Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

APAKAH DI MASA PARA TABI’IN SUDAH ADA MAZHAB-MAZHAB FIQH?

Untuk memahamkan pada keldai beragama kelompok Wahabi yang yang jahil, kerana rujukan ilmu, ulamanya dalam manhajnya yang mega ANTI MAZHAB dan TAKLID pada ulama mujtahid mutlak.
.
Mazhab fiqh yang empat itu pada era tabi’in-tabi’in atau satu generasi setelah generasi tabi’in.
.
Walau bagaimana pun demikian bukan berarti generasi tabi’in dan tabi’in-tabi’in keduanya terpisah waktu, melainkan berhimpitan dan saling masuk satu dengan yang lain. Sebut saja contohnya Al-Imam Abu Hanifah yang lahir di tahun 80 H dan wafat di tahun 150 H. Kalau dilihat dari tahun lahir, sebenarnya beliau lahir di masa masih tabi’in, bahkan di masa itu masih ada sebagian sahabat nabi yang masih hidup.
.
Disebutkan bahwa generasi sahabat yang terakhir adalah Abu Ath-Thufail Amir bin Watsilah Al-Laitsi r.a. Beliau yang juga dikenal dengan sebutan Al-Kanani, diperkirakan wafat pada tahun 102 H. Versi lainnya menyebutkan bahwa beliau wafat tahun 110 H. Beliau dimakamkan di Mekkah. Wafatnya sahabat yang terakhir ini menandai pindahnya era sahabat ke era tabi’in.
.
Salah satu imam mazhab yang empat, yaitu Al-Imam Asy-Syafi’i rhm baru lahir di tahun 150 H bersamaan dengan tahun wafat Imam Abu Hanifah rhm. Dan beliau wafat di tahun 204 H.
.
Jadi ada ulama mazhab empat yang sudah lahir sejak awal sekali masih di era TABI’IN, tetapi MASA imam mazhab yang EMPAT masa era berlalunya sehingga wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal rhm di tahun 241 H.
.
MASA TABI’IN
.
Tabi’in adalah mereka yang pernah BERTEMU LANGSUNG dengan para sahabat Nabi di masa hidupnya, dalam keadaan muslim dan wafat dalam keadaan muslim juga. Masa tabi’in dikenal sebagai masa dimana para sahabat umumnya SUDAH WAFAT dan yang menjadi rujukan dalam masalah hukum agama adalah para TABI’IN .
.
Para tabi’in adalah murid-murid para sahabat yang meneruskan ilmu para sahabat sekaligus mewarisi keulamaan mereka. Dan sebagaimana para guru mereka, para tabi’in ini bukan hanya berkedudukan sebagai periwayat nash-nash syariah, tetapi lebih dari itu, mereka adalah PARA MUJTAHID yang melakukan istimbath hukum, di luar apa yang mereka riwayatkan dari para sahabat.
.
JUMLAH mereka tentu LEBIH BANYAK dari jumlah mujtahid di kalangan sahabat. Karena tiap sahabat tentu punya banyak murid yang benar-benar berhasil di tarbiyahkan menjadi mujtahid besar di masanya.
.
Karena para sahabat yang menjadi guru dan rujukan mereka hidup bertaburan di sana sini di pelbagai pusat peradaban Islam semenjak wafat Rasulullah s.a.w. maka adanya para mujtahid dari kalangan tabi’in ini juga bertaburan sesuai dengan tempat tinggal para sahabat itu.
.
MAZHAB FIQH DI ERA TABI’IN
.
Tentu saja di era tabi’in belum ada pembahagian mazhab yang empat. Tetapi bukan berarti di masa itu belum ada ILMU FIQH. Oleh itu para ulama mazhab yang empat itu adalah MURID-MURID TERBAIK dari generasi tabi’in_di sinilah kekeliruan si Wahabi dan keldai beragamanya tidak mahu menerima Imam Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali) itu ana ulang tulis supaya mudah faham imam-imam mazhab itu adalah MURID-MURID TERBAIK dari generasi tabi’in.
.
Walau apapun keterangan pada si Wahabi konsistan bodohnya mengatakan pada MURID-MURID TERBAIK dari generasi tabi’in ini bukannya Maksom katanya. Cuma yang terbaik pada mereka pula ialah ulama idolanya Ibnu Taimiyah (w.728), jarak Ibnu Taimiyah dengan adalah MURID-MURID TERBAIK dari generasi tabi’in satu contoh Imam Syafi’i rhm adalah 524 tahun. Ini bermakna ulama idola Wahabi ini bukan generasi SALAF dan juga tidak mencapai standard mujtahid mutlak, dahlah begitu warisan yang ditinggalkan oleh imam-imam mazhab iaitu MURID-MURID TERBAIK dari generasi tabi’in ini asetnya MAZHAB MEREKA dianggap BID’AH oleh ulama Wahabi Salafi di sinilah kelirunya keldai beragama.
.
Di masa tabi’in terkenal adanya kota-kota yang menjadi pusat ilmu syariah, seperti Madinah, Mekkah, Kufah, Bashrah, Syam, Mesir dan Yaman. Kota-kota itu menjadi pusat pengajaran ilmu agama, karena beberapa faktor, terutama karena para sahabat yang berlevel mujtahidi itu tinggal disana dan membangun pusat pendidikan ulama mujtahid.
.
1_MADINAH
.
Meski kebanyakan sahabat pergi meninggalkan Madinah sepeninggal Rasulullah s.a.w. dan era khilafah rasyidah, namun tentu saja masih ada para sahabat berlevel mujtahid yang menjadi ulama dan membangun pusat pengkaderan para mujtahid.
.
Setidaknya masih ada ulama mujtahid selevel Abdullah bin Umar bin Al-Khattab dan Zaid bin Tsabit r.a.
.
Maka lahirnya tujuh ulama ahli fiqh dari kota Madinah, di antaranya,
1.Said bin Al-Musayyib 2.Urwah bin Az-Zubair 3.Qasim bin Muhammad 4.Kharijah bin Zaid 5.Abu Bakr bin Abdullah bin Utbah bin Masud 6.Sulaiman bin Yasar 7.Ubaid bin Abdillah, Nafi’ Maula Abdullah bin Umar.
.
2_MEKAH
.
Kota Mekkah sebagai tempat awal mula turunnya wahyu dan di dalamnya terdapat Baitullah, juga menjadi pusat pengkaderan para ulama mujtahid. Di kalangan sahabat berlevel mujtahid ada yang menjadi guru di Mekkah, antara lain Ibnu Al-Abbas dan Abdullah bin Az-Zubair r.a.
.
Di antara murid-murid sejati Abdullah bin Al-Abbas adalaha Mujahid, Atha’ bin Abi Rabah, Thawus bin Kisan dan lainnya.
.
Namun karena di masa itu para ulama juga punya kebiasaan berpindah-pindah kota, maka tidak hairan kalau ada sebahagian dari mereka yang dianggap sebagai ulama yang mewakili kota tertentu pada suatu waktu, tetapi para waktu yang lain, mereka mewakili kota lainnya.
.
Contohnya Thawus, beliau kadang disebut sebagai ulama Yaman, karena juga pernah tinggal di Yaman.
.
3_KUFAH
.
Jumlah sahabat yang pindah ke Kufah tidak sedikit, bahkan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pun pernah memindahkan pusat pemerintahannya ke Kufah. Selain itu juga ada Abdullah bin Mas’ud, yang sejak zaman khalifah Umar telah diutus secara rasmi untuk menjadi guru para ulama.
.
Lahir dari tangan Abdullah bin Mas’ud para ulama mujtahid dari kalangan tabi’in, antara lain, 1. ’Alqamah 2. Al-Aswan 3. Masruq
4. Syuraih 5. Asy-Sya’biy 6. An-Nakha’i dan
7. Said bin Jubair.
.
An-Nakha’i adalah tokoh tabi’in yang menjadi salah satu guru dari Al-Imam Abu Hanifah nantinya.
.
4_BASHRAH.
.
Anas bin Malik dan Abu Musa Al-Asy’ari adalah dua orang sahabat yang mengajarkan ilmu syariah di kota Bashrah. Dan di antara murid terbaik kota Bashrah dari kalangan tabi’in antara lain Al-Hasan Al-Basri dan Muhammad Ibnu Sirin.
.
5_SYAM

Ketika diutus menjadi gabenor di Syam, Yazid Abi Sufyan sempat berkirim surat kepada Khalifah Umar di Madinah. Isinya bahawa penduduk Syam memerlukan pada ulama dan mujtahid yang fatwanya ditunggu-tunggu serta untuk menjadi guru agar lahir para mujtahid generasi berikutnya.
.
Surat itu dijawab oleh Umar dengan mengirimkan shahabat berlevel mujtahid, iaitu 1. Muadz bin Jabal 2. Ubadah bin Ash-Shamit 3. Abu Ad-Darda’ r.a.
.
Muadz bin Jabal kemudian menghabiskan sisa hidupnya di Syam dan Palestin menjadi guru besar. Ubadah bin Ash-Shamit mengajar di wilayah Himsh, dan Abu Ad-Darda’ mengajar di Damaskus.
.
Maka lahir dari tangan-tangan mereka murid-murid yang handal dan menjadi mujtahid terbesar di zamannya, seperti 1. Abu Idris Al-Khaulani 2. Makhul Ad-Dimasyqi 3. Umar bin Abdul Aziz 4. Raja’ bin Haywah 5. juga Imam besar penduduk Syam, Abdurrahman Al-Auza’i.
.
6_MESIR.
.
Di Mesir kita menemukan ada Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a. Abdullah adalah seorang sahabi yang termasuk yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah s.a.w. Namun di samping itu, beliau yang merupakan putera dari Amr bin Al-Ash, sang gabenor wilayah Mesir, juga seorang mujtahid yang banyak melakukan istimbath hukum.
.
Banyak kalangan tabi’in yang menimba ilmu agama dari Abdullah, salah satunya adalah Yazid bin Hubaib. Yazid adalah orang yang nantinya menjadi guru bagi Al-Laits bin Saad, ulama besar Mesir di masanya.
.
7_YAMAN
.
Di antara fuqaha ahli ijtihad yang tinggal di Yaman dari kalangan tabi’in adalah Mathraf bin Mazin. Beliau di kota Shan’a berkedudukan sebagai hakim (qadhi). Selain itu juga ada Hisyam bin Yusuf.
.
Demikian sekelumit kisah tentang generasi awal para ulama fiqih di masa tabi’in.

Semoga bermanfaat, lebih-lebih lagi pada tokoh-tokoh Wahabi tempatan yang kurang faham selok belok ini menjadikan mereka jahil siapa sebenar mengikut salaf ?

Wassalam.

Sumber.

31/03/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

ASWAJA vs WAHABI

WAHABI SAYS:

Taqrir nabi terhadap bilal xbleh dijadikan hujah untk amalan2 yg muncul selepas nabi wafat sebab taqririyyah cuma berlaku ketika baginda masih hidup je

ASWAJA JAWAB
Kalaulah kita tidak boleh melakukan perkara yg belum diajarkan oleh nabi sudah tentu nabi tidak akan mentaqrir perbuatan Bilal kerana sudah sangat jelas bahawa perbuatan Bilal itu sudah salah sejak dari asalnya.Jadi pengajaran yg dapat diistimbat dr taqrir nabi itu ialah bukan semua perkara yg belum diajarkan oleh nabi itu salah.Salah atau tidak bukan berdasarkan kepada telah diajarkan oleh nabi atau belum tapi berdasarkan adakah bercanggah dgn dalil dalil am atau tidak.Oleh kerana perbuatan Bilal itu baik dan tidak bercanggah dgn dalil dalil am maka sebab itulah nabi taqrir.

WAHABI SAY:

Bab ibadat kita xbleh ikut kepala sdiri. Mcmana kita nk tau Tuhan iktiraf semua tu kalu bkn melalui dalil or taqrir dari nabi? Masa tu islam belum lengkap & wahyu pun sdg turun. Byk je amalan2 dari sahabat yg nabi approve. Skrg semua tu dh tertutup sebab nabi dh wafat & agama ni pun telah sempurna. Apa2 yg xjadi sebahagian dari agama pd masa tu skrg pun tetap takkan jadi sebahagian dari agama

ASWAJA JAWAB:

Itulah gunanya Al Quran dan sunnah.Itulah neraca kita sekarang.So kalau perkara baru kita timbang dengan neraca Al Quran dan sunnah dan didapati tidak bercanggah dgn dalil dalil am bererti perkara baru itu hukumnya harus tak kira samada dalam masalah ibadat atau muamalat.Sebab Al Quran telah sempurna diturunkan dan nabi pun dah wafat maka berdasarkan kepada Al Quran juga ayat yg berbunyi
فاعتبروا يا أولى الألباب
Maka ambil pengajaranlah wahai orang orang yg mempunyai akal fikiran

Maka para ulama telah setuju utk mengguna pakai hukum kias dalam masalah perkara perkara baru.Bila kias digunakan maka kias itu kita kiaskan berdasarkan kepada dalil dalil am.

WAHABI SAYS:

Ok kenapa imam nawawi menghukum solat raghaib sbg bidaah? Kalu nk kira xbercanggah tu dgn dalil2 am. Solat je pun.Sorry tak ada kias dalam ibadat.

ASWAJA JAWAB:

Imam nawawi bukan menentang tentang solat tu.Tapi imam nawawi menentang pengkhususan waktu.Sebab ada hadis yg melarang mengkhususkan solat sunat pada waktu waktu tertentu seperti pada malam jumaat dan lain lain.Kalau engkau kata tak ada kias dalam ibadat ertinya tertutuplah pintu ijtihad dalam bab ibadat.Padahal pintu ijtihad adalah terbuka dalam semua amalan dalam Islam.Nabi sendiri telah membuka suatu wawasan utk kias dalam ibadat.Ini dalam peristiwa seorang telah bwrtanya kepada Rasulullah bahawa ibunya telah berniat utk haji tetapi telah meninggal sebelum sempat dia mengerjakannya.Lalu Raaulullah berkata jika ibumu berhutang adakah kamu wajib membayarkan hutang bagi pihaknya?Dia menjawab sudah tentu.Lalu Raaulullah berkata maka hutang Allah itu terlwbih berhak utk dilunaskan.Di sini nabi telah mengkiaskan kewajiban membayar hutang dengan mengerjakan haji.Kalau tidak ada kias dalam ibadat mengapa nabi mengkiaskan membayar hutang dgn haji?Semasa muaz diutuskan ke yaman baginda telah bertanya kepada muaz dengan apa kamu akan menghukum.Muaz telah menyebutkan usul usul fatwa di hadapan Raaulullah termasuklah kias.Tidak dinyatakan kias itu adakah hanya dalam bab muamalat sahaja atau semua termasuk ibadat.Yg nyata drp peristiwa itu kias adalah masuk dalam semua bab termasuk ibadat.Kalau ibadat tidak boleh diijtihadkan dan tidak boleh memakai kias sudah tentu Rasulullah menerangkan kepada kita.Tapi tak ada pulak pengecualian tidak boleh ijtihad atau menggunakan kias dalam ibadat sepanjang Rasulullah hidup termasuklah dalam kes muaz yg tersebut

WAHABI SAYS:

Tu kisah masa nabi belum wafat… lani ko nak mintak sape yg mngesahkn qiyas ko tu?

ASWAJA JAWAB:

Itulah namanya ijtihad boleh salah boleh betul.Jika betul dapat 2 pahala dan jika salah dapat 1.Wahhabi menolak kias dalam ibadat bererti wahhabi sesat kerana tidak mengikuti petunjuk Rasulullah dalam hal ini dan tidak mengikut teladan salafusaleh

WAHABI SAYS:

Ulama2 mazhab syafie mmg tolak qiyas dlm ibadat syeikh

ASWAJA SAYS:

Mana kata ulama syafie tolak kias dalam ibadat.Ulama syafie menetapkan disunatkan melafaskan usolli dalam solat dll melafaskan niat.Itu adalah berdasarkan kepada kias.Korang mudah kena tipu dgn wahhabi sebab korang tak belajar usulfiqh dan kaedah kaedahnya.Ulama wahhabi aku bukan nak cakap apalah kebanyakan mereka tidak jujur dan menipu

WAHABI:
Sekejap..sekejap..aku nak terberak laa…nanti kita sembang lagi k ?

ASWAJA:..???

FB Ilham Othmany

30/03/2019 Posted by | wahabi | Leave a comment

BAGAIMANA WAHHABI MEMPERALATKAN AL QURAN DAN SUNNAH.

Mahasuci Allah daripada sifat ketawa.Ketawa di dalam hadis di atas ditakwilkan dengan redhaNya.Apabila seseorang redha dia akan ketawa seperti ketawa nabi dengan sebab keredhaan Allah

Ketawa itu kalau bagi makhluk melibatkan perubahan muka pada memek wajah.Keadaan manusia ketika ketawa dan ketika tidak ketawa tidak sama.Sebab tu ketawa adalah mustahil bagi Allah kerana ketawa adalah sifat makhluk yg baharu.Adakah wajah Allah ketika ketawa dan ketika tidak ketawa tidak sama?Adakah memek wajah Allah berubah ketika ketawa?Adakah Allah itu kekal baqa atau Allah itu fana sehingga dia berubah dari satu keadaan kepada satu keadaan?Mustahil zat Allah itu berubah dari satu keadaan kpd satu keadaan kerana berubah itu adalah pergantian zat.Padahal zat Allah kekal tidak bertukar ganti.Sebab tu semua ulama ahli sunnah dan pensyarah pensyarah hadis mentakwilkan ketawa Allah itu sebagai sifat af’al yaitu redhaNya.

Wahhabi dalam usaha mereka utk menjisimkan Allah sanggup mencipta kaedah yg bid’ah dalam ilmu tafsir.Mereka mengatakan ayat ayat yg berhubung dengan sifat Allah tidak boleh ditakwilkan tapi ayat ayat yg bukan berhubung dengan sifat Allah boleh ditakwilkan.Bukankah semua ayat ayat Al Quran dari surah Al Fatehah hingga surah annas wajib diterima dan jika ditolak maka seseorang itu menjadi kafir?Sama sahaja menolak sesuatu drpnAl Quran menjadikan seseorang kafir samada ayat yg berhubung sifat Allah atau ayat yg tidak berhubung sifat Allah.So bagaimana mereka wahhabi itu boleh mengatakan bahawa mentakwil ayat yg berhubung dgn sifat Allah bererti menolak firman Allah sedangkan mentakwil ayat yg selain drp itu tidak mengapa.Bukankah sama sama ayat Al Quran yg wajib diterima?Wahhabi sering mengatakan apabila Allah berfirman dengan ayat ayat mutasyabihat apakah Dia tidak tahu apa yang diucapkan sehingga firmanNya perlu ditakwilkan?Kita katakan kepada mereka yg jahil ini Allah itu lebih mengetahui apa yg Dia ucapkan sebab itulah Dia mengatakan firmanNya ada yg muhkamat dan ada yg mutasyabihat(ali imran ayat 7).Berdasrkan ayat 7 surah aali imran itu takwil adalah sebahagian drp manhaj tafsir ahli sunnah dan takwil itu hukumnya wajib ketika ada keperluan(qarinah) dan sekurang kurang takwil itu adalah sekadar tidak memakai makna zahir tanpa menentukan apakah takwilnya seperti yg dilakukan oleh salaf.Dan kriteria apakah sesuatu ayat mutasyabihat itu wajib ditakwilkan atau tidak ,bukan bergantung samada ianya sifat Allah atau tidak tapi dilihat samada ada qarinah atau tidak .

Sebenarnya wahhabi memakai kaedah yg sangat rapuh dan sangat mudah dirobohkan sebab itu lah dimana mana ramai yg menolak wahhabi kecuali mereka mereka yg telah tertipu dengan ustaz ustaz wahhabi kerana mereka biasanya menggunakan slogan menipu kembali kepada Al Quran dan sunnah.Tapi bagi mereka yg faham kaedah tafsir dan sempat dan berpeluang mempelajari kitab karangan ulama muktabar mereka akan mengetahui kebatilan wahhabi.Slogan kembali kepada Al Quran dan sunnah menjadi alat pemanis mulut semata seperti kata sayidina Ali 
كلمة الحق أراد به الباطل
Perkataan yg benar tapi diucapkan utk perkara yg batil.

