Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Ilmu

Ilmu itu:

1. Malakah (Kemampuan)

2. Al-Mudrakah (Pengetahuan)

3. Masail (Permasalahan)

Bermula dari mengkaji permasalahan, insya Allah nanti akan sampai pada taraf al-malakah (bakat).

- Syekh Usamah Sayyid Azhary

Sumber: Suara Al Azhar.

1 March 2015 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

Mengapa kita mengikuti empat madzhab yang ada?

Sebab:

1. Mudawanah (Tertulis)

2. Mudalalah (Memiliki dalil)

3. Makhdumah (digunakan)

4. Mutadawilah (Tersebar)

5. Ijma umat bahwa empat madzhab merupakan madzab Ahli sunnah waljamaah

-Syekh Hisyam Kamil

'Mengapa kita mengikuti empat madzhab yang ada? sebab:
1. Mudawanah (Tertulis)
2. Mudalalah (Memiliki dalil)
3. Makhdumah (digunakan)
4. Mutadawilah (Tersebar)
5. Ijma umat bahwa empat madzhab merupakan madzab Ahli sunnah waljamaah

-Syekh Hisyam Kamil'

1 March 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Tazkirah | | Leave a comment

ADAB

Al-Imam al-Kisaie rahimahullah menceritakan bahawa satu hari beliau menjadi imam di dalam solat dan Khalifah Harun al-Rasyid rahimahullah menjadi makmum di dalam solat tersebut.

Bacaannya sangat mengkagumkan dan sememangnya beliau seorang imam di dalam ilmu al-Quran.

Tiba-tiba al-Imam al-Kisaie tersilap bacaannya yang beliau ungkapkan bahawa kesilapan itu kanak-kanak pun tidak akan melakukannya.

Beliau tertukar daripada ayat { لعلهم يرجعون } kepada { لعلهم يرجعين}.

Setelah selesai menunaikan solat , Khalifah Harun al-Rasyid bertanya dengan penuh adab kepada al-Imam al-Kisaie :

" Bacaan yang kamu baca wahai Imam diambil daripada riwayat mana atau daripada bahasa kaum mana wahai Imam? "

Maka jawab al-Imam al-Kisaie :

" Kuda yang handal juga kadang-kadang tersungkur wahai Khalifah"

Betapa mulianya akhlak orang-orang terdahulu kepada para ulama mereka , Khalifah tidak mengatakan " Kamu Silap" tetapi bertanya dengan penuh adab.

Zaman sekarang, ilmu kurang tetapi kritiknya lebih daripada ahli ilmu. Allahu Allah..

Jauhnya kita dengan zaman tersebut.Semoga Allah mengurniakan kita adab seperti para salaf terdahulu.. Amin ya Rabb.

Wallahualam.

 

(Sumber: Jom Dakwah Bersama Ulama)

1 March 2015 Posted by | Ibadah, Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

Al Harj

Nabi kita telah menceritakan kepada kita dengan bersabda:

و يكثر الهرج “Al Harj akan berleluasa”

Tanya para sahabat, apakah Harj itu wahai Rasulullah? “ Kata Baginda: Harj adalah berleluasanya penipuan dan pembunuhan.

tanya Sahabat: Wahai Rasulullah, adakah pembunuhan untuk berlaku lebih banyak dari zaman kami?

Jawab Nabi: Bukan begitu, kerana kalian memerangi dan membunuh orang-orang musyrikin. Pada zaman itu, seseorang akan membunuh saudaranya, sepupunya, dan jirannya.

Tanya Sahabat lagi: adakah mereka masih mempunyai akal wahai Rasulullah?! Sabda Nabi: Pada ketika itu, Allah akan mencabut akal orang yang hidup pada zaman itu.” Sabda Nabi ﷺ

“Apa yang aku takutkan ke atas umatku adalah lelaki yang diberikan Allah padanya Al Quran, sehinggalah tampak pada wajahnya keserian, dia berubah. Maka dia keluar ke arah jirannya sambil menghunuskan pedang dan menunduh jirannya itu dengan syirik.

Tanya sahabat: siapakah yang lebih berhak syirik pada ketika itu wahai Rasulullah? Yang menuduh atau yang dituduh?

Kata Nabi: Bahkan yang menuduh.” Inilah yang telah kita lihat zaman berzaman. Fitnah dan kacau bilau berlaku berentetan.

Sabda Rasulullah :

القائم فيها خير من الماشي و الجالس فيها خير من القائم

“ Suatu zaman Fitnah yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan yang duduk lebih baik dari yang berdiri “

إذا استشرفت لها استشرف لك

“Semakin kamu melangkah ke arahnya, semakin ia melangkah ke arahmu”

وقع اللسان فيها كوقع السيف “Pertembungan lisan pada ketika itu, adalah seperti pedang”

و رب غائب عن الفتنة و هو فيها لأنه يرضى بقلبه

“Terkadang orang yang bukan didalam fitnah, berada di dalamnya kerana dia redha dengan hatinya”

و رب قائم فيها و ليس منها لأنه ينكر بقلبه

“Terkadang orang yang berada di dalamnya, tidak terlibat dengannya kerana dia mengingkari dengan hatinya” -Syeikh Dr Ali Jum’ah-

MasyaAllah, zaman kita telah menjadi perbualan di zaman Rasulullah. Jadikanlah Rasulullah ﷺ teladan kita, ikutan kita, panduan kita. Semoga Allah selamatkan kita dari fitnah akhir zaman. Sedikitnya ulama’ banyaknya Khutoba'(penceramah).

Sumber: Jom Dakwah Bersama Ulama

24 February 2015 Posted by | Informasi, Tazkirah | | Leave a comment

FITNAH KEMUNAFIKAN

Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)

Agama Islam adalah agama yang mengajari keindahan. Saat Nabi Muhammad SAW merintis persatuan dan kebersamaan di dalam komunitas kaum muslimin. Beliau menawarkan kepada orang-orang di luar Islam untuk hidup dengan tenang bersama kaum muslimin. Maka dibuatlah perjanjian dan kesepakatan untuk hidup berdampingan dengan agama yang berbeda beda.

Bagi Nabi Muhammad SAW hal ini tidak menghawatirkan kaum muslimin sebab keberadaan mereka sangat bisa dikenali dengan simbol-simbol keagamaan mereka dan pengakuan mereka dari semula yang berbeda dengan kaum muslimin. Dan di saat terjadi pengkhianatan dari orang-orang di luar Islam tersebut akan dengan mudah Rasulullah SAW membuat suatu peringatan atau teguran kepada mereka.

Akan tetapi akan menjadi rumit permasalahannya jika hal itu telah ada campur tangan orang-orang yang seolah mengikuti Rasulullah SAW akan tetapi mereka lebih dekat dengan orang di luar Islam. Mereka itu adalah orang-orang munafik yang secara dzohir sholat bersama Rasulullah SAW di siang hari akan tetapi jika malam tiba mereka berkumpul dengan orang-orang kafir.

Ada pertanda yang amat jelas pada orang orang munafik tersebut, yaitu di saat umat Islam terlukai dan dibohongi mereka seolah–olah tidak tahu atau bahkan malah memancing di air keruh, Sehingga keberadaannya benar-benar bagai duri di dalam daging bagi muslimin.

Untuk memperkuat fitnah yang dihembuskan mereka akan membungkus kejahatan dengan berbagai sampul indah beraroma Islam namun di dalamnya adalah segala kebusukan. Diantara yang di jadikan pembungkus fitnah saat itu adalah masjid. Orang-orang munafik membangun masjid dengan tujuan memecah belah umat Islam. Dan pembangunan masjid ini dibantu oleh orang-orang diluar Islam (Yahudi saat itu) yang sangat dendam dengan kaum muslimin. Mereka dengan sangat mudah membantu orang-orang munafik untuk membangun masjid. Dan benar, dari masjid ini tersebar fitnah diantara kaum muslimin. Hal itu sangat difahami oleh orang-orang pilihan seperti Rasulullah SAW dan para shahabat setia beliau. Maka dengan tegas Rasulullah SAW memerintahkan agar menghancurkan masjid yang dibangun oleh orang munafik bersama orang yahudi ini. Itulah masjid Dhiror, masjid yang penuh fitnah yang membahayakan.

Yang terjadi di zaman Rasulullah SAW ini akan terus terulang-ulang hingga ahli iman masuk surga dan orang munafik dan orang kafir masuk neraka. Dan di zaman ini pun tidak lepas dari orang-orang beriman yang senantiasa memperjuangkan agama Allah menghadapi orang–orang kafir . Begitu juga ada ahli fitnah yang berkedok Islam namun sepak terjangnya selalu merugikan kaum musliman.

Ada sekelompok orang yang mereka itu keluar dari agama Islam karena mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Dan nabi palsu tersebut mengatakan dengan tegas bahwa yang tidak beriman kepadanya adalah tergolong orang kafir dan belum bisa disebut sebagai orang Islam.

Di saat seperti ini orang-orang pilihan Allah akan segera faham akan kekafiran ini. Maka terlihat di wajah mereka kasih sayang kepada kaum muslimin. Tidak rela jika ada kaum muslimin yang terjerumus dalam akidah kafir ini. Maka mereka terus berusaha untuk menghentikan kekafiran agar tidak menjangkit kaum muslimin.

Akan tetapi di saat itu juga muncul orang-orang munafik yang di saat kaum muslimin dianiaya dii beberapa wilayah Indonesia mereka tidak tergerak untuk menolong mereka. Akan tetapi di saat ada gerakan dari ahli Iman untuk menghentikan kebohongan orang kafir yang berkedok Islam itu, orang-orang munafik ini bangkit membela kebathilan dan menentang bahkan dengan terang–terangan mengadakan permusuhan kepada kaum muslimin demi membela kekafiran. Tidak beda ciri-ciri orang munafik ini dengan apa yang ada di zaman Rasulullah SAW, yaitu membuat proyek fitnah yang berkedok Islam, hanya bentuknya saja yang berbeda. Jika di zaman Rasulullah SAW mereka membuat masjid fitnah, kalau di zaman ini mereka membuat kelompok dan jaringan Islam yang penuh dengan fitnah. Dan yang membiayai pun tidak beda dengan apa yang ada di zaman Rasulullah SAW yaitu musuh-musuh Islam. Muatan jaringan dan perkumpulan ini adalah memfitnah dan merendahkan Islam yang dikemas dengan kajian-kajian keislaman. Dan bisa disaksikan, setiap yang bergabung dengan perkumpulan ini akan lebih senang membela orang di luar Islam daripada membela orang Islam. Semoga Allah menjaga Iman kita semua.

Wallahu a’lam bishshowab.

3 February 2015 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | , | Leave a comment

Ketaatan anak hanya pada perintah ibu bapa

Rupanya masih ramai yang terkeliru antara ketaatan, penghormatan dan keutamaan terhadap ibu bapa. Hukum asalnya anak-anak wajib mentaati ibu bapa berdasarkan al-Quran dan Hadis. Setelah masing-masing mentaati ibu bapa bertemu pula dengan sebuah hadis yang menyebut tiada ketaatan dalam perkara yang membawa maksiat atau dosa. Di sini mereka mula keliru lalu anak-anak dengan senang-senang memaki hamun ibu bapa yang membuat dosa dan maksiat.

Perlu dijelaskan di sini, mentaati adalah pada perintah, maknanya kalau ibu bapa memerintah anak itu melakukan sesuatu maka wajiblah ditaati sama ada redha atau tidak. Maka kalau ibu bapa suruh anaknya bercakap baik, wajiblah dia mentaatinya. Kalau ibu bapa suruh anak itu beri sedekah kepada orang miskin maka wajib lah dia memberi, kalau ibu bapa suruh anaknya belajar sungguh-sungguh wajiblah dia mentaatinya. Tapi kalau dia suruh anaknya main judi, tak wajib taat, kalau ibu bapa suruh anaknya beli rokok tidak wajib taat.

Persoalan sekarang, apabila anak tidak wajib taat perintah ibu bapa tersebut, bolehkah mereka menengking atau membenci ibu bapanya? Anak-anak sama sekali tidak boleh bertindak sedemikian terhadap ibu bapa. Sebaliknya anak-anak tetap wajib menghormati ibu bapanya dalam keadaan apa sekali pun. Maknanya anak wajib menghormati ibu bapanya sebagai ibu bapa, bukan kawan apatah lagi musuh. Bercakap dengan sopan dan tidak meninggikan suara di hadapannya.

Jelas di sini, menghormati ibu bapa bukan sahaja pada keadaan dia memerintah tetapi dalam semua keadaan. Sebagai contoh, isteri wajib taat kepada suaminya, dan tidak wajib taat kepada ibu bapanya, namun dia tetapi wajib menghormati kedua-duanya. Kalau begitu tentu tidak wajar anak menengking ibu bapanya apabila ibu bapa tidak mahu mengikut kehendaknya. Ingatlah sikap anak ini adalah termasuk dalam kategori anak derhaka.

Menyedari keadaan itu, si anak tidak boleh bersangka buruk kepada ibu bapanya. Maka kalau ada desas desus orang lain menceritakan keburukan ibu bapanya dia wajib mempertahankan ibu bapanya dan pada masa yang sama perlu mendapatkan pejelasan ibu bapanya dengan cara terhormat. Kalau memang mereka bersalah nasihatkan dengan baik agar bertaubat, bukan memulaukan mereka.

Selain itu timbul soalan lain berdasarkan hadis Nabi SAW yang bermaksud: Abu Hurairah radhiallahu ‘anh berkata: Seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layan dengan sebaik-baiknya?” Baginda menjawab: “Ibu kamu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Baginda menjawab: “Ibu kamu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Baginda menjawab: “Ibu kamu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Baginda menjawab: “Ayah kamu.” (Bukhari dan Muslim)

Apa yang disebut dalam hadis ini bukan isu mentaati atau menghormati tetapi di sudut keutamaan antara kedua ibu bapa itu siapa yang lebih berhak diberi perhatian. Rasulullah menetapkan bahawa ibu yang patut diberi keutamaan berbanding bapa. Maknanya soal taat sama, soal menghormati sama, tetapi dalam soal keutamaan berbeza. Jadi, jangan ada dalam kalanang umat Islam yang mengatakan anak wajib lebih mentaati ibu daripada bapanya. Kesilapfahaman ini perlu diperbetulkan semula.

Sebenarnya konsep ini boleh dipakai dalam soal mentaati pemimpin dan suami. Maka rakyat wajib mentaati pemimpin dalam soal perintah dan wajib menghormati pemimpin atas sifatnya sebagai seorang pemimpin. Semoga dengan penjelasan ini umat Islam akan lebih harmoni dalam rumah tangga dan bernegara. Wallahu aklam.

(Oleh: Ustaz Ahmad Baei)

24 January 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

30 ORANG YANG PERTAMA DALAM ISLAM

1. Orang yang pertama menulis Bismillah : Nabi Sulaiman AS.

2. Orang yang pertama minum air zamzam : Nabi Ismail AS.

3. Orang yang pertama berkhatan : Nabi Ibrahim AS.

4. Orang yang pertama diberikan pakaian pada hari qiamat : Nabi Ibrahim AS.

5. Orang yang pertama dipanggil oleh Allah pada hari qiamat : Nabi Adam AS.

6. Orang yang pertama mengerjakan saie antara Safa dan Marwah : Sayyidatina Hajar (Ibu Nabi Ismail AS).

7. Orang yang pertama dibangkitkan pada hari qiamat : Nabi Muhammad SAW.

8. Orang yang pertama menjadi khalifah Islam : Abu Bakar As Siddiq RA.

9. Orang yang pertama menggunakan tarikh hijrah : Umar bin Al-Khattab RA.

10. Orang yang pertama meletakkah jawatan khalifah dalam Islam : Al-Hasan bin Ali RA.

11. Orang yang pertama menyusukan Nabi SAW : Thuwaibah RA.

12. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan lelaki : Al-Harith bin Abi Halah RA.

13. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan wanita : Sumayyah binti Khabbat RA.

14. Orang yang pertama menulis hadis di dalam kitab / lembaran : Abdullah bin Amru bin Al-Ash RA.

15. Orang yang pertama memanah dalam perjuangan fisabilillah : Saad bin Abi Waqqas RA.

16. Orang yang pertama menjadi muazzin dan melaungkan adzan: Bilal bin Rabah RA.

17. Orang yang pertama bersembahyang dengan Rasulullah SAW : Ali bin Abi Tholib RA.

18. Orang yang pertama membuat minbar masjid Nabi SAW : Tamim Ad-dary RA.

19. Orang yang pertama menghunuskan pedang dalam perjuangan fisabilillah : Az-Zubair bin Al-Awwam RA.

20. Orang yang pertama menulis sirah Nabi SAW : Ibban bin Othman bin Affan RA.

21. Orang yang pertama beriman dengan Nabi SAW : Khadijah binti Khuwailid RA.

22. Orang yang pertama mengasaskan usul fiqh : Imam Syafei RH.

23. Orang yang pertama membina penjara dalam Islam: Ali bin Abi Tholib RA.

24. Orang yang pertama menjadi raja dalam Islam : Muawiyah bin Abi Sufyan RA.

25. Orang yang pertama membuat perpustakaan awam : Harun Ar-Rasyid RH.

26. Orang yang pertama mengadakan baitul mal : Umar Al-Khattab RA.

27. Orang yang pertama menghafal Al-Qur’an selepas Rasulullah SAW : Ali bn Abi Tholib RA.

28. Orang yang pertama membina menara di Masjidil Haram Mekah : Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur RH.

29. Orang yang pertama digelar Al-Muqry : Mus’ab bin Umair RA.

30. Orang yang pertama masuk ke dalam syurga : Nabi Muhammad SAW. ✔

Oleh: Ustaz Azhar Idrus

22 January 2015 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

KEISTIMEWAAN SOLAT SUBUH BERJEMAAH

 

RASULULLAH SAW bersabda maksudnya:

“Sesiapa yang menunaikan solat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah SWT. Kerana itu, janganlah kamu mencari jaminan Allah SWT dengan sesuatu (selain daripada solat), yang pada waktu kamu mendapatkannya, lebih-lebih lagi ditakuti kamu tergelincir ke dalam api neraka.” (Hadis riwayat Muslim)

Rasulullah SAW memberi janji, apabila solat Subuh dikerjakan, maka Allah akan melindungi siapa saja yang mengerjakannya seharian penuh. Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya:

“Barang siapa yang menunaikan solat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka janganlah cuba-cuba membuat Allah membuktikan janji-Nya. Barang siapa yang membunuh orang yang menunaikan solat Subuh, Allah SWT akan menuntutnya, sehingga Allah SWT akan membenamkan mukanya ke dalam neraka.” (Hadis riwayat Muslim, at-Termizi dan Ibn Majah)

16 January 2015 Posted by | Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Tazkirah | , | Leave a comment

Orang Tasawwuf atau Ahli Sufi

Dikatakan yang dinamakan orang Tasawwuf itu atau Ahli Sufi itu bukan hanya mengenakan jubah di pakaian dan serban tetapi Tasawwuf itu apa yg dihiasai didalam diri seseorang dan ulama mengatakan ianya hiasan daripada 4 perkara daripada diri seseorang iaitu;

1)Membersikan diri nya dari perasaan takkabbur dan sombong
2)Memenuhi hati dengan pelajaran dan pengajaran
3)Pada pandangannya emas dan tanah adalah sama disisinya
4)Merasa cukup dan wujudnya Allah ﷻ dari meminta-minta kepada makhluk.
.
Dan dikatakan seseorang yg menghadiri Maulid dan menghadiri majlis-majlis dzkir sebagai ahli sufi itu kadang-kala mereka tidak mencapai kepada hakikat tasawwuf kerana mereka hanya memegang beberapa biji tasbih dan berdzikir dgn berberapa dzikir dan menghadiri menghadiri majlis-majlis Maulid tidak dinamakan mereka sebagai ahli sufi tetapi dinamakan sebagai ahli tasawwuf.

Dan ahli sufi itu,mereka yg menghiasakan diri mereka dengan sifat-sifat yg mulia yg mengosongkan diri mereka daripada perbuatan-perbuatan yg keji sehingga mereka mendapat suatu keagungan Allah ﷻ didalam diri mereka.

Dan ulama-ulama tasawwuf terdahulu telah memperolehi ilmu dan sifat tersebut sepertimana Imam Ghazali yang mana telah menghayati dan membawa hakikat tasawwuf didalam dirinya sehingga mengarang kitab yg memberi manfaat didalam ilmu tasawwuf untuk pembentukan hati dan juga nafsu manusia.

Ilmu tasawwuf itu juga dinamakan ilmu raqa’ik bermakna ilmu yg boleh melembutkan hati manusia,yang dikatakan sebagai ilmu pelembut hati kerana ilmu tasawwuf ini ianya berbicara mengenai pentarbiahan hati lebih banyak daripada luaran dan zahir manusia.

Bagaimana hati dan batin manusia menjadi lebih baik daripada zahir luarannya dan khulasah,intipati daripada seluruh ilmu tasawwuf adalah membuang daripada diri manusia kotoran dan penyakit-penyakit hati dan menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yg terpuji didalam agama kita.

(Oleh: Al Habib Hussain Bin Ahmad Al-Haddar diterjemah oleh Guru Mulia Kami,Ustaz Iqbal Zain Al Jauhari,Darul Muhibbin)

‎Dikatakan yang dinamakan orang Tasawwuf itu atau Ahli Sufi itu bukan hanya mengenakan jubah di pakaian dan serban tetapi Tasawwuf itu apa yg dihiasai didalam diri seseorang dan ulama mengatakan ianya hiasan daripada 4 perkara daripada diri seseorang iaitu;

1)Membersikan diri nya dari perasaan takkabbur dan sombong
2)Memenuhi hati dengan pelajaran dan pengajaran 
3)Pada pandangannya emas dan tanah adalah sama disisinya
4)Merasa cukup dan wujudnya Allah ﷻ dari meminta-minta kepada makhluk.
.
Dan dikatakan seseorang yg menghadiri Maulid dan menghadiri majlis-majlis dzkir sebagai ahli sufi itu kadang-kala mereka  tidak mencapai  kepada hakikat tasawwuf kerana mereka hanya memegang beberapa biji tasbih dan berdzikir dgn berberapa dzikir dan menghadiri menghadiri majlis-majlis Maulid tidak dinamakan mereka sebagai ahli sufi tetapi dinamakan sebagai ahli tasawwuf.

Dan ahli sufi itu,mereka yg menghiasakan diri mereka dengan sifat-sifat yg mulia yg mengosongkan diri mereka daripada perbuatan-perbuatan yg keji sehingga mereka mendapat suatu keagungan Allah ﷻ didalam diri mereka.

Dan ulama-ulama tasawwuf terdahulu telah memperolehi ilmu dan sifat tersebut sepertimana Imam Ghazali yang mana telah menghayati dan membawa hakikat tasawwuf didalam dirinya sehingga mengarang kitab yg memberi manfaat didalam ilmu tasawwuf untuk pembentukan hati dan juga nafsu manusia.

Ilmu tasawwuf itu juga dinamakan ilmu raqa'ik bermakna ilmu yg boleh melembutkan hati manusia,yang dikatakan sebagai ilmu pelembut hati kerana ilmu tasawwuf ini ianya berbicara mengenai pentarbiahan hati lebih banyak daripada luaran dan zahir manusia.

Bagaimana hati dan batin manusia menjadi lebih baik daripada zahir luarannya dan khulasah,intipati daripada seluruh ilmu tasawwuf adalah membuang daripada diri manusia kotoran dan penyakit-penyakit hati dan menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yg terpuji didalam agama kita.

Al Habib Hussain Bin Ahmad Al-Haddar diterjemah oleh Guru Mulia Kami,Ustaz Iqbal Zain Al Jauhari,Darul Muhibbin‎

Like · · Share · 91118

14 January 2015 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

Nasihat daripada Habib Abu Bakr Masyhur hafizahullah buat para pelajarnya di Ribat, Yaman. Semoga ia juga bermanfaat buat saya & anda.

Muhasabah buat kita sebagai pemegang watak-watak di zaman hampir kiamat. Semoga Allah redha, ampuni dosa-dosa & sayang kita, aamiin…!!

1. Jika kalian mahu mati dengan husnul khatimah, hendaklah bersabar dengan orang yang bangunkan anda, bersabar dengan orang yang menjaga anda, bersabar dengan perkataan yang menyakitkan anda.

2. Ribat ini akan ditutup suatu hari nanti, Yaman akan kembali seperti zaman penjajahan & kalian akan pulang ke tanahair kalian. Oleh itu, rebutlah peluang masa yang masih ada ini. Jangan buang masa kalian.

3. Kami (Habib) di sini membawa manhaj salafunassoleh, kami membongkar perancangan syaitan yang tampak baik atas nama agama namun bertujuan menjauhkan manusia darinya. Syaitan cuba menjauhkan manusia dari agama atas nama agama.

4. Habib membaca surah al-Qaf ayat 37 & sebuah hadis secara mafhum;

"Hendaklah kalian ketika itu (zaman fitnah) menjaga diri sendiri & tinggalkan urusan orang lain (jangan masuk campur)."

5. Sifat-sifat orang soleh yang dikenali sebagai عباد الرحمن. Boleh rujuk surah al-Furqan ayat 63-68.

6. Habib melafazkan الحمد لله kerana kita bukan golongan musyrikin. Jika ada yang menuduh kita dengan gelaran musyrikin maka CUKUP & MEMADAILAH kita mendoakan hidayah buat mereka. Tidak ada manfaatnya lagi untuk berbincang, berbahas & berdebat dengan mereka itu. Semua itu boleh membuang masa ummah. Seorang menafikan maulid, seorang lagi mempertahankannya. Seorang mempertahankan ziarah kubur, seorang lagi menafikannya. Ini adalah "permainan iblis". Disebabkan perbalahan ini, maka banyak permasalahan yang lagi penting tertangguh atau terhenti.

7. Jika kalian dapat memahami apa yang kami (Habib) bicarakan ini, maka sebenarnya tiada siapa yang mengajak kalian kepada pergaduhan. "Kami tidak mahu kalian menyimpan rasa tidak puas hati terhadap siapa sahaja yang beragama Islam walau sebesar zarrah sekalipun. Walaupun kalian & mereka itu berbeza atas nama (fikrah) apa sekalipun".

8. Kami tidak pernah dengki dengan orang Islam yang solat, tapi kami berasa sangat sedih dengan mereka yang tidak solat. Tatkala kami melihat orang yang bercakap atas nama orang alim untuk mencaci orang lain, bercakap atas nama agama bertujuan membawa konflik dalam ummah maka inilah yang menyesakkan dada-dada kami.

9. Semua ini kami mengetahuinya daripada para masyayikh & Imam kami. Di mana mereka ini tidak pernah sia-siakan nafas (hidup) mereka kecuali sentiasa mengingatkan kami kepada Allah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم & para sahabat.

(# Nota mafhum bercampur catatan semula dari terjemahan asal di dalam video di sini; https://m.youtube.com/watch?sns=fb&v=uMZriiuOsnw)
———————————————–

28 December 2014 Posted by | Bicara Ulama, Mutiara Kata, Tazkirah | Leave a comment

Antara Para Fuqaha’ dan Golongan Sufi


Imam Asy-Sya’rani mengisahkan sebuah cerita lucu. Konon seorang faqih bernama Ibnu Suraij mengingkari Imam Abu’l Qasim Al-Junaid. Kepada Al-Junaid, dia berkata, “Tarekat kami melahirkan ahli-ahli dalam fiqh dan membawa kami jalan yang paling dekat kepada Allah daripada tarekat kamu, iaitu yang dituju oleh orang-orang sufi.” Al-Junaid berkata, “Engkau harus membawa bukti tentang hal itu.” Kata Ibnu Suraij, “Engkaulah yang harus membawa kami bukti.” Maka berkatalah Al-Junaid, “Hai fulan, pungutlah batu itu lalu lemparkanlah ketengah-tengah golongan orang-orang fakir.” Setelah batu dilemparkan, orang-orang fakir itu berseru, “Allah… Allah… Allah…!” Kemudian Al-Junaid berkata lagi, “Sekarang lemparkan batu itu ketengah-tengah golongan fuqaha’.” Setelah batu dilemparkan, maka para fuqaha’ itu berteriak, “Haramlah kamu! Buat kami terperanjat sahaja!” Ibnu Suraij bangun lalu mencium kepala Al-Junaid serta mengakui keutamaannya. Maka Al-Junaid berkata kepadanya, “Sebenarnya pada diri kamulah keutamaan itu, sebab pokok dasar tarekat kami adalah ilmu yang ada pada kamu.” Namun Ibnu Suraij menjawab, “Bukan, kamulah yang lebih utama. Kamu menambah bagi kami kebaikan mu’amalah dengan Allah.”

Sumber: Pondok Habib

23 December 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

Kisah Bau Kasturi dan Zina

Ada seorang pemuda yang menjual kain dari rumah ke rumah. Ia mempunyai susuk tubuh yang tegap dan rupa yang tampan.

Suatu hari ia lewat di jalan-jalan dan seorang wanita telah memanggilnya dan memintanya untuk masuk ke dalam rumah, apabila pemuda itu masuk ke dalam rumah maka wanita itu terus mengunci pintu. Terkejut dengan perbuatan wanita tersebut, pemuda itu mengingatkanya dengan Allah dan azab yang pedih..

Tapi sia-sia.. Amarah wanita itu semakin bertambah. Wanita itu menyatakan betapa ia ingin melepaskan perasaan rindu dendamnya yang terpendam sejak sekian lama terhadap lelaki tersebut.

Wanita itu berkata pada pemuda penjual kain: “Jika anda tidak melakukan apa yang aku perintahkan pada kamu nescaya aku akan menjerit minta tolong. Aku akan beritahu kepada semua orang bahawa kamu menceroboh masuk dan memaksa ku melakukan perkara sumbang. Sudah tentu orang akan mempercayai kata-kataku ini.”

Melihat sikap wanita itu yang nekad. Pemuda itu menyuruhnya pergi bersiap-siap dan ia minta izin untuk masuk ke bilik air dengan alasan kononya ia juga ingin mempersiapkan diri. Apabila masuk ke bilik air, tubuh pemuda itu dengan sendiri rasa gementar daripada rasa takut dan jatuh dalam lumpur dosa dan tiba-tiba timbul dalam fikirannya satu jalan keluar.

Pemuda itu pun buang air besar dan ia lumurkan seluruh badan dengan najisnya sendiri. Sambil menangis ia berkata: “Daripada aku terjerumus dalam najis dosa dan kemurkaan Allah maka lebih baik aku lumurkan diriku dengan najis dunia yang busuk ini.”

Apabila pemuda itu keluar dari bilik mandi, ia dapati wanita itu sudah menunggunya. Ia melihat sendiri betapa terperanjatnya wanita itu dan wanita itu merasa sangat merasa jijik dengan keadaannya. Lalu wanita itu menjerit marah dan menyuruh pemuda itu keluar dari rumahnya dengan segera.

Lepaslah si pemuda dari dugaan yang amat berat. Dalam perjalanan pulang ia terdengar azan berkumandang.Ia terus balik ke rumah membersihkan diri. Dan dengan perasaan malu dengan bauan yang tak enak pada tubuhnya ia terus melangkahkan kakinya ke masjid.

Setelah selesai solat, pemuda itu menjadi panik apabila semua mata para jemaah tertumpu ke arahnya. Dalam keadaan tersipu-sipu ia mohon maaf. Apabila ia ingin beredar, jemaah masjid mengerumuninya dan bertanya kepadanya dari mana ia mendapat bauan yang sangat wangi itu. Semua ahli jemaah dapat mencium bauan kasturi yang semerbak harumannya..
Dikatakan bahawa bauan itu kekal dalam diri pemuda itu sampai akhir ajalnya. Ia di kenali dengan panggilan Abu Bakar “Al Miski” bermaksud Pemuda Kasturi..

Ingatlah, apabila seseorang melakukan zina ia terjerumus dalam najis dosa yang amat jijik di sisi Allah. Tapi sebelum itu, apabila hatimu tergerak untuk melakukan zina, ia sudah terlebih dahulu terpalit noda walaupun kamu tidak melakukannya. Itulah zina hati namanya.

Sumber: Pondok Habib

23 December 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | | 1 Comment

Berdosa, Bukan Alasan Untuk Menjauh Dari ALLAh

 

Semua manusia pernah berdosa. Pendosa yang baik adalah yang bertaubat setelah berdosa.

Berfikir tentang dosa, tiada siapa yang mahu menambahkan jumlah akaun dosa.

Tiada siapa yang mahu hidup dalam kesesakan dosa. Tapi manusia sentiasa hidup dalam lautan dosa dek akibat perbuatan manusia itu sendiri. Benar, semua orang melakukan salah dan silap yang mengundang dosa besar mahu pun kecil. Tapi itu tidak sepatutnya menjadi alasan untuk manusia membiarkan diri hanyut dalam lautan dosa.

Bila seseorang melakukan salah dan silap, adalah normal manusia itu akan mengelak dari bertembung dengan kesan perbuatan salah dan silap yang telah dilakukan sendiri. Tapi sebenarnya, boleh manusia berpaling daripada ALLAh apabila sering berdosa?

Kalau berpaling dari ALLAh, kepada siapa mohon diampunkan dosa?

Manusia Berdosa, Bukti Kekerdilan Diri

Melalui proses kehidupan rutin sehari-hari, melakukan kesilapan itu adalah sebahagian fitrah dari diri manusia. Tiada siapa yang tidak membuat kesilapan. Saya dan anda semua termasuk dalam golongan orang-orang yang melakukan dosa.

Dan dosa itu pula ada dosa kepada diri sendiri, dosa kepada orang lain, dan dosa terhadap ALLAh SWT. Apabila melakukan menzalimi diri sendiri, perasaan bersalah itu akan terbit dan mungkin akan timbul satu perjanjian dengan diri sendiri bahawa tidak akan melakukan perbuatan itu lagi.

Begitu juga halnya dengan manusia lain. Rasa bersalah itu pasti ada. Dan adakalanya perasaan bersalah itu menghantui diri sendiri. Kadang-kadang juga, kerana ego yang tinggi, perasaan bersalah terhadap orang lain itu akan ditenggelamkan dengan ungkapan, “alahh, biarlah.”

Kata hati manusia adalah saksi tentang dosa yang ada pada manusia. Pada saat seseorang melakukan perkara yang salah, kata hatinya akan menyalahkan dia, menuduh dan menghukum diri dengan perasaan rasa bersalah. Tetapi kerana keegoan yang berjaya meninggi dalam diri, maka perasaan bersalah itu diketepikan dan dibiarkan berlalu dan kalau boleh, berusaha mengelak untuk memikirkan perkara tersebut.

Tapi, bagaimana dosa manusia dengan ALLAh Ta’ala?

Apabila kita terbuat salah dengan seseorang manusia misalnya, akibat dirundung oleh perasaan bersalah, setelah meminta maaf, tingkah laku kita apabila berhadapan dengan orang yang pernah kita buat salah itu akan tidak sama seperti sebelumnya. Sebolehnya, manusia akan mengelak dan mengelak. Oh, itu normal.

Tetapi, dengan ALLAh Ta’ala, manusia tidak akan sesekali dapat berbuat demikian. Mungkin jasad kelihatan akan mengelak dari bertemu dengan ALLAh; tidak solat, tidak menghadiri majlis ilmu, mengelak bertembung dengan orang-orang alim agama. Tetapi hakikatnya, hati yang diciptakan suci secara fitrah itu akan menghasilkan suatu perasaan bersalah yang mengecam jiwa.

Apabila manusia tidak menghiraukannya, maka percayalah, kehidupan seseorang itu tidak akan pernah tenang walaupun zahirnya penuh kebahagiaan.

“Dan mereka mengingkarinya kerana kezaliman dan kesombongan (mereka) pada hal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” (An-Naml: 14)

Kalau manusia berbuat demikian, adakah ALLAh Ta’ala yang rugi?
Tidak! Sesekali tidak!

Hei. ALLAh Ta’ala yang menciptakan manusia. Dan ALLAh tidak akan rugi dan berkehendak pun kepada manusia jika manusia memalingkan diri dari-Nya. Sebaliknya manusia yang sangat-sangat bergantung dan memerlukan ALLAh dalam hidupnya.

Firman Allah SWT,

“Wahai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah, dan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” – Fathir : 15

Banyak Dosa, Tidak Layak Memohon Ampun ALLAh

Tidak layak memohon ampunan dari ALLAh SWT?

Mungkin ramai manusia yang akan beranggap sedemikian terhadap diri mereka sendiri. Jika ditanya kenapa, kerana mereka merasakan yang diri mereka sangat-sangat berdosa sebelum ini. Hanyasanya disapa dengan perasaan ingin kembali kepada Tuhan, maka mereka ada kesedaran kekerdialan sebagai hamba ALLAh.

Dan salah satu yang menjadi halangan ialah perasaan yang sedemikian. Perbuatan silam yang banyak mengundang dosa membuat segelintir manusia merasa sangat hina dihadapan ALLAh dan merasa tidak layak memohon ampun daripada ALLAh. Dan diantara manusia yang berfikiran seperti itu, ada yang kembali kepada ALLAh. Dan ada juga yang semakin jauh dari ALLAh.

Kenapa? Apakah pendosa tiada peluang mendapat keampunan ALLAh Ta’ala?

Tidak. ALLAh itu Maha Pengampun. Antara buktinya, saat seseorang manusia melakukan dosa, masa itu jika ALLAh berkehendak, boleh aja ALLAh mencabutnya nyawanya dalam kehinaan dan menjadi iktibar kepada manusia lain. Tapi, bersyukurlah seandainya pada saat anda melakukan dosa yang terhijab dari pandangan manusia lain, anda masih diberikan peluang untuk bernafas.

Dosa yang anda lakukan saat itu, hanya anda dan ALLAh Ta’ala yang tahu. ALLAh memelihara keaiban anda daripada diketahui oleh orang lain, disebabkan boleh jadi ALLAh ingin memberi anda peluang memeluk kesedaran dari perbuatan tersebut dan bertaubat serta berdoa kepada ALLAh Ta’ala.

Hidup ini, kadang-kadang sentuhan dari ALLAh Ta’ala itu dari pelbagai arah dan ketika tanpa disedari oleh manusia.

Maka, apa yang perlu dilakukan? Bawalah diri yang terasa penuh kehinaan itu menghadap ALLAh Ta’ala. Percayalah, perasaan menghadap ALLAh beserta rasa kehinaan terhadap Tuhan itu ada ketenangan yang ALLAh akan campakkan dalam jiwa manusia yang kembali mengetuk pintu ALLAh.

Berdoa Memohon Akan Keampunan

Suatu masa dahulu, seorang Mak Cik pernah berkata -semoga beliau ditempatkan di tempat orang-orang yang mendapat kemuliaan di sisi ALLAh- yang manusia masuk syurga bukan kerana amalan manusia yang banyak. Tetapi manusia masuk syurga kerana rahmat dari ALLAh Ta’ala. Lalu beliau berpesan, banyakkan berdoa dan menangis ketika berdoa. Dengan doa, keajaiban akan muncul dengan izin ALLAh Ta’ala.

Buang perasaan yang memakan diri, iaitu perasaan tidak layak memohon keampunan dari ALLAh Ta’ala dek kerana selautan dosa yang pernah dilakukan. Sebaliknya, tukar dengan perbuatan sungguh-sungguh mengerjakan amalan yang sudah lama ditinggalkan.

Yang paling penting, banyakkan berdoa. Doa itu penghubung antara seseorang hamba dan Tuhannya. Doa itu menjadi antara salah satu saluran manusia dengan Tuhan untuk saling berkomunikasi. Saya teringat sebuah hadis Rasulullah SAW,

“Sesiapa antara kamu yang dibukakan pintu hatinya supaya berdoa, nescaya Allah bukakan padanya pintu-pintu rahmat. Dan tidak ada doa yang dipohon itu yang lebih disukai Allah selain daripada memohon kemaafan (keselamatan di dunia dan akhirat).” – HR. Tirmizi

Dalam berdoa, berdoalah dengan penuh kerendahan diri dihadapan ALLAh Ta’ala. Usai selepas solat, ambillah masa beberapa minit untuk memuja dan memuji ALLAh seterusnya memohon keampuan dari-Nya. Selepas itu, dengan kudrat yang masih kuat, berusahalah untuk mendirikan solat diwaktu malam.

Solat diwaktu malam itu lebih tenang untuk berkhalwat dengan Tuan Punya Dunia. Dan doa-doa pada waktu itu juga boleh jadi tiada hijab. MashaAllah.

Sabda Baginda SAW,

“Sesungguhnya Tuhanmu yang Maha Suci lagi Maha Tinggi itu pemalu lagi mulia. Dia malu terhadap hamba-hamba-Nya yang mengangkat tangan berdoa, tiba-tiba tidak diberi oleh-Nya akan permintaan itu.” – HR. Tirmizi & Abu Daud

Dan apa yang patut anda pagarkan dengan pagar duri besi atau apa-apa sahajalah, ialah anda berusaha sedaya-upaya dan berjanji kepada diri dan kepada ALLAh Ta’ala bahawa anda akan berusaha untuk tidak melakukan dosa seperti yang pernah dilakukan sebelum ini.

Semuanya tidak mudah. Kerana hakikat kekuatan kudrat itu datangnya daripada ALLAh Ta’ala. Maka, mohonlah diberikan kekuatan untuk melawan nafsu liar yang ada dalam diri. Saya pernah terbaca sebuah hadis daripada Nabi SAW. Begini..

“Seorang Mukmin melihat dosanya bagaikan seseorang duduk dibawah gunung dan takut kejatuhan gunung itu.” -HR. Bukhari

Merasa susah dengan ungkapan doa? Naaa. Ketika berdoa, ungkapkan sahaja yang terlintas didalam hati. Percayalah, lintasan itu ALLAh Ta’ala sebenarnya yang bagi. Menurut ulama’ Tasawwuf, apabila seseorang ALLAh ringankan lidahnya untuk berdoa, maka sebenarnya dengan rahmat ALLAh, doa itu akan diperkenankan. Subhanallah~

Bukan mudah seseorang hamba ALLAh menggerakkan hati dan lidahnya untuk konsisten dalam berdoa jika tidak kerana hidayah dan taufik dari ALLAh. Maka, jangan pernah sudah cukup dengan hidayah yang ALLAh berikan. Minta dan mintalah lagi untuk sentiasa dipelihara ALLAh pada jalan kebenaran ini.

Hati sedang jauh dari ALLAh? Maka, ambillah langkah untuk dekat pada-Nya!

Peringatan yang lebih untuk diri saya sendiri. Kerana saya juga makhluk pendosa yang sering melakukan dosa. Memohon dengan rahmat dan inayah dari ALLAh, moga ALLAh tidak melepaskan saya dari genggaman-Nya. Dan doa yang sama untuk anda semua.

Mungkin satu peringatan yang biasa untuk diri saya terutamanya. Kita dimuka bumi, bukan siapa-siapa dan tiada nilai jika tiada rahmat ALLAh Ta’ala bersama dalam kehidupan! Dan ingatlah duhai diri, kepada ALLAh tempat kembali~

Pssst! Sahabat, dengan dosa, manusia tidak akan sampai ke mana. Tapi memohon keampuanan atas segala dosa itu, boleh jadi ALLAh Ta’ala akan memuliakan manusia. Maka, apakah pilihan yang kita ada selain membawa diri kembali pada-Nya?

Sumber: Cinta Ilahi

19 December 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

Baca Quran

Al Quran and boy

 

Hendaklah seseorang itu membaca al-quran sekurang-kurangnya setiap kali solat empat halaman iaitu satu juzuk sehari dan sekurang-kurangnya satu bulan khatam sekali.

Hendaklah seseorang itu membaca al-quran dgn taddabbur yakni memahami makna-makna di dalam al-quran kerana mentaddabbur dan menghayati makna-makna dlm al-quran ini adalah penyembuh kepada hati kita dan sebagai makanan kepada roh kita.

Seperti mana ditanyakan kepada Sayyidina Abdullah "Apakah ubat kepada penyakit hati iaitu dgn menghayati maksud-maksud dlm al-quran..dan tidak akan kita faham al-quran dgn kita pelajari bahasa Arab..Mudah-mudahan dgn mempelajari bahasa Arab ini Allah ﷻ memberikan kefahaman kita kepada al-quran.

Hendaklah kita mengajarkan al-quran kepada anak-anak kita dan menjadikan mereka sentiasa mengingati al-quran dan sentiasa membaca al-quran .

Rasulullah SAW berkata: "Ajarkan anak-anak kamu 3 perkara iaitu;

1)Kasih kepada Allah

2)Kasih kepada Nabi

3)Kasih kepada Al-Quran

Hendaklah kita berakhlak dgn akhlak al-quran lalu Saiditina Aisyah apabila ditanya ; "Bagaimanakah akhlak Rasulullah SAW itu,kata Saiditina Aisyah akhlak Rasulullah SAW adalah al-quran yakni apa yg ada didalam al-quran itu adalah akhlak Rasulullah SAW

 

**Maksud Qalam ini adalah al-quran ini bukan shj dibaca utk mendapatkan pahala tetapi jadikan al-quran ini suatu sistem dlm kehidupan kita yg perlu diamalkan setiap hari.

 

Sumber: Habib Mahdi Bin Abu Bakar Al-Hamid

Majlis Zikrul Hakim/Masjid Ar-Irsyad,Subang Jaya

14 December 2014 Posted by | Ibadah, Tazkirah | | Leave a comment

Tidak sedar syirik dalam doa

    pr0062

     

    ANTARA

    keistimewaan Islam ialah ALLAH Azza wa Jalla menyediakan ruang secara langsung untuk sesiapa sahaja berhubung, memohon, merayu, merintih, meminta dan berdoa mengikut keperluan masing-masing. Sama ada pemimpin atau rakyat biasa, miskin atau kaya, tua atau muda, orang awam atau orang agama, tidak kira latar bangsa dan kedudukannya, di mana sahaja dia berada, kutub selatan atau utara; semua diberikan ruang dan peluang yang sama.

    Berdoa terus kepada ALLAH

    Mintalah kerana ALLAH itu Maha Mendengar. Pohonlah kerana ALLAH itu Maha Memakbulkan. Istighfarlah kerana ALLAH itu Maha Pengampun. Malam atau siang, pagi atau petang, di masjid atau di padang, sambil berdiri atau baring melintang, ALLAH tetap mendengar apa yang kita minta. ALLAH itu sangat dekat dengan hamba-Nya, bahkan lebih dekat daripada apa yang kita sangkakan.

    ALLAH bersedia untuk mendengar, bersedia untuk memberi, bersedia untuk memakbulkan. Bila dan bagaimana? Terserahlah kepada keadilan dan ketentuan-Nya. ALLAH berpesan kepada Baginda SAW: "Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): sesungguhnya Aku (ALLAH) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyahut seruan-ku (dengan mematuhi perintah-Ku), dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku supaya mereka menjadi baik serta betul". (Surah al-Baqarah: 186)

    Dalam ayat lain, ALLAH menyatakan: "Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang (pengetahuan) Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya". (Surah Qaf: 16)

    Justeru, berhubung dan berdoalah secara langsung kepada ALLAH. Selagi mana kita bergelar hamba, selama itulah kita mempunyai hak untuk berdoa. ALLAH tidak pernah mendiskriminasikan hamba-Nya mengikut bangsa, warna kulit, pangkat, jawatan dan harta. Hanya nilai takwa yang membezakan antara manusia.

    Perantaraan dalam doa

    Namun begitu, Islam tetap membenarkan kita untuk mewujudkan perantaraan dalam berdoa. Hal ini disebut sebagai tawasul. Tawassul berasal daripada bahasa Arab wasilah, tawassala-yatawassalu-tawassulan. Tawassul dalam berdoa bermaksud kita menjadikan sesuatu sebagai perantara dalam doa.

    Apakah perkara yang boleh kita tawasul? Ada tawassul yang dibenarkan dan ada tawassul yang diharamkan, bahkan boleh jatuh kepada kesyirikan.

    Tawassul  dibenarkan

    Pertama: Tawassul dengan nama ALLAH. Hal ini berdasarkan firman ALLAH yang bermaksud: "Dan ALLAH mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu". (Surah al-A’raf: 180)

    Tawassul dengan nama ALLAH itu contohnya kita berdoa: "Ya Ghaffar, ighfirli" (Wahai Tuhan Yang Maha Pengampun, ampunilah daku). "Ya Rahman Ya Rahim, irhamni" (Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah Maha Pengasih, kasihanilah daku".

    Tawassul dengan nama-nama ALLAH bermaksud kita memilih dan menyebut nama-nama ALLAH yang sesuai dengan hajat dan permintaan kita. Dengan ketinggian dan kemuliaan nama-nama tersebut kita mohon semoga ALLAH perkenankan hajat kita.

    Kedua: Tawassul dengan amalan soleh sendiri. Kita dibolehkan untuk menyebut amal soleh yang pernah kita lakukan kemudian diikuti dengan berdoa hajat kita. Diharapkan dengan keikhlasan dan keberkatan amal soleh tersebut dapat dimakbulkan hajat kita.

    Hal ini berdasarkan kisah di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari berkenaan tiga lelaki yang terperangkap dalam gua. Ada batu besar yang menutupi pintu gua tersebut. Lalu, seorang berdoa dengan mengatakan dia telah taat kepada ibu bapanya, seorang lagi mengatakan dia hampir berzina tetapi dia tinggalkan zina kerana takutkan azab ALLAH, orang yang ketiga pula berdoa dengan menyebut dia orang yang amanah, memegang amanah yang diberikan kepadanya dan mengembalikan kepada pemiliknya.

    Maka dengan amalan soleh itu mereka berdoa kepada ALLAH agar dibukakan pintu gua tersebut.

    Ketika orang pertama berdoa, batu yang menutupi gua itu terbuka sedikit, sehinggalah cukup doa ketiga-tiga mereka, barulah batu itu berbuka sehingga mereka dapat keluar daripadanya. (Rujuk riwayat al-Bukhari, no 2272)

    Ketiga: Tawassul dengan orang soleh yang masih hidup. Kita boleh berjumpa dengan orang soleh yang akidah dan amal ibadatnya bertepatan dengan al-Quran dan sunnah bagi meminta tolong didoakan kepada kita. Diharapkan dengan kesolehan beliau akan menjadikan doa kepada kita tersebut dimakbulkan.

    Tawassul dengan orang soleh ini dibenarkan dengan syarat orang tersebut masih lagi hidup. Jika seorang yang soleh meninggal dunia, kita tidak dibenarkan untuk bertawasul dengan beliau lagi.Sahabat sering meminta agar Rasulullah SAW berdoa kepada mereka.

    Namun, setelah kewafatan Baginda SAW, sahabat tidak pun pergi ke kubur Rasulullah SAW dan minta untuk didoakan. Contohnya Umar Al-Khatthab  pergi bertemu dengan Abbas bin Abdul Muthalib, bapa saudara Nabi dan Umar berkata: "Dulu ketika Nabi masih hidup, kami bertawassul dengan Nabi SAW. Sekarang apabila Nabi telah tiada, orang yang paling mulia dalam kalangan kami adalah kamu, wahai Abbas. Maka berdoalah kamu untuk kami". (Rujuk riwayat al-Bukhari, no 3710)

    Peristiwa ini terjadi ketika Madinah di landa kemarau panjang. Umar meminta Abbas berdoa dan beliau pun berdoa. Tidak lama setelah itu, ALLAH pun menurunkan hujan kepada mereka.

    Doa yang dilarang

    Tawassul yang dilarang adalah seperti meminta daripada berhala, pokok, binatang, memuja makhluk, keterlaluan dalam meminta kepada makhluk sehingga lupa kepada ALLAH, meminta kepada makhluk dan percaya bahawa makhluk tersebut mengabulkan permintaannya, dan tidak meminta kepada ALLAH.

    Begitu juga bertawassul dengan orang yang telah mati. Diharamkan untuk kita menjadikan orang yang telah mati sebagai perantaraan dalam doa kita, walaupun semasa hidup dia seorang yang soleh. Bahkan kepada Rasulullah SAW sendiri.

    Jika dibolehkan sudah pasti Umar al-Khattab tidak berjumpa dengan Abbas untuk minta didoakan. Umar akan terus ke kubur Baginda Rasulullah SAW untuk minta didoakan. Rasulullah SAW lebih lagi mulia dan soleh.

    Justeru, kata-kata dan tindakan Umar ini menunjukkan tidak disyariatkan untuk bertawassul dengan orang yang sudah mati sama ada dengan menyebut "Madad Ya Rasulallah", "Madad Ya Ali", ‘Madad Ya Husain" dan sebagainya seperti yang dilakukan oleh golongan Syiah.

    Namun, pelik dan hairan ada segolongan manusia yang bertopengkan ajaran Ahli Sunnah wal Jamaah, berjubah dan berserban, bermati-matian ingin mempertahankan boleh untuk bertawassul dengan orang yang sudah mati.

    Sebab itu golongan ini ada yang mengunjungi kubur tok guru dan syekh-syekh mereka untuk minta didoakan. Ada yang mengalunkannya dalam nyanyian dan qasidah.

    Semoga ALLAH selamatkan kita daripada hasutan dan ajaran menyeleweng ini sama ada yang berasal dari negara ini atau yang dibawa dari  luar negara. Berdoalah terus kepada ALLAH kerana ruang itu tidak pernah disekat. Sesiapa sahaja dan di mana pun kita berada.

    Berdoalah dengan penuh keikhlasan, ketulusan dan kejelasan tauhid kepada-Nya. Jangan sampai ada unsur syirik yang tidak kita sedari. Yakinlah ALLAH tidak pernah mungkiri janji. Setiap permintaan akan diberi. Sabar dan terus menanti walaupun sampai akhirat nanti.

    Oleh: USTAZ ABDUL RAZAK ABDUL MUTHALIB
    Sumber: Sinar Harian

12 December 2014 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

Ada ke Tasawwuf dalam Islam?

Perkataan tasawuf dan ahli sufi sering kita dengar dalam masyarakat, akan tetapi bagaimana mengenal ahli taswauf / sufi yang sebenarnya ? Kita tidak tahu. Oleh sebab itu kita lihat ramai orang terjebak dengan ajaran sesat yang berlindung di sebalik nama tasawuf atau ahli sufi.

Ajaran sesat yang berlindung di sebalik nama tasawuf ini telah timbul sebelum Imam Al-Ghazali. Sejak agama Islam tersebar luas keseluruh pelosok dunia dan bukan sahaja disekitar negara arab tapi juga disekitar Rom dan Parsi.

Pelbagai budaya telah diserap masuk ke dalam Islam. Hasilnya banyak juga fahaman yang berasal dari budaya lain telah menyerap masuk kedalam masyarakat Islam. Kesempatan inilah yang telah diambil oleh musuh Islam untuk merosakkan Islam dengan orang Islam sendiri.

Dalam kitab " Tuhfah Al-Raghibin Fi Bayan Haqiqatu Iman Al-Mu'minin " oleh 'Alim Al-Fadhil Muhmammad Arshad telah menyatakan terdapat tiga belas golongan berfahaman sesat yang berlindung di sebalik nama sufi atau ahli tasawuf. Golongan ini layak digelar sebagai kafir atau fasiq. Kerana ajaran-ajaran mereka bertentangan dengan ajaran Islam yang berpandukan Al-Quran dan sunnah Rasulullah S.A.W Golongan tersebut ialah :

1. HABIBIYYAH

Apabila seseorang itu telah sampai kepada martabat kasih kepada Allah, maka mereka terlepas dari taklif syara'. Segala yang haram menjadi halal. Solat fardu, puasa dan sebagainya adalah tidak perlu bagi mereka untuk mengerjakannya.

Golongan mereka tidak perlu menutup aurat.

Apabila mereka sampai ke tahap yang paling tinggi sekali yakni kasih kepada Allah, segala dosa besar seperti zina, minum arak dan sebagainya boleh dilakukan dan tidak mendapat azab daripada Allah.

Segala ibadat zahir tidak perlu dilakukan dan mereka hanya perlu bertafakkur sahaja untuk beribadat.

Harus bagi mereka untuk bersetubuh dengan segala perempuan.

Segala harta didunia ini adalah milik anak Adam. Dan kita semua adalah dari keturunan anak Adam, jadi kita berhak segala harta yang berada di muka bumi ini.

2. AULIYAIYYAH

Apabila seseorang itu sampai kepada darjat wilayah, mereka bebas dari segala perintah dan larangan dan martabat wali lebih mulia dari martabat Nabi.

3. THAMRAKHIYYAH

Golongan ini antara lain, bahawa tidak lagi terikat dengan perintah dan larangan Allah. Golongan ini mengharuskan menyanyi dengan segala alat muzik. Mereka diharuskan untuk berzina dan sebagainya. Golongan ini diasaskan oleh Abdullah Thamrakhiyyah.

4. IBAHIYYAH

Golongan ini tidak perlu melakukan kerja-kerja mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran kerana kita sendiri tidak mampu melakukan kerja-kerja tersebut apa lagi untuk mengajak orang lain.

Golongan ini mengharuskan zina dan tidak berdosa.

5. HALIYAH

Diharuskan menari dan bertepuk tangan sambil menyanyi sehingga pengsan.

Kata mereka bahawa " Syeikh kami berada dalam suatu hal ".

6. HURIYYAH

Iktiqad golongan ini hampir sama dengan iktiqad golongan Haliyah, cuma mereka menambah waktu pengsan ketika menyanyi, ketika itu seolah merasa didatangi oleh bidadari daripada syurga lalu kami jima' dengan mereka dan setelah sedar kami mandi junub.

7. WAQI'IYYAH

Iktiqad golongan ini ialah bahawa kita tidak perlu kenal Allah Taala. Ini kerana kita ini lemah sebagai seorang hamba. Jadi kita tidak perlu mengenal Allah.

8. MUTAJAHILIYYAH / MUTAHALLIYYAH

Golongan ini memakai pakaian-pakaian yang bagus dan melakukan pekerjaan fasiq. Antara kata mereka bahawa: Kami tidak dapat lari dari melakukan zina.

9. MUTAKASILAH

Golongan ini malas bekerja. Kerja mereka hanyalah meminta-minta atas nama zakat atau sedekah.

10 ILHAMIYYAH

Iktiqad golongan ini sama seperti al-Dahriyyah. Golongan ini malas belajar dan membaca Al-Quran. Dalam pandangan mereka, Al-Quran itu hanya merupakan hijab untuk mengenal Allah. Karana itu mereka hanya mempelajari syair-syair dan kata hikmah sahaja sebagai tarekat mereka.

11. HULULIYYAH

Golongan ini beriktiqad bahawa setiap makhluk bersatu dengan Allah Taala.

Golongan ini beriktiqad bahawa harus kita memandang kepada perempuan yang cantik dan boleh menari dan memeluknya. Kerana sifat cantik itu adalah sifat Allah yang dianugerahkan kepada kita semua.

Apabila seseorang itu hilang dari hawa nafsu dan ikhlas kepada Allah, maka gugurlah segala amal syariat. Segala ibadah seperti solat, puasa, zakat dan sebagainya.

12. WUJUDIYYAH

Iktiqad golongan ini berdasarkan kepada tafsir kalimah " La Ilaha Illallah " iaitu tidak wujud melainkan wujud Allah. Dan pandangan mereka bahawa tidak maujud melainkan dalam kandungan wujud segala makhluk. iaitu setiap makhluk terdapat wujud Allah. Allah dan makhluk adalah dari satu jenis dan sebangsa. Golongan ini juga beriktiqad bahawa tuhan mempunyai ruang dan waktu.

13. MUJASSIMAH

Golongan ini beriktiqad bahawa Allah mempunyai anggota seperti tangan, kaki, berdaging dan sebagainya.

Golongan ini beriktiqad bahawa Allah Taala itu berupa tetapi tidak tahu bagaimana rupanya.

Golongan ini beriktiqad bahawa Allah Taala bergerak naik atau turun. Dan tempat kediaman Allah Taala ialah di atas 'Arash.

Itulah di antara fahaman-fahaman yang tersebar dikalangan umat Islam sejak dahulu. Fahaman-fahaman ini tersebar dari satu generasi ke satu generasi sehingga sampai ke hari ini. Fahaman ini mendapat pengaruh umat Islam di seluruh dunia. Oleh itu kita harus benar-benar boleh melihat dan menghindari fahaman-fahaman seperti ini.

Dari : Hamba ALLAH

LIKE:
Jom Dakwah Bersama Ulama

#malaysia, #indonesia #singapore #pattani #brunei #rohingya #turkey #palestine

PLEASE TAG & SHARE . INSYAALLAH

 

Perkataan tasawuf dan ahli sufi sering kita dengar dalam masyarakat, akan tetapi bagaimana mengenal ahli taswauf / sufi yang sebenarnya ? Kita tidak tahu. Oleh sebab itu kita lihat ramai orang terjebak dengan ajaran sesat yang berlindung di sebalik nama tasawuf atau ahli sufi.

Ajaran sesat yang berlindung di sebalik nama tasawuf ini telah timbul sebelum Imam Al-Ghazali. Sejak agama Islam tersebar luas keseluruh pelosok dunia dan bukan sahaja disekitar negara arab tapi juga disekitar Rom dan Parsi.

Pelbagai budaya telah diserap masuk ke dalam Islam. Hasilnya banyak juga fahaman yang berasal dari budaya lain telah menyerap masuk kedalam masyarakat Islam. Kesempatan inilah yang telah diambil oleh musuh Islam untuk merosakkan Islam dengan orang Islam sendiri.

Dalam kitab " Tuhfah Al-Raghibin Fi Bayan Haqiqatu Iman Al-Mu’minin " oleh ‘Alim Al-Fadhil Muhmammad Arshad telah menyatakan terdapat tiga belas golongan berfahaman sesat yang berlindung di sebalik nama sufi atau ahli tasawuf. Golongan ini layak digelar sebagai kafir atau fasiq. Kerana ajaran-ajaran mereka bertentangan dengan ajaran Islam yang berpandukan Al-Quran dan sunnah Rasulullah S.A.W Golongan tersebut ialah :

1. HABIBIYYAH

Apabila seseorang itu telah sampai kepada martabat kasih kepada Allah, maka mereka terlepas dari taklif syara’. Segala yang haram menjadi halal. Solat fardu, puasa dan sebagainya adalah tidak perlu bagi mereka untuk mengerjakannya.

Golongan mereka tidak perlu menutup aurat.

Apabila mereka sampai ke tahap yang paling tinggi sekali yakni kasih kepada Allah, segala dosa besar seperti zina, minum arak dan sebagainya boleh dilakukan dan tidak mendapat azab daripada Allah.

Segala ibadat zahir tidak perlu dilakukan dan mereka hanya perlu bertafakkur sahaja untuk beribadat.

Harus bagi mereka untuk bersetubuh dengan segala perempuan.

Segala harta didunia ini adalah milik anak Adam. Dan kita semua adalah dari keturunan anak Adam, jadi kita berhak segala harta yang berada di muka bumi ini.

2. AULIYAIYYAH

Apabila seseorang itu sampai kepada darjat wilayah, mereka bebas dari segala perintah dan larangan dan martabat wali lebih mulia dari martabat Nabi.

3. THAMRAKHIYYAH

Golongan ini antara lain, bahawa tidak lagi terikat dengan perintah dan larangan Allah. Golongan ini mengharuskan menyanyi dengan segala alat muzik. Mereka diharuskan untuk berzina dan sebagainya. Golongan ini diasaskan oleh Abdullah Thamrakhiyyah.

4. IBAHIYYAH

Golongan ini tidak perlu melakukan kerja-kerja mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran kerana kita sendiri tidak mampu melakukan kerja-kerja tersebut apa lagi untuk mengajak orang lain.

Golongan ini mengharuskan zina dan tidak berdosa.

5. HALIYAH

Diharuskan menari dan bertepuk tangan sambil menyanyi sehingga pengsan.

Kata mereka bahawa " Syeikh kami berada dalam suatu hal ".

6. HURIYYAH

Iktiqad golongan ini hampir sama dengan iktiqad golongan Haliyah, cuma mereka menambah waktu pengsan ketika menyanyi, ketika itu seolah merasa didatangi oleh bidadari daripada syurga lalu kami jima’ dengan mereka dan setelah sedar kami mandi junub.

7. WAQI’IYYAH

Iktiqad golongan ini ialah bahawa kita tidak perlu kenal Allah Taala. Ini kerana kita ini lemah sebagai seorang hamba. Jadi kita tidak perlu mengenal Allah.

8. MUTAJAHILIYYAH / MUTAHALLIYYAH

Golongan ini memakai pakaian-pakaian yang bagus dan melakukan pekerjaan fasiq. Antara kata mereka bahawa: Kami tidak dapat lari dari melakukan zina.

9. MUTAKASILAH

Golongan ini malas bekerja. Kerja mereka hanyalah meminta-minta atas nama zakat atau sedekah.

10 ILHAMIYYAH

Iktiqad golongan ini sama seperti al-Dahriyyah. Golongan ini malas belajar dan membaca Al-Quran. Dalam pandangan mereka, Al-Quran itu hanya merupakan hijab untuk mengenal Allah. Karana itu mereka hanya mempelajari syair-syair dan kata hikmah sahaja sebagai tarekat mereka.

11. HULULIYYAH

Golongan ini beriktiqad bahawa setiap makhluk bersatu dengan Allah Taala.

Golongan ini beriktiqad bahawa harus kita memandang kepada perempuan yang cantik dan boleh menari dan memeluknya. Kerana sifat cantik itu adalah sifat Allah yang dianugerahkan kepada kita semua.

Apabila seseorang itu hilang dari hawa nafsu dan ikhlas kepada Allah, maka gugurlah segala amal syariat. Segala ibadah seperti solat, puasa, zakat dan sebagainya.

12. WUJUDIYYAH

Iktiqad golongan ini berdasarkan kepada tafsir kalimah " La Ilaha Illallah " iaitu tidak wujud melainkan wujud Allah. Dan pandangan mereka bahawa tidak maujud melainkan dalam kandungan wujud segala makhluk. iaitu setiap makhluk terdapat wujud Allah. Allah dan makhluk adalah dari satu jenis dan sebangsa. Golongan ini juga beriktiqad bahawa tuhan mempunyai ruang dan waktu.

13. MUJASSIMAH

Golongan ini beriktiqad bahawa Allah mempunyai anggota seperti tangan, kaki, berdaging dan sebagainya.

Golongan ini beriktiqad bahawa Allah Taala itu berupa tetapi tidak tahu bagaimana rupanya.

Golongan ini beriktiqad bahawa Allah Taala bergerak naik atau turun. Dan tempat kediaman Allah Taala ialah di atas ‘Arash.

Itulah di antara fahaman-fahaman yang tersebar dikalangan umat Islam sejak dahulu. Fahaman-fahaman ini tersebar dari satu generasi ke satu generasi sehingga sampai ke hari ini. Fahaman ini mendapat pengaruh umat Islam di seluruh dunia. Oleh itu kita harus benar-benar boleh melihat dan menghindari fahaman-fahaman seperti ini.

Dari : Hamba ALLAH

Jom Dakwah Bersama Ulama

‪#‎malaysia‬, ‪#‎indonesia‬ ‪#‎singapore‬ ‪#‎pattani‬ ‪#‎brunei‬ ‪#‎rohingya‬ ‪#‎turkey‬‪#‎palestine‬

 

 

Like · · Share

12 December 2014 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | Leave a comment

Kelebihan datang ke Masjid

Datang masjid

 

“Barangsiapa yang pergi ke masjid,Allah sediakan hidangan-hidangan didalam Syurga setiap kali seseorang itu datang ke masjid sama ada diwaktu pagi ataupun petang,dan setiap hidangan didalam Syurga itu bertahan selama 3000 tahun,dan barangsiapa yang meninggal didalam masjid nescaya ia akan masuk Syurga tanpa dihisab,tanpa soal dan diazab kerana ia mati didalam rumah Allah .

Jikalau seseorang itu merasai apabila berada didalam masjid hampir nya Allah nescaya seseorang tidak akan berasa teringin untuk keluar daripada masjid,dan jika seseorang mengetahui hakikat kelebihan masjid nescaya kita tidak akan melangkah keluar daripada masjid.

Dikatakan di kota Tareem yg kecil terdapat lebih kurang 400 buah masjid dimana Para Ulama dan Wali Allah suka membina masjid dan suka beriktikaf didalamnya.Jalan sesuatu masjid diantara masjid yg lain kadang-kala hampir dan hanya berbeza satu jalan sahaja kerana mereka suka beriktikaf dekat dengan rumah mereka.

Dikatakan juga setiap saat seseorang itu berada didalam masjid akan dimasukkan kedalam hatinya rasa tenang dan hampir kepada Allah dan hendaklah seseorang itu menyakini seseorang yg berada didalam masjid mengundang Rahmat Allahﷻ yg turun menimpanya.

Mudah-mudahan Allah memberi taufiq kepada kita semua dan memilih kita sebagai tetamu nya untuk sentiasa berada di dalam masjid.

Sumber: Habib Kadzim Bin Ja’afar Assegaf
Majlis Asma Husna Masjid Ar-Irsyad.


8 December 2014 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | , | Leave a comment

Pintu Neraka

 

pintu-neraka.jpg

"Ketahuilah wahai saudaraku, Jahannam ialah ciptaan Allah SWT yang sangat besar. Jahannam ialah penjara Allah di  Akhirat untuk golongan ateis, Musyrikin, kafir dan munafikin selama-lamanya. Allah SWT berfirman, ‘Kami menjadikan Jahannam sebagai tempat tinggal orang kafir.’ (Surah al-Isra’ 17: 8). Adapun pelaku dosa besar daripada kaum Mukminin, maka mereka akan berada di dalamnya untuk sementara waktu lalu dikeluarkan kembali."

Demikianlah kata-kata Imam Abdul Wahab al-Sya’rani (w. 973) dalam kitab al-Yawaqit wa al-Jawahir.[1] Ucapan beliau membuka perbincangan kita kali ini, iaitu hakikat Neraka Jahannam yang dijadikan tempat untuk menyeksa musuh-musuh Allah SWT di Akhirat.

Makna Jahannam

Sebelum berbincang tentang hakikat makhluk Allah SWT yang sangat menggerunkan ini, ada baiknya kita cuba untuk menelurusi asal kata dan makna perkataan "Jahannam" terlebih dahulu.

Kebanyakan pakar bahasa berpendapat bahawa lafaz ini bukan berasal daripada bahasa Arab, akan tetapi adalah kata asing (sama ada Parsi atau Ibrani) yang diguna pakai dalam bahasa Arab. Ia berasal daripada kata "gehennam" yang bermakna "perigi atau lembah yang sangat dalam dasarnya".

Menurut sebahagian pengkaji moden, perkataan ini pernah digunakan pada zaman kerajaan Mesir kuno. Mereka menggunakan kalimah "Sha en Amu" yang bermakna "tasik api (lake of fire)" bagi menggambarkan seksaan yang disiapkan untuk alam selepas kematian. Perkataan ini mula dikenali oleh bangsa Arab jahiliah hasil interaksi mereka dengan Ahli Kitab (Yahudi) yang tinggal di sekitar Yathrib dan Khaibar. Dalam Taurat, lafaz "Jahannam" digunakan untuk merujuk kepada seksaan api yang sangat pedih di Akhirat.

Apabila al-Quran diwahyukan kepada Muhammad SAW, kalimah ini kembali digunakan. Dalam surah at-Taubah (9) ayat 68 misalnya, Allah SWT berfirman, mafhumnya:

"Allah mengancam orang munafik lelaki dan perempuan, serta orang kafir dengan api Jahannam. Mereka akan kekal di dalamnya."

Sebagai pentafsir al-Quran yang pertama dan utama, Rasulullah SAW banyak menceritakan sifat-sifat Jahannam dalam pelbagai hadis Baginda. Baginda antara lain menyebut bahawa Jahannam sangat luas dan dalam. Meskipun begitu, pada hari Kiamat nanti akan penuh sesak dengan para penghuni Neraka yang berasal dalam kalangan jin dan manusia.

Daripada Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah SAW bersabda, maksudnya:

"Seandainya seketul batu dilemparkan ke dalam Jahannam, maka ia akan menjunam ke dalamnya selama 70 tahun sebelum tiba di dasarnya."(Riwayat Ibn Hibban)

Pintu-pintu Jahannam

Oleh sebab Jahannam begitu luas dan boleh menampung jutaan manusia, maka disediakan tujuh buah pintu sebagai akses untuk masuk ke dalamnya. Setiap pendosa akan dicampakkan ke dalam Jahannam melalui salah satu daripada pintu-pintu yang sesuai dengan kadar dosa masing-masing.

Setelah semua ahli Neraka masuk, pintu-pintu itu ditutup untuk selama-lamanya.

Allah SWT berfirman, mafhumnya:

"Dan sesungguhnya Neraka Jahannam itu, tempat yang dijanjikan bagi sekalian mereka (yang menurutmu). Jahannam mempunyai tujuh pintu; bagi tiap-tiap sebuah pintu ada bahagian yang tertentu daripada mereka (yang sesat dan menyesatkan itu)." (Surah al-Hijr 15: 43-44)

Sebahagian mufasirin cuba untuk menyenaraikan nama-nama bagi setiap pintu-pintu ini, namun semua riwayat berkenaan perkara ini tidak ada yang sahih daripada Nabi SAW. Paling tinggi, riwayat ini hanya berakhir kepada tokoh-tokoh tabiin seperti Ibn Juraij dan lain-lain.

Imam al-Baihaqi berkata dalam Syu’ab al-Iman, "Kami meriwayatkan dalam sebuah hadis mursal bahawa pintu-pintu Jahannam ada tujuh iaitu Jahannam, Laza, Hutamah, Sa’ir, Saqar, Jahim dan Hawiyah. Sebahagian ulama berkata, ‘Jahannam ialah nama untuk semua tingkat Neraka. Tingkat-tingkat ada tujuh, beliau lalu menyebutkan nama-nama ini dan nama al-Hariq.’"[2]

Pendapat yang menyatakan bahawa Jahannam merupakan nama bagi keseluruhan Neraka adalah pilihan kebayakan ulama seperti al-Qurtubi, al-Sya’rani dan lain-lain.

 

Tingkat-tingkat Jahannam

Dalam kitab al-Ba’thu wa al-Nusyur, Imam al-Baihaqi meriwayatkan daripada Ali bin Abi Talib, "Pintu-pintu Neraka seperti ini." Beliau menjarakkan keempat-empat jarinya untuk menunjukkan bahawa setiap pintu berada di atas pintu yang lain. Sanad riwayat ini terdiri daripada tokoh-tokoh perawi yang dipercayai.

Ucapan Sayidina Ali ini menunjukkan bahawa kedudukan pintu-pintu Jahannam tidak sejajar, akan tetapi bertingkat-tingkat. Sebahagiannya lebih rendah daripada yang lain, begitu juga tingkat azab yang tersedia di dalamnya. Tingkat darjat ahli Neraka yang terus merendah disebut "darakat", sementara tingkat ahli Syurga yang terus meninggi disebut "tabaqat".

Setiap orang akan ditempatkan sesuai dengan dosa-dosanya. Semakin besar maksiat yang dilakukan, semakin dalam dan rendah kedudukannya di Neraka. Allah SWT mengkhabarkan bahawa kaum munafikin berada di tingkat yang paling rendah (dark al-asfal) di dalam Neraka untuk menunjukkan bahawa dosa nifak merupakan dosa yang paling buruk di sisi Allah SWT.

 

Mengapa Tujuh Pintu?

Anda mungkin bertanya, "Jika pintu Syurga ada lapan atau lebih sebagaimana yang akan dihuraikan nanti, mengapa jumlah pintu Neraka hanya tujuh?"

Jawapan kepada soalan ini cukup beragam. Setiap ulama menjawab mengikut pemahaman masing-masing. Hal ini kerana tiada satu pun ayat al-Quran atau hadis sahih yang secara terang menjelaskan perkara ini.

Jawapan paling menarik menurut saya adalah sebagaimana yang diajukan oleh Syeikh Mahmud bin Abdillah al-Alusi (w. 1207H) dalam tafsirnya Ruh al-Ma’ani, "Hikmah pembatasan bilangan pintu-pintu Neraka itu kemungkinan kerana kebinasaan manusia berpunca daripada lima pancainderanya (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit) serta syahwat dan emosi."

Hal ini membawa maksud, penyebab manusia masuk ke dalam Neraka adalah pada tujuh anggotanya, maka pintu-pintu Neraka juga berjumlah tujuh buah pintu. Setiap orang ahli Neraka akan dicampakkan melalui pintu-pintu yang disesuaikan dengan amalan masing-masing.

Jika seseorang itu suka bermaksiat dengan matanya di dunia, maka dia akan dilemparkan ke dalam Neraka melalui salah satu daripada pintu yang dikhaskan untuknya. Manakala sesiapa yang suka bermaksiat dengan lidahnya, maka telah disediakan pintu khas untuknya. Begitulah seterusnya sehingga ia meliputi semua orang yang telah ditetapkan masuk ke dalam Neraka.

Sebaliknya, sesiapa yang selalu menjaga ketujuh-tujuh anggota ini daripada maksiat, maka tertutuplah pintu-pintu Jahannam itu di hadapannya. Bagi orang seperti ini, Syurga ialah tempat yang paling sesuai baginya.

Dalam hadis riwayat Ibn Hibban, Nabi SAW bersabda, maksudnya:

"Jaminlah bagiku enam perkara daripada tubuhmu, maka aku menjamin untukmu Syurga, iaitu jujurlah jika kamu berbicara, tepatilah jika kamu berjanji, sampaikanlah jika kamu diberi amanat, jagalah kemaluanmu, tundukkanlah pandanganmu dan jagalah tanganmu." (Riwayat Ibn Hibban)

Apakah Strategi Kita?

Pengetahuan tentang hakikat Neraka Jahannam ini hendaklah menjadi satu peringatan bagi kita. Ia mestilah mampu mendorong kita untuk mempersiapkan apa-apa yang perlu selagi kita masih berada di muka bumi ini.

Caranya boleh disesuaikan dengan keadaan masing-masing. Perkara yang paling tinggi nilainya di sisi Allah SWT ialah amalan yang paling ikhlas diniatkan kerana-Nya.

Al-Hafiz Ibn Abi al-Dunia meriwayatkan daripada Hisyam bin Hasan, seorang ulama tabiin di Basrah kisah berikut:

Suatu ketika, saya pergi haji bersama suatu rombongan, lalu kami menginap di tengah jalan. Salah seorang daripada kami membaca sepotong ayat yang berbunyi, "Ia (Jahannam) mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu daripada mereka." (Surah al-Hijr 15 ayat 43 hingga 44)

Apabila mendengar ayat ini, seorang wanita Arab sangat tersentuh. Beliau berkata kepada orang yang membacanya "Bolehkah anda mengulangi ayat itu?" Orang itu segera mengulangi bacaannya.

Kemudian wanita itu berkata, "Aku memiliki tujuh orang hamba di rumah. Maka saksikanlah bahawa aku telah memerdekakan mereka semua. Semoga setiap orang daripada mereka menjadi penutup bagi setiap pintu daripada pintu-pintu Jahannam."

Semoga Allah SWT merahmati wanita Arab yang sangat cerdas ini. Beliau telah melakukan apa yang mampu untuk menutup pintu-pintu Jahannam itu daripada dirinya.

Mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, "Apa yang telah dan akan kita lakukan untuk menutup pintu-pintu ini daripada kita?"

Semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

______________

Catatan Kaki:

1. Al-Yawaqit wa al-Jawahir, op. cit., hal. 619.

2. Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, jilid 8, hal. 348-349.

Neraka ada 7 pintu sebgmana firman Allah SWT dlm surah Al-Hijr, ayat 44 yg bermaksud, "Neraka itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu daripadanya ada bahagian yg sudah ditentukan".

Neraka itu mempunyai tujuh lapisan, iaitu

a) Jahaman

b) Saqar

c) Lazha

d) Huthamah

e) Sa’iir

f) Jahiim

g) Hawiyah – yg satu di bawah yg lain.

Semua lapisan neraka yg tujuh itu telah diasak dg pelbagai penyiksaan yg berat, hukuman yg dahsyat serta penghinaan yg keji, meskipun antara satu lapisan dg yg lain berbeza-beza jenis penyeksaannya, yg lebih bawah lebih berat dan dahsyat drp yg di atas.

Di bawah dipaparkan beberapa Firman Allah SWT ttg siksa dlm neraka dlm Al-Quran.

1) Surah al-Kahf ayat 29 yg bermaksud,

"Kami menjadikan neraka itu utk orang-orang yg bersalah, sdgkan keadaan mereka dilingkungi oleh pagarannya. Dan jika mereka meminta minum, akan diberi minum air dari tembaga yg mendidih yg blh menghanguskan muka. Sangatlah buruk minuman itu dan sangatlah jahat tempat mereka itu"

2) Surah Al-Nisa ayat 56 yg bermaksud,

"Sesungguhnya orang-orang yg tiada beriman dg keterangan-keterangan Kami, nanti Kami akan masukkan mereka ke dlm neraka, setiap kali kulit mereka hangus, Kami akan ganti dengan kulit yg lain, supaya mereka merasa seksaan, sesungguhnya Tuhan itu Maha Kuasa lagi Bijaksana"

3) Surah Al-Humazah ayat 4-9

"Dia akan dilontarkan di tempat yg menghancurkan. Dan apakah engkau tahu , apakah tempat yg menghancurkan itu? Api dlm neraka yg dinyalakan Tuhan. Yang (panasnya) naik ke pangkal hati. Sesungguhnya api ditutup di atas mereka. Dlm tiang yg memanjang".

Ingat api neraka sangat panas. Sebgmana sabda Rasulullah SAW,

"Api yg kamu ada ini adalah satu bahagian drp tujuh puloh bahagian api neraka Jahanam. Para sahabat berkata, ‘Yang ini pun sudah mencukupi (beratnya)’. Sabda Nabi SAW, "Bahkan api neraka itu melebihinya (api dunia) sebyk enam puloh sembilan kali, setiap bahagiannya sama panasnya"

Beberapa sabda Rasulullah SAW lagi…

1) "Wahai manusia sekalian’ Menangislah’ Jika tak boleh menangis, maka cuba2lah diri mu menangis-menangis. Kerana sesungguhnya ahli neraka itu akan terus menangis di dlm neraka, hingga air matanya mengalir di pipi masing2, seperti air yg berarus di tali air, sampailah air kering di mata, dan airnya terus mengalir dan mata pun pecah2. Sekiranya ada kapal layar yg dilayarkan di situ, nescaya belayarlah ia".

2) "Ditimpakan ke atas penghuni neraka kelaparan sehingga mereka merasakan kemuncak siksanya. Lalu mereka meminta dibantu dengan makanan, maka merekapun diberikan makanan dari duri kayu yg tiada akan melepaskan mereka dari seksa kelaparan itu. Mereka meminta dibantu lagi, maka diberi pula makanan yg mencekikkan. Lalu mereka teringat bhw mereka pernah meminum minuman yg membakar tekak di dunia, mereka pun meminta minuman itu. Maka diberikan mereka minuman yg mendidih dgn cangkuk2 yg dibuat drp besi2 yg panas. Apabila didekatkannya kpd muka2 mereka, nescaya hanguslah muka2 itu, dan apabila dimasukkan saja kedlm perut2 mereka, nescaya tersoyat-soyat tali petutnya."

3) "Ahli neraka berkata, ‘Wahai Malik (penjaga neraka). Dapatkah kiranya Tuhanmu menghabiskan sahaja kami’, Malik menjawab, ‘Tidak mungkin. Bahkan kamu akan kekal tinggal di sini’ (ingat manusia hanya hidup sekali sahaja. Hidup di akhirat itu kekal selama-lamanya).

4) "Sesungguhnya penghuni neraka yg paling ringan siksaannya (pada hari kiamat), ialah orang yg dipakaikan sepasang kasut yang talinya dibuat drp api neraka, lalu menggelegaklah otaknya lantaran panas dr sepasang kasut tadi, laksana air panas yg menggelegak di dlm periuk. Dia mengira tiada seorang pun yg menerima siksaan yg begitu dahsyat selain dirinya, pada hal dialah orang yg menerima siksa yg paling ringan."

Renunglah bgmana kita hendakkan kesudahan kita yg kekal itu…

Doakan agar kita, ibu bapa, anak cucu, kaum keluarga serta sahabat handai kita terlepas daripada azab neraka.

6 December 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

Gambaran Hari Kiamat………!!!

kiamat2bkota2bhancur

 
– Selepas Malaikat Israfil meniup sangkakala (bentuknya seperti tanduk besar) yang memekakkan telinga, seluruh makhluk mati kecuali Izrail & beberapa malaikat yang lain. Selepas itu, Izrail pun mencabut nyawa malaikat yang tinggal dan akhirnya nyawanya sendiri.

– Selepas semua makhluk mati, Tuhan pun berfirman mafhumnya “Kepunyaan siapakah kerajaan hari ini?” Tiada siapa yang menjawab. Lalu Dia sendiri menjawab dengan keagunganNya “Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” Ini menunjukkan kebesaran & keagunganNya sebagai Tuhan yg Maha Kuasa lagi Maha Kekal Hidup, tidak mati.

– Selepas 40 tahun, Malaikat Israfil a.s. dihidupkan, seterusnya meniup sangkakala untuk kali ke-2, lantas seluruh makhluk hidup semula di atas bumi putih, berupa padang Mahsyar (umpama padang Arafah) yang rata tidak berbukit atau bulat seperti bumi.

– Sekelian manusia hidup melalui benih anak Adam yg disebut “Ajbuz Zanbi” yang berada di hujung tulang belakang mereka. Hiduplah manusia umpama anak pokok yang kembang membesar dari biji benih.

– Semua manusia dan jin dibangkitkan dalam keadaan telanjang dan hina. Mereka tidak rasa malu kerana pada ketika itu hati mereka sangat takut dan bimbang tentang nasib & masa depan yang akan mereka hadapi kelak.

– Lalu datanglah api yang berterbangan dengan bunyi seperti guruh yang menghalau manusia, jin dan binatang ke tempat perhimpunan besar. Bergeraklah mereka menggunakan tunggangan (bagi yang banyak amal), berjalan kaki (bagi yang kurang amalan) dan berjalan dengan muka (bagi yang banyak dosa). Ketika itu, ibu akan lupakan anak, suami akan lupakan isteri, setiap manusia sibuk memikirkan nasib mereka.

– Setelah semua makhluk dikumpulkan, matahari dan bulan dihapuskan cahayanya, lalu mereka tinggal dalam kegelapan tanpa cahaya. Berlakulah huru-hara yang amat dahsyat.

– Tiba-tiba langit yang tebal pecah dengan bunyi yang dahsyat, lalu turunlah malaikat sambil bertasbih kepada Allah SWT. Seluruh makhluk terkejut melihat saiz malaikat yang besar dan suaranya yang menakutkan.

– Kemudian matahari muncul semula dengan kepanasan yang berganda. Hingga dirasakan seakan-akan matahari berada sejengkal dari atas kepala mereka. Ulama berkata jika matahari naik di bumi seperti keadaannya naik dihari Kiamat nescaya seluruh bumi terbakar, bukit-bukau hancur dan sungai menjadi kering. Lalu mereka rasai kepanasan dan bermandikan peluh sehingga peluh mereka menjadi lautan. Timbul atau tenggelam mereka bergantung pada amalan masing-masing. Keadaan mereka berlanjutan sehingga 1000 tahun.

– Terdapat satu telaga kepunyaan Nabi Muhammad SAW bernama Al-Kausar yang mengandungi air yang hanya dapat diminum oleh orang mukmin sahaja. Orang bukan mukmin akan dihalau oleh malaikat yang menjaganya. Jika diminum airnya tidak akan haus selama-lamanya. Kolam ini berbentuk segi empat tepat sebesar satu bulan perjalanan. Bau air kolam ini lebih harum dari kasturi, warnanya lebih putih dari susu dan rasanya lebih sejuk dari embun. Ia mempunyai saluran yang mengalir dari syurga.

– Semua makhluk berada bawah cahaya matahari yang terik kecuali 7 golongan yang mendapat teduhan dari Arasy. Mereka ialah:

ⅰ- Pemimpin yang adil.
ⅱ- Orang muda yang taat kepada perintah Allah.
ⅲ- Lelaki yang terikat hatinya dengan masjid.
ⅳ- Dua orang yang bertemu kerana Allah dan berpisah kerana Allah.
ⅴ- Lelaki yang diajak oleh wanita berzina, tetapi dia menolak dengan berkata “Aku takut pada Allah”.
ⅵ- Lelaki yg bersedekah dengan bersembunyi (tidak diketahui orang ramai).
ⅶ- Lelaki yang suka bersendirian mengingati Allah lalu mengalir air matanya kerana takutkan Allah.

– Oleh kerana tersangat lama menunggu di padang mahsyar, semua manusia tidak tahu berbuat apa melainkan mereka yang beriman, kemudian mereka terdengar suara “pergilah berjumpa dengan para Nabi”. Maka mereka pun pergi mencari para Nabi. Pertama sekali kumpulan manusia ini berjumpa dengan Nabi Adam tetapi usaha mereka gagal kerana Nabi Adam a.s menyatakan beliau juga ada melakukan kesalahan dengan Allah SWT. Maka kumpulan besar itu kemudiannya berjumpa Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. (semuanya memberikan sebab seperti Nabi Adam a.s.) dan akhirnya mereka berjumpa Rasullullah SAW. Jarak masa antara satu nabi dengan yang lain adalah 1000 tahun perjalanan.

– Lalu berdoalah baginda Nabi Muhammad SAW ke hadrat Allah SWT. Lalu diperkenankan doa baginda.

– Selepas itu, terdengar bunyi pukulan gendang yang kuat hingga menakutkan hati semua makhluk kerana mereka sangka azab akan turun. Lalu terbelah langit, turunlah arasy Tuhan yang dipikul oleh 8 orang malaikat yang sangat besar (besarnya sejarak perjalanan 20 ribu tahun) sambil bertasbih dengan suara yang amat kuat sehingga ‘Arasy itu tiba dibumi.

– ‘Arasy ialah jisim nurani yang amat besar berbentuk kubah (bumbung bulat) yang mempunyai 4 batang tiang yang sentiasa dipikul oleh 4 orang malaikat yang besar dan gagah. Dalam bahasa mudah ia seumpama istana yang mempunyai seribu bilik yang menempatkan jutaan malaikat di dalamnya. Ia dilingkungi embun yang menghijab cahayanya yang sangat kuat.

– Kursi iaitu jisim nurani yang terletak di hadapan Arasy yang dipikul oleh 4 orang malaikat yang sangat besar. Saiz kursi lebih kecil dari ‘Arasy umpama cincin ditengah padang . Dalam bahasa mudah ia umpama singgahsana yang terletak dihadapan istana.

– Seluruh makhluk pun menundukkan kepala kerana takut. Lalu dimulakan timbangan amal. Ketika itu berterbanganlah kitab amalan masing-masing turun dari bawah Arasy menuju ke leher pemiliknya tanpa silap dan tergantunglah ia sehingga mereka dipanggil untuk dihisab. Kitab amalan ini telah ditulis oleh malaikat Hafazhah / Raqib & ‘Atid / Kiraman Katibin.

– Manusia beratur dalam saf mengikut Nabi dan pemimpin masing- masing. Orang kafir & munafik beratur bersama pemimpin mereka yang zalim. Setiap pengikut ada tanda mereka tersendiri untuk dibezakan.

– Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Nabi Muhammad SAW, dan amalan yang pertama kali dihisab adalah solat. Sedangkan hukum yang pertama kali diputuskan adalah perkara pertumpahan darah.

– Apabila tiba giliran seseorang hendak dihisab amalannya, malaikat akan mencabut kitab mereka lalu diserahkan, lalu pemiliknya mengambil dengan tangan kanan bagi orang mukmin dan dengan tangan kiri jika orang bukan mukmin.

– Semua makhluk akan dihisab amalan mereka menggunakan satu Neraca Timbangan. Saiznya amat besar, mempunyai satu tiang yang mempunyai lidah dan 2 daun. Daun yang bercahaya untuk menimbang pahala dan yang gelap untuk menimbang dosa.

– Acara ini disaksikan oleh Nabi Muhammad SAW dan para imam 4 mazhab untuk menyaksikan pengikut masing-masing dihisab.

– Perkara pertama yang diminta ialah Islam. Jika dia bukan Islam, maka seluruh amalan baiknya tidak ditimbang bahkan amalan buruk tetap akan ditimbang.

– Ketika dihisab, mulut manusia akan dipateri, tangan akan berkata- kata, kaki akan menjadi saksi. Tiada dolak-dalih dan hujah tipuan. Semua akan di adili oleh Allah Ta’ala dengan Maha Bijaksana.

– Setelah amalan ditimbang, mahkamah Mahsyar dibuka kepada orang ramai untuk menuntut hak masing-masing dari makhluk yang sedang dibicara sehinggalah seluruh makhluk berpuas hati dan dibenarkannya menyeberangi titian sirat.

– Syafaat Nabi Muhammad SAW di akhirat :

ⅰ- Meringankan penderitaan makhluk di Padang Mahsyar dengan mempercepatkan hisab.
ⅱ- Memasukkan manusia ke dalam syurga tanpa hisab.
ⅲ- Mengeluarkan manusia yang mempunyai iman sebesar zarah dari neraka.

(Semua syafaat ini tertakluk kepada keizinan Allah SWT.)

Para nabi dan rasul serta golongan khawas juga diberikan izin oleh Tuhan untuk memberi syafaat kepada para pengikut mereka. Mereka ini berjumlah 70 000. Setiap seorang dari mereka akan mensyafaatkan 70 000 orang yang lain.

Setelah berjaya dihisab, manusia akan mula berjalan menuju syurga melintasi jambatan sirat. Siratul Mustaqim ialah jambatan (titian) yang terbentang dibawahnya neraka. Lebar jambatan ini adalah seperti sehelai rambut yang dibelah tujuh dan ia lebih tajam dari mata pedang. Bagi orang mukmin ia akan dilebarkan dan dimudahkan menyeberanginya.

Fudhail bin Iyadh berkata perjalanan di Sirat memakan masa 15000 tahun. 5000 tahun menaik, 5000 tahun mendatar dan 5000 tahun menurun. Ada makhluk yang melintasinya seperti kilat, seperti angin, menunggang binatang korban dan berjalan kaki. Ada yang tidak dapat melepasinya disebabkan api neraka sentiasa menarik kaki mereka, lalu mereka jatuh ke dalamnya.

Para malaikat berdiri di kanan dan kiri sirat mengawasi setiap makhluk yang lalu. Setiap 1000 orang yang meniti sirat, hanya seorang sahaja yang Berjaya melepasinya. 999 orang akan terjatuh ke dalam neraka.

 

(Rujukan: Kitab Aqidatun Najin karangan Syeikh Zainal Abidin Muhammad Al- Fathani. Pustaka Nasional Singapura 2004).

4 December 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

Jual beli pada hari Jumaat


‎JUAL BELI PADA HARI JUMAAT

Sudah menjadi kebiasaan, disebabkan hari Jumaat adalah hari kerja di Malaysia, lelaki yang bekerjaya terpaksa terkejar-kejar mengambil waktu rehat tengahari untuk makan tengahari dan juga menunaikan solat fardhu Jumaat secara berjemaah. Namun, dalam ketika itu, ramai yang tidak sedar setiap minggu, mereka mungkin membeli makanan yang berulamkan dosa.

Sebelum ini, saya pernah mengulas berkenaan hal ini melalui siaran ‘Tanyalah Ustaz TV9' dan juga wawancara bersama Utusan Malaysia. Namun melihat kepada kekerapan dan kurang sensitiviti kalangan umat Islam di Malaysia khususnya. Satu penulisan ringkas yang khusus berkenaan hal ini adalah perlu.

Persoalan jual beli yang terus berlangsung di kalangan peniaga dan pembeli lelaki selepas azan pada hari Jumaat perlu dipandang serius atau ia akan berterusan. Lebih kurang menyenangkan, apabila melihat peniaga-peniaga ini berkhemah di luar masjid, mengambil untung atas perkumpulan umat Islam yang ingin menunaikan solat Jumaat, sedang mereka menjadi penyebab kepada dosa.

PENGHARAMAN JUAL BELI SELEPAS AZAN DI HARI JUMAAT

Solat Jumaat adalah wajib hanya ke atas lelaki baligh dan bukan wanita. Justeru setiap urusniaga di antara wanita dengan wanita selepas azan pertama atau kedua dikumandangkan pada hari Jumaat adalah sah dan harus. Justeru, ia tidak termasuk di dalam perbincangan para ulama dan bukan pula fokus artikel ini. Ia adalah satu keharusan yang disepakati oleh keempat-empat mazhab terbesar dalam Fiqh Islam.

Demikian juga halnya bagi mereka yang tidak wajib solat jumaat kerana sebab lain seperti sakit, musafir dan sebagainya.

Perbincangan hukum hanya berkisar kepada para lelaki, sama ada peniaga lelaki, pembeli lelaki atau kedua-duanya sekali yang sihat, baligh dan tidak bermusafir.

Asas hukum adalah dari surah al-Jumaat ayat 9 yang maksud-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Ertinya :Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

AZAN PERTAMA ATAU KEDUA?

Walaupun telah ijma'[1] di kalangan ulama akan pengharaman jual beli berdasarkan ayat di atas, mereka berbeza ijtihad dalam menentukan pengharaman itu jatuh selepas azan pertama atau kedua.

Perlu difahami bahawa azan Jumaat di zaman Nabi s.a.w, Abu Bakar as-Siddiq r.a dan Umar r.a hanyalah sekali sahaja, iaitu di ketika khatib (imam) naik ke atas mimbar untuk memulakan khutbah. Di zaman pemerintahan khalifah Uthman r.a, bilangan umat Islam bertambah lalu diperkenalkan azan kedua dan seterusnya ketiga (berfungsi sebagai iqamah).

Namun, hasil daripada kewujudan lebih dari satu azan selepas zaman Uthman, para ulama sekali lagi perlu berijtihad dalam menentukan azan manakah yang mesti tiada lagi jual beli selepasnya. Mazhab Maliki dan Hanbali jelas dan tegas bahawa pengharaman adalah selepas azan kedua iaitu di ketika khatib sudah naik ke atas mimbar, ia juga bertepatan dengan suasana di ketika turunnya ayat Al-Quran, para masa hayat baginda Nabi s.a.w.[2]

Imam At-Tohawi Al-Hanafi menegaskan :-

المعتبر الأذان عند المنبر بعد خروج الإمام ، فإنه هو الأصل الذي كان للجمعة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم

Ertinya : Azan yang terpakai (dalam hal ini) adalah yang ketika keluar imam di atas mimbar, maka itulah yang asal sebagaimana Jumaat di zaman baginda Nabi s.a.w (Mukhtasar at-Tohawi, hlm 24)

Namun demikian, ulama mazhab Hanafi kelihatan mempunyai berbilang pandangan dengan majoriti di antara mereka berijtihad azan kedua adalah ‘pasti haram', cuma terdapat sebahagian besar mereka yang juga berpendapat pengharaman bermula sejak dari azan pertama (azan masuk waktu) lagi atau selepas tergelincirnya matahari pada hari tersebut.[3] Ini bermakna, mazhab Hanafi lebih tegas dalam hal ini dan disepakati oleh keempat-empat mazhab, berjual beli selepas azan kedua adalah haram.

Imam Ibn Kathir Al-Syafie menyebut :

اتفق العلماء على تحريم البيع بعد النداء الثاني

Ertinya : Para ulama bersepakat berkenaan pengharaman jualbeli selepas azan kedua ( Tafsir Ibn Kathir, 4/367)

BERDOSA SAHAJA ATAU AQAD JUGA BATAL?

Walaupun berjualbeli di waktu itu adalah haram yang beerti berdosa atas si penjual dan pembeli, namun adakah aqad jual beli mereka terbatal?

Jika kesalahan ini dilakukan, dosa yang ditanggung adalah satu peringkat, manakala sah batal transaksi itu pula adalah satu peringkat yang lain. Jika aqad tidak sah, beerti pemilikan harga yang diperolehi oleh penjual adalah batal dan demikian juga pemilikan pembeli ke atas barangan beliannya. Jika itu berlaku, beerti kedua-dua mereka menggunakan harta milik orang lain dan berterusan keadaan itu sehingga akhir hayat mereka dalam keadaan penuh syubhat dan bermasalah.

Dalam hal ini, para ulama tidak sepakat dalam menanggapi kesahihan atau terbatalnya aqad. Para Ulama terbahagi kepada dua kumpulan :

Pertama : Aqad adalah sah dan hanya dosa ditanggung oleh penjual dan pembeli. Ia adalah ijtihad dari mazhab Hanafi, Syafie dan sebahagian Maliki.

Kedua : Aqad batal dan berdosa ; Ia adalah pendapat mazhab Hanbali dan majoriti Maliki.

Namun, berdasarkan penelitian, pendapat pertama adalah lebih kukuh, khususnya adalah rukun dan syarat jual beli telah semuanya dipenuhi, kecuali ia melanggar waktu jualan yang diharamkan sahaja, atas kesalahn itu dosa sahaja ditanggung tanpa pembatalan aqad.  

Apapun, amat perlu umat Islam di Malaysia dan dimana sahaja untuk lebih berhati-hati dalam hal ini. Justeru, amat digalakkan agar dapat dinasihatkan kepada para peniaga dan semua warga Muslim yang wajib ke atas solat Jumaat untuk menghindari kesalahan ini. Kita bimbang,akibat kejahilan, ramai yang melanggarnya secara berulang kali.

KESIMPULAN

Kesimpulan, jual beli itu akan jatuh haram hanya apabila:

a) Dilakukan selepas azan kedua sewaktu imam berada di atas mimbar.

b) Dilakukan oleh lelaki (sama ada sebagai peniaga atau penjual) yang wajib solat Jumaat.

c) Mengetahui berkenaan hukum haram ini, dan wajiblah ke atas individu mukallaf untuk mempelajarinya. Wajib pula untuk menyampaikannya bagi yang mengetahui.

Saya amat berharap agar para khatib dapat mengingatkan perkara ini setiap kali mereka berada di atas mimbar, juga diingatkan oleh para bilal sebelum mereka melaungkan azan kedua. Digalakkan pula bagi orang ramai untuk mengedarkan tulisan ini di masjid-masjid bagi menyedarkan orang ramai.

Sekian,

 Nukilan : Ustaz Dr. Zaharuddin Abd Rahman‎

Sudah menjadi kebiasaan, disebabkan hari Jumaat adalah hari kerja di Malaysia, lelaki yang bekerjaya terpaksa terkejar-kejar mengambil waktu rehat tengahari untuk makan tengahari dan juga menunaikan solat fardhu Jumaat secara berjemaah. Namun, dalam ketika itu, ramai yang tidak sedar setiap minggu, mereka mungkin membeli makanan yang berulamkan dosa.

Sebelum ini, saya pernah mengulas berkenaan hal ini melalui siaran ‘Tanyalah Ustaz TV9′ dan juga wawancara bersama Utusan Malaysia. Namun melihat kepada kekerapan dan kurang sensitiviti kalangan umat Islam di Malaysia khususnya. Satu penulisan ringkas yang khusus berkenaan hal ini adalah perlu.

Persoalan jual beli yang terus berlangsung di kalangan peniaga dan pembeli lelaki selepas azan pada hari Jumaat perlu dipandang serius atau ia akan berterusan. Lebih kurang menyenangkan, apabila melihat peniaga-peniaga ini berkhemah di luar masjid, mengambil untung atas perkumpulan umat Islam yang ingin menunaikan solat Jumaat, sedang mereka menjadi penyebab kepada dosa.

PENGHARAMAN JUAL BELI SELEPAS AZAN DI HARI JUMAAT

Solat Jumaat adalah wajib hanya ke atas lelaki baligh dan bukan wanita. Justeru setiap urusniaga di antara wanita dengan wanita selepas azan pertama atau kedua dikumandangkan pada hari Jumaat adalah sah dan harus. Justeru, ia tidak termasuk di dalam perbincangan para ulama dan bukan pula fokus artikel ini. Ia adalah satu keharusan yang disepakati oleh keempat-empat mazhab terbesar dalam Fiqh Islam.

Demikian juga halnya bagi mereka yang tidak wajib solat jumaat kerana sebab lain seperti sakit, musafir dan sebagainya.

Perbincangan hukum hanya berkisar kepada para lelaki, sama ada peniaga lelaki, pembeli lelaki atau kedua-duanya sekali yang sihat, baligh dan tidak bermusafir.

Asas hukum adalah dari surah al-Jumaat ayat 9 yang maksud-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Ertinya :Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

AZAN PERTAMA ATAU KEDUA?

Walaupun telah ijma'[1] di kalangan ulama akan pengharaman jual beli berdasarkan ayat di atas, mereka berbeza ijtihad dalam menentukan pengharaman itu jatuh selepas azan pertama atau kedua.

Perlu difahami bahawa azan Jumaat di zaman Nabi s.a.w, Abu Bakar as-Siddiq r.a dan Umar r.a hanyalah sekali sahaja, iaitu di ketika khatib (imam) naik ke atas mimbar untuk memulakan khutbah. Di zaman pemerintahan khalifah Uthman r.a, bilangan umat Islam bertambah lalu diperkenalkan azan kedua dan seterusnya ketiga (berfungsi sebagai iqamah).

Namun, hasil daripada kewujudan lebih dari satu azan selepas zaman Uthman, para ulama sekali lagi perlu berijtihad dalam menentukan azan manakah yang mesti tiada lagi jual beli selepasnya. Mazhab Maliki dan Hanbali jelas dan tegas bahawa pengharaman adalah selepas azan kedua iaitu di ketika khatib sudah naik ke atas mimbar, ia juga bertepatan dengan suasana di ketika turunnya ayat Al-Quran, para masa hayat baginda Nabi s.a.w.[2]

Imam At-Tohawi Al-Hanafi menegaskan :-

المعتبر الأذان عند المنبر بعد خروج الإمام ، فإنه هو الأصل الذي كان للجمعة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم

Ertinya : Azan yang terpakai (dalam hal ini) adalah yang ketika keluar imam di atas mimbar, maka itulah yang asal sebagaimana Jumaat di zaman baginda Nabi s.a.w (Mukhtasar at-Tohawi, hlm 24)

Namun demikian, ulama mazhab Hanafi kelihatan mempunyai berbilang pandangan dengan majoriti di antara mereka berijtihad azan kedua adalah ‘pasti haram’, cuma terdapat sebahagian besar mereka yang juga berpendapat pengharaman bermula sejak dari azan pertama (azan masuk waktu) lagi atau selepas tergelincirnya matahari pada hari tersebut.[3] Ini bermakna, mazhab Hanafi lebih tegas dalam hal ini dan disepakati oleh keempat-empat mazhab, berjual beli selepas azan kedua adalah haram.

Imam Ibn Kathir Al-Syafie menyebut :

اتفق العلماء على تحريم البيع بعد النداء الثاني

Ertinya : Para ulama bersepakat berkenaan pengharaman jualbeli selepas azan kedua ( Tafsir Ibn Kathir, 4/367)

BERDOSA SAHAJA ATAU AQAD JUGA BATAL?

Walaupun berjualbeli di waktu itu adalah haram yang beerti berdosa atas si penjual dan pembeli, namun adakah aqad jual beli mereka terbatal?

Jika kesalahan ini dilakukan, dosa yang ditanggung adalah satu peringkat, manakala sah batal transaksi itu pula adalah satu peringkat yang lain. Jika aqad tidak sah, beerti pemilikan harga yang diperolehi oleh penjual adalah batal dan demikian juga pemilikan pembeli ke atas barangan beliannya. Jika itu berlaku, beerti kedua-dua mereka menggunakan harta milik orang lain dan berterusan keadaan itu sehingga akhir hayat mereka dalam keadaan penuh syubhat dan bermasalah.

Dalam hal ini, para ulama tidak sepakat dalam menanggapi kesahihan atau terbatalnya aqad. Para Ulama terbahagi kepada dua kumpulan :

Pertama : Aqad adalah sah dan hanya dosa ditanggung oleh penjual dan pembeli. Ia adalah ijtihad dari mazhab Hanafi, Syafie dan sebahagian Maliki.

Kedua : Aqad batal dan berdosa ; Ia adalah pendapat mazhab Hanbali dan majoriti Maliki.

Namun, berdasarkan penelitian, pendapat pertama adalah lebih kukuh, khususnya adalah rukun dan syarat jual beli telah semuanya dipenuhi, kecuali ia melanggar waktu jualan yang diharamkan sahaja, atas kesalahn itu dosa sahaja ditanggung tanpa pembatalan aqad.

Apapun, amat perlu umat Islam di Malaysia dan dimana sahaja untuk lebih berhati-hati dalam hal ini. Justeru, amat digalakkan agar dapat dinasihatkan kepada para peniaga dan semua warga Muslim yang wajib ke atas solat Jumaat untuk menghindari kesalahan ini. Kita bimbang,akibat kejahilan, ramai yang melanggarnya secara berulang kali.

KESIMPULAN

Kesimpulan, jual beli itu akan jatuh haram hanya apabila:

a) Dilakukan selepas azan kedua sewaktu imam berada di atas mimbar.

b) Dilakukan oleh lelaki (sama ada sebagai peniaga atau penjual) yang wajib solat Jumaat.

c) Mengetahui berkenaan hukum haram ini, dan wajiblah ke atas individu mukallaf untuk mempelajarinya. Wajib pula untuk menyampaikannya bagi yang mengetahui.

Saya amat berharap agar para khatib dapat mengingatkan perkara ini setiap kali mereka berada di atas mimbar, juga diingatkan oleh para bilal sebelum mereka melaungkan azan kedua. Digalakkan pula bagi orang ramai untuk mengedarkan tulisan ini di masjid-masjid bagi menyedarkan orang ramai.

Sekian,

Oleh: Ustaz Dr.Mohd Izhar Ariff

Nukilan : Ustaz Dr. Zaharuddin Abd Rahman

28 November 2014 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | Leave a comment

Umat akan berpecah kepada 73 golongan

"Disebutkan di dalam hadis perpecahan ummat Nabi Muhammad ﷺ yang terbahagi kepada 73 golongan/kelompok.Semuanya itu akan masuk neraka kecuali satu.Sahabat bertanya "Siapakah golongan yang selamat itu Ya Rasulullah."Nabi kita menjawab."Golongan yang selamat nanti di hari kiamat itu adalah berpegang teguh dengan cara kehidupanku dan juga para sahabat-sahabatku.Sebagaimana aku dan jug para sahabat-sahabatku.

Jadi perlu didahulu peluang umur dan kesempatan yang Allah bagikan kepada kita ianya sekali dalam seumur hidup.Yang pada waktu kalau kita sudah salah memilih jalan maka kita tidak ada peluang kedua,ketiga dan keempat.

Sebabnya bagaimanapun putaran daripada waktu dan peredaran daripada roda(dunia) ini tidak pernah mundur kebelakang.Dari hari ke hari kita semakin tua semakin dewasa.Kalau dahulu masih anak-anak sekarang sudah dewasa.

Kalau dahulu janggut masih hitam sekarang sudah mulai putih,uban sudah bertaburan di sana sini.Pandangan sudah mulai kabur,gigi sudah banyak yang gugur,cara berjalan juga kadang-kadang maju mundur.

Itu membuktikan yang kita sudah dekat dengan kubur.Jadi kalau begitu sangat mustahak dengan kita mengambil masa,mengambil waktu,mengambil peluang untuk kita mengkaji dan juga untuk kita mempelajari akan jangan sampai kita salah pilih jalan.

Jangan sampai kalau waktu kita menyesal yang pada saat itu penyesalan sudah tidak ada maknannya.Sudah tidak ada ertinya.

Kalau rugi masih ada cara tertentu.Mungkin kita punya peluang yang banyak,bagaimana untuk bisnes yang selanjutnya dengan modal yang berikutnya,dengan usaha yang akan datang.Dengan itu kita akan dapat keuntungan yang lebih banyak.

Tapi kalau kesalahan kita bukan dalam masalah keuntungan,bukan dalam masalah bisnes,bukan dalam masalah hidup.Ketika kesalahan kita dalam memahami dalam menganuti ideologi-ideologi hidup atau akidah atau prinsip hidup.

Ini kalau waktu kita tersalah yang pada saat manusia itu akan sedarkan nanti dengan kematian.Peluang untuk kembali ke dunia itu tidak akan ada.

Maka untuk kita memastikan sebagaimana akhlakku,akidahku,pemikiranku,pengorbananku,perjuanganku,ubudiahku,pengabdianku,cara kehidupan daripada Baginda dapat kita kesan dan dapat kita pelajari.

Tidak ada satu pun yang lepas daripada tatapan Para Sahabat dan tidak ada satu pun yang lepas daripada pengamatan dan catatan daripada salafus soleh secara Nabi kita diangkat sebagai Nabi dan Rasul sampai Nabi kita wafat.

Apa yang kita nak tanyakan pasal hal ehwal Baginda Nabi,akhlak beliau,pergaulan beliau,pakaian beliau,cara makan beliau dan bermacam-macam lagi.Itu semuanya tercatit dan tercatat secara terperinci tidak ada satu pun yang terluput dan yang lemah daripada tatapan Para Sahabat.Mungkin hanya sebahagian kecil.

Dalam segala aspek kehidupan dan dalam segala akhlak kenabian dan kerasulan ternyata sau per sau dibawah tatapan dan pengamatan Para Sahabat.

Jadi makanya dengan kita secara pasti Islam yang sampai kepada kita,ideologi yany sampai kepada kita,akidah yang sampai kepada kita,fahaman yang sampai kepada kita.Itu bukan pengamatan daripada 3,4,5,6 orang manusia tetapi ini pengamatan yang tidak terhitung ramainya.

Maka jangan sesiapa yang komen tentang sahabat Nabi,sesiapa yang salah menyalahkan tentang sahabat,seseorang yang berpandang negatif kepada mereka.Justeru,dia yang akan binasa.

Kenapa?Sebab Allah Sang Pencipta Manusia Pencipta Makhluk dan Semesta Alam telaj menyatakan dan menjelaskan tentang kedudukan Para Sahabat Baginda Nabi kita itu seperti apa.

Allah telah redha dengan mereka dan mereka juga telah redha dengan Allah ﷻ dan mereka juga telah mendapat jaminan syurga daripada Allah ﷻ dan juga Rasulullah ﷺ.

Kata Tuan Guru Syeikh kalau nak bahas mengenai hadis ini mengambil terlalu banyak masa kerana dilihat daripada pelbagai sudut lagi.Tetapi kesimpulan yang dapat dibuat adalah kalau kita nak selamat termasuk dalam golongan yang tidak dimasukkan ke dalam neraka adalah tetap berpegang teguh dengan ASWJ.

Ikut apa yang Rasulullah ﷺ ajarkan dan tinggalkan dan disambung dengan Para sahabat sehingga ke hari ini yang mana ianya tidak akan sesekali putus dengan rantaian sanad ilmu yang telah dibawa oleh Para Ulama kita InshaAllah kita akan selamat dunia dan akhirat hendaknya.

Jangan sesekali terpengaruh dengan ideologi-ideologi,fahaman-fahaman yang kafir mengkafirkan orang lain,menyebarkan fitnah sana sini tanpa menyelidik mengetahui hujung pangkal sesuatu itu.Adakah benar ataupun tidak.Mengatakan ini tak boleh itu tak boleh,membidaahkan sesuatu amalan kebaikan sehingga berlakunya perpecahan sesama ummat Islam sendiri.

Ingatlah yang hak itu hak dan yang batil itu batil.Jangan sesekali memandang negatif akan apa yang ada di dalam Islam termasuk kedudukan Para Sahabat Baginda Nabi

Sumber: Syeikh Nuruddin marbu Al Banjari

21 November 2014 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Mimpi

Bagaimana kalau kira-kira kita bermimpi berjumpa Ulama’, bermimpi berjumpa dengan orang-orang yang soleh, mimpi pergi ke Mekah, mimpi tawaf, mimpi sedang saie, mimpi wukuf di arafah, mimpi sedang berasa di raudhah. Itu semuanya di Antara mimpi-mimpi yang elok.

Itu adalah mimpi-mimpi yang mulia. Nabi kita menyebutkan di dalam hadis, “Tidak terpisah daripada perkara kenabiku melainkan mubashiroh. Apakah itu mubashiroh Ya Rasulullah. Nabi kita menjawab mimpi yang baik yang diimpikan oleh seseorang atau yang dilihat oleh orang lain.

Kalau kita bermimpikan perkara yang baik maka kita boleh menceritakannya kepada orang lain tetapi kalau kita bermimpi perkara yang tidak baik jangan kita ceritakan kepada orang lain.
Jadi kata Ulama’: Di Antara makna tafsiran mimpi bertemu dengan orang-orang yan soleh maka kebaikan dan kesolehan orang itu sedikit sebanyak akan terimbas kepada kita. Sedikit sebanyak kebaikan orang itu akan kita dapatkan kemuliaan daripada orang yang mulia.

Jadi kira-kiranya kebaikan orang yang kita mimpikan itu In syaa Allah ketabahan, kebijaksanaannya, kemuliaanny, kesopanannya, akan terimbas dan menular kepada kita.
Sebagaimana yang kita telah ketahui, segala mimpi-mimpi yang baik itu adalah dari Allah Azzawajalla manakala mimpi yang buruk itu datangnya dari syaitan.

(Al-Allamah Al-Faqih Waliduna Tuan Guru Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki)

Dari : Pencinta Allah & Rasul

21 November 2014 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

Bagaimana Rasulullah Mengubati Penyakit Masyarakat

 

Sudah menjadi fitrah manusia itu ia ingin hidup aman damai. Begitu juga fitrah manusia itu, dia tidak mahu berlakunya krisis, kemungkaran, pemerkosaan dan segala penyakit masyarakat.

Andaikata kalau dia seorang pemimpin, dia mahu orang yang dipimpin itu meletakkan ketaatan kepadanya. Begitu juga kalau dia seorang yang dipimpin, dia mahu pemimpinnya meletakkan keadilan kepadanya. Andaikata kalau dia seorang ayah, dia mahu anak-anaknya memberikan ketaatan dan kepatuhan kepadanya. Begitu juga kalau dia seorang anak, dia mahu ibu dan ayahnya meletakkan kasih sayang kepadanya. Begitu jugalah suami kepada isterinya, dan isteri kepada suami. Andaikata seorang pemimpin, ibu, ayah, guru, suami, isteri dapat meletakkan diri pada tempat masing-masing. Begitu juga seorang rakyat, anak murid, dapat meletakkan diri pada tempat masing-masing, maka tidak akan terjadi pergaduhan, pertengkaran diatas muka bumi ini.

Tapi kalau kita lihat, apa yang terjadi adalah sebaliknya. Firman Allah yang ertinya: "Telah berlaku kerosakan di daratan dan di lautan akibat dari tangan-tangan manusia" [Q.S Ar-Rum : 41]

Hal ini terjadi bila pemimpin tidak dapat memberi keadilan, terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Begitu juga orang yang dipimpinnya tidak dapat memberikan ketaatan kepadanya. Ibu ayah juga tidak dapat memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya, begitu juga anak-anak tidak dapat memberikan ketaatan terhadap ibu dan ayahnya. Begitu juga guru terhadap murid dan murid terhadap gurunya, suami terhadap isterinya dan isteri kepada suaminya. Sebab itu dapat kita lihat berbagai-bagai masalah timbul dari sekecil-kecil masalah hinggalah ke sebesar-besar masalah. Dari rumahtangga, hinggalah ke negara-negara yang hebat pemimpinnya.

Telah berbagai cara dan jalan dicari untuk menyelesaikan masalah.

Ada yang mengatakan :

  1. Kekayaan dapat menyelesaikan masalah ini. Maka merekapun berusaha bersungguh-sungguh mendapatkannya, tetapi tidak juga dapat menyelesaikan masalah ini.
  2. Ada pula yang mengatakan kepandaian dan ilmu pengetahuan akan dapat menyelesaikan masalah ini. Maka merekapun berusaha bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, tetapi juga tidak berhasil untuk menyelesaikan masalah ini, bahkan bertambah rumit lagi.
  3. Ada juga yang mengatakan pangkat dan darjat dapat menyelesaikan masalah ini, tetapi ini juga tidak berhasil menyelesaikan masalah yang melanda masyarakat, bahkan bertambah parah dan rumit lagi.
  4. Ada yang mencadangkan hukuman sebagai jalan keluar, tetap tidak berkesan, terbukti semakin ramai yang sedang menunggu hukuman gantung, semakin ramai jadi penghuni penjara dan pusat serenti. Masalah tetap tidak selesai malah makin bertambah.

Jadi jalan yang paling mudah untuk kita selesaikan masalah ini haruslah kita kembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Al Qur’an dan Sunnah dapat memberikan jawapan yang tepat, dari manakah akar dari masalah-masalah tersebut.

Firman Allah SWT yang ertinya : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah sesuatu kaum itu, sehingga mereka mengubah yang ada di dalam diri mereka (hatinya)" [Q.S Ar-Rad : 11]

Hadits Rasulullah SAW yang ertinya : "Di dalam diri manusia itu ada seketul daging. Jika baik daging itu maka baiklah jasadnya. Jika rosak daging itu, maka rosaklah jasadnya. Ketahuilah itu adalah hati." (riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah melaporkan dalam sebuah hadis "Hati adalah umpama raja dan anggota badan adalah sebagai pengawalnya. Apabila raja memerintah dengan baik, maka pengawalnya tentu bertugas dengan baik. apabila rajanya melakukan sesuatu yang tidak baik, maka sudah tentu pengawalnya pun begitu juga"

Dapat kita lihat dari Al Qur’an dan Hadits tadi setiap penyakit yang timbul pada diri manusia itu, adalah berawal dari hati. Hati yang sakit (jahat) akan mendorong mata, kaki, tangan berbuat jahat. Maka lahirlah masyarakat yang jahat, seperti merompak, membunuh, memfitnah, mengumpat dan sebagainya.

Penyakit masyarakat (rosak aqidah, tak solat, bergaul bebas, dedah aurat, zina, anak luar nikah, buang anak……..terlalu panjang senarainya…) boleh diibaratkan sebagai sebatang pokok yang mengeluarkan buah yang beracun. Buah yang beracun itu disebabkan pokok yang beracun. Jadi untuk menghilangkan buah yang beracun itu hendaklah ditebang pokok itu terlebih dahulu. Bukan buang buah atau cantas dahan saja. Sebab kalau yang dibuang buahnya atau cantas dahan saja, sepuluh buah yang kita buang akan tumbuh pula sepuluh pokok/ dahan yang beracun. Begitulah seterusnya.

Oleh itu untuk panduan yang lebih jelas lagi, kita lihat bagaimana Rasulullah dapat mengubat penyakit masyarakat ketika itu hingga menjadikan orang miskin sabar dan redha dalam kemiskinan dan orang kaya pemurah. Seperti Abu Hurairah yang menjadi ketua dari puluhan fakir miskin yang tinggal di Serambi Masjid Madinah. Sayidatina Fatimah, seorang wanita miskin walaupun anak Rasulullah dan menikah pula dengan Sayidina Ali yang begitu miskin lagi pejuang pula. Kemudian perpecahan diantara satu golongan dapat disatukan seperti Muhajirin dan Ansar.

Baginda Rasulullah SAW dapat mendidik masyarakat jahiliah kepada kenal dan cinta kepada Allah SWT. Rasulullah SAW saat itu diutus sebagai Pembawa Rahmat kepada sekalian alam.

Firman Allah yang ertinya : "Dan tidak diutuskan kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat pada sekalian alam" [Q.S. Al Anbiya : 107]

Dengan keberkatan dan ketabahan Rasulullah SAW itu, Baginda dapat mengembalikan masyarakat kepada kebenaran.

Krisis Masyarakat di Zaman sebelum Rasulullah

Sebelum dibahas tentang bagaimanakah Rasulullah mengubati penyakit masyarakat jahiliah di zamannya, terlebih dahulu kita mengetahui akan apakah penyakit masyarakat yang kritikal ketika itu. Sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul, masyarakat tertimpa berbagai macam krisis dan penyakit jiwa.

Di antara penyakit yang menimpa masyarakat :

  • Sangat memuja berhala. Hati masyarakat begitu melekat kepada berhala.
  • Terlalu ketagihan dengan arak/alkohol.
  • Terlalu suka dengan riba. Bunga tinggi, tak sanggup bayar, jadi hamba.
  • Wujudnya dua empayar besar yaitu Rome dan Parsi yang menindas negara-negara lemah.
  • Pelacuran amat leluasa merebak di tengah masyarakat.
  • Akhlak kaum wanita ketika itu amat rendah.
  • Manusia terlalu bakhil, terlalu gila harta sehingga harta orang hendak dijadikan harta dia.
  • Perpecahan menjadi-jadi. Terjadi peperangan. Kadang peperangan besar hanya disebabkan hal kecil.

Cara Rasulullah Menyelesaikan Krisis

Rasulullah hanya tanamkan 3 pil saja pada diri masyarakat Jahiliah ketika itu.

Pertama, Rasulullah menanam kembali rasa tauhid ke dalam hati masyarakat sehingga manusia terasa akan kebesaran Tuhan, kasih sayang, kehebatan dan keperkasaan Tuhan. Hingga wujud rasa berTuhan dan rasa kehambaan dalam jiwa masyarakat.

Kedua, Rasulullah menanamkan kembali cinta kepada Akhirat. Beliau memperkatakan tentang Syurga dan Neraka.

"Akhirat itu adalah lebih utama, lebih baik daripada dunia." (Q.S. Ad Dhuha : 4)

"Akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal" (Q.S. Al A’la : 17)

Lahirlah manusia yang jiwanya terpaut dengan Akhirat. Akhirnya bukan saja harta dihabiskan untuk Akhirat bahkan nyawa sendiri dikorbankan. Mereka mahu cepat-cepat kembali ke Akhirat. Mereka mahu mati syahid menjadi para syuhada.

Ketiga, Rasulullah menanam semangat dan perasaan cinta akan sesama manusia terutamanya umat Islam untuk mengikis penyakit terlalu cinta diri sendiri, keluarga atau kawan-kawan sendiri. Lahirlah perpaduan dan ukhwah. Hiduplah mereka dalam berkasih sayang, bertolong bantu antara satu sama lain.

"Tidak sempurna iman seseorang dari kamu sehingga dia mencintai diri saudara-saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri" "Sebaik-baik manusia ialah manusia yang banyak berkhidmat kepada manusia yang lain"

"Barang siapa yang menunaikan hajat saudara lain, Tuhan akan tunaikan padanya 70 hajat"

Terjalin perasaan ghairah apabila menolong orang lain. Lahir perasaan kasih sayang pada orang lain. Mereka dapat merasakan nasib orang lain seperti nasib mereka sendiri, kesenangan orang lain seperti kesenangan sendiri, kesusahan orang lain seperti kesusahan sendiri, darah orang lain seperti darah sendiri, nyawa orang lain seperti nyawa sendiri.

Dengan 3 pil inilah Rasulullah dapat mendidik manusia-manusia Jahiliyah ketika itu hinggakan Allah telah memuji Rasulullah dan generasi ketika itu.

Firman Allah yang ertinya : "Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia yang mengajak kepada Ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah" [Q.S. Ali Imran : 110]

Hadits Rasulullah SAW yang ertinya : "Sahabat-sahabatku adalah seperti bintang-bintang di langit. Jika diikuti diantara mereka nescaya kamu akan mendapat petunjuk"

Penyelesaian untuk zaman ini

Contoh telah terbentang di hadapan mata. Jika benar beriman kepada Allah dan Rasul, ikutilah cara Al Qur’an dan Sunnah, yang telah ditunjukkan Baginda Rasulullah SAW. Kita kini terlalu banyak berteori dalam mengatasi gejala sosial dan penyakit masyarakat yang semakin meruncing saban hari.

Dalam Islam, HUKUMAN adalah perkara terakhir, setelah semua perkara-perkara asas dilaksanakan. Maka tidak wajar HUKUMAN didahulukan jika kita belum menempuh disiplin dakwah yang ditunjukkan Nabi SAW.

Hari ini bukan tidak banyak ulama, pendakwah, guru, pakar motivasi dan sewaktu dengannya, tetapi usaha menanamkan iman ke dalam jiwa manusia amat kurang dilaksanakan. Yang amat diperlukan ialah membawa manusia kembali merasa kehambaan dan rasa berTuhan, menerima Allah sebagai tuhannya, lantas mahu menyembahnya.

Menanam iman tidak semudah menanam pokok. Sedangkan menanam pokok perlu dijaga, dibaja, dipagar, diracun musuh-musuhnya, inikan pula iman. Tetapi jika memandang pada payahnya, tanpa memulakan usaha, pasti tidak berjaya. Kena lihat kembali bagaimana Rasululllah SAW membaiki masyarakat di zamannya dengan iman, hingga lahir masyarakat yang agung akhlaknya.

Sumber: https://www.facebook.com/notes/457367031718/

9 November 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

Mereka tidak pernah berjuang merebut kerusi

Umat Terbaik

Sifu Ku pernah menyebut:

Cara hidup salafus soleh walau dalam bidang apa sekalipun tetap dihiasi dengan akhlak yang mulia.Orang orang bukan Islam pun sangat mengkagumi mereka.Sebab itu ramai yang memeluk Islam hanya kerana melihat kebaikan akhlak mereka.Ini lah rahsia atau anak kunci kejayaan Rasulullah SAW dan para Sahabat untuk dapat menawan hati manusia.
Mereka tidak pernah berjuang merebut kerusi (jawatan atau kuasa) tetapi manusia memberi mereka kerusi kedudukan yang mulia.

Rasulullah SAW memberi petunjuk dan pengajaran bahawa untuk melaksanakan kebaikan, cara dan kaedahnya juga mesti baik.Tidak ada dalam Islam itu matlamatnya baik tetapi cara melaksanakannya kotor.Seseorang yang nak dakwah orang kepada kebaikan cara nya mesti baik.Bukan dengan sombong, mengungkit,memaki hamun dan mengaibkan orang yang kita nak dakwah.Seseorang yang hendak menegakkan kebenaran melalui politik kotor dan cara yang batil,yang di buat itu tidak lagi di anggap kebenaran.Bahkan ia di anggap kebatilan yang di sadur dengan kebenaran.

Orang yang mahukan matlamatnya saja baik tanpa menempuh cara cara atau perlaksanaan yang baik, yakni orang yang menggunakan matlamat untuk menghalalkan cara, mereka ini termasuk dalam apa yang di firman kan Allah mahfumnya:

"Jangan kamu mencampurkan yang hak dan yang batil." ( Al Baqarah: 42)

Yang hak itu agama Allah, yang batil itu ialah segala ideologi seperti demokrasi, liberalisme, pluralisme, LGBT,hak asasi ciptaan manusia dan sebagainya.Golongan ini seperti orang mahu ke destinasi dengan kereta,highway yang selamat (agama) sudah di sedia kan, tetapi tidak mahu ikut jalan itu, dia lebih percaya ikut melalui sawah padi.Betulkah dia dan selamatkah dia? Begitu lah tamsilannya orang orang yang menghalalkan cara.Apa saja bagi dia halal kerana dia kata matlamatnya baik……….

Wallahu a"alam.

31 October 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

7 Peringkat Zalim

“Tuhan (Allah) tidak menzalimi mereka itu (maksudnya manusia), tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (Ar Rum: 9)

Ketika berbicara mengenai zalim, maka zalim itu berperingkat-peringkat. Tulisan ini akan membahas mengenai 7 peringkat zalim yang dilakukan oleh manusia.

1. Zalim dengan Tuhan.

Zalim dengan Tuhan merupakan penzaliman peringkat tertinggi, tak ada yang lebih tinggi. Apa erti zalim dengan Tuhan? Tidak kenal Tuhan atau syirik dengan Tuhan, tidak takut dengan Tuhan, tidak cinta dengan Tuhan, tidak peduli dengan Tuhan, hidup ini tidak dihubungkan dengan Tuhan.

Setiap hari kita zalim dengan Tuhan tetapi hal ini jarang terfikir oleh kita. Hidup kita sehari-hari tidak peduli Tuhan. Padahal, dalam Al Quran Allah berfirman: “iqra bismi rabbika” Bacalah atas nama Tuhanmu.

Jadi, ketika hendak melakukan apa saja buatlah atas nama Tuhan. Berjuang, membangun, berekonomi, mendidik, berbudaya, mengurus, dan lain lain mesti atas nama Tuhan. Ertinya, segala sesuatu yang kita lakukan mesti dikaitkan dengan Tuhan, mesti ada hubungan dengan Tuhan. Kalau tidak, kita telah melakukan penzaliman yang paling tinggi.

2. Zalim dengan Fisik Pemberian Tuhan

Melihat dengan mata mesti atas nama Tuhan. Mendengar, berbicara, bertindak, gunakan tangan, kaki mesti atas nama Tuhan. Ertinya, tindakan fisik kita selaras dengan kehendak Tuhan. Jangan sampai mata, telinga, mulut tangan, kaki mendurhakai Tuhan. Semua gerak gerik kita jangan bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kalau berlaku kita melakukan penzaliman peringkat ke-2.

3. Zalim dengan Harta Karunia Tuhan.

Harta milik Tuhan, Tuhan bagi pada kita. Ada yang dapat sedikit, miskinlah dia. Ada pula yang mendapat banyak hingga menjadi jutawan. Harta yang Tuhan bagi kepada kita janganlah digunakan sedikitpun selain karena Tuhan. Mesti selaras dengan kehendak Tuhan. Sebab yang kita miliki itu milik Tuhan. Harta itu tidak boleh kita gunakan sesuka hati, mesti ikut cara Tunan, baik disebut zakat, sedekah, . Kalau tidak kita buat penzaliman yang ke-3.

4. Zalim kepada manusia lain.

Zalim kepada manusia lain seperti: memukul, mengata, menjatuhkan, mempermalukan dimuka umum, menghina, memfitnah, mencuri. Zalim yang ada hubungannya dengan manusia lain ini yang dibesarkan setiap hari. Zalim peringkat tertinggi sepi-sepi saja. Jenis yang kedua juga tidak pernah diperbincangkan, yang ke-3 juga kurang diperkatakan oleh orang. Tetapi, yang ke-4 ini yang sering dibicarakan orang.

“Tidak sepatutnya dia memukul saya”

“Mengapa dia menyebarkan fitnah mengenai saya”

Zalim jenis ini setiap hari dihebohkan. Sehingga, perkataan zalim sudah dipersempit maknanya.

5. Zalim dengan Jawatan 

Jawatan ada bermacam-macam. Mungkin dia Menteri, Ketua Pengarah,Ketua Kampung, Ahli Parlimen, Wakil Rakyat dan lail lain.Jawatan jawatan ini kalau tidak jalankan selaras dengan kehendak Tuhan maka dia dikatakan zalim.

Zalim dengan jawatan ini juga selalu dibesar-besarkan orang. Hanay namapk Perdanan mneteri zalim, CEO zalim,Yang dilihat adalah jawatan yang besar-besar. Kalau jawatan jawatan yang dibawah, jarang disebut orang mengenai kezalimannya. Sekecil apapun jawatan, mesti selaras dengan kehendak Tuhan. Kalau tidak selaras dengan kehendak Tuhan, itulah zalim.

6. Zalim dengan ilmu.

Soal ilmu ini, ada yang dapat banyak ilmu ada pula yang dapat sedikit. Baik yang dapat banyak ilmu ataupun yang dapat sedikit ilmu, kalau ilmu tersebut digunakan bukan untuk Tuhantetapi untuk kepentingan diri, itulah zalim.

Di zaman ini orang banyak yang menyalahgunakan ilmu ( bahkan ILMU ISLAM ! ) bukan untuk Tuhan tapi untuk duit, kemegahan, nama, dan jawatan. Itulah zalim. Namun, tentu saja hal ini tidak pernah masuk surat khabar. Orang yang menggunakan ilmu untuk kepentingan diri tidak terfikir kalau dirinya zalim. Bahkan, saat ini orang yang megah dan sombong dengan ilmu tidak dikatakan zalim lagi. Bahkan orang menganggap dia memiliki wibawa. Sombong dengan ilmu, “hebat, orang ini memiliki ilmu”. Aneh sekali, durhaka dengan Tuhan dan hendak masuk neraka dikatakan memiliki wibawa?

7. Zalim dengan ruh/perasaan.

Hari ini, tidak ada orang yang menyebut-nyebut mengenai zalim jenis ini. Surat khabar, radio, TV juga tidak pernah menyebutkannya. Sepatutnya ruh atau perasaan kita adalah untuk Tuhan.

Hari ini apa yang orang rasa:

“aduh sakit, bila nak sihat?”

“sedihnya hidup miskin dan melarat, boleh nak kaya”

“Isteriku tidak sayang pada ku?”

Perasaan sepatut diberi pada Tuhan. Tapi perasaan sudah disalahgunakan, sedih karena sakit, susah karena miskin, susah karena isteri yang kurang menyayangi. Ini juga zalim. Sepatutnya perasaan sedih kita itu sedih dengan dosa-dosa kita. Perasaan susah kita itu karena kita tidak boleh menolong orang. Itu namanya menggunakan perasaan seperti kehendak Tuhan.

Zalim ini luas sekali maknanya. Sayang, orang hanya membesarkan yang no 4. Sebab tu ada ayat Qur’an yang maknanya,

Jangan engkau campakkan diri engkau dalam kebinasaan.” (Al Baqarah : 195)

Ayat ini ditujukan ditujukan kepada orang yang tidak mendermakan harta mereka. Orang yang tidak bersedekah artinya mencampak diri dalam Neraka, itulah zalim. Orang yang tidak berkorban harta dianggap zalim. Tapi zalim yang paling top adalah orang yang tidak kenal Allah, tidak takut Allah, tidak cinta Allah.

Kalau kita bahas, zalim peringkat teratas itu ada dalam diri kita. Kalau tidak selalu, sekali sekala kita buat juga kezaliman yang paling besar ini. Kalau orang faham zalim pada Tuhan begitu luas, ia tidak akan bergaduh. Walaupun orang zalim pada dia, dia tidak nampak kezaliman orang padanya itu, karena kita sendiri zalim pada Tuhan. Namun, karana yang besar tidak nampak nampak, yang nampak yang ke-4. Kezaliman jenis ini akhirnya yang dibesar-besarkan. 

 

Sumber: Sufi Pejuang

26 October 2014 Posted by | Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

Jangan cepat melabel buruk dan tuduhan berat kepada seseorang

Cari salah orang aje
Masyarakat kita perlu dididik agar TIDAK CEPAT menuduh seseorang yang berbeza dengannya dengan tuduhan yang berat seperti Kafir, Liberal, Syirik, Bid’ah, Wahhabi, Ahbash, Khawarij, Sesat, Mujassim, Munafiq, Hina Islam, Persenda hukum, cabar Allah swt, Hina Nabi s.a.w dan yang sepertinya TANPA punyai bukti jelas.

Malah jika ada bukti pun, masih sangat perlu meneliti konteks percakapan, perbuatan dan tulisan itu.

Bukan itu sahaja, malah perlu juga meneliti faktor kesilapan tidak sengaja seperti salah cetak, tersalah tulis, tersalah catat, media tersalah quote dan mungkin hasil kurang ilmu & kefahaman dan bukan sengaja ingin berniat jahat.

Kebodohan itu tidak aib jika mereka sanggup belajar TETAPI si bijak yang mencerca si bodoh itulah sangat aib.

Masyarakat yang mudah melabel dan menuduh dengan tuduhan berat pasti akan sentiasa hidup dalam stress. Hari ini kita boleh menuduh seseorang dan bergembira dengan ‘label buruk’ itu, kelak nanti pasti ‘label buruk’ yang lain pula menimpa kita..tatkala itu akan dirasakan pedihnya.

Sukar dibayangkan bagaimana seorang yang mengaku ilmuwan atau pendakwah ke arah Islam, kebenaran dna kebaikan tetapi sangat mudah membuat gelaran membenci, mengutuk, menghina. bagiaman mereka nak menarik mad’u kepada mereka dengan sifat itu???

Banyak sungguh dalil dalam hal ini, cuma tidak mahu memanjangkan status ini. Lihatlah ayat Al-Hujurat ayat 11. dan juga hadis nabi

Sahabat-sahabat yang dikasihi, Rasulullah bersabda :

ادرؤوا الحدود عن المسلمين ما استطعتم فإن كان له مخرج فخلوا سبيله , فإن الإمام أن يخطئ في العفو خير من أن يخطئ في العقوبة

Ertinya : Tolaklah (wahai hakim) pensabitan hukum hudud dari muslimin selagi kamu mampu, sekiranya di sana terdapat jalan keluar maka bebaskanlah dia, kerana sesungguhnya seorang pemimpin yang tersilap dalam memberikan kemaafan (tidak jatuh hukuman), LEBIH BAIK dari yang tersilap (dalam mengenakan hukuman kepada yang tidak bersalah)” (Riwayat Ibn Majah, kitab al-Hudud, no 5004, At-Tirmizi, kitab al-Hudud, no 1424)

Bayangkan tindakan Umar al-Khattab :

أتي عمر رضي الله عنه بامرأة قد حملت فادّعت أنها أكرهت فخلى سبيلها

Ertinya : Pernah dibawakan kepada Umar Al-Khattab seorang wanita yang mengandung tanpa nikah, wanita tersebut mendakwa ia dipaksa (dirogol) maka Umar terus membebaskan wanita terbabit (dari hukuman hudud) ( Riwayat Al-Baihaqi, 8/235)

Imam Ibn Qudamah pula menjelaskan terdapat yang mentakwilkan wanita tersebut hamil bukan disebabkan zina dan persetubuhan tetapi adalah disebabkan dimasukkan mani lelaki tersebut ke dalam kemaluannya. (Al-Mughni, 1/193)

Semuanya ini sepatutnya memberikan kefahaman kepada para ustaz/ah, ilmuan dan ramai agar jangan tergesa-gesa melabel, men‘cop’ dan menganggap seseorang yang berbeza pendapat dengannya.

Dr Zaharuddin Abd Rahman
Presiden MURSHID

23 October 2014 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | , , , , , , , | Leave a comment

Kenali berbagai-bagai tabiat haiwan yang ada di dalam jiwa insan, agar kita tidak bersifat demikian.

 

1. Tabiat babi, buruk makan dan sangat membawa dan menyebar kekotoran.

2. Tabiat anjing adalah tamak, apa sahaja hendak dijadikan rebutan. Akhirnya berkelahi sesama manusia macam anjing berebut tulang.

3. Tabiat kuda, suka menendang. Menggambarkan keangkuhan dan kesombongannya.

4. Tabiat lembu atau kerbau bodohnya dan bebal payah diajar. Di dalam bodoh-bodoh pun suka menanduk sekalipun tuannya sendiri.

5. Tabiat musang, suka menipu daya. Kerja musang mencuri dan memakan ayam-ayam dan buah-buahan di kebun orang. Begitulah manusia yang bersifat musang suka sahaja menipu orang.

6. Tabiat singa, garang dan menerkam. Itulah gambaran manusia yang suka menzalim dan menganiaya orang tanpa belas kasihan. Yang penting dapat memakan mangsanya agar perut kenyang.

7. Tabiat ular sawa, apabila sudah kenyang, tidak dapat aktif lagi. Suka tidur-tidur sahaja. Begitulah manusia, apabila terlalu kenyang malas pun tiba. Suka tidur dan rehat-rehat sahaja.

 

Sumber: Mohd Fadli Yusof

21 October 2014 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , , , , , , | Leave a comment

Perkara yang merosakkan Ukhwah

" Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu ( yang bertelingkah ) itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat. "
Q.S Al-Hujuraat : 10


" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing."
Q.S Al-Hijr : 47


Berapa banyak kehidupan yang berubah menjadi keras ketika ikatan persaudaraan telah pupus, ketika sumber-sumber kecintaan kerana Allah telah kering, ketika individualisme telah menggeser nilai-nilai persaudaraan, saat itu setiap individu berada dalam kehidupan yang sukar, merasa terpisah menyendiri dari masyarakatnya.


Kebanyakan manusia pada umumnya, perilaku mereka telah tercemar oleh perkara-perkara yang dapat merosakkan persaudaraan, yang terkadang mereka menyedari perkara tersebut, dan terkadang tidak menyedarinya.
Oleh sebab itu, kami akan mencuba memaparkan beberapa perkara yang dapat merosakkan persahabatan dan persaudaraan. Sebelumnya, akan kami kemukakan terlebih dahulu beberapa hadith dan perkataan para ulama’ salaf mengenai
hubungan persaudaraan.


Dalam sebuah hadith yang menerangkan tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari tiada naungan kecuali naungan Allah, Rasulullah s.a.w. menyebutkan salah satu di antaranya adalah,


" Dan dua orang lelaki yang saling mencintai kerana Allah, mereka berkumpul dan berpisah keranaNya. "
HR Bukhari dan Muslim


Dan di dalam sebuah hadith qudsi, Allah berfirman;

" Orang-orang yang saling mencintai keranaKu, berhak atas kecintaanKu "
HR Malik dan Ahmad

Muhammad bin Munkadir ketika ditanya tentang kenikmatannya dalam kehidupan ini, beliau menjawab, " Ketika bertemu dengan saudara-saudara ( sahabat-sahabat ), dan membahagiakan mereka."

Al-Hasan berkata, " Kami lebih mencintai sahabat-sahabat kami dari pada keluarga kami, kerana sahabat-sahabat kami mengingatkan kami akan kehidupan akhirat, sedangkan keluarga kami mengingatkan kami akan kehidupan dunia."
Khalid bin Shafwan berkata, " Orang yang lemah adalah yang sedikit menjalin persaudaraan. "
Perhatikanlah beberapa perkataan di atas, baik dari ayat-ayat Allah, hadith, mahupun perkataan para ulama, kemudian lihatlah pada kenyataan tentu akan menunjukkan kebenarannya. Siapakah yang menolongmu untuk mampu tetap teguh
memegangi hidayah? Siapakah yang meneguhkan kamu untuk tetap istiqamah? Siapakah yang menemani kamu ketika dirundung bencana dan malapetaka? Kerana itu Umar pernah berkata, " Bertemu dengan para ikhwan dapat menghilangkan kegalauan dan kesedihan hati. "
Jika demikian, bagaimana mungkin seorang yang berakal akan mengesampingkan ukhuwah dan lebih memilih kehidupan yang kacau dan hingar bingar.
Perkara-Perkara Yang Dapat Merosakkan Ukhuwah, Di Antaranya Adalah :
1. Tamak Dan Rakus Terhadap Dunia, Terhadap Apa-Apa Yang Dimiliki Orang Lain.
Rasulullah s.a.w. bersabda;


" Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintai kamu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, mereka akan mencintai kamu. "
HR Ibnu Majah
Jika kamu tertimpa musibah, mintalah musyawarah kepada saudaramu dan jangan
meminta apa yang engkau perlukan. Sebab jika saudara atau temanmu itu memahami keadaanmu, ia akan terketuk hatinya untuk menolongmu, tanpa harus meminta atau menitiskan airmata.
2. Maksiat Dan Meremehkan Keta’atan.
Jika di dalam pergaulan tidak ada nuansa zikir dan ibadah, saling menasihati, mengingatkan dan memberi pelajaran, bererti pergaulan atau ikatan persahabatan itu telah gersang disebabkan oleh kerasnya hati dan perkara ini boleh mengakibatkan terbukanya pintu-pintu kejahatan sehingga masing-masing akan saling menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Padahal Rasulullah s.a.w. bersabda;


" Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak menzaliminya dan tidak menghinakannya. Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, Tidaklah dua orang yang saling mengasihi, kemudian dipisahkan antara keduanya kecuali hanya kerana satu dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya. "
HR Ahmad
Ibnu Qayim, dalam kitab "Al-Jawabul Kafi" mengatakan, " Di antara akibat dari perbuatan maksiat adalah rasa gelisah ( takut dan sedih ) yang dirasakan oleh orang yang bermaksiat itu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya. "
Orang-orang ahli maksiat dan kemungkaran, pergaulan dan persahabatan mereka tidak dibangun atas dasar ketakwaan melainkan atas dasar kebendaan sehingga akan dengan mudah berubah menjadi permusuhan. Bahkan perkara itu nanti akan menjadi beban di hari kiamat. Allah s.w.t. berfirman;

" Pada hari itu sahabat-sahabat karib: Setengahnya akan menjadi musuh kepada
setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan takwa ( iman dan amal soleh ). "

Q.S Az-Zukhruf : 67.

Sedangkan persahabatan kerana Allah, akan terus berlanjutan sampai di syurga;

" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing. "
Q.S Al-Hijr : 47

3. Tidak Menggunakan Adab Yang Baik (Syar’i) Ketika Berbicara.
Ketika berbicara dengan saudara atau kawan, hendaknya seseorang memilih perkataan yang paling baik. Allah berfirman;

" Dan katakanlah ( wahai Muhammad ) kepada hamba-hambaKu ( yang beriman ), supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat baik ( kepada orang-orang yang menentang kebenaran ); sesungguhnya Syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka ( yang mukmin dan yang menentang ); sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia. "
Q.S Al-Israa : 53

Dalam sebuah hadith Nabi s.a.w. bersabda;

" Kalimah thayibah adalah shadaqah. "
HR Bukhari

4. Tidak Memperhatikan Apabila Ada Yang Mengajak Berbicara Dan Memalingkan Muka Darinya.
Seorang ulama salaf berkata, " Ada seseorang yang menyampaikan hadith sedangkan aku sudah mengetahui perkara itu sebelum ia dilahirkan oleh ibunya. Akan tetapi, akhlak yang baik membawaku untuk tetap mendengarkannya hingga ia selesai berbicara. "

5. Banyak Bercanda Dan Bersenda Gurau.
Berapa ramai orang yang putus hubungan satu sama lainnya hanya disebabkan oleh canda dan senda gurau.

6. Banyak Berdebat Dan Berbantah-Bantahan.
Terkadang hubungan persaudaraan terputus kerana terjadinya perdebatan yang sengit yang boleh jadi itu adalah tipuan syaitan. Dengan alasan mempertahankan aqidah dan prinsipnya padahal sesungguhnya adalah mempertahankan dirinya dan kesombongannya. Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah yang keras dan besar permusuhannya. "
HR Bukhari dan Muslim

Orang yang banyak permusuhannya adalah yang suka mengutarakan perdebatan, perbalahan dan pendapat.
Tetapi debat dengan cara yang baik untuk menerangkan kebenaran kepada orang yang kurang faham, dan kepada ahli bid`ah, perkara itu tidak bermasalah. Tetapi, jika sudah melampaui batas, maka perkara itu tidak diperbolehkan. Bahkan jika perdebatan itu dilakukan untuk menunjukkan kehebatan diri, perkara itu malah menjadi bukti akan lemahnya iman dan sedikitnya pengetahuan.
Jadi, boleh juga dengan perdebatan ini, tali ukhuwah akan terurai dan hilang. Sebab masing-masing merasa lebih lebih kuat hujjahnya dibanding yang lain.

7. Berbisik-Bisik ( Pembicaraan Rahsia )
Berbisik-bisik adalah merupakan perkara yang remeh tetapi mempunyai pengaruh yang dalam bagi orang yang berfikiran ingin membina ikatan persaudaraan.

Allah s.w.t. berfirman;

" Sesungguhnya perbuatan berbisik ( dengan kejahatan ) itu adalah dari ( hasutan ) Syaitan, untuk menjadikan orang-orang yang beriman berdukacita; sedang bisikan itu tidak akan dapat membahayakan mereka sedikitpun melainkan dengan izin Allah; dan kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman berserah diri. "
Q.S Al-Mujaadalah : 10

Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang di antaranya berbisik-bisik tanpa mengajak orang yang ketiga kerana itu akan dapat menyebabkannya bersedih. "
HR Bukhari dan Muslim

Para ulama berkata, " Syaitan akan membisikkan kepadanya dan berkata, ‘ Mereka itu membicarakanmu’." Maka dari itu para ulama mensyaratkan agar meminta izin terlebih dahulu jika ingin berbisik-bisik ( berbicara rahsia ). Wallahu?alam Bisshawab

Kredit: Blog Tok Wan

28 August 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

Perkara Yang Merusakkan Ukhuwah

" Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu ( yang bertelingkah ) itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat. "
Q.S Al-Hujuraat : 10
" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing."
Q.S Al-Hijr : 47
Berapa banyak kehidupan yang berubah menjadi keras ketika ikatan persaudaraan telah pupus, ketika sumber-sumber kecintaan kerana Allah telah kering, ketika individualisme telah menggeser nilai-nilai persaudaraan, saat itu setiap individu berada dalam kehidupan yang sukar, merasa terpisah menyendiri dari masyarakatnya.


Kebanyakan manusia pada umumnya, perilaku mereka telah tercemar oleh perkara-perkara yang dapat merosakkan persaudaraan, yang terkadang mereka menyedari perkara tersebut, dan terkadang tidak menyedarinya.
Oleh sebab itu, kami akan mencuba memaparkan beberapa perkara yang dapat merosakkan persahabatan dan persaudaraan. Sebelumnya, akan kami kemukakan terlebih dahulu beberapa hadith dan perkataan para ulama’ salaf mengenai
hubungan persaudaraan.
Dalam sebuah hadith yang menerangkan tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari tiada naungan kecuali naungan Allah, Rasulullah s.a.w. menyebutkan salah satu di antaranya adalah,

" Dan dua orang lelaki yang saling mencintai kerana Allah, mereka berkumpul dan berpisah keranaNya. "
HR Bukhari dan Muslim


Dan di dalam sebuah hadith qudsi, Allah berfirman;

" Orang-orang yang saling mencintai keranaKu, berhak atas kecintaanKu "
HR Malik dan Ahmad

Muhammad bin Munkadir ketika ditanya tentang kenikmatannya dalam kehidupan ini, beliau menjawab, " Ketika bertemu dengan saudara-saudara ( sahabat-sahabat ), dan membahagiakan mereka."
Al-Hasan berkata, " Kami lebih mencintai sahabat-sahabat kami dari pada keluarga kami, kerana sahabat-sahabat kami mengingatkan kami akan kehidupan akhirat, sedangkan keluarga kami mengingatkan kami akan kehidupan dunia."
Khalid bin Shafwan berkata, " Orang yang lemah adalah yang sedikit menjalin persaudaraan. "

Perhatikanlah beberapa perkataan di atas, baik dari ayat-ayat Allah, hadith, mahupun perkataan para ulama, kemudian lihatlah pada kenyataan tentu akan menunjukkan kebenarannya. Siapakah yang menolongmu untuk mampu tetap teguh
memegangi hidayah? Siapakah yang meneguhkan kamu untuk tetap istiqamah? Siapakah yang menemani kamu ketika dirundung bencana dan malapetaka? Kerana itu Umar pernah berkata, " Bertemu dengan para ikhwan dapat menghilangkan kegalauan dan kesedihan hati. "
Jika demikian, bagaimana mungkin seorang yang berakal akan mengesampingkan ukhuwah dan lebih memilih kehidupan yang kacau dan hingar bingar.

Perkara-Perkara Yang Dapat Merosakkan Ukhuwah, Di Antaranya Adalah :

1. Tamak Dan Rakus Terhadap Dunia, Terhadap Apa-Apa Yang Dimiliki Orang Lain.
Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintai kamu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, mereka akan mencintai kamu. "
HR Ibnu Majah
Jika kamu tertimpa musibah, mintalah musyawarah kepada saudaramu dan jangan
meminta apa yang engkau perlukan. Sebab jika saudara atau temanmu itu memahami keadaanmu, ia akan terketuk hatinya untuk menolongmu, tanpa harus meminta atau menitiskan airmata.


2. Maksiat Dan Meremehkan Keta’atan.
Jika di dalam pergaulan tidak ada nuansa zikir dan ibadah, saling menasihati, mengingatkan dan memberi pelajaran, bererti pergaulan atau ikatan persahabatan itu telah gersang disebabkan oleh kerasnya hati dan perkara ini boleh mengakibatkan terbukanya pintu-pintu kejahatan sehingga masing-masing akan saling menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Padahal Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak menzaliminya dan tidak menghinakannya. Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, Tidaklah dua orang yang saling mengasihi, kemudian dipisahkan antara keduanya kecuali hanya kerana satu dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya. "
HR Ahmad

Ibnu Qayim, dalam kitab "Al-Jawabul Kafi" mengatakan, " Di antara akibat dari perbuatan maksiat adalah rasa gelisah ( takut dan sedih ) yang dirasakan oleh orang yang bermaksiat itu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya. "
Orang-orang ahli maksiat dan kemungkaran, pergaulan dan persahabatan mereka tidak dibangun atas dasar ketakwaan melainkan atas dasar kebendaan sehingga akan dengan mudah berubah menjadi permusuhan. Bahkan perkara itu nanti akan menjadi beban di hari kiamat.

Allah s.w.t. berfirman;

" Pada hari itu sahabat-sahabat karib: Setengahnya akan menjadi musuh kepada
setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan takwa ( iman dan amal soleh ). "

Q.S Az-Zukhruf : 67

Sedangkan persahabatan kerana Allah, akan terus berlanjutan sampai di syurga;

" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing. "
Q.S Al-Hijr : 47

3. Tidak Menggunakan Adab Yang Baik (Syar’i) Ketika Berbicara.
Ketika berbicara dengan saudara atau kawan, hendaknya seseorang memilih perkataan yang paling baik. Allah berfirman;

" Dan katakanlah ( wahai Muhammad ) kepada hamba-hambaKu ( yang beriman ), supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat baik ( kepada orang-orang yang menentang kebenaran ); sesungguhnya Syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka ( yang mukmin dan yang menentang ); sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia. "
Q.S Al-Israa : 53

Dalam sebuah hadith Nabi s.a.w. bersabda;

" Kalimah thayibah adalah shadaqah. "
HR Bukhari

4. Tidak Memperhatikan Apabila Ada Yang Mengajak Berbicara Dan Memalingkan Muka Darinya.
Seorang ulama salaf berkata, " Ada seseorang yang menyampaikan hadith sedangkan aku sudah mengetahui perkara itu sebelum ia dilahirkan oleh ibunya. Akan tetapi, akhlak yang baik membawaku untuk tetap mendengarkannya hingga ia selesai berbicara. "

5. Banyak Bercanda Dan Bersenda Gurau.
Berapa ramai orang yang putus hubungan satu sama lainnya hanya disebabkan oleh canda dan senda gurau.

6. Banyak Berdebat Dan Berbantah-Bantahan.
Terkadang hubungan persaudaraan terputus kerana terjadinya perdebatan yang sengit yang boleh jadi itu adalah tipuan syaitan. Dengan alasan mempertahankan aqidah dan prinsipnya padahal sesungguhnya adalah mempertahankan dirinya dan kesombongannya. Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah yang keras dan besar permusuhannya. "
HR Bukhari dan Muslim

Orang yang banyak permusuhannya adalah yang suka mengutarakan perdebatan, perbalahan dan pendapat.
Tetapi debat dengan cara yang baik untuk menerangkan kebenaran kepada orang yang kurang faham, dan kepada ahli bid`ah, perkara itu tidak bermasalah. Tetapi, jika sudah melampaui batas, maka perkara itu tidak diperbolehkan. Bahkan jika perdebatan itu dilakukan untuk menunjukkan kehebatan diri, perkara itu malah menjadi bukti akan lemahnya iman dan sedikitnya pengetahuan.
Jadi, boleh juga dengan perdebatan ini, tali ukhuwah akan terurai dan hilang. Sebab masing-masing merasa lebih lebih kuat hujjahnya dibanding yang lain.

7. Berbisik-Bisik ( Pembicaraan Rahsia )
Berbisik-bisik adalah merupakan perkara yang remeh tetapi mempunyai pengaruh yang dalam bagi orang yang berfikiran ingin membina ikatan persaudaraan.


Allah s.w.t. berfirman;

" Sesungguhnya perbuatan berbisik ( dengan kejahatan ) itu adalah dari ( hasutan ) Syaitan, untuk menjadikan orang-orang yang beriman berdukacita; sedang bisikan itu tidak akan dapat membahayakan mereka sedikitpun melainkan dengan izin Allah; dan kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman berserah diri. "
Q.S Al-Mujaadalah : 10


Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang di antaranya berbisik-bisik tanpa mengajak orang yang ketiga kerana itu akan dapat menyebabkannya bersedih. "
HR Bukhari dan Muslim

Para ulama berkata, " Syaitan akan membisikkan kepadanya dan berkata, ‘ Mereka itu membicarakanmu’." Maka dari itu para ulama mensyaratkan agar meminta izin terlebih dahulu jika ingin berbisik-bisik ( berbicara rahsia ). Wallahu ‘alam.


Kredit: Blog Tok Wan



 

27 August 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

Larangan hidup membujang

Membujang

 

Erti tabattul (membujang), Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: "Tabattul di sini ialah menjauhkan diri dari wanita dan tidak menikah kerana ingin terus beribadah kepada Allah."[1]

Hadis-hadis yang melarang hidup membujang cukup banyak, diantaranya :

1. Hadis yang diriwayatkan al-Bukhari dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu anhu, dia mengatakan: "Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam menolak hal itu pada ‘Utsman bin Mazh’un. Seandainya baginda membolehkan kepadanya untuk hidup membujang, nescaya kami membujang."[2]

2. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, dia mengatakan: "Aku mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, aku adalah seorang pemuda dan aku takut memberatkan diriku, sedangkan aku tidak mempunyai sesuatu untuk menikahi wanita.’ Tetapi baginda mendiamkanku. Kemudian aku mengatakan seperti itu lagi kepada baginda, tapi baginda mendiamkanku. Kemudian aku mengatakan seperti itu lagi, maka Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah, pena telah kering dengan apa yang engkau temui (alami); mengebirilah atau tinggal-kan.’"[3]

Syeikh Mushthafa al-‘Adawi berkata -memberi komentar diatas sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam:

"Mengebirilah atau tinggalkan"-: "Ini seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

‘Maka barangsiapa yang (ingin) beriman hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang (ingin) kafir biarlah dia kafir.’ [Al-Kahfi/18: 29]

Dan ayat ini bukannya membolehkan kekafiran."[4]

Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiallahu anhuma, ditemui oleh Sa’id bin Hisyam seraya bertanya kepadanya:

"Aku ingin bertanya kepadamu tentang hidup membujang; bagaimana menurutmu?" Dia Aisyah Radhiallahu anhuma menjawab: "Jangan lakukan! Bukankah engkau mendengar Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

‘Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum-mu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan…’ [Ar-Ra’d/13: 38]

Oleh kerana itu, janganlah engkau hidup membujang."[5]

Tidak Ada istilah Rahib Dalam Islam.

‘Aisyah Radhiallahu anhuma mengatakan “Aku menjenguk Khuwailah binti Hakim bin Umayyah bin Haritsah bin al-Auqash as-Salamiyyah, dan dia adalah isteri ‘Utsman bin Mazh’un.” Ia melanjutkan: “Ketika Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam melihat keadaan tubuhnya yang buruk, baginda bertanya kepadaku: ‘Wahai ‘Aisyah, apa yang memperburuk keadaan Khuwailah?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, dia seorang wanita yang mempunyai suami yang selalu berpuasa di siang hari dan bangun malam (untuk solat). Ia seperti orang yang tidak mempunyai suami. Oleh kerananya, dia membiarkan dirinya dan mensia-siakannya.’

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada ‘Utsman bin Mazh’un (agar dia datang menghadap). Ketika dia datang kepada baginda, maka baginda bertanya: ‘Wahai ‘Utsman, apakah engkau membenci Sunnahku?’ Ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, bahkan Sunnahmu yang aku cari.’ Baginda bersabda: ‘Sesungguhnya aku tidur, solat, puasa, berbuka, dan menikahi beberapa orang wanita; maka bertakwalah kepada Allah wahai ‘Utsman, kerana isterimu mempunyai hak atasmu, tamumu mempunyai hak atasmu, dan dirimu mempunyai hak atasmu. Oleh kerananya, berpuasalah dan berbukalah, solatlah dan tidurlah.’"[6]

Asy-Sya’bi meriwayatkan: Ka’ab bin Sur pernah duduk di sisi ‘Umar bin al-Khaththab Radhiallahu anhu, lalu seorang wanita datang seraya berkata: "Wahai Amirul Mukminin, aku tidak melihat seorang pun yang lebih baik daripada suamiku. Demi Allah, dia senantiasa beribadah pada malam harinya dan senantiasa berpuasa pada siang harinya." Mendengar hal itu ‘Umar memohonkan ampunan untuknya dan memujinya, tetapi wanita ini merasa malu dan beranjak pulang. Ka’ab berkata: "Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau membantu wanita ini (mendapatkan hak) atas suaminya. Sebab, dia telah menyampaikan keluhannya kepadamu." ‘Umar berkata kepada Ka’ab: "Putuskanlah perkara di antara keduanya, kerana engkau memahami urusan apa yang tidak aku fahami." Ia mengatakan: "Aku melihat sepertinya dia seorang wanita bersama tiga isteri lainnya, dan dia keempatnya. Oleh kerananya, aku memutuskan tiga hari tiga malam di mana dia (lelaki ini) beribadah di dalamnya, dan untuknya (wanita ini) sehari semalam." ‘Umar berkata: "Demi Allah, pendapatmu yang pertama tidak lebih mengagumkan dari-pada yang terakhir. Pergilah! Engkau menjadi qadhi (hakim) atas Bashrah. Sebaik-baik qadhi adalah dirimu."[7]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Wahai ‘Abdullah, benarkah apa yang aku dengar bahawa engkau selalu berpuasa di siang hari dan mengerjakan solat malam?" Aku menjawab: "Benar, wahai Rasulullah." Baginda bersabda: "Jangan engkau lakukan! Berpuasa dan berbukalah, bangun dan tidurlah, kerana tubuh mempunyai hak atasmu, kedua matamu mempunyai hak atasmu, isterimu mempunyai hak atasmu, dan tamumu mempunyai hak atasmu. Cukuplah engkau berpuasa tiga hari dalam sebulan, kerana engkau akan mendapatkan pada setiap kebajikan sepuluh kali lipat gandanya. Jadi, itu seperti puasa sepanjang masa." Ketika aku berkeras, maka aku sendiri yang akhirnya kesulitan. Aku mengatakan: "Wahai Rasulullah, aku masih memiliki kesanggupan." Baginda bersabda: "Kalau begitu berpuasalah dengan puasa Daud Alaihissallam dan jangan menambahnya." Aku bertanya: "Bagaimana puasa Nabi Allah Daud Alaihissallam?" Baginda menjawab: "Separuh masa." ‘Abdullah berkata setelah tua: "Duhai sekiranya aku menerima keringanan dari Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam."[8]

Al-Marwazi mengatakan: Abu ‘Abdillah -yakni Ahmad bin Hanbal- berkata: "Hidup membujang sama sekali bukan dari ajaran Islam. Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi 14 isteri, dan baginda wafat meninggalkan sembilan isteri. Seandainya Basyar bin al-Harits menikah, niscaya urusannya menjadi sempurna. Seandainya manusia tidak menikah, niscaya tidak ada peperangan, tidak ada haji, dan tidak ada begini dan begitu. Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam menikah, sedangkan mereka tidak memiliki apa-apa, dan baginda wafat meninggalkan 9 isteri serta memilih menikah dan menganjurkan akan hal itu. Baginda melarang hidup membujang. Barangsiapa yang membenci Sunnah Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia berada di atas selain kebenaran. Ya’qub, dalam kesedihannya, masih menikah dan mendapatkan anak. Dan Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Dimasukkan ke dalam hatiku kecintaan kepada para wanita."[9]

Aku mengatakan kepadanya, diceritakan dari Ibrahim bin Ad-ham bahawa dia mengatakan: "Sungguh, rasa takut seorang lelaki yang menanggung beban keluarga yang berat…" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba dia (memotongnya serta) berteriak kepadaku dan mengatakan: ‘Kita terperangkap di jalan-jalan yang sempit.’ Lihatlah -semoga Allah menyelamatkanmu- apa yang dilakukan oleh Nabi-Nya, Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya." Kemudian dia mengatakan: "Sungguh tangisan anak di hadapan ayahnya kerana meminta roti kepadanya, itu lebih baik daripada demikian dan demikian. Bagaimana mungkin ahli ibadah yang membujang bisa menyamai orang yang menikah?"[10]

Syubhat:

Makna Tabattul Dalam Al-Qur-an.

Syeikh Muhammad bin Isma’il berkata: Di antara hal yang patut untuk disebutkan bahawa al-Qur-an memerintahkan tabattul dalam firman-Nya :

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

“Sebutlah Nama Rabb-mu, dan bertabattullah (beribadahlah) kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” [Al-Muzzammil/73: 8].

Makna ayat ini adalah perintah agar menggunakan seluruh waktunya untuk Allah dengan ibadah yang ikhlas. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (men-jalankan) agama yang lurus…” [Al-Bayyinah/98: 5].

Sementara ada larangan tabattul dalam Sunnah. Dan yang dimaksud dengannya ialah memutuskan hubungan dari manusia dan komuniti, menempuh jalan kependetaan untuk meninggalkan pernikahan, dan menjadi pendeta di tempat-tempat sembahyang. Jadi, tabattul seperti ini tidak diperintahkan dalam al-Qur-an dan dilarang dalam Sunnah. Kaitan perintah berbeza dengan kaitan larangan; maka keduanya tidak kontradiktif. Dan Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah diutus untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diturunkan kepada mereka

.

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq. Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir – Bogor]

_______

Nota kaki :

[1]. HR. Muslim, Syarh an-Nawawi (III/549).

[2]. HR. Al-Bukhari (no. 5074) kitab an-Nikah, Muslim (no. 1402) kitab an-Nikah, at-Tirmidzi (no. 1086) kitab an-Nikah, an-Nasa-i (no. 3212) kitab an-Nikah, Ibnu Majah (no. 1848) kitab an-Nikah, Ahmad (no. 1517).

Faedah: Apakah boleh mengebiri binatang? Kalangan yang membolehkan mengebiri binatang berargumentasi dengan hadis dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahawa baginda menyembelih dua kibas yang dikebiri. Mereka berkata: “Seandainya mengembiri haiwan yang dapat dimakan itu diharamkan, niscaya baginda tidak menyembelih kibas yang dikebiri sama sekali.” Ibnu Qudamah berkata dalam al-Mughni (VIII/ 625): “Mengembiri haiwan diperbolehkan kerana Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua ekor kibas yang dikebiri.” Al-waj’ ialah menghancurkan kedua buah zakar, dan apa yang dipotong kedua zakarnya, atau dicabut, maka dia seperti dikekang, kerana semakna. Kerana mengembiri adalah menghilangkan bahagian yang tidak sedap sehingga membuat dagingnya sedap dengan hilangnya bahagian itu dapat memperbanyak dan menggemukkan. Asy-Sya’bi berkata: "Apa yang bertambah pada daging dan lemaknya lebih banyak daripada yang hilang darinya. Demikianlah pendapat al-Hasan, ‘Atha’, asy-Sya’bi, an-Nakha’i, Malik dan asy-Syafi’i, dan saya tidak melihat perselisiahan di dalamnya.

[3]. HR. Al-Bukhari (no. 5076) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1404) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 3642) lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 7832).

[4]. Jaami’ Ahkaamin an-Nisaa’, al-‘Adawi (III/20).

[5]. HR. At-Tirmidzi (no. 1982) kitab an-Nikaah, Ibnu Majah (no. 1849) kitab an-Nikaah, dan disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Ibni Majah (no. 1499).

[6]. HR. Ahmad (no. 25776), yang di dalamnya terdapat ‘Abdullah bin Sa’id, ia adalah shaduq, dan para perawi lainnya adalah tsiqah, Abu Daud (no. 1369) kitab ash-Shalaah.

[7]. Majmuu’ al-Fataawaa Ibni Taimiyyah (XXXIV/85), al-Mughni (VII/30), dan disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Irwaa’ (VII/80).

[8]. HR. Al-Bukhari (no. 1975) kitab ash-Shaum, Muslim (no. 1159) kitab ash-Shaum, at-Tirmidzi (no. 770) kitab ash-Shaum, an-Nasa-i (no. 1630) kitab ash-Shaum, Ibnu Majah (no. 1712) kitab ash-Shaum, Ahmad (no. 6441), ad-Darimi (no. 1752).

[9]. HR. An-Nasa-i (VII/61) dalam ‘Isyratun Nisaa’, bab Hubbun Nisaa’, Ahmad (III/128), al-Hakim (II/160) dan ia menilainya sebagai hadits shahih sesuai syarat Muslim, dan disetujui oleh adz-Zahabi. Al-Hafiz al-‘Iraqi menilai sanadnya baik, dan Ibnu Hajar menilainya sebagai hadis hasan.

[10]. Raudhatul Muhibbiin (hal. 214).

 

Oleh : Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq

31 July 2014 Posted by | Ibadah, Tazkirah | , | Leave a comment

Sifat sifat buruk Yahudi yang di sebut dalam Quran dan Kitab Talmut mereka yang diubahsuai

    Al-Quran banyak menceritakan kedegilan bangsa Yahudi seperti bagaimana orang Yahudi mengingkari perintah Allah SWT walaupun sebahagian besar Rasul dan Nabi adalah dari kalangan kaum itu.

    Allah SWT melalui wahyunya dalam Al-Quran telah menggambarkan sifat buruk orang Yahudi yang zalim, membuat kerusakan di muka bumi, dan memusuhi bangsa lain, terutama sekali kaum Muslimin.

    Berikut merupakan 22 sifat buruk bangsa Yahudi seperti yang disebut di dalam Al-Quran:

  1. Keras hati dan zalim (Al-Baqarah:75,91,93,120,145,170; An-Nisa:160; Al-Maidah:41)

  2. Kebanyakan fasik dan sedikit beriman kepada Allah SWT (Ali Imran:110; An-Nisa:55)

  3. Musuh yang paling bahaya bagi orang-orang Islam (Al-Maidah:82)

  4. Amat mengetahui kekuatan dan kelemahan orang-orang Islam seperti mereka mengenal anak mereka sendiri (Al-An’am:20)

  5. Mengubah dan memutarbelitkan kebenaran (Al-Baqarah:75,91,101,140,145,211; Ali Imran:71,78;  An-Nisa:46; Al-Maidah:41)

  6. Menyembunyikan bukti kebenaran (Al-Baqarah:76,101,120,146; Ali Imran:71)

  7. Hanya menerima perkara-perkara atau kebenaran yang dapat memenuhi cita rasa atau nafsu mereka (Al-Baqarah:87,101,120,146; Al-Maidah:41)

  8. Ingkar dan tidak dapat menerima keterangan dan kebenaran Al-Quran (Al-Baqarah:91,99; Ali Imran:70)

  9. Memekakkan telinga kepada seruan kebenaran, membisukan diri untuk mengucapkan perkara yang benar, membutakan mata terhadap bukti kebenaran dan tidak menggunakan akal untuk menimbangkan kebenaran (Al-Baqarah:171)

  10. Mencampur adukkan yang benar dan yang salah, yang hak dan yang batil (Ali Imran:71)

  11. Berpura-pura mendukung orang Islam tetapi apabila ada di belakang orang-orang Islam, mereka mengutuk dengan sekeras-kerasnya (Al-Baqarah:76; Ali Imran:72,119)

  12. Hati mereka sudah tertutup akan Islam kerana dilaknat oleh Allah SWT yang disebabkan oleh kekufuran mereka sendiri (Al-Baqarah:88,120,145,146)

  13. Kuat berpegang pada semangat kebangsaan mereka dan mengatakan bahawa mereka adalah bangsa yang istimewa yang dipilih oleh Tuhan dan meyakini agama yang selain daripada Yahudi adalah salah (Al-Baqarah:94,111,113,120,135,145; Al-Maidah:18)

  14. Tidak akan ada kebaikan untuk seluruh manusia jika mereka memimpin (An-Nisa:53)

  15. Tidak suka, dengki, iri hati terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:90,105,109,120)

  16. Mencintai kemewahan dan kehidupan dunia, bersifat tamak dan rakus, menginginkan umur yang panjang dan mengejar kesenangan serta takut akan kematian (Al-Baqarah:90,95,96,212)

  17. Berkata bohong, mengingkari janji dan melampaui batas (Al-Baqarah:100,246,249 Ali Imran:183,184; An-Nisa:46)

  18. Berlindung di sebalik mulut yang manis dan perkataan yang baik (Al-Baqarah:204,246; Ali Imran:72; An-Nisa:46)

  19. Mengada adakan perkara-perkara dusta dan suka kepada perkara-perkara dusta (Ali Imran:24,94,183,184; Al-Maidah:41)

  20. Berlaku sombong dan memandang rendah terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:206,212,247)

  21. Tidak amanah dan memakan hak orang lain dengan cara yang salah (Ali Imran:75,76; At-Taubah:34)

  22. Selalu melakukan kerusakan dan menganjurkan peperangan (Ali Imran:64). [foren]

    Sumber: Berita Palestina

    Berikut merupakan Sifat buruk bangsa Yahudi seperti yang disebut di dalam Kitab Talmut / taurat yg di ubahsuai spt juga injil yg di ubahsuai oleh pendita nasrani:

    “Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang bukan Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang belaka.” (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a)

    “Orang-orang bukan Yahudi diciptakan sebagai budak/hamba abdi untuk melayani orang-orang Yahudi.”(Midrasch Talpioth 225)

    “Angka kelahiran orang-orang bukan Yahudi harus dikurangkan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4b)

    “Orang-orang bukan Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)

    “Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang bukan Yahudi.” (Talmud IV/8/4a)

    “Di mana saja mereka (orang-orang Yahudi) datang, mereka akan menjadi pangeran raja-raja.”(Sanhedrin 104a)

    “Terhadap seorang bukan Yahudi tidak menjadikan orang Yahudi berzina. Bisa terkena hukuman bagi orang Yahudi hanya bila berzina dengan Yahudi lainnya, yaitu isteri seorang Yahudi. Isteri bukan Yahudi tidak termasuk.” (Talmud IV/4/52b)

    “Tidak ada isteri bagi bukan Yahudi, mereka sesungguhnya bukan isterinya.” (Talmud IV/4/81 dan 82ab)

    “Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipudaya orang-orang bukan Yahudi.” (Zohar I, 168a)

    “Jika dua orang Yahudi menipu orang bukan Yahudi, mereka harus membahagi keuntungannya.” (Choschen Ham 183, 7)

    “Tetaplah terus berjual beli dengan orang-orang bukan Yahudi, jika mereka harus membayar uang untuk itu.” (Abhodah Zarah 2a T)

    “Tanah orang bukan Yahudi, kepunyaan orang Yahudi yang pertama kali menggunakannya.”(Babba Bathra 54b)

    “Setiap orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan dan sumpah palsu untuk membawa seorang bukan Yahudi kepada kejatuhan.” (Babha Kama 113a)

    “Kepemilikan orang bukan Yahudi seperti padang pasir yang tidak dimiliki; dan semua orang (setiap Yahudi) yang merampasnya, berarti telah memilikinya.” (Talmud IV/3/54b)

    “Orang Yahudi boleh mengeksploitasi kesalahan orang bukan Yahudi dan menipunya.” (Talmud IV/1/113b)

    “Orang Yahudi boleh mempraktikkan riba terhadap orang bukan Yahudi.” (Talmud IV/2/70b)

    “Ketika Messiah (Raja Yahudi Terakhir atau Ratu Adil) datang, semuanya akan menjadi budak-budak orang-orang Yahudi.” (Erubin 43b)

  23. 22 July 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

    Jangan kamu berkahwin dengan perempuan yang bersifat dengan 6 sifat ini.

    Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin (kitab Tassawuf yang terkenal) ada mengatakan ungkapan arab yang bermaksud: "Janganlah kamu menikahi 6 jenis perempuan iaitu:

    1. Al-Annanah (suka mengeluh) ialah : perempuan yang banyak mengeluh dan mengadu, selalu membalut kepalanya sebagai tanda sakit. (menandakan dia rasa terbeban dengan tugasan hariannya, kerana malas atau memang sifat semulajadinya suka mengeluh walaupun disebabkan perkara kecil. Perempuan tersebut berpura-pura sakit supaya suaminya tidak membebaninya dengan tugasan harian). Menikahi perempuan yang sengaja buat-buat sakit tidak ada faedah padanya.

    2. Al-Mananah: perempuan yang memberikan sesuatu kepada suaminya (suka mengungkit-ngungkit). Sampai satu masa dia akan mengatakan : saya telah melakukan untuk kamu itu ini.

    3. Al-Hananah : perempuan yang suka merindui dan mengingati bekas suami atau anak daripada bekas suami. (Perempuan seperti ini tidak akan menghargai suaminya walaupun suaminya berusaha memuaskan segala kemahuannya)

    4. Al-Haddaqah : menginginkan setiap perkara dalam perbelanjaannya (boros) dan suka membeli belah sehingga membebankan suaminya untuk membayar pembeliaannya.

    5. Al-Barraqah : terdapat dua makna yang pertama, suka berhias sepanjang masa (melampau dalam berhias) supaya wajahnya nampak lebih anggun dan mempersona, kat suami xbuat pun! Makna kedua ialah : perempuan yang tidak mahu makan, maka dia tidak akan makan kecuali bila bersendirian dan dia akan menyimpan bahagian tertentu untuk dirinya sendiri.

    6. Al-Syaddaqah : perempuan yang banyak cakap

    Sumber: PONDOK HABIB

    4 June 2014 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , | Leave a comment

    Jalan kita bukan jalan melaknat, menuduh dan mencaci maki

    “Taushiyyah Al-Habib Umar bin Hafidz yang Meruntuhkan Penyakit Hati”

    Di hadapan kita ada qudwah (teladan), Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang mukmin tidak melaknat, menuduh dan berkata keji.” “Aku tidak diutus sebagai pelaknat ataupun berteriak-teriak di pasar.”

    Baginda Saw. bukan pencaci, bukan pula pelaknat. Begitu juga dengan pengikut baginda dari kalangan ulama, tidak ada diantara mereka pelaknat yang suka melaknat orang. Bukan juga pencaci, yang mencaci bahkan terhadap orang awam. Apatah lagi terhadap para ulama, terlebih lagi para sahabat Nabi Saw. dan tabi’in. Mereka (para sahabat dan tabi’in) adalah sumurnya penghargaan, asas kehormatan.

    Metode (dakwah) yang baik dan benar tidak ada caci maki sama sekali. Nabi Saw. tidak diutus untuk mencaci dan memaki. Tidak pula seorang wali Allah bertugas untuk mencaci atau memaki. Tidak pula berdiri hakikat ilmu dengan caci maki sama sekali!

    Tidaklah berdiri suatu madzhab dengan caci maki kecuali madzhab iblis dan madzhab pengikut iblis, pada setiap waktu dan masa. Merekalah yang terbiasa meneruskan tradisi caci maki terhadap manusia, melaknat manusia, memancing emosi dan menanam kebencian di antara umat Islam.

    Adapun para Nabi, para ulama dan para wali, mereka menebar kasih, menyebar persaudaraan, menyebarkan akhlaq, menyebarkan kesucian hati, menyebarkan sikap menghargai, selalu menetapkan batasan, mengekang hawa nafsu, bersifat sabar dan menahan amarah. Inilah jalan yang ditempuh para nabi, para wali, para ulama dan orang-orang shaleh.

    Sumber: Pondok Habib

    31 May 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | , , | Leave a comment

    Majlis Ilmu


    Kelas Agama UKE
    Suatu hari Nabi Muhammad s.a.w. bertemu dua kumpulan muslimin . Satu kumpulan sedang beribadah sambil bermohon dan berdoa kepada Allah s.w.t. , manakala satu kumpulan lagi sedang mengadakan majlis ilmu . Kedua-duanya baik , tetapi Nabi memilih yang terlebih baik .

    Nabi s.a.w. memilih majlis ilmu yang sedang berlangsung . Baginda duduk bersama-sama kumpulan kaum Muslimin yang hadir dalam majlis tersebut . Walaupun Baginda seorang Nabi dan orang yang alim serta paling berilmu di kalangan sekalian manusia , Nabi tetap cinta kepada ilmu pengetahuan .

    Malah pada bulan Ramadan , Nabi s.a.w. akan bertadarus al-Quran dengan Malaikat Jibril a.s. Nabi membaca dan Malaikat Jibril a.s. mendengar sambil menyemak bacaan Nabi . Ia juga termasuk dalam proses belajar .

    Nabi s.a.w. bersabda , " Ilmu itu merupakan khazanah (perbendaharaan) anak kuncinya ialah bertanya . Kerana itu bertanyalah kamu, kerana dengan bertanya itu akan diberikan ganjaran empat golongan . ( Iaitu ) orang yang bertanya , orang yang mengajar , orang yang mendengar dan orang yang mencintainya ." ( Riwayat Abu Na’im daripada Sayidina Ali )

    Hadith : Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:”Jadikanlah dirimu orang alim (berilmu) atau orang yang menuntut ilmu atau orang yang selalu mendengar pengajaran atau orang yang mencintai (tiga golongan yang tersebut) dan janganlah engkau menjadi dari golongan yang kelima, yang dengan sebabnya engkau akan binasa.”

    (Riwayat al-Bazzar).

    Pengajaran hadis:

    i) Ilmu menduduki darjat yang tinggi di sisi manusia dan juga di sisi Allah S.W.T. Orang yang berilmu akan dimuliakan oleh penduduk langit dan bumi sebaliknya bagi orang yang tidak berilmu. Oleh itu setiap mukmin hendaklah berusaha mempertingkatkan kemajuan dirinya sama ada :

    a) Menjadikan dirinya orang alim (berilmu) yang mengajarkan ilmunya kepada orang lain

    b) Menjadi orang yang belajar (menuntut ilmu)

    c) Mendengar atau mengikuti majlis-majlis ilmu.

    d) Menghormati atau mencintai salah satu atau ketiga-tiga golongan di atas dengan menurut jejak langkah mereka.

    ii) Dengan adanya sifat-sifat yang disebutkan di atas maka kehidupan seseorang itu akan sentiasa terjamin untuk mendapat keselamatan dan kebahagiaan jasmani atau rohani kerana ia sentiasa berada dalam jagaan ilmu pengetahuan yang memimpinnya ke jalan yang benar dan memberinya kesedaran untuk memilih antara yang baik dan yang buruk.

    iii) Manakala mereka yang tidak termasuk dalam golongan tersebut atau yang dipanggil masyarakat sebagai ‘bodoh sombong’ maka mereka adalah golongan yang bakal mendapat kebinasaan kerana mereka tidak ada pimpinan yang dengannya dapat memandu kepada kebaikan melainkan hidup terumbang ambing dan tenggelam dalam kesesatan.

    Wassalam

    Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

    25 May 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Mujahadah- Pahit yang Awal, Manis di Penghujung

    Mujahadah itu amat payah kerana Syurga Allah itu sangat indah. Mujahadah itu pahit pada permulaannya sahaja. Kemanisannya akan dirasai saat kaki sudah bertapak di Syurga Ilahi nanti. (Allahumma Ameen!). Pernahkah kita merasai gula-gula yang pahit pada mula kita menggigitnya, namun, manis bila kita sudah mengunyahnya? Begitulah mujahadah. Hanya pada permulaannya saja, mungkin, kita akan rasa keperitan dan kepahitan. Kerana, Allah mahu menguji, apa benar mujahadah kita kerana-Nya? Sebab itu, Dia datangkan ujian dan cubaan untuk kita, yang bergelar hamba-Nya.

    “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Surah al-Ankabuut : 2)

    Bagaimana mungkin kita hanya bergoyang kaki saja di dunia ini, kemudian, mati dan terus boleh masuk Syurga? Andai begitu, senangnya mahu masuk Syurga! Tidak perlu kepada mujahadah dan sebagainya. Namun, hakikatnya adalah sebaliknya. Syurga Allah itu terlalu mahal dan untuk mendapatkan sesuatu yang mahal, perlu kepada pengorbanan yang bersungguh-sungguh. Iaitu, mujahadah!

    Andai kita selak kisah cinta dalam lipatan sejarah, pasti kita akan bertemu dengan nama insan-insan hebat yang mana, Syurga menunggu kehadirannya. Bagaimana mereka bertemu dengan kebenaran setelah menentang Islam itu sendiri? Bagaimana hati mereka diketuk dengan sapaan hidayah-Nya, setelah mereka membunuh ramai insan yang tidak berdosa?

    Kita ini sering leka dengan maksiat. Kita ini sering terlupa dengan nikmat yang dibuai dunia. Kita ini sering alpa dengan dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Hingga semua itu, menutup mata hati kita untuk melihat dan mengenal cinta Allah yang sebenar.

    “Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (Surah al-Israa’ : 72)

    Biarlah permulaan penghijrahan hidup kita dihiasi dengan ujian, dugaan dan cubaan sepanjang kita menuju ke arah mujahadah kerana-Nya. Asalkan di akhir natijah hidup kita nanti, Syurga Allah yang bakal kita kecapi. InsyaAllah.

    Jika kita yakin dan percaya dengan rahmat dan kasih sayang Allah, maka, kita akan dihinggapi rasa ketenangan sentiasa. Tidak ada gundah yang tidak berpenghujung. Tidak ada rasa sedih dan resah yang tidak akan berakhir. Ujian dan dugaan akan terus datang untuk menguji kita. Semua itu hanya akan berakhir bilamana nafas kita di dunia ini juga berakhir.

    “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Surah al-Mulk : 2)

    Imam Hambali pernah ditanya oleh anaknya, “Ayah, bila kita boleh berehat?”

    Maka, jawab Imam Hambali, “Kita hanya akan berehat bila kita benar-benar sudah menjejak ke Syurga”.

    MasyaAllah! Jadi, dunia ini adalah tempat untuk kita berpenat! Kerana Syurga adalah tempat rehat kita yang sebenar-benarnya!

    Imam al-Ghazali pernah mengatakan bahawa seseorang tidak akan dapat menjadi hamba Allah dengan sebenarnya jika masih mencintai dunia.

    Allah s.w.t. mengingatkan kita “dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan yang sia-sia dan hiburan yang melalaikan.” (Surah Al-An’am, 6:32)

    Wassalam

    Sumber: JAKIM

    24 May 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Munafik – Bercakap bohong, mungkir janji…

     

    ISTILAH munafik, pastinya bukanlah sesuatu yang baru di dalam masyarakat Islam. Banyak terdapat ayat-ayat al-Quran dan hadis yang berkaitan dengan bahayanya sifat munafik ini.

    Firman Allah s.w.t.: Di antara orang-orang Badwi yang ada di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka melampau dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami seksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (at-Taubah: 101)

    Namun, masih kurang di kalangan umat Islam khususnya, yang berusaha menghayati, memahami serta prihatin terhadap ancaman yang berpunca daripada ciri-ciri golongan munafik ini.

    Menurut Timbalan Dekan (Hal Ehwal Pelajar), Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Prof. Datuk Dr. Mohammed Yusoff Hussain, munafik atau nifaq adalah perkataan yang berasal daripada bahasa Arab.

    “Dari segi bahasa, munafik membawa maksud berpura-pura. Manakala dari segi istilahnya, nifaq atau munafik ini bermakna golongan yang berpura-pura menjadi Islam atau bergelar Muslim tetapi sebenarnya tindakan, perkataan dan perbuatan mereka adalah bertujuan meruntuhkan Islam,” terang bekas Mufti Wilayah Persekutuan ini secara ringkas akan pengertian munafik sebagai pembuka bicara, petang itu.

    Tambah Mohammed Yusoff, pada zaman Rasulullah s.a.w., golongan munafik ini mendapat sokongan dari luar seperti kaum Musyrikin.

    Menyedari tindakan dari luar tidak berkesan, maka taktik untuk merosakkan perpaduan umat Islam melalui jalan dalam digunakan, iaitu berpura-pura seperti seorang Muslim tetapi dalam masa yang sama menikam dari belakang.

    “Golongan munafik ini begitu licik sehinggakan keakraban yang wujud antara mereka dengan orang Islam yang tulen, menyebabkan orang-orang Islam yang berpegang di jalan yang benar, menganggap golongan munafik ini sebagai sebahagian daripada mereka.

    Mengaburi

    “Ini dibuktikan melalui kisah kesungguhan golongan munafik ini mendirikan sebuah masjid baru bagi mengaburi penglihatan umat Islam pada masa itu,” katanya antara salah satu langkah awal cara golongan munafik ini mempengaruhi dan memperoleh kepercayaan umat Islam, sebelum meneruskan misi meracuni pemikiran mereka.

    Malah jelas beliau, golongan munafik ini semakin terserlah pada zaman Abu Bakar apabila mereka ingkar membayar zakat.

    “Satu contoh kemunafikan yang paling terang berlaku pada zaman pemerintahan para sahabat, Abdullah bin Saba’ iaitu seorang munafik yang terkenal.

    “Abdullah memfitnah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib hanya kerana dia tidak menerima kepimpinan dua sahabat Nabi,” kata tokoh agama yang berpengalaman ini.

    Yang pastinya, ujar Mohammed Yusoff, matlamat golongan sebegini ialah untuk menggoncangkan keyakinan umat Islam, orang yang baru memeluk agama Islam dan mereka yang masih belum kukuh keyakinannya kepada agama Islam.

    Tambah beliau lagi, pada zaman pemerintahan Rasulullah s.a.w., baginda tidak menguar-uarkan kemunafikan golongan ini kerana tidak mahu menimbulkan suasana huru-hara dari segi hubungan kemanusiaan.

    “Ini menunjukkan kepada kita bahawa bukan mudah untuk menghadapi golongan munafik, dan Nabi sendiripun tidak dapat menghadapinya secara terang-terangan kerana dibimbangi tindakan baginda dieksploitasi oleh golongan munafik sehingga boleh menjatuhkan imej Rasulullah s.a.w. sendiri kerana dituduh tidak mempercayai atau berprasangka buruk terhadap para sahabat,” terang Mohammed Yusoff yang ditemui di pejabatnya, baru-baru ini.

    Malah akui beliau, golongan munafik ini lebih sukar dihadapi daripada musuh yang sebenar. Golongan ini diumpamakan seperti musuh di dalam selimut.

    Subversif

    Jelas beliau lagi, golongan munafik ini dalam istilah moden boleh disebut golongan subversif ataupun merosakkan dari dalam.

    Menjelaskan sifat munafik yang telah disebutkan oleh Rasulullah s.a.w.: Sesiapa yang mempunyai tiga perkara ini, maka dia adalah seorang munafik walaupun dia berpuasa, sembahyang, menunaikan haji, umrah dan mengatakan dirinya seorang Muslim.

    Para sahabat bertanya, “Apakah tiga perkara ini?” Jawab baginda: Iaitu apabila bercakap dia berbohong, apabila berjanji dia tidak menepati janjinya dan apabila diberi amanah dia mengkhianatinya. (Riwayat Muslim)

    Namun pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Mohammed Yusoff menjelaskan, hadis kedua ini memberikan tambahan kepada tanda-tanda orang munafik iaitu: Empat sifat, sesiapa yang bersifat dengannya bererti dia seorang munafik yang nyata, dan siapa yang mempunyai salah satu daripada sifat-sifat itu bererti dia mempunyai satu sifat munafik sehingga dia meninggalkan sifat itu.

    Sifat tersebut ialah: Apabila bercakap dia berdusta, apabila berjanji dia memungkiri janjinya, apabila diberi amanah dia mengkhianatinya dan apabila berbalah (bertengkar) dia melampaui batas.

    Namun, tegas beliau, ini adalah ciri-ciri yang umum. Hakikatnya, di dalam dunia yang moden ini ciri-ciri tersebut hanya menjadi panduan.

    Antara ciri-ciri lain yang boleh dikategorikan dalam persoalan munafik, jelas Muhammad Yusoff ialah:

    1. Mereka yang bercakap tentang Islam tetapi menyimpan niat buruk untuk menghancurkan Islam.

    Mereka mendabik dada mengakui mereka memperjuangkan Islam tetapi apa yang dilakukan itu sebaliknya meruntuhkan Islam.

    2.Bercakap perkara yang menimbulkan keraguan umat Islam terhadap ajaran Islam.

    3.Golongan yang bertindak mengadu domba umat Islam berpandukan kepada tafsiran-tafsiran tentang ajaran Islam. Bagi yang berkeyakinan mereka akan berbalahan antara satu sama lain.

    Contohnya, mengatakan bahawa sesuatu ajaran Islam itu hanya untuk satu golongan sahaja, sedangkan ia adalah ajaran Islam yang universal.

    4.Bercakap tentang Islam tetapi sebenarnya meniru argumentasi musuh Islam yang jelas.

    Misalnya bercakap tentang Islam tetapi menggunakan pandangan orientalis. Sedangkan kita ketahui bahawa golongan Orientalis adalah musuh Islam.

    Golongan ini memang menolak pandangan ulama, pejabat agama kerana menganggap golongan ini kolot dan banyak lagi pandangan negatif.

    “Ini boleh dikategorikan semi-munafik kerana membelakangkan mereka yang pakar dalam sesuatu bidang itu.

    “Contohnya, sekiranya kita hendak membina rumah, tentunya kita meminta pandangan daripada pakar yang berkaitan bukannya meminta pandangan daripada orang agama,” seloroh beliau.

    Terang Mohammed Yusoff lagi, apa yang berlaku dalam masyarakat kini ialah golongan yang kononnya mengembangkan Islam dan mengubah pemikiran rakyat tetapi tidak berpunca daripada kitab yang muktabar dan tidak berdasarkan hadis.

    Konteks

    Kalaupun berdasarkan al-Quran dan hadis, tetapi tidak melihat dua sumber ini dalam konteksnya atau secara menyeluruh atau daripada sudut pandangan golongan lain.

    “Di dalam pekerjaan misalnya, kita telah diamanahkan memegang sesuatu tugas tidak kiralah jawatan besar mahupun kecil, di sisi Allah s.w.t. adalah sama. Di dunia, besar jawatan dan tugas imbuhannya dilihat pada sumber pendapatan.

    “Allah tidak melihat pada gaji tetapi Allah melihat apabila seseorang itu menerima amanah tidak kira kecil atau besar, ia mestilah ditunaikan.

    “Gaji bukan ukuran Allah tetapi sifat amanah seseorang hamba, itulah yang utama di sisi Allah,” terang beliau.

    Senario sekarang ulas Mohammed Yusoff, ramai di kalangan umat Islam yang tidak takut diri memiliki ciri-ciri munafik.

    “Ini kerana, dosa dan pahala itu boleh dikompromi. Contohnya rasuah, waktu mula-mula berkerja, dia sanggup melafazkan aku janji yang dikira amanah yang terpikul di bahu tetapi apabila bekerja kita sanggup melakukan pembohongan, mencuri masa kerja dan pelbagai lagi.

    “Dari segi istilah, ini sudah dikira munafik. Lebih-lebih lagi, kesalahan tersebut dilakukan secara terang-terangan seperti penipuan, rasuah, menggelapkan duit syarikat dan banyak lagi,” katanya sifat munafik ini, mampu merosakkan institusi kekeluargaan, masyarakat, sekali gus melumpuhkan sistem pemerintahan sesebuah negara itu.

    (Oleh ZUARIDA MOHYIN)

    Artikel Penuh: http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2005&dt=0624&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm#ixzz32PaKdN2u

    22 May 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

    Kau yang Zalim!

    AL-asfahani dalam al-Mufradat fi Gharib al-Quran menjelaskan makna zalim dari sudut bahasa dan kebanyakan ilmuwan ialah menetapkan sesuatu bukan pada tempat yang sepatutnya, sama ada dengan mengurangkannya atau membuat penambahan.

    Berdasarkan pengertian ini, maka semua perbuatan yang mengundang dosa dan maksiat kepada ALLAH sama ada melakukan perkara yang haram atau meninggalkan perkara yang wajib termasuk dalam perbuatan zalim. Ini kerana dia telah melakukan perkara bukan pada tempat yang ALLAH reda.

    ALLAH dengan sifatnya Maha Adil sama sekali tidak akan melakukan kezaliman kepada makhluk ciptaanNya. Namun, manusia itu sendiri yang menzalimi diri sendiri. ALLAH menegaskan: “Sesungguhnya ALLAH tidak menzalimi manusia sesuatu apa pun, tetapi manusia itu sendirilah yang menzalimi diri mereka sendiri.”. (Surah Yunus: 44).

    Dalam hadis qudsi, ALLAH secara jelas menegah diriNya dari sifat zalim. Rasulullah berkata: ALLAH berfirman: “Wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman ke atas diriku, dan aku jadikannya haram juga dalam kalangan kamu, maka janganlah kamu berlaku zalim…”. (Riwayat Muslim)

    Apabila ALLAH mengharamkan diriNya melakukan kezaliman ke atas hambaNya, maka ALLAH juga mengharamkan manusia melakukan kezaliman ke atas manusia lain. Bahkan ditegaskan supaya berlaku adil dan menegakkan keadilan sesama manusia.

    “Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang yang menegakkan keadilan kerana ALLAH, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada takwa. dan bertakwalah kepada ALLAH, Sesungguhnya ALLAH Maha mengetahui Dengan mendalam akan apa Yang kamu lakukan”. (Surah al-Maidah: 8)

    Secara asasnya, zalim boleh dibahagikan kepada dua jenis: kezaliman yang besar dan kezaliman yang kecil. Kezaliman yang besar ialah apabila seseorang menzalimi dirinya sendiri dengan kufur dan syirik kepada ALLAH.

    Kezaliman yang kecil ialah selain daripada perbuatan syirik dan ia boleh dilihat dari dua aspek. Pertama; seseorang itu menzalimi diri sendiri dengan perbuatan maksiat di antara dirinya dengan ALLAH. Kedua; seseorang itu melakukan perbuatan zalim ke atas orang lain dan mencabuli hak-hak mereka.

    Syirik adalah kezaliman yang terbesar. Manusia yang syirik dikira melakukan kezaliman kerana dia meletakkan ibadahnya kepada selain dari ALLAH. ALLAH menjelaskan “Sesungguhnya syirik itu kezaliman yang besar”. (Surah Luqman: 13)

    Dalam sebuah hadis, Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Rasulullah: Dosa apakah yang paling besar? Rasulullah menjawab: Kamu jadikan sekutu bagi ALLAH, sedangkan Dia yang menciptakan kamu”. (Riwayat Bukhari & Muslim)

    Dosa kezaliman yang terbesar ini tidak akan diampunkan melainkan dengan taubat nasuha sebelum ajal datang menjelma. Sesiapa yang mati dalam keadaan kufur dan syirik kepada ALLAH, maka dosanya tidak akan diampunkan dan kekal di dalam neraka.

    Seseorang yang melakukan maksiat kepada ALLAH, sebenarnya dia terjebak dengan kezaliman yang kecil. Dia menzalimi dirinya sendiri. Namun begitu, peluang yang disediakan baginya untuk kembali memperbetulkan diri sangat luas. Perbanyakan istighfar dan segera bertaubat. ALLAH sedia menanti untuk menerima taubat dan mengampunkan dosa.

    Selain itu, kezaliman juga berlaku antara manusia ke atas manusia lain. Kezaliman boleh berlaku dalam dua keadaan sama ada dengan menafikan hak-hak yang sepatutnya mereka berhak perolehi atau melakukan sesuatu yang mendatangkan kesusahan dan  mudarat ke atas diri mereka.

    Antara contoh kezaliman ini ialah:

    • Kezaliman anak kepada ibu bapa

    ALLAH meletakkan perintah taat dan berbuat baik kepada ibu bapa di tempat yang tertinggi selepas perintah tauhid dan ibadat kepada ALLAH. Menderhakai ibu bapa pula adalah dosa besar selepas dosa syirik. “ dan hendaklah kamu beribadat kepada ALLAH dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua; dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapa”. (Surah al-Nisa’: 36).

    • Kezaliman ibu bapa kepada anak

    Ibu bapa mempunyai tanggungjawab dan kewajipan ke atas anak-anak. Antaranya ialah kewajipan nafkah, memberi pendidikan terutamanya yang berkaitan urusan agama, mendidik dengan peribadi dan akhlak mulia dan sebagainya. Mana-mana ibu bapa yang mengabaikan tanggungjawab sebenarnya mereka telah berlaku zalim kepada anak-anak.

    • Kezaliman suami kepada isteri

    Suami wajib menunaikan tanggungjawabnya yang diperintahkan ke atas isterinya. Menyediakan nafkah, tempat tinggal dan pakaian merupakan kewajipan asas yang perlu diambil berat oleh suami. Di samping itu, kewajipan yang lebih besar ialah membimbing dan mengingatkan isteri agar menjadi isteri yang solehah, tidak melakukan perkara yang boleh menjerumuskan dirinya ke neraka. Suami yang membiarkan isterinya melakukan kemaksiatan dan tidak pula ditegurnya, maka itulah dayus yang sebenar. Mana-mana suami yang mengabaikan tanggungjawab ini maka dia telah berlaku zalim kepada isterinya.

    •  Kezaliman isteri kepada suami

    Kezaliman isteri kepada suami boleh berlaku dalam beberapa keadaan. Antaranya ialah tidak mentaati perintah suami dalam perkara kebaikan dan tidak melanggar syariat. Isteri yang enggan memenuhi keinginan suami untuk melakukan hubungan, tanpa ada sebarang keuzuran, maka dia telah berlaku zalim kepada suaminya. Keluar rumah tanpa izin suami, berkelakuan buruk dengan suami, menyebarkan keaiban suami kepada orang lain, meminta talak dari suami tanpa ada sebab yang diiktiraf oleh syariat.

    Ini adalah contoh-contoh bagaimana kezaliman dari isteri ke atas suaminya.

    •  Kezaliman ahli ilmu dan pendakwah

    Ahli ilmu dan pendakwah sepatutnya menjadi contoh tauladan kepada masyarakat lain. Tidak sepatutnya mereka ini terjebak dalam kancah kezaliman kerana ianya boleh mencemarkan kredibiliti mereka di mata masyarakat. Namun, amat malang dan menyedihkan apabila ada di kalangan mereka yang terlibat dalam dunia dakwah, turut melakukan kezaliman. Contoh kezaliman yang dilakukan ialah apabila adanya perasaan hasad dengki, cemburu dan iri hati sesama mereka.

    Akibatnya ada yang sanggup menyebarkan fitnah, membuka keaiban bahkan ada yang sengaja mencari-cari kesalahan pendakwah atau ahli ilmu yang lain. Selain itu, menyembunyikan fakta kebenaran demi meraih sokongan dan menarik minat masyarakat kepadanya juga merupakan suatu kezaliman. Berdiam diri dengan kemungkaran yang jelas bahkan menyokong pula kemungkaran tersebut adalah kezaliman yang tidak sepatutnya dilakukan oleh ahli ilmu dan pendakwah.

    Inilah sebahagian contoh kezaliman yang melibatkan hak manusia dengan manusia yang lain. Kezaliman juga berlaku daripada pihak pemerintah terhadap rakyatnya. Hak-hak dan kebajikan yang sepatutnya dinikmati oleh rakyat namun dinafikan oleh pihak pemerintah yang berkuasa, maka ini adalah kezaliman. Pemerintah yang dilantik untuk memegang tampuk kekuasaan bukanlah tiket untuk mereka mengaut keuntungan dan mengumpul harta kekayaan dengan melakukan penindasan dan kezaliman. Rakyat diminta untuk berjimat cermat, sedangkan mereka berbelanja bagai tiada had. Rakyat tertekan dan menderita disebabkan kenaikan harga, sedangkan mereka sedikit pun tidak terasa. Bahkan terus sombong dan megah dengan pangkat dan kuasa.

    Jika kita terlibat dalam dosa melakukan kezaliman sama ada kezaliman kepada Sang Pencipta atau sesama makhluk ciptaanNya, rebutlah peluang memohon ampun, selagi pintu taubat masih terbuka. Sesungguhnya kezaliman adalah penyesalan di hari akhirat kelak. Biar menyesal di dunia, jangan sampai dibawa ke akhirat sana kerana itulah kerugian yang nyata.

    “dan Segala muka akan tunduk dengan berupa hina kepada ALLAH Yang tetap hidup, lagi yang kekal mentadbirkan makhluk selama-lamanya; dan sesungguhnya telah rugi dan hampalah orang yang menanggung dosa kezaliman”. (Surah Toha: 111)

    ALLAH tidak pernah menzalimi hamba-hambaNya sedikit pun, tetapi kitalah yang menzalimi diri kita sendiri. “Sesungguhnya ALLAH tidak menganiaya manusia sedikit pun, akan tetapi manusia jualah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (Surah Yunus: 44)

    Abd Razak Muthalib – Perunding motivasi di RK Training & Management merangkap pensyarah di International Islamic College.

    Sumber: Sinar Harian

    18 May 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Rebutlah peluang meraih pahala haji dan umrah selepas Solat Subuh berjamaah.

    [Lihat Penjelasannya di sini: AAM (Riyadh As-Solihin); MAKSUD WAKTU SYURUQ DAN HUKUM SOLAT SUNAT ISYRAQ. http://www.youtube.com/watch?v=SKDBcYBqvrk]

    13 May 2014 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

    Kemanakah Kita Esok?

    Mati itu benar

     

    Perit untuk kita dengar tentang kisah kematian,tapi itu adalah lumrah kehidupan sekarang,tiap2 hari pasti ada khabar kematian,di akhbar,di mulut2,di mana2 sahaja..kerana kematian itu adalah lumrah kehidupan..

    Ali Imran surah 3 yang bermaksud :

    "145. dan (tiap-tiap) makhluk Yang bernyawa tidak akan mati melainkan Dengan izin Allah, Iaitu ketetapan (ajal) Yang tertentu masanya (yang telah ditetapkan oleh Allah). dan (dengan Yang demikian) sesiapa Yang menghendaki balasan dunia, Kami berikan bahagiannya dari balasan dunia itu, dan sesiapa Yang menghendaki balasan akhirat, Kami berikan behagiannya dari balasan akhirat itu; dan Kami pula akan beri balasan pahala kepada orang-orang Yang bersyukur."

    Gusar hati mengenangkan mati,kerana mati itu adalah pasti..tidak kira apa2 sekali,yakni malaikat,manusia,haiwan..dan apa2 benda yang hidup pastikan merasa mati..semuanya dengan kehendak ALLAH. Dalam Surah An-Biyaa’ ayat ke 35 yang bermaksud :

    "tiap-tiap diri akan merasai mati, dan Kami menguji kamu Dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cubaan; dan kepada Kamilah kamu semua akan dikembalikan."

    kita sekian lama hidup tidak mengenang sekalipun asal usul kematian…kematian itu adalah pasti,kerana itulah ALLAH mengirimkan kita khabar2 kematian hari2 bagi supaya kita bersiap siaga untuk berhadapan dengan NYa.

    kerana ALLAH telah berfirman dalam surah Yassin ayat ke 83 yang bermaksud :

    "oleh itu akuilah kesucian Allah (dengan mengucap: Subhaanallah!) – Tuhan Yang memiliki dan Menguasai tiap-tiap sesuatu, dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan."

    dan Jika kita tidak percaya sekalipun terhadap kematian yang bakal menjemput kita,cukuplah kita duduk di hospital sepanjang hari,boleh dikira hari2 kita berjumpa insiden atau mana2 manusia yang dijemput untuk mengadap Ilahi…

    dan ingatlah ketika itu kita akan dihitung,dihadapkan ke arah neraka bagi yang menderhaka,dan bagi yang taat insyaALLAH syurgalah tempatnya..

    firman ALLAH dalam surah Yassin ayat ke 63 yang bermaksud :

    ""Yang kamu saksikan sekarang ialah neraka Jahannam, Yang kamu selalu diancam memasukinya (kalau kamu tidak taatkan perintah Allah)."

    Jsdi sebagai insan,kita wajib diingatkan terhadap mati,kerana itu kita kena bersiap siaga menghadap mati,biarpun bukan kita,mungkin esok harinya adalah kita?kita tidak tahu ajal kita…kerana mengenai ajal maut hanyalah ALLAH.

    Mari kita renungi diri kita, adakah cukup amal kita untuk berhadapan dengan ALLAH.

    kerana janji janji kita sebelum kita dijadikan manusiapada ketika alam ruh lagi kepada ALLAH telahpun dirakam di dalam Al Quran dalam surah al A’raaf ayat 172 yang bermaksud :

    "dan (ingatlah Wahai Muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan zuriat anak-anak Adam (turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka, dan ia jadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri, (sambil ia bertanya Dengan firmanNya): "Bukankah Aku Tuhan kamu?" mereka semua menjawab: "Benar (Engkaulah Tuhan kami), Kami menjadi saksi". Yang demikian supaya kamu tidak berkata pada hari kiamat kelak: "Sesungguhnya Kami adalah lalai (tidak diberi peringatan) tentang (hakikat tauhid) ini". Itulah selalunya diperingatkan kita pada notis2 di masjid-masjid,di surau-surau.

    "Solatlah kamu sebelum kamu disolatkan"

    sebelum kaki berhenti melangkah,tangan terputus nikmat,lidah menjadi kelu,mata menjadi buta,jantung berhenti berdegup,badan menjadi kaku…ada baiknya kita bermusahabah diri….merenung siapa sebenarnya diri kita…apa tujuan hidup kita…kenapa kita diciptakan di dunia ini..kenapa harus kita bersembahyang…cukupkah masa untuk kita bertaubat dan beramal..sebelum kita terlambat. Marilah..pintu rahmat ALLAH itu sentiasa terbuka..

    ALLAH itu maha pengampun lagi maha pemurah…

    Wassalam

    Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

    12 May 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

    Manusia terbahagi kepada 4 macam

    MANUSIA TERBAGI MENJADI 4 MACAM

    Di dalam urusan dunia dan agama, manusia terbahagi menjadi 4 macam:

    1. Ahli yakin                                                        : orang yang dimudahkan urusan dunia dan agamanya.

    2. Pewaris para Nabi                                        : orang yang dimudahkan urusan agama akan tetapi urusan dunianya susah.

    3. Mustadroj (dimanjakan di dunia saja) : orang yang dimudahkan urusan dunia akan tetapi urusan agamanya susah.

    4. Dimurkai                                                           : orang yang urusan agama dan dunianya susah semua.

    Perhatikanlah wahai saudaraku,,,

    KITA TERMASUK GOLONGAN NOMBOR BERAPA?

    Apabila engkau termasuk golongan 1 atau 2, engkau telah berhasil dan mendapatkan keuntungan kebaikan dunia dan akhirat dan termasuk orang yang berhasil dan sukses.

    Apabila engkau termasuk golongan 3 atau 4,,,celaka,,,celaka,,,celakalah engkau. Perbaikilah dirimu sebelum ajal menjemput.

    Pergunakanlah sisa umurmu untuk kebaikan dan kembalilah kepada jalan Allah sekarang juga.

    Mohonlah pertolongan-Nya dan menangislah di hadapan-Nya supaya Dia memudahkan urusan agamamu.

    Oleh: Al Allamah Hb Zain bin Sumait

    Sumber: PONDOK HABIB

    10 May 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Ganjaran membaca Al Quran

    6 May 2014 Posted by | Ibadah, Tazkirah | | Leave a comment

    Petikan kata kata Tuan Guru Sheikh Nuruddin Al-Banjari Al Makki

    5 May 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

    Wahai hambu ku………

    5 May 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

    Petikan Syarah Syeikh Habib Ali Zaenal Abidin

    5 May 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

    Hiburan di benarkan mengikut syarak

                                                                                                                                       

    Istilah konsert pada kebiasaannya dikhaskan untuk persembahan yang dipertunjukkan oleh suatu kumpulan ahli muzik. Menurut kamus dewan bahasa dan pustaka edisi ke-empat mentakrifkan konsert sebagai pertunjukan atau persembahan muzik di khalayak ramai. Kamus Oxford pula menterjemahkan sebagai persembahan muzik yang dipersembahkan kepada khalayak oleh beberapa orang artis atau penghibur.

    Pada dasarnya, Islam mengharuskan hiburan dan Islam adalah agama yang selari dengan fitrah kehidupan manusia. Fitrah kehidupan manusia seperti makan minum, berkeluarga, bersosial, mempunyai perasaan cinta termasuklah berhibur dan suka kepada hiburan.

    Hal ini berdasarkan Firman Allah di dalam surah Ar-Rum ayat 30 yang bermaksud “maka hadapkanlah wajahmu ke arah agama yang hanif (yang menyembah Allah yang Esa) itu agama Allah yang fitrah yang DIA ciptakan manusia di atasnya. Tiada sebarang perubahan pada ciptaan Allah itu; itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

    Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadith yang diriwayatkan oleh Aisyah R.A yang bermaksud, “Sesugguhnya Abu Bakar masuk kepadaku, sedang di sampingku ada dua gadis hamba daripada orang Ansar sedang menyanyi dengan nyanyian yang dinyanyikan oleh orang Ansar pada hari peperangan Bu’ath. Aku berkata, kedua-dua orang ini bukanlah penyanyi. Abu Bakar berkata, adakah di rumah nabi ini terdapat syaitan? Sedangkan pada hari ini adalah hari raya idul fitri. Rasulullah bersabda, wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kamu ada hari rayanya dan ini adalah hari raya kita”. Hadith riwayat Ibnu Majah.

    Hadith ini secara terang menjelaskan bahawa hiburan yang menghiburkan jiwa diharuskan oleh Islam. Islam tidak mewajibkan manusia agar semua perkataan yang keluar dari mulut hanyalah zikir, semua pendengarannya hanyalah Al-quran, semua masa lapangnya berada di masjid tetapi Allah menciptakan manusia supaya mereka bersenang, bermain, ketawa sesuai dengan fitrah kejadiannya.

    Walau bagaimanapun, hiburan nyanyian ini diharuskan oleh Islam dengan syarat ia tidak bercampur kata-kata kotor, keji atau yang boleh memrangsangkan kepada perbuatan dosa. Hal ini berdasarkan pandangan Profesor Dr Al-Sheikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab Al-Halal wa haram fil Islam.

    Isu yang sedang hangat diperkatakan tentang penganjuran konsert yang boleh membawa kepada kemaksiatan. Tidak semua konsert adalah acara yang tidak baik kerana ada konsert yang baik dan dibenarkan oleh Islam sebagai contoh konsert nasyid, konsert yang mengandungi lagu-lagu berunsur nasihat yang tidak bercanggah dengan syariat. As Aheikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab Seni dalam Islam amat berhati-hati dalam memberi pandangan tentang nyanyian dan muzik menurut Islam.

    Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia dalam muzakarah kali ke-2 pada 12 hingga 13 Mei 1981 telah membuat beberapa ketetapan sebagai panduan kepada semua pihak sama ada penganjur atau penonton berkaitan hiburan. Oleh itu, sepatutnya setiap umat Islam yang menganjur konsert atau program hiburan atau ingin masuk ke konsert-konsert atau apa jua program hiburan harus mematuhi garis panduan yang telah diputuskan oleh badan berautoriti fatwa di Malaysia.

    Keputusan muzakarah fatwa menyebut perkara-perkara berikut :

    1. Nyanyian yang seni katanya baik, tidak lucah, tidak biadap dan tidak mendorong kepada maksiat, tidak bercampur gaul antara lelaki dengan perempuan dan tidak membawa kepada fitnah adalah harus.
    2. Jika nyanyian seni katanya tidak baik, lucah, biadap, mendorong kepada maksiat, bercampur gaul lelaki dengan perempuan dan membawa kepada fitnah maka hukumnya adalah haram.
    3. Pancaragam atau alat muzik yang melalaikan seperti lalai menunaikan solat dan sebagainya hukumnya haram.
    4. Mendengar nyanyian dan pancaragam adalah harus dengan syarat seni katanya baik, tidak lucah, tidak biadap, tidak bercampur lelaki dengan perempuan dalam keadaan yang tidak menimbulkan fitnah.
    5. Menyanyi untuk menimbulkan semangat jihad adalah harus.

    Selain itu, program-program hiburan atau konsert mesti bermatlamatkan kebaikan dan kesejahteraan. Paling penting program-program hiburan itu tidak disertai dengan perbuatan haram atau maksiat seperti minum arak, gaya tari yang memberahikan, pakaian yang tidak menutup aurat dan seksi, serta mengandungi unsur-unsur pemujaan yang membawa syirik kepada Allah.

    Lebih membimbangkan program-program hiburan atau konsert disertai dengan perkara-perkara yang haram dan membawa unsur-unsur jenayah seperti penyalahgunaan dadah, pil-pil khayal, arak dan sebagainya. Kesepakatan ulama’ juga dalam pengharaman nyanyian apabila disertai dengan perkara-perkara yang haram seperti pesta seks, minum arak, tarian-tarian lucah dan sebagainya. Apa jua nama yang diberikan sama ada pesta, festival, konsert, simfoni atau apa-apa judulnya tetapi mengandungi unsur-unsur maksiat maka hukumnya tetap haram.

    Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud “akan datang masanya di mana orang-orang dari kaumku akan meminum arak yang kemudian dinamakannya dengan nama-nama lain, diri mereka akan dihiburkan dengan rentak dan nyanyian para wanita, maka Allah SWT akan tenggelamkan mereka ke dalam bumi dan menjadikan mereka monyet-monyet dan khinzir”. Hadith riwayat Ibnu Majah.

    Oleh itu, sebagai umat akhir zaman yang sedang berdepan dengan pelbagai ujian dan cabaran semasa didunia tanpa sempadan ini perlu sentiasa pergegang teguh dengan ajaran Islam. Menjadi tanggungjawab semua pihak untuk memainkan peranan masing-masing bagi membendung gejala sosial dan jenayah berlaku di dalam Negara Malaysia. Maka beruntunglah orang-orang yang kekal teguh imannya kepada Allah dan rasul-Nya dikala orang lain menikmati lautan maksiat yang melalaikan.

    Rasulullah bersabda yang bermaksud “Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu”. Hadith riwayat Muslim.

    Oleh : Ust Mohd Hariri Mohamad Daud (Bhgn Dakwah, Jakim) Penolong Pengarah, bahagian Dakwah, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim).

    22 April 2014 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | | Leave a comment

    Siapa orang yang Allah sayang?

    Siapa lah Allah sayang

     

    SIAPA ORANG YANG ALLAH SAYANG?

    1- Orang yang bertaubat : Surah Al-Baqarah ayat 222

    2- Orang yang suka berbuat baik : Surah Al-Baqarah ayat 195

    3- Orang yang bertawakkal : Surah Ali-Imran ayat 159

    Ayuh ubah diri dan keluarga ke arah pembinaan masyarakat yang lebih baik.

     

    Bahagian Dakwah, JAKIM

    11 April 2014 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

    Gelaran boleh membuat seseorang terjerumus ke dalam neraka

    Seperti yg diceritakan oleh Syeikh Nazrul Nasir al Azhary kita akan dipertanggungjawabkan atas gelaran yg kita terima.

    Kisah al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu. Satu hari ketika beliau sedang berjalan, tiba-tiba ternampak oleh beliau seorang kanak-kanak sedang berjalan dengan memakai kasut kayu. Beliau seraya menegur budak tersebut dengan mengatakan : " Wahai budak, jaga-jaga dengan kasut kayumu itu. Bimbang engkau akan tergelincir nanti "

    Budak tersebut mengucapkan terima kasih di atas perhatian al-Imam kepadanya. Budak itu tiba-tiba bertanya : "Wahai Tuan, siapakah nama tuan?" Al-Imam Abu Hanifah lalu menjawab : " Namaku Nu’man " "Oh, rupa-rupanya tuanlah yang digelar al-Imam al-A’dzam ( Imam Yang Sangat Hebat) itu?"budak itu bertanya kembali kepada al-Imam Abu Hanifah.

    al-Imam Abu Hanifah lalu menjawab : "Bukan aku yang meletakkan gelaran tersebut. Namun orang ramai yang bersangka baik denganku meletakkannya"

    Budak itu lalu menjawab : "Wahai Imam, janganlah engkau sampai tergelincir ke dalam api neraka disebabkan gelaranmu itu, aku hanya memakai kasut kayu yang jika aku tergelincir sekalipun hanya di dunia semata-mata.. Namun gelaranmu itu terkadang membuatkan seseorang akan tergelincir ke dalam neraka Allah taala lantaran angkuh dan berbangga-bangga"

    Menangis al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu mendengar nasihat daripada kanak-kanak kecil tersebut. Allahu Allah.

     

    Sumber: Tazkiratul Awliya

    7 April 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Mencari Sahabat

    Wahai saudara, awas dan ingatlah jangan sekali-kali mencintai dan bersahabat selain orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala, orang-orang yang berilmu dan berzuhud di dunia daripada hamba-hamba Allah yang soleh dan para pencintaNya yang Mukminin.

    Sebab seseorang itu akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya di dunia dan di akhirat.

    Rasulullah SAW pernah bersabda yang bermaksud: Seseorang itu (dipandang) dengan siapa yang duduk bersamanya, dan seseorang itu (diukur) dengan siapa yang berjalan dengannya, oleh itu hendaklah anda memerhatikan siapa yang hendak dijadikan kawan.

    Persahabatan dan duduk bersama-sama orang-orang yang bertaqwa dan soleh dikira sebagai suatu pendekatann diri kepada Allah Ta’ala dan itulah yang disebut persahabatan yang dipuji dan disyukuri.

    Persahabatan dengan orang-orang yang jahat dan orang-orang yang tiada faedah persahabatannya di antara orang-orang lalai dan membelakangi perintah-perintah Tuhan, dan tidak mengendahkan janji tentang Hari Akhirat; itulah persahabatan yang dicela dan yang dikutuk, kerana orang-orang yang suka melakukan bencana dan kerosakan itu memang dituntut untuk membencinya kerana Allah.

    Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: Seteguh-teguh pegangan iman, ialah cinta kerana Allah dan benci kerana Allah.

    Sabda lain Rasulullah SAW yang bermaksud: Seutama-utama amalan ialah cinta kerana Allah dan benci kerana Allah.

    Sabda lain Rasulullah SAW yang bermaksud: Hanyasanya agama itu ialah cinta kerana Allah dan benci kerana Allah.

    Jangan anda bersahabat kecuali seorang Mukmin dan jangan anda membiarkan makanan anda dimakan kecuali seorang yang bertaqwa.

    Kata Penyair: Jangan terburu mengukur orang, Ukurlah dahulu teman sejawatnya, Sifatnya akan menjadi terang, Bila dilihat teman bersamanya.

    Kata Penyair: Orang yang sihat boleh dijangkiti kurap apabila sering bergaul dengan orang yang mempunyai kurap.

    Betapa banyak faedahnya apabila anda bercampur-gaul dengan orang-orang yang baik dan orang-orang yang lurus perjalanannya, sama ada faedah dan manfaat itu dapat dikesan secara spontan, mahupun pada masa yang akan datang.

    - Al-Arifbillah Al-Qutb Al-Habib Abdullah Bin Alawi Al-Haddad

    Sumber: Jom Dakwah Bersama Ulama

    6 April 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    PERINGATAN RASULULLAH S.A.W: HIBURAN HEDONISTIK MENJADIKAN MANUSIA UMPAMA KERA DAN BABI

    Fatwa Malaysia

    Emosi manusia dipengaruhi oleh apa yang berada di dalam hatinya. Emosi manusia terkadang ceria, sedih, marah, bosan, dan sebagainya. Apa yang didengar dan dilihat oleh manusia akan mempengaruhi emosinya. Hati perlukan ketenangan untuk menjadi ceria dan gembira. Manusia memerlukan hiburan bagi menceriakan dan menggembirakan hati.

    Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT, sesuai dan menepati fitrah manusia. Manusia memerlukan hiburan, maka Islam membenarkan manusia berhibur. Namun Islam memberikan garis panduan agar hiburan yang dilihat dan didengar oleh manusia itu, betul-betul mendatangkan manfaat kepada kehidupan manusia.

    Prof Dr Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan, "Islam tidak mewajibkan manusia agar semua perkataan yang diucapkan sehari-hari sebagai zikir, semua renungannya sebagai berfikir, semua pendengarannya hanyalah al-Quran dan semua masa lapangnya mesti berada di dalam masjid. Bahkan Islam mengiktiraf kewujudan manusia itu dengan fitrah dan tabiatnya yang tersendiri sebagaimana yang diciptakan Allah SWT buat mereka. Allah menciptakan manusia supaya mereka senang, ketawa dan bermain-main sebagaimana diciptakan bagi manusia itu keinginan untuk makan dan minum." (Halal dan haram dalam Islam, hlm. 479)

    Seorang sahabat Nabi Muhammad saw bernama Hanzalah al-Usaidi melaporkan, "Pada suatu hari, ketika saya sedang berjalan-jalan, saya bertemu dengan Abu Bakar. Beliau bertanya, ‘Apa khabar kamu, wahai Hanzalah?’ Saya pun menjawab, ‘Hanzalah ini sudah menjadi seperti orang munafik!’ Abu Bakar terperanjat, lalu bertanya lagi, ‘Maha suci Allah! Kenapa kamu berkata sedemikian wahai Hanzalah?’ Saya menjawab, ‘Bagaimana saya tidak jadi seperti orang munafik! Apabila kita berada di sisi Nabi Muhammad saw, baginda mengingatkan kita tentang neraka dan syurga sehingga seolah-olahnya kita dapat melihatnya di hadapan mata kita. Tetapi, apabila kita beredar meninggalkan baginda, kita telah dilalaikan dengan anak pinak dan harta benda kita, sehingga kita melupakan peringatan yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad itu.’ Abu Bakar menjawab, ‘Memang benar apa yang kamu katakan itu wahai Hanzalah. Saya pun merasakan seperti itu.’ Selepas itu, kami berdua pergi berjumpa dengan Nabi Muhammad. Kami duduk di hadapan Nabi Muhammad, lalu saya berkata, ‘Wahai Utusan Allah. Hanzalah sudah jadi seperti orang munafik!’ Baginda bertanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan wahai Hanzalah!’ Saya pun menjelaskan, ‘Wahai Utusan Allah. Apabila kami berada di sisi tuan, tuan mengingatkan kami tentang neraka dan syurga sehingga seolah-olahnya kami dapat melihatnya di hadapan mata kami. Tetapi, apabila kami beredar meninggalkan tuan, kami telah dilalaikan dengan anak pinak dan harta benda kami, sehingga kami melupakan peringatan yang telah disampaikan oleh tuan itu.’ Lantas Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya. Sesungguhnya jika kamu menepati keadaan seperti yang kamu biasanya berada di sisiku dan ketika dalam berzikir, nescaya kamu akan disamakan dengan malaikat di tempat-tempat duduk kamu dan di jalan-jalan kamu. Tetapi wahai Hanzalah, sesaat begini dan sesaat begitu. Sesaat begini dan sesaat begitu. Sesaat begini dan sesaat begitu.’" (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Muslim.)

    Imam al-Nawawi menjelaskan bahawa hadis tersebut menunjukkan bahawa sebagai seorang Muslim kita dituntut untuk memperbanyakkan berzikir kepada Allah dan mengingati serta berhati-hati dengan persoalan akhirat. Namun begitu, pada sela waktu tertentu kita dibenarkan untuk meninggalkan perkara tersebut untuk menikmati nikmat-nikmat yang Allah sediakan di dunia ini (Syarah sahih Muslim, jil. 17, hlm. 65).

    Walaupun manusia dibenarkan oleh Allah untuk mencari hiburan agar hati menjadi tenang dan mendatangkan keceriaan serta kegembiraan dalam hidup, namun manusia tidak dibiarkan menentukan apa sahaja atas nama hiburan. Apa yang dilihat dan didengar manusia memerlukan panduan daripada Allah; Tuhan pencipta sekalian alam, yang maha mengetahui apa yang mendatangkan manfaat atau mudarat kepada manusia dan kehidupan. Jika dibiarkan manusia bebas memilih bentuk hiburan yang disukai oleh nafsunya, maka kehidupan akan menjadi rosak dan porak peranda.

    Hiburan di zaman moden kini yang berteraskan falsafah hedonisme, telah jauh terpesong daripada garis panduan Islam berkaitan hiburan. Hedonisme merupakan satu aliran falsafah yang menjelaskan bahawa keseronokan merupakan matlamat utama dalam hidup. Ia merupakan ajaran atau pandangan bahawa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia (http://en.wikipedia.org/wiki/Hedonism).

    Aliran falsafah hedonisme mula berkembang di Eropah Barat sekitar kurun 14M dan kemudian menjalar ke seluruh dunia (Wade, I.O, The clandestine organisation and diffusion of philosophic ideas in France from 1700 to 1750, 1967). Pemikiran kafir ini telah lahirkan manusia yang hidup dalam kelalaian, mengamalkan gaya hidup bebas sehingga mengorbankan nilai akhlak mulia yang berteraskan agama.

    Hasil pemikiran kafir ini juga melahirkan manusia yang menjadikan keseronokan dan kemewahan yang berlebihan sebagai keutamaan dalam kehidupan seharian. Konsep hiburan yang lahir daripada hedonisme bukan sahaja gagal memberi ketenangan jiwa dan kedamaian dalam sanubari manusia, bahkan mencetuskan masalah dan kecelaruan dalam kehidupan.

    Penganut hedonisme menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan yang disembah. Oleh sebab itu, hiburan hedonistik bukan sahaja gagal mendidik jiwa, malahan mendorong kepada kelalaian, maksiat dan pergaulan bebas yang akhirnya mengundang kepada gejala sosial yang merosakkan kesejahteraan hidup umat Islam. Arak, dadah, dan wanita seksi yang menjadi teras hiburan hedonistik telah menjadikan kehidupan manusia masa kini punah ranah.

    Firman Allah SWT dalam al-Quran; Surah al-Jathiyah ayat 23 yang bermaksud, "Dengan yang demikian, bagaimana fikiranmu (wahai Muhammad) terhadap orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan yang dipatuhinya, dan dia pula disesatkan oleh Allah kerana diketahuiNya (bahawa dia tetap kufur ingkar). Dan dimeteraikan pula atas pendengarannya dan hatinya, serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yang dapat memberi hidayah petunjuk kepadanya sesudah Allah (menjadikan dia berkeadaan demikian)? Oleh itu, mengapa kamu (wahai orang yang ingkar) tidak ingat dan insaf?"

    Nabi Muhammad saw telah memberikan peringatan, akan ada dalam kalangan orang Islam di akhir zaman yang berhibur melampaui batas agama. Mereka ini dilabel oleh Nabi Muhammad sebagai ‘manusia berperangai kera dan babi’. Abu Malik al- Asy’ari melaporkan, "Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Sesungguhnya sebahagian daripada umatku akan meminum arak dan menamakannya dengan bukan nama asalnya dan dialunkan muzik kepada mereka serta dihiburkan oleh penyanyi-penyanyi perempuan. Allah akan membenamkan mereka ke dalam perut bumi dan Allah akan menjadikan mereka kera dan babi.’” (Hadis diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah)

    Oleh itu, umat Islam wajib mengembalikan seluruh aspek kehidupan termasuk hiburan, kepada panduan Islam. Hiburan yang dibenarkan Islam adalah hiburan yang mendatangkan manfaat kepada hidup manusia. Sebaliknya, hiburan yang bertentangan dengan Islam, seperti hiburan hedonistik, adalah hiburan yang mendatangkan mudarat kepada hidup manusia.

    Info:

    Program hiburan yang dibenarkan menurut Perundangan Islam perlu memenuhi ciri berikut:

    1) Bermatlamatkan kebaikan dan kesejahteraan.

    2) Diadakan di tempat yang bersesuaian supaya tidak mengganggu ketenteraman awam dan orang ramai.

    3) Mengambil kira masa yang bersesuaian dengan sensitiviti masyarakat dan ajaran Islam.

    4) Tidak disertai oleh perbuatan haram atau maksiat

    5) Tidak mengandungi acara yang bersifat provokasi yang boleh menimbulkan sikap prejudis atau permusuhan

    6) Tidak mengandungi unsur-unsur pemujaan atau penyembahan yang bertentangan dengan ajaran Islam

    Ciri persembahan muzik yang dibenarkan:

    1) Tidak menimbulkan gerak geri liar

    2) Tidak mendorong kepada perbuatan maksiat

    3) Tidak melalaikan

    Ciri persembahan artis yang dibenarkan:

    1) Berinteraksi dengan penonton secara sopan dan disertai kata-kata yang boleh membina nilai-nilai kemanusiaan.

    2) Berpakaian kemas, sopan serta tidak memakai pakaian yang boleh mendedahkan diri kepada eksploitasi penonton dan tidak bercanggah dengan kehendak Islam

    3) Tidak melakukan gerak geri dan perkataan yang boleh menimbulkan perasaan yang mendorong kepada maksiat dan menghina Islam.

    4) Tidak mengucapkan kata-kata yang menggalakkan perbuatan maksiat atau menghina agama Islam.

    Ciri persembahan tarian yang dibenarkan:

    1) Berpakaian kemas, sopan serta tidak memakai pakaian yang boleh mendedahkan kepada eksploitasi penonton dan tidak bercanggah dengan kehendak Islam.

    2) Gerak tari yang dipersembahkan tidak menimbulkan fitnah.

    3) Tidak berlaku percampuran antara lelaki dengan perempuan yang boleh menimbulkan fitnah. 4) Tidak bertujuan pemujaan atau penyembahan

    5) Tidak dipersembahkan dengan gaya yang memberahikan. (JAKIM, Garis Panduan Hiburan Dalam Islam, 2005)

     

    OLEH:

    DR. ARIEFF SALLEH BIN ROSMAN,FELO FATWA

    24 March 2014 Posted by | Fatwa, Tazkirah | | Leave a comment

    Bagaimana Ibadah Boleh Melahirkan Kemajuan

    Kita beribadah dengan tujuan menyembah Allah yang memang patut disembah. Jangan pula kita beribadah itu untuk menyembah nafsu kita dengan cara membina mazmumah.

    Setelah memahami bahwa tujuan manusia adalah menyembah Allah, perlu kita pelajari bagaimana cara-cara manusia menyembah Allah. Kemajuan lahir dan batin manusia tidak terpisah. Dengan manusia menyembah Allah secara lengkap dan tepat, maka ajaran Islam akan terlihat cantik.

    Cara menyembah Allah ada 3 bahagian, iaitu

    1.) Ibadah yang asas : mempelajari, memahami, meyakini, rukun iman, serta mempelajari, memahami dan melaksanakan rukun islam.

    2.) Ibadah fadhailul amal : Amalan-amalan yang utama seperti puasa Isnin & Khamis, solat tahajud, solat sunat rawatib, membaca ayat-ayat tasbih, tahmid, tahlil, membaca selawat, dan lain-lain

    3.) Ibadah yang umum, yang lebih luas, seluas dunia, iaitu ibadah yang mubah(harus) jadi ibadah asalkan menempuh lima syarat ibadah

    Lima syarat ibadah untuk ibadah umum adalah seperti berikut:

    1. Niat mesti betul

    2. Perkara yang kita buat dibenarkan syariat

    3. Pelaksanaan sesuai dengan syariat

    4. Natijah (hasil) digunakan sesuai syariat

    5. Jangan tertinggal ibadah yang asas

    Ibadah yang asas, serta ibadah yang fardhu, kalau kita dapat amalkan sungguh-sungguh lahir dan batin, dengan penuh khusyuk, dapat membuahkan akhlak yang mulia, budi pekerti yang baik, khusnul khulq. Akhlak yang mulia ini merupakan buah ibadah. Sebab itulah Allah menilai ibadah manusia bukan atas dasar banyak tetapi sejauh mana memberi hasil, dapat membuahkan akhlak. Seharusnya makin banyak beribadah, makin halus akhlaknya. Itu yang disebut amal taqwa, amal soleh. Tetapi kalau ibadah banyak tidak membuahkan akhlak mulia, masih lagi dihukum di neraka.

    Pernah Rasulullah SAW berkumpul bersama dengan para sahabat, kemudian Rasulullah berkata, saya memiliki seorang tetangga wanita, dia berpuasa siang harinya dan di malam harinya shalat tahajjud, tetapi ia ahli neraka. Sahabat bertanya, bagaimana wanita itu ya Rasulullah, jawab baginda Rasulullah SAW, wanita itu selalu menyakiti tetangga dengan lidahnya. (Tidak ada kebaikan lagi baginya) dia adalah ahli neraka. Kenapa? Sebab ibadah tidak berbuah. Jadi orang yang menyakiti orang lain, ibadahnya tidak melahirkan akhlak.

     

    Sumber:
    FB JAKIM
    JAKIM Logo

    14 March 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Join 155 other followers

    %d bloggers like this: