Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Tawassul Menurut Empat Madzhab

Masalah tawassul dengan para nabi dan orang saleh ini hukumnya boleh dengan kesepakatan (Ijma’) para ulama. Hal ini dinyatakan oleh ulama empat madzhab, di antaranya disebutkan oleh al-Mardawi al-Hanbali dalam Kitabnya al-Inshaf, Al-Imam al-Hafizh Taqiyyuddin as-Subki asy-Syafi’i dalam kitabnya Syifa’ as-Saqam, Mulla ‘Ali al-Qari al-Hanafi dalam Syarh al-Misykat, dan Ibn al-Hajj al-Maliki dalam kitabnya al-Madkhal.

Ibn Muflih al-Hanbali dalam kitab al-Furu’ berkata:

وَيَجُوْزُ التَّوَسُّلُ بِصَالِحٍ، وَقِيْلَ: يُسْتَحَبُّ

_*“Boleh bertawassul dengan orang saleh, bahkan dalam suatu pendapat disunnahkan” .*_

Al-Imam al-Buhuti al-Hanbali dalam kitab Kasysyaf al-Qina’, menuliskan sebagai berikut:

وَقَالَ السَّامِرِيُّ وَصَاحِبُ التَّلْخِيْصِ: لاَ بَأْسَ بِالتَّوَسُّلِ لِلاسْتِسْقَاءِ بِالشُّيُوْخِ وَالعُلَمَاءِ الْمُتَّقِيْنَ، وَقَالَ فِيْ الْمُذَهَّبِ: يَجُوْزُ أَنْ يُسْتَشْفَعَ إِلَى اللهِ بِرَجُلٍ صَالِحٍ، وَقِيْلَ يُسْتَحَبُّ. وَقَالَ أَحْمَدُ فِيْ مَنْسَكِهِ الَّذِيْ كَتَبَهُ لِلْمَرُّوْذِيِّ: إِنَّهُ يَتَوَسَّلُ بِالنَّبِيِّ فِيْ دُعَائِهِ –يَعْنِيْ أَنَّ الْمُسْتَسْقِيَ يُسَنُّ لَهُ فِيْ اسْتِسْقَائِهِ أَنْ يَتَوَسَّلَ بِالنَّبِيِّ- ، وَجَزَمَ بِهِ فِيْ الْمُسْتَوْعَبِ وَغَيْرِهِ”، ثُمَّ قَالَ:”قَالَ إِبْرَاهِيْمُ الْحَرْبِيُّ: الدُّعَاءُ عِنْدَ قَبْرِ مَعْرُوْفٍ الْكَرْخِيِّ التِّرْيَاقُ الْمُجَرَّبُ.

_*“As-Samiri dan pengarang kitab at-Talkhish berkata: Boleh bertawassul untuk meminta hujan kepada Allah dengan orang-orang saleh dan para ulama yang bertaqwa. Pengarang kitab al-Mudzahhab berkata: Boleh beristisyfa’ dan bertawassul kepada Allah dengan orang yang saleh, bahkan menurut suatu pendapat disunnahkan. Al-Imam Ahmad mengatakan dalam kitab Mana-sik yang beliau tulis untuk al-Marrudzi: Orang yang berdoa setelah istisqa’ hendaklah bertawassul dengan Rasulullah dalam doa-nya. Dalam kitab al-Mustau’ab dan lainnya -disebutkan- bahwa hal ini dipastikan sebagai (pendapat) madzhab Ahmad”. Kemudian al-Buhuti berkata: “Ibrahim al-Harbi berkata: Berdoa di makam Ma’ruf al-Karkhi adalah obat yang mujarrab (artinya, jika berdoa di sana akan dikabulkan oleh Allah)” .*_

Al-Imam Ibrahim al-Harbi adalah seorang ulama dan sufi besar yang hidup semasa dengan al-Imam Ahmad ibn Hanbal. Beliau benar-benar salah seorang ulama terkemuka saat itu, hingga al-Imam Ahmad ibn Hanbal memerintahkan anaknya, yaitu ‘Abdullah ibn Ahmad, untuk berguru kepadanya.

Syekh ‘Ala-uddin al-Mardawi al-Hanbali, salah satu ulama madzhab Hanbali terkemuka, dalam kitab al-Inshaf, menuliskan sebagai berikut:

وَمِنْهَا يَجُوْزُ التَّوَسُّلُ بِالرَّجُلِ الصَّالِحِ عَلَى الصَّحِيْحِ مِنَ الْمَذْهَبِ، وَقِيْلَ يُسْتَحَبُّ، قَالَ الإِمَامُ أَحْمَدُ لِلْمَرُّوْذِيِّ: يَتَوَسَّلُ بِالنَّبِيِّ فِيْ دُعَائِهِ، وَجَزَمَ بِهِ فِيْ الْمُسْتَوْعَبِ وَغَيْرِهِ

_*“Di antaranya: boleh bertawassul dengan orang saleh menurut pendapat yang shahih dalam madzhab (Hanbali), bahkan menurut suatu pendapat dalam madzhab disunnahkan. Al-Imam Ahmad mengatakan kepada al Marrudzi: hendaklah orang yang beristisqa’ bertawassul dengan Nabi dalam doanya, dan hal ini dipastikan sebagai madzhab Ahmad dalam kitab al Mustaw’ab dan lainnya” .*_

Bahkan al-Imam Ahmad ibn Hanbal sendiri berkomentar tentang salah seorang sufi kenamaan, yaitu Abu ‘Abdillah Shafwan ibn Sulaim al-Madani, bahwa dia adalah seorang yang sangat patut untuk dijadikan wasilah kepada Allah. Perkataan al-Imam Ahmad ini dinukil oleh al-Hafizh Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, sebagai berikut:

قَالَ أَحْمَدُ: هُوَ يُسْتَسْقَى بِحَدِيْثِهِ وَيَنْزِلُ الْقَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ بِذِكْرِهِ، وَقَالَ مَرَّةً: هُوَ ثِقَةٌ مِنْ خِيَارِ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ

_*“Ahmad ibn Hanbal berkata: “Dia (Shafwan bin Sulaim) adalah orang yang kita memohon hujan kepada Allah dengan haditsnya dan akan turun hujan dengan menyebut namanya”. Pada kesempatan lain Ahmad berkata: Beliau (Shafwan ibn Suliam) adalah orang yang tsiqah (terpercaya) dan termasuk hamba Allah yang saleh” .*_

Perkataan al-Imam Ahmad ibn Hanbal tentang Shafwan ibn Sulaim ini, selain dikutip oleh al-Hafizh az-Zabidi, juga telah dikutip oleh al-Hafizh as-Suyuthi dalam Thabaqat al-Huffazh . Dalam kutipan al-Hafizh as-Suyuthi sebagai berikut:

وَذُكِرَ عِنْدَ أَحْمَدَ فَقَالَ: هَذَا رَجُلٌ يُسْتَشْفَى بِحَدِيْثِهِ وَيَنْزِلُ القَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ بِذِكْرِهِ

_*“Suatu ketika disebut nama Shafwan ibn Sulaim di hadapan Ahmad, maka Ahmad berkata: Dia ini adalah orang yang kita memohon kesembuhan kepada Allah dengan haditsnya dan akan turun hujan dengan menyebut namanya”.*_

Kemudian ‘Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal menukil pernyataan ayahnya sendiri, -yaitu al-Imam Ahmad ibn Hanbal, dalam kitab al-‘Ilal Wa Ma’rifah ar-Rijal, bahwa ayahnya tersebut berkata:

قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ: رَجُلاَنِ صَالِحَانِ يُسْتَسْقَى بِهِمَا ابْنُ عَجْلاَنَ وَيَزِيْدُ بْنُ يَزِيْدَ بْنِ جَابِرٍ

_*“Ahmad ibn Hanbal berkata: Sufyan ibn ‘Uyainah berkata: Ada dua orang saleh yang kita memohon hujan kepada Allah dengan menyebut namanya: Ibn ‘Ajlan dan Yazid ibn Yazid ibn Jabir” .*_

Marilah kita renungkan, dalam pernyataan-pernyataannya ini al-Imam Ahmad ibn Hanbbal sama sekali tidak berkata: “Yustasqa Bi Du’aih…” (Dimohonkan hujan dengan doa orang-orang saleh tersebut). Tidak seperti pemahaman kaum Wahabiyyah yang mengatakan bahwa tawassul hanya boleh dilakukan dengan doa seorang yang hadir saja, atau mengatakan bahwa tawassul dengan menyebut orang-orang saleh adalah perbuatan syirik. Sebaliknya, al-Imam Ahmad justru menjadikan penyebutan orang-orang saleh seperti tersebut di atas adalah sebagai sebab turunnya hujan.

Dari sini kita tarik kesimpulan bahwa al-Imam Ahmad ibn Hanbal, dan ajaran madzhab Hanbali -sebagaimana juga madzhab-madzhab yang lain- telah membolehkan tawassul dengan Rasulullah dan orang-orang saleh yang sudah meninggal, bahkan hal itu disunnahkan. Lalu dari mana dasar kaum Wahhabaiyyah, -yang mengaku pengikut madzhab Hanbali-, mengatakan bahwa tawassul adalah haram, bahkan sebagai perbuatan syirik?! Dari mana mereka mengatakan bahwa para ulama Salaf telah melarang dan bahwa mereka tidak pernah melakukan tawassul?! Sungguh aneh, mengaku pengikut al-Imam Ahmad atau mengaku bermadzhab Hanbali, tapi kemudian mengatakan haram bahkan mengatakan syirik terhadap sesuatu yang dibolehkan oleh Al-Imam Ahmad dan ulama madzhabnya sendiri! Bukankah jika demikian pengakuan mereka bermadzhab Hanbali hanya sebagai “kedok” belaka?!

Lihatlah, Imam Abu al-Wafa’ ibn ‘Aqil (w 503 H), salah seorang ulama besar madzhab Hanbali, bahkan sebagai Ahl at-Takhrij (Ashab al-Wujuh) dalam madzhab ini, beliau sangat menganjurkan dan menekankan ziarah ke makam Rasulullah. Beliau juga sangat menganjurkan untuk tawassul dengan Rasulullah, seperti yang telah beliau sebutkan dalam kitab at-Tadzkirah. Ini adalah salah satu bukti bahwa orang-orang yang mengaku bermadzhab Hanbali, tapi kemudian mengharamkan tawassul dan memusyrikkan pelakunya, sebetulnya mereka adalah orang-orang yang menyempal dari madzhab Hanbali sendiri. Benar, itulah prilaku mereka yang selalu membawa ajaran-ajaran baru, baik dalam masalah-masalah Ushuliyyah maupun dalam masalah-masalah Furu’iyyah. Dan merekalah yang “mengotori” dan bertanggung jawab atas “tercemarnya” kagungan madzhab Hanbali, madzhab yang telah dirintis oleh al-Imam Ahmad ibn Hanbal ini.

Kholil Abou Fateh
al-Asy’ari asy-Syafi’i ar-Rifa’i al-Qadiri

(Dari FB Ustaz Yunan A Samad)

09/07/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | | Leave a comment

Musuh-Musuh Tasawuf dan Tarikat”

PENGENALAN

Pada pengamatan dan pemerhatian penulis, sejak kebelakangan ini, telah wujud segolongan puak di Malaysia yang begitu galak memperlekeh, mencaci dan menghina tawasuf serta tarikat. Pelbagai tohmahan demi tohmahan dilontarkan kepada tokoh-tokoh ulama sufi muktabar serta wali-wali Allah Taala. Golongan ini merasakan diri mereka begitu hebat berbanding para ulama yang telah disebutkan oleh Rasulullah S.A.W. sebagai pewaris para nabi. Walaupun ilmu agama dan amalan yang dimiliki mereka tidaklah seberapa jika hendak dibandingkan dengan para ulama, namun mereka dengan megah mendabit dada untuk mengatakan mereka begitu arif serta faham semuanya mengenai Islam. Amat menyedihkan lagi, golongan ini terdiri daripada kalangan orang Islam sendiri yang mengaku memahami, mendalami dan memperjuangkan Islam, tetapi hakikatnya merekalah perosak umat Islam.

Mungkin mereka terlupa tentang firman Allah Taala di dalam sebuah hadis qudsi seperti berikut:

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Baghawi: Daripada Anas bin Malik R.A., daripada Rasulullah S.A.W., daripada Jibril A.S., daripada Allah Taala berfirman (hadis qudsi) bermaksud:

Barangsiapa yang menghina kekasihKu maka sesungguhnya dia telah mengajakKu berperang, sesungguhnya Aku akan murka demi kekasih-kekasihKu seperti marahnya sesekor singa yang garang…

(Riwayat Ibnu Abi ad-Dunya, Abu Nuaim).

Hadis qudsi ini ada juga diriwayatkan dengan lafaz yang berbeza dari riwayat ini oleh al-Bukhari, Ahmad, at-Tabrani, Abu Yala dan sebagainya lagi).

SIAPAKAH MUSUH-MUSUH TASAWUF DAN TARIKAT?

Musuh-musuh tasawuf cuba sedaya upaya untuk menyerang dan menfitnah tasawuf Islam dengan pelbagai pendustaan dan rekaan cerita semata-mata. Mereka juga akan melontarkan berbagai-bagai tohmahan dan penyelewengan mungkin disebabkan oleh perasaan hasad dengki mereka ataupun mungkin juga disebabkan kejahilan diri mereka sendiri terhadap agama Islam. Lebih menyedihkan lagi ada di antara musuh-musuh tasawuf ini terdiri dari kalangan orang-orang Islam sendiri sedangkan mereka semua sudah sedia maklum mengenai hakikat kebenaran tasawuf ini sepertimana yang terkandung di dalam sebuah al-Hadis S.A.W. mengenai Ihsan.

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Bahawa kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihatNya dan jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.

(Riwayat Muslim).

Berkata al-Muhaddith Syeikh Muhammad Siddiq al-Ghumari:

Sesungguhnya Ihsan sebagaimana dalam hadis tersebut adalah ibarat dari tiga rukun yang disebutkan. Barangsiapa tidak menyempurnakan rukun Ihsan yang mana ia merupakan tarikat (jalan) maka tanpa ragu-ragu lagi bahawa agamanya tidak sempurna kerana dia meninggalkan satu rukun dari rukun-rukunnya. Tujuan atau kemuncak matlamat yang diseru dan diisyaratkan oleh tarikat ialah maqam Ihsan setelah memperbetukan Islam dan Iman.

(Kitab: Intishar Li Thariqi as-Sufiyyah).

Berkata Syeikh al-Islam Zakaria al-Ansori:

Tasawuf ialah suatu ilmu yang diketahui dengannya keadaan penyucian jiwa dan pembersihan akhlak serta mengimarahkan zahir dan batin bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang abadi.

(Kitab: Ala Hamisy Risalah al-Qusyairi).

Berkata Imam Junaid:

Tasawuf ialah menggunakan semua akhlak ketinggian yang terpuji dan meninggalkan semua tingkahlaku yang rendah lagi di keji.

(Kitab: Nusrah al-Nabawiyyah).

Berkata Syeikh Abdul Kadir Isa di dalam kitabnya Haqaiq An al-Tasawuf mengenai musuf-musuf tasawuf sepertimana berikut (penulis hanya mengambil secara ringkas sahaja):

Di antara musuh-musuh tasawuf terdiri dari kalangan orentalis lagi zindiq serta para pengikutnya dan konco-konconya. Mereka telah disusun atur dan dilatih oleh golongan kafir yang jahat bagi mencela Islam. Mereka cuba memusnahkan pokok pangkal Islam dengan menimbulkan pelbagai keraguan serta menyebarkan fahaman-fahaman untuk memecahkan umat Islam. Mereka mempelajari Islam secara mendalam tetapi bertujuan untuk menyeleweng dan memusnahkan Islam. Mereka juga sentiasa memiliki sifat talam dua muka. Mereka juga mendakwa tasawuf diambil daripada Yahudi, Nasrani dan Buddha. Bermacam-macam tohmahan dilemparkan terhadap tokoh-tokoh ulama tasawuf. Apa yang lebih mendukacitakan, terdapat segelintir orang Islam menggunapakai pandangan dan pendapat dari musuh-musuh Islam ini untuk mencela tasawuf secara total. Inikah yang dikatakan pejuang Islam yang sebenarnya? Kadang-kadang mereka ini berselindung di sebalik sebagai seorang pengkaji atau sarjana ilmuan Islam, akan tetapi merekalah di antara para perosak agama Islam dari dalam.

Di antara musuh-musuh tasawuf juga ialah mereka yang jahil dengan hakikat tasawuf Islam itu sendiri. Mereka tidak mempelajari daripada tokoh-tokoh ulama sufi secara jujur dan amanah serta tidak juga mengambil manfaat daripada ulama-ulama tasawuf yang ikhlas menyampaikan ilmu pengetahuan. Mereka cuba mengkaji sendiri kitab-kitab tasawuf sedangkan mereka tidak mempunyai asas dan tidak memahami maksud sebenar serta mereka juga tidak mengetahui tentang penyelewengan terhadap kitab-kitab tersebut oleh musuh-musuh tasawuf Islam. Maka akan timbullah pandangan negatif dan berburuk sangka terhadap tasawuf ini. Kita boleh bahagikan mereka ini kepada beberapa golongan:

Golongan pertama:

Fikrah tentang tasawuf yang ada pada mereka diambil melalui amalan suluk sesetengah golongan yang menyelinap masuk serta menyeleweng yang terdiri daripada musuh-musuh tasawuf. Mereka tidak membezakan di antara tasawuf yang hakiki lagi suci dengan sesetengah perkara jelek dan keji yang datang menyelinap yang tiada hubungkait dengan Islam.

Golongan kedua:

Mereka merupakan golongan yang terpedaya dengan apa yang mereka dapati daripada kitab-kitab tokoh-tokoh sufi yang terdiri daripada pelbagai permasalahan yang diselinap masuk. Mereka mengambilnya sebagai suatu hakikat sabit tanpa sebarang kepastian terlebih dahulu. Mungkin juga mereka mengambil kata-kata sabit yang terdapat dalam kitab-kitab ahli sufi lalu memahaminya tanpa mengikut apa yang dikehendaki oleh kitab tersebut. Mereka mengikut fahaman cetek yang dimiliki, ilmu yang terhad serta keinginan yang tersendiri tanpa merujuk terlebih dahulu kepada ahli sufi yang jelas kefahamannya tentang syariat dan akidah. Mereka mentakwilkan kalam-kalam para ulama sufi mengikut hawa nafsu tanpa bertanya terlebih dahulu kepada ahlinya yang lebih memahami. Mereka ini seumpama mengambil ayat-ayat al-Quran al-Karim yang mempunyai kesamaran (mutasyabihat) lalu mentakwilkannya sesuka hati tanpa melihat kepada ayat-ayat yang jelas (muhkamat) dan tidak juga bertanya terlebih dahulu kepada para ulama yang lebih mengetahui sepertimana yang telah dijelaskan oleh Allah Taala di dalam al-Quran al-Karim (Surah al-Imran: Ayat 7). Sedangkan ada sebilangan dari kalangan mereka yang begitu mengecam pentakwilan (bukan menurut hawa nafsu) oleh para ulama muktabar bukan?

Golongan ketiga:

Mereka merupakan golongan yang tertipu. Mereka mencedok ilmu pengetahuan daripada orientalis. Mereka hanya menggunapakai pandangan dan sangkaan salah dari para orientalis semata-mata. Mereka tidak dapat membezakan di antara tasawuf Islam yang sebenarnya dengan tasawuf yang telah dicemari di sebabkan mereka tiada ilmu dan asas yang bertepatan.

Inilah di antara musuh-musuh tasawuf serta tarikat yang bertindak menyerang tasawuf dari sebelah luar ataupun dari sebelah dalam Islam. Mereka bersungguh-sungguh menabur fitnah selagimana mereka di berikan nyawa yang sementara ini dari Allah Taala. Mungkin juga mereka lupa bahawa mereka akan diperhitungkan oleh Allah Taala di akhirat kelak. Bersedialah!

TARIKAT TASAWUF SESAT?

Maksud tarikat secara umumnya ialah suatu jalan (tarikat) yang dilalui seseorang Islam itu untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala. Di sini kita tidak menafikan bahawa wujud segelintir tarikat yang sesat dan tidak mengikut syariat Islam yang sebenar. Namun untuk menghukum kesemua tarikat tasawuf adalah salah dan sesat secara pukul rata, dakwaan ini tidaklah boleh diterima akal sama sekali. Ulama-ulama muktabar Islam juga turut memperakui kebenaran tarikat tasawuf ini dan ada di antara mereka merupakan pengamal tarikat di antaranya Imam Hanafi (Sila rujuk kitab ad-Dur al-Mukhtar). Ini merupakan bukti yang kukuh lagi kuat untuk menyatakan bahawa tarikat adalah dibenarkan dan bertepatan dengan Islam. Mana mungkin para ulama muktabar yang begitu memahami dan mendalami Islam mengamalkan tarikat tasawuf jika ia sesuatu yang sesat dan bidaah bukan?

Berkata Imam Shafie:

Disukai bagiku daripada duniamu tiga perkara: Meninggal perkara yang membebankan diri dan bergaul sesama makhluk dengan lemah lembut serta mengikut jalan ahli tasawuf.

(Kitab: Kasfu al-Khafa Wa Mazilu al-Albas).

Adapun ahli tasawuf yang sebenarnya tidaklah terlepas dari melakukan syariat Islam bahkan merekalah golongan yang perlu memperbanyakkan lagi amalan-amalan baik dengan berlipat-lipat kali ganda. Ini kerana tasawuf dan tarikat itu sendiri terikat dengan al-Quran al-Karim dan al-Hadis S.A.W. sepertimana yang diterangkan oleh Imam Junaid:

Mazhab kami terikat dengan usul al-Quran al-Karim dan as-Sunnah S.A.W.

(Kitab: al-Tabaqat as-Sufiyyah).

Bagi pengamal tarikat tasawuf Islam yang telah lama mahupun kepada yang baru berjinak-jinak dengan tarikat, mungkin kata-kata dari Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ini boleh dijadikan pedoman serta panduan:

Sesungguhnya meninggalkan ibadah fardhu adalah zindiq,

Melakukan yang haram atau yang ditegah adalah maksiat,

Perkara fardhu tidak akan gugur daripada seseorang individu walau dalam apa jua keadaan sekalipun.

(Kitab: al-Fathu ar-Rabbani).

Di sini penulis ingin katakan bahawa tarikat tasawuf bukanlah suatu yang sesat dan bidaah di sisi Islam sepertimana yang didakwa oleh sesetengah pihak, bahkan tasawuf adalah sebahagian daripada Islam melalui pengiktirafannya mengenai Ihsan di dalam hadis Jibril A.S. Adapun adalah perosak tasawuf tarikat yang sesat itu sebenarnya bukanlah dinamakan tarikat tasawuf bahkan mereka ini. Mereka mendakwa sebagai pengamal tasawuf, akan tetapi mereka menyeleweng dari landasan yang telah ditetapkan oleh Islam. Inilah di antara masalah-masalah yang terpaksa di hadapi oleh para pengamal tarikat tasawuf sehinggakan ia memberi peluang kepada musuh-musuh tasawuf untuk melancarkan serangan jahat terhadap Islam secara umumnya dan tasawuf secara khususnya.

Namun ada sesetengah pengamal tarikat tasawuf yang terlalu taksub sehingga mengatakan semua pihak yang mendakwa diri sebagai tarikat adalah betul dan tidak salah sama sekali. Mereka ini terus menyalahkan dan memaki-hamun sesiapa sahaja (di manakah akhlak sebagai seorang pengamal tasawuf?) yang mendakwa sesuatu tarikat itu tidak bertepatan dengan Islam walaupun orang yang berkata itu adalah para ulama sufi sendiri. Sedangkan kita semua juga mengetahui bahawa wujud segelintir tarikat yang menyalahi syariat Islam sepertimana yang telah saya jelaskan di atas. Sikap ketaasuban mereka yang terlalu melampau ini juga boleh membuka ruang bagi musuh-musuh tasawuf dan tarikat merendah-rendahkan Islam dan mengucar-kacir masyarat Islam itu sendiri.

SUFI ATAU PENDAKWA SUFI?

Pada hari ini kelihatan tasawuf dikecam dan diburukkan dengan begitu hebat oleh segelintir golongan yang mempunyai niat busuk lagi keji. Ada di kalangan mereka bertopengkan tasawuf serta menisbahkan diri kepada tasawuf. Ada juga di kalangan mereka yang menabur fitnah yang berterusan kepada pengamal tasawuf dengan tohmaham-tohmahan yang tidak bertepatan. Mereka memburuk-burukkan tasawuf dengan berbagai-bagai cara di antaranya melalui kata-kata atau ucapan-ucapan umum, perbuatan, perjalanan hidup, penulisan dan sebagainya lagi sedangkan mereka ini tiada kaitan langsung dengan tasawuf. Ini menyebabkan masyarakat memandang serong terhadap pengamal tasawuf di sebabkan fitnah yang disebarkan oleh mereka yang konon-kononnya memahami agama Islam. Adakah tindakan mereka itu melambangkan mereka benar-benar memahami Islam?

Pertolongan Allah Taala sentiasa datang untuk membantu hamba-hambaNya yang benar. Allah Taala menzahirkan penyelewengan pendakwa kesufian yang menyeleweng ini untuk membezakan dengan ahli sufi yang sebenarnya. Di antaranya muncul para ulama muktabar terdiri daripada kalangan imam-imam yang diketahui keilmuan dan kealiman mereka itu dan mereka juga ialah tokoh-tokoh sufi yang begitu masyhur serta diperakui kehebatannya. Mereka memberi perakuan dan pengiktirafan terhadap tasawuf ini bahkan mereka juga di antara pengamal tasawuf yang diikuti oleh umat Islam. Mereka bangkit berdakwah dan menyampaikan kebenaran dan menagkis segala kebatilan yang datang dari musuh-musuh tasawuf.

Berkata Syeikh Abdul Kadir Isa:

Di sana terdapat perbezaan yang begitu ketara di antara tasawuf dan sufi.

Golongan yang mendakwa tasawuf dengan segala penyelewengan dan percanggahan bukanlah merupakan gambaran kepada tasawuf. Ia sebagaimana seorang muslim dengan segala perbuatannya yang mungkar bukanlah merupakan gambaran kepada Islam dan agama anutannya.

(Kitab: Haqaiq An al-Tasawuf).

Golongan yang baik ataupun jahat sentiasa ada di dalam semua golongan sehingga hari kiamat. Bukan semua ahli sufi itu sama tarafnya. Ada di kalangan mereka yang soleh dan ada di kalangan mereka yang lebih soleh. Ada yang hebat dan ada yang lebih hebat. Begitu jugalah umat dari generasi salaf yang ada di antara mereka yang baik lagi soleh dan ada di antara mereka yang jahat dan tidak soleh. Semua ini adalah ketentuan dari Allah Taala sebagai ujian dan dugaan kepada hambaNya yang beriman lagi bertakwa.

Wallahu alam.semuga penerangan dan sedikit kupasan bab ini.memberikan manfaat KPD kita semua.

Aaminn…….

Sumber: Group Whatsapp BMW Idealis 28 Sep 2018

28/09/2018 Posted by | Ibadah, Tasauf, wahabi | Leave a comment

KENAPA RAMAI YANG BERDZIKIR TAPI MEMBUAT DIA SEMAKIN DEKAT DENGAN SYAITAN?

Seorang Murid Bertanya Kepada GURUnya (Imam Al Ghazali)

Murid : “Syeikh, “ Bukankah Dzikir boleh
Membuat Seorang Beriman Lebih Dekat Dengan Allah Ta’ala
Dan Syaitan Akan Berlari Jauh Darinya ?

“Benar,” Jawab Imam al-Ghazali.

Murid :“Namun Kenapa Ada Orang Yang Semakin Rajin Berdzikir Justeru Malah Semakin Dekat Dengan Syaitan ?”.

Gurunya Yang Diberi Gelar
Hujjatul Islam Inipun berkata.
“Bagaimana Pendapatmu,
Jika Ada Orang Yang Mengusir Anjing, Namun Dia Masih Menyimpan Tulang Dan Berbagai Makanan Kesukaan Anjing Disekitarnya ?”

Murid:“Tentu, Anjing Itu Akan Kembali.Datang Setelah Diusir.”

Imam al-Ghazali Menjelaskan,
Demikian Juga Dengan Orang-Orang Yang Rajin Berdzikir
Tapi Masih Menyimpan Berbagai Penyakit Hati Dalam Dirinya.
Syaitan Akan Terus Datang
Dan Mendekat Bahkan Bersahabat Dengannya.
Penyakit – Penyakit Hati Itu Ialah :
Seperti Kesombongan,
Irihati, Dengki, Syirik,
Bersikap /berucap Kasar, Riya,
Merasa Sholeh, Merasa Suci,
Ghibah, Marah
Dan Berbagai Penyakit Hati Lainnya.

Ketika Penyakit-Penyakit Itu Menghinggapi Diri Seorang Hamba, Maka Syaitan Terlaknat
Akan Senantiasa Datang,
Mengakrabkan Diri,
Kemudian Menjadi Sahabat Karibnya.

17/07/2018 Posted by | Tasauf | Leave a comment

DZIKIR PEMBUKA PINTU LANGIT

Menurut Syekh Ibnu Atha’illah, sebagai tanda bahwa sebuah dzikir sampai pada sirr (nurani terdalam pada jiwa yang kelak menjadi tempat cahaya penyaksian) adalah saat pedzikir dan objek dzikirnya lenyap tersembunyi. Dzikir sirr terwujud ketika seseorang telah terliputi dan tenggelam di dalamnya. Tandanya, apabila engkau meninggalkan dzikir tersebut, ia takkan meninggalkanmu.
Dzikir tersebut terbang masuk ke dalam dirimu untuk menyadarkanmu dari kondisi tidak sadar kepada kondisi hudhur (hadirnya kalbu). Salah satu tandanya, dzikir itu akan menarik kepalamu dan seluruh organ tubuhmu sehingga seolah-olah tertarik oleh rantai. Indikasinya, dzikir tersebut tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup. Tetapi, engkau menyaksikan cahayanya selalu naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu senantiasa bersih menyala. Dzikir yang masuk ke dalam sir terwujud dalam bentuk diamnya si pelaku dzikir seolah-olah lisannya tertusuk jarum. Atau, semua wajahnya adalah lisan yang sedang berdzikir dengan cahaya yang mengalir darinya.

Ketahuilah, setiap dzikir yang disadari oleh kalbumu didengar oleh para malaikat penjaga. Sebab, perasaan mereka beserta perasaanmu. Di dalamnya ada sirr sampai saat dzikirmu sudah gaib dari perasaanmu karena engkau sudah sirna bersama Tuhan, dzikirmu juga gaib dari perasaan mereka.

Sebagai kesimpulan tentang tahapan dzikir, Ibnu Atha’illah mengatakan, berdzikir dengan ungkapan kata-kata tanpa rasa hudhur disebut dzikir lisan, berdzikir dengan merasakan kehadiran kalbu bersama Allah disebut dzikir kalbu, sementara berdzikir tanpa menyadari kehadiran segala sesuatu selain Allah disebut dzikir sirr. Itulah yang disebut dengan dzikir khafiy.

Rezeki lahiriah terwujud dengan gerakan badan. Rezeki batiniah terwujud dengan gerakan kalbu, rezeki sirr terwujud dengan diam, sementara rezeki akal terwujud dengan fana dari diam sehingga seorang hamba tinggal dengan tenang untuk Allah dan bersama Allah. Nutrisi dan makanan bukanlah konsumsi rohani, melainkan konsumsi badan. Adapun yang menjadi konsumsi rohani dan kalbu adalah mengingat Allah Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Allah berfirman, “Orang-orang beriman dan kalbu mereka tenteram dengan mengingat (dzikir kepada) Allah.”

Semua makhluk yang mendengarmu sebenarnya juga ikut berdzikir beersamamu. Sebab, engkau berdzikir dengan lisanmu, lalu dengan kalbumu, kemudian dengan nafs-mu, kemudian dengan rohmu, selanjutnya dengan akalmu, dan setelah itu dengan sirrmu.
Jika engkau berdzikir dengan lisan, pada saat yang sama semua benda mati akan berdzikir bersamamu. Jika engkau berdzikir dengan kalbu, pada saat yang sama alam beserta isinya ikut berdzikir bersama kalbumu. Jika engkau berdzikir dengan nafs-mu, pada saat yang sama seluruh langit beserta isinya juga turut berdzikir bersamamu.

Jika engkau berdzikir dengan rohmu, pada saat yang sama singgasana Allah beserta seluruh isinya ikut berdzikir bersamamu. Bila engkau berdzikir dengan akalmu, para malaikat pembawa arasy dan roh orang-orang yang memiliki kedekatan dengan Allah juga ikut berdzikir bersamamu. Bila engkau berdzikir dengan sirmu, arasy beserta seluruh isinya turut berdzikir hingga dzikir tersebut bersambung dengan zat-Nya.”

—Syekh Ibnu Atha’illah dalam Miftah al-Falah wa Misbah al-Arwah

Sumber: FB Tasawuf Underground

28/10/2017 Posted by | Tasauf | Leave a comment

“10-Tarekat Tasawuf yang benar dan batil-Tuan Guru Haji Jahid bin Haji Sidek Al-Khalidi” on YouTube

23/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf, Video | Leave a comment

Ta’rif Kejahilan

Jahil dita’rifkan di dalam al-Mu’jam al-Wasith sebagai keras, bodoh, tiada adab serta menzahirkan kekurangan akal.
Jika bertemu dengan orang-orang yang jahil maka Syara’ menyuruh kita berpaling daripada mereka serta mengucapkan perkataan yang baik kepada mereka. Firman Allah taala :
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
FirmanNya lagi :
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Ini kerana perkataan ج ه‍ ل tersebut natijahnya besar. Tiga huruf yang punya makna berat.

Berhadapan dengan si jahil jika bersikap keras maka hasilnya kita akan mendapat kekerasan, diperlihatkan kedunguan, serta dipersembahkan kekurangan akal serta miskin adabnya Si Jahil.

Tetapi jika seseorang yang punya sifat ini mula mencari Ilmu. Maka dia tidak lagi digelar جاهل tetapi mula disebut طالب العلم.
Walau dia tidak banyak pengetahuan , walau dia masih kosong tapi mulianya perkara yang dituntut menjadikan dirinya layak disandarkan kepada Ilmu sehingga digelar طالب العلم ( penuntut Ilmu) tidak lagi disebut jahil.

Berbahagialah para penuntut Ilmu kerana permulaan kita melangkah untuk menuntutnya maka tercabut gelar JAHIL pada dirinya.

~Ustaz Nazrul Nasir~

19/08/2017 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf | Leave a comment

ANTARA SYIRIK DAN ZUHUD

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Jauhilah sifat syirik, baik syirik lahiriah ataupun batiniah. Sifat syirik lahiriah seperti menyembah patung atau berhala, sementara syirik batiniah seperti bersandar kepada makhluk dan hanya memerhatikan kepadanya, baik dalam kemudharatan ataupun dalam manfaat.

Di antara manusia ada orang yang memiliki dunia, tetapi dia tidak mencintainya; dia memiliki dunia tetapi tidak dimiliki dunia; dunia mencintainya tetapi dia tidak mencintai dunia; dunia lari di belakangnya, tetapi dia tidak lari ke belakang mengejarnya; dia memanfaatkan dunia tetapi dunia tidak berhasil memanfaatkannya; dan dia berhasil memisahkan diri dari dunia, tetapi dunia tidak memisahkan diri darinya.
Dia benar-benar telah membuat hatinya menjadi baik karena Allah Azza wa Jalla, sedangkan dunia tak mampu merusaknya. Maka, dia mampu mengatur dunia, sementara dunia tak akan mampu mengaturnya. Karena itu, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik harta yang bermanfaat adalah harta orang yang shaleh.” Beliau juga bersabda, “Tidak ada kebaikan dalam dunia ini, kecuali bagi orang yang berkata begini dan begitu.” Beliau mengisyaratkan bahwa orang itu memisahkan dunia dengan tangannya dalam berbagai segi yang baik.

Maka, hendaklah engkau membiarkan dunia di tanganmu untuk kebaikan hamba-hamba Allah Azza wa Jalla.

Keluarkanlah dunia dari hatimu hingga dunia sama sekali tidak membahayakanmu. Janganlah kenikmatan dunia dan perhiasannya menipumu. Sebab, tidak lama lagi engkau akan pergi dan dunia pun akan pergi setelah kepergianmu.”

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

(Sumber:Tasawuf Underground)

03/04/2017 Posted by | Tasauf | Leave a comment

Powernya Selawat Nabi

Allah memerintahkan kita shalat, tapi Dia tak shalat. Allah memerintahkan untuk berzakat, tapi Dia tak zakat. Allah memerintahkan untuk berhaji, tapi Dia tak berhaji. Tapi, Allah memerintahkan kita bershalawat untuk Nabi, Dia sendiri pun bershalawat untuk Nabi.

Sungguh shalawat adalah rahmat yang sempurna, kesempurnaan atas rahmat bagi kekasih-Nya. Disebut sebagai rahmat yang sempurna, karena tidak diciptakan shalawat, kecuali hanya pada Nabi Muhammad SAW.

Shalawat kita kepada Nabi adalah doa yang ditujukan pada Rasulullah SAW sebagai bukti rasa cinta, sayang, rindu, terima kasih dan hormat kita kepadanya.

Shalawat juga merupakan wujud doa dari para malaikat, bahkan Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mendoakan mereka yang bershalawat, sebagaimana yang terkandung dalam firman-Nya pada Surat AI-Ahzab ayat 56
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab [33]: 56).

Shalawat dari Allah SWT berarti memberi rahmat baginya. Shalawat dari malaikat berarti memohon ampunan (istighfar) baginya, dan shalawat dari orang mukmin berarti doa agar diberi rahmat seperti ungkapan:Allahmuma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad, berarti “Ya Allah, limpahkan- lah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad saw.”

Hanya shalawat, ibadah yang Allah SWT sendiri juga melakukannya. Shalawat sedemikian dahsyatnya hingga Allah SWT menjalankannya sendiri, dan memerintahkan malaikat dan manusia untuk bershalawat kepada Rasulullah saw.
“…Kelak di hari kiamat, seluruh manusia akan menghadap pada Rasulullah Saw sambil berucap, ‘Dengan kemuliaanmu Muhammad, selamatkan aku dari siksa-Nya.’ Saat itu, hanya syafaat Rasulullah Saw yang dapat menyelamatkan kita dari siksa-Nya…”

Shalawat merupakan jalinan hubungan Rasulullah SAW kepada Allah SWT dan rasa terima kasih kita pada Rasulullah Saw. Semakin banyak kita bershalawat, maka semakin bertambah cinta kita kepadanya, dan Allah SWT pun akan mencintai kita.

Dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Thabrani, Rasulullah SAW bersabda:
“Kalau seseorang bershalawat kepadaku, malaikat juga akan mendoakan keselamatan yang sama baginya. Untuk itu, bershalawatlah, meski sedikit atau banyak.”

Shalawat adalah ungkapan rasa terima kasih kita pada Rasulullah SAW atas segala jasa dan pengorbanannya yang telah menuntun kita ke jalan yang benar. Ia pengingat akan keistimewaannya dalam setiap langkah dalam kehidupan ini, sekaligus rasa syukur kita pada Allah SWT.

Kelak di hari kiamat, seluruh manusia akan menghadap pada Rasulullah Saw sambil berucap, “Dengan kemuliaanmu Muhammad, selamatkan aku dari siksa-Nya.” Saat itu, hanya syafaat Rasulullah Saw yang dapat menyelamatkan kita dari siksa-Nya. Syafaat yang merupakan bantuan Rasulullah Muhammad Saw dengan izin Allah SWT yang dapat meringankan, bahkan menghapus semua dosa kita.

Lalu, siapa lagi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam ini selain Nabi Muhammad saw? Sebagaimana firman-Nya yang terkandung dalam surat Al-Anbiya’ ayat 107. “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya’ [21]: 107)

Halim Ambiya
Pendiri dan Admin FB Tasawuf Underground

24/02/2017 Posted by | Tasauf | Leave a comment

ENAM NASIHAT YAHYA BIN MU’ADZ AR-RAZI

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata:
1. “Ilmu itu pembimbing amal.
2. Pemahaman itu wadahnya ilmu.
3. Akal itu penuntun kepada kebaikan.
4. Hawa nafsu itu kendaraan dosa.
5. Harta itu pakaian orang-orang yang takabbur.
6. Dunia itu pasarnya akhirat.”

Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَخَذَ مِنَ الدُّنْيَا مِنَ الْحَلَالِ حَاسَبَهُ اللهُ وَمِنْ أَخَذَ مِنَ الدُّنْيَا مِنَ الْحَرَامِ عَذَّبَهُ اللهُ
“Barang siapa mengambil dunia dengan cara yang halal, maka Allah pasti akan menghisabnya. Barang siapa mengambil dunia dengan cara yang haram, maka Allah pasti akan menyiksanya.” (HR. Hakim)

Rasulullah SAW juga bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذِهِ الدُّنْيَا دَارُ الْتِوَاءٍ لَا دَارُ اسْتِوَاءٍ وَمَنْزِلِ تَرَحٍ لَا مَنْزِلِ فَرَحٍ فَمَنْ عَرَفَهَا لَمْ يَفْرَحْ لِرَخَاءٍ وَلَمْ يَحْزَنْ لِشِدَّةٍ أَلَا وَإِنَّ اللهَ خَلَقَ الدُّنْيَا دَارَ بَلْوَى وَالْآخِرَةَ دَارَ عُقْبَى فَجَعَلَ بَلْوَى الدُّنْيَا لِثَوَابِ الآخِرَةِ وَثَوَابَ الآخِرَةِ مِنْ بَلْوَى الدُّنْيَا عِوَضًا فَيَأْخُذَ لِيُعْطِىَ وَيَبْتَلِىَ لِيَجْزِىَ فَاحْذَرُوْا حَلَاوَةَ رِضَاعِهَا لِمِرَارَةِ فِطَامِهَا وَاهْجُرُوْا لَذِيْذَ عَاجِلِهَا لِكُرْبَةِ آجِلِهَا وَلَا تَسْعَوْا فِى عُمْرَانِ دَاٍر قَدْ قَضَى اللهُ خَرَابَهَا وَلَا تُوَاصِلُوْهَا وَقَدْ أَرَادَ مِنْكُمْ اجْتِنَابَهَا فَتَكُوْنُوْا لِسُخْطِهِ مُتَعَرِّضِيْنَ وَلِعُقُوْبَتِهِ مُسْتَحِقَّيْنَ
“Wahai manusia, dunia ini adalah tempat yang terjal, bukan tempat yang rata. Dunia ini tempat kesusahan, bukan tempat untuk bersenang-senang. Maka barang siapa benar-benar mengetahui dunia, tentu ia tidak akan gembira dengan kesenangannya dan tidak akan bersedih dengan kesusahannya. Ketahuilah, Allah menciptakan dunia ini sebagai tempat ujian, sedangkan akhirat merupakan tempat kebaikan (bagi orang yang bertakwa).

Allah menjadikan bencana dunia sebagai sarana untuk meraih pahala akhirat sebagai ganti dari bencana dunia (bila sabar menghadapinya). Dia mengambil (nikmat duniawi dari seseorang) dengan maksud untuk memberinya (ganti di akhirat) dan memberinya cobaan dengan maksud untuk memberinya pahala. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap manisnya dunia, sebab terputus darinya terasa pahit; jauhilah kelezatannya yang sesaat, sebab kesedihannya terasa lama; dan janganlah engkau terlalu memakmurkan dunia yang telah Allah tetapkan kesirnaannya.

Janganlah terlalu bergantung kepada dunia, sebab Allah telah menghendaki engkau untuk menjauhinya. Jika engkau tetap melakukannya (bergantung kepada dunia), maka engkau termasuk mereka yang akan mendapat murka-Nya dan berhak mendapat siksa-Nya.” (HR. Dailami)

–Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nasha’ihul ‘Ibad

(Nukilan dari fb Tasawuf Underground)

18/02/2017 Posted by | Tasauf | Leave a comment

UTAMAKAN YANG FARDHU, LALU KERJAKAN SUNNAH

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Seorang Mukmin hendaklah menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah fardhu terlebih dahulu. Jika sudah selesai mengerjakannya, hendaklah menyibukkan diri dengan sunnah-sunnah yang utama. Jika sudah mengerjakannya, hendaklah menunaikan ibadah-ibadah sunnah biasa dan keutamaan-keutaman lainnya yang sejenis.

Selama dia belum selesai mengerjakan ibadah-ibadah fardhu, dia tidak boleh mengerjakan ibadah sunnah. Jika dia sampai melakukan hal itu, maka itu merupakan kebodohan yang sia-sia. Jika dia mengerjakan ibadah-ibadah sunnah biasa sebelum mengerjakan ibadah sunnah yang lebih utama dan lebih kuat, maka amal tersebut tidak akan diterima, bahkan dihinakan.

Perumpamaan orang itu seperti orang yang dipanggil oleh raja untuk melayaninya, tetapi dia tidak mendatangi dan tidak memenuhi panggilannya. Dia malah melayani pimpinan-pimpinan wilayah yang berada di daerah kekuasaan sang raja. Mereka hanya sebatas pelayan atau pembatu bagi sang raja.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. mengatakan, “Rasulullah SAW pernah bersabda,’Sesungguhnya perumpamaan orang yang mendirikan shalat sunnah sebelum menunaikan shalat yang wajib itu seperti seorang wanita yang mengandung. Ketika masa nifasnya sudah dekat, kandungannya mengalami keguguran.

Maka, dia seperti orang yang tidak mempunyai kandungan sebelumnya. Begitu juga orang yang melakukan shalat sunnah tidak akan diterima shalatnya tersebut, sampai dia menunaikan shalat fardhu terlebih dahulu.

Perumpamaan orang itu adalah seperti seorang pedagang. Dia tidak akan memperoleh laba bersih sebelum modalnya kembali semua. Begitu juga orang yang shalat sunnah, shalat tersebut tidak akan diterima sampai dia menunaikan shalat fardhu.” (HR Al-Baihaqi)”

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Futuhul Ghayb.

(Di nukil dari:Tasawuf Underground)

18/02/2017 Posted by | Tasauf | Leave a comment

MEMAHAMI DUNIA DAN TUJUAN AKHIRAT

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Engkau celaka jika tidak merasa malu kepada Allah SWT, jika engkau telah menjadikan dinar sebagai tuhanmu dan menjadikan dirham sebagai tujuanmu. Sedangkan engkau melupakan-Nya sama sekali.
Sungguh takdirmu telah dekat!Karena itu, jadikanlah kedai-kedai yang kau miliki dan semua harta untuk keluargamu adalah semata-mata karena perintah syariat, dan hatimu tetap bertawakal kepada Allah.

Jadi, carilah rezekimu dan rezeki untuk keluargamu hanya dari Allah, bukan dari harta dan kedai-kedaimu. Maka, Allah SWT akan menjadikan untukmu karunia, kedekatan, dan kelembutan-Nya dalam kalbumu. Dia akan mencukupi keperluan keluargamu dan keperluanmu melalui dirimu sendiri.

Dia akan mencukupi keluargamu dengan apa yang Dia kehendaki dan sebagaimana yang Dia kehendaki. Lalu akan dikatakan kepadamu, “Ini adalah untukmu dan untuk keluargamu.” Namun, bagaimana mungkin engkau dapat menerima perkataan seperti itu jika seumur hidupmu bersikap musyrik? Engkau tidak pernah merasa kenyang dengan dunia dan terus mengumpulkan harta. Allah SWT menutup pintu hatimu dan segala sesuatu tak akan dapat memasukinya. Dia menurunkan peringatan-Nya dalam kalbumu.

Maka, bertaubatlah dari amal-amal burukmu dengan bersungguh-sungguh. Hendaklah engkau tangisi rosaknya perjalanan hidupmu dan akhlak burukmu.

Hendaklah kau tangisi semua perkara yang telah terjadi menimpamu. Bantulah orang-orang yang fakir dan miskin dengan hartamu, dan janganlah bakhil! Sebab, tak lama lagi engkau akan berpisah dengan harta bendamu. Mukmin yang menyakini adanya penggantian di dunia dan akhirat tentu tak akan bersikap bakhil!

Nabi Isa a.s. pernah bertanya kepada Iblis, “Siapakah makhluk yang paling kau sukai?”

Lalu, Iblis pun menjawab, “Mukmin yang bakhil.”

“Siapa yang paling kau benci?” tanya Nabi Isa.

“Orang fasik yang dermawan,” jawab Iblis.

“Mengapa begitu?”

“Sebab aku berharap agar Mukmin yang bakhil itu terjerumus ke dalam kemaksiatan karena sebab kebakhilannya. Sebaliknya, aku takut seandainya orang fasik yang dermawan itu terhapus dosa-dosanya karena kedermawanannya.”

Maka, sibukkanlah dirimu dengan urusan dunia hanya untuk dunia. Sesungguhnya usaha dan pekerjaan disyariatkan agar manusia dapat menolong dirinya untuk taat kepada Allah SWT. Sedangkan, apabila engkau bekerja dan pekerjaanmu malah mendorongmu untuk berlaku maksiat, bererti engkau berada dalam kemaksiatan bukan dalam ketaatan.

Tidak akan lama lagi kematian akan datang. Dengan kematian itu, berbahagialah orang yang Mukmin, dan bingunglah orang kafir dan munafik.”

— Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Fath Ar-Rabbani wa Al-Faidh Ar-Rahmani

(Sumber: FB Tasawwuf Underground)

04/02/2017 Posted by | Tasauf | Leave a comment

MARI JAUHKAN DIRI DARI IRI HATI DAN DENGKI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memberi nasehat:
“Wahai orang-orang yang beriman mengapa engkau merasa iri terhadap tetanggamu yang hidup senang, yang memperoleh rahmat-rahmat dari Tuhannya. Tidakkah kau tahu bahwa yang demikian itu dapat melemahkan imanmu, mencampakkanmu di hadapan Tuhanmu dan membuatmu dibenci oleh-Nya?

Tidakkah engkau sadar sabda Nabi bahwa Allah SWT berfirman: “Kedengkian adalah musuh rahmat-Ku.” Tidakkah engkau dengar juga sabda Nabi, “Sesungguhnya kedengkian melahap kebajikan sebagaimana api melahap kayu bakar.”

Lalu, mengapa kau iri dan dengki kepadanya?

Jika engkau iri hati terhadapnya, karena karunia Allah baginya, maka berarti kau tak ridha dengan firman-Nya, “Kami karuniakan di antara mereka rezeki di kehidupan duniawi ini.” (QS Az-Zukhruf [43]: 32). Berarti kau benar-benar zalim terhadap orang ini, yang menikmati karunia Tuhannya. Itu merupakan karunia khusus untuknya, yang tidak diberikan-Nya sedikit pun dari bagian itu kepada orang lain. Maka, siapa sebenarnya yang lebih zalim, serakah dan bodoh?

Jika engkau dengki terhadapnya karena bagianmu, maka kau berarti telah bertindak sangat bodoh, sebab bagianmu tidak akan diberikan kepada orang lain, juga tidak akan berpindah dari tanganmu ke tangan orang lain. Allah SWT bebas dari kecacatan dan kelemahan hal semacam itu. Allah SWT berfirman, “Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (QS Qaf [50]: 29).
Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut darimu segala yang telah ditentukan-Nya bagimu dan tak akan memberikannya kepada selainmu. Ini adalah bentuk kebodohanmu sendiri dan kezalimanmu pada saudaramu.”

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Adab As-Suluk wa At-Tawassul ila Manazil Al-Muluk

15/12/2016 Posted by | Bersama Tokoh, Ibadah, Renungan & Teladan, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

RAHASIA DZIKIR UNTUK MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH

Dsri FB Tasawuf Underground

Ibn ‘Abbas r.a. menuturkan, “Ketika Allah Swt. menciptakan ‘Arasy, maka Allah memerintahkan para malaikat pemikul ‘Arasy agar memikul ‘Arasy tersebut. Lalu mereka merasa berat memikulnya, maka Allah Swt. berfirman, ‘Bacalah, ‘subhân allâh.’ Para malaikat itu pun membaca, ‘subhân allâh,’ hingga mereka merasa ringan memiku l ‘Arasy.

Malaikat-malaikat itu terus membaca subhân allâh sepanjang masa, sampai Allah SWT menciptakan Nabi Adam. Ketika Nabi Adam bersin, maka Allah SWT. mengilhamkan kepadanya agar membaca al-hamdu li-allâh. Maka, Allah Swt. berfirman, ‘Yarhamuka Rabbuka (semoga Tuhanmu merahmatimu). Karena itulah, Aku mciptakanmu, wahai Adam.’ Para malaikat berkata, ‘Ini adalah kalimat ke dua yang agung, kami tidak boleh melupakan kalimat ini.

Mereka menyambungkan kalimat tersebut dengan kalimat pertama. Sehingga sepanjang masa malaikat mengucapkan, ‘Subhân allâh wal hamdu li-allâh.’ Malaikat-malaikat terus membaca kalimat tersebut sampai Allah mengutus Nabi Nuh a.s. Dalam sejarah disebutkan bahwa kaum Nabi Nuh adalah orang pertama yang menjadikan berhala sebagai sesembahan. Lalu Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Nuh agar ia menyuruh kaumnya untuk mengatakan, ‘lâ ilaha illa allâh,’ hingga Allah meridai mereka.

Malaikat berkata, ‘Ini adalah kalimat ketiga yang akan kami gabungkan dengan dua kalimat sebelumnya.’
Mereka pun mulai mengatakan Subhân allâh wal hamdu li-allâh wala ilaha illa allâh. Kalimat ini terus diucapkan oleh para malaikat sepanjang masa, sampai Allah SWT mengutus Nabi Ibrahim a.s. Allah Swt. memerintahkan agar Nabi Ibrahim mengurbankan anak kesayangannya, Isma‘il. Kemudian Allah menggantinya dengan seekor domba. Ketika Ibrahim melihat domba itu, maka ia berkata, ‘Allâhu Akbar,’ sebagai luapan kegembiraannya.

Malaikat berkata, ‘Ini adalah kalimat keempat yang agung. Kami akan menggabungkannya dengan tiga kalimat sebelumnya.’ Akhirnya, para malaikat itu mulai mengucapkan, ‘Subhân allâh wal hamdu li-allâh wala ilaha illa allâh wa Allâhu Akbar.’ Waktu malaikat Jibril menceritakan hal ini kepada Rasulullah saw., maka karena kekagumannya, beliau berkata, ‘Lâ hawla wala quwwata illa billah al-‘alî al-‘azhîm.’ Maka, Jibril berkata, ‘Ini adalah kalimat penutup dari empat kalimat sebelumnya.’”

Abu Hurairah r.a. juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Siapa bertasbih kepada Allah 33 kali setiap kali selesai salat; bertahmid kepada Allah sebanyak 33 kali; dan bertakbir kepada Allah 33 kali; maka, totalnya 99 kali. Kemudian ia menggenapkannya menjadi 100 dengan bacaaan ‘Lâ ilaha illâ Allâh wahdahu lâ syarîka lah lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘ala kulli syay’in qadîr. Maka, Allah akan mengampuni semua kesalahan-kesalahannya, meskipun sebanyak buih lautan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan pula bahwa Nabi Musa a.s. mengatakan, “Wahai Tuhanku, bagaimana saya dapat membedakan antara orang yang Engkau cintai dengan orang yang Engkau benci?’ Allah SWT menjawab, ‘Hai Musa, sesungguhnya jika Aku mencintai seorang hamba, maka Aku akan menjadikan dua tanda kepadanya.’

Musa bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apa kedua tanda itu?’
Allah SWT menjawab, ‘Aku akan mengilhamkan kepadanya agar ia berzikir kepada-Ku agar Aku dapat menyebutnya di kerajaan langit dan Aku akan menahannya dari lautan murka-Ku agar ia tidak terjerumus ke dalam azab dan siksa–Ku. Hai Musa, jika Aku membenci seorang hamba, maka Aku akan menjadikan dua tanda kepadanya.’

Musa bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apa kedua tanda itu?’
Allah SWT menjawab, ‘Aku akan melupakannya berzikir kepada-Ku dan Aku akan melepaskan ikatan antara dirinya dan jiwanya, agar ia terjerumus ke dalam lautan murka-Ku sehingga ia merasakan siksa-Ku.’”

—Syekh ‘Abd al-Hamid Anquri dalam Munyah al-Wâ‘ìzhîn wa Ghunyah al-Muta‘azhzhîn

23/06/2016 Posted by | Hadis, Ibadah, Tasauf | Leave a comment

Memahami Tabarruk

image

Share image

09/06/2016 Posted by | Informasi, Tasauf | Leave a comment

KENYATAAN PARA IMAM DAN ULAMA MENGENAI TASAWUF BAHAGIAN

image

IMAM SYAFI’I (150-205 H./767-820 M.)
Imam Syafi`i RA berkata, “Aku menyertai kaum Sufi dan memperolehi tiga jenis ilmu:
Mereka mengajarku cara berbicara dan menjauhi kepura-puraan,
Mereka mengajarku untuk melayani manusia dengan tolak ansur dan hati yang lembut,
Mereka membimbingku di Jalan Sufi.”
Hal ini disebutkan di dalam Kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al-Albas, oleh Imam ‘Ajluni, Jil. 1, hal. 341.
IMAM AHMAD BIN HANBAL (164-241 H./780-855 M.)
Imam Ahmad RA berkata ketika menasihati puteranya, “Wahai anakku, engkau seharusnya duduk bersama Ahli Tasawuf, kerana mereka seumpama air terjun ilmu dan mereka sentiasa menjaga zikrullah di dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang yang zuhud dan mereka mempunyai kekuatan rohani terbesar.” Hal ini dijelaskan di dalam kitab Tanwir al-Qulub, hal. 405, oleh Shaykh Amin al-Kurdi QS.
Imam Ahmad mengatakan mengenai Sufi, sebagaimana disebutkan di dalam kitab Ghiza al-Albab, Jil. 1, hal. 120, “Aku tidak mengetahui golongan yang lebih baik daripada mereka.”

06/06/2016 Posted by | Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | Leave a comment

PEMBAGIAN REZEKI DAN RAHASIA TAWAKAL

Menurut Imam Al-Ghazali, tawakal itu digunakan dalam tiga tempat:

1) Tawakal kepada keputusan Allah. Maksudnya, engkau harus memiliki keyakinan penuh dan merasa puas dengan keputusan apa pun dari Allah. Hukum Allah tak akan berubah, seperti yang tercantum dalam Al-Quran dan hadis.

2) Tawakal kepada pertolongan Allah. Engkau harus bersandar dan percaya penuh pada pertolongan Allah Azza wa Jalla. Jika engkau menyandarkan diri pada pertolongan Allah dalam dakwah dan perjuangan bagi agama Allah, maka Allah pasti akan menolongmu.

3) Tawakal berkaitan dengan pembagian rezeki yang diberikan oleh Allah. Engkau harus yakin bahwa Allah Azza wa Jalla akan mencukup nafkah dan keperluan kita sehari-hari.

Rasulullah SAW bersabda, “JIka kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal kepada-Nya, niscaya Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu keluar dari sarangnya di pagi hari dalam keadaan perut yang kosong dan pulang di sore hari dalam keadaan perut terisi penuh.” (HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Allah SWT berfirman, “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS Ath-Thalaq: 3)

Imam Al-Ghazali mengatakan, “Rezeki itu ada empat macam, yakni rezeki yang dijamin, rezeki yang dibagikan, rezeki yang dimiliki, dan rezeki yang dijanjikan oleh Allah SWT.

Rezeki yang dijamin merujuk kepada makanan dan segala apa yang menopang tubuh dan jiwamu. Jenis rezeki seperti itu tak terkait dengan sumber-sumber lainnya di dunia. Jaminan terhadap rezeki jenis ini datang dari Allah Ta’ala. Maka, bertawakal terhadap rezeki jenis ini wajib berdasarkan dalil aqli dan syar’i. Sebab, Allah telah membebankan kita untuk mengabdi kepada-Nya dan mentaati-Nya dengan tubuh kita. Dia pasti telah menjamin apa-apa yang menjadi sumber energi bagi sel-sel tubuh kita agar kita dapat melaksanakan apa yang telah diperintahkan-Nya.

Rezeki yang dibagi adalah apa yang telah dibagikan oleh Allah dan telah tertulis di Lauwhun Mahfuzh secara detail. Masing-masing dibagikan sesuai dengan kadar yang telah ditentukan dan waktu yang telah ditetapkan, tidak lebih dan tidak kurang, tidak maju dan tidak mundur dari apa yang tertulis itu.

Rasulullah SAW bersabda, “Rezeki itu telah dibagikan dan kemudian telah diberikan semuanya. Tidaklah ketakwaan seseorang dapat menambahkannya dan tidak pula kejahatan orang yang berlaku jahat dapat menguranginya.”

Sedangkan rezeki yang dimiliki adalah harta benda dunia yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk dia miliki. Dan ini termasuk rezeki dari Allah. Allah berfirman, “Belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu.” (QS Al-Baqarah [2]: 254).

Adapun rezeki yang dijanjikan adalah segala apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa dengan syarat ketakwaan, sebagai rezeki yang halal, tanpa didahului oleh usaha yang bersusah payah.

Sebagaimana firman Allah SWT, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan bagianya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS Ath-Thalaq : 2-3)

Inilah beberapa jenis rezeki dari Allah, dan wajib bagi kita untuk bersikap tawakal dengan rezeki yang dijamin oleh-Nya. Maka, perhatikan hal ini dengan seksama.”

–Dikutip dari Kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Al-Ghazali

13/05/2016 Posted by | Tasauf | Leave a comment

GANTUNGLAH HARAPAN HANYA KEPADA ALLAH

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menuturkan:
“Jika engkau masih merasa takut dan berharap pada manusia, maka dia menjadi tuhanmu. Jika engkau masih menghadapkan hatimu pada harta dunia, maka engkau adalah budaknya, dan dia menjadi tuhanmu. Tak ada cinta yang paling abadi, kecuali cinta seorang hamba kepada Allah. Seorang pencinta tak akan meninggalkan kekasihnya, baik saat suka maupun saat derita.
Wahai orang yang mengadukan musibahnya kepada makhluk, tanyalah dirimu, apakah pengaduanmu kepada makhluk berguna bagimu? Sesungguhnya semua makhluk tidaklah ada gunanya bagimu; tidak juga membahayakanmu. Jika engkau bergantung kepada makhluk seraya menyekutukan Allah, niscaya mereka akan menjauhkan dirimu dari jalan al-Haq, yakni jalan menuju Allah. Karena sebaliknya, mereka akan menjurumuskanmu ke dalam murka Allah dan menghalangimu dari curahan rahmat Allah.
Wahai orang bodoh yang mengharapkan ilmu, hendaklah engkau menyadari bahwa termasuk kebodohan jika mencari dunia bukan dari Rabb sebegai Pemiliknya. Juga merupakan suatu kebodohan jika engkau mencari keselamatan dari bencana yang menimpamu dengan cara mengadukan harapan kepada makhluk.”

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani wal-Faidh Ar-Rahman.

(Di petik dari FB Tasawuf Underground)

09/05/2016 Posted by | Tasauf | Leave a comment

: “Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?”

Seorang Syeikh berjalan dengan murid2nya. Mereka  melihat ada sebuah keluarga yang sedang bertengkar dan saling berteriak.

Syeikh tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya : “Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?”

Salah seorang murid menjawab : “Kerana kehilangan sabar sebab itulah mereka  berteriak.”

“Tetapi, mengapa mesti berteriak kepada orang yang berada di sebelahnya? Bukankah pesanan yang dia ingin sampaikan boleh diucapkan dengan perlahan saja?” Tanya Syeikh menguji murid-muridnya.

Murid2nya pun saling memberikan jawapan, namun tidak satu pun jawapan yang mereka sepakati.

Akhirnya Syeikh berkata:

“Bila dua orang sedang marah, ketahuilah hati mereka saling berjauhan. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka mesti berteriak agar perkataannya dapat didengar. Semakin marah, maka akan semakin kuat teriakannya. Kerana jarak kedua hati itu semakin jauh.”

“Begitu juga sebaliknya, di saat kedua insan saling jatuh cinta..”, lanjut Syeikh.

“Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang  lain. Mereka berbicara lembut kerana hati mereka berdekatan. Jarak antara kedua hati sangat dekat.”

“Bila mereka semakin lagi saling mencintai, apa yang terjadi? Mereka tidak lagi bicara. Mereka hanya berbisik dan saling mendekat dalam kasih-sayang. Pada Akhirnya, mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik. Mereka cukup hanya dengan saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi.”

Syeikh memandang muridnya dan mengingatkan dengan lembut:

“Jika terjadi pertengkaran di antara kalian, jangan biarkan hati kalian berjauhan. Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Kerana jika kita biarkan, satu hari jaraknya tidak akan lagi boleh ditempuh.”

Sumber: Zon Kuliah

06/05/2016 Posted by | Tasauf | Leave a comment

MANFAAT ZIKIR BAGI KITA

image

Syekh Ibnu Athaillah mengatakan, “Tidak ada ibadah yang lebih bermanfaat bagimu daripada dzikir. Sebab, dzikir adalah ibadah yang bisa dilakukan orang tua dan orang sakit yang sudah tidak mampu lagi berdiri, rukuk, dan sujud.
Bersihkan cermin hatimu dengan khalwat dan dzikir hingga kelak kau berjumpa dengan Allah SWT.

Hatimu harus selalu ingat Allah sehingga cahaya menyinarimu. Jangan seperti orang yang ingin menggali sumur, kemudian ia menggali di satu tempat sedalam satu jengkal lalu menggali di tempat lain sedalam satu jengkal pula. Jadi, airnya tidak akan pernah keluar. Akan tetapi, galilah di satu tempat sehingga airnya memancar.

Hai hamba Allah, agamamu adalah modalmu. Jika kau telah menyia-nyiakan modalmu, sibukkan lisan dengan berdzikir mengingat-Nya, sibukkan hati dengan cinta kepada-Nya, dan sibukkan tubuhmu dengan menaati-Nya. Tanamlah wujudmu di tempat menanam hingga benih muncul dan tumbuh. Siapa yang memperlakukan hatinya sebagaimana petani memperlakukan tanahnya, pasti hatinya bersinar.”

–Syekh Ibn Atha’illah dalam Taj Al-‘Arus

18/04/2016 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

MANUSIA DITENTUKAN DENGAN SIAPA DIA DUDUK ATAU BERTEMAN

Siapa saja yg sering duduk bersama 8 orang kelompok manusia, Allah Ta’alaa akan memberinya 8 perkara:

1. ﻣﻦ ﺟﻠﺲ ﻣﻊ ﺍﻷﻏﻨﻴﺎﺀ ﺯﺍﺩﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﺐ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﻴﻬﺎ ….
1. Barangsiapa yg duduk bersama orang² kaya, Allah akan menambahkan cinta kepada dunia & semangat untuk mendapatkan dunia….

2. ﻭﻣﻦ ﺟﻠﺲ ﻣﻊ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﺯﺍﺩﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺸﻜﺮ ﻭﺍﻟﺮﺿﺎ ﺑﻘﺴﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ….
2. Barangsiapa yg duduk bersama orang² miskin, Allah akan menambahkan perasaan syukur & ridho atas pemberian Allah…

3. ﻭﻣﻦ ﺟﻠﺲ ﻣﻊ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﺯﺍﺩﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻜﺒﺮ ﻭﻗﺴﺎﻭﺓ ﺍﻟﻘﻠﺐ….
3. Barangsiapa yg duduk dengan para pemimpin/raja, Allah akan menambahkan perasaan sombong & kerasnya hati….

4. ﻭﻣﻦ ﺟﻠﺲ ﻣﻊ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺯﺍﺩﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﻭﺍﻟﺸﻬﻮﻩ….
4. Barangsiapa yg duduk dengan perempuan, Allah akan menambahkan kebodohan & syahwat…..

5. ﻭﻣﻦ ﺟﻠﺲ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺒﻴﺎﻥ ﺯﺍﺩﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻠﻬﻮ ﻭﺍﻟﻤﺰﺍﺡ…..
5. Barangsiapa yg duduk dengan anak² kecil, Allah akan menambahkan lalai & gurau senda…..

6. ﻭﻣﻦ ﺟﻠﺲ ﻣﻊ ﺍﻟﻔﺴﺎﻕ ﺯﺍﺩﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺠﺮﺃﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻭﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ ﻭﺍﻹﻗﺪﺍﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ،ﻭﺍﻟﺘﺴﻮﻳﻒ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ…..
6. Barangsiapa yang duduk dengan orang² fasiq, Allah akan menambahkan berani berbuat dosa & kemaksiatan serta mendorongkan diri untuk berbuat maksiat kemudian menunda-nunda akan taubat…

7. ﻭﻣﻦ ﺟﻠﺲ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺯﺍﺩﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺎﻋﺎﺕ….
7. Barangsiapa yg duduk dengan orang² sholeh, Allah akan menambahkan perasaan cinta kepada amalan² keta’atan….

8. ﻭﻣﻦ ﺟﻠﺲ ﻣﻊ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺯﺍﺩﻩ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻮﺭﻉ….
8. Barangsiapa yg duduk dengan para ulama’, Allah akan menambahkan ilmu & perasaan tidak cintakan dunia…

*Sumber: Tanbiihul Ghaafiliin
Hujjatul Islam  Al-Imam Al-Ghazali ra
Telegram : @indonesiangaji

12/04/2016 Posted by | Ibadah, Tasauf | Leave a comment

Kajian hadith di dalam kitab ihya’ ulumuddin

image

(Kajian hadith di dalam kitab ihya’ ulumuddin oleh Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni)

1) Ada seorang ustaz al-fadhil menghubungi saya bertanyakan tentang kedudukan Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis. Ini barangkali kerana ingin menjawab persoalan mereka yang memandang rendah tentang keupayaan Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis.Maka saya katakan, ada sebuahkitab yang bagus dalam membincangkan masalah ini, iaitu kitab al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith oleh Dr. Muhammad ‘Aqil bin ‘Ali al-Mahdali.

2) Pertamanya, amat perlu difahami apakah maksud ilmu hadis itu. Ilmu hadis yang bagaimana? Kerana ilmu hadis itumempunyai banyak pecahan di bawahnya. Walhal, maksud kurang keupayaan Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis itu sebenarnya merujuk kepada ilmu hadis tertentu, terutama berkaitan kajian sanad seperti al-jarh wa al-ta’dil dan rijal al-hadith, bukannya keseluruhan cabang dalam ilmu hadis. Ini kerana beliau berkeupayaan dalam ilmu mustalah al-hadith, atau riwayah al-hadith yang objektif utamanya adalah untuk membezakan mana hadith yang sahih dan mana hadith yang dhaif, sepertimana yang dapat dilihat dalam kitab-kitab usul al-fiqhnya, iaitu al-Mankhul dan al-Mustasfa.

3) Beliau juga berkeupayaan dalam mengetahui pelbagai hadis di mana telah memuatkan sebanyak lebih 4,800 buah hadis di dalam kitabnya Ihya’ `Ulum al-Din. Iaitu suatu bilangan yang jarang ada di dalam sesebuah kitab seperti itu. Justeru, bukan kesemuanya atau sebahagian besarnya hadis daif dan munkar seperti yang didakwa oleh sesetengah orang.

4) Bahkan, sebahagian besar hadis-hadis kitab Ihya’ `Ulum al-Din adalah masih hadis-hadis sahih dan hasan, serta daif yang dapat diterima dalam bab fada’il acmal (kelebihan-kelebihan amalan). Imam al-Ghazali sewajarnya lebih diberi keuzuran kerana konsep kitab Ihya’ `Ulum al-Din yang disusunnya itu ialah fada’il acmal, bukannya ahkam atau akidah. Berbanding setengah ulama yang menyusun kitab dalam bab ahkam atau akidah, tetapi memuatkannya dengan hadis-hadis daif dan munkar.Demikian antara jawapan saya menurut apa yang terlintas didalam kepala pada masa itu.

5) Hadis-Hadis Ihya’ `Ulum Al-DinPandangan yang mendakwa kelemahan Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis bukanlah suatu yang baru. Zahirnya, mereka hanya mengikut pendapat yang mengatakannya demikian, terutama disebabkan hadis-hadis kitabnya Ihya’ `Ulum al-Din.

Antaranya:Kata al-Hafiz Ibn al-Jawzi (w. 597H): “Beliau memenuhi kitabnya dengan hadis-hadis yang batil yang dia tidak tahu kebatilannya” (Talbis Iblis, hlm. 190).

Imam Taj al-Din al-Subki (w. 771H) menyatakan: “Adapun apa yang dianggap aib pada al-Ihya’ disebabkan kelemahan sebahagian hadis-hadisnya,ini kerana al-Ghazali diketahui bahawa beliau tidak mempunyai kepakaran dalam bidang hadis” (Tabaqat al-Syafi`yyah al-Kubra, 6/249).

Imam Ibn Kathir (w. 774H) berkata: “Di dalamnya banyak hadis yang gharib, munkar dan palsu” (Al-Bidayah wa al-Nihayah, 12/214).

6) Sebanyak mana bilangannya? Menurut Dr. Muhammad ‘Aqil al-Mahdali dalam al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith, bilangan hadis-hadis dalam Ihya’ `Ulum al-Din ialah 4,848 buah hadis. Ini berpandukan kepada kitab Is‘af al-Mulihhin bi-Tartib Ahadith Ihya’ ‘Ulum al-Din susunan Syeikhuna al-Muhaddith Syeikh Mahmud Sa‘id Mamduh. Bagaimanapun, kitab tersebut hanya menyusun semula hadis-hadis yang ditakhrij oleh al-Hafiz al-‘Iraqi (w. 806H) dalam al-Mughni `an Haml al-Asfar fi al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ihya’ min al-Akhbar, sedangkan masih ada sebilangan kecil hadis yang tidak ditakhrijkan olehnya.

7) Jika Imam Taj al-Din al-Subki (w. 771H) mengira sebanyak 943 hadis yang tidak ditemukan sanadnya (Tabaqat al-Syafi`yyah al-Kubra, 6/287- 389). Maka bakinya jika begitu, ialah sebanyak 3,905 hadis yang masih mempunyai sanad antara sahih, hasan dan daif. Jumlah ini masih dianggap jumlah yang besar. Malah sebahagian daripada bilangan 943 hadis yang tidak ditemukan sanadnya oleh Taj al-Din al-Subki itu sebenarnya masih mempunyai sanad, dan sebahagiannya pula ada yang diperselisihkan darjatnya antara sahih, hasan, daif atau mawdu‘. Ini dapat dilihat dalam takhrij al-Hafiz al-‘Iraqi dan takhrij al-Hafiz Murtadha al-Zabidi yang lebih luas dalam Ithaf al-Sadah al-Muttaqin. (Lihat: al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith oleh Dr. Muhammad ‘Aqil al-Mahdali)

8) Boleh dikatakan, tidak ada kitab tasawuf yang mengandungi jumlah hadis sebanyak itu. Maka dakwaan bahawa Imam al-Ghazali hanya menceduk hadis-hadis kitabnya daripada kitab-kitab fiqh dan tasawuf barangkali dapat dipertikaikan.

Ini mengukuhkan lagi pendapat bahawa beliau juga telah memetik hadis-hadis kitab Ihya’ `Ulum al-Din daripada kitab-kitab hadis itu sendiri (al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith hlm. 74 & 118).

9) Bagaimanapun, sewajarnya setiap pembaca kitab Ihya’ `Ulum al-Din berhati-hati dalam memetik hadis-hadisnya dan menelitinya menerusi takhrij al-Hafiz al-`Iraqi yang biasanya dicetak bersama-sama dengan kitab Ihya’. Meskipun adakalanya, hukum beliau berbeza dengan hukum al-Hafiz Murtadha al-Zabidi. Sekurang-kurangnya hadis daif masih dapat diamalkan dalam bab fada’il a’mal.

Sumber: Bicara Hadith Bersama Ustaz Mohd Khafidz Soroni

09/03/2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | 1 Comment

GOLONGAN YANG BUTA HATI DAN BUTA AKAL

Apa sebab nya berlaku berbagai bagai masaalah dalam masyarakat? Dari ahli politik yang berebut rebut kuasa dan rasuah, ahli agama dan ilmuan yang bertelagah, remaja yang jadi mat rempit, perempuan yang buang anak, peragut yang kejam,dan berbagai bagai lagi kalau hendak di sebut.

Mereka sebenarnya adalah manusia bermasaalah kerana hati dan akal mereka sudah buta!

Sesiapa yang mempunyai HATI yang buta maka dia tidak akan kenal Allah.Justru itu dia tidak akan kenal kebenaran dan kebaikan.Siapa hati nya buta akan timbul penyakit mazmumah atau keji dalam diri nya.Di antara penyakit penyakit mazmumah ialah tidak ada perasaan timbang rasa, tidak ada rasa syukur, tidak rasa bersalah atau dosa apabila buat salah dan maksiat, tidak ada rasa jijik dengan kemungkaran.Hati nya telah buta kerana berperanan mengikut pimpinan hawa nafsunya yang jahat.Yang sentiasa mengarah hati melakukan kejahatan dan kemungkaran.

Akibat nya kelakuan nya akan jadi kelakuan syaitan saperti suka mengumpat, memfitnah, sombong,ego, atau berkelakuan saperti haiwan hanya memikirkan makan, minum, hiburan dan seks.

Itu lah kalau sudah jadi begini hati sudah tidak berperanan lagi dan sebaliknya nafsu lah yang ambil alih tempat nya (ia itu hati nya).Ertinya dia sudah tidak berperanan saperti semula jadi nya lagi.Ini lah yang di maksudkan oleh Allah dalam Al Quran yang terjemahan nya:
“Sesunggohnya Kami peruntukkan untuk Neraka Jahanam kebanyakannya terdiri dari jin dan manusia: bagi mereka ada HATI , (tetapi) tidak mahu memahami (isi Al Quran) dengan HATI nya, dan bagi mereka ada mata, (tetapi) tidak mahu melihat dengan mata nya dan mereka bagi mereka ada telinga, (tetapi) tidak mahu mendengar dengan telinga nya.Mereka itu saperti binatang ternak bahkan lebih sesat.Mereka itu lah oranr orang yang lalai”. (Al A”raf:179)

Orang yang buta AKAL pula ialah orang yang tidak mahu gunakan fikiran sekali pun dia mempunyai otak yang tajam dan cerdik.Maka apabila akal nya buta dia tidak dapat lagi menangkap ilmu dan pengalaman pengalaman hidup.Buah fikiran nya sentiasa akan jadi tidak rasional.Kalau dia seorang ulama atau pemimpin maka rosak lah masyarakat.

Mengapa Hati perlu di jaga

Hati adalah pandangan utama bagi Allah.Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah SAW bersabda, maksudnya: “Sesungguhnya Allah Taala itu tidak melihat kepada rupa paras kamu dan tidak juga kepada harta kamu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalan kamu”. (HR Imam Muslim)

Baiknya anggota badan kerana baiknya hati.Al Nukman bin Basyir berkata Rasulullah SAW bersabda bermaksud:” Ketahuilah sesungguhnya didalam tubuh anak adam ada seketul daging, sekiranya ianya baik maka baiklah seluruh anggota, sebaliknya seandainya ia rosak maka rosaklah seluruh anggota, iaitu hati”. Muttafaq alaih.

Hati sentiasa berubah. Al Miqdad bin Al Aswad berkata: Aku dengar Nabi SAW bersabda bermaksud:”Sesungguhnya hati anak adam lebih cepat berbolak balik daripada isi periuk yang sedang menggelegak”. HR Imam Ahmad.

Balasan amalan adalah mengikut hati. Uqbah bin Amir berkata: Rasullullah SAW bersabda bermaksud:” Mana mana Muslim yang mengambik wuduk lalu dilakukannya dengan betul kemudian dia mengerjakan solat du rakaat dalam keadaan hati dan mukanya memberi tumpuan sepenuhnya, nescaya dijamin untuknya Syurga”. HR Imam Muslim.

Penghambaan hati lebih tinggi dari penghambaan anggota lain.Berkata Anas r.a: Adalah Rasulullah SAW bersabda maksudnya:” Sesungguhnya Islam itu Zahir sedangkan Iman itu tersembunyi”. Anas berkata: Rasulullah SAW mengisyaratkan kearah dadanya sebanyka tiga kali lalu bersabda lagi:” Taqwa itu disini,Taqwa itu di sini.” HR Imam Ahmad.

Hati adalah tempat berfikir dan mengambil peringatan.Firman Allah didalam Surah Al A’raf ayat 179:” Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakkan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda tanda kekuasaan Allah), dan itu sebagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi mereka itulah orang orang yang lalai”.

Hati adalah tempat ketenangan bagi orang mukmin. Firman Allah dalam Surah A-Ra’d ayat 28:”(iaitu) orang orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram.”

Sumber.

30/01/2016 Posted by | Tasauf | Leave a comment

Bolehkah Murid Memiliki Lebih Dari Seorang Guru?

 

 
 


 

Di antara perilaku yang harus dilakukan seorang murid, hendaklah mengambil dan menjadikan seorang guru. Maka ia tidak diperkenankan sama sekali menjadikan dua orang guru kerana tarekat kaum sufi dibangunkan atas dasar tauhid yang murni.

Syeikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi r.a dalam Futuhat Al-Makkiyah pada bab yang ke-181 mengatakan bahawa : “Perlu anda ketahui bahawa seorang murid hanya diperkenankan menjadikan seorang guru. Sebab hal itu lebih menolongnya dalam menempuh tarekat. Kami tidak pernah melihat seorang murid pun yang berjaya dalam menempuh tarekat di bawah bimbingan dua orang guru tarekat. Sebagaimana di alam ini tidak ada dia tuhan, tidak ada seorang mukallaf yang hidup di antara dua rasul dan tidak ada seorang perempuan yang menjadi isteri kepada dua orang suami, maka demikianlah pula seorang murid tidak boleh mengambil dua orang guru”.

Syeikh Abu Yazid Al-Bustami berkata : “Barangsiapa tidak memiliki seorang guru maka ia menyekutukan dalam tarekat. Sedangkan orang yang menyekutukan dalam tarekat, gurunya adalah syaitan”.

Beliau berkata lagi : “Sungguh aku telah mengambil tarekatku ini dari guruku seorang demi seorang”.

Cukup jelas bahawa para salafus soleh dari generasi Sahabat, tabi’en dan tabi’ tabi’en tidak mengikatkan diri dengan seorang guru tertentu tetapi ada yang memiliki seratus orang guru. Hal ini kerana mereka adalah orang-orang yang bersih dari kotoran dan kebodohan nafsu sehingga mereka dianggap orang yang sempurna sehingga tidak memerlukan kepada orang yang membimbing perjalanannya.

Tapi ketika ‘wabak penyakit’ ini semakin banyak dan hati-hati manusia perlu untuk disembuhkan, maka ulama-ulama tarekat memerintah para murid untuk mengikatkan diri dengan seorang guru agar keadaan spiritual murid tidak kacau dan perjalanan yang ditempuhnya tidak terlalu panjang.

Wallahu a’lam.

Sumber: Madrasah As-Saidiyyah

 

 

12/01/2016 Posted by | Tasauf | Leave a comment

KITA APABILA SAKIT AKAN MENGELOH. TETAPI TAHUKAH ANDA HIKMAHNYA DISEBALIK SAKIT ITU?

Apabila Allah SWT memberi kita sakit, ia adalah sesuai dengan daya tahan kita sebagai hamba-Nya, dan antara hikmahnya :

1) Sakit itu Zikrullah.
Mereka yang diuji dengan sakit lebih sering menyebut nama Allah berbanding di waktu sihatnya.

2) Sakit itu Istighfar.
Kita akan mudah teringat akan dosa kita ketika sakit sehingga mudah bibir untuk beristighfar memohon ampun.

3) Sakit itu Muhasabah.
Orang yang sakit akan lebih banyak waktu utk merenung diri dalam sepi dan menghitung bekal untuk dibawa apabila kembali ke rahmatullah.

4) Sakit itu Jihad.
Orang yang sakit tidak boleh menyerah kalah, diwajibkan untuk berikhtiar sedaya upaya agar cepat sembuh.

5) Sakit itu Ilmu.
Sakit akan membuat kita mencari ilmu spt belajar tentang khasiat herba, menghafal ayat syifa’, ruqiyyah dll sbg penawar dan pendinding dari sakit. Pengalamannya pula lebih menyediakan kita untuk mencorak hidup yg boleh mengelakkan berulangnya penyakit itu. Dan, berkongsi pengalaman ini dengan orang lain.

6) Sakit itu Nasihat.
Mereka yang sakit selalu suka menasihati yang sihat agar mjaga diri. Yang sihat pula menasihati yang sakit agar bersabar.

7) Sakit itu Silaturrahim
Ahli keluarga, sahabat dan jamaah yang jarang berjumpa akan datang menziarahi, penuh senyum, rindu mesra dan dengan buah tangan lagi.

8) Sakit itu Gugur Dosa.
Anggota badan yg sakit akan mendapat penyucian daripada dosa yg telah dilakukan.

9) Sakit itu Mustajab Doa.
Orang yang sakit mustajab doanya. Imam As-Suyuthi mengelilingi kota mencari orang yang sakit agar dapat mendoakannya.

10) Sakit itu Menyusahkan Syaitan.
Orang yang sakit apabila diajak maksiat tak mahu dan tak mampu, malah disesalinya.

11) Sakit itu sedikit tertawa dan banyak menangis.
Satu sikap keinsafan yang di sukai oleh Anbiya’ dan makhluk di langit.

12) Sakit meningkatkan kualiti ibadah.
Solat orang sakit lebih khusyuk terutama dalam rukuk dan sujudnya apabila ia banyak bertasbih dan beristghfar, berdoa n meminta ampun agar sakitnya segera sembuh.

13) Sakit itu memperbaiki akhlak.
Kesombongan terkikis. Sifat tamak dipaksa tunduk. Peribadi akan menjadi santun, lembut dan tawadhu’.
14) Sakit mengingatkan kita akan Mati
Membuatkan kita sentiasa beringat untuk lebih beramal dan beribadat.
Ayuh Zikir, Fikir, Syukur & Sabar.

Semoga kita mendapat rahmat dan keampunan daripada Allah s.w.t.

(Bahagian Dakwah, JAKIM)

08/12/2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

JANGAN MENZALIMI SESAMA MANUSIA

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sudah kami katakan sebelumnya, bahwa kekuatan MUHAMMAD dalam memegang teguh keadilan itu, bukanlah semata-mata karena berbangga-banggaan dengan kerendahan hati atau hanya bersenang-senang dengan kelezatan berbuat adil. Tidak! MUHAMMAD memegang teguh keadilan, karena penghargaannya terhadap keadilan itu sendiri.

Karena kesadarannya akan hakekat dan kedudukannya di tengah masyarakat sebagai bagian dari masyarakat, sebagai seorang yang sama dengan mereka. Maka sudah menjadi kewajiban beliau dan juga menjadi kewajiban semua orang untuk berlaku adil. Setiap penyimpangan dari neraca itu akan merusak dan mendatangkan bencana terhadap seluruh kehidupan. Beliau memegang teguh pada keadilan lebih dari siapapun. Karena beliau memang diciptakan untuk keadilan dan untuk itu pulalah beliau diutus.

MUHAMMAD punya pandangan yang unik tentang keadilan. Beliau tidak hanya menjadikan keadilan sebagai keutamaan manusia belaka. Malah keadilan itu diletakkannya di tempat yang tertinggi. Bahkan keadilan telah menjadi watak dan Akhlak Allah SWT. Dan merupakan metode yang telah diwajibkan bagi diri-NYA sendiri.
Dalam sebuah HADITS QUDSI Allah SWT berfirman:
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya telah AKU haramkan atas diri-KU perbuatan zhalim dan Aku jadikan ia diharamkan di antara kamu; maka janganlah kalian saling berbuat zhalim.” [1]

Maka jika MUHAMMAD mengetengahkan Tuhan-nya Yang Maha Kuasa melaksanakan kehendak-Nya, bahkan telah mengharamkan kezaliman pada diri-Nya, tentulah Dia memandang kezaliman itu suatu dosa yang tiada taranya di antara dosa-dosa umat manusia.

Sehubungan dengan itu, beliau saw banyak mengeluarkan ancaman dan peringatan keras terhadap kezaliman.

Beliau Saw bersabda:
“Jauhilah kezaliman, sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.

“Waspadalah terhadap do’a orang yang dizalimi. Sesungguhnya antara dia dengan Allah tidak ada tabir penyekat.” (HR. Mashabih Assunnah)

“Do’anya seorang yang dizalimi terkabul meskipun dia orang jahat dan kejahatannya menimpa dirinya sendiri.” (HR. Ahmad)

“Do’a orang yang teraniaya diangkat Allah menembus awan dan dibukakan pintu langit baginya, seraya Allah berfirman padanya; “Demi Keagungan-KU, Aku akan membelamu sampai kapan pun.”
“Waspadalah terhadap do’a orang yang teraniaya, karena do’anya naik ke langit seperti bunga api.”

Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi):
“Dengan keperkasaan dan keagungan-KU, AKU akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam waktu yang akan datang. AKU akan membalas terhadap orang yang melihat seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak menolongnya.” (HR. Ahmad)

Oleh sebab itu, maka WASPADALAH..! Janganlah sekali-kali berbuat zalim.

Menurut junjungan kita MUHAMMAD saw;
“kezaliman akan memakan keutamaan (kebaikan) si zalim seperti halnya api memakan sekam.”

MUHAMMAD Saw senantiasa melarang ummat manusia agar tidak berbuat zhalim antar sesama mereka sebab perbuatan zhalim diharamkan dan akibatnya amat fatal baik di dunia mau pun di akhirat. Dan karena Hari Kiamat itu merupakan suatu hari pengadilan semesta untuk menetapkan pahala dan dosa umat manusia seluruhnya, maka Rasulullah saw senantiasa menampilkan potret si zalim dengan segala keburukannya.
Pada hakekatnya, setiap orang akan mengalami kiamatnya sendiri-sendiri. Dan hukum qishash itu senantiasa terlaksana. Hari qishash itu tergantung dari Anda, dan itulah yang akan menampilkan kiamat Anda. Janganlah ada yang mencoba-coba berkata: “Mana mungkin ada Hari Kiamat?” Padahal orang itu sangat dekat dengan hari kiamatnya sendiri.

MUHAMMAD Saw bersabda, memperingatkan si zalim akan hari pembalasan:
“Waspadalah sungguh-sungguh terhadap kezaliman itu. Karena orang yang datang dengan kebaikan-kebaikannya di Hari Kiamat, dan ia mengira bahwa kebaikan-kebaikannya itu akan menyelamatkannya. Tiba-tiba tidak putus-putus datang pengaduan dari orang lain, yang mengadukan: “Ya Allah! Hamba-Mu itu telah melakukan kezaliman padaku.” Maka firman Allah: “Hapuskan (kurangkan) bagian pahala dari kebaikannya itu”. Dan begitulah seterusnya sampai tidak tersisa kebaikannya itu walau sedikit pun. Dan apabila sdh tidak tersisa lagi amal kebaikannya, maka dosa-dosa orang yang pernah dizaliminya, akan dibebankan pada dirinya.”

Tindakan qishash bagi kezaliman itu pasti terjadi dan secara tiba-tiba datangnya. Tentang hal ini Beliau saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menangguhkan (mengulur-ulur) azabnya terhadap orang zalim dan bila Dia mengazab-nya tidak akan luput (tidak akan di lepaskan lagi).” (HR. Muslim)

Kemudian Rasulullah membacakan doa dalam surat Hud ayat 102: Allah Ta’ala berfirman,
“Dan begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS Huud:102)

MUHAMMAD saw mengingatkan kepada kita semua tentang betapa buruknya perbuatan zalim itu, namun Beliau saw juga selalu mengingatkan kita tentang betapa luasnya kekuasaan dan ampunan Allah terhadap para hamba-Nya. Karena itu, bila sedang lupa hingga tergelincir kedalam perbuatan maksiat (menzalimi diri sendiri), maka hendaklah seorang Mukmin bersegera dalam melaksanakan taubat kepada Allah serta meminta maaf kepada saudara kita yang terzalimi, dan tidak menunda-nunda taubat, sebab kita tidak pernah mengetahui kapan ajal menjemput sehingga kita mati sebelum sempat bertaubat hingga menyebabkan kita memperoleh murka-Nya.

Beliau selalu memberikan harapan kepada kita agar senantiasa bersangka’an baik terhadap Allah, dan hendaknya tidak berputus asa dari mengharap rahmat-Nya serta meyakini sepenuhnya bahwa Dia pasti mengampuni sebesar apa pun dosa-dosa hamba-Nya. selama ia tidak berbuat syirik terhadap-Nya.

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri.” (QS Yuunus:44)

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt berfirman:
“ Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya ia hanyalah perbuatan-perbuatan kalian yang aku perhitungkan bagi kalian, kemudian AKU cukupkan buat kalian; barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya sendiri.” (HR.Muslim)

[Makna kata “Perbuatan zhalim”: Kezhaliman artinya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, yaitu melampaui batas; dan Makna “Aku cukupkan buat kalian”: adalah AKU membalas kalian berdasarkan perbuatan kalian baik kecil mau pun besar, yaitu di akhirat kelak.]

Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan Aku sekali-kali tidak menzhalimi hamba-hamba-Ku.” (QS Qaaf:29).
Sikap zalim dan bakhil (kikir) adalah akar dari kegelapan hati dan yang dapat menyebabkan pelakunya mendapatkan siksa yang pedih.

Maka dengan kasih sayangnya, MUHAMMAD berupaya untuk menghilangkan kezaliman dari hati manusia dengan peringatan yang tegas, agar kita tidak terjerumus dan mengalami kesengsaraan di hari kiamat kelak.

Rasulullah SAW bersabda,
“Takutlah kamu akan berbuat zalim! Karena perbuatan zalim itu menyebabkan kegelapan di hari Kiamat.” (HR.al-Bukhary dan Muslim)
“Jauhilah kekikiran, sesungguhnya kekikiran telah membinasakan (umat-umat) sebelum kamu, mereka saling membunuh dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan.” (HR. Bukhari)

Dalam sabdanya yang lain:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengulur-ulur bagi pelaku kezhaliman hingga bila Dia menyiksanya, Dia tidak akan membuatnya lolos (dapat menghindar lagi).” (HR.al-Bukhary)

“Barangsiapa menzalimi orang lain terhadap sejengkal lahan maka kelak dia akan dililit dengan tujuh petala bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

MUHAMMAD SAW sangat menentang segala bentuk kezaliman, dan karenanya, beliau senantiasa memperingatkan umatnya tentang balasan Allah terhadap orang-orang yang berbuat zalim dengan sabdanya dalam hadits-hadits berikut ini:

“Barangsiapa berjalan bersama seorang yang zalim untuk membantunya dan dia mengetahui bahwa orang itu zalim maka dia telah ke luar dari agama Islam”. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

“Kebaikan yang paling cepat mendapat ganjaran ialah kebajikan dan menyambung hubungan kekeluargaan, dan kejahatan yang paling cepat mendapat hukuman ialah kezaliman dan pemutusan hubungan kekeluargaan.” (HR. Ibnu Majah)

“Bila orang-orang melihat seorang yang zalim tapi mereka tidak mencegahnya dikhawatirkan Allah akan menimpakan hukuman terhadap mereka semua.” (HR. Abu Dawud)

Betapa indahnya hadis diatas.., yang merupakan sebagian kecil dari ribuan untaian kata-kata penuh hikmah, yang keluar dari lisan seorang insan suci nan mulia. seorang hamba dan utusan Allah, yang nota bene adalah seorang yang ummi (seorang yang tidak bisa membaca dan menulis), akan tetapi untaian mutiara hikmah yang telah disabdakannya. yang seluruhnya terhimpun dalam kitab-kitab hadits shahih yang menjadi rujukan ke-dua bagi ummat Islam (setelah al-Qur’an), sungguh telah melampaui kata-kata mutiara dari semua ahli hikmah yang pernah ada di muka bumi ini.

Subhanallah..

CATATAN KAKI
[1] Naskah hadits (Qudsi) selengkapnya:
“Wahai para hamba-KU, sesungguhnya telah AKU haramkan atas diri-KU perbuatan zhalim dan AKU jadikan ia diharamkan di antara kamu; maka janganlah kalian saling berbuat zhalim.
“Wahai para hamba-Ku, setiap kalian adalah sesat kecuali orang yang telah AKU beri petunjuk; maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya AKU beri kalian petunjuk.”
”Wahai para hamba-Ku, setiap kalian itu adalah lapar kecuali orang yang telah AKU beri makan; maka mintalah makan kepada-KU, niscaya AKU beri kalian makan.”
”Wahai para hamba-Ku, setiap kalian adalah telanjang kecuali orang yang telah AKU beri pakaian; maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya AKU beri kalian pakaian.”
”Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat kesalahan di malam dan siang hari sedangkan AKU mengampuni semua dosa; maka minta ampunlah kepada-Ku, niscaya AKU ampuni kalian.”
”Wahai para hamba-Ku sesungguhnya kalian tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada-KU sehingga kalian bisa membahayakan-KU dan tidak akan mampu menyampaikan manfa’at kepada-KU sehingga kalian bisa memberi manfa’at pada-KU.”
“Wahai para hamba-Ku, andaikata hati generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian sama seperti hati orang paling taqwa di antara kamu (mereka semua adalah ahli kebajikan dan takwa), maka ketaatanmu itu tidaklah menambah sesuatu pun dari Kekuasaan-KU.”
”Wahai para hamba-Ku, andaikata hati generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian sama seperti hati orang paling fajir (bejad) di antara kalian (mereka semua ahli maksiat dan bejad), maka semua itu, tidaklah mengurangi sesuatu pun dari kekuasaan-Ku.”
”Wahai para hamba-Ku, andaikata generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian berada di bumi yang satu (satu lokasi), lalu meminta kepada-Ku, lantas AKU kabulkan permintaan masing-masing mereka, maka hal itu tidaklah mengurangi apa yang ada di sisi-KU kecuali sebagaimana jarum bila dimasukkan ke dalam lautan.”
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya ia hanyalah perbuatan-perbuatan kalian yang aku perhitungkan bagi kalian kemudian AKU cukupkan buat kalian; barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji ALLAH dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya sendiri.”
(HR.Muslim)

Pesan-Pesan Hadits
Hadits ini merupakan hadits Qudsi, yaitu Hadits yang diriwayatkan Rasulullah SAW dari Rabb-nya.

Perbedaan antara Hadits Qudsi dan Al-Qur’an di antaranya adalah:
Bahwa al-Qur`an al-Kariim adalah mukjizat mulai dari lafazhnya hingga maknanya sedangkan Hadits Qudsi tidak memiliki kemukjizatan apa pun – Bahwa shalat tidak sah kecuali dengan al-Qur`an al-Kariim sedangkan Hadits Qudsi tidak sah untuk shalat – Bahwa al-Qur`an al-Kariim tidak boleh diriwayatkan dengan makna sementara Hadits Qudsi boleh.

Hadits tersebut menjelaskan bahwa Allah Ta’ala Maha Suci dari semua sifat kekurangan dan cela, di antaranya berbuat zhalim, di mana Dia berfirman, “Sesungguhnya telah Aku haramkan atas diri-Ku perbuatan zhalim.”

Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.
Amin.

**
Dipetik dari buku berjudul NABI MUHAMMAD JUGA MANUSIA (dengan penambahan seperlunya) karya: Khalid Muhammad Khalid.

06/11/2015 Posted by | Ibadah, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Penawar bagi Hati – Jauhi 3 Perkara | Nasbun Nurain

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani. (Hujurat:12)

Rasulullah saw juga telah bersabda yang bermaksud,“Berhati-hatilah kamu dengan berprasangka kerana sesungguhnya berprasangka itu adalah sebohong-bohong ucapan. dan janganlah kamu mengintip dan janganlah kamu saling dengki mendengki, dan janganlah kamu saling benci membenci, dan janganlah kamu saling jerumus menjerumuskan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara” (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

Jangan Berprasangka atau Sangka Buruk

Al-Hujurat [12] Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa

Walaupun luaran (perbuatan) itu asalnya daripada dalaman (hati), bersangka baiklah dengan orang lain. Ada juga manusia yang terpaksa melakukan kejahatan kerana terpaksa dan dia sendiri tidak menyukainya. Ada juga manusia yang menyembunyikan kebaikannya daripada pandangan mata manusia.

Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan ahli neraka pada pandangan mata manusia, padahal sebenarnya dia adalah ahli syurga. Dan sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan ahli syurga pada pandangan mata manusia, padahal dia sebenarnya adalah ahli neraka” (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

Janganlah Mengintip Untuk Mencari Kesalahan

Al-Hujurat [12] dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang…

Bahkan Islam melarang seseorang melihat atau memandang ke dalam rumah orang lain sebelum diizinkan. Dalam sebuah hadith Rasulullah s.a.w bersabda:Sesiapa yang mengintip ke dalam rumah sebelum diberi izin untuk masuk ke dalam, maka sesungguhnya dia tidak meminta izin (Hadith Riwayat Abu Daud).

Abu Hurairah r.a melaporkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, “Tidaklah kamu bersalah jika seseorang mengintip ka dalam rumahmu tanpa izin dan kamu memukulnya mengunakan batu dan mencederai matanya.” (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim).

Intipan yang dibenarkan hanyalah intipan oleh pihak yang menjaga keselamatan negeri atau negara.

Jauhi Daripada Mengumpat

Jauhilah kamu daripada mengumpat kerana dosa mengumpat itu lebih besar bahayanya daripada zina. Sesungguhnya seseorang lelaki itu terkadang dia berzina lalu bertaubat maka Allah menerima akan taubatnya. Dan sesungguhnya orang yang mengumpat itu tidak diampuni baginya sehingga dimaafkan oleh orang yang diumpatnya. (Diriwayatkan oleh Abu Asy-Syeikh dari Jabir r.a.)

Zina adalah dosa seorang manusia itu dengan Allah SWT dan terampun dengan bertaubat (melainkan zina yang dilakukan dengan isteri orang, maka perlu dimaafkan oleh si-suami). Mengumpat juga adalah satu dosa besar tetapi hanya orang yang diumpat sahaja boleh memaafkan dosa mengumpat itu. Kesan daripada perbuatan mengumpat adalah sangat buruk. Diantara contohnya ialah; boleh memusnahkan sesebuah rumah tangga atau merosakkan imej seseorang.

Mengumpat ialah menceritakan keburukan seseorang di belakangnya, walaupun perkara itu benar.

Salah seorang sahabat Nabi (saw) bertanya: “Apakah itu mengumpat?” Rasulullah (saw) menjawab: “Menyebut sesuatu mengenai saudaramu di belakangnya yang dia tidak suka.” Selanjutnya Sahabat itu bertanya: “Dan masihkah dikatakan mengumpat sekiranya apa yang disebutkan mengenainya itu benar terdapat padanya?” Rasulullah (saw) menjawab: “Dalam hal demikian (iaitu jika yang disebutkan itu memang benar) maka sebenarnya itulah mengumpat; tetapi jika apa yang disebutkan itu palsu, maka kamu telah memfitnahnya.

Mengumpat hanya dibenarkan sekiranya perlu untuk menyelamatkan seseorang daripada sesuatu penipuan atau kejahatan, namun kejahatan itu tidak boleh diceritakan secara terus-terang.

An-Nisaa [148]….Allah tidak suka kepada perkataan-perkataan buruk yang dikatakan dengan berterus-terang (untuk mendedahkan kejahatan orang); kecuali oleh orang yang dianiayakan. Dan (ingatlah) Allah sentiasa Mendengar, lagi Maha Mengetahui.

Hukum mengumpat itu haram melainkan pada 6 tempat yang diharuskan mengumpat padanya iaitu :

1. Orang yang mengadu pada penguasa tentang kezaliman seseorang dengan menyebut nama orang zalim itu dan perbuatannya bertujuan untuk menghentikan kezalimannya

2. Orang meminta tolong bagi menghilang maksiat pada sesuatu tempat kepada yang berkemampuan dengan menyebut nama pelaku maksiat dan kesalahannya bertujuan untuk menghentikan maksiat itu

3.Orang yang meminta fatwa daripada yang berkelayakan tentang sesuatu masalah yang terpaksa menyebut nama dan kelakuan seperti seorang isteri bertanya tentang hal suaminya dan sikapnya yang buruk

4. Orang yang menakutkan orang Islam lain tentang kejahatan seseorang supaya terselamat daripada keburukan orang itu seperti menyebut kelakuan jahat seseorang perempuan yang diingini untuk dikahwini bila ditanya agar bakal suaminya tidak tertipu dan selamat

5. Menyebut nama seseorang yang masyhur dengan nama buruk seperti Amin Tempang dan sebagainya

6.Menyebut nama orang yang menzahirkan kejahatannya bertujuan supaya orang lain berhati-hati dengannya dan juga agar dia menghentikan kesalahannya itu.

Sumber: Tuan Guru Maulana

21/10/2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Tasawwuf, Tariqah & Sufi

Akhir-akhir ini sering kita mendengar tomahan-tomahan daripada beberapa pihak yang cuba mengaitkan tasawwuf, tariqah dan sufi sebagai sebahagian daripada ajaran fahaman syiah tanpa mengemukakan bukti-bukti yang nyata.

Ingin penulis menukil kata-kata Tuan Guru Syeikh Nuruddin al Banjari hafizahullah :
(Hanya segelintir sahaja yang mampu meneliti secara adil. Bahkan sikap keterlaluan mereka, telah sanggup menjadikan tasawwuf sebahagian sifat yang tercela dan dicaci. Dengan sebabnya boleh menggugurkan sifat-sifat tercela dan dicaci. Dengan sebabnya boleh menggugurkan kelayakan seseorang untuk menjadi saksi dan menghilangkan sifat ‘adalah (tidak fasiq). Sehingga dik “Apabila dipersoalkan, kenapa? Maka dijawabnya : “Kerana beliau seorang sufi.”

Apa yang pelik dan menghairankan ialah apabila kita perhatikan terdapat segelintir golongan yang mencela tasawwuf, jelas menentang, malah bermusuhan terhadap pengamalnya dan juga yang sering mengingkarinya, mereka ini telah melakukan perkara yang dilakukan oleh ahli Tasawwuf. Setelah itu tanpa segan silu telah memetik ungkapan kata-kata tokoh-tokoh sufi di dalam ucapan dan khutbah mereka di atas mimbar Jumaat serta halakah pengajian. Ada yang penuh bangga dan angkuh berucap : “Berkata al Fudhail bin Iyadh, berkata al-Junaid, berkata Hasaan al-Basri, berkata Sahl al-Tustari, berkata al-Muhasibi dan berkata Bishru al-Hafi.

Kesemua mereka itu merupakan imam-imam, paksi, tiang, tonggak dan binaan tasawuf. Kitab-kitab tasawuf dipenuhi dengan ucapan-uacapan, kisah-kisah, moral dan kesempurnaan mereka. Saya tidak pasti adakah dia tidak mengetahui atau sengaja berpura-pura tidak tahu, buta atau sengaja memejamkan mata?)

Perbezaan Tariqah dengan Tasawwuf

Walaupun kedua-dua istilah, tariqah dan tasawwuf itu sama pengertian atau maksudnya, namun jika diteliti secara terperinci, maka kita akan dapati masih ada juga sedikit perbezaan antara kedua-duanya.

Misalnya, apabila kita mahu menjelaskan sesuatu aliran dhikr, maka biasanya kita akan menyebut : Tariqah Ahmadiyah atau Tariqah Qadiriyyah atau Tariqah Naqsyabandiyyah atau sebagainya lagi. Kita tidak pernah mendengar orang menyebut atau melihat orang menuliskan : Tasawwuf Ahmadiyyah atau Tasawwuf Qadariyyah atau Tasawwuf Naqsyabandiyyah atau sebagainya lagi. Apa yang pernah kita dengar dan temui dalam tulisan-tulisan ialah : Tasawwuf Salafi, Tasawwuf Falsafi atau seumpamanya lagi. Keadaan ini membuktikan adanya perbezaan sedikit antara tariqah dengan tasawwuf.

Definisi tariqah oleh Maulana Zakariyya al Kandahlawi rahimahullah di dalam kitabnya al-Syari’ah wa al-Tariqah menjelaskan bahawa tariqah itu ialah jalan yang boleh menyampaikan seseorang mukmin ke darjat ihsan itu ialah tasawwuf, maka amat nyatalah bagi kita bahawa tariqah itu ialah jalan mujahadahnya, sedangkan tasawwuf itu pula adalah natijahnya atau hasil mujahadah itu sendiri.

Jadi, dengan mempelajari ilmu tasawwuf kita dapat mengenal penyakit-penyakit mazmumah dan mengubati penyakit-penyakit tersebut dengan ubatnya iaitu sifat-sifat mahmudah. Penyakit-penyakit ini tidak dapat dihukum dengan hukum Feqah kerana penyakit ini tempatnya di hati manakala hukum Feqah itu bersifat fi’liyah (perbuatan/perlakuan) seharian kita baik dalam bab ibadat mahupun muamalat.

Golongan sufi.

Siapakah golongan sufi yang sering disalahfahami oleh golongan yang menolak ajaran tasawuf ini?

Dipetik dari kitab al Ghunyah Lithalibi Thariq al-Haq karangan Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah :
Istilah sufi sendiri menurut asal-usulnya berasal dari kata “al-mushafah” yang bermaksud hamba yang dibersihkan oleh Allah. Kerana itulah sufi didefinisikan sebagai orang yang bersih (suci) dari jebakan-jebakan nafsu, terhindar dari cela-cela diri, menempuh jalan terpuji, istiqamah menjalani kenyataan hakiki (haqaiq) dan tak merasakan ketenteraman hati dengan seorang pun dari kalangan makhluk (khalaiq). Ada juga yang mendefinisikan tasawwuf dengan “berkata dan berlaku benar dengan Allah dan berbudi baik dengan makhluk”.

Manakala orang awam seperti kita yang menempuh jalan salik (jalan yang pernah ditempuh oleh para sufi) disebut sebagai “Mutashawwif iaitu orang yang berusaha menjadi sufi. Kesimpulannya, para sufi itu terdiri dari golongan wali-wali Allah.

Apa kaitannya Tasawwuf, Tariqah dan Sufi dengan ajaran Syiah?

Ini adalah satu dakwaan yang pelik kerana Ajaran Syiah itu salah satu daripada pecahan-pecahan firqah yang disebut dalam sebuah hadith Baginda salallahu alaihi wasallam yang bermaksud :
“Demi Tuhan yang memgang jiwa Muhammad ditanganNya, akan berfirqah umatKu sebanyak 73 golongan, yang satu masuk syurga dan yang lain masuk neraka.”
Bertanya para sahabat : “ Siapakah golongan yang tidak masuk neraka itu ya Rasulullah?”
Nabi menjawab : “Ahlussunnah wal Jamaah”
(Hadith Riwayat Imam Thabrani)

Setelah dikaji oleh para ulama Usuluddin, pembahagian 73 itu ialah seperti berikut secara ijma’ :
Syiah 22 aliran
Khawarij 20 aliran
Muktazilah 20 aliran
Murjiah 5 aliran
Najariah 3 aliran
Jabariah 1 aliran
Musyabihah 1 aliran
Ahlussunnah wal Jamaah 1 aliran.

Kita semua sedia maklum bahawa semua tokoh-tokoh sufi adalah berfahaman Ahlussunah wal Jamaah. Erti Ahlussunnah ialah penganut Sunnah Nabi dan erti wal Jamaah ialah penganut i’tiqad sebagai i’tiqad Jamaah sahabat-sahabat Nabi. I’tiqad Nabi dan para sahabat telah lama termaktub dalam Al Quran dan dalam Sunnah Rasul secara terpisah-pisah, belum tersusun secara rapi dan teratur, kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh ulama Usuluddin yang besar iaitu, Syeikh Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari (260-324H) kemudian orang menamakan kaum pegangan ahlussunnah wal Jamaah sebagai Asya’irah.

Di dalam kitab “Ihtihaf Sadatul Muttaqin” karangan Imam Muhammad bin Muhammad al Husni az Zabidi, iaitu kitab syarah dari kitab “Ihya Ulumuddin” karangan Imam Ghazali yang bermaksud ;
“Apabila disebut kaum Ahlussunnah wal Jamaah, maka maksudnya ialah golongan yang mengikut fahaman Asyari dan fahaman Abu Mansur al Maturidi.”

Ciri-ciri ringkas fahaman Syiah

1. Mengatakan Sayyidina Ali radiyallahuanhu adalah khalifah yang sepatutnya dilantik selepas kewafatan Rasulullah salallhu alaihi wasslam dengan bersandarkan hadith “Ghadir Khum.”

2. Menggantikan nama ‘khalifah’ kepada ‘Imam’.. Ahlussunnah wal jamaah merujuk Imam untuk para ulama muktabar.

3. Pengertian ‘Ahli Bait’ bagi kaum SYIAH ialah Siti Fatimah, saidina Ali, saidina Hasan & Husein, menantu dan cucu cucu Nabi. Isteri-isteri Nabi s.a.w menurut mereka bukan Ahli Bait (keluarga baginda s.a.w).

4. Orang berfahaman SYIAH percaya kepada silsilah 12 Imam dan imam yang ke-12 ialah Imam Mahdi. Menurut kepercayaan mereka, Imam yang ke 12 tidak wafat tapi melainkan lenyap bersembunyi di suatu tempat persembunyian di sebuah rumah di kota Samara’ (Iraq). Hingga kini mereka yang di Samara’ berkumpul tiap malam di rumah tersebut di depan lubang yang ada dalam rumah itu dan memanggil-memanggil agar Imam itu keluar.

5. Pandangan sebahagian kaum SYIAH terhadap Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar & Sayyidina Uthman radiyallahu anhu adalah perompak/perampas terkutuk bahkan ada yang mengkafirkan mereka. Nauzubillah. Walaupun SYIAH aliran Zaidiyyah tidak mengutuk mereka, fahaman tersebut tergelincir daripada aqidah yang haq (benar).

6. Persoalan Imam yang lenyap adalah perkara pokok dalam fahaman SYIAH. Fahaman Imamah percaya, bahawa Imam yang ke-12 telah lenyap dan akan muncul kembali. Syiah Ismailiyah pula berkeyakinan Imamnya yang ke-7 yakni Ismail Bib Jaafar Shadiq telah lenyap & akan lahir pada akhir zaman. Manakala Syiah lain beranggapan yang imam yang ke-5 akan muncul pada akhir zaman.

7. Antara aliran-aliran Syiah ada terdapat Sabaiyah yakni aliran Abdullah bin Saba’. Dia pernah mengatakan bahawa dalam kitab Taurat, setiap Nabi mempunyai Washi (semacam putera mahkota) dan Sayyidina Ali ialah putera mahkota dari Nabi Muhammad s.a.w.

Menurut dia lagi, Sayyidina Ali diangkat ke langit ketika terbunuh dan yang terbunuh itu bukan Saiyyidina Ali. Akan tetapi hanyalah orang yang menyerupai beliau sebagaimana cerita Nabi Isa a.s. Manakala kononnya suara-suara guruh adalah suara Sayyidina Ali yang marah dengan tindak tanduk Sayyidina Muawiyah. Mereka akan mengucap ‘Assalamualaikum ya Amirul Mukminin’ apabila mendengar bunyi guruh.

8. Sebahgian daripada mereka percaya bahawa ruh Imam-imam itu turun-menurun dari Imam Ali hingga ke imam ke-12 sehingga roh menjadi sangat suci.

9. Fahaman Syiah Beri’tiqad (percaya / berpegang) dengan at-Taqiyah, yakni menyembunyikan

10. Tidak menerima Ijma’ kerana bagi mereka membenarkan ijma bermaksud mendengar pendapat orang diluar faham Syiah. Fahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah menerima qias & ijma’ sebagai sumber hukum selepas al-Quran & Sunnah.

11. Nikah Muta’ah adalah halal menurut fahaman Syiah. Menurut para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, pernikahan muta’ah adalah tidak sah. Maka bagaimana mereka mengaku mereka adalah Ahlul Bait (keluarga baginda Nabi Muhammad s.aw) sedangkan nasab mereka putus kerana pernikahan yang tidak sah?

Inilah fahaman syiah yang perlu diketahui serba sedikit secara ringkas agar kita menjauhi fahaman ini.

Keterangan yang keliru : Fahaman ini bukan diasaskan oleh Sayyidina Ali radiyallahu anhu. Selain daripada itu, ada orientalis menerangkan bahawa fahaman syiah itu iallah fahaman yang mencintai saiyidina Ali atau golongan yang mencintai ahlul bait Rasulullah. Ia satu keterangan yang sangat keliru kerana Ahlus sunnah wal Jamaah dan seluruh umat islam mencintai ahlul bait khususnya sayidina Ali radiyallahu anhu.

Kesimpulannya, tuduhan mengaitkan tasawwuf, tariqah dan sufi dengan ajaran syiah merupakan satu tuduhan yang bersifat terburu-buru tanpa meneliti dengan adil yakni bertanya atau merujuk terlebih dahulu kepada ahlinya sendiri. Ajaran ini sudah ada semenjak dari zaman Rasulullah salallahu alaihi wasallam, tinggal lagi ia tidak diberi nama tasawwuf sebagaimana ilmu-ilmu yang lain seperti feqah, usulluddin, ilmu tajwid, ilmu nahu dan banyak lagi untuk dinyatakan. Wallahua’lam ,

Oleh ,

Ust Uthman Daud
— with Ahyarrudin Yusof

07/10/2015 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

LARANGAN NAMIMAH (BERGOSSIP/MENYEBAR KHABAR ANGIN/MENGADU DOMBA)

image

Allah berfirman yang bermaksud:
“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa”.
(Al-Qalam: 10-12)

Di antara bahaya lisan yang tak boleh dihiraukan adalah namimah, atau dikenal dengan istilah mengadu domba. Namimah ini sama dengan rasa benci dan permusuhan. Mungkin sebahagian dari kita yang mengetahui bahaya namimah akan mengatakan, “Ah, saya tak mungkin berbuat demikian…” Namun, jika kita tidak benar-benar menjaga hati dan lisan ini, kita akan mudah tergelincir. Apalagi ketika rasa benci dan hasad dengki telah memenuhi hati. Bahkan, saat kita menjaga lisan ini dari  namimah, tanpa disedari kita terpengaruh oleh namimah  yang dilakukan seseorang.

Jangan pernah ada rasa tidak suka atau rasa dengki kita kepada seseorang yang menjadikan kita berlaku jahat dan berlaku tidak adil kepadanya, termasuk berbuat namîmah. Sebab, betapa banyak perbuatan  namimah yang terjadi kerana timbulnya rasa dengki di hati. Apalagi kepada saudara sesama Islam, hendaknya kita tidak menyimpan rasa dengki. Dengki dan mengadu domba adalah akhlak tercela yang dibenci Allah kerana boleh menimbulkan permusuhan, sedangkan Islam memerintahkan agar umatnya bersaudara dan bersatu seperti bangunan yang kukuh.

Nabi SAW bersabda:
“Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bermusuhan, dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain, dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara”.
(Hadith Riwayat Muslim)

Nabi SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

“Tidak akan masuk surga, orang yang qattat (yakni ahli namimah)”.
(Hadith Riwayat Al-Bukhari dari Hudzaifah)

Berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tak berguna, apatah lagi dari perkataan yang menyebabkan saudara kita rasa disakiti dan dizalimi. Bukankah mulut seorang mukmin tak akan berkata kecuali yang baik.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang rugi di akhirat disebabkan tidak menjaga lisan.

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku, dan kejahatan maniku.

Sumber

26/08/2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

LAGI JAWAPAN ILMIAH UNTUK ISU BERTEMU NABI S.A.W (YAQAZAH) BAGI YANG INGIN MEMAHAMI

 

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merupakan manhaj sederhana yang tidak sama dengan fahaman yang ghulluw mudah …menyesat-nyesatkan, mengkafir dan mensyirikkan saudara seIslam.

Bahkan apabila timbul suatu isu yang baharu berkaitan hukum hakam pastinya akan diperjelaskan setiap satunya dengan perincian yang jelas. Bukan terus jatuh hukum secara borong dan sembrono. Amat malang sekali dalam isu yaqazah yang ada sandaran daripada hadith sahih hukum batil dan sesat terus dijatuhkan memberikan implikasi yang besar :

1. Ia membawa kepada penafian hadith sahih yang menjadi sandaran kepada berlakunya perkara ini.

2. Ia membawa kepada penafian berlakunya karomah yang menjadi asas aqidah umat Islam.

3. Membawa kepada menyesatkan secara langsung ramai ulamak Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang mengiktiraf berlakunya yaqazah kepada para wali Allah.

Kekeliruan Tentang Bertemu Nabi SAW Secara Jaga

نحمد الله العظيم، ونصلّي ونسلّم على رسوله الكريم؛

Perkara khilaf seumpama ini, jika tidak disertai dengan nada ‘keras’, tidak perlu untuk diperpanjang-panjangkan lagi. Namun, jika sudah menggunakan nada ‘keras’ seperti; “membuka pintu kefasadan yang besar”, “membawa kecelaruan dalam amalan agama”, “memusnahkan rujukan penting umat Islam”, “perlu dibendung kerana membawa kemusnahan kepada masyarakat Islam” dan “menjauhkan mereka dari ajaran Nabi s.a.w.”, maka menurut hemat saya kekeliruan-kekeliruan seumpama ini wajar diperjelaskan. [*Saya tidak mahu menyebut siapa dan dari mana sumber kekeliruan ini kerana pada saya ia tidak perlu]

1. Kekeliruan: Seseorang tidak boleh bertemu secara sedar (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. kerana seseorang yang mati tidak lagi boleh bertemu dengan orang yang hidup secara sedar.

Jawapan: Benar, dalam hal keadaan biasa seseorang tidak boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. Tetapi, sebagai suatu karamah seseorang yang soleh boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. Hukumnya adalah harus dan mungkin, tidak mustahil.

Malah secara praktis ia memang berlaku kepada sebahagian wali-wali Allah Taala dan orang-orang yang soleh. Maka tidak harus bagi kita menuduh mereka berbohong atau berdusta dalam dakwaan berkenaan. Melainkan jika kita mempunyai bukti kukuh tentang pembohongan atau pendustaan tersebut.

Antara mereka ialah; Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani, Syeikh Abu al-Hasan al-Syazili, Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi, Syeikhul-Akbar Muhyiddin Ibn al-‘Arabi, Syeikh Khalifah bin Musa, Syeikh Abu al-‘Abbas al Mursi (w. 686H), Syeikh Abu ‘Abdillah al-Qurasyi, Syeikh Kamaluddin al-Adfawi, Syeikh ‘Ali al-Wafa’i, Syeikh ‘Abd al-Rahim al-Qinawi, Syeikh Abu Madyan al-Maghribi, al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti, Syeikh ‘Ali al-Khawwas, Syeikh Ibrahim al-Matbuli, Imam Abu al-‘Abbas al-Qastallani, Syeikh Abu al-Su‘ud ibn Abi al-‘Asya’ir, Syeikh Ibrahim al-Dusuqi, Sayyid Nuruddin al-Iji, Syeikh Ahmad al-Zawawi, Syeikh Mahmud al-Kurdi, Syeikh Ahmad bin Thabit al-Maghribi, Imam al-Sya‘rani, Syeikh Abu al-Mawahib al-Syazili, Syeikh Nuruddin al-Syuni, al-Habib ‘Umar bin ‘Abdul Rahman al-‘Attas (penyusun Ratibul ‘Attas), Sayyidi ‘Abd al-‘Aziz al-Dabbagh, Syeikh Muhammad bin Abi al-Hasan al-Bakri, Sayyidi Ahmad bin Idris, Syeikh Ahmad al-Tijani dan lain-lain.

Apa dalilnya ?

Antara dalilnya adalah zahir hadis berikut yang menunjukkan seseorang yang soleh boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w., tetapi dengan syarat mestilah pernah bertemu dahulu secara mimpi (ru’ya) dengan baginda s.a.w. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

« من رآني في المنام فسيراني في اليقظة، ولا يتمثل الشيطان بي» “Sesiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka dia akan melihatku secara yaqazah (di dalam keadaan jaga), kerana syaitan tidak boleh menyerupaiku”. [Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad. Lafaznya dari al-Bukhari]

Siapakah Ulamak Yang Mengiktiraf Berlakunya YAQAZAH ?

Antara ulama yang mengatakan atau
mengiktiraf kemungkinan boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. ialah:

1. Imam Ibn Abi Jamrah al-Maliki dalam Bahjah al-Nufus. 2. Al-‘Allamah Ahmad al-Nafrawi al-Maliki dalam Syarh Risalah Ibn Abi Zayd. 3. al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari. 4. al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti dalam Tanwir al-Halak fi Imkan Ru’yah an-Nabi wa al-Malak. 5. Imam al-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim. 6. Imam al-Ghazali dalam al-Munqiz min al-Dhalal. 7. Imam Syihabuddin al-Qarafi, 8. Imam ‘Afif al-Din al-Yafi‘i al-Syafi‘i dalam (روض الرياحين). 9. Al-‘Allamah Ibn al-Haj al-Maliki dalam al-Madkhal. 10. Al-Qadhi Ibnu al-‘Arabi al-Maliki dalam kitabnya (قانون التأويل). 11. Imam Ibn ‘Ata’illah al-Sakandari (w. 709H) dalam kitab Lata’if al-Minan. 12. Al-Qadhi Syaraf al-Din al-Barizi dalam (توثيق عرى الإيمان). 13. Imam Tajuddin al-Subki. 14. Imam al-Qurtubi dalam (التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة). 15. Al-‘Allamah Ibn Battal al-Maliki 16. Al-‘Allamah Ibn al-Tin 17. Imam ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam dalam al-Qawa’id al-Kubra. 18. Al-‘Allamah Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Syama’il. 19. Al-Qadhi Ibn al-Munayyir. 20. Imam Ibn Daqiq al-‘Id. 21. Imam ‘Abd al-Wahhab al-Sya‘rani dalam beberapa kitabnya. 22. Imam Ibn Hajar al-Haytami al-Makki dalam al-Fatawa al-Hadithiyyah. 23. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ra’uf al-Munawi dalam Faydh al-Qadir. 24. Syeikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdullah al-‘Idrus (w. 1038H) dalam kitabnya al-Nurus Safir ‘an Akhbaril Qarnil ‘Asyir. 25. Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi dalam al-Mufhim. 26. Imam al-Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah. 27. Imam al-Baqillani. 28. Al-‘Allamah Sadruddin al-Qunawi dalam Syarh al-Arba‘in. 29. Al-‘Allamah Burhanuddin al-Biqa’i dalam al-Hawi. 30. Al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki. 31. Al-‘Allamah al-Maziri. 32. Al-‘Allamah Nuruddin al-Iji. 33. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ghani al-Nabulsi dalam Syarh Salawat al-Jaylani. 34. Syeikh Ahmad ibn ‘Ajibah al-Hasani (w. 1224H) dalam al-Futuhat al-Ilahiyyah. 35. Al-‘Allamah Syeikh Ibn ‘Allan al-Siddiqi. 36. Al-‘Allamah Najmuddin al-Ghazi dalam kitabnya al-Kawakib al-Sa’irah. 37. Imam Syah Waliy Allah al-Dihlawi dalam al-Durr al-Thamin. 38. Al-‘Allamah al-Alusi dalam tafsir Ruh al-Ma’ani. 39. Sayyid ‘Abdul Rahman al-‘Idrus dalam kitab Syarh Salawat al-Badawi. 40. Syeikh ‘Ali al-Ajhuri al-Maliki dalam al-Nur al-Wahhaj. 41. Syeikh Muhammad al-Khalili dalam al-Fatawa. 42. Syeikh ‘Abdullah Sirajuddin al-Halabi dalam al-Solat ‘ala al-Nabiy. 43. Al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani dalam Sa‘adah al-Darayn, Syawahidul Haq dan Jami‘ Karamatil Auliya’. 44. Syeikh Badi‘ al-Zaman Sa‘id al-Nursi. 45. Syeikh Ibrahim al-Bajuri dalam Syarh al-Syama’il. 46. Syeikh Muhammad Hasanain Makhluf. 47. Syeikh Abu al-Qasim Muhammad al-Hafnawi dalam Ta’rif al-Khalaf. 48. Al-‘Allamah Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, Syeikhul Azhar. 49. Al-‘Allamah Sayyid ‘Abdullah al-Siddiq al-Ghumari dalam kitabnya Fadha’ilun Nabi SAW. 50. Al-‘Allamah Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah. 51. Al-‘Allamah Dr. Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buti. 52. Al-Allamah Dr. ‘Ali Jum‘ah, Mufti Mesir dalam al-Bayan. 53. Dr. ‘Umar ‘Abdullah Kamil, 54. Dr. Mahmud al-Zayn. 55. Datuk Seri Maharaja Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz, Mufti Brunei. Dan ramai lagi jika diperincikan secara detil.

2. Kekeliruan: Iktikad seperti ini membuka pintu kefasadan yang besar dan seterusnya membawa kecelaruan dalam amalan agama. Ini kerana, seseorang yang telah berjumpa Nabi s.a.w. seterusnya akan mendakwa ajaran-ajaran tambahan yang diberikan oleh baginda s.a.w. kepadanya.

Jawapan:

Belum ada orang mukmin soleh yang telah berjumpa Nabi s.a.w. mendakwa membawa ajaran-ajaran tambahan yang diberikan oleh baginda s.a.w. kepadanya, dalam erti kata, ajaran-ajaran tambahan yang tidak ada asalnya dalam al-Quran mahupun hadis. Kesemua yang dinyatakan sekiranya betul, hanyalah berbentuk petunjuk dan nasihat yang tidak lari dari ruang lingkup syarak, atau mempunyai asalnya daripada al-Quran dan hadis.

Kata al-‘Allamah al-Muhaddith Syeikh Muhammad al-Hafiz al-Tijani (w.
1398H):

“Kami tidak beriktikad bahawa di sana – selepas Rasulullah SAW – terdapat suatu syariat baru dalam apa jua bentuk sekalipun. Dan apa yang dibawa oleh baginda SAW mustahil untuk dimansuh sebahagian daripadanya, atau ditambah sesuatu terhadapnya.

Sesiapa yang mendakwa sedemikian, maka dia adalah kafir terkeluar daripada agama Islam. Sesungguhnya kami, meskipun kami berpendapat harus seorang wali itu melihat Rasulullah SAW dalam keadaan jaga, tetapi kami menganggap hukumnya adalah sama seperti hukum mimpi tidur yang benar. Tidak dapat dipegang kecuali atas apa yang menepati syariatnya SAW. Penyaksian-penyaksian para wali itu bukanlah suatu hujah, tetapi yang menjadi hujah adalah syariat Muhammad SAW. Adapun penyaksian-penyaksian tersebut, hanyalah berita-berita gembira (busyra) yang terikat dengan syariat baginda yang mulia; apa yang diterima olehnya kami juga menerimanya dan apa yang tidak diterima olehnya, maka mazhab kami adalah bersangka baik padanya.

Maka kami hukumkannya seperti hukum mimpi yang tertakwil. Kita tidak ragu lagi bahawa kebanyakan mimpi itu perlu kepada takwil/tafsir. Namun, kami memilih bersangka baik kerana seorang mukmin yang bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah SWT, dan ia sayang terhadap agamanya, serta patuh mengikutinya, kami menolak bahawa ia sengaja berdusta ke atas Rasulullah SAW. Keadaan berjaga dalam perkara ini adalah sama seperti keadaan tidur, sedang dia membaca sabdaan baginda SAW: “Sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempah tempat duduknya daripada api neraka”. – tamat kata-kata Syeikh Muhammad al-Hafiz al-Tijani

3. Kekeliruan: Dengan itu, segala hadis yang telah dikumpul oleh para ulamak yang menjadi tonggak sandaran hukum dan panduan bagi umat Islam sepanjang zaman sudah tidak lagi diperlukan. Ini kerana sudah ada sumber hadis lain yang lebih dekat kepada baginda.

Jawapan: Kekeliruan ini hanya pendapat akal dan khayalan semata-mata yang tidak berpijak kepada realiti yang berlaku dalam dunia kerohanian ahli-ahli sufi yang hak. Tiada siapa dari kalangan wali-wali Allah Taala dan orang-orang soleh ini mengatakan segala hadis yang telah dikumpul oleh para ulama yang menjadi tonggak sandaran hukum dan panduan bagi umat Islam sepanjang zaman sudah tidak lagi diperlukan kerana sudah ada sumber hadis lain yang lebih dekat kepada baginda. Pada saya, kekeliruan kerana berkhayal ini disebabkan kerana tidak cukup menelaah, membaca dan memahami.

4. Kekeliruan: Setelah situasi ini wujud maka banyaklah amalan-amalan yang boleh ditambah dan diwujudkan berdasarkan arahan langsung daripada Rasulullah kepada guru atau orang yang mencapai darjat menemui Rasul s.a.w.

Jawapan:

Sudah ratusan tahun isu bertemu secara sedar (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. ini dibincangkan oleh para ulama. Namun, hakikatnya tiada langsung akidah baru atau hukum-hakam baru yang didakwa oleh orang-orang soleh dan wali-wali Allah Taala yang pernah bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Kebanyakannya jika betul adalah berkaitan zikir, doa dan selawat. Dan kesemua itu pula tidak terkeluar dari dalil-dalil dan perintah-perintah syarak yang umum mengenainya. Bahkan menurut ramai ulama, masalah-masalah yang khusus berkaitan zikir dan doa ini pintu perbahasannya adalah lebih luas, tidak sepertimana amalan-amalan ibadah lain, selamamana ia tidak melanggar batas-batas syarak. Jika benar ada penerimaan sesuatu secara yaqazah, maka hukumnya adalah seumpama hukum apa yang diperolehi daripada kasyaf, ilham dan mimpi yang benar. Mesti ditimbang dengan neraca syarak.

Cuba perhatikan kata-kata Syeikh Muhammad al-Hafiz al-Tijani tadi: “Meskipun kami berpendapat harus seorang wali itu melihat Rasulullah SAW dalam keadaan jaga, tetapi kami menganggap hukumnya adalah sama seperti hukum mimpi tidur yang benar. Tidak dapat dipegang kecuali atas apa yang menepati syariatnya SAW”.

5. Kekeliruan: Hadis adalah tonggak kedua agama Islam, apabila tonggak ini telah berjaya dicerobohi, maka panduan umat Islam akan menjadi goyah dan berkecamuk. Percaya baha
wa seseorang boleh menerima taklimat terus dari Nabi s.a.w akan memusnahkan salah satu rujukan penting umat Islam yang diberitahu sendiri oleh Rasulullah s.a.w iaitu, kitabullah dan sunahnya.

Jawapan:

Percaya bahawa seorang wali atau orang soleh boleh menerima taklimat terus dari Nabi s.a.w tidak akan memusnahkan institusi hadis yang sudah sedia ada. Jika benar mereka bertemu secara sedar (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w., maka adalah amat MUSTAHIL baginda s.a.w. akan menyuruh kepada perkara-perkara yang akan memansuhkan atau merosakkan syariatnya sendiri. Tidak dapat diterima dek akal bahawa Nabi s.a.w. akan mengkucar-kacirkan syariat yang telah dibangunkan dengan titik peluh dan darah dagingnya sendiri. Apa yang dikhayalkan itu tidak akan berlaku selama-lamanya kerana para wali atau orang-orang soleh tersebut adalah golongan yang amat takut kepada Allah SWT, sangat cinta kepada baginda Nabi s.a.w., terlalu sayang dengan syariat baginda s.a.w., dan begitu kasih kepada umat baginda s.a.w. Apakah dapat diterima akal, mereka ini berusaha untuk merosakkan syariat baginda s.a.w.dan menyesatkan umatnya??

Seolah-olah mereka tidak pernah dengar hadis baginda Nabi s.a.w.: “Sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempah tempat duduknya daripada api neraka”. Jangan terlalu berprasangka buruk kepada ahli-ahli sufi seolah-olah mereka semua orang yang bodoh, tidak mengerti syariat dan akan menerima secara membuta tuli siapa saja yang mendakwa bertemu dengan Nabi s.a.w., walaupun dari orang yang jahil. Jika ada ahli sufi yang menyeleweng, maka sandarkan kesalahan itu kepadanya sahaja, bukan kepada semua golongan ahli sufi.

6. Kekeliruan: Para ulamak silam antaranya Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud Ahmad dan ramai lagi, berjuang hingga berjaya menjadikan sumber rujukan Islam kedua ini terpelihara dari dicampur adukkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Jika ada orang yang mengaku menerima taklimat dari baginda tetapi tidak disandarkan kepada sumber yang telah dikumpulkan oleh ulamak silam maka dakwaan itu dianggap salah dan pembohongan.

Jawapan:

Rangkap akhir di atas dapat difahami sebaliknya begini; Jika ada orang yang mengaku menerima taklimat dari baginda dan disandarkan kepada sumber yang telah dikumpulkan oleh ulamak silam maka dakwaan itu dianggap benar. Alhamdulillah, ada sedikit kemuafakatan. Cubalah belek contohnya, kitab al-Durr al-Thamin fi Mubasysyarat al-Nabi al-Amin SAW susunan Imam al-Mujaddid Syah Wali Allah al-Dihlawi yang menghimpunkan 40 peristiwa bertemu Rasulullah s.a.w. secara mimpi dan jaga. Perhati dan fahamkan, apakah ada yang tidak bersandarkan kepada syariat baginda s.a.w.?

7. Kekeliruan: Sebarang ajaran sufi yang percaya dengan asas ini perlu dibendung kerana akan membawa kemusnahan kepada masyarakat Islam dan menjauhkan mereka dari ajaran Nabi s.a.w yang walaupun dari sudut penampilan mereka mengajak kepada ibadat dan berbuat baik.

Jawapan:

Menurut pengetahuan saya setakat ini, tidak ada satu pun tariqat sufi muktabar di dunia pada hari ini yang menolak keharusan bertemu secara sedar/jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. Apakah seluruh tariqat-tariqat sufi ini dengan puluhan juta pemgamalnya perlu dibendung dan dibanteras…? Apakah kemusnahan benar-benar berlaku kepada masyarakat Islam dan mereka telah jauh dari ajaran Nabi s.a.w. disebabkan seluruh tariqat sufi di dunia pada hari ini menyatakan – sesudah sekian lama – seorang soleh harus bertemu secara sedar/jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. ??

Tidak ada orang waras yang mengatakan demikian. Bahkan ramai dari kalangan alim ulama tariqat-tariqat sufi ini adalah pemelihara-pemilhara sunnah baginda s.a.w. baik sunnah yang zahir mahupun sunnah yang batin. Berapa banyak rahmat dan manfaat rohani yang tersebar di seluruh dunia sama ada kita sedari ataupun tidak, disebabkan usaha-usaha mereka. Memang seluruh tariqat sufi di dunia pada hari ini menyatakan harus bertemu secara sedar/jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w., namun realitinya perkara tersebut tidak selalu berlaku pun kerana ia adalah suatu karamah yang dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki sahaja.

Bahkan dalam tempoh 100 tahun, barangkali hanya beberapa orang sahaja yang boleh dibilang dengan jari mendakwa demikian, atau dikatakan mengalaminya. Jika peribadi dan latar belakangnya bertunjangkan syariat, maka baru boleh diterima dakwaan itu. Jika sebaliknya, maka dakwaan tersebut adalah wajib ditolak. Perlu juga dilihat bagaimana cara mereka dapat mencapai peringkat kerohanian yang tinggi itu; Apakah zikirnya 100,000 setiap hari, atau selawatnya 50,000 setiap hari, atau tahajjudnya 500 rakaat setiap hari? Atau apakah hanya sekadar berjanggut, berjubah dan berserban besar saja, tetapi amalannya ‘kosong’??

Kata al-‘Allamah Ibn Al-Haj dalam kitab al-Madkhal (3/194):

“Sebahagian orang mendakwa melihat Nabi s.a.w. secara yaqazah, sedangkan ia merupakan satu perbahasan yang sempit (sukar) untuk diperbahaskan. Amat sedikitlah dari kalangan mereka yang mengalaminya, kecuali terhadap mereka yang amat mulia di zaman ini. Walau bagaimanapun, kami tidak mengingkari sesiapa yang mengaku pernah mengalaminya, dari kalangan orang-orang yang mulia yang dipelihara oleh Allah s.w.t. zahir dan batin mereka.” Wallahu a’lam.

Rujukan Tambahan: – Melihat Nabi s.a.w. Secara Yaqazah: Satu Jawapan oleh Raja Ahmad Mukhlis:
– Multaqa al-Nukhbah, Isu Berjumpa Rasulullah Ketika Jaga Selepas Wafatnya (terjemahan) oleh Husain Hasan Toma‘i. – Sa‘adah al-Darayn oleh al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani.

Kredit : Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni – INHAD (Institut Hadis KUIS)

PONDOK HABIB shared Ustaz Iqbal Zain‘s post.

26/07/2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | | Leave a comment

Menjaga mata dari pandangan yang Haram.

 

Nasihat Habib Umar dalam Menjaga mata dari pandangan yang Haram.

Melihat kepada aurat dan melihatnya seorang lelaki kepada perempuan atau sebaliknya dengan memperhatikan keindahannya dengan rasa syahwat adalah Haram.

Kerana ia dapat menyebabkan lemahnya Iman, dan dapat menjadikan Hati terpanah oleh Panah yang beracun dari panahnya Syaitan. Sebagaimana di khabarkan Sebaik-baik Manusia ﷺ ,

Pandangan (kepada pandangan yang Haram) adalah busur beracun dari busur iblis yang terlaknat. Berfirman Allah, Barangsiapa yang meninggalkannya kerana takut kepadaku, aku gantikan iman yang terdapat keindahan dalam hatinya.

Balasan yang besar untuk siapa yang menutup pandangannya dari yang diharamkan serta menimbulkan syahwat yang haram, seperti memandang gambar yang menimbulkan syahwat, siapa yang menahannya atas sesuatu yang tidak berharga, balasannya sesuatu yang besar.

Allah mengatakan " Aku gantikan Iman yang terdapat keindahan Didalam hatinya "

Dan apa yang didapatkan bagi mereka yang membiarkan matanya dan tidak memikirkannya dalam melihat yang Haram, suatu panah beracun yang menancap dihatinya.

Bukanlah matinya jasad apa yang dia akan dapatkan akibat perbuatan memandang yang Haram akn tetapi matinya Hati,

setelahnya ialah diharamkan atasnya pahala, rosaknya amal solleh, melemahkan Iman, rosaknya ketaatan, maka dengan pandangan tersebut boleh mengganggunya pada solatnya, membaca Al Qur’an bahkan sampai tidak beradab ketika berfikir, sehingga memikirkan yang buruk didalam beribadah kepada Allah, yang Diperhatikan Allah dirinya dan hatinya.

Maka menjdi keburukan adab yang mendatangkan hukuman serta penolakan dan penghalang untuk mendapatkan pahala.

Wa iyya dzubillahi tabaroka wa ta’ala.

Allah mengetahui pandangan khianat Mata dan yang tersembunyi dihati.

Wallahualam

via: Pencinta Rasulullah

Jom Dakwah Bersama Ulama

20/07/2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | | 2 Comments

Tiga Harta Yang Perlu Di Miliki Oleh Seorang Mukmin

1. Hati Yang Bersyukur.
2. Lisan Yang Senantiasa Berzikir.
3. Isteri Mukminah Yang Akan Menolongmu Dalam Perkara Akhirat.

Ketika Umar Ibnul Khattab radhiallahu’anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

"Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?" Baginda Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab:

"Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berzikir dan isteri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat."

(Hadis Riwayat Ibnu Majah no. 1856)

09/07/2015 Posted by | Tasauf | Leave a comment

"Tangisan Rasulullah menggoncangkan Arsy"


Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam sedang asyik berthawaf di Ka’bah, Beliau mendengar seseorang di hadapannya berthawaf, sambil berzikir “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam kemudian menirukannya membaca “Ya Karim! Ya Karim!”.

Orang itu Ialu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berdzikir lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam yang berada di belakangnya mengikut dzikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”.

Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya.

Orang itu Ialu berkata “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab badwi?

Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam tersenyum, lalu bertanya “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?"

“Belum,” jawab orang itu.

“Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.

Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam pun berkata kepadanya “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.

“Tuan ini Nabi Muhammad?!”

“Ya” jawab Nabi Shalallahu ‘Alayhi Wasallam.

Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam melihat hal itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya “Wahai orang Arab! janganlah berbuat serupa itu.

Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya. Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur, yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita”

Ketika itulah, Malaikat Jibril ‘Alayhi Sallam turun membawa berita dari langit dan berkata “Ya Muhammad! Allah mengucapkan salam kepadamu dan bersabda “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah.

Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!”.
Setelah menyampaikan berita itu, Malaikat Jibril ‘Alayhi Sallam kemudian pergi.

Maka orang Arab itu pula berkata “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu.

“Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Allah?” Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam bertanya kepadanya.

“Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya. Jika Allah memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunannya.

Jika Allah memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya’

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata Beliau meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril ‘Alayhi Sallam turun lagi seraya berkata “Ya Muhammad! Allah menyampaikan salam kepadamu, dan berfirman “Berhentilah engkau dari menangis!. Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arsy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang”.

Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di syurga nanti!”.

Betapa sukanya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya

Wallahualam

MADAD YA ALLAH, MADAD YA RASULULLAH, MADAD YA RIJALALLAH

Sumber: Jom Dakwah Bersama Ulama

09/07/2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Sheikh Nuruddin memberikan sebuah kata hikmah yang sangat diperlukan kita pada hari ini.

“Mungkin saja, satu kemaksiatan yang dilakukan seseorang, yang menjadikan hatinya bersedih dan kembali kepada Allah, maka itu lebih baik dari berbuat ketaatan tetapi ada takabbur. Maksiat yang membuatkan kita jadi malu, merasa hina, segan dengan Orang lain, itu jauh lebih baik dari banyak berbuat ketaatan, yang membuatkan kita jadi ujub dan sombong .”

Daripada kata hikmah ini banyak pengajaran boleh kita ambil :

1. Jangan hina pendosa

2. Jangan rasa hebat bila berbuat ketaatan

3. Jangan rasa selamat bila lihat diri dalam ketaatan

4. Jangan putus asa dari mohon keampunan

5. Sentiasa bersangka baik

6. Sentiasa melihat aib diri sendiri

7. Sentiasa tanam sifat malu kepada Allah

8. Sentiasa memohon taufiq & hidayah kepada Allah supaya diberikan cinta kepada Ketaatan.

Pesan Sheikh lagi, kalau kita berbuat ketaatan lihat permulaannya siapa yang beri kita taufiq dan hidayah untuk berbuat ketaatan (Yakni Allah), kalau melakukan maksiat, lihat penghujungnya, apakah nasib kita di alam akhirat, azab yang kita bakal hadapi jika melakukan maksiat, dosa dan kesalahan tersebut.

 

23/06/2015 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

JAUHI SIFAT DENGKI

Dengki

 

Ustaz Iqbal Zain

‘Ali ibn Abu Thalib r.a. mengatakan, “Orang yang memiliki sifat dengki, tidak akan boleh beristirahat dengan tenang.” Ahli hikmah juga mengatakan, “Berhati-hatilah kalian dengan sikap dengki. Kerana kedengkian adalah faktor utama yang menyebabkan munculnya kemaksiatan kepada Allah di kerajaan langit dan dosa pertama yang terjadi di muka bumi.

Adapun kemaksiatan pertama yang terjadi di kerajaan langit adalah dari hal pembangkangan Iblis yang diperintahkan untuk sujud kepada Adam. Iblis berhelah, “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”( Q.S. al-A‘râf [7]: 12)

Dengan sikap ini, Iblis telah merasa iri hati dan dengki, sehingga ia kemudiannya mendapatkan laknat Allah Swt. Adapun dosa pertama yang terjadi di muka bumi adalah pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil ibn Adam terhadap saudaranya, Habil, yang didasari oleh rasa dengki. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah, “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.’”( Q.S. al-Mâidah [5]: 27)

Muhammad ibn Sirin menegaskan, “Saya tidak pernah merasa dengki terhadap siapa pun atas sesuatu yang bersifat keduniaan. Jika orang itu termasuk calon penduduk syurga, maka tidak ada alasan bagiku untuk bersikap dengki kepadanya, kerana ia pasti akan masuk ke syurga. Sedangkan jika orang itu termasuk calon penghuni neraka, maka tidak ada alasan bagiku untuk bersikap dengki kepadanya, kerana ia pasti akan kembali ke neraka.”

Seorang dengki yang bergabung di dalam satu majlis ilmu, dia hanya akan mendapatkan penghinaan dan kehinaan. Dia tidak akan mendapatkan naungan dari para malaikat, kecuali laknat dan kebencian. Juga akan dianggap sebagai orang yang memalukan dan memberatkan. Dia akan merasakan panasnya terpanggang di dalam api neraka. Di setiap kesepian, ia hanya akan merasakan kebutaan dan akan merasakan sekarat mati yang memilukan dan menyakitkan.

Abu Hurairah r.a. menuturkan bahawa Rasulullah saw. bersabda, “Waspadalah kalian dari sifat dengki. Kerana sifat dengki dapat menghapuskan pahala kebaikan-kebaikan, sebagaimana api dapat menghabiskan kayu bakar.”(HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

31/05/2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

Kisah seorang Syeikh yang membantah Majlis Maulid Sayyid Ahmad al Badawi

Kisah seorang Syeikh yang membantah Majlis Maulid Sayyid Ahmad al Badawi

Disebutkan oleh Syeikh Muhammad Syinnawi: Pada suatu hari,seorang Syeikh telah membantah dan tidak bersetuju dengan sambutan Maulid Sayyid Ahmad al-Badawi.Dengan tiba2,pakaian iman dari dirinya telah dilucutkan sehingga tidak sehelai rambut pun dari agama Islam yang masih tinggal.Beliau telah merasa cemas lalu berdoa kepada Allah.

Di dalam keadaan cemas itu,Sayyid Ahmad al-Badawi telah datang dan berkata bahawasanya syeikh itu akan ditolong dengan syarat beliau tidak menceritakan perkara itu kepada orang lain.Setelah syeikh itu bersetuju,maka pakaian imannya pun dikembalikan.Kemudian,Sayyid Ahmad al-Badawi pun bertanya,Kenapakah engkau mengingkari sambutan maulidku? Syeikh itu menjawab: Aku melihat di sana majlis engkau bercampurnya kaum lelaki dan kaum perempuan.

Maka berkata Sayyid Ahmad al-Badawi: Itu bukanlah masalah besar,ini kerana semasa melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah bukankah juga bercampurnya kaum lelaki dan kaum perempuan.Demi kemuliaan Allah! Tiada seorang pun yang membuat maksiat di dalam maulidku dan kemudian bertaubat,melainkan dijadikan baik taubatnya.Jika Allah mampu mengawasi segala binatang di hutan dan segala ikan di laut,dan memisahkan satu kumpulan dari satu kumpulan yang lain,adakah Dia akan menjadi lemah dari MENGAWASI orang2 yang menghadiri maulidku?

(Manaqib Sayyid Ahmad al-Badawi dalam Kitab Tobaqat al-Kubra,Syeikh Abdul Wahhab Asy Sya’rani Jilid 1 Halaman 158)

Sumber

28/05/2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

ZIKIR SEPERTI POKOK BERGOYANG DITIUP ANGIN

ZIKIR SEPERTI POKOK BERGOYANG DITIUP ANGIN

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim,daripada al-Fudhail bin ‘Iyadh Rohimahullahu Ta’ala berkata :Bahawa sahabat Rasulullah ﷺ ketika zikrullah bergoyang2 ke kanan dan ke kiri sepertimana POKOK BERGOYANG ditiup angin kencang ke hadapan dan kemudian ke belakang.

(Al-Tartib Al-Idariyah,Al-‘Allamah ‘Abdul Hayy Al-Kattani (2/134)

Dan daripada Abi Urakah berkata:Aku solat Subuh bersama Ali Rodiyallahu ‘Anhu.Kemudian beliau berpaling ke sebelah kanan dan kelihatan beliau dalam keadaan kesedihan.Beliau duduk sehinggalah cahaya matahari mengenai dinding masjid dalam kadar sebatang lembing lalu beliau solat dua rakaat.Apabila selesai bersolat,beliau membalikkan tangannya lalu berkata: Demi Allah,sesungguhnya aku pernah melihat para sahabat Nabi ﷺ dan aku tidak dapat lagi melihat keadaan hari ini serupa dengan suasana mereka.Kehidupan mereka kusut masai dan berdebu,dahi mereka bertanda seperti tanda pada lutut kambing,kesan daripada sujud.Mereka bermalam dengan melakukan sujud dan qiam kerana Allah,mereka membaca al-Quran,berterusan dahi mereka sujud dan kaki mereka qiam.Apabila subuh,mereka BERZIKIR BERGOYANG2 sepertimana POKOK BERGOYANG DITIUP ANGIN dan bercucuran airmata mereka sehingga basah baju mereka…”

(Rujuk Al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Kathir 8/6,dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 1/76,Ibnu ‘Asakir dalam al-Kanz 8/219 dan Hayatus Sohabah 1/49)

28/05/2015 Posted by | Iklan, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | Leave a comment

PERJALANAN KESUFIAN

Berjalanlah dirimu kepada Allah swt dengan berpakaian syariat, tarekah, hakikat dan makrifat. Syariat itu adalah pakaian Nabi, tarekah itu adalah perjalanan Nabi, hakikat itu adalah batin Nabi dan makrifat itu adalah rahsia Nabi. Berpakaian syariat sahaja tanpa hakikat adalah fasik, hakikat sahaja tanpa syariat adalah zindik. Seorang yang berada di alam syariat sahaja adalah masih tertipu kerana apa yang dilihat dan didengar oleh syariat tidak menjamin akan kebenaran hakikat, justeru itu seseorang perlu menyelami lautan hakikat dan tiada cara untuk menghubungkan antara ilmu syariat dan ilmu hakikat melainkan berilmu dan mengamalkan tarekah. Apabila dadamu benar-benar memiliki rahsia ilmu para auliya, engkau akan memahami kenapakah mereka itu amat kuat takut pada Allah, amat kuat berpegang pada syariat, amat wara’ dalam setiap pekerjaan, amat zuhud pada dunia, amat redha dengan takdir Allah, amat kuat ibadahnya, amat baik akhlak jiwanya, amat kuat tawakalnya, amat tinggi syukurnya dan amat tinggi cintanya pada Allah dan Rasul. Mereka memiliki penglihatan yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa, ia adalah Nur yang dicampakkan ke dalam dada oleh Allah swt sehingga tembus penglihatannya pada alam rahsia dan FANA dan BAQA ia dengan kekasihnya. Fahamilah ia rahsia cahaya di sebalik cahaya. Berbahagialah mereka yang mencapainya dan merekalah yang sebenarnya telah mencapai kejayaan hakiki baik dunia atau akhirat.

Jika engkau bersungguh-sungguh mengamalkan zikir di bawah bimbingan Guru yang telah terbuka baginya rahsia segala alam sehingga telah mencapai kesempurnaan makrifat, engkau akan merasakan perubahan pada rohanimu. Ruhmu akan melalui pendakian dari hati yang lalai kepada hati yang hidup mengingati Allah, dari hati yang hidup mendaki kepada hati yang asyik, kemudian mendaki pula kepada hati yang fana dan kemudian mendaki pula (kepada) meminum rahsia makrifat di alam yang tinggi. Nabi saw telah melakukan israk mikraj, membuka dan membelah langit dan membukak rasiya ketuhanan pada umatnya kepada Allah swt…

Oleh: Ustaz Syibli Sufi

27/05/2015 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Renungan & Teladan, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

Keperluan Tarekat

Keperluan Tarekat

Soalan:
Saya ingin dijelaskan apa itu tarekat, apakah setiap muslim harus melalui tarekat, bagaimana bila ada seorang muslim tidak mahu tahu mengenai tarekat, bahkan sangat benci dengan ilmu tarekat atau tasawuf atau ilmu batin?

Ali, Jawa Timur

Jawapan:
Pengertian tarikat:
Tarikat diambil dari perkatan arab membawa maksud jalan. Kalau disebut tarikat Al-Fikr membawa maksud jalan berfikir. Jika disebut tarikat Az-Zikr membawa maksud jalan berzikir dan lain-lain. Dalam Al-Quran biasanya tarikat digunakan untuk jalan yang diikuti oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang diajarkan kepada baginda oleh Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Ini merangkumi soal jalan baginda beribadat, berakidah, bermuamalah, mengadakan hubungan antarabangsa, mendirikan negara, melayan tetamu, menyiapkan bala tentera dalam peperangan, menguruskan keluarga dan lain-lain. Dari segi istilah, tarikat ditakrifkan oleh Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabau seorang ulama dari Indonesia yang pernah menjadi khatib di Makkah Al-Mukkaramah sebagai jalan yang ditempuhi oleh nabi SAW, para sahabat, ulama dan para ahli sufi generasi awal dahulu. Jalan ini mesti diikuti oleh umat Islam.

Menurut Syeikh Al-Jurjani tarikat ialah jalan khusus menuju kepada Allah yang melibatkan pengharungan beberapa halangan dan penempuhan beberapa tingkatan rohani dalam berbagai maqam. Syeikh Al-Kandahlawi pula mendefinisikan tarikat itu sebagai sejalan dengan makna ihsan yang terdapat dalam sebuah hadis yang sahih iaitu seorang itu beribadat kepada Allah seolah-olah ia melihat Allah, Jika ia tidak melihat Allah, Allah melihatnya. Bagaimanpun tarikat tasauf sekarang lebih tertumpu kepada teknik berzikir untuk membersihkan jiwa kerana itu timbullah istilah tarikat Qadiriyah, Naqsyabandiyyah dan sebagainya.

Setiap muslim wajib melalui tarikat untuk menuju kepada Allah tetapi bukan melalui tarikat yang ada sekarang ini, sebaliknya tarikat dalam ertikata jalan yang dibawa oleh junjungan besar Nabi Muhammad SAW dan diikuti oleh para sahabatnya. Tarikat ini merangkumi soal akidah, ibadat dan akhlak. Kerana itu mereka hendaklah menuntut ilmu dari para ulama yang dipercayai keimuannya, tidak melakukan bid’ah dan sentiasa menunaikan amalan yang wajib di samping berterusan melakukan amalan yang sunat. Selain itu ia juga perlu tegas dalam menentang perkara mungkar. Ulama seperti inilah menurut Ibn Al-Qayyim yang layak dijadikan guru.

Tidak mahu bertarikat dengan ertia kata tidak mengikuti salah satu dari tarikat zikir yang disertai oleh sesetengah masyarakat sekarang seperti Tarikat Ahmadiyyah dan sebagainya tidaklah menjadi kesalahan, tetapi tidak bertarikat dalam ertikata tidak mengikut cara nabi berakidah, beribadah dan berakhlak adalah haram dan berdosa malah terkeluar dari islam. Membenci tarikat Zikir adalah sesuatu yang tidak wajar kerana zikir kepada Allah adalah perkara yang boleh menggilapkan hati dan mendekatkan diri seseorang kepadaNya.

Walau bagaimanapun jangan difahami istilah zikir itu sekadar zikir lisan sahaja, malah zikir dalam ertikata yang sebenarnya merangkumi zikir hati, lisan dan anggota. Ini merangkumi berjihad fi sabilillah, mendirikan solat, mengeluarkan zakat menunaikan fardu haji di Baitullah, berbuat baik kepada jiran tetangga, menziarahi orang sakit, menolong orang yang dalam kesusahan, menziarahi kubur, beriktikaf, menuntut ilmu, mengulangkaji ilmu, mengadakan majlis perbincangan ilmu dan lain-lain. Bagimanapun jika seseorang itu membenci teknik zikir yang dilakukan dalam sesuatu tarikat itu kerana ia bercanggah dengan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah sesuatu yang baik, kerana itu bererti ia tidak meredai sunnah Rasulullah SAW dicemari oleh tangan-tangan manusia yang tidak berilmu.

26/05/2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | Leave a comment

Sifat Dasar Iblis Dalam Diri Manusia

Salah satu sifat dasar Iblis adalah “Saya lebih baik darinya”. “Kau telah menciptakan aku dari api dan telah menciptakannya dari tanah“, (Qur’an Surat al-A’raf: 12).

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Qur’an Surat al-A’raf: 12).

Ini kriteria sifat dasar iblis “Saya lebih baik darinya”, tapi kriteria sifat Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam adalah senantiasa bertambah ketakutan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertambah tawadhu’, bertambah kasih sayang, dan juga bertambah ramah terhadap sesama makhluk.

Apabila manusia itu bertambah kesholehannya, apakah dari jalan belajar atau beribadah, dengan belajar seperti membaca atau memahami masalah atau dengan beribadah seperti mengerjakan shalat malam dan berpuasa, bukti kejujuran amalannya itu tidak hanya ada pada penampilannya tapi akan terlihat jelas pada akhlaknya serta pergaulannya. Dan bukti ketidakjujuran amalannya itu adalah tidak terlihat pada akhlaknya bahkan sebaliknya. Setiap kali dia banyak melakukan ibadah, setiap kali itu pulalah ia banyak kepura-puraannya, semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah bertambah kerut wajahnya. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah dia membatasi dirinya dari beberapa kelompok manusia. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah banyaknya dia menghina kelompok-kelompok masyarakat. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah dia bertambah kasar terhadap sesama keluarga terdekatnya yang kurang mentaati agama. Darimana datangnya semua hal ini? Bukanlah seperti ini sifat orang yang berkomitmen dalam beragama. Sebabnya tidak ada hubungan diantara cara ibadah yang dilakukannya atau cara ahli ilmu dengan hakikat yang sebenarnya yakni hubungan hati dengan Allah Subhanhu wa Ta’ala. Jadi kita memerlukan pergaulan dengan orang-orang shaleh agar kita dapat melihat kejujuran hati ini, agar dapat muhasabah diri ini dengan penuh kejujuran.

Duhai orang-orang yang telah dimuliakan Allah dengan selalu pulang pergi ke masjid, apakah yang kamu dapat darinya? Pandangan macam apakah yang kamu lihat kepada mereka yang ada di luar masjid? Kamu akan keluar dari masjid setelah majelis ini usai. Kamu akan temukan di jalanan pemuda-pemuda dengan kelakuan yang buruk. Ada yang kelakukannya meninggikan suara mengganggu orang di sekelilingnya dan tak mau peduli dengan suara-suara yang menegurnya. Bagaimanakah kamu akan melihatnya? Hah?! Adakah kamu akan melihatnya dengan pandangan belas kasihan serta kasih sayang? Tadi baru saja kamu mendengarkan nasihat-nasihat ini.

“Ya Allah sebagaimana Engkau telah dengarkan nasihat ini kepadaku serta memberi petunjuk kepadaku, maka dengarkanlah pula kepada mereka dan tunjukilah mereka”.

Apabila kamu melewati mereka, senyumlah kepada mereka dan ucapkan “Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh”. Kamu terus berjalan dengan tenang, berilah kesan di hati mereka agar mengikuti apa yang kamu lakukan itu.

Setelah kamu keluar dari majelis pengajian ini, kamu mungkin terasa diri penuh dengan kesholehan. Kamu telah banyak menelaah kitab, melakukan shalat jamaah, kemudian kamu keluar dan mendapati mereka-mereka ini. (Dengan sinisnya, kamu brerkata:) “Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. “Aku berlindung kepada Allah, eh apa ini?”. Kamu melihat mereka dengan pandangan kehinaan. Cara ini bukannya cara berlindung dari maksiat. Bukan begini cara menjauhinya, bukanlah seperti itu caranya. Berbeda antara ilmu yang diajari oleh Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dengan ilmu yang diajari oleh iblis.

Ada suatu kisah menyebutkan. Ada seorang penuntut ilmu sedang mengalami kebingungan dan keraguan, apakah akan masuk mengikuti majelis ini atau majelis yang itu. Dia melihat 2 kumpulan majelis pengajian ilmu yang berbeda. Kedua majelis sama-sama mengajarkan al-Qur’an dan al-Hadits. Dia bingung mau memilih dan mengikuti majelis yang mana. Lantas dia pergi kepada seorang yang sholeh untuk membuat pilihan baginya, lalu orang shaleh itu berkata: “Aku akan membawa kamu pergi menuju kedua majelis tersebut”.

Mereka kemudian masuk ke kumpulan majelis yang pertama dan berdiri. Orang shaleh ini sengaja berbuat demikian karena untuk mengetahui majelis mana yang harus dia ikuti. Mereka berdua berdiri di kumpulan majelis yang pertama dan ketika itu Sang Syaikh sedang mengajar. Di saat Syaikh itu melihat mereka berdua sedang berdiri, Syaikh berkata kepada mereka: “Duduk! Kenapa kamu berdiri?”. Orang shaleh ini menjawab: “Aku tidak ingin duduk di majelis kamu ini”. Syaikh itu bertanya: “Kenapa kamu tidak ingin duduk?”. Orang shaleh itu kembali menjawab: “Dalam hatiku ada rasa tak puas hati dengan kamu”. Syaikh berkata: “Dan aku juga sangat-sangat tak puas hati dengan kamu, keluarlah syaitan, dan jangan kamu merusak majelis ini..!”. Sang Pemuda berkata: “Ayo kita keluar dari sini sebelum kena pukul”.

Kemudian mereka berdua pergi ke kumpulan selanjutnya, majelis yang kedua, juga melakukan hal yang sama dalam keadaan berdiri. Ketika dalam majelis itu Syaikh melihat mereka yang berdiri dan berkata: “Mengapa kamu berdua tidak duduk?”. Nampak perbedaan dengan Syaikh yang tadi yang berkata “Duduk..!” dengan “Mengapa kamu berdua tidak duduk?”. Orang shaleh itu menjawab: “Aku tidak ingin duduk dalam majelismu ini”. Sang Syaikh kembali berkata: “Kenapa?’. Orang shaleh itu berkata: “Aku ada rasa tidak puas hati dengan kamu”. Lantas Syaikh itu menutup wajahnya lalu menangis dan berkata: “Innalillah wa inna ilaihi roji’un, astaghfirullohi wa atubu ilaih, mungkin Allah telah membukan kepada kamu aibku yang telah disembunyikan”. Dan Syaikh itu terus menangis sambil berkata: “Astaghfirullohi wa atubu ilaih… Astaghfirullohi wa atubu ilaih… Astaghfirullohi wa atubu ilaih… ”, (memohon ampunan Allah dan bertaubat kepadaNya). Dan orang shaleh yang berdiri itu menoleh kepada si pemuda yang bertanya kepadanya tadi: “Hai pemuda, majelis manakah yang akan kamu pilih? Di sini atau di sana?”.

Kriteria sifat orang yang shaleh itu akan tampak jelas pada akhlaknya yang shaleh pula. Jika kamu merasa harus membuat suatu pilihan. Dikatakan orang ini dalam kebenaran dan orang lain pula kata mereka dalam kebenaran, caranya lihatlah kepada akhlak mereka. Dimana ada tanda akhlak yang mulia, tandanya di situ ada agama. Dimana ada tanda akhlak yang mulia, tanda adanya juga di situ ilmu. Sekiranya di situ tidak ada akhlak yang mulia, maka di situ juga tidak ada agama dan ilmu. Tidak mungkin beragama itu tanpa ada akhlak yang mulia. Tidak mungkin ciri sifat kesholehan itu dengan tidak disertai akhlak yang mulia. Tidak mungkin adanya ilmu itu, dengan tanpa adanya akhlak yang mulia. Maka setiap yang berilmu dan yang beragama, jika tidak terdzahir (tampak) padanya akhlak yang mulia, maka di situ ada kecacatan pada orang yang berilmu dan yang beragama. Inilah kriterianya, janganlah kita berfikir melihat kepada orang lain tetapi pandanglah kepada diri kita sendiri, untuk memperbaiki diri diantara kita dengan Allah Subhanhu wa Ta’ala. Jadi, terjadinya kecacatan pada orang yang berilmu dan beragama mungkin karena terpisah darinya kefahaman makna kesholehan tentang akhlak pergaulan atau pun dengan sebab yang lain. Dengan sebab terpisahnya dia dari kelompok masyarakat yang memuliakan orang yang beragama dari yang lainnya, dan yang terakhir yaitu melihat kesan-kesan kesholehan pada diri kamu, yakni melihat terhadap hasil kesholehan yang lahir dalam diri kamu dan bagaimana kamu maju terhadapnya. Inilah kriteria sifat kesholehan, perhatikan dalam diri kamu, jangan kamu menilai dirimu ada sesuatu yang lebih baik dari orang lain.

Agama kita ini adalah agama yang beradab dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mencerminkan akhlak yang mulia terhadap makhlukNya. Jadi untuk itu kita muhasabah diri kita terhadap kesholehan yang kita peroleh ini, sebab jika kita muhasabah terhadap kesholehan diri ini, maka kita merasa membutuhkan kepada akhlak yang mulia. Kita memohon kepada Allah semoga kita mendapat kesempurnaan Taufiq. Ya Allah yang Maha Memberi Petunjuk kepada kebaikan dan membantu hambaNya ke arah kebaikan, berilah petunjuk kebaikan kepada kami dan bantu kami ke arahnya. Subhanallohi walhamdulillahi wa la ilaha illalloh wallohu akbar, berilah petunjuk kepada kami terhadap nasihat ini untuk senantiasa kembali kepadaMu, dan turunkanlah kepada kami pemberianMu serta lindungilah ahli kalimah la ilaha illalloh baik di Timur maupun di Barat dan hilangkanlah kegelisahan ahli la ilaha illalloh baik di Timur maupun di Barat. Amin…

(Disarikan dari majelis kuliah yang disampaikan oleh Sayyidil Habib Ali Zainal ‘Abidin bin ‘Abdurrahman al-Jufri Yaman).

18/05/2015 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Kurangkan bergaul dengan mereka yang Ghulu’ .

Kurangkan bergaul dengan mereka yang Ghulu’ .

Jangan Campur!

Kurangkan bercampur dengan mereka yang ghulu’ (ekstrim) dalam menghukum manusia.

Diriwayatkan daripada Imam Al-Syafi’ie rahimahullah bahawa beliau berpesan dengan berkata :

“Barangsiapa yang suka Allah membukakan hatiya dan memberikannya rezeki hikmah maka hendaklah dia berkhalwat (kurang bercampur dengan manusia tanpa keperluan), sedikit makan, dan tidak bercampur dengan orang-orang yang bodoh serta sebahagian ahli ilmu yang tidak memiliki sifat al-Insof dan adab.
[Mukadimah al-Majmuk Syarah al-Muhazzab, An-Nawawi]

# Maksud memiliki sifat Al-Insof ialah memiliki keadilan dan sifat pertengahan dalam perhubungan dengan manusia tanpa menyeleweng dan melampau hasil daripada ketaqwaan kepada Allah SWT.

Orang yang insof ialah mereka yang adil, tidak menzalimi dan tidak pula melampau dalam menilai dan menghukum manusia.

# Ilmu tanpa adab adalah tidak berguna sebagaimana kata Imam Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah :

“Hampir-hampir adab itu menjadi dua pertiga daripada ilmu.”
[Sifatus Sofwah, Ibn Jauzi]

Masalah kita sekarang bukan kerana ilmu lagi kerana yang suka bergaduh dan mencela manusia bukanlah orang yang jahil tetapi masalah kita pada hari ini ialah masalah adab seperti mana yang pernah disebutkan oleh sebahagian ulama salaf dengan berkata :

Kami lebih berhajat kepada banyaknya adab daripada keperluan kami kepada banyaknya hadith.

15/05/2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | 1 Comment

Bersangka baik

Bersangka baik

Berikut adalah tips dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani untuk sentiasa bersangka baik sesama insan…

– Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahawa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu
“Mungkin kedudukannya di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku”.

– Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah (dalam hatimu)
“Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepadaNya. Tentu anak ini jauh lebih baikdariku”

– Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah (dalam hatimu)
“Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”

– Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah (dalam hatimu)
“Orang ini memperoleh kurnia yang tidak akan kuperolehi, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yangtidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”

– Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah (dalam hatimu) “Orang ini bermaksiat kepada Allah kerana dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepadaNya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.”

– Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah (dalam hatimu)
“Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, mungkin di akhir usianya dia memeluk Islam dan beramal soleh.

Dan mungkin boleh jadi di akhir usia diriku kufur dan berbuat buruk.Pendek kata, konsep sangka baik ialah tidak memandang diri lebih baik, lebih bagus, lebih afdhal dan lebih tinggi dari sesiapa pun kerana kita tidak mengetahui benar-benar dari Lauh Mahfuz adakah kita akan meninggal dengan husnul khatimah (pengakhiran baik) atau su’ul khatimah (pengakhiran buruk).

Tidak rugi kita bersangka baik terhadap insan daripada kita bersangka buruk yang boleh mendatangkan dosa.

Jika ternampak sesuatu yang boleh membawa kita bersangka buruk kepada manusia lain maka carilah 70 alasan untuk kita terkeluar dari sangkaan buruk tersebut agar kita dapat bersangka baik dengannya.

Seseorang yang bersangka baik, dia tetap benar disisi Allah walau sangkaannya itu tersalah namun seseorang yang bersangka buruk akan tetap salah disisi Allah walau sangkaannya itu tepat dan benar.

Satu-satunya yang kita boleh bersangka buruk ialah nafsu kita sendiri. Carilah aib dan kekurangan diri sendiri, jika kita sibuk dengan keaiban kita masing-masing nescaya kita tidak akan ada masa untuk mengintai dan memperkatakan keaiban orang lain.

Semoga kita diberi sifat mata lebah yang sentiasa melihat dan mencari kebaikan bunga di mana-mana dan bukan bagaikan mata lalat yang sentiasa memandang dan mencari kotoran dan najis diserata tempat

Subhanallah……

Ingatan untuk diri sendiri dan sahabat yg tak rasa diri terlalu suci d mataMu ya Allah.

Sumber

14/05/2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Memahami Tasawwuf

Kenyataan Mufti Wilayah Persekutuan

Amatlah perlu kita memahami hakikat tasawwuf sebenar dan juga tareqat supaya apa yang kita amalkan benar-benar mengikut yang diredhai Allah SWT.

Syeikh Dahlan al-Qadiri dalam kitabnya Siraj al-Talibin telah menyebut bahawa hukum belajar tasawwuf adalah wajib aini bagi setiap mukallaf. Ini kerana sebagaimana wajib mengislahkan yang zahir, begitu juga wajib mengislahkan yang batin.

Benarlah kata Imam Malik
Siapa yang bertasawwuf tanpa faqih dia mungkin membawa kafir zindiq.
Siapa yang mempelajajari feqah tanpa tasawwuf, dia boleh membawa fasiq.
Siapa yang menghimpunkan kedua-duanya nescaya dia yang sebenarnya tahqiq.

Tatkala kita ingin mendekatkan diri kepada Allah samada melalui ilmu atau penghayatan amalan maka hendaklah ia benar-benar mengikut apa yang disyariatkan oleh Allah.

Syeikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berkata dan mewasiatkan kepada anaknya: “Terbanglah kamu ketika kamu menuju kepada Allah dengan dua sayap iaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul.” Hal ini amat penting kerana sehebat mana manusia sekalipun, jika rujukannya bukan lagi Kitabullah dan Sunnah Rasul maka mudahlah terbelit dengan godaan syaitan.

Justeru, amat wajar kita melakukan sesuatu benar-benar dengan kefahaman dan sebaliknya tanpa ilmu, seseorang itu mudah terpedaya dan tergelincir daripada hakikat Islam yang sebenar. Bacalah kitab-kitab tasawwuf seperti Minhaj al-Abidin oleh Imam al-Ghazali, Mukhtasar Minhaj al-Qasidin oleh Ibn Qudamah al-Maqdisi dan lain-lain ulama sufi yang muktabar.

Kenyataan Mufti WP

10/05/2015 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Suuzon (Bersangka buruk).

Suuzon.

Islam itu indah, perkara prasangka pun telah di tetapkan dalam Islam. Suuzon atau Su’udzon yang membawa maksud berprasangka negatif, menyangka buruk atau menaruh curiga terhadap seseorang yang belum terbukti orang tersebut melakukan kesalahan.

Islam sangat melarang umatnya bersangka buruk sesama muslim kerana sangkaan negatif, buruk dan jahat akan mengundang malapetaka kepada seseorang itu. Setiap syak wasangka hendaklah berdasarkan bukti yang kukuh dan bukan sekadar dengar cakap, tuduhan melulu, mengikut tuduhan orang, dan fitnah semata-mata.

Firman Allah maksudnya:
“Dan orang-orang yang mengganggu dan menyakiti orang-orang mukmin lelaki dan perempuan yang beriman, dengan perkataan atau perbuatan yang tidak tepat atau sesuatu kesalahan yang tidak dilakukannya, maka sesungguhnya mereka telah memikul kesalahan menuduh secara dusta dan berbuat dosa yang amat nyata.”

(Surah Al-Ahzab, 33; Ayat 58)

Sebahagian dari prasangka adalah dosa. Sesiapa yang mempunyai sifat buruk sangka kepada sesama Islam, maka ia wajib bertaubat dan beristiqfar kepada Allah. Orang yang berburuk sangka adalah melakukan perbuatan jahat dan berdosa besar; Dan setiap perbuatan jahat, Allah akan mencampakkannya ke dalam neraka Allah.

Firman Allah bermaksud:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak berprasangka; Sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang mengumpat sebahagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.”

(Surah Al-Hujurat, 49; Ayat 12)

Orang yang bersikap ‘suuzon’ (bersangka buruk) juga sama dosanya seperti memakan daging saudaranya yang telah mati. Jauhilah sifat penyakit hati ini, kerana ia juga dapat merugikannya juga. Kembalilah ke jalan Allah dengan sebenar taubat dan tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut.

Perkara buruk ini telah menjadi darah daging umat Islam sekarang ini terutama Melayu Islam yang sentiasa iri hati dan bersangka buruk terhadap saudara Islamnya. Dengan menuduh orang melakukan perbuatan mungkar tanpa mempunyai bukti yang kukuh. Malah orang yang bersangka buruk itulah yang diagungkan sebagai orang yang hebat dan bijak. Inilah petanda akhir zaman kerana umat Islam tidak lagi berbangga dengan kerja-kerja amalnya dan mereka merasa besar dan gah dengan dosa yang dilakukan oleh mereka. Jika perkara ini tidak ditegah, maka ia juga akan merugikan semua pihak dan mengundang bala Allah yang datang tidak mengira darjat, iman dan bangsa.

Akibat Bersangka Buruk:

Bersangka buruk boleh membawa banyak kesan negetif dan masalah. Antaranya adalah:

Mengakibatkan manusia dan ummah berpecah-belah antara satu sama lain yang akan merugikan masyarakat dan Negara bak kata pepatah ‘Kerana pulut santan binasa, kerana mulut badan binasa.’
Merosakkan jiwa dan meninggalkan kesan noda dan titik-titik hitam pada hati, Titik hitam ini hanya melekat pada hati yang kotor. Jika hati sudah penuh dengan titik hitam, maka proses pembersihannya juga menjadi sukar.
Sentiasa berasa sakit hati dan kecewa atas kejayaan yang dicapai orang lain.
Jika hati seseorang itu penuh dengan sangka buruk, ia akan menimbulkan perasaan benci, geram dan segala dendam, sudah pasti apabila terlihat sahaja muka saudaranya itu, biarpun sangkaannya itu belum terbukti benar.
Memburukkan hubungan persahabatan dan persaudaraan. Apabila hati bersangka buruk terhadap seseorang, maka sudah pasti hatinya bertambah keruh dan menjarakkan lagi hubungan silaturahim sesama manusia.
Menyebabkan penyesalan dalam hubungan manusia sesama manusia kerana menuduh manusia lain tanpa bukti kukuh.

Firman Allah bermaksud:
“Wahai orang-orang Yang beriman! jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum Dengan perkara yang tidak diingini Dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) – sehingga menjadikan kamu menyesali apa Yang kamu telah lakukan.”
(Surah Al-Hujurat, 49; Ayat 6)

Mengubah Sikap Bersangka Buruk:

Bagi mengatasi masalah ini tak lain dan tak bukan hanyalah dengan mengubah corak fikiran kita dalam menghadapi sesuatu. Kita menyangka baik terhadap orang lain, jika sangkaan itu salah maka kita tetap dapat pahala kebaikan, tetapi sebaliknya kalau kita suudzon terhadap orang lain, sekiranya sangkaan buruk itu betul kita tetap berdosa, apalagi kalau sampai sangkaan itu salah. bertolak dari sikap suudzon ini juga kita sering terjerumus ke dalam kancah mengumpat atau mengata keburukan orang lain.

Berikut adalah tips mengelakkan suudzon (buruk sangka):

1. Sentiasa memberi penghargaan pada orang lain

2. Sentiasa mahu belajar dari orang lain

3. Perbanyak ilmu; Ilmu agama, social, dsb.

4. Banyak bergaul dengan pelbagai peringkat orang

5. Terbuka, tidak suka menyembunyikan sesuatu / masalah

6. Berusahalah sentiasa mengamalkan sikap berfikiran positif

7. Yakinlah bahawa kita mampu menjadi lebih baik dari orang lain

8. Perbanyak kegiatan kemasyarakatan, jangan suka membuang masa dan perbuatan sia-sia.

9. Khusnudzon; baik sangka pada orang lain dan kepada Allah سبحانه وتعالى.

10. Mensyukuri apa yang kita terima selama ini sebagai anugerah dari Allah سبحانه وتعالى.

11. Jangan sesekali bersikap suudzon dan berfikiran negatif kepada sesuatu yang belum kita tahu kebenarannya.

12. Jangan menelan mentah mentah cerita yang kita terima dari orang lain.

13. Selidiki dulu apakah berita yang kita terima itu benar atau tidak sebelum kita menyebarluaskannya kepada orang lain.

14. Milikilah prinsip bahawa sifat iri hati dan dengki terhadap kemajuaan / kejayaan orang lain adalah merugikan diri, keluarga, komuniti dan Negara kita sendiri.

Sangka Buruk Yang Harus:

Umat Islam juga perlu bersangka buruk terhadap beberapa perkara. Contohnya soal keselamatan diri, seperti yang ditanyakan di atas, ternampak orang yang tak dikenali berkeliaran di persekitaran perumah pada waktu malam. Ini bukan kita menuduh, tetapi kita mengambil sikap berjaga-jaga dari berlakunya musibah-musibah yang tak diingini. Perbuatan sangka buruk seperti ini diharuskan, kerana ia menjaga keselamatan diri dan harta kita.

Bersangka buruk terhadap prestasi pelajaran anak-anak, kerana mereka tidak membaca buku dan hanya main game dan menonton TV sahaja. Hasil dari sangka buruk tersebut, kita menghantar anak menghadiri kelas tusyen, kelas tambahan atau kem motivasi untuk meningkatkan prestasi anak tersebut. Maka di sini merupakan sangka buruk yang menguntungkan semua pihak.

Bersangka buruk terhadap pokok besar yang condong ke arah rumah kita, maka dengan sangka buruk tersebut kita mengupah orang untuk memotong pokok tersebut untuk menjaga keselamat rumah dan nyawa keluarga kita. Maka bersangka buruk seperti ini juga diharuskan. Pendek kata, bersangka buruk yang menguntungkan semua pihak tanpa mengorbankan pihak-pihak yang tertentu atau sebagai langkah keselamatan, adalah diharuskan untuk kepentingan semua pihak.

Kesimpulannya:

Setiap Muslim tidak boleh bersikap suudzon (berprasangka negatif) kepada saudaranya kerana dengan suudzon, kita menutup pintu hati, tidak mahu menerima dan menolak terus apa yang dikatakan saudara kita yang lain.

Bersangka baiklah (husnuzon) kepada semua orang, kerana sangka baik itu meguntungkan semua pihak dan perbuatan tersebut adalah perbuatan ‘mahmudah’ (terpuji). Jangan sesekali bersangka jahat kepada orang, terutamanya saudara sesama Islam, kerana ia merugikan semua pihak dan dosanya juga besar. Jika ada orang yang mempunyai sifat ini, segeralah beristiqfar kepada Allah kerana Allah sentiasa terbuka menerima taubat hambanya.

Wallahu A’lam

Sumber:https://shafiqolbu.wordpress.com/2013/04/30/suuzon-bersangka-buruk/

09/05/2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

ISU YAQAZAH – PARA ULAMAK MUKTABAR AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH VS ‘MAULANA’ ASRI YUSOF

Jawapan Untuk Ustaz Asri Yusof yang Menyesatkan Umat Islam

Kami dapat isi seminar Habib – antara kecuaian Ulama dan kebingungan ummah, asri yusof seboleh-bolehnya cuba mengadakan kempen anti habaib Ahlus Sunnah Wal Jama’ah kepada umat Islam.

Antaranya menafikan yaqazah (bertemu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan berjaga). Dakwan Asri Yusof ulamak dulu tak pernah jumpa Nabi dalam jaga. Dan katanya habaib suka kepada hadith dhoief.

Islam tetap tertegak dengan hujjah, melalui al Quran dan hadith serta syarahnya melalui alim ulamak yang alim kedua-dua sumber, Ijmak, Qiyas dan sumber lain yang telah dipersetujui oleh para ulamak. Bukan dengan cakap kosong, tunjuk youtube, dan peserta/pengikut yang jahil pula akan mengangguk-angguk, setuju, mengiyakan. Sewajarnya sifat jujur dan adil perlu ada dalam diri seorang alim yang mendapat gelaran ‘maulana’ , alim hadith dalam membentangkan sesuatu isu apatah lagi sekiranya ia ada perbahasan di kalangan para ulamak muktabar mengenainya. Bukan syok sendiri untuk mengelabui kebenaran.

Dalil Hadith SAHIH

Antara dalilnya adalah zahir hadis berikut yang menunjukkan seseorang yang soleh boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w., tetapi dengan syarat mestilah pernah bertemu dahulu secara mimpi (ru’ya) dengan baginda s.a.w. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

« من رآني في المنام فسيراني في اليقظة، ولا يتمثل الشيطان بي» “Sesiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka dia akan melihatku secara yaqazah (di dalam keadaan jaga), kerana syaitan tidak boleh menyerupaiku”. [Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad. Lafaznya dari al-Bukhari]

Antara ulama yang mengatakan atau mengiktiraf kemungkinan boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. ialah:

1. Imam Ibn Abi Jamrah al-Maliki dalam Bahjah al-Nufus.

2. Al-‘Allamah Ahmad al-Nafrawi al-Maliki dalam Syarh Risalah Ibn Abi Zayd.

3. al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari.

4. al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti dalam Tanwir al-Halak fi Imkan Ru’yah an-Nabi wa al-Malak.

5. Imam al-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim.

6. Imam al-Ghazali dalam al-Munqiz min al-Dhalal.

7. Imam Syihabuddin al-Qarafi,

8. Imam ‘Afif al-Din al-Yafi‘i al-Syafi‘i dalam (

روض الرياحين). 9. Al-‘Allamah Ibn al-Haj al-Maliki dalam al-Madkhal.

10. Al-Qadhi Ibnu al-‘Arabi al-Maliki dalam kitabnya (

قانون التأويل). 11. Imam Ibn ‘Ata’illah al-Sakandari (w. 709H) dalam kitab Lata’if al-Minan.

12. Al-Qadhi Syaraf al-Din al-Barizi dalam (توثيق عرى الإيمان).

13. Imam Tajuddin al-Subki.

14. Imam al-Qurtubi dalam (التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة).

15. Al-‘Allamah Ibn Battal al-Maliki

16. Al-‘Allamah Ibn al-Tin

17. Imam ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam dalam al-Qawa’id al-Kubra. 18. Al-‘Allamah Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Syama’il.

19. Al-Qadhi Ibn al-Munayyir.

20. Imam Ibn Daqiq al-‘Id.

21. Imam ‘Abd al-Wahhab al-Sya‘rani dalam beberapa kitabnya. 22. Imam Ibn Hajar al-Haytami al-Makki dalam al-Fatawa al-Hadithiyyah.

23. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ra’uf al-Munawi dalam Faydh al-Qadir.

24. Syeikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdullah al-‘Idrus (w. 1038H) dalam kitabnya al-Nurus Safir ‘an Akhbaril Qarnil ‘Asyir.

25. Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi dalam al-Mufhim.

26. Imam al-Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah.

27. Imam al-Baqillani.

28. Al-‘Allamah Sadruddin al-Qunawi dalam Syarh al-Arba‘in.

29. Al-‘Allamah Burhanuddin al-Biqa’i dalam al-Hawi.

30. Al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki.

31. Al-‘Allamah al-Maziri.

32. Al-‘Allamah Nuruddin al-Iji.

33. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ghani al-Nabulsi dalam Syarh Salawat al-Jaylani.

34. Syeikh Ahmad ibn ‘Ajibah al-Hasani (w. 1224H) dalam al-Futuhat al-Ilahiyyah.

35. Al-‘Allamah Syeikh Ibn ‘Allan al-Siddiqi.

36. Al-‘Allamah Najmuddin al-Ghazi dalam kitabnya al-Kawakib al-Sa’irah.

37. Imam Syah Waliy Allah al-Dihlawi dalam al-Durr al-Thamin.

38. Al-‘Allamah al-Alusi dalam tafsir Ruh al-Ma’ani.

39. Sayyid ‘Abdul Rahman al-‘Idrus dalam kitab Syarh Salawat al-Badawi.

40. Syeikh ‘Ali al-Ajhuri al-Maliki dalam al-Nur al-Wahhaj.

41. Syeikh Muhammad al-Khalili dalam al-Fatawa.

42. Syeikh ‘Abdullah Sirajuddin al-Halabi dalam al-Solat ‘ala al-Nabiy.

43. Al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani dalam Sa‘adah al-Darayn, Syawahidul Haq dan Jami‘ Karamatil Auliya’.

44. Syeikh Badi‘ al-Zaman Sa‘id al-Nursi.

45. Syeikh Ibrahim al-Bajuri dalam Syarh al-Syama’il.

46. Syeikh Muhammad Hasanain Makhluf.

47. Syeikh Abu al-Qasim Muhammad al-Hafnawi dalam Ta’rif al-Khalaf.

48. Al-‘Allamah Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, Syeikhul Azhar.

49. Al-‘Allamah Sayyid ‘Abdullah al-Siddiq al-Ghumari dalam kitabnya Fadha’ilun Nabi SAW.

50. Al-‘Allamah Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah.

51. Al-‘Allamah Dr. Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buti.

52. Al-Allamah Dr. ‘Ali Jum‘ah, Mufti Mesir dalam al-Bayan.

53. Dr. ‘Umar ‘Abdullah Kamil,

54. Dr. Mahmud al-Zayn.

55. Datuk Seri Maharaja Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz, Mufti Brunei.

Sila rujuk, kitab al-Durr al-Thamin fi Mubasysyarat al-Nabi al-Amin SAW susunan Imam al-Mujaddid Syah Wali Allah al-Dihlawi yang menghimpunkan 40 peristiwa bertemu Rasulullah s.a.w. secara mimpi dan jaga.

Bahkan ramai dari kalangan alim ulama tariqat-tariqat sufi ini adalah pemelihara-pemilhara sunnah baginda s.a.w. baik sunnah yang zahir mahupun sunnah yang batin. Berapa banyak rahmat dan manfaat rohani yang tersebar di seluruh dunia sama ada kita sedari ataupun tidak, disebabkan usaha-usaha mereka.

Kata al-‘Allamah Ibn Al-Haj dalam kitab al-Madkhal (3/194):

“Sebahagian orang mendakwa melihat Nabi s.a.w. secara yaqazah, sedangkan ia merupakan satu perbahasan yang sempit (sukar) untuk diperbahaskan. Amat sedikitlah dari kalangan mereka yang mengalaminya, kecuali terhadap mereka yang amat mulia di zaman ini. Walau bagaimanapun, kami tidak mengingkari sesiapa yang mengaku pernah mengalaminya, dari kalangan orang-orang yang mulia yang dipelihara oleh Allah s.w.t. zahir dan batin mereka.” Wallahu a’lam.

Antara alim ulamak/orang soleh yang pernah mengalami yaqazah :

Antara mereka ialah; Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani, Syeikh Abu al-Hasan al-Syazili, Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi, Syeikhul-Akbar Muhyiddin Ibn al-‘Arabi, Syeikh Khalifah bin Musa, Syeikh Abu al-‘Abbas al Mursi (w. 686H), Syeikh Abu ‘Abdillah al-Qurasyi, Syeikh Kamaluddin al-Adfawi, Syeikh ‘Ali al-Wafa’i, Syeikh ‘Abd al-Rahim al-Qinawi, Syeikh Abu Madyan al-Maghribi, al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti, Syeikh ‘Ali al-Khawwas, Syeikh Ibrahim al-Matbuli, Imam Abu al-‘Abbas al-Qastallani, Syeikh Abu al-Su‘ud ibn Abi al-‘Asya’ir, Syeikh Ibrahim al-Dusuqi, Sayyid Nuruddin al-Iji, Syeikh Ahmad al-Zawawi, Syeikh Mahmud al-Kurdi, Syeikh Ahmad bin Thabit al-Maghribi, Imam al-Sya‘rani, Syeikh Abu al-Mawahib al-Syazili, Syeikh Nuruddin al-Syuni, al-Habib ‘Umar bin ‘Abdul Rahman al-‘Attas (penyusun Ratibul ‘Attas), Sayyidi ‘Abd al-‘Aziz al-Dabbagh, Syeikh Muhammad bin Abi al-Hasan al-Bakri, Sayyidi Ahmad bin Idris, Syeikh Ahmad al-Tijani dan lain-lain.

Sumber :

Mukhlis: Siri 1: http://mukhlis101.multiply.com/journal/item/112 Siri 2: http://mukhlis101.multiply.com/journal/item/111 Siri 3: http://mukhlis101.multiply.com/journal/item/110 – Rawd al-Rayyahin, http://cb.rayaheen.net – Multaqa al-Nukhbah, http://www.nokhbah.net – Masalah Berjumpa Rasulullah Ketika Jaga Selepas Wafatnya (terjemahan) oleh Husain Hasan Toma‘i. – Sa‘adah al-Darayn oleh al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani. – Fatwa Mufti Brunei, download : yaqazah-fatwa-mufti-brunei. – al-Muqizah fi Ru’yah al-Rasul SAW fil Yaqazah oleh Syeikh Hisyam bin ‘Abd al-Karim al-Alusi, download: http://www.almijhar.org/book/almokza.pdf – Tariqah al-Ahmadiah al-Idrisiah, http://www.ahmadiah-idrisiah.com/article-Yaqazah-pandangan-…

Rujuk :

1. http://sawanih.blogspot.com/2012/07/blog-post.html

2. http://sawanih.blogspot.com/…/jawapan-ringkas-terhadap-tuli…

Sekian ramai alim ulamak yang pakar hadith dan feqah mengiktiraf berlakunya yaqazah dan yang pernah mengalaminya tetapi asri yusuf mengatakan ia tidak pernah berlaku ? Kebiadapan ilmuwan ini walaupun ada ilmu tetapi berbohong dan menipu dengan mempergunakan ilmu hadithnya. Sekiranya mengikut ilmu jarh wa at ta’dil. Thiqahnya tiada. Bayangkan jika ada hadith yang diriwayatkannya hanya jatuh pada dhoief dan maudhuk.

Wallahua’lam bissowab.

05/04/2015 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | | 3 Comments

TAWASUL DENGAN ORANG YANG TELAH MENINGGAL

(Diringkas dari Buku Kajian Tawassul, LBM NU Sby)

Tawassul inilah yang selalu diperselisihkan umat Islam. Diantara ulama yang memperbolehkan adalah Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Nawawi, Imam Subki, al-Qasthalani (ahli hadis), al-Hakim, al-Hafidz al-Baihaqi, al-Hafidz al-Thabrani, al-Hafidz al-Haitsami, Ibnu Hajar al-Haitami, al-Karmani, al-Jazari, Ibnu al-Hajj, al-Sumhudi dan masih banyak lagi ulama lain yang memperbolehkannya.

Namun ada pula sebagian kecil golongan yang melarangnya, seperti kelompok Wahhabi dan yang sepaham dengannya. Sedangkan Ibnu Taimiyah yang tergolong ulama besar dari kalangan Wahhabi tidak sepenuhnya melarang tawassul dengan Rasulullah e atau dengan yang lain. Menurutnya, jika tawassul kepada Nabi Muhammad e dimaksudkan sebagai bentuk rasa keimanan dan kecintaan kepadanya maka diperbolehkan. Berikut petikannya:

وَإِذَا حُمِّلَ عَلَى هٰذَا الْمَعْنَى لِكَلَامِ مَنْ تَوَسَّلَ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ مَمَاتِهِ مِنَ السَّلَفِ كَمَا نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَعَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ وَغَيْرِهِ كَانَ هَذَا حَسَناً وَحِيْنَئِذٍ فَلاَ يَكُوْنُ فِي الْمَسْأَلَةِ نِزَاعٌ )قاعدة جليلة في التوسل والوسيلة ۲/۱۱۹(

“Jika ucapan orang-orang dari kalangan ulama salaf yang bertawassul kepada Rasullah e setelah beliau wafat diarahkan pada pengertian ini (tawassul karena iman dan cinta pada Rasulullah) seperti yang dikutip dari sebagian sahabat, Tabiin, Imam Ahmad dan sebagainya, maka hukumnya bagus dan tidak ada pertentangan”. (al-Tawassul wa al-Wasilah II/119)

Berikut ini adalah dalil-dalil hadits tentang tawassul dengan orang-orang yang telah wafat:

a. Riwayat al-Thabrani

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al Kabir dan al-Ausath pada redaksi hadits yang sangat panjang dari Anas, bahwa ketika Fatimah binti Asad bin Hasyim (Ibu Sayyidina Ali) wafat, maka Rasulullah e turut menggali makam untuknya dan Rasul masuk ke dalam liang lahadnya sembari merebahkan diri di dalam liang tersebut dan beliau berdoa:

أَللهُ الَّذِيْ يُحْيِىْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوْتُ اِغْفِرْ لِأُمِّيْ فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ وَلَقِّنْهَا حُجَّتَهَا وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مَدْخَلَهَا بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَالْأَنْبِيَاءِ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِيْ فَإِنَّكَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ )رواه الطبراني وابو نعيم فى حلية الأولياء عن انس(

“Allah yang menghidupkan dan mematikan. Allah maha hidup, tidak akan mati. Ampunilah ibuku, Fatimah binti Asad, tuntunlah hujjahnya dan lapangkan kuburnya, dengan haq Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku. Sesungguhnya Engkau dzat yang paling mengasihi”. (HR al-Thabrani dan Abu Nuaim dari Anas)

Ahli hadits al-Hafidz al-Haitsami mengomentari hadits tersebut:

رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ فِي الْكَبِيْرِ وَالْاَوْسَطِ وَفِيْهَ رَوْحُ بْنُ صَلاَحٍ وَثَّقَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ وَفِيْهِ ضُعْفٌ، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ رِجَالُ الصَّحِيْحِ )مجمع الزوائد ومنبع الفوائد ۹/۲۱۰(

“Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir dan al-Ausath, salah satu perawinya adalah Rauh bin Shalah, ia dinilai terpercaya oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim, tetapi ia dlaif, sedangkan yang lain adalah perawi-perawi sahih”. (Majma’ al-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid, IX/210)

Sayid Muhammad bin Alawy al-Maliki berkata:

وَاخْتَلَفَ بَعْضُهُمْ فِى رَوْحِ بْنِ صَلاَحٍ اَحَدِ رُوَاتِهِ وَلَكِنَّ ابْنَ حِبَّانَ ذَكَرَهُ فِى الثِّقَاتِ وَقَالَ الْحَاكِمُ ثِقَةٌ مَأْمُوْنٌ وَقَالَ الْهَيْثَمِىُّ فِى مَجْمَعِ الزَّوَائِدِ وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيْحِ. وَرَوَاهُ كَذَلِكَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنُ اَبِي شَيْبَةَ عَنْ جَابِرٍ وَاَخْرَجَهُ الدَّيْلَمِيُّ وَاَبُوْ نُعَيْمٍ فَطُرُقُهُ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا بِقُوَّةٍ وَتَحْقِيْقٍ . قَالَ الشَّيْخُ الْحَافِظُ الْغُمَّارِى فِى اتِّحَافِ اْلاَذْكِيَاءِ ص ۲۰، وَرَوْحٌ هٰذَا ضُعْفُهُ خَفِيْفٌ عِنْدَ مَنْ ضَعَّفَهُ كَمَا يُسْتَفَادُ مِنْ عِبَارَاتِهِمْ وَلِهَذَا عَبَّرً الْهَيْثَمِى بِمَا يُفِيْدُ خِفَّةَ الضُّعْفِ كَمَا لاَ يَخْفَى عَلَى مَنْ مَارَسَ كُتُبَ الْفَنِّ فَالْحَدِيْثُ لاَ يَقِلُّ عَنْ رُتْبَةِ الْحَسَنِ بَلْ عَلَى شَرْطِ ابْنِ حِبَّانَ )كلمة فى التوسل ۱۱(

“Sebagian ulama berbeda pendapat mengenai salah satu perawinya, Rauh bin Shalah, namun Ibnu Hibban menggolongkannya sebagai orang-orang terpercaya dalam kitab al-Tsiqat, dan al-Hakim berkata: “Ia terpercaya dan amanah. Al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid: “Perawinya adalah perawi-perawi sahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abdi al-Barr dari Ibnu Abbas, Ibnu Abi Syaibah dari Jabir, dan ditakhrij oleh al-Dailami dan Abu Nuaim. Maka, jalur-jalur riwayat hadis ini saling menguatkan antara satu dan lainnya. Al-Hafidz al-Ghummari berkata dalam Ittihaf al-Adzkiya’ hal. 20: “Perawi Rauh ini tingkat kedlaifannya rendah bagi ulama yang menilainya dlaif, hal ini diketahui dari redaksi penilaian mereka tentang Rauh. Oleh karena-nya, al-Haitsami menilai dengan redaksi yang ringan (فيه ضعف) sebagaimana diketahui oleh orang-orang yang mempelajari ilmu ini (al-Jarh wa al-Ta’dil). Dengan demikian, hadis ini tidak kurang dari status hadis Hasan bahkan sesuai kriteria kesahihan Ibnu Hibban”. (Kalimat fi al-Tawassul, 20)

b. Riwayat Ibnu Hibban

عَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيْقَ t أَنْ يَقُوْلَ اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِمُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ وَإِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِكَ وَمُوْسٰى نَجِيِّكَ وَعِيْسٰى كَلِمَتِكَ وَرُوْحِكَ وَبِتَوْرَاةِ مُوْسٰى وَإِنْجِيْلِ عِيْسٰى وَزَبُوْرِ دَاوُدَ وَفُرْقَانِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ ….. الْحَدِيْثَ

“Rasulullah e mengajarkan doa kepada Abu Bakar al-Shiddiq: Ya Allah. Saya meminta kepada-Mu dengan Muhammad Nabi-Mu, Ibrahim kekasih-Mu, Musa yang Engkau selamatkan, Isa kalimat dan yang Engkau tiupkan ruh-Mu, dan dengan Taurat Musa, Injil Isa, Zabur Dawud dan al-Quran Muhammad. Semoga Allah memberi shalawat dan salam kepada semuanya….”.

Hadits ini dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’, dan al-Hafidz Zainuddin al-Iraqi mengo-mentari status hadis di atas:

فِي الدُّعَاءِ لِحِفْظِ الْقُرْآنِ رَوَاهُ أَبُوْ الشَّيْخِ ابْنُ حِبَّانَ فِي كِتَابِ الثَّوَابِ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ هَارُوْنَ بْنِ عَبْثَرَةَ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ إِنِّيْ أَتَعَلَّمُ الْقُرْآنَ وَيَنْفَلِتُ مِنِّيْ فَذَكَرَهُ وَعَبْدُ الْمَلِكِ وَأَبُوْهُ ضَعِيْفَانِ وَهُوَ مُنْقَطِعٌ بَيْنَ هَارُوْنَ وَأَبِيْ بَكْرٍ )تخريج أحاديث الإحياء ۳/۳۹(

“Hadits tersebut adalah doa untuk menghafal Al Quran, diriwayatkan oleh Abu Syaikh Ibnu Hibban dalam kitab al-Tsawab dari Abdul Malik bin Harun bin ‘Abtsarah, dari bapaknya bahwa Abu Bakar datang kepada Nabi untuk mempelajari Al Quran…. Abdul Malik dan bapaknya adalah dlaif, dan hadis ini terputus antara Harun dan Abu Bakar" (Takhrij Ahadits al-Ihya’, III/39)

Kendatipun hadits ini dla’if, namun tetap diperbolehkan untuk diamalkan. Sebab beberapa hadits sahih menjelaskan tentang tawassul, sehingga hadis ini masuk ke dalam koridor tersebut. Karena diantara syarat mengamalkan hadits dla’if adalah tidak bertentangan dengan dalil Al Quran maupun hadits sahih, sebagaimana telah diketahui dalam ilmu hadis.

Dengan demikian, bertawassul dengan orang yang telah wafat diperbolehkan, karena Rasulullah e dalam dua hadits di atas bertawassul dengan para nabi sebelum beliau yang kesemuanya telah wafat kecuali Nabi Isa u.

Rasulullah e Mengajarkan Tawassul

Ternyata tawassul tidak hanya diperbolehkan saja, namun pernah diajarkan oleh Rasulullah yang berarti menunjukkan makna sunnah. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut ini:

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ t أَنَّ رَجُلاً ضَرِيْرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ عَلِّمْنِيْ دُعَاءً أَدْعُوْ بِهِ يَرُدُّ اللهُ عَلَيَّ بَصَرِيْ، فَقَالَ لَهُ قُلِ اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ قَدْ تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلٰى رَبِّيْ أَللّٰهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ وَشَفِّعْنِيْ فِيْ نَفْسِيْ فَدَعَا بِهٰذَا الدُّعَاءِ فَقَامَ وَقَدْ أَبْصَرَ

“Dari Utsman bin Hunaif: “Suatu hari seorang yang buta datang kepada Rasulullah e berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkan saya sebuah doa yang akan saya baca agar Allah mengembalikan penglihatan saya”. Rasulullah berkata: “Bacalah doa (artinya): “Ya Allah sesungguhnya aku meminta-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta Tuhanmu melaluimu agar dibukakan mataku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku syafaat. Kemudian ia berdoa dengan doa tersebut, ia berdiri dan telah bisa melihat”. (HR. Hakim dalam al-Mustadrak).

Beliau mengatakan bahwa hadits ini adalah shahih dari segi sanad walaupun Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkan dalam kitabnya. Imam Dzahabi mengatakatan bahwa hadits ini adalah shahih, demikian juga Imam Turmudzi dalam kitab Sunannya bab Daa’wat mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan shahih gharib.

Dalam riwayat Turmudzi disebutkan bahwa Utsman berkata: “Demi Allah kami belum lagi bubar dan belum juga lama pembicaraan kami, orang itu telah datang kembali dengan segar bugar”.

Dan Imam Mundziri dalam kitabnya at-Targhib Wa at-Tarhib, 1/438, mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Nasai, Ibnu Majah dan Imam Khuzaimah dalam kitab shahihnya).

Ada dua hal yang dapat diambil kesimpulan dari hadits ini, bahwa:

1. Doa tersebut memang benar-benar dibaca oleh orang yang buta, bukan didoakan oleh Rasulullah e. Sementara Nasiruddin al-Albani (ulama Wahhabi) berpendapat bahwa orang buta tadi sembuh karena didoakan oleh Rasulullah. Pendapat ini sama sekali tidak ada dasarnya dan bertentangan dengan riwayat al-Hakim diatas. Hal ini dikarenakan setelah al-Albani tidak mampu melemahkan hadits ini secara sanad, lantas al-Albani dan kelompoknya berupaya untuk mengaburkan makna teks hadits tersebut dengan menyatakan bahwa doa itu dibacakan oleh Rasulullah. Hali itu dilakukan karena ia telah terlanjur melarang tawassul, sehingga ia memalingkan makna hadits di atas dengan berdasarkan nafsunya.

2. Rasulullah mengajarkan doa bertawassul dengan menyebut nama beliau di atas tidak hanya berlaku bagi orang buta tersebut dan di masa Rasul hidup saja, sebab Rasulullah tidak membatasinya. Dan seandainya tawassul setelah Rasulullah wafat dilarang, maka sudah pasti Rasulullah akan melarangnya dan menyatakan bahwa doa ini hanya boleh dibaca oleh orang buta tersebut ketika Rasul masih hidup, sebagaimana dalam masalah penyembelihan hewan qurban yang hanya dikhususkan kepada Abu Burdah saja, yaitu sabda Rasulullah e:

ضَحِّ بِالْجَذَعِ مِنَ الْمَعْزِ وَلَنْ تَجْزِئَ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ )رواه البخارى ومسلم عن أبى سعيد الخذرى(

“Sembelihlah kambing usia satu tahun itu, dan hal itu tidak berlaku lagi bagi orang lain selain kamu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abi Sa’id al-Khudri)

Shahabat Mengajarkan Tawassul

1. Utsman bin Hunaif

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ t أَنَّ رَجُلاً كَانَ يَخْتَلِفُ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ t فِيْ حَاجَتِهِ وَكَانَ عُثْمَانُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِ وَلَا يَنْظُرُ فِيْ حَاجَتِهِ فَلَقِيَ ابْنَ حُنَيْفٍ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَيْهِ فَقَالَ لَهُ عُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ ائْتِ الْمِيْضَأَةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ ائْتِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَيَقْضِيْ لِيْ حَاجَتِيْ وَتَذْكُرُ حَاجَتَكَ حَتَّى أَرْوَحَ مَعَكَ، فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ فَصَنَعَ مَا قَالَ لَهُ ثُمَّ أَتَى بَابَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ t فَجَاءَهُ الْبَوَّابُ حَتَّى أَخَذَ بِيَدِهِ فَأَدْخَلَهُ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَأَجْلَسَهُ مَعَهُ عَلَى الطِّنْفِسَةِ فَقَالَ حَاجَتُكَ فَذَكَرَ حَاجَتَهُ وَقَضَاهَا لَهُ )رواه الطبرانى فى المعجم الكبير والبيهقى في دلائل النبوة(

“Diriwayatkan dari Utsman bin Hunaif (perawi hadis yang menyaksikan orang buta bertawassul kepada Rasulullah) bahwa ada seorang laki-laki datang kepada (Khalifah) Utsman bin Affan untuk memenuhi hajatnya, namun sayidina Utsman tidak menoleh ke arahnya dan tidak memperhatikan kebutuhannya. Kemudian ia bertemu dengan Utsman bin Hunaif (perawi) dan mengadu kepadanya. Utsman bin Hunaif berkata: Ambillah air wudlu’ kemudian masuklah ke masjid, salatlah dua rakaat dan bacalah: “Ya Allah sesungguhnya aku meminta-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui nabi-Mu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta Tuhanmu melaluimu agar hajatku dikabukan. Sebutlah apa kebutuhanmu”. Lalu lelaki tadi melakukan apa yang dikatakan oleh Utsman bin Hunaif dan ia memasuki pintu (Khalifah) Utsman bin Affan. Maka para penjaga memegang tangannya dan dibawa masuk ke hadapan Utsman bin Affan dan diletakkan di tempat duduk. Utsman bin Affan berkata: Apa hajatmu? Lelaki tersebut menyampaikan hajatnya, dan Utsman bin Affan memutuskan permasalahannya”. (HR. Al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah)

Ulama Ahli hadits al-Hafidz al-Haitsami berkata:

وَقَدْ قَالَ الطَّبْرَانِيُّ عَقِبَهُ وَالْحَدِيْثُ صَحِيْحٌ بَعْدَ ذِكْرِ طُرُقِهِ الَّتِيْ رَوٰى بِهَا )مجمع الزوائد ومنبع الفوائد ۲/۵۶۵(

“Dan sungguh al-Thabrani berkata (setelah al-Thabrani menyebut semua jalur riwayatnya): Riwayat ini sahih”. (Majma’ al-Zawaid, II/565)

Perawi hadits ini, Utsman bin Hunaif, telah mengajarkan tawassul kepada orang lain setelah Rasulullah e wafat. Dan kalaulah tawassul kepada Rasulullah dilarang atau bahkan dihukumi syirik maka tidak mungkin seorang sahabat akan mengajarkan hal-hal yang menyimpang dari ajaran Rasulullah e, karena ia hidup di kurun waktu terbaik, yaitu sebagai sahabat Nabi.

Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki berkata:

هَذِهِ الْقِصَّةُ صَحَّحَهَا الْحَافِظُ الطَّبْرَانِيُّ وَالْحَافِظُ اَبُوْ عَبْدِ اللهِ الْمَقْدِسِيِّ وَنَقَلَ ذَلِكَ التَّصْحِيْحَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ وَالْحَافِظُ نُوْرُ الدِّيْنِ الْهَيْثَمِيُّ )كلمة فى التوسل ۷(

“Kisah ini disahihkan oleh al-Hafidz al-Thabrani dan al-Hafidz Abu Abdillah al-Maqdisi, dikutip oleh al-Hafidz al-Mundziri dan al-Hafidz Nuruddin al-Haitsami”. (Kalimat fi al-Tawassul, 7)

Ibnu Taimiyah mengutip doa tawassul seperti diatas dan ia mengatakan bahwa ulama salaf membacanya, yaitu:

رَوَى ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا فِيْ كِتَابِ مُجَابِي الدُّعَاءِ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُوْ هَاشِمٍ سَمِعْتُ كَثِيْرَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ كَثِيْرِ بْنِ رِفَاعَةَ يَقُوْلُ جَاءَ رَجُلٌ إلَى عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيْدِ بْنِ أَبْجَرَ فَجَسَّ بَطْنَهُ فَقَالَ بِكَ دَاءٌ لَا يَبْرَأُ. قَالَ مَا هُوَ؟ قَالَ الدُّبَيْلَةُ. قَالَ فَتَحَوَّلَ الرَّجُلُ فَقَالَ اللهَ اللهَ اللهَ رَبِّيْ لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا اللّٰهُمَّ إنِّيْ أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ صلى الله عليه وسلم تَسْلِيْمًا يَا مُحَمَّدُ إنِّيْ أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ وَرَبِّيْ يَرْحَمُنِيْ مِمَّا بِيْ. قَالَ فَجَسَّ بَطْنَهُ فَقَالَ قَدْ بَرِئَتْ مَا بِكَ عِلَّةٌ. قُلْتُ فَهَذَا الدُّعَاءُ وَنَحْوُهُ قَدْ رُوِيَ أَنَّهُ دَعَا بِهِ السَّلَفُ وَنُقِلَ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِيْ مَنْسَكِ الْمَرْوَذِيِّ التَّوَسُّلُ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي الدُّعَاءِ وَنَهَى عَنْهُ آخَرُوْنَ )مجموع الفتاوى ۱/۲۶۴ وقاعدة جليلة في التوسل والوسيلة ۲/۱۹۹(

“Ibnu Abi al-Dunya meriwayatkan dari Katsir bin Muhammad, Ada seorang laki-laki datang ke Abdul Malik bin Said bin Abjar. Abdul Malik memegang perutnya dan berkata: “Kamu mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan”. Lelaki itu bertanya: “Penyakit apa?” Ia menjawab: “Penyakit dubailah (semacam tumor dalam perut)”. Kemudian laki-laki tersebut berpaling dan berdoa: “Allah Allah Allah.. Tuhanku, tiada suatu apapun yang yang menyekutuinya. Ya Allah, saya menghadap kepadaMu dengan nabiMu Muhammad Nabi yang rahmah Saw. Wahai Muhammad saya menghadap pada Tuhanmu denganmu (agar) Tuhanku menyembuhkan penyakitku”. Lalu Abdul Malik memegang lagi perutnya dan ia berkata: “Penyakitmu telah sembuh”. Saya (Ibnu Taimiyah) berkata: “Doa semacam ini diriwayatkan telah dibaca oleh ulama salaf, dan diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal dalam al-Mansak al-Marwadzi bahwa beliau bertawassul dengan Rasulullah dalam doanya. Namun ulama yang lain melarang tawassul”. (Majmu’ al-Fatawa, I/264, dan al-Tawassul wa al-Wasilah, II/199)

2. Bilal bin Haris al-Muzani

وَرَوَى اِبْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ مِنْ رِوَايَةِ أَبِيْ صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ مَالِك الدَّارِيِّ – وَكَانَ خَازِنَ عُمَرَ – قَالَ أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِيْ زَمَنِ عُمَرَ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا فَأَتَى الرَّجُلَ فِيْ الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهُ اِئْتِ عُمَرَ … الْحَدِيْثَ. وَقَدْ رَوَى سَيْفٌ فِي الْفُتُوْحِ أَنَّ الَّذِيْ رَأَى الْمَنَامَ الْمَذْكُورَ هُوَ بِلَالُ بْنُ الْحَارِثِ الْمُزَنِيُّ أَحَدُ الصَّحَابَةِ )ابن حجر فتح الباري ۳/۴۴۱ وابن عساكر تاريخ دمشق ۵۶/۴۸۹(

“Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan hadis dengan sanad yang sahih dari Abi Shaleh Samman, dari Malik al-Dari (Bendahara Umar), ia berkata: Telah terjadi musim kemarau di masa Umar, kemudia ada seorang laki-laki (Bilal bin Haris al-Muzani) ke makam Rasulullah Saw, ia berkata: Ya Rasullah, mintakanlah hujan untuk umatmu, sebab mereka akan binasa. Kemudian Rasulullah datang kepada lelaki tadi dalam mimpinya, beliau berkata: Datangilah Umar…. Saif meriwayatkan dalam kitab al-Futuh lelaki tersebut adalah Bilal bin Haris al-Muzani salah satu Sahabat Rasulullah”. (Ibnu Hajar, Fathul Bari, III/441, dan Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyqi, 56/489)

Bentuk tawassul dalam riwayat ini adalah seruan memanggil nama Rasulullah dan meminta pertolongan kepada beliau. Sementara menurut al-Albani dan aliran Wahhabi, menyeru kepada orang yang telah meninggal dihukumi syirik. Padahal umat Islam senantiasa berseru kepada Rasulullah e setiap kali melakukan tachiyat dalam salat:

السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ )أخرجه ابن ماجه ۹۰۲ والنسائي ۲/۲۴۳ قال الدارقطني والبيهقي إسناده صحيح(

“Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah atas dirimu wahai Nabi. Dan semoga keselamatan atas kami serta para hamba yang salih”.

3. Aisyah Istri Rasulullah e

حَدَّثَنَا أَبُوْ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَالِكٍ النُّكْرِي حَدَّثَنَا أَوْسُ بْنُ عَبْدِ اللهِ قُحِطَ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ قَحْطاً شَدِيْداً، فَشَكَوْا إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ انْظُرُوْا قَبْرَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَاجْعَلُوْا مِنْهُ كِوًى إِلَى السَّمَاءِ حَتَّى لَا يَكُوْنَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ. قَالَ فَفَعَلُوْا فَمُطِرْنَا مَطَراً حَتَّى نَبَتَ الْعُشْبُ وَسَمِنَتِ الْإِبِلُ حَتَّى تَفَتَّقَتْ مِنَ الشَّحْمِ فَسُمِّىَ عَامَ الْفَتْقِ )رواه الدارمي(

“Dari Aus bin Abdullah: “Suatu hari kota Madinah mengalami kemarau panjang, lalu datanglah penduduk Madinah ke Aisyah (janda Rasulullah e) mengadu tentang kesulitan tersebut, lalu Aisyah berkata: “Lihatlah kubur Nabi Muhammad e lalu bukalah sehingga tidak ada lagi atap yang menutupinya dan langit terlihat langsung”, lantas mereka pun melakukan itu kemudian turunlah hujan lebat sehingga rumput-rumput tumbuh dan onta pun gemuk, maka disebutlah itu tahun gemuk”. (HR. Imam Darimi)

Kitab Musnad as-Shahabah menjelas-kan status atsar di atas sebagai berikut:

قَالَ الشَّيْخُ حُسَيْنٌ أَسَدٌ رِجَالُهُ ثِقَاتٌ وَهُوَ مَوْقُوْفٌ عَلَى عَائِشَةَ )مسند الصحابة في الكتب التسعة ۱۳/۷۶(

“Syaikh Husain berkata: “Perawinya adalah orang-orang terpercaya”. Riwayat tersebut bersumber dari Aisyah”. (Musnad al-Shahabat, XIII/76)

Sayid Muhammad bin Alawy mentakhrij riwayat diatas:

اَمَّا اَبُوْ النُّعْمَانِ فَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ الْمُلَقَّبُ بِعَارِمٍ شَيْخُ الْبُخَارِيِّ، قَالَ الْحَافِظُ فِى التَّقْرِيْبِ ثِقَةٌ ثَبْتٌ تَغَيَّرَ فِىْ اَخِرِ عُمْرِهِ وَهَذَا لَا يَضُرُّهُ وَلَا يَقْدَحُ فِىْ رِوَايَتِهِ لِاَنَّ الْبُخَارِيَ رَوٰى لَهُ فِى صَحِيْحِهِ اَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ حَدِيْثٍ. وَاَمَّا سَعِيْدُ بْنُ زَيْدٍ فَهُوَ صَدُوْقٌ لَهُ اَوْهَامٌ وَكَذٰلِكَ حَالُ عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ النُّكْرِيِّ كَمَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ عَنْهُمَا فِى التَّقْرِيْبِ وَقَدْ قَرَّرَ الْعُلَمَاءُ بِأَنَّ هٰذِهِ الصِّيْغَةَ وَهِيَ صَدُوْقٌ يُهِمُّ مِنْ صِيَغِ التَّوْثِيْقِ لَا مِنْ صِيَغِ التَّضْعِيْفِ كَمَا فِى تَدْرِيْبِ الرَّاوِي. وَاَمَّا اَبُوْ الْجَوْزَاءِ فَهُوَ اَوْسُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الرِّبْعِيِّ وَهُوَ ثِقَةٌ مِنْ رِجَالِ الصَّحِيْحَيْنِ. فَهُوَ سَنَدٌ لَا بَأْسَ بِهِ بَلْ هُوَ جَيِّدٌ عِنْدِيْ )كلمة فى التوسل ۱۳(

“Abu Nu’man adalah Muhammad bin Fadl yang bergelar Arim adalah guru al-Bukhari, al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya dalam kitab Taqrib sebagai orang terpercaya dan kokoh namun ada perubahan dalam akhir umurnya. Tetapi hal ini tidak mempengaruhi riwayatnya karena al-Bukhari telah mengutip dalam kitab Sahihnya lebih dari 100 hadis. Adapun Said bin Zaid dan Amr bin Malik al-Nukri dinilai oleh al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya dalam kitab Taqrib sebagai orang yang sangat jujur namun memiliki praduga-praduga. Redaksi seperti ini adalah bentuk penilaian positif bukan penilaian melemahkan, sebagaimana dalam kitab Tadrib al-Rawi (Jalaluddin al-Suyuthi). Sedangkan Abu al-Jauza’ adalah Aus bin Abdillah al-Rib’i, ia adalah orang terpercaya dan perawi hadis al-Bukhari dan Muslim. Dengan demikian, sanad riwayat ini tidak lemah justru sanad yang bagus bagi saya”. (Kalimat fi al-Tawassul, 13)

Tawassul Kepada Rasulullah e Sebelum Lahir

Imam Hakim an-Naisabur meriwayatkan dari Umar berkata, bahwa Nabi bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمُ الْخَطِيْئَةَ قَالَ يَا رَبِّىْ إِنِّىْ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِىْ، فَقَالَ اللهُ: يَا آدَمُ كَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أَخْلُقْهُ؟ قَالَ: يَا رَبِّى لِأَنَّكَ لَمَّا خَلَقْتَنِىْ بِيَدِكَ وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأْسِىْ فَرَأَيْتُ عَلَى قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوْبًا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ فَعَلِمْتُ أَنَّكَ لَمْ تُضِفْ إِلَى اسْمِكَ إِلَّا أَحَبَّ الْخَلْقِ إِلَيْكَ، فَقَالَ اللهُ: صَدَقْتَ يَا آدَمُ إِنَّهُ لَأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَيَّ اُدْعُنِى بِحَقِّهِ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ وَلَوْلَا مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ (أخرجه الحاكم فى المستدرك وصححه ۲/۶۱۵)

“Rasulullah e bersabda: “Ketika Adam melakukan kesalahan, lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku memintaMu melalui Muhammad agar Kau ampuni diriku”. Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, darimana engkau tahu Muhammad padahal belum Aku ciptakan?” Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, ketika Engkau ciptakan diriku dengan kekuasaan-Mu dan Engkau hembuskan ke dalamku sebagian dari ruh-Mu, maka aku angkat kepalaku dan aku melihat di atas tiang-tiang Arash tertulis kalimat “Laa ilaaha illallaah muhamadur rasulullah” maka aku mengerti bahwa Engkau tidak akan mencantumkan sesuatu dengan nama-Mu kecuali nama mahluk yang paling Engkau cintai”. Allah menjawab: “Benar Adam, sesungguhnya ia adalah mahluk yang paling Aku cintai, bredoalah dengan melaluinya maka Aku telah mengampunimu, dan andaikan tidak ada Muhammad maka tidaklah Aku menciptakanmu”. (HR. Hakim dan ia berkata bahwa hadits ini adalah shahih dari segi sanadnya)

Demikian juga pernyataan Imam Baihaqi dalam kitabnya Dalail An-Nubuwwah, Imam al-Qasthalany dalam kitabnya Al-Mawahib, 2/392, Imam Zarqani dalam kitab Syarkhu Al-Mawahib Laduniyyah, 1/62, Imam Subuki dalam kitabnya Shifa As-Saqam, dan Imam Suyuti dalam kitabnya Khasais An-Nubuwah, mereka semua mengatakan bahwa hadits ini adalah shahih.

Tawassul Kepada Rasulullah e Sebelum Menjadi Rasul

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dari sahabat Ibnu Abbas dinyatakan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَتْ يَهُوْدُ خَيْبَرَ تُقَاتِلُ غَطَفَانَ فَكُلَّمَا الْتَقَوْا هَزَمَتْ يَهُوْدُ خَيْبَرَ فَعَاذَتِ الْيَهُوْدُ بِهٰذَا الدُّعَاءِ اللّٰهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِيْ وَعَدْتَنَا أَنْ تُخْرِجَهُ لَنَا فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ أَلَّا نَصَرْتَنَا عَلَيْهِمْ، قَالَ: فَكَانُوْا إِذَا الْتَقَوْا دَعَوْا بِهٰذَا الدُّعَاءِ فَهَزَمُوْا غَطَفَانَ فَلَمَّا بُعِثَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم كَفَرُوْا بِهِ فَأَنْزَلَ اللهُ وَقَدْ كَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ بِكَ يَا مُحَمَّدُ عَلَى الْكَافِرِيْنَ )رواه الحاكم وقال وهو غريب(

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Yahudi Khaibar berperang dengan Kabilah Ghathafan. Setiap bertemu dalam peperang-an, orang Yahudi selalu lari dan meminta pertolongan dengan berdoa: “Kami meminta kepada-Mu dengan Haq (kedudukan) Muhammad seorang Nabi yang Ummi, yang Engkau janjikan kepada kami untuk diutus di akhir zaman, hendaklah Engkau menolong kami”. Maka setiap berperang, Yahudi Khaibar selalu berdoa dengan doa ini sehingga berhasil memukul mundur pasukan Ghathafan. Dan ketika Rasulullah diutus, mereka kufur terhadapnya. Kemudian Allah menurunkan ayat 89 surat al-Baqarah tersebut”. (HR. Hakim, dia mengatakan hadits ini asing)

Kendatipun al-Hakim menyebutkan bahwa riwayat ini adalah ghorib (asing) yang tergolong hadis perorangan (الأحد), namun banyak ahli tafsir yang menjadikannya sebagai asbab al-nuzul (sebab turun) dari ayat di atas seperti al-Razi dalam tafsir kabir Mafatih al-Ghaib, al-Zamakhsyari dalam al-Kasyaf dan sebagainya. Bahkan Abu Abdurrahman Muqbil, setelah mengutip riwayat ini dari Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam, berkata:

وَهُوَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ فَإِنَّ ابْنَ إِسْحَاقَ إِذَا صَرَّحَ بِالتَّحْدِيْثِ فَحَدِيْثُهُ حَسَنٌ كَمَا ذَكَرَهُ الْحَافِظُ الذَّهَبِيُّ فِي الْمِيْزَانِ.

“Hadits ini adalah hadits Hasan. Sebab apabila Ibnu Ishaq menjelaskan tentang hadits, maka haditsnya berstatus Hasan, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidz al-Dzahabi dalam kitab al-Mizan”. (Al-Shahih al-Musnad min Asbab al-Nuzul, I/22)

Berikut ini adalah pernyataan al-Razi dan Zamakhsyari tentang ayat di atas:

أَمَّا قَوْلُهُ تَعَالٰى (وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْا) فَفِي سَبَبِ النُّزُوْلِ وُجُوْهٌ أَحَدُهَا أَنَّ الْيَهُوْدَ مِنْ قَبْلِ مَبْعَثِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَنُزُوْلِ الْقُرْآنِ كَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ أَيْ يَسْأَلُوْنَ الْفَتْحَ وَالنُّصْرَةَ وَكَانُوْا يَقُوْلُوْنَ اللّٰهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا وَانْصُرْنَا بِالنَّبِيِّ الْأُمِّيِّ )تفسير الرازي مفاتيح الغيب ۳/۱۶۴(

“Sebab turunnya ayat ini (al-Baqarah 89) ada banyak versi, salah satunya bahwa Yahudi sebelum diutusnya Nabi Muhammad dan turunnya Al Quran, senantiasa meminta kemenangan dan pertolongan. Mereka berkata: “Ya Allah. Berilah kami kemenangan dan pertolongan dengan Nabi yang Ummi (Muhammad)”. (Tafsir al-Razi, III/164)

(يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوْا) يَسْتَنْصِرُوْنَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ إِذَا قَاتَلُوْهُمْ قَالُوْا اللّٰهُمَّ انْصُرْنَا بِالنَّبِيِّ الْمَبْعُوْثِ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ الَّذِيْ نَجِدُ نَعْتَهُ وَصِفَتَهُ فِي التَّوْرَاةِ )تفسير الكشاف للزمخشري ۱/۱۶۴(

“Yahudi meminta pertolongan dalam menghadapi kaum musyrikin. Saat berperang Yahudi berdoa: “Ya Allah. Tolonglah kami dengan seorang Nabi yang akan diutus di akhir zaman yang telah kami temukan ciri-ciri dan sifatnya dalam Taurat”. (Tafsir al-Kasyaf, I/164)

Tawassul Kepada Rasulullah e Setelah Wafat

Walaupun Rasulullah e wafat, umat Islam meyakini bahwa Rasulullah tetap bisa mendoakan kepada umatnya. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits:

قَالَ صلى الله عليه وسلم حَيَاتِي خَيْرٌ وَمَمَاتِيْ خَيْرٌ لَكُمْ فَإِذَا أَنَا مُتُّ كَانَتْ وَفَاتِيْ خَيْرًا لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَيَّ أَعْمَالُكُمْ فَإِنْ رَأَيْتُ خَيْرًا حَمِدْتُ اللهَ تَعَالٰى وَإِنْ رَأَيْتُ شَرًّا اِسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ )رواه ابن سعد عن بكر بن عبد الله مرسلا(

“Hidupku lebih baik dan matiku juga lebih baik bagi kalian. Jika aku wafat maka kematianku lebih baik bagi kalian. Amal-amal kalian diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat amal baik, maka aku memuji kepada Allah. Dan jika aku melihat aml buruk, maka aku mintakan ampunan bagimu kepada Allah”. (HR. Ibnu Sa’d dari Bakar bin Abdullah secara mursal)

Terkait penilaian hadits ini al-Munawi berkata:

وَرَوَاهُ الْبَزَّارُ مِنْ حَدِيْثِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ الْهَيْثَمِي وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيْحِ )فيض القدير شرح الجامع الصغير ۳/۵۳۲(

“Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bazzar dari Ibnu Mas’ud. Al-Haitsami berkata: “Perawinya adalah perawi-perawi yang sahih”. (Faidl al-Qadir Syarah al-Jami’ al-Shaghir, III/532)

Oleh karena itu, banyak para sahabat yang mengajarkan tawassul kepada Rasulullah e setelah beliau wafat, seperti Utsman bin Hunaif, Bilal bin Haris al-Muzani, Aisyah dan lain-lain. Bahkan penjelasan bahwa orang-orang tertentu (masih hidup) meskipun telah wafat, dijelaskan langsung oleh Allah dalam al-Quran:

وَلَا تَقُوْلُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبيْلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ )البقرة: ۱۵۴(

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. (Al-Baqarah:154)

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ ﴿أل عمران ۱۶۹﴾

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki”. (Ali Imran 169)

Rasulullah e Sebagai Wasilah

Kisah ini berdasarkan riwayat hadits yang sangat panjang. Ringkasnya, ada seorang paranormal bernama Sawad bin Qarib, selama beberapa malam ia bermimpi masuk agama Islam, yang pada akhirnya ia datang ke Rasulullah e dan melantunkan beberapa syair yang diantaranya adalah sebagai berikut:

فَأَشْهَدُ أَنَّ اللهَ لَا رَبَّ غَيْرَهُ % وَأَنَّكَ مَأْمُوْنٌ عَلَى كُلِّ غَالِبٍ

وَأَنَّكَ أَدْنَى الْمُرْسَلِيْنَ وَسِيْلَةً %إِلَى اللهِ يَا ابْنَ الْأَكْرَمِيْنَ الْأَطَائِبِ

وَكُنْ لِيْ شَفِيْعًا يَوْمَ لَا ذُوْ شَفَاعَةٍ % سِوَاكَ بِمُغْنٍ عَنْ سَوَادِ بْنِ قَارِبٍ

“Maka, aku bersaksi bahwa Allah, tiada tuhan selain Ia. Dan sesungguhnya engkau orang terpercaya atas segala kemenangan. Dan seseungguhnya engkau (Muhammad) adalah wasilah yang terdekat kepada Allah. Wahai putra orang-orang mulia nan baik. Jadilah engkau sebagai penolong bagiku saat tiada yang dapat memiliki pertolongan. Selain engkau tiada dibutuhkan oleh Sawad bin Qarib”.

فَفَرِحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابُهُ بِإِسْلَامِيْ فَرْحًا شَدِيْدًا حَتَّى رُئِيَ فِي وُجُوْهِهِمْ، قَالَ: فَوَثَبَ عُمَرُ فَالْتَزَمَهُ وَقَالَ قَدْ كُنْتُ أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَ هَذَا مِنْكَ

“Sawad bin Qarib berkata: “Rasulullah dan para sahabat sangat senang dengan keislaman saya. Kemudian Umar melompat dan merangkulnya. Umar berkata: “Sungguh aku senang mendengar ini darimu”.

Kisah di atas dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir (7/299)/(4/168 Isa al-Halabi Mesir), al-Mustadrak (15/227), al-Kabir Thabrani/ Ahadits Thiwal (1/75), Dalail Nubuwah li al-Baihaqi (1/132), Dalail Nubuwah Abu Nuaim (1/74), Funun Ajaib Abi Said Naqqasy (1/84), Sirah Nabawiyah Ibnu Katsir (1/346), Mu’jam Abi Ya’la Al Mushili (1/348), Uyunul Atsar Ibn Sayydinnas (1/102), Subulul Huda War Rasyad Shalihi Syami (2/209), Al Wafi bil Wafiyat Abu Fayyadl (5/175), Al Isti’ab fi Ma’rifat Ashhab (1/104), Tafsir Adlwa’ al Bayan Al Hafidz Zuhair bin Harb Nasa’i/Ta’liq Al Albani (3/445) Tafsir Nukat Wa Uyun (4/336).

Rasulullah dan para sahabat tidak mengingkari bahwa Rasulullah adalah wasilah yang paling utama. Kalau hal ini salah maka sudah pasti Rasulullah dan para sahabat akan mengatakan salah. Sehingga hadits ini disebut taqrir (ketetapan) karena disetujui dan diakui oleh Rasulullah sendiri. Dan seandainya status wasilah Rasulullah hanya berlaku ketika beliau masih hidup, maka sudah pasti Rasulullah akan berkata semisal: “Ingat, aku hanya sebagai wasilah ketika aku masih hidup saja! Atau: Jika bertawassul tidak boleh dengan dzat saya, tapi dengan doa saya!” Tetapi nyatanya Rasulullah mengakuinya dan tidak memberi batasan. Karenanya dalam kaidah Ushul fiqh dikatakan:

اِنَّ الْبَيَانَ لاَ يُؤَخَّرُ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ

“Penjelasan tentang hukum tidak boleh ditunda di saat penjelasan itu dibutuhkan”. (Al-Talkhish fi Ushul al-Fiqh, II/208)

Lalu dari mana pihak yang anti tawassul melarang Rasulullah dijadikan sebagai wasilah setelah beliau wafat, padahal beliau sendiri tidak pernah menyatakan demikian?

Sumber: Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah – KTB (PISS-KTB)

22/03/2015 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | | Leave a comment

Tarekat Tasawuf menurut Imam Ghazali

Imam Al-Ghazali menjelaskan tentang ilmu dan amalan tarekat Tasawuf merupakan ilmu rasa yang dicapai dengan cara merasa (berterusan berzikir mengingati Allah) dan ber‘uzlah sahaja. Katanya:

“Ilmu dan amalan tarekat Tasawuf adalah ilmu rasa (zawq) yang hanya dapat dicapai dengan cara merasa (berterusan berzikir mengingati Allah) dan jalan ‘uzlah sahaja. Ianya tidak akan dapat dicapai dengan jalan mendengar dan ta’lim (belajar) seperti ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu tauhid, ilmu tafsir dan lain-lain.”

Amalan tarekat Tasawuf merupakan jalan tarbiyah keimanan menerusi berzikir mengingati Allah dan bermujahadah memerangi nafsu dengan bersungguh-sungguh di dalam suasana ber‘uzlah dalam tempoh tertentu. Riadah atau latihan kerohanian yang berat ini dipimpin oleh pembimbing rohani atau shaikh mursyid melalui kesungguhan dan kegigihan usaha menentang kehendak-kehendak nafsu jahat, sifat-sifat tercela serta akhlak yang rendah dan hina supaya terhias diri kita dengan sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang mulia.

1. Definisi Ilmu dan Amalan Tarekat Tasawuf

Definisi ilmu Tasawuf mengikut Kamus Dewan (Edisi Keempat: 2007) adalah menuntut atau mengamalkan ilmu ‘uzlah (bersuluk) iaitu ajaran atau jalan untuk mengenal Tuhan dengan benar-benar dan mendekatkan diri dengan Tuhan.

Tarekat Tasawuf didefinisikan oleh para tokoh Tasawuf sebagai jalan mujahadah dari aspek pencapaian kesempurnaan hati melalui berbagai-bagai halangan dan mengharungi berbagai-bagai tingkatan di jalan Allah itu.

Wallahualam

'Tarekat Tasawuf menurut Imam Ghazali

Imam Al-Ghazali menjelaskan tentang ilmu dan amalan tarekat Tasawuf merupakan ilmu rasa yang dicapai dengan cara merasa (berterusan berzikir mengingati Allah) dan ber‘uzlah sahaja. Katanya:
“Ilmu dan amalan tarekat Tasawuf adalah ilmu rasa (zawq) yang hanya dapat dicapai dengan cara merasa (berterusan berzikir mengingati Allah) dan jalan ‘uzlah sahaja. Ianya tidak akan dapat dicapai dengan jalan mendengar dan ta’lim (belajar) seperti ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu tauhid, ilmu tafsir dan lain-lain.”

Amalan tarekat Tasawuf merupakan jalan tarbiyah keimanan menerusi berzikir mengingati Allah dan bermujahadah memerangi nafsu dengan bersungguh-sungguh di dalam suasana ber‘uzlah dalam tempoh tertentu. Riadah atau latihan kerohanian yang berat ini dipimpin oleh pembimbing rohani atau shaikh mursyid melalui kesungguhan dan kegigihan usaha menentang kehendak-kehendak nafsu jahat, sifat-sifat tercela serta akhlak yang rendah dan hina supaya terhias diri kita dengan sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang mulia.

1. Definisi Ilmu dan Amalan Tarekat Tasawuf
Definisi ilmu Tasawuf mengikut Kamus Dewan (Edisi Keempat: 2007) adalah menuntut atau mengamalkan ilmu ‘uzlah (bersuluk) iaitu ajaran atau jalan untuk mengenal Tuhan dengan benar-benar dan mendekatkan diri dengan Tuhan.

Tarekat Tasawuf didefinisikan oleh para tokoh Tasawuf sebagai jalan mujahadah dari aspek pencapaian kesempurnaan hati melalui berbagai-bagai halangan dan mengharungi berbagai-bagai tingkatan di jalan Allah itu.

Wallahualam'

12/03/2015 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | | 1 Comment

Tanda, sebab dan kesan sombong

SIFAT SOMBONG – RASA DIRI HEBAT

Perkataan kibir mengikut istilah bahasa Melayu, ertinya ialah sombong atau angkuh. Pengertian dalam bahasa moden ialah ego. Mengikut syariat Islam, erti kibir ialah membesarkan diri kerana merasakan diri mempunyai kelebihan dan keistimewaan sehingga lupa kepada Allah dan menderhakainya. Pengertian mengikut istilah syariat inilah yang akan dihuraikan di sini.

Sifat kibir atau sombong atau angkuh atau ego bermakna membesarkan diri kerana hati merasakan diri mempunyai kelebihan, keistimewaan dan kehebatan. Ia merupakan sifat batin (mazmumah) yang paling keji. Bahkan ia adalah sifat batin yang sangat jahat.

Dosa dan kesalahan pertama yang dilakukan oleh makhluk Allah terhadap Allah ialah sifat sombong. Iblis enggan sujud kepada Nabi Adam a.s. sewaktu Allah memerintahkannya. Dia membesarkan diri lantaran merasakan dirinya lebih utama dan lebih mulia daripada Nabi Adam a.s. Kejadiannya daripada api sedangkan Nabi Adam a.s. daripada tanah. Itu saja penyebab yang dia rasa dirinya lebih hebat dan istimewa.

Peristiwa kesombongan iblis ini Allah ceritakan dalam Al Quran, firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Kami memerintahkan kepada malaikat: ‘Sujudlah kepada Ada.’ Dia (Iblis) enggan dan membesarkan dirinya. Maka sesungguhnya dia adalah dari golongan musyrik.” (Al Baqarah: 34)

Di sini Allah menceritakan bagaimana keengganan iblis untuk tunduk dan taat dengan arahan Allah. Bahkan ia membesarkan diri kerana merasa dirinya lebih hebat dan mulia daripada Nabi Adam a.s. Maka dia menjadi kafir dan menerima kutukan Allah dunia Akhirat. Allah keluarkan dia dari Syurga yang penuh nikmat dan menukar wajahnya menjadi seburuk-buruk rupa. Di sinilah bermula dendamnya kepada Nabi Adam a.s. dan anak cucu cicitnya yang tidak pernah padam sesaat pun. Jelas, daripada penyakit sombong ini akan lahirlah penyakitpenyakit batin yang lain seperti pemarah, pendendam dan hasad dengki.

Dari sini lahirlah buahnya di dalam tindakan lahir seperti kasar, keras, mengangkat-angkat diri, mengumpat dan menghina orang, menganiaya, penindasan, diskriminasi, penzaliman dan pembunuhan. Sebab itu sombong sangat dimurkai Allah SWT. Kesan daripada sifat sombong ini tercetus kerosakan dalam kehidupan masyarakat seperti hilang kasih sayang, pecah per-paduan, saling berdendam, hina-menghina, kata-mengata dan jatuh-menjatuhkan serta berbunuh-bunuhan. Itulah kemuncaknya. Sebab itu sifat sombong ini mesti dikikisbuangkan.

Sifat sombong ini hanya layak bagi Allah. Ia pakaian Tuhan maka makhluk tidak berhak memakainya. Allah SWT berfirman dalam Hadis Qudsi: “Sombong itu selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa merampas salah satu darinya, Aku lemparkan dia ke Neraka Jahannam.” (Riwayat Abu Daud)

Di antara ayat Quran yang sangat melarang kita memakai sifat kibir ini ialah:“Sesungguhnya orang-orang yang meyombongkan diri daripada menyembah-Ku, akan masuk ke Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Al Mukmin: 60) “Janganlah kamu berjalan dengan menyombomgkan diri kerana sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan ketinggianmu tidak akan melepasi gunung.” (Al Israk: 37) “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang sombong.” (An Nahl: 23)

Sedangkan sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang lain yang sebanyak 99 (Asmaul Husna) itu tidak salah untuk hamba-hamba-Nya memilikinya. Misalnya sifat Rahman, Rahim, Kaya, Kasih Sayang, Pemurah, Pemaaf, Alim dan lain-lain lagi. Ini dibenarkan bahkan diperintahkan supaya kita memilikinya. Oleh kerana sifat sombong ini menjadi punca tercetusnya penyakit-penyakit batin (mazmumah) yang lain sehingga melahirkan kejahatan-kejahatan lahiriah yang banyak di tengah kehidupan masyarakat, maka sombong ini sangat dikeji dan dimurkai Allah. Rasulullah SAW juga ada mengingatkan dalam Hadis baginda tentang bahayanya sifat sombong. “Tidak akan masuk Syurga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.” (Riwayat Muslim)

Tidak akan masuk Syurga, ertinya ke Nerakalah jawabnya. Dengan membawa sikap sombong, di dunia lagi orang tidak suka dan tidak ada kedamaian jiwa. Di Akhirat terjun ke Neraka. Sebab itu sombong ini mesti dicabut sampai ke akar umbinya hingga tidak ada walaupun sebesar zarah, barulah kita selamat. Walhal mengikut kata Imam Al Ghazali, sifat sombong ini hampir-hampir mustahil dapat dibuang. Oleh itu kita mesti mengenal pasti lebih dahulu tanda-tanda penyakit ini dan sebab atau punca-punca penyakit supaya mudah mengubati atau mengikisnya.

TANDA-TANDA SIFAT SOMBONG

Langkah-langkah untuk mengenal pasti adanya penyakit ini ialah melalui pergaulan sesama manusia. Melalui pergaulan, akan dapat dikesan sifat sombong sama ada sombong yang keterlaluan, sederhana atau ringan.

Apakah tanda-tanda seseorang itu memiliki sifat sombong? Di antaranya:

1. Payah menerima pandangan orang lain sekalipun hatinya merasakan pandangan orang itu lebih baik daripadanya. Apatah lagi kalau pandangan itu datang daripada orang yang lebih rendah daripadanya sama ada rendah umur, pangkat atau lain-lain lagi.
2. Mudah marah atau emosional. Bila berlaku perbincangan dua hala, cepat tersinggung atau cepat naik darah kalau ada orang tersilap atau tersalah.
3. Memilih-milih kawan. Suka berkawan hanya dengan orang yang satu ‘level’ atau sama taraf dengannya. Manakala dengan orang bawahan atau lebih rendah kedudukannya, dia tidak suka bergaul atau bermesra, takut jatuh status atau darjat dirinya. Bahkan dengan orang yang sama level dengannya pun masih dipilih-pilih lagi. Yakni dia suka dengan orang yang mahu mendengar dan mentaati kata-katanya. Mereka inilah saja yang dia boleh bermesra, duduk sama atau semajlis dengannya.
4. Memandang hina pada golongan bawahan.
5. Dalam perbahasan atau perbincangan, selalunya dia suka meninggikan suara atau menguatkan suara lebih daripada yang diperlukan.
6. Dalam pergaulan dia suka kata-katanya didengari, diambil perhatian dan diikuti. Sebaliknya di pihaknya sendiri, susah untuk mendengar cakap atau nasihat orang lain serta tidak prihatin dengan cakap orang. Apatah lagi untuk mengikut cakap orang lain.
7. Dalam pergaulannya, dia saja yang memborong untuk bercakap dan tidak suka memberi peluang kepada orang lain bercakap. Kalau ada orang lain bercakap, dia suka memotong percakapan orang itu.
8. Kalau dia jadi pemimpin, dia memimpin dengan kasar dan keras terhadap pengikut-pengikutnya atau orang bawahannya. Ia membuat arahan tanpa timbang rasa dan tidak ada perikemanusiaan. Kalau dia menjadi pengikut, susah pula untuk taat dan patuh pada pemimpinnya.
9. Susah hendak memberi kemaafan kepada orang yang tersilap dengannya. Bahkan ditengking-tengking, diherdik, dikata-kata atau dihina-hina. Di belakangnya diumpat-umpat.
10. Kalau dia yang bersalah, susah dan berat hendak minta maaf. Rasa jatuh wibawa bila merendah diri meminta maaf. Bahkan dia tidak mengaku bersalah.
11. Dia suka dihormati. Tersinggung kalau tidak dihormati. Tetapi dia sendiri susah atau berat untuk menghormati orang lain.
12. Mudah berdendam dengan orang lain terutamanya bila orang itu tersilap.
13. Suka menzalimi orang sama ada secara kasar atau secara halus.
14. Kurang bermesra dengan orang kecuali terpaksa kerana perlukan orang itu atau kerana takutkan orang itu.
15. Suka memperkatakan keburukan orang seperti mengumpat, memfitnah serta membenci orang.
16. Kurang menghormati pemberian orang atau tidak menghargai pemberian orang lain.
17. Suka mengangkat-angkat diri atau menceritakan kelebihan diri.
18. Suka menghina dan menjatuhkan air muka orang di hadapan orang lain.
19. Kurang menghormati nikmat-nikmat Allah. Kalau ada makanan, berlaku pembaziran atau membuang makanan yang berlebihan. Kalau ada pakaian walaupun masih elok dipakai tetapi suka berganti dengan yang baru. Pakaian yang lama dibuang. Kalau ada duit lebih, suka beli barang yang tidak diperlukan. Semua itu lebih digemari daripada memberi nikmat yang berlebihan itu kepada orang lain.
20. Kalau berdiri, lebih suka bercekak pinggang (kerana membesarkan diri). Kalau bercakap, menepuk-nepuk meja dan suka mencemik. Kalau berjalan suka bergaya, menghentak-hentak kaki atau berjalan membusung dada.
21. Kurang memberi simpati atau kurang menolong orang lain melainkan ada tujuan-tujuan dunia atau kerana takut dengan orang itu.
22. Kurang minat menerima tetamu atau tidak suka jadi tetamu orang.
23. Tidak suka menyebut kelebihan-kelebihan orang lain kerana takut mencabar dirinya.
24. Kesalahan-kesalahan orang lain dibesar-besarkan sedangkan kesalahan sendiri didiamkan, disorokkan, buat-buat tidak tahu atau cuba mempertahankan diri supaya orang menganggap dia tidak bersalah.
25. Sangat tidak senang dengan kejayaan atau kebolehan orang lain.
26. Dia sangat tersinggung kalau ada orang memuji-muji atau menyebut kelebihan-kelebihan orang lain di hadapannya. Tetapi kalau dia dipuji, terserlah pada air mukanya rasa bangga dan senang hati.

Senarai tanda-tanda, riak-riak atau sikap-sikap di atas sudah cukup jelas untuk kita dapat mengenali sifat sombong ini. Bila sudah dikenal pasti ertinya memudahkan kita mengatasi atau mencabut sifat keji ini.

SEBAB-SEBAB SOMBONG

Sebelum mencabut sifat sombong yang keji ini perlu kita tahu kenapa sifat ini boleh berlaku. Ini juga merupakan faktor pem-bantu untuk memudahkan kita mengikis sifat ini. Macamlah jerawat yang ada di pipi. Kalau kita kenal tanda jerawat, kemudian tahu kenapa boleh timbul jerawat, barulah mudah untuk kita mengubat jerawat itu.

Faktor-faktor penyebab yang menjadikan seseorang itu memiliki sifat-sifat sombong, di antaranya ialah:
1. Memiliki kuasa, sama ada dia memiliki kuasa besar atau kecil. Kuasa besar itu seperti jadi raja, presiden, perdana menteri, gabenor dan lain-lain lagi. Kuasa kecil seperti jadi pegawai, D.O., penghulu, guru besar, guru-guru dan lain-lain lagi. Kuasa yang ada itu mendorongnya menjadi sombong.
2. Mempunyai ilmu pengetahuan sama ada pengetahuan tentang dunia atau pengetahuan tentang Akhirat. Sama ada pengetahuan di banyak bidang atau di satu bidang. Ini jadi pendorong seseorang itu menjadi sombong kerana dia rasa lebih pandai daripada orang lain.
3. Mempunyai harta kekayaan. Harta juga mendorong seseorang itu menjadi sombong.
4. Mempunyai kegagahan iaitu orang yang mempunyai kekuatan fizikal atau mempunyai kepandaian dalam mempertahankan diri seperti tinju, gusti, tae kwan do, silat dan lain-lain lagi. Ini juga mendorongnya menjadi sombong.
5. Keturunan. Ada orang jadi sombong kerana berketurunan bangsawan, berketurunan ulama dan lain-lain lagi, lantas merasa diri mulia serta memandang orang lain hina berbanding dengan dirinya.
6. Sebab-sebab yang lain seperti berwajah tampan dan cantik, disayangi oleh orang besar, disayangi suami, disayangi oleh ibu ayah dan lain-lain lagi. Ini juga pendorong menjadi sombong.
7. Bukan sebab-sebab yang di atas tadi, tapi mungkin dia orang miskin atau orang jahil atau orang hodoh atau orang cacat atau orang lemah sedangkan dia tetap sombong. Ini dikatakan bodoh sombong. Orang ini walaupun tidak ada sebab khusus untuk dia berlaku sombong tetapi oleh kerana benih sifat sombong yang semula jadi ada dalam diri itu tidak terdidik dan tidak cuba untuk dikikisbuangkan atau tidak dicabut, bahkan disuburkan, maka tetaplah dia dengan sikap sombongnya.

Golongan yang sombong di taraf ini bilamana tidak sedar atau tidak kenal dirinya yang sebenar, inilah yang jadi pendorong dia bersifat sombong. Kalau begitu ada golongan manusia yang sombongnya bersebab dan ada pula golongan manusia yang sombongnya tidak bersebab. Tetapi kebanyakan manusia itu sombongnya bersebab, seperti yang disebutkan di atas tadi. Bersebab atau tidak, sifat sombong tetap mesti dicabut dan dibuang. Jika tidak, ia akan memberi kesan yang buruk di tengah kehidupan masyarakat.

KESAN SIFAT SOMBONG

Di antara kesan sifat sombong ialah:

1. Orang benci kepadanya. Fitrah semula jadi manusia tidak suka kepada orang yang bersifat sombong ini. Hati yang benci-membenci tentulah tidak ada kasih sayang, akhirnya tidak wujud perpaduan. Ini bererti umat Islam tidak ada kekuatan. Risikonya, Islam menjadi lemah, lumpuh dan runtuh kerana tidak ada pautan hati antara satu sama lain. Ini sangat merugikan umat Islam dan Islam sendiri. Maknanya, apabila sifat sombong dimiliki bersama, semuanya bersalah dan berdosa sehingga menyebabkan tamadun roh dan tamadun material tidak dapat dibangunkan.

2. Mudah marah, di mana kebiasaannya kemarahan akan berakhir dengan perbalahan dan pergaduhan.

3. Bilamana wujud sifat sombong, lahirlah penyakit yang berikutnya iaitu mudah berdendam, hasad dengki dengan manusia, mudah hendak bertindak balas di atas kesilapan orang lain. Kadang-kadang belum tentu silapnya, dia telah gopoh-gapah bertindak. Mudah pula sakit hati terhadap kejayaan dan kebolehan orang lain sehingga berusaha se-daya upaya untuk merosakkan atau menjatuhkan orang itu. Akhirnya tentulah timbul permusuhan sesama manusia. Lebih besar dari itu, akan berakhir dengan peperangan dan pembunuhan bilamana berlaku tindak balas daripada orang lain atau golongan lain pula.

Kesombongan sangat membahayakan masyarakat manusia dan dunia seluruhnya. Lantaran ini Allah sangat murka dan Allah tempatkan mereka ini di Neraka bersama Firaun, Namrud, Hamman dan lain-lain orang yang zalim dan angkuh itu.

Memandangkan betapa merbahayanya penyakit ini maka usaha-usaha lahir mesti dibuat untuk membendungnya. Beberapa panduan dan kaedah diberi untuk mengikisbuang dan mengubatinya secepat mungkin secara serius supaya kita tidak terus mengidap penyakit yang mengerikan ini.

Di antara cara-caranya ialah:

1. Ada ilmu tentang sifat-sifat mazmumah.
Adanya ilmu ibarat ada cahaya yang mampu menyuluh sifat-sifat mazmumah di dalam diri itu termasuk sifat kibir atau sombong. Perlunya ilmu kerana ia merupakan sifat batiniah yang sesetengah orang payah mengesannya tetapi mudah pula dikesan oleh orang lain.

2. Bawa berfikir selalu tentang kejadian manusia.
Sedarkan hati kita bahawa soal kejadian manusia itu adalah sama. Yakni daripada tanah dan mati kembali ke tanah semula. Walau bagaimana hebat sekalipun seseorang itu, kejadiannya sama dengan orang lain. Kejadian yang pertama asalnya daripada tanah. Walaupun berdarjat, berpangkat, berkuasa, berharta, berilmu, sama ada yang alim atau tidak, yang kaya atau miskin, yang cantik atau buruk, namun mereka semuanya sama. Samasama berasal daripada tanah.

Lihatlah raja-raja besar seperti Firaun. Walau bagaimana hebatnya dia sehingga mengaku dirinya tuhan, di manakah dia sekarang? Bukankah dia tidak dapat mempertahankan kehebatannya, akhirnya mati dan kembali ke tanah! Jadi untuk apa dibangga-banggakan dengan kehebatan dan keistimewaan masing-masing. Sedangkan semuanya setaraf, yakni berasal daripada tanah dan akhirnya kembali ke tanah jua. Tidak mampu untuk memanjangkan umur sendiri.

3. Fikirkan dan sedarkan hati kita bahawa kejadian manusia yang kedua adalah daripada air mani yang hina.
Kalau diperlihatkan kepada manusia, amat jijik dan benci sekali untuk melihatnya. Ertinya, kejadian manusia itu tidak ada beza di antara satu sama lain, sama ada orang kaya, orang berilmu, pembesar atau lain-lain lagi, semuanya berasal daripada air mani yang hina. Kalaulah orang kaya berasal daripada intan, pembesar daripada emas, orang berilmu daripada berlian dan orang biasa berasal daripada air mani, boleh jugalah berbanggabangga. Ini tidak, semuanya berasal daripada benda yang sama iaitu air mani yang hina. Dari segi kejadian, tidak ada perbezaan apa-apa pun. Jadi untuk apa kita berbangga-bangga dengan keistimewaan diri pada orang lain?

4. Melihat respon orang lain terhadap kita.
Dalam pergaulan hidup, dapat dikesan respon orang lain kepada kita. Kalau kita sombong, semua orang akan benci. Anak isteri tidak suka, jiran-jiran meluat, kenalan renggang dan pengikut tidak suka. Apa pendapat kita? Adakah untung kita mempertahankan sikap begitu? Apalah indahnya! Bukankah kita dapat rasakan betapa buruk padahnya akibat mempertahankan penyakit keji dan jahat ini. Lebih-lebih lagi kerja kita tidak semua kita mampu uruskan sendiri. Lagi tinggi pangkat dan darjat, lagi banyak urusan kerja yang perlu dibereskan, dibantu oleh tenaga-tenaga orang lain sama ada secara langsung mahupun tidak langsung.

Oleh itu pertolongan, bantuan dan titik peluh orang lain tidak boleh kita lupakan. Kalau tidak ada mereka ertinya kita tidak jadi hebat dan kaya. Kalau begitu untuk apa kita rasa lebih istimewa?

Bilamana orang sudah benci, di waktu-waktu tertentu seperti waktu sakit atau waktu kematian atau kecemasan, masyarakat akan pulaukan. Atau lambat-lambatkan bantuan atau tidak beri bantuan supaya kita terasa susah lebih dahulu. Ini semua hasil dari mereka sakit hati dengan sifat sombong kita itu.

5. Ambil iktibar dari pengalaman hidup.

Apabila ada kelebihan, keistimewaan dan kehebatan, bolehkah bersifat sombong? Cuba fikirkan kejadian-kejadian yang berlaku dalam pengalaman hidup seharian. Apakah kita berkuasa mengelakkan diri daripada sakit? Apakah kita mampu melawan kuasa tentera Allah yang dihantar melalui bencana alam dan lain-lain lagi? Apakah anda mampu melawan kematian dengan kesombongan dan kekibiran itu? Tentu tidak! Kalau begitu kenapa kita merasakan lebih istimewa daripada orang lain? Walhal tidak ada keistimewaan apa-apa pun yang menjadi milik kita. Semua itu Allah pinjamkan sekejap. Jadi tidak ada apa-apa pun kehebatan kita jika dibandingkan dengan orang lain. Kadang-kadang Allah beri kita kelebihan ilmu, kekayaan, pangkat dan lain-lain, tapi dalam masa yang sama kitalah yang paling banyak mengidap sakit. Misalnya sakit jantung, kencing manis, darah tinggi dan lain-lain sehingga kelebihan dan keistimewaan-keistimewaan itu semuanya tidak ada erti apaapa lagi. Akhirnya, nikmat yang dikumpul-kumpulkan sekian lama, tidak dapat dinikmati sendiri tetapi dinikmati oleh orang lain. Oleh itu untuk apa dibangga-banggakan dengan kehebatan yang ada itu?

6. Ingat azab Allah untuk orang yang sombong.
Cubalah renungkan. Ingatkanlah di hati bahawa sombong ini sangat dimurkai oleh Allah. Kita dianggap sudah merampas pakaian-Nya. Akibatnya, kita akan dicampakkan ke Neraka yang panas apinya 70 kali ganda kekuatan api dunia dan dalamnya 70 ribu tahun perjalanan baru sampai ke dasarnya.

Ingatkan Neraka yang keseluruhannya api. Di atasnya api, di bawahnya api, di kiri api, di kanan api, di depan api, di belakang api yang memakan dan menghanguskan daging-daging dan tulang-belulang. Kemudian diganti lagi dengan tubuh yang baru dan diseksa lagi. Begitulah berulang-ulang berlaku sepanjang masa. Walhal di waktu itu kita dibelenggu kaki dan tangan serta dicemeti berterusan oleh malaikat Zabaniah. Bau Neraka yang busuk itu tidak dapat digambarkan. Kalaulah ditakdirkan bau itu tercium oleh penduduk dunia, akan matilah semua lantaran busuknya.

Perkara-perkara di atas tadi perlu difikir-fikirkan, direnung-renungkan dan diulang-ulang memikirkannya. Diingat selalu dalam hati hingga tidak dapat dilupakan lagi. Kesannya nanti akan timbul rasa malu dan takut untuk kita bersikap ego dengan Tuhan dan dengan manusia. Dengan cara-cara atau kaedah ini moga-moga membantu kita mudah untuk bermujahadah menumpaskan sombong ini. Harapan kita moga-moga Allah sentiasa memimpin kita agar menjadi hamba-hamba-Nya yang merendah diri.

Sumber: Usaha Taqwa

12/01/2015 Posted by | Tasauf | , , , | Leave a comment

Hati-hati ketika masuki majlis ilmu

    Kelas Agama UKE 2

    Ketika menuntut di Mesir, saya telah dituntut untuk menghormati guru. Malah mungkin sejak kita di bangku sekolah lagi, perkara pertama yang diajar adalah menanam sifat menghormati guru.

    Akan tetapi dalam pengamatan saya baru-baru ini ketika menghadiri majlis ilmu, masyarakat masih kurang peka terhadap perkara-perkara kecil seperti adab memasuki majlis.

    Berikut adalah sifat-sifat yang harus kita ketahui ketika memasuki sebuah majlis ilmu. Ia adalah ringkasan dari kitab berjudul: Tata-tertib pelajar Al-Quran yang dikarang oleh Imam Nawawi (rahimahullah).

  1. Ketika masuk ke majlis ilmu hendaklah dia bersih dari luaran serta dalaman. Jangan lupa untuk bersiwak.

  2. Ketika majlis sudah berlangusng ambillah tempat yang kosong dan jangan melangkah tengkok jemaah yang lain. Duduk dihadapan jika diizin guru.

  3. Sebaiknya memberi salam kepada semua jemaah secara umum dan khusus kepada guru ketika sebelum dan selepas majlis.

  4. Apabila duduk dihapadan, tunjukkan minat untuk belajar dan jangan menoleh atau bermain dengan tangan serta hanfon dihadapan guru.

  5. Bersabar atas segala urusan kita ketika berada didalam majlis seperti rasa susah hati, gembira, sedih, ngantok dan lain-lain yang menyebabkan pengajian bersama guru terganggu.

    1. Sifat kelima ini sangat penting kerana para ulama terdahulu sangat mempraktikkan sifat merendah diri dihadapan guru demi untuk mendapatkan keberkatan ilmu yang berkekalan dunia dan akhirat.

      Ibnu Abbas (radhiallahu anhu) seorang sahabat berkata: Saya dihinakan sewaktu saya menuntut, dan saya dimuliakan sewaktu saya dituntut.

      Saya akhiri dengan sepotong syair yang sangat cantik:

      من لم يذق طعم المذلة ساعة ❖ قطع الزمان بأسره مذلولا

      Sesiapa tidak sanggup bertahan kehinaan sesaat .Hidupnya akan hina disepanjang hayat

      Selamat beramal,

      Shahib Amin mewakili Syukran.com

      07/01/2015 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Tasauf | , | Leave a comment

      Ada orang hairan macam mana orang mendakwa nampak Nabi Muhammad SAW dalam majlis selawat?

      Kalau 100 tempat selawat dalam satu masa  tak kan Nabi jadi 100 jasad?

      Imam As-sayuti menjawab dalam al-hawi lilfatawi dengan membawa satu bait syair :
      كالشمس في كبد السماء وضوءها # يغشي البلاد مشارقا ومغاربا
      Maksudnya : Seperti matahari di tengah langit sedangkan cahayanya # menerangi negeri-negeri di timur dan barat

      Imam As-sayuti membawa lagi kisah anak murid Syeikh Ibnu ‘Athaillah dan Syeikh Ibnu ‘Athaillah ketika Anak muridnya pergi ke mekah menunaikan haji.. Tiba-tiba ketika tawaf beliau ternampak Syeikh Ibnu ‘Athaillah sedang tawaf , dia berniat untuk menyapa gurunya selepas tawaf tiba-tiba gurunya hilang dari pandangannya , kemudian dia ternampak lagi di Arafah dan lain-lain tempat.

      Selepas pulang ke kaherah dia bertemu Syeikh Ibnu ‘Athaillah dan bertanya : adakah tuan guru bermusafir ke Mekah? Jawab Syeikh : tidak. Anak muridnya menyambung : ya sidi bagaimana aku melihat mu di Mekah? Jawab Syeikh : wahai muridku seorang yang besar(wali qutub) mampu memenuhi alam..maka saiyidul mursalin lebih aula.

      (Al-hawi lilfatawi juzuk 2 m/s 319)

      Mukjizat para anbiya tidak hanya ada pada mereka ketika masih hidup. Tetapi juga pada mereka sesudah wafat. Jika kita mensyarahkan tentang kehadiran para anbiya menurut logik akal maka hal ini memang tidak akan masuk akal kerana masa dan tempat itu milik Allah dan mukjizat para anbiya dan mursalin itu bukti kepada kekuasaan Allah Subhanahu wa Taala. Wajib bagi orang beriman mempercayai mukjizat kerana ia masuk dalam bab aqidah aswj. Wallahua’lam

      Kredit : Ustaz Uthman Daud

      26/12/2014 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | Leave a comment

      Antara Para Fuqaha’ dan Golongan Sufi


      Imam Asy-Sya’rani mengisahkan sebuah cerita lucu. Konon seorang faqih bernama Ibnu Suraij mengingkari Imam Abu’l Qasim Al-Junaid. Kepada Al-Junaid, dia berkata, “Tarekat kami melahirkan ahli-ahli dalam fiqh dan membawa kami jalan yang paling dekat kepada Allah daripada tarekat kamu, iaitu yang dituju oleh orang-orang sufi.” Al-Junaid berkata, “Engkau harus membawa bukti tentang hal itu.” Kata Ibnu Suraij, “Engkaulah yang harus membawa kami bukti.” Maka berkatalah Al-Junaid, “Hai fulan, pungutlah batu itu lalu lemparkanlah ketengah-tengah golongan orang-orang fakir.” Setelah batu dilemparkan, orang-orang fakir itu berseru, “Allah… Allah… Allah…!” Kemudian Al-Junaid berkata lagi, “Sekarang lemparkan batu itu ketengah-tengah golongan fuqaha’.” Setelah batu dilemparkan, maka para fuqaha’ itu berteriak, “Haramlah kamu! Buat kami terperanjat sahaja!” Ibnu Suraij bangun lalu mencium kepala Al-Junaid serta mengakui keutamaannya. Maka Al-Junaid berkata kepadanya, “Sebenarnya pada diri kamulah keutamaan itu, sebab pokok dasar tarekat kami adalah ilmu yang ada pada kamu.” Namun Ibnu Suraij menjawab, “Bukan, kamulah yang lebih utama. Kamu menambah bagi kami kebaikan mu’amalah dengan Allah.”

      Sumber: Pondok Habib

      23/12/2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

      Mimpi

      Bagaimana kalau kira-kira kita bermimpi berjumpa Ulama’, bermimpi berjumpa dengan orang-orang yang soleh, mimpi pergi ke Mekah, mimpi tawaf, mimpi sedang saie, mimpi wukuf di arafah, mimpi sedang berasa di raudhah. Itu semuanya di Antara mimpi-mimpi yang elok.

      Itu adalah mimpi-mimpi yang mulia. Nabi kita menyebutkan di dalam hadis, “Tidak terpisah daripada perkara kenabiku melainkan mubashiroh. Apakah itu mubashiroh Ya Rasulullah. Nabi kita menjawab mimpi yang baik yang diimpikan oleh seseorang atau yang dilihat oleh orang lain.

      Kalau kita bermimpikan perkara yang baik maka kita boleh menceritakannya kepada orang lain tetapi kalau kita bermimpi perkara yang tidak baik jangan kita ceritakan kepada orang lain.
      Jadi kata Ulama’: Di Antara makna tafsiran mimpi bertemu dengan orang-orang yan soleh maka kebaikan dan kesolehan orang itu sedikit sebanyak akan terimbas kepada kita. Sedikit sebanyak kebaikan orang itu akan kita dapatkan kemuliaan daripada orang yang mulia.

      Jadi kira-kiranya kebaikan orang yang kita mimpikan itu In syaa Allah ketabahan, kebijaksanaannya, kemuliaanny, kesopanannya, akan terimbas dan menular kepada kita.
      Sebagaimana yang kita telah ketahui, segala mimpi-mimpi yang baik itu adalah dari Allah Azzawajalla manakala mimpi yang buruk itu datangnya dari syaitan.

      (Al-Allamah Al-Faqih Waliduna Tuan Guru Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki)

      Dari : Pencinta Allah & Rasul

      21/11/2014 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

      Hukum menghukum syirik keatas saudara seislam tanpa hak

      Hadith dari Huzaifah bin Yaman di mana RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bererti :

      Sesungguhnya perkara yang aku khuatirkan ke atas kamu semua adalah seseorang yang telah membaca al Quran sehingga apabila telah nampak kepandaiannya dalam al Quran dan dia telah menjadi pendokong Islam, tiba-tiba sahaja dia merubahnya kepada sesuatu yang dikehendaki oleh ALlah, maka iapun terlepas dari al Quran dan melemparkannya ke belakang serta mengancam tetangganya dengan pedang sambil melemparinya dengan tuduhan syirik. Aku bertanya : Wahai Nabi ALlah mana di antara keduanya yang lebih patut di anggap melakukan kesyirikan? Orang yang dituduh ataukah yang melemparkan tuduhan? Nabi menjawab : Yang melemparkan tuduhan.

      (Hadith dikeluarkan oleh Ibnu Hibban pada hadith no 81 dan Ibnu Kathir dalam tafsirnya jilid II/266, dia berkata : Isnad Hadith ini bagus. Begitu juga ditakhrij oleh Al Bazzar dalam Musnadnya dengan pernyataan yang sama, At Thabroni dalam Al Kabir dan As Saghir dengan pernyataan yang sama dan Ibnu Abi Ashim dalam kitab As Sunnah).

      عن حُذَيْفَة بْن الْيَمَانِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّمَا أَتَخَوَّفُ عَلَيْكُمْ رَجُلا قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَ عَلَيْهِ بَهْجَتُهُ ، وَكَانَ رِدْءًا لِلإِسْلامِ اعْتَزَلَ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ، وَخَرَجَ عَلَى جَارِهِ بِسَيْفِهِ، وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ.

      أخرجه البزار (رقم 2793) وقال: إِسْنَادُهُ حَسَنٌ، وقال الهيثمى أيضاً (1/188): إسناده حسن. وابن حبان في صحيحه (رقم 81)، وأبو يعلى، والضياء المقدسي. الردء: العون والناصر. وفي شرح مشكل الآثار للطحاوي (865): …قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي؟ قَالَ: لَا بَلِ الرَّامِي. وأخرجه الطبراني عن معاذ (20/88 ، رقم 169) بنحوه بلفظ:أخوف ما أخاف على أمتى ثلاث رجل… وذكر هذا أولهم.

      Terjemahan: Dari Huzaifah bin al-Yaman RA katanya: Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku takut ke atas kamu sekalian seorang lelaki yang membaca al-Quran sehingga apabila telah terlihat pada dirinya seri al-Quran itu, dan ia sebagai pembantu bagi agama Islam, dia pun mengasingkan diri sehingga masa yang dikehendaki Allah, lalu dia keluar kepada jirannya dengan pedang, serta melontarnya dengan tuduhan syirik”.

      (Riwayat al-Bazzar, Ibn Hibban, Abu Ya’la, dan al-Dhiya’. Kata al-Haythami: Isnadnya hasan)

      Dalam riwayat al-Tahawi dan al-Tabarani: Aku bertanya: Ya Rasulullah, yang manakah lebih layak dengan tuduhan syirik itu, yang dilontar atau yang melontar? Jawab baginda: “Tidak, bahkan yang melontar”.

      Jauhilah golongan yang mudah menghukum SYIRIK kepada ulamak dan umat Islam. Ternyata apabila bermudah-mudah menghukum syirik kepada ungkapan MADAD YA RASULALLAH bermakna juga telah menjatuhkan syirik kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, dan salafussoleh yang lainnya.

      Na’uzubillahi min zalik.

      Oleh: Ustaz Zamihan Al-Ghari

      21/11/2014 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Tasauf | | Leave a comment

      Pencerahan mengenai ungkapan al madad ya Rasulullah

      1) Memohon pertolongan kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam hakikatnya kita memohon kepada Allah. Ia tergantung kepada niat si pemohon berkenaan.

      Tidak boleh dengan hawa nafsu menghukum syirik kepada sesama saudara seIslam tanpa diselidik. Perlu difahami dalam kehidupan seharian (bukan dalam konteks doa) kita juga memohon pertolongan kerana kelebihan dan kemampuan yang ada pada orang yang kita minta bantuan berkenaan.

      Ungkapan ‘Ibu dan Ayah mohon tolong doakan untuk berjaya dalam peperiksaan’

      ‘Doktor tolong sembuhkan anak saya’

      Orang yang beriman pastinya tahu kesembuhan, terkabulnya doa adalah dengan izin Allah. Dan banyak lagi kita gunakan dalam kehidupan seharian. Adakah dengan sewenang-wenangnya kita boleh jatuhkan permohonan ini sebagai SYIRIK ?

      2) ALlah menyebutkan kata wasilah di dalam kitab suciNya yang mulia di dalam 2 ayat. Pada ayat pertama ALlah menunrunkan perintah melakukannya. ALlah berfirman yang bererti :

      "Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALlah subahanahu wata’ala dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya (Al Maidah :35)

      3) Pada ayat yang kedua, ALlah memuji orang-orang yang bertawasul kepadaNya dalam doa seruan mereka. ALlah subahanahu wa ta’ala berfirman yang bererti :

      Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (wasilah) kepada Tuhan mereka, siapakah di antara mereka yang lebih dekat (kepada ALlah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan azabNya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang amat (harus) ditakuti" (Al Isra’ : 57)

      RASULULLAH MENGAJAR MEMOHON BANTUAN DARIPADA HAMBA ALLAH

      4) Hadith "BANTULAH wahai para hamba ALLah subhanahu wa ta’ala" Diriwayatkan dari Saidina Ibnu Abbas radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda :

      "sesungguhnya ALLah subahanahu wa ta’ala mempunyai para malaikat di bumi selain para malaikah hafazhah. Mereka menulis setiap apa yang terjatuh dari pangkal pohon. Maka, jika salah seorang kalian tertimpa kesulitan (tersesat jalan) di tengah hutan, hendaklah ia menyeru: "Bantulah, wahai para hamba ALLah subahanahu wa ta’ala…

      (Hadith riwayat Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, vol 6 hlm 91; Baihaqi, Syu’ab Al Iman, vol I hlm 183; dan disebutkan oleh Al Haithami di dalam kitab Majma’ Az Zawaid, vol 1, hlm 132).

      Al Hafizh Al Haithami memberikan pendapat (pandangan) terhadap sanadnya. "Hadith ini telah diriwayatkan oleh Thobrani dan para tokoh periwayatnya adalah orang-orang thiqah (terpercaya). (Al Haithami, Majma’ az Zawaid, vol 10, 132)

      5) HADITH SAHIH MEMOHON PERTOLONGAN KEPADA RASULULLAH

      Kisah meminta hujan di sisi maqam Nabi Muhammad sallaLLahu ‘alaihi wasallam pada zaman khalifah saidina Umar bin Khattab radiyaLlahu ‘anhu. Diriwayatkan dari Malik al Dar radiyaLlahu ‘anhu, dia adalah bendahara Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu, dia berkata; ..kekeringan (kemarau) teruk telah melanda kehidupan manusia di zaman Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu. Lalu seorang lelaki datang ke maqam Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam dan berkata :

      "Wahai RasuluLlah (sallaLLahu ‘alaihi wasallam) mintakan hujan untuk umatmu kerana mereka sungguh telah binasa (menderita)." Rupa-rupanya RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam telah menjumpainya dalam mimpi dan bersabda, "Datanglah kepada Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu dan sampaikan salamku kepadanya dan beritahukan bahawa mereka akan dilimpahkan hujan. Katakan kepadanya : Maka hendaklah kamu bijaksana, bijaksana (cerdas dan tepat dalam membuat keputusan).’ Lelaki itu datang kepada Saidina Umar radiyaLLahu ‘anhu dan menyampaikan kepadanya perihal itu. Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu berkata, "Ya Tuhanku, aku tidak lalai (iaitu selalu bersungguh-sungguh) kecuali apa yang aku tidak mampu,"

      (Hadith riwayat Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, vol 6, hlm 356; dan Ibnul Abdul Barr, Al Isti’ab, vol 3, hlm 1149)

      Hadith ini sohih; dinyatakan sohih oleh Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani dengan tegas dalam perkataannya, "Dan Ibnu Abi Syaibah radiyaLLahu ‘anhu meriwayatkan dengan sanad sohih dari riwayat Saleh Al Samman dari Malik Al Dar radiyaLLahu ‘anhu dia berkata;

      "Kekeringan (kemarau) teruk telah melanda kehidupan manusia di zaman Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu. Lalu ada seorang lelaki datang ke maqam Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam dan berkata: "Wahai RasuluLlah mintakan hujan untuk umatmu kerana mereka sungguh telah binasa (menderita). Rupa-rupanya RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam telah menjumpainya di dalam mimpi dan bersabda, "Datanglah kepada Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu…", hadith selengkapnya…"

      Daripada Saif radiyaLLahu ‘anhu di dalm kitab "Al Futuh" meriwayatkan bahawa orang yang bermimpi tersebut adalah Bilal bin Harits Al mUzani radiyaLLahu ‘anhu, salah seorang Sahabat Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam .. – (Al HAfizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, vol 2, hlm 495 dan 496)

      "Hadith ini Sanadnya Sohih" Hadith ini telah dinyatakan sohih oleh para tokoh penghafal hadith terkemuka (hafizh), sehingga layak menjadi dalil atas bolehnya meminta kepada Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam untuk memohonkan hujan dan berdoa setelah perpindahan Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam yang mulia dari kehidupan dunia.

      6) Kisah Khalifah Al Mansur dengan Imam Malik radiyaLlahu ‘anhu ceritanya begini, suatu hari Abu Ja’far Al Manshur Al Abbasi, Khalifah kedua kekuasaan Abbasiyah, bertanya kepada Imam Malik radiyaLlahu ‘anhu,

      "Wahai Abu AbdiLlah, apakah aku menghadap RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan berdoa atau aku menghadap kiblat dan berdoa?" Imam Malik radiyaLLahu ‘anhu menjawab, "Kenapa kamu harus memalingkan wajahmu daripadanya, sedangkan dia adalah wasilahmu dan wasilah ayahmu, Nabi Adam alaihissalam kepada ALlah subahanahu wa ta’ala pada hari qiamat? Oleh itu, menghadaplah kepadanya dan mohonlah syafaat darinya, memang jelas ALlah subahanahu wa ta’ala memberikan (kelebihan) syafaat kepadanya."

      (Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Hassan Ali bin Fihr di dalam kitabnya "Fahdail Malik" dengan sanad yang tidak mengapa (tidak cacat); diriwayatkan oleh Qadhi ‘Iyadh di dalam kitab As Syifa’ dari jalur riwayatnya dari beberapa guru di antara guru-gurunya yang thiqah; demikian juga disampaikan ole Imam as Subki di dalam kitab Syifa As Siqam, Al Samhudi di dalam kitab Wafa Al wafa, dan Al Qasthalani di dalam kitab Al Mawahib Al Laduniyyah. Dalam kitab Al Jauhar Al munazzham, Ibnu Hajar berkata, "Ini diriwayatkan dengan sanad sohih," Al Allamah Al Zarqani, di dalam kitab Syarh Al Mawahib berkata, "Sesungguhnya Ali bin Fihr menyampaikan cerita ini dengan sanad yang hasan dan Qadhi ‘Iyadh menyampaikan dengan sanad yang sohih.")

      7) HUKUM MENGHUKUM SYIRIK KE ATAS SAUDARA SEISLAM TANPA HAK

      hadith dari Huzaifah bin Yaman di mana RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bererti :

      Sesungguhnya perkara yang aku khuatirkan ke atas kamu semua adalah seseorang yang telah membaca al Quran sehingga apabila telah nampak kepandaiannya dalam al Quran dan dia telah menjadi pendokong Islam, tiba-tiba sahaja dia merubahnya kepada sesuatu yang dikehendaki oleh ALlah, maka iapun terlepas dari al Quran dan melemparkannya ke belakang serta mengancam tetangganya dengan pedang sambil melemparinya dengan tuduhan syirik. Aku bertanya : Wahai Nabi ALlah mana di antara keduanya yang lebih patut di anggap melakukan kesyirikan? Orang yang dituduh ataukah yang melemparkan tuduhan? Nabi menjawab : Yang melemparkan tuduhan.

      (Hadith dikeluarkan oleh Ibnu Hibban pada hadith no 81 dan Ibnu Kathir dalam tafsirnya jilid II/266, dia berkata : Isnad Hadith ini bagus. Begitu juga ditakhrij oleh Al Bazzar dalam Musnadnya dengan pernyataan yang sama, At Thabroni dalam Al Kabir dan As Saghir dengan pernyataan yang sama dan Ibnu Abi Ashim dalam kitab As Sunnah).

      عن حُذَيْفَة بْن الْيَمَانِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّمَا أَتَخَوَّفُ عَلَيْكُمْ رَجُلا قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَ عَلَيْهِ بَهْجَتُهُ ، وَكَانَ رِدْءًا لِلإِسْلامِ اعْتَزَلَ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ، وَخَرَجَ عَلَى جَارِهِ بِسَيْفِهِ، وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ.

      أخرجه البزار (رقم 2793) وقال: إِسْنَادُهُ حَسَنٌ، وقال الهيثمى أيضاً (1/188): إسناده حسن. وابن حبان في صحيحه (رقم 81)، وأبو يعلى، والضياء المقدسي. الردء: العون والناصر. وفي شرح مشكل الآثار للطحاوي (865): …قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي؟ قَالَ: لَا بَلِ الرَّامِي. وأخرجه الطبراني عن معاذ (20/88 ، رقم 169) بنحوه بلفظ:أخوف ما أخاف على أمتى ثلاث رجل… وذكر هذا أولهم.

      Terjemahan: Dari Huzaifah bin al-Yaman RA katanya: Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku takut ke atas kamu sekalian seorang lelaki yang membaca al-Quran sehingga apabila telah terlihat pada dirinya seri al-Quran itu, dan ia sebagai pembantu bagi agama Islam, dia pun mengasingkan diri sehingga masa yang dikehendaki Allah, lalu dia keluar kepada jirannya dengan pedang, serta melontarnya dengan tuduhan syirik”.

      (Riwayat al-Bazzar, Ibn Hibban, Abu Ya’la, dan al-Dhiya’. Kata al-Haythami: Isnadnya hasan)

      Dalam riwayat al-Tahawi dan al-Tabarani: Aku bertanya: Ya Rasulullah, yang manakah lebih layak dengan tuduhan syirik itu, yang dilontar atau yang melontar? Jawab baginda: “Tidak, bahkan yang melontar”.

      Jauhilah golongan yang mudah menghukum SYIRIK kepada ulamak dan umat Islam. Ternyata apabila bermudah-mudah menghukum syirik kepada ungkapan MADAD YA RASULALLAH bermakna juga telah menjatuhkan syirik kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, dan salafussoleh yang lainnya.

      Na’uzubillahi min zalik.

      Oleh: Ustaz Zamihan Al-Ghari

      21/11/2014 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | , | Leave a comment

      7 Peringkat Zalim

      “Tuhan (Allah) tidak menzalimi mereka itu (maksudnya manusia), tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (Ar Rum: 9)

      Ketika berbicara mengenai zalim, maka zalim itu berperingkat-peringkat. Tulisan ini akan membahas mengenai 7 peringkat zalim yang dilakukan oleh manusia.

      1. Zalim dengan Tuhan.

      Zalim dengan Tuhan merupakan penzaliman peringkat tertinggi, tak ada yang lebih tinggi. Apa erti zalim dengan Tuhan? Tidak kenal Tuhan atau syirik dengan Tuhan, tidak takut dengan Tuhan, tidak cinta dengan Tuhan, tidak peduli dengan Tuhan, hidup ini tidak dihubungkan dengan Tuhan.

      Setiap hari kita zalim dengan Tuhan tetapi hal ini jarang terfikir oleh kita. Hidup kita sehari-hari tidak peduli Tuhan. Padahal, dalam Al Quran Allah berfirman: “iqra bismi rabbika” Bacalah atas nama Tuhanmu.

      Jadi, ketika hendak melakukan apa saja buatlah atas nama Tuhan. Berjuang, membangun, berekonomi, mendidik, berbudaya, mengurus, dan lain lain mesti atas nama Tuhan. Ertinya, segala sesuatu yang kita lakukan mesti dikaitkan dengan Tuhan, mesti ada hubungan dengan Tuhan. Kalau tidak, kita telah melakukan penzaliman yang paling tinggi.

      2. Zalim dengan Fisik Pemberian Tuhan

      Melihat dengan mata mesti atas nama Tuhan. Mendengar, berbicara, bertindak, gunakan tangan, kaki mesti atas nama Tuhan. Ertinya, tindakan fisik kita selaras dengan kehendak Tuhan. Jangan sampai mata, telinga, mulut tangan, kaki mendurhakai Tuhan. Semua gerak gerik kita jangan bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kalau berlaku kita melakukan penzaliman peringkat ke-2.

      3. Zalim dengan Harta Karunia Tuhan.

      Harta milik Tuhan, Tuhan bagi pada kita. Ada yang dapat sedikit, miskinlah dia. Ada pula yang mendapat banyak hingga menjadi jutawan. Harta yang Tuhan bagi kepada kita janganlah digunakan sedikitpun selain karena Tuhan. Mesti selaras dengan kehendak Tuhan. Sebab yang kita miliki itu milik Tuhan. Harta itu tidak boleh kita gunakan sesuka hati, mesti ikut cara Tunan, baik disebut zakat, sedekah, . Kalau tidak kita buat penzaliman yang ke-3.

      4. Zalim kepada manusia lain.

      Zalim kepada manusia lain seperti: memukul, mengata, menjatuhkan, mempermalukan dimuka umum, menghina, memfitnah, mencuri. Zalim yang ada hubungannya dengan manusia lain ini yang dibesarkan setiap hari. Zalim peringkat tertinggi sepi-sepi saja. Jenis yang kedua juga tidak pernah diperbincangkan, yang ke-3 juga kurang diperkatakan oleh orang. Tetapi, yang ke-4 ini yang sering dibicarakan orang.

      “Tidak sepatutnya dia memukul saya”

      “Mengapa dia menyebarkan fitnah mengenai saya”

      Zalim jenis ini setiap hari dihebohkan. Sehingga, perkataan zalim sudah dipersempit maknanya.

      5. Zalim dengan Jawatan 

      Jawatan ada bermacam-macam. Mungkin dia Menteri, Ketua Pengarah,Ketua Kampung, Ahli Parlimen, Wakil Rakyat dan lail lain.Jawatan jawatan ini kalau tidak jalankan selaras dengan kehendak Tuhan maka dia dikatakan zalim.

      Zalim dengan jawatan ini juga selalu dibesar-besarkan orang. Hanay namapk Perdanan mneteri zalim, CEO zalim,Yang dilihat adalah jawatan yang besar-besar. Kalau jawatan jawatan yang dibawah, jarang disebut orang mengenai kezalimannya. Sekecil apapun jawatan, mesti selaras dengan kehendak Tuhan. Kalau tidak selaras dengan kehendak Tuhan, itulah zalim.

      6. Zalim dengan ilmu.

      Soal ilmu ini, ada yang dapat banyak ilmu ada pula yang dapat sedikit. Baik yang dapat banyak ilmu ataupun yang dapat sedikit ilmu, kalau ilmu tersebut digunakan bukan untuk Tuhantetapi untuk kepentingan diri, itulah zalim.

      Di zaman ini orang banyak yang menyalahgunakan ilmu ( bahkan ILMU ISLAM ! ) bukan untuk Tuhan tapi untuk duit, kemegahan, nama, dan jawatan. Itulah zalim. Namun, tentu saja hal ini tidak pernah masuk surat khabar. Orang yang menggunakan ilmu untuk kepentingan diri tidak terfikir kalau dirinya zalim. Bahkan, saat ini orang yang megah dan sombong dengan ilmu tidak dikatakan zalim lagi. Bahkan orang menganggap dia memiliki wibawa. Sombong dengan ilmu, “hebat, orang ini memiliki ilmu”. Aneh sekali, durhaka dengan Tuhan dan hendak masuk neraka dikatakan memiliki wibawa?

      7. Zalim dengan ruh/perasaan.

      Hari ini, tidak ada orang yang menyebut-nyebut mengenai zalim jenis ini. Surat khabar, radio, TV juga tidak pernah menyebutkannya. Sepatutnya ruh atau perasaan kita adalah untuk Tuhan.

      Hari ini apa yang orang rasa:

      “aduh sakit, bila nak sihat?”

      “sedihnya hidup miskin dan melarat, boleh nak kaya”

      “Isteriku tidak sayang pada ku?”

      Perasaan sepatut diberi pada Tuhan. Tapi perasaan sudah disalahgunakan, sedih karena sakit, susah karena miskin, susah karena isteri yang kurang menyayangi. Ini juga zalim. Sepatutnya perasaan sedih kita itu sedih dengan dosa-dosa kita. Perasaan susah kita itu karena kita tidak boleh menolong orang. Itu namanya menggunakan perasaan seperti kehendak Tuhan.

      Zalim ini luas sekali maknanya. Sayang, orang hanya membesarkan yang no 4. Sebab tu ada ayat Qur’an yang maknanya,

      Jangan engkau campakkan diri engkau dalam kebinasaan.” (Al Baqarah : 195)

      Ayat ini ditujukan ditujukan kepada orang yang tidak mendermakan harta mereka. Orang yang tidak bersedekah artinya mencampak diri dalam Neraka, itulah zalim. Orang yang tidak berkorban harta dianggap zalim. Tapi zalim yang paling top adalah orang yang tidak kenal Allah, tidak takut Allah, tidak cinta Allah.

      Kalau kita bahas, zalim peringkat teratas itu ada dalam diri kita. Kalau tidak selalu, sekali sekala kita buat juga kezaliman yang paling besar ini. Kalau orang faham zalim pada Tuhan begitu luas, ia tidak akan bergaduh. Walaupun orang zalim pada dia, dia tidak nampak kezaliman orang padanya itu, karena kita sendiri zalim pada Tuhan. Namun, karana yang besar tidak nampak nampak, yang nampak yang ke-4. Kezaliman jenis ini akhirnya yang dibesar-besarkan. 

       

      Sumber: Sufi Pejuang

      26/10/2014 Posted by | Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

      Kenali berbagai-bagai tabiat haiwan yang ada di dalam jiwa insan, agar kita tidak bersifat demikian.

       

      1. Tabiat babi, buruk makan dan sangat membawa dan menyebar kekotoran.

      2. Tabiat anjing adalah tamak, apa sahaja hendak dijadikan rebutan. Akhirnya berkelahi sesama manusia macam anjing berebut tulang.

      3. Tabiat kuda, suka menendang. Menggambarkan keangkuhan dan kesombongannya.

      4. Tabiat lembu atau kerbau bodohnya dan bebal payah diajar. Di dalam bodoh-bodoh pun suka menanduk sekalipun tuannya sendiri.

      5. Tabiat musang, suka menipu daya. Kerja musang mencuri dan memakan ayam-ayam dan buah-buahan di kebun orang. Begitulah manusia yang bersifat musang suka sahaja menipu orang.

      6. Tabiat singa, garang dan menerkam. Itulah gambaran manusia yang suka menzalim dan menganiaya orang tanpa belas kasihan. Yang penting dapat memakan mangsanya agar perut kenyang.

      7. Tabiat ular sawa, apabila sudah kenyang, tidak dapat aktif lagi. Suka tidur-tidur sahaja. Begitulah manusia, apabila terlalu kenyang malas pun tiba. Suka tidur dan rehat-rehat sahaja.

       

      Sumber: Mohd Fadli Yusof

      21/10/2014 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , , , , , , | Leave a comment

      Jangan Dinilai Seseorang Pada Zahir dan Luarannya (Satu Ikhtibar)

      Pada suatu hari, Hasan Al-Basri pergi melawat Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu solatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak melafazkan bacaan solatnya dengan keliru. Oleh kerana itu, Hasan memutuskan untuk tidak solat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya untuk solat bersama orang yang tak boleh mengucapkan bacaan solat dengan benar.

      Di malam harinya, Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Allah berbicara kepadanya: "Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan solatmu, kau akan memperoleh keredhaan-Ku, dan solat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh solat dalam hidupmu. Kau cuba mencari kesalahan dalam bacaan solatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna"

      Di zaman sekarang ini sukar sekali kita mencari orang yang benar-benar mempunyai kriteria dekat kepada Allah. Sering kali mata kita tertipu oleh penampilan zahir. Orang dekat dengan Allah itu adalah para Aulia-Nya, para kekasih-Nya yang beribadah semata-mata untuk mencari keredhaan Allah dan menuntun orang-orang menuju ke hadrat Allah. Seorang wali Allah dalam kehidupan sehari-hari boleh saja ber profesion sebagai seorang peniaga, petani, ulama’ guru sekolah, dan lain-lain. Hanya orang yang diberi petunjuk oleh Allah yang boleh berjumpa dengan wali-Nya.

      Mempunyai bacaan benar (tajwid) yang sempurna memang salah satu syarat sah seseorang menjadi imam dalam solat, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana hati nya boleh terus menerus bersama Allah selama dalam solat. Ini hal yang sangat pokok, kerana seorang imam akan mempertanggung jawab kan amalan makmum nya di hadapan Allah SWT. Kalau imam sepanjang solat mengingat wanita-wanita cantik, mengenang harta, dan sejuta persoalan hidup, apakah pantas dijadikan sebagai imam?

      Saya jadi teringat kisah Imam Al-Ghazali yang menjadi imam dalam solat Asar disebuah masjid, Beliau baru saja mengajarkan hukum thaharah bagi wanita yang haid. Tanpa disedari fikiran Beliau saat solat teringat kepada wanita yang sedang haid. Salah seorang yang menjadi makmum adalah adik kandung imam al-Ghazali.

      Selepas selesai solat adik imam Al-Gazali menegur, "kenapa abang di rakaat kedua mengingat wanita yang lagi haid?"

      Imam Al-Ghazali sangat terkejut, selaku orang yang sangat ahli dalam hukum Islam telah hapal Al-Qur’an dan ribuan hadis, telah berpuluh tahun menjadi imam baru sekarang mengetahui kekeliruannya selama ini.

      Beliau berkata kepada adiknya, "Tajam sekali mata hati mu, mulai saat ini aku berguru kepada mu"

      Imam Al-Ghazali yang terkenal akan ilmu syariatnya, perlu belajar lagi kepada adiknya yang ahli Tarekat Tasawuf Ahlus Shufi, bagaimana menjadi seorang Imam yang sah, lalu bagaimana dengan imam-imam zaman sekarang yang hanya bergantung kefasihannya?

      Bacaan tetap lah bacaan, hafalan tetap lah hafalan yang tersimpan dalam otak yang mempunyai dimensi rendah, seorang hamba baca tetaplah akan menjadi hamba baca kalau pengetahuannya tidak di upgrade.

      Semoga tulisan ini menyedarkan kita semua, setelah kita fasih mengalunkan ayat Al-Qur’an tiba saatnya untuk men-fasih-kan hati dalam mengingati-Nya. Bagaimana caranya?

      Surah An Nahl, Ayat 43
      Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-rasul sebelummu (wahai Muhammad), melainkan dari kalangan orang-orang lelaki, yang Kami wahyukan kepada mereka. Oleh itu bertanyalah kamu (wahai golongan musyrik) kepada orang-orang yang berpengetahuan agama jika kamu tidak mengetahui.

      Gambar: Majlis Baiah Thoriqah Tijani oleh Sayyidi Syeikh Ahmad Al Hadi Al Maghribi Al-Hasani

      Dari: HAMBA ALLAH

      14/10/2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tasauf | Leave a comment

      Penyakit RIAK

      Perkara yang paling aku takut sekali ketika berjihad ialah penyakit hati iaitu RIAK… RIAK dalam keadaan sedar atau tidak sedar… sengaja atau tidak sengaja…

      Rasulullah SAW sendiri takut akan penyakit ini menimpa umatnya kerana ia boleh berlaku dalam pelbagai keadaan…

      Kerisauan itu dinyatakan Rasulullah SAW dalam sabda bermaksud: "Sesungguhnya yang paling ditakutkan daripada apa yang aku takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil)….

      Sahabat bertanya: "Apakah dimaksudkan syirik kecil itu? Baginda menjawab: Riak." (Hadis riwayat Imam Ahmad)

      Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fathul Baari berkata: "Riak ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia… lalu mereka memuji pelaku amalan itu."

      Kerisauan Rasulullah SAW terhadap sifat riak disebabkan penyakit hati ini mudah menyerang setiap insan kerana jiwa manusia memiliki kecenderungan suka menerima puji dan kedudukan tinggi di hadapan orang lain… Al-Muhasibi menjelaskan penyebab riak: "Senang dipuji dan takut dicela, tunduk kepada dunia dan tamak kepada perkara dimiliki orang lain."

      Riak juga berbahaya kerana meresap dalam amalan umat Islam dalam keadaan samar. Mereka yang dihinggapi penyakit riak tidak menyedari ibadah sudah tercemar kerana hilang keikhlasan…

      Riak dianggap Rasulullah SAW sebagai amalan syirik kecil kerana bagi seseorang yang sudah dihinggapi sifat ini ibadahnya tidak lagi ikhlas untuk mendapat keredaan Allah… sebaliknya menempatkan insan lain sebagai tandingan bagi Allah kerana amalnya bertujuan menarik perhatian insan itu…

      Justeru, riak bukan sekadar boleh menyebabkan seorang terjebak dalam dosa… ia sebenarnya boleh menyebabkan amalan tidak diterima Allah… ini yang paling aku takut…

      Imam Ibnu Taymiyyah berkata: "Sesungguhnya bagi seseorang yang bersikap riak dalam ibadah… bukan saja ibadahnya batal… malah dia turut mendapatkan dosa daripada perbuatannya itu yang dianggap syirik kecil…"

      Apabila suatu amalan dilaksanakan dengan ikhlas kerana Allah… ia akan diterima oleh-Nya… Sebaliknya… apabila amalan diniatkan untuk mendapat perhatian… pujian atau meraih keuntungan duniawi… maka ia tidak diterima Allah… contoh terdekat memuat naik gambar atau video didalam facebook sambil berperang atau memegang senjata yang kononnya hebat dan berniat untuk mendapat pujian dan LIKE yang banyak… ini yang aku takut… takut akan perkongsian tersalah tafsir dengan sendirinya…

      Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya… dan sesungguhnya amalan seseorang dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan." (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)

      Allah berfirman bermaksud: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus… dan supaya mereka mendirikan solat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus…" (Surah Al-Bayyinah, ayat 5)

      Imam Ibnu al-Qayyim ketika menafsirkan ayat itu menyatakan: "Seperti Allah adalah satu dan tiada Tuhan selain-Nya begitu pula hendaklah amal ibadah itu layak dipersembahkan hanya untuk-Nya dan tiada sekutu… demikian juga halnya jika hanya dia sebagai sembahan… maka wajiblah mengesakannya dalam perhambaan kerana amal yang salih adalah amal yang bersih daripada riak dan terikat dengan sunah."

      Amal seseorang diterima Allah harus memenuhi dua syarat iaitu niat ikhlas semata-mata demi Allah dan dilakukan sesuai dengan tuntutan syariat (mengikuti sunnah Nabi).

      Rasulullah SAW mengajar umatnya memohon perlindungan dengan membaca doa: "Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu daripada perbuatan syirik yang kami ketahui. Kami memohon ampunan kepada-Mu daripada dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya." (Hadis riwayat Ahmad)

      Pada akhirat nanti… bagi mereka yang riak akan menerima pembalasan dengan dibongkarkan niatnya yang buruk itu di depan seluruh makhluk seperti sabda Rasulullah SAW bermaksud: "Siapa beramal kerana sumah (ingin didengari manusia) Allah akan membalasnya dengan diperdengarkan kejelekannya… Siapa berbuat riak… maka Allah akan menampakkan sifat riaknya itu (di depan makhluk)." (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)

      Ya Allah… aku memohon perlindungan dari penyakit hati yang kotor … ampunilah dosaku yang sebelumnya moga aku tidak mengulangi segala niat dan perbuatan yang Engkau laknati…

       

      Wallahualam…

      Oleh: Ahmad Salman Abdul Rahim

      16/07/2014 Posted by | Ibadah, Tasauf | 1 Comment

      Yaqazah amalan Ahli Sunnah wal Jamaah

      Yaqazah iaitu bertemu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan jaga bukanlah suatu yang mustahil dengan keizinan dari Allah. Namun untuk bertemu dengan baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan jaga bukanlah suatu yang mudah.

      Asas dalil kepada yaqazah adalah

      zahir hadis berikut yang menunjukkan seseorang yang soleh boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w., tetapi dengan syarat mestilah pernah bertemu dahulu secara mimpi (ru’ya) dengan baginda s.a.w. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

      « من رآني في المنام فسيراني في اليقظة، ولا يتمثل الشيطان بي»

      “Sesiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka dia akan melihatku secara yaqazah (di dalam keadaan jaga), kerana syaitan tidak boleh

      menyerupaiku”.

      [Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad. Lafaznya dari al-Bukhari]

       

      Selain dariapada itu, ramai ulama yang mengatakan atau mengiktiraf kemungkinan boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. antaranya adalah :

      1. Imam Ibn Abi Jamrah al-Maliki dalam Bahjah al-Nufus.

      2. Al-‘Allamah Ahmad al-Nafrawi al-Maliki dalam Syarh Risalah Ibn Abi Zayd.

      3. al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari.

      4. al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti dalam Tanwir al-Halak fi Imkan Ru’yah an-Nabi wa al-Malak.

      5. Imam al-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim.

      6. Imam al-Ghazali dalam al-Munqiz min al-Dhalal.

      7. Imam Syihabuddin al-Qarafi,

      8. Imam ‘Afif al-Din al-Yafi‘i al-Syafi‘i dalam (روض الرياحين).

      9. Al-‘Allamah Ibn al-Haj al-Maliki dalam al-Madkhal.

      10. Al-Qadhi Ibnu al-‘Arabi al-Maliki dalam kitabnya (قانون التأويل).

      11. Imam Ibn ‘Ata’illah al-Sakandari (w. 709H) dalam kitab Lata’if al-Minan.

      12. Al-Qadhi Syaraf al-Din al-Barizi dalam (توثيق عرى الإيمان).

      13. Imam Tajuddin al-Subki.

      14. Imam al-Qurtubi dalam (التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة).

      15. Al-‘Allamah Ibn Battal al-Maliki

      16. Al-‘Allamah Ibn al-Tin

      17. Imam ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam dalam al-Qawa’id al-Kubra.

      18. Al-‘Allamah Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Syama’il.

      19. Al-Qadhi Ibn al-Munayyir.

      20. Imam Ibn Daqiq al-‘Id.

      21. Imam ‘Abd al-Wahhab al-Sya‘rani dalam beberapa kitabnya.

      22. Imam Ibn Hajar al-Haytami al-Makki dalam al-Fatawa al-Hadithiyyah.

      23. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ra’uf al-Munawi dalam Faydh al-Qadir.

      24. Syeikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdullah al-‘Idrus (w. 1038H) dalam kitabnya al-Nurus Safir ‘an Akhbaril Qarnil ‘Asyir.

      25. Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi dalam al-Mufhim.

      26. Imam al-Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah.

      27. Imam al-Baqillani.

      28. Al-‘Allamah Sadruddin al-Qunawi dalam Syarh al-Arba‘in.

      29. Al-‘Allamah Burhanuddin al-Biqa’i dalam al-Hawi.

      30. Al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki.

      31. Al-‘Allamah al-Maziri.

      32. Al-‘Allamah Nuruddin al-Iji.

      33. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ghani al-Nabulsi dalam Syarh Salawat al-Jaylani.

      34. Syeikh Ahmad ibn ‘Ajibah al-Hasani (w. 1224H) dalam al-Futuhat al-Ilahiyyah.

      35. Al-‘Allamah Syeikh Ibn ‘Allan al-Siddiqi.

      36. Al-‘Allamah Najmuddin al-Ghazi dalam kitabnya al-Kawakib al-Sa’irah.

      37. Imam Syah Waliy Allah al-Dihlawi dalam al-Durr al-Thamin.

      38. Al-‘Allamah al-Alusi dalam tafsir Ruh al-Ma’ani.

      39. Sayyid ‘Abdul Rahman al-‘Idrus dalam kitab Syarh Salawat al-Badawi.

      40. Syeikh ‘Ali al-Ajhuri al-Maliki dalam al-Nur al-Wahhaj.

      41. Syeikh Muhammad al-Khalili dalam al-Fatawa.

      42. Syeikh ‘Abdullah Sirajuddin al-Halabi dalam al-Solat ‘ala al-Nabiy.

      43. Al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani dalam Sa‘adah al-Darayn, Syawahidul Haq dan Jami‘ Karamatil Auliya’.

      44. Syeikh Badi‘ al-Zaman Sa‘id al-Nursi.

      45. Syeikh Ibrahim al-Bajuri dalam Syarh al-Syama’il.

      46. Syeikh Muhammad Hasanain Makhluf.

      47. Syeikh Abu al-Qasim Muhammad al-Hafnawi dalam Ta’rif al-Khalaf.

      48. Al-‘Allamah Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, Syeikhul Azhar.

      49. Al-‘Allamah Sayyid ‘Abdullah al-Siddiq al-Ghumari dalam kitabnya Fadha’ilun Nabi SAW.

      50. Al-‘Allamah Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah.

      51. Al-‘Allamah Dr. Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buti.

      52. Al-Allamah Dr. ‘Ali Jum‘ah, Mufti Mesir dalam al-Bayan.

      53. Dr. ‘Umar ‘Abdullah Kamil,

      54. Dr. Mahmud al-Zayn.

      55. Datuk Seri Maharaja Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz, Mufti Brunei.

      Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni dari Institut Kajian Hadith Selangor telah panjang lebar menerangkan mengenai yaqazah di sini :

      http://sawanih.blogspot.com/2012/07/blog-post.html

      Malahan JAKIM juga memperakui adanya yaqazah berbeza dengan yaqazah yang dipercayai oleh al Arqam :

      http://www.islam.gov.my/sites/default/files/menjawab_dakwaan_yaqazah_sesat_jemaah_al-arqam.pdf

       

      Wallahua’lam bissowab

      01/07/2014 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tasauf | | Leave a comment

      Jangan kamu berkahwin dengan perempuan yang bersifat dengan 6 sifat ini.

      Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin (kitab Tassawuf yang terkenal) ada mengatakan ungkapan arab yang bermaksud: "Janganlah kamu menikahi 6 jenis perempuan iaitu:

      1. Al-Annanah (suka mengeluh) ialah : perempuan yang banyak mengeluh dan mengadu, selalu membalut kepalanya sebagai tanda sakit. (menandakan dia rasa terbeban dengan tugasan hariannya, kerana malas atau memang sifat semulajadinya suka mengeluh walaupun disebabkan perkara kecil. Perempuan tersebut berpura-pura sakit supaya suaminya tidak membebaninya dengan tugasan harian). Menikahi perempuan yang sengaja buat-buat sakit tidak ada faedah padanya.

      2. Al-Mananah: perempuan yang memberikan sesuatu kepada suaminya (suka mengungkit-ngungkit). Sampai satu masa dia akan mengatakan : saya telah melakukan untuk kamu itu ini.

      3. Al-Hananah : perempuan yang suka merindui dan mengingati bekas suami atau anak daripada bekas suami. (Perempuan seperti ini tidak akan menghargai suaminya walaupun suaminya berusaha memuaskan segala kemahuannya)

      4. Al-Haddaqah : menginginkan setiap perkara dalam perbelanjaannya (boros) dan suka membeli belah sehingga membebankan suaminya untuk membayar pembeliaannya.

      5. Al-Barraqah : terdapat dua makna yang pertama, suka berhias sepanjang masa (melampau dalam berhias) supaya wajahnya nampak lebih anggun dan mempersona, kat suami xbuat pun! Makna kedua ialah : perempuan yang tidak mahu makan, maka dia tidak akan makan kecuali bila bersendirian dan dia akan menyimpan bahagian tertentu untuk dirinya sendiri.

      6. Al-Syaddaqah : perempuan yang banyak cakap

      Sumber: PONDOK HABIB

      04/06/2014 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , | Leave a comment

      Munafik – Bercakap bohong, mungkir janji…

       

      ISTILAH munafik, pastinya bukanlah sesuatu yang baru di dalam masyarakat Islam. Banyak terdapat ayat-ayat al-Quran dan hadis yang berkaitan dengan bahayanya sifat munafik ini.

      Firman Allah s.w.t.: Di antara orang-orang Badwi yang ada di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka melampau dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami seksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (at-Taubah: 101)

      Namun, masih kurang di kalangan umat Islam khususnya, yang berusaha menghayati, memahami serta prihatin terhadap ancaman yang berpunca daripada ciri-ciri golongan munafik ini.

      Menurut Timbalan Dekan (Hal Ehwal Pelajar), Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Prof. Datuk Dr. Mohammed Yusoff Hussain, munafik atau nifaq adalah perkataan yang berasal daripada bahasa Arab.

      “Dari segi bahasa, munafik membawa maksud berpura-pura. Manakala dari segi istilahnya, nifaq atau munafik ini bermakna golongan yang berpura-pura menjadi Islam atau bergelar Muslim tetapi sebenarnya tindakan, perkataan dan perbuatan mereka adalah bertujuan meruntuhkan Islam,” terang bekas Mufti Wilayah Persekutuan ini secara ringkas akan pengertian munafik sebagai pembuka bicara, petang itu.

      Tambah Mohammed Yusoff, pada zaman Rasulullah s.a.w., golongan munafik ini mendapat sokongan dari luar seperti kaum Musyrikin.

      Menyedari tindakan dari luar tidak berkesan, maka taktik untuk merosakkan perpaduan umat Islam melalui jalan dalam digunakan, iaitu berpura-pura seperti seorang Muslim tetapi dalam masa yang sama menikam dari belakang.

      “Golongan munafik ini begitu licik sehinggakan keakraban yang wujud antara mereka dengan orang Islam yang tulen, menyebabkan orang-orang Islam yang berpegang di jalan yang benar, menganggap golongan munafik ini sebagai sebahagian daripada mereka.

      Mengaburi

      “Ini dibuktikan melalui kisah kesungguhan golongan munafik ini mendirikan sebuah masjid baru bagi mengaburi penglihatan umat Islam pada masa itu,” katanya antara salah satu langkah awal cara golongan munafik ini mempengaruhi dan memperoleh kepercayaan umat Islam, sebelum meneruskan misi meracuni pemikiran mereka.

      Malah jelas beliau, golongan munafik ini semakin terserlah pada zaman Abu Bakar apabila mereka ingkar membayar zakat.

      “Satu contoh kemunafikan yang paling terang berlaku pada zaman pemerintahan para sahabat, Abdullah bin Saba’ iaitu seorang munafik yang terkenal.

      “Abdullah memfitnah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib hanya kerana dia tidak menerima kepimpinan dua sahabat Nabi,” kata tokoh agama yang berpengalaman ini.

      Yang pastinya, ujar Mohammed Yusoff, matlamat golongan sebegini ialah untuk menggoncangkan keyakinan umat Islam, orang yang baru memeluk agama Islam dan mereka yang masih belum kukuh keyakinannya kepada agama Islam.

      Tambah beliau lagi, pada zaman pemerintahan Rasulullah s.a.w., baginda tidak menguar-uarkan kemunafikan golongan ini kerana tidak mahu menimbulkan suasana huru-hara dari segi hubungan kemanusiaan.

      “Ini menunjukkan kepada kita bahawa bukan mudah untuk menghadapi golongan munafik, dan Nabi sendiripun tidak dapat menghadapinya secara terang-terangan kerana dibimbangi tindakan baginda dieksploitasi oleh golongan munafik sehingga boleh menjatuhkan imej Rasulullah s.a.w. sendiri kerana dituduh tidak mempercayai atau berprasangka buruk terhadap para sahabat,” terang Mohammed Yusoff yang ditemui di pejabatnya, baru-baru ini.

      Malah akui beliau, golongan munafik ini lebih sukar dihadapi daripada musuh yang sebenar. Golongan ini diumpamakan seperti musuh di dalam selimut.

      Subversif

      Jelas beliau lagi, golongan munafik ini dalam istilah moden boleh disebut golongan subversif ataupun merosakkan dari dalam.

      Menjelaskan sifat munafik yang telah disebutkan oleh Rasulullah s.a.w.: Sesiapa yang mempunyai tiga perkara ini, maka dia adalah seorang munafik walaupun dia berpuasa, sembahyang, menunaikan haji, umrah dan mengatakan dirinya seorang Muslim.

      Para sahabat bertanya, “Apakah tiga perkara ini?” Jawab baginda: Iaitu apabila bercakap dia berbohong, apabila berjanji dia tidak menepati janjinya dan apabila diberi amanah dia mengkhianatinya. (Riwayat Muslim)

      Namun pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Mohammed Yusoff menjelaskan, hadis kedua ini memberikan tambahan kepada tanda-tanda orang munafik iaitu: Empat sifat, sesiapa yang bersifat dengannya bererti dia seorang munafik yang nyata, dan siapa yang mempunyai salah satu daripada sifat-sifat itu bererti dia mempunyai satu sifat munafik sehingga dia meninggalkan sifat itu.

      Sifat tersebut ialah: Apabila bercakap dia berdusta, apabila berjanji dia memungkiri janjinya, apabila diberi amanah dia mengkhianatinya dan apabila berbalah (bertengkar) dia melampaui batas.

      Namun, tegas beliau, ini adalah ciri-ciri yang umum. Hakikatnya, di dalam dunia yang moden ini ciri-ciri tersebut hanya menjadi panduan.

      Antara ciri-ciri lain yang boleh dikategorikan dalam persoalan munafik, jelas Muhammad Yusoff ialah:

      1. Mereka yang bercakap tentang Islam tetapi menyimpan niat buruk untuk menghancurkan Islam.

      Mereka mendabik dada mengakui mereka memperjuangkan Islam tetapi apa yang dilakukan itu sebaliknya meruntuhkan Islam.

      2.Bercakap perkara yang menimbulkan keraguan umat Islam terhadap ajaran Islam.

      3.Golongan yang bertindak mengadu domba umat Islam berpandukan kepada tafsiran-tafsiran tentang ajaran Islam. Bagi yang berkeyakinan mereka akan berbalahan antara satu sama lain.

      Contohnya, mengatakan bahawa sesuatu ajaran Islam itu hanya untuk satu golongan sahaja, sedangkan ia adalah ajaran Islam yang universal.

      4.Bercakap tentang Islam tetapi sebenarnya meniru argumentasi musuh Islam yang jelas.

      Misalnya bercakap tentang Islam tetapi menggunakan pandangan orientalis. Sedangkan kita ketahui bahawa golongan Orientalis adalah musuh Islam.

      Golongan ini memang menolak pandangan ulama, pejabat agama kerana menganggap golongan ini kolot dan banyak lagi pandangan negatif.

      “Ini boleh dikategorikan semi-munafik kerana membelakangkan mereka yang pakar dalam sesuatu bidang itu.

      “Contohnya, sekiranya kita hendak membina rumah, tentunya kita meminta pandangan daripada pakar yang berkaitan bukannya meminta pandangan daripada orang agama,” seloroh beliau.

      Terang Mohammed Yusoff lagi, apa yang berlaku dalam masyarakat kini ialah golongan yang kononnya mengembangkan Islam dan mengubah pemikiran rakyat tetapi tidak berpunca daripada kitab yang muktabar dan tidak berdasarkan hadis.

      Konteks

      Kalaupun berdasarkan al-Quran dan hadis, tetapi tidak melihat dua sumber ini dalam konteksnya atau secara menyeluruh atau daripada sudut pandangan golongan lain.

      “Di dalam pekerjaan misalnya, kita telah diamanahkan memegang sesuatu tugas tidak kiralah jawatan besar mahupun kecil, di sisi Allah s.w.t. adalah sama. Di dunia, besar jawatan dan tugas imbuhannya dilihat pada sumber pendapatan.

      “Allah tidak melihat pada gaji tetapi Allah melihat apabila seseorang itu menerima amanah tidak kira kecil atau besar, ia mestilah ditunaikan.

      “Gaji bukan ukuran Allah tetapi sifat amanah seseorang hamba, itulah yang utama di sisi Allah,” terang beliau.

      Senario sekarang ulas Mohammed Yusoff, ramai di kalangan umat Islam yang tidak takut diri memiliki ciri-ciri munafik.

      “Ini kerana, dosa dan pahala itu boleh dikompromi. Contohnya rasuah, waktu mula-mula berkerja, dia sanggup melafazkan aku janji yang dikira amanah yang terpikul di bahu tetapi apabila bekerja kita sanggup melakukan pembohongan, mencuri masa kerja dan pelbagai lagi.

      “Dari segi istilah, ini sudah dikira munafik. Lebih-lebih lagi, kesalahan tersebut dilakukan secara terang-terangan seperti penipuan, rasuah, menggelapkan duit syarikat dan banyak lagi,” katanya sifat munafik ini, mampu merosakkan institusi kekeluargaan, masyarakat, sekali gus melumpuhkan sistem pemerintahan sesebuah negara itu.

      (Oleh ZUARIDA MOHYIN)

      Artikel Penuh: http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2005&dt=0624&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm#ixzz32PaKdN2u

      22/05/2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

      7 Zikir Pembuka pintu Rezeki

       

      1. Memperbanyak Membaca – La hawla Wala Quwwata Illa billah – Barangsiapa yang lambat datang Rezekinya hendaklah banyak mengucapkan – La hawla Wala Quwwata Illa billah (HR. At- Tabrani)

      2. Membaca – La Ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin – Barangsiapa setiap hari membaca La ilaha illallahul malikul haqqul mubin maka bacaan itu akan menjadi Keamanan dari Kefakiran dan menjadi Penenteram dari rasa Takut dalam Kubur (HR. Abu Nu’aim dan Ad Dailami).

      3. Membaca – Subhanallah wabihamdihi Subhanallahil adziim . Dari setiap Kalimat itu seorang MALAIKAT yang BERTASBIH kepada ALLAH Ta’ala sampai hari Kiamat yang Pahala Tasbihnya itu diberikan Untukmu.

      (HR. Al-Mustagfiri dalam Ad-Da’awat)

      4. Membaca Surat Al-IKHLA S: Barangsiapa membaca Surat AlIkhlas ketika masuk rumah maka berkah bacaan Menghilangkan Kefakiran dari penghuni rumah dan tetangganya (HR. AtTabrani)

      5. Membaca Surat Al-WAQIA’AH : Barangsiapa membaca surat Al-Waqiaah setiap malam…maka TIDAK akan diTimpa Kesempitan Hidup” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman)

      6. Memperbanyak SELAWAT KEATAS NABI : Dari Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda bersabda: Barangsiapa Berselawat kepadaku satu kali Selawat maka ALLAH akan membalas sepuluh kali Selawat dan Mengangkatnya Sepuluh DARJAT. (Dikeluarkan Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Abu Syaibah…al-Bazzar….Ibnu Syahiin dan al-Ismaili dengan sanad ma’lul)

      7. Melazimkan BERISTIGHAFAR : Barangsiapa melazimkan Beristighfar nescaya ALLAH akan Mengeluarkan dia dari segala Kesusahan dan Memberikan Rezki dari arah yang tidak diDuga-Duga” (HR. Ahmad, Abu

      Dawud dan Ibnu Majjah)

      Ya ALLAH berikanlah kami Rezki yang Luas… yang Halal lagi Baik tanpa Memberatkan kami….Jika Rezki kami ada diLangit maka Turunkanlah.

      Jika ada diBumi maka Keluarkanlah. Jika jauh maka Dekatkanlah.

      Jika Dekat maka Mudahkan lah.

      Jika sedikit maka Banyakanlah.

      Jika banyak maka BERKATI LAH agar kami dapat menolong ANAK-ANAK YATIM – FAKIR MISKIN – MEREKA YANG DALAM KESUSAHAN & KEDHAIFAN.

      YA ALLAH……Kabulkanlah doa kami…Aamiiin YA ALLAH Ya Robbal ‘Alamin.

      Semoga ALLAH Mengabulkan Do’a kita.

      Semoga Bermanfaat. InshaaALLA

      (Sumber: KBU –https://www.facebook.com/KamiBersamaUlamakKbu?fref=nf)

      05/05/2014 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf | | Leave a comment

      Petikan kata kata Tuan Guru Sheikh Nuruddin Al-Banjari Al Makki

      05/05/2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

      Hakikat Dosa

      Padam dosa

      Seorang hamba Allah, dikira berdosa, apabila dia tidak melakukan kerja atau tindakan taat kepada Allah Taala.

      Seseorang hamba Allah itu dikatakan tidak melakukan kerja taat kepada Allah apabila tidak mengerjakan suruhan Allah atau melakukan kerja haram (perbuatan maksiat, kemungkaran atau sebarang larangan dalam agama Islam).

      Setiap hamba Allah yang berdosa akan ditimpakan pembalasan seksaan (azab) daripada Allah s.w.t sama ada di akhirat, mahu pun di dunia.

      Hamba Allah yang perbuatan dosanya tidak / belum mendapat keampunan Allah Taala atau dalam proses keampunan, sedang dalam pengkifaratan dosa misalnya, akan menerima pembalasan awal (terdekat) di dunia yang merupakan seksaan atau kecelakaan. Pembalasan dosa akan membinasakan diri, seterusnya menjejaskan iman dan melupuskan takwa.

      Berkata Imam al-Ghazali, maksudnya : Perbuatan maksiat itu adalah sebagai makanan yang memudharatkan badan manusia. Dosa-dosa yang terkumpul dalam diri manusia akhirnya meracuni jiwa keimanannya. Perbuatan dosa akan mengakibatkan kegelapan dalam hati kerana dosa itu menjadi kotoran atau karat di hati.

      Karat dosa ini, jika tidak dikikis dengan taubat, lama-kelamaan akan bertambah tebal lalu menutup pintu hati dan sukar atau tidak mungkin dihapuskan lagi. Orang yang demikian hatinya, jika tidak mendapat rahmat Allah, akan hidup dan mati dalam kesesatan. Na’uzu billahi min zalik.

      Demikianlah dosa itu akan menjadi hijab yang mendindingi perhubungan seseorang dengan Allah Taala, terjauh daripada rahmat Allah, tidak mendapat taufik dan hidayah-Nya untuk berbuat amal kebajikan. Orang yang banyak dosa dan berterusan dengan perlakuan dosa itu sehingga berkarat tebal adalah sukar untuk kembali ke jalan yang benar, malah sukar juga untuk memulakan taubat. Sebaliknya, dosa itu akan mendorong kepada perbuatan dosa yang lain, sama ada dilakukan dengan anggota badan (dosa zahir) atau dengan hati (dosa batin). Dosa yang baru ini mungkin lebih besar kecelakaannya. Secara lambat atau segera, hamba Allah yang berdosa itu akan menerima pembalasan di dunia :

      (a) ditimpa penyakit,

      (b) ditahan rezeki,

      (c) merasakan diri terlepas daripada sebarang pembalasan kerana masih berterusan mendapat kemewahan dan keni’matan hidup, walaupun berterusan melakukan dosa, akan tetapi semuanya ini merupakan tindakan istidraj (pembalasan secara perlahan, sedikit demi sedikit) daripada Allah Taala yang tidak disedari oleh hamba Allah yang berkenaan.

      Demikianlah kecelakaan akibat dosa yang perlu diketahui. Berkata Imam al-Ghazali, "Apabila kita dapat memahami semuanya ini, nescaya akan timbul di dalam hati rasa takut. Jika perasaan takut telah bertakhta di hati, akan mudahlah kita menanggung kesabaran dengan berkatnya. Pertolongan Allah Taala dan taufik-Nya akan menyusul sesudah itu".

      Wassalam

      Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

      30/04/2014 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Tasauf | | Leave a comment

      Akhlak Islam

      Setiap orang perlu memiliki akhlak yang baik sebagaimana yang diajarkan oleh Islam iaitu akhlak untuk dirinya sendiri, kepada Tuhan, manusia (masyarakat) dan bintang. Dan akhlak kepada diri sendiri di antaranya iaitu larangan bunuh diri, menjaga kesihatan dengan makan minum yang halal dan menyihatkan, mencari ilmu, sabar, dilarang membohong, sederhana, berani, dilarang menyiakan-nyiakan waktu, giat bekerja, tenang, teratur, rapi, indah, bersih, hikmat, dan boleh mencari kesenangan dengan syarat tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadith.

      Adapun akhlak kepada Tuhan iaitu mempercayai segala apa yang tercantum dlam rukun iman, berzikir, membaca dan memahami isi Al-Quran bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan, menjauhi segala apa yang dilarang Tuhan, mendakwahkan segala ajaran-ajaran ISLAM, dilarang menyekutukan Tuhan dan lain-lain. Sedangkan akhlak kepada umum iaitu diantaranya adalah menghormati orang tua, tetamu, bersilaturrahim, dilarang bersifat munafik, dilarang bercakap-cakap kosong, memfitnah atau menghina orang, bahkan bercakap tentang keburukkan orang lain (ghibah).

      Akhlak Islam menetapkan perlunya memerintahkan pada anak-anak untuk mengerjakan solat, dilarang mencelakan orang lain, perlunya bermusyawarah dalam 1 perkara, memelihara anak-anak yatim dan membantu orang-orang fakir miskin, menjenguk orang sakit, tolong menolong, memperlakukan dengan baik kepada binatang terutamanya ketika menyembelihnya, dan dilarang merosak tanam-tanaman atau benda-benda jika tidak ada kepentingannya.

      Kemudian Al-Quran dan Hadith telah menerangkan akhlak-akhlak yang baik seperti berikut:

      1) Harus berakhlak yang baik

      2) Mencontohi akhlak rasulullah

      3) Harus bekerja

      4) Beribadat kepada Allah

      5) Memuliakan tetangga

      6) Hidup bersih, mulia dan dermawan

      7) Larangan banyak bercakap, banyak meminta dan banyak mensia-siakan harta

      8) Memberi petunjuk yang baik

      9) Larangan dengki

      10) Larangan marah kecuali jika terjadi perbuatan maksiat

      11) Larangan bertindak kejam

      12) Menuduh yang tidak baik atau buruk sangka

      13) Larangan mencaci mereka yang telah mati

      14) Larangan bercakap bohong dengan tujuan agar semua orang tertawa

      15) Larangan bersikap bermusuhan

      16) Mengucapkan salam

      17) Bermanis muka disertai akhlak yang baik

      18) Bersikap adil

      19) Larangan boros

      20) Larangan bersikap kikir

      21) Larangan dendam

      22) Larangan memutuskan hubungan persaudaraan

      23) Larangan menipu misalnya menyembunyikan cacat perdangan

      24) Menjunguk orang sakit

      25) Menghantar jenazah

      26)Tutup keaiban orang lain

      Dalam Al-Quran dan Hadith tercantum segala macam persoalan yang baik yang perlu dikerjakan oleh setiap orang Islam dan segala macam keburukkan yang harus ditinggalkan.

      Wallahu a’lam

      Sumber: PONDOK HABIB

      24/03/2014 Posted by | Ibadah, Renungan & Teladan, Tasauf | | Leave a comment

      Hati tempat tumbuhnya Iman dan Kekufuran

      hati1

      Mengapa Ahli Ma’rifat sangat menitikberatkan soal hati?. Mengapa mereka lebih menitikberatkan soal pembersihan hati daripada segala hal ehwal perlakuan, ucapan, perkataan samada berbetuk ibadah atau muamalat? Kerana didalamnya Allah swt meletakkan cahaya keimanan.

      Apabila seseorang itu beriman kepada Allah swt, dia akan mendapat satu nur yang kecil didalam hatinya (jantung sanubari). Kedudukan nur Iman ini adalah didalam darah hitam dibilik jantung sanubari.

      Nur Iman ini yang menggerakkan seseorang itu patuh dan ta’at kepada Allah swt. Nur Iman ini yang membolehkan seseorang itu mengakui kewujudan dan kebesaran Allah swt. Nur Iman ini juga menjadi "mata" pembukaan ma’rifat keTuhanan.

      Kuat lemahnya seseorang itu didalam agama bergantung kepada sejauh mana nur keimanan ini bercahaya didalam hatinya. Apabila hidup hati itu dengan zikrullah maka akan bercahaya seluruh hati itu dan melimpah keseluruh tubuhnya. Sehingga menjadikannya ta’at kepada perintah Allah swt.

      Apabila hati itu tidak berzikir, maka pelita iman yang kecil akan makin malap, makin malap dan akhirnya padam. Wal Iyazhubillah.! Keadaan ini tidak disedari kerana ianya berlaku didalam keadaan yang perlahan2 dan beransur-ansur. Apa lagi jika keadaan diri orang ini terdedah kepada suasana kemungkaran dan kefasikan, maka akan cepatlah padam nur hatinya!

      Awaslah wahai tuan2 yang budiman. Peliharalah pelita hati yang telah di anugerahkan Allah swt.

      Firman Allah swt.

      Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (as-syam 9)

      Setiap suatu ada alat pencucinya. Alat pencuci bagi hati adalah zikrullah.

      Hati adalah laksana cermin yang menangkap berbagai gambaran dan rupa yang dilihat oleh mata. Lazimnya gambaran dan rupa ini menjadikan hati itu di lutupi debu2 kekotoran dunia dan segala perhiasannya. Semakin banyak pemandangan,semakin tebal debu2 kekotoran menutupi cermin hati. Jika dibiarkan, maka akhirnya muka hati itu akan terus gelap.

      Kesombongan nafsu menyebabkan ia dibenam di dalam api neraka selama 100 tahun dan apabila ia dikeluarkan daripada api neraka dan ditanya soalan yang sama, nafsu masih sombong dan angkuh dengan memberi jawapan yang sama lalu ia dibenam lagi dalam api neraka selama 100 tahun. Sebanyak 4 kali, nafsu dibenam di dalam api neraka sehingga akhirnya nafsu sendiri menyerah kalah dan mengaku Keesaan Tuhan. Di sini, jika kita mengkaji sifat kejadian nafsu dapatlah kita simpulkan bahawa nafsu sejak azali iaitu sejak ia berada di alam Lahut (Alam Ketuhanan) telah menjadi dalang utama segala kemelut dan haru-biru kerana keengganannya mengakui Keesaan Tuhan.

      Nafsu boleh ditingkatkan dengan zikir dan mujahadah. Berzikir tanpa bermujahadah melambatkan proses pembersihan hati, begitu juga bermujahadah tanpa berzikir juga tidak memberi kematangan pada diri kamu dalam perjalanan ini. Kesan dari zikir dan mujahadah yang bersungguh-sungguh akan membantu berlakunya peningkatan kepada kerohanian. Kamu akan merasa perubahan pada jiwa dan yang paling penting hati telah hidup dengan Allah dan jiwa kamu boleh melihat keaiban diri sendiri.

      Bersungguh-sungguhlah dengan latihan ini, walaupun pada permulaannya terasa payah, tetapi ingatlah janji Allah swt.Barang siapa yang bersungguh sungguh dijalan-Ku nescaya Aku tunjukan jalan baginya.

      Dari: Ustaz Syibli Sufi

      (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=214266385432974&set=a.117013078491639.1073741828.100005488417442&type=1)

      04/03/2014 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

      Tasawwuf & Tariqat

      sufism_and_tasawwuf_by_essani666-d464bu6

      Ada Yang Tidak Senang Kepada Tasawwuf Dan Tareqat. Kedua-Duanya Dibenci Terus. Seboleh-Bolehnya Hendak Dikuburkan, Dihilangkan Dari Hati Umat Islam. Memang Ada Tareqat Yang Tersasar Dari Landasan (Melanggar Panduan Al-Quran Dan As-Sunnah), Namun Ada Tareqat Yang Muktabar Dan Diiktiraf Oleh Alim Ulamak.

       Kepada Mereka Yang Memusuhi Tasawwuf, Amat Sukar Sekali Untuk Menghapuskannya Dari Umat Islam. Kerana Sebagaimana Yang Dijelaskan Oleh Habib Ali Al Jufri – Walaupun Ada Yang Mempergunakan Kalam Ibnu Taimiyyah Untuk Mengecam Ahli Sufi, Beliau Tetap Memuji Tasawwuf Dan Merasa Terhormat Dirinya Memiliki Hubungan Sanad Dengan Imam Abdul Qadir Al Jailani.

      Ibnu Qayyim Yang Sering Dijadikan Peluru Untuk Menembak Ahli Sufi, Malah Menulis Tiga Jilid Kitab Tentang Tasawwuf Iaitu Madarij Al-Salikin Fi Syarh Manazil Sa’irin. Imam Ahmad Bin Hanbal Menulis Kitab Al-Zuhd. Imam Hafiz Az-Zahabi Menulis Siyar A’lam An-Nubala’ Yang Bukan Hanya Mendedahkan Biografi Imam Hadith Tetapi Juga Para Imam Besar Tasawwuf Contohnya Ma’ruf Al-Karkhi Begitu Juga Kitab Sifat As-Sofwah Karya Imam Ibn Al-Jauzi.

      Begitulah Keadaan Para Ulama Hadith Yang Bergelar Al-Hafiz Yang Kadang-Kadang Mereka Tuduh Benar, Kadang-Kadang Salah. Bahkan Ketika Bersangkutan Dengan Aqidah, Mereka Katakan Para Ulamak Salafussoleh Itu Salah Semuanya.

      Jadi Menurut Mereka, Aqidah Ibnu Al-Jauzi Itu Salah. Aqidah Imam An-Nawawi Itu Salah, Kerana Ia Menulis Sejarah Hidup Guru-Gurunya Yang Meriwayatkan Hadith Sampai Kepada Imam Muslim Dan Menyebut Mereka Sebagai Sufi. Aqidah Imam Az-Zahabi Salah. Aqidah Imam Al-Suyuthi Salah. Demikian Pula Aqidah Imam As-Subki, Imam As-Sakhawi, Imam Ibn Hajar Serta Imam Mazhab Yang Merujuk Kepada Kaum Sufi Dan Memegang Ucapan-Ucapan Mereka Untuk Melembutkan Hati.

      Jika Mereka Menuduh Kaum Sufi Itu Syirik Dan Sesat, Bererti Mereka Tidak Percaya Kepada Al Quran Dan Hadith Yang Ada Sekarang. Kenapa ?

      Kerana Seluruh Sanad Dan Rantaian Riwayat Al-Quran Dan Hadith Yang Sampai Kepada Kita Sekarang Penuh Dengan Ahli Sufi. Setiap Periwayatan Bacaan Al-Quran Yang Tujuh (Qira’ah Sab’ah) Atau Yang Sepuluh (Qira’ah ‘Asyarah) Pasti Di Dalamnya Ditemukan Imam Sufi.

      Sesiapa Yang Boleh Menyemak Sohih Bukhari Dan Sohih Muslim Serta Kitab-Kitab Hadith Yang Lainnya Tanpa Melalui Perawi Yang Bukan Sufi ? Jika Ada Yang Mengatakan (Ahli Sufi) Itu Musyrik, Mereka Kafir, Dan Kita Diam Sahaja. Ini Ertinya Bencana Akan Mengancam Generasi Setelah Kita. Yang Mereka Tahu Tentang Para Sufi Kemudiannya Adalah Bahawa Mereka Kafir Dan Sesat.

      Sekarang Ini, Kita Seperti Malas Bertindak. Padahal Di Luar Sana, Melalui Khutbah, Kaset, Dan Buku-Buku Berbagai Kebohongan Telah Dihembuskan Sekelompok Orang Yang Tidak Menjaga Ketaqwaan Kepada Allah Ketika Berbicara Tentang Orang-Orang Soleh. Berbagai Tuduhan-Tuduhan Serong Diarahkan Kepada Kaum Sufi.

      Jika Ini Dibiarkan, Tentu Generasi Setelah Kita Akan Berkesimpulan Bahawa Hadith Dan Al-Quran Yang Mereka Terima Tidak Dapat Dipercayai Kerana Diriwayatkan Kaum Sufi Yang Mereka Ketahui Kafir Dan Sesat.

      [OLEH:- HABIB ALI AL-JUFRI]

      =================

       

      Sumber Rujukan:-

      Kitab Ma’alim Al Suluk Li Al Mar’ah Al Muslimah

      Karya Habib Ali Al-Jufri

      Terbitan Dar Al Ma’rifah, Beirut, Cetakan 5, 1428 H/2007M

      11/12/2013 Posted by | Tasauf | , | Leave a comment

      Sifat-sifat Yang Perlu Dijauhi

       Sifat-sifat Yang Perlu Dijauhi Berdasarkan Firman Allah swt dalam Surah Al-Baqarah ayat 1-5.

      Maksudnya: “Alif laam miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

      InsyaAllah, berikut merupakan sifat-sifat yang perlu dijauhi berdasarkan surah Al-Baqarah ayat 1-5. Marilah sama-sama kita berusaha untuk mengaplikasikan dan mengelakkan sifat-sifat ini daripada ada di dalam hidup kita.

      1. Merasa diri serba mengetahui. Allah swt memulakan surah Al-Baqarah dengan lafaz yang tidak diketahui maknanya oleh manusia. Oleh itu, umat manusia perlu menginsafi bahawa mereka tidak mengetahui semua perkara yang berlaku di dunia ini.

      2. Menterjemahkan kalimah yang tidak difahami tanpa asas. Kita perlu menyedari hakikat bahawa kita tidak sepatutnya menterjemahkan kalimah-kalimah yang tidak kita fahami. Kalimah-kalimah ini termasuklah kalimah Allah swt, kalimah Nabi saw dan kalimah sahabat radhiallahu anhum ajma’in. Namun, kalimah-kalimah manusia biasa juga perlu dielakkan daripada diterjemahkan menurut cita-rasa kita.

      3. Meletakkan ragu-ragu terhadap apa-apa yang didatangkan kepada kita oleh Rasulullah saw. Kepercayaan merupakan asas dalam beragama. Amatlah sukar untuk menetapkan diri kita pada jalan Allah swt, jika kita mempunyai sifat “ragu-ragu” terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah saw. Hendaklah kita berusaha menjadi seperti Abu Bakar As-Siddiq yang mempercayai Rasulullah saw tanpa ragu-ragu. Lagipun, kejujuran Rasulullah saw sendiri diperakui oleh orang-orang yang menentang baginda, jadi, kenapakah kita yang bersama baginda tidak mempercayai baginda pula?

      4. Tidak berusaha untuk mendapatkan petunjuk yang sudah disediakan oleh Allah swt dalam al-Quran. Salah satu kesilapan yang dilakukan oleh orang-orang yang lalai adalah melupakan al-Quran sebagai punca petunjuk oleh Allah swt. Al-Quran merupakan petunjuk paling agung yang mana ia tidak akan berubah selama-lamanya. Jadi, jangan kita berpaling kepada buku-buku “mencari Tuhan” yang tidak berasas, sedangkan kita melupakan Al-Quran.

      5. Tidak mempercayai perkara-perkara ghaib yang disebutkan secara sahih daripada Rasulullah saw. Rasulullah saw tidak pernah menipu, itu adalah salah satu daripada sifat Rasulullah saw. Jadi, setiap perkara yang diucapkan oleh baginda perlu dipercayai semuanya. Ini termasuklah cerita-cerita ghaib seperti isra’ mi’raj, kisah jin yang mendengar bacaan Al-Quran, janji syurga, malaikat-malaikat, turunnya wahyu, mukjizat baginda dan lain-lain.

      6. Tidak berusaha sedaya upaya mendirikan solat. Ini merupakan kesilapan yang banyak berlaku kepada orang ramai. Mereka melengah-lengahkan sembahyang sehingga mereka terlupa.

      7. Kedekut dalam menafkahkan harta sebagaimana yang disuruh oleh Allah swt. Zakat merupakan kewajipan agama. Ia merupakan salah satu asas untuk mengelakkan sifat buruk daripada bersarang dalam diri (iaitu kedekut) dan ia juga merupakan salah satu cara memastikan kestabilan ekonomi negara. Kewajipan ini merupakan kewajipan yang kurang dititik-beratkan dalam masyarakat pada zaman ini. Sebagai pelajar dan bakal pekerja, adalah wajib untuk kita mempelajari sekitar zakat, kerana kita merupakan future zakat payee. Janganlah kita melupai tanggungjawab sebagaimana yang sepatutnya ditunaikan.

      8. Tidak mengimani apa yang ada dalam Al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya. Kita perlu mengimani perkara-perkara yang dibawa oleh Al-Quran. Antara perkara yang perlu diimani adalah hukuman-hukuman jenayah yang telah diperuntukkan secara nas dalam Al-Quran. Umat Islam perlu mendabik dada dan berani berkata “Undang-undang Islam pasti akan menyelesaikan segala masalah di dunia” dan semua perlu meyakininya. Jika undang-undang ditegakkan namun, kemaksiatan masih berleluasa, maka, itu bukan menunjukkan undang-undang Islam tidak berupaya menyelesaikan masalah, tetapi, ia menunjukkan bahawa ada lagi bahagian-bahagian di dalam Islam yang tidak diletakkan pada tempatnya. Islam itu ibarat sebuah mesin. Ia saling memerlukan, barulah ia mampu memberikan kebaikan yang diinginkan. Tidaklah sebuah kereta boleh bergerak jika ia hanya mempunyai tayar, tetapi enjin tidak dihidupkan. Justeru, perlulah seluruh komponen Islam dihidupkan untuk memastikan negara aman dan damai. Namun, janganlah berputus asa jika kita tidak mampu untuk menghidupkan semua sekali pada satu-satu masa, setelah kita berusaha sedaya upaya. Islam itu ibarat ubat (vitamin), ia tetap mendatangkan kebaikan kepada badan, walaupun keputusannya bukanlah seperti yang diharapkan. Ini bukannya satu seruan supaya mengamalkan Islam secara tidak menyeluruh, sebaliknya ini adalah galakan kepada orang-orang yang sudah berusaha sedaya upaya menegakkan Islam secara kaffah (namun tidak mampu), supaya tidak berputus asa mengaplikasikan Islam ke dalam hidup mereka.

      9. Tidak meyakini kewujudan hari kiamat. Meyakini kewujudan hari kiamat merupakan satu ciri besar yang perlu ada di dalam diri manusia. Jika kita melupakan perkara ini, kita akan senang melakukan apa sahaja kerana tiada yang akan mengadili kita pada hari kiamat. Oleh itu, selalulah mengingati hakikat hari kiamat.

      10. Melakukan sesuatu yang menyebabkan diri tergolong dalam golongan yang tidak mendapat petunjuk dan tidak beruntung.

      Semoga kita mampu berusaha memastikan keberjayaan kita di dunia dan akhirat. Amin.

       

      [Perkongsian dari http://sebarislam.blogspot.com/2013/03/sifat-sifat-yang-perlu-dijauhi.html]

      09/12/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

      Peringatan Kepada Golongan Pencaci Dan Pembuat Fitnah

      Sedikit tazkirah ataupun peringatan kepada masyarakat Islam di zaman yang kita hidup; di saat kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah dan pancaroba ini. Kita lihat hari ini, tersebarnya fitnah yang begitu dasyat di kalangan kita. Ada orang yang menyebarkan tulisan-tulisan, membuat tuduhan kepada orang (secara) sembarangan. Ada orang yang menyebarkan melalui alat-alat media, melalui youtube, video, dalam TV, dalam radio. Kita kena ingat, bahawa jiwa seorang Muslim, seorang yang beriman kepada Allah swt itu, bukanlah jiwa yang dibiarkan begitu sahaja. (Jiwa orang Muslim itu adalah) jiwa yang mempunyai harga yang begitu mahal.

      Darah kamu, harta kamu, kehormatan kamu, haram atas diri kamu. Hari ini kita lihat, kehormatan diri manusia telah menjadi mainan, (hanya) kerana perbezaan ideologi, perbezaan pandangan, samada pandangan politik, pandangan pemikiran mazhab, pandangan yang tidak serupa dengan kita sahajalah senang, terus akan dijatuhkan hukuman yang begitu dasyat. Bahkan sanggup mengatakan seseorang ini ahli neraka, orang ini ahli sesat, yang begitu mudah sekali kita lemparkan tuduhan-tuduhan. Kadang-kadang yang menjadi mangsa ini, bukan orang-orang yang biasa. Samada orang politik sesama mereka, itu kita anggap orang biasa. Tapi, tuduhan ini dilemparkan ke atas para pendakwah, bahkan orang yang boleh dianggap sebagai alim ulama’, orang yang wara’ (yang) kita lihat pada zahirnya, (kita) tuduh bermacam-macam, (kemudian tuduhan ini) disebar melalui video, melalui internet. Gambar-gambar yang telah diedit, (di)masuk(kan ke dalam internet).

      Kamu kena ingat, Allah swt telah menyebut dalam Al-Quran Al-Karim dalam surah An-Nur ayat 15:

      (Maksudnya: Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.)

      Ingatlah, ketika kamu menerima berita itu dari mulut ke mulut, kita dengar berita orang buat, kita tengok dalam youtube, orang ini jahat, scandal – tidak kira, skandal seks ke, skandal balak ke, skandal apa benda lah – ataupun pendakwah ini dituduh membawa ajaran sesat contohnya, kerana perkara-perkara yang tertentu, وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم kamu juga kata dengan lidah kamu, dengan mulut kamu. Samada mulut kita yang kita bercakap ataupun tangan yang kita tulis tulisan kita. مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٌ۬ Sedangkan kamu tidak mempunyai ilmu, maklumat yang tepat tentang peristiwa yang ada itu, وَتَحۡسَبُونَهُ ۥ هَيِّنً۬ا kamu ingat main-main sahaja, suka-suka sahaja. Like dalam facebook, gelak-gelak, suka-suka sahaja, buat ceramah masuk kampung dan bandar mencerca orang (dan) sebagainya, وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ۬ perbuatan ini merupakan perbuatan yang sangat besar di sisi Allah azza wa jalla.

      Nabi saw dalam hadis yang panjang, tentang yang menyebut tentang peristiwa muflis,

       (Maksudnya: Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud: “Tahukah kamu siapakah orang yang muflis?” Sahabat-sahabat Baginda menjawab: “Orang yang muflis di antara kami ya Rasulullah ialah orang yang tidak mempunyai wang dinar dan dirham (ringgit) dan tiada harta benda.” Nabi s.a.w seterusnya bersabda: “Sebenarnya orang yang muflis daripada kalangan umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat membawa solat, puasa dan zakat, sedangkan datangnya itu dengan kesalahan memaki hamun orang, dan menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu dan juga memukul orang; maka akan diambil daripada amalan kebajikannya serta diberi kepada orang ini dan orang itu. Kemudian apabila habis amalan kebajikannya sebelum habis dibayar kesalahan-kesalahan yang ditanggungnya, akan diambil pula daripada kesalahan-kesalahan orang yang dianiaya serta ditimpakan ke atasnya. Kemudian, ia dihumban ke dalam neraka.”)

      Nabi saw (ber)kata di antara sahabat, “Siapa di antara kamu orang muflis?” أتدرون من المفلس Nabi kata, “Kamu tahu apa itu muflis?” Sahabat kata “Muflis ini orang yang tiada harta, yang hutang banyak, duit untuk bayar takde, itu muflis”. Nabi kata, إن المفلس من أمتي orang muflis dalam kalangan umat aku ini يأتي يوم القيامة mereka datang pada hari kiamat bawa amalan dia, solat ada, puasa ada, zakat ada, tapi, mulut dia juga telah maki orang perli orang telah ambil harta orang telah memukul orang, apa jadi (kepada orang sebegini)? Maka akan diambil kebajikannya diberi kepada orang yang difitnahnya tadi, orang yang dia zalim tadi. Kalau habis pahala orang tadi, akan diambil dosa dan dicampak ke atas kepala. ثم طرح في النار kemudian akan dicampak ke dalam neraka.

      Ini pesanan oleh Nabi yang begitu besar kepada kita. Kerana itulah, saya memberi peringatan, (dan saya memberi) tazkirah ini kepada semua muslimin dan muslimat. Tidak kira apa jenis kita ini, blogger ke, baru-baru nak belajar menulis ke, ahli-ahli facebook ke, wartawan ke, pembaca berita tak kira tv apa, semua kamu ingat, apa yang kamu kata, apa yang kamu tulis, kamu ingat main-main, “saya cuma baca skrip”, وَتَحۡسَبُونَهُ ۥ هَيِّنً۬ا kamu ingat benda itu main-main, وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ۬ tapi, ia besar di sisi Allah.

      Kamu nak jadi orang muflis di akhirat? Dengan permainan-permainan alat-alat moden yang ada hari ini, duk reka cerita, ambil gambar orang, potong sana potong sini, akhir sekali keluar fitnah.

      Kamu ingat orang (yang) kena fitnah ini boleh tidur malam? Kamu ingat orang (yang) kena fitnah berdiam diri begitu sahaja? لا (tidak)

      Orang (yang kena) fitnah, orang yang kena zalim, doa orang yang kena zalim ini mustajab.

      Allah swt sebut لأنصرنّك ولو بعد حين (ertinya) “Aku akan memberi pertolongan, walaupun selepas beberapa ketika”. Hari ini kita lihat, tidak kira orang hidup ataupun orang mati, semua tak selamat. Orang mati pun tidak selamat. Apabila ada tokoh ulama mati, semua orang mengeluarkan kenyataan, statement yang begitu dasyat. Tulis macam-macam kepada orang ini.

      Kita kena ingat, kita boleh keluarkan pandangan mereka yang bercanggah daripada kebenaran tapi jangan mencerca mereka.

      Dalam hadis Nabi saw berkata, لا تسبوا الأموات (ertinya) jangan kamu maki orang yang telah mati, فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا (ertinya) mereka telah pergi bawa apa yang mereka bawa. (Hadis riwayat Bukhari daripada Aisyah)

      Kalau dia bawa yang tak baik, dia berjumpalah dengan malaikat dalam kubur. Tak payah kamu yang jatuh hukum, biarkan mereka dengan amalan mereka. Kita tak payah jadi hakim, biarlah Allah azza wa jalla.

      Banyak hadis-hadis nabi yang mengarahkan kepada kita supaya jaga lidah. Nabi kita sendiri saw kata,

      (“إن اللعانين لا يكونون شفعاء ولا شهداء يوم القيامة” Dikeluarkan oleh Imam Muslim.)

      إن اللعانين orang yang suka melaknat orang, mencelaka orang لا يكونون شفعاء ولا شهداء يوم القيامة orang ini tidak boleh jadi saksi dan tidak boleh bagi syafaat pada hari kiamat.

      Dan hadis lain lagi, Nabi saw berkata, ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذيء orang mukmin bukan suka membuat tuduhan kepada orang.

      Hari ini, kita tengok penceramah-penceramah, masuk kampung-kampung dengan serban mereka, membuat tuduhan, maki orang, pagi sampai gelap, sekali-sekali boleh masuk dalam TV, buat cercaan kepada orang, subhanallahil ‘azim. Kita boleh berbeza pandangan, kadang-kadang tuduhan yang dia tuduh bukan tuduhan yang besar. Benda yang masih dalam skop yang boleh berikhtilaf dalam kalangan ulama. Ulama-ulama besar boleh ikhtilaf dalam masalah ini, tapi, kita ulama kecil, kadang-kadang tidak ulama pun, tapi orang angkat sebagai ulama sebab boleh digunakan orang ini, maka kita bercakap lebih daripada para ulama. Mujtahidun pun tidak bercakap lebih daripada itu.

      Nabi kata (seperti hadis di atas), (adalah) bukan mukmin orang yang الطعان (iaitu) orang yang suka membuat tuduhan, ولا اللعان bukan juga orang yang suka melaknat orang, ولا الفاحش orang yang suka bercakap keji, cakap kotor, apa lagi hari ini duduk menyebarkan kekotoran, tunjuk video lucah sana-sini, tulis dalam surat khabar, sampai budak-budak pun pening, dia kata, “Apa cerita orang Malaysia ini?” Itu fitnah yang berlaku. Itu hadis At-Tirmidzi, ولا البذيء orang bercakap yang tidak baik.

      Dalam hadis lain, Nabi saw berkata,

      لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم سباباً ولا فحّاشاً ولا لعّاناً

      Nabi sendiri bukanlah seorang yang suka melaknat, bukan orang yang suka memaki, mencerca orang, tidak (Nabi bukan begitu).

      Jadi, kita belajarlah, banyak hadis yang mengatakan; dalam hadis Abu Daud mengatakan,

      يا معشر المسلمين wahai orang beriman, ataupun dalam riwayat (lain) يا معشر من آمن بلسانه wahai orang beriman dengan lidah dia, tapi tidak masuk dalam hati dia. (يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ)

      لا تتبعوا عورات المسلمين jangan sekali-kali mencari keaiban orang. Sesiapa yang suka mencari keaiban orang, duk memburukkan orang, duk menjatuhkan orang, يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ Allah akan mendedahkan keaibannya walau dalam rumahnya sendiri.

      Kita tengok hari ini macam mana, orang yang buat perbuatan-perbuatan seperti ini. Cuba kembali kepada sejarah. Kita lihat. Bila dia duduk sebelah ini, dia duduk kafirkan orang sebelah sini. Orang itu kafir, murtad, pergi ke jirat, hari ini dia duduk sebelah ini, dia kafirkan orang sebelah ini pula. Orang ini, mulut dia, kalau tak sebut kafir, tidak boleh duduk, boleh jadi tidak boleh makan puak-puak ini. Kita pula duk angkat, “Inilah tokoh pejuang, tokoh (lain-lain)” pejuang apa? Pejuang maki orang? Pejuang kutuk orang? Ini bukan pejuang, ini peruntuh agama. Duduk di mana-mana pun ghuluw. Nabi kata إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ, (lafaz penuh adalah إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ؛ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ) “Aku beri peringatan kepada kamu, jangan melampau dalam agama. Binasanya orang dulu-dulu, kerana melampau dalam agama.” kononnya nak membela Islam, tapi, kita meruntuhkan Islam dengan adab kita, dengan akhlak kita, dengan sikap kita.

      Hari ini hendak mendakwa kalimah Allah swt, kononnya orang yang menyokong kalimah Allah swt ini kafir harbi, kafir harbi. Apakah kalimah Allah swt yang kamu hendak sokong? Sekadar tulisan? Kalau hendak sokong sungguh, ini perjuangan Islam.

      من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله

      Nabi kata, sesiapa yang berjuang menegakkan kalimah Allah, untuk meninggikan agama Allah, فهو في سبيل الله inilah barulah orang (yang bersikap) pejuang. Kalau setakat tulisan, itu bukan pejuang namanya. Dengan adab-adab dan akhlak yang kamu tunjuk, ini bukan pejuang kalimah, tapi orang yang nak meruntuhkan agama, sebenarnya. (Hadis sahih Muslim)

      Maka, berhati-hatilah. Mana-mana golongan yang melampau, melampau dalam membuat tuduhan kepada orang, samada mengkafirkan orang, menyesatkan orang, mengata itu mengata ini, semua ini kita perhatikan, tengok gelagat mereka, tengok tingkah laku mereka, apa perjuangan yang dia hendak sebenarnya.

      Tidak kira, pejuang Melayu, pejuang Arab, sama sahaja. Nabi saw kata Nabi kita larang daripada perjuangan bangsa, Nabi sebut دعوها فإنها منتنة orang ini dikira orang yang busuk, orang yang menyeru kepada perkauman. (Hadis riwayat Bukhari)

      Jadi, alhamdulillah, dalam Islam, banyak adab yang mengajar kepada kita. Yang pertama, jaga lidah. ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد Tidak ada satu lafaz, tidak ada perkataan yang kita tulis, tidak ada tuduhan yang dibuat, semuanya ada rakib atid, ada malaikat yang menulis amalan dan semuanya akan dikira di hadapan Allah azza wa jalla. (Surah Qaf ayat 18)

      Pernah seorang datang menemui syeikh Abdullah ibnu Al-Mubarak. Dia duduk (men)cerca seseorang di hadapan Syeikh Ibnu Al-Mubarak. Syeikh (Ibnu Al-Mubarak) itu pun (ber)kata, “Hei saudara, kamu pernah pergi berperang melawan Rom?” Lelaki ini kata “Tidak”. (Syeikh Ibnu Al-Mubarak kata), “kamu pernah pergi berperang melawan Parsi?” Dia kata “Tidak”. Syeikh Ibnu Al-Mubarak kata, “Subhanallah, orang kafir (iaitu) Rom dan Parsi selamat daripada kamu, tapi saudara kamu orang Islam tidak selamat daripada kamu.”

      Hati-hatilah kita para jemaah, daripada menjadi orang yang tidak selamat (seperti yang disebut dalam hadis) المسلم من سلم الناس من لسانه ويده. (Maksudnya:) Orang Islam itu, (adalah) orang yang orang Islam lain selamat daripada lisannya dan tangannya. (Petikan hadis riwayat Ahmad, disahihkan oleh Syeikh Arnaut) Kalau kita menjadi orang Islam yang mencerca, memaki orang, maka kita belum lagi benar-benar seorang Islam.

      Semoga tazkirah saya ini, memberi kesedaran kepada diri saya sendiri, supaya bersikap adil dalam menangani masalah dalam umat ini. Dan para pendengar bersikap adillah kita dalam membuat penilaian. Jangan melampau dalam perkara ini, kerana binasa umat dahulu kerana melampau, dan binasa umat ini juga kerana melampau. Janganlah kita mendedahkan keaiban orang , janganlah sampai Allah mendedahkan keaiban kita walaupun dalam rumahnya.

      [ Di petik dari syarah Ustaz Dr Abdul Basit Abdul Rahman –http://www.youtube.com/watch?v=Gz70T-V_r2U]

      Assalamualaikum wbth.

      Perkongsian dari Sebar IslamBlogspot

      06/12/2013 Posted by | Ibadah, Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

      Bersikap lah dengan sewajarnya

      BERSIKAPLAH DENGAN SEWAJARNYA.
      BERLAKU JUJUR dan ADIL LAH KEPADA DIRI SENDIRI dan ORANG LAIN.

      MANUSIA yang paling sengsara adalah mereka yang menjalankan kehidupan ini dengan hanya mengikuti hawa nafsu dan menuruti setiap dorongan emosi serta keinginan hatinya.Pada keadaan yang demikian itu, manusia akan merasa setiap peristiwa yang berlaku di sekelilingnya menjadi sedemikian berat dan sangat membebani,seluruh sudut kehidupan ini menjadi semakin GELISAH,GELAP GELITA, dan KEBENCIAN,KEDENGKIAN,serta DENDAM KESUMAT pun mudah bergolak didalam hatinya.

      Dan akibatnya,semua itu membuat seseorang itu hidup dalam dunia khayalan dan ilusi.Ia akan memandang setiap hal didunia ini musuhnya.Ia menjadi mudah curiga dan merasa setiap orang disekelilingnya sedang berusaha menyingkirkan dirinya.Dan ia akan sentiasa di bayangi rasa was was dan bimbang bahawa dunia ini setiap saat akan merenggut kebahagiannya.

      Demikianlah betapa malangnya orang seperti itu sentiasa hidup dibawah naungan awan hitam KECEMASAN,KEGELISAHAN,dan KEGUNDAHAN.

      Sumber: Kitab La Tahzan

      03/10/2013 Posted by | Renungan & Teladan, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

      Kelebihan berselawat keatas Nabi Muhammad S.A.W

      Sudah kah anda Berselawat hari inijpg

      Makna perkataan: “Selawat”. Perkataan selawat berasal daripada perkataan solat yang bererti doa atau pujian.

      Selawat Allah SWT ialah pujian-Nya di sisi para malaikat. Selawat malaikat ialah doa memohon tambahan gandaan pahala. Dan selawat orang mukmin ialah berdoa memohon supaya Allah SWT melimpahkan rahmat, menambahkan kemuliaan, kehormatan dan kepujian kepada penghulu kita Nabi Muhammad SAW.

      Makna selawat dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemulian dan keberkatan daripada-Nya. [Lihat kitab “Zadul Masir”, 6/398].

      Ada juga yang mengatakan ia bererti taufik daripada Allah Ta’ala untuk mengeluarkan hamba-Nya daripada kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya:

      “Dialah yang berselawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan keampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu daripada kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”. (Surah al-Ahzab: ayat 43).

      Hukum berselawat

      Para ulama’ telah sepakat menetapkan hukum berselawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah wajib pada keseluruhannya, tetapi mereka tidak sepakat (ijma’) tentang bilakah masa wajib berselawat dan berapakah bilangannya. Antaranya:
      1.  Wajib berselawat dalam masa mengerjakan solat.
      2.  Membaca Tasyahud (tahiyyat).
      3.  Membaca Tasyahud kedua/tahiyyat akhir.
      4. Setiap kali menyebut, mendengar atau menulis nama Nabi Muhammad SAW, ganti namanya atau pangkat kerasulan dan kenabian Baginda SAW.

      Arahan Membaca Selawat

      Dalam semua perintah mengerjakan ibadat, Allah SWT menyuruh hamba-Nya beribadat. Sebagaimana dalam firman-Nya di atas tadi, Allah sendiri memulakan selawat ke atas Nabi, diikuti malaikat kemudian dianjurkan kepada Muslimin mengamalkannya. Hal ini bermakna membaca selawat itu sangat utama.

      Kelebihan Selawat

      Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda:

      “Sesiapa yang mengucapkan selawat kepadaku satu kali, maka Allah akan berselawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh darjat/tingkatan (di syurga kelak).” [HR An-Nasa’i No. 1297, Ahmad, sahih.]

      Hadis yang agung ini menunjukkan keutamaan berselawat kepada Nabi SAW dan anjuran memperbanyakkan selawat tersebut.

      Banyak berselawat kepada Rasulullah SAW merupakan tanda cinta seorang muslim kepada Baginda SAW, kerana para ulama’ mengatakan: “Sesiapa yang mencintai sesuatu maka dia akan sering menyebutnya”.

      Selawat Paling Afdhal

      Membaca selawat untuk Nabi SAW adalah ibadat yang agung dan merupakan salah satu tanda kecintaan kepada Nabi SAW sekaligus menjadi faktor utama untuk mencapai syafaat Nabi SAW di hari Kiamat kelak. Perintah kepada umat Islam untuk membaca selawat untuk Nabi SAW datang setelah Allah Ta’ala memberitahu bahawa Dia berselawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana firman-Nya:

      “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi (Muhammad SAW). Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan.” (Surah al-Ahzab: ayat 56).

      Ayat di atas tidak menjelaskan satu bentuk nas selawat tertentu untuk dibaca apabila seorang Muslim hendak membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW.

      Namun demikian, terdapat beberapa riwayat yang menukilkan bahawa beberapa orang sahabat Nabi saw telah bertanya Rasulullah SAW cara atau kaifiyat untuk berselawat ke atas Baginda SAW, maka diajarnya kepada mereka.

      Antaranya ialah riwayat dalam Sahih al-Bukhari no. 2497 daripada Ka’ab bin ‘Ujrah RA. Sahabat yang mulia ini menceritakan bahawa para sahabat pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang bagaimana cara berselawat kepada beliau.

      Baginda menjawab dengan mengatakan: “Katakanlah: (*rujuk laman web asal)

      Inilah antara kaifiyat berselawat yang diajarkan Nabi SAW kepada para sahabat RA sebagai jawaban kepada pertanyaan mereka mengenai cara berselawat untuk Baginda. Maka adalah logik untuk dikatakan lafaz ini sebagai lafaz paling afdhal dalam berselawat.

      Al-Imam Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

      “Yang disampaikan oleh Nabi SAW kepada para Sahabat RA tentang kaifiyah (dalam membaca selawat) ini setelah mereka menanyakannya, menjadi petunjuk bahawa itu adalah nas selawat yang paling utama kerana Baginda SAW tidaklah memilih bagi dirinya kecuali yang paling mulia dan paling sempurna.” [Fathul Bari: 11/66].

      Menurut Kitab Mestika Hadis 1/259: “Dan yang seafdhal-afdhalnya ialah selawat yang biasa dibaca selepas tasyahud akhir setiap solat. Hal ini kerana para ulama telah menetapkan bahawa sesiapa yang bersumpah atau bernazar hendak berselawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan seafdhal-afdhal selawat, tidak dihukum terlepas daripada wajib menepati sumpah atau nazarnya itu melainkan dengan membaca selawat itu.”

      Maka adalah lebih baik apabila lafaz selawat ini yang diamalkan dalam membaca selawat untuk Nabi SAW, bukan lafaz-lafaz selawat susunan seseorang, meskipun bukan larangan untuk menyusun bentuk teks selawat sendiri. Selawat-selawat selain yang diajarkan oleh Nabi SAW kadang-kadang tidak terlepas daripada kekeliruan, baik dalam pemilihan bahasa, mahupun –dan ini yang paling parah– kesalahan dalam akidah.

      Lafaz Selawat yang sahih

      Lafaz bacaan selawat yang paling ringkas yang sesuai dengan dalil-dalil yang sahih adalah:

      Dari hadis: [An-Nasae’i: 1292, sahih] (*Lihat web asal)

      Ya Tuhan kami, selawatkanlah ke atas Nabi Muhammad dan ke atas keluarganya.

      Kemudian terdapat riwayat-riwayat yang sahih dalam lapan riwayat, iaitu:

      1.   Dari Ka’ab bin ‘Ujrah RA:
      “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah berselawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya Allah, Berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR Bukhari dan Muslim]

      2. Dari Abu Humaid As Saa’diy RA:
      “Ya Allah,berilah selawat kepada Muhammad dan kepada isteri-isteri beliau dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah berselawat kepada keluarga Ibrahim. Ya Allah, berkatilah Muhammad dan isteri-isteri beliau dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR Bukhari dan Muslim].

      3.   Dari Abi Mas’ud Al-Ansori RA:
      “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah berselawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim atas sekalian alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR Muslim]

      4. Dari Abi Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Ansori RA (jalan kedua):
      “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad nabi yang ummi dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan berkatilah Muhammad, nabi yang ummi sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR Abu Daud no. 981, sahih]

      5. Dari Abi Sa’id Al-Khudri RA:
      “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu, sebagaimana Engkau telah berselawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim.” [HR Bukhari]

      6. Dari seorang lelaki, sahabat Nabi SAW:
      “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad dan kepada ahli baitnya (keluarganya) dan isteri-isterinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah berselawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Dan berkatilah Muhammad dan kepada ahli baitnya dan isteri-isterinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR Ahmad, sahih].

      7. Dari Abu Hurairah RA:
      “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah berselawat dan memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR At-Tohawi dalam “Musykil al-Athar” 3/75, An Nasa-i dalam “Amalul Yaum wal Lailah” no 47. Sahih]

      8. Dari Tolhah bin ‘Ubaidullah RA:
      “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah berselawat kepada Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah telah memberkati keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR Imam Ahmad, sahih].

      Waktu Afdhal Berselawat

      •Ketika mendengar orang menyebut nama Nabi SAW.
      •Sesudah menjawab azan dan sebelum membaca doa azan.
      •Selesai berwuduk, sebelum membaca doa.
      •Pada permulaan, pertengahan dan penutup doa.
      •Di akhir qunut dalam solat.
      •Di dalam solat jenazah.
      •Ketika masuk dan keluar dari masjid.
      •Setiap waktu pagi dan petang.
      •Hari Khamis malam Jumaat.
      •Sepanjang hari Jumaat.
      •Ketika berada di mana-mana tempat perhimpunan orang ramai.

      Demikianlah perbincangan ringkas tentang lafaz selawat ke atas Nabi Muhammad SAW yang dapat dikumpulkan, berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih. Sebagai panduan untuk beramal dengan Sunnah dan selawat yang mempunyai kekuatan sanad yang benar dan sahih daripada Nabi SAW.

      (Sumber: http://www.abuanasmadani.com)

      20/09/2013 Posted by | Ibadah, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

      Kasih Sayang Ku Mengatasi Kemurkaan Ku

      Murka Allah adalah suatu sifat Alah yang kita tidak akan dapat melarikan diri daripadanya kecuali bagi orang yang telah benar-benar dapat membersihkan hatinya. Di dalam Al Quran, murka atau marah Allah disebutkan sebagai  Zuntiqam yang bermaksud  Pembalas segala kejahatan dengan azab seksa.  Juga disebutkan sebagai Syadiidul ‘Iqab yang membawa maksud amat pedih seksaan-Nya.

      Di dalam Al Quran telah berulang-ulang diingatkan akan sifat murka Allah SWT ini.  Antaranya:Mahukah kamu Aku tunjukkan tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya daripada (orang-orang fasiq) itu di sisi Allah, iaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi iaitu orang-orang yang menyembah berhala. Merekalah orang yang paling buruk kedudukannya, paling sesat dari jalan yang lurus.” – Al Maidah : 60

      “Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahanam.”- Al Fath : 6

      Sifat marah atau murka Allah tidak tergolong di dalam salah satu daripada Asmaul Husna-Nya seperti sifat-sifat Ar Rahman, As Syabur, Al Ghafur, Al Wali dll. Sifat-sifat Pengasih, Penyabar, Pemaaf, Pemelihara itu adalah sifat-sifat yang sentiasa, tetap dan kekal adanya pada Zat Allah sehingga dijadikanlah nama-nama indah bagi-Nya. Sedangkan sifat murka atau marah Allah bukan satu suatu sifat yang tetap bagi-Nya.

      Maknanya, Allah bersifat murka atau marah hanya pada waktu-waktu atau pada tempoh-tempoh yang tertentu. Allah akan murka dan marah hanya apabila hambaNya melakukan kejahatan dan dosa. Bila hamba yang berbuat kejahatan itu sedar kembali lantas bertaubat, akan segera hilang marah dan murka Allah. Allah terus memaafkan dan kembali melahirkan kasih sayang-Nya kepada si hamba tadi.

      Tetapi lain pula keadaannya terhadap orang-orang kafir. Murka Allah kepada mereka akan kekal selama mana mereka mengekalkan dosa mensyirikkan Allah. Namun akan hilang juga murka Allah kepada mereka yang bertaubat dan kembali meng-Esakan Tuhan dengan menganut agama Islam.

      Sepertilah seorang ibu yang begitu sayang kepada anaknya. Apa saja permintaan si anak, ibu akan berusaha memenuhi kehendaknya. Cuma kadangkala apabila anaknya berbuat kesalahan atau kejahatan, akan timbul rasa marah, kecil hati dan tidak suka pada tingkah laku anaknya. Tetapi apabila si anak meminta maaf serta mengubah kelakuannya pasti ibu akan segera memaafkan. Si ibu akan kembali melahirkan kasih dan sayang terhadap anaknya.

      Kemarahan si ibu hanya sekali sekala iaitu apabila anaknya melakukan kesalahan. Kemarahan tersebut bukanlah suatu sifat yang tetap dan sentiasa ada tetapi datangnya sesekali.

      Begitulah hakikatnya murka Allah sebenarnya adalah diselaputi Rahmat ( Kasih Sayang) Tuhan yang Maha Perkasa. Ada rahmat dan hikmah yang tersembunyi di sebalik setiap bencana yang menimpa akibat kemurkaan Allah.

      Murka Allah bukanlah sengaja di ada-adakan, tetapi ada sebab-sebabnya. Sekiranya kita tergolong di kalangan orang yang sentiasa mengingati Allah sewaktu ditimpa kesusahan, kegelisahan dan bala, pasti kita akan dapat rasakan belaian kasih sayang Allah yang tersembunyi di sebalik setiap kesusahan yang menimpa kita. Hanya orang-orang yang tidak pernah pedulikan Allah sahaja yang merasakan ujian dan bala yang menimpa itu adalah untuk menyusahkan dan menyiksa diri mereka.

      Begitu baiknya Allah terhadap makhluk-Nya. Marah Allah adalah kerana sayang bukan kerana benci. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah setelah menciptakan makhluk, Dia tulis suatu tulisan di samping-Nya di ‘ Arasy:  Kasih SayangKu mengatasi kemurkaanKu.”

      Sumber: Usaha Taqwa

      11/09/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

      Mukjizat

      Mukjizat ialah hal-hal atau kejadian-kejadian yang berlaku yang Allah kurniakan pada rasul-rasul atau nabi-nabi yang menyalahi adat kebiasaan – khawariqul ‘adah (atau ia berlaku di luar logik akal). Tujuannya untuk kemuliaan dan kebenaran di pihak para rasul dan nabi dan juga untuk melemahkan musuh-musuhnya.

      Mukjizat itu terbahagi kepada dua bentuk iaitu:

      1. Mukjizat lahir

      2. Mukjizat batin (maknawiah)

      MUKJIZAT LAHIR

      Ia adalah perkara yang mencarik adat yang berlaku pada seseorang rasul dan nabi, yang dapat dilihat dengan mata lahir. Antara contohnya, tongkat dicampak bertukar menjadi ular, manusia atau binatang mati dihidupkan, penyakit kusta dan sopak dapat disembuhkan, mata buta dapat dicelikkan, air yang sedikit dapat diminum oleh ratusan orang, dibakar tidak hangus, tongkat dipukul ke batu menghasilkan pancutan air, bulan terbelah dua, tongkat dapat membelah lautan dan sebagainya.

      MUKJIZAT BATIN (MAKNAWIAH)

      Mukjizat ini hanya pada makna sahaja, tidak pada rupa. Terasa adanya dan boleh dinilai oleh mata hati (basyirah) sahaja. Tidak dapat dilihat oleh mata lahir. Antara contohnya ialah wahyu-wahyu yang disampaikan kepada rasul dan nabi yang mengandungi bermacam-macam ilmu pengetahuan dan hukum-hakam tanpa mereka belajar seperti manusia biasa. Umpamanya Al Quran, Injil, Taurat, Zabur dan Suhuf-Suhuf, ianya tidak dapat dilihat dengan mata kepala kecuali setelah ditulis.

      Mukjizat batiniah yang lain ialah:

      .             dapat tundukkan nafsu tanpa mujahadah

      .             Allah kurniakan bersih dari dosa dan kesalahan

      .             hati tidak terpaut dengan dunia dan kelazatan serta keindahannya

      .             mendapat ilmu dan tarbiah terus dari Allah atau mendapat wahyu

      .             manusia jatuh hati dan cinta luar biasa padanya

      .             musuh merasa gerun dengan kehebatannya

      .             sangat sabar dengan ujian-ujian dari kaumnya

      .             azamnya terlalu kuat, hati terlalu teguh, cintanya dengan Allah terlalu tinggi dan lain-lain lagi.

      Mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada nabi dan rasul bukan diberi mengikut kehendak para rasul dan nabi itu sendiri. Tetapi dicatu sesuai dengan hal semasa dan keperluan seseorang nabi dan rasul itu. Dan ia tidak boleh dipelajari tetapi hadiah atau mauhibbah atau wahbiah dari Allah. Dalam sejarah rasul-rasul dan nabi-nabi, mukjizat-mukjizat yang pernah diberikan kepada mereka tidak sama di antara satu sama lain. Kebiasaannya mereka diberi mukjizat di kedua-dua peringkat. Kalau dia seorang nabi; ertinya dia bukan seorang pemimpin yakni bukan untuk masyarakat; maka Allah berikan mukjizat yang sesuai dengan wataknya sebagai seorang abid. Mungkin mukjizat lahir atau batin yang diberikan itu sesuai dengan keperluannya sebagai abid.

      Tetapi pada seorang Rasul yang dia adalah pemimpin umatnya, maka Allah kurniakan mukjizat lahir dan batin (maknawiah), sesuai dengan keperluannya berdepan dengan umat yang dipimpinnya. Rasul-rasul yang paling banyak mendapat mukjizat ialah rasul-rasul yang mendapat pangkat Ulul Azmi kerana mereka ini paling tahan, paling sabar berhadapan dengan ujian-ujian berat daripada kerenah kaumnya. Pemberian mukjizat pada nabi-nabi dan rasul-rasul ini tidak sama kerana keperluan mereka juga berbeza antara satu sama lain. Adakalanya mereka tidak boleh ikut-mengikut di antara satu sama lain.

      Mukjizat Nabi Musa a.s. tidak sama dengan mukjizat Nabi Khaidir a.s. Padahal Nabi Musa a.s. itu lebih besar darjat dan keutamaannya dari Nabi Khaidir a.s. Nabi Musa salah seorang Ulul Azmi sedangkan Nabi Khaidir a.s. hanya nabi, bukan rasul. Bahkan sesetengah ulama masih mempertikaikan tentang kenabian Nabi Khaidir. Ada yang menganggap beliau hanya orang soleh yang bertaraf wali sahaja. Tetapi antara mereka berdua di suatu ketika, Nabi Khaidir diberi mukjizat maknawiah (batin). Walhal di waktu itu tidak diberi kepada Nabi Musa. Tiga hari saja mereka dapat berkawan. Sedangkan sebelum itu Nabi Khaidir sudah ingatkan Nabi Musa, “Kau takkan sanggup ikut aku, kau takkan tahan sabar.” Ini kerana peranan antara nabi dengan rasul itu berbeza. Nabi bukan pemimpin sedangkan rasul adalah pemimpin. Nabi mengikut takrifnya ialah seorang lelaki Islam yang merdeka, baligh dan berakal yang diberi wahyu tetapi hanya untuk dirinya sendiri dan tidak wajib menyampaikannya kepada orang lain. Bila tidak wajib menyampaikan, maknanya dia bukan seorang pemimpin.

      Sedangkan rasul, seorang lelaki Islam yang merdeka, baligh dan berakal yang diberi wahyu dan dia wajib mengamalkannya dan wajib menyampaikan kepada umatnya. Maknanya, dia pemimpin dan pendidik. Nabi Musa a.s. seorang rasul, dia memimpin dan mendidik kaumnya. Antara mukjizat maknawiyah yang ada pada Nabi Musa a.s. ialah tahan sabar, kuat azam, kuat jiwa berhadapan dengan Firaun. Sangat sabar bila disusah-susahkan oleh kerenah pengikutnya serta tahan berpindah-randah di tanah gurun panas yang mencengkam itu atau bila sejuk terlalu dingin. Ketabahan hatinya itu Allah nilai. Akhirnya Allah marah kepada Bani Israil dengan disesatkan mereka selama 40 tahun dan dibiarkan terumbang-ambing di Padang Teh. Nabi Musa juga turut sama teruji bersama-sama pengikutnya itu. Walhal kesalahan itu bukan dibuat olehya. Tetapi kerana Allah hendak menghukum orang lain, dia juga turut sama terhukum. Walau bagaimanapun dia tetap tahan menderita dan sabar dengan ujian yang sangat menyeksakan itu. Tahan jiwa, tahan sabar, kuat azam, teguh hati dan tabahnya dengan ujian yang berat yang datang dari perangai jahat umatnya. Ini mukjizat maknawiyah yang berlaku padanya. Tetapi pada kebanyakan orang, bentuk-bentuk ini tidak dianggapnya sebagai mukjizat kerana tidak dapat dilihat dengan mata kepala.

      Manakala mukjizat maknawiah (batin) yang berlaku pada Nabi Khaidir lain pula bentuknya yakni dikasyafkan. Dia nampak apa yang bakal berlaku iaitu kapal akan dimusnahkan oleh perompak. Langsung kapal itu ditenggelamkannya. Cuba bayangkan kalau Nabi Musa pun dapat mukjizat maknawiah begitu? Dia juga kemudiannya akan tenggelamkan kapal itu. Walhal dia pemimpin umatnya. Tentulah pengikutnya lebih sulit hendak mengikut kepimpinannya dan akan mempertikaikan perbuatannya. Dia dianggap pula sebagai perosak dan penzalim.

      Macamlah pemimpin sekarang ini, kalau Allah kurniakan dia keramat maknawiah, katalah dia membakar Mercedes atau bunuh orang. Sebab dia nampak batin orang itu akan merompak dengan menggunakan Mercedes itu. Apa yang akan terjadi? Bolehkah orang ramai terima kepimpinan begitu? Tentu orang akan tolak bahkan boleh jadi orang akan tuduh dia sebagai pembunuh! Jadi Nabi Khaidir diberi mukjizat bentuk itu kerana dia tidak memimpin ummah.

      Manakala Nabi Musa a.s. tidak diberikan mukjizat maknawiah seperti Nabi Khaidir a.s. di waktu itu. Kalaulah Nabi Musa diberi kasyaf, nampak apa yang akan terjadi sepertimana Nabi Khaidir, tentulah haru-biru masyarakat. Ada yang akan marah dan mengamuk kerana harta benda mereka dijahanamkan. Walhal mengenai strategi perang atau berkait dengan halhal keselamatan ummah, Allah kurniakan mukjizat lahir pada Nabi Musa a.s. Bukan untuk dirinya tetapi untuk keselamatan umum. Buktinya, sewaktu tali-tali ahli-ahli sihir Firaun bertukar menjadi ular, tongkat Nabi Musalah yang berperanan menjadi ular besar yang menelan habis kesemua ular-ular Firaun itu.

      Bukankah ini di luar logik, di luar kebiasaan. Inilah mukjizat zahir. Allah lakukan sihir itu tidak memberi kesan langsung dan tongkat mampu menjadi ular besar yang menelan seluruh ular-ular itu. Ini menunjukkan mukjizat bentuk itu amat perlu di waktu itu untuk meyakinkan orang ramai yang menyaksikan tentang keagungan Allah dan demi menyelamatkan keyakinan umat. Di atas kejadian-kejadian inilah akhirnya ahli-ahli sihir itu turut beriman kepada Allah dan kepada Nabi Musa. Firman Allah SWT: “Lalu ahli-ahli sihir itu bersujud seraya berkata: ‘Kami telah beriman dengan Tuhan Harun dan Musa’.”(At Taha: 70)

      Begitu juga mukjizat tongkat Nabi Musa dapat membelah laut sewaktu dikejar Firaun dan tentera-tenteranya. Ini perlu di waktu itu untuk keselamatan Nabi Musa dan kaumnya. Sekali-gus membunuh mati penentang-penentang Allah itu. Ini juga luar biasa dan di luar logik. Mana mungkin hanya sebatang tongkat bisa membelah lautan? Mustahil. Tetapi itulah yang terjadi dan telah berlaku. Inilah mukjizat lahir Nabi Musa yang berlaku yang sangat diperlukan oleh Nabi Musa demi untuk menyelamatkan umatnya. Allah lakukan ini semua untuk keselamatan kekasih-Nya dan meyakinkan lagi kaumnya.

      Contoh mukjizat Nabi Ibrahim pula, Raja Namrud dan rakyatnya kerana terlalu marah dengan pegangan dan perjuangan Nabi Ibrahim lantas menangkap dan mahu membunuhnya. Dicampakkan ke dalam api yang menjulang tinggi laksana gunung. Api mengikut kebiasaan adatnya membakar. Tetapi aneh! Api di waktu itu tidak pun membakar Nabi Ibrahim. Bahkan berlaku sebaliknya. Nabi Ibrahim terasa sejuk. Ini berlaku di luar kebiasaan atau di luar logik. Inilah mukjizat zahir. Allah lakukan api sebesar itu tidak menjadi sebab membakar Nabi Ibrahim. Hal ini amat perlu di waktu itu. Kalau tidak, tentunya Nabi Ibrahim sudah terbakar hangus.

      Pada Rasulullah SAW pula, antara mukjizat yang berlaku padanya ialah diberi ilmu tanpa belajar. Pernah musuh-musuh baginda di kalangan orang-orang Yahudi telah menghantar pendita-penditanya untuk menguji Baginda. Mereka menyoal baginda dengan tujuan memberi malu, menjatuhkan maruah dan kewibawaan Baginda.

      Biasanya seorang yang tidak pernah belajar di mana-mana sekolah, yang tidak tahu membaca dan menulis pula, tentulah tidak dapat menjawab soalan-soalan yang dikemukakan. Tetapi yang anehnya, semua soalan yang diajukan walau apa bentuk masalah atau persoalannya, semuanya dapat dijawab oleh Rasulullah SAW dengan baik dan tepat. Dan ini sangat memeranjatkan musuh. Bahkan mereka pula yang malu dan akur dengan jawapan-jawapan Baginda itu. Akhirnya mereka pulang dengan hampanya kerana ketua pendita mereka sendiri telah memeluk Islam, setelah mendapati kebenaran Rasulullah SAW. Ini berlaku di luar logik.

      Inilah yang dikatakan mukjizat maknawiah. Allah kurniakan mukjizat ini menunjukkan perlu di waktu itu dan sesuai pula dengan hal-hal semasa kerana yang datang itu semuanya cerdik pandai yang hendak menguji keilmuan Rasulullah SAW. Kalau tidak tentulah kebenaran Allah dan Rasul-Nya akan ditolak oleh musuh buat selama-lamanya.

      Daripada huraian-huraian di atas, nyatalah Allah kurniakan mukjizat pada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya bukan sesuka hati, tetapi dicatu mengikut keperluan semasa. Untuk tujuan kemudahan, keindahan dan keselamatan ummah. Kebanyakan nabi-nabi dan rasul-rasul diberikan mukjizat maknawiah lebih daripada mukjizat lahiriah. Rasul-rasul yang paling banyak mendapat mukjizat lahiriah dan maknawiah ialah di kalangan lima orang yang berpangkat Ulul Azmi sahaja. Iaitu Rasulullah SAW, Nabi Ibrahim, Nabi Isa, Nabi Musa dan Nabi Nuh a.s. Mereka ini semuanya terlalu kuat azam, hati teguh, hati terlalu kuat bergantung dengan Allah, sabar dan tabah dalam meng-hadapi ujian-ujian dan kedegilan kaum-kaum mereka. Demi-kianlah huraian secara ringkas tentang mukjizat. Moga-moga kita sama-sama memahaminya.

      Oleh:  Usaha Taqwa

      08/09/2013 Posted by | Aqidah, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

      Karamah

      Karamah adalah dari bahasa Arab yang bermaksud kemuliaan atau kemurahan iaitu kemuliaan atau kemurahan yang Allah kurniakan pada hamba-Nya yang bertaqwa, yang bukan bertaraf rasul dan nabi tetapi pada yang bertaraf wali. Ia berlaku pada seseorang itu dengan menyalahi adat kebiasaan, di luar logik akal atau khawariqul ‘adah. Umpamanya dapat rezeki tanpa diduga atau tanpa logik, dapat ilmu tanpa berguru, dapat bantuan-bantuan yang tidak terduga, dapat kasyaf, hatif dan firasat. Ini semua dikatakan karamah.

      Apa yang kita sebut tadi semuanya adalah kemuliaan atau kemurahan yang datangnya dari Allah. Siapa yang mahu menafikan bahawa itu semua adalah satu kemuliaan? Memiliki karamah maknanya memiliki beberapa kemuliaan yang Allah kurniakan tanpa diduga, tanpa usaha, tanpa logik dan di luar kebiasaan atau menyalahi adat.

      Karamah boleh dibahagikan kepada dua bentuk iaitu:

      1. Karamah zahir

      2. Karamah maknawiah (batiniah)

      KARAMAH ZAHIR (KARAMAH LAHIR)

      Ia boleh dilihat oleh mata kepala kerana mata mudah melihat dan menilainya. Antara contohnya, dapat berjalan di atas air, dapat terbang di udara, ditikam atau ditembak tidak lut, racun diminum tidak membawa maut, daun dipegang bertukar men-jadi duit, digenggam buah keluar darah, binatang ganas seperti harimau jadi jinak dan jadi khadamnya, boleh melompat ke atas gunung dan ribuan macam bentuk lagi. Untuk mengetahui secara luas, saya cadangkan pada para pembaca membaca buku

      Jami’u Karamatil Auliya’

      KARAMAH MAKNAWIAH (KARAMAH BATINIAH)

       

      Karamah ini hanya pada makna saja, tidak pada rupa. Karamah ini tidak dapat dilihat oleh mata lahir tetapi boleh dirasa adanya dan dinilai oleh mata hati sahaja. Ia lebih baik dari karamah lahir dan lebih berkesan. Contohnya, mudah memerangi hawa nafsu tanpa mujahadah yang bersungguh-sungguh, hati tidak terpaut dengan dunia, mendapat ilmu tanpa belajar (ilmu laduni), lidah masin yakni cakap atau nasihat mudah terkesan di hati orang hingga boleh mengubah jiwa dan sikap seseorang dengan cepat, kasyaf, hatif dan rasa hatinya tepat. Itulah yang dikatakan ilmu firasat. Dalam Hadis, sabda Rasulullah SAW: “Hendaklah kamu takuti firasat orang mukmin kerana dia melihat dengan cahaya dari Allah.” (Riwayat Tirmizi dan At Tabrani)

      Karamah maknawiah itu juga termasuklah seseorang itu mendapat kasyaf atau dapat melihat alam ghaib, orang lain memberi kasih sayang yang luar biasa padanya, musuh terasa gerun dan memandangnya hebat tanpa dia mengetahuinya, dia istiqamah beramal sama ada amalan fardhu ataupun sunat. Jiwanya juga tenang kerana hatinya kuat dengan Allah dan terlalu sabar waktu diuji. Sama ada dipuji atau dikeji, dia tidak terasa apa-apa. Tanpa mujahadah, baginya tidak ada perbezaan antara pujian dan kejian. Jiwanya teguh serta mempunyai azam yang kuat dalam menegakkan kebenaran. Walau apa pun bentuk ujian yang ditimpakan padanya, ia tidak menggoncangkan sikap dan jiwanya.

      Karamah ini diberi mengikut keperluan seseorang, sesuai dengan keadaan semasa dan kepentingannya. Kalau dia seorang abid, ertinya dia bukan seorang pemimpin masyarakat, Allah berikan karamah batin yang bersesuaian dengan watak abidnya itu. Manakala pada seorang pemimpin yang diperlukan oleh umatnya, selalunya Allah kurniakan karamah zahir atau batin sesuai dengan keperluannya pula. Sayidina Abu Huzaifah r.a. adalah seorang ahli abid, bukan pemimpin. Karamah maknawiah yang Allah kurniakan padanya ialah dapat mengetahui sama ada seseorang itu munafik atau tidak. Sebab itu sekiranya ada orang yang meninggal dunia, Sayidina Umar akan melihat sikap Abu Huzaifah terlebih dahulu. Kalau Abu Huzaifah menyembahyangkan jenazah tersebut, maka dia pun akan turut serta.

      Begitulah sebaliknya. Ertinya, Sayidina Umar tidak diberi karamah batin sepertimana karamah Abu Huzaifah yang mengetahui orang munafik. Padahal dari segi ilmu lahirnya, siapa yang lebih tinggi darjat dan kemuliaannya antara mereka berdua? Tentulah kelebihannya ada pada Sayidina Umar. Beliau termasuk antara sepuluh Sahabat yang dijamin Syurga oleh Rasulullah, tergolong antara Sahabat yang rapat dengan Rasulullah, yang terawal memeluk Islam, mertua Rasulullah, ahli Badar serta khalifah yang kedua selepas Rasulullah. Kelebihannya juga pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW sendiri, antaranya: “Kalaulah ada nabi selepas aku, tentulah dia Umar bin Al Khattab.” (Riwayat Ahmad, Tirmizi dan Hakim) Kuatnya iman Sayidina Umar sehingga Rasulullah pernah berkata sekiranya suatu lorong itu pernah dilalui oleh Sayidina Umar, maka syaitan selama-lamanya tidak akan menempuh jalan tersebut. Jika syaitan tempuh jalan itu, ia terasa sakit, menderita dan terseksa. Betapa pulalah kalau ia berjumpa dengan Sayidina Umar. Tentulah lagi dahsyat kesannya.

      Itulah antara kelebihan yang ada pada Sayidina Umar. Tetapi pelik, mengapa Sayidina Umar tidak dapat kenal siapa orang yang munafik? Mengapa Abu Huzaifah pula yang dapat karamah itu? Ini kerana Abu Huzaifah lebih kepada watak abid daripada watak pemimpin. Karamah Sayidina Abu Huzaifah kebanyakan untuk dirinya tetapi karamah Sayidina Umar untuk keselamatan masyarakat dan umat yang dipimpinnya. Kalau karamah itu diberi kepada Sayidina Umar, tentu sukar baginya untuk memimpin umat dan meratakan kasih sayang terhadap rakyat yang sedang dididiknya. Akibatnya, tentulah haru-biru masyarakat.

      Karamah Sayidina Umar bukan untuk dirinya sahaja tetapi ia ada hubungkait dengan kepentingan masyarakat umum. Pernah berlaku, sewaktu Sayidina Umar berada di Madinah, dia dapat memberikan arahan kepada ketua tenteranya bernama Sariyah di Palestin. Waktu itu Sayidina Umar sedang menyampaikan khutbah dan Tuhan telah perlihatkan kepadanya secara kasyaf tentang keadaan tenteranya yang di dalam bahaya.

      Anehnya, Sayidina Umar dapat memberitahu ketua tenteranya, “Hai Sariyah, tolong betulkan kedudukan tentera kamu. Naik di atas bukit kerana di belakang bukit itu ada satu pasukan tentera musuh akan memukul kamu.” Ketua tentera tersebut pula dapat mendengar dengan jelas kata-kata Sayidina Umar itu dan terus membetulkan kedudukan tenteranya. Sedangkan di waktu itu tidak ada telefon, faks atau internet dan lain-lain alat-alat perhubungan teknologi canggih. Tetapi begitulah canggihnya karamah Sayidina Umar ini. Suara taqwanya sudah cukup untuk didengar oleh ketua tenteranya dari jarak 1000 batu tanpa menggunakan apa-apa alat pun. Untuk menyelamatkan umat, Allah beri karamah kepada Sayidina Umar sesuai dengan peranannya sebagai seorang pemimpin yang tugasnya menyelamatkan umat. Allah berikan karamah kepada seorang pemimpin tidak sama dengan karamah yang diberi kepada orang soleh yang membawa dirinya sahaja. Apakah hikmahnya? Karamah itu tujuannya untuk keindahan, bantuan dan keselamatan tetapi kalau menimbulkan kesulitan, ia bukan lagi satu karamah atau kemuliaan. Bahkan dianggap satu penghinaan pula.

      Sebagai contoh, katalah ada seorang pemimpin yang berdakwah ke kawasan pedalaman. Dengan izin Allah, dia dikurniakan karamah boleh berjalan atas air. Bila dia sampai di sungai, dia terus meluncur berjalan di atas air. Sedangkan pengikut-pengikutnya tidak. Cuba gambarkan bagaimana dengan keadaan pengikut-pengikutnya yang ikut sama. Tentulah mereka tertinggal di belakang sedangkan pemimpinnya sudah sampai ke seberang. Ini tentulah menjadi bala kepada mereka, bala ditinggal pemimpin. Pengikut tertinggal 3 jam, pemimpin pula terpaksa menunggu 3 jam. Sebab itulah Allah tidak berikan karamah bentuk itu kepada para pemimpin. Contoh lain, katakanlah seorang ketua panglima perang yang membawa bersama-samanya tentera yang terpaksa menempuh gurun, padang pasir dan bukit-bukit serta gunung-ganang. Pemimpin tersebut dapat melompat ke sebelah bukit atau gunung itu tetapi pengikut-pengikutnya tidak. Terpinga-pingalah pengikut-pengikutnya mencari jalan untuk sampai kepada pemimpinnya. Tentulah susah, payah dan makan masa yang lama.

      Pemimpin juga dapat bala. Bala menunggu pengikut. Akhirnya sama-sama susah. Walaupun pemimpin tersebut dapat melompat, sampai dulu dalam sekelip mata tetapi terpaksa menunggu anak buah, itu pun satu penyeksaan juga. Adakalanya Allah berikan karamah pada seseorang itu tanpa disedarinya. Kebanyakan mereka itu bukan dikurniakan karamah lahir tetapi karamah maknawiah. Sebab itu sesetengah orang tidak menganggap itu karamah.

      Contohnya:

      1. Lidah masin

      Biasanya dikurniakan kepada seorang pemimpin. Di mana saja dia memberi kuliah, nasihat, tunjuk ajar, berdakwah dan sebagainya, ianya mudah diterima masyarakat dan boleh mengubah hati mereka. Akhirnya berubahlah sikap masyarakat.

      2. Kasyaf Karamah ini menjadikan Sayidina Umar nampak apa yang sedang berlaku pada tentera-tenteranya. Karamah ini penting kerana dapat menyelamatkan seluruh tentera Islam itu. Ertinya menyelamatkan umatnya. Banyak lagi karamah-karamah yang dikurniakan pada pemimpin-pemimpin selain daripada Sayidina Umar yang semuanya untuk keindahan, kemudahan dan keselamatan umat.

      3. Firasat

      Sayidina Umar pernah berkata, “Akan ada nanti dari sulbiku se-orang yang akan memenuhi bumi dengan keadilan dan bertanda di dahinya.” Itulah dia Sayidina Umar Abdul Aziz, cicit Sayidina Umar yang menjadi khalifah dan mujaddid di kurun pertama yang terkenal taqwa dan warak dalam sejarah itu. Pemimpinpemimpin yang mendapat karamah-karamah ini tidak banyak kerana Allah kurniakan hanya pada pemimpin-pemimpin yang sangat soleh, yang sangat sabar menanggung ujian yang begitu berat ditimpakan kepada mereka.

      4. Ilmu laduni

      Iaitu ilmu yang Allah kurniakan pada seseorang yang terus jatuh ke hatinya, tanpa dia belajar, tanpa membaca, tanpa mentelaah dan tanpa berguru. Ianya terus jatuh ke hati dan akhirnya jadi ilmu. Ini biasanya diberikan pada pemimpin-pemimpin yang bertaqwa dan yang warak. Orang yang sayang kepadanya, terlalu sayang hingga hilang pertimbangan. Sebaliknya orang yang benci kepadanya juga terlalu benci sehingga hilang pertimbangan. Hikmahnya, orang yang kasihkannya itulah yang akan jadi kawan untuk membantu perjuangannya. Manakala terhadap orang yang membencinya, dia dapat bersabar dengan mereka. Maka dia akan dapat pahala sabar dari-Nya.

      5. Hatif

      Iaitu mendengar suara tetapi tidak nampak lembaganya sama ada dari jin yang soleh, malaikat atau waliyullah. Suara itu adakalanya membawa berita gembira atau berita yang negatif. Tujuannya Allah hendak menghiburkannya. Kalau berita itu berita gembira, boleh menggembirakannya. Sebaliknya kalau berita itu duka, juga akan menggembirakannya kerana ia telah tahu terlebih dahulu. Sekurang-kurangnya dia boleh bersiap sedia menghadapi ujian itu. Atau agar dia dapat mengelak daripada bahaya itu sebagai rahmat dari Allah.

      Oleh: Usaha Taqwa

      08/09/2013 Posted by | Aqidah, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

      Wajib betulkan niat dalam menuntut Ilmu

      pr0059

      Pada mereka yang dahagakan Ilmu, berhati hatilah apabila mencarinya.Seandai berniat mencari Ilmu ini untuk berlumba lumba dan mendapat kemegahan dan terkemuka di kalangan kawan kawan dan untuk menarik perhatian orang ramai terhadap diri mu dan menghimpunkan akan kekayaan dunia, maka sebenarnya engkau telah berusaha menghancurkan agama mu dan membinasakan diri mu sendiri dan menjual akhirat mu untuk mendapat harta dunia, maka penjualan mu adalah rugi dan perniagaan mu porak peranda dan guru yang mengajar mu di kira menolong mu dalam membuat maksiat dan ia juga akan merasakan kerugian.Ketika ini guru yang mengajar mu laksana seorang yang menjual pedang kepada perompak seperti sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: "

      “ Siapa yang menolong orang lain melakukan sesuatu maksiat walaupun dengan hanya setengah kalimat maka orang itu di kira berkongsi di dalam melakukan  maksiat tersebut.”

      Dan jikalau niat mu dalam mencari ilmu itu untuk mencari keredhaan Allah dan mencari hidayah, bukan semata mata untuk pandai bercakap maka hendaklah engkau bergembira,  kerana para malaikat telah mengembangkan sayapnya apabila engkau berjalan dan ikan di dalam  laut semuanya meminta ampun bagi mu apabila engkau berjalan.

      Tetapi sebelum itu hendaklah engkau ketahui bahawa hidayah itu adalah buah daripada ilmu dan bagi hidayah itu ada “bidayah”  (permulaan) dan ada pula “nidayah”  (kesudahan)  dan ada “zahir” dan ada pula “batinya”,dan engkau tidak akan sanpai kepada “nihayatul hidayah” dan engkau tidak akan dapat menyelami “batin hidayah” kecuali setelah engkau selesai daripada menyempurnakan segala urusan yang berkenaan dengan “zahir hidayah” itu.

       

      (Pesanan Imam Al Ghazali dalam Muqaddimah Kitab nya Bidayatul Hidayah)

      17/07/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

      Pembahagian manusia dalam menuntut Ilmu

      Dan ketahui lah bahawa manusia didalam menuntut ilmu ini terbahagi kepada tiga keadaan:

      Pertama: Orang yang mencari ilmu untuk menjadikannya sebagai bekalan ke negeri akhirat maka dia tidak berniat dengan mencari ilmu kecuali hanya mendapat keredhaan Allah dan negeri Akhirat.Maka orang ini termasuk di dalam golonga orang yang beruntung.

      Kedua: Orang yang mencari ilmu untuk mendapatkan keuntungan yang segera (dunia) dan mendapatkan kemuliaan, pangkat dan harta benda, sedangkan dia sendiri menyedari hal ini dan merasakan didalam hatinya  akan kejahatan kejahatan yang sedang  dialaminya dan kehinaan maksudnya.Maka orang ini berada dalam golongan orang yang berbahaya .Jikalau dia mati sebelum sempat bertaubat, maka dibimbangi ia akan mati dalam keadaan su-ul khatimah  kemudian urusannya terserahlah kepada kehendak Allah ( kalau mahu di maafkan atau diseksa).Tetapi kalau dia mendapat taufiq sebelum matinya lalu dia bertaubat dan sempat mengamalkan ilmu yang telah dituntutnya dan sempat pula membuat pembetulan terhadap apa yang tercedera dan tercuai, maka bolehlah dia dikumpulkannya bersama golongan yang beruntung,kerana orang yang bertaubat daripada dosanya sama seperti orang yang tidak berdosa.

      Ketiga: Orang yang telah dikuasai oleh syaitan maka ia menjadikan ilmu yang di tuntutnya sebagai alat untuk menghimpun harta benda dan bermegah megah dengan kedudukkan  dan merasa bangga dengan ramai pengikutnya. Dia menggunakan ilmu yang dituntut untuk mencapai segala hajatnya dan untuk mengaut keuntungan dunia.Walaupun demikian, dia masih terpedaya lagi dengan sangkaanya bahawa dia mempunyai kedudukkan yang tinggi di sisi Allah kerana dia masih lagi pada zahirnya menyerupai ulama.Dia bercakap seperti percakapan ulama dan berpakaian seperti pakaian ulama, pada hal zahir dan batinya penuh dengan tamak dan haloba dalam menghimpun kekayaan dunia.Orang seperti ini termasuk dalam golongan orang yang binasa,jahil dan tertipu dengan helah syaitan dan sangat tipis harapan untuk ia bertaubat kepada Allah kerana dia telah menyangka bahawa dirinya termasuk didalam golongan orang yang baik, pada hal ia telah lupa akan firman Allah Taala yang bermaksud: “ Wahai orang yang beriman, kenapa kamu memperkatakan barang yang tidak kamu amalkan?” (Surah Al Shaf – 2).

      [Petikan Muqadimah Kitab Bidayatul Hidayah Imam Al Ghazali r.a)

      16/07/2013 Posted by | Ibadah, Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

      Nabi SAW lebih membimbangi Ulama Su’ lebih dari Dajjal

      Rasulullah SAW  bersabda maksudnya:
      ” Selain daripada Dajjal ada satu perkara yang sangat aku bimbangkan lebih daripada Dajjal? Lalu ada orang yang bertanya: Apakah itu wahai Rasulullah? Nabi SAW menjawab: Mereka ialah Ulama Su’ yakni ulama yang jahat”. (HR Ahmad daripada Abu Zhar RA dengan sanad yang jaid.Lohat Takhrij Al’Iraqi Alal Ihya 1/95).

      Dajjal itu tujuannya sudah jelas untuk menyesatkan manusia tetapi ulama Su’ ini walaupun lidahnya pandai memalingkan orang lain daripada cinta dunia, namun amal dan perbuatan mereka adalah mengajak orang lain membuat kejahatan kerana amalan sesorang itu lebih berkesan daripada percakapannya.Dan orang ramai lebih mudah tertarik dengan perbuatan ulama Su’ daripada perkataan mereka.Maka apa yang dapat dirosakkan oleh ulama Su’ ini dengan perbuatan mereka adalah lebih banyak daripada apa yang dapat di baikkan oleh lidah mereka .Orang yang jahil sebenarnya belum berani menghimpun dunia banyak banyak kecuali setelah mereka melihat keberanian ulama Su’ ini.Maka ilmu yang ada pada mereka menjadi sebab keberanian orang ramai membuat berbagai bagai maksiat.Maka inilah yang sangat dibimbang oleh Nabi SAW.

      Namun demikian, nafsu ammarah ulama Su’ ini selalu membisikkan di telinga mereka bermacam macam angan angan dan membisikkan kepadanya bahawa dia telah banyak menabur jasa di kalangan manusia sehingga dia layak untuk menerima bermacam macam anugerah daripada Allah.Nafsunya juga menghayalkan kepadanya bahawa dia adalah lebih baik daripada hamba hamba Allah yang lain.

      (Petikan Muqadimah Kitab Bidayatul Hidayah Imam Al Ghazali r.a)

      16/07/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

      Pesanan Imam Al Ghazali RH tentang kepentingan Ilmu Tasauf dan apakah langkah permulaan yang mesti di lalui?

      pp0403

      ………………Dan aku teruslah bermujahadah lebih kurang sepuluh tahun lamanya, maka telah terserlah dihadapanku dicelah celah masa khalwatku (masa aku mengasingkan diri dari orang ramai) rahsia rahsia yang tidak terhingga banyaknya.Dan sesuatu yang dapat aku perkatakan disini supaya dapat diambil manfaat oleh orang ramai ialah:

      Sesungguhnya aku telah mengetahui dengan sepenuh keyakinan bahawasanya golongan sufi (ahli ahli tasauf), merekalah yang sebenarnya orang yang mengikuti jalan Allah swt. secara khusus dan cara hidup mereka sebaik baik cara hidup, manakala jalan yang mereka lalui adalah jalan yang paling benar dan akhlak mereka yang paling bersih.Bahkan, seandainya di himpunkan akal orang yang cerdik pandai,hikmah para Hukama (ahli ahli hikmat) dan kepakaran para Ulama yang mendalami rahsia rahsia syari’at dengan tujuan untuk merubahkan sedikit dari cara hidup ataupun akhlak mereka dan menggantikan dengan satu cara hidup atau akhlak yang lebih baik daripadanya ,sudah pasti mereka tidak akan menemuinya.Ini di sebabkan kerana segala pergerakan ahli sufi itu dan begitu juga diam mereka, sama ada zahir atau batin adalah bersumber dari pancaran cahaya kenabian.Dan sudah pasti bahawa tidak ada selain dari pancaran cahaya kenabian itu sebarang nur yang dapat dijadikan panduan bagi kehidupan di atas muka bumi ini”.

      [Di petik dari Kitab Bidayatul Hidayah (Permulaan Jalan Hidayah) yang menukil dari Kitab Al Munqiz Minad Dhalal (Penyelamat dari Kesesatan)]

      16/07/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

      Sifat Redha

         

        1) Sifat redha adalah daripada sifat makrifah dan mahabbah kepada Allah s.w.t.

        2) Pengertian redha ialah menerima dengan rasa senang dengan apa yang diberikan oleh Allah s.w.t. baik berupa peraturan ( hukum ) mahupun qada’ atau sesuatu ketentuan daripada Allah s.w.t.

        3) Redha terhadap Allah s.w.t terbahagi kepada dua :

      • Redha menerima peraturan ( hukum ) Allah s.w.t. yang dibebankan kepada manusia.

      • Redha menerima ketentuan Allah s.w.t. tentang nasib yang mengenai diri.

        • Redha Menerima hukum Allah s.w.t. :

          Redha menerima hukum-hukum Allah s.w.t. adalah merupakan manifestasi daripada kesempurnaan iman, kemuliaan taqwa dan kepatuhan kepada Allah s.w.t. kerana menerima peraturan-peraturan itu dengan segala senang hati dan tidak merasa terpaksa atau dipaksa.

          Merasa tunduk dan patuh dengan segala kelapangan dada bahkan dengan gembira dan senang menerima syariat yang digariskan oleh Allah s.w.t. dan Rasulnya adalah memancar dari mahabbah kerana cinta kepada Allah s.w.t. dan inilah tanda keimanan yang murni serta tulus ikhlas kepadaNya.

          Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :

          " Tetapi tidak ! Demi Tuhanmu, mereka tidak dipandang beriman hingga mereka menjadikanmu ( Muhammad ) hakim dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak merasa sempit dalam hati mereka tentang apa yang engkau putuskan serta mereka menyerah dengan bersungguh – sungguh ". ( Surah An-Nisaa’ : Ayat 65 )

          Dan firman Allah s.w.t yang bermaksud :

          " Dan alangkah baiknya jika mereka redha dengan apa yang Allah dan Rasulnya berikan kepada mereka sambil mereka berkata : ‘ Cukuplah Allah bagi kami , Ia dan Rasulnya akan berikan pada kami kurnianya ,Sesungguhnya pada Allah kami menuju ".

          ( Surah At Taubah : Ayat 59 )

          Pada dasarnya segala perintah-perintah Allah s.w.t. baik yang wajib mahupun yang Sunnah ,hendaklah dikerjakan dengan senang hati dan redha. Demikian juga dengan larangan-larangan Allah s.w.t. hendaklah dijauhi dengan lapang dada .

          Itulah sifat redha dengan hukum-hukum Allah s.w.t. Redha itu bertentangan dengan sifat dan sikap orang-orang munafik atau kafir yang benci dan sempit dadanya menerima hukum-hukum Allah s.w.t.

          Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :

          " Yang demikian itu kerana sesungguhnya mereka ( yang munafik ) berkata kepada orang-orang yang di benci terhadap apa-apa yang diturunkan oleh Allah s.w.t. ‘Kami akan tuntut kamu dalam sebahagian urusan kamu ‘,Tetapi Allah mengetahui rahsia mereka ". ( Surah Muhammad : Ayat 26 )

          Andaikata mereka ikut beribadah, bersedekah atau mengerjakan sembahyang maka ibadah itu mereka melakukannya dengan tidak redha dan bersifat pura-pura. Demikianlah gambaran perbandingan antara hati yang penuh redha dan yang tidak redha menerima hukum Allah s.w.t. , yang mana hati yang redha itu adalah buah daripada kemurnian iman dan yang tidak redha itu adalah gejala nifaq.

          Redha Dengan Qada’ :

          Redha dengan qada’ iaitu merasa menerima ketentuan nasib yang telah ditentukan Allah s.w.t baik berupa nikmat mahupun berupa musibah ( malapetaka ). Didalam hadis diungkapkan bahawa di antara orang yang pertama memasuki syurga ialah mereka yang suka memuji Allah s.w.t. . iaitu mereka memuji Allah ( bertahmid ) baik dalam keadaan yang susah mahupun di dalam keadaan senang.

          Diberitakan Rasulullah s.a.w. apabila memperolehi kegembiraan Baginda berkata :

          " Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya menjadi sempurnalah kebaikan ".

          Dan apabila kedatangan perkara yang tidak menyenangkan , Baginda mengucapkan :

          " Segala puji bagi Allah atas segala perkara ".

          Perintah redha menerima ketentuan nasib daripada Allah s.w.t. dijelaskan didalam hadis Baginda yang lain yang bermaksud :

          " Dan jika sesuatu kesusahan mengenaimu janganlah engkau berkata : jika aku telah berbuat begini dan begitu, begini dan begitulah jadinya. Melainkan hendakalah kamu katakan : Allah telah mentaqdirkan dan apa yang ia suka , ia perbuat ! " Kerana sesungguhnya perkataan : andaikata… itu memberi peluang pada syaitan " . (Riwayat Muslim)

          Sikap redha dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah s.w.t. Ketika mendapat kesenangan atau sesuatu yang tidak menyenangkan bersandar kepada dua pengertian :

          Pertama : Bertitik tolak dari pengertian bahawa sesungguhnya Allah s.w.t. memastikan terjadinya hal itu sebagai yang layak bagi Dirinya kerana bagi Dialah sebaik-baik Pencipta. Dialah Yang Maha Bijaksana atas segala sesuatu.

          Kedua : Bersandar kepada pengertian bahawa ketentuan dan pilihan Allah s.w.t. itulah yang paling baik , dibandingkan dengan pilihan dan kehendak peribadi yang berkaitan dengan diri sendiri.

          Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :

          " Demi Allah yang jiwaku ditangannya !Tidaklah Allah memutuskan sesuatu ketentuan bagi seorang mukmin melainkan mengandungi kebaikan baginya. Dan tiadalah kebaikan itu kecuali bagi mukmin . Jika ia memperolehi kegembiraan dia berterima kasih bererti kebaikan baginya , dan jika ia ditimpa kesulitan dia bersabar bererti kebaikan baginya ".

          ( Riwayat Muslim )

          [Sumber: JAKIM]

          04/07/2013 Posted by | Tasauf | , | Leave a comment

          Khauf

           

          1. Khauf bererti takut akan Allah s.w.t., iaitu rasa gementar dan rasa gerun akan kekuatan dan kebesaran Allah s.w.t. serta takutkan kemurkaanNya dengan mengerjakan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya.

          2. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : "Dan kepada Akulah ( Allah ) sahaja hendaklah kamu merasa gerun dan takut bukan kepada sesuatu yang lain".

          ( Surah Al-Baqarah – Ayat 40 )

          3. Seseorang itu tidak akan merasai takut kepada Allah s.w.t. jika tidak mengenalNya. Mengenal Allah s.w.t. ialah dengan mengetahui akan sifat-sifat ketuhanan dan sifat -sifat kesempurnaan bagi zatNya.

          4. Seseorang itu juga hendaklah mengetahui segala perkara yang disuruh dan segala perkara yang ditegah oleh agama.

          5. Dengan mengenal Allah s.w.t. dan mengetahui segala perintah dan laranganNya, maka seseorang itu akan dapat merasai takut kepada Allah s.w.t.

          6. Rasa takut dan gerun kepada Allah s.w.t. akan menghindarkan seseorang itu daripada melakukan perkara yang ditegah oleh Allah s.w.t. dan seterusnya patuh dan tekun mengerjakan perkara yang disuruhnya dengan hati yang khusyuk dan ikhlas.

           

          [Rujukan: JAKIM]

          04/07/2013 Posted by | Tasauf | | Leave a comment

          Pengertian Ilmu Tasawwuf (Tasauf)

          Ilmu tasauf ialah ilmu yang menyuluh perjalanan seseorang mukmin di dalam membersihkan hati dengan sifat-sifat mahmudah atau sifat-sifat yang mulia dan menghindari atau menjauhkan diri daripada sifat-sifat mazmumah iaitu yang keji dan tercela .

          2. Ilmu tasawwuf bertujuan mendidik nafsu dan akal supaya sentiasa berada di dalam landasan dan peraturan hukum syariat Islam yang sebenar sehingga mencapai taraf nafsu mutmainnah .

          3. Syarat-syarat untuk mencapai taraf nafsu mutmainah:

          a) Banyak bersabar .

          b) Banyak menderita yang di alami oleh jiwa .

          4. Imam Al-Ghazali r.a. telah menggariskan sepuluh sifat Mahmudah / terpuji di dalam kitab Arbain Fi Usuluddin iaitu :

          1) Taubat .

          2) Khauf ( Takut )

          3) Zuhud

          4) Sabar.

          5) Syukur.

          6) Ikhlas.

          7) Tawakkal.

          8) Mahabbah ( Kasih Sayang )

          9) Redha.

          10) Zikrul Maut ( Mengingati Mati )

          5. Dan Imam Al-Ghazali juga telah menggariskan sepuluh sifat Mazmumah / tercela / sifat keji di dalam kitab tersebut iaitu :

          1) Banyak Makan

          2) Banyak bercakap.

          3) Marah.

          4) Hasad.

          5) Bakhil.

          6) Cintakan kemegahan.

          7) Cintakan dunia .

          8) Bangga Diri.

          9) Ujub ( Hairan Diri ).

          10) Riya’ ( Menunjuk-nunjuk ).

          [Rujukan: JAKIM]

          04/07/2013 Posted by | Tasauf | Leave a comment

          Bersikap sewajarnya

          b0218

          Keadilan adalah merupakan tuntutan akal dan juga syariat.Keadilan adalah tidak terlalu berlebih lebihan terhadap sesuatu,tidak pula meremehkannya,tidak terlalu boros, dan tidak menghambur hamburkannya.Barangsiapa menginginkan, ia hendaklah mengendalikan setiap perasaan dan keinginan agar mampu bersikap adil di dalam setiap keadaan, samada ketika senang ataupun ketika marah, dan ketika gembira mahupun ketika sedih.Betapapun, tindakan berlebihan dan melampaui batas dalam menyingkap segala peristiwa merupakan wujud kezaliman kita terhadap diri kita sendiri.

          Syariat sentiasa ditetapkan dengan prinsip keadilan.Demikian pula dengan kehidupan ini.Ia pun berjalan sesuai dengan konsep keadilan pula.Manusia yang paling sengsara adalah mereka yang menjalankan kehidupan ini dengan hanya mengikuti hawa nafsu dan menuruti setiap dorongan emosi serta keinginan hatinya.Pada keadaan yang demikian itu, manusia akan merasa setiap peristiwa  menjadi sedemikian berat dan sangat membebani,seluruh sudut kehidupan ini menjadi semakin gelap gelita, dan kebencian,kedengkian serta dendam kesumat pun mudah bergolak didalam hatinya.

          Dan akibatnya,semua itu membuat seseorang itu hidup dalam dunia khayalan dan ilusi.Ia akan memandang setiap hal didunia ini musuhnya.Ia menjadi mudah curiga dan merasa setiap orang disekelilingnya sedang berusaha menyingkirkan dirinya.Dan ia akan sentiasa di bayangi rasa was was dan kekhuatiran bahawa dunia ini setiap saat akan merenggut kebahagiannya.Demikianlah maka orang seperti itu sentiasa hidup dibawah naungan awan hitam kecemasan,kegelisahan dan kegundahan.

          Menyebarkan desas desus yang boleh membuat orang lain gelisah sangat dilarang oleh syariat dan termasuk tindakan murahan.Dan itu, hanya akan dilakukan oleh orang orang yang tidak ada nilai nilai moral dan jauh dari ajaran ajaran ketuhanan.Begitulah maka………seperti maksud Al Quran yang berbunyi “………mereka mengira bahawa tiap tiap teriakan yang keras itu ditujukan kepada mereka.Mereka itulah musuh (yang sebenarnya)…………(Al Munafiqun:4)

          Dudukanlah hati anda pada kerusinya, nescaya kebanyakan hal yang dikhuatirikannya tidak akan pernah terjadi.Dan sebelum sesuatu yang anda cemaskan itu benar benar terjadi,perkirakan saja apa yang paling buruk darinya.Dan kemudian persiapkan diri anda untuk menghadapinya dengan tenang hati.Dengan begitu,anda akan dapat menghindari semua bayangan bayangan  yang menakutkan yang telah merobek robek hati sebelum benar benar terjadi.

          Hendaklah ditempatkan segala sesuatu itu sesuai dengan ukurannya.Jangan membesar besarkan persitiwa  dan masaalah yang ada.Bersikaplah secara adil,seimbang dan jangan berlebih lebihan! Jangan pula hanyut dalam bayang bayangan dan fatamorgana yang menipu.

          Renungkanlah makna keseimbangan antara kecintaan dan kebencian yang di ajarkan dalam hadis Rasulullah SAW seperti berikut yang bermaksud: Cintailah kekasihmu sekadarnya saja, kerana boleh jadi dia akan menjadi orang yang kau benci satu ketika nanti.Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya saja, kerana boleh jadi dia akan menjadi kekasihmu suatu ketika nanti”.(Sumber: Laa Tahzan – karangan Dr ‘Ayidh bin ‘Abdullah Al Qarni).

          Allah berfirman maksudnya: Mudah mudah Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang orang yang kamu musuhi diantara mereka.Dan Allah Maha Kuasa lagi Maha Penyayang (Al Mumtahanah:7).

          Sesunggunya kebanyakan kekuatiran dan desas desus itu sedikit kebenarnya dan jarang pula benar benar terjadi.

           

          [Rujukan: Buku Laa Tahzan oleh Dr ‘Ayidh bin ‘Abdullah Al Qarni terjemahan Noraine Abu]

          12/06/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

          Mulut berbisa bawa sengketa

           

          Mulut merupakan anggota badan yang amat istimewa sekali. Atas keistimewaan itu banyak pepatah, bidalan, perumpamaan dan peribadi terbit daripadanya. Antaranya, bila seseorang itu banyak sangat bercakap yang bukan-bukan, akan dipanggil mulut becok.

          Bila terlalu banyak menggunakan perkataan yang manis-manis dan menggembirakan orang lain dipanggil mulut manis. Begitu juga jika seseorang itu terlalu banyak sangat mengomel, mencaci, mencela dan tidak memberikan kredit kepada orang lain berdasarkan pertimbangan rasional dia dipanggil “mulut berus”, atau disindir dengan kata-kata “jaga sikit mulut tu”, “mulut tidak insuran tau!”

          Seperti juga lain-lain aktiviti anggota badan, selain menggunakan mulut untuk makan, mulut juga dikatakan alat utama untuk mengeluarkan suara dari tenggorokan. Suara yang keluar itu bergantung kepada lidah, kedudukan gigi dan jika suara terlalu perlahan, seseorang itu akan memerhatikan gerak bibir, yang merupakan pintu kepada mulut. Bibir yang manis, ditambah dengan gincu yang merah, bentuk yang tertentu bukan sahaja menjadikan seseorang itu menawan, malah dianggap seksi.

          Dengan menggunakan mulut dan bermuarakan sepasang bibir mungil, kata-kata yang keluar daripada menyebabkan hati seseorang itu boleh jadi cair atau pun geram tak keruan. Kerana itulah Islam sentiasa mengingatkan setiap penganutnya agar menjaga keharmonian tutur kata, membanyakkan senyuman, bercakap dengan benar dan tidak terlalu menghabiskan masa menghiasi bibir dengan gincu yang menggairahkan.

          Kata-kata merupakan himpunan bunyi yang berstruktur untuk menyampaikan sesuatu perkara melalui perantaraan bahasa. Berdasarkan sejarah peradaban manusia, bahasa merupakan satu alat yang paling berkesan dan terbaik pernah dilahirkan oleh manusia sepanjang kehidupannya. Melalui penggunaan kata-katalah manusia dapat memahami, berhubung dan seterusnya hidup bermasyarakat. Melalui bahasa juga manusia mampu merungkaikan keharmonian dan perseteruan antara mereka sehingga membangkitkan rasa marah dan dendam.

          Dalam Islam kata-kata kotor, makian serta ucapan menghina merupakan satu perkara yang sangat tercela dan dilarang. Sesungguhnya segala sumber kata-kata kotor atau nista itu timbul daripada watak yang rendah dan jiwa yang hina. Kerana itu ada pendapat mengatakan “Bahasa Jiwa Bangsa” dan kerana itulah Rasulullah s.a.w mengingatkan kita bahawa:

          “Jauhilah olehmu semua kata-kata kotor sebab Allah tidak suka kepada kata kotor atau yang menyebabkan timbulnya kata kotor dari orang lain.”

          Kata-kata kotor, nista,umpatan dan kejian menyebabkan manusia berkonflik, bergaduh dan seterusnya bersengketa sehingga berlakunya pembunuhan, pertumpahan darah dan lenyap sama sekali. Mungkin kita boleh jadikan teladan, bagaimana masyarakat Islam terus membenci Presiden George W. Bush apabila beliau menyifatkan Iran dan Iraq sebagai “paksi kejahatan.” Seluruh masyarakat Islam, sama ada secara langsung atau tidak langsung mengutuk pemberian gelaran itu terhadap negara-negara Islam.

          Kita mungkin teringat dengan hukuman yang pernah diberikan oleh Ayatollah Khomeini apabila Salman Rushdie (melalui novelnya yang kontroversi, Satanic Verses ) melukiskan perwatakan Nabi Muhamad s.a.w sebagai karikatur dan mempersendakan baginda. Mungkin juga kita tidak lupa dengan kata-kata pedih yang pernah dikeluarkan oleh pemimpin tertentu bagi menggambarkan watak yang tidak disukainya.

          Di Indonesia, Kipanjikusmin pernah dikritik hebat apabila menggambarkan Nabi Muhammad s.a.w menaiki sputnik (menggantikan borak semasa peristiwa Israk dan Mikraj) melalui cerpennya, Langit Makin Mendung. Di Malaysia, ada penyajak pernah menerima kecaman setelah mengungkapkan “Tuhan Telah Mati” melalui sajaknya. Ahli Parlimen Belanda menghadapi tentangan hampir seluruh umat Islam apabila menyiarkan filem dokumentari “Fitna” dan sebagainya.

          Mungkin kerana marah atau ada sesuatu yang terguris di hati, mereka telah lupa bahawa Rasulullah s.a.w pernah memberikan peringatan bahawa:

          “Seorang mukmin bukanlah tukang mencela, tukang melaknat orang, tukang berkata kotor dan berkata rendah.” “Syurga itu diharamkan bagi setiap orang yang berkata kotor untuk memasukinya.”

          Dalam membuat sesuatu tuduhan, berkata-kata kita seharusnya menjadikan perilaku dan tutur kata Rasulullah s.a.w sebagai contoh yang terbaik. Baginda, tidak pernah mengeluarkan kata-kata kesat, walaupun berhadapan dengan musuhnya.

          Sebaliknya baginda membalas dengan senyuman dan menasihati secara berhemah dan tidak menyakiti atau melukai perasaan orang lain. Anas bin Malik r.a pernah merakamkan bahawa:

          “Tidak pernah Rasulullah SAW melakukan perbuatan keji, tidak pula kotor lidah (suka mengutuk) dan tidak pula mancaci maki. Ketika seseorang mencela Baginda sebagai seorang yang kotor (berdebu) kerana banyak (sujud), Baginda hanya mengatakan “apa yang dia miliki.”

          Rasulullah s.a.w adalah seorang yang benar-benar memelihara lisannya. Sekalipun terhadap orang-orang kafir yang menentang dakwahnya. Baginda tidak mudah mengeluarkan kata-kata laknat atau menyakitkan hati.

          Abu Hurairah r.a berkata bahawa ia menemui seorang lelaki yang ketagihan arak. Lalu dihadapkan lelaki itu kepada Nabi Muhammad s.a.w agar dihukum. Di antara para sahabatnya ada mengatakan: “Saya memukul dengan tangan”, “saya memukul dengan kasut” dan “saya memukul dengan baju.”

          Ketika lelaki itu berpaling (ke arah sahabat), seorang sahabat menyatakan semoga Allah s.w.t menghinamu! Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w yang bermaksud:

          “Janganlah kamu meminta bantuan syaitan dalam menghadapinya.”

          Daripada Abu Darda r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

          “Aku memohon kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, doakanlah (kecelakaan) bagi orang-orang musyrik. Rasulullah menjawab: Sesungguhnya aku diutus bukan untuk melaknat (mengutuk), tetapi aku diutus untuk memberi rahmat.”

          Begitulah citra peribadi Rasulullah s.a.w dengan akhlak yang luhur telah memberikan contoh kepada manusia agar selalu menghindari sebarang tindakan secara melulu dan selalu sabar dalam menghadapi setiap rintangan atau masalah.

          Dalam konteks ini jelas sekali sikap berlebih-lebihan dalam beragama yang menjadi pegangan sesetengah orang bukanlah dari ajaran Islam. Ini kerana Islam lebih mendahulukan sikap pertengahan atau kesederhanaan dalam setiap aspek kehidupan.

          Bukan sekadar itu sahaja, bahkan Islam mengingatkan setiap umatnya agar tidak terjerumus pada dua kesesatan iaitu berlebih-lebihan atau sikap lalai. Firman Allah SWT yang bermaksud:

          “Tunjukilah kami jalan yang lurus (iaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka dan bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (Surah al-Fatihah: 6-7)

          Di dalam masyarakat Islam tidak ada tempat bagi kaum muslimin untuk meremehkan nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh Islam. Masyarakat Islam menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang luhur dalam kehidupan umat manusia. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Tahukah kamu siapa yang disebut orang bankrap itu.”

          Para sahabat menjawab: “Orang yang tiada lagi mempunyai wang dan harta.” Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

          “Orang yang bankrap adalah yang datang pada hari kiamat amalan solat, puasa dan zakat, tetapi bersamaan itu juga ia telah mencaci maki, menuduh, memakan harta tidak halal, mengalirkan darah (tanpa hak) dan memukul ini dan itu. Maka amalan baiknya dilimpahkan kepada orang yang berhak menerimanya (yang ia caci) dan jika amalan baiknya habis pada hal belum dapat menutup kesalahannya maka kesalahan (orang yang dicaci itu) dilimpahkan kepadanya, kemudian ia ditempatkan ke dalam neraka.”

          Sudah sepatutnya seorang muslim itu memelihara lisan atau lidahnya dari mencaci maki, walaupun dengan alasan yang kuat. Lebih utama memadamkan api kemarahan itu agar tidak terjadi permusuhan yang menyeret kepada perbuatan dosa.

          Daripada Ali bin Abi Talib r.a, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

          “Yang berbuat keji dan menyiarkan kekejiaan itu berada dalam keadaan sama-sama berdosa.”

          Firman Allah yang berbunyi:

          “Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap pencaci dan pengkeji.” (al-Humazah:1)

          Dalam ayat ini, Allah s.w.t mengutuk perbuatan jahat iaitu menyebarkan fitnah, bercakap ataupun mengisyaratkan perkara yang jahat sama ada terhadap seorang lelaki atau perempuan dengan kata-kata ataupun secara isyarat, atau perangai, atau secara mengajuk-ajuk, ataupun sindiran atau caci maki.

          “Sesungguhnya Allah s.w.t itu pemalu, penutup (cela), menyukai malu dan tertutup, maka apabila salah seorang kamu mandi maka hendaklah ia ditutup.”

          Demikian juga firman Allah s.w.t yang bermaksud:

          “Serulah ke jalan Tuhanmu (Wahai Muhammad) dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik. “bukanlah tergolong daripada orang mukmin yang suka mencela, mengutuk dan mengeji. Dan bukan pula mereka yang berlidah kotor.” (an-Nahl:25)

          Daripada ayat-ayat al-Quran serta beberapa hadis yang tersebut jelaslah membuktikan bahawa Islam melarang umatnya mencarut dan emaki hamun sesama Muslim.

          Ini kerana kerja-kerja mencarut adalah kegiatan dan perbuatan syaitan. Bagi mereka yang masih tegar dengan pengucapan negatif bagi mewajarkan kenyataan berbaur fitnah, nista dan cela bersandarkan pendapat bahawa Islam tidak melarang umatnya mencarut adalah satu usaha pemesongan dan bertentangan dengan budaya Islam. Mohon perlindungan Allah s.w.t daripada sifat yang buruk.

          Seperti kata peribahasa: kerana santan, pulut binasa; kerana mulut, badan binasa. Maka adalah wajar untuk kita menjaga kata-kata setiap masa, kerana ia akan menjauhkan diri kita daripada sengketa dan berbuat salah.

          Melakukan kesalahan dan menimbulkan sengketa adalah berdosa, berbuat dan mengumpul dosa itu merupakan kemenangan bagi syaitan yang menyebabkan kita kan terjerumus ke lembah kehinaan, ke dalam neraka kita akan ditempatkan. Inginkah kita untuk ke sana?

          [Sumber: YADIM]

          28/05/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , | Leave a comment

          Sifat Jahil dan Taksub

          Kejahilan bukan sahaja akan melahirkan sikap taksub, malah lebih daripada itu ia mempunyai implikasi buruk terhadap kehidupan. Ia boleh menyebabkan kebinasaan kepada seseorang individu, masyarakat, agama dan negara. Di samping merendahkan martabat insan, kejahilan tidak mengenal nilai-nilai kerjasama, timbang rasa, kecintaan dan keadilan. Kerana sikap jahil dan taksub itulah, maka perpecahan terus berlaku di kalangan kita umat Islam. Perbuatan ini ternyata bertentangan dengan syariat Islam.

          Sudah menjadi lumrah dan nasib yang tersurat bahawa setiap agama akan bertembung dengan ancaman hawa nafsu yang bergelora serta pemikiran yang menyesatkan. Agama tidak akan aman sama sekali daripada sikap pelampau dan ketaksuban. Bahkan setiap umat dalam menegakkan seruan syariat yang benar sentiasa berhadapan dengan golongan ini. Dari segi prinsipnya mereka memiliki kepercayaan serta pegangan atas nama agama yang di luar batasan ajaran agama Islam sebenar.

          Demikianlah hakikatnya orang yang jahil perasaannya beku dan lemah otaknya. Justeru itu mudah menjadi taksub dan akibat ketaksuban ini ia tidak lagi boleh berfikir secara normal dan ia akan bertindak mengikut hawa nafsu bukan berlandaskan akal atau ilmu syariat.

          Kejahilan dan ketaksuban menjadikan diri mereka tidak dapat membezakan di antara kebenaran dan kebatilan. Hati mereka telah buta daripada keimanan dan ketakwaan. Sebagaimana kata-kata hukama: “Buta hati kerana jahil lebih berbahaya daripada buta mata. Bukan sedikit mereka celik mata tetapi buta hati kerana jahil. Golongan ini makin diberi peringatan atau nasihat makin bertambah bebal dan jahil. Lebih berbahaya lagi apabila ditambah pula dengan penyakit kesombongan”. Sebagaimana kata Saidina Ali B. Abi Talib r.a : “Tiada musuh yang lebih Aku takuti daripada kejahilan. Setiap manusia menjadi musuh selama ia jahil.”

          Kesimpulannya, jelaslah bahawa kejahilan adalah pokok segala kecelakaan dan punca segala bahaya. Orang yang jahil tergolong dalam maksud hadis Nabi yang bermaksud: “Dunia itu terlaknat, segala isinya terlaknat, kecuali zikrullah (berzikir kepada Allah), sesesorang yang berilmu dan seorang yang mencari ilmu. Seorang yang jahil itu tidak akan terkeluar dari kegelapan kejahilan melainkan dengan nur dan cahaya ilmu pengetahuan. Ia merangkumi ilmu-ilmu untuk keperluan dan kesempurnaan tanggungjawab diri terhadap Allah, ilmu untuk mempertingkatkan kualiti hidup diri, keluarga, dan masyarakat. Wallahu a’lam..

          [Sumber: Jalan Sufi]

          15/05/2013 Posted by | Tasauf | , | Leave a comment

          Nasihat Agama dan Wasiat Iman – Pertama

          pp0027

          Wasiat Pertama

          Maha suci Engkau ya Allah; sungguh kami tiada memiliki ilmu kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

          Alhamdullilah. Segala puji syukur bagi Allah, Tuhan Sang Pencipta semua makhluk, Yang menyeru hamba-hambanya seraya mengkhususkan sebahagian dari mereka dengan hidayah dan rahmah!Dan semua itu bersesuaian dengan kehendakNya yang azali. :Sungguh kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu: “Bertakwalah kepada Allah”.(QS.4:131). Dan firman-Nya: “Allah menyeru (manusia) ke syurga Daru’s-Salam dan memimpin orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus” (QS.10:25.) Dan firman-Nya lagi: “Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya, (untuk menerima) rahmayNya (yang khusus) dan Allahlah Yang Maha mempunyai kurnia yang besar”. (QS. 2:105).

          Salawat dan salam bagi junjungan dan pemimpin besar kita: Nabi Muhammad Saw, juga bagi keluarganya serta para sahabatnya, para pembela agama nan lurus.

          Amma ba’du: Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

          Kepada saudaraku yang mencintai dan mengharap, yang mencari ilmu dengan bersungguh-sungguh, dan kepada setiap saudara seiman yang saling mencintai kerana Allah, Tuhan semesta alam, di mana saja keberadaannya, di penjuru Timur Bumi dan di Baratnya, di dataran dan lautan, yang datar mahupun yang berbukit-bukit dan di semua daerah sekitarnya.

          Saudaraku yang tercinta,

          Anda telah meminta kepada saya, agar menuliskan wasiat untuk anda, yang mudah-mudahan dapat membuat anda merasa bahagia,dan dapat anda jadikan pegangan kuat dalam perjalanan hidup anda. Untuk itulah saya akan berupaya memenuhi permintaan anda, sekalipun saya sebetulnya bukan ahlinya. Namun keinginan anda untuk mengajukan permintaan ini, demikian juga kesediaan saya utnuk memenuhi keinginan anda itu, semata-mata demi mengikuti uswah hasanah (peneladanan yang baik) yang memperoleh petunjuk dan para khalaf yang mengikuti mereka. Semoga Allah selalu meredhai mereka semuanya.

          Memang sudah semenjak dahulu kala, tradisi saling mewasiati ini telah menjadi ciri khas dari akhlak mereka. Dan Allah s.w.t telah melukiskan sifat mereka itu dalam Al-Quran yang mulia, yang tiada datang kepadanya kebatilan, dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha terpuji. Sebagaimana tercantum dalam kedua surah:Al-Balad dan Wa’l-Ashri. Maka terpeganglah erat-erat dengannya dan mintalah petunjuk Allah dan pertolongan-Nya selalu.

          Takwa dan Peringkat-Peringkatnya

          Ketahuilah, wahais audaraku, bahawa yang paling layak di utamakan dalam berwasiat, adalah wasiat tentang takwa kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Maka dengan ini, sya berwasiat kepada anda dan kepada diri saya sendiri, serta kepada segenap orang yang beriman dan kaum muslimin semuanya, agar bertakwa kepada Allah Rabb’ul –Alamin, kerana takwa merupakan sarana terpenting yang menghantarkan kepada kebahagian dunia dan akhirat. Takwa pula merupakan asas pondasi pemerkuat pilar-pilar aga,a. Kerananya, tanpa pondasi yang kukuh, sebuah bangunan akan lebih cenderung mengalami kehancuran daripada kesempurnaan.

          Adapun takwa itu sendiri terdiri atas beberapa tingkatan:Pertama, menjauhi segala perbuatan maksiat dan segala yag diharamkan dalam agama. Yang demikian itu merupakan suatu kewajipan yang tidak boleh tidak. Kedua, menjauhkan diri dari perkara-perkara yang shubhat (yang meragukan, antara haram dan halal). Hal itu merupakan sikap kewaspadaan yang akan melindungi pelakunya dari terjerumus ke dalam sesuatu yang haram. Ketiga, menghindari hal-hal yang berlebihan dan tidak perlu, di antara yang mubah (yang dibolehkan, tidak diperintahkan dan tidak pula dilarang agama) demi memuaskan hawa nafsu semata-mata. Penghindaran diri seperti itu termasuk kategori ‘zuhud yang mendalam’ sepanjang pelaksanaannya disertai kerelaan dan kepuasan hati sepenuhnya atau tazahhud (yakni zuhud tingkat bawah yang dipaksakan) sepanjang pelaksanaannya masih disertai dengan perasaan enggan dan berat hati, kerana terpaksa melawan hawa nafsu. Kerananya, barang siapa meninggakan sesuatu kerana takut kepada manusia atau mengharapkan sesuatu yang ada pada mereka, maka ia-pada hakikatnya- hanya bertakwa kepada mereka dan bukan bertakwa kepada Allah. Sedangkan yang benar-benar bertakwa kepada Allah Swt, adalah yang melakukannya kerana semata-mata mengharapkan keredhaan-Nya, menginginkan pahala-Nya dan takut akan seksa-Nya.

          Dan barangsiapa telah berdiri mantap dalam maqam ketakwaan, maka ia telah layak menerima ilmu yang diwariskan (‘ilm-l-wiratsah). Itulah ‘ilmu ladunni’ (al-‘ilm al-ladunniy) yang dihunjamkan Allah Swt secara langsung ke dalam hati para wali-Nya. Ilmu yang tidak tercantum dalam buku-buku, tidak tercakup dalam pengajaran yang bagaimanapun. Ilmu seperti itu, diharamkan Allah atas orang-orang yang menghamba kepada hawa nafsunya, yang telah diliputi kegelapan hati, yang hanya mementingkan selera nafsu mereka, berkaitan dengan apa yang dimakan, dipakai dan dinikahi. Ilmu ladunni seperti itulah yang diajarkan Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang khusus seperti diisyaratkan dalam firman-Nya: “Bertakwalah kamu kepada Allah, nescaya Allah akan mengajari kamu”. Demikian pula dalam sabda Rasullah Saw .: “ barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, nescaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.” Dan itulah buah dari amalan ilmu yang diperoleh dari Al-Quran dan Sunnah Nabi Saw., yang tersaring bersih dari segal;a noda hawa nafsu. Dan begitu pula buah dari upaya mengikuti jalan lurus yang disertai dengan penuh takwa, disamping menjauh dari sifat keangkuhan dan kebanggaan pada diri sendiri.

          Dan tentunya takkan mungkin bagi seorang hamba, menyiapkan dirinya guna dapat meraih limpahan anugerah illahi yang demikian besarnya itu, tanpa sebelummnya melakukan riyadhah (pelatihan mental dan pengendalian diir) yang intensif, dengan cara memutuskan segala ajakan syahwat hawa nafsu, disertai dengan mengkonsentrasikan diri kepada Allah secara terus menerus, dalam beribadat kepada-Nya secara ikhlas dan murni semata-mata hanya untuk-Nya saja.

          Keharusan Menuntut Ilmu

          Saya berpesan selanjutnya hendaklah Anda selalu berusaha dengan sungguh-sungguh menuntut ilmu yang berguna, dengan cara membaca, menelaah buku-buku ataupun berdiskusi untuk mencapai hasil. Jangan sekali-kali meninggalkan upaya itu kerana malas atau bosan, atau pun kerana perasaan takut sekiranya anda nanti tidak mampu mengamalkan ilmu anda itu. Yang demikian itu merupakan kebodohan belaka.

          Dan hendaklah anda dalam hal ini selalu membaikkan niat anda dan bermawas diri, jangan segera berpuas hati dengan merasa telah cukup berhasil, sampai anda benar-benar menguji diri anda sendiri. Selanjutnya, berupayalah sungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu yang telah anda ketahui itu, serta mengajarkannya kepada siapa yang belum mengetahuinya, baik anda diminta atau tidak. Dan apabila setan membisikkan kepada anda: “Janganlah mengajar sebelum kamu benar-benar menjadi alim yang luas ilmunya”, maka katakan kepadanya: “Kini aku apabila ditinjau dari apa yang telah kuketahui adalah alim (seorang yang berilmu), dan kerananya wajib untuk mengajarkannya kepada orang-orang lain. Sedangkan – apabila ditinjau dari apa yang belum kuketahui-maka aku kini seorang pelajar yang wajib belajar dan menuntut ilmu”. Ini tentunya berkenaan dengan ilmu yang wajib dipelajari. Adapun selebihnya, tak apalah jika anda pelajari juga.

          Mengajarkan ilmu merupakan amal ibadat yang besar pahalanya, sepanjang diiring dengan niat baik yang dasarnya ‘kerana Allah’ semata-mata bukan kerana sesuatu lainnya, tanpa sedikit pun niat untuk meraih harta atau kedudukan.

          Hendaklah anda, secara konsisten menelaah buku-buku para ulama terdahulu, terutama para tokoh sufi dan memperhatikan apa yang ada didalamnya. Kerana di situ terhimpun banyak petunjuk khusus tentang bagaimana mengenal Allah serta berbagai bimbingan tentang cara-cara pembaikan niat, keikhlasan dalam beramal pendidikan jiwa dan lain sebagainya. Semuanya itu adalah ilmu-ilmu sangat bermanfaat yang tentunya akan menuntun kearah keberuntungan dan keselamatan.

          Dan tiada yang enggan memperhatikan dan membaca buku-buku seperti itu, kecuali orang-orang yang sudah buta mata hatinya atau gelap jiwanya. Walaupun demikian sekiranya waktu anda sangat terbatas, tidak cukup untuk mengkaji buku-buku itu secara keseluruhan, maka khususkanlah pengkajian anda pada buku-buku karangan Imam Ghazali kerana itulah yang paling banyak manfaatnya, paling lengkap isinya dan paling menarik susunan kata-katanya.

          Kehadiran Hati dan Kekhusyukan Anggota Tubuh

          Saya berpesan, hendaklah anda selalu menghadirkan diri dan mengkhusyukkan anggota badan di saat melakukan ibadah-ibadah anda. Dengan demikian anda akan meraih buah hasilnya dan tersinari oleh percikan cahayanya. Dan hendaklah anda selalu dalam keadaan siap untuk menerima pengawasan Allah atas segala gerak geri anda. Camlah selalu dalam hati anda bahwa Allah Swt. Adalah Maha cermat dalam pengamatan-Nya dan Maha dekat dengan diri anda.

          Upayakanlah agar anda mampu menjadi penasihat bagi diri anda sendiri dan sekaligus pemberi peringatan kepadanya. Ajaklah ia ke jalan Allah dengan Hikmah kebijaksanaan serta nasihat yang baik. Berikan pengertian kepadanya bahwa pengabdian dan ketaatan kepada Allah Swt. Akan membawa rasa kenikmatan abadi, serta kemulian dan kekayaan yang besar. Sebaliknya, meninggalkan pengabdian dan ketaatan lalu melakukan perbuatan maksiat, akan berakibat seksaan batin yang pedih dan kehinaan yang besar. Nafsu manusia, kerana kebodohannya, tidak mahu melakukan atau meninggalkan apa pun kecuali demi sesuatu yang diingininya ataupun yang ditakutinya. Ini mengingat nafsu manusia memang bertabiat selalu malas melakukan ketaatan dan sebaliknya cenderung melakukan pelanggaran.

          Saya juga berpesan, hendaklah anda tidak mensia-siakan sedetik pun dari waktu-waktu anda, bahkan setarikan nafas pun, kecuali yang akan membawa manfaat bagi diri anda dalam kehidupan akhirat anda ataupun kehidupan dunia anda yang dapat menolong anda di dalam kehidupan akhirat kelak.

          Menghilangkan Was-Was Setan Dari Dalam Hati

          Adakalanya muncul dalam hati manusia pelbagai was-was (bisikan jahat setan yang menimbulkan keraguan dalam hati), yang paling sulit diantaranya ialah menyangkut masalah akidah, demikian pula dalam pelbagai amalan peribadatan.

          Adapun salah satu cara agar bisa terhindar dari was-was itu ialah, antara lain dengan meneliti secara saksama:apabila was-was tersebut sudah jelas-jelas berkaitan dengan kebatilan, seperti meragukan tentang eksistensi Allah dan hari akhirat, maka tiada jalan lain baginya kecuali harus menolaknya dengan tegas, dengan berpaling darinya dan memohon perlindungan Allah Swt. Secara tulus, seraya memperbanyak zikir kepada-Nya.

          Akan tetapi bilamana bisikan was-was itu masih dalam kerangka sesuatu yang meragukan:apakah termasuk sesuatu yang haqq atau bathil, maka hendaklah meminta fatwa tentang hukumnya kepada orang-orang yang berilmu dan beroleh petunjuk;kemudian berpegang erat-erat dengan fatwa mereka dan mengandalkannya. Adapun setiap perbuatan hati yang dilakukan tanpa adanya unsur kesengajaan, maka kafarat (penebus)-nuya adalah dengan bersikap membencinya.

          Menjaga Lidah

          Saya berpesan kepada anda agar berupaya sungguh-sungguh dalam menjaga llidah dari ucapan sia-sia. Sebab, lidah adalah cermin isi hati. Kata seorang bijak: “Lidah itu bagaikan binatang buas, bila egkau mengurungnya, ia akan menjagamu. Tetapi bila engkau melepaskannya, ia akan menerkammu”.

          Oleh sebab itu, usahakanlah menyibukkan lidah anda hanya dengan sesuatu yang memanng termasuk urusan anda sendiri, misalnya dengan membaca Al-Quran, berzikir dan menyeru manusai ke arah kebaikan. Jangan sekali-kali melibatkannya dalam hal-hal bukan urusan anda. Iaitu ucapan-ucapan yang tidak anda harapkan pahalanya apabila anda ucapkan, dan yang tidak pula anda khuatirkan akan terkena hukuman apabila tidak anda ucapkan. Setiap ucapan menimbulkan konsekuensi antara lain terjerumus dalam suatu tindakan terlarang atau menyia-yiakan waktu yang amat berharga dalam hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat atau meningggalkan bekas yang tidak menyenangkan di dalam hati. Jelasnya, setiap gerak yang dilakukan atau kalimat yang diucapkan, pasti akan meninggalkan bekas didalam hati. Jika hal itu merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Swt, nescaya akan menimbulkan cahaya di dalamnya. Dan sekiranya hal itu merupakan sesuatu yang mubah sekalipun (yang tidak dianjurkan dan tidak pula dilarang), maka kebanyakan dari hal itu akan menimbulkan kekerasan hati. Apalagi jika hal itu merupakan sesuatu yang terlarang, nescaya akan menimbulkan kegelapan.

          Selanjutnya saya berpesan kepada anda agar menghindarkan lidah dan hati anda dari segala perbuatan yang merugikan kaum Muslim secara keseluruhan. Seperti, misalnya berprasangka buruk terhadap mereka. Kerananya jangan sekali-kali bergaul dan duduk berbincang-bincang dengnan orang-orang yang suka menggunjing atau menujukan cercaan terhadap kaum muslim.

          Dan jika sampai ke pendengaranmu tentang suatu pebuatan buruk dari seseorang di antara mereka (kaum muslim), sedangkan anda merasa mampu menasihatinya, maka lakukanlah. Atau jika tidak – jangan sekali-kali menyebutkan tentang keburukannya itu di hadapan orang lain, sehingga dengan demikian anda telah melakukan dua keburukan sekaligus: pertama dengan tidak memberinya nasihat; dan kedua, mengucapkan sesuatu yang buruk berkenaan dengan peribadi seorang muslim.

          Berbangga Diri

          Selanjutnya, saya berpesan hendaknya anda tidak merasa diri lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hati anda, sedarilah betapa anda sudah sering kali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bagaimanapun juga, seorang yang berakal sihat pasti mengetahui bahawa dirinya sendiri sarat dengan berbagai aib dan kesalahan. Maka hendaklah ia menyakini hal itu dan tidak meragukannya sedikit pun. Dan tidaklah sepatutnya ia menuduh siapa pun dengan keburukan yang belum tentu ada padanya. Sebab, kebanyakkan dari apa yang anda ketahui dari saudara-saudara anda adalah berdasarkan persangkaan dan dugaan semata-mata. Sedangkan persangkaan adalah ucapan-ucapan yang paling banyak mengandung kebohongan (sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis-penerj.) Disamping itu, mungkin saja terdapat alasan-alasan pemaafan berkaitan dengan sebahagian keburukan yang diperkirakan seperti itu. Walaupun demikian, tidak sepatutnya seseorang membuka pintu pemaafan bagi dirinya sendiri, mengingnat hal itu akan membuat hati lebih cenderung kepada penyia-yiaan waktu dan terjerumus lebih dalam lagi dalam lembah-lembah syahwat hawa nafsu.

          Sungguh, betapa perlunya bagi setiap individu pada zaman ini untuk memberikan dalih-dalih pemaafan serta alasan-alasan pembenaran bagi orang lain, mengingat langkahya orang-orang yang benar-benar jujur dan istiqamah, di samping banyaknya berita-berita bohong yang disebarluaskan oleh mereka yang tidak bertanggungjawab.

          Menjauhkan Diri Dari Pergaulan Yang Tidak Sihat

          Sungguh berbahagialah orang yang memisahkan diri dari masyarakat zaman ini, dan lebih memilih menyibukkan dirinya bersama Tuhannya daripada melibatkan diri dalam pergaulan dengan mereka dan segala keburukan mereka; dengan penuh ketabahan, sampai datangnya ‘keyakinan’ yang berupa pembukaan pintu hatinya ke arah alam malakut yang tinggi-jika ia termasuk dalam kalangan ‘khusus’ atau sampai datang kepadanya ‘keyakinan’ yang lain, yakni kematian, sebagaimana diisyaratkan (dalam Al-Quran), baik ia tergolong di kalangan khusus ataupun awam.

          Oleh sebab itu, saya berpesan kepada anda, jauhkanlah dirimu dari pergaulan dengan siapa saja yang curigai keadaannya; jangan duduk-duduk besama mereka, atau bercampur gaul dengan mereka. Kecuali dalam keadaan di mana anda sangat memerlukannya. Itu pun dengan penuh kewaspadaan dan sikap hati-hati, demi terhindarnya anda dari keburukan anda sendiri an terhindarnya anda dari keburukan mereka. Demikian itulah hendaknya dasar niat anda ketika menjauhi pergaulan dengan mereka itu.

          Maka janganlah duduk bersama siapa pun kecuali mereka yang akan memberimu manfaat dalam agamamu. Apabila hal seperti itu sulit terlaksana, maka larilah menjauh dari mereka yang akan membawa petaka bagi agamu, sebagaimana anda lari jauh menjauh dari binatang buas, bahkan labih dari itu. Kerana binatang buas hanya akan melukai anggota tubuhmu, yang nantinya hanya akan menjadi mangsa ulat bumi, sedangkan setan yang satu ini akan merosak kalbumu, yang dengannya anda mengenal Tuhan dan agama anda, dan akan menghantarmu ke akhirat dengan selamat.

          Kewajipan Mengenali Dasar Hukum Allah dalam Segala Hal

          Saya berpesan agar anda tidak melibatkan diri dalam suatu perkara apa pun yang belum anda ketahuid asar hukum Allah tentangnya. Upayakanlah mencar kejelasan terlebih dahulu mengenai ketetapan hukum Allah itu sebelum bertindak,s ehingga cukup jelasa bagi anda, mana yang diredhai Allah mengenai tindakan anda itu, dan mana yang ahrus anda tinggalkan. Dengan demikian, anda telah melakukan atau meninggalkan suatu pekerjaan dengan kepastian dan niat yang baik adanya.

          Bersikap Tawadhu’ (Rendah Hati)

          Saya juga berpesan agar anda selalu bersikap tawadhu’ (rendah hati). Sikap tawadhu’ adalah sifat yang terpuji pada segala kondisi, kecuali dalam satu hal saja, yaitu ber-tawadhu’ di hadapan para ahli dunia dengan tujuan ingin mendapatkan sesuatu dari dunia mereka atau harta mereka. Sedangkan sifat takabur (angkuh atau tinggi hati) adalah sifat yang amat tercela pada segala kondisi, kecuali dalam hal mneghadapi orang-orang zalim yang terus menerus berbuat kezaliman. Sikap yangd emikian itu demi menujukan teguran atau protes keras terhadap mereka, asal saja keangkuhan seperti itu hanya tampak secara lahirian saja, sementara hati kita kosong dari sifat keangkuhan seperti itu.

          Melakukan Kebajikan Terhadap Sesama Muslim

          Saya berpesan hendaklah anda selalu meniatkan yang baik-baik saja bagi seluruh kaum Muslim. Cintailah bagi mereka apa yang anda cintai bagi diri anda sendiri, dalam urusan duniawi maupun ukhrawi dan tidak menyukai sesuatu yang menimpa mereka sebagaimana anda tidak menyukai hal itu menimpa diri anda sendiri baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Berdialoglah dengan mereka ucapan-ucapan yang baik, tidak yang mengandung pelanggaran. Ucapkan salam kepada mereka kapan saja bertemu. Bersikaplah selalu rendah hati, lemah lembut, penuh kasih sayang terhadap mereka. Tunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada siapa-siapa yang berperilaku baik, dan upayakanlah agar memaafkan siapa-siapa yang berperilaku buruk. Dan berdoalah bagi mereka yang berdosa agar Allah Swt memberikan kemudahan kepada mereka untuk segera bertaubat. Dan bagi mereka yang telah berbuat kebaikan agar Allah Swt. Menganugerahkan sifat istiqamah, atau konsisten dalam melakukan kebaikan-kebaikan sampai akhir hayat.

          Jangan sekali-kali bersikap atau bergaya hidup meniru-niru kaum yang sombong dan angkuh, baik dalam cara mereka berbicara, berbusana, berjalan, duduk dan sebagainya. Kerana barangsiapa meniru tingkah laku dan kebiasaan suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka juga, sekalipun ia sendiri tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang biasa mereka lakukan. Ini meliputi semua aspek kehidupan, yang baik apalagi yang buruk.

          Membiasakan Diri Hidup Sederhana

          Saya juga berpesan kepada anda, hendaklah selalu menngutamakan keserdehanaan dalam pola kehidupan anda sehari-hari, baik yang berkenaan dengan makanan, busana maupun rumah tempat tinggal anda. Semata-mata demi bersikap rendah hati (ber-tawadhu’) dalam agama, lebih mengutamakan akhirat dan sebagai manifestasi dari menjadikan Nabi Muhammad Saw. Sebagai teladan utama.

          Ketahuilah bahawa melaksanakan keserdahanaan dalam kehidupan duniawi merupakan titk pangkal dari segala kebaikan. Dan tidaklah Allah Swt. Mengkhususkan seseorang dengan sikap seperti itu, kecuali ia pasti mengkehendaki kemuliaan baginya dalam kehidupan didunia maupun di akhirat. Dengan syarat, ia merasa ridha (puas hati) sepenuhnya atas apa yang dianugerahkan Allah Swt. baginya, tidak tertarik kepada keindahan duniawi yang ada di sekelilingnya dan tidak mengharap-harap diberikan kepadanya apa yang diberikan oleh-Nya kepada para ahli dunia, agar ia dapat merasakan kenikmatan duniawi seperti yang mereka rasakan.

          Berserah Diri dan Berikhlas Kepada Allah

          Saya berpesa pula kepada anda, keluarkan setiap harapan ataupun kecemasan yang anda rasakan dalam hati anda terhadap siapa pun di antara makhluk Allah. Sebab, adanya perasaan seperti itu akan menjadi penghalang bagi anda untuk menegakkan kebenaran dan jangan sekali-kali membiarkan rasa takut akan kemiskinan menyelinap ke dalam hati anda kerana yang demikian itu merupakan seburuk-buruk pendamping diri anda sendiri.

          Janganlah pula memikirkan secara berlebihan segala yang berkaitan dengan perolehan rezeki. Terlalu memikirkan hal seperti itu tidak ada dasarnya selain adanya keraguan berkaitan dengan takdir Allah Swt. Apa saja keuntungan ataupun kerugian yang telah ditakdirkan untuk anda pasti akan terlaksana ; dengan atau tanpa usaha anda sendiri, sesuai dengan apa yang telah digoreskan oleh pena Allah dalam Al-Lauh Al-Mahfuzh. Oleh sebab itu, apa gunanya bersikap berlebihan dalam memikirkan sesuatu yang telah selesai urusannya, dan tentang hal itu hati anda telah ditenangkan oleh Allah Swt dengan penjelasan dalam kitab-Nya bahawa ia telah memberikan jaminan bagi anda (tentang rezeki yang disediakna bagi setiap makhlukn-Nya) seraya bersumpah dengan diri-Nya sendiri. Oleh sebab itu, pusatkanlah perhatian anda untuk melaksanakan hak Allah Swt. yang telah diwajibkan pelaksanaannya atas diri anda. Kerana, sesungguhnya kebanyakan manusia zaman sekarang menghadapi fitnah (ujian berat atau bencana), berupa memikirkan secara berlebihan tentang rezeki. Hal itu merupakan hukuman atas mereka akibat melalaikan pelaksanaan perintah-perintah Allah seraya mengerjakan laran-larangan-Nya.

          Saya juga berpesan, agar anda senantiasa bersikap lemah-lembut dalam setiap urusan, mengutamakan keikhlasan dalam setiap amal dan kegiatan, meninggalkan kesibukan-kesibukan yang menghalangi antara anda dan Allah Swt. terutama yang berkenaan dengan harta dan keluarga. Berkonsentrasilah hanya dalam sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan anda dalam kehidupan mendatang. Kembalilah kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya dalam setiap keadaan; seraya meneladani Rasullulah Saw. Dalam akhlak, ucapan dan perbuatan.

          Usahakanlah sungguh-sungguh untuk membeningkan hatimu dan menyinarinya dengan tiga hal: Pertama, dengan membaca Al-Quran dengan tartil dan tadabbur (yakni menekuni tatacara pembacaannya dan merenungi maknanya). Kedua, dengan ber-zikrullah dengan penuh adab dan kehadiran hati. Ketiga, dengan melakukan qiyamullail (shalat malam) dengan hati luluh dan anggota tubuh yang khusyu’.

          Ada tiga hal yang perlu anda lakukan demi memudahkan terlaksananya letiga amalan di atas..

          Pertama, meringankan perut dengan hanya makan sedikit saja.

          Kedua, memisahkan diri dari kelompok manusia yang lalai akan tuhannya.

          Ketiga, membebaskan diri dari kesibukan dunia yang fana

          Mengerjakan Shalat Sunnah Witir dan Membaca Doa Sesudahnya

          Saya berpesan pula, agar anda senantiasa mengerjakan shalat witir sebanyak sebelas rakaat. Ucapkanlah doa sesudah selesai mengerjakannya dan sesudah membaca beberapa teks tasbih dan doa yang telah diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw, yaitu sebanyak empat puluh kali:

          (Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk kaum yang zalim).

          Dan sesudah melakukan shalat sunnat subuh, sebanyak empatpuluh kali:

          (Ya Allah, Yang Maha Hidup, Yang Maha Pengawas, tiada tuhan selain Engkau).

          Dan setelah itu, sebanyak duapuluh tujuh kali;

          (Aku memohon ampunan bagi orang-orang Mukmin & Mukminat).

          Mengerjakan Shalat Sunnah Dhuhâ

          Biasakanlah pula mengerjakan shalat sunnah dhuhâ secara rutin, sebanyak delapan rakaat, dan irirngilah dengan bacaan sesudahnya, sebanyak empatpuluh kali:

          (Ya Allah, ampunilah daku dan berikanlah taubat (atas segala dosa-ku). Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Taubat lagi Maha Penyayang).

          Dan bacalah pula sesudah shalat Zhuhur, sebanyak seratus kali:

          (Tiada tuhan selain Allah, Sang Maha Diraja, Yang Maha Benar senyata-nyatanya).

          Demikian juga sesudah shalat Asar, sebanyak duapuluh lima kali:

          (Aku memohon ampunan Allah Yang Tiada Tuhan selain Dia; Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; Yang Maha Hidup dan takkan tersentuh oleh kematian, dan aku bertaubat kepada-Nya. Ya Allah ampunilah daku).

          Dan setelah shalat subuh serta setiap selesai shalat lima fardhu, bacalah sebanyak tiga kali:

          (Maha Suci Allah, dan puji syukur bagi-Nya, tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan perkenan-Nya, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung; sebanyak bilangan ciptaan-Nya, sebesar keredhaan-Nya, seberat ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta yang digunakan untuk menuliskan ciptaan-ciptaan-Nya)

          Setelah itu, bacalah juga sebanyak tiga kali:

          (Maha Suci Engkau Wahai Tuhanku, puji syukur bagi-Mu, aku bersaksi bahawa tiada tuhan selain Engkau, dan aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu. Dan aku memohon dari-Mu semoga engkau melimpahkan salawat dan salam atas hamba-Mu dan utusan-Mu: junjungan kami Nabi Muhammad saw, keluarganya dan para sahabatnya).

          Saya juga berpesan agar anda senantiasa membaca, pada setiap hari dan secara rutin, beberapa zikir yang biasa dibaca pada pagi hari maupun sore hari. Teks-teks semua itu dapat anda peroleh dalam berbagai buku yang memang memuat doa-doa dan zikir-sikir seperti itu. Misalnya dan yang paling utama di antaranya adalah kitab Al-Adzhar An-Nawawiyah. Sekiranya anda ingin melakukan hal tiu, pilihlah di anatra doa-doa dan zikir-zikir yang tercantum di dalamnya, yang paling sahih, paling afdal dan paling mencakup makna yang anda inginkan.

          Penutup

          Sebagai penutup pesan-pesan ini, di bawah ini saya kutipkan dua ayat Al-Quran yang mulia, serta dua hadis Nabi Saw. Serta beberapa atsar (peninggalan) yang diriwayatkan darias-salaf ash-shâleh (para tokoh terdahulu yang baik-baik):

          Kedua ayat tersebut adalah firman Allah Swt.: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apas aja yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa saja yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa akan Allah, lalu Allah menjadikan meraka lupa akan diri mereka sendiri. Sungguh mereka itulah orang-orang yang fasik “(QS. Al-Hasyr [59] : 18-19).

          Adapun kedua sabda Rasulullah saw adalah:

          “Tiga perkara yag menyelamatkan: (1) takut kepada Allah dalam keadaan ghaib dan nyata, (2) kalimat yang adil dalam keadaan ridha maupun marah, dan (3) bersikap sederhana dalam keadaan kaya maupun miskin. Sedangkan tiga perkara yang membinasakan adalah: (1) sifat kikir yang dipatuhi, (2) hawa nafsu yang diikuti, dan (3) perasaan bangga pada diri sendiri.”

          “barang siapa takut tertinggal, nescaya segera meneruskan perjalanan, dan barang siapa meneruskan perjalanan, nescaya mencapai tempat tujuan. Ketahuilah, ‘barang dagangan’ Allah amat mahal harganya. Dan sungguh,’barang dagangan Allah adalah syurga!”

          Dan telah berkata Abubakar Ash-Shiddiq r.a. kepada Umar bin Khattab r.a. pada saat menunjukkan sebagai penggantinya menjabat sebagai khalifah, “ Bertakwalah Engkau wahai Umar, bilamana Engkau berkuasa atas manusia! Ketahuilah, bahawasanya Allah Swt mewajibkan atas manusia: beberapa kewajipan yang harus dikerjakan pada malam hari, yang takkan ia menerimanya apabila dikerjakan pada siang hari. Dan juga mewajibkan beberapa kewajipan yang harus dikerjakan pada siang hari, yang takkan ia menerimanya bilamana dikerjakan pada malam hari. Dan bahawasanya ia takkan menerima suatu amalan yang bersifat sunnah (anjuran), sampai amalan yang bersifat fardhu telah ditunaikan sebelumnya. Adapun beratnya neraca timbangan manusia pada hari kiamat kelak, bergantung pada seberapa jauh mereka mengikuti kebenaran ketika masih hidup di dunia. Sedangkan ringannya neraca timbangan mereka pada hari kiamat nanti bergantung pada seberapa jauh mereka telah mengikuti kebatilan ketika masih hidup di dunia.”

          Dan telah berkata Ali bin Abi Thalib k.w. (karramallahu wajhah), “ Ada enam perkara yang barang siapa mengamalkannya, tidak lagi perlu bersusah payah mencari-cari syurga dan tidak perlu pula merasa cemas akan seksa api neraka: (1) orang yang mengenal Allah lalu takut kepada-Nya. (2) orang yang mengenal setan lalu menentangnya. (3) Orang yang mengenal kebenaran lalu mengikutinya. (4) orang yang mengetahui kebatilan lalu menjauhkan diri darinya. (5) orang yang mengenal kesenangan dunia lalu menolaknya. (6) orang yang mengenal akhirat lalu mendarinya.”

          Seseorang bertanya kepada seorang dari kalangan salaf (tokoh terdahulu) : “Bagaimana jalan menuju Allah?”

          Seandainya anda mengenal Allah, tentu anda akan mengetahui jalan menuju kepada-Nya.” Jawab si tokoh yang ditanyai.

          “Subhanallah! Bagaimana mungkin saya beribadat kepada sesuatu yang tidak saya kenal?”. “Bagaimana pula anda melakukan maksiat kepada yang telah anda kenal?”.

          Seorang saleh berkata kepada seorang sufi dari kalangan abdâl : “Tunjukilah aku suatu amalan, yang dengannya aku bisa menemukan hatiku bersama-sama Allah selamanya.”

          “Jangan melihat kepada manusia, kerana melihat mereka itu, menimbulkan kegelapan di dalam hati.”

          “Aku tidak bisa melakukan seperti itu.” Kata orang itu.

          “Kalau begitu, jangan mendengarkan omongan mereka kerana mendengar omongan mereka menyebabkan kekerasan hati.”

          “Aku tidak kuasa melakukan seperti itu.”

          “Jangan berurusan dengan mereka, kerana berurusan dengan mereka menimbulkan perasaan keterasingan ( dari Allah).”

          “Bagaimana mungkin aku mampu bersikap seperti itu, sedangkan aku berada di tengah-tengah mereka.”

          “Janganlah merasa senang dan nyaman berada di tengah-tengah mereka.”

          “Kalau ini, mudah-mudahan saja aku mampu melakukannya.”

          “Wahai engkau ini, memandang kepada orang-orang yang lalai, mendengar perkataan-perkataan orang-orang yang berbuat pelanggaran dan berurusan dengan orang-orang yang tak berguna, lalu masih ingin hati anda bersama Allah selalu?!”

          Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi berkata: “ Tiga sifat, barang siapa menyandangnya, sungguh telah sempurna imannya: apabila dalam keadaan redha, tidak menyebabkannya terseret ke dalam kebatilan; apabila dalam keadaan marah, tidak menyebabkannya keluar dari kebenaran; dan apabila memiliki kemampuan, tidak menyebabkannya mengambil sesuatu yang bukan haknya.”

          Ibrahim Bin Ad-Ham (rahimahullah) berkata: “Para wali Allah selalu berpesan kepadaku apabila aku sedang bersama ahli dunia, hendaklah aku menasihati mereka dengan empat hal: “Barang siapa banyak berbicara, tidak akan merasakan kelazatan beribadah. Barangsiapa banyak tidurnya, takkan menemukan keberkahan dalam usianya. Barang siapa mengharapkan keredhaan kebanyakkan manusia, jangan berharap akan memperoleh keredhaan Allah. Dan barang siapa banyak bicara tentang apa yang bukan urusannya sendiri atau menggunjingkan orang lain, takkan keluar dari dunia ini dalam keadaan menyandang keislaman.”

          Seseorang bertanya kepada Hâtim Al-Ashamm: “ Dari mana anda makan ?”

          “ Dari khazanah Allah,” jawab Hâtim.

          “ Apakah dilimpahkan atas anda roti dari langit ?” tanya orang itu lagi.

          “Seandainya bumi ini bukan milik-Nya, pasti akan dilimpahkan-Nya dari langit.”

          “Anda hanya pandai mengucapkan kata-kata!”

          “Bukankah yang turun dari langit (yakni untuk para nabi) tidak lain adalah kata-kata juga?”

          “Ah, aku tidak sanggup berdebat dengan anda,” kata orang itu.

          “Itu kerana kebatilan tidak akan berjalan seiring dengan kebenaran.”

          Telah berkata Ibrahim Al-Khawwâs : “Ilmu itu semuanya tercakup di dalamdua kalimat: “Jangan membebani diri untuk memperoleh sesuatu yang memang telah dijaminkan sepenuhnya untuk anda (yakni rezeki), dan jangan mengabaikan apa yang telah dituntut dari anda (yakni untuk dikerjakan).”

          Sahl bin Abdullah Ash-Shufi berkata: :Barangsiapa hatinya bersih dari kekeruhan, penuh kearifan dengan pengalaman, dan telah sama baginya antara emas dan loyang, nescaya tak lagi membutuhkan sesuatu apa pun dari manusia selainnya.”

          Berkata Sariyy As-Saqathi : “ Barangsiapa mengenal Allah, akan merasakan hidup (yang sebenarnya).Barangsiapa mencintai dunia, akan kehilangan akal. Adapun orang yang berakal, akan selalu berkelana siang dan malam tanpa ada guna.”

          Berkata Abu Sulaiman Al-Dârâni : “Apabila nafsu manusia telah terbiasa menghindar dari dosa-dosa, roh mereka akan berkelana di alam malakut yang tinggi,dan kembali lagi kepada mereka dengan membawa berbagai hikmah yang indah-indah, tanpa harus diajarkan kepadanya oleh ilmuwan mana pun.”

          Berkata Al-Junaid” :Kami tidak memperoleh ilmu tasawuf dari kata si anu. Tapi kami memperolehnya dari menahan lapar, meninggalkan dunia dan memutuskan hubugan dengan apa yang hanya berupa kebiasaan dan kegemaran.”

          Seseorang dari kalangan sufi ditanya tentang apa itu tasawuf. Ia menjawab, “Itu adalah keluarnya seseorang dari setiap perilaku buruk, dan masuknya ia ke dalam setiap perilaku yang baik.”

          Syaikh AbdulKadir Al-Jailani (r.a) berkata : “Barangsiapa benar-benar mengetahui apa yang dicari, ringanlah baginya segala pengorbanan.”

          Kata beliau lagi: “Jadilah engkau, ketika bersama Al-Haqq (Allah Swt), seolah-olah tidak ada seorang pun makhluk, dan jadilah, ketika sedang bersama makhluk, seolah-olah engkau tak memiliki nafsu terhadap apa pun. Kerana jika engkau bersama Al- Haqq seolah-olah tak ada seorang pun makhluk, nescaya engkau akan ‘menemukan’ dan ‘mengenal’ dan dirimu pun ‘sirna’ (fana) dari segalanya. Dan jika engkau ketika bersama makhluk, seolah-olah tak memiliki nafsu apa pun, nescaya dirimu akan menjadi penuh keadilan dan ketakwaan dan terhindar dari segala beban.”

          Syaikh Abu Al-Hasan Al-Syâdzili r.a. berkata: “Orang kecintaanku berpesan kepadaku: “Janganlah melangkahkan kedua kakimu kecuali ke tempat di mana kau harapkan dapat menjumpai pahala Allah di sana. Janganlah duduk di mana pun kecuali di suatu tempat di mana engkau akan merasa aman dari pengaruh maksiat kepada Allah. Dan janganlah bersahabat kecuali dengan seseorang yang bisa membimbingmu kepada Allah, atau kepada perintah Allah. Namun sungguh sedikit sekali orang semacam itu.”

          Dan katanya lagi: “Barang siapa mengaku dirinya mengalami suatu hal (keadaan, kedudukan) bersama Allah, tapi tampak darinya salah satu di antara lima sifat tertentu, maka ia adalah pembohong besar, atau hilang akalnya. Kelima sifat itu adalah: (1) berpura-pura (bersikap riya’) ketika  melaksanakan ketaatan kepada Allah; (2) melepaskan anggota-anggota tubuhnya terlibatd alam kemaksiatan  kepada Allah; (3) serakah terhadap milik makhluk Allah yang lain; (4) gemar memfitnah dan mengumpat orang-orang yang taat kepada Allah; (5) tidak menaruh rasa hormat terhadap kaum Muslim sebagaimana diperintahkan Allah s.w.t.”

          Syaikh Ahmad (yang dikenal dengan nama Syaikh Zarruq r.a.) berkata; “Pokok-pokok ‘jalan’ para sufi ada lima: (1) bertakwa kepada Allah dalam keadaan sendirian mahupun ketika bersama orang lain. (2) mengikuti sunnah Nabi Saw., dalam perkataan atau perbuatan. (3) berpaling dari manusia ketika datang maupun pergi. (4) rela dan lapang dada sepenuhnya, terhadap apa yang diberikan Allah,s edikit maupun banyak. (5) kembali kepada Allah, dalam keadaan suka dan duka.”

          (Semoga Allah berkenan meredhai para tokoh itu semuanya, dan menjadikan saya dan kalian semua termasuk dari golongan mereka itu dengan kurnia-Nya, Amin!)

          Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah memberikan petunjuk kepada kita. Sungguh, tiada kita akan beroleh petunjuk ,sekiranya Allah tidak berkenan memberikan petunjuk-Nya kepada kita. Telah datang utusan-utusan Tuhan kita dengan membawa kebenaran. Apa saja rahmat yang Allah bukakan pintunya untuk manusia, tak seorang pun mampu menahannya, dan apa saja yang Allah cegah, tak seorang pun sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

          Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa semua yang telah saya wasiatkan kepada anda, telah pula saya wasiatkan kepada diri saya sendiri dan segenap rekan-rekan dan sahabat-sahabat saya khususnya, serta kepada siapa saja yang sampai kepadanya wasiat ini, di antara saudara-saudara kita kaum Muslimin pada umumnya.

          Salawat Allah dan salam-Nya semoga tercurahkan atas Nabi kita Muhammas Saw. Beserta keluarga dan para sahabat beliau.

          [Sumber: Amanah Hawi Al Khairat]

          21/04/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , | Leave a comment

          Meninggalkan perintah Fasiq dan Munafiq

          Munafiq Alim

          Seorang wanita datang kepada Hasan al-Basri ra seraya berkata, “Sesungguhnya aku punya anak gadis yang telah meninggal. Aku ingin agar bermimpi berjumpa dengannya. Ajarkan aku sesuatu padaku agar aku dapat bermimpi berjumpa dengannya.” Kemudian Hasan mengajarinya sesuatu. Maka wanita itu lalu bermimpi melihat anak gadisnya memakai pakaian aspal. Di lehernya ada rantai membelenggu. Serta kakinya pun diikat. Kemudian dengan rasa sedih dia menceritakan hal itu kepada Hasan. Setelah selang beberapa lama, Hasan bermimpi bertemu gadis itu di Syurga.

          Di kepalanya memakai mahkota. Gadis itu bertanya, “Wahai Hasan, akulah anak gadis wanita yang datang kepadamu, dan mengatakan demikian..Apakah engkau tidak mengenaliku?” Lalu Hasan berkata, “Apa yang menyebabkanmu berubah seperti apa yang aku lihat ini?” Gadis itu berkata, “Ada seorang lelaki melalui kami. Dia membaca selawat kepada Nabi SAW sekali. Sedang dalam kubur ada lima ratus lima puluh orang sedang diseksa.

          Kemudian ada suara berkata, “Wahai angkatlah mereka seksaan berkat selawat lelaki itu!” Berkat selawat kepada Nabi SAW sekali saja, mereka diampuni. Maka bagaimana dengan seseorang yang membaca selawat sejak lima puluh tahun, apakah tidak mendapatkan syafaar Nabi di hari Kiamat?”

          Firman Allah:

          Ertinya: “Orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, sesetengahnya serupa dengan yang lain. Mereka menyuruh yang mungkar dan melarang memperbuat yang makhruf, mereka menggenggam tangannya (bakhil). Mereka melupakan Allah dan Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu ialah orang-orang yang fasik. Allah telah menjanjikan Neraka Jahanam untuk orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan dan orang-orang kafir serta kekal di dalamnya. Itu cukup (untuk balasannya), Allah mengutuki mereka, dan untuk mereka seksaan yang abadi.”

          Maka Rasulullah segera bertanya lagi, “Mengapa engkau tidak menceritakan penduduk pintu ketujuh?” Lalu Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, janganlah engkau bertanya kepadaku tentang itu.” “Ceritakanlah kepadaku.” desak Nabi. Kemudian Jibril berkata: “Di situlah tempat orang-orang sombong dari umatmu yang mati sebelum bertaubat.”

          Kredit: Khilafah

          20/04/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

          Haram mengkhianati sesama Islam

          Hadith:

          Daripada Abu Hurairah katanya, sabda Rasulullah SAW, ”Seorang Muslim adalah saudara kepada muslim yang lain, dia tidak harus mengkhianatinya, mendustakan atau mendustainya, tidak juga membiarkannya (tanpa menolong atau melindunginya). Menjadi kewajipan antara orang Islam menjaga kehormatan, harta dan darahnya. Taqwa adalah di sini (sambil mengisyaratkan kedadanya). Sudah cukup seseorang itu untuk dianggap jahat sekiranya dia menghina saudaranya sesama Islam.” [Riwayat: at-Tirmizi, katanya hadis hasan]

          Huraian Hadith:

          1. Haram bagi orang Islam mengkhianati dan mendustakan orang Islam yang lain.

          2. Menjadi kewajipan orang Islam untuk memelihara dan menjaga maruah dan harta benda orang Islam yang lain.

          3. Haram menumpahkan darah Islam sesama.

          4. Menghina seorang muslim adalah dosa besar kerana muslim ada penghormatannya di sisi Allah SWT.

          5. Taqwa bukan perbuatan yang boleh dilihat atau perkataan yang boleh didengar, taqwa adalah sifat yang tersemat dihati sanubari, jika suatu perbuatan atau perkataan didorong oleh sifat itu maka perbuatan dan perkataan itu adalah dalil taqwa yang tersemat dalam hati, tetapi kadang-kadang perbuatan atau perkataan itu didorong oleh faktor luaran seperti riya’ dan ‘ujub.

            Sumber: JAKIM

          19/04/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

          Bercakap biar berakhlak sekali pun dengan musuh

          pp0653

          FIRMAN ALLAH SWT SURAH AL-ISRAK AYAT 53 YANG BERMAKSUD ,” dan Katakanlah (Wahai Muhammad) kepada hamba-hambaKu (yang beriman), supaya mereka berkata Dengan kata-kata Yang amat baik (kepada orang-orang Yang menentang kebenaran); Sesungguhnya Syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka (yang mukmin dan Yang menentang); Sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh Yang amat nyata bagi manusia.

          Penjelasan :

          Berdasarkan ayat 53 surah israk tadi,Allah menghendaki supaya kita orang beriman supaya menggunakan perkataan yang baik dan lemah lembut ketika berhubung dengan orang lain.Dalam hal ini maka peraturan berhubung dengan orang lain perlulah diamalkan setiap muslim , samada ia berhubung dengan sesama muslim ataupun orang yang bukan muslim .termasuk musuh sekalipun.

          Umumnya telah mengetahui bahawa bercakap kasar dan menyinggung perasaan orang lain boleh menimbulkan permusuhan dan perseteruan dengan sesama manusia .Oleh itu kita dapati banyak pemusuhan dan perseteruan itu berpunca dari kata –kata kasar yang kurang enak didengar yang didengar oleh seseorang .Bukan setakat permusuhan malahan kadang –kadang membawa kepada dendam .

          Seringkali terjadinya pertumpahan darah berpunca dari dendam menuntut pembalasan . Bertambah buruk apabila api permusuhan itu ditiup syaitan .

          Oleh hal yang demikian maka hendaklah berwaspada dan menjaga diri masing dari bersikap demikian.

          Jika kita teliti dengan masalah yang sering berlaku dalam keluarga dan masyarakat , kita dapati dalam banyak keadaan ianya berpunca dari percakapan buruk dan kesat yang dilafazkan oleh seseorang tanpa berfikir secara rasional bahawa perkataan yang keluarkan itu membuatkan orang lain marah kerpadanya .

          Malangnya sedikit benar orang memikirkan bahawa dengan menggunakan perkataan yang baik akan membuahkan persaudaraan yang rapat dan orang kasih kepada kita.Dngan mulut yang manis ia dapat menawan dan menarik orang lain , dengan yang demikian natijahnya akan mendapat ramai kawan .

          Sebenarnya kawan yang ramai boleh mendatangkan kebaikan kepada seseorang , kerana dengan rakan yang ramai maka mudahlah ia mendapat pertolongan jika ia berhajat kepada pertolongan .

          Kita hendak berkata – kata dengan baik , jangan menengking dan memaki hamun, perbuatan itu adalah sifat mazmumah yang dilarang dalam islam,sebalik kita diperintahkan supaya mengelurkan kata –kata yang lemah lembut dan sedap orang mendengarnya sebagai menghormati orang lain .

          Firman Allah dalam surahLoqman ayat 19 yang bermaksud :

          "Dan sederhanakanlah langkahmu semasa berjalan, juga rendahkanlah suaramu (semasa berkata-kata), Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keldai".

          Allah juga memerintah kepada Rasulullah SAW apabila berhubung dengan orang lain hendaklah dengan lemah lembut sebagaimana Nabi Musa dan Harun diperintahkan berdakwah kepada Firaun denga kata – kata lemah lembut , firman Allah SWT dalam surah Taha ayat 43-44 yang bermaksud :

          “43. "Pergilah kamu berdua kepada Firaun, Sesungguhnya ia telah melampaui batas Dalam kekufurannya.

          44. "Kemudian hendaklah kamu berkata kepadaNya, Dengan kata-kata Yang lemah-lembut, semoga ia beringat atau takut".

          Berktalah dengan baik dan lemah lembut ia boleh menarik orang lain kepada apa yang kita ucapkan , andainya kita bercakap kasar membuatkan orang akan menjauhkan diri dari kta kerana mereka benci dengan sikap yang demikian , firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 159 yang bermaksud :

          maka Dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu Wahai Muhammad), Engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah Engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu. oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kesalahan Yang mereka lakukan terhadapmu), dan pohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermesyuaratlah Dengan mereka Dalam urusan (peperangan dan hal-hal keduniaan) itu. kemudian apabila Engkau telah berazam (Sesudah bermesyuarat, untuk membuat sesuatu) maka bertawakalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang Yang bertawakal kepadaNya.

          Kesimpulan .

          Islam menunjukkan akhlak –akhlak yang baik kita bersemuka dengan orang lain,dengan cara kita bercakap dengan lemah lembut dan sopan .Dan melarang dari bercakap kasar dan kesat yang boleh menyinggung perasaan orang yang mendengarnya ,lakukan ia kepada sesiap sahaja hatta kepada musuh sekalipun.

          Adab yang yang disarankan ini adalah sangat baik demi menjaga nama baik kita dan menjaga hati kawan kita supaya tidak sakit hati dengan hal demikian menambahkan lagi ukhwah kita sesama muslim dan muhibbah dengan bukan Islam .

          [Sumber: Sautulhaq.blogspot.com]

          08/04/2013 Posted by | Politik dan Dakwah, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

          Mengenai Zikir Menari

          Tarian Sufi Harus

          Zikir Menari


          SOALAN :
          Selesai satu ceramah di masjid kami dalam isu zikrullah, ada seorang bertanya penceramah. Bolehkah majlis zikrullah dilakukan dalam keadaan berdiri dan menari-nari macam berkhayal-khayalan seperti yang pernah dilakukan oleh sesetengah golongan tarekat sufi. Penceramah tersebut secara spontan menjawab : “Rasa saya itu adalah haram. Mana boleh zikrullah yang begitu murni dicampurkan dengan tarian. Tarian itu haram.” Kami jadi keliru. Minta pandangan Dato’. Terima kasih. ; Jemaah Ragu, Sepang.

          – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

          JAWAPAN OLEH DATO’ DR HARON DIN :

          Jawapan itu bergantung kepadaa pengetahuan yang ada pada penjawabnya.Kadang-kadang ada yang mengikut ‘rasa’, seperti soalan anda di atas, penjawab itu berkata rasanya tidak boleh. Mungkin juga ada orang lain yang akan menjawab rasanya boleh.Jawapan bagi persoalan agama bukan boleh dimain dengan ‘rasa’. Ia memerlukan sandaran hukum yang perlu dirujuk kepada sumber yang sahih.

          Berkenaan dengan zikrullah, Allah SWT berfirman (mafhumnya): “Iaitu orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): ‘Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.’” (Surah ‘Ali-’Imran ayat 191).

          Ayat ini memberi isyarat bahawa zikrullah boleh dilakukan dalam pelbagai keadaan dan gaya.

          Ummul Mukminin Aisyah r.ha. pernah melaporkan bahawa Rasulullah SAW berzikrullah (berzikir kepada Allah) dalam semua keadaan. Sedang berjalan, menaiki kenderaan, di atas kenderaan, berbaring, duduk dan bermacam lagi pernah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.

          Dalam satu riwayat pernah diceritakan bahawa Jaafar bin Abi Talib r.a (sepupu Rasulullah), pernah menari-nari melenggok lentuk di hadapan Rasullullah SAW sebaik sahaja beliau mendengar Rasulullah SAW menyebut kepada beliau, “Allah menjadikan rupa parasmu seiras dengan Allah menciptakan daku.”

          Mendengar kata-kata yang seindah dan semurni itu, terus dita’birkan dengan menari-nari di hadapan Rasullullah SAW. Tingkah laku beliau itu atau ‘body language’ beliau tidak ditegah atau ditegur oleh Rasulullah SAW.

          Di sinilah dikatakan atau dijadikan asal usul sandaran bahawa menari-nari sambil berzikir kepada Allah yang dilakukan oleh ahli tarikat atau golongan sufiyah, ada sandarannya.

          Sahlah berlaku tarian di majlis zikir yang dihadiri oleh ulama besar yang muktabar. Antara mereka ialah al-Imam Izzuddin Abdus Salam dan tidak diengkarinya.

          Ditanya Shaikhul Islam Sirajuddin al-Balqini tentang persoalan tari-menari dalam majlis zikir, lalu dijawab beliau dengan mengiyakannya, yakni boleh dilakukan.

          Ditanya al-A’llamah Burhanuddin al-Abnasi, perkara yang sama, maka beliau menjawab dengan membolehkannya.

          Ditanya ulama besar dalam mazhab Hanafi dan Maliki, semuanya menjawab, “Tidak mengapa dan boleh dilakukan.”

          Semua jawapan ini dibuat dengan bersandarkan kepada ayat dalam Surah ‘Ali-’Imran di atas berserta hadis yang diriwayatkan oleh Jaafar bin Abi Talib r.a.

          Adapun tarian yang dilarang adalah tarian yang bercampur lelaki perempuan yang bukan mahram, lebih-lebih lagi ia diadakan dalam majlis yang kemaksiatannya ketara seperti berpakaian tidak menutup aurat, diiringi dengan muzik dan suasana yang mengundang kepada syahwat dan lain-lain.

          Itulah yang disebut haram. Haram bukan soal tarian, tetapi dilihat dari aspek persembahan, suasana dan dilihat dengan jelas kemaksiatan.

          Adapun tarian dalam zikrullah, adalah tarian khusus yang lahir daripada rasa kesyahduan kepada Allah, dengan kelazatan munajat dan bertaladdud (berseronok kerana zikrullah).

          Perasaan seronok dan lazat itu yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya, merupakan anugerah Allah kepada mereka.

          Mereka hendak menunjukkan bahasa badan (body language) mereka dengan menari-nari tanda keseronokan, tetapi dibuat kerana Allah SWT.

          Inilah yang disebut di dalam Al-Quran (mafhumnya): “(Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah. Ketahuilah dengan “zikrullah” itu, tenang tenteramlah hati manusia.” (Surah ar-Ra’d, ayat 28).

          Ketenangan adalah suatu kenikmatan. Hendak menghargai kenikmatan itu adalah sesuatu yang boleh dita’birkan dengan isyarat, dengan kata-kata, dengan bahasa badan yang dijelmakan dalam bentuk tarian untuk menyatakan kesyukuran dan kenikmatan yang mereka perolehi hasil anugerah Allah.

          Atas itulah pada pendapat saya bahawa tarian dalam majlis-majlis sufi itu adalah harus.

          Untuk menyatakan haram atau tidak boleh memang mudah, tetapi harus disandarkan kepada dalil. Jika tidak ada dalil atau hujah, berbaliklah kepada hukum fekah bahawa, “Asal semua perkara adalah harus sehingga ada dalil yang membuktikannya haram.”

          Oleh itu berzikrullah yang difahami dari ayat al-Quran di atas, hadis Rasulullah SAW dan pandangan ulama muktabar, maka saya menyatakan ia harus dan bukanlah haram.

          [Oleh: Prof Datuk Dr Haron Din – Artikel ni diambil daripada Harakah Bil.1463 | 19-22 Syaaban 1430 | 10-13 Ogos 2009 | Sisipan Fikrah di Kolum “Bersama Dato’ dr Harun Din”]

          Siapakah ulamak yang membolehkan menggerak-gerakkan badan ketika berzikir ?

          Jawapan :

          Di dalam kitab Al Mausu’ah al Yusufiyyah fi Bayan Adillah Ash Shufiyyah, Syeikh Yusuf Khathor Muhammad menyenaraikan dalil-dalil daripada al Quran , hadith dan perkataan ulama tentang bolehnya menggerak-gerakkan badan ketika berzikir.

          Antara ulama yang membolehkannya ialah

          al Imam as Sayyid al Kabir Ahmad Ar Rifa’i,

          al Hafiz Ibn Hajar al Asqolani,

          al Imam Khair adDin ar Ramli,

          Imam Al Hafiz Jalaluddin As Sayuthi,

          Al Allamah Muhammad as Safarini al Hambali,

          Al Imam as Sayyid Abu Madyan,

          al Imam Asy Syaikh As Sanusi,

          al Imam al Allamah al Kattani,

          al Imam Ibn Layyun at Tajibi,

          al Imam Ibn Abidin,

          Syaikh Abd al Ghani an balusi

          dan Syaikh Muhammad Sai’d al Burhani

          [Lihat al Mausu’ah al Yusufiyyah fi Bayan Adillah Ash Shufiyyah, ms 178-192]

          Ustaz Muhadir bin Haji Joll, Majalah Q & A Bil 20, Galeri ilmu Sdn Bhd.

          ***

          Berkenaan dengan zikrullah, Allah SWT berfirman (mafhumnya): “Iaitu orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): ‘Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.’” (Surah ‘Ali-’Imran ayat 191).

          Ayat ini memberi isyarat bahawa zikrullah boleh dilakukan dalam pelbagai keadaan dan gaya.

          Ummul Mukminin Aisyah r.ha. pernah melaporkan bahawa Rasulullah SAW berzikrullah (berzikir kepada Allah) dalam semua keadaan. Sedang berjalan, menaiki kenderaan, di atas kenderaan, berbaring, duduk dan bermacam lagi pernah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.

          Dalam satu riwayat pernah diceritakan bahawa Jaafar bin Abi Talib r.a (sepupu Rasulullah), pernah menari-nari melenggok lentuk di hadapan Rasullullah SAW sebaik sahaja beliau mendengar Rasulullah SAW menyebut kepada beliau, “Allah menjadikan rupa parasmu seiras dengan Allah menciptakan daku.”

          Mendengar kata-kata yang seindah dan semurni itu, terus dita’birkan dengan menari-nari di hadapan Rasullullah SAW. Tingkah laku beliau itu atau ‘body language’ beliau tidak ditegah atau ditegur oleh Rasulullah SAW.

          Di sinilah dikatakan atau dijadikan asal usul sandaran bahawa menari-nari sambil berzikir kepada Allah yang dilakukan oleh ahli tarikat atau golongan sufiyah, ada sandarannya.

          Sahlah berlaku tarian di majlis zikir yang dihadiri oleh ulama besar yang muktabar. Antara mereka ialah al-Imam Izzuddin Abdus Salam dan tidak diengkarinya.

          Ditanya Shaikhul Islam Sirajuddin al-Balqini tentang persoalan tari-menari dalam majlis zikir, lalu dijawab beliau dengan mengiyakannya, yakni boleh dilakukan.

          Ditanya al-Allamah Burhanuddin al-Abnasi, perkara yang sama, maka beliau menjawab dengan membolehkannya.

          Ditanya ulama besar dalam mazhab Hanafi dan Maliki, semuanya menjawab, “Tidak mengapa dan boleh dilakukan.”

          Semua jawapan ini dibuat dengan bersandarkan kepada ayat dalam Surah ‘Ali-’Imran di atas berserta hadis yang diriwayatkan oleh Jaafar bin Abi Talib r.a.

          Adapun tarian yang dilarang adalah tarian yang bercampur lelaki perempuan yang bukan mahram, lebih-lebih lagi ia diadakan dalam majlis yang kemaksiatannya ketara seperti berpakaian tidak menutup aurat, diiringi dengan muzik dan suasana yang mengundang kepada syahwat dan lain-lain.

          Itulah yang disebut haram. Haram bukan soal tarian, tetapi dilihat dari aspek persembahan, suasana dan dilihat dengan jelas kemaksiatan.

          Adapun tarian dalam zikrullah, adalah tarian khusus yang lahir daripada rasa kesyahduan kepada Allah, dengan kelazatan munajat dan bertaladdud (berseronok kerana zikrullah).

          Perasaan seronok dan lazat itu yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya, merupakan anugerah Allah kepada mereka.

          Mereka hendak menunjukkan bahasa badan (body language) mereka dengan menari-nari tanda keseronokan, tetapi dibuat kerana Allah SWT.

          Inilah yang disebut di dalam Al-Quran (mafhumnya): “(Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah. Ketahuilah dengan “zikrullah” itu, tenang tenteramlah hati manusia.” (Surah Ar-Rad, ayat 28).

          Ketenangan adalah suatu kenikmatan. Hendak menghargai kenikmatan itu adalah sesuatu yang boleh dita’birkan dengan isyarat, dengan kata-kata, dengan bahasa badan yang dijelmakan dalam bentuk tarian untuk menyatakan kesyukuran dan kenikmatan yang mereka perolehi hasil anugerah Allah.

          Atas itulah pada pendapat saya bahawa tarian dalam majlis-majlis sufi itu adalah harus.

          Untuk menyatakan haram atau tidak boleh memang mudah, tetapi harus disandarkan kepada dalil. Jika tidak ada dalil atau hujah, berbaliklah kepada hukum fekah bahawa, “Asal semua perkara adalah harus sehingga ada dalil yang membuktikannya haram.”

          Oleh itu berzikrullah yang difahami dari ayat al-Quran di atas, hadis Rasulullah SAW dan pandangan ulama muktabar, maka saya menyatakan ia harus dan bukanlah haram.

          Makna dibalik menggerakkan anggota badan

          Lazim kita melihat dalam berbagai kesempatan baik dalam tahlil, wirid, ataupun acara lain orang-orang menggeleng-gelengkan kepala ketika berdzikir. Ternyata setelah dipertanyakan asal-usul gerakan tersebut, jarang sekali yang dapat menerangkan. Jangan-jangan hal itu merupakan pengaruh tradisi Yahudi?

          Atau memang murni ajaran Rasulullah SAW. mengingat belum ditemukan hadits yang menerangkan hal itu. Hanya saja sebagian masyarakat mengakui bahwa gerakan itu mempermudah konsentrasi dalam berdzikir. Tentunya hal ini sangat bernilai positif. Akan tetapi bila dipertanyakan apakah gerakan itu sunnah, atau makruh atau apapun hukumnya?  maka hal yang positif tidak selamanya sejalan dengan hukum syariat.

          Namun demikian, guna mendapatkan informasi mengenai hukum menggeleng-gelengkan kepala dalam berdzikir, patut kiranya menelusuri terlebih dahulu apa itu dzikir.

          Dalam al-Baqarah 152 Allah memerintahkan kepada makhluqnya untuk senantiasa mengingat-Nya.

          فاذكرونى اذكركم…

          “Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu”

          artinya dzikir adalah sebuah tindakan yang bertujuan untuk mengingat Allah swt sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam konteks “ingat kepada Allah” ini umat Islam tidak pernah lepas dari tiga hal: doa, wirid dan zikir. Doa adalah permintaan atau permohonan sesuatu kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Wirid merupakan bacaan tertentu untuk mendapatkan ‘aliran’ berkah dari Allah. Sedangkan zikir adalah segala gerak-gerik dan aktivitas yang berobsesi pada kedekatan atau taqarrub kepada Allah. Me-lafadz-kan atau melafalkan kata-kata tertentu yang mengandung unsur ingat kepada Allah, juga termasuk zikir. Zikir sangat penting karena dalam pandangan kesufian ia merupakan langkah pertama cinta kepada Allah.

          Ada dua macam zikir atau ingat kepada Allah: pertama, dzikr bil-lisan, yaitu mengucapkan sejumlah lafaz yang dapat menggerakkan hati untuk mengingat Allah. Zikir dengan pola ini dapat dilakukan pada saat-saat tertentu dan tempat tertentu pula. Misalnya, berzikir di mesjid sehabis salat wajib. Kedua, dzikr bil-qalb, yaitu keterjagaan hati untuk selalu mengingat Allah. Zikir ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, tidak ada batasan ruang dan waktu. Pelaku sufi lebih mengistimewakan dzikr bil-qalb ini karena implikasinya yang hakiki. Meskipun demikian, sang dzakir (seseorang yang berzikir) dapat mencapai kesempurnaan apabila ia mampu berzikir dengan lisan sekaligus dengan hatinya.

          Dengan demikian, orientasi zikir adalah pada penataan hati atau qalb. Qalb memegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena baik dan buruknya aktivitas manusia sangat bergantung kepada kondisi qalb.

          Oleh karena itulah semulia-mulia makhluq adalah mereka yang senantiasa berdzikir mengingat Sang Pencipta. Dalam Ali Imran 191 diterangkan bahwa:

          الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

          (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

          Ayat di atas juga dapat digunakan sebagai petunjuk bahwasannya berdzikir kepada Allah swt sangat dianjurkan dalam berbagai kesempatan dan kondisi. Tidak hanya ketika khusyu’ berdiam diri (tuma’ninah) tetapi juga ketika beraktifitas, qiyaman wa qu’udan baik berdiri maupun duduk, bahkan juga ketika berbaring wa a’la junubihim. Apalagi hanya sekedar menggeleng-gelengkan kepala, selagi hal itu memiliki pengaruh yang positif maka hukumnya boleh-boleh saja. bahkan disunnahkan. Hal inilah yang diinformasikan oleh kitab Fatawal Khalili ala Madzhabil Imamis Syafi’i:

          … علمت أن الحركة فى الذكر والقرأة ليست محرمة ولا مكروهة بل هي مطلوبة فى جملة أحوال الذاكرين من قيام وقعود وجنوب وحركة وسكون وسفر وحضر وغني وفقر …

          … saya jadi mengerti bahwasannya menggerakkan (anggauta badan) ketika berdzikir maupun membaca (al-qur’an)  bukanlah sesuatu yang haram ataupun makruh. Akan tetapi sangat dianjurkan dalam semua kondisi baik ketika berdiri, duduk, berbaring, bergerak, diam, dalam perjalanan, di rumah, ketika kaya, ataupun ketika faqir…

          Dengan demikian teringat kita dengan tarian sufi yang dinisbatkan kepada Jalaluddin Rumi. Bagaimana dzikir juga diapresiasikan dalam seni tari.

          26/03/2013 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | , , , | Leave a comment

          Tukang lawak dalam pandangan Islam

          b0220

          Di zaman permulaan islam dahulu, ugama berkembang melalui pengorbanan, bukan dengan gelak ketawa. Itulah zaman terbaik yang mana pengorbanan Nabi dan sehabat telahmengalirkan darah dan di selang pula dengan air mata, seterusnya hidayat tersebar. Telah banyak kali terakam dalam hadis akan Nabi Muhammad SAW yang selalu menangis kerana risaukan ummat, para sahabat pun sama selalu menangis bila mengenangkan penderitaan ummat.

          Kita hari ini bila bercakap bab ugama, banyak gelak dengan lawak ustaz, sedang di zaman Nabi, mereka lebih banyak menangis bila bercakap bab ugama, Abdullah bin Mas’ud berkata,: Apabila aku mengaji didepan Nabi, aku lihat kedua-dua mata Nabi berlinangan dengan air mata". Bila Nabi cerita pasal kubur, saidina Usman menangis, Nabi cerita pasal titian sirat, Abdullah bin Rawahah pula menangis. Nabi cerita sifat orang munafik, Hanzalah menangis, Nabi cerita ugama telah sempurna, Abu Bakar menangis, dan banyak lagi,. kita hari ini, apa sahaja ustaz cerita, akan berkakhir dengan gelak ketawa, adohai.., apa yang kelakar sangat?

          Tak pernah dengar orang terdahulu yang gelak sampai bisu, tapi Ibnu Umar telah menangis kerana takutkan Allah s.w.t. sehingga matanya buta. Katanya kepada seorang yang memerhatikannya: "Agaknya kamu hairan melihat aku menangis? Matahari pun menangis kerana takutkan Allah s.w.t…"

          Kadang kadang Nabi cakap tak banyakpun, terus Abu Bakar, Umar, usman, Ali akan berlinang air mata.. lantas Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepada mereka:" Tangisanmu telah menyebabkan para malaikat menangis bersama-sama."

          Sabda Nabi Mubammad s.a.w lagi.:"Wajah yang dibasahi oleh air mata kerana takutkan Allah s.w.t.., walau bagaimana sedikit pun air mata itu, terselamat dari api neraka."kemudian Nabi suruh sahabat menangis mengenangkan dosa-dosa.

          Dalam satu hadis lain pulak, Nabi saw bersabda “Banyak tertawa dan tergelak-gelak itu mematikan hati, Mereka yang banyak tertawa di dunia nescaya banyak menangis di akhirat.”

          Dari Abu Hurairah r.a, telah bersabda Nabi s.a.w bahawasanya seorang lelaki bercakap dengan satu perkataan yang dia tidak melihat benda yang diperkatakannya maka dia akan terjun ke dalam neraka selama 70 harif – Hadis Hassan
          Daripada Bahzi bin Hakim daripada bapanya daripada datuknya telah berkata ia, aku mendengar akan Nabi s.a.w bersabda, celakalah bagi orang bercakap dengan satu cakap dengan satu cakap supaya orang tertawa dia akan kaumnya sedangkan dia berbohong, celakalah ia celakalah ia.. …(dipetik dari kitab Bahrul Mahzi Jilid 16).

          (Kiriman: Ummu Adriana)

          Hukum Jadi Pak Lawak

          23/02/2013 Posted by | Ibadah, Renungan & Teladan, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

          Kelebihan meninggalkan perbalahan walaupun dia di pihak yang benar

           

          b0408

          Daripada Abu Umamah r.a. berkata : Rasulullah SAW bersabda :

          “Sesiapa yang meninggalkan perbalahan, sedangkan dia di pihak yang salah, nescaya dibinakan untuknya sebuah rumah di sekitar Syurga dan sesiapa meninggalkan perbalahan sedangkan dia di pihak yang benar, nescaya dibinakan baginya sebuah rumah di tengah Syurga. Dan sesiapa yang memperelokkan perangainya, nescaya dibinakan baginya tempat yang paling tinggi di dalam Syurga”.(H.R. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Baihaqi)

          Daripada Abu Darda’, Abu Umamah, Waiylah bin Asyqa’ dan Anas bin Malik. Mereka berkata : “Telah keluar Rasulullah SAW telah marah-marah dengan semarah-marahnya. Yang sebelum ini tidak pernah Rasulullah marah seperti itu. Kemudian kami bercakap,-cakap “. Maka Nabi SAW bersabda :

          “Bertenang Wahai Umat Muhammad, sesungguhnya telah binasalah orang yang sebelum kamu ini (perbalahan), tinggalkanlah perbalahan yang boleh mendatangkan sedikit kebaikan. Tinggalakanlah perbalahan…sesungguhnya orang mukmin itu tidak berbalah. Tinggalkanlah perbalahan, sesungguhnya perbalahan itu mendatangkan kerugian. Tinggalkanlah perbalahan, memadailah dosa kita jika kita sentiasa dalam perbalahan.Sesungguhnya aku tidak memberikan syafaat baginya (orang yang berbalah) pada hari Kiamat. Tinggalkanlah perbalahan, sesungguhnya aku memberi jaminan dengan tiga buah rumah di dalam Syurga : Di dalam taman-tamannya, di tengah-tengahnya dan tempat yang paling tinggi iaitu untuk orang yang meninggalkan perbalahan. Sesungguhnya ia perkara pertama yang ditegah dari Tuhanmu selepas (tegahan) menyembah berhala iaitu perbalahan”. (H.R. Tabrani).

          16/02/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , | 1 Comment

          Tanda tanda kita takut kepada Allah

          Foto dhekkazone.blogspot.com

          Tanda-tanda takut kepada Allah SWT kelihatan dalam tujuh perkara :

          1- Lidahnya tidak berdusta, mengumpat, menyebar fitnah, berbual kosong dan banyak bercakap tetapi lidah orang yang bertaqwa sentiasa berzikir kepada Allah SWT, membaca Al-Quran dan muzakarah ilmiah.

          2- Hatinya tiada permusuhan,kebodohan, kedengkian pada sahabat kerana kedengkian akan menghapuskan segala pahala kebaikan.

          3- Pandangannya tidak suka memandang makanan, minuman, pakaian atau lain-lain perkara haram dan tidak terpikat pada dunia. Rasulullah SAW bersabda ” Sesiapa memenuhi matanya daripada perkara Haram, maka Allah SWT akan memenuhinya dengan daripada api pada hari Kiamat .

          4- Perutnya tidak dipenuhi dengan hasil haram, Rasulullah SAW telah bersabda ” Setiap suapan daripada yang haram masuk ke perut seseorang, maka segala Para Malaikat di langit dan di bumi melaknatnya selama suapan itu berada dalam perutnya. Jika dia mati dalam keadaan demikian, maka tempatnya di dalam Neraka “.

          5- Kedua tangannya tidak diguna untuk perkara haram malah kedua tangannya diguna untuk perkara keTaatan kepada Allah SWT.

          6- Pada kedua kakinya tidak melangkah ke tempat maksiat , malah kedua kakinya hanya melangkah ke tempat Ketaatan kepada Allah SWT.

          7- Segala Ketaatan kepada Allah SWT bukanlah bertujuan Riya’ atau berbersifat Munafiq tetapi segala Ketaatannya adalah Ikhlas kepada Allah SWT semata-mata.

          Lihatlah Ganjaran dan Janji Allah SWT kepada mereka yang bertaqwa ( Takut kepada Allah SWT )

          Sesungguhnya orang yang bertaqwa dalam kebun-kebun dan mata air ( Syurga )
          Surah Al-Hijr : 45.

          Kitab Penenang Jiwa Imam Al-Ghazali .

          12/02/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

          Semua pihak wajib bersatu untuk mencapai keredhaan Allah

          Apabila semua pihak mencari keredhaan Allah, maka secara automatik hati hati mereka mudah disatukan.Allah menegaskan dalam firmanNya yang bermaksud: “Dan sesungguhnya inilah jalan Ku yang lurus, maka ikutlah dia dan jangan kamu ikut jakan jalan (lainnya) sebab jalan jalan itu akan mencerai beraikan kamu dari jalan Nya.Demikian Allah berwasiat kepada kamu mudah mudahan kamu bertaqwa”. (Surah al An’am 6:153).

          Perpecahan berlaku kerana ada pihak yang menyimpang dari jalan Allah.Mereka mengambil sistem hidup selain Islam dan mengambil peraturan selain Islam untuk mengatur diri, rumah tangga, masyarakat, negara dan dunia. Hakikatnya, merekalah pemecah belah perpaduan.Dalam al Quran, Allah telah menegaskan yang bermaksud: “Dan janganlah kamu termasuk orang yang menyekutukan Allah, iaitu orang yang memecahbelahkan agama mereka dan mereka menjadi berpuak puak.Tiap tiap golongan berasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Surah al Rum 30: 31-32)

          Perpecahan berlaku kerana ada pihak yang menjadikan dunia sebagai fokus dalam kehidupan. Saperti mengejar kuasa, pangkat dan kemewahan duniawi. Tidak salah mencari, mengurus dan mentadbir dunia, tetapi jangan sekali kali mencintainya.Jika cinta dunia menguasai hati, maka perpaduan akan sukar dicapai. Pada waktu itulah meskipun jumlah umat Islam ramai, tetapi mereka tidak bersatu. Pada permukaannya sahaja kelihatan bersatu tetapi hati berpecah belah.Allah berfirman yang bermaksud: “ Kamu lihat sahaja mereka bersatu tetapi hati mereka berpecah belah.” (Surah al- Hashr 59:14)

          Hati tidak lagi mencintai Allah, sebaliknya sangat mencintai dunia dan takut mati. Tanpa perpaduan umat Islam hanya umpama buih di lautan. lalu berlakulah saperti yang di tegaskan oleh Rasulullah SAW sejak lama dulu.

          Baginda bersabda yang bermaksud: “ Hampir hampir umat lain bersekongkol mengeroyok ( mengerumuni) kalian saperti orang yang makan mengeroyok makanan daripada hidangan.” Seseorang bertanya adakah kita pada waktu itu sedikit, wahai Rasulullah?”. baginda menjawab: “Bahkan kalian banyak tetapi kalian ibarat buih banjir.Dan Allah menghilangkan rasa takut daripada hati hati musuhmu terhadap kalian, lalu Allah memasukkan di hatimu (penyakit) wahn”. Kami (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah  apa itu wahn? Baginda menjawab: “ Cinta dunia dan benci mati.” (HR Ahmad dan Abu Daud)

          Itulah antara syarat untuk merasai keindahan perpaduan. Jika syarta syarat itu tidak di penuhi, maka tidak mungkin perpaduan akan dirasai kemanisannya. Sekiranya kita tidak dapat merasai kemanisan perpaduan, mana mungkin kita berusaha untuk mencapai dan mempertahankan?

          Akibatnya, kita akan terus tega dan rela berpecah walupun perpecahan itu pahit, perit dan sangat menyeksakan.Oleh itu, fikirkanlah, jika harga perpaduan terlalu mahal……….cuba terus berpecah!

          (Sumber rujukan: Majalah Solusi No 33 Tahun 2011)

          06/02/2013 Posted by | Politik dan Dakwah, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

          Tidak akan wujud perpaduan apabila ada sifat Takbur

          Penyakit takbur akan menyebabkan ada pihak yang memandang rendah orang lain.Dia merasakan dirinya yang paling baik, pandai dan mulia.Dia akan menjadi manusia yang tetutup pada pandangan, teguran dan bantuan orang lain. Orang yang takbur tidak mengenal erti dan nilai kerjsama kerana merasakan dirinya serba boleh dan serba mampu.

          Individu yang takbur tidak akan mampu melakukan amalan amalan yang boleh menyuburkan rasa persaudaraan saperti memberi salam, betanya khabar, menziarahi rumah saudara mara dan handai taulan, memberi pujian, meminta nasihat mahupun menerima teguran. Amalan amalan inilah yang akan membina perpaduan tetapi orang takbur tidak akan melakukannya kerana itu runtuh lah perpaduan.

          Manakala kumpulan yang takbur pula sentiasa mendabik dada merasakan bahawa hanya kumpulan nya yang boleh melakukan yang terbaik. Kumpulan yang takbur ini akan sentiasa menghina kumpulan lain. Maka caci mencaci, kata mengata, fitnah memfitnah akan berleluasa dan menjadi budaya di tengah tengah masyarakat. Hanya keran kuasa, harta dan nama, kumpulan atau individu yang takbur sanggup menggadai perpaduan.

          Menyedari bahaya takbur yang merosakkan perpaduan inilah, Imam al Ghazali rhm. menyarankan agar setiap kali melihat orang melakukan dosa, hendaklah di benci dosanya, bukan orang yang melakukannya dan jangan sekali kali berasa lebih baik daripada orang yang berdosa itu.

          Beliau menyarankan agar kita mengatakan kepada diri, mungkin orang melakukan dosa itu kerana dia kurang ilmu berbanding kita yang melakukannya dengan ilmu. Jika dia lebih tua……..mungkin dia lebih banyak pahala berbanding kita. Pendek kata, jangan ada unsur menghina orang lain!

          Perpaduan hanya dapat dicapai apabila ada rasa tawaduk.Dengan sifat itu Rasulullah SAW mempersaudarakan para sahabat yang mempunyai pelbagai latar belakang kehidupan, bangsa, warna kulit dan tahap ilmu –  saudagar,hamba abdi, terpelajar, buta huruf, Rom, Parsi dan Habshi.

          (Sumber: Solusi Keluaran 33 Tahun 2011)

          03/02/2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , | Leave a comment

          Bila diharuskan memperkatakan keburukan orang lain?

          Mengatalah tu….

          1. Hukum asal memperkatakan keburukan orang lain adalah haram. Jika keburukan itu benar-benar dilakukannya lalu kita memperkatakannya -tanpa suatu desakan yang diiktiraf oleh Syariat- kita dianggap mengumpat (ghibah). Jika keburukan itu tidak dilakukannya (yakni kita yang mengada-adakannya), kita telah melakukan dosa fitnah dan juga ghibah (umpatan). Sama ada mengumpat (ghibah) atau fitnah, kedua-duanya adalah dosa besar, apatah lagi jika menggabungkan kedua-duanya. Dalam Soheh Muslim, terdapat hadis dari Abu Hurairah yang menceritakan; Nabi pernah bertanya para sahabatnya; “Tahukah kamu apa itu ghibah (umpatan)?”. Mereka menjawab; “Allah dan RasulNya lah yang paling tahu”. Nabi menjawab; “Ghibah (umpatan) ialah kamu menyebut tentang saudara kamu sesuatu yang ia tidak suka”. Lalu seorang bertanya Nabi; “Apa pandangan kamu ya Rasulullah jika apa yang aku sebutkan tentang saudaraku benar-benar ada pada pada dirinya”. Jawab Nabi; “Jika ia benar-benar ada pada dirinya, lalu kamu menyebutnya, maka kamu mengumpatinya. Namun jika ia tidak ada padanya, lalu kamu menyebutnya (dengan mereka-rekanya), maka kamu telah mengadakan suatu pembohongan terhadapnya” (HR Imam Muslim, Kitab al-Birr wa as-Silah, bab Tahrim al-Ghibah).

          2. Bagi masalah ghibah (iaitu menceritakan/mendedah keburukan orang lain atau menyebut orang lain dengan suatu nama yang buruk) dikecualikan bagi enam situasi berikut mengikut yang dijelaskan oleh para ulamak (antara Imam an-Nawawi dalam kitabnya Syarah Soheh Muslim dan Riyadhus-Salihin);

          A) Apabila diri dizalimi; Harus orang yang dizalimi membuat pengaduan kepada pemerintah, qadhi atau pihak berkuasa lainnya dengan menceritakan keburukan atau kezaliman orang yang menzaliminya.

          B) Memohon bantuan untuk mengubah suatu kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiat kepada kebenaran. Seperti seorang melaporkan kapada pihak yang berkuasa mengubah kemungkaran; “Si Fulan telah melakukan perbuatan sekian sekian, tegahlah ia”.

          C) Bertujuan mendapatkan fatwa (pandagan agama); Seperti Hindun yang mengadu kepada Nabi sikap kedekut suaminya. Ia berkata kepada Nabi; “Ya Rasulullah, suamiku Abu Sufyan seorang yang kedekut, bolehkah aku mengambil wangnya tanpa diketahuinya?”.

          D) Memberi peringatan kepada kaum muslimin agar berjaga-jaga dari suatu kejahatan; Seperti mendedahkan kepalsuan seorang yang pura-pura alim atau pembawa ajaran sesat supaya orang ramai mengetahui hakikat dirinya yang sebenar. Begitu juga, mendedahkan penyelewengan seorang pemimpin dalam mentadbir rakyat kepada orang yang berkuasa melantiknya agar mereka tidak tertipu untuk terus memberi kuasa kepadanya.

          E) Seorang yang berterang-terangan melakukan dosa atau kesesatan seperti berterang-terang minum arak, berterang-terang menganut fahaman sesat atau seumpamanya. Orang sebegini harus disebut tentang dirinya dengan maksiat yang dilakukannya secara terang itu. Adapun maksiat yang dilakukannya secara tersembunyi, tidak harus disebut kecuali ada suatu sebab yang lain.

          G) Untuk memperkenalkan seseorang; Harus menyebut seseorang dengan suatu gelaran jika ia masyhur dikenali dengan gelaran itu. Haram menyebut suatu gelaran dengan tujuan merendahkan martabat orang lain.

          Dalam enam situasi di atas, dibolehkan kita memperkatakan/mendedahkan keburukan orang lain kerana ia mempunyai tujuan yang diharuskan Syariat untuk maslahah yang lebih besar dari maslahah individu yang diperkatakan keburukannya.

          3. Oleh kerana hukum mengumpat adalah haram pada hukum asalnya dan dosanya adalah besar, maka orang yang terpaksa menggunakan pengecualian di atas ia hendaklah memerhatikan perkara berikut;

          A) Memerhati niat dalam hatinya; apakah ia benar-benar terpaksa memperkatakannya atau hanya lahir dari keinginan nafsunya sahaja. Jika hati benar-benar berkata; “Aku wajib mendedahkannya demi agama dan ummah”, maka bertawakkallah kepada Allah dan teruskanlah apa yang diyakini. Namun jika hati berkata; “Ini hanya keinginan nafsu sahaja”, batalkanlah niat untuk berkata tentang orang lain itu, kerana padah yang bakal kita terima tidak padan dengan sedikit kepuasan yang kita dapat.

          B) Ia hendaklah mengukur natijah darinya; adakah dengan memperkatakannya akan membawa kesan lebih baik atau dengan senyap sahaja dan mencari pendekatan lain yang lebih baik untuk membetulkan orang terbabit.

          C) Setiap yang dilakukan kerana darurat (kerana hukum asalnya adalah haram) tidak harus berlebihan, yakni dilakukan sekadar perlu sahaja.

          D) Maksiat yang dilakukan berkait dengan orang lain, yakni pendedahan terpaksa dilakukan untuk mengelak orang lain turut terlibat atau terzalimi jika mereka tidak mengetahuinya. Adapun maksiat yang bersifat peribadi tidak harus didedahkan kerana ia adalah dosa antara pelakunya dengan Allah. Sesuatu yang ditutup Allah, tidak berhak kita membukanya kerana nanti keaiban kita pula akan dibuka Allah.

          Walalhu a’lam.

          Rujukan;

          1. Syarah Soheh Muslim, Imam an-Nawawi, Kitab al-Birr wa as-Silah, bab Tahrim al-Ghibah.
          2. Riyadhus-Salihin, Imam an-Nawawi, Bab Ma Yubahu Min al-Ghibah.

          Sumber: USTAZ AHMAD ADNAN FADZIL (SU Panel Syariah HPA)

          14/06/2011 Posted by | Politik dan Dakwah, Tasauf | , , | Leave a comment

          Sebab Sebab Rohani Tidak Subur

          • Meninggalkan membaca Al Quran atau mengurangkan membacanya.
          • Tidak melaksanakan arahan Al Quran
          • Melebih lebihkan di dalam perkara perkara yang harus sehingga mencuaikan perkara perkara yang wajib
          • Suka memilih Rukhshah dan meninggalkan Azimah.
          • Meninggalkan Qiyammullail.
          • Tidak menunaikan solat pada waktu nya atau melengah melengahkan nya.
          • Tidak solat jemaah di masjid atau surau.
          • Selalu datang lewat ke masjidatau surau.
          • Berhenti dari menghadiri majlis majlis atau syarahan syarahan yang menyentuh soal soal kerohanian.
          • Memberi penumpuan hanya kepada satu corak ilmu tanpa memberi perseimbangan dari segi keimanan dan kerohanian, saperti menumpukan hanya kepada politik, fiqh, usul, hadith,sejarah dan lain lain.
          • Meninggal memberi sedekah, memadai hanya berzakat tahunan sahaja.
          • Tidak menziarahi kubur, orang orang sakit dan hospital.
          • Terlalu sibuk mengejar mencari rezeki sehingga terabai segi segi keimanan dan kerohanian
          • Memilih isteri yang tidak ada asas agama.
          • Mengalami masaalah rumah tangga.
          • Mengalami masaalah pekerjaan.
          • Tidak mendengar bacaan Al Quran.
          • Tidak berkawan dengan kawan kawan yang baik baik.
          • Bergaul dengan kawan yang di pengaruhi oleh hawa nafsu dan banyak menghadiri majlis majlis mereka.
          • Suka bertengkar atau berbalah
          • Tidak mahu muhasabah diri.
          • Banyak ketawa dan bergurau.
          • Tidak menjaga penglihatan, samada kepada lelaki mahu pun perempuan.
          • Melakukan maksiat.

          02/03/2009 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment