Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Polemik isu menyentuh anjing

Hukum menyentuh anjing.

Para ulama madzhab (Hanafi, Syafi’i dan Hanbali) sepakat bahwa air liur anjing najis kecuali Maliki yang berpendapat anjing tidak najis sama ada air liur atau bulunya.

Bagi kaum muslimin di Indonesia, Malaysia, Singapura, Yaman dan lainnya kebanyakan mengikuti madzhab Syafi’iyyah yang menghukumi najis seluruh bagian tubuh anjing jika disentuhnya dalam keadaan basah.

Asy-Syarbini mengatakan :

(وما نجس ) من جامد ولو بعضا من صيد أو غيره ( بملاقاة شيء من كلب ) سواء في ذلك لعابه وبوله وسائر رطوباته وأجزائه الجافة إذا لاقت رطبا ( غسل سبعا إحداهن ) في غير أرض ترابية ( بتراب )

“ – Dan apa yang najis – dari sesuatu yang padat walaupun sebagiannya dari buruan atau lainnya – karena besentuhan dengan bagian anjing – sama ada itu air liurnya atau kencingnya dan semua bagiannya yang basah dan anggota tubuhnya yang yang kering jika menyentuh sesuatu yang basah – maka mensucikannya tujuh kali saah satunya dengan tanah. “[1]

Artinya jika menyentuh anjing salah satunya (anjing atau yang menyentuh) sama ada tubuh, pakaian atau tempat dalam keadaan basah, maka menjadi najis dan mensucikannnya tujuh kali cucian salah satunya dicampur dengan tanah. Mafhumnya jika keduanya tidak basah, maka tidaklah najis.

Imam an-Nawawi berkata :

مذهبنا أن الكلاب كلها نجسة، المُعَلَّم وغيره، الصغير والكبير، وبه قال الأوزاعي وأبو حنيفة وأحمد وإسحاق وأبو ثور وأبو عبيد

“ Madzhab kami, mengatakan bahwa anjing seluruh bagiannya adalah najis, sama ada anjing terlatih atau bukan, kecil ataupun besar. Pendapat ini juga dikatakan oleh al-Awza’i, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Abu Tsaur dan Abu Ubaid “.[2]

Syaikhul Islam Zakariyah al-Anshari mengatakan :

والكلب ولو معلما لخبر الصحيحين «إذا ولغ الكلب في إناء أحدكم فليرقه ثم ليغسله سبع مرات» ولخبر مسلم «طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب»وجه الدلالة أن الماء لو لم يكن نجسا لما أمر بإراقته لما فيها من إتلاف المال المنهي عن إضاعته وأن الطهارة إما عن حدث أو نجس ولا حدث على الإناء فتعينت طهارة النجس فثبت نجاسة فمه وهو أطيب أجزائه بل هو أطيب الحيوان نكهة لكثرة ما يلهث فبقيتها أولى

“…(najis juga) anjing walaupun terlatih karena ada dua hadits sahih, “ Jika anjing menjilat bejana salah seorang kalian, maka tumpahkanlah dan cuicilah tujuh kali “, dan juga hadits Muslim : ““Sucinya bejana di antara kalian yaitu apabila anjing menjilatnya adalah dengan dicuci tujuh kali dan awalnya dengan tanah.” Sisi pendalilannya adalah sesungguhnya air itu tidak menjadi najis, maka niscaya tidak akan diperintahkan menumpahkannya karena termasuk membuang harta yang terlarang untuk dihilangkan. Dan sesungguhnya bersuci itu adakalanya karena sebab hadats atau najis, sedangkan tidak ada istilah hadats pada bejana, maka menjadi nyata bahwa itu adalah membersihkan dari najis. Maka nyatalah kenajisan mulut anjing tersebut, dan mulut adalah anggota tubuh yang paling bagus bahkan ia paling bagusnya bau mulut hewan karena seringnya menjulurkan lidahnya, maka anggota tubuh lainnya lebih utama (untuk dihukumi najis) “.[3]

Dari teks di atas diketahui sisi pendalilan atas kenajisan seluruh bagian tubuh anjing yaitu :

– Dari hadits sahih di atas, dapat dipahami bahwa jika air itu tidak najis maka tidak akan diperintahkan untuk ditumpahkan, karena air termasuk harta yang dilarang untuk dibuang sia-sia.

– Mensucikan sesuatu adakalanya karena najis atau hadats, sedangkan bejana tidak mungkin ada hadatsnya, maka perintah mensucikan bejana tersebut tidak ada lain karena adanya najis.

– Mulut adalah anggota tubuh yang paling bagus, jika mulut bagian tubuh yang paling bagus pada anjing dinilai najis, maka bagian tubuh lainnya lebih patut dinilai najis.

Imam an-Nawawi mengatakan :

قال البيهقي: أجمع المسلمون على نجاسة بول الكلب” وكذلك بول وغائط جميع الحيوانات مما لا يؤكل لحمه

“ Imam al-Baihaqi mengatakan, “ Para ulama sepakat (ijma’) atas najisnya kencing anjing “, demikian juga kencing dan kotoran semua hewan yang haram dimakan dagingnya “.[4]

Adapun hadits :

كَانَتِ الْكِلَابُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

“ Konon anjing-anjing di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kencing dan berlalu di masjid, para sahabat tidak ada yang memercikkan sedikitpun dari itu semua “.

