Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

HUKUM TABARRUK

Marilah kita sekarang meneliti dan membaca kutipan dibawah mengenai dalil-dalil Tabarruk yang telah kami singgung sebelumnya di atas. Ada golongan yang keliru dalam memahami tabarruk pada Rasulallah saw., bekas-bekas peninggalannya, ahlul baitnya dan para pewaris beliau yaitu para ulama dan para waliyullah. Mereka kemudian menganggap setiap orang yang menempuh jalan tersebut berbuat syirik dan sesat. Orang-orang seperti ini berpandangan sempit dan berpikiran pendek dalam menghadapi masalah-masalah tersebut.

Tabarruk berasal dari kata Barakah. Makna atau arti tabarruk ialah mengharapkan keberkahan dari Allah swt. dengan sesuatu yang mulia dalam pandangan Allah swt.. Juga tabarruk ini mempunyai pengertian sama dengan tawassul/istighotsah, yang telah kami kemukakan tadi.
Terkadang Allah swt. menjadikan beberapa benda menjadi sumber berkah agar menjadi sebab untuk mencapai tujuan yang dikehendaki-Nya. Allah swt. juga menginginkan agar manusia mengetahui bahwa terdapat benda-benda, tempat-tempat, waktu-waktu dan pribadi-pribadi yang memiliki kesakralan karena mempunyai kedudukan khusus di mata Allah swt. Sehingga semua itu dapat menjadi sarana Allah swt memberkati orang untuk mencapai ke sembuhan dari penyakit, pengkabulan do’a, pensyafa’atan dalam peng- ampunan dosa dan lain sebagainya.
Tabarruk boleh dilakukan dengan barang-barang, tempat atau orang dengan syarat, sesuatu yang digunakan dalam tabarruk itu mulia dalam pandangan Allah swt. Misalnya pribadi Rasulallah saw., pusaka-pusaka peninggalannya, makamnya dan sebagainya. Tabarruk juga boleh dilakukan dengan pribadi para waliyullah, para ulama dan orang shalih lainnya, termasuk pusaka-pusaka peninggalan mereka dan tempat-tempat pemakamannya atau lain- nya yang juga pernah mereka jamah atau mereka jadikan tempat untuk ber-ibadah dan berdzikir pada Allah swt.
Benda-benda pusaka atau tempat-tempat peninggalan mereka tersebut nilai kemuliaannya bukan karena benda atau ruangan tersebut tapi karena kaitan- nya dengan kemuliaan orang atau pribadi yang pernah memanfaatkan benda dan tempat tersebut dengan bertaqarrub (mendekatkan diri) pada Allah swt. Sehingga pada benda atau tempat tersebut pernah turun rahmat Allah, di jamah atau didatangi malaikat Allah hingga menjadi sarana yang dapat menimbulkan perasaan tenang dan tenteram. Inilah keberkahan yang di minta oleh orang yang bertabarruk dari Allah swt.

Juga syarat lainnya bahwa orang yang bertabarruk harus mempunyai keyakinan penuh, bahwa sarana-sarana (benda atau ruangan) yang dijadikan tabarruk itu tidak dapat mendatangkan manfaat maupun madharat tanpa seizin Allah swt. Sebab semua manfaat dan madharat berada dalam kekuasaan Allah swt. sepenuhnya.

  • Berkah dan Tabarruk dalam al-Quran

Kita sebagai seorang muslim yang meyakini akidah Tauhid pasti meyakini bahwa Allah swt. adalah Pencipta (Khaliq) dan Pengatur (Rab) alam semesta. Dengan kesempurnaan absolut (mutlak) yang Dia miliki, Ia men- ciptakan dan mengatur alam semesta. Segala yang ada di alam semesta ini tiada yang tidak tercipta dari-Nya. Oleh karenanya, tidak satupun yang berada di alam ini pun tidak tergantung kepada-Nya, termasuk dalam kelangsungan eksistensi dan hidupnya. Allah swt Pemilik segala otoritas kesempurnaan.
Dalam al-Quran, penggunaan kata ‘berkah’ sering akan kita jumpai. Sebagaimana dalam pembahasan syafa’at, ilmu ghaib dan sebagainya, secara mendasar dan murni (esensial) berkah dan pemberian berkah hanya berasal milik dan hak priogresif Allah swt. semata. Oleh karenanya, kita jumpai ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah swt. memberikan berkah kepada makhluk-makhluk-Nya. Contoh ayat-ayat yang Allah swt. telah mem- berkati seseorang sehingga berkah itu terdapat pada diri pribadi-pribadi yang di berkati tersebut:

 Berkaitan dengan Nabi Nuh as beserta pengikutnya, Allah swt berfirman: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu…” (QS Hud: 48)

 Berkaitan dengan Nabi Ibrahim as Allah swt berfirman: “Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: “Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya..” (QS an-Naml: 8).

 Berkenaan dengan Nabi Ishak as Allah swt berfirman: “Kami limpahkankeberkatan atasnya dan atas Ishaq…” (QS as-Shaafat: 113).

 Berkenaan dengan Nabi Isa as Allah swt berfirman: “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada…” (QS Maryam: 31).
Sedang ayat-ayat yang menyatakan bahwa ada beberapa tempat yang telah diberikan berkah oleh Allah swt sehingga tempat itu menjadi tempat yang sakral, seperti:

 Allah swt. telah memberi berkah kepada Masjidil Haram di Makkah: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (QS Aali Imran: 98).
 Allah swt telah memberi berkah kepada Masjidil Aqsha di Palestina: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami…” (QS al-Isra’: 1).

 Allah swt telah memberi berkah kepada lembah Aiman: “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah Aiman pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu…” (QS al-Qoshosh: 30).
Dan terkadang yang menjadi obyek berkah Ilahi adalah sesuatu (benda) sampai pada pohon dan waktu. Sebagai contoh:

 Allah swt. telah memberikan berkah kepada al-Qur’an: “Dan Al-Qur’an itu adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS al-An’am: 155).

 Allah swt telah memberikan berkah kepada pohon zaitun: “Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya)…” (QS an-Nur: 35).

 Allah swt telah memberkahi air hujan: “Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkati lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam” (QS Qof: 9).

 Allah swt telah memberkati waktu malam dimana al-Qur’an turun (lailatul Qadar): “ Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi..” (QS ad-Dukhon: 3).

Setelah mengetahui obyek-obyek berkah Ilahi maka mungkin saja timbul pertanyaan; bagaimana para umat terdahulu, apakah mereka juga mengambil berkah? Allah swt. dalam al-Qur’an menjelaskan hal tersebut seperti yang dicantumkan dalam ayat-ayat berikut:

 Dalam surat al-Baqarah ayat 248 Allah swt telah mengisahkan tentang pengambilan berkah Bani Israil terhadap Tabut (peti) yang didalamnya tersimpan barang-barang sakral milik kekasih Allah, Nabi Musa as. Allah swt berfirman: “Dan nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman”.

Menurut riwayat, ‘Peti’ itu adalah peti dimana nabi Musa waktu bayi telah di letakkan oleh ibunya ke sungai Nil dan mengikuti aliran sungai sehingga di temukan oleh istri Fira’un, untuk diasuh. Para Bani Israil mengambil peti itu sebagai obyek untuk mencari berkah (tabarruk). Setelah Nabi Musa as meninggal dunia, peti itu disimpan oleh washi (patner) beliau yang bernama Yusya’, dan di dalamnya disimpan beberapa peninggalan Nabi Musa yang masih berkaitan dengan tanda-tanda kenabian Musa. Setelah sekian lama, Bani Israil tidak lagi mengindahkan peti tersebut, hingga menjadi bahan mainan anak-anak di jalan-jalan. Sewaktu peti itu masih berada di tengah-tengah mereka, Bani Israil masih terus dalam kemuliaan. Namun setelah mereka mulai melakukan banyak maksiat dan tidak lagi mengindahkan peti itu, maka Allah swt. menyembunyikan peti tersebut dengan mengangkatnya ke langit. Sewaktu mereka diuji dengan kemunculan Jalut mereka mulai merasa gunda. Kemudian mereka mulai meminta seorang Nabi yang diutus oleh Allah swt ketengah-tengah mereka. Allah swt. mengutus Tholut. Melalui dialah para malaikat pesuruh Allah mengembalikan peti yang selama ini mereka remehkan.

Az-Zamakhsari dalam menjelaskan apa saja barang-barang yang berada di dalam peti itu menyatakan: “Peti itu adalah peti Taurat. Dahulu, sewaktu Musa berperang (melawan musuh-musuh Allah) peti itu diletakkan di barisan paling depan sehingga perasaan kaum Bani Israil merasa tenang dan tidak merasa gunda…adapun firman Allah yang berbunyi ‘dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun’ berupa sebuah papan bertulis, tongkat beserta baju Nabi Musa (as) dan sedikit bagian dari kitab Taurat” (Lihat Tafsir al-Kasyaf jilid 1 halaman 293).

Mengenai tabut itu Ibnu Katsir didalam kitab Tarikh-nya mengetengahkan keterangan yang ditulis oleh Ibnu Jarir sebagai berikut:
“Mereka yakni ummat yang disebut dalam ayat di atas setiap berperang melawan musuh selalu memperoleh kemenangan berkat tabut yang berisi Mitsaq (Taurat). Dengan tabut yang berisi sisa-sisa peninggalan keluarga Nabi Musa dan Nabi Harun itu Allah swt. menciptakan ketenangan bagi mereka dalam menghadapi musuh. Selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan, bahwa tabut itu terbuat dari emas yang selalu dipergunakan untuk mencuci (membersihkan) hati para Nabi”. (Al-Bidayah Wan-Nihayah jilid II hal. 8).

 Dalam Tafsir-nya Ibnu Katsir juga mengatakan, bahwa didalam tabut itu berisi tongkat Nabi Musa, tongkat Nabi Harun, dua buah lembaran Taurat dan pakaian Nabi Harun. Sementara orang mengatakan didalam tabut itu terdapat sebuah tongkat dan sepasang terompah.(Tafsir Ibnu Katsir, jilid I hal. 313).

 Al-Qurthubi mengatakan: “bahwa tabut itu diturunkan Allah kepada Nabi Adam as. dan disimpan turun-temurun hingga sampai ketangan Nabi Ya’qub as., kemudian pindah tangan kepada Bani Israil. Berkat tabut itu orang-orang Yahudi selalu menang dalam peperangan melawan musuh, tetapi setelah mereka berbuat durhaka kepada Allah, mereka dapat dikalahkan oleh kaum ‘Amaliqah dan tabut itu berhasil dirampas dari tangan mereka (kaum Yahudi)”. (Tafsir Al-Qurthubi jilid III/248).

Lihatlah, betapa Nabi yang diutus oleh Allah swt. kepada Bani Israil itu telah memerintahkan kepada Bani Israil untuk tetap menjaga peninggalan Nabi Musa dan Nabi Harun berupa peti dengan segala isinya yang mampu memberikan ketenangan pada jiwa-jiwa mereka. Pemberian ketenangan melalui peti itu tidak lain karena Allah swt telah memberikan berkah khusus kepada peninggalan kedua Nabi mulia tersebut. Sehingga sewaktu Bani Israil tidak lagi mengindahkan peninggalan yang penuh barakah itu maka Allah swt menguji mereka dan tidak lagi memberkahi mereka. Ini sebagai bukti betapa sakral dan berkahnya peninggalan itu, dengan izin Allah swt.

Ummat yang disebut dalam ayat di atas selalu bertawassul atau bertabarruk dengan tabut yang mereka bawa kemana-mana dan selalu menang didalam setiap peperangan. Apa yang dilakukan oleh umat itu ternyata tidak dicela atau dipersalahkan oleh Allah swt.

Dalam ayat lain Allah menjelaskan tentang pengambilan berkah seorang pribadi mulia seperti Nabi Ya’qub a.s. terhadap baju putranya, Nabi Yusuf as. Allah swt berfirman: “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku (baju Nabi Yusuf) ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku” (QS Yusuf: 93). Dalam kisah itu, saudara-saudara Nabi Yusuf telah melaksanakan perintah saudaranya itu. Ayah Nabi Yusuf (Nabi Ya’qub) yang buta akibat selalu menangisi kepergian Yusuf pun akhirnya pulih penglihatannya karena diusap oleh baju Yusuf. Itu semua berkat barakah yang dicurahkan oleh Allah swt. kepada baju/gamis Yusuf.

Az-Zamakhsyari kembali dalam kitab tafsir-nya menjelaskan tentang hakekat baju Yusuf dengan mengatakan: “Dikatakan: itu adalah baju warisan yang di hasilkan oleh Yusuf dari permohonan (do’a). Baju itu datang dari Sorga. Malaikat Jibril telah diperintahkan untuk membawanya kepada Yusuf. Di baju itu tersimpan aroma sorgawi yang tidak ditaruh ke orang yang sedang mengidap penyakit kecuali akan disembuhkan. (Tafsir al-Kasyaf jilid 2 hal. 503).

Tentu sangat mudah bagi Allah swt. untuk mengembalikan penglihatan Nabi Ya’qub tanpa melalui proses pengambilan berkah semacam itu. Namun harus kita ketahui hikmah di balik itu. Terkadang Allah swt. menjadikan beberapa benda menjadi ‘sumber berkah’ agar menjadi ‘sebab’ untuk mencapai tujuan yang dikehendaki-Nya. Selain karena Allah swt. juga meng- inginkan agar manusia mengetahui bahwa terdapat benda-benda, tempat-tempat, waktu-waktu dan pribadi-pribadi yang memiliki kesakralan karena mempunyai kedudukan khusus di mata Allah swt., sehingga semua itu dapat menjadi ‘sarana’. Allah swt. memberkati orang untuk mencapai kesembuhan dari penyakit, pengkabulan do’a, pensyafa’atan dalam pengampunan dosa, dan lain sebagainya.

Jika para nabi biasa memiliki kemuliaan semacam itu, lalu bagaimana dengan benda-benda (seperti: mihrab dan mimbar….), tempat (seperti: rumah, masjid dan makam…), waktu (seperti: peringatan hari wafat, kelahiran/maulud, perkawinan, hijrah, Isra’-Mi’raj..) dan mengenang ke utamaan (melalui bacaan kitab Burdah, Maulid Diba’, Barzanji …) yang berkaitan langsung dengan pribadi agung seperti Rasulullah saw., penghulu para nabi dan rasul, makhluk Allah yang paling sempurna sebagaimana yang telah dicantumkan dalam berbagai ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shohih? Pikirkanlah!

  • Dalil-dalil Tabarruk para Sahabat dari bekas air wudhu Nabi saw.:

– …Urwah Al-Tsaqafi, salah seorang utusan Makkah melaporkan pada kaumnya: “Orang Islam itu luar biasa! Demi Allah aku pernah menjadi utusan menemui raja-raja. Aku pernah berkunjung pada kaisar Kisra dan Najasyi. Demi Allah belum pernah aku melihat sahabat-sahabat mengagungkan rajanya seperti sahabat-sahabat mengagungkan Muhammad saw. Demi Allah, jika ia meludah, ludahnya selalu jatuh pada telapak tangan salah seorang di antara mereka. Mereka usapkan ludah itu kewajahnya dan kulitnya. Bila ia memerintah mereka berlomba melaksanakannya, bila ia hendak wudhu, mereka hampir berkelahi untuk memperebutkan air wudhunya. Bila ia ber bicara mereka merendahkan suara dihadapannya. Mereka menundukkan pandangan dihadapannya karena memuliakan nya”.(HR. Bukhori 3: 255)
Hadits yang semakna di atas, banyak diriwayatkan oleh para perawi dan penghafal hadits yaitu kisah kedatangan Urwah bin Mas’ud as-Tsaqofi kepada kaum Quraisy pra perjanjian damai (Suluh) di Hudaibiyah. Kala itu ia heran melihat prilaku sahabat terhadap Nabi saw., ia mengatakan –menjelaskan apa yang dilihatnya–: “Tiada beliau melakukan wudhu kecuali mereka (sahabat) bersegera (untuk mengambil berkah). Tiada beliau meludah kecuali merekapun bersegera (untuk mengambil berkah). Tiada selembar rambut pun yang rontok kecuali mereka memungutnya”. Dalam riwayat lain disebutkan; “Demi Allah, sewaktu Rasul mengeluarkan dahak dan dahak itu mengenai telapak tangan seseorang maka orang tadi akan mengusapkannya secara rata ke seluruh bagian muka dan kulitnya. Jika beliau memerintahkan sesuatu niscaya mereka bersegera (untuk melaksana- kannya). Jika beliau mengambil air wudhu maka mereka bersegera seakan-akan hendak saling membunuh memperebutkan (bekas air) wudhu beliau”. (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 halaman 66 dalam kitab al-Wudhu’ dan jilid 3 halaman 180 dalam kitab al-Washoya, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 5 halaman 423 dalam hadits panjang nomer-18431, Kitab as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 9 halaman 219 bab al-Muhadanah ‘ala an-Nadhar Lilmuslimin, Kitab Sirah Ibnu Hisyam jilid 3 halaman 328, Kitab al-Maghozi karya al-Waqidi jilid 2 halaman 598 dan Kitab Tarikh al-Khamis jilid 2 halaman 19).
– Thalq bin ‘Ali meriwayatkan: “Kami keluar (meninggalkan daerah) sebagai perutusan kepada Rasulallah saw. Setelah beliau saw. kami bai’at, kami shalat bersama beliau. Kemudian kepada beliau kami beritahukan bahwa kami masih mempunyai bi’ah (gereja atau kuil). Kepada beliau kami minta agar diberi sebagian dari sisa air wudhunya. Beliau lalu menyuruh orang mengambilkan air, kemudian berwudhu dan berkumur lalu menumpahkan bekas air kumurnya ke dalam sebuah tempat/wadah. Kepada kami beliau berkata: ‘Pulanglah, dan setibanya didaerah kalian hancurkanlah bi’ah kalian itu lalu siramlah tempat itu dengan air ini, kemudian bangunlah masjid di atasnya’. Kami katakan pada beliau bahwa daerah kami, amat jauh, dan air akan menguap habis karena (dalam perjalanan) udara sangat panas. Beliau memberi petunjuk: ‘Tambahkan saja air (kedalam wadah), air ini akan menjadi lebih baik’ “. (Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam Al-Misykat nr. 716).
Tidak ragu lagi bahwa dalam jiwa perutusan itu terdapat rahasia (semangat) yang amat kuat yang mendorong mereka minta air bekas wudhu Rasulallah saw. Padahal kota Madinah tidak pernah kekurangan air dan didaerah tempat tinggal orang itu sendiri banyak air. Mengapa mereka mau bersusah payah membawa sedikit air dari Madinah ke daerahnya yang menempuh jarak cukup jauh dan dalam keadaan terik matahari? Tidak lain adalah ber- tabarruk pada Rasulallah saw.dengan bekas air wudhu beliau.
– Dari Abu Juhfah, beliau berkata: “Aku mendatangi Nabi sewaktu beliau ber ada di Qubbah Hamra’ dari Adam. Kulihat Bilal (al-Habasyi) mengambil air wudhu Nabi. Orang-orang bergegas untuk berwudhu juga. Barang siapa yang mendapatkan sesuatu dari air wudhu tadi maka akan mengguna- kannya sebagai air basuhan. Namun bagi siapa yang tidak mendapatkannya maka ia akan mengambil dari basahan (sisa wudhu) yang berada di tangan temannya”.
Dalam lafadh itu dikatakan: “Rasul pergi menuju Hajirah bersama kami, lalu beliau mengambil air wudhu. Kemudian orang-orang mengambili air bekas wudhu beliau untuk dijadikan bahan basuhan (dalam berwudhu)” (Lihat: Kitab Shahih al-Bukhari jilid 1 halaman 55 dalam kitab wudhu bab Isti’malu Fadhli Wudhu’in Nas, Kitab shohih al-Muslim jilid 1 halaman 360, Kitab Sunan an-Nasa’i jilid 1 halaman 87, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 5 halaman 398 hadits ke-18269, Kitab as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 1 halaman 395 dalam bab al-Iltiwa’ fi Hayya ‘ala as-Shalah dan Kitab ad-Dala’il an-Nubuwah karya al-Baihaqi jilid 1 halaman 183).
– Dari Ibnu Shahab, beliau berkata: “Aku mendapat kabar dari Mahmud bin Rabi’, ia berkata: Dia adalah orang yang Rasul telah meludah pada wajah- nya, saat itu ia adalah kanak-kanak di daerah mereka. Berkata Urwah, dari al-Masur dan selainnya –masing-masing saling mempercayai temannya–: Ketika Nabi melaksanakan wudhu, seakan mereka hendak saling bunuh-membunuh
untuk mendapatkan air wudhu beliau” (Lihat: Kitab Shahih al-Bukhari jilid 1 halaman 55 dalam kitab wudhu bab Isti’malu Fadhli Wudhu’in Nas, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 6 halaman 594 hadits ke-23109 dan Kitab Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 246).
I
bnu Hajar dalam mensyarahi/menerangkan makna hadits tersebut menyata- kan: “Apa yang dilakukan Nabi terhadap Mahmud, kalau tidak karena tujuan bersendau gurau, atau untuk memberi berkah kepadanya. Hal itu sebagai- mana yang pernah beliau lakukan kepada anak-anak para Sahabat lainnya” (Fathul Bari jilid 1 halaman 157 dalam bab Mata Yashihhu Sima’ as-Shoghir).
– Dari Sa’ad, beliau berkata; Aku mendengar dari beberapa sahabat Rasul seperti Abu Usaid, Abu Humaid dan Abu Sahal ibn Sa’ad, mereka mengata- kan: “Suatu saat, Rasulullah mendatangi sumur Badho’ah kemudian beliau mengambil wudhu melalui ember lantas (sisanya) dikembalikan ke dalam sumur. Kemudian beliau mencuci mukanya kembali, dan meludah ke dalam- nya (ember) dan meminum airnya (sumur). Dan jika terdapat orang sakit di zaman beliau maka beliau bersabda: ‘Mandikan dia dengan air sumur Bidho’ah’, maka ketika dimandikan, seakan simpul tali itu telah lepas (sembuh)”. (Lihat: Kitab at-Thobaqoot al-Kubra jilid 1/2 halaman 184 dan Kitab Sirah Ibnu Dahlan jilid 2 halaman 225).
– Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, beliau berkata: “Ketika aku sakit yang tak kunjung sembuh, Rasulullah menjengukku. Rasulullah mengambil air wudhu, kemudian beliau siramkan sisa air wudhu beliau, kemudian sembuh lah penyakitku” (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 halaman 60/jilid 7 halaman 150/jilid 8 halaman 185 dan jilid 9 halaman 123).
 Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, beliau berkata: “Sewaktu Nabi ber-wudhu pada sebuah wadah, kemudian (sisa air tadi) aku tuang ke dalam sumur milik kami” (Lihat: Kitab Kanzul Ummal jilid 12 halaman 422 hadits ke-35472).
– Sewaktu Rasulullah saw. datang ke pasar, beliau melihat Zuhair berdiri untuk menjual barang. Tiba-tiba beliau datang dari arah punggungnya lantas memeluknya dari belakang hingga tangan beliau menyentuh dadanya. Kemudian Zuhair merasakan bahwa orang itu adalah Rasulullah. Dia berkata: ‘Aku lantas mengusapkan punggungku pada dadanya untuk mendapatkan berkah dari beliau’ ”. (Lihat: Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 3 halaman 938 hadits ke-12237, Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 6 halaman 47 yang telah dinyatakan keshohihannya dengan menyatakan bahwa perawinya semuanya dapat dipercaya (tsiqoh) dan Kitab Sirah Dahlan jilid 2 halaman: 267).

Hadits-hadits di atas ini termasuk bukti yang cukup kuat dan terkenal, yang menunjukkan tabarruk kepada beliau saw. dan dengan petilasan (bekas) air wudhunya. Dengan petilasan air wudhu beliau saw. bisa menyembuhkan penyakit. Setelah membaca hadits-hadits di atas dan hadits lainnya, apakah orang masih egois dan fanatik kepada ulamanya, yang selalu menyangkal adanya barokah pada pribadi seseorang? Apakah perbuatan itu tidak ter- golong qhuluw (berlebih-lebihan)yang menyebabkan orang terjerumus ke dalam kesyirikan? Ini juga harus dijawab dengan adil dan konsekwen dari golongan pengingkar!

  • Dalil Tabarruk anak-anak para Sahabat kepada Nabi saw.:

– Imam Muslim dalam kitab Shohih-nya jilid 1 halaman 164, bab Hukmu Bauli at-Thifl ar-Rodhi’ atau pada jilid 6 halaman 176, bab Istihbab Tahnik al-Maulud menjelaskan secara gamblang tentang prilaku para Salaf Sholeh dalam mengambil berkah Rasulallah saw. untuk anak-anak mereka. Atas dasar itu, Ibnu Hajar dalam kitab al-Ishobah jilid 3 halaman 638 (detailnya pada: Huruf wau, bagian pertama, bab wau kaf, tarjamah Walid bin Uqbah, nomer 9147) menjelaskan: “Setiap bayi pada masa hidup Rasulullah di hukumi sebagai pribadi yang telah melihat Rasul. Hal itu karena syarat-syarat terlaksananya kaum Anshar dalam mendatangkan anak-anak mereka kepada Rasul agar dipeluk dan diberi berkah (tabarruk) telah terpenuhi”. Hingga dikatakan: ‘Sewaktu Makkah ditaklukkan (fath), para penghuni Makkah pun berdatangan kepada Nabi dengan membawa anak-anak mereka supaya dapat dibelai (diusap) kepalanya oleh beliau yang kemudian beliau do’akan’ ”.

– Dari ummu Qais: “Suatu saat dia mendatangi Rasululah dengan membawa serta anaknya yang masih kecil, yang masih belum memakan makanan. Rasulullah meletakkanya di pangkuannya. Tiba-tiba anak itu kencing di pakaian beliau. Kemudian beliau meminta air dan menyiramkannya (pada pakaian) dan tidak mencucinya”. (Shohih al-Bukhari jilid 1 hal. 62 kitab al-Ghasl; Sunan an-Nasa’i jilid 1 hal.93 bab Baul as-Shobi al-Ladhi lam Ya’kul at-Tho’am; Sunan at-Turmudzi jilid 1 hal. 104; Sunan Abu Dawud jilid 1 hal. 93 bab Baul as-Shobi Yushibus Tsaub; Sunan Ibnu Majah jilid 1 hal. 174).
Ibnu Hajar berkata: “Dari hadits ini memberikan beberapa pengertian, penekanan akan pergaulan secara baik, rendah diri (Tawadhu’), memeluk anak bayi dan pemberian berkah dari pribadi yang memiliki kemuliaan, dan membawa anak kecil pra dan pasca kelahiran” (Fathul-Bari jilid 1 hal. 326 kitab al-Wudhu’ bab Baul as-Shobi hadits ke-223).
– Dari Ummul Mukminin Aisyah: “Dahulu, Rasulullah selalu didatangkan bayi (kepadanya) yang kemudian beliau peluk mereka untuk diberi berkah“.(Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 7 halaman 303 kitab al-Wudhu bab 59 bab Baul as-Shibyan hadits ke-223).
– Dari Abdurrahman bin ‘Auf, beliau berkata: “Tiada seorang yang baru melahirkan kecuali bayi itu didatangkan kepada Rasul untuk dido’akan”. (Lht. Kitab al-Mustadrak as-Shohihain karya al-Hafidz al-Hakim an-Naisaburi jilid 4 hal.479; Kitab al-Ishobah karya Ibnu Hajar jilid 1 hal.5 dalam Khutbah kitab, bagian kedua).

– Dari Muhammad bin Abdurrahman pembantu (maula) Abi Thalhah yang berbicara tentang Muhammad bin Thalhah, beliau berkata: “Sewaktu Muhammad bin Thalhah lahir, aku membawanya kepada Rasulullah untuk dipeluk dan dido’akannya. Hal itulah yang dilakukan Rasul kepada para bayi yang ada”. (Lihat: Kitab al-Ishobah karya Ibnu Hajar jilid 5 halaman 5 pada Khutbah Kitab, bagian kedua).

  • Tabarruk para Sahabat dari air dan sisa minum Nabi saw.:

– Dari Abi Musa, beliau berkata: “Rasulallah mengambil air pada sebuah tempat. Beliau membasuh kedua tangan dan wajahnya. Kemudian kembali memuntahkan air itu ke dalamnya. Beliau bersabda: ‘Minumlah kalian berdua dari (air) itu, dan sisakanlah untuk muka dan leher kalian berdua’”.(Shohih al-Bukhari jilid 1 hal.55 kitab al-Wudhu bab Isti’mal Fadhli Wudhuin Naas).

Ibnu Hajar berkata: “Tujuan dari semua itu –memuntahkan kembali air– adalah untuk memberikan berkah kepadanya (air)”. (Fathul Bari jilid 1 halaman 55 kitab Wudhu bab Isti’mal Fadhli Wudhuin Nas, dan atau jilid 8 halaman 37 bab Ghozwah at-Tha’if).
Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Aku telah meminum (air) sementara aku dalam keadaan puasa. Bersabda (Rasulallah): ’Kenapa kamu melaku kan hal itu’? Ia berkata: ‘Demi untuk mendapat sisa minummu, karena aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya sedikit pun. Aku tidak mampu untuk menyia-menyiakannya. Ketika aku mampu melakukannya maka aku akan meminumnya’”. (Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 7 halaman 575 hadits ke-26838 dan Kitab at-Thabaqot al-Kubra jilid 8 halaman 109).

  • Tabarruk para Sahabat dengan keringat, rambut dan kuku Nabi saw.:

– Nabi saw. tidur siang dirumah Ummu Sulaim, yang punya rumah menampung keringat beliau saw. pada sebuah botol. Ketika Nabi saw. ter bangun dan bertanya: ‘Apa yang engkau lakukan?’. ‘Ya Rasulallah kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kami’. Nabi saw. menjawab; ‘Ashabti, Engkau benar’! (HR. Muslim 4:1815; Musnad Ahmad 3:221-226).
– Dari Anas bin Malik, beliau berkata: “Ummu Salamah selalu menghampar- kan tikar kulit untuk Nabi, kemudian beliau tidur di atas hamparan tersebut. Sewaktu beliau tertidur, ia (Ummu Salamah .red) mengambil keringat dan rambut Nabi dan diletakkan ke dalam botol dan dikumpulkan dalam tempat minyak wangi”. (Shohih al-Bukhari jilid 7 halaman 14 kitab al-Isti’dzan).

Ibnu Hajar dalam mensyarahi riwayat ini mengatakan: “Dengan menyebut- kan rambut dalam kisah ini sangatlah mengherankan sekali. Sebagian orang menyatakan bahwa rambut beliau tersebar (terurai) ketika berjalan. Kemudian ketika aku melihat riwayat Muhammad bin Sa’ad yang masih samar. Riwayat itu memiliki sanad (jalur) yang shahih dari Tsabit bin Anas, bahwa sewaktu Nabi saw. mencukur rambutnya di Mina Abu Thalhah meng- ambil rambut beliau dan menyerahkannya kepada Ummu Salamah. Dia me- letakkannya ke dalam tempat minyak wangi. Ummu Salamah berkata: ‘Beliau datang ke (rumah)-ku dan tidur di atas hamparan milikku sehingga keringat beliau mengalir (terkumpul)’ ”. (Kitab Fathul Bari jilid 11 halaman 59 atau Kitab Thabaqot al-Kubra jilid 8 halaman 313).
 Abu Hurairah ra berkata bahwa seorang laki-laki menemui Nabi saw. berkata: “Ya Rasulallah, saya akan menikahkan anak perempuan saya, saya ingin sekali engkau membantu saya dengan apapun. Nabi saw. bersabda: ‘Aku tidak punya apa-apa’. Rasulallah saw.bersabda: ‘Tapi besok datanglah padaku bawa botol yang mulutnya lebar…’. Pada esok harinya ia datang lagi, Nabi saw. meletakkan kedua sikunya di atas botol dan keringat beliau saw. mengalir memenuhi botol itu’”. (Fath al Bari 6: 417, Sirah Dahlan 2:255, Al Bidayah Wa Al-Nihayah 6: 25).
Kita tidak tahu apa yang dilakukan sahabat dengan sebotol keringat itu. Mungkin digunakan sebagai minyak wangi –seperti Ummu Salamah– atau mewasiatkan pada ahli warisnya supaya botol (walau keringatnya sudah kering) dikuburkan bersama jasadnya (seperti Anas bin Malik). Ini tidak lain mengenang dan memuliakan Atsar (bekas) serta tabarruk yang berkaitan dengan orang yang dicintai! Kenyataan ini berarti menunjukkan bahwa Rasulallah saw. membenarkan dan meridhai perbuatan para sahabat tersebut. Beliau saw. juga sebagai contoh bagi umatnya, bila perbuatan tersebut sebagai pengkultusan atau berbau kesyirikan dan lain sebagainya, maka beliau saw. tidak akan mengizinkan dan melakukannya.
– ‘Utsman bin ‘Abdullah bin Muwahhab menuturkan; “Keluargaku menyuruh aku datang kepada Ummul Mu’minin Ummu Salamah membawa air dalam sebuah mangkuk. Ia keluar membawa wadah air terbuat dari perak. Di dalamnya terdapat beberapa guntingan rambut Rasulallah saw. Ketika itu orang yang menderita sakit mata atau penyakit lainnya mengirim pesuruh kepadanya membawa wadah (makhdhabah), yang lazim digunakan untuk mencelupkan sesuatu. ‘Utsman bin Abdullah berkata lebih lanjut: ‘Aku mencoba melihat apa yang berada didalam genta, ternyata kulihat ada guntingan-guntingan rambut berwarna kemerah-merahan’ ”. (HR. Bukhori dalam kitabnya Al-Libas bab Mayudzkaru Fisy-Syaib).
Imam Al-‘Aini mengatakan, bahwa keterangan mengenai soal di atas tersebut sebagai berikut: “Ummu Salamah menyimpan sebagian dari guntingan rambut Rasulallah saw., yang berwarna kemerah-merahan, ditaruh dalam sebuah wadah seperti genta. Banyak orang diwaktu sakit bertabarruk pada rambut beliau saw. dan mengharap kesembuhan dari keberkahan rambut tersebut. Mereka mengambil sebagian dari rambut itu lalu dicelupkan ke dalam wadah berisi air, kemudian mereka meminumnya. Tidak lama kemudian penyakit mereka sembuh. Keluarga ‘Utsman mengambil sedikit air itu, ditaruh dalam sebuah wadah dari perak. Mereka lalu meminumnya dan ternyata penyakit yang mereka derita menjadi sembuh. Setelah itu mereka menyuruh ‘Ustman mencoba melihat dan ternyata dalam genta itu terdapat beberapa guntingan rambut berwarna kemerah-merahan”. (Lihat ‘Umdatul-Qari Syarh Shahih Al-Bukhori jilid 17 hal. 79).
– Sewaktu Muawiyah akan wafat, ia mewasiatkan agar dikuburkan dengan baju, sarung dan selendang juga sebagian rambut Nabi. (Lihat: Kitab al-Ishobah jilid 3 halaman 400, Kitab Tarikh Damsyiq jilid 59 halaman 229 dan Kitab as-Sirah al-halabiyah jilid 3 halaman 109)
– Sewaktu Umar bin Abdul Aziz hendak meningal dunia, ia membawa rambut dan kuku Nabi seraya berkata: “Jika aku mati maka letakkan rambut dan kuku ini pada kafanku” (Lihat: Kitab at-Thobaqoot jilid 5 halaman 406 tentang [tarjamah] Umar bin Abdul Aziz).

– Baluran mayat (Hanuth) jenazah Anas bin Malik terdapat sejumput misik dan selembar rambut Rasulullah. (Lihat: Kitab at-Thobaqoot jilid 7 halaman 25 tentang [tarjamah] Anas bin Malik)
– Salah seorang putera Fadhl bin ar-Rabi’ telah memberikan tiga lembar rambut kepada Abu Abdillah (yaitu; Ahmad bin Hanbal) sewaktu beliau di penjara. Lantas beliau berkata: “Ini adalah bagian rambut Nabi”. Abu Abdillah mewasiatkan agar sewaktu beliau meninggal hendaknya masing-masing rambut tadi diletakkan pada kedua belah matanya, sedang satu sisanya di letakkan pada lidahnya. (Lihat: Kitab Shifat as-Shofwah jilid 2 halaman 357).
– Dari Abdullah bin Muhib, beliau berkata: “Istriku menyuruhku untuk pergi ke Ummu Salamah dengan membawa gelas berisikan air –dengan pegangan tangan Israil seukuran tiga jari– dan terdapat di dalamnya sepotong rambut Nabi. Jika terdapat seseorang yang terkena mata (penyakit ‘ain .red) ataupun sesuatu (yang lain) maka akan dikirim kepadanya alat pemacar (pewarna rambut .red). Kemudian kulihat dengan berjinjit, ternyata di situ kudapati terdapat rambut merah”. (Kitab Shohih al-Bukhari jilid 7 hal. 207).
– Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnad-nya mengetengahkan riwayat dari Ibnu Sirin yang menuturkan bahwa; ‘Ubaidah As-Salmani menyampaikan hadits tersebut kepadaku. Kemudian ia berkata: ‘Jika aku mempunyai se helai saja dari rambut beliau saw., itu lebih kusukai daripada semua perak dan emas serta apa saja yang berada di permukaan bumi dan dalam perutnya’.
– Riwayat yang disebut oleh Al-mala dalam As-Sirah: “Ketika Abu Thalhah membagikan beberapa helai rambut Rasulallah saw. kepada sejumlah orang sahabat, Khalid bin Al-Walid minta agar ia diberi rambut ubun-ubun beliau saw. Abu Thalhah memberi apa yang diminta oleh Khalid. Terbukti berkah rambut ubun-ubun beliau itu Khalid sering meraih kemenangan dalam ber bagai peperangan”. (‘Umdatul Qari Syarh Al-Bukhori, Jilid 8 hal. 230-231).
– Dari Anas bin Malik ra, beliau berkata: “Aku melihat Rasulullah sedang di pangkas rambutnya oleh tukang potong, sedang para sahabat mengerumuni nya dan mereka tidak membiarkan sehelaipun rambut beliau jatuh melainkan disalah satu tangan mereka” (Kitab shahih Muslim dengan syarah Imam Nawawi jilid 15 hal.83; Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 3 hal.591; as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 7 hal. 68; Kitab as-Sirah al-Halabiyah jilid 3 halaman 303; Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 5 halaman 189 dan Kitab Musnadaat ibn Malik hadits ke-11955).
 Dari Abdullah bin Zaid, beliau berkata: “…maka Rasulullah dipangkas rambutnya dengan mengenakan baju, lalu beliau memberikannya (rambut) kepada orang-orang (sahabat) untuk dibagi. Kemudian beliau memotong kuku yang kemudian diberikan kepada sahabatnya. Ia (Abdulah bin Zaid) berkata: ‘Kudapati hal itu diwarnai dengan pacar, yaitu; rambut beliau’ “. (Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 4 hal. 630 hadits ke-16039; as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 1 hal.68; Majma’ az-Zawa’id jilid 4 hal. 19).
– Dari Abu Bakar, beliau berkata: “Tiada Fath (penaklukan tanpa peperang an .red) terbesar yang dilakukan Islam melainkan Fath Hudaibiyah. Akan tetapi kala itu, orang-orang banyak yang kurang memahami hubungan antara Muhammad dengan Tuhannya…Suatu hari, ketika haji wada’, aku melihat Suhail bin Amr berdiri di tempat penyembelihan (binatang kurban) dekat dengan Rasulullah bersama ontanya yang saat itu beliau menyembelih onta dengan tangannya sendiri. Kemudian beliau memanggil tukang cukur untuk mencukur rambut kepalanya. Aku melihat Suhail memunguti rambut beliau yang berjatuhan. Aku melihatnya meletakkan (rambut tadi) di kelopak matanya. Aku mengingat keengganan beliau (untuk menghapus), sehingga beliau menetapkan pada hari Hudaibiyah untuk menulis kata Bismillahir- Rahmanir Rahim”. (Lihat: Kitab Kanzul Ummal karya Muttaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 10 halaman 472 hadits-30136).
– Dari Ibnu Syirin, beliau berkata: “Aku berkata kepada Ubaidah; ‘Kami memiliki rambut Nabi. Kami mendapatkannya dari Anas ataupun dari keluarga Anas’. Ia bekata: ‘Jika aku memiliki selembar rambut saja maka akan lebih kusukai daripada dunia beserta isinya’ ”. (Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 hal. 51 kitab al-Wudhu, bab al-Maa’ al-Ladzi Yughsal Sya’rul Insan).
– Al-Waqidi menjelaskan bahwa Ummul Mukminin Aisyah telah ditanya: “Dari mana engkau mendapatkan rambut itu?. Ia berkata: ‘Sesungguhnya sewaktu Rasulallah mencukur kepala beliau di haji maka orang-orang memisahkan rambutnya. Kami mendapatkannya sebagaimana orang-orang pun mendapat kannya’ ”. (Lihat: Kitab al-Maghozi jilid 3 halaman 1109).

Jika rambut Rasulallah saw. seperti rambut kebanyakan orang, mengapa para tokoh Salaf Sholeh mengharapkannya, bahkan menghendaki rambut itu dikubur bersamanya sewaktu meninggal dunia, untuk pengobatan dan lain sebagainya? Apakah itu juga tergolong perbuatan syirik? Benarkah para tokoh Salaf Sholeh melakukan kesyirikan? Apakah riwayat-riwayat di atas dan berikut ini yang jelas berkaitan dengan Tawassul, Tabarruk semuanya dhoif/lemah, maudhu’, palsu walaupun diriwayatkan oleh pakar-pakar ulama hadits karena berlawanan dengan paham golongan pengingkar? Ini yang harus dijawab oleh golongan pengingkar secara adil dan konsekwen!

  • Dalil Tabarruk para Sahabat dari gelas, piring Nabi saw.:

 Dari Sahal bin Sa’ad pada sebuah hadits, beliau berkata: “Suatu hari aku mendapati Rasul duduk-duduk dengan para sahabat beliau di Saqifah Bani Saidah, lalu beliau bersabda: ‘Berilah kami minum, wahai Saha!’. Kemudian aku keluarkan gelas ini dan kuberi minum mereka dengannya. (perawi berkata) Kemudian Sahal mengeluarkan gelas tersebut dan memberi kami minum dengan menggunakan gelas tersebut. Dia berkata: ’Kemudian Umar bin Abdul Aziz memintanya, dan iapun lantas memberikannya kepadanya’”. (Shohih al-Bukhari jilid 6 hal. 352 dalam kitab al-Asyrabah; Shohih al-Muslim jilid 6 hal.103 bab Ibahat an-Nabidz lam Yasytari wa lam Yashir Muskiran).
 Dari Anas: “Sesungguhnya gelas Nabi telah pecah. Kemudian pecahan tadi diikat dengan rantai perak. Berkata ‘Ashim: ‘Aku melihat gelas itu dan minum menggunakan gelas tersebut’ ”. (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 4 halaman 47 dalam bab Bad’ul Khalq).

 Abu Burdah berkata: “Abdullah bin Salam berkata kepadaku: ‘Engkau akan kuberi minum dengan menggunakan gelas yang pernah dipakai Nabi’”. (Kitab Shohih al-Bukhari jilid 6 halaman 352 dalam kitab al-Asyribah).
 Dari Shofiyah binti Buhrah, beliau berkata: “Pamanku Faras telah meminta kepada Nabi sebuah piring yang pernah dilihatnya dipakai makan oleh Nabi. Beliau memberikannya kepadanya. Dia berkata: Dahulu, Umar jika datang kepada kami, ia akan mengatakan: ‘Keluarkan buatku piring Rasulullah. Aku keluarkan piring tersebut, kemudian ia memenuhinya dengan air Zamzam, dan meminum sebagian darinya, selebihnya ia percikkan ke wajahnya’ ”. (Lihat: Kitab al-Ishobah jilid 3 halaman 202 dalam huruf Fa’ pada bagian pertama berkaitan dengan (tarjamah) Ibnu Faras nomer ke-6971; Kitab Usud al-Ghabah jilid 4 halaman 352 pada huruf Fa’, Faras ‘Amm (paman) Shofiyah nomer ke-4202 dan Kitab Kanzul Ummal jilid 14 halaman 264).
Apa beda antara gelas biasa yang tidak pernah dipakai oleh Rasulallah dengan gelas bekas bibir Rasulallah sehingga menyebabkan para sahabat mulia yang tergolong tokoh Salaf Sholeh merebutkannya? Apakah perbuatan itu tidak tergolong qhuluw (berlebih-lebihan) yang menyebabkan orang ter- jerumus ke dalam kesyirikan? Apakah golongan pengingkar berani menyata- kan bahwa itu perbuatan tercela yang diajarkan oleh para sahabat yang tergolong tokoh para Salaf Sholeh? Mereka harus konsisten dengan pahamnya yang menyatakan bahwa perbuatan itu adalah syirik, yang me- niscayakan bahwa para sahabat telah mengajarkan kesyirikan kepada kita.

  • Tabarruk para Sahabat dari tempat tangan dan bibir Nabi saw.:

– Dalam sebuah kisah yang berkaitan dengan kedatangan Nabi ke rumah Abu Ayyub al-Anshari sewaktu beliau baru berhijrah ke Madinah, Abu Ayyub berkata kepada Beliau: “Kami menyiapkan untuk beliau makan malam dan lantas mengirim (hidangan) baginya. Sehingga jika beliau mengembalikan sisa-sisa (makanan)nya maka aku dan Ummu Ayyub akan mengusap-usap bekas tangan beliau dan memakannya, untuk mengharap berkah. Hingga akhirnya suatu malam, kami mengirim buat beliau makanan yang terdapat bawang merah dan bawang putih di dalamnya. Rasul saw. menolaknya, sehingga kami tidak mendapati bekas tangan beliau. Akhirnya kudatangi beliau dengan perasaan takut. Aku tanyakan: ‘ Wahai Rasulullah, demi ayahku, engkau dan ibuku, engkau telah menolak hidanganmu sehingga kami tidak mendapati bekas tanganmu’? Beliau saw. menjawab: ‘Aku mendapatkan bau pohon ini (bawang). Dikarenakan aku adalah lelaki yang selalu bermunajat (maka menjauhinya), adapun kalian, makanlah darinya..’ ”. (Kitab al-Bidayah wa an-Niayah jilid 3 halaman 201; Kitab Sirah Ibnu Hisyam jilid 2 halaman 144 dan Kitab ad-Dala’il karya al-Baihaqi jilid 2 halaman 510)
– Dari Anas: “Sewaktu Rasul memasuki rumah Ummu Sulaim, beliau mendapati di rumah tersebut terdapat Qirbah (tempat air dari kulit) yang ter gantung dan di dalamnya terdapat air. Kemudian beliau mengambilnya dan meminum langsung dari bibir (Qirbah), dengan posisi berdiri. Ummu Sulaim mengambilnya dan memotong bibir Qirbah tadi yang kemudian disimpannya” (Lihat: Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 7 halaman 520 hadits ke-26574 dan atau Kitab at-Thobaqaat jilid 8 halaman 213)

– Dari Abdurrahman bin Abi Umrah yang diriwayatkan dari neneknya, Ummu Kultsum. Beliau berkata: “Sewaktu Rasul memasuki rumahku, beliau mendapati Qirbah tergantung yang berisi air. Beliau saw. meminum darinya. Kemudian kupotong bibir Qirbah dan kuangkat, mengharap berkah dari bekas bibir Rasulullah” (Lihat: Kitab Sunan Ibnu Majah jilid 2 halaman 1132 dan atau Kitab Usud al-Ghabah jilid 5 halaman 539 dalam huruf Kaf mengenai (tarjamah) Kultsum pada nomer 7243)
Pertanyaan yang sama juga bisa dilontarkan dan harus dijawab oleh golongan pengingkar dengan jujur: Apakah perbuatan yang telah dikemuka- kan semua dalam bab tawassul dan tabarruk ini tergolong Syirik? Apakah hal itu meniscayakan bahwa para Sahabat yang tergolong Salaf Sholeh telah mengajarkan kepada kita kesyirikan? Beranikah golongan pengingkar menvonis para sahabat di atas tadi telah melakukan kesyirikan? Mana bukti bahwa ajaran golongan pengingkar hendak menumbuhkan dan menyebar- kan ajaran para Salaf Sholeh? Salaf Sholeh yang mana yang hendak mereka hidupkan ajarannya?, padahal segenap Salaf Sholeh membolehkan dan mengamalkan tawassul dan tabarruk! Pikirkanlah!!

  • Tabarruk Para Sahabat dari Peninggalan Nabi saw.:

Untuk lebih menguatkan akan argumentasi diperbolehkannya tabarruk dalam syari’at Nabi Muhammad saw, maka di sini akan kita lanjutkan kajian kita pada telaah hadits-hadits yang menyebutkan bahwa para Salaf Sholeh telah bertabarruk kepada peninggalan Rasul saw., setelah wafat beliau. Dimana semua itu selama ini dianggap sebagai bentuk kesyirikan oleh kaum yang mengaku-ngaku sebagai penghidup ajaran dan manhaj Salaf Sholeh. Mari kita sama-sama perhatikan secara teliti uraian hadits-hadits di bawah ini:
 Diriwayatkan dari Muhammad bin Jabir, berkata: “Aku mendengar ayahku berkisah tentang kakekku, bahwa beliau adalah delegasi pertama Nabi dari Bani hanafiyah. Suatu saat kudapati dia menyiram kepalanya dan berkata: ‘Duduklah wahai saudara penghuni Yamamah, siramlah kepalamu!’. Aku siram kepalaku dengan air bekas siraman Rasulullah…maka aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, berilah aku potongan dari pakaianmu agar aku dapat merasakan ketentraman’. Beliau saw. memberikannya kepadaku. Selanjut- nya berkata Muhammad bin Jabir: ‘Ayahku berkata bahwa kami biasa menyiramkannya buat orang sakit untuk memohon kesembuhan’”. (Lihat: Al-Ishabah 2/102 huruf Sin bagian pertama, tarjamah Sayawis Thalq al-Yamani nomer 3626)
Jika apa yang dimiliki Rasulallah sama dengan milik kebanyakan orang, mengapa dia meminta kain Rasulallah untuk mendapat ketentraman (isti’nas)? Dan buat apa air bekas siraman kepala Rasulallah itu disimpan dan bahkan dijadikan sarana permohonan kesembuhan? Jika itu semua masuk kategori syirik, maka selayaknya golongan pengingkar tidak perlu mengaku sebagai penghidup ajaran dan manhaj Salaf Sholeh, tetapi peng- hidup ajaran Khalaf Thaleh (lawan Salaf Sholeh).
 Diriwayatkan dari Isa bin Thahman, berkata: “Anas menyuruh untuk mengeluarkan sepasang sandal yang memiliki dua tali, sedang kala itu aku berada di samping Anas. Aku dengar Tsabit al-Banani berkata: ‘Itu adalah sandal Rasulallah’ ”. (Lihat: Shohih Bukhari 7/199, 4/101, al-Bidayah wa an-Nihayah 6/6 dan Thabaqoot karya Ibnu Sa’ad 1/478)

Jika sandal Rasulallah sama dengan sandal-sandal manusia lain yang tidak layak disimpan dan ditabarruki, buat apa sahabat menyimpannya? Apakah sahabat kurang pekerjaan sehingga menyimpan sandal yang sudah tidak dipakai, atau bahkan sudah rusak? Tentu ada hikmah dibalik penyimpanan tersebut, salah satunya adalah untuk mengambil berkah dari Rasul, melalui sandal beliau.
 Dalam sebuah riwayat, Rasulallah bersabda: “Barangsiapa yang ber- sumpah di atas mimbarku dan dia berbohong walaupun terhadap selainnya maka selayaknya ia bersiap-siap mendapat tempat di neraka” (Lihat: Musnad Ahmad bin Hanbal 4/357 hadits ke-14606 dan Fathul Bari 5/210).
Ini semua membuktikan bahwa betapa sakralnya mimbar Rasulallah saw., menurut lisan Rasulallah sendiri, dan para sahabat pun meyakini hal itu. Terbukti bahwa Zaid bin Tsabit takut untuk bersumpah di mimbar Rasulallah saw. ketika menghukumi Marwan. (Lihat: Kanzul Ummal karya al-Muttaqi al-Hindi al-Hanafi 16/697 hadits ke-46389).
Bukan hanya itu, dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Yazid bin Abdullah bin Qoshith menjelaskan bahwa; “Aku melihat para sahabat Nabi sewaktu hendak meninggalkan masjid, mereka menyentuh pucuk mimbar yang menonjol yang (lantas dikemudian hari terletak) di sisi kanan kubur kemudian mereka menghadap kiblat dan berdo’a” (Lihat: at-Thabaqot al-Kubra 1/254 tentang mimbar Rasulalllah).
Bahkan dalam riwayat Ibrahim bin Abdurrahman bin Abdul Qori menyebut- kan bahwa; “Beliau melihat Umar meletakkan tangannya ke tempat duduk Nabi di atas mimbar, lalu mengusapkannya ke mukanya”. (Lihat: at-Thabaqot al-Kubra 1/254 tentang mimbar Rasulallah dan ats-Tsuqoot karya Ibnu Hibban halaman 9). Jika golongan pengingkar selalu menyatakan syirik buat pengambilan berkah –dari para penziarah yang datang ke Masjid Nabawi di kota Madinah dari mimbar Rasulallah, maka apakah layak kelompok ini mengaku sebagai ‘penghidup Sunah menurut ajaran Salaf Sholeh’? Ataukah mereka lebih layak disebut sebagai ‘penghidup bid’ah menurut ajaran Khalaf Thaleh?
Guna mempersingkat tulisan maka kami hanya menyebutkan beberapa hadits saja. Namun, di sini akan kita singgung beberapa riwayat beserta rujukannya dengan harapan para pembaca yang budiman dapat merujuk kembali ke tekts aslinya.
Dalam beberapa riwayat dan hadits lain disebutkan bahwa, ada beberapa hadits seperti yang membahas tentang Anas bin Malik yang dikubur dengan tongkat Rasulallah saw. (al-Bidayah wa an-Nihayah 6/6); para sahabat meng ambil berkah dari cincin Rasulallah dengan meniru bentuknya (Shahih Bukhari 7/55; Shohih Muslim 3/1656; an-Nasa’i 8/196; Musnad Ahmad bin Hanbal 2/96 hadits ke-472); para sahabat yang mengambil berkah dari sarung Rasulallah dengan memakainya secara bergilir dan dijadikannya kafan (Shahih Bukhari 7/189, 2/98, 3/80, 8/16; Sunan Ibnu Majah 2/1177; Musnad Ahmad bin Hanbal 6/456 hadits ke-22318; Fathul Bari 3/144 tentang hadits 1277); Muawiyah bin Abi Sufyan yang bersikeras membeli selendang Rasulallah untuk dibawa mati dan menjadi kafannya (Tarikh Islam karya adz-Dzahabi 2/412; as-Sirah al-Halabiyah 3/242;Tarikh Khulafa’ karya as-Suyuthi hal:19); hadits Ummu Athiyah tentang kehadiran Rasul ketika anak putrinya meninggal dan mengambil berkah dari sarungnya (Shohih Bukhari 2/74 kitab Jana’iz bab pemberian Kafur; Shohih Muslim 2/647; Musnad Ahmad 7/556 hadits ke-26752; Sunan an-Nasa’i 4/31 dan as-Sunan al-Kubra 3/547 bab 34 hadits ke-6634 dan atau 4/6 bab 72 halaman 6764).

  • Tabarruk para Sahabat dari Tempat Shalat Nabi saw.:

 Dari Musa bin Uqbah, beliau berkata: “Aku melihat Salim bin Abdullah bingung memilih tempat di jalanan untuk melaksanakan shalat. Dikatakan bahwa dahulu ayahnya pernah melaksanakan shalat di tempat itu. Dan ia pernah melihat bahwa Rasulallah saw. juga pernah melaksanakan shalat di tempat itu. Nafi’ berkata, ‘bahwa Ibnu Umar menjelaskan bahwa Rasulullah pernah melaksanakan shalat di tempat-tempat itu’. Aku bertanya kepada Salim karena aku tak pernah melihat Salim kecuali dia mengikuti Nafi’ dalam (memanfaatkan) semua tempat-tempat yang ada, kecuali mereka berdua berbeda dalam pada tempat sujud (masjid) sebagaimana kemuliaan alat putar penggiling (riha’)”. (Shohih Bukhari 1/130, Al-ishobah 2/349 pada huruf ‘Ain’ pada bagian pertama, tarjamah Abdullah bin Umar, nomer 4834, Al-Bidayah wa an-Nihayah 5/149 dan Kanzul Ummal karya Muttaqi al-Hindi al-Hanafi 6/247)
Dari hadits di atas itulah akhirnya Ibnu Hajar dalam mensyarahinya mengatakan; “Dari Shoni’ bin Umar dapat diambil pelajaran tentang disunnah kannya mengikuti peninggalan dan kesan Nabi untuk bertabarruk padanya”. (Fathul Bari 1/469; menurut as-Shorim: 108 dinyatakan bahwa Imam Malik menfatwakan; ‘Sunnah melakukan shalat di tempat-tempat yang pernah dibuat shalat oleh Nabi’. Pernyataan yang sama juga terdapat di kitab al-Isti’ab yang sebagai catatan kaki dari Al-Ishabah tentang Abullah bin Umar).
Tetapi pada kenyataannya, mengapa para muthawwi’ (rohaniawan sekte Wahabi) berusaha menghalang-halangi para jama’ah haji yang ingin ber tabarruk dan melakukan shalat di Gua Hira’ tempat menyendiri Rasulallah saw. yang beliau pakai untuk beribadah dan shalat di sana, dengan alasan Rasulallah saw. dan Salaf Sholeh tidak pernah memberi contoh hal tersebut?
 Ibnu Atsir berkata bahwa, ”Ibnu Umar adalah pribadi yang seringnya selalu mengikuti kesan dan peninggalan Rasulullah saw., sehingga nampak beliau berdiam di tempat (Rasulallah pernah berdiam di situ), dan melakukan shalat di tempat yang Rasulallah pernah melakukan shalat di situ, dan sampai pohon yang pernah disinggahi oleh Nabi saw. (untuk berteduh) pun di singgahinya, bahkan beliau (Ibnu Umar) selalu menyiraminya agar tidak mati k keringan”. (Lihat: Usud al-Ghabah 3/340, terjemah Abdullah bin Umar, nomer 3080. Dan hal serupa –dengan sedikit perbedaan redaksi– juga dapat dilihat dalam kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal 2/269 hadits ke-5968, Shohih Bukhari 3/140; Shohih Muslim 2/1981)

Apakah tabarruk Ibnu Umar tersebut tergolong syirik dan berlebih-lebihan (kultus) terhadap Rasulallah? Apakah mungkin pribadi mulia nan agung seperti Ibnu Umar melakukan perbuatan syirik yang dicela oleh Rasulallah saw.? Jika ya, lantas kenapa para Salaf Sholeh tidak pernah menegurnya, bukankah diamnya mereka berarti meridhoi hal yang sesat? Beranikah golongan pengingkar menyatakan bahwa itu adalah Syirik? Ataukah mereka terpaksa melegalkan perbuatan yang mereka anggap syirik itu? Ataukah mereka ini akan memutar balik makna riwayat-riwayat yang berkaitan Tawassul, Tabarruk sampai sesuai dengan pahamnya?
 Dari Anas bin Malik; “Sesungguhnya Ummu Sulaim meminta agar Rasulallah datang ke rumahnya dan melakukan shalat di rumahnya supaya ia dapat mengambilnya (bekas tempat shalat Rasulallah) sebagai mushalla. Rasulallah pun datang. Dia (Ummu Sulaim) sengaja memerciki tikar dengan air, kemudian Rasulallah melaksanakan shalat di atasnya yang di-ikuti oleh beberapa sahabat lainnya”. (Sunan an-Nasa’i jilid 1halaman 268 kitab masajid, bab 43 as-Sholat alal Hashir hadits 816).
 Dari Anas bin Malik; “Salah seorang pamanku membuat satu makanan, lalu berkata kepada Nabi: ‘Aku ingin engkau datang ke rumahku untuk makan dan shalat’. Dan (Anas) berkata: ‘Beliau saw. datang ke rumah sedang di rumah terdapat batu-batu (hitam). Beliau dipersilahkan ke salah satu sudut yang telah dibersihkan. Kemudian beliau saw. melakukan shalat, kami pun mengikutinya’ ”. (Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 249, kitab al-Masajid, bab al-Masjid fi ad-Daur, hadits 756; dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 3 halaman 130 dengan dua sanad atau dalam kitab Musnad Anas bin Malik hadits 11920)
 Suatu saat, datang Atban bin Malik salah seorang sahabat Rasulallah dari Anshar yang mengikuti perang Badr bersama Rasulallah saw. kepada Rasulallah seraya berkata: ‘”Wahai Rasulullah, telah lemah penglihatanku maka aku melakukan shalat bersama kaumku. Jika hujan turun dan meng- genangi lembah yang membentang antara tempatku dengan tempat mereka sehingga aku tak dapat melakukan shalat bersama mereka di masjid mereka ‘Wahai Rasulallah, aku mengharap engkau datang mengunjungiku dan me- laksanakan shalat di rumahku’. Rasululah saw bersabda kepadanya: ‘Aku akan melaksanakannya, insya-Allah’. Atban berkata: Keesokan harinya, di waktu siang, datanglah Rasulallah besama Abu Bakar. Kemudian Rasulallah meminta izin kepadaku dan akupun memberikannya izin. Beliau tidak duduk ketika memasuki rumah dan langsung bersabda; ‘Dibagian manakah engkau ingin aku mengerjakan shalat di rumahmu?’. Aku tunjuk satu sudut yang berada di rumahku. Rasulullah berdiri dan bertakbir. Kami pun turut berdiri dan mengambil saf untuk melakukan shalat dua rakaat dan membaca salam”.(Shohih Bukhari 1/115, 170 dan 175; Shohih Muslim 1/445, 61& 62)
Anehnya, dalam menetapkan pelarangan bertabarruk pada tempat-tempat dan benda-benda yang dianggap sakral (muqaddas), al-Ulyani dalam kitab “at-Tabarruk al-Masyru” hal: 68-69” berargumen dengan hadits Atban bin Malik yang disinyalir dalam kitab shohih Bukhari dan Shohih Muslim di atas untuk menetapkan ‘pengharaman tabarruk pada tempat dan benda’. Mengenai komentar Al-Ulyani lihat dan baca halaman selanjutnya yaitu pada kalimat Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan di bab ini.

  • Dalil Tabarruk dari Pusara (Kuburan) Rasulallah saw.:

Pada kajian lalu telah kita sebutkan beberapa hadits yang menjelaskan bahwa para Salaf Sholeh telah melakukan pengambilan berkah dari peninggalan-peninggalan Rasulallah saw. seperti sandal, tongkat, baju, bahkan mereka selalu mengusap-usap mimbar Nabi saw. dan mengusapkan nya ke mukanya. Semua perbuatan itu jelas-jelas dilarang oleh para rohaniawan madzhab Wahabi (Muttauwi’) terhadap para jama’ah haji yang ingin melakukannya sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat ter- hadap mimbar Rasulallah saw.
Kajian dan telaah kita berikut ini pada pembahasan; ‘Tabarruk terhadap Kuburan/Pusara’ yang jelas-jelas dilarang oleh kaum Wahabi, pengikut ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab yang sering mengatakan penghidup ajaran para Salaf Sholeh (Salafi). Padahal kalau kita teliti paham mereka banyak yang bertentangan dengan ajaran Salaf Sholeh dan prinsip dasar Ahlusunah wal Jama’ah, termasuk masalah pembolehan tabarruk terhadap kuburan/makam Rasulullah saw. Kaum muslimin yang pernah berziarah ke makam suci Rasulullah akan dengan jelas mengetahui bagaimana perlakuan para rohaniawan madzhab Wahabi itu, ketika mereka hendak mengusap tempat-tempat yang para sahabat Rasul saw. mengamalkannya.
 Dawud bin Abi Shaleh mengatakan: “Suatu saat Marwan bin Hakam datang ke Masjid (Nabawi). Dia melihat seorang lelaki telah meletakkan wajahnya di atas makam Rasul. Kemudian Marwan menarik leher dan mengatakan: ‘Sadarkah apa yang telah engkau lakukan?’. Kemudian lelaki itu menengok kearah Marwan (ternyata lelaki itu adalah Abu Ayyub al-Anshari ra) dan mengatakan: ‘Ya, aku bukan datang untuk seonggok batu, aku datang di sisi Rasulallah’. Aku pernah mendengar Rasulallah bersabda: ‘Sewaktu agama dipegang oleh pakarnya (ahli) maka janganlah menangis untuk agama tersebut. Namun ketika agama dipegang oleh yang bukan ahlinya maka tangisilah’ ”. (Lihat: Mustadrak ala as-Shohihain karya al-Hakim an-Naisaburi Jilid: 4 Halaman: 560 Hadits ke-8571 atau Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi Jilid: 4 Halaman 1404).
Juga riwayat semacam itu bisa dirujuk didalam kitab-kitab: Ibnu Hibban dalam shahihnya, Imam Ahmad (5:422), Tabarani didalam Mu`jam al-Kabir (4:189) dan didalam ‘Awsat’ disahkan oleh Haithami dalam al-Zawa’id (5:245), Al-Hakim dalam Mustadrak (4:515), Al-Dhahabi menshahihkan juga, al-Subki didalam Shifa’ al-Siqam halaman 126, Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2:261f, Haithami dalam al-Zawa’id 4:2). Hadits di atas (dari Hakim an-Naisaburi) telah dinyatakan keshohihannya oleh adz-Dzahabi. Sehingga tidak ada seorang ahli hadits lain yang meragukannya.
Atas dasar hadits di atas maka, as-Samhudi dalam kitab Wafa’ al-Wafa’ jilid: 4 halaman: 1404 menyatakan bahwa; “jika sanad haditsnya dinyatakan baik (benar) maka menyentuh tembok kuburan (makam) tidak bisa dinyatakan makruh”. Nah, jika hukum makruh saja tidak bisa ditetapkan apalagi hukum haram, sebagai perwujudan dari perbuatan syirik sebagaimana yang ‘dihayal kan’ oleh madzhab Salafi (baca: Wahabi).

Hadits di atas itu jelas menunjukkan disamping ziarah kepada Rasulallah saw. juga pengambilan barokah dari makam Rasulallah saw. Ziarah kubur dengan tujuan pengambilan barokah semacam itu tidaklah mengapa, bukan tergolong syirik ataupun bid’ah sebagaimana yang dianggap oleh kaum Wahhabi. Bila tidak demikian mengapa Abu Ayyub ra. tidak cukup beri salam dan berdo’a kepada Allah swt. tanpa di iringi dengan menempelkan wajah- nya di atas pusara Nabi saw.?
Dalam konteks riwayat itu juga tidak jelas di sebutkan apa penyebab teguran Marwan terhadap Abu Ayyub. Ada banyak kemungkinan di sini. Yang jelas bukan karena syirik atau bid’ah, karena kalau benar semacam itu niscaya Marwan akan tetap bersikeras melarang perbuatan Abu Ayyub tersebut. Bila orang ingin menjalankan Amar makruf nahi munkar tidak perduli siapa yang berbuat (baik itu sahabat maupun bukan sahabat) harus dicegah perbuatan munkarnya. Lalu mengapa Marwan menghentikan tegurannya ketika melihat bahwa yang melakukannya adalah Abu Ayyub?
Adapun teguran Marwan jelas tidak bisa disamakan dengan teguran para muthowwi’ (rohaniawan Wahhabi) di sekitar tempat-tempat suci di Saudi Arabia. Karena muthowwik itu dengan jelas langsung menvonis syirik, bukan karena rasa khawatir syirik, tidak lain karena kesalahan mereka dalam memahami dan mempraktekkan kaidah Syadzudz Dzarai dan dalam menentukan tolak ukur antara Tauhid dan syirik.
Bila apa yang dilakukan Abu Ayyub al-Anshari seorang sahabat besar Rasulallah itu tergolong perbuatan syirik (sebagaimana paham kaum Wahabi) maka mungkinkah seorang sahabat besar semacam beliau melaku- kan perbuatan syirik atau akan berbuat sesuatu yang berbau kekufuran atau kesyirikan? Sudah Tentu Tidak Mungkin! Beranikah golongan pengingkar menyatakan bahwa Abu Ayyub al-Anshari pelaku syirik karena tergolong penyembah kubur (quburiyuun)?
 Abu Darda’ dalam sebuah riwayat menyebutkan: “Suatu saat, Bilal (al-Habsyi) bermimpi bertemu dengan Rasulallah. Beliau bersabda kepada Bilal: ‘Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidak perhatianmu (jafa’)? Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?’. Selepas itu, dengan perasa- an sedih, Bilal segera terbangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju ke Madinah. Bilal mendatangi kubur Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulallah) datang. Bilal mendekap dan mencium keduanya”. (Tarikh Damsyiq jilid 7 halaman: 137; Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar jilid: 1 hal. 208; Tahdzibul Kamal jilid: 4 hal. 289, dan Siar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi jilid: 1 Halaman 358)
Bilal menganggap ungkapan Rasulallah saw. dalam mimpinya sebagai teguran dari beliau saw., padahal secara dhohir beliau saw. telah wafat. Jika tidak demikian, mengapa sahabat Bilal datang jauh-jauh dari Syam menuju Madinah untuk menziarahi Rasulallah saw.? Kalau Rasulallah benar-benar telah wafat sebagaimana anggapan golonganpengingkar bahwa yang telah wafat itu sudah tiada maka Bilal tidak perlu menghiraukan teguran Rasulallah itu. Apa yang dilakukan sahabat Bilal juga bisa dijadikan dalil atas ketidakbenaran paham Wahabisme –pemahaman Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab– tentang pelarangan bepergian untuk ziarah kubur sebagaimana yang mereka pahami tentang hadits Syaddur Rihal.

 Ibnu Hamlah menyatakan: “Abdullah bin Umar meletakkan tangan kanan- nya di atas pusara Rasul dan Bilal pun meletakkan pipinya di atas pusara itu”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ Jilid: 4 Halaman: 1405)
Apa maksud Ibnu Umar dan Bilal meletakkan tangan di pusara Rasulallah? Mengapa ulama madzhab Wahabi menvonnis syirik kepada penziarah yang ingin mengusap teralis besi penutup pusara Rasulallah saw. dan kedua sahabatnya? Apakah mereka ini juga menganggap semua hadits yang telah dikemukakan itu dho’if, palsu, maudhu’ dan lain sebagainya, karena ber- lawanan dengan pahamnya?
 Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib kw. bahwa: “Sewaktu Rasulullah di- kebumikan, Siti Fatimah –puteri Rasul satu-satunya– bersimpuh disisi kuburan Rasulallah dan mengambil sedikit tanah makam Rasulallah kemudian diletakkan dimukanya dan sambil menangis ia pun membaca be- berapa bait syair….”. (al-Fatawa al-Fiqhiyah karya Ibnu Hajar jilid 2 hal.18, as-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hal.340, Irsyad as-Sari jilid 3 hal. 352 dsb.nya)
Jika apa yang dilakukan Siti Fatimah tersebut adalah Syirik atau Bid’ah maka mengapa ia melakukannya? Apakah dia tidak pernah mengetahui apa yang telah diajarkan oleh ayahnya (Rasulullah)? Apakah mungkin khalifah Ali bin Abi Thalib membiarkan istrinya terjerumus ke dalam kesyirikan dan Bid’ah yang dilarang oleh beliau saw. (versi Wahabisme)? Bukankah keduanya adalah keluarga dan sahabat Rasulallah yang tergolong Salaf Sholeh, yang konon akan diikuti oleh kelompok Wahabi?
 Seorang Tabi’in bernama Ibnu al-Munkadir pun pernah melakukannya (bertabarruk kepada kuburan Rasulallah). “Suatu ketika, di saat beliau duduk bersama para sahabatnya, seketika lidahnya kelu dan tidak dapat berbicara. Beliau langsung bangkit dan menuju pusara Rasulallah dan meletakkan dagunya di atas pusara Rasulallah kemudian kembali. Melihat hal itu, seseorang mempertanyakan perbuatannya. Beliau menjawab: ‘Setiap saat aku mendapat kesulitan, aku selalu mendatangi kuburan Nabi’ ”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ Jilid: 2 Halaman: 444)
Atas dasar hadits-hadits tadi akhirnya as-Samhudi menyatakan dalam kitab Wafa’ al-Wafa’-nya (jilid: 1 Halaman: 544) bahwa; “Mereka (para sahabat) dan selainnya (Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in) sering mengambil tanah dari pusara Rasulallah. Aisyah (ummul mukminin) ra. membangunnya dan menutup pusara itu dengan terali. Dikatakan: ‘Ditutup olehnya (Aisyah) karena menghindari habisnya tanah pusara dan kerusakan bangunan di atasnya’ ”.
Masihkah golongan pengingkar yang mengatas namakan diri sebagai pengikut dan penghidup ajaran Salaf Sholeh itu hendak menuduh kaum muslimin yang bertabarruk terhadap peninggalan Nabi sebagai pelaku syirik dan bid’ah? Kalaulah secara esensial pengambilan berkah dari kuburan adalah syirik maka setiap pelakunya harus diberi titel musyrik, tidak peduli sahabat Rasulallah atau pun orang awam biasa! Beranikah golongan ini menjuluki mereka sebagai “para penyembah kubur” (Kuburiyuun)?, sebagai mana istilah ini sering diberikan kepada kaum muslimin yang suka mengambil berkah dari kuburan Nabi dan para manusia kekasih Allah (Waliyullah) lainnya?

  • Antar Para Sahabat pun Saling Bertabarruk:

Pertama-tama, kita akan melihat beberapa tekts tentang: apakah diperboleh- kan mengambil berkah dari selain Nabi, seperti para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ Tabi’in dan para manusia sholeh dan bertakwa pasca masa mereka? Kita di sini akan melihat beberapa tekts yang membuktikan bahwa para sahabat satu dengan yang lain dan diantara mereka telah saling mengambil berkah. Sedang kita tahu bahwa, menurut Ahlusunah wal Jama’ah, semua sahabat adalah Salaf Sholeh yang layak ditiru dan diikuti.
 Imam an-Nawawi dalam kitab “al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab” (jilid 5 hal. 68) dalam Kitabus-Shalat dan dalam Babus-Shalatul-Istisqo’ yang menukil riwayat bahwa Umar bin Khatab telah meminta do’a hujan melalui ‘Abbas (paman Rasulallah) sebagaimana yang telah kita kemukakan sebelumnya dengan menyatakan: ‘Ya Allah, Dahulu jika kami tidak mendapat hujan maka kami bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami, lantas engkau meng- anugerahkan hujan kepada kami. Dan kini, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi-Mu, maka turunkanlah hujan bagi kami. Kemudian turun lah hujan’. (Ibnu Hajar juga menyatakan bahwa; Abu Zar’ah ad-Damsyiqi juga telah menyebutkan kisah ini dalam kitab sejarahnya dengan sanad yang shahih).
 Dalam kitab yang sama di atas, disebutkan bahwa Muawiyah telah meminta hujan melalui Yazid bin al-Aswad dengan mengucapkan: “Ya Allah, kami telah meminta hujan melalui pribadi yang paling baik dan utama di antara kami (sahabat, red). ‘Ya Allah, kami meminta hujan melalui diri Yazid bin al-Aswad. Wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu kepada Allah’. Ia mengangkat kedua tangannya diikuti oleh segenap orang (yang berada disekitarnya). Maka mereka dianugerahi hujan sebelum orang-orang kembali ke rumah masing-masing”.
Ibnu Hajar dalam kitab ‘Fathul Bari’ (Syarah kitab Shohih al-Bukhari) pada jilid 2 halaman 399 dalam menjelaskan peristiwa permintaan hujan oleh Umar bin Khatab melalui Abbas, menyatakan: “Dapat diambil suatu pelajaran dari kisah Abbas ini yaitu, dimustahabkan (sunnah) untuk meminta hujan melalui pemilik keutamaan dan kebajikan, juga ahlul bait Nabi”.
 Ibnu Atsir dalam kitab ‘Usud al-Ghabah’ (Jilid: 3 Halaman: 167) dalam menjelaskan tentang pribadi [tarjamah] Abbas bin Abdul Mutthalib pada nomor ke-2797 menyatakan: “Sewaktu orang-orang dianugerahi hujan, mereka berebut untuk menyentuhi Abbas dan mengatakan: ‘Selamat atasmu wahai penurun hujan untuk Haramain’. Saat itu para sahabat mengetahui, betapa keutamaan yang dimiliki oleh Abbas sehingga mereka mengutama- kannya dan menjadikannya sebagai rujukan dalam bermusyawarah”.
 Sewaktu Umar bin Khatab melamar Ummu Kultsum (putri Ali bin Abi Thalib), ia mengatakan: ‘Aku ingin masuk menjadi bagian dari Rasulallah’.

 As-Samhudi dalam kitab “Wafa’ al-Wafa’” (jilid 2 hal. 448) menyatakan bahwa; ”Dahulu, Ali bin Abi Thalib selalu duduk di depan serambi yang ber- hadapan dengan kuburan (Rasulallah, red). Disitu terdapat pintu Rasulallah yang didepannya terdapat jalan yang dipakai Nabi keluar dari rumah Aisyah untuk menuju Masjid (Raudhah). Di tempat itulah terdapat tiang (pilar) tempat shalat penguasa (amir) Madinah. Ia (Ali bi Abi Thalib) duduk sambil menyandari tiang itu. Oleh karena itu, Al-Aqsyhary mengatakan: ‘Tiang tempat shalat Ali itu hingga kini sangat disembunyikan dari para pengunjung tempat suci (Haram) agar para penguasa dapat (leluasa) duduk dan shalat di tempat itu, hingga hari ini’. Disebutkan bahwa tempat itu disebut dengan ‘Tempat para Pemimpin’ (Majlis al-Qodaat) karena kemuliaan orang yang pernah duduk di situ (yaitu Ali bin Abi Thalib, red)”.
 Dalam kitab yang sama di atas, as-Samhudi (pada jilid 2 hal. 450) menukil dari Muslim bin Abi Maryam dan pribadi-pribadi lain yang menyatakan: “Pintu rumah Fatimah binti Nabi saw. terletak di ruangan segi empat yang berada di sisi kubur. Sulaiman berkata: Muslim telah berkata kepadaku: ‘Jangan engkau lupa untuk mengerjakan shalat di tempat itu. Itu adalah pintu rumah Fatimah dimana Ali bin Abi Thalib selalu melewatinya’ ”.
 Ibn Sa’ad dalam kitab ‘at-Thabaqoot al-Kubra’ (jilid 5 hal. 107) menukil riwayat yang menyatakan: “Sewaktu Husein bin Ali bin Thalib meninggalkan Madinah untuk menuju Makkah, ia bertemu dengan Ibn Muthi’ yang sedang menggali sumur. Ia berkata kepada Husein: ‘Aku telah menggali sumur ini tetapi tidak kudapati air dalam ember sedikit pun. Jika engkau berkenan untuk mendo’akan kami kepada Allah dengan berkah’. Husein berkata: ‘Berikan sedikit air yang kau punya’!. Kemudian diberikan kepadanya air lalu ia meminumnya sebagian dan berkumur-kumur dengan air tadi kemudian mengembalikannya ke dalam sumur. Seketika itu sumur menjadi memancar- kan air dengan melimpah” .
 Ibnu Hajar dalam kitab ‘as-Showa’iq al-Muhriqoh’ (halaman 310 pasal ke-3 tentang hadits-hadits yang berkaitan dengan ahlul bait) menyebutkan: “Ketika ar-Ridho (salah seorang keturunan Rasulallah, red) sampai di kota Naisabur, orang-orang berkumpul disekitar kereta tunggangannya. Ia mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta sehingga dapat dilihat oleh khalayak. Kemudian (sambil memandanginya) mereka berteriak-teriak, menangis, menyobek-nyobek baju dan melumuri dengan tanah, juga men- ciumi tanah bekas jalannya kendaraannya…”. (Hal ini juga dinukil oleh as-Sablanji dalam kitab ‘Nur al-Abshar’ halaman: 168, pasal Manaqib Sayid Ali ar-Ridho bin Musa al-Kadzim)
Di atas tadi adalah sebagian contoh bahwa para sahabat pun telah ber- tabarruk dari pribadi-pribadi yang dianggap lebih mumpuni dari sisi kebaikan dan ketaatan dibanding dengan yang lain. Ini sebagai bukti bahwa meng- ambil berkah dari orang-orang sholeh dan dianggap lebih bertakwa memiliki legalitas dalam ajaran Islam, karena para Salaf Sholeh telah melakukannya.
Dari kisah di atas juga dapat dipahami bahwa, tidak semua sahabat memiliki kemuliaan yang sama, terdapat perbedaan derajat ketakwaan dan keutama- an di antara mereka. Dan dari nukilan riwayat-riwayat tadi dapat diambil kesimpulan bahwa, hanya orang-orang yang Sholeh dan bertakwa saja yang dapat diambil berkahnya, baik pribadi orang Sholeh itu, do’anya maupun peninggalan-peninggalannya. Adapun orang yang tidak sholeh dan takwa, obyek-obyek yang tidak memiliki kesakralan Ilahi, maka jelas sekali bahwa semua itu diluar dari obyek kajian kita.
Dari riwayat-riwayat itu juga dapat kita ambil pelajaran untuk menjawab anggapan orang-orang seperti al-Jadi’ dalam kitabnya yang berjudul “At-Tabarruk; ‘Anwa’uhu wa Ahkamuhu” halaman: 261 dan as-Syatibi -dalam karyanya yang berjudul ‘al-I’tisham’ jilid 2 halaman: 9, dimana keduanya sepakat bahwa; ‘Tabarruk hanya diperbolehkan kepada diri dan peninggalan Rasulallah saja’. Hal itu karena mereka beralasan bahwa Rasulallah tidak pernah memerintahkannya. Selain itu, alasan lainnya adalah; ‘Tidak ada riwayat yang menjelaskan legalitas prilaku semacam ini’ (tabarruk kepada pribadi selain Nabi). Bahkan as-Syatibi menyatakan bahwa; ‘Barangsiapa yang melakukan hal itu maka tergolong bid’ah, sebagaimana tidak diper- bolehkannya mengawini perempuan lebih dari empat’.
Telah jelas riwayat-riwayat di atas membuktikan bahwa para Sahabat telah mengambil berkah kepada sesama sahabat yang dianggap lebih utama dari sisi ketakwaan. Entahlah mengapa al-Jadi’ dan as-Syatibi tidak pernah menemukan riwayat-riwayat semacam itu?. Lagi pula, jika bertabarruk kepada sahabat adalah bid’ah, mengapa sahabat Umar telah bertabarruk kepada Abbas? Apakah khalifah Umar telah melakukan Bid’ah, karena melakukan satu perbuatan yang Rasulallah saw. tidak pernah memerintah- kan dan mencontohkannya? Beranikah orang menvonis sahabat seperti Umar bin Khatab (khalifah kedua) sebagai ahli Bid’ah?
Walaupun Rasulallah saw. tidak pernah memerintahkannya tetapi bukan berarti otomatis bertabarruk selain kepada beliau saw. itu sebagai amalan bid’ah, haram dan sebagainya. Mengapa justru al-Jadi dan as-Syatibi berani melarangnya?, sedangkan Rasulallah saw. sendiri tak pernah melarangnya!
Sekarang yang menjadi masalah adalah, jika tadi telah ditkemukakan bahwa selain peninggalan Nabi saw., peninggalan para Sahabat Nabi pun boleh untuk diambil berkahnya sewaktu masa hidup mereka, bagaimana dengan perkara tadi setelah kewafatan mereka? Dan yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya adalah; Bolehkah kita (kaum muslimin) mengambil berkah dari orang biasa (bukan Nabi dan juga bukan Sahabat Nabi) namun dia tergolong orang Sholeh dan bertakwa? Apakah pengambilan berkah dari mereka hanya sebatas sewaktu mereka masih hidup ataukah juga diperbolehkan untuk mengambil berkah dari jenazah (jasad orang yang telah mati) dan kuburan mereka? Untuk menjawab syubhat ini –selain telah kita singgung sebelumnya bahwa para sahabat telah mengambil berkah dari kuburan Rasulallah akan kita jelaskan berikut ini bahwa tidak hanya dibatasi pada orang Sholeh yang masih hidup saja, bahkan pasca kematiannya pun masih bisa (legal) untuk ditabarruki, tidak seperti sangkaan golongan pengingkar yang dengan tegas menyatakannya sebagai perbuatan syirik.

  • Jenazah dan Kuburan/Pusara Ulama yang Diambil Berkah:

Setelah kita mengetahui pendapat (baca: fatwa) para ulama Ahlussunnah dari berbagai madzhab perihal legalitas mengambil berkah (tabarruk) dari berbagai peninggalan Nabi saw. setelah wafat beliau terkhusus pusara suci beliau saw. dan dari para manusia sholeh lainnya, kini kita akan melihat bagaimana kaum muslimin pun melanjutkan dan menerapkan syiar Islam ini kepada kuburan para sahabat Rasulallah saw. dan ulama mereka.
 Kuburan Bilal al-Habsyi –seorang sahabat besar dan muadzin Rasulallah– yang berada di Damaskus (Syiria) adalah salah satu dari manusia mulia kekasih Allah dan Rasul-Nya yang selalu diziarahi dan diambil berkah oleh banyak dari kaum muslimin. Bukan hanya kaum muslim awam saja yang mencari berkah darinya, namun para Waliyullah pun turut berdo’a dan mengambil berkah darinya. (Lihat: Rihlah bin Jubair halaman: 251)
 Kuburan Abu Ayyub al-Anshari (di Istanbul, Turki) juga termasuk yang di ambil berkahnya. Al-Hakim an-Naisaburi menjelaskan: “Mereka bertekad, menziarahi dan mencari berkah hujan jika ditimpa kekeringan.” (Lihat: al-Mustadrak ‘ala as-Shohihain jilid: 3 halaman: 518 atau Ibnu al-Jauzi dalam Shofwah al-Shofwah jilid: 1 halaman: 407)
 Makam sahabat besar Suhaib ar-Rumi juga termasuk yang dicari berkahnya. Bahkan as-Samhudi sendiri pernah mencoba tanah kuburannya untuk mengobati demam. Begitu juga dengan kuburan Hamzah bin Abdul Mutthalib –paman Nabi dan penghulu para syahid– dimana as-Samhudi menukil ucapan az-Zarkasyi yang menyatakan: “Tanah makam Hamzah di ambili oleh orang-orang untuk pengobatan”. (Wafa’ al-Wafa’ jilid 1 hal. 69).
 Salah seorang sahabat Rasulallah saw. yang bernama Abu ‘Amr Sa’ad bin Muadz al-Anshari yang dalam kitab Siar A’lam an-Nubala jilid 1 halaman 279 disebutkan bahwa kematiannya menyebabkan ‘Arsy goncang kuburan- nya menjadi salah satu tempat pengambilan berkah. Disebutkan bahwa salah seorang telah mengambil tanah pekuburannya kemudian membawa- nya pergi. Setelah lama ternyata berubah menjadi misik. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ karya as-Samhudi jilid 1 halaman 115)
 Makam Umar bin Abdul Aziz salah seorang khalifah dari Bani Umayyah (wafat tahun 101 H) menjadi sasaran pencari berkah. Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh adz-Dzahabi. (Tadzkirah al-Huffadz jilid 1 hal. 339).
 Pusara salah seorang cucu Rasulullah yang bernama Imam Ali bin Musa ar-Ridho yang kuburannya berada di Thus juga menjadi
obyek ziarah dan pencarian berkah. Abu Bakar Muhammad bin Muammal mengatakan: “Ketika kami keluar bersama Imam ahli Hadits Abu Bakar bin Khuzaimah beserta ‘Adilah Abi Ali ats-Tsaqofi yang disertai dengan beberapa orang syeikh kita yang ingin menziarahi Ali bin Musa ar-Ridho di kota Thus. Beliau mengatakan: ‘Aku melihat betapa penghormatan, kerendahan dan perendah- an dirinya –yaitu Ibnu Khuzaimah– terhadap kuburan itu hingga kami heran dibuatnya’ ”. (Tahdzib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar al-Asqolani jilid 7 hal. 339)

 Abdullah bin al-Haddani yang terbunuh (syahid) pada ‘hari Tarwiyah’ di tahun 183 H juga merupakan salah seorang yang kuburannya menjadi obyek pencarian berkah kaum muslimin.
Mereka mengambil tanah pekuburannya. Tanah itu ibarat misik yang kemudian mereka taburkan di baju mereka. (Lihat: Hilliyatul Auliya karya Abu Na’im al-Isbahani jilid: 2 halaman: 258 atau kitab Tahdzib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar al-Asqoilani jilid: 5 halaman: 310)
 Kuburan Ma’ruf al-Karakhi pun termasuk yang dicari berkahnya oleh kaum muslimin. Ibnu al-Jauzi dalam hal ini menyatakan: “Kuburannya terletak di Baghdad nampak menonjol dan diambil berkahnya. Ibrahim al-Harbi mengatakan: ‘Kuburan Ma’ruf adalah obat yang mujarab’ ”. (Lihat: Shofwah al-Shofwah Jilid: 2 Halaman: 324)
 Kuburan al-Khidr bin Nashr al-arbali (wafat tahun 567 H) seorang ahli fikih dari mazhab Syafi’i kuburannya dijadikan tempat pencarian berkah. Ibnu Katsir dalam menukil ungkapan Ibnu Khalkan mengatakan: “Kuburannya diziarahi, dan aku telah menziarahinya lebih dari sekali. Kulihat orang-orang mengerumuni kuburannya dan mencari berkah darinya”. (Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir jilid: 12 halaman: 353)
 Kuburan Nuruddin Mahmud bin Zanki (wafat tahun 569 H) –beliau adalah pejuang dan penguasa negeri Syam (Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah Jilid: 12 Halaman: 306)- juga termasuk yang dicari berkahnya. Ibnu Katsir dalam hal ini menyatakan: “Kuburannya berada di Damaskus yang selalu diziarahi, digelayuti jendelanya, diberi minyak wangi dan dicari berkahnya setiap saat” (Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah Jilid: 12 Halaman: 353)
 Kuburan Imam al-Bukhari (pemilik kitab Shohih) pun tidak luput dari pencari berkah dari kaum muslimin. As-Subki dalam menjelaskan wafat beliau, menyatakan: “Adapun tentang tanah (kuburan), mereka telah meninggikan tanah kuburannya sehingga nampak menonjol. Sampai-sampai para penjaga tidak mampu menjaga kuburan tersebut. Kami telah melupakan diri kami sendiri, lantas kami menyerbu kuburan tersebut bersama-sama. Hingga sulit bagi kami untuk sampai ke kuburan tersebut.” (Lihat: Thobaqoot as-Syafi’iyah jilid: 2 halaman: 233 atau kitab Siar A’lam an-Nubala karya adz-Dzahabi jilid: 12 halaman: 467)

Dan masih banyak lagi kuburan-kuburan lain yang menjadi pusat ziarah mau pun pencarian berkah yang terdapat di berbagai negara seperti; Irak, Syiria, Mesir, Pakistan, Yordania, Yaman, Iran, Indonesia, Malaysia, Singapore dan negara-negara lainnya. Kuburan-kuburan itu adalah pusara-pusara para kekasih Ilahi yang diperbolehkan bagi setiap muslim untuk menziarahinya dan mencari berkah darinya, berdasarkan syariat Islam yang diajarkan oleh Rasulallah melalui sahabat-sahabat mulia beliau yang menjadi sandaran kesepakatan ulama Ahlusunnah dalam memberikan fatwa legalitas ber- tabarruk. Jika hal tersebut tetap dinyatakan oleh golongan pengingkar sebagai perbuatan ghuluw, syirik, maka apa kata mereka ketika melihat kuburan dan jenazah Ahmad bin Hanbal yang diakui sebagai Imam hadits mereka dan jenazah Ibnu Taimiyah diperlakukan sama semacam itu oleh kelompok dari mereka sendiri?
Marilah kita lihat apa yang terjadi dengan kuburan Imam Ahmad bin Hanbal dan jenazah Ibnu Taimiyah:
Ibnu Hanbal: Kuburan Imam Ahmad bin Hanbal (wafat tahun 241 H) nampak menonjol dan masyhur menjadi tujuan ziarah para penziarah dan tempat pencarian berkah. (Lihat: Mukhtashar Thabaqoot al-Hanabilah halaman: 14)
Ibnu Taimiyah: Ibnu Katsir mengisahkan: “Dalam menghantar (tasyi’) jenazahnya orang-orang berbondong-bondong hingga iringan jenazahnya memenuhi jalanan. Semua orang menyerbunya dari segala penjuru sehingga kerumunan kian bertambah ramai. Mereka melempar sapu tangan dan sorban mereka di atas keranda guna mengambil berkah. Kayu-kayu keranda jenazah banyak yang putus akibat terlampau banyak orang yang bergelayut- an. Mereka juga meminum air bekas memandikan jenazahnya untuk mencari keutamaan (tayammun)….mereka bersedia membeli sisa-sisa kayu bidara (sidir, bekas memandikan jenazah) dan membagi-baginya diantara mereka…dan bahkan dikatakan bahwa; ‘Benang yang diberi air raksa (zibaq) yang diletakkan pada jasadnya untuk menghalau kutu-kutu pun mereka beli dengan harga seratus lima puluh dirham”. (Lihat: al-Bidayah wa an-nihayah jilid: 14 hal. 136 atau pada kitab al-Kuna wa al-Alqob jilid: 1 halaman: 237)
Jika pencari berkah dari kuburan dan dari jenazah (orang mati) adalah syirik atau bid’ah, maka penziarah kubur Imam Ahmad bin Hanbal semuanya para ahli bid’ah dan kaum musyrik. Lebih kasihan lagi pengantar jenazah Ibnu Taimiyah, betapa tidak, karena para pengantar jenazahnya berebutan untuk mengambil barokah dari keranda, minum air bekas memandikan jenazah beliau dan lain sebagainya.

  • Mari kita rujuk lagi macam-macam bentuk riwayat lainnya yang berkaitan dengan Tabarruk

– Samiri, (pada zaman Nabi Musa as.) yang mengambil barakah dari tanah dimana Jibril as melaluinya. Ketika Samiri mengambil dan melemparkan tanah pada patung anak sapi yang dibuatnya, patung jadi bisa bersuara, karena berkah dari tanah bekas jejak malaikat Jibril as.tersebut. Firman Allah swt:
(Samiri menjawab): “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahui nya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”. (S Thaahaa [20] ayat 96)
Hampir semua ahli tafsir menginformasikan bahwa yang dmaksud dengan jejak Rasul dalam ayat di atas adalah jejak malaikat Jibril a.s.

 Begitu juga firman Allah swt. agar menjadikan tempat berdirinya Nabi Ibrahim as. waktu membangun Ka’bah sebagai tempat sholat: ..’Dan jadikan lah sebagian maqam (tempat berdiri) Ibrahim tempat sholat’. (Al-Baqarah:125). Disini menunjukan bahwa Allah swt. memuliakan Rasul-Nya Ibrahim as. dan menjadikan tempat berdirinya beliau sebagai tempat yang mulia yang dianjurkan manusia untuk melakukan sholat pada tempat tersebut dan pengambilan barokah.
Silahkan juga rujuk tentang riwayat para sahabat percaya bahwa rumah yang pernah dimasuki Rasulallah ada barakahnya. (Bukhari,jilid 5, Buku 58, nomer 159, Ahmad Musnad 3:98 #11947, Bukhari, jilid 7, Buku 71, Nomer 647, Malik in al-Muwatta; Buku 50 nomer 50:4:10, Abu Dawud, 41: 5206).
– Mu’adz Ibnu Jabal dan Bilal (ra) datang kemakam Nabi duduk menangis dan mengusapi mukanya dengan tanah itu. (Ibnu Majah 2:1320).
– Nabi memerintahkan para sahabat untuk mengambil berkah dari sumur di mana onta betina Nabi Sholeh minum disitu. (Bukhari, jilid 4, Buku 55, no 562).
Menurut riwayat sumur Nabi Sholeh a.s.ada dikota ‘Asir di Saudi Arabia dekat perbatasan Yaman. Banyak para sahabat waktu itu diantaranya; Ali bin Abi Thalib, Mu’az bin Jabal, Abu Musa Al- Asy’ari (ra) diutus oleh Rasulallah saw. ke Yaman dan sahabat lainnya diutus untuk dakwah keluar kenegara-negara selain Hijaz (sekarang Saudi Arabia) misalnya Khalid bin Walid ke Najran, Utsman bin Abi ‘Ash ke Tsaqif dan sebagainya.
Nah, kalau sumur yang ontanya Nabi Sholeh as pernah minum air disana berapa waktu silam sebelum zaman Nabi saw. saja masih bisa menjadikan barokah apalagi bekas-bekas peninggalan manusia yang mulia dan taqwa yakni Rasulallah saw. atau para sahabat dan para waliyullah yang mana mereka semua dimuliakan oleh Allah swt. Jadi penghormatan serta peng ambilan barokah dari tempat yang suci tidak sama dengan menyembahnya!
 Firman Allah swt. kepada Nabi Musa a.s.: “Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa“. (QS Thaahaa:12).
Allah swt. sendiri menyatakan lembah Thuwa adalah tempat yang suci sehingga Nabi Musa as. ditempat ini diperintahkan untuk menanggalkan terompahnya sebagai penghormatan (ta’dhim) pada tempat tersebut. Ini bukti bahwa ada tempat-tempat yang disucikan oleh Allah swt. Apa mungkin Allah swt. memerintahkan sesuatu yang berbau syirik? Sudah tentu tidak mungkin! Dengan demikian kita harus bisa membedakan antara ta’dhim/penghormatan dan ibadah!
 Khalifah Umar ra. ketika mengunjungi Ka’bah berkata pada Hajar Al-Aswad: ‘Kamu tidak bisa apa-apa, tapi saya menciummu untuk mengikuti Rasulallah saw.’ Atas ucapan Khalifah Umar ini khalifah Ali kw. berkata pada khalifah Umar sebagai berikut: ‘Rasulallah saw. berkata dihari pengadilan hajar Al-Aswad akan menjadi perantara (saksi) atas orang-orang’. (Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasai, Al-Baihaqi, At-Tabharani dan Al-Bukhari dalam kitab Risalahnya) dan khalifah Umar ra berterima kasih pada Amirul mukminin Ali bin Thalib kw.
Golongan Salafi/Wahabi menyebarkan versi hadits terakhir di atas ini dengan mengurangi dari riwayat aslinya. Mereka menceritakan hanya sampai kata-kata khalifah Umar ra. saja, dan membuang perkataan khalifah Ali kw. yang menyatakan bahwa Hajar al-Aswad akan menjadi wasilah atau perantara pada hari pengadilan nanti. Golongan ini tidak siap untuk mengambil pengajaran dari sebagian isi dari Al-Qur’an dan Sunnah karena berlawanan secara langsung dengan keyakinan literalisme mereka. Sayangnya ulama-ulama mereka berusaha sebisa mungkin menyembunyikan atau menolak hadits-hadits yang telah kami kemukakan, supaya orang-orang tetap tidak tahu mengetahui hadits-hadits seperti itu. Sedangkan pengikut-pengikutnya hanya mengikuti apa yang diucapkan oleh para ulama mereka ini.
Mengenai hajar aswad Ibnu Hibban dalam kitab Shohih-nya mengatakan: “Bahwa Nabi saw. bersabda: ‘Al-hajaru war ruknul yamaaniyyu yahutthul khataayaa hatthan’. Artinya: “Hajar aswad (batu hitam) dan rukun yamani menggugurkan dosa sebanyak-banyaknya”. (dinukil dari kitab Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq jilid 5 cet.pertama hal. 152). Banyak riwayat lain mengenai hajar aswad ini.
 Diriwayatkan oleh Imam Muslim (Lihat kitab Al-Libas Wa Az-Zinah jilid 3, halam 140) sebagai berikut: “Asma binti Abubakar As-Shiddiq ra menuturkan, bahwa ia pernah mengeluarkan jubah thayalisah (yaitu pakaian kebesaran yang lazim dipakai oleh raja raja Persia), pada bagian dada dan dua lipatan yang membelahnya berlapiskan sutera mewah. Menurut Asma itu adalah jubah Rasulallah saw. yang dulu disimpan oleh Aisyah ra. Setelah Aisyah wafat jubah itu disimpan oleh Asma. Asma mengatakan, bahwa Nabi saw. semasa hidupnya pernah memakai jubah tersebut dan sekarang , kata Asma, jubah itu kami cuci dan kami manfaatkan untuk bertabarruk mohon kesembuhan bagi penderita sakit ”.
 Imam al-Bukhari dalam kitab shahih-nya menuliskan satu bab khusus tentang “Tentang baju besi (untuk perang .red), tongkat, pedang, gelas dan cincin Nabi, serta apapun yang dilakukan para khalifah pasca (wafat) beliau saw. dari barang-barang tersebut yang belum disebutkan; dari rambut, sandal dan nampan yang diambil berkahnya oleh para sahabat dan selainnya, pasca wafat beliau” (bab; Maa dzakara min Dir’un Nabi wa ‘Ashohu wa Saifihi wa Qodhihi wa Khotamihi wa Maa Ista’mala al-Khulafa’ Ba’dahu min Dzalika Mimma Lam Yudzkar Qisamatuhu, wa min Sya’rihi, wa Na’lihi wa Aaniyatihi mimma tabarraka Ashabuhu wa Ghairuhum ba’da Wafatihi). Hanya Imam Bukhari yang menyebutkan bab tersebut dalam kitab Shahih beliau, yang tidak dilakukan dalam kitab enam (Kutub as-Sittah) yang menjadi kitab standart Ahlusunah wal Jama’ah yang ada. (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 4 halaman 46 di bab yang sama)
 Imam Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah meriwayatkan, bahwa ‘Asma binti Abubakar pada suatu hari mengeluarkan sehelai jubah, kemudian berkata kepada orang-orang yang hadir: ’Dahulu Rasulallah saw. memakai jubah ini. Jubah ini kami cuci dan airnya kami gunakan untuk menyembuhkan orang-orang sakit’.
 Ibnu Qusaith dan Al-‘Utbi dalam kitab ‘Thabaqat’ yang disusun oleh Ibnu Sa’ad mengatakan, bahwa para sahabat Nabi pada saat memasuki masjid Nabawi mengusapkan tangan pada mimbar Rasulallah saw. yang berdekat- an dengan makam beliau dengan maksud bertabarruk dan bertawassul. Mereka kemudian menghadap kiblat lalu berdo’a.
Dalam Thabaqat ini Ibnu Sa’ad Abdurrahman bin ‘Abdulqadir juga mengata- kan, “bahwa ia melihat ‘Abdullah bin ‘Umar Ibnul Khattab ra. bertabarruk dengan mengusapkan tangannya pada tempat duduk Rasulallah saw. yang berada di mimbar beliau, kemudian mengusapkan tangan itu pada wajah- nya”. Dalam riwayat yang lain lagi, Abdurrahman mengatakan; “bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar juga mengusapkan tangannya pada bagian mimbar yang dahulu sering dipegang oleh Rasulallah saw.”.
 Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa menurut sebuah riwayat, Ibnu Umar pernah meletakkan tangannya pada tempat duduk di mimbar Rasulallah saw., kemudian ia mengusapkan tangannya ke wajah.

 Ibnu Taimiyah mengemukakan sebuah riwayat berasal dari Ahmad bin Hanbal, bahwa ia Imam Ahmad membolehkan orang mengusap mimbar dan rumanahnya (benda bulat dari kayu yang berada di atas mimbar (kuno), tempat berpegang pada saat orang sedang berkhutbah). Ibnu Taimiyah juga meriwayatkan bahwa “Ibnu ‘Umar, Sa’id bin Al-Musayyab dan Yahya bin Sa’id salah seorang ulama Fiqih di Madinah semuanya pernah melaku- kan hal seperti itu”. (Lihat Iqtidha As-Shirathil Mustaqim, halaman 367).
 Dinukil dari Syeikh al-Allamah Ahmad bin Muhamad al-Maqri (al-Maliki) –wafat tahun 1041 H– dalam kitab Fathu al-Muta’al bi Shifat an-Ni’al, dinukil dari Waliyuddin al-Iraqi yang menyatakan: al-Hafidh Abu Sa’id bin al-‘Ala menyatakan: “Aku melihat ungkapan Ahmad bin Hanbal pada cetakan/bagian lama (juz’ qodim) dimana terdapat tulisan tangan Khath bin Nashir (Keterangan: beliau adalah al-Hafidh Muhammad bin Nashir Abul Fadhl al-Baghdadi wafat tahun 505 H dimana Ibnu Jauzi dalam kitab al-Muntadham jilid: 18 halaman: 103 Nomer: 4201 menjelaskan bahwa beliau adalah hafidh [penghapal/penjaga] yang kuat dan dapat dipercaya) dan dari beberapa al-Hafidh lainnya yang menyatakan bahwa; ‘Sesungguhnya Imam Ahmad (bin Hanbal) pernah ditanya tentang mencium kubur Nabi dan mencium mimbar nya. Lalu beliau berfatwa: Hal itu tidak mengapa’”.
Ia (al-Hafidh Abu Sa’id bin al-‘Ala) berkata: “Aku tunjukkan hal itu kepada at-Taqi Ibnu Taimiyah kemudian dia terkejut dengan hal itu dengan menyata- kan: ‘Aku heran dengan Ahmad yang sangat mulia disisiku, begini ungkapannya atau kandungan ungkapannya’. Kemudian (al-Hafidh Abu Sa’id bin al-‘Ala) berkata lagi: ‘Adakah keanehan dari hal itu sedang kita telah mengisahkan berkaitan dengan Ahmad bahwa ia telah mencuci baju as-Syafi’i (Ibn Idris) dan lalu meminum air bekas cucian tadi’ “. (Lihat: Manaqib Ahmad karya Ibnu Jauzi halaman: 609, atau Al-Bidayah waan-Nihayah karya Ibnu Katsir jilid: 1 halaman: 365 pada kejadian tahun 241 H).
LIhat riwayat ini, Ibnu Taimiyah dikala mendengar bahwa Imam Ahmad ber- fatwa membolehkan tabarruk terhadap kuburan Rasulallah saw.dan Imam Ahmad sendiri bertabarruk dari perasan cucian baju Imam Syafi’i, ia hanya mengatakan: “Aku heran dengan Ahmad yang sangat mulia disisiku, begini ungkapannya atau kandungan ungkapannya”? Kalau memang ini bid’ah dan syirik mengapa Ibnu Taimiyyah tidak mengatakan: “Imam Ahmad telah me- lakukan bid’ah atau syirik dan ia adalah ahli bid’ah dan musyrik yang ajarannya harus dijauhi bahkan diperangi dan darah serta hartanya halal!”.
 Imam Ahmad bin Hanbal sendiri pernah juga bertabarruk dan Al-Hafidz membenarkannya. Hal itu dituturkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad (putera Imam Ahmad). ‘Saya pernah melihat ayahku mengambil sehelai rambut Rasulallah saw. lalu dicium dengan mulutnya. Bahkan saya pernah melihatnya menempelkan rambut Rasulallah saw. pada matanya, kemudian mencelup kannya dalam air lalu diminumnya air itu bertabarruk mohon kesembuhan. Saya pernah juga melihat ayahku memegang piring Rasulallah saw., kemudian dicucinya lalu ia minum air yang berada dipiring itu. Saya pun pernah melihat ayahku minum air Zam-zam bertabarruk mohon kesembuh an, dan setelah itu ia mengusap-usap tangan dan mukanya dengan air tersebut’.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal ini telah bertanya pada ayahnya mengenai orang yang menyentuh atau mengusap-usap rummanah mimbar Rasulallah saw. dan mengenai orang yang mengusap-usap atau mencium Hajar Al-Aswad (batu hitam yang terletak dipojok Ka’bah). Sebagai jawaban beberapa pertanyaan tersebut ayah beliau Imam Ahmad bin Hanbal berkata: ‘Saya berpendapat hal itu tidak ada salahnya!. Semoga Allah melindungi semua dan ayahmu dari pendapat kaum Khawarij dan dari berbagai bid’ah (Lihat Siyaru A’lami-Nubala’ jilid 11 hamalan 312).
 Dinukil dari Ibnu Jama’ah (as-Syafi’i) yang menyatakan; Abdullah bin Ahmad bin Hanbal pernah menceritakan perihal ayahnya. Ia (Abdullah) meriwayatkan: ‘Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang seseorang yang menyentuh mimbar Rasulallah dan bertabarruk dengan mengusap-usap juga menciumnya. Dan melakukan kuburan sebagaimana hal tadi (mengusap dan mencium) dengan tujuan mengharap pahala Allah’. Beliau menjawab: “Tidak mengapa”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ jilid: 4 halaman: 1414).
 Syeikh Ibnu Hajar berfatwa: “Sebagian menggali dasar hukum dari legalitas mencium Hajar Aswad dengan diperbolehkannya mencium segala yang memiliki potensi untuk diagungkan dari manusia ataupun selainnya (benda, red)” (Lihat: al-Wafa’ al-Wafa’ Jilid 4 Halaman: 1405)
 Syeikh Ibrahim al-Bajuri berfatwa: “Dimakruhkan mencium kuburan dan menyentuhnya kecuali untuk bertabarruk maka tidak makruh” (Lihat: Syarh al-Fiqh as-Syafi’i Jilid:1 Halaman: 276)
 Syeikh Muhibbuddin at-Thabari berfatwa: “Diperbolehkan mencium dan menyentuh kuburan. Itu merupakan perbuatan para ulama dan orang-orang sholeh” (Lihat: Asna al-Matholib jilid: 1 halaman: 331 atau sebagaimana yang dinukil dalam kitab Wafa’ al-Wafa’ jilid: 4 halaman: 1407)
 Syeikh ar-Ramli as-Syafi’i berfatwa: “Jika kuburan Nabi, wali atau seorang alim disentuh ataupun dicium untuk tujuan tabarruk maka tidak mengapa” (Lihat: Kanzul Matholib karya al-Hamzawi halaman: 219)
 Syeikh Az-Zarqoni al-Maliki menfatwakan: “Mencium kuburan hukumnya makruh, kecuali jika bertujuan untuk tabarruk maka tidak makruh” (Lihat: Syarh al-Mawahib jilid: 8 halaman: 315).
 Syeikh al-Adwi al-Hamzawi al-Maliki menfatwakan: “Tiada keraguan lagi bahwa mencium kuburan mulia (Rasulallah) tidak akan dilakukan kecuali untuk bertabarruk. Hal itu lebih utama dalam pembolehannya dibanding dengan tabarruk untuk kuburan para kekasih Allah (awliya’)” (Lihat: Kanzul Matholib halaman: 20 dan Masyariq al-Anwar jilid: 1 halaman: 140).
 Syeikh Syihabuddin al-Khoffaji al-Hanafi menyatakan berkaitan dengan ungkapan yang mengatakan: ‘Dimakruhkan menyentuh, mencium dan menempelkan dada’. Beliau menjawab dengan menfatwakan: “Hal ini (hukum makruhnya) tidak ada kesepakatan padanya. Atas dasar itulah Ahmad dan Thabari mengatakan bahwa; tidak mengapa mencium dan menyentuhnya” (Lihat: Syarh as-Syifa’ jilid: 3 halaman: 171 dan atau sebagaimana yang dinukil oleh Syamhudi dalam Wafa’ al-Wafa’ jilid: 4 halaman: 1404)
 Imam Muslim mengetengahkan hadits dari Anas yang mengatakan: “Pada suatu hari Rasulallah saw. datang kerumah kami, kemudian beliau tidur hingga berkeringat. Ibuku datang membawa sebuah botol (wadah) lalu mewadahi keringat beliau yang menetes. Setelah bangun tidur beliau saw. bertanya: ‘Hai Ummu Sulaim, Apakah yang telah engkau perbuat?’ Ibuku menjawab: ‘Keringat (anda) ini hendak kujadikan minyak wangi dan itu merupakan minyak wangi yang paling harum baunya’ “.
 Tabarruk pernah juga dilakukan oleh Rasulallah saw.dalam Isra’ yaitu dari Al-Baitul Haram ke Al-Baitul Maqdis. Ditengah perjalanan beliau turun dari Buraq yang dikendarainya kemudian menunaikan shalat dibeberapa tempat tertentu, seperti di Thur Sina, Di Baitul Laham (Betlehem, tempat kelahiran Nabi ‘Isa as.), dan lain-lain sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab hadits dan sirah (sejarah) Nabawiyyah.
 Tabarruk dengan petilasan/bekas orang-orang wali dan shalih itu juga di perkenankan oleh syariat. Imam Al-Hafidz Al’Iraqi dalam kitabnya yang berjudul Fathul Muta’al meriwayatkan bahwa Ahmad bin Hanbal mem- perbolehkan orang mencium makam Rasulallah saw., makam para waliyullah dan orang shalih lainnya, sebagai tabarruk. Ketika Ibnu Taimiyah melihat orang berbuat seperti itu, ia keheran-heranan. Selanjutnya Imam Al’Iraqi berkata padanya: “Apa anehnya? Bukankah kami telah meriwayat-kan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal bertabarruk dengan minum air bekas cucian baju Imam Syafi’i? Bahkan Ibnu Taimiyah sendiri juga meriwayatkan, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal bertabarruk dengan petilasan Imam Syafi’i.
 Dalam kitab Al-Hikayatul Mantsurah imam ahli hadits yang bernama Al-Hafidz Ad-Dhiya Al-Maqdisy mengatakan bahwa Imam Abdulghani Al-Hanbali ketika menderita penyakit bisul lama tak dapat sembuh, ia ber- tabarruk dengan mengusapkan bisulnya pada makam Imam Ahmad bin Hanbal, dan ternyata segera sembuh.
 Al-Khatib dalam Tarikh-nya mengatakan, ketika tinggal di Iraq beberapa waktu lamanya Imam Syafi’i bertabarruk dengan ziarah kemakam Abu Hanifah.
Kita sayangkan, golongan pengingkar berwatak keras kepala, dan merasa paling benar sendiri, paling suci dan paling memahami syari’at Islam. Sayang sekali masih ada kelompok muslimin yang terpengaruh dan mengikuti ajaran-ajaran golongan ini. Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah swt. sehingga bisa menjalani agama Islam yang benar. Amin.
Contoh perbuatan tabarruk yang sampai sekarang bisa dilihat masyarakat muslimin yaitu mengusap dan mencium batu hitam (Hajr Al Aswad) dan minum air Zam-zam, berdo’a ditempat-tempat tertentu: di ‘Arafah, Mina, Muzdalifah (Masy’aril Haram) serta sholat di masjid-masjid tertentu dan sebagainya. Tempat-tempat tertentu yang telah ditetapkan sebagai manasik ibadah haji, disitu kaum muslimin berdo’a, bersembah sujud kepada Allah swt. dan lain-lain.

  • Komentar Al-Ulyani al-Ulyani dalam kitab “at-Tabarruk al-Masyru” hal: 68-69” mengenai hadits Atban bin Malik & jawabannya

Walaupun runtutan artikel tabarruk sebelumnya sudah mampu menjawab beberapa problem yang dilontarkan oleh golongan pengingkar, namun kali ini, kita akan mengkonsentrasikan secara khusus dalam menjawab beberapa isu pengikut sekte Wahabi yang digunakan untuk pengkafiran (menuduh kaum muslim sebagai pelaku syirik dan bid’ah) kaum muslimin.

Untuk mempersingkat, kita akan ambil beberapa masalah (dibawah ini) yang sering mereka ungkapkan dengan menengok dari karya salah seorang misionaris madzhab Wahabi yang bernama Ali bin Nafi’ al-‘Ilyani yang menolak, mengharamkan atau mensyirikkan Tabarruk dan jawaban dari golongan yang membolehkan Tabarruk.

  • Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan:

“Kondisi kaum Jahiliyah dahulu, sebagaimana yang dimiliki kebanyakan manusia, mereka menginginkan mendapat tambahan harta dan anggota kabilah, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan keduniawian. Dengan begitu melalui perminta berkah (tambahan) terhadap berhala-berhala yang mereka sembah, dengan mengharap tambahan kebaikan yang berlebih. Mereka meyakini bahwa patung-patung itu adalah para pemberi berkah. Anehnya, walau orang yang meyakini bahwa berkah itu datangnya dari Allah pun masih meyakini bahwa patung-patung itu adalah sarana yang mampu menentramkan dan penghubung antara mereka dengan Allah. Untuk merealisasikan yang mereka inginkan, akhirnya mereka mengambil berhala itu sebagai sarana. Hal ini sesuai dengan ayat: “…kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah denga sedekat-dekatnya…” (QS az-Zumar: 3) dari sini jelas sekali bahwa, tabarruk (mengharap berkah) selain dari Allah adalah perwujudan dari ajaran kaum musyrik zaman Jahiliyah. (Lihat: kitab Tabarruk Masyru’ halaman 53)

  • Jawabannya:

Selain telah kita singgung –dalam kajian terdahulu– bahwa, beberapa nabi Allah yang mengajak umat manusia kepada ajaran tauhid ternyata juga melakukan pengambilan berkah. Begitu juga ternyata Nabi kita (Muhammad saw) –yang sebagai penghulu para nabi dan rasul bahkan paling mulianya makhluk Allah yang pernah Dia ciptakan– pun telah membiarkan orang mengambil berkah darinya. Jika mencari berkah (tabarruk) adalah haram–karena syirik– maka tentunya para nabi di setiap zaman adalah orang pertama yang menjauhinya, bahkan melarang orang lain. Namun kenapa justru mereka malah melakukannya? Lagi pula, apa yang di-isukan oleh kelompok Wahabi di atas tadi, selain tidak sesuai dengan al-Qur’an, Hadits dan bukti sejarah dari Salaf Sholeh hingga para imam madzhab, juga jauh dari logika pemahaman ayat itu (az-Zumar:3) sendiri. Beberapa alasan berikut ini:
Pertama: Semua orang tahu bahwa setiap prilaku pertama kali dinilai oleh Islam dilihat dari niatnya. Dengan kata lain, hal primer dalam menentukan esensi baik-buruk sebuah perbuatan kembali kepada niat. Bukankah Rasulallah saw. pernah menyatakan: “Setiap perbuatan kembali kepada niatnya…” (Hadits Muttafaq Alaihi). Tentu, niat seorang musyrik dengan niat seorang muslim akan berbeda dan tidak bisa disamakan.

Kedua: Dalam ayat itu (Az-Zumar:3) disebutkan: “kami tidak menyembahmereka melainkan…” di situ terdapat kata “Menyembah” yang meniscayakan bahwa kaum musyrik Jahiliyah meyakini ’sifat ketuhanan’ buat obyek (patung-patung) yang dimintainya berkah, selain Allah. Mereka telah menyembah patung itu dan menyekutukan Allah dalam masalah penyembah an. Dan tentu essensi penyembahan adalah meyakini ‘sifat ketuhanan’ yang disembahnya. Tanpa keyakinan itu (sifat ketuhanan), mustahil mereka menyebut kata ‘sembah’. Jelas, sebagaimana yang sudah pernah kita singgung pada tulisan terdahulu bahwa, sekedar sujud di depan sesuatu tidak serta merta masuk kategori menyembah. Bukankah dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah telah
memerintahkan para malaikat dan jin untuk bersujud di hadapan dan untuk nabi Adam? Bukankah nabi Ya’qub beserta anak-anaknya telah sujud di depan nabi Yusuf? Ini yang membedakan antara prilaku kaum musyrik dengan kaum muslimin, dalam pengambilan berkah. Ini merupakan hal yang bersifat esensial sekali dalam prilaku per ibadatan. Kaum muslimin selain tidak meyakini kepemilikan sifat ketuhanan selain Allah, sehingga obyek selain Allah memiliki kelayakan untuk di sembah, juga meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta ini berasal dari kehendak Ilahi, karena hanya Dia Yang Maha kuasa nan sempurna, dan yang layak disembah.
Ketiga: Ayat dari surat az-Zumar tadi Allah swt. tidak menyatakan; “kami tidak mengambil berkah mereka melainkan…” tapi dikatakan; “kami tidak menyembah mereka melainkan…” sebagai penguat dari alasan kedua tadi. Dikarenakan kaum musyrik zaman Jahiliyah tidak meyakini adanya hari akhir –seperti disebutkan dalam akhir-akhir surat Yasin maka mereka akhirnya meyakini bahwa patung-patung itu juga memiliki kekuatan secara inde- pendent dari Allah swt. sehingga muncul di benak mereka untuk meyakini bahwa berhala itu juga mampu menjauhkan segala mara bahaya dari mereka dan memberikan manfaat kepada mereka. Tentu keyakinan kaum muslimin berbeda dengan apa yang mereka yakini. Dan tentu pula kaum muslimin tidak pernah berpikir semacam itu. Semua kaum muslim meyakini bahwa segala yang ada di alam semesta ini turun dari izin dan kehendak Allah swt., termasuk pemberian berkah. Karena Allah swt.sumber segala yang ada di alam semesta ini.

  • Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan:

Legalitas tabarruk dari tempat-tempat atau benda-benda yang dianggap mulia bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari yang dinyatakan oleh ‘Atban bin Malik yang termasuk sahabat Rasulallah dari kelompok Anshar, yang turut dalam perang Badar. Ketika dia mendatangi Rasulullah, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, telah lemah pengelihatanku, padahal aku mengimami shalat pada kaumku. Jika turun hujan maka banjir selalu menggenangi lembah yang menghubungkanku dengan mereka, sehingga aku tidak dapat mendatangi masjid mereka, dan shalat bersama mereka Aku ingin engkau datang ke rumahku dan shalat di rumahku, sehingga aku menjadikannya (tempat itu) sebagai mushalla”. Mendengar hal itu Rasul bersabda: ‘Aku akan melakukannya, insya-Allah”. Kemudian berkata ‘Atban: ‘Keesokan harinya, Rasul bersama Abu Bakar datang, ketika menjelang tengah hari. Rasul meminta izin masuk, dan diberi izin. Beliau tidak duduk sewaktu memasuki rumah, dan langsung menannya- kan: ‘Dimana engkau menginginkan aku melakukan shalat?’. Dijawab: ‘Aku mengisyaratkan pada salah satu sudut rumah’. Rasulullah berdiri dan ber- takbir. Kami pun mengikutinya berdiri dan mengambil shaf (barisan shalat). Beliau melakukan shalat dua rakaat dan kemudian mengakhirinya dengan salam” (Shahih Bukhari, jilid 1 halaman 170/175 atau Shahih Musim jilid 1 halaman 445/61/62).
al-Ulyani dalam kitab “at-Tabarruk al-Masyru” hal: 68-69” berargumen dengan hadits Atban bin Malik yang disinyalir dalam kitab shohih Bukhari dan Shohih Muslim di atas untuk menetapkan ‘pengharaman tabarruk pada tempat dan benda’. Dalam kitabnya ini dia menyatakan:

“Hadits di atas tidak membuktikan bahwa sahabat ‘Atban hendak mengambil berkah dari tempat shalat Rasul. Namun ia ingin menetapkan anjuran Rasul untuk selalu melakukan shalat berjama’ah di rumahnya, ketika tidak dapat mendatangi masjid karena lembah digenangi air. Atas dasar itu ia meng- hendaki Rasul membuka (meresmikan) masjid di rumahnya. Dan oleh karenanya, Bukhari memberikan bab pada kitabnya dengan; “Bab Masjid di Rumah” (Bab al-Masajid Fil Buyuut). Sebagaimana Barra’ bin ‘Azib melaku- kan shalat di masjid yang berada di dalam rumahnya secara berjama’ah. Ini termasuk hukum fikih beliau. Dari semua itu memberikan pemahaman bahwa Rasul mengajarkan (sunnah) shalat berjama’ah di rumah dikala memiliki hajat. Sebagaimana Rasul tidak pernah menegur sahabat Barra’ bin ‘Azib sewaktu melakukan shalat berjama’ah di masjid rumahnya. Padahal itu semua terjadi pada zaman pensyariatan (tasyri’) Islam. Dan mungkin saja maksud dari sahabat ‘Atban tadi adalah untuk mengetahui dengan pasti arah kiblat, karena Rasulullah tidak mungkin menunjukkan arah yang salah”. (Lihat: Tabarruk Masyru’ halaman 68-69).

  • Jawabannya:

Itu adalah kemungkinan interpretasi yang diberikan al-Ulyani dari hadits di atas tadi. untuk mengkritisinya maka marilah kita perhatikan poin-poin di bawah ini:

Pertama: Tidak diragukan lagi bahwa semangat sahabat ‘Atban untuk mendirikan shalat jama’ah di rumah adalah ‘salah satu’ sebab, tetapi ‘bukan satu-satunya’ sebab. Karena kita dapat melihat dengan jelas, bagaimana sahabat ‘Atban sangat menghendaki tabarruk dari tempat shalat Rasulallah. Dan Nabi pun mengetahui tujuan sahabatnya itu. Atas dasar itu, Rasulallah langsung menanyakan tempat yang dikehendaki sahabatnya untuk dijadikan mushalla, dirumahnya. Jika isu sekte wahabi di atas itu benar maka selayak-nya Nabi shalat di sembarang tempat, di rumah sahabatnya tadi, mungkin di ruang tamu, ruang tengah, atau di tempat yang terdekat dengan pintu masuk. Dan kenyataannya, Nabi menanyakan terlebih dahulu; “Dimana engkau menginginkan aku melakukan shalat?”. Dengan kata lain, Rasulallah tahu bahwa sahabatnya itu akan mengambil berkah dari tempat shalat beliau saw.. Jika apa yang dinyatakan oleh al-Ulyani benar maka seharusnya Rasulallah saw. langsung melakukan shalat di rumahnya, tanpa menanya- kan dengan redaksi dan model pertanyaan semacam itu.
Kedua: Kalaupun apa yang dinyatakan al-Ulyani benar bahwa tujuan sahabat ‘Atban tadi adalah ingin memastikan kebenaran arah kiblat karena ia tidak dapat melihat dengan baik, dengan cara mendatangkan Rasulallah saw. kerumahnya, maka hal inipun sulit diterima. Dikarenakan untuk mem- peroleh arah kiblat yang benar oleh ‘Atban yang penglihatannya lemah, bisa saja ia meminta tolong anggota keluarga, sanak-famili ataupun melibatkan sahabat Rasulallah lain untuk memberikan arahan yang sesuai arah kiblat yang benar, bukan dengan memangil Rasulallah, apalagi dilanjutkan dengan pelaksanaan dua rakaat shalat oleh Rasulallah saw.. Dan dikarenakan Rasulallah hanya shalat dua rakaat (diwaktu siang sebagai mana tekts hadits) maka ini membuktikan bahwa shalat yang dilakukan Rasulallah adalah shalat sunah, bukan shalat wajib. Oleh karenanya, jika Rasulallah hanya berfungsi sebagai penunjuk arah kiblat yang benar, buat apa beliau melakukan shalat sunah, cukup memberitahu dengan lisan dan tunjuk saja.

Ketiga: Perkiraan penulis madzhab Wahabi tadi selain tidak sesuai dengan bukti-bukti (qarinah) yang ada, juga apa yang ia perkirakan dan yang di pahaminya tidak lebih baik dari apa yang dipahami oleh pribadi agung seperti Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab Syarah Bukharinya. Allamah Ibnu Hajar al-Asqolani berkaitan dengan hadits tadi mengatakan:a. “Dalam hadits ‘Atban yang meminta Nabi melaksanakan shalat dirumahnya dan Nabi pun memenuhi keinginan tersebut adalah bukti pembolehan (hujjah) akan tabarruk atas kesan dan peninggalan para manusia shaleh”. (Lihat: Fathul Bari 1/469)
b. Sewaktu Nabi diundang dan diminta untuk melakukan shalat, hal itu tiada lain adalah agar pemilik rumah dapat mengambil berkah (tabarruk) dari tempat shalat tadi. Maka dari itu beliau bertanya tentang tempat yang memang dikhususkan untuk itu…”. (Lihat: Fathul Bari 1/433)
Keempat: Taruhlah benar –jika kita terpaksa ‘bertoleransi’ dengan pendapat penulis Wahabi tersebut– apa yang dinyatakan oleh penulis Wahabi yang berkaitan dengan hadits Rasul dari sahabat ‘Atban tadi, maka bagaimana menurut para pengikut Wahabi berkaitan dengan banyak riwayat lain yang berkaitan dengan para sahabat seperti pada kasus yang dapat kita lihat diantaranya pada riwayat-riwayat berikut ini:
a. Dari Anas bin Malik; Sesungguhnya Ummu Sulaim meminta agar Rasulallah datang ke rumahnya dan melakukan shalat di rumahnya supaya ia dapat mengambilnya (bekas tempat shalat Rasul) sebagai mushalla. Lantas Rasul pun datang. Dia (Ummu Sulaim) sengaja memerciki tikar dengan air, lantas Rasul melaksanakan shalat di atasnya yang diikuti oleh beberapa sahabat lainnya. (Sunan an-Nasa’i jilid 1halaman 268 kitab masajid, bab 43 as-Sholat alal Hashir hadits 816).
b. Dari Anas bin Malik; Salah seorang pamanku membuat satu makanan, lantas berkata kepada Nabi: “Aku ingin engkau datang ke rumahku untuk makan dan shalat”. Dan (Anas) berkata: Lantas beliau datang ke rumah sedang di rumah terdapat batu-batu (hitam). Lantas beliau dipersilahkan ke salah satu sudut yang telah dibersihkan. Kemudian beliau melakukan shalat, lantas kami pun mengikutinya. (Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 249, kitab al-Masajid, bab al-Masjid fi ad-Daur, hadits 756, atau dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 3 halaman 130 dengan dua sanad, atau dalam kitab Musnad Anas bin Malik hadits 11920)
Hadits-hadits di atas jelas menyatakan inginnya pengambilan barokah dari Rasulullah saw, pada tempat sholat mereka, tidak seperti hadits ‘Atban yang masih mungkin disalahpahami oleh al-‘Ulyani. Hadits-hadits semacam itu (Hadits ‘Atban) banyak akan kita dapati dalam kitab-kitab para imam ter- kemuka lainnya.
Lantas giliran kita kembali bertanya kepada pengikut sekte Wahabi: Apakah tujuan Shahabiyah Ummu Sulaim agar kaum muslimin melakukan shalat berjama’ah di rumahnya bersama Rasulallah sebagaimana tujuan sahabat ‘Atban yang telah meminta Nabi saw. shalat di rumahnya, untuk menunjukan arah kiblat? Apakah ada tujuan lain yang dapat kita lihat dalam fenomena Ummu Sulaim selain tabarruk (mencari berkah) dari Rasulullah saw? Apakah paman sahabat Anas tadi –yang tentunya pengelihatannya masih kuat– juga bertujuan sama seperti sahabat ‘Atban yang pengelihatannya sudah lemah, untuk mengetahui dan memastikan arah kiblat?
Jika tujuan mereka bukan untuk mengambil berkah dari tempat shalat Nabi bahkan ingin menjelaskan kepada Rasulallah saw. akan ketidakhadirannya di shalat jama’ah Rasul, apakah tidak cukup sekedar memberitahu (meminta izin) Rasulallah akan penyebab ketidakhadirannya di masjid untuk melakukan shalat jama’ah karena adanya uzur atau terdapat kepentingan lain sehingga diketahui oleh Nabi? Mengapa mereka malah meminta Rasulallah saw. melakukan shalat di bagian tertentu dari rumahnya sehingga mereka nantinya juga akan shalat di tempat tersebut?
Ada sebagian golongan Wahabi berargumen bahwa tidak ada perbedaan antara masjid Nabawi dengan masjid-masjid yang lain. Ini pernyataan yang cukup aneh yang keluar dari makhluk yang mengaku sebagai umat Muhammad. Betapa tidak, walaupun masjid Nabi di kota Madinah telah terjadi perluasan dan perombakan, namun wilayah dan tempat bangunan asli masjid Nabawi masih terjaga (tidak berpindah lokasinya) dan dapat dikenali oleh banyak orang. Ditempat-tempat bangunan asli itulah, dahulu Nabi beserta para sahabat beliau melakukan shalat dan ibadah ritual lainnya. Bagaimana masjid Nabawi dinyatakan sama dengan masjid-masjid biasa lainnya sedang tempat bekas shalat Nabi yang bukan masjid saja dicari oleh para sahabat untuk pengambilan berkah dengan turut melakukan shalat di tempat berkah tersebut? Dan di kitab-kitab standart Ahlusunah wal jama’ah dapat kita jumpai berbagai riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan masjid Nabawi dibanding masjid-masjid lainnya, selain masjidil Haram tentu- nya. Riwayat-riwayat semacam itu akan banyak kita dapati dalam buku-buku hadits terkemuka Ahlusunnah. Tentu di sini kita tidak akan menyebutkan hadits-hadits atau bukti sejarah karena mengingat banyaknya halaman dibuku ini.

  • Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan:

“Jika seseorang tinggal di Makkah, Madinah ataupun Syam untuk meng harap berkah dari Allah dari tempat tersebut, baik dari sisi berkah rizki mau pun menghindari fitnah maka ia akan diberi kebaikan yang banyak. Namun jika seseorang melampaui batas dalam bertabarruk dengan cara menyentuh-nyentuh tanah, batu, pohon-pohonan yang ada di daerah tersebut atau meletakkan tanahnya di air untuk pengobatan atau semisalnya maka hal itu akan menyebabkan dosa, bukan pahala. Karena ia telah melakukan tabarruk yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasul dan para generasi pertama Islam”. (Lihat: Tabarruk Masyru’ halaman 42).

  • Jawabannya:

Untuk menjawab isu sekte Wahabi dalam masalah ini, mari kita perhatikan poin-poin di bawah ini:
Dalam kajian yang lalu telah kita sebutkan bahwa, para sahabat yang ter- golong Salaf Sholeh telah sering melakukan pengambilan berkah dengan mengusap-usap mimbar Rasulallah sembari berdo’a. Sahabat Ibnu Umar mengusap bekas tempat duduk Rasulallah di atas mimbar kemudian meng- usapkan kedua telapak tangannya ke raut mukanya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya, termasuk Rasulallah saw. telah mengusap-usap kepala dan badan seseorang sembari mendo’akannya yang menunjukkan bahwa terdapat kekhususan dalam usapan beliau saw. Karena jika tidak, maka do’a Rasul untuk kesembuhan mereka saja sudah cukup, kenapa mesti harus pakai mengusap-usap anggota tubuh seseorang?
Apa tujuan Rasulallah saw. melakukan hal tersebut kalau bukan mem- berikan barakah yang beliau miliki, hasil karunia khusus Ilahi yang diberikan kepada setiap kekasih-Nya? Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam banyak sekali riwayat-riwayat yang ada. Di sini kita akan sebutkan beberapa dari riwayat tersebut sebagai contoh saja:
a. Ummul Mukminin Aisyah ra. pernah menyatakan: “Sesungguhnya Nabi pernah membaca do’a perlindungan untuk sebagian keluarganya dengan mengusap tangan kanannya sembari mengucapkan do’a: ‘Ya Allah, Tuhan manusia, jauhkanlah bencana (darinya). Sembuhkanlah ia, karena Engkau Maha penyembuh. Tiada obat selain dari-Mu. Obat yang tidak menyisakan penyakit…’ ” (Sahih Bukhari jilid:7 halaman: 172)
b. Dari Abi Hazim mengatakan; aku mendapat kabar dari Sahal bin Sa’ad bahwa Rasulullah saw. pada perang Khaibar bersabda: “Akan aku serahkan panji (bendera perang) ini besok kepada seseorang yang Allah akan membuka (pertolongan-Nya) melalui kedua tangan orang tersebut. Dia (orang tadi) adalah seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah beserta Rasul-Nya pun mencintainya”. Ia (perawi) berkata: “Akhirnya orang-orang begadang untuk menunggu siapakah gerangan yang akan di anugerahi panji tadi. Ketika pagi telah tiba, orang-orang mendatangi untuk mengharap dianugerahi kemuliaan tadi”. Perawi berkata: Rasul bersabda: ‘Dimanakah Ali bin Abi Thalib?’. Dijawab: ’Ada wahai Rasul. Ia sedang sakit mata’. Rasulallah bersabda: ‘Datangkanlah ia’! Lalu di datangkanlah Ali. Kemudian Rasulallah memberikan ludahnya ke mata Ali sembari mendo’a- kannya. Sembuhlah penyakitnya seakan tidak pernah mengalami sakit. Kemudian Rasulallah memberikan panji tersebut kepada Ali”. (Sahih Bukhari jilid 4 hal. 30/207; Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 5 hal. 333; as-Sunan al-Kubra karya Nasa’i jilid 5 hal. 46/108; Musnad Abi Ya’la jilid 1 hal. 291; al-Mu’jam al-Kabir karya Tabrani jilid 6 hal. 152 dan kitab Majma’ az-Zawa’id jilid: 6 halaman: 150).
c. As-Samhudi berkata: “Dahulu, jika Rasulallah dikeluhi oleh seseorang akibat luka atau borok, lantas beliau mengatakan ungkapan tersebut pada jarinya sembari meletakkan jempol (tangan) beliau ke tanah, kemudian meng angkatnya dengan mengungkapkan: ‘Dengan menyebut nama Allah, dengan debu tanah kami, dan dengan ludah sebagian dari kami, akan disembuhkan penyakit kami. Dengan izin Allah’ ”. (Wafa’ al-Wafa’ jilid 1 hal. 69. penjelasan semacam ini juga akan kita dapati dalam hadits Sahih Bukhari jilid 7 hal. 172 dari Ummul Mukimin Aisyah dengan sedikit perbedaan redaksi)
Dalam banyak hadits juga disebutkan bahwa tanah Madinah memiliki keberkahan khusus dari Allah untuk kesembuhan penyakit. Itu semua berkat keberadaan Rasulallah saw. bersama para kekasih Allah , baik dari sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan para manusia sholeh lainnya. Kita akan melihat beberapa contoh saja dari hadits-hadits Rasulallah saw. tersebut:a. Rasulallah bersabda: “Debu Madinah menjadi pengobat dari penyakit sopak” (Kanzul Ummal, karya Mutaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 13 halaman 205 atau kitab Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi as-Syafi’i jilid 1 halaman 67)
b. Rasulallah bersabda: “Sesungguhnya melalui debunya (Madinah) menjadi penyembuh dari segala penyakit”. (Kanzul Ummal, karya Mutaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 13 halaman 205 atau kitab Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi as-Syafi’i jilid 1 halaman 67)
c. Rasulallah bersabda: “Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sesungguhnya tanahnya (Madinah) adalah pengaman dan penyembuh penyakit sopak”. (Kanzul Ummal, karya Mutaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 13 hal. 205 atau kitab Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi as-Syafi’i jilid 1 halaman 67)
Jika tanah Madinah secara umum memiliki keberkahan semacam itu maka bagaimana dengan tanah di sisi pusara Rasulallah saw. yang disitu jasad suci beliau saw. –makhluk Allah termulia dikebumikan? Lantas salahkah (tergolong bid’ah atau syirik) dan tidakkah sesuai dengan ajaran (hadits) Rasulallah jika ada seseorang yang mengambil tanah Madinah untuk mengambil berkah darinya, baik untuk mengobati penyakitnya, atau sekedar disimpan untuk bertabarruk? Mana yang sesuai dengan ajaran Rasul; orang yang bertabarruk dengan tanah Madinah, ataukah yang menyatakan bahwa bertabarruk terhadap tanah semacam itu tergolong bid’ah atau syirik, sebagaimana yang diaku oleh kelompok Wahabi?
Ini semua menjadi bukti bahwa, Allah swt. telah menganugerahkan beberapa kemuliaan kepada beberapa tempat, yang kemudian disakralkan oleh masyarakat muslim. Madinah beserta tanahnya tergolong tempat yang di muliakan oleh Allah swt. dengan anugerah khusus semacam itu. Sehingga di sakralkan oleh kaum muslimin, sesuai dengan apa yang diungkapkan melalui lisan suci Rasulullah saw. Jika Nabi sendiri –sebagai makhluk Allah termulia, pembenci Syirik nomer wahid– menjadikan tanah mulia penuh berkah kota Madinah sebagai sarana (wasilah) pengobatan (tabarruk), apakah pengikut beliau dapat divonis bid’ah atau syirik ketika mengikuti ajaran dan saran beliau saw. tadi?
Jika tanah Madinah dinyatakan sebagai penuh berkah karena Rasulallah pernah hidup di sana dan dikebumikan di situ, lalu bagaimana dengan Hajar Aswad, rukun-rukun (pojok-pojok) yang berada di Ka’bah, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, Shafa dan Marwah, Arafah, Mina, gua Hira’ dan gua Tsur yang semua adalah tempat-tempat sakral dan bersejarah buat Nabi dan orang-orang yang mencintai junjungannya tersebut? Apakah ketika bertabarruk dari tempat-tempat semacam itu lantas divonis dengan bid’ah dan syirik, sebagai mana kita lihat perbuatan kelompok sekte Wahabi terhadap kaum muslimin dari pelosok dunia yang menjadi tamu Allah d haramain? Mengapa kaum Wahabi melarang dengan keras orang yang ingin ‘menyentuh’, ‘mengusap’ dan ‘mencium’ hal-hal sakral tadi untuk bertabarruk, dengan alasan bid’ah dan syirik, atau alasan karena tidak ada contoh langsung dari Rasulallah?, padahal banyak sekali contoh dari Rasulallah saw. dan salaf Sholeh!! Siapakah sekarang yang bid’ah, golongan muslimin yang mengikuti sunnah Rasulallah saw. atau golongan pengingkar ini?
Sayang, madzhab Salafi (baca.Wahabi) dan pengikutnya merasa paling benar dan paling mengerti dalam hukum syari’at. Semoga Allah swt. memberi hidayah kejalan yang benar kepada kaum muslimin. Amin

  • Golongan Wahabi/Salafi (pengingkar) mengisukan:

Salaf Sholeh telah melarang pengambilan berkah dan penghormatan yang berlebihan terhadap mereka. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Anas, ats-Tsauri, Ahmad dan sebagainya. Imam Ahmad pernah berkata: ‘Siapa diriku sehingga kalian datang kepadaku? ‘Pergilah dan tulislah hadits’!. Dan sewaktu beliau ditanya tentang sesuatu maka akan menjawab: ‘Bertanyalah kepada ulama’!. Ketika ditanya tentang penjagaan diri (wara’) beliau mengatakan: ‘Haram buatku berbicara tentang wara’, jika Byisr hidup niscaya ia akan menjawabnya’. Beliau juga pernah ditanya tentang ikhlas, lantas menjawab: ‘Pergilah kepada orang-orang zuhud! Kami memiliki apa sehingga kalian datang kepada kami?’. Suatu saat seseorang datang kepada nya dan mengusapkan tangannya ke bajunya dan kemudian mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya. Imam Ahmad marah dan mengingkari hal tersebut dengan keras sembari berkata: ‘Dari siapa engkau mengambil perkara semacam ini’ (Lihat: Tabarruk Masyru’ halaman 86).

  • Jawabannya:

Untuk menjawab isu penulis madzhab Salafi/Wahabi di atas, hendaknya kita perhatikan beberapa poin di bawah ini:
Terbukti bahwa ternyata penulis Wahabi tadi memahami sesuatu hal yang berbeda dengan kenyataannya. Apa yang dilakukan para imam madzhab tadi dalam mengingkari tabarruk orang-orang terhadap dirinya, bukan berarti pengingkaran mereka terhadap keyakinan tabarruk itu sendiri. Harus dibeda- kan antara mereka melarang orang bertabarruk kepada dirinya, dengan dari semula menentang keyakinan tabarruk. Sebagaimana yang sudah kita jelaskan bahwa, para imam madzhab itu sendiri telah melakukan tabarruk.

Dan apa yang disunting oleh penulis Wahabi tadi tidak lain adalah tergolong sikap ‘rendah diri’ (tawadhu’) para imam madzhab tadi, terkhusus berkaitan dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Dimana kita tahu bahwa ‘tawadhu’’ me- rupakan salah satu bentuk dan sikap nyata dari setiap ulama yang sholeh. Terbukti bahwa Imam Ahmad bin Hanbal tidak menvonis orang yang ber- tabarruk terhadapnya dengan sebutan-sebutan pengkafiran sebagaimana yang dilakukan oleh sekte (Wahabisme) yang konon mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal dari sisi metode (manhaj) dan pola pikir, serta sepak terjangnya. Itu semua karena para ulama madzhab tahu bahwa tabarruk bukan ter- golong prilaku syirik ataupun bid’ah yang harus disikapi tegas dengan bentuk pengkafiran, seperti yang dilakukan sekte Wahabi. Dengan bukti lain bahwa, mereka sendiri –sebagaimana yang telah kita singgung di urutan artikel tabarruk sebelumnya telah melakukan tabarruk terhadap para ulama dan manusia sholeh yang hidup sezaman atau sebelum mereka. Bahkan sebagian mereka telah bertabarruk terhadap kuburan para ulama dan manusia sholeh.
Kalaulah ungkapan Imam Ahmad tadi tidak diartikan sebagai sikap tawadhu’ beliau, bahkan diartikan dengan sebenarnya, maka ungkapan beliau seperti: ‘Siapa diriku sehingga kalian datang kepadaku? Pergilah dan tulislah hadits’! atau ungkapan beliau; ‘Bertanyalah kepada ulama’, meniscayakan bahwa kita (kaum muslimin, juga pengikut sekte Wahabi) tidak perlu menjadikan Imam Ahmad bin Hanbal sebagai rujukan, karena beliau bukan ulama. Namun terbukti bahwa, ternyata kelompok Wahabi pun yang selama ini ‘mengaku’ (konon) menjadikan Imam Ahmad sebagai panutannya, justru tidak konsisten terhadap ungkapan Imam Ahmad tadi. Lalu mana konsistensi kelompok Wahabi dalam memahami dan melaksanakan ungkapan Imam Ahmad?
Bila kita toleransi lagi dengan sekte Wahabi dan membenarkan pendapat mereka bahwa Imam Ahmad bin Hanbal melarang orang bertabarruk dengan pribadi orang, maka larangan Imam Ahmad itu pun terbantah dengan banyak hadits shohih yang telah kami kemukakan di atas yang melegalkan Tabarruk, termasuk Imam Ahmad sendiri ikut meriwayatkannya. Jadi yang benar ialah Imam Ahmad tidak mengharamkan Tabarruk tetapi yang melarang Tabarruk itu ialah imam dari sekte Wahabi dan pengikutnya itu sendiri dengan meng- atas namakan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah!
Entah dalil mana lagi yang dijadikan argumen oleh golongan pengingkar dalam menyatakan kesyirikan dan kebid’ahan prilaku tabarruk atau tawassul Mereka tidak memiliki argumen apa pun berkaitan dengan hadits, riwayat, maupun bukti sejarah, apalagi al-Quran yang membuktikan bahwa tabarruk adalah perbuatan bid’ah maupun syirik!!
Dari sini jelas sekali bahwa, Allah swt. telah menganugerahkan kesakralan khusus kepada beberapa obyek tertentu dari makhluk-Nya agar manusia menjadikannya sebagai sarana tabarruk atau tawassul. Dan terbukti bahwa Nabi Muhammad bin Abdillah saw. bukan hanya tidak melarang, bahkan beliau sendiri telah mencontohkan kepada umatnya bagaimana melakukan tabarruk dari obyek-obyek sakral tadi. Dan ajaran itu berjalan terus dari generasi ke generasi hingga kita sekarang ini.
Walaupun kajian kita secara khusus berkaitan dengan tabarruk, namun dari seri kajian tabarruk ini pun kita juga telah bisa menetapkan secara global bahwa, obyek tabarruk dapat kita jumpai pada berbagai bentuk, seperti:
1- Tempat; seperti; Kota Madinah, Arafah, Muzdalifah, Mina, gua Hira, gua Tsur, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, atau makam-makam orang sholeh…dsb.nya

2- Benda; seperti; Mushaf Al-Quran, semua penginggalan Nabi, Sahabat, Ulama dan manusia sholeh lainnya…dsb.nya.
3- Orang/pribadi agung; seperti; mengenang manusia-manusia mulia dari para nabi, syuhada’, shalihin berkaitan dengan zaman kelahiran, wafat atau momen-momen penting dalam sejarah hidup mereka…dan sebagainya. Atas dasar itu para pecinta Rasul sering membaca berbagai bentuk shalawat dan puji-pujian untuk Rasul, seperti tercantum didalam kitab-kitab Maulid Diba’, Burdah, Barzanji, Shalawat Badr…dan sebagainya.
4- Waktu; seperti; waktu-waktu yang disakralkan oleh Allah secara langsung atau yang berkaitan dengan momen khusus kehdupan manusia kekasih Ilahi. Atas dasar itu kaum muslimin memperingati acara-acara seperti; Maulid Nabi, Isra’ mi’raj, Nuzulul Quran…dan sebagainya. Wallahu A’lam.
Dengan contoh riwayat-riwayat di atas ini cukup bagi kita bahwa tabarruk atau tawassul itu mustahab/baik malah menjadikan do’a dan amalan kita lebih cepat diterima oleh Allah swt. Orang-orang yang mengingkari atau menyesatkan amalan tersebut tabarrruk, tawassul merekalah yang membuat bid’ah yang menyembunyikan hadits-hadits shohih atau memutar- balik maknanya tentang perbuatan-perbuatan sahabat baik dizaman hidup- nya Rasulallah saw atau sesudah wafatnya atau perbuatan para salaf yang telah kami kemukakan dibuku ini.
Perbuatan-perbuatan para sahabat mengenai tabarruk, tawassul pada waktu beliau saw. masih hidup tidak ditegur atau dilarang oleh Nabi malah diridhai oleh beliau saw. Begitu juga perbuatan para sahabat dan istri Nabi saw. setelah wafatnya beliau saw. juga tidak ada sahabat lainnya yang mencela, mensyirikkan perbuatan mereka. Demikian pula perbuatan antara para ulama pakar yang telah kami kemukakan juga! Renungkanlah!
Memang golongan pengingkar ini tidak bisa membedakan antara tabarruk, tawassul, ta’dzim dengan penyembahan atau pengkultusan. Dengan peng- haraman, pensyirikan mereka tentang masalah ini, seakan-akan mereka ini merasa lebih pandai, taqwa dan lebih mengetahui syari’at Islam dibanding- kan dengan Rasulallah saw., para kerabat, para sahabatnya serta para ulama pakar yang melakukan tawassul, tabarruk , ta’dzim dan sebagainya! Saya berlindung pada Allah dalam hal ini.
Begitu juga tidak ada terlintas dipikiran orang-orang muslimin bahwa mereka menyembah Ka’bah, karena ruku’, sujud menghadap bangunan batu tersebut atau menyembah hajar aswad karena mencium dan mengusap-usapnya atau meyembah kuburan karena berdiri khidmat dihadapan kuburan atau mencium kuburan itu. Bila ada seorang muslim yang berkeyakinan bahwa dia beribadah demi karena Ka’bah, Hajar Al-Aswad dan kuburan, maka akan hancurlah keimanan dan ke Islamannya.
Jadi yang penting semuanya disini adalah keyakinan atau niat dalam hati, karena semua amal itu tergantung pada niatnya Apa salahnya bila orang ingin mencium, mengusap kuburan Rasulallah saw.atau para ahli taqwa lainnya, selama niat orang tersebut hanya sebagai ta’dzim, tabarruk bukan sebagai penyembahan?
Memang golongan pengingkar selalu mengarang-ngarang, menafsir, menyangka perbuatan seseorang seenaknya saja karena tidak sepaham dengan pendapatnya, seakan-akan mereka tahu niat didalam hati setiap orang.

Insya Allah dengan keterangan sederhana dan dalil-dalil mengenai tawassul, tabarruk yang cukup jelas ini dapat membuka hati dan pikiran kita untuk mengetahui amalan mana yang diridhoi oleh Allah swt. dan Rasul-Nya. Semoga hidayah dan taufiq dari Allah swt., selalu dilimpahkan pada kaum muslimin. Amin. Insya Allah dengan adanya kutipan ini bisa memberi manfaat bagi kami sekeluarga khususnya dan semua kaum muslimin lainnya dan kita semua bisa melaksanakan amalan-amalan yang diridhoi-Nya, sehingga kita tidak mudah mencela kaum muslimin yang melakukan perbuatan-perbuatan tertentu tersebut mengusap-usap, mencium dan sebagainya bekas-bekas para Nabi, wali…. yang telah kami kutip dan kumpulkan sebagai perbuatan syirik, munkar atau sesat dan sebagainya!

Wallahu a’lam.

Sumber

27 June 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Bila Lailatul Qadr berlaku.

(Dari Bahagian Tarekat Tasauwuf – Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan)

image

Bila Lailatul Qadr berlaku.

Ulamak berselisih pendapat tentang bilakah berlakunya Lailatul Qadr. Di dalam Kitab Fath al-Bari fi Syarh Sahih al-Bukhari menyebutkan ada 46 pendapat ulamak berhubung bilakah berlakunya Lailatul Qadr. Ada yang menyatakan ianya berlaku setiap 7 tahun sekali sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muhammad bin al-Hanifah, ada yang menyatakan ianya berlaku pada setiap bulan, ada yang menyatakan ianya berlaku pada awal Ramadhan, sebahagian lagi mengatakan ianya berlaku pada setengah bulan Ramadhan yang kedua, ada mengatakan ianya berlaku pada malam ke-17 Ramadhan dan jumhur mengatakan ianya berlaku pada 10 malam yang terakhir bulan Ramadhan.
Imam Syafie mengatakan Lailatul Qadr itu terkandung dalam 10 hari yang terakhir Ramadhan pada malam yang ganjil iaitu malam ke 21 dan malam ke 23.

Formula Ulamak Tafsir Yang Semasa[1],
Lailatul Qadr berlaku pada malam ke 27 Ramadhan. Hal ini berdasarkan kepada 2 perkara dalam Surah al-Qadr iaitu:
i) Allah mengulang-ulangkan perkataan ( لَيْلَةُ القَدْرِ ) pada 3 tempat dan perkataan ( لَيْلَةُ القَدْرِ ) terdapat 9 huruf. Sehubungan dengan itu 3 x 9 = 27.
ii) Surah al-Qadr mengandungi 30 patah perkataan. Perkataan ( هِيَ ) pada ayat yang terakhir surah ini berada di kedudukan yang ke 27.

Formula Imam Ghazali,
Malam Lailatul Qadr ditentukan berdasarkan bilakah hari awal Ramadhan itu jatuh.
1 Ramadhan. Lailatul Qadr
_______________ ___________________
Isnin Mlm 21 Ramadhan
Sabtu Mlm 23 Ramadhan
Khamis Mlm 25 Ramadhan
Selasa/Jumaat Mlm 27 Ramadhan
Ahad/Rabu Mlm 29 Ramadhan
Justeru, al-Syeikh Yusuf Khattar Muhammad menyatakan hikmah tidak ditentukan Lailatul Qadr secara yakin adalah supaya kita sentiasa melakukan ibadah kepada Allah pada setiap malam dalam bulan Ramadhan khususnya pada 10 malam yang terakhir. Sabda Nabi S.A.W,
فَالتَـمِسُوهَا فِى العَشْرِ الأَوَاخِرِ فِى الوِتْرِ

Yang bermaksud, Maka kamu carilah ia (Lailatul Qadr) pada 10 malam terakhir (bulan Ramadhan) iaitu pada malam yang ganjil.[2]

Tanda-tanda berlakunya Lailatul Qadr.

Ulamak berkata: Tanda-tanda berlakunya Lailatul Qadr seperti kurangnya salakan atau lolongan anjing, kurangnya suara kaldai, air masin bertukar menjadi tawar, ada yang dapat melihat makhluk ciptaan Allah tunduk sujud kepada-Nya dan mendengar mereka berzikir.
Terdapat sebuah hadith daripada Jabir bin Samrah menyatakan,
لَيْـلَةُ القَدْرِ لَيْـلَةُ مَطَرٌ وَرِيحٌ

Yang bermaksud, Lailatul Qadr ialah malam yang hujan dan berangin[3].

Selain itu, kita akan dapat melihat pada keesokan paginya cahaya sinaran matahari yang cerah dan hari tersebut tidak terlalu panas dan tidak terlalu sejuk.

[1] Al-Nafahat al-Nuraniyah fi Fadhail al-Ayyam wa al-Layali wa al-Syuhur al-Qomariyah, al-Syeikh Yusuf Khattar Muhammad, Matba’ah Nadhr, 2001, bab Lailatul Qadr hlmn 201.

[2] Fath al-Bari bi Syarh Sohih al-Bukhari, al-Hafiz Ahmad bin Ali bin hajar al-Asqolani, Dar al-Fikr, 1996, Kitab Fadl Lailatul Qadr, Jld 4, 786
[3] Fath al-Bari bi Syarh Sohih al-Bukhari, al-Hafiz Ahmad bin Ali bin hajar al-Asqolani, Dar al-Fikr, 1996, Kitab Fadl Lailatul Qadr, Jld 4, 791

25 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

ADAKAH ANDA MUJTAHID”

(Maulana Hussin Abdul Qadir Yusufi)

PETIKAN KULIAH

“ADAKAH ANDA MUJTAHID”

oleh MAULANA HUSSEIN

KAEDAH-KAEDAH PARA IMAM MUJTAHID menurut SYEIKH MUHADDITH INDIA, MAULANA SYAH ABDUL AZIZ

1. Beliau merupakan anak kepada Syah Waliyullah Ad-Dehlawi.

2. Katanya dalam menyelesaikan masalah khilaf seperti percanggahan hadis, maka imam mujtahid memiliki kaedah-kaedahnya.

3. Imam Malik berpegang kpd amalan penduduk madinah krn ia tempat tinggal Rasulullah saw, padanya ada sahabat besar yang dekat dengan Rasulullah saw. Cth mcm larangan waktu solat pada tiga waktu termasuk waktu tgh hari.

Imam Malik melihat orang madinah solat nafilah (sunat) pada waktu tgh hari (zawal). Maka Imam Malik berpegang riwayat waktu karahah solat ada dua dan bukan tiga seperti dalam riwayat.

Maka riwayat itu disisi Imam Malik mansukh atau marjuh.Kata ibnu qayyim (murid ibn taymiyah) ;

من أصول مالك اتباع عمل أهل المدينة وإن خالف الحديث (بدائع الفوائد)
“Diantara dasar Imam Malik ialah menuruti amalan penduduk Madinah walau amalan xselari dengan hadis.”

4. Maka tatkala ijtihad Imam kelihatan bercanggah dengan hadis (sebenarnya xbercanggah) maka kita perlu tahu bahawa imam mengetahui banyak riwayat. Dan mereka memilih riwayat yang tepat.

Memilih yang rajih disisinya. Seperti riwayat dua waktu karahah sebagaimana diriwayatkan dalam bukhari dan diamalkan oleh ahlul madinah.

5. Jangan mudah mentohmah ulamak xjumpa hadith. Ulamak hidup zaman khairul qurun disebut xjumpa hadis, sedangkan kita duk syarrul qurun sangka kita lebih jumpa hadis.

6. Imam Syafie berpegang pada amalan hijazi serta menyelidiki padanya. Maksudnya jika hadis kelihatan berlawanan, maka beliau akan selaraskan maknanya. Tatkala ke mesir & iraq, beliau terima riwayat daripada thiqat. Bila didapati riwayat itu lebih kuat dari amalan penduduk hijaz, maka terbitlah dlm mazhabnya qaul qadim (pendapat lama) dan qawl jadid (baru).

7. Imam Ahmad Ibn Hanbal biasanya amalkan zahir hadis. Tetapi dgn cara khususkan mengikut punca hadis, sababul wurud. Oleh yg demikian banyak disandarkan mazhabnya kpd golongan zhahiriyah(gol yang amal zahir hadis/literal)

8. Akhirnya mazhab hanbali dirosakkan oleh puak yang mencampurkan mazhab hanbali dengan akidah mujassimah.

9. Cth, dalam mazhab hanbali, ada hadis nabi saw tatkala seseorang bangun tidur, kena basuh tangan. Kerana xtahu dimana letaknya masa tidur. Disisi imam ahmad,jika xbasuh, kalau celup tangan dalam air samada bernajis atau x, maka air yg dicelup akan jadi bernajis.

Imam syafie pula berijtihad dengan melihat pelbagai sudut. Seperti amalan orang arab yang tidur memakai kain, yang beristinjak tanpa air dan cuaca panas yang tatkala tidur orang arab berpeluh. Begitulah kaedah-kaedah ulamak mujtahid. Bukan hukum secara jahil seperti yang berlaku hari ini.

10. Adapun imam abu hanifah, melihat syariat ada dua bahagian. Pertama kaedah umum yg jadi dasar hukum. Cth sempurna jual beli melalui ijab qabul. Kedua apabila berlaku kejadian yg merupakan juzuk,seolah2 menepati pengecualian kaedah umum, maka mujtahid kena jaga kaedah umum.cth jualan barang akan batal dengan adanya syarat fasid (rosak).

Adapun kaedah juzuk yg berlaku pada kisah jabir yang jual unta pd Rasulullah saw yang mensyaratkan selepas bayar dia akan naik unta lagi sampai madinah, maka ia menyalahi kaedah dan tidak dibuat sandaran hukum disisi abu hanifah .

– Catatan ringkas alfaqir mudir Mtdhs Darul Hadis Sabah di kuliah “adakah anda mujtahid siri3” di Madrasah Huffaz Darul Hadis Sabah, kota kinabalu jam 11.42 malam (20.06.2016)
Mudir MTDHS Ust Mat Razali

image
Maulana Hussein

24 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

PENGGUNAAN DRIP BAGI PESAKIT DENGGI KETIKA BERPUASA

image

Mufti Wilayah Persekutuan

AL-KAFI LI AL-FATAWI : SOALAN 300 (23 JUN 2016 M / 18 RAMADHAN 1437 H)

SOALAN:

Salam mufti dan salam ramadan. Ada satu soalan harap dapat membantu insyaAllah. Ubat suntikan tidak membatalkan puasa. Bagaimana pula dgn IV Drip (air dimasukkan melalui salur darah?) Kuantiti air yang dimasukkan satu beg drip ini lebih kurang 500ml (hampir penuh botol mineral besar) Biasanya orang denggi dimasukkan air ini (IV drip).

Jazakallahhu khoir

JAWAPAN:

Waalaikumussalam wbt,

Dalam masalah ini dia memasukkan air itu, bukan daripada saluran yang biasa seperti mulut dengan meminum air, atau hidung, tetapi dia masuk melalui lengan, atau tangan, dengan tujuan untuk melegakan penyakit demam denggi dan seumpamanya. Dalam masalah ini ulama telah khilaf dan saya lebih cenderung kepada pendapat yang menyatakan sebaik-baiknya dia tidak berpuasalah, dia batalkan puasa kerana air yang dimasukkan itu juga kesannya sama seperti dia minum air yang boleh menghilangkan dahaga.

Jadi lebih baik kita katakan dalam isu ini bahawa seseorang yang berada dalam keadaan seperti ini dia tidak payah berpuasa untuk dia menstabilkan tubuh badannya dengan lebih baik lagi, selepas sembuh dia qadha’lah puasa.

Firman Allah SWt:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Maksudnya: Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Dia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran.

(Surah al-Baqarah, 2:185)

Wallahua’lam

23 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

WAKTU MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH

(With FB Masjid Negeri Negeri Sembilan)

image

Alyasak Berhan
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
Diriwayatkan daripada Ibn Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “Rasulullah sollallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah iaitu satu gantang daripada kurma, atau satu gantang daripada sya’ir (gandum), ke atas setiap hamba, merdeka, lelaki, wanita, kecil dan besar daripada kaum muslimin. Baginda juga memerintahkan agar ia ditunaikan sebelum manusia keluar menunaikan solat (sunat Aidul Fitri) (Riwayat al-Bukhari no. 1503)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
Diriwayatkan daripada Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “Rasulullah sollallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari daripada perbuatan sia-sia dan perkataan keji, serta untuk memberi makan kepada orang miskin. Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum solat (sunat Aidul Fitri), maka ia merupakan zakat yang diterima dan barangsiapa yang mengeluarkannya sesudah solat (sunat Aidul Fitri), maka ia merupakan satu sedekah daripada sedekah-sedekah (sedekah biasa). (Riwayat Abi Daud no. 1609, Ibn Majah no. 1927 dan al-Daraqutni)
Waktu mengeluarkan zakat fitrah terbahagi kepada 5 waktu, iaitu:

1. Waktu Wajib.
Dengan memperolehi sebahagian waktu daripada bulan Ramadhan dan sebahagian waktu daripada bulan Syawal; iaitu seseorang yang hidup dan memenuhi syarat-syarat wajib zakat ketika tenggelam matahari malam hari raya (1 Syawal).

2. Waktu fadhilah (sunnah).
Hari raya (1 Syawal) setelah terbit fajar (subuh) dan sebelum menunaikan solat hari raya Aidul Fitri. Paling afdhalnya adalah waktu selepas solat subuh.

3. Waktu Harus.
Iaitu, mulai dari awal bulan Ramadhan.

4. Waktu Makruh.
Iaitu, setelah solat Aidul Fitri sehingga tenggelamnya matahari 1 Syawal melainkan kerana kemaslahatan seperti menanti kerabat atau orang fakir yang soleh (maka hukumnya tidak makruh).

5. Waktu haram.
Melambatkan zakat fitrah sehingga tenggelam matahari hari raya (1 Syawal) melainkan kerana keuzuran. Maka harus melewatkan zakat kerana keuzuran seperti menunggu hartanya yang tiada (bersamanya) atau tidak menemui orang yang berhak menerima zakat ketika itu. Justeru, zakat tersebut diambilkira sebagai zakat qadha’ dan dia tidak berdosa (kerana ada keuzuran).
اليسع
Wallahu A’lam…

Rujukan;
Al-Taqrirat al-Sadidah fi al-Masail al-Mufidah 418
http://tolibilmi.blogspot.my/2016/06/waktu-mengeluarkan-zakat-fitrah.html

22 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Nuzul Al-Quran 17 Ramadan

image

(Dari Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan)

Mengapa Nuzul Al-Quran diperingati pada malam 17 Ramadan?

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam QS al-Anfal 41 bahawa Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam pada hari Furqan, pembeza antara haq dan batil, pada saat bertemunya dua pasukan, pasukan umat Islam dan Musyrikin pada perang Badar. Bilakah kejadiannya?

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan beberapa dalil atsar, diantaranya:

ﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﻗﺎﻝ: ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻴﻠﺔ اﻟﻔﺮﻗﺎﻥ، ﻟﻴﻠﺔ اﻟﺘﻘﻰ اﻟﺠﻤﻌﺎﻥ، ﻓﻲ ﺻﺒﻴﺤﺘﻬﺎ ﻟﻴﻠﺔ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻟﺴﺒﻊ ﻋﺸﺮ ﻣﻀﺖ ﻣﻦ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ.
ﻭﻫﻮ اﻟﺼﺤﻴﺢ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﻐﺎﺯﻱ ﻭاﻟﺴﻴﺮ.

(Sayidina) Ali berkata bahwa malam Furqan adalah malam bertemunya dua pasukan, di pagi harinya malam Jumaat 17 bulan Ramadan. Ini adalah pendapat sahih menurut pakar peperangan dan ahli sejarah (Tafsir Ibnu Katsir 4/66)

Memperingati Nuzul Al- Quran

Bolehkah memperingati Nuzul Al-Quran? Mufti al-Azhar Syaikh Athiyah memberi pedoman umum tentang hukum peringatan:

ﻓﺎﻟﺨﻼﺻﺔ ﺃﻥ اﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺄﻳﺔ ﻣﻨﺎﺳﺒﺔ ﻃﻴﺒﺔ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ ﻣﺎ ﺩاﻡ اﻟﻐﺮﺽ ﻣﺸﺮﻭﻋﺎ ﻭاﻷﺳﻠﻮﺏ ﻓﻰ ﺣﺪﻭﺩ اﻟﺪﻳﻦ، ﻭﻻ ﺿﻴﺮ ﻓﻰ ﺗﺴﻤﻴﺔ اﻻﺣﺘﻔﺎﻻﺕ ﺑﺎﻷﻋﻴﺎﺩ، ﻓﺎﻟﻌﺒﺮﺓ ﺑﺎﻟﻤﺴﻤﻴﺎﺕ ﻻ ﺑﺎﻷﺳﻤﺎء

Kesimpulannya, “peringatan” dengan tema-tema yang baik hukumnya adalah boleh selama tujuannya sesuai syariat dan pelaksanaannya sesuai aturan agama. Tidak ada pengaruh peringatan disebut perayaan. Sebab penilaian terdapat pada subtansi isinya, bukan pada namanya (Fatawa al-Azhar 10/120)

Ustaz Ma’ruf Khozin

22 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

PETIKAN KULIAH HADIS MAUDHU’ oleh MAULANA HUSSEIN ABDUL KADIR

(Bicara Hadith Bersama Ustaz Mohd Khafidz Soroni)

1. Imam-imam mazhab menerima hadis-hadis dari sahabat dan tabiin dan mengkaji halus setiap hadis untuk diterima hujahnya dan buat hukum feqah untuk kita beramal.
2. Justeru amalan berterusan dari imam mazhab tersebut diamalkan kita sampai hari ini.
3. Pengikut imam mazhab yang empat tadi juga adalah alim dalam ilmu hadis seperti Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani yang mensyarahkan Sahih Bukhari iaitu Fathul Bari bermazhab syafie. Juga Imam Badrudin ‘Aini yang mensyarahkan sahih bukhari Umdatul Qari juga ikut Ijtihad Imam Abu Hanifah. Mereka ini orang-orang hebat yang ikut Imam Mazhab.
4. Pengikut Imam Mazhab juga alim besar dan ada yang mencapai tahap mujtahid juga seperti anak murid Imam Syafie seperti Imam Muzani.
5. Sekarang ada yang pelik ialah munculnya golongan yang sebut hanya nak amal Quran dan Sunnah namun mengambil nas hujjah dari Imam yang keras dalam penilaian hadis. Seperti Imam Ibnul Jauzi, Ibnu Hibban, Ibnu Taymiyah, Ibnu Qayyim, Imam Jauzaqani yang dianggap sekumpulan muhaddisin yang keras dalam penilaian hadis.
6. Sedangkan ada ulamak hadis yang sederhana dan adil dalam penilaian seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Zakaria Al-Ansari.
7. Ada hadis yang mencapai hasan dan dhaif yang sah disisi muhaddisin muktadil dianggap oleh puak-puak tertentu sebagai hadis maudhuk pada penilaian ulamak yang keras (Mutasyaddid) lalu menghukum amalan tersebut salah dan menyalahkan amalan masyarakat.
8. Jika benar nak amal Quran dan Sunnah, ikhlas nak mengajar hadis mesti bawa keseluruhan disiplin ilmu hadis dan bawa akhlak Rasulullah SAW. Pastikan hadis yang nak dimaudhu’kan itu adakah ia dimaudhu’kan oleh jumhur muhaddisin atau tidak. Atau ia hanya dimaudhu’kan oleh hanya beberapa muhaddis sahaja.
9. Jika hadis itu disepakati muhaddisin sebagai maudhu’ maka xsalah menyebarkan kepalsuannya bahkan sepatutnya kita bagitahu ia palsu. Namun jika status maudhu’nya masih khilaf, kita jgn cepat sangat sebar kepada masyarakat.
10. Cth hadis الموت كفارة لكل مسلم . Imam Ibnul Jauzi dan Saghani kata hadis ni maudhu’. Sedangkan Ibnu Al-‘Arabi menegaskan hadis ini sahih. al-‘Iraqi kata riwayat ni datang dengan banyak jalur riwayat yang membawanya sampai darjat hasan. al-Hafiz Al-Iraqi menghafaz 100 ribu hadis berserta sanad dan dianggap ulamak hadis yang bersikap sederhana. Kata Ibn Hajar, hadis ini xbermaksud mati itu hapus segala dosa muslim, namun ia penghapusan dosa sekadar yang dikehendaki oleh Allah Taala sahaja. Maka ia xbercanggah dengan nas.(Al-Fawaid Al-Majmu’ah Lis Syaukani)
11. Hari ni golongan yang cepat menyalahkan sesuatu kitab sedangkan mereka pun gagal nak buat dan tulis satu kitab setanding kitab yang dipersalahkan. Cth salahkan Fadhail Amal xboleh baca. Walhal Maulana Zakariya Kandahlawi yang mencapai gelaran syeikhul hadis dan ra’isul muhaddithin bahkan mengarang pelbagai kitab antaranya Kanzul Mutawari syarah sahih bukhari dengan puluhan jilid satu tajuk menulisnya. Jika sekadar ada hadith dhaif dan kesilapan lalu dihentam, maka kitab mana lagi yang hendak dibaca. Kitab sunan juga ada hadith dhaif. Bahkan kitab sehebat bukhari xlepas dari kritikan oleh ulamak beraliran keras seperti ibnul jauzi yang mengatakan hadis didalam sahih bukhari sebagai dhaif. Bahkan ibnul jauzi menyebut imam tirmidzi muatkan 17 hadis maudhuk dalam kitabnya. Namun Ibnu Hajar jawab balik dengan menghukumnya hasan dan dhaif.
12. Jika fuqaha muhaddisin dan muhaddisin muktadil dahulu dah amal, apa lagi yang kita nak susah pertikaikan. Kerana mereka sudah menilai dengan ilmu yang mencukupi dengan syaratnya. Namun kita pula sibuk-sibuk cungkil semula sedangkan syarat ilmu xcukup. Sebagai cth hanya membawa 1 pandangan dan aliran pandangan walhal meninggalkan pembelaan ulamak seperti Al-Hafiz Ibnu Hajar.
13. Ulamak-ulamak dahulu memudahkan penyampaian kepada masyarakat mengamalkan sesuatu hadis dengan diringkaskan penyampaian. Kerana mereka memahami setakat mana kemampuan masyarakat dalam menyerap ilmu. Hal ini bukan bermakna ulamak-ulamak seperti ulamak alam melayu dulu jahil dibidang hadis. Namun mereka sebenarnya bijak dalam taklim.
14. Akhirnya sebagai awam rujuklah pakar – pakar ilmu dan luaskanlah pengajian. Semoga Allah memberkati kesungguhan kita mencari ilmu.

Wallahu A’lam semoga Allah tetapkan kita dalam kebenaran Ilmu.

(Petikan ringkas dari Kuliah Subuh Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi berkenaan Hadis Maudhu’ di Masjid Nurul Hidayah Kg Bangka-Bangka Sabah. Catatan daripada Mudir MTDHS.)

18 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Tazkirah | Leave a comment

Ahli Hadis yang perasan lebih pandai daripada ulama Silam Muktabar

Nasihat dan pencerahaan ulama Hadith Malaysia,Maulana Husien kepada Ahli ahli Hadith yang palsu namun sudah merasa lebih pandai daripada para ulama ‘ Silam Mu’tabar

Catatan penting pengajian minggu ini bersama Maulana Hussein Abdul Qadir Yusufi-

1.Zaman sekarang orang2 yang mengaku Ahli Hadis tidak mahu mengikut mazhab yang empat. Kerana kata mereka: Imam 2 ini tidak maksum. Jadi kami berpegang terus dengan AlQuran dan Sunnah. Sebenarnya mereka terlupa Pakar Hadis terdahulu yang jauh lebih hebat didalam memahami Hadis daripada mereka.Pun turut berpegang dengan mazhab yang empat ini. Hinggakan sebahagian mereka telah sampai ke tahap Alhafiz. Iaitu (100 Ribu Hadis beserta sanad di dalam dada) Contohnya Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani adalah bermazhab Syafie (beliau adalah Amirul Mukminin Filhadis) Begitulah Ulama2 Hadis yang lain termasuk Imam Al-Nawawi bermazhab Syafie, Imam Badruddin Aini bermazhab Hanafi, Al-Allamah Ibn Arabi bermazhab Maliki, dan ramai lagi.Mereka ini mensyarahkan kitab2 hadis hingga berjilid2 banyaknya.

2.Mereka yang mengaku Ahli Hadis ini mencari riwayat Hadis dari Imam 4 mazhab tetapi mereka tidak jumpa.Terus mereka berkata bahawa Imam Syafie dan Imam Abu Hanifah tidak pandai Hadis dan lain2. Sebenarnya mereka tidak tahu bahawa Para Imam ini sebok dengan Ijtihad daripada Hadis untuk istimbat hukum-hakam, kerana itu mereka kurang meriwayatkan Hadis. Tetapi yang meriwayatkan Hadis2 tersebut adalah murid2 mereka. Kerana Para Imam Sunan Sittah kesemuanya adalah anak murid kepada Imam Ahmad bin Hanbal.Imam Ahmad pula adalah anak murid Imam Syafie. Imam Syafie gurunya adalah Imam Malik dan Imam Muhammad bin Hasan Al-Syaibani. Muhammad bin Hasan AlSyaibani adalah murid Imam Abu Hanifah. Dengan erti kata lain mereka bukanlah asing.Bahkan satu jalur jua.

3.Mereka yang mengaku Ahli Hadis ini juga selalu berkata bahawa Imam Syafie tidak jumpa Hadis itu dan ini. Sebenarnya mereka tidak tahu yang Imam Syafie juga pakar Hadis. Cuma Hadis tersebut adalah marjuh di sisi Imam Syafie, dan telah di rajihkan oleh Hadis yang lain.

4. Sikap golongan yang mengaku Ahli Hadis sekarang menolak mentah2 hadis2 yang perawinya lemah ingatan, katanya kerana Hadis darinya boleh menjadi Dhaif. Tetapi tidak sebegitu pegangan Muhaddis terdahulu. Mereka menerima juga Hadis yang datang dari perawi yang lemah, Kerana Imam Jarah Watta’dil Imam Yahya bin Said AlQattan berkata: Sekiranya nak cari perawi yang bersih daripada kakurangan di dalam ingatan dan sebagainya, tentulah kita akan mendapati hanya didalam bilangan 3 atau 5 orang sahaja. Kerana itu para Muhaddisin terdahulu tidak begitu mudah menolak Hadis yang di riwayatkan oleh seseorang perawi sekalipun lemah ingatan. Kerana mereka sangat beradab dengan Hadis tersebut sekalipun Dhaif,kerana yang demikian itu juga adalah perkataan dari Baginda Nabi Muhammad S.A W. Jadi janganlah mudah-mudah kita menolaknya. Beradablah wahai saudaraku.

4.Muhaddisin telah sepakat bahawa Hadis yang di dalam Sunan Sittah telah di selidik oleh Pemilik-pemiliknya yang tinggi keilmuan mereka. Tidak perlu kita untuk tunjuk pandai mengkaji semula. Pernah Imam Hadis yang gemar memaudhu’kan Hadis2 Hasan dan Dhaif, iaitu Imam Ibnu Jauzi berkata, bahawa didalam Sunan Tirmizi ada 17 Hadis Maudhu. Kemudian datang AlHafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani menafikan kesemua itu. Beserta mendatangkan dalil.

5.Orang-orang yang mengaku Ahli Hadis sekarang lebih gemar berpegang dengan padangan Ulama2 Hadis yang Mutasyaddidin seperti Imam Ibnu Jauzi, Imam Ibnu Qayyim,dan sebagainya yang gemar memaudhu’kan Hadis2 yang Hasan dan Dhaif.Kerana begitu banyak Hadis2 Hassan dan Dhaif yang telah Dimaudhukan oleh Ulama2 Mutasyaddidin ini. Sehinggakan Kitab Saheh Bukhari juga tidak terlepas. Jadi hendaklah kita berpegang dengan Ulama yang Mu’tadilin, takut dengan mudah menafikan perkataan Nabi,sekalipun sebenarnya kita mengetahui bahawa itu adalah daripada perkataan Baginda Nabi Muhammad S.A.W.

Catatan oleh:
Al-Faqir Amidi.
14/6/2016.

18 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Pesanan sangat berharga dari Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah:

“Jika Allah swt mudahkan bagimu mengerjakan solat malam, maka janganlah memandang rendah orang-orang yang tidur.”

“Jika Allah swt mudahkan bagimu melaksanakan puasa, maka janganlah memandang orang-orang yang tidak bepuasa dengan tatapan menghinakan.”

“Jika Allah swt memudahkan bagimu pintu utk berjihad, maka janganlah memandang orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan meremehkan.”

“Jika Allah swt mudahkan pintu rezeki bagimu, maka janganlah memandang orang-orang yang berhutang dan kurang rezekinya dengan pandangan yg mengejek dan mencela. Kerana itu adalah titipan Allah swt yang kelak akan dipertanggungjawabkan.”

“Jika Allah swt mudahkan pemahaman agama bagimu, janganlah meremehkan orang lain yg belum faham agama dengan pandangan hina.”

“Jika Allah swt mudahkan ilmu bagimu, janganlah sombong dan bangga diri kerananya. Sebab Allah swt lah yang memberimu pemahaman itu.”

“Dan boleh jadi orang yang tidak mengerjakan qiyamul lail, puasa, tidak berjihad, dan sepertinya lebih dekat kepada Allah swt darimu.”

“Sesungguhnya jika engkau terlena tidur semalaman dan pagi harinya menyesal… lebih baik bagimu daripada qiyamul lail semalaman namun pagi harinya engkau “merasa” ta’jub dan bangga dengan amalmu. Sebab tidak layak seorang merasa bangga dengan amalnya, kerana sesungguhnya dia tidak tahu amal yang mana yang Allah swt akan terima?

Moga amal-amal kita yang terlaksana tidak menjadikan diri kita orang yang sombong di sisiNya..

Allahumma sholli’ala sayyidina Muhammad wa’alla alli Sayyidina Muhammad.⁠⁠⁠

Oleh Ustaz Yunan A Samad

16 June 2016 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama | Leave a comment

AMALAN DI KUBUR MENGIKUT ULAMAK AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH BUKAN BIDAAH DAN SESAT. KUBURIYYUN (penyembah kubur)

Fitnah dan ejekan berbentuk pengkafiran dan pensyirikan oleh Wahhabi terhadap Salafussoleh dan majoriti ulamak serta umat Islam.
Wahhabi memfitnah umat Islam yang berziarah kubur, berdoa dengan cara bertawassul dan membaca al Quran dengan gelaran kuburiyyun.

Benarkah dakwaan Wahhabi ini ?

1. Para ulama sepakat mengatakan bahawa sunat bagi lelaki menziarahi kubur orang-orang Islam berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Buraidah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Maksudnya:
“Dahulu aku melarang kamu menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahlah.”
(Hadits riwayat Muslim)

ZIARAH KUBUR PADA WAKTU/HARI TERTENTU
1.
عن محمد بن إبراهيم قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يأتي قبور الشهداء على رأس كل حول فيقول:”السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار”، وأبو بكر وعمر وعثمان
“Muhammad bin Ibrahim berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi makam para syuhada’ setiap tahun, lalu berkata: “Salam sejahtera semoga buat kalian sebab kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Hal ini juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman.
(HR. al-Thabari dalam Tafsir-nya [20345], dan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juz 4 hlm 453).
Hadits di atas juga disebutkan oleh al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur hlm 185, dan ditentukan bahwa makam Syuhada yang diziarahi setiap oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syuhada peperangan Uhud. Hadits ini dapat dijadikan dalil, tentang tradisi haul kematian setiap tahun.

2. Atsar Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha
عن محمد بن علي قال كانت فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم تزور قبر حمزة كل جمعة
“Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin berkata: “Fathimah putrid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam Hamzah setiap hari Jum’at.”
(HR. Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf [6713]).
3. عن الحسين بن علي : أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم كانت تزور قبر عمها حمزة كل جمعة فتصلي و تبكي عنده هذا الحديث رواته عن آخرهم ثقات
“Al-Husain bin Ali berkata: “Fathimah putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah setiap hari Jum’at, lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya.”
(HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak [4319], al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra [7000]).

4. Atsar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ حَدِّثْ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلَاثَ مِرَارٍ وَلا تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا الْقُرْآنَ. رواه البخاري.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sampaikanlah hadits kepada manusia setiap hari Jum’at. Jika kamu tidak mau, maka lakukan dua kali dalam sepekan. Jika masih kurang banyak, maka tiga kali dalam sepekan. Jangan kamu buat orang-orang itu bosan kepada al-Qur’an ini.
(HR. al-Bukhari [6337]).

MEMBACA AL QURAN DI KUBUR – merupakan amalan yang diajar oleh salafussoleh

1. Ibn Hibban dalam kitab sahihnya meriwayatkan hadith Jundab bin AbdiLLah, RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bererti :
“Surah al Baqarah adalah tulang belakang al Quran, ia diturunkan oleh lapan puluh malaikat dengan membawa satu persatu ayat. Sedangkan ayat kursi diturunkan dari bawah Arsy’. kemudian ia dikumpulkan dengan ayat-ayat surah al Baqarah. Surah Yasin pula adalah hati al Quran, tidak ada orang yang membacanya dengan mengharap redha ALlah dan pahala akhirat melainkan dia akan mendapat ampunan dari-Nya. Bacalah surah Yasin untuk saudara-saudara kamu yang telah meninggal dunia.”
(Ditakhrij oleh Ibn Hibban di dalam Kitab Sahihnya pada bab Fadhilat Surah al Baqarah. Demikian juga al Haithami meriwayatkannya di dalam kitab Mawarid al Dzam’an, (jilid V, h 397). Imam Ahmad juga meriwayatkannya di dalam al Musnad dari Ma’qal bin Yasar (jilid v h 26). Al Haithami mengulas hadith tersebut di dalam kitab Majma’ al Zawaid, “Hadith tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, di dalamnya ada salah seorang perawi yang tidak disebut namanya, bagaimanapun perawi perawi lainnya adalah sahih (jilid VI h 311)

2. Imam Syafi’i :
قال الشافعى : وأحب لو قرئ عند القبر ودعى للميت
“asy-Syafi’i berkata : aku menyukai seandainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan dibacakan do’a untuk mayyit”
(Lihat : Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi)
Juga disebutkan oleh al-Imam al-Mawardi, al-Imam an-Nawawi, al-Imam Ibnu ‘Allan dan yang lainnya dalam kitab masing-masing yang sebagai berikut :
قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمه اللَّه: ويُسْتَحَبُّ أنْ يُقرَ أَ عِ ندَه شيء مِنَ القُرآنِ، وَإن خَتَمُوا القُرآن عِنْده كانَ حَسناً
“Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata : disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi quburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan al-Qur’an disisi quburnya maka itu bagus”
(Lihat : Riyadlush Shalihin [1/295] lil-Imam an-Nawawi ; Dalilul Falihin [6/426] li-Imam Ibnu ‘Allan ; al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26] lil-Imam al-Mawardi dan lainnya)

3. Imam Nawawi berkata
“Adalah sunnah hukumnya bagi para penziarah kubur untuk mengucapkan salam kepada mereka (penghuni kubur), mendoakan kepada orang yang diziarahi dan juga kepada ahli kubur semuanya. Lebih utama lagi, jika penziarah itu membaca doa-doa yang telah diterangkan dalam al hadith. Dan hukumnya sunnah pula membaca ayat-ayat al Quran dan setelah itu mendoakan para penghuni kubur. Ini semua adalah nas (pendapat) dari Imam al Syafie dan disepakati oleh murid-muridnya (para pengikutnya)

4. Imam al Nawawi, al majmu’ syarh al muhazzab jilid V h 286.
Majoriti para ulamak antaranya Imam Ahmad Ibnu Hambal dalam salah satu pendapatnya, Muhammad Ibnu Hassan, Imam Abu Hanifah dalam satu pendapatnya, para ulamak mutaakhirin Malikiyah dan As SYafi’eyyah berpendapat bahawa membaca al Quran di kuburan setelah mayat dikubur boleh (ad Duur al Muhtar wa raddu al Muhtar I/884. Fath al Qadir I/473. Syarh al Risalah I/289, Mughniy al Muhtaj III/69-70, Al Mughniy II/566-570, Kasyaf al Qona’ II/191, al Muhadzab I/464, al Syarh al Saghir I/568)

MENGUSAP KUBUR – pernah dibuat oleh salafussoleh

1. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bertanya kepada ayahnya tentang seorang lelaki yang mengusap kubur Nabi s.a.w. dan mimbar, lalu Imam Ahmad menjawab:
“Tidak mengapa begitu”.
[Iqthida’ As-Sirat Al-Mustaqim m/s 401]
Sahabat Abu Ayyub al Ansori telah diriwayatkan mencium makam Nabi :
“Dawud ibn Salih berkata: pada suatu hari Marwan melihat seorang laki-laki menaruh wajahnya di atas makam Nabi sall llahu ‘alayhi wasallam. Marwan menegurnya, “Kau tahu apa yang kau lakukan?” Ketika Marwan sampai di dekatnya, orang tersebut menoleh dan memperlihatkan wajahnya ternyata orang tersebut adalah Abu Ayyub al-Ansari [salah seorang sahabat besar dari golongan Ansar). Sayyidina Abu Ayyub Al-Ansari radiyAllahu ‘anhu. berkata: “Ya, Aku datang kepada Nabi, bukan mendatangi batu. Aku mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Jangan tangisi agama apabila diurus oleh ahlinya. Akan tetapi tangisilah apabila diurus oleh bukan ahlinya”
(Hadits riwayat Ibn Hibban dalam Shahihnya, Ahmad (5:422), Tabrani dalam Mu’jamul Kabir (4:189), Awsat, Ibnu Hajar Haythami dalam al-Zawa’id (5:245), al-Hakim dalam kitab Mustadrak (4:515), Tabrani dan al-Hakim, al-Subki dalam Syifa’ al-siqam (p. 126), hadits ini dishahihkan oleh

IBNU HAJAR AL ASQALAN AMALAN DI KUBUR MENGIKUT ULAMAK AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH BUKAN BIDAAH DAN SESAT.
KUBURIYYUN (penyembah kubur) –

Al Allamah al Muhaddith al Arif billah, Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki telah membahas perkara tawassul ini dengan panjang lebar di dalam kitab beliau bertajuk Mafahim Yajibu an Tushahhah (lihat Muhiqq At Taqawwul fi Mas’alah at Tawassul dalam Rasa’il Hammah wa Mabahith Qayyimah, ms 397) Kemudian beliau menyenaraikan nama-nama para A’immah dan Huffaz yang membolehkan tawassul antaranya :

1. Al Imam Al Hafiz, Abu AbduLlah al Hakim dalam Al Mustadrak. (Di dalam kitab tersebut, beliau menyebutkan Nabi Adan bertawassul dengan Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan mensahihkannya)

2. Al Imam Al Hafiz, Abu Bakar al Baihaqi dalam Dala’il an Nubuwwah (Beliau juga menyebut tentang hadith Nabi Adam bertawassul dengan Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan hadith-hadith yang berkaitan dengan tawassul.)

3. Al Imam al Hafiz, Jalal ad Din as Sayuthi dalam Al Khasha’ish al Kubra (Beliau juga menyebut hadith Nabi Adam bertawassul).

4. Al Imam al Hafiz, Abu Al Farj Ibn Al Jauzi dalam Al Wafa (Beliau juga menyebut hadith Nabi Adam bertawassul dan hadith-hadith berkaitan.

5. Al Imam Al Hafiz Al Qadhi Iyadh dalam Asy Syifa’ fi at Ta’rif bi Huquq al Mushtofa.

6. Al Imam, Syaikh Nur ad Din al Qari al Ma’ruf bin Mulla Ali Qari dalam Syarhnya kepada kitab Asy Syifa’.

7. Al Allamah Ahmad Syihab ad Din al Khaffaji dalam Nasim ar Riyadh (Kitab syarah kepada Asy Syifa’)

8. Al Imam Al Hafiz, Al Qisthillani dalam Al Mawahib al Ladunniyyah (Beliau menyebutnya di awal kitab)

9. Al Allamah Syaikh Muhammad Abd al Baqi az Zarqani dalam Syarh (1/44) nya ke atas Al Mawahib.

10. Al Imam Syaikh al Islam, Abu Zakaria Yahnya An Nawawi dalam Al Idhah (Bab keenam, m.s 498. Lihat juga Al Majmu’, 8/272)

11. Al Allamah Ibn Hajar al Haitami dalam Hasyiah (m/s 499) nya atas Al Idhah dan beliau menulis risalah khas tentang tawassul berjudul Al Jauhar al Munazzham.

12. Al Hafiz Syihab ad Din Muhammad bin Muhammad bin Al Jazari ad Dimasyqi Iddah al Husn al Hashin (disebutkan dalam tajuk Kelebihan Doa)

13. Al Allamah al Imam Muhammad bin Ali asy Syaukani dalam Tuhfah az Zakirin (m/s 761)

14. Al Allamah al Imam al Muhaddith Ali bin abd al Kafi as Subki dalam Syifa’ as Siqam fi Ziyarah Khair al Anam (lihat Bab Kelapan, m/s 161)

15. Al Hafiz Imad ad Din Ibn Kathir dalam Tafsir al Qur’an al Azhim dalam Tafsir al Quran al Azhim.

16. Al Imam Al Hafiz Ibnu Hajar al Asqolani dalam Fath al Bari (Beliau menyebutkan kisah seorang lelaki yang datang ke kubur RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan bertawassul dengan baginda dan mengatakan sanadnya sahih dalam Fath al bari (Lihat 2/495)

17. Al imam Al Mufassir Abu Abdullah al Qurthubi dalam Al Jami’ li Ahkam al Quran (lihat 5/265)

18. Asy Syaikh Yusuf Khator Muhammad di dalam kitabnya Al Mausu’ah al Yusufiyyah fi Bayan Adillah ash Shufiyyah, menambah lagi nama-nama para ulama’ selain daripada nama-nama di atas yang membolehkan tawassul atau yang menukilkan dalil-dalil daripada para A’immah di dalam kitab-kitab mereka termasuklah. (m/s 122-123)

19. Imam Syafie

20. Imam Ahmad bin Hanbal

21. Imam Malik. Seperti yang disebutkan oleh Al Allamah Ibn Hajar dalam Al Jauhar al Munazhzham dan Al Asqolani dalam Al Mawahib al Laduniyyah, dan As Samhudi dalam Khulashah al Wafa’ dan al Qadhi Iyadh dalam asy Syifa’ dengan sanad yang sahih dan selain dari mereka pun menyebutkan perkara yang sama.

22. Al Allamah Asy Syihab ar Ramli Asy Syafie.

23. Al Allamah Syaikh Ibn Muflih al Hanbali.

24. Al Allamah Syaikh Ala’ ad Din Ali al Mardawi al Hanbali (lihat kitab al Inshaf 2/456)

25. Al Allamah Syaikh Ahmad al Mardawi.

26. Syaikh Yusuf an Nabhani.

27. Al Allamah Syaikh as Samiri (pengarang at Talkhish) (Lihat Kasyf al Qina’, 2/29)

28. Syaikh Muhammad al Hamid (lihat Rudud ala Abathil, m/s 25-26)
Ulamak terkini yang membolehkan :

29. Mufti Brunei (rujuk : http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2001/ic80_2001.htm )

30. Prof Dr Ali Jum’ah (lihatAl Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim)

31Sheikh Prof. Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buti Hafizahulla (lihat Al- Salafiyyah: Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Mazhaba Islami (1996), ms.155, 156).)

32. Sheikh Dr Abdul Malik Abd Rahman al-Sa’di (al-Bid’ah fi al-Mafhum al-Islami al-Daqiq)

33. Prof Dr Wahbah Az Zuhaili (lihat “فتاوى معاصرة” di muka surat 355)
Dan ramai lagi..

MELETAKKAN BUNGA DAN MENYIRAM AIR DI KUBUR

Firman Allah : Bertasbih kepada Allah apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi (Surah at Taghabun 64:1)

1. Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar di atas kuburan diletakkan pelepah kurma sebagaimana dalam sebuah hadits
“Ingatlah, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa tetapi bukan kerana melakukan dosa besar. Seorang dari padanya disiksa kerana dahulu dia suka membuat fitnah dan seorang lagi disiksa kerana tidak menghindari diri daripada percikan air kencing. Kemudian baginda mengambil pelepah kurma yang masih basah lalu dibelahnya menjadi dua. Setelah itu baginda menanam salah satunya pada kubur yang pertama dan yang satu lagi pada kubur yang kedua sambil bersabda: Semoga pelepah ini dapat meringankan seksanya selagi ia belum kering.” (Riwayat Bukhari, no: 1378 dan Muslim, no: 292)

2. Para Ulama menngqiyaskan/menyamakan pelepah kurma dalam hadits di atas dengan segala macam tumbuh-tumbuhan yang masih basah sebagaimana yang di jelaskan oleh Syaikh Al-Khathib Asy-Syarbini dalam kitab Mughni Al-Muhtaj
ويسن أيضا وضع الجريد الأخضر على القبر وكذا الريحان ونحوه من الشيء الرطب ولا يجوز للغير أخذه من على القبر قبل يبسه لأن صاحبه لم يعرض عنه إلا عند يبسه لزوال نفعه الذي كان فيه وقت رطوبته وهو الاستغفار ( و ) أن يوضع ( عند رأسه حجر أو خشبة ) أو نحو ذلك لأنه صلى الله عليه وسلم وضع عند رأس عثمان بن مظعون صخرة وقال أتعلم بها قبر أخي لأدفن إليه من مات من أهلي رواه أبو داود وعن الماوردي استحباب ذلك عند رجليه أيضا
“Disunnahkan menaruh pelepah kurma hijau (basah) di atas kuburan, begitu juga tumbuh-tumbuhan yang berbau harum dan semacamnya yang masih basah dan tidak boleh bagi orang lain mengambilnya dari atas kuburan sebelum masa keringnya karena pemiliknya tidak akan berpaling darinya kecuali setelah kering sebab telah hilangnya fungsi penaruhan benda-benda tersebut dimana selagi benda tersebut masih basah maka akan terus memohonkan ampunan padanya

3. Dalam kitab Fatawa al Hadithiah m/s 196 disebutkan :
” Para ulama beristinbath daripada perbuatan Nabi SallaLlahu ‘alaihi wasallam mencacakkan dua pelepah tamar di atas kubur, untuk bolehnya mencacak pokok dan bunga tetapi mereka tidak menerangkan caranya. Walau bagaimanapun, di dalam hadits sahih disebutkan bahawa Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam mencacak satu cacakan pada setiap kubur, maka bolehlah diambil pelajaran, ia merangkumi semua bahagian kubur. Maka tujuan yang boleh diambil daripadanya ialah di mana-mana bahagian kubur pun boleh. Abdul bin Humaid dalam Musnadnya bahawa Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam meletakkan pelepah itu di atas kubur di sisi kepala mayat di kubur tersebut ”

4. Syeikh Atiyah Saqar (iaitu seorang Mufti Lajnah Fatwa al-Azhar) berkata:
“Ini adalah masalah antara golongan mengharuskan dan golongan yang menegah. Saya melihat tiada tegahan pada perkara ini selagi mana ia beriktikad (menyakini) bahawa yang memberi manfaat dan mudarat itu hanyalah Allah SWT. Apa yang kita hadiahkan kepada si mati seperti doa, sedekah dan lain-lain lagi adalah ‘min babil asbab’ semata-mata mengharapkan rahmat Allah SWT.

Justeru, perbuatan menaburkan bunga sebagai menggantikan pelepah dan ranting basah adalah harus.
Bagaimanapun, jika bunga itu dibeli dengan harga mahal semata-mata untuk melakukan perbuatan itu, dibimbangi ia akan jatuh kepada haram disebabkan membazir.

5. Menyiram air di atas kuburan dan meletakkan daun-daunan yang hijau (segar) hukumnya sunnah, khususnya untuk kuburan yang baru ditimbun. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw memerciki kuburan puteranya tercinta Ibrahim dengan air dan meletakkan daun-daunan yang segar di atasnya (Riwayat Imam Syafi’i, Nailul Authar : 4/84).

6. Di bolehkan menaburkan bunga-bunga segar yang masih basah di atas kuburan2 ,‘karena hal ini(menaburi bunga) dapat meringankan siksaan mayat akibat bacaan tasbih tanaman/bunga diatas pusara tersebut.Lihat ; I’aanah at-Thoolibiin : II/120
يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ
Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar.(I’anah al-Thalibin, juz II, hal. 119)

Wallahua’lam bissowab

Sumber :
1. Muhadir bin Haji Joll, Persoalan Khilafiyyah & Penjelasan Ulama Inilah Jawapannya.., m.s 335-338, Cetakan Pertama 2011, Mawleed Publishing Sdn Bhd, Kuala Lumpur.
2. http://akitiano.blogspot.com/2010/11/pembelaan-terhadap-wahbah-al-zuhayli.html
3. http://drasmadinet.blogspot.com/2009/09/isu-tawassul.html
4. Ustaz Abu Muhammad : bahrusshofa.blogspot.com/2006/10/tunggu-kubur.html
5. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur.
6. K.H Sirajuddin, 40 Masalah Agama, Cet 37 2001, Pustaka Tarbiyah Jakarta.
7. Al Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, “Penjelasan Terhadap Masalah-masalah Khilafiah”. Prof Dr Ali Jum’ah, 2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor
8. Drs. K.H.M Sufyan Raji Abdullah Lc, Menyikapi Masalah-masalah Yang Dianggap Bid’ah, Cet 1 2010, Jilid 2, Pustaka Al Riyadhi, Indonesia
9. http://www.mufti.gov.bn/irsyad/pelita/2010/bil18-2010.pdf

Wallahua’lam bissowab

Oleh Ustaz Yunan A Samad

16 June 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

PAMERAN ATHAR RASULULLAH SAW: HUKUMNYA (PEDANG DAN RAMBUT SERTA JANGGUT RASULULLAH SAW)

 

Mukadimah

Mutakhir ini kita selalu mendengar berkenaan isu berkaitan pameran janggut dan pedang Nabi SAW yang dikatakan pernah diadakan pameran tersebut di beberapa tempat. Ruangan Bayan Linnas Siri ke-18 akan membincangkan secara khusus berkenaan tajuk ini agar masyarakat memahami dengan sebaik mungkin berkenaan dengan pameran ini.

Suka dinyatakan bahawa Rasulullah SAW adalah rasul yang paling mulia sebagai Sayyidu al-Anbiya wa al-Mursalin maka sudah tentu apa-apa yang berkaitan dengannya juga akan turut termulia dengan sebab kemuliaannya. Justeru, tidak hairanlah ramai di kalangan para ulama’ dan cendekiawan mengkaji dan menekuni segala bentuk athar (barang peninggalan) Rasulullah SAW untuk mengetahuinya dengan terperinci.

Justeru, tajuk Bayan Linnas pada kali ini ialah Pameran Athar Al-Rasul SAW: Hukumnya (Pedang Dan Rambut Serta Janggut Rasulullah SAW)

Suka dijelaskan di sini saya sekali-kali tidak akan membincangkan berkaitan tabarruk dengan athar Nabi SAW kerana isu yang diketengahkan di sini adalah berlainan. Bagi memahami isu tabarruk, sila rujuk kepada buku Bertabarruk dengan Athar-Athar Nabi SAW  yang dikaryakan oleh Yang Berhormat Pehin Datu Seri Maharaja Dato Paduka Seri Setia Dr. Ustaz Haji Awang Abdul Aziz bin Joned, Mufti Kerajaan Negara Brunei Darussalam. Kami telah membacanya dan menyokong sepenuhnya berkenaan isu tabarruk ini.

Persoalan yang ditimbulkan dalam Bayan Linnas kali ini adalah jarak masa kita dengan Rasulullah SAW melebihi 1400 tahun. Selain itu, pelbagai bentuk peperangan dan ketidakstabilan pemerintahan dari semasa ke semasa sehingga kini menjadi persoalan apakah athar yang dinisbahkan kepada Rasulullah SAW itu masih ada atau sebaliknya.

Adakah Pedang Yang Terdapat Sekarang Ini Benar-Benar Daripada Rasulullah SAW?

Dalam hal ini, dikatakan Rasulullah SAW mempunyai banyak pedang. Antaranya

  • Al-Ma’thur (المأثور) – Pedang yang awal dimiliki oleh Baginda SAW sebagai harta pusaka daripada bapanya. Pedang ini telah diberikan kepada Saidina Ali. Panjang hujungnya 99 sentimeter. Sekarang tersimpan di Muzium Topkapi, Turki
  • Al-‘Adhbu  (العضب) –  Makna al-‘Adhb adalah tajam. Sebelum peperangan Uhud, pedang ini dihadiahkan oleh Sa’ad bin Ubadah al-Ansari RA kepada Rasulullah SAW kemudian Baginda SAW menghadiahkan kepada Abu Dujanah al-Ansari RA dan beliau mempamerkan kehebatannya terhadap musuh-musuh Allah. Pedang ini dikatakan tersimpan di Masjid Hussain bin Ali RA di Kaherah.
  • Zulfaqar (ذوالفقار) – Pedang yang Rasulullah SAW memperolehinya dalam ghanimah Perang Badar. Dikatakan bahawa pedang ini diberikan oleh Rasulullah SAW kepada Saidina Ali dan pedang ini disimpan di Muzium Topkapi, Turki.
  • Al-Qala’i (القلاعي) – Namanya mempunyai hubungan di Syria atau India yang berhampiran dengan China. Pedang ini salah satu pedang yang di dapati oleh Rasulullah SAW dalam harta rampasan perang daripada Bani Qainuqa’ Yahudi Madinah. Panjangnya hampir 100 sentimeter. Sekarang tersimpan di Muzium Topkapi, Istanbul, Turki
  • Al-Battar (البتّار) – iaitu pedang yang Rasulullah SAW dapat harta rampasan perang daripada Yahudi Bani Qainuqa’. Pedang ini juga digelar Saif al-Anbiya’.
  • Al-Hatf (الحتف) – Pedang yang diambil dalam ghanimah Bani Qainuqa’ Yahudi Yathrib. Pedang ini hampir sama dengan al-Battar kecuali lebih besar. Juga disimpan di Muzium Topkapi,Turki
  • Al-Rasub (الرّسوب) – Pedang ini salah satu pedang-pedang Rasulullah dari Sembilan pedang yang kekal pada keluarga Rasulullah SAW. Panjangnya mencecah 140 sentimeter. Juga tersimpan di Muzium Topkapi, Turki.
  • Al-Mikhzam (المخذم) – Pedang ini telah diberikan oleh Rasulullah SAW kepada Saidina Ali dan diwarisi oleh anak cucunya. Ada pendapat menyatakan pedang ini telah diperoleh oleh Ali ketika serangan di Syam. Panjang hujungnya 97 sentimeter. Ia tersimpan di Muzium Topkapi, Istanbul, Turki
  • Al-Qadhib (القضيب) – Pedang ini nipis sebagaimana dikatakan seumpama jalan. Ia tidak digunakan untuk peperangan. Tertulis padanya yang daripada perak kalimah Lailaha illalllah Muhammadurrasulullah dan tidak didapati mana-mana sejarah yang pedang ini digunakan untuk peperangan. Ia adalah kekal di rumah keluarga Rasulullah SAW sehinggalah digunakan pada pemerintahan Rafidhiyyah al-Ubaidiyyah al-Fatimiyyyah. Panjang hujungnya 100 sentimeter. Ia disimpan di Muzium Topkapi, Turki

Hujahan berkenaan pedang Rasulullah SAW ini ma’ruf berdasarkan beberapa hadith Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh para sahabat berkenaan dengan sifat pedang Rasulullah SAW. Antaranya daripada Anas RA katanya:

كَانَتْ قَبِيعَةُ سَيْفِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ فِضَّةٍ

Maksudnya: “Adalah hujung pedang Rasulullah SAW diperbuat daripada perak.”

Riwayat al-Turmuzi (1691)

Justeru, asas thabitnya pedang Rasulullah SAW mempunyai kemungkinan yang kuat. Untuk mendapatkan maklumat berkaitan pedang dan athar Rasulullah SAW yang lain, sila rujuk  kitab al-Syamail al-Muhammadiyyah karya Imam al-Turmuzi yang menjelaskannya secara panjang lebar dan disyarahkan oleh ramai para ulama’.

Adakah Rambut dan Janggut Yang Dinisbahkan Kepada Rasulullah SAW Adalah Sahih?

Dalam hal ini, ahli sejarah telah khilaf kepada dua pendapat.

Pertama: Sahih

Banyak dalil menunjukkan ke arah itu. Antaranya:

  • Tatkala Rasulullah SAW melaksanakan ibadat haji, baginda mencukur kepala dan rambutnya itu telah diambil oleh para Sahabat. Dari Anas bin Malik ia berkata;

لَمَّا رَمَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْجَمْرَةَ وَنَحَرَ نُسُكَهُ وَحَلَقَ نَاوَلَ الْحَالِقَ شِقَّهُ الأَيْمَنَ فَحَلَقَهُ ثُمَّ دَعَا أَبَا طَلْحَةَ الأَنْصَارِيَّ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ ثُمَّ نَاوَلَهُ الشِّقَّ الأَيْسَرَ فَقَالَ ‏”‏ احْلِقْ ‏”‏ ‏.‏ فَحَلَقَهُ فَأَعْطَاهُ أَبَا طَلْحَةَ فَقَالَ ‏”‏ اقْسِمْهُ بَيْنَ النَّاسِ ‏”

Maksudnya: “Setelah Rasulullah SAW melontar Jamrah, menyembelih haiwan korbannya dan mencukur rambutnya, Baginda meminta tukang cukur untuk mencukur kembali rambutnya yang sebelah kanan. Kemudian baginda memanggil Abu Talhah al-Ansari dan memberikan rambut tersebut kepadanya. Sesudah itu, Baginda kembali meminta untuk dicukurkan rambutnya yang sebelah kiri sambil bersabda: “Cukurlah.” Maka beliau pun mencukurnya, dan setelah itu, membagikannya kepada Abu Talhah serata berkata: “ Bahagilah kepada orang ramai.”

Riwayat Muslim (1305)

  • Ramai sahabat yang menjadikan rambut Rasulullah SAW sebagai tabarruk sepertimana yang dilakukan oleh Saidina Khalid. Beliau pernah berkata:

لَمْ أَفْعَلْهَا بِسَبَبِ الْقَلَنْسُوَةِ بَلْ لِمَا تَضَمَّنَتْهُ مِنْ شَعْرِهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِئَلَّا أُسْلَبَ بَركَتَهَا وَتَقَعَ فِي أَيْدِي الْمُشْرِكِينَ

Maksudnya: “Aku tidak bertindak demikian itu semata-mata hanya kerana sebab topi, tetapi adalah kerana di dalamnya terdapat rambut mulia Rasulullah SAW  dan supaya berkatnya tidak hilang daripadaku dan supaya tidak jatuh ke tangan orang-orang musyrik”.[1]

  • Dikatakan pernah pameran athar nabawiyyah diadakan di Algeria dan dua orang penceramah iaitu Dr. Samir Abd al-Rahman al-Khauli, Setiausaha Hubungan Luar dan Muhammad Ali al-Akhras, Setiausaha Sulit, Kesatuan Masyaikh Sufi Lubnan cuba menthabitkan sanad dengan athar kepada Rasulullah SAW dengan benar dan hakikat.

Kedua: Tidak Sahih

Ini kerana jarak masa yang begitu lama walaupun pada asalnya memang thabit. Begitu juga sebahagian yang memilikinya menanam bersama mereka sendiri sepertimana yang dilakukan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dan lain-lain lagi.

Mengikut riwayat Ibn Abi al-Dunya katanya: “Adalah ucapan terakhir Muawiyah bin Abi Sufyan ialah wasiatnya kepada anaknya Yazid ketika ajalnya hampir tiba. Wasiat itu adalah supaya anaknya Yazid meletakkan bersama jenazahnya  salah satu  kain Rasulullah SAW, potongan rambut dan kuku Baginda. Potongan kuku dan rambut hendaklah diletakkan pada hidung, mulut, telinga dan matanya. Sementara kain pula untuk membalut sekujur tubuhnya selain kain lain.”[2]

Tarjih

Selepas meneliti pendapat samada yang mengiyakannya atau menyatakan tidak sahih, kami lebih cenderung kepada pendapat tidak sahih. Ini kerana beberapa alasan.

  • Nasir bin Abd al-Rahman al-Jadi’ dalam bukunya al-Tabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu menyatakan bahawa ramai yang syak akan thabitnya tentang apa yang dinisbahkan pada hari ini sebagai athar Nabi SAW kerana banyak telah hilang atas sebab masa dan kurun, kehilangan, peperangan dan fitnah.[3]
  • Al-‘Allamah Timur Basha menyatakan: “Tidak dapat dinafikan sebahagian athar boleh jadi sahih kecuali kami tidak mendapati seorang pun daripada pengkaji yang thiqah dalam mengithbatkannya atau menafikannya, maka Allah lebih mengetahui. Sebahagiannya tidak mungkin untuk kita sembunyikan apa yang terdapat pada jiwa dengan syak wasangka.. Oleh kerana itu kita sukar untuk menentukan kesahihannya.”[4]
  • Sebagaimana dalam disiplin ilmu hadith yang memerlukan sanad yang sahih, maka untuk menthabitkannya lebih baik kita tawaqquf sehingga datang dalil dan hujahan yang menyokongnya.
  • Sighah (gaya bahasa) yang digunakan oleh kebanyakan mereka yang menyokong berkenaan dengan janggut Rasulullah atau janggutnya adalah mansub atau dinisbahkan tanpa boleh dita’kidkan (dikuatkan) siapa yang menisbahkannya. Justeru, sighah tersebut bukanlah bersifat yaqini atau jazmi (kukuh).
  • Rasulullah SAW pernah bersabda

دَعْ ما يَريبُكَ إلى ما لا يَريبُكَ

Maksudnya: “Tinggallah apa yang menjadi keraguan kepada kamu kepada yang tidak menjadi keraguan.”

Riwayat al-Turmuzi (2518), al-Nasaie (5711), Ibn Hibban (722) al-Haithami (10/297) dan lain lain.

  • Satu kaedah yang masyhur menyatakan

إِنْ كُنْتَ نَاقِلاً فَعَلَيْكَ بِالتَّصْحِيحِ وَإِنْ كُنْتَ مُدَّعِيًا فَعَلَيْكَ بِالدَّلِيلِ

Maksudnya: “Jika kamu menaqalkan sesuatu berita maka hendaklah kamu mentashihkan dahulu. Jika kamu membuat sebarang dakwaan, maka pastikanlah dengan mengemukakan dalil.”

Kaedah fiqh yang lain ada menyatakan

اَلْبَيِّنَةُ عَلَى المُدّعِي وَالْيَمِينُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ

Maksudnya: “Beban bukti itu adalah atas pendakwa dan sumpah itu atas yang mengingkari.”[5]

Menurut Imam Ahmad ibn Hanbal: “Prinsip-prinsip Islam itu ada pada tiga hadith. Maka ketahuilah antaranya adalah hadith ini.”[6]

Tempat Simpanan Athar al-Rasul

Terdapat beberapa tempat dikatakan disimpan athar al-Rasul SAW antaranya:

  • Muzium Topkapi, Istanbul, Turki
  • Masjid Hussain, Kaherah, Mesir
  • Kubah al-Ghauri, Mesir disimpan selama lebih daripada 3 abad iaitu sehingga 1275H
  • Masjid Zainab, Kaherah
  • Bangunan Qal’ah, Kaherah disimpan hingga 1304H
  • Bangunan al-Awqaf, Kaherah Mesir
  • Bangunan ‘Abidin

Pameran Yang Pernah Diadakan

Antara pameran yang pernah dianjurkan:

  • 16 Januari 2015 – Kalimantan Tengah, Indonesia
  • 21 Julai 2014 –  Al-Markaz al-Thaqafi al-Islami, ibu negara Algeria
  • 25 Ogos 2013 – Daghestan, Rusia
  • 5 Disemberi 2011 – Kedah
  • 3 Mac 2010 – Universiti San’a, Yaman
  • 18 Ogos 2001 – Brunei Darussalam

Hukum Menganjurkan Pameran Pedang Rasulullah SAW

Dalam hal ini, seperti yang kita bincangkan di atas, sabitannya adalah mempunyai asas berdasarkan periwayatan ahli sejarah. Ramai tokoh ahli sejarah dan juga para ulama’ berpendapat bahawa yang dinisbahkan kepada Rasulullah berkenaan dengan pedang mempunyai asas dan hujah yang kukuh. Justeru, kami berpendapat pameran seperti ini tidaklah bercanggah dengan Islam dan dibolehkannya.

Hukum Menganjurkan Pameran Rambut atau Janggut Rasulullah SAW

Berdasarkan perbincangan di atas, kami berpendapat tidak dibolehkan untuk diadakan penganjuran pameran rambut atau janggut Rasulullah SAW. Ini kerana menisbahkan rambut dan juga janggut kepada Rasulullah SAW tidak ada seorangpun tokoh sejarah Islam di kalangan yang thiqah (yang dipercayai) boleh mengesahkan dengan yakin. Sebaliknya semua yang mengatakan adalah bersifat andaian atau sangkaan. Justeru, menisbahkan perkara yang tidak yakin kepada Rasulullah SAW adalah tidak bertepatan mengikut manhaj ulama’ Islam yang sebenar.

Begitu juga terkadang-kadang bukan isu pameran semata-mata tetapi membabitkan kepada perkara yang lain seperti ghuluw dan melampau dalam mentaqdiskan sesuatu yang dinisbahkan kepada Rasulullah SAW sedangkan ia masih lagi tidak dapat dipastikannya.

 

Kenyataan Mufti Wilayah Persekutuan

Suka dipertegaskan di sini kita wajib beriman dengan Rasulullah SAW dan mencintainya dengan sepenuh hati melebihi daripada diri kita sendiri. Inilah yang diajar oleh para Sahabat kepada generasi selepasnya. Saidina Ali RA pernah menyatakan

كَانَ وَاللهِ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَمْوَالِنَا وَأَوْلَادِنَا وَآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا ، وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ عَلَى الظَّمَأِ

Maksudnya: Adalah Rasulullah demi Allah lebih kami kasihi daripada harta kami, anak-anak kami, ibu bapa kami dan daripada air sejuk ketika sangat kehausan.[7]

Dalam mana kita mengasihi dan mencintai Rasulullah SAW, perkara yang lebih utama adalah mengikut bagaimana para Sahabat dan salafussoleh menzahirkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Menzahirkan rasa cinta dengan cara mengikut sunnah Nabi adalah tuntutan utama berbanding dengan hanya menyatakan sahaja kecintaan.

Antara bentuknya seperti:

  • Selawat ke atas Nabi SAW
  • Mempertahankan Baginda SAW
  • Mempelajari sunnah Baginda SAW
  • Mencontohi akhlak dan perilaku Nabi SAW
  • Memuliakan hadith Rasulullah SAW
  • Mencintai keluarga Rasulullah SAW
  • Menyebarkan sunnahnya
  • Berhukum dengan sunnahnya

Menjadikan Rasulullah SAW sebagai panduan dan contoh suri teladan dalam kehidupan. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا

Maksudnya: “Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredaan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat, serta ia pula menyebut dan mengingati Allah banyak-banyak (dalam masa susah dan senang)”

(Surah al-Ahzab: 21)

Imam Ibn Kathir berkata: “Ayat yang mulia ini adalah asas yang agung berkaitan mencontohi Rasulullah SAW dalam pelbagai aspek samada ucapan, perbuatan mahupun perilakunya. Allah memerintahkan ummat manusia menteladani Nabi SAW pada hari Ahzab dalam sifat kesabaran, thabat, keberanian, perjuangan, begitu juga sabar menanti pertolongan dari Rabbnya.

Al-Maghari berkata: “Rasulullah SAW memiliki contoh dan teladan yang tinggi yang berada di hadapan kamu untuk kamu ikuti. Oleh itu, hendaklah kamu mencontohi setiap amal perbuatan Rasulullah SAW, dengan mengikut petunjuk yang diberikannya, jika kamu mahukan pahala daripada Allah SWT serta takutkan azabnya.”

Kami telah berbincang dengan ramai tokoh agama di Malaysia termasuk sebahagian daripada ahli Majlis Fatwa dan perunding hukum syarak bagi mendapatkan satu keputusan yang tuntas dan tepat mengikut neraca syara’ di mana kesemuanya mempunyai pendapat seperti yang telah kami tarjihkannya. Pada asasnya kami menyokong sebarang usaha dalam memartabatkan syiar Islam dan agama-Nya termasuk memberi pencerahan kepada masyarakat berkenaan dengan athar yang thabit daripada Rasulullah SAW seperti pedang Baginda SAW. Tetapi, jika sekiranya perkara tersebut tidak boleh disahkan oleh mana-mana sejarawan dan para ulama yang thiqah maka sepatutnya hendaklah dielakkan daripada menganjurkan acara seperti itu.

Saya mengalu-alukan mana-mana tokoh yang dapat mengkaji dan menekuni isu janggut Rasulullah SAW atau rambutnya yang dimansubkan kepada Rasulullah SAW pada masa kini adakah benar atau sebaliknya, dengan kajian yang sahih dan dipercayai untuk meleraikan sebarang kekusutan dalam penisbahan ini.

Semoga kita semua mendapat syafaat daripada Rasulullah SAW dengan sebab mencintainya, berselawat ke atasnya dan mengikut sunnahnya, Amin.

Penutup

Alhamdulillah, Bayan Linnas pada kali ini mengemukakan satu tajuk yang memungkinkan rasaan dan andaian dari pelbagai pihak. Tetapi, sebagai seorang Islam yang mengaku bahawa sumber rujukan utama adalah al-Qur’an dan al-Sunnah serta ditambah dengan ijma’ dan qiyas mengikut mazhab Imam Syafie, maka sewajarnya kita memahami sebarang perkara dalam berhukumkannya dengan nas-nas yang sarih lagi sahih. Bukan semata-mata berdasarkan perasaan atau tanpa asas yang kukuh sehingga akhirnya melahirkan perasaan lebih kepada mengikut emosi semata-mata. Kasih kita kepada Rasulullah SAW hendaklah sebagaimana yang telah dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Antara lain menjadikan seluruh kehidupannya mengikut apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW seperti yang dinaskan dalam hadith.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لَمَّا جِئْتُ بِهِ

Maksudnya: Tidak beriman seorang daripada kamu sehingga adalah hawa nafsunya mengikut apa yang aku bawa.”

Riwayat al-Tabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Abu Nu’aim dalam al-Arbain (hal. 489), al-Baihaqi dalam al-Madkhal (209). Hadith ini sanadnya dhaif ini kerana perawinya thiqah kecuali Nu’aim bin Hammad.

Semoga Allah mengurniakan kita kefahaman agama yang sebenarnya sehingga kita dapat mengikutinya dan menjauhkan kita daripada kebatilan sehingga kita meninggalkannya. Amin.

Akhukum fillah

Datuk Dr. Zulkifli Mohamad al-Bakri

4 Mei 2015 bersamaan 15 Rejab 1436H

 

[1] Al-Qadhi, Iyyadh, al-Syifa’ bi Ta’rif Huquq al-Mustafa, jil. 2, hal. 56-57.

[2] Dr. Suad Mahir Muhammad, Mukhallafat al-Rasul fi al-Masjid al-Husain, jil. 6, hal. 3.

[3] Al-Jadi’, Nasir Abd al-Rahman, Al-Tabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu, hal. 260-265.

[4] Timur Basha, Al-Athar al-Nabawiyyah, hal. 78

[5] Al-Baihaqi meriwayatkannya dengan lafaz ini dalam Sunan al-Baihaqi 4/218 (52) daripada hadith Ibn Abbas RA, sebagaimana al-Turmuzi 3/626 (1341), al-Daraqutni 5/276 (4311). Al-Bukhari meriwayatkannya 3/143 (2514), Muslim 3/1336 (1711) daripada hadith Ibn Abbas dengan lafaz لكن اليمين على المدعى عليه.

[6] Al-Suyuti, Jalaluddin, al-Asybah wa al-Nazha’ir, hal. 9

[7] Al-Qadhi, Iyyadh, al-Syifa’ bi Ta’rif Huquq al-Mustafa, jil. 2, hal. 256.

14 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Penjelasan/Pencerahan yg lengkap dan sangat baik tentang WAHABI@SALAFI WAHABI

image
oleh Syeikh Nuruddin Al Banjari…

-Apakah kira seseorg yg mengusul pandangan bukan dari mazhab dia maka akan terkeluar dari mazhab tersebut..

-Mazhab ini adalah suatu aliran..

-Jika kita berlatar belakang kan Mazhab Syafiee & ada sesetengah masalah² trtentu & sesuai dgn tuntutan keperluan kita brpindah / bertaqlid pd mazhab lain apakah kita langsung brtukar mazhab yg lain??…

-Kita tidak brtukar mazhab lain..Tetap bermazhab Syafiee..

-Masyarakat memberi 1 pandangan/tanggapan pd org² yg ekstrim, suka kufur mengkufurkan, sesat menyesatkan org lain & kita labelkan org itu dgn panggilan WAHABI. ADAKAH ITU TEPAT & BETUL????..

-Tidak mnjadi Hanbali kita jika kita ikut beberapa pandangan dlm mazhab² Hanbali..begitu juga pd mazhab² yg lain..

-Apakah seperti itu halnya di nusantara sesetengah nya mengagumi pandangan dari Muhammad bin Abdul Wahab..

-Apakah dia mnjadi WAHABI atau tetap saja dia sorg yg bermazhab Syafiee..

-Untuk diketahui :-
 
1)SALAFI/WAHABI itu bukan mazhab..

2)Ia berbeza dgn mazhab² empat yg ada dari A→Z…

3)Kita tak boleh mengatakan kita keluar dari mazhab disebabkan hanya ada beberapa masalah hukum yg kita tak boleh komitmen dlm mazhab Imam Syafiee r.a..

-Mengapa masyarakat skrg melemparkan & memberi jolokan kpd org yg ekstrim itu digelar WAHABI/SALAFI..

-WAHABI/SALAFI itu bkn mazhab tp hanya 1 pandangan..

-Ulama2 WAHABI di sana kebanyakannya bermazhab Hanbali..jadi mengapa mereka diberi gelaran tambahan iaitu WAHABI..

-Kerana mereka yg mengasuh pandangan WAHABI..

-Diberi contoh org yg keluar dakwah digelar jemaah TABLIGH walhal mereka tetap berpegang pd mazhab Syafiee..

-Mereka digelar jemaah TABLIGH kerana mereka mengasuh cara org TABLIGH dakwah iaitu dgn cara dari rumah ke rumah dan masjid ke masjid..

-JADI MENGAPA KALIAN MARAH BILA KALIAN DIPANGGIL DENGAN GELARAN WAHABI KERNA KALIAN YG MENGASUH PANDANGAN WAHABI..

-Yg mengharamkan TAWASSUL siapa??..yg mengharamkan ziarah kubur & makam nabi siapa???..
(4mazhab tidak mengharamkannya)..

-Yg mengatakan berziarah ke Madinah utk tujuan ziarah kepada RASULULLAH SAW itu adalah haram & bertawassul pd BAGINDA SAW adalah syirik itu adalah WAHABI punya pandangan..

-Jadi kalian jgn berkecil hati atau kecewa bila kami gelarkan anda WAHABI kerna kalian yg mengasuh pandangan ekstrim seperti itu..

-Jumhur ulama tidak mengkafirkan org yg bertawasul & tidak mengharamkan berziarah makam RASULULLAH SAW..

-Kalau kalian tak mahu tidak kisah tapi jgn smpai menyesat kan & mengharamkan  ziarah semacam itu..

-Semua jumhur ulama 4mazhab membenarkan kita menyanjung BAGINDA SAW..

-Jadi supaya sahabat2 kita yg mengasuh fahaman yg ekstrim itu  yg dgn org ramai dikafirkan kerna tawasul, yg diharamkan kerna ziarah kubur, yg ramai diharamkan kerna tahlil & talqin..

-Jadi restulah kalian dgn gelaran & jolokan yg diberi iaitu kumpulan WAHABI..

-Jadi jgn tersinggung jika kalian digelar WAHABI jika kalian menyokong pandangan² mereka …

CIRI-CIRI GOLONGAN SALAFIYYAH WAHHABIYYAH(WAHABI)

AQIDAH

1.Membahagikan Tawhid kepada 3 Kategori

(i)Tawhid Rububiyyah: Dengan tawhid ini, mereka mengatakan bahawa kaum musyrik Mekah dan orang-orang kafir juga mempunyai tawhid.
(ii)Tawhid Uluhiyyah: Dengan tawhid ini, mereka menafikan tawhid umat Islam yang bertawassul, beristigathah dan bertabarruk sedangkan ketiga-tiga perkara tersebut diterima oleh majoriti ulama’ Islam khasnya ulama’ empat mazhab.
(iii)Tawhid Asma’ dan Sifat: Tawhid versi mereka ini boleh menjerumuskan seseorang ke lembah tashbih dan tajsim

i. Menterjemahkan istawa sebagai bersemayam/bersila
ii. Merterjemahkan yad sebagai tangan
iii. Menterjemahkan wajh sebagai muka
iv. Menisbahkan jihah (arah) kepada Allah (arah atas – jihah ‘ulya)
v. Menterjemah janb sebagai lambung/rusuk
vi. Menterjemah nuzul sebagai turun dengan zat
vii. Menterjemah saq sebagai betis
viii. Menterjemah asabi’ sebagai jari-jari, dll
ix. Menyatakan bahawa Allah SWT mempunyai “surah” atau rupa.
x. Menambah bi zatihi haqiqatan [dengan zat secara hakikat] di akhir setiap ayat-ayat mutashabihat, sedangkan penambahan itu tidak ada di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Imam al-Zahabi sendiri mengkritik gurunya, Ibnu Taymiyyah berkenaan masalah ini di dalam Siyar A’lam al-Nubala’ [Rujuk kitab yang ditahqiq oleh bukan Wahhabi kerana Wahhabi membuang kritikan ini dalam terbitan mereka]
xi. Sebahagian golongan Mujassimah menyatakan bahawa Allah (Rujuk Kitab Ibthal al-Ta’wilat oleh Abu Ya’la al-Farra’ yang telah diterbitkan semula oleh “tangan-tangan Tajsim dan Tashbih” – Penulis mempunyai buku seorang alim Al-Azhari yang mengarang kitab menolak kitab tersebut):
mempunyai gusi (اللثة) dan gigi gerham (الأضراس)
akan “duduk” bersama Nabi Muhammad SAW di atas arash mempunyai mulut (الفم)

2.Tafwidh yang digembar-gemburkan oleh mereka adalah bersalahan dengan tafwidh yang dipegang oleh ulama’ Asha’irah.

3.Memahami ayat-ayat mutashabihat secara zahir tanpa huraian terperinci dari ulama’ mu’tabar

4.Menolak Asha’irah dan Maturidiyyah yang merupakan majoriti ulama’ Islam dalam perkara Aqidah

5.Sering mengkrititik Asha’irah bahkan sehingga mengkafirkan Asha’irah

6.Menyamakan Ashai’rah dengan Mu’tazilah dan Jahmiyyah atau Mua’ththilah dalam perkara mutashabihat

7.Menolak dan menganggap pengajian sifat 20 sebagai satu konsep yang bersumberkan falsafah Yunani dan Greek

8.Berselindung di sebalik mazhab Salaf

9.Golongan mereka ini dikenali sebagai al-Hashwiyyah, al-Karramiyyah, al-Mushabbihah, al-Mujassimah atau al-Jahwiyyah dikalangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah

10.Sering menjaja kononnya Abu Hasan Al-Ash’ari telah kembali ke mazhab Salaf setelah bertaubat dari mazhab Asha’irah

11.Mendakwa kononnya ulama’ Asha’irah tidak betul-betul memahami fahaman Abu Hasan al-Asha’ri, bahkan sering mendakwa kononnya mereka adalah pengikut Imam Abu al-Hasan al-‘Ash’ari yang sebenar. Sungguh lucu dakwaan sebegini.

12.Menolak ta’wil dalam bab Mutashabihat

13.Sering mendakwa bahawa ramai umat Islam telah jatuh ke kancah syirik

14.Mendakwa bahawa amalan memuliakan Rasulullah SAW boleh membawa kepada syirik

15.Tidak mengambil berat kesan-kesan sejarah para anbiya’, ulama’ dan solihin dengan dakwaan menghindari syirik

16.Kefahaman yang salah berkenaan syirik sehingga mudah menghukum orang sebagai membuat amalan syirik

17.Menolak tawassul, tabarruk dan istighathah dengan para anbiya’ serta solihin

18.Mengganggap tawassul, tabarruk dan istighathah sebagai sebagai cabang-cabang syirik

19.Memandang remeh karamah para awliya’

20. Menyatakan bahawa ibu bapa dan datuk Rasulullah SAW tidak terselamat dari azab api neraka.

21. Mengharamkan mengucap “radiallahu anha” bagi ibu Rasulullah SAW, Sayyidatuna Aminah

22. Menamakan Malaikat Maut sebagai ‘Izrail adalah bid’ah – Fatwa Soleh Uthaymin

SIKAP

1.Sering membid’ahkan amalan umat Islam bahkan sampai ke tahap mengkafirkan mereka

2.Mengganggap diri sebagai mujtahid atau berlagak sepertinya (walaupun tidak layak)

3.Sering mengambil hukum secara langsung dari al-Quran dan hadis (walaupun tidak layak)

4.Sering memperlekehkan ulama’ pondok dan golongan agama yang lain.

5.Ayat-ayat al-Quran dan Hadis yang ditujukan kepada orang kafir sering ditafsir ke atas orang Islam.

6.Memaksa orang lain berpegang dengan pendapat mereka walaupun pendapat itu shazz (janggal).

7. Bersikap “taqiyyah” apabila dirasakan perlu. Fatwa mereka berbeza apabila bercakap di hadapan masyarakat umum dengan pengajian khusus bersama mereka.

8. Apabila mereka sedikit dan tidak berkuasa, mereka melaungkan slogan “Berlapang dada”, namun apabila mereka ramai dan berkuasa mereka melaungkan slogan “Meghilangkan Bid’ah” [Sikap ini diambil berdasarkan kata-kata para ulama’ Mekah yang memerhatikan sikap Wahhabi di Mekah sewaktu ia mula-mula berkembang sampai kini.]

9. Apabila mereka menerima tentangan daripada majoriti ulama’, mereka menyatakan itu adalah asam garam dalam perjuangan. Sedangkan para ulama’ menyatakan bahawa apabila sesuatu itu ditolak olej majoriti para ulama’, maka itu adalah tanda-tanda kesesatan, kepelikan dan kejanggalan (shazz) atau ketergelinciran (zallah) kerana para ulama’ umat Nabi Muhammad SAW tidak akan bersepakat di dalam kesesatan sepertimana yang disebut di dalam hadis Rasulullah SAW.

CIRI CIRI GOLONGAN SALAFIYYAH WAHABIYYAH(WAHABI)…2

ULUM HADIS

1.Menolak beramal dengan hadis dhaif

2.Penilaian hadis yang tidak sama dengan ulama’ hadis yang lain

3.Mengagungkan Nasiruddin al-Albani di dalam bidang ini [walaupun beliau tidak mempunyai sanad bagi menyatakan siapakah guru-guru beliau dalam bidang hadis. Bahkan umum mengetahui bahawa beliau tidak mempunyai guru dalam bidang hadis dan diketahui bahawa beliau belajar hadis secara sendiri dan ilmu jarh dan ta’dil beliau adalah mengikut Imam al-Dhahabi].

4.Sering menganggap hadis dhaif sebagai hadis mawdhu’ [mereka melonggokkan hadis dhaif dan palsu di dalam satu kitab atau bab seolah-olah kedua-dua kategori hadis tersebut adalah sama]

5.Perbahasan hanya kepada sanad dan matan hadis, dan bukan pada makna hadis. Oleh kerana itu, perbincangan syawahid tidak diambil berat

6.Perbincangan hanya terhad kepada riwayah dan bukan dirayah.

ULUM QURAN

1.Menganggap tajwid sebagai menyusahkan dan tidak perlu (Sebahagian Wahhabi Malaysia yang jahil) [dan menurut sahabat penulis yang ada membuat penyelidikan di dalam bidang ini, sememangnya terdapat beberapa “ulama’ Saudi” yang menyatakan tajwid itu bukanlah sunnah, tetapi bid’ah. Namun majoriti “ulama’ Saudi” tidak bersetuju dengan kata-kata mereka].

2. Mendakwa ayat-ayat mutashabihat sebagai ayat muhkamat.

FIQH
1.Menolak fahaman bermazhab kepada imam-imam yang empat; pada hakikatnya mereka bermazhab “TANPA MAZHAB”

2.Mengadunkan amalan empat mazhab dan pendapat-pendapat lain sehingga membawa kepada talfiq yang haram

3.Memandang amalan bertaqlid sebagai bid’ah; kononnya mereka berittiba’

4.Sering mengungkit soal-soal khilafiyyah

5.Sering menggunakan dakwaan ijma’ ulama dalam masalah khilafiyyah
6.Sering bercanggah dengan ijma’ ulama’

7.Menganggap apa yang mereka amalkan adalah sunnah dan pendapat pihak lain adalah bid’ah

8.Sering mendakwa orang yang bermazhab sebagai taksub mazhab, sedangkan mereka taksub kepada Ibnu Taymiyyah, Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab.

9.Salah faham makna bid’ah yang menyebabkan mereka mudah membid’ahkan orang lain

10.Sering berhujah dengan al-tark, sedangkan al-tark bukanlah satu sumber hukum

11.Mempromosikan mazhab fiqh baru yang dinamakan sebagai Fiqh al-Taysir, Fiqh al-Dalil, Fiqh Musoffa, dll [yang jelas terkeluar daripada fiqh empat mazhab]

12.Sering mewar-warkan agar hukum ahkam fiqh dipermudahkan dengan menggunakan hadis “Yassiru wa la tunaffiru” sehingga menjadi lebih parah daripada tatabbu’ al-rukhas

13.Sering mengatakan bahawa fiqh empat mazhab telah ketinggalan zaman

Najis
1. Sebahagian daripada mereka sering mempertikaikan dalil bagi kedudukan babi sebagai najis mughallazah

2. Menyatakan bahawa bulu babi itu tidak najis kerana tidak ada darah yang mengalir.

Wudhu’ & Tayammum
1. Tidak menerima konsep air musta’mal

2. Bersentuhan lelaki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’

3. Membasuh kedua belah telinga dengan air basuhan rambut dan tidak dengan air yang baru.

4. Kaifiyyat Tayammum yang mereka pilih ialah: Tepuk sekali dan sapu muka serta kedua pergelangan tangan sahaja (tanpa perlu sampai ke siku).

Azan
1. Azan juma’at sekali; azan kedua ditolak

CIRI CIRI GOLONGAN SALAFIYYAH WAHABIYYAH (WAHABI)…3

Solat

1. Mempromosi “Sifat Solat Nabi SAW’, dengan alasan kononnya solat berdasarkan fiqh mazhab adalah bukan sifat solat Nabi SAW yang sebenar

2. Menganggap lafaz usolli sebagai bid’ah yang keji

3. Berdiri secara terkangkang  ataupun seperti huruf Y terbalik yang menyalahi konsep berdiri secara iktidal (lurus dan sederhana)

4. Tidak membaca ‘Basmalah’ secara jahar

5. Menggangkat tangan sewaktu takbir pada paras bahu

6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu qiyam

7. Menganggap perbezaan antara lelaki dan perempuan dalam solat sebagai perkara bid’ah (sebahagian Wahhabiyyah Malaysia yang jahil)

8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah

9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah

10. Menganggap menyapu muka selepas solat sebagai bid’ah – Fatwa Soleh Uthaymin

11. Solat tarawih hanya 8 rakaat; yang lebih teruk lagi, mengatakan solat tarawih itu sebenarnya adalah solat malam (solatul-lail) seperti yang dibuat pada malam-malam biasa.

12. Zikir jahar di antara rakaat-rakaat solat tarawih dianggap bid’ah

13. Tidak ada qadha’ bagi solat yang sengaja ditinggalkan

14. Menganggap amalan bersalaman selepas solat adalah bid’ah – Fatwa Soleh Uthaymin

15. Menggangap lafaz sayyiduna (taswid) dalam solat sebagai bid’ah

16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tahiyyat awal dan akhir

17. Boleh jama’ dan qasar walaupun kurang dari dua marhalah

18. Memakai jubah dengan singkat yang melampau

19. Menolak sembahyang sunat qabliyyah sebelum Jumaat

20. Menolak konsep sembahyang menghormati waktu [li hurmah al-waqt]

21. Menolak konsep fidyah sembahyang walaupun umum mengetahui ia adalah pendapat mazhab Hanafi dan pendapat dhaif di dalam mazhab Shafie.

Doa, Zikir dan Bacaan al-Quran

1. Menggangap doa beramai-ramai selepas solat sebagai bid’ah

2. Menganggap zikir dan wirid beramai-ramai selepas sembahyang atau pada bila-bila masa sebagai bid’ah

3. Mengatakan bahawa membaca “Sodaqallahul-‘azim” selepas bacaan al-Quran adalah bid’ah – Fatwa Ibn Baz

4. Menyatakan bahawa doa, zikir dan selawat yang tidak ada dalam al-Quran dan Hadis sebagai bid’ah. Sebagai contoh mereka menolak Dala’il al-Khayrat, Selawat al-Syifa’, al-Munjiyah, al-Fatih, Nur al-Anwar, al-Taj, dll, bahkan dikatakan semua itu bertentengan dengan Aqidah Islam

5. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jumaat sebagai bid’ah yang haram – dengan alasan “Jangan diiktikadkan wajib”

6. Mengatakan bahawa sedekah atau pahala tidak sampai kepada orang yang telah wafat

7. Mengganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah

8. Mengganggap zikir dengan bilangan tertentu seperti 1000 (seribu), 10,000 (sepuluh ribu), dll sebagai bid’ah, tetapi kalau tidak berzikir atau lalai (al-ghaflah) tak mengapa pulak??!!!

9. Menolak amalan ruqiyyah shar’iyyah dalam perubatan Islam seperti wafa’, azimat, dll

10. Menolak zikir isim mufrad: Allah Allah

11. Melihat bacaan Yasin pada malam nisfu Sya’ban sebagai bid’ah yang haram

12. Sering menafikan dan mempertikaikan keistimewaan bulan Rajab dan Sya’ban

13. Sering mengkritik kelebihan malam Nisfu Sya’ban

14. Mengangkat tangan sewaktu berdoa’ adalah bid’ah

15. Mempertikaikan kedudukan solat sunat tasbih

16. Berusaha mengharamkan wirid-wirid yang terkandung di dalam “Majmu’ Sharif.”

17. Menyatakan bahawa mencium al-Quran adalah bid’ah terkeji  – Fatwa Soleh Uthaymin

Pengurusan Jenazah dan Kubur

1. Menganggap amalan menziarahi maqam Rasulullah SAW, para anbiya’, awliya’, ulama’ dan solihin sebagai bid’ah dan solat tidak boleh dijama’ atau qasar dalam ziarah seperti ini

2. Mengharamkan wanita menziarahi kubur

3. Menganggap talqin sebagai bid’ah

4. Mengganggap amalan tahlil dan bacaan Yasin bagi kenduri arwah sebagai bid’ah yang haram

5. Tidak membaca doa’ selepas solat jenazah

6. Sebahagian ulama’ mereka menyeru agar Maqam Rasulullah SAW dikeluarkan dari masjid nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik

7. Menganggap kubur yang bersebelahan dengan masjid adalah bid’ah yang haram

8. Doa dan bacaan al-Quran di perkuburan dianggap sebagai bid’ah.

CIRI CIRI SALAFIYYAH WAHABIYYAH (WAHABI)…4

Majlis Sambutan Beramai-ramai

1. Menolak sambutan Mawlid Nabi; bahkan menolak cuti sempena hari Mawlid Nabi; bahkan yang lebih teruk lagi menyamakan sambutan Mawlid Nabi dengan perayaan Kristian bagi nabi Isa a.s.

2. Menolak amalan marhaban

3. Menolak amalan barzanji.

4. Berdiri ketika bacaan mawlid adalah bid’ah

5. Menolak sambutan Ma’al Hijrah, Isra’ Mi’raj, dll.

Haji dan Umrah

1. Cuba mengalihkan “Maqam Ibrahim a.s.” namun usaha tersebut telah dipatahkan oleh al-Marhum Sheikh Mutawalli Sha’rawi apabila beliau pergi bertemu dengan Raja Faisal ketika itu.

2. Menghilangkan tanda telaga zam-zam untuk dielak oleh orang yang bertawaf ketika bertawaf [Dengar khabar, sekarang tanda tersebut hendak dibuat semula]

3. Mengubah tempat sa’ie di antara Sofa dan Marwah yang mendapat tentangan ulama’ Islam dari seluruh dunia [Terbaru – dan Khilafiyyah di antara para ulama’ kontemporari].

4. Nama “Hajar Ismail” bagi bahagian sisi Ka’bah adalah bid’ah dan tidak harus – Fatwa Soleh Uthaymin

PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN

1. Ramai para professional menjadi ‘ustaz-ustaz’ mereka..Protaz(di Malaysia)

2. Ulama’ yang sering menjadi rujukan mereka adalah:

a. Ibnu Taymiyyah
b. Ibnu al-Qayyim
c. Muhammad Abdul Wahhab [Perbezaan yang ketara di antara pendekatan Ibnu Taymiyyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab ialah: (i) Ibnu Taymiyyah tidak memaksa orang lain mengikut pendapatnya dengan pedang dan kuasa, ini adalah berbeza dengan pendekatan Muhammad Ibn Abdul Wahhab; (ii) Ibnu Taymiyyah juga tidak bersepakat dengan bukan Muslim untuk menjatuhkan saudara Islamnya]
d. “Sheikh” Abdul Aziz Ibn Bazz
e. Nasiruddin al-Albani
f. “Sheikh” Soleh Ibn Uthaimin

g. “Sheikh” Soleh Fawzan al-Fawzan [Secara peribadi, penulis mendengar dengan telinga dan melihat dengan mata sendiri di Madinah, Dr. Soleh Fawzan al-Fawzan, Rektor, Universiti Islam Madinah pada waktu tersebut menyatakan bahawa ulama’ Al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah bukanlah daripada “golongan yang terselamat dari api neraka” (al-firqah al-najiyah).”]

3. Sering mewar-warkan untuk kembali kepada al-Quran dan Hadis (tanpa menyebut para ulama’, sedangkan al-Quran dan Hadis sampai kepada umat Islam melalui para ulama’ dan para ulama’ jua yang memelihara al-Quran dan Hadis untuk umat ini)

4. Sering mengkritik Imam al-Ghazali dan kitab “Ihya’ Ulumiddin”

5. Masih lagi menggunakan kitab al-Tawhid oleh Imam Ibnu Khuzaimah walaupun Imam al-Bayhaqi telah menyatakan bahawa Imam Ibnu Khuzaimah telah pun menarik semula dan bertaubat daripada penulisannya itu. Ini dinyatakan oleh Imam al-Bayhaqi di dalam Kitab al-Asma’ dan al-Sifat.

PENGKHIANATAN MEREKA KEPADA UMAT ISLAM

1. Bersepakat dengan Inggeris dalam menjatuhkan kerajaan Islam Turki Usmaniyyah

2. Melakukan perubahan kepada kitab-kitab turath yang tidak sehaluan dengan mereka

3. Ramai ulama’ dan umat Islam dibunuh sewaktu kebangkitan mereka

4. Memusnahkan sebahagian besar kesan-kesan sejarah Islam seperti tempat lahir Rasulullah saw, jannat al-Baqi’ dan al-Ma’la [makam para isteri Rasulullah SAW di Baqi’, Madinah dan Ma’la, Mekah], tempat lahir Sayyiduna Abu Bakr dll, dengan hujah perkara tersebut boleh membawa kepada syirik.

5. Di Malaysia, sebahagian mereka dahulu dikenali sebagai Kaum Muda atau Mudah [kerana hukum fiqh mereka yang mudah, ia merupakan bentuk ketaatan bercampur dengan kehendak hawa nafsu].

6. Antara nama/seruan yang pernah digunakan/dilaungkan oleh mereka di Malaysia dahulu ini ialah Ittiba’ Sunnah. Pihak Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Kali Ke-14 yang bersidang pada 22-23 Oktober 1985 telah pun mengeluarkan fatwa menyatakan kesesatan ajaran Ittiba’ al-Sunnah ini.

TASAWWUF DAN TAREQAT

1. Sering mengkritik aliran Sufi dan kitab-kitab sufi yang mu’tabar

2. Sufiyyah dianggap sebagai terkesan dengan ajaran Budha dan Nasrani

3. Tidak dapat membezakan antara amalan sufi yang benar dan amalan bathiniyyah yang sesat

Perhatian:

Sebahagian daripada ciri-ciri di atas adalah perkara khilafiyyah. Namun sebahagiannya adalah bercanggah dengan ijma’ dan pendapat mu’tamad empat mazhab. Sebahagian yang lain adalah perkara yang sangat kritikal dalam masalah usul (pokok) dan patut dipandang dengan serius.Ini adalah sebahagian daripada ciri-ciri umum golongan Wahhabiyyah yang secara sedar atau tidak diamalkan dalam masyarakat kita. Sebahagian daripada ciri-ciri ini adalah disepakati di antara mereka dan sebahagiannya tidak disepakati oleh mereka. Ini adalah kerana di dalam golongan Wahhabiyyah ada berbagai-bagai pendapat dan mazhab dalam berbagai peringkat. Apatah lagi apabila setiap tokoh Wahhabiyyah cuba berijtihad dan mengenengahkan pendapat masing-masing sehingga sebahagiannya terpesong terlalu jauh dari aliran Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

11 June 2016 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

PENJELASAN ISU DOA BERBUKA PUASA YANG BIASA DIAMALKAN TETAPI DIKATAKAN TIDAK SUNNAH

Doa berbuka puasa yang sudah bertahun -tahun dan berabad -abad diamalkan kaum muslimin diingkari kesunnahannya oleh kelompok minoriti. Doa ini juga sudah disepakati ulama empat mazhab secara turun temurun hingga kini.

Ini dalilnya:

ﻓﻘﺪ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻓﻲ سننه ( 2/316 ) ( 358 ) ﻭﻗﺎﻝ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﺴﺪﺩ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻫﺸﻴﻢ ﻋﻦ ﺣﺼﻴﻦ، ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺯﻫﺮﺓ ﺃﻧﻪ ﺑﻠﻐﻪ، ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺃﻓﻄﺮ ﻗﺎﻝ: ” ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻟﻚ ﺻﻤﺖ ﻭﻋﻠﻰ ﺭﺯﻗﻚ ﺃﻓﻄﺮﺕ .” ﻭﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﻭﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺯﻫﺮﺓ، ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﻳﻀﺎً : ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺮﺍﺳﻴﻞ ( ﺹ 124 ) (99 ) ﻭﺍﻟﺒﻐﻮﻱ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﺴﻨﺔ ( 6/265 ) (1741 )، ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ( 4/239 ) ﻭﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺷﻴﺒﺔ ﻓﻲ ﻣﺼﻨﻔﻪ ( 2/511 )، ﻭﻋﻠﻘﻪ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﻓﻲ ﺍﻟﺰﻫﺪ ﻟﻪ ( 2/828 )

Hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan para ulama diatas dihalang membacanya dengan alasan riwayat lemah oleh kelompok minoriti. Benarkah begitu? Mari kita lihat perbahasan 4 mazhab bagi doa ini.

PENDAPAT PARA ULAMA MAZHAB YANG EMPAT BERKAITAN DOA BERBUKA PUASA YANG DIAMALKAN DI NUSANTARA

Pembacaan do’a seperti diatas –dengan variasi tambahan dan pengurangan dengan mengumpulkan semua riwayat– merupakan warisan turun-temurun dari para Ulama Warasatul Anbiya. Mereka yang menganjurkan membaca do’a ini adalah para Ahli Hadis dan Fuqaha dari berbagai Mazhab.

Dari Ulama Mazhab Hanafi misalnya kita menemui penjelasan dari Al Imam As Syeikh Fakhruddin Utsman bin Ali az Zaila’i:

وَمِنْ السُّنَّةِ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْت وَعَلَيْك تَوَكَّلْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت .

Ertinya: Di antara Sunat adalah ketika berbuka puasa dianjurkan mengucapkan: “Ya Allah, kerana-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. (Lihat kitab Tabyinul Haqa’iq Syarah Kanzud Daqa’iq karya Al Imam Az Zaila’i juz 4 halaman 178).

– Dari Ulama Mazhab Maliki antara lain disebutkan dalam Kitab Al Fawakih Ad Dawani Ala Risalah Ibni Abi Zaid Al Qirwani karya Al Imam As Syeikh Ahmad bin Ghunaim bin Salim bin Mihna An Nafrawi :

وَيَقُولُ نَدْبًا عِنْدَ الْفِطْرِ : اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْت وَمَا أَخَّرْت ، أَوْ يَقُولُ : اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ .

Ertinya: Dan Sunat ketika berbuka puasa mengucapkan: “Ya Allah, kerana-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Maka ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan datang”. Atau mengucapkan: “Ya Allah, kerana-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah”. (Lihat pada Juz 3 halaman 386).

– Dari Mazhab Syafi’i antara lain dikemukakan Al Hafiz Al Imam As Syeikh An Nawawi dalam Al Majmu’ Syarah Al Muhazzab:

والمستحب أن يقول عند إفطاره اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت لما روى أبو هريرة قال ” كان رسول الله صلي الله عليه وسلم إذا صام ثم أفطر قال اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت .

Ertinya: Dan yang disunnahkan ketika berbuka puasa itu adalah mengucapkan: “Ya Allah, kerana-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka”. Berdasarkan Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW itu apabila berpuasa kemudian berbuka membaca “Ya Allah, kerana-Mu aku berpuasa dan dengan rezekii-Mu aku berbuka”. (Lihat Al Majmu’ Juz 6 halaman 363).

– Dari Mazhab Hanbali antara lain dikemukakan oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisi.

ويستحب تعجيل الافطار وتأخير السحور، وأن يفطر على التمر وإن لم يجد فعلى الماء،وأن يقول عند فطره اللَّهُمَّ لَك صُمْت ، وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت ، سُبْحَانَك وَبِحَمْدِك ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي إنَّك أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ertinya: Dan disunnahkan menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Dianjurkan agar berbuka dengan kurma atau jika tidak ada, dengan air. Dan ketika berbuka hendaklah membaca, “Ya Allah, kerana-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka”. Maha Suci Engkau ya Allah dan segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, terimalah ibadahku sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Asy Syarh Al Kabir karya Ibnu Qudamah, juz 3, halaman 76)

Jadi para ulama menggabungkan semua riwayat yang semuanya sunnah, bukan seperti kelompok minoriti yang suka menimbulkan perselisihan dan pertelingkahan dalam masyarakat umat islam nusantara

ABU SUNNAH
TMG

SILA LAYARI
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1033948283352804&substory_index=0&id=990303737717259

10 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Hukum Mengkafirkan Golongan Al Asya’irah

Sheikh Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi (Bekas Mufti Iraq)

MENJAWAB BERKAITAN AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.

Hukum Mengkafirkan Golongan Al Asya’irah

Soalan :
Terdapat golongan yang mendakwa ‘berilmu mengenai Al Quran dan Hadith’, bangun mengkafirkan satu kumpulan daripada umat Islam yang dikenali sebagai : Al Asya’irah. Apakah hukum mereka yang mengkafirkan mereka ini dan apakah peranan yang telah dimainkan oleh kumpulan al Asya’irah ini dalam berkhidmat untuk umat Islam?

Jawapan :
Al-Asya’irah ialah para pengikut Imam Abu Hasan al Asya’ari yang mempunyai jasa besar dalam membersihkan aqidah ahli Sunnah wal jama’ah daripada kekeruhan yang dicetuskan oleh golongan Muktazilah. KEBANYAKAN pendokong dan ulama-ulama ulung umat ini adalah golongan asya’irah ini. Sedangkan golongan yang mempertikaikan mereka ini tidak pun mencapai separas buku lali mereka dari segi ilmu, warak dan takwa.
Di antara ulama Asya’irah ialah :
Imam Al Haramain, Al Ghazali, Ibnu Hajar al Asqalani, Fakhruddin ar Razi dan lain-lain.
Apakah dosa yang telah mereka lakukan? Adakah kerana mereka bertungkus lumus untuk membuat penolakan ke atas kekeliruan yang ditimbulkan oleh golongan Musyabbihah berhubung dengan Zat ALlah? Golongan Musyabbihah ini cuba untuk menetapkan bahawa ALlah Subahanahu wa ta’ala mempunyai jisim melalui ayat mutasyabihat dan hadith-hadith yang menyatakan secara zahirnya bahawa ALlah mempunyai tangan, mata, siku, jari-jari dan sebagainya.
Lalu Ulama Asya’irah bangun membuat penolakan ke atas kekeliruan mereka itu dengan membawa ayat-ayat dan hadith-hadith tadi kepada makna majaz, kerana golongan musyabbihah ini tidak menerima prinsip ‘tafwidh’ (penyerahan maknanya kepada ALlah), maka hujah Musyabbihah ini tidak dapat ditolak melainkan dengan menggunakan kaedah ‘takwil’. Walaupun begitu, mereka (Asya’irah) tetap berpendapat, ‘At tafwidh’ dan tidak mendalami untuk mengetahui maksud sebenarnya adalah lebih selamat bagi aqidah.
Syubhat (kesamaran) yang digunakan oleh golongan yang mengkafirkan ulama’ Asya’irah ini ialah dengan menuduh golongan tadi (Asya’irah) menolak sebahagian sifat ALlah kerana golongan tadi menganggap bahawa tangan, kaki, mata adalah sifat-sifat bagi ALlah sepertimana qudrat, iradat dan ilmu. Menurut mereka, sebagaimana ALlah ta’ala mempunyai qudrat yang bukannya seperti qudrat kita, ilmu yang bukannya seperti ilmu kita, maka begitu juga Dia mempunyai tangan tetapi bukannya tangan kita, mata bukannya seperti kita.
Sedangkan tidak sedikitpun tersembunyi bahawa lafaz tangan, mata dan jari-jari adalah nama-nama zat dan bukannya nama-nama sifat. Sekiranya kita menyebut ‘tangan’, maka akan tergambar di dalam benak fikiran kita tangan yang berjasad (mempunyai bentuk). Tetapi sekiranya kita menyebut ‘qudrah’ (berkuasa), tidaklah tergambar ke fikiran kita qudrah yang berjasad (yang boleh dirupakan dengan bentuk). Jadi qiyas yang digunakan oleh mereka gunakan itu adalah qias yang tidak tepat.
Oleh itu, melemparkan kejian ke atas ulama Asya’irah yang mentakwil ketika berhadapan dengan golongan Musyabbihah, bererti telah mencabul kemuliaan mereka dan melakukan kezaliman ke atas mereka dan menolak jasa yang mereka curahkan untuk menjaga aqidah. Apatah lagi sekiranya mereka ini dikafirkan. Mereka yang mengkafirkan golongan Asya’irah ini akan digolongkan ke dalam mereka yang dimaksudkan oleh hadith RasuluLLah yang bermaksud :
“Sekiranya seorang lelaki memanggil kepada saudaranya seIslam, “wahai kafir”, maka kata-kata itu akan terkena kepada salah seorang daripada keduanya. Sekiranya benar seperti yang dikatakan, maka dia selamat. Jika tidak tepat, maka tuduhan itu akan kembali kepadanya. (Muttafaq ‘Alaih)
Dan hadith :
“Sesiapa yang memanggil seorang lelaki dengan lafaz kekufuran atau memanggil, “Wahai musuh ALLah,” sedangkan yang dituduh itu bukanlah seperti yang dikatakan, maka tuduhan itu kembali kepada penuduh,” (Muttafaq ‘Alaih)
Perumpamaan mereka yang mengkafirkan ulama ‘Asya’irah atau Imam Abu Hasan Al Asy’ari sendiri bagaikan seorang pelatih baru yang ditempatkan di hospital untuk belajar dengan seorang doktor pakar yang mempunyai sijil yang tertinggi, sedangkan pelajar yang baru tadi sekadar membaca atau belajar cara membalut luka. Kemudian selepas belajar cara membalut luka itu, dia bangun mempertikaikan doktor pakar tadi dan melemparkan tuduhan doktor tadi tersilap dan jahil dan meragukan orang ramai pada maklumat yang dimiliki oleh doktor pakar tadi.

Sumber Ambilan : Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur

9 June 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Kedudukan Kanak-kanak Dalam Saf

image
Soalan:
Sekarang ni di masjid-masjid timbul isu berkaitan kedudukan anak-anak dalam saf ketika solat berjemaah.

Boleh bantu beri pandangan?

Jawapan :

بسم الله وبه نستعين

1. Asalnya masyarakat telah pun sedia mengikut apa yang telah diajarkan oleh para ulama kita mazhab Syafii, mengikut sepertimana yang telah dihuraikan dalam kitab-kitab besar fiqh Syafii. Namun, lama kelamaan apabila setengah kita makin jauh dari mendalami ilmu & mempelajari kitab-kitab besar mazhab Syafii ini, kita mula keliru apabila ada golongan yang datang kemudian gemar mengatakan “ini sunnah”, “ini bidaah”. Sedangkan di dalam kitab2 itu telah pun diterangkan secara terperinci hukum hakamnya, mana yang sah, mana yang batal, mana yang sunnah, mana yang makruh, mana yang harus, mana yang afdhal/terlebih sempurna, mana yang syarat dan bukan syarat dan sebagainya.

2. Perbincangan dalam kitab-kitab fiqh sebenarnya lebih harmoni dan halus, tidak sekadar “ini sunnah”, “ini bidaah”. Golongan tersebut sebenarnya keliru & mengelirukan. Lebih merumitkan apabila mereka mengambil fatwa itu daripada ulama negara lain yang boleh menerima pandangan itu menurut usul mazhab mereka barangkali, lalu dibawa ke negara kita yang sudah sedia ada ulamanya yang mengikut usul mazhab sendiri. Barangkali tidak ada apa-apa jika fatwa yang datang dari luar itu sekadar diamal oleh pembawanya, namun yang meresahkan ialah apabila si pembawa itu kurang ilmu lalu menyalah-nyalahkan pandangan mazhab tempatan yang sudah sedia lama diamalkan. Golongan keliru ini hanya tahu menghukum “ini sunnah”, “ini bidaah”.

3. Dalam mazhab Syafii, sunnah kedudukan saf yang sempurna ketika solat berjemaah ialah sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam an-Nawawi (w. 676H) dalam al-Minhaj: “Hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Pernyataan ini umum dan jika ada masalah-masalah yang datang kemudian perlulah dihuraikan sesuai mengikut situasinya. (Dalam setengah kitab seperti Asna al-Matalib oleh Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari (w. 926H) dinyatakan; yang berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian khunsa, kemudian perempuan)

4. Semua ulama yang mensyarahkan kata-kata tersebut tidak pun menafikannya dengan mengatakan “kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan orang dewasa” dan sebagainya. Boleh rujuk seperti Tuhfah al-Muhtaj oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Hasyiah Qalyubi (w. 1069H) & Umairah (w. 957H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan lain-lain.

.5. Dalil mereka adalah hadis sahih:

لِيَلِيَنِّي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ. (أخرجه مسلم وأبو داود والنسائي في الكبرى وابن ماجه)

“Hendaklah berdiri di belakangku dari kalangan kamu orang-orang yang matang/baligh dan faham/berakal, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka”.

6. Bahkan ada diriwayatkan hadis dengan sanad hasan yang menyebut secara jelas susunan saf tersebut iaitu:

عَن أبي مَالك الْأَشْعَرِيّ قَالَ: أَلَا أُحَدِّثُكُمْ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَصَفَّ الرِّجَالَ وَصَفَّ خَلْفَهُمُ الْغِلْمَانَ، ثُمَّ صَلَّى بِهِمْ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَاد حسن، قاله النووي في خلاصة الأحكام)

Daripada Abu Malik al-Asya‘ri RA katanya: “Mahukah aku khabarkan kamu tentang solat Nabi SAW, iaitu baginda mendirikan solat dan menyusun saf kaum lelaki dan menyusun di belakang mereka saf kanak-kanak, kemudian baru baginda mengimami mereka”. Dalam versi lain:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلِيهِ فِي الصَّلَاةِ الرِّجَالُ، ثُمَّ الصِّبْيَانُ، ثُمَّ النِّسَاءُ. (رَوَاه الْبَيْهَقِيُّ في السنن الكبرى وضَعَّفَهُ)

“Telah berdiri di belakang Rasulullah SAW di dalam solat, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Sanad hadis ini daif, namun dikuatkan dengan hadis-hadis di atas.

7. Hadis-hadis ini tidaklah menunjukkan hukum wajib dan hanya menunjukkan kesempurnaan serta yang afdhal. Jika ada kanak-kanak yang berdiri di dalam saf orang dewasa dan tidak bermain-main, tidaklah perlu dihalang dan ditegah.

8. Kata Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari dalam Asna al-Matalib: “Kata al-Azra‘i: Dikemudiankan saf kanak-kamak daripada kaum lelaki adalah jika sudah tidak muat saf kaum lelaki. Jika tidak (yakni masih ada ruang), dipenuhkan saf itu dengan kanak-kanak, tiada masalah. Semuanya ini adalah mustahab, bukannya syarat. Sekiranya mereka menyalahi (susunan ini), sah solat mereka itu berserta makruh.” Katanya lagi: “Dan jangan ditukarkan kanak2 yang hadir dahulu untuk kaum lelaki yang hadir kemudian…”. Ini kerana mereka lebih berhak berdiri di situ, walaupun pada saf pertama, sepertimana yang disebut dlm al-Minhaj al-Qawim, Mughni al-Muhtaj dan lain-lain.

9. Disebut dalam I’anah at-Talibin oleh Syekh Abu Bakr Syata (w. 1310H): “Disunatkan jika ada berbagai-bagai peringkat makmum, hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, walaupun hamba sahaya, kemudian sesudahnya – jika telah penuh saf mereka – kanak-kanak, kemudian sesudah mereka– walaupun tidak penuh saf mereka – kaum perempuan”. Kata beliau lagi: “Apabila susunan tersebut disalahi, ianya makruh”. Rujuk juga perinciannya di dalam Tuhfah al-Muhtaj & al-Minhaj al-Qawim oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan laun-lain.

10. Pandangan yang mengatakan kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan org dewasa dengan erti kata diselang selikan atau setiap kanak-kanak mesti berdiri di sebelah bapanya adalah pandangan yang janggal dan mengelirukan. Lebih parah lagi didakwa itu adalah sunnah dan selainnya adalah bidaah! Kita tidak tahu ada ulama-ulamak muktabar terdahulu yang mengeluarkan fatwa sedemikian.

Wallahu a’lam.

Oleh Ustaz Mohd Khafidz

9 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Apakah niat puasa Ramadan harus diulangi setiap hari?

Suara Al-Azhar

Rasulullah bersabda: “Siapa yang tidak berniat (puasa) pada malam hari maka tidak ada puasa baginya”.

Ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dalam hadis ini; tidak sah atau tidak sempurna. Imam Syafi’i berpendapat bahwa niat merupakan syarat sah untuk berpuasa. Sementara Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa niat adalah syarat untuk kesempurnaan ibadah puasa. Jadi diperbolehkan, menurut mazhab Hanafi, untuk berniat satu kali untuk puasa satu bulan penuh.

Untuk keluar dari perbedaan pendapat ini, guru-guru kita mengajarkan untuk meniatkan puasa hari selanjutnya setelah berbuka. Apabila kita membiasakan hal ini, maka kita telah berada pada titik aman dan selamat dari perbedaan pendapat para ulama.

Pada hakikatnya, suasana yang ada pada bulan Ramadan itu sendiri sebenarnya bisa dianggap sebagai niat untuk berpuasa, bahkan menurut mazhab Syafi’i sekalipun. Misalkan seseorang mengatakan, “Besok kita ketemu setelah berbuka puasa ya!”. Artinya dalam ini orang tersebut telah meniatkan untuk puasa. Bisa dikatakan seperti itu sebab tidak ada keharusan untuk melafazkan niat termasuk niat untuk berpuasa.

Oleh sebab itu, kita jangan sampai masuk ke dalam keadaan was-was atau keraguan karena sebenarnya kita berada dalam keadaan untuk berpuasa di bulan Ramadan. Namun apabila seseorang berniat untuk tidak berpuasa pada esok hari karena sakit atau musafir, namun ia berubah pikiran, maka dia harus kembali mengulangi niatnya untuk berpuasa.

-Syekh Ali Jum’ah

Sumber: http://bit.ly/1Zuq57s
— with Chairil Musa Bani, Mohamed Al Ameen, Hendy and Schonmei Wu

8 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah | Leave a comment

ADAKAH IMSAK ITU BID’AH?

(Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan)

Imam Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul Bari syarah Sahih Bukhari pada Kitabus Soum, pada bab:

باب قدر كم بين السحور وصلاة الفجر

Bab ukuran perkiraan waktu antara sahur dan solat subuh

Kemudian di bawah judul bab tersebut ada hadis:

Diriwayatkan dari Anas ra dari Zaid bin Tsabit bahawa dia pernah berkata :

“Kami pernah makan sahur bersama Nabi saw , kemudian kami berangkat solat (subuh). Maka aku (Anas) berkata : “Berapa lama jarak antara azan dan makan sahur? Ia (Zaid) menjawab : خمسين آية (kira-kira bacaan lima puluh ayat dari Al-Qur’an)”

Ibnu Hajar menjelaskan:

قوله : ( باب قدر كم بين السحور وصلاة الفجر ) أي : انتهاء السحور وابتداء الصلاة ؛ لأن المراد تقدير الزمان الذي ترك فيه الأكل ، والمراد بفعل الصلاة أول الشروع فيها قاله الزين بن المنير .

Perkataannya (Bab ukuran perkiraan waktu antara sahur dan solat subuh) iaitu waktu akhir sahur dan mulai solat ,kerana sesungguhnya maksudnya adalah perkiraan waktu berhenti makan,dan maksud dengan melakukan solat adalah permulaan mulai solat,telah menyatakan atas hal itu az-Zain bin al-Minbar

Kemudian beliau berkata lagi:

قوله : ( قال : قدر خمسين آية ) أي : متوسطة لا طويلة ولا قصيرة لا سريعة ولا بطيئة ، وقدر بالرفع على أنه خبر المبتدأ ، ويجوز النصب على أنه خبر كان المقدرة في جواب زيد لا في سؤال أنس لئلا تصير كان واسمها من قائل والخبر من آخر . قال المهلب وغيره : فيه تقدير الأوقات بأعمال البدن ، وكانت العرب تقدر الأوقات بالأعمال كقوله : قدر حلب شاة ، وقدر نحر جزور ، فعدل زيد بن ثابت عن ذلك إلى التقدير بالقراءة ؛ إشارة إلى أن ذلك الوقت كان وقت العبادة بالتلاوة ، ولو كانوا يقدرون بغير العمل لقال مثلا : قدر درجة ، أو ثلث خمس ساعة .

Perkataan (beliau berkata, ukuran 50 ayat) iaitu bacaan yang pertengahan bukan yang panjang atau yg pendek, tidak yang laju (membacanya) atau yang lambat,……(keterangan nahu)……. berkata al-Mihlab dan lainnya: disana membuat perkiraan waktu dengan perbuatan badan,dan biasanya orang arab membuat perkiraan waktu dengan amalan badan,seperti dengan ukuran memerah susu kambing…maka Zaid memindahkan perkiraan itu dengan qiraat, itu merupakan sebuah isyarat juga bahawa waktu itu adalah waktu ibadah dgn qiraat, seandainya kebiasaan orang arab tidak dengan amalan badan,maka zaid pun akan berkata misal: ukuran darjat, atau sepertiga, seperlima jam.

Dan masalah waktu Imsak ini di perkuat lagi dengan apa yang ada dalam Hadis Bukhari dalam Kitabul Mawaqit:

قُلْنَا لِأَنَسٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلَاةِ قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً

Kami berkata kepada Anas: berapa lama jarak selesai keduanya ( Rasul dan Zaid) dari sahurnya dan keduanya memasuki dalam solat (subuh) ? beliau berkata: ukuran pembacaan seseorang pada 50 ayat. (Fathul Bari 2/70)

3 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Kelebihan Solat Terawih

(Olih Ustaz Mohd Khofiz Soroni)

Maka bagi menggantikan hadith2 palsu  saya telah menemukan empat buah hadith yang sabit mengenai kelebihan solat tarawih ini. Iaitu sepertimana berikut;

1. Diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرغب في قيام رمضان من غير أن يأمرهم بعزيمة ثم يقول : من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه. رواه البخاري ومسلم وأبو داود والترمذي والنسائي.
Terjemahan;
Daripada Abu Hurairah RA katanya: Rasulullah SAW pernah menggalakkan sahabatnya berqiam Ramadhan tanpa menyuruh mereka dengan kesungguhan (yang menunjukkan wajib), kemudian sabdanya: “Barangsiapa yang berqiam Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisab (mengharapkan redha dan ganjaran Allah) akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmizi dan al-Nasa’i)

2. Kembali sepertimana hari ibunya melahirkannya.
حديث عبد الرحمن بن عوف: من صامه وقامه إيمانا واحتسابا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه. رواه النسائي في الكبرى (11،295) والصغرى (2199)، وأحمد (1618، 1645) وابن خزيمة (2015) وابن ماجه (1331) والبيهقي في الشعب (3462).
Terjemahan;
Daripada ‘Abdur Rahman bin ‘Awf, sabda Nabi SAW: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dan berqiam Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisab, ia akan keluar daripada dosa-dosanya sepertimana hari ibunya melahirkannya”. (HR al-Nasa’i, Ahmad, Ibn Khuzaimah, Ibn Majah dan al-Bayhaqi)

3. Ditulis dari kalangan para siddiqin dan syuhada’.
عن عمرو بن مرة الجهني رضي الله عنه قال : جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، أرأيت إن شهدت أن لا إله إلا الله وأنك رسول الله وصليت الصلوات الخمس وأديت الزكاة وصمت رمضان وقمته، فممن أنا ؟ قال : من الصديقين والشهداء. رواه البزار وابن خزيمة وابن حبان في صحيحيهما واللفظ لابن حبان.
Terjemahan;
Daripada ‘Amru bin Murrah al-Juhani RA katanya: Datang seorang lelaki kepada Nabi SAW lalu katanya: Wahai Rasulullah, apakah pendapat tuan sekiranya saya bersaksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya tuan adalah utusan Allah, dan saya bersolat lima waktu, menunaikan zakat serta berpuasa bulan Ramadhan dan berqiam Ramadhan, maka dari golongan siapakah saya ini? Jawab baginda: ”Dari kalangan para siddiqin dan syuhada’”. (HR al-Bazzar, Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban)

4. Ditulis baginya pahala seumpama berqiamullail.
حديث أبي ذر : من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة. رواه الترمذي وقال : هذا حديث حسن صحيح -791.
Terjemahan;
Hadith Abu Zar RA, sabda Nabi SAW: “Barangsiapa berqiam (Ramadhan) bersama-sama imam sehingga ia selesai, akan ditulis baginya (ganjaran) seumpama berqiamullail”. (HR al-Tirmizi)

Demikianlah fadhilat-fadhilat yang besar bagi orang yang mengerjakan solat tarawih ini. Kelebihan-kelebihan tersebut tidak tertentu pada malam tertentu sahaja, bahkan ianya adalah umum bagi solat tarawih sepanjang bulan Ramadhan. Semuanya dapat diperolehi dengan kemurahan rahmat Allah Taala bagi mereka yang bersungguh-sungguh mengerjakannya.

Mudah-mudahan fadhilat-fadhilat solat tarawih ini dapat tersebar secara lebih luas menggantikan hadith palsu mengenainya.

Sumber : sawanih.blogspot.my/2010/09/fadhilat-fadhilat-sahih-bagi-solat.html?m=1

2 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

HUKUM MENGAMBIL WUDHUK KETIKA AZAN

IRSYAD AL-FATWA KE- 119:
HUKUM MENGAMBIL WUDHUK KETIKA AZAN

Written by Muhammad Fahmi Rusli.

Soalan:

Assalamualaikum S.S Datuk, apakah hukum mengambil wudhuk ketika azan sedang dikumandangkan ?

Jawapan:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah S.W.T. Selawat dan salam kami panjatkan kepada Rasulullah S.A.W, para sahabat, ahli keluarga, serta golongan yang mengikuti baginda sehingga hari kiamat. Amma Ba’du.

Dalam menjawab persoalan ini, kami bahagikannya terlebih dahulu kepada beberapa bahagian:

Hukum Mengambil Wudhuk Sebelum Dan Selepas Azan.

Para Ulama apabila menyebutkan berkenaan beberapa keadaan yang mana perbuatan sunat itu lebih afdhal berbanding perbuatan wajib mereka menyebutkan berkenaan hukum wudhuk sebelum dan selepas azan. Mereka mengatakan bahawa hukum mengambil wudhuk sebelum azan adalah Sunat. Manakala hukum mengambil wudhuk selepas azan adalah Wajib.

Kata al-Imam Ibn al-Subki Rahimahullah:

Berwudhuk sebelum masuk waktu itu adalah sunat dan ia lebih afdhal berbanding (berwudhuk) setelah masuknya waktu. Inilah pendapat yang dijelaskan oleh al-Qammuli dalam al-Jawahir dan sesungguhnya berwudhuk itu wajib setelah masuknya waktu solat. Lihat Al-Asybaah wal-Nazhair, al-Suyuthi (1/272).

Hukum Menjawab Seruan Azan

Perintah menjawab azan yang dikumandangkan dengan cara mengulangi apa yang telah disebutkan oleh muazzin adalah berdasarkan sebuah hadis yang mana Rasulullah S.A.W bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

Maksudnya: Apabila kalian mendengar azan maka ucapkanlah sama seperti yang muazzin katakan.

Riwayat Muslim (383).

Berdasarkan hadis di atas, sebahagian para fuqaha mengatakan bahawa hukum menjawab azan adalah wajib. Ini kerana, di sana terdapat kata perintah dari Rasulullah S.A.W iaitu: “Maka ucapkanlah”. Ayat perintah ini kata mereka menunjukkan kepada wajib.

Manakala majoriti fuqaha berpendapat, hukum menjawab azan adalah sunnah mu’akkadah (sunat yang sangat dituntut). Mereka berdalilkan dengan sebuah hadis yang sahih daripada Anas bin Malik R.anhu beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُغِيرُ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ وَكَانَ يَسْتَمِعُ الأَذَانَ فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا أَمْسَكَ وَإِلاَّ أَغَارَ فَسَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ عَلَى الْفِطْرَةِ ‏”‏ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ خَرَجْتَ مِنَ النَّارِ

Maksudnya: Rasulullah S.A.W pernah menyerang musuh apabila terbitnya fajar dan baginda meneliti untuk mendengar seruan azan. Sekiranya baginda mendengar azan baginda berhenti sebentar dan jika tidak baginda teruskan menyerang. Maka baginda mendengar seorang lelaki mengucapkan: “Allahu Akbar Allahu Akbar”. Maka Rasulullah S.A.W mengatakan: “(Dia) berada di atas fitrah”. Kemudian lelaki itu mengatakan: “Aku bersaksi bahawasanya tiada Tuhan yang selain Allah”. Maka baginda mengatakan: “Kau telah keluar daripada neraka”.

Riwayat Muslim (382)

Berdasarkan hadis di atas, Rasulullah S.A.W apabila mendengar azan baginda tidak mengikut atau mengulangi ucapan azan sebagaimana yang diucapkan oleh muazzin. Ini menunjukkan bahawasanya hukum menjawab atau mengulangi azan adalah sunat sahaja di sisi majoriti fuqaha.

Hukum Mengambil Wudhuk Ketika Azan

Wudhu’ semasa azan dikumandangkan adalah harus hukumnya dan tidak terdapat larangan dari sudut syarak. Akan tetapi, dikehendaki bagi orang yang berwudhuk untuk berusaha menjawab azan selepas diucapkan oleh muazzin berdasarkan sabda Nabi S.A.W:

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

Maksudnya: Apabila kalian mendengar azan maka ucapkanlah sama seperti yang muazzin katakan.

Riwayat Muslim (383).

Khatimah

Akhir kalam, kami berpendapat bahawasanya hukum mengambil wudhuk ketika azan sedang berkumandang adalah dibolehkan. Walaupun begitu, adalah lebih baik untuk kita bersiap sedia mengambil wudhuk terlebih dahulu sebelum azan dikumandangkan kerana itu lebih afdhal. Mengambil wudhuk sebelum azan juga memberikan ruang kepada kita menjawab laungan azan sebaik sahaja ia dikumandangkan. Maka dengan ini, kita akan mendapat ganjaran dan fadhilat yang lebih banyak di sisi Allah S.W.T. Semoga dengan pencerahan ini dapat memberikan kefahaman kepada kita semua. Ameen.

Akhukum Fillah

S.S. DATUK DR. ZULKIFLI BIN MOHAMAD AL-BAKRI

MUFTI WILAYAH PERSEKUTUAN

1 JUN 2016

1 June 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Asha’irah dan Maturidi Merupakan Aliran Majoriti Umat Islam

(Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan)

Kajian The Royal Islamic Strategic Studies Centre menunjukkan bahawa Asha’irah dan Maturidi merupakan aliran majoriti umat Islam dengan 90 peratus keseluruhan umat Islam didunia adalah pengikut aliran Ahl al-Kalam ini.

Hasil kajian ini turut dipersetujui oleh al-Qaradawi iaitu ketika mana beliau mempertahankan Universiti al-Azhar yang berpegang dengan akidah Asha’irah daripada tohmahan golongan Salafiyyah Wahabiyyah, beliau menyatakan bahawa Asha’irah merupakan pegangan majoriti umat Islam di seluruh dunia pada hari ini (www.islamonline.net)

Oleh itu, jika kajian dan kenyataan ini dijadikan ukuran,maka benarlah kenyataan al-Zabidi yang berpendapat bahawa secara umumnya Ahl al-Sunnah wa al-Jamaa’h terdiri daripada kalangan Asha’irah dan Maturidi. Manakala al-Subki pula menyatakan bahawa pengikut-pengikut Imam Abu Hanifah,Imam Malik, Imam al-Shafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal semuanya adalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan mereka ini berada bersama Asha’irah

http://madrasahsunnionline.blogspot.com/2016/05/ashairah-dan-maturidi-merupakan-aliran.html

1 June 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

KHILAF BUKAN BIDAAH

Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan.

MOHD. SHAH CHE AHMAD
26 Mei 2016 4:00 PM

“KENAPA perlu membaca doa Qunut sedangkan Nabi Muhammad SAW tak buat? Itu perbuatan bidaah. Dan setiap yang bidaah itu adalah sesat.”

Dialog berikut adalah antara pertikaian yang sering kali didengari. Bukan itu sahaja, pelbagai amalan lain yang dilihat telah sebati dalam budaya Melayu sejak dari dahulu termasuk membaca surah Yasin dan tahlil pada malam Jumaat serta menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW turut dipertikai.

Tidak dinafikan ada benarnya, namun tindakan segelintir golongan yang mendakwa mengikut sepenuh amalan Rasulullah SAW itu, kadangkala dilihat bersifat keterlaluan dalam menonjolkan pendapat masing-masing sehingga tanpa sedar melabel mereka yang tidak mengikuti amalan mereka sebagai sesat.

Kesannya, umat Islam semakin keliru terhadap amalan dilakukan yang dipelajari sejak kecil kerana dikatakan bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW atau tidak sempurna dan berkemungkinan tidak sah di sisi Allah SWT.

Lebih membimbangkan perkara yang dikategorikan sebagai khilaf atau perbezaan pendapat dalam kalangan ulama itu boleh menyebabkan berlakunya perbalahan sesama umat Islam sehingga menimbulkan perpecahan dan pelbagai kesan buruk lain.

Menegaskan perkara itu, Pengerusi Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia, Profesor Emeritus Tan Sri Dr. Abdul Shukor Husin berkata, umat Islam perlu berfikiran terbuka terhadap perbezaan pendapat dalam mengamalkan ajaran Islam.

Beliau berkata, selagi perbezaan pendapat itu tidak membabitkan soal tauhid dan akidah kepada Allah SWT, maka ia dikategorikan sebagai khilaf dalam kalangan ulama.

“Umat Islam di negara ini secara rasminya beriman dengan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) dengan aliran yang dibawakan oleh Imam Abu Hasan al-Syaari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi iaitu al-Asyairah dan al-Maturidiyyah. Manakala dalam pegangan fikah pula adalah mengikuti mazhab Imam Syafie.

“Dalam soal akidah jelas ditunjukkan kepada kita sumbernya iaitu hanya al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW dan tidak boleh dibahaskan lagi. Tetapi bagi kaedah fikah yang dikategorikan dalam bahagian pemikiran boleh diperdebat dan disepakati menerusi ijtihad ulama.
“Masalah-masalah yang sering diperdebat kini seperti zikir dan doa selepas solat, bacaan ‘sayidina’ dalam tahiyat dan sebagainya adalah bersifat khilaf semata-mata antara ulama. Tiada masalah untuk diamalkan kedua-duanya kerana ulama yang menetapkan kaedah itu mempunyai nas atau hujah tersendiri,” katanya.
Beliau berkata demikian dalam ucaptama ketika merasmikan Seminar Fatwa Antarabangsa 2016 di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), baru-baru ini.

Turut hadir, Penyandang Kursi Felo Utama Kajian Fatwa, Institut Pengurusan dan Penyelidikan Fatwa Sedunia (Infad), Sheikh Muhammad Awwamah; Timbalan Naib Canselor (Penyelidikan dan Inovasi), Profesor Datuk Dr. Mustafa Mohd Hanefah; dan Pengarah Infad, Profesor Madya Dr. Irwan Mohd. Subri.

Seminar dua hari itu mengumpulkan sebanyak 96 kertas kerja pembentangan membabitkan isu dan kajian fatwa semasa yang disampaikan oleh penyelidik dari pelbagai institusi termasuk penceramah luar negara.

Bidaah yang sesat.
Abdul Shukor berkata, bidaah yang dikategorikan sesat sebagaimana sabda Rasulullah SAW tersebut adalah penambahan atau pengurangan dibuat dalam perkara yang telah ditentukan oleh syarak terutama soal ibadat.

“Kita perlu memahami makna bidaah itu sendiri, bukan semua bidaah itu ditafsirkan sebagai sesat. Apa yang dimaksudkan dengan bidaatul dhalalah (sesat) adalah sebagai contoh menambah bilangan perintah solat lima waktu sehari semalam kepada enam kali.

“Walaupun dengan niat untuk meningkatkan iman atau menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT, maka ia adalah haram dan sesat kerana merosakkan ibadat,” jelasnya.
Justeru tambahnya, semua pihak terutama golongan pakar agama perlu bijaksana dan berhikmah dalam menyampaikan pandangan terhadap perbezaan pendapat masing-masing terutama membabitkan ibadah.

“Lebih 1,000 tahun lalu sejak Islam bertapak di negara ini perkara ini tidak muncul, umat Islam tiada masalah mengamalkan Islam malah kesatuan dalam Islam menyatukan banyak hal lain termasuk politik. Baru beberapa tahun kebelakangan ini mula heboh mengenai amalan-amalan yang dikatakan bidaah ini.

“Perkara ini mengakibatkan kekeliruan kepada orang awam. Cuba bayangkan jika dua-dua pihak tidak mahu mengalah, melabel orang ini bidaah, orang ini sesat, tidakkah menimbulkan pergaduhan?.

“Pakar agama dan mufti juga perlu turun padang, melihat sendiri situasi dan senario realiti masyarakat di negara tersebut sebelum menetapkan hukum. Tidak boleh hanya mengikut kitab semata-mata sehinggakan tidak mengindahkan soal darurat dan juga maqasid syariah (tujuan disyariatkan) kepada umat Islam,” katanya.

– See more at: http://m.utusan.com.my/rencana/agama/khilaf-bukan-bidaah-1.334814#sthash.2pt4uKln.dpuf

29 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Status Telinga Berdengung/Berdesing/Berdering

(Bicara Hadith Bersama Ustaz Mohd Khafidz Soroni – KUIS)

image

Soalan :
JANGAN ABAIKAN SAAT TELINGA BERDEGUNG / BERDERING / BERDESING…

Itu maknanya…???

Assalammu’alaikum…
“Telinga berdegung / berdering / berdesing adalah panggilan baginda Nabi Muhammad SAW…”

Ramai orang yang bertanya seperti ini…
“Mengapa kadang-kadang telinga bersuara “NGING”…???

Apa sebabnya…???

Dan…
Tidak kurang juga diantara kita yang mengatakan sebab tidak berpedoman , bertahayul dan sangkaan buruk terhadap perkara itu…

Tetapi…
Sesungguhnya suara “NGING” dalam telinga itu adalah Sayyidina Rasulullah SAW sedang menyebut orang yang telinganya bersuara “NGING” dalam perkumpulan yang tertinggi iaitu (Malail A’laa) dan supanya dia ingat kepada Sayyidina Rasulullah SAW…
Lalu membaca Selawat keatas junjungan NABI MUHAMMAD SAW…
Hal ini berdasarkan keterangan dari kitab (AZIZI ‘ALA JAMI’USH SHAGHIR)…

“Jika telinga salah seorang kalian bedengung / berdering / berdesing (NGING)…

Maka…
Dia hendaklah mengingat aku (Sayyidina Rasulullah SAW)…
Lalu membaca SELAWAT kepadaku dan mengucapkan ;
“DZAKARALLOHU MAN DZAKARONII BIKHOIR” yang ertinya…
“Allah ta’ala akan mengingatkan , yang mengingatku dengan kebaikan…”
IMAM Nawawi Berkata ;

Sesungguhnya…
Telinga itu berdengung / berdering / berdesing hanya ketika datang berita baik ke Ruh/Roh bahawa Sayyidina Rasulullah telah menyebutkan orang ( Si pemilik telinga yang berdengung / berdering / berdesing “NGING” ) tersebut dengan kebaikan di Al Mala’Al A’la iaitu (majlis tertinggi) di alam Ruh/Roh…

[Kitab AZIZI ‘ALAL JAMIUSH SHAGIR]

Sampaikanlah pada orang lain…
Maka…
Ia akan menjadi SEDEKAH jariyah pada setiap orang…
Dan…
Jika dia mengamalkanya…
Maka kita juga akan ikut mendapatkan pahala sampai hari kiamat…
In Shaa ALLAH…
Aamiin…
Betul tak keterangan di atas ?

Jawapan :
Insya Allah..
Matan hadis:
إذا طنَّتْ أذنُ أحدِكم فليذكرنى وليصلِّ عليَّ وليقلْ: ذكر اللهُ مَنْ ذكَرَنى بخيرٍ.
Hadis tersebut daif (pnilaian pertengahan antara yang kata hasan dan yang kata palsu). Maka, harus diamalkan dalam bab fadha’il amal.

Sebab itu anjuran pengamalannya disebutkan dalam kitab2 amal, seperti ‘Amal al-Yaum wal-Lailah oleh Imam Ibn as-Sunni, kitab ad-Da‘awat oleh Imam al-Baihaqi, Ihya’ ‘Ulumiddin oleh Imam al-Ghazali, al-Azkar oleh Imam an-Nawawi, al-Hisn al-Hasin oleh Imam al-Jazari, al-Qaul al-Badi‘ oleh al-Hafiz as-Sakhawi dan lain-lain..

Wallahu a’lam bissowab

28 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

DALIL DARI AL-QURAN MENGENAI SIFAT 20

(Terbitan FB Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan).

image

1. Wujud (ada) – dalilnya surah anbiya’ ayat 22

2. Qidam (wujudnya Allah sedia ada) – dalilnya surah al-Hadid ayat 3

3. Baqa'(kekal) – dalilnya surah ar-Rahman (26-27)

4. Mukhalafatuhu Ta’ala lil hawadith (berlainan dgn segala yg baharu) – dalilnya surah syuraa ayat 11

5. Qiamuhu Ta’ala binafsihi (berdiri dgn sendirinya iaitu tidak berhajat kepada lainnya) – dalilnya surah fathir ayat 15

6. Wahdaniah (esa) – dalilnya surah al-Baqarah ayat 163

7. Qudrah (berkuasa) – dalilnya surah nuur ayat 45

8. Iradah (berkehendak) – dalilnya surah yaasin ayat 82

9. Ilmu (mengetahui) – dalilnya surah al-maidah ayat 97

10. Hayat (hidup) – dalilnya surah furqan ayat 58

11. Sama'(mendengar) – surah thaha ayat 46

12. Bashar (melihat) – surah hujurat ayat 18

13 kalam (berkata-kata) – surah an-Nisaa’ ayat 164

Sedang tujuh lagi sifat2 ma’aniwiyah sama shj dalil naqlinya dgn 7 sifat ma’ani yg tersebut.

28 May 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

BID’AH HASANAH YANG DILAKUKAN OLEH AHLI HADITH

image

Bid’ah saat ini menjadi sebuah bahasa yang menyeramkan kerana sebahagian kelompok menilainya sebagai kesesatan, seluruhnya tanpa terkecuali. Bagi mereka, setiap amalan dalam agama yang tidak dilakukan oleh Nabi, atau menentukan waktu ibadah dengan cara-cara tertentu adalah bid’ah yang sesat dan pelakunya akan masuk neraka.

Namun pernahkah terlintas dalam fikiran bahawa para ahli hadis yang meriwayatkan hadis tentang bid’ah, ternyata juga melakukan bid’ah. Apakah ahli hadis itu melakukan bid’ahnya tanpa sedar? Tidak tahukah kalau semua bid’ah adalah sesat? Kalaulah mereka mengaku bahawa semua bid’ah sesat, sementara para ahli hadis melakukan perbuatan bid’ah, seperti Imam Bukhari yang solat saat setiap menulis hadisnya di dalam kitab Sahih (padahal tidak ada perintah dari Nabi dan Imam Bukhari menentukan sendiri tidak berdasarkan tuntunan Syar’i), lalu mengapa sampai saat ini mereka sering memakai hadis-hadis riwayat Imam Bukhari? riwayat Imam Ahmad, Imam Malik dan sebagainya?

Jika para ahli hadis banyak yang melakukan bid’ah, bererti ada kesalahan dalam memahami semua bid’ah sesat. Sebab diakui atau tidak, para ahli hadis lebih mengetahui makna bid’ah yang mereka riwayatkan dalam hadis-hadisnya, bahwa ‘Tidak semua bid’ah sesat’.

Contohnya adalah beberapa penentuan waktu solat yang dilakukan oleh ulama Ahli Hadis, mulai yang melakukan ratusan rakaat dalam sehari, hingga yang solat sampai ribuan rakaat setiap hari :

1. Imam al-Bukhari (15126 rakaat)

وقال الفربري قال لي البخاري: ما وضعت في كتابي الصحيح حديثاً إلا اغتسلت قبل ذلك وصليت ركعتين
(طبقات الحفاظ – ج 1 / ص 48 وسير أعلام النبلاء 12 / 402 وطبقات الحنابلة 1 / 274، وتاريخ بغداد 2 / 9، وتهذيب الاسماء واللغات 1 / 74 ووفيات الاعيان 4 / 190، وتهذيب الكمال 1169، وطبقات السبكي 2 / 220، ومقدمة الفتح 490 وتهذيب التهذيب 9 / 42)

“al-Farbari berkata bahwa al-Bukhari berkata: Saya tidak meletakkan 1 hadis pun dalam kitab Sahih saya, kecuali saya mandi terlebih dahulu dan saya salat 2 rakaat”
(Diriwayatkan oleh banyak ahli hadis, diantaranya dalam Thabaqat al-Huffadz, al-Hafidz as-Suyuthi,1/48, Siyar A’lam an-Nubala’, al-Hafidz adz-Dzahabi 12/402, Thabaqat al-Hanabilah, 1/274, Tarikh Baghdad 2/9, Tahdzib al-Asma, Imam an-Nawawi, 1/74, Wafayat al-A’yan 4/190, Tahdzib al-Kamal, al-Hafidz al-Mizzi 1169, Thabaqat as-Subki 2/220, dan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Muqaddimah al-Fath 490 dan at-Tahdzib 9/42)

Sedangkan hadis yang tertera dalam Sahih al-Bukhari berjumlah 7563 hadis. Maka solat yang beliau lakukan juga sesuai jumlah hadis tersebut atau 15126 (lima belas ribu seratus dua puluh enam) rakaat.

وروينا عن عبد القدوس بن همام، قال: سمعت عدة من المشايخ يقولون: حول البخارى تراجم جامعه بين قبر النبى – صلى الله عليه وسلم – ومنبره، وكان يصلى لكل ترجمة ركعتين (تهذيب الأسماء – (1 / 101)

“Kami meriwayatkan dari Abdul Quddus bin Hammam, bahwa ia mendengar dari para guru yang berkata seputar al-Bukhari ketika menulis bab-bab salam kitab Sahihnya diantara makam Nabi dan mimbarnya, dan al-Bukhari salat 2 rakaat dalam tiap-tiap bab” (Tahdzib al-Asma’, an-Nawawi, 1/101)

2. Imam Malik bin Anas (800 rakaat)

حدثنا أبو مصعب و أحمد بن إسماعيل قالا مكث مالك بن أنس ستين سنة يصوم يوماً ويفطر يوماً وكان يصلي في كل يوم ثمانمائة ركعة (طبقات الحنابلة 1 / 61)

“Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail berkata: Malik bin Anas berpuasa sehari dan berbuka sehari selama 60 tahun dan ia salat setiap hari 800 rakaat” (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/61)

3. Imam Ahmad Bin Hanbal (300 rakaat)

– قال ابو يحي وسمعت بدر بن مجاهد يقول سمعت أحمد بن الليث يقول سمعت أحمد بن حنبل يقول إنى لأدعو الله للشافعى فى صلاتى منذ أربعين سنة يقول اللهم اغفر لى ولوالدى ولمحمد بن إدريس الشافعى (طبقات الشافعية الكبرى للسبكي ج 3 / ص 194 ومناقب الشافعي للبيهقي 2-254)

“Sungguh saya berdoa kepada Allah untuk Syafii dalam salat saya sejak 40 tahun. Doanya: Ya Allah ampuni saya, kedua orang tua saya dan Muhammad bin Idris asy-Sfafii” (Thabaqat al-Syafiiyah al-Kubra, as-Subki, 3/194 dan Manaqib asy-Syafii, al-Baihaqi, 2/254)

– قال عبد الله بن أحمد: كان أبي يصلي في كل يوم وليلة ثلاث مئة ركعة. فلما مرض من تلك الأسواط أضعفته، فكان يصلي في كل يوم وليلة مئة وخمسين ركعة، وقد كان قرب من الثمانين (مختصر تاريخ دمشق لابن رجب الحنبلي ج 1 / ص 399)

“Abdullah bin Ahmad berkata: Bapak saya (Ahmad bin Hanbal) melakukan salat dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Ketika beliau sakit liver, maka kondisinya melemah, beliau salat dalam sehari semalam sebanyak 150 rakaat, dan usianya mendekati 80 tahun” (Mukhtashar Tarikh Dimasyqa, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/399)

جعفر بن محمد بن معبد المؤدب قال: رأيت أحمد بن حنبل يصلي بعد الجمعة ست ركعات ويفصل في كل ركعتين (طبقات الحنابلة 1 / 123)

“Jakfar bin Muhammad bin Ma’bad berkata: Saya melihat Ahmad bin Hanbal salat 6 rakaat setelah Jumat, masing-masing 2 rakaat” (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/123)

4. Imam Basyar bin Mufadlal (400 rakaat)

بشر بن المفضل بن لاحق البصري الرقاشي أبو إسماعيل. قال أحمد: إليه المنتهى في التثبت بالبصرة وكان يصلى كل يوم أربعمائة ركعة ويصوم يوماً ويفطر يوماً وكان ثقة كثير الحديث مات سنة ست وثمانين ومائة (طبقات الحفاظ 1 / 24)

“Imam Ahmad berkata tentang Basyar bin Mufadzal al-Raqqasyi: Kepadanyalah puncak kesahihan di Bashrah. Ia salat setiap hari sebanyak 400 rakaat, ia puasa sehari dan berbuka sehari. Ia terpercaya dan memiliki banyak hadis, wafat 180 H” (Thabaqat al-Huffadz, al-Hafidz as-Suyuthi,1/24)

5. Cucu Sayidina Ali (1000 rakaat)

ذو الثفنات علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب زين العابدين سمي بذلك لأنه كان يصلى كل يوم ألف ركعة فصار في ركبتيه مثل ثفنات البعير (تهذيب الكمال – 35 / 41)

“Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, hiasan ahli ibadah, disebut demikian karena ia salat dalam sehari sebanyak 1000 rakaat, sehingga di lututnya terdapat benjolan seperti unta” (Tahdzib al-Asma’, al-Hafidz al-Mizzi, 35/41)

وقال مالك بلغني أنه (علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب) كان يصلي في اليوم والليلة ألف ركعة إلى أن مات (تذكرة الحفاظ للذهبي 1 / 60)

“Malik berkata: Telah sampai kepada saya bahwa Ali bin Husain salat dalam sehari semalam 1000 rakaat sampai wafat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dahabi, 1/60)

6. Maimun bin Mahran (17000 rakaat)

ويروى ان ميمون بن مهران صلى في سبعة عشر يوما سبعة عشر الف ركعة (تذكرة الحفاظ 1 / 99)

“Diriwayatkan bahwa Maimun bin Mahran salat dalam 17 hari sebanyak 17000 rakaat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dahabi, 1/99)

7. Basyar bin Manshur (500 rakaat)

قال ابن مهدى ما رأيت أحدا أخوف لله منه وكان يصلي كل يوم خمسمائة ركعة وكان ورده ثلث القرآن (تهذيب التهذيب 1 / 403)
“Ibnu Mahdi berkata: Saya tidak melihat seseorang yang paling takut kepada Allah selain Basyar bin Manshur. Ia salat dalam sehari 500 rakaat, wiridannya adalah 1/3 al-Quran” (Tahdzib at-Tahdzib, al-Hafidz Ibnu Hajar, 1/403)

8. al-Harits bin Yazid (600 rakaat)

الحارث بن يزيد قال احمد ثقة من الثقات وقال العجلي والنسائي ثقة وقال الليث كان يصلي كل يوم ستمائة ركعة (تهذيب التهذيب 2 / 142)
“Ahmad berkata: Terpercaya diantara orang-orang terpercaya. Laits berkata: al-Harits salat dalam sehari 600 rakaat” (Tahdzib at-Tahdzib, al-Hafidz Ibnu Hajar, 2/142)

9. Ibnu Qudamah (100 rakaat)

ولا يسمع ذكر صلاة إلا صلاها، ولا يسمع حديثاً إلا عمل به. وكان يصلَّي بالناس في نصف شعبان مائة ركعة، وهو شيخ كبير (ذيل طبقات الحنابلة ابن رجب 1 / 203)

“Ibnu Qudamah tidak mendengar tentang salat kecuali ia lakukan. Ia tidak mendengar 1 hadis kecuali ia amalkan. Ia salat bersama dengan orang lain di malam Nishfu Sya’ban 100 rakaat, padahal ia sudah tua” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/203)

وكان يصلِّي بين المغرب والعشاء أربع ركعات، يقرأ فيهن السَّجدة، ويس، وتبارك والدخان. ويصلَّي كل ليلة جمعة بين العشاءين صلاة التسبيح ويطيلها، ويصلَّي يوم الجمعة ركعتين بمائة ” قل هو الله أحد ” الإخلاص، وكان يصلي في كل يوم وليلة اثنتين وسبعين ركعة نافلة، وله أوراد كثيرة. وكارْ يزور القبور كل جمعة بعد العصر (ذيل طبقات الحنابلة – 1 / 204)

“Ibnu Qudamah salat antara Maghrib dan Isya’ sebanyak 4 rakaat, dengan membaca surat Sajdah, Yasin Tabaraka dan ad-Dukhan. Beliau salat Tasbih setiap malam Jumat antara Maghrib dan Isya’ dan memanjangkannya. Di hari Jumat ia salat 2 rakaat dengan membaca al-Ikhlas 100 kali. ia salat sunah sehari semalam sebanyak 72 rakaat. ia memiliki banyak wiridan. Ia melakukan ziarah kubur setiap Jumat setelah Ashar” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/204)

10. Umair bin Hani’ (1000 sujud)

كان عمير بن هانئ يصلي كل يوم الف سجدة ويسبح مائة الف تسبيحة (تهذيب التهذيب 8 / 134)

“Umair bin Hani’ salat dalam sehari sebanyak 1000 sujud dan membaca tasbih sebanyak 100.000” (Tahdzib at-Tahdzib, al-Hafidz Ibnu Hajar, 8/134)

11. Murrah bin Syarahil (600 rakaat)

قلت: هو قول ابن حبان في الثقات زاد وكان يصلي كل يوم ستمائة ركعة وقال العجلي تابعي ثقة وكان يصلي في اليوم والليلة خمسمائة ركعة (تهذيب التهذيب 10 / 80)

“Ibnu Hibban menambahkan bahwa Marrah bin Syarahil salat dalam sehari 600 rakaat. al-Ajali berkata, ia tabii yang tsiqah, ia salat dalam sehari 500 rakaat” (Tahdzib at-Tahdzib, al-Hafidz Ibnu Hajar, 10/80)

12. Abdul Ghani (300 rakaat)

وسمعت يوسف بن خليل بحلب يقول عن عبد الغني: كان ثقة، ثبتاً، ديناً مأموناً، حسن التصنيف، دائم الصيام، كثير الإيثار. كان يصلي كل يوم وليلة ثلاثمائة ركعة (ذيل طبقات الحنابلة 1 / 185)

“Abdul Ghani, ia terpercaya, kokoh, ahli agama yang dipercayai, banyak karangannya, selalu puasa, selalu mendahulukan ibadah. Ia salat dalam sehari semalam 300 rakaat” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/185)

13. Abu Ishaq asy-Syairazi (Tiap bab dalam kitab)

وقال أبو بكر بن الخاضبة سمعت بعض أصحاب أبي إسحاق ببغداد يقول كان الشيخ يصلي ركعتين عند فراغ كل فصل من المهذب (طبقات الشافعية الكبرى 4 / 217)

“Abu Bakar abin Khadhibah berkata: Saya mendengar dari sebagian santri Abu Ishaq di Baghdad bahwa Syaikh (Abu Ishaq) salat 2 rakaat setiap selesai menulis setiap Fasal dalam Muhadzab” (Thabaqat asy-Syafiiyat al-Kubra, as-Subki, 4/217)

14. Qadli Abu Yusuf (200 rakaat)

وقال ابن سماعة كان أبو يوسف يصلي بعد ما ولي القضاء في كل يوم مائتي ركعة (تذكرة الحفاظ للذهبي 1 / 214)
“Ibnu Sama’ah berkata: Setelah Abu Yusuf menjadi Qadli, ia salat dalam sehari sebanyak 200 rakaat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dzahabi, 1/214)

15. Ali bin Abdillah (1000 rakaat)

وقال أبو سنان: كان على بن عبد الله يصلى كل يوم ألف ركعة (تهذيب الأسماء 1 / 492)

“Abu Sanan berkata: Ali bin Abdillah salat dalam sehari 1000 rakaat” (Tahdzib al-Asma’, an-Nawawi, 1/492)

16. al-Hafidz ar-Raqqasyi (400 rakaat)

الرقاشي الإمام الثبت الحافظ أبو عبد الله محمد بن عبد الله بن محمد بن عبد الملك البصري: أبو حاتم وقال: ثقة رضا وقال العجلي: ثقة من عباد الله الصالحين وقال يعقوب السدوسي: ثقة ثبت قال العجلي: يقال: إنه كان يصلي في اليوم والليلة أربعمائة ركعة (تذكرة الحفاظ للذهبي – 2 / 37)
“ar-Raqqasyi, terpercaya, ia salat dalam sehari semalam 400 rakaat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dzahabi, 2/73)

17. Abu Qilabah (400 rakaat)

وقال أحمد بن كامل القاضي: حكي أن أبا قلابة كان يصلي في اليوم والليلة أربعمائة ركعة (تذكرة الحفاظ للذهبي 2 / 120)
“Qadli Ahmad bin Kamil berkata: Diceritakan bahwa Abu Qilabah salat dalam sehari semalam sebanyak 400 rakaat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dzahabi, 2/120)

18. Cucu Abdullah bin Zubair (1000 rakaat)

مصعب بن ثابت بن عبد الله بن الزبير وكان مصعب يصلي في اليوم والليلة ألف ركعة ويصوم الدهر (صفة الصفوة 2 / 197- والإصابة في تمييز الصحابة 2 / 326)

“Mush’ab bin Tsabit bin Abdillah bin Zubair, ia salat dala sehari semalam 1000 rakaat” (Shifat ash-Shafwah, Ibnu Jauzi, 2/197 dan al-Ishabah, al-Hafidz Ibnu Hajar, 2/326)

19. Malik Bin Dinar (1000 rakaat)

وروى بن أبي الدنيا من طرق انه كان فرض على نفسه كل يوم ألف ركعة (الإصابة في تمييز الصحابة 5 / 77)
“Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dari beberapa jalur bahwa Malik bin Dinar mewajibkan pada dirinya sendiri untuk salat 1000 rakaat dalam setiap hari” (al-Ishabah, al-Hafidz Ibnu Hajar, 5/77)

20. Bilal Bin Sa’d (1000 rakaat)

وقال الاوزاعي كان بلال بن سعد من العبادة على شئ لم يسمع باحد من الامة قوى عليه كان له في كل يوم وليلة الف ركعة (تهذيب التهذيب 1 / 441)

“Auzai berkata: dalam masalah ibadah tidak didengar 1 orang yang lebih kuat daripada Bilal bin Sa’d, ia salat 1000 rakaat setiap hari” (Tahdzib al-Asma’, an-Nawawi, 1/441)

Sumber : jomfaham.blogspot.my/2016/02/bidah-hasanah-yang-dilakukan-oleh-ahli.html?m=1

(Terbitan FB Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan).

28 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Membeza Wahabi dan Sunnah Wal Jamaah

image

(Petikan dari tulisan Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady)

Ahli Sunnah berpegang kepada Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima, berpegang kepada ajaran akidah Imam al-Asyari dan Maturidi dan yang mengikuti mereka sampai masa kini.

Mereka beriman mengenai Allah memiliki sifat sempurna tidak terhisab, tetapi sekurang-kurang perlu diketahui semua orang ialah sifat ada, sedia kala, kekal, tidak menyerupai semua yang baru, berdiri sendiri, Maha Esa, hidup, mengetahui, berkehendak, mendengar, melihat dan berkata-kata dengan kalam-Nya yang kadim dan azali tidak menyerupai makhluk dalam semua perkara. Zat-Nya tidak seperti zat makhluk, perbuatan-Nya tidak seperti makhluk.

Kalau sesiapa mengatakan ia mempunyai sifat makhluk atau menyerupai makhluk, maka ia terkeluar daripada iman. Sebab itu Imam Tahawi, Syafie, Abu Hanifah dan seterusnya menyebut Ia tidak bertempat, tidak tertakluk oleh masa, tidak berada dalam ruang.

Tidak boleh dikatakan Tuhan berada di atas, di bawah, di kanan, atau di kiri, di belakang atau di hadapan, sebab ia tidak berpihak.

Dalam Ahli Sunnah, ayat al-Quran dan hadis nabi yang menyebut sifat Allah seperti sifat makhluk, maka disuruh kita sama ada menerima seperti asalnya (tafwidh) menyerahkan erti hakikinya kepada Allah SWT, atau mentakwilkannya dengan sifat yang layak dengan-Nya.

Ini dilakukan umpamanya oleh penghulu orang Salaf al-Tabari.

Orang Wahabi menerimanya secara literal dan hakiki, kalau disebut Tuhan ada tangan, tanganlah, kalau kaki, kakilah, kalau jari maka jarilah. Ini membawa kepada menyerupakan Allah dengan makhluk.Nauzu billahi min zalik.

Seperkara lagi mereka membahagikan tauhid kepada tiga, tauhid Rububiah, tauhid Uluhiah, dan tauhid Asma Wassifat. Setiap satunya terasing daripada yang lain. Rububiah ertinya tauhid mengakui Tuhan Pencipta Alam, Esa, Berkuasa dan lainnya, tauhid Uluhiah ertinya menyembah-Nya dan taat kepada-Nya. Maka dengan skema ini, mereka boleh berkata Abu Jahal itu ahli tauhid dan ikhlas tauhidnya lebih daripada orang yang mengucap ‘Lailahailallah’.

Dengan skema ini juga mereka mengkafirkan orang yang berdoa meminta keberkatan di makam salihin dan anbia dan bertawassul dengan mereka. Ini pula satu tajuk yang tersendiri huraiannya.

Mengenai nabi, Ahli Sunnah mengajarkan, anbia ada sifat maksum (tidak berdosa), apa lagi Nabi Muhammad SAW dan mereka mempunyai sifat benar, amanah, menyampai kebenaran, dan bijaksana; mereka manusia yang makan dan minum serta berkahwin, tetapi mereka sempurna kerana itu diturunkan wahyu kepada mereka oleh Tuhan.

Ini diikuti dengan iman mengenai malaikat, akhirat (termasuk nikmat dan azab kubur), dan qada dan qadar yang menentukan segalanya ialah Allah, manusia diperintah berusaha dan berikhtiar dalam perkara yang baik dan mengelak daripada perkara yang jahat.

Ahli Sunnah mengajarkan kewajipan mengucap syahadah dengan yakin ertinya, menjalankan sembahyang lima waktu, melakukan puasa, menunaikan zakat dan menunaikan haji bagi mereka yang berkemampuan.

Ia mengajarkan kewajipan menunaikan nazar dan sumpah. Ia mengajarkan membaca al-Quran, lebih-lebih lagi dengan mengerti ertinya, melakukan zikir mengingati Allah dan berdoa kepada-Nya. Ia mengajarkan manusia bersangka baik terhadap Allah SWT dan jangan bersangka buruk terhadapnya.

Ahli Sunnah mengajarkan bahawa dosa besar ialah sihir, mencuri, berzina, berjudi, membuat sumpah palsu, memakan rasuah, memakan riba, yang terbesar ialah syirik yang berupa dosa yang tidak terampun, melainkan sebelum mati orang yang berkenaan bertaubat dan kembali kepada tauhid. Seseorang yang beriman tidak menjadi kafir dengan melakukan dosa bagaimana besar sekalipun, ia menjadi kafir hanya kerana kufur iktikad, kata-kata atau perbuatannya seperti ia menyembah berhala, kecuali ia dipaksa seperti diancam bunuh.

Orang Wahabi boleh menghukum orang kafir kerana dosa, bahkan kerana bertawassul di kubur nabi dan yang sepertinya.

Ahli Sunnah mengajarkan bahawa amalan orang hidup sampai kepada orang mati, baik dalam rupa bacaan seperti bacaan al-Quran, bertasbih, berdoa, bersedekah, dan amalan lain asalkan diniatkan untuk orang yang mati itu; kalau anak jika tidak diniatkan pun amalan itu sampai kepada kedua-dua ibu bapanya kerana ia lahir kerana mereka. Fahaman Wahabi mengatakan amalan orang hidup tidak sampai kepada orang mati.

Ahli Sunnah Wal-Jamaah mengajarkan Muslimin wajib taat kepada ulil-amri mereka, tidak boleh derhaka atau keluar menentang mereka, melainkan mereka itu kafir. Orang Wahabi tidak sedemikian sebab itu mereka menentang dan memberontak menentang Sultan Othmaniah dan wakilnya, tetapi mereka berbaik dengan British dan Perancis seperti yang jelas dalam sejarahnya. Ahli Sunnah mewajibkan memberi nasihat yang baik dan ikhlas kepada ulil-amri bukan memberontak. Tidak ada teori memberontak dalam Ahli Sunnah.

Dalam Ahli Sunnah, ulamanya mengajarkan bidaah ada yang baik dan ada yang buruk, tetapi Wahabi mengajarkan semua bidaah tidak dibolehkan; talkin, berwirid ramai-ramai selepas sembahyang, qunut subuh, tahlil arwah, majlis Maulud Nabi dan membaca Yassin pada malam Jumaat.

Banyak lagi perbezaan antara fahaman Wahabi dan Ahli Sunnah jika mahu diperkatakan. Hakikatnya kita melihat fahaman Wahabi berlainan daripada pegangan dan amalan Ahli Sunnah dan kita tidak boleh membiarkan orang Islam di negara ini terpengaruh dengannya kerana banyak implikasi negatifnya.

Berwaspadalah. Wallahualam.

28 May 2016 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Maulid Nabi

image

Memang Nabi SAW tidak pernah menyambut maulid Nabi meskipun sebenarnya Nabi sambut dengan berpuasa sunat pada setiap hari Isnin bersempena hari kelahirannya (tapi wahhabi tidak mahu terima).

Maka bila tidak ada dalil yg jelas drpd al-Quran, maka kita akan rujuk hadis. Bila tidak ada dalam hadis, maka kita akan rujuk kepada ijmak para ulama dan qias yg dibuat melalui perbandingan berhubung dengan nas.

Namun dl hal ini, Wahhabi tidak menerima pendapat para ulama mahupun qias padahal itu juga merupakan sumber dalil. Atas sebab itu, pemikiran mereka menjadi sempit dan jumud sehingga menyebabkan mereka tidak mahu berlapang dada dengan isu khilafiyyah antara para ulama…

Itulah gunanya para ulama pewaris tugas Nabi. Mereka menyelesaikan masalah umat pada setiap zaman dan bersepakat dengannya, malah melakukannya dengan sehikmah mungkin. Berbeza dengan golongan Wahhabiy yg hanya muncul pada kurun ke 11 dengan mengambil pandangan beberapa orang ulamak pada kurun ke 8 (Bahkan Ibn Taimiyyah pun tidak ada masalah dengan Maulid)… Akan tetapi, bila kita bertanya kepada golongan yg tidak berilmu, atau entah keluar daripada gua mana tapi bila bertanyakan fatwa kepada mereka, mereka akan mengatakan: “Ini sesat! Masuk neraka! Sesatlah para ulama yg membenarkan amalan maulid Nabi ini!”. Malah ada yg sanggup mengatakan perbuatan maulid ini merupakan satu ritual penyembahan kepada Nabi SAW. Nauzubillah!

Ikutlah pegangan majoriti para ulama dan umat Islam yang berpegang dengan ajaran ahlul sunnah waljamaah sebenar yang murni dan wasatiyyah.

Sumber: Gerakan Anti Wahabi Malaysia

26 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Mazhab pemecah belah Ummah?

SYEIKH

26 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Dalil mencium TANGAN dan KAKI

MENCIUM KAKI RASULULLAH :

1. Daripada Buraidah r.a.: “Sesungguhnya seorang lelaki telah datang kepada nabi s.a.w lantas mencium tangan dan kaki baginda s.a.w.” – Hadith dikeluarkan oleh imam al-Hakim di dalam kitab al-Mustadrak. Beliau mensahihkan hadith ini.

2. Daripada Safwan r.a (menceritakan) tentang kisah 2 orang Yahudi yang bertanya kepada nabi s.a.w berkenaan 9 ayat keterangan, maka baginda menjawabnya. Lantas kedua-dua orang Yahudi tersebut mencium TANGAN dan KAKI baginda nabi s.a.w. – Dikeluarkan oleh imam An-Nasa’i (no. 4078), ibn Majah (3705) dan Tirmizi, berkata Hadith Hasan Sahih (2733 & 3144) serta disahihkan juga oleh imam al-Hakim.

3. Dikeluarkan oleh imam Ibn Jarir dan ibn Abi Hatim daripada As-Saddi berkenaan firman Allah s.w.t :

يأيها الذين ءامنوا لا تسئلوا عن أشياء إن تبدلكم تسؤكم وإن تسئلوا عنها حين ينزل القران تبدلكم عفا الله عنها والله غفور حليم

Bermaksud: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu bertanyakan (kepada nabi s.a.w) perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kamu akan menyusahkan kamu,”

Al-Maidah :101.

Setelah (saidina Umar r.a mendengar) ayat ini, beliau bangun menuju kepada nabi s.a.w dan terus mencium KAKI baginda.

4. Dikeluarkan oleh imam al-Bukhari di dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad, imam Ahmad, Abu Daud, Ibn al-A’rabi di dalam juzunya serta imam al-Baghawi di dalam Mu’jamnya, bahawa sewaktu utusan Abd Qais tiba di Madinah, mereka mencium TANGAN dan KAKI baginda s.a.w.

Dalil ini telah dicantikkan lagi oleh ibn Abdul Bar, dibaikkan (disokong dalil lain) oleh al-Hafiz ibn Hajar dan dikeluarkan juga oleh imam Abu Ya’la, Tabarani serta al-Baihaqi dengan sanad yang bagus (Jayyid).

PARA SAHABAT MENCIUM KAKI ANTARA MEREKA

5. Sesungguhnya saidina Ali r.a mencium TANGAN dan KAKI saidina Abbas r.a.

– Hadith dikeluarkan oleh imam al-Bukhari di dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad dengan sanad yang sahih (no. hadith 976).
Dalil ini menunjukkan bahawa mencium TANGAN dan KAKI bukanlah KHUSUSIAT NABI s.a.w seorang (perkara-perkara khusus yang dilakukan oleh nabi s.a.w sahaja).

MENCIUM KAKI ULAMAK

6. Diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahawa Imam Muslim mencium tangan Imam Bukhari. Imam Muslim berkata, “Seandainya anda mengizinkan, pasti aku cium kaki anda.” Jelas, dalam riwayat ini, Imam Muslim mengetahui bahawa mencium tangan dan kaki seorang ulama adalah mustahab.

7. Dinukil oleh Syeikh al Ansari bahawa Imam Muslim bin al Hajjaj mencium antara dua mata Imam Bukhari. Beliau juga mencuba untuk mencium kakinya, bertujuan sebagai menghormati ilmu, kemuliaan dan kebaikan gurunya. (Imam Nawawi, dalam Tahzib al Asma [88/1])

8. Soalan:

Apakah hukum mencium tangan/kaki para ulama dan orang soleh? Adakah ia suatu bid’ah atau ia dianjurkan oleh syarak?

Jawapan Dr Malik Abd Rahman As Sa’adi (Bekas Mufti Iraq)

Mencium tangan ulama, orang-orang soleh dan pemimpin yang adil adalah sunat dan bukanlah suatu yang bid’ah selagi mana ia tidak menyebabkan mereka yang dicium tangan itu tertipu (ghurur). Sekiranya keadaan itu terjadi, dosa dibebankan kepada orang yang diciumkan tangannya dan bukannya kepada orang yang mencium, kerana yang mencium itu hanya bermaksud untuk memuliakan dan menghormatinya.

Dalil bagi masalah ini adalah seperti berikut :

1. Sebuah hadith yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Abu Daud dengan sanad yang hasan sahih daripada Safwan bin ‘Assal radiyaLLahu ‘anhu katanya : “Seorang Yahudi berkata kepada sahabatnya: “Mari kita pergi bertemu dengan nabi ini.” Lalu mereka berdua pergi menemui Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam dan bertanyakan kepadanya sembilan tanda yang nyata. Maka RasuluLlah pun menjawab : “Janganlah kamu mensyirikkan ALLah dengan sesuatu apapun, jangan kamu mencuri, jangan kamu berzina, jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan ALLah melainkan dengan haknya, jangan kamu berjalan dengan bebas kepada seorang yang mempunyai kekuasaan lalu dia membunuh kamu, jangan kamu mengamalkan sihir, jangan kamu memakan riba, jangan kamu menuduh melakukan zina kepada seorang wanita yang suci, jangan kamu berpaling tadah (berundur) dari medan peperangan, jangan kamu bekerja pada hari sabtu.”
Safwan berkata: “Lalu kedua Yahudi itu mencium tangan dan kaki baginda sallaLLahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Kami bersaksi bahawa engkau adalah seorang nabi.” Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah yang menghalang kamu daripada mengikutiku?” Salah seorangnya menjawab : “Sesungguhnya Nabi Daud ‘alaihissalam pernah berdoa kepada Tuhannya supaya sentiasa mengutuskan nabi di kalangan zuriatnya, dan kami takut sekiranya kami mengikutimu, kami akan dibunuh oleh orang-orang Yahudi.”

2. Hadith yang diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahawa Ummu Aban binti Wazei’ bin Zarei’ daripada datuknya Zarei’ radiyaLLahu ‘anhu dan beliau bersama-sama di dalam rombongan qabilah Abdul Qais katanya: “Tatkala kami tiba di Madinah, kami segera meninggalkan kenderaan-kenderaan kami, lalu kami mengucup tangan dan kaki RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam. Tetapi al Munzir al Arsyah menunggu sehingga tibanya Utbah, lalu beliau memakai kedua pakaiannya, kemudian pergi menemui Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam. Nabi bersabda kepadanya :

“Sesungguhnya pada kamu ada dua sifat yang dikasihi oleh ALLah iaitu : sabar dan lemah lembut.” Al Munzir bertanya : “Wahai RasuluLLah adakah aku yang berusaha untuk berakhlak dengan kedua-dua sifat itu atau ianya dikurniakan oleh ALlah? RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam menjawab : Ia dikurniakan oleh ALlah kepada kamu.” Lalu Munzir mengucap: “AlhamduliLlah yang telah mengurniakan kepadaku dua sifat yang dicintai ALlah dan rasul-Nya.”

Jika terdapat dakwaan mengatakan ia hanya dikhususkan kepada Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam. Maka kami akan menjawab begini : Dakwaan ini perlulah dikemukakan bersama dalil yang menyatakan mengucup tangan dan kaki hanya khusus untuk RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam tetapi tidak ada satupun dalil mengenai perkara tersebut.

Prinsip asalnya ialah setiap sesuatu yang diakui oleh RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam atau dilakukan dan diucapkan oleh baginda menjadi syariat untuk baginda dan umatnya selagimana tiada dalil yang menyatakan ia dikhususkan untuk RasuluLLah sallaLlahu ‘alaihi wasallam.

Manakala pendapat yang mengatakan sekiranya diharuskan mengucup tangan atau kaki, nescaya ia membawa kepada tunduk yang dilarang. Maka jawapannya begini : Bukan semestinya setiap bentuk tunduk itu ditegah syarak, tetapi yang ditegah ialah tunduk untuk tujuan mengagungkan dan rukuk. Bukankah apabila sesuatu barang kamu jatuh ke tanah, maka kamu menundukkan badan untuk mengambilnya? Jadi, begitulah juga menundukkan badan di sini adalah untuk mengucup tangan atau kaki, bukannya untuk menyembah atau mengagungkan.

Sumber : Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq.

Wallahua’lam bissowab.⁠⁠⁠

via: Ustaz Zamihan Al-Ghari

26 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Kenduri Arwah – bagi mereka yang buat2 tak faham

image

Kenduri Arwah – Lujnah Ulama Fathani

Dalam buku”Ulama Besar Dari Fathani” susunan Ustaz Ahmad Fathi al-Fathani yang diterbitkan oleh Universiti Kebangsaan Malaysia, disebut kisah seorang ulama Fathani Darussalam, Haji Abdullah Bendang Kebun yang menulis sebuah kitab berjodol “al-Kawaakibun-Nayyiraat fi Raddi Ahlil-Bida` wal ‘Aadaat” di mana beliau memfatwakan bahawa buat makan kematian atau kenduri arwah selepas kematian itu bid`ah makruhah dan boleh menjadi haram. Fatwanya ini lebih kurang sama dengan fatwa-fatwa tokoh-tokoh anti tahlil dan kenduri arwah zaman kita ini.

Fatwa ini telah membuat keluh-kesah dan perpecahan dalam masyarakat di wilayah-wilayah Fathani yang rata-rata mengamalkan tradisi bertahlil dan berkenduri arwah ini. Menyedari hakikat ini, maka Lujnah Ulama Fathani telah mengambil inisiatif untuk mengadakan mudzakarah dan mesyuarat berhubung isu ini yang dihadiri oleh 17 orang ulama ternama Fathani termasuklah Haji Abdullah Bendang Kebun tersebut.

Yang Dipertua Lujnah, Tuan Guru Haji Abdur Rahman mempengerusikan mesyuarat tersebut yang berjalan dengan lancar serta membuahkan keputusan dan natijah yang memuaskan. Setelah hujjah-hujjah pihak yang menentang dan menyokong dikemukakan, mesyuarat tersebut telah mencapai keputusan dan mengeluarkan satu resolusi pada 21 Januari 1974 yang antara lain menyebut:-

Ahli si mati membuat makanan kerana kematian untuk sedekah pahala kepada mayyit dengan ketiadaan menyeru (mengundang – p) oleh mereka, hukumnya sunnat dengan ittifaq Lujnah Ulama Fathani.
Ahli si mati membuat makanan dan memanggil mereka itu akan manusia pergi makan kerana qasad sedekah pahalanya, dan (meng) hadiah (kan) pahala jamuan itu kepada mayyit, maka hukumnya boleh (harus) kerana masuk dalam nas ith`aam yang disuruh dalam hadits Thaawus, kerana ith`aam itu melengkapi jamuan di rumah si mati atau di tempat lain.
Ahli si mati membuat makanan di rumahnya atau di rumah si mati pada hari mati atau pada hari yang lain kerana mengikut adat istiadat, tidak kerana qasad ibadah dan niat pahalanya kepada mayyit, maka hukumnya makruh dengan ittifaq ahli Lujnah Ulama Fathani.

Ahli si mati membuat makanan daripada tirkah yang bersabit dengan umpama hak anak yatim atau kerana dipaksa ahli si mati membuatnya dengan tidak sukarelanya dan ikhlas hatinya, maka hukumnya haram dengan ittifaq ahli Lujnah Ulama Fathani.

Menghukum sesuatu hendaklah dibuat secara teliti dan tafsil melihat rupa bentuk sesuatu, bukan menghukum secara membabi-buta dan main pukul rata haram dan bid`ah dhalalah sahaja. Lihat dahulu keadaannya, bagaimana hendak dihukumkan haram jika ahli mayyit yang telah aqil baligh dengan rela hati tanpa terpaksa dan tidak merasa susah untuk menjemput jiran-jiran dan kenalan untuk hadir ke rumah si mati untuk berdoa buat si mati dan kemudian dijemput makan yang semuanya diniatkan sebagai sedekah kepada si mati.

Yang ditentang oleh ulama kita ialah mereka yang menjalankannya sehingga menyusahkan diri dan keluarga si mati atau semata-mata menjalankan adat atau lebih jahat lagi dengan niat bermuka-muka atau riak. Ini yang difatwakan oleh Sayyidi Ahmad Zaini dalam “I`anathuth – Tholibin” yang sengaja dikelirukan oleh Ustaz Rasul yang dikasihi dengan sengaja meninggal menterjemahkan soalan yang dikemukakan kepada Sayyidi Ahmad dan jawapan beliau sepenuhnya. Menghukum haram secara total amatlah tidak wajar dan tindakan sembrono.

Akhirul kalam, satu soalan, adakah ulama-ulama Fathani yang membuat resolusi di atas tidak membaca kitab Tok Syaikh Daud dan Tuan Minal ? Siapa yang baca dan faham kehendak ibarat kitab-kitab tersebut ? Mereka atau yang dikasihi Ustaz Rasul kita ? Tepuklah dada masing-masing.

Allahumma hidayatan wa taufiqan ilal haqqi wash showab.

Sumber: Bahrussofa

25 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

TENTANG BUKU “HADIS PALSU & DHAIF POPULAR DALAM MASYARAKAT MELAYU”

image

1. Methodologi Dr. Rozaimi Ramle dalam bukunya ialah mengikuti pendapat minoriti ulama yang menolak hadith dhaif secara mutlak. Padahal yang demikian itu bercanggah dengan manhaj ulama Salaf dan majoriti ulama ahlussunnah wal jama’ah. Yang menghairankan beliau menyalahkan pendapat majoriti ulama walaupun tidak secara langsung.

2. Terdapat hadith yang sebenarnya tidak palsu disisi ulama hadith mu’tabar tetapi dihukum palsu oleh Dr. Rozaimi Ramle.

3. Berkaitan dengan hujjah hadith mursal, Dr. Rozaimi Ramle kurang amanah dengan sengaja tidak menyampaikan perbezaan pendapat antara ulama hadith dengan ulama ushul dan fuqaha. Sikap yang demikian boleh membentuk taksub dan fanatisme pembaca bukunya bahawa seakan-akan mereka patut menyalahkan ulama ushul dan fuqaha yang menerimanya sebagai hujjah.

4. Banyak hadith yang sebenarnya khilaf statusnya disisi ulama hadith, tetapi Dr. Rozaimi Ramle tidak menyampaikan khilaf tersebut dalam tulisannya. Dan perbuatan demikian itu kurang amanah ilmiyyah serta mengundang kekeliruan dalam hal tidak menepati penulisan ilmiyyah dalam dunia ilmu hadith dan yang lain.

5. Terdapat hadith yang dinilai hasan oleh hampir seluruh ulama hadith Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi Dr. Rozaimi Ramle menilainya berbeza, iaitu dhaif. Ini menunjukkan Dr. Rozaimi Ramle begitu berani dalam menilai status suatu hadith, walaupun seluruh ulama hadith menilai sebagai hadith hasan.

6. Dr. Rozaimi Ramle dilihat tidak mengikuti manhaj ulama ahli hadith dalam menilai hadith yang sanadnya terdapat perawi pendusta (kadzdzab). Seolah-olah disisi Dr. Rozaimi Ramle, jika dalam sanad tersebut ada perawi yang pendusta maka secara automatik hadith tersebut palsu. Ini bercanggah dengan kaedah ulama hadith dimana kepalsuan suatu hadith bukan semata-mata mutlak kerana seorang perawi yang pendusta.

7. Dr. Rozaimi Ramle terlalu berani membahaskan perkara yang bukan dalam dibidangnya, iaitu ilmu illat hadith (kecacatan hadith yang tersembunyi), malah ia bercanggah dengan kenyataan ulama-ulama yang menguasai ilmu illat. Ilmu illat tidak dikuasi oleh semua ulama ahli hadith, tetapi hanya beberapa ulama sahaja yang menguasi ilmu ini dan kriteria menjadi ulama dalam bidang ilmu ini sangat ketat.

8. Terjemahan Dr. Rozaimi Ramle terhadap ucapan ulama kadangkala tidak benar bahkan cenderung tahrif, sehingga boleh mengubah erti atau maksud yang sebenarnya. Malangnya terjemahan tersebut menentukan hukum yang beliau berikan terhadap suatu hadith.

9. Dari gaya analisis sanad yang dilakukan oleh Dr. Rozaimi Ramle dapat dilihat bahawa Dr. Rozaimi Ramle terlalu bergantung dan terkesan mengikuti analisis dalam forum atau laman web Salafi Wahabi, seperti ahlalhadeeth dan IslamWeb yang dimasukkan dalam buku beliau ini.

10. Kadangkala Dr. Rozaimi Ramle membuat kesimpulan sendiri yang padahal ulama hadith tidak menyimpulkan sama dengan beliau. Walhal perbuatan demikian itu hanya boleh bagi pakar hadith yang benar-benar berpengalaman dan diiktiraf.

11. Dr. Rozaimi Ramle terlalu berani menyalahkan erti suatu hadith yang padahal ulama yang jauh lebih pakar dibidang hadith, lughat, fikah dan lain-lain menerima dan tidak menyalahkannya.

12. Tajuk buku tersebut tidak sepatutnya meletakkan perkataan “popular” kerana kebanyakan hadith dalam buku tersebut sememangnya tidak popular dikalangan masyarakat Melayu. Bahkan ada hadith yang sebenarnya tersebar di website atau blog milik orang Indonesia. Kebanyakan hadith dalam buku tersebut tidak tersebar luas dalam television, radio, atau Media Arus Perdana. Sewajarnya perkataan “popular” ditukar dengan perkataan “tersebar”. Inilah amanah ilmiyyah!

Sumber: Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group – Johor

24 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Hari ramai orang jahil berlagak alim

image

21 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

NISFU SYA’ABAN

Oleh:Ustaz Ahmad Lutfi Al-Linggi

image

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَتَدْرُونَ لِمَ سُمِّيَ شَعْبَانَ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمْ. قَالَ: ِلأَنَّهُ يَتَشَعَّبُ فِيهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ.

Yang bermaksud, Tahukah kamu kenapa bulan ini dinamakan Sya’aban? Para sahabat menjawab: Allah dan RasulNya mengetahui. Baginda ﷺ bersabda: Ianya dinamakan demikian kerana bercabang-cabang dan banyak kebaikan padanya.

Firman Allah:

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ.

Yang bermaksud, Pada malam yang berkat itu, dijelaskan (kepada malaikat) tiap-tiap perkara yang mengandungi hikmat serta tetap berlaku, (tidak berubah atau bertukar). Al-Dukhaan: 4

‘Ikrimah dan sebahagian ulama’ tafsir menjelaskan bahawa perkataan malam pada ayat ini bermaksud malam Nisfu Sya’aban.

Di sini dinyatakan kelebihan malam Nisfu Sya’aban sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ: أَلاَ مُسْـتَغْفِر فَأَغْفِر لَهُ، أَلاَ مَسْتَرْزق فَأَرْزُقهُ، أَلاَ مُبْتَلى فَأُعَافِيه، أَلاَ كَذَا، أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطلعُ الفَجْر.

Yang bermaksud, Rasulullah ﷺ telah bersabda: Apabila tiba malam Nisfu Sya’aban maka kamu hidupkanlah malamnya dan kamu berpuasa di siang harinya, sesungguhnya Allah turun (hampir) padanya dari terbenam matahari ke langit dunia dan berfirman: Sekiranya terdapat orang yang memohon keampunan maka Aku ampunkannya, sekiranya terdapat orang yang meminta rezeki maka Aku beri rezeki kepadanya, sekiranya terdapat orang yang ditimpa bala maka Aku sejahterakannya, sekiranya begitu… sekiranya begini… sehinggalah terbitnya fajar. (Riwayat Ibnu Majah)

Sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا لَيْلَةَ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لأَكْثَرَ مِنْ شَعْرِ غَنَمِ بَنِى كَلْبٍ.

Yang bermaksud, Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’aban maka diberikannya keampunan terlebih banyak daripada bulu kambing Bani Kalb. (Riwayat daripada Imam Ahmad, al-Tirmizi dan Ibnu Majah)

Terdapat pula dalam hadith yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah ﷺ
telah bersabda:

أَتَانِى جِبْرِيلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَقَالَ يَا مُحَمَّدٌ هَذِهِ لَيْلَةُ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَأَبْوَابُ الرَّحْمَةِ، فَقُمْ وَصَلِّ وَارْفَعْ رَأْسَكَ وَيَدَيْكَ إِلَى السَّمَاءِ. فَقُلْتُ يَا جِبْرِيلُ مَا هَذِهِ اللَّيْلَةُ؟ فَقَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ تُفْتَحُ فِيهَا ثَلاَثُمائَةِ بَابٍ مِنَ الرَّحْمَةِ، فَيَغْفِرُ اللهُ تَعَالَى لِجَمِيعِ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ مَنْ كَانَ سَاحِرًا أَوْ كَاهِنًا أَوْ مُشَاحِنًا أَوْ مُدْمِنَ خَمْرٍ أَوْ مُضِرًّا عَلَى الزِّنَا أَوْ آكِلَ الرِّبَا أَوْ عَاقَ الوَالِدَيْنِ أَوِ النَّمَّامِ أَوْ قَاطِعَ الرَّحِمِ، فَإِنَّ هَؤُلاَءِ لاَ يُغْفِرُ لَهُمْ حَتَّى يَتُوبُوا وَيَتْرُكُوا. فَخَرَجَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ فَصَلَّى وَبَكَى فِى سُجُودِهِ وَهُوَ يَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُبِكَ مِنْ عِقَابِكَ وَسَخَطِكَ وَلاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ الحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى.

Yang bermaksud, Jibril a.s pernah datang kepadaku pada malam Nisfu Sya’aban seraya berkata: Wahai Muhammad, inilah malam yang dibuka padanya pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat. Maka bangunlah kamu, bersolatlah dan angkatlah kepala dan kedua tanganmu ke langit. Maka aku bertanya: Wahai Jibril malam apakah ini? Maka jawabnya: Inilah malam yang dibuka padanya tiga ratus pintu rahmat, Allah mengurniakan keampunan bagi mereka yang tidak menyenyutukan sesuatu dengan Allah dan rahmat ini tidak diberikan kepada tukang sihir, tukang tenung nasib, orang yang bermarah-marahan, orang yang kekal meminum arak, orang yang berzina, orang yang makan lriba, orang yang derhaka kepada ibu bapanya, tukang mengadu domba dan orang yang memutuskan silaturrahim. Maka sesungguhnya mereka itu tidak diampunkan sehingga mereka bertaubat dan meninggalkan perbuatan tersebut. Lalu Nabi ﷺ pun keluar dan bersolat sambil menangis dalam sujudnya dan diucapkannya: Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau daripada seksaan dan kemurkaanMu. Dan tidaklah aku dapat menghitung segala pujian kepadaMu, Engkau sebagaimana Engkau memuji diriMu sendiri maka bagiMu segala pujian sehingga Engkau redha.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسٌ لَيَالٍ لاَ تُرَدُّ فِيهِنَّ الدَّعْوَةُ: أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَةُ الجُمُعَةِ، وَلَيْلَةُ الفِطْرِ، وَلَيْلَةُ النَحْرِ. ابن عساكر عن أبي أمامة رضي الله عنه.

Yang bermaksud, Sabda Nabi ﷺ: Lima malam yang dimustajabkan doa ialah malam awal Rejab, malam Nisfu Sya’aban malam Jumaat, malam hari raya Fitri dan malam hari raya Qurban[1].

Imam Syafi‘e berkata: Lima malam yang dimustajabkan doa ialah malam Jumaat, malam 2 hari raya, malam awal Rejab dan malam Nisfu Sya’aban.

Daripada Saidina Umar Abdul Aziz r.a, beliau menulis kepada pegawainya di Basrah:

“Bagi kamu empat malam yang istimewa dalam setahun. Pada malam tersebut Allah mengagihkan kerahmatanNya sepenuhnya. Malam-malam itu ialah malam awal Rejab, malam Nisfu Sya’aban, malam Idul Fitri dan malam Idul Adha”.

Apabila tiba bulan Rejab, Rasulullah ﷺ berdoa dengan doa ini,

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَب وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Justeru, pada Nisfu Sya’aban kita digalakkan untuk berpuasa di siangnya serta menghidupkan malamnya dengan memperbanyakkan ibadah seperti membaca al-Quran, beristighfar dan melakukan solat sunat. Kemudian mohonlah doa supaya diampunkan segala dosa, ditutup sebarang keaiban, dimurahkan rezeki dan dimudahkan segala kesusahan.

Rujukan:

Al-Quran Pimpinan al-Rahman.

Al-Nafahat al-Nuraniyyah, Syeikh Yusof Khattar.

Lato’if al Ma’arif, Ibnu Rejab al-Hanbali.

21 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Orang Yang Tidak Berselawat Atas Nabi ﷺ Dianggap Kasar

Abdur Razzaq di dalam kitab Musannifnya daripada Muammar, daripada Qatadah, telah berkata bahawa Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنَ الْجَفَاءِ أَنْ أُذْكَرَ عِنْدَ رَجُلٍ فَلاَ يُصَلِّي عَلَيَّ.

Maksudnya:
“Termasuk perilaku kasar apabila namaku disebut di sisi seorang lelaki, namun ia tidak berselawat atasku.”

Al-Hafiz as-Sakhawi berkata bahawa sabda Nabi ﷺ: “Minal jafa`” bermaksud meninggalkan kebaikan dan hubungan baik. Dengan kata lain, ia menunujukkan tabiat yang kasar. Sifat seperti ini jauh daripada Nabi ﷺ.

Ancaman dan pengingkaran yang tegas terhadap orang yang tidak berselawat atas Nabi ﷺ ketika nama Baginda ﷺ disebut merupakan dalil yang sangat jelas bagi wajibnya selawat atas Nabi ﷺ. Malah, ada perintah yang jelas mengenainya dan perintah itu membawa maksud wajib selagi tidak ada yang memalingkan maknanya.

At-Tirmidzi telah meriwayatkan daripada Anas r.a. bahawa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلْيُصَلِّ عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا.

Maksudnya:
“Sesiapa yang disebut namaku di sisinya, hendaklah berselawat atasku. Sesungguhnya sesiapa yang berselawat atasku satu kali, Allah akan berselawat atasnya sepuluh kali.”

Ia diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan Ibnu Sinni juga. Al-Hafiz as-Suyuthi mengisyaratkan bahawa ia sahih. Dalam kitab al-Adzkar, Imam an-Nawawi berkata: Sanadnya baik. Al-Haithami berkata: Para perawinya thiqah.

Para ulama’ telah mengambil hadis-hadis di atas dan yang seumpamanya sebagai dalil wajib berselawat atas Nabi ﷺ ketika nama Baginda ﷺ disebut. Yang demikian itu, dapat dilihat daripada beberapa sisi:

Sisi pertama: Sesungguhnya Nabi ﷺ mengaminkan doa Jibril a.s. yang mendoakan kehinaan bagi orang yang tidak berselawat atas Baginda ﷺ iaitu hidungnya melekat ke tanah sebagai bentuk kehinaan. Hal ini disebabkan ia tidak mengagungkan Rasulullah ﷺ iaitu dengan berselawat atas Baginda ﷺ ketika nama Baginda ﷺ disebut. Ini adalah bukti bahawa wajib berselawat atas Nabi ﷺ apabila namanya disebut. Apabila seseorang meninggalkan sesuatu yang hukumnya hanya mustahab (sunnah), tentu ia tidak patut didoakan dengan kehinaan dan kerendahan.

Sisi kedua: Dalam riwayat Ibnu Hibban dalam kitab Sahihnya daripada Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Nabi ﷺ naik ke atas mimbar lalu mengucapkan “Amin” tiga kali. Lalu Baginda ﷺ bersabda:

مَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللهُ، قُلْ: آمِيْن، فَقُلْتُ: آمِيْن .

Maksudnya:
“Sesiapa yang disebut namamu di sisinya namun ia tidak berselawat atasmu, maka ia masuk neraka dan Allah menjauhkannya, katakan amin! Maka aku mengucapkan:
Amin.”

Seperti yang telah disebutkan di atas, terdapat dalil wajibnya berselawat atas Nabi ﷺ apabila nama Baginda ﷺ disebut. Mereka yang meninggalkan selawat atas Baginda ﷺ layak masuk ke neraka dan dijauhkan daripada rahmat Allah.

Sisi ketiga: Terdapat banyak hadis yang menerangkan bahawa orang yang tidak berselawat atas Nabi ﷺ ketika disebutkan namanya merupakan orang yang bakhil, bahkan dipandang sebagai manusia yang paling bakhil, seperti disebutkan di atas. Bahkan, cukup dengan tindakan sedemikian, ia dicap sebagai orang bakhil. Tidak ada yang lebih bakhil dan lebih kedekut daripadanya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dengan sanadnya daripada al-Hasan r.a..

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَفَى بِهِ شُحًّا أَنْ أُذْكَرَ عِنْدَهُ فَلاَ يُصَلِّي عَلَيَّ

Maksudnya:
“Cukuplah dengannya disebut sebagai kedekut apabila aku disebutkan di sisinya lalu ia tidak berselawat atasku.”

Qasim bin Ashbaq meriwayatkan dengan sanad yang bersambung kepada al-Hasan juga. Katanya bahawa Rasulullah ﷺ bersabda:

بِحَسْبِ الْمُؤْمِنِ مِنَ الْبُخْلِ أَنْ أُذْكَرَ عِنْدَهُ فَلاَ يُصَلِّي عَلَيَّ
Maksudnya:
“Cukuplah seorang Mukmin disebut bakhil apabila aku disebutkan di sisinya lalu ia tidak berselawat atasku.”

Orang yang meninggalkan selawat atas Nabi ﷺ disifatkan sebagai bakhil kerana ia merupakan dalil wajibnya selawat atas Nabi ﷺ. Ini adalah kerana sifat bakhil adalah sifat yang sangat tercela. Ia juga adalah di antara penyakit jiwa yang besar, seperti yang disabdakan oleh Nabi ﷺ:

وَأَيُّ دَاءٍ أَدْوَأُ مِنَ الْبُخْلِ.
Maksudnya:
“Apakah penyakit yang lebih berat daripada penyakit bakhil?.”

Allah SWT telah mengaitkan penyebutan sifat bakhil dengan sifat takbur (sombong). Allah SWT berfirman:

Maksudnya:
“Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Iaitu) orang-orang yang bakhil dan menyuruh orang lain berbuat bakhil…
(Surah an-Nisa`, 4:36-37).

Di samping itu, sifat bakhil menahan hak orang lain yang diwajibkan atasnya. Sesungguhnya orang yang menunaikan apa-apa yang diwajibkan atasnya dengan sempurna, tidak disebut bakhil. Maka bagaimana pandangan anda tentang orang yang tidak menunaikan hak manusia yang baginya hak terbesar dan teragung daripada seluruh hak makhluk?

Ketahuilah bahawa Sayyiduna Muhammad ﷺ menjadi sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Baginda ﷺ datang sebagai petunjuk bagi seluruh alam dan rahmat bagi orang-orang beriman, penyelamat manusia daripada kejahatan dunia serta keburukan dan mudaratnya. Malah, penjaga daripada perkara-perkara yang dibenci dan menakutkan di akhirat serta azabnya, serta penyelamat umat manusia daripada kebodohan, kegelapan, kezaliman, dan kederhakaannya.

Bukankah rasul yang agung ini, yang baik, mulia dan penyayang, layak untuk diagungkan dan dipuji? Bahkan dikeluarkan seluruh kemampuan untuk mensyukuri dan memujinya apabila nama Baginda ﷺ disebut. Maka jangan sampai kurang daripada berselawat atas Baginda ﷺ setiap kali namanya disebut dan sifatnya disebarkan.

Sumber: FB Ustaz Ahmad Lutfi bin Abdul Wahab Al-Linggi
Rabu 11 Mei 2016
4 Sya’aban 1437H
9.48 mlm
Kota Damansara

20 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah | Leave a comment

“Rejab adalah bulan Allah, Syaa’ban adalah bulanku dan Ramadan adalah bulan umatKu”?

Di manakah sumber hadith “Rejab adalah bulan Allah, Syaa’ban adalah bulanku dan Ramadan adalah bulan umatKu”?

Oleh Ustaz Khafidz Soroni (Jabatan Hadith KUIS)

Ia direkodkan oleh ad Dailami dalam kitab Musnad al Firdaus daripada Anas r.a. Ia juga diriwayatkan sebahagian daripada sebuah hadith panjang berkenaan solat ragha’ib yang disepakati sebagai palsu oleh ramai pengkritik hadith seperti Ibnul Jawzi dalam al Madu’at, al Hafiz az-Zahabi, al Hafiz Ibn Hajar dalam Tabyin al-’Ajab bima Warad fi Syahr Rajab, al-Iraqi dalam Takhrij Ihya’ Ulumiddin, asy-Syawkani dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah, Abdul Hayy al-Laknawi dalam al-Atsar al-Marfu’ah dan lain-lain.

Ibn ‘Asakir dalam Mu’jamnya (no.210 menyebut, “Hadith ini sangat gharib dan pada sanadnya terdapat lebih daripada seorang perawi yang tidak dikenali.”

Rangkap tersebut juga ada diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri r.a dalam sebuah hadith panjang dengan sanad yang amat diragukan menurut al-Hafiz Ibn Hajar dalam Tabyin al-’Ajab bi-ma Warad fi Syahr Rajab.

Manakala Abu al-Fath Ibn Abi al-Fawaris dalam kitab Amali meriwayatkannya daripada al-Hasan al-Bashri secara mursal.

Kata al-Allamah Abd al-Ra’uf al-Munawi dalam Faydh al-Qadir, “Menurut al-Hafiz al-Zayn al-’Iraqi dalam Syarah at-Tirmizi, hadith yang sangat dhaif. Ia daripada hadith-hadith mursal al-Hasan al-Bashri, kami telah meriwayatkannya dalam kitab at-Taghrib wa at-Tarhib oleh al-Asfahani. Dan hadith-hadith mursal al-Hasan al-Bashri tiada erti apa-apa di sisi ahli hadith, dan tiada satu hadith pun yang sahih tentang kelebihan bulan Rejab.”

– Rumusan hukum para ulama terhadap rangkap hadith ini :

Sebahagian ulama mengatakannya sebagai batil atau terlalu dhaif seperti al-Hafiz Ibn Hajar, al-Hafiz al-’Iraqi dan lain-lain. Sebahagian ulama pula mengatakannya dhaif sahaja seperti al-Hafiz as-Suyuti dalam Jami’ as-Sahir (no.4411), Syeikh Muhammad Darwisy al-Hut dalam Asna al-Matalib (no.702) dan lain-lain. Al-Hafiz as-Sakhawi dalam al-Maqasid al-Hasanah tidak memberi komentar jelas mengenai darjat hadith ini, seolah-olah ia hanya hadith dhaif. Demikian juga al-’Ajluni dalam Kasyf al-Khafa’.

Apa yang lebih menambah kelemahannya, Rejab sebagai bulan Allah itu bercanggah dengan sebuah hadith sahih riwayat Imam Muslim, Abu Daud, at-Tirmizi, an-Nasa’i, Ahmad dan lain-lain menyatakan bahawa bulan Allah adalah bulan Muharram, bukan Rejab. Daripada Abu Hurairah r.a : “Sebaik-baik puasa selepas Ramadan ialah bulan Allah Muharram….”

Saya berpendapat, kerana rangkap hadith itu tidak menyabitkan sebarang hukum atau akidah, maka tidaklaha terlalu berat mereka yang masih memakainya dalam fadha’il amal dengan peringatan agar tidak menyandarkannya secara yakin kepada Rasulullah s.a.w.

Maksud utamanya adalah sebagai galakan agar kita memperbanyakkan amalan dalam bulan-bulan tersebut bagi memperolehi keberkatannya. Gandingan tiga bulan ini juga terdapat dalam beberapa hadith yang lain. Antaranya, diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Musnadnya (no.6494), al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (no.3534), ath-Thabarani dalam al-Awsat (no.3939), Ibn Majah, ‘Abdullah bin Ahmad, Ibn ‘Asakir, Ibn an-Najjar daripada Anas r.a katanya, “Bahawa Rasulullah s.a.w apabila masuk bulan Rejab, Baginda akan berdoa :

اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّّغْنَا رَمَضَانَ
(Ya Allah, berkatilah kami pada bulan Rejab dan Syaaban, serta sampaikanlah kami bulan Ramadan.”

Terdapat pada sanadnya perawi yang dikatakan oleh ramai pengkritik hadith sebagai lemah bernama Za’idah namun sebilangan pengkritik hadith lain masih menerima riwayat beliau seperti ak-Qawariri dan al-Bazzar.

– Benarkah tiada pun dalil yang tsabit tentang amalan bulan Rejab?

Terdapat banyak hadith berkaitan Syaaban dan Ramadan, tetapi amat sedikit hadith yang tsabit mengenai bulan Rejab. Oleh kerana ia termasuk ‘bulan-bulan haram’, maka kelebihannya adalah bersekali dengan bulan-bulan tersebut. Firman Allah Taala, “Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa Dia menciptakan langit dan bumi, antaranya empat bulan yang haram (dihormati). (At Taubah 9 : 36)

Empat ‘bulan yang haram’ atau juga disebut bulan-bulan haram adalah Rejab, Zulkaedah, Zulhijjah dan Muharram. Maka, jelas bahawa bulan Rejab adalah termasuk salah satu daripadanya. Masyarakat Arab dahulu membesarkan bulan-bulan tersebut dan mereka dilarang berperang pada tempoh itu. Selepas kedatangan Islam, amalan ini diteruskan dan dihormati sebagaimana firman Allah di atas.

Malah hadith riwayat Mujibah al-Bahiliyyah r.a di sisi Abu Daud, Ibnu Majah dan lain-lain dengan darjat hasan menunjukkan bahawa sunat berpuasa dalam bulan-bulan haram. Nabi s.a.w bersabda, “Berpuasalah di bulan-bulan haram, dan tinggalkanlah.” Baginda mengulanginya tiga kali sambil mengisyaratkan dengan tiga batang jarinya lalu menggenggamnya kemudian melepaskannya. Maksudnya adalah berpuasa tiga hari dan tidak berpuasa tiga hari secara berselang-seli. Wallahu a’lam.

(dipetik dari Majalah Q&A)

20 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Kedudukan Hadith Malaikat Maut Melawat Wajah Manusia 70 Kali Sehari

image

Bicara Hadith Bersama Ustaz Mohd Khafidz SoronI

Soalan:

Ustaz Hafidz. Saya nak tanya, betulkah ada riwayat mengenai malaikat maut yang melawat/memerhati wajah manusia 70 kali sehari? Betulkah ada disebut didalam Jamu al-Jawami’ tetapi tidak dapat diketahui status riwayat ini, sebaliknya adakah ia boleh diceritakan? Syukran Ustaz.

Jawapan:

Ada diriwayatkan oleh Anas RA bahawa Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya: “Bahawa malaikat maut memerhati wajah setiap manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika ia datang merenung wajah seseorang, didapati orang itu ada yang sedang gelak ketawa. Maka ia berkata: Alangkah hairannya aku melihat orang ini, sedangkan aku diutus oleh Allah Taala untuk mencabut nyawanya, tetapi dia masih berseronok-seronok bergelak ketawa.”

Imam as Suyuti mencatatkan hadis ini di dlm kitab Jam‘u al-Jawami’, al Haba’ik & Syarh as Sudur. Menurutnya, hadis ini diriwayatkan oleh Abu al-Fadhl at-Tusi dlm Kitab ‘Uyun al-Akhbar dan Ibn an-Najjar dlm Tarikh Baghdad drp jalan riwayat Ibrahim bin Hudbah. Ia turut direkodkan oleh ad-Daylami dlm kitab al-Firdaws.. Imam al-Qurtubi juga merekodkannya dlm kitab at-Tazkirahnya tanpa sebarang komentar apa-apa.

Ibnu `Arraq al-Kinani dalam Tanzih Asy-Syari`ah (2/375) dan Muhammad bin Tahir Al-Futtani dalam Tazkirah al-Mawdhu`at (1/214) telah menyenaraikan hadis ini sebagai hadis palsu. Ini kerana perihal perawinya, Ibrahim bin Hudbah.

Berdasarkan kalam ulama ahlul jarh wat taadil terhadap perawinya, Abu Hudbah Ibrahim bin Hudbah, hadis ini sama ada sangat daif (daif jiddan) @ palsu (maudhu’) sbb kalam mereka terhadapnya sukar utk diihtimalkan (ada kemungkinan) tidak palsu.

Antara kata al Hafiz Ibn Hajar dlm Lisan Al Mizan mengenai Abu Hudbah Ibrahim bin Hudbah: “Beliau meriwayatkan di Baghdad dan lain-lain hadis2 yang batil. Kata ‘Abbas daripada Ibn Ma‘in katanya:
Abu Hudbah pernah datang, lalu orang2 berkumpul kepadanya dan berkata: “Keluarkan kakimu”, kerana mereka takut kakinya adalah kaki keldai atau syaitan. Kata an-Nasa’i dan lain-lain: Matruk. Kata al-Khatib: Beliau memberitakan daripada Anas RA hadis2 batil. Kata Abu Hatim dan lain2: Pendusta. Kata Ibn Hibban: Dajjal daripada para dajjal.”

al Hafiz Ibn Hajar juga menolak kononnya Ibn Ma‘in mengatakannya: “Thiqah”, kerana telah sabit Ibn Ma‘in mengatakannya sebagai: “Pendusta yang keji”. Kebanyakan ahlul jarh wat taadil memberikan jarh syadid (komentar yang berat/keras) terhadap Ibrahim bin Hudbah. Jarh syadid d atas tidak dapat diihtimalkan kcualilah jika ada jalur riwayat lain yg mnyokong..

Sedangkan riwayat-riwayat yg menyebut malaikat maut mnjenguk 3 atau 5 kali sehari adalah lbh dpt diihtimalkan (ada kemungkinan) tidak palsu… Riwayat2 tsb boleh dirujuk dlm kitab2 Imam as Suyuti, iaitu Al Haba’ik & Syarh As Sudur. Pd pendapat saya, ia lbh wajar utk menggantikan riwayat yang menyebut 70 kali sehari.

والله أعلم

19 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Renungan & Teladan | Leave a comment

Kenduri Arwah – Lujnah Ulama Fathani

Dalam buku”Ulama Besar Dari Fathani” susunan Ustaz Ahmad Fathi al-Fathani yang diterbitkan oleh Universiti Kebangsaan Malaysia, disebut kisah seorang ulama Fathani Darussalam, Haji Abdullah Bendang Kebun yang menulis sebuah kitab berjodol “al-Kawaakibun-Nayyiraat fi Raddi Ahlil-Bida` wal ‘Aadaat” di mana beliau memfatwakan bahawa buat makan kematian atau kenduri arwah selepas kematian itu bid`ah makruhah dan boleh menjadi haram. Fatwanya ini lebih kurang sama dengan fatwa-fatwa tokoh-tokoh anti tahlil dan kenduri arwah zaman kita ini.

Fatwa ini telah membuat keluh-kesah dan perpecahan dalam masyarakat di wilayah-wilayah Fathani yang rata-rata mengamalkan tradisi bertahlil dan berkenduri arwah ini. Menyedari hakikat ini, maka Lujnah Ulama Fathani telah mengambil inisiatif untuk mengadakan mudzakarah dan mesyuarat berhubung isu ini yang dihadiri oleh 17 orang ulama ternama Fathani termasuklah Haji Abdullah Bendang Kebun tersebut.

Yang Dipertua Lujnah, Tuan Guru Haji Abdur Rahman mempengerusikan mesyuarat tersebut yang berjalan dengan lancar serta membuahkan keputusan dan natijah yang memuaskan. Setelah hujjah-hujjah pihak yang menentang dan menyokong dikemukakan, mesyuarat tersebut telah mencapai keputusan dan mengeluarkan satu resolusi pada 21 Januari 1974 yang antara lain menyebut:-

Ahli si mati membuat makanan kerana kematian untuk sedekah pahala kepada mayyit dengan ketiadaan menyeru (mengundang – p) oleh mereka, hukumnya sunnat dengan ittifaq Lujnah Ulama Fathani.
Ahli si mati membuat makanan dan memanggil mereka itu akan manusia pergi makan kerana qasad sedekah pahalanya, dan (meng) hadiah (kan) pahala jamuan itu kepada mayyit, maka hukumnya boleh (harus) kerana masuk dalam nas ith`aam yang disuruh dalam hadits Thaawus, kerana ith`aam itu melengkapi jamuan di rumah si mati atau di tempat lain.
Ahli si mati membuat makanan di rumahnya atau di rumah si mati pada hari mati atau pada hari yang lain kerana mengikut adat istiadat, tidak kerana qasad ibadah dan niat pahalanya kepada mayyit, maka hukumnya makruh dengan ittifaq ahli Lujnah Ulama Fathani.

Ahli si mati membuat makanan daripada tirkah yang bersabit dengan umpama hak anak yatim atau kerana dipaksa ahli si mati membuatnya dengan tidak sukarelanya dan ikhlas hatinya, maka hukumnya haram dengan ittifaq ahli Lujnah Ulama Fathani.

Menghukum sesuatu hendaklah dibuat secara teliti dan tafsil melihat rupa bentuk sesuatu, bukan menghukum secara membabi-buta dan main pukul rata haram dan bid`ah dhalalah sahaja. Lihat dahulu keadaannya, bagaimana hendak dihukumkan haram jika ahli mayyit yang telah aqil baligh dengan rela hati tanpa terpaksa dan tidak merasa susah untuk menjemput jiran-jiran dan kenalan untuk hadir ke rumah si mati untuk berdoa buat si mati dan kemudian dijemput makan yang semuanya diniatkan sebagai sedekah kepada si mati.

Yang ditentang oleh ulama kita ialah mereka yang menjalankannya sehingga menyusahkan diri dan keluarga si mati atau semata-mata menjalankan adat atau lebih jahat lagi dengan niat bermuka-muka atau riak. Ini yang difatwakan oleh Sayyidi Ahmad Zaini dalam “I`anathuth – Tholibin” yang sengaja dikelirukan oleh Ustaz Rasul yang dikasihi dengan sengaja meninggal menterjemahkan soalan yang dikemukakan kepada Sayyidi Ahmad dan jawapan beliau sepenuhnya. Menghukum haram secara total amatlah tidak wajar dan tindakan sembrono.

Akhirul kalam, satu soalan, adakah ulama-ulama Fathani yang membuat resolusi di atas tidak membaca kitab Tok Syaikh Daud dan Tuan Minal ? Siapa yang baca dan faham kehendak ibarat kitab-kitab tersebut ? Mereka atau yang dikasihi Ustaz Rasul kita ? Tepuklah dada masing-masing.

Allahumma hidayatan wa taufiqan ilal haqqi wash showab.

Sumber: Bahrussofa

19 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Nisfu Sya’ban – Hukum Solat Dan Doa Pada Malamnya

Petikan Fatwa Fadhilah Mufti Mesir Prof. Dr Ali Jum’ah.

Terjemahan : Ibnu Juhan Al-Tantawi

Soalan :
Apa hukum melakukan solat dan doa pada malam nisfu Sya’ban seterusnya berpuasa pada siang harinya?

Jawapan :
Malam nisfu Sya’ban merupakan malam yang barakah. Terdapat sebilangan besar dalil yang menyebut tentang kelebihan malam nisfu Sya’ban daripada hadis-hadis (nabi S.A.W) yang saling menguatkan antara satu sama lain serta mengangkat (hadis-hadis tersebut) ke darjat Hadis Hasan dan Kuat (dari segi hukumnya).

Maka mengambil berat terhadap malam nisfu Sya’ban serta menghidupkan malamnya adalah sebahagian daripada agama yang tiada keraguan padanya. Adapun keraguan yang timbul adalah disebabkan pandangan terhadap hadis-hadis yang barangkali hukumnya Dhaif yang menceritakan tentang kelebihan malam tersebut.

Antara hadis-hadis yang menceritakan tentang kelebihannya :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْها قَالَتْ : “فَقَدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجْتُ أَطْلُبُهُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ :يَا عَائِشَةُ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ :قَدْ قُلْتُ وَمَا بِي ذَلِكَ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ” – رواه الترميذي وابن ماجه وأحمد .

Hadis daripada Ummul Mukminin Sayidatina ‘Aisyah R.A telah berkata : “Aku telah kehilangan nabi S.A.W pada suatu malam, maka aku telah keluar untuk mendapatinya maka baginda berada (sedang berdiri di kawasan perkuburan) Baqi’ sambil mendongakkan kepalanya ke langit.lalu baginda berkata : Wahai ‘Aisyah, adakah kamu takut Allah dan Rasulnya melakukan kezaliman ke atas kamu? Berkata ‘Aisyah : Bukan demikian sangkaanku tetapi aku menjangkakan kamu telah pergi kepada sebahagian daripada isteri-isteri kamu (atas perkara-perkara yang mustahak lalu aku ingin mendapat kepastian). Lalu baginda bersabda : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah turunkan (malaikatNya dengan perintahNya) pada malam nisfu Sya’ban ke langit dunia, lalu Allah mengampunkan dosa-doa(yang dilakukan oleh hambaNya)lebih banyak daripada bilangan bulu-bulu yang terdapat pada kambing-kambing peliharaan (bani)Kalb.”

-Hadis Riwayat Al-Tirmizi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad.

Seterusnya,
عن مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ ” – رواه الطبرانى وصححه ابن حبان . 

Hadis daripada Saidina Mu’adz ibnu Jabal R.A bahawa nabi S.A.W telah bersabda : “Allah memandang pada kesemua makhluk ciptaanNya pada malam nisfu Sya’ban, lalu Allah mengampunkan dosa-dosa kesemua makhlukNya melainkan dosa orang musyrik (yang menyekutukan Allah) dan dosa orang yang bermusuhan.”

 -Riwayat Al-Tobrani dan disahihkan oleh Ibnu Hibban.

Seterusnya,
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ كرم الله وجهه قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ” – رواه ابن ماجه .

Hadis daripada Saidina ‘Ali R.A bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda : “Apabila masuk malam nisfu Sya’ban, maka hendaklah kamu bangun pada malamnya dan berpuasa pada siang harinya, Sesungguhnya Allah Ta’ala menurunkan malaikatnya ke langit dunia pada malamnya setelah terbenamnya matahari, lalu Allah berkata : Sesiapa yang memohon keampunan padaKu maka Aku akan mengampunkan baginya, Sesiapa yang memohon rezeki padaKu maka Aku akan memberikannya rezeki, Sesiapa yang ditimpa musibah maka Aku akan melepaskan Tolak WAHABI:
nya, sesiapa yang demikian…sesiapa yang demikian …sehinggalah terbitnya fajar.” -Riwayat Ibnu Majah.

Tidaklah mengapa seandainya membaca surah Yasin sebanyak 3 kali selepas solat maghrib secara terang-terangan dan beramai-ramai. Hal ini kerana termasuk dalam perkara menghidupkan malam tersebut dan perkara berkaitan dengan zikir ruangannya adalah luas. Adapun mengkhususkan sebahagian daripada tempat dan waktu untuk melakukan sebahagian daripada amalan soleh secara berterusan adalah termasuk dalam perkara yang disyariatkan selagi mana seseorang yang melakukan amalan tersebut tidak beri’tiqod(menjadikannya sebagai pegangan) ; bahawa perkara tersebut adalah wajib di sisi syara’ yang membawa hukum berdosa sekiranya meninggalkannya.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبً” – متفق عليه .

Hadis daripada Ibnu Umar R.A telah berkata : “Nabi S.A.W akan mendatangi masjid Quba pada setiap hari Sabtu samada dengan berjalan ataupun menaiki tunggangan.”
-Riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim.

Berkata Al-Hafiz Ibnu Hajar di dalam kitabnya (Fathul Bari) :

“Di dalam hadis ini walaupun berbeza jalan-jalan pengriwayatannya menunjukkan kepada(hukum) harus mengkhususkan sebahagian hari-hari untuk melakukan sebahagian daripada amalan-amalan soleh serta melakukannya secara berterusan.”

-tamat

Berkata Ibnu Rajab Al-Hanbali di dalam kitabnya (Lathoif Al-Ma’arif) :

“Ulama’ di Syam telah berselisih pandangan dalam menyifatkan cara untuk menghidupkan malam nisfu Sya’ban kepada dua pandangan.

Pertamanya :
Adalah disunatkan menghidupkan malamnya secara berjamaah di masjid.

Khalid ibn Ma’dan dan Luqman ibn ‘Amir dan selain daripada mereka telah memakai sebaik-baik pakaian, dan mengenakan wangian serta mengenakan celak pada mata serta mendirikan malamnya dengan ibadah.

Dan Ishaq ibn Rahuyah bersepakat dengan pandangan mereka terhadap perkara tersebut dan berkata dalam masalah mendirikan malamnya dengan ibadah di masjid secara berjamaah : “Perkara tersebut tidaklah menjadi bid’ah.” Kalam ini dinukilkan oleh Harb Al-Kirmani di dalam kitab Masail nya.

Keduanya :
Sifatnya adalah makruh penghimpunan pada malamnya di masjid untuk melakukan solat serta bercerita dan berdoa. Dan tidak makruh sekiranya seseorang itu melakukan solat secara bersendirian. Ini adalah pandangan Al-Auzaie Imam Ahli Syam dan Ahli Faqeh dan ‘Alim.” -tamat

Kesimpulannya :
Maka menghidupkan malam nisfu Sya’ban sama ada secara berjamaah ataupun secara bersendirian sebagaimana sifat yang masyhur dikalangan orang ramai dan selainnya adalah perkara yang disyariatkan dan tidaklah menjadi bid’ah dan tidaklah menjadi makruh dengan syarat tidak menjadikan amalan tersebut sebagai suatu kemestian dan kewajipan.

Sekiranya amalan tersebut diwajibkan ke atas orang lain serta menghukum kepada mereka yang tidak mengikutinya dengan hukum berdosa maka menghukumkan dengan hukum dosa itu yang menjadi bid’ah kerana mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan RasulNya S.A.W. Inilah makna yang menjadikannya makruh sebagaimana pandangan para salafussoleh terhadap hukum makruh dalam menghidupkan malam nisfu Sya’ban. Adapun menghidupkan malamnya sebagaimana hakikat asalnya maka perkara tersebut adalah disyariatkan dan tidaklah menjadi makruh.

Sumber :
Majalah Minbar Al-Islam, keluaran tahun ke-(68), bil (8) Sya’ban 1430, m/s 136.
(Sumber: Grup Telegram di ambil dari:Http://ElmanSyud.Blogspot.Com)

19 May 2016 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

MUFTI AGUNG MESIR MENJAWAB DAKWAH SALAFI-WAHABI.

image

Alhamdulillah…Ternyata, buku karya Mufti Agung Mesir, Prof Dr. Ali Jum’ah banyak diminati kaum terdidik. Tidak menyangka, ternyata laris manis. Saya bersyukur karena generasi Muslim kita tahu bagaimana harus belajar, dan tidak mudah terbawa hasutan kelompok lain. Buku ini memang layak menjadi rujukan bagi mereka yang haus pengetahuan agama.
Sebagai hadiah atas rasa syukur saya, berikut saya kutip penjelasan dalam buku ini tentang pemahaman konsepsi Bid’ah yang salah dari kelompok yang sering menyebut diri mereka pembela Sunnah.

Prof Dr. Ali Jum’ah menjelaskan:
“Di antara keburukan yang menggerogoti kaum ekstrem itu adalah memperluas pemahaman bid’ah sehingga mereka mengklaim adat istiadat maupun tradisi yang dilakukan kaum muslimin sebagai bid’ah dan sesat. Hal ini dikarenakan mereka menganggap segala sesuatu yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah SAW Adalah bid’ah. Maka tidak boleh dikerjakan, implikasinya ketika mereka melihat ada orang menengadahkan tangannya saat berdoa, maka mereka akan menghardiknya dan mengatakan perbuatan itu bid’ah. Alasannya, Rasulullah tidak pernah melakukan hal seperti itu. Begitu pula, ketika ada yang mengajak mereka bersalaman sehabis shalat, maka mereka akan memberitahu bahwa perbuatan itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Dan masih banyak contoh lainnya. Pertanyaannya, apakah benar perbuatan yang ditinggalkan [atau tidak dilakukan] Rasulullah SAW, itu termasuk bid’ah dan sesat?

Para ulama di seantero dunia, baik salaf ataupun khalaf, semuanya sepakat bahwa at-tarku [apa yang ditinggalkan] bukanlah salah satu metode yang bisa digunakan secara terpisah dalam perumusan hukum [istidlal]. Tetapi, metode yang bisa digunakan untuk menetapkan hukum syar’i, baik wajib, sunnah, mubah atau makruh itu adalah datang dari nash Al-Qur’an, Sunnah, ijma’ dan qiyas.
At-Tarku pada dasarnya tidak menunjukan hukum syar’i. ini sudah menjadi kesepakatan para ulama. Ada banyak dalil yang menunjukan bahwa para sahabat tidak memahami di dalam tarku-nya Rasulullah SAW, terdapat keharaman, bahkan sampai kemakruhan pun tidak. Inilah pemahaman para ulama sepanjang masa. Ibnu Hazm pernah membantah hujjah ulama Malikiyyah dan Hanafyah yang mengatakan makruh hukumnya shalat sunnah dua rakaat sebelum maghrib, karena Abu Bakar, Umar dan Usman tidak pernah melakukannya. Ibnu Hazm menjelaskan, “Sesungguhnya, meninggalkan shalat tersebut [shalat sunnah sebelum maghrib] tidak berarti apa-apa, selama mereka tidak mengatakan secara jelas mengenai kemakruhannya. Pada kenyataannya, penjelasan itu tidak pernah dinukil.”

Itulah metode Ibnu Hazm dalam menanggapi tarku – nya para sahabat dalam sebuah ibadah tertentu. Sikap yang sama juga ditunjukan ketika menanggapi tarku Rasulullah mengenai sebuah ibadah yang memang diperbolehkan, seperti ketika berbicara tentang shalat sunnah dua rakaat sebelum ashar. Ia berkata, “Hadist Ali bin Abi Thalib ra. Tidak bisa dijadikan hujjah sama sekali [dalam masalah di atas], karena yang ada dalam hadist tersebut hanyalah pemberitahuannya atas apa yang diketahui. Ia [Ali] tidak pernah melihat Rasulullah melakukan shalat tersebut. Ia memang benar dalam perkataanya, tapi ini bukan berarti mengandung makna melarang atau memakruhkan shalat tersebut. Rasulullah tidak pernah berpuasa sebulan penuh di luar Ramadhan. Namun, ini tidak berarti mengandung makna memakruhkan puasa sunnah satu bulan penuh [di luar Ramadhan].”
Di sini, Ibnu Hazm memahami tarku Rasulullah SAW atas puasa sunnah satu bulan penuh di luar Ramadhan tidak bisa menunjukan hukum haram atau makruhnya berpuasa seperti itu, sekalipun Rasulullah SAW sendiri tidak pernah melakukannya.

Rasulullah tidak pernah melakukan khotbah di atas mimbar, namun beliau melakukannya di atas pelepah kurma. Kendati demikian, para sahabat tidak mempunyai pemahaman bahwa berkhotbah di atas mimbar itu hukumnya bid’ah atau haram. Karena itu, mereka lantas membuatkan mimbar untuk Rasulullah saw. berkhotbah. Bukankah mereka ini orang-orang yang tidak pernah melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Rasulullah SAW? Jika demikian, dapat diketahui bahwa para sahabat tidak menjadikan tarku Rasulullah SAW sebagai bid’ah.

Rasulullah SAW ketika shalat, tepatnya setelah mengangkat kepala dari rukuk, beliau tidak pernah membaca doa: “rabbana wa lakal hamdu hamdan katsiran….” dan seterusnya, seperti yang terdapat dalam sebuah hadist. Tetapi, hal ini tidak dipahami oleh seorang sahabat sebagai larangan untuk membaca doa tersebut. Jika tidak demikian, mana mungkin ia (sahabat), mau melakukan sesuatu yang diyakini keharamannya? Rasulullah SAW sendiri tidak mencelanya, karena telah membaca doa tersebut.

Dan, beliau juga tidak melarang membaca doa-doa lainnya di dalam shalat.
Hadis di atas diriwayatkan oleh Rifa’ah bin Rafi Az-Zuraqi, ia berkata, “Suatu hari, kami pernah shalat di belakang Rasulullah SAW. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau membaca, “sami’allahu liman hamidah.” Seseorang laki-laki dari belakang beliau membaca, “Rabbana walakal-hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi.” Lantas setelah shalat beliau bertanya, “Siapa yang tadi membaca doa itu?”
Lelaki itu menjawab, “Aku.”
Beliau bersabda, “Aku melihat lebih dari 30 malaikat berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya.” (HR Al-Bukhari, Abu Dawud, Nasai, Ahmad, Malik dan Al-Baihaqi)

Sahabat Bilal r.a. tidak memahami bahwa tarku Rasulullah SAW mengenai shalat sunnah dua rakaaty setelah wudhu bermakna tidak boleh melaksanakan shalat itu. Tetapi, Bilal melakukannya dan tidak pernah memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW. Beliau baru mengetahuinya setelah beliau bertanya kepada Bilal.
“Hai Bilal, ceritakan kepadaku amalan yang paling engkau harapkan (pahalanya), yang engkau kerjakan dalam Islam (setelah memeluknya). Karena, sesungguhnya aku mendengar suara langkah kedua sandalmu di dalam surga.”
Bilal menjawab, “Aku tidak mengamalkan amalan yang paling aku harapkan pahalanya, kecuali setelah aku bersuci, baik saat petang ataupun siang, lalu aku shalat yang tidak diwajibkan kepadaku dengan bersuci itu.” (HR Al-Bukhari)

Bilal r.a. sesungguhnya telah membuat “shalat sunnah” untuk dirinya sendiri pada waktu tertentu, padahal Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah mencontohkan atau memerintahkannya. Bilal baru mengabarkannya tentang rahasia amalannya tersebut setelah Nabi bertanya. Bukankah dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa amalan tersebut tidak pernah dilakukan Nabi, lalu Bilal memberitahukan, maka akhirnya amalan ini pun diakui oleh Rasulullah. Sehingga, kita di generasi setelah Rasul menyebut bahwa shalat setelah wudhu adalah sunnah, sebagaimana yang dilakukan Bilal.

Kita mengambil dalil dari pemahaman sahabat mengenai dibolehkannya membuat doa atau shalat baru di waktu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Kami juga mengambil dalil bahwa Rasulullah SAW tidak mengingkari metode dan cara yang ditempuh sebagian sahabatnya, bahkan tidak melarang mereka untuk melakukannya di masa-masa mendatang.”

–Prof Dr. Ali Jum’ah, Mufti Agung Mesir, Al-Mutasyaddidun Manhajuhum wa Munaqqasyatu Ahammi Qadhaayaahum

Sumber: Sahabat FB Tasawuf Underground.

18 May 2016 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

MADAD YAA HUSAIN! APAKAH HUKUMNYA?

(Sumber : Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan).

image

SOALAN: Saya minta izin tanya kt ustad tentang madad. Isunya ada video habib ali al jufri madad kpd Sayyiduna Hussein dan saya tak tahan ada pihak yg mensyiahkan Sayyiduna Hussein dan katakan habib ali al jufri sebagai sesat. Sekarang ni mak kwn saya yg berpegang madad kpd sayyiduna hussein ni sesat. Kalau ada sebarang penjelasan ilmiah yg bole saya berikan kpd kwn saya utk sampaikan kpd mak dia ustad.

JAWAPAN: Madad = pertolongan
Madad Yaa Husain = Minta pertolongan mu Wahai Husain

Apakah hukumnya mengucapkan yang sedemikian?

1) Haram dan syirik SEKIRANYA meni’tiqadkan bahawa Husain*(saya letakkan nama Husain sebagai contoh, bukan merujuk kepada Sayyidinaa Husain cucu RasuulilLaah S.A.W radhialLaahu ‘anhu)(baik ketika hidup mahupun selepas kematian) boleh memberikan bantuan dengan kuasanya sendiri tanpa ada kena mengena dengan Allah SWT.

2) Harus dan tidak syirik SEKIRANYA meni’tiqadkan Husain (baik ketika hidup atau selepas kematian) tidak mampu memberikan apa2 manfaat atau mudarat kecuali dengan izin Allah SWT.

Berbeza dengan fahaman Wahhabi boleh minta pertolongan daripada Husain ketika Husain masih hidup TETAPI haram lagi syirik sekiranya memohon pertolongan Husain selepas Husain meninggal dunia.

Pegangan sebegini hakikatnya boleh membawa kepada kesyirikan kerana menganggap yang hidup boleh memberikan manfaat dan mudarat sementara yang mati tidak, SEDANGKAN i’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaah adalah semua makhluk baik yang hidup mahupun yang mati tidak boleh memberikan sebarang manfaat atau mudarat KECUALI dengan izin Allah SWT. Pertolongan daripada makhluk diminta atas dasar usaha dan ikhtiar  dan sebab musabbab semata-mata, bukan kerana makhluk boleh memberikan mudarat dan manfaat. Hakikatnya segala pertolongan adalah daripada Allah SWT. Yang dikatakan pertolongan makhluk hanya usaha ikhtiar dan sebab musabbab semata-mata dan ianya dibenarkan. Keterangan lengkap dengan dalil2 Al-Quran dan Al-Hadith ada diberikan antara lain di dalam kitab Mafaahim Yajibu an Tusohhah KEFAHAMAN2 YANG WAJIB DIPERBERTULKAN oleh Almarhum Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki rahimahulLaah. Al-Quran dan Al-Hadith menceritakan kedua2 iaitu syariat (boleh isti’aanah minta tolong kepada asbaab) dan hakikat (pertolongan sebenar hakikatnya daripada Allah SWT). Sila rujuk kitab tersebut untuk keterangan yang jelas dan terpeinci.

Yang saya sebutkan di atas adalah berkaitan hukum hakam. Adapun berkaitan adakah wajar ia dilakukan? Secara peribadi (bukan tuntutan hukum yang pasti) saya nampak elok jangan dilakukan seruan madad ini terutamanya secara terbuka. Bukan semua perkara yang boleh dilakukan dari segi hukum asal wajar dilakukan secara praktikal. Kebimbangan saya berkaitan غلبة الجهالة kejahilan yang merata yang boleh membawa kepada salah satu daripada dua mudarat:

1) oleh kerana sekarang sudah kurang pengajian tauhid yang menerangkan tentang asas2 penting bahawa “yang baharu” (makhluk) “tidak memberi bekas” (tidak memberi sebarang kesan mudarat atau manfaat) hanya Allah SWT yang “memberi bekas” (memberi kesan mudarat atau manfaat), maka dibimbangi ada antara yang mengucapkan “madad Yaa fulaan” meni’tiqadkan bahawa si fulaan yang memberikan mudarat dan manfaat dan menunaikan hajat tanpa ada kena mengena dengan Allah SWT.

2) dibimbangi menjadi fitnah dan tohmahan daripada orang-orang yang jahil hakikat tauhid atau yang terpengaruh dengan pengajian tauhid 3 yang menghukum syirik perbuatan2 tawassul dan istighaathah sehingga mereka menuduh secara bathil saudara2 seagama mereka sebagai golongan musyrikin – wal ‘iyaazu bilLaah –

وفقنا الله وإياكم لسلوك طريق الحق والرشاد

Penulis : Ustaz Engku Fadzil Bin Engku Ali

16 May 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Fatwa, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Haram belajar Ilmu usuliddin daripada orang yang tiada mahir ilmunya.

Asy-Syaikh Zainul Abidin b. Muhammad Al-Fathani dalam Kitab ‘Aqidatun Najin Fi Ilmi Usuliddin, halaman 12,:

…..”(Sahadan) Telah berkata ‘ulama, haram belajar Ilmu usuliddin daripada orang yang tiada mahir ilmunya. Dan, tiada mengambil daripada gurunya. Maka, adalah pada zaman sekarang ini, beberapa daripada manusia yang mendakwa dirinya ^Alim yang mengajar ia akan manusia yang awam dengan pengajaran yang menyesatkan. (Dan setengah) daripada mereka itu yang berpegang dengan Ayat Al-Quran yang Mutasyabihat atau Sunnah (hadis) yang Mutasyabihat. Pada hal, tiada dilintangkan dengan “Qawati’ aqliah” (hukum akal yang putus) dan “Naqliah” yang Muhkamat (Ayat-ayat Al-Quran dan Hadith-hadith yang nyata maknanya), tetapi mengambil mereka itu dengan “Dzawahir” (makna-mana zahir) ayat Mutasyabihat. Maka, jadi jatuh mereka itu pada laut kufur. Maka, sesat mereka itu, dan lagi menyesatkan mereka itu akan manusia yang awam. Na’uzubillahi minzalik…Maka, adalah mereka itu seperti dajjal atau terlebih jahat dari dajjal.”

والله أعلم وأحكم

Oleh: Ustaz Mohd Al Amin bin Daud Al Azhari

16 May 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama | Leave a comment

Kelompok Besar (al-Sawad al-a’zam), Orang Asing (al-Ghuraba’) dan Kebenaran

[1] Kelompok minoriti tidak semestinya terpuji, betul, dan di jalan yang benar. Jangan ingat hanya kerana Allah SWT banyak menyebut, memuji golongan sedikit, mafhum: “sedikit di kalangan hambaKu yang bersyukur…(QS Saba’:13)” ; “berapa banyak kumpulan sedikit mampu mengalahkan kumpulan besar…” (QS Al-Baqarah:249)  atau Nabi SAW memuji, mafhum: “beruntunglah mereka yang asing (al-ghuraba’) maka kita pun merasakan golongan “sedikit” itu terpuji lalu ingin menjadi kelompok yang kecil atau minoriti. Kelompok seperti ISIS,  Qadiani, Ayah Pin,  pun semuanya sedikit dan minoriti tetapi mereka semua bathil dan ajaran mereka sesat dan menyesatkan. Ajaran sesat hari ini semuanya minoriti.

[2] Yang ramai atau majoriti juga tidak semestinya betul. Agama Kristian mempunyai 2.2 billion penganut di seluruh dunia manakala ajaran Islam dikatakan sekitar 1.6 billion saja. Bukan bermakna ajaran Kristian itu benar walaupun majoriti.

[3] Lalu bagaimana sikap kita dan cara memahaminya? Maka hendaklah kita melihat konteksnya bila ketikanya kelompok kecil dipuji dan bilakah pula kita disaran bersama golongan majoriti yang berada di atas jalan kebenaran.

[4] Golongan sedikit yang dipuji ialah mereka yang benar-benar beramal dengan ajaran Islam dan hakikat hari ini mereka yang beramal dengan Islam dengan sesungguhnya jauh lebih sedikit berbanding dengan umat Islam yang pada nama saja. Tengok perbandingan  jumlah mereka yang ke masjid dan ke tempat-tempat hiburan sudah cukup untuk mendapat gambaran awal itu. Ini kerana jalan ke Neraka itu disukai nafsu seperti mana hadith dari Anas bin Malik RA  bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Syurga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)

[5] Tetapi dalam memilih untuk  beramal dan mengambil hukum hakam, kita diperintahkan untuk mengikut pandangan ramai atau pandangan majoriti. Majoriti siapa? Bukan majoriti orang awam Tom, Dick and Harry (Pak Mat atau Mak Timah), tetapi ahli ilmu, ulama yang benar di kalangan mujtahid yang dipanggil “al-Sawad al-azam”. Sebab itu ada istilah “ijma” dan “ittifaq” yang merujuk kepada pandangan ramai atau kesepatan mujtahid dan ulama. Kita ditegah mengikut pandangan ganjil, pelik, berseorangan (isolated) atau disebut “syaz”. Ini menunjukkan minoriti tidak semestinya betul dan terpuji sepanjang masa.

[6] Ambil contoh memakan “daging khinzir”. Ijma’ ulama menghukumkan khinzir haram dimakan mana-mana bahagian sekalipun. Tetapi ada pandangan pelik, ganjil (syaz) yang mengatakan yang haram dimakan hanya “daging” (لحم) khinzir saja kerana kata mereka ayat atau hadis yang melarang menyebut spesifik “daging khinzir”, adapun bahagian khinzir yang lain (seperti perut, lemak, tulang babi dll) boleh dimakan. Ini pandangan pelik menyalahi Ijma’ dan kita ditegah mengikutinya. Mahukah kita memperjudikan agama kita dengan mengikuti pandangan minoriti sebegini? Ini bukan soal memilih pemimpin politik tetapi memilih fatwa dan hukum hakam untuk beramal di dunia yang kesilapannya akan membawa kesengsaraan berpanjangan di Akhirat kelak. Silap memilih pemimpin politik, 5 tahun sekali boleh ditukar.

[7] Perintah untuk bersama dengan pandangan majoriti ulama ramai (bukan majoriti orang awam) banyak disebutkan dalam al-Qur’an dan al-Hadith. Antaranya Sabda Baginda SAW, mafhumnya:
إنّ أمّتي لا تجتمع على ضلالة فإذا رأيتم الإختلاف فعليكم بالسواد الأعظم
“Sesungguhnya umat aku  tidak akan berhimpun dalam kesesatan. Jika kamu melihat perselisihan (dalam kalangan mereka), maka hendaklah kamu mengikuti kumpulan terbesar (al-sawadul a’zam). (HR Ibn Majah).

[8] Lalu apa yang harus diajar kepada masyarakat awam? Ajarlah mereka agar bersama dengan pandangan majoriti ulama Ahlul Sunnah wal Jamaah kerana itulah lebih selamat dan hampir mustahil majoriti ulama yang ikhlas itu tersalah atau berpakat dalam kebathilan. Dalam masa yang sama ingatkan mereka kuatkan semangat kerana ketika kita beramal dan berpegang teguh dengan ajaran Islam itu, pasti kita akan terasa terasing, minoriti kerana tidak ramai manusia di sekeliling yang mentaati Allah SWT, melawan hawa nafsu sedangkan ramai yang lebih suka mengikut hawa nafsu mereka.

[9] Kesimpulannya, beramallah dengan apa yang disepakati oleh majoriti ulama (al-sawad al-a’zam) walaupun mungkin akhirnya kita hanya menjadi minoriti (al-ghuraba’)  di dunia akhir zaman yang semakin rosak yang majoriti penghuninya tidak lagi berpegang dengan kebenaran, ajaran Islam dan lalai daripada mengingati Allah SWT. Wallahu’alam.

Dr Nik Roskiman.

15 May 2016 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Kenduri Arwah – Lujnah Ulama Fathani

image

Dalam buku”Ulama Besar Dari Fathani” susunan Ustaz Ahmad Fathi al-Fathani yang diterbitkan oleh Universiti Kebangsaan Malaysia, disebut kisah seorang ulama Fathani Darussalam, Haji Abdullah Bendang Kebun yang menulis sebuah kitab berjodol “al-Kawaakibun-Nayyiraat fi Raddi Ahlil-Bida` wal ‘Aadaat” di mana beliau memfatwakan bahawa buat makan kematian atau kenduri arwah selepas kematian itu bid`ah makruhah dan boleh menjadi haram. Fatwanya ini lebih kurang sama dengan fatwa-fatwa tokoh-tokoh anti tahlil dan kenduri arwah zaman kita ini.

Fatwa ini telah membuat keluh-kesah dan perpecahan dalam masyarakat di wilayah-wilayah Fathani yang rata-rata mengamalkan tradisi bertahlil dan berkenduri arwah ini. Menyedari hakikat ini, maka Lujnah Ulama Fathani telah mengambil inisiatif untuk mengadakan mudzakarah dan mesyuarat berhubung isu ini yang dihadiri oleh 17 orang ulama ternama Fathani termasuklah Haji Abdullah Bendang Kebun tersebut.

Yang Dipertua Lujnah, Tuan Guru Haji Abdur Rahman mempengerusikan mesyuarat tersebut yang berjalan dengan lancar serta membuahkan keputusan dan natijah yang memuaskan. Setelah hujjah-hujjah pihak yang menentang dan menyokong dikemukakan, mesyuarat tersebut telah mencapai keputusan dan mengeluarkan satu resolusi pada 21 Januari 1974 yang antara lain menyebut:-

Ahli si mati membuat makanan kerana kematian untuk sedekah pahala kepada mayyit dengan ketiadaan menyeru (mengundang – p) oleh mereka, hukumnya sunnat dengan ittifaq Lujnah Ulama Fathani.
Ahli si mati membuat makanan dan memanggil mereka itu akan manusia pergi makan kerana qasad sedekah pahalanya, dan (meng) hadiah (kan) pahala jamuan itu kepada mayyit, maka hukumnya boleh (harus) kerana masuk dalam nas ith`aam yang disuruh dalam hadits Thaawus, kerana ith`aam itu melengkapi jamuan di rumah si mati atau di tempat lain.
Ahli si mati membuat makanan di rumahnya atau di rumah si mati pada hari mati atau pada hari yang lain kerana mengikut adat istiadat, tidak kerana qasad ibadah dan niat pahalanya kepada mayyit, maka hukumnya makruh dengan ittifaq ahli Lujnah Ulama Fathani.

Ahli si mati membuat makanan daripada tirkah yang bersabit dengan umpama hak anak yatim atau kerana dipaksa ahli si mati membuatnya dengan tidak sukarelanya dan ikhlas hatinya, maka hukumnya haram dengan ittifaq ahli Lujnah Ulama Fathani.

Menghukum sesuatu hendaklah dibuat secara teliti dan tafsil melihat rupa bentuk sesuatu, bukan menghukum secara membabi-buta dan main pukul rata haram dan bid`ah dhalalah sahaja. Lihat dahulu keadaannya, bagaimana hendak dihukumkan haram jika ahli mayyit yang telah aqil baligh dengan rela hati tanpa terpaksa dan tidak merasa susah untuk menjemput jiran-jiran dan kenalan untuk hadir ke rumah si mati untuk berdoa buat si mati dan kemudian dijemput makan yang semuanya diniatkan sebagai sedekah kepada si mati.

Yang ditentang oleh ulama kita ialah mereka yang menjalankannya sehingga menyusahkan diri dan keluarga si mati atau semata-mata menjalankan adat atau lebih jahat lagi dengan niat bermuka-muka atau riak. Ini yang difatwakan oleh Sayyidi Ahmad Zaini dalam “I`anathuth – Tholibin” yang sengaja dikelirukan oleh Ustaz Rasul yang dikasihi dengan sengaja meninggal menterjemahkan soalan yang dikemukakan kepada Sayyidi Ahmad dan jawapan beliau sepenuhnya. Menghukum haram secara total amatlah tidak wajar dan tindakan sembrono.

Akhirul kalam, satu soalan, adakah ulama-ulama Fathani yang membuat resolusi di atas tidak membaca kitab Tok Syaikh Daud dan Tuan Minal ? Siapa yang baca dan faham kehendak ibarat kitab-kitab tersebut ? Mereka atau yang dikasihi Ustaz Rasul kita ? Tepuklah dada masing-masing.

Allahumma hidayatan wa taufiqan ilal haqqi wash showab.

Sumber: Bahrussofa

14 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Hukum Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban dengan Ibadah dan Doa Bagian 3

image

Al Imam Ishak Ibnu Rohaweih (seorang ahli hadits besar dan guru dari Al Imam Al Bukhari) menyatakan bahwa memakmurkan malam nisfu sya’ban di masjid dengan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah bukanlah perkara yang bid’ah.

Pernyataan Al Imam Ishak ibnu Rohaweih tersebut diriwayatkan oleh Harb Al Karmani dalam Al Masail. Beberapa ulama lain juga berpendapat bahwa memakmurkan malam nisfu sya’ban dengan beribadah adalah bukan perkara yang dilarang oleh agama, namun mereka berpendapat bahwa memakmurkannya di rumah (bukan secara berkelompok di masjid) adalah lebih baik. Di antara mereka adalah Al Imam Al Auza’i (salah seorang pemimpin ulama di Negeri Syam).

Diriwayatkan oleh Al Imam Al Baihaki dalam As Sunan Al Kubro bahwa Al Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘anhu telah berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa do’a dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala pada 5 malam, yaitu malam jumat, malam Idul Fitri, malam Idul Adha, malam pertama bulan rajab, dan malam nisfu sya’ban.” Sebagaimana diriwayatkan oleh Amiril Mukminin Umar Ibnu ‘Aziz menuliskan surat kepada wakil atau gubernurnya di Basrah, “Hendaknya engkau memperhatikan 4 malam dalam 1 tahun, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala memcurahkan rahmat-Nya yang sangat besar pada 4 malam tersebut, yaitu malam pertama pada bulan suci rajab, malam nisfu sya’ban, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha. ”

Apa yang kami paparkan di atas adalah beberapa kutipan yang dinyatakan oleh para ulama besar, walaupun di sana juga banyak ulama lain yang tidak menyetujui tentang malam nisfu sya’ban. Namun ketidaksetujuan mereka adalah ijtihad mereka, sebab memakmurkan malam nisfu sya’ban dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah permasalahan ijtihad (masalah far’iyah/masalah cabang, bukan masalah akidah).

Ini adalah masalah yang luas, yang memerlukan kelapangan dada. Bagi yang menyetujuinya silahkan dan bagi yang tidak menyetujuinyapun silahkan.

Perkara ijtihad disebutkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam, “Orang yang berijtihad, apabila dia benar dalam ijtihadnya maka mendapatkan 2 pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala, dan apabila dia salah dalam ijtihadnya maka mendapatkan 1 pahala dari Allah Subhanahu wa ta’ala.”

Diantara hadits yang shahih ialah yang diriwayatkan oleh Al Imam At Tabrani, sebagaimana telah diriwayatkan dan dishahihkan  oleh Al Imam Ibnu Hibban dari Muadz bin Jabbal Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam bersabda,
يطلع الله إلى جميع خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن
“Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan perhatian-Nya kepada seluruh makhluk-Nya pada malam nisfu sya’ban. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang saling berdengki satu sama lain.”

(Sumber: http://www.alhabibahmadnoveljindan.org/hukum-menghidupkan-malam-nisfu-syaban-dengan-ibadah-dan-doa-bagian-3/)

13 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

APAKAH DENGAN MENGIKUT PEGANGAN MAJORITI ULAMA’ KITA AKAN SELAMAT?

SIAPAKAH SEBENARNYA AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH….APAKAH DENGAN MENGIKUT PEGANGAN MAJORITI ULAMA’ KITA AKAN SELAMAT?

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda yang bermaksud:”Sesungguhnya umat aku (umat Islam) tidak akan berhimpun dalam kesesatan. Jika kamu melihat perselisihan (dalam kalangan mereka), maka hendaklah kamu mengikuti sawadul a’zhom (majoriti umat Islam). Sesungguhnya, sesiapa yang terasing, maka dia akan terasing dalam neraka” -Hadits riwayat Ibn Majah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda lagi yang bermaksud:”…Barangsiapa yang keluar daripada jamaah walaupun sejengkal, maka dia sudahpun memenggalkan agama Islam…” -Hadits riwayat Imam Ahmad
Dalam hadits-hadits ini, Rasululullah صلى الله عليه وسلم melarang setiap individu muslim daripada keluar daripada kelompok umat Islam, dengan menyalahi aqidah kelompok umat Islam.

Bahkan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga menegaskan bahawa, orang yang bercanggah dengan jamaah atau menyalahi majoriti umat Islam (sawadhul a’zhom) dalam masalah usul (pokok iaitu masalah aqidah), maka dia dianggap sebagai syaz, iaitu: orang yang terasing ataupun terpinggir daripada kelompok umat Islam.

Imam As-Subki menjawab persoalan pertama mengenai manhaj Al-Asy’ari:
واعلم أن أبا الحسن الأشعري لم يبدع رأيا ولم يُنشِ مذهبا وإنما هو مقرر لمذاهب السلف، مناضل عما كانت عليه صحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم فالانتساب إليه إنما هو باعتبار أنه عقد على طريق السلف نطاقا وتمسك به، وأقام الحجج والبراهين عليه فصار المقتدي به في ذلك السالك سبيله في الدلائل يسمى أشعريا
“Ketahuilah bahawasanya Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari tidaklah mengadakan suatu pendapat yang baru dan tidak juga mengada-adakan mazhab yang baru. Beliau sebenarnya ialah orang yang membenarkan dan menguatkan mazhab-mazhab As-Salaf (dalam aqidah) dan membela apa yang dipegang oleh para sahabat Rasulullah – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-. Adapun menisbahkan (mazhab) kepada beliau adalah dari sudut bahawasanya beliaulah yang memperkemaskan manhaj (aqidah) As-Salaf dengan kukuh lalu berpegang dengannya. Maka, beliau juga yang mendirikan hujah-hujah dan dalil-dalil terhadap aqidah As-Salaf tersebut lalu orang yang mengikut manhaj dan penghujahan tersebut dan melalui jalan pendalil aqidah beliau dinamakan sebagai Asy’ari” [Tabaqat As-Syafi’iyyah 2/254]

Imam Tajuddin As-Subki berkata:
هؤلاء الحنفية والشافعية والمالكية وفضلاء الحنابلة ولله الحمد في العقائد يد واحدة كلهم على رأي أهل السنة والجماعة يدينون الله تعالى بطريق شيخ السنة أبي الحسن الأشعري رحمه الله، لا يحيد عنها إلا رعاع من الحنفية والشافعية لحقوا بأهل الاعتزال، ورعاع من الحنابلة لحقوا بأهل التجسيم…
“Para ulama’ Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Malikiyyah dan sebahagian ulama’ Hanabilah yang mulia, Alhamdulillah, dalam masalah aqidah, bersatu dalam pegangan Ahlus-Sunnah wal Jamaah yang beragama (beraqidah) kepada Allah s.w.t. dengan manhaj Sheikhus Sunnah Abu Al-Hasan Al-Asy’ari r.a., yang mana tiada siapa yang terpesong darinya melainkan segelintir pengikut Hanafiyyah dan Syafi’iyyah yang terbabit dengan ahli Muktazilah dan sebahagian Hanabilah yang terbabit dengan ahli Tajsim. [Mu’id An-Ni’am: 62]

Imam Murtadha Az-Zabidi berkata dalam Syarh Al-Ihya’ (1/7):
إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية.
Maksudnya: Jika disebut Ahlus-Sunnah wal Jamaah, maka maksud dengan mereka adalah Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah.”
Telah berkata Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang bermaksud:”…Dan sesungguhnya pada jamaah itu ada rahmat, dan pada perpecahan itu ada azab.” Maka berkatalah Abu Umamah al-Bahili: “Hendaklah kamu bersama dengan sawadhul a’zhom”…-Hadits riwayat Imam Ahmad, al-Bazzar dan ath-Thabrani.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda lagi yang bermaksud:”…Aku tidak menyembunyikan sesuatupun (daripada kebenaran). Hendaklah kamu semua bertaqwa dan bersama-sama dengan jamaah. Janganlah kamu berpecah (mengikut golongan yang terkeluar daripada jamaah). Sesungguhnya (dengan keluar dari jamaah) itulah kesesatan. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى tidak akan menghimpun umat Muhammad dalam kesesatan” -Hadits riwayat ath-Thabrani.

Oleh :Ustaz Mohd Hanif Bin Mohd Salleh.
Juma’at 6 Sya’ban 1437H

13 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Mengapa wajib beriktiqad Allah wujud tetapi tidak bertempat

KENAPA ASWJ MENGATAKAN: “Allah Wujud Tidak Bertempat”??
1) Allah sebut di dalam hadis sahih:
كان الله ولم يكن شئ غيره
“Allah ada azali dan tiada suatu pun selain-Nya” (HR Bukhari & Baihaqi)
Hadis ini dihuraikan oleh Amirul Mukminin Fil Hadis Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani:
والمراد بكان الاول الازلية
“Dan maksud (kana) dalam lafaz yang pertama ialah keazalian”
(Fath Al-Bari, juz.6, ms.334, cet.Dar Ar-Rayyan)
Maksud keazalian:
* kewujudan tanpa didahului oleh ketiadaan dan kewujudan tanpa permulaan.
☆ Maka difahami, sejak azali lagi Allah wujud tanpa ada sesuatu bersama kewujudan-Nya. Tiada Arasy, tiada air, tiada langit, tiada cahaya, tiada tempat dan tiada kesemua makhluk.
☆ Ini suatu dalil jelas bahawa Allah wujud (sejak azali) tanpa ada tempat. Sekalipun selepas dijadikan langit dan Arasy Allah tidak berada di atas Arasy.
2) Ayat Al-Quran yang menyebut:
الرحمان على العرش استوى
“Tuhan yang bernama Ar-Rahman tertinggi di atas ‘Arasy” (Mengikut terjemahan Syeikh Ahmad Al-Fathani)
☆ Ayat ini tidak boleh difahami dengan makna zahir kerana kalimah Istawa adalah ‘kalimah musytarak’ iaitu satu kalimah yang berkongsi dua atau lebih maksud.
☆Antara makna Istawa ialah:
i) Duduk
ii) Tertinggi
iii) Menguasai
iv) Memasak
dan lain-lain sehingga lebih 12 maksud.
Ulama Salaf tidak memilih mana-mana makna bagi kalimah Istawa dan ayat mutasyabihah yang lain kerana bagi mereka ALLAH LEBIH MENGETAHUI MAKNANYA.
* Hal ini kerana ulama Salafussoleh beramal dengan kaedah Tafwidh iaitu menyerah bulat-bulat kepada Allah tanpa takyif (tatacara), tamsil (penyerupaan), tasybih (penyamaan), tajsim (penjisiman), tahrif (penyelewengan) dan segala yang tidak layak bagi Allah.
Namun, apabila “salafussoleh” melayu cuba transform menjadi Salafussoleh tiga kurun terbaik, mereka yang melayu ini gemar untuk menterjemahkan istawa dengan makna bersemayam.
♢ Kamus Dewan Bahasa & Pustaka mentakrifkan “bersemayam” dengan makna duduk.
☆ Maka jelaslah bahawa Wahabi Malaysia mahu menetapkan Allah “duduk” atas Arasy. Hal ini bercanggah dengan kata-kata Ulama muktabar seperti:
1) Imam Ibnu Hibban
كان-الله-ولا زمان ولا مكان
“Allah ada azali, tanpa masa dan tanpa tempat” (Sahih Ibn Al-Hibban, juz.8, ms.4)
2) Imam Syafie
من قال او اعتقد ان الله جالس على العرش فهو كافر
“Sesiapa berkata atau beritiqad Allah duduk atas Arasy maka dia menjadi kafir” (Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Muhtadi, ms.551)
3) Imam Abu Hasan Al-‘Asyari
كان الله ولا مكان فخلق العرش والكرسي ولم يحتج الى مكان. وهو بعد خلق المكان كما كان قبل خلقه.
“Kewujudan Allah azali dan tanpa bertempat, kemudian Allah mencipta Arasy dan Kursi dan Dia tidak berhajat kepada tempat. Kewujudan-Nya setelah menciptakan tempat sebagaimana kewujudan-Nya sebelum menciptakan tempat (iaitu Allah tidak bertempat)” (Tabyin Kazib Al-Muftari, ms.150)
Perhatian:
* Salafussoleh berpegang Allah istawa dengan yakin tanpa persamaan dengan makhluk kemudian mereka serahkan makna kepada Allah.
* Salapi melayu berpegang Allah bersemayam dengan yakin dan menyerahkan kaifiyyat (cara) Allah bersemayam. Ini BIDAAH DALAM AQIDAH.
Cuba tanya Wahabi,
Apakah maksud bersemayam yang Wahabi ber’itiqad?
Disediakan oleh: Hafiz Al Za’farani (HAZA)

13 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

ISLAM TIDAK MEMUSUHI BUDAYA SETEMPAT

image

Kedatangan Islam tidak pernah memusnahkan budaya setempat melainkan budaya tersebut bercanggah dengan Islam. Apabila Islam masuk ke China, budaya masyarakat Cina masih kekal. Senibina masjid adalah senibina tempatan masyarakat Cina tetapi pegangan Islam mereka sama dengan kita semua. Begitu juga apabila Islam tiba di India. Islam yang sama tetapi adat-budaya yang tidak bercanggah dengan Islam masih kekal.
Islam di nusantara juga begitu. Kamu boleh terus memakai kain pelikat dan tidak perlu merasa kurang Islam kerana tidak memakai jubah. Bahkan kain pelikat yang kamu pakai itu mirip kepada apa yang Baginda SAW juga sering pakai, kain seakan kain ihram.

~ Sheikh Dr. Umar Faruq Abd-Allah

Oleh: Nik Roskiman
(Di siarkan di FB Jabatan Mufti Negeri Sembilan).

8 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Bertanya lah kamu kepada Alim Ulama

Umat Islam yang mengamalkan amalan ibadah selama ini melalui petunjuk para alim ulamak sudah selamat. Kerana mereka telah mengikut perintah Allah dan RasulNya. Dalam Surah an Nahl ayat 43 dan Surah Al anbiya’ ayat 7
Tafsirnya: “Maka bertanyalah kamu kepada Ahlu’dz Dzikri jika kamu tidak mengetahui.”
dan juga pengiktirafan oleh Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam sebagai pewaris nabi.
Manakala yang tidak mahu mengikut para alim ulamak dan memandai-mandai dalam urusan agama dalam bahaya dan membahayakan orang lain yang mengikutinya.
Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :
ALLah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan antara kebahayaan yang lain juga adalah apabila golongan ruwaibidhah semakin melata.
عَن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ. [أخرجه أحمد (2/291، رقم 7899)، وابن ماجه (2/1339، رقم 4036) قال البوصيرى (4/191): هذا إسناد فيه مقال، والحاكم (4/512، رقم 8439) وقال : صحيح الإسناد]
Terjemahan:
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu helah, yang mana pada waktu itu orang yang berdusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan berdusta. Pengkhianat akan diberi memegang amanah dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berpeluang bercakap ialah golongan Ruwaibidhah”.
Ada sahabat bertanya: “Apakah dia Ruwaibidhah itu?” Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Orang lelaki hina yang memegang urusan orang ramai”. (Hadis riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim, kata beliau: Sahih sanadnya)

Oleh: Ibnu Nafis

4 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Amalan menabur bunga di kubur adalah berasal dari Islam

image

Amalan Menabur Bunga di pusara adalah ajaran Islam, sunat, bukan diambil dari kristian dan yahudi.

Tabur Bunga di Kubur adalah dari amalan Islam, diamalkan muslimin sedunia, dan maktub dalam teks muktabar fikah mazhab . Kalau bukan dari amalan Islam, kenapa wujud dalam fatwa Ilmu Fekah sudah sebegitu lama

2 buah kitab yang jadi rujukan utama para penuntut dan ulama dibidang fekah mazhab Shafie.

pertama : I’anatutthoolobin juzuk 2 mukasurat 119.

kedua: Kasful Litham, juzuk 1 , mukasurat 82.

Soalan 1: Ustaz, mohon pencerahan. Bukankah Nabi s.a.w tutup pakai pelepah tamar? Di sini tiada pohon tamar.Kalau pakai hukum qias, guna pelepah kelapa atau sawit. Atau tak perlu letak apa2 untuk elakkan salah faham. Maaf ustaz.

Jawab: Menurut Sheikh Ibn Hajar dalam kitab Fatawa al Kubro beliau seperti yang dinukil dalam kitab I’anah al thoolibin  dimuka surat yang dipaparkan gambarnya itu  memang termasuk yang diqiyaskan dengan pelepah tamar adalah sebarang dahan, ranting kayu ataupun  pelepah kelapa/sawit untuk dipacak/tanam diatas kubur.

Kalimat- غرس- bermakna pacak/tanam atau sebarang cara yang lain. Dalam kitab Bahrul Maazi- Komentar Hadis Jamik Sunan Tarmizi ,  karangan Sheikh Marbawi juga ada disebut qiyas ini. Iaitu qiyas pelapah lainnya dengan pelepah tamar . Guru saya berkata:  Pelepah kelapa lebih hampir menyerupai pelepah tamar. Wallahu a’lam.

Soalan 2: Ada pulak orang berkata, dalam kitab itu kata pacak/tanam, tentulah sesuai untuk kayu, kenapa pulak ditabur bunga, tidak munasabah jika qiyas bunga kepada pelepah tamar?. Sudah tentu qiyas itu tidak sah?.

Jawab: Begini . Apabila kita sudah benar-benar  faham konsep qiyas yang sah diamalkan dalam ilmu Ushul Fiqah, tentu akan mudah bagi kita menerima  keputusan  ulama dalam teks Fathul Muin dan I’anah tersebut. Bagaimana pula?. Fahamilah,  bunga diqiyaskan kepada pelepah tamar,  maksudnya apabila pelepah tamar sunat  dipacak atas kubur maka bunga  juga dihukum sunat ditabur atas kubur .  sebabnya (illahnya) diqiyaskan kepada pelepah tamar atas dasar bersatu makna (illah) antara keduanya. Makna tersebut  ialah faedah Tasbih dari keduanya. Maksudya pelepah tamar bertasbih, bunga juga bertasbih. maka disamakan hukum keduanya sebab mempunyai persamaan , iaitu tasbih.

Kalau begitu kenapa pula ditabur bunga  tidak pacak?. JAWABNYA: Munasabah kuntum-kuntum bunga – tabur.. mana boleh bunga  dipacak pacak ?. kalau boleh dipacak .. haa pacak lah.. tak letih?.

Pondoktampin.

3 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Sedekah Pahala Untuk si-Mati (Polemik Klasik)

Olih Ahli Hadis Ustaz Khafidz Soroni dari KUIS.

[Fokus Kepada Mazhab al-Syafi’i]

1. Masalah ini merupakan salah satu masalah yang selalu ditimbulkan dan dibahaskan, sedangkan para ulama telah membahaskannya dan selesai lama dahulu.

Maksudnya, mereka yang tak bersetuju dengan sedekah pahala kepada si-mati tetap tidak bersetuju walau apa pun dalil yang diberi.

2. Antara dalil kuatnya, ia tidak dilakukan oleh para sahabat dan tabiin (.. ‘hipotesis’ sebegini biasanya nampak kuat tapi adakalanya goyah kerana tidak detil).

Begitu juga sebaliknya, mereka yang berpendapat boleh sedekah pahala kepada si-mati tetap mengatakannya boleh tanpa halangan selagi masih di dalam ruang lingkup nas-nas syarak.

3. Masalah timbul biasanya dari ‘budak-budak’ yang baru mengaji ABC dalam disiplin pengajian Islam di bawah satu aliran sahaja. Maka muncullah tuduhan bidaah, jahil, sesat dan sebagainya. Padahal perkara tersebut tidak perlu berlaku. Perselisihan dalam fiqh yang diiktiraf tidak termasuk dalam kemungkaran-kemungkaran yang wajib ditegah.

4. Dalam masalah ini, antara hujah mereka yang mengkritik pendapat ulama yang membenarkan sedekah pahala untuk si-mati, secara khususnya cemuhan yang dilontarkan ke atas ulama-ulama Syafi’i sepertimana di Nusantara ini, ialah mereka membelakangi Imam al-Syafi’i dan tidak bertaklid kepadanya dalam masalah ini kerana Imam al-Syafi’i mengatakan tidak sampai pahala kepada si-mati.

5. Adakah ini benar? Cuba perhatikan petikan-petikan ini yang saya kutip dari sini ;

قال النووي في المجموع: يستحب أن يمكث على القبر بعد الدفن ساعة يدعو للميت ويستغفر له نص عليه الشافعي واتفق عليه الأصحاب ، قالوا : ويستحب أن يقرأ عنده شيء من القرآن وإن ختموا القرآن كان أفضل. اهـ – كتاب الجنائز من المجموع باب حمل الجنازة والدفن، المستحب بعد الدفن أن يدعو للميت ويستغفر له: المسألة الثامنة. وهي عبارة محتملة

. وقال في رياض الصالحين آخر باب الدعاء للميت بعد دفنه والقعود عند قبره ساعة للدعاء له والاستغفار والقراءة: قال الشافعي رحمه اللَّه: ويستحب أن يقرأ عنده شيء من القرآن وإن ختموا القرآن كله كان حسناً.اهـ وفي العبارة تجوز كما سيتضح.

وقال في الأذكار: قال الشافعي والأصحاب: يستحب أن يقرؤوا عنده شيئا من القرآن، قالوا فإن ختموا القرآن كله كان حسنا.اهـ ولعل عبارته في الأذكار أدق من غيرها

وعبارة الشافعي في الأم كالتالي: وأحب لو قرئ عند القبر ، ودعي للميت. اهـ ذكر ذلك آخر باب عدد كفن الميت من كتاب الجنائز. وعزاه بعضهم للخلال في جزء القراءة عند القبور المطبوع (رقم 7) عن الشافعي

فظهر لنا أن أصل القراءة صحت عن الشافعي أما استحسان الختم فهي عن أصحابه رضي الله عنهم

قال الحسن الصباح الزعفراني: سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال: لا بأس بها . – الروح لابن القيم (ص13) طبعة حيدر آباد

6. Secara umumnya, meskipun Imam al-Syafi’i tidak secara jelas mengatakan bahawa sedekah pahala sampai kepada si-mati, namun beliau berpendapat secara jelas bahawa si-mati memperoleh manfaat daripada amalan orang yang masih hidup.

Saya nukilkan pula di sini dari kitab Fatawa al-Imam al-Nawawi (hlm. 83) – lihat gambar :

Terjemahan : “Masalah: Adakah sampai kepada si-mati pahala apa yang disedekahkan untuknya, doa, ataupun bacaan al-Quran? Jawapan: Sampai kepadanya pahala doa dan pahala sedekah dengan ijmak ulama. Dan mereka berselisih pula tentang pahala bacaan al-Quran. Maka kata Ahmad dan sebahagian sahabat al-Syafi’i: Ia sampai. Manakala kata al-Syafi’i dan kebanyakan ulama: Tidak sampai”.

7. Sebelum saya hurai selanjutnya, perlu diingat kalimah-kalimah berikut “doa”, “sedekah” dan “bacaan al-Quran” dalam fatwa di atas. Telah saya nyatakan sebelum ini bahawa Imam al-Syafi’i menyatakan bahawa si-mati memperolehi manfaat daripada bacaan al-Quran orang yang masih hidup. Namun di sini disebut apa yang masyhur daripada beliau iaitu pahala bacaan al-Quran tidak sampai kepada si-mati. Perlu diingat, dua pendapat yang zahirnya bertentangan dari sesetengah mujtahid itu memang banyak berlaku. Maka, menjadi kewajipan ulama-ulama mazhabnya untuk menjelaskannya. Justeru apakah penjelasan munasabah bagi isu ini? (Ini kerana ia tidak termasuk dalam perbincangan qawl qadim dan qawl jadid dalam mazhab al-Syafi’i)

8. Ulama Syafii menjelaskan, bahawa maksudnya ialah jika ia membaca al-Quran tetapi tidak berdoa supaya disampaikan pahalanya kepada si mati, maka pahala tersebut tidak akan sampai. Namun jika ia berdoa mohon disampaikan, nescaya si-mati akan memperolehi manfaat daripada bacaan al-Quran tersebut. Ulama-ulama Syafi’i menyatakan, perlu berdoa selepas bacaan al-Quran tersebut agar disampaikan pahalanya kepada si-mati, kerana dengan doa yang dipohonkan itu akan sampai kepada si-mati secara ijmak ulama.

9. Dan inilah yang diamalkan oleh kebanyakan orang yang mengharuskan amalan tersebut, iaitu berdoa mohon disampaikan pahala amalan yang dilakukan kepada si-mati. Selain bacaan al-Quran, termasuk juga bacaan tahlil, zikir dan juga selawat. Ini berdasarkan hadith yang menyebut bahawa kalimah yang baik itu juga merupakan sedekah (الكلمة الطيبة صدقة). Dan sedekah juga sampai kepada si-mati secara ijmak ulama. Apa salahnya ulama-ulama Syafi’i mensistem dan mendetilkan pendapat Imam mereka hingga dicemuh kerana tidak mengikutinya? Mungkin cemuhan tersebut tidak lain hanya bermaksud untuk mencela ulama-ulama bermazhab yang tidak mahu menjadi ‘anti-mazhab’ seperti mereka..

10. Ada juga sesetengah orang yang ‘bakhil’ mempersoalkan, pahala kita sudah cukup banyakkah sehingga mahu menyedekahkannya kepada orang lain? Sebenarnya orang yang membaca al-Quran dengan segala penumpuan (tawajjuh), peluh keringat, waktu yang diluang, bertajwid, berlagu dan juga tadabbur kemudian menyedekahkan pahalanya kepada si-mati, tidak sama pahala yang disedekahkan itu dengan pahala yang dia sendiri perolehi. Misalnya jika dia memperolehi pahala 100% dari hasil usahanya, maka pahala yang disedekahkan kepada si-mati itu tidak mungkin menjadi 100% kerana tidak ada sebarang usaha langsung daripada si-mati. Maka si-mati hanya memperoleh manfaat daripada pahala bacaan tersebut sahaja, tidak termasuk ganjaran susah-payah dan ikhlas orang tadi. Mungkin kita boleh umpamakan misalnya kita memberi sedekah RM100 kepada satu orang miskin, maka orang tersebut memperolehi RM100 juga yang boleh dimanfaatkannya, tetapi tidak memperolehi pahala mencari rezeki halal, pahala sedekah, membantu orang dan pahala ikhlas yang telah kita perolehi.

11. Bukankah dengan sedekah itu (tidak kira sedekah pahala atau harta) akan menambahkan rezeki dan barakah kepada kita? Kita sudah sedia maklum kedudukan hati orang ‘bakhil’ yang enggan langsung membantu orang lain ini…

Sumber :

1. http://sawanih.blogspot.my/2009/07/sedekah-pahala-untuk-si-mati-polemik.html

2. http://sawanih.blogspot.my/2009/07/sedekah-pahala-untuk-si-mati-siri-2.html

27 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

ADAKAH ZIKIR SECARA BERJEMAAH ITU BIDAAH?

Sheikh Allamah Prof. Dr. Ali Jum’ah (Mufti Mesir) mengatakan (Dalam buku beliau “Al-Bayan“)

Bahawa: “Berhimpun untuk melakukan zikir secara berjemaah dalam satu halaqah (perhimpunan) merupakan suatu amalan sunnah yg bersandarkan dalil syarak”.

Dalil-dalilnya:-

Al-Quran :
“Allah s.w.t berfirman ertinya: “Bersabarlah kamu (tekunlah kamu) takkala bersama dengan orang-orang yang yang menyeru kepada Tuhan mereka (berdoa dan berzikir),samada petang ataupun pagi,dalam mengharapkanNya”

(Al-Kahfi: 28)

Hadis :
Nabi Muhammad S.A.W bersabda ertinya:

“Sesungguhnya,bagi malaikat itu,sekumpulan malaikat yang berlegar-legar dalam mencari ahli zikir.

Maka,apabila mereka (malaikat) mendapati satu kaum berzikir kepada Allah S.W.A, mereka (malaikat) akan berkata (kepada sesama para malaikat yang lain) :

“Marilah segera kepada hajat kamu (apa yang kamu hajati)” Maka, mereka menaungi golongan yang berzikir (secara berjemaah tersebut) dengan sayap-sayap mereka sehingga ke langit dunia”.

Hadis – (Riwayat Al-Bukhari)

Dari Mu’awiyah r.a. telah berkata, bahawasanya Nabi s.a.w. pernah keluar menuju ke halaqah para sahabat Baginda s.a.w.. Lalu, Baginda s.a.w. bertanya (kepada para sahabat yang berhimpun tersebut) :

“Apa yang menyebabkan kamu semua duduk berhimpun ini?” Mereka menjawab: “Kami duduk untuk berzikir kepada Allah s.w.t., memujiNya terhadap nikmatNya takkala Dia memberi hidayah kepada kami dalam memeluk Islam.”

Sehinggalah sabda Nabi s.a.w.: “Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku dan memberitahuku bahawa Allah s.w.t. berbangga terhadap kamu di hadapan mara malaikat”

(hadis riwayat Muslim)

Dari Abi Hurairah r.a. telah berkata,bahawa Rasulullah s.a.w. telah bersabda yang bermaksud :

“Tidaklah duduk sesuatu kaum,akan suatu majils untuk berzikir kepada Allah,melaikan para malaikat akan menaungi mereka,akan terlimpah rahmat ke atas mereka,dan Allah s.w.t. juga akan memperingati mereka”.

(hadis riwayat Muslim)

Imam An-Nawawi dalam syarah beliau mengatakan bahawa:

“Hadis ini menunjukkan tentang kelebihan majlis-majlis zikir dan kelebihan orang-orang yang berzikir,serta kelebihan berhimpun untuk berzikir beramai-ramai“.

FAHAMILAH DALIL-DALIL INI DAN LAPANGKANLAH DADAMU

27 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

TAFSIRAN PEGANGAN DAN AQIDAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH

IRSYAD AL-FATWA : TAFSIRAN PEGANGAN DAN AQIDAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH

Bahagian Fatwa Majlis Ugama Islam Negeri Sembilan.

Tarikh Keputusan : 25 Februari 2016

Setelah meneliti setiap pandangan ahli mesyuarat dan hujah-hujah yang dikemukakan, Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Negeri Sembilan Bil. 02/2016-1437H yang bersidang pada 25 Februari 2016 bersamaan 16 Jamadilawal 1437H telah bersetuju menerima cadangan takrifan berkaitan Ahli Sunnah Wal Jamaah dalam konteks Negeri Sembilan iaitu merujuk kepada kelompok majoriti umat Islam mereka yang berpegang dengan ajaran Islam yang sebenar berdasarkan al-Quran dan panduan Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan para ulama Islam muktabar serta berpegang dalam hal berkaitan dengan:

1. Aqidah dan Tauhid, berdasarkan pegangan Imam Abu Hasan al-Ash’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.

2. Fiqh dan Syariah, berdasarkan mazhab Shafii di samping meraikan mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbali.

3. Tasawwuf, berdasarkan manhaj ulama sufi berwibawa seperti Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali.

http://www.muftins.gov.my/index.php/arkib2/himpunan-fatwa/171-keputusan-mesyuarat-fatwa/933-tafsiran-pegangan-dan-aqidah-ahli-sunnah-wal-jamaah

25 April 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Fatwa, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Menuntut Ilmu Bertalaqqi

Tidak sepatutnya timbul polemik  “talaqqi” atau “tidak talaqqi” bagi penuntut ilmu khususnya ilmu syariyyah.

Ini kerana , sememangnya tugas tholibul ilmi itu ialah mencari, menadah, membahas, menilik dan tenggelam di dalam ilmu.

Jika semua menyedari dan insaf dengan perkara tersebut, maka sudah pasti tiada istilah “candu talaqqi” dan sebagainya.

Namun, sistem persijilan telah sedikit sebanyak mengubah jalan hidup pelajar sekarang. Istilah penuntut ilmu sudah lagi kurang sesuai kepada mereka yang hanya melihat sijil semata-mata bukan isinya. Maka tidak salah jika saya katakan bahawa penuntut terbahagi kepada dua bahagian :

1) Penuntut Ilmu

2) Penuntut Sijil

Bezanya juga sangat ketara kerana ilmu tiada had masanya. Manakala sijil punya had masa tertentu.

Ilmu melahirkan adab dan amal, manakala sijil tidak menjanjikan adab dan amal.

(Saya bukan menafikan kebaikan sijil kerana ianya wasilah pada zaman ini. Maka baca tulisan ini dengan matang bukan dengan persepsi.)

Sepatutnya Tholibul Ilmi pada zaman sekarang perlu merasa tercabar sentiasa dengan tahap kefahamannya terhadap ilmu Syariyyah khususnya dan ilmu-ilmu Am umumnya.

Cuba buka kitab Syarhul Mawaqif karangan al-Imam Jurjani rahimahullah, Hasyiah Syihabuddin Al-Khafaji a’la Tafsir al-Baidhawi , Fathul Wahhab Syarah Manhaj al-Thullab karangan al- Imam Syaikhul Islam Zakariyya al-Ansori, Hasyiah al-Attor a’la Jam’il Jawami’ , Syarah Bahrul Ulum karangan al-Imam Abdul Aliyy al- Madrasi, Syarah Syamsiah karangan Al-Imam Saaduddin Taftazani .

Adakah kita mampu memahami perbahasan gergasi-gergasi ulama Islam terdahulu ini?

Jika kita tidak mampu , maka sepatutnya kita menangis kerana kita telah mengkhianati istilah ” Tholibul Ilmi”.

Ini kerana penuntut ilmu sekarang , mereka akan menjadi kelompok manusia yang akan dituntut dan diikuti pada masa akan datang.

Bagaimana perasaan orang yang mengikuti kita nanti, sedang dia tidak mengetahui bahawa orang yang dia ikuti hanya pendakwa ilmu semata-mata bukannya ilmuan hakiki.

Ilmu yang kita tuntut dan yang disusun rapi oleh para ulama dan solihin terdahulu tidak lain hanyalah sebagai alat untuk berkhidmat kepada al-Quran dan Sunnah Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Jika alatnya kita tiada malah lemah dalam memahaminya, bagaimana mungkin kita akan berkhidmat kepada Usulnya? Tidak hairan jika al-Quran dan Hadis ditafsir mengikut kehendak hati dan rasa-rasa.

Maka sayugialah bagi kita merasa insaf dan menangisi kelalaian kita.

IKHLAS

Cuma , jalan ilmu ini jalan yang sangat berat. Jalan yang menjanjikan mulia dan agung. Maka perlu niat yang benar-benar ikhlas ketika menuntutnya. Jika kita melihat sahabat kita lalai dalam tugasnya sebagai Tholibul Ilmi, maka kita nasihati , tetapi bukanlah untuk merendahkannya namun perlu sematkan niat kasihkan dirinya semoga dia tidak mengkhianati tugasnya. Jangan sekali-kali menganggap orang lain lebih rendah daripada yang menasihati.

Kepada yang dinasihati, janganlah menganggap bahawa penasihat itu memperlekehkan dirinya tetapi menganggap yang menegur inilah sahabat terbaiknya yang kasihkan dirinya. Tidak mahu dirinya terus terbuai angan-angan kosong tanpa persediaan yang rapi menghadapi tentangan masa mendatang.

Namun , jika yang menegur punya sifat bongkak takabbur, manakala yang ditegur punya ego dan tidak mengaku kelemahan, maka polemik ini akan berterusan sehingga kiamat.

Tiada kesudahannya.

Puncanya satu : Tidak ikhlas menegur, Tidak Ikhlas Menerima Teguran.

Semuanya kembali kepada IKHLAS.

Ya Allah kurniakanlah kami ikhlas di dalam perkataan dan amalan kami. YA RABB!!

image
Ustaz Nasrul Nasir

25 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

AMANAH ILMU vs KHIANAT

Guru yang mulia Syaikhuna Jamal Faruq al-Daqqaq al-Hasani hafizahullah ada menceritakan pada kami sepertimana yang disampaikan oleh guru beliau al-Allamah Syeikh Ismail Sodiq al-Adawi rahimahullah betapa amanah di dalam ilmu sangat dituntut dan menjadi keaiban bagi seorang ilmuan mengkhianati ilmu yang dipelajarinya.

Ceritanya :

Al-Azhar pada zaman dahulu jika ingin memberikan kepada para pelajarnya Syahadah Alimiyyah ( sijil tertinggi yang membolehkan seseorang itu mengajar di Masjid al-Azhar al-Syariff) maka akan diadakan ujian di dalam 12 bidang ilmu.

Jika pelajar tersebut lulus kesemua 12 ilmu tersebut maka dia mendapat kelulusan untuk mengajar kesemua bidang ilmu tersebut. Ada yang hanya diberikan izin mengajar 3 atau 4 sahaja bidang. Ada yang hanya dibenarkan mengajar 1 bidang sahaja.

Ada juga yang tidak dibenarkan langsung untuk mengajar sebarang bidang ilmu !!

Diantara sekian ramai penuntut ilmu yang akan mengambil ujian tersebut salah seorang daripadanya adalah anak kepada Syaikhul Azhar pada waktu tersebut ( tidak pasti siapakah Syaikhul Azhar tersebut kerana Syaikhuna menukilkan tanpa menyebutkan nama Syaikhul Azhar tersebut).

Selesai hari pertama ujian, sedang Syaikhul Azhar tersebut bersama dengan anaknya melangkah keluar daripada Masjid Agung al-Azhar al-Syariff, datang seorang lelaki bertanya soalan kepada Syaikhul Azhar tersebut .

Soalannya :

” Tuan Syaikh yang mulia, saya ingin bertanya , apakah warna anjing Ashabul Kahfi yang disebutkan di dalam al-Quran?? ”

Syaikhul Azhar terkejut dengan soalan tersebut lalu menjawab :

” Saya tidak pernah pula terfikir tentang perkara tersebut. Nanti saya akan rujuk semula di dalam kitab-kitab para ulama”

Setelah pulang, sepanjang malam Syaikhul Azhar tersebut membelek segala kitab Tafsir dan kitab-kitab karangan ulama bagi mencari jawapan ” warna anjing Ashabul Kahfi”.

Setelah lama membelek kitab-kitab , datang anaknya yang esok akan menduduki ujian Syahadah Alimiyyah  lalu berkata kepada ayahnya :

” Sudahlah ayah, saya kasihan melihat ayah sehingga tidak tidur malam mencari jawapan bagi soalan remeh tersebut. Ayah beri sahaja apa pun jawapan kepada lelaki tersebut, sudah pasti dia akan menerimanya kerana ayah adalah Syaikhul Azhar!”

Terdiam Syaikhul Azhar tersebut.

Keesokannya, anak Syaikhul Azhar tersebut diuji oleh beberapa ulama adakah dia mampu menguasai 12 bidang ilmu tersebut dan diberikan izin mengajar di Masjid Agung al-Azhar al-Syariff.

Setelah ujian selesai, kesemua ulama bersetuju memberikan Syahadah Alimiyyah kepada anak Syaikhul Azhar tersebut.

Tetapi yang mengejutkan, Syaikhul Azhar sendiri tidak bersetuju dengan keputusan para ulama lain. Malah melarang syahadah agung itu diberikan kepada anaknya sendiri. Maka para ulama bertanya kepada beliau, apa yang menyebabkan beliau mengagalkan anak beliau sendiri yang ternyata berkebolehan dan alim.

Maka Syaikhul Azhar itu lalu menjawab :

” Ini adalah kerana sikapnya yang sangat enteng dengan ilmu, malah bersikap khianat dengannya. Semalam, ketika aku mencari jawapan tentang warna anjing Ashabul Kahfi, dia malah memberikan cadangan kepadaku untuk menjawab dengan jawapan yang bohong hanya kerana pangkat dan kedudukanku yang tinggi menyebabkan orang yang bertanya sudah tentu akan mempercayainya.

Maka orang sebegini tidak layak menjadi pendidik dan tidak layak memimpin ummat”

P/S : Perhatikan akhlak solihin terdahulu, berbeza dengan sikap kita sekarang.

Asal punya pangkat dan kedudukan, asal diangkat oleh masyarakat, asal dipandang sebagai alim, asal pandai berceramah maka semua mahu dibahas, semua mahu dijawab walaupun ilmu tidak benar-benar kukuh.

Malah lebih berat, berbohong pula pada masyarakat.

Kasihan masyarakat, terpaksa menerima pembohongan dan pendustaan sedang mereka hauskan kebenaran dan amalan.

Pimpinlah kami Ya Allah.. Berkat NabiMu sallallahu alaihi wasallam.

Ustaz Nazrul Nasir

22 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Beberapa displin menerima kandungan ceramah dan tulisan ilmuan

Beberapa displin menerima kandungan ceramah dan tulisan ilmuan itu adalah :-

1)      Semak latar belakang penceramah dan kenali bidang apakah kepakaran beliau. Imam Malik Bin Anas berkata :
إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون
Ertinya : ” Sesungguhnya pengambilan ilmu ini adalah agama, maka telitilah dari mana kamu ambilinya (ilmu) agamamu ”  ( Siyar A’lam An-Nubala, 5/343)

2) Dapatkan komen dari ilmuan lain yang tidak ‘memusuhi’ penceramah yang anda ingin dengarinya.  Ia penting untuk mendapatkan gambaran akan siapakah ia dan sejauh manakah info yang disampaikannya boleh diterima pakai.

3) Mendengar dan membaca dengan faham penerangan sehingga habis dan tidak memotong separuh-separuh kerana ia mungkin sahaja akan menyebabkan perkataan penceramah difahami di luar konteksnya. Petikan-petikan di youtube biasanya kurang dari 10 minit, justeru kemungkinan ia di luar konteks adalah wujud dan pelru berhati-hati mengambilnya. Begitu juga petikan-petikan tulisan seseorang tokoh. Buatlah rujukan dan carilah sumber dan konteks penuh tulisan ilmuan yang berkenaan.

4) Jangan ambil serius sebarang cercaan yang dilontarkan oleh ilmuan kepada mana-mana tokoh dan individu lain. Kebanyakkannya dilontarkan secara tidak adil dan salah faham semata-mata.

5)  Mendengar satu ceramah dari mula sehingga habis dalam satu masa. Membaca satu tulisan juga hingga habis. Jika anda mendengar atau membaca sekerat dan sekerat, ia menjauhkan anda dari mendapat kefahaman bermanfaat dari ceramah dan tulisan tersebut.

6) Sebaiknya, dapatkan penceramah dan penulis yang mampu mengutarakan isi yang disertai dengan ayat dan hadis secara nasnya.  Ia adalah sebaik-baiknya kerana ia akan mendekatkan anda dengan sumber asas. Namun, mempunyai nas tidak semestinya intrepertasinya dan penggunaannya adalah betul dan tepat. Tidak dinafikan terdapat penceramah yang tidak membaca sebarang nas, tetapi semua kandungannya bertepatan dengan al-quran dan hadis. Kesimpulannya, kebijaksanaan anda dalam memilih adalah amat perlu dalam hal ini.

7) Setelah mendapat seusatu ilmu atau kesimpulan dari sesuatu ceramah penulisan, janganlah terlalu taksub atau ikut sehingga mengunci fikiran dan minda dari sebarang pandangan ilmuan lain yang berbeza.

8) Sampaikan ilmu yang diperolehi dengan amanah dan tidak mengubah suainya sesuka hati serta menisbahkannya kepada ilmuan asal. Ia dengan mudah boleh mengakibatkan salah faham dan kesan buruk kepada penceramah asal. Banyak terjadi, sesuatu dakwaan dinisbahkan kepadanya sedangkan ia adalah hasil ubahsuai pendengar atau anak muridnya.

#DrZaharuddinAbdRahman
Presiden MURSHID

22 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Hukum Tawaf sambil mendukung bayi

🔴Soalan:

Assalamualaikum….blh ke mendukung bayi semasa tawaf? sah ke tawaf jika di pertengahan tawaf bayi terkencing dlm dypers?

🔴Jawapan kami;

Di antara syarat sah tawaf adalah suci daripada najis sama ada pada pakaian, badan atau tempat bertawaf sama hukumnya sepertimana solat (al-Idhoh 282). Hal ini adalah berdasarkan sabda Nabi sollallahu alaihi wa sallam;

الطَّوَافُ حَوْلَ الْبَيْتِ مِثْلُ الصَّلَاةِ إلَّا أَنَّكُمْ تَتَكَلَّمُونَ فِيهِ فَمَنْ تَكَلَّمَ فِيهِ فَلَا يَتَكَلَّمْ إلَّا بِخَيْرٍ (رواه الترمذي 960، والحاكم وصححه)

“Tawaf keliling kaabah sama seperti bersolat kecuali kamu boleh bercakap-cakap ketika melakukannya. Sesiapa yang bercakap-cakap ketika itu, janganlah bercakap kecuali yang baik-baik.”

Justeru itu, sekiranya bayi tersebut suci daripada najis, maka ia harus didukung ketika tawaf dan tawafnya sah. Namun, sekiranya bayi yang didukung itu mempunyai najis yang tidak dimaafkan seperti kencing di dalam pampers atau qulfah (kulit yang menutup hujung zakar) yang tidak disucikan, maka tawafnya tidak sah. Hal ini adalah kerana, dia dikira telah menanggung najis ketika tawaf. Justeru, tawaf bersama-sama najis yang tidak dimaafkan adalah tidak sah (Al-Idhoh 284).

Wallahu a’lam

Oleh Ustaz اليسع

USRAH SOLAT DAN Q&A IBADAH
https://telegram.me/usrah_solat_MSO
**Channel Usrah Solat MSO-D7 berdasarkan fiqh mazhab al-Syafi’i
Posted by Madrasah Sunni Online at 01:39

19 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

PENDUSTAAN KEPADA AKIDAH IMAM SYAFIE

PENDUSTAAN KEPADA AKIDAH IMAM SYAFIE

Telah tersebar di media sosial yang mengungkapkan kata-kata dibawah ini ( Allah itu di atas ‘arsy di langit ) adalah Kalam Akidah Imam Syafie:

“Berbicara tentang Sunnah yang menjadi pegangan saya, shahib-shahib (murid-murid) saya, begitu pula para ahli hadis yang saya lihat dan saya ambil ilmu mereka, seperti Sufyan, Malik, dan lain-lain adalah iqrar seraya bersaksi bahawa tidak ada tuhan selain Allah, serta bersaksi bahawa Allah itu di atas ‘arsy di langit, dan dekat dengan makhluknya terpulang kepada kehendak Allah, dan Allah itu turun ke langit terdekat pada bila-bila Allah berkehendak ” (Al-Khumayyis, Akidah Imam 4 Halaman 68)

Kalam ini diriwayatkan melalui perawi yang bermasalah iaitu Abu Al-Hasan Al-Hakkari, seorang perawi yang tidak dapat dipercayai dan pemalsu hadis.

Imam Az-Zahabi berkata “Ibnu ‘Asakir berkata : ” Al-Hakkari tidak dapat dipercayai riwayatnya ” (Ibnu Al-Najjar, Dzail Tarikh Baghdad Juz 3 Halaman 174, Az-Zahabi, Siyar A’lam Al-Nubala’ Juz 19 Halaman 68 Dan Mizan Al-I’tidal Juz 3 Halaman 112

Sumber : FB Jabatan  Mufti  Kerajaan Negeri  Sembilan

18 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Adakah umat Islam mengadakan kenduri Arwah kepada Nabi Muhammad s.a.w? Dan siapa pula yg memimpin majlis tahlil ketika Imam Shafie wafat?

1) Adakah umat Islam mengadakan kenduri Arwah kepada Nabi Muhammad s.a.w? Dan siapa pula yg memimpin majlis tahlil ketika Imam Shafie wafat?

Jawapannya:
Tiada seorang pun yang mengadakan kenduri arwah atau majlis tahlilan kepada Baginda s.a.w kerana Rasulullah s.a.w adalah MAKSUM dan telah dijamin Syurga.

》Majlis Tahlilan bertujuan untuk keluarga si mati sedekahkan makanan kepada keluarga jauh dan jiran tetangga yang mana sedekah itu diniatkan pahalanya kepada si mati. Dan hadirin berzikir, membaca Al-Quran, berdoa agar pahala disedekahkan kepada si mati.

عن عمرو بن عبسة قال اتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت: يا رسول الله ما الاسلام؟ قال طيب الكلام واطعام الطعام
“Dari Amru bin Abasah berkata: Aku mendatangi Rasulullah s.a.w lalu aku bertanya: Wahai Rasulullah s.a.w, apakah Islam? Baginda s.a.w berkata: Perkataan yang baik dan menjamu makanan” (Hr. Ahmad)

》Jika ada yang mempertikaikan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, mari kita lihat hadis Muslim:

عن عبد الله بن عمرو ان رجلا سال رسول الله صلى الله عليه وسلم اي الاسلام خير؟ قال “تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف”
“Dari Abdullah bin Amru berkata, telah datang seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shalallah alaihi wasallam, bagaimana Islam yang terbaik? Baginda s.a.w bersabda, yang menjamu makanan dan menyebarkan salam kepada yang kamu kenali atau kepada orang yang tidak kamu kenali” (Hr. Muslim, no.39)

》Mengenai persoalan sampai atau tidak kiriman pahala kepada si mati, ia telah dijawab bahawa pahala sampai kepada si mati oleh:
1) Imam Nawawi melalui kitab Fatawa Nawawi
2) Imam Ibnu Hajar Al-Haitami melalui kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiah Al-Kubra, j.2, ms.30-31.
3) Ibnu Qayyim melalui kitab Al-Ruh, ms.143.
4) Ibnu Taimiyyah melalui kitab Hukm Al-Syar’iyyah Al-Islamiyyah fi Ma’tam Al-Arbain, ms.36
Dan lain-lain.

》Imam Suyuthi telah menyatakan boleh diadakan jamuan makan sebagai sedekah kepada si mati selama 7 hari atau 40 hari:

“Sesungguhnya At-Thowus berkata: Seorang yang mati akan beroleh ujian dari Allah dalam kuburnya selama 7 hari”
Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan jamuan makan (sebagai sedekah) untuk si mati selama hari-hari tersebut.”
Sahabat Ubaid bin Umair berkata: “Seorang mukmin dan munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mukmin akan beroleh ujian selama 7 hari, sedangkan seorang munafiq selama 40 hari di waktu pagi”
(Rujuklah kitab al-Hawi, Imam Suyuthi, j.2, ms. 178)

》Selain itu, Imam Suyuthi telah bersaksi bahawa:

“Sesungguhnya sunatnya bersedekah memberi makan selama 7 hari telah sampai kepadaku, ia berterusan hingga sekarang di Mekkah dan Madinah. Secara zahirnya ia tidak ditinggalkan (daripada diamalkannya) dari masa sahabat sehingga sekarang dan mereka melakukannya sebagai tradisi diambil dari ulama Salaf sejak generasi pertama”
(Rujuklah kitab al-Hawi, Imam Suyuthi, j.2, ms. 194)

》Kelihatannya, persaksian Imam Syuthi yang hidup sepanjang tahun 849-911H ada benarnya juga kerana telah dinyatakan oleh Imam Ibnu Asakir:

“Beliau telah mendengar Al-Syeikh Al-Faqih Abu Al-Fath Nashrullah bin Muhammad bin Abd Al-Qawi Al-Masyisyi berkata: Telah wafat Al-Syeikh Nashr bin Ibrahim Al- Maqdisi pada hari Selasa 9 Muharram 490H di Damsyiq. Kami telah berhenti/berada di kuburnya selama 7 malam, membaca Al-Quran pada setiap malam 20 kali khatam.
(Rujuklah Tabyin Kazb Al-Muftari fi Ma Nusiba ila Al-Imam Abi Al-Hasan al-Asy’ari)
* Hal ini berlaku pada tahun 490H.

》Dan juga dibuktikan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani:
“Ahmad Ibn Muni’ melaporkan di dalam Musnadnya daripada Al-Ahnaf Ibnu Qais berkata: Apabila Saidina Umar r.a telah ditikam (dibunuh) beliau telah memerintahkan Suhaib untuk mengerjakan sembahyang dengan orang ramai selama 3 hari dan beliau menyuruh agar disedikan makanan kepada orang ramai.” Kata Amirul Mukminin Fil Hadis Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Isnadnya adalah hasan.
(Rujuklah Al-Mathalib Al-Aliyyah, j.1, ms.199, hadis no. 709)
* Hal ini berlaku sekitar tahun 23H.

》Dan juga, terdapat hadith dalam Sunan Abu Daud yang menyatakan selepas mengebumian jenazah, Rasulullah menerima jemputan ke rumah untuk makan. Menurut syarah Sunan Abu Daud:
(داعى امراة)…وفى المشكاة، داعي امرأته بالاضافة الى الضمير. فال القاري: أي زوجة المتوفي
(Da’i Imra’ah)… dan di dalam kitab al-Misykat digunakan ‘da’i imra’atihi’ yang disandarkan kepada dhamir (iaitu ‘nya’). Al-Qari berkata: iaitu ISTERI SI MATI.
(Rujuklah ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud)
* Hal ini menunjukkan ahli keluarga si mati menjemput nabi s.a.w makan seperti yang telah disimpulkan oleh Syeikh Ibrahim Al-Halabi:
“Hadith ini menunjukkan atas bolehnya ahli keluarga mayat menyediakan makanan dan menjemput orang lain untuk makan. Jika makanan itu diberikan kepada fakir miskin adalah baik. Melainkan (iaitu tidak boleh berbuat demikian) jika salah seorang dari ahli waris ada yang masih kecil makan tidak boleh diambol dari harta ahli waris si mati”
(Rujuklah Al-Bariqah Al-Muhammadiyyah, j.3, ms.235 dan Al-Masail Al-Muntakhabah,ms.49)
* Hal ini berlaku pada zaman Nabi s.a.w.
= = = = = = = = = = = =

2. Siapa pula yang memimpin majlis tahlilan ketika Imam Syafie wafat?

Jawapannya:
Ia adalah seorang wali (penguasa) yang bernama Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam.

Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam adalah seseorang yang diwasiatkan oleh Imam Syafie, apabila beliau wafat agar dimandikan dan diurus oleh Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, dari kerja-kerja  memandikan, memimpin solat jenazah, menguburkan, mendoakan serta mengadakan majlis tahlilan bersama jamaah yang lain yang hadir saat Imam Syafi’i wafat.

Imam Syafie wafat pada malam Jumaat pada waktu subuh pada hari terakhir bulan Rejab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Masihi pada usia 52 tahun.

Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafie sampai hari ini, dan disana pula dibangun sebuan masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafie. Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya kerana banyaknya penziarah. (Sila rujuk kitab tarikh atau Manaqib Imam Syafie)

》Persoalan mengenai pendirian Imam Syafie:
Imam Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani berkata: “Saya pernah bertanya kepada Imam Syafie mengenai bacaan Al-Quran di kubur. Ternyata beliau itu (Imam Syafie) membolehkannya”.

》Hal ini dikukuhkan lagi apabila Imam Syafie sendiri pernah menziarahi makam Imam Laith bin Sa’ad, kemudian beliau membaca Al-Quran.
وقد تواتر ان الشافعي زار الليث بن سعد واثنى خيرا وقرأ عنده ختمة وقال: ارجوا ان تدوم فكان الامر كذلك
“Dan telah mutawatir (masyhur) riwayat bahawa Imam Syafie telag menziarahi makam Imam Laith bin Sa’ad. Beliau memujinya dan membaca Al-Quran di sisi kuburnya dengan sekali khatam. Imam Syafie berkata: Aku mengharapkan agar ia (amalan membaca Al-Quran seperti di sisi makan Imam Laith) akan berterusan, maka begitulah seperti apa yang dikatakan (didoakan) oleh Imam Syafie”
(Rujuklah kitab az-Zakhirah Ath-Thaminah, ms.64)

》Bagaimana pula dengan perkataan Imam Syafie:
وأكره المأتم وهي جماعة وان لم يكن لهم بكاء فان ذلك يحدد الحزن ويكلف المؤنة
“Dan aku membenci ma’tam iaitu adanya perkumpulan walaupun tidaklah berlaku pada mereka perbuatan menangir kerana perbuatan itu akan mengembalikan kesedihan dan menambahkan bebanan.” (Al-Umm, j.1, ms.318)
* Segelintir orang jahil bertopengkan ‘ustaz’ telah menyangka Majlis Ma’tam yang dibenci oleh Imam Syafie adalah sama dengan Majlis Tahlilan. Sedangkan “ma’tam ialah perkumpulan orang yang kebiasaannya akan bertambahlah kesedihan dalam perkumpulan mereka.” (Rujuklah Al-Munjid, ms.2)
* Maka, illah larangan ma’tam ialah kerana ia termasuk dalam ‘niyahah’ iaitu meratap pemergian si mati. Hal ini dilarang dalam agama kerana Nabi s.a.w bersabda:
الميت يعذب ببكاء الحي عليه او ببكاء اهله عليه
“Mayat akan diazab kerana tangisan rantapan orang hidup ke atasnya atau tangisan rantapan keluarganya” (HR. Muslim)
* Konsep yang berbeza pada majlis tahlilan, kerana ia bukan majlis meratap dan bersedih. Melainkan sebagai suatu usaha keluarga si mati untuk mengirimkan pahala kepada si mati dengan pelbagai amalan kebaikan.

》Begitu juga seperti larangan kenduri wahsyah yang diterangkan dalam kitab-kitab fiqh yang lain, larangan tersebut berserta dengan illah yang berbeza. Sebab itulah, urusan menentukan hukum diberikan kepada alim ulama bukannya kepada cikgu geografi.

》Bagaimana pula, dengan pendapat Imam Syafie mengenai mengirim pahala bacaan Al-Quran?
* Imam Nawawi telah menyatakan mengirim pahala doa dan sedekah adalah sampai dengan IJMAK ULAMA.
يصله ثواب الدعاء وثواب الصدقة بالاجماع
(Rujuklah Fatawa Imam Nawawi, ms.146)
* Ini bermakna, usaha keluarga mengirim pahala sedekah makanan dalam majlis tahlilan itu SAMPAI kepada si mati dengan ijmak ulama.

》Namun, yang menjadi khilaf ialah 0ahala bacaam Al-Quran. Menurut Imam Nawawi, ia sampai. Dan menurut Syeikhul Islam Zakaria Al-Anshari:
ان مشهور المذهب اي فى تلاوة القران محمول على ما اذا قرأ لا بحضرة الميت ولم ينو الثواب له او نواه ولم يدع
“Sesungguhnya pendapat masyhur dalam mazhab Syafie mengenai bacaan Al-Quran  (yang pahalanya dikirimkan kepada si mati) adalah apabila dibaca tidak dilakukan ketika mayat berada dihadapan pembaca, dan jika tidak diniatkan hadiah pahala kepadanya atau diniatkan pahala bacaan kepadanya tetapi tidak membaca doa sesudah bacaan Al-Quran tersebut.”
(Rujuklah Hukm Asy-Syar’iyyah Al-Islamiah fil Ma’tam Al-Arbain, ms.43)

* Maka, beginilah kesimpulan ulama bermazhab Syafie simpulkan setiap perbuatan, ijtihad dan wasiat Imam Syafie. Kerana mereka lebih memahami fiqh dalam mazhab berbanding cikgu geografi.

☆ Penulis kitab Al-Hawi iaitu Imam Suyuthi & penulis kitab Hukm Asy-Sya’iyyah Al-Islamiah fil Ma’tam Al-Arbain ialah Syeikh Hasanain Makhluf, kedua-duanya tinggal di Mesir. Mereka menyokong majlis tahlilan dengan pelbagai hujjah yang dinyatakan dalam kitab mereka tersebut.
SOALNYA, bilakah amalan hindu bertapak di Mesir?

Disediakan oleh: Hafiz Al Za’farani (HAZA)

18 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

MANFAAT ZIKIR BAGI KITA

image

Syekh Ibnu Athaillah mengatakan, “Tidak ada ibadah yang lebih bermanfaat bagimu daripada dzikir. Sebab, dzikir adalah ibadah yang bisa dilakukan orang tua dan orang sakit yang sudah tidak mampu lagi berdiri, rukuk, dan sujud.
Bersihkan cermin hatimu dengan khalwat dan dzikir hingga kelak kau berjumpa dengan Allah SWT.

Hatimu harus selalu ingat Allah sehingga cahaya menyinarimu. Jangan seperti orang yang ingin menggali sumur, kemudian ia menggali di satu tempat sedalam satu jengkal lalu menggali di tempat lain sedalam satu jengkal pula. Jadi, airnya tidak akan pernah keluar. Akan tetapi, galilah di satu tempat sehingga airnya memancar.

Hai hamba Allah, agamamu adalah modalmu. Jika kau telah menyia-nyiakan modalmu, sibukkan lisan dengan berdzikir mengingat-Nya, sibukkan hati dengan cinta kepada-Nya, dan sibukkan tubuhmu dengan menaati-Nya. Tanamlah wujudmu di tempat menanam hingga benih muncul dan tumbuh. Siapa yang memperlakukan hatinya sebagaimana petani memperlakukan tanahnya, pasti hatinya bersinar.”

–Syekh Ibn Atha’illah dalam Taj Al-‘Arus

18 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Mencintai orang soleh

Mencintai orang soleh; “Adalah termasuk didalam ‘Fitnah’, jika seseorang itu berpikir bahawa dia boleh memahami Al-Quran dan Sunnah tanpa bimbingan para ulama. Perlukan panduan ulama. Orang-orang soleh. Salah satu cara untuk mendidik diri kita akan bersemangat didalam mengerjakan ibadah kepada Allah سبحانه وتعالى yakni memandang wajah ulama’.”

“Kata Imam Abdullah Alwi Al-Haddad; “Mencintai orang-orang soleh ini adalah sa’adah yakni kebahagiaan dunia dan akhirat. Awal darjat kesolehan seseorang itu adalah apabila mereka mencintai orang-orang soleh yang dahulu. Mencintai ulama. Orang yang tidak mencintai orang soleh maka ianya bukan daripada kalangan orang-orang yang soleh.”

“Manusia yang paling buruk sekali adalah yang membenci orang-orang soleh. Apabila seseorang itu ingin menjadi soleh, dia perlulah mencintai orang yang soleh dan mencintai para sahabat Baginda Nabi ﷺ dan Ahlul Bait Baginda Nabi ﷺ. Inilah merupakan satu sifat daripada orang yang soleh.”

“Apabila seseorang itu mencintai orang-orang yang soleh, para sahabat Baginda Nabi ﷺ dan Ahlul Bait Baginda Nabi ﷺ , ia akan menjadi penyebab untuk dirinya menjadi orang yang soleh. Tanda kedua orang soleh, adalah apabila mereka sentiasa menyebut dan berdoa kepada kedua ibu bapa mereka. Jika kedua ibu-bapa mereka sudah meninggal dunia, maka pohonlah keampunan kepada mereka.”

“Sekiranya mereka masih hidup, maka berdoalah untuk kebaikan mereka. Sekiranya kita rajin berdoa kepada kedua ibu-bapa kita, InsyaAllah. Kita akan digolongkan dikalangan orang-orang soleh.”

“Nabi ﷺ menyebutkan di dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Daripada Abu Hurairah Radhiyallahu’Anhu katanya Nabi ﷺ bersabda, “Apabila anak Adam(manusia) meninggal dunia maka terputuslah semua(pahala) amal perbuatannya kecuali 3 perkara iaitu;”

“Yang pertama adalah Sedekah jariah. Yang kedua, Ilmu yang bermanfaat. Yang ketiga, Anak soleh yang mendoakan kedua ibu bapanya. Tidak akan berdoa seseorang anak itu baik lelaki mahupun perempuan kepada kedua ibu-bapanya melainkan ianya adalah merupakan daripada anak yang soleh. Dan akan digolongkan bersama orang-orang yang soleh.”

Daripada Al-Habib Kadzim Bin Ja’afar As-seggaf.

18 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Boleh kah baca Quran kepada orang yang sudah meninggal?

image

Ada orang bertanya saya…,”Ustaz, boleh ke kita membaca Al-Quran kepada orang yang sudah meninggal dunia?”

Saya jawab…..

Di dalam kitab Bujairami hasyiah bagi kitab Iqnak ini ada menyebut..

ويستحب أن يقرأ عنده شيء من القرآن و إن ختموا القرآن كان أفضل شرح الروض اه..

Dan disunatkan “dituntut” akan bahawa dibaca di sisi mayat akan sesuatu daripada Al Quran dan jika khatam mereka itu adalah lebih afhdal..

Adapun Imam Syafie rahimahullah telah mengkhatamkan Al-Quran di sisi kubur Imam Abu Hanifah sebanyak 2 kali sebelum Subuh dan Imam Syafie berkata tidak sampai bacaan kepada si mati jika ianya tidak diniatkan, maka setelah kita membaca Al-Quran, niatkan untuk kedua orangtua kita, kita menuntut ilmu, niatkan pahalanya untuk kedua orangtua kita, kita solat, niatkan ganjaran pahalanya juga untuk kedua orangtua kita dan sebagainya
Jangan ditanya bagaimana Imam Syafie boleh mengkhatamkan Al-Quran sampai 2 kali sebelum Subuh kerana Imam-Imam Mujtahid adalah pilihan Allah dan Allah telah menganugerahkan kepada mereka berbagai-bagai kelebihan ilmu dan karamah sedangkan kita yang belajar beberapa kalipun, masih belum mampu memahami sesuatu ilmu, solatpun masih banyak yang tak kusyuk.Oleh itu jangan cuba membanding-bandingkan diri kita dengan Ulama’-Ulama’ terdahulu yang mana ada Ulama’ terdahulu yang menghidapi penyakit sehingga para doktor menasihatinya agar kakinya dipotong, maka Ulama’ tersebut meminta doktor tersebut memotong kakinya ketika dia sedang solat dan ternyata Ulama’ tersebut tidak merasa kesakitan di saat kakinya dipotong kerana terlalu kusyuk ketika solat, adapun kita digigt nyamukpun dah gatal dan menjadi tak tentu arah ketika solat.

Oleh: Ustaz Mohd Hanif Mohd Saleh

16 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Allah Di Mana? Di Atas Langit atau Di Semua Tempat?

Allah Di Mana? Di Atas Langit atau Di Semua Tempat?

Soalan di atas, lazimnya ditanya oleh salah satu dari dua orang berikut, sama ada dia memang tak tahu dan inginkan jawapan, atau soalan perangkap ‘salafi’ (boleh baca salah pi) yang ingin menguji akidah ‘lawan’nya. Ini kerana mereka sudah meyakini bahawa Allah Taala itu tempatnya di atas langit. Jika orang tersebut menjawab di atas langit, dia akan berpuashati, tetapi jika orang tersebut menjawab di semua tempat atau di mana-mana sahaja (seperti fahaman Muktazilah), maka dia akan memerli dan memperbodohkan begini: “Walaupun di tandas?!”.

Sebenarnya soalan pilihan; ‘di atas langit atau di semua tempat’ seperti di atas adalah soalan bidaah. Saya katakan ianya bidaah sayyi’ah (yang keji). Ini kerana ianya telah menimbulkan terlalu banyak perbalahan dan sengketa sehingga kini. Maka eloklah ditinggalkan sahaja pertanyaan bidaah tersebut. Ini kerana jawapan yang pertama dan yang kedua adalah mustahil bagi Allah, selagi ia berhubung dengan tempat, sepertimana yang akan diterangkan nanti. Allah Taala tidak berada di tempat tertentu, sama ada atas, bawah, kiri, kanan, depan atau belakang. Ini tidak bermakna Allah Taala itu ‘ma’dum’ (معدوم) yakni ‘yang ditiadakan’ (seperti ejekan setengah ‘ salafi’ pembidaah yang jengkel), kerana Dia telah sedia ada wujud dengan zat-Nya. Begitu juga Allah Taala tidak berada di semua tempat.

Jawapan Yang Sahih

Namun, pertanyaan; ‘di mana Allah?’ bukanlah bidaah. Ini kerana Allah Taala telah mengetahui tabiat manusia yang pasti akan bertanya soalan seperti itu. Dan Allah Taala tidak mahu umat Nabi Muhammad SAW ini menjadi sepertimana orang Yahudi dan orang Kristian yang beriktikad bahawa Allah Taala itu di atas langit dengan zat-Nya, lalu diturunkan anak-Nya ‘Uzair menurut Yahudi, dan Jesus (‘Isa) menurut Kristian, ke atas muka bumi, لا حول ولا قوة إلا بالله. Oleh kerana itu Allah Taala telah menurunkan jawapannya seperti berikut, firman-Nya dalam surah al-Baqarah:

Terjemahan: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku, maka (beritahu kepada mereka): Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyahut seruan-Ku (dengan mematuhi perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku mudah-mudahan mereka menjadi baik serta betul”. (186)

Bagaimanapun jika mereka tidak berpuashati dengan jawapan dari kalam Allah ini, katakanlah: Allah wujud tanpa bertempat (الله موجود بلا مكان). Ini kerana Allah Taala tidak memerlukan tempat (dan langit adalah termasuk daripada tempat). Yang memerlukan tempat ialah makhluk. Dia-lah yang menciptakan tempat, maka tempat adalah termasuk daripada makhluk. Allah Taala tidak memerlukan apa-apa daripada makhluk-Nya dan tidak bergantung kepada mereka sedikitpun.

Komentar Hadith Jariyah

Adapun hadith jariyah (hamba perempuan) yang menunjukkan seolah-olah Allah Taala di langit, dijawab oleh para ulama Ahlus Sunnah wal-Jamaah seperti berikut;

1- Ianya bukan hadith mutawatir. Maksudnya hanya segelintir sahabat Nabi SAW sahaja yang meriwayatkannya, tidak ramai. Maka orang yang mati tanpa akidah ‘Allah di atas langit’ tidaklah berdosa. Justeru, usul akidah mesti disabitkan dengan hadith mutawatir.

2- Hadith tersebut tidak dimuatkan oleh ulama-ulama hadith yang meriwayatkannya di dalam bab akidah, kecuali golongan musyabbihah dan sebahagian ahli hadith yang terpengaruh dengan mereka dalam mazhab Hanbali.

3- Ini kerana cara ia difahami berhubung dengan situasi hadith itu diucapkan, di mana jariyah tersebut adalah orang biasa yang kurang berpelajaran, maka wajarlah Nabi SAW melayaninya menurut kemampuan akal fikirannya. Dalam riwayat berkenaan beliau menjawab: “Di langit”, kerana inilah kefahaman semua orang biasa, termasuk kaum Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin yang percaya kewujudan Tuhan dan kekuasaannya. Apa yang membezakan dengan mereka di sini ialah pengakuannya terhadap kerasulan Nabi SAW, lalu baginda menghukumkannya sebagai mukminah. Manakala dalam satu riwayat lain, beliau hanya menunjuk ke arah atas, manakala yang berkata ‘ke langit’ ialah perawi hadith yang menceritakan situasi berkenaan.

4- Maka para ulama menafsirkannya menurut kaedah; ‘merujukkan nas yang mutasyabihat (mengelirukan) kepada nas yang muhkamat (meyakinkan)’. Antara nas yang muhkamat di sini ialah ayat (ليس كمثله شيء), “Tiada suatu apapun yang menyerupai-Nya”. Jika Nabi SAW pernah bersabda; ‘Allah di langit’, pasti tidak timbul masalah, dan ianya tidak menjadi nas yang mengelirukan (mutasyabihat). Justeru, ulama menyatakan bahawa jawapan/isyarat jariyah tersebut adalah menunjukkan ketinggian kedudukan Allah (علو المكانة), dan bukannya ketinggian tempat Allah berada (علو المكان). Ini ditunjukkan dengan kalimah (في السماء), “di langit” dengan lafaz mufrad (tunggal) sahaja, bukan dengan lafaz (فوق السماء السابعة), “di atas langit ketujuh”, atau dengan lafaz plural (فوق السموات), “di atas semua langit”. Maka kalimah al-sama’ dalam adat Arab mengisyaratkan kepada alam ghaib yang tidak dapat diketahui hakikat sebenarnya.

5- Tambah mereka lagi; adat umat Islam menadah tangan ke langit ketika berdoa adalah kerana langit itu adalah kiblat bagi doa (tidak kira sama ada anda di Kutub Utara atau di Kutub Selatan maka kiblat semasa berdoa ialah langit), sepertimana kita bersembahyang menghadap Allah Taala, maka kiblatnya ialah ke Kaabah. Ini bukanlah bermakna Allah Taala berada di hadapan kita dengan zat-Nya, dan tidak ada di sebelah belakang.. Jika kita mengamati kedudukan bumi dari angkasa dan mengamati seluruh alam cakerawala ini, di samping menginsafi kekerdilan diri, pasti kita akan akur dengan ayat al-Quran di atas. سبحان الله..

6- Kefahaman akidah orang awam seperti yang saya sebut di atas juga, berlaku dalam beberapa perkara akidah yang lain, seperti soal perbuatan hamba (أفعال العباد), kefahaman tentang iradah (kehendak) manusia dan qadar Allah SWT. Jika tidak diberi penjelasan atau diajarkan ilmu yang sahih, mereka akan menyangka bahawa Allah SWT menjadikan manusia dan membiarkan mereka berusaha mengurus hidup mereka masing-masing dengan sendiri tanpa campurtangan daripada-Nya. Atau pun mereka percaya hidup mereka ini telah ditentukan semuanya oleh Allah SWT, maka tidak perlu berusaha untuk mengubah apa-apa yang telah ditetapkan dan berserah sahaja bulat-bulat.

7- Sebahagian ulama Ahlus Sunnah seperti Imam Muhammad Zahid al-Kawthari dan al-Hafiz ‘Abdullah al-Ghumari mengatakan bahawa hadith tersebut adalah syaz, iaitu hadith yang sahih sanadnya, tetapi matannya berlawanan dengan hadith-hadith sahih yang lain. Ini kerana kebanyakan dakwah Nabi SAW adalah dengan seruan supaya mengucap syahadah (لا إله إلا الله), bukannya bertanya ; “Di mana Allah?” (أين الله). Malah sebahagian jalan riwayat hadith berkenaan diriwayatkan dengan lafaz yang jelas : (أتشهدين أن لا إله إلا الله). Maka hadith syaz tidak dapat dijadikan hujah.

Wallahu a’lam.

Ustaz Mohd Khafiz Soroni
KUIS

Rujukan tambahan:

1- Fatwa al-Hai’ah al-‘Ammah – sini.
http://www.awqaf.ae/Fatwa.aspx?SectionID=9&RefID=4018

2- Risalah al-Burhan al-Sadiq.
http://cb.rayaheen.net/showthread.php?tid=25531

3- Fatwa Dar al-Ifta’ Mesir – sini.
http://dar-alifta.org.eg/AR/Default.aspx

http://sawanih.blogspot.my/2009/08/allah-di-mana-di-atas-atau-di-semua.html?m=1

15 April 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

ALLAH ADA TANPA TEMPAT, TANPA ARAH, & TANPA DISIFATI OLEH SIFAT MAKHLUK

Kecenderungan timbulnya aqidah “Tasybih” (penyerupaan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya) sejak kebelakangan ini semakin merebak di kalangan berbagai peringkat masyarakat kita.Sebab utamanya adalah kerana semakin susutnya atau kurangnya pembelajaran terhadap ilmu-ilmu pokok agama terutama masalah aqidah.Bencananya tersangatlah besar dan yang lebih parah adalah adanya sebahagian orang-orang Islam, samada secara sedar ataupun tidak telah keluar dari Islam kerana rosak keyakinannya yakni aqidahnya.

Imam al-Qadli Iyadl al-Maliki dalam asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mustafha mengatakan bahawa ada di kalangan orang-orang Islam yang terkeluar dari Islam sekalipun dia tidak bertujuan keluar dari agama yang suci ini yakni Islam.Ungkapan-ungkapan mereka yang berupa “Tasybih” tanpa sedar membuatkan mereka menjadi kafir.
Imam Ibn al-Mu’allim al-Qurasyi (wafat 725H) dalam Kitab Najm al-Muhtadi Wa Rajm al-Mu’tadi meriwayatkan bahawa sahabat Sayidina Ali Ibn Abi Tholib berkata,”Sebahagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat sudah semakin dekat menjadi orang-orang kafir”. Maka seseorang bertanya kepadanya,”Wahai Amir al-Mukminin, apa yang menyebabkan mereka menjadi kafir?”…”Adakah disebabkan mereka sudah membuat ajaran baru dan mengingkari ajaran Islam?”Dijawab oleh sahabat Sayidina Ali…,”Mereka menjadi kafir disebabkan mengingkari Pencipta mereka yakni Allah dan mensifatkan Allah dengan sifat-sifat benda dan anggota badan”.

Di dalam Al-Quran, ada beberapa tempat kata “Istawa” yang perlu difahami mengikut kerangka Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang sebenar.Ayat

ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

Ayat seperti ini disebut dalam Surah al-A’raf ayat 54, Yunus ayat 3, Ar-Ra’d ayat 2, Al-Furqan ayat 59 dan As-Sajadah ayat 4.Sementara ayat seperti

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

disebut dalam Surah Toha ayat 5.

Ayat-ayat tersebut wajib kita Imani tanpa memahami  kata “Istawa” dalam maksud membawa kepada “Tasybih” seumpama duduk, bertempat, bersemayam ataupun cuba membayangkan bagaimanakan Allah itu.Sebaiknya seseorang tidak sepatutnya bertanyakan tentang maksud “Istawa” ini kerana ini telah menjadikan dia sedang mengkhayalkan tentang “Di Mana Allah”.Ayat-ayat di atas juga tidak boleh dijadikan dalil untuk mengatakan Allah Itu Bertempat dan ini akan membawa kepada kekafiran.Maka itu metode Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang mentakwilkan ayat-ayat ini adalah untuk memberi kefahaman kepada orang awam yang tidak memahami tentang ilmu kalam dan ianya sesuai dengan bagi keagungan Allah dengan penggunaan lafaz “Istawla” ataupun “Qahara” dalam memhami maksud “Istawa” tersebut.Dengan itu, lafaz “Istawla” dan “Qahara” memberi pengertian “Menguasai” dan inilah yang telah disepakati oleh jumhur Ulama’-Ulama’ Muktabar Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang berpegang kepada aqidah yang dibawa oleh Imam Abul Hasan al-Asya’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi yang menyusun pembelajaran ilmu kalam yang bersumberkan kepada aqidah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan para sahabat.

Nasihat saya, belajarlah ilmu agama dengan lebih mendalam, hadirilah majlis-majlis ilmu aqidah yang diajar oleh guru-guru yang benar-benar menguasai ilmu Usuluddin dan bukannya bertanya kepada mereka yang tidak membidangi bidang ilmu Usuluddin sebenarnya.

Ustaz Mohd Hanif Bin Mohd Salleh
Khamis @ 6 Rejab 1437H

14 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Sedih…bila seorang Siswi tanya Dr Zakir Naik …..Tuhan di mana?

Satu kesedihan apabila kita lihat anak muda wanita kita, bertanya satu soalan yang mustahil bagi Allah, iaitu soalan di mana Allah. Sedangkan Saidina Ali dalam perkataannya mengatakan “Yang menjadikan tempat tidak ditanya di mana tempatNya” kerana Allah Tidak Bertempat.

Soalan anak muda wanita itu dijawab oleh seorang yang tidak diketahui ketokohannya dalam bidang Aqidah mahupun Tafsir. Kelihatan Zakir Naik menjawab menggunakan English Translation of Al-Quran. Bukan menjawab menggunakan English Translation of Tafsir Al-Qurtubi on Al-Quran.

Maka menjadi kekecewaan kepada Rakyat Malaysia terutamanya kalangan ulama yang turun temurun mengajarkan Aqidah bahawa Allah Wujud Tidak Bertempat. Jawapan oleh Zakir Naik menunjukkan bahawa beliau bukanlah seorang pendakwah tauhid sebenar, dan beliau tiada kredibiliti untuk bercakap dan mengajar mengenai Aqidah.

Beliau menyatakan bahawa Allah Established/Sit on The Throne. Aqidah ini merupakan Aqidah yang ditolak ulama Islam salaf mahupun khalaf dari kalangan 4 Mazhab. Ini mendukacitakan kita. Dalam keterangan JAKIM mengenai 58 Ciri Ajaran Sesat ialah:

PENJELASAN TERHADAP 58 CIRI AJARAN SESAT DI MALAYSIA

Nombor (5) M/S 7 dinyatakan oleh JAKIM: ” Ajaran yang bertentangan dengan ajaran Islam dari beberapa sudut. Antaranya meletakkan Allah bertempat, Allah mengambil ruang dan berpindah-pindah dan Tuhan boleh bersatu dengan makhluk”. JAKIM menyatakan lagi dalam ruang yang sama pada M/S 8: ” Ayat ini menjelaskan bahawa Allah tidak menempat, tidak mengambil ruang dan tidak boleh dibandingkan dengan makhluk. Sebaliknya orang yang mendakwa begini sebenarnya tidak mengenal Allah dengan pengenalan yang betul, kerana mengiktikadkan bahawa Allah S.W.T itu boleh menjelma sebagai makhluk atau manusia, atau menyifatkan Allah dengan sifat yang tidak layak dengan keagungan- Nya. Orang yang menganggap Allah memasuki tubuh manusia atau DIA TERLIPAT DI SUATU TEMPAT dan keadaan maka orang itu adalah KAFIR terkeluar dari agama Islam. Kerana dianggap ingkar apa yang disepakati daripada Islam”

Hakikatnya perkara ini telah diselesaikan oleh ulama.

Maka saksikanlah wahai Malaysia, wahai pihak yang berautoriti dalam menjaga Aqidah umat Islam di Malaysia, kalian bertanggungjawab atas kenyataan Zakir Naik kerana kalian membenarkan Zakir Naik menyebarkan fahaman yang bercanggah dengan Ahlussunnah. Zakir Naik menyebarkan fahaman yang bercanggah dengan Aqidah Rasulullah.

Saya berharap JAKIM dan badan-badan lain berkaitan seperti KDN dan PDRM mengambil langkah segera menangani masalah ini. Fahaman ini menggugat keamanan negara sebagaimana yang kita lihat semenjak dua tiga hari ini. Orang awam mempertahan perkara yang mereka tidak ketahui. Mereka pertahankan Zakir Naik yang mencela Imam Syafie. Mereka pertahankan Zakir Naik yang menyesatkan majoriti Khatib Jumaat di Malaysia yang bertawassul. Firman Allah yang bermaksud:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Al Isra:36)

Semoga anak muda Malaysia berubah dari menyintai KPop, Raja Lawak, Gegar Vagana, Akademi Fantasia kepada menyintai Halaqah Ilmu Ahlussunnah wal Jamaah.

YANG PASTI KITA BERADA DI AKHIR ZAMAN

Akhukum fiLlah,

Mohd Asyran Safwan bin Kamaruzaman
(Phd.c Usuluddin UKM)
Putrajaya, 13 April 2016

13 April 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Video | Leave a comment

“Sekiranya kamu melihat kebenaran dengan ramainya pengikut bermakna kamu telah salah faham”

image

Wahai ikhwan,

Terlebih dahulu Al faqir memohon kemaafan kerana tulisan ini boleh menyebabkan kamu semua merasa tidak senang,dan mungkin ada marah atau tidak setuju dengan Al faqir.

Demi Allah Al faqir menyayangi ikhwan semua, beberapa kali Al faqir memikirkan utk menulisnya tapi untuk menyatakan apa yang ada pada isi hati ini.

Imam Al Ghazali ada menyatakan dalam kitabnya Ayyuhai Walad “Sekiranya kamu melihat kebenaran dengan ramainya pengikut bermakna kamu telah salah faham”.

Fahamilah betul2 ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah, rujuklah kpd org yg alim lagi jujur dalam ilmu,nescaya kamu akan dapati ianya perjalanan yg benar lagi lurus yg mengikuti ulama2 terdahulu yg berantaian sehingga sampai kepada Baginda Sollallahu alaihi wassallam.

Imam2 besar seperti Imam As Syafie dan seumpamanya ( semoga Allah merahmati mereka ) yg tidak ragu lagi keilmuannya,adalah antara imam2 Ahli Sunnah Wal Jamaah, maka adalah tidak wajar sama ada ulama atau ahli2 ilmu di zaman kita hari ini memandang rendah Imam As Syafie atau imam2 yg lain dengan mengatakan cukuplah dgn Al Quran dan Hadis tidak perlu kpd mazhab2 yg lain. Benarlah kata Imam Al Ghazali yg menyatakan hijab ilmu antara hijab yg besar untuk sampai ke Allah.Menolak tasawuf,mazhab2 imam2 besar merupakan masalah yg besar dan ini mengelirukan orang awam.

Walaupun mereka tokoh hebat dalam ilmu atau dakwah,ada seorang tokoh dakwah hebat dalam pidatonya berjaya menarik orang kepada agama Islam,tapi malangnya menolak tasawuf dan merendahkan kedudukan imam2 besar Ahli Sunnah Wal Jamaah.ketokohan mereka kita tetap kita hormati namun mempertikaikan tasawuf dan imam2 besar adalah sesuatu yg mengelirukan masyarakat umum.

Wahai ikhwan, kesianlah masyarakat kalau macam tu,marilah kita buka hati kita, berlapang dada untuk menerima kebenaran, caranya solat sunat taubah kemudian banyakkan berselawat dan mohonlah kepada Allah agar ditunjukkan kebenaran dan dihilangkan kekeliruan ini, nescaya Allah akan hilangkan kekeliruan ini.

Cukuplah jangan maki memaki,hina menghina pada orang yg tidak bersependapat dgn kita janganlah hilangkan adab ajaran agama kita yg mulia ini,Al faqir tidak bersetuju dgn tokoh dakwah ini tetapi Al faqir tidak mahu mencelanya kerana jasanya ada pada agama kita tapi jasa imam2 besar Ahli Sunnah Wal Jamaah lagi besar dari jasanya, adapun Al faqir tiada apa2 hanya insan faqir.

Wassalam,maafkan Al faqir atas tulisan ini jika tidak bersetuju terpulanglah.

Al-Fadhil Ustaz Mustaffa Kamal Bin Hamzah
(Penel Tanyalah Ustaz TV9)

13 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Aliran2 dalam Ilmu Tauhid

Terdapat satu aliran di dalam Islam yang dipanggil aliran mujassimah iaitu satu fahaman yang mengiktikadkan bahawa Allah Ta’ala itu mempunyai jisim (tubuh badan).Dasar yang menjadi pegangan fahaman ini ialah ayat – ayat Al Quran dan hadis yang mutasyabihat (samar maksudnya).Fahaman ini mengiktikadkan Allah Ta’ala mempunyai tubuh , wajah , tangan , rusuk , kaki dan lain–lain sesuai dengan dasar pengambilan dalil oleh mereka iaitu makna yang zahir dari ayat – ayat Al Quran dan hadis – hadis yang mutasyabihat.

Sebagai salah satu ilmu keIslaman, Ilmu kalam sangat penting untuk di ketahui oleh seorang muslim di mana pembahasan dalam ilmu kalam ini adalah pembahasan tentang aqidah dalam Islam yang merupakan inti dasar agama, karena persolaan aqidah Islam ini memiliki konsekuensi yang mengarahkan pada keyakinan yang berkaitan dengan bagaimana seseorang harus menginterpretasikan Tuhan itu sebagai sembahannya hingga terhindar dari jurang kesesatan dan dosa yang tak terampunkan (syirik).

Allah Ta’ala berfirman:

ۚلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia -Asy-Syura 11

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia -Al-Ikhlas 4

Olih  Ustaz Mohd Hanif

13 April 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Keagungan Tradisi Ilmu Islam

image

Allah s.w.t. memuliakan umat Islam dengan menjadikan sistem talqqqi sebagai nadi bagi penyebaran ilmu Islam. Ilmu-ilmu Islam disebarkan secara talaqqi di mana seorang murid mengambil ilmu tersebut dengan kaedah “pertemuan” dengan gurunya dalam rangka untuk mewarisi ilmu-ilmu Islam secara riwayah dan dirayah.

Sistem talaqqi ini bermula sejak zaman Rasulullah s.a.w. lagi di mana Baginda s.a.w. mengambil Al-Qur’an secara bertalaqqi kepada malaikat Jibril a.s.. Lalu, para sahabat meriwayatkan ajaran dan panduan dalam memahami Al-Qu’ran daripada hadith-hadith Nabi s.a.w. yang diriwayatkan secara talaqqi daripada Rasulullah s.a.w. itu sendiri.

Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w., Al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir iaitu diriwayatkan secara beramai-ramai sehingga tidak ada keraguan lagi dalam keaslian teks Al-Qur’an yang diriwayatkan melalui ramai para huffaz (penghafaz Al-Qur’an tersebut).

Namun, hadith-hadith Rasulullah s.a.w. kebanyakkannya diriwayatkan secara perorangan (individu-individu tertentu) sehingga terkadang boleh membawa kepada keraguan dalam isi hadith yang diriwayatkan oleh perawi hadith tersebut. Maka, timbullah kaedah penelitian terhadap sanad-sanad periwayatan hadith dalam meneliti keadaan perawi hadith itu sendiri bagi memastikan ketulenan hadith-hadith Nabi s.a.w..

Setelah itu, munculnya zaman pembukuan hadith-hadith dan ilmu Islam, maka para musnid (ulama’ yang membukukan hadith-hadith dalam buku-bukunya) menghimpunkan hadith-hadith yang diriwayatkan secara bersanad lalu ditulis di dalam musnad mereka (kitab himpunan hadith mereka) lelu menyebarkan musnad mereka kepada murid mereka dengan kaedah periwayatan hadith yang muktabar dalam ilmu mustolah hadith.

Murid-murid kepada ulama’ yang menghimpunkan hadith-hadith dalam buku mereka meriwayatkan kepada murid-murid mereka pada generasi seterusnya dengan penuh teliti terhadap keaslian isi kandungan musnad-musnad guru mereka tersebut, samada meriwayatkannya secara “guru membaca kepada murid” ataupun murid membaca dan guru menyemak bacaan tersebut”.

Setelah itu, pembukuan ilmu-ilmu Islam yang lain turut berkembang dalam pelbagai bidang ilmu yang lain seperti ilmu aqidah, tafsir, fiqh dan sebagainya. Namun, tradisi meriwayatkan buku-buku tersebut tetap tidak terlepas daripada manhaj talaqqi secara bersanad, bagi memastikan murid-murid mendapat isi kandungan asli buku-buku tersebut dan memastikan murid-murid tersebut memahami isi kandungan buku-buku tersebut, dengan melalui syarahan ulama’-ulama’ penulis buku-buku tersebut.

Sistem talaqqi terus dipelihara dan dijadikan manhaj tradisi ilmu Islam dalam memelihara keaslian warisan ilmiah Islam (turath). Para ulama’ salafus-soleh amat mengambil berat tradisi mewariskan turath Islami secara bersanad melalui manhaj talaqqi dalam tradisi pembelajaran dalam umat Islam.

Sumber.

13 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

BENARKAH PARA SALAFUS-SOLEH TIDAK PERNAH MENGGUBAH SELAWAT KE ATAS RASULULLAH SAW?

BENARKAH PARA SALAFUS-SOLEH TIDAK PERNAH MENGGUBAH SELAWAT KE ATAS RASULULLAH SAW? BENARKAH MENGAMALKAN SELAWAT-SELAWAT YANG BUKAN DARIPADA RASULULLAH SAW TERMASUK DALAM BID’AH YANG SESAT? MARI IKUTI KUPASAN YANG MENARIK DARI TULISAN INI

Ilham Rabbani Di kalangan Para Sahabat (Selawat Atas Nabi SAW)

Telah disentuh sebelum ini sedikit tentang keharusan berdoa dengan apa yang diilhamkan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Terdapat banyak dalil bahawa ianya diharuskan oleh syariat. Hal ini telah dikupas oleh al-’Allamah al-Muhaddith Syeikh Muhammad al-Hafiz al-Tijani dalam kitabnya (أهل الحق العارفون بالله) (hal. 242). Di dalam kitab (السنة والبدعة) oleh al-Habib ‘Abdullah bin Mahfuz al-Haddad juga menyebutkan banyak hujah-hujah yang berhubung dengan perkara ini. Apa yang menjadi batasan ialah ianya tidak mengandungi sesuatu yang terkeluar daripada syarak. Lihatlah bagaimana Nabi SAW menegur seorang Arab badwi yang berdoa dari ilhamnya secara salah, namun baginda SAW hanya menunjukkannya cara yang betul dan tidak melarangnya berdoa dari ilhamnya. Dari Abu Hurayrah RA katanya: Pernah Rasulullah SAW berdiri dalam satu solat dan kami juga berdiri bersamanya. Lalu seorang Arab badwi berdoa dalam solatnya: (اللَّهُمَّ ارْحَمْنِى وَمُحَمَّدًا ، وَلاَ تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا) “Ya Allah, rahmatilah aku dan juga Muhammad, dan jangan Engkau rahmati bersama kami seorang pun”. Maka di kala Nabi SAW memberi salam baginda pun berkata kepada Arab badwi berkenaan: “Sesungguhnya kamu telah menyempitkan yang luas”, maksud baginda rahmat Allah. [HR al-Bukhari (6010), Abu Dawud, al-Nasa’i dan al-Tirmizi]

Ilham Rabbani Dalam Berselawat

Keharusan tersebut juga termasuk dalam berselawat ke atas Nabi SAW. Hujahnya, ada diriwayatkan daripada Sayidina ‘Ali RA, ‘Abdullah bin ‘Umar RA, ‘Abdullah bin ‘Abbas RA dan ‘Abdullah bin Mas’ud RA selawat-selawat yang diilhamkan oleh Allah SWT kepada mereka. Maka jelas bahawa ianya bukan suatu perkara bidaah.

Berikut adalah keterangannya:

1. Selawat Sayidina ‘Ali RA Ibn Kathir dalam Tafsirnya meriwayatkan satu athar dari Salamah al-Kindi katanya; bahawa ‘Ali RA pernah mengajarkan orang ramai doa (selawat) berikut, dengan diselitkan oleh penulis lafaz Ibn Jarir al-Tabari dan lafaz al-Tabarani bagi menunjukkan perbezaan riwayat atau manuskrip:

اللهم داحي المدْحُوَّات، وبارئ المسموكات، وَجَبَّار القلوب على فطْرَتها شقيها وسعيدها. اجعلْ شرائف صلواتك، ونوامي بركاتك، ورأفة تحننك، (الطبراني: ورافع تحيتك) على محمَّد عبدك ورسولك، الخاتم لما سبق، والفاتح لما أغلق، والمُعلن (الطبراني: والمعلوم) الحق بالحق، والدامغ جيشات الأباطيل، كما حُمِّل (الطبراني: كمل) فاضطلع بأمرك لطاعتك مستوفزاً (الطبراني: مستوفرا) في مرضاتك، غير نَكل (ابن جرير: لغير نَكل، الطبراني: بغير ملك) في قَدَم، ولا وهن في عزم، واعياً (الطبراني: داعيا) لوحيك، حافظاً لعهدك، ماضيا على نفاذ أمرك حتى أورى قبساً (الطبراني: تبسما) لقابس، آلاء الله تصل بأهله أسبابه، به هديت القلوب بعد خوضات (الطبراني: خرصات) الفتن والإثم، وأقام مُوضحات (ابن جرير: موضحات، الطبراني: بموضحات) الأعلام، ومُنِيرات (الطبراني: ومسرات) الإسلام، ونائرات (ابن جرير: وثائرات، الطبراني: وماثرات) الأحكام، فهو أمينك المأمون، وخازن علمك المخزون، وشهيدك يوم الدين، وبَعيثُك (الطبراني: ومبعوثك) نعمة، ورسولك بالحقّ رحمة، اللهمّ أفسح له مُفسحَات (ابن جرير: مفتسحا) في عدلك، واجزه مضاعفات الخير من فضلك، مهنَّآت له (ابن جرير: له مهنيات) غير مكدرات، من فوز ثوابك المعلول (الطبراني: المعلوم)، وجزل عطائك المحلول (ابن جرير: وجزيل عطائك المجمول، الطبراني: وجزيل عطائك المجلول)، اللهم أعل على بناء البانين بنيانه (ابن جرير: عل على بناء البنائين بناءه، الطبراني: أعل على بناء الباقين بناءه)، وأكرم مثواه لديك ونزله، وأتمم له نوره، واجزه من ابتعاثك له مقبول الشهادة، مرضي المقالة، ذا منطق عدل، وخُطَّة فصل (ابن جرير: وخطة فضل، الطبراني: وكلام فصل)، وحجة وبرهان عظيم.

Kata Ibn Kathir dalam Tafsirnya: Ia masyhur dari kata-kata ‘Ali RA.. tetapi pada sanadnya ada masalah. Kata syeikh kami, al-Hafiz Abu al-Hajjaj al-Mizzi: Salamah al-Kindi ini tidak dikenali, dan tidak pernah bertemu ‘Ali. Athar ini telah diriwayatkan oleh Ibn Jarir al-Tabari dalam Tahzib al-Athar (352 – juz’ mafqud), Abu Nu’aym dalam ‘Awali Sa’id bin Mansur (18), dan al-Tabarani dalam al-Awsat (9089). Kata al-Haythami dalam Majma’ al-Zawa’id (10/164): Salamah al-Kindi riwayatnya dari ‘Ali adalah mursal dan baki para perawinya adalah para perawi al-Sahih. Juga diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Musannafnya (28940), namun disebut dari seorang lelaki – tanpa disebutkan nama – dari ‘Ali RA, dan tidak disebut Salamah al-Kindi. Zahirnya, athar ‘Ali RA ini adalah daif. Namun, boleh diamalkan dalam bab fada’il amal. Malah ianya sudah pun masyhur sepertimana kata Ibn Kathir pada zaman beliau.

Berikut adalah riwayat Ibn Abi Syaibah, juga terdapat perbezaan lafaz serta sedikit tambahan di akhirnya:

اللَّهُمَّ يَا دَاحِيَ الْمَدْحُوَّاتِ، وَيَا بَانِيَ الْمَبْنِيَّاتِ، وَيَا مُرْسِيَ الْمُرَسِّيَاتِ، وَيَا جَبَّارَ الْقُلُوبِ عَلَى فِطْرَتِهَا، شَقِيِّهَا وَسَعِيدِهَا، وَيَا بَاسِطَ الرَّحْمَةِ لِلْمُتَّقِينَ، اجْعَلْ شَرَائِفَ صَلَوَاتِكَ، وَنَوَامِي بَرَكَاتِكَ، وَرَأْفَاتِ تَحِيَّتِكَ، وَعَوَاطِفَ زَوَاكِي رَحْمَتِكَ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، وَالْخَاتَمِ لِمَا سَبَقَ، وَفَاتِحِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَدَامِغِ جِيشَاتِ الْأَبَاطِيلِ كَمَا حَمَّلْتَهُ، فَاضْطَلَعَ بِأَمْرِكَ مُسْتَنْصِرًا فِي رِضْوَانِكَ، غَيْرَ نَاكِلٍ عَنْ قَدَمٍ، وَلَا مُئِنٍّ عَنْ عَزْمٍ، حَافِظٍ لِعَهْدِكَ، مَاضٍ لِنَفَاذِ أَمْرِكَ، حَتَّى أَرَى أَنْ أَرَى فِيمَنْ أُفْضِي إِلَيْكَ تَنْصُرُ بِأَمْرِكَ، وَأَسْبَابِ هُدَاةِ الْقُلُوبِ، بَعْدَ وَاضِحَاتِ الْأَعْلَامِ إِلَى خَوْضَاتِ الْفِتَنِ، إِلَى نَائِرَاتِ الْأَحْكَامِ، فَهُوَ أَمِينُكَ الْمَأْمُونُ، وَشَاهِدُكَ يَوْمَ الدِّينِ، وَبَعِيثُكَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ فَسِّحْ لَهُ مُفْسَحًا عِنْدَكَ، وَأَعْطِهِ بَعْدَ رِضَاهُ الرِّضَى مِنْ فَوْزِ ثَوَابِكَ الْمَحْلُولِ، وَعَظِيمِ جَزَائِكَ الْمَعْلُولِ، اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَهُ مَوْعِدَكَ بِابْتِعَاثِكَ إِيَّاهُ مَقْبُولَ الشَّفَاعَةِ، عَدْلَ الشَّهَادَةِ، مَرَضِيَّ الْمَقَالَةِ، ذَا مَنْطِقٍ عَدْلٍ، وَخَطِيبٍ فَصْلٍ، وَحُجَّةٍ وَبُرْهَانٍ عَظِيمٍ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا سَامِعِينَ مُطِيعِينَ، وَأَوْلِيَاءَ مُخْلِصِينَ، وَرُفَقَاءَ مُصَاحِبِينَ، اللَّهُمَّ بَلِّغْهُ مِنَّا السَّلَامَ، وَارْدُدْ عَلَيْنَا مِنْهُ السَّلَامَ. .

2. Selawat ‘Abdullah bin ‘Umar RA Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’ sebagaimana dalam al-Matalib al-‘Aliyah oleh al-Hafiz Ibn Hajar (3332) dan mengisyaratkannya sebagai sahih, dari Thawbah/Thuwayr mawla Bani Hasyim katanya: Aku bertanya Ibn ‘Umar RA: Bagaimana berselawat ke atas Nabi SAW? Maka jawab Ibn ‘Umar RA:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَبَرَكَاتِكَ وَرَحْمَتَكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينِ، وَإِمَامِ الْمُتَّقِينِ، وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ، مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، إِمَامِ الْخَيْرِ، وَقَائِدِ الْخَيْرِ، اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَقَامًا مَحْمُودًا يَغْبِطُهُ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ، وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Kata al-Busiri: Ia mempunyai sokongan dari hadis Ibn Mas’ud RA (lihat no. 4) yang diriwayatkan oleh Ibn Abi ‘Umar, Abu Ya’la dan Ibn Majah dengan isnad yang hasan.

3. Selawat ‘Abdullah bin ‘Abbas RA Diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq, ‘Abd bin Humayd dan Isma’il al-Qadi dalam Fadl al-Solat ‘ala al-Nabi SAW (52) dari Ibn ‘Abbas RA beliau mengucapkan:

اللهم تقبل شفاعة محمد الكبرى، وارفع درجته العليا، وأعطه سُؤْلَه في الآخرة والأولى، كما آتيت إبراهيم وموسى، عليهما السلام.

Kata Ibn Kathir dalam Tafsirnya: Suatu isnad yang baik, kuat lagi sahih.

4. Selawat ‘Abdullah bin Mas‘ud RA Diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq, ‘Abd bin Humayd, Ibn Marduyah, Ibn Majah (906) dan al-Tabarani (8594) dari Ibn Mas’ud RA katanya: “Jika kamu berselawat ke atas Nabi SAW maka perelokkanlah berselawat ke atasnya. Sesungguhnya kamu tidak tahu kemungkinan ianya dipersembahkan kepadanya”. Jawab para pendengar: Maka ajarkanlah kami. Kata beliau: Ucapkanlah

اللهم اجعل صلواتك ورحمتك وبركاتك على سيد المرسلين، وإمام المتقين، وخاتم النبيين، محمد عبدك ورسولك، إمام الخير وقائد الخير، ورسول الرحمة. اللهم ابعثه مقاماً محموداً يَغْبِطُه به الأولون والآخرون، اللهم صل على محمد وعلى آل محمد، كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

Kata al-Busiri dalam Zawa’id Ibn Majah (1/311): Isnad ini para perawinya thiqah kecuali al-Mas’udi dan namanya ‘Abd al-Rahman bin ‘Utbah bin Mas’ud, telah bercampur ingatan beliau di akhir hayatnya dan tidak dapat dibezakan hadisnya yang awal dengan yang akhir, maka beliau layak ditinggalkan menurut kata Ibn Hibban. Tetapi al-Mas’udi tidak berseorangan dalam meriwayatkannya dari ‘Awn bin ‘Abdullah kerana beliau diikuti (mutaba’ah) oleh Abu Salamah sebagaimana dalam riwayat ‘Abd al-Razzaq. Kata al-Hafiz al-Munziri: Diriwayatkan oleh Ibn Majah secara mawquf dengan isnad yang hasan. Selawat yang hampir serupa juga diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru atau ‘Abdullah bin ‘Umar menurut syak si-perawi, sebagaimana dalam riwayat Isma’il al-Qadi dalam Fadl al-Solat ‘ala al-Nabi SAW (62). Jika ianya dari ‘Abdullah bin ‘Amru, maka itu adalah sahabat yang ke-5 dalam penjelasan ini. Juga ada diriwayatkan oleh al-Syirazi dalam al-Alqab dari Ibn Mas’ud RA katanya: Wahai Zayd bin Wahb, jangan kamu tinggalkan pada hari Jumaat berselawat ke atas Nabi SAW sebanyak seribu kali, kamu ucapkan: (اللهم صل على النبي الأمي).

Penutup

Berdasarkan dalil-dalil ini dan lainnya, ulama berpendapat harus menggubah selawat ke atas Nabi SAW, meskipun secara sepakatnya mereka menyatakan bahawa Selawat Ibrahimiyyah adalah selawat yang paling afdal. Perintah ayat al-Quran dan juga hadis-hadis yang memerintahkan berselawat secara umum turut menguatkan keharusan hukumnya. Ini kerana Selawat Ibrahimiyyah itu diajarkan oleh Nabi SAW di atas pertanyaan sahabat-sahabatnya dan tidak pula dinyatakan oleh baginda SAW supaya jangan berselawat dengan lafaz-lafaz yang lain. Dengan syarat ianya tidak terkeluar dari batasan syarak. Namun, para ahli tasawuf lebih cenderung mengamalkan selawat-selawat yang sudah pun masyhur dan mujarab. Inilah pegangan ahli tasawuf mengenai keharusan mengamalkan doa-doa dan selawat-selawat yang diilhamkan oleh Allah SWT kepada imam-imam mereka yang telah dihimpunkan dalam banyak karangan. Antara istilah-istilah yang digunakan dalam disiplin kesufian ialah wirid seperti al-Wird al-Latif oleh Imam al-Haddad, awrad seperti Awrad Sayyidi Ahmad bin Idris, hizib seperti Hizb al-Bahr oleh Imam al-Syazili, wazifah seperti al-Wazifah al-Zarruqiyyah dan ratib seperti Ratib al-’Attas.

رحمهم الله ورضي عنهم

Wallahu a’lam.

MOHD. KHAFIDZ BIN SORONI
مدونة العبد الضعيف محمد حافظ بن سوروني
– خويدم العلم الشريف
Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor

11 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

MENCUKUR SEBAHAGIAN RAMBUT DAN MENINGGALKAN SEBAHAGIAN LAIN

image

MENCUKUR SEBAHAGIAN RAMBUT DAN MENINGGALKAN SEBAHAGIAN LAIN

SOALAN:

Assalamualaikum wbt,

Tuan Mufti stail rambut ini haram kah?

JAWAPAN:

Waalaikumusalam wbt,

Kami cenderung bahawa perbuatan ini termasuk dalam makna qaza` yang dilarang Syarak secara makruh.

Daripada Ibn Umar R.anhuma:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ القَزَعِ

Maksudnya: Bahawa Rasulullah SAW melarang melakukan al-qaza’.

Hadis riwayat Imam Bukhari (5921) dalam Sahih-nya dan Imam Imam Muslim (2120) dalam Sahih-nya

Imam al-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim (14/100) menyatakan bahawa qaza’ itu bererti mencukur sebahagian rambut dan membiarkan sebahagian secara mutlak. Sebahagian ulama mengatakan qaza’ itu mencukur bahagian-bahagian kepala secara terpecah-pecah. Yang sahih, ialah pendapat pertama berdasarkan penafsiran rawi. Telah ijmak ulama atas hukum makruh tanzih melakukan qaza’ pada bahagian-bahagian kepala secara terpecah-pecah kecuali bagi tujuan perubatan (berbekam dll). Larangan ini termasuk ke atas lelaki dan wanita dan hikmahnya dikatakan ialah kerana memburukkan ciptaan, melambangkan kebodohan, dan menyerupai fesyen agama Yahudi.

Daripada Ibn Umar R.anhuma, bahawa Rasulullah SAW pernah melihat seorang bayi dicukur sebahagian rambutnya dan dibiarkan bahagian lain. Baginda SAW menegah perbuatan itu dan bersabda:

احْلِقُوهُ كُلَّهُ، أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ

Maksudnya: Cukurlah semuanya, atau tinggalkan semuanya.

Hadis riwayat Imam Abu Daud (4195) dalam Sunan-nya

AL-KAFI LI AL-FATAWI : SOALAN 244 (11 APRIL 2016 M / 3 REJAB 1437 H)

Wallahua’lam.

Pautan ke laman rasmi PMWP: http://goo.gl/bCHkeo

11 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Ibadah | Leave a comment

Manhaj Wahhabi yg menyalalahi perjalanan ASWJ

‪#‎Wahhabi‬ selalu menuduh umat Islam yang mengadakan tahlil, baca yasin malam jumaat, talqin, qunut subuh, sapu muka lepas salam, sambut maulid Nabi dan lain-lain sebagai Ahl al-Bid’ah. Sedangkan semua amalan yang mereka bid’ahsesatkan mempunyai sandaran di dalam agama bahkan tidak menyalahi prinsip-prinsip agama yang disepakati.

‪#‎Hakikatnya‬, para ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah menyatakan Wahhabi sebagai Ahl al-Bid’ah (أهل البدعة) atau al-Mubtadi’ (المبتدع) di dalam Islam di mana Wahhabi menyalahi prinsip-prinsip Islam di dalam banyak perkara. Mereka membawa kefahaman yang baru yang menyalahi ulama salaf dan khalaf Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah.

Kenapa Wahhabi dikira sebagai golongan al-Mubtadi’ di dalam agama?

1. Kerana mereka membawa akidah mujassimah atau tajsim di mana mereka berkeyakinan Allah mempunyai tangan, jari-jemari, kaki, mata, muka, betis, bertempat di langit, duduk di arash. Mereka mengikuti ayat-ayat dah hadith-hadith mutasyabihah. Ini menyalahi perjalanan akidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah.

2. Menolak madrasah akidah ‘Asya’irah yang menjadi pegangan majoriti ulama Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah yang bersambung daripada satu generasi kepada satu generasi sampai kepada kita pada hari ini melalui tokoh-tokoh ulama’ ‘Asya’irah yang diakui.

3. Membahagikan tauhid kepada tiga iaitu tauhid uluhiyyah, rububiyyah, asma wa sifat yang tidak dikenal di zaman salaf.

4. Mengharamkan orang awam bertaqlid kepada mazhab fiqh sedangkan para ulama’ besar-besar termasuk ulama hadith tidak sunyi daripada bermazhab dengan mazhab fiqh yang empat.

5. Membid’ahkan perkara-perkara yang sunnah di dalam agama seperti zikir, baca Al-Quran dan lain-lain.

6. Membahagikan bid’ah kepada ibadah dan dunia yang tidak dikenal pada zaman sahabat mahupun ulama salaf.

7. Meninggalkan berhukum dengan hukum agama yang lima iaitu wajib, haram, sunat, makruh dan harus.

8. Menolak ijmak dan qias sebagai sumber hukum di dalam agama. Bahkan mereka menyalahi ijmak di dalam banyak perkara sepertimana al-‘Iraqi menyatakan Imam Ibn Taimiyyah menyalahi ijmak di dalam perkara pokok dan furuk sehingga 60 perkara. (al-Ajwiyyah al-Mardiyyah)

9. Menolak ilmu fiqh dan kaedah-kaedah fiqh dan mazhab-mazhab muktabarah.

10. Menafikan pengajian ilmu turath bersanad daripada para guru yang muhaqqiqin pada ilmu.

11. Menolak pengajian tasawwuf terbukti sudah wujud pada zaman salaf lagi bahkan para ulama’ besar-besar tidak sunyi daripada pengajian tasawwuf dan tarekat muktabarah.

12. Menolak pandangan para ulama mujtahid salaf dan khalaf yang tidak bertepatan dengan ideologi mereka.

13. Bermudah-mudah memalsukan hadith yang masih ada sandaran di dalam agama dan riwayat riwayat Imam-Imam hadith di dalam kitab-kitab mereka.

14. Menolak konsep tawassul dan tabarruk dengan para Ulama’ Solihin yang hidup mahupun yang telah meninggal.

15. Menolak konsep tawassul dengan Nabi selepas wafat tetapi membenarkan semasa hidup Baginda sedangkan hidup dan wafat Nabi tidak membezakan apa-apa kerana hakikatnya Allah yang memberi manfaat dan mudharat.

16. Membataskan ziarah kubur hanya kepada mengingati mati. Tiada konsep hadiah pahala kepada si mati sedangkan pandangan jumhur ulama menyatakan ia sampai kepada si mati.

‪#‎Ini‬ sebahagian daripada manhaj mereka yang menyalahi perjalanan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah yang saya kutip melalui kitab-kitab mereka, syarahan guru-guru kami dan kitab-kitab para ulama Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah.

‪#‎Menyalahi‬ Ijma’ pintu kepada kesesatan,

Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari
Universiti Al-Azhar Mesir

30 March 2016 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | 2 Comments

Mahar VS Hantaran

Perkahwinan sepatutnya memberikan sakinah (ketenangan), mawaddah (kasih sayang) dan juga rahmat. Itulah antara matlamat dan rahsia di sebalik sebuah perkahwinan seperti yang telah Allah SWT firmankan di dalam Surah al-Ruum, ayat ke-21. Perkahwinan juga perlulah dipermudahkan agar ianya memperoleh keberkatan.

Rentetan dari peristiwa yang viral baru-baru ini berkaitan isu wang hantaran yang mencetuskan pergaduhan di antara dua keluarga, siri Bayan Linnas pada kali ini akan cuba untuk mengupas mengenai konsep perkahwinan yang diterapkan oleh Islam.

_________________________________________________________________

Mukadimah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, ahli keluarga baginda SAW, sahabat baginda SAW serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah baginda SAW.
Baru-baru ini viral di media sosial mengenai sebuah majlis perkahwinan yang bertukar menjadi medan permusuhan dan kebencian yang dikatakan berkenaan nilai wang hantaran yang dijanjikan kepada pihak pengantin perempuan oleh pihak pengantin lelaki tidak ditunaikan.
Walaupun begitu, kami mengambil pendekatan untuk tidak menghukum mana-mana pihak kerana beberapa alasan:

• Maklumat yang kurang jelas mengenai peristiwa tersebut.
• Boleh jadi ianya tidak berlaku adil pada salah satu pihak.
• Perlu kepada penjelasan yang benar dari semua pihak yang terlibat.

Rentetan dari peristiwa tersebut, Bayan Linnas pada kali ini tampil untuk memberikan keterangan umum mengenai konsep perkahwinan yang diterapkan oleh Islam semoga dengannya, dapat kita sama-sama mengambil manfaat.

Matlamat Perkahwinan

Kami mulakan dengan rahsia dan matlamat perkahwinan yang mana telah Allah SWT firmankan:

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ٢١

Maksudnya: Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaannya dan rahmatNya, bahawa Ia menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya, dan dijadikanNya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir.
(Al-Ruum: 21)

Syeikh Ahmad Mustafa al-Maraghi Rahimahullah di dalam tafsirnya menyebutkan: “Antara tanda yang menunjukkan adanya hari kebangkitan dan dikumpulkan seluruh manusia di hadapan Allah SWT ialah dengan menjadikan bidadari daripada isteri kamu sendiri untuk menikmati kebahagiaan-Nya. Secara tidak langsung Dia menanamkan rasa cinta dan kasih saying bagi membentuk kehidupan keluarganya dengan sistem yang baik”.

Daripada ayat ini, matlamat sebenar perkahwinan ialah untuk mendapatkan sakinah (ketenangan), mawaddah (kasih sayang) dan rahmat. Inilah tujuan utama sesebuah perkahwinan disamping untuk mendapatkan zuriat yang baik.

Pilihan Yang Ada

Islam memandang bahawa perkahwinan itu adalah suatu ibadah yang sangat serius. Oleh yang demikian, Islam amat menitikberatkan aspek pemilihan calon isteri dan suami dalam pembentukan sesebuah keluarga itu. Dalam sebuah hadith, Rasulullah SAW pernah bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Maksudnya: Dinikahi perempuan itu kerana empat perkara; kerana hartanya, kerana kedudukannya (status), kerana kecantikannya dan kerana agamanya. Maka pilihlah yang beragama nescaya beruntunglah kamu.
Riwayat Al-Bukhari (5090) & Muslim (1466)

Al-Imam al-Nawawi Rahimahullah mengatakan bahawa hadith di atas menerangkan kepada kita bahawa kebiasaan adat seseorang apabila ingin menikahi wanita, terdapat empat perkara yang menjadi kayu pengukur dan Rasulullah SAW menyuruh agar dilihat pada agamanya kerana ianya menguntungkan kamu di dunia dan di akhirat. (Lihat Al Minhaj Syarh Sahih Muslim, 10/51-52)

Mahar VS Hantaran

Kekeliruan sering berlaku di antara mahar dan juga hantaran yang akhirnya menimbulkan tanda tanya, mana satukah yang sebenarnya disyariatkan oleh Islam? Mahar ialah pemberian yang diwajibkan daripada pengantin lelaki kepada pengantin perempuan dan ianya juga dinamakan dengan mas kahwin.
Manakala mahar di sisi istilah fiqh pula membawa maksud sesuatu harta yang wajib diserahkan oleh pihak lelaki kepada perempuan kerana berlakunya akad nikah yang menghalalkan perhubungan di antara keduanya. Istilah mahar juga disebut juga dengan al-Sodaaq di dalam kitab-kitab fiqh bahkan terdapat juga nama-nama yang lain diberikan untuk mahar yang mana kesemua istilah tersebut terdapat di dalam Al-Quran dan juga hadith Nabi SAW.

Masyhur di sisi masayarakat Melayu kita pula dengan istilah hantaran perkahwinan yang mana membawa maksud wang yang dihantar oleh pihak lelaki kepada bakal mentua untuk perbelanjaan perkahwinan ataupun disebutkan juga sebagai belanja hangus. Ianya juga berupa hadiah seperti makanan, pakaian dan sebagainya.

Islam hanya menetapkan mahar di dalam perkahwinan, adapun hantaran berupa wang ataupun barang, ianya tertakluk kepada budi bicara, perbincangan di antara kedua belah pihak dan sepatutnya mahar dan hantaran ini tidak menjadi penghalang bagi perkahwinan yang bakal dilangsungkan.

Sebaik-baik Mahar

Tiada had yang tertentu bagi sesebuah mahar. Oleh itu, ianya tiada had terendah dan juga had maksimum dalam nilaian mahar tersebut bahkan yang pastinya, semua benda yang bernilai dan mempunyai nilai untuk dijual ataupun dijadikan sewaan maka ianya boleh dijadikan mahar sama ada ianya berbentuk ‘ain (barang tersebut), hutang ataupun manfaat, sedikit atau banyaknya ia seperti kereta, ataupun RM 5,000.00, ataupun sebuah rumah, ataupun mahar dari segi mengajarkan sesuatu dari ilmu-ilmu seperti mengajarkan Al-Quran kepada isteri.

Meskipun syarak tidak menetapkan kadar mahar namun di sana terdapat petunjuk dari Nabi SAW agar mahar ini dipermudahkan. Dalam sebuah hadith, Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ

Maksudnya: Sebaik-baik pernikahan adalah yang dipermudahkan maharnya.

Riwayat Ibn Hibban (4072)

Dalam sebuah hadith yang lain pula, dari ‘Aisyah R.Anha bahawa Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَؤُونَةً

Maksudnya: Sesungguhnya, perkahwinan yang paling agung dan berkat adalah yang dipermudahkan perbelanjaannya.

Riwayat Al-Imam Ahmad (24529)

Berdasarkan hadith di atas, jelas menunjukkan betapa pernikahan yang tidak diasaskan dengan nilai yang mahal mas kahwinnya akan dikurniakan keberkatan. Penghargaan yang diberikan dari pihak perempuan terhadap keluarga lelaki menunjukkan keikhlasan dalam menjalinkan hubungan di antara dua keluarga. Keikhlasan yang dizahirkan akan menghilangkan sangkaan seperti mata duitan dapat dilenyapkan dari kamus kehidupan mereka.

Telah berkata Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah Rahimahullah: “Barang siapa yang nafsunya mengajak kepada meninggikan mahar anak perempuan mereka melebihi mahar anak-anak perempuan Nabi SAW yang mana mereka itu adalah sebaik-baik ciptaan Allah SWT dari segenap kebaikan dan mereka itu adalah sebaik-baik wanita sekalian alam pada setiap sifat adalah jahil. Begitu juga dengan mahar isteri-isteri Rasulullah SAW dan ianya atas kemampuan dan kemudahan. Adapun golongan fakir tidaklah perlu untuk mereka memberikan mahar kecuali dengan apa yang termampu tanpa adanya sebarang masalah”.

Diriwayatkan bahawa mahar untuk isteri-isteri dan anak perempuan Baginda SAW, seperti yang terdapat di dalam Sunan Ibn Majah adalah tidak melebihi 12 uqiyyah. Ianya bersamaan dengan 480 dirham iaitu sekitar 135 riyal perak.

Justeru, disyorkan agar mas kahwin mengikut kadar kemampuan, serta adat yang munasabah. Ianya semata-mata demi mencari keredhaan Allah SWT dan hadith Nabi SAW ada menyebutkan:

فَالْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ

Maksudnya: Carilah sesuatu meskipun sebentuk cincin besi.

Riwayat Al-Bukhari (5121)

Inilah Pesananku…

Kami titipkan di sini beberapa perkara agar dapat di ambil perhatian bagi pasangan pengantin dan juga buat kedua-dua keluarga agar perjalanan majlis diberkati dan diredhai oleh Allah SWT. Antaranya:

1. Betulkan niat bahawa perkahwinan sejuzuk dari kehidupan yang semestinya dinawaitukan semata-mata Allah SWT. Benarlah firman Allah SWT:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢

Maksudnya: Katakanlah: “Sesungguhnya sembahyangku dan ibadatku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam”.

(Al-An’aam: 162)

2. Perkahwinan asas dan matlamatnya seperti yang telah kami nyatakan pada awal perbincangan iaitu sakinah, mawaddah dan rahmah. Dengan memahami matlamat ini, sebarang tindakan kita semata-mata mencapai matlamat tersebut.

3. Hendaklah kita menzahirkan rasa suka dan gembira serta menyebarkannya dalam urusan perkahwinan kerana matlamatnya untuk sama-sama gembira atas himpunan dari dua keluarga melalui pasangan masing-masing. Amat malang jika api kemarahan, kata nista dan ucapan yang kurang baik telah menguasai majlis yang diharapkan mendapat keberkatan dari Allah SWT.

4. Prinsip memudahkan dan bukannya memayahkan amat penting untuk diaplikasikan termasuklah di dalam perkahwinan. Firman Allah SWT:

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ

Maksudnya: Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran.

(Al-Baqarah: 185)

5. Hendaklah kita merapatkan saf ukhwah Islamiyyah sementelahan lagi dilaksanakan ikatan perkahwinan. Ingatlah api dendam kemarahan dan menunjukkan sikap yang kasar banyak berakhir dan menatijahkan kekesalan. Alangkah baiknya jika sikap berlapang dada, hormat menghormati antara pasangan , kaum keluarga dan sahabat handai dapat diterapkan sudah tentu ianya menatIjahkan keadaan yang harmoni.

Akhir kalam, saya mengambil kesempatan untuk menasihati agar kita sama-sama membuang yang keruh dan mengambil yang jernih dalam memperbaiki kembali hubungan serta bersamanya kemaafan agar kehidupan kita sentiasa tenang. Ikatlah perkahwinan sebaik mungkin dan jangan biarkan syaitan, nafsu menguasai kita. Ingatlah, Allah SWT amat suka orang yang pemaaf. Binalah kembali hubungan kerana Allah SWT. InsyaAllah sinar bahagia akan muncul dari ufuk kehidupan kita. Saya berdoa agar Allah SWT sirami hati kita dalam kehidupan ini dan menjadikan kita hamba-hambaNya yang taat perintah dan mencapai mardhatillah.

Akhukum fillah,

S.S Datuk Dr. Zulkifli Bin Mohamad Al-Bakri
Mufti Wilayah Persekutuan

30 Mac 2016 bersamaan 21 Jamadilakhir 1437H

Pautan ke laman rasmi… http://goo.gl/V1mmi0

30 March 2016 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

APAKAH STATUS HADITH BELAJARLAH ILMU WALAU HINGGA KE NEGARA CINA ?

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, ahli keluarga baginda SAW, sahabat baginda SAW serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah baginda SAW.

Mengenalpasti akan kesahihan status sebuah adalah penting kerana Nabi SAW telah menceritakan akan ancaman bagi sesiapa yang berdusta dengan hadithnya.

Hadith ini adalah hadith yang masyhur dan diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, bahawa Nabi SAW bersabda :

اطلُبُوا العِلْمَ ولو بالصينِ

Maksudnya : “Carilah (tuntutlah) ilmu walaupun ke negara Cina”.

Hukum dan pendapat ulama’ terhadap hadith ini

Para ulama’ berbeza pendapat dalam menghukum hadith ini, antaranya ialah :

1) Imam al-Sakhawi : Hadith ini adalah dhaif.[al-Maqasid al-Hasanah, 93]

2) Imam al-Baihaqi : Matannya masyhur dan sanadnya adalah dhaif.[Syu’ab al-Iman, 2:724]

3) Imam al-Zurqani : Hadith ini adalah dhaif.[Mukhtasar al-Maqasid, 109]

4) Imam Ibn Hibban : Hadith ini adalah bathil dan tiada asal baginya.[al-Majruhin, 1:489]

5) Imam al-Syaukani : Hadith ini adalah palsu.[al-Fawaid al-Majumu’ah, kitab al-Fadhail,272]

6) Imam Ibn al-Jauzi : Hukum hadith ini adalah palsu.[al-Mawdhu’at, 1:347]

Tarjih

Setelah melihat kepada hukum dan pendapat para ulama’ terhadap hadith ini, kami memilih untuk menyatakan bahawa hadith ini adalah terlalu dhaif sebagaimana dinyatakan oleh ramai ulama’ walaupun Imam al-Suyuthi berpendapat padanya banyak jalur daripada Anas RA yang memungkinkan hukumya menjadi hasan.[al-Nukat, 43]

Aplikasi Hadith

Antara yang dapat difahami daripada makna hadith ini adalah umat Islam wajib menuntut ilmu, bahkan sifat merantau atau rehlah ‘ilmiyyah merupakan sunnah al-Ulama’ dalam menghasilkan ilmu. Juga dapat difahami betapa jarak antara penuntut ilmu dengan tempat musafir menunjukkan kepayahan penuntut ilmu dalam meraih sebanyak mungkin mutiara-mutiara ilmu daripada para ulama’.

Akhirnya, semoga Allah SWT menjadikan kita orang yang cintakan ilmu serta memberi kita kefahaman di dalam agama ini dan memelihara kita daripada melakukan kesalahan dalam menyampaikan hadith Nabi SAW. Amin.

Sumber: Jabatan Mufti Wilayah Persekutuan

Pautan ke laman rasmi PMWP: http://goo.gl/sokXcT

Top of Form

1 Comment


11 March 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Kajian hadith di dalam kitab ihya’ ulumuddin

image

(Kajian hadith di dalam kitab ihya’ ulumuddin oleh Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni)

1) Ada seorang ustaz al-fadhil menghubungi saya bertanyakan tentang kedudukan Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis. Ini barangkali kerana ingin menjawab persoalan mereka yang memandang rendah tentang keupayaan Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis.Maka saya katakan, ada sebuahkitab yang bagus dalam membincangkan masalah ini, iaitu kitab al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith oleh Dr. Muhammad ‘Aqil bin ‘Ali al-Mahdali.

2) Pertamanya, amat perlu difahami apakah maksud ilmu hadis itu. Ilmu hadis yang bagaimana? Kerana ilmu hadis itumempunyai banyak pecahan di bawahnya. Walhal, maksud kurang keupayaan Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis itu sebenarnya merujuk kepada ilmu hadis tertentu, terutama berkaitan kajian sanad seperti al-jarh wa al-ta’dil dan rijal al-hadith, bukannya keseluruhan cabang dalam ilmu hadis. Ini kerana beliau berkeupayaan dalam ilmu mustalah al-hadith, atau riwayah al-hadith yang objektif utamanya adalah untuk membezakan mana hadith yang sahih dan mana hadith yang dhaif, sepertimana yang dapat dilihat dalam kitab-kitab usul al-fiqhnya, iaitu al-Mankhul dan al-Mustasfa.

3) Beliau juga berkeupayaan dalam mengetahui pelbagai hadis di mana telah memuatkan sebanyak lebih 4,800 buah hadis di dalam kitabnya Ihya’ `Ulum al-Din. Iaitu suatu bilangan yang jarang ada di dalam sesebuah kitab seperti itu. Justeru, bukan kesemuanya atau sebahagian besarnya hadis daif dan munkar seperti yang didakwa oleh sesetengah orang.

4) Bahkan, sebahagian besar hadis-hadis kitab Ihya’ `Ulum al-Din adalah masih hadis-hadis sahih dan hasan, serta daif yang dapat diterima dalam bab fada’il acmal (kelebihan-kelebihan amalan). Imam al-Ghazali sewajarnya lebih diberi keuzuran kerana konsep kitab Ihya’ `Ulum al-Din yang disusunnya itu ialah fada’il acmal, bukannya ahkam atau akidah. Berbanding setengah ulama yang menyusun kitab dalam bab ahkam atau akidah, tetapi memuatkannya dengan hadis-hadis daif dan munkar.Demikian antara jawapan saya menurut apa yang terlintas didalam kepala pada masa itu.

5) Hadis-Hadis Ihya’ `Ulum Al-DinPandangan yang mendakwa kelemahan Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis bukanlah suatu yang baru. Zahirnya, mereka hanya mengikut pendapat yang mengatakannya demikian, terutama disebabkan hadis-hadis kitabnya Ihya’ `Ulum al-Din.

Antaranya:Kata al-Hafiz Ibn al-Jawzi (w. 597H): “Beliau memenuhi kitabnya dengan hadis-hadis yang batil yang dia tidak tahu kebatilannya” (Talbis Iblis, hlm. 190).

Imam Taj al-Din al-Subki (w. 771H) menyatakan: “Adapun apa yang dianggap aib pada al-Ihya’ disebabkan kelemahan sebahagian hadis-hadisnya,ini kerana al-Ghazali diketahui bahawa beliau tidak mempunyai kepakaran dalam bidang hadis” (Tabaqat al-Syafi`yyah al-Kubra, 6/249).

Imam Ibn Kathir (w. 774H) berkata: “Di dalamnya banyak hadis yang gharib, munkar dan palsu” (Al-Bidayah wa al-Nihayah, 12/214).

6) Sebanyak mana bilangannya? Menurut Dr. Muhammad ‘Aqil al-Mahdali dalam al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith, bilangan hadis-hadis dalam Ihya’ `Ulum al-Din ialah 4,848 buah hadis. Ini berpandukan kepada kitab Is‘af al-Mulihhin bi-Tartib Ahadith Ihya’ ‘Ulum al-Din susunan Syeikhuna al-Muhaddith Syeikh Mahmud Sa‘id Mamduh. Bagaimanapun, kitab tersebut hanya menyusun semula hadis-hadis yang ditakhrij oleh al-Hafiz al-‘Iraqi (w. 806H) dalam al-Mughni `an Haml al-Asfar fi al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ihya’ min al-Akhbar, sedangkan masih ada sebilangan kecil hadis yang tidak ditakhrijkan olehnya.

7) Jika Imam Taj al-Din al-Subki (w. 771H) mengira sebanyak 943 hadis yang tidak ditemukan sanadnya (Tabaqat al-Syafi`yyah al-Kubra, 6/287- 389). Maka bakinya jika begitu, ialah sebanyak 3,905 hadis yang masih mempunyai sanad antara sahih, hasan dan daif. Jumlah ini masih dianggap jumlah yang besar. Malah sebahagian daripada bilangan 943 hadis yang tidak ditemukan sanadnya oleh Taj al-Din al-Subki itu sebenarnya masih mempunyai sanad, dan sebahagiannya pula ada yang diperselisihkan darjatnya antara sahih, hasan, daif atau mawdu‘. Ini dapat dilihat dalam takhrij al-Hafiz al-‘Iraqi dan takhrij al-Hafiz Murtadha al-Zabidi yang lebih luas dalam Ithaf al-Sadah al-Muttaqin. (Lihat: al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith oleh Dr. Muhammad ‘Aqil al-Mahdali)

8) Boleh dikatakan, tidak ada kitab tasawuf yang mengandungi jumlah hadis sebanyak itu. Maka dakwaan bahawa Imam al-Ghazali hanya menceduk hadis-hadis kitabnya daripada kitab-kitab fiqh dan tasawuf barangkali dapat dipertikaikan.

Ini mengukuhkan lagi pendapat bahawa beliau juga telah memetik hadis-hadis kitab Ihya’ `Ulum al-Din daripada kitab-kitab hadis itu sendiri (al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith hlm. 74 & 118).

9) Bagaimanapun, sewajarnya setiap pembaca kitab Ihya’ `Ulum al-Din berhati-hati dalam memetik hadis-hadisnya dan menelitinya menerusi takhrij al-Hafiz al-`Iraqi yang biasanya dicetak bersama-sama dengan kitab Ihya’. Meskipun adakalanya, hukum beliau berbeza dengan hukum al-Hafiz Murtadha al-Zabidi. Sekurang-kurangnya hadis daif masih dapat diamalkan dalam bab fada’il a’mal.

Sumber: Bicara Hadith Bersama Ustaz Mohd Khafidz Soroni

9 March 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | Leave a comment

Definisi SALAFI/WAHABI/SYAFIEE/HANBALI/MALIKI/HANAFI…

Oleh: Syeikh Nuruddin Al Banjari pada 23/2/2016…

-Apakah kira seseorg yg mengusul pandangan bukan dari mazhab dia maka akan terkeluar dari mazhab tersebut..

-Mazhab ini adalah suatu aliran..

-Jika kita berlatar belakang kan Mazhab Syafiee & ada sesetengah masalah² trtentu & sesuai dgn tuntutan keperluan kita brpindah / bertaqlid pd mazhab lain apakah kita langsung brtukar mazhab yg lain??…

-Kita tidak brtukar mazhab lain..Tetap bermazhab Syafiee..

-Masyarakat memberi 1 pandangan/tanggapan pd org² yg ekstrim, suka kufur mengkufurkan, sesat menyesatkan org lain & kita labelkan org itu dgn panggilan WAHABI..ADAKAH ITU TEPAT & BETUL????..

-Tidak mnjadi Hanbali kita jika kita ikut beberapa pandangan dlm mazhab² Hanbali..begitu juga pd mazhab² yg lain..

-Apakah seperti itu halnya di nusantara sesetengah nya mengagumi pandangan dari Muhammad bin Abdul Wahab..

-Apakah dia mnjadi WAHABI atau tetap saja dia sorg yg bermazhab Syafiee..

-Untuk diketahui :-

1)SALAFI/WAHABI itu bukan mazhab..

2)Ia berbeza dgn mazhab² empat yg ada dari A→Z…

3)Kita tak boleh mengatakan kita keluar dari mazhab disebabkan hanya ada beberapa masalah hukum yg kita tak boleh komitmen dlm mazhab Imam Syafiee r.a..

-Mengapa masyarakat skrg melemparkan & memberi jolokan kpd org yg ekstrim itu digelar WAHABI/SALAFI..

-WAHABI/SALAFI itu bkn mazhab tp hanya 1 pandangan..

-Ulama2 WAHABI di sana kebanyakannya bermazhab Hanbali..jadi mengapa mereka diberi gelaran tambahan iaitu WAHABI..

-Kerana mereka yg mengasuh pandangan WAHABI..

-Diberi contoh org yg keluar dakwah digelar jemaah TABLIGH walhal mereka tetap berpegang pd mazhab Syafiee..

-Mereka digelar jemaah TABLIGH kerana mereka mengasuh cara org TABLIGH dakwah iaitu dgn cara dari rumah ke rumah dan masjid ke masjid..

-JADI MENGAPA KALIAN MARAH BILA KALIAN DIPANGGIL DENGAN GELARAN WAHABI KERNA KALIAN YG MENGASUH PANDANGAN WAHABI..

-Yg mengharamkan TAWASSUL siapa??..yg mengharamkan ziarah kubur & makam nabi siapa???..
(4mazhab tidak mengharamkannya)..

-Yg mengatakan berziarah ke Madinah utk tujuan ziarah kepada RASULULLAH SAW itu adalah haram & bertawassul pd BAGINDA SAW adalah syirik itu adalah WAHABI punya pandangan..

-Jadi kalian jgn berkecil hati atau kecewa bila kami gelarkan anda WAHABI kerna kalian yg mengasuh pandangan ekstrim seperti itu..

-Jumhur ulama tidak mengkafirkan org yg bertawasul & tidak mengharamkan berziarah makam RASULULLAH SAW..

-Kalau kalian tak mahu tidak kisah tapi jgn smpai menyesat kan & mengharamkan ziarah semacam itu..

-Semua jumhur ulama 4mazhab membenarkan kita menyanjung BAGINDA SAW..

-Jadi supaya sahabat2 kita yg mengasuh fahaman yg ekstrim itu yg dgn org ramai dikafirkan kerna tawasul, yg diharamkan kerna ziarah kubur, yg ramai diharamkan kerna tahlil & talqin..

-Jadi restulah kalian dgn gelaran & jolokan yg diberi iaitu kumpulan WAHABI..

-Jadi jgn tersinggung jika kalian digelar WAHABI jika kalian menyokong pandangan² mereka …

Wallahualam..

1 March 2016 Posted by | Bicara Ulama | Leave a comment

Allah Wujud Tanpa Bertempat


 

Allah Di Mana? Di Atas Langit atau Di Semua Tempat? 

Soalan di atas, lazimnya ditanya oleh salah satu dari dua orang berikut, sama ada dia memang tak tahu dan inginkan jawapan, atau soalan perangkap ‘salafi’ yang ingin menguji akidah ‘lawan’nya. Ini kerana mereka sudah meyakini bahawa Allah Taala itu tempatnya di atas langit. Jika orang tersebut menjawab di atas langit, dia akan berpuashati, tetapi jika orang tersebut menjawab di semua tempat atau di mana-mana sahaja (seperti fahaman Muktazilah), maka dia akan memerli dan memperbodohkan begini: “Walaupun di tandas?!”.

Sebenarnya soalan pilihan; ‘di atas langit atau di semua tempat’ seperti di atas adalah soalan bidaah. Saya katakan ianya bidaah sayyi’ah (yang keji). Ini kerana ianya telah menimbulkan terlalu banyak perbalahan dan sengketa sehingga kini. Maka eloklah ditinggalkan sahaja pertanyaan bidaah tersebut. Ini kerana jawapan yang pertama dan yang kedua adalah mustahil bagi Allah, selagi ia berhubung dengan tempat, sepertimana yang akan diterangkan nanti. Allah Taala tidak berada di tempat tertentu, sama ada atas, bawah, kiri, kanan, depan atau belakang. Ini tidak bermakna Allah Taala itu ‘ma’dum’ (معدوم) yakni ‘yang ditiadakan’ (seperti ejekan setengah ‘ salafi’ pembidaah yang jengkel), kerana Dia telah sedia ada wujud dengan zat-Nya. Begitu juga Allah Taala tidak berada di semua tempat.

Jawapan Yang Sahih

Namun, pertanyaan; ‘di mana Allah?’ bukanlah bidaah. Ini kerana Allah Taala telah mengetahui tabiat manusia yang pasti akan bertanya soalan seperti itu. Dan Allah Taala tidak mahu umat Nabi Muhammad SAW ini menjadi sepertimana orang Yahudi dan orang Kristian yang beriktikad bahawa Allah Taala itu di atas langit dengan zat-Nya, lalu diturunkan anak-Nya ‘Uzair menurut Yahudi, dan Jesus (‘Isa) menurut Kristian, ke atas muka bumi, لا حول ولا قوة إلا بالله. Oleh kerana itu Allah Taala telah menurunkan jawapannya seperti berikut, firman-Nya dalam surah al-Baqarah:

Terjemahan: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku, maka (beritahu kepada mereka): Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyahut seruan-Ku (dengan mematuhi perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku mudah-mudahan mereka menjadi baik serta betul”. (186)

Bagaimanapun jika mereka tidak berpuashati dengan jawapan dari kalam Allah ini, katakanlah: Allah wujud tanpa bertempat (الله موجود بلا مكان). Ini kerana Allah Taala tidak memerlukan tempat (dan langit adalah termasuk daripada tempat). Yang memerlukan tempat ialah makhluk. Dia-lah yang menciptakan tempat, maka tempat adalah termasuk daripada makhluk. Allah Taala tidak memerlukan apa-apa daripada makhluk-Nya dan tidak bergantung kepada mereka sedikitpun.

Komentar Hadith Jariyah

Adapun hadith jariyah (hamba perempuan) yang menunjukkan seolah-olah Allah Taala di langit, dijawab oleh para ulama Ahlus Sunnah wal-Jamaah seperti berikut;

1- Ianya bukan hadith mutawatir. Maksudnya hanya segelintir sahabat Nabi SAW sahaja yang meriwayatkannya, tidak ramai. Maka orang yang mati tanpa akidah ‘Allah di atas langit’ tidaklah berdosa. Justeru, usul akidah mesti disabitkan dengan hadith mutawatir.

2- Hadith tersebut tidak dimuatkan oleh ulama-ulama hadith yang meriwayatkannya di dalam bab akidah, kecuali golongan musyabbihah dan sebahagian ahli hadith yang terpengaruh dengan mereka dalam mazhab Hanbali.

3- Ini kerana cara ia difahami berhubung dengan situasi hadith itu diucapkan, di mana jariyah tersebut adalah orang biasa yang kurang berpelajaran, maka wajarlah Nabi SAW melayaninya menurut kemampuan akal fikirannya. Dalam riwayat berkenaan beliau menjawab: “Di langit”, kerana inilah kefahaman semua orang biasa, termasuk kaum Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin yang percaya kewujudan Tuhan dan kekuasaannya. Apa yang membezakan dengan mereka di sini ialah pengakuannya terhadap kerasulan Nabi SAW, lalu baginda menghukumkannya sebagai mukminah. Manakala dalam satu riwayat lain, beliau hanya menunjuk ke arah atas, manakala yang berkata ‘ke langit’ ialah perawi hadith yang menceritakan situasi berkenaan.

4- Maka para ulama menafsirkannya menurut kaedah; ‘merujukkan nas yang mutasyabihat (mengelirukan) kepada nas yang muhkamat (meyakinkan)’. Antara nas yang muhkamat di sini ialah ayat (ليس كمثله شيء), “Tiada suatu apapun yang menyerupai-Nya”. Jika Nabi SAW pernah bersabda; ‘Allah di langit’, pasti tidak timbul masalah, dan ianya tidak menjadi nas yang mengelirukan (mutasyabihat). Justeru, ulama menyatakan bahawa jawapan/isyarat jariyah tersebut adalah menunjukkan ketinggian kedudukan Allah (علو المكانة), dan bukannya ketinggian tempat Allah berada (علو المكان). Ini ditunjukkan dengan kalimah (في السماء), “di langit” dengan lafaz mufrad (tunggal) sahaja, bukan dengan lafaz (فوق السماء السابعة), “di atas langit ketujuh”, atau dengan lafaz plural (فوق السموات), “di atas semua langit”. Maka kalimah al-sama’ dalam adat Arab mengisyaratkan kepada alam ghaib yang tidak dapat diketahui hakikat sebenarnya.

5- Tambah mereka lagi; adat umat Islam menadah tangan ke langit ketika berdoa adalah kerana langit itu adalah kiblat bagi doa (tidak kira sama ada anda di Kutub Utara atau di Kutub Selatan maka kiblat semasa berdoa ialah langit), sepertimana kita bersembahyang menghadap Allah Taala, maka kiblatnya ialah ke Kaabah. Ini bukanlah bermakna Allah Taala berada di hadapan kita dengan zat-Nya, dan tidak ada di sebelah belakang.. Jika kita mengamati kedudukan bumi dari angkasa dan mengamati seluruh alam cakerawala ini, di samping menginsafi kekerdilan diri, pasti kita akan akur dengan ayat al-Quran di atas. سبحان الله..

6- Kefahaman akidah orang awam seperti yang saya sebut di atas juga, berlaku dalam beberapa perkara akidah yang lain, seperti soal perbuatan hamba (أفعال العباد), kefahaman tentang iradah (kehendak) manusia dan qadar Allah SWT. Jika tidak diberi penjelasan atau diajarkan ilmu yang sahih, mereka akan menyangka bahawa Allah SWT menjadikan manusia dan membiarkan mereka berusaha mengurus hidup mereka masing-masing dengan sendiri tanpa campurtangan daripada-Nya. Atau pun mereka percaya hidup mereka ini telah ditentukan semuanya oleh Allah SWT, maka tidak perlu berusaha untuk mengubah apa-apa yang telah ditetapkan dan berserah sahaja bulat-bulat.

7- Sebahagian ulama Ahlus Sunnah seperti Imam Muhammad Zahid al-Kawthari dan al-Hafiz ‘Abdullah al-Ghumari mengatakan bahawa hadith tersebut adalah syaz, iaitu hadith yang sahih sanadnya, tetapi matannya berlawanan dengan hadith-hadith sahih yang lain. Ini kerana kebanyakan dakwah Nabi SAW adalah dengan seruan supaya mengucap syahadah (لا إله إلا الله), bukannya bertanya ; “Di mana Allah?” (أين الله). Malah sebahagian jalan riwayat hadith berkenaan diriwayatkan dengan lafaz yang jelas : (أتشهدين أن لا إله إلا الله). Maka hadith syaz tidak dapat dijadikan hujah.

Wallahu a’lam.

sawanih.blogspot.my/…/allah-di-mana-di-atas-atau-di-semua.h…

Penulis Adalah Ustaz Dr Khafidz Soroni Pensyarah Kolej Universiti Islam Selangor

Rujukan tambahan:

1- Fatwa al-Hai’ah al-‘Ammah – http://www.awqaf.ae/Fatwa.aspx?SectionID=9&RefID=4018

2- Risalah al-Burhan al-Sadiq. cb.rayaheen.net/showthread.php?tid=25531

3- Fatwa Dar al-Ifta’ Mesir – dar-alifta.org.eg/AR/Default.aspx

 


Penulis : Ustaz Dr Khafidz Soroni


Sumber:
Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan

 
 


 

24 February 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama | Leave a comment

Harus Sedekah Pahala Kepada Si Mati

image

(Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan)

Tentu ada yang tertanya, persoalan ini sudah lama dibahas dan dibincangkan oleh para ulama. Justeru, kenapa perlu diungkit semula? Bukankah mereka yang berpuashati dengan dalil bolehnya tetap mengatakan harus, dan mereka yang berpuashati dengan dalil tidak bolehnya tetap mengatakan tidak harus?Memang benar, namun kita masih kekurangan dalam soal berlapang dada dan soal adab ikhtilaf.

Tulisan ini sebenarnya hanya bertujuan untuk menjawab persoalan sesetengah orang yang masih mempertikaikan dan tidak mahu menerima ikhtilaf ulama dalam masalah ini. Di samping untuk memberi pencerahan kepada sesetengah orang yang berasa samar dan keliru disebabkan momokan orang yang mempertikaikan itu.Apakah para ulama dan para ustaz yang mengamalkannya selama ini sebenarnya salah dan sesat?

Isu ini adalah salah satu isu paling utama dalam senarai sebuah fahaman kontemporari, selain soal ziarah, tawassul, tabarruk dan lain-lain yang berkaitan dengan alam barzakh. Ia merupakansalah satu masalah yang selalu ditimbulkan dan dibahaskan, sedangkan para ulama dahulu telah selesai lama membahaskannya.

Keputusannya, mereka yang tidak bersetuju dengan memberi sedekah pahala kepada si-mati tetap mengatakan tidak bersetuju dan mendakwa ia tidak dilakukan oleh Nabi SAW dan para salaf.

Sebaliknya, mereka yang berpendapat boleh memberi sedekah pahala kepada si-mati tetap mengatakannya boleh kerana ia masih di dalam ruang lingkup nas-nas dan dalil-dalil hukum syarak.

Khilaf Ulama Yang Muktabar Perlu diketahui, bahawa para ulama bersepakat yang pahala haji, sedekah, permohonan doa dan istighfar boleh sampai kepada si mati.Namun, mereka berselisih tentang pahala solat, puasa, bacaan al-Quran, zikir dan seumpamanya, adakah ia boleh disampaikan kepada si mati atau tidak?

– Pendapat yang mengatakan sampai pahala tersebut ialah daripada Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad (menurut satu riwayat yang masyhur daripadanya), sebahagian ashab Imam Malik dan ramai ashab Imam al-Syafi‘i.- Manakala pendapat yang mengatakan tidak sampai pahalatersebut ialah daripada Imam Malik, Imam al-Syafi‘i (menurut satu riwayat yang masyhur daripadanya) dan Imam Ahmad (menurut riwayat lain daripadanya).Sebagaimana yang jelas tertera, masalah ini termasuk dalam perkara khilaf di kalangan ulama mujtahidin. Maka, tidak sewajarnya dalam perkara khilaf sebegini kita masih melontarkan tuduhan bidaah, jahil, sesat dan sebagainya kepada pihak yang tidak sependapat. Perkara tersebut sepatutnya tidak perlu berlaku kerana perselisihan yang muktabar seperti ini tidak termasuk dalam perkara mungkar yang wajib dicegah.Antara dalil-dalil yang mengharuskan Secara ringkas, hanya dicatatkan di sini sebahagian dalil-dalil pihak yang mengatakan boleh memberi sedekah pahala kepada si mati,kerana perbincangan lanjut mengenai dalil-dalil kedua-dua belah pihak secara panjang lebar boleh dirujuk kepada kitab-kitab yang telah membahaskannya secara terperinci.

1- Hadis:عن ابن عمر قال: سمعت النبي صلى اللّه عليه وسلم يقول: إذا مات أحدكم فلا تحبسوه وأسرعوا به إلى قبره وليُقرأ عند رأسه بفاتحة الكتاب وعند رجليه بخاتمة البقرة في قبره. (رواه الطبراني في المعجم الكبير والبيهقي فى شعب الإيمان والخلال في القراءة عند القبور، ولفظه: بفاتحة البقرة، قال الهيثمي: فيه يحيى بن عبد الله البابلتي، وهو ضعيف. وقال الحافظ ابن حجر في فتح الباري: أخرجه الطبراني بإسناد حسن. وله شاهد من حديث عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه، قال الهيثمي: رجاله موثقون. فالحديث عندي حسن لغيره على الأقل)
Terjemahan: Dari Ibnu ‘Umar RA katanya: Aku dengar Nabi SAW bersabda: “Apabila mati salah seorang dari kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segeralah membawanya ke kubur dan bacakanlah di sisi kepalanya Fatihah al-Kitab (dalam lafaz lain: pembukaan al-Baqarah) dan di sisi kedua kakinya penutup al-Baqarah di kuburnya”. (Hadis riwayat al-Tabarani, al-Baihaqi dan al-Khallal dengan sanad hasan li ghairih)

2- Hadis:روي عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ:اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّوابن ماجه وأحمد والحاكم وابْنُ حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ، وأقره الحافظ ابن حجر في بلوغ المرام، وحسنه السيوطي، وضعفه آخرون لجهالة أبي عثمان وأبيه)
Terjemahan: Diriwayatkan dari Ma‘qil bin Yasar RA dari Nabi SAW bersabda: “Bacakanlah ke atas orang yang telah mati di kalangan kamu surah Yasin”. (Hadis riwayat Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad, al-Hakim dan Ibnu Hibban dalam Sahihnya)

Terjemahan ini berdasarkan kepada zahir lafaz hadis bagi yang berpendapat boleh sedekah pahala kepada si-mati dan menghukumkan darjatnya hasan berdasarkan penilaian AbuDawud, al-Hakim, Ibn Hibban, Ibn Hajar dan al-Suyuti.

Manakala, sebahagian ulama lain mentafsirkannya, “…orang yang hendak mati di kalangan kamu” dan menghukumkan tarafnya daif.

3- Hadis:عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: « مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ ». (رواه مسلم وابن ماجه وأحمد)
Terjemahan: Dari Jabir RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesiapa yang mampu dari kalangan kamu untuk memberi manfaat kepada saudaranya, maka berilah manfaat kepadanya”. (Hadis riwayat Muslim, Ibn Majah dan Ahmad)

Jika dalam hal urusan dunia kita digalakkan oleh syarak supaya saling bantu membantu antara satu sama lain, apatah lagi dalam hal urusan akhirat yang merupakan suatu kehidupan yang kekal abadi.

4. Hadis Nabi SAW meletakkan pelepah kurma di atas kubur. Dari Ibnu ‘Abbas, katanya: “Bahawa Nabi SAW pernahmelewati dua buah kubur, lalu baginda bersabda: “Kedua-dua mereka sedang diseksa, padahal mereka diseksa bukanlah kerana melakukan perkara besar. Adapun salah seorang daripada mereka, ia selalu tidak betul-betul bersuci (istibra’) dari kencingnya. Manakala yang seorang lagi pula suka mengadu domba.” Kemudian Nabi mengambil satu pelepah kurma hijau, lalu dibelahnya menjadi dua. Lantas, baginda menanamkan setiap satunya pada kedua-dua kubur tersebut. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, mengapa tuan berbuat demikian?” Jawab baginda: “Moga-moga kedua-dua mereka diberi keringanan selama pelepah ini belum kering” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Dalam kisah yang lain, menurut riwayat Muslim, Nabi SAW menyuruh Jabir RA mengambil dua pelepah kurma, lalu baginda meletakkan setiap satunya di atas dua buah kubur dan bersabda: “Aku telah melewati dua buah kubur yang kedua-dua penghuninya diazab, maka aku ingin supaya dengan syafaatku ia diangkat daripada mereka berdua selamamana kedua-dua pelepah ini masih basah”.

Dalam kisah yang lain lagi, menurut riwayat Ibn Hibban dalam Sahihnya, Nabi SAW melewati sebuah kubur, lalu baginda meminta dua pelepah kurma, maka salah satunya diletakkan di sebelah kepala mayat dan satu lagi diletakkan di sebelah kakinya.

Kata Imam al-Khattabi: “Padanya terdapat dalil istihbab (disukai) membaca al-Quran di atas kubur kerana jika dapat diharapkan terhadap si mati agar diringankan azab dengan sebab tasbih tumbuh-tumbuhan, maka bacaan al-Quran itu tentu lebih besar lagi harapan dan barakahnya”. (‘Umdah al-Qari)

5- Dalil kias dengan amalan haji, puasa, sedekah, doa dan istighfar yang jelas sahih nas-nasnya.http://sawanih.blogspot.com/2015/02/harus-sedekah-pahala-kepada-si-mati.html

Penulis Adalah Ustaz Dr. Khafidz Soroni
Pensyarah Di Akademi Islam, Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor & Co- Editor DI Institut Kajian Hadis Selangor (INHAD), KUIS

22 February 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

KEBATILAN AJARAN WAHHABI MELALUI KITAB-KITAB PENGASAS DAN PENGIKUT AJARAN INI

1) Al-Wahhabiyyah ialah satu kumpulan yang mengikut Muhammad bin Abdul Wahhab yang terbit dari Najd, Hijaz ini telah membuktikan isyarat Nabi SAW dengan keluarnya tanduk syaithon di dalam riwayat Imam Al-Bukhari.

2) Muhammad bin Abdul Wahhab tidak mengakui seorang pun sebagai Islam di atas muka bumi selain jemaahnya dan semua yang menyalahinya dikirim orang untuk membunuh ketika tidur kerana dia mengkafirkan orang Islam dan halal darah mereka. Lihat kitab السحب الوابله ص 276 و حاشية رد المحتار ( ج4/262) dan selain keduanya.

3) Ulama’ sezamannya telah memberi peringatan untuk menjauhinya bahkan bapanya sendiri As-Syeikh Abdul Wahhab dan Abangnya As-Syeikh Sulaiman. Abangnya mengarang dua kitab untuk menolak Muhammad B Abdul Wahhab. Pertama فصل الخطاب فبي الرد على محمد بن عبد الوهاب kedua الصواعق الإلهية في الرد على الوهابية begitu juga gurunya memberi amaran seperti Muhammad b Sulaiman Al-Kurdi di dalam kitabnya Al-Fatawa.

4) Golongan wahhabi berkata sesungguhnya Allah duduk di atas ‘arash dan Allah duduk bersama Muhammad pada hari kiamat. Semoga Allah jauhkan kita daripada akidah yang kufur ini. Sila rujuk (كتاب مجموع الفتاوى (ج4/374) و بدائع الفوائد (ج4/40)

5) Golongan Wahhabi mempertahankan mereka yang mengatakan alam ini ada bersama dengan Allah Ta’ala sejak azali. Moga Allah jauhkan kita daripada akidah yang membawa kekufuran ini. Rujuk kitab-kitab berikut ;

موافقة صريح المعقول (ج1/75) و منهاج السنة (ج1/24) و نقد مراتب الإجماع 168-شرح حديث عمران بن الحصين ص 193-شرح حديث النزول 161- مجلة التمدن محرم 1381ه ص 387
6) Golongan wahhabi mengatakan Allah Ta’ala ada mulut seperti yang tertulis alam kitab mereka yang bernama As-Sunnah mukasurat 77.

7) Golongan wahhabi mengatakan : Umat Nabi Muhammad syirik dan syirik mereka lebih teruk daripada syirik menyembah berhala. Rujuk kitab مجموعة التوحيد ص 266 و 281.

8 Wahhabi mengkafirkan ahli Syam, Maghrib, Yaman, Irak dan Mesir. Rujuk kitab فتح المجيد ص 217

9) Wahhabi mempertahankan mereka yang berkata neraka itu hancur tidak kekal seorangpun dan menganggap mempertahankan akidah ini mendapat pahala. rujuk kitab mereka حادي الأرواح ص 260 و التعليق على رفع الستار ص 32

10) Wahhabi mengatakan Siti Hawa رضي الله عنها adalah seorang musyrik seperti yang tersebut di dalam kitab Ad-Din Al-Khalish Juzuk 1 mukasurat 160.

11) Wahhabi mencela Sahabat Nabi yang Mulia iaitu Bilal b Al-Haarith Al-Mazani Radhiallahu ‘Anhu dengan kufur dan melakukan syirik. Ini terdapat di dalam ta’liq mereka kepada kitab Fathul Baari cetakan Dar Ar-Rayyan lilturath juzuk 2 mukasurat 575.

12) Wahhabi mengatakan : Abu Jahal dan Abu Lahab lebih kuat tauhid dan tulus imannya daripada sekalian muslim yang menyebut kalimah لا اله إلا الله محمد رسول الله. Rujuk kitab yang bernama كيف نفهم التوحيد ص 16

13) Wahhabi mengkafirkan mereka yang berpegang dan bertaqlid kepada satu mazhab daripada mazhab yang empat seperti yang tercatit dalam kitab yang bernama هل المسلم ملزم باتباع مذهب معين من المذاهب الأربعة dan mengatakan sesungguhnya taqlid itu raja kepada syirik seperti yang terdapat di dalam kaset salah seorang ulama mereka.

14) Firman Allah Ta’ala : “Sesungguhnya Allah tidak mengampunkan sesiapa yang melakukan syirik denganNya” Wahhabi berkata “Sesungguhnya Allah mengampunkan setengah daripada syirik seperti terdapat di dalam kitab فتاوى الألباني ص 351

15) Imam Bukhari mengtakwilkan di dalam kitab sahihnya firman Allah “Setiap sesuatu akan binasa kecuali wajah Allah” (Surah Al-Qasas ayat : 88) dengan berkata kecuali kekuasaanya namun wahhabi mengatakan sesiapa yang mengtakwil dengan takwilan ini maka dia bukan muslim seperti tercatat di dalam kitab فتاوى الألباني ص 523

16) Wahhabi mengatakan sesungguhnya sesiapa yang solat dan berpuasa dan berkata dengan lidahnya “sahaja aku solat atau sahaja aku berpuasa” diazab di dalam neraka. Ini tercatat di dalam akhbar yang benama Australia Islamic review 26 march 9 April 1996 page 10.

17) Wahhabi menghalalkan darah sesiapa yang berselawat ke atas Nabi SAW secara kuat selepas azan dan menganggap ia lebih teruk daripada zina. Lihat akhir kitab Tarikh Al-Sultonah Al-Uthmaniyyah dan kitab Ad-Dalil Al-Kaafi.

18) Wahhabi mengharamkan sambutan maulidurrasul seperti yang terdapat di dalam kitab mereka فتاوى مهمة ص 45 dan hampir-hampir mengkafirkan mereka yang menyambut maulidurrasul seperti yang terdapat di dalam kitab صيانة الإنسان ص 233 tetapi mereka mengharuskan bagi mereka untuk berkumpul untuk ceramah sirah Muhammad b Abdul Wahhab sempena tahun kelahiran dan wafatnya. Lihat kitab هذا والدي ص 123

19) Wahhabi mengatakan bacaan Al-Quran kepada orang muslim yang mati termasuk di dalam kesesatan seperti di dalam kitab فتاوى مهمة ص 32

20) Wahhabi mengharamkan ziarah orang hidup kepada orang hidup pada dua hari raya. Lihat kitab فتاوى الألباني ص 63

21) Imam Ali Radhiallahu ‘Anhu mengatakan “Keluar pada dua hari raya kepada kubur termasuk daripada sunnah”. Riwayat Al-Baihaqi. Tetapi wahhabi mengatakan haram ziarah kubur pada dua hari raya seperti tercatat di dalam kitab Fatawa Al-Albani.

22) Wahhabi bercita-cita untuk menghancurkan kubah hijau Rasulullah SAW dan menggalakkan kepada yang demikian. Lihat kitab تحذير الساجد ص 68

23) Sabda Nabi SAW : من زار قبري و جبت له شفاعت “Sesiapa yang mengziarahi kubur aku dan diwajibkan baginya syafaat aku” Hadith disahihkan oleh Al-Hafiz As-Subki dan selainnya tetapi wahhabi mengharamkan ziarah kepada kubur Nabi SAW seperti di dalam kitab mereka الفتاوى الكبرى ص 142

24) Sabda Nabi SAW إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها و صوموا نهارها “Apabila malam nisfu Sya’ban maka dirikan malam dan berpuasalah pada sianghari” Riwayat Ibnu Majah tetapi wahhabi mengharamkan mendirikan malam nisfu sya’ban di dalam kitab mereka فتاوى مهمة ص 57

25) Firman Allah SWT : فالذين ءامنوا به و عزروه و نصروه و اتبعوا النور الذي انزل معه أولئك هم المفلحون “Maka orang-orang yang beriman kepadanya dan memuliakannya juga menolongnya serta mengikut cahaya yang diturunkan kepadaya (Al-Quran) mereka itulah orang-orang yang berjaya” Surah Al-‘A’raaf :157 tetapi wahhabi menghalalkan darah mereka yang membesarkan dan memuliakan Rasulullah SAW seperti tercatat di dalam kitab mereka مجموعة التوحيد ص 139

26) Nabi SAW bersabda : “Demi diri aku di dalam kekuasaanya, membunuh orang mukmin itu lebih besar di sisi Allah daripada seluruh isi dunia” Riwayat An-Nasaie tetapi wahhabi menghalalkan darah orang islam sehingga ke Timur Jordan di mana disembelih orang wanita dan kanak-kanak sehingga bilangannya mencecah 2750 lihat akhbar As-Sofa April 1924

27) Wahhabi menghalalkan darah jemaah tabligh dan mengkafirkan ketua-ketua mereka As-Sheikh Khalid An-Naqsyabandi dan As-Sheikh Muhammad Ilyas dan As-Syeikh Muhammad Zakariyya, As-Sheikh Muhammad In’aam Al-Hasan Rahimahumullahu. Lihat kitab mereka القول البليغ في التحذير من جماعة التبليغ

28) Telah ittifaq ulama’ dan orang awam daripada orang Islam bahawa ayat ليس كمثله شئ و هو السميع البصير “Adalah Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dan Dia maha mendengar lagi maha melihat” Surah As-Syura : 11 di mana ayat ini menunjukkan mahasuci Allah daripada menyerupai makhluk adapun wahhabi berkata : ayat ini tidak sunyi daripada tasybih bagi Allah dengan makhluk seperti yang tertulis dalam kitab mereka بغية المرتاد ص 178

29) Sahabat Nabi Abdullah bin ‘Amr adalah beliau menggantungkan di atas tengkuk anaknya azimat yang daripada ayat-ayat Al-Quran dan daripada zikir. Diriwayatkan oleh At-Tirmizi dan Al-Bukhari di dalam kitab mereka خلق أفعال العباد dan selain keduanya. Adapun wahhabi mengharamkan dan menjadikannya jalan-jalan kepada syirik di dalam kitab mereka iaitu فتاوى مهمة ص 111

30) Rasulullah SAW membenarkan wanita memakai emas sepertimana riwayat Ibnu Majah dan selainnya tetapi Al-Albani mengharamkan memakai gelang, rantai dan cincin dan seumpamanya daripada emas kepada wanita. Rujuk kitab آداب الزفاف ص 132

31) Wahhabi mengatakan orang yang berpuas jika bercium atau menyentuh atau bermesra-mesra atau berpelukan tanpa setubuh dan keluar mani atau mazi tidak membatalkan puasa. Ini dinaqalkan oleh penulis kitab الإنصاف عن زعيمهم ج 3 ص 301 و 315

32) Wahhabi mengatakan onani iaitu mengeluarkan mani samada sebab mencium isteri atau dengan tangan tidak membatalkan puas seperti yang tersebut di dalam kitab تمام المنه ص 418

33) Wahhabi mengharamkan ke atas umat Islam berkumpul untuk membaca Al-Quran atau mengajar agama sebelum solat Jumaat seperti yang terdapat di dalam majalah mereka ذكرى العدد السادس آب 1991 ص 25 و 26

34) Wahhabi mengharamkan menyebut “Sodaqallahul ‘Adzim” selepas membaca Al-Quran seperti yang tersebut di dalam majalah mereka البحوث العلمية

35) Wahhabi mengharamkan ke atas orang Islam kekal di Bumi Palestin dan menyuruh mereka keluar dan meninggalkan kepada Yahudi seperti terdapat di dalam kitab mereka فتاوى الألباني ص 18 و جريدة اللواء الأردنية في 7/8/1992

35) Wahhabi mengatakan As-Syeikh Hassan Al-Banna Rahimahullah sebagai musyrik kerana mengajak kepada syirik dan kesesatan seperti tertulis dalam majalah mereka المجلة العدد ى830 كانون الثاني 1996

36) Rasulullah SAW mengajar seorang lelaki buta agar berdoa 
اللهم إني أسألك و أتوجه إليك بنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي في حاجتي لتقضى لي صححه 
Hadith disahihkan oleh At-Thobrani dan selainnya tetapi wahahbi mengkafirkan mereka yang bertawassul dan beristighasas dengan Rasulullah SAW seperti yang terdapat di dalam kitab mereka مجموعة التوحيد ص 139

Semoga Allah memelihara kita dan anak cucu kita daripada fahaman takfir, tasyrik dan tabdi’ yang menghalalkan darah umat Islam. Semoga apa yang saya catitkan ini kerana Allah tidak kerana yang lain selainNya.

Ayuh kita kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadith sepertimana yang difahami oleh salafunassoleh daripada Imam-Imam mazahib dan para ulama yang tulus berantaian daripada Nabi Muhammad SAW sehingga kepada kita pada hari ini.
Allahul Musta’aan..

Sumber :

Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari
BA (Hons) Usuluddin Akidah dan Falsafah
Universiti Al-Azhar Mesir

17 February 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Sah atau tidak solat di belakang Imam Mekah dan Madinah yang di kata Wahhabi?



 

 

 


Masih lagi cerita sah atau tidak solat di belakang Imam Mekah dan Madinah ?

Kemudian yang lagi tidak cerdik ada yang kata jangan kerjakan Haji di Mekah sebab penguasanya wahhabi. Rukun Islam tu dah ditokok tambah oleh pentaksub wahhabi iaitu Rukun Haji mesti di Mekah yang dikuasai oleh wahhabi. Mana dalil dari al Quran dan Hadith ?


Solat dibelakang mana-mana imam yg mengetuai sesuatu solat yang sahih adalah dibenarkan oleh syarak islam berdasarkan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah iaitu:

” Dan kami (ahli sunnah wal jamaah ) berpegang sahnya solat dibelakang muslim walaupun dia pelaku maksiat dan penderhaka selagi tidak melakukan, berkata dan berpegang dengan perkara kufur yang jelas”.

Imam At-Tohawi menyatakan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah : Tidak mengkafirkan umat islam dengan dosa yang ia lakukan selagi dia tidak menghalalkannya iaitu tidak melakukan kekufuran.(Lihata Akidah At-Tohawiyah)

Perkara kufur bukan perkara yang hanya boleh kita bersangka-sangka.

Inikan pula sekiranya disangka terhadap orang yang mengucap dua kalimah syahadah.

Selagi tidak ada kepastian kekufuran seseorang yang mengucap dua kalimah syahadah itu maka kita tidak seharusnya menghukum kafir ataupun menghukum sebagai mujassimah.

Tapi memang ada Ulamak Wahhabi kata solat di belakang Imam Mekah tak sah iaitu Soleh Fauzan Al-Fauzan ditanya mengenai Imam Mekah bernama Syeikh Adil Al-Kalbaniy yang dilantik secara rasmi sebagai imam di Masjid Al-Haram Mekah maka tokoh Wahhabi tersebut menyatakan HARAM//TIDAK SAH solat di belakang Imam Mekah.

Rujuk surat khabar Ar Roi Al Kuwaitiah tanggal 16 Julai 2010 Jumaat Bil 11337.

Dengar sendiri fatwa tersebut disini :

http://www.youtube.com/watch?v=ljvj78Zo57Y

Sumber: Ustaz Zamihan Al-Ghari


 

2 February 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Sifat kasih mengasihi

Sifat Kasih Mengasihi; “Barangsiapa yang kasih kepada yang ada dibumi, maka dia akan dikasihi mereka yang dilangit. “Rasulullah ﷺ bersabda; “Kamu tidak mungkin masuk syurga jika tidak beriman. Kamu tidak mungkin beriman jika tidak kasih-mengasihi.” Rasulullah ﷺ menggandingkan iman dan kasih-sayang.”

“Jadi, tidak mungkin seseorang mendakwa dirinya beriman kalau jiwanya tidak punya kasih-sayang kepada orang lain. Orang yang tiada kasih sayang kepada orang lain itu dusta dalam imannya. Lalu Rasulullah ﷺ mengakhiri hadisnya dengan mengatakan, “Mahukah kamu aku tunjukkan satu amalan yang kalau kamu buat, kamu saling kasih-mengasihi?”

“Nabi Muhammad ﷺ tidak sebut kamu akan jadi beriman atau masuk syurga, tapi disebut kamu akan saling mengasihi. Ini kerana syurga dan iman tanpa kasih-sayang takkan mungkin diperoleh oleh seseorang yang mendakwa dirinya beriman. Sambung baginda, “Sebarkan salam.”

“Apakah maksudnya? Adakah cukup dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum?” Tidak. Kita kena memahami dengan lebih dalam lagi apa maknyanya. Orang muslim itu orang lain selamat dari mulut dan tangannya. Kalau orang maki kepada kita, jangan kita maki balik kepadanya kerana itu bukan sifat orang yang benar beriman.”

“Salah seorang as-solehin yang merupakan auliya, di maki ketika berada di mimbar, tetapi ketika ditanya anaknya kenapa dia tidak membalas makian orang itu terhadapnya. Jawabnya; “Sejak bila kamu lihat ayah kamu ini memaki orang lain? Biarkan orang lain memaki, sesungguhnya makian orang lain takkan merendahkan atau mengangkat darjat kita di sisi Allah سبحانه و تعالى.”

“Kecuali kalau kita menyikapi sikap orang yang memaki kepada kita dengan tidak memaki kepada sesiapa pun juga. Kata baginda Rasulullah ﷺ, “Memaki orang ialah perbuatan orang fasiq, membunuh orang ialah perbuatan orang kafir.” Inilah ajaran Nabi Muhammad ﷺ.”

“Sebarkan salam dan jaga diri, lidah, tangan untuk orang lain selamat daripada kita, walaupun orang itu maki, caci atau mengabaikan kepada kita. Kalau kita tidak boleh mendatangkan manfaat kepada orang, jangan mendatangkan mudarat kepada orang lain.”

“Dan Sifat lemah lembut itu lahir dari sifat kasih sayang hatta terhadap yang disayangi atau dibenci. Berakhlaklah dengan mengambil bahagian melalui Asma’ul Husna-Nya yang tercermin melalui kesan atsar pada ciptaan-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda; “Sesungguhnya Allah menyukai sifat lemah lembut pada setiap perkara. Sifat lemah-lembut yang ditunjukkan kepada orang yang disayangi atau kepada orang yang bikin marah kepada dirinya tidak menunjukkan sikap kasar. Maka orang ini adalah Rahimun Rafiq. Orang yang punya kasih sayang dan lemah-lembut. ”

“Tidak digunakan kelembutan pada kekasaran kecuali kelembutan pasti akan menang. Dan tidak mendatangkan kelembutan ke atas sesuatu, pasti mendatangkan keburukan. Lembut bilamana digunakan, pasti akan berkesan. Paling kurang pun tidak mendatangkan kemudaratan. Tapi kekasaran, digunakan walaupun tujuannya baik, pasti mendatangkan kemudaratan.
Kerana Rasulullah ﷺ dalam mendidiknya adalah lemah lembut.”

“Saidina Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه وأرضاه mengatakan; “Allah سبحانه وتعالى mempunyai bekas di atas muka bumi ini. Yang dimaksudkan bekas itu bukannya bekas fizikal. Bekas yang boleh menempati Allah سبحانه وتعالى ialah hatinya. Hati yang paling disukai oleh Allah سبحانه وتعالى daripada sifat hati itu ialah yg paling kuat imannya dan paling lembut kemudian yang paling halus hatinya.”

“Yang kuat imannya didalam keyakinannya. Berlemah-lembut kepada kaum mukminin. Dan berpegang teguh kepada agama Allah. Hati yang boleh menempatkan Allah سبحانه وتعالى ialah hati yang lembut amat disukai oleh Allah سبحانه وتعال. Maka hati yang keras adalah hati yang dibenci oleh Allah سبحانه وتعالى.”

“Orang mukmin, orang lain selamat daripada dirinya, yakni orang tidak takut kerana garangnya atau buruknya perangai kita. Tidak diberi nama seorang Muslim itu Muslim kecuali orang lain selamat daripada lisan dan tangannya. Tidak diberikan nama seorang Mukmin itu Mukmin, melainkan orang lain merasa aman dengannya. Sifat kasih mengasihi. Inilah agama yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.”

Daripada Sayyidil Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid.

Sumber: Raudhatul Muhibbin

1 February 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Kelebihan meninggal Hari Jumaat

Soalan : Saya cuma ingin tahu apa keistimewaan hamba Allah yg meninggal dunia pada hari Jumaat atau malam Jumaat.harap ustaz dapat jelaskan untuk kefahaman saya dan semua.terima kasih.

Jawapan :

Diriwayatkan oleh Imam At-Tarmizi didalam sunan-nya hadis daripada Abdullah bin Amru, beliau berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Tiada seorang pun daripada kalangan orang muslim yang meninggal dunia pada hari jumaaat atau pada malam jumaat melainkan dia dipelihara oleh Allah SWT daripada azab kubur.”

Pandangan ulama’ berkenaan taraf hadis :

Berkata Abu Isa : Hadis ini dho’if (gharib) dan sanadnya (rantaian perawinya) tidak bersambung. Imam Ibnu Hajar Al-Athqolani pula berkata bahawa hadis ini daripada kategori hadis dho’if.

Secara keseluruhan, kebanyakan ulama’ hadis berpendapat bahawa hadis ini adalah hadis dho’if (lemah).Maka hadis dho’if tidak boleh dijadikan sandaran dalam perkara yang berkaitan dengan aqidah (kerana azab kubur merupakan perkara ghaib yang wajib diimani dan merupakan sebahagian dari pegangan aqidah umat islam).

Walaupun hadis dhoif masih lagi didalam kategori hadis yang diterima, namun antara syarat untuk beramal dengannya adalah tidak meyakini sepenuhnya ia datang dari Nabi SAW. Dalam erti kata yang lain, kita tidak boleh meyakini 100% bahawa orang yang meninggal dunia pada hari Jumaat atau pada malam Jumaat akan dipelihara oleh azab kubur merujuk kepada taraf hadis tersebut.

Kerana sesungguhnya apa yang membantu seseorang muslim itu didalam kubur nanti adalah amalannya, bahkan ramai daripada kalangan Sahabat -radhiallahu ‘anhum- yang meninggal dunia pada hari selain daripada hari Jumaat. Saidina Abu Bakar r.a sendiri meninggal dunia pada hari selasa menurut satu riwayat akan tetapi beliau sendiri telah dijanjikan syurga baginya.

Sebahagian ahli ilmu pula manjadikannya sebagai tanda-tanda husnul khatimah bersandarkan kepada hadis ini.

Maka seadil-adil pegangan dalam perkara ini adalah sekiranya muncul tanda-tanda seperti ini maka sebagai seorang muslim kita tidak boleh mengatakan secara pasti bahawa si mati dijauhkan dari azab kubur, akan tetapi tidak salah untuk merasa tenang dengan pemergiannya pada hari yang mulia ini,

Begitu juga sebaliknya, kita tidak boleh berkeyakinan bahawa jika tidak muncul tanda-tanda husnul khatimah (meninggal dunia pada hari Jumaat atau malam Jumaat) pada si mati, maka secara pasti dia bukan daripada kalangan orang-orang soleh dan dikenakan azab kubur kerana perkara ini tergolong dalam perkara-perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah SWT sahaja.

Firman Allah SWT di dalam surah Al-Luqman ayat ke 24 :

“Sesungguhnya hanya disisi Allah ilmu tentang hari kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam Rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya esok, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dibumi mana dia akan mati.Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Sesungguhnya manusia tidak mengetahui dimana dan bila dia akan mati kerana ilmu tentang kematian milik Allah SWT secara mutlak.Oleh sebab itu,yang lebih penting bagi seorang hamba itu adalah beramal dengan amal yang soleh serta mencari keredhaan-Nya dalam setiap perkara yang dilakukan.

Wallahua’lam.

Sumber: Tuan Guru Dr Haron din

31 January 2016 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Apakah seorang Muslim boleh memberikan ucapan sempena perayaan keagamaan kepada penganut bukan Islam?

(Oleh Bahagian Dakwah, JAKIM)

ISU: Apakah seorang Muslim boleh memberikan ucapan sempena perayaan keagamaan kepada penganut bukan Islam? Apakah seorang muslim dibenarkan untuk turut serta dalam perayaan keagamaan agama lain seperti Krismas,Thaipusam dan lain-lain?

PENJELASAN:
Persoalan ini telah diputuskan oleh Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-78 yang bersidang pada 12 Jun 2007 yang membincangkan Hukum Orang Islam Mengucapkan Tahniah Dan Ucapan Selamat Bersempena Perayaan Agama Bukan Islam.

Muzakarah telah memutuskan bahawa: Apa jua amalan atau perlakuan orang Islam dalam hal-hal yang berkaitan dengan perayaan orang bukan Islam sekiranya melibatkan akidah atau iktikad seperti mengiktiraf agama bukan Islam atau menganggap semua agama adalah sama, maka ia ditegah oleh Islam.

Walaubagaimanapun sekiranya amalan atau perlakuan tersebut hanya atas dasar kemasyarakatan atau hubungan sosial antara Islam dan bukan Islam untuk tujuan perpaduan, maka ia dibenarkan oleh Islam.

Memberi ucapan tahniah dan selamat atau mengirimkan ucapan melalui kad atau alat-alat telekomunikasi seperti e-mail atau sistem pesanan ringkas (sms) dan sebagainya kepada orang bukan Islam sempena dengan perayaan agama mereka adalah harus, dengan syarat ucapan itu tidak mengiktiraf, memuji atau memuliakan agama bukan Islam serta tidak menggunakan sebarang simbol atau lambang keagamaan mereka dalam kiriman ucapan tersebut.

Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-68 yang bersidang pada 12 Apr 2005 juga telah membincangkan Garis Panduan Orang Islam Turut Merayakan Hari Kebesaran Agama Orang Bukan Islam.

Muzakarah telah memutuskan bahawa: Dalam menentukan perayaan orang bukan Islam yang boleh dihadiri oleh orang Islam beberapa kriteria utama perlu dijadikan garis panduan supaya ia tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kriteria-kriteria tersebut adalah seperti berikut;

1.Majlis tersebut tidak disertakan dengan upacara-upacara yang bertentangan dengan akidah Islam.
Maksud “bertentangan dengan akidah Islam” ialah sesuatu perkara, perbuatan, perkataan atau keadaan yang jika dilakukan menyebabkan tercemarnya akidah umat Islam.

Contohnya;
i. menyertakan simbol-simbol agama seperti salib, memasang lampu, lilin, pokok krismas dan sebagainya.
ii. menyanyikan lagu-lagu bercirikan agama.
iii. meletakkan apa-apa tanda bercirikan agama pada dahi, atau tanda-tanda lain pada anggota tubuh.
iv. memberikan ucapan atau isyarat yang berbentuk pujian kepada agama orang bukan Islam.
v. tunduk atau melakukan perbuatan seolah-olah menghormati upacara agama orang bukan Islam.

2. Majlis tersebut tidak disertakan dengan perbuatan yang bertentangan dengan syarak. Maksud “bertentangan dengan syarak” ialah sesuatu perkara, perbuatan, perkataan atau keadaan yang jika dilakukan akan bertentangan dengan ajaran Islam yang diamalkan oleh masyarakat Islam.

Contohnya:
i. Memakai pakaian berwarna merah seperti santa claus atau pakaian lain yang melambangkan agama;
ii. Menghidangkan minuman atau makanan yang memabukkan dan seumpamanya;
iii. Mengadakan bunyi-bunyian atau hiasan seperti loceng gereja, pokok krismas, kuil atau memecah kelapa;
iv. Mengadakan acara yang berunsur perjudian, penyembahan, pemujaan, khurafat dan sebagainya.
3. Majlis tersebut tidak disertakan dengan “perbuatan yang bercanggah dengan pembinaan akhlak dan budaya masyarakat Islam” di negara ini. Maksud “bercanggah dengan pembinaan akhlak dan budaya masyarakat Islam” ialah sesuatu perkara, perbuatan, perkataan atau keadaan yang jika dilakukan akan bertentangan dengan nilai dan norma kehidupan masyarakat Islam Negara ini yang berpegang kepada ajaran Islam berdasarkan Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Contohnya:
i. Percampuran bebas tanpa batas dan adab sopan;
ii. Berpakaian yang menjolok mata;
iii. Mendendangkan lagu-lagu yang mempunyai senikata berunsur lucah serta pemujaan; iv. Mengadakan program seperti pertandingan ratu cantik, laga ayam dan sebagainya.

4. Majlis tersebut tidak disertakan dengan perbuatan yang boleh “menyentuh sensitiviti masyarakat Islam”. Maksud “menyentuh sensitiviti masyarakat Islam” ialah sesuatu perkara, perbuatan, perkataan atau keadaan yang jika dilakukan akan menyinggung perasaan umat Islam tentang kepercayaan dan amalan mereka.

Contohnya:
i. Ucapan-ucapan atau nyanyian berbentuk dakyah keagamaan bukan Islam;
ii. Ucapan-ucapan yang menghina umat Islam;
iii. Ucapan-ucapan yang menghina agama Islam;
iv. Persembahan yang bertujuan mempersendakan pegangan agama masyarakat Islam.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.e-fatwa.gov.my/blog/apakah-seorang-muslim-boleh-memberikan-ucapan-sempena-perayaan-keagamaan-kepada-penganut-bukan-

25 January 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Hukum Mengadakan Majlis Tahlil

Q & A Bersama Felo Penyelidik Fatwa

Submitted by FatwaMalaysia on 26 May 2014 – 8:26am

ISU:

Mohon penjelasan hukum mengadakan majlis tahlil untuk arwah.

PENJELASAN:

Tahlil bermaksud bersama-sama berkumpul bagi membacakan ayat-ayat al-Qur’an terpilih serta berzikir dan berdoa untuk orang yang sudah meninggal dunia. Antara kandungan ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca ketika tahlil ialah Surah al-Fatihah, Surah al-Ikhlas, Ayat Kursi dan beberapa bahagian ayat-ayat dari surah al-Baqarah. Sementara zikir-zikir yang dibaca ialah kalimah la ilaha illallah serta kalimah-kalimah tayyibah yang lain seperti tahmid, takbir, tasbih dan salawat. Hukumnya adalah harus kerana ia melibatkan perkara-perkara yang baik dan tidak di larang oleh syarak.

Kalimah serta ayat-ayat yang dibacakan dalam tahlil adalah kalimah-kalimah yang baik dan bakal diberi ganjaran kepada pembacanya. Sementara berdoa kepada mereka yang telah meninggal dunia adalah sesuatu yang disarankan Islam sepertimana yang disebut oleh al-Qur’an: (Surah Muhammad :Ayat 19): “Oleh itu tetapkanlah pengatahuanmu dan keyakinanmu (wahai Muhammad bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan mintalah ampun kepadaNya bagi salah silap yang engkau lakukan dan bagi dosa-dosa orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan dan (ingatlah), Allah mengetahui akan gerak-geri kamu (di dunia) dan keadaan penetapan kamu (di akhirat)” Dalam Surah al-Hasyr, ayat 10 “Dan orang-orang yang datang kemudian daripada mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, Ampunkanlah dosa kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan Kami sesungguhnya Engkau Amat Melimpah Belas kasihan dan RahmatMu” Dan dalam Surah Ibrahim disebut: “Wahai Tuhan kami! berilah keampunan kepadaku dan kedua-ibubapaku serta orang-orang yang beriman, pada berlakunya hitungan amal dan pembalasan.”

Sementara menjemput orang ramai dan menjamu dan memberi makan adalah sesuatu yang digalakkan sepertimana yang disebut oleh Rasulullah s.a.w: “Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, “Yang manakah pekerjaan Islam yang lebih baik? Jawab Nabi, “Memberi makan kepada manusia dan sebarkan salam kepada orang yang kamu kenali ataupun tidak” (hadis riwayat Bukhari)

Namun antara perkara-perkara yang harus diambil perhatian ketika membuat tahlil ialah:

i.Tidak mengadakan khenduri dengan perbelanjaan dari harta pusaka si mati yang warisnya masih belum baligh.

ii. Tidak menetapkan hari-hari tertentu seperti 3 hari, 7 hari, 40 hari atau 100 hari.

iii.Tujuan dan tumpuan utama tahlil adalah terhadap doa dan zikir dan bukannya terhadap jamuan yang diadakan. Sekiranya baru kematian, sebaiknya makanan disediakan oleh jiran dan rakan dan bukannya dari kalangan ahli waris.

iv.Tidak melibatkan pembaziran

v. Tidak meratapi kematian arwah

Wallahu a’lam

24 January 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Dalam melihat sesuatu itu baik atau buruk Neracanya adalah syara’

Bila kita kata apa salahnya benda baik ketikamana mempertahankan maulid Nabi, tahlilan, talqin, baca yasin malam jumaat dan lain-lain, tidak bermakna kita menggunakan semata-mata akal dalam melihat sesuatu itu baik atau buruk.

Neracanya adalah syara’ iaitu Al-Quran, As-Sunnah, Ijmak, Qias, Masolihul Mursalah, Sadd al-Zaraai’, Istihsan, Istishab, adat yang baik dan lain-lain sumber hukum di dalam Islam.

Wahhabi cuba untuk memburukkan keadaan sehingga mereka mengatakan jika begitu apa salahnya buat solat hari ahad (seumpama solat jumaat) dan buat 10 raka’at dan begitu begini. Ini meluaskan benda yang sempit tanpa prinsip syara’.

Kita katakan perkataan mereka ini ibarat bencikan nyamuk kelambu dibakar.

Sebab itu jika kita merujuk kepada kalam ulama semisal Ibn Hajar al-‘Asqalani, Ibn Rajab Al-Hanbali, Imam Nawawi bahkan Imam Syatibi meletakkan bid’ah dholalah itu yang “tidak ada asal” dalam agama.

Selagi ada asal sekalipun berdasarkan kaedah istihsan (menganggap baik) maka ia bukan bid’ah daripada sudut syara’. Soal nama nak pakai bid’ah hasanah atau tidak itu perbezaan daripada sudut lafaz sahaja (lafzi).

Saudaramu,
Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari
BA (Hons) Akidah dan Falsafah
Universiti Al-Azhar Mesir

20 January 2016 Posted by | Bicara Ulama | Leave a comment

PANDANGAN ULAMA FIQH, HADITH DAN SEJARAH TENTANG PUJI-PUJIAN/SELAWAT SEBELUM SOLAT

Pada dasarnya, membaca pujian di Masjid atau di Mushalla menjelang shalat bukanlah tradisi Muslim Indonesia, akan tetapi tradisi umat Islam berbagai belahan dunia sebelum datangnya aliran Wahabi. Berikut ini akan kami paparkan melalui kronologi kesejarahan.

1. Pembacaan Tasbih Pada Waktu Sahur

Dalam kitab-kitab sejarah diterangkan, bahwa pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu Maslamah bin Makhlad radhiyallahu ‘anhu, Gubernur yang diangkat oleh Muawiyah, melakukan i’tikaf pada malam hari di Masjid Jami’ Amr bin al-‘Ash di Mesir. Lalu ia mendengar suara gong atau lonceng gereja-gereja Koptik yang sangat keras. Ia mengadukan hal tersebut kepada Syurahbil bin Amir, Kepala para muadzin di Masjid tersebut. Kemudian Maslamah memerintahkan para muadzin mengumandangkan pembacaan tasbih pada waktu pertengahan malam (nishful-lail, atau sekitar jam 12 malam ke atas) di tempat-tempat adzan, sampai menjelang waktu shubuh. Kemudian tradisi pembacaan tasbih tersebut berlangsung di berbagai negeri Islam. (Syaikh Abdul Aziz al-Tsa’alibi, al-Risalah al-Muhammadiyyah, hal. 140). Tanpa ada seorang pun ulama yang menganggapnya bid’ah tercela atau haram.

3. Pembacaan Selawat menjelang waktu solat maktubah

Sebelum Sultan Shalahuddin al-Ayyubi menguasai Mesir, selama dua ratus tahun lebih Mesir dan sekitarnya dikuasai oleh Dinasti Fathimi yang beraliran Syiah Isma’iliyah. Dinasti Fathimi menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyah melalui mesin kekuasaan. Setelah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi menguasai Mesir, maka seluruh daerah Mesir dan Syam, yang meliputi Syria, Lebanon dan Palestina, berada di bawah kekuasaanya, setelah mengusir pasukan Salibis Kristen dari Baitul Maqdis di Palestina. Untuk memberantas ajaran Syiah Ismailiyah yang dianut oleh banyak penduduk Mesir dan Syam, Sultan Shalahuddin memerintahkan para muadzin untuk membacakan kitab al-‘Aqidah al-Mursyidah, sebuah nazham yang ditulis oleh Ibnu Hibatillah al-Makki, isinya tentang Akidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah sesuai dengan madzhab al-Asy’ari. Dengan membacakan kitab tersebut setiap malam, Sultan Shalahuddin berhasil memberantas ajaran Syiah dan menyebarkan ajaran Ahlussunnah Wal-Jama’ah. (Syaikh Abdul Aziz al-Tsa’alibi, al-Risalah al-Muhammadiyyah, hal. 140). Tradisi ini kemudian diikuti oleh umat Islam di Indonesia, dengan membacakan kitab nazham ‘Aqidah al-‘Awam karya Sayyid al-Marzuqi setiap menjelang waktu shalat maktubah.

3. Pembacaan Shalawat Menjelang Shalat Maktubah
Pembacaan shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang shalat maktubah lima waktu berlangsung sejak masa Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dan atas instruksi beliau. Hal ini beliau lakukan, karena sebelum itu, ketika Khalifah al-Hakim bin al-‘Aziz, penguasa dinasti Fathimi di Mesir yang beraliran Syiah Ismailiyah, terbunuh, saudarinya yang bernama Sittul Malik, memerintahkan para muadzin agar mengucapkan salam kepada putra al-Hakim, yaitu Khalifah al-Zhahir dengan mengucapkan as-Salam ‘ala al-Imam al-Zhahir (salam sejahtera kepada Imam al-Zhahir). Kemudian ucapan salam tersebut terus dilakukan kepada para khalifah Fathimi sesudahnya dari generasi ke generasi, hingga akhirnya Sultan Shalahuddin al-Ayyubi membatalkannya, dan menggantinya dengan membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Para ulama menganggap kebijakan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi tersebut sebagai kebijakan yang bagus dan layak didoakan agar diberi balasan pahala oleh Allah subhanahu wata’ala. (Al-Hafizh al-Sakhawi, al-Qaul al-Badi’ fi al-Shalat ‘ala al-Habib al-Syafi’, hal. 279-280; al-Imam Ibnu ‘Allan al-Shiddiqi, al-Futuhat al-Rabbaniyyah juz 2 hal. 113).

Pandangan Para Ulama

Para ulama memandang tradisi pujian menjelang shalat di atas sebagai tradisi yang baik dan termasuk bid’ah hasanah yang mendatangkan pahala bagi pelakunya. Al-Hafizh as-Sakhawi berkata:

وَقَدِ اخْتُلِفَ فِيْ ذَلِكَ هَلْ هُوَ مُسْتَحَبٌّ أَوْ مَكْرُوْهٌ أَوْ بِدْعَةٌ أَوْ مَشْرُوْعٌ وَأسْتُدِلَّ لِلأَوَّلِ بِقَوْلِهِ تَعَالىَ : وَافْعَلُوا الْخَيْرَ ، وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ الصَّلاَةَ وَالسَّلاَمَ مِنْ أَجَلِّ الْقُرَبِ لاَ سِيَّمَا وَقَدْ تَوَارَدَتْ اْلأَخْبَارُ عَلىَ الْحَثِّ عَلىَ ذَلِكَ مَعَ مَا جَاءَ فِي فَضْلِ الدُّعَاءِ عَقِبَ اْلأَذَانِ وَالثُّلُثِ اْلأَخِيْرِ مِنَ اللَّيْلِ وَقُرْبِ الْفَجْرِ وَالصَّوَابُ أَنَّهُ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ يُؤْجَرُ فَاعِلُهُ بِحُسْنِ نِيَّتِهِ. (الحافظ السخاوي، القول البديع في الصلاة على الحبيب الشفيع، 280).
“Pembacaan shalawat menjelang shalat tersebut diperselisihkan, apakah dihukumi sunnah, makruh, bid’ah atau disyari’atkan? Pendapat yang pertama berdalil dengan firman Allah: “Kerjakanlah semua kebaikan.” Telah dimaklumi bahwa membaca shalawat dan salam termasuk ibadah sunnah yang paling agung, lebih-lebih telah datang sekian banyak hadits yang mendorong hal tersebut, serta hadits yang datang tentang keutamaan berdoa setelah adzan, sepertiga malam dan menjelang fajar. Pendapat yang benar adalah, bahwa hal tersebut bid’ah hasanah, yang pelakunya diberi pahala dengan niatnya yang baik.” (Al-Hafizh as-Sakhawi, al-Qaul al-Badi’, hal. 280).
Pernyataan senada juga dikemukakan oleh al-Imam Syihabuddin Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya, al-Durr al-Mandhud, hal. 209, dengan mengutip fatwa gurunya Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari, yang menyimpulkan bahwa dzikir bersama dan membaca shalawat menjelang shalat maktubah adalah bid’ah hasanah yang mendatangkan pahala. Hal tersebut juga diperkuat oleh pernyataan Ibnu Qayyimil Jauziyah, ulama panutan kaum Wahabi yang berkata, dalam kitabnya Jala’ al-Afham, bahwa di antara tempat yang dianjurkan membaca shalawat, adalah ketika berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, berdasarkan hadits berikut:

لِحَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ أَنَّ للهِ سَيَّارَةً مِنَ الْمَلاَئِكَةِ إِذَا مَرُّوْا بِحِلَقِ الذِّكْرِ قَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ اُقْعُدُوْا فَإِذَا دَعَا الْقَوْمُ اَمَّنُوْا عَلىَ دُعَائِهِمْ فَإِذَا صَلَّوْا عَلىَ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّوْا مَعَهُمْ حَتَّى يَفْرَغُوْا ثُمَّ يَقُوْلُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ طُوْبَى لِهَؤُلاَءِ يَرْجِعُوْنَ مَغْفُوْرًا لَهُمْ
“Karena hadits Abu Hurairah radhiayallahu ‘anh, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang selalu berjalan. Apabila mereka menjumpai majlis dzikir, sebagian mereka berkata: “Duduklah”. Apabila kaum itu berdoa, para malaikat itu membaca amin atas doa mereka. Apabila mereka bershalawat, merekapun bershalawat bersama mereka sampai selesai. Kemudian mereka berkata: “Beruntung kaum itu, pulang dengan memperoleh ampunan Allah.” (Ibnu Qayyimil Jauziyyah, Jala’ al-Afham, hal. 237)
Hadits tersebut bernilai hasan, diriwayatkan oleh al-Bazzar. Asal hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya [2689], sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim. Lihat pula, as-Sakhawi, dalam al-Qaul al-Badi’, hal. 180 dan 348.

Beberapa pernyataan ulama di atas memberikan kesimpulan bahwa tradisi pujian pada waktu menjelang subuh, dan setelah adzan shalat maktubah, pada dasarnya tradisi positif, bid’ah hasanah yang mendatangkan pahala bagi pelakunya. Bukan perbuatan haram dan bid’ah tercela yang mendatangkan dosa. Bahkan memiliki dasar hadits yang sangat kuat. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh:
Muhammad Idrus Ramli

19 January 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

ADAKAH SUNAT MENYAPU MUKA SELEPAS MEMBACA DOA QUNUT?

Mufti Wilayah Persekutuan

AL-KAFI LI AL-FATAWI : SOALAN 154 (15 JANUARI 2016 / BERSAMAAN 5 RABIULAKHIR 1437H)

SOALAN:

Assalamualaikum tuan,

Saya ada satu soalan, bolehkah saya sapu muka saya (umpama mengaminkan) selepas bacaan qunut ketika solat subuh?

Terima kasih.

JAWAPAN:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Para ulama Syafieyyah terbahagi kepada tiga pendapat berkenaan hal ini. Pertama, berdoa qunut sambil mengangkat tangan dan tidak menyapu muka selepasnya. Kedua, berdoa dengan mengangkat tangan dan menyapu muka selepasnya. Ketiga, tidak mengangkat tangan ketika berdoa dan tidak juga menyapu muka. Pandangan yang pertama ialah asah (lebih sahih) menurut Imam Nawawi Rahimahullah. Sila rujuk al-Adzkar (hal. 61-62)

Wallahua`lam.

Pautan ke laman rasmi PMWP: http://goo.gl/i0AH4A

15 January 2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

HUKUM PEMBERIAN DAGING AKIKAH DAN KORBAN KEPADA NON-MUSLIM


Mufti Wilayah Persekutuan

 

AL-KAFI LI AL-FATAWI : SOALAN 152 (14 JANUARI 2016 / BERSAMAAN 4 RABIULAKHIR 1437H)

SOALAN:

Assalamualaikum Y.Bhg. Datuk,

Saya ada satu soalan berkaitan dengan daging aqiqah dan korban sama ada ia boleh diberi kepada bukan Islam untuk memakannya.. Kalau ada perbezaan antara keduanya mohon pihak ustaz terangkan dengan jelas.

Terima kasih.


JAWAPAN:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukum ini ada khilaf dalam kalangan ulama. Sebahagian mereka seperti dalam mazhab al-Syafie melarangnya sama ada bagi korban nazar dan korban sunat, manakala mazhab Hanafi membenarkan. Para ulama yang tidak membenarkannya juga menqiaskan daging korban dengan daging akikah. Sila rujuk Garis Panduan Ibadah Korban yang dikeluarkan oleh JAKIM pada pautan berikut: http://www.e-fatwa.gov.my/…/gp_pelaksanaan_ibadah_qurban.pdf

Walau pun begitu, ada beberapa keadaan bila maslahah manusia tanpa mengira agama wajar dipertimbangkan dalam isu ini. Misalannya, jika sekumpulan pendakwah pergi ke perkampungan orang asli yang bercampur antara muallaf dan belum masuk Islam, tentu barang pasti adalah wajar untuk diedar daging korban yang dibawa kepada semua penduduk sebagai wasilah yang melembut hati mereka terhadap Islam.

Wallahua`lam.

Ps: Soalan ini telah dijawab oleh S.S. Datuk Mufti dalam siaran slot Medan Fatwa, Cinta Ilmu di TV al-Hijrah. Wallahua`lam.

Pautan ke laman rasmi PMWP: http://goo.gl/VwUMJv

14 January 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

ADAB MAKAN KETIKA BERADA DI LUAR NEGARA


 

 

 

 

Mufti Wilayah Persekutuan

 

ADAB MAKAN KETIKA BERADA DI LUAR NEGARA

AL-KAFI LI AL-FATAWI : SOALAN 148 (12 JANUARI 2016 / BERSAMAAN 2 RABIULAKHIR 1437H)

SOALAN: 

Salam ustaz,

Apakah hukum memakan makanan yang dimasak oleh orang bukan Islam bagi yang berada di luar negara?

Terima kasih.

JAWAPAN:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته 

Hukumnya ialah harus jika masakan itu tidak memiliki unsur-unsur yang haram dan bernajis. Walaupun begitu, sebahagian ulama menyarankan agar kita tidak melazimi makan melainkan makanan yang disediakan oleh orang yang bertaqwa dan tidak melazimi memberi makan melainkan kepada orang bertaqwa. 

Wallahua`lam.

Pautan ke laman rasmi PMWP:http://goo.gl/0ZmR70

12 January 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah | Leave a comment

Apakah Imam Ibnu Hajar al-Haitami Mengharamkan Berdiri ketika baca Maulid?

Terdapat beberapa orang memahami ucapan Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditiyyah (hal. 58), fasal berdiri ketika dibacakan kisah lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahawa yang demikian adalah amalan bid’ah sehingga harus dijauhi atau ditinggalkan. Padahal disisi lain, amalan berdiri menghormat tersebut telah dilakukan oleh MAJORITI umat Islam ahlussunnah wal jama’ah ketika membaca kisah maulidnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Membaca fatwa ulama secara langsung dari kitab-kitab mereka bukanlah semudah membaca novel-novel atau komik di kedai buku. Oleh kerana itu walaupun seseorang itu boleh membaca Bahasa arab, ia bukanlah tiket seseorang itu boleh memahami fatwa ulama yang dibaca secara langsung dari kitab mereka. Tetapi pembaca memerlukan kemahiran tinggi untuk mengenalpasti istilah-istilah yang digunakan, kerana setiap ulama mempunyai istilahnya tersendiri yang kadang ditulis dalam kitabnya yang lain, ini tidak dapat melainkan dengan membaca secara meluas karya-karya ulama tersebut dengan bimbingan berguru. Juga perlu dilihat secara terperinci tentang kaedah yang sedang digunakan ulama sama ada saaduz zaraie atau mempunyai ilah ketika memberi fatwa. Juga perlu melihat apa pandangan ulama lain terhadap fatwa ulama tersebut. Banyak proses yang perlu dilakukan. Mari kita analisis secara ilmiah dakwaan yang mengatakan Ibn Hajar al Haitami membidaahkan berdiri ketika maulid.

Benarkah demikian? Berikut ini adalah teks lengkap ucapan Imam Ibnu Hajar al-Haitami:

وسئل نفع الله به عما صورته : رُوي في التفسير أنه لما نزل : ) أَتَى أَمْرُ اللَّهِ ( [ النحل : 1 ] وثب النبي ( صلى الله عليه وسلم ) وسمعنا من أفواه بعض الناس قام النبي ( صلى الله عليه وسلم ) ؛ فهل يسنّ لنا إذا قرأناه أن نقوم أو لا ؟ فإن قلتم نعم فهل يختص بالقارىء ، أو يشمل المستمع ، وإن قلتم لا فهل يمنع من ذلك أو لا ؟ فأجاب فسح الله في مدته بقوله :… وإذا تأملته علمت أنه ( صلى الله عليه وسلم ) لم يثب إلا فزعاً من سماع قوله تعالى : ( أَتَى أَمْرُ اللَّهِ ) [ النحل : 1 ] وأنه لم يثب تشريعاً لأمته ليفعلوا مثل فعله . وإذا تقرر أن ذلك الوثوب إنما كان لذلك الفزع ، ولذلك رفع الصحابة رضي الله عنهم رؤوسهم فزعاً ؛ وإن ذلك السبب الذي هو الفزع زال بنزول ( فَلاَ تَسْتَعْجِلُوهُ ) [ النحل : 1 ] ظهر لك أن الوقوف بعد قراءة الآية غير سنة ، ولأجل ذلك لم ينقل عنه ( صلى الله عليه وسلم ) ولا عن أصحابه وقوف عند قراءة الآية بعد ذلك فدل على أن فعله ( صلى الله عليه وسلم ) وأفعالهم إنما كان لسبب وقد زال ، وحينئذٍ ففعل ذلك الآن بدعة لا ينبغي ارتكابها لإبهام العامة ندبها . ونظير ذلك فعل كثير عند ذكر مولده ( صلى الله عليه وسلم ) ووضع أمه له من القيام وهو أيضاً بدعة لم يرد فيه شيء على أن الناس إنما يفعلون ذلك تعظيماً له ( صلى الله عليه وسلم ) فالعوام معذورون لذلك بخلاف الخواص والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب

Fatwa Imam Ibnu Hajar al-Haitami tersebut bermula dari soalan tentang hukum berdiri ketika mendengar ayat pertama dari surat an-Nahl; apakah yang demikian adalah sunat atau tidak? Mengingat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdiri meloncat saat diturunkan ayat tersebut.

Beliau menjawab, bahawa melihat dari alur cerita kejadian tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meloncat (berdiri) karena terkejut mendengar ayat tersebut. Begitu juga dengan para shahabat. Mereka melakukan hal itu kerana terkejut, dan sebab tersebut telah hilang. Dengan demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri selepas membaca ayat tersebut bukan dalam rangka mengajarkan syariat untuk supaya diikuti oleh umatnya. Hukumnya pun juga tidak sunat, bahkan termasuk bid’ah yang tiada asas yang menyertainya. Dan kerana bukan sunat, maka seyogyanya tidak diamalkan kerana boleh menjadikan salah prasangka dari kalangan orang awam bahawa yang demikian itu adalah sunat.

Selepas Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjawab hukum berdiri di atas yang dihukumi bid’ah serta tidak terdapat asasnya, beliau membuat tanzhir (persamaan) dengan hukum orang-orang yang berdiri ketika disebutkan cerita maulidnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dilahirkan oleh ibundanya.

Ertinya, kedua contoh berdiri tersebut sama-sama tidak ada asas dalilnya secara khusus, sehingga patut dihukumi bid’ah. Tetapi ingat, Imam Ibnu Hajar al-Haitami adalah salah satu ulama yang tidak mengertikan semua bid’ah adalah sesat atau haram sebagaimana kaum Wahabi. Dan isyarat jelas beliau, bahawa bid’ah yang dimaksudkan tidak sampai had haram.

Jelasnya, apakah berdiri ketika mendengar ayat pertama surat an-Nahl dan berdiri kerana disebutkan kisah lahirnya Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam adalah sama dalam segala hal?

Untuk perbahasan yang lebih fokus dan terperinci, kita akan syarahkan ucapan Imam Ibnu Hajar al-Haitami pada bahagian terakhir dari ucapan di atas:

Fasal Pertama:

Ucapan Imam Ibnu Hajar al-Haitami:

ونظير ذلك فعل كثير عند ذكر مولده ( صلى الله عليه وسلم ) ووضع أمه له من القيام وهو أيضاً بدعة لم يرد فيه شيء على أن الناس إنما يفعلون ذلك تعظيماً له ( صلى الله عليه وسلم )

“Sama seperti masalah itu adalah apa yang diamalkan oleh ramai orang yang berdiri ketika disebutkan maulidnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan saat ibundanya melahirkan beliau. Itu juga bid’ah yang tidak terdapat dalilnya (khususnya). Akan tetapi orang-orang melakukan hal itu hanyalah kerana ta’zhim (mengagungkan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Dari ucapan di atas kita boleh memahami:

1. Berdiri menyambut kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bid’ah.

2. Tidak ada dalil yang menganjurkan berdiri saat disebutkan maulidnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Penghukuman bid’ah tersebut tidak hanya datang dari Imam Ibnu Hajar al-Haitami sahaja, tetapi juga datang dari ulama lain seperti Syaikh Muhammad asy-Syami dalam kitabnya, Sabil al-Huda wa ar-Rasyad, Imam asy-Syibramallisi sebagaimana dalam naqalan Madarij as-Shu’ud karya Syaikh Nawawi al-Bantani dan lain-lain. Tetapi ulama-ulama yang menaqal pendapat-pendapat tersebut hampir SEMUANYA menganjurkan berdiri ketika kisah maulid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibacakan.

Untuk dua hal di atas kita harus sepakat, bahawa memang betul amalan berdiri tersebut tidak ada dalilnya secara khusus. Dan itulah mengapa Imam Ibnu Hajar menghukuminya bid’ah. Tetapi hendaknya jangan difahami bagian yang ini sahaja.

Orang-orang yang berdiri ketika mendengar kisah maulidnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan kerana binaan dalil secara khusus, kerana memang tiada dalilnya secara khusus, tetapi kerana sesuatu yang lain, iaitu ta’zhimnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Masalah ini hampir sama seperti ketika al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqallani menyebut bid’ah perayaan maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا

“Asal perayaan maulid adalah bid’ah yang tidak dinaqal dari satupun salaf shalih dari tiga generasi, tetapi walaupun demikian perayaan maulid mengandung kebaikan-kebaikan dan juga sebaliknya. Maka barang siapa yang berusaha melakukan yang baik-baik dan menjauhi keburukannya, maka itu adalah bid’ah hasanah. Jika tidak demikian maka tidak boleh disebut bid’ah hasanah”.

Lihatlah! Pada awalnya al-Hafizh Ibnu Hajar menyebut bid’ah yang tidak ada asalnya. Apakah dengan ucapan ini sudah menunjukkan sebarang larangan? Ternyata belum! Al-Hafizh Ibnu Hajar melanjutkan, jika seseorang melakukan kebaikan-kebaikan didalamnya maka hal itu adalah bid’ah hasanah. Ternyata bid’ah yang tidak ada asalnya boleh berubah menjadi bid’ah hasanah disebabkan perkara-perkara baik di dalamnya.

Fasal Kedua:

Kemudian marilah kita lihat isi penting yang kedua dari ucapan Imam Ibnu Hajar al-Haitami berikut:

على أن الناس إنما يفعلون ذلك تعظيماً له

“Akan tetapi orang-orang melakukan hal itu hanyalah kerana ta’zhim (mengagungkan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”

Ucapan ini seakan-akan adalah penjelasan atau penegasan beliau agar tidak ada menghukum bid’ah sesat atau makruh bahawa ta’zhim inilah maksud sebenar para ulama berdiri ketika kisah maulid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibacakan.

Dalam ucapan di atas juga terdapat jawaban, bahawa perbezaan antara berdiri setelah mendengar ayat pertama surat an-Nakhl dengan berdiri saat maulid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah terletak pada alasan ta’zhim.

Faedah dari ucapan diatas adalah:

Huruf jair “ala” adalah berfaedah istidrak. Istidrak adalah mengakhiri perkataan sebagai susulan perkataan sebelumnya agar tidak menimbulkan persepsi salah yang muncul dari perkataan awal. Dengan demikian maksud dari ucapan di atas adalah, berdiri ketika disebutkan kisah lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bid’ah tanpa asas, akan tetapi orang-orang melakukannya semata-mata kerana mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

2. Imam Ibnu Hajar al-Haitami menggunakan adat hashr (pembatasan) “innama” yang bererti ada maksud lain didalamnya. Dan menurut beliau dalam al-Fath al-Mubin (hal. 115), faedah dari hashr dengan “innama” adalah untuk menetapkan hukum setelah ‘innama” dan menafikan dari selainnya. Dengan demikian, amalan berdiri tersebut dibatasi pada niatan ta’zhim dan bukan kerana yang lain. Atau dapat disyarah seperti kaedah itsbat-nafi dalam kaedah hashr dalam ilmu Ma’ani (cabang ilmu balaghah), iaitu: “Orang-orang tidak berdiri kecuali kerana ta’zhimnya kepada Rasulullah”.

Walhasil, berdiri kerana mendengar kisah lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada dalilnya secara khusus, bahkan termasuk bid’ah jika dengan niat kerana itu. Tetapi jika berdiri tersebut kerana ta’zhim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka hukumnya menjadi berbeza. Iaitu berubah dari bid’ah sahaja menjadi bid’ah hasanah sebagaimana pernyataan oleh ulama.

Melihat dari alur ucapan di atas, jelas sekali Imam Ibnu Hajar al-Haitami sudah menyedari, bahawa bukan dalil khusus yang menjadi asas amalan berdiri tersebut kerana memang tidak ada dalilnya dari sisi ini. Bahkan dari sisi ini pula disebut bid’ah. Akan tetapi amalan berdiri tersebut tiada lain didasarkan kerana ta’zhim. Jadi apakah ta’zhim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salah dan bid’ah sesat?! Tentu sahaja tidak.

Ketika orang disoal: “Mengapa Anda berdiri ketika mendengar maulidnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, kemudian dia menjawab, kerana adanya dalil, maka jawaban tersebut salah dan melakukannya adalah bid’ah. Tetapi jika ia menjawab, kerana rasa hormatnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana orang berdiri ketika datang orang mulia dihadapannya, maka ia tidak salah dan amalan dia disebut dengan bid’ah hasanah atau minimum baik atau terpuji.

Dan inilah faedah mengapa Imam Ibnu Hajar al-Haitami menggunakan huruf jair ‘ala” yang berfaedah istidrak dan menggunakan adat “innama” sebagai hashr.

Nampaknya inilah yang tidak difahami oleh beberapa orang sehingga muncul fahaman bahawa Imam Ibnu Hajar al-Haitami menganggap bid’ah sesat amalan berdiri saat kisah kelahiran Nabi disebutkan. Mereka berhenti pada fahaman ini sahaja dan lupa bahawa Ibnu Hajar dengan sangat jelas memberikan alasan lain mengapa ulama berdiri iaitu tiada lain kerana menghormat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ertinya, dari sisi ketiadaan dalil secara khusus memang betul bahawa itu adalah bid’ah. Tetapi dari sisi ta’zhim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka itu adalah diperbolehkan, kerana hukum ta’zhim adalah terpuji menurut agama.

Fasal Ketiga:

Untuk menyokong dan menguatkan pemahaman di atas, berikut saya senaraikan nama-nama ulama yang selaras dengan pemahaman saya.

Imam Burhanuddin al-Halabi dalam as-Sirah al-Halabiyyah (I/136) berkata:

جرت عادة كثير من الناس إذا سمعوا بذكر وضعه صلى الله عليه وسلم أن يقوموا تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام بدعة لا أصل لها أي لكن هي بدعة حسنة لأنه ليس كل بدعة مذمومة وقد قال سيدنا عمر رضي الله تعالى عنه في إجتماع الناس لصلاة التراويح نعمت البدعة وقد قال العز ابن عبد السلام إن البدعة تعتريها الأحكام الخمسة

“Telah berlaku kebiasaan ramai orang tatkala mendengar kisah lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri menghormat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Berdiri ini adalah bid’ah yang tiada asasnya. Tetapi ia adalah bid’ah hasanah, kerana tidak setiap bid’ah adalah tercela. Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu dalam perhimpunan orang-orang yang shalat tarawih berkata: “Ini adalah bid’ah yang paling nikmat”. Imam al-Izz bin Abdissalam berkata: “Sesungguhnya bid’ah terdapat lima macam hukumnya”.

Syaikh Muhammad Ali al-Maliki dalam ash-Sharim al-Mubid (hal. 37) berkata:

والقيام وان كانت بدعة لم يرد به شيئ الا ان الناس انما يفعلون تعظيما له صلى الله عليه وسلم كما في فتاوى ابن حجر الحديثية

“Berdiri (misal ketika membaca maulid Nabi), walaupun bid’ah yang tiada dalilnya sama sekali tetapi orang-orang melakukannya kerana ta’zhim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana dalam Fatawa Haditsiyyah-nya Imam Ibnu Hajar”.

Syaikh Yusuf an-Nabhani dalam Jawahir al-Bihar (III/383) berkata:

جرت العادة بأنه اذا ساق الوعاظ مولده صلى الله عليه وسلم وذكروا وضع امه له قام الناس عند ذلك تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام بدعة حسنة لما فيه من اظهار السرور والتعظيم له صلى الله عليه وسلم

“Berlaku kebiasaan, saat penceramah (pemberi mauizhah hasanah) menyampaikan kisah maulidnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kisah melahirkannya ibunda beliau, orang-orang berdiri ketika itu, kerana ta’zhimnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan berdiri ini adalah bid’ah hasanah kerana didalamnya terdapat ungkapan rasa suka cita dan ta’zhim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”

Syaikh Zaini Dahlan sebagaimana dinaqal dalam I’anah ath-Thalibin (III/414) berkata:

جرت العادة أن الناس إذا سمعوا ذكر وضعه صلى الله عليه وسلم يقومون تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام مستحسن لما فيه من تعظيم النبي صلى الله عليه وسلم وقد فعل ذلك كثير من علماء الأمة الذين يقتدى بهم

“Berlaku kebiasaan orang-orang ketika mendengar kisah lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri kerana ta’zhim kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Berdiri ini dinilai baik kerana didalamnya terdapat ta’zhim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan telah ramai ulamanya umat yang boleh diikuti yang melakukannya”.

Kemudian beliau bercerita tentang Imam Mujtahid Taqiyuddin as-Subki yang berdiri ketika mendengar syair maulidnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karya Imam ash-Sharshari yang juga menganjurkan berdiri.

Imam al-Barzanji dalam maulidnya berkata:

هذا وقد استحسن القيام عند ذكر مولده الشريف أئمة ذوو رواية وروية

“Fahamilah ini, sungguh para imam yang mempunyai naqalan (dari para ulama dan orang shalih) dan yang selalu berfikir telah menganggap baik berdiri saat disebutkan maulidnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia”.

Imam al-Qarafi al-Maliki dalam Anwar al-Buruq fi Anwar al-Furuq (VIII/420) berkata:

وَمِنْ هَذَا الْقِيَامُ عِنْدَ ذِكْرِ مَوْلِدِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تِلَاوَةِ الْقِصَّةِ فَقَدْ قَالَ الْمَوْلَى أَبُو السُّعُودِ أَنَّهُ قَدْ اُشْتُهِرَ الْيَوْمَ فِي تَعْظِيمِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاعْتِيدَ فِي ذَلِكَ فَعَدَمُ فِعْلِهِ يُوجِبُ عَدَمَ الِاكْتِرَاثِ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَامْتِهَانَهُ فَيَكُونُ كُفْرًا مُخَالِفًا لِوُجُودِ تَعْظِيمِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ا هـ . أَيْ إنْ لَاحَظَ مَنْ لَمْ يَفْعَلْهُ تَحْقِيرَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ ، وَإِلَّا فَهُوَ مَعْصِيَةٌ

“Dari ini, berdiri ketika disebutkan maulidnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam pembacaan kisah, maka al-Maula Abu Su’ud berkata, bahawa telah masyhur sampai hari ini dalam menta’zhimkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pula telah dijadikan kebiasaan. Maka tidak melakukannya adalah menyebabkan ketiadaan perhatian kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta meremehkannya. Maka yang demikian adalah kufur menyelisihi adanya ta’zhim Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maksudnya adalah jika orang yang tidak melakukan tersebut ada perasaan merendahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika tidak demikian maka hanya berdosa”.

Ini adalah pendapat ulama yang mewajibkan berdiri saat maulid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan kaitan dengan ta’zhim yang berpahala di atas adalah mirip dengan perkataan Ibnu Taimiyyah dalam Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim (hal. 294) berikut:

فتعظيم المولد واتخاذه موسما قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعيظمه لرسول الله صلى الله عليه وآله وسلم

“Maka, mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai musim telah diamalkan oleh sebahagian orang. Mereka mendapatkan pahala besar kerana niat yang bagus dan ta’zhimnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”

Walaupun Ibnu Taimiyyah tidak sepenuhnya bersetuju dengan maulid Nabi, tetapi beliau menganggap baik dan bahkan menyatakan yang demikian akan mendapatkan pahala besar kerana tujuan yang baik dan ta’zhim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ertinya, menurut beliau, maulid memang tidak berasas dalil secara khusus, tetapi melaksanakan maulid dengan niat yang baik dan perasaan hormat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka pengamalnya mendapatkan pahala besar atas hal itu.

Jika penganut Wahabi bersetuju tentang seseorang yang mendapatkan pahala kerana ta’zhimnya, maka mengapa hal itu tidak berlaku pula dalam amalan berdiri di atas? Jika menurut Imam Ibnu Taimiyyah maulid adalah bid’ah yang haram dan berdoa maka bagaimana bisa perkara haram masih mendapatkan pahala? Banyak kaum Wahabi yang tidak menyadari hal ini.

Fasal Keempat:

Lalu apakah bid’ah pada amalan selepas membaca ayat di atas sampai had haram? Mari kita tengok secara saksama ucapan Imam Ibnu Hajar al-Haitami berikut:

لا ينبغي ارتكابها لإبهام العامة ندبها

“Sebaiknya tidak dilakukan kerana boleh menjadikan salah sangka kaum awam bahawa yang demikian adalah sunat”

Bukankah jelas bahawa maksud larangan utamanya adalah supaya tidak menjadikan salah sangka dari orang awam. Dengan demikian, larangan tersebut hadir dari perkara lain yang bersifat (kaedah) “saddan li adz-dzara’i” atau “hasman lil bab” (menutup semua jalan yang menuju kepada hal yang haram atau mafsadah), bukan kerana (dzatiyah) amalan berdiri tersebut yang dihukumi bid’ah yang terlarang.

Dengan demikian, jika kita telah menjelaskan kepada orang awam bahawa berdiri tersebut bukanlah sunat maka tidak lagi ada larangan berdiri kerana illatnya telah hilang.

Fasal Kelima:

Ini adalah fasal yang sangat penting dan seakan-akan adalah akhir dari kesimpulan perkataan sebelumnya.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata:

فالعوام معذورون لذلك بخلاف الخواص

“Maka orang awam dianggap udzur kerana itu (ketidakbolehan membezakan berdiri kerana ta’zhim). Berbeza dengan orang-orang khusus (ahli ilmu/ulama)”.

Dari ucapan ini, mereka memahami bahawa berdiri kerana pembacaan maulid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bid’ah tercela. Bagi orang awam dianggap udzur dan tidak bagi orang yang berilmu atau terkena hukum haram.

Jika demikian fahamannya, maka ini adalah senarai kemusykilannya:

1. Standard udzur adalah berpengetahuan (ilmu) atau tidaknya. Jika standardnya adalah ilmu, maka orang awam atau khas tiada perbezan antara keduanya, kerana orang awam yang sudah tahu bahawa perkara itu adalah bid’ah, maka ia tidak lagi udzur. Lalu mengapa Imam Ibnu Hajar menganggap yang awam udzur? Tentu bukan ini maksudnya.

2. Jika difahami sekilas, maka Imam Ibnu Hajar seakan-akan memperbolehkan bid’ah bagi orang awam sedangkan orang yang khas tidak boleh. Tentu bukan ini juga yang dikehendaki.

3. Jika dikatakan, sebab orang awam dianggap udzur kerana kejahilannya, maka mengapa orang awam tidak bertanya terlebih dahulu? Bukankah yang demikian bercanggah dengan ijma’ ulama bahawa orang tidak boleh melakukan sebarang pekerjaan sebelum ia mengetahui hukumnya. Dengan demikian, jahil bukan alasan tepat untuk memperbolehkan melakukan bid’ah sesat.

4. Jika perbezaan keduanya adalah kerana kejahilan orang awam sehingga dianggap udzur, maka bukankah jahil ada dua; jahil ma’dzur dan jahil ghairu ma’dzur. Jahil ma’dzur dimaafkan dan jahil ghairu ma’dzur tidak dimaafkan. Jadi jahil yang ghairu ma’dzur tetap berdosa.

5. Jika diberikan alasan bahawa orang awam dianggap samar terhadap hukum tersebut sehingga dianggap udzur, maka bukankah ulama fikih telah menjelaskan bahawa perkara yang samar yang orang awam boleh dimaafkan di sana adalah jika dalam masalah daqaiq umur atau masalah-masalaf fikih yang detail dan mendalam. Dan amalan berdiri di atas bukan kategori daqaiq umur.

Yang benar menurut saya, sesuai pula dengan kefahaman Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad Salim al-Kilani al-Iskandari (wafat tahun 1362 H.) dalam kitabnya, Majallah al-Haqaiq saat menjelaskan makna ucapan Imam Ibnu Hajar al-Haitami di atas adalah sebagai berikut:

“Berdiri tersebut adalah bid’ah. Tetapi jika kerana ta’zhim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka hukumnya adalah baik (bahkan ada yang mengatakan wajib). Jika orang awam yang melakukan amalan berdiri tersebut tidak tahu bahawa alasannya adalah ta’zhim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia dianggap udzur kerana ia awam. Tetapi bagi ahli ilmu sepatutnya hal demikian tidak samar”.

Atau ucapan Imam Ibnu Hajar al-Haitami di atas adalah tafri’ (cabangan) dari hukum berdiri selepas membaca ayat surat an-Nakhl, dan bukan tafri’ dari berdiri menghormat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan yang terakhir ini murni pemahaman dari saya secara peribadi.

Mengapa bukan tafri’ dari berdiri saat dibacakan maulidnya Nabi? Kerana amalan berdiri dihadirkan Imam Ibnu Hajar al-Haitami hanya sebagai tanzhir dan bukan objek (maudhu’) fatwanya.

Lalu apa bezanya? Bezanya adalah berdiri selepas membaca ayat tidak ada hujjah lain yang menganggap baik, sementara berdiri ketika disebutkan kisah lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat hujjah lain yang menunjukkan baik dan terpuji, iaitu niat ta’zhim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Fasal Keenam:

Untuk menguatkan pemahaman mereka adalah judul bab dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah berikut:

مطلب في ان القيام في اثناء مولده الشريف بدعة لا ينبغي فعلها

“Bab dalam masalah berdiri di tengah-tengah maulid Nabi yang mulia adalah bid’ah yang tidak seyogyanya dikerjakan”.

Jawaban saya:

1. Memahami masalah adalah dari isi fatwa dan bukan judul. Apalagi belum boleh dipastikan, apakah judul tersebut dibuat oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami atau tidak kerana ini adalah kumpulan fatwa beliau yang ditulis oleh muridnya.

2. Judul menunjukkan ketidak haramannya berdiri. Sementara mereka menganggap ucapan Imam Ibnu Hajar adalah mengharamkan.

Kesimpulan

1. Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan bahkan ulama-ulama yang lain memang benar menganggap bid’ah berdiri saat disebutkan kisah lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi penting diketahui, Imam Ibnu Hajar tidak menyebutnya sebagai bid’ah yang haram ataupun sesat. Terbukti beliau sebelumnya menggunakan kata-kata “yanbaghi” yang mengisyaratkan bukan sebarang larangan. Jika sahaja berdiri tersebut adalah haram maka mengapa beliau memperbolehkan maulid Nabi? Padahal sama-sama tidak ada dalilnya secara khusus.

2. Hukum bid’ah Imam Ibnu Hajar al-Haitami tersebut adalah melihat dari sisi ketiadaan dalil secara khusus tidak dari sisi yang lain.

3. Imam Ibnu Hajar al-Haitami menganggap amalan berdiri tersebut adalah kerana ungkapan rasa ta’zhim. Lepas dari ada dalilnya secara khusus atau tidak. Oleh kerana itu Imam Ibnu Hajar al-Haitami menggunakan adat hashr “innama”. Dan niatan ta’zhim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah boleh bahkan terpuji. Dan alasan inilah yang kemudian amalan berdiri tersebut dianggap sebagai hal yang baik dan terpuji.

4. Perbezaan antara berdiri mendengar ayat di atas dengan berdiri saat maulid Nabi adalah terletak pada niatan ta’zhim. Dengan demikian ada perbezaan hukum antara keduanya.

5. Imam Ibnu Hajar al-Haitami tidak menghukumi bid’ah sesat amalan berdiri kerana menghurmat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sikap Peribadi:

Jika pemahaman saya di atas keliru, yang ertinya ucapan Imam Ibnu Hajar al-Haitami tetap difahami sebagai bid’ah atau larangan berdiri dalam maulid Nabi, maka bukankan ini adalah masalah khilafiyyah yang ringan. Sangat ramai ulama yang menganjurkan berdiri bahkan ada yang mewajibkannya. Dengan demikian, bid’ah yang paling besar adalah membuat perpecahan ditubuh muslimin dengan menuduh amalan sesat dan menyebarkannya ditengah-tengah masyarakat sedangkan dalam masalah yang ijtihad masih ditoleransi di sana.

Wallahu A’lam

Solo, 11 Januari 2016

Oleh Nur Hidayat bin Muhammad

Penyelidik

Pertubuhan Penyelidkan Ahlussunnah Wal Jamaah Johor

12 January 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Hendaklah berhati hati dalam menggelar seseorang dalam bidang ilmu.

Ahli Bidang Ilmu; “Hendaklah kamu berhati-hati dalam menggelar seseorang dalam bidang ilmu. Katakan jika seandainya seseorang yang bukan daripada bidang teknologi, tiba-tiba mengatakan ‘Syeikh Muhammad Nuruddin itu seorang pakarnya teknologi.’ Adakah kalian akan percaya?’ Tidak percaya bukan.
Mengapa tidak percaya?
“Kerana seseorang yang mengatakan begitu bukan daripada kalangannya juga. Yang mempunyai pengetahuannya juga dalam bidangnya teknologi. Ingin mengatakan seseorang itu pakar teknologi harus seseorang itu diakui keahliannya juga oleh orang yang bidangnya juga. Yang dalam kalangan yang mempunyai pengetahuan yang tinggi juga dalam bidang teknologi.”
“Untuk mengatakan seseorang itu faqih, harus daripada seseorang yang sememangnya faqih juga. Ingin dikatakan seseorang itu pakar hadis, perlu daripada orang yang sememangnya diakui pakar didalam bidang hadis juga. Tidak boleh daripada kalangan orang yang tidak tahu dan tidak mengerti mengenai ilmu hadis. Justeru, mengelarkannya pakar hadis.”
“Lihat sahaja Musnid Sedunia, Syeikh Yasin Isa Al-Fadani, begitu juga Maulana Zakariyya Al-Kandahlawi, ini layak digelar pakar hadis. Kerana apa? Ulama ulama hadis yang mengiktiraf mereka sebagai pakar hadis. Bahkan ulama sedunia. Hari ini mudah saja seseorang memberi gelaran kepada si fulan si fulan. Si fulan pakar hadis, si fulan pakar itu pakar ini.”
“Yang memberi gelaran tersebut adalah seorang pilot, seorang pramugara, seorang pomen kereta, daripada kalangan orang awam yang bukan ahlinya dalam sesuatu bidang ilmu. Justeru memberikan gelaran-gelaran yang tertentu. Para ulama pon takut untuk mengelarkan diri mereka pakar hadis.”
“Ajibb. Di zaman sekarang. Mudah saja menjadi pakar dalam bidang tertentu kerana diangkat melalui gelaran-gelaran yang diberikan oleh orang awam. Akhirnya yang bercelaru orang awam juga, kerana angkara kita meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.”
Daripada TG Sheikh Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki.
Like
Share
267 people like this.
Raudhatul Muhibbin
Ahli Bidang Ilmu; “Hendaklah kamu berhati-hati dalam menggelar seseorang dalam bidang ilmu. Katakan jika seandainya seseorang yang bukan daripada bidang teknologi, tiba-tiba mengatakan ‘Syeikh Muhammad Nuruddin itu seorang pakarnya teknologi.’ Adakah kalian akan percaya?’ Tidak percaya bukan.
Mengapa tidak percaya?

“Kerana seseorang yang mengatakan begitu bukan daripada kalangannya juga. Yang mempunyai pengetahuannya juga dalam bidangnya teknologi. Ingin mengatakan seseorang itu pakar teknologi harus seseorang itu diakui keahliannya juga oleh orang yang bidangnya juga. Yang dalam kalangan yang mempunyai pengetahuan yang tinggi juga dalam bidang teknologi.”

“Untuk mengatakan seseorang itu faqih, harus daripada seseorang yang sememangnya faqih juga. Ingin dikatakan seseorang itu pakar hadis, perlu daripada orang yang sememangnya diakui pakar didalam bidang hadis juga. Tidak boleh daripada kalangan orang yang tidak tahu dan tidak mengerti mengenai ilmu hadis. Justeru, mengelarkannya pakar hadis.”

“Lihat sahaja Musnid Sedunia, Syeikh Yasin Isa Al-Fadani, begitu juga Maulana Zakariyya Al-Kandahlawi, ini layak digelar pakar hadis. Kerana apa? Ulama ulama hadis yang mengiktiraf mereka sebagai pakar hadis. Bahkan ulama sedunia. Hari ini mudah saja seseorang memberi gelaran kepada si fulan si fulan. Si fulan pakar hadis, si fulan pakar itu pakar ini.”

“Yang memberi gelaran tersebut adalah seorang pilot, seorang pramugara, seorang pomen kereta, daripada kalangan orang awam yang bukan ahlinya dalam sesuatu bidang ilmu. Justeru memberikan gelaran-gelaran yang tertentu. Para ulama pon takut untuk mengelarkan diri mereka pakar hadis.”

“Ajibb. Di zaman sekarang. Mudah saja menjadi pakar dalam bidang tertentu kerana diangkat melalui gelaran-gelaran yang diberikan oleh orang awam. Akhirnya yang bercelaru orang awam juga, kerana angkara kita meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.”

Daripada TG Sheikh Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki.

Sumber: Raudhatul Muhibbin

12 January 2016 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

KEPENTINGAN TABAYYUN ( MENYEMAK ASAS KEBENARAN )

Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah, lalu dia menyampaikan sesuatu yang tidak baik tentang seorang temannya. Lalu Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah berkata kepadanya: Sekarang kami terpaksa menyiasat perkara ini! Jika kamu dusta, maka kamu termasuk dalam golongan orang yang dinyatakan dalam firman Allah SWT:

Maksudnya: “Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa suatu berita, maka SELIDIKILAH (untuk menentukan) kebenarannya.”

(Surah al-Hujurat: 6)

Jika sekiranya kamu bercakap benar, maka kamu tergolong dalam kumpulan orang yang dikatakan dalam firman Allah SWT:

Maksudnya: “Yang suka mencaci, lagi yang suka menyebarkan fitnah hasutan (untuk memecah belahkan orang ramai)”

(Surah al-Qalam: 11)

Tetapi, jika kami memaafkan kamu dengan syarat kamu tidak akan melakukannya lagi? Lelaki itu menjawab: Maafkan sahaja, hai Amirul Mukminin, saya tidak akan mengulanginya lagi perbuatan itu.

Yusuf al-Qaradhawi, al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, hlm. 604-606.

Sumber: Jabatan Mufti Negeri Sembilan

6 January 2016 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

HUKUM BERDOA KETIKA SUJUD YANG TERAKHIR

Soalan:

Assalamualaikum Tuan Mufti yang dihormati,

Saya ingin bertanya tentang permasalah berkaitan dengan doa ketika sujud terakhir dalam solat. Ini kerana terdapat khilaf berkaitan permasalahan INI. Adakah perlaksanaannya dibenarkan atau pun sebaliknya? Semoga tuan yang lebih arif membantu saya dalam permasalahan ini.

Terima kasih.

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jawapan:

Hukumnya ialah berdoa disunatkan dalam semua sujud dan tidak hanya khusus dalam sujud terakhir. Daripada Abu Hurairah, bahawa Rasulullah SAW bersabda:

أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد ، فأكثروا الدعاء

Maksudnya: “Keadaan yang paling dekat seseorang hamba dengan Tuhan-nya ialah ketika dia bersujud. Maka perbanyakkanlah berdoa (pada waktu sujud).”

Riwayat Muslim dan al-Nasaie.

Dibolehkan untuk memperbanyakkan doa sama ada secara lisan ataupun dalam hati. Terdapat khilaf untuk menggunakan bahasa selain Arab untuk berdoa secara lisan. Yang terpilih ialah berdoa menggunakan bahasa Arab secara lisan. Adapun menggunakan bahasa Melayu contohnya, maka cukuplah di dalam hati. Tetapi yang paling afdal, ikutilah sunnah Rasulullah SAW.

Wallahuaʿlam

Pautan ke laman web PMWP: http://goo.gl/J1sSvc

11 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

MUTIARA KALAM TUAN GURU SYEIKH NURUDDIN TENTANG HABAIB.

Dakwah Para Habaib; “Berhati-hatilah kita ini, dengan menjaga lisan kita baik-baik. Jangan berkata sesuatu yang kita sendiri tidak tahu sohihnya, kebenarannya akan sesuatu perkara. Jagalah tangan kita ini daripada mudah menaip nak komen satu permasalahan sehingga berani memfitnah, memerli, mencaci, menghina ulama.”

“Janganlah kita mempersoalkan memgenai nasab keturunan seseorang. Kita mengatakan mereka sesat. Apatah lagi kita mempersoalkan kesohihan nasab para habaib daripada keturunan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam yang mulia. Apatah lagi melabel atau menyesatkan para ulama dan juga ulama daripada para habaib.”

“Kalau kita ada masalah mengenai hukum hakam. Kalau kita ada masalah dan tidak puas hati pada seseorang, maka kita akan jumpa dengan orang-orang yang berkenaan. Kita tanya hakikat sebenarnya. Apa pencerahannya. Mereka ini betul atau tidak. Jangan kita mengambil sikap baling batu sembunyi tangan.”

“Dan bagi orang awam, janganlah kita percaya bulat-bulat dengan apa yang kita baca. Apa yang kita dengar. Apa yang kita lihat. Khususnya didalam media sosial karena belum tentu seratus peratus kebenarannya. Dan kita takut, disebabkan kejahilan kita. Disebabkan sikap malas kita untuk menuntut ilmu, maka diri kita mudah ditipu orang. Makanya kita mendapat saham dosa juga tanpa disedari.”

“Apakah kira-kiranya kita tidak tahu sejarah?Apakah kita tidak pernah membaca perjalanan hidup agama? Ataupun dengan dakwah sejak zaman Sayyiduna Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sampai pada kita sekarang ini? Cuba kita renung sejenak yang pasti Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bukan daripada keturunan orang Melayu.”

“Baginda Nabi bukan diutus oleh Allah pada orang-orang Nusantara. Baginda Nabi selama dua puluh tiga tahun, Nabi kita tidak pernah menjejakkan kaki ke Malaysia ke Indonesia ke Thailand ke Brunei maka kalau seperti itu hakikatnya melalui siapa Islam sampai ke negara kita? Melalui siapa dakwah sampai ke tempat tinggal kita?Melalui siapa dengan kita dapat mengenal Allah? Melalui siapa kita tahu hukum hakam?”

“Yang sehingga mereka yang selalu memerli dan memperli baik tentang nasab tentang kehidupan keilmuan seorang Alim tentang nasab daripada Para Habaib yang mana ada juga di antara mereka yang perli memperli itu menimpa ilmu pengetahuan daripada mereka yakni Para Habaib. Kenapa kita mengutuk, memperli, menyalahkan orang-orang yang hakikatnya mereka Para Habaib itu adalah Guru-Guru kita.”

“Jadi secara pasti kalaulah orang-orang melayu kebanyakan bermazhabkan dengan Mazhab Imam Syafie Rahimahullah. Imam Syafie bukan daripada Nusantara bukan berasal daripada tempat kita tapi Imam Syafie Rahimahullah berasal daripada Yaman. Dilahirkan di Palestin. Di bawa ke Mekah. Perjalanan dakwah beliau daripada Mekah ke Madinah ke Baghdad ke Mesir kembali ke Baghdad. Kemudian akhir sekali patah kembali ke Mesir duduk di Mesir sampai beliau wafat di sana.”

“Jadi kira-kira sejak lebih seribu dua ratus tahun yang lalu tapi kenapa ramai pengikut-pengikut Imam Syafie ramai di Nusantara? Tidak terhitung ramainya jumlahnya di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Itu melalui siapa? Bererti ada orang yang datang ke negara kita pada ketika itu. Sedikit sangat bahkan boleh dikatakan tidak ada bangsa kita yang datang ke Tarim Yaman yang datang ke Mesir yang datang ke Negara Arab,Timur Tengah.”

“Justeru yang pertama sekali datang ke negara kita itu adalah di kalangan Para Habaib itu disebutkan Para Salaf. Kenapa dipermasalahkan keberadaan mereka sedangkan mereka Para Habaib itulah yang berjasa untuk membawa Agama untuk membawa Islam ke negara kita.”

“Jadi kenapa ada orang yang menghidupkan kembali budaya orang jahiliah mempertikaikan tentang nasab keturunan seseorang. Kira-kiranya agaknya kalau berbicara tentang hakikat. Siapa kira-kira yang sesat? Apakah kalian yang pada saat ketika ini memperkatakan tuduhan yang semacam itu?”

“Atau juga yang diperkatakan yang dituduh oleh kalian yang sejak keberadaan di sini itu sejak daripada beberapa abad yang lalu. Tak akan dengan Syeikh Daud Al-Fathoni, tak akan dengan Tok Kenali tak akan dengan Syeikh Arsyad Al-Banjari tak akan dengan sejumlah Ulama-Ulama hebat Al-Quran di dalam dada mereka, Al-Quran dalam kehidupan mereka, sunnah-sunnah Nabi dalam perilaku mereka tidak tahu.”

“Kita sekarang ini setakat dimulut saja. Sunnah-sunnah Nabi dimulut,
kita bercakap tentang sunnah, beramal tentang sunnah, kembali kepada Al-Quran dan Hadith tetapi kepala kita tidak menunjukkan kita beramal dengan Al-Quran dan Hadith, pakaian kita tidak menunjukkan kita beramal dengan Al-Quran dan Hadith, perilaku kita akhlak kita tidak menunjukkan kita beramal dengan Al-Quran dan Hadith.”

“Mereka Para Habaib sampai perkara yang paling kecil apa pun mereka amalkan. Dengan pakaiannya tahu bagaimana secara sunnah, makan minumnya mereka tahu bagaimana secara sunnah, duduknya mereka tahu bagaimana secara sunnah, pergaulannya mereka tahu bagaimana secara sunnah dan perhiasannya mereka tahu secara sunnah sampai kepada cincinnya pun di mana Nabi kita meletakkan cincin, di mana Nabi kita memakainya di situ mereka memakainya, jubah-jubah mereka.”

“Itu siwak kita tengok Para Habaib. Minta maaf cakap mana Mantan Mufti kah atau juga Mufti yang masih bertugaskah mana ada yang kita lihat keluarkan siwak. Dia baca apa yang saya baca dia tahu tidakkah yang disunnahkan sebelum sembahyang itu adalah bersiwak.”

“Nabi kita bersabda; “Kalau bukan kerana akan menyusahkan Ummat akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada tiap kali wudhuk dan juga tiap kali sembahyang.” Kita masih belum mampu untuk mengamalkannya padahal tak sesusah mana tapi mereka Para Habaib mengamalkannya.”

“Sesuatu yang pelik bin ajaib bin aneh kalau kita mengakui keilmuan mereka dalam bidang hal seumpama pemakaian, makan minum, kehidupan rumahtangga dan juga perkara-perkara yang ada hubung kaitnya dengan serbannya dengan bersedekah dengan safar dengan adab-adab di waktu tidur, adab di waktu bangun, adab di waktu masuk masjid yang mengerti segala hal tentang sunnah sunnahnya Baginda Rasulullah .”

“Akan tetapi kita katakan mereka tidak mengerti tentang akidah, tidak mengerti tentang ideologi, tidak mengerti daripada hakikat daripada sifat Asma’Wa Sifat. Itu sesuatu perkara yang pelik sesuatu perkara yang ajaib. Itu ada lagi perkara yang mereka tidak puas hati mempertanya dan mempersoalkan tentang betul atau tidak yang Para Habaib itu dengan alasan itu syiah-syiah iran itu dikatakan ramai di kalangan Para Habaib. Dengan menfitnah para habaib.”

“Kita tidak mengatakan benda yang sama sebab, yang datang ke negara kita di antaranya Habib Umar Ben Hafidz di antaranya yang baru-baru ini Habib Abu Bakar Al-Adni Bin Ali Al-Masyhur. Kata mereka itu syiah. Masya Allah Tabarakallah, sebenarnya kita tahu atau tidak sebenarnya akidah syiah itu seperti apa? Menuduh orang pula itu daripada kumpulan syiah.”

“Untuk pengetahuan kita yang perlu kita ketahui yang paling sederhana yang merupakan perkara asas yang walaupun sesiapa saja yang pernah membaca tentang syiah yang pernah tahu tentang aliran syiah. Di antara pegangan dan ideologi keyakinan syiah mereka adalah orang yang paling membenci Saidina Abu Bakar r.a. dan Saidina Umar r.a.”

“Jadi yang dituduh tadi itu yang dikatakan syiah justeru bernama Umar bernama Abu Bakar. Pelik! Kalau memang syiah memang tak nak bagi nama anak dengan nama Umar dan dengan nama Abu Bakar. Yang kalian katakan syiah tadi itu bukankah bernama Habib Umar dan Habib Abu Bakar. Kalian yang katakan itu syiah ternyata betul-betul orang yang buta sejarah yang tak tahu tentang akidah yang sebenarnya. Lebih tepat lagi buta hati.”

“Kita ingin lebih dewasa apa lagi kalau kita tergolong daripada kumpulan orang yang berpendidikan agama. Jangan sesekali kita menghabiskan waktu hanya untuk memperli untuk mencerca untuk mencaci untuk memfitnah dan seumpamanya.”

“Kalau seandainya ada permasalah berkenaan dengan hukum hakam dengan masalah-masalah yang kita tidak berpuas hati maka kita jumpa dengan orang berkenaan. Kita tanyakan hakikat sebenarnya seperti apa. Bukannya buat andaian kita komen tulis dekat facebook. Bukannya buat andaian kita buat keputusan muktamad. Itu tidak betul!”

“Orang yang sebarkan berita tidak betul adalah orang fasiq. Sepatutnya kita mendapatkan bimbingan, pengajaran, penjelasan daripada mereka, pencerahan daripada mereka, fatwa daripada mereka. Kalau kita tidak yakin, kalau kita tidak pasti, kalau tidak tahu,kalau tidak pernah menyemak, kalau tidak pernah bergaul, kalau tidak pernah duduk sekali, kalau tidak pernah bertalaqqi.”

“Jangan sampai kita sebarkan benda-benda yang kita tidak pasti kebenarannya. Kalau di zaman dahulu itu hanya setakat di dalam kitab-kitab yang ditulis yang kalau dengan kitab itu hanyut dan larut maka dengan maklumat yang ditulis itu akan lenyap dan hilang tapi kalau seperti di zaman kita sekarang ini.”

“Sepatah kata dalam facebook sepatah kata dalam youtube itu akan abadi mungkin sampai kepada hari kiamat tersimpan abadi di dalamnya. Kalau kita tidak berpuas hati duduklah bertanya tapi jangan sampai lempar batu sembunyi tangan. Kalau kita tak tahu sangat maka, diam itu lebih baik jangan sampai kita ini maaf cakap jangan sampai nampak kebodohan diri kita sendiri.”

Tuan Guru Sheikh Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki hafizahullah.

Sumber: Mohd Hanif

10 December 2015 Posted by | Bicara Ulama | Leave a comment

Kesepakatan Para Ulama Atas Kebolehan Perayaan Maulid Nabi | Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group

Para pengingkar Maulid Nabi hanyalah bagaikan setetes air dibandingkan luapan samudera. Karena praktek peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mendapat legalitas dari Syare’at dan rekomendasi dari jumhur ulama Ahlu sunnah baik mutaqaddimin atau pun mutakhkhirin, baik kalangan rajanya, penguasa adil, orang shalih maupun awamnya. Sejak dahulu hingga sekarang mereka sepakat atas kebolehannya Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejak dahulu hingga sekarang para pelaku Maulid Nabi tidak pernah bekurang malah semakin bertambah jumlahnya. Berikut nama-nama ulama besar Ahlus sunnah yang melegalkan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum wahabi yang membid’ah-bid’ahkan para pelaku maulid bahkan menyesat-nyesatkannya bahkan ada yang sampai memmusyik-musyrikkannya, maka sama saja mereka membid’ahkan, menyesatkan dan memusyrikkan para ulama berikut ini, naudzu billahi min dzaalik..

1. Syaikh Umar al-Mulla dari Maushul (W 570 H). Seorang syaikh yang sholih lagi zuhud, setiap tahunnya menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri para ulama, fuqaha, umara, dan shulthan Nuruddin Zanki, seorang raja yang adil dan berakidahkan Ahlus sunnah. Abu Syamah (guru imam Nawawi) berkata tentang dua tokoh besar di atas :

قال العماد: وكان بالموصل رجل صالح يعرف بعمر الملاَّ، سمى بذلك لأنه كان يملأ تنانير الجص بأجرة يتقوَّت بها، وكل ما عليه من قميص ورداء، وكسوة وكساء، قد ملكه سواه واستعاره، فلا يملك ثوبه ولا إزاره. وكن له شئ فوهبه لأحد مريديه، وهو يتجر لنفسه فيه، فإذا جاءه ضيف قراه ذلك المريد. وكان ذا معرفة بأحكام القرآن والأحاديث النبوية.كان العلماء والفقهاء، والملوك والأمراء، يزورونه في زاويته، ويتبركون بهمته، ويتيمنَّون ببركته. وله كل سنة دعوة يحتفل بها في أيام مولد رسول الله صلى الله عليه وسلم يحضره فيها صاحب الموصل، ويحضر الشعراء وينشدون مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم في المحفل. وكان نور الدين من أخص محبيه يستشيرونه في حضوره، ويكاتبه في مصالح أموره

“ al-‘Ammad mengatakan , “ Di Mosol ada seorang yang shalih yang dikenal dengan sebutan Umar al-Mulla, disebut dengan al-Mulla sebab konon beliau suka memenuhi (mala-a) ongkos para pembuat dapur api sebagai biaya makan sehari-harinya, dan semua apa yang ia miliki berupa gamis, selendang, pakaian, selimut, sudah dimiliki dan dipinjam oleh orang lain, maka beliau sama sekali tidak pakaian dan sarungnya. Jika beliau memiliki sesuatu, maka beliau memberikannya kepada salah satu muridnya, dan beliau menyewa sesuatu itu untuknya, maka jika ada tamu yang datang, murid itulah yang menjamunya. Beliau seorang yang memiliki pengetahuan tentang hokum-hukum al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Para ulama, ahli fiqih, raja dan penguasa sering menziarahi beliau di padepokannya, mengambil berkah dengan sifat kesemangatannya, mengharap keberkahan dengannya. Dan beliau setiap tahunnya mengadakan peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri juga oleh raja Mosol. Para penyair pun juga datang menyenandungkan pujian-pujian kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di perayaan tersebut. Shulthan Nuruddin adalah salah seorang pecintanya yang merasa senang dan bahagia dengan menghadiri perayaan maulid tersebut dan selalu berkorespondesi dalam kemaslahatan setiap urusannya “.[1]

Adz-Dzahabi mengatakan :

وكان ذلك تحت إمرة الملك العادل السُّنِّيِّ نور الدين محمود زنْكِي الذي أجمع المؤرخون على ديانته وحسن سيرته، وهو الذي أباد الفاطميين بمصر واستأصلهم وقهر الدولة الرافضية بها وأظهر السنة وبني المدارس بحلب وحمص ودمشق وبعلبك وبنى المساجد والجوامع ودار الحديث

“ Beliau (syaikh Umar) di bawah kekuasaan raja yang adil yang sunni yaitu Nuruddin Mahmud Zanki, yang para sejarawan telah ijma’ (konsesus/sepakat) atas kebaikan agama dan kehidupannya. Beliaulah yang telah memusnahkan dinasti Fathimiyyun di Mesir sampai ke akar-akarnya, menghancurkan kekuasaan Rafidhah. Menampakkan (menzahirkan) sunnah, membangun madrasah-madrasah di Halb, Hamsh, Damasqus dan Ba’labak, juga membangun masjid-masjid Jami’ dan pesantren hadits “[2]

2. Al-Imam Abul Khaththab Ibnu Dihyah (W 633 H). Beliau telah mengarang sebuah kitab Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau namakan “ at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “ dan dihadiahkan kepada seorang raja adil, shalih, Ahlsus sunnah yakni al-Mudzaffar.

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :

وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه وقد صنف الشيخ أبو الخطاب ابن دحية له مجلدا في المولد النبوي سماه التنوير في مولد البشير النذير فأجازه على ذلك بألف دينار

“ Dan raja konon mengadakan acara Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabiul Awwal, dan merayakannya dengan perayaan yang meriah, dan beliau adalah seorang raja yang cerdas, pemberani, perkasa, berakal, alim dan adil –semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya- syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah telah mengarang kitab berjilid-jilid tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dinamakannya “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “, lalu diberikan balasan atas usaha itu oleh raja sebesar seribu dinar.”[3]

3. al-Imam Abu Syamah (W 665 H), guru al-Imam al-Hafidz an-Nawawi. Beliau mengatakan :

ومن احسن ما ابتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق لمولده صلى الله عليه وآله وسلم من الصدقات، والمعروف، وإظهار الزينة والسرور, فإن ذلك مشعر بمحبته صلى الله عليه وآله وسلم وتعظيمه في قلب فاعل ذلك وشكرا لله تعالى على ما من به من إيجاد رسوله الذي أرسله رحمة للعالمين

“ Di antara bid’ah hasanah yang paling baik di zaman kita sekarang ini adalah apa yang dilakukan setiap tahunnya di hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan bersedekah dan berbuat baik serta menampakkan perhiasan dan kebahagiaan. Karena hal itu merupakan menysiarkan kecintaan kepada Nabi shallahu ‘alahi wa sallam dan penganggungan di hati orang yang melakukannya. Sebagai rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas anugerah-Nya berupa mewujudkannya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam “[4]

4. al-Hafidz Ibnul Jauzi (W 597 H). Beliau mengatakan tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

إنه أمان في ذلك العام، وبشرى عاجلة بنيل البغية والمرام

“ Sesungguhnya mauled (hari kelahiran) Nabi adalah sebuah keamanan di tahun itu dan kaar gembira yang segera dengan tercapainya cita-cita dan taujuan “[5]

5. al-Imam al-Allamah Shadruddin Mauhub bin Umar al-Jazri (W 665 H). Beliau mengatakan tentang hokum peringatan Maulid Nabi :

هذه بدعة لا بأس بها، ولا تكره البدع إلا إذا راغمت السنة، وأما إذا لم تراغمها فلا تكره، ويثاب الإنسان بحسب قصده

“ Ini adalah bid’ah yang tidak mengapa, dan bid’ah tidaklah makruh kecuali jika dibenci sunnah, adapun jika sunnah tidak membencinya maka tidaklah makruh dan manusia akan diberi pahala (atas bid’ah mauled tersebut) tergantung tujuan dan niatnya “.

6. Syaikh Abul Abbas bin Ahmad al-Maghribi (W 633 H). Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan tentangnya :

كان زاهدًا إمامًا مفنّنًا مُفْتِيًّا ألَّفَ كتاب المولد وجوّده

“ Beliau seorang yang zuhud, imam, menguasai semua fan ilmu, sorang mufti dan mengarang kitab maulid dan memperbagusnya “[6]

7. Syaikh Abul Qasim bin Abul Abbas al-Maghribi. Az-Zarkali mengatakan tentangnya :

كان فقيها فاضلا, له نظم أكمل الدر المنظم , في مولد النبي المعظّم من تأليف أبيه أبى العباس بن أحمد

“ Beliau seorang ahli fiqih yang utama, memiliki nadzham (bait) yang bernama “ Akmal ad-Durr al-Munadzdzam fi Maulid an-Nabi al-Mu’adzdzam “ dari tulisan ayahnya Abul Abbas bin Ahmad “[7]

8. al-Hafidz Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi (777-842 H). Beliau mengarang kitab Maulid dengan berjilid-jilid sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyfu adz-Dzunun : 319. Di antaranya : Jami’ al-Aatsar fi Maulid an-Nabi al-Mukhtar dan al-Lafdz ar-Raiq fi Maulid Khairul Khalaiq dan Maurid ash-Shadi fi Maulid al-Hadi.

9. al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Abbad (W 805 H).

وسئل الولي العارف بالطريقة والحقيقة أبو عبد الله بن عباد رحمه الله ونفع به عما يقع في مولد النبي صلى الله عليه وسلم من وقود الشمع وغير ذلك لأجل الفرح والسرور بمولده عليه السلام.

فأجاب: الذي يظهر أنه عيد من أعياد المسلمين، وموسمٌ من مواسمهم، وكل ما يقتضيه الفرح والسرور بذلك المولد المبارك، من إيقاد الشمع وإمتاع البصر، وتنزه السمع والنظر، والتزين بما حسن من الثياب، وركوب فاره الدواب؛ أمر مباح لا ينكر قياساً على غيره من أوقات الفرح، والحكم بأن هذه الأشياء لا تسلم من بدعة في هذا الوقت الذي ظهر فيه سر الوجود، وارتفع فيه علم العهود، وتقشع بسببه ظلام الكفر والجحود، يُنْكَر على قائله، لأنه مَقْتٌ وجحود.

“ seorang wali yang arif dengan thariqah dan haqiqah Abu Abdillah bin Abbad rahimahullah ditanya mengenai apa yang terjadi pada peringatan Maulid Nabi dari menyalakan lilin dan selainnya dengan maksud berbahagia dengan hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau menjawab :

“ Yang tampak adalah bahwa Maulid Nabi termasuk ‘id dari hari raya muslimin dan satu musim dai musim-musimnya. Dan semua yang mengahruskan kebahagiaan dengan malid Nabi yang berkah itu semisal menyalakan lilin, mempercanti pendengaran dan penglihatan, berhias dengan pakaian indah, dan kendaraan bagus adalah perkarah mubah yang tidak boleh diingkari karena mengkiyaskan dengan lainnya dari waktu-waktu kebahagiaan. Menghukumi bahwa semua perbuatan ini tidak selamat dari bid’ah di waktu ini, yang telah tampak rahasia wujud, terangkat ilmu ‘uhud, tercerai berai dengan sebabnya segala gelapnya kekufuran dan kedzaliman, maka itu diingkari bagi pengucapnya, karena itu adalah kebencian dan pengingkaran.[8]

10. Syaikh Islam Sirajuddin al-Balqini (724 – 805 H). AL-Maqrizi mengatakan :

فلما كانت أيام الظاهر برقوق عمل المولد النبويّ بهذا الحوض في أوّل ليلة جمعة من شهر ربيع الأول في كلّ عام فإذا كان وقت ذلك ضربت خيمة عظيمة بهذا الحوض وجلس السلطان وعن يمينه شيخ الإسلام سراج الدين عمر بن رسلان بن نصر البلقيني ويليه الشيخ المعتقد إبراهيم برهان الدين بن محمد بن بهادر بن أحمد بن رفاعة المغربيّ ويليه ولد شيخ الإسلام ومن دونه وعن يسار السلطان الشيخ أبو عبد الله محمد بن سلامة التوزريّ المغربيّ ويليه قضاة القضاة الأربعة وشيوخ العلم ويجلس الأمراء على بعد من السلطان فإذا فرغ القراء من قراءة القرآن الكريم قام المنشدون واحدًا بعد واحد وهم يزيدون على عشرين منشدًا فيدفع لكل واحد منهم صرّة فيها أربعمائة درهم فضة ومن كلّ أمير من أمراء الدولة شقة حرير فإذا انقضت صلاة المغرب مدّت أسمطة الأطعمة الفائقة فأكلت وحمل ما فيها ثم مدّت أسمطة الحلوى السكرية من الجواراشات والعقائد ونحوها فتُؤكل وتخطفها الفقهاء ثم يكون تكميل إنشاد المنشدين ووعظهم إلى نحو ثلث الليل فإذا فرغ المنشدون قام القضاة وانصرفوا وأقيم السماع بقية الليل واستمرّ ذلك مدّة أيامه ثم أيام ابنه الملك الناصر فرج

“ Maka ketika sudah pada hari-hari yang tampak dengan ruquq, diadakanlah perayaan Maulid Nabi di telaga ini pada setiap malam Jum’at bulan Rabiul Awwal di setiap tahunnya. Kemduian Shulthan duduk, dan di sebelah kanannya duduklah syaikh Islam Sirajuddin Umar bin Ruslan bin Nashr al-Balqini, di dekat beliau ada syaikh al-Mu’taqad Ibrahim Burhanuddin bin Muhammad bin Bahadir bin Ahmad bin Rifa’ah al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada putra syaikh Islam dan orang-orang selainnya, dan di sebelah kirinya ada syaikh Abu Abdillah bin Muhammad bin Sallamah at-Tuzari al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada para qadhi dari kalangan empat madzhab, dan para syaikh ilmu, juga para penguasa yang duduk sedikit jauh dari shulthan. Jika telah selesai membaca al-Quran, maka beridrilah para nasyid satu persatu membawakan sebuah nasyidah, mereka lebih dari 20 orang nasyid, masing-masing diberikan sekantong uang yang di dalamnya berisi 4000 ribu dirham perak. Dan bagi setiap amir daulah diberikan kaen sutra. Dan jika telah selesai sholat maghrib, maka dihidangkanlah hidangan makanan yang mewah yang dimakan oleh semuanya dan dibawa pulang. Kemduian dibeberkan juga hidangan manisan yang juga dimakan semuanya dan para ulama ahli fiqih. Kemduian disempurnakan dengan nasyid pada munsyid dan nasehat mereka sampai sepertiga malam. Dan jika para munsyid selasai, maka berdirilah para qadhi dan mereka kembali pulang. Dan diperdengarkan sebuah senandung pujian di sisa malam tersebut. Hal ini terus berlangsung di masanya dan masa-masa anaknya yaitu an-Nahsir Faraj “.[9]

11. al-Hafidz al-Iraqi (725-808 H), guru al-Hafidz Ibnu Hajar. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maurid al-Hani fi al-Maulid as-Sani “. Beliau mengtakan :

إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وآله وسلم في هذا الشهر الشريف ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجبة

“ Sesungguhnya membuat resepsi dan memberikan makanan itu dianjurkan di setiap waktu, lalu bagaimana jika terkumpul dengan kebahagiaan dan kesenangan dengan tampaknya cahaya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di bulan mulia ini. Status kebid’ahannya tidak mengharuskannya menjadi makruh, berpa banyak yang bid’ah itu mustahab (dianjurkan) bahkan kadang menjadi wajib “.[10]

12. Syaikh Islam, al-Hafidz, ahli hadits dunia, imam para pensyarah hadits yaitu Ibnu Hajar al-Atsqalani. Beliau mengatakan :

أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كانت بدعة حسنة

“ Asal / dasar perbuatan Maulid adalah bid’ah yang tidak dinaqal dari ulama salaf yang salih dari tiga kurun, akan tetapi demikian itu mengandung banyak kebaikan dan juga keburukannya. Barangsiapa yang menjaga dalam melakukannya semua kebaikan dan mejauhi keburukannya maka menjadi bid’ah hasanah “[11]

13. al-Imam al-Allamah, syaikh al-Qurra wal muhadditsin, Qadhil Qudhah, Syamsuddin Muhamamd Abul Khoir bin Muhammad bin al-Jazri ( W 833 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang berjudul “ ‘Arfu at-Tarif bil Maulid asy-Syarif “.

قال ابن الجزري : فإذا كان هذا أبولهب الكافر الذي زل القرآن بذمه ، جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي ( ص ) به ، فما حال المسلم الموحّد من أمته عليه السلام ، الذي يسر بمولده ، ويبذل ما تصل اليه قدرته في محبته ؟ لعمري ، إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله العميم جنات النعيم

“ Ibnul Jazri mengatakan, “ Jika Abu Lahab yang kafir ini yang al-Quran telah mencacinya, diringankan di dalam neraka sebab kebahagiaannya dengan kelahiran Nabi, maka bagaimana dengan keadaan Muslim yang mengesakan Allah dari umarnya ini ? yang berbagaia dengan kelahiran Nabi, mengerahkan dengan segenap kemampuannya di dalam mencintainya, sungguh balasan dari Allah adalah memasukannya ke dalam surge-Nya yang penuh kenikmatan “[12]

14. al-Imam al-Hafidz as-Sayuthi (849-911 H). Beliau pernah ditanya tentang hokum memperingati Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

سئل عن عمل المولد النبوى في شهر ربيع الأول ،ما حكمه من حيث الشرع

هل هو محمود أو مذموم وهل يثاب فاعله أو لا؟

والجواب : عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدإ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك

من البدع الحسنة التي عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف

“Suatu ketika beliau ditanya tentang peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan pada bula Rabiul awwal. Bagaimana hukumnya dalam perspektif syara’, dan apakah termasuk kebaikan atau keburukan, serta apakah orang yang memperingatinya akan mendapatkan pahala?

Jawabannya, menurutku (as-Suyuthi) pada dasarnya amal Maulid itu adalah berkumpulnya manusia, membaca apa yang dirasa mudah dari al-Qur’an, riwayat hadis-hadis tentang permulaan perintah Nabi serta hal-hal yang terjadi dalam kelahiran Nabi, kemudian disajikan beberapa hidangan bagi mereka selanjutnya mereka pulang setelah menikmatinya tanpa ada tambahan-tambahan lain, hal tersebut termasuk bid’ah yang baik (bid’ah hasanah) yang diberi pahala bagi orang yang merayakannya. Karena bertujuan untuk mengagungkan kedudukan Nabi dan menampakkan rasa suka cita atas kelahiran yang mulia Nabi Muhammad Saw”.[13]

15. Al-Imam al-Hafidz asy-Syakhawi (831-902 H). Beliau menulis sebuah kitab Maulid berjudul al-Fakhr al-Ulwi fi al-Maulid an-Nabawi. Beliau juga mengatakan :

عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة، وإنما حدث بعد، ثم لا زال أهل الإسلام في سائر الأقطار والمدن الكبار يحتفلون في شهر مولده صلى الله عليه وسلم بعمل الولائم البديعة، المشتملة على الأمور البهجة الرفيعة، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات، ويظهرون السرور ويزيدون في المبرات، ويعتنون بقراءة مولده الكريم، ويظهر عليهم من بركاته كل فضل عميم

“ Praktek Maulid yang mulia tidak ada nukilannya dari seorang salaf pun di kurun-kurun utama. Sesungguhnya itu terjadinya setelahnya. Kemudian terus dilangsungkan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, baik desa maupun kota di dalam merayakan maulid di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan resepsi yang megah yang terdiri dari perkara-perkara mewah. Mereka bersedekah di malam-malamnya dengan berbagai macam sedekah, menampakkan kebahagiaan dan meningkatkan kebaikan, memperhatikan dengan membaca kelahiran Nabi Mulia, dan nampaklah atas mereka keberkaharan Nabi yang menyeluruh “.[14]

16. Al-Allamah syaikh Muhamamd bin Umar al-Hadhrami ( W 930 H). Beliau mengatakan :

فحقيقٌ بيومٍ كانَ فيه وجودُ المصطفى صلى الله عليه وسلم أَنْ يُتَّخذَ عيدًا، وخَليقٌ بوقتٍ أَسفرتْ فيه غُرَّتُهُ أن يُعقَد طالِعًا سعيدًا، فاتَّقوا اللهَ عبادَ الله، واحذروا عواقبَ الذُّنوب، وتقرَّبوا إلى الله تعالى بتعظيمِ شأن هذا النَّبيِّ المحبوب، واعرِفوا حُرمتَهُ عندَ علاّم الغيوب، “ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“ Sungguh layak satu hari dimana Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan untuk dijadikan ‘id. Dan pantas munculnya waktu keberuntungan. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai hamba Allah, berhati-hatilah dari kesudahan dosa, bertaqarrublah kepada Allah dengan pengagungan kepada Nabi yang tercinta ini. Kenalilah kehormatannya di sisi Allah yang Maha Gaib “ Demikian itu barangsiapa yang mengagungkan kehormatan Allah maka itu termasuk tanda taqwa dalam hati “.[15]

17. al-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami (W 975 H). beliau mengatakan :

والحاصل أن البدعة الحسنة متفق على ندبها وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك أي بدعة حسنة

“ Kesimpulannya bahwa bid’ah hasanah sepakat atas kanjurannya, dan amalan Maulid serta berkumpulnya manusia untuknya demikiannya juga dinilai bid’ah hasanah “[16]

18. al-Imam asy-Syihab Ahmad al-Qasthalani (). Beliau mengatakan :

ولازال أهل الاسلام يحتفلون بشهر مولده عليه السلام ، ويعملون الولائم ، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات ، ويظهرون السرر ويزيدون في المبرّات ويعتنون بقراءة مولده الكريم ، ويظهر عليهم من بركاته كلّ فضل عميم

“ Kemudian terus dilangsungkan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, baik desa maupun kota di dalam merayakan maulid di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan resepsi yang megah yang terdiri dari perkara-perkara mewah. Mereka bersedekah di malam-malamnya dengan berbagai macam sedekah, menampakkan kebahagiaan dan meningkatkan kebaikan, memperhatikan dengan membaca kelahiran Nabi Mulia, dan nampaklah atas mereka keberkaharan Nabi yang menyeluruh “.[17]

19. al-Imam az-Zarqani. Beliau menukilkan ucapan al-Hafidz al-Iraqi :

إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وآله وسلم في هذا الشهر الشريف ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجبة

“ Sesungguhnya membuat resepsi dan memberikan makanan itu dianjurkan di setiap waktu, lalu bagaimana jika terkumpul dengan kebahagiaan dan kesenangan dengan tampaknya cahaya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di bulan mulia ini. Status kebid’ahannya tidak mengharuskannya menjadi makruh, berpa banyak yang bid’ah itu mustahab (dianjurkan) bahkan kadang menjadi wajib “.[18]

20. al-Imam al-Hafidz Wajihuddin bin Ali bin ad-Diba’ asy-Syaibani (866-944 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang cukup tekenal yaitu Maulid ad-Diba’i

21. al-Hafidz Mulla Ali al-Qari (W 1014 H). Asy-Syaukani mengatakan tentangnya :

أحد مشاهير الأعلام ومشاهير أولي الحفظ والإفهام وقد صنف في مولد الرسول{ صلى الله عليه وآله وسلم }كتابا قال صاحب اكشف الظنون اسمه (المورد الروي في المولد النبوي

“ Salah satu ulama termasyhur, memiliki hafalan dan pemahaman kuat, beliau telah menulis sebuah karya tulis tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dikatakan oleh shahi Kasyf dz-dzunun dengan sebutan “ al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid –an-Nabawi “[19]

22. al-Imam Ibnu Abidin al-Hanafi. Seorang ulama yang ucapannya dipegang dalam Madzhab Hanafi. Beliau mengtakan ketika menysarah kitab Maulid Ibnu Hajar :

اعلم أن من البدع المحمودة عمل المولد الشريف من الشهر الذي ولد فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم

“ Ketahuilah, sesungguhnya termasuk bid’ah terpuji adalah praktek Maulid Nabi yang mulia di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “.

23. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Beliuu mengatakan :

والاستماع إلى صوت حسن في احتفالات المولد النبوي أو أية مناسبة دينية أخرى في تاريخنا لهو مما يدخل الطمأنينة إلى القلوب ويعطي السامع نوراً من النبي – صلى الله عليه وسلم – إلى قلبه ويسقيه مزيداً من العين المحمدية

“ Mendengarkan suara indah di dalam peringatan-peringatan Maulid Nabi atau ayat yang sesuai agama yang bersifat ukhrawi di dalam sejerah kami adalah termasuk menumbuhkan ketenangan dalam hati, dan akan memberikan cahaya dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam kepada pendengarnya ke hatinya dan mencurahkan tambahan dari sumber Muhammadiyyahnya “[20]

24. al-Imam al-Hafidz al-Munawi. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ Maulid al-Munawi “, silakan lihat kitab al-Barahin al-Jaliyyah halaman 36.

25. al-Imam Muhammad ‘Alyasy al-Maliki. Beliau memiliki kitab berjudul “ al-Qaul al-Munji fi Maulid al-Barzanji “.

26. Ibnul Hajj. Beliau mengatakan :

فكان يجب أن نزداد يوم الاثنين الثاني عشر في ربيع الأول من العبادات والخير شكرا للمولى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وأعظمها ميلاد المصطفى صلى الله عليه وآله وسلم

“ Maka suatu hal yang wajib bagi kita di hari senin 12 Rabul Awwal lebih meningkatkan berbagai macam ibadah dan kebaikan sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah menganugerahi nikmat-nikmat agung ini, dan yang paling agungnya adalah kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “.[21]

27. al-Imam al-Khathib asy-Syarbini. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maulid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi “.

28. al-Imam Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri. Beliau memiliki kitab maulid berjudul “ Tuhfah al-Basyar fi Maulid Ibnu Hajar “

.

29. al-Hafidz asy-Syarif al-Kattani. Beliau memiliki kitab maulid berjudul “ al-Yumnu wa al-Is’ad bi Maulid Khairil Ibad “.

Dan masih banyak lagi ratusan ulama lainnya yang tidak kami sebutkan di sini misalnya, syaikh Musthofa bin Muhammad al-Afifi, syiakh Ibrahim bin Jama’ah al-Hamawi, Abu Bakar bin Muhammad al-Habasyi yang wafat tahun 930 Hijriyyah, syaikh al-Barzanji, syaikh Ibnu Udzari, syaikh al-Marakisyi, syaikh Abdushsomad bin at-Tihami, syaikh Abdul Qadir bin Muhammad, syaikh Muhammad al-Hajuji, syaikh Ahmad ash-Shanhaji, al-Imam Marzuqi, al-Imam an-Nahrawi, syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan dan lainnya.

[1] Ar-Roudhatain fii Akhbar ad-Daulatain, Abu Syamah, pada fashal (bab) : Hawadits (peristiwa) tahun 566 H.

[2] Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi : 20 / 532

[3] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir : 13/ 136

[4] Al-Baits ‘ala inkaril bida’ wal-Hawadits : 23

[5] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/27

[6] Tabshir al-Muntabih : 1/253

[7] Al-A’lam : 5 / 223

[8] Al-Mi’yar al-Mu’rib wa al-Jami’ al-Mughrib ‘an Fatawa ahli Afriqiyyah wal Maghrib : 11/278

[9] Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar : 3 / 167

[10] Syarh al-Mawahib al-Laduniyyah :

[11] Al-Hawi lil Fatawi : 229

[12] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/27

[13] Al-Hawi lil Fatawa, as-Suyuthi : 1/189

[14] Al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, Mulla Ali al-Qari : 12, bisa juga lihat di as-Sirah al-Halabiyyah : 1/83

[15] Hadaiq al-Anwar wa Mathali’ al-Asrar fi sirati an-Nabi al-Mukhtar : 53

[16] Al-Fatawa al-Hadtisiyyah : 202

[17] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/148

[18] Syarh al-Mawahib al-Laduniyyah :

[19] Al-Badr ath-Thali’ :

[20] Madarij as-Salikin : 498

[21] Al-Madkhal : 1/361

Sumber: ASWJ Research Group

10 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Sejarah Awal Mula Perayaan Maulid Nabi | Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group

Sejarah Awal Mula Perayaan Maulid Nabi sekaligus menjawab tuduhan meteka yang mengingkarinya.

Para pengingkar maulid Nabi yakni wahabi-salafi di bulan mulia ini yakni Rabiul Awwal, mereka seperti cacing kepanasan yang ditaburi garam. Mereka teriak susah karenanya banyaknya kaum muslimin yang melakukan perayaan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Saya jadi teringat ucapan Ibn Mukhlid dalam tafsirnya berikut ini :

أن إبليس رن أربع رنات: رنة حين لعن، ورنة حين أهبط الى الأرض، ورنة حين ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم، ورنة حين أنزلت فاتحة الكتاب

“ Sesungguhnya Iblis berteriak sambil menangis pada empat kejadian : pertama ketika ia dilaknat oleh Allah, Kedua ketika ia diusir ke bumi, ketiga ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan dan keempat ketika surat al-Fatehah diturunkan “.[1]

Dan wahabi-salafi, tanpa sadar mereka telah mengikuti sunnah Iblis dengan teriak susah ketika tiba hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam ini.

Kali ini kami akan menulis bantahan ilmiyyah atas dusta wahabi-salafi yang menuduh bahwa Maulid pertama kali diadakan oleh Syi’ah Fathimiyyun. Kami juga akan membongkar kecurangan mereka dengan menggunting ucapan syaikh al-Maqrizi terhadap teks yang menampilkan keagungan perayaan Maulid Nabi yang diselerenggarakan para raja yang adil dan para ulama besar dari kalangan empat madzhab. Tidak sedikit artikel wahabi yang mengcopy paste dusta tersebut termasuk syaikh al-Fauzan dalam fatwanya. Berikut salah satu artikel dusta wahabi di : http://artikelassunnah.blogspot.com/2012/01/ternyata-maulid-nabi-berasal-dari-syiah.html

Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau.

Perlu diketahui pula bahwa -menurut pakar sejarah yang terpercaya-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini.

Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146)

Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.

Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al Maulid, hal. 20)

Jawaban kami :

Pernyataan di atas tidak benar sama sekali. Dan jauh dari fakta kebenarannya…

Pertama : Memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi sudah ada sejak masa Nabi shallahhu ‘alaihi wa sallam sendiri. Yakni dari segi mengagungkan hari di mana Nabi dilahirkan dengan melakukan suatu ibadah yaitu berpuasa.

Ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab :

ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت اوانزل علي فيه

“ Hari itu hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku “ (HR. Muslim)

Ini merupakan dalil nyata bolehnya memperingati hari kelahiran (maulid) beliau yang saat itu dirayakan oleh Nabi dengan salah satu macam ibadah yaitu berpuasa. Dan ini merupakan fakta bahwa beliaulah pertama kali yang mengangungkan hari kelahirannya sendiri dengan berpuasa. Maka mengagungkan hari di mana beliau dilahirkan merupakan sebuah sunnah yang telah Nabi contohkan sendiri. Ini asal dan esensi dari acara maulid Nabi.

Kedua : Merayakan, mengagungkan dan memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi dengan berbagai cara dan program sudah sejak lama diikuti oleh para ulama dan raja-raja yang shalih. Kita kupas sejarahnya di sini :

1. Ibnu Jubair seorang Rohalah[2] (lahir pada tahun 540 H) mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Rihal :

يفتح هذا المكان المبارك أي منزل النبي صلى الله عليه وسلم ويدخله جميع الرجال للتبرّك به في كل يوم اثنين من شهر ربيع الأول ففي هذا اليوم وذاك الشهر ولد النبي صلى الله عليه وسلم

“ Tempat yang penuh berkah ini dibuka yakni rumah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, dan semua laki-laki memasukinya untuk mengambil berkah dengannya di setiap hari senin dari bulan Rabi’ul Awwal. Di hari dan bulan inilah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan “[3]

Dari sini sudah jelas bahwa saat itu perayaan maulid Nabi merupakan sudah menjadi tradisi kaum muslimin di Makkah sebelum kedatangan Ibnu Jubair di Makkah dan Madinah dengan acara yang berbeda yaitu membuka rumah Nabi untuk umum agar mendapat berkah dengannya. Ibnu Jubair masuk ke kota Makkah tanggal 16 Syawwal tahun 579 Hijriyyah. Menetap di sana selama delapan bulan dan meninggalkan kota Makkah hari Kamis tanggal 22 bulan Dzul Hijjah tahun 579 H, dengan menuju ke kota Madinah al-Munawwarah dan menetap selama 5 hari saja.

2. Syaikh Umar al-Mulla seorang syaikh yang shalih yang wafat pada tahun 570 H, dan shulthan Nuruddin Zanki seorang pentakluk pasukan salib. Kita simak penuturan syaikh Abu Syamah (guru imam Nawawi) tentang dua tokoh besar di atas :

قال العماد: وكان بالموصل رجل صالح يعرف بعمر الملاَّ، سمى بذلك لأنه كان يملأ تنانير الجص بأجرة يتقوَّت بها، وكل ما عليه من قميص ورداء، وكسوة وكساء، قد ملكه سواه واستعاره، فلا يملك ثوبه ولا إزاره. وكن له شئ فوهبه لأحد مريديه، وهو يتجر لنفسه فيه، فإذا جاءه ضيف قراه ذلك المريد. وكان ذا معرفة بأحكام القرآن والأحاديث النبوية.كان العلماء والفقهاء، والملوك والأمراء، يزورونه في زاويته، ويتبركون بهمته، ويتيمنَّون ببركته. وله كل سنة دعوة يحتفل بها في أيام مولد رسول الله صلى الله عليه وسلم يحضره فيها صاحب الموصل، ويحضر الشعراء وينشدون مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم في المحفل. وكان نور الدين من أخص محبيه يستشيرونه في حضوره، ويكاتبه في مصالح أموره

“ al-‘Ammad mengatakan , “ Di Mosol ada seorang yang shalih yang dikenal dengan sebutan Umar al-Mulla, disebut dengan al-Mulla sebab konon beliau suka memenuhi (mala-a) ongkos para pembuat dapur api sebagai biaya makan sehari-harinya, dan semua apa yang ia miliki berupa gamis, selendang, pakaian, selimut, sudah dimiliki dan dipinjam oleh orang lain, maka beliau sama sekali tidak pakaian dan sarungnya. Jika beliau memiliki sesuatu, maka beliau memberikannya kepada salah satu muridnya, dan beliau menyewa sesuatu itu untuknya, maka jika ada tamu yang datang, murid itulah yang menjamunya. Beliau seorang yang memiliki pengetahuan tentang hokum-hukum al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Para ulama, ahli fiqih, raja dan penguasa sering menziarahi beliau di padepokannya, mengambil berkah dengan sifat kesemangatannya, mengharap keberkahan dengannya. Dan beliau setiap tahunnya mengadakan peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri juga oleh raja Mosol. Para penyair pun juga datang menyenandungkan pujian-pujian kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di perayaan tersebut. Shulthan Nuruddin adalah salah seorang pecintanya yang merasa senang dan bahagia dengan menghadiri perayaan maulid tersebut dan selalu berkorespondesi dalam kemaslahatan setiap urusannya “.[4]

Ini juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tarikh pada bab Hawadits 566 H. al-Hafidz adz-Dzahabi mengatakan tentang syaikh Umar ash-Shalih ini : “

وقد كتب الشيخ الزاهد عمر الملاّ الموصلي كتاباً إلى ابن الصابوني هذا يطلب منه الدعاء

“ Dan sungguh telah menulis syaikh yang zuhud yaitu Umar al-Mulla al-Mushili sebuah tulisan kepada Ibnu ash-Shabuni, “ Ini orang meminta ddoa darinya “.[5]

Adz-Dzahabi dalam kitab lainnya juga mengatakan :

وكان ذلك تحت إمرة الملك العادل السُّنِّيِّ نور الدين محمود زنْكِي الذي أجمع المؤرخون على ديانته وحسن سيرته، وهو الذي أباد الفاطميين بمصر واستأصلهم وقهر الدولة الرافضية بها وأظهر السنة وبني المدارس بحلب وحمص ودمشق وبعلبك وبنى المساجد والجوامع ودار الحديث

“ Beliau (syaikh Umar) di bawah kekuasaan raja yang adil yang sunni yaitu Nuruddin Mahmud Zanki, yang para sejarawan telah ijma’ (konsesus/sepakat) atas kebaikan agama dan kehidupannya. Beliaulah yang telah memusnahkan dinasti Fathimiyyun di Mesir sampai ke akar-akarnya, menghancurkan kekuasaan Rafidhah. Menampakkan (menzahirkan) sunnah, membangun madrasah-madrasah di Halb, Hamsh, Damasqus dan Ba’labak, juga membangun masjid-masjid Jami’ dan pesantren hadits “[6]

Al-Hafidz Ibnu Katsir menceritakan sosok raja Nuruddin Zanki sebagai berikut :

أنّه كان يقوم في أحكامه بالمَعدلَةِ الحسنة وإتّباع الشرع المطهّر وأنّه أظهر ببلاده السنّة وأمات البدعة وأنّه كان كثير المطالعة للكتب الدينية متّبعًا للآثار النبوية صحيح الاعتقاد قمع المناكير وأهلها ورفع العلم والشرع

“ Beliau adalah seorang raja yang menegakkan hokum-hukumnya dengan keadilan yang baik dan mengikuti syare’at yang suci. Beliau menampakkan sunnah dan mematikan bid’ah di negerinya. Beliau seorang yang banyak belajar kitab-kitab agama, pengikut sunnah-sunnah Nabi, akidahnya sahih, pemusnah kemungkaran dan pelakuknya, pengangkat ilmu dan syare’at “.[7]

Ibnu Atsir juga mengatakan :

طالعت سِيَرَ الملوك المتقدمين فلم أر فيها بعد الخلفاء الراشدين وعمر بن عبد العزيز أحسن من سيرته, قال: وكان يعظم الشريعة ويقف عند أحكامها

“ Aku telah mengkaji sejarah-sejarah kehidupan para raja terdahulu, maka aku tidak melihat setelah khalifah rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz yang lebih baik dari sejarah kehidupannya (Nurruddin Zanki). Beliau pengangung syare’at dan tegak di dalam hokum-hukumnya “.[8]

Pertanyaan buat para pengingkar Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

Jika seandainya Maulid Nabi itu bid’ah dholalah yang sesat dan pelakunya disebut mubtadi’ (pelaku bid’ah) dan terancam masuk neraka, apakah anda akan mengatakan bahwa syaikh Umar al-Mulla dan raja yang adil Nuruddin Zanki adalah orang-orang pelaku bid’ah dan terancam masuk neraka ?? padahal para ulama sejarawan sepakat (ijma’) bahwa syaikh Umar adalah orang shalih dan zuhud, raja Nuruddin adalah raja yang adil, berakidah sahih, pecinta sunnah bahkan menampakkanya dan juga pemusnah bid’ah di negerinnya, sebagaimana telah saya buktikan faktanya di atas…

Bagaimana mungkin para ulama sejarawan di atas, mengatakan penzahir (penampak) sunnah Nabi dan pemusnah bid’ah jika ternyata pengamal Maulid Nabi yang kalian anggap bid’ah sesat ?? ini bukti bahwa Maulid Nabi bukanlah bid’ah. Renungkanlah hal ini wahai para pengingkar Maulid Nabi…

3. Kemudian berlanjut perayaan tersebut yang dilakukan oleh seorang raja shaleh yaitu raja al-Mudzaffar penguasa Irbil, seorang raja orang yang pertama kali merayakan peringatan maulid Nabi dengan program yang teratur dan tertib dan meriah. Beliau seorang yang berakidahkan Ahlus sunnah wal jama’ah.

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :

ابن زين الدين علي بن تبكتكين أحد الاجواد والسادات الكبراء والملوك الامجاد له آثار حسنة…. وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه وقد صنف الشيخ أبو الخطاب ابن دحية له مجلدا في المولد النبوي سماه التنوير في مولد البشير النذير فأجازه على ذلك بألف دينار وقد طالت مدته في الملك في زمان الدولة الصلاحية وقد كان محاصر عكا وإلى هذه السنة محمود السيرة والسريرة قال السبط حكى بعض من حضر سماط المظفر في بعض الموالد كان يمد في ذلك السماط خمسة آلاف راس مشوى وعشرة آلاف دجاجة ومائة ألف زبدية وثلاثين ألف صحن حلوى

“ Beliau adalah putra Zainuddin Ali bin Tabkitkabin salah seorang tokoh besar dan pemimpin yang agung. Beliau memiliki sejarah hidup yang baik. Beliau yang memakmurkan masjid al-Mudzhaffari….dan beliau konon mengadakan acara Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabiul Awwal, dan merayakannya dengan perayaan yang meriah, dan beliau adalah seorang raja yang cerdas, pemberani, perkasa, berakal, alim dan adil –semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya- syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah telah mengarang kitab berjilid-jilid tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dinamakannya “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “, lalu diberikan balasan atas usaha itu oleh raja sebesar seribu dinar. Masa kerajaannya begitu panjang di zaman Daulah shalahiyyah. Beliau pernah mengepung negeri ‘Ukaa. Di tahun ini beliau baik kehidupannya lahir dan bathin. As-Sibth mengatakan, “ Seorang yang menghadiri kegiatan raja al-Mudzaffar pada beberapa acara maulidnya mengatakan, “ Beliau pada perayaan maulidnya itu menyediakan 5000 kepala kambing yang dipanggang, 10.000 ayam panggang, 100.000 mangkok besar (yang berisi buah-buahan), dam 30.000 piring berisi manisan “.[9]

Adz-Dzahabi juga mengatakan tentang sifat-sifat beliau :

وَكَانَ مُتَوَاضِعاً، خَيِّراً، سُنِّيّاً، يُحبّ الفُقَهَاء وَالمُحَدِّثِيْنَ، وَرُبَّمَا أَعْطَى الشُّعَرَاء، وَمَا نُقِلَ أَنَّهُ انْهَزَم فِي حرب

“ Beliau adalah orang yang rendah hati, sangat baik, seorang yang berakidahkan Ahlus sunnah, pecinta para ahli fiqih dan hadits, terkadang suka memberi hadiah kepada para penyair, dan tidak dinukilkan bahwa beliau kalah dalam pertempuran “[10]

Pertanyaan buat para pengingkar Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

Adakah para ulama sejarawan di atas menyebutkan raja Mudzaffar adalah seorang pelaku bid’ah dholalah karena melakukan perayaan Maulid Nabi ?? justru mereka menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja adil, rendah hati, pemberani dan berakidahkan Ahlus sunnah. Renungkanlah hal ini wahai wahabi…

Ketiga : Seandainya Fathimiiyun juga membuat perayaan Maulid Nabi sebagaimana para pendahulu kami, maka hal ini bukanlah suatu keburukan karena kami hanya menolak kebathilan para pelaku bid’ah dholalah, bukan menolak kebenaran mereka yang sesuai dengan Ahlus sunnah.

Keempat : Wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan mengunting teks (nash) dari al-Maqrizi. Mereka tidak menampilkan redaksi atau teks berikutnya yang dinyatakan oleh al-Maqrizi dalam kitabnya tersebut. Lebih lanjutnya beliau menceritkan bahwasanya para khalifah muslimin, mengadakan perayaan maulid yang dihadiri oleh para qadhi dari kalangan empat madzhab dan para ulama yang masyhur, berikut redaksinya yang disembunyikan dan tidak berani ditampilkan wahabi :

فلما كانت أيام الظاهر برقوق عمل المولد النبويّ بهذا الحوض في أوّل ليلة جمعة من شهر ربيع الأول في كلّ عام فإذا كان وقت ذلك ضربت خيمة عظيمة بهذا الحوض وجلس السلطان وعن يمينه شيخ الإسلام سراج الدين عمر بن رسلان بن نصر البلقيني ويليه الشيخ المعتقد إبراهيم برهان الدين بن محمد بن بهادر بن أحمد بن رفاعة المغربيّ ويليه ولد شيخ الإسلام ومن دونه وعن يسار السلطان الشيخ أبو عبد الله محمد بن سلامة التوزريّ المغربيّ ويليه قضاة القضاة الأربعة وشيوخ العلم ويجلس الأمراء على بعد من السلطان فإذا فرغ القراء من قراءة القرآن الكريم قام المنشدون واحدًا بعد واحد وهم يزيدون على عشرين منشدًا فيدفع لكل واحد منهم صرّة فيها أربعمائة درهم فضة ومن كلّ أمير من أمراء الدولة شقة حرير فإذا انقضت صلاة المغرب مدّت أسمطة الأطعمة الفائقة فأكلت وحمل ما فيها ثم مدّت أسمطة الحلوى السكرية من الجواراشات والعقائد ونحوها فتُؤكل وتخطفها الفقهاء ثم يكون تكميل إنشاد المنشدين ووعظهم إلى نحو ثلث الليل فإذا فرغ المنشدون قام القضاة وانصرفوا وأقيم السماع بقية الليل واستمرّ ذلك مدّة أيامه ثم أيام ابنه الملك الناصر فرج

“ Maka ketika sudah pada hari-hari yang tampak dengan ruquq, diadakanlah perayaan Maulid Nabi di telaga ini pada setiap malam Jum’at bulan Rabiul Awwal di setiap tahunnya. Kemduian Shulthan duduk, dan di sebelah kanannya duduklah syaikh Islam Sirajuddin Umar bin Ruslan bin Nashr al-Balqini, di dekat beliau ada syaikh al-Mu’taqad Ibrahim Burhanuddin bin Muhammad bin Bahadir bin Ahmad bin Rifa’ah al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada putra syaikh Islam dan orang-orang selainnya, dan di sebelah kirinya ada syaikh Abu Abdillah bin Muhammad bin Sallamah at-Tuzari al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada para qadhi dari kalangan empat madzhab, dan para syaikh ilmu, juga para penguasa yang duduk sedikit jauh dari shulthan. Jika telah selesai membaca al-Quran, maka beridrilah para nasyid satu persatu membawakan sebuah nasyidah, mereka lebih dari 20 orang nasyid, masing-masing diberikan sekantong uang yang di dalamnya berisi 4000 ribu dirham perak. Dan bagi setiap amir daulah diberikan kaen sutra. Dan jika telah selesai sholat maghrib, maka dihidangkanlah hidangan makanan yang mewah yang dimakan oleh semuanya dan dibawa pulang. Kemduian dibeberkan juga hidangan manisan yang juga dimakan semuanya dan para ulama ahli fiqih. Kemduian disempurnakan dengan nasyid pada munsyid dan nasehat mereka sampai sepertiga malam. Dan jika para munsyid selasai, maka berdirilah para qadhi dan mereka kembali pulang. Dan diperdengarkan sebuah senandung pujian di sisa malam tersebut. Hal ini terus berlangsung di masanya dan masa-masa anaknya yaitu an-Nahsir Faraj “.[11]

Kisah yang sama ini juga diceritakan oleh seorang ulama pakar sejarah yaitu syaikh Jamaluddin Abul Mahasin bin Yusufi bin Taghribardi dalam kitab Tarikhnya “ an-Nujum az-Zahirah fii Muluk Mesir wal Qahirah “ pada juz 12 halaman 72.

Hal yang serupa juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar secara ringkas dalam kitabnya Anba al-Ghumar sebagai berikut :

وعمل المولد السلطاني المولد النبوي الشريف على العادة في اليوم الخامس عشر، فحضره البلقيني والتفهني وهما معزولان، وجلس القضاة المسفزون على اليمين وجلسنا على اليسار والمشايخ دونهم، واتفق أن السلطان كان صائما، فلما مد السماط جلس على العادة مع الناس إلى إن فرغوا، فلما دخل وقت المغرب صلوا ثم أحضرت سفرة لطيفة، فاكل هو ومن كان صائما من القضاة وغيرهم

“ Dan perayaan maulid shulthan yaitu Maulid Nabi yang Mulia seprti biasanya (tradisi) pada hari kelima belas, dihadiri oleh syaikh al-Balqini dan at-Tifhani, keduanya mantan qadhi. Para qadhi lainnya duduk di sebalah kanan beliau, dan kami serta para masyaikh duduk di sebelah kiri. Disepakati bahwa shulthan saat itu dalam keadaan puasa, maka ketika dibentangkanlah seprei makanan, beliau duduk seperti biasanya bersama prang-orang sampai selesai. Maka ketika masuk waktu maghrib, mereka sholat kemudian dihidangkanlah hidangan makanan yang lembut, maka beliau makan bersama orang-orang yang berpuasa dari para qadhi dan lainnya “[12]

Dengan ini jelas lah sudah bahwa wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan tidak menampilkan redaksi (teks) selanjutnya yang membicarakan perhatian para raja dan ulama besar terhadap perayaan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam saat itu. Ini merupakan tadlis, talbis dan penipuan besar di hadapan public…naudzu billah min dzaalik.

Kesimpulannya :

1. Perayaan Maulid Nabi, esensinya telah dicontohkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yaitu saat beliau mengangungkan dan memperingati hari kelahiran beliau dengan melakukan satu ibadah sunnah yaitu puasa. Maka pada hakekatnya perayaan Maulid Nabi adalah sunnah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Perayaan Maulid Nabi yang dilanjutkan dengan para raja yang adil dan para ulama yang terkenal adalah dalam rangka menghidupkan sunnah Nabi yaitu memperingati hari kelahiran Nabi, namun dengan metode dan cara yang berbeda yang berlandaskan syare’at seperti membaca al-Quran, bersholawat dan bersedekah. Metode ini sama sekali tidak bertentangan dengan syare’at Nabi.

3. Tuduhan wahabi bahwa yang melakukan Maulid pertama kali adalah dari Syi’ah Fathimiyyun adalah dusta belaka dan bertentangan dengan fakta kebenarannya.

4. Wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan menggunting dan tidak menampilkan teks al-Maqrizi yang menceritakan perhatian para raja adil dan ulama terkenal dari kalangan empat madzhab terhadap Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

Shofiyyah an-Nuuriyyah & Ibnu Abdillah Al-Katibiy

Kota Santri, 6 Rabiul Awwal 1435 H / 08-Januari-2014

[1] Ini disebutkan oleh syaikh Ibnu Muflih dari Ibn Mukhlid yang mengisahkan kisah ini dari Hasan al-Bashri. Bisa juga dilihat di kitab Syarh kitab Tauhid di : http://islamport.com/w/aqd/Web/1762/961.htm

[2] Seorang penjelaja tempat-tempat dan daerah-daerah jauh.

[3] Rihal, Ibnu Jubair : 114-115

[4] Ar-Roudhatain fii Akhbar ad-Daulatain, Abu Syamah, pada fashal (bab) : Hawadits (peristiwa) tahun 566 H.

[5] Tarikh al-Islam, adz-Dzahabi : 41 / 130

[6] Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi : 20 / 532

[7] Tarikh Ibnu Katsir : 12 / 278

[8] Tarikh Ibnu Atsir : 9 / 125

[9] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir : 13/ 136

[10] Siyar A’lam an-Nubala : 22 / 336

[11] Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar : 3 / 167

[12] Anba al-Ghumar : 2 / 562

10 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Penjelasan tentang sambutan Maulidur Rasul

Oleh: Raudhatul Muhibbin

Maulidur Rasul; “Orang yang bikin maulid nabi, memang itu tak ada dizaman Nabi, adakah yg tak ada dizaman Nabi, lalu dibuat selepas zaman Nabi dikatakan salah, atau bidaah disebabkan dengan dalil Nabi tak buat? Maka orang yang buat apa Nabi tak buat maka ianya bidaah?”

“Kita kena sepakat dahulu dengan dalilnya sebelum menghukum sesuatu dengan dalilnya.

Perkara yang ditinggalkan Nabi adalah tak bermaksud larangan. Apa yang Nabi tak buat, atau yang Nabi tinggalkan tak bererti dilarang untuk kita membuatnya. Contoh, Nabi solat tarawikh lalu Nabi tinggalkan. Lalu Nabi tak buat lagi sampai akhir hayat Nabi. Adakah dilarang solat tarawikh?”

“Rasulullah ﷺ melihat sahabat untuk makan dhob, lalu Nabi tak makan. Nabi tinggalkan, Adakah dhob bermakna tak boleh dimakan? Kata Nabi; “Apa yang aku perintahkan, tunaikan mengikut apa yang kamu mampu. Apa yang aku larang maka tinggalkan.”

“Yang Nabi tak buat, Nabi tak kata apa-apa pun. Berapa banyak dizaman sahabat apa yang tak dibuat Nabi, tapi dibuat oleh sahabat.

Al-Quran dibukukan dizaman Saidina Abu Bakar r.a, tak dibuat dizaman Rasulullah ﷺ, Al-Quran hurufnya dibariskan dizaman Uthman tak dibuat dizaman Rasulullah.”

“Maulid Nabi ﷺ, dibuat pertama kalinya pada Abad kelima, ketika itu sudah ada ramai kaum muslimin yang jauh daripada agama. Maka datang seseorang ulama yang nak tarik kembali ummat islam kepada Islam. Imam As-Suyuthi rah, menulis sebuah kitab dalil khas tentang maulid.”
“Nak menilai Maulid itu bukan dilihat dari namanya, tapi yang penting contentnya yakni pengisian didalamnya itu yang menjadi penilaiannya. Zaman kita sekarang, kalau golongan Si Fulan yang berda dalam gembira, kita sakit hati. Kerana hati kita problem. Hati gelap. Tak ada kasih sayang. Di zaman kita sekarang, nak bergembira dengan perkara-perkara yang baik, tak boleh. Bid’ah!”

“Suka-suka membidahkan orang. Lebih teruk lagi mengkafirkan orang. Nabi susah payah dakwah orang lain masuk islam, kamu senang-senang mengkafirkan orang lain. Tak boleh. Ini adalah bercanggah dengan Agama.
Nak bergembira dengan perkara yang baik, tak dibolehkan. Kaum Muslimin gembira dengan kemenangan mengalahkan Kaum Romawi. Disambut kemenangannya.”

“Kita ini mendapatkan hidayah kerana Rasulullah ﷺ. Kita mendapat ini Islam, perjuangan Rasulullah ﷺ. Tak boleh kita gembira di Hari Kelahiran Rasulullah ﷺ? Kita bergembira dengan Hari Kelahiran Rasulullah ﷺ 12 Rabi’ul Awwal nak menyebut Maulid Nabi ﷺ saja, bid’ah!?”

“Timbangan apa yang kamu gunakan? Timbangan neraca yang rosak, tak boleh nak menimbang sesuatu tepat pada tempatnya. Dalam masalah kegembiraan itu bukan Dzat gembiranya, akan tetapi motif kegembiraan itu apa sebabnya dan kedua cara apa yang kita gunakan untuk gembira?”

“Dua perkara penting, yang pertama Motif atau Sebab. Yang kedua, Bentuk kegembiraan itu bagaimana kita lakukannya? Kalau sebab kegembiraan anak kita berjaya,dapat 9A, atau baru balik daripada luar negara belajar, kita nak buat apa namanya? Kenduri kesyukuran.”

“Kalau kita buat satu Doa Keselamatan dengan tari-menari yang dilarang oleh Agama, dengan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah سبحانه وتعالى.ini gembira bukan pada tempatnya. Memang bercanggah dalam Syarak. Walaupun nak bergembira dengan anak balik berjaya adalah perkara yang menjadi kebanggaan dan kegembiraan khususnya pada ahli keluarga, silakan bergembira.”

“Gembira kita itu kerana sebagai simbol atau tanda ingin mensyukuri nikmat Allah سبحانه وتعالى.. Tapi cara mengungkapkan kegembiraan mesti ditimbang dengan Syarak.
Kita nak meraikan Maulid Nabi Muhammad ﷺ, baik atau tak baik? kita nak mengingati Sejarah, Sirah, Akhlak, Budi Pekerti RasuluLlah ﷺ. Didalamnya ada ilmu. Baik atau tak baik? Maka tak ada seorang pun akan berkata tak baik.”
“Kemudian cara kita nak mengungkapkannya macam mana?
Kita duduk didalam Masjid, kita Iqtikaf didalam Masjid, kita Selawat kepada Rasululllah ﷺ, kita berzikir kepada Allah سبحانه وتعالى. Ada penceramah yang berceramah menyampaikan ilmu. Baik atau tak baik?”

“Fadhilat iqtikaf dapat, silatuhrahmi dapat, kemudian dia dapat ilmu, dapat Selawat, Zikir pun dapat. Pahala pon dapat. Makanya, baik atau tak baik? Kita kalau tak nak buat baik, jangan dihalang orang lain nak buat baik. Jangan dihalang orang yang nak melakukan perkara yang baik. Kelak, kita akan ditanya oleh Allah سبحانه وتعالى kenapa halang orang nak buat baik?”

Daripada Sayyidil Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid.

8 December 2015 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

KITA APABILA SAKIT AKAN MENGELOH. TETAPI TAHUKAH ANDA HIKMAHNYA DISEBALIK SAKIT ITU?

Apabila Allah SWT memberi kita sakit, ia adalah sesuai dengan daya tahan kita sebagai hamba-Nya, dan antara hikmahnya :

1) Sakit itu Zikrullah.
Mereka yang diuji dengan sakit lebih sering menyebut nama Allah berbanding di waktu sihatnya.

2) Sakit itu Istighfar.
Kita akan mudah teringat akan dosa kita ketika sakit sehingga mudah bibir untuk beristighfar memohon ampun.

3) Sakit itu Muhasabah.
Orang yang sakit akan lebih banyak waktu utk merenung diri dalam sepi dan menghitung bekal untuk dibawa apabila kembali ke rahmatullah.

4) Sakit itu Jihad.
Orang yang sakit tidak boleh menyerah kalah, diwajibkan untuk berikhtiar sedaya upaya agar cepat sembuh.

5) Sakit itu Ilmu.
Sakit akan membuat kita mencari ilmu spt belajar tentang khasiat herba, menghafal ayat syifa’, ruqiyyah dll sbg penawar dan pendinding dari sakit. Pengalamannya pula lebih menyediakan kita untuk mencorak hidup yg boleh mengelakkan berulangnya penyakit itu. Dan, berkongsi pengalaman ini dengan orang lain.

6) Sakit itu Nasihat.
Mereka yang sakit selalu suka menasihati yang sihat agar mjaga diri. Yang sihat pula menasihati yang sakit agar bersabar.

7) Sakit itu Silaturrahim
Ahli keluarga, sahabat dan jamaah yang jarang berjumpa akan datang menziarahi, penuh senyum, rindu mesra dan dengan buah tangan lagi.

8) Sakit itu Gugur Dosa.
Anggota badan yg sakit akan mendapat penyucian daripada dosa yg telah dilakukan.

9) Sakit itu Mustajab Doa.
Orang yang sakit mustajab doanya. Imam As-Suyuthi mengelilingi kota mencari orang yang sakit agar dapat mendoakannya.

10) Sakit itu Menyusahkan Syaitan.
Orang yang sakit apabila diajak maksiat tak mahu dan tak mampu, malah disesalinya.

11) Sakit itu sedikit tertawa dan banyak menangis.
Satu sikap keinsafan yang di sukai oleh Anbiya’ dan makhluk di langit.

12) Sakit meningkatkan kualiti ibadah.
Solat orang sakit lebih khusyuk terutama dalam rukuk dan sujudnya apabila ia banyak bertasbih dan beristghfar, berdoa n meminta ampun agar sakitnya segera sembuh.

13) Sakit itu memperbaiki akhlak.
Kesombongan terkikis. Sifat tamak dipaksa tunduk. Peribadi akan menjadi santun, lembut dan tawadhu’.
14) Sakit mengingatkan kita akan Mati
Membuatkan kita sentiasa beringat untuk lebih beramal dan beribadat.
Ayuh Zikir, Fikir, Syukur & Sabar.

Semoga kita mendapat rahmat dan keampunan daripada Allah s.w.t.

(Bahagian Dakwah, JAKIM)

8 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Berkirim Salam Kepada Junjungan SAW

Telah sampai kepada ese akan perkataan seorang ustaz yang menyalahkan perbuatan sebahagian umat berkirim salam kepada Junjungan Nabi SAW melalui jemaah haji / umrah.

Menurut beliau perbuatan tersebut adalah satu amalan yang salah dan menyeleweng, yang tiada sandaran sama sekali daripada para ulama yang muktabar. Allahu … Allah, alangkah baik jika sekiranya kita sebelum mengeluarkan pendapat dan/atau fatwa sedemikian, mentelaah dahulu kitab – kitab turats para ulama. Mungkin juga beliau hanya menelan bulat – bulat fatwa ulama Nejd yang menyalahkan amalan tersebut, tanpa mengambil kira pandangan dan fatwa para ulama lain.

Sebenarnya, tiada kesalahan untuk seseorang menyampaikan salam atau berkirim salam kepada Junjungan Nabi SAW melalui orang lain yang menziarahi makam baginda di kota suci Madinah al-Munawwarah.

Qadhi Iyadh al-Yahshubi rahimahullah dalam kitab beliau yang masyhur, “asy-Syifaa` bi ta’riifi huquuqil Musthafa” pada juzuk ke-2 halaman 85 menyatakan:-
“Daripada Yazid bin Abi Sa`id al-Mahriy yang berkata: “Aku telah datang mengadap Khalifah ‘Umar bin `Abdul `Aziz, ketika hendak pulang, beliau berkata kepadaku: “Aku mempunyai satu hajat daripadamu, apabila engkau datang ke Madinah dan menziarahi kubur Nabi SAW maka ucapkanlah kepada baginda salam daripadaku.” Dalam riwayat daripada orang lain dinyatakan bahawa Khalifah `Umar mengutus salamnya kepada Nabi SAW melalui surat yang baginda hantar dari Syam.”

Oleh itu, tidaklah menjadi sesuatu yang pelik jika amalan berkirim salam kepada Junjungan Nabi SAW ini dibenarkan oleh para ulama kita.

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab “al-Idhah fi manaasikil hajj wal `umrah” pada halaman 453 menyatakan:-
“Kemudian, jika seseorang berpesan kepadanya (yakni berpesan kepada si penziarah) untuk menyampaikan salam kepada Junjungan Rasulullah SAW, maka disampaikannya dengan mengucapkan: “as-Salamu ‘Alaika, ya RasulAllah min fulanibni fulan” (Salam kesejahteraan atasmu wahai Utusan Allah daripada si fulan anak si fulan ) atau “Fulanubnu fulan yusallim ‘alaika, ya RasulAllah” (Si fulan anak si fulan mengucap salam kepadamu, wahai Utusan Allah) atau dengan ucapan lain yang seumpamanya.”

Menurut Syaikh `Abdul Fattaah bin Husain bin Ismail bin Muhammad Thayyib Rawah al-Makki (1334H – 1425H) rahimahullah dalam “al-Ifshaah ‘ala masaail al-Iidhaah”, hukum menyampaikan kiriman salam yang dipesankan seseorang kepada Junjungan Nabi SAW adalah sunnat sahaja kerana tujuan berkirim salam tersebut adalah semata-mata untuk bertabarruk dengan Junjungan Nabi SAW.

Maulana Zakaria al-Kandahlawi rahimahullah dalam karya beliau yang diterjemahkan dengan jodol “Fadhilat Haji” pada halaman 204 – 205 menyebut:-
” ……., mungkin seorang lain yang telah menyuruh kamu untuk menyampaikan salamnya kepada Rasulullah SAW. Dengan demikian sampaikan salam secara demikian: (Salam ke atasmu ya Rasulullah, daripada orang ini bin orang ini yang memohon syafaatmu dengan Allah bagi pihaknya)

Jika ini menjadi satu kesukaran untuk diucapkan di dalam bahasa Arab, maka lakukanlah di dalam bahasa Urdu atau di dalam bahasamu sendiri. Imam Zurqani (Zarqani) rahmatullah `alaihi berkata: “Jikalau seorang telah meminta kamu menyampaikan salam dan kamu telah menerimanya dan berjanji untuk melakukannya, maka ianya menjadi wajib untuk menyampaikan perutusannya kerana ia adalah seumpama memegang amanah yang diterimai oleh seseorang. Ithaaf menyatakan bahawa daripada kalangan orang – orang dahulu telah menjadi adat sejak beberapa kurun untuk mengutuskan salam mereka kepada Rasulullah SAW melalui perantaraan orang lain.

Sebenarnya setengah pemerintah – pemerintah pernah menghantar satu utusan khas yang bertugas menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW seperti Umar bin Abdul Aziz RA pernah lakukan.”

Oleh itu, memfatwakan bahawa amalan berkirim salam kepada Junjungan Nabi SAW melalui seseorang sebagai salah dan menyeleweng adalah fatwa yang gegabah.

Ini adalah kerana rata-rata ulama kita, Ahlus Sunnah wal Jamaah, membenarkannya. Di sisi sebahagian ulama, adalah menjadi kewajipan kepada orang yang dipesan untuk menyampaikan kiriman salam tersebut kepada Junjungan Nabi SAW, manakala sebahagian yang lain hanya menghukumkannya sebagai sunnat sahaja untuk disampaikan kepada Junjungan Nabi SAW.

Maka, kita boleh, bahkan digalakkan untuk mengucapkan sholawat dan salam ke atas Junjungan Nabi SAW di mana jua kita berada. Ucapan sholawat dan salam kita akan diberi ganjaran pahala daripada Allah SWT dan akan disampaikan kepada Junjungan Nabi SAW oleh Allah SWT melalui para malaikatNya, sebagaimana yang dinyatakan dalam beberapa hadits, antaranya hadits yang diriwayat oleh Imam Ahmad RA daripada Sayyidina Ibnu Mas`ud RA bahawa Junjungan Nabi SAW bersabda:-
إِنَّ لِلَّهِ مَلائِكَةً سَيَّاحِينِ فِي الأَرْضِ ، يُبَلِّغُونِي عَنْ أُمَّتِي السَّلامَ
“Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang ditugaskan berjalan ke serata pelusuk bumi untuk menyampaikan kepadaku salam umatku.”

Dan tiada juga halangan untuk kita mengutuskan salam kita kepada Junjungan Nabi SAW melalui para penziarah yang sejenis dengan kita, iaitu sama-sama keturunan Nabi Adam `alaihis salam, bahkan ianya juga dianjurkan sebagai sarana untuk kita bertabarruk dengan Junjungan Nabi SAW.

Namun bagi sesiapa yang tidak mahu beramal dengan amalan berkirim salam ini, maka tidak juga menjadi kesalahan, apa yang menjadi kesalahan ialah sikap suka menyalahkan amalan orang lain tanpa usul periksa.

Moga Allah sentiasa memberikan kita taufik dan hidayahNya agar kita tetap atas jalan orang – orang mukmin.

Sumber: Bharus Shofa

1 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) |