Salah satu penyelewengan wahhabi dalam masalah sifat ialah mereka melangkahi al Quran dalam menetapkan sifat sifat Allah lalu Al Quran dipaksa supaya tunduk kepada pemikiran yg mereka inginkan.Padahal tidak boleh sifat sifat Allah ditetapkan melainkan harus merujuk kepada Al Quran terlebih dahulu.Oleh kerana Al Quran memerlukan penafsiran dimana sebahagian ayat ayatnya ada yg jali ada yg khafi ada mutasyabih ada yg muhkam maka perkara perkara tersebut harus disetelkan terlebih dahulu barulah boleh ditetapkan antara sifat sifat Allah itu mana yg hakikiah mana yg khabariah.Mana yg zatiyah mana yg fi’liyah mana yg sarih mana yg muawwal.Bukan main hantam kromo aja .Cara hantam kromo begitu adalah cara yahudi laknatullah ketika mereka mau mengejek Al Quran mereka memaknakan ayat ayat mutasyabihat mereka hanya memakai pengertian lahiriah Allah itu miskin kerana meminjam wang dari makhluk kata mereka berdasarkan kepada ayat 
من ذا الذي يقرض الله قرضا حسنا
Siapakah yg sanggup meminjamkan kepada Allah dengan suatu pinjaman yg baik…
Allah mengeji mereka 
لقد سمع الله قول الذين كفروا إن الله فقير…
Sesungguhnya Allah mendengar perkataan orang kafir yang mengatakan Allah itu miskin..
Satu pernyataan(khabar) drp Allah yg berbentuk tahdid(ancaman)

Kita akan katakan kepada orang yg fasiq lagi bodoh ini bukan yahudi sahaja yg akan terkena ancaman Allah ini.Kalian juga wahai wahhabi Allah mendengar perkataan kamu yg mengatakan Allah duduk,Allah berhajat kepada tangan,Allah berhajat kepada mata ,Allah terbatas,Allah ketawa berdekah dekah ha ha ha,Allah sama seperti zat yg ada permulaan dan lain lain..

Selalu wahhabi ketika hendak mempertahankan kemujassimahan mereka akan berdalih bahawa kepercayaan mereka itu adalah berdasarkan kepada kefahaman salaf.Allah itu duduk tapi tak sama dengan duduk makhluk.Allah itu ada tangan.Tapi tangan Allah tak sama dgn tangan makhluk.Allah itu bertempat dan tempat Allah itu di atas langit.Allah itu turun naik antara langit dgn bumi utk memberi rahmat kepada makhlukNya.Betulkah salaf memahamkan begitu?Itu sebenarnya bukan fahaman salaf .Itu adalah fahaman ibnu taimiyah seorang penjenayah dalam agama.Buktinya beliau sampai dipenjarakan dengan persepakatan sekelian ulama pada zamannya.Kalau imam Ahmad dipenjara maka Allah telah menzahirkan kebenaran beliau di mana akhirnya dibebaskan dan sultan akhirnya insaf dan kembali kepada kefahaman sunnah yg sebenar.Tetapi ibnu taimiyah Tuhan tidak pernah menzahirkan kebenarannya .Beliau akhirnya wafat dipenjara dan ajarannya pupus utk suatu tempoh yg lama sehinggalah dihidupkan kembali di abad 19 oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan bantuan dr pihak British.Fahaman inilah yg dianut wahhabi.Bukan fahaman salaf.Mereka para wahabi itu menolak takwil terhadap nas nas mutasyabihat pada hal takwil terhadap nas nas mutasyabihat itu ijmak antara salaf dan khalaf berdasarkan firman Allah dalam surah Ali imran ayat 7
وما يعلم تأويله إلا الله..
Dan tidak ada yg mengetahui takwilnya melainkan Allah..

Menunjukkan takwil itu memang ada.Hanyasanya ulama salaf berpegang kepada takwil ijmal atau takwil tafwidh sedang kan ulama salaf berpegang kepada takwil tafsil.Takwil ijmal tidak menentukan takwilnya malah diserahkan kepada Allah kerana Allahlah yg mengetahui takwilnya berdasarkan ayat 7 Ali imran di atas.Ulama khalaf menentukan takwilnya kerana mereka berpendapat walaupun Allah mengatakan hanya Dia yg mengetahui takwil namun tidak salah utk berijtihad bagi menyelamatkan akidah orang awam.Jadi jelas menolak kaedah takwil bukan kaedah ahlu sunnah.Itu adalah kaedah khawarij yaitu segolongan arab badwi yg tidak berilmu pengetahuan yg lurus bendul.Mereka terkenal sebagai kumpulan yg menafsirkan Al Quran secara sembrono.

Wahhabi menafikan bahawa salaf tafwidh akan ayat ayat mutasyabihat.Mereka mengatakan bahawa salaf memaknakan ayat ayat mutasyabihat secara zahir seperti kalau tangan Allah ya maknanya tangan Allah Cuma tangan Allah itu tak sama dgn tangan makhluk.Jadi jelas di sini tafwidh yg mereka lakukan terhadap ayat ayat mutasyabihat adalah tafwidh atas sifat Allah yg difahamkan secara zahir melalui ayat ayat mutasyabihat.Sedangkan salaf tidak pernah mentafwidhkan sifat Allah yg ditetapkan menerusi ayat ayat mutasyabihat.Tafwidh salaf bukan tafwidh sifat.Tafwidh salaf adalah tafwidh makna ayat mutasyabihat.Salaf tidak pernah mengisbatkan sifat sifat yg diceritakan dalam ayat ayat mutasyabihat sebagai sifat Allah.Mereka menyerahkan muradnya atau maknanya kepada Allah di samping mengiktikadkan zahiruhu ghairu murad- zahir makna bukan yg dimaksudkan.

Rasulullah sendiri menyuruh umat supaya menyerahkan makna ayat ayat Al Quran kepada Allah yg lebih mengetahui.Ertinya yg nabi suruh tafwidh makna bukan tafwidh sifat.Imam Ibnu Kathir meriwayatkan dari Imam Ahmad sebuah hadis nabi yg berbunyi:
إنما هلك من كان قبلكم بهذا ضربوا كتاب الله بعضه ببعض وإنما أنزل كتاب الله ليصدق بعضه بعضا فلا تكذبوا بعضه ببعض فما علمتم منه فقولوا وما جهلتم فكلوه إلى عالمه

Sesungguhnya telah binasa orang orang yg sebelum kamu dengan sebab ini.Mereka mempertentangkan kitab Allah sebahagian dgn sebahagiannya .Sesunggunya diturunkan kitab Allah itu ayat ayatnya saling membenarkan antara satu sama lain maka janganlah kalian mendustakan kitab Allah itu sebahagian dengan sebahagiannya.Apa apa yg kalian tahu maka katakanlah dan apa apa yg kalian tidak mengetahui maka serahkanlah kepada Yang Mengetahui(Allah)

Ibnu Kathir mengatakan perawi perawinya thiqat.Jelas di dalam hadis di atas Rasulullah menyuruh menyerahkan makna ayat yg tidak diketahui maknanya.Ertinya tafwidh makna ayat.Bukan tafwidh sifat.Kalau tafwidh sifat maka semua sifat Allah kita kena tafwidh.Siapa yg mengetahui hakikat sifat qudrat Allah?Siapa yg mengetahui hakikat sifat iradat Allah?Siapa yg mengetahui hakikat sifat ilmu Allah dan lain lain?Jawabnya tak ada.Tafwidh sifat itu dah tak payah dipersoalkan lagi.Tapi tafwidh yg dimaksudkan dalam hadis di atas adalah tafwidh makna ayat dalam kitab Allah yg tidak diketahui maknanya terutama sekali ayat ayat mutasyabihat.Timbul satu persoalan bagaimana kita begitu yakin bahawa ayat ayat mutasyabihat itu zahir maknanya bukan yg dikehendakki.Jawabnya ialah kerana ayat ayat mutasyabihat itu zahir maknanya seakan akan menyerupakan Allah sgn makhluk sedangkan Allah telah berfirman di dalam ayat yg muhkamat
ليس كمثله شيئ
Allah itu tidak serupa dengan segala sesuatu

Sebab itulah para ulama ketika mensyarahkan hadis hadis sifat dan ketika membincangkan metod salaf mereka selalu mengatakan bahawa menurut metod salaf ayat ayat mutasyabihat itu di samping diserahkan maknanya kepada Allah hendaklah disertai dgn tanzihul ilaah amma laa yaliqu bihi wa amma zohiru ghairu murad iaitu mensucikan Allah drp sekelian sifat yg tidak layak bagiNya(sifat kebendaan) dan adapun makna zohir dari ayat ayat tersebut bukan yg dikehendakki dan bukan yg dimaksud.

Sekian terimakasih.


Olih:Ilham Othmany

30/03/2019 Posted by | Aqidah, wahabi | 1 Comment

Isu qadha solat timbul lagi

Isu qadha solat timbul lagi baru-baru ni disebabkan seorang pensyarah muda yang popular di sebuah IPTA yang memegang gelaran doktor falsafah dalam bidang hadith mengatakan solat yang ditinggalkan dengan sengaja tidak perlu diqadha. Tambahan pula beliau mempunyai pengikut yang ramai di FB.

Daripada pembentangan beliau tentang hukum qadha’ solat, dapatlah diketahui bahawa beliau mengambil pendapat daripada Ibn Taimiyah, Ibn Rajab, Ibn Hazm, al-Hassan al-Basri dan al-Humaidi.

Sedangkan jumhur ulamak mengatakan wajib qadha’ solat yang ditinggalkan dengan sengaja.

Alhamdulillah telah bangkit seorang tokoh menjawab pandangan doktor muda tersebut. Tokoh yang dimaksudkan ialah Ustaz Ahmad Lutfi, beliau merupakan seorang tenaga pengajar di Madrasah Miftahul Ulum Sri Petaling dan merupakan pakar fiqh mazhab Syafi’e.

Berikut saya himpunkan jawapan Ustaz Ahmad Lutfi yang beliau kongsi di laman FB Tok Kenali Kitab Arab mengikut kronologi timeline. Dipersilakan untuk membaca satu persatu. Jawapan yang kemas dan padu!

Ibnu Hazam, Ibnu Taymiyah, Imam Hasan basri vs Dr Rozaimi

Hukum konsisten

Imam Humaidi dan Imam Hasan Basri

Imam Humaidi

Imam Humaidi dan qada

Catatan Ustaz Ahmad Lutfi

Ijmak dan qada solat

Pendapat Ibnu Taymiyah…

Terakhir bahagian 1

Terakhir bahagian 2

Terakhir benar 3

via: Ahmad Ibrahim,
National University of Singapore.
@usrah_solat_MSO

Ibnu Hazam, Ibnu Taymiyah, Imam Hasan basri vs Dr Rozaimi

1. Setelah meneliti hujah Ibnu Hazam di dalam kitabnya al-Muhalla bahawa tidak boleh qada solat maka sebenarnya mazhab Ibnu Hazam yang didukung oleh Dr Rozaimi lebih ‘ekstrim’ dan ‘menyusahkan’ umat

2. Setelah meniliti lagi saya mendapati sebenarnya Dr. Rozaimi mencipta mazhab sendiri

3. Ibnu Hazam, Imam Hasan Basri dan seumpamanya mengatakan orang yang telah meninggalkan solat dengan sengaja maka oleh kerana besarnya dosa dia meninggalkan solat maka dia tiada peluang untuk cover atau bayar balik dengan jalan qada

4. Ibnu Hazam berkata,” Orang yang meninggalkan solat dia tidak akan boleh menggantikannya buat selama-lamanya” (al-Muhalla)

5. Imam Hasan Basri juga bercakap sedemikian

6. Sambung Ibnu Hazam orang yang tinggalkan solat dengan sengaja dia perlu solat sunat sebanyak-banyaknya (mungkin akan jadi lebih banyak dari rakaat solat qada’) semoga timbangannya menjadi berat dan Allah maafkan kesalahannya

7. Bagi Ibnu Hazam tinggal satu solat contohnya Subuh maka tidak boleh qada dan tidak sah bahkan perlu banyakkan solat sunat (sudah tentu akan jadi lebih dari dua rakaat)

8. Maka kalau orang yang mahu bertaubat akan lebih berkata (saya ahli neraka) mengikut bahasa Dr. Rozaimi

9. Justeru itu isu sekarang ialah Dr Rozaimi bukan sahaja berbeza dengan majoriti bahkan dengan Hasan Basri, Ibnu Hazam dan Mentor Ibnu Taymiyah

10. Sekiranya diterangkan pendapat Ibnu Taymiyah dengan menyatakan illahnya maka sebenarnya orang ramai pasti akan mengharapkan pendapat jumhur kerana disana lebih luas rahmatnya

Sumber: Pustaka Tok Kenali Kitab Arab
@usrah_solat_MSO

29/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Mengapa Menolak Istilah Kafir?

Oleh: Ali Akbar bin Aqil

Kata Kafir bukan kata asing bagi umat Islam. Kita sudah sangat akrab dengan kata yang satu ini. Hampir setiap membaca Al-Quran kata ini terucap, sebab memang tercantum di dalamnya.

Kafir dalam bahasa Arab: ﻛﺎﻓﺮ kafir adalah bentuk Jamak ﻛﻔﺎﺭ / kuffar, yang berasal dari kata kufur (inkar, menolak, menutup dan menyembunyikan sesuatu)., atau menyembunyikan kebaikan yang telah diterima atau mengingkari kebenaran

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam Zâd al-Ma’âd (3/145) membagi orang kafir terbagi menjadi tiga golongan: Kafir Harbi(yang boleh diperangi, terutama yang memusuhi dan menyerang kaum Muslim), Ahlu al-‘ahd (Kafir yang memiliki perjanjian dengan kaum Muslim), dan Ahlu adz–Dzimmah (Kafir Dzimmi atau yang tidak memusuhi Muslim)

Kafir Harbi menurut Al-Quran adalah orang kafir yang memerangi Allah danRasulullah dengan berbuat makar di atas muka bumi. (QS. Muhammad: 4). Mereka adalah kaum kafir yang boleh diperangi karena menampakkan permusuhan terhadap kaum Muslim.

Sementara orang yang tidak memiliki kekuatan untuk menghalangi atau berperang, seperti wanita, anak-anak, rahib-rahib, orang tua renta, buta dan lumpuh serta sejenisnya, mereka ini tidak boleh dibunuh menurut jumhur ulama, kecuali jika mereka ikut andil dalam peperangan.

Kafir Harbi masih dibagi menjadi dua yaitu yang minta suaka atau perlindungan keamanan (al-musta`min) dan yang memiliki perjanjian damai yang disepakati (al-mu’âhad).

Kafir Mu‘ahad adalah orang kafir yang tinggal di negeri kafir, tapi memiliki pernjajian damai dengan Negara Islam. Mereka berhak mendapatkan pelaksanaan perjanjian dari kita dalam waktu yang sudah disepakati, selama mereka tetap berpegang pada janji mereka tanpa menyalahinya sedikitpun, tidak membantu musuh yang menyerang kita serta tidak mencela agama kita

Golongan Ahlus adz Dzimmah paling banyak memiliki hak atas kaum Muslimin dibandingkan dengan golongan sebelumnya. Karena mereka hidup di negara Islam dan di bawah perlindungan dan penjagaan kaum Muslimin dengan sebab jizyah yang mereka bayarkan.

Al-Quran menyebut kata kafir dalam berbagai derivasinya dan disebut sebanyak 525 kali. Lagi pula, istilah kafir, adalah istilah hanya umat Islam saja. Seperti halnya umat lain yang punya istilah sama. Orang Kristen juga berkeyakinan, selain memeluk agamanya, dianggap ‘domba sesat’. Sementara orang Yahudi menganggap pemeluk agama lain yang tak menghimani Yahudi disebut ‘goyim’. Orang Hindu menyebut orang yang mengimani selain Hindu, disebut maitrah. Jadi apa masalahnya kok sekarang yang dipermasalahkan urusan keimanan orang Muslim?

Oleh sebab itu, tugas dan kewajiban umat Islam untuk meyakini kitab sucinya. Sikap demikian juga dijamin dalam konstitusi di Indonesia, untuk menjalankan agama sesuai keyakinannya.

Secara bahasa, kafir artinya orang yang mengingkari sesuatu, atau orang yang menolak sesuatu. Kata ini bisa digunakan sebagai ungkapan orang yang melupakan nikmat Allah ta’ala, menjadi lawan kata Asy-Syaakir (orang yang bersyukur).

Dari sudut pandang Syariat Islam, kafir adalah sebuah istilah untuk menunjukkan sikap penentangan terhadap ajaran tauhid, kenabian, dan hal-hal yang terkait dengan Hari Akhir.

Jika seseorang, apapun agama dan keyakinaannya, bertentangan dengan seruan tauhid (mengesakan Allah ta’ala), mengingkari risalah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam hal sekecil apapun itu, atau tidak percaya dengan Hari Akhir, maka ia termasuk Kafir.

Dari sini, kata kafir mencakup beberapa kelompok dalam tubuh umat manusia:

Mulhid. Yakni seseorang yang tidak mengakui adanya Tuhan (Atheis)
Musyrik. Yakni seseorang yang menyekutukan Allah ta’ala dalam ibadah yang dikerjakannya. Ia mengakui adanya Allah ta’ala namun ia menduakanNya.
Watsaniy. Istilah ini diambil dari kata watsan (berhala). Watsani artinya penyembah berhala. Maksudnya adalah seseorang yang menyembah kepada selain Allah ta’ala.
Seseorang yang mengingkari kenabian atau risalah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.
Seseorang yang tidak mengakui kewajiban salah satu syariat Islam seperti salat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya.

Dari sini kita bisa sedikit mengambil kesimpulan, ketika seorang ulama menyatakan bahwa di luar Islam adalah kafir, ia tidak sedang menghina pribadinya, tapi perbuatannya yang memyembah bukan kepada Allah ta’ala.

Kata kafir yang dilontarkan bukan untuk memecah belah persatuan bangsa dan NKRI, tapi sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk menjelaskan kepada umat tentang bagaimana Allah ta’ala memberikan “stigma” terhadap mereka yang berada di luar Islam, sebagaimana mereka pun memiliki istilah untuk golongan di luar agama mereka.

Oleh sebab itu, tidak salah kita sebut kafir kepada non muslim.Kita perlu membuka kembali Al-Quran agar kita tahu siapa yang dimaksudkan oleh Allah ta’ala sebagai orang kafir itu.

Wallaahu a’lam bis showaab.*

(Penulis pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang. Pengasuh Grup Qolbun Salim – di edit sedikit utk kesesuaian pembaca di Malaysia)

28/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

Bagaimana Jika Ada Kematian Mengejut di Rumah pada Waktu Malam?

■Jangan cemas

■Tunggu dua tiga jam lagi sebelum terbit pagi.. InsyaAllah orang masjid akan sampai dan akan membantu uruskan jenazah.

■Sementara itu sapu minyak di kelopak mata arwah untuk lembutkan kemudian cuba rapatkan mata arwah jika masih terbuka.

■Begitu juga dengan tangan, sapu2 sedikit minyak di kedua2 siku untuk lembutkan kemudian letakkan kedua-dua tangan di atas perut.

■Letak pisau/gunting besi atas perut, supaya tak masuk angin

■Kelopak mata kalau payah nak tutup,letakkan syiling

■Tangan diikat dengan perca kain.

■Kepala hingga dagu juga elok ikat dgn perca kain.

■jika ada darah yang keluar dari hidung/telinga, sumbatkan dengan kapas untuk menahan darah dari terus menitik keluar

■Selimutkan arwah dengan kain yang dapat menutup seluruh jasad dari kepala hingga kaki.. boleh guna sebarang kain samada kain batik panjang dsb, asal saja dapat menutupi jenazah

■Rehatlah dan cubalah untuk tidur dulu sementara menunggu subuh kalau kematian berlaku seawal jam 12 atau 1 pagi.

■Mesti ada pengesahan kematian dari doktor klinik/hospital.

■Bila dapat surat pengesahan tersebut baru buat laporan di balai polis berhampiran.

□Polis kemudiannya akan keluarkan Permit Pengkebumian/surat mati untuk urusan pengkebumian jenazah.

Menjadi ahli khariat kematian samada di surau berdekatan rumah/masjid.

Jika kita tiada khairat kematian, hanya perlu ada sejumlah RM520(mungkin jumlah RM berbeza di masjid lain) untuk pengurusan jenazah dari awal urusan dimandikan, dikafankan sehinggalah selamat dikebumikan(wang boleh serah kemudian, pihak masjid boleh dahulukan).

Pihak masjid yang akan menghubungi penggali kubur untuk menyediakan tempat, begitu juga urusan kain kapan dan sebagainya. waris simati tidak perlu bimbang tentang semua perkara itu.

Patut juga kita ambil tahu nama-nama ajk masjid, yang lebih baik lagi kenal dan cam wajah2 mereka.

Ramai yang tidak tahu dan tak terfikir tentang adanya kemungkinan perkara itu tiba-tiba terjadi dalam rumah masing2.

Harus bersedia menghadapi kematian. Mati yang pasti.

Wallahu’alam.

Sumber: http://www.tengkubutang.com

26/03/2019 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

FIDYAH DAN KAFFARAH

SOAL JAWAB FIDYAH & KAFFARAH:

1.Bolehkah fidyah dibayar terus kepada anak yatim?

Boleh sekiranya anak yatim tergolong dalam kategori fakir dan miskin.

2.Adakah wajib bagi seorang anak mengqada puasa bagi seorang ibu atau ayahnya yang sakit tua dan nyanyuk?

Tidak perlu mengqadakan puasa bagi ibu atau ayah yang uzur, namun boleh membayar fidyah bagi puasa yang ditinggalkannya.

3.Bagaimanakah pengiraan bagi bayaran fidyah?

Bilangan hari x 1 cupak beras x tahun gandaan

4.Berapakah kadar timbangan 1 cupak beras untuk bayaran fidyah di Negeri Kedah?

1 gantang Baghdad bersamaan 2.60 kg, dan satu cupak bersamaan 650gram (satu cupak dinilai bersamaan ¼ daripada 1 gantang Baghdad)

Harga beras bagi sukatan adalah mengikut harga pasaran semasa.Sebagai contoh, harga zakat fitrah tahun 1437H bagi satu gantang beras adalah RM7.00, Oleh itu 1 cupak (650gram) beras bagi tahun 1437H adalah RM1.75.(sumber cabutan Keputusan Mesyuarat Jawatankuasa Fatwa Negeri Kedah 27 Julai 2015 bersamaan 11 Syawal 1436)

5.Bagaimanakah cara membayar fidyah bagi orang tua yang tidak berupaya berpuasa dan bilakah masanya fidyah itu perlu dibayar?

Sekiranya tidak mampu berterusan, hendaklah membayar fidyah sebaik sahaja selepas Ramadhan berlalu. Jika sekiranya tidak berupaya ketika itu sahaja, kemudian selepas itu dia mampu melakukannya, hendaklah qadha puasa tersebut dan sekiranya melangkaui tahun hendaklah qadha dan membayar fidyah.

6.Setelah qadha puasa, adakah waris si mati perlu juga untuk membayar fidyah?

Setelah selesai mengqadha puasa si mati, ini bermakna waris sudah tidak perlu untuk membayar fidyah puasa lagi untuknya.

7.Bagi kaffarah zihar, adakah dibolehkan untuk tidak mengikut turutan kaffarah yang diwajibkan?

Mengikut pandangan jumhur ulamak, kaffarah terbabit bukanlah pilihan tetapi ia mengikut urutan.

8.Jika tidak mampu menunaikan kaffarah nazar mengikut urutan, maka hendaklah menunaikan pilihan berpuasa selama tiga hari.

Sumber:Majlis Agama Islam Kedah

26/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Petua Ular Tedung Masuk Rumah: Bagi Peringatan 3 Kali Sebelum Bunuh

SEBAHAGIAN dari kita mungkin ada yang takut dengan ular karena meyakini adanya bisa dan lilitan yang ada pada dirinya dan dapat secara tiba-tiba membuat kita terbunuh.

Ular biasanya muncul di sawah, laut, hutan dan alam bebas lainnya. Bagaimana dengan ular yang berada di dalam rumah?

Ular tersebut haruslah dibunuh. Namun, terdapat perbedaan pendapat akan aturan membunuh ular yang berada di dalam rumah oleh beberapa ulama.

Pendapat pertama

Pendapat madzhab Malikiyah dan dirajihkan Ibnu Abdilbaarr rahimahullah. Pendapat ini menyatakan tidak boleh membunuh ular yang ada di dalam rumah sampai diberi peringatan, baik di rumah-rumah di wilayah kota Madinah atau di luar kota Madinah.

Imam Malik rahimahullah berkata, “Lebih aku sukai untuk diperingatkan terlebih dahulu pada ular-ular yang ada di rumah-rumah baik di kota Madinah atau di luar kota Madinah selama tiga hari. (at-Tamhid 16/263). Demikian juga Ibnu Abdilbarr rahimahullah berkata, “Yang benar di peringatkan ular-ular yang ada di rumah semuanya. (at-Tamhîd 16/263).

Pendapat ini didasari hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata :

BACA: Kalau Tinggalkan Rumah Dalam Jangka Waktu Lama, Letak Duit Syiling Dalam ‘Freezer’
“Sesungguhnya di rumah-rumah ada ular-ular yang berada di rumah-rumah. Apabila kalian melihat satu dari mereka, maka buatlah peringatan padanya tiga kali. Apabila pergi, maka biarkan dan bila tidak mau pergi maka bunuhlah, karena dia itu kafir,” (HR Muslim no. 2236).

Pendapat Kedua

Merupakan pendapat Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhu. Pendapat ini menyatakan tidak dibunuh seekor pun ular di dalam rumah baik di kota Madinah ataupun diluar kota Madinah kecuali ular yang berbisa ada dua garis hitam dipunggungnya dan yang pendek ekornya, maka dibunuh kedua-duanya secara bebas.

Dasar pendapat ini adalah hadits Abu Lubabah yang berbunyi :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh jin yang berada di rumah, kecuali ular yang berbisa ada dua garis hitam dipunggungnya dan yang pendek ekornya, karena kedua jenis itu dapat menghilangkan pengelihatan mata dan mengeluarkan apa yang ada di dalam perut wanita. (Muttafaq ‘Alaih).

Juga hadits yang diriwayatkan imam Muslim dengan sanadnya ke Nafi’ Maula ibnu Umar, beliau berkata:

Ibnu Umar dahulu membunuhi semua ular hingga Abu Lubabah bin AbdilMundzir al-Badri mencerikan kepada kami bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari membunuh ular-ular yang ada dirumah. Lalu ibnu Umar berhenti.

BACA: Inilah Caranya Untuk Mencari Barang Sihir Yang Ditanam atau Tersembunyi
Oleh karena itu Nafi’ maula ibnu Umar berkata:

“Sungguh Abu Lubabah bin Abdulmundzir al-Anshari bertepat tinggal di Quba lalu pindah ke kota Madinah. Satu ketika Abdullah bin Umar duduk-duduk bersama beliau membuka satu ruangan. Tiba-tiba ada ular yang ada di rumah dan mereka ingin membunuhnya. Maka abu Lubabah berkata: Sungguh telah dilarang membunuhnya –meninginkan ular rumah- dan diperintahkan untuk membunuh ular yang pendek ekornya dan yang berbisa yang ada dua garis hitam dipunggungnya. Dikatakan keduanya dapat membutakan mata dan menggugurkan janin,” (Riwayat Muslim).

Dalam hadits-hadits ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh ular yang ada di rumah seluruhnya tanpa dibatasi dengan harus diperingati, kemudian mengecualikan ular yang pendek ekornya dan yang berbisa yang ada dua garis dipunggunnya.

Wallahu’alam.

Sumber: Ummi

23/03/2019 Posted by | Informasi | Leave a comment

Teguran Ikhlas Untuk Teman-Temanku Ahlus Sunnah Ada yang berkata lebih baik kami DIAM dan menjaga lisan kami dari menuding kesalahan kepada WAHHABI dan bertelagah sesama mereka.

Ustaz Ahmad Lutfi Al-Linggi

Ada yang berkata lebih baik kami DIAM dan menjaga lisan kami dari menuding kesalahan kepada WAHHABI dan bertelagah sesama mereka. Persoalannya, kita bukannya nak bergaduh atau berpecah-belah. Ini soal isu AQIDAH dan prinsip sejati Ahlus Sunnah Wal Jamaah. DIAM kita dengan membiarkan orang-orang awam mengikuti fahaman WAHHABI dan kesannya orang-orang tersebut ekstrem dan kita boleh lihat nada tulisan, kuliah serta fb mereka yang akhirnya penuh dengan cacian, penipuan dan kata dusta. Adakah DIAM itu membantu? Ini dikira kita membiarkan saudara-saudara kita diracuni pemikiran mereka dengan fahaman yang sempit ini. Ini bermaksud kita adalah seorang yang zalim membiarkan kerosakkan dan kejahilan di tengah-tengah masyarakat kita.

Kita nak menerang bukannya nak menyerang. Saya sendiri akan menegur dan memadam sekiranya kawan atau lawan menulis satu post ayat yang tidak elok atau memburukkan peribadi seseorang. Kita Ahlus Sunnah, bukannya nak memunahkan kehidupan orang.

Pernah berlaku satu kes di Negeri Sembilan Darul Khusus. Isunya adalah berlakunya satu kematian dan adiknya sedang membaca surah Yasin di jenazah ibunya. Abangnya yang diresapi fahaman Wahhabi ini telah melarang adiknya dan orang ramai dari membaca surah Yasin itu ke atas jenazah ibunya atas alasan bidaah. Maka berlaku satu pertengkaran sehingga peringkat abangnya itu mengambil parang dan nak memarang adiknya atas perkara khilaf begini. Kes ini sungguh menyayat hati. Apatah lagi tidak wajar di hari kesedihan sampai nak parang-memarang.

Begitu bahayanya fahaman WAHHABI ini mempengaruhi seseorang sehingga ke tahap ini. Banyak contoh dan bukti-bukti yang tak dapat saya nak tuliskan di sini. Mujur, Negeri Sembilan Darul Khusus telah mengharamkan fahaman dan segala kegiatan WAHHABI di negeri ini. Yang boleh masuk ke negeri ini orang yang bernama Abdul Wahab, Abdul Wahub dan Abdul Wahid. Fahaman ekstrem tak boleh masuk. Kalau ada agamawan yang membawa fahaman WAHHABI masuk ke negeri ini, pihak berkuasa akan mengambil tindakan. Berani buat berani tanggung. Jangan tahu nak larang ulama’-ulama’ Ahlus Sunnah sahaja masuk ke negeri kamu. Bila nama kamu naik disenaraihitamkan, tiba-tiba kamu rasa nak marah dan tidak pernah berbuat salah malah terasa pula kamu dianiaya.

Kalau nak datang makan lemak cili padi, saya sendiri boleh belanja. Tapi kalau kamu sebut fahaman WAHHABI, jawapnya kena cili padilah mulut kamu itu.

Sekitar 10 tahun lepas, negara ini aman damai. Politik yang tidak berapa keruh seperti sekarang. Masyarakat ketika itu tidak berpecah-belah dan budaya hormat masih tinggi dan ia tidak seperti sekarang.

Kita boleh lihat sikap dan akhlak seseorang itu melalui tulisannya. Pasti ada sifu atau idola yang mengajar mereka hingga ke tahap membidaahkan dan tidak mengiktiraf amalan itu yang bukannya jalan Al-Quran dan Sunnah. Sungguh kecil dunia fiqh mereka dan kitab-kitab yang mereka pelajari.

Apa tindakan kita sebenarnya?

Tindakan kita adalah menguatkan sekolah-sekolah, kolej-kolej, universiti-universiti dengan pegangan sejati Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Bak kata ulama’-ulama Patani: “Jangan beri anak-anak kamu berkawan dengan WAHHABI”. Sampai peringkat demikian mereka tidak ingin mencampurkan antara putih dan hitam. Ini kerana mereka telah lihat kesannya dari dulu hingga sekarang.

Sekali kita beri mereka ruang, mereka akan mengambil kesempatan itu dengan selaju-lajunya. Akhirnya akan berdiri megah UNIVERSITI mereka nanti. Ahlus Sunnah pula akan asyik di padang sahaja dan tempat lapang. Begitu hebat strategi mereka berbanding kita semua.

Jangan kelak generasi akhir zaman Ahlus Sunnah Wal Jamaah di negara ini memikirkan dan menyoalkan apa tindakan yang generasiku buat sebelum ini? Tidakkah mereka memikirkan kesan dan betapa bahayanya WAHHABI?.

Sejarah telah merakamkan bahawa Mekah dan Madinah ketika dahulu milik umat Islam keseluruhannya. Disuburkan dengan halaqah-halaqah ilmu yang diajar oleh ulama’-ulama’ hebat dan unggul ilmunya. Di antaranya:

1. Syeikh Hasan Masyhat
2. Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani
3. Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki
4. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki
5. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Hasani

Dan banyak lagi yang tidak dapat disebutkan di sini.

Adakah masih ada lagi halaqah-halaqah ulama’-ulama’ kita di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di hari ini? Mengapa tiada dan apa puncanya? Sebabnya adalah WAHHABI. Hanya tokoh-tokoh WAHHABI sahaja dibenarkan mengajar dan membuka halaqah di sana. Ulama’-ulama’ kita terpaksa membina madrasah yang tak berapa besar di tanahair mereka sendiri. Masih kita buat-buat tak nampak dan faham lagi? Yang sedih, ada ulama’ kita diarahkan sekolahnya ditutup di sana. Inikah WAHHABI yang dikira Ahlus Sunnah Wal Jamaah?

Kalau WAHHABI itu diiktiraf sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaah? Habis, ulama’-ulama’ kita bukannya Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Mereka tidak dibenarkan mengajar dan membuka halaqah sehingga hari ini di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. WAHHABI kata mereka menghormati 4 mazhab. Ulama’-ulama’ kita bukannya dari 4 mazhab? Kenapa berlaku sedemikian. Ini kerana mereka tidak pernah hendak mengiktiraf keilmuan sejati ulama’-ulama’ yang berpegang teguh dengan Asya’irah dan Maturidiyyah. Walau apa alasan, tetap bau WAHHABIMU kuat. Walaupun kalian berserban, berjubah mahunpun berselendang.

ILMU kami dapat membau dan menghidu perancangan kalian.

Baik-baik teman Ahlus Sunnah. Jangan terlalu gembira dengan jumlah yang ramai. Dulu kita ramai di Mekah dan Madinah. Sekarang ulama’-ulama’ kita asing di sana. Bertindak dengan ILMU, jangan harap semangat sahaja.

Mohon maaf sekali lagi

Ustaz Ahmad Lutfi bin Abdul Wahab Al-Linggi
Sabtu 30 April 2016
12.40 pagi
Kota Damansara.

19/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, wahabi | Leave a comment

ADA PUAK WAHABI (BERTAQIYAH) PURA PURA TANYA APA ITU WAHABI……?

Dalam sejarah tradisi ilmu Islam, aliran Wahhabi bukanlah mewakili arus perdana mazhab Ahl Sunnah wa al-Jamaah kerana sejak seribu tahun lebih, aliran yang menjadi peneraju kepada pentafsiran Ahl Sunnah wa al-Jamaah dalam bidang akidah ialah Asha’irah dan Maturidiyah, manakala dalam bidang fiqh ialah empat mazhab utama iaitu Shafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali.

Dari segi pendekatan ilmiah, aliran Wahabi membawa pendekatan yang agak sempit dengan metodologi harfiah (literal) yang mereka ambil dalam memahami sumber agama khususnya al-Qur’an. Justeru itu, sebahagian dari pandangan mereka dalam agama bersifat agak keras terutama terhadap orang yang tidak mengambil pendekatan mereka. Pendekatan sebegini akhirnya telah membawa kepada kecenderungan untuk mudah mengeluarkan orang Islam dari lingkungan agama yang tidak sealiran dengan aliran Wahabi.

Contoh perbezaan pandangan golongan Wahabi yang agak jelas ialah pandangan mengenai sunnah dan bid’ah. Berdasarkan makna literal beberapa hadis Nabi, mereka menganggap bahawa setiap amalan ibadat yang tidak mengikuti secara langsung cara yang dibawa oleh Nabi saw, dianggap bid’ah dan terkeluar dari Islam.

Justeru itu banyak amalan dan pegangan yang telah diamalkan oleh masyarakat Islam telah dianggap terkeluar dari agama Islam oleh golongan Wahabi. Pendekatan ini telah menyebabkan perpecahan di kalangan sebahagian masyarakat yang telah lama mempunyai kesatuan dalam ibadat menurut pentafsiran imam-imam muktabar dalam mazhab Shafi’i dan dalam akidah menuruti aliran al-Ash’ari dan al-Maturidi.

Banyak persoalan yang bersifat khilafiah telah diangkat dan dianggap sebagai perkara usul sehingga menjadi permasalahan dalam masyarakat, seperti larangan doa qunut, wirid dan berdoa secara berjamaah selepas solat, tahlil, berzanji, qasidah, burdah, membaca yasin pada malam jumaat, perayaan maulid, kesemuanya ditolak atas nama bid’ah yang sesat. Ini sama sekali tidak selari dengan pemahaman sunnah dan bid’ah yang sebenar dalam Islam dan juga tidak bertepatan dengan semangat ilmiah dalam tradisi Islam yang membenarkan perbezaan pandangan dalam persoalan khilafiah.

(Oleh: Felo Penyelidik Fatwa Malaysia)

19/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, wahabi | Leave a comment

WAHAI PARA PENDAKWAH

1) Orang yang berdakwah, yang ingin membela agama Allah tapi dia lalai dalam solatnya, dia tak peduli pun bila tertinggal solat berjemaah, tidak mengambil berat akan solat rawatib, solat witir, tidak ambil berat hal solat ahli keluarganya, walaupun dia memiliki kejayaan dalam ceramahnya, ramai pengikut, tapi dia tak tergolong dalam orang yang menolong agama Allah.

2) Peringatan kepada orang berilmu
Sesungguhnya seseorang yang mencari ilmu, mereka perlu ambil berat apa yang diperolehnya, kerana Allah tak beri sesuatu kecuali untuk seseorang itu menjaganya.

• Nasihat الحبيب عمر بن حفيظ – Habib Omar di Musalla Al-Abrar, Sungai Penchala | 30 September 2018

Sumber: Grup dakwah Telegram

17/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

BOLEHKAH MELIHAT ALLAH DIDUNIA

Muhammad Zaini:

Di kalangan Al-Asy’ari (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) masih dipertanyakan, apakah melihat Allah hanya khusus di akhirat saja ?. Dalam membahas hal tersebut ulama telah menyatakan bahawa melihat Allah hanya bukan di akhirat saja tetapi juga dapat melihat Allah selagi di dunia ini, yaitu dengan “mata batin atau mata hati” (basirah).

Pendapat tersebut didasari dengan alasan : bahwa Rasulullah SAW pada waktu melakukan Isra Mi’raj benar-benar melihat Allah, sehingga Sayidina Hasan bin ‘Ali r.a berani bersumpah sewaktu menerangkan hal itu. Demikian pula dengan Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu ‘Abbas r.a, yang oleh Imam Nawawi disimpulkan: “Kesimpulannya, Sesungguhnya rajih (alasan kuat) menurut sebagian Ulama bahwa Rasulullah SAW. melihat Tuhannya dengan nyata / mata, pada malam Isra berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas dan lain-lain”.

Menurut Syeikh Ibnu Hajar Haitami tentang Rasulullah melihat Tuhan di malam Isra : “Dikalangan Ahlus Sunnah telah terjadi kesepakatan tentang mukjizat Rasulullah melihat Allah di malam Mi’raj dengan nyata / mata”. Para Auliya pula mendapat kurnia Allah melihat Allah dengan mata batinnya, sebagai suatu “Karomah” untuk mereka, seperti juga mukjizat untuk Rasulullah SAW.

Untuk melihat Allah didunia dengan mata hati adalah termasuk dalam rukun agama yang ketiga iaitu maqam IHSAN yang bererti “Kamu beribadah seolah-olah kamu melihat Allah…” (Hadis Jibril: Bukhari dan Muslim). Ia adalah matlamat akhir dan tujuan teragung seorang hamba Allah dalam menjalani kehidupan ibadahnya didunia ini.

Syeikh Abdul Qadir Jailani mengakui hal itu, dan Ulama Sufi umumnya mengemukakan : “Apabila rohaniyah dapat menguasai basyariyah (fizikal) maka pandangan mata berlawanan dengan mata batin. Mata tidak akan melihat, kecuali hanya dengan pengertian-pengertian yang terlihat oleh mata batin” Pengertian “rohaniyah dapat menguasai basyariyat” dapat diambil misal, seorang yang sangat takut dengan hantu. Rasa takut tersebut akan sangat mempengaruhi jiwanya, sehingga apabila ia berjalan pada malam hari, kemudian tiba-tiba ia melihat pohon atau daun pisang yang bergerak tertiup angin, maka ia akan berlari ketakutan karena dikiranya hal itu adalah lembaga hantu yang menakutkan.

Boleh juga terjadi melihat Allah di dalam mimpi. Dalam kitab Sirajut-Tholibin disebutkan : “Adapun di dalam tidur, sepakat sebagian besar Ulama Sufi kemungkinan terjadi melihat Tuhan”. Dikalangan ulama Sufi terdapat keyakinan bahwa “melihat Tuhan bisa terjadi dengan pandangan mata batin yang mendapat nur dari Allah SWT, yang oleh Syeikh Junaid disebut Nurul Imtinan.

Syeikh Junaid al-Baghdadi terkenal sebagai seorang yang amat waro’ (tekun ibadat), seorang Waliyullah, seorang Sufi besar pada zamannya, yang tetap teguh memegang syariat. Banyak sekali tokoh-tokoh Sufi besar adalah murid-murid beliau. Antara lain, Abu ‘Ali Ad-Daqaq, Abu Bakar Al-Atthar, Al-Jurairi, ‘Athowi dan lain-lain. Diceritakan saat beliau mendekati akhir hayatnya, secara terus menerus mendirikan sembahyang dan membaca Al-Qur’an. Beliau wafat pada hari Jum’at tahun 297 Hijriyah, setelah selesai membaca ayat ke 70 Surat. Al-Baqarah.

Ketika hidupnya sehubungan dengan ucapan beliau tentang Allah, murid beliau bertanya :“Ya Abal Qosim, apakah engkau dapat melihat Allah pada waktu engkau menyembah-Nya ? Beliau menjawab : “Kami (Para Arif) tidak akan menyembah-Nya bila kami tidak melihat-Nya. Kami juga tidak akan bertasbih untuk-Nya bila kami tidak mengenal-Nya”.

Kesimpulannya adalah, bahwa melihat Allah di dunia sepanjang pendapat para ‘Arif boleh saja terjadi, dengan Nur Mukhasyafah didalam hatinya.

Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah, bahwa yang dimaksud dengan “melihat” bukan bererti melihat Kunhi Dzat-Nya (keadaan rupa, bentuk atau warnanya dari Zat Tuhan), yang mereka istilahkan “bi ghoiri kaifin wa hashrin wa dhorbin min mistalin”. Selain itu mereka pun mengakui bahwa penglihatan kelak diakhirat jauh lebih jelas dan lebih nyata dibanding apa yang mereka lihat di dunia sekarang. “

Imam Qurtubi berkata : “Melihat Allah SWT di dunia (dengan mata hati) dapat diterima akal. Kalau sekiranya tidak boleh, tentulah permintaan Nabi Musa a.s. untuk melihat Allah adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin seorang Nabi tidak mengerti apa yang boleh dan dan apa yang tidak boleh bagi Allah. Bahkan (seandainya) Nabi Musa tidak meminta, hal ini boleh terjadi dan bukan mustahil”.(Al-Jami’ul Ahkamul-Qur’an) “

Dan firman Allah : “Tatkala Tuhan tajalli( manifestasi/zahir/tampak/nyata) pada gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur” Maka apabila Allah bertajalli pada gunung, padahal gunung itu adalah benda padat, kenapa tidak mungkin Allah “tajalli” pada Rasul-Rasul-Nya dan Wali-WaliNya ?” (Kawasyiful-Jilliyah).

Berbicara tentang permohonan Nabi Musa a.s. untuk melihat Allah SWT. Sebaiknya kita perhatikan dahulu firman Allah :

“Dan tatkala Musa datang untuk bermunajat pada waktu yang kami tentukan, dan Tuhan-Nya berbicara kepadanya, maka Musa berkata : Ya Tuhanku, nampakkan (Dirimu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu”. “Tuhan berfirman: “Kamu tidak akan dapat melihat-Ku, tetapi lihatlah bukit itu, bila bukit itu tetap di tempatnya (seperti semula) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhan tajalli / tampak pada bukit itu, kejadian itu menyebabkan bukit itu hancur dan Musa pun pengsan. Setelah Musa sedar kembali dia berkata : “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang pertama yang beriman”. (QS. Al-Araf 7 : 143)

Dalam ayat ini terdapat kata-kata yang perlu di kaji lebih dalam yaitu :

1.Tidak akan melihat Aku

2.Tuhan tajalli pada gunung / bukit.

3.Bukit / gunung hancur, dan

4.Nabi Musa a.s pengsan.

Tidak akan melihat Aku, suatu pernyataan dari Allah, bahwa bagaimanapun juga mata kepala yang berbentuk bola mata yang terletak pada rongga soket mata dengan daya lihatnya, tidak akan mampu melihat Allah. TETAPI tidak bererti menutup kemungkinan untuk dilihat dengan mata hati. Bila mata hati itu dilengkapi oleh Allah dengan Nur-Nya yang kemudian disebut dengan “nurul basirah” (Cahaya pandangan batin) dan kemudian terdapat pancaran dan nyala pandangan batin yang disebut (bashar) yang kemudian mata kepala sama sekali tidak berfungsi termasuk tidak berfungsinya daya fikir dan seluruh kemampuan fizikal (jasmani) yang oleh orang Sufi digambarkan dengan “fana-zauqi”, maka pada keadaan itulah terjadinya melihat Allah.

“Ramai orang-orang Sufi berkata : “ Aku melihat Allah’. Diceritakan orang tentang ucapan Ja’far bin Muhammad (As-Shadiq) ketika beliau ditanya : “Apakah anda melihat Allah ?” Ja’far menjawab “Aku melihat Allah dan akupun menyembah-Nya”. Si penanya berkata lagi : Bagaimana anda melihat-Nya ?” Beliau menjawab : Tidak mungkin mata kepala dapat melihat-Nya dengan keterbatasannya itu, tetapi Allah dapat dilihat dengan mata hati yang Haqqul Yaqin (keyakinan sebenarnya)”

Tafsir Imam Qurtubi sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah tersebut. Allah tajalli pada gunung , bukanlah bererti “Allah menampakan diri-Nya mengambil tempat pada gunung kerana Allah Yang Maha Esa, Maha Meliputi, Pencipta ruang dan tempat, mustahil bagi-Nya menempati ruang dan tempat.

Saidina ‘Ali berkata : “Allah wujud tidak bertempat, Dialah yang menciptakan waktu dan tempat”. (Alqozhul Himam) Pengertian tajali menurut pandangan Sufi / ‘Arif Billah adalah:

DIA MENAMPAKKAN DIRINYA SENDIRI TANPA ADANYA YANG LAIN DARI DIA, DENGAN KESEMPURNAAN SIFAT-SIFATNYA, NURNYA, YANG LAISA KAMISTLIHI SYAI’UN.

Laisa kamistlihi syai’un tidak ada sesuatu dan satu pun yang seumpama / menyamai-Nya,- tiada pena yang dapat melukiskan dan tak ada kata yang dapat diucapkan, tak ada pula huruf yang dapat dirangkai.

Tajalli Allah pada gunung, merupakan isyarat bahwa Allah boleh saja bertajalli pada benda apapun juga, lebih-lebih kepada Rasul / Nabi-Nabi dan para Wali-Nya atau kepada siapun yang Ia kehendaki. Apabila Allah tajalli pada hambanya yang Ia kasihi, maka Allah akui bahawa tangan, kaki, mata, telinga, hati dan seluruh yang ada pada diri si hamba adalah tangan dan kakinya Allah SWT sebagai sebuah makna kebersamaan(ma’iyatullah).

Banyak Hadits yang merupakan dalil dan keterangan yang menguatkan hal itu. Antara lain hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abi Umamah dalam Kitab Al-Kabir : “Hamba-Ku yang selalu merasa dekat pada-Ku dengan melaksanakan amalan-amalan nawafil / sunnat / tambahan, sehingga Aku mencintainya. Akulah yang jadi pendengarannya yang dengan itu ia mendengar, Akulah yang jadi matanya yang dengan itu dia melihat, Akulah yang menjadi lidahnya yang dengan itu ia bicara, Aku pula yang menjadi hatinya yang dengan itu ia bercita-cita. Bila ia meminta / memohon kepada-Ku, Aku perkenankan doanya, dan bila ia meminta tolong kepada-Ku, Aku tolong dia. Aku amat suka kepada hamba-Ku yang mempersembahkan ibadahnya kepada-Ku dengan penuh keikhlasan” (HR. Thobrani dari Umamah r.a.).

Untuk mencapai tajalli, harus melalui beberapa lembah dan jurang, perjuangan demi perjuangan, kesungguhan dan ketekunan, jurang fana, fana-ul fana, fana fillah wa baqa billah. Pada teori lain diistilahkan; takhalli, tahalli, seterusnya sampai tajalli. Takhalli berarti pengosongan dari segala sifat-sifat yang tercela. Kemudian menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji, disebut Tahalli. Jadi takhalli adalah pengosongan fikiran dan hati dari segala macam persoalan duniawi dan tahalli adalah menghiasinya dengan hanya semata-mata “zikirullah”.

Pengosongan dalam erti “fana segala yang fana” akan menyebabkan hati dan pikir itu pun menjadi fana, lalu terasa kemanisan, keindahan yang tiada tara. Dalam Istilah kitab kuning hal itu disebut dengan : “rasa yang tiada berasa”. Semua sudah terbentang, semua sudah jelas, semua sudah nyata, maka itulah tajalli atau “mukasyafah”.

Disitulah tajalli Ke-Esa-an, laksana Musa yang pengsan dan gunung yang hancur berantakan. Nabi Musa a. s. tidak mampu untuk berbicara, mana Musa ? Mana gunung?, akhirnya seperti apa yang dikatakan oleh Syeikh Junaid “Hakikat Tauhid (sebenar-benarnya tauhid) tiada lagi tanya: kenapa dan bagaimana”. Allah berfirman:

“Segala sesuatu hilang hancur tiada erti, kecuali wajah-Nya / Zat-Nya (QS. Al-Qashas 28 : 88)

“Semua pasti lenyap, sedang yang kekal abadi hanya wajah Tuhanmu Yang Maha memiliki kebesaran dan kemuliaan” (QS. Rahman 55 : 26-27)

“Apa yang ada padamu akan hancur, dan apa yang ada pada Allah kekal abadi” (S. An-Nahl 16 : 96)

Disinilah makna hancurnya gunung dan pengsannya Nabi Musa a.s. Seorang yang berjiwa Sufi, bila merenungkan ayat ini (QS 7 :143) akan bahagia dan menitiskan air mata dan berkata “Betapa bahagia wahai gunung, betapa besar engkau, betapa kerasnya engkau, betapapula tegarnya engkau, wahai gunung batu, namun engkau rela menerima kehancuran, kefanaan dihadapan Allah. Dikefanaanmu, kau rasakan keindahan dan kenikmatan yang tiada taranya.

Sumber: Telegram Grup Aqidah MSO 12 – Ustaz iqbal

17/03/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Uncategorized | Leave a comment

KENAPA ULAMA SYAFI’IYYAH TERKEMUDIAN TIDAK MEMBACA AL-UMM DAN KITAB-KITAB ASHABUL WUJUH SEBELUM ZAMAN IMAM AL-RAFI’IY DAN IMAM AL-NAWAWI?

Olih: [ Ahmad ] Nur ‘ala Nur:

Semasa belajar 4 thanawi dahulu, guru-guru pondok memberitahu bukan level kita untuk membaca kitab induk Imam al-Syafi’i. Cukuplah membaca kitab mukhtasarat seperti al-Ghayah wa al-Taqrib, Fathul Qarib, Matan Zubad atau Safinatunjjah saja. Lepas habis itu, boleh baca pula al-Iqna’, Mughniy al-Muhtaj atau Qalyubi wa Umairah. Tidak perlulah membaca al-Majmuk kerana ia adalah kitab rujukan fuqaha maqam tinggi. Tuan Guru pesan, bukan tidak boleh baca al-Umm atau al-Majmuk. Cuma takut hampa tak faham dan tersalah faham.

Selepas berada di pengajian tinggi. saya cuba memahami semula apa maksud “Tak payahlah baca al-Umm dan al-Majmuk?”. Fikir saya, kalau itu adalah kitab induk pembinaan fatwa mazhab Syafi’I, kenapa saya sebagai pengikut mazhab mesti disekat membacanya?… Selepas menelaah sejarah perkembangan mazhab Syafi’i dan cuba belek sikit-sikit usul istinbat mazhab Syafi’i, barulah saya faham kenapa larangan tersebut diwar-warkan. Rupa-rupanya bukan tok-tok guru pondok yang sebut tetapi, para fuqaha mutaa’khirin Syafi’iyyah yang muktabar menyatakannya (al-Kurdi, 2011).

Mazhab Syafie melalui 4 fasa perkembangan bermula zaman kelahiran (ta’sis), periwayatan (naql), suntingan (tahrir) dan kestabilan (istiqrar) mazhab. Zaman kestabilan ialah saat sempurnanya analisis tarjih terhadap semua khazanah fatwa mazhah Syafie yang bercambah dan berikhtilaf sejak zaman ta’sis (fatwa-fatwa Imam al-Syafi’i-qaul jadid/qaul qadim) dan zaman naql (perbezaan fatwa aliran Iraqiyyun vs Khurasaniyyun vs gabungan dua aliran), sebagai qaul atau fatwa muktamad dalam mazhab Syafi’i. Kegiatan ijtihad dalam mazhab Syafie amat progresif dan bagi orang awam (muqallid mazhab), mereka tidak perlu berkhilaf kerana yang diperlukan hanyalah satu keputusan fatwa yang patut diikut. Dengan izin Allah, hasil suntingan (zaman tahrir) Imam al-Rafi’I dan al-Nawawi berjaya menyatupadukan fatwa-fatwa mazhab supaya selaras dan tidak berkecamuk seperti dua fasa sebelumnya.

Perlu ditegaskan bahawa himpunan fatwa-fatwa imam al-Syafi’i sebahagiannya terdapat dalam kitab atas nama beliau seperti al-Umm dan sebahagian lagi dalam catatan mukhtasarat murid-murid beliau seperti al-Buwayti, al-Muzani dan al-Rabi’. Maka sebab itu, bukan semua fatwa beliau dalam al-Umm boleh dianggap muktamad kerana terdapat fatwanya dalam riwayat lain dianggap lebih kuat.

Sebagai contoh pendapat tidak muktamad dalam kitab al-Umm seperti status kesucian anggota manusia yang terpisah ketika hidup.

وإذا كسر للمرأة عظم فطار فلا يجوز أن ترقعه إلا بعظم ما يؤكل لحمه ذكيا وكذلك إن سقطت سنة صارت ميتة فلا يجوز له أن يعيدها بعد ما بانت فلا يعيد سن شيء غير سن ذكي يؤكل لحمه .وإن رقع عظمه بعظم ميتة، أو ذكي لا يؤكل لحمه أو عظم إنسان فهو كالميتة فعليه قلعه وإعادة كل صلاة صلاها وهو عليه

Maksudnya: “Jika patah tulang seorang perempuan lalu hilang, maka dia tidak boleh membaiki(menyambung) ia melainkan dengan tulang yang dimakan dagingnya yang telah disembelih. Begitu juga jika terjatuh giginya maka gigi itu menjadi bangkai, maka dia tidak boleh mengembalikan ia (memasang) semula setelah ternyata ia tercabut. Dia tidak boleh menyambung melainkan dengan gigi binatang boleh dimakan dagingnya yang melalui penyembelihan. Jika seseorang itu membaiki(menyambung) tulangnya dengan tulang bangkai atau binatang yang disembelih tetapi tidak halal dagingnya untuk dimakan atau tulang manusia, maka (hukum)nya seperti bangkai dan dia wajib menanggalkannya dan mengulangi semua solat yang telah dia kerjakan sebelum ini dan ia diwajibkan ke atasnya.”(Al-Syafi’i,1990)

Menurut catatan di atas, fatwa Imam al-Syafi’i menyatakan bahawa mana-mana anggota tubuh badan manusia yang terpisah dari tuannya ketika hidup dikira sebagai najis maka tidak boleh dimanfaatkan sama sekali.

Sesiapa yang mempelajari fiqh mazhab Syafi’i samada turath (tradisional) atau moden akan mendapati hukum mana-mana anggota badan manusia yang terpisah atau terputus ketika hidup adalah suci, bukan najis. Begitu juga mayat manusia tidak diketogarikan sebagai najis seperti bangkai menurut pendapat muktamad dalam mazhab. Jadi ia menggambarkan bahawa fatwa di atas bukan pendapat yang muktamad (kuat) di dalam mazhab Syafi’i dan perkara ini dijelaskan oleh Imam al-Nawawi di dalam kitab al-Majmu’:

لو انقلعت سنه فردها موضعها قال أصحابنا العراقيون لا يجوز لأنها نجسة وهذا بناء على طريقتهم أن عضو الآدمي المنفصل في حياته نجس وهو المنصوص في الأم ولكن المذهب طهارته وهو الأصح عند الخراسانيين وقد سبق إيضاحه في باب إزالة النجاسة

Maksudnya: “Jika tercabut sebatang gigi lalu dikembalikan(dicantum semula) pada tempat asalnya, maka menurut ulama-ulama kami dari kalangan ahli Iraq bahawa hukumnya tidak boleh kerana ia dikira sebagai najis . Ini berdasarkan riwayat mereka(ahli Iraq) mengenai pandangan mazhab bahawa anggota manusia yang terpisah(tercabut) ketika masih hiduphukumnya adalah najis dan ia termaktub di dalam kitab “al-Umm”. Akan tetapi menurut al-mazhab (pendapat yang muktamad) ia adalah suci dan pendapat ini adalah yang paling sahih di sisi ulama (mazhab Syafi’ie) dari kalangan ahli Khurasan. Perkara ini telah dijelaskan di dalam bab membersihkan najis” (Al-Nawawi, t.t).

Selain itu, terdapat banyak fatwa-fatwa Imam al-Syafi’i di Mesir telah diubah oleh beliau sendiri tetapi tidak sempat dirombak di dalam al-Umm, namun terdapat riwayat-riwayat dari anak murid kanan beliau yang meriwayatkan fatwa-fatwa terbaru Imam al-Syafi’i, kemudian ditambah atau ditulis oleh Imam al-Rabi’ bin Sulaiman di dalam al-Umm sebagai penjelasan. Sebagai contoh:

قال الشافعي : وإذا وجد الرجل المسافر ماء لا يطهر أعضاءه كلها لم يكن عليه أن يغسل منها شيئا. قال الربيع: وله قول آخر أنه يغسل بما معه من الماء بعض أعضاء الوضوء ويتيمم بعد ذلك
Maksudnya: Al-Syafi’i berkata, “Apabila seorang lelaki yang bermusafir menemui air, maka dia tidak perlu menyucikan semua anggota-anggota (wudu’)nya dan dia tidak perlu membasuh sedikit pun atau apa-apa darinya(anggota-anggota)”. Al-Rabi’ berkata, “Terdapat pendapat beliau (Imam al-Syafi’i) yang lain iaitu si musafir itu mesti membasuh sebahagian anggota-anggota wudu’ dengan air yang ada padanya dan bertayammum selepas itu (baki anggota yang tidak dikenakan air wudu’)” (Al-Syafi’i, 1990).

Berdasarkan kenyataan di atas, pada asalnya Imam al-Syafi’i berfatwa bahawa apabila seseorang hendak mengerjakan solat dan dia mendapati air yang ada padanya cukup untuk menyucikan sebahagian anggota-anggota wuduk sahaja, maka Imam berfatwa tidak perlu menggunakan air itu untuk berwuduk sama sekali walaupun sebahagian anggota, malah hanya terus bertayammum. Kemudian Imam al-Syafi’i telah merubah fatwa tersebut bahawa seseorang itu wajib berwuduk dengan kadar air yang ada padanya walaupun untuk sebahagian anggota wuduk dan bagi anggota yang tidak dapat disucikan dengan air hendaklah digantikan dengan tayammum.

Kita tahu bahawa qaul qadim Imam al-Syafi’I sewaktu di Iraq telah dirujuk dan dihukum marjuh dengan qaul jadidnya sewaktu di Mesir. Namun antara qaul jadid beliau juga wujud percanggahan fakta yang diriwayatkan oleh anak-anak murid beliau di Mesir.

Satu contoh yang dipetik daripada Mukhtasar al-Buwaiti:
قال الشافعي: من تمضمض واستنشق في غرفة واحدة أجزأه ذلك، وتفريقهما أحب إلي

Maksudnya: “Sesiapa yang berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung dengan satu cedokan maka sah hukumnya, namun mengasingkan kedua-duanya lebih aku sukai” (Al-Buwaiti, 2015: 64).

Manakala di dalam kitab al-Umm mempamerkan fakta yang berlainan, yang mana Imam al-Syafi’i berkata:
وأحب إلي أن یبدأ المتوضئ بعد غسل یدیيه أن یتمضمض ویستنشق ثلاثا یأخذ بكفه غرفة لفيه وأنفه
Maksudnya: “Aku lebih suka seseorang yang berwuduk memulakan wuduk selepas membasuh kedua-dua tangannya dengan berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung sebanyak 3 kali iaitu mengambil air dengan satu tapak tangannya untuk mulutnya dan hidungnya” (Al-Syafi’i, 1990).

Fakta yang sama seperti di dalam al-Umm juga diriwayatkan oleh al-Muzani daripada gurunya di dalam Mukhtasar beliau (Al-Muzani, 1990). Jelas di sini wujud pertentangan riwayat antara kitab al-Umm dan Mukhtasar, di mana para muhaqqiq mazhab memainkan peranan dalam mentarjihkan antara kedua-dua riwayat.

Hasilnya, qaul yang disebut di dalam Mukhtasar al-Buwaiti ditarjihkan oleh Imam al-Rafi’i (Al-Rafi’i, 1997), manakala qaul yang disebut di dalam kitab al-Umm dan Mukhtasar al-Muzani ditarjihkan oleh Imam Nawawi (Al-Nawawi, 2005). Justeru, yang muktamad di sisi fuqaha Syafi’iyyah terkemudian, ialah pentarjihan Imam Nawawi kerana kekuatan dalilnya berdasarkan hadis sahih.

Ini antara contoh menunjukkan kenapa orang awam atau belajar fiqh sekerat TIDAK SESUAI membaca al-Umm, begitu juga al-Majmuk. Kerana dikhuatiri menuduh pengikut Syafie hari ini tidak mengikut fatwa imam mereka. Kekeliruan ini biasanya ditimbulkan oleh mereka yang tidak menguasai disiplin syariah khususnya metodologi ijtihad mazhab Syafie. Mereka ini tidak mahu bertaqlid mazhab, tetapi ingin merujuk fatwa-fatwa Syafi’iyyah dan hasilnya sering melakukan tasykik fatwa mazhab Syafie kepada orang ramai.

Nanti saya berikan pula penerangan kenapa rujukan mazhab Syafie tidak bergantung kepada kitab al-Majmuk, syarahan kepada kitab al-Muhazzab (Imam al-Shirazi).

Ini antara subbab yang dibincangkan dalam buku MEMAHAMI PROSES ISTINBAT HUKUM SYARAK EDISI KEMASKINI. Dapatkan bacaan lanjut untuk memahami disiplin pengajian syariah sebenar.

Kredit : Sebahagian subtajuk ini diadaptasi daripada penulisan sahabat saya al-Fadhil Ust Syed Shahrizan Ben Mohamed.

17/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Baiki Cara Solat kita … [ 10 Kesilapan Biasa Sering Dilakukan Khas Buat Perempuan].

Image result for Solat muslimah

Baru saja lepas mendengar ceramah Ustazah Hjh Siti Khadijah Din,sebentar tadi. Rasa terlalu bernilai ilmu yg dicurahkan beliau, rugi kalau tak dikongsi bersama. Topik adalah mengenai adab2 solat. Setelah mengikuti kuliah beliau (2 minggu sekali) selama beberapa bulan yg lepas, baru kini timbul kesedaran betapa solat yg saya dirikan terlalu rendah kualitinya. Bagaimana bisa solat berkenaan diterima Allah…umur dah lanjut macam ni pun solat masih di peringkat mediocre, itu pun kalau boleh di kategorikan begitu.

Secara ringkasnya, sebelum memulakan solat, penceramah mencadangkan kita mengambil 2 minit untuk “menyediakan diri ” sebelum menghadap Yg Esa;

Dua perkara yg elok dilakukan sebelum berniat utk solat…sewaktu kita berdiri tegak sebelum lafaz niat:

Minit Pertama –
Membangkitkan rasa KEHAMBAAN dlm diri kita. Kenangkan kembali dosa2 kita, betapa kerdil dan hinanya kita, seolah2 tak layak untuk diberi peluang menghadap yang Esa. Pendek kata, kutuk diri sendiri dan menyesal lah.

Minit Kedua –
Membangkitkan rasa BERTUHAN. Betapa kita diciptakan oleh yg Esa utk beribadat kepadaNya. Kenangkan betapa bersyukurnya kita dijadikan sbg seorg Islam, mempunyai Tuhan yg begitu menyayangi hamba2Nya yg hina ini lebih daripada seorg ibu menyayangi anaknya.

Setelah dilakukan kedua2 perkara ni, barulah kita niat solat dan mengangkat takbir. Berniatlah dlm keadaan berdiri tegak, bukan sambil membetul2kan kain sembahyang, telekung dan sebagainya. Fokus.
Setelah bertakbir, penceramah menunjukkan pula cara2 solat yg betul,
penuh adab dan sopan, sesuai dgn keperibadian kita sebagai wanita dan selayak2nya adab untuk menghadap Tuhan.

1) Mengangkat takbir – ada 3 cara mengangkat takbir

i. Dgn meletakkan kedua2 ibu jari di bawah cuping telinga

ii. Dgn meletakkan kedua2 jari telunjuk di bawah cuping telinga

iii. Mengangkat kedua2 tangan sehingga ke paras dada (bukan telinga).

Perlu diingatkan, kedua2 lengan hendaklah dirapatkan ke badan.
Menurut penceramah, syaitan2 yg berupa kambing hitam
gemar bergayut2 dicelah lengan (bawah ketiak) utk mengganggu solat kita,
oleh itu sekiranya kedua2 lengan dirapatkan, tiada ruang utk mereka.

2) Qiyyam – cara qiyyam yg betul ialah memposisikan tgn kiri ke atas sikit
dari pusat (bukan menutup pusat) sambil ibu jari dihalakan ke atas, seolah2
menyentuh ulu hati. Tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri agak2
selesa. Pastikan kedua2 lengan adalah rapat mendekati badan.

3) Rukuk – peralihan dari posisi qiyyam kepada rukuk dilakukan dgn penuh tertib dan sopan. Kedua2 tangan melurut peha dgn perlahan dan berhenti di atas lutut.Pastikan badan kita di dlm posisi sudut tepat (90 darjah). Siku jugadirapatkan ke badan dan sudut tepat.

4) ‘Iktidal – tegakkan badan semasa membaca “Sami Allahuliman hamidah..”; dan mengangkat tangan posisi takbir ketika membaca “…rabbanaa lakal hamdu”

5) Sujud – sujud dari segi istilah ialah “penyerahan diri yang tertinggi”.
Tertib sujud ialah dengan meletakkan kedua2 lutut ke lantai, baru diikuti tapak tangan dan seterusnya dahi. Kedua2 tangan dirapatkan di bhgn bawah sedikit dari ibu jari, di mana ada sedikit ruang terbuka di antara kedua2 tangan dan di situlah dahi diletakkan. Jgn sujud terlalu jauh ke hadapan kerana dikhuatiri akan melebihi lebih dari anggota sujud yg 7 iaitu dahi, kedua tapak tangan, kedua lutut and kedua belah kaki (setakat jari shj). Ibu jari kaki dilentur sedikit agar menghala ke kiblat.

6) Duduk antara 2 sujud – ada 2 cara :

i. Papan punggung diletakkan di atas kedua2 kaki

ii. Papan punggung lebih diberatkan atas kaki kiri ,dan kaki kanan dilentur agar ibu jari menghadap kiblat.

7) Bangun selepas sujud – duduk sebentar sebelum bangun, bukan dlm keadaan bangun menungging. Sekiranya menghadapi kesulitan utk bangun, gunalah tgn kanan utk membantu kita bangun atau kedua2 tangan.

8) Tahiyyat – mengangkat telunjuk pada ketika menyebut “…illallahh. ..”;
(semasa membaca “laa ilaa ha ILLALLAH”). Jari telunjuk itu jangan diturunkan sehingga memberi salam.

9) Salam – tidak perlu ditundukkan muka sebelum memberi salam. Menoleh sejauh mungkin sehingga 180 darjah ke belakang kerana malaikat ramai di sekeliling kita. Begitu juga ketika menoleh ke kiri. Tidak salah jika bahu dialihkan sedikit bagi membolehkan kita menoleh sehingga 180 darjah. Semasa menolehke kanan, alihkan sedikit bahu kiri dan sebaliknya.

10) Berdoa sesudah solat – seelok2 duduk ialah dgn melapikkan papan punggung dgn kedua2 kaki. Tgn diangkat separas dada dan berdoalah dlm keadaan tunduk sedikit kerana sekiranya kita berdoa dgn tgn yg tinggi dan mendongak ke langit, itu melambangkan sifat bongkak. Ingatlah, kita sedang menghadap yg Esa.

Seterusnya sebelum selesai ceramah, Ustazah sempat mengingatkan
para hadirin bahawa kain yg digunakan utk solat juga perlu menepati ciri2 yg tertentu. Antaranya:-

1) Tidak jarang.

Rata2 kain telekung masa kini adalah jarang. Sekiranya kita memakai kain yg jarang dan dapat dilihat tengkuk dan warna kulit, maka solat kita
tidak sah. Seelok2nya carilah kain telekung yg tidak jarang (antara caranya ialah dgn menggunakan lapis kain ataupun, pakailah anak telekung atau tudung labuh di dalam dan pastikan sewaktu di rumah, apabila kita solat cuma dgn berbaju sleeveless di dlm telekung, pastikan bahu dan tangan tidak kelihatan warna kulit jika diamati dari luar telekung.

2) Kadang2 sewaktu musafir, ada muslimah yg malas membawa kain solat, sekadar membawa telekung sahaja (tak payah org lain, saya pun begini). Apabila tiba waktu solat, cuma kain di badan sahaja digunakan dan bagi menutupi kaki, kita memakai stokin. Cara ini memang tidak salah, tapi pastikan stokin yg dipakai tidak jarang.

Ingatlah sewaktu kita sujud, kain stokin itu akan menegang (stretch) dan manalah tahu, terdedah aurat kita ketika itu lalu tidak sahlah solat. Sebaik2nya pakai stokin yg tebal (Ustazah mencadangkan stokin yg lazim dipakai ketika bersukan) ataupun jika tiada, pakai 2 lapis.

3) Ada kain telekung yg indah bersulam dan berkerawang.

Ada yg berlubang2 sehingga di belakang telekung. Adakalanya, bagi mereka
yg rambut panjang, jika tidak ditutup betul2 dgn serkup/anak telekung,
rambut2 ini akan terkeluar2 di celah2 kerawang telekung. Oleh itu, berhati2lah.

Sama2lah kita berusaha memperbaiki solat kita kerana ia adalah tiang
agama. Pertama sekali yg akan dihisab di akhirat kelak ialah solat
kita. Solat yg baik akan melahirkan peribadi yg baik. Saya akui, terasa
agak berat.

Pengalaman saya, oleh kerana telekung saya agak jarang, saya kini
memakai tudung labuh di dlm telekung setiap kali solat sambil berazam
utk membeli telekung yg lebih baik kualitinya. Walaupun kadang2 terasa panas ketika solat saya gagahkan juga. Yg penting, saya mencuba seboleh2nya untuk mendapatkan solat yg diterima Allah, walaupun dari segi khusyuk solat, saya masih merangkak. Yg penting, kita kena ingat,inilah sebahagian persediaan kita utk akhirat, jadi biarlah berbaloi.

Jangan pula nanti kita dihisab pula kerana solat yg tak sempurna. Biar susah sekarang, jgn susah di alam baqa’.

Sekian saja yg dapat saya kongsi bersama. Sekira2 ada salah dan silap, harap dimaafkan. Segala yg baik itu datang dari Allah s.w.t. dan yg buruk itu dari saya.

Wassalam.

Dari Abdullah bin ‘Amr r.a., Rasulullah S.A.W. bersabda, Sampaikanlah pesanKu
biarpun satu ayat.

Sumber: E

17/03/2019 Posted by | Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Kedudukan Kanak-kanak Dalam Saf

Soalan :

Sekarang ni di masjid/surau timbul isu berkaitan kedudukan anak-anak dalam saf ketika solat berjemaah.

Boleh bantu beri pandangan?

Jawapan Oleh Ustaz Mohd Khafidz

بسم الله وبه نستعين

1. Asalnya masyarakat telah pun sedia mengikut apa yang telah diajarkan oleh para ulama kita mazhab Syafii, mengikut sepertimana yang telah dihuraikan dalam kitab-kitab besar fiqh Syafii. Namun, lama kelamaan apabila setengah kita makin jauh dari mendalami ilmu & mempelajari kitab-kitab besar mazhab Syafii ini, kita mula keliru apabila ada golongan yang datang kemudian gemar mengatakan “ini sunnah”, “ini bidaah”. Sedangkan di dalam kitab2 itu telah pun diterangkan secara terperinci hukum hakamnya, mana yang sah, mana yang batal, mana yang sunnah, mana yang makruh, mana yang harus, mana yang afdhal/terlebih sempurna, mana yang syarat dan bukan syarat dan sebagainya.

2. Perbincangan dalam kitab-kitab fiqh sebenarnya lebih harmoni dan halus, tidak sekadar “ini sunnah”, “ini bidaah”. Golongan tersebut sebenarnya keliru & mengelirukan. Lebih merumitkan apabila mereka mengambil fatwa itu daripada ulama negara lain yang boleh menerima pandangan itu menurut usul mazhab mereka barangkali, lalu dibawa ke negara kita yang sudah sedia ada ulamanya yang mengikut usul mazhab sendiri. Barangkali tidak ada apa-apa jika fatwa yang datang dari luar itu sekadar diamal oleh pembawanya, namun yang meresahkan ialah apabila si pembawa itu kurang ilmu lalu menyalah-nyalahkan pandangan mazhab tempatan yang sudah sedia lama diamalkan. Golongan keliru ini hanya tahu menghukum “ini sunnah”, “ini bidaah”.

3. Dalam mazhab Syafii, sunnah kedudukan saf yang sempurna ketika solat berjemaah ialah sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam an-Nawawi (w. 676H) dalam al-Minhaj: “Hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Pernyataan ini umum dan jika ada masalah-masalah yang datang kemudian perlulah dihuraikan sesuai mengikut situasinya. (Dalam setengah kitab seperti Asna al-Matalib oleh Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari (w. 926H) dinyatakan; yang berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian khunsa, kemudian perempuan)

4. Semua ulama yang mensyarahkan kata-kata tersebut tidak pun menafikannya dengan mengatakan “kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan orang dewasa” dan sebagainya. Boleh rujuk seperti Tuhfah al-Muhtaj oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Hasyiah Qalyubi (w. 1069H) & Umairah (w. 957H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan lain-lain.

.5. Dalil mereka adalah hadis sahih:

لِيَلِيَنِّي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ. (أخرجه مسلم وأبو داود والنسائي في الكبرى وابن ماجه)

“Hendaklah berdiri di belakangku dari kalangan kamu orang-orang yang matang/baligh dan faham/berakal, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka”.

6. Bahkan ada diriwayatkan hadis dengan sanad hasan yang menyebut secara jelas susunan saf tersebut iaitu:

عَن أبي مَالك الْأَشْعَرِيّ قَالَ: أَلَا أُحَدِّثُكُمْ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَصَفَّ الرِّجَالَ وَصَفَّ خَلْفَهُمُ الْغِلْمَانَ، ثُمَّ صَلَّى بِهِمْ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَاد حسن، قاله النووي في خلاصة الأحكام)

Daripada Abu Malik al-Asya‘ri RA katanya: “Mahukah aku khabarkan kamu tentang solat Nabi SAW, iaitu baginda mendirikan solat dan menyusun saf kaum lelaki dan menyusun di belakang mereka saf kanak-kanak, kemudian baru baginda mengimami mereka”. Dalam versi lain:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلِيهِ فِي الصَّلَاةِ الرِّجَالُ، ثُمَّ الصِّبْيَانُ، ثُمَّ النِّسَاءُ. (رَوَاه الْبَيْهَقِيُّ في السنن الكبرى وضَعَّفَهُ)

“Telah berdiri di belakang Rasulullah SAW di dalam solat, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Sanad hadis ini daif, namun dikuatkan dengan hadis-hadis di atas.

7. Hadis-hadis ini tidaklah menunjukkan hukum wajib dan hanya menunjukkan kesempurnaan serta yang afdhal. Jika ada kanak-kanak yang berdiri di dalam saf orang dewasa dan tidak bermain-main, tidaklah perlu dihalang dan ditegah.

8. Kata Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari dalam Asna al-Matalib:

“Kata al-Azra‘i: Dikemudiankan saf kanak-kamak daripada kaum lelaki adalah jika sudah tidak muat saf kaum lelaki. Jika tidak (yakni masih ada ruang), dipenuhkan saf itu dengan kanak-kanak, tiada masalah. Semuanya ini adalah mustahab, bukannya syarat. Sekiranya mereka menyalahi (susunan ini), sah solat mereka itu berserta makruh.” Katanya lagi: “Dan jangan ditukarkan kanak2 yang hadir dahulu untuk kaum lelaki yang hadir kemudian…”.

Ini kerana mereka lebih berhak berdiri di situ, walaupun pada saf pertama, sepertimana yang disebut dlm al-Minhaj al-Qawim, Mughni al-Muhtaj dan lain-lain.

9. Disebut dalam I’anah at-Talibin oleh Syekh Abu Bakr Syata (w. 1310H):

“Disunatkan jika ada berbagai-bagai peringkat makmum, hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, walaupun hamba sahaya, kemudian sesudahnya – jika telah penuh saf mereka – kanak-kanak, kemudian sesudah mereka– walaupun tidak penuh saf mereka – kaum perempuan”. Kata beliau lagi: “Apabila susunan tersebut disalahi, ianya makruh”.

Rujuk juga perinciannya di dalam Tuhfah al-Muhtaj & al-Minhaj al-Qawim oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan laun-lain.

10. Pandangan yang mengatakan kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan org dewasa dengan erti kata diselang selikan atau setiap kanak-kanak mesti berdiri di sebelah bapanya adalah pandangan yang janggal dan mengelirukan. Lebih parah lagi didakwa itu adalah sunnah dan selainnya adalah bidaah! Kita tidak tahu ada ulama-ulamak muktabar terdahulu yang mengeluarkan fatwa sedemikian.

Wallahu a’lam.

Sumber :

17/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

ISU ‘NABI BERSYAHWAT KPD PEREMPUAN’, DR PENSYARAH MELAYU BIDANG HADIS BERHUJJAH DGN KENYATAAN ORG BUKAN AHLI ILMU

Coretan Al-Faqir Ahmad Faidzurrahim.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=378342839666398&id=100024720556788

Assalamualaikum WarahMatullahi Wabarakatuh.

Saya telah dimaklumkan oleh beberapa sahabat saya berkaitan dgn isu seorng pensyarah di salah satu pusat pengajian tinggi yg mana pensyarah tersebut bertaraf ‘DOKTOR’ dan bersijil ‘PHD’ dalam bidang hadis.

Isu yang timbul adalah berkaitan dgn keperibadian Nabi yang dikatakan oleh pensyarah tersebut bahawa Nabi juga bersyahwat, kenyataan beliau yg berbunyi:
فوقع في قلبه شهوة النساء
Maknanya:
“Terdetik dalam jiwa Nabi syahwat kepada perempuan” .

Isu yg timbul ini telah dimuatkan dalam Fb pensyarah tersebut seperti yang dimaklumkan oleh sahabat-sahabat saya.

Maka saya terbaca penulisan beliau tersebut di Fbnya, dan apa yg menarikkan perhatian saya ketika membaca penjelasan beliau berkaitan dgn beberapa hadis yg beliau nyatakan dalam Fb beliau xde pulak lafaz hadis yg menyatakan: ‘Terdetik dlm Jiwa Nabi Syahwat kpd perempuan’. Apa yg saya perhatikan itu adalah kenyataan dari si pensyarah itu sendiri.

Beliau juga menyenaraikan beberapa nama org ulamak berkaitan dgn penilaian sanad hadis yg berkaitan dgn isu yg timbul (ISU DAKWAAN NABI BERSYAHWAT KPD PEREMPUAN) maka ini tidaklah menghairankan saya, tetapi apabila beliau menyebut beberapa insan yg lain juga menilai sanad hadis tersebut dgn menyebut: ‘Syeikhuna (guru kami) Syu’aib Arnaut dan Al-Albani’ (sila lihat lampiran yg di letak) maka ini sgt menghairankan dan mengajaibkan saya kerana apa yang saya tahu al-Albani ini bukanlah seorang ulamak apatah lagi tokoh dan pakar dalam bidang ilmu hadis.

Maka jelas di sini bahawa pensyarah yg bertaraf ‘DOKTOR PHD HADIS’ tersebut masih lagi berbangga dan mengiktiraf al-Albani sebagai guru beliau, sedangkan Nasiruddin al-Albani ini sudah jelas ditolak oleh para alim ulamak Ahli Sunnah Wal Jamaah, bahkan al-Albani ini tiada pengiktirafan rasmi akan kealimannya dari pihak yg boleh dipercayai.

Ayooh semua dgn hati yg ikhlas dan terbuka, kita mengenal Nasiruddin al-Albani ini secara ringkas.

SIAPAKAH NASIRUDDIN AL-ALBANI?

Telah berkata beberapa ulamak Islam bahawa ada seorang tukang jam yang bernama Muhammad Nasiruddin al-AlBani yang berasal dari negara Albania. Cukup sebagai bantahan terhadapnya adalah pengakuanya sendiri bahawa dia dulunya bekerja sebagai tukang memperbaiki jam (as-Sa’atiy) dan hobinya adalah membaca kitab-kitab agama tanpa mendalami ilmu Agama dari para ulamak yg muktabar dan tidak mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits, bahkan sanadnya terputus (tidak bersambung ke Rasulullah), sanadnya kembali kepada kitab-kita yang dibaca olehnya sendiri. Dia sendiri mengakui bahawa dia tidak menghafal sepuluh hadis pun dengan sanad muttasil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mensahihkan dan melemahkan mana2 hadis sesuka hati dengan hawa nafsunya dan bertentangan dengan kaedah para ulama hadis yang menegaskan bahawa kerja-kerja mentashihkan dan melemahkan mana-mana hadis adalah tugas para ulamak Hadis yg bertaraf ‘al-Hafiz’ saja.

Antara kesesatan Al Albani adalah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, ini disebut dalam kitabnya berjudul “Al-Mukhtasar al Uluww; “.
Beliau mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para Nabi dan orang-orang soleh, INI disebut dalam kitabnya “at-Tawassul” .

Al-Albani menganggap Nabi adalah seorang yang sesat sebagaimana beliau menuduh sesat orang-orang yang bertawassul dgn para Nabi dan para Wali, ini disebut dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.
Beliau juga mengkafirkan Ahli Sunnah al Asyairah dan al Maturidiyah seperti yang disebut dalam rakaman suaranya yang disampaikan kepada para pengikutnya. Dia menyeru agar dihancurkan al Qubbah al Khadlra’ (menara hijau masjid Nabawi) dan menyarankan agar dipindahkan makam Nabi ke luar kawasan Masjid, ini disebut dalam kitabnya “Tahzir as-Sajid’ .

Al-AlBani melarang umat Islam menyebut dalam solat lafaz: “Assalamu ‘alaika ayyuhan Nabiyy” dan dia berkata bahawa haram lafaz “Assalamu alannabiyy atas alasan Nabi telah mati, ini disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “Sifat Solat al-Nabi”.
Beliau juga memaksa orang Islam di Palestine agar menyerahkan negara Palestine kepada orang Yahudi, ini disebut dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.
Dalam kitab yang sama jua (fatawa al-AlBani) dia mengharamkan orang Islam untuk mengunjungi sesama mereka dan menziarahi orang yang telah mati di kuburnya. Dia juga mengharamkan orang perempuan untuk memakai kalung emas dalam, kitabnya “Adaab az-Zafaaf “.

Al-AlBani mengharamkan orang Islam berwudhuk lebih dan satu mud dan mandi lebih dari lima mud (satu mud bersamaan dengan dua telapak tangan ukuran sedarhana), kenyataan ini dikutip dari”Majallah at¬Tamaddun”.

Beliau juga mengharamkan Umat Islam penggunaan Subhah(Tasbih) untuk berzikir sebagaimana disebut dalam kitabnya “Silsilah al Ahadits adl-Dha’ifah”, beliau mengharamkan oranh Islam melaksanakan solat sunat tarawih dua puluh raka’at di bulan Ramadan sebagaimana disebut dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan”.

Beliau juga mengharamkan umat Islam melakukan solat sunnah qabliyalih jum’at sebagaimana disebut dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafah”.

Selain itu beliau mengharamkan bacaan al-Qur’an untuk orang-orang muslim yang telah meninggal dunia dan juga mengharamkan perayaan maulid Nabi, mengharamkan ziarah ke makam Nabi dan melarang ucapan lafaz “Sayyidina” untuk Nabi dan menganggapnya bid’ah sesat pelakunya seorang mubtadi’.

Wallahu aalam

SENARAI SEBAHAGIAN ULAMAK ISLAM YG MEMBONGKAR KESESATAN AL-ALBANI:

Seorang tokoh hadis yg terkenal namanya Syeikh al-Muhaddis Abdullah al-Ghummari di dalam risalahnya yg berjudul ‘al-Rasaeil al-aghummariah’ ada menyebut antara ulamak Islam yg membongkar kesesatan Al-Bani adalah seperti berikut:

1-Ulamak pakar hadis di timur tengah Imam al-Muhaddis Syeikh Abdullah al-Harari al-Habasyi dlm dua karangan beliau, satunya berjudul at-Ta’aqqubul Hasis, dan yg kedua: Nusratul al-Ta’aqqubul Hasis.

2- Ulamak hadis dari India Maulana Syeikh Abdur Rahmam al-A’azamy dalam bukunya berjudul al-Bani syuzu’uhu wa akhto’uhu.

3- Ulamak Maghrib Syeikh Abdul Aziz al-Ghummari dlm bukunya Bayan Naks al-Nakis al-Muta’addy.

4- Syeikh Saed Mamduh.

5- Sheikh Ismail bin Muhamad al-Ansory seorang penyelidik di Darul Ifta’ Riyadh.

6- Syeikh Muhammad al-Khazarjy seorng Menteri Agama di Emaret.

7- Ustaz Badrudin Hasan Diyab al-Dimasyqy.
Dan ramai lagi.

Wallahu aalam.

Ada sebahagian rakaman ceramah saya berkaitan dgn isu Nasiruddin al-Albani, boleh tonton di sini:

1- https://youtu.be/QijQkwfzP2o

2- https://youtu.be/PDvsQDpz9QU

3- https://youtu.be/UnaooGuez9w

Oh Nasiruddin al-Albani!!! engkau adalah antara penyebab kami mengetahui akan orang-orang yg mendakwa mahir dan pakar hadis.

Semoga Allah memberi petunjuk kpd pensyarah yg bertaraf PHD HADIS tersebut agar dpt berdamping dgn ulamak-ulamak yg betul2 pakar dlm bidang hadis.

KENALKAH ANDA SIAPA PENSYARAH DR PHD HADIS INI?

Semoga kita dikekalkan bersama alim ulamak Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Sekian. Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang hina dan lemah
AHMAD FAIDZURRAHIM.

Telegram:
https://t.me/joinchat/AAAAAE5W_012M87ttPndBg

Instagram:
kuliah_ustaz_faidzurrahim.

Dua Facebook rasmi:
1- Ahmad Faidzurrahim
2- Ustaz Ahmad Faidzurrahim

Selamat membaca dan jgn lupa sebarkan!!!

15/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

“Jawapan kepada Dr ASRI (Mufti Perlis) dalam bab ‘Allah berada di arasy'”

12/03/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

MENJAWAB KENYATAAN SONGSANG: ‘ ALLAH PERLU PADA MAKHLUK’.

Ketahuilah bahawa antara sifat wajib bagi Allah adalah tidak berhajat dan perlu pada makhluk, tapi tiba2 di akhir zaman ni ada insan berani mendakwa Allah perlu pada makhluk.

Subhanallah, Semoga Allah Melindungi Umat Islam.

Semoga rakaman pencerahan sebegini dapat kita ambil iktibar dan pengajaran di akhir zaman.

Selamat menonton dan Sebarkan!!!

Boleh juga ditonton di Youtube ini:

Kredit:
‘PARA PENUNTUT ILMU MAKRIFATULLAH’

12/03/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

KEMUNCULAN PENDAKWAH PENDAKWA SESAT AKHIR ZAMAN YG MENYAMAKAN ALLAH DGN MAKHLUK

Hadis Nabi.
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada baginda tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”
Aku bertanya : “Wahai RASULULLAH!!, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejahatan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?”
Baginda berkata : “Ya”
Aku bertanya : “Dan apakah setelah keburukan ini akan datang kebaikan?”
Baginda menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”.
Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?”
Baginda menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan menolaknyanya”
Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejahatan lagi ?”
Baginda menjawab :”Ya, (akan muncul) para dai-dai (para pendakwah) yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka mereka pun akan menjerumuskan ke dalam neraka”
Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka kepada kami ?”
Baginda menjawab : “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita”
Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini”
Baginda menjawab : “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”
Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak ada imam dan jama’ah kaum muslimin?”
Baginda menjawab :”Tinggalkan semua kelompok-kelompok itu, walaupun kau menggigit akar pohon sehinggalah ajal mendatangimu”.

Antara ajaran pendakwah songsang di akhir zaman adalah:

1- Menyebar ajaran Allah Duduk dan berada di atas langit & arasy.
2- Menyebar ajaran Tasybih dan Tajsim seperti menganggap Allah beranggota muka, tgn, jari jemari, kaki dan lain2 anggota.
3- Mengharmkan sambutan Maulid Nabi.
4- Mengharamkan tawasul dan ambil berkat Rasulullah.
5- Tidak menggalakkan bacaan Yasin Malam Jumaat, tahlil arwah.
6- Menganggap kewujudan Allah mengikut kewujudan makhluk.
7-Menganggap Allah perlu kepada kita.
8- Menolak kehormatan ulamak dan majlis ilmu atas alasan sudah memiliki ilmu laduni.
9- Mendakwa ‘Allah zat yg sgt sunyi, Allah adalah harta karun dan kancun yg ternilai.
Tapi bila di teliti semula hakikatnya mereka yg sunyi, sunyi dari ulamak, sbb tu mereka tolak dan hina semua ulamak, mereka berguru dgn khayalan, syaitan telah mengkhayalkan bagi mereka, walau pun mereka diberi peluang berceramah dI depan masyarakat.
10- Membezakan ilmu hakikat dgn syariat dgn dakwaan yg pelik, dan lain2.

HATI-HATILAH DARI INSAN YG MENYEBAR AJARAN-AJARAN SEBEGINI.

Semoga Allah melindungi Umat Islam.

https://m.facebook.com/photo.php?fbid=373225880178094&id=100024720556788&set=a.115299885970696&source=57

(Disediakan oleh:)
(USTAZ AHMAD FAIDZURRAHIM)

12/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

TIGA CIRI UTAMA ULAMAK YANG BENAR:

1- Ahli Sunnah Wal Jamaah (Al-Asyairah & Al-Maturidiyyah)
2- Bermazhab dgn salah satu mazhab empat yg muktabar (Syafei, Maliki, Hanbali & Hanafi).
3- Bertasawuf dan bertarikat yg betul.

Sila dgr dan tonton betul-betul

Disampaikan oleh:
AHMAD FAIDZURRAHIM

Boleh tonton di Youtube ini:

Sumber:
Telegram:
https://t.me/joinchat/AAAAAE5W_012M87ttPndBg

Facebook:
1- Ahmad Faidzurrahim
2 – Ustaz Ahmad Faidzurrahim

Instagram:
kuliah_ustaz_faidzurrahim

12/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

Dalam konteks bernegara kita bahagikan orang bukan Islam kepada kafir zimmi, kafir harbi, kafir mu’ahad dan musta’man.

Dari sudut pandangan umum kita panggil orang yang tidak memeluk agama Islam sebagai orang bukan Islam, ghayr muslimin. Dalam konteks bernegara kita bahagikan orang bukan Islam kepada kafir zimmi, kafir harbi, kafir mu’ahad dan musta’man, meskipun pada hari ini mereka muwatin (warga negara) tetapi mereka tetap dianggap kafir.

Sekarang ini ada rasa tidak senang orang bukan Islam dianggap kafir, mengapa? Sebab mereka menganggap diri mereka juga beriman kepada Tuhan. Pengaruh pluralisme agama yang meluas telah menyebabkan ramai orang termasuk orang bukan Islam menganggap diri mereka juga beriman dan percaya bahawa semua agama berasal dari Tuhan yang sama kerana itu tidak ada yang kafir.

Sebenarnya istilah kafir adalah istilah yang neutral, tanpa mengira agama, sesiapa pun akan menagnggap orang diluar kepercayaannya bukan orang beriman, tidak mendapat keselamatan, tidak masuk syurga. Orang bukan Islam tidak perlu merasa kesal tidak masuk syurga orang Islam dan orang Islam tidak akan sedih dianggap tidak akan masuk syurga penganut agama lain.

Kerana itu pluralisme agama ini adalah musuh agama, ia menutup pintu perbahasan kebenaran agama. Tidak ada agama yang benar mutlak, semua agama sama benar. Benar salah sesuatu agama itu tidak penting, agama menjadi persoalan selera masing2, walhal ia adalah persoalan untung nasib manusia di akhirat, perjalanan akhir hidupnya.

Golongan sekular dan liberal dalam hal ini lebih mementingkan perasaan bukan Islam walaupun terpaksa mengetepikan terma al-Qur’an dan menganggapnya tidak lagi sesuai pada zaman sekarang ini. Walhal persoalan iman dan kufur adalah persoalan usuluddin yang tidak boleh berubah sepanjang zaman.

Ustaz Dr Khalif Muammar

11/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

TEGURAN BUAT SEORANG DR PHD YG TIDAK TELITI SEBUT NABI SAW PUN TIMBUL SYAHWAT KETIKA MELIHAT WANITA….

Olih Ustaz Nasrul Nasir.

Saya telah mendengar petikan ceramah seorang Dr PHD yang telah menceritakan bahawa ketika Baginda sallallahu alaihi wasallam sedang bersama para Sahabat , tiba-tiba lalu seorang perempuan dihadapan Baginda lalu Baginda terdetik perasaan Syahwat lantas Baginda bangun dan masuk ke dalam rumah menunaikan hajat dengan salah seorang isterinya. Setelah Baginda keluar daripada rumah kelihatan rambut Baginda sallallahu alaihi wasallam basah, lalu Baginda menyebut perkataan ini :

مرت بي فلانة فوقع في قلبي شهوة النساء فأتيت بعض أزواجي فأصبتها

Maksudnya : [[Telah lalu dihadapanku seorang wanita maka telah terdetik di dalam hatiku akan syahwat kepada wanita lalu aku mendatangi sebahagian isteriku]]

Dr tersebut dengan yakin menyebut bahawa hadis ini diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah.

Lalu Dr itu menyebut bahawa para ulama pun mengatakan bahawa hadis ini memang ajaib.

Kemudian lalu dia menggunakan hujah ini untuk mengatakan bahawa ini bukti Baginda juga manusia biasa yang juga punya nafsu syahwat.

JAWAPAN SAYA :

1) Hadis ini yang pertamanya bukanlah riwayat al-Imam Muslim. Tetapi ianya adalah Riwayat al-Imam Ahmad di dalam Musnad dan al-Imam At-Thabrani di dalam Mu’jam al-Ausath.

Menisbahkan kepada Imam Muslim itulah yang menyebabkan ramai penyokongnya Taqlid buta tanpa merujuk kembali kesahihan perkataan Dr PHD ini walaupun merekalah paling bersemangat menyuruh hadis-hadis yang dibacakan ulama perlu dirujuk dan disemak semula. Ini lebih Ajaib .

2) Hadis ini berlaku perbincangan panjang oleh para ulama hadis di dalam ilmu Jarh Wa Ta’dil. Tidak perlu saya panjangkan perbahasan di sini.

Cuma kesimpulannya para ulama mengatakan ,bahkan al-Imam Thabrani sendiri menyebut bahawa hadis ini tidak diriwayatkan daripada Abi Khabsyah melainkan hanya melalui Sanad tersebut sahaja. Muawiyah bin Soleh bersendirian di dalam meriwayatkan hadis ini.

Jika mahu perbahasan yang lebih panjang nanti saya akan bacakan dan akan disiarkan potongan perbahasan itu di dalam FB nanti.

3) Sebahagian ulama ketika membicarakan hadis ini , maka mereka berbicara dengan penuh adab. Alhamdulillah para ulama Al-Azhar As-Syariff telah mengajar kami jika berbicara tentang Baginda sallallahu alaihi wasallam janganlah berbicara seperti kita menceritakan tentang peribadi manusia biasa. Baginda sallallahu alaihi wasallam adalah manusia agung yang tiada bandingannya. Jangan sesekali menilai Baginda seperti kita.

Ini juga adalah akhlaknya para sahabat. Berbeza dengan kelompok yang sambungannya terputus dengan Baginda sallallahu alaihi wasallam, mereka sewenang-wenangnya berbicara tentang Baginda sallallahu alaihi wasallam. Moga kita sentiasa dijaga adab dan ucapan kita dengan Baginda sallallahu alaihi wasallam.

4)Para ulama mengatakan matan hadis ini terdapat sedikit kepincangan kerana bercanggah dengan banyak hadis yang lebih sohih yang menceritakan tentang keadaan Baginda sallallahu alaihi wasallam. Bagaimana mungkin Baginda sallallahu alaihi wasallam boleh terdetik syahwat kepada wanita yang berlalu di depan Baginda sallallahu alaihi wasallam?

Cuba kita lihat hadis yang diriwayatkan oleh Al-Imam al-Bukhari dan Muslim daripada hadis Sayyidatuna Aisyah As-Siddiqah radhiyallahu anha:

«أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقبل وهو صائم وكان أملككم لإربه».واللفظ لمسلم في كتاب

Maksudnya : ((Sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah mencium seorang isterinya dalam keadaan Baginda berpuasa. Dan adalah Baginda sallallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling dapat menahan nafsunya))

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ketika mensyarahkan hadis ini mengatakan bahawa :

[[ Para Ulama berkomentar : Maksud perkataan Sayyidatuna Aisyah radhiyallahu anha itu adalah untuk kalian berjaga-jaga jangan mencium isteri ketika berpuasa ,dan jangan menyangka bahawa kalian seperti Baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam boleh melakukannya kerana Baginda adalah orang yang dapat menahan dirinya serta aman Baginda sallallahu alaihi wasallam daripada gelojak Nafsu dan seumpama dengannya. Manakala kamu semua tidak selamat daripada perkara tersebut, maka hendaklah kalian berjaga-jaga dan menahan diri daripada mencium isterinya ketika berpuasa]] .

Al-Imam Tirmizi rahimahullah juga menafsirkan dengan perkataan yang sama . Al-Imam Malik di dalam Muwatto’ juga menyebutkan sedemikian malah disetujui oleh al-Imam Al-Iraqi rahimahullah.

Jadi saya hairan , Bagaimana Dr PHD ini boleh mentafsirkan dengan perkataan yang tidak ditafsirkan oleh para ulama agung ini? Sekali lagi saya merasa ajaib.

5) Walaupun Dr PHD tersebut berniat baik untuk menceritakan sisi kemanusian Baginda sallallahu alaihi wasallam tapi cara pendalilan yang digunakan tidak kena pada tempatnya.

Adakah Dr PHD tersebut ingin menganggap bahawa para Sahabat ridwanullah alaihim ajma’in lebih menjaga pandangan daripada Baginda sallallahu alaihi wasallam sehingga hanya Baginda sahaja yang terkesan dengan kecantikan wanita tersebut?

Adakah Dr terlupa yang ayat menundukkan pandangan itu terlebih dahulu diamalkan oleh Baginda sallallahu alaihi wasallam?

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Maksudnya: ” Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka; sesungguhnya Allah Amat Mendalam PengetahuanNya tentang apa yang mereka kerjakan.”

Dan lupakah Dr bahawa Allah taala sendiri telah membersihkan pandangan mata Baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam daripada melihat dengan syahwat di dalam ayat 17 surah an-Najm:

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ

Maksudnya : “Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak akan liar ke kiri dan ke kanan serta tidak melihat yang sepatutnya , dan tidak pula melampaui batas.

Ini adalah seperti yang ditafsirkan oleh al-Imam al-Baghawi rahimahullah di dalam Tafsirnya .

6) Bagaimana mungkin Baginda sallallahu alaihi wasallam boleh terdetik hatinya dengan Syahwat kepada wanita yang tidak halal sedangkan Baginda telah dibersihkan dan dilapangkan dadanya daripada perkara sedemikian?

Terlupakah Dr dengan ayat :

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

Maksudnya : “Bukankah Kami telah melapangkan bagimu: dadamu (wahai Muhammad serta mengisinya dengan iman dan hidayah petunjuk) ?”

Tafsiran ayat ini sangat luas menunjukkan betapa agungnya Baginda sallallahu alaihi wasallam.

7) Ilmu ini luas, maka tuntutlah ia dengan adab. Jika hanya ilmu diambil, hadis dibaca tetapi adab membaca dan memahaminya tidak diperhalusi maka akan lahir Alim yang keras dan tidak beradab.

Kita disuruh beradab dengan semua orang , terlebih lagi dengan Baginda sallallahu alaihi wasallam yang dimuliakan oleh Allah taala.

Maka nasihat saya, beradablah ketika berbicara tentang Baginda sallallahu alaihi wasallam.

Baginda bukan seperti kita. Pandangan , gerak- langkah, pertuturan dan segenap segi tentang Baginda sallallahu alaihi wasallam adalah berbeza dengan kita.

Cukuplah ayat :

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan bahawa sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang amat mulia.

Menjadi ingatan dan panduan buat kita.

Moga Dr kembali muhasabah diri dan tidak sewenang-wenangnya berbicara tentang Baginda sallallahu alaihi wasallam.

Maaf daripada saya.

Barakallahu fikum 😊

Ini Dr PHD yg di makksudkan sila klik utk tonton…..apa beliau Syarahkan.

10/03/2019 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

ALLAH BERADA DI TEMPAT YANG TIDAK WUJUD?

Baru dapat dengar ulasan Syeikh Ridhouddin,Mudir Pondok Ihya Ulumiddin,Mengkuang Pulau Pinang, berkenaan debat antara Salman Ali dan Abu Syafiq.

Syeikh Ridhouddin membidas dengan kemas konsep al-Makan al-‘Adami (tempat yang tidak wujud) yang diperkenalkan oleh Salman Ali.

Syeikh sebut, makan مكان (tempat) adalah perkataan Arab yang berasal daripada perkataan كان. Perkataan ini membawa maksud موجود atau “wujud”. Adapun ‘adami, maka ia membawa maksud tidak wujud.

Apabila مكان disifatkan dengan Adami عدمي maka berlakulah اجتماع الضدين, iaitu “berkumpulnya dua perkara yang berlawanan pada satu masa”, sedangkan ini mustahil, berdasarkan kaedah akal,

الضدان لا يجتمعان
“Dua perkara yang bercanggah tidak akan berkumpul”.

Wujud dan tidak wujud tidak boleh berkumpul serentak, oleh itu tidak boleh disifatkan makan dengan adami, kerana dua-duanya membawa maksud yang berlawanan. Sekiranya disifatkan juga, ia akan membawa kepada perkara yang mustahil.

Oleh itu, konsep Makan Adami yang diperkenalkan Salman Ali adalah salah kerana ianya berlawanan dengan kaedah akal. Bahkan, ia hanyalah konsep rekaan sekiranya dibandingkan dengan perbahasan ilmu Kalam sebenar.

Begitulah jawapan Syeikh.

Jawapan ini kemas.

Kemas kerana ia mengikuti disiplin ilmu dengan betul, dan ia menggabungkan bidang-bidang ilmu berbeza untuk menyelesaikan sesuatu isu. Cross reference seperti ini adalah bukti jelas bahawa seseorang itu telah menguasai ilmu tersebut.

Syeikh Ridhouddin siap nak ulas menggunakan kitab al-Mawaqif, kitab yang membahaskan ilmu Kalam berdasarkan pandangan Imam Fakhruddin Ar-Razi dan Saifuddin Al-Amidi, dua tokoh besar ilmu Kalam.

Syeikh pesan, kita nak bertengkar dengan budak-budak, payah. Mereka tak belajar maqulat, tak belajar mantiq, tapi nak bahas bab akidah. Macamana nak faham konsep كيفية yang disebut dalam kitab-kitab tauhid salaf kalau maqulat pun tak belajar?

Kalau tak belajar ilmu maqulat, sahkan sifat 20, kata-kata imam Malik tentang kaifiyat pun mereka takkan faham, hatta kaif dalam Aqidah Tohawiyah pun mereka sendiri akan pening.

Oleh itu ikutlah para ulama terdahulu, lebih selamat, kerana zaman sekarang ilmu sudah bercampur baur dengan fahaman rekaan ilmuan muda BNU.

Bukan nak ulas balik isu lama, cuma nak cakapnya tok-tok guru pondok ni mereka ada jawapan, dan jawapan mereka kemas berdasarkan disiplin ilmu.

Jangan hanya kerana kita belajar di universiti, ada degree, M.A, Ph.D, kita pandang lekeh terhadap keilmuan mereka.

WallahuA’lam

Sumber :

@aswajapost

10/03/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Manhajiah Maqasid Syariah

1. UCAPAN kontroversi Dato Dr Mujahid Yusof yang mengungkapkan “Hifzuddin” itu termasuk menjaga agama-agama lain, bukanlah satu kepelikan daripada dirinya, kerana jika diteliti pendirian-pendiriannya sebelum ini, seperti dalam isu Kalimah Allah dan rampasan Bible oleh JAIS dahulu, kita akan dapati kelunakan melampau dan luar biasa terhadap orang bukan Islam itu sebagai satu “pattern” sikapnya yang ketara.

2. Ramai ulama yang bersuara membidas kenyataan Dato Dr Mujahid Yusof itu. Golongan yang lebih arif tentang agama ini membidas kerana penggunaan secara salah Maqasid Syariah. Mereka tiada masalah dengan tugas pemerintah untuk menjaga kepentingan semua pihak, termasuk rakyat bukan beragama Islam. Tetapi penggunaan Maqasid Syariah secara salah itu mesti dibanteras secara tegas dan jelas, lebih-lebih lagi pihak yang galak menggunakannya kini adalah pemerintah atau pro pemerintah, yang mana kesan salah guna itu ke atas kefahaman masyarakat lebih meluas dan ini amat berbahaya.

3. Sehubungan itu, sudah menjadi keperluan genting untuk masyarakat awam dicelikkan tentang ilmu Maqasid Syariah ini, secara betul. Matlamat pencelikan ini bukan untuk mereka mahir menggunakannya, tetapi untuk memberikan pendedahan agar mereka tidak mudah ditipu oleh pihak-pihak yang berkepentingan politik kepartian. Pada hari ini, maklumat yang salah dan persepsi yang tidak betul sudah menjadi senjata normal untuk parti-parti politik dan penyokong-penyokong bertikam lidah untuk memenangkan pendirian parti masing-masing. Akibatnya banyak fakta salah dianggap betul, manakala yang betul dikira salah. Impak negatif ini boleh dikurangkan dengan penjelasan dan penerangan yang mampu memberikan gambaran atau tasawur yang sahih tentang satu-satu perkara.

4. Satu lagi fenomena salah guna yang berlaku ialah mengambil atau meminjam kata-kata ulama atau tokoh tertentu untuk digunakan secara semberono ke atas satu-satu isu tertentu. Ibarat seseorang yang membaca buku mengenai prosedur pembedahan oleh tokoh pakar bedah dunia, kemudian melakukan pembedahan secara semberono, tanpa kelayakan atau dengan kelayakan tetapi tanpa pengawasan pakar. Belajar mengenai ilmu Usul Fekah, Qawaid Fekah dan Maqasid Syariah itu satu hal, manakala menangani satu-satu isu realiti dalam kerangka ilmu-ilmu syarak tersebut satu hal lain yang lebih memerlukan ketelitian tahap tinggi, kepakaran dan pengesahan pakar secara kolektif.

Di sinilah, kenyataan ahli politik dan penyokong fanatik mereka perlu dijauhi, kerana mereka sudah “bias”. Golongan ini paling mudah terjebak dalam perbuatan membelakangkan manhaj (metodologi) ilmu berkaitan, dalam konteks penulisan ini ialah Maqasid Syariah. Mereka sering gopoh mengambil satu-satu teori untuk diletakkan ke atas satu-satu realiti, tanpa penelitian yang mencukupi.

5. Penulisan saya ini tidak bertujuan untuk menerangkan satu persatu tentang ilmu Maqasid Syariah, kerana ilmu alat untuk memahaminya tidak dimiliki oleh kebanyakan pembaca yang budiman. Ilmu alat yang saya maksudkan, sekadar contoh semata-mata, ialah ilmu Qawaid Lughawiah (ilmu berkaitan bahasa Arab), Usul Fekah (ilmu berkaitan dalil syarak) dan Qawaid Fekah (ilmu berkaitan hukum syarak).

6. Oleh itu, penulisan saya hanya bertujuan untuk memberi gambaran satu sudut daripada aspek manhajiah (methodological), agar kita mempunyai satu kaedah untuk sekurang-kurangnya boleh membezakan antara “pandangan yang diragui” dan “pandangan yang boleh diambil kira”, dalam konteks topik Maqasid Syariah. Penulisan ini juga bukan bertujuan untuk berdebat dengan golongan pemimpin dan penyokong fanatik politik kepartian tertentu yang begitu galak menggunakan istilah Maqasid Syariah untuk memenangkan parti mereka. Penulisan ini ditujukan kepada masyarakat awam, terutamanya golongan terpelajar, untuk mereka jadikan sebagai panduan umum.

7. Pertama sekali, saya ingin membawa pembaca kepada isu manhajiah (methodological) secara umum terlebih dahulu. Terdapat beberapa perkara pendahuluan, yang kita semua setuju dan sepakat mengenainya secara teori, apabila bercakap tentang manhajiah, tetapi kerap kali berlaku penyimpangan ketika aplikasi. Tidak dinafikan juga ada kalangan yang bercakap tentang Maqasid Syariah dan Siyasah Syariyah ini yang sememangnya tidak menguasai isu-isu berkaitan manhajiah ini dalam topik-topik berkenaan. Ada juga yang menggunakan manhaj sains sosial untuk bercakap tentang ilmu syarak. Pendek kata, sama ada tidak berdisiplin dengan manhaj atau sememangnya tidak tahu apa-apa tentang manhaj, atau tersilap memilih manhaj yang bersesuaian dengan topik yang diperkatakannya.

8. Kita semua bersetuju bahawa untuk mendapatkan kefahaman yang benar-benar sahih tentang sesuatu perkara, maka hendaklah dilakukan kajian secara menyeluruh dan secara satu persatu (juzie). Gabungan analisis induktif dan deduktif memberikan gambaran yang lengkap tentang sesuatu perkara, menyebabkan penghukuman ke atasnya lebih tepat.

9. Begitulah juga Syariah dan Islam, yang sumber primer untuk memahaminya ialah al-Quran dan as-Sunnah. Kedua-dua sumber ini perlu difahami melalui analisis induktif dan deduktif. Terlebih dahulu, al-Quran ditafsirkan oleh al-Quran, menurut disiplin ilmu al-Quran. al-Quran tidak sekadar difahami satu persatu ayat secara terasing, malah perlu difahami secara keseluruhan; keseluruhan surah, keseluruhan bab-bab hukum yang berkaitan, keseluruhan tema dan kisah, keseluruhan Makkiyah atau Madaniyah, bahkan keseluruhan al-Quran.

10. Jika berlaku seolah-olah ada pertentangan antara ayat-ayat al-Quran, maka masalah itu mesti diselesaikan menurut kaedah-kaedah yang telah terkenal dalam disiplin ilmu al-Quran. Memetik mana-mana satu ayat al-Quran dan menetapkan hukum berdasarkan ayat itu, tanpa menyelesaikan pertentangan dengan ayat-ayat yang lain, adalah satu tindakan yang tidak bertanggungjawab, tidak ilmiah dan pandangan yang terbina di atasnya boleh diragui.

Sebagai contoh tindakan hanya memetik ayat kelapan daripada Surah al-Mumtahanah sebagai dalil mengharuskan tahaluf siyasi sambil mengabaikan berbelas-belas ayat mengenai larang berwala’ kepada mereka, adalah satu kegagalan manhajiah (methodological failure). Begitu juga perbuatan menjulang ayat “Rahmatan lil Alamin” semata-mata, sambil melupakan konteksnya yang sebenar dan mengabaikan kedudukannya dalam kerangka keseluruhan mesej al-Quran menerusi analisis induktif.

11. Kemudian as-Sunnah mengambil peranan untuk menafsir al-Quran. as-Sunnah bukan sahaja sekadar perkataan, perbuatan dan pengakuan Rasulullah S.A.W., yang dibaca perinciannya satu persatu secara terasing, malah as-Sunnah juga merangkumi keseluruhan tingkah laku Rasulullah S.A.W., yang dibaca secara menyeluruh, dengan mengambil kira bab-bab yang tersusun hasil daripada analisis induktif para ulama terdahulu.

Sebagai contoh, bab hubungan Rasulullah S.A.W. dengan orang-orang kafir dan munafiqin adalah satu bab yang perlu dikaji secara analisis deduktif dan induktif (al-Allamah Ibnul Qaiyim salah seorang yang telah melakukannya dengan cemerlang), yang menuntut kita tidak berpada dengan satu atau dua hadith berkaitan Rasulullah S.A.W. meminta pertolongan musyrikin dalam peristiwa tertentu sebagai dalil untuk bertahaluf siyasi dengan parti orang-orang bukan muslim.

12. Untuk memahami as-Sunnah, kita tidak dapat mengelak daripada bergantung pada para sahabat. Bukan sahaja dari sudut periwayatan, yang mana para sahabatlah yang membawakan kepada kita hadith-hadith mengenai ucapan, perbuatan dan pengakuan Rasulullah S.A.W., malah dari sudut pendirian dan tingkah laku para sahabat secara kolektif dalam pelbagai peristiwa, sejak zaman Rasulullah S.A.W. sehingga kurun yang berikutnya, perlu dianalisis secara induktif, bagi mendapatkan gambaran Islam yang menyeluruh dan tepat. Sunnah yang diriwayatkan dan difahami oleh jamaah para sahabat secara kolektif inilah menjadi salah satu punca dinamakan Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

Tanpa mengambil kira (analisis induktif) pendirian dan sikap para sahabat secara kolektif, sudah tentu kita akan mewarisi Islam yang tempang dan cacat seperti fahaman yang dibawa oleh Syiah. Sebagai contoh, dalil terhadap kehujahan Qias sebagai sumber syariah yang keempat adalah hasil daripada analisis induktif terhadap para sahabat yang melakukan aktiviti Qias, yang mereka teladani daripada Rasulullah S.A.W. Mereka ijmak melakukan Qias.

13. Terkandung dalam analisis induktif dan deduktif para ulama ke atas al-Quran, as-Sunnah dan pendirian para sahabat, ialah analisis induktif terhadap setiap dalil dan hukum yang terbit daripada dalil itu, yang meliputi ratusan ribu dalil dan jutaan hukum, yang mengambil masa ratusan tahun. Ulama terkemudian melengkapkan dapatan dan hasil kajian ulama terdahulu. Hasilnya ialah lahir ilmu-ilmu berkaitan asas-asas (usul), kaedah-kaedah (maxim), peraturan-peraturan, syarat-syarat dan pelbagai formula lagi yang menjadi garis panduan bagi umat terkemudian untuk memahami Islam dan mengistinbat hukum syarak.

14. Sebagai contoh, itulah proses yang telah melahirkan ilmu Usul Fekah di tangan Imam Syafie, selepas hampir 200 tahun kewafatan Rasulullah S.A.W., yang kemudiannya dikembangkan oleh para ulama terkemudian. Selepas lebih 200 tahun kewafatan Imam Syafie, itulah juga proses yang menerbitkan ilmu Maqasid Syariah di tangan Imam al-Juwaini, yang kemudiannya disusun kemas Imam al-Ghazali, dikembangkan oleh Sulton Ulama al-Izz ibn Abdissalam dalam bentuk “Qawaid”, disusun gabung dengan ilmu Usul Fiqh oleh Imam as-Syatibi dan dilengkapkan oleh al-Allamah Ibnu Asyur.

15. Mesej yang saya ingin sampaikan daripada noktah nombor 13 dan 14 di atas ialah kita sudah mempunyai manhaj (metodologi) tersendiri yang lengkap dan teruji begitu lama sehingga ke hari ini, untuk memahami kehendak syarak dalam pelbagai situasi baharu. Oleh itu, dalam konteks manhaj, tiada istilah klasik dan kontemporari. Jika yang kita maksudkan daripada kalimah klasik dan kontemporari hanyalah faktor masa yang berlainan, tiada masalah.

Tetapi untuk menjadikan kontemporari itu relevan dan “valid”, manakala yang klasik itu “outdated”, maka itu satu salah faham yang amat besar dalam konteks manhaj. Maka saya nasihatkan agar pembaca berhati-hati dengan mana-mana penulis yang mudah-mudah menggunakan istilah klasik dan kontemporari. Maksudnya perlu diteliti betul-betul.

16. Mesej kedua yang ingin saya sampaikan daripada noktah tersebut juga ialah ilmu Maqasid Syariah itu sudah ada pada para sahabat lagi, kemudian diwarisi turun temurun dan dikembangkan dari satu generasi ke satu generasi ulama. Sama seperti kes ilmu Usul Fiqh, yang tersusun di tangan Imam Syafie, tidak bermakna para ulama, terutamanya para sahabat tidak menguasai ilmu itu. Apa yang berlaku ialah penyusunan Usul Fiqh sebagai satu ilmu yang mudah dipelajari oleh generasi terkemudian.

Imam Syafie sendiri tidak menamakan “ar-Risalah” (karangannya mengenai Usul Fiqh) itu sebagai ilmu Usul Fiqh. Oleh itu, mana-mana pandangan yang mengatakan para ulama kini perlu mengambil masa untuk menerima “mazhab Maqasid Syariah” adalah pandangan yang dibina di atas kejahilan tentang ilmu Maqasid Syariah itu sendiri, kerana ilmu itu sudah menjadi sebahagian daripada “mumarasah” (praktis) para ulama dalam mengeluarkan fatwa selama ini, walaupun mereka tidak sibuk mempromosikannya.

17. Mesej ketiga daripada noktah tersebut juga ialah ilmu Maqasid Syariah adalah hasil daripada proses analisis induktif terhadap keseluruhan kandungan al-Quran dan as-Sunnah. Ilmu ini bukan diperoleh melalui buku Jaser Auda sahaja. Bukan buku Ibnu Asyur semata-mata. Bukan boleh berpada dengan kitab “Muwafaqat” as-Syatibi sahaja. Ilmu ini ialah mengenai analisis induktif.

18. Sebagai contoh, jika kita mahu bercakap tentang Maqasid Syariah dalam bab politik, maka tiada sesiapa yang boleh mengatakan sesuatu itu sebagai Maqasid Syariah atau kehendak syarak dalam politik kecuali dia telah melakukan analisis induktif terhadap keseluruhan kandungan al-Quran dan as-Sunnah, serta analisis induktif pendirian politik para sahabat. Analisis induktif ini pula tidak boleh sekali-kali menafikan hasil deduktif terhadap mana-mana dalil al-Quran dan as-Sunnah yang “qatie”.

Itulah proses yang dilakukan oleh Imam al-Mawardi sebelum beliau mengatakan bahawa pemerintah itu fungsinya ialah menjaga agama dan mentadbir dunia (dengan panduan agama). Proses yang sama juga dilakukan oleh para ulama yang lain sehingga melahirkan kesimpulan yang serupa (walaupun berbeza dari sudut ayat dan perkataan) tentang fungsi pemerintah (al-Imam).

19. Jika itulah proses yang dilalui oleh para ulama untuk menghasilkan kesimpulan bagi fungsi pemerintah, dalam bab politik sahaja, maka sudah tentu proses yang lebih besar dan berat dilakukan untuk mengeluarkan Lima Dharuriyat atau Lima Usul atau Lima Kulliyat, yang sering kali kita ulang-ulang sebagai Menjaga Agama, Nyawa, Akal, “Nasal” dan Harta.

20. Persoalan besar di sini ialah apakah manhaj (metodologi) yang diguna pakai oleh mereka yang beria-ia mempertahankan kenyataan Dato Dr Mujahid Yusof yang mengatakan Hifzuddin itu ialah untuk menjaga semua agama, bukan setakat agama Islam? Adakah mereka telah melakukan analisis induktif terhadap kandungan al-Quran dan as-Sunnah untuk menyanggah mafhum yang dipegang oleh para ulama terdahulu?

21. Ini kerana maksud para ulama selama ini daripada kalimah Hifzuddin itu ialah agama Islam sahaja, adalah dibina hasil daripada analisis induktif terhadap al-Quran dan as-Sunnah, menurut garis panduan (ilmu-ilmu yang saya sebutkan di atas) yang juga terbina hasil analisis induktif terhadap sumber-sumber tersebut. Maka untuk menyanggahnya, perlu kepada satu analisis induktif juga.

Adakah untuk merungkai maksud itu dan mengumumkannya kepada agama-agama lain hanya sekadar perlu membawa petikan teks Jasser Auda dan beberapa ulama terpilih? Adakah petikan itu kena dengan topik yang diperbincangkan? Adakah para ulama terpilih itu telah menyanggah kesimpulan para ulama terdahulu? Jika ada, sudahkah dibuat penilaian terperinci dari sudut manhajiah perbahasan sanggahan itu?

22. Terdapat sebahagian ulama membawakan kisah Rasulullah S.A.W. yang menghancurkan berhala ketika peristiwa pembukaan Kota Mekah sebagai menyanggah kenyataan Dr Mujahid itu. Noktah ini bukan mahu mendalilkan tindakan menghancurkan agama lain. Noktah ini hanyalah mahu menjentik pemikiran orang yang mahu patuh berdisiplin dengan manhaj perbahasan ilmu syarak yang betul, bahawa tidakkah tindakan Rasulullah S.A.W. menghancurkan berhala itu bertentangan dengan mesej Hifzuddin menjaga semua agama? Sepatutnya noktah penghancuran berhala ini mendorong ke arah analisis induktif untuk mencari jawapan tuntas tentang maksud Hifzuddin, walaupun para ulama terdahulu sudah melakukan proses itu dan sudah ada jawapan iaitulah hanya menjaga agama Islam.

23. Sebelum saya mengakhiri penulisan ini, ingin saya angkat satu lagi fenomena negatif iaitu keceluparan mengatakan bahawa para ulama zaman dahulu tidak mengalami dan memahami situasi dan realiti zaman sekarang. Sebagai contoh, realiti geopolitik yang berubah, maka pengkategorian kafir harbi sudah tidak relevan. Benar, situasi dan realiti berubah, tetapi garis panduan dan kaedah-kaedah ilmu syarak dalam mengistinbat hukum tetap sama. Maksudnya di sini ialah pihak yang mahu mengemukakan hukum yang berlainan daripada yang diputuskan para ulama terdahulu hendaklah mengemukakan penghujahan berdasarkan manhaj ilmu syarak yang tersedia ada.

Adakah mereka sudah melakukan analisis induktif dan deduktif terhadap kandungan al-Quran dan as-Sunnah keseluruhannya, sebelum mengatakan bahawa kategori kafir harbi sudah tiada? Adakah mereka telah melakukan analisis yang sama untuk mengatakan bahawa kafir harbi hanya diperangi secara fizikal sahaja, tiada perang politik? Malangnya, yang berlaku ialah mereka hanya berhujah bahawa ulama terdahulu tidak berada dalam realiti geopolitik zaman sekarang dan sekadar memetik kata-kata ulama secara terpilih (selektif) zaman sekarang, tanpa dilakukan penilaian terperinci menurut manhaj ilmu syarak. Kegagalan manhajiah amat jelas sekali.

24. Akhir sekali, saya ingin menekankan bahawa Maqasid Syariah adalah ilmu yang diguna pakai oleh para ulama dalam mengeluarkan hukum syarak dan memberi fatwa. Sama seperti ilmu Usul Fiqh yang tidak diguna pakai oleh masyarakat awam, begitu jugalah Maqasid Syariah. Itulah sebabnya, jika kita perhatikan, para ulama yang terkenal dengan ketinggian ilmunya dan penguasaan ilmu syaraknya tidak ramai yang menghebohkan tentang Maqasid Syariah kepada orang awam, walaupun fatwa mereka dalam semua bidang menggunakan Maqasid Syariah. Fenomena penggunaan istilah Maqasid Syariah oleh ahli politik dan penyokong yang fanatik terhadap partinya adalah situasi yang amat berbahaya, kerana boleh dimanipulasi menurut kepentingan politik yang sempit.

* Penulisan ini adalah berdasarkan kefahaman penulis terhadap rujukan-rujukan berikut (dicatat dengan ringkas sahaja, bagi mereka yang memahami):

الموافقات للشاطبي
مقاصد الشريعة الإسلامية لابن عاشور
القواعد الكبرى لابن عبد السلام
محاضرات في مقاصد الشريعة للريسوني
مقاصد الشريعة عند إبن تيمية للدكتور يوسف أحمد محمد البدوي
فصول في الاجتهاد والمقاصد للدكتور نورالدين مختار الخادمي
الفكر السياسي عند الإمام الجويني للدكتور رائف عبد العزيز المنعم
مقاصد القواعد الفقهية للدكتور سعيد الشوي
طرق الكشف عن مقاصد الشارع للدكتور نعمان جغيم
نظرية المقاصد عند الإمام الشاطبي للريسوني
مقاصد الشريعة عند الإمام الشافعي للدكتور أحمد وفاق مختار

Ustaz Mohd Hazizi ABd Rahman
Ahli Majlis Syura Isma

– Portal ISMAWeb

07/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

ADAKAH ZAKIR NAIK BERFAHAMAN WAHHABI?

Dari fb Ismail Choport

Harap berlapang dada, ini soal AQIDAH..

Apa2 pun respect kepandaiannya menguasai perbandingan agama2 lain & sila hati2 dalam mendalami Aqidah

ADAKAH ZAKIR NAIK BERFAHAMAN WAHHABI?

Jawapan: Untuk mengenali seseorang itu adalah berfahaman Wahhabi atau tidak, maka kita perlu tahu tentang aqidah dan manhajnya dengan bukti supaya kita tidak memfitnahnya. Ramai masyarakat sekarang bertanya soalan ini:

BETUL KE ZAKIR NAIK WAHHABI?
Jika hendak menjawab soalan ini secara ilmiah dan bukan dengan sesuka hati, maka di sini kita bawakan beberapa perkara yang membuktikan bahawa Zakir Naik adalah seorang yang berfahaman Wahhabi dan dia cuba menyembunyikan fahamannya sendiri dengan berkata: “Tidak ada mazhab dalam Islam”, sedangkan dia sendiri mengikut fahaman Muhammad bin Abdul Wahab iaitu pengasas pergerakan Wahhabi.
Ini antara bukti-bukti bahawa dia adalah berfahaman Wahhabi dan manhajnya bercangah dengan manhaj ulama Melayu yang berfahaman Ahlus-Sunnah wal-Jama^ah

AQIDAH YANG DISEPAKATI OLEH AHLIS-SUNNAH WAL-JAMAAH; ALLAH ADA TANPA TEMPAT:

Antara ulama Melayu yang masyhur ialah Syaikh Zainal-Abidin ibn Muhammad al-Fatoni yang terkenal dengan “Tuan Minal Fatoni”, dia berkata dalam kitabnya yang berjudul Irsyadul-Ibad ila Sabilir-Rasyad: “Jika berkata bagi engkau oleh yang berkata: di mana Allah? Maka jawapannya: TIADA IA PADA TEMPAT”.

Zakir Naik berkata: Allah ada di langit atas Arasy dan kerana itu kita mengangkat tangan ke langit apabila berdoa.

Lihat kenyataannya ini yang terdapat dalam dua pautan berikut:

Di Malaysia: https://m.youtube.com/watch?v=6Xv8pD69DTc

Di tempat lain:

BACAAN AL-QURAN UNTUK ORANG TELAH MENINGGAL DUNIA:

Al-Imam al-Suyuti menukilkan kesepakatan 4 mazhab tentang keharusan membaca Qur’an bagi yang mati dan bahawasanya si mati dapat manfaat dengan bacaan al-Quran.

Zakir Naik berkata: Membacakan Quran bagi orang yang telah mati adalah bidaah sesat dan tak ada dalil baginya.
Lihat kenyataannya pautan berikut:

BERTAWASUL DENGAN NABI:

Setiap Jumaat di masjid-masjid di Selangor khatib berkata apabila berdoa;
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﺎ ﻧﺘﻮﺳﻞ ﺇﻟﻴﻚ ﺑﻨﺒﻴﻚ ﺍﻷﻣﻴﻦ
Maknanya: “Ya Allah, kami bertawassul dengan nabi kamu yang bersifat amanah”.
Ada hadith membuktikan Rasulullah mengajar tawassul kepada sahabatnya iaitu hadith yang diriwayatkan oleh al-Hafiz al-Tobaroni dan selainnya dan ada 16 orang ulama hadith yang bertaraf hafiz hadith berkata hadith itu sohih.

Zakir Naik berkata: Bertawasul dengan nabi Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ adalah amalan syirik.

Lihat kenyataannya pada pautan berikut:

SAMBUTAN MAULIDUR-RASUL:

Di Malaysia Ahlis-Sunnah wal-Jamaah yang terdiri daripada sultan-sultan, masyarakat dan kerajaan menyambut Maulidur-Rasul setiap tahun.

Amalan ini adalah bidaah yang baik sepertimana yang dinaskan oleh al-Hafiz Ibn Dihyah, al-Hafiz al-Suyuti, al-Hafiz al-Sakhawi ulama al-Azhar dan lain-lain.

Zakir Naik berkata: Sambutan Maulidur-Rasul ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ adalah bidaah yang membawa kepada neraka.
Lihat kenyataannya pada pautan berikut:
https://m.youtube.com/watch?v=wC90bc4m6gQ

TAUHID:

Ahli Sunnah wal-Jamaah termasuk ulama Melayu seperti Syaikh Daud al-Fatoni, Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fatoni, Tok Kenali, Mufti Banjar di kurun 12 hijri Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Mufti Acheh di kurun 11 hijri Syaikh Nurud-Din al-Raniri dan lain-lain, mereka mengajar sifat 20.
Zakir Naik mengajar aqidah Wahhabi yang membahagikan Tauhid kepada tiga.

Lihat kenyataannya pada pautan berikut:

Bagi seseorang yang tahu apakah itu wahhabi tidak syak lagi Zakir Naik itu Wahhabi.

Sumber

06/03/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | 1 Comment

Kami ikut Al Quran dan Sunnah sahaja

#ASWJ
Tuan mazhab apa?

#Wahhabi
Kami ikut Al-Quran dan As-Sunnah.

#ASWJ
Ikut Al-Quran dan As-Sunnah ikut kefahaman siapa?

#Wahhabi
Kefahaman Ulama’ salaf.

#ASWJ
Ulama’ Salaf yang mana?

#Wahhabi
Salaf yang hidup 300 tahun hijrah yang pertama.

#ASWJ
Jadi Tuan hidup pada zaman salaf?

#Wahhabi
Tidak, kami ikut ulama yg ikut salaf.

#ASWJ
Jadi darimana datangnya kefahaman salaf yang tuan ikuti sedangkan tuan tidak hidup pada zaman salaf dan tuan menolak majoriti ulama’ khalaf yang meneruskan kesinambungan ilmu salaf secara bersambung (muttasil) di dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah?

#Wahhabi
Kami ikut Imam Ibn Taimiyyah, Imam Ibn al-Qayyim, Sheikh al-Albani, Sheikh bin Baz, Sheikh Solleh Uthaimin dan ulama-ulama sunnah.

#ASWJ
Mula-mula kata ikut Al-Quran dan As-Sunnah tak ikut mazhab maksudnya tak ikut ulama’ sebab mazhab ialah tempat berjalan atau aliran seseorang ulama’ di dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah.

#Tapi bila ditanya rupanya mengaku ikut ulama’ juga di dalam nak memahami makna Al-Quran dan As-Sunnah bukan faham direct daripada Al-Quran dan As-Sunnah seperti dakwaan pertama.

Kefahaman ulama’ salaf dakwaan mereka juga bukan diambil direct daripada salaf sebab mereka tak hidup zaman salaf. Jadi mereka ambil kefahaman daripada siapa?

#Jawapannya tidak lain tidak bukan ialah daripada Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim, Muhammad b Abdul Wahhab, Bin Baz, Uthaimin, Al-Albani dan minoriti tokoh yang ditolak di dalam Islam.

#Ke mana perginya ribuan para ulama’ mujtahid Islam yang besar-besar selain ulama pujaan mereka selepas daripada zaman salaf yang mana asbab mereka sampainya ilmu dan kefahaman Al-Quran dan As-Sunnah kepada kita pada hari ini?

#Apakah seramai-ramai ulama’ Islam yang ada hanya Ibn Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab dan beberapa orang tokohsahaja yang benar kefahaman agama dan bertepatan dengan sunnah?

#Perhatikan tahun kelahiran ulama’ mereka dan ulama’ mazhab ikutan kita?

{Imam ikutan ASWJ}

Imam Hanafi 80H
Imam Malik 93H
Imam Syafie 150H
Imam Ahmad 164H
Imam Abu Hassan al-Asya’ari 240H

{Imam ikutan Wahhabi}

Ibnu Taimiyyah 661H
Muhammad Bin Abdul Wahhab 1115H
Ibn Baz 1330H
Al-Albani 1333H
Uthaimin 1347H

#Jika Wahhabi kata kami ikut Al-Quran dan As-Sunnah maknanya mereka sedang menipu kerana tanpa huraian para ulama’ bagaimana nak faham Al-Quran dan As-Sunnah?

#Jika Wahhabi kata ikut salaf mereka juga menipu kerana Imam 4 adalah salaf. Mazhab mana yang mereka ikut?

#Jika mereka kata kami tak taqlid mana-mana ulama’ mereka lagi menipu kerana mereka mengambil huraian daripada ulama-ulama mereka yang kita nyatakan tadi. Mereka bukan salaf.

#Bermazhab itulah sebenarnya mengikut jalan salaf bukan hanya mendakwa mengikut salaf tetapi hakikatnya tokoh-tokoh panutan mereka adalah yang ditolak di dalam sejarah Islam oleh kesepakatan para ulama Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah.

Sumber:Pejuang Mazhab Salaf,
Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari

05/03/2019 Posted by | wahabi | Leave a comment

KEMUNCULAN PENDAKWAH PENDAKWA SESAT AKHIR ZAMAN YG MENYAMAKAN ALLAH DGN MAKHLUK

Hadis Nabi.
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada baginda tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”
Aku bertanya : “Wahai RASULULLAH!!, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejahatan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?”
Baginda berkata : “Ya”
Aku bertanya : “Dan apakah setelah keburukan ini akan datang kebaikan?”
Baginda menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”.
Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?”
Baginda menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan menolaknyanya”
Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejahatan lagi ?”
Baginda menjawab :”Ya, (akan muncul) para dai-dai (para pendakwah) yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka mereka pun akan menjerumuskan ke dalam neraka”
Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka kepada kami ?”
Baginda menjawab : “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita”
Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini”
Baginda menjawab : “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”
Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak ada imam dan jama’ah kaum muslimin?”
Baginda menjawab :”Tinggalkan semua kelompok-kelompok itu, walaupun kau menggigit akar pohon sehinggalah ajal mendatangimu”.

Antara ajaran pendakwah songsang di akhir zaman adalah:

1- Menyebar ajaran Allah Duduk dan berada di atas langit & arasy.

2- Menyebar ajaran Tasybih dan Tajsim seperti menganggap Allah beranggota muka, tgn, jari jemari, kaki dan lain2 anggota.

3- Mengharmkan sambutan Maulid Nabi.

4- Mengharamkan tawasul dan ambil berkat Rasulullah.

5- Tidak menggalakkan bacaan Yasin Malam Jumaat, tahlil arwah.

6- Menganggap kewujudan Allah mengikut kewujudan makhluk.

7-Menganggap Allah perlu kepada kita.

8- Menolak kehormatan ulamak dan majlis ilmu atas alasan sudah memiliki ilmu laduni.

9- Mendakwa ‘Allah zat yg sgt sunyi, Allah adalah harta karun dan kanzun yg ternilai.
Tapi bila di teliti semula hakikatnya mereka yg sunyi, sunyi dari ulamak, sbb tu mereka tolak dan hina semua ulamak, mereka berguru dgn khayalan, syaitan telah mengkhayalkan bagi mereka, walau pun mereka diberi peluang berceramah dI depan masyarakat.

10- Membezakan ilmu hakikat dgn syariat dgn dakwaan yg pelik, dan lain2.

HATI-HATILAH DARI INSAN YG MENYEBAR AJARAN-AJARAN SEBEGINI.

Semoga Allah melindungi Umat Islam.

Sumber:
USTAZ AHMAD FAIDZURRAHIM

https://m.facebook.com/photo.php?fbid=373225880178094&id=100024720556788&set=a.115299885970696&source=57

05/03/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

   

%d bloggers like this: