berkata,”Tidakkah pernah engkau jumpa, seorang isteri, jika seumur hidup engkau, engkau berbuat baik kepadanya, tetapi di suatu ketika, disebabkan dia tidak mendapat sesuatu yang dia kehendaki, maka dia akan berkata ,”Awak ini, saya tak nampak satu pun kebaikan awak”

(Dalam masyarakat kita kata-kata di atas mungkin boleh dikaitkan dengan perkataan seperti berikut:
”Selama hidup dengan awak, apa yang saya dapat?”.Tak guna sesen pun’).

Rasulullah SAW sambung lagi ,
’Mana-mana isteri yang berkata, “Awak ini, saya tak nampak satu pun kebaikan awak”, maka akan gugur pahala-pahala amalannya.’

Saranan Rasulullah SAW yang seterusnya ialah menyuruh kaum wanita banyak beristighfar dan bersedekah, kerana ia dapat menyelamatkan kita dari dua perkara yang boleh menjerumuskan kita ke dalam api neraka seperti yang disebutkan tadi.

Sumber: Islam itu Indah

22 September 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

4 (EMPAT) MALAIKAT YANG MENDATANGI ORANG SAKIT

Kalau kita tahu sebenarnya tak ada alasan untuk sedih dan mengeluh ketika kita sakit, karena sebenarnya sakit itu adalah kasih sayang Allah SWT pada kita, sewajarnya kita mengeluh ketika sakit karena kita tak tahu rahasianya. Adalah ternyata  sakit itu harus disyukuri karena itu adalah bukti kasih sayang Allah pada kita, hal ini disebabkan oleh karena  Allah SWT  mengutus 4 (empat) malaikat untuk selalu menjaga kita dalam keadaan sakit.

Rasulullah saw bersabda:
“ Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”

Sabda Rasulullah saw tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al-Bahili dan dalam hadist yang lain Rasulullah saw bersabda :
“ Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 (empat) malaikat untuk datang padanya.”
Allah SWT memerintahkan :

1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya.
3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah SWT memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba mukmin, namun untuk malaikat ke 4, Allah SWT tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin, maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah SWT seraya berkata :

“ Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan? ”
Allah SWT menjawab: “ Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”

Dengan hal demikian, maka kelak si sakit itu akan berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia fana ini dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah saw :

“ Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

Subhanallaah … Subhanallaah … Subhanallaah !!

“ Tiada seorang mukmin yang ditimpa oleh lelah atau penyakit atau risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan di jadikan penebus dosanya oleh Allah. ”
(HR Bukhari-Muslim)

“ Jika sakit seorang hamba hingga tiga hari, maka keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya.”
(HR Ath-Thabarani)

“ Penyakit panas itu menjaga tiap mukmin dari neraka dan panas semalam cukup dapat menebus dosa setahun.”
(HR Al-Qadha’i)

10 September 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

TUBUH TIDAK SIMPATI PADA DIRI SENDIRI

ADALAH lumrah sekiranya berlaku persengketaan atau perbalahan antara dua individu atau dua kumpulan individu kerana manusia tidak selamanya bersependapat atau sealiran fikiran. Akan tetapi agak sukar difahami sekiranya manusia terpaksa berkrisis atau bersengketa dengan dirinya sendiri. Tidak mungkin sesuatu perbuatan dilakukan oleh seseorang tanpa persetujuan perasaan dan fikirannya. Jika sesuatu tindakan telah dipersetujui, tidak mungkin jasad akan dipersalahkan kerana melakukannya. Oleh itu, perbalahan dengan diri sendiri tentunya tidak akan terjadi.

Walau bagaimanapun, Allah SWT akan membuktikan bahawa saat manusia terpaksa berbalah dengan diri sendiri pasti tiba. Setiap anggota tubuh manusia akan saling mendedahkan rahsia diri yang selama ini tidak pernah didedahkan atau diketahui oleh sesiapa pun.

Firman Allah SWT :
“Pada hari ini ( Hari Kiamat ), Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dilakukan oleh mereka dahulu.”  (Yaasiin : 65 )

Ayat tersebut menunjukkan bahawa pada Hari Kiamat kelak, tangan dan kaki tidak akan bersekongkol dengan mulut untuk mempertahankan sesuatu, sebaliknya akan mendedahkan segala amal yang telah dilakukan, sama ada baik atau pun buruk.

Firman-Nya lagi :
“Pada hari ( ketika ) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa-apa yang dikerjakan oleh mereka dahulu.” ( An-Nur : 24 )

Ayat ini juga menjelaskan bahawa anggota lidah, tangan dan kaki akan menjadi saksi terhadap apa-apa yang dilakukan oleh mereka dahulu. Lidah adalah anggota yang dianggap lebih tajam daripada pedang kerana ia boleh menuturkan kata-kata keji dan fitnah, merumpat, berdusta dan sebagainya.

Semua anggota tersebut akan berperanan sebagai saksi kepada diri sendiri. Sesungguhnya saksi amat penting dalam sesuatu perbicaraan. Kesahihan saksi akan mensabitkan sesuatu pertuduhan.

Firman Allah Taala lagi :
Dan mereka berkata kepada kulit mereka : “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab :”Allah yang menjadikan sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” ( Fussilat : 21 )

Ayat ini menambahkan dalil yang menunjukkan bahawa satu lagi anggota tubuh yang akan menjadi saksi ialah kulit dan manusia akan berasa hairan mengapa ia pula menjadi saksi? Akan tetapi kulit bakal menjelaskan bahawa Allah SWT yang menjadikannya boleh bertutur sebagaimana Dia mencipta mulut yang boleh bertutur.

Kulit akan menjadi saksi kerana ia juga berperanan dalam kehidupan manusia. Kulit mempunyai deria sentuhan. Di Akhirat kelak, kulit dijadikan makhluk yang boleh bertutur bagi menjadi saksi terhadap apa-apa jua kegiatan yang melibatkannya. Sekiranya kegiatan itu negetif, pasti kulit akan memecahkan tembelang yang menyebabkan diri manusia tergugat.

Abu Bakar bin Abi Syaibah meriwayatkan sebuah hadis daripada Muawiah bin Haidar al-Kurasi, katanya, Rasulullah SAW bersabda, yang bermaksud : “Manusia akan datang ke Akhirat dengan mulutnya terpasang alat pengekang ( tidak boleh bercakap ). Anggota tubuh yang mula-mula bercakap di Akhirat ialah peha dan tapak tangan.”

Lazimnya mulut yang dipasang dengan alat pengekang ialah mulut binatang ganas seperti anjing, yang dengan itu ia tidak boleh mengigit orang. Apabila mulut manusia pula dipasang dengan alat yang sama, tujuannya juga serupa, iaitu menghalang mulut daripada berkata-kata, berdalih atau berbohong.

Dalam ayat Al-Kurasi itu, Rasulullah SAW memberitahu bahawa dua anggota yang akan berkata-kata pada Hari Akhirat ialah peha dan tapak tangan. Ia akan bercakap bersama-sama anggota lain seperti dijelaskan oleh tiga ayat Al-Quran di atas. Semua anggota akan bercakap menjelaskan dan menjadi saksi terhadap amal yang dilakukan oleh mereka, sama ada amal baik atau amal

8 September 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

LARANGAN NAMIMAH (BERGOSSIP/MENYEBAR KHABAR ANGIN/MENGADU DOMBA)

image

Allah berfirman yang bermaksud:
“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa”.
(Al-Qalam: 10-12)

Di antara bahaya lisan yang tak boleh dihiraukan adalah namimah, atau dikenal dengan istilah mengadu domba. Namimah ini sama dengan rasa benci dan permusuhan. Mungkin sebahagian dari kita yang mengetahui bahaya namimah akan mengatakan, “Ah, saya tak mungkin berbuat demikian…” Namun, jika kita tidak benar-benar menjaga hati dan lisan ini, kita akan mudah tergelincir. Apalagi ketika rasa benci dan hasad dengki telah memenuhi hati. Bahkan, saat kita menjaga lisan ini dari  namimah, tanpa disedari kita terpengaruh oleh namimah  yang dilakukan seseorang.

Jangan pernah ada rasa tidak suka atau rasa dengki kita kepada seseorang yang menjadikan kita berlaku jahat dan berlaku tidak adil kepadanya, termasuk berbuat namîmah. Sebab, betapa banyak perbuatan  namimah yang terjadi kerana timbulnya rasa dengki di hati. Apalagi kepada saudara sesama Islam, hendaknya kita tidak menyimpan rasa dengki. Dengki dan mengadu domba adalah akhlak tercela yang dibenci Allah kerana boleh menimbulkan permusuhan, sedangkan Islam memerintahkan agar umatnya bersaudara dan bersatu seperti bangunan yang kukuh.

Nabi SAW bersabda:
“Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bermusuhan, dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain, dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara”.
(Hadith Riwayat Muslim)

Nabi SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

“Tidak akan masuk surga, orang yang qattat (yakni ahli namimah)”.
(Hadith Riwayat Al-Bukhari dari Hudzaifah)

Berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tak berguna, apatah lagi dari perkataan yang menyebabkan saudara kita rasa disakiti dan dizalimi. Bukankah mulut seorang mukmin tak akan berkata kecuali yang baik.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang rugi di akhirat disebabkan tidak menjaga lisan.

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku, dan kejahatan maniku.

Sumber

26 August 2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Hiburan untuk Hati

 

"Dizaman kita sekarang, ada yang mengatakan sikit sikit qasidah sikit sikit maulid. Kalau ada yang kata sikit-sikit maulid , sikit-sikit qasidah. Maulid tak perlu. Kan lebih baik ilmunya terus sahaja."

"Sebenarnya ini hiburan zahir pada hati. Tapi maaf cakap, orang di zaman kita sekarang di ajar banyak tengok hiburan di Televisyen itu walaupon ceritanya berulang-ulang kali dilihat. Tidak jemu pon melihatnya."

"Hiburan semacam itu yang memberikannya tenang. Kita dah terbiasa dengan hiburan semacam itu. Buka sahaja televisyen siarannya dua puluh empat jam. Allah سبحانه وتعالى, berfirman; Zikir itu menenangkan Hati. Tapi ada orang dengar zikir hati tak tenang-tenang. Cerita pasal maulid salah. Didalam maulid kan ada selawat ada zikir. Bukankah itu baik. Allah سبحانه وتعالى kata zikir itu buat hati kita tenang."

"Maaf cakap, kita sudah terbiasa dengan hiburan itu. Lebih rela tengok lawak-lawak gelak terbahak-bahak. Bukankah banyaknya ketawa itu mematikan hati. Ini orang yang ada sakit. Tak sedar hatinya ada penyakit."

"Cuba kalau tutup Televisyen itu seminggu. Dengar qasidah, selawat, pasti merasakan keseronokkan dan kelazatannya. Kalau orang itu sukakan seseorang pasti dia tidak jemu. Semua tentangnya pon kita suka. Begitu juga rasulullah ﷺ. Kalau kita cinta dan sayang rasulullah ﷺ, semua tentangnya kita akan suka."

"Tengok anak-anak kita? Apa yang sedang mereka puja hari ini? Apa yang mereka suka pada hari ini? Apa yang ditarik dan menarik hati mereka? Semuanya telah dirancang rapi oleh musuh Islam untuk menjauhkan Ummat Islam itu daripada Nabi Muhammad ﷺ."

"Kenalkanlah idola kita yang sebenar Nabi Muhammad. Musuh musuh islam tidak pernah lena. Baik di luar rumah bahkan ketika di dalam rumah kita untuk memperkenalkan anak-anak kita kepada orang-orang ataupun apa sahaja role model, idola berterusan dilakukan oleh orang-orang yang ingin menjauhkan Ummat Islam sendiri daripada Nabi Muhammad ﷺ."

"Kalau ada orang yang mengatakan apa guna majlis-majlis seperti ini Maulid, selawat Usaha ini Majlis Maulid hanya sedikit sebenarnya. Usaha yang kita lakukan, perjumpaan seperti ini, perkumpulan untuk membaca maulid, sejarah Nabi, bercerita tentang Rasulullah, memuji kepada Nabi ﷺ hanyalah usaha yang sedikit."

"Berbanding untuk kita membalas ataupun untuk menolak kepada usaha-usaha yang besar yang dilakukan pada hari ini untuk orang menarik anak-anak kita dan diri kita sendiri untuk melihat kepada orang-orang yang jauh daripada Allah, daripada orang-orang yang dikutuk oleh Allah."

"Tapi hari ini tiba-tiba ada orang rasa dia hebat mengatakan tiada manfaat di dalam mengajak orang mengingati kepada Nabi ﷺ.Siapa mereka yang boleh menembusi hati kita dan check hati kita sejauh mana cinta kita kepada Nabi ﷺ. Sebab itu kita nak anjurkan banyak berselawat kepada Nabi ﷺ supaya jangan kita berjauhan dengan Nabi ﷺ. Dan ubat yang paling minimum itu adalah selawat kepada Rasulullah ﷺ."

"Allah nak beritahu betapa besarnya fungsi selawat itu.Allah سبحانه وتعالى mengatakan; "Sesungguhnya Allah dan Para MalaikatNya berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ berterusan. Wahai orang-orang yang beriman yakni orang yang solat, puasa, zakat, haji dan di dalam hatinya ada iman berselawatlah kamu kepada Nabi yang mulia Nabi Muhammad ﷺ."

"Didalam maulid itu kan ada cerita perihal rasulullah ﷺ. Kan baik tu. Bila cerita kisah Sayyidina Muhammad katanya puji Nabi lebih-lebihan. Eh, apa ni puji nabi lebih-lebih. Sedangkan Para sahabat setiap masa memuji Rasulullah ﷺ di depan Rasulullah ﷺ sendiri mahupun dibelakangnya. Bukankah itu baik."

Daripada Al-Habib Najmuddin Othman Al-Khered.

Sumber: Pencinta Majlis Rasulullah

31 July 2015 Posted by | Tazkirah | , | Leave a comment

Ilmu seribu kitab

Ilmu seribu kitab

Walaupun kamu menghafaz seribu buah kitab ianya belum cukup untuk kamu mendapat kefahaman yang sebenar tentang kesucian jiwa.

Oleh kerana itu Sheikh Abu Hasan Sazali pernah berkata: “Orang yang paling ramai terhijab ialah ulamak yang hanya menumpukan ilmu di akal tetapi mengabaikan ilmu di hati.

Maha Suci Allah swt yang menghijab ulamak dengan ilmu mereka sendiri.”

Sumber: Pondok Habib

28 July 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Siapa saja yang sering duduk bersama 8 orang kelompok manusia, Allah… akan memberinya 8 perkara:

Telah berkata IMAM GHAZALI Rahimahullah di dalam kitab Tanbihul Ghofilin tentang:

Siapa saja yang sering duduk bersama 8 orang kelompok manusia, Allah… akan memberinya 8 perkara:

1.من جلس مع الأغنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها.

1. Barangsiapa yang duduk bersama orang-orang kaya, Allah akan menambahkan cinta kepada dunia & semangat untuk mendapatkan dunia.

2. ومن جلس مع الفقراء زاده الله الشكر والرضا بقسمة الله تعالى

2. Barangsiapa yang duduk bersama orang-orang miskin, Allah akan menambahkan perasaan syukur & redha atas pemberian Allah.

3. ومن جلس مع السلطان زاده الله الكبر وقساوة القلب

3. Barangsiapa yang duduk dengan para pemimpin/raja, Allah akan menambahkan perasaan sombong & kerasnya hati.

4. ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوه

4. Barangsiapa yang duduk dengan perempuan, Allah akan menambahkan kebodohan & syahwat.

5. ومن جلس مع الصبيان زاده الله اللهو والمزاح

5. Barangsiapa yang duduk dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahkan lalai & gurau senda.

6.ومن جلس مع الفساق زاده الله الجرأة على الذنوب والمعاصي والإقدام عليها،والتسويف في التوبة

6. Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang fasik, Allah akan menambahkan berani berbuat dosa & kemaksiatan serta mendorongkan diri untuk berbuat maksiat kemudian menunda-nunda akan taubat.

7.ومن جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة في الطاعات

7. Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang soleh, Allah akan menambahkan perasaan cinta kepada amalan-amalan ketaatan.

8. ومن جلس مع العلماء زاده العلم والورع

8. Barangsiapa yang duduk dengan para ulama’, Allah akan menambahkan ilmu & perasaan tidak cintakan dunia.

 

Coba kita renungkan, dengan siapa kita bersahabat?

Semoga bermanfaat buat kita semua..

 

Sumber: PONDOK HABIB shared Syarifah Khodijah‘s post.

26 July 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Menjaga mata dari pandangan yang Haram.

 

Nasihat Habib Umar dalam Menjaga mata dari pandangan yang Haram.

Melihat kepada aurat dan melihatnya seorang lelaki kepada perempuan atau sebaliknya dengan memperhatikan keindahannya dengan rasa syahwat adalah Haram.

Kerana ia dapat menyebabkan lemahnya Iman, dan dapat menjadikan Hati terpanah oleh Panah yang beracun dari panahnya Syaitan. Sebagaimana di khabarkan Sebaik-baik Manusia ﷺ ,

Pandangan (kepada pandangan yang Haram) adalah busur beracun dari busur iblis yang terlaknat. Berfirman Allah, Barangsiapa yang meninggalkannya kerana takut kepadaku, aku gantikan iman yang terdapat keindahan dalam hatinya.

Balasan yang besar untuk siapa yang menutup pandangannya dari yang diharamkan serta menimbulkan syahwat yang haram, seperti memandang gambar yang menimbulkan syahwat, siapa yang menahannya atas sesuatu yang tidak berharga, balasannya sesuatu yang besar.

Allah mengatakan " Aku gantikan Iman yang terdapat keindahan Didalam hatinya "

Dan apa yang didapatkan bagi mereka yang membiarkan matanya dan tidak memikirkannya dalam melihat yang Haram, suatu panah beracun yang menancap dihatinya.

Bukanlah matinya jasad apa yang dia akan dapatkan akibat perbuatan memandang yang Haram akn tetapi matinya Hati,

setelahnya ialah diharamkan atasnya pahala, rosaknya amal solleh, melemahkan Iman, rosaknya ketaatan, maka dengan pandangan tersebut boleh mengganggunya pada solatnya, membaca Al Qur’an bahkan sampai tidak beradab ketika berfikir, sehingga memikirkan yang buruk didalam beribadah kepada Allah, yang Diperhatikan Allah dirinya dan hatinya.

Maka menjdi keburukan adab yang mendatangkan hukuman serta penolakan dan penghalang untuk mendapatkan pahala.

Wa iyya dzubillahi tabaroka wa ta’ala.

Allah mengetahui pandangan khianat Mata dan yang tersembunyi dihati.

Wallahualam

via: Pencinta Rasulullah

Jom Dakwah Bersama Ulama

20 July 2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

TANDA-TANDA WALI ALLAH

1. Jika melihat mereka, akan mengingatkan kita kepada Allah swt.

Dari Amru Ibnul Jammuh, katanya:

“Ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah berfirman: “Sesungguhnya hamba-hambaKu, wali-waliKu adalah orang-orang yang Aku sayangi. Mereka selalu mengingatiKu dan Akupun mengingai mereka.”

Dari Said ra, ia berkata:

“Ketika Rasulullah saw ditanya: “Siapa wali-wali Allah?” Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”

2. Jika mereka tiada, tidak pernah orang mencarinya.

Dari Abdullah Ibnu Umar Ibnu Khattab, katanya:

10 Hadis riwayat Abu Daud dalam Sunannya dan Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I hal. 6

Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6).

“Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?” Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam petunjuk dan para pelita ilmu.”

3. Mereka bertakwa kepada Allah.

Allah swt berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhuwatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.. Dan bagi mereka diberi berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat”13

Abul Hasan As Sadzili pernah berkata: “Tanda-tanda kewalian seseorang adalah redha dengan qadha, sabar dengan cubaan, bertawakkal dan kembali kepada Allah ketika ditimpa bencana.”

4. Mereka saling menyayangi dengan sesamanya.

Dari Umar Ibnul Khattab ra berkata:

Hadis riwayat Nasa’i, Al Bazzar dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah jilid I hal. 6

Surah Yunus: 62 – 64

Hadisriwayat. Al Mafakhiril ‘Aliyah hal 104

“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sebahagian hamba Allah ada orang-orang yang tidak tergolong dalam golongan para nabi dan para syahid, tetapi kedua golongan ini ingin mendapatkan kedudukan seperti kedudukan mereka di sisi Allah.” Tanya seorang: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?” Sabda beliau: “Mereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah maupun harta di antara mereka. Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.” Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

5. Mereka selalu sabar, wara’ dan berbudi pekerti yang baik.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa”Rasulullah saw bersabda:

Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I, hal 5

“Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, iaitu: pandai mengendalikan perasaannya di saat marah, wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.”

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abu Hurairah, berjalanlah engkau seperti segolongan orang yang tidak takut ketika manusia ketakutan di hari kiamat. Mereka tidak takut siksa api neraka ketika manusia takut. Mereka menempuh perjalanan yang berat sampai mereka menempati tingkatan para nabi. Mereka suka berlapar, berpakaian sederhana dan haus, meskipun mereka mampu. Mereka lakukan semua itu demi untuk mendapatkan redha Allah. Mereka tinggalkan rezeki yang halal kerana akan amanahnya. Mereka bersahabat dengan dunia hanya dengan badan mereka, tetapi mereka tidak tertipu oleh dunia. Ibadah mereka menjadikan para malaikat dan para nabi sangat kagum. Sungguh amat beruntung mereka, alangkah senangnya jika aku dapat bertemu dengan mereka.” Kemudian Rasulullah saw menangis kerana rindu kepada mereka. Dan beliau bersabda: “Jika Allah hendak menyiksa penduduk bumi, kemudian Dia melihat mereka, maka Allah akan menjauhkan siksaNya. Wahai Abu Hurairah, hendaknya engkau menempuh jalan mereka, sebab siapapun yang menyimpang dari penjalanan mereka, maka ia akan mendapati siksa yang berat.”

6. Mereka selalu terhindar ketika ada bencana.

Dari Ibnu Umar ra, katanya:

“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang diberi makan dengan rahmatNya dan diberi hidup dalam afiyahNya, jika Allah mematikan mereka, maka mereka akan dimasukkan ke dalam syurgaNya. Segala bencana yang tiba akan lenyap secepatnya di hadapan mereka, seperti lewatnya malam hari di hadapan mereka, dan mereka tidak terkena sedikitpun oleh bencana yang datang.”

Rujukan:-

Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Al Auliya’

Hadis riwayat Abu Hu’aim dalam kitab Al Hilya

Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I hal 6

8. Hati mereka selalu terkait kepada Allah.

Imam Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakha’i: “Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya. . Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da’i kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka.”

9. Mereka senang bermunajat di akhir malam.

Imam Ghazali menyebutkan: “Allah pernah memberi ilham kepada para siddiq: “Sesungguhnya ada hamba-hambaKu yang mencintaiKu dan selalu merindukan Aku dan Akupun demikian. Mereka suka mengingatiKu dan memandangKu dan Akupun demikian. Jika engkau menempuh jalan mereka, maka Aku mencintaimu. Sebaliknya, jika engkau berpaling dari jalan mereka, maka Aku murka kepadamu. ” Tanya seorang siddiq: “Ya Allah, apa tanda-tanda mereka?” Firman Allah: “Di siang hari mereka selalu menaungi diri mereka, seperti seorang pengembala yang menaungi kambingnya dengan penuh kasih sayang, mereka merindukan terbenamnya matahari, seperti burung merindukan sarangnya. Jika malam hari telah tiba tempat tidur telah diisi oleh orang-orang yang tidur dan setiap kekasih telah bercinta dengan kekasihnya, maka mereka berdiri tegak dalam solatnya. Mereka merendahkan dahi-dahi mereka ketika bersujud, mereka bermunajat, menjerit, menangis, mengadu dan memohon kepadaKu. Mereka berdiri, duduk, ruku’, sujud untukKu. Mereka rindu dengan kasih sayangKu. Mereka Aku beri tiga kurniaan: Pertama, mereka Aku beri cahayaKu di dalam hati mereka, sehingga mereka dapat menyampaikan ajaranKu kepada manusia. Kedua, andaikata langit dan bumi dan seluruh isinya ditimbang dengan mereka, maka mereka lebih unggul dari keduanya. Ketiga, Aku hadapkan wajahKu kepada mereka. Kiranya engkau akan tahu, apa yang akan Aku berikan kepada mereka?”

Rujukan:-

Nahjul Balaghah hal 595 dan Al Hilya jilid 1 hal.. 80

Ihya’ Ulumuddin jilid IV hal 324 dan Jilid I hal 358

10. Mereka suka menangis dan mengingat Allah.

‘Iyadz ibnu Ghanam menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Malaikat memberitahu kepadaku: “Sebaik-baik umatku berada di tingkatan-tingkatan tinggi. Mereka suka tertawa secara terang, jika mendapat nikmat dan rahmat dari Allah, tetapi mereka suka menangis secara rahsia, kerana mereka takut mendapat siksa dari Allah. Mereka suka mengingat Tuhannya di waktu pagi dan petang di rumah-rumah Tuhannya. Mereka suka berdoa dengan penuh harapan dan ketakutan. Mereka suka memohon dengan tangan mereka ke atas dan ke bawah. Hati mereka selalu merindukan Allah. Mereka suka memberi perhatian kepada manusia, meskipun mereka tidak dipedulikan orang. Mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati, tidak congkak, tidak bersikap bodoh dan selalu berjalan dengan tenang. Mereka suka berpakaian sederhana. Mereka suka mengikuti nasihat dan petunjuk Al Qur’an. Mereka suka membaca Al Qur’an dan suka berkorban. Allah suka memandangi mereka dengan kasih sayangNya. Mereka suka membahagikan nikmat Allah kepada sesama mereka dan suka memikirkan negeri-negeri yang lain. Jasad mereka di bumi, tapi pandangan mereka ke atas. Kaki mereka di tanah, tetapi hati mereka di langit. Jiwa mereka di bumi, tetapi hati mereka di Arsy. Roh mereka di dunia, tetapi akal mereka di akhirat. Mereka hanya memikirkan kesenangan akhirat. Dunia dinilai sebagai kubur bagi mereka. Kubur mereka di dunia, tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat tinggi. Kemudian beliau menyebutkan firman Allah yang artinya: “Kedudukan yang setinggi itu adalah untuk orang-orang yang takut kepada hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.”

11. Jika mereka berkeinginan, maka Allah memenuhinya.

Dari Anas ibnu Malik ra berkata: “Rasul saw bersabda: “Berapa banyak manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia berkeinginan, maka Allah memenuhinya, dan Al Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara mereka.”

Ketika Barra’ memerangi kaum musyrikin, para sahabat: berkata: “Wahai Barra’, sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda: “Andaikata Barra’ berdoa, pasti akan terkabul. Oleh kerana itu, berdoalah untuk kami.” Maka Barra’ berdoa, sehingga kami diberi kemenangan.

Di medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a: “Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum Muslimin dan temukanlah aku dengan NabiMu.” Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan Barra’ gugur sebagai syahid.

Rujukan:-

Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I, hal 16

12. Keyakinan mereka dapat menggoncangkan gunung.

Abdullah ibnu Mas’ud pernah menuturkan:

“Pada suatu waktu ia pernah membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan”, pada telinga seorang yang pengsan. Maka dengan izin Allah, orang itu segera sedar, sehingga Rasuulllah saw bertanya kepadanya: “Apa yang engkau baca di telinga orang itu?” Kata Abdullah: “Aku tadi membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan” sampai akhir surah.” Maka Rasul saw bersabda: “Andaikata seseorang yakin kemujarabannya dan ia membacakannya kepada suatu gunung, pasti gunung itu akan hancur.”

– Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Al Hilya jilid I hal 7

WALLAHUALAM

20 July 2015 Posted by | Informasi, Tazkirah | | Leave a comment

Muhasabah Ramadhan–10 malam terakhir

KALAULAH DI DUNIA KITA TELAH MENDAPATKAN SEGALA-GALANYA TETAPI KITA TIDAK BERJAYA MENDAPATKAN 3 ANUGERAH DARIPADA ALLAH JALLA WA’ALA IAITU RAHMATNYA ALLAH,

MAGHFIRAHNYA/PENGAMPUNANYA ALLAH DAN JUGA PEMBEBASAN DIRI DARIPADA API NERAKA

MAKA SEGALA KEKAYAAN YANG KITA ADA,HARTA KITA,ILMU KITA

,PANGKAT KITA,JAWATAN KITA,

KEDUDUKAN KITA,KECANTIKAN KITA,KETAMPANAN KITA,KEKUATAN KITA SEMUA ITU TIDAK ADA ERTINYA KALAU KITA TIDAK BERJAYA MENDAPATKAN 3 ANUGERAH DARIPADA ALLAH JALLA WA’ALA KETIKA HIDUP KITA DI DUNIA INI

10 MALAM YANG TERAKHIR MANFAATKANLAH SEBAIK MUNGKIN UNTUK KITA MENDAPATKAN ANUGERAH DARIPADA ALLAH UNTUK MENDAPATKAN MALAM LAILATUL QADR KHUSUSKAN BAGI TUMPUAN UNTUK AKHIRAT KITA UNTUK MENDAPATKAN ANUGERAHNYA ALLAH JANGAN SAMPAI KITA MENJADI ORANG-ORANG YANG RUGI DAN MENYESAL DI KEMUDIAN HARINYA.

Kalaulah di dunia kita telah mendapatkan segala-galanya.

Duitnya,kedudukannya,hartanya,

pangkatnya,takhtanya,wanitanya,

kecantikannya,ketampanannya tapi kita tidak berhasil dan juga tidak berjaya meraih anugerah pada 10 malam yang terakhir di bulan ramadhan iaitu kebebasan diri daripada Api Neraka maka segala-galanya itu akan menjadi lenyap dan tidak ada apa-apanya.

Jadi bagaimana perumpamaan yang sederhana di 10 malam yang terakhir ini kita mampu untuk MEMINANG rahmatnya Allah,maghfirahnya Allah dan juga kebebasan diri daripada Api Neraka.Tentunya setiap orang yang mengharapkan sesuatu kalau pada saat kita MELAMARNYA,

MEMINANGNYA mesti dengan kita akan tampil dalam keadaan yang sihat dan sempurna.

Kemas,rapi,cantik,indah,bagus,sopan,santun.Itu kebiasaannya kalau tidak LAMARAN kita akan ditolak.Sesiapa pun yang DILAMAR sebelum dengan kita MELAMARNYA maka mungkin kita akan mandi,kita berpakaian kemas dan rapi,sisir rambut,

bersolek,minyak harum yang mana,sampin yang mana,baju yang mana,pakaian yang seperti apa.

Kenapa?Sebab kita akan melakukan pertemuan dengan calon Pak dan Mak Mertua.Begitu juga dengan calon isteri kita.Begitu juga sebaliknya calon suami ke apa sahaja.Bahkan masing-masing daripada calon pasangan tadi itu akan tampil dengan keadaan yang layak dengan keadaan yang sopan yang mampu untuk menunjukkan ketampanannya dan juga kebolehannya yang mampu untuk menunjukkan kejelitaan dan kecantikannya sehingga masing-masing mampu memikat dan menambat hati dan perasaan sehingga menjadi pasangan suami isteri.

Nah!!!Begitu juga kita di 10 malam yang terakhir ini.Kita ingin MELAMAR ramadhan untuk mendapatkan satu penghormatan satu kemuliaan daripada Allah Jalla Wa’Ala untuk kita mendapatkan kebebasan diri daripada Api Neraka maka bagaimana dengan bacaannya? Dengan penampilannya?Dengan ibadahnya?Dengan qiamnya?Dengan tahajuddnya?Dengan witirnya?Dan juga amalan-amalan yang seumpamanya.

Kalau kita amati dan hayati perjalanan pesawat-pesawat,

armada-armada ramadhan yang sudah kita terbangkan yang sudah terbang meninggalkan kita sejak daripada hari pertama ramadhan.Mungkin ada di antara kita yang sepanjang 5 waktu sembahyangnya tidak luput tercatat di dalam kargo-kargonya tercatat di dalam muatannya HANPHONE,

WHATSAPP,FACEBOOK,IPAD dan juga SMSNYA atau yang seumpamanya.

Ini TANGAN kita gerakkan untuk apa?Dalam berapa kali kita gerakkan di waktu takbir?Ini dengan tatapan MATA kita melihat.Dalam berapa kali melihat Al-Quran?Menatap kedua ibu dan bapa?Menatap arah kiblat?

Menatap kepada muka Para Ulama yang membawa kepada kebenihan hati dan juga ketenteraman jiwa atau menatap tulisan-tulisan yang membicarakan tentang ilmu-ilmu agama?

Rasanya secara jujur lebih banyak kita tengok HANDPHONE daripada kita melihat WAJAH KEDUA IBU DAN BAPA DAN WAJAH PARA ULAMA.

Lebih banyak kita disibukkan dengan urusan WHATSAPP dan SMSNYA.

Penuh buka kargo yang pertama mendarat ramadhan yang berpangkalan di Akhirat yang akan kita lihat bersama.

Isi dan muatannya di hari kiamat ternyata yang terisi TIDUR,SANTAI,SMS,HANDPHONE ataupun juga dengan urusan-urusan yang seumpamanya.Kita tak nak nanti sampai kita jadi kecewa di hari pembalasan yang kekecewaan kita pada saat ketika itu kita tidak boleh patah balik ke dunia untuk kita membetulkannya.

Jadi untuk 10 malam terakhir ink kita kena bagi tumpuan memang khusus untuk akhirat memang khusus untuk agama memang khusus untuk mendapatkan rahmat yang kalau pada saat ketika Allah tengok PANDANGANNYA,PENGLIHATANNYA,

PENDENGARANNYA,HATINYA,MULUTNYA,KAKINYA.Satu persatu beraksi yang sama kerana ingin mendapatkan kebebasan diri daripada Api Neraka.

Kalaulah dengan seseorang itu berasa bangga dengan teknologinya,bangga dengan kewangannya,bangga dengan kehidupannya,bangga dengan kekuatannya,bangga dengan kesejahteraannya,bangga dengan keamanan dan juga ketenteramannya

bangga dengan jawatan,pangkat dan takhtanya.

Itu semua tidak ada erti kalau dalam sepanjang hidup tidak mendapatkan 3 anugerah Allah Jalla Wa’Ala

1)Rahmat

2)Maghfirah/Pengampunan

3)Pembebasan diri daripada Api Neraka untuk mendapatkan Syurga yang abadi.

 

Oleh: Syeikh Nuruddin Marbu ALBanjari ALMakki – Restu from Syeikh

14 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

"Tangisan Rasulullah menggoncangkan Arsy"


Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam sedang asyik berthawaf di Ka’bah, Beliau mendengar seseorang di hadapannya berthawaf, sambil berzikir “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam kemudian menirukannya membaca “Ya Karim! Ya Karim!”.

Orang itu Ialu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berdzikir lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam yang berada di belakangnya mengikut dzikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”.

Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya.

Orang itu Ialu berkata “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab badwi?

Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam tersenyum, lalu bertanya “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?"

“Belum,” jawab orang itu.

“Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.

Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam pun berkata kepadanya “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.

“Tuan ini Nabi Muhammad?!”

“Ya” jawab Nabi Shalallahu ‘Alayhi Wasallam.

Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam melihat hal itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya “Wahai orang Arab! janganlah berbuat serupa itu.

Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya. Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur, yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita”

Ketika itulah, Malaikat Jibril ‘Alayhi Sallam turun membawa berita dari langit dan berkata “Ya Muhammad! Allah mengucapkan salam kepadamu dan bersabda “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah.

Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!”.
Setelah menyampaikan berita itu, Malaikat Jibril ‘Alayhi Sallam kemudian pergi.

Maka orang Arab itu pula berkata “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu.

“Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Allah?” Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam bertanya kepadanya.

“Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya. Jika Allah memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunannya.

Jika Allah memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya’

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata Beliau meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril ‘Alayhi Sallam turun lagi seraya berkata “Ya Muhammad! Allah menyampaikan salam kepadamu, dan berfirman “Berhentilah engkau dari menangis!. Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arsy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang”.

Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di syurga nanti!”.

Betapa sukanya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya

Wallahualam

MADAD YA ALLAH, MADAD YA RASULULLAH, MADAD YA RIJALALLAH

Sumber: Jom Dakwah Bersama Ulama

9 July 2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

MALAM 10 TERAKHIR BULAN RAMADHAN

image (3)

Disebutkan di malam 10 terakhir bulan Ramadhan akan diberikan kepada orang yang berada di bulan Ramadhan itu yang beramal itu diberikan pelepasan daripada Api Neraka Allah dan juga diberikan ganjaran yang ianya akan sampai di Ramadhan yang akan datang.

Dan di antara malam-malam itu yang paling afdal adalah malam Lailatul Qadr yang di dalam hadis Nabi ﷺ bersabda; "Ia adalah malam yang terbaik yang mana barangsiapa yang mendapatkannya maka dia akan mendapat kebaikan seluruhannya.

Dan barangsiapa yang diharamkan daripadanya maka diharamkan akan segala-galanya". Bahkan diguna oleh Para Ulama ada pun daripada awal kamu berpuasa dan kamu qiam berdiri menghidupkan malam itu sebenarnya ianya adalah persiapan untuk kamu mendapatkan lailatul qadr iaitu dengan kamu berpuasa dan kamu bangun diwaktu malam adalah untuk mempersiapakan diri menyucikan jiwa kamu untuk kamu mendapatkan Lailatul Qadr yang ianya merupakan persiapan sehingga kamu layak untuk mendapatkannya.

Dan malam itu malam yang akan turunnya Para Malaikat iaitu pada malam Lailatul Qadr seperti yang diserukan oleh Allah sehingga diriwayatkan oleh Imam Ahmad; "Bilangan Malaikat yang turun pada malam itu adalah lebih banyak daripada bilangan batu dan kayu". Oleh itu apabila masuk 10 malam terakhir hendaklah kita menyiapkan diri untuk mendapatkannya kerana ianya adalah rahsia tidak diketahui bila ia akan berlaku.

Dan alangkah baiknya sekiranya kita menyiapkan diri kita memburu malam Lailatul Qadr bermula pada malam pertama Ramadhan lagi.
.
-Al Habib Kadzim Ja’afar As-Saggaf-

Sumber: Pencinta Majlis Rasulullah

1 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | | Leave a comment

MENGAPA PERLU BERMAZHAB?

Tujuan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah mewajibkan orang awam mengikut mana-mana mazhab yang empat adalah supaya perkara khilafiah tidak menimbulkan perbalahan antara umat Islam.

Mazhab-mazhab yang empat itu pun mengambil dalil daripada al-Quran, as-Sunnah, Qias dan Ijmak. Bukannya ambik daripada Youtube atau Wikipedia.

Maka, apabila setiap mazhab itu diamalkan secara sempurna di tempat masing-masing, maka secara langsung sunnah Nabi dapat dihidupkan di setiap tempat pada setiap masa.

Apa yang terjadi, sebahagian orang awam gemar menimbulkan kekeliruan dengan membangkitkan perbezaan pendapat dan merasa bahawa pendapat mereka sahaja yang betul lalu menuduh pendapat yang lain tertolak. Hanya kerana mereka menjumpai satu hadis yang menyokong ijtihad mereka.
Bahkan, sesama mereka pun bertelagah pendapat. Kononnya mereka menyeru untuk kembali kepada al Quran dan as Sunnah supaya umat Islam dapat disatukan. Tapi yang berlaku, beribu mazhab muncul akibat kemunculan fatwa-fatwa segera daripada para “mujtahi” dan “muharddisk” segera.

Hakikat yang sebenar, setiap hukum hakam dalam mazhab adalah bersumberkan nas dan dalil yang jelas, qat’ie. Hanya apabila golongan itu tidak menjumpai nas tersebut, dengan mudah menuduh fatwa mazhab itu bercanggah dengan al Quran dan Hadis. Sedangkan, jika mereka mengkaji betul-betul pasti mereka akan menjumpai nas dan dalil-dalil itu.

Inilah yang dikatakan oleh Syaikhul Hadis Maulana Zakariyya, “Semakin aku belajar hadis, semakin banyak aku menjumpai nas yang digunakan oleh para imam mazhab.”

Maulana adalah seorang muhaddisin yang berpegang dengan mazhab Hanafi. Namun, disebabkan ilmunya yang mendalam, beliau mampu mengupas dalil yang digunakan oleh Imam Malik dalam menyusun Mazhab Maliki.

Hal ini terdapat dalam kitab karangannya, “Aujazul Masalik: Syarah al Muwatto Imam Malik.”

Sayyid Muhammad Alawi al Makki al-Maliki yang merupakan anak muridnya berkata, “Sekiranya tidak ditulis di bahagian depan bahawa pengarang kitab ini bermazhab Hanafi, sudah tentu kami menyangka beliau bermazhab Maliki. Beliau mampu membawakan dalil -dalil dalam mazhab Maliki yang kami sendiri sukar menemuinya.”

Sumber: FB Muhammad Safwan

30 June 2015 Posted by | Ibadah, Informasi, Tazkirah | Leave a comment

16 Nama Syaitan Dan Tugasnya

Berikut adalah 16 nama syaitan serta tugasnya untuk menyesatkan manusia terutamanya umat Islam.

1. Zalitun – Tugasnya menyuruh manusia gemar boros berbelanja tanpa had dan fikiran hanya ingat pada makan dan makanan.

2. Watin – Tugasnya mendekati orang yang sedang ditimpa musibah agar bersangka buruk kepada Allah.

3. A’awar – Tugasnya menggoda raja dan orang besar agar zalim, rasa takbur dengan jawatan, membiarkan rakyat tanpa dibela dan tidak suka mendengar nasihat ulama. Menghias perempuan agar lelaki segera tergoda dan menggoda wanita agar mendekati lelaki yang dilihat menarik.

4. Hafaf – Tugasnya mengajak manusia berbuat maksiat, suka minum khamar dan berfoya-foya.

5. Murrah – Tugasnya mendekati ahli muzik agar selalu lalai dan leka dan melekakan pula para pengikut mereka. Juga mengganggu ahli-ahli ibadat semasa sedang berwuduk agar membazir, yakni menggunakan banyak air untuk berwuduk.

6. Masud – Tugasnya menyuruh manusia supaya selalu mengumpat, fitnah dan adu domba, suka berdendam sesama manusia.

7. Dasim – Tugasnya memecahkan suami isteri agar suka bergaduh dan bercerai. Menyuruh manusia marah bukan pada tempatnya dan kepada marah yang membawa dosa. Juga menampakkan cela adik-beradik sehingga mudah bertengkar dan bermasam muka.

8. Walahan – Tugasnya menimbulkan rasa was-was dalam beribadat, khasnya ketika seseorang itu mengambil wuduk.

9. Lakhus – Tugasnya mengajak manusia agar menyembah selain daripada Allah.

10. Sabrum – Tugasnya mengajak manusia ke jalan yang jahat dan tidak sabar dengan ujian yang diterima.

11. Miswat/Maswat – Tugasnya mempercepatkan manusia untuk berbuat maksiat dan suka kepada setiap perkara maksiat, disamping melengah-lengahkan berbuat amal soleh. Ia gemar membawa berita dusta dan gosip liar.

12. Zaktabur/Zaknabur/ Zalanbur – Tugasnya menimbulkan raja ujub dan takbur dengan segala kelebihan yang ada pada dirinya.

13. Khinzab – Tugasnya mengganggu orang yang beribadat, khasnya yang bersembahyang dengan membuatkan manusia berasa was-was dengan amalan baik yang dilakukannya dan sentiasa cuba meruntuhkan keyakinan terhadap agama islam yang dianutinya.

14. Laqnis – Tugasnya mengganggu orang yang bersuci dan berwuduk sehingga jadi ragu dan tidak sempurna.

15. Abyadh – Syaitan yang paling berat godaannya, paling buruk sikapnya kerana tugasnya ialah menggoda para nabi dan rasul yang diutuskan kepada manusia.

16. Khannas – Syaitan yang menimbulkan was-was hati terhadap adanya Allah, adanya perkara-perkara sam’iyat dan melalaikan hati manusia daripada mengingati Allah sepanjang masa.

29 June 2015 Posted by | Informasi, Tazkirah | | Leave a comment

‪KelebihanBulanRamadan‬

AMALAN SUNAT YANG DILAKUKAN MENDAPAT PAHALA SEPERTI AMALAN WAJIB DAN AMALAN WAJIB YANG DILAKUKAN MENDAPAT PAHALA SEPERTI MELAKUKAN TUJUH PULUH AMALAN WAJIB.

“Daripada Salman r.a. ia berkata: Telah berkhutbah Rasulullah ﷺ pada hari terakhir bulan Syaaban dengan sabdanya: Wahai manusia sesungguhnya telah datang kepada kamu satu bulan yang agung lagi penuh keberkatan (bulan Ramadan) iaitu bulan yang ada padanya satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, bulan yang Allah jadikan berpuasa padanya suatu kewajipan dan berqiamullail (beribadat pada malam-malamnya) sebagai amalan sunat.
Sesiapa yang mendekatkan dirinya kepada Allah pada bulan itu dengan melakukan amalan kebajikan (amalan sunat) maka ia mendapat pahala seperti melaksanakan perintah yang wajib dan sesiapa yang melakukan suatu amalan yang wajib pada bulan Ramadan maka ia mendapat pahala seperti orang yang melakukan tujuh puluh amalan fardhu.”
(Sahih Ibnu Khuzaimah)

*REBUTLAH PELUANG, JANGAN JADI ORANG YANG RUGI. MUNGKIN RAMADAN INI YANG TERAKHIR BUAT KITA…

Sumber: JAKIM

29 June 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Jagalah hubungan kita dengan adik beradik

Imam Ghazali dikenali sebagai pakar merawat sakit hati. Rujuklah kitab tulisannya iaitu Ihya’ Ulumiddin. Betullah selalu wujud perasaan dengki antara adik-beradik. Kita kena ubah sifat ini dan ganti dengan sifat syukur dan redha.

Ada satu cerita seorang Professor yang mempunyai 4 orang anak. 3 orang anaknya pandai dan menjadi doktor, manakala yang keempat tidak begitu pandai dan cuma bekerja sebagai kerani sahaja. Professor itu rasa begitu pelik sehingga mengatakan yang anak keempatnya itu bodoh. Ditakdirkan, Allah menguji Professor itu terkena strok.

Dalam kesemua anaknya, anak yang keempat itulah yang menjaganya sepanjang masa. Anak yang lain sibuk dengan kerjaya.

Oleh sebab itu kita tidak boleh dengki dengan kelebihan yang Allah kurniakan pada adik-beradik yang lain. Seumpama jari kita yang lima, semuanya ada fungsi tersendiri. Kurang satu akan menjadi tidak sempurna.

Nabi SAW ada bersabda yang bemaksud, “Perasaan hasad memakan pahala amalan sepertimana api memakan kayu.

Kita perlu berlapang dada dan gembira dengan kelebihan yang dimiliki adik-beradik lain. Bagi yang lebih berjaya pula, jangan sombong dan bantulah adik-beradik lain yang kekurangan.
Fikir fikirkan apa yang kita patut bantu adik beradik yang ada kekurangan jangan bagi org lain mencaci dan menghina meraka

Hukum menghina, perli orang lain adalah haram. Allah SWT melarang kita berbuat begitu. Oleh itu kita tidak boleh memperlekehkan apa yang dibuat oleh adik-beradik kita atau orang lain.

JADI nasihatkan darah daging kita supaya dia juga turut rasa dihargai org ramai
Hulurkan tangan kita bila dia perlukan…Ibubapa kita juga akan Aman disana melihat anak anak mereka….
Harta ibu bapa yang paling bernilai ialah anak-anak iaitu adik-beradik kita. Cuba perhatikan jika anak-anak sakit, ibu bapa sanggup gadaikan harta untuk menyelamatkan anak-anak.

Oleh itu janganlah kerana harta ibu bapa , adik-beradik bergaduh ,Sedangkan itu cuma harta dunia….harta yang membawa hingga ke Jannah Allah adalah silaturahim adik beradik itu…

Doa merupakan perisai orang orang beriman. Allah berfirman yang ringkasannya bermaksud, “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan makbulkan.” Jadi doakanlah untuk adik-beradik kita kepada Allah SWT. Kita bertemu Allah paling kurang 5 kali sehari. Apabila kita mendoakan seseorang, dan orang itu tidak mengetahuinya, maka malaikat juga akan mendoakan kita doa yang serupa juga.

Teruskan berdoa, semoga abang,kakak adik kita dilapangkan REZEKI kekayaan REZEKI umur yang panjang dgn kesihatan yang baik ,diberikan hidayah juga bahagia dunia dan akhirat..
Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga”. Rasulullah menjawab; “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahmi”. (HR. Bukhari)

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat.” (HR. Thabrani)

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah menyambung keluarga (silaturahmi).” (HR. Bukhari)
“Tidak masuk surga orang yang memutus keluarga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber Rakan FB
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

28 June 2015 Posted by | Tazkirah | 1 Comment

Adab Ifthar (Berbuka Puasa)

Oleh: Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan

Penerangan:
Terdapat pelbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkatan ketika berbuka puasa. Namun, ramai umat Islam yang melupakan hal tersebut disebabkan terlalu ghairah dan semangat untuk berbuka puasa sehingga hal yang lebih berkat dan Sunnah dilupakan contohnya seperti membawa doa makan. Oleh yang demikian, mari kita lihat amalan yang yang mudah dan ringkas untuk diamalkan ketika berbuka puasa.

1. MENYEGERAKAN BERBUKA PUASA
“Manusia akan sentiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Bukhari & Muslim)
Ini bermaksud ketika matahari telah tenggelam dan berkumandangnya azan, maka bersegeralah berbuka.

2. BERBUKA DENGAN ROTHB, TAMR & SETEGUK AIR
Dari Anas bin Malik r.a.; “Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah). Namun kurma basah jarang dijumpai dan yang sampai ke negeri kita hanya kurma kering. Jika tiada kedua-duanya, gantikanlah dengan makanan yang manis-manis seerti buah-buhan. Kata ulama’ Syafi’iyah, ketika puasa, pernglihatan kita berkurang, kurma itu sebagi pemulihnya dan makanan manis itu sama erti dengan kurma. Jika tiada juga, berbukalah dengan seteguk air.

3. MEMBACA ‘BISMILLAH’
“Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya kami makan dan tidak berasa kenyang?” Baginda bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab. “Ya” Baginda bersabda lagi “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya. (HR. Abu Daud)

4. BERDOA KETIKA BERBUKA
“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang berpuasa, doa orang yang dizalimi.” (HR Tirmizi)
Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya doa kerana ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

5. MINUM DENGAN TIGA NAFAS
“Rasulullah s.a.w biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut baginda, baginda menyebut nama Allah Taala. Jika selesai satu nafasm baginda bertahmid (memuji) Allah Taala. Baginda melakukan seperti ini tiga kali.” (Sahih, asSilsilah asSohihah)

6. BERDOA SELEPAS MAKAN
“Barangsiapa yang makan makanan kemudian mengucapkan “Alhamdulillahillazi ath’amani haaza wa rozaqani min ghairi haulin minni wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merezekikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Tirmizi)

7. MENDOAKAN ORANG YANG MEMBERI MAKAN KEPADA ORANG BERPUASA (Hadis seperti dalam imej).

Selamat berbuka. Moga barakah pada setiap waktu dan rezeki..

25 June 2015 Posted by | Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Kenapa Imam Mazhab Tidak Pakai Hadits Bukhari dan Muslim?

Kenapa para Imam Mazhab seperti Imam Malik tidak memakai hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang katanya merupakan 2 kitab hadits tersahih? Untuk tahu jawabannya, kita harus paham sejarah. Paham biografi tokoh2 tsb.

Imam Malik lahir tahun 93 Hijriyah. Sementara Imam Bukhari lahir tahun 196 H dan Imam Muslim lahir tahun 204 H. Artinya Imam Malik sudah ada 103 tahun sebelum Imam Bukhari lahir. Paham?

Apakah hadits para Imam Mazhab lebih lemah dari Sahih Bukhari dan Sahih Muslim?

Justru sebaliknya. Lebih kuat karena mereka lebih awal lahir daripada Imam Hadits tsb.

Rasulullah SAW bersabda, خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ “Sebaik-baik manusia adalah pada kurunku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in).”[HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533 ]

Siapakah pengikut ulama SALAF sebenarnya? 1) Imam Hanafi lahir:80 hijrah 2) Imam Maliki lahir: 93 hijrah 3) Imam Syafie lahir:150 hijrah 4) Imam Hanbali lahir:164 hijrah

Jadi kalau ada manusia akhir zaman yang berlagak jadi ahli hadits dgn menghakimi pendapat Imam Mazhab dgn Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, ya keblinger. Hasil “ijtihad” mereka pun berbeda-beda satu sama lain…

Biar kata misalnya menurut Sahih Bukhari misalnya sholat Nabi begini2 dan beda dgn sholat Imam Mazhab, namun para Imam Mazhab seperti Imam Malik melihat langsung cara sholat puluhan ribu anak2 sahabat Nabi di Madinah. Anak2 sahabat ini belajar langsung ke Sahabat Nabi yang jadi bapak mereka. Jadi lebih kuat ketimbang 2-3 hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari 100 tahun kemudian.

Imam Bukhari dan Imam Muslim pun meski termasuk pakar hadits paling top, tetap bermazhab. Mereka mengikuti mazhab Imam Syafi’ie.

http://kabarislamia.com/2014/12/13/siapakah-ulama-salaf-dan-pengikut-salaf-sebenarnya/

Menurut Ustad Ahmad Sarwat, Lc., MA, banyak orang awam yang tersesat karena mendapatkan informasi yang sengaja disesatkan oleh kalangan tertentu yang penuh dengan rasa dengki dan benci. Menurut kelompok ini Imam Mazhab yang 4 itu kerjaannya cuma merusak agama dengan mengarang-ngarang agama dan menambah-nambahi seenaknya. Itulah fitnah kaum akhir zaman terhadap ulama salaf asli.

Padahal Imam Mazhab tsb menguasai banyak hadits. Imam Malik merupakan penyusun Kitab Hadits Al Muwaththo. Dengan jarak hanya 3 level perawi hadits ke Nabi, jelas jauh lebih murni ketimbang Sahih Bukhari yang jaraknya ke Nabi bisa 6-7 level. Begitu pula Imam Ahmad yang menguasai 750.000 hadits lebih dikenal sebagai Ahli Hadits ketimbang Imam Mazhab.

Ada tulisan bagus dari Ustad Ahmad Sarwat, Lc., MA, yaitu:

Penelitian Hadits Dilakukan Oleh Empat Imam Mazhab

http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1410544221&title=benarkah-keshahihan-shahih-hanya-sebuah-produk-ijtihad.htm

Di antaranya Ustad Ahmad menulis bahwa para imam mazhab yang empat, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, sama sekali tidak pernah menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Kenapa?

Pertama, karena mereka lahir jauh sebelum Bukhari (194-265 H) dan Muslim (204-261 H) dilahirkan. Sementara Imam Malik wafat sebelum Imam Bukhari lahir. Begitu pula saat Imam Syafi’ie wafat, Imam Bukhari baru berumur 8 tahun sementara Imam Muslim baru lahir. Tidak mungkin kan para Imam Mazhab tsb berpegang pada Kitab Hadits yang belum ada pada zamannya?

Kedua, menurut Ustad Ahmad, karena keempat imam mazhab itu merupakan pakar hadits paling top di zamannya. Tidak ada ahli hadits yang lebih baik dari mereka.

Ketiga, karena keempat imam mazhab itu hidup di zaman yang lebih dekat ke Rasulullah SAW dibanding Imam Bukhari dan Imam Muslim, maka hadits mereka lebih kuat dan lebih terjamin keasliannya ketimbang di masa-masa berikutnya.

Dalam teknologi, makin ke depan makin maju. Komputer, laptop, HP, dsb makin lama makin canggih. Tapi kalau hadits Nabi, justru makin dekat ke Nabi makin murni. Jika menjauh dari zamannya, justru makin tidak murni, begitu tulis Ustad Ahmad Sarwat.

Keempat, justru Imam Bukhari dan Muslim malah bermazhab Syafi’ie. Karena hadits yang mereka kuasai jumlahnya tidak memadai untuk menjadi Imam Mazhab. Imam Ahmad berkata untuk jadi mujtahid, selain hafal Al Qur’an juga harus menguasai minimal 500.000 hadits. Nah hadits Sahih yang dibukukan Imam Bukhari cuma 7000-an. Sementara Imam Muslim cuma 9000-an. Tidak cukup.

Ada beberapa tokoh yang anti terhadap Mazhab Fiqih yang 4 itu kemudian mengarang-ngarang sebuah nama mazhab khayalan yang tidak pernah ada dalam sejarah, yaitu mazhab “Ahli Hadits”. Seolah2 jika tidak bermazhab Ahli Hadits berarti tidak pakai hadits. Meninggalkan hadits. Seolah2 para Imam Mazhab tidak menggunakan hadits dalam mazhabnya. Padahal mazhab ahli hadits itu adalah mazhab para ulama peneliti hadits untuk mengetahui keshahihan hadits dan bukan dalam menarik kesimpulan hukum (istimbath).

Kalaulah benar pernah ada mazhab ahli hadits yang berfungsi sebagai metodologi istimbath hukum, lalu mana ushul fiqihnya? Mana kaidah-kaidah yang digunakan dalam mengistimbath hukum? Apakah cuma sekedar menggunakan sistem gugur, bila ada dua hadits, yang satu kalah shahih dengan yang lain, maka yang kalah dibuang?

Lalu bagimana kalau ada hadits sama-sama dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi isinya bertentangan dan bertabrakan tidak bisa dipertemukan?

Imam Syafi’ie membahas masalah kalau ada beberapa hadits sama-sama shahihnya tetapi matannya saling bertentangan, apa yang harus kita lakukan? Beliau menulis kaidah itu dalam kitabnya : Ikhtilaful Hadits yang fenomenal.

Cuma baru tahu suatu hadits itu shahih, pekerjaan melakukan istimbath hukum belum selesai. Meneliti keshahihan hadits baru langkah pertama dari 23 langkah dalam proses istimbath hukum, yang hanya bisa dilakukan oleh para mujtahid.

Entah orientalis mana yang datang menyesatkan, tiba-tiba muncul generasi yang awam agama dan dicuci otaknya, dengan lancang menuduh keempat imam mazhab itu sebagai bodoh dalam ilmu hadits. Hadits shahih versi Bukhari dibanding-bandingkan secara zahir dengan pendapat keempat mazhab, seolah-olah pendapat mazhab itu buatan manusia dan hadits shahih versi Bukhari itu datang dari Allah yang sudah pasti benar. Padahal cuma Al Qur’an yang dijamin kebenarannya. Hadits sahih secara sanad, belum tentu sahih secara matan. Meski banyak hadits yang mutawattir secara sanad, sedikit sekali hadits yang mutawattir secara matan. Artinya susunan kalimat atau katanya sama persis.

Orang-orang awam dengan seenaknya menyelewengkan ungkapan para imam mazhab itu dari maksud aslinya : “Bila suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku”. Kesannya, para imam mazhab itu tidak paham dengan hadits shahih, lalu menggantungkan mazhabnya kepada orang-orang yang hidup dua tiga abad sesudahnya.

Padahal para ulama mazhab itu menolak suatu pendapat, karena menurut mereka hadits yang mendasarinya itu tidak shahih. Maka pendapat itu mereka tolak sambil berkata,”Kalau hadits itu shahih, pasti saya pun akan menerima pendapat itu. Tetapi berhubung hadits itu tidak shahih menurut saya, maka saya tidak menerima pendapat itu”. Yang bicara bahwa hadits itu tidak shahih adalah profesor ahli hadits, yaitu para imam mazhab sendiri. Maka wajar kalau mereka menolaknya.

Tetapi lihat pengelabuhan dan penyesatan dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Digambarkan seolah-olah seorang Imam Asy-Syafi’i itu tokoh idiot yang tidak mampu melakukan penelitian hadits sendiri, lalu kebingungan dan menyerah menutup mukanya sambil bilang,”Saya punya mazhab tapi saya tidak tahu haditsnya shahih apa tidak, jadi kita tunggu saja nanti kalau-kalau ada orang yang ahli dalam bidang hadits. Nah, mazhab saya terserah kepada ahli hadits itu nanti ya”.

Dalam hayalan mereka, para imam mazhab berubah jadi badut pandir yang tolol dan bloon. Bisanya bikin mazhab tapi tidak tahu hadits shahih. Sekedar meneliti hadits apakah shahih atau tidak, mereka tidak tahu. Dan lebih pintar orang di zaman kita sekarang, cukup masuk perpustakaan dan tiba-tiba bisa mengalahkan imam mazhab.

Cara penyesatan dan merusak Islam dari dalam degan modus seperti ini ternyata nyaris berhasil. Coba perhatikan persepsi orang-orang awam di tengah kita. Rata-rata mereka benci dengan keempat imam mazhab, karena dikesankan sebagai orang bodoh dalam hadits dan kerjaanya cuma menambah-nambahi agama.

Parahnya, setiap ada tradisi dan budaya yang sesat masuk ke dalam tubuh umat Islam, seperti percaya dukun, tahayyul, khurafat, jimat, dan berbagai aqidah sesat, sering diidentikkan dengan ajaran mazhab. Seolah mazhab fiqih itu gudangnya kesesatan dan haram kita bertaqlid kepada ulama mazhab.

Sebaliknya, orang yang harus diikuti adalah para ahli hadits, karena mereka itulah yang menjamin keshahihan hadits.

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Baca selengkapnya di:

http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1410544221&title=benarkah-keshahihan-shahih-hanya-sebuah-produk-ijtihad.htm

Menurut Ustad Ahmad Sarwat Lc, MA, Hadits di zaman Imam Bukhari yang hidup di abad 3 Hijriyah saja sudah cukup panjang jalurnya. Bisa 6-7 level perawi hingga ke Nabi. Sementara jalur hadits Imam Malik cuma 3 level perawi. Secara logika sederhana, yang 3 level itu jelas lebih murni ketimbang yang 6 level.

Jika Imam Bukhari hidup zaman sekarang di abad 15 Hijriyah, haditsnya bisa melewati 40-50 level perawi. Sudah tidak murni lagi. Beda 3 level saja bisa kurang murni. Apalagi yang beda 50 level.

Jadi Imam Bukhari dan Imam Muslim bukan satu2nya penentu hadits Sahih. Sebelum mereka pun ada jutaan ahli hadits yang bisa jadi lebih baik seperti Imam Malik dan Imam Ahmad karena jarak mereka ke Nabi lebih dekat.

24 June 2015 Posted by | Informasi, Tazkirah | Leave a comment

4 Golongan Lelaki Yang Akan Ditarik Masuk Ke Neraka Oleh Wanita

1. Ayahnya

Jika seseorang yang bergelar ayah tidak mempedulikan anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajarkan solat, mengaji, dan sebagainya. Dia membiarkan anak perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup kalau dangan hanya memberi kemewahan dunia saja. Maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya.

Duhai lelaki yg bergelar Ayah, bagaimanakah keadaan anak perempuanmu sekarang? Apakah kau mengajar solat dan puasa kepadanya? Menutup aurat? Pengetahuan agama? Jika tidak terpenuhi, maka bersedialah untuk menjadi bahagian dari Neraka.

2. Suaminya

Apabila suami tidak mempedulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul bebas. Membiarkan isteri berhias diri untuk lelaki yang bukan mahramnya.

Jika suami membiarkan isteri yang seperti itu walaupun suami adalah orang yang alim, suami adalah solatnya yang tidak pernah tinggal, suami adalah yang puasanya tidak pernah lalai. Maka dia akan turut ditarik oleh isterinya bersama-sama ke dalam Neraka.

Duhai lelaki yang bergelar Suami, bagaimanakah keadaan isteri tercinta sekarang? Dimanakah dia? Bagaimana akhlaknya? Jika tidak kau jaga mengikuti ketetapan Islam, maka terimalah keniscayaan yang kau akan sehidup semati bersamanya hingga Neraka.

3. Adik beradik Lelakinya

Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga kehormatan wanita jatuh pada adik beradik lelakinya (kakak, pakcik). Jika mereka hanya mementingkan keluarganya saja dan adik atau anak saudara mara dibiarkan dari ajaran Islam, maka tunggulah tarikan mereka di akhirat kelak.

Duhai lelaki yg mempunyai adik beradik perempuan, jangan hanya menjaga amalmu dan melupakan amanah yang lain. Kerana kau juga akan pertanggungjawabkan diakhirat kelak.

4. Anak Lelakinya

Apabila seorang anak lelaki tidak menasihati Ibunya perihal kelakuan yang tidak dibenarkan dalam Islam. Bila ibu membuat kemungkaran, mengumpat, memfitnah, mengadu domba, maka anak itu akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Dan bersama menemani ibunya di Neraka.

Duhai anak lelaki, sayangilah ibumu, nasihatilah dia jika bersalah atau lalai. Kerana ibu juga insan biasa, tak lepas dari melakukan dosa. Selamatkanlah dia dari ancaman neraka, jika tidak, kau juga akan ditarik menjadi teman di dalamnya.

Betapa hebatnya tarikan wanita. Bukan saja di dunia, tapi juga di akhirat yang tak kalah hebat tarikannya. Maka, kaum lelaki yang bergelar ayah, suami, saudara atau anak harus memainkan peran mereka dengan baik.

Petikan dari Al Marhum Habib Munzir bin Fuad Al Musawa

via: Pencinta Rasulullah (saw)

24 June 2015 Posted by | Tazkirah | , | Leave a comment

Sheikh Nuruddin memberikan sebuah kata hikmah yang sangat diperlukan kita pada hari ini.

“Mungkin saja, satu kemaksiatan yang dilakukan seseorang, yang menjadikan hatinya bersedih dan kembali kepada Allah, maka itu lebih baik dari berbuat ketaatan tetapi ada takabbur. Maksiat yang membuatkan kita jadi malu, merasa hina, segan dengan Orang lain, itu jauh lebih baik dari banyak berbuat ketaatan, yang membuatkan kita jadi ujub dan sombong .”

Daripada kata hikmah ini banyak pengajaran boleh kita ambil :

1. Jangan hina pendosa

2. Jangan rasa hebat bila berbuat ketaatan

3. Jangan rasa selamat bila lihat diri dalam ketaatan

4. Jangan putus asa dari mohon keampunan

5. Sentiasa bersangka baik

6. Sentiasa melihat aib diri sendiri

7. Sentiasa tanam sifat malu kepada Allah

8. Sentiasa memohon taufiq & hidayah kepada Allah supaya diberikan cinta kepada Ketaatan.

Pesan Sheikh lagi, kalau kita berbuat ketaatan lihat permulaannya siapa yang beri kita taufiq dan hidayah untuk berbuat ketaatan (Yakni Allah), kalau melakukan maksiat, lihat penghujungnya, apakah nasib kita di alam akhirat, azab yang kita bakal hadapi jika melakukan maksiat, dosa dan kesalahan tersebut.

 

23 June 2015 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

KEJATUHAN TOTAL EMAPAYAR OTHMANIAH & KAITANNYA DENGAN BANK DAN HUTANG

KEJATUHAN TOTAL EMAPAYAR OTHMANIAH & KAITANNYA DENGAN BANK DAN HUTANG

Sejarah jatuh bangunnya Islam ada agenda tersembunyi yang perlu kita fahami, samada untuk mengelakkan kejatuhan atau mahu membangunkannya semula.

Bedah sejarah kali ini menyorot kembali kronologi kejatuhan Empayar Othmaniah dan kaitannya dengan bank dan hutang. Bagus dibaca oleh para pegawai negara dan ibubapa. Jika tidak faham sekali, silalah diulang baca semula.

Sepanjang kurun ke 19 berlaku proses perindustrian dan elektonik di Eropah. Ianya bukan satu proses semulajadi, tetapi satu perancangan pihak tertentu untuk mengaut keuntungan. Apa yang terjadi ? Kemajuan teknologi membawa saudara kembar yang menjadi ‘protokol atau prosedur’ bersama-samanya, iaitu bon-bon, sekuriti, wang kertas dan lain-lain instrumen kewangan.

Bermula dari projek pembinaan keretapi yang memerlukan modal yang besar, cara pembayaran Islam tidak lagi boleh dipakai. Mereka mensasarkan Turki sebagai pusat pemerintahan dan Mesir sebagai pusat intelektual Islam. Cara perniagaan atau muamalat Islam mesti diketepikan. Keputusan para Ulamak dalam hal-hal perniagaan tidak diperlukan lagi.

Sebelum itu umat Islam menguasai bidang perniagaan dan perdagangan. Masyarakat Yahudi dan Nasrani membayar jizyah bagi keselamatan mereka dan dibenarkan tidak ikut serta dalam urusan ketenteraan dan keselamatan negara.

Pekara yang sebaliknya berlaku selepas tugasan penyusunan semula masyarakat diserahkan kepada Bankers Yahudi, kononnya untuk memodenkan Khilafah Othmaniah. Orang Yahudi dan Kristian menjadi TUAN (Masters) yang kaya raya sedangkan rakyat Khilafah pula menjadi miskin.

Seterusnya Sultan Mahmud II pula buat silap. Beliau membentuk Tentera Diraja bermodelkan tentera British. Tentera jihad yang bermodalkan tauhid diganti dengan tentera ‘bergaji’. Sistem demokrasi diperkenalkan. Jawatan Wazir Besar diganti dengan Perdana Menteri. Cukai dinaikkan.

Kemudian Tanzimat (reformasi) diperkenalkan pada tahun 1839 oleh Sultan Abdul Mecit. Sistem Kerajaan Tempatan digantikan dengan model Perancis. Ini menyebabkan sistem perniagaan Bazaar juga khidmat masyarakat melalui waqaf yang dipanggil ‘imaret’ dan ‘millet’ (majlis perlindungan bagi golongan minoriti) tidak lagi berfungsi .

Pendidikan dua aliran diperkenalkan, iaitu tradisional dan sekular yang bertulang belakangkan stok, bon dan lain-lain institusi kewangan moden. Penjajahan ini berlaku secara tidak sedar atas nama ‘memodenkan’ empayar Othmaniah.

Undang-undang Islam ke atas status ahlu Zhimmah dihapuskan. Reformasi Tanzimat memfokuskan kepada pemusatan pentadbiran (administrative centralization) menggantikan sistem Autonomi Amiriah tempatan.

Tiga wazir yang menjayakan tanzimat ialah Rechid, Ali dan Fuad Pasha. Mereka bersahabat baik dengan banker Yahudi bernama Camondo. Mereka menghabiskan banyak masa mereka di Paris mempelajari teknik permodenan barat. NASIHAT DARI FINANCIAL PLANNER YAHUDI diperlukan bagi memodenkan empayar.

Kebanyakan orang Yahudi di Istanbul tinggal di Galata. Isaac Camondo menubuhkan Bank Camondo pada tahun 1802. Saudaranya Abraham-Salomon Camondo menggantikannya pada tahun 1832. Kerana sumbangannya yang besar kepada agenda reformasi tanzimat beliau dianugerahkan “Nishan-I Iftihar” dan menjadi Komander Mejidiye pada tahun 1849.

Pada tahun 1842 wang kertas KAIMA diperkenalkan menggantikan Dinar dan Dirham. Ini membawa kepada penguasan banker YAHUDI ke atas kedaulatan khilafah. Secara tidak sedar, para banker ini dijemput untuk mencipta system kewangan moden berunsur riba melalui bon, kredit, saham dan pengeluaran wang kertas yang dikuasai banker Yahudi. Reformasi kewangan ini memberi mereka peluang untuk membuka bank-bank baru.

Pada tahun 1845 Kerajaan Othmaniah bersama Mm. Alleon dan Theodore Baltazzi menubuhkan Bank of Constantinople bagi tujuan memberi pinjaman kepada kerajaan.

Perang Krimea memberi peluang kepada banker Yahudi berkembang dalam empayar Othmaniah. Ini kerana kerajaan memerlukan dana untuk peperangan. Bank memberi pinjaman dengan interest.

Ottoman Bank ditubuhkan pada tahun 1856. Ia menjadi satu langkah kepada penubuhan bank pusat dengan dana dari luar dengan jumlah 500,000 Pound Sterling. Transformasi modal persendirian kepada Bank Pusat membawa kepada system kuasa berada di tangan para pemilik banker Yahudi Antarabangsa.

Keluarga Rothschilds yang terlibat dalam penubuhan Federal Reserve USA juga turut terlibat atas nama pelaburan melalui ‘Alphonse de Rothchilds’. Bapanya James Rothschilds membuka cawangan French Rothchilds Bank di Istanbul.

Kerja-kerja untuk penubuhan bank pusat akhirnya berjaya dengan tertubuhnya ‘La Bank Imperiale Ottomane’ pada tahun 1863 dengan bantuan Yahudi bernama Emil dan Isaac Pereire. Ini model yang menjadi superbank seterusnya dari Bank pusat kepada Bank Dunia dan International Monetary Fund.

Bank ini menjadi bankers bank dengan deposit, pengumpul dan pengedaran kredit. Ia akan menentukan kadar antara Bank, memberi pinjaman, mengurus jual beli, membincang pembelian komoditi, memberi dana, melibatkan diri dalam projek pelaburan dan mengeluarkan serta mencetak wang baru.

Bank Camondo hanyalah bank biasa. Ottoman bank pula ialah bank dengan dana tempatan. Seterusnya bank baru Imperial Ottoman bank menjadi Bank Pusat dengan dana antarabangsa. Satu system ‘penguasaan kewangan’ telah diletakkan batu asasnya di situ.

Bank ini akan menyerap masuk dalam setiap aktiviti masyarakat bermula dari kedai runcit lagi. Tiada aktiviti masyarakat yang terlepas dari sistem Bank. Dari aktiviti jual beli, simpanan, seterusnya dana kewangan dan pelaburan, semuanya melibatkan bank.

MEREKA BERJAYA MENJADI TUAN KEPADA DUNIA (Masters of the Worlds). Pada tahun 1858 bankers Yahudi telah meletakkan syarat pinjaman dengan ‘jaminan tranformasi sosial’ kepada Kerajaan Othmaniah. Ini menunjukkan sistem ekonomi hutang berkait rapat dengan ‘kejuruteraan sosial’.

PADA WAKTU ITU JIZYAH SUDAH BERKUBUR. Bank Yahudi bertapak, sistem politik Nasrani Kristian sudah jadi penggerak Empayar Othmaniah ! Hak menandatangani kerajaan tergadai kepada peminjam wang. Tahun itu juga, ‘undang-undang tanah baru’ menafikan hak Sultan. Seterusnya tahun 1867, ORANG ASING DIBENARKAN MEMBELI TANAH.

STRATEGI DI SEBALIK PROJEK KERETAPI

Projek keretapi menghubungkan Istanbul ke Vienna. Austria dikatakan akan menghubungkan dunia Islam dan Eropah. Oleh kerana projek ini begitu besar, begitu jugalah besarnya peranan penipuan oleh bank-bank Yahud di London, Paris dan Brussel dalam membiayai projek ini dengan bon-bon kerajaan Othmaniah.

Pada tahun 1873 berlaku ‘Crash 1873 ‘ yang membawa kepada kejatuhan nilai bon-bon tersebut. Projek ini bukan sahaja pembangunan fizikal dalam bentuk ‘konkrit bangunan’ semata-mata. Ia suatu gerakan yang mengatasi ruang lingkup sempadan nasional dan bangsa, tetapi didalangi dengan angka-angka pada dokumen kewangan yang dipanggil saham dan bon.

Pada tahun 1875 Kerajaan Othmaniah DIISTIHARKAN MUFLIS kerana tidak mampu membayar hutang. Suruhanjaya Asing dilantik mewakil pemegang saham asing. Kerajaan terpaksa mengenakan CUKAI TERHADAP RAKYAT.

Serbia memberotak. Bosnia diserahkan kepada Austria di bawah bendera Othmani. Jalan keretapi tidak siap tetapi separuh dari perniagaan laut telah jatuh ke tangan British.

Kesan mengurangkan perjalanan dari Vienna ke Istanbul dari seminggu ke 40 jam ialah KEJATUHAN KHILAFAH OTHMANIAH itu sendiri.

Sultan Abdul Hamid menjadi Khalifah pada tahun 1876. Beliau mahu kembali kepada pemerintahan asal Othmaniah sebelum reformasi tanzimat. Beliau menolak sistem hiraki barat dan mahukan sistem topkapi dan imaret diperintah oleh keluarga diraja Othmaniah semula. Beliau tidak percaya kepada pegawai-pegawai yang berkhidmat sebelumnya. Secara beransur-ansur beliau mengurangkan peranan mereka dalam kerajaan dan akhirnya beliau BERJAYA MENGURANGKAN HUTANG KERAJAAN.

Pada tahun 1896, perwakilan Zionis telah menemui beliau. Demi mendapatkan Palestin, mereka tawarkan untuk memperbaiki keadaan krisis kewangan yang dihadapi oleh kerajaan Othmaniah.

Bagaimana golongan yang tidak mempunyai tanahair sendiri boleh membuat tawaran kepada pewaris salah satu empayar terbesar dunia? Jawapannya ialah satu bentuk KUASA BARU TELAH MUNCUL. Kuasa bank telah mengatasi kuasa kerajaan atau kuasa politik. Kuasa tidak lagi dalam bentuk ketenteraan tetapi dalam bentuk jumlah nombor wang dalam bank. Politik dijadikan alat untuk mengawal masyarakat sahaja. Kuasa politik pula dijadikan alat bank untuk menjayakan projeknya.

Sultan Abdul Hamid bertegas. Beliau telah mengungkapkan kata-kata bersejarah yang ditujukan kepada Herzl melalui utusan yang dihantar untuk perundingan tersebut :

“Saya cadangkan supaya dia (Hezrl) tidak meneruskan usaha mendapatkan tanah Palestin. Saya tidak akan menjualnya walau sejengkal kerana ianya bukan milik saya, tetapi milik rakyat saya. Mereka telah membentuk dan mengekalkan Empayar ini dengan pengorbanan dan darah. Kami akan pertahankannya dengan darah kami sebelum menyerahkannya kepada sesiapapun. Puak yahudi boleh simpan sahaja wang mereka yang banyak itu. Bila Empayar ini berpecah nanti, maka mereka bolehlah ambil Palestin secara percuma. Tetapi mesti langkah mayat kami dahulu, dan saya tidak akan membenarkan ianya berlaku atas sebab apapun..”

Akhirnya Sultan Abdul Hamid digulingkan pada tahun 1908. Pada tahun itu juga, pejabat pertama zionis di buka di Palestin di bawah firma Rohschilds. Maka berakhirlah empayar Othmaniah walaupun ia masih belum secara rasmi sehingga tahun 1924. (Bersambung)

KESIMPULAN

Perhatikan bagaimana sejarah kembali berulang. Bagaimana dirancang pembangunan, berjual beli dengan hutang dalam agenda memufliskan dan menawan sebuah negara.

Bila sudah dicekik sampai lemas, Zionis akan masuk dengan skrip membebaskan hutang melalui sistem kewangan ciptaan mereka. Mangsanya adalah rakyat yang menyerahkan sepenuh kepercayaan kepada pemimpin untuk membela nasib mereka.

Pattern sejarahnya sama sahaja kerana mereka menggunakan ilmu keruruteraan sosial yang sama. Kita digula-gulakan dengan pembangunan projek mega, ditawarkan hutang dan hujungnya menggadai negara melalui bon, sukuk, emas dan hasil negara.

Semuanya terjadi kerana wang. Sistem ekonomi dan pengurusan hazanah negara melalui konsep baitulmal ciptaan Islam ditinggalkan dan diganti dengan sistem beracun ciptaan musuh Islam yang sengaja direka untuk melemahkan dan membunuh kita.

Ini bukan rekayasa seperti amalan biasa keyboard warrior. Kita sedang berhadapan dengan satu agenda besar tanpa kebanyakan dari kita sedar dan percaya. Cendiakawan kewangan kita yang sedang menasihati pemimpin negara juga tidak ‘merasa sesuatu yang pelik’ kerana ekosistem ilmu mereka juga sudah diadun dari sumber yang sama.

Kita perlukan evolusi dan revolusi yang mantap, bukan sekadar reformasi dan transformasi yang flip flop dan bersifat wal hasil balik asal.

Oleh itu, kami yakin khilaf ini akibat liciknya musuh negara, juga kerana kejahilan serta kelalaian pemimpin dan para penasihatnya. Daripada marah dan kecewa, kita sudah mula kasihan dan simpati pada kejahilan mereka. Tidak dapat kami bayangkan betapa setiap malam adalah mimpi ngeri bagi para pemimpin negara yang memikirkannya (kecuali yang jenis ‘happy go lucky’).

Adalah menjadi tanggungjawab kita untuk saling ingat mengingati dan nasihat menasihati, dengan sabar dan penuh kasih sayang. Khilaf yang telah berlaku harus kita sama-sama bantu mencari penyelesaiannya, bukan sekadar mengutuk dan menyumpah semata-mata. Jika gagal, kita semua bakal menanggung akibatnya samada suka mahupun terpaksa. Sekali terjajah, berabad kita bakal menderita.

Kisah seterusnya akan menyentuh kronologi sampingan yang menyebabkan kejatuhan empayar Othmaniah dan kejatuhan Palestine.

Bedah sejarah
WARGA PRIHATIN

Dari Whatsapp Ust Abdul Halim Abdullah.

23 June 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

KELEBIHAN PUASA DI BULAN RAMADAN | Laman Web Rasmi JAIS

KEWAJIPAN BERPUASA

Firman Allah ( Ayat Al-Baqarah ayat 183 dan 185 )

“Wahai orang-orang beriman!! Kamu diwajibkan berpuasa sebagimana yang diwajibkan ke atas orang-orang yang dahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa”.

Bagi orang-orang Islam yang beriman, bulan Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan ketibaannya oleh setiap ummat Islam, memandangkan ia bulan yang mulia dan memberi begitu banyak manfaat dan keistimewaan, faedah, fadhilat dan masa depan yang cerah bagi mereka yang tahu dan menghayatinya.

KEUTAMAAN RAMADHAN

Terdapat puluhan hadis Rasulullah saw yang menjelaskan tentang fadhilat dan keutamaan pusa di bulan Ramadhan, bukan sahaja untuk manfaat ummat Islam di akhirat kelak, malah ianya memberi faedah yang besar untuk kesihatan tubuh badan manusia di dunia ini.

ANTARA FADHILAT DAN KELEBIHAN BERPUASA DI BULAN RAMADHAN.

1. Pintu langit dibuka

2. Pintu-pintu syurga di buka

FADHILAT YANG LAIN

1. Mereka yang berpuasa akan mendapat balasan syurga

2. Orang yang berpuasa dimakbulkan permintaanya oleh Allah SWT

3. Orang yang berpuasa mendapat 2 kegembiraan iaitu semasa berbuka dan apabila bertemu dengan Allah pada hari kiamat kelak

4. Orang yang berpuasa mendapat peliharaan Allah Swt

5. Orang yang berpuasa dengan sempurna dijanjikan mahligai yang indah di syurga

6. Setiap kali sujud orang yang berpuasa, dikurniakan 1700 kebajikan, dibinakan mahligai di syurga dan 70,000 malaikat memohon keampunan baginya dari pagi hingga petang.

AMAL IBADAH DI BULAN RAMADHAN

Dalam khutbah terakhir bulan Sya’ban untuk persediaan menghadapi bulan Ramadhan, Rasulullah saw telah memberi nasihat kepada ummat Islam supaya menyempurnakan amal ibadah sepanjang bulan ramadhan, antaranya ialah:

Solat sunat Tarawih
Solat-solat sunat yang lain
Bantu membantu sesama umat islam seperti bersedekah dan seumpamanya
Memberikan hidangan berbuka puasa
Banyakkan membaca tahlil
Banyakkan beristighfar dan bertaubat, memohon keampunan kepada Allah swt
Banyakkan berdoa memohon syurga dan perlindungan dari azab neraka
Banyakkan bersabar, kerana bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran.
Tinggalkan dan jauhi dari segala perbuatan maksiat dan kemungkaran, kerana ia boleh menghapuskan ganjaran pahala ibadah kita.

Oleh itu marilah sama-sama kita berpuasa dengan seikhlas-ikhlasnya. Jangan kita hanya berpuasa, kerana ikut orang lain berpuasa atau kerana bapa kita puasa, maka kita juga kena puasa. Hayatilah kelebihan-kelebihan berpuasa, agar kita sempurna di dunia dan di akhirat.

Sumber:
Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS),
Bangunan Sultan Idris Shah,
Tingkat 1 Menara Selatan
No 2 Persiaran Masjid,
40676 Shah Alam Selangor
Tel: 03-55143400 Fax: 03-55103368
Email: info@jais.gov.my

23 June 2015 Posted by | Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

KATA-KATA HIKMAH IMAM AS-SYAFIE. RH

KATA-KATA HIKMAH IMAM AS-SYAFIE. RH
.
“Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya, cinta dunia sekaligus cinta Allah, maka dia telah berdusta.”
– (Imam AsSyafie)
.
“Jika ada seorang yang ingin menjual dunia ini kepadaku dengan nilai harga sekeping roti, nescaya aku tidak akan membelinya.”
– (Imam asSyafi’e)
.
“Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung peritnya kebodohan.”
– (Imam asSyafie)
.
Berapa ramai manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kapannya sedang ditenun.
– (Imam asSyafie)
.
Orang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu, merantaulah ke negeri orang.
– (Imam asSyafie)
.
Aku tidak pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika dia berpendapat salah.
– (Imam asSyafie)
.
Jangan cintakan orang yang tidak cintakan Allah. Kalau dia boleh meninggalkan Allah, apalagi meninggalkan kamu.
– (Imam asSyafie)
.
Barangsiapa yang menginginkan Husnul Khotimah, hendaklah ia selalu bersangka baik sesama manusia.
– (Imam AsSyafie)
.
“Pentingnya menyebarkan ilmu agama.
– (Imam asSyafie)
.
Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak, Menjadi mati lalu membusuk.”
– (Imam syafie)
.
“Doa di saat tahajud adalah umpama panah yang tepat mengenai sasaran.”
– (Imam Syafie)
.
“Kamu seorang manusia yang dijadikan daripada tanah dan kamu juga akan disakiti (dihimpit) dengan tanah.” – (Imam as Syafie)
.
Perbanyakkan menyebut Allah daripada menyebut makhluk. Perbanyakkan menyebut akhirat daripada menyebut dunia.
– (Imam asSyafie)
.
Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat.”
– (Imam Syafie)
.
Seorang sufi tidak menjadi sufi jika ada pada dirinya 4 perkara: malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.
– (Imam asSyafie)
.
Sesiapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi maka ia benar-benar menasihatimu. Sesiapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu”
– (Imam asSyafie)
.
Empat perkara menguatkan badan
1. makan daging
2. memakai haruman
3. kerap mandi
4. berpakaian dari kapas
.
Empat perkara menajamkan mata:
1. duduk mengadap kiblat
2. bercelak sebelum tidur
3. memandang yang hijau
4. berpakaian bersih
– (Imam asSyafie)
.
“Dosa-dosaku kelihatan terlalu besar buatku, tapi setelah kubandingkan dgn keampunanMu Ya Allah… ternyata keampunanMu jauh lebih besar.”
– (Imam syafie)
.
“Bumi Allah amatlah luas namun suatu saat apabila takdir sudah datang, angkasa pun menjadi sempit”
– (Imam asSyafie)
.
Letakkan akhirat di hatimu, dunia di genggaman tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu.
– (Imam asSyafie)
.
Sebesar-besar aib (keburukan) pada diri sesaorang adalah orang yg asyik mencari dn mengata keburukan orang lain sedangkan keburukan itu terdapat dalam diri nya sendiri.
– (Imam asSyafie)
.
Aku mampu berhujah dgn 10 orang berilmu, tapi aku akan kalah pada seorang yg jahil kerana dia tak tahu akan landasan ilmu.
– (Imam asSyafie)

Sumber.

20 June 2015 Posted by | Bicara Ulama, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

ALLAH ADAKAN DISETIAP NEGERI (TIDAK KIRA SIAPA YG

Firman Allah Taala maksudnya:

“Dan demikianlah Kami adakan disetiap dalam tiap2 negeri orang besar yang jahat supaya mereka melakukan tipu daya dinegeri itu. Padahal tiadalah mereka memperdayakan selain daripada dirinya sendiri ( kerana merekalah yang akan menerima akibat yang buruk), sedang mereka tidak menyedarinya.”

(Surah An-An’am 6/ Ayat 123)
——————————-

Mengikut Tafsir Al-Maraghiy,
Sesungguhnya sunnah Allah Swt kepada umat manusia telah ditetapkan, bahwa setiap kota besar dari suatu bangsa atau umat, samada dikalangan mereka telah diutuskan rasul atau tidak, terdapat para pemimpin jahat yang melakukan tipu daya keatas rasul atau orang2 yang salih.

Demikianlah halnya berlaku pada setiap generasi umat manusia, apalagi pada masa sekarang yang penuh dengan kerakusan dan ketamakan untuk naik menjadi pemimpin atau pembesar negara.

Yang adanya untuk mendaki tangga naik keatas itu dari awal lagi telah menggunakan pelbagai cara penipuan dan tipu helah bagi memastikan seseorang pemimpin itu dapat naik keatas menjadi pemimpin utama disebuah negara.

Yang dimaksudkan pemimpin jahat iaitu orang yang melawan seruan kearah kebaikan dan memusuhi para ulama’ pewaris nabi2 dan juga memusuhi mereka yang melakukan kerja2 amar maaruf dan mencegah kemungkaran.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir pula,

Ibnu Abi Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ayat ” penjahat2 yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu” yakni Allah menjadikan orang2 yang paling jahat diantara mereka sebagai penguasa, lalu mereka berbuat durjana dinegeri tersebut. Jika mereka melakukan demikian , maka Allah akan binasakan mereka dengan azab.

Hakikat dalam masyarakat dulu dan kini;

Ramai para pemimpin utama Quraisy di Makkah dulu memiliki sifat2 begini , diantaranya Abu Jahal, Abu Lahab, Utbah, Abu Suffian dan lainnya.

Orang2 yang memiliki sifat yang sama dizaman mutakhir ini adalah meneruskan kerja2 keji yang pernah dilakukan oleh pembesar Quraisy itu.

Allah Swt menegaskan para pemimpin yang melakukan kerja tipu daya ini, sesungguhnya mereka menipu diri mereka sendiri.
Sunnatullah telah menunjukkan bahwa setiap kerja jahat itu akan terkena balik pada diri si pelakunya sendiri.

Allah Swt telah memberikan jaminan bahwa perjuangan menegakkan yang hak itu akhirnya dapat mengalahkan perjuangan yang batil.

Ayat diatas memberikan motivasi kepada Rasulullah Saw dan para sahabat Ra untuk bersabar dalam perjuangan Islam
menghadapi puak kuffar di Makkah dan Madinah .

Ayat ini sudah pasti memperingatkan setiap pendukung risalah Islam dan juga kerja2 dakwah bahwa setiap kerja2 kebaikan itu
akan penerima penentangan dari para pemimpin yang ada kerana mereka itu akan berusaha bermatian untuk mengekalkan kuasa yang mereka ada.

Kita renung sejenak kepada sejarah bumi Masir , apa yang telah dilakukan oleh Gamal Abdul Nasir, Anwar Sadat, Hosni Mubarak dan juga Al-Sisi. Berapa ramai para pemimpin Islam telah dianiaya .

Banyak lagi pemimpin2 dunia umat Islam yang telah mencatatkan sejarah hitam dinegara masing2.

Akhir sekali, berwaspada terhadap para pemimpin yang diberi gelaran “orang2 besar yang jahat” ini kerana sekiranya kita membantu para pemimpin yang jahat dan zalim itu dikhuatiri diri kita sendiri akan terkena percikan api neraka , seperti yang disebutkan dalam surah Hud 11/ayat 113 yang bermaksud:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang2 zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sesungguhnya kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah…”

Ingatlah, ini amaran keras daripada Allah Swt sendiri dalam Al-Quran !

Rujukan

Tafsir Ahmad Mustaffa Al-Maraghiy – Jilid 4

Sahih Tafsir Ibnu Katsir -Jilid 3

(Sumber)

20 June 2015 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

MASUK SYURGA MELALUI PINTU YANG DISUKAI

Siapakah wanita yang menjadi ahli syurga? Apakah ciri2 atau sifat2 yang menjadi kunci bagi wanita memasuki syurga? Sebuah hadith Nabi menyatakan:
Daripada Anas,Nabi ﷺ bersabda yang bermaksud:
“Apabila seorang perempuan mendirikan sembahyang lima waktu,BERPUASA SEBULAN (RAMADHAN),menjaga kehormatan dan taat kepada suami,dia akan disuruh memasuki syurga melalui MANA2 PINTU YANG DIA SUKAI (Hadith riwayat Ahmad)

Berpuasa sepanjang Bulan Ramadhan adalah kewajipan wanita yang akan MEMUDAHKANNYA untuk masuk syurga DARI ARAH PINTU MANA SAHAJA YANG DIA SUKAI.Keistimewaan ini tidak dimiliki oleh lelaki.Ini menunjukkan Allah meninggikan martabat dan darjat wanita solehah selama mereka menunaikan perintah Allah dan menjaga dari segala yang diharamkan ke atas mereka.

(Rujukan Kitab Kunci Mendapatkan Syurga di Dunia dan Akhirat,Bab 14: Masuk Syurga Melalui Pintu Yang Disukai,mukasurat 191)

19 June 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

U