Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Mengapa kita mengikuti empat madzhab yang ada?

Sebab:

1. Mudawanah (Tertulis)

2. Mudalalah (Memiliki dalil)

3. Makhdumah (digunakan)

4. Mutadawilah (Tersebar)

5. Ijma umat bahwa empat madzhab merupakan madzab Ahli sunnah waljamaah

-Syekh Hisyam Kamil

'Mengapa kita mengikuti empat madzhab yang ada? sebab:
1. Mudawanah (Tertulis)
2. Mudalalah (Memiliki dalil)
3. Makhdumah (digunakan)
4. Mutadawilah (Tersebar)
5. Ijma umat bahwa empat madzhab merupakan madzab Ahli sunnah waljamaah

-Syekh Hisyam Kamil'

1 March 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Tazkirah | | Leave a comment

Mengapa bermazhab?

Terdapat pertanyaan yang tersebar di kalangan para penuntut ilmu, “Kenapa kita harus bermazhab?”, “Bukannya kita diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti Allah dan Rasul-Nya, dan bukan para imam mazhab?”, atau “Bahkan para imam mazhab pun melarang kita untuk bertaklid kepada mereka!”

Pertanyaan itu pun sempat berputar di kepala saya selama beberapa tahun hingga saya mencari jawabannya dan akhirnya saya mendapatkannya. Setidaknya terdapat tujuh poin penting yang kita dapatkan dalam bermazhab. Saya akan jelaskan satu persatu, semoga bermanfaat.

Pertama.

Mazhab-mazhab fikih itu Musannadah, atau memiliki sanad dalam setiap perkataan dan pemahamannya. Sanad merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan beragama seorang muslim. Ibnu Sirin, salah seorang ulama generasi tabiin berkata, “Awalnya mereka (kaum muslim saat itu) tidak pernah bertanya tentang sanad, namun ketika terjadi fitnah mereka berkata beritahu kami siapa orang (yang kau ambil ilmunya)! Lalu dilihatlah para kaum ahlusunah dan hadis mereka diambil, dan dilihatlah kaum ahli bidah dan hadis mereka tidak diambil.”

Dalam riwayat lain dari Ibnu Sirin, ia berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian!”

Awalnya Rasulullah mengajarkan agama ini kepada para sahabat. Para sahabat pun memiliki derajat pemahaman terhadap agama yang berbeda-beda karena beberapa sebab. Maka dikenallah beberapa orang sahabat yang tidak hanya meriwayatkan hadis dariRasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, namun juga mereka dikenal sebagai para mujtahid dari para sahabat. Di antaranya adalah Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas`ud dan Aisyah binti Abu Bakar.

Saat Rasulullah tiada, para sahabat ini beserta para sahabat lain berpencar ke berbagai penjuru daerah untuk menyebarkan apa yang telah mereka dapatkan dari Rasulullah. Ibnu Mas`ud menetap di Kufah, Ibnu Umar menetap di Madinah, Abu Musa al-Asy`ari di Yaman, Anas bin Malik di Bashrah, dan Amru bin al-`Ash di Mesir. Dan di generasi selanjutnya, terdapat dua aliran besar dalam Islam yaitu madrasah ahlu ra`yi, para murid dari Ibnu Mas`ud di Kufah dan madrasah ahlu hadis, para murid dari Ibnu Umar di Madinah.

Dari dua madrasah inilah kemudian muncul imam Abu Hanifah di Kufah dan imam Malik bin Anas di Madinah. Kemudian muncul Imam Syafi`i yang belajar kepada imam Malik dan imam Muhammad bin al-Hasan As-Syaibani murid dari imam Abu Hanifah. Kemudian muncul imam Ahmad bin Hanbal yang belajar kepada imam Syafi`i. Para imam itu kemudian mengajarkan ilmunya kepada generasi-generasi selanjutnya dengan cara yang sama. Penjelasan tentang sanad dalam mazhab Syafi`i saja akan menghabiskan banyak sekali lembaran catatan yang berisi nama, tahun wafat, nama guru dan muridnya.

Sanad merupakan salah satu sebab kenapa ajaran agama Islam bisa bertahan dan tidak berubah laiknya agama Yahudi dan Nasrani. Maka, menjaga tradisi beragama melalui sanad dalam mazhab juga merupakan jalan untuk menjaga agama ini dari serangan tangan-tangan orang luar Islam.

Kedua.

Mazhab-mazhab fikih itu� Makhdumah, menjadi bahan penelitian yang sangat serius. Awalnya bermula dari kitab yang dituliskan oleh imam mazhab ataupun oleh muridnya, kitab itu kemudian diringkas, diteliti dan dikembangkan oleh generasi selanjutnya. Ringkasan itu kemudian kita kenal sebagai matan yang kemudian disyarah oleh generasi selanjutnya. Syarah dari matan itu pun kemudian dijelaskan lagi dalam bentuk hasyiah, kemudian diberi komentar-komentar oleh generasi selanjutnya. Tidak berhenti di situ, terkadang sebuah matan kembali diringkas, ditambahi, kemudian dijelaskan, dan begitu seterusnya. Maka, akan terdapat silsilah kitab yang jelas di setiap mazhab.

Contohnya dalam mazhab Syafi`i. Terdapat empat kitab yang diwariskan oleh Imam Syafi`i dan muridnya, yaitu kitab al-Umm, al-Imla’, mukhtasar al-Buwaythi, dan mukhtasar al-Muzani. Mukhtasar al-Muzani kemudian disyarah oleh tujuh orang ulama generasi setelahnya dan diringkas oleh satu orang hingga terdapat delapan buah kitab muktamad yang berasal darinya. Salah satunya adalah kitab Nihayah al-Mathlab fi Dirayah al-Mazhab karya imam Haramayn al-Juwayni yang kemudian diringkas oleh imam al-Ghazali menjadi tiga kitab, yaitu al-Basith, al-Wasith, dan al-Wajiz.

Al-Wajiz kemudian disyarah oleh imam Rafi`i menjadi Fath al-`Aziz yang kemudian diringkas lagi oleh imam Nawawi menjadi Rawdhah al-Thalibin dan imam Qazwini menjadial-Hawi al-Shaghir. Kedua kitab itu pun masih diringkas, lalu disyarah, dan syarah itu kemudian disyarah, dikomentari, dan ditambahi hinga menjadi belasan kitab lainnya.

Selain itu terdapat tiga kitab utama dari kalangan ulama Syafi`i muta’akhir, yaitu al-Lubab, al-Muharrar, dan Ghayah al-Ikhtishar. Ketiga kitab itu pun disyarah, diberi hasyiah, terus dan terus dikaji hingga silsilah kitab dalam mazhab Syafi`i bisa tergambar jelas dalam sebuah diagram pohon silsilah yang panjang.

Ketiga.

Mazhab-mazhab itu� Mudallalah, yaitu setiap hukum yang terdapat di dalamnya memiliki landasan baik dari al-Quran, sunah, maupun sumber hukum lainnya sesuai dengan metode ijtihad dari masing-masing mazhab. Perbedaan pendapat di antara mazhab satu dengan lainnya bukanlah didasarkan atas akal-akalan para ulama mazhab, namun karena perbedaan metode, pemahaman, penilaian terhadap riwayat, situasi tempat tinggal, dan beberapa sebab lain.

Contohnya saja dalam masalah Basmalah dalam surat al-Fatihah. Ada pendapat yang menyatakan bahwa Basmalah bukan termasuk surat al-Fatihah, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa Basmalah termasuk surat al-Fatihah. Dalam membacanya pun terdapat perbedaan dari masing-masing mazhab. Semuanya memiliki dalil dan metode sendiri-sendiri yang menyebabkan perbedaan pendapat ini.

Keempat.

Mazhab-mazhab itu memiliki akar yang menyambung kepada imam masing-masing. Dan perbedaan imam tersebut menjadikan perbedaan kaidah-kaidah dan metode ijtihad yang berbeda satu sama lain. Di dalam fikih mazhab Syafi`i terdapat lima kaidah utama yang dijelaskan oleh imam al-Suyuthi dalam kitab� al-Asybah wa al-Nadza’ir, yang lima kaidah itu belum tentu ada di mazhab lainnya.

Kelima.

Mazhab-mazhab itu memiliki metode sendiri dalam pengajarannya. Setiap mazhab memiliki metode yang berbeda dalam setiap tingkatan untuk memudahkan para penuntut ilmu dalam menyerap dan memahami fikih sesuai dengan kemampuannya. Misalkan dalam mazhab Syafi`i terdapat kitab Safinah al-Najah untuk pemula dengan berbagai syarahnya, kemudian diteruskan dengan kitab al-Ghayah wa al-Taqrib untuk tingkat selanjutnya juga dengan berbagai syarahnya, kemudian ada kitab Fath al-Mu`in, al-Muhadzab, Minhaj al-Thalibin, dan kitab-kitab lain hingga jika seorang murid telah mampu untuk membaca dan memahami ia bisa menelaah sendiri kitab-kitab yang menjadi rujukan utama dalam mazhab Syafi`i.

Seorang pelajar pemula akan lebih cepat memahami dan mempraktekkan apa yang ia pahami jika telah dibuat ringkas sebagaimana matan Safinah al-Najah. Jika anda membuka matan kitab itu, maka anda akan melihat bahwa di dalamnya hanya terdapat hal-hal yang utama untuk diketahui lebih awal oleh para pemula. Kitab itu hanya memuat bab rukun Iman dan Islam, bab bersuci, bab salat, bab jenazah, bab zakat, puasa dan haji dengan penjelasan yang sangat singkat. Karena hal itulah yang paling utama untuk diketahui dan diamalkan oleh pemula sesaat setelah mereka balig. Berbeda dengan matan al-Ghayah wa al-Taqrib yang isinya lebih lengkap, dan berbeda juga dengan matan Minhaj al-Thalibinyang di dalamnya disertai dengan perbedaan pendapat antara ulama-ulama di dalam mazhab Syafi`i.

Hal itu berbeda jika pembelajaran dimulai menggunakan kitab yang berisi hadis-hadis dengan sedikit komentar di dalamnya. Sebuah hadis bisa saja memiliki dua hingga lima maksud yang berbeda yang hal itu akan sangat menyulitkan bagi para pemula. Belum lagi bahwa diperlukan waktu yang lama untuk mempelajari seluruh hadis sahih yang ada dalam bab bersuci, lalu kapan bab salat, puasa dan haji akan dipelajari? Bagaimana jika ketika seorang pelajar telah memasuki usia balig namun ia baru sampai di bab bersuci?

Matan kitab-kitab tersebut adalah hasil ijtihad dari penulis kitab itu sesuai dengan metode yang telah ia pelajari. Memang, di dalam matan-matan itu jarang sekali terdapat dalil baik dari al-Quran ataupun sunah. Namun pendalaman akan dalil-dalil itu bisa diperdalami di kemudian hari saat seorang pelajar telah siap untuk hal itu.

Seorang muslim akan bertanggungjawab atas dirinya sendiri dalam beribadah kepada Allah sejak ia masuk usia balig. Maka, hal-hal yang harus dipenuhi pertama kali adalah hal yang menunjang ia dalam beribadah di saat itu.

Keenam.

Mazhab-mazhab itu telah terkodifikasi, dan telah terkomparasikan antara satu dan lainnya. Pada tinggat selanjutnya, seorang pelajar akan bertemu dengan pelajaran fikih perbandingan mazhab yang mana di sana ia akan bertemu dengan perbedaan pendapat antara mazhab satu dan lainnya. Di sana juga ia akan mengenali perbedaan pendapat, dalil dan metode ijtihad yang telah menjadi ciri dari mazhab-mazhab itu sendiri.

Seluruh pendapat dan metode ijtihad itu merupakan bangunan tradisi keilmuan fikih yang sangat megah yang jika mazhab-mazhab itu dihapuskan maka usaha dan pengabdian para pendahulu kita terhadap agama ini tak lagi ada harganya. Ini juga merupakan salah satu upaya penghargaan atas jerih payah dan pengabdian para pendahulu kita terhadap agama ini. Semoga Allah membalas mereka dan menempatkan mereka di tempat yang layak.

Ketujuh.

Terakhir, dengan kodifikasi mazhab-mazhab tadi maka setiap mazhab telah memiliki metode ijtihad sendiri yang dapat dijadikan landasan dalam menghadapi hal-hal baru yang tidak ada sebelumnya dan perlu dicarikan hukumnya. Jika bermazhab dilarang, maka para mujtahid di masa yang akan datang akan terputus dari metode ijtihad yang telah ada pada generasi sebelumnya.

Maka, bermazhab itu bukanlah soal mengikuti pendapat imam A dan meninggalkan hadis yang ada, namun lebih dari itu. Bermazhab itu mempelajari metode ijtihad dalam menggali hukum dari al-Quran dan hadis. Bermazhab itu melestarikan tradisi keilmuan fikih Islam yang telah dibangun sejak zaman Rasulullah dan para sahabat. Bermazhab itu memberikan penghargaan kepada para pendahulu kita yang telah memberikan sumbangsih yang tiada tara kepada peradaban keilmuan Islam secara keseluruhan. Bermazhab itu adalah salah satu cara untuk menjaga agama ini agar bertahan dari serangan pihak lain hingga hari akhir nanti. Semoga bermanfaat.

 

[Oleh: Fahmi Hasan Nugroho,Mahasiswa Tingkat III, Fakultas Syariah Islamiyah, Universitas Al-Azhar-Kairo].

Referensi

– Al-Fawa’id al-Makiyah, fi ma Yahtajuh Thalabah al-Syafi`iyah min al-Masa’il wa al-Dhawabith wa al-Qawaid al-Kulliyah, Syaikh `Alawi bin Ahmad bin Abdurrahman al-Saqqaf, Dar al-Faruq, Kairo, 2012

– Al-Ghayah wa al-Taqrib, al-Qadhi Abu Syuja` Ahmad bin al-Husain bin Ahmad al-Ashfahani, al-Maktabah al-Islamiyah, Kairo, 2011.

– Safinah al-Najah, Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami, al-Maktabah al-Islamiyah, Kairo, 2011.

– Shahih Muslim, Imam Muslim, Maktabah Syamilah.

– Tarikh al-Tasyri` al-Islami, Rasyad Hasan Khalil, Kairo, 2011.

-� `Ulum al-Hadis, Dr. al-Khusyu`i Muhammad al-Khusyu`i, Kairo, 2011.

18 June 2013 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Talfiq– mencampur-adukkan dua mazhab atau lebih dalam satu-satu ibadat.

Assalamualaikum ustaz,

Ustaz, saya selalu mengalami kesukaran bilamana terdapat pelbagai pendapat ulama tentang satu2 masalah. Contohnya, saya seorang yang bermazhab syafie, tetapi pada masa yang sama saya menggunakan pendapat Dr Yusuf Qardawi dalam sesetengah masalah (contohnya taharah). Adakah saya dikira talfiq? Dan andaikata terdapat banyak pendapat ulama dalam bab taharah (contohnya yusuf qaradawi, ulama A dan ulama B), adakah saya perlu melakukan tarjih terlebih dahulu untuk memilih pendapat mana yang lebih kuat pada penilaian saya? Bolehkah kita menggunakan pendapat ulama A untuk masalah 1 dan ulama B untuk masalah 2 kerana pendapat ulama itu lebih mudah dalam masalah itu. Tidakkah ia menyerupai talfiq?

terima kasih ustaz.

*********************************

Wa’alaikumussalam

Alhamdulillah. Kami akan cuba menjawab persoalan anda dengan kadar kemampuan dan batasan-batasan yang ada, InSyaAllah.

Untuk membicarakan topic ini, ia memerlukan masa yang agak lama. Bagi tujuan ini, kami cuba meringkaskannya.

Tidak dapat tidak, seseorang itu akan memulakan proses mempelajari dan mengamalkan sistem Islam dengan cara bertaqlid kepada satu Mazhab. Apabila seseorang itu melalui proses pembelajaran, dan melihat akan ada alternatif kepada padangan yang ada, dia dikatakan telah melalui proses Takhayyur. Takhayyur adalah proses memilih pendapat dari pelbagai pendapat atau Mazhab.

Proses Takhayyur ini selalunya terhasil tanpa seseorang itu mengetahui nas-nas atau dalil-dalil kenapa hukum itu terjadi. Hasil dari proses ini akan berlaku Talfiq. Seseorang itu akan dikatakan melakukan Talfiq apabila dia berpegang kepada satu Mazhab eg: Syafie, dan ada beberapa hukum yang lain memilih pandangan Mazhab yang lain eg: Hanafi. Contohnya seperti seorang bermazhab Syafie mengatakan tidak batal wudhu’ apabila besentuhan dengan wanita kerana berpegang kepada pandangan Mazhab Hanafi, walaupun tidak mengetahui dalilnya.

Seseorang yang melakukan Talfiq yang sedemikian, juga dikatakan melakukan Taqlid juga; iaitu berubah taqlid dari mazhab Syafie kepada bertaqlid kepada Mazhab Hanafi. Perkara perubahan ini, boleh diakibatkan oleh :

a. Pemerintah; misalnya membayar Zakat Fitrah menggunakan wang sebagaimana yang ditetapkan oleh Majlis Agama Islam Negeri.

b. Darurat; disebabkan keadaan dan suasana, misalnya menggunakan kaedah batal wudhu’ menurut Mazhab Hanafi atau Hanbali, kerana kesukaran menjaga diri di Mekah dari disentuh wanita ajnabi.

Keadaan (a) menyebabkan seseorang itu melakukan Talfiq tanpa dia sendiri sedar atau mengetahui. Sebagaimana kata Syiekh Ibn Utsaimin, Mazhab orang Awam ialah Mazhab Pemerintahnya. Apa sahaja keketapan yang telah dibuat oleh pihak pemerintah, itulah mazhab mereka.

Ada juga proses pemilihan hukum dilakukan dengan ijtihad, dengan menurut dalil-dalil dan nas yang kuat atau yang lebih Rajih. Di sini kita melihat proses Tarjih atau saringan hukum dijalankan. Peringkat ini bukan dimiliki oleh orang-orang awam. Ini adalah proses yang dilakukan oleh Imam-Imam yang Mujtahid atau satu badan Fatwa yang melakukan Ijtihad.

Secara umum dan ringkasnya, bolehlah kitakan bahawa proses dihadapi oleh orang awam adalah proses Talfiq. Apabila memelihat (bukan memilh) nas atau dalil yang dipakai oleh Mujtahid tadi, kita dikatakan telah melakukan al-‘ittibaa’. Seseorang itu dikatakan telah memilih pandangan tersebut tanpa melihat akan Mazhab itu sendiri. Ketetapan nas dan dalil itu telah dilakukan oleh Mujtahid tersebut, dan kita Cuma al-‘ittibaa’ atau “menuruti” pendapat Imam tersebut.

Terdapat ulama’ yang melarang Talfiq atas beberapa syarat. Yang membenarkannya juga meletakkan beberapa syarat, dan diantaranya :-

a. Niat melakukan Talfiq; disebabkan keperluan, darurat, dsb. Tidak boleh dilakukan kerana mengikut nafsu.

b. Tidak bertujuan memilih keringanan dari pandangan Mazhab tersebut. Jumhur ulama’ melarang menghimpuan kesemua keringan didalam setiap Mazhab. Ini dinamakan Tatabu’ Rukhas (mengambil pendapat-pendapat yang ringan).

c. Tidak membawa kepada perlanggaran Ijma’.

c. Tidak boleh bertalfiq atas perkara yang bukan Ibadat badan; seperti nikah kahwin, hudud, penetapan awal bulan, dsb. Perkara ini memerluka kuasa yang memerintah. Contohnya, berkahwin tanpa wali sebagaimana bertalfiq dengan Mazhab Hanafi. WA.

Berdasarkan syarat-syarat ini, dan dilakukan dengan penuh hati-hati, seseorang itu dibolehkan melakukan Talfiq. Perlu ingat, ini merupakan talfiq diantara Mazhab yang muktabar dan orang awam tidak dibenarkan melakukan tarjih oleh kerana ia adalah sebahagian dari proses Ijtihad yang hanya dilakukan oleh Imam Mujtahid.

[Sumber: Koleksi Soal Jawab Fiqh]

13 March 2013 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Sebab orang awam keliru dalam beragama

Mengapa terdapat sestengah ilmuwan bila orang awam bertanya mengenai sesuatu hukum, maka jawapan yang diberi gemar bersandarkan kepada pendapat Ibnu Taimiyyah lah atau Ibnu Qayyim lah, sedangkan yang bertanya itu umumnya bermazhab Syafi`i. Sejak bila Ibnu Taimiyyah atau Ibnu Qayyim atau al-Qardhawi jadi ulama sandaran dalam Mazhab Syafi`i ? Mengapa tak di bawa keterangan ulama-ulama Syafi`i kita, saperti Imam Ibnu Hajar ke, Syeikh Ramli ke atau sebagainya. Ini yang menyebabkan orang awam keliru dan pening kepala.Ini yang jadi punca qunut jadi bid`ah, talqin jadi bid`ah, bacaan Yaasin malam Jumaat jadi bidaah,tahlil jadi bidaah, wirid beramai ramai lepas solat bidaah,seolah olah ilmu ilmu yang di sampaikan oleh imam imam yang 4 itu bidaah aje.Tidak boleh kah golongan ini menjawab pertanyaan orang awam berdasarkan mazhab yang di anuti?

Kini sudah muncul golongan ilmuwan yang kelihatan semacam merendah rendahkan mazhab dan ulama ulama mazhab terutama mazhab Imam Shafie dan Imam Ghazali.Sana sini mereka laungkan kembali lah kepada al Quran dan Hadis.Seakan akan mengambarkan bahawa imam imam mazhab tidak berpegang kepada al Quran dan Hadis.Sedangkan mereka sangat amanah dan sangat berhati hati dan teliti dengan al Quran dan Hadis saperti yang di sebut dalam al Quran yang bermaksud :

“Sesungguhnya yang menaruh bimbang dan yang takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hambaNya adalah orang orang yang berilmu (ulama).”( Surah Fathir ayat 28).

Rasulullah SAW pula menyebut “Sebaik baik kurun ialah kurunku, kemudian mereka yang selepas kurunku, kemudian mereka yang mengiring kurun itu pula.” (HR Bukhari dan Muslim).

Imam imam mazhab iaitu imam Hanafi lahir pada 80H, imam Malik lahir pada 93H, imam Shafie lahir pada 150H dan imam Ahmad lahir pada 164H.Cuba perhatikan, tarikh lahir dan hidupnya mereka, tepat berada di dalam lingkungan kurun yang terbaik saperti yang disebut dalam hadis tersebut.Bahkan mereka semua terkenal dengan kesolehan, kewarakan, kepintaran, dan ketinggian di dalam berbagai bidang ilmu Islam.Kebolehan dan kehebatan mereka dalam bidang ilmu menjadi ikutan dan panduan oleh umat sepanjang zaman.Mereka adalah Mujtahid Mutlak.Bererti mereka adalah orang yang paling faham tentang al Quran dan Hadis dan menguasai 4 sumber hukum ini secara mendalam dan terperinci. Penguasaan mereka dalam bidang ini tidak dapat di pertikaikan.Mereka adalah salafu soleh, golongan yang di jamin oleh Rasulullah SAW.

Tiba tiba hari ini ada pula golongan ilmuwan yang jenis suka mengintai intai kelemahan imam imam mazhab tersebut lalu menghebahkan kelemahan kelemahan itu kepada umum.

Persoalan yang sentiasa berlegar di mind orang awam, ialah, adakah golongan ilmuwan ilmuwan ini bertaraf mujtahid di kurun ini yang membolehkan mereka berfatwa dengan fatwa yang bertentangan dengan fatwa imam imam mujtahid terdahulu? Dan adakah PHD yang mereka miliki, hasil dari berguru dengan guru orientalis bertaraf profesor dari universiti saperti universiti Kent atau universiti Scotland menjadikan mereka lebih hebat daripada imam imam mujtahid itu?

Adakah kita (orang awam) perlu ikut pendapat baru mereka dan tinggalkan pendapat imam mazhab yang kita pegang selama ini iaitu mazhab Shafie? Dengan lain perkataan, adakah kita perlu bermazhab dengan mazhab “baru” yang di bawa oleh golongan ilmuwan ini?

– Mungkin anda juga suka link ini : Mengapa tidak ambil terus daripada al Quran dan Sunnah?

16 February 2013 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Renungan & Teladan | , , , , | Leave a comment

Orang awam lebih selamat kekal berpegang kepada Imam Mazhab

Hari ini ramai ulama amilin yang sudah pergi meninggalkan kita (wafat).Atas pemergian mereka Ilmu agama tulin pun makin lama makin terhakis, berkurangan dan hampir lesap. Semangat orang awam untuk mendalami ilmu agama pun semakin lemah.Sedangkan kini pula, hadis2 sudah banyak yg di pesongkan dan di palsukan, banyak pula aliran yang sesat.Ada juga Ilmuwan agama  yang sebenarnya tidak hafal,fasih dan mahir Quran dan Hadis.Tetapi berlagak pakar dalam bidang itu untuk menolak beberapa pendapat imam imam mazhab.Sedangkan di manakah status mereka berbanding dengan imam imam mazhab.Para Imam Mazhab itu hafal Al Qur’an pada usia kanak kanak lagi dan menguasai hingga berjuta hadis.

Ramai ilmuwan era ini  mempunyai jiwa yang bergelumang dengan hawa nafsu, masing masing berasa bangga dengan pendapat sendiri.Hingga gamak menolak pendapat Imam Imam mazhab yang sudah berkurun kurun di amalkan seluruh umat Islam.Ulama ulama ini pada menolak mazhab,pada dasarnya mereka sendiri sedang mencipta mazhab sendiri sebenarnya.

Bagi orang awam macam kita bagaimana harus kita hadapi situasi begini?

Adalah lebih selamat kita tetap berpegang pada Imam Mazhab saperti Imam Shafie,Hanafi, Malik dan Hanbali kerana kitab kitab dan syarah syarah mereka tetapi asli hingga ke hari ini.Mereka terkenal dengan kesolehan, warak, khasyyah (takut Allah) dan mempunyai ilmu yang sangat tinggi.Mengikut mereka bererti mengikut golongan salafusoleh, golongan yang dijamin oleh Rasulullah saw.Lagi pun Imam Imam mazhab hidup di zaman yang sebaik baik zaman saperti yang di jamin oleh Rasulullah saw saperti yang di sebut dalam hadis hadis ini:

Rasulullah saw bersabda,
Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).”

“Sebaik-baik zaman adalah zamanku (zaman para sahabat), kemudian yang setelahnya (zaman tabi’in), kemudian yang setelahnya (zaman tabi’ut tabi’in).”
(HR. Bukhari no. 6429 dan Muslim no. 2533 hadits ini adalah Mutawatir).

Hadis ini secara tidak langsung menyentuh tentang Imam imam mazhab yang 4  kerana mereka hidup di sekitar tiga kurun yang di maksudkan hadis tersebut.Imam Hanafi lahir pada tahun 80H.Imam Malik lahir pada 93H.Imam Syafie lahir pada 150H dan Imam Ahmad pada 164H.

Ramai para ulama hadis sendiri juga bermazhab.Imam Tirmizi , Imam Nawawi, dan Imam Ibnu Hajar umpamanya bermazhab Syafie.Imam mujaddid saperti Imam al Ghazali, Imam Sayuti dan Imam Abu Hassan Ashaari pun bermazhab Shafie.Bahkan beratus ratus ulama yang bertaraf mujtahid dan yang pernah mengarang kitab kitab besar juga bermazhab.

Tiba tiba ilmuwan era baru zaman ini melaung laung menyuruh umat mengikut al Quran dan Hadis dan menolak bermazhab.Mungkin mereka rasa diri sudah terlalu hebat mengatasi kehebatan imam imam mazhab.

Adakah ke empat empat imam mazhab itu tidak ikut dan berpandukan al Quran dan Hadis? Sebenarnya martabat para imam mazhab yang empat bertaraf “mujtahid mutlak” .Iaitu mereka lah orang yang paling faham tentang al Quran dan Hadis.Penguasaan mereka dalam bidang hadis tidak boleh di pertikaikan hingga kini.Imam Ahmad menghafal berjuta hadis dan mengarang “Kitab al Musnad” yang sangat terkenal
.Imam malik mengarang “Kitab al Muwaththa”.Imam Shafie mengarang “Kitab Mukhtalaf al Hadis” dan menghafal seluruh hadis dalam “al Muwaththa”.Imam Hanafi mengarang  “Kitab al hadis al Wasith”.

Persoalannya, adakah ilmuwan atau ulama era baru kini lebih hebat dalam sudut memahami al Quran dan Hadis daripada Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Shafie dan Imam Ahmad sehingga tidak mahu berpegang kepada pendapat dan bermazhab kepada imam imam empat ini?

Rujukan:

24 March 2012 Posted by | Ibadah, Tazkirah | | 1 Comment

Sebab orang awam pening kepala dengan sesuatu hukum Agama

Mengapa ada sestengah ustaz bila orang awam bertanya mengenai sesuatu hukum, maka jawapan yang diberi gemar bersandarkan kepada pendapat Ibnu Taimiyyah lah atau Ibnu Qayyim lah, sedangkan yang bertanya itu umumnya bermazhab Syafi`i. Sejak bila Ibnu Taimiyyah atau Ibnu Qayyim atau al-Qardhawi jadi ulama sandaran dalam Mazhab Syafi`i ? Mengapa tak di bawa keterangan ulama-ulama Syafi`i kita, saperti Imam Ibnu Hajar ke, Syeikh Ramli ke atau sebagainya. Ini yang menyebabkan orang awam keliru dan pening kepala.Ini yang jadi punca qunut jadi bid`ah, talqin jadi bid`ah, bacaan Yaasin malam Jumaat jadi bidaah,tahlil jadi bidaah, wirid beramai ramai lepas solat bidaah,seolah olah ilmu ilmu yang di sampaikan oleh imam imam yang 4 itu bidaah aje.Tidak boleh kah golongan ini menjawab pertanyaan orang awam berdasarkan mazhab yang di anuti?

Kini sudah muncul golongan ustaz yang kelihatan semacam merendah rendahkan mazhab dan ulama ulama mazhab terutama mazhab Imam Shafie dan Imam Ghazali.Sana sini mereka laungkan kembali lah kepada al Quran dan Hadis.Seakan akan mengambarkan bahawa imam imam mazhab tidak berpegang kepada al Quran dan Hadis.Sedangkan mereka sangat amanah dan sangat berhati hati dan teliti dengan al Quran dan Hadis saperti yang di sebut dalam al Quran yang bermaksud :

“Sesungguhnya yang menaruh bimbang dan yang takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hambaNya adalah orang orang yang berilmu (ulama).”( Surah Fathir ayat 28).

Rasulullah SAW pula menyebut “Sebaik baik kurun ialah kurunku, kemudian mereka yang selepas kurunku, kemudian mereka yang mengiring kurun itu pula.” (HR Bukhari dan Muslim).

Imam imam mazhab iaitu imam Hanafi lahir pada 80H, imam Malik lahir pada 93H, imam Shafie lahir pada 150H dan imam Ahmad lahir pada 164H.Cuba perhatikan, tarikh lahir dan hidupnya mereka, tepat berada di dalam lingkungan kurun yang terbaik saperti yang disebut dalam hadis tersebut.Bahkan mereka semua terkenal dengan kesolehan, kewarakan, kepintaran, dan ketinggian di dalam berbagai bidang ilmu Islam.Kebolehan dan kehebatan mereka dalam bidang ilmu menjadi ikutan dan panduan oleh umat sepanjang zaman.Mereka adalah Mujtahid Mutlak.Bererti mereka adalah orang yang paling faham tentang al Quran dan Hadis dan menguasai 4 sumber hukum ini secara mendalam dan terperinci. Penguasaan mereka dalam bidang ini tidak dapat di pertikaikan.Mereka adalah salafu soleh, golongan yang di jamin oleh Rasulullah SAW.

Tiba tiba hari ini ada pula golongan ustaz yang jenis suka mengintai intai kelemahan imam imam mazhab tersebut lalu menghebahkan kelemahan kelemahan itu kepada umum.

Persoalan yang sentiasa berlegar di mind orang awam, ialah, adakah golongan ini bertaraf mujtahid di kurun ini yang membolehkan mereka berfatwa dengan fatwa yang bertentangan dengan fatwa imam imam mujtahid terdahulu? Dan adakah PHD yang mereka miliki, hasil dari berguru dengan orientalis dari universiti saperti universiti Kent atau universiti Scotland menjadikan mereka lebih hebat daripada imam imam mujtahid itu?

Adakah kita (orang awam) perlu berpegang kepada pendapat baru mereka dan tinggalkan pendapat imam mazhab yang kita anut selama ini (mazhab Shafie)? Dengan lain perkataan, adakah kita perlu bermazhab dengan mazhab “baru” yang di bawa oleh golongan ini? 

20 March 2012 Posted by | Renungan & Teladan | , , , | Leave a comment

   

%d bloggers like this: