Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Melafazkan niat ini perkara khilaf, kenapa pula ada pihak yang nak membesar-besarkannya?

Melafazkan niat ini perkara khilaf, kenapa pula ada pihak yang nak membesar-besarkannya, malah lebih suka mengambil pendapat Ibnu Taimiyah dan menyembunyikan pandangan Ulama’ Muktabar yang lain.

Mari kita baca jawapan Kiayi Muhammad Idrus Ramli hafizahullah tentang melafazkan niat.

Melafalkan niat dalam ibadah termasuk masalah furu’iyah, yang diperselisihkan di kalangan ulama fuqaha, antara yang mengatakan sunnah dan tidak sunnah. Akan tetapi dari segi dalil, para ulama fuqaha yang mengatakan sunnah, memiliki dalil yang sangat kuat dan otoritatif. Sebelum menjelaskan dalil kesunnahan melafalkan niat dalam ibadah, ada baiknya kami paparkan terlebih dahulu, tentang pendapat para ulama fuqaha madzhab yang empat seputar melafalkan niat.

Ada tiga pendapat mengenai hukum melafalkan niat dalam ibadah.

Pertama, pendapat yang mengatakan sunnah, agar ucapan lidah dapat membantu memantapkan hati dalam niat ibadah. Pendapat ini diikuti oleh madzhab Hanafi dalam pendapat yang mukhtar, madzhab Syafi’i, dan madzhab Hanbali sesuai dengan kaedah madzhab. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Nujaim dalam al-Asybah wa al-Nazhair hal. 48, al-Imam al-Khathib al-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj juz 1 hal. 57, dan al-Imam al-Buhuti al-Hanbali dalam Kasysyaf al-Qina’ juz 1 hal. 87.

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa melafalkan niat dalam ibadah adalah makruh. Pendapat ini diikuti oleh sebagian ulama madzhab Hanafi dan sebagian ulama madzhab Hanbali. Hal ini juga diceritakan oleh Ibnu Nujaim dalam al-Asybah wa al-Nazhair hal. 48 dan al-Buhuti dalam Kasysyaf al-Qina’ juz 1 hal. 87.

Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa melafalkan niat dalam ibadah adalah boleh (mubah), akan tetapi sebaiknya ditinggalkan. Kecuali bagi orang yang waswas, maka melafalkan niat disunnahkan baginya, untuk menghilangkan keraguannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Arafah dalam Hasyiyah al-Dusuqi ‘ala al-Syarh al-Kabir juz 1 hal. 233-234 dan al-Shawi dalam al-Syarh al-Shaghir juz 1 hal. 304.

Demikian pendapat para ulama fuqaha madzhab empat tentang hukum melafalkan niat dalam ibadah.

Sedangkan dalil yang dijadikan dasar para ulama yang menganjurkan melafalkan niat dalam ibadah adalah hadits sebagai berikut ini:

عن أَنَسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحَجٍ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata (ketika akan menunaikan ibadah haji dan umrah): “Aku penuhi panggilan-Mu, untuk menunaikan ibadah umrah dan haji.” HR Muslim.

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalmam melafalkan niat dalam ibadah haji dan umrah. Apabila dalam satu ibadah, melafalkan niat itu dianjurkan, maka dalam ibadah lainnya juga dianjurkan, karena sama-sama ibadah. Dalam hadits lain juga diriwayatkan:

عَنْ عَائِشَة َأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمًا : هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ غَدَاءٍ ؟ قَالَتْ لَا ، قَالَ : فَإِنِّي إذَنْ أَصُومُ ، قَالَتْ : وَقَالَ لِي يَوْمًا آخَرَ أَعِنْدَكُمْ شَيْءٌ ؟ قُلْتُ نَعَمْ ، قَالَ : إذَنْ أُفْطِرُ وَإِنْ كُنْتُ فَرَضْتُ الصَّوْمَ ” رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيّ وَصَحَّحَ إسْنَادَهُ

“Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Apakah kalian mempunya makanan untuk sarapan?” Ia menjawab: “Tidak ada.” Lalu beliau bersabda: “Kalau begitu, aku berniat puasa.” Aisyah berkata: “Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Apakah kalian mempuanyai sesuatu (makanan)?” Aku menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, aku niat berbuka, meskipun tadi aku bermaksud puasa.” HR. al-Daraquthni dan ia menshahihkan sanadnya.”

Dalam hadits di atas, jelas sekali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melafalkan niatnya untuk menunaikan ibadah puasa. Dalam ibadah puasa, melafalkan niat disunnahkan, berarti dalam ibadah yang lain juga dianjurkan karena sama-sama ibadah.

Perlu diketahui, bahwa dalam niat puasa, tidak harus menggunakan redaksi nawaitu shauma ghadin (saya niat puasa besok), bahkan boleh juga dengan redaksi ashumu ghadan (aku niat puasa besok) atau inni sha’imun ghadan (sungguh aku puasa besok). Demikian pula, dalam niat shalat, tidak harus dengan redaksi ushalli (saya niat shalat), akan tetapi boleh dengan redaksi nawaitu shalatal ‘ashri (saya niat shalat ashar) dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kitab-kitab fiqih Syafi’iyah.

Sekarang, apabila melafalkan niat dalam ibadah shalat dan wudhu’, disunnahkan karena diqiyaskan dengan ibadah haji dan puasa, lalu bagaimana dengan pernyataan sebagian kalangan Wahabi yang mengharamkan dan membid’ahkan melafalkan niat dengan alasan kaedah la qiyasa fil ‘ibadat (tidak boleh menggunakan qiyas dalam hal ibadah)? Tentu saja kaedah la qiyasa fil ‘ibadat tersebut tidak benar dan bertentangan dengan penerapan para ulama salaf terhadap dalil qiyas.

Ketika qiyas itu diakui sebagai salah satu dalil dalam pengambilan hukum Islam, maka penerapannya bersifat umum, termasuk dalam bab ibadah. Oleh karena itu, kita dapati para ulama salaf sejak generasi sahabat melakukan qiyas dalam hal ibadah. Misalnya, al-Imam al-Hafizh Nuruddin al-Haitsami meriwayatkan dalam kitabnya Majma’ al-Zawaid, bahwa sebagian sahabat seperti Anas bin Malik menunaikan shalat sunnah 4 raka’at sebelum shalat ‘id. Sementara sahabat Ibnu Mas’ud menunaikan shalat sunnah sesudah shalat ‘id empat raka’at. Padahal dalam kitab tersebut juga diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukan dan tidak menganjurkannya. Hal ini mereka lakukan karena diqiyaskan dengan shalat maktubah, yang memiliki shalat sunnah rawatib, sebelum dan sesudahnya.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali, madzhab resmi Wahabi Saudi Arabia, juga melakukan qiyas dalam hal ibadah. Al-Imam Ibnu Nashr al-Marwazi meriwayatkan:

وَسُئِلَ أَحْمَد ُعَنِ الْقُنُوْتِ فِي الْوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَمْ بَعْدَهُ وَهَلْ تُرْفَعُ اْلأَيْدِي فِي الدُّعَاءِ فِي الْوِتْرِ؟ فَقَالَ: اَلْقُنُوْتُ بَعْدَ الرُّكُوْعِ وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ وَذَلِكَ عَلىَ قِيَاسِ فِعْلِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقُنُوْتِ فِي الْغَدَاةِ.

“Al-Imam Ahmad ditanya tentang qunut dalam shalat witir, sebelum ruku’ atau sesudahnya, dan apakah dengan mengangkat tangan dalam doa ketika shalat witir?” Beliau menjawab: “Qunut dilakukan setelah ruku’, dan mengangkat kedua tangannya ketika berdoa. Demikian ini diqiyaskan pada perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam qunut shalat shubuh.” HR. Ibnu Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, hal. 318.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, mufti Wahabi Saudi Arabia, yang wafat beberapa waktu yang lalu, juga melakukan qiyas dalam bab ibadah. Dalam hal ini, beliau berfatwa:

حُكْمُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي دُعَاءِ الْوِتْرِ

س: مَا حُكْمُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الْوِتْرِ؟

ج: يُشْرَعُ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِيْ قُنُوْتِ الْوِتْرِ؛ لأَنَّهُ مِنْ جِنْسِ الْقُنُوْتِ فِي النَّوَازِلِ، وَقَدْ ثَبَتَ عَنْهُ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ رَفَعَ يَدَيْهِ حِيْنَ دُعَائِهِ فِيْ قُنُوْتِ النَّوَازِلِ. خَرَّجَهُ الْبَيْهَقِيُّ رَحِمَه ُاللهُ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ .

“Hukum mengangkat kedua tangan dalam doa witir. Soal: Bagaimana hukum mengangkat kedua tangan dalam shalat witir? Jawab: Disyariatkan (dianjurkan) mengangkat kedua tangan dalam qunut shalat witir, karena termasuk jenis qunut nazilah (yang dilakukan karena ada bencana). Dan telah sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mengangkat kedua tangannya dalam doa qunut nazilah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Baihaqi rahimahullah dengan sanad yang shahih.” Fatawa Islamiyyah, juz 1 hal. 349, dan Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 30 hal. 51.

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa anjuran melafalkan niat dalam ibadah adalah pendapat mayoritas ulama madzhab yang empat (madzahib al-arba’ah). pendapat tersebut memiliki dalil yang kuat dan otoritatif (mu’tabar), yaitu diqiyaskan kepada ibadah haji dan puasa, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, melafalkan niat dalam keduanya. Pendapat tersebut tidak dapat ditolak dengan alasan kaedah, la qiyasa fil ‘ibadat (tidak boleh melakukan qiyas dalam bab ibadah). Karena qiyas termasuk dalil pengambilan hukum dalam Islam, yang berlaku dalam semua bab. Oleh karena itu, qiyas dalam bab ibadah telah diterapkan oleh para sahabat, al-Imam Ahmad bin Hanbal dan bahkan oleh sebagian ulama terkemuka kaum Wahabi kontemporer seperti Syaikh Ibnu Baz. Wallahu a’lam.

(Muhammad Idrus Ramli)

11 February 2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah | Leave a comment

AKAL SIAPA YANG PALING BAGUS?

Ada perbezaan antara Wahabi, Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan Syi’ah-Mu’tazilah dalam penggunaan akal.

Kalau Ahlussunnah Wal-Jama’ah dalam berakidah menggabungkan antara dalil naqli (al-Qur’an dan Hadits) dengan akal.

Kalau Syi’ah-Mu’tazilah dalam berakidah hanya berlandaskan akal saja.

Kalau Wahabi dalam berakidah hanya kaku terhadap dalil naqli dan tidak memfungsikan akal sama sekali.

Terkait dengan metodologi Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang menggabungkan antara naql dengan akal tersebut, para ulama memberikan perumpamaan begini.

Akal diumpamakan dengan mata yang dapat melihat. Sedangkan dalil-dalil syara’ atau naql diumpamakan dengan Matahari yang dapat menerangi. Orang yang hanya menggunakan akal tanpa menggunakan dalil-dalil syara’ seperti halnya orang yang keluar pada waktu malam hari yang gelap gulita. Ia membuka matanya untuk melihat apa yang ada di sekelilingnya, antara benda yang berwarna putih, hitam, hijau dan lain-lain. Ia berusaha untuk melihat semuanya. Tetapi selamanya ia tidak akan dapat melihatnya, tanpa ada Matahari yang dapat meneranginya, meskipun ia memiliki mata yang mampu melihat. Sedangkan orang yang menggunakan dalil-dalil syara’ tanpa menggunakan akal, seperti halnya orang yang keluar di siang hari dengan suasana terang benderang, tetapi dia tuna netra, atau memejamkan matanya. Tentu saja ia tidak akan dapat melihat mana benda yang berwarna putih, hijau, merah dan lain-lainnya. (Lihat, Syits bin Ibrahim al-Maliki, Hazz al-Ghalashim fi Ifham al-Mukhashim, Beirut: Dar al-Kutub al-Tsaqafiyah, hlm. 94.).

Ahlussunnah Wal-Jama’ah laksana orang yang dapat melihat dan keluar di siang hari yang terang benderang, sehingga semuanya tampak kelihatan dengan nyata, dan akan selamat dalam berjalan mencapai tujuan.

Sekarang kalau pertanyaan, akal siapa yang telah rusak? Jelas akalnya Syi’ah-Mu’tazilah. Lalu akal siapa yang masih original laksana barang yang masih dalam kemasan plastik dan belum pernah digunakan? Jelas akalnya orang Wahabi. Akal Ahlussunnah Wal-Jama’ah selalu digunakan, tetapi selalu diservis dengan dalil-dalil naqli al-Qur’an dan Hadits, karenanya akal mereka masih bagus dan berfungsi dengan efektif. Wallahu a’lam.

Kyai Idrus Ramli

10 February 2017 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Kenapa Manhaj Wahabi Ditentang?

Aduhai, secara peribadi, kasihan saya melihat ratusan soalan yang diajukan pada saya mengenai, peningnya mereka melihat perbalahan mengenai wahabi ini.

Secara ringkas, saya ingin membahaskan mengenai wahabi dan manhajnya (caranya). Harap artikel ini dibaca hingga ke penghujung.

1. Manhaj Wahabi adalah satu manhaj yang menggunakan al-Quran dan Hadis semata-mata (tambah: mereka pakai yg SAHIH saja yg lain ditolak)
2. Doktrin ini nampaknya bagus tetapi ia akan mengetepikan pandangan ulama-ulama muktabar. Sebab itu akhirnya, doktrin ini akan menolak mazhab.
3. Menolak mazhab bagi orang betul-betul berilmu yang faham ayat hukum dan hadis hukum, tahu menggunakannya akan menyebabkan seseorang itu terselamat dari tafsiran yang salah.
4. Jika seseorang itu orang awam, yang baru berjinak-jinak dengan agama, akan mendedahkannya tersalah di dalam tafsiran sesuatu hukum. Kadang-kala, baca ayat hukum pun dari buku-buku terjemahan.
5. Jika dia menolak tafsiran hukum dari Imam-Imam besar seperti Imam al-Syafie, dan dia pula berminat dengan tafsiran hukum ustaz barunya ini, akhirnya, dia akan kurang berminat dengan pandangan ulama muktabar, dan akan menggunakan pandangan ustaz itu sendiri.
6. Ia akan mewujudkan mazhab baru apabila, ustaz baru itu sebagai pegangan mazhabnya. Doktrin ini akan menolak tafsiran dari ulama muktabar dan akan memakai tafsiran sendiri atau tafsiran ustaz itu sendiri di dalam sesuatu hukum.
7. Kenapa tok-tok guru kita sangat menentang doktrin ini.
8. Ini kerana, jika manhaj ini dibuat di dalam membahaskan ilmu fekah, hukum hakam, tidak mengapa. Tetapi, apabila manhaj ini dipakai untuk membahaskan soal akidah, ia sangat merbahaya.
9. Ia akan mendedahkan orang awam mentafsir mengenai ketuhanan dengan sendiri.
10. Kadang-kala, ia menjadikan pentafsir itu menjisimkan Allah.
11. Kita berbalik dengan perbahasan wahabi ini. Untuk mengetahui sejarah dan sebagainya, pembaca boleh menelusuri blog-blog yang ada. Saya hanya mahu membahaskan satu sudut yang jarang dibahaskan iaitu manhaj (cara) wahabi di dalam mengeluarkan hukum.
12. Manhaj semata-mata memakai al-Quran dan hadis ini yang didoktirnkan. Tetapi, tidak semua orang yang menggunakan kaedah ini adalah orang wahabi.

Ada beberapa golongan orang di dalam hal ini.

1. Peminat manhaj (cara) wahabi.

Dia bukan wahabi, tetapi peminat manhaj (cara).

Biasanya, ada tiga jenis golongan.

i. Golongan pertama ialah seseroang yang apabila dia belajar agama sampai satu tahap yang tinggi dan sudah faham perjalanan bagaimana sesuatu hukum itu dikeluarkan maka dia akan berminat dengan manhaj (cara) ini. Kebiasaannya, orang yang menjadi peminat manhaj wahabi ialah orang yang bukan dari aliran syariah (hukum hakam). Biasanya dari aliran-aliran lain (Bahasa Arab/ Usuluddin). Tetapi saya tidak menafikan, ada juga sesetengah golongan syariah yang meminati manhaj ini, tetapi bilangannya tidak seramai dari bidang lainnya.

ii. Orang awam yang baru ingin memahami Islam dan berguru dengan cara ini. Ia akan menjadi orang ikut-ikut juga. Orang macam ini, di mana pun, sama. Dia akan mengikut guru yang mengajarnya. Kebetulan, jika guru yang mengajarnya itu berhemah, maka dia akan menjadi orang berhemah. Jika guru itu jenis yang suka memperlecehkan orang lain, maka dia pasti akan terikut dengan cara ini.

iii. golongan ketiga adalah golongan yang kecewa dengan ustaz-ustaz lama ini, yang membawa pendekatan kudus, tidak boleh ditegur, suka marah-marah dan sebagainya. Kita tidak nafikan terdapat kelemahan ustaz-ustaz lama yang kadang-kala pandangannya itu ada kepentingan dan sebagainya. Apabila golongan ketiga ini bertemu dengan ustaz yang boleh membidas, dia tidak jumpa pula ustaz yang betul-betul membimbingnya, maka dia akan menjadi peminat manhaj ini. Biasanya golongan ini terdiri dari orang terpelajar yang bukan dari aliran agama. Ustaz lama pula tidak membuka ruang untuk bertanya, jadi, perasaan ingin tahu itu meluap-luap dan apabila bertemu dengan peminat manhaj wahabi ini, dia akan berminat.

Golongan pertama boleh terselamat dari kesesatan kerana ia faham dan telah tahu banyak hukum hakam ini. Tetapi golongan kedua dan ketiga, boleh terdedah dengan kesalahan di dalam mentafsir al-Quran dan Hadis. Ini kerana, kaedah yang dibawa ialah, rujuk pada al-Quran dan hadis semata-mata.

Golongan kedua dan ketiga, jika tidak belajar secara sistematik, akan menjadi orang yang tidak berpegang dengan mazhab muktabar, tetapi nanti akan menjadi orang yang berpegang dengan mazhab ustaz yang menjadi rujukannya itu. Ustaz itu yang akan menjadi rujukan hukum baginya.

2. Pemegang Wahabi.
Kenapa ulama-ulama kita sampai ada yang berfatwa mengatakan wahabi bukan dari ahli sunnah wal Jemaah. Ia terjadi apabila doktrin tidak berminat dengan tafsiran ulama muktabar dibawa kepada bab akidah.

Bagi manhaj Wahabi yang hanya menggunakan al-Quran dah hadis (tambah: yg sahih je) apabila membahaskan ayat-ayat mengenai zat Allah, ia akan menjadikan seseorang itu sampai tahap menjisimkan Allah. Mengatakan Allah itu ada tangan seperti tangan kita, Allah itu duduk seperti duduk kita.

Ia yang membezakannya dengan akidah Ahli Sunnah. Ahli Sunnah tidak menjisimkan Allah. Kerana di dalam Ahli Sunnah, ada pengajian yang menekankan bahawa Allah tidak sama dengan makhluk.

**(bagi kita yang kurang mahir dalam bahasa Arab, boleh rujuk buku I’tikad Ahlisunnah Wal-Jamaah oleh K.H Sirajuddin Abbas)

Di dalam bab akidah, ahli Sunnah telah menggariskan beberapa dasar. Antaranya ialah Allah itu tidak akan sama dengan makhluk
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat (surah al-Syura ayat 11)

Jadi, peperangan yang sebenar antara wahabi dengan ahli sunnah bukan sebab qunut atau talkin. Itu hanya bab hukum hakam. Ia apabila sudah mula membahaskan bab akidah.

Kenapa Kategori Pertama (Peminat Wahabi) Juga Ditentang Di Malaysia?
Kerana, rakyat di Malaysia tidak ramai yang mengetahui apa itu wahabi. Jadi, jika manhaj wahabi disebarkan, ditakuti, bermula dengan hukum hakam, ia akan mula membahaskan bab akidah.

Ini kerana, peminat wahabi akan mendoktrinkan agar kita berpegang dengan al-Quran dan hadis semata-mata. Tidak perlu memakai pandangan ulama dalam mazhab dan sebagainya. Persoalannya, jika seorang itu tidak faham apa makna hadis itu, tafsiran siapa yang akan dipakai?

Sudah tentu dia akan merujuk kepada tafsiran sendiri atau ustaznya itu sahaja.
Maka, oleh kerana tafsiran ustaz itu sendiri yang dipakai, ia akan mendedahkan kepada bahaya. Jika ustaz itu memang ilmunya tinggi, tidak menjadi masalah, tetapi, jika ustaz yang mendoktrinkan manhaj (cara) wahabi ini, ilmunya tidak berapa tinggi, ia akan mendedahkan kepadanya kesilapan tafsiran hukum yang kemudian akan diikuti oleh muridnya.

Apa jalan keluarnya ?
Jalan keluarnya, belajar agama perlu berguru dengan manhaj (cara) yang betul. Kita belajar agama bukan untuk tunjuk kita alim. Kita belajar kerana nak menghampirkan diri pada Allah. Bergurulah. Jangan ketepikan tafsiran ulama muktabar di dalam sesuatu hukum.
Belajar dengan manhaj (cara) ahli Sunnah iaitu, hukum itu dikeluarkan dengan melihat kepada al-Quran, hadis, Ijmak ulama dan kias.

Selepas itu, kaedah lain seperti masalih al-Mursalah (melihat kebaikan), sad al-Zara’ik (menghalang keburukan) dan sebagainya.

Jika semata-mata al-Quran dan hadis, ditakuti terdedah dengan kesilapan di dalam mentafsir sesebuah hukum.

Di dalam al-Quran Allah menyatakan bahawa :-
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (surah an-Nisa ayat 59)

Imam al-Qurtubi ketika menafsirkan ayat ini menyatakan bahawa:-
Dan tidak ada selain ulama’ yang tahu bagaimana untuk balik pada al-Kitab dan al-Sunnah, maka berdasarkan perkara ini, bertanya sesuatu persoalan pada ulama’ itu hukumnya wajib.

Harapan saya
Saya mengharapkan, semua orang di Malaysia ini akan semakin matang di dalam pengajian agama. Tahu al-Quran dan hadis dengan manhaj (cara) yang betul.
Bagi para ustaz, ajar orang ramai juga merujuk kepada kitab-kitab. Buka orang awam untuk perbahasan ilmu.

Bagi ustaz yang gemar pada perbincangan, jaga adab di dalam berbincang dan adab di dalam berselisih pendapat. Jangan pula kita mengatakan, kita sahaja betul dan orang lain salah. Selagi mana ada dalil dan hujjah kita perlu berlapang dada dengan perselisihan ini.
Jangan sampai perselisihan dengan emosi menyebabkan masyarakat lagi huru hara.

Bagi masyarakat, perbalahan antara ulama di Malaysia sekarang ini adalah ibarat perbalahan ibu bapa. Jika kita tidak boleh mengikuti dengan baik, bersabar dan tenang.
Ketika tengah panas, semua akan saling salah menyalahkan. Doakan yang terbaik untuk semua. Yang penting, akhirnya, biar semua kembali kepada Allah dengan mencari keredhaannya.

Semoga Allah terus memelihara kita semua dari perkara yang mengundang kemurkaannya, amin…

‘Sekilas Itu Realiti, Realiti Itu Kehidupan”

Al-Fakir Ila Rabbihi
Muhamad bin Abdullah
Putra Heights
18 November 09 jam 10.00 pagi
** dedikasi kepada semua guruku terutama Allahyarham Tuan Guru Haji Abdullah Lubuk Tapah Kelantan dan Allahyarham Tuan Guru Haji Abdullah Mohd Said – al-Fatihah-

8 February 2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah | Leave a comment

Pandangan Tuan Guru Syeikh Ibrahim Ibn Masran Al Banjari mengenai 16 Penceramah yang tidak di benarkan berceramah di negeri Johor

Alhamdulillah Pandangan panjang lebar yang sangat bernas dan tuntas dari Syeikhuna Tuan Guru Syeikh Ibrahim Ibn Masran Al-Banjari hafizahullah, mengambil faedah dan nasihat, serta berpeluang menemuramah syeikhuna tentang isu hangat seminggu dua ni yang berlaku di Negeri Johor.

Sebagaimana yang dijanjikan. Berikut ialah hasil temuramah kami dengan syeikhuna. Pesan admin, kalau boleh, kalam syeikhuna tu dibaca satu persatu dengan cermat..

Jom baca dengan tenang dan lapang dada..

Bismillah..

(Admin) : Apa komen Tuan Guru berkenaan isu 16 orang penceramah yang tidak dibenarkan berceramah di Johor baru-baru ini?

(Syeikhuna) : Masya Allah.. ana baca berita tentangnya dan rasanya tiada nak komen apa-apa. Sudah ramai orang yang bercakap tentangnya.

(Admin) : Err.. Maksud kami, adakah wajar pihak Majlis Agama Islam Johor (MAIJ) bertindak sedemikian?

(Syeikhuna) : Ya akhi.. Itu dibawah bidang kuasa dia. Kita perlu faham.. Pada adatnya, setiap rumah, tanah, dan negeri, ada tuannya. Jangan kita masuk ke dalamnya, melainkan dengan rasa hormat dan menjaga adab. Jika tuan rumah itu bermazhab, maka raikanlah mazhabnya. Bukannya mengadu domba dan menghasut ahli rumah agar meninggalkan anutan mazhabnya. Bukan juga dengan menghina-hina dan melekeh-lekehkan mazhabnya. Kerana yang demikian itu tidak lain melainkan penghinaan dan perlekehan terhadap tuan rumah itu sendiri.

Siapa pun yang menjadi tuan rumah ketika itu, pasti tidak suka jika ada tetamu yang datang ke rumahnya kemudian membeberkan bicara yang mengandungi penghinaan dan perlekehan terhadap ahli keluarga, sanak saudara dan keturunannya, sehingga ahli rumah menjadi bermusuhan dan bertelagah. Maka jika tuan rumah itu tidak membenarkan tetamu itu bertandang ke rumahnya lagi, maka tindakan itu wajar. Dan itulah perkara lumrah yang berlaku pada adat kebanyakan orang kita.

Setiap rakyat yang mempunyai rumah, menjadi tuan di dalam rumahnya. Setiap pemimpin, menjadi tuan di dalam negeri yang mana ia memimpin rakyatnya. Dan setiap Sultan juga menjadi tuan kepada sekelian rakyat di dalam negeri dan jajahan takluknya. Sebagai tuan yang bertanggungjawab dan bermaruah bagi rumahnya atau negerinya, tentulah ia akan menjaga rumahnya dan negerinya dengan sebaik-baiknya. Apalagi jika ia bersangkutan dengan amanah dan tanggungjawab.

Maka tidak dianggap sebagai tuan rumah yg bertanggungjawab, jika sekiranya ia membawa masuk tetamu bahkan menyediakan ruang kepada tetamu itu untuk menghina ahli rumah dan anutan keturunannya.

Jadi, perkara ini lumrah dari sudut hukum adat. Bahkan dari sudut hukum syari’at pun memang ada dasarnya. Sebagai waliyul amri (pemerintah), mereka boleh menggunakan qaedah “Sadduz Zara’ei’ / سد الذرائع” dalam masalah ini dengan tujuan untuk menutup dan menolak “mafsadah” yang besar yang mungkin bakal terjadi di dalam negerinya.
Dan bagi orang yang memerhatikan sejarah, di mana pun wujud kelompok yang berfahaman wahhabi, maka di situ akan berlaku perpecahan, permusuhan, pertikaian lidah, pentabdi’an (tuduhan sebagai ahli bida’ah), pengkafiran, bahkan juga pembunuhan. Ini semua adalah mafsadah.. Semoga Allah menyelamatkan kita dan mengampunkan dosa2 kita.

(Admin) : Tapi Tuan Guru, ada yang mengatakan penceramah tersebut bagus, dan kuliah-kuliahnya bermanfaat. Mengapa tidak dibiarkan saja supaya orang lain pun boleh ambil manfaat daripada mereka?

(Syeikhuna) : Jika benar bermanfaat, maka ambillah manfaat itu. Kita boleh mengambil manfaat, faedah, atau hikmah sekalipun daripada musuh kita. Itu tidak mengapa. Sabda Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam:
الكلمة الحكمة ضالَّة المؤمن ، فحيث وجدها فهو أحق بها
“Hikmah itu merupakan barang pungutan orang mu’min, maka di mana saja ia bertemu, ia berhak mengambilnya”.

Mengambil manfaat tidak salah. Tetapi berapa ramai orang awam yang tidak dapat membezakan antara manfaat dan mudharat? Sebagaimana ramainya orang tidak dapat membezakan antara kaca dan permata. Khususnya bagi kita yang hidup di akhir zaman. Zaman di mana diangkat dan ditariknya ni’mat furqaniyah, iaitu nikmat mampu membezakan antara haq dan bathil, membezakan yang benar dan yang salah, yang mana manfaat dan mudharat, dan sebagainya.

Terkadang kulitnya manfaat, tetapi isinya mudharat. Terkadang pucuknya mudharat, tetapi akarnya manfaat. Terkadang manfaat bagi kita, tetapi mudharat bagi saudara kita. Maka hal ini sangat berhajat kepada ahlinya yang dapat menunjuk jalan.
Jangan kita ukur berdasarkan nafsu semata-mata. Sebab itu kita perlu sentiasa minta kepada Allah Jalla wa ‘Ala akan taufiq dan hidayah-Nya. Banyakkan berdoa :
اللهم أرنا الحق حقا وأرزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وأرزقنا اجتنابه
( “Ya Allah! Tunjukkanlah kepada kami yang benar itu sebagai kebenaran dan kurniakanlah kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami yang bathil itu sebagai kebathilan dan kurniakanlah kami kekuatan untuk menjauhinya”.)

(Admin) : Ada juga yang mengatakan tindakan MAIJ menyekat para penceramah yang bagus dan bermanfaat ini sebagai tindakan yang zalim. Apa pandangan Tuan Guru?

(Syeikhuna) : Mereka adalah waliyul amri (pemerintah). Mereka boleh bertindak di atas bidang kuasa mereka. Inilah waqi’ yang perlu kita sedar dan fahami.
Kebaikan atau manfaat itu mungkin saja dapat diterima oleh 100 orang. Tetapi mudharat dan kesan bahayanya mungkin menimpa ke atas 1000 orang bahkan dapat mengkucar kacirkan kerukunan dan keharmonian masyarakat bagi sesebuah negeri itu.
Maka kita perlu faham apa yang lebih awla di sisi waliyul amri dalam menghadapi situasi ini. Di sana ada qaedah feqh : دفع المضار مقدم على طلب المنافع iaitu “menolak bahaya lebih diutamakan daripada menuntut manfaat.”

Jadi dalam masalah ini, jika ditimbang dari sudut siasah syar’iyyah, tindakan mereka itu masih dianggap sah dan dibenarkan pada syarak. Ini ana kena amanah dengan ilmu. Ana perlu adil dalam menilai. Ana lihat tindakan MAIJ itu bukan disebabkan sentimen politik, bukan juga sembrono tanpa sebab musabab, bahkan ada sebab dan munasabah yang kuat. Dan lebih kepada nak mengawal negeri daripada dimasuki virus dan anasir yang boleh merosakkan aqidah dan muamalah rakyat. Mereka lebih kepada nak menjaga keharmonian rakyat khususnya umat Islam.

Kita perlu tahu, bahawa amalan dan pegangan umat Islam di negeri Johor ni sudah pun diwartakan sejak sekian lama. Dalam aqidah berpegang dengan Mazhab Asya’irah Maturidiyah. Dalam Syari’at atau feqah berpegang dengan Mazhab Syafie, dan menerima serta meraikan mazhab Hanafi, Hanbali dan Maliki. Sementara dalam Tasawuf pula bermazhabkan thoriqah Imam Junaid Al-Baghdadi dan juga thoriqah Imam Al-Ghazali. Ini suatu fakta.

Kalau kita mengaji qawaed feqh, di sana ada qaedah تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة “Tindakan pemerintah atau penguasa terhadap rakyat selalunya bergantung kepada pertimbangan kemashlahatan rakyat”. Jadi, difahami daripada qaedah ini, penguasa mesti melihat terlebih dahulu dari sudut kemashlahatan rakyat dalam tindakan mereka. Penguasa tidak boleh bertindak atau melakukan sesuatu yang boleh merugikan rakyat atau memudharatkan rakyatnya. Menjaga agama dan keharmonian rakyat, itu jelas mashlahat yang utama.

Seperkara lagi, kadang-kadang kita mendengar mereka kata itu zalim ini zalim, sedangkan kita tidak sedar apakah makna zalim? Para ulamak sudah pun memberi ta’rif (definasi) zalim. Zalim ialah وضع الشيء في غير موضعه iaitu “meletakkan sesuatu TIDAK KENA pada tempatnya”.

Tuan rumah tidak membenarkan si fulan masuk ke dalam rumahnya kerana tidak mahu si fulan itu mengkucar kacirkan rumahtangganya. Maka tindakan tuan rumah ini KENA pada tempatnya.

Seorang pemuda yang tidak bermazhab masuk ke dalam rumah orang yang bermazhab Syafie sambil sewenang-wenang menghina mazhab mereka, mengelirukan anutan mereka, dan menghasut ahli rumah yang lain supaya meninggalkan mazhab mereka tanpa ada perasaan hormat. Maka tindakan pemuda itu jelas tidak beradab, dan jelas TIDAK KENA pada tempatnya.

Dengan dua contoh ini, maka fikirlah ya akhi, siapakah yang zalim? Dalam ertikata siapakah yang melakukan pekerjaan yang TIDAK KENA PADA TEMPATNYA?

(Admin) : Ada juga yang mengatakan tindakan ini adalah disebabkan hasad dengki dari sesetengah pihak tertentu.

(Syeikhuna) : Ya, boleh jadi juga begitu. Kerana hasad dengki ini penyakit bathin yang boleh berlaku ke atas sesiapa pun, melainkan mereka yang ma’shum dan yang mahfuz. Dan hasad dengki ini biasanya berlaku sesama sekufu mereka. Seperti pelajar dengki dengan pelajar, peniaga dengki dengan peniaga, dato’ dengki dengan dato’, pelakon dengki dengan pelakon, ustaz dengki dengan ustaz, ahli politik dengki dengan ahli politik, dan begitulah seterusnya. Antum kiaskanlah..

Kata ulamak : ما يحسد المرء إلا من فضائله “Tidak dicemburui seseorang itu melainkan kerana memang ada kelebihan-kelebihan pada dirinya”. Dan lazimnya seseorang itu dicemburui kerana ilmunya, keadaannya, keberaniannya, dan kepemurahannya.
Diriwayatkan juga bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : إن كل ذي نعمة محسود “Sesungguhnya tiap-tiap orang yang mempunyai nikmat itu dihasad oleh orang akan dia”.

Jadi, kalau nak taqdir kata ini disebabkan oleh hasad dengki, memang boleh taqdir begitu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang sebenarnya.

Adapun kita, maka kita tidak boleh menghukum seseorang itu dengan apa yang ada di hatinya. Hasad dengki itu penyakit bathin, penyakit dalam hati seseorang. Kita tidak melihat apa yang ada dalam hatinya. Kita hanya dibenarkan menghukum dengan yang zahir sahaja.

Jadi, jika ingin bercakap dalam isu ini, maka lihat apa yang zahirnya. Yang zahir di sini adalah terdapatnya ucapan daripada mereka dari sudut boleh menimbulkan kekeliruan kepada orang awam. Dan atas dasar yang zahir ini, maka mereka dikenakan tindakan.

Adapun bagi mereka yang berhasad dengki itu, maka kita katakan, ittaqullah.. Takutlah kamu kepada Allah. Ingatlah pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
لا تحاسدوا ولا تقاطعوا ولا تباغضوا ولا تدابروا وكونوا عباد الله إخوانا
“Janganlah kamu berdengki-dengkian, dan jangan kamu memutuskan silaturrahmi, dan jangan kamu membelakangkan setengah kamu akan setengah yang lain ketika berjumpa, dan jangan kamu berbenci-bencian, dan jadilah kamu itu hamba Allah yang berkasih sayang dan bersaudara”.

Dan hendaklah kita berasa bimbang dan selalu ingat pada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب “Hasad dengki itu memakan kebajikan sebagaimana api memakan membinasakan kayu api”.

Jangan sampai pahala amal kebajikan kita binasa gara-gara sifat hasad dengki ini. Tinggalkan hasad dengki. Ini sifat mazmumah yang sangat keji. Jangan ada sifat ini dalam diri kita. Ini sifat kaum munafiq. Kata Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah المؤمن يغبط والمنافق يحسد : “Orang mukmin itu yaghbit, dan orang munafiq itu yahsud”. Bersaing secara sihat itu sifat orang beriman. Berhasad dengki itu sifat orang munafiq.

(Admin) : Secara pribadi, adakah Tuan Guru yakin kesemua 16 penceramah yang disekat itu adalah Wahhabi? Dan masih bolehkah kita mendampingi mereka.

(Syeikhuna) : Wallahu Ta’ala a’lam. Ana tidak mengenali mereka semua sekali. Tanyalah kepada yang mengenali mereka. Kata ulamak : لكل شيء علامة “Tiap-tiap sesuatu itu ada tandanya”.

Adapun soalan masih bolehkah mendampingi mereka atau belajar dengan mereka. Maka ana teringat satu hadits riwayat Abu Nu’aim daripada Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لا تجلسوا عند كل عالم إلا إلى عالم يدعوكم من خمس إلى خمس: من الشك إلى اليقين, ومن الرياء إلى الإخلاص, ومن الرغبة إلى الزهد, ومن الكبر إلى التواضع, ومن العداوة إلى النصيحة
“Janganlah kamu duduk di sisi sembarangan orang alim, kecuali orang alim yang mengajak kamu daripada lima perkara kepada lima perkara : iaitu daripada ragu kepada yaqin. Dan daripada riya’ kepada ikhlas. Dan daripada gemar dunia kepada zuhud. Dan daripada sifat sombong kepada sifat tawadhu’. Dan daripada permusuhan kepada nasihat.”

Hadits ini boleh dijadikan panduan. Jika ada sifat-sifat ini, maka duduklah dalam majlisnya. Ambillah faedah darinya. Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla mengurniakan ilmu dan berkah. Wallahu a’lam.

(Admin) : Terakhir Tuan Guru, mohon Tuan Guru berikan nasihat umum kepada kami khususnya yang berkait dengan isu ini.
(Syeikhuna) : Allahu Rabbi.. Nasihat pulak.. (Syeikhuna diam + tunduk).. Cukuplah tadi tu..

(Admin) : Sekarang ni ramai orang dah mula minat belajar agama.. Sana sini ada saja pengajian. Macam-macam pihak buat pengajian. Syiah pun buat, Wahhabi pun buat pengajian. Mungkin Syeikh ada nasihat atau tips terhadap fenomena ini. Terutama untuk orang awam.

(Syeikhuna) : Nasihatnya ialah.. pertama, tuntutlah ilmu fardhu ain dahulu sebelum ilmu lainnya. Kedua, carilah guru yang benar atau guru yang mursyid. Ketiga, jangan gaduh-gaduh dalam masalah khilafiyyah, kalau boleh jangan sibukkan diri kita dalam masalah ini. Keempat, selalu muhasabah diri. Sedar kemampuan diri. Maqam kita muqallid bukan mujtahid. Dan yang kelima, tuntutlah ilmu hanya kerana Allah..
(Admin) : Err.. Allah.. Kalau boleh, minta Tuan Guru syarahkan sikit supaya lebih jelas maksud nasihat tersebut..

(Syeikhuna) : Baiklah.. Nasihat ana buat diri ana dan antum, sebagai orang awam, atau sebagai penuntut ilmu mubtadi, hendaklah bersungguh-sungguh belajar ilmu fadhu ain. Ana pun lihat sekarang ni sudah ramai orang awam yang gemar menuntut ilmu. Alhamdulillah.. itu bagus. Tetapi sayangnya, sebahagian mereka itu menyibukkan diri menuntut ilmu yang bukan fardhu ain atas diri mereka, sedangkan ilmu fardhu ain itu mereka tidak pelajari. Kita kena tahu beza yang mana ilmu fardhu ain dan yang mana bukan fardhu ain. Dan ilmu fardhu ain ini mesti kita dahulukan sebelum ilmu fardhu kifayah.

Adapun ilmu fardhu kifayah, maka itu tidak dituntut kepada semua orang awam untuk mempelajarinya. Memada jika sudah ada wakil di setiap qariah kita yang pelajarinya, maka sudah terlepas dosa setiap muslim di qariah atau mukim mereka. Tujuan mengaji ilmu yang fardhu kifayah ni ialah supaya dengannya kita dapat menolak syubhah jika ada pihak yang mendatangkan syubhat dalam agama. Dan dengannya, kita dapat menguatkan agama dan memajukan urusan dunia.

Dan ilmu fardhu ain daripada ilmu usuluddin, ilmu feqah dan ilmu tasawwuf yang dimaksudkan itu, ialah ilmun Naafi’. Yakni ilmu yang benar-benar memberi manfaat di dalam akhirat nanti. Ilmu inilah yang wajib dituntut dan dicari oleh setiap muslim.
Kita biasa dengar hadits : طلب العلم فريضة على كل مسلم “Menuntut ilmu itu fardhu atas setiap muslim”. Ulamak muhaqqiqin menyebutkan bahawa ilmu yang dikehendaki di sini, atau yang dimaksudkan dalam hadits ini, ialah ilmun Nafi’. Ilmu yang memberi manfaat di dalam akhirat.

Sifat ilmu Nafi’ atau ilmu yang bermanfaat itu sekurang-kurangnya ada lima. Pertama: ما يزيد في الخوف من الله “Ilmu itu dapat menambahkan rasa takut kepada Allah”. Dua, وفي المعرفة بعيوب النفس والعبادة “Ilmu itu dapat buat kita mengetahui keburukan-keburukan nafsu dan ibadah”. Tiga, ويقلل الرغبة في الدنيا “Dengan ilmu itu, akan mengurangkan rasa cinta pada duniawi”. Empat, ويزيد الرغبة في الآخرة “Dengan asbab ilmu itu, semakin bertambah rasa cinta terhadap akhirat”. Dan yang kelima, ويدل على مكايد الشيطان “Ilmu itu dapat menunjukkan kepada kita pelbagai jenis tipudaya syaithan”.

Inilah sifat ilmun Nafi’. Sifat ilmu yang bermanfaat untuk akhirat kita. Ilmu sebeginilah yang kita perlu utamakan. Dan ini termasuk adab yang penting bagi sesorang penuntut ilmu. Iaitu mendahulukan apa yang perlu didahulukan. Ulamak dahulu sangat menjaga adab ini. Tidak hairanlah kalau ilmu mereka berkat.. ilmu dan amal mereka meningkat seiring..

Maka jangan sia-siakan masa dan umur kita dengan ilmu yang tidak bermanfaat untuk akhirat kita. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam sendiri minta berlindung dengan Allah daripada perkara ini. Antara doanya yang diajarkan kepada kita ialah اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan-Mu daripada ilmu yang tiada memberi manfaat”.

Itu (Nasihat) yang pertama. Kedua, hendaklah belajar dengan guru yang takut kepada Allah Azza wa Jalla. Yang jujur dan amanah dengan ilmu. Sebolehnya, carilah guru yang mursyid. Yang boleh membimbing kita kepada redha Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah beri isyarat :يكون في آخر الزمان عباد جهال وعلماء فساق “Akan terjadi pada akhir zaman, kebanyakan orang berbuat ibadah itu jahil, dan kebanyakan ulamak itu fasiq”.

Kerana itulah Al-Imam Al-Ghazali rahimahullahu ta’ala membahagikan ulamak itu kepada dua jenis. Iaitu ulamak dunia dan ulamak akhirat. Supaya kita tidak tersalah dalam berguru, dan tidak tersilap dalam mengangkat ulamak.

Maka carilah guru atau ulamak yang benar, yang termasuk dalam golongan ulamak akhirat itu. Setengah daripada sifat ulamak akhirat itu disebutkan oleh Imam al-Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya’ :
أن تكون عنايته بتحصيل العلم النافع في الآخرة, والمرغب في الطاعات, مجتنبا للعلوم التي يقل نفعها ويكثر فيها الجدال والقيل والقال
“Bahawa dia sungguh-sungguh berhendakkan hasil ilmu yang memberi manafaat di dalam akhirat”. والمرغب في الطاعات “Dan menggemarkan ia di dalam berbuat ibadah”. مجتنبا للعلوم التي يقل نفعها ويكثر فيها الجدال والقيل والقال “Padahal ia menjauh daripada ilmu-ilmu yang sedikit manfaatnya di dalam akhirat, dan ilmu yang membanyakkan jidal, dan yang membanyakkan akan “Qiil”, dan membanyakkan “Qaal”.”

Maksud membanyakkan “Jidal” yakni membanyakkan berdebat, berbantah-bantah dan pertikaian. Maksud membanyakkan akan “Qiil” yakni banyak membawakan qaul atau perkataan ulamak itu ulamak ini, sehingga mengelirukan dan membawa kepada susah hati, yang akhirnya tidak menghasilkan faedah ilmu dan amal. Dan maksud membanyakkan “Qaal” yakni membanyakkan perkataan dirinya sendiri yang tidak memberi manfaat di akhirat.

Ringkasnya, ulamak akhirat itu bukan sahaja mengajarkan ilmu yang bermanfaat untuk akhirat, bahkan berkat ilmunya menjadikan kita gemar berbuat ibadah kepada Allah. Dan didikannya menyebabkan kita menjauhi jidal dan pertikaian yang tidak bermanfaat. Ajarannya pula tawadhu’ dan meraikan mazhab masyarakatnya, bukan memeningkan atau mengelirukan masyarakat awam disebabkan banyaknya dia mendatangkan Qiil wa Qaal.

Dan lagi kata Imam Al-Ghazali rahimahullah : أن لا يكون مسارعا إلى الفتيا “Bahawa dia tidak tergesa-gesa memberikan fatwa”. Yakni tidak gopoh. Ada perkara yang sudah jelas, maka boleh dijawab dengan jelas. Ada perkara yang masih meragukan, maka sebaiknya dia berkata : لا أدري “Aku tidak tahu”. Jangan malu untuk berkata “aku tidak tahu” dalam perkara yang memang dia tidak tahu.
وإن سئل عما يظنه باجتهاد وتخمين, احتاط, ودفع عن نفسه, وأحال على غيره إن كان في غيره غنية
“Dan jika ditanya suatu masalah yang hanya berdasarkan ijtihad atau perkiraan, hendaklah ia berhati-hati, sebolehnya dia menolak dan serahkan kepada orang lain, jika ada orang lain yang sanggup menjawabnya”. Apa yang disebutkan ini, adalah antara sifat-sifat ulamak akhirat.

Jadi, jangan kita terlalu mudah teruja atau terlalu cepat terpedaya bila lihat seseorang itu kelihatan hebat, pandai berfatwa itu dan ini, semua masalah nak jawab, nak beri pandangan.. Atau banyak membawa qaul ulamak itu ulamak ini, sehingga terkadang terlajak kepada talfiq. Atau gemar berjidal dihadapan orang awam yang tidak mengerti..

Ini sengaja ana ingatkan dan nasihatkan pada diri ana sendiri khususnya. Sebab, segala pujian Allah dan Rasul-Nya terhadap ilmu dan kelebihan ilmu, maksudnya ialah tertentu hanya ilmu yang memberi manafaat di dalam akhirat, bukannya semua jenis ilmu. Dan segala pujian Allah dan Rasul-Nya terhadap alim ulamak, ialah tertentu kepada ulamak akhirat, bukannya kepada semua alim ulamak seperti yang kita sangkakan. Wallahul muwafiq wal hidayah.

Ketiga, orang awam atau penuntut ilmu yang awam, yang tidak takhasus, atau para asatizah, jangan terlalu gemar membahaskan perkara khilafiyah. Masa’ilul khilafiyah ini sebenarnya sudah ada jawapannya daripada para ulamak kita. Tanggungjawab kita ialah menghormati dan meraikan, bukannya menyelisihi dan merombakkan. Seorang yang bertaraf mujtahid pun tidak mengingkari ijtihad ulamak lain. Jadi, orang awam janganlah belajar atau diajar untuk melampaui batas.

Keempat, boleh dikatakan bahawa kita orang Johor yang ada sekarang ini, bahkan di Malaysia kita ini, kedudukan kita ni adalah muqallid. Bukannya mujtahid. Hatta para asatizah yang kita lihat hebat-hebat pun belum sampai kepada darjat mujtahid. Jadi, kita perlu sedar siapa kita dan apa kedudukan kita. Sudah ramai yang jatuh ke lembah binasa disebabkan tidak sedar kemampuan diri dan melampaui batas. Pepatah Arab kata : قدر لرجلك قبل الخطو موضعها “Ukurlah kakimu sebelum engkau melangkah”. Pepatah Melayu kata : “Ukurlah baju di badan sendiri”.

Kata khalifah Umar Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu : رحم الله امرء عرف قدر نفسه “Allah merahmati orang yang tahu kadar dirinya”. Dan kata ulamak : ما هلك امرؤ غرف قدر نفسه “Tidak binasa seseorang yang tahu kemampuan dirinya”.
Ertinya, tidak rugi apa pun kalau kita selalu sedar siapa diri kita, apa kemampuan ilmu kita, hebat mana amal kita.. jika dibandingkan dengan imam-imam mazahib dan ulamak-ulamak terdahulu.

Dan yang terakhir, nasihat ana ialah carilah ilmu kerana Allah. Untuk membaiki ibadah kita kepada Allah. Dan untuk mencapai makrifatullah. Ingat baik-baik hadits Nabi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لا تعلموا العلم لتباهوا به العلماء, أو لتماروا به السفهاء, أو لتصرفوا وجوه الناس إليكم, فمن فعل ذلك, فهو في النار
“Jangan kamu berlajar ilmu kerana nak bermegah-megah dengannya akan ulamak, dan kerana nak berdebat kamu dengannya akan orang yang bodoh, dan kerana kamu nak memalingkan dengannya muka manusia kepada kamu. Maka barangsiapa berbuat akan yang demikian itu, maka ia diseksa di dalam api nereka”.

Hadits ni jelas nak beritahu kepada kita semua. Bahawa jangan sampai kita belajar dengan tujuan nak tunjuk yang kita lebih hebat daripada ulamak yang lain. Kita mengaji hadits masalan (umpamanya), sebab nak tunjuk kepada ulamak lain yang kita lebih hebat daripada mereka. Kita mengaji sampai peringkat PHD masalan, sebab nak tunjuk pada tok guru lain yang kita lebih hebat daripada mereka. Maka siapa saja yang ada niat dan tujuan begini, istighfar cepat-cepat. Minta ampun dengan Allah. Bimbang kita ada PHD, kita alim hadits, tetapi dibakar di dalam neraka. Na’uzubillahi min zalik.

Dan hadits ini nak ajar kepada kita, bahawa jangan sampai kita mengaji ni, dengan tujuan nak berdebat dengan orang lain. Terutama berjidal dengan orang jahil. Belajar kitab itu, mengaji kitab ini, bukan nak baiki ibadahnya, tapi supaya ada modal nak guna buat berdebat dengan orang sufaha’. Maka siapa saja yang ada niat dan tujuan begini, istighfar cepat-cepat. Minta ampun dengan Allah. Perbetulkan semula niat. Bimbang kita jadi juara jidal, menang debat, tetapi dibakar di dalam neraka. Na’uzubillahi min zalik..

Dan hadits ini juga nak beritahu kepada kita, bahawa jangan sampai kita mengaji ni, kita belajar sana sini, kita ada banyak guru, kita ada banyak riwayat, banyak sanad, banyak ijazah, banyak PHD, dengan niat supaya orang akan muliakan kita. Supaya orang kagum kepada kita. Supaya ramai orang jadi pengikut kita. Maka siapa saja yang ada niat dan tujuan begini, istighfar cepat-cepat. Astaghfirullah.. Minta ampun pada Allah Ta’ala yang Maha Pengampun. Bimbang kita mulia di sisi manusia, tetapi hina di sisi Allah. Bimbang di dunia ini manusia jadi kagum kepada kita, tetapi di akhirat kelak, kita jadi bahan bakaran dalam neraka. Na’uzubillahi min zalik..

(Admin : Kulihat mata syeikhuna berlinang air.. tangannya menggigil mengusapi mata.. Kemudian syeikhuna menyambung katanya dengan nada perlahan dan tersedu-sedu.. )
Tok Tok Guru kita dahulu.. rahimahumullahu ta’ala rahmatan wasi’atan.. ada yang menulis di pintu gerbang pondok mereka.. ada yang tulis di mimbar masjid mereka.. sebuah hadits yang berbunyi.. من تعلم علما لغير الله فليتبوأ مقعده من النار “Barangsiapa yang mencari ilmu bukan kerana Allah, maka silalah ambil tempatnya di dalam neraka”.. Mudah-mudahan jadi peringatan bagi mu’allim dan muta’allim..
(Allah… :'( Admin pun bagi syeikhuna minum, dan tamatlah temuramah yang penuh ilmiyah berkah ini.. Allah.. )

Ya Allah.. Ampunkan kami, ampukan ibubapa kami, ampunkan guru-guru kami.. Pelihara kami dari fitnah akhir zaman.. Ya Allah.. Pelihara syeikh kami dan murabbi kami saiyidi Tuan Guru Syeikh Ibrahim Al-Banjari ..

Allahumma aameen… :

admin pondok ledang

Sumber: Ustaz Yunan A Samad

8 February 2017 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Benarkah tidak perlu Qadha Sembahyang yang di tinggal…..?

KENYATAAN MEDIA ASWAJA

1.Pertubuhan Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA) memandang serius penerbitan artikel oleh Dr. Rozaimi Ramle dan laman web ISMA berhubung isu qadha solat fardu yang boleh menimbulkan kecelaruan dan salah faham umat Islam di Malaysia.

2.ASWAJA berpendapat isu berkenaan telah diputuskan secara sepakat dalam kalangan jumhur ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ). Mereka menetapkan bahawa solat fardu yang sengaja mahupun tidak sengaja ditinggalkan ‘wajib’ di qadha.

3. Maka sewajarnya hal ini tidak perlu dipolemikkan kembali oleh mana-mana individu atau pertubuhan termasuk dari barisan ulama ISMA sekalipun. Ini kerana ia telah lama diselesaikan oleh ulama Muhaqqin ASWJ lebih 1000 tahun yang lalu termasuk Syeikh Ibn Taimiyyah al-Harrani.

4. Manakala perbuatan memilih untuk berpegang dengan pendapat ulama yang paling ringan pula merupakan perbuatan yang haram berdasarkan ijmak ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ).

5. Tindakan ahli akademik tertentu yang suka memilih pendapat terpencil (dalam kes tidak perlu mengqada solat yang ditinggalkan dengan sengaja) merupakan tindakan yang bertentangan dengan disiplin ilmu dan pengaplikasian hukum syarak di negara ini.

6. Tindakan itu bukan sahaja melanggar ijmak dlm kes tatabu’ rukhas tetapi dilihat cuba meleraikan ikatan taklif umat ini sehingga ramai dari kalangan umat Islam memandang ringan kewajipan berkenaan.

7. Malah dalam isu mengqada solat ini, Majlis Fatwa Kebangsaan dan fatwa negeri-negeri memutuskan solat wajib diqadha samada ditinggalkan dengan sengaja ataupun tidak. Selain itu ia juga boleh dirujuk kepada Qaul muktamad mazhab al-Syafie yang dijadikan sandaran fatwa dan diigunakan secara konsisten dalam Enakmen Pentadbiran Islam Negeri di bawah bidang kuasa Sultan sebagai Ketua Agama Islam.

8. Justeru mana-mana pihak tidak perlu lagi memperdebatkan atau cuba menyanggah keputusan yang telah dibuat oleh pihak autoriti agama dengan alasan ianya khilaf pendapat @ hujah yang lemah. Ini kerana tindakan itu bukan sahaja boleh mengelirukan umat Islam, malah dilihat mencabar keputusan fatwa yang sedia ada dan terpakai di negara ini.

9. Tindakan sesetengah pensyarah Universiti mengambil riwayat Imam Hassan al Basri, Al-Humaidi dan al-Zahiri sebagai sandaran hujjah dalam kes ini merupakan tindakan tidak matang dan tidak bertanggungjawab. Mereka mungkin boleh berbangga dengan kajian akademik tetapi pengaplikasian hukum syarak di pihak autoriti agama merupakan sesuatu yang berbeza dengan dapatan mereka. Mereka sewajarnya menghormati keputusan yang telah diambil pemerintah dalam hal ini. Bukannya dengan cara membelakangi dan menimbulkan fitnah dah keresahan dalam kalangan masyarakat dengan pendapat yang syadz.

10.Kesimpulannya, ASWAJA mendesak pihak autoriti agama agar meningkatkan pemantauan dan mengambil tindakan tegas terhadap kenyataan yang dikeluarkan oleh agamawan tertentu yang boleh menimbulkan kegelisahan dan mengganggu ketenteraman awam. Bahkan kita semua perlu proaktif dalam menangani aliran pemikiran yang cuba menyanggah ketetapan ijmak ulama, fatwa negeri dan Akta/Enakmen Pentadbiran Islam Negeri yang sedang berkuatkuasa di negeri.

Presiden ASWAJA
Ustaz Dr Zamihan Mat Zin al-Ghari
1 Febuari 2017

2 February 2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

KEHARUSAN MEMANGGIL GOLONGAN WAHHABI DENGAN GELARAN “WAHHABI”

Sesungguhnya, memberikan nama khusus kepada firqah-firqah sesat memang sudah menjadi amalan ulama sejak dari dahulu lagi. Perkara ini dilakukan demi untuk membezakan jalan yang Haq dari jalan yang Bathil.

Sepertimana yang telah kita sedia maklum tentang banyaknya ajaran-ajaran sesat yang terkeluar dari lingkungan Ahli Sunnah Wal Jamaah, maka cara ini amat sesuai supaya masyarakat umum tahu membezakannya.

Di antara contoh firqah-firqah tersebut adalah seperti golongan Khawaarij, Mu’tazilah, Wahhabiyyah, Jahmiyyah, Jabbariyah dan lain-lain lagi. Perlu kita ingat bahawa perbuatan mengkhususkan nama kepada firqah-firqah sesat tersebut tidak dilakukan dengan niat untuk menghina. Tetapi ia adalah semata-mata cara yang diguna pakai oleh ulama untuk mengenal pasti setiap satu firqah-firqah sesat.

Untuk dijadikan contoh, jika kita ke kedai untuk membeli barang makanan, bagaimanakah kita membezakan antara makanan yang halal atau tidak? Bagi makanan di dalam tin pula, bagaimanakah kita bezakan kandungan isinya sama ada ia mengandungi daging binatang yang halal di makan atau sebaliknya?

Bagaimana pula jika kita ke farmasi ubat-ubatan dan mendapat tahu bahawa semua bungkusan ubat tidak dilabelkan? Sudah tentu mengambil ubat-ubatan yang tidak dilabel akan membawa kepada kemudharatkan kesihatan.

Begitu juga implikasinya jika kita memakan makanan di dalam tin yang kita sendiri tidak pasti akan isinya.
Makanya, memberikan nama khusus (atau melabel) adalah cara yang paling berkesan untuk kedua-dua situasi. Sama ada dari segi situasi pengambilan agama, dan juga dari segi situasi pemakanan.
Para ulama telah menggunakan kaedah ini supaya masyarakat awam dari golongan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dapat membezakan antara golongan yang berada di jalan yang lurus daripada golongan yang sesat. Maka dengan cara ini, dapat dielakkan daripada terjerumus ke dalam kesesatan dan kepercayaan palsu yang dibawa oleh golongan-golongan tersebut.

Perlu diingatkan adalah menjadi hak masyarakat awam untuk peka tentang hal ini supaya tidak terjerat di hari kemudian. Jika andainya ajaran-ajaran sesat ini tidak dikenalpasti melalui nama-nama yang khusus, nescaya agama dan keimanan kita akan berada di dalam keadaan bahaya, hasil daripada ajaran sesat yang dibawa oleh mereka.


FAHAMAN-FAHAMAN SESAT

Seringkali, firqah-firqah sesat akan diberi nama khusus, sempena nama pengasasnya. Tetapi, ada juga sebilangan firqah sesat yang diberikan nama sempena kesesatan i’tiqad mereka sendiri. Terdapat juga sejumlah kecil firqah-firqah yang dinamakan sempena lokasi/tempat lahir asalnya. Begitulah diantara sebab musabab mengapa ulama memberi nama khusus kepada firqah-firqah sesat tersebut, supaya mudah untuk kita bezakan daripada ajaran Islam sebenarnya iaitu Ahlus Sunnah Wal Jamaah.


FAHAMAN KARAMIYYAH

“Karamiyyah” adalah nama khusus yang diberikan kepada firqah tersebut sempena nama pengasasnya iaitu – Muhammad Ibn KARAM. Firqah ini terkenal dengan penafian mereka terhadap Sifat-Sifat Allah SWT.


FAHAMAN KHAWAARIJ

“Khawaarij” adalah nama khusus yang diberikan sendiri oleh Rasulullah, dan baginda sendiri telah memaklumkan bahawa mereka adalah seburuk-buruk ciptaan dan adalah anjing-anjing neraka. Perkataan Khawaarij adalah dari kata asal خ-ر-ج, yang mana ia memberi maksud : “keluar”. Perbuatan “keluar” dari lingkungan Islam inilah yang dilakukan oleh golongan Khawaarij.
Golongan Khawaarij telah keluar dari agama Islam melalui pengisytiharan peperangan mereka kepada pemimpin sesuatu negara. Mereka juga dengan mudahnya mengkafirkan semua orang yang tidak mahu mengikut agama mereka. Oleh kerana mereka melihat kebanyakkan muslimeen yang tidak mahu ikut agama mereka sebagai “kaafir”, akhir sekali mereka menghalalkan darah insan-insan yang tidak berdosa itu.


FAHAMAN
HARURIYYAH
Golongan Hururiyyah adalah pecahan daripada golongan Khawaarij. Mereka dinamakan sempena nama pengasas mereka dan lokasi lahirnya, iaitu Al-Harur.


FAHAMAN WAHHABIYYAH SALAFIYYAH

Golongan Wahhabiyyah, yang mana kini dikenali juga sebagai golongan Salafiyyah, adalah pecahan daripada golongan Khawaarij. Golongan ini dinamakan sempena nama pengasas mereka iaitu Muhammad Ibn Abdul Wahhab. Dari firqah golongan inilah lahirnya fahaman radikal dan ekstrim seperti ISIS, Al-Qaeda, JI dan lain-lain lagi.


KEPENTINGAN MENGENAL PASTI FIRQAH-FIRQAH SESAT

Maka amatlah penting untuk mengenal pasti firqah-firqah yang telah disebutkan tadi melalui nama-nama khusus mereka. Jika tidak, firqah-firqah sesat tersebut tidak akan dapat dikenal pasti dan masyarakat Islam secara umum akan terpedaya dengan dakyah-dakyah bathil mereka.


FITNAH KAUM KHAWAARIJ

Rasulullah telah memberi amaran tentang tentang bahayanya kaum Khawaarij, lebih daripada mana-mana firqah sesat yang lain yang bakal muncul. Ini telah dirakamkan dalam sebuah hadith yang mana salah seorang sahabat Dzul Khuwaisira at-Tameemi menegur dengan mempersoalkan kejujuran dan kewibawaan Rasulullah. Beliau menuduh Rasulullah seorang yang zalim. Nabi kemudian memberi amaran kepada para sahabat bahawa dari keturunan Dzul Khuwaisira at-Tameemi ini, akan muncul kaum yang membaca Al-Quran, tetapi ia tidak melepasi kerongkongan mereka. Dan bahawa mereka akan keluar dari agama sepertimana anak panah keluar dari busurnya. Rasulullah juga memberi amaran kepada kita bahawa kaum Khawaarij akan terus muncul sehingga kemunculan Dajjal.
Rasulullah telah memberi lebih banyak amaran tentang kaum Khawarij berbanding dengan ajaran-ajaran lain. Ramalan baginda telah pun menjadi kenyataan dan terus menjadi kenyataan hingga ke hari ini. Dengan kenyataan itu, para ulama dari dahulu hingga sekarang telah mengganggap Khawarij sebagai firqah yang paling berbahaya yang pernah membelenggungi bumi ini.


DARI MANA FAHAMAN KHAWAARIJ MUNCUL?

Khawaarij adalah dari keturunan suku Tameem. Suku Tameem berasal dari daerah padang pasir pertengahan Arabia yang dikenali dengan nama “Najd”. Rasulullah bukan sahaja memberi amaran kepada kita tentang Khawarij, baginda juga memberi amaran kepada kita tentang fitnah yang akan datang dari Najd. Di dalam satu hadith, baginda tidak mahu mendoakan Najd, sedangkan baginda tetap akan mendoakan Syam, Yaman, Iraq dan lokasi lain di dunia Islam.

Ini tidak bermakna bahawa semua orang dari Najd atau dari Banu Tameem jahat dan sesat. Pemikiran ini adalah satu tanggapan palsu yang disebarkan oleh beberapa saudara-saudara kita.
Sheikh Abdul Wahhab (bapa kepada si sesat Muhammad Ibn Abdul Wahhab) dan juga Sheikh Sulaiman Ibn Abdul Wahhab (adik-beradik Muhammad Ibn Abdul Wahhab) kedua-duanya dari Najd. Kedua-dua Sheikh Abdul Wahhab dan Sheikh Sulaiman Ibn Abdul Wahhab adalah ulama besar Hanbali, tetapi mereka terkenal dengan kecaman terhadap ahli keluarga mereka sendiri iaitu Muhammad Ibn Abdul Wahhab – pelopor fahaman sesat Wahhabi.


TETAPI BUKANKAH AL-WAHHAB ITU SALAH SATU DARI NAMA-NAMA ALLAH?

Ok, kita telah pun membincangkan dan memahami mengapa nama-nama khusus telah diberikan kepada firkah-firkah sesat. Persoalan seterusnya:

1- Adakah nama khusus “Wahhabi” benar-benar satu penyelewengan dari salah satu nama-nama Allah nama isaitu “Al-Wahhab”?

2- Adakah nama khusus “Wahhabi” sekadar gelaran yang digunakan oleh musuh-musuh Islam?

Ulama zaman silam telah memberi gelaran kepada golongan yang berpendapat bahawa manusia tidak mempunyai kehendak bebas, dengan gelaran “Jabbariyyah”. Maka dengan itu, adalah amat diharuskan untuk melabel pengikut firqah sesat Muhammad Ibn Abdul Wahhab sebagai Wahhabiyyah.
Kalimah “Wahhabi” dan “Jabbari” bukannya satu penyelewengan ke atas nama-nama Allah iaitu Al-Wahhab dan Al-Jabbar. Walaupun kalimah gelaran Jabbariyyah, Wahhabiyyah, Karaamiyyah dan Qadariyyah semuanya adalah kata terbitan nama Allah (yang bermakna mereka mungkin mempunyai akar yang sama dan mungkin berkongsi huruf tiga hala yang sama), tetapi kata nama (nouns) Jabbariyyah, Wahhabiyyah dan sebagainya tidak sama dengan nama Allah yang sebenar apabila disebutkan dalam bentuk kata nama.

Begitu juga dengan kalimah “Wahhabi”, di mana apabila dieja dalam bahasa Arab, mempunyai Yaa (ي) sebagai huruf akhir – وهابي. Oleh itu, ia tidak sama dengan nama Allah iaitu “Al-Wahhab” – الوهاب.
Sesiapa sahaja yang memahami Ilm us-sarf dalam Bahasa Arab, akan tahu tentang hakikat ini dan tidak akan menggunakan apa-apa hujah yang palsu sepertimana kaum Wahhabi lakukan, demi untuk mempengaruhi orang awam kononnya mereka bukan diantara golongan yang sesat.

Hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab yang masyhur dan mu’tabar di kalangan mazhab fiqih yang empat. Di antara para ulama mazhab fiqih yang empat yang menganggap Salafi-Wahabi sebagai dari golongan Ahli Bid’ah, Neo-Khawarij, dan aliran SESAT adalah

1. Syaikh Muhammad al-Syadi dalam l Ithaf al-Kiram fi Jawaz al-Tawassul wa-Istighatsah bi al-Anbiya al-Kiram.
2. Syaikh Ahmad bin Abi al-Dhiyaf al-Maliki, dalam kitabnya Ithaf Ahl al-Zaman bi-Akhbar Muluk Tunus wa ‘Ahd al-Aman.
3. Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad Salim al-Kilani al-Iskandarani(w 1362H) dalam kitabnya al-Hujjah al-Mardhiyyah Itsbat al-Wasithah al-Lati Nafatha al-Wahhabiyyah.
4. Syaikh al-Sayyid al-Idrus dalam kitabnya Ajwibah fi Ziyarah al-Qubur.
5. Syaikh al-Imam Abu al-‘Aun Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Salim al-Nabulusi al-Hanbali yang dikenal dengan sebutan Ibnu al-Safarayini (w 1188 H) dalam kitabnya al-Ajwibah al-Najdiyyah ‘an al-As-ilah al-Najdiyyah.
6. Syaikh al-Sayyid Nu’man bin Mahmud Khairuddin yang dikenal dengan sebutan Ibnu al-Alusi al-Baghdadi al-Hanafi (w 2317 H) dalam kitabnya al-Ajwibah al-Nu’maniyyah ‘an al-As-ilah al-Hindiyyah fi al-Aqaid.
7. Al-Imam al-Hafizh al-Sayyid Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari (w 1380 H) dalam kitabnya Ihya’ al-Maqbur min Adilah Istihbab bina al-Masajid wa al-Qibab ‘ala al-Qubur, al-Burhan al-Jali dan kitab-kitab lainnya.
8. Syaikh Hamdi Juwaijati al-Damasyqi, dalam kitabnya al-Ishabah fi Nushrah al Khulafa al-Rasydin.
9. Syaikh Muhammad Hasan, murid al-Imam al-Sirhindi al-Mujaddidi (w 1346 H) dalam kitabnya al-Ushul al-Arba’ah fi Tardid al-Wahhabiyyah.
10. Syaikh al-Musyrifi al-Maliki al-Jazairi falam kitabnya Izhhar al-‘Uquq min man Mana’a al-Tawassul bi al-Nabiyy wa al-Waliy al-Shaduq.
11. Syaikh Ibrahim Syahatah al-Shiddiqi dalam kitabnya al-Aqwal al-Saniyyah fi al-Radd ‘ala Mudda’i Nushrah al-Sunnah al-Muhammadiyyah yang disusun dari pelajaran-pelajaran al-Muhaddits al-Sayyid Abdullah bin al-Shiddiq al-Ghumari.
12. Syaikh Atha al-Kasam al-Damasyqi al-Hanafi dalam kitabnya al-Aqwal al-Mardhiyyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
13. Al-Muhaddits Syaikh Thahir Sunbul al-Hanafi dalam kitabnya al-Intishar li al-Awliya’ al-Abrar.
14. Syaikh Ibrahim al-Rawi al-Baghdadi al-Rifa’i dalam kitabnya al-Awraq al-Baghdadiyyah fi al-Jawabat al-Najdiyyah.
15. Syaikh Ali Zainal ‘Abidin al-Sudani dalam kitabnya al-Bara’ah min al-Ikhtilaf fi al-Radd ‘ala Ahl al-Syiqaq wa al-Nifaq wa al-Radd ‘ala al-Firqah al-Wahhabiyyah al-Dhallah.
16. Syaikh Salamah al-Azzami (w 1379 H) dalam kitabnya al-Barahin al-Sathi’ah fi ar-Radd Ba’dh al-Bida’ al-Sya-i’ah.
17. Syaikh Hamdullah al-Dijwi al-Hanafi al-Hindi, dalam kitabnya al-Basha-ir li Munkiri al-Tawassul bi Ahl al-Maqabir.
18. Syaikh Ayyub Shabri Basya al-Rumi dalam kitabnya Tarikh al-Wahabiyyah.
19. Syaikh Muhammad Thahir bin Abdillah al-Kurdi dalam kitabnya Tabarruk al-Shahabah bi Atsar Rasulillah.
20. Syaikh Taufiq Sauqiyah al-Damasyqi (w 1380 H) dalam kitabnya Tabyin al-Haqq wa al-Shawab bi al-Radd ‘ala Atba’ Ibn al-Wahhab.
21. Syaikh Abdullah bin Abdullathif al-Syafi’i dalam kitabnya Tajrid Sayf al-Jihad li Mudda’i al-Ijtihad.
22. Al-Imam al-Muhaddits al-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari dalam kitabnya Tahzir al-Khalaf Min Makhazi Ad’iya’ al-Salaf.
23. Syaikh Muhammad al-Nafilati al-Hanafi, mufti Quds Palestin, dalam kitabnya al-Tahrirat al-Ra’iqah.
24. Syaikh Abdullah al-Mayirghini dalam kitabnya Tahridh al-Aghbiya ‘al-Istighatsah bi al-Anbiya wa al-Awliya.
25. Syaikh Dawud bin Sulaiman al-Baghdadi al-Naqsyabandi al-Hanafi (w 1299 H) dalam kitabnya al-Tuhfah al-Wahabiyyah fi ar-Radd ‘Ala al-Wahabiyyah.
26. Syaikh Muhammad Bakhith al*Muthi’i al-Hanafi dalam kitabnya Tath-hir al-Fuad Min Danas al-I’tiqad.
27. Syaikh Ibnu Kairan, Qadhi al-Jama’ah di wilayah Maghrib Maroko dalam kitabnya Taqyid Hawla al-Ta’alluq wa al-Tawassul bi al-Anbiya wa al-Shahihin.
28. Syaikh Muhammad bin Abdurrahman al-Hanbali dalam kitabnya Tahakkum al-Muqallidin biman Idda’a Tajddid al-Din.
29. Syaikh Abu Hamid bin Marzuq al-Damasyqi al-Syami dalam kitabnya al-Tawassul bi al-Anbiya wa al-Shalihin.
30. Syaikh Abdullah Afandi al-Rawi dalam kitabnya al-Taudlih ‘an Tauhid al-Khallaq fi Jawab Ahl al- Iraq ‘Ala Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahab.
31. Syaikh Ibrahim Hilmi al-Qadiri al-Iskandari dalam kitabnya Jalal al-Haqq fi Kasyf Ahwal Asyrar al-Khalq.
32. Syaikh Ibn Abdirrazzaq al-Hanbali dalam risalahnya al-Jawabat fi az-Ziyarat. Al-Sayyid Alawi bin Ahmad al-Haddad berkata : ” Saya telah melihat berbagai jawapan ( bantahan atas kaum Salafi-Wahabi) dari tulisan para ulama terkemuka dari empat mazhab, mereka yang berasal dari dua tanah haram (Mekah dan Madinah), dari al-Ahsa’, dari Basrah, dari Baghdad, dari Halab, dari Yaman, dan dari berbagai negara Islam lainnya. Baik tulisan dalam bentuk prosa maupun dalam bentuk bait-bait syair”.
33. Syaikh al-Imam Ahmad al-Shawi al-Maliki dalam kitabnya Hasyiyah ash-Shawi ‘Ala Tafsir al-Jalalain.
34. Syaikh Malik bin Mahmud, direktur perguruan al-Irfan di wilayah Kutabali Negara Republik Mali Afrika, dalam kitabnya al-Haqaiq al-Islamiyyah fi al-Radd ‘ ala al-Maza’im al-Wahhabiyyah bi-Abdillah al-Kitab wa al-Sunnah al-Nabawiyyah.
35. Syaikh Ahmad Sa’id al-Faruqi al-Naqasyabandi (w.1277H) dalam kitabnya al-Haqq al-Mubin fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyin.
36. Syaikh Abd Ghani ibn Shaleh Hamadah dalam kitabnya al-Haqiqah al-Islamiyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyah.
37. Al-Imam al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafi’i di Mekah ( w. 1304) dalam kitabnya al-Durar al-Saniyyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah.
38. Syaikh Misbah bin Ahmad Syibqilu al-Bairuti dalam kitabnya Dalil al-Kafi fi al-Radd ‘ala al-Wahhabi.
39. Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani al-Bairuti dalam kitabnya al-Ra-iyyah al-Shughra fi Dzamm al-Bid’ah wa Madh al-Sunnah al-Gharra’.
40. Syaikh Abdullah bin ‘Audah yang dikenal dengan sebutan Shufan al-Qaddumi al-Hanbali (w.1331H) dalam kitabnya ar-Rihlah al-Hijaziyyah.
41. Al-Imam al-Sayyid Muhammad Amin yang dikenal dengan sebutan Ibnu ‘Abidin al-Hanafi al-Damasyqi, dalam kitabnya Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar.
42. Syaikh Isma’il al-Tamimi al-Maliki (w.1248H) dalam kitabnya al-Radd ‘ala Ibn ‘Abd al-Wahab.
43. Syaikh Ahmad al-Mishri al-Ahsa’i dalam kitab Radd ‘ala Ibn ‘ Abd al-Wahab.
44. Al-Imam al-‘Allamah Barakat al-Syafi’i al-Ahmadi al-Makki dalam kitabnya Radd ‘Ala Ibn Abd al-Wahab.
45. Al-Imam al-Muhaddits al-Syaikh Shalih al-Fullani al-Maghribi dalam kitabnya al-Rudud ‘ala Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahab, As-Sayyid Alwi bin Ahmad al-Hadad dalam mengomentari al-Rudud ‘ala Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhab karya al-Muhaddits Shalih al-Fullani al-Maghribi tersebut berkata, “Kitab ini sangat besar. Di dalamnya terdapat beberapa risalah dan berbagai jawapan (bantahan atas kaum Salafi-Wahabi) dari semua ulama empat mazhab; ulama mazhab Hanafi, ulama mazhab Maliki, ulama mazhab Syafi’i, dan ulama mazhab Hanbali. Mereka semua dengan sangat bagus telah membantah Muhammad bin Abdul Wahab”.
46. Syaikh Shalih al-Kawasy al-Tunisi dalam kitabnya al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah, dalam bentuk sajak.
47. Syaikh Muhammad Shalih al-Zamzani al-Syafi’i, Imam Maqam Ibrahim di Mekah, dalam kitabnya al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
48. Syaikh Ibrahim bin Abdul Qadir al-Tharabulasi al-Riyahi ak-Tunusi al-Maliki dalam kitabnya al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyiah.
49. Syaikh Abdul Muhsin al-Asyikri al-Hanbali, mufti kota al-Zubair Basrah Iraq, dalam kitabnya al-Radd ‘ala al-Wahabbiyyah.
50. Syaikh al-Makhdum al-Mahdi, mufti wilayah Fas Maroko, dalam kitabnya al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
51. Al-Imam Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi al-Syafi’i dalam risalahnya al-Radd ‘ala Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhab. Beliau adalah salah seorang guru dari Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri. Syaikh Muham-mad ‘Arabi al-Tabbani dalam kitab Bara’ah al-Asy’ariyyin min ‘Aqaid al-Mukhalifin menulis: ” Guru Muhammad bin Abdul Wahhab (iaitu al-Imam Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi) telah memiliki firasat bahawa muridnya tersebut akan menjadi orang sesat dan menyesatkan. Firasat seperti ini juga dimiliki guru Muhammad bin Abdul Wahab yang lain, iaitu Syaikh Muhammad Hayat al-Sindi, dan juga dimiliki oleh ayahnya sendiri, iaitu Syaikh Abdul Wahhab”.
52. Syaikh Abu Hafsh Umar al-Mahjub dalam kitabnya al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah karya.
53. Syaikh Musthafa al-Karimi bin Ibrahim al-Siyami dalam kitabnya Risalah al-Sunniyyin fi ar-Radd ‘ala al-Mubtadi’in al-Wahhabiyyin wa al-Mustauhidin.
54. Al-Imam Nuruddin Yusuf al-Dijwi al-Maliki dalam kitabnya Risalah fi Tashrruf al-Auliya’.
55. Al-Imam al-‘Allamah Mahdi al-Wazzani , mufti wilayah Fas Maghrib, dalam kitabnya Risalah fi Jawaz al-Tawassul fi al-Radd ‘ala Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhab.
56. Al-Imam al-Sayyid Yusuf al-Bithah al-Ahdal al-Zabidi dalam kitab Risalah fi al-Istigatsah wa al-Tawassul. Dalam karyanya ini beliau mengutip pernyataan seluruh ulama dari empat mazhab dalam bantahan mereka atas kaum Salafi-Wahabi, kemudian beliau mengatakan: “Sama sekali tidak dianggap faham yang menyempal dari keyakinan majoriti umat Islam dan berseberangan dengan mereka, dan siapa melakukan hal itu maka ia adalah seorang ahli bid’ah”.
57. Al-Imam al-Syaikh Muhammad Hasanain Makhluf al-‘Adawi al-Mishri, wakil Universiti al-Azhar Cairo dan mufti Mesir, dalam kitabnya Risalah fi Hukm al-Tawassul bi al-Anbiya’ wa al-Awliya’.
58. Syaikh Qasim Abu al-Fadhl al-Mahjub al-Maliki dalam kitabnya Risalah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
59. Al-Imam al-Syaikh Musthafa bin Ahmad bin Hasan al-Syathi al-Damasyqi al-Hanbali dalam kitabnya Risalah fi al-Radd ‘ala al-Wajhabiyyah.
60. Syaikh Ahmad Hamdi al-Shabuni al-Halabi (w.1374), dalam kitabnya Risalah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
61. Syaikh Ahmad binHasan al-Syathi, mufti mazhab Hanbali di Wilayah Damaskus Syria, dalam kitabnya Risalah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
62. Syaikh Uthman al-Umari al-Uqaili al-Syafi’i, dalam Risalah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
63. Syaikh Muhammad Athaullah yang dikenal dengan sebutan Atha’ al-Rumi dalam al-Risalah al-Raddiyyah ‘ala al-Thaifah al-Wahhabiyyah.
64. Syaikh al-Sa’di al-Maliki dalam kitabnya ar-Risalah al-Mardhiyyah fi al-Radd ‘ala man Yunkir al-Ziyarah al-Muhammadiyyah.
65. Syaikh Abdurrahman al-Hindi al-Dalhi al-Hanafi, dalam kitabnya Raudh al-Majal fi al-Radd ‘ala Ahl al-Dhalal.
66. Syaikh al-Qadhi Andurrahman Quti dalam kitabnya Sabil al-Najah min Bid’ah Ahl al-Zaigh wa al-Dhalalah.
67. Al-Imam al-Syaikh Ibrahim bin Utsman bin Muhammad al-Samannudi al-Manshuri al-Syafi’i dalam kitabnya Sa’adah al-Darain fi al-Radd ‘ala al-Firqatain, al-Wahhabiyyah wa Muqallidah al-Zhhirriyyah.
68. Al-Imam al-Sayyid Alwi bin Ahmad al-Haddad (w 1222) dalam kitabnya al-Sayf al-Batir li-‘Unuq al-Munkir ‘ala al-Akabir.
69. Salah seorang ulama terkemuka di Bait al-Maqdis dalam kitabnya al-Suyuf al-Shiqal fi A’naq man Ankar ‘ala al-Awliya’ ba’da al-Intiqal.
70. Syaikh Ali bin Muhammad al-Maili al-,Jamali al-Tunisi al-Maghribi al-Maliki dalam kitabnya al-Suyuf al-Musyriqiyyah li-Qath’i A’naq al-Qailin bi al-Jihah wa al-Jismiyyah.
71. Syaikh al-Islam Muhammad Athaullah bin Muhammad bin Ishaq al-Rumi (w 1226 H) dalam kitabnya Syarh al-Risalah al-Raddiyyah ‘ala Thaifah al-Wahhabiyyah.
72.Syaikh Atha’ al-Makki dalam kitabnya al-Sharim al-Hindi fi Unuq al-Najdi.
73. Al-Syaikh al-Sayyid Abdullah bin Hasan Basya bin Fadhal Basya al-Alawi al-Husaini al-Hijazi dalam kitabnya Shidq al-Khabar fi Khawarij al-Qarn al-Tsani ‘Asyar fi Itsbat ann al-Wahhabiyyah min al-Khawarij.
74. Syaikh Dawud bin Sulaiman al-Naqsyabandi al-Baghdadi al-Hanafi (w 1299 H) dalam kitabnya Shulh al-Ikhwan fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah li-Takfirihin al-Muslimin.
75. Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab, saudara kandung pendiri Salafi-Wahabi, dalam kitabnya al-Shawa’iq al-Ilahiyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
76. Syaikh Afifuddin Abdullah bin Dawud al-Hanbali dalam kitabnya al-Shawa’iq wa al-Rudud. Al-Sayyid Alawi bin Ahmad al-Haddad berkata: “Karya ini( al-Shawa’iq wa al-Rudud) telah diberi rekomendasi oleh para ulama terkemuka dari Basrah, Baghdad, Halab, Ahsa’, dan lainnya sebagai pembenaran bagi segala isinya dan pujian terhadapnya”.
77. Syaikh Zhahir Syah Mayan bin Abdul ‘Azhim Mayan dalam kitabnya Dhiya’ al-Shudur li-Munkir al-Tawassul bi Ahl al-Qubur.
78. Al-Imam Ahmad bin Abdul Ahad al-Faruqi al-Hanafi an-Naqsyabandi, dalam kitabnya al-‘Aqaid al-Tis’u.
79. Syaikh Hafizh Muhammad Hasan al-Sarhandi al-Mujaddidi dalam kitabnya al-Aqaid al-Shahihah fi Tardid al-Wahhabiyyah al-Najdiyyah.
80. Syaikh Ismail Abu al-Fida’ al-Tamimi al-Tunusi dalam kitabnya ‘Iqd Nafis fi Radd Syubuhat al-Wahhabi al-Ta’is.
81. Syaikh Abu Saif Musthafa al-Hamami al-Mishri dalam kitabnya Ghawts al-‘Ibad bi Bayan al-Rasyad.
82. Al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, (w 1304H) mufti mazhab Syafi’i di dua tanah haram; Mekah dan Madinah, dan salah seorang ulama terkemuka yang mengajar di Masjid al-Haram dalam kitabnya Fitnah al-Wahhabbiyah, yang merupa bahagian dari karya beliau dengan judul al-Futuhat al-Islamiyyah.
83. Syaikh Ahmad bin Ali al-Bashri yang dikenal dengan sebutan al-Qabbani al-Syafi’i dalam kitabnya Fashl al-Khithab fi Radd Dhalalat Ibn Abd al-Wahhab.
84. Syaikh Abu al-Abbas Ahmad bin Abdussalam al-Banni al-Maghribi dalam kitabnya al-Fuyudhat al-Wahbiyyah fi al-Radd ‘ala al-Thaifah al-Wahhabiyyah.
85. Syaikh Ibnu Ghalbun al-Libi, dalam kitabnya Qashidah fi-Radd ‘ala al-Shan’ani fi Madh Ibn ‘Abd al-Wahhab, bait-bait sya’ir sebanyak 40 bait.
86. Al-Imam al-Sayyid Musthafa al-Mishri al-Bulaqi dalam Qashidah fi al-Radd ‘ala al-Shan’ani al-Ladzi Madaha Ibn ‘Abd al-Wahab, bait-bait sya’ir sebanyak 126 bait.
87. Syaikh Abdul Aziz Qurasyi al-‘Ilji al-Maliki al-Ahsa’i dalam Qashidah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
88. Al-Muhaddis al-Syaikh Muhammad al-Khadhir al-Syinqithi (w 1353 H) dalam kitabnya Qam’u Ahl al-Zaigh wa al-Ilhad ‘an al-Tha’ni fi Taqlid A’immah al-Ijtihad.
89. Al-Imam al-Sayyid Alawi bin Ahmad al-Haddad (w 1222 H) dalam kitabnya Mishbah al-Anam wa Jala al-Zhalam fi Radd Syubah al-Bid’iy al-Najdi al-Lati Adhalla biha al-Awamm.
90. Syaikh Hasan Quzbik dalam kitabnya al-Maqalat al-Wafiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
91. Al-Qadli Ismail al-Tamimi al-Tunusi (w 1248) dalam kitabnya al-Minah al-Ilahiyah fi Thams al-Dhalalah al-Wahhabiyyah.
92. Syaikh Idris bin Ahmad al-Wazzani al-Fasi (w 1272 H) dalam kitabnya al-Nasyr al-Thayyib ‘ala Syarh al-Syaikh al-Thayyib.
93. Al-Sayyid Muhammad Thahir al-Mulla al-Kayyali al-Rifa’i dalam kitabnya Nashihah Jalilah li al-Wahhabiyyah.
94. Al-Imam al-Syaikh Musthafa bin Ahmad al-Syathi al-Hanbali al-Damasyqi, dalam kitabnya al-Nuqul al-Syar’iyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah.
95. Al-Imam Abdullah bin Muhammad bin Humaid al-Hanbali al-Najdi, mufti mazhab Hanbali di Makkah al-Mukarramah, dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah.
96. Al-Syaikh Musthafa bin Ibrahim al-Karimi al-Siyami dalam kitabnya Nur al-Yaqin Fi Mabhats at-Talqin ; Risalah as-Sunniyyin fi ar-Radd ‘Ala al-Mubtadi’in al-Wahhabiyyah wa al-Mustauhibin.
97. Al-Imam al-Syaikh al-Ahmadi al-Zhawahir, salah seorang Syaikh al-Azhar Cairo Mesir, dalam kitabnya Yahudan La Hanabilatan.
98. Syaikh Abdul Qadir Isa Dayyab, dalam kitabnya al-Mizan al-‘Adil li Tamyiz al-Haqq min al-Bathil.
99. Syaikh Abdullah al-Harari dalam kitabnya al-Maqalat al-Sunniyyah fi Kasyf Dhalalat Ahmad Ibn Taimiyyah.
100. K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, dalam kitabnya Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.

Akhir kalam, selamat mencari, berbincang dan mengkaji dengan ikhlas lebih-lebih lagi dalam bab aqidah.

Semoga kami semua mendapat hidayat dari Allah SWT dengan berkat Nabi Muhammad SAW. Amin…

Sumber : FB ‎Singapura Tolak Fahaman Wahabi/Salafi

11 January 2017 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Meninggalkan kaedah ilmu para ulama adalah suatu jenayah ilmu. Maka lahirlah kefahaman syok sendiri dan perasan diri hebat……..

Meninggalkan kaedah ilmu para ulama adalah suatu jenayah ilmu. Maka lahirlah kefahaman syok sendiri dan kefahaman orang gila.

Kaedah ilmu termasuk ilmu mustolah hadith dan ulum hadith dibina di atas thoriq mutakallimin dan kaedah mantiq. Begitu juga ilmu usul fiqh.

Menolak kaedah ilmu kalam di dalam memahami akidah tetapi menerima ilmu mustoholah hadith atau usul fiqh adalah ibarat seseorang yang inginkan seorang perempuan tetapi mak dan ayah perempuan dimusuhi.

Satu ketika saya mendengar seorang Ustaz Wahhabi menyesatkan ilmu aqal tetapi dalam masa yang sama meniti di bibirnya perkataan wajib, mustahil dan harus.

Sedangkan wajib, mustahil dan harus itu adalah prinsip hukum akal. Iaitu wajib pada akal, mustahil pada akal dan harus pada akal.

Benarlah mafhum kalam ulama ” Orang buta tidak akan menghalang matahari daripada terus bercahaya”. Merekalah yang buta daripada melihat cahaya matahari lalu disangka gelap gelita padahal cahayanya terang benderang.

Sekian Salam Juma’at yang bukan Juma’at kerana Juma’at adalah masa yang tidak wujud khaariji seperti tempat.

Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari
Perkarangan Masjid Ar-Rayyan Permyjaya
Miri Sarawak

31 December 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

ADAKAH MENGIKUT MAZHAB ITU WAJIB?

Penulis : Dr Asmadi Mohamed Naim

Saya didatangi dengan soalan ‘adakah mengikut mazhab itu wajib?’. Saya akan cuba menjelaskan secara ringkas. Secara khususnya, seseorang yang bertaraf mujtahid adalah dilarang mengikut mazhab sebaliknya hendaklah dia berijtihad berdasarkan dalil al-Quran dan sunnah.

Bagaimana pula orang-orang awam? Sepakat ulama-ulama Usul (untuk diiktiraf ulama usul mereka mesti mahir quran & sunnah dan penafsirannya) mengatakan mazhab orang-orang awam ialah mazhab muftinya, kerana sekiranya didatangkan dalil kepada orang-orang awam, dia tidak tahu sahihnya atau dhaifnya; atau dia tidak tahu cara penghujahannya; dan dia juga tidak tahu nasikh atau mansukh.

Akhirnya dia juga terpaksa bertaqlid dengan ustaz-ustaz untuk bertanya mana sahih, dan yang mana dhaif; atau bertanya maksudnya. Maka muqallid jugalah tu, Cuma berubah dari taqlid Imam-Imam mazhab kepada taqlid ustaz itu.

Apabila ditanya kepada saya, adakah saya mengikut mazhab, saya katakan: Saya bukan mujtahid, jadi saya mengikut dan mengeluarkan pandangan kebanyakkannya berdasarkan mazhab Imam Shafie Rahimahullah seboleh mungkin.

Saya ditanya lagi: Kalau begitu ustaz seorang muqallid (pentaklid) jugalah? Saya katakan: Antara muqallid dan mujtahid, ada martabat pertengahan iaitu ‘muhafiz’, iaitu berpegang pada pandangan mazhab, dengan juga melihat dalil-dalil.
Kalau saya dapat sampai ke tahap ini, saya bersyukur banyak-banyak pada Allah SWT.

Saya ditanya lagi: Kenapa Ustaz berpegang pada pandangan orang dah mati? Saya katakan: Ulama Usul sepakat membenarkan berpegang kepada pandangan orang yang sudah mati sebab yang mati ialah orangnya, tapi ilmunya tidak mati.

Saya ditanya lagi: Kenapa Ustaz tak mengikut mana-mana profesor/Dr/Ustaz sekarang yang boleh bina mazhab sendiri? Saya jawab: Kenapa perlu saya berubah keyakinan dari orang yang dekat zamannya dengan Rasulullah SAW (العالي), kepada orang di zaman sekarang (النازل) yang saya tak tahu sejauh mana ketakwaan dia dan ilmunya!

Saya ditanya lagi: Tak cukupkah ijazah PhD yang ustaz dapat untuk menjadi mujtahid? Saya akan katakan sambil gelak: Tidak ada pun ulama-ulama besar mensyaratkan ada PhD/Prof. Madya sebagai mujtahid. Setahu saya mereka mensyaratkan hafal al-Quran dan sunnah, tahu ijma’ dan qiyas, mahir dalam usul fiqh, mahir bahasa Arab, tahu nasikh dan mansukh dan lain-lain beserta sifat taqwa! Sistem belajar sekarang, kalau saya kaji pasal kuman, saya mahir dalam kuman sahaja, belum lagi bidang lain. Untuk Prof. Madya/prof pula, kena tulis bagi masuk Jurnal-Jurnal terkemuka, buku-buku, buat kajian dan markah-markah persidangan, jawatan dan sebagainya. Tapi kalau banding dengan kitab-kitab ulama dulu yang tebal-tebal dan diiktiraf dalam pelbagai bidang, merah padam dan malu rasanya. Bersyukurlah kalau dapat menjadi hamba yang tahu dirinya……

Saya ditanya lagi: Habis tu, ada orang mendakwa dia mampu berijtihad! Saya katakan lagi: Biarkan Si luncai terjun dengan labu-labunya……. adakah anda mahu terjun sama…silakan….tapi belum pasti selamat…. Mungkin petikan dari kitab al-Sheikh Mahmud Sa’id Mamduh (dalam kitabnya al-Ta’rif bi Auham man qassama al-Sunnan Ila Sahih wa Dhaif, jilid 1, halaman 14) membantu kefahaman pembaca: Faedah ke 3 Sesungguhnya aku melihat al-Ustaz al-Sheikh ((Muhammad Nasruddin Al-Bani)) melarang beramal dengan sebarang hadis-hadis dhaif, dan mewajibkan membezakan antara sahih dan dhaif –berdasarkan pandangannya- untuk dia mempromosikan kepada orang ramai dengan sesuatu yang dinamakan- “al-fiqh al-musaffa (fiqh tulen/suci) – sila rujuk muqaddimah Sahih al-Adab al-Mufrad, 2000, hal.32, Cetakan Dar al-Buhuth lil Dirasat al-Islamiyyah).
Ketika itu dia mempunyai tugasan untuk menjelaskan apa yang dinamakan ‘fiqh musaffa’; maka beliau melakukan pembahagian kitab-kitab Sunan yang empat kepada dua bahagian: 1. Sahih dan hassan, yang boleh diamalkannya. 2. Dhaif, tidak boleh diamalkannya, dan dia gabungkan dengan hadis-hadis wahiyat(rekaan) dan maudu’at(palsu) dalam satu bab.
Sesungguhnya aku melihat perbuatannya ini, bertentangan dengan jalan para fuqaha dan ulama hadith. Sesungguhnya dia mencipta satu kecacatan besar, dan satu keraguan besar pada dalil-dalil furu’ fiqh yang umum, dan mencabut thiqah (keyakinan masyarakat) terhadap ulama-ulama fiqh, hadith dan terhadap warisan penulisan fiqh, hadith yang diwarisi dan umat bangga dengannya.
Tambahan pula, dia juga diuji dengan mengingkari sebahagian jalan-jalan para fuqaha’ dan ulama hadis pada mensahihkan dan mendhaifkan hadith dan hukum ke atas rawi. Dia menuduh ulama-ulama silam sebagai ‘tidak konsisten’ pada satu ketika, dan pada ketika lain sebagai memudah-mudahkan’. Maka menyangkalah orang-orang yang tidak mengetahui (jahil), bahawasanya, dengan berbeza pandangan Albani dengan fuqaha’, muhadthin dan para penghafal hadith, Albani telah mendatangkan sesuatu yang sukar bagi ulama-ulama silam (samada Mutaqaddimin atau mutaaakhkhirin) memahaminya dan menguasainya, maka bersegeralah mereka bertaklid padanya, dan orang-orang ini meninggalkan para Imam-imam dan penghafal hadith, dan beramal secara berbeza dari apa yang diwarisi dari Imam-Imam, ijtihad ulama mujtahid; dan Albani menjadi tinggi dari mereka.
Maka jadilah Sheikh Muhammad Nasiruddin Albani memindahkan orang ramai dari mengikuti ‘orang yang dekat zamannya dengan Rasulullah’ (العالي), kepada ‘seorang yang zamannya jauh daripada Rasulullah’ (النازل), dan menjauhkan mereka daripada mengikuti Imam-Imam Mujtahid dan para penghafal hadith kepada mengikutinya seorang sahaja.”

Tamat Nukilan Terpulang kepada pembaca membuat pertimbangan. Pada saya berpegang pada ijtihad dahulu lebih selamat dari berpegang kepada ijtihad sekarang yang kelihatan carca merba metodenya dan bertaklid dengan orang-orang baru (al-nazil).

Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari kesesatan dan menganugerahkan kita jalan yang lurus.

Wallahu a’lam.

31 December 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Melayan Kejahilan Bermusim Wahhabi

Oleh: Ustaz YM Engku Ahmad Fadzil.

Sebenarnya saya dah malas nak melayan perangai golongan yang suka membid’ah sesatkan amalan ummat Islam dengan alasan perbuatan tersebut tidak dilakukan oleh RasuululLaah S.A.W. kerana sikap mereka mengharamkan perbuatan2 yang tidak dilakukan oleh RasuululLaah S.A.W. semata-mata ianya tidak dilakukan oleh RasuululLaah sebenarnya merupakan bid’ah yang sesat di dalam agama kerana mereka cipta sesuatu yang tidak ada asas di dalam agama malah bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah itu sendiri dan termasuk di dalam perbuatan keji mengharamkan sesuatu yang tidak haram di dalam agama.

Apapun, oleh kerana ada sahabat2 yang bertanya berkaitan poster recycled ini dan “logik kedai kopi” yang tidak bersandarkan kaedah fiqhiyyah sebenar ini dicampur aduk dengan penyelewengan fakta yang dikitar semula saban tahun, maka saya copy paste perbualan saya dengan seorang pengikut Wahhabi di dalam sebuah Group Telegram mungkin sekitar 2 tahun yang lalu ketika saya masih aktif melayan perbincangan2 di dalam Group Telegram. Moga2 ada manfaatnya kepada mereka yang Allah SWT bukakan hati mereka untuk mencari kebenaran 👇

SOALAN WAHHABI: Abu lahab ko sapo org hok mula2 smbut maulud nabi?
Bg pnjlasan ckit shabat2.

JAWAPAN SAYA: Kalau Abu Lahab sambut mawlid Nabi Muhammad SAW pun apa masalahnya? Adakah kerana sesuatu perbuatan yang baik dilakukan oleh orang2 kafir, maka perbuatan itu jadi buruk? Kalau ada orang-orang kafir yang hormat kepada ibubapa, membantu orang-orang miskin, maka perbuatan itu jadi buruk. Wahhabi yang galak membid’ah dholaalah kan sambutan mawlid Nabi Muhammad SAW seakan terlupa puasa 10 Muharram asalnya amalan orang-orang Yahudi tetapi oleh kerana baik mengikut kayu ukur syarak (menzahirkan kesyukuran atas keselamatan Nabi Allah Musa a.s. daripada ancaman Firaun) maka diiktiraf, dianjurkan dan diamalkan oleh RasuululLaah SAW. Mereka juga lupa antara orang yang paling awal menyambut mawlid adalah RasuululLaah SAW sendiri yang menyambut hari kelahiran baginda setiap minggu dan mereka lupa dan buat muka tak malu menyambut mawlid insan bernama Muhammad bin Abdul Wahhab pengasas gerakan Wahhabi, tetapi apabila yang disambut mawlid itu namanya Muhammad bin Abdullah SallalLaahu ‘alaihi wa sallam maka jadi bid’ah dholaalah masuk neraka. Wahhabi bukan sahaja ada masalah dari segi ilmu, hatta kalau ada ilmu sekalipun racun Wahhabi yang menyerap di dalam hati dan fikiran mereka mematikan kebolehan mereka untuk berfikir secara adil dan konsisten.
نسأل الله العفو والعافية.

SOALAN WAHHABI: Sabar syeikh
Kt kan brbncang.
Mana sumber enta amik yg kata rasulullah smbut maulidnya stiap mnggu?
Bg hujah syeikh…jgn ckap sj hehe.

JAWAPAN SAYA: Sabar dan marah ada tempatnya. Kita disuruh marah kalau agama dirosakkan oleh juhala berlagak pandai. Lagipun, memang masih cool 😎 aje, cuma bagi point2 moga2 dengannya Allah bukakan hati dan fikiran mereka yang masih di peringkat mencari hak dan kebenaran.

SOALAN WAHHABI: Mana hujjah yg ana mnta? Enta org alim bg la …sy geng2 juhalah.

JAWAPAN SAYA: Hujjah apa lagi? Menzahirkan kesyukuran atas kelahiran insan yang menjadi rahmat kepada sekelian alam yang turut dilakukan oleh yang empunya diri yang perkataan dan perbuatan, malah diamnya boleh menjadi sandaran hukum, masih mahu tanya hujjah? Hrrmm…

SOALAN WAHHABI: Mana sumber enta amik yg kata rasulullah smbut maulidnya stiap mnggu?
Sbut hads atau ayat al quran
Itu hujjah namanya…takkan org alim cam enta pon x tau.

JAWAPAN SAYA:
كنا مع النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذ أتى على رجلٍ فقالوا : ما أفطَر مُذْ كذا وكذا , فقال : لا صام ، ولا أفطَر ، أو ما صام وما أفطَر , شكَّ غيلانُ , فلما رأى عُمرُ غضَب رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ، قال : يا رسولَ اللهِ صومُ يومَينِ وإفطارُ يومٍ ؟ قال : ويطيقُذاك أحدٌ ؟ قال : قلتُ : يا رسولَ اللهِ ، صومُ يومٍ وإفطارُ يومٍ ؟ قال : ذاكَ صومُ أخي داودَ عليه السلامُ , قال : يا رسولَ اللهِ صومُ يومٍ وإفطارُ يومَينِ ؟ قال : ومَن يطيقُ ذاكَ , قال : يا رسولَ اللهِ صومُ يومِ الاثنَينِ ؟ قال : ذاكَ يومٌ وُلِدتُ فيه وأُنزِلَ عليَّ فيه النبوةُ

RESPON WAHHABI: Ini br btul …ada hujjah👍

RESPON SAYA:👆hujjah bagi orang-orang yang Allah SWT masih belum tutupkan mata hatinya dengan ketaksuban terhadap kecenderungan Wahhabi yang suka membid’ah dholaalah kan amalan2 ummat Islam yang mempunyai dalil dan sandaran seolah2 kefahaman mereka sahaja yang betul tidak boleh tersalah.

*KEMUDIAN WAHHABI DIAM LAMA, MUNGKIN GOOGLE MAKNA HADITH YANG DIBERIKAN. SETELAH LAMA MEMBISU, WAHHABI MASIH BELUM BERPUAS HATI, DAPAT IDEA UNTUK MEMPERPANJANGKAN PERTIKAIAN, LALU BERTANYA:

Nabi gembira dengan hari kelahirannya pada hari Isnin…maka baginda pun berpuasa atas menunjukkan kegembiraan tersebut…maka hujahnya Baginda saw menyambutnya setiap minggu
sambutan stahun skali mana hujahnya?

JAWAPAN SAYA: Tak jumpa hujjah, bukan bermakna tiada hujjah, carilah, mengajilah, kembangkan lah kefahaman, jangan disempitkan apa yang Allah SWT perluaskan.

SOALAN WAHHABI: sambutan stahum skali mana hujahnya?

RESPON SAYA:👆dah agak soalan nih.

SOALAN WAHHABI: Mana syeikh? Gtau la.

JAWAPAN SAYA: Ijmak
Ijmak ulama tidak wajib berpuasa setiap Isnin.

RESPON WAHHABI: Nak bramal mst ada hujah syeikh.

RESPON SEORANG AHLI GROUP: dah bg hujah rasulullah sambut sendiri x nk terima
Perangai wahabi memang ego..

SOALAN WAHHABI: Smua kita mngakui puasa sunat hr isnin
Tp yg stahun skali manaaaa?

JAWAPAN SAYA:
العبرة بعموم اللفظ، لا بخصوص السبب
Mengambil hukum adalah daripada keumuman lafaz, bukan dengan kekhususan sebab
Itu kaedah…
Yang pasti daripada hadis, jelas boleh menzahirkan kesyukuran atas kelahiran RasuululLaah SAW. Adakah mesti setiap minggu? Adakah mesti dengan cara berpuasa? Ijmak ulama bahawa kedua2 itu tidak wajib. Maka ummat bebas menzahirkan kesyukuran mereka dengan apa2 cara yang mereka mampu selagi mana tidak melanggar batas2 syarak. Berselawat, menjemput Ustaz2 memberi tausiah dan tazkirah, menjamu makan semuanya masih termasuk di dalam perkara2 yang dianjurkan oleh Islam. Wahhabi yang suka menyempitkan apa yang Islam perluaskan. Kasihan…

SOALAN WAHHABI: Siapakah orang yang pertama menyambut maulid Nabi???

JAWAPAN SESEORANG: Sambutan peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Iraq sekarang), bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri.
Sejak bilakah sambutan maulidur rasul ini diadakan?
Ia dimulakan oleh Sultan Muzhaffaruddin pada awal abad ke 7 hijriyah.
Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata:
“Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang berani, pahlawan,` alim dan seorang yang adil -semoga Allah merahmatinya-”.

Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn al-Jauzi bahawa, dalam peringatan tersebut, Sultan al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama’ dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama’ dalam bidang ilmu fiqh, ulama’ hadits, ulama’ dalam bidang ilmu kalam, ulama’ usul, para ahli tasawwuf dan lainnya untuk meraikannya.

Selama tiga hari, sebelum hari pelaksanaan mawlid Nabi, beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut.

Segenap para ulama’ saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua menganggap baik perayaan maulid Nabi yang dibuat untuk pertama kalinya itu.

Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat al-A`yan menceritakan bahawa al-Imam al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Moroco menuju Syam dan seterusnya ke menuju Iraq, ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijrah, beliau mendapati Sultan al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh kerana itu, al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Sultan al-Muzhaffar.

Para ulama’, semenjak zaman Sultan al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahawa perayaan maulid Nabi adalah sesuatu yang baik.
Para ulama terkemuka dan Huffazh al-Hadits telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti ;
al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H)al-Hafizh al-’Iraqi (W. 806 H)Al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani (W. 852 H)al-Hafizh as-Suyuthi (W. 911 H)al-Hafizh aL-Sakhawi (W. 902 H)SyeIkh Ibn Hajar al-Haitami (W. 974 H)al-Imam al-Nawawi (W. 676 H)al-Imam al-`Izz ibn `Abd al-Salam (W. 660 H)mantan mufti Mesir iaitu Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W. 1354 H)Mantan Mufti Beirut Lubnan iaitu Syeikh Mushthafa Naja (W. 1351 H)
dan terdapat banyak lagi para ulama’ besar yang lainnya.

Bahkan al-Imam al-Suyuthi menulis karya khusus tentang maulid yang berjudul “Husn al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid”. Karena itu perayaan maulid Nabi, yang biasa dirayakan di bulan Rabi’ul Awwal menjadi tradisi ummat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

RESPON SAYA: Dalil dan istidlaal pun tak tahu beza tapi galak nak menghukum orang-orang lain sesat dan bid’ah. Semoga Allah SWT lindungi kita dan zuriat kita daripada kebebalan dan kedegilan menerima kebenaran
Mana pula dalil haram menzahirkan kesyukuran atas kelahiran RasuululLaah SAW setahun sekali? Kalau tak mampu bersyukur setiap detik, sekurang2nya setahun sekali, takkan jadi haram masuk neraka?

SOALAN WAHHABI: Sapa kata haram?
TERANG SAYA: Dalil ada yang qhatie dan ada yang zhonni, kedua-duanya diterima di dalam skop masing2.

TANYA SESEORANG: Knp anta nk dalil qati,’?

JAWAB WAHHABI: Utk dijadikn hujah dlm bribadah.

JAWAPAN SAYA: Wahhabi suka pusing2 cakap. Kalau tak haram sambut mawlid tahunan selesai masalah, tak perlu lah ikut fatwa Ibn Uthaimin yang mengharamkan sambutan mawlid Nabi tetapi menghalalkan mawlid Muhammad bin Abdul Wahhab
Hujjah dalam beribadah tak perlu dalil qathie.

SOALAN WAHHABI: Hangpa dok asyik wahabi dr td…knal ke sapa wahabi tu.

RESPON SAYA KEPADA JAWAPAN WAHHABI SEBELUM ITU: Ini namanya jahil dua lapis. Kalau jahil selapis senang pi belajar. Sejak bila pula dalam ibadah mesti dalil qhatie?
Qathie dari segi thubut dan dalaalah, begitu juga zhonni.

JAWAPAN SAYA KEPADA SOALAN KLISE BUAT2 TAK TAHU WAHHABI: Wahhabi tu dalam bahasa Arab ditulis وهابي. Apa fungsi huruf ي dihujung perkataan Wahhabi? Kalau yang itu pun tak faham, no wonder selalu keluar ayat “Jangan tuduh orang Wahhabi bla bla”. Sedangkan tak ada pengikut imam Syafie atau Imam Ahmad rahimahumalLaah yang melenting atau sensitif bila dipanggil Syafie atau Hanbali. Kasihan yang ikut pola fikir dan pegangan Muhammad bin Abdul Wahhab tetapi menuduh orang2 lain tidak berakhlak semata-mata kerana memanggil dia Wahhabi (pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab) sungguh kasihan…

Salam
Surah Al-Furqan, Ayat 63:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا.
– TAK MAHU HABISKAN MASA MELAYAN WAHHABI YANG BUKAN INGIN MENCARI KEBENARAN

15 December 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

21 DALIL KEHARUSAN MENYAMBUT SAMBUTAN MAULIDURRASUL

Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan

Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah Sohibul Maulid sendiri, iaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sohih yang diriwayatkan Muslim bahawa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Isnin, Baginda menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nas yang paling nyata yang menunjukkan bahawa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.

Banyak dalil yang boleh kita jadikan sebagai dasar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

PERTAMA, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, bapa saudara Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan kerana kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Isnin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, kerana kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?

KEDUA, Baginda sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmat-Nya yang terbesar kepadanya.

KETIGA, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah Al-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58).

Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).

KEEMPAT, Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lepas. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.

KELIMA, peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca selawat, dan selawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).

Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, bererti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.

KEENAM, dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang peribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.

KETUJUH, peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebahagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.

Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qasidah-qasidah yang memujinya. Nabi redha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau redha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak redha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, iaitu dengan menarik kecintaannya dan keredhaannya

KELAPAN, mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhas-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.

Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, baik fizik (tubuh) mahupun akhlak, ilmu mahupun amal, keadaan mahupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlak dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.

KESEMBILAN, mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk pengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.

KESEPULUH, dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jumaat, disebutkan bahawa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan.” Hal itu menunjukkan dimuliakan-nya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari dilahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulia?

KESEBELAS, peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan kaedah yang diambil dari hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, ia pun baik di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”

KEDUA BELAS, dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, zikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.

KETIGA BELAS, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahawa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun perlu untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari keperluan Baginda akan kisah para nabi sebelumnya.

KEEMPAT BELAS, tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalil-dalil syara’.

KELIMA BELAS, tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, nescaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf kerana khuatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan solat Tarawih, padahal ia mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Banyak lagi perbuatan baik yang sangat diperlukan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.

KEENAM BELAS, peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), kerana ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaedah-kaedah kulliyyah (yang bersifat global).

Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perincian-perincian amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), kerana amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.

KETUJUH BELAS, semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincinan amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Kerana apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.

KELAPAN BELAS, Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji.”

KESEMBILAN BELAS, setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemungkaran, itu termasuk ajaran agama.

KEDUA PULUH, memperingati Maulid Nabi SAW bererti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang Anda lihat, sebahagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.

KEDUA PULUH SATU, semua yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nabi SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan mungkar yang tercela, yang wajib ditentang.

Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatan-perbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tak diredhai shahthul Maulid, tak diragukan lagi bahawa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut.

Diambil dari kitab Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki (1365 H -1425 H)

15 December 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Benarkah Tarikh Kelahiran Nabi ( Maulid Nabi ) Pada Tarikh 12 Rabiul Awwal Itu Palsu Dan Tidak Tepat?

Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan

Masyarakat mulai memperkatakan tentang tarikh sebenar Maulid Nabi dan sesetengahnya berkata bahawa tarikh 12 Rabiul Awwal yang disambut oleh majoriti umat Islam itu palsu malah tidak tepat. Adakah benar kenyataan itu?
Mari kita lihat perbahasan dibawah ini.

Hari Lahir Nabi

Para Ulama’ dah ilmuwan bersepakat bahawa Rasulullah saw dilahirkan pada Hari Isnin sebagaimana dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Berkenaan Tahun Kelahiran Rasulullah saw pula telah dijelaskan dalam banyak hadis diantaranya:

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيْلِ. رواه البزار والطبراني في الكبير ورجاله موثقون (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد . محقق – ج 1 / ص 242)

“Ibnu Abbas berkata: Rasulullah dilahirkan di tahun gajah” Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan At-Thobroni dan para perawinya adalah dipercayai.

Dalam riwayat lain juga ditegaskan bahawa Qais bin Makhzamah memiliki persamaan tahun kelahiran dengan Rasulullah di tahun Gajah (Hadis Riwayat Imam Ahmad dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth)

Tarikh Kelahiran Nabi

Imam Nawawi berkata:

وَاخْتَلَفُوا فِي يَوْم الْوِلَادَة هَلْ هُوَ ثَانِي الشَّهْر ، أَمْ ثَامِنه ، أَمْ عَاشِره ، أَمْ ثَانِي عَشَره ؟ (شرح النووي على مسلم – ج 8 / ص 66)

“Ulama berbeza pendapat tentang hari kelahirannya, adakah hari 2 bulan Rabiul Awal, ke 8, ke 10 ataukah ke 12 ? (Syarah Sahih Muslim 8/66)

Dalil-Dalil Yang Kuat Rasulullah saw Lahir Pada 12 Rabiul Awal

– Hadis Riwayat Imam Baihaqi:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ قَالَ : وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً مَضَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ قَالَ الْبَيْهَقِي رَحِمَهُ اللهُ : وَرَوَيْنَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ثُمَّ عَنْ قَيْسِ بْنِ مَخْزَمَةَ ثُمَّ عَنْ قبُاَثَ بْنِ أَشِيْمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ عَامَ الْفِيْلِ وَكَانَ الزُّهْرِي وَمَنْ تَابَعَهُ يَقُوْلُوْنَ وُلِدَ بَعْدَهُ وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ (شعب الإيمان – ج 2 / ص 134)

Muhammad bin Ishaq berkata: “Rasulullah dilahirkan pada 12 malam bulan Rabiul Awal”. Al-Baihaqi berkata: “Kami meriwayatkan dari Ibnu Abbas kemudian dari Qais bin Makhzamah kemudian dari Qubats bin Asyim bahawa Nabi dilahirkan pada tahun Gajah. Al-Zuhri dan yang mengikutinya mengatakan bahawa dilahirkan sesudah tahun Gajah. Pendapat pertama lebih sahih (Hadis Riwayat Imam Baihaqi dalam Syuab al-Iman)

– Riwayat Ibnu Abi Syaibah

قَالَ أَبُوْ بَكْرِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ : حَدَّثَنَا عُثْمَانُ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ مَيْنَاءَ عَنْ جَابِرٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَا : وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيْلِ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ وَفِيْهِ بُعِثَ وَفِيْهِ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ وَفِيْهِ هَاجَرَ وَفِيْهِ مَاتَ فِيْهِ انْقِطَاعٌ وَقَدِ اخْتَارَهُ الْحَافِظُ عَبْدُ الْغَنِى بْنُ سُرُوْرٍ الْمَقْدِسِي فِي سِيْرَتِهِ (سيرة ابن كثير – ج 2 / ص 93)

“Jabir dan Ibnu Abbas berkata: “Nabi dilahirkan pada tahun Gajah, hari Isnin 12 Rabiul Awal. Di hari Isnin beliau diangkat menjadi Nabi, melakukan Mi’raj ke langit, berhijrah ke Madinah dan hari Isnin beliau wafat”

Sanadnya terputus dan dipilih oleh al-Hafiz Abd al-Ghani bin Surur al-Maqdisi dalam kitab sejarahnya” (Sirah Ibni Katsir, 2/93). Riwayat ini juga dapat dilihat dalam al-Bidayah wa Nihayah Ibnu Katsir.

– Ahli Hadis al-Munawi

(تنبيه) الْأَصَحُّ أَنَّهُ وُلِدَ بِمَكَّةَ بِالشُّعَبِ بِعِيْدِ فَجْرِ الْاِثْنَيْنِ ثَانِيَ عَشَرَ رَبِيْعَ الْأَوَّلِ عَامَ الْفِيْلِ (فيض القدير – ج 3 / ص 768)

“Pendapat yang lebih sahih bahawa Nabi dilahirkan di Kabilah Quraisy pada fajar hari Isnin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah” (Faidh al-Qadir 3/768)

– Syaikh Abdullah al-Faqih

وَأَكْثَرُ أَهْلِ السِّيَرِ عَلَى أَنَّهُ وُلِدَ يَوْمَ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ عَامَ الْفِيْلِ، بَعْدَ الْحَادِثَةِ بِخَمْسِيْنَ يَوْماً (فتاوى الشبكة الإسلامية – ج 44 / ص 50)

“Kebanyakan ahli sejarah bahawa Nabi dilahirkan pada 12 Rabiul Awal, tahun Gajah, setelah 50 hari dari peristiwa tersebut” (Fatawa al-Syabkah al-Islamiyah, 44/50)

فَالْمَشْهُوْرُ فِي كُتُبِ السِّيْرَةِ النَّبَوِيَّةِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ فِي الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ عَامَ الْفِيْلِ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ (فتاوى الشبكة الإسلامية – ج 126 / ص 120)

“Pendapat yang masyhur dalam kitab-kitab sejarah kenabian bahawa Nabi dilahirkan pada 12 Rabiul Awal, tahun Gajah” (Fatawa al-Syabkah al-Islamiyah, 126/120)

Marilah semua umat Islam kita bersama-sama menyambut Sambutan Maulidur Rasul tanpa ragu-ragu atau bimbang dengan persoalan-persoalan yang sudah lama dibahaskan oleh para Ulama’ terdahulu dan semoga kita tergolong dalam golongan yang mencintai Rasulullah saw.

 

15 December 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Benar kah Ulama Silam menolak Maulid Nabi SAW?

Berikut pendapat sebenar Alhafiz Ibn Katsir pada amalan maulid dan perkembangannnya, dan yang telah disembunyikan oleh mereka yang mendakwa kononnya mereka bermunaqasyah dengan penuh keadilan dan keinsafan.

Alhafiz Ibn Katsir berkata dalam Albidayah Wannihayah Juzuk 13, Halaman 136, Penerbitan Maktabah Al-Ma’arif seperti berikut:
“… Al-Malik Al-Mudzaffar Abu Sa’ied, salah seorang dari pemimpin besar yang cemerlang serta raja-raja yang mulia,baginya kesan-kesan yang baik (lihat kata Ibn Katsir “kesan-kesan yang baik”), beliau telah mengadakan maulid yang mulia pada Rabiul Awal, dan mengadakan sambutan yang besar. Selain itu, beliau seorang yang amat berani, berakal, alim lagi adil. Semoga Allah merahmati beliau dan memperbaikkan kesudahannya…” dan beliau berkata seterusnya : “dan beliau (Sultan Muzaffar) berbelanja untuk menyambut maulid 300,000 dinar.”

Maka lihatlah sidang pembaca sekalian, kepada puji-pujian kepadanya oleh Ibn Katsir, yang menyifatkan beliau sebagai seorang yang alim, adil lagi berani, dan tidak pernah mengatakan, zindiq, pembuat dosa, fasiq, melakukan dosa besar, seprti mana yang didakwa oleh mereka yang anti-sambutan ini. Sidang pembaca boleh merujuk sendiri kepada rujukan yang diberi, dan akan menemui kata-kata yang lebih hebat lagi dari ini, yang tidak disebutkan di sini bagi tidak memanjangkan perbahasan ini.

Lihatlah juga kata-kata Al-Imam Alhafiz Addzahabi dalam Siyarul A’lamun Nubala’, Juzuk 22, halaman 336, ketika menerangkan perihal Al-Malik Al-Mudzaffar apabila disebutkan: : Beliau merupakan seorang yang tawadhu’, baik, ahli sunnah, dan menyintai para fuqaha’ dan muhaddisin.”

Selain itu bagi menjawab tohmahan mereka kononnya ulamak silam mencerca sambutan ini, kita bawakan kata-kata yang jelas dari tiga ulamak yang kehebatan mereka diakui semua.

1) Al-Imam Al-Hujjah Al-Hafiz As-Suyuthi : Di dalam kitab beliau, Al-Hawi Lilfatawa, beliau telah meletakkan satu bab yang dinamakan Husnul Maqsad Fi ‘Amalil Maulid, halaman 189, beliau menyebutkan: Telah ditanya tentang amalan Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, apakah hukumnya dari sudut syara’? Adakah ia dipuji atau dicela? Adakah pelakunya diberikan pahala atau tidak?

Dan jawapannya di sisiku, bahawa asal kepada perbutan maulid, yang merupakan perhimpunan manusia, membaca Al-Quran dan hadis serta riwayat pada permulaan kehidupan Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, serta apa yang berlaku pada saat kelahiran baginda dari tanda-tanda kenabian, dan dihidangkan jamuan, dan bersurai tanpa apa-apa tambahan daripadanya, ia merupakan bid’ah yang hasanah yang diberikan pahala siapa yang melakukannya kerana padanya mengagungkan kemuliaan Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menunjukkan kegembiraan dengan kelahiran baginda yang mulia.

2) Syeikh Ibn Taimiyah : “Di dalam kitab beliau, Iqtidha’ Siratail Mustaqim, cetakan Darul Hadis, halaman 266, beliau nyatakan : Begitu jua apa yang dilakukan oleh sebahagian manusia samaada menyaingi orang Nasrani pada kelahiran Isa ‘Alaihissalam, ataupun kecintaan kepada Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengangungkan baginda, dan Allah mengurniakan pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad ini…
Seterusnya beliau nyatakan lagi : Ia tidak dilakukan oleh salaf, tetapi ada sebab baginya, dan tiada larangan daripadanya.”Kita pula tidak mengadakan maulid melainkan seperti apa yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah sebagai : “Kecintaan kepada Nabi dan mengagungkan baginda.”

3) Syeikhul Islam Wa Imamussyurrah Al-Hafiz Ibn Hajar Al-‘Asqalani : Berkata Al-Hafiz Assuyuthi dalam kitab yang disebutkan tadi : Syeikhul Islam Hafizul ‘Asr Abulfadhl Ibn Hajar telah ditanya tentang amal maulid, dan telah dijawab begini: “Asal amal maulid (mengikut cara yang dilakukan pada zaman ini) adalah bid’ah yang tidak dinaqalkan dari salafussoleh dari 3 kurun (yang awal), walaubagaimanapun ia mengandungi kebaikan serta sebaliknya. Maka sesiapa yang melakukan padanya kebaikan dan menjauhi yang buruk, ia merupakan bid’ah yang hasanah.

Telah jelas bagiku pengeluaran hukum ini dari asal yang tsabit iaitu apa yang tsabit dalam kedua-dua sohihain (Bukhari dan Muslim) bahawa Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika tiba di Madinah mendapati orang Yahudi berpuasa Asyura’, lalu baginda bertanya kepada mereka (sebabnya). Mereka menjawab: Ia merupakan hari ditenggelamkan Allah fir’aun dan diselamatkan Musa, maka kami berpuasa kerana bersyukur kepada Allah. Maka diambil pengajaran darinya melakukan kesyukuran kepada Allah atas apa yang Dia kurniakan pada hari tertentu, samaada cucuran nikmat atau mengangkat kesusahan.”

Seterusnya beliau berkata lagi: Dan apakah nikmat yang lebih agung dari nikmat diutuskan Nabi ini Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, Nabi rahmah, pada hari tersebut? Dan ini adalah asal kepada amalan tersebut. Manakala apa yang dilakukan padanya, maka seharusnya berlegar pada apa yang difahami sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Ta’ala samaada tilawah, memberi makan, sedekah, membacakan puji-pujian kepada Nabi, penggerak hati atau apa sahaja bentuk kebaikan dan amal untuk akhirat.”

Inilah istinbat-istinbat yang dikatakan oleh mereka yang anti-maulid sebagai istidlal yang batil serta kias yang fasid, lalu mereka mengingkarinya.

Cukuplah bagi kita memerhatikan siapakah yang mengingkari dan siapa pula yang mereka ingkari!!!

15 December 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Apakah pandangan berkenaan dengan golongan Wahabi?

Q & A Bersama Felo Penyelidik Fatwa.

ISU:

Apakah pandangan berkenaan dengan golongan Wahabi? Adakah golongan yang berzikir dan berdoa secara sendiri-sendiri selepas solat itu Wahabi?

PENJELASAN:

Aliran Wahabi bukanlah satu mazhab akan tetapi satu bentuk gerakan pemikiran agama yang banyak dipegang oleh ulama-ulama Haramayn (Mekah dan Madinah) kontemporari mengikuti pendekatan yang diambil oleh Muhammad bin Abd Wahhab (m.1792). Dari segi mazhab , mereka lebih hampir dengan mazhab Hanbali walaupun dari beberapa segi mereka lebih ketat dan keras.

Dalam sejarah tradisi ilmu Islam, aliran Wahhabi bukanlah mewakili arus perdana mazhab Ahl Sunnah wa al-Jamaah kerana sejak seribu tahun lebih, aliran yang menjadi peneraju kepada pentafsiran Ahl Sunnah wa al-Jamaah dalam bidang akidah ialah Asha’irah dan Maturidiyah, manakala dalam bidang fiqh ialah empat mazhab utama iaitu Shafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali.

Dari segi pendekatan ilmiah, aliran Wahabi membawa pendekatan yang agak sempit dengan metodologi harfiah (literal) yang mereka ambil dalam memahami sumber agama khususnya al-Qur’an. Justeru itu, sebahagian dari pandangan mereka dalam agama bersifat agak keras terutama terhadap orang yang tidak mengambil pendekatan mereka. Pendekatan sebegini akhirnya telah membawa kepada kecenderungan untuk mudah mengeluarkan orang Islam dari lingkungan agama yang tidak sealiran dengan aliran Wahabi.

Contoh perbezaan pandangan golongan Wahabi yang agak jelas ialah pandangan mengenai sunnah dan bid’ah. Berdasarkan makna literal beberapa hadis Nabi, mereka menganggap bahawa setiap amalan ibadat yang tidak mengikuti secara langsung cara yang dibawa oleh Nabi saw, dianggap bid’ah dan terkeluar dari Islam.

Justeru itu banyak amalan dan pegangan yang telah diamalkan oleh masyarakat Islam telah dianggap terkeluar dari agama Islam oleh golongan Wahabi. Pendekatan ini telah menyebabkan perpecahan di kalangan sebahagian masyarakat yang telah lama mempunyai kesatuan dalam ibadat menurut pentafsiran imam-imam muktabar dalam mazhab Shafi’i dan dalam akidah menuruti aliran al-Ash’ari dan al-Maturidi.

Banyak persoalan yang bersifat khilafiah telah diangkat dan dianggap sebagai perkara usul sehingga menjadi permasalahan dalam masyarakat, seperti larangan doa qunut, wirid dan berdoa secara berjamaah selepas solat, tahlil, berzanji, qasidah, burdah, membaca yasin pada malam jumaat, perayaan maulid, kesemuanya ditolak atas nama bid’ah yang sesat. Ini sama sekali tidak selari dengan pemahaman sunnah dan bid’ah yang sebenar dalam Islam dan juga tidak bertepatan dengan semangat ilmiah dalam tradisi Islam yang membenarkan perbezaan pandangan dalam persoalan khilafiah.

Dalam konteks tasawuf, mereka amat keras membid’ah amalan-amalan tariqat, amalan wirid dan selawat yang dilakukan oleh golongan sufi. Dalam akidah, mereka membid’ahkan ajaran tauhid berdasarkan sifat yang kesemuanya dipelopori oleh ulama-ulama berwibawa dalam aliran Ahl Sunnah wa al-Jama’ah.

Contoh lain perbezaan pemahaman aliran Wahabi ialah pendekatan mereka dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an seperti ayat berkaitan ‘tangan dan wajah Allah’, istiwa’ dan lain-lain. Dengan mengisbatkan secara literal ayat-ayat ini dan menolak sama sekali pendekatan ta’wil yang juga salah satu pendekatan yang diambil oleh ulama salaf dan khalaf, ia membawa kepada kecenderungan tajsim (kefahaman Allah berjism) dan tashbih (kefahaman Allah menyamai makhluk) terutama kepada mereka yang berfahaman simplistik berkaitan isu tersebut.

Ramai ulama-ulama yang telah mengkritik dan menghujah aliran Wahabi termasuk saudara kandung Sheikh Muhammad Abdul Wahhab sendiri iaitu Sheikh Sulayman Abd Wahhab dalam kitabnya bertajuk al-Sawa’iq al-Ilahiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah. Antara ulama-ulama lain ialah Sayyid Ahmad Ibn Zaini Dahlan (m.1886) Mufti Mekkah dan Shaykh al-Islam dalam kitabnya al-Durar al-Saniyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah dan Dr. Sa’id Ramadhan al-Buti dalam karyanya al-Salafiyyatun Marhalatun Zamaniyyatun Mubarakatun la Mazhabun Islamiyyun.

Memandangkan Malaysia jelas mengambil pendirian sejak beratus tahun lalu bahawa aliran yang harus diikuti ialah mazhab Shafi’i dan dalam akidah aliran Ash’ari dan Maturidi dan ianya telah menghasilkan perpaduan yang utuh di kalangan umat Islam, baik dalam ibadah, muamalah dan lain-lain sehingga memberi ketenangan dan keharmonian dalam masyarakat dan negara, maka aliran Wahabi adalah tidak sesuai dalam konteks kefahaman dan amalan agama di Malaysia.

Manakala mereka yang berzikir secara sendiri-sendiri selepas solat tidak semestinya dari aliran Wahabi. Namun sekiranya mereka membid’ahkan orang yang berzikir secara berjamaah selepas solat berkemungkinan besar ia dari golongan tersebut.

Wallahu A’lam

1 December 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

NAMA ULAMA-ULAMA YANG MENOLAK IBNU TAIMIYAH

QUOTE: “…….jika suatu faham hanya dibantah oleh satu dua orang itu biasa. Mungkin karena dengki atau sentimen. Tapi jika yang membantahnya adalah ribuan ulama dari berbagai macam negara, berbagai mazhab, dan berbagai zaman, maka perlu dijadikan perhatian.”

Selamat membaca, mengkaji dan mengaji moga ada manfa’atnya

Buku itu memang mantap!!! Tanggapi saja secara ilmiah, tapi jangan dengan caci maki seperti kebiasaan firqah Salafi Wahabi yang dikupas habis dalam buku itu.
.
Ini ana lampirkan buku-buku ulama yang telah membantah firqah Salafi Wahabi.Ana hanya ingin mengingatkan, jika suatu faham hanya dibantah oleh satu dua orang itu biasa. Mungkin karena dengki atau sentimen. Tapi jika yang membantahnya adalah ribuan ulama dari berbagai macam negara, berbagai mazhab, dan berbagai zaman, maka perlu dijadikan perhatian. Anda harus berpikir jernih.. semoga Allah SWT menunjuki kalian jalan yang lurus. amin.. .

Nabi saw mengingatkan umatnya melalui sabdanya untuk selalu bersama AS-SAWAD AL-A’ZHAM ( kelompok majoriti) Bukankah Nabi s.a.w. telah menjamin, umatnya secara umum tidak akan menjadi musyrik sebagaimana dalam sabdanya:
.
“إِنِّي أُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ خَزَائِنِ الْأَرْضِ أَوْ مَفَاتِيحَ الْأَرْضِ وَإِنِّي وَاللَّهِ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِي وَلَكِنْ أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنَافَسُوا فِيهَا.” (رواه البخاري ومسلم وأحمد والبيهقي والطبراني وابن حبان وغيرهم)
.
“Sesungguhnya aku telah diberikan berbagai kunci gudang-gudang dunia atau kunci-kunci dunia,dan sesungguh
nya aku tidak takut (sama sekali) kalian akan musyrik setelahku, namun yang aku takutkan terhadap kalian adalah kalian memperebutkan dunia.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Baihaqi, Thabarani Ibnu Hibban dan lainnya)
.
“لاَ تَجْتَمِع أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَة.” (رواه الترمذي والبيهقي وغيرهم)
.
“Umatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan.” (HR. Tirmidzi, Baihaqi dan lainnya)
.
Berikut ini adalah nama-nama para ulama yang semasa dengan Ibnu Taimiyah (W 728 H) dan berdebat dengannya atau yang hidup setelahnya dan membantah serta menyerang pendapat-pendapatnya yang menyimpang. Mereka adalah para ulama dari empat madzhab; Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali:
.
1. Al Qadhi al-Mufassir Badr ad-din Muhammad ibnu Ibrahim ibnu Jama’ah asy-Syafi’i (W 733 H).
.
2. Al Qadhi Muhammad ibnu al-Hariri al-Anshari al-Hanafi.
.
3. Al Qadhi Muhammad ibnu Abu Bakar al-Maliki.
.
4. Al Qadhi Ahmad ibnu ‘Umar al-Maqdisi al-Hanbali.
Dengan fatwa empat Qadhi (hakim agung) dari empat madzhab ini, Ibnu Taimiyah dipenjara pada tahun 726 H. Peristiwa ini diuraikan dalam ‘Uyun at-Tawarikh karya Ibnu Syakir al-Kutubi dan Najm al-Muhtadi wa Rajm al-Mu’tadi karya ibnu al-Mu’allim al-Qurasyi.
.
5. Syekh Shalih ibnu Abdillah al-Batha`ihi, pimpinan para ulama di Munaybi’ ar-Rifa’i, kemudian menetap di Damaskus dan wafat tahun 707 H. Beliau adalah salah seorang yang menolak pendapat Ibnu Taimiyah dan membantahnya seperti dijelaskan oleh Ahmad al-Witri dalam karyanya Raudhah an-Nazhirin wa Khulashah Manaqib ash Shalihin. al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani juga menuturkan biografi Syekh Shalih ini dalam ad Durar al-Kaminah.
.
6. Syekh Kamal ad-Din Muhammad ibnu Abu al-Hasan Ali as-Siraj ar-Rifa’i al-Qurasyi dalam Tuffah al-Arwah wa Fattah al-Arbah. Beliau ini semasa dengan Ibnu Taimiyah.
.
7. Qadhi al-Qudhah (Hakim Agung) di Mesir; Ahmad ibnu Ibrahim as-Surrruji al-Hanafi (W 710 H) dalam I’tiraadhat ‘Ala ibnu Taimiyah fi ‘Ilm al-Kalam.
.
8. Qadhi al-Qudhah (Hakim Agung) madzhab Maliki di Mesir; Ali ibnu Makhluf (W 718 H). Beliau berkata: “Ibnu Taimiyah berkeyakinan Tajsim. Dalam madzhab kami, orang yang meyakini ini telah kafir dan wajib dibunuh”.
.
9. Asy-Syekh al-Faqih Ali ibnu Ya’qub al-Bakri (W 724 H). Ketika Ibnu Taimiyah datang ke Mesir beliau mendatanginya dan mengingkari pendapat-pendapatnya.
.
10. Al Faqih Syams ad-Din Muhammad ibnu ‘Adlan asy-Syafi’i (W 749 H). Beliau mengatakan: “Ibnu Taimiyah berkata; Allah di atas ‘Arsy dengan keberadaan di atas yang sebenarnya, Allah berbicara (berfirman) dengan huruf dan suara”.
.
11. Al Hafizh al-Mujtahid Taqiyy ad-Din as-Subki (W 756 H) dalam beberapa karyanya:
• Al-I’tibar bi Baqa al-Jannah wa an-Nar.
• Ad-Durrah al-Mudhiyyah Fi ar-Radd ‘ala ibni Taimiyah.
• Syifa as-Saqam fi Ziyarah Khairi al-Anam.
• An-Nazhar al-Muhaqqaq fi al-Halif bi ath Thalaq al-Mu’allaq.
• Naqd al-Ijtima’ wa al-Iftiraq fi Masa`il al-Ayman wa ath-Thalaq.
• At-Tahqiq fi Mas`alah at-Ta’liq.
• Raf’ asy-Syiqaq ‘an Mas`alah ath-Thalaq.
.
12. Al-Muhaddits al-Mufassir al-Ushuli al-Faqih Muhammad ibnu ‘Umar ibnu Makki, yang lebih dikenal dengan ibnu al-Murahhil asy-Syafi’i (W 716 H) beliau membantah dan menyerang Ibnu Taimiyah.
.
13. Al-Hafizh Abu Sa’id Shalah ad-Din al-‘Ala-i (W. 761 H). Beliau mencela Ibnu Taimiyah seperti dijelaskan dalam:
• Dzakha-ir al-Qashr fi Tarajim Nubala al-‘Ashr, hlm .32-33, buah karya Ibnu Thulun.
• Ahadits Ziyarah Qabr an-Nabi S.a.w..
.
14. Qadhi al-Qudhah (Hakim Agung) di al-Madinah al-Munawwarah; Abu Abdillah Muhammad ibnu Musallam ibnu Malik ash-Shalihi al-Hanbali (W 762 H).
.
15. Syekh Ahmad ibnu Yahya al-Kullabi al-Halabi yang lebih dikenal dengan ibnu Jahbal (W 733 H). Beliau semasa dengan Ibnu Taimiyah dan menulis sebuah risalah untuk membantahnya, berjudul Risalah fi Nafyi al-Jihah, yakni menafikan Jihah (arah) bagi Allah.
.
16. Al-Qadhi Kamal ad-Din ibnu az-Zumallakani (W 727 H). Beliau mendebat Ibnu Taimiyah dan menyerangnya dengan menulis dua risalah bantahan tentang masalah talak dan ziarah ke makam Rasulullah.
.
17. Al-Qadhi Kamal Shafiyy ad-Din al-Hindi (W 715 H), beliau mendebat Ibnu Taimiyah.
.
18. Al-Faqih al-Muhaddits ‘Ali ibnu Muhammad al-Bajiyy asy-Syafi’i (W 714 H). Beliau mendebat Ibnu Taimiyah dalam empat belas majelis dan berhasil membungkamnya.
.
19. Al-Mu-arrikh al-Faqih al-Mutakallim al-Fakhr ibnu al-Mu’allim al-Qurasyi (W 725 H) dalam karyanya Najm al-Muhtadi wa Rajm al-Mu’tadi.
.
20. Al-Faqih Muhammad ibnu ‘Ali ibnu ‘Ali al-Mazini ad-Dahhan ad-Dimasyqi (W 721 H) dalam dua risalahnya:
• Risalah fi ar-Radd ‘ala ibnu Taimiyah fi Mas`alah ath-Thalaq.
• Risalah fi ar-Radd ‘ala ibnu Taimiyah fi Mas`alah az-Ziyarah.
.
21. Al-Faqih Abu al-Qasim Ahmad ibnu Muhammad asy-Syirazi (W 733 H) dalam karyanya Risalah fi ar-Radd ‘ala ibnu Taimiyah.
.
22. Al-Faqih al-Muhaddits Jalal ad-Din Muhammad al-Qazwini asy-Syafi’i (W 739 H)
.
23. Surat keputusan resmi yang dikeluarkan oleh Sultan Ibnu Qalawun (W 741 H) untuk memenjarakannya.
.
24. Al-Hafizh adz-Dzahabi (W 748 H). Ia semasa dengan Ibnu Taimiyah dan membantahnya dalam dua risalahnya :
• Bayan Zaghal al-‘Ilm wa ath-Thalab.
• An-Nashihah adz-Dzahabiyyah
.
25. Al-Mufassir Abu Hayyan al-Andalusi (W 745 H) dalam Tafsirnya: An-Nahr al-Maadd Min al-Bahr al-Muhith.
.
26. Syekh ‘Afif ad-Din Abdullah ibnu As’ad al-Yafi’i al-Yamani al-Makki (W 768 H).
.
27. Al-Faqih ar-Rahhalah Ibnu Baththuthah (W 779 H) dalam karyanya Rihlah ibnu Baththuthah.
.
28. Al-Faqih Taj ad-Din as-Subki (W 771 H) dalam karyanya Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra.
.
29. Al-Muarrikh Ibnu Syakir al-Kutubi (W 764 H); murid Ibnu Taimiyah dalam karyanya: ‘Uyun at-Tawarikh.
.
30. Syekh ‘Umar ibnu Abu al-Yaman al-Lakhami al-Fakihi al-Maliki (W 734 H) dalam at-Tuhfah al Mukhtarah Fi ar-Radd ‘Ala Munkir az-Ziyarah.
.
31. Al-Qadhi Muhammad as-Sa’di al-Mishri al-Akhna-i (W 750 H) dalam al-Maqalah al-Mardhiyyah fi ar-Radd ‘Ala Man Yunkir az-Ziyarah al-Muhammadiyyah. Buku ini dicetak dalam satu rangkaian dengan al-Barahin as-Sathi’ah karya al-’Azami.
.
32. Syekh Isa az-Zawawi al-Maliki (W 743 H) dalam Risalah fi Mas-alah ath- Thalaq.
.
33. Syekh Ahmad ibnu Utsman at-Turkamani al-Juzajani al-Hanafi (W 744 H) dalam al-Abhats al-Jaliyyah fi ar-Radd ‘Ala ibnu Taimiyah.
.
34. Al-Hafizh Abd ar-Rahman ibnu Ahmad, yang terkenal dengan Ibnu Rajab al-Hanbali (W 795 H) dalam: Bayan Musykil al-Ahadits al-Waridah fi Anna ath-Thalaq ats-Tsalats Wahidah.
.
35. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (W 852 H) dalam beberapa karyanya:
• Ad-Durar al-Kaminah fi A’yan al-Mi-ah ats-Tsaminah
• Lisan al-Mizan
• Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari
• Al Isyarah Bi Thuruq hadis az-Ziyarah
.
36. Al-Hafizh Waliyy ad-Din al-‘Iraqi (W 826 H) dalam al-Ajwibah al-Mardhiyyah fi ar-Radd ‘Ala al-As`ilah al-Makkiyyah.
.
37. Al-Faqih al-Mu-arrikh ibnu Qadhi Syuhbah asy-Syafi’i (W 851 H) dalam Tarikh ibnu Qadhi Syuhbah.
.
38. Al-Faqih Abu Bakr al-Hushni (W 829 H) dalam Karyanya Daf’u Syubah Man Syabbaha wa Tamarrada wa Nasaba Dzalika ila al-Imam Ahmad.
.
39. Pimpinan para ulama seluruh Afrika, Abu Abdillah ibnu ‘Arafah at-Tunisi al-Maliki (W 803 H).
.
40. Al-‘Allamah ‘Ala ad-Din al-Bukhari al-Hanafi (W 841 H). Beliau mengkafirkan Ibnu Taimiyah dan orang yang menyebutnya Syekh al-Islam. Artinya orang yang menyebutnya dengan julukan Syekh al-Islam, sementara ia tahu perkataan dan pendapat-pendapat kufurnya. Hal ini dituturkan oleh al-Hafizh as-Sakhawi dalam Adh-Dhau al-Lami’.
.
41. Syekh Muhammad ibnu Ahmad Hamid ad-Din al-Farghani ad-Dimasyqi al-Hanafi (W 867 H) dalam risalahnya Ar-Radd ‘Ala Ibnu Taimiyah fi al-I’tiqad.
.
42. Syekh Ahmad Zurruq al-Fasi al-Maliki (W 899 H) dalam Syarh Hizb al-Bahr.
.
43. Al-Hafizh as-Sakhawi (W 902 H) dalam al-I’lan Bi at-Taubikh liman Dzamma at-Tarikh.
.
44. Ahmad ibnu Muhammad Yang dikenal dengan Ibnu Abd as-Salam al-Mishri (W 931 H) dalam al-Qaul an-Nashir fi Raddi Khabath ‘Ali ibnu Nashir.
.
45. Al-‘Alim Ahmad ibnu Muhammad al-Khawarizmi ad-Dimasyqi yang dikenal dengan Ibnu Qira (W 968 H), beliau mencela Ibnu Taimiyah.
.
46. Al-Bayyadhi al-Hanafi (W 1098 H) dalam Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imam.
.
47. Syekh Ahmad ibnu Muhammad al-Witri (W 980 H) dalam Raudhah an- Nazhirin Wa Khulashah Manaqib ash- Shalihin.
.
48. Syekh Ibnu Hajar al-Haytami (W 974 H) dalam karya-karyanya;
• Al-Fatawi al-hadis iyyah
• Al-Jawhar al-Munazhzham fi Ziyarah al-Qabr al-Mu’azhzham
• Hasyiyah al-Idhah fi Manasik al-Hajj
.
49. Syekh Jalal ad-Din ad-Dawwani (W 928 H) dalam Syarh al-‘Adhudiyyah.
.
50. Syekh ‘Abd an-Nafi’ ibnu Muhammad ibnu ‘Ali ibnu ‘Arraq ad-Dimasyqi (W 962 H) seperti dijelaskan dalam Dzakha-ir al-Qashr fi Tarajim Nubala al-‘Ashr, hlm. 32-33, buah karya Ibnu
Thulun.
.
51. Al-Qadhi Abu Abdullah al-Muqri dalam Nazm al-La-ali fi Suluk al-Amali.
.
52. Mulla ‘Ali al-Qari al-Hanafi (W 1014 H) dalam Syarh asy-Syifa li al-Qadhi ‘Iyadh.
.
53. Syekh Abd ar-Ra-uf al-Munawi asy -Syafi’i(W 1031 H) dalam Syarh asy-Syama-il li at-Tirmidzi.
.
54. Al-Muhaddits Muhammad ibnu ‘Ali ibnu ‘Illan ash-Shiddiqi al-Makki (W 1057 H) dalam risalahnya al-Mubrid al-Mubki fi ar-Radd ‘ala ash-Sharim al-Munki.
.
55. Syekh Ahmad al-Khafaji al-Mishri al-Hanafi (W 1069 H) dalam Syarh asy-Syifa li al-Qadhi ‘Iyadh.
.
56. Al-Muarrikh Ahmad Abu al-‘Abbas al-Muqri (W 1041 H) dalam Azhar ar-Riyadh.
.
57. Syekh Ahmad az-Zurqani al-Maliki (W 1122 H) dalam Syarh al-Mawahib al-Ladunniyyah.
.
58. Syekh Abd al-Ghani an-Nabulsi (W 1143 H) dalam banyak karya-karyanya.
.
59. Al-Faqih ash-Shufi Muhammad Mahdi ibnu ‘Ali ash Shayyadi yang terkenal dengan ar-Rawwas (W 1287 H).
.
60. As-Sayyid Muhammad Abu al-Huda ash-Shayyadi (W 1328 H) dalam Qiladah al-Jawahir.
.
61. Al-Mufti Musthafa ibnu Ahmad asy-Syaththi al-Hanbali ad-Dimasyqi (W 1349 H) dalam karyanya an-Nuqul asy-Syar’iyyah.
.
62. Mahmud Khaththab as-Subki (W 1352 H) dalam ad-Din al-Khalish atau Irsyad al-Khalq Ila ad-Din al-Haqq.
.
63. Mufti Madinah asy-Syekh al-Muhaddits Muhammad al-Khadhir asy-Syinqithi (W 1353 H) dalam karyanya Luzum ath-Thalaq ats-Tsalas Daf’uhu Bi Ma La Yastathi’ al-‘Alim Daf’ahu.
.
64. Syekh Salamah al-‘Azami asy-Syafi’i (W 1376 H) dalam al-Barahin as-Sathi’ah fi Radd Ba’dh al-Bida’ asy-Sya-i’ah dan beberapa makalah dalam surat kabar Mesir al-Muslim.
.
65. Mufti Mesir Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W 1354 H) dalam karyanya Tathhir al-Fuad Min Danas aI I’tiqad.
.
66. Wakil Syekh al-Islam pada Daulah Utsmaniyyah (Dinasti Bani Utsman) Syekh Muhammad Zahid al-Kawtsari (W 1371 H) dalam beberapa karyanya:
• Maqalat al-Kawtsari
• At-Ta’aqqub al-Hatsits lima Yanfihi Ibnu Taimiyah mi al-hadis
• Al Buhuts al-Wafiyyah fi Mufradat Ibnu Taimiyah
• Al Isyfaq ‘Ala Ahkam ath- Thalaq
.
67. Ibrahim ibnu Utsman as-Samnudi al-Mishri dalam karyanya Nushrah al-Imam as-Subki bi Radd ash-Sharim al-Munki.
.
68. ‘Alim Makkah Muhammad al-‘Arabi at-Tabban (W 1390 H) dalam Bara-ah al-Asy’ariyyin Min ‘Aqa-id al-Mukhalifin.
.
69. Syekh Muhammad Yusuf al-Banuri al-Bakistani dalam Ma’arif as-Sunan Syarh Sunan at-Tirmidzi.
.
70. Syekh Manshur Muhammad ‘Uwais dalam Ibnu Taimiyah Laisa Salafiyyan.
.
71. Al-Hafizh Syekh Ahmad ibnu ash-Shiddiq al-Ghummari al-Maghribi (W 1380 H) dalam beberapa karyanya, di antaranya:
• Hidayah ash-Shaghra
• Al Qaul al-Jaliyy
.
72. Asy-Syekh al-Muhaddits Abdullah al-Ghimari al-Maghribi (W 1413 H) dalam banyak karyanya, di antaranya:
• Itqan ash-Shan-‘ah Fi Tahqiq Ma’na al-Bid’ah
• Ash-Shubh as-Safir fi Tahqiq Shalah al-Musafir
• Ar-Rasa-il al-Ghammariyyah
.
73. Al Musnid Abu al-Asybal Salim ibnu Jindan (W 1969 H) dari Jakarta Indonesia dalam karyanya al-Khulashah al-Kafiyah fi al-Asanid al-‘Aliyah.
74. Hamdullah al-Barajuri, ‘Alim Saharnapur dalam al-Bashair Li Munkiri at-Tawassul Bi Ahl al-Qubur.
.
75. Syekh Musthafa Abu Sayf al-Hamami. Beliau mengkafirkan Ibnu Taimiyah dalam karyanya Ghawts al-‘Ibad Bi Bayan ar-Rasyad. Buku ini mendapat persetujuan dan rekomendasi dari beberapa ulama besar, di antaranya; Syekh Muhammad Sa’id al-‘Arfi, Syekh Yusuf ad-Dajwi, Syekh Mahmud Abu Daqiqah, Syekh Muhammad al-Buhairi, Syekh Muhammad Abd al-Fattah ‘Inati, Syekh Habibullah al-Jakni asy-Syinqithi, Syekh Dasuqi Abdullah al-‘Arabi dan Syekh Muhammad Hifni Bilal.
.
76. Muhammad ibnu Isa ibnu Badran as-Sa’di al-Mishri.
.
77. As-Sayyid Syekh al-Faqih Alawi ibnu Thahir al-Haddad al-Hadhrami.
.
78. Mukhtar ibnu Ahmad al-Muayyad al-‘Adzami (W 1340 H) dalam Jala’ al-Awham ‘An Madzahib al-A-immah al-‘Izham Wa at-Tawassul Bi Jahi Khair al-Anam ‘Alaihi ash-Shalatu Wa as-Salam yang beliau tulis sebagai bantahan terhadap buku Ibnu Taimiyah; Raf’ al-Malam.
.
79. Syekh Ismail al-Azhari dalam Mir-at an-Najdiyyah.
.
80. KH. Muhammad Ihsan dari Jampes Kediri Jawa timur dalam Kitabnya Siraj ath-Thalibin
.
81. KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (W 1366 H/1947 R), Rais Akbar Nahdhatul Ulama dari Jombang Jawa Timur, dalam kitabnya Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah.
.
82. KH. Ali Maksum (W 1989 R), Rais ‘am Nahdhatul Ulama IV dari Yogyakarta Jawa Tengah dalam bukunya Hujjah Ahlussunnah Wal Jama’ah.
.
83. KH Abu al-Fadhl ibnu Abd asy-Syakur, dari Senori Tuban Jawa Timur dalam kitabkitabnya, di antaranya:
• Al-Kawakib al-Lamma’ah fi Tahqiq al-Musamma Bi Ahlussunnah Wal Jama’ah.
• Syarh al-Kawakib al-Lamma’ah.
.
84. KH. Ahmad Abdul Hamid dari Kendal Jawa Tengah dalam Bukunya ’Aqa-id Ahlussunnah Wal Jama’ah.
.
85. KH Siradjuddin ‘Abbas (W 1401 H/1980 R) dalam banyak karyanya:
• I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah.
• 40 Masalah Agama, jilid IV.
.
86. Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid ash-Shaulati (W 1997 M) Ampenan Pancor Lombok NTB dalam bukunya Hizb Nahdhatul Wathan Wa Hizb Nahdhatul Banat.
.
87. K.H. Muhammad Muhajirin Amsar ad-Dari (W 2003 R) dari Bekasi Jawa Barat dalam salah satu risalah yang beliau tulis.
.
88. AlHabib Syekh al-Musawa ibnu Ahmad al-Musawa as-Segaf; Penasehat Umum Perguruan Tinggi dan Perguruan Islam Az Ziyadah, Klender, Jakarta Timur.
.
89. KH. Muhammad Syafi’i Hadzami Mantan Ketua Umum MUI Propinsi DKI Jakarta 1990-2000 dalam bukunya Taudhih al-Adillah.
.
90. KH. Ahmad Makki Abdullah Mahfudz Sukabumi Jawa Barat dalam Bukunya Hishnu as-Sunnah Wal Jama’ah fi Ma’rifat Firaq Ahl al-Bid’ah.
.
91. Syekh Abdullah Tha’ah dan para ulama semasanya. Beliau membantah Ibnu Taimiyah dalam bukunya al-Fatawa al-‘Aliyyah yang beliau tulis pada tahun 1932. Buku ini memuat fatwa para ulama, para Imam, pengajar dan para mufti serta para Qadhi di Makkah, yang sebagian berasal dari Indonesia, Thailand dan lain-lain. Mereka menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah sesat dan menyesatkan. Berikut nama para ulama yang turut menghadiri majlis pernyataan fatwa tersebut serta menandatanganinya, yaitu: Sayyid Abdullah –Mufti Madzhab Syafi’i di Makkah-, Syekh Abdullah Siraj –pimpinan para Qadhi dan Kepala para ulama Hijaz-, Syekh Abdullah ibnu Ahmad –Qadhi Makkah-, Syekh Darwisy –Amin Fatwa Makkah-, Muhammad ‘Abid ibnu Husain –Mufti Madzhab Maliki di Makkah-, Syekh Umar ibnu Abu Bakr Bajuneid –Wakil Mufti Madzhab Hanbali di Makkah-, Syekh Abdullah ibnu Abbas –Wakil Qadhi Makkah-, Syekh Muhammad Ali ibnu Husein al-Maliki –Seorang Imam dan pengajar di Makkah-, Syekh Ahmad al-Qari –Qadhi Jeddah-, Syekh Muhammad Husein –Seorang Imam dan pengajar di Makkah-, Syekh Mahmud Zuhdi ibnu Abdur Rahman –Seorang pengajar di Makkah-, Syekh Muhammad Habibullah ibnu Maayaabi –Seorang pengajar di Makkah-, Syekh Abdul Qadir ibnu Shabir al-Mandayli (Mandailing-Sumut) –Seorang pengajar di Makkah-, Syekh Mukhtar ibnu ‘Atharid al-Jawi (asal Jawa) –Seorang pengajar di Makkah-, Syekh Sa’id ibnu Muhammad al-Yamani –Seorang Imam dan pengajar di Makkah-, Syekh Muhammad Jamal ibnu Muhammad al-Amir al-Maliki –Seorang Imam dan pengajar di Makkah-, Sayyid ‘Abbas ibnu ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki –Seorang pengajar di Makkah-, Syekh Abdullah Zaydan asy-Syinqithi –Seorang pengajar di Makkah-, Syekh Mahmud Fathani (asal Thailand) –Seorang pengajar di Makkah, Syekh Hasanuddin ibnu Syekh Muhammad Ma’shum asal Medan Deli-Sumut.
.
92. Syekh Ahmad Khathib al-Minangkabawi, Seorang Imam Madzhab Syafi’i di Makkah asal Minangkabau Sumatera dalam bukunya al-Khiththah al-Mardhiyyah.
.
93. Syekh Muhammad Ali Khathib Minangkabau, Murid Syekh Ahmad Khathib al-Minangkabawi, dalam kitabnya Burhan al-Haqq. Beliau juga telah mengumpulkan para ulama di Sumatera untuk membantah Rasyid Ridha penulis al-Manar dan para pengikutnya di Indonesia.
.
94. Syekh Abdul Halim ibnu Ahmad Khathib al-Purbawi al-Mandayli, Murid Syekh Mushthafa Husein, pendiri Pon-Pes. al-Mushthafawiyyah, Purba Baru, Sumut dalam risalahnya Kasyf al-Ghummah yang beliau tulis tahun 1389 H -12/8/1969.
.
95. Syekh Abdul Majid Ali (W. 2003) Kepala Kantor Urusan Agama daerah Kubu-Riau, Sumatera, salah seorang ulama kharismatik dan terkenal di daerah tersebut. Beliau mengkafirkan Ibnu Taimiyah dan menyatakan bahwa gurunya Syekh Abdul Wahab Panay-Medan juga mengkafirkan Ibnu Taimiyah.
.
96. K.H. Abdul Qadir Lubis, pimpinan Pon.Pes. Dar at-Tauhid, Mandailing-Sumut (W. 2003). Beliau mengkafirkan Ibnu Taimiyah di sebagian majlisnya.
.
97. K.H. Muhammad Sya’rani Ahmadi Kudus Jawa Tengah dalam bukunya al-Fara-id as-Saniyyah wa ad-Durar al-Bahiyyah yang beliau tulis pada tahun 1401 H. Dalam buku ini beliau menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah adalah seorang Musyabbih Mujassim (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan meyakini bahwa Allah adalah jisim -benda-).
.
98. K.H. Muhammad Mashduqi Mahfuzh, Ketua Umum MUI Jawa Timur dalam bukunya al-Qawa’id al-Asasiyyah li Ahlissunnah Wal Jama’ah.
.
99. Syekh al-Muhaddits al-Faqih Abdullah al-Harari al-Habasyi dalam kitabnya al-Maqalaat as-Sunniyyah Fi Kasyf Dhalalaat Ahmad ibnu Taimiyah.
.
.
Tokoh-tokoh Ulama Terkemuka Yang Hidup Sezaman dengan Pendiri Salafi Wahabi, Muhammad ibnu Abdul Wahab yang Membantah Ajaran Sesatnya:
.
1. Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab at-Tamimi an-Najdi (w.1208 H) saudara Ibnu Abdul Wahab, pendiri sekte Salafi Wahabi. Syaikh Sulaiman jauh lebih pandai dan lebih alim dari Ibnu Abdul Wahab, dia seorang tokoh ulama Fikih mazhab Hanbali yang juga menjabat sebagai qadi Najd. Dia menulis dua buku membantah faham sesat adiknya itu, yaitu kitab Fashl al-Khithab fi ar-Radd ‘ala Muhammad ibnu Abdul Wahab dan kitab ash-Shawa’iq al-Ilahiyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah. Dia termasuk penentang yang paling keras terhadap kesesatan adiknya itu. Buku ini telah dicetak.
.
2. Syaikh Sulaiman bin Suhaim bin Ahmad bin Suhaim al-Hanbali an-Najdi (1181-1230 H), seorang tokoh ulama fikih Hanbali di Riyadh. Orangtuanya juga tokoh ulama terkemuka yang menentang ajaran Muhammad ibnu Abdul Wahab. Mereka berasal dari kabilah Anzah. Setelah Salafi Wahabi menguasai daerah Riyadh, Ibnu Suhaim ini hijrah ke Zubair dan wafat di sana. Karena perseteruannya dengan Muhammad bin Abdul Wahab, dia dianggap kafir oleh Salafi Wahabi dan digelari sebagai al-Bahim (binatang). Begitulah akhlak pendiri Salafi Wahabi terhadap orang-orang yang tidak setuju dengan dakwahnya.
.
3. Syaikh Muhammad ibnu Abdurrahman ibnu Afaliq al-Hanbali dari daerah Ahsa. Dia seorang ulama besar Ahsa dan tokoh ulama fikih terkemuka. Memiliki banyak karya dalam bidang fikih dan ilmu falak. Di antara bukunya yang membantah Wahabi adalah TaHakkum ul-Muqallidîn bi man idda’a Tajdîd id-Dîn. Dialah penyebab Utsman bin Muammar, gubernur Uyainah, menjaga jarak dari Ibnu Abdul Wahab dan meninggalkannya. Ini menandakan kedalaman ilmu Ibnu Afaliq dalam berdialog dengan Gubernur tersebut sehingga menerima alasan logis dan dalil-dalil yang dia ungkapkan. Karena itu, Ibnu Abdul Wahab mengkafirkannya dengan tuduhan kafir akbar, gara-gara menolak dakwahnya.
.
4. Syaikh Abdullah ibnu Isa al-Muwayis at-Tamimi (w 1175 H), ulama Najd ini seorang faqih dari Huraimila. Hijrah ke Syam untuk menuntut ilmu dari as-Safaraini. Dialah yang berhasil meyakinkan Ibnu Suhaim untuk berhenti memberikan dukungan kepada Ibnu Abdul Wahab karena belum mengenali hakikat dakwahnya yang sebenarnya, sehingga ia pun menarik dukungannya. Inilah yang membuat pendiri Wahabi tersebut murka dan mengkafirkannya sekafir-kafirnya.
.
5. Syaikh Abdullah ibnu Ahmad ibnu Suhaim (w 1175 H), seorang faqih dari daerah Majma’ah, Qasim. Tokoh ulama fikih bermazhab Hanbali ini adalah seorang qadi di semenanjung Sudair, menentang dakwah Salafi Wahabi karena sikap berlebih-lebihannya dalam mengkafirkan umat Islam.
.
6. Syaikh Muhammad bin Abd al-Lathif, gurunya Ibnu Abdul Wahab yang berasal dari Ahsa ini termasuk penentang keras ajaran muridnya yang dia anggap sesat itu.
.
7. Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Fairuz al-Ahsai (w 1216 H). Dia hijrah ke Bashrah setelah Salafi Wahabi menguasai daerah Ahsa pada masa Abdul Aziz bin Muhammad. Ayah dan kakenya adalah ulama Hanbali terkemuka. Dia adalah ulama yang sangat disegani dan dipandang oleh Sultan Turki Utsmani. Ibnu Fairuz adalah penentang keras dakwah dan ajaran Ibnu Abdul Wahab. Oleh karena itu dia dikafirkan sekafir-kafirnya dan dikatakan telah keluar dari agama Islam.
.
8. Syaikh Muhammad bin Ali Salum (w 1246 H). Dia melarikan diri ke Bashrah bersama gurunya Ibnu Fairuz, akibat keganasan yang dilakukan oleh Salafi Wahabi
..
9. Al-Allamah al-Qadi Utsman bin Manshur an-Nashiri (w 1282 H), seorang qadi daerah Sudair dan Hail pada masa Turki ibnu Abdullah ibnu Faishal bin Turki. Dia berpendapat cukup keras tentang Salafi Wahabi dan mengatakannya sebagai Khawarij akhir zaman. Dia menulis beberapa buku yang membantah kesesatan faham Salafi Wahabi seperti kitab Jala al-Ghummah ‘an Takfir Hadzihi al-Ummah. Karena tulisannya itu, para ulama Wahabi mengecam keras dan mengkafirkannya.
.
10. Al-Allamah Utsman bin Sinad al-Bashri (w 1250 H), dia berpendapat bahwa Wahabi mengkafirkan seluruh umat ini akibat ajaran bid’ah dan pemusyrikan yang mereka lakukan.
.
11. Al-Allamah asy-Syaikh Muhammad Sulaiman al-Kurdi, seorang Mufti Syafiiyah di Madinah Munawarah. Beliau adalah gurunya ibnu Abdul Wahab yang juga mengecam keras dakwah muridnya dengan menulis buku berjudul Masa`il wa Ajwibah wa Rudud ‘ala al-Khawarij dan kitab ar-Rad ‘ala Muhammad ibni Abd al-Wahhab.
.
12. Asy-Syaikh al-Allamah Marbad bin Ahmad at-Tamimi (w 1171 H). Dia adalah seorang qadi dan tokoh ulama besar negeri Najd. Tewas dibunuh oleh sekte Salafi Wahabi di kota Raghbah.
.
13. Asy-Syaikh al-Allamah Ahmad bin Ali an-Nushrani al-Qabbani. Dalam menentang dakwah Ibnu Abdul Wahab, dia menulis buku berjudul Fashl al-Khithab fi Rad Dhalalat Ibnu Abdul Wahab.
.
14. Al-Allamah Ibnu as-Safaraini an-Nablusi al-Hanbali (w 1188 H). Dia membantah faham Salafi Wahabi melalui bukunya yang berjudul al-Ajwibah an-Najdiyah ‘an al-As`ilah an-Najdiyah.
.
15. Al-Allamah Imam ash-Shan’ani (w 1182). Dia mengecam ajaran Muhammad bin Abdul Wahab dan meralat pujiannya atas dakwah Salafi Wahabi setelah dia menyadari bahwa dakwah Wahabi sangat keras dan penuh dengan akidah tajsim terhadap Allah s.w.t yang itu dilarang. Dia menulis syair kasidah sebagai bukti penolakannya terhadap sekte yang menurutnya sangat sesat dan jauh dari ajaran Islam.
.
16. Syaikh Saif bin Ahmad al-‘Utaibi (w 1189 H).
.
17. Syaikh Shalih bin Abdullah ash-Sha`ig (w 1183 H).
.
18. Al-Allamah Abdullah bin Daud az-Zubairi (w 1225 H).
.
19. Al-Allamah Alawi bin Ahmad al-Haddad al-Hadhrami (w 1232 H)
.
20. Al-Allamah Muhammad bin Abdullah Kiran al-Maghribi (1227 H)
.
21. Syaikh Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Adwan (w 1179 H)
.
22. Al-Allamah Hasan bin Umar asy-Syathiy ad-Dimasyqi (w 1247 H)
.
23. Al-Allamah Muhammad bin Abdullah, seorang Mufti Makkah bermazhab Hanbali yang hidup tidak jauh dari masa Ibnu Abdul Wahab turut menyaksikan kesesatan dan tindakan-tindakan anarkis yang dilakukan oleh keturunan Ibnu Abdul Wahab. Dia mengungkapkan rasa keberatan dan penolakannya terhadap faham yang satu ini melalui bukunya yang berjudul as-Sahb al-Wabilah ‘ala Dhara`ih al-Hanabilah.
.
24. Syaikh al-Islam Ismail at-Tamimi al-Maliki at-Tunisi, ulama besar Tunis (w 1248 H). Dia menulis beberapa buku membantah Ibnu bin Abdul Wahab, di antaranya adalah kitab ar-Radd ‘ala Ibni Abd al-Wahhab (buku ini telah dicetak ditunis) dan kitab al-Minah al-Ilahiyah fi Thams adh-Dhalalah al-Wahhabiyah. Buku kedua ini berupa manuskrip tersimpan di Dar al-Kutub al-Wathaniyah Tunis dengan nomor 2785. Kopi naskahnya tersimpan di Institut Manuskrip Arab, Cairo, Mesir, dan telah dicetak.
.
25. Syaikh Ibrahim bin Abdul Qadir ath-Thrablisi ar-Rayyahi at-Tunisi al-Maliki dari kota Tastur (w 1266 H). Bukunya yang membantah faham Salafi Wahabi adalah ar-Rad ‘ala al-Wahhabiyah.
.
26. Syaikh Muhammad ibnu Nashir al-Hazimi al-Yamani (w 1283 H). Dia menulis buku yang menolak akidah Salafi Wahabi berjudul Risalah fi Musyajarah baina Ahl Makkah wa Ahl Najd fi al-Aqidah. Manuskrip ini ada di Maktabah al-Kattaniyah/Rubath dengan nomor induk pencatatan 1/30 group kaf.
.
27. Syaikh Muhammad ‘Athaullah bin Muhammad bin Ishaq, digelari sebagai Syaikh Islam Romawi (w 1226 H). Menulis buku membantah Wahabi berujudul Syarh ar-Risalah ar-Raddiyyah ‘ala Tha`ifah al-Wahhabiyah.
.
28. Syaikh Muhammad Ibnu Abdullah Ibn Humaid an-Najdi al-Hanbali, Mufti Mazhab Hanbali di Makkah al-Mukarramah (w 1295 H).
.
29. Syaikh Daud bin Sulaiman an-Naqsyabandi al-Baghdadi al-Hanafi (w 1299 H). Menulis buku bantahan atas faham Salafi Wahabi yang mengkafirkan umat Islam secara serampangan dengan Shulh al-Ikhwan fi ar-Rad ‘ala man Qal ‘ala al-Muslimin bi asy-Syirk wa al-Kufran dan kitab al-Minhah al-Wahhabiyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah. Buku terakhir ini telah dicetak di Bombai pada tahun 1305.
.
30. Al-Allamah Ibnu Abidin al-Hanafi. Beliau membantah sangat keras atas kesesatan Salafi Wahabi melalui bukunya yang berjudul Radd al-Muhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar. Sebagai contoh, pada halaman 262 dia menyatakan, “Pembahasan tentang Para Pengikut Ibnu Abdul Wahab adalah Khawarij Zaman Kita: Mereka (Wahabi) mengkafirkan para sahabat Nabi s.a.w. …” Buku ini telah dicetak.
.
31. Al-Allamah ash-Shawi (w 1241 H) dalam kitabnya Hasyiyah ash-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain. Pada halaman 78 dari buku itu dia membongkar kesesatan akidah Salafi Wahabi, namun kandungan kitab Tafsir ini dipalsukan
sebagaimana dijelaskan pada pembahasan pemasluan kitab-kitab ulama.
.
32. Al-Allamah Nu’man bin Mahmud Khair ad-Din yang terkenal dengan sebutan Ibnu al-Alusi al-Baghdadi al-Hanafi (w 1317 H), buku sanggahannya atas faham ibnu Abdul Wahhab adalah al-Ajwibah an-Nu’maniyah ‘an al-As`ilah al-Hindiyah fi al-Aqa’id.
.
33. Al-Allamah Muhammad Hasan Shahib as-Sarhandi al-Majdadi (w 1346 H), membantah Salafi Wahabi dengan buku berjudul al-Ushul al-Arba’ah fi Tardid al-Wahhabiyah, buku ini telah dicetak.
.
34. Al-Allamah Ahmad Sa’id al-Faruqi as-Sarhandi an-Naqsyabandi (w 1277 H), buku bantahannya terhadap Wahabi adalah al-Haq al-Mubin fi ar-Rad ‘ala al-Wahhabiyyin dan kitab al-Aqwal fi ibni Abd al-Wahhab.
35. Al-Allamah al-Imam al-‘Aidrus. Beliau membantah faham Ibnu Abdul Wahab melalui buku di antaranya adalah Ajwibah fi Ziyarah al-Qubur, berupa manuskrip, tersimpan di Gudang Umum (khizânah ‘Âmah) di Rubath dengan nomor kode pencatatan 4/2577 group dal.
.
Inilah di antara para tokoh ulama terkemuka yang hidup sezaman dengan ibnu Abdul Wahab yang membantah ajaran sesatnya. Tidak terbilang jumlah para tokoh ulama yang menolak ajaran Ibnu Abdul Wahab, karena terlalu banyaknya dan semua ulama mazhab menentangnya. Faham ibnu Abdul Wahhab ini telah dianggap sesat oleh mereka dan keluar dari ajaran Islam. Di antara ulama-ulama yang hidup tidak sezaman dengannya membantah faham sesatnya adalah:
.
36. Hadrah al-Ajall al-Afkham Al-‘Allamah Al-Jalil Al-Akram Al-Marhum as-Sayyid Ali al-Bablawi al-Maliki; Mantan Syaikh al-Jami’ al-Azhar (Syaikh Masjid Jami’ al-Azhar).
.
37. Al-‘Allamah al-Kamil Al-Fahhamah al-Fadhil Syaikh Mashayikh al-Hanafiyyah (Syaikh Para Ulama’ Mazhab Hanafi) dan Mantan Mufti Mesir al-Marhum al-Syaikh Abd al-Qadir ar-Rafi’i.
.
38. Syaikh al-Islam, Mahathth Nazr al-‘Anam Syaikh al-Jami’ Al-Azhar (Syaikh Masjid Jami’ al-Azhar) al-Syaikh Abd ar-Rahman asy-Syarbini.
.
39. Hadrah al-Ustaz al-Mukarram al-Allamah Al-Afkham U’jubah al-Zaman wa Marja’ al-Ummah fi Mazhab al-Nu’man Sahib al-Fadhilah al-Syaikh al-Bakri al-Sadafi, Mufti Mesir dan Ketua Ulama’ Mazhab al-Hanafi Al-Syaikh Muhammad Bakri Muhammad ‘Asyur as-Sadafi.
.
40. Hadrah al-Allamah Shams Bahjah al-Fudala’ wa Durrah Uqad Zawi al-Tahqiq al-Nubala’ al-Ustaz al-Fadhil wa al-Fahhamah al-Kamil al-Syaikh Muhammad Abd al-Hayy Ibn asy-Syaikh Abd al-Kabir al-Kattani Al-Hasani – di antara ulama’ yang teragung di Maghribi.
.
41. Hadrah al-Hasib al-Nasib al-Ha’iz min darari al-Majd aw fi nasib zi al-kamal al-Zahir wa al-‘Ilm al-Wafir as-Sayyid Ahmad Bek al-Husayni asy-Syafi’i al-Muhami al-Shahir – alim mazhab asy-Syafi’i.
.
42. Hadrah al-‘Allamah al-Kabir wa al-Fahhamah al-Shahir, Subhan al-Zaman wa Ma’din al-Fadl wa al-‘Irfan asy-Syaikh Sulayman al-‘Abd al-Shibrawi asy-Syafi’i al-Azhari – alim mazhab asy-Syafi’i.
.
43. Hadrah al-Allamah al-Lawza’I al-Fahhamah, Ma’din al-Kamal wa Insan ‘Ayan al-Fadl wa al-Jalal, asy-Syaikh Ahmad Hasanayn al-Bulaqi – salah seorang ulama’ mazhab asy-Syafi’i di Al-Azhar.
.
44. Hadrah al-‘Allamah Al-Fadhil wa al-Malazz al-Kamil asy-Syaikh Ahmad al-Basyouni – Syaikh Mazhab Hanbali di Al-Azhar.
.
45. Al-Allamah asy-Syaikh Said al-Muji al-Gharqi asy-Syafi’i al-Azhari – di antara ulama’ mazhab asy-Syafi’i di Al-Azhar.
.
46. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad al-Halabi asy-Syafi’i Al-Misri Al-Azhari – di antara ulama’ mazhab asy-Syafi’i di Al-Azhar.
.
47. Dan lain sebagainya semisal: Al-allamah asy-Syaikh al-Masyrafi al-Maliki al-Jazairi, Al-allamah asy-Syaikh Musthafa al-Himami al-Mishri, Al-allamah asy-Syaikh Hasan asy-Syaththi al-Hanbali, Al-allamah asy-Syaikh Atha al-Qasam ad-Dimasyqi, Al-allamah asy-Syaikh Muhammad Athallah ar-Rumi, Al-allamah asy-Syaikh Ibrahim ar-Rawi al-Iraqi, Al-allamah asy-Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni.
.
b. Buku-Buku Ulama Terkemuka yang Membantah Faham Salafi Wahabi:
.
48. Kitab Tajrid Saif al-Jihad li Mudda’i al-Ijtihad karya al-Allamah Abdullah bin Abd al-Lathif asy-Syafi’i. Beliau adalah gurunya Ibnu Abdul Wahab yang telah membantah ajaran sesat muridnya itu.
.
49. Kitab ad-Durar as-Saniyyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah karya al-Allamah Ahmad Zani Dahlan asy-Syafi’i, mufti Makkah (w 1304 H). Buku ini telah dicetak. Buku beliau yang lain adalah al-Futuhat al-Islamiyyah dan Fitnah al-Wahhabiyyah.
.
50. Kitab Ithaf al-Kiram fi Jawaz at-Tawassul wa al-Istighatsah bi al-Anbiya al-Kiram karya al-Allamah Muhammad bin asy-Syadi, berupa manuskrip di gudang al-Kattaniyah di Rubath dengan nomor 1143 group huruf kaf.
.
51. Kitab Ithaf Ahl az-Zaman bi Akhbar Muluk Tunis wa ‘Ahd al-Aman karya asy-Syaikh Ahmad bin Abu adh-Dhiyaf, buku ini telah dicetak.
.
52. Kitab Ihya al-Maqbur min Adillah Istihbab Bina al-Masajid wa al-Qubab ‘ala al-Qubur karya al-Allamah al-Hafizh Ahmad bin ash-Shiddiq al-Ghumari (w 1380 H), buku ini telah dicetak.
.
53. Kitab al-Ishabah fi Nushrah al-Khulafa ar-Rasyidin karya al-Allamah asy-Syaikh Hamdi Juwaijati ad-Dimasyqi.
.
54. Kitab Izhhar al-‘Uquq min Man Mana’a at-Tawassul bi an-Nabi wa al-Wali ash-Shaduq karya al-Allamah al-Musyarrafi al-Maliki al-Jaza`iri.
.
55. Kitab al-Aqwal as-Saniyyah fi ar-Rad ‘ala Mudda’i Nushrah as-Sunnah al-Muhammadiyah karya al-Allamah al-Muhaddits Abdullah al-Ghimari, dikumpukan oleh asy-Syaikh Ibrahim Syahatah ash-Shiddiqi, buku ini telah dicetak.
.
56. Kitab al-Fajr al-Shadiq fi ar-radd ‘ala al-Mariq karya al-Allamah Al-Syaikh Daud al-‘Iraqi.
.
57. Kitab ash-Shawa’iq wa r-Rudad fî ‘Isyrina Kurrasan karya Afifuddin al-Hanbali, dan telah diringkas oleh Muhammad ibnu Basyir seorang Qadhi dari Ra`s al-Khaimah,
.
58. Kitab al-Aqwal al-Mardhiyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah karya al-allamah al-Faqih Atha al-Kasam ad-Dimasyqi al-Hanafi, buku ini telah dicetak.
.
59. Kitab al-Intishar li al-Awliya al-Abrar karya al-Allamah al-Muhaddits Thahir Sanbal al-Hanafi.
.
60. Kitab al-Awraq al-Baghdadiyah fi al-Jawabat an-Najdiyah karya al-Allamah Ibrahim ar-Rawi al-Baghdadi ar-Rifa’i, pimpinan tariqat ar-Rifaiyah di Baghdad, buku ini telah dicetak.
.
61. Kitab al-Bara`ah min al-Ikhtilaf fi ar-Radd ‘ala Ahl asy-Syiqaq wa an-Nifaq wa ar-Rad ‘ala al-Firqah al-Wahhabiyah adh-Dhallah karya al-Allamah Ali Zain al-Abidin as-Sudani, buku ini telah dicetak.
.
62. Kitab al-Barahin as-Sathi’ah fi Radd Ba’dhi al-Bida’ asy-Sya`i’ah karya al-Allamah Salamah al-Izhami (w 1379 H), buku ini telah dicetak.
.
63. Kitab al-Basha`ir li Munkiri at-Tawassul bi Ahl al-Maqabir karya al-Allamah Hamdallah ad-Dajawi al-Hanafi al-Hindi, buku ini telah dicetak.
.
64. Kitab Tarikh al-Wahhabiyah karya Ustadz Ayyub Shabri Basya ar-Rumi penulis buku Mira`ah al-Haramain. Di buku itu penulis mengungkapkan sejarah kelam berdarah yang telah dilakukan Salafi Wahabi.
.
65. Kitab Tabaruk ash-Shahabah bi Atsar Rasulillah karya Ustadz Muhammad Thahir bin Abd al-Qadir al-Kurdi, buku ini telah dicetak.
.
66. Kitab Tahdzir al-Khalaf min Makhazi Ad’iya as-Salaf karya al-Allamah Muhammad Zahid al-Kautsari, beliau adalah wakil al-Masyikhah al-Utsmaniyah (kumpulan tokoh ulama Turki Utsmani) di zamannya.
.
67. Kitab at-Tahrirat ar-Ra’iqah karya al-Allamah Muhammad an-Nafilati al-Hanafi, Mufti al-Aqsa asy-Syarif (w 1315 H), buku ini telah dicetak.
.
68. Kitab Tahridh al-Aghbiya ‘ala al-Isti’aghatsah bi al-Anbiya wa al-Awliya karya al-Allamah Abdullah bin Ibrahim al-Mirghani al-Hanafi, beliau tinggal di Thaif.
.
69. Kitab at-Tuhfah al-Wahhabiyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah karya al-Allamah Daud bin Sulaiman al-Baghdadi an-Naqsyabandi al-Hanafi (w 1299 H).
.
70. Kitab Tahthhir al-Fu`ad min Danas al-I’tiqad karya al-Allamah Muhammad Bukhait al-Muthi’i al-Hanafi, beliau adalah ulama al-Azhar, Mesir. Buku ini telah dicetak.
.
71. Kitab Taqyid Haul at-Ta’alluq wa at-Tawassul bi al-Anbiya wa ash-Shalihin karya al-Allamah al-Qadhi Ibnu Kiran al-Maghribi, kitab ini masih berupa manuskrip tersimpan di Gudang al-Jalawi di Rubath dengan nomor 153 group jim.
.
72. Kitab ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah karya al-Allamah al-Qadhi Ibnu Kiran al-Maghribi, masih berupa manuskrip di Maktabah al-Kattaniyah di Rubath dengan nomor 1325 group kaf.
.
73. Kitab Taqyid Haul Ziyarah al-Awliya wa at-Tawassul bi Him karya al-Allamah al-Qadhi Ibnu Kiran al-Maghribi, ulama yang baru saja disebut.
.
74. Kitab TaHakkum al-Muqallidin bi Man Idda’a Tajdid ad-Din karya al-Allamah Muhammad bin Abd ar-Rahman al-Hanbali.
.
75. Kitab at-Tawassul karya Mufti al-Allamah Muhammad Abd al-Qayyum al-Qadiri al-Hazarawi. Buku ini telah dicetak.
.
76. Kitab at-Tawassul bi an-Nabi wa ash-Shalihin karya al-Allamah Abu Hamid bin Marzuq ad-Dimasyqi asy-Syami, buku ini telah dicetak.
.
77. Kitab at-Taudhih ‘an Tauhid al-Khallaq fi Jawab Ahli al-‘Iraq ‘ala Muhammad bin Abd al-Wahhab karya Syaikh Abdullah Afandi ar-Rawi. Buku ini masih berupa manuskrip di Universitas Cambridge, London, dengan judul Radd al-Wahhabiyah. Kopian naskah ini juga terdapat di Maktabah al-Awqaf, Baghdad, Irak.
.
78. Kitab Jalal al-Haq Kasyf Ahwal Asyrar al-Khalq karya al-Allamah Ibrahim Hilmi al-Qadiri al-Iskandari, buku ini telah dicetak.
.
79. Kitab al-Jawabat fi az-Ziyarah karya al-Allamah Ibnu Abd al-Razzaq al-Hanbali. Sayyid Alawi ibnu Haddad berkata, “Dalam buku ini aku dapati jawaban-jawaban para ulama besar dari empat mazhab yang berasal dari Makkah, Madinah, Ahsa, Bashrah, Baghdad, Halab, Yaman, dan negeri-negeri Islam lain dengan jawaban yang sangat baik dan gamblang.”
.
80. Kitab al-Haqa`iq al-Islamiyah fi ar-Rad ‘ala al-Maza’im al-Wahhabiyah bi Adillah al-Kitab wa as-Sunah an-Nabawiyah karya Ustadz Malik ibnu Syaikh Mahmud, pimpinan Madrasah al-Irfan di kota Kotbali, Republik Mali, Afrika. Buku ini telah dicetak.
.
81. Kitab al-Haqiqah al-Islamiyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah karya Ustadz Abd al-Ghani bin Shalih Hamadah, buku ini telah dicetak.
.
82. Kitab ad-Dalil al-Kafi fi ar-Rad ‘ala al-Wahhabi karya al-Allamah Mishbah ibnu Ahmad Syibqalu al-Bairuti. Buku ini telah dicetak.
.
83. Kitab ar-Ra`iyah ash-Shughra fi Dzamm al-Bid’ah wa Madhi as-Sunnah al-Gharra karya al-Allamah Al-Qadhi asy-Syaikh Yusuf al-Nabhani al-Shafi’i (w 1350 H); Qadhi Mahkamah Syariah (Ketua Mahkamah Tinggi di Beirut).
84. Kitab Radd ‘ala Ibni Abd al-Wahhab karya al-Allamah Ahmad al-Mishri al-Ahsa`i.
.
85. Kitab Radd ‘ala Ibni Abd al-Wahhab karya al-Allamah asy-Syaikh Barakat asy-Syafi’i al-Ahmadi al-Makki.
.
86. Kitab ar-Rad ‘ala al-Wahhabiyah karya al-Allamah Shalih al-Kawwasy at-Tunisi, buku ini telah dicetak.
.
87. Kitab ar-Rad ‘ala al-Wahhabiyah karya al-Allamah Shalih Muhammad Shalih az-Zamzami asy-Syafi’i, Imam Maqam Ibrahim, Makkah al-Mukarramah.
.
88. ar-Rad ‘ala al-Wahhabiyah karya al-Allamah Abd al-Muhsin al-Usyaiqiri al-Hanbali, Mufti kota az-Zubair di Bashrah.
.
89. ar-Rad ‘ala al-Wahhabiyah karya al-Allamah al-Makhdum al-Mahdi, Mufti Fas.
.
90. Kitab ar-Rudud ‘ala Muhammad ibni Abd al-Wahhab karya al-Allamah al-Muhaddits Shalih al-Filani al-Maghribi. Sayyid Alawi ibnu al-Haddad berkata, “Buku tebal ini berisi tentang risalah-risalah dan jawaban-jawaban dari para ulama empat mazhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, mereka semua membantah Muhammad bin Abdul Wahab dengan begitu mengagumkan.”
.
91. Kitab ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah karya Abu Hafsh Umar al-Mahjub, masih berupa manuskrip di Dar al-Kutub al-Wathaniyah di Tunis dengan nomor 2513 dan kopiannya juga terdapat di Institut Manuskrip-manuskrip Arab (Ma’had al-Makhthuthat al-Arabiyah) Cairo-Mesir, dan di Maktabah al-Kattaniyah, Rubath dengan nomor 1325 group kaf.
.
92. Kitab ar-Radd ‘ala Muhammad ibni Abd al-Wahhab karya al-Allamah Abdullah al-Qadumi al-Hanbali an-Nablusi, tokoh ulama terkemuka mazhab Hanbali di dataran Hijaz dan Syam (w 1331 H). Dia juga menulis buku berjudul ar-Rihlah al-Hijaziyah wa ar-Riyadh al-Unsiyah fi al-Hawadits wa al-Masa`il yang di dalamnya terdapat bantahan keras atas faham Ibnu Abdul Wahab yang menurutnya Khawarij. Buku ini telah dicetak.
.
93. Kitab Risalah fi Ta`yid Madzhab ash-Shufiyah wa ar-Rad ‘ala al-Mu’taridhin ‘alaihim karya al-Allamah Salamah al-Azami (w 1379 H). Buku ini telah dicetak.
.
94. Kitab Risalah fi Tasharruf al-Awliya karya al-Allamah Yusuf ad-Dajwi, buku ini telah dicetak
..
95. Kitab Rislah fi Jawaz at-Tawassul fi ar-Radd ‘ala Muhammad ibni Abd al-Wahhab karya al-Allamah Mufti Fas; Syaikh Mahdi al-Wazinani.
.
96. Kitab Risalah fi Jawaz al-Istighatsah wa at-Tawassul karya al-Allamah Yusuf al-Baththah al-Ahdal az-Zubaidi, tinggal di Makkah al-Mukarramah. Dalam bukunya itu dia mengatakan, “Tidaklah dianggap seseorang yang keluar dari kelompok besar umat Islam dan menyelisihi jumhur ulama, serta memisahkan diri dari jamaah umat Islam, dia termasuk ahli bidah.”
.
97. Kitab Risalah fi ar-Rad ‘ala al-Wahhabiyah karya al-Allamah Qasim Abu al-Fadhl al-Mahjub al-Maliki.
.
98. Kitab Risalah fi Hukm at-Tawassul bi al-Anbiya wa al-Awliya karya al-Allamah Muhammad Hasanain Makhluf al-Adwi al-Mishri, Wakil Rektor Universitas al-Azhar. Buku ini telah dicetak.
.
99. Kitab Risalah fi Musyajarah bain Ahl Makkah wa Ahl Najd fi al-Aqidah karya al-Allamah Muhammad ibnu Nashir al-Hazimi al-Yamani (w 1283 H). Berupa manuskrip di Maktabah al-Kattaniyah di Rubath dengan nomor 1/30 group kaf.
.
100. Kitab ar-Risalah al-Mardhiyah fi ar-Radd ‘ala Man Yunkir az-Ziyarah al-Muhammadiyah karya Syaikh Muhammad as-Sa’di al-Maliki.
.
101. Kitab Raudh al-Majal fi ar-Radd ‘ala Ahl adh-Dhalal karya al-Allamah Abdurrahman al-Hindi ad-Dilhi al-Hanafi (w 1327 H). Buku ini telah dicetak.
.
102. Kitab Sabil an-Najah min Bid’ah Ahl az-Zaigh wa adh-Dhalalah karya al-Allamah al-Qadhi Abdurrahman Quti.
.
103. Kitab Sa’adah ad-Darain fi ar-Radd ‘ala al-Firqatain: al-Wahhabiyah wa Muqallidah azh-Zhahiriyah karya al-Allamah Ibrahim bin Utsman bin Muhammad as-Samanwadi al-Manshuri al-Mishri. Buku ini telah di cetak di Mesir pada tahun 1320 H dalam dua jilid.
.
104. Kitab Sana` al-Islam fi A’lam al-Anam fi Aqa`id Ahl al-Bait al-Kiram Raddan ‘ala Abd al-Aziz an-Najdi fi ma Irtakabah min al-Awham karya al-Allamah Ismail ibnu Ahmad az-Zabidi.
.
105. Kitab as-Saif al-Batir li ‘Unuq al-Munkir ‘ala Akabir karya al-Allamah as-Sayyid Alawi ibnu Ahmad al-Haddad (w 1222 H).
.
106. Kitab as-Suyuf ash-Shiqal fi A’naq Man Ankar ‘ala al-Awliya ba’da al-Intiqal karya seorang ulama dari Bait al-Maqdis.
.
107. Kitab as-Suyuf al-Musyriqah li Qath’i A’naq al-Qa`ilin bi al-Jihah wa al-Jismiyah karya al-Allamah Ali bin Muhammad al-Mili al-Jamali at-Tunisi al-Maghribi al-Maliki.
.
108. Kitab ash-Sharim al-Hindi fi ‘Unuq an-Najdi karya al-Allamah Atha al-Makki.
.
109. Kitab Shidq al-Khabar fi Khawarij al-Qarn ats-Tsani Asyar fi Itsbat anna al-Wahhabiyah min al-Khawarij karya al-Allamah asy-Syarif Abdullah bin Hasan Basya bin Fadhl Basya al-Alawi al-Husaini al-Hijazi, seorang Emir Zhaffar. Buku ini telah dicetak di Ladziqah, Turki.
.
110. Kitab Shulh al-Ikhwan fi ar-Radd ‘ala Man Qal ‘ala al-Muslimin bi asy-Syirk wa al-Kufran: fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah li Takfirihim al-Muslimin karya al-Allamah Daud bin Sulaiman an-Naqsyabandi al-Baghdadi al-Hanafi (w 1299 H).
.
111. Kitab ash-Shawa`iq wa ar-Ru’ud karya al-Allamah Afif ad-Din Abdullah ibnu Daud al-Hanbali. al-Allamah Alawi bin Ahmad al-Haddad berkata, “Dalam buku ini disertai dukungan dan kata pengantar dari para tokoh ulama terkemuka Bashrah, Baghdad, Halab, Ahsa dan para ulama lainnya.”
.
112. Kitab Dhiya ash-Shudur li Munkir at-Tawassul bi Ahl al-Qubur karya Syaikh Zhahir Syah Miyan ibnu Abdu al-Azhim Miyan. Buku ini telah dicetak.
.
113. Kitab al-‘Aqa`id at-Tis`u karya al-Allamah Ahmad bin Abd al-Ahad al-Faruqi al-Hanafi an-Naqsyabandi. Buku ini telah dicetak.
.
114. Kitab al-‘Aqa`id ash-Shahihah fi Tardid al-Wahhabiyah an-Najdiyah karya al-Allamah al-Hafizh Muhammad Hasan as-Sarhandi al-Majdadi. Buku ini telah dicetak.
.
115. Kitab Aqd Nafis fi Radd Syubuhat al-Wahhabi at-Ta’ayyus karya al-Allamah Ismail Abu al-Fida at-Tamimi at-Tunisi, seorang faqîh dan ahli sejarah.
.
116. Kitab Ghauts al-Ibad bi Bayan ar-Rasyad karya al-Allamah Mushtafa al-Himami al-Mishri. Buku ini telah dicetak.
.
117. Kitab Fitnah al-Wahhabiyah karya al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan asy-Syafi’i (w 1304 H), seorang Mufti Haramain (Makkah dan Madinah), pengajar di Masjid al-Haram di Makkah. Buku ini kutipan dari bukunya yang berjudul al-Futuhat al-Islamiyah yang dicetak di Mesir tahun 1354 H.
.
118. Kitab Furqan al-Qur`an karya al-Allamah Salamah al-Azzami al-Qadha’I asy-Syafi’i al-Mishri. Dalam buku ini penulis menjelaskan kesesatan faham tajsim Ibnu Taimiyah dan Ibnu Abdul Wahab.
.
119. Kitab Fashl al-Khithab fi Radd ‘ala Dhalalat ibnu Abd al-Wahab karya al-Allamah Ahmad bin Ali al-Bashri, yang masyhur dikenal dengan nama al-Qabbani asy-Syafi’i.
.
120. Kitab al-Fuyudhat al-Wahhabiyah fi ar-Radd ‘ala ath-Tha`ifah al-Wahhabiyah karya Abu al-Abbas Ahmad ibnu Abd as-Salam al-Bannani al-Maghribi.
.
121. Kitab Qashidah fi ar-Radd ‘ala ash-Shan’ani fi Madhi ibnu Abd al-Wahhab karya al-Allamah Ibnu Ghalbun al-Libi.
.
122. Kitab Qashidah fi ar-Radd ‘ala ash-Shan’ani fi Madhi ibnu Abd al-Wahhab karya al-Allamah Mushthafa al-Mishri al-Bulaqi.
.
123. Kitab Qashidah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah karya al-Allamah Abd al-Aziz al-Qurasyi al-Alaji al-Maliki al-Ahsa`i.
.
124. Kitab Qam’u Ahl az-Zaigh wa al-Ilhad ‘an ath-Tha’n fi Taqlid A`imah al-Ijtihad karya Mufti Madinah al-Munawwarah; al-Allamah al-Muhaddits Muhammad al-Khadr asy-Syanqithi (w 1353 H).
.
125. Kitab Muhiq at-Taqawwul fi Mas`alah at-Tawassul karya al-Allamah Muhammad Zahid al-Kautsari.
.
125. Kitab Muhiq at-Taqawwul fi Mas`alah at-Tawassul karya al-Allamah Muhammad Zahid al-Kautsari.
.
126. Kitab al-Madarij as-Sunniyyah fi Radd al-Wahhabiyah karya al-Allamah ‘Amir al-Qadiri, dosen di Dar al-Ulum al-Qadiriyah, Karachi, Pakistan. Buku ini telah dicetak.
.
127. Kitab Mishbah al-Anam wa Jala` azh-Zhalam fi Radd Syibhi al-Bida’i an-Najdi allati Adhalla biha al-Awwam karya al-Allamah as-Sayyid Alawi ibnu Ahmad al-Haddad (w 1222 H). Buku ini telah dicetak oleh Mathba’ah al-‘Amirah Mesir tahun 1325.
.
128. Kumpulan Makalah karya al-Allamah Yusuf Ahmad ad-Dajwi, salah seorang ulama besar al-Azhar Mesir (w 1365 H).
.
129. Kitab al-Maqalat al-Wafiyyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah karya al-Allamah Hasan Qazbik. Buku ini dicetak dengan disertai kata pengantar dari al-Allamah Yusuf ad-Dajwi.
.
130. Kitab al-Manhal as-Sayyal fi al-Haram wa al-Halal karya al-Allamah Mushthafa al-Mishri al-Bulaqi.
.
131. Kitab Nashihah Jalilah li al-Wahhabiyah karya al-Allamah as-Sayyid Muhammad Thahir al-Mala al-Kayali ar-Rifa’i, tokoh ulama Asyraf Adlab. Kumpulan nasehat ini telah dikirim kepada pihak Salafi Wahabi. Buku ini dicetak di Adlab.
.
132. Kitab an-Nuqul asy-Syar’iyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyah karya asy-Syaikh Musthafa bin Ahmad asy-Syathiy al-Hanbali ad-Dimasyqi. Buku ini telah dicetak di Istanbul, Turki, tahun 1406.
.
133. Kitab Yahuda la Hanabilah karya al-Allamah al-Ahmadi azh-Zhawahiri, Syaikh al-Azhar Mesir.
.
134. Kitab Bara’ah asy-Syi’ah min Muftarayat al-Wahhabiyah karya al-Allamah Prof. Muhammad Ahmad Hamid as-Sudani.
.
135. Kitab al-Wahhabiyyun wal Buyut al-Marfu’ah karya Syaikh Muhammad Ali al-Kurdistani.
.
136. Kitab al-Wahhabiyah wa al-Tauhid karya Syaikh Ali al-Kurawani.
.
137. Kitab al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyah karya Syaikh Sha’ib Abdul Hamid.
.
138. Kitab Kasyf al-Irtiyab fi Atba’ Muhammad bin Abdil Wahhab karya Syaikh Muhsin al-Amin.
.
139. Kitab Hadzihi Hiya al-Wahhabiyah karya Syaikh Muhammad Jawwad.
.
140. Syaikh Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri ad-Diyubandi dalam kitabnya Faidh al-Bari ‘ala Shahih al-Bukhari 1/170 cetakan Mesir mengatakan, “Sesungguhnya Muhammad bin Abdul Wahab adalah orang idiot, sedikit ilmunya. Dia suka sekali mengkafirkan orang. Padahal tugas menilai seseorang itu telah kafir adalah ulama yang benar-benar mengerti seluk-beluk, syarat dan rukunnya
.
Dan masih banyak lagi kitab-kitab terpercaya lainnya. Ulama-ulama di atas belum termasuk ulama-ulama kontemporer saat ini yang membantah faham menyimpang Salafi Wahabi berbaju sunni ini.
.
Selamat membaca !!!

29 November 2016 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

SENARAI NAMA PENCERAMAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH (ASWJ) ANTARABANGSA YANG BERBAHASA INGGERIS

Kiriman Ustaz Yunan A Samad

Di bawah ini, saya ada menyenaraikan “English Speaker” ASWJ yang boleh kita jemput mereka untuk mengadakan majlis/ program di negara kita.
Antaranya senarai tersebut ialah 50 orang alim ulama’ :
1. Syaikh Hamzah Yusof ( Pemikiran Islam & Pendakwah bebas di USA)
2. Syaikh Muhammad Aslam (Pendakwah bebas di UK)
3. Syaikh Sulaiman Moola ( Pendakwah bebas di South Afrika)
4. Syaikh Mohammad Danial Cardoba Academy ( Pensyarah Hadīth di Cardoba Academy)
5. Syaikh Mufti Muhammad Adam al-Kawtari ( Pensyarah Hadīth di Institut Darul Ifta, UK)
6. Syaikh Nuh Min Keller ( Penterjemah kitab-kitab Turath ke dalam bahasa Inggeris & Pendakwah bebas di Jordan)
7. Syaikh Abd Hakim Murad ( Pendakwah bebas di UK)
8. Syaikh Muhammad Yasir al-Hanafi ( Pendakwah bebas di UK)
9. Syaikh Yusuf Badat ( Pendakwah bebas di USA)
10. Syaikh Mufti Abd Rahman Mangera ( Pendakwah bebas & Pensyarah Hadīth di Institut Rayyan, UK)
11. Syaikh Faraz Rabbani ( Pendakwah bebas dan pengasas Institusi Seekers Hub, Canada)
12. Syaikh Mumtaz ul-Haq (Pendakwah bebas di UK)
13. Syaikh Mufti Taha Karan (Mufti Besar Mazhab Shafi’i di Capetown & keturunan Melayu)
14. Syaikh Mufti Musa Furber ( Mufti Mazhab Shafi’i di Institut Tabah Foundation)
15. Syaikh Amer Jamil (Pendakwah bebas di Scotland)
16. Syaikh Dr Naquib al-Attas ( Pemikir Islam di Malaysia – pengasas ISTAC)
17. Syaikh Afeefuddin Al-Jailani ( Pendakwah bebas & Pengasas Darul Jailani International, Malaysia)
18. Syaikh Ahmad Saad ( Berketurunan Rasulullah & Pendakwah bebas di UK)
19. Syaikh Hasan Ali (Pendakwah bebas di UK)
20. Syaikh Ahmad Ali ( Pendakwah bebas di UK)
21. Syaikh Zahir Mahmood ( Pendakwah bebas di UK)
22. Syaikh Hamdi Ben Aissa ( Pendakwah bebas di Canada)
23. Syaikh Dr Abul Hasan Hussain ( Pakar manuskrip kitab turath di UK)
24. Syaikh Dr. Muhammad bin Yahya al-Ninowy al-Husayni (Pendakwah bebas di USA)
25. Syaikh Muhammad al-Yaqoubi ( Pensyarah Hadīth di sebuah institusi di Maghribi)
26. Syaikh Dr. Umar Faruq Abd-Allah (Pendakwah bebas di Canada & awal bulan Mei ini insyaAllah beliau akan berada di Malaysia)
27. Syaikh Dr Shadee al- Misri (Pendakwah bebas di USA)
28. Syaikh Mufti Abdullah Nana ( Penasihat Syariah Halal Food USA)
29. Syaikh Dr Gibril al-Haddad ( Pendakwah bebas di USA).
30. Syaikh Yahya Rhodus (Pensyarah Hadīth di Institut Seekers Hub, Canada)
31. Syaikh Imran Angullia ( Pendakwah Bebas di Singapura)
32. Syaikh Hamzah Maqbul (Pensyarah Hadīth di Institut Rayyan, UK)
33. Syaikh Abdus Shakur (Pensyarah Hadīth di sebuah institusi di South Afrika)
34. Syaikh Bilal Ali ( Pensyarah Hadīth di Institut Darul Qasim, USA)
35. Imam Afroz Ali ( Pendakwah Bebas di Australia)
36. Syaikh Mufti Ehzaz Ajmeri ( Pensyarah Hadīth di Institut Darul Salam, USA)
37. Syaikh Omar Subedar (Pendakwah bebas di Canada & penulis Syarah Sahih al-Bukhari dalam bahasa Inggeris)
38. Syaikh Maulana Abu Bakar Akoo (Newcastle, South Africa, juga anak murid Syeikh Ahmad Deedat, pakar debat Afrika Selatan)
39. Syaikh Mufti Yusuf Al-Bskhur Al-Hasani -(Keturunan Rasulullah & Mufti Kanada)
40. Syaikh Dr Afifi al-Akiti ( anak Melayu pertama menjadi Pensyarah Pengajian Islam di Oxford University)
41. Syaikh Mufti Abd Rahman (Pensyarah Hadīth di sebuah institusi di Cape Town, South Afrika )
42. Syaikh Mufti Ebrahim Desai ( Pakar Kewangan Islam & Penasihat Syariah Bank terbesar di South Afrika)
43. Syaikh Mufti Husain Kadodia (Pensyarah Hadīth & Pakar Manuskrip kitab-kitab Turath di South Afrika).
44. Syaikh Abd Rahem Limbada ( Pendakwah bebas & Pensyarah Hadīth di Sebuah institusi di UK)
45. Syaikh Mustafa Kamal al-Mujaddidi (Pendakwah bebas di Pakistan)
46. Syaikh Muhammad Abbas Omar ( Pensyarah Hadīth di sebuah institusi di South Afrika & murid kepada Syaikh Muhammad Awammah )
47. Syaikh Ismail Nakhoda (Pakar sejarah juga anak kepada Sufi terkenal Haji Nakhoda Madinah)
48. Syaikh Hamood Mansur ( Pengarah Institut ar-Rayyan, UK)
49. Syaikh Mufti Faraz al-Mahmudi ( Pakar Kewangan Islam & Pengasas Institut Darul Fiqh, UK)
50. Syaikh Atiq ar-Rahman ( Pensyarah Hadīth di sebuah institusi pengajian di South Afrika)

P/s : Kebanyakan asatizah ini mempunyai rakaman kuliah mereka di Youtube, diharapkan senarai para asatizah ini boleh dijadikan panduan kepada kita semua dalam mencari kebenaran sejajar dengan keautoritian keilmuan mereka.

29 November 2016 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Uncategorized | Leave a comment

AMALAN DI KUBUR MENGIKUT ULAMAK AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH BUKAN BIDAAH DAN SESAT. KUBURIYYUN (penyembah kubur)

Fitnah dan ejekan berbentuk pengkafiran dan pensyirikan oleh Wahhabi terhadap Salafussoleh dan majoriti ulamak serta umat Islam.
Wahhabi memfitnah umat Islam yang berziarah kubur, berdoa dengan cara bertawassul dan membaca al Quran dengan gelaran kuburiyyun.

Benarkah dakwaan Wahhabi ini ?

1. Para ulama sepakat mengatakan bahawa sunat bagi lelaki menziarahi kubur orang-orang Islam berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Buraidah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Maksudnya:
“Dahulu aku melarang kamu menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahlah.”
(Hadits riwayat Muslim)

ZIARAH KUBUR PADA WAKTU/HARI TERTENTU
1.
عن محمد بن إبراهيم قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يأتي قبور الشهداء على رأس كل حول فيقول:”السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار”، وأبو بكر وعمر وعثمان
“Muhammad bin Ibrahim berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi makam para syuhada’ setiap tahun, lalu berkata: “Salam sejahtera semoga buat kalian sebab kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Hal ini juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman.
(HR. al-Thabari dalam Tafsir-nya [20345], dan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juz 4 hlm 453).
Hadits di atas juga disebutkan oleh al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur hlm 185, dan ditentukan bahwa makam Syuhada yang diziarahi setiap oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syuhada peperangan Uhud. Hadits ini dapat dijadikan dalil, tentang tradisi haul kematian setiap tahun.

2. Atsar Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha
عن محمد بن علي قال كانت فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم تزور قبر حمزة كل جمعة
“Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin berkata: “Fathimah putrid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam Hamzah setiap hari Jum’at.”
(HR. Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf [6713]).
3. عن الحسين بن علي : أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم كانت تزور قبر عمها حمزة كل جمعة فتصلي و تبكي عنده هذا الحديث رواته عن آخرهم ثقات
“Al-Husain bin Ali berkata: “Fathimah putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah setiap hari Jum’at, lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya.”
(HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak [4319], al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra [7000]).

4. Atsar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ حَدِّثْ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلَاثَ مِرَارٍ وَلا تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا الْقُرْآنَ. رواه البخاري.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sampaikanlah hadits kepada manusia setiap hari Jum’at. Jika kamu tidak mau, maka lakukan dua kali dalam sepekan. Jika masih kurang banyak, maka tiga kali dalam sepekan. Jangan kamu buat orang-orang itu bosan kepada al-Qur’an ini.
(HR. al-Bukhari [6337]).

MEMBACA AL QURAN DI KUBUR – merupakan amalan yang diajar oleh salafussoleh

1. Ibn Hibban dalam kitab sahihnya meriwayatkan hadith Jundab bin AbdiLLah, RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bererti :
“Surah al Baqarah adalah tulang belakang al Quran, ia diturunkan oleh lapan puluh malaikat dengan membawa satu persatu ayat. Sedangkan ayat kursi diturunkan dari bawah Arsy’. kemudian ia dikumpulkan dengan ayat-ayat surah al Baqarah. Surah Yasin pula adalah hati al Quran, tidak ada orang yang membacanya dengan mengharap redha ALlah dan pahala akhirat melainkan dia akan mendapat ampunan dari-Nya. Bacalah surah Yasin untuk saudara-saudara kamu yang telah meninggal dunia.”
(Ditakhrij oleh Ibn Hibban di dalam Kitab Sahihnya pada bab Fadhilat Surah al Baqarah. Demikian juga al Haithami meriwayatkannya di dalam kitab Mawarid al Dzam’an, (jilid V, h 397). Imam Ahmad juga meriwayatkannya di dalam al Musnad dari Ma’qal bin Yasar (jilid v h 26). Al Haithami mengulas hadith tersebut di dalam kitab Majma’ al Zawaid, “Hadith tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, di dalamnya ada salah seorang perawi yang tidak disebut namanya, bagaimanapun perawi perawi lainnya adalah sahih (jilid VI h 311)

2. Imam Syafi’i :
قال الشافعى : وأحب لو قرئ عند القبر ودعى للميت
“asy-Syafi’i berkata : aku menyukai seandainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan dibacakan do’a untuk mayyit”
(Lihat : Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi)
Juga disebutkan oleh al-Imam al-Mawardi, al-Imam an-Nawawi, al-Imam Ibnu ‘Allan dan yang lainnya dalam kitab masing-masing yang sebagai berikut :
قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمه اللَّه: ويُسْتَحَبُّ أنْ يُقرَ أَ عِ ندَه شيء مِنَ القُرآنِ، وَإن خَتَمُوا القُرآن عِنْده كانَ حَسناً
“Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata : disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi quburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan al-Qur’an disisi quburnya maka itu bagus”
(Lihat : Riyadlush Shalihin [1/295] lil-Imam an-Nawawi ; Dalilul Falihin [6/426] li-Imam Ibnu ‘Allan ; al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26] lil-Imam al-Mawardi dan lainnya)

3. Imam Nawawi berkata
“Adalah sunnah hukumnya bagi para penziarah kubur untuk mengucapkan salam kepada mereka (penghuni kubur), mendoakan kepada orang yang diziarahi dan juga kepada ahli kubur semuanya. Lebih utama lagi, jika penziarah itu membaca doa-doa yang telah diterangkan dalam al hadith. Dan hukumnya sunnah pula membaca ayat-ayat al Quran dan setelah itu mendoakan para penghuni kubur. Ini semua adalah nas (pendapat) dari Imam al Syafie dan disepakati oleh murid-muridnya (para pengikutnya)

4. Imam al Nawawi, al majmu’ syarh al muhazzab jilid V h 286.
Majoriti para ulamak antaranya Imam Ahmad Ibnu Hambal dalam salah satu pendapatnya, Muhammad Ibnu Hassan, Imam Abu Hanifah dalam satu pendapatnya, para ulamak mutaakhirin Malikiyah dan As SYafi’eyyah berpendapat bahawa membaca al Quran di kuburan setelah mayat dikubur boleh (ad Duur al Muhtar wa raddu al Muhtar I/884. Fath al Qadir I/473. Syarh al Risalah I/289, Mughniy al Muhtaj III/69-70, Al Mughniy II/566-570, Kasyaf al Qona’ II/191, al Muhadzab I/464, al Syarh al Saghir I/568)

MENGUSAP KUBUR – pernah dibuat oleh salafussoleh

1. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bertanya kepada ayahnya tentang seorang lelaki yang mengusap kubur Nabi s.a.w. dan mimbar, lalu Imam Ahmad menjawab:
“Tidak mengapa begitu”.
[Iqthida’ As-Sirat Al-Mustaqim m/s 401]
Sahabat Abu Ayyub al Ansori telah diriwayatkan mencium makam Nabi :
“Dawud ibn Salih berkata: pada suatu hari Marwan melihat seorang laki-laki menaruh wajahnya di atas makam Nabi sall llahu ‘alayhi wasallam. Marwan menegurnya, “Kau tahu apa yang kau lakukan?” Ketika Marwan sampai di dekatnya, orang tersebut menoleh dan memperlihatkan wajahnya ternyata orang tersebut adalah Abu Ayyub al-Ansari [salah seorang sahabat besar dari golongan Ansar). Sayyidina Abu Ayyub Al-Ansari radiyAllahu ‘anhu. berkata: “Ya, Aku datang kepada Nabi, bukan mendatangi batu. Aku mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Jangan tangisi agama apabila diurus oleh ahlinya. Akan tetapi tangisilah apabila diurus oleh bukan ahlinya”
(Hadits riwayat Ibn Hibban dalam Shahihnya, Ahmad (5:422), Tabrani dalam Mu’jamul Kabir (4:189), Awsat, Ibnu Hajar Haythami dalam al-Zawa’id (5:245), al-Hakim dalam kitab Mustadrak (4:515), Tabrani dan al-Hakim, al-Subki dalam Syifa’ al-siqam (p. 126), hadits ini dishahihkan oleh

IBNU HAJAR AL ASQALAN AMALAN DI KUBUR MENGIKUT ULAMAK AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH BUKAN BIDAAH DAN SESAT.
KUBURIYYUN (penyembah kubur) –

Al Allamah al Muhaddith al Arif billah, Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki telah membahas perkara tawassul ini dengan panjang lebar di dalam kitab beliau bertajuk Mafahim Yajibu an Tushahhah (lihat Muhiqq At Taqawwul fi Mas’alah at Tawassul dalam Rasa’il Hammah wa Mabahith Qayyimah, ms 397) Kemudian beliau menyenaraikan nama-nama para A’immah dan Huffaz yang membolehkan tawassul antaranya :

1. Al Imam Al Hafiz, Abu AbduLlah al Hakim dalam Al Mustadrak. (Di dalam kitab tersebut, beliau menyebutkan Nabi Adan bertawassul dengan Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan mensahihkannya)

2. Al Imam Al Hafiz, Abu Bakar al Baihaqi dalam Dala’il an Nubuwwah (Beliau juga menyebut tentang hadith Nabi Adam bertawassul dengan Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan hadith-hadith yang berkaitan dengan tawassul.)

3. Al Imam al Hafiz, Jalal ad Din as Sayuthi dalam Al Khasha’ish al Kubra (Beliau juga menyebut hadith Nabi Adam bertawassul).

4. Al Imam al Hafiz, Abu Al Farj Ibn Al Jauzi dalam Al Wafa (Beliau juga menyebut hadith Nabi Adam bertawassul dan hadith-hadith berkaitan.

5. Al Imam Al Hafiz Al Qadhi Iyadh dalam Asy Syifa’ fi at Ta’rif bi Huquq al Mushtofa.

6. Al Imam, Syaikh Nur ad Din al Qari al Ma’ruf bin Mulla Ali Qari dalam Syarhnya kepada kitab Asy Syifa’.

7. Al Allamah Ahmad Syihab ad Din al Khaffaji dalam Nasim ar Riyadh (Kitab syarah kepada Asy Syifa’)

8. Al Imam Al Hafiz, Al Qisthillani dalam Al Mawahib al Ladunniyyah (Beliau menyebutnya di awal kitab)

9. Al Allamah Syaikh Muhammad Abd al Baqi az Zarqani dalam Syarh (1/44) nya ke atas Al Mawahib.

10. Al Imam Syaikh al Islam, Abu Zakaria Yahnya An Nawawi dalam Al Idhah (Bab keenam, m.s 498. Lihat juga Al Majmu’, 8/272)

11. Al Allamah Ibn Hajar al Haitami dalam Hasyiah (m/s 499) nya atas Al Idhah dan beliau menulis risalah khas tentang tawassul berjudul Al Jauhar al Munazzham.

12. Al Hafiz Syihab ad Din Muhammad bin Muhammad bin Al Jazari ad Dimasyqi Iddah al Husn al Hashin (disebutkan dalam tajuk Kelebihan Doa)

13. Al Allamah al Imam Muhammad bin Ali asy Syaukani dalam Tuhfah az Zakirin (m/s 761)

14. Al Allamah al Imam al Muhaddith Ali bin abd al Kafi as Subki dalam Syifa’ as Siqam fi Ziyarah Khair al Anam (lihat Bab Kelapan, m/s 161)

15. Al Hafiz Imad ad Din Ibn Kathir dalam Tafsir al Qur’an al Azhim dalam Tafsir al Quran al Azhim.

16. Al Imam Al Hafiz Ibnu Hajar al Asqolani dalam Fath al Bari (Beliau menyebutkan kisah seorang lelaki yang datang ke kubur RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan bertawassul dengan baginda dan mengatakan sanadnya sahih dalam Fath al bari (Lihat 2/495)

17. Al imam Al Mufassir Abu Abdullah al Qurthubi dalam Al Jami’ li Ahkam al Quran (lihat 5/265)

18. Asy Syaikh Yusuf Khator Muhammad di dalam kitabnya Al Mausu’ah al Yusufiyyah fi Bayan Adillah ash Shufiyyah, menambah lagi nama-nama para ulama’ selain daripada nama-nama di atas yang membolehkan tawassul atau yang menukilkan dalil-dalil daripada para A’immah di dalam kitab-kitab mereka termasuklah. (m/s 122-123)

19. Imam Syafie

20. Imam Ahmad bin Hanbal

21. Imam Malik. Seperti yang disebutkan oleh Al Allamah Ibn Hajar dalam Al Jauhar al Munazhzham dan Al Asqolani dalam Al Mawahib al Laduniyyah, dan As Samhudi dalam Khulashah al Wafa’ dan al Qadhi Iyadh dalam asy Syifa’ dengan sanad yang sahih dan selain dari mereka pun menyebutkan perkara yang sama.

22. Al Allamah Asy Syihab ar Ramli Asy Syafie.

23. Al Allamah Syaikh Ibn Muflih al Hanbali.

24. Al Allamah Syaikh Ala’ ad Din Ali al Mardawi al Hanbali (lihat kitab al Inshaf 2/456)

25. Al Allamah Syaikh Ahmad al Mardawi.

26. Syaikh Yusuf an Nabhani.

27. Al Allamah Syaikh as Samiri (pengarang at Talkhish) (Lihat Kasyf al Qina’, 2/29)

28. Syaikh Muhammad al Hamid (lihat Rudud ala Abathil, m/s 25-26)
Ulamak terkini yang membolehkan :

29. Mufti Brunei (rujuk : http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2001/ic80_2001.htm )

30. Prof Dr Ali Jum’ah (lihatAl Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim)

31Sheikh Prof. Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buti Hafizahulla (lihat Al- Salafiyyah: Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Mazhaba Islami (1996), ms.155, 156).)

32. Sheikh Dr Abdul Malik Abd Rahman al-Sa’di (al-Bid’ah fi al-Mafhum al-Islami al-Daqiq)

33. Prof Dr Wahbah Az Zuhaili (lihat “فتاوى معاصرة” di muka surat 355)
Dan ramai lagi..

MELETAKKAN BUNGA DAN MENYIRAM AIR DI KUBUR

Firman Allah : Bertasbih kepada Allah apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi (Surah at Taghabun 64:1)

1. Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar di atas kuburan diletakkan pelepah kurma sebagaimana dalam sebuah hadits
“Ingatlah, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa tetapi bukan kerana melakukan dosa besar. Seorang dari padanya disiksa kerana dahulu dia suka membuat fitnah dan seorang lagi disiksa kerana tidak menghindari diri daripada percikan air kencing. Kemudian baginda mengambil pelepah kurma yang masih basah lalu dibelahnya menjadi dua. Setelah itu baginda menanam salah satunya pada kubur yang pertama dan yang satu lagi pada kubur yang kedua sambil bersabda: Semoga pelepah ini dapat meringankan seksanya selagi ia belum kering.” (Riwayat Bukhari, no: 1378 dan Muslim, no: 292)

2. Para Ulama menngqiyaskan/menyamakan pelepah kurma dalam hadits di atas dengan segala macam tumbuh-tumbuhan yang masih basah sebagaimana yang di jelaskan oleh Syaikh Al-Khathib Asy-Syarbini dalam kitab Mughni Al-Muhtaj
ويسن أيضا وضع الجريد الأخضر على القبر وكذا الريحان ونحوه من الشيء الرطب ولا يجوز للغير أخذه من على القبر قبل يبسه لأن صاحبه لم يعرض عنه إلا عند يبسه لزوال نفعه الذي كان فيه وقت رطوبته وهو الاستغفار ( و ) أن يوضع ( عند رأسه حجر أو خشبة ) أو نحو ذلك لأنه صلى الله عليه وسلم وضع عند رأس عثمان بن مظعون صخرة وقال أتعلم بها قبر أخي لأدفن إليه من مات من أهلي رواه أبو داود وعن الماوردي استحباب ذلك عند رجليه أيضا
“Disunnahkan menaruh pelepah kurma hijau (basah) di atas kuburan, begitu juga tumbuh-tumbuhan yang berbau harum dan semacamnya yang masih basah dan tidak boleh bagi orang lain mengambilnya dari atas kuburan sebelum masa keringnya karena pemiliknya tidak akan berpaling darinya kecuali setelah kering sebab telah hilangnya fungsi penaruhan benda-benda tersebut dimana selagi benda tersebut masih basah maka akan terus memohonkan ampunan padanya

3. Dalam kitab Fatawa al Hadithiah m/s 196 disebutkan :
” Para ulama beristinbath daripada perbuatan Nabi SallaLlahu ‘alaihi wasallam mencacakkan dua pelepah tamar di atas kubur, untuk bolehnya mencacak pokok dan bunga tetapi mereka tidak menerangkan caranya. Walau bagaimanapun, di dalam hadits sahih disebutkan bahawa Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam mencacak satu cacakan pada setiap kubur, maka bolehlah diambil pelajaran, ia merangkumi semua bahagian kubur. Maka tujuan yang boleh diambil daripadanya ialah di mana-mana bahagian kubur pun boleh. Abdul bin Humaid dalam Musnadnya bahawa Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam meletakkan pelepah itu di atas kubur di sisi kepala mayat di kubur tersebut ”

4. Syeikh Atiyah Saqar (iaitu seorang Mufti Lajnah Fatwa al-Azhar) berkata:
“Ini adalah masalah antara golongan mengharuskan dan golongan yang menegah. Saya melihat tiada tegahan pada perkara ini selagi mana ia beriktikad (menyakini) bahawa yang memberi manfaat dan mudarat itu hanyalah Allah SWT. Apa yang kita hadiahkan kepada si mati seperti doa, sedekah dan lain-lain lagi adalah ‘min babil asbab’ semata-mata mengharapkan rahmat Allah SWT.

Justeru, perbuatan menaburkan bunga sebagai menggantikan pelepah dan ranting basah adalah harus.
Bagaimanapun, jika bunga itu dibeli dengan harga mahal semata-mata untuk melakukan perbuatan itu, dibimbangi ia akan jatuh kepada haram disebabkan membazir.

5. Menyiram air di atas kuburan dan meletakkan daun-daunan yang hijau (segar) hukumnya sunnah, khususnya untuk kuburan yang baru ditimbun. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw memerciki kuburan puteranya tercinta Ibrahim dengan air dan meletakkan daun-daunan yang segar di atasnya (Riwayat Imam Syafi’i, Nailul Authar : 4/84).

6. Di bolehkan menaburkan bunga-bunga segar yang masih basah di atas kuburan2 ,‘karena hal ini(menaburi bunga) dapat meringankan siksaan mayat akibat bacaan tasbih tanaman/bunga diatas pusara tersebut.Lihat ; I’aanah at-Thoolibiin : II/120
يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ
Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar.(I’anah al-Thalibin, juz II, hal. 119)

Wallahua’lam bissowab

Sumber :
1. Muhadir bin Haji Joll, Persoalan Khilafiyyah & Penjelasan Ulama Inilah Jawapannya.., m.s 335-338, Cetakan Pertama 2011, Mawleed Publishing Sdn Bhd, Kuala Lumpur.
2. http://akitiano.blogspot.com/2010/11/pembelaan-terhadap-wahbah-al-zuhayli.html
3. http://drasmadinet.blogspot.com/2009/09/isu-tawassul.html
4. Ustaz Abu Muhammad : bahrusshofa.blogspot.com/2006/10/tunggu-kubur.html
5. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur.
6. K.H Sirajuddin, 40 Masalah Agama, Cet 37 2001, Pustaka Tarbiyah Jakarta.
7. Al Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, “Penjelasan Terhadap Masalah-masalah Khilafiah”. Prof Dr Ali Jum’ah, 2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor
8. Drs. K.H.M Sufyan Raji Abdullah Lc, Menyikapi Masalah-masalah Yang Dianggap Bid’ah, Cet 1 2010, Jilid 2, Pustaka Al Riyadhi, Indonesia
9. http://www.mufti.gov.bn/irsyad/pelita/2010/bil18-2010.pdf

Wallahua’lam bissowab

Oleh Ustaz Yunan A Samad

16 June 2016 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

DAHULU AKU PAK WAHHAB SEKARANG AKU BERTAUBAT…

Sebenarnya banyak golongan yang berpangkat Dr, agamawan atau sesiapa pun yang ada penyakit Wahhabi ini tidak akan mengaku bahawa mereka mempunyai fahaman Wahhabi. Malah, mereka marah apabila diri mereka digelar sebagai WAHHABI.
Adakah Wahhabi ini ajaran sesat? Bukan saya yang berkata begitu. Tetapi para ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang berpendapat bahawa Wahhabi adalah satu fahaman yang sesat dari segi akidah, menyesatkan umat Islam dan tergelincir daripada fahaman Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang sebenar.
Syeikh Ahmad Zaini Dahlan al-Hasani, Mufti Mazhab Syafie di Makkah al-Mukarramah di zamannya menyatakan di dalam kitabnya, al-Durar al-Saniyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah:
“Zahirnya Wahhabi merupakan bala yang didatangkan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Ia juga merupakan fitnah daripada sebesar-besar fitnah yang muncul dalam agama Islam yang mengganggu ketenteraman fikiran, menghangatkan orang-orang yang berakal dan mengelirukan orang-orang yang kurang berakal, lantaran diterjah oleh pemikiran dan ajaran mereka yang meragukan. Sedangkan mereka berselindung di sebalik label PENEGAK AGAMA”.
Sesat jalan dan haluan tidak mengapa. Tetapi, jangan kita menjadi sesat dan keliru dalam pemikiran sehingga mengeluarkan satu hukum yang salah. Selepas itu, mengkafirkan dan mendatangkan dalil dengan alasan si pelaku masuk api neraka atau seorang yang sudah berdusta dalam agamanya.
Gempar seketika apabila seseorang yang ada jawatan dalam politik menjelaskan bahawa Wahhabi bukan ajaran sesat. Malah, dia bersungguh-sungguh mendatangkan beberapa enakmen dan pandangan daripada pihak tertentu untuk menyatakan Wahhabi tergolong dalam Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Saya berpendirian bahawa sesiapa pun yang bergelar Muslim, tidak dibenarkan mengkafirkan dan membidaahkan sesuatu perkara jika ibadah atau amalan itu tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW. Kita juga bersetuju jika ibadah dan amalan itu dipandang baik. Malah, majoriti ulama’ berpandangan bahawa ia tidak menjadi masalah dan boleh diamalkan.
Jadi, di manakah Wahhabi jika dikatakan sesat? Sesatnya mereka itu akibat tidak menemui sumber dalam pengeluaran hukum agama dan penjelasan ulama’. Maka selama itulah mereka sesat kerana tidak memahami dengan baik fiqh agama dan tidak menghormati pandangan ulama yang membenar dan memperakui jalan ibadah itu.
Seperkara lagi, bilakah WAHHABI dikatakan bersifat maksum dan tidak pernah bersalah? Mereka inilah punca berlakunya WABAK penyakit yang lebih teruk daripada penyakit kanser sehingga umat Islam berpecah-belah dan saling mencaci dan memaki sesama mereka. Adakah Wahhabi begitu maksum untuk dimuliakan dan diagung-agungkan?
Tidak ada ajaran yang lebih teruk daripada fahaman WAHHABI yang berani memaki dan menghina para ulama’ terdahulu? Adakah Islam diajar menghina ulama’ pewaris nabi? Adakah mereka ini layak untuk dikatakan tidak sesat dan melampaui batas dalam agama?
Apabila seseorang disyaki dan cenderung kepada penyakit ini, maka ia layak digelar sebagai WAHHABI MODEN. Gelaran ini terbuka untuk sesiapa yang ada ciri-ciri tidak menghormati pandangan ulama’ walaupun anda seorang Mufti!
Jika benar kita adalah seorang yang adil dan wasatiyyah, kita tidak akan memberi ruang kepada anak-anak WAHHABI mendapat peluang, kedudukan dan jawatan di negara ini. Sedangkan merekalah sebenarnya siang dan malam melalui kuliah-kuliah mereka membawa perpecahan dan juga fitnah di negara ini. Bahkan mereka yang memulakan dahulu budaya bercakap bohong dan mendabik dada seolah-olah mereka sahaja yang betul dan pendapat ilmuwan lain semuanya salah.
Tangan-tangan Ahli Sunnah juga perlu diperhatikan. Jangan kita sesekali terpalit dan turut berjasa menaikkan WAHHABI di negara ini. Janganlah kita merencatkan perjuangan sejati para pejuang sejati Ahlus Sunnah Wal Jamaah di negara ini. Sekian lama kita memberi; janganlah lupa dan cepat lupa diri.
Ahlus Sunnah Wal Jamaah dahulu tidak pernah berhutang dengan pemerintah, orang-orang politik dan orang-orang yang ada kepentingan diri. Pondok dan madrasah terbina teguh dengan keikhlasan tuan-tuan guru yang mengajarkan ilmu tauhid dan zikir terhadap pengenalan diri. Malah, itulah juga benteng menolak bala daripada Ilahi.
Ahlus Sunnah Wal Jamaah bukanlah jemaah atau pertubuhan untuk menonjolkan mereka sebagai yang terbaik. Tetapi Ahlus Sunnah adalah mereka yang berani mempertahankan nama Allah SWT dan agama-Nya. Jangan kita menjadi paku-pakis terlompat di sana-sini sehingga hilang identiti diri. Pening dan keliru anak-anak Islam memikirkan orang yang mengatakan WAHHABI ini benar ketika berada di majlis kita untuk berucap dan merasmikan sesuatu majlis. Sedangkan dalam masa yang sama, mereka ini juga memberi ruang dan bertepuk tampar sesama Pak Wahhabi ini. Adakah Ahlus Sunnah sudah terpesona dengan jawatan dan pangkat mereka?
Soalan yang perlu ditanya, bilakah masa PAK-PAK WAHHABI ada meminta maaf kepada Ahlus Sunnah? Sedangkan mereka tidak pernah minta maaf setelah menghina IMAM-IMAM kita. Di manakah keadilan untuk kita apabila WAHHABI disahkan sebagai ajaran murni, sedangkan kesalahan mereka amat ketara di media dan segala saluran mereka.
Kita boleh DUDUK dengan WAHHABI setelah mereka membuat pengakuan terbuka bahawa selama ini mereka tersilap berfatwa, lalu memohon maaf dengan ikhlas setelah melemparkan tuduhan dan fitnah kepada kita semua.
Saya adalah orang yang pertama yang akan bersalam dengan mereka dan berkata, “Jangan buat lagi, ya! Pening orang awam. Kami sudah ok di Malaysia dengan 1000 dalil.”
Ahlus Sunnah tidak akan pernah berhutang dengan mereka melainkan orang-orang yang ada membina hubungan dan rangkaian dengan mereka. Guru sendiri difitnah, bermesra pula dengan tauke-tauke WAHHABI.
Ya Allah! Padamkan kesesatan dan kekeliruan di negara ini daripada tangan orang-orang yang keliru dan terhijab.
Kuatkanlah kesatuan para pejuang sejati Ahlus Sunnah Wal Jamaah di negara ini.
Sebagai penutup bicara, saya bawakan kisah taubat seorang ulama’ Wahhabi.
Syeikh Muhammad Abdul Salam al-Kazimi al-Hasani, seorang ulama’ di Jami’ah al-Ghauthiyyah Daka, Bangladesh berkata sambil menangis:
“Mazhab Wahhabi adalah mazhab yang berbahaya dan meruntuhkan masyarakat Islam. Akidah yang melencong ini mendatangkan fitnah. Golongan Wahhabi menyatakan bahawa kami mengikut al-Quran dan Sunnah, tetapi apa yang sebenarnya berlaku ialah mereka mengikut telunjuk syaitan”.
Syeikh Muhammad Abdul Salam akhirnya bertaubat. Setelah beliau keluar daripada fahaman Wahhabi, beliau berkata:
“Aku adalah seorang Wahhabi, kemudian aku bertaubat”.

(Manar al-Huda bil. 68 Rabiulakhir 1419H bersamaan Ogos 1998: 19.)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kiriman : FB Ustaz Yunan A Samad

13 June 2016 Posted by | Aqidah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Penjelasan/Pencerahan yg lengkap dan sangat baik tentang WAHABI@SALAFI WAHABI

image
oleh Syeikh Nuruddin Al Banjari…

-Apakah kira seseorg yg mengusul pandangan bukan dari mazhab dia maka akan terkeluar dari mazhab tersebut..

-Mazhab ini adalah suatu aliran..

-Jika kita berlatar belakang kan Mazhab Syafiee & ada sesetengah masalah² trtentu & sesuai dgn tuntutan keperluan kita brpindah / bertaqlid pd mazhab lain apakah kita langsung brtukar mazhab yg lain??…

-Kita tidak brtukar mazhab lain..Tetap bermazhab Syafiee..

-Masyarakat memberi 1 pandangan/tanggapan pd org² yg ekstrim, suka kufur mengkufurkan, sesat menyesatkan org lain & kita labelkan org itu dgn panggilan WAHABI. ADAKAH ITU TEPAT & BETUL????..

-Tidak mnjadi Hanbali kita jika kita ikut beberapa pandangan dlm mazhab² Hanbali..begitu juga pd mazhab² yg lain..

-Apakah seperti itu halnya di nusantara sesetengah nya mengagumi pandangan dari Muhammad bin Abdul Wahab..

-Apakah dia mnjadi WAHABI atau tetap saja dia sorg yg bermazhab Syafiee..

-Untuk diketahui :-
 
1)SALAFI/WAHABI itu bukan mazhab..

2)Ia berbeza dgn mazhab² empat yg ada dari A→Z…

3)Kita tak boleh mengatakan kita keluar dari mazhab disebabkan hanya ada beberapa masalah hukum yg kita tak boleh komitmen dlm mazhab Imam Syafiee r.a..

-Mengapa masyarakat skrg melemparkan & memberi jolokan kpd org yg ekstrim itu digelar WAHABI/SALAFI..

-WAHABI/SALAFI itu bkn mazhab tp hanya 1 pandangan..

-Ulama2 WAHABI di sana kebanyakannya bermazhab Hanbali..jadi mengapa mereka diberi gelaran tambahan iaitu WAHABI..

-Kerana mereka yg mengasuh pandangan WAHABI..

-Diberi contoh org yg keluar dakwah digelar jemaah TABLIGH walhal mereka tetap berpegang pd mazhab Syafiee..

-Mereka digelar jemaah TABLIGH kerana mereka mengasuh cara org TABLIGH dakwah iaitu dgn cara dari rumah ke rumah dan masjid ke masjid..

-JADI MENGAPA KALIAN MARAH BILA KALIAN DIPANGGIL DENGAN GELARAN WAHABI KERNA KALIAN YG MENGASUH PANDANGAN WAHABI..

-Yg mengharamkan TAWASSUL siapa??..yg mengharamkan ziarah kubur & makam nabi siapa???..
(4mazhab tidak mengharamkannya)..

-Yg mengatakan berziarah ke Madinah utk tujuan ziarah kepada RASULULLAH SAW itu adalah haram & bertawassul pd BAGINDA SAW adalah syirik itu adalah WAHABI punya pandangan..

-Jadi kalian jgn berkecil hati atau kecewa bila kami gelarkan anda WAHABI kerna kalian yg mengasuh pandangan ekstrim seperti itu..

-Jumhur ulama tidak mengkafirkan org yg bertawasul & tidak mengharamkan berziarah makam RASULULLAH SAW..

-Kalau kalian tak mahu tidak kisah tapi jgn smpai menyesat kan & mengharamkan  ziarah semacam itu..

-Semua jumhur ulama 4mazhab membenarkan kita menyanjung BAGINDA SAW..

-Jadi supaya sahabat2 kita yg mengasuh fahaman yg ekstrim itu  yg dgn org ramai dikafirkan kerna tawasul, yg diharamkan kerna ziarah kubur, yg ramai diharamkan kerna tahlil & talqin..

-Jadi restulah kalian dgn gelaran & jolokan yg diberi iaitu kumpulan WAHABI..

-Jadi jgn tersinggung jika kalian digelar WAHABI jika kalian menyokong pandangan² mereka …

CIRI-CIRI GOLONGAN SALAFIYYAH WAHHABIYYAH(WAHABI)

AQIDAH

1.Membahagikan Tawhid kepada 3 Kategori

(i)Tawhid Rububiyyah: Dengan tawhid ini, mereka mengatakan bahawa kaum musyrik Mekah dan orang-orang kafir juga mempunyai tawhid.
(ii)Tawhid Uluhiyyah: Dengan tawhid ini, mereka menafikan tawhid umat Islam yang bertawassul, beristigathah dan bertabarruk sedangkan ketiga-tiga perkara tersebut diterima oleh majoriti ulama’ Islam khasnya ulama’ empat mazhab.
(iii)Tawhid Asma’ dan Sifat: Tawhid versi mereka ini boleh menjerumuskan seseorang ke lembah tashbih dan tajsim

i. Menterjemahkan istawa sebagai bersemayam/bersila
ii. Merterjemahkan yad sebagai tangan
iii. Menterjemahkan wajh sebagai muka
iv. Menisbahkan jihah (arah) kepada Allah (arah atas – jihah ‘ulya)
v. Menterjemah janb sebagai lambung/rusuk
vi. Menterjemah nuzul sebagai turun dengan zat
vii. Menterjemah saq sebagai betis
viii. Menterjemah asabi’ sebagai jari-jari, dll
ix. Menyatakan bahawa Allah SWT mempunyai “surah” atau rupa.
x. Menambah bi zatihi haqiqatan [dengan zat secara hakikat] di akhir setiap ayat-ayat mutashabihat, sedangkan penambahan itu tidak ada di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Imam al-Zahabi sendiri mengkritik gurunya, Ibnu Taymiyyah berkenaan masalah ini di dalam Siyar A’lam al-Nubala’ [Rujuk kitab yang ditahqiq oleh bukan Wahhabi kerana Wahhabi membuang kritikan ini dalam terbitan mereka]
xi. Sebahagian golongan Mujassimah menyatakan bahawa Allah (Rujuk Kitab Ibthal al-Ta’wilat oleh Abu Ya’la al-Farra’ yang telah diterbitkan semula oleh “tangan-tangan Tajsim dan Tashbih” – Penulis mempunyai buku seorang alim Al-Azhari yang mengarang kitab menolak kitab tersebut):
mempunyai gusi (اللثة) dan gigi gerham (الأضراس)
akan “duduk” bersama Nabi Muhammad SAW di atas arash mempunyai mulut (الفم)

2.Tafwidh yang digembar-gemburkan oleh mereka adalah bersalahan dengan tafwidh yang dipegang oleh ulama’ Asha’irah.

3.Memahami ayat-ayat mutashabihat secara zahir tanpa huraian terperinci dari ulama’ mu’tabar

4.Menolak Asha’irah dan Maturidiyyah yang merupakan majoriti ulama’ Islam dalam perkara Aqidah

5.Sering mengkrititik Asha’irah bahkan sehingga mengkafirkan Asha’irah

6.Menyamakan Ashai’rah dengan Mu’tazilah dan Jahmiyyah atau Mua’ththilah dalam perkara mutashabihat

7.Menolak dan menganggap pengajian sifat 20 sebagai satu konsep yang bersumberkan falsafah Yunani dan Greek

8.Berselindung di sebalik mazhab Salaf

9.Golongan mereka ini dikenali sebagai al-Hashwiyyah, al-Karramiyyah, al-Mushabbihah, al-Mujassimah atau al-Jahwiyyah dikalangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah

10.Sering menjaja kononnya Abu Hasan Al-Ash’ari telah kembali ke mazhab Salaf setelah bertaubat dari mazhab Asha’irah

11.Mendakwa kononnya ulama’ Asha’irah tidak betul-betul memahami fahaman Abu Hasan al-Asha’ri, bahkan sering mendakwa kononnya mereka adalah pengikut Imam Abu al-Hasan al-‘Ash’ari yang sebenar. Sungguh lucu dakwaan sebegini.

12.Menolak ta’wil dalam bab Mutashabihat

13.Sering mendakwa bahawa ramai umat Islam telah jatuh ke kancah syirik

14.Mendakwa bahawa amalan memuliakan Rasulullah SAW boleh membawa kepada syirik

15.Tidak mengambil berat kesan-kesan sejarah para anbiya’, ulama’ dan solihin dengan dakwaan menghindari syirik

16.Kefahaman yang salah berkenaan syirik sehingga mudah menghukum orang sebagai membuat amalan syirik

17.Menolak tawassul, tabarruk dan istighathah dengan para anbiya’ serta solihin

18.Mengganggap tawassul, tabarruk dan istighathah sebagai sebagai cabang-cabang syirik

19.Memandang remeh karamah para awliya’

20. Menyatakan bahawa ibu bapa dan datuk Rasulullah SAW tidak terselamat dari azab api neraka.

21. Mengharamkan mengucap “radiallahu anha” bagi ibu Rasulullah SAW, Sayyidatuna Aminah

22. Menamakan Malaikat Maut sebagai ‘Izrail adalah bid’ah – Fatwa Soleh Uthaymin

SIKAP

1.Sering membid’ahkan amalan umat Islam bahkan sampai ke tahap mengkafirkan mereka

2.Mengganggap diri sebagai mujtahid atau berlagak sepertinya (walaupun tidak layak)

3.Sering mengambil hukum secara langsung dari al-Quran dan hadis (walaupun tidak layak)

4.Sering memperlekehkan ulama’ pondok dan golongan agama yang lain.

5.Ayat-ayat al-Quran dan Hadis yang ditujukan kepada orang kafir sering ditafsir ke atas orang Islam.

6.Memaksa orang lain berpegang dengan pendapat mereka walaupun pendapat itu shazz (janggal).

7. Bersikap “taqiyyah” apabila dirasakan perlu. Fatwa mereka berbeza apabila bercakap di hadapan masyarakat umum dengan pengajian khusus bersama mereka.

8. Apabila mereka sedikit dan tidak berkuasa, mereka melaungkan slogan “Berlapang dada”, namun apabila mereka ramai dan berkuasa mereka melaungkan slogan “Meghilangkan Bid’ah” [Sikap ini diambil berdasarkan kata-kata para ulama’ Mekah yang memerhatikan sikap Wahhabi di Mekah sewaktu ia mula-mula berkembang sampai kini.]

9. Apabila mereka menerima tentangan daripada majoriti ulama’, mereka menyatakan itu adalah asam garam dalam perjuangan. Sedangkan para ulama’ menyatakan bahawa apabila sesuatu itu ditolak olej majoriti para ulama’, maka itu adalah tanda-tanda kesesatan, kepelikan dan kejanggalan (shazz) atau ketergelinciran (zallah) kerana para ulama’ umat Nabi Muhammad SAW tidak akan bersepakat di dalam kesesatan sepertimana yang disebut di dalam hadis Rasulullah SAW.

CIRI CIRI GOLONGAN SALAFIYYAH WAHABIYYAH(WAHABI)…2

ULUM HADIS

1.Menolak beramal dengan hadis dhaif

2.Penilaian hadis yang tidak sama dengan ulama’ hadis yang lain

3.Mengagungkan Nasiruddin al-Albani di dalam bidang ini [walaupun beliau tidak mempunyai sanad bagi menyatakan siapakah guru-guru beliau dalam bidang hadis. Bahkan umum mengetahui bahawa beliau tidak mempunyai guru dalam bidang hadis dan diketahui bahawa beliau belajar hadis secara sendiri dan ilmu jarh dan ta’dil beliau adalah mengikut Imam al-Dhahabi].

4.Sering menganggap hadis dhaif sebagai hadis mawdhu’ [mereka melonggokkan hadis dhaif dan palsu di dalam satu kitab atau bab seolah-olah kedua-dua kategori hadis tersebut adalah sama]

5.Perbahasan hanya kepada sanad dan matan hadis, dan bukan pada makna hadis. Oleh kerana itu, perbincangan syawahid tidak diambil berat

6.Perbincangan hanya terhad kepada riwayah dan bukan dirayah.

ULUM QURAN

1.Menganggap tajwid sebagai menyusahkan dan tidak perlu (Sebahagian Wahhabi Malaysia yang jahil) [dan menurut sahabat penulis yang ada membuat penyelidikan di dalam bidang ini, sememangnya terdapat beberapa “ulama’ Saudi” yang menyatakan tajwid itu bukanlah sunnah, tetapi bid’ah. Namun majoriti “ulama’ Saudi” tidak bersetuju dengan kata-kata mereka].

2. Mendakwa ayat-ayat mutashabihat sebagai ayat muhkamat.

FIQH
1.Menolak fahaman bermazhab kepada imam-imam yang empat; pada hakikatnya mereka bermazhab “TANPA MAZHAB”

2.Mengadunkan amalan empat mazhab dan pendapat-pendapat lain sehingga membawa kepada talfiq yang haram

3.Memandang amalan bertaqlid sebagai bid’ah; kononnya mereka berittiba’

4.Sering mengungkit soal-soal khilafiyyah

5.Sering menggunakan dakwaan ijma’ ulama dalam masalah khilafiyyah
6.Sering bercanggah dengan ijma’ ulama’

7.Menganggap apa yang mereka amalkan adalah sunnah dan pendapat pihak lain adalah bid’ah

8.Sering mendakwa orang yang bermazhab sebagai taksub mazhab, sedangkan mereka taksub kepada Ibnu Taymiyyah, Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab.

9.Salah faham makna bid’ah yang menyebabkan mereka mudah membid’ahkan orang lain

10.Sering berhujah dengan al-tark, sedangkan al-tark bukanlah satu sumber hukum

11.Mempromosikan mazhab fiqh baru yang dinamakan sebagai Fiqh al-Taysir, Fiqh al-Dalil, Fiqh Musoffa, dll [yang jelas terkeluar daripada fiqh empat mazhab]

12.Sering mewar-warkan agar hukum ahkam fiqh dipermudahkan dengan menggunakan hadis “Yassiru wa la tunaffiru” sehingga menjadi lebih parah daripada tatabbu’ al-rukhas

13.Sering mengatakan bahawa fiqh empat mazhab telah ketinggalan zaman

Najis
1. Sebahagian daripada mereka sering mempertikaikan dalil bagi kedudukan babi sebagai najis mughallazah

2. Menyatakan bahawa bulu babi itu tidak najis kerana tidak ada darah yang mengalir.

Wudhu’ & Tayammum
1. Tidak menerima konsep air musta’mal

2. Bersentuhan lelaki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’

3. Membasuh kedua belah telinga dengan air basuhan rambut dan tidak dengan air yang baru.

4. Kaifiyyat Tayammum yang mereka pilih ialah: Tepuk sekali dan sapu muka serta kedua pergelangan tangan sahaja (tanpa perlu sampai ke siku).

Azan
1. Azan juma’at sekali; azan kedua ditolak

CIRI CIRI GOLONGAN SALAFIYYAH WAHABIYYAH (WAHABI)…3

Solat

1. Mempromosi “Sifat Solat Nabi SAW’, dengan alasan kononnya solat berdasarkan fiqh mazhab adalah bukan sifat solat Nabi SAW yang sebenar

2. Menganggap lafaz usolli sebagai bid’ah yang keji

3. Berdiri secara terkangkang  ataupun seperti huruf Y terbalik yang menyalahi konsep berdiri secara iktidal (lurus dan sederhana)

4. Tidak membaca ‘Basmalah’ secara jahar

5. Menggangkat tangan sewaktu takbir pada paras bahu

6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu qiyam

7. Menganggap perbezaan antara lelaki dan perempuan dalam solat sebagai perkara bid’ah (sebahagian Wahhabiyyah Malaysia yang jahil)

8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah

9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah

10. Menganggap menyapu muka selepas solat sebagai bid’ah – Fatwa Soleh Uthaymin

11. Solat tarawih hanya 8 rakaat; yang lebih teruk lagi, mengatakan solat tarawih itu sebenarnya adalah solat malam (solatul-lail) seperti yang dibuat pada malam-malam biasa.

12. Zikir jahar di antara rakaat-rakaat solat tarawih dianggap bid’ah

13. Tidak ada qadha’ bagi solat yang sengaja ditinggalkan

14. Menganggap amalan bersalaman selepas solat adalah bid’ah – Fatwa Soleh Uthaymin

15. Menggangap lafaz sayyiduna (taswid) dalam solat sebagai bid’ah

16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tahiyyat awal dan akhir

17. Boleh jama’ dan qasar walaupun kurang dari dua marhalah

18. Memakai jubah dengan singkat yang melampau

19. Menolak sembahyang sunat qabliyyah sebelum Jumaat

20. Menolak konsep sembahyang menghormati waktu [li hurmah al-waqt]

21. Menolak konsep fidyah sembahyang walaupun umum mengetahui ia adalah pendapat mazhab Hanafi dan pendapat dhaif di dalam mazhab Shafie.

Doa, Zikir dan Bacaan al-Quran

1. Menggangap doa beramai-ramai selepas solat sebagai bid’ah

2. Menganggap zikir dan wirid beramai-ramai selepas sembahyang atau pada bila-bila masa sebagai bid’ah

3. Mengatakan bahawa membaca “Sodaqallahul-‘azim” selepas bacaan al-Quran adalah bid’ah – Fatwa Ibn Baz

4. Menyatakan bahawa doa, zikir dan selawat yang tidak ada dalam al-Quran dan Hadis sebagai bid’ah. Sebagai contoh mereka menolak Dala’il al-Khayrat, Selawat al-Syifa’, al-Munjiyah, al-Fatih, Nur al-Anwar, al-Taj, dll, bahkan dikatakan semua itu bertentengan dengan Aqidah Islam

5. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jumaat sebagai bid’ah yang haram – dengan alasan “Jangan diiktikadkan wajib”

6. Mengatakan bahawa sedekah atau pahala tidak sampai kepada orang yang telah wafat

7. Mengganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah

8. Mengganggap zikir dengan bilangan tertentu seperti 1000 (seribu), 10,000 (sepuluh ribu), dll sebagai bid’ah, tetapi kalau tidak berzikir atau lalai (al-ghaflah) tak mengapa pulak??!!!

9. Menolak amalan ruqiyyah shar’iyyah dalam perubatan Islam seperti wafa’, azimat, dll

10. Menolak zikir isim mufrad: Allah Allah

11. Melihat bacaan Yasin pada malam nisfu Sya’ban sebagai bid’ah yang haram

12. Sering menafikan dan mempertikaikan keistimewaan bulan Rajab dan Sya’ban

13. Sering mengkritik kelebihan malam Nisfu Sya’ban

14. Mengangkat tangan sewaktu berdoa’ adalah bid’ah

15. Mempertikaikan kedudukan solat sunat tasbih

16. Berusaha mengharamkan wirid-wirid yang terkandung di dalam “Majmu’ Sharif.”

17. Menyatakan bahawa mencium al-Quran adalah bid’ah terkeji  – Fatwa Soleh Uthaymin

Pengurusan Jenazah dan Kubur

1. Menganggap amalan menziarahi maqam Rasulullah SAW, para anbiya’, awliya’, ulama’ dan solihin sebagai bid’ah dan solat tidak boleh dijama’ atau qasar dalam ziarah seperti ini

2. Mengharamkan wanita menziarahi kubur

3. Menganggap talqin sebagai bid’ah

4. Mengganggap amalan tahlil dan bacaan Yasin bagi kenduri arwah sebagai bid’ah yang haram

5. Tidak membaca doa’ selepas solat jenazah

6. Sebahagian ulama’ mereka menyeru agar Maqam Rasulullah SAW dikeluarkan dari masjid nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik

7. Menganggap kubur yang bersebelahan dengan masjid adalah bid’ah yang haram

8. Doa dan bacaan al-Quran di perkuburan dianggap sebagai bid’ah.

CIRI CIRI SALAFIYYAH WAHABIYYAH (WAHABI)…4

Majlis Sambutan Beramai-ramai

1. Menolak sambutan Mawlid Nabi; bahkan menolak cuti sempena hari Mawlid Nabi; bahkan yang lebih teruk lagi menyamakan sambutan Mawlid Nabi dengan perayaan Kristian bagi nabi Isa a.s.

2. Menolak amalan marhaban

3. Menolak amalan barzanji.

4. Berdiri ketika bacaan mawlid adalah bid’ah

5. Menolak sambutan Ma’al Hijrah, Isra’ Mi’raj, dll.

Haji dan Umrah

1. Cuba mengalihkan “Maqam Ibrahim a.s.” namun usaha tersebut telah dipatahkan oleh al-Marhum Sheikh Mutawalli Sha’rawi apabila beliau pergi bertemu dengan Raja Faisal ketika itu.

2. Menghilangkan tanda telaga zam-zam untuk dielak oleh orang yang bertawaf ketika bertawaf [Dengar khabar, sekarang tanda tersebut hendak dibuat semula]

3. Mengubah tempat sa’ie di antara Sofa dan Marwah yang mendapat tentangan ulama’ Islam dari seluruh dunia [Terbaru – dan Khilafiyyah di antara para ulama’ kontemporari].

4. Nama “Hajar Ismail” bagi bahagian sisi Ka’bah adalah bid’ah dan tidak harus – Fatwa Soleh Uthaymin

PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN

1. Ramai para professional menjadi ‘ustaz-ustaz’ mereka..Protaz(di Malaysia)

2. Ulama’ yang sering menjadi rujukan mereka adalah:

a. Ibnu Taymiyyah
b. Ibnu al-Qayyim
c. Muhammad Abdul Wahhab [Perbezaan yang ketara di antara pendekatan Ibnu Taymiyyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab ialah: (i) Ibnu Taymiyyah tidak memaksa orang lain mengikut pendapatnya dengan pedang dan kuasa, ini adalah berbeza dengan pendekatan Muhammad Ibn Abdul Wahhab; (ii) Ibnu Taymiyyah juga tidak bersepakat dengan bukan Muslim untuk menjatuhkan saudara Islamnya]
d. “Sheikh” Abdul Aziz Ibn Bazz
e. Nasiruddin al-Albani
f. “Sheikh” Soleh Ibn Uthaimin

g. “Sheikh” Soleh Fawzan al-Fawzan [Secara peribadi, penulis mendengar dengan telinga dan melihat dengan mata sendiri di Madinah, Dr. Soleh Fawzan al-Fawzan, Rektor, Universiti Islam Madinah pada waktu tersebut menyatakan bahawa ulama’ Al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah bukanlah daripada “golongan yang terselamat dari api neraka” (al-firqah al-najiyah).”]

3. Sering mewar-warkan untuk kembali kepada al-Quran dan Hadis (tanpa menyebut para ulama’, sedangkan al-Quran dan Hadis sampai kepada umat Islam melalui para ulama’ dan para ulama’ jua yang memelihara al-Quran dan Hadis untuk umat ini)

4. Sering mengkritik Imam al-Ghazali dan kitab “Ihya’ Ulumiddin”

5. Masih lagi menggunakan kitab al-Tawhid oleh Imam Ibnu Khuzaimah walaupun Imam al-Bayhaqi telah menyatakan bahawa Imam Ibnu Khuzaimah telah pun menarik semula dan bertaubat daripada penulisannya itu. Ini dinyatakan oleh Imam al-Bayhaqi di dalam Kitab al-Asma’ dan al-Sifat.

PENGKHIANATAN MEREKA KEPADA UMAT ISLAM

1. Bersepakat dengan Inggeris dalam menjatuhkan kerajaan Islam Turki Usmaniyyah

2. Melakukan perubahan kepada kitab-kitab turath yang tidak sehaluan dengan mereka

3. Ramai ulama’ dan umat Islam dibunuh sewaktu kebangkitan mereka

4. Memusnahkan sebahagian besar kesan-kesan sejarah Islam seperti tempat lahir Rasulullah saw, jannat al-Baqi’ dan al-Ma’la [makam para isteri Rasulullah SAW di Baqi’, Madinah dan Ma’la, Mekah], tempat lahir Sayyiduna Abu Bakr dll, dengan hujah perkara tersebut boleh membawa kepada syirik.

5. Di Malaysia, sebahagian mereka dahulu dikenali sebagai Kaum Muda atau Mudah [kerana hukum fiqh mereka yang mudah, ia merupakan bentuk ketaatan bercampur dengan kehendak hawa nafsu].

6. Antara nama/seruan yang pernah digunakan/dilaungkan oleh mereka di Malaysia dahulu ini ialah Ittiba’ Sunnah. Pihak Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Kali Ke-14 yang bersidang pada 22-23 Oktober 1985 telah pun mengeluarkan fatwa menyatakan kesesatan ajaran Ittiba’ al-Sunnah ini.

TASAWWUF DAN TAREQAT

1. Sering mengkritik aliran Sufi dan kitab-kitab sufi yang mu’tabar

2. Sufiyyah dianggap sebagai terkesan dengan ajaran Budha dan Nasrani

3. Tidak dapat membezakan antara amalan sufi yang benar dan amalan bathiniyyah yang sesat

Perhatian:

Sebahagian daripada ciri-ciri di atas adalah perkara khilafiyyah. Namun sebahagiannya adalah bercanggah dengan ijma’ dan pendapat mu’tamad empat mazhab. Sebahagian yang lain adalah perkara yang sangat kritikal dalam masalah usul (pokok) dan patut dipandang dengan serius.Ini adalah sebahagian daripada ciri-ciri umum golongan Wahhabiyyah yang secara sedar atau tidak diamalkan dalam masyarakat kita. Sebahagian daripada ciri-ciri ini adalah disepakati di antara mereka dan sebahagiannya tidak disepakati oleh mereka. Ini adalah kerana di dalam golongan Wahhabiyyah ada berbagai-bagai pendapat dan mazhab dalam berbagai peringkat. Apatah lagi apabila setiap tokoh Wahhabiyyah cuba berijtihad dan mengenengahkan pendapat masing-masing sehingga sebahagiannya terpesong terlalu jauh dari aliran Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

11 June 2016 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Slogan Wahabi membawa kerosakan

Slogan Wahabi membawa kerosakan Ummah menuju kepada Pemikiran Islam Moderate, Liberal dan terdedah kepada ajaran atau pemikiran yang sesat lagi menyesatkan.

Mengapa sedemikian ?

Mari kita lihat Slogan ini!

1.”Jangan Ikut Ulama, ikut Al-Quran dan Sunnah ”

2.”Jangan Ikut Ulama, Ikut Nabi”

Tahukah anda Slogan diatas adalah sangat merbahaya?

Tahukah anda apakah Objektif Utama 2 Slogan diatas?

Dari manakah Slogan itu datang?

Slogan ini datangnya dari ajaran sesat seperti:
-Millah Abraham
-Anti Hadith
-Syiah
-wahabi / extremist
-liberal
-aminah wadud
-murtadin
-Atheis/Pagan
Kerana kesemua ajaran sesat di atas mempunyai Objektif Utama iaitu menjauhkan Anak muda dan orang awam daripada berpegang pada ulama.Ini kerana selagi ada ulama ahlisunnah waljamaah kesemua ajaran sesat ini susah menyebarkan dakyah atau fahaman sesat mereka.
sekarang tibalah masanya kita membunyikan siren,Loceng wisel “kecemasan” kerana anak muda dan orang awam yang terpengaruh oleh slogan wahabi ini sudah berada dalam tahap pemikiran yang kritikal yang akan hampir kepada radikal membahayakan diri mereka dan orang lain serta mencemarkan kesucian agama islam.

Ya Slogan diatas mempunyai OBJEKTIF utama iaitu “MENOLAK ULAMA” mereka bukan membawa orang awam supaya mengikut Al-Quran Sunnah dan Mengikut Nabi.Akan tetapi mereka menyemaikan benih kebencian terhadap ulama dan sedikit demi sedikit orang awam menolak ulama serta berani menghina ulama.Jika orang awam menolak ulama jadilah mereka mentafsir Al-Quran dan Hadith mengikut hawa nafsu,logik akal fikiran mereka sendiri.Hal ini boleh menjerumuskan orang awam kepada fahaman sesat Anti Hadith kerana Hadith daripada rantaian sanad dari ulama.

Hari ini Wahabi dan musuh islam mengajarkan anak muda dan orang awam menolak dan menghina ulama.Esok lusa pula anak muda kita sudah berani mengkafirkan dan menghukum sesat kepada ibu bapa mereka sendiri.

(Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=640164109471249&id=157646017723063%5D

6 June 2016 Posted by | Ibadah, Informasi, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

THE RISE OF THE USTAZS

SEJAUH MANA KEBENARAN TULISAN INI?

oleh: Dr. Wan Hasni.

I have been observing the growing trend of the rise of Islamic preachers (I called them the Ustazs) over the last 20 years. The trend is both good and bad. I always hope for the good, but I do fear that it might be for the worse. Why?

My first criticism on the Ustazs is about qualifications. Many of these preaching Ustazs are equipped with barely minimal education, and poor command of the Arabic language, narrow based education on Islamic literatures and scholarly preparations, which renders many, save a few, to be truly qualified as “Scholars of Islam”.

As a comparison, for someone to obtain PhD in say in Finance, he has to be very good in statistics and mathematics (the quantitative requirements), and the various discipline in economics such as micro/macroeconomics, financial economics, corporate finance, asset pricing, etc. Good here is not even enough, you must also be able to deal with the theories, empirical methods and matters, as well as to be able to deal with Scholarly discourse.

Similarly, for a true Islamic scholar, he must profess good command of Arabic language, basic fundamental knowledge in Fiqh and As Shari’ah, Islamic Theology (Al Aqidah), Science of Quran (Ulum Al Quran) and it’s interpretations’ (Tafsir), Science of Hadith (Ulum Al Hadith), Islamic history, Islamic civilization, and so on. He must also be able to produce Scholarly works. Four or five years at Al Azhar, for example, would cover very little. In fact, many went to study, just like many students who went to the study for any degree: just to pass and get a degree (Bachelor or Masters).

We know very well that anyone who possessed basic degree in finance, for example, would just barely have the basic knowledge and skills in finance or economics, to be able to deal with complex day-to-day matters of the economy and financial markets. In fact, many don’t even use and rely on what they learn in the classroom. The rest, they gained it through the work experience.

For a person professing to be an expert in Islam, this is an even worse proposition: they have to deal with, interpret, and make judgments on many matters of religion which by far, are way beyond their knowledge and training, and their scope of experience. The bigger problem is, they can’t simply use their “work” experience to deal with the matters, as it requires continuous learning of Islamic subjects, through the literatures as well as from learned teachers and higher scholars (past and present). If they are weak in the tools (i.e. the basic tools such as Arabic language, methods, etc.), then what can they rely on in their continuous learning?

What I also observed is that many of the so-called “famous” Ustaz, are extremely too busy with lectures (ceramah), programs and activities, that I even wonder when will they have time to do their own reading, studying and so on, to keep on enriching their knowledge? This can observed from the obvious lack of depth in their lectures, where more than 90% of the talk, is about their own “opinion” backed some verses of Al Quran and Hadith here and there.

I would like to bring an example from the recent past, namely of the late Mufti of Kelantan Tuan Guru Haji Muhamad Nor. He only had one session per week of teaching namely on Friday morning from 8 to 9 (one hour). One day, one person asked him why he didn’t make it twice a week; and he suddenly fell into a deafening silence and without saying a word, he stood up and left. He stopped having the session for about 3 months, until some people managed to persuade him to come back and teach. When he came back, he explained that the lectures are about Islamic knowledge, and even one hour a week is already too much, for the teacher and his students! How this is in contrast with many Ustaz today; some of them you have to book them at least 3 months ahead for their lectures!

The danger that I could see is the same as the evangelical movement in the United States; where preachers dominate the scene, taking advantage of the hollowness among people in the quest for religion. Take for example Jimmy Swaggart, Jim Bakker, Jerry Falwell, etc. They took advantage of the general realization of upsurge of Christian faith among the American population, which saw the rise of Television evangelism that had more than 50 million followers. Their lectures and programs are not so much about teaching Christian doctrine and faith, but rather, the “popular” talks which capitalized on the fragilities and frailties of people. But at the bottom of it, is about increasing their own popularity and enriching their organizations (and themselves, in case of Jim Bakker).

Could we see the same trend happening here in Malaysia for these Ustazs? I know that some Ustaz charged even RM3,000 per lecture. Or even at a price of RM500 per lecture, if they have 20 lectures per month, it translates to RM10,000 per month of income. This is not counting anything else that they promote through their programs, such as Umrah package, books, paraphernalia, and even some are selling bottled water, with labels such as Sunnah water! If we count all of these, any popular Ustaz would rake in somewhere around RM30,000 a month; and this is tax free and GST free. So it pays to be popular.  To be popular, the Ustaz must say things that make them to be likeable, and make people to be at ease, instead of talking about religion in the “hard way”. We also have TV program called the “Young Dai’ or Ustaz”, Imam Muda, etc..etc. These were exactly the method adopted by the TV evangelist that makes them to be extremely popular in the United States as explained above.

This approach presents a major danger: the closing of the mind of the people from “thinking and contemplating” about God and the true religion; but instead people were being pushed on matters that they must overcome their guilt (sins), and compensate for it by getting involve with the Masjid (organization) in order for them to get their salvation. The ceramah, are the platforms for the Ustaz (preachers), to generate fear among people (for not adhering to Islam as they explained it), and they must overcome it by becoming committed to the Islamic cause (as they explained it). Little, if any, are about understanding God (Allah), the true meaning of Life and Death. Little if any are being taught to think and contemplate about the nature of the Soul and Self, in relation to God (Allah), but rather to follow a certain popular doctrine and edicts that are told.

This is the problem that I see around the Muslims in Malaysia today, and I would say the problem is quite pervasive, and the immediate as well as the long term effects could be quite dangerous, as it may lead to many undesired consequences as what had befallen the US TV evangelist movement, which today, are in tatter.

Lastly, I have to also admit that there are a few Ustaz who are not of these categories; and they are truly humble and careful in their works. To them, I would say: salute, and keep it up!

25 May 2016 Posted by | Articles in English, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Renungan & Teladan | Leave a comment

TENTANG BUKU “HADIS PALSU & DHAIF POPULAR DALAM MASYARAKAT MELAYU”

image

1. Methodologi Dr. Rozaimi Ramle dalam bukunya ialah mengikuti pendapat minoriti ulama yang menolak hadith dhaif secara mutlak. Padahal yang demikian itu bercanggah dengan manhaj ulama Salaf dan majoriti ulama ahlussunnah wal jama’ah. Yang menghairankan beliau menyalahkan pendapat majoriti ulama walaupun tidak secara langsung.

2. Terdapat hadith yang sebenarnya tidak palsu disisi ulama hadith mu’tabar tetapi dihukum palsu oleh Dr. Rozaimi Ramle.

3. Berkaitan dengan hujjah hadith mursal, Dr. Rozaimi Ramle kurang amanah dengan sengaja tidak menyampaikan perbezaan pendapat antara ulama hadith dengan ulama ushul dan fuqaha. Sikap yang demikian boleh membentuk taksub dan fanatisme pembaca bukunya bahawa seakan-akan mereka patut menyalahkan ulama ushul dan fuqaha yang menerimanya sebagai hujjah.

4. Banyak hadith yang sebenarnya khilaf statusnya disisi ulama hadith, tetapi Dr. Rozaimi Ramle tidak menyampaikan khilaf tersebut dalam tulisannya. Dan perbuatan demikian itu kurang amanah ilmiyyah serta mengundang kekeliruan dalam hal tidak menepati penulisan ilmiyyah dalam dunia ilmu hadith dan yang lain.

5. Terdapat hadith yang dinilai hasan oleh hampir seluruh ulama hadith Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi Dr. Rozaimi Ramle menilainya berbeza, iaitu dhaif. Ini menunjukkan Dr. Rozaimi Ramle begitu berani dalam menilai status suatu hadith, walaupun seluruh ulama hadith menilai sebagai hadith hasan.

6. Dr. Rozaimi Ramle dilihat tidak mengikuti manhaj ulama ahli hadith dalam menilai hadith yang sanadnya terdapat perawi pendusta (kadzdzab). Seolah-olah disisi Dr. Rozaimi Ramle, jika dalam sanad tersebut ada perawi yang pendusta maka secara automatik hadith tersebut palsu. Ini bercanggah dengan kaedah ulama hadith dimana kepalsuan suatu hadith bukan semata-mata mutlak kerana seorang perawi yang pendusta.

7. Dr. Rozaimi Ramle terlalu berani membahaskan perkara yang bukan dalam dibidangnya, iaitu ilmu illat hadith (kecacatan hadith yang tersembunyi), malah ia bercanggah dengan kenyataan ulama-ulama yang menguasai ilmu illat. Ilmu illat tidak dikuasi oleh semua ulama ahli hadith, tetapi hanya beberapa ulama sahaja yang menguasi ilmu ini dan kriteria menjadi ulama dalam bidang ilmu ini sangat ketat.

8. Terjemahan Dr. Rozaimi Ramle terhadap ucapan ulama kadangkala tidak benar bahkan cenderung tahrif, sehingga boleh mengubah erti atau maksud yang sebenarnya. Malangnya terjemahan tersebut menentukan hukum yang beliau berikan terhadap suatu hadith.

9. Dari gaya analisis sanad yang dilakukan oleh Dr. Rozaimi Ramle dapat dilihat bahawa Dr. Rozaimi Ramle terlalu bergantung dan terkesan mengikuti analisis dalam forum atau laman web Salafi Wahabi, seperti ahlalhadeeth dan IslamWeb yang dimasukkan dalam buku beliau ini.

10. Kadangkala Dr. Rozaimi Ramle membuat kesimpulan sendiri yang padahal ulama hadith tidak menyimpulkan sama dengan beliau. Walhal perbuatan demikian itu hanya boleh bagi pakar hadith yang benar-benar berpengalaman dan diiktiraf.

11. Dr. Rozaimi Ramle terlalu berani menyalahkan erti suatu hadith yang padahal ulama yang jauh lebih pakar dibidang hadith, lughat, fikah dan lain-lain menerima dan tidak menyalahkannya.

12. Tajuk buku tersebut tidak sepatutnya meletakkan perkataan “popular” kerana kebanyakan hadith dalam buku tersebut sememangnya tidak popular dikalangan masyarakat Melayu. Bahkan ada hadith yang sebenarnya tersebar di website atau blog milik orang Indonesia. Kebanyakan hadith dalam buku tersebut tidak tersebar luas dalam television, radio, atau Media Arus Perdana. Sewajarnya perkataan “popular” ditukar dengan perkataan “tersebar”. Inilah amanah ilmiyyah!

Sumber: Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group – Johor

24 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | 1 Comment

Kelompok Besar (al-Sawad al-a’zam), Orang Asing (al-Ghuraba’) dan Kebenaran

[1] Kelompok minoriti tidak semestinya terpuji, betul, dan di jalan yang benar. Jangan ingat hanya kerana Allah SWT banyak menyebut, memuji golongan sedikit, mafhum: “sedikit di kalangan hambaKu yang bersyukur…(QS Saba’:13)” ; “berapa banyak kumpulan sedikit mampu mengalahkan kumpulan besar…” (QS Al-Baqarah:249)  atau Nabi SAW memuji, mafhum: “beruntunglah mereka yang asing (al-ghuraba’) maka kita pun merasakan golongan “sedikit” itu terpuji lalu ingin menjadi kelompok yang kecil atau minoriti. Kelompok seperti ISIS,  Qadiani, Ayah Pin,  pun semuanya sedikit dan minoriti tetapi mereka semua bathil dan ajaran mereka sesat dan menyesatkan. Ajaran sesat hari ini semuanya minoriti.

[2] Yang ramai atau majoriti juga tidak semestinya betul. Agama Kristian mempunyai 2.2 billion penganut di seluruh dunia manakala ajaran Islam dikatakan sekitar 1.6 billion saja. Bukan bermakna ajaran Kristian itu benar walaupun majoriti.

[3] Lalu bagaimana sikap kita dan cara memahaminya? Maka hendaklah kita melihat konteksnya bila ketikanya kelompok kecil dipuji dan bilakah pula kita disaran bersama golongan majoriti yang berada di atas jalan kebenaran.

[4] Golongan sedikit yang dipuji ialah mereka yang benar-benar beramal dengan ajaran Islam dan hakikat hari ini mereka yang beramal dengan Islam dengan sesungguhnya jauh lebih sedikit berbanding dengan umat Islam yang pada nama saja. Tengok perbandingan  jumlah mereka yang ke masjid dan ke tempat-tempat hiburan sudah cukup untuk mendapat gambaran awal itu. Ini kerana jalan ke Neraka itu disukai nafsu seperti mana hadith dari Anas bin Malik RA  bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Syurga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)

[5] Tetapi dalam memilih untuk  beramal dan mengambil hukum hakam, kita diperintahkan untuk mengikut pandangan ramai atau pandangan majoriti. Majoriti siapa? Bukan majoriti orang awam Tom, Dick and Harry (Pak Mat atau Mak Timah), tetapi ahli ilmu, ulama yang benar di kalangan mujtahid yang dipanggil “al-Sawad al-azam”. Sebab itu ada istilah “ijma” dan “ittifaq” yang merujuk kepada pandangan ramai atau kesepatan mujtahid dan ulama. Kita ditegah mengikut pandangan ganjil, pelik, berseorangan (isolated) atau disebut “syaz”. Ini menunjukkan minoriti tidak semestinya betul dan terpuji sepanjang masa.

[6] Ambil contoh memakan “daging khinzir”. Ijma’ ulama menghukumkan khinzir haram dimakan mana-mana bahagian sekalipun. Tetapi ada pandangan pelik, ganjil (syaz) yang mengatakan yang haram dimakan hanya “daging” (لحم) khinzir saja kerana kata mereka ayat atau hadis yang melarang menyebut spesifik “daging khinzir”, adapun bahagian khinzir yang lain (seperti perut, lemak, tulang babi dll) boleh dimakan. Ini pandangan pelik menyalahi Ijma’ dan kita ditegah mengikutinya. Mahukah kita memperjudikan agama kita dengan mengikuti pandangan minoriti sebegini? Ini bukan soal memilih pemimpin politik tetapi memilih fatwa dan hukum hakam untuk beramal di dunia yang kesilapannya akan membawa kesengsaraan berpanjangan di Akhirat kelak. Silap memilih pemimpin politik, 5 tahun sekali boleh ditukar.

[7] Perintah untuk bersama dengan pandangan majoriti ulama ramai (bukan majoriti orang awam) banyak disebutkan dalam al-Qur’an dan al-Hadith. Antaranya Sabda Baginda SAW, mafhumnya:
إنّ أمّتي لا تجتمع على ضلالة فإذا رأيتم الإختلاف فعليكم بالسواد الأعظم
“Sesungguhnya umat aku  tidak akan berhimpun dalam kesesatan. Jika kamu melihat perselisihan (dalam kalangan mereka), maka hendaklah kamu mengikuti kumpulan terbesar (al-sawadul a’zam). (HR Ibn Majah).

[8] Lalu apa yang harus diajar kepada masyarakat awam? Ajarlah mereka agar bersama dengan pandangan majoriti ulama Ahlul Sunnah wal Jamaah kerana itulah lebih selamat dan hampir mustahil majoriti ulama yang ikhlas itu tersalah atau berpakat dalam kebathilan. Dalam masa yang sama ingatkan mereka kuatkan semangat kerana ketika kita beramal dan berpegang teguh dengan ajaran Islam itu, pasti kita akan terasa terasing, minoriti kerana tidak ramai manusia di sekeliling yang mentaati Allah SWT, melawan hawa nafsu sedangkan ramai yang lebih suka mengikut hawa nafsu mereka.

[9] Kesimpulannya, beramallah dengan apa yang disepakati oleh majoriti ulama (al-sawad al-a’zam) walaupun mungkin akhirnya kita hanya menjadi minoriti (al-ghuraba’)  di dunia akhir zaman yang semakin rosak yang majoriti penghuninya tidak lagi berpegang dengan kebenaran, ajaran Islam dan lalai daripada mengingati Allah SWT. Wallahu’alam.

Dr Nik Roskiman.

15 May 2016 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

APAKAH DENGAN MENGIKUT PEGANGAN MAJORITI ULAMA’ KITA AKAN SELAMAT?

SIAPAKAH SEBENARNYA AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH….APAKAH DENGAN MENGIKUT PEGANGAN MAJORITI ULAMA’ KITA AKAN SELAMAT?

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda yang bermaksud:”Sesungguhnya umat aku (umat Islam) tidak akan berhimpun dalam kesesatan. Jika kamu melihat perselisihan (dalam kalangan mereka), maka hendaklah kamu mengikuti sawadul a’zhom (majoriti umat Islam). Sesungguhnya, sesiapa yang terasing, maka dia akan terasing dalam neraka” -Hadits riwayat Ibn Majah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda lagi yang bermaksud:”…Barangsiapa yang keluar daripada jamaah walaupun sejengkal, maka dia sudahpun memenggalkan agama Islam…” -Hadits riwayat Imam Ahmad
Dalam hadits-hadits ini, Rasululullah صلى الله عليه وسلم melarang setiap individu muslim daripada keluar daripada kelompok umat Islam, dengan menyalahi aqidah kelompok umat Islam.

Bahkan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga menegaskan bahawa, orang yang bercanggah dengan jamaah atau menyalahi majoriti umat Islam (sawadhul a’zhom) dalam masalah usul (pokok iaitu masalah aqidah), maka dia dianggap sebagai syaz, iaitu: orang yang terasing ataupun terpinggir daripada kelompok umat Islam.

Imam As-Subki menjawab persoalan pertama mengenai manhaj Al-Asy’ari:
واعلم أن أبا الحسن الأشعري لم يبدع رأيا ولم يُنشِ مذهبا وإنما هو مقرر لمذاهب السلف، مناضل عما كانت عليه صحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم فالانتساب إليه إنما هو باعتبار أنه عقد على طريق السلف نطاقا وتمسك به، وأقام الحجج والبراهين عليه فصار المقتدي به في ذلك السالك سبيله في الدلائل يسمى أشعريا
“Ketahuilah bahawasanya Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari tidaklah mengadakan suatu pendapat yang baru dan tidak juga mengada-adakan mazhab yang baru. Beliau sebenarnya ialah orang yang membenarkan dan menguatkan mazhab-mazhab As-Salaf (dalam aqidah) dan membela apa yang dipegang oleh para sahabat Rasulullah – shollaLlahu ‘alaihi wasallam-. Adapun menisbahkan (mazhab) kepada beliau adalah dari sudut bahawasanya beliaulah yang memperkemaskan manhaj (aqidah) As-Salaf dengan kukuh lalu berpegang dengannya. Maka, beliau juga yang mendirikan hujah-hujah dan dalil-dalil terhadap aqidah As-Salaf tersebut lalu orang yang mengikut manhaj dan penghujahan tersebut dan melalui jalan pendalil aqidah beliau dinamakan sebagai Asy’ari” [Tabaqat As-Syafi’iyyah 2/254]

Imam Tajuddin As-Subki berkata:
هؤلاء الحنفية والشافعية والمالكية وفضلاء الحنابلة ولله الحمد في العقائد يد واحدة كلهم على رأي أهل السنة والجماعة يدينون الله تعالى بطريق شيخ السنة أبي الحسن الأشعري رحمه الله، لا يحيد عنها إلا رعاع من الحنفية والشافعية لحقوا بأهل الاعتزال، ورعاع من الحنابلة لحقوا بأهل التجسيم…
“Para ulama’ Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Malikiyyah dan sebahagian ulama’ Hanabilah yang mulia, Alhamdulillah, dalam masalah aqidah, bersatu dalam pegangan Ahlus-Sunnah wal Jamaah yang beragama (beraqidah) kepada Allah s.w.t. dengan manhaj Sheikhus Sunnah Abu Al-Hasan Al-Asy’ari r.a., yang mana tiada siapa yang terpesong darinya melainkan segelintir pengikut Hanafiyyah dan Syafi’iyyah yang terbabit dengan ahli Muktazilah dan sebahagian Hanabilah yang terbabit dengan ahli Tajsim. [Mu’id An-Ni’am: 62]

Imam Murtadha Az-Zabidi berkata dalam Syarh Al-Ihya’ (1/7):
إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية.
Maksudnya: Jika disebut Ahlus-Sunnah wal Jamaah, maka maksud dengan mereka adalah Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah.”
Telah berkata Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang bermaksud:”…Dan sesungguhnya pada jamaah itu ada rahmat, dan pada perpecahan itu ada azab.” Maka berkatalah Abu Umamah al-Bahili: “Hendaklah kamu bersama dengan sawadhul a’zhom”…-Hadits riwayat Imam Ahmad, al-Bazzar dan ath-Thabrani.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda lagi yang bermaksud:”…Aku tidak menyembunyikan sesuatupun (daripada kebenaran). Hendaklah kamu semua bertaqwa dan bersama-sama dengan jamaah. Janganlah kamu berpecah (mengikut golongan yang terkeluar daripada jamaah). Sesungguhnya (dengan keluar dari jamaah) itulah kesesatan. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى tidak akan menghimpun umat Muhammad dalam kesesatan” -Hadits riwayat ath-Thabrani.

Oleh :Ustaz Mohd Hanif Bin Mohd Salleh.
Juma’at 6 Sya’ban 1437H

13 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

DALIL DARI AL-QURAN MENGENAI SIFAT 20

image

1. Wujud (ada) – dalilnya surah anbiya’ ayat 22
2. Qidam (wujudnya Allah sedia ada) – dalilnya surah al-Hadid ayat 3
3. Baqa'(kekal) – dalilnya surah ar-Rahman (26-27)
4. Mukhalafatuhu Ta’ala lil hawadith (berlainan dgn segala yg baharu) – dalilnya surah syuraa ayat 11
5. Qiamuhu Ta’ala binafsihi (berdiri dgn sendirinya iaitu tidak berhajat kepada lainnya) – dalilnya surah fathir ayat 15
6. Wahdaniah (esa) – dalilnya surah al-Baqarah ayat 163
7. Qudrah (berkuasa) – dalilnya surah nuur ayat 45
8. Iradah (berkehendak) – dalilnya surah yaasin ayat 82
9. Ilmu (mengetahui) – dalilnya surah al-maidah ayat 97
10. Hayat (hidup) – dalilnya surah furqan ayat 58
11. Sama'(mendengar) – surah thaha ayat 46
12. Bashar (melihat) – surah hujurat ayat 18
13 kalam (berkata-kata) – surah an-Nisaa’ ayat 164
Sedang tujuh lagi sifat2 ma’aniwiyah sama shj dalil naqlinya dgn 7 sifat ma’ani yg tersebut.

Sumber: FB Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan.

8 May 2016 Posted by | Aqidah, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

ISLAM TIDAK MEMUSUHI BUDAYA SETEMPAT

image

Kedatangan Islam tidak pernah memusnahkan budaya setempat melainkan budaya tersebut bercanggah dengan Islam. Apabila Islam masuk ke China, budaya masyarakat Cina masih kekal. Senibina masjid adalah senibina tempatan masyarakat Cina tetapi pegangan Islam mereka sama dengan kita semua. Begitu juga apabila Islam tiba di India. Islam yang sama tetapi adat-budaya yang tidak bercanggah dengan Islam masih kekal.
Islam di nusantara juga begitu. Kamu boleh terus memakai kain pelikat dan tidak perlu merasa kurang Islam kerana tidak memakai jubah. Bahkan kain pelikat yang kamu pakai itu mirip kepada apa yang Baginda SAW juga sering pakai, kain seakan kain ihram.

~ Sheikh Dr. Umar Faruq Abd-Allah

Oleh: Nik Roskiman
(Di siarkan di FB Jabatan Mufti Negeri Sembilan).

8 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Mari Scan & Repair Aqidah Kita

Sesiapa yang beriktikad Allah SWT seperti yang akan dinyatakan selepas ini, maka ketahuilah bahawa ia bukanlah dari kalangan ahli sunah waljamaah. Bahkan membawa kepada pegangan akidah yang menyeleweng.

1) Allah bermuka tetapi tidak serupa dengan muka makhluk.
2) Allah bermata tetapi tidak serupa dengan mata makhluk.
3) Allah mempunyai rupa tetapi tidak serupa dengan rupa makhluk.
4) Allah bertangan tetapi tidak serupa dengan tangan makhluk.
5) Allah mempunyai rusuk tetapi tidak serupa dengan rusuk makhluk.
6) Allah berjari tetapi tidak serupa dengan jari makhluk.
7) Allah bersama dengan kita tetapi tidak serupa dengan bersama  makhluk
8) Allah turun dari atas kebawah tetapi tidak serupa dengan turun  makhluk.
9) Allah duduk samaada isbat duduk shj, duduk bersila, duduk tarabbu’,duduk iftirasy, duduk apa shj tetapi tidak serupa dengan duduk tersebut.
10) Dan yang sama dengannya/dan sebagainya/dan lain lain.

Cukuplah dibawa 9 jenis ni. Maka dikatakan oleh ulama Ahli Sunah Waljamaah ia bukanlah ikitikad (pegangan) yang sebenar. Samaada Salaf atau Khalaf, mereka tidak pernah beriktikad sepertimana di atas.

Mari kita lihat solusi terhadap penyelewengan yang mereka pegang.

1) Kalaulah sesuatu benda itu dikatakan muka tetapi tidak serupa dengan muka maka jadilah ia tidak muka. Kalau dikatakan mata tetapi tidak serupa dengan mata maka jadilah ia tidak mata kalau dikatakan mata tapi tidak serupa maka tidak mata dan setersusnya.

2) Berkata Imam Abu Abdillah Muhammad al-Anshori al-Qurtubi pengarang kitab “Al-Jami’ Li Ahkamil Quran”:

“Maka bahawasanya perkataan mereka yang berpegang bahawa tuhan bertubuh atau cahaya tetapi perkataan mereka tidak serupa dengan tubuh atau cahaya telah membatalkan apa yang ditetapkannya semula. Ini merupakan perkataan yang bertentangan”

Oleh itu, pegangan yang benar di sisi para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in serta sekalian ulama ahli sunah waljamaah tidak seperti diatas. Salaf mereka beriman terhadap ayat-ayat mutashabihat iaitu dengan menggunakan kaedah takwil ijmali. Manakala Khalaf sama seperti Salaf tetapi mereka menggunakan kaedah takwil tafsili. Sebagai contoh bagi mudah difahami kita akan ambil dua contoh ayat mutashabihat.

1) Berkaitan dengan tangan. Allah berfirman:

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

Maksudnya: (Jika terjemah secara harfiyah) Tangan Allah berada di atas tangan-tangan mereka itu iaitu kaum yahudi.

Kaedah:-

i) Salaf: Menyerahkan kepada Allah ertinya. Maha suci Allah dari serupa dengan makhluk.

ii) Khalaf: Mentakwilkan mana yang layak dengan Allah. Seperti konteks diatas. lafaz yadun (tangan) bermaksud kekuasaan.

iii) Akidah menyeleweng 1: Tangan bermaksud tangan iaitu tangan Allah serupa dengan tangan kita.

iv) Akidah menyeleweng 2: Allah mempunyai tangan tapi tangan-Nya tidak serupa dengan makhluk.

2) Berkaitan dengan istiwa’. Allah berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Maksudnya: (Jika terjemah secara harfiyah) Dialah Allah Ar-Rahmaan,istiwa’ diatas ‘Arasy.

Kaedah:-

i) Salaf: Menyerahkan kepada Allah ertinya. Maha suci Allah dari serupa dengan makhluk.

ii) Khalaf: Mentakwilkan mana yang layak dengan Allah. Seperti konteks diatas. lafaz istiwa dengan istawla bermaksud menguasai.

iii) Akidah menyeleweng 1: Istiwa bermaksud duduk iaitu duduk Allah serupa sebagaimana dengan duduk makhluk.

iv) Akidah menyeleweng 2: Istiwa dengan maksud duduk tapi duduk Allah tak serupa yakni tidak sama dengan duduk makhluk.

Jadi dimanakah anda? adakah anda yakin dengan iktikad Allah diatas arasy tapi dengan cara dia yakni tidak serupa dengan makhluk? arasy itu makhluk dan Allah tidak berhajat kepada makhluk. Bertempat itu sifat makhluk maka tidak layak mengatakan Allah di langit/arasy kerana itu adalah bertempat. Mengatakan Allah diatas menunjukkan  arah maka arah adalah sifat makhluk.

Oleh itu, sila berpegang hanya dengan kaedah ulama yang diiktiraf dan dikira sebagai Ahli Sunah Waljamaah shj iaitu Salaf dan Khalaf.

Sekian.

Oleh: Muhamad Shaza bin Sulaiman.

6 May 2016 Posted by | Politik dan Dakwah | Leave a comment

Bertanya lah kamu kepada Alim Ulama

Umat Islam yang mengamalkan amalan ibadah selama ini melalui petunjuk para alim ulamak sudah selamat. Kerana mereka telah mengikut perintah Allah dan RasulNya. Dalam Surah an Nahl ayat 43 dan Surah Al anbiya’ ayat 7
Tafsirnya: “Maka bertanyalah kamu kepada Ahlu’dz Dzikri jika kamu tidak mengetahui.”
dan juga pengiktirafan oleh Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam sebagai pewaris nabi.
Manakala yang tidak mahu mengikut para alim ulamak dan memandai-mandai dalam urusan agama dalam bahaya dan membahayakan orang lain yang mengikutinya.
Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :
ALLah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan antara kebahayaan yang lain juga adalah apabila golongan ruwaibidhah semakin melata.
عَن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ. [أخرجه أحمد (2/291، رقم 7899)، وابن ماجه (2/1339، رقم 4036) قال البوصيرى (4/191): هذا إسناد فيه مقال، والحاكم (4/512، رقم 8439) وقال : صحيح الإسناد]
Terjemahan:
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu helah, yang mana pada waktu itu orang yang berdusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan berdusta. Pengkhianat akan diberi memegang amanah dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berpeluang bercakap ialah golongan Ruwaibidhah”.
Ada sahabat bertanya: “Apakah dia Ruwaibidhah itu?” Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Orang lelaki hina yang memegang urusan orang ramai”. (Hadis riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim, kata beliau: Sahih sanadnya)

Oleh: Ibnu Nafis

4 May 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Uwais Al Qarni

image

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka’bah karena Rasullah SAW berpesan “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do’a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do’a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Sumber: “Cerita ini diambil dari buku ’20 Kisah Sahabat dan Thabiin’ terbitan Qibla karangan Ummuthoriq el khanzo.”
Subhanallah

Majlis Ta’lim La Zikra.

3 May 2016 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

ADAKAH ZIKIR SECARA BERJEMAAH ITU BIDAAH?

Sheikh Allamah Prof. Dr. Ali Jum’ah (Mufti Mesir) mengatakan (Dalam buku beliau “Al-Bayan“)

Bahawa: “Berhimpun untuk melakukan zikir secara berjemaah dalam satu halaqah (perhimpunan) merupakan suatu amalan sunnah yg bersandarkan dalil syarak”.

Dalil-dalilnya:-

Al-Quran :
“Allah s.w.t berfirman ertinya: “Bersabarlah kamu (tekunlah kamu) takkala bersama dengan orang-orang yang yang menyeru kepada Tuhan mereka (berdoa dan berzikir),samada petang ataupun pagi,dalam mengharapkanNya”

(Al-Kahfi: 28)

Hadis :
Nabi Muhammad S.A.W bersabda ertinya:

“Sesungguhnya,bagi malaikat itu,sekumpulan malaikat yang berlegar-legar dalam mencari ahli zikir.

Maka,apabila mereka (malaikat) mendapati satu kaum berzikir kepada Allah S.W.A, mereka (malaikat) akan berkata (kepada sesama para malaikat yang lain) :

“Marilah segera kepada hajat kamu (apa yang kamu hajati)” Maka, mereka menaungi golongan yang berzikir (secara berjemaah tersebut) dengan sayap-sayap mereka sehingga ke langit dunia”.

Hadis – (Riwayat Al-Bukhari)

Dari Mu’awiyah r.a. telah berkata, bahawasanya Nabi s.a.w. pernah keluar menuju ke halaqah para sahabat Baginda s.a.w.. Lalu, Baginda s.a.w. bertanya (kepada para sahabat yang berhimpun tersebut) :

“Apa yang menyebabkan kamu semua duduk berhimpun ini?” Mereka menjawab: “Kami duduk untuk berzikir kepada Allah s.w.t., memujiNya terhadap nikmatNya takkala Dia memberi hidayah kepada kami dalam memeluk Islam.”

Sehinggalah sabda Nabi s.a.w.: “Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku dan memberitahuku bahawa Allah s.w.t. berbangga terhadap kamu di hadapan mara malaikat”

(hadis riwayat Muslim)

Dari Abi Hurairah r.a. telah berkata,bahawa Rasulullah s.a.w. telah bersabda yang bermaksud :

“Tidaklah duduk sesuatu kaum,akan suatu majils untuk berzikir kepada Allah,melaikan para malaikat akan menaungi mereka,akan terlimpah rahmat ke atas mereka,dan Allah s.w.t. juga akan memperingati mereka”.

(hadis riwayat Muslim)

Imam An-Nawawi dalam syarah beliau mengatakan bahawa:

“Hadis ini menunjukkan tentang kelebihan majlis-majlis zikir dan kelebihan orang-orang yang berzikir,serta kelebihan berhimpun untuk berzikir beramai-ramai“.

FAHAMILAH DALIL-DALIL INI DAN LAPANGKANLAH DADAMU

27 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

MASALAH CIUM KUBUR

Sumber: Utusan Online​

Jawapan balas kepada satu siri artikel berunsur fitnah dalam akhbar Malaysia

“MASALAH QUBUR BAHAGIAN SATU OLEH SHAYKH HISHAM KABBANI”

MENYENTUH KUBUR DAN MENGUCUPNYA KERANA RASA CINTA (MAHABBAH) DAN MENDAPATKAN KEBERKATAN (TABARRUK) ADALAH DIIZINKAN MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL DAN BAHKAN DIHARUSKAN (MUSTAHAB)

Wahabi baru-baru ini telah menulis satu artikel di mana mereka menuduh saya bersujud di atas kubur dan ke arah kubur berdasarkan gambar yang mereka  terbitkan dalam artikel akhbar dan video yang dihasilkan dan disiarkan di youtube. Semua dakwaan ini adalah tidak Islamik dan palsu bahkan kaedah tipikal Wahabi dalam mengganggu dan memanipulasi serta memesongkan kebenaran untuk membuat FITNAH DAN SERANGAN PERIBADI. Daripada perspektif Islam dan tuntutan shari’ah kita mesti tahu perkara-perkara dibawah yang berkaitan dengan pemalsuan dan pembohongan tersebut:

1. Mufti Ali Jumu’a (Allah memelihara beliau) berkata: penghormatan kepada seorang Muslim sepatutnya lebih baik daripada mengutuk dengan dasar apa yang dilihat mata atau didengari telinga melalui peralatan eletronik.Shari’ah mempunyai piawaian tertinggi dalam mengesahkan sesuatu. Dan Wahabi tertakluk kepada hukum itu seperti orang lain, mereka tidak berada di atas hukum-hakam tersebut. Allah berfirman: قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين “Qul hatu burhanakum In Kuntum sadiqeenn” “Katakanlah: Berikan kepada kami bukti dan kebenaran kamu jika kamu bercakap benar” (Al-Baqarah 2: 111). Dan semua orang tahu bahawa terbitan media adalah perkara yang paling mudah untuk dimanipulasi bagi mewakili kepalsuan dalam kesamaran kebenaran. Sebagai contoh: walaupun perbuatan yang boleh dihukum dilihat pada video, ia tidak dianggap sebagai bukti Shari’at, anda masih memerlukan empat saksi. Jika tidak penuduh itu dicambuk kerana menfitnah (qazf) dan dicap sebagai seorang FASIQ. Apatah lagi, apabila tidak ada bukti sahih terhadap tuduhan itu, sebaliknya yang ada ialah dakwaan tanpa nama dan gambar yang rosak, lalu disebarkan oleh si pengecut tanpa nama. Berhati-hati juga dengan saksi palsu (Shahadat az-zur) yang merupakan salah satu daripada lima dosa besar (Kiba’ir) selain syirik, pembunuhan dan pengkhianatan.

2. Tambahan pula, sujud yang didakwa itu kemungkinan bukan sujud sama sekali, walaupun ia kelihatan seperti bersujud, seperti mencari sesuatu di bawah kerusi, atau membantu menyarungkan Khuff (sarung kaki kulit) pada kaki Shaykh. Namun dari jauh ia kelihatan seperti sujud; atau tunduk seperti mencium tangan ibu bapa, atau masuk melalui pintu yang rendah. Ini disebut oleh Habib Ahmad Mashhur AlHaddad dalam kitabnya Miftahul Jannah. Jadi seseorang yang melihat dari jarak yang jauh mungkin menolak untuk memberi kebaikan dengan pendapat yang baik dan menyalahkan seorang Muslim yang tidak bersalah tanpa sebab. Ini berlaku apabila Khalifah Marwan ibn Abdul Malik satu hari datang dan melihat seorang lelaki meletakkan mukanya ke atas kubur Nabi (saw). Beliau mencengkam lehernya dan berkata, Adakah kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? Lelaki itu berpaling dan berkata, Ya, dan ia adalah Abu Ayyub Al-Ansari (r). Beliau berkata, “Kamu patut tahu bahawa aku datang kepada Rasulullah (saw), bukan kepada batu-batan ini. Tambahan pula, aku mendengar Rasulullah bersabda:” Jangan menangis atas agama selagi ia mempunyai pemimpin yang berkelayakan dan bertanggungjawab, tetapi menangis di atasnya apabila rakyat (ruwaybidha) mengambil alih! “Imam Ahmad meriwayatkan laporan ini di dalam Musnad, dan juga Majd Ad-Din Ibn Taimiyyah (datuk kepada Ahmad ibn Taimiyah) dalam bukunya “Hadis Nabi yang dipilih dengan penuh hati-hati”(Al- Muntaqa fi hadis al-Mustafa).
Perbuatan yang sama mencium kubur dan menangis di atasnya adalah diriwayatkan daripada tabiee besar Muhammad bin Al-Munkadir, yang digelar oleh Imam Sufyan ibn Uyaynah sebagai lautan kebenaran. Imam Adz-Dhahabi – yang dihormati dan dipuja Wahhabi- bahkan memaafkan seseorang yang sujud ke kuburan orang mati kerana rasa cinta, dengan berkata: “Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani, dan aku bersumpah dengan nama Allah, bahawa kaum Muslim hanya beremosi dan menangis dan mencium dinding dan menangis, kerana dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan BAHAWA CINTA ITU ADALAH SIFAT YANG MEMBEZAKAN ANTARA PENGHUNI SYURGA DAN PENGHUNI NERAKA! ”

3. Imam Abdullah bin Ahmad, anak kepada Imam Ahmad bin Hanbal, bertanya kepada bapanya: “Apa pendapat kamu tentang seseorang yang menyentuh mimbar Nabi (saw) dan cuba untuk mendapatkan berkat (tabarruk) dengan menyentuhnya, dan menciumnya; dan dia melakukan perkara yang sama terhadap kubur, atau apa-apa lagi yang sejenis, memohon untuk lebih mendekati Allah?” IMAM AHMAD menjawab: “TIDAK ADA YANG salahnya” (La ba’sa bihi). Ini diriwayatkan di dalam kitab Imam Ahmad “Al-‘Ilal wa Ma’rifat Ar-Rijal” Jilid 2 halaman 492, dan dalam “Almu’jam Al-Kabir” Imam Dhahabi jilid 1 halaman 73 – edisi Saudi. Kemudian Adh-Dhahabi berkata, “Tunjukkanlah kepadaku si bodoh yang akan mengkritik Imam Ahmad! SEMOGA ALLAH MELINDUNGI SAYA DAN ANDA DARIPADA KESESATAN DANBID’AH KHAWARIJ.”

Lihatlah bagaimana Abu Musa Al-Asy’ari dan Imam Dhahabi memanggil orang yang sebegitu – SEPERTI WAHHABI PADA HARI INI – SI SESAT YANG TIDAK BERKELAYAKAN, PEMBERONTAK,  BODOH, KHAWARIJ, DAN PENGHUNI NERAKA. Khawarij adalah mereka yang ekstremis yang fanatik yang memecahbelahkan ummah, selalu menjatuhkan orang Islam yang lain dan memerangi mereka, di masa lalu dan di zaman kita.

4. Ibn Muflih al-Hanbali berkata dalam ensiklopedia tentang fiqh berjudul “Al-Mubdi’” (Kitab rujukan yang luar biasa) dalam fiqh Hanbali – jil. 2 halaman 281: “Adalah mustahab (wajar) untuk seseorang membuat ziyarah untuk berdiri di hadapan kubur, sehampir boleh seperti jika dia menziarahinya ketika waktu hidupnya. Dan dibenarkan untuk menyentuh kubur dengan tangan-Nya, kerana ia sama seperti berjabat tangan pada waktu hidup, terutamanya jika beliau berharap untuk mendapatkan kebaikannya (barakah). Perkara yang sama terdapat dalam Kitab faqih Mar’i Al-Karmi al-Hanbali “Ghayatul Muntaha” jilid 1, halaman 259.

5. Mencium kubur ibu bapa adalah dibenarkan dalam mazhab Hanafi. Ini jelas dinyatakan dalam ensiklopedia bagi fatwa dipanggil “Fatawa Hindiyyah”, juga dikenali sebagai “Fatawah Alamjiriyyah”, dan di dalam ulasannya pada Mishkat al-Masabih oleh Abdul Haqq Muhaddith Dihlawi bertajuk “Ashi’atu al-Lama’at” bab pengebumian. Tambahan pula Imam Nawawi berkata, seorang Shaykh adalah lebih penting daripada bapa kandung. Beliau berkata demikian di dalam bukunya “At-Taqrib wat Taysir fi-Marifati Sunan al-Bashir an-Nadhir”. Oleh itu Shuyukh kita lebih berhak mendapat kasih sayang dan penghormatan kita dalam kehidupan ini, dan selepas kematian mereka. Allah berfirman, بل أحياء عند ربهم يرزقون “Bal Ahya’un ‘inda rabbihim yurzaqun” “Bahkan, mereka masih hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki” (Al Imran 3: 169).
Semoga Allah Subhan wa taala menyelamatkan Malaysia dan semua negara-negara Islam daripada FITNAH AL WAHHABIYYA dan kebatilan mereka. Semua Mufti besar sebelum ini dan Ulama yang benar pada zaman kita telah memberi amaran terhadap Wahhabiyya seperti Sayyid Ahmad Zayni Dahlan, Sayyid Alawi bin Taher Al Haddad Mufti Johor, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Allamah al-Sawi, Sayyid Yusuf bin Hashim al-Rifai, Allama Muhammad Amin Abidin al-Shami, Sayyid Zayn bin Sumayt dan banyak lagi yang lain. Sudah tiba masanya sekarang untuk memberi amaran terhadap mereka sekali lagi dan ini adalah jihad yang sebenar untuk mempertahankan kalimah yang Haqq terhadap jawr (jenayah) dan batil (yang salah). Tetaplah bersama Ahlus Sunnah wal Jamaah, perlu menghormati Ahl al-Haqq dan Tasawwuf, pelihara cinta kepada Ahlul Bayt, berzikir dan Salawat, menjaga Silatur Rahm dengan Awliya sama ada dalam Dunya atau Barzakh, berpuasa dan sembahyang, dan membuang fitnah dan mereka yang menfitnah yang cuba untuk memecahbelahkan ummah.

Ini merupakan satu jawapan bantahan dengan segera tetapi kami mempunyai lebih banyak dan banyak lagi bukti-bukti yang akan diterbitkan dalam masa yang sewajarnya mengikut keperluan InsyaAllah. Nabi (saw) menyifatkan guru-guru palsu sebagai serigala menyamar menjadi kambing dan baginda berkata Allah subhuan wa taala berkata mengenai mereka, “Adakah guru-guru palsu tidak takut kepada aku? Adakah mereka cuba untuk memprovokasi aku?”

Dan Allah berfirman:

بل نقذف بالحق على الباطل فيدمغه
فإذا هو زاهق ولكم الويل مما تصفون

Sebenarnya Kami melontarkan perkara benar terhadap perkara yang salah, dan ia menghentak sehingga terkeluar otak, dan serta-merta kepalsuan itu lenyap! Ah! kecelakaanlah bagi kamu (atas kepalsuan) yang kamu sifatkan (kepada Kami) (al-Anbiya 21:18). Walhamdu lillahi Rabbil Alamin.

Khadam Ilmu
MUHAMMAD HISHAM AL-KABBANI AL-HASANI AL-HUSAYNI AL-SHAFII AL-NAQSHBANDI

26 April 2016 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bersama Tokoh, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Dakwah Yang Tidak Dahulukan Kasih Sayang ::

Hari ini ramai orang yang bercakap tentang seruan kepada Islam, sedangkan jiwa mereka kering dari pancaran kasih sayang, malah dipenuhi kekerasan dan permusuhan. Al-Quran dan Hadith digunakan untuk tujuan permusuhan dan menyenangkan nafsunya. Kasih sayang dihancurkan. Manusia yang diseru tidak melihat sinar kasih sayang terpancar di wajah mereka.

Kebanyakan para pendakwah mendahulukan berita ancaman dari memberi kasih sayang. Mereka utamakan perkhabaran tentang azab Allah dari sifat kecintaan dan pengampun Allah. Mereka sebenarnya pembunuh harapan di dada-dada manusia yang yang mencari setitis harapan. Dakwah penuh dengan kekakuan, bersidang dalam dewan-dewan yang mewah, membentangkan kertas-kertas kerja yang memperlihatkan idealisma yang hebat, tetapi perkara yang amat diperlukan oleh manusia di sekeliling mereka tidak dititikberatkan, iaitu kasih sayang.

Masyarakat memerlukan orang yang bertanya khabar pada mereka, yang membantu kesusahan mereka, yang memberi kata-kata harapan, yang menghulurkan tangan kasih sayang demi membawa kepada kebenaran.
Islam adalah gambaran kasih sayang Allah di alam ini. Mereka yang membawanya mestilah mengamalkan sifat keTuhanan dan sifat kenabian iaitu kasih sayang. Dalam sebuah rumahtangga, isteri merasai ketenangan, anak-anak merasai kedamaian. Mulakan kasih sayang pada dirimu dan dalam rumahtanggamu sebelum kamu lontarkan kepada dunia luar. Jika kamu majikan, sinarkan pada pekerjamu. Jika kamu pemimpin masyarakat, pancarkan pada mereka. Jika anda seorang ulama’, lunakkan bahasamu, hubungkan jiwa kamu dengan manusia yang mengharap pimpinanmu dengan kasih sayang. Jauhkan bertelagah dalam masalah khilafiah, supaya umat ini tidak terdidik dengan kebencian. Halakan tujuan dakwahmu kepada dunia yang rosak di depan dengan ikhlas dan kesedaran ubudiyyah kepada Allah.

Dakwah mesti berasaskan kasih sayang. Kemungkaran mestilah dicegah dengan hikmah. Jangan biarkan manusia mengekalkan kemungkaran, nescaya dunia akan dimurkai Allah dan manusia yang tidak berdosa juga akan menerima azab. Lihatlah negara yang tidak mencegah kemungkaran, mereka dilemparkan kesengsaraan. Demi kasih sayang pada negara dan umat manusia, bangunkanlah amal ma’aruf nahi mungkar, agar segala bala terangkat dari kita.

Manusia yang membela dan mencintai kemungkaran, adalah manusia yang tidak memahami hakikat kasih sayang. Perbuatan mereka menghancurkan generasi mereka sendiri. Akibat mereka membiarkan kemungkaran yang kecil berleluasa berlaku, akhirnya ia menjadi penyakit yang merbahaya kepada generasi mereka, kepada anak-anak mereka, kepada cucu mereka. Hari ini, kita sudah melihat anak-anak tidak lagi menghormati ibubapa, tidak menghormati guru-guru. Anak-anak sudah tidak mengenal Allah. Mereka mencintai nafsu dan syaitan. Siapakah yang telah melakukan jenayah ini? Soalan yang perlu pada jawaban…
Hari ini gerakan dakwah sudah banyak yang tersasar pedoman. Mereka lebih menumpukan ketajaman pemikiran pada anggotanya dari semaian iman dan kasih sayang. Dakwah bergerak dengan idealisma sedangkan manusia di depan mereka rosak disebabkan kehilangan kasih sayang. Mereka sepatutnya pendokong kasih sayang, bukan penyebar kebencian dan permusuhan.

Gerakan Kristian berjaya kerana menonjolkan aspek kasih sayang sebagai wajah mereka, sedangkan kasih sayang yang mereka tonjolkan akan menghancurkan kehidupan manusia di akhirat nanti. Gerakan Islam menonjolkan hukum dan membelakangi kasih sayang, sehingga masyarakat terasa mereka jahil. Harapan mereka tertimbus di bawah hukum-hukum yang didatangkan tanpa didahulukan pengisian iman sebagai tunjang.

Ulama’-ulama’ bercakaran didepan orang-orang jahil. Penyelesaiam masalah tidak didahulukan kasih sayang dan kebenaran tetapi mencari kemenangan. Hancurlah umat kerana pemimpin yang tidak memberi kasih sayang kepada rakyat, hancurlah kepimpinan kerana ulama’-ulama’ tidak memberi nasihat dengan kasih sayang, hancurlah ulama’ lantaran ulama’ tiada kasih sayang.

Sumber

24 April 2016 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Siapa yang melecehkan ulama akan hilang akhiratnya

– Siapa yang melecehkan ulama, akan hilang akhiratnya.
– Siapa yang melecehkan umara’ (pemerintah), akan hilang dunianya.
– Siapa yang melecehkan teman-temannya, akan hilang kehormatannya.

Aku dapati ada beberapa ustaz dan ulama sijil zaman ini memanggil dengan beberapa gelaran yang langsung tidak menunjukkan hormat pada usaha kebaikan dan ketinggian ilmu ulama zaman dulu.. Contohnya pada Imam as Syafii dipanggil pi’e. Pada imam Ahmad dipanggil Mamat. Dan lain lainnya.. Tak tergamak nak tulis.

Berkata Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah : “Daging para ulama itu beracun. Siapa yang menciumnya maka ia akan sakit. Siapa yang memakannya maka ia akan mati.”

Mencela ulama merupakan sebab terbesar bagi seseorang untuk terhalang dari dapat mengambil faedah dari ilmu para ulama.

Berkata Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah : “Dunia itu seluruhnya gelap, kecuali majlis-majlisnya para ulama.”

Beberapa sebab yang menyebabkan manusia tidak menghormati para ulama.

Diantaranya:

1. Belajar sendiri atau hanya berguru kepada kitab tanpa mau duduk di majlis para ulama

Diantara dampak buruk dari belajar sendiri adalah :

* Orang ini akan mengukur dengan keadaan dirinya sendiri, sehingga dengan mudahnya dia memandang dirinya sebagai orang alim

* Orang ini akan kehilangan suri tauladan dalam adab dan akhlak

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : “Siapa yang bertafaqquh dari perut-perut kitab, maka ia akan menyia-nyiakan hukum.” Kemudian beliau bersya’ir :
Siapa yang mengambil ilmu langsung dari guru,
maka dia akan terhindar dari kesesatan
Siapa yang mengambil ilmu dari buku-buku,
maka ilmunya di sisi para ulama seperti tidak ada..

2. Sifat belagak tahu semua

Orang yang belagak tahu dan merasa pintar, maka akan didapati mereka adalah orang-orang yang dangkal ilmunya akan tetapi memposisikan diri mereka seperti ulama, maka mereka itu akan ditimpa oleh penyakit ujub (bangga kepada dirinya sendiri).

Berkata Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallohu ‘anhuma: Orang yang paling tertipu adalah orang para qari’ (pembaca al-qur’an) akan tetapi ia tidak faham apa yang terkandung di dalamnya. Kemudian dia mengajar anak-anak dan wanita , yang dengan itu dia merasa besar kemudian berani mendebat para ulama.”

3. Terpengaruh oleh kebebasan berpendapat gaya barat (anak didik yahudi)

Sehingga menganggap setiap orang boleh berbicara tentang agama menurut akal mereka walaupun tanpa ilmu. Sebagaimana hal ini banyak kita lihat dan saksikan pada zaman kita ini. Di mana orang yang paling awam tentang agama berbicara dengan sebebas-bebasnya tentang agama ini, mengatakan seenaknya tentang kitab Allah danSunnah NabiNya lalu sebebasnya mencela ulama dulu dulu yang mereka tidak suka dengannya. Tujuannya pastilah untuk menjanakan perpecahan dan mengangkat diri sebagai ulama yang terbaik.

Cara berguru bagi penuntut ilmu:

* Jika ia termasuk penuntut ilmu pemula, maka hendaknya ia mengambil ilmu dari satu guru agar tidak dibingungkan dengan berbagai pendapat-pendapat
* Jika ia termasuk orang yang mulai baik keilmuannya maka hendaknya ia belajar dari beberapa guru agar keilmuannya semakin luas dan pandangannya semakin terbuka.

Termasuk akhlaq yang tercela adalah apabila ada seorang penuntut ilmu yang menghibah gurunya karena kesalahan dari gurunya yang diketahui olehnya.

Orang yang merasa lezat dengan menghibah para ulama maka ia akan diberikan su’ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek)

Dari Abu Hurairah ”Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman : ‘Barang siapa memusuhi waliKu, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya… [HR. Al Bukhari]

Sebelum menghina beberapa ulama yang kamu tidak suka, semak bebaik amalan kamu dan ilmu kamu adakah setara mereka. Ambil contoh dari Imam as Syafii je cukup dah.. Umur kamu 9 tahun kamu dah seperti Imam Syafii atau Imam al Ghazali ke yang dah khatam hafal quran dan kitab hadis. Sedangkan umur kamu sipencela masa tu masih berbogel lagi dan hingus  pun tak pandai nak cuci lagi. Umur belasan Imam Syafii dah berfatwa mengajar sebahagian ulama, sedangkan kamu umur belasan tahun muqqadam pun belum lancar lagi.. Oleh itu cermin diri dulu bebaik sebelum nak melecehkan para ulama dulu.

Kamu cuma berani meleceh ulama yang dah jadi mayat mayat yang tak mampu menjawab lagi.

Sumber: Talaqi Kitab di Kelantan

13 April 2016 Posted by | Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | Leave a comment

“Sekiranya kamu melihat kebenaran dengan ramainya pengikut bermakna kamu telah salah faham”

image

Wahai ikhwan,

Terlebih dahulu Al faqir memohon kemaafan kerana tulisan ini boleh menyebabkan kamu semua merasa tidak senang,dan mungkin ada marah atau tidak setuju dengan Al faqir.

Demi Allah Al faqir menyayangi ikhwan semua, beberapa kali Al faqir memikirkan utk menulisnya tapi untuk menyatakan apa yang ada pada isi hati ini.

Imam Al Ghazali ada menyatakan dalam kitabnya Ayyuhai Walad “Sekiranya kamu melihat kebenaran dengan ramainya pengikut bermakna kamu telah salah faham”.

Fahamilah betul2 ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah, rujuklah kpd org yg alim lagi jujur dalam ilmu,nescaya kamu akan dapati ianya perjalanan yg benar lagi lurus yg mengikuti ulama2 terdahulu yg berantaian sehingga sampai kepada Baginda Sollallahu alaihi wassallam.

Imam2 besar seperti Imam As Syafie dan seumpamanya ( semoga Allah merahmati mereka ) yg tidak ragu lagi keilmuannya,adalah antara imam2 Ahli Sunnah Wal Jamaah, maka adalah tidak wajar sama ada ulama atau ahli2 ilmu di zaman kita hari ini memandang rendah Imam As Syafie atau imam2 yg lain dengan mengatakan cukuplah dgn Al Quran dan Hadis tidak perlu kpd mazhab2 yg lain. Benarlah kata Imam Al Ghazali yg menyatakan hijab ilmu antara hijab yg besar untuk sampai ke Allah.Menolak tasawuf,mazhab2 imam2 besar merupakan masalah yg besar dan ini mengelirukan orang awam.

Walaupun mereka tokoh hebat dalam ilmu atau dakwah,ada seorang tokoh dakwah hebat dalam pidatonya berjaya menarik orang kepada agama Islam,tapi malangnya menolak tasawuf dan merendahkan kedudukan imam2 besar Ahli Sunnah Wal Jamaah.ketokohan mereka kita tetap kita hormati namun mempertikaikan tasawuf dan imam2 besar adalah sesuatu yg mengelirukan masyarakat umum.

Wahai ikhwan, kesianlah masyarakat kalau macam tu,marilah kita buka hati kita, berlapang dada untuk menerima kebenaran, caranya solat sunat taubah kemudian banyakkan berselawat dan mohonlah kepada Allah agar ditunjukkan kebenaran dan dihilangkan kekeliruan ini, nescaya Allah akan hilangkan kekeliruan ini.

Cukuplah jangan maki memaki,hina menghina pada orang yg tidak bersependapat dgn kita janganlah hilangkan adab ajaran agama kita yg mulia ini,Al faqir tidak bersetuju dgn tokoh dakwah ini tetapi Al faqir tidak mahu mencelanya kerana jasanya ada pada agama kita tapi jasa imam2 besar Ahli Sunnah Wal Jamaah lagi besar dari jasanya, adapun Al faqir tiada apa2 hanya insan faqir.

Wassalam,maafkan Al faqir atas tulisan ini jika tidak bersetuju terpulanglah.

Al-Fadhil Ustaz Mustaffa Kamal Bin Hamzah
(Penel Tanyalah Ustaz TV9)

13 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

HABAIB – Kepentingan Menyintai Ahlu Bait dan Batas Kecintaan Terhadapnya.

Jawapan diberikan oleh Dr Ali Jum’ah (Mufti Republik Arab Mesir)

Soalan :

Sejauh manakah pentingnya sikap cinta kepada ahlul bait (keluarga) Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam? Apakah batas-batas kecintaan itu? Apakah batas-batas pemisah di antara cinta dengan sikap ekstrem (keterlampauan) yang tercela?

Jawapan

ALlah subahanahu wa ta’ala telah berfirman :

“Katakanlah ” Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang di dalam kekeluargaan.” (Surah Asy Syura : 23)

Terdapat riwayat sahih dari Sa’id bin Jubair radiyaLlahu ‘anhu bahawa dia berkata tentang makna ayat ini,
“Tidaklah suatu kampung (sub kabilah) dari Quraisy kecuali ada hubungan kekeluargaan dengan Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam.. “Baginda sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda, “..hendaklah kalian menyambung tali kekeluargaan di antara diriku dengan kalian.” (Riwayat Bukhari, Sohih BUkhari, vol 4 hlmn 1286)

Jelas ini merupakan perintah serta wasiat mengenai memperbaiki hubungan dengan keturunan Baginda SallaLlahu ‘alaihi wasallam . Dalam ayat tersebut ALlah subahanahu wa ta’ala memerintahkan Baginda untuk menyampaikan kepada umatnya.

RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kita untuk mencintai keluarganya dan menjadikan mereka tauladan dalam kehidupan. Dalam banyak hadith yang mulia, RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepada kita untuk mencintai keturunan Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam (selawat dan salam sejahtera untuk mereka semuanya). Kami kemukakan hadith yang di antaranya adalah berdasarkan kepada sabda Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam :

“Amma ba’du, Perhatikan! Wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah manusia (seperti kalian) yang sudah hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, lalu aku menyambut. Dan, aku tinggalkan pada kalian dua hal yang besar; Kitab ALlah subahanahu wa ta’ala (al Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka berpedomanlah dengan Kitab ALlah subahanahu wa ta’ala dan berpegang teguhlah dengannya.”

Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam menggalakkan kepada kita untuk berpedoman dengan Kitab ALlah subahanahu wa ta’ala dan menyukainya.

Kemudian Baginda bersabda,
“Dan semua keluargaku; aku mengingatkan kalian kepada ALlah subahanahu wa ta’ala pada (hak) keluargaku. Aku mengingatkan kalian kepada ALlah subahanahu wa ta’ala pada (hak) keluargaku. Aku mengingatkan kalian kepada ALlah subahanahu wa ta’ala pada (hak) keluargaku.” Lalu Saidina Husain radiyaLlahu ‘anhu bertanya, “Siapakah keluarga Baginda sallaLLahu ‘alaihi wasallam wahai Zaid? Bukankah isteri-isteri Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam termasuk keluarga?” Dia (Zaid radiyaLLahu ‘anhu) menjawab, “Isteri-isteri Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam termasuk keluarga Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, keluarga Baginda sallaLLahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang haram menerima sedekah.” Saidina Husain radiyaLlahu ‘anhu bertanya kembali, “Siapa mereka?” Dia menjawab, “Keluarga Saidina Ali radiyaLlahu ‘anhu, keluarga Saidina ‘Uqail radiyaLLahu ‘anhu, keluarga Saidina Ja’far radiyaLLahu ‘anhu, dan keluarga Saidina Abbas radiyaLlahu ‘anhu” . Saidina Husain radiyaLLahu ‘anhu bertanya, “Semua mereka ini haram menerima sedekah?” Dia (Zaid radiyaLLahu ‘anhu) pun menjawab, “Benar.”
(Hadith riwayat Ahmad, Musnad Ahmad, vol 4 hlmn 366; dan Muslim, Sohih Muslim, vol 4, hlmn 1873).

Demikian pula sabda Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam :

“Wahai manusia, aku tinggalkan pada kalian perkara yang apabila kalian berpegang dengannya, pasti kalian tidak akan tersesat : Kitab ALlah subahanahu wa ta’ala dan keturunanku (ahlulbait) ” (Hadith riwayat Ahmad, Musnad Ahmad vol 3, hlm 26 dan Tirmidzi, Sunan Tirmidzi vol 5, hlm 662)

Jadi, kita hendaklah mencintai ALLah subahanahu wa ta’ala dengan sebanyak-banyak dan sedalam-dalamnya. Untuk mendapatkan cinta yang mendalam terhadap ALLah subahanahu wa ta’ala kita haruslah mencintai RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam yang merupakan jendela kebaikan sebagai rahmat ALlah subahanahu wa ta’ala bagi seluruh semesta. Dengan cinta kepada RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam, kita mencintai keluarganya yang mulia yang telah Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam wasiatkan kepada kita. Sangat besar keutamaan dan banyaknya kebaikan mereka (keturunan Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam).

Oleh itu, kedudukan cinta terhadap keluarga RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam adalah di hati yang paling dalam bagi setiap Muslim. Itu merupakan tanda cinta kepada RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam.

Maka dengan cinta kepada Baginda sallaLLahu ‘alaihi wasallam, saya mencintai mereka. Sebagaimana cinta kepada Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam adalah tanda cinta kepada ALlah subahanahu wa ta’ala. Maka dengan cinta kepada ALLah subahanahu wa ta’ala, saya mencintai kebaikan. Seluruhnya berada dalam satu arah; sebagai media-media yang membawa kita sampai kepada tujuan. Kemudian ALlah subahanahu wa ta’ala memberikan kefahaman kepada kita akan maksud-Nya.

Sedangkan sikap ekstrim (rasa cinta berlebihan atau yang keterlampauan) itu tidak terdapat dalam cinta, tetapi itu ada di dalam keyakinan. Oleh itu, selama seorang Muslim bersih aqidahnya, maka tidak ada kekeliruan baginya di dalam cinta kepada RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya.

Kita wajib meyakini tidak ada Tuhan selain ALLah subahanahu wa ta’ala, junjungan besar kita Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam adalah pesuruh ALlah subahanahu wa ta’ala, dan para Nabi itu ma’sum (terpelihara). Sedangkan manusia selain Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam seperti para ahlulbait keturunan yang suci dan Sahabat radiyaLlahu ‘anhu yang mulia tidak ma’sum. Mereka itu mahfuz (dipelihara) dengan pemeliharaan ALlah subahanahu wa ta’ala terhadap orang-orang yang soleh.

Sumber : Prof Dr Ali Jum’ah, Penjelasan Terhadap Masalah-masalah KhilafiahAl Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, .2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor

13 April 2016 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

BENARKAH PARA SALAFUS-SOLEH TIDAK PERNAH MENGGUBAH SELAWAT KE ATAS RASULULLAH SAW?

BENARKAH PARA SALAFUS-SOLEH TIDAK PERNAH MENGGUBAH SELAWAT KE ATAS RASULULLAH SAW? BENARKAH MENGAMALKAN SELAWAT-SELAWAT YANG BUKAN DARIPADA RASULULLAH SAW TERMASUK DALAM BID’AH YANG SESAT? MARI IKUTI KUPASAN YANG MENARIK DARI TULISAN INI

Ilham Rabbani Di kalangan Para Sahabat (Selawat Atas Nabi SAW)

Telah disentuh sebelum ini sedikit tentang keharusan berdoa dengan apa yang diilhamkan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Terdapat banyak dalil bahawa ianya diharuskan oleh syariat. Hal ini telah dikupas oleh al-’Allamah al-Muhaddith Syeikh Muhammad al-Hafiz al-Tijani dalam kitabnya (أهل الحق العارفون بالله) (hal. 242). Di dalam kitab (السنة والبدعة) oleh al-Habib ‘Abdullah bin Mahfuz al-Haddad juga menyebutkan banyak hujah-hujah yang berhubung dengan perkara ini. Apa yang menjadi batasan ialah ianya tidak mengandungi sesuatu yang terkeluar daripada syarak. Lihatlah bagaimana Nabi SAW menegur seorang Arab badwi yang berdoa dari ilhamnya secara salah, namun baginda SAW hanya menunjukkannya cara yang betul dan tidak melarangnya berdoa dari ilhamnya. Dari Abu Hurayrah RA katanya: Pernah Rasulullah SAW berdiri dalam satu solat dan kami juga berdiri bersamanya. Lalu seorang Arab badwi berdoa dalam solatnya: (اللَّهُمَّ ارْحَمْنِى وَمُحَمَّدًا ، وَلاَ تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا) “Ya Allah, rahmatilah aku dan juga Muhammad, dan jangan Engkau rahmati bersama kami seorang pun”. Maka di kala Nabi SAW memberi salam baginda pun berkata kepada Arab badwi berkenaan: “Sesungguhnya kamu telah menyempitkan yang luas”, maksud baginda rahmat Allah. [HR al-Bukhari (6010), Abu Dawud, al-Nasa’i dan al-Tirmizi]

Ilham Rabbani Dalam Berselawat

Keharusan tersebut juga termasuk dalam berselawat ke atas Nabi SAW. Hujahnya, ada diriwayatkan daripada Sayidina ‘Ali RA, ‘Abdullah bin ‘Umar RA, ‘Abdullah bin ‘Abbas RA dan ‘Abdullah bin Mas’ud RA selawat-selawat yang diilhamkan oleh Allah SWT kepada mereka. Maka jelas bahawa ianya bukan suatu perkara bidaah.

Berikut adalah keterangannya:

1. Selawat Sayidina ‘Ali RA Ibn Kathir dalam Tafsirnya meriwayatkan satu athar dari Salamah al-Kindi katanya; bahawa ‘Ali RA pernah mengajarkan orang ramai doa (selawat) berikut, dengan diselitkan oleh penulis lafaz Ibn Jarir al-Tabari dan lafaz al-Tabarani bagi menunjukkan perbezaan riwayat atau manuskrip:

اللهم داحي المدْحُوَّات، وبارئ المسموكات، وَجَبَّار القلوب على فطْرَتها شقيها وسعيدها. اجعلْ شرائف صلواتك، ونوامي بركاتك، ورأفة تحننك، (الطبراني: ورافع تحيتك) على محمَّد عبدك ورسولك، الخاتم لما سبق، والفاتح لما أغلق، والمُعلن (الطبراني: والمعلوم) الحق بالحق، والدامغ جيشات الأباطيل، كما حُمِّل (الطبراني: كمل) فاضطلع بأمرك لطاعتك مستوفزاً (الطبراني: مستوفرا) في مرضاتك، غير نَكل (ابن جرير: لغير نَكل، الطبراني: بغير ملك) في قَدَم، ولا وهن في عزم، واعياً (الطبراني: داعيا) لوحيك، حافظاً لعهدك، ماضيا على نفاذ أمرك حتى أورى قبساً (الطبراني: تبسما) لقابس، آلاء الله تصل بأهله أسبابه، به هديت القلوب بعد خوضات (الطبراني: خرصات) الفتن والإثم، وأقام مُوضحات (ابن جرير: موضحات، الطبراني: بموضحات) الأعلام، ومُنِيرات (الطبراني: ومسرات) الإسلام، ونائرات (ابن جرير: وثائرات، الطبراني: وماثرات) الأحكام، فهو أمينك المأمون، وخازن علمك المخزون، وشهيدك يوم الدين، وبَعيثُك (الطبراني: ومبعوثك) نعمة، ورسولك بالحقّ رحمة، اللهمّ أفسح له مُفسحَات (ابن جرير: مفتسحا) في عدلك، واجزه مضاعفات الخير من فضلك، مهنَّآت له (ابن جرير: له مهنيات) غير مكدرات، من فوز ثوابك المعلول (الطبراني: المعلوم)، وجزل عطائك المحلول (ابن جرير: وجزيل عطائك المجمول، الطبراني: وجزيل عطائك المجلول)، اللهم أعل على بناء البانين بنيانه (ابن جرير: عل على بناء البنائين بناءه، الطبراني: أعل على بناء الباقين بناءه)، وأكرم مثواه لديك ونزله، وأتمم له نوره، واجزه من ابتعاثك له مقبول الشهادة، مرضي المقالة، ذا منطق عدل، وخُطَّة فصل (ابن جرير: وخطة فضل، الطبراني: وكلام فصل)، وحجة وبرهان عظيم.

Kata Ibn Kathir dalam Tafsirnya: Ia masyhur dari kata-kata ‘Ali RA.. tetapi pada sanadnya ada masalah. Kata syeikh kami, al-Hafiz Abu al-Hajjaj al-Mizzi: Salamah al-Kindi ini tidak dikenali, dan tidak pernah bertemu ‘Ali. Athar ini telah diriwayatkan oleh Ibn Jarir al-Tabari dalam Tahzib al-Athar (352 – juz’ mafqud), Abu Nu’aym dalam ‘Awali Sa’id bin Mansur (18), dan al-Tabarani dalam al-Awsat (9089). Kata al-Haythami dalam Majma’ al-Zawa’id (10/164): Salamah al-Kindi riwayatnya dari ‘Ali adalah mursal dan baki para perawinya adalah para perawi al-Sahih. Juga diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Musannafnya (28940), namun disebut dari seorang lelaki – tanpa disebutkan nama – dari ‘Ali RA, dan tidak disebut Salamah al-Kindi. Zahirnya, athar ‘Ali RA ini adalah daif. Namun, boleh diamalkan dalam bab fada’il amal. Malah ianya sudah pun masyhur sepertimana kata Ibn Kathir pada zaman beliau.

Berikut adalah riwayat Ibn Abi Syaibah, juga terdapat perbezaan lafaz serta sedikit tambahan di akhirnya:

اللَّهُمَّ يَا دَاحِيَ الْمَدْحُوَّاتِ، وَيَا بَانِيَ الْمَبْنِيَّاتِ، وَيَا مُرْسِيَ الْمُرَسِّيَاتِ، وَيَا جَبَّارَ الْقُلُوبِ عَلَى فِطْرَتِهَا، شَقِيِّهَا وَسَعِيدِهَا، وَيَا بَاسِطَ الرَّحْمَةِ لِلْمُتَّقِينَ، اجْعَلْ شَرَائِفَ صَلَوَاتِكَ، وَنَوَامِي بَرَكَاتِكَ، وَرَأْفَاتِ تَحِيَّتِكَ، وَعَوَاطِفَ زَوَاكِي رَحْمَتِكَ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، وَالْخَاتَمِ لِمَا سَبَقَ، وَفَاتِحِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَدَامِغِ جِيشَاتِ الْأَبَاطِيلِ كَمَا حَمَّلْتَهُ، فَاضْطَلَعَ بِأَمْرِكَ مُسْتَنْصِرًا فِي رِضْوَانِكَ، غَيْرَ نَاكِلٍ عَنْ قَدَمٍ، وَلَا مُئِنٍّ عَنْ عَزْمٍ، حَافِظٍ لِعَهْدِكَ، مَاضٍ لِنَفَاذِ أَمْرِكَ، حَتَّى أَرَى أَنْ أَرَى فِيمَنْ أُفْضِي إِلَيْكَ تَنْصُرُ بِأَمْرِكَ، وَأَسْبَابِ هُدَاةِ الْقُلُوبِ، بَعْدَ وَاضِحَاتِ الْأَعْلَامِ إِلَى خَوْضَاتِ الْفِتَنِ، إِلَى نَائِرَاتِ الْأَحْكَامِ، فَهُوَ أَمِينُكَ الْمَأْمُونُ، وَشَاهِدُكَ يَوْمَ الدِّينِ، وَبَعِيثُكَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ فَسِّحْ لَهُ مُفْسَحًا عِنْدَكَ، وَأَعْطِهِ بَعْدَ رِضَاهُ الرِّضَى مِنْ فَوْزِ ثَوَابِكَ الْمَحْلُولِ، وَعَظِيمِ جَزَائِكَ الْمَعْلُولِ، اللَّهُمَّ أَتْمِمْ لَهُ مَوْعِدَكَ بِابْتِعَاثِكَ إِيَّاهُ مَقْبُولَ الشَّفَاعَةِ، عَدْلَ الشَّهَادَةِ، مَرَضِيَّ الْمَقَالَةِ، ذَا مَنْطِقٍ عَدْلٍ، وَخَطِيبٍ فَصْلٍ، وَحُجَّةٍ وَبُرْهَانٍ عَظِيمٍ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا سَامِعِينَ مُطِيعِينَ، وَأَوْلِيَاءَ مُخْلِصِينَ، وَرُفَقَاءَ مُصَاحِبِينَ، اللَّهُمَّ بَلِّغْهُ مِنَّا السَّلَامَ، وَارْدُدْ عَلَيْنَا مِنْهُ السَّلَامَ. .

2. Selawat ‘Abdullah bin ‘Umar RA Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’ sebagaimana dalam al-Matalib al-‘Aliyah oleh al-Hafiz Ibn Hajar (3332) dan mengisyaratkannya sebagai sahih, dari Thawbah/Thuwayr mawla Bani Hasyim katanya: Aku bertanya Ibn ‘Umar RA: Bagaimana berselawat ke atas Nabi SAW? Maka jawab Ibn ‘Umar RA:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَبَرَكَاتِكَ وَرَحْمَتَكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينِ، وَإِمَامِ الْمُتَّقِينِ، وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ، مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، إِمَامِ الْخَيْرِ، وَقَائِدِ الْخَيْرِ، اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَقَامًا مَحْمُودًا يَغْبِطُهُ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ، وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Kata al-Busiri: Ia mempunyai sokongan dari hadis Ibn Mas’ud RA (lihat no. 4) yang diriwayatkan oleh Ibn Abi ‘Umar, Abu Ya’la dan Ibn Majah dengan isnad yang hasan.

3. Selawat ‘Abdullah bin ‘Abbas RA Diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq, ‘Abd bin Humayd dan Isma’il al-Qadi dalam Fadl al-Solat ‘ala al-Nabi SAW (52) dari Ibn ‘Abbas RA beliau mengucapkan:

اللهم تقبل شفاعة محمد الكبرى، وارفع درجته العليا، وأعطه سُؤْلَه في الآخرة والأولى، كما آتيت إبراهيم وموسى، عليهما السلام.

Kata Ibn Kathir dalam Tafsirnya: Suatu isnad yang baik, kuat lagi sahih.

4. Selawat ‘Abdullah bin Mas‘ud RA Diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq, ‘Abd bin Humayd, Ibn Marduyah, Ibn Majah (906) dan al-Tabarani (8594) dari Ibn Mas’ud RA katanya: “Jika kamu berselawat ke atas Nabi SAW maka perelokkanlah berselawat ke atasnya. Sesungguhnya kamu tidak tahu kemungkinan ianya dipersembahkan kepadanya”. Jawab para pendengar: Maka ajarkanlah kami. Kata beliau: Ucapkanlah

اللهم اجعل صلواتك ورحمتك وبركاتك على سيد المرسلين، وإمام المتقين، وخاتم النبيين، محمد عبدك ورسولك، إمام الخير وقائد الخير، ورسول الرحمة. اللهم ابعثه مقاماً محموداً يَغْبِطُه به الأولون والآخرون، اللهم صل على محمد وعلى آل محمد، كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

Kata al-Busiri dalam Zawa’id Ibn Majah (1/311): Isnad ini para perawinya thiqah kecuali al-Mas’udi dan namanya ‘Abd al-Rahman bin ‘Utbah bin Mas’ud, telah bercampur ingatan beliau di akhir hayatnya dan tidak dapat dibezakan hadisnya yang awal dengan yang akhir, maka beliau layak ditinggalkan menurut kata Ibn Hibban. Tetapi al-Mas’udi tidak berseorangan dalam meriwayatkannya dari ‘Awn bin ‘Abdullah kerana beliau diikuti (mutaba’ah) oleh Abu Salamah sebagaimana dalam riwayat ‘Abd al-Razzaq. Kata al-Hafiz al-Munziri: Diriwayatkan oleh Ibn Majah secara mawquf dengan isnad yang hasan. Selawat yang hampir serupa juga diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru atau ‘Abdullah bin ‘Umar menurut syak si-perawi, sebagaimana dalam riwayat Isma’il al-Qadi dalam Fadl al-Solat ‘ala al-Nabi SAW (62). Jika ianya dari ‘Abdullah bin ‘Amru, maka itu adalah sahabat yang ke-5 dalam penjelasan ini. Juga ada diriwayatkan oleh al-Syirazi dalam al-Alqab dari Ibn Mas’ud RA katanya: Wahai Zayd bin Wahb, jangan kamu tinggalkan pada hari Jumaat berselawat ke atas Nabi SAW sebanyak seribu kali, kamu ucapkan: (اللهم صل على النبي الأمي).

Penutup

Berdasarkan dalil-dalil ini dan lainnya, ulama berpendapat harus menggubah selawat ke atas Nabi SAW, meskipun secara sepakatnya mereka menyatakan bahawa Selawat Ibrahimiyyah adalah selawat yang paling afdal. Perintah ayat al-Quran dan juga hadis-hadis yang memerintahkan berselawat secara umum turut menguatkan keharusan hukumnya. Ini kerana Selawat Ibrahimiyyah itu diajarkan oleh Nabi SAW di atas pertanyaan sahabat-sahabatnya dan tidak pula dinyatakan oleh baginda SAW supaya jangan berselawat dengan lafaz-lafaz yang lain. Dengan syarat ianya tidak terkeluar dari batasan syarak. Namun, para ahli tasawuf lebih cenderung mengamalkan selawat-selawat yang sudah pun masyhur dan mujarab. Inilah pegangan ahli tasawuf mengenai keharusan mengamalkan doa-doa dan selawat-selawat yang diilhamkan oleh Allah SWT kepada imam-imam mereka yang telah dihimpunkan dalam banyak karangan. Antara istilah-istilah yang digunakan dalam disiplin kesufian ialah wirid seperti al-Wird al-Latif oleh Imam al-Haddad, awrad seperti Awrad Sayyidi Ahmad bin Idris, hizib seperti Hizb al-Bahr oleh Imam al-Syazili, wazifah seperti al-Wazifah al-Zarruqiyyah dan ratib seperti Ratib al-’Attas.

رحمهم الله ورضي عنهم

Wallahu a’lam.

MOHD. KHAFIDZ BIN SORONI
مدونة العبد الضعيف محمد حافظ بن سوروني
– خويدم العلم الشريف
Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor

11 April 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Manhaj Wahhabi yg menyalalahi perjalanan ASWJ

‪#‎Wahhabi‬ selalu menuduh umat Islam yang mengadakan tahlil, baca yasin malam jumaat, talqin, qunut subuh, sapu muka lepas salam, sambut maulid Nabi dan lain-lain sebagai Ahl al-Bid’ah. Sedangkan semua amalan yang mereka bid’ahsesatkan mempunyai sandaran di dalam agama bahkan tidak menyalahi prinsip-prinsip agama yang disepakati.

‪#‎Hakikatnya‬, para ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah menyatakan Wahhabi sebagai Ahl al-Bid’ah (أهل البدعة) atau al-Mubtadi’ (المبتدع) di dalam Islam di mana Wahhabi menyalahi prinsip-prinsip Islam di dalam banyak perkara. Mereka membawa kefahaman yang baru yang menyalahi ulama salaf dan khalaf Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah.

Kenapa Wahhabi dikira sebagai golongan al-Mubtadi’ di dalam agama?

1. Kerana mereka membawa akidah mujassimah atau tajsim di mana mereka berkeyakinan Allah mempunyai tangan, jari-jemari, kaki, mata, muka, betis, bertempat di langit, duduk di arash. Mereka mengikuti ayat-ayat dah hadith-hadith mutasyabihah. Ini menyalahi perjalanan akidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah.

2. Menolak madrasah akidah ‘Asya’irah yang menjadi pegangan majoriti ulama Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah yang bersambung daripada satu generasi kepada satu generasi sampai kepada kita pada hari ini melalui tokoh-tokoh ulama’ ‘Asya’irah yang diakui.

3. Membahagikan tauhid kepada tiga iaitu tauhid uluhiyyah, rububiyyah, asma wa sifat yang tidak dikenal di zaman salaf.

4. Mengharamkan orang awam bertaqlid kepada mazhab fiqh sedangkan para ulama’ besar-besar termasuk ulama hadith tidak sunyi daripada bermazhab dengan mazhab fiqh yang empat.

5. Membid’ahkan perkara-perkara yang sunnah di dalam agama seperti zikir, baca Al-Quran dan lain-lain.

6. Membahagikan bid’ah kepada ibadah dan dunia yang tidak dikenal pada zaman sahabat mahupun ulama salaf.

7. Meninggalkan berhukum dengan hukum agama yang lima iaitu wajib, haram, sunat, makruh dan harus.

8. Menolak ijmak dan qias sebagai sumber hukum di dalam agama. Bahkan mereka menyalahi ijmak di dalam banyak perkara sepertimana al-‘Iraqi menyatakan Imam Ibn Taimiyyah menyalahi ijmak di dalam perkara pokok dan furuk sehingga 60 perkara. (al-Ajwiyyah al-Mardiyyah)

9. Menolak ilmu fiqh dan kaedah-kaedah fiqh dan mazhab-mazhab muktabarah.

10. Menafikan pengajian ilmu turath bersanad daripada para guru yang muhaqqiqin pada ilmu.

11. Menolak pengajian tasawwuf terbukti sudah wujud pada zaman salaf lagi bahkan para ulama’ besar-besar tidak sunyi daripada pengajian tasawwuf dan tarekat muktabarah.

12. Menolak pandangan para ulama mujtahid salaf dan khalaf yang tidak bertepatan dengan ideologi mereka.

13. Bermudah-mudah memalsukan hadith yang masih ada sandaran di dalam agama dan riwayat riwayat Imam-Imam hadith di dalam kitab-kitab mereka.

14. Menolak konsep tawassul dan tabarruk dengan para Ulama’ Solihin yang hidup mahupun yang telah meninggal.

15. Menolak konsep tawassul dengan Nabi selepas wafat tetapi membenarkan semasa hidup Baginda sedangkan hidup dan wafat Nabi tidak membezakan apa-apa kerana hakikatnya Allah yang memberi manfaat dan mudharat.

16. Membataskan ziarah kubur hanya kepada mengingati mati. Tiada konsep hadiah pahala kepada si mati sedangkan pandangan jumhur ulama menyatakan ia sampai kepada si mati.

‪#‎Ini‬ sebahagian daripada manhaj mereka yang menyalahi perjalanan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah yang saya kutip melalui kitab-kitab mereka, syarahan guru-guru kami dan kitab-kitab para ulama Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah.

‪#‎Menyalahi‬ Ijma’ pintu kepada kesesatan,

Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari
Universiti Al-Azhar Mesir

30 March 2016 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | 2 Comments

BELAJAR HADIS DENGAN CARA YANG BETUL

Saya muatkan di sini beberapa catatan saya sepanjang berkuliah dengan Maulana Husain Abd Kadir di Masjid UKM tadi mengenai ‘Hadis Mauduk’

1. Ulama berbeza pendapat mengenai kesahihah sesuatu hadis berdasarkan kaedah dan syarat yang mereka letakkan dalam menilai hadis. Ada muhadisin yang meletakkan syarat yang ketat seperti Imam Bukhari. Namun, tidak semua hadis sahih dimuatkan dalam Sahih Bukhari. Bahkan, Imam Bukhari memuatkan hadis dhaif dalam kitab lain seperti Adabul Mufrad.

2. Untuk memahami mengapa Imam Bukhari berbuat demikian, atau mengapa Imam Bukhari menyusun bab dalam Sahih-nya sedemikian, atau bagaimana Imam Bukhari mengeluarkan hukum daripada hadis, maka ia perlu kepada pemahaman yang sangat tajam.

Untuk memahami tarjamatul bab Imam Bukhari dalam menyusun Sahih-nya, Maulana Zakariya telah menggariskan 70 kaedah dalam kitab Kanzul Mutawari yang merupakan syarah kepada Sahih Bukhari.

3. Selagi mana sesuatu hadis itu tidak disepakati oleh ulama hadis sebagai mauduk, maka kita tidak boleh meletakkan hadis itu sebagai mauduk. Ini kerana, ada pentahqiq yang syadid seperti Ibnu al Jauzi, Ibnu Taimiah dan al-Albani. Sedangkan, ada muhadisin yang lebih muktabar dan muktadil seperti Ibnu Hajar al Asqalani yang lebih sederhana dalam menghukum hadis. Justeru, apabila berlaku perselisihan antara muhadisin, kita perlu tinggalkan pendapat yang syadid (keras) dan mengambil pendapat yang muktadil (sederhana).

4. Belajar ilmu hadis tidak terbatas setakat mengetahui sahih, dhaif atau mauduknya sesebuah hadis. Ia juga perlu kepada ilmu dirayah (pemahaman hadis) dan asrarul hadis (rahsia hadis). Setakat belajar status hadis, itu masih di peringkat kulit.

5. Ada sesetengah orang mengatakan bahawa haram bertaklid pada mazhab. Namun, dalam bab penilaian hadis, mereka sangat bertaklid pada sesetengah ulama yang syadid.

Jika dalam bab ijtihad mereka kata tidak perlu ikut imam mazhab, kenapa dalam bab penilaian hadis yang lebih mudah berbanding berijtihad, mereka bertaklid?

[Ini cuma soalan untuk mereka yang melarang taklid pada mazhab. Sedangkan di sisi ulama ASWJ, kita perlu betaklid pada mazhab dalam bab ijtihad dan mengikut pendapat ulama yang muktadil dalam penilaian hadis]

Sebagai orang biasa, tidak perlu susah-susah nak tahqiq atau ijtihad sendiri sedangkan sunan sittah pun kita tidak khatam secara musyafahah bersama guru hadis. Jika diberi kitab Bukhari tanpa baris dan tanpa terjemahan, boleh kita baca?

6. Mengapa berlaku perbalahan tentang status hadis? Ia berlaku apabila kita hanya mengambil penilaian hadis daripada muhadisin yang syadid tanpa mengambil kira pendapat muhadisin yang muktadil. Apa yang sepatutnya dilakukan ialah menyemak semua pendapat ulama hadis berkaitan hadis itu dan ambil pendapat yang sederhana, bukannya yang keras.

7. Mungkin kebanyakan hadis dhaif sebenarnya sahih. Mungkin juga kebanyakan hadis sahih sebenarnya dhaif. Ini kerana, ulama hadis berbeza-beza manhaj dalam menilai hadis, sanad dan perawi. Maka, amat perlu memahami manhaj imam hadis sebelum mengkritik kitabnya.

[Teringat pesanan Dr. Asmadi, orang yang tidak memahami manhaj atau method Maulana Zakariya dalam menyusun kitab Fadhail Amal akan mudah menuduh beliau meriwayatkan hadis palsu, padahal bukan hadis palsu sebaliknnya dhaif. Hakikatnya, Maulana Zakariyya menggunakan method Imam Tirmizi dalam menyusun kitabnya. Maka, orang yang mahu mengkritik kitab Fadhail Amal terlebih dahulu perlu memahami manhaj Imam Tirmizi]

8. Jika anda sudah selesa merujuk kitab Al Mauduk al Kubro Ibnu Jauzi atau kitab-kitab Syaikh al-Albani, maka anda juga dijemput mentelaah kitab Hadis Mauduk karya Allamah Ibnu Iraq. Ini kerana, kitab Ibnu Iraq itu telah diiktiraf oleh ulama sebagai kitab rujukan terbaik berkaitan hadis mauduk.

Wallahu’alam.

Sumber: Khairat Tajikistan Novelis

27 March 2016 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Harus Sedekah Pahala Kepada Si Mati

image

(Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan)

Tentu ada yang tertanya, persoalan ini sudah lama dibahas dan dibincangkan oleh para ulama. Justeru, kenapa perlu diungkit semula? Bukankah mereka yang berpuashati dengan dalil bolehnya tetap mengatakan harus, dan mereka yang berpuashati dengan dalil tidak bolehnya tetap mengatakan tidak harus?Memang benar, namun kita masih kekurangan dalam soal berlapang dada dan soal adab ikhtilaf.

Tulisan ini sebenarnya hanya bertujuan untuk menjawab persoalan sesetengah orang yang masih mempertikaikan dan tidak mahu menerima ikhtilaf ulama dalam masalah ini. Di samping untuk memberi pencerahan kepada sesetengah orang yang berasa samar dan keliru disebabkan momokan orang yang mempertikaikan itu.Apakah para ulama dan para ustaz yang mengamalkannya selama ini sebenarnya salah dan sesat?

Isu ini adalah salah satu isu paling utama dalam senarai sebuah fahaman kontemporari, selain soal ziarah, tawassul, tabarruk dan lain-lain yang berkaitan dengan alam barzakh. Ia merupakansalah satu masalah yang selalu ditimbulkan dan dibahaskan, sedangkan para ulama dahulu telah selesai lama membahaskannya.

Keputusannya, mereka yang tidak bersetuju dengan memberi sedekah pahala kepada si-mati tetap mengatakan tidak bersetuju dan mendakwa ia tidak dilakukan oleh Nabi SAW dan para salaf.

Sebaliknya, mereka yang berpendapat boleh memberi sedekah pahala kepada si-mati tetap mengatakannya boleh kerana ia masih di dalam ruang lingkup nas-nas dan dalil-dalil hukum syarak.

Khilaf Ulama Yang Muktabar Perlu diketahui, bahawa para ulama bersepakat yang pahala haji, sedekah, permohonan doa dan istighfar boleh sampai kepada si mati.Namun, mereka berselisih tentang pahala solat, puasa, bacaan al-Quran, zikir dan seumpamanya, adakah ia boleh disampaikan kepada si mati atau tidak?

– Pendapat yang mengatakan sampai pahala tersebut ialah daripada Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad (menurut satu riwayat yang masyhur daripadanya), sebahagian ashab Imam Malik dan ramai ashab Imam al-Syafi‘i.- Manakala pendapat yang mengatakan tidak sampai pahalatersebut ialah daripada Imam Malik, Imam al-Syafi‘i (menurut satu riwayat yang masyhur daripadanya) dan Imam Ahmad (menurut riwayat lain daripadanya).Sebagaimana yang jelas tertera, masalah ini termasuk dalam perkara khilaf di kalangan ulama mujtahidin. Maka, tidak sewajarnya dalam perkara khilaf sebegini kita masih melontarkan tuduhan bidaah, jahil, sesat dan sebagainya kepada pihak yang tidak sependapat. Perkara tersebut sepatutnya tidak perlu berlaku kerana perselisihan yang muktabar seperti ini tidak termasuk dalam perkara mungkar yang wajib dicegah.Antara dalil-dalil yang mengharuskan Secara ringkas, hanya dicatatkan di sini sebahagian dalil-dalil pihak yang mengatakan boleh memberi sedekah pahala kepada si mati,kerana perbincangan lanjut mengenai dalil-dalil kedua-dua belah pihak secara panjang lebar boleh dirujuk kepada kitab-kitab yang telah membahaskannya secara terperinci.

1- Hadis:عن ابن عمر قال: سمعت النبي صلى اللّه عليه وسلم يقول: إذا مات أحدكم فلا تحبسوه وأسرعوا به إلى قبره وليُقرأ عند رأسه بفاتحة الكتاب وعند رجليه بخاتمة البقرة في قبره. (رواه الطبراني في المعجم الكبير والبيهقي فى شعب الإيمان والخلال في القراءة عند القبور، ولفظه: بفاتحة البقرة، قال الهيثمي: فيه يحيى بن عبد الله البابلتي، وهو ضعيف. وقال الحافظ ابن حجر في فتح الباري: أخرجه الطبراني بإسناد حسن. وله شاهد من حديث عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه، قال الهيثمي: رجاله موثقون. فالحديث عندي حسن لغيره على الأقل)
Terjemahan: Dari Ibnu ‘Umar RA katanya: Aku dengar Nabi SAW bersabda: “Apabila mati salah seorang dari kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segeralah membawanya ke kubur dan bacakanlah di sisi kepalanya Fatihah al-Kitab (dalam lafaz lain: pembukaan al-Baqarah) dan di sisi kedua kakinya penutup al-Baqarah di kuburnya”. (Hadis riwayat al-Tabarani, al-Baihaqi dan al-Khallal dengan sanad hasan li ghairih)

2- Hadis:روي عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ:اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّوابن ماجه وأحمد والحاكم وابْنُ حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ، وأقره الحافظ ابن حجر في بلوغ المرام، وحسنه السيوطي، وضعفه آخرون لجهالة أبي عثمان وأبيه)
Terjemahan: Diriwayatkan dari Ma‘qil bin Yasar RA dari Nabi SAW bersabda: “Bacakanlah ke atas orang yang telah mati di kalangan kamu surah Yasin”. (Hadis riwayat Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad, al-Hakim dan Ibnu Hibban dalam Sahihnya)

Terjemahan ini berdasarkan kepada zahir lafaz hadis bagi yang berpendapat boleh sedekah pahala kepada si-mati dan menghukumkan darjatnya hasan berdasarkan penilaian AbuDawud, al-Hakim, Ibn Hibban, Ibn Hajar dan al-Suyuti.

Manakala, sebahagian ulama lain mentafsirkannya, “…orang yang hendak mati di kalangan kamu” dan menghukumkan tarafnya daif.

3- Hadis:عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: « مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ ». (رواه مسلم وابن ماجه وأحمد)
Terjemahan: Dari Jabir RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesiapa yang mampu dari kalangan kamu untuk memberi manfaat kepada saudaranya, maka berilah manfaat kepadanya”. (Hadis riwayat Muslim, Ibn Majah dan Ahmad)

Jika dalam hal urusan dunia kita digalakkan oleh syarak supaya saling bantu membantu antara satu sama lain, apatah lagi dalam hal urusan akhirat yang merupakan suatu kehidupan yang kekal abadi.

4. Hadis Nabi SAW meletakkan pelepah kurma di atas kubur. Dari Ibnu ‘Abbas, katanya: “Bahawa Nabi SAW pernahmelewati dua buah kubur, lalu baginda bersabda: “Kedua-dua mereka sedang diseksa, padahal mereka diseksa bukanlah kerana melakukan perkara besar. Adapun salah seorang daripada mereka, ia selalu tidak betul-betul bersuci (istibra’) dari kencingnya. Manakala yang seorang lagi pula suka mengadu domba.” Kemudian Nabi mengambil satu pelepah kurma hijau, lalu dibelahnya menjadi dua. Lantas, baginda menanamkan setiap satunya pada kedua-dua kubur tersebut. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, mengapa tuan berbuat demikian?” Jawab baginda: “Moga-moga kedua-dua mereka diberi keringanan selama pelepah ini belum kering” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Dalam kisah yang lain, menurut riwayat Muslim, Nabi SAW menyuruh Jabir RA mengambil dua pelepah kurma, lalu baginda meletakkan setiap satunya di atas dua buah kubur dan bersabda: “Aku telah melewati dua buah kubur yang kedua-dua penghuninya diazab, maka aku ingin supaya dengan syafaatku ia diangkat daripada mereka berdua selamamana kedua-dua pelepah ini masih basah”.

Dalam kisah yang lain lagi, menurut riwayat Ibn Hibban dalam Sahihnya, Nabi SAW melewati sebuah kubur, lalu baginda meminta dua pelepah kurma, maka salah satunya diletakkan di sebelah kepala mayat dan satu lagi diletakkan di sebelah kakinya.

Kata Imam al-Khattabi: “Padanya terdapat dalil istihbab (disukai) membaca al-Quran di atas kubur kerana jika dapat diharapkan terhadap si mati agar diringankan azab dengan sebab tasbih tumbuh-tumbuhan, maka bacaan al-Quran itu tentu lebih besar lagi harapan dan barakahnya”. (‘Umdah al-Qari)

5- Dalil kias dengan amalan haji, puasa, sedekah, doa dan istighfar yang jelas sahih nas-nasnya.http://sawanih.blogspot.com/2015/02/harus-sedekah-pahala-kepada-si-mati.html

Penulis Adalah Ustaz Dr. Khafidz Soroni
Pensyarah Di Akademi Islam, Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor & Co- Editor DI Institut Kajian Hadis Selangor (INHAD), KUIS

22 February 2016 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Sekilas 50 – Manhaj Wahabi Yang Di Tentang (Siri 1)

Kala ini, perbincangan mengenai Wahabi begitu hebat, bermula dengan peyenarai hitam beberapa penceramah dari memasuki negeri Johor.

Saya pernah menulis bab ini pada tahun 2009,nampaknya isu ini akan sentiasa berulang. Mungkin saya kena terus menulis untuk tahun-tahun akan datang, sehinggalah untuk puluhan tahun akan datang, mungkin juga jika generasi saya sudah tiada, akan tetap ada orang baru menyambung menulis seperti ini.

Wahabi, golongan yang lantang membidaahkan orang lain, tetapi akan begitu lembut meraih simpati, apabila mereka mula ditentang, sedangkan kerja memperlekehkan orang lain bermula dengan golongan mereka.

Saya harap, tulisan ini dibaca hingga ke akhir..
1. Manhaj Wahabi adalah satu manhaj yang menggunakan al-Quran dan Hadis semata-mata.

2. Doktrin ini nampaknya bagus tetapi ia akan mengetepikan pandangan ulama-ulama muktabar. Sebab itu akhirnya, doktrin ini akan menolak mazhab.

3. Menolak mazhab bagi orang betul-betul berilmu, yang faham ayat hukum dan hadis hukum, tahu menggunakannya akan menyebabkan seseorang itu terselamat dari tafsiran yang salah.

4. Jika seseorang itu orang awam, yang baru berjinak-jinak dengan agama, akan mendedahkannya tersalah di dalam tafsiran sesuatu hukum. Kadang-kala, baca ayat hukum pun dari buku-buku terjemahan.

5. Jika dia menolak tafsiran hukum dari Imam-Imam besar seperti Imam al-Syafie, dandia pula berminat dengan tafsiran hukum ustaz barunya ini, akhirnya, dia tidak berminat dengan pandangan ulama muktabar, dan akan menggunakan pandangan ustaz itu sendiri.

6. Ia akan mewujudkan mazhab baru apabila, ustaz baru itu sebagai pegangan mazhabnya. Doktrin ini akan menolak tafsiran dari ulama muktabar dan akan memakai tafsiran sendiri atau tafsiran ustaz itu sendiri di dalam sesuatu hukum.

7. Biasanya, ustaz baru ini akan mula memperlekehkan ulama besar, untuk menaikkan dirinya sebagai orang yang hanya benar dirujuk.

8. Biasanya ustaz baru ini akan membid’ahkan tok-tok guru dan ulama lain dan menyatakan ia sahaja yang betul.

9. Peminat ustaz baru ini akan mula kurang akhlaknya dan belajar memperlekehkan ustaz-ustaz lain terutama ulama besar, sama sepertigurunya.

10. Apa bahayanya ? Jika kebetulan ustaz yang memperlekehkan ulama besar ini bagus, ia akan dapat membawa anak muridnya terus mengenal Allah

11. Tetapi, jika ustaz ini terus menerus mentafsir agama melalui kefahaman dia sendiri, berdalillkan ayat quran dan hadith melalui tafsirannya sendiri, mengetepikan tafsiran ulama besar, ia akan menjadikan anak muridnya berpegang pada tafsirannya sahaja dengan mengetepikan tafsiran ulama besar.

12. Kalau dia mentafsir sesuatu ayat quran itudengan tafsiran bahawa kita perlu bertindak tegas dan ganas, membawa dalil-dalil yang dia tafsir sendiri, sudah tentu nanti anak muridnya akan ingat bahawa itulah agama, itulah yang Allah kehendaki, itulah yang Nabi kehendaki, maka tafsiran itu diikuti, ia akan menjadikan anak murid itu bertindak ganas seperti yang ditafsirkan oleh guru ini.

13. Sebab itulah manhaj Wahabi ini bahaya, iamenjadikan seseorang cuba mentafsir sendiri agamanya, ataumengikut  ustaz yang mentafsir sendiri ayat-ayat itu. Ia sudah tidak memakai lagi pandangan ulama-ulama yang besar dan muktabar di dalam membahaskan sesuatu itu.Artikel saya akan datang akan saya kongsikan, bahaya dari sudut akidah pula dan kenapa tuan-tuan guru terdahulu menolak pandangan Wahabi .

Ustaz Muhamad bin Abdullah
Sek 26 Shah Alam
18 Febuari 2016 jam 11.45 pagi

22 February 2016 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

KEBATILAN AJARAN WAHHABI MELALUI KITAB-KITAB PENGASAS DAN PENGIKUT AJARAN INI

1) Al-Wahhabiyyah ialah satu kumpulan yang mengikut Muhammad bin Abdul Wahhab yang terbit dari Najd, Hijaz ini telah membuktikan isyarat Nabi SAW dengan keluarnya tanduk syaithon di dalam riwayat Imam Al-Bukhari.

2) Muhammad bin Abdul Wahhab tidak mengakui seorang pun sebagai Islam di atas muka bumi selain jemaahnya dan semua yang menyalahinya dikirim orang untuk membunuh ketika tidur kerana dia mengkafirkan orang Islam dan halal darah mereka. Lihat kitab السحب الوابله ص 276 و حاشية رد المحتار ( ج4/262) dan selain keduanya.

3) Ulama’ sezamannya telah memberi peringatan untuk menjauhinya bahkan bapanya sendiri As-Syeikh Abdul Wahhab dan Abangnya As-Syeikh Sulaiman. Abangnya mengarang dua kitab untuk menolak Muhammad B Abdul Wahhab. Pertama فصل الخطاب فبي الرد على محمد بن عبد الوهاب kedua الصواعق الإلهية في الرد على الوهابية begitu juga gurunya memberi amaran seperti Muhammad b Sulaiman Al-Kurdi di dalam kitabnya Al-Fatawa.

4) Golongan wahhabi berkata sesungguhnya Allah duduk di atas ‘arash dan Allah duduk bersama Muhammad pada hari kiamat. Semoga Allah jauhkan kita daripada akidah yang kufur ini. Sila rujuk (كتاب مجموع الفتاوى (ج4/374) و بدائع الفوائد (ج4/40)

5) Golongan Wahhabi mempertahankan mereka yang mengatakan alam ini ada bersama dengan Allah Ta’ala sejak azali. Moga Allah jauhkan kita daripada akidah yang membawa kekufuran ini. Rujuk kitab-kitab berikut ;

موافقة صريح المعقول (ج1/75) و منهاج السنة (ج1/24) و نقد مراتب الإجماع 168-شرح حديث عمران بن الحصين ص 193-شرح حديث النزول 161- مجلة التمدن محرم 1381ه ص 387
6) Golongan wahhabi mengatakan Allah Ta’ala ada mulut seperti yang tertulis alam kitab mereka yang bernama As-Sunnah mukasurat 77.

7) Golongan wahhabi mengatakan : Umat Nabi Muhammad syirik dan syirik mereka lebih teruk daripada syirik menyembah berhala. Rujuk kitab مجموعة التوحيد ص 266 و 281.

8 Wahhabi mengkafirkan ahli Syam, Maghrib, Yaman, Irak dan Mesir. Rujuk kitab فتح المجيد ص 217

9) Wahhabi mempertahankan mereka yang berkata neraka itu hancur tidak kekal seorangpun dan menganggap mempertahankan akidah ini mendapat pahala. rujuk kitab mereka حادي الأرواح ص 260 و التعليق على رفع الستار ص 32

10) Wahhabi mengatakan Siti Hawa رضي الله عنها adalah seorang musyrik seperti yang tersebut di dalam kitab Ad-Din Al-Khalish Juzuk 1 mukasurat 160.

11) Wahhabi mencela Sahabat Nabi yang Mulia iaitu Bilal b Al-Haarith Al-Mazani Radhiallahu ‘Anhu dengan kufur dan melakukan syirik. Ini terdapat di dalam ta’liq mereka kepada kitab Fathul Baari cetakan Dar Ar-Rayyan lilturath juzuk 2 mukasurat 575.

12) Wahhabi mengatakan : Abu Jahal dan Abu Lahab lebih kuat tauhid dan tulus imannya daripada sekalian muslim yang menyebut kalimah لا اله إلا الله محمد رسول الله. Rujuk kitab yang bernama كيف نفهم التوحيد ص 16

13) Wahhabi mengkafirkan mereka yang berpegang dan bertaqlid kepada satu mazhab daripada mazhab yang empat seperti yang tercatit dalam kitab yang bernama هل المسلم ملزم باتباع مذهب معين من المذاهب الأربعة dan mengatakan sesungguhnya taqlid itu raja kepada syirik seperti yang terdapat di dalam kaset salah seorang ulama mereka.

14) Firman Allah Ta’ala : “Sesungguhnya Allah tidak mengampunkan sesiapa yang melakukan syirik denganNya” Wahhabi berkata “Sesungguhnya Allah mengampunkan setengah daripada syirik seperti terdapat di dalam kitab فتاوى الألباني ص 351

15) Imam Bukhari mengtakwilkan di dalam kitab sahihnya firman Allah “Setiap sesuatu akan binasa kecuali wajah Allah” (Surah Al-Qasas ayat : 88) dengan berkata kecuali kekuasaanya namun wahhabi mengatakan sesiapa yang mengtakwil dengan takwilan ini maka dia bukan muslim seperti tercatat di dalam kitab فتاوى الألباني ص 523

16) Wahhabi mengatakan sesungguhnya sesiapa yang solat dan berpuasa dan berkata dengan lidahnya “sahaja aku solat atau sahaja aku berpuasa” diazab di dalam neraka. Ini tercatat di dalam akhbar yang benama Australia Islamic review 26 march 9 April 1996 page 10.

17) Wahhabi menghalalkan darah sesiapa yang berselawat ke atas Nabi SAW secara kuat selepas azan dan menganggap ia lebih teruk daripada zina. Lihat akhir kitab Tarikh Al-Sultonah Al-Uthmaniyyah dan kitab Ad-Dalil Al-Kaafi.

18) Wahhabi mengharamkan sambutan maulidurrasul seperti yang terdapat di dalam kitab mereka فتاوى مهمة ص 45 dan hampir-hampir mengkafirkan mereka yang menyambut maulidurrasul seperti yang terdapat di dalam kitab صيانة الإنسان ص 233 tetapi mereka mengharuskan bagi mereka untuk berkumpul untuk ceramah sirah Muhammad b Abdul Wahhab sempena tahun kelahiran dan wafatnya. Lihat kitab هذا والدي ص 123

19) Wahhabi mengatakan bacaan Al-Quran kepada orang muslim yang mati termasuk di dalam kesesatan seperti di dalam kitab فتاوى مهمة ص 32

20) Wahhabi mengharamkan ziarah orang hidup kepada orang hidup pada dua hari raya. Lihat kitab فتاوى الألباني ص 63

21) Imam Ali Radhiallahu ‘Anhu mengatakan “Keluar pada dua hari raya kepada kubur termasuk daripada sunnah”. Riwayat Al-Baihaqi. Tetapi wahhabi mengatakan haram ziarah kubur pada dua hari raya seperti tercatat di dalam kitab Fatawa Al-Albani.

22) Wahhabi bercita-cita untuk menghancurkan kubah hijau Rasulullah SAW dan menggalakkan kepada yang demikian. Lihat kitab تحذير الساجد ص 68

23) Sabda Nabi SAW : من زار قبري و جبت له شفاعت “Sesiapa yang mengziarahi kubur aku dan diwajibkan baginya syafaat aku” Hadith disahihkan oleh Al-Hafiz As-Subki dan selainnya tetapi wahhabi mengharamkan ziarah kepada kubur Nabi SAW seperti di dalam kitab mereka الفتاوى الكبرى ص 142

24) Sabda Nabi SAW إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها و صوموا نهارها “Apabila malam nisfu Sya’ban maka dirikan malam dan berpuasalah pada sianghari” Riwayat Ibnu Majah tetapi wahhabi mengharamkan mendirikan malam nisfu sya’ban di dalam kitab mereka فتاوى مهمة ص 57

25) Firman Allah SWT : فالذين ءامنوا به و عزروه و نصروه و اتبعوا النور الذي انزل معه أولئك هم المفلحون “Maka orang-orang yang beriman kepadanya dan memuliakannya juga menolongnya serta mengikut cahaya yang diturunkan kepadaya (Al-Quran) mereka itulah orang-orang yang berjaya” Surah Al-‘A’raaf :157 tetapi wahhabi menghalalkan darah mereka yang membesarkan dan memuliakan Rasulullah SAW seperti tercatat di dalam kitab mereka مجموعة التوحيد ص 139

26) Nabi SAW bersabda : “Demi diri aku di dalam kekuasaanya, membunuh orang mukmin itu lebih besar di sisi Allah daripada seluruh isi dunia” Riwayat An-Nasaie tetapi wahhabi menghalalkan darah orang islam sehingga ke Timur Jordan di mana disembelih orang wanita dan kanak-kanak sehingga bilangannya mencecah 2750 lihat akhbar As-Sofa April 1924

27) Wahhabi menghalalkan darah jemaah tabligh dan mengkafirkan ketua-ketua mereka As-Sheikh Khalid An-Naqsyabandi dan As-Sheikh Muhammad Ilyas dan As-Syeikh Muhammad Zakariyya, As-Sheikh Muhammad In’aam Al-Hasan Rahimahumullahu. Lihat kitab mereka القول البليغ في التحذير من جماعة التبليغ

28) Telah ittifaq ulama’ dan orang awam daripada orang Islam bahawa ayat ليس كمثله شئ و هو السميع البصير “Adalah Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dan Dia maha mendengar lagi maha melihat” Surah As-Syura : 11 di mana ayat ini menunjukkan mahasuci Allah daripada menyerupai makhluk adapun wahhabi berkata : ayat ini tidak sunyi daripada tasybih bagi Allah dengan makhluk seperti yang tertulis dalam kitab mereka بغية المرتاد ص 178

29) Sahabat Nabi Abdullah bin ‘Amr adalah beliau menggantungkan di atas tengkuk anaknya azimat yang daripada ayat-ayat Al-Quran dan daripada zikir. Diriwayatkan oleh At-Tirmizi dan Al-Bukhari di dalam kitab mereka خلق أفعال العباد dan selain keduanya. Adapun wahhabi mengharamkan dan menjadikannya jalan-jalan kepada syirik di dalam kitab mereka iaitu فتاوى مهمة ص 111

30) Rasulullah SAW membenarkan wanita memakai emas sepertimana riwayat Ibnu Majah dan selainnya tetapi Al-Albani mengharamkan memakai gelang, rantai dan cincin dan seumpamanya daripada emas kepada wanita. Rujuk kitab آداب الزفاف ص 132

31) Wahhabi mengatakan orang yang berpuas jika bercium atau menyentuh atau bermesra-mesra atau berpelukan tanpa setubuh dan keluar mani atau mazi tidak membatalkan puasa. Ini dinaqalkan oleh penulis kitab الإنصاف عن زعيمهم ج 3 ص 301 و 315

32) Wahhabi mengatakan onani iaitu mengeluarkan mani samada sebab mencium isteri atau dengan tangan tidak membatalkan puas seperti yang tersebut di dalam kitab تمام المنه ص 418

33) Wahhabi mengharamkan ke atas umat Islam berkumpul untuk membaca Al-Quran atau mengajar agama sebelum solat Jumaat seperti yang terdapat di dalam majalah mereka ذكرى العدد السادس آب 1991 ص 25 و 26

34) Wahhabi mengharamkan menyebut “Sodaqallahul ‘Adzim” selepas membaca Al-Quran seperti yang tersebut di dalam majalah mereka البحوث العلمية

35) Wahhabi mengharamkan ke atas orang Islam kekal di Bumi Palestin dan menyuruh mereka keluar dan meninggalkan kepada Yahudi seperti terdapat di dalam kitab mereka فتاوى الألباني ص 18 و جريدة اللواء الأردنية في 7/8/1992

35) Wahhabi mengatakan As-Syeikh Hassan Al-Banna Rahimahullah sebagai musyrik kerana mengajak kepada syirik dan kesesatan seperti tertulis dalam majalah mereka المجلة العدد ى830 كانون الثاني 1996

36) Rasulullah SAW mengajar seorang lelaki buta agar berdoa 
اللهم إني أسألك و أتوجه إليك بنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي في حاجتي لتقضى لي صححه 
Hadith disahihkan oleh At-Thobrani dan selainnya tetapi wahahbi mengkafirkan mereka yang bertawassul dan beristighasas dengan Rasulullah SAW seperti yang terdapat di dalam kitab mereka مجموعة التوحيد ص 139

Semoga Allah memelihara kita dan anak cucu kita daripada fahaman takfir, tasyrik dan tabdi’ yang menghalalkan darah umat Islam. Semoga apa yang saya catitkan ini kerana Allah tidak kerana yang lain selainNya.

Ayuh kita kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadith sepertimana yang difahami oleh salafunassoleh daripada Imam-Imam mazahib dan para ulama yang tulus berantaian daripada Nabi Muhammad SAW sehingga kepada kita pada hari ini.
Allahul Musta’aan..

Sumber :

Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari
BA (Hons) Usuluddin Akidah dan Falsafah
Universiti Al-Azhar Mesir

17 February 2016 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Hukum Mengadakan Majlis Tahlil

Q & A Bersama Felo Penyelidik Fatwa

Submitted by FatwaMalaysia on 26 May 2014 – 8:26am

ISU:

Mohon penjelasan hukum mengadakan majlis tahlil untuk arwah.

PENJELASAN:

Tahlil bermaksud bersama-sama berkumpul bagi membacakan ayat-ayat al-Qur’an terpilih serta berzikir dan berdoa untuk orang yang sudah meninggal dunia. Antara kandungan ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca ketika tahlil ialah Surah al-Fatihah, Surah al-Ikhlas, Ayat Kursi dan beberapa bahagian ayat-ayat dari surah al-Baqarah. Sementara zikir-zikir yang dibaca ialah kalimah la ilaha illallah serta kalimah-kalimah tayyibah yang lain seperti tahmid, takbir, tasbih dan salawat. Hukumnya adalah harus kerana ia melibatkan perkara-perkara yang baik dan tidak di larang oleh syarak.

Kalimah serta ayat-ayat yang dibacakan dalam tahlil adalah kalimah-kalimah yang baik dan bakal diberi ganjaran kepada pembacanya. Sementara berdoa kepada mereka yang telah meninggal dunia adalah sesuatu yang disarankan Islam sepertimana yang disebut oleh al-Qur’an: (Surah Muhammad :Ayat 19): “Oleh itu tetapkanlah pengatahuanmu dan keyakinanmu (wahai Muhammad bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan mintalah ampun kepadaNya bagi salah silap yang engkau lakukan dan bagi dosa-dosa orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan dan (ingatlah), Allah mengetahui akan gerak-geri kamu (di dunia) dan keadaan penetapan kamu (di akhirat)” Dalam Surah al-Hasyr, ayat 10 “Dan orang-orang yang datang kemudian daripada mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, Ampunkanlah dosa kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan Kami sesungguhnya Engkau Amat Melimpah Belas kasihan dan RahmatMu” Dan dalam Surah Ibrahim disebut: “Wahai Tuhan kami! berilah keampunan kepadaku dan kedua-ibubapaku serta orang-orang yang beriman, pada berlakunya hitungan amal dan pembalasan.”

Sementara menjemput orang ramai dan menjamu dan memberi makan adalah sesuatu yang digalakkan sepertimana yang disebut oleh Rasulullah s.a.w: “Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, “Yang manakah pekerjaan Islam yang lebih baik? Jawab Nabi, “Memberi makan kepada manusia dan sebarkan salam kepada orang yang kamu kenali ataupun tidak” (hadis riwayat Bukhari)

Namun antara perkara-perkara yang harus diambil perhatian ketika membuat tahlil ialah:

i.Tidak mengadakan khenduri dengan perbelanjaan dari harta pusaka si mati yang warisnya masih belum baligh.

ii. Tidak menetapkan hari-hari tertentu seperti 3 hari, 7 hari, 40 hari atau 100 hari.

iii.Tujuan dan tumpuan utama tahlil adalah terhadap doa dan zikir dan bukannya terhadap jamuan yang diadakan. Sekiranya baru kematian, sebaiknya makanan disediakan oleh jiran dan rakan dan bukannya dari kalangan ahli waris.

iv.Tidak melibatkan pembaziran

v. Tidak meratapi kematian arwah

Wallahu a’lam

24 January 2016 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

SEDIKIT TENTANG SIAPAKAH ITU HABAIB DAN KENAPA MEREKA DIBERIKAN GELARAN HABIB

Para “Habaib” (seorang: Habib) atau “Sayyid” atau “Syed” merupakan gelaran yang dinisbahkan kepada keturunan Baginda SAW (Ahlul Bait). Mereka ini amat teliti dalam menjaga silsilah nasab keturunan. Ada yang menyimpan silsilah mereka masih dalam bentuk asal kulit-kulit unta dll. Guru kami YM Tan Sri Prof.Dr.Syed Muhammad Naquib al-Attas (hafizahullah) menyimpan silsilah keturunan beliau hingga ke Junjungan Mulia SAW. Begitu juga dengan Habib Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid.

Kemuliaan Ahlul Bait tidak perlu diulas panjang memadai dinyatakan bahawa mendoakan kepada mereka (aali Muhammad) dimasukkan dalam bacaan Tahiyyat Akhir solat kita. Itulah kemuliaan mereka hingga hari kiamat.

Mungkin ada segelintir di kalangan mereka yang tersasar menjadi Syiah dan sebagainya, namun itu bukanlah hujah untuk menuduh kononnya dengan memuliakan para Habaib “selangkah menjadi Syiah” kerana manhaj Ahlul Sunnah wal Jamaah turut memuliakan para Ahlul Bait, namun tidaklah sampai sepertimana kemuliaan melampau yang ditunjukkan oleh puak Syiah.

Bagi mereka yang mengkaji sejarah Nusantara Melayu ini pasti akan merasa terhutang budi kepada para Habaib kerana asbab merekalah risalah Islam tersebar hingga ke Nusantara ini.

Nama-nama seperti Sheikh Abdullah Arif, Sheikh Burhanudin, keluarga Ahmad bin Isa al-Muhajir dll dari Hadramawt merupakan nama-nama yang banyak berjasa membawa Islam ke Alam Melayu ini. Bacalah monograf “Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago” atau “Historical Fact and Fiction” oleh YM Prof. Naquib al-Attas yang telah menekuni manuskrip-manuskrip awal kedatangan Islam ke Alam Melayu untuk memahami bagaimana proses Islamisasi di Nusantara Melayu ini bermula oleh para Habaib Hadhramawt.

Pada ketika para Habaib datang ke Nusantara Melayu ini seawal kurun ke 10Hijrah/16Masehi, penduduk di nusantara ini sebahagiannya beragama Hindu, ada juga Buddha dan Animisme. Bayangkan apa agama kita hari ini tanpa kehadiran mereka? Sungguh amat kita terhutang budi kepada mereka yang merantau jauh membawa Islam. Mereka bukan pedagang biasa sepertimana yang sebahagian kita sering disogokkan, tetapi Prof. Naquib mengatakan mereka adalah “para daie yang mempunyai misi” menyebarkan dakwah Islam ke seluruh alam. Dan itulah juga peranan Habaib hingga ke hari ini — Dakwah!

Ribuan yang telah memeluk Islam di tangan Habib Umar bin Hafiz, Habib Ali al-Jifri dan para Habaib yang lain.

Habaib tidak maksum. Namun sungguh amat celupar dan biadap golongan yang mentohmah keturunan Habaib dengan pelbagai tohmahan hanya kerana ada segelintir daripada mereka yang menyeleweng atau mengikuti Syiah.

Moga-moga Allah SWT menempatkan kita bersama Baginda SAW dan para Ahlul Baitnya dalam Syurga Firdausnya.
((المرء مع من أحب))
Cc to Dr. Nik Roskiman

9 January 2016 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Mengetuk Pintu Rezeki

By: Muhammad Azhari

PENDAHULUAN

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita amat memerlukan rezeki dalam meneruskan hidup.Tanpa rezeki manusia tidak boleh hidup.

Tetapi persoalannya ialah di mana terletaknya pintu rezeki? Dan bagaimana ingin membukanya?

Sebagai umat Islam kita tahu bahawa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki. Tanpa izin Allah, kita tidak akan dapat meraih rezeki dariNya.

Tetapi dalam usaha kita untuk mendapat rezeki, apakah kriteria-kriteria yang Allah inginkan supaya rezeki itu sampai kepada kita?

Apakah perbezaan antara rezeki yang diberkati dan tidak diberkati?

ALLAH MAHA PEMBERI REZEKI

Kita mengetahui bahawa Allah itu bersifat ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Allah menjamin rezeki setiap makhluknya. Setiap rezeki ada ujiannya. Bukanlah ujian itu bersifat bala, tetapi sebagai pengajaran buat hamba-hambaNya untuk lebih berusaha dan menjadi lebih berkualiti.

Sesungguhnya Allah itu Maha Pembuka Rezeki dan Allah juga boleh menutup rezeki makhlukNya.

ISTIGHFAR PEMBUKA REZEKI

Rasulullah s.a.w bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Berdasarkan hadis di atas jelas pada kita bahawa salah satu kunci pembuka rezeki adalah istighfar, yang bermaksud memohon ampun.

Dengan melazimi istighfar, seseorang itu akan dibukakan pintu rezeki dari sumber yang tidak disangka-sangka.

DOSA PENUTUP REZEKI

Rasulullah s.a.w bersabda,”Sesungguhnya seorang hamba boleh tertahan rezekinya kerana dosa yang dilakukannya.” (HR.Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).

Hadis ini menunjukkan pada kita bahawa tertahannya rezeki itu adalah berpunca dari dosa yang kita lakukan.

Dosa itu bersifat negatif. Dan rezeki itu bersifat positif. Rezeki itu terhalang dek kerana dosa yang dilakukan.

Dosa-dosa seperti meninggalkan solat, mengumpat, memfitnah, menolak hukum Allah secara terang-terangan, dan sebagainya menjadi punca kenapa rezeki itu tersekat.

Dan penyelesaian bagi menghapus dosa yang kita lakukan ialah dengan perbanyakkan istighfar.

ISTIDRAJ

Kadang-kadang kita terfikir bagaimana masih terdapat orang yang dilimpahi rezeki yang banyak sedangkan dia banyak melakukan maksiat dan kejahatan. Rasululullah saw bersabda:

Apabila kamu melihat bahawa Allah swt memberi nikmat kepada hambaNya yang selalu membuat maksiat (durhaka), ketahuilah bahawa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah swt. “(Diriwayatkan oleh at-Tabrani).

Jelas pada hadis di atas bahawa jika seseorang itu diberi rezeki sedangkan dia berdosa itu tandanya dia sudah diistidrajkan oleh Allah swt.

Istidarj bermaksud pemberian nikmat Allah swt kepada manusia yang mana pemberian itu tidak diredhaiNya.

Maka berawasilah setiap muslim akan istidraj ini. Jangan biarkan diri kita diistidrajkan oleh Allah

SOLAT DHUHA

Solat dhuha juga merupakan kunci bagi pintu rezeki. Banyak hadis yang menerangkan tentang kelebihan solat dhuha.

“Wahai anak Adam! Bersembahyanglah untuk AKu di awal pagi, nescaya Aku akan mencukupimu di akhirnya” (Riwayat Ahmad).

Hadis Qudsi ini menganjurkan kita untuk mengerjakan solat Sunat Dhuha yang faedahnya Allah swt memberi jaminan terhadap keperluan-keperluan manusia pada setiap hari.

Rasulullah saw juga bersabda:

“Pada tiap-tiap pagi lazimkanlah ats tiap-tiap ruas anggota seseorang kamu bersedekah; tiap-tiap tahlil satu sedekah, tiap-tiap takbir satu sedekah, menyuruh buat baik satu sedekah dan cukuplah (sebagai ganti) yang demikian itu dengan mnegerjakan dua rakaat solat sunat dhuha. “ (Riwayat Bukhari dan Muslim)

TAQWA DAN PEMBUKA REZEKI

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesiapa yang bertaqwa kepada Allah(dengan mengerjakan suruhan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya), nescaya akan diberikannya kelapangan (jalan keluar dari segala perkara yang menyusahkannya). Dan diberikanya rezeki yang tidak disangka-sangka. Dan (ingatlah), sesiapa yang bertawakal (berserah diri bulat-bulat) kepada Allah, maka dicukupkan baginya (keperluan untuk menolong dan menyelamatkannya). Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala yang di kehendaki-Nya. Allah telahpun menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu. – (Ayat 2 & 3 Surah At-Talaq)
Ayat ini juga terkenal dengan nama ayat seribu dinar. Daripada ayat ini, ia menjelaskan kepada kita bahawa dengan menjadi orang yang bertaqwa,maka baginya rezeki yang tidak disangka-sangka, dikeluarkan daripada sebarang kesempitan dan dicukupkan baginya segala keperluan.

Maka marilah kita bertaqwa pada Allah swt dengan sebenar-benar taqwa.

Allah sudah memberi jaminan yang jelas buat hamba-hambaNya bahawa dengan menjadi hamba yang bertaqwa dan beramal solah, Allah akan memberikan rezeki dan mencukupkan segala keperluan hidupnya.

Dan sudah tentu kelapangan hati dan kebahagiaan dunia dan akhirat kita harapkan.

PENUTUP

Sebagai pengajaran pada topik ini:

1. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi Rezeki.

2. Untuk membuka pintu rezeki, beberapa syarat perlu dipenuhi.

3. Rezeki terhalang kerana dosa.

4. Perbanyakkan istighfar supaya Allah melapangkan hidup kita.

5. Berawasilah dengan istidraj kerana amat merugikan kita apabila kitadisesatkan Allah dengan nikmat dunia.

6. Akan tetapi orang-orang yang berusaha mencari hidayah Allah, maka Allah akan membantuNya.

7. Jadilah hamba yang bertaqwa kerana padanya juga ada kunci pintu rezeki.

“Dari Allah Kita Datang Kepada Allah Jualah Kita Dikembalikan Kelak”

Wallahualam.

5 January 2016 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Hukum Mendoakan Orang Bukan Islam

Nota Editor: Artikel ini asalnya telah dikongsikan oleh Ustaz Abu Basyer di Facebook.

Terdapat empat keadaan adakah boleh kita mendoakan kepada orang bukan Islam?

Perkara-perkara tersebut adalah seperti berikut :

PERTAMA: Mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah.

Para Ulama telah sepakat (Ijma’) akan bolehnya hal ini, diantara dalilnya adalah hadits berikut:

Abu Hurairah -radliallahu anhu- mengatakan: (Suatu hari) At-Thufail dan para sahabatnya datang, mereka mengatakan: “ya Rasulullah, Kabilah Daus benar-benar telah kufur dan menolak (dakwah Islam), maka doakanlah keburukan untuk mereka! Maka ada yg mengatakan: “Mampuslah kabilah Daus”. Lalu baginda mengatakan: “Ya Allah, berikanlah hidayah kepada Kabilah Daus, dan datangkanlah mereka (kepadaku). (HR. Bukhari 2937 dan Muslim 2524, dg redaksi dari Imam Muslim)

Hadits berikut juga menunjukkan bolehnya mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah:
Abu Musa -radliallahu anhu- mengatakan: “Dahulu Kaum Yahudi biasa berpura-pura bersin di dekat Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam-, mereka berharap baginda mahu mengucapkan doa untuk mereka “yarhamukallah (semoga Allah merahmati kalian)”, maka baginda mengatakan doa: “yahdikumullah wa yushlihabalakum (semoga Allah memberi hidayah kepada kalian, dan memperbaiki keadaan kalian)” (HR. Tirmidzi 2739 , dan yg lainnya, dishohihkan oleh Syeikh Albani)
KEDUA: Mendoakan kebaikan dalam perkara dunia.

Hal ini dibolehkan kerana adanya contoh dari Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam-… lihatlah dalam hadis di atas, baginda mendoakan kepada Kaum Yahudi:

“Semoga Allah memberi kalian hidayah, dan memperbaiki keadaan kalian”

Ada juga ikrar (persetujuan) Rasulullah –Shallallahu Alaihi Wasallam– dalam hal ini:

Abu Said al-Khudri mengatakan: (Suatu saat) Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- menugaskan kami dalam Sariyyah (pasukan kecil), lalu kami singgah di suatu kaum, dan kami meminta mereka agar menjamu kami tapi mereka menolaknya. Lalu pemimpin mereka terkena sengatan haiwan, maka mereka mendatangi kami, dan mengatakan: “Adakah diantara kalian yg boleh meruqyah sakit kerana sengatan Kalajengking?”. Maka ku jawab: “Ya, aku boleh, tapi aku tidak akan meruqyahnya kecuali kalian memberi kami kambing”. Mereka mengatakan: “Kami akan memberikan 30 kambing kepada kalian”. Maka kami menerima tawaran itu, dan aku bacakan kepada (pemimpin)nya surat Alhamdulilah sebanyak 7 kali, maka ia pun sembuh, dan kami terima imbalan (30) kambing.

Abu Sa’id mengatakan: Lalu ada sesuatu yg mengganjal di hati kami (dari langkah ini), maka kami mengatakan: “Jangan tergesa-gesa (dengan upah kambing ini), sampai kalian mendatangi Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam-.
Abu sa’id mengatakan: Maka ketika kami mendatangi baginda, aku menyebutkan apa yg telah kulakukan. Baginda mengatakan: “Dari mana kau tahu, bahawa (Alfatihah) itu Ruqyah?, ambillah kambingnya dan berilah aku bagian darinya”. (HR. Tirmidzi [2063] dengan redaksi ini, kisah ini juga diriwayatkan di dalam shahih Bukhari [2276] dan shahih Muslim [2201]).

Hadits ini menjelaskan bolehnya kita me-ruqyah orang kafir agar sakitnya sembuh, dan ini merupakan bentuk dari tindakan mendoakan kebaikan untuk mereka dalam urusan dunia. Tidak salah kita mendoakan kesembuhan mereka jika mereka sakit.

Diantara dalil dalam masalah ini adalah dibolehkannya kita menjawab salamnya orang kafir, walaupun bolehnya hanya seringkas “wa’alaikum“, sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu Alaihi Wasallam-:

“Jika seorang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah dengan ucapan: “Wa’alaikum“. (HR. Bukhari [5788], dan Muslim [4024]).

Ada juga contoh dari salah seorang Sahabat Nabi dalam masalah ini:

Uqbah bin Amir al-Juhani -radhiallahu anhu- menceritakan: bahawa dia pernah berpapasan dengan seseorang yang gayanya seperti muslim, lalu orang tersebut memberi salam kepadanya, maka ia pun menjawabnya dengan ucapan: “wa’alaika wa rahmatullah wabarakatuh”… Maka pelayannya mengatakan padanya: Dia itu seorang Nasrani!… Lalu Uqbah pun beranjak dan mengikutinya hingga ia mendapatkannya, maka ia mengatakan: “Sesungguhnya rahmat dan berkah Allah itu untuk Kaum Mukminin, akan tetapi semoga Allah memanjangkan umurmu, dan memperbanyak harta dan anakmu” (HR. Bukhori dalam kitabnya Adabul Mufrod 1/430, dan dihasankan oleh Syeikh Albani)

Banyak ulama yg memberi batasan: bahwa orang kafir yg didoakan kebaikan, harus bukan dalam kategori kafir harbi (yakni kafir yg memerangi Kaum Muslimin)… Dan ini sangatlah tepat… Syeikh Albani -rahimahullah- mengatakan:

Akan tetapi, orang yg mendoakan kebaikan harus memperhatikan, bahawa orang kafir tersebut bukanlah musuh (perang) bagi Kaum Muslimin. (Ta’liq Kitab Adab Mufrod 1/430).

KETIGA: Mendoakan agar dosa mereka diampuni, setelah mereka mati dalam keadaan kafir.

Para ulama telah sepakat (Ijma’) bahawa hal ini diharamkan:

Imam Nawawi -rahimahullah- mengatakan: “Adapun menyolati orang kafir, dan mendoakan agar diampuni dosanya, maka ini merupakan perbuatan haram, berdasarkan nas al-Quran dan Ijma’. (al-Majmu’ 5/120).

Ibnu Taimiyah -rahimahullah- juga mengatakan: Sesungguhnya memintakan maghfiroh untuk orang-orang kafir tidak dibolehkan, berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’. (Majmu’ul Fatawa 12/489)

Dan dalil paling tegas dalam masalah ini adalah firman Allah Ta’ala:

Maksudnya, “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim.” (Surah at-Taubah ayat 113)

KEEMPAT: Mendoakan agar diampuni dosanya ketika mereka masih hidup.

Hal ini dibolehkan dengan Dalil hadits berikut:

Abdullah bin Mas’ud mengatakan: “Seakan-akan aku sekarang melihat Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam- bercerita tentang seorang Nabi, yang dipukul oleh kaumnya hingga bercucur darah, dan ia mengusap darah tersebut dari wajahnya, tetapi ia tetap mengatakan: “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka itu tidak tahu”. (HR. Bukhori 3477).

Memang Hadis ini tidak tegas mengatakan bahawa Nabi yang mendoakan ampunan tersebut adalah Nabi Muhammad –Shallallahu Alaihi Wasallam-… Namun ada riwayat lain yg tegas mengatakan bahawa doa tersebut juga diucapkan oleh Nabi kita Muhammad –Shallallahu Alaihi Wasallam– kepada kaumnya yg masih kafir:

Sahal bin sa’ad mengatakan: Aku telah menyaksikan Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam- saat gigi serinya patah, wajahnya terluka, dan helm perang di kepalanya pecah… sungguh aku juga tahu siapa yg mencuci darah dari wajahnya, siapa yang mendatangkan air kepadanya, dan apa yang ditempatkan dilukanya hingga darahnya mampet… Adalah Fatimah puteri Muhammad utusan Allah yang mencuci darah dari wajah, dan Ali -radliallahu anhu- yang mendatangkan air dalam perisai… maka ketika Fatimah mencuci darah dari wajah ayahnya, dia membakar tikar, sehingga ketika telah menjadi abu, ia mengambil abu itu, lalu menaruhnya di wajah baginda, hingga darahnya mampet… ketika itu baginda mengatakan: “Telah memuncak kemurkaan Allah atas kaum yang melukai wajah Rasulullah”… lalu baginda diam sebentar, dan mengatakan: “Ya Allah ampunilah kaumku, kerana sesungguhnya mereka itu tidak tahu”. (HR. Tobaroni, dan Syeikh Albani dalam Silsilah Shohihah [7/531] mengatakan: Sanadnya Hasan atau Shohih).

Diantara dalil dalam masalah ini adalah Mafhum Mukholafah dari firman Allah berikut:

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapanya, tidak lain hanyalah kerana suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapanya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahawa bapanya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (Surah at-Taubah ayat 113-114)

Ayat ini mengaitkan “larangan memintakan ampun untuk Kaum Musyrikin”, dengan keadaan “sesudah jelas bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka”. Sehingga sebelum jelas menjadi penghuni neraka, boleh di mintakan ampun… Dan telah shohih dari Ibnu Abbas, bahawa maksud dari firman Allah yg ertinya: “Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapanya itu adalah musuh Allah” adalah “setelah mati dalam keadaan kufur”. Sehingga sebelum kematiannya, masih boleh dimintakan ampun.

Berikut Atsar dari Ibnu Abbas tersebut:

Sa’id bin Jubair mengatakan: Ada salah seorang ayah meninggal, dan dia seorang Yahudi, sehingga putranya (yang muslim) tidak mengikuti (jenazah)nya, lalu hal itu diceritakan kepada Ibnu Abbas, maka beliau mengatakan: “Tidak sepatutnya ia melakukannya, (alangkah baiknya) apabila ia memandikannya, mengikuti (jenazah)nya, dan memintakan ampun baginya ketika masih hidup… kemudian Ibnu Abbas membaca ayat (yg artinya): “Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapanya itu adalah musuh Allah, ia pun berlepas diri darinya”, maksudnya: “ketika ia mati dalam keadaan kafir”. (Mushonnaf Abdurrozzaq 6/39).

Dan kesimpulan bolehnya memintakan ampun bagi orang-orang kafir selama masih hidup ini, juga banyak dinyatakan oleh para ulama, diantaranya:

Imam At-Thobari –rohimahulloh-, beliau mengatakan dalam tafsirnya:

Sekelompok ulama’ telah menafsiri firman Allah (yg ertinya): Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya)… -hingga akhir ayat-; bahawa larangan dari Allah untuk memintakan ampun bagi kaum musyrikin adalah setelah matinya mereka (dalam keadaan kafir), kerana firman-Nya (yg ertinya): “sesudah jelas bagi mereka, bahawasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim”. Mereka mengatakan: “alasannya, kerana tidak ada yg boleh memastikan (bahawa dia ahli neraka), kecuali setelah ia mati dalam kekafirannya, adapun saat ia masih hidup, maka tidak ada yang boleh mengetahui hal itu, sehingga dibolehkan bagi Kaum Mukminin untuk memintakan ampun bagi mereka. (Tafsir Thobari 12/26)

Dan inilah pendapat yg dipilih oleh beliau dalam tafsirnya. (lihat Tafsir Thobari 12/28)

Imam Al-Qurtubi juga mengatakan dalam tafsirnya:

Banyak ulama mengatakan: “Tidak mengapa bagi seorang (muslim) mendoakan kedua orang tuanya yg kafir, dan memintakan ampun bagi keduanya selama mereka masih hidup. Adapun orang yg sudah meninggal, maka telah terputus harapan (untuk diampuni dosanya). Ibnu Abbas mengatakan: “Dahulu orang-orang memintakan ampun untuk orang-orang mati mereka, lalu turunlah ayat, maka mereka berhenti dari memintakan ampun. Namun mereka tidak dilarang untuk memintakan ampun bagi orang-orang yg masih hidup hingga mereka meninggal”. (Tafsir Qurtubi 10/400)

Inilah pendapat paling kuat dalam masalah ini, kerana bersandarkan dalil dari Al-Qur’an, Hadits, dan Perkataan Shahabat… Kerana banyak dari kalangan ulama, memilih pendapat ini… Namun ada dua hal yg perlu digaris bawahi di sini:

– Bahwa yg lebih afdhol adalah mendoakan orang yg kafir agar diberikan hidayah masuk Islam… Kerana inilah yang sering dilakukan oleh Nabi –Shallallahu Alaihi Wasallam-, dan inilah yg telah disepakati bolehnya oleh para ulama.
– Ampunan yg sempurna tidak akan diberikan kepada orang kafir, selama dia masih kafir… Sehingga erti dari doa meminta ampunan untuk mereka adalah: ampunan dari sebagian dosa selain kesyirikan dan kekafirannya, atau ampunan untuk semua dosanya dengan jalan diberi hidayah dahulu untuk masuk Islam.

Sekian… wallahu Ta’ala a’lam…

Sumber : Islam Itu Indah
.

5 January 2016 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Kesepakatan Para Ulama Atas Kebolehan Perayaan Maulid Nabi | Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group

Para pengingkar Maulid Nabi hanyalah bagaikan setetes air dibandingkan luapan samudera. Karena praktek peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mendapat legalitas dari Syare’at dan rekomendasi dari jumhur ulama Ahlu sunnah baik mutaqaddimin atau pun mutakhkhirin, baik kalangan rajanya, penguasa adil, orang shalih maupun awamnya. Sejak dahulu hingga sekarang mereka sepakat atas kebolehannya Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejak dahulu hingga sekarang para pelaku Maulid Nabi tidak pernah bekurang malah semakin bertambah jumlahnya. Berikut nama-nama ulama besar Ahlus sunnah yang melegalkan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum wahabi yang membid’ah-bid’ahkan para pelaku maulid bahkan menyesat-nyesatkannya bahkan ada yang sampai memmusyik-musyrikkannya, maka sama saja mereka membid’ahkan, menyesatkan dan memusyrikkan para ulama berikut ini, naudzu billahi min dzaalik..

1. Syaikh Umar al-Mulla dari Maushul (W 570 H). Seorang syaikh yang sholih lagi zuhud, setiap tahunnya menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri para ulama, fuqaha, umara, dan shulthan Nuruddin Zanki, seorang raja yang adil dan berakidahkan Ahlus sunnah. Abu Syamah (guru imam Nawawi) berkata tentang dua tokoh besar di atas :

قال العماد: وكان بالموصل رجل صالح يعرف بعمر الملاَّ، سمى بذلك لأنه كان يملأ تنانير الجص بأجرة يتقوَّت بها، وكل ما عليه من قميص ورداء، وكسوة وكساء، قد ملكه سواه واستعاره، فلا يملك ثوبه ولا إزاره. وكن له شئ فوهبه لأحد مريديه، وهو يتجر لنفسه فيه، فإذا جاءه ضيف قراه ذلك المريد. وكان ذا معرفة بأحكام القرآن والأحاديث النبوية.كان العلماء والفقهاء، والملوك والأمراء، يزورونه في زاويته، ويتبركون بهمته، ويتيمنَّون ببركته. وله كل سنة دعوة يحتفل بها في أيام مولد رسول الله صلى الله عليه وسلم يحضره فيها صاحب الموصل، ويحضر الشعراء وينشدون مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم في المحفل. وكان نور الدين من أخص محبيه يستشيرونه في حضوره، ويكاتبه في مصالح أموره

“ al-‘Ammad mengatakan , “ Di Mosol ada seorang yang shalih yang dikenal dengan sebutan Umar al-Mulla, disebut dengan al-Mulla sebab konon beliau suka memenuhi (mala-a) ongkos para pembuat dapur api sebagai biaya makan sehari-harinya, dan semua apa yang ia miliki berupa gamis, selendang, pakaian, selimut, sudah dimiliki dan dipinjam oleh orang lain, maka beliau sama sekali tidak pakaian dan sarungnya. Jika beliau memiliki sesuatu, maka beliau memberikannya kepada salah satu muridnya, dan beliau menyewa sesuatu itu untuknya, maka jika ada tamu yang datang, murid itulah yang menjamunya. Beliau seorang yang memiliki pengetahuan tentang hokum-hukum al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Para ulama, ahli fiqih, raja dan penguasa sering menziarahi beliau di padepokannya, mengambil berkah dengan sifat kesemangatannya, mengharap keberkahan dengannya. Dan beliau setiap tahunnya mengadakan peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri juga oleh raja Mosol. Para penyair pun juga datang menyenandungkan pujian-pujian kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di perayaan tersebut. Shulthan Nuruddin adalah salah seorang pecintanya yang merasa senang dan bahagia dengan menghadiri perayaan maulid tersebut dan selalu berkorespondesi dalam kemaslahatan setiap urusannya “.[1]

Adz-Dzahabi mengatakan :

وكان ذلك تحت إمرة الملك العادل السُّنِّيِّ نور الدين محمود زنْكِي الذي أجمع المؤرخون على ديانته وحسن سيرته، وهو الذي أباد الفاطميين بمصر واستأصلهم وقهر الدولة الرافضية بها وأظهر السنة وبني المدارس بحلب وحمص ودمشق وبعلبك وبنى المساجد والجوامع ودار الحديث

“ Beliau (syaikh Umar) di bawah kekuasaan raja yang adil yang sunni yaitu Nuruddin Mahmud Zanki, yang para sejarawan telah ijma’ (konsesus/sepakat) atas kebaikan agama dan kehidupannya. Beliaulah yang telah memusnahkan dinasti Fathimiyyun di Mesir sampai ke akar-akarnya, menghancurkan kekuasaan Rafidhah. Menampakkan (menzahirkan) sunnah, membangun madrasah-madrasah di Halb, Hamsh, Damasqus dan Ba’labak, juga membangun masjid-masjid Jami’ dan pesantren hadits “[2]

2. Al-Imam Abul Khaththab Ibnu Dihyah (W 633 H). Beliau telah mengarang sebuah kitab Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau namakan “ at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “ dan dihadiahkan kepada seorang raja adil, shalih, Ahlsus sunnah yakni al-Mudzaffar.

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :

وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه وقد صنف الشيخ أبو الخطاب ابن دحية له مجلدا في المولد النبوي سماه التنوير في مولد البشير النذير فأجازه على ذلك بألف دينار

“ Dan raja konon mengadakan acara Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabiul Awwal, dan merayakannya dengan perayaan yang meriah, dan beliau adalah seorang raja yang cerdas, pemberani, perkasa, berakal, alim dan adil –semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya- syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah telah mengarang kitab berjilid-jilid tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dinamakannya “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “, lalu diberikan balasan atas usaha itu oleh raja sebesar seribu dinar.”[3]

3. al-Imam Abu Syamah (W 665 H), guru al-Imam al-Hafidz an-Nawawi. Beliau mengatakan :

ومن احسن ما ابتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق لمولده صلى الله عليه وآله وسلم من الصدقات، والمعروف، وإظهار الزينة والسرور, فإن ذلك مشعر بمحبته صلى الله عليه وآله وسلم وتعظيمه في قلب فاعل ذلك وشكرا لله تعالى على ما من به من إيجاد رسوله الذي أرسله رحمة للعالمين

“ Di antara bid’ah hasanah yang paling baik di zaman kita sekarang ini adalah apa yang dilakukan setiap tahunnya di hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan bersedekah dan berbuat baik serta menampakkan perhiasan dan kebahagiaan. Karena hal itu merupakan menysiarkan kecintaan kepada Nabi shallahu ‘alahi wa sallam dan penganggungan di hati orang yang melakukannya. Sebagai rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas anugerah-Nya berupa mewujudkannya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam “[4]

4. al-Hafidz Ibnul Jauzi (W 597 H). Beliau mengatakan tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

إنه أمان في ذلك العام، وبشرى عاجلة بنيل البغية والمرام

“ Sesungguhnya mauled (hari kelahiran) Nabi adalah sebuah keamanan di tahun itu dan kaar gembira yang segera dengan tercapainya cita-cita dan taujuan “[5]

5. al-Imam al-Allamah Shadruddin Mauhub bin Umar al-Jazri (W 665 H). Beliau mengatakan tentang hokum peringatan Maulid Nabi :

هذه بدعة لا بأس بها، ولا تكره البدع إلا إذا راغمت السنة، وأما إذا لم تراغمها فلا تكره، ويثاب الإنسان بحسب قصده

“ Ini adalah bid’ah yang tidak mengapa, dan bid’ah tidaklah makruh kecuali jika dibenci sunnah, adapun jika sunnah tidak membencinya maka tidaklah makruh dan manusia akan diberi pahala (atas bid’ah mauled tersebut) tergantung tujuan dan niatnya “.

6. Syaikh Abul Abbas bin Ahmad al-Maghribi (W 633 H). Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan tentangnya :

كان زاهدًا إمامًا مفنّنًا مُفْتِيًّا ألَّفَ كتاب المولد وجوّده

“ Beliau seorang yang zuhud, imam, menguasai semua fan ilmu, sorang mufti dan mengarang kitab maulid dan memperbagusnya “[6]

7. Syaikh Abul Qasim bin Abul Abbas al-Maghribi. Az-Zarkali mengatakan tentangnya :

كان فقيها فاضلا, له نظم أكمل الدر المنظم , في مولد النبي المعظّم من تأليف أبيه أبى العباس بن أحمد

“ Beliau seorang ahli fiqih yang utama, memiliki nadzham (bait) yang bernama “ Akmal ad-Durr al-Munadzdzam fi Maulid an-Nabi al-Mu’adzdzam “ dari tulisan ayahnya Abul Abbas bin Ahmad “[7]

8. al-Hafidz Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi (777-842 H). Beliau mengarang kitab Maulid dengan berjilid-jilid sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyfu adz-Dzunun : 319. Di antaranya : Jami’ al-Aatsar fi Maulid an-Nabi al-Mukhtar dan al-Lafdz ar-Raiq fi Maulid Khairul Khalaiq dan Maurid ash-Shadi fi Maulid al-Hadi.

9. al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Abbad (W 805 H).

وسئل الولي العارف بالطريقة والحقيقة أبو عبد الله بن عباد رحمه الله ونفع به عما يقع في مولد النبي صلى الله عليه وسلم من وقود الشمع وغير ذلك لأجل الفرح والسرور بمولده عليه السلام.

فأجاب: الذي يظهر أنه عيد من أعياد المسلمين، وموسمٌ من مواسمهم، وكل ما يقتضيه الفرح والسرور بذلك المولد المبارك، من إيقاد الشمع وإمتاع البصر، وتنزه السمع والنظر، والتزين بما حسن من الثياب، وركوب فاره الدواب؛ أمر مباح لا ينكر قياساً على غيره من أوقات الفرح، والحكم بأن هذه الأشياء لا تسلم من بدعة في هذا الوقت الذي ظهر فيه سر الوجود، وارتفع فيه علم العهود، وتقشع بسببه ظلام الكفر والجحود، يُنْكَر على قائله، لأنه مَقْتٌ وجحود.

“ seorang wali yang arif dengan thariqah dan haqiqah Abu Abdillah bin Abbad rahimahullah ditanya mengenai apa yang terjadi pada peringatan Maulid Nabi dari menyalakan lilin dan selainnya dengan maksud berbahagia dengan hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau menjawab :

“ Yang tampak adalah bahwa Maulid Nabi termasuk ‘id dari hari raya muslimin dan satu musim dai musim-musimnya. Dan semua yang mengahruskan kebahagiaan dengan malid Nabi yang berkah itu semisal menyalakan lilin, mempercanti pendengaran dan penglihatan, berhias dengan pakaian indah, dan kendaraan bagus adalah perkarah mubah yang tidak boleh diingkari karena mengkiyaskan dengan lainnya dari waktu-waktu kebahagiaan. Menghukumi bahwa semua perbuatan ini tidak selamat dari bid’ah di waktu ini, yang telah tampak rahasia wujud, terangkat ilmu ‘uhud, tercerai berai dengan sebabnya segala gelapnya kekufuran dan kedzaliman, maka itu diingkari bagi pengucapnya, karena itu adalah kebencian dan pengingkaran.[8]

10. Syaikh Islam Sirajuddin al-Balqini (724 – 805 H). AL-Maqrizi mengatakan :

فلما كانت أيام الظاهر برقوق عمل المولد النبويّ بهذا الحوض في أوّل ليلة جمعة من شهر ربيع الأول في كلّ عام فإذا كان وقت ذلك ضربت خيمة عظيمة بهذا الحوض وجلس السلطان وعن يمينه شيخ الإسلام سراج الدين عمر بن رسلان بن نصر البلقيني ويليه الشيخ المعتقد إبراهيم برهان الدين بن محمد بن بهادر بن أحمد بن رفاعة المغربيّ ويليه ولد شيخ الإسلام ومن دونه وعن يسار السلطان الشيخ أبو عبد الله محمد بن سلامة التوزريّ المغربيّ ويليه قضاة القضاة الأربعة وشيوخ العلم ويجلس الأمراء على بعد من السلطان فإذا فرغ القراء من قراءة القرآن الكريم قام المنشدون واحدًا بعد واحد وهم يزيدون على عشرين منشدًا فيدفع لكل واحد منهم صرّة فيها أربعمائة درهم فضة ومن كلّ أمير من أمراء الدولة شقة حرير فإذا انقضت صلاة المغرب مدّت أسمطة الأطعمة الفائقة فأكلت وحمل ما فيها ثم مدّت أسمطة الحلوى السكرية من الجواراشات والعقائد ونحوها فتُؤكل وتخطفها الفقهاء ثم يكون تكميل إنشاد المنشدين ووعظهم إلى نحو ثلث الليل فإذا فرغ المنشدون قام القضاة وانصرفوا وأقيم السماع بقية الليل واستمرّ ذلك مدّة أيامه ثم أيام ابنه الملك الناصر فرج

“ Maka ketika sudah pada hari-hari yang tampak dengan ruquq, diadakanlah perayaan Maulid Nabi di telaga ini pada setiap malam Jum’at bulan Rabiul Awwal di setiap tahunnya. Kemduian Shulthan duduk, dan di sebelah kanannya duduklah syaikh Islam Sirajuddin Umar bin Ruslan bin Nashr al-Balqini, di dekat beliau ada syaikh al-Mu’taqad Ibrahim Burhanuddin bin Muhammad bin Bahadir bin Ahmad bin Rifa’ah al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada putra syaikh Islam dan orang-orang selainnya, dan di sebelah kirinya ada syaikh Abu Abdillah bin Muhammad bin Sallamah at-Tuzari al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada para qadhi dari kalangan empat madzhab, dan para syaikh ilmu, juga para penguasa yang duduk sedikit jauh dari shulthan. Jika telah selesai membaca al-Quran, maka beridrilah para nasyid satu persatu membawakan sebuah nasyidah, mereka lebih dari 20 orang nasyid, masing-masing diberikan sekantong uang yang di dalamnya berisi 4000 ribu dirham perak. Dan bagi setiap amir daulah diberikan kaen sutra. Dan jika telah selesai sholat maghrib, maka dihidangkanlah hidangan makanan yang mewah yang dimakan oleh semuanya dan dibawa pulang. Kemduian dibeberkan juga hidangan manisan yang juga dimakan semuanya dan para ulama ahli fiqih. Kemduian disempurnakan dengan nasyid pada munsyid dan nasehat mereka sampai sepertiga malam. Dan jika para munsyid selasai, maka berdirilah para qadhi dan mereka kembali pulang. Dan diperdengarkan sebuah senandung pujian di sisa malam tersebut. Hal ini terus berlangsung di masanya dan masa-masa anaknya yaitu an-Nahsir Faraj “.[9]

11. al-Hafidz al-Iraqi (725-808 H), guru al-Hafidz Ibnu Hajar. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maurid al-Hani fi al-Maulid as-Sani “. Beliau mengtakan :

إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وآله وسلم في هذا الشهر الشريف ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجبة

“ Sesungguhnya membuat resepsi dan memberikan makanan itu dianjurkan di setiap waktu, lalu bagaimana jika terkumpul dengan kebahagiaan dan kesenangan dengan tampaknya cahaya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di bulan mulia ini. Status kebid’ahannya tidak mengharuskannya menjadi makruh, berpa banyak yang bid’ah itu mustahab (dianjurkan) bahkan kadang menjadi wajib “.[10]

12. Syaikh Islam, al-Hafidz, ahli hadits dunia, imam para pensyarah hadits yaitu Ibnu Hajar al-Atsqalani. Beliau mengatakan :

أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كانت بدعة حسنة

“ Asal / dasar perbuatan Maulid adalah bid’ah yang tidak dinaqal dari ulama salaf yang salih dari tiga kurun, akan tetapi demikian itu mengandung banyak kebaikan dan juga keburukannya. Barangsiapa yang menjaga dalam melakukannya semua kebaikan dan mejauhi keburukannya maka menjadi bid’ah hasanah “[11]

13. al-Imam al-Allamah, syaikh al-Qurra wal muhadditsin, Qadhil Qudhah, Syamsuddin Muhamamd Abul Khoir bin Muhammad bin al-Jazri ( W 833 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang berjudul “ ‘Arfu at-Tarif bil Maulid asy-Syarif “.

قال ابن الجزري : فإذا كان هذا أبولهب الكافر الذي زل القرآن بذمه ، جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي ( ص ) به ، فما حال المسلم الموحّد من أمته عليه السلام ، الذي يسر بمولده ، ويبذل ما تصل اليه قدرته في محبته ؟ لعمري ، إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله العميم جنات النعيم

“ Ibnul Jazri mengatakan, “ Jika Abu Lahab yang kafir ini yang al-Quran telah mencacinya, diringankan di dalam neraka sebab kebahagiaannya dengan kelahiran Nabi, maka bagaimana dengan keadaan Muslim yang mengesakan Allah dari umarnya ini ? yang berbagaia dengan kelahiran Nabi, mengerahkan dengan segenap kemampuannya di dalam mencintainya, sungguh balasan dari Allah adalah memasukannya ke dalam surge-Nya yang penuh kenikmatan “[12]

14. al-Imam al-Hafidz as-Sayuthi (849-911 H). Beliau pernah ditanya tentang hokum memperingati Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

سئل عن عمل المولد النبوى في شهر ربيع الأول ،ما حكمه من حيث الشرع

هل هو محمود أو مذموم وهل يثاب فاعله أو لا؟

والجواب : عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدإ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك

من البدع الحسنة التي عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف

“Suatu ketika beliau ditanya tentang peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan pada bula Rabiul awwal. Bagaimana hukumnya dalam perspektif syara’, dan apakah termasuk kebaikan atau keburukan, serta apakah orang yang memperingatinya akan mendapatkan pahala?

Jawabannya, menurutku (as-Suyuthi) pada dasarnya amal Maulid itu adalah berkumpulnya manusia, membaca apa yang dirasa mudah dari al-Qur’an, riwayat hadis-hadis tentang permulaan perintah Nabi serta hal-hal yang terjadi dalam kelahiran Nabi, kemudian disajikan beberapa hidangan bagi mereka selanjutnya mereka pulang setelah menikmatinya tanpa ada tambahan-tambahan lain, hal tersebut termasuk bid’ah yang baik (bid’ah hasanah) yang diberi pahala bagi orang yang merayakannya. Karena bertujuan untuk mengagungkan kedudukan Nabi dan menampakkan rasa suka cita atas kelahiran yang mulia Nabi Muhammad Saw”.[13]

15. Al-Imam al-Hafidz asy-Syakhawi (831-902 H). Beliau menulis sebuah kitab Maulid berjudul al-Fakhr al-Ulwi fi al-Maulid an-Nabawi. Beliau juga mengatakan :

عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة، وإنما حدث بعد، ثم لا زال أهل الإسلام في سائر الأقطار والمدن الكبار يحتفلون في شهر مولده صلى الله عليه وسلم بعمل الولائم البديعة، المشتملة على الأمور البهجة الرفيعة، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات، ويظهرون السرور ويزيدون في المبرات، ويعتنون بقراءة مولده الكريم، ويظهر عليهم من بركاته كل فضل عميم

“ Praktek Maulid yang mulia tidak ada nukilannya dari seorang salaf pun di kurun-kurun utama. Sesungguhnya itu terjadinya setelahnya. Kemudian terus dilangsungkan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, baik desa maupun kota di dalam merayakan maulid di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan resepsi yang megah yang terdiri dari perkara-perkara mewah. Mereka bersedekah di malam-malamnya dengan berbagai macam sedekah, menampakkan kebahagiaan dan meningkatkan kebaikan, memperhatikan dengan membaca kelahiran Nabi Mulia, dan nampaklah atas mereka keberkaharan Nabi yang menyeluruh “.[14]

16. Al-Allamah syaikh Muhamamd bin Umar al-Hadhrami ( W 930 H). Beliau mengatakan :

فحقيقٌ بيومٍ كانَ فيه وجودُ المصطفى صلى الله عليه وسلم أَنْ يُتَّخذَ عيدًا، وخَليقٌ بوقتٍ أَسفرتْ فيه غُرَّتُهُ أن يُعقَد طالِعًا سعيدًا، فاتَّقوا اللهَ عبادَ الله، واحذروا عواقبَ الذُّنوب، وتقرَّبوا إلى الله تعالى بتعظيمِ شأن هذا النَّبيِّ المحبوب، واعرِفوا حُرمتَهُ عندَ علاّم الغيوب، “ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“ Sungguh layak satu hari dimana Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan untuk dijadikan ‘id. Dan pantas munculnya waktu keberuntungan. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai hamba Allah, berhati-hatilah dari kesudahan dosa, bertaqarrublah kepada Allah dengan pengagungan kepada Nabi yang tercinta ini. Kenalilah kehormatannya di sisi Allah yang Maha Gaib “ Demikian itu barangsiapa yang mengagungkan kehormatan Allah maka itu termasuk tanda taqwa dalam hati “.[15]

17. al-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami (W 975 H). beliau mengatakan :

والحاصل أن البدعة الحسنة متفق على ندبها وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك أي بدعة حسنة

“ Kesimpulannya bahwa bid’ah hasanah sepakat atas kanjurannya, dan amalan Maulid serta berkumpulnya manusia untuknya demikiannya juga dinilai bid’ah hasanah “[16]

18. al-Imam asy-Syihab Ahmad al-Qasthalani (). Beliau mengatakan :

ولازال أهل الاسلام يحتفلون بشهر مولده عليه السلام ، ويعملون الولائم ، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات ، ويظهرون السرر ويزيدون في المبرّات ويعتنون بقراءة مولده الكريم ، ويظهر عليهم من بركاته كلّ فضل عميم

“ Kemudian terus dilangsungkan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, baik desa maupun kota di dalam merayakan maulid di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan resepsi yang megah yang terdiri dari perkara-perkara mewah. Mereka bersedekah di malam-malamnya dengan berbagai macam sedekah, menampakkan kebahagiaan dan meningkatkan kebaikan, memperhatikan dengan membaca kelahiran Nabi Mulia, dan nampaklah atas mereka keberkaharan Nabi yang menyeluruh “.[17]

19. al-Imam az-Zarqani. Beliau menukilkan ucapan al-Hafidz al-Iraqi :

إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وآله وسلم في هذا الشهر الشريف ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجبة

“ Sesungguhnya membuat resepsi dan memberikan makanan itu dianjurkan di setiap waktu, lalu bagaimana jika terkumpul dengan kebahagiaan dan kesenangan dengan tampaknya cahaya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di bulan mulia ini. Status kebid’ahannya tidak mengharuskannya menjadi makruh, berpa banyak yang bid’ah itu mustahab (dianjurkan) bahkan kadang menjadi wajib “.[18]

20. al-Imam al-Hafidz Wajihuddin bin Ali bin ad-Diba’ asy-Syaibani (866-944 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang cukup tekenal yaitu Maulid ad-Diba’i

21. al-Hafidz Mulla Ali al-Qari (W 1014 H). Asy-Syaukani mengatakan tentangnya :

أحد مشاهير الأعلام ومشاهير أولي الحفظ والإفهام وقد صنف في مولد الرسول{ صلى الله عليه وآله وسلم }كتابا قال صاحب اكشف الظنون اسمه (المورد الروي في المولد النبوي

“ Salah satu ulama termasyhur, memiliki hafalan dan pemahaman kuat, beliau telah menulis sebuah karya tulis tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dikatakan oleh shahi Kasyf dz-dzunun dengan sebutan “ al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid –an-Nabawi “[19]

22. al-Imam Ibnu Abidin al-Hanafi. Seorang ulama yang ucapannya dipegang dalam Madzhab Hanafi. Beliau mengtakan ketika menysarah kitab Maulid Ibnu Hajar :

اعلم أن من البدع المحمودة عمل المولد الشريف من الشهر الذي ولد فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم

“ Ketahuilah, sesungguhnya termasuk bid’ah terpuji adalah praktek Maulid Nabi yang mulia di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “.

23. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Beliuu mengatakan :

والاستماع إلى صوت حسن في احتفالات المولد النبوي أو أية مناسبة دينية أخرى في تاريخنا لهو مما يدخل الطمأنينة إلى القلوب ويعطي السامع نوراً من النبي – صلى الله عليه وسلم – إلى قلبه ويسقيه مزيداً من العين المحمدية

“ Mendengarkan suara indah di dalam peringatan-peringatan Maulid Nabi atau ayat yang sesuai agama yang bersifat ukhrawi di dalam sejerah kami adalah termasuk menumbuhkan ketenangan dalam hati, dan akan memberikan cahaya dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam kepada pendengarnya ke hatinya dan mencurahkan tambahan dari sumber Muhammadiyyahnya “[20]

24. al-Imam al-Hafidz al-Munawi. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ Maulid al-Munawi “, silakan lihat kitab al-Barahin al-Jaliyyah halaman 36.

25. al-Imam Muhammad ‘Alyasy al-Maliki. Beliau memiliki kitab berjudul “ al-Qaul al-Munji fi Maulid al-Barzanji “.

26. Ibnul Hajj. Beliau mengatakan :

فكان يجب أن نزداد يوم الاثنين الثاني عشر في ربيع الأول من العبادات والخير شكرا للمولى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وأعظمها ميلاد المصطفى صلى الله عليه وآله وسلم

“ Maka suatu hal yang wajib bagi kita di hari senin 12 Rabul Awwal lebih meningkatkan berbagai macam ibadah dan kebaikan sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah menganugerahi nikmat-nikmat agung ini, dan yang paling agungnya adalah kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “.[21]

27. al-Imam al-Khathib asy-Syarbini. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maulid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi “.

28. al-Imam Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri. Beliau memiliki kitab maulid berjudul “ Tuhfah al-Basyar fi Maulid Ibnu Hajar “

.

29. al-Hafidz asy-Syarif al-Kattani. Beliau memiliki kitab maulid berjudul “ al-Yumnu wa al-Is’ad bi Maulid Khairil Ibad “.

Dan masih banyak lagi ratusan ulama lainnya yang tidak kami sebutkan di sini misalnya, syaikh Musthofa bin Muhammad al-Afifi, syiakh Ibrahim bin Jama’ah al-Hamawi, Abu Bakar bin Muhammad al-Habasyi yang wafat tahun 930 Hijriyyah, syaikh al-Barzanji, syaikh Ibnu Udzari, syaikh al-Marakisyi, syaikh Abdushsomad bin at-Tihami, syaikh Abdul Qadir bin Muhammad, syaikh Muhammad al-Hajuji, syaikh Ahmad ash-Shanhaji, al-Imam Marzuqi, al-Imam an-Nahrawi, syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan dan lainnya.

[1] Ar-Roudhatain fii Akhbar ad-Daulatain, Abu Syamah, pada fashal (bab) : Hawadits (peristiwa) tahun 566 H.

[2] Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi : 20 / 532

[3] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir : 13/ 136

[4] Al-Baits ‘ala inkaril bida’ wal-Hawadits : 23

[5] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/27

[6] Tabshir al-Muntabih : 1/253

[7] Al-A’lam : 5 / 223

[8] Al-Mi’yar al-Mu’rib wa al-Jami’ al-Mughrib ‘an Fatawa ahli Afriqiyyah wal Maghrib : 11/278

[9] Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar : 3 / 167

[10] Syarh al-Mawahib al-Laduniyyah :

[11] Al-Hawi lil Fatawi : 229

[12] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/27

[13] Al-Hawi lil Fatawa, as-Suyuthi : 1/189

[14] Al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, Mulla Ali al-Qari : 12, bisa juga lihat di as-Sirah al-Halabiyyah : 1/83

[15] Hadaiq al-Anwar wa Mathali’ al-Asrar fi sirati an-Nabi al-Mukhtar : 53

[16] Al-Fatawa al-Hadtisiyyah : 202

[17] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/148

[18] Syarh al-Mawahib al-Laduniyyah :

[19] Al-Badr ath-Thali’ :

[20] Madarij as-Salikin : 498

[21] Al-Madkhal : 1/361

Sumber: ASWJ Research Group

10 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Sejarah Awal Mula Perayaan Maulid Nabi | Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group

Sejarah Awal Mula Perayaan Maulid Nabi sekaligus menjawab tuduhan meteka yang mengingkarinya.

Para pengingkar maulid Nabi yakni wahabi-salafi di bulan mulia ini yakni Rabiul Awwal, mereka seperti cacing kepanasan yang ditaburi garam. Mereka teriak susah karenanya banyaknya kaum muslimin yang melakukan perayaan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Saya jadi teringat ucapan Ibn Mukhlid dalam tafsirnya berikut ini :

أن إبليس رن أربع رنات: رنة حين لعن، ورنة حين أهبط الى الأرض، ورنة حين ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم، ورنة حين أنزلت فاتحة الكتاب

“ Sesungguhnya Iblis berteriak sambil menangis pada empat kejadian : pertama ketika ia dilaknat oleh Allah, Kedua ketika ia diusir ke bumi, ketiga ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan dan keempat ketika surat al-Fatehah diturunkan “.[1]

Dan wahabi-salafi, tanpa sadar mereka telah mengikuti sunnah Iblis dengan teriak susah ketika tiba hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam ini.

Kali ini kami akan menulis bantahan ilmiyyah atas dusta wahabi-salafi yang menuduh bahwa Maulid pertama kali diadakan oleh Syi’ah Fathimiyyun. Kami juga akan membongkar kecurangan mereka dengan menggunting ucapan syaikh al-Maqrizi terhadap teks yang menampilkan keagungan perayaan Maulid Nabi yang diselerenggarakan para raja yang adil dan para ulama besar dari kalangan empat madzhab. Tidak sedikit artikel wahabi yang mengcopy paste dusta tersebut termasuk syaikh al-Fauzan dalam fatwanya. Berikut salah satu artikel dusta wahabi di : http://artikelassunnah.blogspot.com/2012/01/ternyata-maulid-nabi-berasal-dari-syiah.html

Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau.

Perlu diketahui pula bahwa -menurut pakar sejarah yang terpercaya-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini.

Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146)

Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.

Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al Maulid, hal. 20)

Jawaban kami :

Pernyataan di atas tidak benar sama sekali. Dan jauh dari fakta kebenarannya…

Pertama : Memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi sudah ada sejak masa Nabi shallahhu ‘alaihi wa sallam sendiri. Yakni dari segi mengagungkan hari di mana Nabi dilahirkan dengan melakukan suatu ibadah yaitu berpuasa.

Ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab :

ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت اوانزل علي فيه

“ Hari itu hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku “ (HR. Muslim)

Ini merupakan dalil nyata bolehnya memperingati hari kelahiran (maulid) beliau yang saat itu dirayakan oleh Nabi dengan salah satu macam ibadah yaitu berpuasa. Dan ini merupakan fakta bahwa beliaulah pertama kali yang mengangungkan hari kelahirannya sendiri dengan berpuasa. Maka mengagungkan hari di mana beliau dilahirkan merupakan sebuah sunnah yang telah Nabi contohkan sendiri. Ini asal dan esensi dari acara maulid Nabi.

Kedua : Merayakan, mengagungkan dan memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi dengan berbagai cara dan program sudah sejak lama diikuti oleh para ulama dan raja-raja yang shalih. Kita kupas sejarahnya di sini :

1. Ibnu Jubair seorang Rohalah[2] (lahir pada tahun 540 H) mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Rihal :

يفتح هذا المكان المبارك أي منزل النبي صلى الله عليه وسلم ويدخله جميع الرجال للتبرّك به في كل يوم اثنين من شهر ربيع الأول ففي هذا اليوم وذاك الشهر ولد النبي صلى الله عليه وسلم

“ Tempat yang penuh berkah ini dibuka yakni rumah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, dan semua laki-laki memasukinya untuk mengambil berkah dengannya di setiap hari senin dari bulan Rabi’ul Awwal. Di hari dan bulan inilah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan “[3]

Dari sini sudah jelas bahwa saat itu perayaan maulid Nabi merupakan sudah menjadi tradisi kaum muslimin di Makkah sebelum kedatangan Ibnu Jubair di Makkah dan Madinah dengan acara yang berbeda yaitu membuka rumah Nabi untuk umum agar mendapat berkah dengannya. Ibnu Jubair masuk ke kota Makkah tanggal 16 Syawwal tahun 579 Hijriyyah. Menetap di sana selama delapan bulan dan meninggalkan kota Makkah hari Kamis tanggal 22 bulan Dzul Hijjah tahun 579 H, dengan menuju ke kota Madinah al-Munawwarah dan menetap selama 5 hari saja.

2. Syaikh Umar al-Mulla seorang syaikh yang shalih yang wafat pada tahun 570 H, dan shulthan Nuruddin Zanki seorang pentakluk pasukan salib. Kita simak penuturan syaikh Abu Syamah (guru imam Nawawi) tentang dua tokoh besar di atas :

قال العماد: وكان بالموصل رجل صالح يعرف بعمر الملاَّ، سمى بذلك لأنه كان يملأ تنانير الجص بأجرة يتقوَّت بها، وكل ما عليه من قميص ورداء، وكسوة وكساء، قد ملكه سواه واستعاره، فلا يملك ثوبه ولا إزاره. وكن له شئ فوهبه لأحد مريديه، وهو يتجر لنفسه فيه، فإذا جاءه ضيف قراه ذلك المريد. وكان ذا معرفة بأحكام القرآن والأحاديث النبوية.كان العلماء والفقهاء، والملوك والأمراء، يزورونه في زاويته، ويتبركون بهمته، ويتيمنَّون ببركته. وله كل سنة دعوة يحتفل بها في أيام مولد رسول الله صلى الله عليه وسلم يحضره فيها صاحب الموصل، ويحضر الشعراء وينشدون مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم في المحفل. وكان نور الدين من أخص محبيه يستشيرونه في حضوره، ويكاتبه في مصالح أموره

“ al-‘Ammad mengatakan , “ Di Mosol ada seorang yang shalih yang dikenal dengan sebutan Umar al-Mulla, disebut dengan al-Mulla sebab konon beliau suka memenuhi (mala-a) ongkos para pembuat dapur api sebagai biaya makan sehari-harinya, dan semua apa yang ia miliki berupa gamis, selendang, pakaian, selimut, sudah dimiliki dan dipinjam oleh orang lain, maka beliau sama sekali tidak pakaian dan sarungnya. Jika beliau memiliki sesuatu, maka beliau memberikannya kepada salah satu muridnya, dan beliau menyewa sesuatu itu untuknya, maka jika ada tamu yang datang, murid itulah yang menjamunya. Beliau seorang yang memiliki pengetahuan tentang hokum-hukum al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Para ulama, ahli fiqih, raja dan penguasa sering menziarahi beliau di padepokannya, mengambil berkah dengan sifat kesemangatannya, mengharap keberkahan dengannya. Dan beliau setiap tahunnya mengadakan peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri juga oleh raja Mosol. Para penyair pun juga datang menyenandungkan pujian-pujian kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di perayaan tersebut. Shulthan Nuruddin adalah salah seorang pecintanya yang merasa senang dan bahagia dengan menghadiri perayaan maulid tersebut dan selalu berkorespondesi dalam kemaslahatan setiap urusannya “.[4]

Ini juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tarikh pada bab Hawadits 566 H. al-Hafidz adz-Dzahabi mengatakan tentang syaikh Umar ash-Shalih ini : “

وقد كتب الشيخ الزاهد عمر الملاّ الموصلي كتاباً إلى ابن الصابوني هذا يطلب منه الدعاء

“ Dan sungguh telah menulis syaikh yang zuhud yaitu Umar al-Mulla al-Mushili sebuah tulisan kepada Ibnu ash-Shabuni, “ Ini orang meminta ddoa darinya “.[5]

Adz-Dzahabi dalam kitab lainnya juga mengatakan :

وكان ذلك تحت إمرة الملك العادل السُّنِّيِّ نور الدين محمود زنْكِي الذي أجمع المؤرخون على ديانته وحسن سيرته، وهو الذي أباد الفاطميين بمصر واستأصلهم وقهر الدولة الرافضية بها وأظهر السنة وبني المدارس بحلب وحمص ودمشق وبعلبك وبنى المساجد والجوامع ودار الحديث

“ Beliau (syaikh Umar) di bawah kekuasaan raja yang adil yang sunni yaitu Nuruddin Mahmud Zanki, yang para sejarawan telah ijma’ (konsesus/sepakat) atas kebaikan agama dan kehidupannya. Beliaulah yang telah memusnahkan dinasti Fathimiyyun di Mesir sampai ke akar-akarnya, menghancurkan kekuasaan Rafidhah. Menampakkan (menzahirkan) sunnah, membangun madrasah-madrasah di Halb, Hamsh, Damasqus dan Ba’labak, juga membangun masjid-masjid Jami’ dan pesantren hadits “[6]

Al-Hafidz Ibnu Katsir menceritakan sosok raja Nuruddin Zanki sebagai berikut :

أنّه كان يقوم في أحكامه بالمَعدلَةِ الحسنة وإتّباع الشرع المطهّر وأنّه أظهر ببلاده السنّة وأمات البدعة وأنّه كان كثير المطالعة للكتب الدينية متّبعًا للآثار النبوية صحيح الاعتقاد قمع المناكير وأهلها ورفع العلم والشرع

“ Beliau adalah seorang raja yang menegakkan hokum-hukumnya dengan keadilan yang baik dan mengikuti syare’at yang suci. Beliau menampakkan sunnah dan mematikan bid’ah di negerinya. Beliau seorang yang banyak belajar kitab-kitab agama, pengikut sunnah-sunnah Nabi, akidahnya sahih, pemusnah kemungkaran dan pelakuknya, pengangkat ilmu dan syare’at “.[7]

Ibnu Atsir juga mengatakan :

طالعت سِيَرَ الملوك المتقدمين فلم أر فيها بعد الخلفاء الراشدين وعمر بن عبد العزيز أحسن من سيرته, قال: وكان يعظم الشريعة ويقف عند أحكامها

“ Aku telah mengkaji sejarah-sejarah kehidupan para raja terdahulu, maka aku tidak melihat setelah khalifah rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz yang lebih baik dari sejarah kehidupannya (Nurruddin Zanki). Beliau pengangung syare’at dan tegak di dalam hokum-hukumnya “.[8]

Pertanyaan buat para pengingkar Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

Jika seandainya Maulid Nabi itu bid’ah dholalah yang sesat dan pelakunya disebut mubtadi’ (pelaku bid’ah) dan terancam masuk neraka, apakah anda akan mengatakan bahwa syaikh Umar al-Mulla dan raja yang adil Nuruddin Zanki adalah orang-orang pelaku bid’ah dan terancam masuk neraka ?? padahal para ulama sejarawan sepakat (ijma’) bahwa syaikh Umar adalah orang shalih dan zuhud, raja Nuruddin adalah raja yang adil, berakidah sahih, pecinta sunnah bahkan menampakkanya dan juga pemusnah bid’ah di negerinnya, sebagaimana telah saya buktikan faktanya di atas…

Bagaimana mungkin para ulama sejarawan di atas, mengatakan penzahir (penampak) sunnah Nabi dan pemusnah bid’ah jika ternyata pengamal Maulid Nabi yang kalian anggap bid’ah sesat ?? ini bukti bahwa Maulid Nabi bukanlah bid’ah. Renungkanlah hal ini wahai para pengingkar Maulid Nabi…

3. Kemudian berlanjut perayaan tersebut yang dilakukan oleh seorang raja shaleh yaitu raja al-Mudzaffar penguasa Irbil, seorang raja orang yang pertama kali merayakan peringatan maulid Nabi dengan program yang teratur dan tertib dan meriah. Beliau seorang yang berakidahkan Ahlus sunnah wal jama’ah.

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :

ابن زين الدين علي بن تبكتكين أحد الاجواد والسادات الكبراء والملوك الامجاد له آثار حسنة…. وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه وقد صنف الشيخ أبو الخطاب ابن دحية له مجلدا في المولد النبوي سماه التنوير في مولد البشير النذير فأجازه على ذلك بألف دينار وقد طالت مدته في الملك في زمان الدولة الصلاحية وقد كان محاصر عكا وإلى هذه السنة محمود السيرة والسريرة قال السبط حكى بعض من حضر سماط المظفر في بعض الموالد كان يمد في ذلك السماط خمسة آلاف راس مشوى وعشرة آلاف دجاجة ومائة ألف زبدية وثلاثين ألف صحن حلوى

“ Beliau adalah putra Zainuddin Ali bin Tabkitkabin salah seorang tokoh besar dan pemimpin yang agung. Beliau memiliki sejarah hidup yang baik. Beliau yang memakmurkan masjid al-Mudzhaffari….dan beliau konon mengadakan acara Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabiul Awwal, dan merayakannya dengan perayaan yang meriah, dan beliau adalah seorang raja yang cerdas, pemberani, perkasa, berakal, alim dan adil –semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya- syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah telah mengarang kitab berjilid-jilid tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dinamakannya “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “, lalu diberikan balasan atas usaha itu oleh raja sebesar seribu dinar. Masa kerajaannya begitu panjang di zaman Daulah shalahiyyah. Beliau pernah mengepung negeri ‘Ukaa. Di tahun ini beliau baik kehidupannya lahir dan bathin. As-Sibth mengatakan, “ Seorang yang menghadiri kegiatan raja al-Mudzaffar pada beberapa acara maulidnya mengatakan, “ Beliau pada perayaan maulidnya itu menyediakan 5000 kepala kambing yang dipanggang, 10.000 ayam panggang, 100.000 mangkok besar (yang berisi buah-buahan), dam 30.000 piring berisi manisan “.[9]

Adz-Dzahabi juga mengatakan tentang sifat-sifat beliau :

وَكَانَ مُتَوَاضِعاً، خَيِّراً، سُنِّيّاً، يُحبّ الفُقَهَاء وَالمُحَدِّثِيْنَ، وَرُبَّمَا أَعْطَى الشُّعَرَاء، وَمَا نُقِلَ أَنَّهُ انْهَزَم فِي حرب

“ Beliau adalah orang yang rendah hati, sangat baik, seorang yang berakidahkan Ahlus sunnah, pecinta para ahli fiqih dan hadits, terkadang suka memberi hadiah kepada para penyair, dan tidak dinukilkan bahwa beliau kalah dalam pertempuran “[10]

Pertanyaan buat para pengingkar Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

Adakah para ulama sejarawan di atas menyebutkan raja Mudzaffar adalah seorang pelaku bid’ah dholalah karena melakukan perayaan Maulid Nabi ?? justru mereka menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja adil, rendah hati, pemberani dan berakidahkan Ahlus sunnah. Renungkanlah hal ini wahai wahabi…

Ketiga : Seandainya Fathimiiyun juga membuat perayaan Maulid Nabi sebagaimana para pendahulu kami, maka hal ini bukanlah suatu keburukan karena kami hanya menolak kebathilan para pelaku bid’ah dholalah, bukan menolak kebenaran mereka yang sesuai dengan Ahlus sunnah.

Keempat : Wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan mengunting teks (nash) dari al-Maqrizi. Mereka tidak menampilkan redaksi atau teks berikutnya yang dinyatakan oleh al-Maqrizi dalam kitabnya tersebut. Lebih lanjutnya beliau menceritkan bahwasanya para khalifah muslimin, mengadakan perayaan maulid yang dihadiri oleh para qadhi dari kalangan empat madzhab dan para ulama yang masyhur, berikut redaksinya yang disembunyikan dan tidak berani ditampilkan wahabi :

فلما كانت أيام الظاهر برقوق عمل المولد النبويّ بهذا الحوض في أوّل ليلة جمعة من شهر ربيع الأول في كلّ عام فإذا كان وقت ذلك ضربت خيمة عظيمة بهذا الحوض وجلس السلطان وعن يمينه شيخ الإسلام سراج الدين عمر بن رسلان بن نصر البلقيني ويليه الشيخ المعتقد إبراهيم برهان الدين بن محمد بن بهادر بن أحمد بن رفاعة المغربيّ ويليه ولد شيخ الإسلام ومن دونه وعن يسار السلطان الشيخ أبو عبد الله محمد بن سلامة التوزريّ المغربيّ ويليه قضاة القضاة الأربعة وشيوخ العلم ويجلس الأمراء على بعد من السلطان فإذا فرغ القراء من قراءة القرآن الكريم قام المنشدون واحدًا بعد واحد وهم يزيدون على عشرين منشدًا فيدفع لكل واحد منهم صرّة فيها أربعمائة درهم فضة ومن كلّ أمير من أمراء الدولة شقة حرير فإذا انقضت صلاة المغرب مدّت أسمطة الأطعمة الفائقة فأكلت وحمل ما فيها ثم مدّت أسمطة الحلوى السكرية من الجواراشات والعقائد ونحوها فتُؤكل وتخطفها الفقهاء ثم يكون تكميل إنشاد المنشدين ووعظهم إلى نحو ثلث الليل فإذا فرغ المنشدون قام القضاة وانصرفوا وأقيم السماع بقية الليل واستمرّ ذلك مدّة أيامه ثم أيام ابنه الملك الناصر فرج

“ Maka ketika sudah pada hari-hari yang tampak dengan ruquq, diadakanlah perayaan Maulid Nabi di telaga ini pada setiap malam Jum’at bulan Rabiul Awwal di setiap tahunnya. Kemduian Shulthan duduk, dan di sebelah kanannya duduklah syaikh Islam Sirajuddin Umar bin Ruslan bin Nashr al-Balqini, di dekat beliau ada syaikh al-Mu’taqad Ibrahim Burhanuddin bin Muhammad bin Bahadir bin Ahmad bin Rifa’ah al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada putra syaikh Islam dan orang-orang selainnya, dan di sebelah kirinya ada syaikh Abu Abdillah bin Muhammad bin Sallamah at-Tuzari al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada para qadhi dari kalangan empat madzhab, dan para syaikh ilmu, juga para penguasa yang duduk sedikit jauh dari shulthan. Jika telah selesai membaca al-Quran, maka beridrilah para nasyid satu persatu membawakan sebuah nasyidah, mereka lebih dari 20 orang nasyid, masing-masing diberikan sekantong uang yang di dalamnya berisi 4000 ribu dirham perak. Dan bagi setiap amir daulah diberikan kaen sutra. Dan jika telah selesai sholat maghrib, maka dihidangkanlah hidangan makanan yang mewah yang dimakan oleh semuanya dan dibawa pulang. Kemduian dibeberkan juga hidangan manisan yang juga dimakan semuanya dan para ulama ahli fiqih. Kemduian disempurnakan dengan nasyid pada munsyid dan nasehat mereka sampai sepertiga malam. Dan jika para munsyid selasai, maka berdirilah para qadhi dan mereka kembali pulang. Dan diperdengarkan sebuah senandung pujian di sisa malam tersebut. Hal ini terus berlangsung di masanya dan masa-masa anaknya yaitu an-Nahsir Faraj “.[11]

Kisah yang sama ini juga diceritakan oleh seorang ulama pakar sejarah yaitu syaikh Jamaluddin Abul Mahasin bin Yusufi bin Taghribardi dalam kitab Tarikhnya “ an-Nujum az-Zahirah fii Muluk Mesir wal Qahirah “ pada juz 12 halaman 72.

Hal yang serupa juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar secara ringkas dalam kitabnya Anba al-Ghumar sebagai berikut :

وعمل المولد السلطاني المولد النبوي الشريف على العادة في اليوم الخامس عشر، فحضره البلقيني والتفهني وهما معزولان، وجلس القضاة المسفزون على اليمين وجلسنا على اليسار والمشايخ دونهم، واتفق أن السلطان كان صائما، فلما مد السماط جلس على العادة مع الناس إلى إن فرغوا، فلما دخل وقت المغرب صلوا ثم أحضرت سفرة لطيفة، فاكل هو ومن كان صائما من القضاة وغيرهم

“ Dan perayaan maulid shulthan yaitu Maulid Nabi yang Mulia seprti biasanya (tradisi) pada hari kelima belas, dihadiri oleh syaikh al-Balqini dan at-Tifhani, keduanya mantan qadhi. Para qadhi lainnya duduk di sebalah kanan beliau, dan kami serta para masyaikh duduk di sebelah kiri. Disepakati bahwa shulthan saat itu dalam keadaan puasa, maka ketika dibentangkanlah seprei makanan, beliau duduk seperti biasanya bersama prang-orang sampai selesai. Maka ketika masuk waktu maghrib, mereka sholat kemudian dihidangkanlah hidangan makanan yang lembut, maka beliau makan bersama orang-orang yang berpuasa dari para qadhi dan lainnya “[12]

Dengan ini jelas lah sudah bahwa wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan tidak menampilkan redaksi (teks) selanjutnya yang membicarakan perhatian para raja dan ulama besar terhadap perayaan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam saat itu. Ini merupakan tadlis, talbis dan penipuan besar di hadapan public…naudzu billah min dzaalik.

Kesimpulannya :

1. Perayaan Maulid Nabi, esensinya telah dicontohkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yaitu saat beliau mengangungkan dan memperingati hari kelahiran beliau dengan melakukan satu ibadah sunnah yaitu puasa. Maka pada hakekatnya perayaan Maulid Nabi adalah sunnah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Perayaan Maulid Nabi yang dilanjutkan dengan para raja yang adil dan para ulama yang terkenal adalah dalam rangka menghidupkan sunnah Nabi yaitu memperingati hari kelahiran Nabi, namun dengan metode dan cara yang berbeda yang berlandaskan syare’at seperti membaca al-Quran, bersholawat dan bersedekah. Metode ini sama sekali tidak bertentangan dengan syare’at Nabi.

3. Tuduhan wahabi bahwa yang melakukan Maulid pertama kali adalah dari Syi’ah Fathimiyyun adalah dusta belaka dan bertentangan dengan fakta kebenarannya.

4. Wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan menggunting dan tidak menampilkan teks al-Maqrizi yang menceritakan perhatian para raja adil dan ulama terkenal dari kalangan empat madzhab terhadap Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

Shofiyyah an-Nuuriyyah & Ibnu Abdillah Al-Katibiy

Kota Santri, 6 Rabiul Awwal 1435 H / 08-Januari-2014

[1] Ini disebutkan oleh syaikh Ibnu Muflih dari Ibn Mukhlid yang mengisahkan kisah ini dari Hasan al-Bashri. Bisa juga dilihat di kitab Syarh kitab Tauhid di : http://islamport.com/w/aqd/Web/1762/961.htm

[2] Seorang penjelaja tempat-tempat dan daerah-daerah jauh.

[3] Rihal, Ibnu Jubair : 114-115

[4] Ar-Roudhatain fii Akhbar ad-Daulatain, Abu Syamah, pada fashal (bab) : Hawadits (peristiwa) tahun 566 H.

[5] Tarikh al-Islam, adz-Dzahabi : 41 / 130

[6] Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi : 20 / 532

[7] Tarikh Ibnu Katsir : 12 / 278

[8] Tarikh Ibnu Atsir : 9 / 125

[9] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir : 13/ 136

[10] Siyar A’lam an-Nubala : 22 / 336

[11] Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar : 3 / 167

[12] Anba al-Ghumar : 2 / 562

10 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Nabi haramkan cabut bulu di muka untuk cantik



 

KAUM wanita amat mengambil berat mengenai kecantikan, terutamanya kecantikan wajah kerana wajah yang pertama dipandang orang apabila berjumpa.

Oleh itu, ramai di kalangan wanita sanggup membelanjakan wang yang banyak untuk mencantikkan wajah. Antara cara dianggap boleh mencantikkan wajah dan rupa paras ialah dengan membentuk bulu kening atau alis mata dengan mencabut dan mencukur sebahagian atau kesemuanya sekali.

Kemudian bulu kening akan dibentuk semula dengan alat solekan seperti celak dan pensil alis sehingga kelihatan lebih cantik dan menarik.Amalan itu bukanlah perkara baru dalam dunia persolekan wanita tetapi sudah diamalkan wanita di zaman jahiliyyah sebelum kedatangan Islam dan berterusan hingga hari ini.

 

 

Malah dengan kebanjiran pelbagai jenis alat solek di pasaran serta kepakaran yang ada, bulu kening atau alis yang sesuai dengan raut wajah seseorang boleh dibentuk dengan mudah.Walau bagaimanapun, wanita hari ini perlu memastikan apa yang dilakukan tidak bercanggah dengan ajaran Islam, termasuk bidang persolekan.Merujuk kepada teks syarak berkaitan persoalan ini, terdapat dua hadis yang menegur secara langsung perbuatan mencukur bulu kening.

Daripada Abdullah bin Masud, daripada Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu kening atau bulu muka (al-Namisah) atau meminta orang lain mencukur atau mencabut bulu keningnya (al-Mutanammisah), wanita yang mengasah gigi supaya kelihatan cantik. Perbuatan itu telah mengubah ciptaan Allah. (riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Daud)

Ibn Hajar pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu di muka dengan alat pencabut.

Perkara ini membabitkan satu riwayat tabf berkaitan dengan riwayat Imam Al-Tabari, bahawa isteri Abu Ishaq pergi ke rumah Aisyah Ummul-Mukminin, puteri Rasulullah saw.Pada waktu itu rupa parasnya sangat jelita.

Beliau lalu bertanya kepada Aisyah mengenai hukum seorang wanita yang membuang bulu-bulu yang terdapat di dahinya untuk tujuan menambat hati suaminya.Aisyah menjawab: “Hapuskanlah kejelekan yang ada pada dirimu sedaya yang kamu mampu.”Hadis kedua diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud yang menerangkan bahawa Rasulullah saw bersabda:”Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu kening atau bulu muka (al-Namisah) atau meminta orang lain mencukur atau mencabut bulu keningnya (al-Mutanammisah), wanita yang mengasah gigi supaya kelihatan cantik.

Perbuatan itu telah mengubah ciptaan Allah.”Mengenai hadis pertama, Imam Nawawi berpendapat bahawa jawapan Aisyah kepada wanita itu membawa erti bahawa wanita boleh bersolek untuk suami, boleh merawat muka untuk menghilangkan kejelekan seperti jerawat, jeragat dan bintik-bintik.Namun demikian, beliau tidak boleh mencabut atau mencukur bulu-bulu di muka, termasuklah bulu kening untuk membentuk alis mata yang cantikMengenai hadis kedua pula, ulama menjelaskan pengertian al-Namisah.

Ibn al-Athir berpendapat ia bermaksud wanita-wanita yang mencabut bulu-bulu yang terdapat pada kawasan muka dengan tidak menggunakan alat pencabut.Ibn Hajar pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu di muka dengan alat pencabut.Abu Daud pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu kening atau mencukurnya dengan pisau pencukur sehingga kelihatan halus.

Keterangan di atas menunjukkan perkataan al-Namisah merangkumi semua pengertian iaitu mencabut bulu-bulu di muka untuk kelihatan cantik dan berseri.Majoriti fuqaha berpendapat, mencabut atau mencukur bulu kening sehingga kelihatan halus adalah diharamkan sama ada kepada lelaki atau wanita kerana perbuatan itu termasuk dalam istilah mengubah ciptaan Allah sebagaimana dijelaskan dalam hadis kedua.

Namun demikian, bagi wanita yang mempunyai terlalu panjang atau terlalu lebat sehingga kelihatan jelik, bolehlah mencabutnya sekadar membolehkan kelihatan halus kerana ia tidak dianggap mengubah ciptaan Allah.Kesimpulannya, berhias untuk suami adalah diharuskan tetapi membentuk bulu kening dengan mencabut atau mencukurnya sehingga menjadi alis yang cantik adalah tidak dibenarkan. Menghilangkan sebarang tanda yang menjelekkan pandangan di badan, termasuk muka seperti jerawat, jeragat dan bintik hitam, adalah dibenarkan sama ada wanita bersuami atau tidak.

Dalam keghairahan wanita mencantikkan wajah untuk menambat hati suami atau sebagainya, jangan sampai terkeluar daripada sempadan yang digariskan oleh syarak kerana kecantikan bercanggah dengan syarak akan menggadaikan diri sendiri.

Sumber: Islam itu Indah

30 November 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Nabi haramkan cabut bulu di muka untuk cantik



 

KAUM wanita amat mengambil berat mengenai kecantikan, terutamanya kecantikan wajah kerana wajah yang pertama dipandang orang apabila berjumpa.

Oleh itu, ramai di kalangan wanita sanggup membelanjakan wang yang banyak untuk mencantikkan wajah. Antara cara dianggap boleh mencantikkan wajah dan rupa paras ialah dengan membentuk bulu kening atau alis mata dengan mencabut dan mencukur sebahagian atau kesemuanya sekali.

Kemudian bulu kening akan dibentuk semula dengan alat solekan seperti celak dan pensil alis sehingga kelihatan lebih cantik dan menarik.Amalan itu bukanlah perkara baru dalam dunia persolekan wanita tetapi sudah diamalkan wanita di zaman jahiliyyah sebelum kedatangan Islam dan berterusan hingga hari ini.

 

 

Malah dengan kebanjiran pelbagai jenis alat solek di pasaran serta kepakaran yang ada, bulu kening atau alis yang sesuai dengan raut wajah seseorang boleh dibentuk dengan mudah.Walau bagaimanapun, wanita hari ini perlu memastikan apa yang dilakukan tidak bercanggah dengan ajaran Islam, termasuk bidang persolekan.Merujuk kepada teks syarak berkaitan persoalan ini, terdapat dua hadis yang menegur secara langsung perbuatan mencukur bulu kening.

Daripada Abdullah bin Masud, daripada Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu kening atau bulu muka (al-Namisah) atau meminta orang lain mencukur atau mencabut bulu keningnya (al-Mutanammisah), wanita yang mengasah gigi supaya kelihatan cantik. Perbuatan itu telah mengubah ciptaan Allah. (riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Daud)

Ibn Hajar pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu di muka dengan alat pencabut.

Perkara ini membabitkan satu riwayat tabf berkaitan dengan riwayat Imam Al-Tabari, bahawa isteri Abu Ishaq pergi ke rumah Aisyah Ummul-Mukminin, puteri Rasulullah saw.Pada waktu itu rupa parasnya sangat jelita.

Beliau lalu bertanya kepada Aisyah mengenai hukum seorang wanita yang membuang bulu-bulu yang terdapat di dahinya untuk tujuan menambat hati suaminya.Aisyah menjawab: “Hapuskanlah kejelekan yang ada pada dirimu sedaya yang kamu mampu.”Hadis kedua diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud yang menerangkan bahawa Rasulullah saw bersabda:”Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu kening atau bulu muka (al-Namisah) atau meminta orang lain mencukur atau mencabut bulu keningnya (al-Mutanammisah), wanita yang mengasah gigi supaya kelihatan cantik.

Perbuatan itu telah mengubah ciptaan Allah.”Mengenai hadis pertama, Imam Nawawi berpendapat bahawa jawapan Aisyah kepada wanita itu membawa erti bahawa wanita boleh bersolek untuk suami, boleh merawat muka untuk menghilangkan kejelekan seperti jerawat, jeragat dan bintik-bintik.Namun demikian, beliau tidak boleh mencabut atau mencukur bulu-bulu di muka, termasuklah bulu kening untuk membentuk alis mata yang cantikMengenai hadis kedua pula, ulama menjelaskan pengertian al-Namisah.

Ibn al-Athir berpendapat ia bermaksud wanita-wanita yang mencabut bulu-bulu yang terdapat pada kawasan muka dengan tidak menggunakan alat pencabut.Ibn Hajar pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu di muka dengan alat pencabut.Abu Daud pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu kening atau mencukurnya dengan pisau pencukur sehingga kelihatan halus.

Keterangan di atas menunjukkan perkataan al-Namisah merangkumi semua pengertian iaitu mencabut bulu-bulu di muka untuk kelihatan cantik dan berseri.Majoriti fuqaha berpendapat, mencabut atau mencukur bulu kening sehingga kelihatan halus adalah diharamkan sama ada kepada lelaki atau wanita kerana perbuatan itu termasuk dalam istilah mengubah ciptaan Allah sebagaimana dijelaskan dalam hadis kedua.

Namun demikian, bagi wanita yang mempunyai terlalu panjang atau terlalu lebat sehingga kelihatan jelik, bolehlah mencabutnya sekadar membolehkan kelihatan halus kerana ia tidak dianggap mengubah ciptaan Allah.Kesimpulannya, berhias untuk suami adalah diharuskan tetapi membentuk bulu kening dengan mencabut atau mencukurnya sehingga menjadi alis yang cantik adalah tidak dibenarkan. Menghilangkan sebarang tanda yang menjelekkan pandangan di badan, termasuk muka seperti jerawat, jeragat dan bintik hitam, adalah dibenarkan sama ada wanita bersuami atau tidak.

Dalam keghairahan wanita mencantikkan wajah untuk menambat hati suami atau sebagainya, jangan sampai terkeluar daripada sempadan yang digariskan oleh syarak kerana kecantikan bercanggah dengan syarak akan menggadaikan diri sendiri.

Sumber: Islam itu Indah

30 November 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Apakah Hukum Membaca Al-Quran Dengan Tujuan Memenangkan Masjid Al-Aqsa – Laman Web PMWP

(DITULIS OLEH UMAR MUKHTAR BIN MOHD NOOR PADA 06 NOVEMBER 2015. DITERBITKAN DI DALAM IRSYAD FATWA)

Soalan:

Adakah harus membaca Al-Quran dengan tujuan memenangkan Masjid al-Aqsa?

Jawapan:

Sebelum berbicara lebih jauh, suka ingin kami nyatakan bahawa hukum menziarahi Masjid al-Aqsa pada masa kini telah kami bincangkan pada artikel Bayan Linnas siri ke-15[1] dan suka juga di sini ingin kami kemukakan beberapa kelebihan Masjid al-Aqsa agar menjadi pedoman buat kita semua. Antara kelebihan-kelebihan Masjid al-Aqsa yang warid di dalam Al-Quran dan hadis ialah:

Kiblat pertama umat Islam sebelum diperintahkan untuk menghadap Kaabah.
Tempat berlakunya peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Solat di dalam Masjid al-Aqsa lima ratus (500) kali lebih afdhal berbanding solat di tempat lain kecuali di Masjid al-Haram dan Masjid al-Nabawi.

Berkenaan apa yang terjadi sekarang ini iaitu Masjid al-Aqsa dikuasai oleh rejim Zionis, ianya amat menyedihkan kerana jika dinilai melalui sejarah ketamadunan manusia dan hakikat sebenar, umat Islam sebenarnya yang layak untuk memiliki Masjid al-Aqsa.

Mengenai persoalan di atas, iaitu hukum membaca Al-Quran sebagai salah satu daripada niat untuk mendapat hajat bagi memenangkan Masjid al-Aqsa, dalam isu ini kami berpendapat ianya termasuk dalam bentuk tawassul yang dibenarkan.

Tawassul dari segi segi bahasa bermaksud mendekatkan diri. Manakala dari segi istilah, ia bermaksud menjadikan sesuatu amalan sebagai perantara atau penyebab untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pendapat yang lain mengatakan bahawa tawassul itu adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan meminta doa daripada orang soleh yang masih hidup, dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT dan juga dengan amal soleh yang dikerjakan. Ketiga-tiga bentuk tawassul ini adalah yang dibenarkan oleh syara’ tanpa khilaf. [Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah. Wizarah al-Awqaf wa al-Syu’un al-Islamiyyah al-Kuwait, 14/149-150]

Berbalik kepada isu yang dibincangkan, dalam isu ini terdapat dua (2) jenis tawassul yang dibenarkan iaitu:

Pertama: Bertawassul dengan amal soleh dan hal ini berbetulan dengan sabda Nabi SAW dari Ibn Umar R.Anhuma diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari[2] Rahimahullah di dalam sahihnya yang mana mengisahkan tiga orang yang terperangkap di dalam gua dan kemudian setiap dari mereka bertawassul dengan amal soleh masing-masing dan akhirnya Allah SWT menyelamatkan mereka.

Di dalam hadis tersebut diceritakan bagaimana pemuda pertama bertawassul dengan amal solehnya iaitu mentaati kedua orang tuanya. Pemuda kedua pula bertawassul dengan amal solehnya yang mana dia dahulu pernah hampir melakukan zina kemudian ditinggalkannya kerana takut akan azab Allah SWT. Manakala pemuda ketiga pula bertawassul dengan amalan solehnya dengan mengatakan beliau seorang yang amanah. Memegang amanah yang diberikan kepadanya dan mengembalikan kepada pemiliknya. Mereka bertawassul dengan amal soleh mereka masing-masing dan sedikit demi sedikit batu yang menutup pintu gua tempat mereka terperangkap terbuka.

Ini menunjukkan keberkesanan tawassul dengan amal soleh, yakni dengan menjadikan amal soleh sebagai perantara di dalam doa kita dan kesannya dapat dilihat dengan cepat. Di dalam konteks ini, kita menjadikan amal soleh kita membaca Al-Quran sebagai perantara dalam doa untuk menunaikan hajat kita.

Justeru apa yang boleh dilakukan di sini setelah membaca Al-Quran, hendaklah kita berdoa kepada Allah SWT dengan perantaraan amal soleh bacaan kita tadi semoga Allah SWT memenangkan Masjid al-Aqsa. Mudah-mudahan dikabulkan, InsyaAllah.

Kedua: Ayat Al-Quran itu sendiri menjadi kalamullah dan kita memohon mewakili nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT yang terdapat di dalam Al-Quran. Maka ia diizinkan oleh Islam lebih-lebih lagi kalam-Nya itu bersifat mukjizat. Ianya berdasarkan firman Allah SWT:
وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ

Maksudnya: “Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu,”

(Al-A’raaf: 180)

Justeru, perbuatan seperti ini tidaklah menyalahi syara’ kerana padanya terdapat ciri-ciri tawassul yang dibenarkan (masyru’). Wallahu a’lam.

Saya tertarik dengan pendapat yang telah dikeluarkan oleh Fadhilah al-Syeikh Dr. Solah Abd al-Fattah al-Khalidi Hafizahullah apabila ditanyakan adakah harus membaca al-Quran bertujuan memenangkan Masjid al-Aqsa. Syeikh berkata:

“Membaca Al-Quran adalah adalah ibadat kepada Allah. Maka tiadalah halangan bagi pembaca Al-Quran berniat ibadat dallam bacaan ini untuk memenangkan al-Aqsa. Ini dengan makna mendekatkan diri kepada Allah dengan bacaan ini. Seterusnya bertawassul dengannya mengharapkan daripada Allah kemenangan bagi Masjid al-Aqsa. Seperti yang dimaklumi bahawa harus tawassul kepada Allah dengan amal yang soleh. Jadilah bacaan dengan niat ini gambaran daripada gambaran yang baru dalam bentuk menolong Masjid al-Aqsa dan juga medatangkan dengan cara-cara yang baru.”

Semoga dengan pencerahan ini menjadikan kita lebih cakna ,mengasihi dan mencintai Masjid al-Aqsa dan mengambil peduli apa yang berlaku terhadapnya. Semoga suatu hari nanti, Masjid al-Aqsa akan bebas dari cengkaman Yahudi Zionis dan kita semua dapat solat di dalamnya dengan penuh rasa ketenangan. Ameen.

Akhukum fillah,

S.S Datuk Dr. Zulkifli Bin Mohamad Al-Bakri
Mufti Wilayah Persekutuan
6 November 2015 bersamaan 24 Muharram 1437H.

[1] http://muftiwp.gov.my/index.php?option=com_content&view=article&id=223

[2] Ianya merupakan hadis yang sangat panjang. Kami hanya menukilkan isi penting daripada hadis tersebut untuk perbincangan kita kali ini. Adapun hadis ini al-Imam al-Bukhari meriwayatkannya di dalam Kitab al-Riqaq, Bab Qissatu Ashab al-Ghar wa al-Tawassul bi Solih al-A’mal, No. Hadis: 2743.

30 November 2015 Posted by | Fatwa, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

PEMAHAMAN BID’AH PADA SYARA’

Bid’ah pada bahasa daripada perkataan بدع iaitu الاختراع على غير مثال سابق “mencipta tanpa contoh sebelumnya”

Ini berdasarkan firman Allah ;
بديع السموات والأرض
“(Dialah) Allah pencipta langit dan bumi”

Nama Allah بديع berasal dari kalimah yang sama dengan perkataan bid’ah. Ayat quran tadi menjadi dalil bahawa bid’ah ialah sesuatu yang tidak ada contoh sebelumnya kerana Allah menciptakan langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Jika ada contoh sebelumnya maka bukan lagi termasuk di dalam makna bid’ah.

Pada istilah ada beberapa makna ;

Berkata Imam Syatibi : Bid’ah ialah suatu jalan pada agama yang dicipta menyerupai syariat bermaksud untuk beramal dengannya seperti maksud jalan syariat.

Dinaqalkan daripada Ibnul Qayyim di dalam kitab إعلام الموقعين daripada Imam Syafie dan diriwayatkan juga daripada Rabie’ : Sesungguhnya Imam Syafie menjadikan bid’ah iaitu apa yang bercanggah dengan Al-Quran dan As-Sunnah atau athar sebahagian sahabat. Kitab Haasyiah Al-Muwaafaqat bagi Imam As-Syatibi juz 4 m/s 78.

Imam Baihaqi menyatakan di dalam kitab manaqib As-Syafie dengan katanya : Perkara yang baru itu terbahagi kepada dua :

1) Daripada apa yang menyalahi Al-Quran atau As-Sunnah atau ijmak maka ini bid’ah yang sesat.
2) Apa yang direka-reka daripada kebaikan tidak ada percanggahan bagi satu daripada ini (Al-Quran atau As-Sunnah atau athar atau ijmak) ini dikira perkara baru yang tidak tercela.

Sesungguhnya telah berkata Umar Bin Al-Khottob رضي الله عنه pada qiam Ramadhan نعمت البدعة هذه “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” iaitu mendirikan solat terawih berjemaah dengan satu Imam yang mana tidak pernah ada di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم – Kitab Al-Haawi bagi Imam As-Suyuthi juzuk 1 m/s 192-193.

Berkata Ibnu ‘Athir : Bid’ah iaitu jika bercanggah dengan perintah Allah dan Rasul maka ia pada kedudukan tercela dan ingkar dan jika menepati di bawah umum apa yang disunatkan dan diperintahkan oleh Allah dan Rasul maka ia adalah pada kedudukan terpuji walaupun tidak ada contoh seperti mulia dan pemurah dan perbuatan yang baik maka ini daripada perbuatan terpuji yang tidak ada orang melakukan sebelumnya dengan syarat yang demikian itu tidak bertentangan dengan syara’ kerana Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menjadikan pahala bagi yang demikian tadi dengan sabdanya : من سن سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها “Sesiapa yang mencipta satu sunnah yang baik adalah baginya pahalanya dan pahala orang yang melakukannya”. – Jami’ Al-Usul Juzuk 1 m/s 280-281.

Menaqalkan oleh Imam As-Suyuthi di dalam kitabnya Al-Haawi daripada Imam Nawawi berkata pada kitab beliau tahzib al-asma’ wal lughat seperti berikut : Bid’ah pada syara’ iaitu mengadakan sesuatu yang tidak ada pada zaman Nabi صلى الله عليه وسلم terbahagi kepada baik dan buruk.

Dinaqalkan daripada Imam ‘Izuddin bin Abdissalam berkata di dalam kitab al-Qawaa’id : Bid’ah terbahagi kepada wajib, haram, sunat, makruh dan harus. Kemudian beliau berkata cara untuk menentukan ialah dengan membentangkan bida’ah di atas kaedah-kaedah syara’ maka jika masuk pada kaedah wajib maka wajib atau pada kaedah haram maka haram atau pada kaedah sunat maka sunat atau kaedah makruh maka makruh atau kaedah harus maka harus. Kemudian beliau menyatakan contoh bagi setiap bahagian. – Al-Haawi bagi Imam As-Suyuthi juzuk 1 m/s 192-193.

Menaqalkan oleh Imam As-Syaukaani daripada Ibnu Hajar katanya di dalam kitab Al-Fathi : Bid’ah asalnya apa yang direka-reka tanpa contoh sebelumnya dan disebut pada syara’ di atas perkara yang bercanggah dengan sunnah maka ia tercela. Sebenarnya sekiranya ia terbit daripada jalan orang yang memperelokkan syariat maka ia baik dan jika ia terbit daripada jalan orang yang memperburukkan pada syara’ maka ia buruk kecuali pada hukum mubah (harus) maka ini terbahagi kepada 5 hukum seperti yang dinyatakan oleh Imam ‘Izuddin bin Abdissalam. – Nailul Author juzuk 3 m/s 60.

Maka dengan pandangan-pandangan para ulama di atas, dapat difahami bid’ah pada syara’ seperti berikut ;

1. Bid’ah terbahagi kepada dua iaitu baik dan buruk.
2. Bid’ah baik yang tidak bercanggah dengan Al-Quran, As-Sunnah, Ijmak dan Qias.
3. Penentuan bid’ah hendaklah dilakukan berdasarkan kaedah hukum syara’ iaitu wajib, haram, sunat, makruh dan harus.
4. Perbuatan Saidina Umar Al-Khottob di dalam masalah qiam Ramadhan adalah bukti para sahabat memahami bidaah terbahagi kepada dua sesuai dengan perkataan beliau “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.
5. Hadith “Setiap bid’ah adalah sesat” bersifat umum yang tidak boleh difahami secara zahir tanpa mengkhusukan dengan dalil-dalil yang lain daripada Al-Quran, As-Sunnah, Ijmak dan Qias.

Oleh Al-Haqir ila Rabbi,
Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari

16 November 2015 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Semua ingin jadi hero keluar fatwa

Banyak isu-isu fiqh yg berleluasa akhir zaman ni, tapi yang hendak jadi heronya adalah orang jahil. Tidak ada autoriti untuk berijtihad. Tapi main fatwa ikut sedap mulut. Main kias ikut sedap mulut.
Ingat mudah kah keluarkan fatwa tentang sesuatu hukum terhadap sesuatu perkara baru yang tiada asalnya sebelum ini?

Ini main fatwa main sebut haram, halal, semudah mengunyah popcorn. Mujtahid bila berijtihad mereka buat ‘juhd’. Juhd ini kata akar bagi ijtihad. Maknanya secara lughoh ialah bersungguh-sungguh meneliti dalil qathie dari AlQuran, Assunnah, Ijmak, Qias, kemudian menggunakan Adillat Ahkam yg lain macam Istihsan, Masolih Mursalah dan lain-lain bergantung kepada Usul Mazhab masing-masing.

Syarat mujtahid pulak bukannya degree/master/phd. Syarat mujtahid ni banyak. Ini degree dalam bidang ekonomi, engineering pun sibuk nak ijtihad. Semudah merendam maggi dalam mug.

Ingat!
قال الرسول صلى الله عليه وسلم:
من أفتى بغير علم فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين
Sabda Rasul:
((Barangsiapa berfatwa tanpa ilmu maka ke atasnya laknat Allah, para malaikat dan manusia keseluruhannya)

* tidak perlu kita jadi jagoan dalam isu isu semasa dengan mengeluarkan pendapat mengenai hukum semata-mata hendak dapat like dan share yang tinggi dalam media sosial.

* tidak berbaloi fatwa tapi kena laknat dengan Allah, Malaikat dan manusia

* kena pulak, main fatwa sedap mulut, baca AlQuran pun makhraj dan tajwid tunggang terbalik. Malulah sikit!

13 November 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | Leave a comment

USTAZ DR HJ ZAMIHAN BIN MAT ZIN AL-GHARI YANG SAYA KENALI.

image

Ustaz Dr Haji Zamihan al-Ghari seorang yang amat tegas dalam membicarakan bab akidah dan hukum-hakam agama.Secara jujur saya katakan, pengalaman saya bersamanya dalam beberapa detik yang lalu telah membuatkan saya mengenali beliau.Di atas ketegasannya itulah belia|u sering dijemput oleh beberapa Jabatan Mufti Negeri / Jabatan Agama Negeri/ Jabatan Kerajaan, NGO, Masjid-Masjid dan Surau-Surau untuk membentangkan tentang penyelewengan akidah yang dilakukan oleh golongan yang tersasar dari manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah.Di atas ketegasannya itu juga yang memiliki suara yang lantang bila berbicara, beliau sering menjadi sasaran tohmahan, fitnah oleh golongan yang tidak senang apabila pembongkaran secara terbuka dilakukan oleh beliau terutamanya dari golongan Wahabi, Syiah, Pluralisme agama dan lain-lainnya.

Ustaz Dr Haji Zamihan al-Ghari bukan sahaja tegas dengan pihak yang menentangnya kerana pembongkaran yang dilakukannya tetapi beliau juga tegas terhadap mereka yang rapat dengannya.Saya sendiri juga pernah ditegur jika berbuat kesalahan dan beliau juga jika berbuat sesuatu kesilapan, akan meminta maaf jika ada yang menegurnya.

Di atas kepakarannya dan ketegasannya, beliau pernah berdebat dengan seorang ketua Syiah di Kedah selama 3 jam, begitu juga beliaulah yang telah berhujah dengan Haji Kahar di Kemensah yang mengaku menjadi Rasul Melayu satu ketika dulu. Beliau jugalah yang telah pergi ke rumah Kasim Ahmad yang mengingkari dan menolak Hadith-Hadith Nabi Shallallahu alaihi wassalam.

Di sebalik ketegasannya yang dianggap kasar oleh sesetengah pihak yang tidak mengenalinya secara dekat, beliau merupakan seorang yang lembut hati dan pemurah.Ramai di antara sahabat-sahabat beliau yang dibantu terutama sekali bagi anak-anak mereka yang nak melanjutkan pelajaran.Sahabat-sahabatnya yang susah akibat kereta rosak dan sebagainya juga akan dibantu oleh beliau. Beliau bukan sahaja membantu mereka yang dikenali tetapi beliau juga cepat menghulurkan bantuan kepada sesiapa sahaja walaupun tidak dikenali.

Pernah satu hari ketika saya bersamanya berada di Jabatan Mufti Negeri Johor selepas beliau menyampaikan taklimat, datang seorang muaalaf yang ingin mengadu belum lagi mendapat bantuan zakat. secara spontan, Ustaz Dr Hj Zamihan mengambil sampul yang diberikan kepadanya selepas menyampaikan taklimat, lalu kesemuanya diserahkan kepada muaalaf tersebut.

Begitu juga pernah seseorang menghantar sms kepadanya, memohon bantuan dan nombor talipon di dapati dari buku tulisan Ustaz Dr Hj Zamihan, lalu dia meminta saya memasukkan duit RM500 ke akaun orang tersebut sebagai bantuan

Tulisan saya ini bukanlah nak membela Ustaz Dr Haji Zamihan, malah beliau juga tidak pernah meminta saya menulis sebegini, apatah lagi sekarang sudah lama juga saya tidak bertemu dengannya tetapi bagi mereka yang belum mengenalinya secara peribadi, tidak akan faham kenapa beliau begitu tegas membela perjuangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Ketegasannya itulah yang menyebabkan ramai yang dulunya tidak tahu apa itu Wahabi, apa itu Syiah, sudah mula membuka mata tentang bahayanya pemikiran kedua-duanya.

Di atas ketegasannya itulah, golongan Wahabi dan Syiah tidak senang duduk dengan pembongakarannya secara terbuka, baik melalui ceramah ataupun penulisan, membuat berbagai-bagai fitnah terhadap beliau.Malah Ustaz Dr Haji Zamihan al-Ghari pernah disaman oleh golongan yang tidak lagi berupaya mengemukakan hujah tetapi semuanya dengan pertolongan Allah, yang bathil akan tetap lenyap dan haq tetap ditegakkan.

Ketahuilah bahawa beliau melakukan semua ini hanya dengan satu tujuan iaitu ingin menyelamatkan akidah umat Islam dari tipu muslihat golongan Wahabi dan Syiah yang semakin tersebar kini.

Akhirkata, saya tidaklah taksub dengan beliau dan saya tahu, akan datang komen-komen yang negatif nanti yang akan membantai saya selepas ini.

Semua yang saya lakukan adalah untuk menyatakan sesuatu yang haq dan saya juga tidak dibayar untuk tulisan ini.Saya berserah kepada Allah Yang Maha Kuasa dan berdoa agar negara kita akan selamat daripada akidah yang bathil yang dibawa oleh fahaman-fahaman yang bertentangan dengan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang dibawa oleh majoriti Ulama Muktabar.

Semoga Allah memberkati perjuangan Ustaz Dr Haji Zamihan al-Ghari bersama-sama temannya yang lain dan dipelihara oleh Allah dengan kekuasaanNya.

Ustaz Mohd Hanif
Juma’at @ 1 Safar 1437H.

13 November 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Informasi, Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | Leave a comment

DR ASMADI MOHD NAIM MENYANGGAH DR. MAZA

Sanggahan ini dibuat atas artikel DR MAZA yang bertajuk : Islam Antara Nas Dan Pendapat Tokoh.

Sila klik : http://drmaza.com/home/?p=710

Dijawab oleh Dr Asmadi Mohamed Naim

Biografi Dr Asmadi:

Berasal dari Kelantan tetapi dibesarkan di Kuantan, Pahang sehingga ke peringkat Menengah kerana mengikuti keluarga yang berkhidmat dengan kerajaan. Memulakan pengajian Islam secara rasmi pada tahun 1998 di sebuah madrasah di Sungai Ular, Kuantan. Menyambung pelajaran di Jordan untuk mempelajari Bahasa Arab pada tahun 1989-1990. Menamatkan pengajian Thanawi Empat di Pakistan dari 1990-1993 dan kemudian melangkah semula ke Jordan (1993-1997) untuk menamatkan pengajian B. Shariah sehinggalah saya menamatkan pengajian MIRKH (1998-99)dan PhD di UIAM pada dari 2000 hingga 2004. Saya mempunyai seorang isteri dan 6 orang cahaya mata. Untuk mengetahui lebih lanjut sila ke homepage saya di

http://staf.uum.edu.my/asmadi

Sanggahan terhadap artikel DR MAZA :

KOMEN TERHADAP ARTIKEL ‘ISLAM: ANTARA NAS DAN PENDAPAT TOKOH’

Oleh: Dr Asmadi Mohamed Naim

Saya membaca tulisan Dr Asri bertajuk: Islam: Antara Nas Dan Pendapat Tokoh. Pada saya Dr. Asri mengulas perbahasan kitab-kitab ulama tanpa mengetahui susur galur dan sebab musabab kenapa perbahasan sedemikian muncul. Ini dikeranakan latarbelakangnya pengajian ijazah pertama Bahasa Arab Jordan yang tiada subjek Syariah kecuali terlalu sedikit (seumpama pelajar sastera Melayu di Malaysia, tidak seperti Kuliah Bahasa Arab di al-Azhar), kemudiannya dia terus terjun dalam pengajian hadith di peringkat Masters (secara penyelidikian dan bukan berguru) dan hanya PhDnya sahaja ada 8 kursus yang perlu dilalui secara berguru. Hubungannya dengan ulama-ulama adalah terlalu sedikit berbanding pembacaan.

Untuk mengkritik kitab-kitab turath, dia memilih satu huraian kitab yang ditulis oleh ulama yang tidak terkenal di kalangan ulama mutaakhirin. Dia tahu dia tidak akan berjumpa perkara sedemikian dalam kitab mutaqaddimun mazhab. Dia tahu, dia sukar untuk mengkritik syarahan Imam al-Shafie, al-Mawardi, al-Nawawi dalam aliran mazhab Shafie. Demikian sukar juga dikutuk pandangan Abu Yusuf, Muhammad dan Zufar dalam mazhab Hanafi. Sukar juga di’pandir’kan pandangan pemuka mazhab Malik seperti Ibn Rusyd al-Jad dan Ibn Rusyd al-Hafid dan al-Dasuqi sebagaimana sukar mempertikai Ibn al-Qudamah, al-Maqdisi dalam mazhab Hanbali.

Sesiapa yang mempelajari ‘madkhal al-fiqh’ (Pengantar al-Fiqh) sepatutnya menyedari adanya budaya ‘araaitiyyun’ (kalau sekiranya… araaita) di kalangan ulama untuk membahaskan kemungkinan-kemungkinan berlakunya sesuatu peristiwa. Sekira sangkaan baik ada pada pelajar, ia akan merasakan bagaimana hebatnya seseorang imam itu berusaha mengembangkan perbahasan dalam sesuatu perkara. Itu ijtihad mereka dan sumbangan mereka. Kebiasaan guru-guru Shariah menerimanya sebagai satu usaha ulama-ulama silam memperhalusi setiap perbahasan dan bersangka baik dengan ulama-ulama ini.

Tugas pelajar-pelajar Shari’ah kemudiannya menyaring dan memahami perbahasan tersebut untuk disampaikan kepada masyarakat awam. Bahkan daripada contoh-contoh yang diberi, akan terbentuk kaedah mengeluarkan hukum di kalangan pelajar Shari’ah. Bukan semua orang layak menjadi mujtahid.

Sekali lagi ‘isu kecil’ berus gigi diperbesarkan utk menunjukkan dan membuktikan kebodohan ulama silam. Bukankah ada pandangan ulama silam yang tetap membenarkan bersugi selepas zohor?

Pada saya, ulasan negatif terhadap ulama-ulama tersebut menunjukkan ‘kepandiran’ orang yang memperkecilkan ulama-ulama silam tersebut. Kalau dia melalui pengajian rasmi Shari’ah di University of Jordan yang saya sama universiti dengannya (dan hampir sama tahun pengajian), dia akan berjumpa dengan ramai pensyarah-pensyarah yang menyindir pelajar-pelajar supaya menjaga adab dengan ulama. Bahkan ada yang menyebut: [box title=TitleBox]’Hum rijal wa nahnu zukur’ iaitu ‘mereka lelaki (yang sebenar) dan kita lelaki (biasa)'[/box] sebagai sindiran kepada mereka yang merasakan setaraf atau lebih hebat dari ulama-ulama silam tersebut walaupun baru setahun dua di Kuliah Shari’ah. Bahkan pengajian saya dengan tokoh-tokoh Salafi Jordan seperti Prof. Dr Umar al-‘Ashqar (yang digelar Salafi Tulen Jordan), Prof. Yasir al-Shimali dan lain-lain menunjukkan bagaimana mereka menghormati pandangan Imam-Imam mazhab tersebut dan anak-anak muridnya. Tidak pernah keluar dari mulut Prof. Umar perkataan ‘banyak contoh-contoh bodoh yang dibentangkan oleh ulama Fiqh!’

Demikian juga, malang bagi Dr. Asri apabila semua ‘busuk’ yang dia lihat pada ulama silam. Takut-takut ‘bahtera perubahan’ menjadi ‘bahtera fitnah’… Pada saya ini sudah menjadi ‘keterlanjuran dan fitnah melampau’ Dr Asri terhadap ulama! Yang di sebaliknya dia menyeru:
Quote
‘Jangan ikut ulama, tapi ikutlah aku kerana aku bukan Pak Pandir dan akulah paling benar’.

Manakala ulasannya dalam Hashiah al-Bajuri, dia tidak menyatakan mukasurat. Saya lebih cenderung dia tersilap menterjemahkan. Terjemahan asal ialah memasukkan ‘keseluruhan kemaluan’. Kalau benarpun terjemahannya, ia di bawah konsep bahasa Arab yang di sebut ‘lanjutan contoh’ bukan sebagai ‘contoh utama’. Jadi, dia seharusnya lebih memahami perbahasan ulama-ulama fiqh dan seharusnya cuba bersangka baik kepada ulama-ulama tersebut sebagaimana dia boleh bersangka baik kepada Albani walaupun banyak ‘tanaqudhat’ (pandangan yang saling berlawanan samada dalam kitab yang sama atau kitab berbeza).

Wallahu a’lam.

Allahu musta’an.

image
Dr Asri Zainal Abidin

12 November 2015 Posted by | Politik dan Dakwah | Leave a comment

KITAB-KITAB ASWJ YANG DIUBAH WAHHABI

Oleh: Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari

Ini berdasarkan kajian di pesantren NU. Tulisan di dalam bahasa indonesia. Semoga bermanfaat.

1.) Bila dalam kitab al-Ibanah karya Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari terdapat tulisan yang secara eksplisit maupun implisit mendukung tajsim dan tasybih maka dipastikan kitab tersebut palsu!

2.) Bila dalam kitab Sahih Bukhari, Pasal al-Ma’rifah dan Bab al-Madhalim tidak ada / hilang, maka dapat dipastikan kitab tersebut palsu karena Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan adanya pasal tersebut!

3.) Bila Pasal Ziarah Kubur Nabi saw. di dalam kitab Riyadus Shalihin berubah menjadi Pasal Ziarah Masjid Nabi saw. maka kitab tersebut palsu!

4.) Di dalam kitab Diwan asy-Syafi’i halaman 47 ada bait yang berbunyi, “Faqihan wa Shuufiyyan Fakun Laisa Waahidan” yang artinya “Jadilah Ahli Fiqih dan Sufi sekaligus, jangan hanya salah satunya,” bila bait ini hilang maka kitab tersebut palsu!

5.) Bila hadits tentang Fadhail/keutamaan Maryam, Asiyah, Khadijah dan Fatimah hilang/tidak ada dalam kitab Sahih Muslim maka kitab ini palsu karena kitab Mustadrak al-Hakim mencatat itu!

6.) Bila hadits tentang Nabi saw. yang mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, serta mempersaudarakan dirinya dengan Sayidina Ali tidak ada di dalam kitab Musnad Imam Ahmad, maka Musnad tersebut palsu!

7.) Bila Pasal khusus tentang wali abdal, shalihin dan karomah, tidak ada di dalam kitab Hasyiyah Ibnu ‘Abidin yang bermadzhab Hanafi, maka kitab tersebut palsu!

8.) Bila tulisan bahwa Wahabi adalah jelmaan Khawarij yang telah merusak penafsiran Al-Qur’an dan As-Sunnah, suka membunuh kaum muslimin…(dan seterusnya ) dalam kitab Hasyiyah ash-Shawi ala Tafsir Jalalain karya Syech Ahmad bin Muhammad ash-Shawi al-Maliki halaman 78 tidak ada maka kitab tersebut palsu!

9.) Di dalam kitab al-Fawaid al-Muntakhabat karya Ibnu Jami Aziz Zubairi halaman 207 menyatakan bahwa Syech Muhammad bin Abdul Wahab adalah thaghut besar (pembangkang besar), bila tulisan ini tidak ada maka kitab tersebut palsu!

10.) Bila Bab Istighatsah pada kitab al-Mughni karya Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali tidak ada, maka kitab tersebut palsu!

Dan masih banyak lagi kitab-kitab kuning ala pesantren khususnya di kalangan NU dan Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipalsukan atau dihilangkan keterangan-keterangan yang sebenarnya atau asli oleh kelompok Wahabi.

Kelompok Wahabi yang merupakan bagian dari kaum Khawarij, sejak zaman dahulu sudah membelot dan membangkang dari dakwah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin. Mereka tidak segan-segan memvonis kelompok lainnya sebagai ahli bid’ah, musyrik dan kafir. Bahkan mereka tidak segan bila harus membunuh ulama dan penganut Ahlussunnah wal Jama’ah. Seperti peristiwa yang menimpa Almarhum As-Syeikh Nawawi al-Bantani dan keluarganya yang dibunuh oleh kelompok Wahabi di Arab Saudi.

4 November 2015 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | Leave a comment

Siapa yang di katakan Salafus Soleh

Catitan ilmu supaya kita lebih faham erti terminologi yg dipakai:-

1) Imam Hanafi lahir: 80 hijrah
2) Imam Maliki lahir: 93 hijrah
3) Imam Syafie lahir: 150 hijrah
4) Imam Hanbali lahir: 164 hijrah
5) Imam Asy’ari lahir: 240 hijrah

Mereka ini semua ulama Salafus Soleh @ dikenali dgn nama ulama SALAF…

Apa itu SALAF?
Salaf ialah nama “zaman” iaitu merujuk kpd golongan ulama yg hidup antara kurun zaman kerasulan Nabi Muhammad hingga 300 HIJRAH.

1) Golongan generasi pertama dr 300 tahun hijrah tu disebut “Sahabat Nabi” kerana mereka pernah bertemu Nabi.

2) Golongan generasi kedua pula disebut “Tabi’in” iaitu golongan yg pernah bertemu Sahabat Nabi tp tak pernah bertemu Nabi.

3) Golongan generasi ketiga disebut sbg “Tabi’ tabi’in” iaitu golongan yg tak pernah bertemu Nabi & Sahabat tp bertemu dgn Tabi’in.

Jd Imam Abu Hanifah (pengasas mazhab Hanafi) merupakan murid Sahabat Nabi maka beliau seorg TABI’IN.

Imam Malik,
Imam Syafie,
Imam Hanbali,
Imam Asy’ari pula berguru dgn Tabi’in maka mereka adalah golongan TABI’ TABI’IN.

Jd kesemua imam2 yg mulia ini merupakan golongan SALAF YG SEBENAR & pengikut mazhab mereka lah yg paling layak digelar sbg “Salafi” kerana “salafi” bermaksud “pengikut golongan SALAF”.

Jd beruntung lah kita di Malaysia (nusantara) yg masih berpegang kpd mazhab Syafie yg merupakan mazhab SALAF yg SEBENAR & tidak lari dr kefahaman NABI & SAHABAT…

Rujukan Wahhabi pulak:

1) Ibnu Taimiyyah lahir:
661 Hijrah (lahir 361 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF)

2) Albani lahir:
1333 Hijrah (mati tahun 1420 hijrah @ 1999 Masihi,
lahir 1033 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF)

3) Muhammad Abd Wahhab (pengasas gerakan Wahhabi):
1115 Hijrah (lahir 815 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF)

4) Bin/Ibnu Baz lahir:
1330 Hijrah (mati tahun 1420 hijrah @ 1999 Masihi,
sama dgn Albani,
lahir 1030 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF)

5) Ustaimin lahir:
1928 Masihi (mati tahun 2001,
lebih kurang 12 tahun lepas dia mati,
lahir entah berapa ribu tahun selepas zaman SALAF.

Mereka ini semua hidup di AKHIR ZAMAN kecuali Ibnu Taimiyyah yg hidup di pertengahan zaman antara zaman salaf & zaman dajjal (akhir zaman)…

tak de sorg pun imam rujukan mereka yg mereka taksub buta hidup di zaman SALAF….

Mereka ini semua TERAMAT LAH JAUH DARI ZAMAN SALAF tp SANGAT2 ANEH apabila puak2 Wahhabi menggelarkan diri sebagai “Salafi” (pengikut golongan Salaf).
Sedangkan rujukan mereka
semuanya merupakan manusia2 yg hidup di AKHIR ZAMAN?

Oleh: Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari

30 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

CIRI-CIRI KHAS MUFTI ULAMA DAN ASATIZAH WAHABI

image

Orang awam wajib tahu dan lari daripada fahamannya.

1. Fatwa para ulama Wahabi Salafi berkisar pada (a) bid’ah; (b) syirik; (c) kufur; (d) syiah (e) al-Ahbash kepada kelompok Islam atau muslim lain yang tidak searah dengan mereka. Kita akan sering menemukan salah satu dari 5 kata itu dalam setiap fatwa mereka.
.
2. Dalam memberi fatwa, tokoh utama ulama Wahabi Salafi akan langsung berijtihad sendiri dengan mengutip ayat dan hadits yang mendukung. Atau, kalau mengutip fatwa ulama, mereka akan cenderung mengutip fatwa dari IBNU TAIMIYAH ATAU IBNUL QAYYIM. Selanjutnya, mereka akan membuat fatwa sendiri yang kemudian akan menjadi dalil para pengikut Wahabi. Dengan kata lain, pengikut Wahabi hanya mau bertaklid pada ulama Wahabi.
.
3. Tokoh atau ulama Wahabi Salafi level kedua ke bawah akan cenderung menjadikan fatwa tokoh Salafi level pertama sebagai salah satu rujukan utama. Atau kalau tidak, akan memberi fatwa yang segaris dengan ulama Wahabi level pertama.
.
4. Kalangan ulama atau tokoh Wahabi Salafi tidak suka atau sangat jarang mengutip pendapat ULAMA SALAF SEPERTI ULAMA MAZHAB YANG EMPAT dan yang lain kecuali MAZHAB HANBALI yang merupakan tempat rujukan asal mereka dalam bidang fiqh walaupun tidak mereka akui secara jelas. Hanya pendapat IBNU TAIMIYAH dan IBNU QAYYIM yang sering dikutip untuk pendapat ulama di atasnya MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB terutama dalam bidang yang menyangkut aqidah.
.
5. Di mata ulama Wahabi, perayaan keislaman yang boleh dilakukan hanyalah hari raya idul fitri dan idul adha. Sedangkan perayaan yang lain seperti maulid Nabi Muhammad, peringatan Isra’ Mi’raj dan perayaan tahun baru Islam dianggap haram dan bid’ah.
.
6. Gerakan-gerakan atau organisasi Islam yang di luar Wahabi Salafi atau yang tidak segaris dengan manhaj (aturan standar ideologi) Wahabi akan mendapat label syirik, kufur atau bid’ah.
.
7. Semua lulusan universiti Arab Saudi dan afiliasinya adalah kader Wahabi Salafi. Melainkan terbukti sebaliknya.
.
8. Pengikut/aktivis Wahabi Salafi tidak mau taklid (mengikuti pendapat) ulama salaf (klasik) dan khalaf (kontemporer), tapi dengan senang hati taklid kepada pendapat dan fatwa ulama-ulama Wahabi Salafi atau fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ (اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء والدعوة والإرشاد) dan lembaga serta ulama-ulama yang menjadi anggota Hai’ah Kibaril Ulama (هيئة كبار العلماء) yang nama lengkapnya adalah Ar-Riasah al-Ammah lil Buhuts wal Ifta’ (الرئاسة العامة للبحوث العلمية والإفتاء).
.
9. Pengikut/aktivis sangat menghormati ulama-ulama mereka dan selalu menyebut para ulama Wahabi dengan awalan Syeikh dan kadang diakhiri dengan rahimahu-Llah atau hafidzahulLah. Seperti, Syeikh Utsaimn, Syeikh Bin Baz, dll. Tapi, menyebut ulama-ulama lain cukup dengan memanggil namanya saja.
.
10. Ulama Wahabi Salafi utama (kecuali Nashiruddin Albani yang asli Albania) majoriti berasal dari Arab Saudi dan bertempat tinggal di Arab Saudi. Oleh karena itu, mereka umumnya memakai baju tradisional khas Arab Saudi iaitu (a) gamis/jubah warna putih (b) surban merah (c) surban putih (d) maslah yaitu jubah luar tanpa kancing warna hitam atau coklat yang biasa dipakai raja. Lihat baju luar yang dipakai Abdul Wahab dan Al-Utsaimin.
.
Oleh karena itu, ketika kita membaca buku, kitab atau layari  internet, tidak sukar mengenali pada fatwa ulama non-Wahabi, mana fatwa yang berasal dari Wahabi Salafi dan mana tulisan sebuah website atau blog yang penulisnya adalah pengikut Wahabi.
.
SAYANGNYA, TIDAK SEDIKIT DARI KALANGAN AWAM yang terkadang tidak sedar bahwa fatwa agama dalam buku atau website internet yang mereka baca berasal dari fatwa Wahabi Salafi.

Semoga dengan informasi ini, para pencari informasi keagamaan akan semakin tercerahkan.

Intinya, cara termudah mengetahui apakah seorang ulama, ustaz atau tokoh agama atau orang awam biasa itu berfaham Wahabi Salafi adalah dari (a) latar belakang pendidikannya; (b) buku atau kitab yang dikutip; dan (c) cara memanggil ulama Wahabi dan ulama non-Wahabi (lihat poin 9).
.
Sekian wassalam.

23 October 2015 Posted by | Fiqh, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | 1 Comment

JALAN KITA BUKAN JALAN MELAKNAT, MENUDUH DAN MENCACI-MAKI

(“Taushiyyah Al-Habib Umar bin Hafidz yang Meruntuhkan Hati”)

Di hadapan kita ada qudwah (teladan), Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang mukmin tidak melaknat, menuduh dan berkata keji.” “Aku tidak diutus sebagai pelaknat ataupun berteriak-teriak di pasar.”

Baginda Saw. bukan pencaci, bukan pula pelaknat. Begitu juga dengan pengikut baginda dari kalangan ulama, tidak ada diantara mereka pelaknat yang suka melaknat orang. Bukan juga pencaci, yang mencaci bahkan terhadap orang awam. Apatah lagi terhadap para ulama, terlebih lagi para sahabat Nabi Saw. dan tabi’in. Mereka (para sahabat dan tabi’in) adalah sumurnya penghargaan, asas kehormatan.

Metode (dakwah) yang baik dan benar tidak ada caci maki sama sekali. Nabi Saw. tidak diutus untuk mencaci dan memaki. Tidak pula seorang wali Allah bertugas untuk mencaci atau memaki. Tidak pula berdiri hakikat ilmu dengan caci maki sama sekali!

Tidaklah berdiri suatu madzhab dengan caci maki kecuali madzhab iblis dan madzhab pengikut iblis, pada setiap waktu dan masa. Merekalah yang terbiasa meneruskan tradisi caci maki terhadap manusia, melaknat manusia, memancing emosi dan menanam kebencian di antara umat Islam.

Adapun para Nabi, para ulama dan para wali, mereka menebar kasih, menyebar persaudaraan, menyebarkan akhlaq, menyebarkan kesucian hati, menyebarkan sikap menghargai, selalu menetapkan batasan, mengekang hawa nafsu, bersifat sabar dan menahan amarah. Inilah jalan yang ditempuh para nabi, para wali, para ulama dan orang-orang shaleh

23 October 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Hendak 1000 daya Tak hendak 1000 satu Dalih

Bila ada seminar agama berbayar – dihentam, atau tidak mampu..diminta yang percuma

Bila dibuat yang percuma – dikata jauh
dari tempatnya..diminta yang dekat

Bila dibuat dekat – dikata tarikh tidak free..diminta dirakam ceramah

Bila sudah dirakam – dikata tak jumpa..diminta upload ke youtube

Bila sudah diupload – dikata panjang sangat..diminta buat pendek-pendek

Bila sudah dipecah-pecah – dikata tak jelas..diminta buat ikut tajuk

Bila sudah dibuat ikut tajuk – dikata bosan..diminta guna tajuk catchy

BIla sudah dibuat catchy – dikata tak jumpa..diminta link

Bila sudah diberi link – dikata belum sempat dengar..diminta tunggu

Bila sudah lama tunggu – sudah dengar namun dengar separuh saja kerana bosan..diminta lawak dan penceramah perlu itu ini itu ini untuk menarik..

Bila penceramah sudah itu itu itu ini – dikata penceramah dah jadi retis kurang isi, lawak je pandai.

Ada sesiapa berada di mana-mana tahap seperti di atas?

Itulah masalah hati..masalah sendiri yang perlukan pembersihan, bukan masalah penceramah dan majlis ceramah. Hendak seribu daya, tidak hendak seribu dalih.

Dipetik dari FB Dr. Zaharuddin Abd Rahman

Sumber: Jakim

20 October 2015 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Politik dan Dakwah | Leave a comment

Ucapan Datuk Seri Anwar Ibrahim bertajuk “Religion and Pluralism in a Divided World” di London School of Economic (LSE) pada 18 Mac 2010.

12 Dalil Ucapan Anwar Bercanggah Akidah Islam

Sekurang-kurang 12 Dalil ucapan Datuk Seri Anwar Ibrahim bertajuk “Religion and Pluralisme in a Divided World”(Agama dan Pluralisme Dalam Dua Dunia), pada 18 Mac 2010, di London School of Economic (LSE) perlu dinilai semula kerana dibimbangi bercanggah dengan akidah Islam.

Demikian penegasan yang dibuat oleh Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady, Felo Amat Utama, International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) dalam kertas kerjanya “Pluralisme Agama dan Anwar : Beberapa persoalan dilihat dari pandangan arus perdana Islam” yang diedarkan kepada semua peserta Wacana Sehari anjuran bersama Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), Jabatan Agama Islam Selangor(JAIS), Pertubuhan Muafakat Sejahtera Masyarakat Malaysia ( MUAFAKAT), Majlis permuafakatan Badan Amal Islam Wilayah Persekutuan, Allied Coordinating Committee of Islamic NGO (ACCIN) dan Yayasan Dakwah Islamiyah Malaysia (YADIM) di di Masjid Wilayah Kuala Lumpur.

Setiap peserta dibekalkan kompilasi ucapan Datuk Seri Anwar Ibrahim di LSE, London (18 Mac 2010) dalam dwi-bahasa,tekd asal dalam Bahasa Inggeris dan teks ucapan yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu. Manakala untuk menjawab teks ucapan Anwar itu, turut dilampirkan bersama kertas kerja Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady.
“Kompilasi ringkas ini adalah bagi menunjukkan satu contoh penyebaran luas fahaman Pluralisme Agama serta menjawab fahaman salah mereka yang mengusung idea yang ingin menyamaratakan semua agama”, ditulis dimuka depan kompilasi bertajuk “Menyanggah Pluralisme Agama Menyelamatkan Umat Islam Di Malaysia” itu.

12 Dalil kesalahan-kesalahan Anwar yang dikupas oleh Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady adalah seperti berikut :

1. Persoalan Ekslusif Agama (Religious Exclusivism) – hanya satu agama sahaja yang benar, manakala agama lain adalah salah.

Anwar Ibrahim : Golongan-golongan agama tertentu yang menganggap hanya satu ajaran asasi tertentu (fundamental doctrines) sahaja yang membawa ke jalan keselamatan/syurga (salvation) adalah pandangan yang silap dan tertutup. Agama-agama lain juga benar. Maka Pluralisme Agama adalah jalan penyelesaian terbaik untuk mengelakkan perpecahan tersebut.

Uthman El-Muhammady : Pluralisme yang mengajar penganutnya tentang tidak ada kebenaran mutlak dan tidak ada ajaran asasi yang menjamin keselamatan/kebahagian/syurga, tidak boleh diterima, malah ditolak dalam agama Islam. Sekiranya diterima anjuran Pluralisme itu maka tiada ertinya firman-firman Al Quran yang menyebut bahawa ia datang membawa al-haq (kebenaran) dan dengan itu kebatilan akan hilang.

2. Persoalan Pendapat Ahli Sufi Jelaluddin al-Rumi

Anwar Ibrahim : Pluralisme Agama dianjurkan sejak dari abad ke-13 lagi. Buktinya kata-kata oleh penyair sufi, Jelaluddin al-Rumi yang menyebut; “Lampu-lampunya berlainan, tetapi Cahaya itu sama, ia datang dari seberang sana; kalau anda terus menerus melihat pada lampu, kamu tersesat; kerana dari sana timbul rupa lahir pada bilangan dan kemajmukan”(The lamps are different but the Light is the same, it comes from Beyond; If thou keep looking at the lamp, thou art lost; for thence arises the appearance of number and plurality).

Uthman El-Muhammady : Pandangan ini tidak benar kerana Jelaluddin al-Rumi adalah seorang Muslim, Sunni, bermazhab Hanafi yang bersyair dalam konteks kerangka Islam dan bukannya di luar konteks Islam. Bukannya antara agama Islam dengan agama-agama lain. Tentang simbolik ‘cahaya’ dan ‘lampu’ itu perlu dilihat dari segi amalannya sebagai seorang sufi yang bersyair dalam kerangka Islam. Ia berbicara tentang manusia yang perlu ‘menyeberangi’ sebelah sana bentuk rupa dalam syariat, menuju ke alam hakikat. Namun begitu, mesti berpegang kepada syariat dan bukan meninggalkannya.

3. Persoalan Konsep Agama Adalah Universal
Anwar Ibrahim : Semua agama mempunyai pertanyaan yang sama iaitu dari mana datangnya manusia? Apa matlamat hidupnya? Apa yang berlaku bila ia meninggal dunia? yang bermaksud persamaan universal (universal concepts) antara semua agama untuk mencari kebenaran, keadilan dan sifat keunggulan.
Uthman El-Muhammady : Konsep ini berlawanan dengan anjuran Al Quran. Kebenaran Islam adalah satu. Yang benar adalah apa yang Allah utuskan kepada Nabi dan Rasul terakhir, Nabi Muhammad SAW.

4. Persoalan Pendapat Dante, Penyair Kristian abad ke-14
Anwar Ibrahim – Dante, penyair Kristian di Itali pada abad ke-14 menganjurkan untuk mencapai kebahagian di dunia dan akhirat bukan semata-mata dengan ‘Kuasa’ tetapi juga dengan ‘Akal’. Visi Dante ini sama dan boleh dihubungan dengan visi tokoh-tokoh Islam termasuk al Farabi dan Ibn Rush :

Uthman El-Muhammady : Dante tidak menganjurkan pluralisme agama. Beliau hanya menerima agamanya (Kristian) dan menolak agama lain. Dalam epik puisi ‘The Divine Comedy’, karya Dante, beliau meletakkan Nabi Muhammad SAW dan Saidina Ali rd ke dalam neraka. Dalam ajaran Islam, setelah turunnya al Quran maka mansuhlah semua sistem kepercayaan lain, dan ajaran Quran adalah universal. Dalam Islam, ‘Akal’ semata-mata bukan penentu kepada kesejahteraan tetapi juga bergantung kepada kepercayaan ‘Wahyu’ dan ‘Syariat’. Sebab itu al Farabi dan Ibn Rush tidak bergantung kepada ‘Akal’ tetapi beriman kepada ‘Wahyu’ Al Quran dan Syariat Nabi Muhammad SAW.

5. Persoalan Konsep Kebebasan Beragama VS Pluralisme Agama
Anwar Ibrahim : Pada hari ini wujud kebebasan beragama (freedom of religion) tetapi mengenepikan Pluralisme Agama (Religious Pluralism) yang sepatutnya kedua-duanya diperteguhkan sebagai konsep kebebasan di negara-negara yang mengamalkan demokrasi. Memihak kepada satu agama dan mengenepikan agama-agama lain adalah bertentangan dengan semangat Pluralisme Agama. Perkara ini lebih ketara di Timur Tengah dan Asia Tenggara.

Uthman El-Muhammady : Jika negara-negara Islam, adalah wajar kerajaannya berpihak kepada Islam dan memelihara syariat-syariatnya. Dalam Islam, kerajaan tidak boleh menganggap bahawa tidak ada kebenaran yang mutlak, kerana kebenaran itu tetap ada, dan negara itu mesti berpegang kepada kebenaran tersebut. Sebab itu, al-Mawardi di Baghdad pada zamannya memastikan pihak kerajaan memperbetulkan kesilapan-kesilapan orang ramai apabila berlaku penyelewengan akidah ajaran Islam. Tetapi pihak kerajaan tidak boleh menganiayai pihak yang bukan Islam, mereka tetap diberi hak untuk mengamalkan agama mereka.

6. Persoalan Firman Allah, ‘Tidak Ada Paksaan Dalam Agama’
Anwar Ibrahim : Al Quran sendiri menganjurkan Pluralisme Agama seperti dalam firman ‘tidak ada paksaan dalam agama’, maka mestilah perbuatan memaksakan kepercayaan seseorang ke atas orang lain bukan bersifat Islamik. Jika ayat ini ditolak maka kenyataan Al Quran itu tidak mempunyai apa-apa erti.

Uthman El-Muhammady :Tidak ada paksaan dalam agama’ (2:256) dalam Islam bermaksud bahawa umat Islam tidak boleh memaksa bukan Islam supaya memeluk Islam. Ia terletak pada pilihannya. Tetapi apabila seseorang itu sudah Islam maka ia tertakluk kepada undang-undang Islam, termasuk berkenaan larangan murtad daripada agama Islam. Kita tidak menafsir kebebasan beragama itu bermakna kebebasan untuk murtad bagi orang Islam.

Maka umat Islam tidak seharusnya mengikuti falsafah lain tentang kebebasan manusia dan agama apabila falsafah itu sendiri bercanggah dengan Quran. Dalam Islam ‘freedom of conscience’ (kebebasan jiwa) bukannya kebebasan ala Barat tetapi harus tunduk dengan akidah dan syarak Islam.

7. Persoalan Konsep Menuju Kepada Yang Satu

Anwar Ibrahim : Guru Granth Sahib, Kitab Agama Sikh memberitahu kepada semua manusia bahawa seseorang yang mampu melihat semua jalan-jalan kerohanian (spiritual paths) akan membawa kepada Yang Satu dan akan menjadi bebas merdeka tetapi orang yang menyatakan kepalsuan akan turun ke dalam api neraka dan terbakar di dalamnya. Orang yang berbahagia ialah orang yang disucikan dan mereka akan berterusan tenggelam dalam nikmat Kebenaran.

Uthman El-Muhammady : Dalam Islam konsep ‘Menuju Kepada Yang Satu’ perlu dilihat dalam konteks Quran. Tentang sistem kepercayaan lain yang menyebut semua jalan membawa kepada Yang Satu, kalau Yang Satu itu membawa kepada kekaburan, itu akan mengundang masalah. Penyembahan Berhala bukan Yang Satu, Penyembahan Tuhan yang bukan secara tauhid juga bukannya Yang Satu, begitu juga kepercayaan tentang sesuatu kuasa ghaib yang kabur, mengatasi yang lain, juga bukan Yang Satu dalam Al Quran.

8. Persoalan Semua Kepercayaan Agama Adalah Sama

Anwar Ibrahim : Apa juga agamanya, sama ada Islam, Kristian, Sikh, Hindu serta yang lain, saya percaya bahawa kebenaran-kebenaran yang paling tinggi (higher truths) akan mengatasi amalan- amalan semata-mata (mere practice) dan semua ibadatnya berpusat kepada kebenaran yang satu itu (singular truth): bahawa dari Allah kita datang dan kepada Allah kita kembali.

Uthman El-Muhammady : kebenaran-kebenaran yang tertinggi (higher truths) yang mengatasi amalan-amalan semata-mata (mere practice) dan semua ibadatnya berpusat kepada kebenaran yang satu itu (singular truth) juga perlu dilihat dalam konteks Al Quran. Apabila diturunnya Al Quran, maka terputuslah kebenaran agama-agama lain (‘muhaiminan ‘alaih). Menurut Islam tidak ada yang benar, melainkan ajaran al-Quran.

9. Persoalan Perintah- Perintah Eksklusif (Exclusivist Claims)
Anwar Ibrahim : Hari ini, terdapat pemimpin-pemimpin agama-agama dunia tertentu yang terus menerus membuat Perintah-Perintah Eksklusif (exclusivist claims) tentang mereka memiliki kebenaran yang kekal abadi berbanding dengan penerimaan perkara-perkara yang disepakati bersama (commonality) yang mampu menghubungkan semua manusia. Kalaulah kita menerima hakikat bahawa memang terdapat kepelbagaian, maka Pluralisme Agama adalah jawapannya kerana mampu menyatukan. Itulah jalannya untuk membawa keluar daripada kegelapan kepada cahaya, daripada perang kepada damai, daripada kebencian dan kejahatan kepada kasih-sayang dan kebaikan.

Uthman El-Muhammady : Adalah janggal sekiranya umat Islam menerima Bible dan kitab-kitab lain selain Al Quran sebagai ‘wahyu’. Teori John Hick yang mengatakan hanya Pluralisme Agama yang membawa kebahagian dan syurga tidak akan mempengaruhi umat Islam yang setia dengan wahyu Al Quran.

10. Persoalan Konsep Kebebasan
Anwar Ibrahim : kaum muslimin masih lagi berterusan berprejudis; menolak nilai kebebasan bersuara (free speech), kebebasan media (free press), demokrasi, dan kebebasan hati naluri (freedom of conscience). Mereka memandang budaya Pluralisme Agama sebagai satu bentuk konspirasi teragung oleh ‘pihak lain’, terutamanya Kristian, untuk mengembangkan ajarannya dan menjadikan muslimin memeluk agama Kristian. Pluralisme juga dilihat sebagai jerat untuk menyeluduk masuk demokrasi ala Barat melalui pintu belakang.

Tetapi sebenarnya ini merupakan suatu penyelewengan apabila dilihat menurut perlaksanaan hukum Islam. Di luar daripada kepentingan polisi awam, memang tidak ada kewajipan agama untuk orang Islam mengenakan undang-undang dan nilai-nilai umat Islam ke atas seluruh masyarakat.
Dari segi ideologi, sikap beku dalam pemikiran (rigidity) masih berupa penghalang kepada kemajuan dan islah. Muslimin hendaklah membebaskan diri daripada amalan-amalan lama menggunakan klise dan menjaja-jajanya (cliche-mongering) serta mengenakan label-label kepada orang, dan bergerak melewati kepentingan-kepentingan kelompok yang sempit. Penemuan semula garapan terhadap pluralisme yang asal dalam Islam sangat-sangat diperlukan.

Uthman El-Muhammady : Tentang pengamatan demikian ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan. Antaranya ialah nilai-nilai kebebasan bersuara, kebebasan media dan yang sepertinya tentang demokrasi dan kebebasan hati naluri (freedom of conscience), pada muslimin adalah perkara-perkara yang mesti tunduk kepada orientasi Syara’: Kalau kebebasan itu tidak bertentangan dengan Syara’, maka kebebasan itu dialu-alukan, tetapi sekiranya kebebasan itu bertentangan dengan Syara’ maka ia perlu dijauhi.
Sudah tentu bagi Muslimin, Syara’ mengatasi bahan pemikiran para pemikir semata-mata. Kalau diletakkan pemikiran-pemikiran dari para pemikir mengatasi Syara’ dan ijma’, itu adalah malapetaka intelektual dan rohaniah. Pihak yang berbicara tentang nilai kebebasan manusia sejagat perlu juga menghormati manusia beragama dalam mengamalkan agamanya dan bukannyahendak membatalkan amalan pihak lain dan mempromosikan haknya semata-mata. Itu pun bercanggah dengan nilai hak-hak asasi manusia.

11. Persoalan Syariat Islam
Anwar Ibrahim : Syariat itu bukannya hanya tertulis di atas batu, dan ia mengalami evolusi (perubahan) secara dinamik. Demi untuk mempertahankan moderat, maka unsur utama dalam metodologi Islam mesti dipandang dalam perspektif yang menyeluruh (holistic) yang akan menjadi lebih menarik, mengikut kaedah yang bersifat universal dan kekal abadi.
Dikatakan bahawa pluralisme dalam dunia yang terbahagi-bahagi ini akan menambah lagi perpecahan kepuakan yang membawa pula kepada suara yang diulang-ulang tentang ‘pertembungan tamadun’ yang telah dan masih meletihkan yang seperti ianya sama dengan pukulan ‘gendang purba’ itu. Bagaimanapun, sebagaimana yang dinyatakan oleh Eliot: Sejarah boleh berupa sebagai perhambaan, sejarah boleh pula berupa sebagai kebebasan.

Oleh itu, kita mesti membebas diri kita daripada penipuan konsep tentang pertembungan tamadun dan menumpukan semula perhatian kita kepada pertembungan yang menggelegak (bahaya) dalam umat Islam itu sendiri. Kita boleh melihat suatu pertembungan yang lebih merbahaya dan membimbangkan yang berlaku dalam tamadun yang sama(Islam), antara yang lama dan baharu (the old and the new), yang lemah dan kuat (the weak and the strong), moderat (liberal) dan fundamentalist (the moderates and the fundamentalists), dan antara modernis dan traditionalis (the modernists and the traditionalists).

Turki dan Indonesia dengan terang sedang merintis jalan demokrasi bagi umat Islam untuk ikutan mereka. Kemasukan Turki ke dalam Kesatuan Eropah yang segera akan berlaku juga berupa suatu kenyataan yang jelas tentang tahap demokrasi liberal dapat dicapai, walaupun, sayangnya, hambatan-hambatan yang dibentangkan di hadapannya oleh setengah negara-negara ahli itu sangat nyata memberi isyarat tentang Islamophobia yang ada. Di Asia Tenggara, Indonesia sudahpun mencapai garis penyudah [dalam amalan demokrasinya] manakala jiran-jirannya yang muslimin dalam negara masing-masing masih lagi terlekat dalam tahap permulaan jalannya.

Uthman El-Muhammady : Kita perlu melihat kenyataan ini dalam suluhan ajaran Islam tentang ada bahagian-bahagian Syara’ yang kekal dan ada yang berubah-ubah, dan bukan semuanya berubah-ubah. Akidah Ahli Sunnah tidak berubah; perincian-perincian Syara’ berkenaan dengan perkara-perkara baru yang tidak ada dalam nas secara terang-nyata dari fatwa-fatwa zaman berzaman boleh berubah. Tetapi kalau perubahan itu melibatkan seperti menghalalkan persetubuhan haram, judi, zina, menghalalkan yang haram dalam ijma’, kerana terpengaruh dengan ‘penemuan-penemuan’ para pemikir, ini tidak dibolehkan.

12. Persoalan Jihad

Anwar Ibrahim : Hari ini jihad dilaungkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengesahkan perbuatan-perbuatan keganasan dalam pelbagai bentuk dan rupanya, tetapi akhirnya menjadi kabur antara garis jihad dan keganasan. Mujurlah adanya pentadbiran Obama, maka kita telah melihat sesetengah perubahan berbanding polisi Bush yang mengamalkan sifat percanggahan dan memilih bulu, dalam memerangi keganasan, dengan memberi sokongan kepada para autokrat (penguasa kuku besi) di dunia Islam di satu pihaknya, dan menjadi jaguh kebebasan dan demokrasi di satu pihak lain pula. Walaupun selepas lebih setahun semenjak pentadbirannya (Obama) itu, kita masih lagi menanti untuk melihat perubahan-perubahan yang penting (substantive) dalam isi (substance) polisi luar negara Amerika dalam hubungan dengan Dunia Islam.

Uthman El-Muhammady : Kalau dalam suasana semasa ada penafsiran jihad yang tersasul dalam setengah umat Islam (kerana faktor-faktor sejarah yang mendesak dan tidak patut diremehkan) itu tidak boleh dijadikan dalil untuk penafsiran yang menyeluruh mewakili arus perdana umat Islam. Bagaimanapun, ini juga perlu dilihat dalam konteks pihak-pihak lepas, mahupun sekarang, memanipulasikan maklumat untuk kepentingan hegemoninya.

Agenda Pluralisme : Gagal Jawab Surat Amaran JAKIM, Anwar Tarik Balik Ucapan di Blog

Lampiran :
1. Ucapan Datuk Seri Anwar Ibrahim bertajuk “Religion and Pluralism in a Divided World” di London School of Economic (LSE) pada 18 Mac 2010. Versi English [Klik di sini] ; Versi Melayu [Klik di sini]; Audio [Klik di sini]
2. Rencana Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady bertajuk  “Pluralisme Agama Dan Anwar: Beberapa Persoalan Dilihat Dari Pandangan Arus Perdana Islam”
Sayu tidak terkira hati kita mengingatkan bahawa asalnya tokoh dakwah Islam yang berfikiran kebangsaan, menjadi aktivis dakwah, penerajunya, gerakan Islam (dengan pemikiran dipengaruhi Maududi, Hassan al-Banna, Syed Qutb dan yang sepertinya), akhirnya menjadi pendokong aliran John Hick dengan aliran pluralisme agama dengan implikasi-implikasi rohaniah terakhirnya. Allahumma sallimna wa’I-Muslimin. Amin.
Pluralisme yang ditakrifkan sebagai kenyataan pluralisme (‘sheer fact of pluralism’) (seperti dalam laman web projek pluralisme Universiti Harvard, antara lainnya) [1] sebagai keberadaan pelbagai agama dalam sesebuah negara atau masyarakat – dalam erti ini pluralisme diamalkan dalam Islam walaupun di Madinah di zaman Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam dan kemudiannya seperti di Andalusia dan kerajaan Othmaniah Turki.
Demikian pula pluralisme agama dalam erti adanya ruang awam di mana para penganut pelbagai agama bertemu dan berhubung serta mengadakan interaksi untuk saling memahami antara satu sama lain, itu juga sesuatu yang diterima dalam Islam, kerana kelainan umat manusia dalam kelompok-kelompok dan bangsa wujud untuk saling kenal mengenali antara sesama mereka sebagai bani Adam [2]; ini juga diterima dalam Islam semenjak zaman Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam, dan ia harmonis dengan ajaran Islam.
Tetapi pluralisme dalam erti kenisbian dalam kebenaran hakiki dan mutlak, yang mengajarkan tidak ada kebenaran mutlak yang boleh dicapai, dan tidak ada ajaran asasi yang menjamin keselamatan dan kebahagiaan, itu tidak diterima, bahkan ditolak dalam agama Islam. Kalau tidak ada erti kenyataan Qur’an yang menyebut bahawa ia datang membawa al-haq, kebenaran, dan dengan itu kebatilan hilang, kerana kebatilan memang mesti hilang [3].
Agama Islam datang dalam pusingan nubuwwah terakhir dalam sejarah umat manusia, yang selepas daripadanya tidak ada lagi nubuwwah dan kerasulan [4]; dan ia datang sebagai saksi atas sekalian ajaran di dunia, dan Nabi Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam datang sebagai saksi atas umat ini [5]. Peranan sebagai saksi atas umat manusia tentang kebenaran tidak mungkin terjadi pada orang yang mempunyai pegangan tentang ‘kebenaran yang pelbagai’ (multiple truths).
Pluralisme agama dalam erti yang dibentangkan dalam gagasan Prof Hick yang meninggalkan sikap eksklusif Khatolik, dan yang sepertinya, menganggap semua agama-agama membawa kepada ‘salvation’, menunjukkan pemikirnya tidak ada keyakinan terhadap agamanya dalam erti yang sebenarnya. Ia timbul daripada pengalaman peradaban dan budaya serta perkembangan pemikiran keagamaan Barat yang pahit dalam sejarahnya.
Tidak masuk akal sejahtera bagi orang Islam yang berimamkan Quran boleh mengikut aliran yang kemuflisan dari segi rohani dan penaakulan berasaskan tauhid seperti ini. Islam mengajarkan semua pengikut autentik para nabi selamat, pengikut Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam selamat, ahli fatrah yang tidak ada nabi pada zamannya, zaman antara dua nabi, selamat [6], mereka yang ‘tidak sampai seru’ selamat [7].
Orang yang berkepercayaan seperti John Hick dan yang sepertinya ini mungkin akan menjadi ‘lukewarm’ dalam keyakinannya, tidak lagi ia ‘minal-muqinin’ [8] dari kalangan orang-orang yang yakin; mungkin akhirnya ia menjadi agnostic, dijauhkan Allah, walaupun tidak disuarakannya.
Pegangan seperti ini membawa kita kepada perkara-perkara yang menjadi persoalan dalam kalangan mereka yang terpengaruh dengan aliran ini ialah seperti berikut:
1. Dalam menyebut tentang sikap eksklusif dalam agama yang membawa kepada pertelingkahan, disebut oleh setengah pihak sikap eksklusif itu ada dalam Islam Syiah-Sunni-dan dalam agama Kristian yang ada pecahan-pecahannya.
Dalam Islam wacana Sunni adalah arus perdana, sebagaimana yang ternyata dalam ijma’ selepas daripada Quran dan Sunnah; maka manusia perlu menggunakannya sebagai neraca, untuk membezakan apa yang boleh diterima dan apa yang tidak dari segi intelektual dan rohaniah, bukan yang lain, kalau pihak yang bukan Islam, mereka dengan agama mereka, tetapi perlu ada toleransi dan sikap hidup bersama dengana aman, kecuali berlaku pengkhianatan.
Tentang menyebut golongan Sufi seolah-olah lain daripada Ahli Sunnah itu tidak sepatutnya berlaku, sebab, sebagaimana yang dinyatakan dalam ‘al-Farqu bainal-Firaq’ antara lainnya [9] golongan Sufi adalah sebahagian yang tidak terpisah daripada Ahli Sunnah wal-Jamaah. Dengan itu maka tidak boleh mereka itu dianggap sebagai terpisah daripada epistemologi Sunni, bahkan ia intinya.
2. Ada di kalangan mereka yang terpengaruh dengan pluralisme dengan menyebut bait-bait Jalaluddin Rumi untuk ‘mengesahkan’ aliran pluralisme agama itu. Antaranya bait yang seperti di bawah:

Lampu-lampunya berlainan, tetapi cahaya itu sama, ia datang dari seberang sana; kalau anda terus menerus melihat pada lampu, kamu tersesat; kerana dari sana timbul rupa lahir pada bilangan dan kemajmukan.

Ini boleh difahami sebenarnya bila diingatkan bahawa Rumi adalah seorang Sunni yang berpegang kepada Mazhab Hanafi, dan ia taat kepada syariat. Ia ada menyebut perkara-perkara yang tidak disetujuinya berkenaan dengan Musyrikin, Kristian dan Yahudi. Bahkan suatu masa bila ia ditanya berkenaan dengan Jesus sebagai Tuhan, ia dengan keheranan bertanya, adakah munasabah orang kurus sedemikian yang tingginya beberapa meter yang dikejar-kejar orang untuk dibunuh ke sana ke mari, ia Tuhan Pencipta sekalian alam?
Kalau ia tokoh pluralisme sebagaimana yang disangka oleh mereka yang terpengaruh dengan aliran itu ia tidak demikian.

Adapun baitnya yang menyebut tentang cahaya dan lampu itu perlu dilihat dari segi ajarannya sebagai sufi, ini bukan kenyataannya tentang falsafahnya, ini bicara tentang manusia yang perlu ‘menyeberangi’ sebelah sana bentuk rupa dalam syariat, pergi kepada hakikat, tetapi mesti berpegang kepada syariat, bukan meninggalkannya, dan menganggap ‘semua benar.’ Ertinya ia berpartisipasi dalam syariat tetapi merealisasi ‘penyaksian rohaniah’ tentang kebenaran dalam agama. Ia bukannya mengatakan ‘ya’ kepada semua sistem kepercayaan.
Ertinya ia orang yang mencapai ma’rifat kepada Allah sebenarnya dan menyedari hakikat agama yang sebenar, ia bukan semata-mata terbatas kepada mazhab-mazhab seperti dalam Ahli Sunnah ada mazhab yang empat itu, tetapi di samping menerima mazhab itu dan beramal dengannya ia mencapai musyahadah secara rohaniah dan ‘menyaksikan’ perkara sebenar agama dengan penyaksian batin sendirinya. Itulah cahaya itu; ia bukan bererti bahawa pegangannya ialah semua seistem kepercayaan membawa kepada kebenaran dan kepada syurga.

3. Berkenaan dengan adanya soalan-soalan yang kelihatan ada persamaan antara manusia seperti dari mana datangnya manusia? Apa matlamat hidupnya? Apa yang berlaku bila ia meninggal dunia? Jalan kerohanian membawa kita kepada satu pencarian sarwajagat tentang kebenaran dan usaha untuk mencapai keadilan dan sifat keunggulan, ini semua bukan bererti bahawa semua agama membawa kepada ‘salvation’ dalam erti yang diajarkan oleh Quran; kebenaran Islam adalah satu. Yang benar adalah apa yang datang terakhir sebagai ajaran sarwajagat untuk semua manusia (kaffatan linnas). Kalau tidak sejarah anbia dan sejarah Nabi Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam tidak ada erti apa-apa.

4. Tentang ada pendapat Dante yang menulis di zamannya dalam Monarchia yang menyatakan tujuan terakhir hidup ini ada dua – kebahagiaan dalam dunia ini dan juga kebahagiaan dalam akhirat dengan berada dalam limpahan nur melihat Wajah Tuhan. Mencapai dua matlamat agung ini berlaku dengan menghadapi kesukaran yang besar.

Kejayaan itu boleh tercapai:
‘hanya bila gelombang-gelombang kerakusan yang menggoda itu ditenangkan dan umat manusia berehat santai dalam ketenangan dan keamanan’

Kenyataan itu benar dari segi jiwa manusia perlu ditundukkan supaya ia menyerah kepada kebenaran dan ia berpegang kepada sifat-sifat unggul, itulah yang membawa kepada kedamaian manusia dan hilangnya konflik. Tetapi ini bukan hujah untuk pluralisme agama dalam erti Hick, yakni bahawa semuanya membawa jalan ke syurga, dan tidak ada sistem kepercayaan yang dimansuhkan kebenarannya bila datang Quran.
Pada umat Quran dengan datangnya Quran berlakulah pemansuhan semua sistem kepercayaan, dan ajaran Quran adalah sarwajagat. Lagi pula kalau ini difahami sebagai hakikat bahawa manusia menjadi sejahtera bila ia tunduk kepada otaritas ilmu dan akal, maka bukannya ini membawanya ‘bertemu’ dengan Ibn Rushd dan al-Farabi, sebab kedua-duanya tunduk kepada Shariat Muhammad s.a.w dan Quran, tetapi Dante, walaupun selepas Quran datang, ia tidak tunduk kepadanya. Ertinya ia bukan berpegang kepada pluralisme agama dalam maman seperti Hick itu.

Bahkan dalam ‘Purgatio’ dalam ‘Divine Comedy’ nya Dante meletakkan Nabi Muhammad dan Saidina Ali rd dalam neraka [10]. Dijauhkan Allah. La haula wa la quwwata illa billah.

5. Kalaulah dikatakan sekarang keadaannya ialah bahawa kebebasan beragama yang tanpanya tidak ada pluralisme agama, adalah suatu kebebasan yang tertanam teguh sebagai kebebasan dalam perlembagaan dalam negara-negara demokrasi yang terkenal dan teguh kedudukannya, itu bukan bermakna bahawa di negeri-negeri Islam Muslimin dan kerajaannya tidak boleh memihak kepada Islam. Ini kerana dalam Islam kewajipan kerajaan Islam ialah melaksanakan ajaran Islam sampai sebaik-baiknya dan apa yang menggangu kejayaannya secara tidak patut mesti diselesaikan.
Dalam Islam kerajaan tidak boleh memilih untuk menganggap bahawa tidak ada kebenaran yang mutlak, kebenaran itu mesti ada, dan negara itu mesti berpegang kepada kebenaran itu.

Sebab itu al-Mawardi di Baghdad pada zamannya memastikan pihak berotoriti Islam memperbetulkan kesilapan-kesilapan orang ramai bila berlaku penyelewengan daripada ajaran Islam yang benar (kecuali orang yang berkenaan bukan Muslimin) [11]. Tetapi pihak berkuasa Muslimin tidak boleh menganiayai pihak yang bukan Islam, mereka ini diberi hak untuk mengamalkan agama mereka.

6. Tentang pendapat yang menyatakan bahawa kebebasan beragama yang terkandung dalam ayat yang bermaksud ‘Tidak ada paksaan dalam agama’ (2:256) itu dalam Islam memaksudkan bahawa kita tidak boleh memaksa orang supaya memeluk Islam, itu terletak pada pilihannya; tetapi bila ia sudah Islam tertakluk kepada undang-undang Islam, termasuk berkenaan larangan murtad daripada agama ini. Kita tidak menafsirkan kebebasan beragama itu kebebasan untuk murtad bagi orang Islam. Tidak ada pendirian itu dalam sejarah dan ilmu Islam.

Kalau hendak disebutkan perbandingan kita tidak memaksa orang untuk menjadi warganegara kita, tetapi bila ia menjadi warganegara ia tertakluk kepada undang-undang negara, ia tidak boleh berontak menentang negara itu. Dan tidak ada ‘pemberontakan’ yang melebihi ‘pemberontakan’ melawan Tuhan. Dijauhkan Allah.

Maka kita tidak seharusnya mengikut falsafah lain tentang kebebasan manusia dan agama bila falsafah itu bercanggah dengan Quran, walaupun ianya dianggap sebagai antarabangsa dan sebagainya. Demikian pula dengan kebebasan dhamir, freedom of conscience, kita memandangnya dalam konteks ajaran Syara’, kita tidak membuka ruang untuk kebebasan dhamir berjalan bila ia bercanggah dengan akidah dan aturan Syarak. Sangkaan bahawa kebebasan dhamir berjalan tanpa disiplin tidak ada dalam ajaran Islam. Kalau itu ada dalam ajaran lain itu pilihan pihak lain, bukan pilihan umat ini.

7. Berkenaan dengan orang lain yang mempunyai kepercayaan yang selain daripada Islam, kita tidak disuruh memilih untuk ‘menyerang’nya, bahkan kita dilarang ‘memaki’ apa yang menjadi pujaannya selain daripada Allah, walaupun yang secara kelihatan lembut dan berbudi, kalau tidak ia akan memaki Allah pula dalam perseteruan dan kejahilannya [12].

Kita diajarkan untuk menyeru manusia dengan hikmah kebijaksanaan (bukan putar belit), bila pihaknya sesuai digunakan kaedah itu, kemudian dengan nasihat yang baik, dan akhirnya kalau perlu berhujah, sebab pihak yang berkenaan itu degil, kita disuruh berhujah dengan ‘cara yang paling cantik’ [13].

Kita hidup dengan aman damai dan tidak mengganggunya, kecuali ia mengganggu kententeraman orang ramai. Dan kita lakukan demikian bukan untuk menjayakan pluralisme agama dalam erti John Hick tetapi dalam erti ‘bagi kamu agama kamu bagiku agamaku’ dalam surah al-Kaafirun, dan dalam erti yang diajarkan dalam Perlembagaan Madinah, sebagaimana yang tercatit dalam ‘Sirah ibn Ishaq’ yang di dalamnya orang Yahudi mengamalkan agama mereka dan orang Kristian mengamalkan agama mereka, tetapi mereka adalah ‘umat yang satu lain daripada manusia lain’ (dalam erti entiti siasah dan bernegara).

8. Adapun berkenaan dengan ayat tentang kejadian manusia berkaum-kaum dan bersuku-suku untuk kenal mengenali antara satu sama lain (bukan untuk bermusuh), itu memang benar, dan dihujungnya dinyatakan dengan terang dan tegas bahawa yang paling mulia di kalangan manusia ialah mereka yang paling bertaqwa (dalam erti paling menjaga suruhan dan larangan Allah) [14].

Ayat ini tidak boleh digunakan untuk memberi keabsahan kepada teori Hick tentang pluralisme agama dalam erti semuanya membawa kepada ‘salvation’.

9. Tentang adanya kenyataan dalam kitab agama lain yang menyatakan bahawa orang yang mampu melihat bahawa semua jalan membawa kepada Yang Satu, itupun perlu dilihat dalam konteks Quran sebagai ‘muhaiminan ’alaih [15] dalam erti ia menjaga erti-erti asasi dalam ajaran agama dan ‘membenarkan [kebenaran] yang terdahulu daripadanya [di kalangan anbia])’. Jalan yang dimaksudkan itu, kalau dalam Islam ialah jalan-jalan rohani yang sahih dalam ajaran para imam dan benar, bukan ‘jalan pemikiran’ para ‘pemikir’ dalam erti Barat yang tidak mempercayai wahyu dan nubuwwah serta tauhid, apa lagi kalau dalam pascamodenisme.

Tentang sistem kepercayaan lain yang menyebut semua jalan membawa kepada Yang Satu, kalau Yang Satu itu ialah kebenaran tauhid dalam Islam, maka itu tidak menjadi masalah; tetapi kalau semua sistem kepercayaan difahami membawa kepada Yang Satu yang kabur, itu menjadi masalah.

Penyembahan Berhala bukan Yang Satu, Penyembahan Tuhan yang bukan secara tauhid bukannya Yang Satu; kepercayaan tentang sesuatu kuasa ghaib yang kabur, mengatasi yang lain, bukan Yang Satu dalam Quran.

Pokoknya bergantung kepada kedudukan Quran sebagai ‘muhaiminan ‘alaih’ yang berupa pengawal kebenaran dalam erti-erti pengajaran agama, sebagaimana yang dihuraikan oleh teks-teks arus perdananya.

10. Tentang pandangan yang mengatakan bahawa apa juga agamanya, sama ada ia itu Islam, Kristian, Sikh, Hindu dan banyak lagi yang lain, dipercayai ialah bahawa kebenaran-kebenaran yang lebih tinggi (higher truths) yang mengatasi amalan-amalan semata (mere practice) dan ibadat semuanya terpusat atas kebenaran yang satu itu (singular truth): bahawa dari Allah kita datang dan kepada Allah kita kembali, ini juga perlu dilihat dalam rangka Quran sebagai ‘muhaiminan ‘alaih’.

Bila ini diambil sebagai neraca maka yang diambil kira bukan sahaja ‘kebenaran yang satu (secara tauhid yang sebenar)’ tetapi juga bentuk-bentuk amalan yang dilakukan, adakah ia sesuai dengan ajaran Quran atau tidak. Kalau tidak, maka kedudukannya adalah memang demikian.

Keringanan boleh berlaku bila itu adalah natijah daripada tidak sampai dakwah secara benar, atau tidak terdedahnya pihak yang berkenaan daripada kebenaran yang sebenar, atau orangnya berada dalam zaman fatrah yang tidak ada Rasul yang membawa kebenaran. Ajaran tentang semua ini kekal hingga ke akhir zaman. Tidak ada pemikiran falsafah dan penemuan akademik yang membatalkannya, bagaimana juga cerdik dan pintar orangnya. Selamat dan berbahagialah mereka yang tunduk kepada dan menerima kebenaran serta mengamalkannya, lebih-lebih lagilah merealisasinya dengan tahkiknya.

Amin.

11. Tentang pandangan yang menyatakan bahawa ada pemimpin-pemimpin tertentu agama-agama dunia yang terus menerus membuat dakwaan yang eksklusif (exclusivist claims) tentang mereka memiliki kebenaran yang kekal abadi dan tidak sangat menerima perkara-perkara yang sama (commonality) yang menghubungkan manusia semua dalam pelbagai agama, dan bahawa kalaulah diterima dasar persatuan dalam kepelbagaian, maka pluralisme agama menjadi satu tenaga penyatuan, bukan sebab bagi perpecahan, dan dinyatakan bahawa itu jalannya untuk menarik kita keluar daripada kegelapan kepada cahaya, daripada perang kepada damai, daripada kebencian dan kejahatan kepada kasih-sayang dan kebaikan, ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan secara serius.

Pertamanya, kalau dilihat dari segi Islam pengakuan itu dibuat oleh Muslimin daripada pengakuan Tuhan sendiri yang menyatakan bahawa Islam ini kebenaran sediakala yang ada dalam ajaran semua anbia dalam sejarah manusia, dan kedatangan Islam adalah untuk membenarkan kebenaran yang sediakala itu; kemudian ia datang untuk membuat pembetulan terhadap unsur-unsur yang terubah dalam ajaran agama-agama, dengan itu ia membuat koreksi. Maka Muslimin membuat kenyataan itu atas perintah Tuhan dalam wahyuNya.
Adalah janggal tidak terkira lagi kalau ada orang yang menerima Bible atau sebagainya sebagai ‘wahyu’ tetapi dalam masa yang sama menafikan yang demikian dalam hubungan dengan Quran, walhal Quran datang dalam suluhan sejarah yang terang benderang (in the full day light of history). Dalam erti ini pengakuan Muslimin adalah pengakuan yang setia dengan agama para anbia, tidak dipengaruhi oleh andaian-andaian (zann yang disebut dalam Quran) para pemikir, bagaimana bijak dan pintar mereka itu sekalipun. Maka pengakuan ini mesti dibuat dan dipertahankan; dan teori John Hick tentang pluralisme agama yang menjamin syurga untuk semua tidak mempengaruhi Muslimin yang setia dengan wahyu Qurannya.
Dan keduanya Muslimin terus menerus menegaskan bahawa keadaan damai ialah bila manusia berakhlak mulia dan tidak berkhianat dalam akhlaknya, serta tidak mengamalkan nilai ganda (double standard), untuk diri lain untuk orang lain, lain. Dan manusia boleh aman kalau mereka mengamalkan apa yang disuruh oleh Nabi s.a.w. Sebab itu baginda menunjukkan jalan itu antaranya dalam Perlembagaan Madinah. Tetapi bila pihak yang satu lagi belot, maka berlakulah apa yang telah berlaku itu. Allahumma sallimna wal-Muslimin.

12. Pengamatan yang menyebutkan bagaimana masih ada pula pendapat yang menyebut tentang Muslimin bahawa masih berterusan adanya masalah mereka yang menolak nilai kebebasan bersuara, kebebasan media, demokrasi dan kemerdekaan dhamir (freedom of conscience). Mereka memandang budaya pluralisme agama sebagai satu bahagian daripada konspirasi agung oleh ‘pihak lain’, terutamanya Kristian, untuk mengembangkan ajarannya dan menjadikan Muslimin memeluk agama Kristian. Pluralisme juga adalah jerat bagi menyeludup masuk demokrasi ala Barat melalui pintu belakang.
Tentang pengamatan demikian ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan. Antaranya ialah nilai-nilai kebebasan bersuara, kebebasan media dan yang sepertinya tentang demokrasi dan kebebasan dhamir, itu semua pada Muslimin adalah perkara-perkara yang mesti tunduk kepada otaritas Syara’: Kalau kebebasan bersuara itu sesuai dengan Syara’, tidak membawa kepada yang terlarang, kebebasan dhamir, demikian seterusnya, kalau tidak bercanggah dengan Syara’, bahkan lebih-lebih lagi menjayakan Syara’, maka sudah tentu itu tidak ditentang.
Sudah tentu bagi Muslimin Syara’ mengatasi bahan pemikiran para pemikir semata; lainlah kalau petkara yang demikian datang daripada mujadid yang diakui dalam Ahli Sunnah. Kalau diletakkan pemikiran-pemikiran dari para pemikir mengatasi Syara’ dan ijma’, itu adalah malapetaka intelektual dan rohaniah, dijauhkan Allah.

Soalnya bukan menolak seratus peratus dan menerima seratus peratus; apa yang baik diambil apa yang tidak baik tidak diambil. Pihak yang berbicara tentang kebebasan manusia sejagat perlu menghormati manusia beragama mengamalkan agamanya dan bukannya hendak membatalkan amalan pihak lain dan mempromosikan haknya semata. Itu bercanggah dengan hak asasi manusia.

13. Berhubungan dengan kemungkinan adanya persamaan antara amalan ‘mantra’ dan ‘Lords Prayer’ dan apa juga, maka bagi Muslimin itu perlu dilihat dalam rangka Quran sebagai penjaga atas erti-erti ajaran suci dalam sejarah manusia, tuntutan Syara’ dan Ijma’. Kalau ada persamaan itu, maka masih kelihatan ada peninggalan-peninggalan tentang persamaan itu. Tetapi kebenaran dengan kepenuhan, kedalaman serta kesempurnaannya ada pada wahyu terakhir dalam sejarah umat manusia. Selamatlah mereka yang menerimanya beramal dengannya.
Mereka yang lain daripadanya bertanggungjawab atas perbuatan mereka, apa jua alasan-alasan yang dikemukakan untuk mempertahankannya. Dalam bermuamalah dengan para pemeluk sistem kepercayaan lain, Muslimin mesti mengamalkan akhlak yang mulia dan menghormati pihak lain itu, dan jangan sekali-kali menunjukkan penghinaan terhadap pihak lain dengan apa cara sekalipun.

14. Tentang pendapat yang menyebut Syariat bukan tertulis ‘pada batu’ dan ia mengalami evolusi yang dinamis (the Shari’ah was never cast in stone and evolves continuously through this dynamic process), maka kita perlu melihat kenyataan ini dalam suluhan ajaran Islam tentang ada bahagian-bahagian Syara’ yang kekal dan ada yang berubah-ubah, dan bukan semuanya berubah-ubah. Akidah Ahli Sunnah tidak berubah; perincian-perincian Syara’ berkenaan dengan perkara-perkara baru yang tidak ada dalam nas secara terang-nyata dari fatwa-fatwa zaman demi zaman boleh berubah. Kalau ini difahami demikian maka tidak ada masalah.

Tetapi kalau itu melibatkan perubahan-perubahan seperti menghalalkan persetubuhan haram, judi, zina, menghalalkan yang haram dalam ijma’, kerana terpengaruh dengan ‘penemuan-penemuan’ para pemikir, ini tidak dibolehkan. Kalau itu membawa kepada pendirian bahawa posisi Quran terinjak kerana pemikiran orang-orang seperti John Hick dan yang sepertinya, itu tidak dibolehkan.

15. Kalau dalam suasana semasa ada penafsiran jihad yang tersasul dalam setengah kalangan (kerana faktor-faktor sejarah yang mendesak dan tidak patut diremehkan) itu tidak boleh menjadi dalil bagi sesiapa melihatnya sebagai penafsiran yang menyeluruh mewakili arus perdana umat. Bagaimanapun ini juga perlu dilihat dalam konteks pihak-pihak, yang dalam sejarah, juga sekarang, memanipulasikan maklumat untuk kepentingan hegemoninya.

16. Akhirnya kita mesti kembali kepada wacana arus perdana umat khaira ummatin ukhrijat linnas, yang hakikatnya, tidak ada wacana yang mengatasi kebenarannya, apa pun yang dikatakan oleh pihak postmodernis, Islam Liberalis, pluralis agama, pihak perennalists dan sesiapa pun yang seperti mereka. Tetapi kita kena mengetahui perbezaan-perbezaan, persamaan-persamaan, beradab, berdisiplin, menghormati orang lain dan dalam batasan-batasan yang wajar.
Dari Allah kita datang kepadaNya kita kembali. Wallahu a’lam. Selawat dan salam kepada baginda, ahli keluarganya dan para sahabatnya dan semua mereka yang mengikutnya dalam ihsan hingga ke hari penghabisan. Segala puji-pujian tertentu bagi Tuhan Pentadbir sekalian alam.

Antara sumber-sumber rujukan mengenai tajuk ini ialah:

1. Abdul Rashid Moten, “Religious Pluralism in Democratic Societies: Challenges and Prospects for Southeast Asia, Europe, and the United States in the New Millenmium.” Contemporary Southeast Asia. Journal Volume: 29, Issue: 1. 2007. pp 204 ff, 2007 Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS).
2. Brad Stetson, Pluralism and Particularity in Religious Belief. Praeger Publisher. Westport, CT. 1994.
3. Jeannine Hill Fletcher, Article Religious Pluralism in an Era of Globalization: The Making of Modern Religious Identity.” Journal: Theological Studies. Volume: 69. Issue: 2, 2008. pp. 394 ff.
4. J. Gordon Melton, Article: “Religious Pluralism : Probelems and Prospects” Journal: Brigham Young University Law Review. Volume: 2001 Issue: 2, 2001.
5. Jung H. Lee, Article: “Problems of Religious Pluralism: in a Zen Critique of John Hick’s Ontological Monomorphism” Journal: Philosophy East & West. Volume: 48 Issue: 3. Publication Year: 1998.p. 453+.
6. Lucas Swaine, The Liberal Conscience: Politics and Principle in a World of Religious Pluralism. Columbia University Press. New York. 2004.
7. Micheal Jinkins – Christianity, Tolerance and Pluralism: A Theological Engagement with Isaiah Berlin’s Social Theory. Routledge. New York. 2004.
8. Peter G. Danchin – editor, Elizabeth A. Cole – editor, Protecting the Human Rights of Religious Minorities in Eastern Europe. Columbia University Press. New York. 2002.
9. Richard E. Wentz, The Culture of Religious Pluralism, Westview Press, 1998.
10. Richard Hughes Seager edit with the assistance of Foreword by Ronald R. Kidd Diana L. Eck, The Dawn of Religious Pluralism Voices from the World’s Parliament of Religions, 1983, published in Association with The Council for a Parliament of the World’s Religions.
11. S. Wesley Ariarajah, “Kenneth Cracknell, in Good and Generous Faith: Christian Response to Religious Pluralism.” Journal The Ecumenical Review. Volume: 58 Issue: 3 – 4. 2006.pp 400 ff.
12. William C. Allen, “Stephen Kaplan, Different Paths, Different Summits: A Model for Religious Pluralism,” Journal of Ecumenical Studies. Volume: 41 Issue: 1, 2004. p 102.
13. Harvard Pluralism Project:
http://www.pluralism.org/articles/eck_1993_challenge_of_pluralism?from=articles_index
14. Khalif Muammar, Atas Nama kebenaran, Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, edisi kedua, ATMA, UKM, Bangi, 2009.
Nota akhir:
[1] http://www.pluralism.org
[2] Al-Hujurat:13
[3] Bani Isra’il:81
[4] Al-Ahzab:40

18 October 2015 Posted by | Aqidah, Berita dan Isu Semasa, Politik dan Dakwah | Leave a comment

JAWAPAN ISU BACAAN LAIN SELAIN AZAN DI SPEAKER- SIRI 1

Oleh : Ustaz Mohd Khafidz Bin Soroni

Isu Pembesar Suara

Isunya adalah tentang bacaan-bacaan – selain azan – yang menggunakan pembesar suara sehingga mengganggu orang ramai, yang kononnya telah mengelirukan orang bukan Islam sehingga mereka menyangka ia azan. Objektif penulisnya barangkali ialah untuk menjaga hati orang bukan Islam dan agar agama Islam tidak dipandang serong oleh mereka. Namun huraian, penghujahan dan konklusi yang diketengahkan olehnya memerlukan kepada sedikit penilaian semula.Alat pembesar suara sudah tentu tidak wujud pada zaman Nabi SAW, namun apa yang ditinggalkan oleh baginda kepada kita ialah hukum mengangkat dan merendahkan suara, yang akan dibincangkan dalam artikel ini.

Antara ‘penyakit’ sesetengah ahli ilmu ialah terburu-buru dalam mengeluarkan hukum atau fatwa tanpa melihat terlebih dahulu dengan teliti dan mendalam terhadap masalah yang dibahaskan.Hanya mengguna pakai sebuah dalil sahaja tanpa melihat dalil-dalil yang lain atau meninggalkan dalil-dalil yang lain, maka terus diputuskan hukum atau fatwa darinya. Kebelakangan, perkara sebegini semakin kerap berlaku baik di kaca tv, radio, akhbar, internet, masjid, dan lain-lain.

Dalil-Dalil Larangan dan Ulasannya

Saya tidak akan mengupas atau mengulas satu persatu isi kandungan artikel tersebut kerana ia akan mengambil ruang yang panjang. Apa yang akan kita bincangkan di sini ialah dari sudut pendalilan yang diguna pakai iaitu tentang kadar suara dalam melaksanakan ibadah, seumpama solat, membaca al-Quran, zikir, doa, azan dan sebagainya.

Antara hujah yang dibangkitkan oleh mereka yang melarang dari mengangkat suara dalam beribadah ialah hadis sahih riwayat Abu Dawud dalam Sunannya (no. 1135):

Dari Abu Sa’id al-Khudri katanya: “Pernah Nabi Muhammad SAW beriktikaf dalam masjid, lalu baginda mendengar mereka mengangkat suara bacaan (al-Quran atau solat) lalu baginda mengangkat tirai dan bersabda: “Ketahui sesungguhnya setiap kamu bermunajat kepada Tuhannya, jangan sebahagian kamu menyakiti sebahagian yang lain. Jangan sebahagian kamu mengangkat suara melebihi sebahagian yang lain dalam bacaan, atau sabdanya: dalam solat”. Dalam riwayat Musnad Ahmad dan Musannaf ‘Abd al-Razzaq ditambah: “Sedangkan ketika itu baginda berada di qubbah (tempat ibadah) baginda, lalu baginda pun menyingkap tirai-tirai…”.

Hadis ini perlu diteliti dari pelbagai aspek. Selain tekstual hadis perlu juga dilihat dari sudut kontekstual hadis. Perlu juga ditinjau dengan membuat komparatif dengan nas-nas lain, serta situasi ‘urf. Demikian kaedah yang perlu dipraktikkan bagi mengeluarkan sebuah hukum atau fatwa, tidak semata-mata berpegang kepada sebuah teks yang terhad. Adakalanya teks yang terhad hanya mampu menghasilkan pedoman dan panduan semata-mata, tetapi belum dapat membentuk sebuah hukum yang releven dan fatwa yang autentik.

Tanda-tanda pada zahir hadis tersebut seperti sedang beriktikaf, bermunajat, dan kadar suara yang mengganggu menunjukkan bahawa situasi pada masa itu ialah waktu malam yang bersuasana sunyi dan hening. Penulis berpendapat, agak jauh untuk dikatakan hadis tersebut diucapkan pada waktu siang kerana suasananya agak berlainan dan kadar suara biasanya tidak begitu mengganggu. Siang adalah masa berkerja dan malam adalah masa beristirehat, maka amat sesuailah pada masa itu dielakkan sebarang gangguan dan amat tepatlah teguran Nabi SAW kepada para sahabatnya itu. Justeru menggunakan hadis ini bagi mengeluarkan hukum umum tanpa ada sebarang pengecualian atau perbezaan perlulah diteliti semula.

Realiti yang berlaku pasa masa kini, penggunaan pembesar suara biasanya selesai pada atau selepas waktu isyak, atau lebih sedikit jika ada penceramah yang melanjutkan celotehnya, dan bermula semula pada waktu pagi sebelum atau pada waktu fajar.Justeru, tidak berlaku sebarang gangguan pembesar suara antara waktu isyak sehingga subuh. Bagaimana situasi sedemikian dapat dikiaskan dengan hadis di atas yang barangkali ditujukan pada waktu dua pertiga malam, atau separuh malam ataupun sepertiga malam.

Manakala hadis yang berbunyi:

Dari Abu Musa al-Asy’ari RA katanya: Ketika Rasulullah SAW memerangi Khaybar, atau katanya: Ketika Rasulullah SAW menuju kepadanya, orang-orang telah melihat sebuah wadi, lalu mereka mengangkat suara mereka bertakbir; Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha illa Allah… Maka sabda Rasulullah SAW: Kasihanilah diri kamu sekalian, sesungguhnya kamu tidak menyeru yang tuli mahupun yang ghaib, sesungguhnya kamu menyeru Yang Maha Mendengar lagi Dekat, dan Dia bersama kamu sekalian…”.

Zahir hadis ini menunjukkan bahawa teguran tersebut adalah disebabkan kadar suara yang berlebih-lebihan dan melampaui had dalam mengeras dan meninggikannya. Nabi SAW sentiasa membimbing umatnya kepada sikap bersederhana, maka amat wajar baginda memberi teguran tersebut.

Kata Imam al-Nawawi: Maknanya ialah kasihanilah diri kamu dan rendahkanlah suara kamu. Perbuatan mengangkat suara biasanya dilakukan orang kerana jauhnya orang yang diajak bicara agar ia mendengarnya, sedangkan kamu menyeru Allah Taala dan Dia bukanlah pekak mahupun ghaib, bahkan Dia Maha Mendengar lagi Dekat, dan Dia bersama kamu dengan ilmu dan liputan pengetahuan-Nya. Maka pada hadis ini terdapat galakan agar merendahkan suara ketika berzikir jika keperluan tidak mendesak untuk mengangkatnya. Sekiranya suara direndahkan, itu lebih beradab dalam memuliakan dan mengagungkan-Nya. Manakala jika keperluan perlu untuk mengangkatnya, barulah diangkat sebagaimana yang terdapat dalam hadis-hadis (seperti talbiah dan sebagainya).

Dalam hadis yang lain:

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir katanya: Sabda Rasulullah SAW: “Orang yang membaca kuat dengan al-Quran seperti orang yang berterang-terangan dalam bersedekah. Dan orang yang membaca perlahan dengan al-Quran pula seperti orang yang bersembunyi-sembunyi dalam bersedekah”.

Makna hadis ini menunjukkan kepada keutamaan (keafdalan) dalam membaca al-Quran dan bukannya menunjukkan kepada larangan meninggikan suara. Sedangkan Nabi SAW pernah memerintahkan Abu Bakar al-Siddiq RA agar meninggikan suara:

Dari Abu Qatadah RA bahawa Nabi SAW bersabda kepada Abu Bakar RA: Aku telah melintasi kamu ketika kamu sedang membaca, dan kamu merendahkan suara. Jawab beliau: Sesungguhnya aku hanya memperdengarkan kepada Siapa yang aku bermunajat kepada-Nya. Balas baginda: Angkatlah sedikit (suaramu). Dan baginda juga bersabda kepada ‘Umar RA: Aku telah melintasi kamu ketika kamu sedang membaca, dan kamu mengangkatkan suara. Jawab beliau: Sesungguhnya aku ingin membangkitkan orang yang mengantuk dan mengusir syaitan. Balas baginda: Rendahkan sedikit (suaramu). Dalam riwayat lain: “Wahai Abu Bakar, angkatlah suaramu sedikit, dan baginda bersabda kepada ‘Umar: Rendahkanlah suaramu sedikit”.

Di sini, Nabi SAW menyuruh mengangkat suara jika ianya terlalu perlahan atau tidak dapat dimanfaatkan oleh orang lain, dan melarang mengangkatkan suara jika ianya melebihi had, atau kerana ia dapat menimbulkan sifat riyak dan ujub yang ditegah oleh syarak. Secara mafhumnya, baginda mengajarkan bahawa bersederhana itulah yang lebih utama.

Selain hadis Abu Bakar RA tersebut terdapat beberapa hadis lain yang membenarkan mengangkat suara seperti;

Dari Abu Hurairah RA katanya: Sabda Rasulullah SAW: Allah tidak mengizinkan (meredhai) bagi sesuatu, apa yang telah diizinkan kepada Nabi agar berlagu dengan al-Quran, serta mengangkat suara dengannya”.

Kata Imam al-Nawawi dalam kitab al-Azkar berkenaan dalil-dalil yang zahirnya saling bercanggahan ini: Pengharmonian antara kedua-duanya ialah bahawa suara perlahan itu lebih jauh dari sifat riyak, dan ianya adalah afdal bagi orang yang takutkan demikian. Jika tidak takut riyak pula, maka suara kuat itu lebih afdal dengan syarat tidak menyakiti orang lain seperti orang yang bersolat, tidur dan sebagainya. Maksudnya suara perlahan itu lebih afdal jika takutkan riyak atau menyakiti orang yang bersolat atau tidur dengan suara kuatnya. Suara kuat pula afdal dalam hal yang selain itu kerana amalan tersebut lebih besar, dan manfaatnya dapat dikongsi oleh orang lain sama ada dengan mendengar (dan banyak dalil menunjukkan ianya sebagai ibadah), belajar, mengikut, insaf atau ianya sebagai syiar agama. Ia juga dapat mengetuk hati si-pembaca, menumpukan perhatiannya untuk berfikir dan memfokuskan pendengarannya sendiri. Ia juga dapat menghalang rasa mengantuk, menambah rasa cergas, membangunkan orang lain yang tidur dan lalai serta menyegarkannya. Maka bila hadir salah satu niat-niat ini, maka suara kuat itu adalah lebih afdal.

Ada diriwayatkan oleh al-Daylami dalam Musnad al-Firdaus dari Ibn ‘Umar secara marfu’:
Maksudnya: “Cara sembunyi itu lebih afdal dari cara terang-terangan, dan cara terang-terangan pula lebih afdal bagi orang yang mahu agar dicontohi”.

Maka kesimpulannya, tinggi atau rendah suara itu semua adalah bergantung kepada situasi, suasana, tuntutan dan juga keadaan. Selain perlu menitikberatkan kesederhanaan dalam semua aspek.

Sila rujuk dengan lebih lanjut tentang mengangkat suara dalam ibadah kepada kitab Sibahah al-Fikr fi al-Jahr bi al-Zikr oleh Imam ‘Abd al-Hayy al-Laknawi (w. 1304H), tahkik Syeikh ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah, dan kitab Natijah al-Fikr fi al-Jahr bi al-Zikr oleh Imam al-Suyuti (w. 911H). Namun menurut Syeikh Abu Ghuddah, kitab Imam al-Laknawi lebih detail dan lengkap perbahasannya.

Menangani Isu Sebenar

Isu sebenarnya bukan masalah penyalahgunaan pembesar suara, atau benarkan hanya azan sahaja di pembesar suara, tetapi adalah masalah kefahaman orang (terutama AJK masjid/surau) terhadap situasi yang mereka duduki. Kita ada pelbagai situasi, ada masjid yang jauh dari kawasan perumahan dan ada yang dekat, malah sebahagiannya berhimpit-himpit dengan rumah orang atau kedai.Ada masjid yang berdekatan dengan pusat maksiat. Ada masjid yang berdekatan dengan hospital. Ada masjid yang berada di kawasan yang majoritinya bukan Islam. Ada masjid bandar, dan ada masjid kampung. Ada masjid yang penduduk sekitarnya bersatu hati, dan ada masjid yang penduduk sekitarnya berbalah sesama sendiri. Suasana bandar yang sibuk pastinya berbeza dengan suasana kampung yang lebih tenang.

Peralatan pembesar suara juga perlu diambil kira. Ada pembesar suara yang mahal dan mengeluarkan suara yang enak dan merdu. Ada pembesar suara yang murah dan mengeluarkan suara yang ‘serak’ dan berdesing sekali-sekala. Begitu juga hal dengan tugas bilal, ada bilal yang bersuara merdu dan sedap didengar, dan ada bilal yang bersuara kurang lemak merdu. Ada bilal yang melaungkan (atau memasang kaset) bacaan al-Quran atau zikir setiap lima waktu sebelum azan, dan ada bilal yang melaungkan (atau memasang kaset) bacaan al-Quran atau zikir pada waktu tertentu sahaja sebelum azan seperti waktu subuh dan maghrib misalnya. Dan sebagainya lagi.

Bayangkan sekiranya masjid tersebut terletak di kawasan yang majoritinya bukan Islam, atau sangat berhampiran dengan hospital, dan alat pembesar suaranya pula sering ‘terbatuk-batuk’, dipasang pula alunan bacaan al-Quran atau zikir setiap lima waktu sebelum azan dan bilalnya pula bersuara ‘serak-serak basah’. Apakah agaknya reaksi dan pendapat anda, jika dibandingkan dengan masjid yang terletak di kampung yang penduduknya sekitarnya bersatu hati dan sudah biasa dengan alunan bacaan al-Quran atau zikir pada waktu sebelum subuh dan maghrib, manakala bilalnya pula bersuara lemak merdu. Apakah sama situasinya?

Bagaimana pula sekiranya masjid tersebut berhampiran dengan pusat maksiat yang pengunjungnya tidak pernah menjejakkan kaki ke masjid. Apakah tidak rugi jika semua ceramah-ceramah yang dijalankan di masjid itu hanya untuk orang di dalam masjid sahaja dan suara tidak keluar melebihi pintunya? Semuanya ini perlu diambil kira, bukannya mengeluarkan hukum secara pukul rata.

Iktibar Dengan Situasi

Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya dari Ghudhaif bin al-Harith, beliau pernah bertanya kepada ‘A’isyah RA antaranya:
Adakah puan pernah melihat Rasulullah SAW mengangkat suara dengan al-Quran ataupun memperlahankannya? Jawab beliau: Adakalanya baginda mengangkat suara dengannya dan adakalanya baginda memperlahankannya. Aku berkata: Allahu akbar, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dalam urusan (agama) ini keluasan.

Kata al-‘Allamah Badr al-Din al-‘Aini (w. 855H) mengulas hadis di atas:

Sabit pilihan bagi si-pembaca (al-Quran atau zikir) sama ada antara mengangkat suara dengannya dan juga memperlahankannya. Diperkatakan, mengangkat suara lebih afdal. Juga diperkatakan, memperlahankan suara lebih afdal. Namun yang benar ialah; ianya terikat menurut iktibar dari segi masa si-pembaca, kedudukannya dan juga situasinya. Maka hendaklah dipelihara mengangkat suara dan memperlahankan suara berdasarkan iktibar tersebut.

Kata-kata Ghudhaif bin al-Harith RA: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dalam urusan (agama) ini keluasan”, wajar direnung dan diambil iktibar. Perbezaan ‘urf dan situasi kerana peredaran zaman perlu juga diambil kira. Apa yang penting, bukan hukum menggunakan pembesar suara yang sudah menjadi ‘urf pada masa kini, tetapi adalah kefahaman orang (terutama AJK masjid/surau serta para pengunjung masjid/surau juga) terhadap situasi yang mereka duduki. Dan perbincangan ini secara umum meliputi situasi dalam dan juga luar masjid. Persoalannya, bagaimanakah harus mereka mengendalikannya? Jika penulis artikel tersebut menyemak semula masalah ini dan memikirkan semua faktor-faktor yang dijelaskan, pasti dia akan memperbetulkan semula kenyataannya atau menambah apa-apa kenyataan yang wajar dan lebih diterima. Mengeluarkan sesuatu kenyataan atau hukum secara terburu-buru bukanlah suatu tindakan yang bijak.

Sumber : http://sawanih.blogspot.com/…/01/kadar-suara-dalam-ibadah.h…

3 October 2015 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Politik dan Dakwah | Leave a comment

AKAUN BANK ATAS NAMA SAIDINA UTHMAN MASIH WUJUD HINGGA KINI

image

Salah seorang sahabat nabi, Khalifah Sayyidina Uthman bin Affan (عثمان بن عفان) adalah seorang ahli perniagaan yang kaya raya, baik hati, pemurah dan seorang yang dermawan. Beliau juga berjasa dalam membukukan Al-Quran. Ternyata sehingga sekarang beliau masih memiliki akaun di salah sebuah bank di Arab Saudi. Malah akaun dan bil elektriknya juga masih atas nama beliau…

Bagaimanakah cerita Khalifah ketiga yang memerintah daripada tahun 644 (umur 69-70 tahun) hingga 656 (selama 11-12 tahun) yang sehingga kini beliau mampu memiliki hotel berhampiran Masjid Nabawi?

Diriwayatkan semasa zaman Nabi Muhammad ﷺ, kota Madinah pernah mengalami zaman kemarau sehingga sukar bagi mendapatkan air bersih. Satu-satunya sumber air yang tinggal ketika itu adalah sebuah telaga bernama ‘Bi’ru Rummah’ (telaga pemanah) yang sangat besar dan dalam serta airnya tidak pernah kering. Rasanya sama seperti air dari telaga zam-zam.
Oleh kerana orang Islam (kaum Muhajirin) sudah terbiasa minum air zam-zam di Makkah. Mereka sangat berhajat kepada air itu dan sering ke telaga yang dimiliki oleh seorang Yahudi. Maka Yahudi tersebut telah bertindak menjual air dengan harga yang sangat mahal. Kaum Muslimin dan penduduk Madinah dengan tiada pilihan lain, terpaksa membeli air bersih dari orang Yahudi itu.
Prihatin atas keadaan umatnya, Rasulullah ﷺ kemudian bersabda : “Wahai Sahabatku! Sesiapa sahaja di antara kamu yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan telaga itu, lalu mendermakannya untuk umat, maka akan mendapat Syurga Allah سبحانه وتعالى.” (HR. Muslim).
.
Akhirnya perkara itu sampai ke pengetahuan Sayyidina Uthman Bin Affan RA yang kemudian mula bertindak ingin membebaskan telaga ‘Rummah’ itu. Sayyidina Uthman RA segera bertemu dengan orang Yahudi pemilik telaga dan menawar untuk membeli ‘Bi’ru Rummah’ dengan harga yang tinggi.

Namun begitu, walau sudah ditawarkan dengan harga yang tertinggi sekalipun, orang Yahudi pemilik telaga tetap menolak dan tidak mahu menjualnya kerana dia telah meraih keuntungan besar, “Seandainya telaga ini saya jual kepadamu wahai Uthman, maka aku tidak mempunyai pendapatan yang boleh aku perolehi setiap hari.” Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya.
Sayyidina Uthman bin Affan RA yang amat teringin mendapatkan balasan pahala berupa Syurga Allah سبحانه وتعالى, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini. Beliau lantas minta untuk membeli separuh sahaja daripada telaga itu.
“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari telagamu.” Sayyidina Uthman RA, melancarkan kemahiran rundingannya.
“Maksud kamu?” tanya orang Yahudi kehairanan.
Sayyidina Uthman bin Affan RA menawarkan 12,000 dirham supaya orang Yahudi tersebut bersetuju menjual setengah saja daripada telaga ‘Rummah’.
“Begini, jika engkau setuju, maka kita akan memiliki telaga ini bergilir-gilir. Satu hari telaga ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikianlah seterusnya berganti berselang hari. Bagaimana?” jelas Sayyidina Uthman RA.
Orang Yahudi itupun segera berfikir.… Yahudi sangka dia cerdik kerana Sayyidina Uthman RA memang peniaga yang termasyhur dan dikenali oleh orang Arab, tentulah perniagaannya akan lebih berkembang dan harga air boleh dinaikkan. “Aku mendapatkan wang besar daripada Uthman tanpa kehilangan telaga milikku.”
Akhirnya orang Yahudi tersebut pun bersetuju menerima tawaran Sayyidina Uthman RA tadi dan disepakati juga bahawa pada hari tersebut telaga ‘Rummah’ adalah milik Sayyidina Uthman bin Affan RA.

Sayyidina Uthman RA pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mahu mengambil air di telaga ‘Rummah’, dipersilakan mengambil air untuk keperluan mereka secara percuma kerana hari ini ‘Bi’ru Rummah’ adalah miliknya. Beliau juga mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, kerana hari esoknya telaga itu bukan lagi milik Sayyidina Uthman RA.

Keesokan hari Yahudi mendapati telaga miliknya lengang, sebab penduduk Madinah masih mempunyai simpanan air di rumah. Rupa-rupanya Allah سبحانه وتعالى takdirkan sebaliknya apabila orang tidak lagi membeli air daripada Yahudi itu kerana pada hari milik Sayyidina Uthman RA, beliau memberi air percuma kepada orang ramai termasuk kepada kaum bukan Islam… maka tiba pada hari giliran Yahudi, tiada sesiapa pun yang mahu membelinya.
Orang Yahudi itu pun berasa kerugian besar lalu dia pergi bertemu dengan Sayyidina Uthman RA dan berkata, “Wahai Uthman! Belilah setengah lagi telagaku ini dengan harga 8,000 dirham.”
Sayyidina Uthman RA pun bersetuju, lalu dibelinya dengan harga tersebut, maka dengan nilai 20,000 dirham (12,000 dirham + 8,000 dirham), ‘Bi’ru Rummah’ pun secara mutlak menjadi milik Sayyidina Uthman RA.

Kemudian datang seorang sahabat lain yang juga hartawan minta untuk membeli telaga ‘Rummah’ itu daripada Sayyidina Uthman bin Affan RA. Beliau pun bertanya hartawan tersebut, “Berapakah harga yang kamu sanggup bayar?”
Hartawan menjawab bahawa dia sanggup membayar 3 (tiga) kali ganda daripada harga yang dibeli oleh Sayyidina Uthman bin Affan RA. Tetapi Sayyidina Uthman RA tidak setuju dan bertanya lagi, “Berapa harga yang kamu sanggup?”
Hartawan menjawab, “Sembilan (9) kali ganda harga yang Tuan beli.”
Sayyidina Uthman RA masih tidak setuju. Hartawan bertanya kehairanan.. “Siapa lagikah yang sanggup membeli dengan harga yang lebih mahal daripada aku?”
Maka Sayyidina Uthman bin Affan RA menjawab, “ALLAH!”
.
Akhirnya kaum Muslimin dapat minum air telaga itu secara percuma kerana kemudian Sayyidina Uthman bin Affan RA telah mewakafkan ‘Bi’ru Rummah’. Sejak dari hari itu telaga ‘Bi’ru Rummah’ dapat dimanfaatkan oleh sesiapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya.

Dengan takdir Allah sesudah telaga itu diwakafkan untuk kaum Muslimin dan selepas beberapa tahun kemudian, tumbuhlah di sekitar telaga tersebut beberapa pokok kurma dan terus membiak. Kemudian Daulah Khalifah Uthmaniyah (empayer kerajaan Uthmaniyah Turki) memeliharanya hingga semakin berkembang biak dan seterusnya juga turut dipelihara oleh kerajaan Arab Saudi sehingga mencapai jumlah 1550 batang pokok dan berbuah dengan sangat lebat. Mereka telah menjaga ladang kurma dan hasil jualan kurma2 itu serta menyimpannya sehinggalah wujudnya kerajaan Saudi.

Ladang kurma tersebut kemudiannya dipajak kepada Kementerian Pertanian cawangan Madinah sejak 1372 dengan kontrak tahunan diperbaharui pada awal setiap tahun.

Seterusnya kerajaan Arab Saudi, melalui Kementerian Pertanian Saudi menjual hasil ladang kurma ini ke pasaran sehingga banyak wang yang terkumpul. Setengah daripada keuntungan itu diinfaqkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin. Manakala separuh lagi dibuat tabungan dan disimpan dalam bentuk akaun khas milik beliau di salah sebuah bank atas nama Uthman bin Affan, di bawah pengawasan Kementerian Wakaf Arab Saudi.
Begitulah seterusnya, sedekah Sayyidina Uthman bin Affan RA terus bercambah dan membiak membuak-buak tanpa hentinya sehingga dana terkumpul yang di bank itu mampu untuk membeli sebidang tanah dan membangunkan hotel yang cukup besar di salah satu tempat strategik berhampiran Masjid Nabawi.
Bangunan hotel itu sudah pada tahap penyelesaian dan akan disewakan sebagai hotel 5 bintang. Dianggarkan keuntungannya sekitar RM50 juta setahun. Setengahnya untuk anak-anak yatim dan fakir miskin dan setengah lagi tetap disimpan dan ditabung di bank atas nama Sayyidina Uthman bin Affan Radhiyallahu anhu.
Oleh yang demikian itu, maka Nabi ﷺ pernah bersabda,
لِکُلِّ نَبِيٍّ رَفِيْقٌ وَرَفِيْقِيْ يَعْنِيْ فِي الْجَنَّةِ عُثْمَانُ.
“Tiap-tiap Nabi mempunyai teman dan sahabatku di Jannah (syurga) adalah Uthman.” (Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi dan Ibn Majah)
.
Subhanallah,… Selepas 14 kurun sedekah Sayyidina Uthman bin Affan RA melalui wakaf telaga ‘Bi’ru Rummah’ masih berterusan. Jelaslah tidak akan rugi berniaga dengan Allah سبحانه وتعالى, malah akan sentiasa mendatangkan keuntungan berterusan…
Ini adalah salah satu bentuk sedekah jariah, yang pahalanya terus mengalir, walaupun orangnya sudah lama meninggal..
Disebutkan di dalam hadis sahih dari Abi Hurairah RA bahawasanya Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat atau anak soleh yang mendoakannya.” (Hadis Riwayat Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)
.
Inilah kelebihan sedekah dan menginfakkan harta… Oleh kerana itu, marilah sama sama kita ringankan lidah dan tangan mencerita serta menyebarkan kisah ini sebagai suatu motivasi diri dan pihak lain untuk menginfaq dan bersedekah sedikit daripada harta, pendapatan dan keupayaan yang ada dengan ikhlas kerana Allah سبحانه وتعالى… InsyaAllah antum akan dapat pahala sedekah yang berganda.
Daripada Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya selepas kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak soleh yang ditinggalkannya, mushhaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk kegunaan awam, atau sedekah yang dikeluarkannya daripada hartanya di waktu sihat dan semasa hidupnya. Semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi)

Sumber: Bahagian Falak Dan Sumber Maklumat – Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan.

6 August 2015 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | Leave a comment

SOAL JAWAB : SERBAN NABI

SOALAN: ADAKAH DALIL SAHIH TENTANG SERBAN, BUKANKAH ITU HANYALAH PAKAIAN ORANG ARAB?

JAWAPAN: Dijawab oleh Al-Allamah Al-Muhaddith Al-Habib Munzir Al-Musawa sebagaimana berikut,

1. dari Amr bin Umayyah ra dari ayahnya berkata : Kulihat Rasulullah saw mengusap surbannya dan kedua khuffnya (Shahih Bukhari Bab Wudhu, Al Mash alalKhuffain).

2. dari Ibnul Mughirah ra, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw mengusap kedua khuffnya, dan depan wajahnya, dan atas surbannya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

3. para sahabat sujud diatas Surban dan kopyahnya dan kedua tangan mereka disembunyikan dikain lengan bajunya (menyentuh bumi namun kedua telapak tangan mereka beralaskan bajunya krn bumi sangat panas untuk disentuh). saat cuaca sangat panas. (Shahih Bukhari Bab Shalat).

4. Rasulullah saw membasuh surbannya (tanpa membukanya saat wudhu) lalu mengusap kedua khuff nya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

TAMBAHAN:

1. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Jabir dikemukakan: “Nabi saw memasuki kota Makkah pada waktu Fathu Makkah beliau mengenakan serban (‘imamah) hitam.” (HR. At-Tarmidzi. Hadits ini diriwayatan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadits ini pun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir ra.)

2. ‘Amr bin Huraits berkata: “Aku melihat serban hitam di atas kepala Rasulullah saw.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar, dari Sufyan, dari Musawir al-Waraq, dari Ja’far bin ‘Amr bin Huraits, yang bersumber dari bapaknya.)

3. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Umar ra. dikemukakan : “Apabila Nabi memakai sorban, maka dilepaskannya ujung serbannya di antara kedua bahunya.” Kemudian Nafi’ berkata: “Ibnu ‘Umar juga berbuat begitu.” ‘Ubaidullah berkata: “Kulihat al-Qasim bin Muhammad dan Salim, keduanya juga berbuat demikian.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al Hamdzani, dari Yahya bin Muhammad al-Madini, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Nafi’, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar.)

4. Ibnu ‘Abbas ra. mengemukakan: “Sesungguhnya Nabi Muhammad berpidato di hadapan ummat. Waktu itu beliau mengenakan serban, dan serbannya terkena minyak rambut.” (HR. At-Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Yusuf bin ‘Isa, dari Waki’, dari Abu Sulaiman, yaitu ‘Abdurrahman bin Ghasail, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas)

KOMEN:

“Barangsiapa yg tak menyukai sunnahku maka ia bukan dari golonganku”
(Shahih Bukhari).

Oleh: Ibnu Ibrahim

6 August 2015 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Comments

ISU HAK PENJAGAAN ANAK – MAZA MELANGGAR IJMAK ULAMAK

Lihat fatwa terbaru Perlis mengenai hak penjagaan anak. : https://www.facebook.com/bongkarMAZA/posts/464528873727266

Lihat pandangan MAZA memperakui tentang kesepakatan ulamak pengislaman bapa membawa kepada pengislaman anak yang masih kecil – gambar 1&2 tahun 2009 (rujuk : http://drmaza.com/home/?p=594) :

Para sarjana fekah ramai yang berpendapat bahkan ada yang mendakwa telah IJMAK (sepakat), bahawa pengislaman bapa membawa kepada pengislaman anak yang masih kecil. Namun mereka berbeza pendapat tentang pengislaman ibu; apakah diikuti dengan pengislaman anak atau tidak.

Di kalangan sarjana fekah ada yang berpendapat agama anak berdasarkan agama yang paling mulia dan sudah pasti mereka akan memutuskan jika bertembung antara Islam dan selainnya; maka agamanya dianggap sebagai Islam.

Tambahan kami :
1. Dalil Mengikut IJMAK Ulamak :
Sabda RasuluLlah yang bererti : “Umatku tidak akan bersepakat dalam perkara salah”
(Riwayat at Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Daud dan Daruqutni)

Nabi bersabda (yang bererti ) : “Apa sahaja yang menurut pandangan orang Muslimin itu baik, maka ia juga baik di sisi ALlah. Dan apa-apa menurut pendapat orang Muslimin itu buruk, maka ia adalah buruk di sisi ALlah”. (Riwayat Ahmad : Hadith Hasan)

2. Maqasid Syariah adalah menjaga AGAMA yang termasuk di dalam perkara dhoruriyyat . Sekiranya diserahkan hak penjagaan kepada bukan Islam sudah pasti penjagaan agama tidak di anggap satu kepentingan dan semakin longgar.

Dalam hadith sahih riwayat Imam Al-Bukhari menyebutkan :
ما من مولود إلا يولد على الفطرة ، فأبواه يهودانه ، أو ينصرانه ، أو يمجسانه
Tiada daripada anak itu melainkan dilahirkan di atas fitrah (Islam), lalu kedua2 ibubapanya lah menyebabkan dia menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi

Menjadi tanggungjawab IBU BAPA untuk mencorakkan anak-anak menjadi Islam, Yahudi, Nasrani atau Majusi.

3. Tambah pula kegiatan pendakyahan orang kafir harbi semakin berleluasa di Malaysia seperti Kristian Evangelis, gerakan liberalis dan pluralis yang amat gembira sekali dengan fatwa Perlis yang melanggar IJMAK dan menguntungkan orang kafir.

Sudah banyak kes anak-anak yang dibawa lari oleh pasangan bukan Islam dan kemudian dibesarkan dalam suasana bukan Islam.

4. Mana lagi mudarat – anak-anak yang memang sudah dididik dengan ajaran Islam oleh ibu atau bapa dibanding dengan dipelihara oleh bukan Islam ? Bagaimana hendak memelihara kemuliaan Islam bila diserahkan kepada yang bukan Islam untuk menjaganya ?

5. Musibah… bila agama diserahkan kepada bukan ahlinya.

29 July 2015 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

GOLONGAN YANG MENGATAKAN ISU YAQAZAH (BERTEMU RASULULLAH SAW SECARA JAGA) ADALAH SESAT TIADA KHILAF NYA

GOLONGAN YANG MENGATAKAN ISU YAQAZAH (BERTEMU RASULULLAH SAW SECARA JAGA) ADALAH SESAT BERERTI MEREKA TELAH MENYESATKAN PULUHAN ULAMA MUKTABAR.

Isu Yaqazah, jika ada yang kata sesat dan batil tanpa melihat apa sandaran dan hujjahnya.

Maka kita akan lihat sejumlah besar ulamak muktabar Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang disesatkan.

Nama-nama Imam Ibnu Hajar al Asqolani, Imam As Suyuthi, Imam An Nawawi, Imam al Ghazali, Imam Tajuddin As Subki, Imam Izzuddin Abdissalam dan ramai lagi senarai ulamak ini adalah rujukan kita sepanjang zaman. Mereka terdiri daripada mujtahid fatwa, Ahli Hadith, Ahli Feqh Ahli Usuluddin dan sebagainya.

Siapakah Ulamak Yang Mengiktiraf Berlakunya YAQAZAH ?

Antara ulama yang mengatakan atau mengiktiraf kemungkinan boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. ialah:

1. Imam Ibn Abi Jamrah al-Maliki dalam Bahjah al-Nufus.
2. Al-‘Allamah Ahmad al-Nafrawi al-Maliki dalam Syarh Risalah Ibn Abi Zayd.
3. al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari.
4. al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti dalam Tanwir al-Halak fi Imkan Ru’yah an-Nabi wa al-Malak.
5. Imam al-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim.
6. Imam al-Ghazali dalam al-Munqiz min al-Dhalal.
7. Imam Syihabuddin al-Qarafi,
8. Imam ‘Afif al-Din al-Yafi‘i al-Syafi‘i dalam (روض الرياحين).
9. Al-‘Allamah Ibn al-Haj al-Maliki dalam al-Madkhal.
10. Al-Qadhi Ibnu al-‘Arabi al-Maliki dalam kitabnya (قانون التأويل).
11. Imam Ibn ‘Ata’illah al-Sakandari (w. 709H) dalam kitab Lata’if al-Minan.
12. Al-Qadhi Syaraf al-Din al-Barizi dalam (توثيق عرى الإيمان).
13. Imam Tajuddin al-Subki.
14. Imam al-Qurtubi dalam (التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة).
15. Al-‘Allamah Ibn Battal al-Maliki
16. Al-‘Allamah Ibn al-Tin
17. Imam ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam dalam al-Qawa’id al-Kubra.
18. Al-‘Allamah Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Syama’il.
19. Al-Qadhi Ibn al-Munayyir.
20. Imam Ibn Daqiq al-‘Id.
21. Imam ‘Abd al-Wahhab al-Sya‘rani dalam beberapa kitabnya.
22. Imam Ibn Hajar al-Haytami al-Makki dalam al-Fatawa al-Hadithiyyah.
23. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ra’uf al-Munawi dalam Faydh al-Qadir.
24. Syeikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdullah al-‘Idrus (w. 1038H) dalam kitabnya al-Nurus Safir ‘an Akhbaril Qarnil ‘Asyir.
25. Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi dalam al-Mufhim.
26. Imam al-Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah.
27. Imam al-Baqillani.
28. Al-‘Allamah Sadruddin al-Qunawi dalam Syarh al-Arba‘in.
29. Al-‘Allamah Burhanuddin al-Biqa’i dalam al-Hawi.
30. Al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki.
31. Al-‘Allamah al-Maziri.
32. Al-‘Allamah Nuruddin al-Iji.
33. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ghani al-Nabulsi dalam Syarh Salawat al-Jaylani.
34. Syeikh Ahmad ibn ‘Ajibah al-Hasani (w. 1224H) dalam al-Futuhat al-Ilahiyyah. 35. Al-‘Allamah Syeikh Ibn ‘Allan al-Siddiqi.
36. Al-‘Allamah Najmuddin al-Ghazi dalam kitabnya al-Kawakib al-Sa’irah.
37. Imam Syah Waliy Allah al-Dihlawi dalam al-Durr al-Thamin.
38. Al-‘Allamah al-Alusi dalam tafsir Ruh al-Ma’ani.
39. Sayyid ‘Abdul Rahman al-‘Idrus dalam kitab Syarh Salawat al-Badawi.
40. Syeikh ‘Ali al-Ajhuri al-Maliki dalam al-Nur al-Wahhaj.
41. Syeikh Muhammad al-Khalili dalam al-Fatawa.
42. Syeikh ‘Abdullah Sirajuddin al-Halabi dalam al-Solat ‘ala al-Nabiy.
43. Al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani dalam Sa‘adah al-Darayn, Syawahidul Haq dan Jami‘ Karamatil Auliya’.
44. Syeikh Badi‘ al-Zaman Sa‘id al-Nursi.
45. Syeikh Ibrahim al-Bajuri dalam Syarh al-Syama’il.
46. Syeikh Muhammad Hasanain Makhluf.
47. Syeikh Abu al-Qasim Muhammad al-Hafnawi dalam Ta’rif al-Khalaf.
48. Al-‘Allamah Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, Syeikhul Azhar.
49. Al-‘Allamah Sayyid ‘Abdullah al-Siddiq al-Ghumari dalam kitabnya Fadha’ilun Nabi SAW.
50. Al-‘Allamah Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah.
51. Al-‘Allamah Dr. Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buti.
52. Al-Allamah Dr. ‘Ali Jum‘ah, Mufti Mesir dalam al-Bayan.
53. Dr. ‘Umar ‘Abdullah Kamil,
54. Dr. Mahmud al-Zayn.
55. Datuk Seri Maharaja Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz, Mufti Brunei. Dan ramai lagi jika diperincikan secara detil.

Zalimnya manusia yang melakukan perbuatan ini ! Kamu memerangi para alim ulama yang menjadi rujukan umat Islam sepanjang zaman ?

Sumber: Kami Tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia

26 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Yaqazah Batil dan sesat?

Menjawab DR MAZA

بسم اللّه الرحمن الرحيم،

النصوص الشرعي في بيان رؤية النبي صلى اللّه عليه وسّلم في اليقظة.

Teks-Teks Syara’ pada menyatakan kebenaran Al-yaqazah pada Waliyullah akan Baginda ShallahuAlaihiwasallam dan suatu jawapan kepada Dr Maza menyangkal dakwaan beliau….

Dewasa ini, kita digembar-gemburkan dengan kepelbagaian diversiti isu agama yang pada dasarnya hanya membawa kepada kecelaruan jika dihuraikan oleh mereka yang bukan keahlian bagi sesuatu ilmu dan perbahasan tersebut seperti isu Yaqazah para Waliyullah yakni melihat baginda ShallahuAlaihiwassallam dalam keadaan sedar secara total ataupun separa sedar, justeru sesungguhnya masalah ini bukanlah merupakan masalah Tasri’iyyah yang ditokok tambah dalam agama tetapi merupakan masalah Tafdhiliyyah yang menjadi kebingungan golongan wahabiyyah pada globalisasi kini mahupun mudun dahulu kerna mereka sendiri tidak dapat membezakan terminologi Hukum Aqal dan Hukum A’dat.

Perbezaan berkenaan Hukum Aqal dan Hukum Adat sebagaimana telah disebutkan terminologi tersebut oleh Allamah Al-imam Ibrahim Al-baijuri rahimahulloh dalam Syarah Al-baijuri Ala’ Sanusiyyah dalam prinsip metodologi Ilmu Muqaddimah m/s (9/10) ;

١. ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﻌﺎﺩﻱ : ﻫﻮ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺃﻣﺮ ﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﻧﻔﻴﻪ ﻋﻨﻪ ﺑﻮﺍﺳﻄﺔ ﺍﻟﺘﻜﺮﺍﺭ مع صحّة التخلّف فيه.

1. Yalni suatu keputusan (hukum) pada kebiasaannya berlaku (atau yang pernah berlaku/adat kebiasaan). Perkara yang sudah termaktub dengan sebab sudah berulang-ulang kali terjadi serta sah menyalahi dengan keputusan disebalik adat kebiasaan tersebut seperti sifat kenyang setelah makan, maka jika tidak makan maka tiadalah sifat kenyang tersebut dan tidak terbakar Nabi Ibrahim Alaihissalam sewaktu cube dibakar oleh Raja Namrud pada adat kebiasaan api tersebut bersifat dengan membakar dan menghangus.

٢. ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﻌﻘﻠﻲ : ﻫﻮ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺃﻣﺮ ﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﻧﻔﻴﻪ ﻋﻨﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﻮﻗﻒ ﻋﻠﻰ ﻭﺿﻊ.

2. Yakni suatu keputusan (hukum) yang memutuskan penetapan dan penafian berdasarkan logikal akal fikirannya yang membetuli (memuktamadkan) perkara-perkara yang difikirkan itu tanpa terhenti keputusan akal fikirannya pada suatu perkara tersebut seperti penciptaan makhluk/alam ini mesti ade sang penciptaNya yakni Allah Taala.

Telah berkata Al-imam Haramain Al-juwaini rahimhulloh ;

فمن لم يعرفه فليس له بعاقل

Yakni barangsiapa yang tidak dapat memahami hukum aqal tersebut maka tiadalah baginya aqal yang waras.

Sehubungan itu, maka jelaslah bahwa isu permasalahan Al-yaqazah para waliyullah ini termasuk dalam perkara yang disebut oleh para ulama’ (خرق العادة المكملة للمعجزة) yakni perkara-perkara yang menjangkaui adat kebiasaan yang menyempurnakan maksud bagi Mu’kjizat para anbia’ Alaihimussolatul wassalam dan sebagaimana ittifaq/telah bersepakat ulama’ ASWJ tentang kebenaran Mu’kjizat para anbia’ dan karomat para waliyullah kerna bahwa sanya Allah Taala itu Maha Berkuasa menciptakan sesuatu perkara.

الأدلّة الشرعي :

١. روى الامام البخاري في صحيحه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ((من رآني في المنام فسيراني في اليقظة فإن الشيطان لا يتمثل بي)) كما روى هذا الحديث مسلم صـ (١/١٥٢) وأبو داود في صحيحيهما.

• عن أبي هريرة قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ” مَن رآني في المنام فسيراني في اليقظة ، ولا يتمثل الشيطان بي ” .
رواه البخاري رقم ( ٦٥٩٢ ) ومسلم رقم ( ٢٢٦٦ ) .
زاد البخاري : قال ابن سيرين إذا رآه في صورته .

(ح) وفي رواية عند أحمد رقم ( ٣٤٠٠ ) : ” فإن الشيطان لا يستطيع أن يتشبه بي ” .

1. Telah diriwayatkan oleh Al-imam Al-bukhori dalam Sahihnya, Al-imam Muslim dalam Sahihnya m/s (1/152) dan dalam Sunan Abi Daud ;

Diriwayatkan daripada Sayyidina Abu Hurairoh radhiallahuAnhu ;

Telah mendengar oleh daku daripada baginda ShallahuAlaihiwasallam ; bersabda baginda ShallahuAlaihiwasallam ;
“ Barangsiapa yang melihatku saat mimpinya, maka ia akan melihatku dalam keadaan sedarnya. Maka sesungguhnya Syaitan itu tidak dapat menyerupai akan diriku….”

Sedikit penambahan oleh Imam Bukhori rahimahulloh daripada Ibnu Sirrin dengan mafhum yang sama.

Diriwayatkan juga oleh Al-imam Ahmad Bin Hanbal rahimahulloh dalam Musnadnya dengan Lafaz Hadis sedikit berbeza pada Matan asalnya ;
” Yakni maka sesungguhnya Syaitan tidak akan mampu menyerupaiku (baginda nabi shallahuAlaihiwasallam)…

Berikut merupakan komentar/syarahan hadis riwayat Sayyidina Abu Hurairoh radhiallahuanhu berkenaan Al-yaqazah melalui kefahaman Jarh Wal Ta’adil yang sebenar daripada Al-hafiz Al-imam Ibnu Hajar Al-asyqolani rahimahulloh secara riwayat dan diroyat ;

• قال الحافظ ابن حجر :

وقد رويناه موصولاً من طريق إسماعيل بن إسحاق القاضي عن سليمان بن حرب – وهو من شيوخ البخاري – عن حماد بن زيد عن أيوب قال : كان محمَّد – يعني : ابن سيرين – إذا قصَّ عليه رجلٌ أنَّه رأى النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قال : صِف لي الذي رأيتَه ، فإن وَصف له صفةً لا يعرفها قال : لم تره ، وسنده صحيح ، ووجدتُ له ما يؤيِّده فأخرج الحاكم من طريق عاصم بن كليب حدثني أبي قال : قلتُ لابن عباس رأيتُ النَّبي صلى الله عليه وسلم في المنام ، قال : صِفه لي ، قال ذكرتُ الحسن بن علي فشبَّهتُه به ، قال : قد رأيتَه ، وسنده جيد .

” فتح الباري ” ( ١٢/٣٨٣-٣٨٤ ) .

Telah berkata Al-hafiz Ibnu Hajar dalam Syarah Fathul Barri m/s (12/383-384) ;

Telah diriwayatkan kepada kami secara bersambung daripada jelujur/jalinan sanad Qadhi Ismail Bin Ishak daripada Sulaiman Bin Harb (salah seorang guru Imam Bukhori) daripada Hammad Bin Zaid Bin Ayyub (Ibnu Sirrin) sebagai sokongan penriwayatan hadis riwayat daripada Sayyidina Abu Hurairoh tersebut ; telah berkata beliau bahwa sanya baginda nabi ShallahuAlaihiwasallam telah mengisahkan tentang seorang lelaki yang telah bermimpikan baginda shallahuAlaihiwasallam ketika tidurnya, maka sabda baginda sifatkanlah olehmu apa yang kamu lihat dalam mimpimu?, lalu beliau menceritakan kepada baginda tentang sifat-sifat baginda di mana baginda shallahuAlaihiwasallam sendiri tidak dapat mengecaminya…

Telah ditashihkan sanad hadis diriwayatkan oleh Ibnu Sirrin ini sebagai Sohih, bahkan didapati juga daripada Al-imam Al-hakim dan ditakhrijkan hadis tersebut oleh beliau sendiri rahimahulloh daripada jalinan sanad A’asim Bin Kulaib telah diriwayatkan oleh bapaku, katakanlah kepada Sayyidina Abdullah Bin Abbas radhiallahuAnhuma, bahwa sanya aku telah melihat baginda shallahuAlaihiwasallam dalam mimpiku, lalu berkata Sayyidina Ibnu Abbas sifatkalah ciri-ciri baginda kepada daku, lalu aku berkata sesungguhnya telah bersamaan wajah baginda shallahuAlahiwasallam dengan cucu baginda Sayyidina Hassan Bin Ali, lalu berkata Sayyidina Ibnu Abbas maka benarlah ape yang kamu telah lihat, ditashihkan hadis ini sebagai jayyid.

وأما من يقول إنه صلى الله عليه وسلم يأتي بكل صورة ، ويستدل على ذلك بما أخرجه ابن أبي عاصم عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” مَن رآني في المنام فقد رآني فإنِّي أُرى في كل صورة ” : فحديث ضعيف .

Adapun hadis yang dhaif melalui jalinan sanad Abi A’asim ditakhrijkan oleh anaknya daripada Sayyidina Abu Hurairoh adalah hadis berkenaan didatangi baginda ShallahuAlaihiwasallam dalam mimpi dalam apa jua bentuk dan rupa dengan mafhum sabda baginda shallahuAlaihiwasallam, ” Barangsiapa yang dapat melihatku dalam tidur, maka sesungguhnya ia telah dapat melihatku dalam apa jua bentuk dan rupa.

• قال الحافظ ابن حجر :

وفي سنده صالح مولى التوأمة ، وهو ضعيف ؛ لاختلاطه ، وهو مِن رواية مَن سمع منه بعد الاختلاط .

” فتح الباري ” صـ ( ١٢/٣٨٤ ) .

Dibuktikan lagi oleh Al-hafiz Ibnu Hajar dalam Syarah Fathul Barri m/s (12/384) ;

Yakni pada sanad Solih Mawla At-taua’matiyy adalah dhaif disebabkan wujud nye percampuran pada isnadnya.
• قال الحافظ ابن حجر :

وقوله ” لا يستطيع ” يشير إلى أن الله تعالى وإن أمكنه مِن التصور في أي صورة أراد ؛ فإنه لم يمكنه من التصور في صورة النَّبي صلى الله عليه وسلم ، وقد ذهب إلى هذا جماعة…

” فتح الباري ” صـ (١٢/٣٨٦) .

Bahkan riwayat Hadis Al-yaqazah yang ditakhrijkan oleh Al-imam Ahmad Bin Hanbal rahimahulloh sendiri pada lafz hadis ‘ لا يستطيع ‘ itu menunjukkan bahwa sanya Allah Taala berkuasa menjadikan Syaitan dalam apa sahaja rupa dan bentuk yang ia kehendaki, namun Allah Taala menegah ia berupa sebagaimana baginda shallahuAlaihiwasallam dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama’, Syarah Fathul Barri m/s (12/386).

Jelas!!!

Wujud kontradiksi pemahaman nas hadis riwayat Sayyidina Abu Hurairah berkenaan Al-yaqazah dengan apa yang didakwa oleh Maulana Asri, Siapakah Maulana Asri adakah beliau Muhaddisin Jarh Wal Ta’adil lebih ulung daripada Alhafiz Ibnu Hajar Al-asyqolani rahimahulloh???.

• وأخرج الطبراني مثله من حديث مالك بن عبد الله الخثعمي ومن حديث أبي بكرة صـ (٥/٢٤٣)، وأخرج الدارمي مثله من حديث أبي قتادة صـ (٢/٣٠١)، وأحمد صـ (٥/٣٦٠)…

Bahkan Hadis riwayat Sayyidina Abu Hurairah radhiallahuAnhu ini telah ditakhrijkan oleh Al-imam At-tabari sebagaimana riwayat Malik Bin Khas’amiyy dan riwayat Abi Bakrah m/s (5/243), juga ditakhrijkan oleh Al-iman Ad-darimi rahimahulloh melalui riwayat Abi Qatadah m/s (2/301), dan Al-imam Ahmad Bin Hanbal dalam Musnadnya m/s (5/360).

• قال العلامة ابن الأثير في كتابه (النهاية في غريب الحديث والأثر) : اليقظة قد تكرر في الحديث ذكر اليقظة والاستيقاظ وهو الانتباه من النوم. فهذا حديث صحيح صريح لا يقبل التأويل. صـ (٥/٤٨-٤٩).

Dinukilkan daripada Allamah Ibnu A’thir dalam An-nihayah Fil Gharibil Hadis Wal As’thar m/s (5/38-39) ;

Yakni Al-yaqazah yang berulang-ulang kali diucapkan dalam hadis adalah keadaan yang jaga dan sedar daripada mimpi bahkan dihukumkan hadis riwayat Sayyidina Abu Hurairah radhiallahuAnhumaa ini sebagai Sohih dan Sorih tidak berhajat kepada pentakwilan yang spesifik.

٢. سئل الفقيه العلامة ابن حجر الهيتمي في كتابه (الفتاوي الحديثة) صـ (١/٢١٢) وذكر أيضا في الحاوي صـ (٢/٢٥٨) : سئل هل ممكن رؤية النبي صلى الله عليه وسلم في اليقظة فأجاب: أنكر ذلك جماعة وجوزه آخرون وهو الحق وقد أخبربذلك جماعة من الصالحين واستدل بحديث البخاري (من رآني في المنام فسيراني في اليقظة) أي بعين رأسه…

2. Telah dinukilkan oleh Allamah Al-imam Ibnu Hajar Al-haitami rahimahulloh dalam Fatawa Al-haadisah m/s (1/212) dan juga disebut dalam Al-hawi m/s (2/258) ;

Telah diajukan persoalan berkenaan adakah mungkin dapat melihat baginda nabi shallahuAlaihiwasallam secara Yaqazah (sedar/separa sedar)?, maka dijawab oleh beliau, sesungguhnya telah menginkari kenyataan demikian oleh golongan terdahulu dikhuatiri wujud dakwaan sewenang-wenangnye oleh mereka yang tidak bertanggunjawab sebaliknya menyokong golongan As-solihin dengan kejadian demikian (Al-hawi) dan disokong kenyataan ini oleh golongan kemudian berdasarkan Hadis riwayat Sayyidina Abu Hurairah radhiallahuAnhu dan pendapat ini adalah yang sebenar.

٣. وقال صاحب رسالة (الموقظة فى رؤية الرسول صلى الله عليه وسلم فى اليقظة) : هل يمكن الاجتماع بالنبي والتلقي منه فى اليقظة ؟ نعم يمكن ذلك، فقد صرح بأن ذلك من كرامات الأولياء الغزالي والبارزي والتاج السبكي والعفيف اليافعي من الشافعية والقرطبي وابن أبي جمرة من المالكية.

3. Telah dinukilkan dalam Ar-risalah Al-mauqi’zoh Fil Ru’yatil Rasul ShallahuAlaihiwasallam Fil Yaqazoh ;

Yakni adakah mungkin dapat berjumpa dengan baginda nabi shallahuAlaihiwasallam dalam keadaan sedar?, maka telah berkata musonnif (pengarang) kitab tersebut, ya mungkin bahkan telah ditasriihkan demikian adalah salah satu daripada karamah para waliyullah yang wajib dpercayai sebagaimana dinukilkan oleh Al-imam Abu Hamid Al-ghazali, Al-imam Al-barazziy, Al-imam Tajuddin As-subki, Syeikh Afifi Al-ya’iifiyy Al-syafie, Al-imam Al-qurtubi, dan Al-hafiz Ibnu Abi Hamzah Al-maliki….

٤. ونقل عن الحافظ البغوي : قال ابن بطّال : قوله ( فسيراني في اليقظة ) يريد تصديـق تلك الرؤيا في اليقظة وصحتها وخروجها على الحق وليس المراد أنه يراه في الآخرة لأنه سيراه يوم القيامة في اليقظة فتراه جميع أمته من رآه في النوم ومن لم ير منهم…

4. Telah dinukilkan oleh Al-hafiz Al-baghawiyy rahimahulloh daripada Ibni Battal rahimahulloh telah berkata ;

Yakni dimaksudkan pada lafaz hadis riwayat Sayyidina Abu Hurairah RadhiallahuAnhu ( فسيراني في اليقظة ) adalah dikehendaki membenarkan kenyataan demikian yakni kemungkinan dapat melihat baginda shallahuAlaihiwasallam secara sedar, bahkan telah ditashihkan dan ditakrijkan hadis ini oleh sebilangan daripada ulama’, bukanlah dimaksudkan dalam hadis ini bahwa sanya kita hanya dapat melihat baginda dengan mata yang kasar ini pada hari kiamat kelak sahaja, bahkan dapat dilihat oleh kesemua ummat baginda bagi sesiapa yang menghendaki melihat baginda ketika tidur dan sebagainya….

٥. وقال ابن الحاج المالكي في (المدخل) : وقلّ من يقع له ذلك الأمر، إلاّ من كان على صفة عزيز وجودها في هذا الزمان بل عدمت غالباً، مع أننا لا ننكر من يقع له هذا من الأكابر الذين حفظهم الله تعالى في ظواهرهم وبواطنهم.

5. Telah dinukilkan daripada Ibnu Al-hajj Al-maliki dalam Al-madkhal ;

Yakni sedikit sahaja mereka yang melibatkan diri dalam perkara demikian (Yaqazah) kecuali pada diri mereka tersebut mempunyai sifat yang mulia sebagaimana salafussoleh dahulu pada zaman kini bahkan dikatakan sudah hilang golongan ini pada ghalibnya, kami tegaskan disini bahwa sanya kami tidak mengingkari karamat mereka yang tinggi maqamnya secara lahiriah dan harfiah (batiniyyah) kepada Allah Taala….

٦. قال الإمام السيوطى فى (تنوير الحلك في إمكان رؤية النبى والملك) : فقد كثر السؤال عن رؤية أرباب الأحوال للنبي صلى الله عليه وسلم في اليقظة وإن طائفة من أهل العصر ممن لا قدم لهم في العلم بالغوا في إنكار ذلك والتعجب منه وادعوا أنه مستحيل فألفت هذه الكراسة في ذلك وسميتها….

6. Telah berkata oleh Al-imam Jalaluddin As-suyuthi dalam Tanwirul Al-halk Fil Imkanil Ru’yatil Nabiyy ;

Yakni telah datang begitu banyak persoalan khusus mereka pada hari ini tiadalah keahlian bagi mereka akan ilmu menafikan dapat melihat baginda ShallahuAlaihiwasallam, bahkan ta’ajub mereka dan mengatakan bahwa sanya ini adalah perkara mustahil maka aku telah mengarang lembaran yang ringkas pada menjawab persoalan demikian….

٧. قال الإمام الشعراني رحمه الله تعالى في الطبقات الصغري في ترجمة الشيخ شهاب الدين البلقيني صـ (٦١) :

وكذلك بلغنا أنه كان يجتمع بالنبي صلى الله عليه وسلم يقظة ويحادثه ، أي بجتمع به في حالة بين النائم واليقظان كما هو مقرر في تأويل كلام القوم اهـ….

7. Telah dinukilkan oleh Al-imam As-sya’raniyy rahimahulloh dalam Thabaqat As-sughra m/s (61) ;

Yakni dan telah sampai kepada kami akan kebenaran kenyataan kemungkinan dapat berjumpa dengan baginda nabi shallahuAlaihiwasallam sama ada ketika tidur atau sedar/jaga…

٨. وقال الشيخ محمد بن علوى المالكى في كتابه (الذخائر) صـ (١٤٦) : إن رؤيا النبي صلى الله عليه وسلم ممكن لعامة أهل الأرض في ليلة واحدة، وذلك لأن الأكوان مرايا، وهو صلى الله عليه وسلم كالشمس إذا أشرقت على جميع المرآيا ظهر في كل مرآة صورتها، بحسب كبرها وصغرها، وصفائها وكدرها، ولطافتها وكثافتها… الخ .

8. Telah dinukilkan oleh Al-marhum Syeikh Dr Muhammad Al-alawi Al-maliki rahimahulloh dalam Az-zakhair m/s (146) ;

Sesungguhnya melihat baginda rasulullah ShallahuAlaihiwasallam adalah bukan perkara yang mustahil bagi kesemua penduduk bumi semalam, kerna baginda shallahuAlaihiwasallam padanya kelihatan seperti mega cahaya matahari yang gemerlapan, mezahirkan penglihatan padanya dengan rupanya, saiznya, sifatnya shallahuAlaihiwasallam…

٩. فقد إتفق علماء أهل السنة والجماعة التصديق بكرامات الأولياء ، ما يجري الله على أيديهم من خوارق العادات في أنواع العلوم والمكاشفات وأنواع القدرة والتأثيرات كالمأثور عن سائر الأمم. مجموع الفتاوي لإبن تيمية.

9. Bahkan dinukilkan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahulloh sendiri dalam Majmu’ Fatawanya ;

Yakni telah bersepakat Ulama ASWJ tentang kebenaran karamat para waliyullah, dengan ape yang dikurniakan oleh Allah Taala kepada mereka yang mejangkaui batas akal fikiran dan adat kebiasaan, dan ini adalah satu bahagian perbahasan dalam Ilmu Tasauf Mukasyafah….

Konklusinya, sudah terang lagi bersuluh wujud kontradiksi pandangan beliau (Dr Maza) dengan pandangan Ulama’-ulama yang muktabar dalam Mazhabiyyah bahkan dengan Imam pujaannya sendiri Ibnu Taimiyyah tentang kebenaran Al-yaqazah para waliyullahh akan baginda rasulullah ShallahuAlaihiwasallam…

‫#‏من_لم_يذوق_ولم_يدري‬

Wallahua’lam…
Intaha,
Ibnuqassemalkelantany/
@salafytobat93

Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group – Johor
Pertubuhan Ahli Sunnah Wal Jamaah Malaysia – Aswaja Pondok Zawiyah Rumi Sufi Jawi PU Faiz Fans Club

26 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani

SEJARAH BERDIALOG DGN WAHABI YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN.

Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani adalah ulama ahli hadits yang terakhir menyandang gelar al-hafizh (gelar kesarjanaan tertinggi dalam bidang ilmu hadits).

Ia memiliki kisah perdebatan yang sangat menarik dengan kaum Wahhabi. Dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar, sebuah autobiografi yang melaporkan perjalanan hidupnya, beliau mencatat kisah berikut ini.

“Pada tahun 1356 H ketika saya menunaikan ibadah haji, saya berkumpul dengan tiga orang ulama Wahhabi di rumah Syaikh Abdullah al-Shani’ di Mekkah yang juga ulama Wahhabi dari Najd.

Dalam pembicaraan itu, mereka menampilkan seolah-olah mereka ahli hadits, amaliahnya sesuai dengan hadits dan anti taklid. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan ketinggian tempat Allah subhanahu wa ta‘ala dan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai dengan ideologi Wahhabi.

Mereka menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara literal (zhahir) mengarah pada pengertian bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai keyakinan mereka.

Akhirnya saya (al-Ghumari) berkata kepada mereka: “Apakah ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi termasuk bahagian dari al-Qur’an?”

Wahhabi menjawab: “Ya.”

Saya berkata: “Apakah meyakini apa yang menjadi maksud ayat-ayat tersebut dihukumi wajib?”

Wahhabi menjawab: “Ya.”

Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ. (الحديد : ٤)
.
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4).

Apakah ini termasuk al-Qur’an?”

Wahhabi tersebut menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”

Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:

مَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ وَهُوَ رَابِعُهُمْ. (المجادلة : ٧).

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya….” (QS. al-Mujadilah : 7).

Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?”

Wahhabi itu menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”

Saya berkata: “(Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit). Mengapa Anda menganggap ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi yang menurut asumsi Anda menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat yang saya sebutkan yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit?

Padahal kesemuanya juga dari Allah subhanahu wa ta‘ala?”

Wahhabi itu menjawab: “Imam Ahmad mengatakan demikian.”

Saya berkata kepada mereka: “Mengapa kalian taklid kepada Ahmad dan tidak mengikuti dalil?”

Tiga ulama Wahhabi itu pun terbungkam. Tak satu kalimat pun keluar dari mulut mereka. Sebenarnya saya menunggu jawaban mereka, bahwa ayat-ayat yang saya sebutkan tadi harus dita’wil, sementara ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit tidak boleh dita’wil.

Seandainya mereka menjawab demikian, tentu saja saya akan bertanya kepada mereka, siapa yang mewajibkan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan dan melarang menta’wil ayat-ayat yang kalian sebutkan tadi?

Seandainya mereka mengklaim adanya ijma’ ulama yang mengharuskan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan tadi, tentu saja saya akan menceritakan kepada mereka informasi beberapa ulama seperti al-Hafizh Ibn Hajar tentang ijma’ ulama salaf untuk tidak menta’wil semua ayat-ayat sifat dalam al-Qur’an, bahkan yang wajib harus mengikuti pendekatan tafwidh (menyerahkan pengertiannya kepada Allah subhanahu wa ta‘ala).”

Demikian kisah al-Imam al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dengan tiga ulama terhebat kaum Wahhabi.

image

GAmbar: Sayyid Ahmad Siddiq al-Ghumari(abang-kiri) Dan Sayyid Abdullah al-Ghumari (kanan)

19 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

MENJAWAB TOHMAHAN "AHLI HADIS" TERHADAP KITAB SYAIKHUL HADIS

 

 

Berikut merupakan kesimpulan daripada “Kajian 40 Hadith di dalam Kitab Fadāil al-Solah” oleh al-Allāmah al-Muhaddith al-Syeikh Muhammad Zakariyā al-Kandahlawī yang dihasilkan oleh para pelajar Ilmu Hadis di bawah bimbingan Dr. Asmadi Sakat (UKM):

Berdasarkan kepada latar belakang pengarang, beliau merupakan seorang ulama yang terkenal di dalam bidang hadis sehingga beliau digelar sebagai Ra’is al-Syeikh al-Allamah al-Muhaddith.

Maulana Muhammad Zakariya memiliki 2 manhaj dan metode penulisan iaitu manhaj penulisan untuk orang awam dan manhaj penulisan untuk alim ulama yang mana setiap daripada kedua-duanya memiliki kaedah dan caranya yang tersendiri dalam menyampaikan penulisan.

Dalam permasalahan hadith dhaif, beliau berpegang dengan pendapat jumhur muhaddith bahawa harus menyebut hadith dhaif tanpa menyebut keterangan sebab kelemahannya dengan syarat hadith tersebut tidak bersangkut atau ada kaitan dengan permasalahan aqidah, halal dan haram, hukum-hukum syariah. Juga untuk pengajaran, taghrib dan tarhib, kelebihan-kelebihan amal dan yang seumpama dengannya. Boleh beramal dengan hadith dhaif hanya dalam urusan fadāil (kelebihan-kelebihan amal), al-manāqib, al-targhib wa al-tarhīb (galakan kepada amalan dan ancaman meninggalkan amalan) sahaja dan tidak boleh beramal dengannya dalam urusan halal dan haram terutamanya urusan aqidah.

Para ulama hadith telah sebulat suara bahawa terdapat hadith yang boleh dinaik taraf martabat atau statusnya ke satu taraf yang lebih tinggi dari martabatnya yang asal dengan syarat kelemahan hadith tersebut hendaklah lemah yang sederhana.

Jenis-jenis hadith yang boleh dinaik taraf martabatnya kepada darjat yang lebih tinggi daripada darjatnya yang asal ialah al-hadith al-hasan lizatih, al-hasan li ghairih, al-mu’allaq, al-mursal, al-mu’dal, al-munqati’, almudallas, al-mursal al-khafie, hadith majhul al-hal, hadith majhul al-‘ain, hadith al-mubham hadith al-mukhtalit, hadith al-mutalaqqin.

Hadith daripada perawi yang berdusta, dituduh sebagai pendusta, fasiq, hadith al-syaz dan hadith al-ma’lul merupakan klasifikasi-klasifikasi hadith yang tidak dapat dinaik taraf kedudukannya kepada hasan li ghairih disebabkan terlalu lemah dan riwayat-riwayat yang lain tidak dapat mengangkatnya kepada kedudukan yang lebih tinggai dari kedudukannya yang asal.

Jenis-jenis hadith yang tidak boleh dinaik taraf ialah hadith mawdu’ , hadith al-matruk, hadith al-munkar, hadith al-syaz dengan jenis-jenis iaitu almudraj, al-mudtarib, al-musahhaf, al-muharraf dan al-ma’lul.

Dapatan daripada penelitian penulis, daripada 40 hadith yang terdapat di dalam Fadāil al-Solah hadith yang berstatus sahih ialah hadith 1, 3, 11, 12, 14, 18, 19, 20, 24, 25, 27 dan 32. Hadith yang berstatus hasan ialah hadith 2, 4, 6, 7, 21, 22, 23, 28 dan 31. Hadith yang berstatus hasan selepas dikuatkan dengan riwayat sokongan ialah hadith 5, 8, 9 dan 10. Hadith yang berstatus dhaif tetapi boleh digunakan dalam konteks al-tarhīb ialah hadith 13, 16, 17, 26 dan 29. Kata-kata ulama yang terdapat di dalam kitab ini yang mana sesuai bagi tujuan al-tarhīb ialah hadith 15. Hadith yang ke 30 penulis tawaqufkan penilaian terhadapnya kerana tidak menemui kitab asal bagi hadith tersebut.

Saranan Dan Cadangan

Semua pihak termasuk para ulama dan ahli agama seharusnya memberi perhatian dan mengambil berat mengenai metode hadith mutāba’at dan syawāhid sebagai riwayat sokongan yang menjadi salah satu faktor pemangkin kenaikan taraf hadith yang berstatus dhaif kepada hasan li ghairih.

Daripada penganalisaan yang telah dibuat, penulis mendapati jumhur ulama di dalam beramal dengan hadis dhaif mengenakan beberapa syarat tertentu. Lantaran itu, janganlah terlalu cepat menolak sesuatu hadis disebabkan kelemahannya kerana kadangkala apa yang dikatakan sebagai kelemahan itu hanyalah pada sanadnya sahaja sedangkan matannya sahih dan selari dengan nas al-Quran atau dibantu oleh hadis sahih yang lain atau terdapat hadis lain daripada jalan riwayat yang lain yang boleh meningkatkan kedudukan hadis tersebut.

Berdasarkan kajian penulis terhadap buku karangan Mawlana Zakariya penulis mendapati terdapat beberapa buah hadith dhaif yang terkandung di dalam buku tersebut. Namun begitu hadith dhaif yang dikemukakan oleh beliau tidak terlalu dhaif dan tidak bercanggah dengan dalil-dalil syariat. Di samping itu beliau juga telah mengemukakan dalil-dalil samada dari al-Quran atau alsunnah yang lain untuk menyokong dan mengukuhkan hadith yang utama.

Penulis juga mendapati bahawa pengarang telah mengikuti metodologi para ulama hadis yang terdahulu dalam mengukuhkan hadith. Pengunaan hadith dhaif oleh beliau dalam kitabnya tidak bercanggah dengan syarat para ulama hadith yang terdahulu. Oleh itu, dakwaan yang mengatakan bahawa kitab-kitab karangan beliau tidak boleh dipakai adalah tidak benar dan tidak berasas.

Umat Islam seharusnya mengelakkan serta menjauhkan diri daripada mengeluarkan sesuatu kenyataan yang mengelirukan sekiranya perkara tersebut berada di luar kepakaran dan pengetahuan mereka.

Cadangan penulis kepada sesiapa yang ingin membuat kajian mengenai tajuk ini hendaklah memahami manhaj dan metode yang digunapakai oleh al-Kandahlawī serta menguasai kitab-kitab sumber asli bagi menjadikan kajian tersebut lebih berkualiti dan bermutu tinggi.

Kesimpulan

Pengaplikasian metode hadith mutāba’at dan syawahid sebagai riwayat sokongan yang menjadi salah satu faktor pemangkin kenaikan taraf hadith yang berstatus dhaif kepada hasan li ghairih merupakan manhaj yang digunapakai oleh al-Kandahlawī dan ulama sebelumnya dalam bidang penulisan hadith. Cara ini dilakukan menunjukkan kealiman dan kepakaran beliau di dalam bidang hadith. Sehubungan dengan itu manhaj ini boleh digunapakai sekiranya seseorang itu benar-benar mahir dalam bidang takhrij hadith.

 

(Sumber: Daripada Kajian yang dijalankan oleh pelajar ilmu hadis Jabatan al-Quran dan as-Sunnah di bawah seliaan Dr. Asmadi Sakat)

*Kalau dah faham, harap dapat sebarkan supaya orang awam tak terkeliru dengan tohmahan liar orang yang membenci hadis Nabi.

1 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

KEJATUHAN TOTAL EMAPAYAR OTHMANIAH & KAITANNYA DENGAN BANK DAN HUTANG

KEJATUHAN TOTAL EMAPAYAR OTHMANIAH & KAITANNYA DENGAN BANK DAN HUTANG

Sejarah jatuh bangunnya Islam ada agenda tersembunyi yang perlu kita fahami, samada untuk mengelakkan kejatuhan atau mahu membangunkannya semula.

Bedah sejarah kali ini menyorot kembali kronologi kejatuhan Empayar Othmaniah dan kaitannya dengan bank dan hutang. Bagus dibaca oleh para pegawai negara dan ibubapa. Jika tidak faham sekali, silalah diulang baca semula.

Sepanjang kurun ke 19 berlaku proses perindustrian dan elektonik di Eropah. Ianya bukan satu proses semulajadi, tetapi satu perancangan pihak tertentu untuk mengaut keuntungan. Apa yang terjadi ? Kemajuan teknologi membawa saudara kembar yang menjadi ‘protokol atau prosedur’ bersama-samanya, iaitu bon-bon, sekuriti, wang kertas dan lain-lain instrumen kewangan.

Bermula dari projek pembinaan keretapi yang memerlukan modal yang besar, cara pembayaran Islam tidak lagi boleh dipakai. Mereka mensasarkan Turki sebagai pusat pemerintahan dan Mesir sebagai pusat intelektual Islam. Cara perniagaan atau muamalat Islam mesti diketepikan. Keputusan para Ulamak dalam hal-hal perniagaan tidak diperlukan lagi.

Sebelum itu umat Islam menguasai bidang perniagaan dan perdagangan. Masyarakat Yahudi dan Nasrani membayar jizyah bagi keselamatan mereka dan dibenarkan tidak ikut serta dalam urusan ketenteraan dan keselamatan negara.

Pekara yang sebaliknya berlaku selepas tugasan penyusunan semula masyarakat diserahkan kepada Bankers Yahudi, kononnya untuk memodenkan Khilafah Othmaniah. Orang Yahudi dan Kristian menjadi TUAN (Masters) yang kaya raya sedangkan rakyat Khilafah pula menjadi miskin.

Seterusnya Sultan Mahmud II pula buat silap. Beliau membentuk Tentera Diraja bermodelkan tentera British. Tentera jihad yang bermodalkan tauhid diganti dengan tentera ‘bergaji’. Sistem demokrasi diperkenalkan. Jawatan Wazir Besar diganti dengan Perdana Menteri. Cukai dinaikkan.

Kemudian Tanzimat (reformasi) diperkenalkan pada tahun 1839 oleh Sultan Abdul Mecit. Sistem Kerajaan Tempatan digantikan dengan model Perancis. Ini menyebabkan sistem perniagaan Bazaar juga khidmat masyarakat melalui waqaf yang dipanggil ‘imaret’ dan ‘millet’ (majlis perlindungan bagi golongan minoriti) tidak lagi berfungsi .

Pendidikan dua aliran diperkenalkan, iaitu tradisional dan sekular yang bertulang belakangkan stok, bon dan lain-lain institusi kewangan moden. Penjajahan ini berlaku secara tidak sedar atas nama ‘memodenkan’ empayar Othmaniah.

Undang-undang Islam ke atas status ahlu Zhimmah dihapuskan. Reformasi Tanzimat memfokuskan kepada pemusatan pentadbiran (administrative centralization) menggantikan sistem Autonomi Amiriah tempatan.

Tiga wazir yang menjayakan tanzimat ialah Rechid, Ali dan Fuad Pasha. Mereka bersahabat baik dengan banker Yahudi bernama Camondo. Mereka menghabiskan banyak masa mereka di Paris mempelajari teknik permodenan barat. NASIHAT DARI FINANCIAL PLANNER YAHUDI diperlukan bagi memodenkan empayar.

Kebanyakan orang Yahudi di Istanbul tinggal di Galata. Isaac Camondo menubuhkan Bank Camondo pada tahun 1802. Saudaranya Abraham-Salomon Camondo menggantikannya pada tahun 1832. Kerana sumbangannya yang besar kepada agenda reformasi tanzimat beliau dianugerahkan “Nishan-I Iftihar” dan menjadi Komander Mejidiye pada tahun 1849.

Pada tahun 1842 wang kertas KAIMA diperkenalkan menggantikan Dinar dan Dirham. Ini membawa kepada penguasan banker YAHUDI ke atas kedaulatan khilafah. Secara tidak sedar, para banker ini dijemput untuk mencipta system kewangan moden berunsur riba melalui bon, kredit, saham dan pengeluaran wang kertas yang dikuasai banker Yahudi. Reformasi kewangan ini memberi mereka peluang untuk membuka bank-bank baru.

Pada tahun 1845 Kerajaan Othmaniah bersama Mm. Alleon dan Theodore Baltazzi menubuhkan Bank of Constantinople bagi tujuan memberi pinjaman kepada kerajaan.

Perang Krimea memberi peluang kepada banker Yahudi berkembang dalam empayar Othmaniah. Ini kerana kerajaan memerlukan dana untuk peperangan. Bank memberi pinjaman dengan interest.

Ottoman Bank ditubuhkan pada tahun 1856. Ia menjadi satu langkah kepada penubuhan bank pusat dengan dana dari luar dengan jumlah 500,000 Pound Sterling. Transformasi modal persendirian kepada Bank Pusat membawa kepada system kuasa berada di tangan para pemilik banker Yahudi Antarabangsa.

Keluarga Rothschilds yang terlibat dalam penubuhan Federal Reserve USA juga turut terlibat atas nama pelaburan melalui ‘Alphonse de Rothchilds’. Bapanya James Rothschilds membuka cawangan French Rothchilds Bank di Istanbul.

Kerja-kerja untuk penubuhan bank pusat akhirnya berjaya dengan tertubuhnya ‘La Bank Imperiale Ottomane’ pada tahun 1863 dengan bantuan Yahudi bernama Emil dan Isaac Pereire. Ini model yang menjadi superbank seterusnya dari Bank pusat kepada Bank Dunia dan International Monetary Fund.

Bank ini menjadi bankers bank dengan deposit, pengumpul dan pengedaran kredit. Ia akan menentukan kadar antara Bank, memberi pinjaman, mengurus jual beli, membincang pembelian komoditi, memberi dana, melibatkan diri dalam projek pelaburan dan mengeluarkan serta mencetak wang baru.

Bank Camondo hanyalah bank biasa. Ottoman bank pula ialah bank dengan dana tempatan. Seterusnya bank baru Imperial Ottoman bank menjadi Bank Pusat dengan dana antarabangsa. Satu system ‘penguasaan kewangan’ telah diletakkan batu asasnya di situ.

Bank ini akan menyerap masuk dalam setiap aktiviti masyarakat bermula dari kedai runcit lagi. Tiada aktiviti masyarakat yang terlepas dari sistem Bank. Dari aktiviti jual beli, simpanan, seterusnya dana kewangan dan pelaburan, semuanya melibatkan bank.

MEREKA BERJAYA MENJADI TUAN KEPADA DUNIA (Masters of the Worlds). Pada tahun 1858 bankers Yahudi telah meletakkan syarat pinjaman dengan ‘jaminan tranformasi sosial’ kepada Kerajaan Othmaniah. Ini menunjukkan sistem ekonomi hutang berkait rapat dengan ‘kejuruteraan sosial’.

PADA WAKTU ITU JIZYAH SUDAH BERKUBUR. Bank Yahudi bertapak, sistem politik Nasrani Kristian sudah jadi penggerak Empayar Othmaniah ! Hak menandatangani kerajaan tergadai kepada peminjam wang. Tahun itu juga, ‘undang-undang tanah baru’ menafikan hak Sultan. Seterusnya tahun 1867, ORANG ASING DIBENARKAN MEMBELI TANAH.

STRATEGI DI SEBALIK PROJEK KERETAPI

Projek keretapi menghubungkan Istanbul ke Vienna. Austria dikatakan akan menghubungkan dunia Islam dan Eropah. Oleh kerana projek ini begitu besar, begitu jugalah besarnya peranan penipuan oleh bank-bank Yahud di London, Paris dan Brussel dalam membiayai projek ini dengan bon-bon kerajaan Othmaniah.

Pada tahun 1873 berlaku ‘Crash 1873 ‘ yang membawa kepada kejatuhan nilai bon-bon tersebut. Projek ini bukan sahaja pembangunan fizikal dalam bentuk ‘konkrit bangunan’ semata-mata. Ia suatu gerakan yang mengatasi ruang lingkup sempadan nasional dan bangsa, tetapi didalangi dengan angka-angka pada dokumen kewangan yang dipanggil saham dan bon.

Pada tahun 1875 Kerajaan Othmaniah DIISTIHARKAN MUFLIS kerana tidak mampu membayar hutang. Suruhanjaya Asing dilantik mewakil pemegang saham asing. Kerajaan terpaksa mengenakan CUKAI TERHADAP RAKYAT.

Serbia memberotak. Bosnia diserahkan kepada Austria di bawah bendera Othmani. Jalan keretapi tidak siap tetapi separuh dari perniagaan laut telah jatuh ke tangan British.

Kesan mengurangkan perjalanan dari Vienna ke Istanbul dari seminggu ke 40 jam ialah KEJATUHAN KHILAFAH OTHMANIAH itu sendiri.

Sultan Abdul Hamid menjadi Khalifah pada tahun 1876. Beliau mahu kembali kepada pemerintahan asal Othmaniah sebelum reformasi tanzimat. Beliau menolak sistem hiraki barat dan mahukan sistem topkapi dan imaret diperintah oleh keluarga diraja Othmaniah semula. Beliau tidak percaya kepada pegawai-pegawai yang berkhidmat sebelumnya. Secara beransur-ansur beliau mengurangkan peranan mereka dalam kerajaan dan akhirnya beliau BERJAYA MENGURANGKAN HUTANG KERAJAAN.

Pada tahun 1896, perwakilan Zionis telah menemui beliau. Demi mendapatkan Palestin, mereka tawarkan untuk memperbaiki keadaan krisis kewangan yang dihadapi oleh kerajaan Othmaniah.

Bagaimana golongan yang tidak mempunyai tanahair sendiri boleh membuat tawaran kepada pewaris salah satu empayar terbesar dunia? Jawapannya ialah satu bentuk KUASA BARU TELAH MUNCUL. Kuasa bank telah mengatasi kuasa kerajaan atau kuasa politik. Kuasa tidak lagi dalam bentuk ketenteraan tetapi dalam bentuk jumlah nombor wang dalam bank. Politik dijadikan alat untuk mengawal masyarakat sahaja. Kuasa politik pula dijadikan alat bank untuk menjayakan projeknya.

Sultan Abdul Hamid bertegas. Beliau telah mengungkapkan kata-kata bersejarah yang ditujukan kepada Herzl melalui utusan yang dihantar untuk perundingan tersebut :

“Saya cadangkan supaya dia (Hezrl) tidak meneruskan usaha mendapatkan tanah Palestin. Saya tidak akan menjualnya walau sejengkal kerana ianya bukan milik saya, tetapi milik rakyat saya. Mereka telah membentuk dan mengekalkan Empayar ini dengan pengorbanan dan darah. Kami akan pertahankannya dengan darah kami sebelum menyerahkannya kepada sesiapapun. Puak yahudi boleh simpan sahaja wang mereka yang banyak itu. Bila Empayar ini berpecah nanti, maka mereka bolehlah ambil Palestin secara percuma. Tetapi mesti langkah mayat kami dahulu, dan saya tidak akan membenarkan ianya berlaku atas sebab apapun..”

Akhirnya Sultan Abdul Hamid digulingkan pada tahun 1908. Pada tahun itu juga, pejabat pertama zionis di buka di Palestin di bawah firma Rohschilds. Maka berakhirlah empayar Othmaniah walaupun ia masih belum secara rasmi sehingga tahun 1924. (Bersambung)

KESIMPULAN

Perhatikan bagaimana sejarah kembali berulang. Bagaimana dirancang pembangunan, berjual beli dengan hutang dalam agenda memufliskan dan menawan sebuah negara.

Bila sudah dicekik sampai lemas, Zionis akan masuk dengan skrip membebaskan hutang melalui sistem kewangan ciptaan mereka. Mangsanya adalah rakyat yang menyerahkan sepenuh kepercayaan kepada pemimpin untuk membela nasib mereka.

Pattern sejarahnya sama sahaja kerana mereka menggunakan ilmu keruruteraan sosial yang sama. Kita digula-gulakan dengan pembangunan projek mega, ditawarkan hutang dan hujungnya menggadai negara melalui bon, sukuk, emas dan hasil negara.

Semuanya terjadi kerana wang. Sistem ekonomi dan pengurusan hazanah negara melalui konsep baitulmal ciptaan Islam ditinggalkan dan diganti dengan sistem beracun ciptaan musuh Islam yang sengaja direka untuk melemahkan dan membunuh kita.

Ini bukan rekayasa seperti amalan biasa keyboard warrior. Kita sedang berhadapan dengan satu agenda besar tanpa kebanyakan dari kita sedar dan percaya. Cendiakawan kewangan kita yang sedang menasihati pemimpin negara juga tidak ‘merasa sesuatu yang pelik’ kerana ekosistem ilmu mereka juga sudah diadun dari sumber yang sama.

Kita perlukan evolusi dan revolusi yang mantap, bukan sekadar reformasi dan transformasi yang flip flop dan bersifat wal hasil balik asal.

Oleh itu, kami yakin khilaf ini akibat liciknya musuh negara, juga kerana kejahilan serta kelalaian pemimpin dan para penasihatnya. Daripada marah dan kecewa, kita sudah mula kasihan dan simpati pada kejahilan mereka. Tidak dapat kami bayangkan betapa setiap malam adalah mimpi ngeri bagi para pemimpin negara yang memikirkannya (kecuali yang jenis ‘happy go lucky’).

Adalah menjadi tanggungjawab kita untuk saling ingat mengingati dan nasihat menasihati, dengan sabar dan penuh kasih sayang. Khilaf yang telah berlaku harus kita sama-sama bantu mencari penyelesaiannya, bukan sekadar mengutuk dan menyumpah semata-mata. Jika gagal, kita semua bakal menanggung akibatnya samada suka mahupun terpaksa. Sekali terjajah, berabad kita bakal menderita.

Kisah seterusnya akan menyentuh kronologi sampingan yang menyebabkan kejatuhan empayar Othmaniah dan kejatuhan Palestine.

Bedah sejarah
WARGA PRIHATIN

Dari Whatsapp Ust Abdul Halim Abdullah.

23 June 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

SEJARAH HITAM WAHHABI MENGKAFIR DAN KEMUDIAN MENGHALALKAN DARAH UMAT ISLAM

Mufti Mazhab Syafi’e Ahmad bin Zaini Dahlan 1304H yang merupakan tokoh ulama Mekah pada zaman Sultan Abdul Hamid menyatakan dalam kitabnya ” Ad-Durarus Saniyyah Fir Roddi ‘Alal Wahhabiyah m/s 42: ” Wahhabiyah merupakan golongan pertama yang mengkafirkan umat islam 600 tahun sebelum mereka.

Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: "Aku membawa kepada kamu semua agama yang baru dan manusia selain pengikutku adalah kafir musyrik “.

Sejarah membuktikan Wahhabi telah membunuh keturunan Rasulullah serta menyembelih kanak-kanak kecil di pangkuan ibunya ketikamana mereka mula-mula memasuki Kota Taif. (Sila rujuk Kitab Umaro’ Al-bilaadul Haram m/s 297 – 298 cetakan Ad-Dar Al-Muttahidah Lin-Nasyr).

Kenyataan Para Mufti Perihal Wahhabi. Mufti Mazhab Hambali Muhammad bin Abdullah bin Hamid An-Najdy 1225H menyatakan dalam kitabnya “As-Suhubul Wabilah ‘Ala Dhoroihil Hanabilah” m/s 276 : “Apabila ulama menjelaskan hujah kepada Muhammad bin Abdullah Wahhab dan dia tidak mampu menjawabnya serta tidak mampu membunuhnya maka dia akan menghantar seseorang untuk membunuh ulama tersebut kerana dianggap sesiapa yang tidak sependapat dengannnya adalah kafir dan halal darahnya untuk dibunuh”.

Wahhabi Menghukum Sesat Dan Membid’ahkan Para Ulama’ Islam. Wahhabi bukan sahaja mengkafirkan umat Islam dan menghalalkan darah mereka tetapi Wahhabi turut membid’ahkan dan menghukum akidah ulama’ Islam sebagai terkeluar daripada Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Demikian kenyataan Wahhabi :

1- Disisi Wahhabi Akidah Imam Nawawi Dan Ibnu Hajar Al-Asqolany Bukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Tokoh terkemuka ajaran Wahhabi iaitu Muhammad bin Soleh Al-Uthaimien menyatakan apabila ditanya mengenai Syeikh Imam Nawawi (Pengarang kitab Syarah Sohih Muslim) dan Amirul Mu’minien Fil Hadith Syeikh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany (Pengarang Fathul Bari Syarah Sohih Bukhari) lantas dia menjawab: “Mengenai pegangan Nawawi dan Ibnu Hajar dalam Asma’ Was Sifat (iaitu akidah)mereka berdua bukan dikalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”. Rujuk kitabnya Liqa’ Al-Babil Maftuh m/s 42-43 soal-jawab ke 373 cetakan Darul Watan Lin-Nasyr.

2- Wahhabi Menghukum Al-Asya’iroh Sebagai Sesat Dan Kafir. Tokoh Wahhabi Abdur Rahman bin Hasan Aal-As-Syeikh mengkafirkan golongan Al-Asya’iroh yang merupakan pegangan umat islam di Malaysia dan di negara-negara lain. Rujuk kitabnya Fathul Majid Syarh Kitab Al-Tauhid m/s 353 cetakan Maktabah Darus Salam Riyadh. Seorang lagi tokoh Wahhabi iaitu Soleh bin Fauzan Al-Fauzan turut menghukum golongan Al-Asya’iroh sebagai sesat akidah dan bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Rujuk kitabnya Min Masyahir Al-Mujaddidin Fil Islam m/s 32 cetakan Riasah ‘Ammah Lil Ifta’ Riyadh.

3- Wahhabi Mengkafirkan Umat Islam Yang Mengikut Mazhab. Dan Mengkafirkan Saidatuna Hawa ( Ibu manusia)Wahhabi bukan sahaja menghukum sesat terhadap ulama’ Islam bahkan umat islam yang mengikut mazhab pun turut dikafirkan dan dihukum sebagai musyrik dengan kenyataannya :” Mengikut mana-mana mazhab adalah syirik “. Dan Wahhabi ini berani juga mengkafirkan Ibu bani adam iaitu Saidatuna Hawa dengan kenyataannya: ” Sesungguhnya syirik itu berlaku kepada Hawa “.

Tokoh Wahhabi tersebut Muhammad Al-Qanuji antara yang hampir dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Rujuk kenyataannya dalam kitabnya Ad-Din Al-Kholis juzuk 1 m/s 140 dan 160 cetakan Darul Kutub Ilmiah

 

[Sumber: Kami Tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia]

3 June 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | | Leave a comment

ORANG MUNAFIK LEBIH BERBAHAYA DARI ORANG KAFIR

Pertanyaan.

Orang kafir ingkar kepada Allah, sedangkan orang munafik per­caya adanya Allah. Tapi mengapa umat Islam sepakat bahawa orang munafik lebih berbahaya terhadap Islam dibanding orang kafir?

Jawab:

Orang kafir akan terang-terangan memusuhi Islam. Me­reka tidak lagi sembunyi, dalam melawan secara berhadapan.. Orang munafik, mengaku Islam, tetapi secara diam-diam ia memusuhi Islam dan Ulama-Ulama yang menyampaikan Islam. Orang munafik ada dua pedang. Pedang yang satu dipergunakan membela agama, sedang yang satu lagi di­pakai untuk menikam umat Islam. Pedang yang pertama pasif, sedang pedang kedua aktif. Dia akan aktif jika punya kesem­patan untuk “menggunting dalam lipatan” atau menikam dari belakang.

Allah SWT dalam menghadapi orang beriman cukup mem­beri pegangan dua ayat saja. Menghadapi permasalahan orang kafir dengan dua ayat juga. Tetapi dalam menghadapi orang munafik disediakan tiga belas ayat di dalam Surah al-Baqarah.

Lapangan nifak luas sekali. Di bidang politik, agama, kewartawanan, pemikir, pegawai, pengusaha, seniman, olahraga dan di mana-mana tercium bau munafik. Apabila agama dan dakwah digu­nakan sebagai jembatan untuk memperoleh kedudukan dan mencari harta, di situlah terdapat kemunafikan.

Sumber: Anda Bertanya Islam Menjawab Karya Prof. Dr. Asy Syeikh Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi

29 May 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Membeza Wahabi dan Sunnah Wal Jamaah

 

 

Ahli Sunnah berpegang kepada Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima, berpegang kepada ajaran akidah Imam al-Asyari dan Maturidi dan yang mengikuti mereka sampai masa kini.

Mereka beriman mengenai Allah memiliki sifat sempurna tidak terhisab, tetapi sekurang-kurang perlu diketahui semua orang ialah sifat ada, sedia kala, kekal, tidak menyerupai semua yang baru, berdiri sendiri, Maha Esa, hidup, mengetahui, berkehendak, mendengar, melihat dan berkata-kata dengan kalam-Nya yang kadim dan azali tidak menyerupai makhluk dalam semua perkara. Zat-Nya tidak seperti zat makhluk, perbuatan-Nya tidak seperti makhluk.

Kalau sesiapa mengatakan ia mempunyai sifat makhluk atau menyerupai makhluk, maka ia terkeluar daripada iman. Sebab itu Imam Tahawi, Syafie, Abu Hanifah dan seterusnya menyebut Ia tidak bertempat, tidak tertakluk oleh masa, tidak berada dalam ruang.

Tidak boleh dikatakan Tuhan berada di atas, di bawah, di kanan, atau di kiri, di belakang atau di hadapan, sebab ia tidak berpihak.

Dalam Ahli Sunnah, ayat al-Quran dan hadis nabi yang menyebut sifat Allah seperti sifat makhluk, maka disuruh kita sama ada menerima seperti asalnya (tafwidh) menyerahkan erti hakikinya kepada Allah SWT, atau mentakwilkannya dengan sifat yang layak dengan-Nya.

Ini dilakukan umpamanya oleh penghulu orang Salaf al-Tabari.

Orang Wahabi menerimanya secara literal dan hakiki, kalau disebut Tuhan ada tangan, tanganlah, kalau kaki, kakilah, kalau jari maka jarilah. Ini membawa kepada menyerupakan Allah dengan makhluk.Nauzu billahi min zalik.

Seperkara lagi mereka membahagikan tauhid kepada tiga, tauhid Rububiah, tauhid Uluhiah, dan tauhid Asma Wassifat. Setiap satunya terasing daripada yang lain. Rububiah ertinya tauhid mengakui Tuhan Pencipta Alam, Esa, Berkuasa dan lainnya, tauhid Uluhiah ertinya menyembah-Nya dan taat kepada-Nya. Maka dengan skema ini, mereka boleh berkata Abu Jahal itu ahli tauhid dan ikhlas tauhidnya lebih daripada orang yang mengucap ‘Lailahailallah’.

Dengan skema ini juga mereka mengkafirkan orang yang berdoa meminta keberkatan di makam salihin dan anbia dan bertawassul dengan mereka. Ini pula satu tajuk yang tersendiri huraiannya.

Mengenai nabi, Ahli Sunnah mengajarkan, anbia ada sifat maksum (tidak berdosa), apa lagi Nabi Muhammad SAW dan mereka mempunyai sifat benar, amanah, menyampai kebenaran, dan bijaksana; mereka manusia yang makan dan minum serta berkahwin, tetapi mereka sempurna kerana itu diturunkan wahyu kepada mereka oleh Tuhan.

Ini diikuti dengan iman mengenai malaikat, akhirat (termasuk nikmat dan azab kubur), dan qada dan qadar yang menentukan segalanya ialah Allah, manusia diperintah berusaha dan berikhtiar dalam perkara yang baik dan mengelak daripada perkara yang jahat.

Ahli Sunnah mengajarkan kewajipan mengucap syahadah dengan yakin ertinya, menjalankan sembahyang lima waktu, melakukan puasa, menunaikan zakat dan menunaikan haji bagi mereka yang berkemampuan.

Ia mengajarkan kewajipan menunaikan nazar dan sumpah. Ia mengajarkan membaca al-Quran, lebih-lebih lagi dengan mengerti ertinya, melakukan zikir mengingati Allah dan berdoa kepada-Nya. Ia mengajarkan manusia bersangka baik terhadap Allah SWT dan jangan bersangka buruk terhadapnya.

Ahli Sunnah mengajarkan bahawa dosa besar ialah sihir, mencuri, berzina, berjudi, membuat sumpah palsu, memakan rasuah, memakan riba, yang terbesar ialah syirik yang berupa dosa yang tidak terampun, melainkan sebelum mati orang yang berkenaan bertaubat dan kembali kepada tauhid. Seseorang yang beriman tidak menjadi kafir dengan melakukan dosa bagaimana besar sekalipun, ia menjadi kafir hanya kerana kufur iktikad, kata-kata atau perbuatannya seperti ia menyembah berhala, kecuali ia dipaksa seperti diancam bunuh.

Orang Wahabi boleh menghukum orang kafir kerana dosa, bahkan kerana bertawassul di kubur nabi dan yang sepertinya.

Ahli Sunnah mengajarkan bahawa amalan orang hidup sampai kepada orang mati, baik dalam rupa bacaan seperti bacaan al-Quran, bertasbih, berdoa, bersedekah, dan amalan lain asalkan diniatkan untuk orang yang mati itu; kalau anak jika tidak diniatkan pun amalan itu sampai kepada kedua-dua ibu bapanya kerana ia lahir kerana mereka. Fahaman Wahabi mengatakan amalan orang hidup tidak sampai kepada orang mati.

Ahli Sunnah Wal-Jamaah mengajarkan Muslimin wajib taat kepada ulil-amri mereka, tidak boleh derhaka atau keluar menentang mereka, melainkan mereka itu kafir. Orang Wahabi tidak sedemikian sebab itu mereka menentang dan memberontak menentang Sultan Othmaniah dan wakilnya, tetapi mereka berbaik dengan British dan Perancis seperti yang jelas dalam sejarahnya. Ahli Sunnah mewajibkan memberi nasihat yang baik dan ikhlas kepada ulil-amri bukan memberontak. Tidak ada teori memberontak dalam Ahli Sunnah.

Dalam Ahli Sunnah, ulamanya mengajarkan bidaah ada yang baik dan ada yang buruk, tetapi Wahabi mengajarkan semua bidaah tidak dibolehkan; talkin, berwirid ramai-ramai selepas sembahyang, qunut subuh, tahlil arwah, majlis Maulud Nabi dan membaca Yassin pada malam Jumaat.

Banyak lagi perbezaan antara fahaman Wahabi dan Ahli Sunnah jika mahu diperkatakan. Hakikatnya kita melihat fahaman Wahabi berlainan daripada pegangan dan amalan Ahli Sunnah dan kita tidak boleh membiarkan orang Islam di negara ini terpengaruh dengannya kerana banyak implikasi negatifnya.

Berwaspadalah. Wallahualam.

Petikan dari tulisan Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady

28 May 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Kisah seorang Syeikh yang membantah Majlis Maulid Sayyid Ahmad al Badawi

Kisah seorang Syeikh yang membantah Majlis Maulid Sayyid Ahmad al Badawi

Disebutkan oleh Syeikh Muhammad Syinnawi: Pada suatu hari,seorang Syeikh telah membantah dan tidak bersetuju dengan sambutan Maulid Sayyid Ahmad al-Badawi.Dengan tiba2,pakaian iman dari dirinya telah dilucutkan sehingga tidak sehelai rambut pun dari agama Islam yang masih tinggal.Beliau telah merasa cemas lalu berdoa kepada Allah.

Di dalam keadaan cemas itu,Sayyid Ahmad al-Badawi telah datang dan berkata bahawasanya syeikh itu akan ditolong dengan syarat beliau tidak menceritakan perkara itu kepada orang lain.Setelah syeikh itu bersetuju,maka pakaian imannya pun dikembalikan.Kemudian,Sayyid Ahmad al-Badawi pun bertanya,Kenapakah engkau mengingkari sambutan maulidku? Syeikh itu menjawab: Aku melihat di sana majlis engkau bercampurnya kaum lelaki dan kaum perempuan.

Maka berkata Sayyid Ahmad al-Badawi: Itu bukanlah masalah besar,ini kerana semasa melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah bukankah juga bercampurnya kaum lelaki dan kaum perempuan.Demi kemuliaan Allah! Tiada seorang pun yang membuat maksiat di dalam maulidku dan kemudian bertaubat,melainkan dijadikan baik taubatnya.Jika Allah mampu mengawasi segala binatang di hutan dan segala ikan di laut,dan memisahkan satu kumpulan dari satu kumpulan yang lain,adakah Dia akan menjadi lemah dari MENGAWASI orang2 yang menghadiri maulidku?

(Manaqib Sayyid Ahmad al-Badawi dalam Kitab Tobaqat al-Kubra,Syeikh Abdul Wahhab Asy Sya’rani Jilid 1 Halaman 158)

Sumber

28 May 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

MAS’ALAH KUBUR BAHAGIAN DUA OLEH SHAYKH HISHAM KABBANI

MAS’ALAH KUBUR BAHAGIAN DUA OLEH SHAYKH HISHAM KABBANI

MAS’ALAH QUBUR BAHAGIAN DUA OLEH SHAYKH HISHAM KABBANI

Bismillah al-Rahman al-Rahim.

Salah satu propaganda Wahhabi mengatakan: “Sebuah teks yang sangat asli (nas sahih) menyokong hanya untuk menziarahi maqam Nabi Muhammad (saw) dan bukan untuk orang lain.” Ini adalah pembohongan yang serius terhadap Al-Qur’an, Sunnah, Syariah dan Agama Islam! seperti yang ditunjukkan oleh bukti-bukti sebagai berikut:

1. Tidak ada dalam Islam sebuah teks tunggal – sama ada asli atau tidak asli – yang mengatakan untuk hanya menziarahi maqam Nabi Muhammad (saw).Pendakwaan perkara sebegitu tidak pernah didengari. Bahkan Wahhabi dari 200 tahun terakhir tidak pernah jatuh sampai ke tahap buta hati dan barah kejahilan serendah ini untuk berdusta melalui gigi-gigi mereka bagi menentang Allah dan Rasul-Nya.

2. Allah swt berkata: وما آتاكم الرسول فخذوه “Dan apa pun Nabi (saw) bawa kepada kamu, ambillah ia.” (Al-Hasyr 59: 7) Dan Nabi (saw) mengatakan: زوروا القبور ZURUL QUBURA “Berziarahlah ke kuburan! “ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Sahih-nya serta dalam kitab Sunan dan lainnya seperti al-Hakim, Ibn Hibban, al-Tabarani dan Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Al-Tirmidzi mengatakan:
سليمان بن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قد كنت نهيتكم عن زيارة القبور فقد أذن لمحمد في زيارة قبر أمه فزوروها فإنها تذكر الآخرةقال وفي الباب عن أبي سعيد وابن مسعود وأنس وأبي هريرة وأم سلمة قال أبو عيسى حديث بريدة حديث حسن صحيح والعمل على هذا عند أهل العلم لا يرون بزيارة القبور بأسا وهو قول ابن المبارك والشافعي وأحمد وإسحق
Burayda (r) meriwayatkan bahawa Nabi (saw) mengatakan: “Aku telah melarang kamu di masa lalu daripada menziarahi maqam tetapi Muhammad telah diberikan izin untuk menziarahi maqam ibunya, oleh itu ziarahlah mereka, kerana sebenarnya mereka mengingatkan kamu tentang akhirat. “Al-Tirmidzi mengatakan:”Hal
ini diriwayatkan juga dari Abu Sa`id, Abu Hurairah dan Umm Salama, dan hadits Burayda adalah hassan sahih, dan INI ADALAH AMALAN DI KALANGAN MEREKA YANG BERILMU”.

3. Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari mengatakan Ibnu Hazm bahkan menganggap bahawa menziarahi kubur adalah wajib sekurang-kurangnya sekali dalam seumur hidup. Ini menunjukkan bahawa menziarahi maqam selain Nabi (saw) juga diterima dan diamalkan oleh mereka yang berilmu dalam Islam, dan wajib menurut sesetengah daripada mereka, dan sebaliknya ia bererti bahawa mereka yang melarang atau melihat sesuatu yang salah dengannya adalah ORANG YANG JAHIL menurut Imam al-Tirmidzi (rah) dan mereka KAFIR SESAT menurut Ibnu Hazm al-Zahiri (rah).

4. Perkara ini sangat tepat dengan ciri-ciri Wahhabi pada zaman kita, kerana mereka mengaku membela agama dengan dalil (bukti) tetapi mereka bahkan tidak tahu tentang dalil tersebut; dan jika mereka tahu, mereka salah memahaminya dan memutarbelitkan maknanya (Tahrif), atau menyimpang mentafsirkannya (ta`til); dan jika mereka memahaminya, mereka melakukan tahrif dan ta`til yang sama dengan memetiknya secara keluar dari konteks atau mempertikaikan keasliannya. Mereka terus menghentakkan kepala mereka di antara tiga tembok: kejahilan, kebodohan dan kepercayaan buruk. Mereka mengakhirinya dengan kenyataan yang sepenuhnya bertentangan dengan apa yang dikatakan Allah dan Nabi-Nya (saw), jadi kami bertanya kepada umat Islam dan khususnya Ulama ASWJ kita di Malaysia dan di mana-mana: Apakah kedudukan bagi mereka yang mendengar bahawa Nabi (saw) memerintahkan sesuatu dan kemudian mereka menjawab “Tidak”?

5. Inilah sebabnya mengapa pembela ASWJ kita yang tercinta di Mesir Dr Ali Gomaa (hafizahullah) memanggil Wahhabi hari ini adalah al-Nabitah – Mereka tumbuh seperti cendawan setelah hujan dan mereka tidak berguna atau bahkan beracun; dan pembela ASWJ kita yang tercinta di Syria Dr Nur al-Din Itr memanggil mereka Zahiriyya

Sumber:Naqshbandiyya Nazimiyya Sufi Order of Malaysia

28 May 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Bersangka baik

Bersangka baik

Berikut adalah tips dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani untuk sentiasa bersangka baik sesama insan…

– Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahawa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu
“Mungkin kedudukannya di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku”.

– Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah (dalam hatimu)
“Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepadaNya. Tentu anak ini jauh lebih baikdariku”

– Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah (dalam hatimu)
“Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”

– Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah (dalam hatimu)
“Orang ini memperoleh kurnia yang tidak akan kuperolehi, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yangtidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”

– Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah (dalam hatimu) “Orang ini bermaksiat kepada Allah kerana dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepadaNya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.”

– Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah (dalam hatimu)
“Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, mungkin di akhir usianya dia memeluk Islam dan beramal soleh.

Dan mungkin boleh jadi di akhir usia diriku kufur dan berbuat buruk.Pendek kata, konsep sangka baik ialah tidak memandang diri lebih baik, lebih bagus, lebih afdhal dan lebih tinggi dari sesiapa pun kerana kita tidak mengetahui benar-benar dari Lauh Mahfuz adakah kita akan meninggal dengan husnul khatimah (pengakhiran baik) atau su’ul khatimah (pengakhiran buruk).

Tidak rugi kita bersangka baik terhadap insan daripada kita bersangka buruk yang boleh mendatangkan dosa.

Jika ternampak sesuatu yang boleh membawa kita bersangka buruk kepada manusia lain maka carilah 70 alasan untuk kita terkeluar dari sangkaan buruk tersebut agar kita dapat bersangka baik dengannya.

Seseorang yang bersangka baik, dia tetap benar disisi Allah walau sangkaannya itu tersalah namun seseorang yang bersangka buruk akan tetap salah disisi Allah walau sangkaannya itu tepat dan benar.

Satu-satunya yang kita boleh bersangka buruk ialah nafsu kita sendiri. Carilah aib dan kekurangan diri sendiri, jika kita sibuk dengan keaiban kita masing-masing nescaya kita tidak akan ada masa untuk mengintai dan memperkatakan keaiban orang lain.

Semoga kita diberi sifat mata lebah yang sentiasa melihat dan mencari kebaikan bunga di mana-mana dan bukan bagaikan mata lalat yang sentiasa memandang dan mencari kotoran dan najis diserata tempat

Subhanallah……

Ingatan untuk diri sendiri dan sahabat yg tak rasa diri terlalu suci d mataMu ya Allah.

Sumber

14 May 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

WABAK AKHIR ZAMAN, HILANGNYA KEYAKINAN TERHADAP

WABAK AKHIR ZAMAN, HILANGNYA KEYAKINAN TERHADAP SYARIAT ALLAH
oleh Tuan Guru Hj Abdul Hadi Awang.

Satu perkara yang mendukacitakan berlaku di tengah-tengah masyarakat Islam mutakhir ini ialah hilangnya keyakinan terhadap hukum Allah. Adalah satu perkara yang tidak munasabah dan haram berlaku di kalangan umat Islam bahawa orang-orang yang mengaku Islam, tidak yakin kepada hukum Allah, kerana ia bermakna juga tidak yakin kepada Allah dan tidak yakin kepada Rasulullah s.a.w sebagai pembawa dasar perundangan Ilahi.

Tidak terkumpul di dalam hati orang yang beriman dengan keraguan dan syak terhadap ajaran Islam kerana kesangsian kepada ajaran Islam dan tidak yakin kepada hukum itu adalah perkara yang boleh merosakkan dan membatalkan iman. Firman Allah dalam ayat 65 surah an-Nisa’ maksudnya:

“Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad)! Mereka tidak disifatkan beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim dalam mana-mana perselisihan yang timbul di antara mereka, kemudian mereka pula tidak merasa di hati mereka sesuatu keberatan daripada apa yang telah engkau hukumkan, dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya.”

Di tengah-tengah masyarakat Islam hari ini terkeluar kata-kata dan tulisan-tulisan yang berani mencabar hukum Allah, ada yang berani mengatakan hukum Allah itu sudah lapuk, hukum “hudud” yang ada dalam al-Quran itu tidak lebih daripada hukum yang diamalkan oleh kabilah-kabilah Arab pada zaman dahulu yang dipanjangkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Mereka tidak menyedari bahawa kedatangan Rasulullah s.a.w ialah untuk menentang hukum-hukum kabilah yang zalim, mengapa mereka mengatakan al-Quran itu ajaran yang diamalkan oleh kabilah-kabilah Arab? Ini adalah satu tuduhan jahat terhadap al-Quran al-Karim dan hukum Islam.

Dan apa yang mendukacitakan, umat Islam yang begitu ramai di dalam negara ini tidak terasa apa-apa orang menghina Islam dan mengejek hukum Islam di hadapan mereka.
Di manakah kasih mereka terhadap Islam sehingga tidak ada perasaan cemburu sedikitpun di dalam hati mereka terhadap Allah?

Mereka akan melenting sekiranya harta dan kepunyaan mereka daripada harta benda dunia diganggu-gugat, tetapi mereka tidak melenting sekiranya agama mereka diberikan kedudukan yang tidak selayaknya. Beginilah rendahnya maruah umat Islam hari ini.

Di manakah letaknya kemanisan iman yang dinyatakan oleh Rasulullah s.a.w. yang bermaksud,“Tiga perkara yang sesiapa ada padanya, maka dia mempunyai kemanisan iman.

Pertama bahawa Allah dan Rasul-Nya terlebih kasih kepadanya daripada yang lain.

Kedua dia tidak kasih kepada seseorang melainkan kerana Allah.

Ketiga dia benci kalau dicampak di dalam kekufuran sebagaimana dia benci kalau dicampak ke dalam api neraka.”

Di mana kemanisan iman? Di mana ketiga-tiga perkara ini di dalam hati umat Islam hari ini? Adakah di dalam hati mereka perasaan kasih kepada Allah dan kasih kepada Rasulullah s.a.w? Sekiranya mereka kasih kepada Allah dan cinta Rasulullah, sudah tentu mereka kasih kepada hukum Allah dan kasih kepada ajaran yang ditinggalkan oleh baginda Rasulullah s.a.w.

Ke manakah perginya kasih mereka kerana Allah? Di mana perginya cinta Rasul? Kasih mereka tidak lain kerana kemahsyuran dan penghormatan dunia semata-mata.

Ke manakah perginya benci mereka kepada kekufuran? Bahkan mereka berlumba-lumba untuk menuju kepada kekufuran sekiranya kekufuran itu mengenyangkan mereka dan menambahkan keseronokan di dalam hidup mereka.

Adakah mereka tidak sedar dalam perkara seperti ini, Allah telah mewajibkan kepada Nabi Muhammad s.a.w dan kepada umat Islam supaya menegakkan hukum Allah di atas muka bumi ini.
Allah berfirman menerusi ayat 105 daripada surah an-Nisa’ maksudnya:
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab (al-Quran) dengan membawa kebenaran, supaya engkau menghukum di antara manusia menurut apa yang Allah telah tunjukkan kepadamu (melalui wahyu-Nya); dan janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang khianat.”

Manusia hari ini terlalu suka menjadi penolong dan penyokong kepada orang-orang yang khianat kepada hukum Allah. Di manakah kasih mereka kepada Allah dan kepada Rasulullah s.a.w?
Dan Allah menamakan hukum yang lain selain daripada hukum-Nya adalah jahiliyah sebagaimana yang disebut dalam ayat 50 surah al-Maidah maksudnya:
“Sesudah itu, patutkah mereka berkehendak lagi kepada hukum-hukum jahiliyah? padahal – kepada orang-orang yang penuh keyakinan – tidak ada sesiapa yang boleh membuat hukum yang lebih baik daripada Allah.”

Orang-orang yang yakin ialah orang-orang yang yakin kepada Allah dan Rasulullah s.a.w, iaitu yakin kepada Islam mestilah yakin juga kepada hukum Allah dan tidak yakin kepada yang lain daripada hukum Islam.

Allah juga menamakan hukum yang lain daripada Islam sebagai jahiliyah atau hukum yang menurut hawa nafsu. Dan yakin kepada hukum yang lain bermakna tidak yakin kepada Allah.

Allah menjanjikan kelebihan, kurniaan, pahala dan syurga serta kebahagiaan di dunia dan di akhirat kepada siapa yang beriman dan beramal salih. Di antaranya mereka yang menegakkan hukum Allah.

Sementara syaitan pula menjanjikan kemiskinan, kepapaan, kesusahan dan kemunduran kepada siapa yang beramal dengan hukum Allah. Yang mana kamu lebih percaya? Kamu percaya kepada janji Allah atau kepada janji syaitan?

Tepuklah dada kamu dan tanyalah iman yang ada di dalam hati kamu itu. Sekiranya kamu bertanya iman yang sebenar, sudah tentu iman yang sebenar akan menerima hukum Allah.

Biodata Penulis
Y.A.B Dato’ Seri Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang merupakan Presiden Parti Islam SeMalaysia (PAS). Beliau pernah memangku jawatan sebagai Menteri Besar Terengganu. Pernah melanjutkan pelajaran ke Universiti Islam Madinah tahun 1969-1973, kemudian melanjutkan pelajaran ke Universiti Al-Azhar ke peringkat M.A (Siasah Syariyyah). Semasa di Timur Tengah, beliau aktif bersama Gerakan Ikhwanul Muslimin bersama Dr. Said Hawa, Profesor Muhamad Al Wakeel serta Dr. Abdul Satar Al Qudsi.

Sumber: Tarbawi

11 May 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

ALLAH ADAKAN DISETIAP NEGERI (TIDAK KIRA SIAPA YG

Firman Allah Taala maksudnya:

“Dan demikianlah Kami adakan disetiap dalam tiap2 negeri orang besar yang jahat supaya mereka melakukan tipu daya dinegeri itu. Padahal tiadalah mereka memperdayakan selain daripada dirinya sendiri ( kerana merekalah yang akan menerima akibat yang buruk), sedang mereka tidak menyedarinya.”

(Surah An-An’am 6/ Ayat 123)
——————————-

Mengikut Tafsir Al-Maraghiy,
Sesungguhnya sunnah Allah Swt kepada umat manusia telah ditetapkan, bahwa setiap kota besar dari suatu bangsa atau umat, samada dikalangan mereka telah diutuskan rasul atau tidak, terdapat para pemimpin jahat yang melakukan tipu daya keatas rasul atau orang2 yang salih.

Demikianlah halnya berlaku pada setiap generasi umat manusia, apalagi pada masa sekarang yang penuh dengan kerakusan dan ketamakan untuk naik menjadi pemimpin atau pembesar negara.

Yang adanya untuk mendaki tangga naik keatas itu dari awal lagi telah menggunakan pelbagai cara penipuan dan tipu helah bagi memastikan seseorang pemimpin itu dapat naik keatas menjadi pemimpin utama disebuah negara.

Yang dimaksudkan pemimpin jahat iaitu orang yang melawan seruan kearah kebaikan dan memusuhi para ulama’ pewaris nabi2 dan juga memusuhi mereka yang melakukan kerja2 amar maaruf dan mencegah kemungkaran.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir pula,

Ibnu Abi Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ayat ” penjahat2 yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu” yakni Allah menjadikan orang2 yang paling jahat diantara mereka sebagai penguasa, lalu mereka berbuat durjana dinegeri tersebut. Jika mereka melakukan demikian , maka Allah akan binasakan mereka dengan azab.

Hakikat dalam masyarakat dulu dan kini;

Ramai para pemimpin utama Quraisy di Makkah dulu memiliki sifat2 begini , diantaranya Abu Jahal, Abu Lahab, Utbah, Abu Suffian dan lainnya.

Orang2 yang memiliki sifat yang sama dizaman mutakhir ini adalah meneruskan kerja2 keji yang pernah dilakukan oleh pembesar Quraisy itu.

Allah Swt menegaskan para pemimpin yang melakukan kerja tipu daya ini, sesungguhnya mereka menipu diri mereka sendiri.
Sunnatullah telah menunjukkan bahwa setiap kerja jahat itu akan terkena balik pada diri si pelakunya sendiri.

Allah Swt telah memberikan jaminan bahwa perjuangan menegakkan yang hak itu akhirnya dapat mengalahkan perjuangan yang batil.

Ayat diatas memberikan motivasi kepada Rasulullah Saw dan para sahabat Ra untuk bersabar dalam perjuangan Islam
menghadapi puak kuffar di Makkah dan Madinah .

Ayat ini sudah pasti memperingatkan setiap pendukung risalah Islam dan juga kerja2 dakwah bahwa setiap kerja2 kebaikan itu
akan penerima penentangan dari para pemimpin yang ada kerana mereka itu akan berusaha bermatian untuk mengekalkan kuasa yang mereka ada.

Kita renung sejenak kepada sejarah bumi Masir , apa yang telah dilakukan oleh Gamal Abdul Nasir, Anwar Sadat, Hosni Mubarak dan juga Al-Sisi. Berapa ramai para pemimpin Islam telah dianiaya .

Banyak lagi pemimpin2 dunia umat Islam yang telah mencatatkan sejarah hitam dinegara masing2.

Akhir sekali, berwaspada terhadap para pemimpin yang diberi gelaran “orang2 besar yang jahat” ini kerana sekiranya kita membantu para pemimpin yang jahat dan zalim itu dikhuatiri diri kita sendiri akan terkena percikan api neraka , seperti yang disebutkan dalam surah Hud 11/ayat 113 yang bermaksud:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang2 zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sesungguhnya kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah…”

Ingatlah, ini amaran keras daripada Allah Swt sendiri dalam Al-Quran !

Rujukan

Tafsir Ahmad Mustaffa Al-Maraghiy – Jilid 4

Sahih Tafsir Ibnu Katsir -Jilid 3

(Sumber)

9 May 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Siapa Thoghut?

SIAPA PENYEMBAH THOGHUT?

Mereka adalah orang yg mengagungkan sesorang individu,kumpulan atau golongan berlebih lebihan sehingga tidak nampak langsung keburukannya. Pada masa yg sama mereka membenci pihak lain berlebih lebihan sehingga tidak nampak sedikit pun kebaikanya.MATA HATI MEREKA BUTA.

Mereka lupa hakikat bahawa tiada manusia yang benar benar sempurna sepenuhnya. atau tiada manusia yg dijadikan Allah tidak berguna & sia sia.

“Mereka lupa bahawa tiada apapun yg Allah ciptakan di dunia ini dengan sia sia” (Maksud Al Quran) .

Sumber

7 May 2015 Posted by | Politik dan Dakwah | Leave a comment

Mengislamkan Demokrasi?

Terlibat dengan sistem demokrasi samalah dengan mendokong dan menyuburkan nya.

Demokrasi sebagai suatu sistem kehidupan yang menjadikan akal manusia sebagai sumber hukumnya dalam menentukan baik dan buruknya sesuatu perkara telah menyerlahkan kebusukannya.

Dengan apa yang berlaku di sekeliling masyayakat yg mengamalkan sistem demokrasi serta bukti-bukti lain yang dipaparkan setiap hari, maka sudah sampai masanya umat Islam terutamanya para pemimpin mereka sedar akan ketidakmampuan sistem ini diguna pakai dalam mengatur urusan kehidupan manusia.

Umat Islam perlu sedar bahawa demokrasi adalah sistem yang digunakan oleh Barat untuk terus menjajah dan merosakkan dunia Islam. Untuk itu, apakah umat Islam masih lagi menaruh harapan kepada sistem toghut ini?

Apakah Islam tidak mempunyai sistem kehidupannya yang tersendiri sehinggakan umat Islam terpaksa menumpang dan mengemis kepada sistem demokrasi yang rosak ini?

Kebergantungkan umat Islam kepada sistem kufur ini menjadinlebih parah lagi apabila adanya para ulama di kalangan umat Islam termasuklah juga dari parti-parti Islam yang mengiktiraf sistem ini.

Mereka sanggup mengeluarkan fatwa yang pada hakikatnya ia hanyalah “auta” bagi menghalalkan sistem kufur ini.

Syura disamakan dengan suara majoriti dan Parlimen serta bermacam-macam lagi justifikasi yang dilakukan untuk mengIslamkan demokrasi.

Bukankah tindakan ini seumpama cuba menghalalkan babi dengan menyembelihnya dengan ucapan lafaz Bismillah, lalu babi itu pun menjadi halal?!

Justeru, umat Islam perlu sedar akan kekeliruan pemikiran-pemikiran yang mengatakan bahawa demokrasi itu ada di dalam Islam atau demokrasi boleh di Islamkan. Sampai bilakah umat Islam akan terus ditipu oleh demokrasi?

Sumber :

7 May 2015 Posted by | Politik dan Dakwah | Leave a comment

Orang Yang mencintai Allah

Dalam kitab Al-Futuhat Al Makkiyyah ada menceritakan kriteria orang yang dicintai Allah didalam Al Qur’an : . .

Pertama
Orang yang hanya menjadikan Allah sebagai pelindung – .

Kedua
Orang yang mencintai Allah dan berusaha meniru sifat-sifatnya (keindahannya), misal menjadi lebih sabar, lebih penyayang, Lebih pemaaf dsb. – . .

Ketiga
Orang yang senantiasa kembali kepada Allah, bertaubat. Dalam pengertian setiap kali tersungkur dalam maksiat, dengan segera dia bertaubat. – . .

Keempat
Orang yang selalu menyucikan diri lahir dan batin. .

Kelima
Orang yang selalu bersyukur atas nikmat dan kehendak Allah. Bagi para wali musibah dan karunia adalah sama-sama nikmat, kerana keduanya datang dan berasal dari Allah. . .

Keenam
Orang yang selalu berbuat baik dan memperbaiki, yang disebut Muhsin. . .

Ketujuh
Orang yang selalu menghadirkan Allah dalam hatinya, pada setiap detak jantung dan hembusan nafasnya.
Para wali Allah adalah Ahlullah atau. Yakni hamba-hamba yang mendapatkan bimbingan dan penjagaan Allah, sekaligus tugas tertentu dari Allah.

Wallahualam

Dari: Pencinta Rasulullah

26 April 2015 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

KUBUR PARA WALI DAN ORANG SOLEH

Kubur Tok syeikh Paloh

Kubur To Syeikh Paloh

 

Syeikh Daud al Fatoni Rodiyallahu Anhu berkata: Perbuatan menulis nama si mati sama ada kepingan batu atau pada batu nisannya dan dipacakkan di bahagian kepalanya adalah MAKRUH. TETAPI jika bertujuan supaya dikenali dan memudahkan orang menziarahi kuburnya maka hukumnya adalah SUNAT sekadar keperluan.

LEBIH2 LAGI bagi KUBUR PARA WALI dan ORANG2 SOLEH kerana orang tidak akan mengetahui kuburnya setelah lama masanya melainkan dengan cara demikian.

Adapun perbuatan MEMBINA SESUATU DI ATASNYA atau MELETAKKAN KOTAK KURUNGAN DI SEKELILINGNYA atau MEMBUAT TEMBOK DARIPADA BATU MARMAR dan SEUMPAMANYA( bertujuan untuk mencantikannya dan juga sebagai perhiasan),maka hukumnya seperti biinaan dan MAKRUH dilakukan jika tanah itu miliknya

TETAPI jika sekiranya tanah itu bukan miliknya bahkan tanah wakaf yang diwakafkan,maka hukumnya adalah HARAM jika si mati itu bukan daripada GOLONGAN SOLEH ,PARA AULIYA’ dan PARA ULAMAK.

(Rujukan kitab Furu’ al Masail Syeikh Daud al-Fatoni bab Hukum mengebumikan jenazah)

# Perkara ni adalah khilafiyyah,maka orang yang berbeza pandangan sepatutnya meraikan dan tidak membidaah sesatkan orang yang membuatnya,dok senyap2 sudah

 

Sumber: Mukasyafatul Qulub

22 April 2015 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

"Musuh2 Tasawuf dan Tarikat"

Sejak kebelakangan ini, telah wujud segolongan puak di Malaysia yg begitu galak memperlekeh, mencaci dan menghina tawasuf serta tarikat tanpa mereka membezakan terlebih dahulu tarikat muktabar atau pun tidak, habis semua dipukul sama rata! Pelbagai tohmahan demi tohmahan dilontarkan kpd tokoh2 ulama sufi muktabar serta wali2 Allah Taala. Golongan ini merasakan diri mereka begitu hebat berbanding para ulama yg telah disebutkan oleh Rasulullah S.A.W. sebagai pewaris para nabi. Walaupun ilmu agama dan amalan yg dimiliki mereka tidaklah seberapa jika hendak dibandingkan dgn para ulama, namun mereka dgn megah mendabik dada utk mengatakan mereka begitu arif serta faham semuanya mengenai Islam. Amat menyedihkan lagi, golongan ini terdiri dari kalangan org Islam sendiri yg mengaku memahami, mendalami dan memperjuangkan Islam, tetapi hakikatnya merekalah perosak umat Islam.

Musuh2 tasawuf cuba sedaya upaya utk menyerang dan menfitnah tasawuf Islam dgn pelbagai pendustaan dan rekaan cerita semata2. Mereka juga akan melontarkan pelbagai tohmahan dan penyelewengan mungkin disebabkan oleh perasaan hasad dengki mereka ataupun mungkin juga disebabkan kejahilan diri mereka sendiri terhadap agama Islam. Lebih menyedihkan lagi ada di antara musuh2 tasawuf ini terdiri dari kalangan orang2 Islam sendiri sedangkan mereka semua sudah sedia maklum mengenai hakikat kebenaran tasawuf ini sepertimana yg terkandung di dlm sebuah al-Hadis S.A.W. mengenai Ihsan.

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Bahawa kamu menyembah Allah seakan2 kamu melihatNya dan jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.

(Riwayat Muslim).

Berkata al-Muhaddith Syeikh Muhammad Siddiq al-Ghumari:

Sesungguhnya Ihsan sebagaimana dlm hadis tersebut adalah ibarat dari tiga rukun yg disebutkan. Barangsiapa tidak menyempurnakan rukun Ihsan yg mana ia merupakan tarikat (jalan) maka tanpa ragu2 lagi bahawa agamanya tidak sempurna kerana dia meninggalkan satu rukun dari rukun2nya. Tujuan atau kemuncak matlamat yg diseru dan diisyaratkan oleh tarikat ialah maqam Ihsan setelah memperbetukan Islam dan Iman.

(Kitab: Intishar Li Thariqi as-Sufiyyah).

Berkata Syeikh al-Islam Zakaria al-Ansori:

Tasawuf ialah suatu ilmu yg diketahui dengannya keadaan penyucian jiwa dan pembersihan akhlak serta mengimarahkan zahir dan batin bertujuan utk mencapai kebahagiaan yg abadi.

(Kitab: Ala Hamisy Risalah al-Qusyairi).

Berkata Imam Junaid:

Tasawuf ialah menggunakan semua akhlak ketinggian yg terpuji dan meninggalkan semua tingkahlaku yg rendah lagi dikeji.

(Kitab: Nusrah al-Nabawiyyah).

Berkata Syeikh Abdul Kadir Isa di dlm kitabnya Haqaiq An al-Tasawuf mengenai musuf2 tasawuf sepertimana berikut (penulis hanya mengambil secara ringkas sahaja:

Di antara musuh2 tasawuf terdiri dari kalangan orentalis lagi zindiq serta para pengikutnya dan konco2nya. Mereka telah disusun atur dan dilatih oleh golongan kafir yg jahat bagi mencela Islam. Mereka cuba memusnahkan pokok pangkal Islam dgn menimbulkan pelbagai keraguan serta menyebarkan fahaman2 utk memecahkan umat Islam. Mereka mempelajari Islam secara mendalam tetapi bertujuan utk menyeleweng dan memusnahkan Islam. Mereka juga sentiasa memiliki sifat talam 2 muka. Mereka juga mendakwa tasawuf diambil daripada Yahudi, Nasrani dan Buddha. Bermacam2 tohmahan dilemparkan terhadap tokoh2 ulama tasawuf. Apa yg lebih mendukacitakan, terdapat segelintir org Islam menggunapakai pandangan dan pendapat dari musuh2 Islam ini utk mencela tasawuf secara total. Inikah yg dikatakan pejuang Islam yg sebenarnya? Kadang2 mereka ini berselindung di sebalik sebagai seorang pengkaji/sarjana ilmuan Islam, akan tetapi merekalah di antara para perosak agama Islam dari dalam.

Di antara musuh2 tasawuf juga ialah mereka yg jahil dgn hakikat tasawuf Islam itu sendiri. Mereka tidak mempelajari dari tokoh2 ulama sufi secara jujur dan amanah serta tidak juga mengambil manfaat dari ulama2 tasawuf yg ikhlas menyampaikan ilmu pengetahuan. Mereka cuba mengkaji sendiri kitab2 tasawuf sedangkan mereka tiada asas dan tak memahami maksud sebenar serta mereka juga tidak tahu tentang penyelewengan terhadap kitab2 tersebut oleh musuh2 tasawuf Islam. Maka akan timbullah pandangan negatif dan berburuk sangka terhadap tasawuf ini.

Antaranya ialah mereka yg mencedok ilmu pengetahuan dari orientalis. Mereka hanya menggunapakai pandangan dan sangkaan salah dari para orientalis semata2. Mereka tidak dapat membezakan di antara tasawuf Islam yg sebenarnya dgn tasawuf yg telah dicemari di sebabkan mereka tiada ilmu dan asas yg bertepatan.

Inilah di antara musuh2 tasawuf serta tarikat yg bertindak menyerang tasawuf dari sebelah luar ataupun dari sebelah dlm Islam. Mereka bersungguh2 menabur fitnah selagimana mereka diberikan nyawa yg sementara ini dari Allah Taala. Mungkin juga mereka lupa bahawa mereka akan diperhitungkan oleh Allah Taala di akhirat kelak. Bersedialah!

18 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Sikap Seorang Muslim Terhadap Perselisihan

 

Oleh

Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Hikmah Allâh Azza wa Jalla menetapkan adanya perbedaan dan perselisihan diantara manusia. Diantara penyebabnya adalah adanya perbedaan ilmu, kecerdasan, sifat, pengalaman, lingkungan, dan lain-lainnya. Oleh karena itu perselisihan merupakan takdir Allâh Subhanahu wa Ta’alayang pasti terjadi. Karena perselisihan sudah terjadi dan pasti akan terus terjadi, maka sangat penting bagi kita memahami beberapa hal yang berkait dengan masalah ini, sehingga kita bisa menyikapinya dengan benar. Semoga tulisan singkat ini bisa menambah wawasan kita seputar masalah yang besar ini.

APA HIKMAH ADANYA PERSELISIHAN?

Semua takdir Allâh Azza wa Jalla pasti mengandung hikmah, karena Allâh Azza wa Jalla adalah al-Hakîm (Yang Maha Bijaksana). Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan kepada kita tentang hikmah penciptaan dalam beberapa ayat al-Qur’ân, diantaranya adalah:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Maha suci Allâh yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [al-Mulk/67: 1-2]

Juga firman-Nya yang artinya, "Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya." [Hûd/11: 7]

Juga firman-Nya, "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang lebih baik perbuatannya. [al-Kahfi/18: 7]

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa diantara hikmah Allâh Azza wa Jalla menciptakan makhluk ini adalah sebagai ujian bagi manusia, agar tampak siapakah di antara mereka yang lebih baik perbuatannya. Termasuk adanya perselisihan bahkan perpecahan diantara manusia atau bahkan di antara kaum muslimin, adalah sebagai ujian siapa di antara mereka yang paling baik perbuatannya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu agar Allâh Azza wa Jalla menguji kamu. Karena Dia telah menciptakan apa saja yang ada di langit dan di bumi dengan disertai perintah-Nya dan laranganNya, lalu Dia akan melihat siapa diantara kamu yang paling baik perbuatannya. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, ‘Yang paling ikhlas dan paling shawab (benar)’. Beliau ditanya, ‘Hai Abu ‘Ali, apakah (yang dimaksud dengan) ‘yang paling ikhlas dan paling shawab (benar)?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya amalan itu jika ikhlas, tetapi tidak benar, tidak akan diterima. Dan jika benar, tetapi tidak ikhlas, tidak akan diterima. Amal akan diterima jika ikhlas dan benar. Ikhlas maksudnya amalan itu untuk wajah Allâh dan benar maksudnya amalan itu mengikuti syari’at dan sunnah”. [Taisîr Karîmir Rahmân, surat Hûd, ayat ke-7]

MACAM-MACAM PERSELISIHAN DAN HUKUM ORANG YANG BERSELISIH

Perselisihan itu banyak jenisnya. Oleh karena itu merupakan kesalahan ketika seseorang mengatakan bahwa semua perselisihan itu buruk dan tercela. Juga ketika seseorang mengatakan bahwa semua perselisihan itu boleh, bahkan merupakan rahmat. Yang benar adalah mensikapi perselisihan itu sesuai dengan sebab-sebab perselisihan itu. Ada beberapa bentuk perselisihan di antara manusia sebagai berikut :

1. Bentuk atau jenis perselisihan yang terpenting dan terbesar adalah perselisihan (perbedaan) antara iman dengan kekafiran, antara ketaatan dengan kemaksiatan, antara al-haq dengan al-batil. Perselisihan jenis ini, salah satunya terpuji, sedangkan yang satu lagi tercela. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ

Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. [at-Taghâbun/64: 2]

Juga firman-Nya:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ ۚ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allâh berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allâh meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allâh menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. [al-Baqarah/2: 253]

Perselisihan ini terjadi dengan kehendak dan takdir Allâh Azza wa Jalla , dan Allâh memiliki hikmah yang sempurna dalam semua takdirnya. Dan dari sebab perselisihan ini muncul sikap saling membenci, memisahkan diri, bahkan saling memerangi. Walaupun orang-orang beriman dilarang berbuat zhalim kepada siapapun. Karena perselisihan yang disebabkan iman dan kekafiran ini adalah perselisihan pokok. Perselisihan ini akan terus berlangsung, perselisihan antara al-haq dengan al-batil, antara wali-wali Allâh dengan musuh-musuh-Nya, antara hizbullah (golongan Allâh) dengan hizbusy syaithan (golongan setan).

Kebenaran yang ada dari perselisihan jenis ini jelas berada di pihak para Rasul dan pengikut mereka. Maka barangsiapa ingin selamat, bahagia, dan ingin sukses, hendaklah dia bergabung dengan pihak ini. Barangsiapa berada di pihak yang lain, maka dia telah menentang Allâh dan Rasul-Nya. Allah berfirman :

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allâh dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allâh dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allâh Amat keras siksaan-Nya. [al-Anfâl/8: 13)]

Perbedaan yang jelas ini juga berdampak pada kondisi akhir masing-masing golongan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍكُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِإِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang-orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), "Rasailah azab yang membakar ini". Sesungguhnya Allâh memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. [Al-Hajj/22: 19-23]

Dan perlu diketahui bahwa mayoritas manusia berada dalam golongan setan, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman. [al-Mukmin/40: 59]

Juga firman-Nya, yang artinya, "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh). [al-An’âm/6: 116]

2. Di antara bentuk perselisihan atau perbedaan yang ada di kalangan manusia adalah perselisihan di antara agama-agama kafir. Dalam perselisihan jenis ini, semua pelakunya tercela, semuanya berada di dalam kesesatan, walaupun dengan derajat kesesatan yang berbeda-beda.

Allâh berfirman, yang artinya, "Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar".

(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allâh, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," Padahal mereka (sama-sama) membaca al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allâh akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. [al-Baqarah/2: 111-113]

3. Diantara bentuk perselisihan atau perbedaan adalah perselisihan diantara umat Islam. Penyebabnya adalah perbedaan dalam berpegang kepada al-Qur’an dan As-Sunnah. Banyak kaum Muslim tidak berpegang kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah dengan benar, sehingga terjerumus dalam berbagai kesesatan. Mereka menjalankan agama dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Sebagian mereka memiliki keyakinan yang tidak ada dalilnya dari wahyu Allâh Azza wa Jalla , sehingga muncul berbagai firqah (golongan) di kalangan umat ini. Mereka membuat atau mengikuti berbagai bid’ah (perkara baru di dalam agama), lalu menganggapnya sebagai agama. Mereka berselisih satu sama lain, dan masing-masing golongan berbangga dengan perkara yang ada padanya.

Perselisihan antar golongan di kalangan umat Islam ini juga berbahaya, karena hal itu akan melemahkan mereka dan menghilangkan kewibawaan mereka. Bahkan golongan-golongan yang menyimpang dari Ahlus Sunnah, dari jalan yang telah ditempuh oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, mereka diancam dengan neraka, sebagaimana disebutkan di dalam hadits al-firqatun-najiyah sebagai berikut :

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

Dari Auf bin Malik Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Orang-orang Yahudi telah bercerai-berai menjadi 71 kelompok, satu di dalam sorga, 70 di dalam neraka. Orang-orang Nashoro telah bercerai-berai menjadi 72 kelompok, 71 di dalam neraka, satu di dalam sorga. Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad di tanganNya, umatku benar-benar akan bercerai-berai menjadi 73 kelompok, satu di dalam sorga, 72 di dalam neraka”. Beliau ditanya: “Wahai Rasûlullâh! siapa mereka itu?”, beliau menjawab, “al-Jama’ah”. [HR.Ibnu Majah no: 3992; Ibnu Abi Ashim, no: 63; Al-Lalikai 1/101. Hadits ini berderajat Hasan. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no: 3226]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh umatku akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa Bani Israil, persis seperti sepasang sandal. Sehingga jika diantara mereka ada yang menzinahi ibunya terang-terangan, dikalangan umatku benar-benar ada yang akan melakukannya. Dan sesungguhnya Bani Isra’il telah bercerai-berai menjadi 72 agama, dan umatku akan bercerai-berai menjadi 73 agama, semuanya di dalam neraka kecuali satu agama”. Para sahabat bertanya: “Siapa yang satu itu wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Apa yang saya dan para sahabatku berada di atasnya”. [Hadits Shahih Lighairihi riwayat Tirmidzi, al-Hâkim, dan lainnya. Dishahihkan oleh Imam Ibnul Qayyim dan asy-Syathibi, dihasankan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi dan Syaikh al-Albani. Syeikh Salim al-Hilali menulis kitab khusus membela hadits ini dalam sebuah kitab yang bernama “Daf’ul Irtiyab ‘An Haditsi Maa Ana ‘Alaihi Wal Ash-hab]

Perselisihan di kalangan umat Islam ini dari satu sisi menyerupai perselisihan antara kaum Mukminin dengan orang-orang kafir, karena perselisihan antara Ahlus Sunnah dengan semua ahli bid’ah adalah perselisihan tadhad (kontradiksi). Ahlus Sunnah di tengah-tengah ahli bid’ah adalah seperti umat Islam di tengah-tengah orang-orang kafir. Meski jumlah mereka sedikit, namun kebenaran selalu berada di pihak Ahlus Sunnah, yaitu orang-orang yang berpegang dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sedangkan ahli bid’ah tetap dalam penyimpangan mereka. Penyimpangan mereka bervariasi, semakin jauh dari Sunnah, maka kesesatan mereka juga semakin besar. Semakin dekat kepada Sunnah, kesesatan mereka semakin sedikit.

Perselisihan di antara umat Islam ini benar-benar terjadi, bahkan telah dijelaskan oleh al-Qur’ân dan as-Sunnah. Karena Allâh Azza wa Jalla telah memberitakan bahwa umat-umat zaman dahulu telah berpecah-belah, sebagaimana firman-Nya :

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

Dan mereka (ahli Kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka. [asy-Syûra/42:14]

Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa sebagian umat ini pasti akan mengikuti perilaku umat-umat zaman dahulu, termasuk perbuatan mereka yang berselisih dan berpecah belah.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ؟

Dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamu benar-benar akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga seandainya mereka melewati lobang dhob (satu jenis kadal pasir), kamu benar-benar juga akan melewatinya”. Kami (para sahabat) bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah anda maksudkan orang-orang Yahudi dan Nashoro?” Beliau menjawab: “Siapakah selain mereka?” [HR. Bukhari, no: 3456; Muslim, no: 2669]

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh mengatakan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghendaki bahwa umatnya tidaklah meninggalkan sesuatupun yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashoro kecuali umat ini melakukan semuanya. Mereka tidak akan meninggalkan sesuatupun darinya. Oleh karena itulah Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Orang yang rusak di antara ulama kita, maka padanya terdapat perserupaan dengan Yahudi. Dan orang yang rusak di antara ahli ibadah kita, maka padanya terdapat perserupaan dengan dan Nashoro”. Alangkah banyaknya dua kelompok ini. Akan tetapi di antara rohmat Alloh dan nikmatNya, tidak menjadikan umat ini tidak akan bersatu di atas kesesatan”.[Fathul Majid, hal: 240, penerbit: Dar Ibni Hazm]

Di antara contoh hal ini adalah penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits sebagai berikut:

عَنْ عَرْفَجَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهِيَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ (وفي رواية: فَاقْتُلُوهُ )

Dari ‘Arfajah, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda, “Akan terjadi musibah demi musibah. Maka barangsiapa ingin mencerai-beraikan umat ini, saat mereka bersatu, maka pukullah dia dengan pedang, siapapun dia”. (Dalam riwayat lain, “maka bunuhlah dia”. [HR. Muslim, kitab: Imaâah, no: 1852]

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat perintah memerangi orang yang memberontak terhadap imam, atau ingin mencerai-beraikan kaum Muslimin atau perbuatan sejenis lainnya. Dia dilarang dari hal itu, jika dia tidak berhenti, maka dia diperangi. Jika kejahatannya tidak tertolak kecuali dengan membunuhnya, maka dia dibunuh, dan kematiannya sia-sia. Maka sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Maka pukullah dia dengan pedang”, pada riwayat lain, “Maka bunuhlah dia”, maksudnya, jika tidak tertolak kecuali dengan itu”. [Shahih Muslim, Syarh Nawawi 12/241-142]

4. Ada juga perselisihan di antara Ahlus Sunnah, namun perselisihan ini bukan dalam masalah-masalah pokok dalam aqidah, tidak sebagaimana perselisihan antar sesama ahli bid’ah, atau perselisihan ahli bid’ah dengan Ahlus Sunnah. Perselisihan sesama Ahlus Sunnah ini ada dua jenis :

a). Perselisihan Tanawwu’ (perselisihan variasi), yaitu jenis perselisihan yang kedua pihak yang berselisih berada dalam kebenaran dan terpuji. Namun mereka akan berdosa jika berbuat zhalim terhadap pihak lain, atau mengingkari kebenaran yang ada di pihak lain. Contoh, kejadian yang dikisahkan dalam hadits di bawah ini :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَجُلاً قَرَأَ آيَةً سَمِعْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلاَفَهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَأَتَيْتُ بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كِلاَكُمَا مُحْسِنٌ قَالَ شُعْبَةُ أَظُنُّهُ قَالَ لاَ تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

Dari Abdullah (bin Mas’ud), dia berkata, “Aku mendengar seorang laki-laki membaca sebuah ayat, yang (bacaan)nya menyelisihi yang telah aku dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka aku pegang tangannya, dan aku bawa kepada Rasûlullâh n , lalu beliau bersabda, “Kamu berdua telah berbuat sebaik-baiknya.” Syu’bah berkata: Aku sangka dia mengatakan: “Janganlah kamu berselisih, karena orang-orang sebelum kamu telah berselisih, lalu mereka binasa”. [HR. Bukhari no: 2410]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perselisihan yang di dalamnya orang-orang yang berselisih menolak kebenaran yang ada pada pihak lain. Karena dua orang yang membaca (al-Qur’an) itu telah benar bacaan. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan alasan (larangan) tersebut adalah kebinasaan orang-orang sebelum kita akibat perselisihan”.

Syaikhul Islam rahimahullah juga bmengatakan: “Ketahuilah, bahwa mayoritas perselisihan antara umat, yang melahirkan hawa-nafsu, engkau dapati termasuk jenis ini, yaitu: setiap orang dari orang-orang yang berselisih itu benar, atau sebagiannya benar, tetapi dia keliru karena telah menafikan kebenaran yang ada pada orang lain.” [Iqtidhâ’ Shirâthil Mustaqîm]

b). Perselisihan Tadhâd (perselisihan kontradiksi), perselisihan ini ada dua jenis:

• Perselisihan kontradiksi dalam suatu masalah dan terdapat dalil tegas yang menunjukkan kebenaran satu pendapat dari pendapat-pendapat yang ada.

Dalam hal ini, pendapat yang benar adalah pendapat yang sesuai dengan dalil, yang lain salah. Namun jika orang-orang yang berselisih ini berijtihad, yakni berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran, dengan disertai keikhlasan, maka mereka semua terpuji dan mendapatkan pahala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

Jika seorang hakim menghukumi, dia telah berijtihad, lalu ketetapannya sesuai dengan kebenaran, maka dia mendapatkan dua pahala. Dan jika dia menghukumi, dia telah berijtihad, lalu dia melekukan kesalahan, maka dia mendapatkan satu pahala. [HR. Bukhâri, no. 7352; Muslim, no.1716]

• Perselisihan kontradiksi dalam suatu masalah dan tidak terdapat dalil tegas yang menunjukkan kebenaran salah satu dari dua pendapat yang berselisih.

Maka dalam masalah ini, kedua pendapat itu boleh diikuti dan semua pihak yang telah berijtihad terpuji dan mendapatkan pahala, wallahu a’lam bishh shawwab.

Contoh hal ini adalah sebuah peristiwa yang dikisahkan oleh sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu anhu sebagai berikut :

قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لَنَا لَمَّا رَجَعَ مِنَ الأَحْزَابِ « لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاَّ فِى بَنِى قُرَيْظَةَ » . فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمُ الْعَصْرَ فِى الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ نُصَلِّى حَتَّى نَأْتِيَهَا ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّى لَمْ يُرَدْ مِنَّا ذَلِكَ . فَذُكِرَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Ketika kami telah kembali dari perang Ahzâb, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, “Janganlah seseorang melakukan shalat Ashar kecuali di kampung Bani Quraizhah!”. Sebagian mereka (sahabat) mendapati waktu shalat Ashar di jalan, maka sebagian mereka berkata, “Kita tidak akan melakukan shalat Ashar sampai mendatanginya”. Sebagian yang lain berkata, “Kita melakukan shalat Ashar (sekarang), tidak dikehendaki dari kita hal itu (yakni shalat Ashar di kampung Bani Quraizhah walaupun habis waktunya-pen)”. Hal itu disampaikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliau tidak menyalahkan seorangpun dari mereka. sampai mendatanginya”. [HR. Bukhâri, no. 946 dan 4119]

SOLUSI PERSELISIHAN

Kewajiban seorang Muslim adalah berpegang teguh denan al-Qur’ân dan as-Sunnah, dan bersikap adil dalam hukum dan perkataan. Bersikap adil dalam menghukumi antara orang Muslim dengan orang kafir, antara Ahlus Sunnah dengan ahlul bid’ah, antara orang yang taat dengan orang yang bermaksiat, dengan menerima kebenaran dari orang yang membawanya, jika telah nyata kebenarannya.

Tidak boleh fanatik kepada pendapat pribadinya, atau pendapat gurunya, atau pendapat siapapun yang menyelisihi al-Qur’ân dan as-Sunnah.

Dan kewajiban semua orang Muslim untuk mengembalikan permasalahan yang diperselisihkan kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allâh dan ta’atilah Rasul-Nya, dan ulil amri (ulama dan umaro’) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur’ân) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian." [an-Nisâ’/4:59]

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla perintahkan manusia agar mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’alamengulangi kata kerja (yakni: ta’atilah !) dalam rangka memberitahukan bahwa mentaati Rasul-Nya wajib secara otonomi, dengan tanpa meninjau ulang perintah beliau dengan al-Qur’an. Jika beliau memerintah, maka wajib ditaati secara mutlak, baik perintah beliau itu ada dalam al-Qur’ân atau tidak ada. Karena sesungguhnya beliau n diberi al-Kitab dan yang semisalnya.” [I’lâmul Muwaqqi’in 2/46), penerbit: Darul Hadits, Kairo, th: 1422 H / 2002 H]

Beliau rahimahullah juga berkata, “Kemudian Allâh memerintahkan orang-orang yang beriman agar mengembalikan apa yang mereka perselisihkan kepada kepada Allâh dan Rasul-Nya, jika mereka orang-orang yang beriman. Dan Allâh Azza wa Jalla memberitakan kepada mereka, bahwa itu lebih utama bagi mereka di dunia ini, dan lebih baik akibatnya di akhirnya. Ini memuat beberapa perkara :

a). Orang-orang yang beriman terkadang berselisih pada sebagian hukum. Perselisihan ini tidak menyebabkan mereka keluar dari iman, selama mereka mengembalikan apa yang mereka perselisihkan itu kepada Allâh (al-Qur’an) dan Rasul-Nya, sebagaimana yang disyaratkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa (jika) sebuah hukum ditetapkan dengan sebuah syarat (tertentu), maka hukum itu akan hilang seiring dengan hilangnya syarat.

b). Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, "Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu," mencakup seluruh masalah agama yang diperselisihkan oleh kaum Muslimin, baik yang kecil maupun yang besar, yang tampak jelas maupun yang masih samar.

c). Seluruh kaum Muslimin sepakat bahwa mengembalikan kepada Allâh maksdunya adalah mengembalikan kepada kitab-Nya; mengembalikan kepada Rasul-Nya (maksudnya) adalah mengembalikan kepada diri beliau di saat hidup beliau, dan kepada Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafat beliau.

d). Allâh Azza wa Jalla menjadikan keharusan mengembalikan seluruh perkara yang diperselisihkan kepada Allâh dan Rasul-Nya sebagai kewajiban dan konsekwensi iman. Jika ini tidak ada, maka iman hilang. [Diringkas dari I’lamul Muwaqqi’in 2/47-48), penerbit: Darul Hadits, Kairo, th: 1422 H / 2002 H]

Oleh karena itu, seorang Mukmin harus menerima dengan sepenuh hati, jika datang kepadanya dalil dari al-Qur’ân, atau hadits shahih dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan pemahaman yang benar, pemahaman para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Kesimpulannya, orang-orang yang berselisih wajib mengembalikan semua permasalahan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika ia tidak mampu mengembalikan kepada keduanya, karena tidak memiliki ilmu tentang nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, maka kewajibannya adalah bertanya kepada para ahli ilmu. Oleh karena itu, menghormati para ulama itu wajib, sesuai dengan kedudukan mereka sebagai pewaris Nabi, tidak bersikap ghuluw (melewati batas).

Inilah sedikit tulisan berkaitan dengan masalah ini, semoga Allâh selalu memberikan bimbingan kepada kita di atas jalan yang Dia cintai dan ridhai, menganugerahkan keikhlasan niat dan kebenaran amalan, sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa dan Maha Kuasa mengabulkannya.

Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhamad, keluarganya, dan para sahabatnya, al-hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Catatan :

Makalah ini banyak mengambil manfaat dari muhadharah (ceramah) syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barraak dengan judul Mauqiful Muslim minal Khilaf (Sikap Seorang Muslim Terhadap Perselisihan)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XV/1432/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

15 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Wahhabi dikenali pada MANHAJ dan METHOLOGI yang mereka bawa

Kalaupun di sana ada satu dua pandangan mereka yang bercanggah dengan pengasas mereka Muhammad Ibn Abd Wahhab mereka masih dikira sebagai Al-Wahhabiyyah.

Contohnya mudah. Para Imam di dalam mazhab As-Syafie masih dikira As-Syafiiyyah iaitu pengikut kepada mazhab As-Syafie walaupun pandangan berbeza kerana mereka menggunakan methodologi dan manhaj yang ditetapkan oleh Imam As-Syafie.

Justeru, tidak kira Ustaz itu kelulusan Mesir atau Jordan atau India atau Pakistan atau Syiria atau Pondok sekalipun atau di mana sahaja akan dilihat dan dinilai berdasarkan manhaj yang mereka bawa.

Jika bersamaan dengan manhaj wahabi maka mereka disebut sebagai wahhabi walaupun mereka tidak mengaku.

Manhaj Muhammad Ibnu Wahhab seperti berikut ;

1) Membidaahkan dengan makna sesat perkara khilafiyyah seperti tahlil arwah, bacaan qunut subuh, talqin dll.

2) Mengsyirikkan dengan maksud terkeluar daripada Islam di atas perkara yang diharuskan oleh syariat seperti tawassul, istighasas dll.

3) Tidak terikat kepada mana-mana mazhab dan mengambil pandangan mazhab sesuka hati mereka sehingga mengambil hukum yang terkeluar daripada ijmak dan jumhur Para Ulama’ mazahib. Kadang-kadang mereka mengambil qaul yang syaz di dalam perbahasan fiqh.

4) Mencerca dan menyesatkan ahli sufi secara menyeluruh. Bahkan mereka menganggap ilmu tasawwuf dan tarekat bukan daripada ajaran agama.

5) Merendah-rendahkan kedudukan ahlul beit Nabi SAW yang secara jelas bertentangan dengan Quran dan Hadith yang sahih.

6) Mereka meninggalkan pengajian bersanad riwayah dan dirayah di dalam semua ilmu.

7) Menolak terus hadith dhaif dan menganggap setaraf dengan hadith mauduk sedangkan sepakat para ulama hadith dhaif ada nilai di dalam agama kita selama ia tidak bersangatan dhaif.

8) Keras ke atas umat Islam dan sangat lembut dengan orang kafir. Ini bercanggah dengan firman Allah di dalam surah Al-Fath : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka".

9) Beranggapan bawa orang Islam yang melakukan bidaah pada perkara khilafiyyah lebih teruk dan lebih berat daripada orang kafir musyrik. Ini berdasarkan kaedah tauhid 3 yang mereka pegang. Bercanggah prinsip Islam di mana orang kafir itu tetap tidak akan mendapat apa-apa kebaikan kepada walaupun mereka melakukan kebaikan kerana kekufuran mereka kepada Allah. Dalilnya ialah firman Allah :

“Sesiapa yang mencari selain daripada Islam sebagai Din, maka sama sekali tidak diterima daripadanya, di akhirat kelak termasuk ke dalam golongan orang yang rugi.”- Surah Ali ‘Imran: ayat 85.

Oleh: Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari

8 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Antara tanda-tanda kiamat dan peristiwa akhir zaman

– Seorang hamba sahaya perempuan dikahwini tuannya.

– Orang-orang miskin dan pekerjaannya mengembala kambing tiba-tiba menjadi para pemimpin manusia banyak.

– Para pengembala yang sama, bermegah-megahan dengan gedung-gedung besar dan tinggi-tinggi. Berlumba-lumba membina bangunan tinggi;- Daripada Abu Hurairah r.a. ia berkata; suatu ketika Rasulullah s.a.w. nampak di tengah-tengah orang ramai. Lalu baginda didatangi oleh seseorang yang menanyakan kepadanya: “Wahai Rasulullah s.a.w. bilakah terjadinya kiamat?” Nabi s.a.w. menjawab dengan bersabda: “Tidaklah orang yang ditanya mengenai masalah itu lebih mengetahui daripada yang bertanya. Akan tetapi aku akan memberitahukan kepadamu tentang tanda-tandanya. Iaitu, jika seorang ammah (hamba perempuan) melahirkan majikannya, itulah yang termasuk di antara tanda-tandanya. Juga apabila orang-orang yang tidak beralas kaki dan tidak berpakaian menjadi pemimpin masyarakat, maka itu juga di antara tanda-tandanya. Demikian pula apabila para pengembala domba berlumba-lumba meninggikan bangunan, maka itulah salah satu tandanya di antara tanda-tanda yang lima, yang mana tidak mengetahui yang sesungguhnya selain Allah SWT.” Kemudian baginda membacakan ayat berikut ini: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sahajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan, serta mengetahui apa yang ada di dalam rahim”;- (Riwayat Ibn Majah).

Perhiasan Rumah Sama Dengan Perhiasan Pakaian;- Rasulullah s.a.w bersabda: Hari Kiamat tidak akan tiba, sehingga manusia membangun rumah dan melukisnya sebagai lukisan pakaian;- (Riwayat Bukhari)

Kebanggaan Masyarakat Dengan Membina Masjid;- Daripada Anas bin Malik r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Tidak akan tiba hari kiamat, sehingga manusia bermegah-megah dan berlebih-lebihan dalam urusan masjid;- (Riwayat Abu Dawud).

Masjid Menjadi Tempat Urusan Dunia Sahaja;- Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Akan datang kepada manusia suatu masa, percakapan mereka dalam masjid hanyalah mengenai urusan dunia semata. Allah tidak memerlukan mereka. Dan janganlah kamu duduk bersama mereka (pada waktu dalam masjid);- (Riwayat Hakim).

Ahli Ibadah Yang Bodoh Dan Qari Yang Fasik;- Daripada Anas r.a. ia berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Kelak, di akhir zaman, akan ada ahli ibadah yang bodoh dan para qari yang fasik;- (Riwayat Ibnu ‘Adi).

Golongan yang menjadikan lidahnya sebagai alat untuk mencari makan;- Daripada Sa’ad bin Abi Waqash r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak akan terjadi kiamat, sebelum muncul suatu golongan yang mencari makan melalui lidah-lidah mereka, seperti sapi yang makan dengan lidah-lidahnya;- (Riwayat Ahmad).

Melimpahnya Harta Benda Dan Luasnya Perniagaan Serta Banyak Media Massa;- Dari Umar bin Tsa’lab r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Sebahagian dari tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat, adalah tersebarnya (melimpahnya) harta benda dan luasnya perniagaan. Dan pena-pena akan bermunculan yang menunjukkan banyaknya bacaan dan tulisan;- (Riwayat An-Nasae’i).

Ramai Orang Muda Menyebut Dalil Agama;-Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Akan muncul di akhir zaman nanti, suatu kaum yang terdiri dari orang-orang muda yang masih mentah fikirannya (cetek faham agamanya). Mereka banyak mengucapkan perkataan Khairil Bariyah (firman Allah dan hadis Rasul), tetapi iman mereka masih lemah. Pada hakikatnya mereka telah keluar agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Di mana sahaja kamu dapat menemuinya, maka hapuskanlah mereka itu, siapa yang dapat menghapus mereka, kelak akan mendapat pahala di hari kiamat. “;-(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan dapat dilihat juga sekarang banyak orang2 bukan Islam yang menggunakan hujjah2 dari AlQuran dan AlHadith yang mana mereka membuat komentar menurut kefahaman mereka sendiri sedangkan mereka tidak faham dengan Islam.

Al-Quran Sebagai Alat Propaganda;- Ali bin Thalib r.a. berkata bahawa beliau mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Kelak akan muncul di antara umatku suatu kaum yang membaca Al-Quran bukan seperti lazimnya kamu membaca, dan sembahyangmu jauh berbeza dengan cara mereka bersembahyang. Mereka membaca Al-Quran dengan mengira bahawa Al-Quran itu sebagai alat propaganda mereka, padahal Al-Quran itu berisi peringatan yang harus mereka junjung. Bacaan mereka itu tidak melebihi kerongkongnya (tidak sampai meresap ke dalam hati). Mereka itu sebenarnya keluar dari Islam, bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya;- (Riwayat Muslim)

Menunjuk-Nunjuk Ketika Berdoa;- Dari Saad r.a. bahawa Nabi s.a.w. bersabda: ” Kelak akan terdapat kaum yang berlebih-lebih (menunjuk-nunjuk) dalam berdoa “;- (Riwayat Ahmad).

Merasa Rendah Dalam Ibadah;- Dari Abu Sa’id Al-Kudri r.a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Akan muncul di antara kamu suatu kaum, kamu merasa rendah dalam melakukan solat dibanding dengan mereka, amal perbuatanmu jika dibandingkan dengan perbuatan mereka dan puasa-mu jika dibanding dengan puasa mereka. Mereka membaca Al-Quran tetapi tidak sampai melalui tenggoroknya. Mereka sebenarnya keluar dari agama bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, jika di hujung panah dilihat, tidak ada bekas apa-apanya juga di kayunya tidak ada apa-apanya juga di bulunya tidak terdapat apa-apa, tetapi berlumba-lumba dalam senarnya;- (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Imam Yang Melambatkan Waktu Solat;- Dari Ibnu Ame r.a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya nanti selepas peninggalanku akan terjadi; para imam mengakhirkan solat dari waktunya. Oleh kerana itu hendaklah kamu mengerjakan solat tepat pada waktunya. Jika kamu datang bersama mereka untuk mengerjakan solat, maka bersolatlah kamu;- (Riwayat Thabrani).

Al-Quran Hanya Tinggal Tulisannya Sahaja;- Dari Ali r.a bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Hampir datang suatu zaman, di mana agama Islam hanya tinggal namanya sahaja, dan dari Al-Quran hanya tinggal huruf dan tulisannya sahaja. Masjid-masjid indah dan megah, tetapi sunyi daripada petunjuk. Ulama mereka adalah yang paling jahat di antaranya yang ada di bawah langit. Dari mereka (ulama) itu akan muncul berbagai-bagai fitnah dan fitnah itu akan kembali ke lingkungan mereka sendiri (umat Islam);- (Riwayat Baihaqi).

Kaum Yang Meminum Ayat-Ayat Al-Quran;- Dari Uqbah bin Amir r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Kelak akan muncul suatu kaum dari umatku. Mereka meminum Al-Quran seperti meminum susu;- (Riwayat Thabran.).

Ulat-ulat Qurra’;- Dari Abu Umamah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Kelak pada akhir zaman akan ada ulat-ulat qurra’ (ahli baca Al-Quran). Barangsiapa yang berada pada masa itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari mereka;- (Riwayat Abu Nu’aim).

Serbuan Musuh Islam Terhadap Kaum Muslimin;-Daripada Tsauban r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda; “Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa dan seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang hendak makan mengerumuni talam hidangan mereka”. Maka salah seorang sahabat bertanya “Apakah dari kerana kami sedikit pada hari itu?” Nabi s.a.w. menjawab, “Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa gerun terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan mencampakkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahan’.”

Seorang sahabat bertanya, “Apakah wahan itu hai Rasulullah?” Nabi kita menjawab, “Cinta pada dunia dan takut pada mati”;- (Riwayat Abu Daud )

Orang Mukmin Lebih Hina Daripada Haiwan;- Dari Anas r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Akan datang atas manusia suatu masa, di mana keadaan orang mukmin pada masa itu lebih hina daripada domba” ;- (Riwayat Ibnu Asakir).

Ulama Yang Merugikan Umat Dan Agama;- Abdullah bin Abbas r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya akan terdapat (akan ada) orang-orang dari umatku yang pandai (amat faham dan ahli) tentang urusan agama dan membaca Al-Quran, mereka berkata:“Kami datang kepada para Raja (pemimpin), biar kami memperolehi keduniaan mereka dan kami tidak akan mencampurkan mereka dengan agama kami.” Tidak terjadi hal yang demikian itu, seperti (umpamanya) tidak akan dapat dipungut dari pohon yang berduri melainkan duri. Demikian pula, tidak akan dapat diambil manfaat dari mendekatkan diri kepada mereka itu melainkan beberapa kesalahan belaka;- (Riwayat Ibnu Majah).

Menggadaikan Agama Kerana Dunia;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Akan timbul di akhir zaman orang-orang yang mencari keuntungan dunia dengan menjual agama. Mereka menunjukkan kepada orang lain pakaian yang dibuat daripada kulit kambing (berpura-pura zuhud dari dunia) untuk mendapat simpati orang ramai, dan percakapan mereka lebih manis daripada gula. Padahal hati mereka adalah hati serigala (mempunyai tujuan-tujuan yang jahat). Allah s.w.t. berfirman kepada mereka: “Apakah kamu tertipu dengan kelembutan Ku?, Ataukah kamu terlampau berani berbohong kepada Ku?. Demi kebesaran Ku, Aku bersumpah akan menurunkan suatu fitnah yang akan terjadi di kalangan mereka sendiri, sehingga orang yang alim ( cendikiawan ) pun akan menjadi bingung (dengan sebab fitnah itu)”;- (Riwayat Tirmidzi).

Empat Macam Golongan Mengerjakan Ibadat Haji:- Dari Anas bin Malik r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: “Kelak apabila akhir zaman terdapat empat macam golongan mengerjakan ibadat haji iaitu: 1) Para pemimpin mengerjakan ibadat haji hanya untuk ‘makan angin’, 2) Terdapat orang kaya pergi haji hanya untuk berniaga, 3) Ramai fakir miskin pergi haji dengan tujuan untuk mengemis, 4) Ahli qira’at (pembaca Al-Quran) mengerjakan ibadat haji hanya untuk mencari nama dan kemegahan.”

Penduduk Mekkah Akan Meninggalkan Kota Mekkah;- Umar r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Kelak penduduk Mekkah akan keluar meninggalkan Mekkah; kemudian yang meninggalkan itu tidak akan kembali lagi kecuali hanya sebahagian kecil sahaja. Kemudian yang sedikit itu menjadikan kota itu penuh bangunan. Kemudian mereka keluar lagi dari kota itu dan tidak kembali selamanya “;- (Riwayat Ahmad).

Daripada Abu Umamah r.a. bahawa Nabi s.a.w. bersabda: Kelak akan ada orang-orang dari Umatku (Islam) memakan berbagai macam makanan dan memakai berbagai pakaian, banyak berbicara tanpa difikirkan dahulu apa sebetulnya yang dibicarakan itu, maka itulah seburuk-buruk manusia dari sebahagian Umatku (Islam);- (Riwayat Thabrani dan Abu Nu’aim).

Menyalahgunakan Takdir;- Dari Jabir r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: ‘”Kelak pada akhir zaman ada suatu golongan yang berbuat maksiat kalau ditanya mereka berkata’ Allahlah yang mentakdirkan perbuatan itu kami lakukan.’ Orang yang menentang pendapat mereka pada zaman itu bagaikan orang yang menghunus pedangnya dalam jihad fisabilillah.”’

– Ilmu agama sudah tidak dianggap penting lagi.

– Ilmu agama sudah tidak lagi difahami dan tidak dipelajari para manusia.

Ilmu Agama Akan Beransur-ansur Hilang;-Daripada Abdullah bin Amr bin ‘ash r.a. berkata: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda;- “Bahawasanya Allah s.w.t. tidak mencabut (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) manusia. Tetapi Allah s.w.t. menghilangkan ilmu itu dengan mematikan alim ulama. Maka apabila sudah ditiadakan alim ulama, orang ramai akan memilih orang-orang yang jahil sebagai pemimpin mereka. Maka apabila pemimpin yang jahil itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan orang lain.” ;- (Riwayat Muslim)

Umat Islam Mengikuti Langkah-Langkah Yahudi Dan Nasrani;- Daripada Abu Sa’id Al-Khudri ra. berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kamu akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu akan mengikuti mereka.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nasrani yang kau maksudkan?” Nabi s.a.w. menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka”;- (Riwayat Muslim).

Terlepasnya Islam Satu Demi Satu;- Dari Umamah Al-Bahili dari Nabi s.a.w. bersabda: “Sungguh akan terlepas pegangan Islam satu demi satu. Setiap terlepas salah satu pegangan, maka orang-orang akan berebutan untuk bergantung kepada yang lain. Adapun yang pertama kali terlepas itu adalah persoalan hukum, sedangkan yang terakhir adalah perkara solat.”;- (Riwayat Ahmad).

Penyakit Umat-umat Dahulu;- Daripada Abu Hurairah r.a. katanya: Aku mendengar RasuIullah s.a.w. bersabda: “Umat ku akan ditimpa penyakit-penyakit yang pernah menimpa umat-umat dahulu”. Sahabat bertanya, “Apakah penyakit-penyakit umat-umat terdahulu itu?” Nabi s.a.w. menjawab, “Penyakit-penyakit itu ialah (1) terlalu banyak seronok, (2) terlalu mewah, (3) menghimpun harta sebanyak mungkin, (4) tipu menipu dalam merebut harta benda dunia, (5) saling memarahi, (6) hasut menghasut sehingga jadi zalim menzalimi”;- (Riwayat Hakim).

Sifat Amanah Akan Hilang Sedikit Demi Sedikit;- Daripada Huzaifah bin AI-Yaman r.a. katanya, “Rasulullah s.a.w. pernah memberitahu kami dua 2 buah hadis (mengenai dua kejadian yang akan berlaku). Yang pertama sudah saya lihat sedang yang kedua saya menanti-nantikannya. Rasulullah saw. memberitahu bahawasanya amanat itu turun ke dalam lubuk hati orang-orang yang tertentu. Kemudian turunlah al-Quran. Maka orang-orang itu lalu mengetahuinya melalui panduan al-Quran dan mengetahuinya melalui panduan as-Sunnah. Selanjutnya Rasulullah saw. menceritakan kepada kami tentang hilangnya amanah, Ialu beliau bersabda, “Seseorang itu tidur sekali tidur, lalu diambillah amanah itu dari dalam hatinya, kemudian tertinggallah bekasnya seperti bekas yang ringan sahaja. Kemudian ia tertidur pula, lalu diambillah amanah itu dari dalam hatinya, maka tinggallah bekasnya seperti lepuh di tangan (menggelembung di tangan dari bekas bekerja berat seperti menggunakan kapak atau cangkul). Jadi seperti bara api yang kau gillingkan dengan kaki mu, kemudian menggelembunglah ia dan engkau melihat ia meninggi, padahal tidak ada apa-apa”. Ketika Rasulullah saw. menceritakan hadis ini beliau mengambil sebiji batu kecil (batu kerikil) Ialu menggilingkannya dengan kakinya.”Kemudian berpagi-pagi (jadiIah) orang ramai berjual beli, maka hampir sahaja tiada ada seorang juga pun yang suka menunaikan amanah, sampai dikatakan orang bahawasanya di kalangan Bani Fulan (di kampung yang tertentu) itu ada seorang yang sangat baik memegang amanah, sangat terpercaya dan orang ramai mengatakan, “Alangkah tekunnya dalam bekerja, alangkah indahnya pekerjaannya, alangkah pula cerdik otaknya. Padahal di dalam hatinya sudah tiada lagi keimanan sekali pun hanya seberat timbangan biji sawi.” “Maka sesungguhnya telah sampai masanya saya pun tidak mempedulikan manakah di antara kamu semua yang saya hendak bermubaya’ah (berjual beli). Jikalau ia seorang Islam, maka agamanya lah yang akan mengembalikan kepada ku (maksudnya agamanya lah yang dapat menahannya dari khianat). Dan jikalau ia seorang Nasrani atau Yahudi, maka pihak yang bertugaslah yang akan menggembalikannya kepada ku (maksudnya jika dia seorang Nasrani atau Yahudi maka orang yang memegang kekuasaan / pemerintahlah yang dapat membantu aku untuk mendapatkan semua hak-hak ku daripadanya.) Ada pun pada hari ini maka saya tidak pernah berjual beli dengan kamu semua kecuali dengan Fulan dan Fulan (orang-orang tertentu sahaja)”;- (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Tahun-tahun yang penuh tipu muslihat;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh muslihat, di mana akan dibenarkan padanya orang yang berdusta, dan akan didustakan orang yang benar. Akan dipercaya orang yang berkhianat, dan akan dituduh berkhianat orang yang terpercaya. Serta akan bertutur padanya Ruwaibidhah. Maka ada yang menanyakan: Apa itu Ruwaibidhah? Dijawab baginda s.a.w. : Iaitu, orang yang bodoh dan hina ditugaskan menangani kepentingan umum;- (Riwayat Ibn Majah)

– Lahirnya para Dajjal ( tukang dusta ) yang jumlahnya hampir 30 orang semuanya mengaku sebagai utusan Allah (Yang didewa-dewakan)

– Adanya 2 golongan besar sama berbunuhan, dengan semboyan sama-sama akan menegakkan agama Islam.

Dajjal Sang Pendusta;- Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak akan terjadi Hari Kiamat sebelum dimunculkan para dajjal sang pendusta, yang jumlahnya hampir mendekati tiga puluhan, di mana masing-masing mengaku; bahawa dirinya adalah Rasul Allah.”;- (Riwayat Muslim).

Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi s.a.w. bersabda, : “Akan keluar dajjal dan khazzab di kalangan umatku. Mereka akan berkata sesuatu yang baru di mana kamu dan bapa-bapa kamu belum pernah mendengarnya. Awasilah mereka dan jagalah diri kamu daripada disesatkan oleh mereka.””;- [Musnad Ahmad, 20/349].

Abu Hurairah r.a. berkata, “Nabi s.a.w. bersabda, : “Qiamat tidak akan tiba sehingga muncul 30 dajjal, semua mengaku sebagai utusan Allah, harta bertambah, berlaku huru-hara dan al-Harj berleluasa.” Seorang sahabat bertanya, “Apakah harj?” Baginda bersabda, “ Bunuh-membunuh.””;- [Musnad Ahmad, 2/457].

Abu Hurairah r.a. berkata, “Nabi s.a.w. bersabda, :“Qiamat tidak akan tiba selagi belum muncul 30 dajjal, semua berbohong mengenai Allah dan RasulNya.””;- [Musnad Ahmad, 2/450].

Ibn Umar r.a. berkata, “Daku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, :“Di kalangan umat ku akan ada 70 Penyeru, yang mengajak manusia kepada neraka jahannam. Daku boleh beritahu nama mereka dan kaum mereka jika daku mahu.”

Golongan Pendusta Di Bidang Hadith;- Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kelak akan ada di antara generasi akhir dari umatku orang-orang yang meriwayatkan kepada kamu hadis yang belum pernah – juga bapa-bapa kamu – mendengarnya. Untuk itu, hindarilah mereka.”;- (Riwayat Muslim).

Orang yang mewarnakan rambutnya dengan warna hitam;- Daripada Ibn Abbas r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda; Akan ada di akhir zaman nanti orang-orang yang mengecat rambut mereka dengan warna hitam, seperti tembolok burung merpati, dan mereka tidak akan mencium baunya syurga;- (Riwayat Abu Dawud)

Lelaki menyerupai wanita dan wanita menyerupai lelaki;- Rasulullah s.a.w. bersabda: Di antara tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat adalah laki-laki menyerupai wanita dan wanita menyerupai laki-laki;- (Riwayat Abu Nu’aim).

Mendidik anjing lebih baik dari mendidik anak;- Daripada Abu Dzar r.a berkata, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila zaman (Kiamat) semakin hampir, mendidik anjing lebih baik daripada mendidik anak, tidak ada rasa hormat kepada yang lebih tua, dan tidak ada rasa kasih sayang kepada yang lebih kecil, anak-anak zina semakin ramai, sehingga laki-laki menyantap perempuan di jalanan, mereka tidak ubahnya seperti kambing yang berhati serigala;- (Riwayat Thabrani dan Hakim).

Orang Yang Baik Berkurangan Sedang Yang Jahat Bertambah Banyak;- Daripada Aisyah r.a. berkata, aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak akan berlaku hari qiamat sehingga anak seseorang menjadi punca kemarahan (bagi ibu bapanya) dan hujan akan menjadi panas (hujan akan berkurang dan cuaca akan menjadi panas) dan akan bertambah ramai orang yang tercela dan akan berkurangan orang yang baik dan anak-anak menjadi berani melawan orang-orang tua dan orang yang jahat berani melawan orang-orang baik”;- (Riwayat Thabrani).

Ulama Tidak Dipedulikan;- Daripada Sahl bin Saad as-Saaidi r.a. berkata: Rasulullah s.a.w bersabda; ‘Ya Allah! Jangan kau temukan aku dan mudah-mudahan kamu (sahabat) tidak bertemu dengan suatu masa di mana para ulama sudah tidak diikut lagi, dan orang yang penyantun sudah tidak disegani lagi. Hati mereka seperti hati orang Ajam (pada fasiqnya), lidah mereka seperti lidah orang Arab (pada fasihnya).”;- (Riwayat Ahmad).

– Ilmu agama dicabut ( banyaknya A’lim Ulama’ yang meninggal dunia ).

Ketiadaan Imam Untuk Sembahyang Berjemaah;- Daripada Salamah binti al-Hurr r.a. berkata: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Lagi akan datang suatu zaman, orang ramai berdiri tegak beberapa masa. Mereka tidak dapat memulakan sembahyang berjamaah kerana tidak mendapatkan orang yang boleh menjadi imam”;- (Riwayat Ibnu Majah).

Zaman Kekeliruan;- Anas ibn Malik berkata, “Nabi s.a.w. bersabda: “Zaman Dajjal adalah zaman kekeliruan. Manusia akan percaya pendusta dan tidak percaya orang yang berkata benar. Manusia tidak percaya orang yang amanah dan mempercayai orang yang khianat. Dan Ruwaibidhah akan diberi perhatian.” Sahabat bertanya “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Sabda Baginda, “Orang-orang yang menentang Allah yang diberi penghargaan untuk berucap kepada masyarakat.”;- [Musnad Ahmad, 3/220].

Akibat Berhenti Menyeru Kebaikan Dan Mencegah Kemungkaran;- Anas ibn Malik r.a. berkata, “Ditanya kepada Nabi s.a.w, “Ya Rasulullah, (apa akibat) apabila kami berhenti menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran?” Nabi s.a.w. bersabda: “Apa yang telah berlaku kepada Bani Israel, akan berlaku kepada kamu. Apabila zina berleluasa di kalangan pemimpin kamu, ilmu pada urusan orang yang terendah di kalangan kamu dan kuasa dimiliki oleh orang yang rosak di kalangan kamu.””;- [Riwayat Ibnu Majah, juga Kitab al-Fitan (Hadith 4015), 2/1331; Musnad Ahmad 3/187.].

Manusia Yang Berhati Syaitan;- Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kelak akan datang di akhir zaman segolongan manusia, di mana wajah-wajah mereka adalah wajah manusia, namun hati mereka adalah hati syaitan; seperti serigala-serigala yang buas, tidak ada sedikit pun di hati mereka belas kasihan. Mereka gemar menumpahkan darah dan tidak pernah berhenti dari melakukan kekejian. Apabila kamu mengikuti mereka, maka mereka akan memperdaya kamu. Akan tetapi apabila kamu menghindar dari mereka, maka mereka akan mencela kamu. Apabila berbicara dengan kamu, maka mereka akan membohongi kamu. Dan apabila kamu memberinya kepercayaan, maka mereka akan mengkhianati kepercayaan yang kamu berikan. Anak kecil mereka bodoh, pemuda mereka licik, sementara yang tua tidak menyuruh berbuat baik dan melarang yang mungkar. Mereka itu sentiasa membanggakan diri dalam kehinaan. Dan meminta apa yang ada pada mereka bererti kesusahan. Orang yang sopan-santun di tengah mereka adalah sesat, dan orang yang menyuruh kepada perbuatan ma’ruf malah menjadi tertuduh, orang beriman di kalangan mereka adalah lemah, sedangkan orang fasik menjadi mulia. Sunnah di tengah mereka menjadi bidaah, sedangkan bidaah itu sendiri adalah sunnah. Maka ketika itulah mereka dikuasai oleh orang-orang paling jahat di antara mereka. Sedangkan orang pilihan apabila ia menyeru, pasti tidak akan dihiraukan.”;- (Riwayat Thabrani).

Hilangnya Amanat Dan Munculnya Orang-Orang Gemuk;- Dari Zahdam bin Mudlorrib r.a. mendengar Imron bin Khushoin berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Sesungguhnya sebaik-baik kamu adalah yang hidup pada masaku, kemudian orang-orang yang hidup selepas mereka, kemudian orang-orang yang hidup selepas mereka.” Imron berkata: “Aku tidak mengerti; Apakah Rasulullah s.a.w. berkata tentang peristiwa-peristiwa selepas zamannya, dua kali atau tiga kali (generasi)?” Kemudian sabda Rasulullah: “ Sesudah mereka ada suatu kaum yang berhak menjadi saksi tapi diminta kesaksiannya (tidak dijadikan sebagai saksi), mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya, mereka bernazar (berjanji) tidak menepatinya. Dan kalau sudah terjadi demikian muncullah orang-orang gemuk di antara mereka” ;- (Riwayat Muslim).

Dilema Antara Berbuat Maksiat Dan Meninggalkannya;- Abu Hurairah r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Kelak akan datang atas umatku; suatu masa di mana seseorang dihadapkan pada dua pilihan antara kelemahan dan kemaksiatan (kejahatan, kecabulan, pengkhianatan dan sebagainya). Barangsiapa mendapati (berada) pada masa itu, hendaklah ia memilih kelemahan dan meninggalkan kecabulan (penyelewengan) “;- (Riwayat Hakim).

Orang yang rosak akhlak;- Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi s.a.w. bersabda: “Dunia ini tidak akan Qiamat selagi orang yang paling seronok ialah orang yang rosak akhlak anak kepada orang yang rosak akhlak.”;- [Riwayat Ahmad, Musnad, 2/358.].

Golongan Anti Hadith;- Daripada Miqdam bin Ma’dikariba r.a. berkata: Bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda, “Hampir tiba suatu masa di mana seorang lelaki yang sedang duduk bersandar di atas katilnya, lalu disampaikan orang kepadanya sebuah hadis daripada hadisku maka ia berkata : “Pegangan kami dan kamu hanyalah kitabullah (al-Quran) sahaja. Apa yang dihalalkan oleh al-Quran kami halalkan. Dan apa yang ia haramkan kami haramkan”. Kemudian Nabi s.a.w. melanjutkan sabdanya: “Padahal apa yang diharamkan oleh Rasulullah s.a.w. samalah hukumnya dengan apa yang diharamkan oleh Allah s.w.t.”;- (Riwayat Abu Daud)

Munculnya Golongan Yang Engkar Pada As-sunnah;- Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Akan datang suatu kaum yang mematikan (menolak untuk menggunakan dasar) as-sunnah dan menyangkal tentang agama. Maka atas merekalah laknat Allah, laknat orang-orang yang melaknat, laknat Malaikat serta laknat semua manusia;- (Riwayat Ad Dailami).

Pemimpin Yang Diktator;- Dari Abu Hurairah r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:“Sesungguhnya di kalangan kamu nanti akan tertanam kemahuan besar kedudukan (politik) dalam kerajaan. Sesungguhnya yang demikian itu akan menjadikan kamu menyesal dan susah pada Hari Kiamat; Sebaik-baik ibu adalah yang mahu menyusui anak (ertinya sebaik-baik pemimpin adalah yang memperhatikan kepentingan rakyat), dan seburuk-buruk ibu adalah ibu yang tidak mahu menyusui anaknya (ertinya seburuk-buruk pemimpin adalah pemimpin yang tidak memerhatikan kepentingan rakyat);- (Riwayat Bukhari dan Nasae’i).

Pemimpin Yang Menipu Rakyat;- Ka’ab bin Ujrah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Akan datang di kemudian hari nanti, setelah aku tiada; beberapa pemimpin yang berdusta dan berbuat aniaya. Maka barang siapa yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu (mendukung) tindakan mereka yang aniaya itu, maka ia bukan termasuk umatku, dan bukanlah aku daripadanya. Dan ia tidak akan dapat sampai datang ke telaga (yang ada di syurga);- (Riwayat Tirmidzi, Nasae’i dan Hakim).

Iman Yang Semakin Lemah;- Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dahulukanlah amal soleh di mana pada waktu itu akan terjadi huru-hara dahsyat bagaikan malam yang gelap gelita, seseorang pada pagi harinya beriman lalu pada petang harinya menjadi kafir, atau petang harinya kafir, lalu pagi harinya menjadi mukmin. Ia menjual agamanya dengan keduniaan” ;- (Riwayat Muslim).

Abu Umamah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kelak akan terjadi suatu fitnah, yang keadaan mukmin sedang petang harinya menjadi kafir, kecuali orang yang Allah dihidupkan dengan ilmu yang manfaat” ;- (Riwayat Ahmad dan Thabrani).

Pemimpin Yang Menyembunyikan Hak Rakyat;- Dari Ubadah bin Shamit r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Sesudahku nanti ada pemimpin-pemimpin yang menguasai urusanmu. Mereka mengetahui urusanmu, sedangkan kamu sendiri tidak mengetahuinya. Mereka menyembunyikan atasmu sesuatu yang menjadi hakmu sedang kamu mengetahuinya. Barangsiapa yang menemui kejadian seperti itu, maka janganlah mentaati orang yang berbuat durhaka kepada Allah Azza Wa jalla;- (Riwayat Thabrani dan Hakim).

Pemimpin Yang Membuat Kerosakan;- Ibnu Mas’ud r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Nanti kamu sekalian akan dikuasai para pemimpin yang selalu membuat kerosakan, dan Allah tidak akan memberikan perbaikan/pertolongan kepada mereka. Barangsiapa di antara mereka taat kepada Allah, maka bagi mereka akan mendapat pahala dan kamu harus bersyukur. Dan barangsiapa di antara mereka yang membuat maksiat kepada Allah, maka mereka akan mendapat dosa dan kamu harus bersikap sabar;- (Riwayat Thabrani).

Ramai Pemimpin Tetapi Tidak Dapat Menjamin Ketenteraman;- Dari Abdurrahman Al-Anshari r.a bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Sebahagian dari tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat adalah banyaknya bacaan (ramai yang pandai membaca) dan sedikit di antara mereka yang mengerti agama, banyak umara’ (pemimpin) tetapi ketenteraman berkurang;- (Riwayat Thabrani).

Pemimpin Yang Diingkari Rakyat;- Dari Ibnu Abbas r.a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Kelak akan ada pemimpin yang kamu mengenalnya, tetapi kamu mengingkari (perbuatan)nya. Barangsiapa yang menentang mereka (tidak mengikuti dan tidak mendukung perbuatannya), mereka akan selamat. Barangsiapa yang menjauhi mereka, ia akan aman sentosa, barangsiapa yang bergaul (mendukung) dengannya, maka ia akan binasa;- (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani).

Dari Ummi Salmah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Nanti akan ada penguasa; Kamu sekalian mengenalnya, tetapi kamu mengingkarinya. Barangsiapa yang membencinya, maka ia akan bebas; barangsiapa yang mengingkarinya dia akan selamat, tetapi mereka ada juga pengikutnya;- (Riwayat Muslim dan abu Daud).

Umat Islam akan tertimpa penyakit orang kafir;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Umatku (Islam) nanti akan ditimpa penyakit masyarakat; iaitu: berupa kejahatan, kebencian, kesombongan, bermegah-megahan, perselisihan dalam hal dunia, saling benci-membenci dan saling hasut-menghasut, sehingga terjadilah kerosakan (kehancuran perpaduan umat)” – (Riwayat Hakim).

Daripada Anas bin Malik r.a. berkata Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya sebahagian tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah hilangnya kemanfaatan ilmu, makin ketara kebodohan, diminumnya khamar (arak), meluasnya perzinaan dengan terang-terangan, banyaknya wanita dan sedikitnya lelaki sehingga lima puluh wanita mempunyai satu pelindung lelaki;- (Riwayat Bukhari).

Zaman Di Mana Halal Dan Haram Dianggap Sama Oleh Manusia;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu masa, di mana kala itu seseorang tidak lagi mempedulikan dari mana ia memperolehi hartanya, apakah dari yang halal atau haram” – (Riwayat An Nasa’i).

– Tersebarnya perzinaan kerana memperolehi izin rasmi untuk mendirikan tempat pelacuran/perzinaan dari setiap pemerintah yang bersangkutan.

-) Segala minuman keras seperti khamr (arak) sama diminum dengan berleluasa dan bebas, peminumnya sudah tidak lagi mengenal dosa, bahkan sebagai kebanggaan.

Dikatakan manusia halalnya riba, arak, perzinaan, pakaian dari sutera dan kecapi-kecapi (alat-alat muzik);- Sabda Rasulullah s.a.w: “Nanti pada akhir zaman akan terjadi gempa bumi dan penyakit kolera dan perubahan-perubahan ini terjadi apabila muzik-muzik, biduanita-biduanita telah maharajalela dalam kehidupan umat manusia dan minuman keras (arak) telah dihalalkan” – (Riwayat Thabrani).

Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya nanti akan benar-benar terjadi; akan ada suatu kaum dari Umatku (Islam) yang mengatakan halalnya perzinaan, pakaian sutera, arak dan kecapi-kecapi (alat-alat muzik).” (Riwayat Thabrani)

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sungguh akan ada beberapa orang dari umatku yang meminum khomr (arak), mereka namakan dengan nama lain. Kepala mereka itu dilalaikan dengan bunyi-bunyian (muzik) serta nyanyian, lalu Allah tenggelamkan mereka ke dalam bumi dan akan menjadikan mereka itu seperti kera dan babi” – (Riwayat Ibnu Majah).

Rasulullah s.a.w bersabda: “Kelak pada akhir zaman akan ada dari umat ini suatu kaum yang tingkah lakunya akan jadi seperti kera dan babi. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Tidakkah mereka bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah?” Rasulullah menjawab: “Betul, mereka juga berpuasa, sembahyang dan haji.” Mereka bertanya lagi: “Lalu mengapa keadaan mereka menjadi begitu?” Rasulullah menjawab: “Mereka mengadakan nyanyian-nyanyian, menabuh gendang disertai para biduanita dan penari, lalu pada malam harinya mereka mengadakan pesta minum-minuman dan bermain-main maka pada pagi harinya mereka berubah menjadi tingkah lakunya seperti kera dan babi. Dan sungguh akan ada seorang yang pergi berbelanja ke kedai atas suruhan temannya, setelah ia kembali kepadanya, lalu ia berubah tingkah lakunya seperti menjadi kera dan babi” – (Riwayat Ibnu Abi Dunia).

Ditimpa tanah runtuh dan berbagai bala bencana;- Dilaporkan dari Abu Hurairah r.a. bahawa Nabi s.a.w. bersabda: “Demi Dia yang mengutuskan daku dengan kebenaran, bumi ini tidak akan hancur sehingga penghuninya ditimpa tanah runtuh, ditimpa hujan batu dan berubah menjadi binatang.” Orang bertanya, “Bilakah terjadi demikian wahai Rasulullah?” Sabda Baginda, “Apabila kamu melihat wanita menunggang di atas pelana, penyanyi berleluasa, saksi-saksi memberi keterangan palsu menjadi kebiasaan dan lelaki meniduri lelaki dan wanita meniduri wanita.” – [al-Haithami, Kitab al-Fitan].

Dua Golongan Yang Akan Menjadi Penghuni Neraka;-Daripada Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada dua golongan yang akan menjadi penghuni Neraka yang belum lagi aku melihat mereka. Pertama, golongan (penguasa) yang mempunyai cemeti-cemeti bagaikan ekor lembu yang digunakan untuk memukul orang. Kedua, perempuan yang berpakaian tetapi bertelanjang, berlenggang lenggok waktu berjalan, menghayun-hayunkan bahu. Kepala mereka (sanggul di atas kepala mereka) bagaikan bonggol (goh) unta yang senget. Kedua-dua golongan ini tidak akan masuk syurga dan tidak akan dapat mencium bau wanginya. Sesungguhnya bau wangi syurga itu sudah tercium dari perjalanan yang sangat jauh daripadanya”;- (Riwayat Muslim).

– Jumlah orang lelaki lebih sedikit kerana sedikitnya bayi lelaki yang lahir, dan ramai kaum lelaki yang sama, mati/meninggal dunia.

Daripada Abdillah ia berkata, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Mendekati hari kiamat kelak, hanya akan diberikan salam kepada orang-orang tertentu. Juga akan marak kegiatan perdagangan, sehingga isteri-isteri pun ikut terlibat membantu suaminya dalam berdagang. Dan juga akan terjadi pemutusan hubungan persaudaraan” – (Riwayat Ahmad).

Perdagangan, perniagaan, terputusnya persaudaraan, saksi palsu, tersebar luasnya tulisan-tulisan;- Thariq ibn Shibab berkata, “Kami sedang duduk bersama Abdullah ibn Mas’ud apabila datang seorang lelaki memberitahu waktu solat sudah tiba. Maka kami pun bangun dan menuju ke masjid. Selesai solat, tampil seorang lelaki kepada Abdullah ibn Mas’ud dan berkata, “As-salamu’alaika wahai Abu Abdur Rahman.” Jawab beliau, “Allah dan RasulNya telah berkata benar.” Semasa pulang kami bertanya sesama sendiri, “Kamu dengarkah apa jawapan beliau? Siapakah yang akan tanya beliau mengenainya?” Daku berkata, “Biar saya yang tanya beliau, lalu daku pun bertanya beliau sebaik sahaja beliau keluar. Beliau meriwayatkan dari Baginda s.a.w, : “Sebelum Qiamat tiba, terdapat satu ucapan khusus untuk orang kenamaan; perdagangan tersebar luas sehingga wanita akan turut suaminya dalam perniagaan; perhubungan keluarga akan putus; saksi palsu berleluasa sedang saksi benar akan sukar ditemui dan tulisan tersebar luas.” – [Riwayat Ahmad, Musnad, 1/407].

Bahaya Kemewahan;- Daripada Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Bahawasanya kami sedang duduk bersama Rasulullah s.a.w. di dalam masjid. Tiba-tiba datang Mus’ab bin Umair r.a. dan tiada di atas badannya kecuali hanya sehelai selendang yang bertampung dengan kulit. Tatkala Rasulullah s.a.w.melihat kepadanya baginda menangis dan menitiskan air mata kerana mengenangkan kemewahan Mus’ab ketika berada di Mekkah dahulu (kerana sangat dimanjakan oleh ibunya) dan kerana memandang nasib Mus’ab sekarang (ketika berada di Madinah sebagai seorang Muhajirin yang terpaksa meninggalkan segala harta benda dan kekayaan di Mekkah). Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Bagaimanakah keadaan kamu pada suatu saat nanti, pergi di waktu pagi dengan satu pakaian, dan pergi di waktu petang dengan pakaian yang lain pula. Dan bila diangkatkan satu hidangan diletakkan pula satu hidangan yang lain. Dan kamu menutupi (menghias) rumah kamu sepertimana kamu memasang kelambu Ka’bah?”. Maka jawab sahabat, “Wahai Rasulullah, tentunya di waktu itu kami lebih baik daripada di hari ini. Kami akan memberikan penumpuan kepada masalah ibadat sahaja dan tidak usah mencari rezeki”. Lalu Nabi s.a.w. bersabda, “Tidak! Keadaan kamu di hari ini adalah lebih baik daripada keadaan kamu di hari itu”;- (Riwayat Tirmidzi).

Penyelewengan, Maksiat dan Penghindarannya;- Dari Anas r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Akan datang atas manusia, suatu masa, yang mereka tidak sanggup lagi mencari penghasilan kecuali dengan jalan maksiat (antara lain penyelewengan), sehingga orang berani berdusta dan bersumpah, maka apabila masa itu sudah terjadi (timbul), hendaklah kamu lari menghindari perbuatan itu.” Baginda ditanya: “Ya, rasulullah! Ke tempat mana kita akan lari menghindar?” Baginda menjawab: “Kepada Allah: Kepada Kitab-Nya dan kepada sunnah Nabi-Nya”;- (Riwayat Ad Dailami).

Orang sudah tidak mempedulikan halal dan haram – “Akan datang suatu masa kepada manusia, di mana orang tidak lagi mempedulikan apa yang diperolehnya apakah itu usaha yang halal atau yang haram”;- (Riwayat Nasae’i).

Dalam riwayat lain Rasulullah s.a.w bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu zaman, yang tidak peduli lagi seseorang di zaman itu dari mana harta diambil, (apakah yang diambilnya itu halal atau haram)”;- (Riwayat Nasae’i).

Maraknya Rasuah;- Mu’az bin Jabal berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Ambillah pemberian, selama itu berbentuk sebuah pemberian. Sedangkan jika telah menjadi bentuk suap, maka dalam agama, janganlah kamu mengambilnya. Tidaklah keengganan kamu meninggalkannya lalu mencegah kamu dari kemiskinan dan keperluan hidup. Ingat, lingkaran Islam selalu berputar, maka berputarlah bersama Al-Quran ke mana pun ia mengarah. Ingat, Al-Quran dengan penguasa akan berbeza arah. Maka dari itu, janganlah kamu memisahkan diri dari Al-Quran. Ingat, kelak akan berkuasa atas kamu pemimpin-pemimpin yang akan memutuskan untuk diri mereka sesuatu yang tidak diputuskan untuk kamu. Jika kamu membangkang kepada mereka, maka sudah tentu mereka akan membunuh kamu. Akan tetapi, apabila kamu mematuhinya, maka mereka pasti akan menyesatkan kamu. Para sahabat bertanya: “Apa yang harus kami lakukan pada waktu seperti itu wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Lakukanlah seperti yang dilakukan oleh para pengikut Isa bin Maryam, di mana mereka menyebar dengan membawa gergaji, lalu memikul kayu. Kerana, mati dalam ketaatan kepada Allah jauh lebih baik daripada hidup dalam keadaan bermaksiat kepadaNya”;- (Riwayat Tabrani).

Maraknya praktik riba;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: Sungguh akan datang kepada manusia suatu masa, di mana tidak tersisa dari mereka seorang pun kecuali menjadi pemakan riba. Dan barangsiapa yang tidak mahu memakannya, maka pasti ia akan terkena oleh debunya;- (Riwayat Ibnu Majah)

Rasulullah s.a.w bersabda: Akan datang suatu masa, di mana manusia menganggap halal riba dengan nama jual beli;- (Riwayat Ibnul Qayyim).

– Meluapnya jumlah kaum wanita melebihi kaum lelaki dengan perbandingan 50 berbanding seorang lelaki.

– Banyak terjadi gempa bumi.

Keluarnya Sumber kekayaan dan perang di Timur Tengah (Iraq).

Munculnya Galian-galian Bumi;- Daripada Ibnu Omar r.a. berkata: “Pada suatu masa dibawa ke hadapan Rasulullah s.a.w. sepotong emas. Dan emas itu adalah emas zakat yang pertama sekali dikutip. Emas itu telah dibawa oleh Bani Sulaim dari tempat tambang (galian) mereka. Maka sahabat berkata: “Hai RasuIullah! Emas ini adalah hasil dari galian kita”. Lalu Nabi s.a.w. menjawab, “Nanti kamu akan dapati banyak galian-galian, dan yang akan menguruskannya adalah orang-orang yang jahat”;- (Riwayat Baihaqi).

Rakus Terhadap Hal Dunia;- Sabda Rasulullah s.a.w.: (Jika) Hari Kiamat telah hampir terjadi; tidak bertambah manusia kecuali loba (rakus akan harta benda), dan mereka tidak bertambah dekat kepada Allah, kecuali akan menambah jauh dari Allah ( dari ajaran agama);- (Riwayat Thabrani)

Rasulullah s.a.w. bersabda: Apabila akhir zaman, adalah kekuatan agama manusia terletak pada dinar dan dirham (harta);- (Riwayat Turmidzi)

Ramai Orang Kaya Tinggal Di Lereng Gunung;- Rasulullah s.a.w bersabda: Sungguh akan ada beberapa kaum yang bertempat tinggal di dekat (lereng) gunung, lalu orang-orang fakir datang kepada mereka untuk sesuatu keperluannya, kemudian mereka berkata: “Kembalilah kepada kami esok.” Kemudian Allah menyatukan gunung itu atas mereka;- (Riwayat Bukhari).

Peperangan Di Kawasan Sungai Furat (Iraq) Kerana Merebut Kekayaan;-Daripada Abu Hurairah r.a. berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: ‘Tidak terjadi hari qiamat sehingga Sungai Furat (Sungai Euphrates iaitu sebuah sungai yang ada di lraq) menjadi surut airnya sehingga ternampak sebuah gunung daripada emas. Ramai orang yang berperang untuk merebutkannya. Maka terbunuh 99 daripada 100 orang yang berperang. Dan masing-masing yang terlibat berkata: “Mudah-mudahan akulah orang yang terselamat itu”. Di dalam riwayat lain ada disebutkan; “Sudah dekat suatu masa di mana sungai Furat akan menjadi surut airnya lalu ternampak perbendaharaan daripada emas, maka barangsiapa yang hadir di situ janganlah ia mengambil sesuatu pun daripada harta itu”;- (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Tentera Yang Kejam;- Dari Abu Umamah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Kelak pada akhir zaman akan ada angkatan tentera sejak pagi-pagi dalam kemurkaan Allah, dan waktu petang juga dalam kemurkaan Allah. Oleh kerana itu waspadalah kamu sekalian! Jangan sampai kamu sekalian dijadikan perisai buat mereka;- (Riwayat Thabrani).

– Zaman sudah dekat-mendekati.

Masa berlalu bagaikan kobaran api;- Daripada Anas bin Malik r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Tidak terjadi kiamat, hingga waktu terasa saling berdekatan. Satu tahun seperti satu bulan dan satu bulan laksana satu minggu. Satu minggu bagaikan satu hari, dan satu hari ibarat satu jam, serta satu jam laksana kobaran api (cepat sekali berlalu);- (Riwayat Tirmidzi).

– Banyak terjadi perkara fitnah-memfitnah.

Fitnah bagaikan malam yang gelap-gelita;- Daripada Anas bin Malik r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Mendekati hari kiamat akan terdapat berbagai macam fitnah laksana bahagian malam yang gelap-gelita. Kala itu seseorang menjadi Mukmin di pagi hari, berbalik menjadi kafir memasuki petang hari. Dan menjadi Mukmin di petang hari, berbalik menjadi kafir memasuki pagi hari. Orang-orang pun akan menjual agamanya dengan harta benda duniawi;- (Riwayat Tirmidzi).

– Banyaknya haraj, yakni bunuh-membunuh (Pembunuhan bermaharajalela dalam masyarakat kesan dari jahiliyah moden).

Pembunuhan demi pembunuhan;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Tidak akan terjadi kiamat, hingga munculnya banyak kekacauan. Lalu para sahabat bertanya: Apa yang dimaksud ‘harj’ (kekacauan) itu, wahai Rasulullah? Nabi s.a.w. menjawab: Pembu