Maka jawabannya adalah : Najis anjing sudah ijma’ para ulama. Sedangkan kasus di atas adalah begini; asal bumi ini adalah suci, maka kapan saja kita tidak mengetahui, apakah bumi masjid itu terkena najis anjing atau tidak, maka kita hukumi dengan yakin yaitu tidak adanya wujud najis tersebut, bumi telah Allah jadikan sebagai masjid (layak untuk tempat sujud). Dan kita tidak dibebankan untuk meneliti bekas-bekas anjing di dalamnya.

Dalam hadits sahih Muslim pun disebutkan :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم أَصْبَحَ يَوْمًا وَاجِمًا، فَقَالَتْ مَيْمُونَةُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدِ اسْتَنْكَرْتُ هَيْئَتَكَ مُنْذُ الْيَوْمِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : ” إِنَّ جِبْرِيلَ كَانَ وَعَدَنِي أَنْ يَلْقَانِي اللَّيْلَةَ فَلَمْ يَلْقَنِي أَمَ وَاللَّهِ مَا أَخْلَفَنِي “، قَالَ : فَظَلَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَوْمَهُ ذَلِكَ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ وَقَعَ فِي نَفْسِهِ جِرْوُ كَلْبٍ تَحْتَ فُسْطَاطٍ لَنَا، فَأَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهِ مَاءً، فَنَضَحَ مَكَانَهُ فَلَمَّا أَمْسَى لَقِيَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ لَهُ قَدْ كُنْتَ وَعَدْتَنِي أَنْ تَلْقَانِي الْبَارِحَةَ قَالَ أَجَلْ وَلَكِنَّا لَا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ فَأَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ فَأَمَرَ بِقَتْلِ الْكِلَابِ حَتَّى إِنَّهُ يَأْمُرُ بِقَتْلِ كَلْبِ الْحَائِطِ الصَّغِيرِ وَيَتْرُكُ كَلْبَ الْحَائِطِ الْكَبِيرِ

“ Sesungguhnya pada suatu pagi Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam kelihatan diam karena susah dan sedih. Maimunah berkata; “Ya, Rasululloh! Aku heran melihat sikap Anda sehari ini. Apa yang telah terjadi?” Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Jibril berjanji akan datang menemuiku malam tadi, ternyata dia tidak datang. Ketahuilah, dia pasti tidak menyalahi janji denganku! ‘ Demikianlah Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam senantiasa kelihatan susah dan sedih sehari itu. Kemudian beliau melihat seekor anak anjing di bawah tempat tidur kami, lalu beliau menyuruh keluarkan anak anjing itu. Kemudian diambilnya air lalu dipercikinya (bekas-bekas) tempat anjing itu. Ketika hari sudah petang, Jibril datang menemui beliau. Kata beliau kepada Jibril: ‘Anda berjanji akan datang pagi-pagi.’ Jibril menjawab; ‘Benar! Tetapi kami tidak dapat masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar-gambar.’ Pada pagi harinya Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan supaya membunuh semua anjing, sampai anjing penjaga kebun yang sempit, tetapi beliau membiarkan anjing penjaga kebun yang luas.’ (HR. Muslim)

Dari hadits di atas, diketahui bahwa seandainya anjing tidak najis, maka Nabi tidak akan memercikkan bekas-bekas tempat anjing tersebut dengan air.

Dengan ini bagi kami yang paling rajih adalah pendapat yang menghukumi kenajisan seluruh bagian anjing jika disentuhnya dalam keadaan basah salah satunya. Maka tidak sepatutnya memaksa kami mengikuti pendapat sebalilknya, apatah lagi kaum muslimin Malaysia, Indonesia dan lainnya mayoritas mengikuti pendapat Syafi’iyyah, sepatutnya mereka menghormati pendapat ini yang sudah dipegang selama puluhan tahun secara turun menurun. Apakah pengikut Syafi’iyyah atau Hanbaliyyah boleh memaksakan penduduk Libia yang mayoritas bermadzhab Maliki untuk mengikuti pendapatnya saat berada di Libia ? tentu akan terjadi konflik bila hal ini terjadi.

Kalau pun masing-masing pendapat masih samar mana yang rajih, maka yang patut dipegang dan diambil adalah pendapat yang lebih mendekati kehati-hatian dalam Agama. Karena melaksakan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

دع ما يريبك إلى ما لا يريبك

“ Tinggalkan apa yang membuatmu ragu kepada apa yang tidak membuatmu ragu “. (HR. At-Turmudzi)

Hukum menyentuh anjing tanpa adanya keperluan.

Lalu bagaimana hukumnya jika menyentuh anjing tanpa adanya hajat atau keperluan ?

Jika kita yakin tangan kita atau anjing itu tidak basah alias kering, maka hukumnya tidak najis dan boleh namun makruh. Namun jika tangan kita basah dan sengaja menyentuh anjing, maka jelas hukumnya najis dan haram karena ada unsur kesengajaan menyentuh najis. Imam al-Malibari mengatakan :

(ولا يجب اجتناب النجس) في غير الصلاة ومحله في غير التضمخ به في بدن أو ثوب فهو حرام بلا حاجة

“ – Dan tidak wajib menjauhi Najis – di selain sholat dan tempatnya, kecuali di selain melumurkan najis pada badan atau pakaian, maka perbuatan itu adalah haram “.[5]

Imam An-Nawawi al-Bantani mengatakan :

والمقصد الرابع  من مقاصد الطهارة إزالة النجاسة وإزالتها واجبة إلا في النجاسة المعفو عنها وهي على الفور إن عصى بها كأن تضمخ بها لغير حاجة

“ Tujuan yang keempat dari tujuan-tujuan bersuci adalah menghilangkan najis. Menghilangkan najis hukumnya wajib kecuali pada najis yang dimaafkan, dan mensucikan najis itu dilakukan dengan segera jika terkena najis dengan berdosa seperti melumurkan dengan najis tanpa adanya hajat “.[6]

Hukum memelihara anjing.

Memelihara anjing hukumnya haram kecuali jika ada tujuan-tujuan yang dibenarkan Syare’at seperti menjaga tanaman, ternak atau buruan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنِ اقْتَنَى كَلبًا إِلاَّ كَلْبَ مَا شِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَيْدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمِ قِيْرَاطُ

Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak dan anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak satu qirâth (satu qirâth adalah sebesar gunung Uhud).” [HR. Muslim no. 2941].

Imam an-Nawawi mengatakan :

رخص النبي صلى الله عليه وسلم في كلب الصيد وكلب الغنم، وفي الرواية الأخرى وكلب الزرع ونهى عن اقتناء غيرها، وقد اتفق أصحابنا وغيرهم على أنه يحرم اقتناء الكلب لغير حاجة، مثل أن يقتني كلباً إعجاباً بصورته أو للمفاخرة به، فهذا حرام بلا خلاف

“ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringangan pada anjing buruan dan anjing penjaga ternak, dalam riwayat yang lain, anjing penjaga tanaman dan melarang memelihara anjing dari selain tujuan itu. Para sahabat kami dan lainnya telah sepakat bahwa haram memelihara anjing tanpa ada hajat (keperluan) seperti memelihara anjing karena kagum dengan bentuknya atau karena untuk bangga-banggaan, maka ini semua haram tanpa khilaf “.[7]

Al-Hafidz Ibnu Hajar menaqal pendapat Ibnu Abdil Barr yang menghukumi makruh menjadikan anjing untuk selain kepentingan seperti dalam hadits, namun sebenarnya itu diqiyaskan pada makna buruan dan sesuatu yang dapat menarik manfaat dan mencegah bahaya, kemudian Ibnu Abdil Barr melanjutkan :

وفي قوله : نقص من عمله – أي من أجر عمله – ما يشير إلى أن اتخاذها ليس بمحرم ، لأن ما كان اتخاذه محرما امتنع اتخاذه على كل حال سواء نقص الأجر أو لم ينقص ، فدل ذلك على أن اتخاذها مكروه لا حرام

“ Dan ucapan ; “ Berkurang dari amalnya “ maksudnya dari pahala amalnya “, ini mengisyaratkan bahwa menjadikannya (binatang peliharaan) tidaklah haram, karena setiap yang menjadikannya dihkumi haram, maka dilarang juga menjadikannya dalam keadaan apapun, sama ada pahalanya berkurang ataupun tidak. Maka hal itu menunjukkan bahwa menjadikannyanya hukumnya adalah makruh bukan haram “.[8]

Akan tetapi al-Hafidz Ibnu Hajar membantahnya :

وما ادَّعاه من عدم التحريم واستند له بما ذكره ليس بلازمٍ ، بل يحتمل أنْ تكون العقوبة تقع بعدم التوفيق للعمل بمقدار قيراط مما كان يعمله من الخير لو لم يتخذ الكلب. ويحتمل أن يكون الاتخاذ حراماً، والمراد بالنقص أن الإثم الحاصل باتخاذه يوازي قدر قيراط أو قيراطين من أجر فينقص من ثواب المتَّخذ قدر ما يترتب عليه من الإثم باتخاذه وهو قيراط أو قيراطان

“ Apa yang diklaim Ibnul Abdil Barr dari tidak haramnya hal itu dan bersandar dengan apa yang telah ia sebutkan tadi, tidaklah lazim. Bahkan berkemungkinan hukuman (kurang satu atau dua qirath) terjadi dengan tidak mendapat taufiq untuk beramal pada kadar satu qirath daripada amalam-amalan baiknya walau tidak memelihara anjing sekalipun. Dan berkemungkinan memelihara anjing itu adalah haram, dan apa yang dikehendaki dengan pengurangan ialah dosa yg terhasil dengan memelihara anjing adalah bersamaan kadar satu atau dua qirath daripada pahala, maka pahala pemelihara anjing berkurang pada kadar apa yang ditetapkan ke atasnya daripada dosa kerana memeliharanya iaitu satu atau dua qirath.“.[9]

Maka kesimpulannya adalah memelihara anjing tanpa adanya hajat seperti yang disebutkan dalam hadits yaitu untuk menjaga ternak, tanaman atau untuk berburu atau untuk sesuatu yang semakna misal menjaga rumah, maka pendapat yang mu’tamad dan diikuti mayoritas ulama hukumnya adalah haram.

Sebuah penelitian kedokteran membuktikan bahwa anjing dapat menyebarkan banyak penyakit ; Prof. Thabârah dalam kitab Rûh ad-Dîn al-Islâmi menyatakan, “ Di antara hukum Islam bagi perlindungan badan adalah penetapan najisnya anjing. Ini adalah mu’jizat ilmiyah yang dimiliki Islam yang mendahului kedokteran modern. Kedokteran modern menetapkan bahwa anjing menyebarkan banyak penyakit kepada manusia, karena anjing mengandung cacing pita yang menularkannya kepada manusia dan menjadi sebab manusia terjangkit penyakit yang berbahaya, bisa sampai mematikan. Sudah ditetapkan bahwa seluruh anjing tidak lepas dari cacing pita sehingga wajib menjauhkannya dari semua yang berhubungan dengan makanan dan minuman manusia “.[10]

Tidak selayaknya seorang muslim mengikuti cara orang-orang kafir; berlari bersama anjing, menyentuh mulutnya atau menciumnya yang dapat menyebabkan berbagai penyakit.

Bukan berarti Islam berpandangan jahat terhadap anjing, justru Islam lah agama yang paling mengerti hak-hak binatang dan paling kasih sayang terhadap binatang apapun. Namun Islam juga memberikan aturan semuanya untuk kemaslahatan umat manusia supaya sehat dunia akherat dan selamat dunia akherat.

Oleh: Ibnu Abdillah al-Katibiy

Kota Santri, 22-10-2014

Sumber: http://www.aswj-rg.com/2014/10/menjawab-polemik-isu-anjing.html


[1] Mughni al-Muhtaj : 1/239

[2] Al-Majmu’ : 2/585

[3] Syarh al-Bahjah al-Wardiyyah : 1/135

[4] Al-Majmu’ : 2/524

[5] Fath al-Mu’in : 11

[6] Nihayah az-Zain : 44

[7] Al-Majmu’ : 2/599

[8] Fath al-Bari : 8/5, lihat juga at-Tamhid : 14/221

[9] Fath al-Bari : 8/5

[10] Taudhîhul-Ahkam, Syaikh Ali Bassâm, 1/137

23 October 2014 Posted by | Uncategorized | , | Leave a comment

Pendalilan anjing adalah najis mengikut Mazhab Asy Syafie

Sumber pendalilan anjing adalah najis mengikut Mazhab Asy Syafie sebagaimana dalam hadith :

1. Apabila anjing menjilat mangkuk kamu, maka tumpahkanlah air yang di dalamnya dan basuhlah mangkuk itu 7 kali. (Hadith sahih riwayat Muslim)

2. Apabila menjilat anjing akan mangkukmu, maka basuhlah mangkuk itu 7 kali yang pertama dengan tanah (Hadith sahih riwayat Muslim)

3. Apabila anjing menjilat mangkukmu , maka basuhlah mangkuk itu 7 kali, yang paling akhir dengan tanah (Riwayat Muslim)

4. Apabila menjilat anjing akan mangkukmu, maka basuhlah mangkuk itu 7 kali, salah satunya dengan tanah (Hadith riwayat Muslim)

5. Kebersihan mangkuk kamu apabila dijilat anjing harus dicuci antaranya dengan tanah (Riwayat Muslim)

6. Kalau anjing minum di mangkukmu maka cucilah mangkuk itu 7 kali (Hadith riwayat Imam Bukhari, lihat Fathul Bari jilid 1, halaman 286)

7. Dari Ibnu Mas’ud al Ansari beliau berkata : Bahawasanya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam melarang menerima harga anjing, wang kerana zina dan upah tukang tenung. (hadith riwayat Imam Bukhari, lihat Fathul Bari jilid 5, halaman 331)

8. Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu : Melarang Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam menerima harga anjing. Dan Nabi bersabda kalau datang orang meminta harga anjing maka penuhilah telpak tangannya dengan tanah (Hadith riwayat Abu Daud, lihat Fathul Bari jilid 5, halaman 331).

9. Tidak masuk malaikat ke rumah yang ada di dalamnya anjing dan gambar (patung) (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

10. Barangsiapa menyimpan anjing, terkecuali anjing pemburu atau pengembala, maka dikurangkan pahala amalannya dua kirat satu hari (Riwayat Imam BUkhari dan Muslim)

Pandangan dalam Mazhab Asy Syafie mengenai kenajisan Anjing :

Imam Asy Syafie :

Kitab al Umm – Kalau minum pada mangkuk itu anjing atau babi maka tidaklah bersih mangkuk itu kecuali kalau dibasuh 7 kali (Al Umm, juzu’ 1, halaman 6)

Imam An Nawawi :

Dalam kitab Minhaj menerangkan : Najis itu ialah sekalian benda yang cair yang memabukkan, anjing, babi dan anak-anak yang lahir dari keduanya, bangkai (selain mayat manusia, ikan dan belalang), darah, nanah, muntah, tahu, kencing, mazi, wadi, mani (selain mani manusia) dan mani haiwan yang tidak dimakan.

Imam Ramli :

Dalam kitab Nihayah : Dan yang najis juga anjing walaupun anjing yang sudah terdidik. (Nahayah, juzu’ 1, halaman 218)

Syeikh Yusuf Ardabili :

Najis-najis itu ialah khamar, sekalian yang membuatkan mabuk, anjing babi dan anak yang terbit dari keduanya… (Al Anwar, juzu’ 1, halmaan 6)

Imam Khatib Syarbaini :

Dan yang najis juga adalah anjing, walaupun anjing terdidik, kerana hadith yang tersebut dalam kitab Muslim (Mughni, Juzu’ 1, halaman 78)

Wajib bagi seorang Muslim agar menjauhi najis dan menyentuhnya di setiap waktu dan keadaan sama ada di dalam solat atau di luar solat maka dalam hal ini segolongan ahli ilmu mengatakan memegang najis tanpa keperluan (yang diizinkan syarak seperti beristinjak) adalah diharamkan walaupun di luar solat iaitu secara sengaja.

(Tuhfah al Muhtaj fi Syarh al Minhaj 1/481)

Disahkan hukum ini oleh Imam Nawawi, rafie dan kesemua muta’akhirin.

Sumber: Ustaz Zamihan Al-Ghari

20 October 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Malaikat Rahmat Tidak Akan Memasuki Rumah yang Didalamnya Terdapat Gambar, Patung dan Anjing

 

Rasulullah bersabda: “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing (2), juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [Hadits sahih Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah]

Islam adalah agama yang mencintai kebersihan sehingga mengingatkan bahayanya memiliki anjing, bahkan melarang memelihara anjing kecuali untuk kepentingan penjagaan keamanan atau pertanian. Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing [1] dan pahala pemilik anjing akan susut atau berkurang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda (yang artinya) : “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing (2), juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [Hadits sahih ditakhrij oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah yang semuanya dari Abu Thalhah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahihul-Jami’ No. 7262]

Rasulullah bersabda (yang artinya) : “ Sesungguhnya malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing” [Hadits sahih ditakhrij oleh Thabrani dan Imam Dhiyauddin dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat pula Shahihul Jami’ No. 1962]

Rasulullah bersabda (yang artinya) : “ Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)” [Hadits sahih ditakhrij oleh Ibnu Majah dan lihat Shahihul Jami’ No. 1961]

Ibnu Hajar (3) berkata : “Ungkapan malaikat tidak akan memasuki….” menunjukkan malaikat secara umum (malaikat rahmat, malaikat hafazah, dan malaikat lainnya)”. Tetapi, pendapat lain mengatakan : “Kecuali malaikat hafazah, mereka tetap memasuki rumah setiap orang karena tugas mereka adalah mendampingi manusia sehingga tidak pernah berpisah sedetikpun dengan manusia. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ibnu Wadhdhah, Imam Al-Khaththabi, dan yang lainnya.

Sementara itu, yang dimaksud dengan ungkapan rumah pada hadits di atas adalah tempat tinggal seseorang, baik berupa rumah, gubuk, tenda, dan sejenisnya. Sedangkan ungkapan anjing pada hadits tersebut mencakup semua jenis anjing. Imam Qurthubi berkata : “Telah terjadi ikhtilaf di antara para ulama tentang sebab-sebabnya malaikat rahmat tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing. Sebagian ulama mengatakan karena anjing itu najis, yang lain mengatakan bahwa ada anjing yang diserupai oleh setan, sedangkan yang lainnya mengatakan karena di tubuh anjing itu menempel najis.

Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian dengan Jibril bahwa Jibril akan datang. Ketika waktu pertemuan itu tiba, ternyata Jibril tidak datang. Sambil melepaskan tongkat yang dipegangnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah tidak mungkin mengingkari janjinya, tetapi mengapa Jibril belum datang ?” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh, ternyata beliau melihat seekor anak anjing di bawah tempat tidur. “Kapan anjing ini masuk ?” tanya beliau. Aku (Aisyah) menyahut : “Entahlah”. Setelah anjing itu dikeluarkan, masuklah malaikat Jibril. “Mengapa engkau terlambat ? tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jibril. Jibril menjawab: “Karena tadi di rumahmu ada anjing. Ketahuilah, kami tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)” [Hadits Riwayat Muslim].

Malaikat rahmat pun tidak akan mendampingi suatu kaum yang terdiri atas orang-orang yang berteman dengan anjing. Abu Haurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “ Malaikat tidak akan menemani kelompok manusia yang di tengah-tengah mereka terdapat anjing“. [Hadits Riwayat Muslim]

Imam Nawawi mengomentari hadits tersebut : “Hadits di atas memberikan petunjuk bahwa membawa anjing dan lonceng pada perjalanan merupakan perbuatan yang dibenci dan malaikat tidak akan menemani perjalanan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan malaikat adalah malaikat rahmat (yang suka memintakan ampun) bukan malaikat hafazhah yang mencatat amal manusia. [Lihat Syarah Shahih Muslim 14/94]

Sementara itu, mengenai hukum yang berkaitan dengan hasil jual beli anjing (harga anjing), terdapat beberapa nash yang mengharamkan, diantaranya adalah sebagai berikut. Abi Juhaifah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hasil yang diperoleh dari jual beli anjing, darah, dan usaha pelacuran [Hadits shahih ditakhrijkan oleh Bukhari juga ditakhrijkan dalam Ahaditsul Buyu’ oleh Imam ay-Thayalisi, Imam Ahmad, juga oleh Baihaqi. Dan lihat Shahihul Jami’ no. 6949].

Jabir Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang jual beli anjing dan kucing (4) Selain itu, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang jual beli anjing, hasil kezaliman, dan upah dari hasil praktik perdukunan [Hadits shahih ditakhrijkan oleh Bukhari, Muslim, Imam hadits yang empat. Hadits ini juga ada dalam Shahihul Jami’ no. 6951].

Imam al-Baghawi berkata (5) : “Menurut mayoritas ulama, jual beli anjing itu hukumnya haram sebagaimana upah dari hasil perdukunan (pertenungan), dan pelacuran. Kaitannya dengan hal itu, Abi Hurairah berkata : “Semuanya itu tergolong dalam penghasilan haram“.

 

Footnote :

1. Yang sangat kami sayangkan adalah adanya beberapa orang yang mengaku modern dan maju memiliki anjing dan menganggapnya sebagai teman serta digauli melebihi pergaulannya terhadap manusia. Hal itu dilakukan dalam rangka meniru kebiasaan masyarakat barat.

2. Di dalam kitab Faidhul-Qadir 2/394, Imam al-Manawi mengatakan : “Yang dimaksud dengan malaikat pada hadits tersebut adalah malaikat rahmat dan keberkahan atau malaikat yang bertugas keliling mengunjungi para hamba Allah untuk mendengarkan dzikir dan sejenisnya, bukan malaikat penulis amal perbuatan manusia karena malaikat itu tidak akan pernah meninggalkan manusia sekejap pun sebagai mana halnya malaikat maut. Mengapa malaikat rahmat tidak mau memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing ?. Karena anjing itu mengandung najis, sedangkan malaikat terpelihara dari tempat-tempat yang kotor. Mereka adalah makhluk Allah yang paling mulia serta tetap berada pada tingkat kebersihan dan kesucian yang paling luhur. Perbandingan antara malaikat yang suci dan anjing yang najis laksana terang dan gelap. Barangsiapa yang mendekati anjing, malaikat akan menjauh darinya.

3. Fathul Bari bab 48 At-Tashawir hadits No. 5949

4. Hadits shahih ditakhrijkan oleh Ahmad, hakim, dan Imam hadits yang empat. Hadits ini juga ada dalam Shahihul Jami’ no. 6950

5. Lihat Syarhus Sunnah 8/23

6.http://www.e-fatwa.gov.my/sites/default/files/kedudukan_anjing_dan_hukum_berkaitannya.pdf

(Dikutip dari Buyuut Laa tad khuluha al malaikat, edisi Indonesia Rumah yang Tidak Dimasuki Malaikat, Salafy.or.id offline ,penulis Abu Hudzaifah Ibrahim bin Muhammad, Judul Penghalang Malaikat Rahmat masuk Rumah

Sumber: Quran dan Sunnah.wordpress

20 October 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

Najis yang di maafkan tidak menjejaskan solat

Seseorang yang hendak mendirikan sembahyang hendaklah terlebih dahulu memastikan dirinya, pakaiannya serta tempatnya bersembahyang suci daripada najis. Jika terdapat najis pada perkara-perkara yang disebutkan itu, maka hendaklah ianya dibersihkan terlebih dahulu sehingga tempat yang terkena najis itu menjadi suci. Salah satu daripada syarat sah sembahyang itu ialah suci tubuh badan, pakaian dan tempat sembahyang daripada najis yang tidak dimaafkan. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

Tafsirnya: “Dan pakaianmu, maka hendaklah engkau bersihkan!” (Surah al-Muddatstsir: 4)

Syarat suci daripada najis ketika di dalam sembahyang adalah juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Jika datang darah haid maka tinggalkanlah sembahyang, dan jika telah berlalu haidh itu maka bersihkanlah (darah) dari dirimu dan kerjakanlah sembahyang.” (Hadits riwayat al-Bukhari)

Daripada ayat dan hadits di atas, jelas bahawa tidak sah sembahyang seseorang yang terdapat najis pada tubuh badan, pakaian atau tempatnya bersembahyang. Namun jika sekiranya najis itu merupakan najis yang dimaafkan, maka sembahyangnya adalah sah walaupun dia tidak menghilangkan najis dan menyucikan tempat yang terkena najis itu terlebih dahulu.

Untuk memudahkan seseorang itu melaksanakan ibadatnya, adalah perlu dia mengetahui apakah perkara yang dikategorikan sebagai najis yang dimaafkan.

Apakah Dia Najis Yang Dimaafkan itu?

Menurut para ulama mazhab asy-Syafi‘e, kaedah umum yang boleh dirujuk untuk mengenal pasti najis-najis yang dimaafkan itu ialah suatu perkara yang susah untuk dielakkan daripadanya.

Berikut adalah sebahagian contoh najis-najis yang dimaafkan:

1. Najis yang tidak nampak pada pandangan mata kasar, walaupun ia daripada najis mughallazhah. Umpamanya darah yang terlalu sedikit atau air kencing yang terpercik sama ada pada tubuh badan, pakaian atau tempat bersembahyang yang tidak nampak oleh pandangan mata kasar.

2. Najis yang sedikit seperti darah nyamuk, agas atau kutu yang tidak mengalir. Begitu juga darah yang keluar dari kudis, bisul, jerawat kecil, luka atau nanah pada badan seseorang, pakaian atau tempatnya bersembahyang yang bukan disebabkan perbuatannya sendiri.

Jika darah tersebut keluar disebabkan oleh perbuatannya sendiri, umpamanya membunuh nyamuk yang ada pada bajunya atau memicit kudis atau jerawat sehingga mengeluarkan darah, maka darah tersebut tidak dikira sebagai najis yang dimaafkan.

Darah atau nanah luka yang banyak juga termasuk najis yang dimaafkan dengan syarat, iaitu:-

  • Darah atau nanah tersebut merupakan darah/nanah dari orang itu sendiri
  • Darah atau nanah itu keluar bukan disebabkan perbuatannya atau disenghajakannya.
  • Darah atau nanah yang keluar itu tidak mengalir dari tempatnya, seperti darah yang banyak itu tidak mengalir daripada lukanya.

3. Darah ajnabi iaitu darah orang lain yang terkena pada badan, kain atau tempat bersembahyang dengan kadar yang sedikit dengan syarat najis tersebut bukan dari najis mughallazhah iaitu daripada anjing dan babi. Jika ia berasal dari keduanya atau salah satu dari keduanya, tidaklah ia dimaafkan walaupun hanya sedikit.

Menurut Imam al-Adzra‘ie Rahimahullah bahawa adalah termasuk juga darah yang terpisah daripada badan seseorang itu yang kemudiannya terkena semula padanya sebagai darah ajnabi.

4. Darah yang sedikit yang keluar dari hidung atau darah yang keluar dari bahagian-bahagian tubuh seperti mata, telinga danyang seumpamanya, selain dari jalan tempat keluar najis seperti tempat keluar tahi.

Jika darah keluar dari hidung seseorang sebelum dia melakukan sembahyang dan terus menerus keluar darah tersebut, dalam hal ini jika pendarahan itu diharapkan berhenti dengan keadaan waktu sembahyang yang masih panjang, maka hendaklah ditunggu. Akan tetapi jika sebaliknya, hendaklah dia membersihkan dahulu darah tersebut dan hidungnya (tempat keluar darah tersebut), kemudian menyumbatnya dengan kapas umpamanya dan melapisnya dengan kain jika perlu.

5. Darah yang masih tinggal di tempat lukanya yang keluar hasil dari perbuatan mengeluarkan darah dengan tusukan atau berbekam, sekalipun banyak yang masih tinggal di tempat lukanya.

6. Darah yang keluar dari gusi bila tercampur dengan air ludah sendiri. Sah sembahyang bagi orang yang gusinya berdarah sebelum dicucinya darah tersebut selagi dia tidak menelan air ludahnya ketika di dalam sembahyang.

7. Sedikit tanah tempat laluan seperti jalanraya atau yang seumpamanya yang memang diyakini kenajisannya, dengan syarat najis tersebut tidak jelas di tempat itu dan dia telah pun berusaha untuk mengelak daripada terkena tempat laluan tersebut seperti tidak membiarkan hujung kain terkena tanah tempat laluan tersebut.

Perhatian: Dasar menentukan kadar sedikit atau banyak yang dimaksudkan bagi najis itu ialah merujuk pada adat kebiasaannya, iaitu apa yang dianggap oleh adat kebiasaan sebagai sedikit, maka dikira sebagai sedikit dan begitulah sebaliknya. Jika ada syak darah tersebut banyak atau sedikit, maka dihukumkan sedikit dan dimaafkan.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang mengutamakan kebersihan. Kerana itu umat Islam diperintahkan untuk memelihara diri dari segala najis sehinggakan suci daripada najis pada tubuh badan, pakaian dan tempat dijadikan sebagai salah satu syarat sah sembahyang. Walau bagaimanapun Islam juga adalah agama yang tidak membebankan umatnya dengan kesukaran. Contohnya pengecualian terhadap najis yang dimaafkan yang tidak menjejaskan kesahihan sembahyang, kerana kesukaran menghilangkannya atau mengelak dari terkena najis tersebut.

 

[Sumber: Islamituindah]

19 December 2013 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Cara menguruskan najis

Soalan; Assalamualaikum Ustaz, Saya menjaga ibu mertua yang berusia 90 tahun. Ibu mertua saya masih boleh berjalan walau agak payah. Olehitu, beliau enggan memakai lampin pakai buang. Kerana faktor usia beliau kadang kala tidak dapat menahan najis (kecil dan besar) dari tercicir di aas lantai. Soalan saya ialah, bagaimanakah cara menguruskan najis yang tercicir atas lantai rumah? Adakah memadai dengan sayang membuang ain najis tersebut kemudian saya  mopkan kawasan yang terkena najis dengan air sebanyak 2 kali bilas? Perlukan saya mengalirkan air sebanyak 2 kolah untuk membersihkan najis tersebut? Jika saya berbuat begitu, dikhuatiri bekas najis tersebut akan merebak ke bahagian lain. Selepas dicuci, bolehkan kita bersolat ditempat yang pernah terkena najis? Bagaimana pula dengan pakaian mertua saya? Bolehkah saya membuang najis dengan membilas pakain tersebut dengan air mengalir kemudian membasuhnya bersama pakaian lain di dalam mesin basuh? Bolehkah pakaian yang dibasuh bersama pakaian mertua saya dibawa bersolat? Saya amat berharap agar Ustaz dapat menjawab soalan saya ini untuk menghilangkan rasa was was sambil berusaha menjaga mertua dengan sebaik mungkin.

Jawapan;

1. Buang ‘ain najis terlebih dahulu, kemudian alirkan air ke atas tempat/kawasan yang dikenai najis dan lapkan. Lakukan sehingga hilang kesan najis. Jika perlu menggunakan sabun untuk menanggalkan najis, gunakanlah. Bilangan basuhan tidak disyaratkan. Yang disyaratkan ialah hilang kesan najis iaitu bau, warna dan sebagainya. Jika dengan sekali basuhan kesan najis telah hilang, tidak perlu lagi diulangi basuhan. Begitu juga, tidak disyaratkan kuantiti air mesti air dua kolah. Hanya disyaratkan air mutlak dengan kadar yang mencukupi untuk menghilangkan najis. Jika dengan air yang sedikit (yakni kurang dua kolah) sudah dapat menghilangkan kesan najis tadi, sudah memadai basuhan itu. Malah berlebihan menggunakan air tanpa perlu, hukumnya makruh kerana membazir.

2. Pakaian yang dikenai najis; tidak harus dibasuh dengan merendamkannya ke dalam tank (bekas) mesin basuh kerana ia akan menajisi air di dalam tank tersebut. Dari segi hukum, air yang kurang dari dua kolah jika dimasuki/dijatuhi najis otamatik air itu menjadi mutanajjis (yakni air yang bercampur najis) walaupun tidak nampak kesan najis pada air itu dan tidak harus digunakan lagi air itu untuk bersuci. Jika diputarkan pakaian bernajis di dalam tank mesin basuh, basuhan itu tidak dikira melainkan setelah dibilas kemudiannya dengan air bersih (mutlak) barulah dianggap suci pakaian tersebut dengan syarat tidak ada lagi kesan najis pada pakaian tersebut (warna, bau dan sebagainya).

Adapun membasuh pakaian yang kotor/cemar tetapi tidak najis (seperti pakaian yang berpeluh,terkena kuah makanan, tanah dan sebagainya) tidak mengapa merendamnya ke dalam tank mesin basuh dan memutarkannya kerana bahan-bahan kotor/cemar itu tidak akan menajisi air (kerana ia bukan najis). Tujuan basuhan tersebut bukan untuk menghilangkan najis, tetapi hanya untuk menghilangkan kesan cemar pada pakaian, kerana itu tidak dikenakan syarat sebagaimana basuhan najis. Oleh itu, sebaiknya pakaian yang bernajis tidak dicampurkan dengan pakaian yang tidak bernajis di dalam satu tank mesin basuh. Jika ingin dicampurkan,hendaklah dipastikan semua pakaian dibilas (yakni dialirkan air ke atasnya) setelah diputarkan dalam mesin basuh (termasuk pakaian yang tidak bernajis juga perlu dibilas).

3. Pakaian bernajis yang telah dibasuh dengan sempurna hingga hilang kesan-kesan najis darinya, ia kembali kepada hukum asalnya (iaitu suci/bersih) dan harus dipakai ketika solat. Tidak perlu lagi ada perasaan was-was apabila basuhan telah sempurna dan kesan najis tidak ada lagi.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: USTAZ AHMAD ADNAN FADZIL [http://ilmudanulamak.blogspot.com/2012/09/cara-menguruskan-najis.html]

25 March 2013 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

   

%d bloggers like this: