Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Orang kafir Tidak Akan Pernah Ridha dengan Umat Islam Selama Lama nya.

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan Ridho kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah : 120)

Menurut Buya Hamka dalam tafsir Al-azharnya, kata “lan” di dalam ayat itu berarti bahwa orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan pernah ridha terhadap agama islam untuk selama-lamanya, kecuali orang islam mau mengikuti millah mereka. Ayat ini bukanlah ayat yang mengajarkan kita untuk membenci orang-orang yahudi dan nasrani, melainkan agar kita menjalankan hidup dengan penuh kewaspadaan dan mata terbuka. Ayat ini adalah sebuah ayat tentang realita yang tidak akan pernah berubah hingga hari kiamat. Konten ayat ini juga sangat masuk akal apabila kita mau merenungi lebih dalam. Bagaimana mungkin orang yahudi dan nasrani akan ridha terhadap islam? Kitab suci Al-Qur’an saja, di awal-awal suratnya sudah banyak sekali menyampaikan “aib-aib” orang-orang yahudi dan nasrani. Bahkan dalam surat Al-Fatihah yang kita baca sebanyak 17 kali sehari minimal, berisi doa tentang sikap bara’ kita terhadap jalan yang ditempuh oleh orang-orang yahudi dan nasrani.

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (Al-Fatihah : 7)

Label “orang kafir” yang Al-Qur’an lekatkan pada mereka pun, senantiasa menjadikan kuping mereka panas dan tidak terima jika muslimin menyebut mereka dengan sebutan yang sama. Ya mau bagaimana lagi, kita hanya mengikuti Al-Qur’an, tidak kurang, tidak lebih. Lalu beberapa ayat yang menelanjangi kejahatan-kejahatan dan kezaliman-kezaliman yang diperbuat orang-orang yahudi di masa lalu,

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (Al-Baqarah : 61)

Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. (Al-Baqarah : 72)

Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dengan angan-angan dan mereka hanya menduga-duga. (Al-Baqarah :79)

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (Al-Baqarah :80)

Sedangkan beberapa ayat yang “menyerang” prinsip dasar agama nasrani.

Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. (Al-Baqarah : 116)

Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan (Al-Maidah : 15)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, (At-Taubah : 54)

Dan beberapa ayat yang yang “menyerang” yahudi dan nasrani sekaligus,

Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (Al-Baqarah : 113

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (Al-Baqarah :111)

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. (Al-Baqarah :135)

Lalu, kenapa hanya agama yahudi dan nasrani yang disebut? Itu akan dibahas pada part selanjutnya. Untuk part 1 ini, penulis ingin memantapkan paradigma pembaca agar makin meyakini dalam hati bahwa Al-Baqarah : 120 bukanlah ayat penebar kebencian. Lalu, bagaimana bila ada pertanyaan? “tapi tidak semua orang yahudi dan nasrani peduli terhadap urusan islam? Berarti ayatnya tidak mutlak benar?”. Ingat, Allah itu Maha Benar, maka jangan pernah berprasangka yang tidak-tidak kepada Allah. Ayat ini memang berlaku untuk mewakili kondisi mayoritas dan rata-rata dari orang-orang yahudi dan nasrani, bukan menjudge 100% kuantitas karakter orang yahudi dan nasrani.

Penulis juga merasa perlu untuk menulis tadabbur tentang ayat ini, karena penulis pernah mendapati seorang profesor muslim indonesia di Australia, yang memiliki banyak follower di dunia maya, menulis tafsiran tentang ayat ini yang tidak pada tempatnya. Maka semoga dengan beberapa argumen yang dijabarkan di atas, bisa membuatkan kita paham tentang tujuan ayat ini turun dan sampai kepada kita.

Allahu a’lam bishshawab

Sumber

16/04/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

WAHAI PARA PENDAKWAH

1) Orang yang berdakwah, yang ingin membela agama Allah tapi dia lalai dalam solatnya, dia tak peduli pun bila tertinggal solat berjemaah, tidak mengambil berat akan solat rawatib, solat witir, tidak ambil berat hal solat ahli keluarganya, walaupun dia memiliki kejayaan dalam ceramahnya, ramai pengikut, tapi dia tak tergolong dalam orang yang menolong agama Allah.

2) Peringatan kepada orang berilmu
Sesungguhnya seseorang yang mencari ilmu, mereka perlu ambil berat apa yang diperolehnya, kerana Allah tak beri sesuatu kecuali untuk seseorang itu menjaganya.

• Nasihat الحبيب عمر بن حفيظ – Habib Omar di Musalla Al-Abrar, Sungai Penchala | 30 September 2018

Sumber: Grup dakwah Telegram

17/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Ada orang kata Jubah, Serban Dan Ridak Bukan Sunnah Rasulullah SAW

Ado orang kato – Sorban ni bukan sunnah Nabi SAW sobab Abu lahab, Abu Jahal dan Abu-abu yang lain dizaman jahiliyah pun pakai sorban.

Mereka juga kata, jubbah, sorban rida bukan sunnah Nabi SAW, itu budaya Arab. Pakaian, kena ikut MAJORITI penduduk. Kalau penduduk tak pakai jubbah dan serban, maka pakai macam penduduklah. Jika penduduk pakai bikini, maka kena pakai bikini ge agaknya ? Hehehe

[SOAL JAWAB : SERBAN NABI] SOALAN: ADAKAH DALIL SAHIH TENTANG SERBAN, BUKANKAH ITU HANYALAH PAKAIAN ORANG ARAB?

JAWAPAN:

Dijawab oleh Al-Allamah Al-Muhaddith Al-Habib Munzir Al-Musawa sebagaimana berikut,

1. dari Amr bin Umayyah ra dari ayahnya berkata : Kulihat Rasulullah saw mengusap surbannya dan kedua khuffnya (Shahih Bukhari Bab Wudhu, Al Mash alalKhuffain).

2. dari Ibnul Mughirah ra, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw mengusap kedua khuffnya, dan depan wajahnya, dan atas surbannya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

3. para sahabat sujud diatas Surban dan kopyahnya dan kedua tangan mereka disembunyikan dikain lengan bajunya (menyentuh bumi namun kedua telapak tangan mereka beralaskan bajunya krn bumi sangat panas untuk disentuh). saat cuaca sangat panas. (Shahih Bukhari Bab Shalat).

4. Rasulullah saw membasuh surbannya (tanpa membukanya saat wudhu) lalu mengusap kedua khuff nya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

TAMBAHAN:

1. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Jabir dikemukakan: “Nabi saw memasuki kota Makkah pada waktu Fathu Makkah beliau mengenakan serban (‘imamah) hitam.” (HR. At-Tarmidzi. Hadits ini diriwayatan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadits ini pun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir ra.)

2. ‘Amr bin Huraits berkata: “Aku melihat serban hitam di atas kepala Rasulullah saw.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar, dari Sufyan, dari Musawir al-Waraq, dari Ja’far bin ‘Amr bin Huraits, yang bersumber dari bapaknya.)

3. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Umar ra. dikemukakan : “Apabila Nabi memakai sorban, maka dilepaskannya ujung serbannya di antara kedua bahunya.” Kemudian Nafi’ berkata : “Ibnu ‘Umar juga berbuat begitu.” ‘Ubaidullah berkata: “Kulihat al-Qasim bin Muhammad dan Salim, keduanya juga berbuat demikian.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al Hamdzani, dari Yahya bin Muhammad al-Madini, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Nafi’, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar.)

4. Ibnu ‘Abbas ra. mengemukakan: “Sesungguhnya Nabi Muhammad berpidato di hadapan ummat. Waktu itu beliau mengenakan serban, dan serbannya terkena minyak rambut.” (HR. At-Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Yusuf bin ‘Isa, dari Waki’, dari Abu Sulaiman, yaitu ‘Abdurrahman bin Ghasail, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas)

KOMEN: “Barangsiapa yg tak menyukai sunnahku maka ia bukan dari golonganku” (Shahih Bukhari).

Di atas itu SEMUA dari Rasulullah SAW yang SAHIH.

Nak Tanya, Serban ni SUNNAH atau BIDA’AH ?

(Kadang-kadang pelik, hadis dhaif mati2 dia orang marah. Tapi hadis SAHIH mereka TAK AMAL pun)

Sumber: http://as-suhaime.blogspot.com/2014/06/wahabi-kata-jubah-serban-dan-ridak.html?m=1

17/02/2019 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

PAKAI SERBAN ITU ADAT ARAB JAHILIYAH?

(Bicara Hadith Bersama Ustaz Mohd Khafidz Soroni)

Imam Bukhari Rh.a dalam sahihnya Bukhari telah memasukkan satu bab iaitu باب العمامة lalu dibawah bab Beliau memasukkan hadis لا يلبس المحرم القميص ولا العمامة ولا السراول الى أخر الحديث
عمائم adalah lafaz jamak kpd عمامة
Memakai imamah (serban) banyak sekali dinukilkan daripada Baginda SAW dan jemaah Para Sahabah R.Anhum Ajmain.
Juga dalam Sahih Bukhari dlm Kitabul Wudhuk diriwayatkan dari tariq Jaafar Bin Amar r.a :
رايت النبي صلى الله عليه و سلم يمسح على عمامته و خفيه….
Aku melihat Baginda SAW menyapu ke atas serban dan kedua khuf Baginda SAW….

Demikian juga riwayat Sahih Muslim dari tariq Mughirah Bin Syu’bah r.a :
توضأ النبي صلى الله عليه و سلم و مسح على الخفين و العمامة…
Telah berwudhuk Nabi SAW dan telah menyapu ke atas kedua khuf dan serban Baginda SAW…

Maka dari hadis-hadis ini telah sabitlah bahawa memakai serban adalah di antara sunnah Baginda SAW dan mereka yang memakainya akan mendapat pahala sunnah dan yang paling penting akan mendapat Muhabbat dan Cinta Allah Rabbul Izzah sepertimana janji Allah dalam firmanNya :
قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفرلكم زنوبكم و الله غفور الرحيم
Katakanlah wahai Muhammad SAW sekiranya kamu mencintai Allah maka hendaklah kamu ittiba’akan daku. Nescaya Allah akan mula mencintai diri kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu. (Al-Imran)..

Banyak sekali hadis-hadis yang mentaghribkan supaya istiqamah memakai serban, antaranya Imam Tabrani menukilkan di dalam Mu’jam Kabirnya dan Imam Baihaqi rh.a di dalam Syu’bul Iman akan satu hadis marfu’ dari Nabi SAW :
أعتموا تذدادو الحلما……
Pakailah kamu akan serban kerana sesungguhnya dengan memakainya akan menambahkan sifat hilm….
Walaupun hadis ini dinilai dhaif oleh Imam Bukhari rh.a , namun Imam Hakim rh.a telah mentashihkannya dan pula hadis ini mempunyai banyak syawahidnya yang menjadikan hadis ini paling kurang Hadis Hasan Lighairihi….

Antaranya hadis yang dinukilkan oleh Imam Abu Daud rh.a dalam Sunannya dari tariq Rukanah r.a…..:
سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول فرق ما بيننا و بين المشركين العمائم على القلانس
Aku mendengar Baginda SAW bersabda:
Perbezaan di antara kita dengan golongan Musyrikin adalah kita memakai serban di atas kopiah ( sedangkan Musyrikin mereka memakai serban tanpa kopiah)…(Abu Daud/ Bab Fil Ama’im/Hadis no 4078)

Imam Abu Daud tidak memberi komentar apa2 tentang hadis ini yang memberi maksud hadis ini Solih (sohih) menurut pendapatnya…

Begitu pentingnya nilai memakai serban sehingga dijadikan Baginda SAW pengukur untuk membezakan cara dan kaifiat kita memakai serban dengan cara Musyrikin..
Nah! Mana perginya mereka yg mengatakan memakai serban ini adalah sunnah orang arab?? Mereka tidak memerhatikan bagaimana hadis lain mensyarahkan bahawa walaupun orang2 Arab terdahulu memakai serban namun kaifiat memakai serban adalah amat berbeza dengan kita orang2 Islam..

Pertamanya saya tidak berani untuk mengatakan memakai serban ini hanyalah adat orng2 Arab. Ini kerana terdapat satu asar ketika mana seseorang telah bertanya Ibnu Umar r.a (Pencinta Sunnah Baginda SAW yg hakiki)…
يا ابا عبد الرحمان : هل العمامة السنة؟ قال نعم…
Wahai Abu Abdul Rahman (kuniah bg Ibnu Umar) adakah memakai serban itu satu sunnah? Beliau menjawab: ya! (Umdatul Qari Syarah Sahih Bukhari Juzu’ 18/ Kitabul Libas/ Babul Ama’im)

Baiklah (ala sabil-taslim) sekiranya kita mengalah bahawa memakai serban ini hanyalah adat orang-orang Arab. Namun adat yang mana telah dijadikan amalan oleh Baginda SAW, secara automatiknya ia akan menjadi sunnah walaupun ianya tidak digelar sunnah ibadah tapi ianya dipanggil sunnah adiyah ataupun sunnah jibliyyah…

Namun yang kita tuntut adalah Cinta dan Muhabbat Allah dan janji kurnia cinta dan muhabbat llah ada di dalam itiiba’ Baginda SAW yg sepurna damada dalam ittiba’ sunnah ibaadah mahupun sunnah aadah…

Wallhu A’lam.!!

Oleh Maulana Wan Aswadi, Miftahul Ulum Hulu Langat

17/02/2019 Posted by | Bicara Ulama, Fad hail Amal, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Tiga tanda taksubnya seseorang kepada sesuatu kumpulan

Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi menyenaraikan tiga tanda taksubnya seseorang kepada sesuatu kumpulan:

Pertama:
Seseorang itu hanya menyebut kelebihan dan kebaikan kumpulannya sahaja, sementara untuk kumpulan lain hanya disebut keburukan dan kecacatan.

Kedua:
Dalam masa yang sama, mengagungkan tokoh-tokoh kumpulannya sekalipun terdapat kesilapan dan kesalahan pada tokoh tersebut yang cuba dinafikan, dan memandang rendah tokoh lain sekalipun terdapat ketinggian ilmu dan amal.

Ketiga:
Gembira menyebarkan kesilapan dan kesalahan pihak lain. Dalam masa sama, membutakan mata pada kesalahan tokoh dari kumpulan sendiri, dan berusaha mencipta pelbagai alasan untuk mempertahankan kesalahan itu.

Dari tiga sifat taksub di atas, seseorang itu dilihat berlebih-lebihan mempertahankan kumpulan sendiri seolah-olah itu adalah perkara ‘ta’abbudi’ (ibadah khusus). Sehingga dikorbankan maslahah dakwah Islam dan umatnya supaya organisasi kumpulannya lebih terjaga.

Untuk itu, Dr al-Qaradhawi mengingatkan pada pendakwah dan pendokong gerakan Islam bahawa:

(a) Kumpulan atau jemaah hanyalah wasilah (atau alat) dan bukannya berhala yang perlu disembah dan diagungkan seolah ia tiada dosa.

(b) Kaedah untuk menjauhkan sifat taksub (fanatik melampau) dalam hal perbezaan pendapat dan ijtihad ialah seseorang itu perlu;

–(i) Melihat pada kandungan teguran dan percakapan, bukan pada susuk yang berkata, sekalipun dari musuh.

–(ii) Seorang pendakwah itu perlu berani mengkritik diri sendiri, mengakui kesilapan, mengalu-alukan kritikan orang lain, meminta nasihat dan penilaian, serta mengambil faedah dari semua orang.

–(iii) Pendakwah sebenar wajib mempertahankan sesuatu yang benar, sama ada dari kawan atau lawan.

*وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ…*

“Dan hendaklah engkau (tetap tekun) memberi peringatan, kerana sesungguhnya peringatan itu mendatangkan faedah kepada orang-orang yang beriman.” (Surah Adz-Dzaariyaat 51:55)

(Lihat al-Sohwah al-Islamiyyah Bayna al-Ikhtilaf al-Masyru’ wa at-Tafarruq al-Mazmum, oleh Dr Yusuf al-Qaradhawi.)

*Posting dan terjemahan asal kredit kepada Ustaz Abd Haris Bain.

17/02/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Cara Membaca Yassin Pada Orang Sakit Tenat

Foto Hiasan

Masyarakat Melayu telah lama buat salah dalam ‘membantu’ seseorang menghadapi saat sakaratul maut.

Telah menjadi kebiasaan orang Melayu Islam di Malaysia, kita akan mengelilingi orang yang tengah sakit tenat dan nazak dengan masing-masing membaca surah Yaasin, dengan bacaan yang tersendiri dan bermacam-macam ragam (ada yang baca dengan tartil, tetapi ada juga yang baca dengan laju macam nak lumba F1).

Perbuatan sebegini sebenarnya mungkin akan menjadikan orang yang tengah nazak merasa lebih kelam kabut (kerana menurut apa yang kita faham dari ustaz2 sebelum datangnya kematian, kita akan ‘disibukkan’ dengan segala macam gambaran perbuatan kita di dunia).

Kaedah yang sepatutnya diamalkan ialah seperti yang di ajar para alim ulama:

* Lantik seorang yang bacaan al-qurannya paling baik (dari segi tajwid dan fasohah) untuk membaca surah Yaasin, yang lain-lain bolehlah bersama-sama buat semakan bacaan.

* Sebaik-baiknya orang yang dilantik itu adalah ANAK ataupun SAUDARA TERDEKAT yang mempunyai perasaan kasih pada orang yang sedang tenat/nazak.

* Merenung wajah orang tengah nazak tersebut sebelum surah Yasin dibacakan. Ini adalah untuk menimbulkan rasa belas kasihan dan mudah-mudahan berkat daripada surah yang dibaca itu, boleh membantu memudahkan pencabutan nyawa si pesakit tersebut.

* Membaca 3 hingga 4 ayat Surah Yaasin, berhenti, dan menolong (menuntun) beliau untuk mengucap “Laa ila ha illallah”.

* Kemudian menyambung semula bacaan, baca 3 hingga 4 ayat, berhenti lagi, dan menolong beliau mengucap “Laa ila haillallah” lagi.

* Diteruskan sehinggalah beliau menghembuskan nafas yang terakhir.

Semoga ini dapat meningkatkan lagi ilmu pengetahuan kita dalam ‘membantu’ saudara mara atau mak ayah kita dalam menghadapi saat-saat getir sakaratulmaut.

Dan semoga kita mendapat segala rahmat serta hidayahNYA dalam membuat amal kebajikan dengan cara yang betul dan bukannya semata-mata melalui ikut-ikutan/adat.

Sumber: http://kerdipanrohani.blogspot.com/2010/02/cara-membaca-yassin-pada-orang-sakit.html?m=1

14/02/2019 Posted by | Fad hail Amal, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

TRADISI CIUM TANGAN DAN KAKI

Dua orang Yahudi bertanya kepada Rasulullah SAW. tentang 9 Ayat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW. menjelaskan dengan Rinci tanpa kurang Satu Ayatpun.
Kemudian Kedua Orang Yahudi tersebut mencium Tangan dan Kaki Baginda SAW.
(HR. An Nasa’i, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Dari Sahabat Nabi Ka’ab bin Malik, bahwa Dia berkata :
“Ketika turun Ayat tentang (diterimanya) Taubatku, Aku mendatangi Rasulullah, dan mencium Tangan dan Lututnya”.
(HR. Abu Asy Syaikh dan Ibnu Mardawaih)

Dari Sahabat Nabi Buraidah RA, Dia berkata :
“Sesungguhnya seorang Laki-laki telah Datang kepada Rasulullah SAW., lalu mencium Tangan dan Kaki Beliau SAW”.
(HR. Al-Hakim dalam Kitab al-Mustadrak, dan men-shahih-kannya)

Dari Imam as-Saddi berkenaan dengan Firman Allah SWT :
“Wahai Orang-orang yang Beriman, janganlah Kamu bertanya (kepada Nabi SAW) tentang Perkara-perkara yang jika diterangkan, akan menyusahkan Kamu”.
(QS. Al Maidah : 101)

Setelah mendengar Ayat ini, Sayidina Umar bin Khaththab RA. Bangun menuju Nabi SAW, dan mencium Kaki Baginda Rasulullah SAW.
(HR. Ibnu Jarir Ath Thabari dan Ibnu Hatim)

Di dalam Kitab Sharim al-Maslul, Ibnu Taimiyyah berkata :
“Sesungguhnya seorang Lelaki menyaksikan Mukjizat sebatang Pohon yang datang kepada Rasulullah SAW., kemudian kembali ketempat semula.
Lelaki itu berkata sambil Berdiri, kemudian mencium Kepala, Tangan, dan Kaki Rasulullah SAW.”
(HR. Ibnu Al ‘Arabi dan Al Bazzar)

Menurut Riwayat Ibnu al-Arabi :
“Lelaki tersebut meminta Izin kepada Nabi SAW. untuk mencium Beliau.
Nabi SAW pun mengizinkan.
Maka Lelaki tersebut kemudian mencium Kepala dan Kaki Baginda SAW”.

Disamping Takdzim kepada Nabi, dengan mencium Tangan dan Kaki Nabi, diantara Sesama Sahabat Nabi juga melakukan Hal yang sama.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Kitab al-Adab al-Mufrad (Hadist Nomor 976) dengan Sanad Shahih, bahwa Sahabat Ali bin Abi Thalib mencium Tangan dan Kaki Abbas bin Abdul Muththalib.
Padahal Sayidina Ali juga termasuk Sahabat yang Mulia, karena Sayidina Abbas disamping Pamannya sendiri, juga Beliau termasuk Orang yang Shaleh.

Dari Sahabat Nabi, yaitu Shuhaib RA., Dia berkata :
“Saya melihat Ali bin Abi Thalib mencium Tangan dan Kaki Abbas bin Abdul Muththalib”.
(HR. Bukhari)

Dari Imam Ibnu Jad’an, Dia berkata kepada Sahabat Nabi Anas bin Malik :
“Apakah Anda pernah memegang Nabi dengan Tangan ini?”.
Anas berkata :
“Iya”.
Lalu Imam Ibnu Jad’an mencium Tangan Anas tersebut.
(HR. Bukhari dan Ahmad)

Masih ada Riwayat lain tentang Sikap Ta’dzim Para Sahabat Nabi kepada Sahabat yang lain, dan Tradisi ini diwariskan secara Terus menerus, sampai kepada Zaman Kita Sekarang.

Diriwayatkan dengan Sanad yang Shahih, bahwa Imam Muslim mencium Tangan Imam Bukhari.
Imam Muslim berkata :
“Seandainya Anda mengizinkan, pasti Saya akan Cium Kaki Anda”.

Inilah Jawaban Lembut Habib Umar bin Hafiz pada Seorang yang anggap Syirik Cium Tangan Guru.

Hal ini karena ada seorang pemuda bertanya kepada Habib Umar: “Kenapa engkau membiarkan murid-muridmu menundukkan badannya dan mencium tanganmu berbolak balik?”

Pemuda itu melanjutkan, “Tidak tahukah engkau itu perbuatan yang syirik? Engkau seolah-olah membuat murid-muridmu menyembah sesama mahkluk? Tidakkah hanya Allah lah yang layak disembah? Tunduk atau menunduk kepada makhluk adalah perbuatan syirik.”

Habib Umar hanya tersenyum mendengar pertanyaan dan ucapan dari seorang pemuda tersebut. Lantas Habib Umar memanggil pemuda tadi dan mendekatinya….Habib Umar mengambil pena yang ada di dalam saku baju pemuda tersebut kemudian menjatuhkannya ke bawah.

Ketika si pemuda ini menundukkan kepala dan badannya ke bawah guna mengambil pena tersebut, Habib Umar menahannya dan berkata:

“Engkau tidak boleh menunduk ke bawah menyembah pena, yang kita sembah hanyalah Allah SWT,” jawab Habib Umar.

“Tidak, aku hanya ingin mengambil penaku di bawah.”

Lantas Habib Umar tersenyum dan berkata:

“”Begitu pula anak-anak muridku. Mereka hanya bersalaman dengan menundukkan badan bukan karena ingin menyembahku. Namun mereka cuma ingin menghormatiku sebagai guru mereka, meskipun aku tidak meminta mereka seperti itu.”

Jawaban singkat itu membuat lelaki tersebut puas dan mengerti makna yang sebenarnya. Sungguh indah jawaban untuk seseorang yang agak kurang mengerti makna penghormatan yang baginya sama dengan menyembah.

Diceritakan dari Al-habib Umar bin Agil Al-Hamid.

Sumber.

05/02/2019 Posted by | Hadis, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Tanda anda hamba dunia

18/01/2019 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Ancaman Bagi Istri Yang Tidak taat Suami

Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki datang menghadap kepada para shahabat Rasulullah. Dia menyampaikan kepada shahabat tentang hal-hal yang terjadi atas istrinya. Salah seorang shahabat menanggapi pengaduan laki-laki tersebut dengan memberikan keterangan yang dia dengar dari Rasulullah Saw. kemudian (setelah lewat beberapa waktu) para shahabat mengirimkan keterangan-keterangan yang diperoleh dari beliau Nabi Saw. kepada istri laki-laki tersebut bersama Khuzaifah bin Al-Yaman ra. Adapun keterangan-keterangan itu antara lain adalah sebagai berikut: “Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

لو أمرت أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها
“Apabila aku diperintahkan agar seorang bersujud kepada orang lain, maka pasti aku perintahkan wanita (istri) sujud kepada suaminya.”

Dari shahabat Umar ra. Rasulullah Saw. bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ رَفَعَتْ صَوْتَهَا عَلَى زَوْجِهَا إِلاّ لَعَنَهَا كُلُّ شَيْئٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَمْسُ
“Wanita manapun yang mengeraskan suaranya melebihi suara suaminya, maka setiap sesuatu yang terkena sinar matahari akan melaknat dia, kecuali dia mau bertaubat dan kembali dengan baik.”

Dari shahabat Ustman bin Affan ra. Rasulullah Saw. bersabda:
لوأن إمرأة ملكت الدنيا كلها وانفقتها على زوجها ثم منت بذلك عليه إلاّ أحبط الله عملها وحشرها مع فرعون
“Apabila seorang wanita memiliki seluruh dunia ini, kemudian dia nafkahkan kepada suaminya, setelah itu dia mengumpat suaminya karena nafkah tersebut, maka selain Allah Swt. melebur amalnya, dia juga akan digiring bersama Fir’aun.”

Dari Ali bin Abi Thalib ra. Rasulullah Saw. bersabda:
لو أنّ امرأة طبخت ثديها وأطمعتهما زوجها ما ادت حقّها
“Andaikata seorang wanita memasak kedua buah dadanya, kemudian dia memberi makan suaminya dengan keduanya itu, maka hal itu belum dapat menyempurnakan haknya sebagai istri.”

Dari shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra. Rasulullah Saw. bersabda:
أيمّا امرأةٍ أخذت من متاع زوجها شيأً إلاّ كان عليها َوِزْرٌ سبعين سارقاً
“Wanita mana pun yang mengambil barang-barang suaminya, maka baginya dosa tujuh puluh kali sebagai pencuri.”

Dari shahabat Abdullah bin Abbas ra. Rasulullah Saw. bersabda:
أيمّا امرأةٍ كان لها مالٌ فطلبه منها زوجها فمنعته منه إلاّ منع الله يوم القيامة ما عنده
“Wanita mana pun yang memiliki harta, kemudian suaminya meminta harta itu dan dia menolaknya, maka Allah Swt. akan mencegahnya kelak pada hari kiamat untuk mendapatkan apa yang ada disisi Allah Swt.”

Dari Ibnu Mas’ud ra. Rasulullah Saw. bersabda:
أيمّا امرأةٍ خانت زوجها في بيتها أو فراشها إلاّ أدخل الله عليها في قبرها سبعين ألف حيةٍ وعقربٍ يلعسونها إلى يوم القيامة
“Wanita manapun yang di rumahnya tidak jujur terhadap suaminya atau tidak setia di tempat tidur suaminya, maka Allah Swt. pasti akan memasukkan ke dalam kuburnya tujuh puluh ribu ekor ular dan kalajengking yang menggigitnya sampai pada hari kiamat”

Dari shahabat Amr bin Ash ra. rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang tidak setia ditempat tidur suaminya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam neraka, kemudian dari mulutnya keluar nanah, darah, dan nanah busuk.”

Dari shahabat Anas ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang berdiri bersama selain suaminya, dan orang lain itu bukan muhrimnya, maka Allah Swt. pasti akan menyuruhnya berdiri di tepi neraka Jahannam dan setiap kalimat yang diucapkan akan tertulis baginya seribu kejelekan.”

Dari shahabat Abdullah bin Umar ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang keluar dari rumah suaminya (tanpa izin) maka setiap benda yang basah dan kering akan melaknatinya.”

Dari shahabu Thalhah bin Abdullah ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang berkata kepada suaminya, ‘Aku sama sekali tidak pernah mendapatkan kebaikan darimu’, maka Allah swt. akan memutuskan rahmat-Nya darinya.”

Dari Zubair bin Al-Awwam ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang terus-menerus menyakiti hati suaminya sampai suaminya menjatuhkan talak, maka siksa Allah Swt. tetap padanya”

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang memaksa suaminya diluar batas kemampuannya, maka Allah Swt. pasti menyiksanya bersama dengan orang Yahudi dan Nasrani.”

Dari Sa’id Musayyab ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang meminta sesuatu kepada suaminya, sementara dia tahu bahwa suaminya tidak mampu untuk itu, maka Allah Swt. kelak pada hari kiamat pasti akan meminta diperpanjang penyiksaan kepadanya”

Dari shahabat Abdullah bin Amr ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang wajahnya cemberut didepan suaminya, maka kelak pada hari kiamat dia datang dengan muka yang hitam, kecuali kalau dia bertaubat atau ceria.”

Dari Ubaidah bin Al-Jarrah ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang membuat suaminya marah, sementara dia sendiri zalim atau marah kepada suaminya,maka Allah Swt. tidak akan menerima ibadah fardhu dan sunnah darinya”

Dari Abdullah bin Masud ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Allah Swt. melaknat wanita-wanita yang mengulur waktu. Ditanyakan, ‘Siapakah wanita-wanita yang mengulur-ulur waktu itu ya Rasulallah?’ Rasulullah Saw. menjawab,’Dia adalah wanita yang diajak suaminya tidur, kemudian dia mengulur-ulur waktu untuk tidur bersamanya dan sibuk dengan urusan lain, hingga suaminya tertidur.”

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang memandang wajah suaminya dan tidak tersenyum, maka sesungguhnya dia tidak akan melihat surga selamanya, kecuali dia bertaubat dan menyadarinya hingga suami meridhainya”

Dari shahabat Salman Al-Farisi ra. Rasulullah Saw. bersabda: ”
Wanita manapun yang menggunakan wangi-wangian dan merias diri, kemudian keluar dari rumahnya, maka dia pasti keluar bersama murka Allah Swt. dan kebencian-Nya, hingga dia kembali ke rumahnya.”

Dari shahabat Bilal bin Hamamah ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang melakukan shalat dan puasa tanpa izin suaminya, maka pahala shalat dan puasanya itu bagi suaminya, dan baginya adalah dosa.”

Dari Abu Darda’ ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang membuka rahasia suaminya, maka kelak pada hari kiamat Allah Swt. akan mencemooh dia didepan para makhluk, demikian juga ketika di dunia sebelum di akhirat.”

Dari Abu Said Al-Khudri ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang melepas pakaianya di selain rumah suaminya, maka dosa semua orang yang telah mati dibebankan kepadanya, dan Allah Swt. tidak akan menerima amal fardhu maupun sunnahnya.”

Dari shahabat Abbas bin Abdul Muthalib ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Diperlihatkan kepadaku neraka, maka aku lihat kebanyakan penghuninya adalah wanita. Hal itu tidak akan terjadi, kecuali mereka (wanita-wanita) banyak berdosa terhadap suami-suami mereka.”

Dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Sebagian tanda ridha Allah Swt. kepada wanita adalah suaminya ridha padanya”

Terjemahan Kitab Qurratul ‘Uyuun

Sumber

17/10/2018 Posted by | Fad hail Amal, Muamalat (Keluarga), Tazkirah | Leave a comment

Ilmu dan Amal

15/10/2018 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Di antara fadhilat solat di saf pertama

Meluruskan saf merupakan salah satu daripada kesempurnaan solat. Mendapat tempat solat di saf pertama ada satu keistimewaan seperti yang telah dinyatakan dalam satu riwayat.

sabda Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah :

Sebaik-baik saf barisan lelaki yang paling depan, dan yang terburuk ialah yang paling belakang, dan sebaik-baik barisan perempuan yang terakhir, dan yang terburuk ialah yang paling depan. (Riwayat Muslim)

Bagi lelaki, mungkin selama ini kita tidak mengerti tentang hebatnya berada di saf pertama, jadi kita hanya ambil sambil lewa. Namun bersolat di saf hadapan mempunyai kelebihan yang sangat besar. Antara kelebihan dan fadhilat berada di saf pertama adalah seperti berikut [SUMBER]:

Di antara fadilat solat di saf pertama:

1) Menjaga kesempurnaan saf pertama sama seperti safnya para malaikat. Riwayat Jabir bin Samurah yang berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: ”Tidakkah kamu berbaris sebagaimana saf para malaikat di sisi Tuhan-Nya?” Kami bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimanakah saf mereka di depan Tuhan?” Jawab Nabi: “Menyempurnakan barisan pertama dan rapat benar dalam barisan.” (Riwayat Muslim)
Daripada hadis di atas dapat kita fahami bahawa mereka yang memenuhi saf paling depan ketika solat adalah sama dengan saf para malaikat yang sentiasa menjaga kesempurnaan saf mereka dan saf para malaikat ini hampir dengan Allah s.w.t. Dari sini boleh kita katakan bahawa mereka yang berada di saf paling hadapan adalah orang yang paling hampir dengan Allah dan lebih mudah memperoleh rahmat-Nya.

2) Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada mereka yang berada di saf-saf paling hadapan. Daripada Abu Umamah berkata bahawa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya berselawat kepada orang-orang yang berada di saf pertama.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana dengan saf kedua.” Baginda bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada orang-orang yang berada di saf pertama.” Para sahabat bertanya lagi: “Ya Rasulullah, bagaimana dengan saf kedua.” Rasulullah menjawab: “Ya, juga saf kedua.” (Riwayat Ahmad).
Selawat
Menurut Dr. Fadhal Ilahi, makna selawat Allah atas mereka (yang berada di saf pertama) adalah seperti yang dikatakan oleh Imam ar-Raghib al-Asfahani, iaitu: “Tazkiyah (Penyucian daripada dosa-dosa) terhadap mereka.” Selawatnya para malaikat pula: “Iaitu berbentuk doa dan permohonan keampunan.” Alangkah beruntungnya sesiapa yang mendapat tazkiyah daripada Allah dan doa pengampunan daripada para malaikat.

3) Rasulullah memohon keampunan buat mereka di saf pertama sebanyak tiga kali. Daripada ‘Irbadh bin Sariyah bahawa Rasulullah memohon keampunan bagi mereka yang berada di saf pertama tiga kali dan untuk saf kedua hanya sekali.
(Riwayat Ibnu Majah). Alangkah bahagia sekiranya orang yang paling mulia di atas muka bumi ini memohon keampunan untuk kita.

Demikianlah beberapa keutamaan saf paling hadapan di dalam solat berjemaah. Yang amat dikesalkan terdapat ramai di antara kita yang tidak lagi memberi perhatian terhadap keutamaan-keutamaan ini. Umat Islam di Malaysia seakan-akan tidak ghairah merebut saf pertama.
Mereka lebih memilih untuk mendapatkan tempat yang membolehkan mereka bersandar dengan selesa seperti di tiang-tiang atau di dinding masjid, berdekatan dengan kipas dan pintu supaya dapat cepat keluar setelah selesai bersolat.

Ada pula yang datang awal ke masjid tetapi berborak dahulu di luar masjid sambil menghisap rokok. Alangkah ruginya mereka ini. Sesungguhnya Rasulullah menyatakan bahawa sesiapa yang secara sengaja memenuhi saf belakang, maka Allah akan membelakangkan mereka.

Daripada Abu Sa’id al-Khudri bahawa Rasulullah melihat ada sebahagian sahabatnya yang tidak mahu maju ke saf pertama, maka baginda bersabda: Majulah dan ikutilah saya, sedangkan orang-orang di belakang harus mengikutimu pula! Sesuatu kaum yang selalu suka di belakang, tentu akan dibelakangkan pula oleh Allah. (Riwayat Muslim).

Adakah kerugian yang lebih besar daripada kerugian dibelakangkan oleh Allah? Oleh itu datanglah awal ke masjid untuk solat berjemaah dan rebutlah saf pertama.

05/10/2018 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Datang ke masjid awal tetapi dia tetap rugi…..

05/10/2018 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Kehebatan Surah Al-Kausar

1. Baca sebanyak 71 kali jika diri rasa teraniaya dan terpenjara, INSYAALLAH akan beri pertolongan oleh Allah kepada yang dizalimi.
.
2. Baca ketika dalam kehausan dan tiada air, gosokkan di leher dan in shaa Allah akan hilang dahaga.
.
3. Baca sebanyak 10 kali di air mawar, sapukan pada mata yang sakit, berair, gatal atau bengkak.
.
4. Baca sebanyak 10 kali jika rumah dipercayai terkena sihir, mudah-mudahan Allah beri petunjuk di mana terletaknya sihir tersebut.
.
5. Baca sebanyak 1000 kali, INSYAALLAH akan bertambah rezeki kurniaan daripada Allah.
.
6. Rajin-rajinkanlah diri untuk selalu membaca surah ini, INSYAALLAH hati akan menjadi lembut dan khusyuk ketika solat.
.
7. Baca ketika hujan dan berdoa, mudah-mudahan Allah mengabulkan permintaan kita.
.
Segalanya dengan izin Allah SWT.
.
Aamiin…

Sumber: Tazkirah Ustaz Ebit Lew

03/10/2018 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

TIPS MENCEGAH KEMUNGKARAN & MENYURUH KEBAIKAN

1. Kata imamuna al Nawawi رحمه الله تعالى: “Hanyasanya yang layak menyuruh & mencegah ialah mereka yang alim/berpengetahuan mengenai apa yang disuruh & dicegah itu.”

2. Maka dengan itu, seseorang yang jahil atau orang kebiasaan/awam tidak harus mengingkari sesuatu yang berhajat kepada ilmu/ijtihad.

3. Dalam hal tersebut, gugur baginya tanggungjawab menegah.

4. Kata imamuna al Ghazali رحمه الله تعالى: “Bagi orang awam, dia tidak perlu menyiasat melainkan perkara yang maklum diketahui ramai seperti minum arak, zina & meninggal solat.”

5. Katanya lagi: “Adapun perkara yang dibilang maksiat tetapi perlu kepada penyiasatan & ijtihad, maka jika orang awam bersibuk-sibuk mengenainya, acap kalinya keburukan lebih banyak dari kebaikan.”

6. Jika seorang yang ingin mencegah kemungkaran khuatir mara bahaya yang boleh terjadi sekiranya dia mencegah, maka dia dimaafkan & tidak boleh dipersalahkan.

7. Kata ibn Battal رحمه الله تعالى: “Jika dia takutkan kesakitan yang bakal berlaku kepada dirinya, maka dia di dalam kemaafan.”

8. Kata pula ibn al ‘Arabi رحمه الله تعالى: “Jika seseorang itu takut dibunuh sewaktu mencegah kemungkaran, dia dibolehkan berdiam diri daripada mencegah.”

9. Rumusannya, mengubah atau menegah kemungkaran dengan tangan atau lisan perlu kepada kekuatan & kemampuan/istitā’ah.

10. Ada orang yang diberikan kekuatan jisim & ilmu, ada orang tidak ada kelebihan tersebut. Wa Llahu a’lam.
__

*Ruj: منهج الاسلام في تغيير المنكر oleh almarhum Syeikh Ahmad Abdul Rahim al Sāyih رحمة الله عليه.

Sumber.

23/09/2018 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

FAHAMAN LIBERAL PEROSAK AKIDAH

Isi Khutbah Jumaat di Selangor hari ini 21hb Sept 2018.

1. Liberalisme adalah satu fahaman yang menuntut kebebasan berfikir tanpa batasan dan menolak prinsip kebenaran agama Islam serta mengambil jalan mudah dalam beragama.

2. Pejuang fahaman liberal juga mendakwa bahawa agama Islam mengikat, jumud, membataskan kemajuan malah cuba menakut-nakutkan masyarakat dengan menafikan pelaksanaan undang-undang Islam yang didakwa sebagai tidak mengikut perlembagaan.

3. Islam dianggap tidak adil, zalim, dan tidak sesuai dilaksanakan dalam kepelbagaian kaum dan agama sedangkan agama Islam adalah agama yang syumul, yang diturunkan oleh Allah SWT yang Maha Mengetahui.

4. Fahaman liberal membawa kepada fahaman semua agama adalah sama.

5. Golongan liberalisme dan pluralisme menolak wujudnya kebenaran Islam dan menyatakan semua agama adalah sama yang menganjurkan kepada kebaikan.

6. Mereka mendakwa bahawa jika orang bukan Islam diberikan kebebasan untuk menukar agama, maka orang Islam pun hendaklah diberikan kebebasan untuk murtad.

7. Fahaman liberal memperjuangkan fahaman sekular. Agama dianggap adalah urusan peribadi dan agama hanya dihadkan dalam ruang lingkup upacara agama semata-mata.

8. Golongan sekular mendakwa agama bertentangan dengan sains, sepertimana wahyu bertentangan dengan akal.

9. Begitu juga mereka mengatakan bahawa arak itu hak individu untuk meminumnya dan khalwat pula adalah hak peribadi yang tidak boleh diganggu.

10. Fahaman liberal berpaksikan logik akal semata-mata.

11. Golongan ini hanya menggunakan logik akal untuk menilai sesuatu kebaikan dan keburukan lantas menolak al-Quran dan al-Sunnah sebagai sumber hukum.

12. Mereka percaya bahawa orang yang melakukan perbuatan jahat tidak salah asalkan niat mereka baik. Umat Islam hendaklah berpegang teguh dengan ajaran Islam sesuai dengan pegangan akidah Ahli Sunah Wal-Jamaah dalam aspek akidah, syariat dan akhlak.

13. Umat Islam hendaklah memastikan agar tidak terpedaya dengan pemikiran liberal yang boleh merosakkan iman dan akidah. Umat Islam hendaklah merujuk kepada al-Quran dan al-Sunnah, dan sumber-sumber hukum yang muktabar serta tidak hanya membuat tafsir secara logik akal semata-mata.

Khutbah Jumaat 21 Sept 2018

21/09/2018 Posted by | Ibadah, Informasi, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Ikat Hubungan Kekeluargaan Kita Dengan Agama.

Ikat hubungan kekeluargaan kita dengan agama. Percayalah! kelak kita akan menemui kebahagiaan.
.
Bahagia itu adalah milik Allah SWT secara mutlak. Oleh kerana itu, barangsiapa yang menginginkan bahagia dalam keluarganya, maka hendaklah dia mengikuti acuan agama yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
.
Pastikan kita dan setiap ahli keluarga kita berusaha mendapatkan didikan agama yang sebaik baiknya kerana permulaan bagi langkah menuju kepada keluarga yang bahagia adalah dengan memahami hukum hakam agama.
.
Hubungan kekeluargaan yang tidak diikat dengan agama akan menjadi amat rapuh sekali. Lalu mudahlah untuk diruntuhkan dan dirosakkan oleh godaan syaitan dan nafsu.
.
Ini kerana mereka tidak mengetahui hukum hakam dalam urusan kekeluargaan. Jika berlaku perselisihan dan permasalahan, sudah pasti menyebabkan mereka celaru dan bingung untuk mendepaninya.
.
Akhirnya berlaku pertengkaran dan pergaduhan di dalam keluarga yang menyebabkan hilangnya ketenangan dan keharmonian sebuah keluarga.
.
Kesan daripada hubungan kekeluargaan yang tidak diikat dengan agama ini sangat banyak jika difikirkan. Bercerai berai, anak anak derhaka, sumbang mahram, memutuskan hubungan sillaturrahim dan banyak lagi.
.
Dan kesan daripada keruntuhan sebuah institusi kekeluargaan ini juga akan menjadikan masyarakat lemah dan tidak berkualiti untuk menjadi khalifah yang mentadbir dunia ini mengikut acuan agama.
.
Malahan, menyumbang pula kepada keruntuhan akhlak dan aqidah yang akhirnya melahirkan generasi manusia yang jauh terpesong daripada Rahmat Allah. Wal’iyyazubillah!
.
Sedarlah bahawa umat manusia diakhir zaman ini sangat tenat dengan kerosakkan aqidah dan jati diri yang telah menyebabkan hilangnya identiti sebagai manusia dan umat yang beragama.
.
Lalu apakah yang tinggal untuk kita mengharapkan keberkatan dan kerahmatan daripada Allah SWT?
.
Oleh kerana itu, ikatlah hubungan kekeluargaan kita dengan agama. Mudah mudahan Allah akan membimbing kita dan ahli keluarga kita benar benar menjalani kehidupan yang menepati kehendak dan perintahNya.
.
Dan setelah itu pula, Allah SWT juga akan menjauhkan kita dan ahli keluarga kita daripada bencana bencana yang tidak kita ingini. Bukankah itu bahagia? Wallahu’alam.

#AkhiAdifGorment
7 September 2018

12/09/2018 Posted by | Muamalat (Keluarga), Tazkirah | Leave a comment

KELEBIHAN MENGGUNAKAN TONGKAT

 

Image result for Tongkat sunnah

Foto Hiasan

Salah satu khazanah penting bagi umat islam ialah mengenai TONGKAT. Dalam tamadun Islam memakai tongkat atau bertongkat, adalah salah satu akhlak atau tatacara kehidupan para nabi, orang-orang salih dan ulama-ulama Islam zaman dahulu.

Dalam Al Qur’an sendiri terdapat beberapa ayat yang menunjukkan bahawa ada Nabi-Nabi yang memakai tongkat, sama ada dalam kehidupan harian atau ketika sedang beribadat. Nabi-Nabi berkenaan ialah Nabi Sulaiman Alaihissalam (Surah Saba 34:14) dan Nabi Musa Alaihissalam (Surah Al – A’raaf 7:107 dan Suarh Thaha 20:18 -20).
Diriwayatkan dalam beberapa hadis bahawa, Nabi Muhammad Sallallahu ‘ Alaihi wa Sallam juga memakai tongkat, begitu juga para sahabat dan ulama-ulama lain seperti Imam Al-Syafie Radiallahu Anh.

Al Qur’an telah menunjukkan bahawa Nabi Sulaiman Alaihissalam adalah salah seorang Nabi yang memakai tongkat, Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Saba 34:14, yang tafsirnya bermaksud : “ Maka manakala kami telah menetapkan kematian Nabi Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu melainkan anai-anai yang memakan tongkatnya…”.
Ayat ini mengesahkan tentang kematian Nabi Sulaiman Alaihissalam dan bagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menutupi kematiannya daripada pengetahuan jin dan manusia dalam tempoh yang agak lama. Dan selama tempoh berkenaan Nabi Sulaiman Alaihisssalam tetap bertelekan (berpegang) kepada tongkat yang menjadi penompangnya.

Kemudian melalui tongkat ini pulalah rakyat, termasuk jin, dapat mengetahui bahawa Nabi Sulaiman Alaihissalam telah wafat, iaitu tatkala tongkat berkenaan jatuh ke lantai ketika salah seorang daripada kalangan jin memegang dan ingin mengangkat tongkat itu, tetapi rupa-rupanya tongkat itu sudahpun repot di makan anai-anai.

Mengikut beberapa orang ulama tafsir, antaranya Syeikh Ibnu Hayyan dalam buku Tafsir Al Bahr Al Muhith pada suatu hari seorang belia masuk menemui Nabi Sulaiman Alaihissalam tanpa terlebih dahulu meminta izin. Nabi Sulaiman Alaihissalam bertanya : “ Kenapa engkau masuk tanpa izin?” Belia itu menjawab : “ Aku masuk setelah mendapat izin”, Nabi Sulaiman Alaihissalam bertanya : “ Siapa yang memberi keizinan itu”. Belia itu menjawab: “ Tuhan yang empunya mahligai ini”. Melalui jawapan itu tahulah Nabi Sulaiman Alaihissalam bahawa belia itu adalah Malaikat Maut yang datang untuk mencabut rohnya. Kemudian Nabi Sulaiman Alaihissalam terus sembahyang sambil memegang (bertelekan) kepada tongkatnya. Lalu Malaikat Maut mencabut rohnya.

Di dalam kitab Al Bayan Wa At – Tabyin disebutkan bahawa Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wassalam memiliki jenis tongkat seperti Mikhsharah, Kadhib dan Al ‘Anazah. Dalam As –Shahih daripada Ibnu Umar adalah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam (apabila) pergi di sebelah pagi ke tempat sembahyang, (Al-‘Anazah) akan dibawa bersama di hadapan Baginda, lalu Baginda sembahyang dan (Al-‘Anazah) itu dipacakkan di arah kiblat.

Sumber: FB Ustaz Yunan A Samad

27/08/2018 Posted by | Tazkirah | 1 Comment

Zikir Saidatina Fatimah RA: Meredakan Keletihan Wanita Dalam Menguruskan Rumahtangga.

Zikir Saidatina Fatimah RA: Meredakan Keletihan Wanita Dalam Menguruskan Rumahtangga. Rugi Kalau Tak Amal

Seorang isteri sangat sibuk dengan tugas sehariannya. Walaupun mereka tidak bekerja, tugas-tugas mereka di rumah kadang kala melebih 15 jam sehari. Jika isteri itu bekerja, tugasnya semakin bertambah.

Daripada bangun tidur sehinggalah hendak melelapkan mata, penuh dengan tugas.
Tidak hairan jika ramai para isteri yang mengeluh penat dan stres dek kerana tugas yang terlalu banyak dan tidak menang tangan untuk melaksanakannya terutama bila sudah bergelar ibu.
Sangat meletihkan apabila balik ke rumah, terpaksa kemaskan dalam rumah selepas seharian bekerja.
Sesekali seseorang wanita khasnya surirumah perlu juga berehat untuk meredakan kepenatan ini.

Antaranya adalah pergi bercuti bercuti dan sesekali pergi ke spa untuk rawatan tubuh.
Selain itu, sebenarnya dalam Islam sendiri telah tersedia penawar untuk menghilangkan kepenatan melalui amalan Zikir atau Tasbih Fatimah yang diajarkan oleh Rasululullah SAW kepada puterinya Saidatina Fatimah R.A.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ada menceritakan, pada satu hari puteri Saidatina Fatimah R.A mengadu kepada suaminya iaitu Saidina Ali bin Abu Talib R.A bahawa tangannya berasa sakit dan keletihan kerana terlalu banyak kerja rumah yang perlu beliau lakukan.

Kemudian Saidatina Fatimah R.A pergi menemui ayahandanya baginda Rasulullah SAW untuk meminta seorang pembantu. Walau bagaimanapun pada masa itu Saidanita Fatimah tidak dapat menemui Rasulullah SAW dan hanya bertemu dengan Saidatina Aisyah R.A.

Lalu Saidatina Fatimah R.A meninggalkan permintaannya itu kepada Saidatina Aisyah R.A untuk disampaikan kepada Ayahandanya. Apabila Rasulullah SAW tiba di rumah, Saidatina Aisyah R.A pun memberitahu baginda tentang hajat puterinya.

Lalu baginda pergi menemui puteri serta menantunya yang ketika itu telah beradu di tempat tidur mereka. Keduanya mahu bangun ingin menghampiri baginda tetapi baginda meminta mereka supaya tidak bergerak dari situ.
Rasulullah SAW bersabda:
“Mahukah kamu berdua aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kamu berdua minta? Ketika kalian berbaring hendak tidur, maka bacalah Takbir (Allahu Akbar) 34 kali, Tasbih (Subhanallah) 33 kali dan Tahmid (Alhamdulillah) 33 kali.

Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.”
(HR. Muslim, no: 4906)

Oleh itu marilah kaum muslimat sekelian kita amalkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW itu. Ini kerana anda semua tentu berasa penat setelah melakukan tugas-tugas harian. Sebelum melelapkan mata sama-samalah kita amalkan Zikir/Tasbih Fatimah setiap malam.
ZIKIR ATAU TASBIH FATIMAH
• Baca Allahu Akbar sebanyak 34 kali
• Baca Subhanallah sebanyak 33 kali
• Baca Alhamdulillah sebanyak 33 kali

Didik hati kita juga supaya melakukan semua tanggungjawab dengan seikhlas hari supaya kita tidak merasakan ia sebagai bebanan yang sangat memenatkan.

(Ustaz Yunan A Samad)

24/08/2018 Posted by | Fad hail Amal, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

ORANG MATI BOLEH MENDENGAR

(Nabi saw bercakap dgn musuh yg terbunuh di medan Badar)

Dari Anas bin Malik r.a katanya : “Rasulullah saw pergi ke tempat2 bekas pertempuran di Badar setelah tiga hari perang selesai. Beliau mendatangi pula tempat2 musuh terbunuh dan memanggil mereka.”

Kata beliau, “Hai Abu Jahil bin Hisyam! Hai umayyah bin Khalaf! Hai Utbah bin Rabi’ah! Hai Syaibah bin Rabi’ah! Bukankah kalian telah merasakan apa yg dijanjikan Tuhanmu sungguh2 terjadi!
Dan aku sendiri menyaksikan apa yg dijanjikan Tuhanku sungguh2 terjadi.”

Ucapan Nabi saw tersebut terdengar oleh Umar. Kata Umar ‘ Ya Rasulullah bagaimana mgkn mereka dapat mendengar dan menjawab, pada hal mereka telah menjadi bangkai!’

Jawab Nabi saw ” Demi Allah yg jiwa aku dlm kuasaNya. Pendengaranmu tidak setajam pendengaran mereka. Hanya saja mereka tidak dapat menjawab.’
Kemudian diperin tahkan beliau supaya mayat musuh2 tersebut dikumpulkan lalu dilemparkan ke telaga Badar.’

*HR Muslim.*
Shahih Muslim jilid 1-4
Hadis 2449.

🇸

24/08/2018 Posted by | Hadis, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

10 Doa Mustajab Selepas Tahiyat Akhir Dan Sebelum Memberi Salam.

10 Doa Mustajab Selepas Tahiyat Akhir Dan Sebelum Memberi Salam.

Rugilah Jika Kita Rajin Solat Tapi Tidak Mengamalkannya
Rugilah Jika Kita Rajin Solat Tapi Tidak Mengamalkannya. Ini 10 Doa Mustajab Selepas Tahiyat Akhir Dan Sebelum Memberi Salam.

Dari Ibn Masud Nabi SAW bersabda maksudnya : “Kemudian (selepas tasyahhud akhir) hendaklah memilih daripada doa-doa yang paling dikaguminya”. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ada beberapa doa yang boleh dibaca selepas tahiyyat akhir sebelum memberi salam dalam solat. Ini berdasarkan beberapa hadis sahih yang diriwayatkan oleh perawi hadis yang juga merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW.

Berikut adalah doa-doa tersebut :

1) Doa Mohon Perlindungan Daripada Azab Neraka., Azab Kubur, Fitnah Kehidupan Dan Kematian Dan Fitnah Dajjal.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ،

وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّال

Maksudnya, “Ya Allah! Aku berlindung denganMu daripada azab neraka jahanam, daripada azab kubur, daripada fitnah kehidupan dan kematian, dan daripada kejahatan fitnah dajjal.” (Hadis Riwayat Muslim)

2) Doa Ini Sangat Baik Diamalkan Jika Kita Ada Masaalah Hutang.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

Maksudnya, “Ya Allah! Aku berlindung denganMu daripada azab kubur, aku berlindung denganMu daripada fitnah Dajjal, aku berlindung denganMu daripada fitnah kehidupan dan kematian. Ya Allah! Aku berlindung denganMu daripada dosa dan hutang.” (Hadis Riwayat Bukhari)

3) Doa Yang Ini Amat Baik Untuk Melupuskan Sifat Mazmumah Yang Ada Pada Diri Kita.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ.

Maksudnya, “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari bakhil, aku berlindung kepadaMu dari penakut, aku berlindung kepadaMu dari dikembalikan ke usia yang terhina, dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah dunia dan siksa kubur. (Hadis Riwayat Bukhari)

4) Doa Mohon Diampunkan Dosa Yang Terdahulu.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي, أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ, لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْت

Maksudnya: “Ya Allah, ampunilah bagiku dosa-dosa yang terdahulu, yang terkemudian, yang aku rahsiakan, yang aku nyatakan, yang aku melampau, dan yang Engkau lebih mengetahui daripadaku tentangnya. Engkaulah yang mendahulukan dan mengemudiankan sesuatu, tiada illah sebenar melainkan Engkau.” (Hadis Riwayat Muslim no. 1762).

5) Doa Mohon Ampun Kerana Menzalimi Diri Sendiri.

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْماً كَثِيراً وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ. فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Maksudnya: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak. Tiada sesiapa yang dapat mengampunkan dosa-dosa melainkan Engkau, maka ampunilah bagiku dengan keampunan dariapda-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau maha pengampun lagi maha penyayang.” (Hadis Riwayat Bukhari no. 6181 dan Muslim no. 6819).

6) Doa Yang Amat Baik Untuk Memohon Allah Jadikan Kita Hambanya Yang Bersyukur Dan Sentiasa Mengingatinya.

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

Maksudnya, “Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk mengingati-Mu, bersyukur kepadaMu dan ibadah yang baik untukMu” (Hadis Riwayat Abu Daud dan Nasaie)

7) Doa Ini Untuk Memohon Allah Mudahkan Urusan Hisab / Perbicaraan Kita Di Mahkamah Allah Di Akhirat Nanti.

اللهم حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرَا

Maksudnya, “Ya Allah! Hitunglah aku dengan perhitungan yang mudah.” (Hadis Riwayat Ahmad)

8) Doa Ini Adalah Doa Taubat. Sesuai Sangat Dibaca Selepas Membaca Tahiyyat Akhir Dalam Solat Taubat.

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِي إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Maksudnya, “Ya Allah! Sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri. Tiada yang dapat mengampunkan dosa-dosa kecuali Engkau, maka ampunilah diriku dengan keampunan yang Engkau miliki. Rahmatilah aku. Sesungguhnya Maha Pengampun dan Penyayang.(Hadis Riwayat Bukhari)

9) Doa Mohon Ampun Dosa

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا اللَّهُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Maksudnya, “Ya Allah! Aku memohon kepada Mu. Ya Allah Yang Maha Esa Yang… Yang Tidak Melahirkan dan Tidak Dilahirkan, dan tidak ada yang setara dengannya, Engkau ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Penyayang (Hadis Riwayat Abu Daud)

10) Doa Memohon Dimasukkan Ke Syurga Dan Diselamatkan Dari Neraka

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Maksudnya, “Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu, agar dimasukkan ke Syurga dan aku berlindung kepada-Mu dari Neraka.” (Hadis Riwayat Abu Daud)

#Semoga perkongsian ini menjadi asbab kita semua mendapat redha dan rahmat Allah SWT dan terlepas dari siksa kubur, siksa mahsyar semasa hisab dan siksa neraka.

Sumber: Blog Kisah kini

23/08/2018 Posted by | Fad hail Amal, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

MENUMPANG DENGAR BACAAN QURAN PUN JADILAH.. .

Saya hadir awal ke masjid pada satu hari jumaat, saya duduk beriktikaf sambil membaca al Quran. Tetiba saya rasa seseorang datang duduk disebelah saya dan merapati kepalanya kpd saya. Saya berhenti membaca dan beralih kpdnya sambil senyum. Seorang lelaki yang lebih tua dari saya, membalas senyum dan berkata, “Tumpang dengar bacaan ustaz. Saya dah tak boleh baca al Quran, mata tidak nampak baris. Ustaz baca kuat sikit. Pandangan matanya penuh mengharap. Pada wajahnya ada nur keimanan.
Saya meneruskan bacaan dengan suara yang sedikit kuat agar dia boleh mendengarnya. Dia tunduk khusyuk mendengar, jarinya menguis-nguis karpet masjid. Beberapa ayat berlalu, saya terperasan dia mengesat air mata, bahkan setitik dua telah jatuh ke karpet masjid. Tangisannya semakin menjadi bila saya terus membaca dan menjadi esakan. Saya berhenti seketika, menyapu belakangnya dan memeluk bahunya ke tubuh saya. Bisiknya, “Ustaz, masa muda dulu, saya jarang baca al Quran, khatam Quran hanya sekali masa bebudak dulu. Bila dah tua begini, baru teringat, tetapi mata pula sudah tidak nampak, jika baca pun banyak yang salah. Mukanya dipekup ke bahu saya.
Saya memujuknya dengan kata pahala yang mendengar adalah ibarat yang membaca juga. Saya mencadangkan dia membaca surah yang dihafalnya walau berulangkali, kerana nabi pun menghafal bukan membaca pada mushaf, nabi bertadarus dgn Jibril. Kata kata ini membuat ia lega dan saya meneruskan bacaan.
Saya nak mengajak anda mengambil iktibar dari hal ini. Bacalah al Quran bila ada kesempatan, bahkan cari kesempatan dan ruang ketika masih muda, mata masih terang, pandangan masih cerah, tubuh masih boleh duduk mengadap al Quran. Ingatlah, semua kita akan tua, Allah akan menarik balik satu demi satu nikmat yang diberi kpd kita bersama tuanya umur, satu darinya ialah mata.
Manfaatkanlah mata untuk melihat kebaikan, membaca al Quran, kalimah Allah ketika masih diberi kesempatan. Ingatlah setiap anggota akan menjadi saksi di akhirat, maka biarlah mata kita bersaksi dia kerap melihat ayat al Quran, lidah bersaksi menuturkan ayat al Quran, jari bersaksi menunjukkan ayat al Quran yang dibaca, telinga bersaksi mendengar ucapan dari mulut.
Rasulullah saw bersabda, “Bacalah al Qur’an, sesungguhnya dia akan datang di hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi yang membacanya” [HR Muslim].
Berapa ramai manusia jika diperhatikan bila berada dlm masjid, tidak membuka al Quran, kekadang ada yang membuka hp tengok wassap dam bermain game (bukan semua). Sebaliknya mereka melangut sana sini, membilang siling, merenung karpet, mata pejam terangguk angguk. Satu dari faktornya ialah tidak tahu baca al Quran dan tiada keinginan untuk membacanya kerana tidak dibiasakan. Seperkara lagi pihak ajk masjid sepatutnya meletakkan rak al Quran di banyak tempat dlm masjid agar mudah dicapai, bukan sekadar diletak dlm almari di saf depan. Mushaf al Quran bukan utk pameran, ia utk dibaca.
Dari Ibnu ‘Abbas ra beliau berkata: Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang tidak ada dalam dirinya sesuatu pun dari al Qur’an laksana sebuah rumah yang kosong (runtuh).” (Riwayat Tirmizi, beliau berkata: Hadits ini hasan sahih)
Orang tua itu adalah satu iktibar yang Allah datangkan. Semasa di Masjidil Haram, saya juga biasa didatangi orang sebegini, merapati untuk menumpang mendengar bacaan al Quran setelah diri tidak berupaya. Jika orang tua ini masih berusaha walau hanya untuk mendengar al Quran, tanyalah diri kita, kita ditahap mana?
Wallahu a’lam
Ustaz Abd Rashid……

17/08/2018 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

Harapan Bagi Yang Berdosa

“Adakalanya musibah itu sebagai peringatan bagi orang-orang yang berdosa supaya berhenti melakukannya dan kembali taat kepada Allah Yang Esa..”

Dunia yang fana ini sememangnya penuh dengan musibah. Musibah itu adalah sunnatullah di alam semesta ini. Musibah tidak kenal siapa dan tidak memilih bulu. Hadirnya silih berganti ke atas manusia adalah sebagai tanda Allah Taala mahu menguji dan menduga mereka. Cuma bagaimana caranya manusia menghadapinya.

Di kalangan manusia, lantaran lemah iman (jiwa), bilamana Allah menimpakan musibah, mereka terus bertukar wajah, menjadi ingkar dan protes melulu terhadap Allah, sang Pencipta. Tidak sekadar itu, mereka terlajak menyanggah takdirNya serta mendoakan kebinasaan atas diri dan keluarga mereka. Musibah terasa amat berat sehingga mereka menderita penasaran. Tubuh jatuh sakit, akal menjadi rosak bahkan langsung tiada upaya menanggung beban-beban kehidupan. Ekoran jiwa kemarau dari iman, telah ramai yang jatuh dalam dosa besar kerana bertindak membunuh diri.

Firman Allah swt:
“Di antara manusia, ada yang menyembah Allah dalam keraguan. Apabila mendapat kebaikan senanglah hatinya, dan apabila mengalami cubaan(msibah) berubahlah hatinya menjadi kafir. (Lantaran itu) dia mengalami kerugian di dunia dan akhirat dan itulah kerugian yang amat nyata.”
(Surah Al-Hajj: ayat 11)

Musibah bukanlah selalu bererti tanda kemarahan dan kebencian Allah pada seseorang atau sesuatu kaum sebagaimana juga bahawa kenikmatan bukan merupakan tanda keredhaan dan penerimaan Allah. Akan tetapi:

Musibah (ujian) Allah terhadap hambaNya yang beriman bertujuan mengukur hakikat imannya, juga memantau kadar kebenaran dan dusta mereka. Tanpa ujian, bagaimana dapat diketahui pelajar yang cemerlang?

Firman Allah swt:
“Apakah manusia menduga (menjangkakan) bahawa mereka dibiarkan berkata (sesuka hati mereka): ‘Kami beriman’ sedangkan (walhal) mereka belum diuji. Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti akan mengetahui orang-orang yang berkata benar dan mengetahui orang-orang yang berdusta.”
(Surah Al-Ankabut:2-3)

Setiap perkara atau peristiwa yang berlaku pada diri kita, baik ataupun buruk, kedua-duanya adalah dugaan dan ujian Allah swt. Seolah-olah kita sedang menduduki sebuah ‘peperiksaan’ besar yang mana subjek terasnya adalah segala perkara ‘baik’ dan ‘buruk’. Yang baik kita perintah melakukannya manakala yang jahat dan buruk kita diperintahkan agar meninggalkannya.

Setelah kita kembali menghadap Allah swt di negara akhirat, maka semuanya akan diulang tayang dan diperlihatkan kembali dan seterusnya diadili serta diberikan ganjaran yang setimpal.
Firman Allah swt:
“Kami menguji kamu sekalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cubaan (dugaan/musibah) dan kepadaKu kamu akan kembali.”
(Surah Al-Anbiya: 35)

InsyaAllah, orang beriman akan berdaya menghadapi apa jua bentuk ujian dan musibah Allah atas diri mereka. Ujian Allah tidak menjadikan mereka hilang pertimbangan dan lupa diri.Itulah apa yang mahu digambarkan oleh Rasulullah saw di dalam hadis baginda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Sungguh menghairankan dan mengkagumkan urusan orang mukmin; semua urusan (keadaan)nya adalah kebaikan dan itu hanyalah bagi orang mukmin yang bilamana ia mengalami kesenangan, ia lantas bersyukur (ia amat baik baginya), dan jika ia mengalami kesusahan ia lantas bersabar dan itu juga amat baik bagi dirinya.”

Selain tujuan di atas, musibah (ujian) terhadap orang beriman adalah tanda jelas peningkatan takah rohaniah dan sebab penghapusan dosa buat mereka serta menjadi asbab untuk memperolehi ganjaran pahala yang besar dari Allah swt. Cuba kita renungi hadis Nabi saw yang berikut:
“Tidaklah seorang muslim mengalami kepayahan maupun penyakit, kerosakan maupun kesedihan, gangguan maupun kesulitan, bahkan duri yang mengenainya, melainkan Allah (berkenan) menghapuskan dosanya dengan sebab itu.”
(Hadis Bukhari)

Hadis berikutnya pula:
“Ujian yang selalunya (silih berganti) menimpa orang mukmin lelaki dan perempuan (sama ada) pada dirinya, anak dan hartanya menyebabkan ia tidak lagi berdosa saat berjumpa dengan Allah.”
(Riwayat Tirmizi)

Menerusi ujian Allah swt juga, secara rambang kita boleh mengenali tahap iman dan rohaniah kita. Nabi saw juga pernah ditanya orang, manusia manakah yang paling keras dan berat cubaannya? Baginda menjawab: “(Mereka adalah) para nabi, kemudian di bawah tingkatan mereka, sehinggalah manusia diuji menurut kadar agamanya. Apabila agamanya kuat, maka ujiannya juga berat dan jika agamanya lemah, maka ia pun diuji menurut kadar agamanya. Maka cubaan yang (bersilih ganti) menimpa manusia itu menyebabkan (menghasilkan akhirnya) ia berjalan atas muka bumi ini tanpa gelumang dosa.”
(Riwayat Tirmizi, Ibnu Majah & Imam Ahmad)

Adakalanya musibah itu sebagai peringatan bagi orang-orang yang berdosa. Anda dapat fikirkan, apakah tujuannya? Tujuannya ada dua iaitu: pertama, supaya ia berhenti melakukannya dan kedua, supaya ia kembali taat kepada Allah Yang Esa. Allah menyebutkan di dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya Kami telah kirimkan (utuskan) rasul-rasulNya kepada umat-umat sebelum engkau; (Namun mereka mendustai rasul-rasul itu), maka Kami seksa mereka itu dengan kesengsaraan dan kemelaratan. Mudah-mudahan mereka tunduk kepada Allah.”
(Surah Al-An’am : 42)

Maha Pengasihnya Allah swt. Walaupun besar sekali pendustaan yang dilakukan manusia, namun Dia masih tetap memberi peluang dan harapan andai mereka mahu kembali tunduk dan patuh kepada kekuasaanNya.

oleh: Amal Islamy~FADHILAT AMAL~:

15/07/2018 Posted by | Fad hail Amal, Hadis, Tazkirah | Leave a comment

Banyaknya Jalan-Jalan Kebaikan

Banyaknya Jalan-Jalan Kebaikan
Sabda Rasulullah s.a.w bermaksud:”Setiap umatku mempunyai peluang diampun dosanya, kecuali dosa yang dilakukan secara terang-terangan. Termasuk dalam melakukan dosa secara terang-terangan ialah; mereka yang melakukan dosa secara sulit tetapi di lain ketika menceritakan pula kepada orang lain.”

Mutakhir ini terdapat di kalangan umat Islam berusaha menghalang perlaksanaan hukum Allah swt, jelas suatu dosa menghalang hak Allah swt.
Yang amat mendukacitakan berkempen secara terang-terangan kepada khalayak ramai untuk meraih sokongan. Mengikut sabda Nabi di atas itu bahawa dosa yang dilakukan secara terang-terangan, dikira terkecuali daripada mendapat keampunan Allah swt. Termasuk melakukan dosa terbuka ialah dosa yang dilakukan secara sulit dan tersembunyi, tetapi kemudiannya diceritakan pula kepada orang lain.

Sabda Rasulullah s.a.w lagi bermaksud:”Sesiapa yang mendengar cerita suatu kaum, sedangkan kaum itu tidak setuju orang lain mendengar ceritanya. Jika curi dengar juga di akhirat kelak akan dicurah tembaga cair yang amat panas ke lubang telinga orang itu.”
Sesetengah daripada hak orang Islam terhadap Muslim yang lain ialah dia kena mengelak diri daripada mengunjungi tempat yang boleh mendatangkan tohmah, kerana hendak jaga hati orang lain supaya tidak sangka buruk dan tuduh buat perkara yang negatif.

Ini kerana mereka itu apabila melakukan maksiat kepada Allah swt, dengan mengumpat perihal orang lain dan dia jadi punca orang lain buat maksiat umpat, bererti dia telah berkongsi sama ke atas dosa tersebut.

Sebagaimana ditegaskan oleh firman Allah swt yang bermaksud:”Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, kerana mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (Surah Al-Anam ayat 108)

Meskipun dengan tujuan supaya manusia meninggalkan daripada menyembah berhala , tetapi makian itu akan mengundang makian yang melampau terhadap Allah swt daripada pihak penyembah berhala itu.

Oleh yang demikian jika tidak setuju dengan akidah sesat mereka, gunakan pendekatan yang bijaksana dengan mengajarnya ilmu yang sebenar.

Terangkan mengenai akidah ketuhanan yang betul, jika dia tidak dapat menerima penjelasan itu, sekurang-kurangnya dia tidak memaki Allah swt.

Sabda Nabi s.a.w yang bermaksud:”Bagaimana pada fikiranmu orang yang maki kedua-dua ibu bapanya sendiri? Para sahabat bertanya; siapakah mereka itu? Jawab Nabi; “Mereka ialah orang yang maki ibu bapa orang lain, akibatnya orang lain maki ibu bapa mereka pula.”

Ibu bapanya dimaki oleh orang berikutan daripada dia memaki ibu bapa orang itu terlebih dahulu. Natijahnya dialah sebenarnya yang memaki ibu bapanya sendiri.

Sebagai tindak balas daripada perbuatannya yang buruk itu, seperti orang menendang bola ke dinding akan membidas balik kepada diri sendiri.

Sayyidina Umar Al-Khattab r.a berkata:”Sesiapa yang letak dirinya di tempat yang boleh mendatangkan tomah dan tuduhan orang, maka janganlah marah terhadap orang yang sangka buruk kepadanya.

Sebahagian daripada tanggungjawab orang Islam terhadap saudara Muslim lain ialah: hendaklah berusaha untuk bantu orang yang berhajat, membawanya berjumpa orang berkenaan yang boleh menolongnya. Agar dapat disempurna hajatnya dengan seupaya mungkin.

Perlunya kesedaran agama melaksanakan hak Muslim terhadap Muslim yang lain atas tanggungjawab agama, dengan menolong apa jua kesusahan yang menimpa saudaranya. Kerana inilah unsur mengukuhkan kestabilan dalam masyarakat Islam umumnya.

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:”Hendaklah tolong(isyfa’u) saudaramu nescaya kamu mendapat pahala.”

Isyfa’u bermaksud membawa permasalahan saudaranya dengan membawanya ke pihak yang lebih berwibawa, agar dapat beri bantuan untuk atasi persoalan yang dihadapinya.

Orang yang membantu dengan orang yang membawanya, sebagai beri syafaat mendapat pahala bersama.

Setengah daripada kewajipan dari hak sesama Muslim ialah mendahului beri ucapan salam sebelum dari berkata-kata. Di samping itu hak dan tanggungjawab juga ialah berjabat salam.

Firman Allah swt yang bermaksud:”Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (Surah An-Nisa ayat 86)

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud:”Kamu tidak akan masuk syurga kecuali kamu beriman, kamu tidak beriman kecuali berkasih sayang. Hendakkah aku tunjukkan satu amalan yang boleh menimbulkan kasih mesra di antara kamu?” Jawab para sahabat:”bahkan ya Rasulullah.” Jelas Nabi:”Hendaklah kamu sebarkan salam.”

Ucapan salam akan menimbulkan kasih mesra kerana ucapan salam itu bererti suatu permohonan doa kepada Allah swt, agar orang yang diberi ucap itu sentiasa dalam peliharaan Allah swt iaitu selamat.

Oleh kerana menjawab salam itu wajib, bererti orang itu wajib mendoakan kesejahteraan kepada saudaranya yang memberi salam.

Sabda Nabi s.a.w lagi yang bermaksud:”Orang yang berkenderaan hendaklah memberi salam kepada orang yang berjalan kaki.”

Saiyidina Anas r.a mengucapkan salam kepada kanak-kanak, apabila dia bertemu dengan mereka.

~BLOG FADHILAT AMAL~

15/07/2018 Posted by | Hadis, Tazkirah | Leave a comment

Tidak perlu berulang-kali mengerjakan umrah.

Assalamu’alaikum w.b.t…..

Tertarik saya untuk menulis sebagai ulasan kepada satu tajuk yang keluar dalam akhbar Utusan Malaysia kelmarin, iaitu tajuk pada ruangan Kemusykilan Agama bersama Ustaz Mohd Farid Ravi Abdullah. Telah lama saya ingin berkomentar tentang perkara ini tetapi kini saya dapat hujjah lebih lagi melalui kemusykilan agama yang dijawab oleh Ustaz Farid Ravi ini.

Kemusykilan yang dikemukakan iaitu berkenaan dengan adanya orang yang berulang kali pergi mengerjakan umrah ke tanah suci. Sedangkan yang wajib hanyalah mengerjakan haji dan satu kali sahaja seumur hidup, dan umrah itu memadailah jika dikerjakan hanya sekali. Ustaz Farid Ravi juga telah mengemukakan pandangan dari Syeikh Dr Yusof Qardhawi seperti mana berikut.

Sebelum seseorang hamba Allah ingin melakukan sesuatu maka mestilah dia meletakkan asas syariah dan maqasidnya bagi kelakuannya. Ini amat perlu supaya mukallaf itu dapat menilai keperluan dan kawajaran melakukan sesuatu amalan, termasuklah memahami fiqh aulawiyyah (keutamaan).

Pertama : Sesungguhnya Allah tidak akan menerima ibadat sunat selagi mana tidak menunaikan ibadat wajib. Berdasarkan persoalan pertama ini maka barangsiapa menunaikan ibadat haji sunat dan ibadat umrah sunat sedang dia tidak mengeluarkan zakat padahal dia wajib mengeluarkannya maka kedua2 ibadat itu ditolak dan tidak diterima di sisi Allah S.w.t.

Ini kerana mereka yang dikurniakan Allah dengan limpahan rezeki yang banyak hendaklah terlebih dahulu membersihkan harta mereka sebelum harta itu digunakan untuk ibadat sunat.

Kedua : Allah S.w.t tidak akan menerima amalan sunat seseorang itu sekiranya membawa kepada haram. Ini kerana menyelamatkan diri daripada dosa adalah lebih utama daripada mencari pahala sunat. Ini berdasarkan kepada bilangan jemaah yang mengerjakan haji sunat dan umrah sunat yang boleh mengundang kepada masyaqqah (kesukaran), penyakit yang boleh berjangkit mudah merebak.

Sebab itu pengawalan bilangan jemaah perlu ada bagi mengelakkan perkara yang tidak diingini berlaku, selain memberi peluang kepada mereka yang belum menunaikannya.

Ketiga : Sesungguhnya menahan dan mengawal daripada sebarang fasad (kerosakan – sama ada pada diri atau jemaah) adalah lebih utama daripada mengundang kebaikan. Lebih2 lagi jika kerosakan itu bersifat umum dan kebaikan itu bersifat khusus.

Keempat : Sesungguhnya pintu2 melakukan kebaikan sentiasa terbuka luas. Allah S.w.t tidak pernah menyempitkan peluang bagi hamba2 Nya melakukan kebajikan dan infaq di jalan Allah.

Adapun seorang muslim yang peka dan prihatin kepada mujtamaknya pasti akan menyedari keperluan masyarakatnya. Jika mengulangi haji dan umrah boleh mengundang mudarat kepada jemaah lain, ada cara lain seseorang itu mencari redha Allah dengan memanjangkan limpahan rezeki kepada orang2 yang lebih memerlukan.

Terdapat banyak hadith yang menggalakkan kita di antaranya sabda baginda kepada Salman bin Amir yang bermaksud, “Sedekah yang sebenarnya ialah sedekah kepada golongan yang miskin dan seterusnya kepada sanak saudara yang memiliki dua kelebihan; sedekah dan silaturrahim”. Hadith Riwayat Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’ie dan AlHakim

Alternatif kepada berulang kali mengerjakan umrah dan haji

Maka sebagai alternatif yang boleh dilakukan oleh mereka2 yang dilimpahi banyak rezeki dan ingin melakukan kerja2 amal, cintakan Islam dan yang ikhlas dalam mahu membela nasib ummah, Ustaz Farid Ravi menasihatkan agar;

– Menyumbang kepada sekolah2 tahfiz dan agama, rumah2 kebajikan serta badan2 dakwah yang masih mengharapkan perhatian orang ramai yang diberikan limpahan rezeki supaya tampil membantu.

– Membiayai perbelanjaan pelajaran kepada anak2 orang yang tidak berkemampuan dan kurang-upaya.

– Membina premis2 yang menyediakan keperluan harian milik orang Islam, terutamanya keperluan fardhu kifayah.

Kerana itulah AlQuran mengajar kita bahawa amalan JIHAD itu lebih utama dari amalan HAJI. Ini jelas dalam firman Allah S.w.t yang bermaksud , “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi darjatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” Surah At Taubah : Ayat 19-20

Mengapa perkara ini perlu diperhatikan semula?

Ini kerana telah dibuat kajian tentang kos perbelanjaan mengerjakan umrah di Malaysia ini mencecah RM488.8 juta setahun. Bayangkan apa yang dapat dilakukan dengan sejumlah wang yang besar itu apabila ia disalurkan kepada tempat2 pengajian, pusat2 dakwah, orang2 yang miskin dan sebagainya seperti yang telah dinasihatkan di atas.

Sememangnya mengerjakan haji dan umrah berulang kali ini bukan merupakan suatu perkara yang HARAM. Tetapi di sana ada yang lebih penting dari yang lebih penting. Maka utamakan yang lebih penting dan lebih banyak mendatangkan kebaikan lebih2 lagi terhadap agama Islam dan ummah keseluruhannya, bukannya mementingkan hal peribadi semata2.

Tetapi jika sudah menjadi pekerjaan anda untuk pergi ke Mekah dan sentiasa berulang-alik ke sana itu lain cerita lah. Ataupun sudah menjadi bidang pekerjaan anda untuk ke luar negara ke sana ke mari. Maka duit tambang penerbangan dan segala perbelanjaan itu ada lah terpaksa kerana itu adalah untuk KERJA anda. Tetapi jika anda mahu pergi mengerjakan haji atau umrah sunat tanpa ada kerja2 lain yang terlibat, maka renung2kan lah nasihat2 di atas.

“Tidak beriman salah seorang di antara kamu hinggalah dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri” HR. Bukhari & Muslim

Rujukan :

1 – Al Quran Al Karim

2 – Al Hadith As Syarif

3 – Kemusykilan Agama, Utusan Malaysia , Jumaat 10 Oktober 2008

Sumber: Hikmatun.wordpress

02/07/2018 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | 1 Comment

Mengumpat yang dibolehkan dalam Islam, menurut Imam an-Nawawi.

Mengumpat yang dibolehkan dalam Islam, menurut Imam an-Nawawi
Mengumpat yang dibolehkan
Berikut ini adalah petikan dari kitab Riyadhus Sholihin karangan Imam an-Nawawi yang menjadi panduan kepada semua umat Islam berkenaan dengan mengumpat (ghibah) yang dibenarkan dalam Islam. Sila baca dengan teliti dan fahami baik-baik. Jazaakumullahu khoirol jazaa’.
Ketahuilah bahawasanya mengumpat itu dibolehkan kerana adanya tujuan yang dianggap benar menurut pandangan syara’ Agama Islam, yang tidak akan mungkin dapat sampai kepada tujuan tadi, melainkan dengan cara mengumpat itu.
Dalam hal ini adalah enam macam sebab-sebabnya:
Pertama: Dalam mengajukan pengaduan penganiayaan, maka bolehlah seseorang yang merasa dirinya dianiaya apabila mengajukan pengaduan penganiayaan itu kepada sultan, hakim ataupun lain-lainnya dari golongan orang yang mempunyai jawatan atau kekuasaan untuk menolong orang yang dianiaya itu dari orang yang menganiayanya. Orang yang dianiaya tadi bolehlah mengucapkan: “Si Fulan itu menganiaya saya dengan cara demikian.”
Kedua: Dalam meminta pertolongan untuk menghilangkan sesuatu kemungkaran dan mengembalikan orang yang melakukan kemaksiatan kepada jalan yang benar. Orang itu bolehlah mengucapkan kepada orang yang dia harapkan dapat menggunakan kekuasaannya untuk menghilangkan kemungkaran tadi: “Si Fulan itu mengerjakan demikian, maka itu cegahlah dia dari perbuatannya itu,” atau Iain-Iain sebagainya. Maksudnya ialah agar dapat melenyapkan kemungkaran tadi. Jadi apabila tidak mempunyai maksud sedemikian, maka pengumpatan itu adalah haram hukumnya.
Ketiga: Dalam meminta fatwa, yakni penerangan keagamaan. Orang yang hendak meminta fatwa itu bolehlah mengucapkan kepada orang yang dapat memberi fatwa yakni mufti: “Aku dianiaya oleh ayahku atau saudaraku atau suamiku atau si Fulan dengan perbuatan demikian, apakah dia berhak berbuat sedemikian itu padaku? Dan bagaimana jalan untuk menyelamatkan diri dari penganiayaannya itu? Bagaimana untuk memperolehi hak ku itu serta bagaimanakah caranya menolak kezalimannya itu?” dan sebagainya.
Pengumpatan semacam ini adalah boleh kerana adanya keperluan. Tetapi yang lebih berhati-hati dan pula lebih utama ialah apabila dia mengucapkan: “Bagaimanakah pendapat anda mengenai seseorang atau manusia atau suami yang berkeadaan sedemikian ini?” Dengan begitu, maka tujuan meminta fatwanya dapat dihasilkan tanpa menentukan atau menyebutkan nama seseorang. Sekalipun demikian, menentukan yakni menyebutkan nama seseorang itu dalam hal ini adalah boleh (jaiz), sebagaimana yang akan Kami cantumkan dalam Hadisnya Hindun – lihat Hadis no. 1532. Insya Allah Ta’ala.
Keempat: Dalam hal memberi peringatan atau nasihat kepada kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam kejahatan.
Kelima: Dengan terus-terang menegur kefasikan seseorang seperti kepada orang yang meminum minuman keras, orang yang merampas harta orang lain, orang yang menerapkan kebathilan dan sebagainya. Dalam hal ini, seseorang boleh berterus-terang menegur tindakannya yang tidak benar itu.
Keenam: Dalam hal memberi pengertian atau penjelasan, misalnya ada seseorang yang lebih dikenali dengan gelaran; “Si buta, si tuli, si bisu” dan sebagainya. Dalam hal ini, seseorang boleh menyebutnya dengan gelaran itu, tetapi kalau dengan maksud mengejek atau menghina maka diharamkan. Dan kalau boleh, hindarilah gelaran-gelaran yang seperti itu.
Ini lah 6 hal yang telah disepakati oleh para ulama dimana mereka menetapkan pendapat itu dengan berlandaskan hadits-hadits Shahih, antaranya ialah;
1528. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahawasanya ada sesorang lelaki meminta izin kepada Nabi S.a.w untuk menemuinya, lalu beliau S.a.w bersabda; “Izinkanlah dia, dia adalah seburuk-buruknya orang dari seluruh keluarganya.” [Muttafaq ‘alaih]
Imam Bukhari mengambil keterangan dari Hadis ini akan bolehnya mengumpat pada orang-orang yang suka membuat kerosakan serta ahli bimbang (tidak berpendirian tetap).
1529. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: Rasulullah S.a.w bersabda: “Aku tidak yakin kepada si fulan dan si fulan itu bahawa keduanya itu mengetahui sesuatu perihal agama kita.” [HR Bukhari]
Imam Bukhari berkata; “Allaits bin Sa’ad, salah seorang yang meriwayatkan hadits ini berkata: “Kedua orang lelaki ini termasuk golongan kaum munafik.”
1530. Dari Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya mendatangi Nabi S.a.w. lalu saya berkata: “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah itu sama-sama melamar diriku.” Rasulullah S.a.w. lalu bersabda: “Adapun Mu’awiyah itu adalah seorang faqir yang tiada berharta, sedangkan Abul Jahm adalah seorang yang tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya.” [Muttafaq ‘alaih]
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
“Adapun Abul Jahm, maka dia adalah seorang yang gemar memukul wanita.” Ini adalah sebagai tafsiran dari riwayat yang menyebutkan bahawa dia tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya. Ada pula yang mengertikan lain iaitu bahawa “tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya” itu ertinya banyak sekali mengembaranya.
1531. Dari Zaid bin Arqam r.a., katanya: “Kami keluar bersama Rasulullah S.a.w. dalam suatu perjalanan yang menyebabkan orang-ramai memperolehi kesukaran, lalu Abdullah bin Ubay berkata: “Janganlah engkau semua memberikan apa-apa kepada orang yang ada dekat Rasulullah, sehingga mereka pergi (yakni berpisah dari sisi beliau s.a.w. itu).” Selanjutnya dia berkata lagi: “Nescayalah kalau kita sudah kembali ke Madinah, sesungguhnya orang yang berkuasa akan mengusir orang yang rendah.”
Kemudian saya datang kepada Rasulullah S.a.w. dan memberitahukan hal ucapannya Abdullah bin Ubay di atas. Beliau S.a.w. menyuruh Abdullah bin Ubay datang padanya, tetapi dia bersungguh-sungguh dalam sumpahnya bahawa dia tidak melakukan itu (yakni tidak berkata sebagaimana di atas). Para sahabat lalu berkata: “Zaid berdusta kepada Rasulullah S.a.w.” Maka betapa sedihnya hatiku menanggapi apa yang mereka katakan, sehingga Allah Ta’ala menurunkan ayat, untuk membenarkan apa yang saya katakan tadi, iaitu (yang ertinya): “Jikalau orang-orang munafik itu datang padamu…….” [Surah al-Munafiqun : 1]
Nabi S.a.w. lalu memanggil mereka untuk agar mereka memohon ampun (yakni supaya orang-orang yang mengatakan bahawa Zaid berdusta itu dimohonkan pengampunan kepada Allah oleh beliau S.a.w), tetapi orang-orang itu menggelengkan kepalanya (yakni enggan untuk dimintakan pengampunan).” [Muttafaq ‘alaih]
1532. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Hindun iaitu isterinya Abu Sufyan berkata kepada Nabi S.a.w.: “Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang lelaki yang bakhil, dia tidak memberikan nafkah yang dapat mencukupi keperluanku serta untuk keperluan anakku, melainkan dengan cara saya mengambil sesuatu daripadanya, sedang dia tidak mengetahuinya. “Beliau S.a.w. lalu bersabda: “Ambil sajalah yang sekiranya dapat mencukupi keperluanmu dan untuk kepentingan anakmu dengan baik-baik (yakni jangan berlebih-lebihan).” [Muttafaq ‘alaih]
[Imam an-Nawawi – Riyadhus Shalihin]
Tambahan
Umar r.a berkata, “Tidak ada kehormatan bagi orang yang berbuat derhaka.” Maksudnya ialah, orang yang secara terang-terangan memperlihatkan kefasiqannya, bukan orang yang menutupi kefasiqannya. Jika seseorang itu menutupi kefasiqannya, maka kita harus menjaga kehormatannya.”
Hasan al-Basri berkata, “Membicarakan tiga golongan manusia berikut tidaklah termasuk mengumpat, iaitu orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya, orang fasiq yang memperlihatkan kefasiqannya secara terang-terangan, dan pemimpin yang zalim. Kerana ketiga golongan itu telah melakukan kederhakaan, kefasiqan dan kezaliman secara terang-terangan, bahkan boleh jadi mereka bangga dengan apa yang dilakukannya itu. Lalu bagaimana mungkin mereka membenci penyebutan oleh orang lain akan hal yang diperbuat itu, sementara mereka melakukannya secara terus terang. Tetapi menyebutkan perbuatan yang tidak terpuji yang ditutupi dan tidak dizahirkan, maka itu adalah dosa.”
[Imam al-Ghazali – Afatul Lisan]
——
Nota: Diharap kita semua dapat membezakan mana mengumpat yang boleh dan mana yang tidak boleh kerana yang penting niat dan cara kita mesti kena pada apa yang diberitahu oleh Imam an-Nawawi itu.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهَ وَصَحْبِهِ وَسَّلِم
…..

15/06/2018 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

TERCELANYA BANGGA DIRI

Berkata Al-Imam Sufyan At-Tsauri رحمة الله تعالى :

“ Berhati-hatilah dari hal-hal yang akan merosakkan amalanmu kerana yang akan merosakkan amalanmu adalah riya’, dan jika bukan riya’ maka kagum kepada diri sendiri (yang akan merosakkan) sehingga digambarkan dalam benakmu bahawa engkau lebih utama dari saudaramu, padahal boleh jadi engkau tidak mampu melakukan amalan seperti apa yang dia mampu lakukan, dan boleh jadi dia lebih wara’ (berhati-hati) darimu dari perkara-perkara yang telah Allah haramkan, dan lebih suci darimu amalannya.

Dan jika engkau tidak membanggakan dirimu sendiri maka berhati-hatilah dari cinta akan pujian manusia dan sanjungan mereka sehingga menjadikan engkau suka agar mereka memuliakanmu kerana amalanmu, dan agar mereka memandang dirimu kerananya dengan kemuliaan dan kedudukan di dalam dada mereka, atau sebuah hajat yang engkau tuntut dari mereka dalam banyak perkara, namun hendaknya yang engkau inginkan dengan amalanmu hanyalah wajah Allah dan negeri akhirat, bukan menginginkan dengan itu selain-Nya.

Maka cukuplah dengan mengingat kematian menjadikan zuhud di dunia dan mengharapkan negeri akhirat, dan cukuplah dengan panjangnya angan-angan menunjukkan akan sedikitnya rasa takut dan kelancangan terhadap kemaksiatan, dan cukuplah sebagai suatu kerugian dan penyesalan di hari kiamat nanti bagi siapa saja yang berilmu namun dia tidak beramal (dengan ilmunya).”

[ Hilyatul Awliya – 6/391]

14/05/2018 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Pedoman Mencari Kebenaran!

Satu panduan untuk orang awam yang keliru kumpulan mana satu yang benar dan mana satu tidak benar serta permasalahan agama yang terjadi pada masa kini yang dianjurkan oleh Mufti Tarim Al-Allamah Al-Habib Ali Masyhur Bin Muhammad Bin Salim Bin Hafidz.
Beliau mengatakan “Kalau kamu nak tahu kumpulanmu ini betul ataupun tidak…

Pertama sekali kamu mesti berlapang dada dahulu. Bersedia untuk tengok salah ataupun tidak. Sebab padahnya ialah kamu boleh nak mempertahankan kumpulan kamu tapi kumpulan kamu ini tak boleh mempertahankan kamu di depan mahkamah Allah سبحانه وتعالى. Di dunia bolehlah dia nak mempertahankan kumpulan dia. Dia dengan pemimpin atau syeikh dia. Dia dengan ustaz dia. Dia dengan fulan dia tapi bagaimana bila di depan mahkamah Allah سبحانه وتعالى.
Kalau kumpulan itu tidak benar maka sudah tentu mereka tidak dapat membela kita depan Allah سبحانه وتعالى.

Satu panduan kita perlu tahu pengumpulan kita ini, mazhab kita ini, pandangan kita ini, kumpulan kita ini benar atau pun tidak. Kita rujuk satu ayat Al-Quran yang mudah iaitu Surah Al-Fatihah.

Dari Surah Al-Fatihah hari-hari kita baca dan minta pada Allah سبحانه وتعالى
“Ya Allah Tunjukkanlah aku (kami) jalan yang lurus.” Agaknya Allah tak tunjukkan ke kepada kita jalan yang lurus? Pada ayat berikutnya sendiri Allah dah tunjukkan kepada kita jalan yang lurus “Iaitu Jalan yang lurus ini adalah mereka yang Allah kurniakan nikmat ke atas mereka.”
Siapa mereka itu?

Para Nabi, Para Siddiqin, Para Syuhada, Para Solihin.Jadi jalan yang lurus ialah jalan Para Nabi, Para Siddiqin, Para Syuhada, Para Solihin.Selain daripada jalan ini bukan jalan yang lurus.

Apa kena mengena dengan kita?

Memang ada kena mengena dengan kita. Kamu lihat dalam kumpulan kamu. Kita tengok “Ya Allah tunjukkan aku jalan yang lurus.” tapi dalam kumpulan kamu ini ada yang mengata dan menghina Para Sahabat Nabi ﷺ Saidina Abu Bakar tak betul, Saidina Umar tak betul, Saidaitina Aisyah tak betul dan sebagainya. Kalau kumpulan kamu ini benci dan tidak berkenan dengan Para Sahabat Nabi ﷺ yang telah dijamin syurga mereka bersama Nabi ﷺ tetapi kumpulan kamu tetgamak dan berani kutuk dan mencerca sahabat.

Bermakna kumpulan kamu tidak sehaluan dengan Para Siddiqin…Bermakna tidaklah kumpulan kamu ini berada dalam “Sirrathol Mustaqim (jalan yang lurus).” Maka kamu tinggalkanlah kumpulan ini.

Kalau kumpulan kamu dengan sombong dan berani menyebut tak payah ikut Imam Syafie, tak payah ikut Imam Maliki, Imam Hanbali dan Imam Abu Hanifah… Tak payah bermazhab. Jadi sebenarnya kumpulan ini juga tidak suka dengan Para Solihin. Ketahuilah imam-imam mujtahid, semua mereka ini adalah pemimpin-pemimpin Para Solihin..

Kalau kumpulan kamu berani mencerca semua mereka ini termasuk Imam Al-Ghazali sedangkan mereka termasuk Imam-imam mujtahid yg soleh… Apakah ini sikap yg benar?

Kalau kumpulan kamu tidak berkenan dengan imam-imam ini sedangkan mereka ini adalah para solihin bermakna kumpulan kamu tidak termasuk dalam konsep Surah Al-Fatihah iaitu “Sirrathol Mustaqim (Jalan yang lurus).

Kalau kumpulan kamu pula tidak berkenan pada Wali-Wali Allah. Kononnya siapa yg percaya Wali-Wali ini adalah syirik dan tak betul.Tidaklah kumpulan kamu ini sehaluan dengan Syuhada kerana Para Auliya termasuk orang2 yg soleh.

Kalau kumpulan kamu pula benci dan tidak suka dengan Ahlul Bait Nabi ﷺ. Dan mengatakan jangan ikut Habib-Habib ini maka kumpulan kamu tidak bersetuju dengan Anbiya Wal Mursalin. Siapa Habaib ini? “Sesiapa pun boleh mengaku zuriat Nabi ﷺ. Keturunan Nabi Muhammad ﷺ.” Kalau kumpulan kamu ada mengatakan ini semua maka kumpulan kamu ini tidaklah berada di “Jalan yang lurus.”

Satu perkara lagi kita nak tahu kumpulan kita ini betul ataupun tak betul. Walaupun berdalil sekalipun dengan ayat Al-Quran dan Hadis Nabi ﷺ dan kumpulan yang satu lagi ini pula dengan ayat Al-Quran dan Hadis Nabi ﷺ.

Satu tanda yang perlu kita kesani dan kita perlu berhati-hati. Kita tengok AKHLAK siapa yang lebih mulia. Nabi ﷺ bersabda “Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan kesempurnaan AKHLAK.”

Mencerca itu bukan menunjukkan akhlak yang baik. Apatah lagi menuduh. Apatah lagi menyalahkan lagi dan mengatakan sudah terkeluar daripada Agama Islam.
Mencerca Agama apa-apa pun, bangsa apa-apa pun sepakat mengatakan mencerca itu bukan AKHLAK yang baik. Ini menjelaskan yang mana mereka yg suka mencerca ini bukanlah kumpulan yang benar kerana tidak mengikut AKHLAK Nabi ﷺ.

Jadi kalau kita dah tahu maka janganlah kita terikut dengan kata-kata ataupun ajakan orang lain apatah lagi yang suka mencerca, mengutuk, menghina dan sebagainya.

Itu bukan AKHLAK kita.Walaupun kita diserang, dihina dan dikatakan pelbagai-bagai tuduhan dan tomahan maka jangan kita melawan balik dengan AKHLAK yang tidak baik.

Kita mengalah, tidak melawan bukan tandanya kita ini kalah. Kita ini tidak kuat tetapi sekiranya kita pun berdebat sama dengan mereka maka ia secara tak langsung menyatakan yang kita setuju, membenarkan dengan AKHLAK mereka.

Kita tahu kita benar. Kita tahu kita ada sandaran. Kita tahu siapa ikutan kita. Kita tahu nas dan dalil-dalil kita. Cukuplah memandai Allah سبحانه وتعالى dipihak kita.Tak perlu kita mengorbankan AKHLAK kita untuk mempertahankan dengan melawan kembali dengan CERCAAN dan HINAAN yang serupa dengan mereka Tak payah kita dah pun dipertahankan..

Wallahua’lam

Ustaz Yunan A Samad

03/05/2018 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

MEWASPADAI KELOMPOK PEMBENCI BANGSA ARAB

Dialam kitab-kitab literatur ada istilah Syu’ubiyyun, yaitu istilah bagi kelompok yang membenci bangsa Arab, Pada abad modern, kebencian dan sentimen terhadap bangsa Arab disebar luaskan oleh kaum orientalis yang diikuti oleh kaum liberal.

Di Nusantara tercinta segala yang berhubungan dengan Rasulullah ﷺ, sangat dimuliakan, sahabatnya, keluarganya, keturunan-nya, kampungnya, kaumnya, bangsanya dan apa-pun yg disandarkan kepada Rasullullah ﷺ.
Bahkan simbul-simbul semisal sandal Rasullullah ﷺ sangat di hormati dan muliakan.

Sangat disayangkan jika tradisi yang penuh cinta kasih ini, dirusak oleh segelintir orang yang berupaya menyebarkan kebencian terhadap bangsa Arab terutama kepada keluarga dan keturunan Nabi Muhammad ﷺ

Dalam hadits Rasullullah ﷺ mengecam keras orang yang membenci bangsa Arab.

وعن ابن عمر رضي الله عنهما ان النبي صلى الله عليه وسلم قال : من أحب العرب فبحبي أحبهم ومن أبغضهم فببغضي أبغضهم . رواه الطبراني والحاكم والبيهقي وأبو نعيم .

“Barang siapa mencintai Arab maka dengan kecintaanku aku mencintai mereka, dan siapa yang membenci Arab maka dengan kebencianku aku benci mereka.
(HR. Al-hakim , Baihaqi dan Abu Nu’aim.)

Rasullullah ﷺ juga memperingatkan bagi yang membenci kerabatnya:

“والله لا يدخل قلب امرئ مسلم إيمان حتى يحبكم لله ولقرابتي” .

“Demi Allah, iman masih belum meresap ke dalam hati seorang muslim sebelum dia mencintai kamu karena Allah dan karena kekerabatanku”. (HR. Imam Ahmad.)

Di dalam hadits riwayat Imam at-Tirmidzi, Rasulullah ﷺ memerintahkankita agar mencintai Ahli Baitnya, beliau bersabda:

“أحبوا الله لما يغذوكم من نعمه، وأحبوني بحب الله، وأحبوا أهل بيتي بحبي”

“Cintailah Allah ﷻ karena Dia telah melimpahkan kepada kalian sebagian dari nikmat-nikmat-Nya, dan cintailah aku karena cinta kepada Allah, dan cintailah ahli baitku karena cinta kepadaku”.

Didalam riwayat yang sahih Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada kita untuk berpegang teguh terhadap keturunan beliau.
Dalam khotbah-nya, Rasullullah bersabda:

[ وقد ثبت ] في الصحيح : أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال في خطبته بغدير خم : ” إني تارك فيكم الثقلين : كتاب الله وعترتي ، وإنهما لم يفترقا حتى يردا علي الحوض ” .

Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua urusan yang berat, yaitu Kitabullah (Al-Quran) dan keturunanku (ahlil bait-ku), dan sesungguhnya keduanya tidak terpisahkan sehingga keduanya tiba di telaga haudh.

Semoga kita senantiasa istiqomah menebar cinta kasih dan di jauhkan dari fitnah dan adu domba

وربنا الرحمن المستعان ….

Olih : Abu Muhammad al-Maduri Hafidzahullah

♻ SAHABAT ASWAJA
https://t.me/sahabataswaja

30/04/2018 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

ADAT RENJIS AIR MAWAR

Soalan :
Kebiasaan berlaku pada setengah majlis perkahwinan dimana pengantin meletakkan dua tapak tangannya di atas paha kemudian ibu bapa pengantin atau sanak saudaranya merenjis air mawar ke atasnya. Apakah hukumnya di sisi agama Islam perbuatan merenjis air mawar kepada pengantin seperti ini?

Jawapan:
Hukumnya bergantung kepada niat dan tujuan. Jika ia bertujuan mewangikan suasana maka tidaklah menjadi kesalahan bahkan sunat hukumnya memakai wangian pada tubuh, mewangikan rumah dan masjid, mewangikan majlis samada pada hari-hari perayaan, hari perkahwinan atau hari-hari biasa.
Dan cara mewangikan itu pula ada berbagai-bagai cara. Ada yang direnjis, ada yang dilumur, ada yang disapu, ada yang dibakar hingga mengeluarkan bau wangi dan menggunakan penyembur.
Ada beberapa hadith dan atsar yang menjadi dalil bahawa berwangi-wangi ini dianjurkan olih syarak. Antaranya :
Daripada Aisyah r.a. katanya :
كُنْتُ أُطَيِّبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يُحْرِمَ، وَيَوْمَ النَّحْرِ
Artinya : “Aku pernah meletak wangian pada Nabi saw sebelum baginda melakukan ihram dan pada hari raya.” (Hadith Muslim)
Berkata Imam Baghowi :
وَأَنْ يَلْبَسَ أَحْسَنَ مَا يَجِدُ وَيَتَطَيَّبَ
Artinya : “Dan sunat bahawa memakai pakaian cantik (pada hari-hari besar) yang dia miliki dan memakai wangian.” (Kitab Syarah Sunnah)
Berkata Imam Malik :
سَمِعْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ يَسْتَحِبُّونَ الطِّيبَ وَالزِّينَةَ فِي كُلِّ عِيدٍ
Artinya : “Yang aku telah dengar ulama mengalakkan berwangi-wangian dan berhias cantik pada setiap hari perayaan.” (Kitab Mughni Ibnu Qudamah)
Maka terjawab sudah bahawa merenjis air mawar yang sememangnya berbau wangi kepada pengantin sebagaimana dalam soalan adalah harus dan masuk dalam perintah agama mewangikan diri dan majlis.

Wallahua’lam

https://www.facebook.com/Ustaz.Azhar.Idrus.Original

03/04/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Seorang Ahli Ilmu Tidak Berpegang dengan Pandangan Yang Shadhdh (شاذ) Di dalam Agama

Jauhi agamawan atau orang awam yang suka memilih dan menyebarkan pandangan-pandangan shazz.

25/03/2018 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Kalau Rasulullah SAW membawa wahyu, maka ulama membawa ilham.

Kalau Rasulullah SAW membawa wahyu, maka ulama membawa ilham.
Yang mana wahyu itu adalah syariat, manakala ilham ialah pengertian atau huraian baru (tentang syariat).

Dengan ilmu dan ilham yang dibawanya berserta dengan bakat yang serba ada tadi, ulama mampu mengulangi kebangkitan kegemilangan Islam di zamannya sebagaimana yang berlaku di zaman Rasulullah.

Dengan itu dunia dan manusia dapat diselamatkan di dunia dan di Akhirat.
Ulama bagaikan singa. Hebat bukan kerana kedudukan, tetapi sifatnya.
Sama ada dibiarkan atau tidak, ia tetap hebat.

Sama ada diterima atau ditolak, ia tetap mencabar dan ditakuti serta hebat.
Ia tidak perlu apa-apa dari orang lain. Bahkan ia yang diperlukan oleh orang. Kerana suaranya ditakuti, pandangannya sangat diambil perhatian.

Musuhnya sangat berhajat menjadikan ia singa sarkis. Maka ia diburu-buru.
Tetapi itu bukan satu keaiban, malah di situlah kemuliaannya. Kerana menempuh jalan hidup seperti para nabi dan para rasul.

Ulama yang dibelai-belai dengan kemewahan, adalah singa mainan yang sudah terkurung dalam kandang. Dia bukan lagi singa ALLAH yang hanya bertuankan ALLAH, bebas dari sebarang kongkongan duniawi.

Singa ALLAH tidak menzalim dan memfitnah. Tetapi dialah yang dizalimi dan difitnah. Namun dia tidak pernah tewas.

Kerana dia di’backing’ oleh Tuannya, ALLAH Yang Maha Besar

(Tausiah Ustaz Mohd Fadli Yusof)

20/02/2018 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

FITNAH & DEDAH ‘AIB MEYEBAB SESEORANG MERENGKOK DALAM NERAKA

Penyebaran fitnah mudah berlaku dalam era teknologi komunikasi moden sekarang. Kemudahan khidmat pesanan ringkas (SMS), whatsapp, laman web dan emel serta lain2 kemudahan media sosial dalam dunia “media alam maya” membolehkan penyebaran maklumat tanpa memerlukan bertemu secara berdepan, lebih mudah, cepat, meluas dan murah.

Sesetengah pihak sekarang ini mengguna teknologi yang sepatutnya digunakan untuk kebaikan disalahgunakan untuk menyebarkan fitnah, umpatan serta aib seseorang atau kumpulannya.

Sebelum ini usaha menyekat penyebaran fitnah melalui whatsapp (dan media sosial) yang berleluasa memaksa kerajaan menetapkan peraturan semua pemilik kad prabayar didaftarkan, kemudian menggubal undang2 komunikasi.

Islam mempunyai kaedah lebih ketat bagi memastikan kebenaran sesuatu berita supaya tidak terperangkap dengan berita berunsur fitnah. Wajib bagi Muslim selidiki (tabayyun) setiap berita diterima supaya tidak terbabit dalam kancah berita berunsur fitnah. Sebarang berita diterima perlu dipastikan kesahihannya.

Kebijaksanaan dan kewarasan fikiran amat penting digunakan bagi memastikan tidak terpedaya dengan berita berunsur fitnah.

Allah swt telah memberi peringatan, firman-Nya bermaksud: “Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.” (Surah al-Hujurat, ayat 6).

Banyak pihak yang turut terbabit menyebar fitnah sebenarnya tidak mempunyai sebarang kepentingan berkaitannya. Tetapi, disebabkan amalan menyebar fitnah sudah menjadi kebiasaan, banyak yang turut menyertainya dan seperti mendapat kepuasan daripada perbuatan itu. Fitnah biasanya disebarkan bertujuan memburukkan individu atau kumpulan. Pada masa sama, perbuatan itu dapat menonjolkan dirinya sebagai lebih baik dan lebih layak berbanding orang yang diburukkan itu.Inilah sifat riak, sum’ah dan ujub yg dibisikkan oleh syaitan ke dalam diri kita yg bakal menjerumuskan kita ke dalam neraka kelak.

Dosa mengumpat dan memfitnah digolongkan sebagai dosa besar yg terjadi sesama manusia. Justeru, dosa itu tidak akan diampunkan Allah, melainkan orang yang difitnah itu memberi keampunan terhadap perbuatan itu. Mungkin ramai menyangka perbuatan menyebarkan berita fitnah sekadar satu kesalahan kecil. Sebab itu, perbuatan seumpamanya dilakukan seperti tiada apa merugikan.

Sebenarnya, ia suatu DOSS BESAR sebaris dengan dosa berzina, minum arak, membunuh dan lain2, kerana UMPAT dan FITNAH tergolong antara 77 dosa besar.
Hakikatnya, dosa membuat fitnah menghalang seseorang masuk syurga.

Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Dosa menyebar fitnah umpama api membakar ranting kering kerana ia cepat merebak dan akan menjadi abu sepenuhnya. Dosa menyebar fitnah menyebabkan pahala terdahulu dihilangkan sehinggakan penyebar fitnah akan menjadi muflis di akhirat nanti.

Penyebar khabar angin biasanya menyebut perkataan ‘dengar khabar’ mengenai berita yang disebarkan. Bagaimanapun, apabila berita tersebar daripada seorang ke seorang, maklumat yang belum sahih itu sudah hilang dan kemudian disebarkan seperti berita benar.

Dalam Islam, sesuatu berita, walaupun benar sekalipun, tetap tidak boleh disebarkan jika orang yang berkaitan cerita itu tidak mahu ia disebarkan kepada orang lain. Jika menyebarkan berita benar pun dilarang, jika tidak diizinkan, inikan pula menyebarkan berita tidak benar.

Imam Ghazali dalam buku Ihya Ulumuddin menjelaskan perbuatan membocorkan rahsia orang lain dan menjejaskan kehormatannya dengan cara membuka rahsianya yang tidak mahu diketahui orang lain dianggap sebagai perbuatan mengadu-domba dan fitnah.

Mengenai berita benar dan berita tidak benar yang disebarkan tanpa kebenaran atau kerelaan orang berkaitan, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)?” Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya?’ Rasulullah bersabda lanjut: “Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya bererti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya bererti kamu memfitnahnya.” (Hadis riwayat Abu Hurairah).

Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud: “Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain.” (Surah al-Hujurat, ayat 12).

Justeru, setiap Muslim perlu bijak menilai sesuatu berita bagi mengelak daripada menerima dan kemudian menyebarkan sesuatu berita berunsur fitnah.

Perkara pertama perlu diberi perhatian untuk memastikan kesahihan berita ialah memastikan sumber berita itu, yakni siapakah yang mula menyebarkan berita dan rantaian orang yang membawa berita itu. Umat Islam tentu tidak lupa pada sejarah menyebabkan kematian khalifah ketiga kerajaan Islam di Madinah iaitu Uthman Affan, yang berpunca daripada fitnah disebarkan kumpulan ekstremis agama.

Penyebaran fitnah turut menjadi penyebab kepada peperangan sesama Islam atau perang saudara ketika zaman pemerintahan Saidina Ali dan zaman selepas itu.

Fitnah juga meruntuhkan kekuatan Bani Umaiyah malah, sejarah kejatuhan empayar besar kerajaan Melayu Melaka tidak terkecuali kerana fitnah. Ubat bagi penyakit hati ialah dengan memperbanyakkan taubat dan selalu berzikir.

Fikir-fikirkanlah, sebelum menghantar atau menyebar mesej melalui media sosial. Jika masyarakat Islam sendiri boleh berperang sesama sendiri kerana fitnah, apatah lagi masyarakat majmuk? Jika benar sekalipun beberapa berita, tetapi jika menyebarnya tanpa konteks ia seolah-olah menyiram minyak di atas bara api.

Orang Yang Mengumpat, Fitnah, Muflis Di Akhirat.

Hadis Sahih Bukhari Jilid 3, hadis Nombor 1171, Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah S.A.W bersabda: *”Siapa yang merosak nama baik (seseorang sehingga dia dibenci dan hilang harga dirinya) atau (merosakkan) harta benda orang lain, maka minta maaflah kepadanya sekarang ini, sebelum datang hari di mana mata wang tidak laku lagi. Kalau dia mempunyai amal baik, sebahagian dari amal baiknya itu akan diambil, sesuai dengan kadar aniaya yang telah dilakukannya. Kalau dia tidak mempunyai amal baik, mka dosa orang lain itu diambil dan ditambahkan kepada dosanya.”

Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kamu siapakah orang yang muflis itu?”
Mereka menjawab : “Orang yang muflis di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.”
Rasulullah SAW bersabda: “ *Sesungguhnya orang yang muflis dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala solat, puasa dan zakat. Namun dia juga datang dengan membawa dosa kezaliman. Dia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kezalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibahagikan kepada orang (mereka) yang dizaliminya sementara belum semua kezalimannya tertebus, diambillah kejelekan/kesalahan (dosa-dosa) yang dimiliki oleh orang yang dizaliminya (termasuk yg diumpat dan dizalimnya) lalu ditimpakan (dibebankan) kepadanya, kemudian dia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim no.6522).

22/01/2018 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Mengibas debu dari tempat tidur

Hikmah di sebalik mengibas debu di cadar & tilam sebelum tidur.

Mengapa kita harus mengibas cadar & tilam kita?

Ini adalah apa yang kita akan ungkapkan dan di sinilah tentangan ilmiah dan kesimpulan oleh para ilmuwan Barat:
*Ketika seseorang tidur beberapa sel-sel mati dan jatuh ke atas cadar. Setiap kali kita bangun ia akan akan tertinggal di atas cadar & tilam. Sel-sel mati ini tidak dapat dilihat oleh mata kasar dan hampir tidak dapat dihilangkan.*

*Jika jumlah sel-sel mati bertambah, maka ia dengan mudah meresap kembali ke dalam tubuh, dan boleh menyebabkan penyakit serius.*

Saintis Barat pernah cuba untuk menghilangkan sel-sel mati tersebut menggunakan pelbagai cecair pembunuh kuman seperti Dettol dan sebagainya, tetapi gagal.

Sesetengah ilmuwan mengatakan, ia mencuba mengibas debu 3 kali seperti yang dinyatakan di dalam Hadis dan terkejut apabila mendapati bahawa semua sel-sel mati tersebut hilang !!

Rasulullah ﷺ bersabda: *”Barangsiapa pergi ke tempat tidur, ia harus mengibas debu di cadar tidurnya tiga kali, kerana dia tidak tahu apa yang ditinggalkan”*

Kebanyakan orang berfikir itu adalah cara menghilangkan serangga kecil tapi ramai yang tidak tahu bahawa kebaikannya jauh lebih besar daripada itu.

20/01/2018 Posted by | Informasi, Tazkirah | Leave a comment

Membaca Surah Al Ikhlas 3 Kali Selepas Setiap Solat Fardhu, Kita Mengubati Diri Kita Sendiri

Bismillahhirohmanirrohiim.
1. Qul huwa Allahu ahad (un), Allahu alshshamad (u), lam yalid walam yuulad (u), walam yakullahu kufuwan ahad (un).

2. Qul huwa Allahu ahad (un), Allahu alshshamad (u), lam yalid walam yuulad (u), walam yakullahu kufuwan ahad (un).

3. Qul huwa Allahu ahad (un), Allahu alshshamad (u), lam yalid walam yuulad (u), walam yakullahu kufuwan ahad (un).

MasyaAllah, jika tidak ada perbezaan di dlm 3 bacaan surah Al-Ikhlas ini bererti orang yang membaca surah Al-Ikhlas satu kali sama dgn memperoleh ganjaran / seperti membaca sepertiga Al-Quran. Jadi jika membaca surat Al-Ikhlas tiga kali mendapat ganjaran seperti membaca satu Al-Quran.

BACA: Ikut 3 Langkah Ini Untuk Lawan Iblis Khanzab Yang Mengganggu Ketika Solat
Satu kali baca surah Al-Iklas sma dgn 10 juz, sedangkan membaca tiga kali surah Al-Iklas sma dgn 30 juz jdi ukhti wa akhi tdi sudh baca 3x surah Al-Iklas sma dgn mendapat pahala seperti membaca satu Al-Qur’an, masyaAllah Alhmdulilllah.

● Sesiapa yangmembaca surah Al-Ikhlas tiga kali, maka seakan-akan dia telah membaca Al-Quran seluruhnya. “(Hadith Riwayat Al’ugaili dan Rajaa Al Ghanawy).

Penawar Penyakit
Apabila kita membaca Surah Al-Ikhlas 3x selepas setiap solat fardu, kita mengubati diri kita sendiri. Daripada Abu Hurairah; Rasululllah SAW bersabda: “Surah Al Ikhlas adalah penawar segala penyakit (Rohani / Jasmani).” (HR: Ibnu Majah r.a.)

BACA: Perlukah Ibu Ayah Paksa Anak Pandai Membaca Seawal Usia 7 Tahun?
● Sabda Rasulullah SAW: “Sesiapa membaca surah Al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggaldunia, maka dia tidak akan membusuk di dalam kuburnya, akan selamat dia darikesempitan kuburnya dan para malaikat akan membawanya dengan sayap merekamelintasi titian siratul mustaqim lalu menuju ke syurga.” Demikianditerangkan dalam Tadzikaratul Qurthuby).

● Rasululllah SAW bersabda: “Sesiapa yang membaca 10 kali surah Al-Ikhlas siangdan malam; Maka Allah memberinya sebuah istana dalam syurga.” (HR: Imam Ahmad & Imam Adarimi.).

Sumber

20/01/2018 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Kelebihan memiliki anak Perempuan.

Rasulullah s.a.w pernah bersabda :-
“Sesiapa yang memiliki tiga anak perempuan,
lalu dia bersabar dengan kerenah, kesusahan dan kesenangan mereka, nescaya Allah s.w.t akan memasukkannya ke dalam syurga dengan kelebihan rahmat-NYA untuk mereka.”

Seorang lelaki bertanya,
“Juga untuk dua anak perempuan wahai Rasulullah?”
Sabda baginda,
“Juga untuk dua anak perempuan.”
Seorang lelaki berkata,
“atau untuk seorang wahai Rasulullah?”
Rasulullah s.a.w menjawab,
“Juga untuk seorang.”
(Hadis Riwayat Ahmad dan Al-Hakim)

Namun, riwayat ini diperluaskan juga kepada seseorang yang memelihara saudara perempuan.
Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud,
“Tidak ada bagi sesiapa tiga orang anak perempuan ataupun tiga orang saudara perempuan, lalu dia berbuat baik kepada mereka, melainkan Allah Taala akan memasukkan mereka ke syurga.”
(Hadis Riwayat Al-Bukhari)

Daripada Aisyah r.a.,
dari Rasulullah s.a.w baginda telah bersabda yang maksudnya, “Sesiapa yang diberati menanggung sesuatu urusan menjaga dan memelihara anak-anak perempuan, lalu ia menjaga dan memeliharanya dengan baik,
nescaya mereka menjadi pelindung baginya daripada api neraka.”
(Hadis Riwayat Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Sesungguhnya perempuan atau wanita adalah makhluk Allah yang amat istimewa. Kemuliaan dan keruntuhan sesuatu bangsa terletak di tangan mereka.

Daripada hadis-hadis di atas, dapat kita pelajari bahawa kedua ibu bapa wajib memberi perhatian terhadap anak-anak perempuan lantaran anak-anak perempuan merupakan aset penting yang menentukan sama ada ibu bapa mereka layak memasuki syurga atau terhumban ke dalam neraka disebabkan oleh mereka.

Rasulullah s.a.w pernah bersabda dalam hadis baginda yang bermaksud,
“Takutlah kamu kepada Allah s.w.t dalam perkara-perkara yang berhubung dengan kaum wanita.”

(Rujukan Kitab Muhimmah).

08/01/2018 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Hindari Dosa Dengan Memelihara Kucing

Pada suatu hari, rasulullah s.a.w bersumpah sebanyak tiga kali yang bermaksud :”Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!”

Apabila ditanya, siapakah yang Baginda s.a.w. maksudkan, Baginda menjawab: “Seseorang yang jirannya tidak berasa aman dan tenang disebabkan perangai jahatnya.” (Riwayat al-Bukhari no. 6016 dan Muslim no. 46)

Dalam huraian hadis ini, Imam al-Nawawi menyatakan bahawa penafian iman dalam sabda Baginda “tidak beriman” mempunyai dua tafsiran:

Pertama: Orang yang menganggap perbuatan menyusahkan jiran adalah halal.

Kedua: Menafikan kesempurnaan iman seseorang akibat sikapnya sentiasa menyusahkan jirannya.

Ibn Battal pula menegaskan, hadis ini memberi penekanan terhadap penjagaan hak-hak jiran kerana Rasulullah s.a.w. telah mengulang-ulang sumpah Baginda sebanyak tiga kali.

Manakala dalam kitab Fath a/-Bari, Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani meriwayatkan ulasan menarik daripada Ibn Abi Jamrah berkenaan hadis ini. Beliau berkata:

“Sekiranya ditegaskan sedemikian rupa agar seseorang menjaga hak-hak jiran yang berada di sebelah dinding rumahnya dan dijauhkan mereka daripada sebarang mudarat, sepatutnya dia mestilah lebih menjaga kedua-dua jiran yang tidak terhalang oleh dinding (yakni kedua-dua malaikat yang sentiasa berada di sisi manusia untuk mencatat amalan mereka). Sesungguhnya apabila seseorang melakukan ketaatan, maka kedua-dua malaikat tersebut akan bergembira dan sekiranya melakukan maksiat, mereka akan bersedih.”

Betapa besarnya ancaman terhadap seorang yang menyusahkan jirannya sehingga dia terganggu dan tidak aman dalam kehidupan sehanannya.

Dosa daripada Memelihara Kucing

Sebenarnya begitu banyak tindakan dan perangai buruk seseorang yang boleh menyebabkan jiran terganggu dan tidak tenang hidupnya. Antaranya seperti membuang sampah atau meletakkan kenderaan di kawasan rumah jiran sehingga menganggu laluan keluar masuk ke rumahnya, terlalu bising sehingga mengganggu ketenteraman jiran, menanam pokok dan membiarkan daun-daun jatuh lalu menjejaskan keindahan kawasan rumah jiran, mengumpat, menoela, memfitnah jiran
dan pelbagai lagi perbualan yang melayakkan seseorang termasuk dalam ancaman Rasulullah s.a.w. seperti yang terdapat dalam hadis di atas.

Dalam isu kali ini, penulis hanya memfokuskan perbualan yang boleh mengganggu arau menyusahkan jiran iaitu memelihara kucing. Hukum memelihara kucing adalah harus, Walau bagaimanapun, ada situasi yang menyebabkan individu yang memelihara kucing berdosa apabila tidak menunaikan “nafkah zahir dan batin” kucing peliharaannya. Ia seperti keperluan makan, minum, tempat tinggal dan segala yang berkaitan dengan naluri haiwan. Tidak cukup dengan itu , dosanya bertambah apabila mengganggu ketenteraman hidup jiran. Maka, dibimbangi dia tergolong dalam kalangan manusia yang dinafikan kesempurnaan imannya.

Tanggungjawab Semasa Jiran

Membiarkan kucing peliharaan kita menjadi pasu-pasu bunga jiran atau halaman rumah sebagai ‘tandas rasmi’ adalah satu dosa besar. Membiarkan kucing peliharaan kita bebas keluar dan masuk ke rumah jiran “tanpa izin” sehingga menyebabkan jiran terganggu juga satu dosa besar . Bahkan, membasuh najis kucing sehingga airnya mengalir ke halaman rumah jiran dengan
mendatangkan bau yang tidak menyenangkan juga termasuk dahm perbuatan rmenyusahkan jiran.

Ada kalanya terdapat seseorang yang tidak pun memelihara kucing, tetapi dia teramat gemar memberi makanan kepada kucing-kucing Iiar, sehingga menyebabkan banyak kucing liar “berkampung” di sekitar rumah-rumah jiran , juga dianggap satu dosa
sekiranya menyebabkan ketenteraman jiran terganggu. Memberi makanan kepada kucing tersebut niat yang baik, tetapi ia negatif dari segi implikasinya. Demikian juga perbuatan sengaja membuang kucing liar di kawasan rumah jiran atau kedai-kedai makan, ia juga dianggap satu dosa kerana menyusahkan orang lain.

Di akhirat nanti, kucing tidak akan dipertanggungjawabkan memikul dosa-dosa ini, tetapi manusia yang melakukan perbuatan inilah yang bakal menanggung segalanya. Kucing tidak mukalaf kerana tidak berakal, tetapi amat malang apabila tuan kepada kucing tersebut yang merupakan seorang manusia berakal tetapi tidak menggunakan akalnya untuk berwaspada terhadap amaran Rasulullah s.a.w. akibat perbuatan menyusahkan jiran.
Mencontohi Abu Hurairah

Namun artikel ini bukan menjelaskan bahawa haram memelihara kucing , bahkan ia merupakan hobi atau minat yang sangat mulia. Penulis hanya ingin mengingatkan diri sendiri dan pembaca agar sentiasa peka dengan pesanan-pesanan Rasulullah s.a.w.

Apabila menyebut tentang memelihara dan suka akan kucing , sudah pasti nama Abu Huraiah r.a. terlintas di benak kita. Beliau merupakan seorang sahabat Rasulullah s.a.w yang sangat suka kepada anak-anak kucing. Gelaran ‘Abu Hurairah’ yang diberikan
oleh Baginda kepadanya merupakan satu ikrar (pengakuan) terhadap keharusan memelihara kucing. Tidak ada satu riwayat pun yang menyatakan beliau menyusahkan jirannya dengan hobi memelihara kucing ini. Justeru, sesiapa yang ingin mencontohi hobi Abu Hurairah ini wajib baginya untuk menunaikan hak-hak kucing sebagai haiwan dan juga hak-hak jiran daripada dicerobohi.

Dalam sepotong hadis lain, RasuIullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Jibrail sentiasa berpesan kepadaku agar menjaga hak-hak jiran sehingga aku menyangka seseorang jiran bakal mewarisi harta jirannya.” (Riwayat al-Bukhari no. 5669 dan Muslim no. 6854)
Demikian hebatnya Islam mementingkan penjagaan hak jiran sehingga malaikat Jibrail begitu kerap mengingatkan Baginda s.a.w. mengenainya dan menjadikan pencerobohan terhadap hak-hak jiran sebagai suatu tanda ketidaksempurnaan iman seseorang.

USTAZ SYED MOHD NORHISYAM

(Sumber: http://hafizamri.com/pelihara-kucing-hindari-dosa/)

22/12/2017 Posted by | Fiqh, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | 1 Comment

AKIBAT DERHAKA KEPADA GURU

Salah satu penyebab sulitnya rezeki adalah durhaka kepada Guru. sombong, meremehkan.

Jangan kamu datang kepada Guru hanya kerana ingin mendapatkan ilmu, namun kamu melupakan dan menjauhi ketika kamu merasa sudah tidak memerlukannya.

Ingatlah, keberkahan ilmu dan rezeki mu terdapat pada Adab mu terhadap Guru.
Sedikit kisah di Tarim ada seorang Murid yang derhaka kepada Gurunya, .

Dikisahkan belasan tahun lalu seorang pelajar yang sedang belajar di rubat Tarim yang saat itu diasuh Habib Abdullah as-Syatiri, beliau dikenali sangat Alim hingga mampu menghafal kitab tuhfatul muhtaj 4 jilid. siapa tak kenal dia?? Semua tau bahwa dia sangat Alim bahkan dianggap sebagai calon ulama besar suatu hari nanti.

Suatu hari disaat Habib Abdullah mengisi pengajian rutin pengajian , tiba-tiba Habib bertanya tentang pelajar yang sangat terkenal Alim itu. “Kemana si fulan???” Semua pelajar bingung menjawab pertanyaan sang guru.

Ternyata pelajar yang dimaksud tidak ada di pondok melainkan keluar berniat mengisi pengajian di kota Mukalla tanpa izin.

Akhirnya Habib Abdullah assyatiri yg sangat terkenal Allamah dan Waliyulloh berkata : “baiklah orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap disini!!!”*.
Di kota Mukalla, pelajar yang sudah terkenal Alim tersebut sudah di nanti nantikan para pecinta ilmu untuk mengisi pengajian di masjid Omar, Mukalla.
Singkat cerita si pelajar ini pun maju kedepan dan mulai membuka ceramahnya dengan salam dan muqaddimah pendek.

Allahu Akbar !!! Ternyata, setelah membaca amma ba’du si Alim ini tak mampu berkata sama sekali, bahkan kitab paling kecil sekelas Safinah pun tak mampu dia ingat sedikitpun…._

Maka dia tertunduk dan menangis.. para hadirin pun heran, “Ada apa ini???”,, akhirnya Salah satu Ulama kota mukalla pun menghapirinya dan bertanya; “Saudara mengapa begini??? Apa yang saudara lakukan sebelumnya?”._

Dia menjawab : “Saya keluar tanpa izin Habib dari pondok madrasah.” Dia terus menangis , dan Beberapa orang menyarankan agar dia meminta maaf kepada Habib..

Parahnya dia dengan sombong tidak mahu meminta maaf!!. Kesombongannya ini membuat semua orang menjauhinya, dan tidak ada satupun yang peduli padanya, bahkan hidupnya setelah itu sangat miskin dan menjual penjual daging ikan kering.
Dan disaat dia meninggal,dia mati dalam keadaan miskin bahkan kain kafannya pun tak mampu dibeli dan akhirnya diberi oleh seseorang.

“Pelajar Yang Manfaat…Bukanlah Yang Paling Banyak Hafalannya, Yg Paling Bagus Penjelasan Kitabnya, Yang Selalu Juara Kelas…..Tapi Santri Yang BerManfaat Yang Paling Hormat dan Taat Kepada Gurunya…Dan Menganggap Dirinya Bukan Siapa-siapa Di Hadapan Gurunya…”

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah diatas di beri hati yang tawadhu’ patuh terhadap guru guru kita sehingga kita mendapat berkahnya, amin.

Ustaz Yunan A Samad

03/12/2017 Posted by | Tazkirah | 2 Comments

ORANG MATI BOLEH MENDENGAR


ORANG MATI BOLEH MENDENGAR

(Nabi saw bercakap dgn musuh yg terbunuh di medan Badar)

Dari Anas bin Malik r.a katanya : “Rasulullah saw pergi ke tempat2 bekas pertempuran di Badar setelah tiga hari perang selesai. Beliau mendatangi pula tempat2 musuh terbunuh dan memanggil mereka.”

Kata beliau, “Hai Abu Jahil bin Hisyam! Hai umayyah bin Khalaf! Hai Utbah bin Rabi’ah! Hai Syaibah bin Rabi’ah! Bukankah kalian telah merasakan apa yg dijanjikan Tuhanmu sungguh2 terjadi!
Dan aku sendiri menyaksikan apa yg dijanjikan Tuhanku sungguh2 terjadi.”

Ucapan Nabi saw tersebut terdengar oleh Umar. Kata Umar ‘ Ya Rasulullah bagaimana mgkn mereka dapat mendengar dan menjawab, pada hal mereka telah menjadi bangkai!’

Jawab Nabi saw ” Demi Allah yg jiwa aku dlm kuasaNya. Pendengaranmu tidak setajam pendengaran mereka. Hanya saja mereka tidak dapat menjawab.’
Kemudian diperintahkan beliau supaya mayat musuh2 tersebut dikumpulkan lalu dilemparkan ke telaga Badar.’

*HR Muslim.*
Shahih Muslim jilid 1-4
Hadis 2449.

🇸

02/11/2017 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

TERLENA – Prof Dr. Hamka

Waktu berlalu begitu pantas menipu kita yang terlena.
Belum sempat berzikir di waktu pagi, hari sudah menjelang siang, Belum sempat bersedekah pagi, matahari sudah meninggi.

Niat pukul 9.00 pagi hendak solat Dhuha, tiba-tiba azan Zuhur sudah terdengar.

Teringin setiap pagi membaca 1 juzuk Al-Quran, menambah hafalan satu hari satu ayat, itu pun tidak dilakukan.

Rancangan untuk tidak akan melewatkan malam kecuali dengan tahajjud dan witir, walau pun hanya 3 rakaat, semua tinggal angan-angan.

Beginikah berterusannya nasib hidup menghabiskan umur? Berseronok dengan usia?.

Lalu tiba-tiba menjelmalah usia di angka 30, sebentar kemudian 40, tidak lama terasa menjadi 50 dan kemudian orang mula memanggil kita dengan panggilan “Tok Wan, Atok…Nek” menandakan kita sudah tua.

Lalu sambil menunggu Sakaratul Maut tiba, diperlihatkan catatan amal yang kita pernah buat….

Astaghfirullah, ternyata tidak seberapa sedekah dan infak cuma sekadarnya, mengajarkan ilmu tidak pernah ada, silaturrahim tidak pernah buat.

Justeru, apakah roh ini tidak akan melolong, meraung, menjerit menahan kesakitan di saat berpisah daripada tubuh ketika Sakaratul Maut?.

Tambahkan usiaku ya Allah, aku memerlukan waktu untuk beramal sebelum Kau akhiri ajalku.

Belum cukupkah kita menyia-nyiakan waktu selama 30, 40, 50 atau 60 tahun?.

Perlu berapa tahun lagikah untuk mengulang pagi, siang, petang dan malam, perlu berapa minggu, bulan, dan tahun lagi agar kita BERSEDIA untuk mati?.

Kita tidak pernah merasa kehilangan waktu dan kesempatan untuk menghasilkan pahala, maka 1000 tahun pun tidak akan pernah cukup bagi orang-orang yang TERLENA.

*Al Marhum Prof Hamka*

02/11/2017 Posted by | Bersama Tokoh, Tazkirah | Leave a comment

MENGAPA ZIARAH KUBUR?

OLEH : ALHABIB UMAR BIN HAFIDZ
Ada seorang anti ziarah yang bertanya kepada Al-Habib Umar bin Hafidz, menanyakan, “Kenapa ziarah ke makam Awliya (Para Wali Allah)? sedangkan mereka tiada memberi kuasa apa-apa dan tempat meminta hanya pada Allah…!!!”
Al-Habib Umar bin Hafidz lantas menjawab:
“Benar wahai saudaraku, aku juga sama pegangan denganmu bahwa mereka tiada mempunyai kekuasaan apa-apa. Tetapi sedikit perbedaan aku dengan dirimu, aku lebih senang menziarahi mereka karena bagiku mereka tetap hidup dalam membangkitkan jiwa yang mati ini kepada cinta Tuhan.

Tapi aku juga heran, kenapa engkau tiada melarang aku menziarahi ahli dunia yang suka buang waktu bercerita kosong yang tiada faedahnya, mereka juga tiada kuasa apa-apa. Malah mematikan hati. Yang hidupnya mereka bagiku seperti mayat yang berjalan. Kediaman mereka adalah pusara yang tiada membangkitkan jiwa pada cinta Tuhan. Kematian dan kehidupan di sisi Allah adalah jiwa. Banyak mereka yang dilihat hidup tapi sebenarnya mati, banyak mereka yang dilihat mati tapi sebenarnya hidup, banyak yang menziarahi pusara terdiri dari orang yang mati sedangkan dalam pusara itulah orang yang hidup.

Aku lebih senang menziarahi makam kekasih Allah dan para syuhada walaupun hanya pusara, tetapi ia mengingatkan aku akan kematian, karena ia mengingatkan aku bahwa hidup adalah perjuangan, karena aku dapat melihat jiwa mereka ada kuasa cinta yang hebat sehingga mereka dicintai oleh Tuhannya lantaran kebenarannya cinta.

Wahai saudaraku, aku ziarah makam Awliya, karena pada makam mereka ada cinta, lantaran Cinta Allah pada mereka seluruh tempat persemadian mereka dicintai Allah.

Cinta tiada mengalami kematian, ia tetap hidup dan terus hidup dan akan melimpah kepada para pencintanya. Aku berziarah karena sebuah cinta mengambil semangat mereka agar aku dapat mengikut mereka dalam mujahadahku mengangkat tangan di sisi makam mereka bukan meminta kuasa dari mereka, akan tapi memohon kepada Allah agar aku juga dicintai Allah, sebagaimana mereka dicintai Allah.”

“Jika engkau mampu, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu (Thalibul ‘Ilmi). Bila engkau tidak mampu jadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka dan jika kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka.” – (Khalifah Umar bin Abdul Aziz)

Sumber : FB Ustaz Yunan A Samad

30/10/2017 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Sumber Rezeki

Jika tiada rezeki anak, mungkin diberikan rezeki mertua yang baik. Maka kita lebih bahagia dari mendapat anak yang liar.

———————-

Jika tiada rezeki wang ringgit, mungkin diberikan rezeki kesihatan. Maka kita lebih bahagia dari kerisauan menjaga harta dunia. 

————————–

Jika tiada rezeki kereta mewah, mungkin diberikan rezeki kenderaan yang jarang menimbulkan masalah. Maka kita lebih bahagia dari membayar kerosakan yang mahal.

———————–

Jika tiada rezeki rumah yang besar, mungkin diberikan rezeki makanan yang tidak pernah putus. Maka kita lebih bahagia dari si gelandangan.

—————–

Jika tiada rezeki pasangan yang cantik, mungkin diberikan rezeki pasangan yang baik dan pandai menguruskan rumahtangga. Maka kita lebih bahagia kerana hidup berteman dan terjaga segala.

——————-

Jika tiada rezeki jodoh, mungkin diberikan rezeki umur ibu bapa yang panjang. Maka kita lebih bahagia dapat berbakti sepenuhnya pada orang tua.

———————

Jika tiada rezeki hari ini, mungkin ada rezekiyang lebih baik pada esok hari. Maka kita lebih bahagia kerana rezeki yang tidak dijangka.

————

Bersabar. Bersyukur. Berusaha. Berdoa. Bertawakal.
Hanya Dia, Allah Yang Maha Adil. 
Bahagian Dakwah Jakim

16/10/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

​7 KELEBIHAN  MELANGKAH KE MASJID

1) MENDAPAT NAUNGAN ARASY PADA HARI KIAMAT
Rasulullah bersabda: “Tujuh orang yang akan berada dalam naungan Allah pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Nya ; penguasa yang adil,pemuda yang membesar dalam ketaatan Dan lelaki yang hatinya terpaut kepada masjid”. (Riwayat al-Bukhari Dan Muslim)
2) ALLAH MENYAMBUTNYA
Sabda Rasulullah: “Tidaklah seseorang mendatangi masjd untuk melakukan solat melainkan Allah bergembira menyambutnya semenjak ia keluar dari rumah, seperti gembiranya orang yang sedang menyambut tetamu yang telah lama tidak ditemui”. (Ibu Majah)
3) ALLAH MENJAMIN HIDUPNYA
Rasulullah bersabda: ” Tiga orang yang berada dalam jaminan Alah : Jika hidup, ia akan diberikan rezeki Dan kecukupan. Jika ia mati ,ia akan dimasukan ke dalam syurga. Pertama, sesiapa yang masuk ke rumah sambil mengucapkan salam, maka ia berada dalam jaminan Allah. Sesiapa yang keluar berjihad di jalan Allah, maka ia berada dalam jaminan Allah.” (Riwayat Ibn Hibban)
4) DISEDIAKAN RUMAH DI SYURGA
Rasulullah bersabda: “Sesiapa yang keluar pada waktu pagi Dan petang ke masjid, maka Allah telah menyediakan baginya sebuah rumah di syurga yang akan ia datangi setiap pagi Dan petang”. (Riwayat al-Bukhari Dan Muslim)
5) DIGUGURKAN DOSA DAN DITINGGIKAN DARJAT
Sabda Rasulullah: “Mahukah aku beritahukan perkara yang dapat menghapuskan dosa dan meninggikan darjat? Menyempurnakan wuduk, sering melangkah ke masjid dan menunggu solat selepas solat. Semua itu ialah ribat”.(Riwayat Muslim)
6) SETIAP LANGKAH DIGANJARI SEPULUH PAHALA 
Rasulullah bersabda: “Jika seseorang bersuci di rumahnya, lalu ia melangkah ke masjid untuk menunggu solat, maka dua malaikat menulis baginya bagi setiap langkah 10 kebaikan”.(Riwayat Ibn Hibban)
7) CAHAYA TERANG PADA HARI KIAMAT
Rasulullah bersabda:” Berilah khabar gembira kepada orang yang berjalan ke masjid bahawa ia akan mendapat cahaya yang sangat terang pada kiamat nanti” (Riwayat Abu Dawud)
*Petikan dari majalah al-ustaz

15/10/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

“MEMBONGKAR IDENTITI WAHABI- USTAZ WADI ANNUAR AYUB” on YouTube

23/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah, Video | Leave a comment

“Virus Wahabbi | Ustaz Muhammad Fawwaz” on YouTube

23/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah, Video | Leave a comment

Rahsia & Kelebihan Umur Lanjut

Demi Masa! (1) Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian; (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan mereka pula berpesan-pesan (ingat-mengingatkan) tentang kebenaran serta berpesan-pesan (ingat-mengingatkan) dengan sabar.(3) – (Al ‘Asr [103 ] : 1-3)

“Dan (hendaklah diingat bahawa) sesiapa yang Kami panjangkan umurnya, Kami balikkan kembali kejadiannya (kepada keadaan serba lemah; hakikat ini memang jelas) maka mengapa mereka tidak mahu memikirkannya?” (Yasiin [ 36 ] : 68)

Pesan Ustaz; Umur Tua bukan satu perkara yang remeh, sebab itulah kita harus ambil perhatian yang serius.
Ustaz membuka kuliah tafsirnya dengan membaca surah Al ‘Asr [103 ] ayat 1-3; dan surah Yasiin [ 36 ] ayat 68 .

Ini adalah berkaitan dengan umur yakni masa yang Allah berikan kepada kita manusia yang ditugaskan melaksanakan tugas kekhalifahan atau tugas ibadah di muka bumi. Allah memberi peringatan tentang kritikalnya masa sehingga Allah bersumpah dengannya. Betapa Allah nak ingatkan kita supaya menggunakan masa (umur) yang Allah beri, tepat seperti yang Allah tetapkan. Sekiranya kita tidak menggunakan sebaik-baiknya masa, umur, peluang, kesempatan dan apa jua istilahnya kita benar-benar rugi.

Umur dikira bermula sejak lahir hingga satu masa yang ditetapkan atau dimulai dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian, ada pendek dan ada yang panjang. Rugi atau tidaknya seseorang itu di dunia dan akhirat adalah bergantung kepada bijak atau tidak dia memanfaatkan umurnya (mengurus masa).

Allah telah mengingatkan kita dalam surah Al-An’aam [ 6 ] ayat 2 bahawa jangka umur kita bukan untuk kekal tetapi untuk binasa.

Dialah yang menciptakan kamu daripada tanah, kemudian Dia telah menetapkan ajal (kematian kamu) dan ajal yang tertentu di sisiNya (iaitu masa yang telah ditetapkan untuk dibangkitkan kamu semula pada hari kiamat); dalam pada itu, kamu masih ragu-ragu (tentang hari pembalasan). – (Al-An’aam [ 6 ] : 2)

Apa yang penting di sini bukanlah panjang atau pendeknya umur kita tetapi adalah perhatian yang harus kita beri kepada setiap peringkat/tahapan umur agar kesemuanya dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Secara umum umur dibahagikan kepada tiga tahapan, iaitu kanak-kanak, remaja dan tua. Namun ada seorang pakar psikologi telah membahagikan umur kepada 10 tahapan seperti berikut:

Tahapan Pertama: Masa Kanak-kanak (Sejak dilahirkan hingga 7 tahun).

Pada tahapan ini perkembangan jasmani dan rohani 100% adalah mengikut sunnatullah (ketentuan Ilahi). Sebab itulah tidak hukuman atas apa jua kesalahan yang dilakukan dan tidak ada ganjaran atas apa jua kebaikan yang dilakukannya.

Tahapan Kedua: Zaman Remaja (8 hingga 14 tahun).

Pada masa ini muncul semangat berlumba-lumba dalam semua hal. Ia mula ingin menonjol (ingin berbeza) daripada orang lain, maka di sinilah perlunya hubungan luar biasa daripada kedua ibu bapa dan masyarakat di sekelilingnya. Mereka perlu diberi nasihat dan bimbingan yang lebih.

Tahapan Ketiga: ‘aqil baligh (15 hingga 21 tahun).

Telah mula sempurna rohani dan jasmaninya. Pada peringkat remaja ini mereka telah mula berangan-angan dan bercita-cita tetapi banyak pula yang memiliki sifat cacat rohani. Di sinilah bermulanya seseorang itu menjadi ‘egois’, suka membangkang dan menentang serta sukar diarah. Mereka rasa mereka mampu berdikari. Gejala sosial mula pada peringkat ini. Maka di sinilah mereka perlu diberi pengawasan dan kawalan yang sewajarnya kerana mereka mula suka melanggar peraturan.

Tahapan Ke empat: Dewasa (21 hingga 26 tahun).

Pada peringkat ini mereka seharusnya sudah boleh dianggap dewasa dan matang, namun di sinilah mereka sering didorong nafsu libido yang sangat kuat. Waktu inilah yang amat tepat segera mencarikan pasangan hidup (ideal untuk bina rumah tangga) supaya nafsu tersalur dengan baik bagi pertumbuhan jasmani dan rohani yang baik. Rasulullah saw berkahwin ketika berumur 25 tahun.

Tahapan Ke Lima: Dewasa Sempurna (27 hingga 35 tahun).

Ketika ini pertumbuhan jasmani dan rohani terkuat. Akal dan fikiran sudah terbuka, jelas, tegas dan tidak ragu dalam merencana diri dan keluarga.

Tahapan Ke Enam: Pertengahan Umur (36 hingga 40 tahun)

Tahap ini sudahpun pertengahan perjalanan hidup. Pada masa ini hati mantap dan tetap. Kematangannya amat nyata. Waktu inilah kebanyakan Nabi dan Rasul di angkat menjadi Nabi atau Rasul. Ini adalah waktu sepatutnya dijadikan kayu ukur atau penanda aras sama ada kita berjaya di dunia atau di akhirat.

Tahapan Ke Tujuh: Umur Setengah Tua (41 hingga 50 tahun).

Pesan Ustaz pada peringkat umur ini janganlah kita merasa masih muda. Ramai yang enggan dipanggil tua pada tahapan umur ini serta agak rasa bosan dengan hidup jika tidak ada apa-apa yang mencabar. Ada yang kurang selera makan. Pada peringkat ini ada yang cenderung kepada agama dan mempunyai kesedaran tentang kematian dan dengan itu dia banyak bertaubat. Walaupun boleh dikatakan agak sudah terlambat, namun belum dikira sebagai terlalu terlambat.

Tahapan Ke Lapan : Menurun (51 hingga 65 tahun).

Ibarat roket atau bunga api, masa mula-mula dilepaskan meluncur laju tapi bila tak mampu lagi naik dia akan mulai menurun. Boleh diertikan seperti tidak ada ‘pick-up’ dan agak kurang bermaya dalam semua aspek. Kekuatan fizikal dan mental juga menurun. Penyakit-penyakit mula ketara dan banyak penyakit-penyakit yang kronik. Umur 60 tahun adalah satu tanda aras kritikal.

Tahapan Ke Sembilan : Masa Tua (65 hingga 75 tahun).

Pada tahapan ini penuh dengan cubaan kerana pelbagai penyakit menyapa, perlu pertolongan pihak ketiga. Bagi yang tidak tabah akan menderita.

Tahapan Ke Sepuluh : Umur Sangat Tua/Tua Bangka (75 hingga Seterusnya).

Sungguh lebih hebat penderitaan orang ini. Ada yang menjadi pikun. Jika sebelumnya tidak ada pengisian rohani, maka ketika ini hidupnya akan lebih menderita. Rohani dan jasmani juga terkesan. Daya ketahanan amat rendah.

Pesan Ustaz; perkara ini bukan satu perkara yang remeh, sebab itulah kita harus ambil perhatian yang serius.

Sehubungan dengan fakta di atas, Rasulullah saw menyuruh kita memberi tumpuan khusus kepada umur 40 dan 60 tahun.

Umur 40 tahun adalah umur amat matang, mudah megerti dan memahami fakta-fakta kehidupan. Boleh berfikir dan bertindak secara rasional. Umur ini adalah seperti umur ‘tanda aras/kayu pengukur’ bagi menentukan nasib seseorang di akhirat nanti. Jika pada umur ini seseorang itu masih rakus berbuat maksiat dan tidak langsung rasa bersalah apabila meninggalkan perintah dan melanggar segala larangan Allah swt maka pasti dia menempah tempat di Neraka. Ini kerana pada ketika berumur 40 tahun seharusnya sudah tahu berfikir, faham bahawa perbuatan maksiat itu salah.

Allah memberi perhatian khusus tentang angka 40 ini:

“Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung susah payah dan telah melahirkannya dengan menanggung susah payah. Sedang tempoh mengandungnya berserta dengan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa tiga puluh bulan. Setelah dia besar sampai ke peringkat dewasa yang sempurna kekuatannya dan sampai ke peringkat umur empat puluh tahun, berdoalah dia dengan berkata: Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmatmu yang engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku tetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redhai; dan jadikanlah sifat-sifat kebaikan meresap masuk ke dalam jiwa zuriat keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadamu dan sesungguhnya aku dari orang-orang Islam (yang tunduk patuh kepadamu/berserah diri).” (Al-Ahqaf [ 46 ] : 15)

Ayat ini menyatakan umur 40, iaitu umur yang matang. Ini kemuncak umur keIslamannya. Syaratnya dia mulai daripada sejak dia baligh lagi. Banyak hadis dibacakan oleh Ustaz dan dikisahkan bahawa ramai Ulama’ yang mencapai umur empatpuluhan sudah bersungguh-sungguh dalam beribadah. Sudah mula melipat tempat tidurnya, iaitu mengurangi tidurnya.

Dalam ayat ini juga Allah berpesan supaya;

1) berbakti kepada kedua ibu-bapa (ada ayat lain dalam surah al-Isra’ dan Luqman) kerana jika dia sudah 40 tahun pasti ibu-bapanya sudah melepasi 60 tahun, umur yang memerlukan banyak bantuan.

2) Mensyukuri nikmat iaitu dengan beramal soleh yang diredhaiNya (menjadikan semua nikmat yang Allah berikan kepada kita untuk beramal soleh)

3) Bertaubat dan berserah diri, maksudnya tidak mahu lagi buat maksiat dan menyedari kita adalah hak Allah dan akan kembali kepadaNya. Maknanya apabila sudah mencapai umur 40 tahun sudah tidak ada dosa, sudah capai puncak keIslaman dan berjaya mendidik putera dan puterinya.

Biasanya kita ni jika disebutkan 40 tahun, merasakan masih muda ada pula yang kata “Life is begin at 40′. Semua ni tidak betul sebab sepatutnya inilah masa penanda aras menentukan sama ada kita ke syurga atau neraka.

“Jika sampai umur 40 tahun dan tidak ambil tahu langsung tentang asal kejadiannya, dan kewajibannya dan tidak mahu bertaubat, maka Syaitan akan mengusap dahinya dan gembira dia kerana orang ini tidak ada gunanya di dunia dan di akhirat”.

Berkaitan umur 60 tahun pula hadis daripada Abu Hurairah melaporkan Nabi saw sebagai berkata : “Kebanyakan umur umatku adalah 60-70 tahun. Sedikit daripada mereka yang lebih daripada itu”.

Daripada Qatadah; Orang yang dipanjangkan umurnya ialah orang yang mencapai 60 tahun dan orang yang pendek umurnya ialah orang yang meninggal sebelum 60 tahun.

Jadi menurut agama; orang yang dipanjangkan umurnya ialah orang yang mencapai 60 tahun dan lebih. Maka umur 60 tahun ini juga perlu diberi perhatian yang berat. Jangan bangga jika mencapai umur begini masih boleh makan apa sahaja tak perlu pantang sebab umur ini adalah umur batas akhir ibarat jika sudah ada di medan perang tetapi masih belum bersedia dengan peralatan tandanya akan kalah (tiada alasan kenapa tak siap, kenapa tak bawa pedang dan sebagainya sebab masa tu sepatutnya alat dah sedia lengkap).

Oleh kerana itu , amat keterlaluan jika orang-orang yang sudah berusia lebih daripada 60 tahun masih juga melakukan maksiat. Sabda Rasulullah saw, “Allah swt tidak akan menerima dalih/alasan seseorang sesudah Dia memanjangkan usianya hingga 60 tahun”. (HR Al-Bukhari).

Umur ini sepatutnya telah banyak beramal soleh. Tiada lagi tolak ansur yang dibenarkan dalam perbicaraan di akhirat nanti. Umur 60 adalah umur ibarat di medan perang, iaitu jaya atau gagal. Apa jua alasan Allah tidak akan terima. Mengapa demikian?. Lihat surah Fathir [35 ] ayat 11 yang bermaksud:

“Dan Allah menciptakan kamu daripada tanah, kemudian daripada (setitis) air benih, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (lelaki dan perempuan) dan tiada mengandung seseorang perempuan (juga seekor betina) dan tidak pula satu-satunya melahirkan (anak yang dikandungnya) melainkan dengan keadaan yang diketahui Allah dan tidak diberikan seseorang berumur panjang (dipanjangkan umurnya), juga tidak dijadikan seseorang pendek umurnya, melainkan ada kadarnya di dalam Kitab Ilahi. Sesungguhnya yang demikian itu mudah sahaja kepada Allah”. (Fatir [35] : 11)

Para mufassir menyatakan bahawa 60 tahun adalah umur yang dipanjangkan berdasarkan hadis dan ayat di atas dan juga ayat (Yasiin [ 36 ] : 68) di bawah.

“Dan (hendaklah diingat bahawa) sesiapa yang Kami panjangkan umurnya, Kami balikkan kembali kejadiannya (kepada keadaan serba lemah; hakikat ini memang jelas) maka mengapa mereka tidak mahu memikirkannya?” (Yasiin [ 36 ] : 68)

Apabila sampai umur 60, tiada lagi peluang. Jika tidak taubat, maka Nerakalah tempatnya.Tidak guna lagi meminta tolong. Dalam surah yang sama Fathir [ 35 ] ayat 37 Allah berfirman yang bermaksud:

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami nescaya kami akan mengerjakan amal yang soleh yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan.’ Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mahu berfikir dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun”. (Fathir [ 35 ] : 37)

Dalam ayat di atas, di neraka nanti ada yang mohon kepada Alah untuk dikeluarkan daripada neraka dan kembalikan ke dunia supaya mereka dapat buat amal soleh. Lalu Allah akan menyindir keras, bukankan Aku dah panjangkan umur kamu dan aku beri peringatan.

Pemberi peringatan yang dimaksudkan di sini ialah penuaan seperti uban dan pelbagai penyakit yang bertandang, kekuatan fisikal menurun, mata dah kabur, gigi banyak yang gugur, lututpun kendur dan lain-lain lagi.

Umur 60 tahun sudah dekat dengan ajal kematian. Pada umur ini seharusnya kita “mengintai-intai kematian”, iaitu perjumpaan manusia dengan Penciptanya. Umur 60 tahun dikira mengikut pusingan bulan dan bukan pusingan matahari, iaitu umur tahun qamariah yakni apabila kita berumur 58 bermakna kita sudah berumur 60 tahun ikut kiraan qamariah.

Ada dalam hadis; tanda tua dan hampirnya ajal ialah uban di kepala. Kata ustaz, ada hadis Nabi saw melarang kita mencabut uban kerana itu adalah “cahaya Iman” bagi mereka yang beramal soleh. Sebab itu jangan dicabut uban. Uban ini akan menjadi saksi pengabdian kita. Jika nak mewarnakannya boleh tetapi dengan sayarat bukan dengan warna hitam.

Sebagai kesimpulan ustaz mengingatkan supaya kita jangan mengambil mudah tentang umur. Ini bukan remeh kerana Allah dah bersumpah dengannya. Kita juga hendaklah berilmu dan beramal dengannya, ada ilmu tetapi tidak beramal bukanlah segala-galanya. Ibadat pula bukan kuantiti tetapi kualiti.

Rasulullah saw bersabda, “Tak akan berganjak kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara, iaitu tentang umurnya, dihabiskan untuk apa; tentang masa mudanya, dipergunakan untuk apa; tentang hartanya, dari mana diperolehinya dan untuk apa dibelanjakan; dan tentang ilmunya, apakah sudah diamalkan”. (HR At-Tarmidzi).

Usia lanjut juga merupakan sebuah keistimewaan. Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah saw menyampaikan firman Allah SWT, “Demi kemuliaan-Ku, keagungan-Ku, dan keperluan hamba-Ku kepada-Ku, sesungguhnya Aku merasa malu menyiksa hamba-Ku, baik laki-laki mahupun perempuan, yang telah beruban kerana tua dalam keadaan muslim”. Dalam hadits lain beliau bersabda, “Sebaik-baik di antara kalian ialah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya”. (HR At-Tarmidzi).

Sekian, mudah2an memberi manfaat.

Nota Kuliah Maghrib,Masjid Al Aman,Lembah Jaya,Ampang Selangor.Pada Isnin 11hb September 2017

Sumber Teks yg sama dgn isi kuliah.

18/09/2017 Posted by | Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah, Uncategorized | Leave a comment

Kisah Guru di maki hamun seorang lelaki

Seorang lelaki yang berbeza fahaman dengan seorang Guru mengeluarkan kecaman dan kata-kata kasar, meluapkan kebenciannya kepada Sang Guru.
Sang Guru hanya diam, mendengarkannya dengan sabar, tenang dan tidak berkata apa pun.
Setelah lelaki tersebut pergi, si murid yg melihat peristiwa itu lalu bertanya, “mengapa Guru diam sahaja tidak membalas makian lelaki tersebut?”
Beberapa saat kemudian, maka Sang Guru bertanya kepada si murid,
“Jika seseorang memberimu sesuatu, tapi kamu tidak mahu menerimanya, lalu menjadi milik siapa kah pemberian itu?”
“Tentu sahaja menjadi milik si pemberi” jawab si murid.
“Begitu pula dengan kata-kata kasar itu”, balas Sang Guru.
“Kerana saya tidak ambil endah dengan kata-kata itu, maka kata-kata tadi akan kembali menjadi miliknya. Dia harus menyimpannya sendiri. Dia tidak menyedari, kerana nanti dia harus menanggung akibatnya di dunia bahkan di akhirat; kerana aura negatif yang muncul dari fikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan hanya akan membuahkan penderitaan hidup”.
Kemudian, Sang Guru meneruskan kata-katanya, “Sama seperti orang yg ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludah itu hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri. Demikian halnya, jika di luar sana ada orang yg marah-marah kepada mu… biarkan sahaja… kerana mereka sedang membuang SAMPAH HATI mereka. Jika engkau diam sahaja, maka sampah itu akan kembali kepada diri mereka sendiri, tetapi kalau engkau hiraukan, bererti engkau menerima sampah itu.”
“Hari ini begitu banyak orang di jalanan yang hidup dengan membawa sampah di hatinya (sampah kekesalan, sampah amarah, sampah kebencian, Ego dan sebagainya)…
Oleh itu, jadilah kita seorang yang BIJAK bukan SAMPAH”
Sang Guru meneruskan nasihatnya :
“Jika engkau tak mungkin memberi, janganlah mengambil”
“Jika engkau terlalu sulit untuk mengasihi, janganlah membenci”
“Jika engkau tak dapat menghibur orang lain, janganlah membuatnya bersedih”
“Jika engkau tak mampu memuji, janganlah mengeji”
“Jika engkau tak dapat menghargai, janganlah menghina”
“Jika engkau tak suka bersahabat, janganlah bermusuhan”

Tulusan: Mohd Zulmainoe

17/09/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

PANDUAN MENCARI KEBENARAN DAN HIDAYAH ALLAH…

Masing-masing kata mereka yang benar. Syiah kata mereka yang benar. Wahhabi kata mereka yang benar. Kita pula kata kita yang benar.

Bagaimana nak tahu yang mana satu yang benar ?
وَالَّذِىْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ, لَتَفْتَرِقُ اُمَّتِى عَلىَ ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. فَوَاحِدَةً فى الْجَنَّةُ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِى النَّارِ. قِيْلَ: مَنْ هُمْ يَارَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ: اَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ
(رواه الطبرانى)
Rasulullah SAW bersumpah: “Demi zat yang menguasai jiwa Muhammad, sungguh umatku bakal terpecah menjadi 73 golongan. Maka yang satu golongan masuk syurga, sedangkan yang 72 golongan masuk neraka. Sahabat bertanya: Siapakah golongan (yang masuk Syurga) itu ya Rasulullah? Baginda menjawab: Ahlus sunnah Wal jamaah” (HR. al-Tabrani)

Ulasan Ishaq ibn Rahawaih, seorang ulama Salaf yang terkemuka: “Al-Jama’ah itu adalah para ulama yang berpegang pada atsar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan jalannya. Sesiapa bersama mereka dan mengikuti mereka, maka merekalah Al-Jama’ah”. (Hilyatul-Auliyaa’ 9/239).
Imam Asy Syathibi menyimpulkan:
قال الشاطبي : ” وحاصله أن الجماعة راجعة إلى الاجتماع على الإمام الموافق لكتاب الله والسنة ، وذلك ظاهر في أن الاجتماع على غير سنة خارج عن الجماعة المذكورة في الأحاديث المذكورة ؛
“Kesimpulannya, Al Jama’ah adalah bersatunya umat pada imam yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah.” (Al I’tisham 2/260-265, dinukil dari Fatwa Lajnah Ad Daimah 76/276)
Al-Jama’ah atau Ahlus Sunnah Waljamaah adalah para ulama yang benar dan orang yang bersama dan mengikuti mereka.
Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Kitab Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata para ulama, bahwa Al-Jama’ah atau Ahlus Sunnah Waljamaah adalah As-sawadul a’zham (majoriti)”.
As-sawadul a’zham adalah “majoriti ulama dan orang yang bersama mereka”.Asya`irah dan Al-Maturidiyyah telah diikuti oleh “majoriti ulama dan orang yang bersama mereka”

Berkata As-Sheikh Muhammad Amin yang terkenal dengan gelaran Ibnu Abidin di dalam kitab terkenal beliau yang berjudul Rad Al-Muhtar `Ala Ad-Duraril Mukhtar: “Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah Asya`irah (pengikut Abu al-Hasan Al-Asya`ri) dan Al-Maturidiyyah (pengikut Abu Mansur Al-Maturidi)”. Perkara yang sama juga disebut oleh al-Hafiz Murtadha az-Zabidi di dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin.

Al-Syeikh Prof Dr. Ali Juma`ah, mufti Mesir, menjelaskan tentang mazhab Ahlus Sunnah Wal Jama`ah di dalam kitabnya al-Bayan lima Yashghul al-Azham, mengatakan: “Mazhab Ahlus Sunnah Wal Jama`ah – al-Asya`irah dan al-Maturidiyyah- adalah mazhab yang jelas pada keseluruhan bab-bab tauhid, namun banyak orang-orang yang mengingkarinya ialah orang-orang yang jahil terhadap mazhab tersebut yang sebenar pada masalah iman kepada Allah.”

Kebenaran al-Asya`irah Dan Al-Maturidiyyah Disokong Oleh Al-Quran Dan Hadith
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ) المائدة :54
Mafhumnya : “Wahai orang-orang yang beriman, sesiapa yang murtad daripada agamanya (Islam) maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang mana Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang yang beriman dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah kurniaan Allah diberikan kepada sesiapa yang dikehendakiNya dan Allah maha luas pemberiannya lagi Maha Mengetahui”. ( Al-Maidah:54 ).

Al-Hafiz Ibn `Asakir di dalam kitabnya (تبيين الكذب المفتري) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan bahawasanya tatkala turun ayat ini, Rasulullah mengisyaratkan kepada Abu Musa Al-Asy`ari dengan bersabda:
هم قوم هذا
Mafhumnya : “Mereka (yang dimaksudkan di dalam ayat tadi ) adalah kaum ini”. Berkata Imam al-Qusyairi :
“Pengikut Abu al-Hasan al-Asy`ari adalah termasuk kaumnya kerana setiap tempat yang disandarkan perkataan kaum oleh nabi ia membawa maksud pengikut. Perkara ini disebut oleh Imam al-Qurtubiy di dalam kitab tafsirnya.(rujuk kitab tersebut jilid 6 halaman 220).

Berkata al-Hafiz al-Baihaqi :
“Perkara ini adalah kerana wujudnya kelebihan yang mulia dan martabat yang tinggi bagi imam Abu al-Hasan al-Asy`ari semoga Allah meredhainya. Dia adalah daripada kaum Abu Musa dan anak-anaknya dianugerahkan ilmu pengetahuan, diberikan kefahaman secara khusus dikalangan mereka dengan menguatkan sunnah, membasmi bid`ah dengan mengeluarkan hujah dan membantah penyelewengan. Perkara ini disebut oleh al-Hafiz Ibn `Asakir di dalam kitab (تبيين الكذب المفتري).

Imam Bukhari, seorang yang berstatus amir al-mukminin dalam bidang hadith menyebutkan di dalam sahihnya pada bab ((باب قدوم الأشعريين وأهل اليمن)). Baginda bersabda kepada Abu Musa :
هم مني وأنا منهم
Mafhumnya : “mereka sebahagian daripadaku, aku pula sebahagian daripada mereka”.


Senarai Ulama Yang Berpegang Dengan aliran Asya`irah

Menurut ulama al-muhaqqiqun majoriti umat Islam bermula daripada salaf dan khalaf sama ada dalam apa jua bidang pun, baik akidah, fiqh, al-Quran, tafsir, hadith, tasauf, bahasa arab, nahu, sorof, adab dan lain-lainnya kesemuanya dalam hal keyakinan dan akidah selari dengan akidah al-Asya`irah dan al-Maturidiyah.

Di antara golongan al-huffaz yang merupakan pemuka para muhaddithin dan berpegang dengan akidah ini :
1. Al-Hafidz Abu Bakar Al-Ismaily, tuan punya kitab (المستخرخ على البخاري). Beliau merupakan seorang pakar hadith yang paling masyhur pada zamannya.

2. Al-Hafiz al-`Alim Abu Bakar Al-Baihaqi, juga seorang pakar hadith yang paling masyhur pada zamannya.

3. Al-Hafiz yang disifatkan sebagai sebaik-baik muhaddithin di Negara Syam pada zamannya iaitu al-Hafiz Ibn `Asakir.

4. Amir al-Mukminin dalam bidang hadith, Ahmad Ibn Hajar al-`Asqalani.
Ramai ulama muktabar yang mengikut manhaj ini :

1. Imam Abu Hassan al-Baahili
2. Abu Bakar ibn Furak
3. Abu Bakar al-Baqillani
4. Abu Ishaq al-Isfarayiini
5. Al-Hafiz Abu Nu`aim al-Asbahani
6. Qadhi Abdul Wahab al-Maliki
7. As-Syeikh Abu Muhammad al-Juwaini serta anaknya Abu al-Ma`ali. Kedua-duanya dikenali sebagai Imam al-Haramain.
8. Abu Mansur at-Tamimi al-Baghdadi.
9. Al-Hafiz ad-Darulquthni.
10. Al-Hafiz al-Khatib al-Baghdadi.
11. Al-Ustaz Abu Al-Qasim al-Qusyairi serta anaknya Abu Nasr.
12. Asy-Syeikh Abu Ishaq as-Syirozi,
13. Nasru al-Maqdisi
14. Al-Farawi
15. Abu al-Wafa` bin `Aqil al-Hanbali
16. Qadhi ad-Daamighani al-Hanafi
17. Abu-al-Walid al-Baaji al-Maliki
18. Al-Imam as-Sayid Ahmad ar-Rifa`ie
19. Al-Hafiz Abu Qasim Ibnu `Asakir
20. Ibnu as-Sam`ani
21. Al-Qadhi `Iyadh al-Maliki
22. Al-Hafiz as-Salafi
23. Al-Hafiz an-Nawawi
24. Imam Fakhruddin ar-Razi
25. `Izzuddin bin Abdussalam
26. Abu Amru bin al-hajib al-Maliki
27. Al-Hafiz Ibn Daqiq al-`ed
28. `Ala ad-Deen al-Baaji
29. Al-Hafiz al-Mujtahid Qadi al-Qudhat al-Imam Taqiyuddin As-Subki dan anaknya Tajudeen al-Subki.
30. Al-Hafiz al-`Alai
31. Al-Hafiz Zainuddin al-`iraqi serta anaknya al-Hafiz Waliyuddin al-Iraqi
32. Al-Hafidz al-Lughawi Murtadha Az-Zabidi al-Hanafi
33. As-Syeikh Zakaria al-Ansari
34. As-Syeikh Bahauddin Ar-Rawwasi As-Sufi
35. Mufti Mekah Ahmad Bin Zaini Dahlan
36. Musnid al-Hindi Waliullah ad-Dahlawi
37. Mufti Mesir As-Syeikh Muhammad `illaish Al-Maliki
38. Sheikh Jamik Al-Azhar Abdullah As-Syarqawi,
39. Seorang ulama sanad hadith yang terkenal ; As-Syeikh Abu Al-Mahasin Al-Qawuqji,
40. As-Syeikh al-Husain al-Jisr at-Tarabulusi
41. As-Syeikh `Abdul Latif Fathul Allah, mufti Beirut
42. As-Syeikh `Abdul Baasith al-Fakhuri, mufti Beirut
43. As-Syeikh al-Muhaddith Muhammad Bin Darwish al-Hut al-Beiruti dan anaknya `Abdul Rahman, Ketua al-Asyraf di Beirut.
44. As-Syeikh Mushthofa Naja, Mufti Beirut
45. Al-Qadhi yang dihormati ibn Farhun al-Maliki
46. Abu Fath as-Syahristani
47. Al-Imam Abu Bakar Asy-Syasyi al-Qaffal
48. Abu `Ali Ad-Daqqaq An-Naisaburi
49. Al-Hakim An-Naisaburi, Tuan punya kitab Mustadrak.
50. As-Syeikh Abu Manshur al-Hudhudi,
51. As-Syeikh Abu `Abdullah as-Sanusi,
52. As-Syeikh Muhammmad bin `Alan as-Shadiqi as-Syafi`e.
53. Al-`Allamah `Alawi bin Tahir al-Hadhrami al-Haddad.
54. Al-`Allamah al-Muhaqqiq al-Habib bin Husain bin `Abdullah Balfaqih, dan semua ulama Hadramaut dari keturunan `Alawi, al-Saqqaf, al-Juneid, dan al-`Idrus.
55. Al-Hafiz al-Faqih al-Allamah al-Arif Billah al-Syiekh Abdullah al-Harari al-Habasyi.
56. Sheikh Sirojiddin Abbas Al-Indunisi
57. Musnid Syeikh Yasin al-Fadani
58. Dan ramai lagi..

Ulama telah membuat ketetapan bahawa golongan al-Asya`irah dan al-Maturidiyyah ialah yang dikatakan sebagai Al-Jama’ah atau Ahlus Sunnah Wal Jama`ah atau As-sawadul a’zham atau “golongan yang bersama dan mengikuti para ulama yang berpegang pada atsar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan jalannya” atau “pilihan majoriti ulama” atau “golongan yang selamat”.

Buatlah pilihan yang tepat. Hidayah itu anugerah ALLAH.

Wallahu A’lam.

(FB Ustaz Yunan A Samad)

14/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Akhir zaman makin kurang Sifat Malu

Malu itu adalah bahagian daripada keimanan. Sifat malu seseorang semakin tinggi akan mengundang reaksi yang sama kepada orang lain. Sifat malu ini lebih nampak dan jelas kelihatan dan mesti lebih ada kepada perempuan berbanding laki-laki.

Oleh kerana demikian, di dalam Al-Quran Allah سبحانه وتعالى menceritakan tentang seorang wanita yang berjalan cara jalannya itu digambarkan oleh Allah سبحانه وتعالى cara jalan orang malu.
Allah سبحانه وتعالى mengambarkan di dalam Al-Quran “Telah datang salah seorang daripada anak perempuan Nabi Syu’aib عليه السلام. Ketika datang pergi kepada Nabi Musa عليه السلام nak panggil Nabi Musa supaya datang ke rumahnya. Cara jalan anak perempuan Nabi Syu’aib عليه السلام
digambarkan oleh Allah berjalan dalam keadaan tersipu malu.”
Allah سبحانه وتعالى mengambarkan cara jalannya perempuan kerana itu sepatutnya menjadi sifat kepada perempuan untuk mempunyai malu lebih daripada lelaki. Kalau laki-laki tak malu itu ok, biasa sahaja. Yang problem kepada perempuan yang sifat malu lebih genetik, sinonim kepada perempuan.
Maaf cakap zaman sekarang ini majunya teknologi telah membuatkan sifat malu terutamanya kepada kaum perempuan semakin tidak kelihatan. Bukan tiada. Ada!! Tapi kurangnya sifat malu ditonjolkan di dalam diri kerana peliknya lelaki lebih kelihatan malu daripada perempuan.

Di facebook misalnya dan sebagainya. Perempuan yang menegur lelaki terlebih dahulu. Bukannya lelaki itu yang menegurnya. Begitu juga dengan gambar-gambar yang di upload di dalam facebook dan sebagainya sehingga mudahnya ditatap oleh kaum lelaki.

Tidak salah menegur tetapi kelihatan di situ kurangnya sifat malu pada diri lebih-lebih lagi kalau orang yang ditegurnya itu tidak rapat, tidak kenal. Jadi marilah kita muhasabah diri agar sifat malu tersemai di dalam diri kerana sesungguhnya keimanan itu pecahannya lebih 70 pecahan dan malu itu adalah bahagian daripada keimanan.

#MutiaraKata[HABIB ALI ZAENAL ABIDIN BIN ABU BAKAR AL-HAMID HAFIDZOHULLAH]
#thecapal
FB: The Capal

12/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Puasa Arafah

Puasa Hari Arafah ialah puasa pada hari ke 9 Zulhijjah yang disunatkan bagi mereka yang tidak melakukan ibadah haji. Mereka boleh memanfaatkan kemuliaan hari Arafah dengan berpuasa sunat, berzikir dan melakukan amalan-amalan sunat lain.
Berpuasa Sunat Arafah dapat menghasilkan ganjaran pahala yang sangat besar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Berpuasa pada Hari Arafah dinilai di sisi Allah sebagai penghapus dosa bagi setahun yang sebelumnya dan yang selepasnya.” (Hadis riwayat Muslim).

Daripada Abu Qatadah al-Anshari r.a.; Rasulullah SAW ditanya tentang berpuasa di hari Arafah. Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (Hadith Riwayat Imam Muslim)

Rasulullah SAW juga bersabda: “Orang yang berpuasa pada Hari Arafah (9 Zulhijjah), Allah akan menuliskan baginya puasa 60 tahun dan Allah menuliskannya sebagai orang yang taat.”

Niat Puasa Hari Arafah;

*نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ يَوْمِ الْعَرْفَةَ سُنَّةً لِلِّهِ تَعَالَى*

Daku berniat puasa hari Arafah, sunat kerana Allah Ta’ala.

Rasulullah SAW. bersabda lagi: “Tiada hari yang paling ramai Allah SWT melepaskan hamba-Nya dari api neraka melainkan pada Hari Arafah. Dan sesungguhnya Allah Azzawajalla menghampiri (hamba-hamba-Nya) dan berbangga dengan mereka di kalangan para malaikat serta bertanya; Apa yang dikehendaki oleh mereka?”

Manakala bagi mereka yang melakukan ibadah hajipula adalah disunatkan untuk tidak berpuasa pada hari Arafah dan adalah menyalahi perkara yang utama jika mereka berpuasa juga pada hari itu.

Diriwayatkan dari Ummu al-Fadhl binti al-Harith:“Ramai di kalangan sahabat Rasulullah SAW yang ragu-ragu tentang berpuasa pada hari Arafah sedangkan kami berada di sana bersama Rasulullah SAW, lalu aku membawa kepada Baginda satu bekas yang berisi susu sewaktu Baginda berada di Arafah lantas Baginda meminumnya.” (Hadith Riwayat Imam Muslim)

Juga daripada hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: “Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada Hari Arafah bagi mereka yang berada di Arafah.” (Hadith Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’ie; at-Thabrani dari Aisyah r.ha.).
Sumber : FB PZS

29/08/2017 Posted by | Ibadah, Informasi, Tazkirah, Uncategorized | Leave a comment

Hukum Taqbil

Berikut pernyataan Ulama – ulama mu’tabar mengenai Hukum Taqbil (cium/kecup) tangan orang shalih:

1. Imam an-Nawawi Rahimahullah. Beliau berkata:
“Disunatkan mencium (mengecup) tangan orang shalih, orang zahid, orang alim dan semisalnya daripada Ahli akhirat” (al-Majmu’ IV/636, al-Maktabah asy-Syamilah)

2. Syaikhul Islam, Zakariya al-Anshari. Beliau berkata:
“Disunatkan mencium (mengecup) tangan orang shalih, alim, mulia, atau zahid sebagaimana dilakukan oleh para sahabat terhadap Rasulullah Saw.” (Syarh al-Barjah al-Wardiah, 14/202, al-Maktabah asy-Syamilah)

3. Imam ar-Ramli. Beliau berkata:
“Sungguh telah dijelaskan bahwa sesungguhnya disunatkan mencium (mengecup) tangan orang shaleh..” (Nihayatu al-Muhtaj, III/85, al-Maktabah asy-Syamilah)

4. Syaikhuna Ibnu al-Hajar al-Haitami.
Beliau menyatakan pernyataan yang sama seperti Ima ar-Ramli. (lihat: Tuhfatu al-Muhtaj, 15/101, al-Maktabah asy-Syamilah)

5. Imam al-Jamal
Beliau juga menyatakan pernyataan seperti diatas (Lihat: Hasyiah al-Jamal IX/180, al-Maktabah asy-Syamilah)

6. Sayyid al-Bakri. Beliau berkata:
“Disunatkan mencium (mengecup) tangan orang yang masih hidup karena keshalihannya atau semacamnya daripada perkara – perkara keagamaannya, seperti karena ilmu dan zuhud” (I’anatu ath-Thalibin, III/263, al-Maktabah asy-Syamilah)

7. Syaikh Musa al-Hijawi.
Beliau menyebutkan pernyataan yang sama dengan Sayyid al-Bakri (Lihat: al-Iqna’ Fi Halli alfadhi abi Syuja’, II/71, al-Maktabah asy-Syamilah)

8. Syaikh Syarbaini al-Khatib
Beliau juga menyebutkan pernyataan seperti diatas (Lihat: al-Iqna’ li asy-Syarbaini, II/408, al-Maktabah asy-Syamilah)

Demikianlah beberapa pernyataan ulama mengenai kesunnahan taqbil tangan ulama. semoga bermanfaat.

28/08/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

JADILAH KAMU SEPERTI UBAT YANG MENYEMBUHKAN

Ulama mengatakan “Pergaulan dengan manusia mempunyai tiga keadaan dan juga tiga jenis bentuk manusia yang perlu kita ketahui.”
Tiga keadaan pergaulan dengan manusia:
1)Pertama, ada yang lebih tua dari kamu dari segi umur dan ilmu maka kewajiban kamu dalam bergaul dengan golongan seperti mereka adalah dengan beradab, memuliakan dan menghormati.
2)Kedua, ada yang sebaya dengan kamu dalam peringkatnya maka dalam bergaul dengan golongan seperti ini adalah dengan melayani dan bersangka baik.
3)Ketiga, ada yang lebih muda dari kamu dari segi umur dan keadaannya maka dalam bergaul dengan mereka adalah dengan kasih sayang, lemah lembut dan mendidik.
Manusia ada tiga jenis iaitu:
1)Pertama, ada yang seperti ubat yakni memberikan manfaat kepada orang lain dengan mengajak mengerjakan kebaikan, menyuruh meninggalkan kemaksiatan, melayani dan memenuhi antara satu sama lain dengan memberikan peringatan antara satu sama lain.
2)Kedua, ada yang seperti benda mati iaitu tidak memberikan mudarat dan manfaat kepada diri sendiri dan orang lain.
3)Ketiga, ada yang seperti kala jengking dan ular. Apabila disengat atau dipatuk boleh memberikan mudarat kepada diri dan orang lain dan juga tidak memberikan manfaat kepada semua.
Semoga kita semua tergolong dalam golongan orang yang pertama yang mudah-mudahan dapat memberikan manfaat dan kebaikan kepada diri dan orang lain dan kita semua memohon kepada Allah سبحانه وتعالى
supaya dijauhkan dan dihindarkan daripada menjadi seperti golongan yang ketiga yakni golongan yang tidak memberikan sebarang kebaikan bahkan boleh memberikan mudarat.

#MutiaraKata[HABIB MAHDI BIN ABU BAKAR AL-HAMID HAFIDZOHULLAH]

Sumber: FB: The Capal

27/08/2017 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

AMALAN YANG SETARA HAJI DAN UMRAH

4 AMALAN YANG SETARA HAJI DAN UMRAH

Allah Maha Pemurah, diantara sifat Maha Pemurah Allah, Allah mensyariatkan amal-amal yang ringan dikerjakan namun pahalanya (balasan kebaikannya) berlipat ganda, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan amal-amal ini, kita sebagai umat manusia yang ditakdirkan Allah memiliki usia yang pendek, rata-rata antara 60-70 tahun boleh mengoptimamkan usia kita untuk mendapatkan balasan kebaikan dari Allah yang berlipat ganda. 

Diantara amal-amal ringan tapi berpahala besar adalah amal-amal yang pahalanya setara dengan pahala ibadah haji dan umrah. 

Amalan-amalan tersebut diantaranya:

1. KELUAR DARI RUMAH MENUJU SOLAT FARDHU DI MASJID DALAM KEADAAN BERWUDHU.

Dari ABu Umamah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk menunaikan solat fardhu, pahalanya seperti pahala haji orang berihram.” (Shahih: Shahih Abu Dawud, no 558)

2. SOLAT SUBUH BERJEMA’AH DI MASJID KEMUDIAN DUDUK BERDZIKIR SAMPAI TERBIT MATAHARI LALU SOLAT 2 RAKA’AT

مَنْ صَلَّىالْغَدَا ةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِحَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ قَالَ قَالَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
Dari Anas bin Malik, Rasulullah s.a.w bersabda, ” Barangsiapa Solat Subuh berjemaah lalu duduk berzikir (mengingat) Allah sampai terbit matahari kemudian solat 2 raka’at, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” (Hasan: Shahih At-Tirmidzi, no. 480, 586; Shahih At-Targhib wa AT-Tarhib, no. 464; Ash-Shahihah, no. 3403). 

Dalam hadits lain, dari Abu Umamah dan ‘Utbah bin ‘Abd, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa solat Subuh dalam sebuah masjid secara berjema’ah lalu tinggal di dalamnya hingga ia Solat Dhuha, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang haji dan umrah yang sempurna haji dan umrahnya.” (Hasan li ghairihi: Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 469).

Dalam hadits-hadits diatas, Rasulullah menyebutkan zikir secara umum. Masuk dalam zikir adalah ta’lim/kajian Islam. 

Selain lebih banyak faedahnya karena mempelajari ilmu syar’i, juga karena lebih meringankan jiwa yang terkadang malas berzikir sendiri dalam waktu yang cukup lama.

3. MEMPELAJARI ATAU MENGAJARKAN KEBAIKAN DI MASJID

Dari Abu Umamah, Nabi saw bersabda,” Barangsiapa pergi ke masjid, dia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala seperti pahala orang haji sempurna hajinya.”. 

Dalam riwayat lain dengan, “Barangsiapa berangkat di pagi hari menuju masjid, ia tidak menginginkan kecuali untuk mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala orang yang melaksanakan umrah dengan umrah yang sempurna. Dan barangsiapa berangkat sore hari menuju masjid, ia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan pahala orang yang naik haji dengan haji yang sempurna.”(Hasan Shahih: Shahih At-Targhib wa AT-Tarhib no 82).

Perlu diketahui, pahala ini boleh didapati dengan syarat, pelaku sebelum masuk ke dalam masjid, di perjalanan menuju masjid, atau masih dirumah, haruslah berniat untuk mempelajari atau mengajarkan kebaikan. Nabi dalam hadits diatas tidak menetapkan durasi waktu tertentu.

4. MELAKSANAKAN SOLAT FARDHU BERJEMA’AH DAN SOLAT DHUHA DI MASJID

Dari Abu Umamah, Rasulullah s.a.w bersabda,” Barangsiapa berjalan menuju berjema’ah solat wajib, maka dia seperti berhaji. Dan barang siapa berjalan menuju solat tathawwu'(sunnah) maka dia seperti berumrah yang nafilah (istilah lain sunnah).” (Hasan: Shahih Al-Jami’ no. 6556), dalam hadits yang lainnya, Rasulullah bersabda,” Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan sudah bersuci untuk solat fardhu maka pahalanya seperti pahala orang haji yang berihram, Dan barangsiapa keluar solat Dhuha dia tidak bermaksud kecuali itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Dan solat sesudah solat yang tidak ada perbuatan sia-sia di antara keduanya ditulis di kitab ‘Illiyyin.”( Shahih: Shahih Sunan Abu Dawud, no. 522;Shahih Al-Jami’ no. 6228)

Itulah beberapa amalan yang pahalanya setara dengan pahala orang yang sedang berhaji dan berumrah. 

Perlu diingat, amal-amal ini tidak  menggugurkan kewajiban berhaji dan berumrah. Orang-orang yang telah mengerjakan amal-amal ini tetap wajib melaksanakan ibadah haji dan umrah. Al-Munawi dalam Al-Faidh Al-Qadiir jilid 6 hal. 228, “makna mendapat pahala haji atau mendapat pahala seperti pahala haji, tetapi tidak harus sama persis.” Maka, amal-amal yang berpahala seperti/setara pahala haji dan umrah itu tidak menghapus kewajiban haji dan umrah.

Seandainya amal-amal itu boleh mengganti kewajiban haji dan umrah atas setiap muslim, maka tidak akan ada orang yang melaksanakan haji dan umrah sejak zaman Nabi Muhammad. Nabi Muhammad yang mensosialisasikan amal-amal tersebut saja tetap melakukan haji dan umrah, demikian juga para pengikut beliau yang setia. Maka sebuah bid’ah dan kesesatan jika seseorang yang tidak berhaji dan berumrah dengan alasan telah beramal dengan amal-amal berpahala seperti pahala dan haji.

Rujukani: Ath-Thaybah edisi Dzul Qa’dah 1431

[Sumber: http://oxyprimasetiya.blogspot.my/2012/02/4-amalan-yang-setara-haji-dan-umrah.html?m=1%5D

24/08/2017 Posted by | Ibadah, Informasi, Tazkirah | Leave a comment

RAHSIA ALLAHUMMA BARIKLANA

Dalam perjalanan mencari ilmu, Tuan Guru Habib Lutfi bin Yahya bertemu Kiyai Tua. Habib yang masih muda waktu itu kehairanan menyaksikan akhlak Kiyai. Waktu ada butiran nasi yang terjatuh lalu dipungut dan dikembalikan ke pinggan untuk dimakan kembali.
“Kenapa harus dikutip? Kan hanya nasi sebutir,” tanya Habib muda menduga.
“Jangan sekadar lihat ianya sebutir nasi. Adakah kamu boleh mencipta sebutir ni seorang diri sehingga jadi nasi?”
Habib muda terdiam. Kiyai Tua melanjutkan bicara.
“Ketahuilah. Waktu kita makan nasi, Allah dah menyatukan peranan ramai manusia. Nasi Bin Beras Bin Padi. Mula dari mencangkul, menggaru, buat bendang, menanam benih, memupuk, menjaga huma sampai membanting padi ada jasa banyak orang.
Kemudian dari tanaman padi jadi beras dan jadi nasi. Terlalu ramai hamba Allah terlibat sampai jadi nasi.”
“Jadi kalau ada sebutir nasi sekalipun jatuh, ambillah. Jangan sebab masih banyak dalam pinggan, kita biarkan yang sebutir. Itu salah satu bentuk takabur, dan Allah tak suka manusia yang takabur. Kalau tak kotor dan tak bawa mudarat pada kesihatan kita, ambil dan satukan dengan nasi lainnya, sebagai tanda syukur kita”.
Habib muda mengangguk.
“Sebab itulah sebelum makan, kita diajarkan doa: Allahumma bariklana (Ya Allah berkatilah kami). Bukan Allahumma barikli (Ya Allah berkatilah aku), walaupun waktu tu kita makan sendirian.
“Lana” itu maknanya untuk semuanya:
Mulai petani, pedagang, pengangkut, pemasak sampai penyaji semuanya termaktub dalam doa tu. Jadi doa tu merupakan ucapan syukur kita serta mendoakan semua orang yang ada peranan dalam kehadiran nasi yang kita makan.”
“Dan kenapa dalam doa makan ada ayat: Waqina ‘adzaban nar (Jagalah kami dari azab neraka). Apa hubungan, makan dengan neraka pula?”
“Saya tak tahu,” jawab Habib muda.
“Begini. Kita makan ini hanya wasilah. Yang bagi kita ‘rasa kenyang’ adalah Allah. Kalau kita makan dan anggap yang bagi kenyang adalah makanan yang kita makan, maka takut itu akan menjatuhkan kita dalam kemusyrikan. Syirik! Dosa terbesar!”
“Astaghfirullahal‘adhim…” Habib muda, tak menyangka langsung makna doa makan sedalam itu.
• Catatan oleh Tuan Guru Maulana Habib Lutfi Bin Yahya, Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia
والله اعلم

24/08/2017 Posted by | Bicara Ulama, Fad hail Amal, Tazkirah | Leave a comment

TEBARKAN DAKWAH MESKIPUN DI SOSIAL MEDIA

Muslim yang bijak, setiap detiknya adalah sangat berharga. Hingga di sosial media pun, dia jadikan sebagai ladang amal dan pahala.
Jadikan TV, HP, Internet dan alat alat teknologi lainnya sebagai pelayan dan pembantu untuk Agamamu, jika tidak maka alat alat itu akan merusak dirimu, sedangkan engkau akan tertawa karena tidak menyadarinya. Ia hanya akan merusak hatimu, akalmu, akhlakmu dan pikiranmu tanpa engkau menyadarinya.

Manusia akan MATI kapanpun, tetapi tulisan akan kekal selama lamanya. Maka tulislah kata kata yang akan menyebabkan kita GEMBIRA di akhirat kelak.

~Habib Umar bin Hafidz~

(dari FB Yurdanii Zahrie)

18/08/2017 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah, Uncategorized | Leave a comment

Hairan dengan sesetengah golongan yang suka membawakan fatwa-fatwa yang bercanggah dengan apa yang telah dipegang oleh masyarakat tempatan 

(oleh Abdul Rahman Dan Zauja)

Hairan dengan sesetengah golongan yang suka membawakan fatwa-fatwa yang bercanggah dengan apa yang telah dipegang oleh masyarakat tempatan sedangkan masyarakat tempatan sudah ada pegangannya sendiri yang berlandaskan ulama yang muktabar. 

Kalau memang apa yang dipegang oleh masyarakat selama ni salah dan tiada sandaran, itu lainlah. Tapi kalau apa yang dipegang oleh masyarakat itu memang sudah muktabar, maka apa perlunya mereka bawa pendapat lain? Tidakkah mereka rasa bahawa tindakan mereka itu hanya akan membawa kepada kekeliruan kepada masyarakat?

Alasan mereka: nak ikut hadis sahih. Ya, memang hujah kamu hadis sahih, tapi apa yang masyarakat pegang selama ini dah cantik dah, ada sandarannya, ada ulama yang muktabar yang dijadikan rujukan, nak apa lagi? 

Sepatutnya, apa yang sudah sedia ada kita hargai, kita seru dan ajak masyarakat untuk amalkan apa yang sudah sedia ada (kerana pegangan yang sedia ada pun masyarakat tak amal!). Bukannya robohkan apa yang sudah sedia ada.

Contohilah seorang ulama India yang masyhur, Maulana Abdul Hayy al-Laknawi yang mana walaupun beliau seorang yang sangat alim dalam ilmu hadis dan mampu berijtihad mengeluarkan hukum sendiri sehingga kadangkala ijtihadnya bercanggah dengan mazhab Hanafi, namun beliau sama sekali tidak mengganggu pegangan yang sudah sedia ada di kalangan masyarakatnya pada ketika itu (sekiranya pandangan yang mereka pegang memang muktabar). 

Beliau pernah berkata:
ومن مِنَحِه تعالى أنه رزقني التوجه إلى فن الحديث وفقهه ، ولا أعتمد على مسألة ما لم يوجد لها أصل من آية أو حديث . وما كان خلاف الحديث الصحيح أتركه ، وأظن المجتهد فيه معذوراً ، بل مأجوراً ولكني لست ممن يشوش العوام الذين هم كالأنعام، بل أتكلم بالناس على قدر عقولهم

“Dan antara kurniaan Allah kepadaku ialah Dia memberikan aku kecenderungan terhadap ilmu hadis dan fiqh hadis dan aku tidak bersandar kepada sesuatu masalah selagi mana tidak dijumpai baginya dalil daripada Quran atau hadis. Dan apa yang bercanggah dengan hadis sahih, aku akan tinggalkan dan aku beranggapan bahawa mujtahid yang mengeluarkan hukum tersebut dimaafkan, bahkan diberi pahala. TETAPI AKU BUKANLAH DI KALANGAN ORANG YANG MENGGANGGU ORANG AWAM yang mana mereka adalah seperti haiwan, bahkan aku berbicara dengan mereka mengikut kadar akal fikiran mereka”
Lihat, orang yang mampu berijtihad sendiri pun tidak beriya-iya menerapkan ijtihad mereka kerana mereka faham, apa yang dipegang oleh masyarakat awam sudah muktabar, maka tidak ada keperluan untuk menerapkan pendapat lain (yang juga muktabar) kerana khuatir tindakan tersebut mengganggu orang awam.

Bahkan dalam salah satu laman web salafi yang bernama ‘islamqa’ yang diselia oleh ulama sanjungan mereka, Syeikh Muhammad Soleh al-Munajjed juga menyatakan:
ليس من الحكمة أن أفتي الناس بتقليد مذهب أبي حنيفة في بلاد المغرب التي يشتهر فيها المذهب المالكي الذي نشأ الناس عليه ، وتعلموا من فقهه وأحكامه ، فإذا ما قلد العامي هناك مذهبا آخر غير المشتهر ، فإنه غالبا ما يؤدي إلى إحداث النزاع بينه وبين مجتمعه ومحيطه ، خاصة في القضايا التي تتعلق بالحقوق والمعاملات ، كالزواج والطلاق والبيوع وغيرها .ففي جميع ما سبق نقول : الأولى تقليد علماء البلد ، ولا ننكر وجود الاستثناء في بعض الأحيان.

“BUKANLAH SUATU TINDAKAN YANG BERHIKMAH jika aku mengeluarkan fatwa mengikut mazhab Abu Hanifah kepada orang ramai di negara-negara barat (Morocco, Algeria, Tunisia dll) yang mana tersebarnya Mazhab Maliki di sana dan orang ramai membesar dengan mazhab tersebut dan mempelajari fiqhnya serta hukum-hakamnya. Maka apabila seorang awam di sana mengikuti mazhab lain yang tidak masyhur di sana, maka biasanya ia akan MEMBAWA KEPADA BERLAKUNYA PERBALAHAN antara dia dan masyarakatnya serta sekelilingnya, khususnya dalam isu-isu yang berkaitan dengan hak-hak, muamalat, pernikahan, talak, jual beli dan lain-lain. 

Maka berkenaan dengan perkara-perkara tersebut, kami katakan: adalah lebih utama mengikuti ulama tempatan dan kami tidaklah menafikan wujudnya pengecualian dalam sesetengah ketika (keadaan).
Justeru, kalau rasa rimas, bosan dengan keadaan para ustaz yang asyik berbalah berkenaan dengan perkara khilaf, maka ketahuilah bahawa puncanya ialah golongan yang disebutkan di atas.

Kalaulah masing-masing menghormati ulama tempatan dan mazhab tempatan, maka tidak akan berlaku perbalahan yang kita lihat pada hari ini. Sepatutnya kita dah boleh tumpukan isu-isu lain yang lebih besar, tapi sebab golongan sebegini masih wujud, maka akhirnya usaha-usaha dakwah kita terbantut, golongan yang memusuhi Islam pula seronok dan bertepuk tangan sebab ada ustaz-ustaz yang suka bawa perbalahan seperti ini. Gembira mereka.

Hasbunallahu wa ni’mal wakil…

02/08/2017 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Masih tak jumpa Guru Mursyid? Ini cara yg boleh membantu…..

Di zaman kita sekarang ini. Kita sangat-sangat kekurangan orang-orang yang boleh memimpin kita dengan baik. Maksudnya orang yang boleh menjadi Guru yang Mursyid kepada kita. Di zaman kita kekurangan!!! Bukan tidak ada. Ada!!! Tapi kekurangan. Di saat kita kekurangan atau sulit untuk mencari orang yang boleh dijadikan sebagai Syeikh yang Mursyid maka Para Ulama berpesan apa gantinya? Sekurang-kurangnya apa?

Daripada pengalaman rohaniah mereka berkata di zaman kekurangan Guru yang Mursyid ini ada dua yang boleh mengantikannya. Penganti yang walaupun tak sama dengan yang asal tapi sekurang-kurangnya boleh membimbing kita.

Apa dua perkara yang boleh menganti tempat Guru yang Mursyid untuk kita di akhir zaman ini iaitu:

1)Banyak mentelaah kitab-kitab yang dikarang oleh Imam Al-Ghazali Rahimahullah kerana Imam Al-Ghazali Rahimahullah menulis kitabnya dengan penuh ikhlas, tulus. Dengan airmata dan perasaan penuh kasih sayang kepada murid-muridnya dan kita semua.
Yang mana sangat sayang dengan kita, sangat sayang dengan masa depan kita untuk peluang yang baik untuk kita beramal. Begitulah bagi mereka yang membaca kitab-kitab karangan Imam Al-Ghazali Rahimahullah dengan hati kerana Imam Al-Ghazali Rahimahullah menulisnya dengan hati.

2)Memperbanyakkan selawat kepada Nabi ﷺ. Keutamaan selawat ini sangat banyak. Tidak perlu lagi kita pertikaikan. Mungkin cukup daripada pengalaman rohaniah sebahagian Para Ulama.

Apa sebabnya? Pertama Nabi kita bersabda “Barangsiapa yang berselawat sekali kepada aku maka Allah akan berselawat untuknya 10 kali.” Maksud selawat oleh Allah itu turunnya rahmat untuk kita.

Dalam surah Al-Ahzab Allah سبحانه وتعالى berfirman maksudnya “Itulah Allah yang menurunkan Rahmat-Nya kepada kamu.” Untuk apa? Untuk mengeluarkan kamu daripada kegelapan kepada cahaya, daripada tak tahu kepada tahu, daripada tak terbimbing kepada terbimbing kerana mendapatkan selawat daripada Allah iaitu rahmat daripada Allah سبحانه وتعالى. Jadi kedua-dua gandingan ini bolehlah mengantikan Guru yang Mursyid untuk memberi bimbingan kepada kita.

Sepertimana yang pernah dipesankan lagi oleh Tuan Guru Syeikh “Kita sekarang ini berada di penghujung zaman. Oleh kerana itu, janganlah kita menyombongkan diri kita, menjauhkan diri kita daripada duduk bersama dengan Para Ulama dan orang-orang soleh. Hadirlah ke dalam majlis ilmu kerana di dalamnya terdapat 1001 kebaikan yang pasti kita tidak dapat membelinya dengan harta kekayaan yang kita ada.

Sesungguhnya yang kita harapkan di dalam setiap detik kehidupan kita ini adalah mendapatkan keberkatan dari Allah سبحانه وتعالى. Tidak bermanfaat segala harta kekayaan yang kita miliki sekiranya kita hilangnya keberkatannya. Begitu jugalah dengan ilmu dan amal kita.
Tidak ada berkatnya segala ilmu yang kita pelajari kalau sekiranya kita tidak mengambilnya langsung daripada Para Ulama dan orang-orang soleh.”

#MutiaraKata[TUAN GURU SYEIKH AHMAD FAHMI ZAMZAM AL-BANJARI AN-NADWI AL-MALIKI HAFIDZOHULLAH]

Sumber FB: The Capal

29/07/2017 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

MENGAPA PERLU BELAJAR SIFAT 20

Ada sebahagian orang menentang pengajian Sifat 20, sedangkan ianya telah dipelajari sejak berpuluh tahun bahkan beratus tahun oleh ummat Islam.
Mereka yang menentang pengajian tersebut dengan pelbagai alasan, membawa hujah yang sangat lemah. Mereka hanya mengikut hawa nafsu, dan bertaklid buta dengan orang yang juga tidak mempelajari Ilmu Sifat 20. Malah mereka inilah pula yang menyesatkan pembelajaran Sifat 20.
Sebahagian dari alasan mereka yang menentang Sifat 20 adalah sebagai berikut:
1. Pengajian Sifat 20 melahirkan orang2 yang berakidah lemah, sebab diambil dari falsafah Yunani.
Kita JAWAB:
Hal ini merupakan fitnah yang amat besar. Kegoncangan dan kelemahan akidah generasi zaman sekarang adalah berpunca kerana mereka tidak belajar akidah yang sebenarnya termasuk di dalamnya pembelajaran Ilmu Sifat 20. Kalau kita lihat, realiti yang ada sekarang ini, bahkan Ilmu Sifat 20 inilah yang telah menyelamatkan ummat Islam di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, negeri2 Melayu Fathoni (Selatan Thailand) dari usaha permurtadan penjajah2 asing.
Negara2 ini telah dijajah oleh penjajah2 kafir yang ingin meluaskan kekuasaan dan agama mereka, tetapi ummat Islam di Nusantara tetap berpegang dengan akidah mereka. Barang diingat pengajian tauhid yang tiga (Tauhid versi Wahhabi) belum berkembang di Nusantara ketika itu. Jadi tauhid apakah yang menjaga ummat dari bahaya murtad? Sudah tentulah jawapannya ialah Tauhid Sifat Dua Puluh.
2. Akidah Tauhid Sifat 20 merupakan sesuatu yang sangat berat dikaji dan menyusahkan orang Islam, sehingga ada tuduhan yang menyebut makcik2 (Ibu-Ibu) di Langkawi (pulau di Malaysia) yang tidak laksanakan solat tujuh puluh tahun lamanya kerana tidak faham Sifat 20, sebab gurunya kata kalau tidak hafal Sifat Dua Puluh, solat tidak sah.
Kita JAWAB:
Sifat Dua Puluh merupakan sistem pengenalan terhadap ALlāh SWT yang sangat mudah sekali, kerana menghafalnya lebih mudah dari menghafal Al-Qur`an. Para Sahabat Rasul telah menghafal Al-Qur`an, jadi di dalam Al-Qur`an sendiri telah disebut Sifat2 ALlāh, dengan makna lain mereka telah menghafal Sifat2 ALlāh melalui Al-Qur`an. Jadi jika ummat Islam disuruh untuk menghafal Sifat 20 dengan dalil Naqli (Al-Qur`an dan Hadith) dan akal, itu lebih mudah dari menghafal seluruh Al-Qur`an.
Sifat2 ALlāh terlalu banyak sekali, baik yang disebutkan di dalam Al-Qur`an mahu pun di dalam hadith Rasul. Jadi jika ummat Islam disuruh menghafal seluruh Sifat2 yang ada, ini merupakan sesuatu yang memberatkan bagi ummat Islam. Sedangkan pengajian Sifat Dua Puluh memudahkan ummat Islam dengan menyebutkan Sifat2 yang paling berpengaruh dari seluruh Sifat2 yang lainnya.
Jika Sifat 20 ini tidak ada, maka Sifat2 yang lain pun tidak akan ada pula, sebab itulah Sifat2 ALlāh yang lain itu tergantng kepada Sifat 20, dengan makna jika Sifat Wujud ALlāh tidak ada maka Sifat Pengampun, Pemurah, Penyayang dan lain2-nya juga tidak ada. Jika Sifat Qidam ALlāh tidak ada maka sifat menciptakan, memberi, kuat dan lain2-nya juga tidak akan ada.
Sebab itulah Sifat Dua Puluh ini sangat perlu dipelajari, kerana ia terdiri dari inti sari akidah yang terdapat di dalam Al-Qur`an dan al-Hadith.
Adapun cerita kononnya ada seorang perempuan tidak solat selama tujuh puluh tahun disebabkan tidak hafal Sifat 20, maka itu adalah cerita rekaan yang diragui dan sengaja diada2kan.
ALlāh Ta’āla berfirman:
إن جاء كم فاسق بنبإ فتبينوا
Maksudnya: “Jika datang kepada kamu orang fasik yang membawa khabar hendaklah diteliti dahulu.”
Dalam ertikata lain, cerita yang dibawa oleh orang tersebut perlu diteliti benar atau tidaknya. Dari sebanyak pengalaman dan pengetahuan; tidak pernah ada orang tinggalkan solat disebabkan sukar mempelajari Sifat 20, alasan di atas adalah cerita dusta yang berlebihan. Jika mahu bercerita, ceritalah perkara yang masuk akal dan yang benar, sebab lidah itu akan disoalkan oleh ALlāh di hari Akhirat kelak.
Kita akan sebutkan sebahagian pusat pendidian yang menjadikan Pengajian Sifat 20 sebagai dasar di dalam Ilmu Tauhid mereka, antaranya:
1. Al-Azhar asy-Syarif Mesir:
Dari peringkat Menengah, atas dan perkuliyahan, Sifat Dua Puluh dipelajari di lembaga pendidikan yang tertua ini, mengeluarkan setiap tahunnya ribuan pelajar dan mahasiswa, tetapi mereka tetap solat walaupun mengaji Sifat 20.
2. Madrasah Solatiyah:
Merupakan pusat pengajian yang pertama sekali dibina di Mekah menjadikan dasar pengajiannya Sifat 20, mereka semua solat dengan bagus walapun mengaji Sifat 20.
3. Madrasah Mustafawiyah Purba Baru Mandailing Sumatra Utara:
Merupakan pusat pendidikan yang sangat terkenal di Indonesia, mengeluarkan setiap tahun, lebih dari tujuh ratusan pelajar, mereka semua solat walaupun mempelajari Sifat 20 sama ada yang sudah hafal atau belum.
Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Tebu Ireng, Pondok Lubuk Tapah (Malaysia), Pondok Bakriyyah Pasir Putih dan banyak lagi pondok dan pesantren yang mempelajari Ilmu Sifat Dua Puluh di Nusantara.
Bahkan, mereka yang mempelajari sistem Tauhid Tiga Serangkai (versi Wahhabi ) kebanyakannya mudah terjerumus kepada akidah Mujassimah yang menyerupakan ALlāh dengan makhluk-Nya. Sebab itulah Wahhabi bersusah payah untuk menghapuskan Tauhid Sifat Dua Puluh.
Selama masih ada di bumi ini orang yang mempelajari Ilmu Tauhid Sifat Dua Puluh, selama itulah Wahhabi akan mengakui diri mereka Salafi iaitu golongan Mujassimah Musyabbihah.
3. Sifat Dua Puluh tidak ada pada zaman RasūluLlāh ﷺ dan para Sahabat yang mulia, tetapi ianya ada setelah abad2 yang terkemudian dari itu.
Kita JAWAB:
Tidak adanya Sifat Dua Puluh pada zaman Rasul dan para Sahabat, bukanlah sebagai dalil untuk menolak pengajian Sifat Dua Puluh, sebab isi dan kandungan Sifat Dua Puluh sudah pun ada pada zaman Nabi ﷺ dan para Sahabat, misalnya Sifat Wujud ALlāh, Qidam, Baqa’, Mukhalafatu Lil Hawadis, Qiyamuhu Binafsih, Wahdaniyyah, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kalam adalah Sifat2 yang dikenal oleh Nabi ﷺ dan para Sahabat radhiyāLlāhu ‘anhum.
Barangsiapa yang mengingkari bahawa Nabi ﷺ mengetahui Sifat2 ini bererti akidahnya telah jauh dari akidah Islam. Bagaimana boleh Nabi ﷺ mengingkari Wujud-nya ALlāh, Ilmu-nya ALlāh, Baqa`-nya ALlāh, Kalam-nya ALlāh, Sifat2 ini telah termuat di dalam Al-Qur`an dan Hadith Nabi.
Seperti Rukun Solat, Nabi ﷺ tidak pernah katakan berapa rukun solat, berapa sunnah2 solat, berapa syarat2 solat, tetapi melalui Al-Qur`an dan Hadith para ulama yang telah menyimpulkan dan menetapkan rukun2 solat dari mulai berdiri sampai salam, apakah perbuatan ulama2 tersebut suatu yang bid`ah?
Hal seperti ini bukannya bid`ah kerana isi dan kandungannya adalah dari Al-Qur`an dan as-Sunnah.
Kita akan bariskan seluruh Sifat yang telah ulama sebutkan sebagai Sifat yang paling penting yang ALlāh miliki. Ibaratnya jika ALlāh tidak bersifat seperti itu maka ALlāh tidak layak menjadi Tuhan, tetapi kerana dalil naqli dan akal telah menyebutkan ALlāh bersifat dengan dua puluh sifat maka sahlah ALlāh sebagai Tuhan yang wajib disembah.
Berikut adalah beberapa Sifat yang sangat penting, iaitu:
1. WUJUD
Sifat Wujud ini mesti ada pada tuhan yang disembah. Jika tidak ada, maka dia tidak berhak dianggap Tuhan, sementara dalil yang dipetik dari Al-Qur`an adalah:
أفرءيتم ما تمنون ( 58 ) وأنتم تخلقونه أم نحن الخالقون ( 59 ) نحن قدرنا بينكم الموت وما نحن بمسبوقين ( 60 ).الواقعة 58-60
Maksudnya: “Tidakkah kamu memikirkan keadaan air mani yang kamu pancarkan (ke dalam rahim)? ( 58 ) Adakah kamu yang menciptakannya atau Kami yang menciptakannya? ( 59 ) Kami-lah yang menentukan kematian di antara kamu, dan Kami tidak sekali-kali dapat dikalahkan atau dilemahkan ( 60 ).
2. QIDAM
ALlāh SWT bersifat Qadim yang maksudnya wujud ALlāh SWT tidak didahului oleh tiada, jika sesuatu didahului oleh tiada maka sesuatu itu tidak boleh dianggap sebagai Tuhan.
Dalilnya:
هو الأول وهو الآخر
Maksudnya: “Dia-lah yang Awal dan yang Akhir.” (Al-Hadid: ayat. 3).
Sifat ini banyak dikritik oleh golongan Wahhabi. Mereka menganggap bahawa Qadim bukan Sifat ALlāh kerana tidak terdapat di dalam Al-Qur`an.
Tidak semestinya jika Al-Qur`an tidak menggunakannya untuk Sifat ALlāh bererti tidak boleh digunakan. Selagi maksud sifat itu terdapat di dalam Al-Qur`an dan telah menjadi istilah yang diterima oleh ulama maka sifat itu boleh digunakan, sebab Imam Abu Hanifah, Imam Tohawi dan lain2-nya juga menggunakan kalimah sebagai Sifat Tuhan.
Sifat Qidam juga telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Imam al-Hakim di dalam Mustadrak. Juga terdapat di dalam Sunan Abu Dawud.
3. BAQA’
Wajib bagi ALlāh bersifat Baqa` yang bererti tetap tidak diakhiri dengan kematian, ALlāh berfirman:
ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام
Maksudnya: “Dan kekallah Dzat Tuhan-mu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: ayat. 27)
4. MUKHOLAFATUHU LIL HAWAHITH
– مخالفة للحوادث
Sifat ini merupakan Sifat yang paling penting untuk difahami. Ia bererti bahawa segala sifat, perbuatan, dan prilaku yang baharu tidak boleh disamakan kepada Dzat, Sifat, dan Af’al (perbuatan) ALlāh. Barangsiapa yang mengingkari Sifat ini maka dia telah terkeluar dari agama Islam. Jadi ALlāh tidak sama dengan makhluk-Nya.
Firman ALlāh:
ليس كمثله شيئ وهو السميع البصير
Maksudnya: “Tiada sesuatu pun yang sebanding (serupa) dengan (Dzat, Sifat, perbuatan)-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat (As-Syura: ayat. 11).
Selanjutnya seluruh Sifat yang ulama2 al-Asya`irrah telah kemukakan di dalam Ilmu Sifat Dua Puluh memiliki dalil2 yang jelas di dalam Al-Qur`an.
4. Sifat ALlāh tidak hanya dua puluh kenapa mesti dibatasi?
Kita JAWAB:
Al-Asya`irrah ketika membincang Sifat Dua Puluh TIDAK PERNAH membataskan Sifat2 ALlāh, bahkan mereka mengakui Sifat ALlāh itu banyak. Setiap Sifat yang sempurna dan mulia itu adalah Sifat ALlāh.
Orang yang mengatakan al-Asya`irrah hanya mengajar dua puluh sifat sahaja membuktikan dia tidak pernah membaca buku2 akidah aliran Ahlus Sunnah al-Asya`irrah. Cuba lihat sebahagian kitab2 al-Asya`irrah:
a – Matan as-Sanusiyyah:
Kitab ini dikarang oleh Imam Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Yusuf as-Sanusi yang meninggal dunia tahun 895 Hijrah, kitab ini merupakan kitab yang paling penting di kalangan al-Asya`irrah, telah mendapat perhatian khusus dari kalangan ulama dan pelajar agama, sehingga menjadi rujukan akidah bagi golongan al-Asya`irrah sedunia.
Di dalamnya menyebutkan:
فمما يجب لمولانا جل وعز عشرون صفة
Maksudnya: “Sebahagian Sifat yang wajib bagi ALlāh Yang Mulia dan Tinggi adalah Dua Puluh Sifat (Matan Sanusiah beserta Hasyiahnya Imam Bajuri: 16, terbitan Musthafa Halabi, 1374 – 1955).
b – ad-Duru al-Farid Fi Aqa`idi Ahli Tauhid karangan Imam Ahmad ibn Sayyid Abdurrahman an-Nahrawi
فمما يجب لله تعالى عشرون صفة واجبة
Maksudnya: Dan sebahagian dari Sifat yang wajib bagi ALlāh adalah Dua Puluh Sifat yang wajib (ad-Duru al-Farid Fi Aqa`idi Ahli Tauhid karangan Imam Ahmad bin Sayyid Abdurrahman an-Nahrawi beserta syarahnya Fathu al-Majid karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani: 5, terbitan Musthafa al-Halabi cetakan terakhir (1373 -1954).
Perlu diketahui bahwa lafaz ( من ) pada kalimat ini bermaksud ( لتبعيض ) ertinya menunjukkan sebahagian sahaja, dengan begitu Sifat ALlāh banyak sekali, segala sifat yang patut, layak, dan mulia adalah Sifat ALlāh, tetapi di antara Sifat2 itu Dua Puluh Sifat yang sangat perlu sekali diketahui secara terperinci.

Jom Belajar Sifat 20.

Oleh: Syeikh Muhammad Husni Ginting.

Institute of Traditional Islamic Studies

24/07/2017 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

JAGA HATIMU SEBAIKNYA, MANFAATKAN TEKNOLOGI UNTUK KEBAIKAN

Jangan kita mengatakan dan menyebarkan sesuatu perkara yang kita sendiri tidak pasti dengan menulisnya di facebook, whatsapp, youtube dan sebagainya. 

Menyebarkan fitnah komen sana sini mengatakan ini tidak boleh, tidak betul yang kita sendiri tidak pandai tidak mempunyai ilmu mengenainya yang akhirnya akan mengotorkan hati kita.

Jangan kita menghakimi niat seseorang itu dengan mengatakan dia berpura-pura sahaja berlakon, riak dan sebagainya. Walaupun dia mempunyai niat yang tidak baik sekalipun. Jangan kita menghakiminya sebaliknya itu urusannya dengan Allah Jalla Wa’Ala bukannya kita mengetahui apa yang berada di dalam hatinya.

Sepertimana suatu kisah yang berlaku pada Para Sahabat yang mana Nabi kita menegur seorang Sahabat yang telah membunuh seorang musuh ketika dalam peperangan yang telah mengucapkan kalimah syahadah sehingga Nabi kita mengatakan “Apa kamu membelah hatinya agar kamu mengetahui dia berkata benar ataupun tidak.”

Kalau pakaian kita kotor mesti kita akan membersihkannya, membasuhnya sehingga bersih bukan? Yang lebih penting hendaklah kita bersihkan badan kita daripada dosa, bersihkan badan kita daripada noda, mata kita, telinga kita, mulut kita, pendengaran kita dan anggota badan kita yang lain. Kita bersihkan kenapa?

Sebab itu lebih mustahak. Kalau pakaian kita bersih cantik, harta benda banyak bukan itu yang akan diperjawabkan kepada kita tetapi yang akan diperjawabkan di hadapan Allah Jalla Wa’Ala kelak adalah apa yang kita buat dengan anggota badan kita. Adakah kita melakukan dosa dan maksiat ataupun melakukan kebaikan?

Kalau kita sayang dengan kereta kita patutnya kita lagi sayang dengan ibadah kita. Kalau kita sayang dengan harta benda kita maka kita sepatutnya lagi sayang dengan pahala kita. Jadi berwaspadalah dengan menjaga hati dan anggota badan kita. Terowong ke dalam diri kita apakah yang kita lakukan?

Adakah kita menggunakan facebook dan sebagainya untuk mencemarkan kebaikan dan pahala kita dengan menghentam orang sana sini dan menyalahkan orang lain?

Sebab itu ciri-ciri seorang mukmin yang sejati itu adalah mereka yang:

1)Matanya melihat dengan iktibar.

2)Telinganya mendengar apa yang berfaedah.

3)Mulutnya bercakap dengan hikmah.

4)Tangannya berbuat yang bermanfaat.

5)Kakinya melangkah ke tempat ibadah.

#MutiaraKata[TUAN GURU SYEIKH MUHAMMAD NURUDDIN MARBU AL-BANJARI AL-MAKKI HAFIDZOHULLAH]
#thecapal FB: The Capal

23/07/2017 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Ilmu jangan dibuat macam pakaian.

Pakaian bukan sebahagian dari tubuh kita. Sekejap kita pakai dan sekejap kita buka.
Itu sebabnya, sesetengah orang kalau bercakap tentang Islam di atas pentas, dalam forum atau ceramah, dalam radio atau televisyen, kita kagum dengar apa yang mereka perkatakan.
Keluar daripada mulut mereka berbagai-bagai istilah Islam yang hebat-hebat seperti iman, taqwa, muqarrobin, siddiqin, muhasabah, musyahadah, muraqobah, murabahah, tawadhuk, khusyuk, khuduk dan sebagainya.
Tetapi apabila turun dari pentas dan dalam hidup seharian, cakap-cakapnya sudah jadi lain. Bila berjumpa dia di kedai, dia cakap pasal politik.
Bila berjumpa di restoran dia cakap pasal main bola.
Bila berjumpa di pejabat, dia cakap pasal gaji dan elaun. Cakap pasal pinjaman membeli rumah dan pinjaman membeli kereta. Cakap pasal naik pangkat. Cakap-cakap Islam sudah tidak ada lagi.
Bila naik ke pentas semula, mula balik cakap pasal Islam. Maka keluarlah semula semua istilah-istilah Islam yang hebat-hebat.
Orang berilmu sentiasa menjadi perhatian masyarakat. Baik orang berilmu, baiklah masyarakat. 

(Oleh Ustaz Iqbal Hamzi MdAnuar)

17/07/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

BILA LAGI KITA NAK KE MASJID?

Tiap langkah menuju ke tempat ibadah, tiap langkah menuju ke masjid akan mendapatkan, akan mewariskan 3 kemuliaan iaitu:
1)Dosa kesalahan yang dihapus.

2)Diberikan pahala daripada Allah.

3)Martabat dan darjat diangkat oleh Allah.

Ini dengan Penghulu Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul iaitu Sayyiduna Rasulullah ﷺ bukan setakat bercakap, bukan setakat menyampaikan, memberikan panduan dan bimbingan kepada Para Sahabat tetapi justeru Nabi kita praktikkan.

Nabi kita orang yang pertama yang menunjukkan keseriusan Baginda ﷺ dalam melaksanakan ubudiyah dan ketaatan kepada Allah Jalla Wa’Ala. Dalam beberapa waktu tak boleh bergerak. Sakit tenat, sakit teruk ternyata itu tidak menghalang Nabi kita untuk datang ke masjid. Yang seperti apa keadaannya. Sehingga pernah Nabi kita dipapah oleh 2 orang Sahabat untuk menuju ke masjid.

Kenapa? Sebab dengan keyakinannya yang kental, dengan keyakinan yang tidak ada tandingannya. Tidak pernah sesekali Nabi kita terlepas untuk melaksanakan sembahyang fardhu secara berjemaah di masjid semasa sihatnya. Sihat ataupun juga sakit seperti apa pun tetap Nabi kita akan berusaha untuk pergi ke masjid.

Cuba kita tanyakan kepada diri peribadi kita masing-masing. Kalaulah seandainya pada waktu kita muda dan sihat sahaja kita tidak langsung ada perasaan, keinginan untuk ke masjid. Susah untuk nak sembahyang di masjid. Susah nak hadir dengar majlis ilmu. Agak-agaknya pada waktu kita tua dan sakit nanti senang tak kita nak ke masjid?

Pada waktu itu kemampuan kita pun sudah terbatas. Tulang-tulang, sendi-sendi kita tidak kuat mana. Tak boleh duduk lama-lama mana. Sakit semuanya. Mata kita, penglihatan kita pun sudah kurang pandangannya, kabur-kabur jadinya. Telinga kita, pendengaran kita pun sudah tak jelas mana. Ingatan kita pun sudah tidak kuat mana. Semuanya sudah terbatas!! Jadi masjid ini bukannya tempat untuk kita pergi bila kita dah tua, bila kita dah pencen, bila kita dah sakit, bila kita dah tak ada nak buat apa-apa. Tak!!!!

Tidak kira yang tua ataupun juga muda. Tidak kira kaya ataupun juga miskin. Masjid ini adalah tempat untuk kita semua beribadah. Tempat untuk kita meraih rahmat Allah, limpahan anugerah, kurniaan pengampunan daripada Allah. Tempat untuk mengabdikan diri kita, ubudiyah kita kepada Allah Jalla Wa’Ala untuk kita mencari, meraih dan mendapatkan keredhaan Allah Jalla Wa’Ala.

Jadi jangan sampai hati kita terhijab langsung tidak nampak akan kebesaran Allah. Hati kita terhalang, terhijab, tertutup daripada melihat akan keindahan Rumah Allah. Kaki kita tidak dapat digerakkan, menjadi kaku untuk menuju ke Rumah Allah.

Tak akan kita boleh untuk pergi jauh selain ke masjid sehingga kita mampu pergi ke seluruh dunia untuk bercutinya ataupun juga untuk ke kenduri kahwinnya ataupun juga untuk ke kenduri kesyukurannya ataupun juga hari ulangtahunnya ataupun juga majlis-majlis seumpamanya tapi ternyata kita tidak boleh mengerahkan tenaga dan juga menggunakan kemudahan yang Allah bagikan untuk kita datang ke Rumah Allah Jalla Wa’Ala.

Kalau kita tidak datang ke tempat kenduri kahwin, ke tempat saudara kita, kawan kita mengadakan kenduri kesyukurannya ataupun juga perasmian satu syarikat ataupun juga sesuatu majlis yang diadakan di situ. Itu tidak mendatangkan masalah kepada kita. Kenapa? Sebab ada di antaranya itu adalah semata-mata kerana urusan duniawi.

MashaAllah Tabarakallah!!! Sementara dengan kita datang menuju ke Rumah Allah Jalla Wa’Ala untuk melaksanakan sembahyang 5 waktu, untuk kita duduk beriktikaf, duduk baca Quran, duduk berzikir, duduk untuk berada di dalam majlis ilmu mendengarkan kata-kata nasihat dan mendapatkan panduan dan bimbingan di dalam agama.

Itu semua justeru adalah bekalan yang akan kita bawa bersama kita ke dalam kubur. Yang juga bekalan yang akan bersama kita pada waktu kita di Hari Akhir dihimpunkan di Alam Mahsyar. Bekalan kita untuk kita menyeberangi Siratul Mustaqim pada waktu kita untuk masuk ke dalam Syurganya Allah Jalla Wa’Ala.

Kenapa itu tidak kita fikirkan? Kerana yang tidak ada pada diri kita pada sekarang ini bukan duitnya, bukan politiknya, bukan kesejahteraannya, bukan kemampuannya. Semuanya itu ada kita ada bahkan lebih daripada cukup cuma yang kita tidak miliki itu adalah keyakinannya sehingga kita tidak merasa yakin dengan balasan-balasan daripada Allah Jalla Wa’Ala, kita tidak menyakini dengan janji-janji yang dijanjikan oleh Allah Jalla Wa’Ala melalui apa yang disampaikan melalui lisannya Sayyiduna Rasulullah ﷺ.

#MutiaraKata[TUAN GURU SYEIKH MUHAMMAD NURUDDIN MARBU AL-BANJARI AL-MAKKI HAFIDZOHULLAH]

#thecapal

FB: The Capal
— with Hareem Najma and Kurniakhadijah

17/07/2017 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Punca kebanyakan masalah manusia

(Oleh Ustaz Pahrol Mohamad Juoi)

Punca kebanyakan masalah manusia ialah sifat takbur dan hasad. Takbur kerana merasa dirinya lebih baik dan menghina orang lain. Hasad kerana tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat dan ingin nikmat itu hilang daripada orang itu.
Iblis jadi takbur, apabila mempersoalkan mengapa Adam yang terpilih untuk dihormatinya sedangkan dia merasakan dirinya lebih baik kerana diciptakan dari api.
Dan Iblis hasad terhadap Adam yang dilantik menjadi khalifah sehingga dia derhaka kepada Allah yang ditaatinya sekian lama.
Iblis bukan tidak kenal Allah, bahkan dia begitu lama dan banyak beribadah, tetapi kerana takbur dan hasad akhirnya dia derhaka jua kepada Allah.
Ada ‘keredhaanNya’ yang diletakkan Allah pada Adam untuk diraih oleh Iblis. Iblis hanya perlu sujud hormat tetapi dia tetap enggan kerana lebih rela sujud kepada takbur dan hasadnya.
Sekiranya Iblis rela sujud kepada Allah kerana cintanya kepada Allah tentu dia diredhai. Malang…takbur mengatasi cintanya. Takburnya kepada Adam lebih besar daripada cintanya kepada Allah.
Begitulah…ibrahnya. Jika ada cinta walau sebesar mana, tetapi jika takbur dan hasad di jiwa lebih besar daripadanya, maka cinta itu akan lebur dan terkubur jua!

17/07/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Cara meninggalkan kejahatan

(Oleh Pahrol Mohamad Juoi)

Cara meninggalkan kejahatan ialah dengan lebih fokus melakukan kebaikan. Sering dipesankan, buatlah kebaikan sehingga kita penat untuk melakukan maksiat. Kejahatan terjadi kerana banyak masa dan tenaga yang tidak digunakan untuk melakukan kebaikan!

Tegasnya, cara meninggalkan kejahatan ialah dengan melakukan kebaikan. Di situlah letaknya hikmah para Syeikh yang meminta salik (murid) membanyakkan zikrullah dalam proses bermujahadah melawan nafsunya.

Cara mengurangkan masa menggunakan talipon bimbit ialah dengan membaca Al Quran.

Cara meninggalkan mengumpat ialah dengan berzikir dan berdakwah.

Cara mengusir buruk sangka kepada seseorang ialah dengan mendoakannya.

Cara menghilangkan rasa benci dan marahkan seseorang ialah dengan memaafkannya.

Cara mengusir kesedihan diri ialah dengan menggembirakan orang lain.

17/07/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

JANGAN KAMU TINGGALKAN WIRID SELEPAS SEMBAHYANG FARDHU

Jangan kita cacatkan, rugikan amal ibadah kita yang mana dalam sembahyang kita disunatkan mengangkat tangan pada 4 tempat tapi kita tak buat.
1)Tempat pertama diwaktu takbiratul ihram.

2)Pada waktu kita akan rukuk. Jangan langsung kita turun ke bawah rugi kita.

3)Angkat tangan pada masa i’tidal.

4)Kita akan angkat tangan kita diwaktu kita bangkit daripada tasyahud awal atau daripada rakaat kedua menuju rakaat ketiga.

Setiap kali selepas sembahyang fardhu. Jangan sesekali kita lupa untuk baca wirid yang dimulai dengan istighfar sekurang-kurangnya 3 kali. Setelah itu sebelum mengubah duduk iftirasy ataupun duduk tahiyat akhir kepada duduk biasa.

Jangan lupa untuk membaca “Laa Ilaha Illallaahu Wahdahuu Laa Syarikalah, Lahul Mulku Wa Lahul Hamdu Yuhyii Wa Yumiitu Wahuwa Alaa Kulli Syai’in Qadiir.”

Secara sunnahnya 10 kali selepas maghrib dan juga selepas subuh yang dengan balasannya itu adalah perlindungan, pemeliharaan, kita akan mendapat pagar, jati diri daripada godaan syaitan yang terkutuk, terelak dari diri kita daripada godaannya dan terjaga diri kita sepanjang waktu.

Kita nak balasan yang dijanjikan oleh Nabi kita dengan membaca “Allahumma Ajirni Minan Naar.”

Secara sunnahnya sebanyak 7 kali setiap kali selepas maghrib dan juga selepas subuh maka yang saat seseorang itu meninggal dunia pada hari itu maka Allah akan bebaskan dirinya daripada Api Neraka.

Akan ditulis kebebasan dirinya daripada Api Neraka dibaca diwaktu subuh kalau dia meninggal di siang harinya. Dibaca selepas maghrib kalau dia meninggal pada malam harinya kebebasan diri daripada Api Neraka itu sudah kita dapatkan.

Kemudian ketika nak dibaca “Allahumma Antas Salaam Wa Minkas Salam Wa Ilayka Ya ‘Udussalam Fahaiyina Rabbana Bissalam Wa Adkhilnal Jannata Daaras Salaam Wa Tabaarakta Rabbanaa Wa Ta’aalaita Yaa Dzaljalaali Wal Ikraam.”

Barulah Imam dibenarkan untuk mengubah kedudukan posisi duduknya mengadap separuh badan ke kanan ataupun juga mengadap sepenuhnya badannya ke arah makmum. Manakala makmum tetap terus mengadap ke arah kiblat.

Setelah itu barulah kita membaca surah Al-Fatihah dan ingatlah jangan kita malas, lupa dan tak nak untuk membaca Ayatul Kursi setiap kali selepas sembahyang fardhu kerana kelebihannya yang besar. Ayat Kursi ini adalah tiket kita untuk nak masuk Syurga. Menurut riwayat hadis “Tiada apa yang dapat menghalangi orang yang membacanya untuk masuk Syurga kecuali mati.”

Kemudian dibaca selepas itu tasbih (Subhanallah 33 kali), tahmid (Alhamdullilah 33 kali) dan takbir (Allahu Akbar 33 kali). Janganlah kita malas untuk nak mengira bilangan tasbih 33 kali tahmid 33 kali dan takbir 33 kali. Kalau kita ikut Imam dan imam tidak membacanya cukup bilangannya. Bererti kita sudah mengalami suatu kerugian yang sangat besar. 1 ucapan subhanallah itu lebih berat daripada dunia dan seisinya.

Jadi jangan sampai kita rugi di situ kerana kita malas untuk nak membacanya, malas untuk nak mengiranya. Jadi semuanya 99 kali jumlahnya yang mesti kita baca setiap kali setiap selesai sembahyang fardhu kita.

Kemudian dibaca “Allahu Akbar Kariiran Wal Hamdulillahi Katsiiran Wasubhaanallaahi Bukratan Wa Ashiilaa. Laailaaha Illallaahu Wahdahuu Laa Syariikalah Lahul Mulku Wa Lahul Hamdu Yuhyi Wa Yumiitu Wa Huwa Alaa Kulli Syai’in Qadiir.”

Bagaimana kira-kira kalau kita tak dan membacanya? Bagaimana kira-kira kalau imam tidak memimpin kita untuk membacanya? Bererti itu merugikan kita. Rugi besar bukan setakat dengan lamborghini, bukan setakat dengan sebuah banglo, bukan hanya setakat dengan harta yang mewah tetapi dunia dengan segala isi-isinya kerugian yang menimpa kepada kita masih belum mampu membayar kerugian yang saat ketika kita tidak mengikuti pedoman sunnah yang disunnahkan oleh Baginda Rasulullah ﷺ.

Kalau saat ketika waktu solat dan selepas solat pun kita tak mampu untuk nak luangkan sedikit waktu kita untuk berzikir ingat kepada Allah. Agak-agaknya waktu bilakah kita akan ingat kepada Allah? Bila dah diluar solat agak-agak kita ingat Allah ataupun tidak?

#MutiaraKata[TUAN GURU SYEIKH MUHAMMAD NURUDDIN MARBU AL-BANJARI AL-MAKKI HAFIDZOHULLAH]

#thecapal

FB: The Capal

17/07/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Bahaya ilmu agama tanpa talaqqi

Mempelajari ilmu agama dan menyampaikannya merupakan salah satu perkara yang terpuji di dalam Islam. Namun, di sana ada segelintir remaja-remaja Islam yang terlalu bermudah-mudahan dalam mengambil dan menyampaikan ilmu agama.

Mereka mengambil apa sahaja yang ada hadapan mata bersumberkan media cetak seperti buku-buku dan ada juga yang mencedok secara langsung daripada Internet melalui Google ataupun Youtube tanpa merujuk kepada para-para ulama.

Tidak cukup dengan itu, mereka mula menjebakkan diri dengan kumpulan-kumpulan kecil atau lebih sinonim dengan nama ‘usrah’ yang dibuat atas dasar dakwah.

Kebiasaannya, remaja-remaja yang terjebak dengan kumpulan ini dipaksa untuk membawa al-Quran terjemahan untuk ditafsir dan disyarah mengikut hawa nafsu sendiri tanpa disandarkan kepada terjemahan ulama-ulama muktabar.

Hasilnya, begitu banyak penyelewangan yang dilakukan oleh mereka. Antaranya ialah, mensifatkan Allah Taala dengan sifat yang tidak layak baginya seperti sifat emosi dengan berkata “Allah Taala rindu kepada hambanya”.

Perkara ini jelas bertentangan dengan aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah yang mensucikan Allah Taala daripada segala sifat makhluk.

Lebih parah, ada sebahagian naqib (ketua usrah) menafsirkan al–Quran tanpa ilmu.

Sebagai contoh, pada surah al-Baqarah, ayat 191 dengan tafsiran “Fitnah itu lebih besar dosanya daripada membunuh”.

Lalu, sebahagian daripada mereka memberi tafsiran bahawasanya jika ada dua kelompok manusia yang tersebar pada mereka fitnah (yang difahami dengan maksud penipuan atau kerosakan antara dua pihak), maka akan terjadilah pembunuhan beramai-ramai.

Tafsiran yang sempit dan dangkal ini jelas bertentangan dengan tafsiran ulama-ulama muktabar seperti Imam Fakhruddin al-Razi yang telah menukilkan dalam Tafsir al-Kabir bahawasanya yang dikehendaki dengan makna fitnah itu dengan makna kekufuran kepada Allah Taala.

Kesimpulannya, tidak salah untuk menyertai usrah. Akan tetapi, pastikan terlebih dahulu usrah tersebut dipimpin para nuqaba yang benar yang mengambil ilmu secara bertalaqqi dan bersanad supaya apa yang disampaikan itu bukanlah daripada buah fikiran mereka bahkan ia diambil oleh mulut-mulut para ulama.

Selain itu, naqib yang bagus adalah yang mengutamakan ilmu yang wajib iaitu ilmu fardhu ain.

Ramai remaja Islam yang jahil tentang ilmu ini tetapi menyangka diri mereka sudah alim kerana telah selesai belajar sewaktu di sekolah walhal apabila ditanya tentang asas-asas aqidah, perkara-perkara berkaitan feqah seperti rukun-rukun solat, maka mereka tidak mampu menjawabnya.

Sebaiknya, para nuqaba hendaklah mempelajari ilmu ini walaupun dengan mengkhatamkan satu kitab dan mengajarkannya kepada rakan-rakan yang lain.

Akhir sekali, ditegaskan bahawasanya cara yang sebenar dalam menuntut ilmu ialah dengan bertalaqqi kerana ia bukan hanya menjamin ketulenan ilmu yang disampaikan malah rantaian sanad yang menghubungkan di antara guru dengan guru sehinggalah ke atas, secara tidak langsung menjadi medium pengaliran keberkatan dari generasi terdahulu kepada generasi terkemudian.

oleh Aliff Zahari

(Artikel ini adalah pandangan peribadi penulis dan tidak semestinya mencerminkan pendirian rasmi Malaysiakini).

06/07/2017 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

SUKAKAH KAMU DIKENCING OLEH SYAITAN?

Solat yang paling afdal setelah solat wajib adalah solat malam yakni solat tahajud ataupun solat yang mana dilakukan pada waktu malam hari. Syaitan mengikatkan simpul di belakang badan seseorang jika ia tidak bangun mengerjakan solat malam.
Diriwayatkan daripada Saidina Abu Hurairah Radhiyallahu’Anhu. Rasulullah ﷺ bersabda “Pada saat kamu tidur, syaitan mengikatkan 3 simpul pada bahagian belakang kepalamu.” Pada setiap simpul itu dibacakan kata-kata berikut yakni mantera/jampi syaitan. Macam mana diikatkan? Dengan apa diikatkan?

Bomoh itu tukang sihir itu bilamana ingin melakukan sihir ia akan meletakkan sesuatu dan diikat. Lebih kurang itu syaitan jampinya. Syaitan mengikat sesuatu yang ikatan itu adalah simpul kepada sesuatu yang diikat akan menjadi ketat yang di dalam tak boleh keluar dan yang di luar tak boleh masuk.

Diikatkan di belakang kepala supaya otak berfikir malam masih panjang maka diikat. Kalau malam panjang tidurnya lagi panjang juga. Tak cukup 1 ikatan di bagi lagi 2 ikatan lagi yang mana setiap ikatan itu dikatakan panjang lagi waktu malam, masih panjang diikat.

Itu adalah bisikan syaitan yang mana perkara ikatan syaitan adalah simbolik kepada usaha syaitan menganggu bisikan melalui belakang kepala yang mana merupakan tempat, bahagian penting manusia.

Kata Baginda Rasulullah ﷺ “Syaitan mengikatkan 3 simpul di bahagian belakang kepala. Di setiap simpul dibacakan malam masih panjang maka teruskanlah tidur kamu.” Yakni bilamana kita nak bangkit, kita terasa lamanya nak masuk waktu subuh jadi kita baring balik sehingga kita tak sedarkan diri dan kita bangkit waktu dah azan maka dah terlepas untuk solat malam.

Baginda Rasulullah ﷺ
mengajar kita cara untuk membuka 3 ikatan sampul syaitan ini.

1)Apabila kamu bangun mengingati Allah dan membaca doa bangun tidur maka simpul pertama lepas.

2)Apabila orang itu berwudhuk maka simpul kedua lepas.

3)Apabila dia menunaikan solat maka simpul yang ketiga lepas.

Dan pada pagi harinya waktu subuh dia akan bangun dengan semangat dan suasana hati yang tenang. Sebaliknya sekiranya tidak melakukan begitu yakni tidak bangkit mengingati Allah maka ikatan itu kekal
berada di belakang kepalanya. Ianya akan bangun dalam suasana hati yang buruk dan juga malas.

(Allah!! Kita ini biasa bangun tidur handphone yang kita ingat dulu yang kita cari dulu, tidak berwudhuk, selalu lupa nak bersiwak dan tidak menyegerakan solat. Malas dan susah nak ingat Allah, malas dan suka nak tangguh-tangguh solat, malas nak berzikir, malas nak berselawat dan melakukan amal ketaatan kepada Allah.)

Dikatakan orang yang terlepas bangun subuh sementara dia mampu untuk bangun MAAF CAKAP!!! SYAITAN TELAH KENCING PADANYA!! Kalau sehari tak apa tapi kalau setiap hari bagaimana? Jangan jadikan diri kita seperti tandas bagi syaitan, dikencing oleh syaitan.

Sudahlah taat dengan bisikan syaitan. Selepas itu mendapat penghinan pula dikencing oleh syaitan. Alangkah hinanya orang itu di mata syaitan sendiri. Apatah lagi di sisi Allah سبحانه وتعالى.

Ketahuilah yang PALING BERAT bagi ORANG MUNAFIK itu adalah MENUNAIKAN SOLAT ISYAK dan SUBUH. Sesungguhnya orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka.

Nauzubillah min zalik!!! Semoga kita semua tidak tergolong dalam golongan orang munafik yang berat menunaikan solat fardhu isyak dan subuh dan moga-moga kita tidak akan terus membiarkan diri kita lalai dengan bisikan syaitan, kerap dikencing oleh syaitan.

#MutiaraKata[HABIB ALI ZAENAL ABIDIN BIN ABU BAKAR AL-HAMID HAFIDZOHULLAH]

Facebook : The Capal
Instagram : The Capal

05/07/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

10 Perbuatan Baik Tapi dianggap Sia-Sia

Sumber: Bahagian Dakwah, Jakim
 
Menurut At Tsauri, seorang ulama’ hadis yang terkenal, terdapat 10 perbuatan baik tapi dianggap sia-sia jika dilakukan:

1. Lelaki atau wanita yang berdoa untuk dirinya sendiri dan tidak dipohonkan doa untuk kedua ibu bapanya dan kaum muslimin.

2. Orang yang kerap kali membaca al-Quran, tetapi tidak membacanya secara tertib sekalipun sehingga 100 ayat setiap hari.

3. Lelaki yang masuk ke dalam masjid, kemudian keluar dari masjid tanpa menunaikan solat Tahiyyatul Masjid.

4. Orang yang melalui tanah perkuburan tetapi tidak memberi salam pada penghuni-penghuni kubur dan tidak mendoakan keselamatan arwah-arwah mereka.

5. Lelaki yang masuk ke satu kota pada hari jumaat, kemudian dia keluar dari kota tersebut tanpa mendirikan solat Jumaat.

6. Orang yang tinggal di satu lingkungan bersama ulama’ , tetapi ia tidak mempergunakan kesempatan itu untuk menambah ilmu pengetahuannya.

7. Dua yang bersahabat tetapi mereka tidak saling bertanya, atau mengambil tahu tentang keadaan masing-masing dan keluarganya.

8. Orang yang mengundang seseorang sebagai tetamunya, tetapi tidak dilayan tetanu tersebut dengan sebaiknya. (bersifat acuh tak acuh).

9. Pemuda yang menjadikan zaman mudanya berlalu begitu sahaja tanpa memanfaatkan waktu yang berharga itu untuk menuntut ilmu dan meningkatkan budi pekerti.

10. Orang yang tidak menyedari tetangganya yang merintih kelaparan, sedangkan ia sendiri makan dengan kenyangnya.

Semoga dengan sedikit tazkirah ramadhan ini mendapat keberkatan di bulan yang mulia ini. Semoga ia menjadikan kita lebih tawaduk dan menginsafi kesalahan silam.

Wassalam….

25/06/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Banyaknya pahala boleh dibuat..BILA SOLAT DI MASJID/SURAU.

INSYAALLAH KITA AKAN PEROLEHI :
1. Pahala sahut seruan azan
2. Pahala melangkah ke masjid

3. Pahala masuk masjid.

4. Pahala melangkah kaki kanan kedalam masjid

5. Pahala doa masuk masjid

6. Pahala solat tahiyyatul masjid

7. Pahala i’tikaf

8. Pahala solat berjamaah

9. Pahala takbiratul ihram bersama imam

10. Pahala amin bersama imam

11. Pahala rapatkan sof,

12. Pahala luruskan sof

13. Pahala dengar tilawah quran

14. Pahala hubung silaturrahim

15. Pahala duduk dalam majlis zikir

16. Pahala duduk dalam majlis ilmu

17. Pahala jadi makmum

19. Pahala membersihkan masjid

20. Pahala menuntut ilmu

21. Pahala nasihat menasihati

22. Pahala sedekah ditabung masjid

23. Pahala mempelajari bacaan Quran yang betul melalui bacaan imam.

24. Pahala mengingatkan imam jika beliau lupa

25. Pahala menghidupkan sunnah Rasulullah saw

26. Pahala menghidupkan syiar agama Islam

27. Pahala doa keluar masjid dan dengan langkah kiri..

Daripada darjat-darjat ini, berapa yang tidak boleh dicapai jika solat berjemaah dirumah?
Oleh itu marilah kita berjemaah di masjid/surau sedapat yang mungkin.

21/06/2017 Posted by | Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

CERITA BALIK BERAYABANYAK MANA MENGGENDONG DOSA

Bagi yg nak balik beraya di kampung, meh baca cerita lama tulisan saya ini utk difikir.

Subuh selepas hari raya, saya menyapa seorang jiran yg bersolat jemaah subuh bersama saya,”Anak cucu ramai balik,penuh rumah agaknya, Mak Lang.”Dia membalas,”Mak Lang dah siap awal,Mak Lang dah tempah homestay.Mak Lang suruh yang lelaki tidur di homestay,tinggal anak isteri saja di rumah Mak Lang.Bimbang balik beraya buat dosa,dosa melihat aurat ipar lamai, sepupu,biras.”
Cerita balik raya dikampung memang seronok tetapi hakikatnya mudah terpalit dosa jika tidak dirancang.Apa tidaknya bila beberapa keluarga berhimpun dlm satu rumah,tidur bergelimpang hingga ruang tamu kerana tak cukup bilik,akan berlakulah penampakan aurat ipar, sepupu,biras dsbnya masa tidur,keluar bilik mandi,masa menyusu badan.Kalau dah tidur,tetaplah terbuka aurat.
Paling resah adalah wanita yg kena berbungkus 24 jam kerana sentiasa ada orang yg bukan mahram diselilingnya,rimas,panas. Ditambah pula beratur dibilik mandi.Inilah cerita tidak seronok balik kampung beraya yg tidak terzahirkan kerana nak jaga hati banyak pihak, tetapi wanita yg solehah tetap berkorban demi menjaga hati suami dan mentua serta ipar.Namun suami yg perihatin dan mentua yg mengambil berat sepatutnya mengambilkira persediaan menyambut kepulangan anak cucu dan menantu agar berhimpun untuk beraya tidak terpalit dosa.

Suami yg perihatin sepatutnya mengambilkira untuk tetap menyembunyi aurat isteri, meringankan pengorbanan kena berbungkus 24 jam.abdghaniharon
Tindakan Mak Lang itu adalah sesuatu yg betul.Zaman dulu dimana masalah aurat tidak diberi penekanan,hal ini diremehkan.Tetapi pada kita yg sentiasa menjaga aurat,jangan diambilmudah bila beraya bersama ipar lamai,sepupu,biras kerana hukum aurat tidak berubah dlm situasi apa pun. Nak jaga hati emak dan mentua,bukan bermakna boleh main cincai dlm masalah aurat, boleh lebih kurang,biar tidur bersesak,terselak sana sini,asal boleh tidur.Pemisahan lelaki wanita yg bukan mahram tetap kena berlaku dan diutamakan dari soal kekeluargaan.Maka menyedia ruang pemisahan ini wajib atau mengasing dg menyewa homestay atau hotel, walaupun belanja tinggi tetapi itu lebih baik dari sekali terpandang aurat ipar atau sepupu atau yg lain yg bukan mahram.Bukan sahaja bila balik beraya,bahkan bila berkampung  kerana kenduri kendara.Jangan ambil mudah soal aurat, kasihanilah isteri anda dan anak dara anda,kerana suami juga tetap terseret jika aurat isterinya terdedah jika dia tidak bersedia mengelaknya. Kisah Tsalabah bin Abd Rahman yg terlihat betis wanita bukan mahramnya,merasa amat berdosa lalu mengasing diri ke gua hingga nabi menemuinya,adalah contoh betapa beratnya dosa melihat aurat wanita bukan muhrim(hadis ini dikatakan daif tetapi boleh jadikan teladan).Jangan balik beraya, menggendong dosa.
Jangan peduli sindiran orang yg menyebut,”balik kampung tapi tidur homestay,hotel”,kerana mereka mungkin tidak faham kita nak mengelak dari terbuat dosa.Selain itu faktor keperluan untuk mandi manda dan membuang air juga penting kerana itu keperluan hidup yg boleh menjejas kesihatan.
Kesimpulannya,apa juga yg kita buat,jangan kadar merancang untuk melaksanakannya,tetapi rancanglah supaya apa yg dibuat menjadi kebajikan,apa yg dibuat terelak dari dosa.Bantulah isteri anda dlm memelihara auratnya,bahkan memelihara aurat isteri itu satu kecemburuan yg mandatory,yang wajib dilaksanakan.

Wallahu a’lam
Oleh: abdghaniharon

17/06/2017 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

Siapa nak jaga kita bila kita dah tua?

Siapa nak jaga kita bila kita dah tua? (Copy paste yg dikongsi oleh ukhtie Azlina Kamarudin)

“Ada orang, dia susah hati kerana belum bertemu jodoh. Difikirannya siapalah yang akan jaga aku bila aku dah tua nanti.
Ada orang, dah berkahwin tapi belum punya anak, pun terfikir siapakah yang akan jaga aku bila aku dah tua nanti.

Ada orang, ada anak, tapi hanya seorang, pun terfikir, kalau dia kerja jauh siapalah yang nak jaga aku nanti.

Ada orang, anaknya semua lelaki. Juga terfikir siapalah yang akan jaga aku nanti. Nak ke menantu perempuan aku nanti jaga aku.

Ada orang, anaknya semua perempuan, sama juga. Terfikir kalau semua tu nanti ikut suami masing masing, siapalah yang nak jaga aku nanti.

Apa masalah kita sebenarnya?

Kita letakkan masa depan kita di tangan manusia.
Di tangan anak.
Di tangan suami.
Walhal yang jaga kita itu Allah.

Berapa ramai orang yang anaknya ramai, cukup nisbah lelaki perempuannya, namun masih terabai hidup bersendirian di rumah usangnya sehingga meninggalnya juga seorang diri.

Berapa ramai juga orang yang saya jumpa hidupnya tidak bertemu jodoh, namun pada usia 60 70 80 masih sihat, boleh urus diri jauh lebih baik daripada orang yang usianya baru jejak 50-an namun sudah sakit lutut jalan bertongkat walau anak anak ada di sisi menjaga.

Itulah kita kata rezeki.

Dan rezeki itu hak Allah.
Yakin.
Yakin.
Yakin.

Jangan runsingkan kerja Allah.
Runsingkan kerja kita yang asik tak siap ni.
Jangan runsing belum ketemu jodoh
Jangan ribut belum ada zuriat
Jangan sedih hanya kerana beranak sorang. Jangan kalut kalau hanya ada anak lelaki.
Jangan cemas jika hanya ada anak perempuan.

Lebih dari itu jangan takbur sangat kita ada jodoh, anak ramai, cukup lelaki perempuan.

Jangan pertikaikan eh nanti tua siapa nak jaga kau. Kita sendiri pun belum tahu nasib kita nanti.

Masa depan kita sentiasa di tangan Allah.
Dan Allah itu adil.

Setiap orang akan dapat apa yang Allah kata dia layak dapat.

Pendek kata Allah ada.
Jangan takut.

————Nota saya
Terima kasih kepada penulis ini. Jazaakillahu khairan kathira. Betul…bila ALLAH sentiasa ada di hati kita…kita akan jadi manusia yg selalu positif dan optimis.
Roslinda Ahmad

(Sumber: FB Ustazah Dr Fauziah Mohd Noor – UUM)

23/05/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

DAJJAL MAKNAWI

Very nice story…
Sila baca sampai habis!

Malam tu, macam biasa, aku akan habiskan beberapa helaian bacaan aku sebelum lelapkan mata. Sambil anak aku kat tengah diantara aku dan isteri yg sibuk beraksi menyusu. Kejap meniarap, kejap menonggeng, kejap punggung dia tindih muka aku. Tu rutin dia sebelum tidur.

“Dajjal tu dah ada ker awak?”

“Dia dah keluar ker?”

Tiba2 isteri aku bertanya.

“Dah ada dah. Cuma mungkin ada yang tak perasan,” jawabku ringkas sambil menutup buku dan mengalihkan kaki anak yg dari tadi terletak atas leher aku. Tidur jugak akhirnya.

“Dah ada? Kat mana?,” tanya isteriku sambil berpaling mengadapku.

“MEDIA. Segala jenis media. Itulah dajjal. Media cetak, media massa, media hiburan, media internet, dan segala mak nenek media adalah dajjal”.

Jawabku sambil melipatkan kedua tangan kebelakang kepala dan memandang tepat pada siling rumah.

“Aikk…Media?? Nape pulak?,” tanya isteriku lagi. Kali ini dia kelihatan begitu serius sekali. Sambil sebelah tangannya dijadikan penyendal kepalanya dan merenung tepat pada aku.

“Ini menurut pembacaan dan pandangan peribadi sayalah. Sebab jika dajjal muncul dalam bentuk raksaksa yang menakutkan, mesti tiada orang nak ikut dia. Jadi dajjal akan muncul ikut kesesuaian fitrah manusia. Barulah manusia percaya dan ikut dia,” jelasku sambil merenung siling dan fikiranku mengimbas kembali kepada beberapa bacaan aku berkenaan Dajjal.

“Oooo…. Betul jugak naaa.. Lagi2.. Ceritalah psl dajjal ni,” ujar isteriku dalam loghat Penang yg takkan hilang dari lidahnya.

“Antara sifat dajjal, bermata satu. Pada pemahaman saya ianya adalah kamera. Segala kamera itu mewakili penglihatan dajjal. Samada kamera telefon, kamera perakam, cctv dan semua jenis kamera. Dari mata dajjal itu tersebar pelbagai fitnah dan kebencian. Kemudian manusia menjadi huru hara, bergaduh, berbunuh dan berperang. Sebab satu maklumat dari kamera, manusia percaya. Walhal maklumat itu tipu. Kemudian sifat dajjal itu mampu menyeberangi dari satu negara ke satu negara dengan sekejap sahaja. Merentas benua dgn benua juga mudah. Lautan berada dibawahnya, sebenarnya itu adalah gelombang internet. Dengan internet, fitnah dan kebencian mudah dihantar. Maka manusia mudah dihasut dan percaya. Perkara yang benar, nampak salah, perkara yg salah, nampak betul. Lihat sahaja media television, jual produk contohnya syampu rambut. Boleh lurus, tapi hkikatnya itu tipu. Lihat sahaja iklan susu formula dari 123456 tahun, semua orang percaya. Kemudian ikut. Walhal Alquran perintahkan bg susu ibu cuma 2 tahun diorg tak nak ikut. Itulah antara fitnah dajjal,” jelasku panjang lebar sambil mengadap pada isteriku.

“Ya Allah… Takutnya..,” tiba2 isteri aku berbisik.

“Kena ingat, tujuan dajjal menyesatkan umat Islam. Tujuan dajjal mengawal otak dan pemikiran manusia. Segala benda baik, jika dajjal kata buruk, maka manusia percaya. Segala benda buruk, jika dajjal kata baik, semua manusia percaya,” jelasku lagi.
“So kenapa ada berpendapat baca surah Al kahfi dapat lepas fitnah dajjal?,” tanya isteriku lagi.

“Sayang, Alquran itu bukan sekadar utk dibaca. Bukan sekadar utk dihafal. Paling penting difahami kemudian diamal. Kalau tak faham macam mana nak amal? Kalau baca sekadar baca, nasrani dan yahudi juga membaca kitab suci agama mereka. Apa antara kisah dalam surah Al kahfi yg saya selalu cerita pada awak?,” ujarku.

“Kisah pemuda Ashabul kahfi dan seekor anjing yg lari tidur dalam gua selama ratusan tahun sebab mereka lari dari pemerintah yg zalim ,” jawab isteriku sambil tersenyum kerana berjaya menjawab soalanku.

“Betul. Konteks cerita itu sama seperti dajjal. Pemuda dan anjing itu pada masa itu tiada pilihan. Selain mengasingkan diri dari masyarakat yang kian rosak. Dan penguasa yg zalim. Jadi, kalau nak selamat dari fitnah dajjal, kita jangan suka buat sesuatu perkara sebab ramai orang buat. Walhal kita tak memahami kenapa perkara itu dibuat. Buat sebab kita faham. Bukan ikut ikutan. Dan orang yg selamat dari fitnah dajjal adalah golongan yg ‘ganjil’. Mereka hidup tidak mengharapkan sistem ciptaan manusia sangat. Mereka hidup berpandukan pemahaman Al quran dan sirah nabi s.a.w. Merekalah golongan yg beli kereta cash, tidak terlibat riba’. Tidak terpengaruh dengan media dan leka dengan dunia. Senang kata mereka ni kalau orang sekarang nampak mereka gelar kelompok ni kolot, selekeh. Walhal merekalah yg jauh dari fitnah dajjal. Mereka bukan golongan terasing, tapi golongan yg memilih untuk mengasingkan diri dari dunia yg rosak,” jawabku lagi sambil mencium anakku berkali kali yg sedang lena diulit mimpi.

“Patutlah awak tak nak astro kat rumah ni ea? Oklah syg, skrg sy faham. Kita tak payah ada astro k? ,” ujar isteriku sambil bingkas duduk dan tersenyum.

“Kiamat tu berlaku sehingga ibu pun akan membuang dan tidak pedulikkan anaknya, dan sy dah nampak zaman skrg banyak ibu yg sibuk bekerja dan sibuk main handphone sampai anak terbiar, kiamat sudah dekat sayang. Sy akan buat apa sahaja yg saya mampu untuk lindungi keluarga saya. Sebab tu ada riwayat sebut, ikatlah anak bini kamu pabila dajjal muncul. Dan skrg sy tgh ikatlah ni. Hehe… Ikat hati dan pemikiran. Bukan ikat jasad.., ‘ jelasku sambil mula menarik selimut.

“Imam Mahadi pulak? Ceritalah… Awak asyik mengadap buku jer, tapi tak cerita pun kat saya ,” ujar isteriku sambil mula membetulkan posisi badannya.

” Nanti saya ceritakan. Kiamat dan kemunculan dajjal akan berlaku dalam konteks akal manusia boleh terima. Bukan dalam keadaan yg ganjil. Masa sudah semakin suntuk. Umat islam sudah tidak punya banyak masa, sebab tu yahudi banyak menguasai teknologi. Sebab tentera dajjal adalah yahudi. Imam mahadi juga sudah ada. Dia hanya belum membuat pengumuman rasmi. Selagi anak muda islam masih leka begini, selagi itulah islam dibuli. Tidurlah. Doa supaya semuanya selamat. Kerana Allah kekal ada. Sy mintak maaf yer kalau arini ada buat silap. Assalamualaikum, ” ujarku sambil meminta maaf, risau2 esok tak bangun subuh hari.

” Waalaikumsalam sayang, sy pun minta maaf. Sy harap harini sy jadi isteri yg memberi manfaat untuk anak dan suami. Nite sayang…,” jawab isteriku sambil memejamkan mata.

Semoga sedikit sebanyak memberi pengajaran buat kita.

Ya Allah…selamatkan aku, ahli keluargaku & sahabat2ku dr fitnah dajjal. Aamiin….
Bacaaaa naaa dan gunalah aqal dengan waras utk berfikir…..muhasabah diri kita. Di mana kita ketika ini? Masih asyik dan lagha dgn fb,insta, tv…sibuk urusan dunia sampai lupa urusan akhirat,urusan jiwa…kita tk pernah ambil peduli?Semoga tulisan ini mmbuka ruang pd semua sekelian manusia utk kembali kpd ALLAH DAN RASUL dgn jalan yg damai dan tenang.

(Sumber Ustaz Yunan A Samad)

22/05/2017 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

Pendekatan Nabi SAW bantu gelandangan

gelandangan

Foto Hiasan: Pusat Sehenti Gelandangan Dewan Bandaraya Kuala Lumur

Di zaman Rasulullah SAW, semasa Baginda sedang berkumpul dengan para sahabat, datang seorang pengemis meminta-minta. Melihat kehadiran pengemis itu, Rasulullah lantas bertanya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasulullah SAW lalu meminta pengemis itu mengambil barang-barang tersebut dan serahkan kepada Baginda.

Pengemis itu terus bergegas pulang ke rumah dan kembali dengan membawa cangkir. Rasulullah SAW mengambil cangkir itu dan menawarkannya kepada para sahabat yang ada. “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Salah seorang sahabat sanggup membeli cangkir itu dengan harga dua dirham.

Rasulullah kemudian memberikan dua dirham yang dibayar oleh sahabat itu kepada si pengemis. Rasul berpesan kepada si pengemis itu agar menggunakan wang itu untuk membeli makanan buat keluarganya, dan baki digunakan untuk membeli kapak. “(Dengan kapak itu) Carilah kayu yang banyak dan juallah. Selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu,” sabda Rasulullah SAW.

Dua minggu kemudian, pengemis itu datang lagi menghadap Rasulullah SAW. Kali ini tidak untuk mengemis, tetapi dengan membawa wang 10 dirham hasil dari jualan kayu. Rasulullah SAW kemudian menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya dengan wang itu.

Rasulullah bersabda, “Hal ini lebih baik bagi kamu, kerana meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, hutang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak boleh berusaha.”

Riwayat ini menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW membantu pengemis atau gelandangan yang masih mempunyai keupayaan dan sihat, dengan menunjukkan cara bagaimana orang itu boleh berusaha dan hidup berdikari, bukan dengan memberikan wang atau makanan percuma. Rasulullah SAW telah lama memberikan panduan kepada kita dalam menangani masalah pengemis dan gelandangan ini.

Gelandangan mungkin berbeza dengan pengemis. Gelandangan ialah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum. Sedangkan, pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain.

Pada 2011, nasib golongan gelandangan dibela menerusi projek perintis Pusat Intervensi Anjung Singgah di ibu negara. Lebih 100 gelandangan mengunjungi pusat ini untuk mendapatkan makanan percuma bernilai 13 ringgit yang disajikan, bermula 12 tengah hari hingga 1.30 petang. Mereka juga diberikan tempat menginap sementara untuk selama dua minggu, sebelum memperolehi pekerjaan.

Agak terkejut dan pelik dengan pengumuman terbaru Kementerian Wilayah Persekutuan mengehadkan aktiviti pemberian bantuan dan makanan kepada gelandangan oleh pertubuhan bukan kerajaan (NGO) hanya boleh dilakukan dalam lingkungan dua kilometer dari pusat bandar, dengan tujuan menghalang golongan gelandangan sewenang-wenangnya menjadikan kaki lima ibu kota sebagai tempat tinggal mereka sekali gus mengundang imej buruk terhadap bandar raya ini. Pihak kementerian tidak mahu golongan gelandangan hanya mengharapkan bantuan daripada mana-mana pihak dan tidak mahu bekerja sedangkan mereka mempunyai tubuh badan yang sihat dan mampu untuk bekerja.

Ya, benar kita mahukan sebuah bandaraya yang bebas dari golongan pengemis dan gelandangan. Kita semua mahu begitu, bukan kementerian sahaja. Namun adakah langkah itu akan menyelesaikan isu gelandangan? Tidakkah ia akan membiakkan masalah gelandangan baharu, di tempat yang lain? Umpama menyapu sampah di atas lantai rumah tetapi sampah disorok di bawah karpet.

Golongan gelandangan yang memenuhi bandaraya Kuala Lumpur bukan sahaja golongan yang terlantar dan tidak mempunyai pekerjaan, tetapi juga golongan yang benar-benar susah, golongan yang ditinggalkan kerana tua dan berpenyakit kronik, golongan tua, wanita dan kanak-kanak pengemis yang didalangi sindiket, golongan imigran dan golongan penagih. Apa pula langkah kerajaan untuk membantu menyelesaikan masalah golongan-golongan ini?

Peranan kolektif institusi zakat juga boleh membantu menyelesaikan masalah ini. Golongan fakir, miskin, dibawah belenggu perhambaan (Fir Riqab), orang-orang berhutang (Al-Gharimin), dan orang-orang bermusafir yang terlantar (Ibnu Sabil) adalah antara asnaf-asnaf yang berhak menerima zakat.

Fir Riqab pada dasarnya bererti membebaskan atau menamatkan seseorang itu daripada amalan perhambaan. Amalan perhambaan dalam konteks tradisi sudah tiada. Namun takrif Ar Riqab ini boleh diperluaskan lagi kepada segala bentuk perhambaan dan penindasan yang ada pada hari ini, seperti cengkaman sindiket golongan-golongan berkuasa ke atas golongan yang lemah yang dipaksa mengemis, dan sebagainya.

Masalah gelandangan, jika tidak ditangani dengan metod dan solusi yang betul, ia akan menjadi lebih membiak dan parah. Beberapa hari selepas pengumuman langkah kerajaan tersebut, beberapa pengemis dan gelandangan sudah mula kelihatan di lampu-lampu isyarat dan beberapa premis di bandar Shah Alam. Tidak mustahil akan merebak pula ke Bandar-bandar lain. Wallahu’alam.

– Penulis ialah Presiden Persatuan Peguam Syarie Malaysia. Sekretariatpgsm@yahoo.com

(Sumber: Harian Metro, Selasa 8 Julai 2014)

19/05/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

SUNNAH KENDURI ARWAH (BERSEDEKAH MAKAN ATAS NAMA SI MATI) VS NIYAHAH (MERATAP)

17883891_1311493815598248_1496537957462424353_n

(Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan)

Adakah makan dan minum di rumah si mati selepas ada jemputan dikira niyahah(meratap)?

أجمعت الأمّةُ على تحريم النياحة، والدعاء بدعوى الجاهلية، والدعاء بالويل والثبور عند المصيبة‏‏

“Umat bersepakat atas haramnya niyahah, dan berdo’a dengan seruan orang jahiliyah serta do’a dengan kejelikan dan keburukan ketika terjadi musibah”.(Lihat : al-Azkar Imam an-Nawawi 146)

Imam al-‘Imrani didalam al-Bayan mengatakan :

ويحرم النوح على الميت، وشق الجيوب، ونشر الشعور، وخمش الوجوه

“dan haram meratap atas orang mati, merobek-robek saku baju, merenggut rambut dan mencoreng-coreng wajah”. (Lihat : al-Bayan fi Mazhab al-Imam asy-Syafi’i lil-Imam al-‘Imrani)

al-Imam Ar-Rafi’i didalam Fathul ‘Aziz :

وكذا النياحة والجزع بضرب الخد وشق الثوب ونشر الشعر كل ذلك حرام

“demikian juga niyahah (meratap), mengeluh dengan memukul pipi, mengoyak pakaian dan merenggut rambut, semua itu haram”.

Adapun pengertian niyahah sendiri, sebagaimana yang Imam Nawawi sebutkan adalah :

واعلم أن النياحة‏ :‏ رفع الصوت بالندب، والندب‏:‏ تعديد النادبة بصوتها محاسن الميت، وقيل‏:‏هو البكاء عليه مع تعديد محاسنه‏.‏ قال أصحابنا‏:‏ ويحرم رفع الصوت بإفراط في البكاء‏.‏ وأماالبكاء على الميت من غير ندب ولا نياحة فليس بحرام

“Ketahuilah, sesungguhnya niyahah adalah menyaringkan suara dengan an-nadb, adapun an-Nadb sendiri adalah mengulang-ngulang meratapi dengan suara (atau menyebut berulang-ulang) tentang kebaikan mayat. qiil (ulama juga ada yang mengatakan) bahawa niyahah adalah menangisi mayat disertai menyebut-menyebut kebaikan mayat”. Ashab kami (ulama syafi’iyah kami) mengatakan : “haram menyaringkan suara dengan berlebih-lebihan dalam menangis”. Adapun menangisi mayat tanpa menyebut-menyebut dan tanpa meratapinya maka itu tidak haram”. (Lihat ; al-Azkar Imam an-Nawawi 147)

والنياحة رفع الصوت بالندب قال الشافعي والأصحاب البكاء على الميت جائز قبل الموت وبعده ولكن قبله أولى

“Niyahah adalah menyaringkan suara dengan an-nadb, al-Imam Asy-Syafi’i dan Ashhabus Syafi’i (ulama syafi’iyah) mengatakan, menangisi orang mati boleh baik sebelum mati atau setelah mati, akan tetapi menangisi sebelum mati itu lebih utama”. (Lihat : al-Majmu’ syarah al-Muhazzab [5/ 307] Imam an-Nawawi)

Oleh kerana itu, penetapan hukum bid’ah makruhah (bid’ah yang hukumnya makruh) kerana boleh menjadi sebab adanya niyahah atau boleh membawa pada niyahah. Jika mengikuti kaedah usul, inilah yang menjadi illat dihukumkan makruh (bid’ah makruhah). Namun, jika illatnya tidak ada maka hukumnya juga berubah. Maka persoalannya sekarang adalah : adakah majlis tahlil (kenduri arwah) yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan bersifat seperti itu ? Adakah majlis tahlil (kenduri arwah) sebab terjadinya niyahah ? Tentu saja perkara itu tidak berlaku di Malaysia khususnya.

BAGAIMANA DENGAN ATSAR JARIR BIN ABDILLAH AL-BAJALI YANG MENGATAKAN BAHAWA BERKUMPUL TIADA TANGISAN JUGA DIKIRA NIYAHAH (MERATAP) ?

عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِي قاَلَ كُنَّا نَعُدُّ اْلاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيْعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ (رواه أحمد رقم 6766 وابن ماجه رقم 1612)

“Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, ia berkata: Kami menganggap berkumpul di rumah orang yang meninggal dan membuat makanan setelah pengkebumiannya sebagai perbuatan meratapi mayat” (Diriwayatkan oleh Ahmad No 6766 dan Ibnu Majah No 1612)

Seorang Mufti bermazhab Hanbali, Syeikh Khalid bin Abdillah al-Muslih, mengambil penilaian dhaif dari Imam Ahmad sendiri:

وَقَدْ نَقَلَ أَبُوْ دَاوُدَ عَنْ أَحْمَدَ قَوْلَهُ لاَ أَرَى لِهَذَا الْحَدِيْثِ أَصْلاً فَهُوَ حَدِيْثٌ ضَعِيْفٌ لاَ يَصْلُحُ لِلْاِحْتِجَاجِ. وَعَلَى الْقَوْلِ بِصِحَّتِهِ فَهُوَ مَحْمُوْلٌ عَلَى مَجْمُوْعِ الصُّوْرَةِ لاَ عَلَى مُجَرَّدِ اْلاِجْتِمَاعِ وَبِهَذَا قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالَّذِي يَظْهَرُ لِي أَنَّهُ إِنْ خَلاَ الْجُلُوْسُ مِنَ اْلإِضَافَاتِ الْبِدْعِيَّةِ فَإِنَّهُ لاَ بَأْسَ بِهِ لاَسِيَّمَا إِذَا كَانَ لاَ يَتَأَتَّى لِلنَّاسِ التَّعْزِيَّةُ إِلاَ بِذَلِكَ وَاللهُ أَعْلَمُ (أكثر من 100 فتوى للشيخ خالد بن عبد الله المصلح 1 / 35)

“Abu Daud sungguh telah mengambil dari Ahmad: Saya tidak menemukan asal dalam riwayat ini. Maka ini adalah riwayat yang dhaif yang tidak layak dijadikan hujah. Dan berdasarkan pada pendapat yang menilainya sahih, maka diarahkan pada seluruh bentuk, tidak pada bentuk berkumpulnya saja, inilah yang dikemukakan oleh sebahagian ulama. Menurut saya, bila berkumpul tersebut tidak ada unsur-unsur yang mengandungi bid’ah, maka tidak apa-apa. Apalagi jika orang lain tidak mahu takziyah kecuali dengan cara seperti itu” (Fatwa Syeikh Khalid bin Abdullah al-Muslih I/35)

Penilaian yang sama juga disampaikan oleh Syeikh al-Tarifi:

وَلِهَذَا تَجِدُ اَنَّ اْلاِمَامَ اَحْمَدَ اَخْرَجَ اَحَادِيْثَ فِي مُسْنَدِهِ وَمَعَ هَذَا يَعُلُّهَا بَلْ مِنْهَا مَا يُنْكِرُهُ وَاْلاَمْثِلَةُ عَلَى هَذَا كَثِيْرَةٌ جِدًّا … وَمِنْهَا مَا أَخْرَجَهُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ حَدِيْثِ إِسْمَاعِيْلِ عَنْ قَيْسٍ عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِي قَالَ كُنَّا نَعُدُّ اْلاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيْعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ. وَقَدْ نَقَلَ اَبُوْ دَاوُدَ عَنِ اْلاِمَامِ اَحْمَدَ قَوْلَهُ فِيْهِ : لاَ اَصْلَ لَهُ (شرح كتاب الطهارة من بلوغ المرام للطريفي 1 / 422)

“Oleh kerana itu anda akan menemukan Imam Ahmad meriwayatkan beberapa hadis dalam Musnadnya yang beliau sendiri menilainya cacat, bahkan sebahagiannya menilainya munkar. Contohnya sangat banyak…. Diantaranya adalah ‘riwayat dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, ia berkata: Kami menganggap berkumpul di rumah orang yang meninggal dan membuatkan makanan setelah pengkebumian sebagai perbuatan meratapi mayat’. Abu Daud benar-benar telah mengutip penilaian dari Imam Ahmad mengenai riwayat tersebut: Riwayat ini tidak ada asalnya!” (al-Tarifi dalam Syarah Bulugh al-Maram I/42)

Hal ini juga diakui oleh ulama (Wahabi) Sulaiman bin Nasir al-’Alwan:

وَلَكِنْ أَعَلَّ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ هَذَا اْلأَثَرَ (شرح كتاب الجنائز من البلوغ للشيخ سليمان بن ناصر العلوان 1 / 105)

“Akan tetapi Imam Ahmad menilai cacat pada atsar ini” (Syarah Bulugh al-Maram I/105)

BENARKAH SAIDINA UMAR MENGATAKAN BAHAWA BERKUMPUL MAKAN DIRUMAH SI MATI WALAUPUN TIADA TANGISAN ITU DIKIRA NIYAHAH (MERATAP)

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ، عَنْ طَلْحَةَ، قَالَ: قَدِمَ جَرِيرٌ عَلَى عُمَرَ، فَقَالَ: ” هَلْ يُنَاحُ قِبَلُكُمْ عَلَى الْمَيِّتِ ؟ قَالَ: لَا ” قَالَ: ” فَهَلْ تَجْتَمِعُ النِّسَاءُ عندَكُمْ عَلَى الْمَيِّتِ وَيُطْعَمُ الطَّعَامُ؟ قَالَ: نَعَمْ “، فَقَالَ: ” تِلْكَ النِّيَاحَةُ “

Telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Malik bin Mighwal, dari Talhah, ia berkata : Jarir mendatangi ‘Umar, lalu ia (‘Umar) berkata : “Apakah kamu sekalian suka meratapi mayat?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayat dan makan hidangannya ?”. Jarir menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayat)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/487]

Riwayat ini bermasalah kerana dikhuatiri putus antara Talhah dengan Jarir

Dalam riwayat yang sahih, Niyahah (meratapi mayat) yang dilarang menurut Sayidina Umar adalah sebagai berikut:

33 – باب مَا يُكْرَهُ مِنَ النِّيَاحَةِ عَلَى الْمَيِّتِ . ( 33 ) وَقَالَ عُمَرُ – رضى الله عنه – دَعْهُنَّ يَبْكِينَ عَلَى أَبِى سُلَيْمَانَ مَا لَمْ يَكُنْ نَقْعٌ أَوْ لَقْلَقَةٌ . وَالنَّقْعُ التُّرَابُ عَلَى الرَّأْسِ ، وَاللَّقْلَقَةُ الصَّوْتُ . (صحيح البخارى – ج 5 / ص 163)

“Bab yang dimakruhkan, iaitu meratapi mayat; Umar berkata: Biarkan wanita-wanita itu menangisi Abu Sulaiman selama tidak ada melumuri kepala dengan tanah atau suara” (Riwayat al-Bukhari 5/163)

Riwayat ini disampaikan oleh Imam al-Bukhari secara Mu’allaq, namun al-Hafiz Ibnu Hajar mencantumkan sanadnya seperti yang dicantumkan oleh al-Bukhari dalam Tarikh al-Ausathnya:

قَوْله : ( وَقَالَ عُمَر : دَعْهُنَّ يَبْكِينَ عَلَى أَبِي سُلَيْمَان إِلَخْ ) هَذَا الْأَثَر وَصَلَهُ الْمُصَنِّف فِي التَّارِيخ الْأَوْسَط مِنْ طَرِيق الْأَعْمَش عَنْ شَقِيق قَالَ : لَمَّا مَاتَ خَالِد بْن الْوَلِيد اِجْتَمَعَ نِسْوَة بَنِي الْمُغِيرَة – أَيْ اِبْن عَبْد اللَّه بْن عَمْرو بْن مَخْزُوم – وَهُنَّ بَنَات عَمّ خَالِد بْن الْوَلِيد بْن الْمُغِيرَة

يَبْكِينَ عَلَيْهِ ، فَقِيلَ لِعُمَر : أَرْسِلْ إِلَيْهِنَّ فَانْهَهُنَّ ، فَذَكَرَهُ . وَأَخْرَجَهُ اِبْن سَعْد عَنْ وَكِيع وَغَيْر وَاحِد عَنْ الْأَعْمَش . (فتح الباري لابن حجر – ج 4 / ص 333)

Jelas disini bahawa dalil-dalil yang mengatakan bahawa duduk makan di rumah si mati semuanya bermasalah dan dapat difahami ada beza dengan jemputan makan dari tuan rumah sebagai sedekah atas nama si mati dengan meratap, yang diharamkan ialah meratap sambil menjerit-jerit sehingga hilang akal dan bukannya makan minum di rumah si mati

ABU SUNNAH
AHLI SUNNAH WALJAMAAH NEGERI SEMBILAN

https://m.facebook.com/sunnahrasulullah12/photos/a.990309187716714.1073741827.990303737717259/1311493815598248/?type=3&source=48

Sumber: Jabatan Mufti Kerajaan negeri Sembilan

16/04/2017 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

PELAJARAN DI SEBALIK USIA 


Semakin berusia semakin lemah tangan menggenggam..kerana Allah sedang mendidik kita agar melepaskan cinta dunia.
Semakin berusia semakin kabur matanya… Kerana Allah sedang menggilap mata hati untuk celik melihat akhirat.

Semakin berusia semakin sensitif….kerana Allah sedang mengajar bahawa pautan hati dengan makhluk sentiasa menghampakan namun hati yang berpaut kepada Allah, tiada pernah mengecewakan.

Semakin berusia semakin gugur gigi-giginya….kerana Allah sedang mengingatkan bahawa suatu hari kita akan gugur kedalam tanah selamanya.

Semakin berusia semakin ditarik nikmat kekuatan tulang dan sendi….kerana Allah sedang mengingatkan bahawa tak lama lagi nyawanya akan ditarik.

Semakin berusia semakin rambut putih….kerana Allah sedang ingatkan kain kapan yang putih.

Begitu juga hati…semakin berusia semakin sepi dan ingin bersendirian…kerana Allah sedang mendidik kita untuk melepaskan cinta manusia.

Akhirnya …hanya cinta Allah yang kekal sebagai bekalan menuju akhirat.

Didoakan semoga kita semua;
● Diberkati usia
● Dimurahkan rezeki
● Ditetapkan keimanan
● Dikurniakan pemikiran dan pertimbangan yang terbaik
● Kesihatan yang baik
● Berjaya di dunia & akhirat
● Sentiasa mendapat rahmat dariNya

Aamiin ya Robbal alamiin..

Ustazah Dr. Fauziah Mohd Noor UUM
 (dari Grup Nilam Puri)

13/04/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

DAHSYATNYA DOSA PUTUS TALI SILATURRAHIM

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS.Al-Hujurat:10)
Mendamaikan yang Berselisih
فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ
“Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS.Al-Anfal:1)

Ayat ini menarik untuk kita perhatikan lebih dalam. Bertakwalah ! Lalu perbaiki hubungan diantara sesamamu ! Ayat ini seakan ingin berbicara bahwa tak ada artinya taqwa tanpa kepedulian kepada kondisi sekitar kita. Tak ada artinya taqwa tanpa rasa peduli untuk mendamaikan saudara yang berselisih.

Larangan Putus Tali Silaturrahim
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ, فَيُعْرِضُ هَذَا, وَيُعْرِضُ هَذَا, وَخَيْرُهُمَا اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Artinya:
“Abu Ayyub RA menceritakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal (Boleh) seorang Islam menyisihkan saudaranya lebih dari tiga hari, jika keduanya bertemu, maka yang seorang berpaling kesana dan yang seorang lagi berpaling kesini. Tetapi yang paling baik diantara yang kedua itu ialah siapa yang memulai mengucapkan salam kepada lawannya.”
(HR. Muttafaqun Aliah)

Huraian Kandungan Hadits:
Anjuran untuk muhasabah diri tanpa menghakimi orang lain maupun menyusahkan orang lain.
Dengan demikian jelas bahwa bagi kita kaum muslimin tidak di halalkan untuk bersengketa dengan saudaranya lebih dari tiga hari. Yang di tandai dengan tidak saling memandang muka dan tidak saling menegur.

Yang paling baik bagi mereka adalah saling memaafkan dan sekaligus yang paling dahulu memberi salam. Memang terkadang kita merasa berat untuk melupakan kesalahan yang dilakukan oleh saudara kita yang pernah menyakiti hati, namun sebagai muslim haruslah berlapang dada untuk saling memaafkan.


Kesan Putus Tali Silaturrahim

Kesan yang ditimbulkan bila silaturahim diantara kita putus, sangatlah besar, baik di dunia maupun di akhirat kelak. 

Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Segala amalnya tidak berguna dan tidak berpahala. Walaupun kita telah beribadah dengan penuh keikhlasan, siang dan malam, tetapi bila kita masih memutus tali silaturahim dan menyakiti hati orang-orang Islam yang lain, maka amalannya tidak ada artinya di sisi Allah* SWT.

2. Amalan shalatnya tidak berpahala. Sabda Rasulullah SAW : “Terdapat 5 (lima) macam orang yang shalatnya tidak berpahala, yaitu : isteri yang dimurkai suami karena menjengkelkannya, budak yang melarikan diri, orang yang mendemdam saudaranya melebihi 3 hari, peminum khamar dan imam shalat yang tidak disenangi makmumnya.”

3. Rumahnya tidak dimasuki malaikat rahmat. Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya malaikat tidak akan turun kepada kaum yang didalamnya ada orang yang memutuskan silaturahmi.”

4. Orang yang memutuskan tali silaturahmi diharamkan masuk syurga. Sabda Rasulullah SAW: ” Terdapat 3 (tiga) orang yang tidak akan masuk surga, yaitu : orang yang suka minum khamar, orang yang memutuskan tali silaturahmi dan orang yang membenarkan perbuatan sihir.”

Semoga kita tidak hanya bersaudara dunia, tapi juga kelak berkumpul di jannahnya Allah SWT…_ Aamiin..

Ustaz Yunan A Samad

13/04/2017 Posted by | Tazkirah | 2 Comments

Bagaimana Cara Mandi Junub & Pengambilan Wuduk Bagi Pesakit Yang Patah Kaki & Berbalut…

Bagaimana Cara Mandi Junub & Pengambilan Wuduk Bagi Pesakit Yang Patah Kaki & Berbalut…
Penerangan Soalan:
suami saya telah mengalami kemalangan dan patah kaki. Kakinya telah disimen dari pangkal paha hingga telapak kaki. bagaimana caranya untuk dia mengambil wuduk serta mandi junub.

Jawapan:
Assalamualaikum w.b.t,

Saudara / Saudari yang dirahmati Allah,

Assalamualaikum w.b.t,

Saudara / Saudari yang dirahmati Allah,

Assalamualaikum w.b.t,

Saudara / Saudari yang dirahmati Allah,
Bagi pesakit yang tidak boleh bergerak disebabkan oleh kesakitan atau rawatan dan tidak ada orang yang membantunya berwuduk atau bertayammum maka mereka dikehendaki solat menghormati waktu tanpa berwuduk / tayammum dan tanpa menghadap kiblat mengikut kemampuan. solat menghormati waktu wajib diqadak secepat mungkin apabila sembuh atau keadaan mengizinkan. sekiranya mereka meninggal dunia dalam keadaan belum sempat mengqadaknya maka mereka dikira sudah melaksanakan kewajipan dan tidak berdosa.
Bagi pesakit-pesakit yang bergerak atau dalam keadaan mengizinkan, mereka hendaklah berusaha berwuduk/bertayammum.
perhatian:
1. bagi pesakit yang mukanya tidak boleh kena air= solat wajib diqadak kerana muka adalah anggota tayammum yang tidak boleh disempurnakan.
2. bagi pesakit yang tangannya tidak boleh kena air= solat wajib qadak kerana tangan adalah anggota wuduk dan tayammum yang tidak dapat disempurnakan.
3. bagi pesakit yang kepalanya tidak boleh kena air= solat tidak wajib diqadak jika pembalutnya tidak meliputi hada kepala yang memadai sapu.
4. bagi pesakit yang kakinya berbalut atau tidak boleh kena air= solat tidak wajib diqadak jika pembalut itu tidak melebihi had yang diperlukan.
Anda boleh memilih salah satu.
Cara pertama:
1. berniat mengambil wuduk semasa membsuh muka.
2. membasuh tangan yang sihat dan disapu air di atas tangan yang berbalut.
3. bertayammum
4. menyambung wuduk dengan menyapu air ke kepala.
5. membasuh kaki.

Cara kedua:
1. berniat mengambil wuduk semasa membsuh muka.
2. bertayammum dengan menyapu muka debu ke muka dan menyapu debu ke tangan sehingga selesai.
3. menyambung wuduk dengan membasuh tangan yang sihat dan disapu air di atas tangan yang berbalut.
4. menyapu air ke kepala
5. membasuh kaki.
Bagi mandi wajib,hendaklah mandi seperti biasa dengan niat mandi wajib dan bagi anggota kaki berbalut hendaklah disapukan air atasnya.Jika tidak boleh kena air,maka hendaklah bertayammum.
Anda boleh mendapatkan buku Panduan Tayammmun, Wudu’ dan Solat Pesakit di Bahagian Dakwah, Aras 7 blok D7, kompleks di Putrajaya di Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM).

Wallahua’lam

Sumber: Tazkirah Daily

23/03/2017 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

MENGAPA KITA HARUS BERMAZHAB ??MENGAPA KITA TIDAK KEMBALI KEPADA AL-QUR’AN DAN SUNNAH SAJA??.


Slogan ” Mengapa kita tidak kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah saja?” seolah-seolah menghukum bahawa orang yang bermazhab itu tidak kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah?
.
Penggunaan slogan ” Mengapa kita tidak kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah saja?” tersebut telah menyebabkan sebahagian orang memandang remeh IJTIHAD dan KEILMUAN para ULAMA, terutama ulama terdahulu yang sangat dikenal kesolehan dan keluasan ilmunya (Ulama Salafus as soleh).
.
Dengan menggunakan slogan ” Mengapa kita tidak kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah saja?” sekelompok orang sebenarnya sedang berusaha mengajak pendengar dan pembaca tulisannya untuk mengikuti cara berfikirnya seperti SALAFI WAHABI, manhajnya dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah, serta menganggap bahwa DIRINYALAH yang paling BENAR, karena SI SALAFI WAHABI telah berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah, bukan fatwa atau pendapat para ulama.
Hal semacam ini tentunya sangat BERBAHAYA.
.
Sebenarnya sungguh pelik jika seseorang menyatakan agar kita TIDAK bermazhab dan seharusnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Mengapa pelik, coba kita perhatikan, apakah dengan mengikuti suatu mazhab berarti tidak mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah??
.
MADZHAB MANA YANG TIDAK KEMBALI KEPADA AL-QUR’AN DAN SUNNAH??
.
Oleh itu para pemuka mazhab tersebut adalah orang-orang yang sangat faham tentang Al-Qur’an dan Sunnah. Cuba periksa betul-betul, hasil ijtihad yang mana dalam suatu mazhab, yang tidak kembali kepada Al-Qur’an dan Al Hadits?
.
Ternyata semua hasil ijtihad keempat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali) yang popular di dalam Islam semuanya bersumberkan kepada Al-Qur’an dan Hadits.
.
Artinya dengan bermazhab kita secara tidak langsung sedang kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits dengan cara yang benar, iaitu mengikuti ulama yang dikenal keluasan ilmu dan kesalehannya.
.
Akhir-akhir ini memang telah ada sekelompok orang yang sangat fanatik yang menamakan dirinya SALAFI, manhaj SALAF dengan golongannya dan secara sistematik berupaya pula mengajak umat Islam meninggalkan mazhab.
.
Mereka seringkali berslogan, “KEMBALILAH KEPADA AL-QURAN DAN SUNNAH” dan menjadi sebutan dan aset mereka. Ajakan ini sepintas lalu nampak BENAR, akan tetapi sangat BERBAHAYA, karena secara tidak langsung mereka menggunakan slogan (propaganda) di atas untuk MENJAUHKAN umat dari MEYAKINI pendapat para ulama terdahulu yang telah berjasa dalam Islam.
.
Mereka memaksakan agar kita semua hanya mengikuti pendapat gurunya atau asatizah yang bertitle Dr. Atau prof. Kemudian perhatikan lebih cermat lagi, apakah mereka yang menyatakan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah benar-benar langsung kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah? Tidak bukan, mereka ternyata menyampaikan pendapat guru-gurunya atau takliq juga dari ulamanya seperti Ibnu Taimiyah dan sefaham dengannya.
.
Artinya, mereka sendiri sedang membuat MAZHAB BARU sesuai pemikiran guru-gurunya dan ulama rujukannya.
.
Cuba bayangkan, sekiranya setiap orang kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah secara langsung, tanpa bertanya kepada pakarnya, apa yang akan terjadi??
.
Yang terjadi adalah setiap orang akan mentafsirkan Al-Qur’an dan Sunnah menurut akalnya sendiri, jalan fikirnya sendiri, sehingga akan sangat BERBAHAYA. Oleh karena itu, kita harus bermazhab, agar kita tidak SALAH memahami Al-Qur’an dan Sunnah.
.
Kita sedar, tingkat keilmuan para pakar yang ada di masa ini tidak dapat disamakan dengan para ulama terdahulu, begitu pula tingkat ibadah dan kesalehan mereka..
.
Semoga kita tetap berpegang kepada Ulama Salafus as soleh, aamiin….Wassalam

SALAM ASWAJA !!

21/03/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

WAHABI DAN MEE UDANG TAIPING

Saya ditanya oleh seorang Jutawan Hotel sambil memakai Jam Rolex di sebuah hotel di Taiping, apa itu Wahabi ustaz? Boleh terang secara ringkas. Saya terang ringkas berpandukan Mee Udang Taiping yang dihidangkan oleh pihak hotel.

Begini, kita dalam bermazhab umpama kita makan Mee Udang Taiping la. Dah siap masak, siap udang terbaik, kuah terbaik, bahan terbaik, dimasak oleh pakar Mee Udang, maka kita hanya makan apa yang dihidang. Kita tak perlu tahu bagaimana masak Mee Udang. Chef dah selesaikan semuanya dengan segala ilmu, kaedah, cara, bahan dan sebagainya.

Adapun Wahabi tidak bermazhab. Mereka ni umpama nak makan Mee Udang Taiping. Mereka ego perasan pandai bijak. Apa yang dihidang oleh Chef dia pertikai, udang ni tak bagus la, kuah ni kurang pekat la, tauhu ni tak payah letak la, taugeh ni buang la. Banyak kondem seolah-olah dia pandai masak Mee Udang. Lalu mereka pun masak Mee Udang dengan sendirinya. Mereka beli laksa, mereka beli udang kering, mereka beli bayam, mereka beli belacan, lalu dicampur semua. Kemudian mereka makan, tak sedap, namun dipaksa juga kata sedap. Dipaksa juga kata itulah Mee Udang Taiping. 

Dipanggil pula mereka yang jahil pasal Mee Udang Taiping, disuruhnya makan, lalu si jahil kata, oh, ni rasa Mee Udang Taiping, dimomokkan pula oleh wahabi ni bahawa inilah Mee Udang Taiping terbaik, paling sedap. Bila si jahil rasa Mee Udang Taiping sebenar, barulah dia tahu bahawa ditipu oleh wahabi. Tapi berapa ramai si jahil yang sanggup mencari Mee Udang Taiping sebenar? Tak ramai… Mereka si jahil ni malas. Lebih malas dari mereka yang bermazhab.

Mereka yang bermazhab mereka belajar juga apa kandungan Mee Udang Taiping. At least dia tahu Udang apa guna, asas kuahnya apa.

Manakala jika dibanding antara Mazhab pula. Ada banyak jenis Mee Udang Taiping terbaik. Kebanyakkannya boleh didapati di Kuala Sepetang. Kaedah masak lain, kaedah memilih udang lain, isi dalam Mee Udang lain, tapi semua mazhab Mee Udang ini, semua sedap rasanya. Kerana apa? Kerana mereka dimasak oleh Chef bertauliah, berkelayakan, berpuluh tahun mungkin, menuntut ilmu Mee Udang.

Inilah perbandingan Mazhab Ahlussunnah. Antara Hanafi, Maliki, Syafie dan Hanbali. Semuanya sudah selesai. Semuanya berlapang dada.Hanya Wahabi sahaja yang masih mendabik dada Mee Udang Taiping dia yang paling sedap. Walhal rasa sampah.

 Itulah contoh nak faham Wahabi. Lihat sahaja solat mereka, tangan dekat tengkuk, dukung anak pampers penuh najis selamba, buka handphone tengah jadi imam solat pun selamba.

Amacam? Best tak kisah wahabi dan mee udang?

Saya akhiri kisah ni dengan menghirup kuah Mee Udang Taiping. Tapi udangnya saya tak makan pasal saya allergic. Nanti gatal mata sampai bengkak.

Sumber:‎FB Singapura Tolak Fahaman Wahabi/Salafi

21/03/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Belajar Itu Penting dan Belajar Dengan Siapa Itu Lebih Penting

Ilmu Agama diperoleh dengan cara mengaji dengan para ulama’ (talaqqi-musyafahah), bukan sekadar bertanya pendapat dan menukil pendapat yang tidak jelas keshahihannya.
🌑 العلم بالتلقي لا بمجرد العقول ولا بكثرة النقول………….

Adalah satu kekeliruan yang besar, jika seseorang yg hendak mengetahui, mahu mengerti dan hendak memahami ilmu agama hanya dengan cara membaca sendiri.

Tidak cukup hanya membaca-menelaah buku2/kitab2 para ulama’ dan difahami sendiri tanpa ada guru yg thiqah / terpercaya yg menuntunnya, karena biasanya orang semacam ini akan tergelincir dlm kesalahan/penyimpangan (tahriif) dalam pemahaman dan cara beribadah yg ia lakukan tanpa ia sadari, tanpa ia ketahui, tanpa ia mengerti……..wal ‘iyaadzu billaah…

Para ulama’ Ahlussunnah wal-Jama’ah menuturkan :
– والعلم لا يؤخذ الا من افواه العلماء

Ilmu agama ini tidaklah dapat diambil/diperoleh seseorang, kecuali diperoleh/diambil dengan cara melakukan talaqqi; musyafahah dengan para ulama’.
– ولا تكفي مطالعة الكتب بغير تلق من افواه العلماء

Dan tidaklah memadai (yakni tidak mencukupi) bagi seseorang utk dpt mengerti ilmu agama dengan cara membaca; menelaah buku2/ kitab2 secara sendiri tanpa bertalaqqi melalui mulut/lidah para ulama’.
– بل كثير من الناس الذين يضلون سببه انهم لا يتلقون علم الدين من افواه العلماء بل يعتمدون على المطالعة في مؤلفات العلماء.

Bahkan tidak sedikit orang yang tersesat (aqidah dan ajaran/amal-ibadahnya) yang disebabkan mereka tidak melakukan talaqqi-musyafahah (yakni mengaji; mempelajari) ilmu agama dengan para ulama’, melainkan mereka semata-mata bersandar pada menelaah sendiri buku2 keagamaan /kitab2 yg ditulis oleh para ulama’. 

Hati-hati…

Ustaz Yunan Samad

21/03/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

10 Kesan Buruk Ketagihan Pornografi Serta Langkah Menghentikannya

Pornografi ialah penggambaran atau segala bahan yang mengghairahkan bertujuan untuk membangkitkan nafsu seks secara lucah. Pada masa kini, mendapatkannya amat mudah dan dikatakan murah.

Jika anda berkeinginan kepadanya atau berniat mahu menghentikan tabiat ini, ingat 10 perkara ini:

#1 – Jika Anda Tidak Pernah Melihat Kandungan Pornografi, Jangan Mulakan Mencuba.

Pornografi memberi kesan ketagihan melebihi ketagihan dadah. Sekali anda melangkah, ia akan menarik anda untuk meneruskan ketagihan anda. Seperti dadah, hidup anda akan bergantung kepadanya.

#2 – Ketagihan Pornografi Akan Membawa Anda Kepada Aktiviti Yang Lain Seperti Melancap.

Ini kerana pornografi menimbulkan keinginan untuk melakukan aktiviti seksual. Memandangkan anda tidak memperolehinya pada masa berkenaan, anda akan cenderung untuk melakukannya bagi mendapatkan kepuasan segera. Jadi, sekarang anda bukan hanya ada satu ketagihan, tapi dua ketagihan untuk ditangani.

#3 – Ketagihan Pornografi Menyebabkan Anda Sentiasa Memikirkannya.

Anda sentiasa mahukannya. Jika boleh, anda mahukan lebih daripada sebelumnya. Keinginan anda hanya akan berhenti jika anda mendapatkannya. Jika tidak dapat, anda mula membayangkannya. Ia sering muncul dalam minda. Ini sekaligus merosakkan fokus anda.

#4 – Ketagihan Pornografi Menyebabkan Anda Sentiasa Dalam Keadaan Lemah.

Ini kerana anda kurang tidur pada waktu malam yang berpunca daripada kesukaran untuk tidur. Setelah kehilangan fokus, kini anda kurang tidur pula. Akibatnya, tubuh anda menjadi lesu.

#5 – Penagih Pornografi Biasanya Berada Dalam Keadaan Rasa Bersalah.

Bagi yang beragama Islam, anda tahu perbuatan ini adalah berdosa. Ia menambah lagi rasa bersalah anda. Rasa bersalah dan berdosa ini membuatkan anda berasa rendah diri dan tiada keyakinan. Ia wujud kerana kesukaran anda menghilangkan ketagihan kepada pornografi.

#6 – Kegembiraan Anda Bergantung Kepada Pornografi.

Apabila ia menerjah minda anda, anda mahu bersendirian. Ini kerana anda tidak boleh menonton pornografi di hadapan orang awam, walaupun keluarga anda. Pornografi bukanlah sesuatu yang normal. Ia menjijikkan. Ia sesuatu yang memalukan dan tidak dihormati.

Jadi, anda perlu menyembunyikan perbuatan atau ketagihan anda daripada diketahui orang lain. Keadaan ini memaksa anda untuk mengasingkan diri anda daripada orang lain. Pada saat ini, anda sudah kehilangan hubungan dengan manusia. Anda seperti hidup dalam dunia sendiri.

#7 – Sering Melihat Perkara Negatif Menyebabkan Anda Kelihatan Lebih Berusia Daripada Usia Sebenar Anda.

Walaupun secara fizikal anda kelihatan berusia, tapi tidak kepada kematangan anda.

#8 – Pornografi Memberi Kesan Kepada Sesiapa Sahaja.

Tidak kira anda sudah berkahwin atau bujang. Bagi mereka yang sudah berkahwin, ia mempengaruhi hubungan suami dan isteri. Seringkali isteri yang mempunyai suami yang suka pornografi mendapati suami mereka seperti tidak berminat dengan seks, tidak puas, dan kecewa dengan hubungan suami isteri.

Lantas, ia mendedahkan diri isteri kepada keganasan seksual. Oleh itu, ketagihan pornografi bukanlah masalah orang bujang sahaja. Sebaiknya, hentikan ketagihan pornografi anda sebelum anda memilih untuk berumahtangga.

#9 – Sangkaan Ketagihan Pornografi Boleh Dipulihkan Dengan Sebuah Perkahwinan.

Hakikatnya, perkahwinan bukanlah semata-mata mengenai seks. Malah, seks bukanlah perkara utama dalam sebuah perkahwinan walaupun ia tidak dinafikan suatu kepentingan. Orang yang mempunyai ketagihan pornografi mempunyai persepsi tertentu terhadap seks dalam perkahwinan.

Apabila realiti tidak menyamai semua lakonan pornografi yang ditontonnya, individu yang mengalami ketagihan mula merasai kegagalan. Dengan itu, mereka memerlukan alternatif kepada hubungan suami isteri.

#10 – Tahukah Anda Melihat Pornografi Adalah Berdosa?

Ini kerana anda melihat alat sulit individu yang anda tidak dibenarkan untuk melihatnya. Anda bukan sahaja menyalahi agama, malah moral juga.

Al-Quran juga menyuruh kita untuk menjauhkan diri dari perbuatan yang munkar sama ada anda melakukannya secara terbuka atau tersembunyi. Lebih-lebih lagi perbuatan zina atau melihat orang lain berzina. Anda tahu yang dosa-dosa ini berkumpul dan menggelapkan hati.

Lantas, anda kehilangan keberkatan hidup, rahmat dari Allah. Semakin lama, dosa ini menjauhkan anda daripada Allah. Lebih malang lagi bila anda mula merasakan dosa anda tidak akan diampunkan dan anda memilih untuk meneruskan perbuatan buruk anda. Sedangkan Allah Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang dan anda pula memilih untuk menuruti kehendak syaitan.

Tanamkan niat untuk meninggalkan aktiviti menonton pornografi. BERHENTI MESTI BERHENTI. Anda perlu yakin kepada Allah Yang Maha Pengampun. Sebanyak mana pun dosa anda, Allah sentiasa memberi ruang taubat selagi anda masih bernyawa. Mintalah dengan bersungguh-sungguh dan berjanjilah untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi.

Banyakkan membaca Al-Quran dan berzikir bagi mengisi jiwa anda semula. Isi malam anda dengan qiamulail dan siang anda dengan puasa sunat. Gantikan hiburan anda dengan yang bersifat keagamaan.

Jauhkan diri anda juga dari bahan-bahan atau sumber yang mendekatkan anda kepada pornografi.

Selain itu, mula aktifkan diri anda dengan aktiviti yang berfaedah. Lakukan senaman untuk kesihatan tubuh dan minda. Jadikan diri anda bermanfaat dengan menawarkan diri menjadi sukarelawan.

Dedahkan diri anda dengan maklumat saintifik mengenai bahaya menonton pornografi. Anda akan dapati ia merosakkan diri anda lebih daripada yang anda sangka. Sekiranya masih tidak berjaya, dapatkan khidmat pakar bagi membantu anda.

Yakinlah. Bagi setiap masalah pasti ada jalan penyelesaiannya.

KONGSIKAN TAZKIRAH INI

 

19/03/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

BOLEHKAH WANITA MENGHANTAR JENAZAH SUAMINYA KE KUBUR?

Nota: Rakaman ini dibuat di kelas Dhuha Muslimat bersama *Habib Ali Zaenal Abidin Bin Abu Bakar Al-Hamid* di Masjid Darul Ehsan, Tmn Tun Abdul Razak, Ampang. Habib membahaskan tafsir ayat surah Al-Baqarah ayat 234-237. Ayat 234 ada kaitan dgn soalan yg ditanyakan, dan disebabkan byk berlaku kesilapan dlm hal ini akhir zaman ini.

Jawapan:
*TIDAK BOLEH, !!*
khususnya bagi isteri yg suaminya yg meninggal, kerana *iddahnya telah bermula,* dan isteri tidak blh keluar meninggalkan rumah suami kecuali *darurat.*

Darurat ini bukan mengikut persepsi kita, tapi mengikut apa yg ditetapkan oleh syarak.Antara sebab yg dibenarkan utk meninggalkan rumah suami adalah *jika keselamatannya terancam. Sebab2 seperti ingin menziarahi kubur, atau menghadiri majlis ilmu tidaklah termasuk sebab yg darurat.

Ibadah mesti mengikut cara yg diatur oleh Allah, bukannya mengikut hawa nafsu. Jadi, kalau ingin suami yg meninggal mendapat redha Allah Ta’ala, isteri tidak boleh keluar daripada rumah suaminya selama 4 bulan 10 hari. Yang beri suami dan yang tidak izinkan keluar ialah Allah SWT, jadi kita kenapatuhi arahan Allah dan bukan dgr apa masyarakat kata.

■Ambil iktibar daripada kisah Ummu Salamah yg pada asalnya ingin menunjukkan cara ratapan luar biasa ketika suaminya meninggal. Tetapi setelah dilarang oleh Nabi SAW, dia akur dan menurut apa yang diajar Rasulullah SAW, dan akhirnya diganjar Allah dengan dia akhirnya diperisterikan oleh lelaki terbaik, iaitu baginda RasuluLlah SAW sendiri. Iktibarnya – bila mana mendahulukan Allah, pasti ada ganjaran tidak kira sama ada akan diberikan ketika di dunia ataupun disimpan untuk akhirat.

■Isteri tidak perlu merasa bersalah dgn anggapan masyarakat yg mungkin mengatakan –“Isterinya tak hantar suaminya ke kuburlah.” Dan isteri juga tidak perlu rasa bersalah dan membuat helah seperti isteri ikut tapi duduk dalam kereta saja, atau duduk jauh sikit daripada tempat dikebumikan. Perasaan bersalah itu perlu diambil kira berdasarkan hukum Allah, dan bukan hukum budaya masyarakat. Jangan takut apa orang cakap.

■Pada zaman RasuluLlah SAW sudah ada golongan wanita yang hendak ikut ke kubur, lalu Nabi SAW bertanya kepada mereka, “Kamu hendak pergi kubur, adakah kamu pikul jenazah itu? Jawab mereka, “Tidak.” Baginda RasuluLlah SAW bertanya lagi, “Adakah kamu akan masuk ke dalam kubur untuk menguburkan jenazah?” Jawab mereka, “Tidak.” Lalu Rasulullah SAW berkata, “Kamu balik kamu dapat ganjaran, lebih baik daripada kamu ikut dan kamu dapat dosa.”

Ini bukan menunjukkan yg agama ini tiada perasaan kepada kaum wanita. Hari ini orang akan mengatakan seorang isteri tidak penuhi hak suami jika isteri tidak hantar jenazah ke kubur. Lama-kelamaan orang akan kata tidak penuhi hak suami jika tidak semua ahli keluarga hadir di kubur. Generasi akan datang pula akan kata tidak penuhi hak suami jika tidak masuk dalam kubur. Perubahan demi perubahan akan berlaku jika ianya dicipta mengikut akal fikiran manusia atau budaya tempatan yg sumbernya tidak tetap. Tapi jika ikut hukum Allah, ia sama saja tidak kira di mana berada – Malaysia, Indonesia atau Yaman dll.

■Jika ada yg kata, “Eh awak tak penuhi hak suami awaklah.
Jawab padanya, “Eh, Allah yg suruh saya tak ikut.” Oleh itu, pastikan apa yang kita buat itu adalah sesuai mengikut apa yang Allah Ta’ala suruh.

■Jika ikut cakap orang kita dapat dosa, tapi ikut cakap Nabi SAW, yang tidak pernah bercakap kecuali ianya wahyu drpd Allah Ta’ala, kita akan dapat pahala. Maka, rugi jika seseorang itu ikut cakap orang !
Di akhirat nanti bukan kawan itu yang akan membela kita di hadapan Allah, bahkan dia akan menjauh daripada kita.

■Jika isteri ingin melihat suami buat kali terakhir atau ingin solatkan, bawa jenazah pulang ke rumah sebelum dikebumikan. Siapa kata jenazah tidak boleh dibawa pulang ke rumah jika telah dimandi (dan disolatkan) di masjid?

■Jika ingin solatkan, baca Quran atau apa saja – buat di rumah agar isteri tidak perlu keluar. Kalau boleh mandikan di rumah lebih baik, tapi kalau tidak boleh, bawa ke masjid, dan kemudian bawa balik ke rumah. Nak buat tahlil di masjid boleh, tapi isteri buat di rumah saja.

■Isteri tidak boleh keluar menunggu suami
dimandikan di masjid atau seumpamanya, kerana *iddah bermula setelah suami meninggal.*

■Perempuan, kalau hendak pergi ke kubur, pergi pada hari selain daripada hari pengkembumian. Kecuali, jika satu kampung. itu tiada lelaki, semuanya perempuan. Maka, dalam hal ini – perempuan yang bawa jenazah, yang gali kubur, yang kebumikan, yang uruskan semuanya.

■Perempuan bukan dilarang pergi ke kubur, tapi risau berlaku perkara yg tidak sesuai dengan syarak jika ikut bersama lelaki yg menguruskan jenazah.
Kita pun lihat sendiri banyak berlaku, perempuan ahli keluarga duduk di hadapan kubur, dan sekelilingnya semuanya lelaki. Batasan antara lelaki dan perempuan tidak lagi diperhatikan. Tambahan pula kalau perempuannya tidak menjaga cara berpakaian yg sopan dan menurut syarak.

■Biarkan orang lelaki siap menguruskan. Esok pagi2, baru anak dan ahli keluarga pergi untuk bacakan Yasin ke… dan akan dapat baca dalam keadaan tenang dan tidak bercampur dgn lelaki.

■Ambil iktibar daripada kisah anak perempuan Nabi Syuaib, yang ketika ingin mengambil air daripada perigi. Walaupun memerlukan, mereka tidak beratur bersama lelaki, tetapi mereka tunggu jauh daripada perigi sehingga lelaki selesai, baru mereka akan ambil air. Sama juga kalau hendak ziarah kubur, tunggu orang lelaki selesai dulu, pergi keesokan harinya.

■Terdapat banyak perbahasan ulama dalam kes isteri yang kematian suami dan perlu keluar bekerja, kerana memang sukar mendapatkan cuti selama 4 bulan 10 hari. Dalam keadaan darurat, seseorang dibenarkan melakukan sesuatu yang haram sekalipun. Dalam hal ini, kalau isteri bekerja, perlu dilihat adakah pekerjaan itu keperluan darurat atau tidak. Kalau dengn dia tidak bekerja, tapi keperluan asasnya dapat dipenuhi, maka itu bukan darurat yg membolehkan dia untuk keluar bekerja. Tapi, kalau dengan dia tidak bekerja, dia tidak boleh makan atau anak2nya tiada yang menanggung, atau keluarga suaminya tidak mampu menanggungnya, dia ada sebab yang menyebabkan dia tidak boleh berhenti kerja, tapi sebab dan daruratnya itu perlu diambil kira oleh syarak dan bukan oleh diri sendiri. Jadi, dalam hal ini, dia boleh keluar bekerja tetapi tetap tidak boleh meninggalkan tuntutan lain seperti berhias, dan melakukan hanya yang diperlukan sahaja dan keluar dari rumah pergi kerja, dan kemudian pulang ke rumah, dan tidak pula singgah di tempat2 yang tidak berkaitan. Kalau nak pergi kedai, cuma untuk keperluan beli makanan dan minuman sahaja.

Wallahu’alam bissawab.

(Petikan dari FB Ustaz Yunan A Samad)

07/03/2017 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Umur 40, 60 & 70 Tahun

Umur 40 tahun ialah umur dimana kebanyakan kita mula diuji. Ujian boleh datang dari ibubapa (jatuh sakit, kematian), atau dari pasangan hidup (perceraian, jatuh sakit) atau dari anak-anak yang meningkat remaja.

Memang bermula 40 tahun, Tuhan akan memanggil kita pulang bertaubat kepadaNya. Panggilan dari Tuhan selalunya berbentuk ujian. Kerana hanya dengan itu kita akan kembali bersimpuh dan bersujud mengadu dan memohon pertolonganNya.

Orang yang bijak akan memperbaiki diri dan amalannya, memperbaiki hubungan dengan ahli keluarganya, berjimat menyimpan untuk hari tuanya. Semua dengan niat mahu berkumpul bersama di syurga nanti.

Orang yang kurang bijak tetap leka dan langsung tak membuka deria terhadap panggilan Tuhan. Malah dikala orang lain semua bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan, dia pula mencari masalah baru.

Ada segelintir golongan yang sudah berumur 50 tahun, 60 tahun, malah 70 tahun, masih memikirkan kereta Sportnya, tanaman Duriannya, ternakan kerbaunya, harta2nya, anak2 dan cucu2nya. Alangkah baiknya jika apabila sudah berumur, masa diisi untuk mendengar Kuliah Agama, ibadat di Masjid, Umrah, Haji dan sbgnya.

Ada yang masih merasakan diri muda belia. Melayan nafsu yang marak menyala padahal kedut dan uban dah tumbuh merata. Sibuk mencari cinta diluar, sedangkan rumahtangga yang halal dibiar berantakan.

Ada yang rasa macam masih sihat, walaupun sahabat2, sedara-mara ramai yg sudah meninggal, kadangkala tanpa disangka. Itu semua hanya menjadi bahan cerita “ehh, tak sangkaaa…muda lagi, sihat je nampak, boleh meninggal…”

Amatlah menyedihkan tatkala orang lain bersiap bertemu Tuhan, kita masih ralit dibuai perasaan akibat tertipu dengan nafsu sendiri.

Nafsu memang tak pernah tua. Ia sentiasa muda dan galak. Yang semakin lelah dan tua adalah tubuh dan kudrat kita.

Rasanya jika Tuhan menghalang tubuh manusia mengalami penuaan, pasti kita semua lebih leka, lebih degil untuk menyahut panggilan pulang.

Sehinggalah tiba saat roh kita diheret dan diseret kembali merengkuk di hadapan Tuhan.

Kita hidup di dunia, tidak lama.. Rasulullah, Sallallaahu alaihu wasallam, telah bersabda:
“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampaui umur tersebut”. [HR. Ibnu Majah: 4236, Syeikh Albani mengatakan: hasan shohih].

Kalau sekarang kita rasa 40 tahun atau 70 tahun itu lama, bagaimana setelah alam barzakh atau akhirat juga kita dibangkitkan dan hidup dalam waktu yang sangat lama, SATU HARINYA = RIBUAN TAHUN…

Ingat, ketika itu tak ada yang berguna kecuali amal baik kita..

Oleh karena itu, lihatlah diri Anda, sudahkah dia mempersiapkannya…?!
Allah ta’ala berfirman (yang artinya):
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan LIHATLAH DIRI MASING-MASING apakah yang sudah ia PERSIAPKAN untuk KEHIDUPAN ESOKNYA”. [Al-Hasyr:18]

Mari kita dekatkan diri dgn Allah, rajin2 Solat Jemaah, tunaikan Zakat, Haji, Umrah, puasa dan sebagainya. Tunaikan yg Wajib dahulu, dan tingalkan larangan insyaAllah.

Perkongsian bersama utk diri sendiri.

Sumber: FB Ummu Adriana

uRa

 ​

25/02/2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

SUNNAH SAHIH BERZIKIR UNTUK ORANG MATI APABILA BERLAKU KEMATIAN

Yaasin.jpg

Hadis tentang zikir yang dibaca oleh Rasulullah saw ketika saat pengkebumian Sa’d bin Muaz pada dasarnya adalah sebagai hadis Mutaba’ah (penguat secara luaran) dari hadis-hadis Sahih tentang Sa’d bin Muadz yang selamat daripada siksa kubur. Hadis tersebut adalah:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِيِّ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا إِلَى سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ حِينَ تُوُفِّيَ، قَالَ: فَلَمَّا صَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَسُوِّيَ عَلَيْهِ، سَبَّحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَبَّحْنَا طَوِيلًا، ثُمَّ كَبَّرَ فَكَبَّرْنَا، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَ سَبَّحْتَ؟ ثُمَّ كَبَّرْتَ؟ قَالَ: ” لَقَدْ تَضَايَقَ عَلَى هَذَا الْعَبْدِ الصَّالِحِ قَبْرُهُ حَتَّى فَرَّجَهُ اللهُ عَنْهُ ”

“Jabir bin Abdillah berkata: “Pada suatu hari kami keluar bersama Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallam menuju sahabat Sa’ad bin Mu’adz ketika meninggal dunia. Setelah Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallam menunaikan solat jenazah kepadanya, ia diletakkan di pemakamannya, dan tanah diratakan di atasnya, maka Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallam membaca tasbih. Kamipun membaca tasbih dalam waktu yang lama. Kemudian Nabi membaca takbir, maka kami membaca takbir. Lalu Nabi ditanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau membaca tasbih kemudian membaca takbir?” Nabi menjawab: “Kubur hamba yang soleh (Sa’ad bin Mu’adz) ini benar-benar menjadi sempit kepadanya, hingga Allah melapangkannya baginya.”

Syeikh Syuaib al-Arnauth berkata tentang status hadisnya:

ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺣﺴﻦ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ اﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ، ﻭﻣﺤﻤﻮﺩ- ﻭﻳﻘﺎﻝ: ﻣﺤﻤﺪ- ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﺮﻭ ﻋﻨﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺭﻓﺎﻋﺔ، ﻭﻭﺛﻘﻪ ﺃﺑﻮ ﺯﺭﻋﺔ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ “اﻟﺠﺮﺡ ﻭاﻟﺘﻌﺪﻳﻞ” 7/316، ﻭﺫﻛﺮﻩ اﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻓﻲ “اﻟﺜﻘﺎﺕ” 5/373.

Hadis ini riwayat Ahmad. Sanadnya Hasan, kerana Ibnu Ishaq. Sementara Mahmud adalah Muhammad bin Abd Rahman, yang meriwayatkan darinya hanya Muaz bin Rifaah. Ia dinilai dipercayai oleh Abu Zurah dalam al-Jarh wa at-Ta’dil (7/316) dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam ats-Tsiqat (5/373)

ﻭاﻟﺤﺪﻳﺚ ﻓﻲ “ﺳﻴﺮﺓ اﺑﻦ ﻫﺸﺎﻡ” ﻋﻦ اﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ 3/263. ﻭﺃﺧﺮﺟﻪ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ (5346) ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺳﻠﻤﺔ، ﻭاﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻓﻲ “ﺇﺛﺒﺎﺕ ﻋﺬاﺏ اﻟﻘﺒﺮ” (113) ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﻳﻮﻧﺲ ﺑﻦ ﺑﻜﻴﺮ، ﻛﻼﻫﻤﺎ ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ، ﺑﻬﺬا اﻹﺳﻨﺎﺩ. ﻭﺃﻭﺭﺩﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ “اﻟﺘﺎﺭﻳﺦ اﻟﻜﺒﻴﺮ” 1/148 ﻣﺨﺘﺼﺮا: ﺩﻓﻦ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﻣﻌﺎﺫ ﻭﻧﺤﻦ ﻣﻊ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ.

Hadis ini terdapat dalam Sirah Ibni Hisham 3/263 dari Ibnu Ishaq. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani 5346. Oleh al-Baihaqi dalam Itsbat Azab al-Qabri 113. Dan al-Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabir 1/147.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini sebanyak dua kali. Pada riwayat kedua ini Syeikh Syuaib Al-Arnauth menulis catatan:

ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ، ﻭﻫﺬا ﺇﺳﻨﺎﺩ ﺣﺴﻦ. ﻭﻗﺪ ﺳﻠﻒ ﺑﻬﺬا اﻹﺳﻨﺎﺩ ﺑﺮﻗﻢ (14873) ﻓﺎﻧﻈﺮﻩ.

Ini hadis sahih. Sanad hadis ini adalah Hasan. Sabdanya telah dijelaskan di no 14873. Lihatlah

Semoga Allah swt mengurniakan kita isteri, anak-anak, sahabat, saudara mara yang sudi untuk berzikir kepada kita apabila kita dikebumikan didalam kubur nanti

ABU SUNNAH
AHLI SUNNAH WALJAMAAH NEGERI SEMBILAN

13/02/2017 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Jika Telah Datang Hari Kiamat, “Semua Akan Hancur, Kecuali 7 Ciptaan Allah Ini” 

Sebagai seorang Islam menjadi kewajiban pada kita untuk percaya akan hari kiamat. Pasti masa mendengarnya, yang terbayang adalah kehancuran seluruh alam dunia berikut isinya. Dalam Al Quran pun dijelaskan bahawa keadaan manusia pada masa itu seperti anai-anai yang bertebaran dan apa yang ada pada masa itu semuanya sudah dalam keadaan mati. Namun ternyata terdapat beberapa perkara yang tidak hancur apabila hari kiamat.
Anda tidak salah baca, memang saat terompet sangkakala ditiup oleh malaikat Israfil, dengan kuasa Allah dan beserta ketetapanNya, beberapa perkara berikut ini akan ada mesti yang lain telah tiada.

1. Syurga Dan Neraka

Allah telah menjelaskan dengan terang bahawa saat hari kiamat tiba, neraka dan syurga tidaklah hancur. Keadaan ini diabadikan dalam surat Hud ayat 106-108.

“Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain) sebagai karunia yang tiada putus-putusnya ” (QS Hud 106-108 )

Secara ringkas bahawa Allah memberi jaminan bahawa neraka dan syurga kekal meski yang lain telah binasa. Itu merupakan hak Allah dalam menetapkan sesuatu.

2. Arsy Allah SWT

Hal yang tidak akan hancur lain adalah Arsy yang mempunyai makna singgahsana Allah SWT. Jaminan Allah terhadap keabadian Arsy terukir indah dalam Al Quran surat Az Zumar 74-75 yang berbunyi:

“Dan mereka berkata” Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini (Syurga) kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati syurga di mana saja yang kami kehendaki. Maka syurga itulah sebaik-baik balasan bagi orang -orang yang beramal “dan engkau (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya, lalu diberikan keputusan di antara mereka (hamba-hamba Allah) secara adil dan dikatakan” Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam ” ( QS Az Zumar 74-75)

Masih banyak lagi hadis dan ayat Al Quran yang menerangkan tentang kekalnya Arsy dan Arsy bukan termasuk dari salah satu makhluk yang diciptakan selama kurun 6 hari serta tidak pula dibelah maupun dipecah.

3. Kerusi Allah SWT

Tak hanya mempunyai singgasana, Allah pun mempunyai kerusi. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW “Tidaklah langit yang tujuh dibanding kerusi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang” (HR Ibnu Hiban)

Dengan kata lain, para ulama bersepakat bahawa yang tidak hancur apabila hari kiamat adalah kerusi Allah salah satunya. Wallahu ‘Alam daripada apa wujud dari kerusi Allah tersebut.

4. Lauhul Mahfuzh

Catatan manusia selama hidupnya tercatat jelas dalam Lauh Mahfuzh. Ternyata Lauh Mahfudz termasuk dalam beberapa hal yang tidak akan musnah apabila hari kiamat. Lauh Mahfuz secara ringkas merupakan kitab tempat Allah menuliskan segala yang ada di alam semesta ini.

“Tidak seorang pun yang ada di langit dan di bumi, melainkan terdapat dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS An Naml 75)

5. Qalam Atau Pena

Pena disini bukanlah pena yang kita lihat dan sering digunakan. Namun pena yang tidak akan hancur saat kiamat adalah pena Allah atau Qalam. Para ulama mengatakan bahawa Qalam merupakan makhluk pertama yang Allah ciptakan. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al Qalam. Kemudian Allah berfirman kepadanya: Tulislah! Kemudian Al Qalam berkata” Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis? Kemudian Allah berfirman “Tulislah takdir segala sesuatu sehingga datang hari kiamat (HR Abu Dawud) .

6. Tulang Ekor Manusia

Saat tubuh manusia hancur di hari kiamat tersebut, salah satu bahagian tubuh manusia iaitu tulang ekor justru terlihat sebaliknya. Ini bukanlah sebuah karangan ataupun khayalan kerana sesuai dengan hadis Rasulullah yang berbunyi “Tiada bahagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang iaitu tulang ekor. Darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat ” (HR Bukhari).

7. Roh

Meski roh merupakan urusan yang Allah sahaja yang tahu, namun sifat roh telah diterangkan oleh Allah sebagai salah satu yang tidak hancur meskipun terjadi kiamat. Roh yang terdapat dalam diri manusia jika sudah waktunya meninggal dunia maka akan dicabut dan dikembalikan semula ketika hari kebangkitan. Para ulama pun bersepakat tentang abadinya roh manusia.

Memang jelas bahawa beriman kepada hari kiamat merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini. Hal yang berkaitan dengan kiamat pun meski kita sedari dengan landasan Al Quran dan Sunnah Rasul.

Sumber:beritamakkah.com

loading…
RELATED POSTS :

Anda Mungkin Terkena SIHIR kalau mempunyai TANDA-TANDA INI..
Rasulullah s.a.w menerangkan permasalahan sihir ini di beberapa keadaan antaranya seperti hadi… Read More…
Puasa Sunat Hari Tasu’a (9) Muharram
Tasu’a (تاسوعا) bermaksud “Hari Kesembilan” Muharram iaitu hari sebelum Asyura yang disarankan … Read More…
HUKUM PEREMPUAN BERPAKAIAN MENAMPAKKAN BENTUK TUBUH DAN HUKUM BAGI ORANG YANG SENGAJA MELIHAT AURAT ORANG LAIN
SOALAN Apakah hukumnya di sisi Islam bagi orang perempuan berpakaian menampakkan bentuk tubuh da… Read More…
Amalan Yang akan Menyelamatkan anda dari SEKSA ALAM BARZAKH
Tidak adalagi yang lebih sempurna selain Al-Quran, semua signal ilmu pengetahuan, tata cara berp… Read More…
Ini Bukti Ilmiah Bahwa Nabi Muhammad Pernah Membelah Bulan Jadi Dua
Kisah bulan terbelah dua, bukan ilusi atau khayalan. Ia bukan sihir dan silap mata. Malah ini ada… Read More…

11/01/2017 Posted by | Informasi, Tazkirah | 1 Comment

Amal Zikir Fatimah Untuk Kurangkan Kepenatan Urus Rumah Tangga. Ibu-Ibu Wajib Buat! 


Wanita yang bergelar ibu dan bekerja sama ada di pejabat atau di rumah tentu sahaja sesekali akan terkeluar keluhan penat dan stres kerana bebanan tugas di rumah dan tempat kerja yang tak pernah habis. Menguruskan suami, anak-anak, rumah tangga, tugas di pejabat bukanlah tanggungjawab yang mudah. Sebagai manusia biasa tentu sahaja akan berasa penat dan lelah.
Selain mengeluh, mungkin ada wanita akan memperuntukkan masa untuk diri sendiri bagi menghilangkan stres dan keletihan yang dialami dengan memanjakan diri di spa, pergi berurut, bercuti atau keluar bersiar-siar bersama teman. Namun, tanpa kita sedari sebenarnya dalam Islam telah ada penawar segala kepenatan ini seperti diajarkan oleh Rasulullah s.a.w kepada puteri Baginda, Saidatina Fatimah r.a.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, satu hari puteri Rasulullah s.a.w Saidatina Fatimah r.a mengadu kepada suaminya, Saidina Ali bin Abu Talibb r.a. tentang tangannya yang berasa sakit dan keletihan kerana terlalu banyak kerja rumah yang perlu dilakukan.

Saidatina Fatimah kemudian datang menemui ayahandanya baginda Rasulullah s.a.w untuk meminta seorang pembantu. Tetapi dia tidak berjaya menemui Rasulullah s.a.w dan hanya bertemu Saidatina Aisyah r.a.

Kemudian Saidatina Fatimah meninggalkan permintaannya kepada Saidatina Aisyah untuk disampaikan kepada Rasulullah s.a.w. Apabila Rasulullah s.a.w tiba di rumah, Saidatina Aisyah pun memberitahu Baginda tentang permintaan puterinya.

Lalu Baginda telah pergi menemui puteri serta menantunya yang ketika itu telah berbaring di tempat tidur. Keduanya mahu berganjak bangun dan ingin menghampiri Baginda akan tetapi Rasulullah meminta mereka tetap di tempat pembaringan.

Kemudian Baginda bersabda: “Mahukah kamu berdua aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kamu berdua minta? Ketika kalian berbaring hendak tidur, maka bacalah takbir (Allahu Akhbar) 34 kali, tasbih (Subhanallah) 33 kali dan tahmid (Alhamdulillah) 33 kali. Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Muslim, no: 4906)

Jadi, kepada ibu-ibu yang kepenatan bolehlah amalkan ajaran Rasulullah s.a.w ini untuk membaca Zikir dan Tasbih Fatimah sambil berbaring atau menyusukan bayi. Selain beroleh ketenangan anda juga dapat pahala.

Dalam pada itu, sentiasalah menanamkan dalam hati supaya ikhlas dan reda melakukan segala tanggungjawab sebagai isteri dan ibu supaya tidak terasa satu bebanan yang memenatkan. Semoga ibu-ibu semua dikurniakan ganjaran pahala daripada Allah SWT.

Sumber: majalahpama.my

11/01/2017 Posted by | Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

ADAKAH MENGIKUT MAZHAB ITU WAJIB?

Penulis : Dr Asmadi Mohamed Naim

Saya didatangi dengan soalan ‘adakah mengikut mazhab itu wajib?’. Saya akan cuba menjelaskan secara ringkas. Secara khususnya, seseorang yang bertaraf mujtahid adalah dilarang mengikut mazhab sebaliknya hendaklah dia berijtihad berdasarkan dalil al-Quran dan sunnah.

Bagaimana pula orang-orang awam? Sepakat ulama-ulama Usul (untuk diiktiraf ulama usul mereka mesti mahir quran & sunnah dan penafsirannya) mengatakan mazhab orang-orang awam ialah mazhab muftinya, kerana sekiranya didatangkan dalil kepada orang-orang awam, dia tidak tahu sahihnya atau dhaifnya; atau dia tidak tahu cara penghujahannya; dan dia juga tidak tahu nasikh atau mansukh.

Akhirnya dia juga terpaksa bertaqlid dengan ustaz-ustaz untuk bertanya mana sahih, dan yang mana dhaif; atau bertanya maksudnya. Maka muqallid jugalah tu, Cuma berubah dari taqlid Imam-Imam mazhab kepada taqlid ustaz itu.

Apabila ditanya kepada saya, adakah saya mengikut mazhab, saya katakan: Saya bukan mujtahid, jadi saya mengikut dan mengeluarkan pandangan kebanyakkannya berdasarkan mazhab Imam Shafie Rahimahullah seboleh mungkin.

Saya ditanya lagi: Kalau begitu ustaz seorang muqallid (pentaklid) jugalah? Saya katakan: Antara muqallid dan mujtahid, ada martabat pertengahan iaitu ‘muhafiz’, iaitu berpegang pada pandangan mazhab, dengan juga melihat dalil-dalil.
Kalau saya dapat sampai ke tahap ini, saya bersyukur banyak-banyak pada Allah SWT.

Saya ditanya lagi: Kenapa Ustaz berpegang pada pandangan orang dah mati? Saya katakan: Ulama Usul sepakat membenarkan berpegang kepada pandangan orang yang sudah mati sebab yang mati ialah orangnya, tapi ilmunya tidak mati.

Saya ditanya lagi: Kenapa Ustaz tak mengikut mana-mana profesor/Dr/Ustaz sekarang yang boleh bina mazhab sendiri? Saya jawab: Kenapa perlu saya berubah keyakinan dari orang yang dekat zamannya dengan Rasulullah SAW (العالي), kepada orang di zaman sekarang (النازل) yang saya tak tahu sejauh mana ketakwaan dia dan ilmunya!

Saya ditanya lagi: Tak cukupkah ijazah PhD yang ustaz dapat untuk menjadi mujtahid? Saya akan katakan sambil gelak: Tidak ada pun ulama-ulama besar mensyaratkan ada PhD/Prof. Madya sebagai mujtahid. Setahu saya mereka mensyaratkan hafal al-Quran dan sunnah, tahu ijma’ dan qiyas, mahir dalam usul fiqh, mahir bahasa Arab, tahu nasikh dan mansukh dan lain-lain beserta sifat taqwa! Sistem belajar sekarang, kalau saya kaji pasal kuman, saya mahir dalam kuman sahaja, belum lagi bidang lain. Untuk Prof. Madya/prof pula, kena tulis bagi masuk Jurnal-Jurnal terkemuka, buku-buku, buat kajian dan markah-markah persidangan, jawatan dan sebagainya. Tapi kalau banding dengan kitab-kitab ulama dulu yang tebal-tebal dan diiktiraf dalam pelbagai bidang, merah padam dan malu rasanya. Bersyukurlah kalau dapat menjadi hamba yang tahu dirinya……

Saya ditanya lagi: Habis tu, ada orang mendakwa dia mampu berijtihad! Saya katakan lagi: Biarkan Si luncai terjun dengan labu-labunya……. adakah anda mahu terjun sama…silakan….tapi belum pasti selamat…. Mungkin petikan dari kitab al-Sheikh Mahmud Sa’id Mamduh (dalam kitabnya al-Ta’rif bi Auham man qassama al-Sunnan Ila Sahih wa Dhaif, jilid 1, halaman 14) membantu kefahaman pembaca: Faedah ke 3 Sesungguhnya aku melihat al-Ustaz al-Sheikh ((Muhammad Nasruddin Al-Bani)) melarang beramal dengan sebarang hadis-hadis dhaif, dan mewajibkan membezakan antara sahih dan dhaif –berdasarkan pandangannya- untuk dia mempromosikan kepada orang ramai dengan sesuatu yang dinamakan- “al-fiqh al-musaffa (fiqh tulen/suci) – sila rujuk muqaddimah Sahih al-Adab al-Mufrad, 2000, hal.32, Cetakan Dar al-Buhuth lil Dirasat al-Islamiyyah).
Ketika itu dia mempunyai tugasan untuk menjelaskan apa yang dinamakan ‘fiqh musaffa’; maka beliau melakukan pembahagian kitab-kitab Sunan yang empat kepada dua bahagian: 1. Sahih dan hassan, yang boleh diamalkannya. 2. Dhaif, tidak boleh diamalkannya, dan dia gabungkan dengan hadis-hadis wahiyat(rekaan) dan maudu’at(palsu) dalam satu bab.
Sesungguhnya aku melihat perbuatannya ini, bertentangan dengan jalan para fuqaha dan ulama hadith. Sesungguhnya dia mencipta satu kecacatan besar, dan satu keraguan besar pada dalil-dalil furu’ fiqh yang umum, dan mencabut thiqah (keyakinan masyarakat) terhadap ulama-ulama fiqh, hadith dan terhadap warisan penulisan fiqh, hadith yang diwarisi dan umat bangga dengannya.
Tambahan pula, dia juga diuji dengan mengingkari sebahagian jalan-jalan para fuqaha’ dan ulama hadis pada mensahihkan dan mendhaifkan hadith dan hukum ke atas rawi. Dia menuduh ulama-ulama silam sebagai ‘tidak konsisten’ pada satu ketika, dan pada ketika lain sebagai memudah-mudahkan’. Maka menyangkalah orang-orang yang tidak mengetahui (jahil), bahawasanya, dengan berbeza pandangan Albani dengan fuqaha’, muhadthin dan para penghafal hadith, Albani telah mendatangkan sesuatu yang sukar bagi ulama-ulama silam (samada Mutaqaddimin atau mutaaakhkhirin) memahaminya dan menguasainya, maka bersegeralah mereka bertaklid padanya, dan orang-orang ini meninggalkan para Imam-imam dan penghafal hadith, dan beramal secara berbeza dari apa yang diwarisi dari Imam-Imam, ijtihad ulama mujtahid; dan Albani menjadi tinggi dari mereka.
Maka jadilah Sheikh Muhammad Nasiruddin Albani memindahkan orang ramai dari mengikuti ‘orang yang dekat zamannya dengan Rasulullah’ (العالي), kepada ‘seorang yang zamannya jauh daripada Rasulullah’ (النازل), dan menjauhkan mereka daripada mengikuti Imam-Imam Mujtahid dan para penghafal hadith kepada mengikutinya seorang sahaja.”

Tamat Nukilan Terpulang kepada pembaca membuat pertimbangan. Pada saya berpegang pada ijtihad dahulu lebih selamat dari berpegang kepada ijtihad sekarang yang kelihatan carca merba metodenya dan bertaklid dengan orang-orang baru (al-nazil).

Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari kesesatan dan menganugerahkan kita jalan yang lurus.

Wallahu a’lam.

31/12/2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

PELIHARALAH ADAB KETIKA MENZIARAHI PESAKIT!

OLEH : MUFTI BRUNEI 

ﺑﺴﻢ ﺍﷲ ، ﻭﺍﳊﻤﺪ ﷲ ، ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ، ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﻣﻦ ﻭﺍﻻﻩ

(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

Islam sangat mengambil berat kepentingan mengeratkan hubungan tali persaudaraan atau silaturrahim sesama muslim. Salah satu cara yang dianjurkan oleh Islam  untuk mengeratkan hubungan persaudaraan atau silaturrahim  sesama muslim  itu ialah dengan menziarahi orang sakit. Menziarahi orang sakit adalah salah satu hak seorang muslim ke atas muslim yang lain.

Dalam sebuah hadits  yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

Maksudnya: “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wasallam bersabda:  “Hak seorang muslim ke atas muslim (yang lain) ada lima perkara, iaitu menjawab salam, menziarahi orang yang sakit, mengiringi jenazah, menjawab (menghadiri) undangan dan  mendoakan orang bersin.” (Hadits riwayat al-Bukhari)

Terdapat banyak hadits yang menyebutkan tentang anjuran dan kelebihan menziarahi orang sakit, antaranya sabda Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam:

Maksudnya: “Sesiapa yang menziarahi orang sakit atau menziarahi saudaranya kerana Allah, nescaya penyeru (malaikat) akan berseru kepadanya: “Alangkah bagusnya engkau, alangkah bagusnya perjalananmu, telah tersedia untukmu sebuah rumah di  dalam syurga!”.(Hadits riwayat at-Tirmidzi)

Hukum menziarahi orang sakit adalah sunat  mu’akkadah iaitu  sunat yang sangat dituntut.

Menziarahi orang  sakit tidak hanya  terbatas kepada sahabat atau jiran tetangga yang sakit sahaja, bahkan disunatkan  juga menziarahi saudara Islam yang tidak dikenali hatta musuh atau orang  yang pernah menyakiti kita.

Hukum menziarahi kafir  dzimmi yang sakit pula pada dasarnya adalah harus, namun disunatkan menziarahinya jika dia dari  kalangan ahli terdekat atau jiran, atau kerana berharap supaya dia  memeluk Islam.

Adab Ketika Ziarah

Dalam menziarahi orang sakit, adakalanya kita lupa akan adabadab yang perlu diikut sehingga niat yang baik hanya akan  membebankan orang sakit dan bukan seperti yang diharapkan.

Antara adab-adab menziarahi orang sakit yang perlu dijaga  ialah:

1) Hendaklah tujuan melakukan ziarah itu  ikhlas kerana Allah Ta‘ala dan dengan niat yang baik seperti kerana rasa kasih dan sayang, persaudaraan, tanggungjawab dan sebagainya, bukan disebabkan niat dan tujuan yang tidak baik, juga bersifat duniawi semata-mata seperti ingin merebut harta dan kemewahan.

2) Melakukan ziarah pada waktu yang sesuai. Jangan terlalu lama dan kerap  melakukan ziarah  kerana dikhuatiri akan mendatangkan kesusahan dan gangguan kepada orang sakit, malah juga kepada orang sakit berhampiran sekiranya berada di rumah sakit.

Makruh hukumnya melakukan ziarah jika mendatangkan kesusahan atau gangguan kepada orang sakit, menghalang pergerakannya atau membuatkannya berasa tidak selesa. Dianjurkan untuk melakukan ziarah secara berselang agar tidak mendatangkan sebarang kesulitan atau gangguan kepada orang sakit.

Namun sebaliknya, digalakkan untuk kerap melakukan ziarah bagi yang mempunyai hubungan rapat dengan orang sakit itu serta yang disenangi kehadirannya seperti keluarga atau sahabat karib selama mana tidak ada tegahan atau tidak menimbulkan gangguan.

Begitu  juga digalakkan untuk kerap melakukan ziarah jika dengan tidak melawat tiap-tiap hari akan mendatangkan kesusahan kepada  orang sakit itu apabila tidak menjenguknya.

Ulama ada mengatakan bahawa  melakukan ziarah pada hari Jumaat itu lebih afdhal daripada hari-hari lain.

3) Berada di sisi orang sakit, sebaiknya di bahagian kepalanya, bagi membolehkan orang sakit itu berinteraksi dengan mudah dan selesa.

4) Bertanya akan keadaan orang sakit sambil meletakkan tangan di atas dahi atau tangannya sebagaimana tersebut di dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

Maksudnya: “Kesempurnaan cara mengunjungi orang yang sakit, hendaklah seseorang itu  meletakkan tangannya di atas dahi atau tangan orang sakit  itu, lalu bertanya kepadanya tentang keadaannya.”

(Hadits riwayat at-Tirmidzi)

Disunatkan juga menanyakan kepada ahli keluarga pesakit akan keadaan orang sakit  terutama sekali  bilamana orang tersebut dalam keadaan tenat  tidak boleh bercakap-cakap.  Namun perlu diingat, janganlah terlalu banyak bertanya dan janganlah bertanya sehingga menjengkelkan.

5) Ucapkanlah kata-kata yang elok dan baik yang dapat menyenangkan, menggembirakan dan mententeramkan hati orang sakit, bukannya kata-kata yang tidak disukainya dan yang boleh merisaukannya, melemahkan semangat serta menambahkan kesakitannya. Jika ia kelihatan takut atau gelisah, adalah elok untuk bercakap mengenai kelebihan yang ada padanya, jasa atau kebajikan yang pernah dibuatnya agar perasaan takut itu hilang. Disunatkan untuk memberinya nasihat agar banyak bersabar dan tabah menghadapi penderitaan yang di alaminya, sentiasa bersangka baik terhadap Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Orang yang berziarah hendaklah memberi harapan sembuh  dengan mengatakan kepadanya bahawa apa yang ditanggungnya ini merupakan ujian dari Allah  Subhanahu wa Ta‘ala  dan insya Allah akan membersihkan dirinya daripada dosa serta mendapat ganjaran pahala yang besar. Antara ucapan Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam  yang memberi keyakinan dan harapan sekali gus menjadi doa ialah:

Maksudnya: “(Penyakit ini) tidak apa-apa, malah membersihkan (daripada dosa), insya Allah.” (Hadits riwayat al-Bukhari)

6) Disunatkan untuk  mendoakan orang sakit supaya cepat  sembuh, sama ada ketika melakukan ziarah ataupun tidak dan  sama ada besar harapan untuk sembuh ataupun sebaliknya.

Terdapat banyak hadits  shahih yang menyebutkan mengenai doa-doa yang boleh dibaca  bagi memohon kesembuhan dan keafiatan orang sakit, antara  doa yang afdhal ialah membaca doa yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wasallam  sebanyak tujuh kali kepada pesakit, nescaya Allah Subhanahu wa Ta`ala menyembuhkannya:

Maksudnya: “Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung, semoga Dia menyembuhkanmu.”

Di samping pengambilan ubat dan penggunaan peralatan perubatan,  pengubatan secara  ruqyah  (jampi) yang merupakan  sunnah Baginda  Shallallahu ‘alaihi wasallam juga boleh dilakukan apabila berziarah.

Di antara  ruqyah atau dipanggil juga menawari di kalangan masyarakat kita itu adalah dengan meletakkan tangan kanan ke atas badan orang sakit atau di tempat yang sakit dan membaca “Bismillah”, kemudian meniup kepadanya  seraya membaca  mu‘awwidzat  (surah al-Ikhlas, surah al-Falaq dan surah an-Nas) atau doa  perlindungan.

Sayyidatina ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha  ada meriwayatkan:

Maksudnya: “Bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meniup badan Baginda sambil membaca al- mu‘awwidzat di kala Baginda mengalami sakit yang membawa kepada kewafatannya.” (Hadits riwayat al-Bukhari)

Selain itu juga pesakit dianjurkan membaca doa pelindung ini dengan meletakkan tangan pada tempat yang sakit sebanyak tujuh kali yang bersumber daripada hadits Muslim:

 

Maksudnya:  “Aku berlindung dengan  kemuliaan Allah dan kekuasaanNya daripada kejahatan yang aku dapat dan aku waspadai.”

7) Dianjurkan untuk  meminta orang sakit itu mendoakan kesejahteraan dan kebaikan kita kerana doa orang sakit adalah mustajab berdasarkan sabda Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam:

Maksudnya: “Apabila engkau datang mengunjungi orang yang sakit, maka mintalah agar dia mendoakanmu, kerana doanya (makbul) seperti doa para malaikat.”(Hadits riwayat Ibnu Majah)

8) Berpesan kepada keluarga orang sakit atau orang yang menjaganya untuk berbuat baik, berlaku lembut dan sabar dengan karenah orang sakit dan beban ditanggung kerananya.

9) Menjaga aurat dan batas pergaulan semasa menziarahi orang sakit, lebih-lebih lagi bagi  yang bukan mahram. Harus bagi seorang perempuan menziarahi seorang lelaki yang sakit selama mana ia menutup aurat, tidak menimbulkan perkaraperkara keji, syak, fitnah  dan bukan dinamakan khalwat (berdua-duaan). Sayyidatina ‘Aisyah  Radhiallahu ‘anha  ada meriwayatkan bahawa beliau pernah menziarahi Abu Bakar dan Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘anhuma yang mengalami demam panas, lalu ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

Maksudnya: “Wahai ayah, bagaimana yang ayah rasakan dalam diri ayah? Dan wahai Bilal, bagaimana yang engkau rasakan dalam diri engkau?”   (Hadits riwayat al-Bukhari)

10) Jangan bercerita tentang perkara buruk atau aib orang sakit kepada orang lain. Hendaklah disembunyikan sebarang keburukan atau keaiban yang dilihat.

11) Bagi orang sakit yang tiada  harapan untuk sembuh atau sedang nazak, dituntut ke atas ahli terdekat untuk membacakan talqin atau mengajarkannya ucapan ﺍﷲ ﺇﻻ ﺇﻟﻪ ﻻ agar kalimah tauhid tersebut menjadi ucapan terakhir sebelum dia meninggal dunia. Tidak perlu mengulang-ulang talqin jika orang sakit itu mengucapkan kalimat  tauhid tersebut melainkan jika selepas mengucapkannya dia masih lagi bercakap atau menyebut perkara lain selain kalimat tauhid.

Menghadapkannya ke arah kiblat iaitu dengan membaringkannya pada rusuk sebelah kanannya dan menghadapkan mukanya ke arah kiblat. Jika sukar, baringkan dia pada rusuk sebelah kirinya  dengan menghadapkan ke arah kiblat. Jika sukar juga, baringkan dia dengan menelentang dan menghadapkan muka serta telapak kakinya ke arah kiblat.

Angkat sedikit kepalanya supaya mukanya menghadap ke arah kiblat.  Sunat  dibacakan di sisi orang sakit itu surah Yasin dengan jahr dan surah ar-Ra‘d dengan israr. Jahr ialah suara nyaring atau tinggi sehingga dapat didengar oleh orang lain dan  Israr ialah suara perlahan yang hanya  dapat didengar oleh dirinya sendiri.

Sekurang-kurang  jahr itu ialah suara yang hanya dapat didengar oleh orang yang bersamanya. Dan sekurang-kurang israr ialah suara yang  hanya dapat didengar  oleh diri sendiri mengikut pendengaran yang biasa tanpa ada halangan untuk mendengar seperti tuli.

Sebagai kesimpulan, tuntutan menziarahi orang sakit memang mempunyai peranan dalam menanai sifat berkasih sayang , ambil peduli dan tidak camah mata di kalangan masyarakat. Di samping menghibur dan meringankan penderitaan orang sakit, dengan saling ziarah-menziarahi, ikatan persaudaraan dan sillaturrahim akan menjadi erat. Selain itu, peranan ruqyah mengikut cara Islam juga mempunyai hikmah tersendiri.

Insya Allah dengan mengikut dan menjaga adab-adab yang ditetapkan, amalan menziarahi orang sakit ini akan menjadi  lebih berkat. Amalan  ini sangat dituntut kerana ianya boleh mengingatkan kita kepada kematian dan mengajak kepada keinsafan.

20/12/2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

KITA APABILA SAKIT AKAN MENGELUH. TETAPI TAHUKAH ANDA HIKMAHNYA DISEBALIK SAKIT ITU?

Bahagian Dakwah, JAKIM

Apabila Allah SWT memberi kita sakit, ia adalah sesuai dengan daya tahan kita sebagai hamba-Nya, dan banyak hikmahnya :

1) Sakit itu Zikrullah.
Mereka yang diuji dengan sakit lebih sering menyebut nama Allah berbanding di waktu sihatnya.

2) Sakit itu Istighfar.
Kita akan mudah teringat akan dosa kita ketika sakit sehingga mudah bibir untuk beristighfar memohon ampun.

3) Sakit itu Muhasabah.
Orang yang sakit akan lebih banyak waktu utk merenung diri dalam sepi & menghitung bekal untuk dibawa apabila kembali ke rahmatullah.

4) Sakit itu Jihad.
Orang yang sakit tidak boleh menyerah kalah, diwajibkan untuk berikhtiar sedaya upaya agar cepat sembuh.

5) Sakit itu Ilmu.
Sakit akan membuat kita mencari ilmu seperti belajar tentang khasiat herba, menghafal ayat syifa’, ruqqiyah dll sebagai penawar & pendinding dari sakit.

Pengalamannya pula lebih menyediakan kita untuk mencorak hidup yang boleh mengelakkan berulangnya penyakit itu. Dan, berkongsi pengalaman ini dengan orang lain.

6) Sakit itu Nasihat.
Mereka yang sakit selalu suka menasihati yang sihat agar menjaga diri. Yang sihat pula menasihati yang sakit agar bersabar.

7) Sakit itu Silaturrahim
Ahli keluarga, sahabat dan jamaah yang jarang berjumpa akan datang menziarahi, penuh senyum, rindu mesra dan dengan buah tangan lagi.

8) Sakit itu gugur dosa.
Anggota badan yang sakit akan mendapat penyucian daripada dosa yang telah dilakukan.

9) Sakit itu Mustajab Doa.
Org yang sakit mustajab doanya. Imam As-Suyuthi mengelilingi kota mencari orang yang sakit agar dapat mendoakannya.

10) Sakit itu menyusahkan Syaitan.
Orang yang sakit apabila diajak maksiat tak mahu dan tak mampu, malah disesalinya.

11) Sakit itu sedikit tertawa dan banyak menangis.
Satu sikap keinsafan yang di sukai oleh Anbiya’ & makhluk di langit.

12) Sakit meningkatkan kualiti ibadah.
Solat orang sakit lebih khusyuk terutama dalam rukuk dan sujudnya apabila ia banyak bertasbih dan beristghfar, berdoa dan meminta ampun agar sakitnya segera sembuh.

13) Sakit itu memperbaiki iman dan akhlak.
Kesombongan terkikis. Sifat tamak dipaksa tunduk. Peribadi akan menjadi santun, lembut dan tawadhuk.

14) Sakit mengingatkan kita akan Mati
Membuatkan kita sentiasa beringat untuk lebih beramal & beribadat.

Ayuh Zikir, Fikir, Syukur & Sabar. Semoga kita mendapat rahmat dan keampunan daripada Allah s.w.t.

15/12/2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

MARI JAUHKAN DIRI DARI IRI HATI DAN DENGKI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memberi nasehat:
“Wahai orang-orang yang beriman mengapa engkau merasa iri terhadap tetanggamu yang hidup senang, yang memperoleh rahmat-rahmat dari Tuhannya. Tidakkah kau tahu bahwa yang demikian itu dapat melemahkan imanmu, mencampakkanmu di hadapan Tuhanmu dan membuatmu dibenci oleh-Nya?

Tidakkah engkau sadar sabda Nabi bahwa Allah SWT berfirman: “Kedengkian adalah musuh rahmat-Ku.” Tidakkah engkau dengar juga sabda Nabi, “Sesungguhnya kedengkian melahap kebajikan sebagaimana api melahap kayu bakar.”

Lalu, mengapa kau iri dan dengki kepadanya?

Jika engkau iri hati terhadapnya, karena karunia Allah baginya, maka berarti kau tak ridha dengan firman-Nya, “Kami karuniakan di antara mereka rezeki di kehidupan duniawi ini.” (QS Az-Zukhruf [43]: 32). Berarti kau benar-benar zalim terhadap orang ini, yang menikmati karunia Tuhannya. Itu merupakan karunia khusus untuknya, yang tidak diberikan-Nya sedikit pun dari bagian itu kepada orang lain. Maka, siapa sebenarnya yang lebih zalim, serakah dan bodoh?

Jika engkau dengki terhadapnya karena bagianmu, maka kau berarti telah bertindak sangat bodoh, sebab bagianmu tidak akan diberikan kepada orang lain, juga tidak akan berpindah dari tanganmu ke tangan orang lain. Allah SWT bebas dari kecacatan dan kelemahan hal semacam itu. Allah SWT berfirman, “Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (QS Qaf [50]: 29).
Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut darimu segala yang telah ditentukan-Nya bagimu dan tak akan memberikannya kepada selainmu. Ini adalah bentuk kebodohanmu sendiri dan kezalimanmu pada saudaramu.”

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adab As-Suluk wa At-Tawassul ila Manazil Al-Muluk

15/12/2016 Posted by | Bersama Tokoh, Ibadah, Renungan & Teladan, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

KHIDMAT SEORANG MURID

“Apabila kita berguru, kita bukan hanya belajar kitab sahaja dengan dia. Murid juga bersuhbah dengan dia, kita bermusafir dengan dia, kita berkhidmat dengan dia. Angkat barang dia, jaga keperluan dia dan jangan tunggu disuruh.”

“Khidmat adalah pembuka kepada ilmu, khidmat itu pembuka pintu kepada murid. Kalau alim sahaja, ilmu ada. Khidmat tak ada, akhirnya lahir ulama yang tak beradab. Khidmat ini penting, belajar adab. Kalau kamu boleh khidmat, khidmatlah habis-habisan. Suhbah dengan guru, dan hendaklah kamu bersama dengan orang-orang siddiqin.”

“Ada satu kisah, di sebuah pondok pengajian. Ada seorang sheikh yang alim, tetapi sudah tua. Dihujung hayatnya, dia inginkan seorang penganti dirinya, daripada kalangan anak muridnya. Agar, boleh mengantikannya mengajar dan membimbing, anak-muridnya yang lain.”

“Sheikh belum nampak lagi ada di kalangan, anak muridnya yang boleh mengantikannya. Ada sebatang pen yang amat disayangi oleh sheikh tersebut. Suatu hari, pen itu dicampakkan kedalam jamban di tempat pengajian tersebut.”

“Kemudian, di dalam pengajian, sheikh berkata kepada anak muridnya; “Pen yang amat saya sukai telah jatuh di jamban. Adakah ada di antara kamu yang boleh ambilkannya untukku?”

Yang sorang, selalu duduk depan, anak muridnya buat tak tahu. Yang sorang, buat baca kitab. Yang sorang, buat-buat menghafal.”

“Diulang sampai tiga kali oleh sheikh. Ada sesiapa yang boleh ambilkan?”

Tiba-tiba, ada seorang yang menyahut daripada luar; “Sheikh, saya boleh sheikh.” Dia ini, selalu khidmat. Selalu sapu sampah, selalu susun selipar pelajar, bersihkan madrasah, khidmat tanpa disuruh. Kalau datang pengajian pon, di belakang.”

“Kemudian, anak murid yang selalu berkhidmat ni terjun ke dalam jamban. Dicari sampai jumpa pen syeikh. Kemudian, dibersihkan dan dicuci diberi minyak wangi kasi wangi. Keesokannya, pen itu dipulangkan kepada sheikhnya.”

“Sheikh berkata; “Kau yang ambilkan pen ini?” Kata pemuda yang selalu berkhidmat itu;

“Ya, sheikh.

Mengalir airmata sheikh. Masya Allah. Kemudian, dia berkata; “Kemarilah.” Dekat kepadaku. Dan didoakan oleh sheikh; “Ya Allah, aku redha dia, sebagai anak muridku. Ya Allah. Ya Allah, kau turunkanlah ilmu yang Kau berikan padaku, mengalir kepadanya.”
“Terus kabul doa sheikh. Begitulah, Berkat berkhidmat dengan orang-orang soleh.

“Khidmat adalah pembuka kepada ilmu, khidmat itu pembuka pintu kepada murid. Kalau kamu boleh khidmat, khidmatlah habis-habisan. Itulah keberkatan. Suhbah dengan guru, bersama dengan orang-orang siddiqin.”

Ibn Al-Muari
via: Raudhatul Muhibbin
Oleh:Ustaz Yunan A Samad

29/11/2016 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

BAGAIMANA MENCAPAI IKHLAS DALAM AMALAN.

Bahagian Dakwah, JAKIM

Ikhlas merupakan modal yang paling penting dalam melakukan amalan ibadah yang dikerjakannya. Kerana penilaian ibadah seorang hamba di sisi Allah SWT itu bergantung kepada keikhlasannya.

Ikhlas itu merupakan urusan batin manusia yang dapat di lihat dengan amalannya. Hati yang ikhlas akan melahirkan amalan yang ikhlas.

Dengan kata lain ikhlas adalah melakukan amalan dan ibadah semata-mata kerana Allah SWT dengan meninggalkan amalan kerana manusia.

Oleh kerana itu meninggalkan amalan kerana manusia adalah riak, melakukan amalan kerana manusia adalah syirik.

Dan ikhlas itu adalah menjauhkan dari dua perkara tersebut.
Ikhlas merupakan pembuka pahala, amalan penolak bala’, dan diturunkan rahmat Allah SWT. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an Surah Al-Bayyinah, ayat 5:
*وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ*
“Pada hal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh di atas tauhid; dan supaya mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah Agama yang benar”.

Oleh kerana itu, tazkirah hari ini, ingin berkongsi sedikit tips bagaimana mencapai keikhlasan dalam melakukan amalan, di antaranya:

1. Hadirkan niat kerana Allah SWT dalam setiap amalan yang dilakukan meskipun pada perkara yang kecil-kecil.
2. Tanamkan perasaan benci dalam hati untuk mengharapkan pujian manusia. Kerana amalan yang kita lakukan di dunia adalah bekal kehidupan nanti di akhirat.
3. Perbanyakkan muhasabah diri adakah amalan yang dilakukannya betul-betul ikhlas kerana Allah SWT atau kerana manusia.
4. Dengan mengingati bahawa diterimanya amalan di sisi Allah SWT di sebabkan dua faktor utama, pertama ibadah dengan baik dan kedua ikhlas semata-mata kerana Allah.
5. Membiasakan diri melakukan ibadah (yang sunnah sunnah) secara bersendirian yang jauh dari pandangan manusia. Untuk mendapatkan nilai keikhlasan hati yang sebenar.
6. Jangan tertipu dengan pujian manusia dan ucapkan alhamdulillah serta beristighfar jika mendapat sanjungan daripada manusia.
7. Letakkan dalam diri kita bahawa setiap amalan yang dilakukan semata-mata mengharapkan redha Allah SWT bukannya mengharapkan balasan dari manusia atau pujian dari mereka.
8. Tanamkan sifat sabar dalam melakukan suatu amalan dan perbuatan sebagai buah dari keikhlasan dalam hati kita.
9. Salah satu tanda keikhlasan adalah rajin dan semangat dalam melakukan setiap amalan dan ibadah. Sehinggakan amalan-amalan sunnah pun dilakukan dengan rajin.
10. Menjauhkan diri dari sifat berbangga dengan diri sendiri serta mengelakkan dari sifat suka meninggikan diri sendiri.
11. Perbanyakkan doa kepada Allah SWT agar dijauhkan diri kita dari pada sifat riak dan takabbur dalam melakukan sesuatu amalan dan perbuatan.

Wahai kawan dan sahabatku sekalian. Ikhlaskan diri kita dalam melakukan semua amalan kebaikan. Dan jangan kita melakukan suatu amalan selain daripada Allah SWT.
Allah maha mengetahui amalan hambanya, adakah dilakukan amalan tersebut dengan ikhlas atau sebaliknya.

Ya Rahman Ya Rahim terimalah amal ibadah hambamu ini. Jauhkan kami ya Allah dari amalan yang bersifat riak dan sombong terhadap sesama manusia. Mudah-mudahan Engkau redha ya Allah dalam menerima segala amal ibadah hambanya. Amin !

Wallahu A’lam.

29/11/2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Bilal/Muadzin di pandang remeh oleh manusia tetapi di pandang tinggi oleh makhluk langit.

Andai tahu ini, anda pasti berlumba menjadi tukang azan
Para muadzin (mengumandang azan) sering dinilai sebelah mata oleh berbagai kalangan. Mereka sering diletakkan sebagai kelas dua jika dibanding pengurus masjid atau tokoh masyarakat setempat. Padahal, para pengumandang azan mempunyai kedudukan yang tinggi dalam penilaian Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Berikut ini beberapa keutamaan pengumandang azan sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Setara dengan pahala saf pertama

Disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika manusia mengetahui (keutamaan) saf pertama dan azan, dan mereka tidak boleh mendapatkannya melainkan dengan undian, pastilah mereka akan melaksanakan undian (untuk mendapatkan kemuliaannya ).”

Kedudukan yang mulia

Disebutkan dalam al-Adzkar, Imam an-Nawawi menukil satu riwayat mulia yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Muawiyah bin Abu Sufyan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda, “Para muadzin adalah orang-orang yang paling mulia darjatnya di Hari Kiamat.”

Seluruh makhluk menjadi saksi

“Tidaklah terdengar suara muadzin oleh jin, manusia, dan makhluk apa pun,” demikian sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang driwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Sa’id al-Khudzri, “melainkan semua (makhluk) itu akan memberi keterangan pada Hari kiamat. ”

Saking mulianya para muadzin ini, para ulama membahasnya panjang lebar dan membandingkan kedudukan muadzin dan para imam solat. sebahagian ulama mengatakan, kedudukan keduanya sederajat. Sebahagian lainnya meninggikan kedudukan para imam. Sebahagian lainnya lagi lebih mengunggulkan para muadzin. Dan yang terakhir, disyorkan bagi seseorang yang mampu menjadi imam lebih memilih menjadi imam, dan jika tidak, mereka digalakkan untuk menjadi muadzin.

Betapa mulia para muadzin ini. Mereka terjaga dan bangun lebih awal untuk membangunkan kaum Muslimin. Jika pun sebahagian mereka ada yang mendapat ganjaran duniawi, sungguh derajat akhirat lebih mulia dari segala sukatan dunia.

Sebagai penutup, amat penting kiranya bagi calon mertua untuk menyeleksi calon menantu laki-lakinya kelak. Jika ia boleh mengumandang azan, letakkan pada kedudukan dipertimbangkan. Andai terbiasa azan, jangan segan untuk memilihnya. Dan jika tidak pernah azan dengan alasan sibuk bekerja, pertimbangkanlah baik-baik.

Sebab azan adalah dakwah yang paling mudah.

* sumber bersamadakwah.net

http://detikislam.blogspot.my/ | 10 November 2015.

29/11/2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Cara menyelamatkan diri dari Dajjal……

dajjal

Tentera Dajjal,perempuan yang ramai jadi pengikut nya

 

Telah dijelaskan sebelum ini menjelangnya kemunuculan Dajjal, kaum muslim mempunyai kekuatan yang besar dan terlibat dalam peperangan dan berjaya. Dajjal muncu untuk menghancurkan kekuatan Islam yang telah berjaya mengalahkan negara terkuat pada masa itu, yakni bangsa Rom. Kaum muslim juga berjaya merebut kembali Konstantinopel.

Pada saat itu, syaitan berteriak bahawa dia telah menjamin (harta) anak keturunan kaum muslim, sehingga mereka meninggalkan harta ganimah dan kembali ke kampung halaman mereka. Kemudian Dajjal muncul, maka kaum muslim tidak meletakkan senjata mereka. Ketika Nabi Isa turun, dia melihat kaum muslim “bersiap sedia untuk berperang dan merapatkan barisan.” Tidak ragu lagi, pada ketika itu, setiap muslim bergabung dengan kekuatan Islam yang memikul bendera jihad fisabilillah dan berpegang teguh di atas kebenaran walaupun apa jua ujian yang menimpa. Inilah yang diwasiatkan oleh Rasulullah SAW yang menceritakan kemunculan Dajjal, “Dajjal keluar di daerah antara Syam dan Iraq. Kemudian dia membuat kerosakan di sebelah kanan dan kirinya. Wahai hamba Allah! Kuatkan iman kalian!” (HR. Muslim 2937 dan Ibn Majah 4075).

Setiap muslim tidak dibenarkan mendatangi Dajjal, walau pun dia percaya pada dirinya sendiri. Sebab, Dajjal mempunyai tipu daya yang boleh menggoncangkan iman. Dalam hadis Abi Dawud diriwayatkan dengan sanad sahih daripada Imran ibn Husain bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa mendengar ada Dajjal, hendaklah dia menjauhi dirinya. Demi Allah, seorang lelaki mendatanginya dengan rasa percaya diri sebagai seorang mukmin, namun akhirnya dia mengikuti Dajjal, kerana tipu daya yang dilakukannya. ”

Orang yang tidak mampu melawannya boleh lari. Inilah yang dilakukan oleh kebanyakan orang pada masa itu. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahawa Ummu Syarik berkata, “Aku mendengar Nabi SAW bersabda, ‘Orang-orang akan lari ke gunung kerana (takut) Dajjal’.”

Bila seorang mukmin terpaksa menghadapinya, dia harus melawan dengan kebenaran dan hujjah (argumentasi yang kuat). Dalam hadis disebutkan, “Bila dia (Dajjal) muncul dan aku bersama kalian, aku akan berdebat dengannya. Bila dia muncul ketika aku tidak bersama kalian, seseorang akan berdebat dengannya, dan Allah menjadi penggantiku atas setiap muslim. ”

Rasulullah SAW memberikan pengetahuan tentang Dajjal. Dajjal mempunyai fizikal yang boleh melihat, makan, minum, sedangkan Allah tidak dapat dilihat di dunia, suci dari makan dan minum. Dajjal mempunyai cacat di matanya. Dalam hadis dinyatakan, “Dia adalah pemuda berambut keriting pendek, matanya menonjol seolah-olah dia mirip dengan Abdul ‘Uzza ibn Quthn.

Oleh itu, tuntutan orang yang demikian sebagai Tuhan merupakan dusta dan bohong. Rasulullah SAW memerintahkan orang yang bertemu dengannya agar membaca surah al-Kahfi. Sabda Rasul SAW, “Siapa yang menemuinya, hendaklah dia membaca surat al-Kahfi.”

Dalam hadis Abu Umamah dinyatakan, “Sesungguhnya di antara fitnahnya, dia (Dajjal) mempunyai syurga dan neraka. Nerakanya adalah syurga, surganya adalah neraka. Siapa diuji dengan nerakanya, hendaklah ia mohon pertolongan kepada Allah dan membaca awal surat al-Kahfi…”

Dalam hadis sahih disebutkan, “Orang yang hafal sepuluh ayat dari surat al-Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal.”

Menurut sebahagian hadith, diterangkan bahawa yang dimaksudkan adalah surah awal al-Kahfi dan menurut sebahagian lagi adalah akhir surat al-Kahfi.

Kenapa membaca awal dan akhir surat al-Kahfi boleh melindungi kita dari Dajjal? Sebahagian ulama menjawab: Itu kerana Allah memberitahu di awal surah ini bahawa Allah melindungi para pemuda al-Kahfi dari penguasa zalim yang hendak membinasakan mereka. Jadi, Allah menyambung bahawa keadaan orang yang membaca ayat-ayat ini sama seperti keadaan para pemuda itu, yakni diselamatkan dari Allah.

Ada lagi pendapat yang menyatakan bahawa itu kerana di awal surah al-Kahfi ada keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda yang meneguhkan hati orang yang membacanya, sehingga dia tidak terkena fitnah Dajjal, serta tidak merasa aneh, tidak tertipu dan tidak terpengaruh dengan apa yang di bawa Dajjal.

Di antara perkara yang dapat melindungi kaum muslim dari Dajjal adalah berlindung ke Mekah atau Madinah, kerana Dajjal tidak boleh masuk ke dalam bandar tersebut.

Rasulullah SAW telah menyebutkan kepada kita bagaimana orang lelaki yang soleh menghadapi Dajjal dengan kebenaran dan dia bersikap dan berkata tegas kepada Dajjal, sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.

Hal lain yang dapat menyelamatkan diri dari Dajjal adalah berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal. Hadis-hadis nabi memerintahkan seorang muslim untuk berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal. Dalam Sahih al-Bukhari diriwayatkan bahawa Aisyah berkata, “Aku mendengar Rasulullah berlindung dalam solatnya dari fitnah Dajjal.”

Rasulullah SAW selalu bertaawuz dari fitnah Dajjal setelah tasyahud. Beliau berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari azab jahannam, azab kubur, fitnah hidup dan mati, serta fitnah Almasih Dajjal.”

*Diterjemahkan oleh Detik Islam dari sumber islampos.com | Ensiklopedia Kiamat / Karya: Dr Umar Sulayman al-Asykar / Penerbit: Serambi

25/11/2016 Posted by | Informasi, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

Zikir Fatimah, Amalan Untuk Redakan Kepenatan Wanita Urus Rumah Tangga 

2014-1

ZIKIR/ TASBIH FATIMAH

Allahu Akbar – 34 kali

Subhanallah – 33 kali

    Alhamdulillah – 33 kali

Hari ini ramai isteri yang mengeluh penat dan stres dek kerana tugas yang tak menang tangan. Mereka ini terutama yang bergelar ibu bukan saja mengurus rumah tangga, malah turut bekerja mencari rezeki.

Antara cara kebiasaan wanita meredakan kepenatan ini dengan berehat, bercuti dan juga ke spa untuk rawatan tubuh. Hakikatnya dalam Islam sendiri telah tersedia penawar kepenatan ini melalui amalan Zikir atau Tasbih Fatimah yang diajarkan sendiri oleh Rasululullah s.a.w kepada puterinya Saidatina Fatimah r.a.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, satu hari puteri Rasulullah s.a.w, Saidatina Fatimah r.a mengadu kepada suaminya, Saidina Ali bin Abu Talib r.a tentang tangannya berasa sakit dan keletihan kerana terlalu banyak kerja rumah yang perlu dilakukannya.

Saidatina Fatimah kemudian datang menemui ayahandanya baginda Rasulullah s.a.w untuk meminta seorang pembantu. Akan tetapi dia tidak berjaya menemui Rasulullah s.a.w dan hanya bertemu dengan Saidatina Aisyah.

Kemudian Saidatina Fatimah meninggalkan permintaannya kepada Saidatina Aisyah untuk disampaikan kepada Rasulullah. Apabila Rasulullah tiba di rumah, Saidatina Aisyah pun memberitahu Baginda tentang permintaan puterinya.

Lalu Baginda telah pergi menemui puteri serta menantunya yang ketika itu telah berbaring di tempat tidur. Keduanya mahu berganjak bangun ingin menghampiri baginda akan tetapi Rasulullah meminta mereka tetap di tempat perbaringan.

Lalu baginda bersabda; “Mahukah kamu berdua aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kamu berdua minta? Ketika kalian berbaring hendak tidur, maka bacalah takbir (Allahu Akbar) 34 kali, tasbih (Subhanallah) 33 kali dan tahmid (Alhamdulillah) 33 kali. Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Muslim, no: 4906)

Maka disaran kepada ibu-ibu yang berasa penat setelah melakukan tugas-tugas harian supaya mengamalkan Zikir/Tasbih Fatimah ini setiap malam sebelum melelapkan mata.

ZIKIR/ TASBIH FATIMAH

Allahu Akbar – 34 kali
Subhanallah – 33 kali
Alhamdulillah – 33 kali

Dalam pada itu sentiasalah didiklah hati untuk ikhlas melakukan semua tanggungjawab agar tidak merasakan ia sebagai bebanan yang memenatkan.

Sumber http://sempoimedia.blogspot.my/2016/11/zikir-fatimah-amalan-untuk-redakan.html?m=1
.

10/11/2016 Posted by | Fad hail Amal, Informasi, Tazkirah, Uncategorized | Leave a comment

MUHASABAH UNTUK DIRI YANG SENTAP MUSIBAH HANDPHONE

Image result for bawa handphone dari luar negeri

Kiriman Ustaz Yunan A Samad

Imam Masjidil Al Haram Asy-Syaikh Su’ud asy-Syuraim dalam sebuah khutbah Jum’at beliau berkata: ” Adakah diri kita tidak melihat perubahan dalam hidup kini setelah masuknya Whats App, Facebook, Instagram dan lain-lainnya dalam kehidupan kita?

Bacalah !

Hal ini merupakan Ghazwul fikri (serangan pemikiran) yang telah menyerang akal kita, namun sangat sayang kita telah tunduk padanya dan kita telah jauh dari deen Islam yang lurus dan dari zikir kepada Allah ta’ala.

Kita telah menjadi penyembah-penyembah dan penagih Whats App, Twitter, Facebook, youtube, Instagram dan sejenisnya.

Kenapa hati kita menjadi keras ?

Itu akibat seringnya kita melihat video yang menakutkan dan juga kejadian2 yang dishare di Whats App. Banyak perkara pelik dan hiburan di sana sini yang melalaikan.

💜 Hati kita kini mempunyai kebiasaan yang tidak lagi takut pada sesuatu pun. Oleh itu hati mula mengeras seperti batu.

💔 Kenapa kita berpecah belah dan kita putus tali kekerabatan ???
Kerana kini silaturrahim kita hanya melalui Whats App saja, seakan-akan kita bertemu mereka setiap hari. Namun bukan begini tata cara bersilaturrahim dalam agama Islam. Kita bongkak dengan diri kita, teknologi di hujung jari kita ada.

☎Kenapa kita sangat sering mengghibah (mengumpat), padahal kita tidak sedang duduk dengan seorangpun. Itupun kerana saat kita mendapatkan satu message yang berisi ghibah terhadap seseorang atau suatu kelompok, dengan cepat kita sebar ke grup2 lain.
Dengan begitu cepatnya kita mengghibah, sedang kita tidak sedar berapa banyak dosa yang kita dapatkan dari hal itu setiap hari.

Sayang sungguh, kita telah menjadi penagih teknologi ini.

🍴 Kita makan, handphone ada ditangan kiri kita.

🌺 Kita duduk bersama teman-teman, HP ada di genggaman. Suami-isteri tidak bertegur.

Isteri lupakan kebaikan suami.Terlalu sibuk dengan handphone di tangan….

✏📖Berbicara dengan ayah dan ibu yang wajib kita hormati, akan tetapi hand phone ada di tangan pula.

🚕 Sedang memandu, HP juga di tangan.

💐Hinggakan anak-anak kita pun telah kehilangan kasih sayang dari kita, kerana kita telah berpaling dari mereka dan lebih mementingkan handphone.
“Aku tidak ingin mendengar seseorang yang memberi pembelaan pada teknologi ini. Kerana sekarang, jika sesaat saja HP kita tertinggal betapa kita merasa sangat kehilangan.
Adakah perasaan seperti itu ada juga pada ketika solat dan tilawatul al Qur’an “????

Adakah kita yang mengingkari hal ini ?

Dan siapakah yang tidak mendapatkan perubahan negatif dalam kehidupannya setelah masuknya teknologi ini pada kehidupan seseorang muslim dan setelah menjadi ketagih ?

Demi Allah, siapakah yang akan menjadi teman kita nanti di kubur ? Apakah HP ?

Mari kita sama-sama kembali kepada Allah, jangan sampai ada hal-hal yang menyibukkan kita dari tanggugjawab dan agama kita.

Kita tidak tahu berapakah sisa-sisa umur kita”?.

Allah ta’ala berfirman:
( ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻋْﺮَﺽَ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِﻱ ﻓَﺈِﻥَّ ﻟَﻪُ ﻣَﻌِﻴﺸَﺔً ﺿَﻨْﻜًﺎ )
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”.
QS.Thoha: ayat 124.

Jangan disembunyikan nasihat ini, agar tidak menjadi seseorang yang menyembunyikan ilmu.

Semoga handphone yang kita miliki adalah wasilah (alat) untuk kebaikan dan bukan wasilah dalam keburukan….

Wallahua’lam.

01/11/2016 Posted by | Bicara Ulama, Renungan & Teladan, Tazkirah, Uncategorized | Leave a comment

HUKUM TABARRUK

Marilah kita sekarang meneliti dan membaca kutipan dibawah mengenai dalil-dalil Tabarruk yang telah kami singgung sebelumnya di atas. Ada golongan yang keliru dalam memahami tabarruk pada Rasulallah saw., bekas-bekas peninggalannya, ahlul baitnya dan para pewaris beliau yaitu para ulama dan para waliyullah. Mereka kemudian menganggap setiap orang yang menempuh jalan tersebut berbuat syirik dan sesat. Orang-orang seperti ini berpandangan sempit dan berpikiran pendek dalam menghadapi masalah-masalah tersebut.

Tabarruk berasal dari kata Barakah. Makna atau arti tabarruk ialah mengharapkan keberkahan dari Allah swt. dengan sesuatu yang mulia dalam pandangan Allah swt.. Juga tabarruk ini mempunyai pengertian sama dengan tawassul/istighotsah, yang telah kami kemukakan tadi.
Terkadang Allah swt. menjadikan beberapa benda menjadi sumber berkah agar menjadi sebab untuk mencapai tujuan yang dikehendaki-Nya. Allah swt. juga menginginkan agar manusia mengetahui bahwa terdapat benda-benda, tempat-tempat, waktu-waktu dan pribadi-pribadi yang memiliki kesakralan karena mempunyai kedudukan khusus di mata Allah swt. Sehingga semua itu dapat menjadi sarana Allah swt memberkati orang untuk mencapai ke sembuhan dari penyakit, pengkabulan do’a, pensyafa’atan dalam peng- ampunan dosa dan lain sebagainya.
Tabarruk boleh dilakukan dengan barang-barang, tempat atau orang dengan syarat, sesuatu yang digunakan dalam tabarruk itu mulia dalam pandangan Allah swt. Misalnya pribadi Rasulallah saw., pusaka-pusaka peninggalannya, makamnya dan sebagainya. Tabarruk juga boleh dilakukan dengan pribadi para waliyullah, para ulama dan orang shalih lainnya, termasuk pusaka-pusaka peninggalan mereka dan tempat-tempat pemakamannya atau lain- nya yang juga pernah mereka jamah atau mereka jadikan tempat untuk ber-ibadah dan berdzikir pada Allah swt.
Benda-benda pusaka atau tempat-tempat peninggalan mereka tersebut nilai kemuliaannya bukan karena benda atau ruangan tersebut tapi karena kaitan- nya dengan kemuliaan orang atau pribadi yang pernah memanfaatkan benda dan tempat tersebut dengan bertaqarrub (mendekatkan diri) pada Allah swt. Sehingga pada benda atau tempat tersebut pernah turun rahmat Allah, di jamah atau didatangi malaikat Allah hingga menjadi sarana yang dapat menimbulkan perasaan tenang dan tenteram. Inilah keberkahan yang di minta oleh orang yang bertabarruk dari Allah swt.

Juga syarat lainnya bahwa orang yang bertabarruk harus mempunyai keyakinan penuh, bahwa sarana-sarana (benda atau ruangan) yang dijadikan tabarruk itu tidak dapat mendatangkan manfaat maupun madharat tanpa seizin Allah swt. Sebab semua manfaat dan madharat berada dalam kekuasaan Allah swt. sepenuhnya.

  • Berkah dan Tabarruk dalam al-Quran

Kita sebagai seorang muslim yang meyakini akidah Tauhid pasti meyakini bahwa Allah swt. adalah Pencipta (Khaliq) dan Pengatur (Rab) alam semesta. Dengan kesempurnaan absolut (mutlak) yang Dia miliki, Ia men- ciptakan dan mengatur alam semesta. Segala yang ada di alam semesta ini tiada yang tidak tercipta dari-Nya. Oleh karenanya, tidak satupun yang berada di alam ini pun tidak tergantung kepada-Nya, termasuk dalam kelangsungan eksistensi dan hidupnya. Allah swt Pemilik segala otoritas kesempurnaan.
Dalam al-Quran, penggunaan kata ‘berkah’ sering akan kita jumpai. Sebagaimana dalam pembahasan syafa’at, ilmu ghaib dan sebagainya, secara mendasar dan murni (esensial) berkah dan pemberian berkah hanya berasal milik dan hak priogresif Allah swt. semata. Oleh karenanya, kita jumpai ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah swt. memberikan berkah kepada makhluk-makhluk-Nya. Contoh ayat-ayat yang Allah swt. telah mem- berkati seseorang sehingga berkah itu terdapat pada diri pribadi-pribadi yang di berkati tersebut:

 Berkaitan dengan Nabi Nuh as beserta pengikutnya, Allah swt berfirman: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu…” (QS Hud: 48)

 Berkaitan dengan Nabi Ibrahim as Allah swt berfirman: “Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: “Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya..” (QS an-Naml: 8).

 Berkenaan dengan Nabi Ishak as Allah swt berfirman: “Kami limpahkankeberkatan atasnya dan atas Ishaq…” (QS as-Shaafat: 113).

 Berkenaan dengan Nabi Isa as Allah swt berfirman: “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada…” (QS Maryam: 31).
Sedang ayat-ayat yang menyatakan bahwa ada beberapa tempat yang telah diberikan berkah oleh Allah swt sehingga tempat itu menjadi tempat yang sakral, seperti:

 Allah swt. telah memberi berkah kepada Masjidil Haram di Makkah: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (QS Aali Imran: 98).
 Allah swt telah memberi berkah kepada Masjidil Aqsha di Palestina: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami…” (QS al-Isra’: 1).

 Allah swt telah memberi berkah kepada lembah Aiman: “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah Aiman pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu…” (QS al-Qoshosh: 30).
Dan terkadang yang menjadi obyek berkah Ilahi adalah sesuatu (benda) sampai pada pohon dan waktu. Sebagai contoh:

 Allah swt. telah memberikan berkah kepada al-Qur’an: “Dan Al-Qur’an itu adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS al-An’am: 155).

 Allah swt telah memberikan berkah kepada pohon zaitun: “Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya)…” (QS an-Nur: 35).

 Allah swt telah memberkahi air hujan: “Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkati lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam” (QS Qof: 9).

 Allah swt telah memberkati waktu malam dimana al-Qur’an turun (lailatul Qadar): “ Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi..” (QS ad-Dukhon: 3).

Setelah mengetahui obyek-obyek berkah Ilahi maka mungkin saja timbul pertanyaan; bagaimana para umat terdahulu, apakah mereka juga mengambil berkah? Allah swt. dalam al-Qur’an menjelaskan hal tersebut seperti yang dicantumkan dalam ayat-ayat berikut:

 Dalam surat al-Baqarah ayat 248 Allah swt telah mengisahkan tentang pengambilan berkah Bani Israil terhadap Tabut (peti) yang didalamnya tersimpan barang-barang sakral milik kekasih Allah, Nabi Musa as. Allah swt berfirman: “Dan nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman”.

Menurut riwayat, ‘Peti’ itu adalah peti dimana nabi Musa waktu bayi telah di letakkan oleh ibunya ke sungai Nil dan mengikuti aliran sungai sehingga di temukan oleh istri Fira’un, untuk diasuh. Para Bani Israil mengambil peti itu sebagai obyek untuk mencari berkah (tabarruk). Setelah Nabi Musa as meninggal dunia, peti itu disimpan oleh washi (patner) beliau yang bernama Yusya’, dan di dalamnya disimpan beberapa peninggalan Nabi Musa yang masih berkaitan dengan tanda-tanda kenabian Musa. Setelah sekian lama, Bani Israil tidak lagi mengindahkan peti tersebut, hingga menjadi bahan mainan anak-anak di jalan-jalan. Sewaktu peti itu masih berada di tengah-tengah mereka, Bani Israil masih terus dalam kemuliaan. Namun setelah mereka mulai melakukan banyak maksiat dan tidak lagi mengindahkan peti itu, maka Allah swt. menyembunyikan peti tersebut dengan mengangkatnya ke langit. Sewaktu mereka diuji dengan kemunculan Jalut mereka mulai merasa gunda. Kemudian mereka mulai meminta seorang Nabi yang diutus oleh Allah swt ketengah-tengah mereka. Allah swt. mengutus Tholut. Melalui dialah para malaikat pesuruh Allah mengembalikan peti yang selama ini mereka remehkan.

Az-Zamakhsari dalam menjelaskan apa saja barang-barang yang berada di dalam peti itu menyatakan: “Peti itu adalah peti Taurat. Dahulu, sewaktu Musa berperang (melawan musuh-musuh Allah) peti itu diletakkan di barisan paling depan sehingga perasaan kaum Bani Israil merasa tenang dan tidak merasa gunda…adapun firman Allah yang berbunyi ‘dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun’ berupa sebuah papan bertulis, tongkat beserta baju Nabi Musa (as) dan sedikit bagian dari kitab Taurat” (Lihat Tafsir al-Kasyaf jilid 1 halaman 293).

Mengenai tabut itu Ibnu Katsir didalam kitab Tarikh-nya mengetengahkan keterangan yang ditulis oleh Ibnu Jarir sebagai berikut:
“Mereka yakni ummat yang disebut dalam ayat di atas setiap berperang melawan musuh selalu memperoleh kemenangan berkat tabut yang berisi Mitsaq (Taurat). Dengan tabut yang berisi sisa-sisa peninggalan keluarga Nabi Musa dan Nabi Harun itu Allah swt. menciptakan ketenangan bagi mereka dalam menghadapi musuh. Selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan, bahwa tabut itu terbuat dari emas yang selalu dipergunakan untuk mencuci (membersihkan) hati para Nabi”. (Al-Bidayah Wan-Nihayah jilid II hal. 8).

 Dalam Tafsir-nya Ibnu Katsir juga mengatakan, bahwa didalam tabut itu berisi tongkat Nabi Musa, tongkat Nabi Harun, dua buah lembaran Taurat dan pakaian Nabi Harun. Sementara orang mengatakan didalam tabut itu terdapat sebuah tongkat dan sepasang terompah.(Tafsir Ibnu Katsir, jilid I hal. 313).

 Al-Qurthubi mengatakan: “bahwa tabut itu diturunkan Allah kepada Nabi Adam as. dan disimpan turun-temurun hingga sampai ketangan Nabi Ya’qub as., kemudian pindah tangan kepada Bani Israil. Berkat tabut itu orang-orang Yahudi selalu menang dalam peperangan melawan musuh, tetapi setelah mereka berbuat durhaka kepada Allah, mereka dapat dikalahkan oleh kaum ‘Amaliqah dan tabut itu berhasil dirampas dari tangan mereka (kaum Yahudi)”. (Tafsir Al-Qurthubi jilid III/248).

Lihatlah, betapa Nabi yang diutus oleh Allah swt. kepada Bani Israil itu telah memerintahkan kepada Bani Israil untuk tetap menjaga peninggalan Nabi Musa dan Nabi Harun berupa peti dengan segala isinya yang mampu memberikan ketenangan pada jiwa-jiwa mereka. Pemberian ketenangan melalui peti itu tidak lain karena Allah swt telah memberikan berkah khusus kepada peninggalan kedua Nabi mulia tersebut. Sehingga sewaktu Bani Israil tidak lagi mengindahkan peninggalan yang penuh barakah itu maka Allah swt menguji mereka dan tidak lagi memberkahi mereka. Ini sebagai bukti betapa sakral dan berkahnya peninggalan itu, dengan izin Allah swt.

Ummat yang disebut dalam ayat di atas selalu bertawassul atau bertabarruk dengan tabut yang mereka bawa kemana-mana dan selalu menang didalam setiap peperangan. Apa yang dilakukan oleh umat itu ternyata tidak dicela atau dipersalahkan oleh Allah swt.

Dalam ayat lain Allah menjelaskan tentang pengambilan berkah seorang pribadi mulia seperti Nabi Ya’qub a.s. terhadap baju putranya, Nabi Yusuf as. Allah swt berfirman: “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku (baju Nabi Yusuf) ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku” (QS Yusuf: 93). Dalam kisah itu, saudara-saudara Nabi Yusuf telah melaksanakan perintah saudaranya itu. Ayah Nabi Yusuf (Nabi Ya’qub) yang buta akibat selalu menangisi kepergian Yusuf pun akhirnya pulih penglihatannya karena diusap oleh baju Yusuf. Itu semua berkat barakah yang dicurahkan oleh Allah swt. kepada baju/gamis Yusuf.

Az-Zamakhsyari kembali dalam kitab tafsir-nya menjelaskan tentang hakekat baju Yusuf dengan mengatakan: “Dikatakan: itu adalah baju warisan yang di hasilkan oleh Yusuf dari permohonan (do’a). Baju itu datang dari Sorga. Malaikat Jibril telah diperintahkan untuk membawanya kepada Yusuf. Di baju itu tersimpan aroma sorgawi yang tidak ditaruh ke orang yang sedang mengidap penyakit kecuali akan disembuhkan. (Tafsir al-Kasyaf jilid 2 hal. 503).

Tentu sangat mudah bagi Allah swt. untuk mengembalikan penglihatan Nabi Ya’qub tanpa melalui proses pengambilan berkah semacam itu. Namun harus kita ketahui hikmah di balik itu. Terkadang Allah swt. menjadikan beberapa benda menjadi ‘sumber berkah’ agar menjadi ‘sebab’ untuk mencapai tujuan yang dikehendaki-Nya. Selain karena Allah swt. juga meng- inginkan agar manusia mengetahui bahwa terdapat benda-benda, tempat-tempat, waktu-waktu dan pribadi-pribadi yang memiliki kesakralan karena mempunyai kedudukan khusus di mata Allah swt., sehingga semua itu dapat menjadi ‘sarana’. Allah swt. memberkati orang untuk mencapai kesembuhan dari penyakit, pengkabulan do’a, pensyafa’atan dalam pengampunan dosa, dan lain sebagainya.

Jika para nabi biasa memiliki kemuliaan semacam itu, lalu bagaimana dengan benda-benda (seperti: mihrab dan mimbar….), tempat (seperti: rumah, masjid dan makam…), waktu (seperti: peringatan hari wafat, kelahiran/maulud, perkawinan, hijrah, Isra’-Mi’raj..) dan mengenang ke utamaan (melalui bacaan kitab Burdah, Maulid Diba’, Barzanji …) yang berkaitan langsung dengan pribadi agung seperti Rasulullah saw., penghulu para nabi dan rasul, makhluk Allah yang paling sempurna sebagaimana yang telah dicantumkan dalam berbagai ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shohih? Pikirkanlah!

  • Dalil-dalil Tabarruk para Sahabat dari bekas air wudhu Nabi saw.:

– …Urwah Al-Tsaqafi, salah seorang utusan Makkah melaporkan pada kaumnya: “Orang Islam itu luar biasa! Demi Allah aku pernah menjadi utusan menemui raja-raja. Aku pernah berkunjung pada kaisar Kisra dan Najasyi. Demi Allah belum pernah aku melihat sahabat-sahabat mengagungkan rajanya seperti sahabat-sahabat mengagungkan Muhammad saw. Demi Allah, jika ia meludah, ludahnya selalu jatuh pada telapak tangan salah seorang di antara mereka. Mereka usapkan ludah itu kewajahnya dan kulitnya. Bila ia memerintah mereka berlomba melaksanakannya, bila ia hendak wudhu, mereka hampir berkelahi untuk memperebutkan air wudhunya. Bila ia ber bicara mereka merendahkan suara dihadapannya. Mereka menundukkan pandangan dihadapannya karena memuliakan nya”.(HR. Bukhori 3: 255)
Hadits yang semakna di atas, banyak diriwayatkan oleh para perawi dan penghafal hadits yaitu kisah kedatangan Urwah bin Mas’ud as-Tsaqofi kepada kaum Quraisy pra perjanjian damai (Suluh) di Hudaibiyah. Kala itu ia heran melihat prilaku sahabat terhadap Nabi saw., ia mengatakan –menjelaskan apa yang dilihatnya–: “Tiada beliau melakukan wudhu kecuali mereka (sahabat) bersegera (untuk mengambil berkah). Tiada beliau meludah kecuali merekapun bersegera (untuk mengambil berkah). Tiada selembar rambut pun yang rontok kecuali mereka memungutnya”. Dalam riwayat lain disebutkan; “Demi Allah, sewaktu Rasul mengeluarkan dahak dan dahak itu mengenai telapak tangan seseorang maka orang tadi akan mengusapkannya secara rata ke seluruh bagian muka dan kulitnya. Jika beliau memerintahkan sesuatu niscaya mereka bersegera (untuk melaksana- kannya). Jika beliau mengambil air wudhu maka mereka bersegera seakan-akan hendak saling membunuh memperebutkan (bekas air) wudhu beliau”. (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 halaman 66 dalam kitab al-Wudhu’ dan jilid 3 halaman 180 dalam kitab al-Washoya, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 5 halaman 423 dalam hadits panjang nomer-18431, Kitab as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 9 halaman 219 bab al-Muhadanah ‘ala an-Nadhar Lilmuslimin, Kitab Sirah Ibnu Hisyam jilid 3 halaman 328, Kitab al-Maghozi karya al-Waqidi jilid 2 halaman 598 dan Kitab Tarikh al-Khamis jilid 2 halaman 19).
– Thalq bin ‘Ali meriwayatkan: “Kami keluar (meninggalkan daerah) sebagai perutusan kepada Rasulallah saw. Setelah beliau saw. kami bai’at, kami shalat bersama beliau. Kemudian kepada beliau kami beritahukan bahwa kami masih mempunyai bi’ah (gereja atau kuil). Kepada beliau kami minta agar diberi sebagian dari sisa air wudhunya. Beliau lalu menyuruh orang mengambilkan air, kemudian berwudhu dan berkumur lalu menumpahkan bekas air kumurnya ke dalam sebuah tempat/wadah. Kepada kami beliau berkata: ‘Pulanglah, dan setibanya didaerah kalian hancurkanlah bi’ah kalian itu lalu siramlah tempat itu dengan air ini, kemudian bangunlah masjid di atasnya’. Kami katakan pada beliau bahwa daerah kami, amat jauh, dan air akan menguap habis karena (dalam perjalanan) udara sangat panas. Beliau memberi petunjuk: ‘Tambahkan saja air (kedalam wadah), air ini akan menjadi lebih baik’ “. (Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam Al-Misykat nr. 716).
Tidak ragu lagi bahwa dalam jiwa perutusan itu terdapat rahasia (semangat) yang amat kuat yang mendorong mereka minta air bekas wudhu Rasulallah saw. Padahal kota Madinah tidak pernah kekurangan air dan didaerah tempat tinggal orang itu sendiri banyak air. Mengapa mereka mau bersusah payah membawa sedikit air dari Madinah ke daerahnya yang menempuh jarak cukup jauh dan dalam keadaan terik matahari? Tidak lain adalah ber- tabarruk pada Rasulallah saw.dengan bekas air wudhu beliau.
– Dari Abu Juhfah, beliau berkata: “Aku mendatangi Nabi sewaktu beliau ber ada di Qubbah Hamra’ dari Adam. Kulihat Bilal (al-Habasyi) mengambil air wudhu Nabi. Orang-orang bergegas untuk berwudhu juga. Barang siapa yang mendapatkan sesuatu dari air wudhu tadi maka akan mengguna- kannya sebagai air basuhan. Namun bagi siapa yang tidak mendapatkannya maka ia akan mengambil dari basahan (sisa wudhu) yang berada di tangan temannya”.
Dalam lafadh itu dikatakan: “Rasul pergi menuju Hajirah bersama kami, lalu beliau mengambil air wudhu. Kemudian orang-orang mengambili air bekas wudhu beliau untuk dijadikan bahan basuhan (dalam berwudhu)” (Lihat: Kitab Shahih al-Bukhari jilid 1 halaman 55 dalam kitab wudhu bab Isti’malu Fadhli Wudhu’in Nas, Kitab shohih al-Muslim jilid 1 halaman 360, Kitab Sunan an-Nasa’i jilid 1 halaman 87, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 5 halaman 398 hadits ke-18269, Kitab as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 1 halaman 395 dalam bab al-Iltiwa’ fi Hayya ‘ala as-Shalah dan Kitab ad-Dala’il an-Nubuwah karya al-Baihaqi jilid 1 halaman 183).
– Dari Ibnu Shahab, beliau berkata: “Aku mendapat kabar dari Mahmud bin Rabi’, ia berkata: Dia adalah orang yang Rasul telah meludah pada wajah- nya, saat itu ia adalah kanak-kanak di daerah mereka. Berkata Urwah, dari al-Masur dan selainnya –masing-masing saling mempercayai temannya–: Ketika Nabi melaksanakan wudhu, seakan mereka hendak saling bunuh-membunuh
untuk mendapatkan air wudhu beliau” (Lihat: Kitab Shahih al-Bukhari jilid 1 halaman 55 dalam kitab wudhu bab Isti’malu Fadhli Wudhu’in Nas, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 6 halaman 594 hadits ke-23109 dan Kitab Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 246).
I
bnu Hajar dalam mensyarahi/menerangkan makna hadits tersebut menyata- kan: “Apa yang dilakukan Nabi terhadap Mahmud, kalau tidak karena tujuan bersendau gurau, atau untuk memberi berkah kepadanya. Hal itu sebagai- mana yang pernah beliau lakukan kepada anak-anak para Sahabat lainnya” (Fathul Bari jilid 1 halaman 157 dalam bab Mata Yashihhu Sima’ as-Shoghir).
– Dari Sa’ad, beliau berkata; Aku mendengar dari beberapa sahabat Rasul seperti Abu Usaid, Abu Humaid dan Abu Sahal ibn Sa’ad, mereka mengata- kan: “Suatu saat, Rasulullah mendatangi sumur Badho’ah kemudian beliau mengambil wudhu melalui ember lantas (sisanya) dikembalikan ke dalam sumur. Kemudian beliau mencuci mukanya kembali, dan meludah ke dalam- nya (ember) dan meminum airnya (sumur). Dan jika terdapat orang sakit di zaman beliau maka beliau bersabda: ‘Mandikan dia dengan air sumur Bidho’ah’, maka ketika dimandikan, seakan simpul tali itu telah lepas (sembuh)”. (Lihat: Kitab at-Thobaqoot al-Kubra jilid 1/2 halaman 184 dan Kitab Sirah Ibnu Dahlan jilid 2 halaman 225).
– Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, beliau berkata: “Ketika aku sakit yang tak kunjung sembuh, Rasulullah menjengukku. Rasulullah mengambil air wudhu, kemudian beliau siramkan sisa air wudhu beliau, kemudian sembuh lah penyakitku” (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 halaman 60/jilid 7 halaman 150/jilid 8 halaman 185 dan jilid 9 halaman 123).
 Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, beliau berkata: “Sewaktu Nabi ber-wudhu pada sebuah wadah, kemudian (sisa air tadi) aku tuang ke dalam sumur milik kami” (Lihat: Kitab Kanzul Ummal jilid 12 halaman 422 hadits ke-35472).
– Sewaktu Rasulullah saw. datang ke pasar, beliau melihat Zuhair berdiri untuk menjual barang. Tiba-tiba beliau datang dari arah punggungnya lantas memeluknya dari belakang hingga tangan beliau menyentuh dadanya. Kemudian Zuhair merasakan bahwa orang itu adalah Rasulullah. Dia berkata: ‘Aku lantas mengusapkan punggungku pada dadanya untuk mendapatkan berkah dari beliau’ ”. (Lihat: Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 3 halaman 938 hadits ke-12237, Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 6 halaman 47 yang telah dinyatakan keshohihannya dengan menyatakan bahwa perawinya semuanya dapat dipercaya (tsiqoh) dan Kitab Sirah Dahlan jilid 2 halaman: 267).

Hadits-hadits di atas ini termasuk bukti yang cukup kuat dan terkenal, yang menunjukkan tabarruk kepada beliau saw. dan dengan petilasan (bekas) air wudhunya. Dengan petilasan air wudhu beliau saw. bisa menyembuhkan penyakit. Setelah membaca hadits-hadits di atas dan hadits lainnya, apakah orang masih egois dan fanatik kepada ulamanya, yang selalu menyangkal adanya barokah pada pribadi seseorang? Apakah perbuatan itu tidak ter- golong qhuluw (berlebih-lebihan)yang menyebabkan orang terjerumus ke dalam kesyirikan? Ini juga harus dijawab dengan adil dan konsekwen dari golongan pengingkar!

  • Dalil Tabarruk anak-anak para Sahabat kepada Nabi saw.:

– Imam Muslim dalam kitab Shohih-nya jilid 1 halaman 164, bab Hukmu Bauli at-Thifl ar-Rodhi’ atau pada jilid 6 halaman 176, bab Istihbab Tahnik al-Maulud menjelaskan secara gamblang tentang prilaku para Salaf Sholeh dalam mengambil berkah Rasulallah saw. untuk anak-anak mereka. Atas dasar itu, Ibnu Hajar dalam kitab al-Ishobah jilid 3 halaman 638 (detailnya pada: Huruf wau, bagian pertama, bab wau kaf, tarjamah Walid bin Uqbah, nomer 9147) menjelaskan: “Setiap bayi pada masa hidup Rasulullah di hukumi sebagai pribadi yang telah melihat Rasul. Hal itu karena syarat-syarat terlaksananya kaum Anshar dalam mendatangkan anak-anak mereka kepada Rasul agar dipeluk dan diberi berkah (tabarruk) telah terpenuhi”. Hingga dikatakan: ‘Sewaktu Makkah ditaklukkan (fath), para penghuni Makkah pun berdatangan kepada Nabi dengan membawa anak-anak mereka supaya dapat dibelai (diusap) kepalanya oleh beliau yang kemudian beliau do’akan’ ”.

– Dari ummu Qais: “Suatu saat dia mendatangi Rasululah dengan membawa serta anaknya yang masih kecil, yang masih belum memakan makanan. Rasulullah meletakkanya di pangkuannya. Tiba-tiba anak itu kencing di pakaian beliau. Kemudian beliau meminta air dan menyiramkannya (pada pakaian) dan tidak mencucinya”. (Shohih al-Bukhari jilid 1 hal. 62 kitab al-Ghasl; Sunan an-Nasa’i jilid 1 hal.93 bab Baul as-Shobi al-Ladhi lam Ya’kul at-Tho’am; Sunan at-Turmudzi jilid 1 hal. 104; Sunan Abu Dawud jilid 1 hal. 93 bab Baul as-Shobi Yushibus Tsaub; Sunan Ibnu Majah jilid 1 hal. 174).
Ibnu Hajar berkata: “Dari hadits ini memberikan beberapa pengertian, penekanan akan pergaulan secara baik, rendah diri (Tawadhu’), memeluk anak bayi dan pemberian berkah dari pribadi yang memiliki kemuliaan, dan membawa anak kecil pra dan pasca kelahiran” (Fathul-Bari jilid 1 hal. 326 kitab al-Wudhu’ bab Baul as-Shobi hadits ke-223).
– Dari Ummul Mukminin Aisyah: “Dahulu, Rasulullah selalu didatangkan bayi (kepadanya) yang kemudian beliau peluk mereka untuk diberi berkah“.(Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 7 halaman 303 kitab al-Wudhu bab 59 bab Baul as-Shibyan hadits ke-223).
– Dari Abdurrahman bin ‘Auf, beliau berkata: “Tiada seorang yang baru melahirkan kecuali bayi itu didatangkan kepada Rasul untuk dido’akan”. (Lht. Kitab al-Mustadrak as-Shohihain karya al-Hafidz al-Hakim an-Naisaburi jilid 4 hal.479; Kitab al-Ishobah karya Ibnu Hajar jilid 1 hal.5 dalam Khutbah kitab, bagian kedua).

– Dari Muhammad bin Abdurrahman pembantu (maula) Abi Thalhah yang berbicara tentang Muhammad bin Thalhah, beliau berkata: “Sewaktu Muhammad bin Thalhah lahir, aku membawanya kepada Rasulullah untuk dipeluk dan dido’akannya. Hal itulah yang dilakukan Rasul kepada para bayi yang ada”. (Lihat: Kitab al-Ishobah karya Ibnu Hajar jilid 5 halaman 5 pada Khutbah Kitab, bagian kedua).

  • Tabarruk para Sahabat dari air dan sisa minum Nabi saw.:

– Dari Abi Musa, beliau berkata: “Rasulallah mengambil air pada sebuah tempat. Beliau membasuh kedua tangan dan wajahnya. Kemudian kembali memuntahkan air itu ke dalamnya. Beliau bersabda: ‘Minumlah kalian berdua dari (air) itu, dan sisakanlah untuk muka dan leher kalian berdua’”.(Shohih al-Bukhari jilid 1 hal.55 kitab al-Wudhu bab Isti’mal Fadhli Wudhuin Naas).

Ibnu Hajar berkata: “Tujuan dari semua itu –memuntahkan kembali air– adalah untuk memberikan berkah kepadanya (air)”. (Fathul Bari jilid 1 halaman 55 kitab Wudhu bab Isti’mal Fadhli Wudhuin Nas, dan atau jilid 8 halaman 37 bab Ghozwah at-Tha’if).
Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Aku telah meminum (air) sementara aku dalam keadaan puasa. Bersabda (Rasulallah): ’Kenapa kamu melaku kan hal itu’? Ia berkata: ‘Demi untuk mendapat sisa minummu, karena aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya sedikit pun. Aku tidak mampu untuk menyia-menyiakannya. Ketika aku mampu melakukannya maka aku akan meminumnya’”. (Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 7 halaman 575 hadits ke-26838 dan Kitab at-Thabaqot al-Kubra jilid 8 halaman 109).

  • Tabarruk para Sahabat dengan keringat, rambut dan kuku Nabi saw.:

– Nabi saw. tidur siang dirumah Ummu Sulaim, yang punya rumah menampung keringat beliau saw. pada sebuah botol. Ketika Nabi saw. ter bangun dan bertanya: ‘Apa yang engkau lakukan?’. ‘Ya Rasulallah kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kami’. Nabi saw. menjawab; ‘Ashabti, Engkau benar’! (HR. Muslim 4:1815; Musnad Ahmad 3:221-226).
– Dari Anas bin Malik, beliau berkata: “Ummu Salamah selalu menghampar- kan tikar kulit untuk Nabi, kemudian beliau tidur di atas hamparan tersebut. Sewaktu beliau tertidur, ia (Ummu Salamah .red) mengambil keringat dan rambut Nabi dan diletakkan ke dalam botol dan dikumpulkan dalam tempat minyak wangi”. (Shohih al-Bukhari jilid 7 halaman 14 kitab al-Isti’dzan).

Ibnu Hajar dalam mensyarahi riwayat ini mengatakan: “Dengan menyebut- kan rambut dalam kisah ini sangatlah mengherankan sekali. Sebagian orang menyatakan bahwa rambut beliau tersebar (terurai) ketika berjalan. Kemudian ketika aku melihat riwayat Muhammad bin Sa’ad yang masih samar. Riwayat itu memiliki sanad (jalur) yang shahih dari Tsabit bin Anas, bahwa sewaktu Nabi saw. mencukur rambutnya di Mina Abu Thalhah meng- ambil rambut beliau dan menyerahkannya kepada Ummu Salamah. Dia me- letakkannya ke dalam tempat minyak wangi. Ummu Salamah berkata: ‘Beliau datang ke (rumah)-ku dan tidur di atas hamparan milikku sehingga keringat beliau mengalir (terkumpul)’ ”. (Kitab Fathul Bari jilid 11 halaman 59 atau Kitab Thabaqot al-Kubra jilid 8 halaman 313).
 Abu Hurairah ra berkata bahwa seorang laki-laki menemui Nabi saw. berkata: “Ya Rasulallah, saya akan menikahkan anak perempuan saya, saya ingin sekali engkau membantu saya dengan apapun. Nabi saw. bersabda: ‘Aku tidak punya apa-apa’. Rasulallah saw.bersabda: ‘Tapi besok datanglah padaku bawa botol yang mulutnya lebar…’. Pada esok harinya ia datang lagi, Nabi saw. meletakkan kedua sikunya di atas botol dan keringat beliau saw. mengalir memenuhi botol itu’”. (Fath al Bari 6: 417, Sirah Dahlan 2:255, Al Bidayah Wa Al-Nihayah 6: 25).
Kita tidak tahu apa yang dilakukan sahabat dengan sebotol keringat itu. Mungkin digunakan sebagai minyak wangi –seperti Ummu Salamah– atau mewasiatkan pada ahli warisnya supaya botol (walau keringatnya sudah kering) dikuburkan bersama jasadnya (seperti Anas bin Malik). Ini tidak lain mengenang dan memuliakan Atsar (bekas) serta tabarruk yang berkaitan dengan orang yang dicintai! Kenyataan ini berarti menunjukkan bahwa Rasulallah saw. membenarkan dan meridhai perbuatan para sahabat tersebut. Beliau saw. juga sebagai contoh bagi umatnya, bila perbuatan tersebut sebagai pengkultusan atau berbau kesyirikan dan lain sebagainya, maka beliau saw. tidak akan mengizinkan dan melakukannya.
– ‘Utsman bin ‘Abdullah bin Muwahhab menuturkan; “Keluargaku menyuruh aku datang kepada Ummul Mu’minin Ummu Salamah membawa air dalam sebuah mangkuk. Ia keluar membawa wadah air terbuat dari perak. Di dalamnya terdapat beberapa guntingan rambut Rasulallah saw. Ketika itu orang yang menderita sakit mata atau penyakit lainnya mengirim pesuruh kepadanya membawa wadah (makhdhabah), yang lazim digunakan untuk mencelupkan sesuatu. ‘Utsman bin Abdullah berkata lebih lanjut: ‘Aku mencoba melihat apa yang berada didalam genta, ternyata kulihat ada guntingan-guntingan rambut berwarna kemerah-merahan’ ”. (HR. Bukhori dalam kitabnya Al-Libas bab Mayudzkaru Fisy-Syaib).
Imam Al-‘Aini mengatakan, bahwa keterangan mengenai soal di atas tersebut sebagai berikut: “Ummu Salamah menyimpan sebagian dari guntingan rambut Rasulallah saw., yang berwarna kemerah-merahan, ditaruh dalam sebuah wadah seperti genta. Banyak orang diwaktu sakit bertabarruk pada rambut beliau saw. dan mengharap kesembuhan dari keberkahan rambut tersebut. Mereka mengambil sebagian dari rambut itu lalu dicelupkan ke dalam wadah berisi air, kemudian mereka meminumnya. Tidak lama kemudian penyakit mereka sembuh. Keluarga ‘Utsman mengambil sedikit air itu, ditaruh dalam sebuah wadah dari perak. Mereka lalu meminumnya dan ternyata penyakit yang mereka derita menjadi sembuh. Setelah itu mereka menyuruh ‘Ustman mencoba melihat dan ternyata dalam genta itu terdapat beberapa guntingan rambut berwarna kemerah-merahan”. (Lihat ‘Umdatul-Qari Syarh Shahih Al-Bukhori jilid 17 hal. 79).
– Sewaktu Muawiyah akan wafat, ia mewasiatkan agar dikuburkan dengan baju, sarung dan selendang juga sebagian rambut Nabi. (Lihat: Kitab al-Ishobah jilid 3 halaman 400, Kitab Tarikh Damsyiq jilid 59 halaman 229 dan Kitab as-Sirah al-halabiyah jilid 3 halaman 109)
– Sewaktu Umar bin Abdul Aziz hendak meningal dunia, ia membawa rambut dan kuku Nabi seraya berkata: “Jika aku mati maka letakkan rambut dan kuku ini pada kafanku” (Lihat: Kitab at-Thobaqoot jilid 5 halaman 406 tentang [tarjamah] Umar bin Abdul Aziz).

– Baluran mayat (Hanuth) jenazah Anas bin Malik terdapat sejumput misik dan selembar rambut Rasulullah. (Lihat: Kitab at-Thobaqoot jilid 7 halaman 25 tentang [tarjamah] Anas bin Malik)
– Salah seorang putera Fadhl bin ar-Rabi’ telah memberikan tiga lembar rambut kepada Abu Abdillah (yaitu; Ahmad bin Hanbal) sewaktu beliau di penjara. Lantas beliau berkata: “Ini adalah bagian rambut Nabi”. Abu Abdillah mewasiatkan agar sewaktu beliau meninggal hendaknya masing-masing rambut tadi diletakkan pada kedua belah matanya, sedang satu sisanya di letakkan pada lidahnya. (Lihat: Kitab Shifat as-Shofwah jilid 2 halaman 357).
– Dari Abdullah bin Muhib, beliau berkata: “Istriku menyuruhku untuk pergi ke Ummu Salamah dengan membawa gelas berisikan air –dengan pegangan tangan Israil seukuran tiga jari– dan terdapat di dalamnya sepotong rambut Nabi. Jika terdapat seseorang yang terkena mata (penyakit ‘ain .red) ataupun sesuatu (yang lain) maka akan dikirim kepadanya alat pemacar (pewarna rambut .red). Kemudian kulihat dengan berjinjit, ternyata di situ kudapati terdapat rambut merah”. (Kitab Shohih al-Bukhari jilid 7 hal. 207).
– Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnad-nya mengetengahkan riwayat dari Ibnu Sirin yang menuturkan bahwa; ‘Ubaidah As-Salmani menyampaikan hadits tersebut kepadaku. Kemudian ia berkata: ‘Jika aku mempunyai se helai saja dari rambut beliau saw., itu lebih kusukai daripada semua perak dan emas serta apa saja yang berada di permukaan bumi dan dalam perutnya’.
– Riwayat yang disebut oleh Al-mala dalam As-Sirah: “Ketika Abu Thalhah membagikan beberapa helai rambut Rasulallah saw. kepada sejumlah orang sahabat, Khalid bin Al-Walid minta agar ia diberi rambut ubun-ubun beliau saw. Abu Thalhah memberi apa yang diminta oleh Khalid. Terbukti berkah rambut ubun-ubun beliau itu Khalid sering meraih kemenangan dalam ber bagai peperangan”. (‘Umdatul Qari Syarh Al-Bukhori, Jilid 8 hal. 230-231).
– Dari Anas bin Malik ra, beliau berkata: “Aku melihat Rasulullah sedang di pangkas rambutnya oleh tukang potong, sedang para sahabat mengerumuni nya dan mereka tidak membiarkan sehelaipun rambut beliau jatuh melainkan disalah satu tangan mereka” (Kitab shahih Muslim dengan syarah Imam Nawawi jilid 15 hal.83; Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 3 hal.591; as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 7 hal. 68; Kitab as-Sirah al-Halabiyah jilid 3 halaman 303; Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 5 halaman 189 dan Kitab Musnadaat ibn Malik hadits ke-11955).
 Dari Abdullah bin Zaid, beliau berkata: “…maka Rasulullah dipangkas rambutnya dengan mengenakan baju, lalu beliau memberikannya (rambut) kepada orang-orang (sahabat) untuk dibagi. Kemudian beliau memotong kuku yang kemudian diberikan kepada sahabatnya. Ia (Abdulah bin Zaid) berkata: ‘Kudapati hal itu diwarnai dengan pacar, yaitu; rambut beliau’ “. (Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 4 hal. 630 hadits ke-16039; as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 1 hal.68; Majma’ az-Zawa’id jilid 4 hal. 19).
– Dari Abu Bakar, beliau berkata: “Tiada Fath (penaklukan tanpa peperang an .red) terbesar yang dilakukan Islam melainkan Fath Hudaibiyah. Akan tetapi kala itu, orang-orang banyak yang kurang memahami hubungan antara Muhammad dengan Tuhannya…Suatu hari, ketika haji wada’, aku melihat Suhail bin Amr berdiri di tempat penyembelihan (binatang kurban) dekat dengan Rasulullah bersama ontanya yang saat itu beliau menyembelih onta dengan tangannya sendiri. Kemudian beliau memanggil tukang cukur untuk mencukur rambut kepalanya. Aku melihat Suhail memunguti rambut beliau yang berjatuhan. Aku melihatnya meletakkan (rambut tadi) di kelopak matanya. Aku mengingat keengganan beliau (untuk menghapus), sehingga beliau menetapkan pada hari Hudaibiyah untuk menulis kata Bismillahir- Rahmanir Rahim”. (Lihat: Kitab Kanzul Ummal karya Muttaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 10 halaman 472 hadits-30136).
– Dari Ibnu Syirin, beliau berkata: “Aku berkata kepada Ubaidah; ‘Kami memiliki rambut Nabi. Kami mendapatkannya dari Anas ataupun dari keluarga Anas’. Ia bekata: ‘Jika aku memiliki selembar rambut saja maka akan lebih kusukai daripada dunia beserta isinya’ ”. (Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 hal. 51 kitab al-Wudhu, bab al-Maa’ al-Ladzi Yughsal Sya’rul Insan).
– Al-Waqidi menjelaskan bahwa Ummul Mukminin Aisyah telah ditanya: “Dari mana engkau mendapatkan rambut itu?. Ia berkata: ‘Sesungguhnya sewaktu Rasulallah mencukur kepala beliau di haji maka orang-orang memisahkan rambutnya. Kami mendapatkannya sebagaimana orang-orang pun mendapat kannya’ ”. (Lihat: Kitab al-Maghozi jilid 3 halaman 1109).

Jika rambut Rasulallah saw. seperti rambut kebanyakan orang, mengapa para tokoh Salaf Sholeh mengharapkannya, bahkan menghendaki rambut itu dikubur bersamanya sewaktu meninggal dunia, untuk pengobatan dan lain sebagainya? Apakah itu juga tergolong perbuatan syirik? Benarkah para tokoh Salaf Sholeh melakukan kesyirikan? Apakah riwayat-riwayat di atas dan berikut ini yang jelas berkaitan dengan Tawassul, Tabarruk semuanya dhoif/lemah, maudhu’, palsu walaupun diriwayatkan oleh pakar-pakar ulama hadits karena berlawanan dengan paham golongan pengingkar? Ini yang harus dijawab oleh golongan pengingkar secara adil dan konsekwen!

  • Dalil Tabarruk para Sahabat dari gelas, piring Nabi saw.:

 Dari Sahal bin Sa’ad pada sebuah hadits, beliau berkata: “Suatu hari aku mendapati Rasul duduk-duduk dengan para sahabat beliau di Saqifah Bani Saidah, lalu beliau bersabda: ‘Berilah kami minum, wahai Saha!’. Kemudian aku keluarkan gelas ini dan kuberi minum mereka dengannya. (perawi berkata) Kemudian Sahal mengeluarkan gelas tersebut dan memberi kami minum dengan menggunakan gelas tersebut. Dia berkata: ’Kemudian Umar bin Abdul Aziz memintanya, dan iapun lantas memberikannya kepadanya’”. (Shohih al-Bukhari jilid 6 hal. 352 dalam kitab al-Asyrabah; Shohih al-Muslim jilid 6 hal.103 bab Ibahat an-Nabidz lam Yasytari wa lam Yashir Muskiran).
 Dari Anas: “Sesungguhnya gelas Nabi telah pecah. Kemudian pecahan tadi diikat dengan rantai perak. Berkata ‘Ashim: ‘Aku melihat gelas itu dan minum menggunakan gelas tersebut’ ”. (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 4 halaman 47 dalam bab Bad’ul Khalq).

 Abu Burdah berkata: “Abdullah bin Salam berkata kepadaku: ‘Engkau akan kuberi minum dengan menggunakan gelas yang pernah dipakai Nabi’”. (Kitab Shohih al-Bukhari jilid 6 halaman 352 dalam kitab al-Asyribah).
 Dari Shofiyah binti Buhrah, beliau berkata: “Pamanku Faras telah meminta kepada Nabi sebuah piring yang pernah dilihatnya dipakai makan oleh Nabi. Beliau memberikannya kepadanya. Dia berkata: Dahulu, Umar jika datang kepada kami, ia akan mengatakan: ‘Keluarkan buatku piring Rasulullah. Aku keluarkan piring tersebut, kemudian ia memenuhinya dengan air Zamzam, dan meminum sebagian darinya, selebihnya ia percikkan ke wajahnya’ ”. (Lihat: Kitab al-Ishobah jilid 3 halaman 202 dalam huruf Fa’ pada bagian pertama berkaitan dengan (tarjamah) Ibnu Faras nomer ke-6971; Kitab Usud al-Ghabah jilid 4 halaman 352 pada huruf Fa’, Faras ‘Amm (paman) Shofiyah nomer ke-4202 dan Kitab Kanzul Ummal jilid 14 halaman 264).
Apa beda antara gelas biasa yang tidak pernah dipakai oleh Rasulallah dengan gelas bekas bibir Rasulallah sehingga menyebabkan para sahabat mulia yang tergolong tokoh Salaf Sholeh merebutkannya? Apakah perbuatan itu tidak tergolong qhuluw (berlebih-lebihan) yang menyebabkan orang ter- jerumus ke dalam kesyirikan? Apakah golongan pengingkar berani menyata- kan bahwa itu perbuatan tercela yang diajarkan oleh para sahabat yang tergolong tokoh para Salaf Sholeh? Mereka harus konsisten dengan pahamnya yang menyatakan bahwa perbuatan itu adalah syirik, yang me- niscayakan bahwa para sahabat telah mengajarkan kesyirikan kepada kita.

  • Tabarruk para Sahabat dari tempat tangan dan bibir Nabi saw.:

– Dalam sebuah kisah yang berkaitan dengan kedatangan Nabi ke rumah Abu Ayyub al-Anshari sewaktu beliau baru berhijrah ke Madinah, Abu Ayyub berkata kepada Beliau: “Kami menyiapkan untuk beliau makan malam dan lantas mengirim (hidangan) baginya. Sehingga jika beliau mengembalikan sisa-sisa (makanan)nya maka aku dan Ummu Ayyub akan mengusap-usap bekas tangan beliau dan memakannya, untuk mengharap berkah. Hingga akhirnya suatu malam, kami mengirim buat beliau makanan yang terdapat bawang merah dan bawang putih di dalamnya. Rasul saw. menolaknya, sehingga kami tidak mendapati bekas tangan beliau. Akhirnya kudatangi beliau dengan perasaan takut. Aku tanyakan: ‘ Wahai Rasulullah, demi ayahku, engkau dan ibuku, engkau telah menolak hidanganmu sehingga kami tidak mendapati bekas tanganmu’? Beliau saw. menjawab: ‘Aku mendapatkan bau pohon ini (bawang). Dikarenakan aku adalah lelaki yang selalu bermunajat (maka menjauhinya), adapun kalian, makanlah darinya..’ ”. (Kitab al-Bidayah wa an-Niayah jilid 3 halaman 201; Kitab Sirah Ibnu Hisyam jilid 2 halaman 144 dan Kitab ad-Dala’il karya al-Baihaqi jilid 2 halaman 510)
– Dari Anas: “Sewaktu Rasul memasuki rumah Ummu Sulaim, beliau mendapati di rumah tersebut terdapat Qirbah (tempat air dari kulit) yang ter gantung dan di dalamnya terdapat air. Kemudian beliau mengambilnya dan meminum langsung dari bibir (Qirbah), dengan posisi berdiri. Ummu Sulaim mengambilnya dan memotong bibir Qirbah tadi yang kemudian disimpannya” (Lihat: Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 7 halaman 520 hadits ke-26574 dan atau Kitab at-Thobaqaat jilid 8 halaman 213)

– Dari Abdurrahman bin Abi Umrah yang diriwayatkan dari neneknya, Ummu Kultsum. Beliau berkata: “Sewaktu Rasul memasuki rumahku, beliau mendapati Qirbah tergantung yang berisi air. Beliau saw. meminum darinya. Kemudian kupotong bibir Qirbah dan kuangkat, mengharap berkah dari bekas bibir Rasulullah” (Lihat: Kitab Sunan Ibnu Majah jilid 2 halaman 1132 dan atau Kitab Usud al-Ghabah jilid 5 halaman 539 dalam huruf Kaf mengenai (tarjamah) Kultsum pada nomer 7243)
Pertanyaan yang sama juga bisa dilontarkan dan harus dijawab oleh golongan pengingkar dengan jujur: Apakah perbuatan yang telah dikemuka- kan semua dalam bab tawassul dan tabarruk ini tergolong Syirik? Apakah hal itu meniscayakan bahwa para Sahabat yang tergolong Salaf Sholeh telah mengajarkan kepada kita kesyirikan? Beranikah golongan pengingkar menvonis para sahabat di atas tadi telah melakukan kesyirikan? Mana bukti bahwa ajaran golongan pengingkar hendak menumbuhkan dan menyebar- kan ajaran para Salaf Sholeh? Salaf Sholeh yang mana yang hendak mereka hidupkan ajarannya?, padahal segenap Salaf Sholeh membolehkan dan mengamalkan tawassul dan tabarruk! Pikirkanlah!!

  • Tabarruk Para Sahabat dari Peninggalan Nabi saw.:

Untuk lebih menguatkan akan argumentasi diperbolehkannya tabarruk dalam syari’at Nabi Muhammad saw, maka di sini akan kita lanjutkan kajian kita pada telaah hadits-hadits yang menyebutkan bahwa para Salaf Sholeh telah bertabarruk kepada peninggalan Rasul saw., setelah wafat beliau. Dimana semua itu selama ini dianggap sebagai bentuk kesyirikan oleh kaum yang mengaku-ngaku sebagai penghidup ajaran dan manhaj Salaf Sholeh. Mari kita sama-sama perhatikan secara teliti uraian hadits-hadits di bawah ini:
 Diriwayatkan dari Muhammad bin Jabir, berkata: “Aku mendengar ayahku berkisah tentang kakekku, bahwa beliau adalah delegasi pertama Nabi dari Bani hanafiyah. Suatu saat kudapati dia menyiram kepalanya dan berkata: ‘Duduklah wahai saudara penghuni Yamamah, siramlah kepalamu!’. Aku siram kepalaku dengan air bekas siraman Rasulullah…maka aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, berilah aku potongan dari pakaianmu agar aku dapat merasakan ketentraman’. Beliau saw. memberikannya kepadaku. Selanjut- nya berkata Muhammad bin Jabir: ‘Ayahku berkata bahwa kami biasa menyiramkannya buat orang sakit untuk memohon kesembuhan’”. (Lihat: Al-Ishabah 2/102 huruf Sin bagian pertama, tarjamah Sayawis Thalq al-Yamani nomer 3626)
Jika apa yang dimiliki Rasulallah sama dengan milik kebanyakan orang, mengapa dia meminta kain Rasulallah untuk mendapat ketentraman (isti’nas)? Dan buat apa air bekas siraman kepala Rasulallah itu disimpan dan bahkan dijadikan sarana permohonan kesembuhan? Jika itu semua masuk kategori syirik, maka selayaknya golongan pengingkar tidak perlu mengaku sebagai penghidup ajaran dan manhaj Salaf Sholeh, tetapi peng- hidup ajaran Khalaf Thaleh (lawan Salaf Sholeh).
 Diriwayatkan dari Isa bin Thahman, berkata: “Anas menyuruh untuk mengeluarkan sepasang sandal yang memiliki dua tali, sedang kala itu aku berada di samping Anas. Aku dengar Tsabit al-Banani berkata: ‘Itu adalah sandal Rasulallah’ ”. (Lihat: Shohih Bukhari 7/199, 4/101, al-Bidayah wa an-Nihayah 6/6 dan Thabaqoot karya Ibnu Sa’ad 1/478)

Jika sandal Rasulallah sama dengan sandal-sandal manusia lain yang tidak layak disimpan dan ditabarruki, buat apa sahabat menyimpannya? Apakah sahabat kurang pekerjaan sehingga menyimpan sandal yang sudah tidak dipakai, atau bahkan sudah rusak? Tentu ada hikmah dibalik penyimpanan tersebut, salah satunya adalah untuk mengambil berkah dari Rasul, melalui sandal beliau.
 Dalam sebuah riwayat, Rasulallah bersabda: “Barangsiapa yang ber- sumpah di atas mimbarku dan dia berbohong walaupun terhadap selainnya maka selayaknya ia bersiap-siap mendapat tempat di neraka” (Lihat: Musnad Ahmad bin Hanbal 4/357 hadits ke-14606 dan Fathul Bari 5/210).
Ini semua membuktikan bahwa betapa sakralnya mimbar Rasulallah saw., menurut lisan Rasulallah sendiri, dan para sahabat pun meyakini hal itu. Terbukti bahwa Zaid bin Tsabit takut untuk bersumpah di mimbar Rasulallah saw. ketika menghukumi Marwan. (Lihat: Kanzul Ummal karya al-Muttaqi al-Hindi al-Hanafi 16/697 hadits ke-46389).
Bukan hanya itu, dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Yazid bin Abdullah bin Qoshith menjelaskan bahwa; “Aku melihat para sahabat Nabi sewaktu hendak meninggalkan masjid, mereka menyentuh pucuk mimbar yang menonjol yang (lantas dikemudian hari terletak) di sisi kanan kubur kemudian mereka menghadap kiblat dan berdo’a” (Lihat: at-Thabaqot al-Kubra 1/254 tentang mimbar Rasulalllah).
Bahkan dalam riwayat Ibrahim bin Abdurrahman bin Abdul Qori menyebut- kan bahwa; “Beliau melihat Umar meletakkan tangannya ke tempat duduk Nabi di atas mimbar, lalu mengusapkannya ke mukanya”. (Lihat: at-Thabaqot al-Kubra 1/254 tentang mimbar Rasulallah dan ats-Tsuqoot karya Ibnu Hibban halaman 9). Jika golongan pengingkar selalu menyatakan syirik buat pengambilan berkah –dari para penziarah yang datang ke Masjid Nabawi di kota Madinah dari mimbar Rasulallah, maka apakah layak kelompok ini mengaku sebagai ‘penghidup Sunah menurut ajaran Salaf Sholeh’? Ataukah mereka lebih layak disebut sebagai ‘penghidup bid’ah menurut ajaran Khalaf Thaleh?
Guna mempersingkat tulisan maka kami hanya menyebutkan beberapa hadits saja. Namun, di sini akan kita singgung beberapa riwayat beserta rujukannya dengan harapan para pembaca yang budiman dapat merujuk kembali ke tekts aslinya.
Dalam beberapa riwayat dan hadits lain disebutkan bahwa, ada beberapa hadits seperti yang membahas tentang Anas bin Malik yang dikubur dengan tongkat Rasulallah saw. (al-Bidayah wa an-Nihayah 6/6); para sahabat meng ambil berkah dari cincin Rasulallah dengan meniru bentuknya (Shahih Bukhari 7/55; Shohih Muslim 3/1656; an-Nasa’i 8/196; Musnad Ahmad bin Hanbal 2/96 hadits ke-472); para sahabat yang mengambil berkah dari sarung Rasulallah dengan memakainya secara bergilir dan dijadikannya kafan (Shahih Bukhari 7/189, 2/98, 3/80, 8/16; Sunan Ibnu Majah 2/1177; Musnad Ahmad bin Hanbal 6/456 hadits ke-22318; Fathul Bari 3/144 tentang hadits 1277); Muawiyah bin Abi Sufyan yang bersikeras membeli selendang Rasulallah untuk dibawa mati dan menjadi kafannya (Tarikh Islam karya adz-Dzahabi 2/412; as-Sirah al-Halabiyah 3/242;Tarikh Khulafa’ karya as-Suyuthi hal:19); hadits Ummu Athiyah tentang kehadiran Rasul ketika anak putrinya meninggal dan mengambil berkah dari sarungnya (Shohih Bukhari 2/74 kitab Jana’iz bab pemberian Kafur; Shohih Muslim 2/647; Musnad Ahmad 7/556 hadits ke-26752; Sunan an-Nasa’i 4/31 dan as-Sunan al-Kubra 3/547 bab 34 hadits ke-6634 dan atau 4/6 bab 72 halaman 6764).

  • Tabarruk para Sahabat dari Tempat Shalat Nabi saw.:

 Dari Musa bin Uqbah, beliau berkata: “Aku melihat Salim bin Abdullah bingung memilih tempat di jalanan untuk melaksanakan shalat. Dikatakan bahwa dahulu ayahnya pernah melaksanakan shalat di tempat itu. Dan ia pernah melihat bahwa Rasulallah saw. juga pernah melaksanakan shalat di tempat itu. Nafi’ berkata, ‘bahwa Ibnu Umar menjelaskan bahwa Rasulullah pernah melaksanakan shalat di tempat-tempat itu’. Aku bertanya kepada Salim karena aku tak pernah melihat Salim kecuali dia mengikuti Nafi’ dalam (memanfaatkan) semua tempat-tempat yang ada, kecuali mereka berdua berbeda dalam pada tempat sujud (masjid) sebagaimana kemuliaan alat putar penggiling (riha’)”. (Shohih Bukhari 1/130, Al-ishobah 2/349 pada huruf ‘Ain’ pada bagian pertama, tarjamah Abdullah bin Umar, nomer 4834, Al-Bidayah wa an-Nihayah 5/149 dan Kanzul Ummal karya Muttaqi al-Hindi al-Hanafi 6/247)
Dari hadits di atas itulah akhirnya Ibnu Hajar dalam mensyarahinya mengatakan; “Dari Shoni’ bin Umar dapat diambil pelajaran tentang disunnah kannya mengikuti peninggalan dan kesan Nabi untuk bertabarruk padanya”. (Fathul Bari 1/469; menurut as-Shorim: 108 dinyatakan bahwa Imam Malik menfatwakan; ‘Sunnah melakukan shalat di tempat-tempat yang pernah dibuat shalat oleh Nabi’. Pernyataan yang sama juga terdapat di kitab al-Isti’ab yang sebagai catatan kaki dari Al-Ishabah tentang Abullah bin Umar).
Tetapi pada kenyataannya, mengapa para muthawwi’ (rohaniawan sekte Wahabi) berusaha menghalang-halangi para jama’ah haji yang ingin ber tabarruk dan melakukan shalat di Gua Hira’ tempat menyendiri Rasulallah saw. yang beliau pakai untuk beribadah dan shalat di sana, dengan alasan Rasulallah saw. dan Salaf Sholeh tidak pernah memberi contoh hal tersebut?
 Ibnu Atsir berkata bahwa, ”Ibnu Umar adalah pribadi yang seringnya selalu mengikuti kesan dan peninggalan Rasulullah saw., sehingga nampak beliau berdiam di tempat (Rasulallah pernah berdiam di situ), dan melakukan shalat di tempat yang Rasulallah pernah melakukan shalat di situ, dan sampai pohon yang pernah disinggahi oleh Nabi saw. (untuk berteduh) pun di singgahinya, bahkan beliau (Ibnu Umar) selalu menyiraminya agar tidak mati k keringan”. (Lihat: Usud al-Ghabah 3/340, terjemah Abdullah bin Umar, nomer 3080. Dan hal serupa –dengan sedikit perbedaan redaksi– juga dapat dilihat dalam kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal 2/269 hadits ke-5968, Shohih Bukhari 3/140; Shohih Muslim 2/1981)

Apakah tabarruk Ibnu Umar tersebut tergolong syirik dan berlebih-lebihan (kultus) terhadap Rasulallah? Apakah mungkin pribadi mulia nan agung seperti Ibnu Umar melakukan perbuatan syirik yang dicela oleh Rasulallah saw.? Jika ya, lantas kenapa para Salaf Sholeh tidak pernah menegurnya, bukankah diamnya mereka berarti meridhoi hal yang sesat? Beranikah golongan pengingkar menyatakan bahwa itu adalah Syirik? Ataukah mereka terpaksa melegalkan perbuatan yang mereka anggap syirik itu? Ataukah mereka ini akan memutar balik makna riwayat-riwayat yang berkaitan Tawassul, Tabarruk sampai sesuai dengan pahamnya?
 Dari Anas bin Malik; “Sesungguhnya Ummu Sulaim meminta agar Rasulallah datang ke rumahnya dan melakukan shalat di rumahnya supaya ia dapat mengambilnya (bekas tempat shalat Rasulallah) sebagai mushalla. Rasulallah pun datang. Dia (Ummu Sulaim) sengaja memerciki tikar dengan air, kemudian Rasulallah melaksanakan shalat di atasnya yang di-ikuti oleh beberapa sahabat lainnya”. (Sunan an-Nasa’i jilid 1halaman 268 kitab masajid, bab 43 as-Sholat alal Hashir hadits 816).
 Dari Anas bin Malik; “Salah seorang pamanku membuat satu makanan, lalu berkata kepada Nabi: ‘Aku ingin engkau datang ke rumahku untuk makan dan shalat’. Dan (Anas) berkata: ‘Beliau saw. datang ke rumah sedang di rumah terdapat batu-batu (hitam). Beliau dipersilahkan ke salah satu sudut yang telah dibersihkan. Kemudian beliau saw. melakukan shalat, kami pun mengikutinya’ ”. (Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 249, kitab al-Masajid, bab al-Masjid fi ad-Daur, hadits 756; dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 3 halaman 130 dengan dua sanad atau dalam kitab Musnad Anas bin Malik hadits 11920)
 Suatu saat, datang Atban bin Malik salah seorang sahabat Rasulallah dari Anshar yang mengikuti perang Badr bersama Rasulallah saw. kepada Rasulallah seraya berkata: ‘”Wahai Rasulullah, telah lemah penglihatanku maka aku melakukan shalat bersama kaumku. Jika hujan turun dan meng- genangi lembah yang membentang antara tempatku dengan tempat mereka sehingga aku tak dapat melakukan shalat bersama mereka di masjid mereka ‘Wahai Rasulallah, aku mengharap engkau datang mengunjungiku dan me- laksanakan shalat di rumahku’. Rasululah saw bersabda kepadanya: ‘Aku akan melaksanakannya, insya-Allah’. Atban berkata: Keesokan harinya, di waktu siang, datanglah Rasulallah besama Abu Bakar. Kemudian Rasulallah meminta izin kepadaku dan akupun memberikannya izin. Beliau tidak duduk ketika memasuki rumah dan langsung bersabda; ‘Dibagian manakah engkau ingin aku mengerjakan shalat di rumahmu?’. Aku tunjuk satu sudut yang berada di rumahku. Rasulullah berdiri dan bertakbir. Kami pun turut berdiri dan mengambil saf untuk melakukan shalat dua rakaat dan membaca salam”.(Shohih Bukhari 1/115, 170 dan 175; Shohih Muslim 1/445, 61& 62)
Anehnya, dalam menetapkan pelarangan bertabarruk pada tempat-tempat dan benda-benda yang dianggap sakral (muqaddas), al-Ulyani dalam kitab “at-Tabarruk al-Masyru” hal: 68-69” berargumen dengan hadits Atban bin Malik yang disinyalir dalam kitab shohih Bukhari dan Shohih Muslim di atas untuk menetapkan ‘pengharaman tabarruk pada tempat dan benda’. Mengenai komentar Al-Ulyani lihat dan baca halaman selanjutnya yaitu pada kalimat Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan di bab ini.

  • Dalil Tabarruk dari Pusara (Kuburan) Rasulallah saw.:

Pada kajian lalu telah kita sebutkan beberapa hadits yang menjelaskan bahwa para Salaf Sholeh telah melakukan pengambilan berkah dari peninggalan-peninggalan Rasulallah saw. seperti sandal, tongkat, baju, bahkan mereka selalu mengusap-usap mimbar Nabi saw. dan mengusapkan nya ke mukanya. Semua perbuatan itu jelas-jelas dilarang oleh para rohaniawan madzhab Wahabi (Muttauwi’) terhadap para jama’ah haji yang ingin melakukannya sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat ter- hadap mimbar Rasulallah saw.
Kajian dan telaah kita berikut ini pada pembahasan; ‘Tabarruk terhadap Kuburan/Pusara’ yang jelas-jelas dilarang oleh kaum Wahabi, pengikut ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab yang sering mengatakan penghidup ajaran para Salaf Sholeh (Salafi). Padahal kalau kita teliti paham mereka banyak yang bertentangan dengan ajaran Salaf Sholeh dan prinsip dasar Ahlusunah wal Jama’ah, termasuk masalah pembolehan tabarruk terhadap kuburan/makam Rasulullah saw. Kaum muslimin yang pernah berziarah ke makam suci Rasulullah akan dengan jelas mengetahui bagaimana perlakuan para rohaniawan madzhab Wahabi itu, ketika mereka hendak mengusap tempat-tempat yang para sahabat Rasul saw. mengamalkannya.
 Dawud bin Abi Shaleh mengatakan: “Suatu saat Marwan bin Hakam datang ke Masjid (Nabawi). Dia melihat seorang lelaki telah meletakkan wajahnya di atas makam Rasul. Kemudian Marwan menarik leher dan mengatakan: ‘Sadarkah apa yang telah engkau lakukan?’. Kemudian lelaki itu menengok kearah Marwan (ternyata lelaki itu adalah Abu Ayyub al-Anshari ra) dan mengatakan: ‘Ya, aku bukan datang untuk seonggok batu, aku datang di sisi Rasulallah’. Aku pernah mendengar Rasulallah bersabda: ‘Sewaktu agama dipegang oleh pakarnya (ahli) maka janganlah menangis untuk agama tersebut. Namun ketika agama dipegang oleh yang bukan ahlinya maka tangisilah’ ”. (Lihat: Mustadrak ala as-Shohihain karya al-Hakim an-Naisaburi Jilid: 4 Halaman: 560 Hadits ke-8571 atau Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi Jilid: 4 Halaman 1404).
Juga riwayat semacam itu bisa dirujuk didalam kitab-kitab: Ibnu Hibban dalam shahihnya, Imam Ahmad (5:422), Tabarani didalam Mu`jam al-Kabir (4:189) dan didalam ‘Awsat’ disahkan oleh Haithami dalam al-Zawa’id (5:245), Al-Hakim dalam Mustadrak (4:515), Al-Dhahabi menshahihkan juga, al-Subki didalam Shifa’ al-Siqam halaman 126, Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2:261f, Haithami dalam al-Zawa’id 4:2). Hadits di atas (dari Hakim an-Naisaburi) telah dinyatakan keshohihannya oleh adz-Dzahabi. Sehingga tidak ada seorang ahli hadits lain yang meragukannya.
Atas dasar hadits di atas maka, as-Samhudi dalam kitab Wafa’ al-Wafa’ jilid: 4 halaman: 1404 menyatakan bahwa; “jika sanad haditsnya dinyatakan baik (benar) maka menyentuh tembok kuburan (makam) tidak bisa dinyatakan makruh”. Nah, jika hukum makruh saja tidak bisa ditetapkan apalagi hukum haram, sebagai perwujudan dari perbuatan syirik sebagaimana yang ‘dihayal kan’ oleh madzhab Salafi (baca: Wahabi).

Hadits di atas itu jelas menunjukkan disamping ziarah kepada Rasulallah saw. juga pengambilan barokah dari makam Rasulallah saw. Ziarah kubur dengan tujuan pengambilan barokah semacam itu tidaklah mengapa, bukan tergolong syirik ataupun bid’ah sebagaimana yang dianggap oleh kaum Wahhabi. Bila tidak demikian mengapa Abu Ayyub ra. tidak cukup beri salam dan berdo’a kepada Allah swt. tanpa di iringi dengan menempelkan wajah- nya di atas pusara Nabi saw.?
Dalam konteks riwayat itu juga tidak jelas di sebutkan apa penyebab teguran Marwan terhadap Abu Ayyub. Ada banyak kemungkinan di sini. Yang jelas bukan karena syirik atau bid’ah, karena kalau benar semacam itu niscaya Marwan akan tetap bersikeras melarang perbuatan Abu Ayyub tersebut. Bila orang ingin menjalankan Amar makruf nahi munkar tidak perduli siapa yang berbuat (baik itu sahabat maupun bukan sahabat) harus dicegah perbuatan munkarnya. Lalu mengapa Marwan menghentikan tegurannya ketika melihat bahwa yang melakukannya adalah Abu Ayyub?
Adapun teguran Marwan jelas tidak bisa disamakan dengan teguran para muthowwi’ (rohaniawan Wahhabi) di sekitar tempat-tempat suci di Saudi Arabia. Karena muthowwik itu dengan jelas langsung menvonis syirik, bukan karena rasa khawatir syirik, tidak lain karena kesalahan mereka dalam memahami dan mempraktekkan kaidah Syadzudz Dzarai dan dalam menentukan tolak ukur antara Tauhid dan syirik.
Bila apa yang dilakukan Abu Ayyub al-Anshari seorang sahabat besar Rasulallah itu tergolong perbuatan syirik (sebagaimana paham kaum Wahabi) maka mungkinkah seorang sahabat besar semacam beliau melaku- kan perbuatan syirik atau akan berbuat sesuatu yang berbau kekufuran atau kesyirikan? Sudah Tentu Tidak Mungkin! Beranikah golongan pengingkar menyatakan bahwa Abu Ayyub al-Anshari pelaku syirik karena tergolong penyembah kubur (quburiyuun)?
 Abu Darda’ dalam sebuah riwayat menyebutkan: “Suatu saat, Bilal (al-Habsyi) bermimpi bertemu dengan Rasulallah. Beliau bersabda kepada Bilal: ‘Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidak perhatianmu (jafa’)? Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?’. Selepas itu, dengan perasa- an sedih, Bilal segera terbangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju ke Madinah. Bilal mendatangi kubur Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulallah) datang. Bilal mendekap dan mencium keduanya”. (Tarikh Damsyiq jilid 7 halaman: 137; Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar jilid: 1 hal. 208; Tahdzibul Kamal jilid: 4 hal. 289, dan Siar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi jilid: 1 Halaman 358)
Bilal menganggap ungkapan Rasulallah saw. dalam mimpinya sebagai teguran dari beliau saw., padahal secara dhohir beliau saw. telah wafat. Jika tidak demikian, mengapa sahabat Bilal datang jauh-jauh dari Syam menuju Madinah untuk menziarahi Rasulallah saw.? Kalau Rasulallah benar-benar telah wafat sebagaimana anggapan golonganpengingkar bahwa yang telah wafat itu sudah tiada maka Bilal tidak perlu menghiraukan teguran Rasulallah itu. Apa yang dilakukan sahabat Bilal juga bisa dijadikan dalil atas ketidakbenaran paham Wahabisme –pemahaman Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab– tentang pelarangan bepergian untuk ziarah kubur sebagaimana yang mereka pahami tentang hadits Syaddur Rihal.

 Ibnu Hamlah menyatakan: “Abdullah bin Umar meletakkan tangan kanan- nya di atas pusara Rasul dan Bilal pun meletakkan pipinya di atas pusara itu”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ Jilid: 4 Halaman: 1405)
Apa maksud Ibnu Umar dan Bilal meletakkan tangan di pusara Rasulallah? Mengapa ulama madzhab Wahabi menvonnis syirik kepada penziarah yang ingin mengusap teralis besi penutup pusara Rasulallah saw. dan kedua sahabatnya? Apakah mereka ini juga menganggap semua hadits yang telah dikemukakan itu dho’if, palsu, maudhu’ dan lain sebagainya, karena ber- lawanan dengan pahamnya?
 Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib kw. bahwa: “Sewaktu Rasulullah di- kebumikan, Siti Fatimah –puteri Rasul satu-satunya– bersimpuh disisi kuburan Rasulallah dan mengambil sedikit tanah makam Rasulallah kemudian diletakkan dimukanya dan sambil menangis ia pun membaca be- berapa bait syair….”. (al-Fatawa al-Fiqhiyah karya Ibnu Hajar jilid 2 hal.18, as-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hal.340, Irsyad as-Sari jilid 3 hal. 352 dsb.nya)
Jika apa yang dilakukan Siti Fatimah tersebut adalah Syirik atau Bid’ah maka mengapa ia melakukannya? Apakah dia tidak pernah mengetahui apa yang telah diajarkan oleh ayahnya (Rasulullah)? Apakah mungkin khalifah Ali bin Abi Thalib membiarkan istrinya terjerumus ke dalam kesyirikan dan Bid’ah yang dilarang oleh beliau saw. (versi Wahabisme)? Bukankah keduanya adalah keluarga dan sahabat Rasulallah yang tergolong Salaf Sholeh, yang konon akan diikuti oleh kelompok Wahabi?
 Seorang Tabi’in bernama Ibnu al-Munkadir pun pernah melakukannya (bertabarruk kepada kuburan Rasulallah). “Suatu ketika, di saat beliau duduk bersama para sahabatnya, seketika lidahnya kelu dan tidak dapat berbicara. Beliau langsung bangkit dan menuju pusara Rasulallah dan meletakkan dagunya di atas pusara Rasulallah kemudian kembali. Melihat hal itu, seseorang mempertanyakan perbuatannya. Beliau menjawab: ‘Setiap saat aku mendapat kesulitan, aku selalu mendatangi kuburan Nabi’ ”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ Jilid: 2 Halaman: 444)
Atas dasar hadits-hadits tadi akhirnya as-Samhudi menyatakan dalam kitab Wafa’ al-Wafa’-nya (jilid: 1 Halaman: 544) bahwa; “Mereka (para sahabat) dan selainnya (Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in) sering mengambil tanah dari pusara Rasulallah. Aisyah (ummul mukminin) ra. membangunnya dan menutup pusara itu dengan terali. Dikatakan: ‘Ditutup olehnya (Aisyah) karena menghindari habisnya tanah pusara dan kerusakan bangunan di atasnya’ ”.
Masihkah golongan pengingkar yang mengatas namakan diri sebagai pengikut dan penghidup ajaran Salaf Sholeh itu hendak menuduh kaum muslimin yang bertabarruk terhadap peninggalan Nabi sebagai pelaku syirik dan bid’ah? Kalaulah secara esensial pengambilan berkah dari kuburan adalah syirik maka setiap pelakunya harus diberi titel musyrik, tidak peduli sahabat Rasulallah atau pun orang awam biasa! Beranikah golongan ini menjuluki mereka sebagai “para penyembah kubur” (Kuburiyuun)?, sebagai mana istilah ini sering diberikan kepada kaum muslimin yang suka mengambil berkah dari kuburan Nabi dan para manusia kekasih Allah (Waliyullah) lainnya?

  • Antar Para Sahabat pun Saling Bertabarruk:

Pertama-tama, kita akan melihat beberapa tekts tentang: apakah diperboleh- kan mengambil berkah dari selain Nabi, seperti para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ Tabi’in dan para manusia sholeh dan bertakwa pasca masa mereka? Kita di sini akan melihat beberapa tekts yang membuktikan bahwa para sahabat satu dengan yang lain dan diantara mereka telah saling mengambil berkah. Sedang kita tahu bahwa, menurut Ahlusunah wal Jama’ah, semua sahabat adalah Salaf Sholeh yang layak ditiru dan diikuti.
 Imam an-Nawawi dalam kitab “al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab” (jilid 5 hal. 68) dalam Kitabus-Shalat dan dalam Babus-Shalatul-Istisqo’ yang menukil riwayat bahwa Umar bin Khatab telah meminta do’a hujan melalui ‘Abbas (paman Rasulallah) sebagaimana yang telah kita kemukakan sebelumnya dengan menyatakan: ‘Ya Allah, Dahulu jika kami tidak mendapat hujan maka kami bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami, lantas engkau meng- anugerahkan hujan kepada kami. Dan kini, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi-Mu, maka turunkanlah hujan bagi kami. Kemudian turun lah hujan’. (Ibnu Hajar juga menyatakan bahwa; Abu Zar’ah ad-Damsyiqi juga telah menyebutkan kisah ini dalam kitab sejarahnya dengan sanad yang shahih).
 Dalam kitab yang sama di atas, disebutkan bahwa Muawiyah telah meminta hujan melalui Yazid bin al-Aswad dengan mengucapkan: “Ya Allah, kami telah meminta hujan melalui pribadi yang paling baik dan utama di antara kami (sahabat, red). ‘Ya Allah, kami meminta hujan melalui diri Yazid bin al-Aswad. Wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu kepada Allah’. Ia mengangkat kedua tangannya diikuti oleh segenap orang (yang berada disekitarnya). Maka mereka dianugerahi hujan sebelum orang-orang kembali ke rumah masing-masing”.
Ibnu Hajar dalam kitab ‘Fathul Bari’ (Syarah kitab Shohih al-Bukhari) pada jilid 2 halaman 399 dalam menjelaskan peristiwa permintaan hujan oleh Umar bin Khatab melalui Abbas, menyatakan: “Dapat diambil suatu pelajaran dari kisah Abbas ini yaitu, dimustahabkan (sunnah) untuk meminta hujan melalui pemilik keutamaan dan kebajikan, juga ahlul bait Nabi”.
 Ibnu Atsir dalam kitab ‘Usud al-Ghabah’ (Jilid: 3 Halaman: 167) dalam menjelaskan tentang pribadi [tarjamah] Abbas bin Abdul Mutthalib pada nomor ke-2797 menyatakan: “Sewaktu orang-orang dianugerahi hujan, mereka berebut untuk menyentuhi Abbas dan mengatakan: ‘Selamat atasmu wahai penurun hujan untuk Haramain’. Saat itu para sahabat mengetahui, betapa keutamaan yang dimiliki oleh Abbas sehingga mereka mengutama- kannya dan menjadikannya sebagai rujukan dalam bermusyawarah”.
 Sewaktu Umar bin Khatab melamar Ummu Kultsum (putri Ali bin Abi Thalib), ia mengatakan: ‘Aku ingin masuk menjadi bagian dari Rasulallah’.

 As-Samhudi dalam kitab “Wafa’ al-Wafa’” (jilid 2 hal. 448) menyatakan bahwa; ”Dahulu, Ali bin Abi Thalib selalu duduk di depan serambi yang ber- hadapan dengan kuburan (Rasulallah, red). Disitu terdapat pintu Rasulallah yang didepannya terdapat jalan yang dipakai Nabi keluar dari rumah Aisyah untuk menuju Masjid (Raudhah). Di tempat itulah terdapat tiang (pilar) tempat shalat penguasa (amir) Madinah. Ia (Ali bi Abi Thalib) duduk sambil menyandari tiang itu. Oleh karena itu, Al-Aqsyhary mengatakan: ‘Tiang tempat shalat Ali itu hingga kini sangat disembunyikan dari para pengunjung tempat suci (Haram) agar para penguasa dapat (leluasa) duduk dan shalat di tempat itu, hingga hari ini’. Disebutkan bahwa tempat itu disebut dengan ‘Tempat para Pemimpin’ (Majlis al-Qodaat) karena kemuliaan orang yang pernah duduk di situ (yaitu Ali bin Abi Thalib, red)”.
 Dalam kitab yang sama di atas, as-Samhudi (pada jilid 2 hal. 450) menukil dari Muslim bin Abi Maryam dan pribadi-pribadi lain yang menyatakan: “Pintu rumah Fatimah binti Nabi saw. terletak di ruangan segi empat yang berada di sisi kubur. Sulaiman berkata: Muslim telah berkata kepadaku: ‘Jangan engkau lupa untuk mengerjakan shalat di tempat itu. Itu adalah pintu rumah Fatimah dimana Ali bin Abi Thalib selalu melewatinya’ ”.
 Ibn Sa’ad dalam kitab ‘at-Thabaqoot al-Kubra’ (jilid 5 hal. 107) menukil riwayat yang menyatakan: “Sewaktu Husein bin Ali bin Thalib meninggalkan Madinah untuk menuju Makkah, ia bertemu dengan Ibn Muthi’ yang sedang menggali sumur. Ia berkata kepada Husein: ‘Aku telah menggali sumur ini tetapi tidak kudapati air dalam ember sedikit pun. Jika engkau berkenan untuk mendo’akan kami kepada Allah dengan berkah’. Husein berkata: ‘Berikan sedikit air yang kau punya’!. Kemudian diberikan kepadanya air lalu ia meminumnya sebagian dan berkumur-kumur dengan air tadi kemudian mengembalikannya ke dalam sumur. Seketika itu sumur menjadi memancar- kan air dengan melimpah” .
 Ibnu Hajar dalam kitab ‘as-Showa’iq al-Muhriqoh’ (halaman 310 pasal ke-3 tentang hadits-hadits yang berkaitan dengan ahlul bait) menyebutkan: “Ketika ar-Ridho (salah seorang keturunan Rasulallah, red) sampai di kota Naisabur, orang-orang berkumpul disekitar kereta tunggangannya. Ia mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta sehingga dapat dilihat oleh khalayak. Kemudian (sambil memandanginya) mereka berteriak-teriak, menangis, menyobek-nyobek baju dan melumuri dengan tanah, juga men- ciumi tanah bekas jalannya kendaraannya…”. (Hal ini juga dinukil oleh as-Sablanji dalam kitab ‘Nur al-Abshar’ halaman: 168, pasal Manaqib Sayid Ali ar-Ridho bin Musa al-Kadzim)
Di atas tadi adalah sebagian contoh bahwa para sahabat pun telah ber- tabarruk dari pribadi-pribadi yang dianggap lebih mumpuni dari sisi kebaikan dan ketaatan dibanding dengan yang lain. Ini sebagai bukti bahwa meng- ambil berkah dari orang-orang sholeh dan dianggap lebih bertakwa memiliki legalitas dalam ajaran Islam, karena para Salaf Sholeh telah melakukannya.
Dari kisah di atas juga dapat dipahami bahwa, tidak semua sahabat memiliki kemuliaan yang sama, terdapat perbedaan derajat ketakwaan dan keutama- an di antara mereka. Dan dari nukilan riwayat-riwayat tadi dapat diambil kesimpulan bahwa, hanya orang-orang yang Sholeh dan bertakwa saja yang dapat diambil berkahnya, baik pribadi orang Sholeh itu, do’anya maupun peninggalan-peninggalannya. Adapun orang yang tidak sholeh dan takwa, obyek-obyek yang tidak memiliki kesakralan Ilahi, maka jelas sekali bahwa semua itu diluar dari obyek kajian kita.
Dari riwayat-riwayat itu juga dapat kita ambil pelajaran untuk menjawab anggapan orang-orang seperti al-Jadi’ dalam kitabnya yang berjudul “At-Tabarruk; ‘Anwa’uhu wa Ahkamuhu” halaman: 261 dan as-Syatibi -dalam karyanya yang berjudul ‘al-I’tisham’ jilid 2 halaman: 9, dimana keduanya sepakat bahwa; ‘Tabarruk hanya diperbolehkan kepada diri dan peninggalan Rasulallah saja’. Hal itu karena mereka beralasan bahwa Rasulallah tidak pernah memerintahkannya. Selain itu, alasan lainnya adalah; ‘Tidak ada riwayat yang menjelaskan legalitas prilaku semacam ini’ (tabarruk kepada pribadi selain Nabi). Bahkan as-Syatibi menyatakan bahwa; ‘Barangsiapa yang melakukan hal itu maka tergolong bid’ah, sebagaimana tidak diper- bolehkannya mengawini perempuan lebih dari empat’.
Telah jelas riwayat-riwayat di atas membuktikan bahwa para Sahabat telah mengambil berkah kepada sesama sahabat yang dianggap lebih utama dari sisi ketakwaan. Entahlah mengapa al-Jadi’ dan as-Syatibi tidak pernah menemukan riwayat-riwayat semacam itu?. Lagi pula, jika bertabarruk kepada sahabat adalah bid’ah, mengapa sahabat Umar telah bertabarruk kepada Abbas? Apakah khalifah Umar telah melakukan Bid’ah, karena melakukan satu perbuatan yang Rasulallah saw. tidak pernah memerintah- kan dan mencontohkannya? Beranikah orang menvonis sahabat seperti Umar bin Khatab (khalifah kedua) sebagai ahli Bid’ah?
Walaupun Rasulallah saw. tidak pernah memerintahkannya tetapi bukan berarti otomatis bertabarruk selain kepada beliau saw. itu sebagai amalan bid’ah, haram dan sebagainya. Mengapa justru al-Jadi dan as-Syatibi berani melarangnya?, sedangkan Rasulallah saw. sendiri tak pernah melarangnya!
Sekarang yang menjadi masalah adalah, jika tadi telah ditkemukakan bahwa selain peninggalan Nabi saw., peninggalan para Sahabat Nabi pun boleh untuk diambil berkahnya sewaktu masa hidup mereka, bagaimana dengan perkara tadi setelah kewafatan mereka? Dan yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya adalah; Bolehkah kita (kaum muslimin) mengambil berkah dari orang biasa (bukan Nabi dan juga bukan Sahabat Nabi) namun dia tergolong orang Sholeh dan bertakwa? Apakah pengambilan berkah dari mereka hanya sebatas sewaktu mereka masih hidup ataukah juga diperbolehkan untuk mengambil berkah dari jenazah (jasad orang yang telah mati) dan kuburan mereka? Untuk menjawab syubhat ini –selain telah kita singgung sebelumnya bahwa para sahabat telah mengambil berkah dari kuburan Rasulallah akan kita jelaskan berikut ini bahwa tidak hanya dibatasi pada orang Sholeh yang masih hidup saja, bahkan pasca kematiannya pun masih bisa (legal) untuk ditabarruki, tidak seperti sangkaan golongan pengingkar yang dengan tegas menyatakannya sebagai perbuatan syirik.

  • Jenazah dan Kuburan/Pusara Ulama yang Diambil Berkah:

Setelah kita mengetahui pendapat (baca: fatwa) para ulama Ahlussunnah dari berbagai madzhab perihal legalitas mengambil berkah (tabarruk) dari berbagai peninggalan Nabi saw. setelah wafat beliau terkhusus pusara suci beliau saw. dan dari para manusia sholeh lainnya, kini kita akan melihat bagaimana kaum muslimin pun melanjutkan dan menerapkan syiar Islam ini kepada kuburan para sahabat Rasulallah saw. dan ulama mereka.
 Kuburan Bilal al-Habsyi –seorang sahabat besar dan muadzin Rasulallah– yang berada di Damaskus (Syiria) adalah salah satu dari manusia mulia kekasih Allah dan Rasul-Nya yang selalu diziarahi dan diambil berkah oleh banyak dari kaum muslimin. Bukan hanya kaum muslim awam saja yang mencari berkah darinya, namun para Waliyullah pun turut berdo’a dan mengambil berkah darinya. (Lihat: Rihlah bin Jubair halaman: 251)
 Kuburan Abu Ayyub al-Anshari (di Istanbul, Turki) juga termasuk yang di ambil berkahnya. Al-Hakim an-Naisaburi menjelaskan: “Mereka bertekad, menziarahi dan mencari berkah hujan jika ditimpa kekeringan.” (Lihat: al-Mustadrak ‘ala as-Shohihain jilid: 3 halaman: 518 atau Ibnu al-Jauzi dalam Shofwah al-Shofwah jilid: 1 halaman: 407)
 Makam sahabat besar Suhaib ar-Rumi juga termasuk yang dicari berkahnya. Bahkan as-Samhudi sendiri pernah mencoba tanah kuburannya untuk mengobati demam. Begitu juga dengan kuburan Hamzah bin Abdul Mutthalib –paman Nabi dan penghulu para syahid– dimana as-Samhudi menukil ucapan az-Zarkasyi yang menyatakan: “Tanah makam Hamzah di ambili oleh orang-orang untuk pengobatan”. (Wafa’ al-Wafa’ jilid 1 hal. 69).
 Salah seorang sahabat Rasulallah saw. yang bernama Abu ‘Amr Sa’ad bin Muadz al-Anshari yang dalam kitab Siar A’lam an-Nubala jilid 1 halaman 279 disebutkan bahwa kematiannya menyebabkan ‘Arsy goncang kuburan- nya menjadi salah satu tempat pengambilan berkah. Disebutkan bahwa salah seorang telah mengambil tanah pekuburannya kemudian membawa- nya pergi. Setelah lama ternyata berubah menjadi misik. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ karya as-Samhudi jilid 1 halaman 115)
 Makam Umar bin Abdul Aziz salah seorang khalifah dari Bani Umayyah (wafat tahun 101 H) menjadi sasaran pencari berkah. Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh adz-Dzahabi. (Tadzkirah al-Huffadz jilid 1 hal. 339).
 Pusara salah seorang cucu Rasulullah yang bernama Imam Ali bin Musa ar-Ridho yang kuburannya berada di Thus juga menjadi
obyek ziarah dan pencarian berkah. Abu Bakar Muhammad bin Muammal mengatakan: “Ketika kami keluar bersama Imam ahli Hadits Abu Bakar bin Khuzaimah beserta ‘Adilah Abi Ali ats-Tsaqofi yang disertai dengan beberapa orang syeikh kita yang ingin menziarahi Ali bin Musa ar-Ridho di kota Thus. Beliau mengatakan: ‘Aku melihat betapa penghormatan, kerendahan dan perendah- an dirinya –yaitu Ibnu Khuzaimah– terhadap kuburan itu hingga kami heran dibuatnya’ ”. (Tahdzib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar al-Asqolani jilid 7 hal. 339)

 Abdullah bin al-Haddani yang terbunuh (syahid) pada ‘hari Tarwiyah’ di tahun 183 H juga merupakan salah seorang yang kuburannya menjadi obyek pencarian berkah kaum muslimin.
Mereka mengambil tanah pekuburannya. Tanah itu ibarat misik yang kemudian mereka taburkan di baju mereka. (Lihat: Hilliyatul Auliya karya Abu Na’im al-Isbahani jilid: 2 halaman: 258 atau kitab Tahdzib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar al-Asqoilani jilid: 5 halaman: 310)
 Kuburan Ma’ruf al-Karakhi pun termasuk yang dicari berkahnya oleh kaum muslimin. Ibnu al-Jauzi dalam hal ini menyatakan: “Kuburannya terletak di Baghdad nampak menonjol dan diambil berkahnya. Ibrahim al-Harbi mengatakan: ‘Kuburan Ma’ruf adalah obat yang mujarab’ ”. (Lihat: Shofwah al-Shofwah Jilid: 2 Halaman: 324)
 Kuburan al-Khidr bin Nashr al-arbali (wafat tahun 567 H) seorang ahli fikih dari mazhab Syafi’i kuburannya dijadikan tempat pencarian berkah. Ibnu Katsir dalam menukil ungkapan Ibnu Khalkan mengatakan: “Kuburannya diziarahi, dan aku telah menziarahinya lebih dari sekali. Kulihat orang-orang mengerumuni kuburannya dan mencari berkah darinya”. (Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir jilid: 12 halaman: 353)
 Kuburan Nuruddin Mahmud bin Zanki (wafat tahun 569 H) –beliau adalah pejuang dan penguasa negeri Syam (Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah Jilid: 12 Halaman: 306)- juga termasuk yang dicari berkahnya. Ibnu Katsir dalam hal ini menyatakan: “Kuburannya berada di Damaskus yang selalu diziarahi, digelayuti jendelanya, diberi minyak wangi dan dicari berkahnya setiap saat” (Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah Jilid: 12 Halaman: 353)
 Kuburan Imam al-Bukhari (pemilik kitab Shohih) pun tidak luput dari pencari berkah dari kaum muslimin. As-Subki dalam menjelaskan wafat beliau, menyatakan: “Adapun tentang tanah (kuburan), mereka telah meninggikan tanah kuburannya sehingga nampak menonjol. Sampai-sampai para penjaga tidak mampu menjaga kuburan tersebut. Kami telah melupakan diri kami sendiri, lantas kami menyerbu kuburan tersebut bersama-sama. Hingga sulit bagi kami untuk sampai ke kuburan tersebut.” (Lihat: Thobaqoot as-Syafi’iyah jilid: 2 halaman: 233 atau kitab Siar A’lam an-Nubala karya adz-Dzahabi jilid: 12 halaman: 467)

Dan masih banyak lagi kuburan-kuburan lain yang menjadi pusat ziarah mau pun pencarian berkah yang terdapat di berbagai negara seperti; Irak, Syiria, Mesir, Pakistan, Yordania, Yaman, Iran, Indonesia, Malaysia, Singapore dan negara-negara lainnya. Kuburan-kuburan itu adalah pusara-pusara para kekasih Ilahi yang diperbolehkan bagi setiap muslim untuk menziarahinya dan mencari berkah darinya, berdasarkan syariat Islam yang diajarkan oleh Rasulallah melalui sahabat-sahabat mulia beliau yang menjadi sandaran kesepakatan ulama Ahlusunnah dalam memberikan fatwa legalitas ber- tabarruk. Jika hal tersebut tetap dinyatakan oleh golongan pengingkar sebagai perbuatan ghuluw, syirik, maka apa kata mereka ketika melihat kuburan dan jenazah Ahmad bin Hanbal yang diakui sebagai Imam hadits mereka dan jenazah Ibnu Taimiyah diperlakukan sama semacam itu oleh kelompok dari mereka sendiri?
Marilah kita lihat apa yang terjadi dengan kuburan Imam Ahmad bin Hanbal dan jenazah Ibnu Taimiyah:
Ibnu Hanbal: Kuburan Imam Ahmad bin Hanbal (wafat tahun 241 H) nampak menonjol dan masyhur menjadi tujuan ziarah para penziarah dan tempat pencarian berkah. (Lihat: Mukhtashar Thabaqoot al-Hanabilah halaman: 14)
Ibnu Taimiyah: Ibnu Katsir mengisahkan: “Dalam menghantar (tasyi’) jenazahnya orang-orang berbondong-bondong hingga iringan jenazahnya memenuhi jalanan. Semua orang menyerbunya dari segala penjuru sehingga kerumunan kian bertambah ramai. Mereka melempar sapu tangan dan sorban mereka di atas keranda guna mengambil berkah. Kayu-kayu keranda jenazah banyak yang putus akibat terlampau banyak orang yang bergelayut- an. Mereka juga meminum air bekas memandikan jenazahnya untuk mencari keutamaan (tayammun)….mereka bersedia membeli sisa-sisa kayu bidara (sidir, bekas memandikan jenazah) dan membagi-baginya diantara mereka…dan bahkan dikatakan bahwa; ‘Benang yang diberi air raksa (zibaq) yang diletakkan pada jasadnya untuk menghalau kutu-kutu pun mereka beli dengan harga seratus lima puluh dirham”. (Lihat: al-Bidayah wa an-nihayah jilid: 14 hal. 136 atau pada kitab al-Kuna wa al-Alqob jilid: 1 halaman: 237)
Jika pencari berkah dari kuburan dan dari jenazah (orang mati) adalah syirik atau bid’ah, maka penziarah kubur Imam Ahmad bin Hanbal semuanya para ahli bid’ah dan kaum musyrik. Lebih kasihan lagi pengantar jenazah Ibnu Taimiyah, betapa tidak, karena para pengantar jenazahnya berebutan untuk mengambil barokah dari keranda, minum air bekas memandikan jenazah beliau dan lain sebagainya.

  • Mari kita rujuk lagi macam-macam bentuk riwayat lainnya yang berkaitan dengan Tabarruk

– Samiri, (pada zaman Nabi Musa as.) yang mengambil barakah dari tanah dimana Jibril as melaluinya. Ketika Samiri mengambil dan melemparkan tanah pada patung anak sapi yang dibuatnya, patung jadi bisa bersuara, karena berkah dari tanah bekas jejak malaikat Jibril as.tersebut. Firman Allah swt:
(Samiri menjawab): “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahui nya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”. (S Thaahaa [20] ayat 96)
Hampir semua ahli tafsir menginformasikan bahwa yang dmaksud dengan jejak Rasul dalam ayat di atas adalah jejak malaikat Jibril a.s.

 Begitu juga firman Allah swt. agar menjadikan tempat berdirinya Nabi Ibrahim as. waktu membangun Ka’bah sebagai tempat sholat: ..’Dan jadikan lah sebagian maqam (tempat berdiri) Ibrahim tempat sholat’. (Al-Baqarah:125). Disini menunjukan bahwa Allah swt. memuliakan Rasul-Nya Ibrahim as. dan menjadikan tempat berdirinya beliau sebagai tempat yang mulia yang dianjurkan manusia untuk melakukan sholat pada tempat tersebut dan pengambilan barokah.
Silahkan juga rujuk tentang riwayat para sahabat percaya bahwa rumah yang pernah dimasuki Rasulallah ada barakahnya. (Bukhari,jilid 5, Buku 58, nomer 159, Ahmad Musnad 3:98 #11947, Bukhari, jilid 7, Buku 71, Nomer 647, Malik in al-Muwatta; Buku 50 nomer 50:4:10, Abu Dawud, 41: 5206).
– Mu’adz Ibnu Jabal dan Bilal (ra) datang kemakam Nabi duduk menangis dan mengusapi mukanya dengan tanah itu. (Ibnu Majah 2:1320).
– Nabi memerintahkan para sahabat untuk mengambil berkah dari sumur di mana onta betina Nabi Sholeh minum disitu. (Bukhari, jilid 4, Buku 55, no 562).
Menurut riwayat sumur Nabi Sholeh a.s.ada dikota ‘Asir di Saudi Arabia dekat perbatasan Yaman. Banyak para sahabat waktu itu diantaranya; Ali bin Abi Thalib, Mu’az bin Jabal, Abu Musa Al- Asy’ari (ra) diutus oleh Rasulallah saw. ke Yaman dan sahabat lainnya diutus untuk dakwah keluar kenegara-negara selain Hijaz (sekarang Saudi Arabia) misalnya Khalid bin Walid ke Najran, Utsman bin Abi ‘Ash ke Tsaqif dan sebagainya.
Nah, kalau sumur yang ontanya Nabi Sholeh as pernah minum air disana berapa waktu silam sebelum zaman Nabi saw. saja masih bisa menjadikan barokah apalagi bekas-bekas peninggalan manusia yang mulia dan taqwa yakni Rasulallah saw. atau para sahabat dan para waliyullah yang mana mereka semua dimuliakan oleh Allah swt. Jadi penghormatan serta peng ambilan barokah dari tempat yang suci tidak sama dengan menyembahnya!
 Firman Allah swt. kepada Nabi Musa a.s.: “Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa“. (QS Thaahaa:12).
Allah swt. sendiri menyatakan lembah Thuwa adalah tempat yang suci sehingga Nabi Musa as. ditempat ini diperintahkan untuk menanggalkan terompahnya sebagai penghormatan (ta’dhim) pada tempat tersebut. Ini bukti bahwa ada tempat-tempat yang disucikan oleh Allah swt. Apa mungkin Allah swt. memerintahkan sesuatu yang berbau syirik? Sudah tentu tidak mungkin! Dengan demikian kita harus bisa membedakan antara ta’dhim/penghormatan dan ibadah!
 Khalifah Umar ra. ketika mengunjungi Ka’bah berkata pada Hajar Al-Aswad: ‘Kamu tidak bisa apa-apa, tapi saya menciummu untuk mengikuti Rasulallah saw.’ Atas ucapan Khalifah Umar ini khalifah Ali kw. berkata pada khalifah Umar sebagai berikut: ‘Rasulallah saw. berkata dihari pengadilan hajar Al-Aswad akan menjadi perantara (saksi) atas orang-orang’. (Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasai, Al-Baihaqi, At-Tabharani dan Al-Bukhari dalam kitab Risalahnya) dan khalifah Umar ra berterima kasih pada Amirul mukminin Ali bin Thalib kw.
Golongan Salafi/Wahabi menyebarkan versi hadits terakhir di atas ini dengan mengurangi dari riwayat aslinya. Mereka menceritakan hanya sampai kata-kata khalifah Umar ra. saja, dan membuang perkataan khalifah Ali kw. yang menyatakan bahwa Hajar al-Aswad akan menjadi wasilah atau perantara pada hari pengadilan nanti. Golongan ini tidak siap untuk mengambil pengajaran dari sebagian isi dari Al-Qur’an dan Sunnah karena berlawanan secara langsung dengan keyakinan literalisme mereka. Sayangnya ulama-ulama mereka berusaha sebisa mungkin menyembunyikan atau menolak hadits-hadits yang telah kami kemukakan, supaya orang-orang tetap tidak tahu mengetahui hadits-hadits seperti itu. Sedangkan pengikut-pengikutnya hanya mengikuti apa yang diucapkan oleh para ulama mereka ini.
Mengenai hajar aswad Ibnu Hibban dalam kitab Shohih-nya mengatakan: “Bahwa Nabi saw. bersabda: ‘Al-hajaru war ruknul yamaaniyyu yahutthul khataayaa hatthan’. Artinya: “Hajar aswad (batu hitam) dan rukun yamani menggugurkan dosa sebanyak-banyaknya”. (dinukil dari kitab Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq jilid 5 cet.pertama hal. 152). Banyak riwayat lain mengenai hajar aswad ini.
 Diriwayatkan oleh Imam Muslim (Lihat kitab Al-Libas Wa Az-Zinah jilid 3, halam 140) sebagai berikut: “Asma binti Abubakar As-Shiddiq ra menuturkan, bahwa ia pernah mengeluarkan jubah thayalisah (yaitu pakaian kebesaran yang lazim dipakai oleh raja raja Persia), pada bagian dada dan dua lipatan yang membelahnya berlapiskan sutera mewah. Menurut Asma itu adalah jubah Rasulallah saw. yang dulu disimpan oleh Aisyah ra. Setelah Aisyah wafat jubah itu disimpan oleh Asma. Asma mengatakan, bahwa Nabi saw. semasa hidupnya pernah memakai jubah tersebut dan sekarang , kata Asma, jubah itu kami cuci dan kami manfaatkan untuk bertabarruk mohon kesembuhan bagi penderita sakit ”.
 Imam al-Bukhari dalam kitab shahih-nya menuliskan satu bab khusus tentang “Tentang baju besi (untuk perang .red), tongkat, pedang, gelas dan cincin Nabi, serta apapun yang dilakukan para khalifah pasca (wafat) beliau saw. dari barang-barang tersebut yang belum disebutkan; dari rambut, sandal dan nampan yang diambil berkahnya oleh para sahabat dan selainnya, pasca wafat beliau” (bab; Maa dzakara min Dir’un Nabi wa ‘Ashohu wa Saifihi wa Qodhihi wa Khotamihi wa Maa Ista’mala al-Khulafa’ Ba’dahu min Dzalika Mimma Lam Yudzkar Qisamatuhu, wa min Sya’rihi, wa Na’lihi wa Aaniyatihi mimma tabarraka Ashabuhu wa Ghairuhum ba’da Wafatihi). Hanya Imam Bukhari yang menyebutkan bab tersebut dalam kitab Shahih beliau, yang tidak dilakukan dalam kitab enam (Kutub as-Sittah) yang menjadi kitab standart Ahlusunah wal Jama’ah yang ada. (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 4 halaman 46 di bab yang sama)
 Imam Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah meriwayatkan, bahwa ‘Asma binti Abubakar pada suatu hari mengeluarkan sehelai jubah, kemudian berkata kepada orang-orang yang hadir: ’Dahulu Rasulallah saw. memakai jubah ini. Jubah ini kami cuci dan airnya kami gunakan untuk menyembuhkan orang-orang sakit’.
 Ibnu Qusaith dan Al-‘Utbi dalam kitab ‘Thabaqat’ yang disusun oleh Ibnu Sa’ad mengatakan, bahwa para sahabat Nabi pada saat memasuki masjid Nabawi mengusapkan tangan pada mimbar Rasulallah saw. yang berdekat- an dengan makam beliau dengan maksud bertabarruk dan bertawassul. Mereka kemudian menghadap kiblat lalu berdo’a.
Dalam Thabaqat ini Ibnu Sa’ad Abdurrahman bin ‘Abdulqadir juga mengata- kan, “bahwa ia melihat ‘Abdullah bin ‘Umar Ibnul Khattab ra. bertabarruk dengan mengusapkan tangannya pada tempat duduk Rasulallah saw. yang berada di mimbar beliau, kemudian mengusapkan tangan itu pada wajah- nya”. Dalam riwayat yang lain lagi, Abdurrahman mengatakan; “bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar juga mengusapkan tangannya pada bagian mimbar yang dahulu sering dipegang oleh Rasulallah saw.”.
 Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa menurut sebuah riwayat, Ibnu Umar pernah meletakkan tangannya pada tempat duduk di mimbar Rasulallah saw., kemudian ia mengusapkan tangannya ke wajah.

 Ibnu Taimiyah mengemukakan sebuah riwayat berasal dari Ahmad bin Hanbal, bahwa ia Imam Ahmad membolehkan orang mengusap mimbar dan rumanahnya (benda bulat dari kayu yang berada di atas mimbar (kuno), tempat berpegang pada saat orang sedang berkhutbah). Ibnu Taimiyah juga meriwayatkan bahwa “Ibnu ‘Umar, Sa’id bin Al-Musayyab dan Yahya bin Sa’id salah seorang ulama Fiqih di Madinah semuanya pernah melaku- kan hal seperti itu”. (Lihat Iqtidha As-Shirathil Mustaqim, halaman 367).
 Dinukil dari Syeikh al-Allamah Ahmad bin Muhamad al-Maqri (al-Maliki) –wafat tahun 1041 H– dalam kitab Fathu al-Muta’al bi Shifat an-Ni’al, dinukil dari Waliyuddin al-Iraqi yang menyatakan: al-Hafidh Abu Sa’id bin al-‘Ala menyatakan: “Aku melihat ungkapan Ahmad bin Hanbal pada cetakan/bagian lama (juz’ qodim) dimana terdapat tulisan tangan Khath bin Nashir (Keterangan: beliau adalah al-Hafidh Muhammad bin Nashir Abul Fadhl al-Baghdadi wafat tahun 505 H dimana Ibnu Jauzi dalam kitab al-Muntadham jilid: 18 halaman: 103 Nomer: 4201 menjelaskan bahwa beliau adalah hafidh [penghapal/penjaga] yang kuat dan dapat dipercaya) dan dari beberapa al-Hafidh lainnya yang menyatakan bahwa; ‘Sesungguhnya Imam Ahmad (bin Hanbal) pernah ditanya tentang mencium kubur Nabi dan mencium mimbar nya. Lalu beliau berfatwa: Hal itu tidak mengapa’”.
Ia (al-Hafidh Abu Sa’id bin al-‘Ala) berkata: “Aku tunjukkan hal itu kepada at-Taqi Ibnu Taimiyah kemudian dia terkejut dengan hal itu dengan menyata- kan: ‘Aku heran dengan Ahmad yang sangat mulia disisiku, begini ungkapannya atau kandungan ungkapannya’. Kemudian (al-Hafidh Abu Sa’id bin al-‘Ala) berkata lagi: ‘Adakah keanehan dari hal itu sedang kita telah mengisahkan berkaitan dengan Ahmad bahwa ia telah mencuci baju as-Syafi’i (Ibn Idris) dan lalu meminum air bekas cucian tadi’ “. (Lihat: Manaqib Ahmad karya Ibnu Jauzi halaman: 609, atau Al-Bidayah waan-Nihayah karya Ibnu Katsir jilid: 1 halaman: 365 pada kejadian tahun 241 H).
LIhat riwayat ini, Ibnu Taimiyah dikala mendengar bahwa Imam Ahmad ber- fatwa membolehkan tabarruk terhadap kuburan Rasulallah saw.dan Imam Ahmad sendiri bertabarruk dari perasan cucian baju Imam Syafi’i, ia hanya mengatakan: “Aku heran dengan Ahmad yang sangat mulia disisiku, begini ungkapannya atau kandungan ungkapannya”? Kalau memang ini bid’ah dan syirik mengapa Ibnu Taimiyyah tidak mengatakan: “Imam Ahmad telah me- lakukan bid’ah atau syirik dan ia adalah ahli bid’ah dan musyrik yang ajarannya harus dijauhi bahkan diperangi dan darah serta hartanya halal!”.
 Imam Ahmad bin Hanbal sendiri pernah juga bertabarruk dan Al-Hafidz membenarkannya. Hal itu dituturkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad (putera Imam Ahmad). ‘Saya pernah melihat ayahku mengambil sehelai rambut Rasulallah saw. lalu dicium dengan mulutnya. Bahkan saya pernah melihatnya menempelkan rambut Rasulallah saw. pada matanya, kemudian mencelup kannya dalam air lalu diminumnya air itu bertabarruk mohon kesembuhan. Saya pernah juga melihat ayahku memegang piring Rasulallah saw., kemudian dicucinya lalu ia minum air yang berada dipiring itu. Saya pun pernah melihat ayahku minum air Zam-zam bertabarruk mohon kesembuh an, dan setelah itu ia mengusap-usap tangan dan mukanya dengan air tersebut’.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal ini telah bertanya pada ayahnya mengenai orang yang menyentuh atau mengusap-usap rummanah mimbar Rasulallah saw. dan mengenai orang yang mengusap-usap atau mencium Hajar Al-Aswad (batu hitam yang terletak dipojok Ka’bah). Sebagai jawaban beberapa pertanyaan tersebut ayah beliau Imam Ahmad bin Hanbal berkata: ‘Saya berpendapat hal itu tidak ada salahnya!. Semoga Allah melindungi semua dan ayahmu dari pendapat kaum Khawarij dan dari berbagai bid’ah (Lihat Siyaru A’lami-Nubala’ jilid 11 hamalan 312).
 Dinukil dari Ibnu Jama’ah (as-Syafi’i) yang menyatakan; Abdullah bin Ahmad bin Hanbal pernah menceritakan perihal ayahnya. Ia (Abdullah) meriwayatkan: ‘Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang seseorang yang menyentuh mimbar Rasulallah dan bertabarruk dengan mengusap-usap juga menciumnya. Dan melakukan kuburan sebagaimana hal tadi (mengusap dan mencium) dengan tujuan mengharap pahala Allah’. Beliau menjawab: “Tidak mengapa”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ jilid: 4 halaman: 1414).
 Syeikh Ibnu Hajar berfatwa: “Sebagian menggali dasar hukum dari legalitas mencium Hajar Aswad dengan diperbolehkannya mencium segala yang memiliki potensi untuk diagungkan dari manusia ataupun selainnya (benda, red)” (Lihat: al-Wafa’ al-Wafa’ Jilid 4 Halaman: 1405)
 Syeikh Ibrahim al-Bajuri berfatwa: “Dimakruhkan mencium kuburan dan menyentuhnya kecuali untuk bertabarruk maka tidak makruh” (Lihat: Syarh al-Fiqh as-Syafi’i Jilid:1 Halaman: 276)
 Syeikh Muhibbuddin at-Thabari berfatwa: “Diperbolehkan mencium dan menyentuh kuburan. Itu merupakan perbuatan para ulama dan orang-orang sholeh” (Lihat: Asna al-Matholib jilid: 1 halaman: 331 atau sebagaimana yang dinukil dalam kitab Wafa’ al-Wafa’ jilid: 4 halaman: 1407)
 Syeikh ar-Ramli as-Syafi’i berfatwa: “Jika kuburan Nabi, wali atau seorang alim disentuh ataupun dicium untuk tujuan tabarruk maka tidak mengapa” (Lihat: Kanzul Matholib karya al-Hamzawi halaman: 219)
 Syeikh Az-Zarqoni al-Maliki menfatwakan: “Mencium kuburan hukumnya makruh, kecuali jika bertujuan untuk tabarruk maka tidak makruh” (Lihat: Syarh al-Mawahib jilid: 8 halaman: 315).
 Syeikh al-Adwi al-Hamzawi al-Maliki menfatwakan: “Tiada keraguan lagi bahwa mencium kuburan mulia (Rasulallah) tidak akan dilakukan kecuali untuk bertabarruk. Hal itu lebih utama dalam pembolehannya dibanding dengan tabarruk untuk kuburan para kekasih Allah (awliya’)” (Lihat: Kanzul Matholib halaman: 20 dan Masyariq al-Anwar jilid: 1 halaman: 140).
 Syeikh Syihabuddin al-Khoffaji al-Hanafi menyatakan berkaitan dengan ungkapan yang mengatakan: ‘Dimakruhkan menyentuh, mencium dan menempelkan dada’. Beliau menjawab dengan menfatwakan: “Hal ini (hukum makruhnya) tidak ada kesepakatan padanya. Atas dasar itulah Ahmad dan Thabari mengatakan bahwa; tidak mengapa mencium dan menyentuhnya” (Lihat: Syarh as-Syifa’ jilid: 3 halaman: 171 dan atau sebagaimana yang dinukil oleh Syamhudi dalam Wafa’ al-Wafa’ jilid: 4 halaman: 1404)
 Imam Muslim mengetengahkan hadits dari Anas yang mengatakan: “Pada suatu hari Rasulallah saw. datang kerumah kami, kemudian beliau tidur hingga berkeringat. Ibuku datang membawa sebuah botol (wadah) lalu mewadahi keringat beliau yang menetes. Setelah bangun tidur beliau saw. bertanya: ‘Hai Ummu Sulaim, Apakah yang telah engkau perbuat?’ Ibuku menjawab: ‘Keringat (anda) ini hendak kujadikan minyak wangi dan itu merupakan minyak wangi yang paling harum baunya’ “.
 Tabarruk pernah juga dilakukan oleh Rasulallah saw.dalam Isra’ yaitu dari Al-Baitul Haram ke Al-Baitul Maqdis. Ditengah perjalanan beliau turun dari Buraq yang dikendarainya kemudian menunaikan shalat dibeberapa tempat tertentu, seperti di Thur Sina, Di Baitul Laham (Betlehem, tempat kelahiran Nabi ‘Isa as.), dan lain-lain sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab hadits dan sirah (sejarah) Nabawiyyah.
 Tabarruk dengan petilasan/bekas orang-orang wali dan shalih itu juga di perkenankan oleh syariat. Imam Al-Hafidz Al’Iraqi dalam kitabnya yang berjudul Fathul Muta’al meriwayatkan bahwa Ahmad bin Hanbal mem- perbolehkan orang mencium makam Rasulallah saw., makam para waliyullah dan orang shalih lainnya, sebagai tabarruk. Ketika Ibnu Taimiyah melihat orang berbuat seperti itu, ia keheran-heranan. Selanjutnya Imam Al’Iraqi berkata padanya: “Apa anehnya? Bukankah kami telah meriwayat-kan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal bertabarruk dengan minum air bekas cucian baju Imam Syafi’i? Bahkan Ibnu Taimiyah sendiri juga meriwayatkan, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal bertabarruk dengan petilasan Imam Syafi’i.
 Dalam kitab Al-Hikayatul Mantsurah imam ahli hadits yang bernama Al-Hafidz Ad-Dhiya Al-Maqdisy mengatakan bahwa Imam Abdulghani Al-Hanbali ketika menderita penyakit bisul lama tak dapat sembuh, ia ber- tabarruk dengan mengusapkan bisulnya pada makam Imam Ahmad bin Hanbal, dan ternyata segera sembuh.
 Al-Khatib dalam Tarikh-nya mengatakan, ketika tinggal di Iraq beberapa waktu lamanya Imam Syafi’i bertabarruk dengan ziarah kemakam Abu Hanifah.
Kita sayangkan, golongan pengingkar berwatak keras kepala, dan merasa paling benar sendiri, paling suci dan paling memahami syari’at Islam. Sayang sekali masih ada kelompok muslimin yang terpengaruh dan mengikuti ajaran-ajaran golongan ini. Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah swt. sehingga bisa menjalani agama Islam yang benar. Amin.
Contoh perbuatan tabarruk yang sampai sekarang bisa dilihat masyarakat muslimin yaitu mengusap dan mencium batu hitam (Hajr Al Aswad) dan minum air Zam-zam, berdo’a ditempat-tempat tertentu: di ‘Arafah, Mina, Muzdalifah (Masy’aril Haram) serta sholat di masjid-masjid tertentu dan sebagainya. Tempat-tempat tertentu yang telah ditetapkan sebagai manasik ibadah haji, disitu kaum muslimin berdo’a, bersembah sujud kepada Allah swt. dan lain-lain.

  • Komentar Al-Ulyani al-Ulyani dalam kitab “at-Tabarruk al-Masyru” hal: 68-69” mengenai hadits Atban bin Malik & jawabannya

Walaupun runtutan artikel tabarruk sebelumnya sudah mampu menjawab beberapa problem yang dilontarkan oleh golongan pengingkar, namun kali ini, kita akan mengkonsentrasikan secara khusus dalam menjawab beberapa isu pengikut sekte Wahabi yang digunakan untuk pengkafiran (menuduh kaum muslim sebagai pelaku syirik dan bid’ah) kaum muslimin.

Untuk mempersingkat, kita akan ambil beberapa masalah (dibawah ini) yang sering mereka ungkapkan dengan menengok dari karya salah seorang misionaris madzhab Wahabi yang bernama Ali bin Nafi’ al-‘Ilyani yang menolak, mengharamkan atau mensyirikkan Tabarruk dan jawaban dari golongan yang membolehkan Tabarruk.

  • Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan:

“Kondisi kaum Jahiliyah dahulu, sebagaimana yang dimiliki kebanyakan manusia, mereka menginginkan mendapat tambahan harta dan anggota kabilah, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan keduniawian. Dengan begitu melalui perminta berkah (tambahan) terhadap berhala-berhala yang mereka sembah, dengan mengharap tambahan kebaikan yang berlebih. Mereka meyakini bahwa patung-patung itu adalah para pemberi berkah. Anehnya, walau orang yang meyakini bahwa berkah itu datangnya dari Allah pun masih meyakini bahwa patung-patung itu adalah sarana yang mampu menentramkan dan penghubung antara mereka dengan Allah. Untuk merealisasikan yang mereka inginkan, akhirnya mereka mengambil berhala itu sebagai sarana. Hal ini sesuai dengan ayat: “…kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah denga sedekat-dekatnya…” (QS az-Zumar: 3) dari sini jelas sekali bahwa, tabarruk (mengharap berkah) selain dari Allah adalah perwujudan dari ajaran kaum musyrik zaman Jahiliyah. (Lihat: kitab Tabarruk Masyru’ halaman 53)

  • Jawabannya:

Selain telah kita singgung –dalam kajian terdahulu– bahwa, beberapa nabi Allah yang mengajak umat manusia kepada ajaran tauhid ternyata juga melakukan pengambilan berkah. Begitu juga ternyata Nabi kita (Muhammad saw) –yang sebagai penghulu para nabi dan rasul bahkan paling mulianya makhluk Allah yang pernah Dia ciptakan– pun telah membiarkan orang mengambil berkah darinya. Jika mencari berkah (tabarruk) adalah haram–karena syirik– maka tentunya para nabi di setiap zaman adalah orang pertama yang menjauhinya, bahkan melarang orang lain. Namun kenapa justru mereka malah melakukannya? Lagi pula, apa yang di-isukan oleh kelompok Wahabi di atas tadi, selain tidak sesuai dengan al-Qur’an, Hadits dan bukti sejarah dari Salaf Sholeh hingga para imam madzhab, juga jauh dari logika pemahaman ayat itu (az-Zumar:3) sendiri. Beberapa alasan berikut ini:
Pertama: Semua orang tahu bahwa setiap prilaku pertama kali dinilai oleh Islam dilihat dari niatnya. Dengan kata lain, hal primer dalam menentukan esensi baik-buruk sebuah perbuatan kembali kepada niat. Bukankah Rasulallah saw. pernah menyatakan: “Setiap perbuatan kembali kepada niatnya…” (Hadits Muttafaq Alaihi). Tentu, niat seorang musyrik dengan niat seorang muslim akan berbeda dan tidak bisa disamakan.

Kedua: Dalam ayat itu (Az-Zumar:3) disebutkan: “kami tidak menyembahmereka melainkan…” di situ terdapat kata “Menyembah” yang meniscayakan bahwa kaum musyrik Jahiliyah meyakini ’sifat ketuhanan’ buat obyek (patung-patung) yang dimintainya berkah, selain Allah. Mereka telah menyembah patung itu dan menyekutukan Allah dalam masalah penyembah an. Dan tentu essensi penyembahan adalah meyakini ‘sifat ketuhanan’ yang disembahnya. Tanpa keyakinan itu (sifat ketuhanan), mustahil mereka menyebut kata ‘sembah’. Jelas, sebagaimana yang sudah pernah kita singgung pada tulisan terdahulu bahwa, sekedar sujud di depan sesuatu tidak serta merta masuk kategori menyembah. Bukankah dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah telah
memerintahkan para malaikat dan jin untuk bersujud di hadapan dan untuk nabi Adam? Bukankah nabi Ya’qub beserta anak-anaknya telah sujud di depan nabi Yusuf? Ini yang membedakan antara prilaku kaum musyrik dengan kaum muslimin, dalam pengambilan berkah. Ini merupakan hal yang bersifat esensial sekali dalam prilaku per ibadatan. Kaum muslimin selain tidak meyakini kepemilikan sifat ketuhanan selain Allah, sehingga obyek selain Allah memiliki kelayakan untuk di sembah, juga meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta ini berasal dari kehendak Ilahi, karena hanya Dia Yang Maha kuasa nan sempurna, dan yang layak disembah.
Ketiga: Ayat dari surat az-Zumar tadi Allah swt. tidak menyatakan; “kami tidak mengambil berkah mereka melainkan…” tapi dikatakan; “kami tidak menyembah mereka melainkan…” sebagai penguat dari alasan kedua tadi. Dikarenakan kaum musyrik zaman Jahiliyah tidak meyakini adanya hari akhir –seperti disebutkan dalam akhir-akhir surat Yasin maka mereka akhirnya meyakini bahwa patung-patung itu juga memiliki kekuatan secara inde- pendent dari Allah swt. sehingga muncul di benak mereka untuk meyakini bahwa berhala itu juga mampu menjauhkan segala mara bahaya dari mereka dan memberikan manfaat kepada mereka. Tentu keyakinan kaum muslimin berbeda dengan apa yang mereka yakini. Dan tentu pula kaum muslimin tidak pernah berpikir semacam itu. Semua kaum muslim meyakini bahwa segala yang ada di alam semesta ini turun dari izin dan kehendak Allah swt., termasuk pemberian berkah. Karena Allah swt.sumber segala yang ada di alam semesta ini.

  • Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan:

Legalitas tabarruk dari tempat-tempat atau benda-benda yang dianggap mulia bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari yang dinyatakan oleh ‘Atban bin Malik yang termasuk sahabat Rasulallah dari kelompok Anshar, yang turut dalam perang Badar. Ketika dia mendatangi Rasulullah, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, telah lemah pengelihatanku, padahal aku mengimami shalat pada kaumku. Jika turun hujan maka banjir selalu menggenangi lembah yang menghubungkanku dengan mereka, sehingga aku tidak dapat mendatangi masjid mereka, dan shalat bersama mereka Aku ingin engkau datang ke rumahku dan shalat di rumahku, sehingga aku menjadikannya (tempat itu) sebagai mushalla”. Mendengar hal itu Rasul bersabda: ‘Aku akan melakukannya, insya-Allah”. Kemudian berkata ‘Atban: ‘Keesokan harinya, Rasul bersama Abu Bakar datang, ketika menjelang tengah hari. Rasul meminta izin masuk, dan diberi izin. Beliau tidak duduk sewaktu memasuki rumah, dan langsung menannya- kan: ‘Dimana engkau menginginkan aku melakukan shalat?’. Dijawab: ‘Aku mengisyaratkan pada salah satu sudut rumah’. Rasulullah berdiri dan ber- takbir. Kami pun mengikutinya berdiri dan mengambil shaf (barisan shalat). Beliau melakukan shalat dua rakaat dan kemudian mengakhirinya dengan salam” (Shahih Bukhari, jilid 1 halaman 170/175 atau Shahih Musim jilid 1 halaman 445/61/62).
al-Ulyani dalam kitab “at-Tabarruk al-Masyru” hal: 68-69” berargumen dengan hadits Atban bin Malik yang disinyalir dalam kitab shohih Bukhari dan Shohih Muslim di atas untuk menetapkan ‘pengharaman tabarruk pada tempat dan benda’. Dalam kitabnya ini dia menyatakan:

“Hadits di atas tidak membuktikan bahwa sahabat ‘Atban hendak mengambil berkah dari tempat shalat Rasul. Namun ia ingin menetapkan anjuran Rasul untuk selalu melakukan shalat berjama’ah di rumahnya, ketika tidak dapat mendatangi masjid karena lembah digenangi air. Atas dasar itu ia meng- hendaki Rasul membuka (meresmikan) masjid di rumahnya. Dan oleh karenanya, Bukhari memberikan bab pada kitabnya dengan; “Bab Masjid di Rumah” (Bab al-Masajid Fil Buyuut). Sebagaimana Barra’ bin ‘Azib melaku- kan shalat di masjid yang berada di dalam rumahnya secara berjama’ah. Ini termasuk hukum fikih beliau. Dari semua itu memberikan pemahaman bahwa Rasul mengajarkan (sunnah) shalat berjama’ah di rumah dikala memiliki hajat. Sebagaimana Rasul tidak pernah menegur sahabat Barra’ bin ‘Azib sewaktu melakukan shalat berjama’ah di masjid rumahnya. Padahal itu semua terjadi pada zaman pensyariatan (tasyri’) Islam. Dan mungkin saja maksud dari sahabat ‘Atban tadi adalah untuk mengetahui dengan pasti arah kiblat, karena Rasulullah tidak mungkin menunjukkan arah yang salah”. (Lihat: Tabarruk Masyru’ halaman 68-69).

  • Jawabannya:

Itu adalah kemungkinan interpretasi yang diberikan al-Ulyani dari hadits di atas tadi. untuk mengkritisinya maka marilah kita perhatikan poin-poin di bawah ini:

Pertama: Tidak diragukan lagi bahwa semangat sahabat ‘Atban untuk mendirikan shalat jama’ah di rumah adalah ‘salah satu’ sebab, tetapi ‘bukan satu-satunya’ sebab. Karena kita dapat melihat dengan jelas, bagaimana sahabat ‘Atban sangat menghendaki tabarruk dari tempat shalat Rasulallah. Dan Nabi pun mengetahui tujuan sahabatnya itu. Atas dasar itu, Rasulallah langsung menanyakan tempat yang dikehendaki sahabatnya untuk dijadikan mushalla, dirumahnya. Jika isu sekte wahabi di atas itu benar maka selayak-nya Nabi shalat di sembarang tempat, di rumah sahabatnya tadi, mungkin di ruang tamu, ruang tengah, atau di tempat yang terdekat dengan pintu masuk. Dan kenyataannya, Nabi menanyakan terlebih dahulu; “Dimana engkau menginginkan aku melakukan shalat?”. Dengan kata lain, Rasulallah tahu bahwa sahabatnya itu akan mengambil berkah dari tempat shalat beliau saw.. Jika apa yang dinyatakan oleh al-Ulyani benar maka seharusnya Rasulallah saw. langsung melakukan shalat di rumahnya, tanpa menanya- kan dengan redaksi dan model pertanyaan semacam itu.
Kedua: Kalaupun apa yang dinyatakan al-Ulyani benar bahwa tujuan sahabat ‘Atban tadi adalah ingin memastikan kebenaran arah kiblat karena ia tidak dapat melihat dengan baik, dengan cara mendatangkan Rasulallah saw. kerumahnya, maka hal inipun sulit diterima. Dikarenakan untuk mem- peroleh arah kiblat yang benar oleh ‘Atban yang penglihatannya lemah, bisa saja ia meminta tolong anggota keluarga, sanak-famili ataupun melibatkan sahabat Rasulallah lain untuk memberikan arahan yang sesuai arah kiblat yang benar, bukan dengan memangil Rasulallah, apalagi dilanjutkan dengan pelaksanaan dua rakaat shalat oleh Rasulallah saw.. Dan dikarenakan Rasulallah hanya shalat dua rakaat (diwaktu siang sebagai mana tekts hadits) maka ini membuktikan bahwa shalat yang dilakukan Rasulallah adalah shalat sunah, bukan shalat wajib. Oleh karenanya, jika Rasulallah hanya berfungsi sebagai penunjuk arah kiblat yang benar, buat apa beliau melakukan shalat sunah, cukup memberitahu dengan lisan dan tunjuk saja.

Ketiga: Perkiraan penulis madzhab Wahabi tadi selain tidak sesuai dengan bukti-bukti (qarinah) yang ada, juga apa yang ia perkirakan dan yang di pahaminya tidak lebih baik dari apa yang dipahami oleh pribadi agung seperti Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab Syarah Bukharinya. Allamah Ibnu Hajar al-Asqolani berkaitan dengan hadits tadi mengatakan:a. “Dalam hadits ‘Atban yang meminta Nabi melaksanakan shalat dirumahnya dan Nabi pun memenuhi keinginan tersebut adalah bukti pembolehan (hujjah) akan tabarruk atas kesan dan peninggalan para manusia shaleh”. (Lihat: Fathul Bari 1/469)
b. Sewaktu Nabi diundang dan diminta untuk melakukan shalat, hal itu tiada lain adalah agar pemilik rumah dapat mengambil berkah (tabarruk) dari tempat shalat tadi. Maka dari itu beliau bertanya tentang tempat yang memang dikhususkan untuk itu…”. (Lihat: Fathul Bari 1/433)
Keempat: Taruhlah benar –jika kita terpaksa ‘bertoleransi’ dengan pendapat penulis Wahabi tersebut– apa yang dinyatakan oleh penulis Wahabi yang berkaitan dengan hadits Rasul dari sahabat ‘Atban tadi, maka bagaimana menurut para pengikut Wahabi berkaitan dengan banyak riwayat lain yang berkaitan dengan para sahabat seperti pada kasus yang dapat kita lihat diantaranya pada riwayat-riwayat berikut ini:
a. Dari Anas bin Malik; Sesungguhnya Ummu Sulaim meminta agar Rasulallah datang ke rumahnya dan melakukan shalat di rumahnya supaya ia dapat mengambilnya (bekas tempat shalat Rasul) sebagai mushalla. Lantas Rasul pun datang. Dia (Ummu Sulaim) sengaja memerciki tikar dengan air, lantas Rasul melaksanakan shalat di atasnya yang diikuti oleh beberapa sahabat lainnya. (Sunan an-Nasa’i jilid 1halaman 268 kitab masajid, bab 43 as-Sholat alal Hashir hadits 816).
b. Dari Anas bin Malik; Salah seorang pamanku membuat satu makanan, lantas berkata kepada Nabi: “Aku ingin engkau datang ke rumahku untuk makan dan shalat”. Dan (Anas) berkata: Lantas beliau datang ke rumah sedang di rumah terdapat batu-batu (hitam). Lantas beliau dipersilahkan ke salah satu sudut yang telah dibersihkan. Kemudian beliau melakukan shalat, lantas kami pun mengikutinya. (Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 249, kitab al-Masajid, bab al-Masjid fi ad-Daur, hadits 756, atau dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 3 halaman 130 dengan dua sanad, atau dalam kitab Musnad Anas bin Malik hadits 11920)
Hadits-hadits di atas jelas menyatakan inginnya pengambilan barokah dari Rasulullah saw, pada tempat sholat mereka, tidak seperti hadits ‘Atban yang masih mungkin disalahpahami oleh al-‘Ulyani. Hadits-hadits semacam itu (Hadits ‘Atban) banyak akan kita dapati dalam kitab-kitab para imam ter- kemuka lainnya.
Lantas giliran kita kembali bertanya kepada pengikut sekte Wahabi: Apakah tujuan Shahabiyah Ummu Sulaim agar kaum muslimin melakukan shalat berjama’ah di rumahnya bersama Rasulallah sebagaimana tujuan sahabat ‘Atban yang telah meminta Nabi saw. shalat di rumahnya, untuk menunjukan arah kiblat? Apakah ada tujuan lain yang dapat kita lihat dalam fenomena Ummu Sulaim selain tabarruk (mencari berkah) dari Rasulullah saw? Apakah paman sahabat Anas tadi –yang tentunya pengelihatannya masih kuat– juga bertujuan sama seperti sahabat ‘Atban yang pengelihatannya sudah lemah, untuk mengetahui dan memastikan arah kiblat?
Jika tujuan mereka bukan untuk mengambil berkah dari tempat shalat Nabi bahkan ingin menjelaskan kepada Rasulallah saw. akan ketidakhadirannya di shalat jama’ah Rasul, apakah tidak cukup sekedar memberitahu (meminta izin) Rasulallah akan penyebab ketidakhadirannya di masjid untuk melakukan shalat jama’ah karena adanya uzur atau terdapat kepentingan lain sehingga diketahui oleh Nabi? Mengapa mereka malah meminta Rasulallah saw. melakukan shalat di bagian tertentu dari rumahnya sehingga mereka nantinya juga akan shalat di tempat tersebut?
Ada sebagian golongan Wahabi berargumen bahwa tidak ada perbedaan antara masjid Nabawi dengan masjid-masjid yang lain. Ini pernyataan yang cukup aneh yang keluar dari makhluk yang mengaku sebagai umat Muhammad. Betapa tidak, walaupun masjid Nabi di kota Madinah telah terjadi perluasan dan perombakan, namun wilayah dan tempat bangunan asli masjid Nabawi masih terjaga (tidak berpindah lokasinya) dan dapat dikenali oleh banyak orang. Ditempat-tempat bangunan asli itulah, dahulu Nabi beserta para sahabat beliau melakukan shalat dan ibadah ritual lainnya. Bagaimana masjid Nabawi dinyatakan sama dengan masjid-masjid biasa lainnya sedang tempat bekas shalat Nabi yang bukan masjid saja dicari oleh para sahabat untuk pengambilan berkah dengan turut melakukan shalat di tempat berkah tersebut? Dan di kitab-kitab standart Ahlusunah wal jama’ah dapat kita jumpai berbagai riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan masjid Nabawi dibanding masjid-masjid lainnya, selain masjidil Haram tentu- nya. Riwayat-riwayat semacam itu akan banyak kita dapati dalam buku-buku hadits terkemuka Ahlusunnah. Tentu di sini kita tidak akan menyebutkan hadits-hadits atau bukti sejarah karena mengingat banyaknya halaman dibuku ini.

  • Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan:

“Jika seseorang tinggal di Makkah, Madinah ataupun Syam untuk meng harap berkah dari Allah dari tempat tersebut, baik dari sisi berkah rizki mau pun menghindari fitnah maka ia akan diberi kebaikan yang banyak. Namun jika seseorang melampaui batas dalam bertabarruk dengan cara menyentuh-nyentuh tanah, batu, pohon-pohonan yang ada di daerah tersebut atau meletakkan tanahnya di air untuk pengobatan atau semisalnya maka hal itu akan menyebabkan dosa, bukan pahala. Karena ia telah melakukan tabarruk yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasul dan para generasi pertama Islam”. (Lihat: Tabarruk Masyru’ halaman 42).

  • Jawabannya:

Untuk menjawab isu sekte Wahabi dalam masalah ini, mari kita perhatikan poin-poin di bawah ini:
Dalam kajian yang lalu telah kita sebutkan bahwa, para sahabat yang ter- golong Salaf Sholeh telah sering melakukan pengambilan berkah dengan mengusap-usap mimbar Rasulallah sembari berdo’a. Sahabat Ibnu Umar mengusap bekas tempat duduk Rasulallah di atas mimbar kemudian meng- usapkan kedua telapak tangannya ke raut mukanya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya, termasuk Rasulallah saw. telah mengusap-usap kepala dan badan seseorang sembari mendo’akannya yang menunjukkan bahwa terdapat kekhususan dalam usapan beliau saw. Karena jika tidak, maka do’a Rasul untuk kesembuhan mereka saja sudah cukup, kenapa mesti harus pakai mengusap-usap anggota tubuh seseorang?
Apa tujuan Rasulallah saw. melakukan hal tersebut kalau bukan mem- berikan barakah yang beliau miliki, hasil karunia khusus Ilahi yang diberikan kepada setiap kekasih-Nya? Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam banyak sekali riwayat-riwayat yang ada. Di sini kita akan sebutkan beberapa dari riwayat tersebut sebagai contoh saja:
a. Ummul Mukminin Aisyah ra. pernah menyatakan: “Sesungguhnya Nabi pernah membaca do’a perlindungan untuk sebagian keluarganya dengan mengusap tangan kanannya sembari mengucapkan do’a: ‘Ya Allah, Tuhan manusia, jauhkanlah bencana (darinya). Sembuhkanlah ia, karena Engkau Maha penyembuh. Tiada obat selain dari-Mu. Obat yang tidak menyisakan penyakit…’ ” (Sahih Bukhari jilid:7 halaman: 172)
b. Dari Abi Hazim mengatakan; aku mendapat kabar dari Sahal bin Sa’ad bahwa Rasulullah saw. pada perang Khaibar bersabda: “Akan aku serahkan panji (bendera perang) ini besok kepada seseorang yang Allah akan membuka (pertolongan-Nya) melalui kedua tangan orang tersebut. Dia (orang tadi) adalah seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah beserta Rasul-Nya pun mencintainya”. Ia (perawi) berkata: “Akhirnya orang-orang begadang untuk menunggu siapakah gerangan yang akan di anugerahi panji tadi. Ketika pagi telah tiba, orang-orang mendatangi untuk mengharap dianugerahi kemuliaan tadi”. Perawi berkata: Rasul bersabda: ‘Dimanakah Ali bin Abi Thalib?’. Dijawab: ’Ada wahai Rasul. Ia sedang sakit mata’. Rasulallah bersabda: ‘Datangkanlah ia’! Lalu di datangkanlah Ali. Kemudian Rasulallah memberikan ludahnya ke mata Ali sembari mendo’a- kannya. Sembuhlah penyakitnya seakan tidak pernah mengalami sakit. Kemudian Rasulallah memberikan panji tersebut kepada Ali”. (Sahih Bukhari jilid 4 hal. 30/207; Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 5 hal. 333; as-Sunan al-Kubra karya Nasa’i jilid 5 hal. 46/108; Musnad Abi Ya’la jilid 1 hal. 291; al-Mu’jam al-Kabir karya Tabrani jilid 6 hal. 152 dan kitab Majma’ az-Zawa’id jilid: 6 halaman: 150).
c. As-Samhudi berkata: “Dahulu, jika Rasulallah dikeluhi oleh seseorang akibat luka atau borok, lantas beliau mengatakan ungkapan tersebut pada jarinya sembari meletakkan jempol (tangan) beliau ke tanah, kemudian meng angkatnya dengan mengungkapkan: ‘Dengan menyebut nama Allah, dengan debu tanah kami, dan dengan ludah sebagian dari kami, akan disembuhkan penyakit kami. Dengan izin Allah’ ”. (Wafa’ al-Wafa’ jilid 1 hal. 69. penjelasan semacam ini juga akan kita dapati dalam hadits Sahih Bukhari jilid 7 hal. 172 dari Ummul Mukimin Aisyah dengan sedikit perbedaan redaksi)
Dalam banyak hadits juga disebutkan bahwa tanah Madinah memiliki keberkahan khusus dari Allah untuk kesembuhan penyakit. Itu semua berkat keberadaan Rasulallah saw. bersama para kekasih Allah , baik dari sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan para manusia sholeh lainnya. Kita akan melihat beberapa contoh saja dari hadits-hadits Rasulallah saw. tersebut:a. Rasulallah bersabda: “Debu Madinah menjadi pengobat dari penyakit sopak” (Kanzul Ummal, karya Mutaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 13 halaman 205 atau kitab Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi as-Syafi’i jilid 1 halaman 67)
b. Rasulallah bersabda: “Sesungguhnya melalui debunya (Madinah) menjadi penyembuh dari segala penyakit”. (Kanzul Ummal, karya Mutaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 13 halaman 205 atau kitab Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi as-Syafi’i jilid 1 halaman 67)
c. Rasulallah bersabda: “Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sesungguhnya tanahnya (Madinah) adalah pengaman dan penyembuh penyakit sopak”. (Kanzul Ummal, karya Mutaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 13 hal. 205 atau kitab Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi as-Syafi’i jilid 1 halaman 67)
Jika tanah Madinah secara umum memiliki keberkahan semacam itu maka bagaimana dengan tanah di sisi pusara Rasulallah saw. yang disitu jasad suci beliau saw. –makhluk Allah termulia dikebumikan? Lantas salahkah (tergolong bid’ah atau syirik) dan tidakkah sesuai dengan ajaran (hadits) Rasulallah jika ada seseorang yang mengambil tanah Madinah untuk mengambil berkah darinya, baik untuk mengobati penyakitnya, atau sekedar disimpan untuk bertabarruk? Mana yang sesuai dengan ajaran Rasul; orang yang bertabarruk dengan tanah Madinah, ataukah yang menyatakan bahwa bertabarruk terhadap tanah semacam itu tergolong bid’ah atau syirik, sebagaimana yang diaku oleh kelompok Wahabi?
Ini semua menjadi bukti bahwa, Allah swt. telah menganugerahkan beberapa kemuliaan kepada beberapa tempat, yang kemudian disakralkan oleh masyarakat muslim. Madinah beserta tanahnya tergolong tempat yang di muliakan oleh Allah swt. dengan anugerah khusus semacam itu. Sehingga di sakralkan oleh kaum muslimin, sesuai dengan apa yang diungkapkan melalui lisan suci Rasulullah saw. Jika Nabi sendiri –sebagai makhluk Allah termulia, pembenci Syirik nomer wahid– menjadikan tanah mulia penuh berkah kota Madinah sebagai sarana (wasilah) pengobatan (tabarruk), apakah pengikut beliau dapat divonis bid’ah atau syirik ketika mengikuti ajaran dan saran beliau saw. tadi?
Jika tanah Madinah dinyatakan sebagai penuh berkah karena Rasulallah pernah hidup di sana dan dikebumikan di situ, lalu bagaimana dengan Hajar Aswad, rukun-rukun (pojok-pojok) yang berada di Ka’bah, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, Shafa dan Marwah, Arafah, Mina, gua Hira’ dan gua Tsur yang semua adalah tempat-tempat sakral dan bersejarah buat Nabi dan orang-orang yang mencintai junjungannya tersebut? Apakah ketika bertabarruk dari tempat-tempat semacam itu lantas divonis dengan bid’ah dan syirik, sebagai mana kita lihat perbuatan kelompok sekte Wahabi terhadap kaum muslimin dari pelosok dunia yang menjadi tamu Allah d haramain? Mengapa kaum Wahabi melarang dengan keras orang yang ingin ‘menyentuh’, ‘mengusap’ dan ‘mencium’ hal-hal sakral tadi untuk bertabarruk, dengan alasan bid’ah dan syirik, atau alasan karena tidak ada contoh langsung dari Rasulallah?, padahal banyak sekali contoh dari Rasulallah saw. dan salaf Sholeh!! Siapakah sekarang yang bid’ah, golongan muslimin yang mengikuti sunnah Rasulallah saw. atau golongan pengingkar ini?
Sayang, madzhab Salafi (baca.Wahabi) dan pengikutnya merasa paling benar dan paling mengerti dalam hukum syari’at. Semoga Allah swt. memberi hidayah kejalan yang benar kepada kaum muslimin. Amin

  • Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan:

Salaf Sholeh telah melarang pengambilan berkah dan penghormatan yang berlebihan terhadap mereka. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Anas, ats-Tsauri, Ahmad dan sebagainya. Imam Ahmad pernah berkata: ‘Siapa diriku sehingga kalian datang kepadaku? ‘Pergilah dan tulislah hadits’!. Dan sewaktu beliau ditanya tentang sesuatu maka akan menjawab: ‘Bertanyalah kepada ulama’!. Ketika ditanya tentang penjagaan diri (wara’) beliau mengatakan: ‘Haram buatku berbicara tentang wara’, jika Byisr hidup niscaya ia akan menjawabnya’. Beliau juga pernah ditanya tentang ikhlas, lantas menjawab: ‘Pergilah kepada orang-orang zuhud! Kami memiliki apa sehingga kalian datang kepada kami?’. Suatu saat seseorang datang kepada nya dan mengusapkan tangannya ke bajunya dan kemudian mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya. Imam Ahmad marah dan mengingkari hal tersebut dengan keras sembari berkata: ‘Dari siapa engkau mengambil perkara semacam ini’ (Lihat: Tabarruk Masyru’ halaman 86).

  • Jawabannya:

Untuk menjawab isu penulis madzhab Salafi/Wahabi di atas, hendaknya kita perhatikan beberapa poin di bawah ini:
Terbukti bahwa ternyata penulis Wahabi tadi memahami sesuatu hal yang berbeda dengan kenyataannya. Apa yang dilakukan para imam madzhab tadi dalam mengingkari tabarruk orang-orang terhadap dirinya, bukan berarti pengingkaran mereka terhadap keyakinan tabarruk itu sendiri. Harus dibeda- kan antara mereka melarang orang bertabarruk kepada dirinya, dengan dari semula menentang keyakinan tabarruk. Sebagaimana yang sudah kita jelaskan bahwa, para imam madzhab itu sendiri telah melakukan tabarruk.

Dan apa yang disunting oleh penulis Wahabi tadi tidak lain adalah tergolong sikap ‘rendah diri’ (tawadhu’) para imam madzhab tadi, terkhusus berkaitan dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Dimana kita tahu bahwa ‘tawadhu’’ me- rupakan salah satu bentuk dan sikap nyata dari setiap ulama yang sholeh. Terbukti bahwa Imam Ahmad bin Hanbal tidak menvonis orang yang ber- tabarruk terhadapnya dengan sebutan-sebutan pengkafiran sebagaimana yang dilakukan oleh sekte (Wahabisme) yang konon mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal dari sisi metode (manhaj) dan pola pikir, serta sepak terjangnya. Itu semua karena para ulama madzhab tahu bahwa tabarruk bukan ter- golong prilaku syirik ataupun bid’ah yang harus disikapi tegas dengan bentuk pengkafiran, seperti yang dilakukan sekte Wahabi. Dengan bukti lain bahwa, mereka sendiri –sebagaimana yang telah kita singgung di urutan artikel tabarruk sebelumnya telah melakukan tabarruk terhadap para ulama dan manusia sholeh yang hidup sezaman atau sebelum mereka. Bahkan sebagian mereka telah bertabarruk terhadap kuburan para ulama dan manusia sholeh.
Kalaulah ungkapan Imam Ahmad tadi tidak diartikan sebagai sikap tawadhu’ beliau, bahkan diartikan dengan sebenarnya, maka ungkapan beliau seperti: ‘Siapa diriku sehingga kalian datang kepadaku? Pergilah dan tulislah hadits’! atau ungkapan beliau; ‘Bertanyalah kepada ulama’, meniscayakan bahwa kita (kaum muslimin, juga pengikut sekte Wahabi) tidak perlu menjadikan Imam Ahmad bin Hanbal sebagai rujukan, karena beliau bukan ulama. Namun terbukti bahwa, ternyata kelompok Wahabi pun yang selama ini ‘mengaku’ (konon) menjadikan Imam Ahmad sebagai panutannya, justru tidak konsisten terhadap ungkapan Imam Ahmad tadi. Lalu mana konsistensi kelompok Wahabi dalam memahami dan melaksanakan ungkapan Imam Ahmad?
Bila kita toleransi lagi dengan sekte Wahabi dan membenarkan pendapat mereka bahwa Imam Ahmad bin Hanbal melarang orang bertabarruk dengan pribadi orang, maka larangan Imam Ahmad itu pun terbantah dengan banyak hadits shohih yang telah kami kemukakan di atas yang melegalkan Tabarruk, termasuk Imam Ahmad sendiri ikut meriwayatkannya. Jadi yang benar ialah Imam Ahmad tidak mengharamkan Tabarruk tetapi yang melarang Tabarruk itu ialah imam dari sekte Wahabi dan pengikutnya itu sendiri dengan meng- atas namakan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah!
Entah dalil mana lagi yang dijadikan argumen oleh golongan pengingkar dalam menyatakan kesyirikan dan kebid’ahan prilaku tabarruk atau tawassul Mereka tidak memiliki argumen apa pun berkaitan dengan hadits, riwayat, maupun bukti sejarah, apalagi al-Quran yang membuktikan bahwa tabarruk adalah perbuatan bid’ah maupun syirik!!
Dari sini jelas sekali bahwa, Allah swt. telah menganugerahkan kesakralan khusus kepada beberapa obyek tertentu dari makhluk-Nya agar manusia menjadikannya sebagai sarana tabarruk atau tawassul. Dan terbukti bahwa Nabi Muhammad bin Abdillah saw. bukan hanya tidak melarang, bahkan beliau sendiri telah mencontohkan kepada umatnya bagaimana melakukan tabarruk dari obyek-obyek sakral tadi. Dan ajaran itu berjalan terus dari generasi ke generasi hingga kita sekarang ini.
Walaupun kajian kita secara khusus berkaitan dengan tabarruk, namun dari seri kajian tabarruk ini pun kita juga telah bisa menetapkan secara global bahwa, obyek tabarruk dapat kita jumpai pada berbagai bentuk, seperti:
1- Tempat; seperti; Kota Madinah, Arafah, Muzdalifah, Mina, gua Hira, gua Tsur, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, atau makam-makam orang sholeh…dsb.nya

2- Benda; seperti; Mushaf Al-Quran, semua penginggalan Nabi, Sahabat, Ulama dan manusia sholeh lainnya…dsb.nya.
3- Orang/pribadi agung; seperti; mengenang manusia-manusia mulia dari para nabi, syuhada’, shalihin berkaitan dengan zaman kelahiran, wafat atau momen-momen penting dalam sejarah hidup mereka…dan sebagainya. Atas dasar itu para pecinta Rasul sering membaca berbagai bentuk shalawat dan puji-pujian untuk Rasul, seperti tercantum didalam kitab-kitab Maulid Diba’, Burdah, Barzanji, Shalawat Badr…dan sebagainya.
4- Waktu; seperti; waktu-waktu yang disakralkan oleh Allah secara langsung atau yang berkaitan dengan momen khusus kehdupan manusia kekasih Ilahi. Atas dasar itu kaum muslimin memperingati acara-acara seperti; Maulid Nabi, Isra’ mi’raj, Nuzulul Quran…dan sebagainya. Wallahu A’lam.
Dengan contoh riwayat-riwayat di atas ini cukup bagi kita bahwa tabarruk atau tawassul itu mustahab/baik malah menjadikan do’a dan amalan kita lebih cepat diterima oleh Allah swt. Orang-orang yang mengingkari atau menyesatkan amalan tersebut tabarrruk, tawassul merekalah yang membuat bid’ah yang menyembunyikan hadits-hadits shohih atau memutar- balik maknanya tentang perbuatan-perbuatan sahabat baik dizaman hidup- nya Rasulallah saw atau sesudah wafatnya atau perbuatan para salaf yang telah kami kemukakan dibuku ini.
Perbuatan-perbuatan para sahabat mengenai tabarruk, tawassul pada waktu beliau saw. masih hidup tidak ditegur atau dilarang oleh Nabi malah diridhai oleh beliau saw. Begitu juga perbuatan para sahabat dan istri Nabi saw. setelah wafatnya beliau saw. juga tidak ada sahabat lainnya yang mencela, mensyirikkan perbuatan mereka. Demikian pula perbuatan antara para ulama pakar yang telah kami kemukakan juga! Renungkanlah!
Memang golongan pengingkar ini tidak bisa membedakan antara tabarruk, tawassul, ta’dzim dengan penyembahan atau pengkultusan. Dengan peng- haraman, pensyirikan mereka tentang masalah ini, seakan-akan mereka ini merasa lebih pandai, taqwa dan lebih mengetahui syari’at Islam dibanding- kan dengan Rasulallah saw., para kerabat, para sahabatnya serta para ulama pakar yang melakukan tawassul, tabarruk , ta’dzim dan sebagainya! Saya berlindung pada Allah dalam hal ini.
Begitu juga tidak ada terlintas dipikiran orang-orang muslimin bahwa mereka menyembah Ka’bah, karena ruku’, sujud menghadap bangunan batu tersebut atau menyembah hajar aswad karena mencium dan mengusap-usapnya atau meyembah kuburan karena berdiri khidmat dihadapan kuburan atau mencium kuburan itu. Bila ada seorang muslim yang berkeyakinan bahwa dia beribadah demi karena Ka’bah, Hajar Al-Aswad dan kuburan, maka akan hancurlah keimanan dan ke Islamannya.
Jadi yang penting semuanya disini adalah keyakinan atau niat dalam hati, karena semua amal itu tergantung pada niatnya Apa salahnya bila orang ingin mencium, mengusap kuburan Rasulallah saw.atau para ahli taqwa lainnya, selama niat orang tersebut hanya sebagai ta’dzim, tabarruk bukan sebagai penyembahan?
Memang golongan pengingkar selalu mengarang-ngarang, menafsir, menyangka perbuatan seseorang seenaknya saja karena tidak sepaham dengan pendapatnya, seakan-akan mereka tahu niat didalam hati setiap orang.

Insya Allah dengan keterangan sederhana dan dalil-dalil mengenai tawassul, tabarruk yang cukup jelas ini dapat membuka hati dan pikiran kita untuk mengetahui amalan mana yang diridhoi oleh Allah swt. dan Rasul-Nya. Semoga hidayah dan taufiq dari Allah swt., selalu dilimpahkan pada kaum muslimin. Amin. Insya Allah dengan adanya kutipan ini bisa memberi manfaat bagi kami sekeluarga khususnya dan semua kaum muslimin lainnya dan kita semua bisa melaksanakan amalan-amalan yang diridhoi-Nya, sehingga kita tidak mudah mencela kaum muslimin yang melakukan perbuatan-perbuatan tertentu tersebut mengusap-usap, mencium dan sebagainya bekas-bekas para Nabi, wali…. yang telah kami kutip dan kumpulkan sebagai perbuatan syirik, munkar atau sesat dan sebagainya!

Wallahu a’lam.

Sumber

27/06/2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

HUKUM MENGAMBIL BERKAT DENGAN PENINGGALAN NABI ( TABARRUK )

Sesiapa yang mengatakan tabarruk dengan rambut Nabi saw dan barang peninggalan Nabi saw sebagai bidaah atau syirik atau sesat, maka orang yang mengatakan demikian telah kufur dan lebih sesat lagi. Orang ini mengingkari hadis Sahih.

Sekalian banyaknya hadis-hadis sahih dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim bahawa:

1. Para sahabat berebut-rebut menadah air wudhuk yang jatuh dari anggota tubuh Rasulullah saw, untuk mendapatkan keberkatan baginda. (Sahih Bukhari, no 186).

2. Malah mereka yang tak dapat air wudhuk baginda, mereka ambil pulak dari sahabat lain yang dapat dari Nabi saw. (Sahih Bukhari, no 369 & 5521)

3. Rasulullah saw sendiri apabila mencukur rambutnya ketika Haji Wada’, haji terakhir baginda, baginda memberi pada seorang sahabat, dan baginda menerintahkannya agar diagih-agihkan kepada sahabat lain. (Hadis Muttafaqun ‘Alaih – Sahih Bukhari & Sahih Muslim, no 2298)

4. Seorang sahabat meminta dari Rasulullah saw satu kain yang baru sahaja dihadiahkan oleh seorang wanita kepada baginda. Sahabat yang lain marah, sebab sahabat yang mintak tu takde adab, tapi sahabat tu cakap dia nak keberkatan kain tu je sebab pernah disentuh Nabi. (Sahih Bukhari, no 5689)

5. Asma binti Abu Bakar menjadikan jubah Rasulullah saw sebagai ubat, dicelupkan jubah baginda ke dalam air dan diberi minum orang-orang sakit dan TIDAK ADA seorang sahabat pun mengingkari perbuatan beliau, dan perbuatan ini dilakukan selepas baginda wafat. (Sahih Muslim 2069 & 3855)

Imam Nawawi ketika menyebutkan hadis tabarruk dengan jubah Nabi saw di dalam Syarah Sahih Muslim, setelahnya beliau berkomentar:

“Dan di dalam hadis ini merupakan dalil atas dianjurkan bertabarruk dengan bekas-bekas (peninggalan) orang-orang soleh dan pakaian mereka “

6. Rasulullah saw menjadikan air liur orang mukmin sebagai penawar bagi penyakit suatu kaum di kalangan Muslim. (Sahih Muslim, no 5413)

7. Seorang sahabat meminta Rasulullah saw solat di dalam rumahnya satu kali, supaya dia boleh mendapatkan keberkatan untuk beliau membuat musolla (tempat solat) di tempat sama Rasulullah solat. Baginda siap tanya pada sahabat tu “Dimana kamu mahu aku bersolat?” (Sahih Bukhari, no 1130)

8. Rasulullah saw berdoa di Maqam Ibrahim (tempat Nabi Ibrahim berdoa) sebagai bertabarruk dengan kedudukan Nabi Ibrahim, dan Allah memuji baginda dalam surah Ali Imraan ayat 97.

9. Sayyiduna Umar selepas ditikam di perut, beliau meminta seorang sahabat agar meminta kebenaran dari isteri Nabi saw untuk dikebumikan di sebelah maqam baginda dan Abu Bakar. Beliau berkata “tidak ada yang lebih ku pentingkan berbanding mendapatkan tempat pembaringan itu”. (Sahih Bukhari, no 1328)

10. Sahabat-sahabat Nabi (khususnya Abu Muslim) jika bermusafir akan solat sunat di tempat-tempat yang Nabi saw pernah solat, untuk mengambil keberkahannya. (Sahih Bukhari, no 469).

11. Sahabat Nabi saw yang masih kecil minum bekas air wudhuk Nabi saw dan melihat khatamun nubuwwah di belakang tubuh Nabi saw. (Sahih Bukhari, no 2345)

12. Sahabat Nabi, Ubaidah berkata jika dia memiliki rambut Nabi, itu adalah yang lebih baik dari dunia dan segala isinya. (Sahih Bukhari, no 168)

13. Anas bin Malik menyimpan peluh Nabi saw di dalam botol minyak wangi dan menyimpan rambut baginda. Beliau meminta untuk ditanamkan bersama peluh dan rambut baginda ketika matinya. (Sahih Bukhari, no 5925)

14. Para sahabat bertabarruk dengan kahak/air ludah Nabi saw, riwayat dari Urwah (Fathul Bari, jilid. 5, hlm. 341)

15. Para sahabat dan isteri Nabi menggunakan rambut baginda untuk merawat penyakit ain yang menimpa penduduk Madinah selepas kewafatan Nabi saw. (Fathul Bari, jilid. 10 hlm. 353)

16. Sahabat merawat sakit mata dengan ludah Nabi saw (Sahih Muslim, no 4423)

*Ni baru dari Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Belum amik riwayat dari kitab-kitab hadis lain lagi seperti Sunan Tirmidzi, Musnad Ahmad, Sunan Ibnu Majah, Muwatha’ Imam Malik dan lain-lain.

Belum amik lagi kisah-kisah dan riwayat-riwayat perbuatan salafus soleh dan ulama-ulama muktabar bertabarruk dengan orang soleh selain Rasulullah saw.

Pesanan saya, belajar lagi, sebelum sesuka hati menghukum itu bidaah, itu sesat, itu syirik, itu kurafat.

ABU SUNNAH
TMG

https://m.facebook.com/sunnahrasulullah12/photos/a.990309187716714.1073741827.990303737717259/1045549988859300/?type=3&source=48

26/06/2016 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Hukum mencium mushaf Al Quran

image
Soalan:
Ketika saya masih anak-anak, orang tua saya membiasakan saya mencium mushaf Al-Qur’an setelah mengajinya, dan kebiasaan itu hingga sekarang masih terus saya lakukan, bahkan tertular ke anak-anak saya.
Sebenarnya, bagaimana hukumnya mencium mushaf Al-Qu’ran itu? Sunnahkah? Meski tidak tahu dalilnya, saya menganggap itu sebagai suatu hal yang baik. Terima kasih.

Jawab:

Kami kutip dari NU Online (Nahdatul Ulama Indonesia) bahwasannya kebiasaan mencium mushaf pada dasarnya lebih karena mengagungkan Al-Qur`an yang berisi petunjuk dariAllah swt.

Sedang mengenai hukum mencium mushaf itu sendiri menurut keterangan yang terdapat dalam kitab al-Itqan fi ‘Ulumil Qur`an yang ditulis oleh Jalaluddin as-Suyuthi adalah sunah.

Alasan yang dikemukakan beliau adalah bahwa sahabat Ikrimah bin Abu Jahl sering melakukan hal tersebut. Di samping itu karena mushaf Al-Quran adalah anugerah dari Allah swt. Karenanya, kita disunahkan untuk menciumnya sebagaimana kita disunahkan mencium anak kecil kita.

Alasan lain yang dikemukakan sebagian ulama—sebagaimanadikemukakan Jalaluddin As-Suyuthi—adalah bahwa kesunahan mencium mushaf itu dikiaskan atau dianalogikan dengan kesunahan mencium Hajar Asw

ad.
يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْمُصْحَفِ لِأَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِيجَهْلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يَفْعُلُهُ وَبِالْقِيَاسِ عَلَى تَقْبِيلِالْحَجَرِ الاَسْوَدِ ذَكَرَهُ بَعْضُهُمْ وَلِأَنَّهُ هَدْيُهُ مِنَ اللهِتَعَالَى فَشِرعَ تَقْبِيلُهُ كَمَا يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْوَلَدِ الصَّغِيرِ

“Disunahkan mencium mushaf karena Ikrimah bin Abu Jahl melakukaknnya, dan (dalil lain) adalah dengan dikiaskan dengan mencium HajarAswad sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama, dan karena mushaf Al-Qur`an merupakan anugerah dari Allah swt. Karenanya disyariatkan menciumnya seperti disunahkannya mencium anak kecil. (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, al-Itqanfi ‘Ulumil Qur`an, Bairut-Dar al-Fikr, juz, II, h. 458).

Demikian jawaban singkat yang dapat kami paparkan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Sering-seringlah membaca Al-Qur`an dan merenungkan kandungan maknanya karena itu merupakan anugerah dan petunjuk Allah swt.

Sumber

25/06/2016 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Antara tanda baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang bukan urusannya

Baginda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam meninggalkan pesan kepada umatnya dengan satu pesanan yang pendek tetapi sangat padat dan barakah.
Apa pesanan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam?
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه ) حديث حسن رواه الترمذي وغيره .
Maksudnya : Daripada Sayyiduna Abi Hurairah radhiyallahu anhu kata beliau : Telah bersabda Junjungan Besar Sayyiduna Rasulullah sallallahu alaihi wasallam :

( Antara tanda baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang bukan urusannya)

Pesanan Nabi ini ada beberapa perkara kita perlu teliti :

1) Muslim yang baik adalah yang menyibukkan dirinya pada sesuatu yang berfaedah pada dirinya. Maksud sebaliknya, jika seseorang itu menyibukkan diri pada sesuatu yang tidak berfaedah bagi dirinya maka ini bukanlah seorang yang baik.

2) Bilamana seseorang muslim itu menyibukkan dirinya bukan pada yang sepatutnya maka dia perlu bimbang kerana ianya salah satu tanda bahawa Allah taala berpaling daripadanya.
Telah berkata Sayyiduna al-Hasan al-Basri radhiyallahu anhu :
من علامة إعراض الله عن العبد : أن يجعل شغله فيما لا يعنيه
Maksudnya : Antara tanda Allah berpaling tidak memberikan rahmat dan inayah kepada hambaNya ialah disibukkan hamba tersebut dengan sesuatu yang tidak berfaedah dan berkaitan dengannya.

3) Jika umat Islam beramal dengan hadis ini sahaja, sudah cukup untuk menjadikan dunia ini aman daripada jenis manusia yang kesemua perkara ingin dibahaskan.

Maka tidak akan lahirlah Ustaz berlagak menjadi pakar perubatan sedang dia bukan ahlinya. Doktor berlagak jadi muhaddis dan fuqaha sedang dia bukan ahlinya.

Pelajar sibuk menjadi pengulas politik sehingga kesemua orang salah dan ulama pun salah jika bertentangan dengan pandangannya.
Maka porak perandalah dunia disebabkan kelompok sebegini.

Semoga Allah taala mengurniakan kita insaf dan amal di dalam ilmu.

Ustaz Nazrul Nasir

25/06/2016 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Bila Lailatul Qadr berlaku.

(Dari Bahagian Tarekat Tasauwuf – Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan)

image

Bila Lailatul Qadr berlaku.

Ulamak berselisih pendapat tentang bilakah berlakunya Lailatul Qadr. Di dalam Kitab Fath al-Bari fi Syarh Sahih al-Bukhari menyebutkan ada 46 pendapat ulamak berhubung bilakah berlakunya Lailatul Qadr. Ada yang menyatakan ianya berlaku setiap 7 tahun sekali sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muhammad bin al-Hanifah, ada yang menyatakan ianya berlaku pada setiap bulan, ada yang menyatakan ianya berlaku pada awal Ramadhan, sebahagian lagi mengatakan ianya berlaku pada setengah bulan Ramadhan yang kedua, ada mengatakan ianya berlaku pada malam ke-17 Ramadhan dan jumhur mengatakan ianya berlaku pada 10 malam yang terakhir bulan Ramadhan.
Imam Syafie mengatakan Lailatul Qadr itu terkandung dalam 10 hari yang terakhir Ramadhan pada malam yang ganjil iaitu malam ke 21 dan malam ke 23.

Formula Ulamak Tafsir Yang Semasa[1],
Lailatul Qadr berlaku pada malam ke 27 Ramadhan. Hal ini berdasarkan kepada 2 perkara dalam Surah al-Qadr iaitu:
i) Allah mengulang-ulangkan perkataan ( لَيْلَةُ القَدْرِ ) pada 3 tempat dan perkataan ( لَيْلَةُ القَدْرِ ) terdapat 9 huruf. Sehubungan dengan itu 3 x 9 = 27.
ii) Surah al-Qadr mengandungi 30 patah perkataan. Perkataan ( هِيَ ) pada ayat yang terakhir surah ini berada di kedudukan yang ke 27.

Formula Imam Ghazali,
Malam Lailatul Qadr ditentukan berdasarkan bilakah hari awal Ramadhan itu jatuh.
1 Ramadhan. Lailatul Qadr
_______________ ___________________
Isnin Mlm 21 Ramadhan
Sabtu Mlm 23 Ramadhan
Khamis Mlm 25 Ramadhan
Selasa/Jumaat Mlm 27 Ramadhan
Ahad/Rabu Mlm 29 Ramadhan
Justeru, al-Syeikh Yusuf Khattar Muhammad menyatakan hikmah tidak ditentukan Lailatul Qadr secara yakin adalah supaya kita sentiasa melakukan ibadah kepada Allah pada setiap malam dalam bulan Ramadhan khususnya pada 10 malam yang terakhir. Sabda Nabi S.A.W,
فَالتَـمِسُوهَا فِى العَشْرِ الأَوَاخِرِ فِى الوِتْرِ

Yang bermaksud, Maka kamu carilah ia (Lailatul Qadr) pada 10 malam terakhir (bulan Ramadhan) iaitu pada malam yang ganjil.[2]

Tanda-tanda berlakunya Lailatul Qadr.

Ulamak berkata: Tanda-tanda berlakunya Lailatul Qadr seperti kurangnya salakan atau lolongan anjing, kurangnya suara kaldai, air masin bertukar menjadi tawar, ada yang dapat melihat makhluk ciptaan Allah tunduk sujud kepada-Nya dan mendengar mereka berzikir.
Terdapat sebuah hadith daripada Jabir bin Samrah menyatakan,
لَيْـلَةُ القَدْرِ لَيْـلَةُ مَطَرٌ وَرِيحٌ

Yang bermaksud, Lailatul Qadr ialah malam yang hujan dan berangin[3].

Selain itu, kita akan dapat melihat pada keesokan paginya cahaya sinaran matahari yang cerah dan hari tersebut tidak terlalu panas dan tidak terlalu sejuk.

[1] Al-Nafahat al-Nuraniyah fi Fadhail al-Ayyam wa al-Layali wa al-Syuhur al-Qomariyah, al-Syeikh Yusuf Khattar Muhammad, Matba’ah Nadhr, 2001, bab Lailatul Qadr hlmn 201.

[2] Fath al-Bari bi Syarh Sohih al-Bukhari, al-Hafiz Ahmad bin Ali bin hajar al-Asqolani, Dar al-Fikr, 1996, Kitab Fadl Lailatul Qadr, Jld 4, 786
[3] Fath al-Bari bi Syarh Sohih al-Bukhari, al-Hafiz Ahmad bin Ali bin hajar al-Asqolani, Dar al-Fikr, 1996, Kitab Fadl Lailatul Qadr, Jld 4, 791

25/06/2016 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

ADAKAH ANDA MUJTAHID”

(Maulana Hussin Abdul Qadir Yusufi)

PETIKAN KULIAH

“ADAKAH ANDA MUJTAHID”

oleh MAULANA HUSSEIN

KAEDAH-KAEDAH PARA IMAM MUJTAHID menurut SYEIKH MUHADDITH INDIA, MAULANA SYAH ABDUL AZIZ

1. Beliau merupakan anak kepada Syah Waliyullah Ad-Dehlawi.

2. Katanya dalam menyelesaikan masalah khilaf seperti percanggahan hadis, maka imam mujtahid memiliki kaedah-kaedahnya.

3. Imam Malik berpegang kpd amalan penduduk madinah krn ia tempat tinggal Rasulullah saw, padanya ada sahabat besar yang dekat dengan Rasulullah saw. Cth mcm larangan waktu solat pada tiga waktu termasuk waktu tgh hari.

Imam Malik melihat orang madinah solat nafilah (sunat) pada waktu tgh hari (zawal). Maka Imam Malik berpegang riwayat waktu karahah solat ada dua dan bukan tiga seperti dalam riwayat.

Maka riwayat itu disisi Imam Malik mansukh atau marjuh.Kata ibnu qayyim (murid ibn taymiyah) ;

من أصول مالك اتباع عمل أهل المدينة وإن خالف الحديث (بدائع الفوائد)
“Diantara dasar Imam Malik ialah menuruti amalan penduduk Madinah walau amalan xselari dengan hadis.”

4. Maka tatkala ijtihad Imam kelihatan bercanggah dengan hadis (sebenarnya xbercanggah) maka kita perlu tahu bahawa imam mengetahui banyak riwayat. Dan mereka memilih riwayat yang tepat.

Memilih yang rajih disisinya. Seperti riwayat dua waktu karahah sebagaimana diriwayatkan dalam bukhari dan diamalkan oleh ahlul madinah.

5. Jangan mudah mentohmah ulamak xjumpa hadith. Ulamak hidup zaman khairul qurun disebut xjumpa hadis, sedangkan kita duk syarrul qurun sangka kita lebih jumpa hadis.

6. Imam Syafie berpegang pada amalan hijazi serta menyelidiki padanya. Maksudnya jika hadis kelihatan berlawanan, maka beliau akan selaraskan maknanya. Tatkala ke mesir & iraq, beliau terima riwayat daripada thiqat. Bila didapati riwayat itu lebih kuat dari amalan penduduk hijaz, maka terbitlah dlm mazhabnya qaul qadim (pendapat lama) dan qawl jadid (baru).

7. Imam Ahmad Ibn Hanbal biasanya amalkan zahir hadis. Tetapi dgn cara khususkan mengikut punca hadis, sababul wurud. Oleh yg demikian banyak disandarkan mazhabnya kpd golongan zhahiriyah(gol yang amal zahir hadis/literal)

8. Akhirnya mazhab hanbali dirosakkan oleh puak yang mencampurkan mazhab hanbali dengan akidah mujassimah.

9. Cth, dalam mazhab hanbali, ada hadis nabi saw tatkala seseorang bangun tidur, kena basuh tangan. Kerana xtahu dimana letaknya masa tidur. Disisi imam ahmad,jika xbasuh, kalau celup tangan dalam air samada bernajis atau x, maka air yg dicelup akan jadi bernajis.

Imam syafie pula berijtihad dengan melihat pelbagai sudut. Seperti amalan orang arab yang tidur memakai kain, yang beristinjak tanpa air dan cuaca panas yang tatkala tidur orang arab berpeluh. Begitulah kaedah-kaedah ulamak mujtahid. Bukan hukum secara jahil seperti yang berlaku hari ini.

10. Adapun imam abu hanifah, melihat syariat ada dua bahagian. Pertama kaedah umum yg jadi dasar hukum. Cth sempurna jual beli melalui ijab qabul. Kedua apabila berlaku kejadian yg merupakan juzuk,seolah2 menepati pengecualian kaedah umum, maka mujtahid kena jaga kaedah umum.cth jualan barang akan batal dengan adanya syarat fasid (rosak).

Adapun kaedah juzuk yg berlaku pada kisah jabir yang jual unta pd Rasulullah saw yang mensyaratkan selepas bayar dia akan naik unta lagi sampai madinah, maka ia menyalahi kaedah dan tidak dibuat sandaran hukum disisi abu hanifah .

– Catatan ringkas alfaqir mudir Mtdhs Darul Hadis Sabah di kuliah “adakah anda mujtahid siri3” di Madrasah Huffaz Darul Hadis Sabah, kota kinabalu jam 11.42 malam (20.06.2016)
Mudir MTDHS Ust Mat Razali

image
Maulana Hussein

24/06/2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment