Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Tidak tunai tanggungjawab selaku isteri

Saya mempunyai beberapa soalan berkaitan tanggungjawab isteri.

Pertama, apakah hukumnya jika seorang isteri tidak menjalankan tanggungjawab sepenuhnya seperti menjaga makan, minum dan pakaian suami?

Kedua, apakah hukumnya jika isteri suka mengeluarkan kata-kata kesat terhadap suami?

Ketiga, apakah hukumnya jika suami memberikan nafkah zahir seperti wang sekadar mencukupi kepada isteri kerana selebihnya digunakan untuk membayar hutang?

Keempat, apakah hukum suami membiarkan isteri yang nusyuz tanpa mendapat sebarang layanan bertahun-tahun lamanya, dan hanya memberi nasihat tetapi tidak diendahkan isteri?

Terakhir, apakah hukum isteri yang nusyuz? Adakah layak baginya menerima hak suami seperti wang dan sebagainya?

SHAMSUL, Batu Gajah, Perak

Tanggungjawab dalam rumah tangga terbahagi kepada tiga iaitu tanggungjawab suami, tanggungjawab isteri dan tanggungjawab bersama.

Namun, tanggungjawab yang paling besar ialah terhadap ketua keluarga yang dinamakan suami atau bapa.

Tanggungjawab ini saudara boleh rujuk dalam kitab, majlis ilmu atau sumber maklumat lain.

Di sini dibawakan dua maksud daripada al-Quran, firman Allah SWT: “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah SWT telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan kerana mereka (lelaki) telah menafkahkan sebahagian daripada harta mereka.

“Sebab itu maka wanita soleh ialah yang taat kepada Allah SWT lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh kerana Allah SWT memelihara (mereka).

“Wanita yang kamu khuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka.

“Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (surah an-Nisa, ayat 34)

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah daripada harta yang diberikan Allah SWT kepadanya.

“Allah SWT tidak memikulkan beban pada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah SWT berikan kepadanya. Allah SWT kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (surah al-Thalaq, ayat 7)

Sebelum pergi jauh mempertikaikan tanggungjawab isteri, adakah suami telah melaksanakan tanggungjawabnya seperti mengajar, membimbing dan memberikan pendidikan agama?

Sebelum suruh menjaga makan minum dan pakaian, sudahkan suami menyediakan kelengkapan dapur dan keperluan makan minum? Wallahualam.

Isteri yang mengeluarkan kata kesat terhadap suami adalah berdosa dan boleh dihukum nusyuz, namun kenapa perkataan demikian dikeluarkan? Wallahualam.

Nafkah secara zahirnya tidak boleh dipertikaikan, ia rezeki daripada Allah SWT selepas berusaha sebaik-baiknya.

Isteri seharusnya memahami dan menerima seadanya. Inilah dikatakan perkongsian rumah tangga.

Sudah pasti isteri seperti ini memahami agama dan bertanggungjawab.

Sabarlah dan didiklah isteri dengan meletak harapan untuk berubah. Didik mereka memahami agama dan adab berumah tangga.

Mintalah nasihat daripada mereka yang berpengalaman dalam rumah tangga.

Jangan suami terlalu banyak menghukum, carilah puncanya masalah dan selesaikan. Penting bagi suami mengadu kepada Allah SWT dalam doa dan munajat supaya mendapat jalan penyelesaiannya. Akhirnya hanya pada Allah SWT tempat mengadu.

Oleh Ustaz Haslin Baharin

Artikel ini disiarkan pada : Ahad, 15 Februari 2015 @ 1:42 AM

2018 © Harian Metro.
New Straits Times Press (M) Bhd.

27/10/2018 Posted by | Fiqh, Ibadah, Muamalat (Keluarga), Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Ancaman Bagi Istri Yang Tidak taat Suami

Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki datang menghadap kepada para shahabat Rasulullah. Dia menyampaikan kepada shahabat tentang hal-hal yang terjadi atas istrinya. Salah seorang shahabat menanggapi pengaduan laki-laki tersebut dengan memberikan keterangan yang dia dengar dari Rasulullah Saw. kemudian (setelah lewat beberapa waktu) para shahabat mengirimkan keterangan-keterangan yang diperoleh dari beliau Nabi Saw. kepada istri laki-laki tersebut bersama Khuzaifah bin Al-Yaman ra. Adapun keterangan-keterangan itu antara lain adalah sebagai berikut: “Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

لو أمرت أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها
“Apabila aku diperintahkan agar seorang bersujud kepada orang lain, maka pasti aku perintahkan wanita (istri) sujud kepada suaminya.”

Dari shahabat Umar ra. Rasulullah Saw. bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ رَفَعَتْ صَوْتَهَا عَلَى زَوْجِهَا إِلاّ لَعَنَهَا كُلُّ شَيْئٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَمْسُ
“Wanita manapun yang mengeraskan suaranya melebihi suara suaminya, maka setiap sesuatu yang terkena sinar matahari akan melaknat dia, kecuali dia mau bertaubat dan kembali dengan baik.”

Dari shahabat Ustman bin Affan ra. Rasulullah Saw. bersabda:
لوأن إمرأة ملكت الدنيا كلها وانفقتها على زوجها ثم منت بذلك عليه إلاّ أحبط الله عملها وحشرها مع فرعون
“Apabila seorang wanita memiliki seluruh dunia ini, kemudian dia nafkahkan kepada suaminya, setelah itu dia mengumpat suaminya karena nafkah tersebut, maka selain Allah Swt. melebur amalnya, dia juga akan digiring bersama Fir’aun.”

Dari Ali bin Abi Thalib ra. Rasulullah Saw. bersabda:
لو أنّ امرأة طبخت ثديها وأطمعتهما زوجها ما ادت حقّها
“Andaikata seorang wanita memasak kedua buah dadanya, kemudian dia memberi makan suaminya dengan keduanya itu, maka hal itu belum dapat menyempurnakan haknya sebagai istri.”

Dari shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra. Rasulullah Saw. bersabda:
أيمّا امرأةٍ أخذت من متاع زوجها شيأً إلاّ كان عليها َوِزْرٌ سبعين سارقاً
“Wanita mana pun yang mengambil barang-barang suaminya, maka baginya dosa tujuh puluh kali sebagai pencuri.”

Dari shahabat Abdullah bin Abbas ra. Rasulullah Saw. bersabda:
أيمّا امرأةٍ كان لها مالٌ فطلبه منها زوجها فمنعته منه إلاّ منع الله يوم القيامة ما عنده
“Wanita mana pun yang memiliki harta, kemudian suaminya meminta harta itu dan dia menolaknya, maka Allah Swt. akan mencegahnya kelak pada hari kiamat untuk mendapatkan apa yang ada disisi Allah Swt.”

Dari Ibnu Mas’ud ra. Rasulullah Saw. bersabda:
أيمّا امرأةٍ خانت زوجها في بيتها أو فراشها إلاّ أدخل الله عليها في قبرها سبعين ألف حيةٍ وعقربٍ يلعسونها إلى يوم القيامة
“Wanita manapun yang di rumahnya tidak jujur terhadap suaminya atau tidak setia di tempat tidur suaminya, maka Allah Swt. pasti akan memasukkan ke dalam kuburnya tujuh puluh ribu ekor ular dan kalajengking yang menggigitnya sampai pada hari kiamat”

Dari shahabat Amr bin Ash ra. rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang tidak setia ditempat tidur suaminya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam neraka, kemudian dari mulutnya keluar nanah, darah, dan nanah busuk.”

Dari shahabat Anas ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang berdiri bersama selain suaminya, dan orang lain itu bukan muhrimnya, maka Allah Swt. pasti akan menyuruhnya berdiri di tepi neraka Jahannam dan setiap kalimat yang diucapkan akan tertulis baginya seribu kejelekan.”

Dari shahabat Abdullah bin Umar ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang keluar dari rumah suaminya (tanpa izin) maka setiap benda yang basah dan kering akan melaknatinya.”

Dari shahabu Thalhah bin Abdullah ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang berkata kepada suaminya, ‘Aku sama sekali tidak pernah mendapatkan kebaikan darimu’, maka Allah swt. akan memutuskan rahmat-Nya darinya.”

Dari Zubair bin Al-Awwam ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang terus-menerus menyakiti hati suaminya sampai suaminya menjatuhkan talak, maka siksa Allah Swt. tetap padanya”

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang memaksa suaminya diluar batas kemampuannya, maka Allah Swt. pasti menyiksanya bersama dengan orang Yahudi dan Nasrani.”

Dari Sa’id Musayyab ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang meminta sesuatu kepada suaminya, sementara dia tahu bahwa suaminya tidak mampu untuk itu, maka Allah Swt. kelak pada hari kiamat pasti akan meminta diperpanjang penyiksaan kepadanya”

Dari shahabat Abdullah bin Amr ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang wajahnya cemberut didepan suaminya, maka kelak pada hari kiamat dia datang dengan muka yang hitam, kecuali kalau dia bertaubat atau ceria.”

Dari Ubaidah bin Al-Jarrah ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang membuat suaminya marah, sementara dia sendiri zalim atau marah kepada suaminya,maka Allah Swt. tidak akan menerima ibadah fardhu dan sunnah darinya”

Dari Abdullah bin Masud ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Allah Swt. melaknat wanita-wanita yang mengulur waktu. Ditanyakan, ‘Siapakah wanita-wanita yang mengulur-ulur waktu itu ya Rasulallah?’ Rasulullah Saw. menjawab,’Dia adalah wanita yang diajak suaminya tidur, kemudian dia mengulur-ulur waktu untuk tidur bersamanya dan sibuk dengan urusan lain, hingga suaminya tertidur.”

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang memandang wajah suaminya dan tidak tersenyum, maka sesungguhnya dia tidak akan melihat surga selamanya, kecuali dia bertaubat dan menyadarinya hingga suami meridhainya”

Dari shahabat Salman Al-Farisi ra. Rasulullah Saw. bersabda: ”
Wanita manapun yang menggunakan wangi-wangian dan merias diri, kemudian keluar dari rumahnya, maka dia pasti keluar bersama murka Allah Swt. dan kebencian-Nya, hingga dia kembali ke rumahnya.”

Dari shahabat Bilal bin Hamamah ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang melakukan shalat dan puasa tanpa izin suaminya, maka pahala shalat dan puasanya itu bagi suaminya, dan baginya adalah dosa.”

Dari Abu Darda’ ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang membuka rahasia suaminya, maka kelak pada hari kiamat Allah Swt. akan mencemooh dia didepan para makhluk, demikian juga ketika di dunia sebelum di akhirat.”

Dari Abu Said Al-Khudri ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Wanita manapun yang melepas pakaianya di selain rumah suaminya, maka dosa semua orang yang telah mati dibebankan kepadanya, dan Allah Swt. tidak akan menerima amal fardhu maupun sunnahnya.”

Dari shahabat Abbas bin Abdul Muthalib ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Diperlihatkan kepadaku neraka, maka aku lihat kebanyakan penghuninya adalah wanita. Hal itu tidak akan terjadi, kecuali mereka (wanita-wanita) banyak berdosa terhadap suami-suami mereka.”

Dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah Saw. bersabda:
“Sebagian tanda ridha Allah Swt. kepada wanita adalah suaminya ridha padanya”

Terjemahan Kitab Qurratul ‘Uyuun

Sumber

17/10/2018 Posted by | Fad hail Amal, Muamalat (Keluarga), Tazkirah | Leave a comment

MENGENALI KAUM TUA (ASYA’IRAH DAN MATURIDIYAH)

Secara umumnya, Kaum Tua boleh didefinasikan sebagai ulama-ulama muktabar tradisional yang alim, berpengetahuan luas, mempunyai keahlian dalam selok belok agama, menjaga amanah ilmiyah, berpegang kepada pengajian bertalaqqi secara bersanad yang diwarisi daripada Rasulullah, sahabat, para tabien, tabi’ tabieen sehinggalah sampai ke tanah melayu kita.

Selain itu juga mereka dikaitkan dengan kitab kuning (lama)kerana mementingkan keaslian sumber yang dipakai betul-betul daripada Ulama’ Islam terdahulu, tidak diubah sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum Muda [wahhabi]. Sesuai dengan konsep bertalaqqi, ulama’-ulama’ ini sebagaimana biasanya melihat sirah atau masa lampau (salaf) sebagai sumber inspirasi atau sesuatu yang harus dipertahankan.

Kaum Tua di Nusantara, samada ulama silam di Malaysia, Indonesia, Brunei mahupun di Patani, akur bahawa rujukan dalam Islam yang paling utama ialah AL-QURAN dan AL-HADIS. Namun dalam masa yang sama sumber-sumber yang lain seperti IJMA’ ULAMA dan QIYAS AS-SHAHIH tidak kurang pentingnya kerana ianya amat diperlukan di antara satu sama lain. Oleh itu, Kaum Tua [ulama’ Islam] bersepakat bahawa sumber pensyari’atan Islam yang menjadi dustur (perlembagaan) Umat Islam terdapat 4 elemen iaitu AL-QURAN, HADIS, IJMAK ULAMA’ dan QIYAS AS-SHAHIH.

Selain dari itu, mereka menolak keras untuk menentukan segala persoalan Islam berdasarkan pemikiran otak semata-mata, bahkan hujah akal itu hanya boleh digunakan sebagai syahid kepada syara’ (bukti kebenaran syara’) sahaja.

Dari sudut akidah, Kaum Tua menjadikan garisan akidah dua tokoh Imam Besar sebagai pegangan. Kedua-dua imam tersebut ialah Imam Abul Hasan al-Asy’ari[1](260 H/873 M – 324 H/935 M) dan Imam Abu Mansur al-Maturidi[2] (wafat 333 H/944 M) yang mana kedua akidah tokoh ini diiktiraf oleh Rasulullah Shollahu alaihi wasallam.

Dari sudut fiqh pula, Kaum Tua menjadikan empat orang Ulama Besar sebagai rujukan utama iaitu : Imam Hanafi (80 H/699 M – 150 H/767 M), Imam Maliki (93 H – 179 H), Imam Syafi’ie (150 H/768 M – 204 H/820 M) dan Imam Hanbali (164 H – 241 H). Manakala dalam tasawuf pula ialah Sheikh Junaid al-Baghdadi (wafat 297 H/910M) dan Sebahagianya mengambil rujukan al Imam Al Ghazali ( Wafat 450 H).

Berhubung dalam permasalahan fiqh di Nusantara, kebanyakan Ulama-Ulama Nusantara memilih Mazhab Syafie sebagai rujukan utama.

Mencari keberkatan adalah misi utama bagi Kaum Tua ini di Nusantara. Kebanyakan mereka mengelakkan diri supaya tidak menerima gaji dan sebelum itu guru-guru pondok hanya menerima sumbangan sama ada daripada orang ramai mahupun menerima sumbangan dari kutipan zakat sahaja. Mereka amat berhati-hati dalam menerima pemberian atau mencari rezeki.

Antara Kaum Tua yang lahir hasil dari didikan Institusi Pondok yang tawadhuk di Nusantara ini ialah ;

MALAYSIA

1. Syeikh Abdullah Fahim (Pulau Pinang)
2. Dato’ Tg Dato’ Hj Ahmad Maher
3. Sheikh Abdul Halim
4. Syeikh Idris Al-Marbawi (Perak)
5. Tuan Guru Hj Abdullah Tahir Bunut Payung, Kelantan
6. Sheikh Wan Ali Kutan Al-Kalantani (beliau terkenal dengan kitab karangannya ; Al-Jauharul Mauhub wa Munabbihatul Qulub (Mengenai Hadis) juga pernah mengajar di Masjidil Haram Mekah).
7. Tuan Guru Haji Ahmad bin Haji Muhammad Yusuf bin Sheikh Abdul Halim Al-Kalantani.
8. Tok Selehong (Hj. Abdul Rahman Bin Hj. Osman)
9. Khatib Kelantan.
10. Tuan Guru Hj Awang Fakir.
11. Tuan Guru Hj Yahya Kupang.
12. Tok Kenali (Haji Muhammad Yusuf Bin Ahmad Al-Kalantani)
13. Haji Ali Pulau Pisang (1899-1968) (Hj. Mohd Ali Solahuddin Bin Awang)
14. Hj. Abdul Malek Sg. Pinang, Hj. Yusof Sg. Pinang (kemudian lebih dikenali dengan nama Tok Pulau Ubi),
15. Tok Padang Jelapang,
16. Tok Bachok, (Kelantan)
17. Haji Ismail Pontianak (1882-1950, (Hj. Ismail bin Hj. Abdul Majid)
18. Tok Seridik.
19. Tok Kemuning (di Pulau Kundor),
20. Haji Abdul Malek Sungai Pinang (1834-1934), Kelantan
21. Hj. Idris, Dato’ Perdana Hj. Nik Mahmud (Kelantan)
22. Tuan Guru Ahmad Al-Kalantani
23. Hj. Omar Sg. Keladi,
24. Pak Chik Musa,
25. Hj. Yaakob Legor dan Hj. Ahmad Hafiz
26. Tok Pulai Condong
27. Tok Pulau Ubi (Yusuf Abdul Rahman)
28. Tuan Guru Haji Abdullah (Haji Abdullah Bin Haji Abdul Rahman)
29. Ahmad bin Aminuddin Qadhi (Kedah)
30. Tg. Pakcu Him Gajah Mati ( Kedah)
31. Syeikh Uthman Jalaluddin Al-Kalantani
32. Syeikh Utsman Jalaludin, pengasas Pondok Penanti Pulau Pinang
33. Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Husein Al-‘Aiderus (Terengganu)
34. Sheikh Muhammad Amin atau Tok Duyung (menjadi ulama terkenal Terengganu)
35. Wan Abdullah Tuan Tabal
36. Tok Syafie Kedah
37. Tuan Guru Haji Abdullah Lubuk Tapah (Kelantan)
38. Bekas Mufti Sabah Said Hj Ibrahim.
39. Tuan Guru Baba Hamid
40. Mufti Kerajaan Johor, Allah Yarham Al’Allamah Dato’ Sayyid ‘Alawiy Bin Thahir.
41. Tuan Guru Haji Hasyim, Tok guru Pondok Pasir Tumbuh Kelantan.
42. Tuan Guru Pok cik Din al-Kelantany ( Tok guru penulis) . Beliau tinggal di Kulim, Kelantan.
43. Tuan Guru Wan Mohd. Shaghir bin Abdullah
44. Sultan Allauddin Sulaiman Syah Sultan Selangor ke 5 (mengarang kitab pohon Ugama)
45. Sultan Iskadar syah Sultan Perak (Mengarang Risalah Iskandariyah)
46. Syeikh Abdul Latif Thamby Ulama Melaka
47. Tengku Mahmud Zuhdi Bin Tunku Abdul Rahman ( Mufti selangor pertama di bawah pemerintahan Sultan Alauddin Sulaiman Syah)
48. Dan Ramai Lagi.

PATANI (THAILAND)

1. Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani
2. Sheikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani
3. Sheikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani
4. Sheikh Abdur Rahman Gudang (murid kepada Sheikh Ahmad al-Fathani)Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani.
5. Sheikh Abdul Mubin al-Fathani
6. Sheikh Abdur Rahman Pauh Bok al-Fathani ‘Tok Lubuk’.
7. Sheikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim al-Fathani atau Tok Bukit Bayas.
8. Sheikh Wan Hasan bin Wan Ishaq al-Fathani
9. Sheikh Muhammad Nur al-Fathani (seorang ulama dan Kadi Mekah pada zamannya)
10. Pak Chik Wan daud Pattani
11. Syeikh Abdullah Bin Abdul Mubin Al-Fatani
12. Tok Cha-ok @ Hj. Abdullah bin Mohd Akib.
13. Sheikh Muhammad bin Ismail bin Ahmad al-Fathani @ Sheikh Muhammad Shaghir al-Fathani Sheikh Nik Mat Kecik al-Fathani)
14. Muhammad Husein bin Abdul Lathif (Tok Kelaba). Beliau adalah murid kepada Sheikh Ahmad al-Fathani.
15. Tengku Mahmud Zuhdi bin Tengku Abdur Rahman al-Fathani
16. Sheikh Muhammad bin Abdul Qadir al-Fathani
17. Sheikh Yahya Legih ar-Ramani al-Fathani,
18. Sheikh Ismail / Pak De ‘El bin Abdul Qadir al-Fathani,
19. Sheikh Muhammad Nashir al-Fathani.

*BRUNEI DARUSSALAM*

1. Pehin Orang Kaya Di Gadong Awang Syihabuddin. 2. Ramai lagi..

INDONESIA

1. Sheikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni.
2. Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani
3. Haji Abdur Rahman Shiddiq bin Muhammad Afif al-Banjari, Mufti Kerajaan Inderagiri.
4. Sheikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari
5. Sheikh Shafiyuddin (Tok Raja Faqih).
6. Sheikh Muhammad Sa’id
7. Sheikh Muhammad Nafis bin Idris bin Husein al-Banjari
8. Kiai Haji Muhammad Shalih al-Fathani (pegawai tinggi di Departmen Agama Republik Indonesia)
9. Teungku Daud Beureueh (1896-10 Juni 1987) . Beliau termasuk salah seorang keturunan ulama Patani yang berhijrah dari Patani ke Aceh pada zaman dulu.
10. Sheikh Nuruddin ar-Raniri
11. Sheikh Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid Bogor,
12. Sheikh Abdul Qadir bin Shabir al-Mandaili
13. Sheikh Abdul Haq.
14. Syeikh Jalaluddin Al-Asyi.
15. Syeikh KH. Muhammad Ihsan al-Jembasi dari Jampes Kediri Jawa timur.
16. Syeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (W 1366 H/1947 R), Penubuh Nahdhatul Ulama dari Jombang Jawa Timur
17. Syeikh KH. Ali Maksum(W 1989 R), antara Penubuh ‘am Nahdhatul Ulama IV dari Yogyakarta Jawa Tengah
18. Syeikh KH Abu al-Fadhl bin Abd asy-Syakur, dari Senori Tuban Jawa Timur (seorang wali yang terkenal di indonesia).
19. Syeikh KH. Ahmad Abdul Hamid dari Kendal Jawa Tengah.
20. Syiekh KH. Siradjuddin ‘Abbas (W 1401 H/1980 R).
21. Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid ash-Shaulati (W 1997 R) Ampenan Pancor Lombok NTB.
22. Syeikh K.H. Muhammad Muhajirin Amsar ad-Dari (W 2003 R) dari Bekasi, Jawa Barat.
23. Al Habib Syiekh al-Musawa ibn Ahmad al Musawa as-Saqqaf; Penasihat Umum Perguruan Tinggi dan Perguruan Islam Az-Ziyadah Klender Jakarta Timur.
24. Syeikh KH. Muhammad Syafi’i Hadzami Mantan Ketua Umum MUI Propinsi DKI Jakarta 1990-2000.
25. Syeikh KH. Ahmad Makki Abdullah Mahfudz Sukabumi Jawa Barat.
26. Syiekh Abdullah Tha’ah Indunisi
27. Syiekh Ahmad Khathib al Minangkabawi, Seorang Imam Madzhab Syafi’i di Makkah asal Minangkabau.
28. Syiekh Muhammad Ali Khathib Minangkabau, Murid Syiekh Ahmad Khathib al Minangkabawi.
29. Syiekh Abdul Halim ibn Ahmad Khathib al Purbawi al Mandayli, Murid Syiekh Mushthafa Husein, pendiri Pon-Pes. al Mushthafawiyyah, Purba Baru, Sumut.
30. Syiekh Abdul Majid Ali (W. 2003) Kepala Kantor Urusan Agama Daerah Kubu-Riau, Sumatera. Salah seorang ulama yang sangat berkarisma dan terkenal di daerah tersebut.
31. Kiyai Muhyiddin Fattah, Ketua Pengurus Besar Syabab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Jakarta.
32. Kiyai Choirul Ansori, Ketua Dewan Pengurus Syuriah Syabab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Jakarta.
33. Syeikh K.H. Abdul Qadir Lubis, pimpinan Pon.Pes. Dar at-Tauhid, Mandailing-Sumut (W. 2003).
34. Syeikh K.H. Muhammad Sya’rani Ahmadi Kudus Jawa Tengah.
35. Syeikh K.H. Muhammad Mashduqi Mahfuzh, Ketua Umum MUI Jawa Timur.
36. Kiyai Hj. Mastuqi Mahfudz Malang, Jawa Timur ( Menentang Kaum Muda di Indonesia)
38. Ustadz Khoiruddin Wonokusumo Surabaya, Jawa Timur.
39. Dan Ramai lagi

Cara pengajian yang dianjurkan oleh Kaum Tua yang mementingkan sistem bertalaqqi, menimba ilmu dengan guru yang betul-betul tsiqah, dan secara pengambilannya bersanad kepada Rasulullah adalah suatu manhaj yang jelas di samping dapat menjaga kemurnian akidah dan ilmu-ilmu cabangan daripada pengubahsuaian, pembaharuan Agama Islam kepada ajaran yang menyeleweng, ijtihad yang membabi-buta tanpa ada keahlian dan kelayakan, menshahihkan dan mendhaifkan hadis tanpa panduan dan keahlian, mencampur-adukkan agama Islam dengan ajaran mujassimah, dan membuka ruang dan pintu kemurtadan di kalangan muda-mudi.

Oleh kerana mereka mengetahui ilmu pengetahuan mereka kurang berbanding para Imam empat mazhab [ Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’e, dan Imam Hanbali] yang berstatus mujtahid mutlak, kaum tua menganjurkan taqlid dalam bermazhab kerana mereka memahami bahawa ulama’ ushul meletakkan syarat yang ketat untuk seseorang itu berijtihad. Berijtihad bukan kerja sebarangan orang, bukan hanya sekadar mengetahui bahasa Arab, bukan juga bermakna tamat daripada Universiti Al-Azhar atau Universiti Madinah maka seseorang itu dikira Mujtahid sebaliknya dia perlulah mempunyai keahlian yang mantap, keilmuan yang tinggi serta pakar dalam beberapa ilmu tertentu sebagaimana yang disyaratkan oleh Ulama’ Muktabar. Pendek kata, sistem ini sememangnya mempertahankan tradisi asal pengambilan ilmu pengetahuan dan ketulenan sumber ilmu tersebut serta membenteras dari sebarang pemalsuan dan penyelewengan.

KAUM MUDA [PENDOKONG-PENDOKONG AJARAN IBN TAYMIYAH DAN AJARAN WAHHABIYAH]

📍Kaum Muda pula definisikan sebagai golongan yang menentang ajaran-ajaran ulama-ulama’ terdahulu, membangkang mazhab yang empat, membenci tradisi bertaqlid, menyeru masyarakat supaya melakukan ijtihad dalam agama tanpa ada panduan dan keahlian, mengajak umat supaya melakukan pembaharuan di dalam agama di samping meninggalkan ajaran-ajaran ulama’ terdahulu, membantah dengan keras cara mengamalkan agama dengan cara bermazhab sebaliknya menyeru masyarakat Islam meninggalkan mazhab yang muktabar dan mengikut telunjuk 3 tokoh kesayangan mereka ; Ibn Taymiyah, Muhammad Abdul Wahhab dan Al-Albaani.

Kaum muda ini sentiasa melaungkan slogan kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadis kepada orang awam dalam masa yang sama memberi gambaran buruk bahawa Kaum Tua pula sebagai penentang Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka melihat amalan tradisi yang diwarisi daripada ulama’ dahulu dan Masyarakat Islam sejak berzaman-zaman seperti Talqin, sambutan maulidurrasul, mengamalkan tarekat kesufian, dan bacaan Al-Quran selepas kematian sebagai bid’ah dan khurafat. Oleh kerana itu, timbul rasa kebencian, permusuhan dan sikap tidak puashati mereka dengan kaum Tua. Rasa permusuhan inilah yang menyebabkan sesetengah kaum Muda menceburkan diri di dalam politik bagi mencari kekuatan dalam menangani aliran Kaum Tua dan menyekat pergerakan mereka supaya terbantut.

Melalui pemikiran islah dan pembaharuan, mereka menagih simpati dan pengaruh masyarakat supaya membebaskan diri daripada terpengaruh dengan Kaum Tua. Islah dan tajdid yang dianjurkan oleh Kaum Muda dan dilaungkan ke sana ke sini sebenarnya bukan bererti memperbaiki atau membersihkan Islam daripada pemalsuan dan penyelewengan sebagaimana yang diwar-warkan sebaliknya ianya adalah suatu seruan dan ajakan kepada orang ramai supaya memperbaharui agama mereka dengan mengamalkan Islam mengikut acuan pemikiran Ibn Taymiyah dan Muhammad Abdul Wahhab. Bertitik-tolak dari sinilah Kaum Muda tanpa malu dan segan mewar-warkan usaha-usaha atas nama pengislahan.

Gerakan tajdid yang telah disalah-ertikan oleh Kaum Muda ini berkait rapat sekali dengan usaha mereka dalam melakukan ijtihad yang membabi-buta. Tajdid anjuran mereka ini mendokong konsep logik akal semata-mata, mereka cuba memberanikan diri melakukan ijtihad tanpa mengetahui perkara tersebut zanniyyah ataupun qat’iyyah, oleh kerana itulah kita melihat Ibn Taimiyah itu sendiri [bapak kepada Kaum Muda] seringkali melampaui batasan ini sehingga berani memberikan pandangan yang berupa ijtihad lantas bercanggah dengan nas-nas yang sudah qath-I seperti dia mengatakan ;

– Allah Duduk Bersemayam Di atas Arasy
-Allah serupa makhluk
-Alam Itu Azali Dengan Jenisnya
-Neraka Dan Penghuninya Tidak Akan Kekal Bahkan Ianya Pada Pandangannya Akan Binasa Selama-Lama
-Mengatakan Allah Ta’ala Berarah Dan Bertempat,
-Mengatakan Allah Mempunyai Jisim.
-Mengkafirkan amalan-amalan soleh sperti bertabbaruk, bertawasul, tahlil, ziarah kubur, doa selepas solat dan lain-lain.*
Dan Banyak Lagi.

Dari sudut sejarah, pertumbuhan aliran Kaum Muda ini dikatakan bermula pada abad ke-17M dan 18M iaitu merujuk kepada peranan Muhammad bin Abdul Wahhab (1703M-1787M). Tetapi sebenarnya aliran reformasi ini sudahpun bermula jauh sebelum itu iaitu ketika kemunculan Ibnu Taimiyyah (1263M-1328M).

Perkembangan aliran bercelaru ini terus membiak dengan kemunculan beberapa orang tokoh yang sinonim dengan gerakan ini. Antaranya ialah Jamaluddin al-Afghani (1838M-1897M), Muhammad Abduh (1849M-1905M) dan Rasyid Redha (1865M-1935M).

Menurut sesetengah pendapat, pemikiran tokoh-tokoh ini akhirnya mempengaruhi beberapa penuntut Melayu yang belajar di Timur Tengah pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20.

Dalam konteks Tanah Melayu, gerakan Kaum Muda ini bermula dari Selatan iaitu Singapura seterusnya merebak ke Pantai Barat dan Kelantan merupakan antara lokasi terakhir yang berjaya diserapi oleh idea-idea Kaum Muda. Di antara tokoh-tokoh yang boleh disifatkan sebagai Kaum Muda ialah Muhammad Tahir Jalaluddin (1869M-1956M), Muhammad Salim al-Kalali, Syed al-Hadi (1867M-1934M), Syed Muhammad Aqil dan Haji Abbas Mohd Taha. Mereka ini bergabung untuk menerbitkan majalah al-Imam (1906M-1908M) iaitu mirip majalah al-Manar dari sudut semangat dan prinsipnya. Selain dari mereka, Burhanuddin al-Hilmi, Abbas Taha dan Za’ba sendiri merupakan tokoh-tokoh pemikir yang mempunyai serapan pemikiran kaum Muda ini.

Bagaimanapun segala usaha merka ini terhenti disebabkan Kerajaan Malaysia mengambil tindakan keras terhadap pihak yang cuba mencetuskan huru-hara di Tanah Melayu.

Selain itu juga, tokoh baru yang cukup gigih di dalam memperjuangkan pemikiran Kaum Muda . Mereka banyak menterjemahkan kitab-kitab tokoh-tokoh Kaum Muda seperti kitab karangan Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Ibn Taymiyah, Al-Albaany dan banyak lagi.

Kerosakan hari ini di bawa oleh kaum muda lebih membimbangkan di Malaysia kerana faktor persikitaran politik Malaysia yang cenderung kepada liberalisasi, kerana Wahabi lebih kaya dan mereka memiliki dana yang kuat untuk berpolitik.

Dalam masa yang sama, kejahilan maysrakat yang semakin membimbangkan faktor penyumbang utama bagi kaum wahabi untuk lebih agresif. Lebih lagi zaman moden yang berkiblatkan hiburan sangat mesra dengan wahabi kerana hiburan di sisi wahabi satu perkara yang di galakan.

Justeru masyrakat yang kurang pengetahuan ugama, di tambah pula nila-nila kerosakan daripada bahan-bahan hiburan menjadi punca kerosakan yang semakin membimbangkan.

Dengan itu memudahkan golongan Wahabi menyelinap secara halus kedalam masyarakat seterusnya merosakan Aqidah orang melayu secara umumnya.

*HAMBA ALLAH*
_165/66/1311_

23/09/2018 Posted by | Informasi, Muamalat (Keluarga), Politik dan Dakwah, wahabi | Leave a comment

Ikat Hubungan Kekeluargaan Kita Dengan Agama.

Ikat hubungan kekeluargaan kita dengan agama. Percayalah! kelak kita akan menemui kebahagiaan.
.
Bahagia itu adalah milik Allah SWT secara mutlak. Oleh kerana itu, barangsiapa yang menginginkan bahagia dalam keluarganya, maka hendaklah dia mengikuti acuan agama yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
.
Pastikan kita dan setiap ahli keluarga kita berusaha mendapatkan didikan agama yang sebaik baiknya kerana permulaan bagi langkah menuju kepada keluarga yang bahagia adalah dengan memahami hukum hakam agama.
.
Hubungan kekeluargaan yang tidak diikat dengan agama akan menjadi amat rapuh sekali. Lalu mudahlah untuk diruntuhkan dan dirosakkan oleh godaan syaitan dan nafsu.
.
Ini kerana mereka tidak mengetahui hukum hakam dalam urusan kekeluargaan. Jika berlaku perselisihan dan permasalahan, sudah pasti menyebabkan mereka celaru dan bingung untuk mendepaninya.
.
Akhirnya berlaku pertengkaran dan pergaduhan di dalam keluarga yang menyebabkan hilangnya ketenangan dan keharmonian sebuah keluarga.
.
Kesan daripada hubungan kekeluargaan yang tidak diikat dengan agama ini sangat banyak jika difikirkan. Bercerai berai, anak anak derhaka, sumbang mahram, memutuskan hubungan sillaturrahim dan banyak lagi.
.
Dan kesan daripada keruntuhan sebuah institusi kekeluargaan ini juga akan menjadikan masyarakat lemah dan tidak berkualiti untuk menjadi khalifah yang mentadbir dunia ini mengikut acuan agama.
.
Malahan, menyumbang pula kepada keruntuhan akhlak dan aqidah yang akhirnya melahirkan generasi manusia yang jauh terpesong daripada Rahmat Allah. Wal’iyyazubillah!
.
Sedarlah bahawa umat manusia diakhir zaman ini sangat tenat dengan kerosakkan aqidah dan jati diri yang telah menyebabkan hilangnya identiti sebagai manusia dan umat yang beragama.
.
Lalu apakah yang tinggal untuk kita mengharapkan keberkatan dan kerahmatan daripada Allah SWT?
.
Oleh kerana itu, ikatlah hubungan kekeluargaan kita dengan agama. Mudah mudahan Allah akan membimbing kita dan ahli keluarga kita benar benar menjalani kehidupan yang menepati kehendak dan perintahNya.
.
Dan setelah itu pula, Allah SWT juga akan menjauhkan kita dan ahli keluarga kita daripada bencana bencana yang tidak kita ingini. Bukankah itu bahagia? Wallahu’alam.

#AkhiAdifGorment
7 September 2018

12/09/2018 Posted by | Muamalat (Keluarga), Tazkirah | Leave a comment

MEMELIHARA NASAB DARIPADA KEKOTORAN ZINA TANGGAPAN TERHADAP FATWA MUFTI PERLIS

Olih: Profesor Madya Dr. Khalif Muammar A Harris.

Pengarah CASIS

UTM

Nasab adalah nikmat yang dikurniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat manusia agar manusia dapat hidup mulia (al-Furqan: 54). Nasab adalah tunjang institusi keluarga dan sebahagian daripada identiti yang mendefinisikan seseorang manusia. Dengan terpeliharanya nasab maka kehormatan seseorang terpelihara. Rasulullah salla’Llah ‘alayhi wasallam sendiri berbangga dengan nasabnya yang luhur, Baginda bersabda: “Aku adalah yang terbaik daripada yang terbaik”, kerana Baginda lahir daripada keluarga terhormat yang merupakan sebahagian kabilah Quraish yang dihormati. Seseorang yang mempunyai nasab yang baik akan dipandang tinggi oleh masyarakat. Sebaliknya seseorang yang bernasab dengan nasab yang tidak baik atau dinafikan daripada bernasabkan kepada bapanya dan dibuang daripada keluarganya adalah suatu penghinaan yang besar dan dianggap telah hilang kehormatan dan kemuliaan diri. Tiada manusia yang rela kehilangan nasab, kerana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan kebanggaan kepada nasab sebagai suatu fitrah dalam diri manusia.

Pemeliharaan nasab (hifz al-nasab atau al-nasl) adalah salah satu daripada Maqasid Shari’ah yang lima. Pemeliharan nasab dan keturunan adalah antara sebab dan alasan mengapa Islam mensyari’atkan perkahwinan dan mengharamkan zina. Dengan perkahwinan yang sah maka nasab atau keturunan seseorang terpelihara daripada tuduhan zina dan kehormatan setiap orang yang terlibat (Ibu, Bapa dan anak) terjaga. Islam sangat teliti dalam penentuan nasab. Telah turun ayat khas yang merubah kebiasaan orang Arab yang menasabkan anak angkat kepada Bapa angkatnya. Hal ini telah berlaku kepada Nabi sendiri yang telah mengambil Zaid bin Harithah sebagai anak angkat sehingga beliau pernah dikenali sebagai Zaid bin Muhammad. Setelah ayat ini turun (al-Ahzab: 4&5). Rasulullah merubahnya dan menetapkan agar umat Islam membuang kebiasaan di zaman jahiliyyah itu. Tujuannya adalah agar kebenaran mengenai nasab seseorang terpelihara, dan tiada kepalsuan dan kezaliman berlaku mengenai nasab seseorang. Telah disepakati oleh para ulama’ bahawa zina bukan sebab untuk menentukan nasab anak zina. Ini kerana Shari’ah Islam tidak mengiktiraf perzinaan tetapi hanya mengiktiraf perkahwinan yang sah. Nikmat nasab hanya diperolehi dengan ketaatan, bukan dengan maksiat. Perzinaan tidak boleh diiktiraf kerana ia bertentangan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan boleh menhancurkan institusi keluarga. Pada umumnya semua agama-agama besar dunia mengharamkan zina dan menganggapnya suatu dosa dan perbuatan terkutuk yang perlu dijauhi. Islam bukan hanya mengharamkan zina tetapi menetapkan hukuman yang berat terhadap pelaku zina, termasuk di antara hukuman ini adalah larangan menasabkan anak zina kepada lelaki yang menyebabkan kelahiran anak zina ini.

Baru-baru ini timbul kekeliruan mengenai hukum menasabkan anak hasil perbuatan zina (anak luar nikah) atau anak tidak sah taraf kepada lelaki yang menyebabkan kelahiran anak ini. Penulis merujuk kepada fatwa yang dikeluarkan oleh Mufti Negeri Perlis Dr Mohd Asri Zainal Abidin yang diwartakan pada tahun 2013, sedangkan fatwa di negeri-negeri lain seperti Negeri Sembilan (1991), Selangor (2005) dan Majlis Fatwa Kebangsaan (MKI 1998 dan 2003) telah menetapkan bahawa anak zina tidak boleh dinasabkan kepada lelaki penzina. Isu ini semakin hangat diperkatakan apabila mahkamah rayuan pada tahun 25 Julai 2017 membenarkan anak tidak sah taraf berbinkan kepada bapanya dan menegaskan bahawa tindakan JPN menolak permohonan untuk menukar nama daripada bin Abdullah kepada nama bapanya adalah tidak sah di sisi undang-undang. Penulis juga merujuk kepada satu temu bual Mufti Perlis Dr. Mohd Asri Zainal Abidin yang disiarkan Utusan Malaysia pada 11 Jun 2017 yang membicarakan fatwa negeri Perlis di atas dan menekankan kebaikan dan maslahat yang tercapai apabila seorang anak luar nikah dinasabkan kepada lelaki yang menyebabkan kelahirannya.

Fatwa Mufti Perlis bersandarkan kepada ijtihad yang dilakukan oleh segelintir ulama’ iaitu Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim dan pandangan ini diikuti oleh Yusuf al-Qaradawi dan Ibn Uthaymin. Ijtihad Ibn Taymiyyah ini bertentangan dengan pandangan majoriti ulama’ Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, empat mazhab dan bahkan mazhab Zahiriyyah.

Ijtihad Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim serta pengikutnya berkisar kepada 5 hujah berikut:

1. Ibn Taymiyyah berpendapat bahawa hadith yang selalu digunakan oleh jumhur ulama’ itu khusus kepada kes di mana ibu anak zina itu berkahwin, adapun dalam kes di mana ibu itu tidak berkahwin maka anak itu boleh dinasabkan kepada lelaki penzina. Hadith tersebut berbunyi: الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الحَجَرُ

Maksudnya: “Nasab anak kepada perkahwinan yang sah. Sedangkan bagi penzina adalah kekecewaan.”

Menurut Ibn Taymiyyah (Majmu’ Fatawa, 32: 113) hadith ini tidak begitu kuat untuk dijadikan hujah kerana yang menjadi persoalan adalah dalam kes di mana ibu tidak memiliki suami, maka “jika seorang wanita tidak bersuami maka hadith tersebut tidak berlaku” dengan demikian anak hasil zina boleh dinasabkan kepada ayah zinanya jika si ayah tidak mengahwini ibunya. Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim telah mentakwilkan hadith tersebut yang dianggap tidak berlaku kepada ibu yang tidak berkahwin.

Melihat kepada teks hadith tersebut jelas bahawa Ibn Taymiyyah hanya menumpukan kepada bahagian pertama hadith iaitu “anak dinasabkan kepada ayah yang mengahwini ibunya”, dan melupakan bahagian kedua iaitu “bagi penzina adalah kekecewaan” yang bermaksud lelaki yang berzina tidak layak untuk mendapat penghormatan sebagai bapa kepada anak hasil zinanya dan dinasabkan kepadanya.

Adapun melihat kepada konteks hadith tersebut, di mana telah berlaku pertikaian di antara Ibn Zam’ah (anak kepada suami yang mengahwini si ibu) dan Saad yang mewakili saudaranya Utbah (yang mengaku sebagai bapa kandung anak tersebut), hujah Saad cukup kuat kerana anak itu lebih mirip kepadanya berbanding Ibn Zam’ah, keputusan Rasulullah salla’Llah ‘alayhi wasallam untuk menasabkan si anak kepada suami yang mengahwini ibunya (Zam’ah) dan melarang untuk menasabkan kepada ayah zinanya (Utbah) adalah keputusan yang umum, tidak terhad kepada kes tertentu sahaja, bahkan berlaku kepada setiap anak yang lahir hasil perzinahan. Jelas di sini bahawa Rasulullah ingin menghukum penzina dengan larangan tersebut. Ibn Taymiyyah tidak memiliki alasan yang kuat untuk menghadkan larangan Rasulullah yang umum ini. Lihat Ahkam al-Qur’an oleh Abu Bakar al-Jassas (3:396).

Jika yang dihujahkan oleh Ibn Taymiyyah adalah hadith itu tidak berlaku kepada ibu yang tidak berkahwin maka pandangan bahawa anak zina boleh dibinkan kepada lelaki penzina tidak berasas kerana hujah di atas adalah khusus kepada ibu yang tidak berkahwin sedangkan ijtihad beliau adalah umum tidak mengira sama ada ibu tersebut berkahwin ataupun tidak.

Lebih menghairankan lagi apabila Ibn Uthaymin untuk memperkuat hujahnya mengatakan bahawa ayah penzina merupakan ayah biologi kepada anak zina dan ini telah menjadi hukum kawni (penciptaan) dan ketentuan Allah maka penasaban ini adalah sesuai dengan Sunnah kawniyyah (Fath zil Jalal 12:318). Beliau dan para pendokong pandangan ini lupa bahawa selain hukum kawni terdapat hukum shar’i. Banyak agama itu hukum kawni, tetapi mengikut agama yang benar itu hukum shar’i. Kerana itu tidak wajar seseorang beranggapan bahawa Allah SWT menciptakan (membiarkan wujudnya) banyak agama, kerana itu semua agama ini benar tidak wajib bagi manusia mengikuti agama yang benar di sisi Allah. Anggapan ini jelas tersasar dan keliru. Demikian juga berlakunya banyak perzinaan dan lahirnya ramai anak luar nikah adalah hukum kawni, tetapi itu tidak bermakna hukum Shari’ah tidak perlu ditegakkan kepada mereka. Kerana seorang Muslim itu tertakluk kepada suruhan dan perintah Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam surah al-A’raf: 54.

2. Hujah kedua adalah tindakan yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn al-Khattab yang dikatakan telah menasabkan anak-anak yang lahir di zaman jahiliyyah kepada bapa-bapa mereka. Hujah ini jelas sangat lemah kerana ia tidak berkaitan secara langsung dengan isu penasaban anak zina. Justeru apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar adalah sesuatu yang normal berdasarkan kepada kaedah bahawa keIslaman seseorang menghapuskan apa yang berlaku sebelumnya. Sehingga kini pun keadaan seseorang itu sebelum Islam tidak diambil kira setelah ia masuk Islam, seorang Muallaf tidak menanggung kesilapan-kesilapan yang dilakukan di zaman sebelum Islam. Sedangkan apa yang dibincangkan adalah setelah seseorang itu menganut agama Islam maka sewajarnya hukum Islam berlaku ke atasnya yang mana di dalam hal ini telah banyak nas (hadith-hadith Nabi) yang menjelaskannya.

3. Hujah ketiga yang digunakan oleh pendapat yang membenarkan adalah kisah Juraij, seorang ahli ibadah di zaman sebelum Islam, yang difitnah berzina dengan seorang perempuan yang membawa anak zinanya sebagai bukti. Setelah melakukan solat sunat dan memohon pertolongan daripada Allah, sebagai karamah dan pertolongan Allah anak bayi yang baru lahir itu menjawab soalan Juraij bahawa ayahnya adalah pengembala kambing (al-ra’i) dan bukannya Juraij. Kisah ini dijadikan hujah dengan anggaDrpan bahawa shari’ah sebelum Islam boleh menjadi sebahagian shari’ah Islam selagi tidak ada nas yang menyanggahnya. Akan tetapi maksud pertanyaan Juraij adalah siapakah lelaki yang bertanggunjawab menyebabkan kelahiran anak zina ini, jawapan kepada pertanyaan ini tidak sama sekali menyentuh tentang isu yang sedang dibicarakan iaitu kebenaran untuk menasabkan anak zina kepada lelaki penzina. Jelas bahawa hujah ini tidak kuat. Tambahan lagi hujah ini mungkin boleh dipertimbangkan jika tiada nas yang menegaskan larangan penasaban anak zina kepada lelaki penzina, akan tetapi nas yang melarang menasabkan anak zina kepada lelaki penzina cukup banyak dan jelas sebagaimana akan diterangkan kemudian.

4. Hujah keempat adalah hujah akal (qiyas). Mereka berpandangan bahawa jika anak itu boleh dinisbahkan kepada ibunya dan boleh mewarisinya, maka mengapa tidak hal yang sama berlaku kepada ayah kandungnya, sedangkan kedua-dua mereka telah melakukan dosa zina yang sama. Hujah ini tampaknya boleh diterima oleh akal rasional, akan tetapi di dalam Shari’ah akal manusia tidak boleh dijadikan sumber hukum khususnya jika hujah akliah itu bertentangan dengan nas wahyu. Imam al-Shatibi menegaskan bahawa akal bukan penentu Shari’ah, ia hanya digunakan untuk menyokong nas bukan untuk menyaingi atau menjadi sumber yang berdiri sendiri secara berasingan daripada nas (lihat al-Muwafaqat).

5. Mereka juga berhujah bahawa terdapat banyak maslahah (kebaikan) yang boleh tercapai dengan menasabkan anak zina kepada lelaki penzina. Dengan penasaban ini stigma dan rasa malu yang ditanggung oleh anak luar nikah akan hilang dan ia dapat hidup seperti manusia biasa dan ini sesuai dengan semangat Islam yang rahmatan li al-‘alamin. Dengan demikian ia akan mengurangkan anak-anak luar nikah ini daripada terjebak dengan jenayah dan gejala sosial. Hujah ini juga sangat rapuh dan tidak dapat dipertahankan dengan baik. Kita boleh bertanya: apakah maslahat yang boleh dicapai melalui penipuan dan kezaliman? Menyamakan anak luar nikah dengan anak hasil perkahwinan yang sah adalah suatu kezaliman dan penipuan. Adalah lebih baik jika pasangan seseorang itu tahu dan menerima hakikat bahawa pasangannya adalah seorang anak luar nikah daripada menyembunyikan fakta ini. Biarlah pemilihan jodoh dibuat berdasarkan kriteria akhlak dan agama seseorang bukan hanya berdasarkan nasabnya. Nasab sahaja tidak menjamin kebahagiaan rumah tangga. Dengan kefahaman yang baik tentang Islam ia akan faham bahawa seorang anak tidak mewarisi dosa dan perangai ibu bapanya, kerananya, tiada masalah mengahwini seorang anak luar nikah asalkan ia seorang yang baik agamanya dan berakhlak mulia. Adapun untuk mengelakkan anak luar nikah daripada terlibat dengan jenayah dan gejala sosial, ibu bapa perlu mengambil peranan serius dalam mendidik anak-anak dengan baik, sebaliknya dengan menyembunyikan fakta dan melakukan pemalsuan Ibubapa telah memberikan contoh yang tidak baik.

Apakah nas dan dalil yang menjadi sandaran majoriti ulama’?

Terdapat banyak hadith sahih yang menyokong pandangan jumhur ulama’, sebagaimana berikut:

1. Hadith yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (6818, 7182), Muslim (1457), Tirmizi (2120), Abu Daud (2273), al-Nasa’I (3486), Ahmad (2:235).

Daripada A’isyah radiya’Llah ‘anha berkata:

كَانَ عُتْبَةُ عَهِدَ إِلَى أَخِيهِ سَعْدٍ: أَنَّ ابْنَ وَلِيدَةِ زَمْعَةَ مِنِّي، فَاقْبِضْهُ إِلَيْكَ، فَلَمَّا كَانَ عَامَ الفَتْحِ أَخَذَهُ سَعْدٌ، فَقَالَ: ابْنُ أَخِي عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ ، فَقَامَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ، فَقَالَ: أَخِي وَابْنُ وَلِيدَةِ أَبِي، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَتَسَاوَقَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ سَعْدٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ابْنُ أَخِي، قَدْ كَانَ عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ، فَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ: أَخِي وَابْنُ وَلِيدَةِ أَبِي، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ، الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الحَجَرُ» ثُمَّ قَالَ لِسَوْدَةَ بِنْتِ زَمْعَةَ: «احْتَجِبِي مِنْهُ» لِمَا رَأَى مِنْ شَبَهِهِ بِعُتْبَةَ، فَمَا رَآهَا حَتَّى لَقِيَ اللَّهَ

Maksudnya: Adalah ‘Utbah telah mewasiatkan dengan bersungguh-sungguh kepada saudaranya Sa’d bahawa anak yang dilahirkan oleh hamba perempuan Zam’ah adalah anaknya. Justeru, ambillah dan peliharalah. Tatkala tahun pembukaan kota Mekah, Sa’d mengambilnya seraya berkata, “Ini anak saudaraku yang diminta kepadaku untuk memeliharanya.” Kemudian ‘Abd bin Zam’ah bangkit dan berkata, “Dia adalah saudaraku dan anak isteri ayahku.” Kemudian kedua-duanya berlumba-lumba menuju kepada Nabi SAW. Maka kata Sa’d, ‘Ya Rasulullah, dia anak saudaraku yang diwasiatkan kepadaku untuk memeliharanya.’ Kemudian Abd bin Zam’ah mencelah, ‘Dia adalah saudaraku dan anak isteri ayahku yang dilahirkan pada masa perkahwinan.’ Maka jawab Nabi salla’Llah ‘alayhi wasallam:

هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ، الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الحَجَرُ

Maksudnya: “Dia bagi kamu wahai ‘Abd bin Zam’ah. Ini kerana nasab anak kepada perkahwinan yang sah. Sedangkan bagi penzina adalah kekecewaan.”

Kemudian sabda Baginda salla’Llah ‘alayhi wasallam kepada Saudah binti Zam’ah, ‘Hendaklah kamu berhijab daripadanya. Ini kerana Rasulullah SAW mendapati anak tersebut amat menyerupai ‘Utbah. Maka tidaklah anak tersebut melihat Saudah sehingga bertemu Allah atau mati.

Dalam menerangkan hadith ini Imam al-Nawawi berkata: yang dimaksudkan dengan al-‘ahir adalah penzina, bagi penzina al-hajar bermaksud tiada lain baginya melainkan al-khaybah, kerugian dan kekecewaan, tiada hak baginya terhadap anak zina itu (Sharh Sahih Muslim, 10:37). Ibn Hajar pula dalam Fath al-Bari menjelaskan bahawa menurut Imam al-Shafi’i terdapat dua keadaan, pertama anak itu dinasabkan kepada Bapa yang mengahwini ibunya, jika ia tidak menolaknya adapun jika ia menolaknya maka berlaku hukum li’an. Dalam keadaan kedua, apabila Bapa yang mengahwini ibunya bertelagah dengan bapa biologi yang menyebabkan kelahiran anak zina, maka anak itu dinasabkan kepada Bapa yang mengahwini ibunya sedangkan bagi bapa biologi anak zina dihukumkan pengharaman daripada menjadi bapa kepada anak biologinya. (Fath al-Bari, 12:36)

Yang dimaksudkan dengan al-firash pula adalah perkahwinan yang berlaku di antara lelaki dan perempuan, di mana lelaki mempunyai hak ke atas isterinya.

Oleh kerana hadith ini cukup jelas dan disepakati kesahihannya maka para ulama’ fiqh telah bersepakat bahawa anak zina tidak dinasabkan kepada lelaki penzina. Ibn al-Athir di dalam al-Shafi fi Sharh Musnad al-Shafi’i menegaskan bahawa ia adalah perkara yang telah diijma’kan oleh para ulama’ (5:49) demikian juga al-Mawardi di dalam al-Hawi al-Kabir berkata telah ijma’ ulama’ menafikan nasab anak zina walaupun lelaki penzina itu mengakui perbuatan zinanya (8:455, 9:219). Imam al-Ghazali dalam al-Wasit (4:31). Begitu juga di dalam kitab al-Majmu’ (16:222); Bidayat al-Mujtahid 4:142); al-Mabsut dalam mazhab Hanafi (17:154), Bada’i’ al-Sana’I’ (6:243), al-Mudawwanah dalam mazhab al-Maliki (2:556), Asna al-Matalib (3:20), al-Mughni (6:228 dan 345), al-Muhalla (10:142), bahkan fatwa al-lajnah al-da’imah Arab Saudi juga menfatwakan bersesuaian dengan pandangan jumhur ulama’ (20:387).

Di dalam al-Mughni, Ibn Qudamah ada menerangkan pandangan minoriti yang dipelopori oleh Ibn Taymiyyah namun beliau sendiri tidak mengambil pandangan tersebut. Ibn al-Qayyim menyebut bahawa pendapat ini adalah pendapat Ishaq bin Rahawayh bahawa “seorang anak zina jika dilahirkan tidak dalam perkahwinan (firash) kemudian diakui oleh lelaki penzina maka ia dinisbahkan kepadanya”. Beliau mengatakan ia adalah mazhab Hasan al-Basri dan Urwah bin Zubair dan Sulaiman bin Yasar (Zad al-Ma’ad, 5:381).

Jika diteliti daripada kenyataan Ibn Qayyim ini secara mudahnya adalah berkenaan isu anak yang lahir di mana ibunya tidak berkahwin dengan sesiapa, bukan anak yang lahir dalam sebuah perkahwinan. Dengan itu pandangan ini tidak boleh dijadikan sandaran untuk menasabkan anak luar nikah kepada lelaki penzina yang berkahwin dengan ibunya. Ia adalah dua kes yang berbeza yang mana menurut Jumhur ulama’ dalam kedua-duanya penasaban anak zina kepada lelaki penzina adalah tidak dibenarkan. Sebagaimana dijelaskan di atas, pandangan Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim yang membenarkan penasaban anak zina kepada lelaki penzina adalah bertentangan dengan hadith yang menegaskan bahawa “nasab anak kepada perkahwinan yang sah. Sedangkan bagi penzina adalah kekecewaan”. Dengan penasaban anak zina kepada lelaki penzina jelas bahawa lelaki penzina tidak mengalami kerugian dan kekecewaan sebagaimana yang diingini oleh Rasulullah salla’Llah ‘alayhi wasallam.

Tambahan lagi Ibn Qayyim tidak menjelaskan dari mana pandangan ini diambil, hanya sekadar mendakwa ia adalah pandangan Ishaq Rahawayh, Hasan al-Basri tidak cukup untuk mensabitkan dakwaan tersebut. Dengan kata lain tiada bukti yang menunjukkan bahawa ia memang benar-benar pandangan dua ulama’ besar tersebut apalagi untuk menisbahkan kepada Sahabat Nabi yang mulia.

Pandangan Ibn Taymiyyah dalam beberapa hal adalah keliru dan salah. Pandangan beliau yang salah tidak boleh diikuti.

2. Hadith kedua diriwayatkan oleh Imam Ahmad (6660), Abu Daud (2265), Ibn Majah (2746) yang berbunyi:

أَيُّمَا مُسْتَلْحَقٍ اسْتُلْحِقَ بَعْدَ أَبِيهِ الَّذِي يُدْعَى لَهُ ادَّعَاهُ وَرَثَتُهُ ، قَضَى : إِنْ كَانَ مِنْ حُرَّةٍ تَزَوَّجَهَا أَوْ مِنْ أَمَةٍ يَمْلِكُهَا فَقَدْ لَحِقَ بِمَا اسْتَلْحَقَهُ . وَإِنْ كَانَ مِنْ حُرَّةٍ أَوْ أَمَةٍ عَاهَرَ بِهَا : لَمْ يَلْحَقْ بِمَا اسْتَلْحَقَهُ ، وَإِنْ كَانَ أَبُوهُ الَّذِي يُدْعَى لَهُ هُوَ ادَّعَاهُ ، وَهُوَ ابْنُ زِنْيَةٍ لِأَهْلِ أُمِّهِ مَنْ كَانُوا حُرَّةً أَوْ أَمَةً

Maksudnya: “Setiap anak yang dinisbahkan kepada ayahnya yang mendakwa bahawa ia adalah anaknya dan pewarisnya maka diputuskan: jika ia adalah hasil persetubuhan dengan seorang perempuan merdeka yang dikahwininya atau daripada hamba sahaya yang dimilikinya maka ia dinisbahkan kepadanya. Adapun jika ia daripada perempuan merdeka atau hamba sahaya yang berzina dengannya maka anak itu tidak dinisbahkan kepadanya walaupun ayahnya itu mendakwa ia anaknya, ia adalah anak zina kepada keluarga ibunya, sama ada ibunya itu perempuan merdeka atau hamba sahaya”.

Meskipun Ibn Qayyim mengatakan ia hadith yang da’if, tetapi beliau mengatakan bahawa jika hadith ini adalah sahih maka pendapat yang benar adalah yang dinyatakan oleh hadith ini, maka mengapa dua hadith sebelum ini yang sahih tidak diambil kira? Justeru kesemua hadith ini memperkuat satu sama lain dan menjelaskan perkara-perkara yang kurang jelas. Beliau juga mengakui telah diijma’kan bahawa nasab itu disabitkan kepada perkahwinan (firash) (Zad al-Ma’ad 5:368).

3. Hadith yang diriwayatkan oleh Abu Daud (2264), daripada Ibn Abbas bahawa Rasulullah bersabda:

لَا مُسَاعَاةَ فِي الْإِسْلَامِ ، مَنْ سَاعَى فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَدْ لَحِقَ بِعَصَبَتِهِ ، وَمَنْ ادَّعَى وَلَدًا مِنْ غَيْرِ رِشْدَةٍ : فَلَا يَرِثُ وَلَا يُورَثُ

Maksudnya: “Tiada perzinaan di dalam Islam (tidak diiktiraf). Barang siapa yang berzina di zaman jahiliyyah maka ia dinisbahkan kepada keluarganya, dan barang siapa yang mendakwa seorang anak zina adalah anaknya maka ia tidak menjadi waris dan tidak mewarisi”.

Terdapat hadith sahih yang serupa yang diriwayatkan oleh al-Tirmizi (2113), Shawkani (6:184), al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir (2960), Ibn Hajar, Takhrij Mishkat al-Masabih, (3:233) sebagai berikut:

أيما رجلٍ عاهَر بحرَّةٍ أو أمةٍ ، فالولدُ ولدُ زنًا ، لا يَرِثُ و لا يُورَثُ

Yang bermaksud: “Mana-mana lelaki yang berzina dengan seorang perempuan merdeka atau hamba sahaya, maka anak itu adalah anak zina, ia tidak menjadi waris dan tidak mewarisi”.

Meskipun kedua-dua penzina telah bertaubat akan tetapi tidak bermakna bahawa tiada kesan daripada perbuatan mereka di kemudian hari. Berdasarkan ketentuan Shari’ah para ulama’ menegaskan bahawa kesan daripada perbuatan zina itu amat besar kepada kehidupan anak zina, antaranya seperti berikut:

1. Anak zina hanya boleh dibinkan kepada Abdullah atau menggunakan Asma’ al-Husna yang lain.

2. Anak zina tidak mewarisi harta lelaki yang menyebabkan kelahirannya.

3. Jika anak zina itu perempuan maka ayah zina tidak boleh menjadi wali pernikahannya.

4. Jika ayah zina meninggal abang juga tidak boleh menjadi wali pernikahannya.

Pandangan para ulama’ dari kesemua empat mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam hal ini boleh dirujuk kepada al-Umm (6:36), al-Majmu’ (17:169), Rawdat al-Talibin (2:43), Nihayat al-Muhtaj (5:108), al-Mughni (9:114), al-Buhuti, Sharh Muntaha al-Iradat (4:547), al-Bahr al-Ra’iq (4:129), al-Bayan wa al-Tahsil (6:405), Radd al-Muhtar (4:371), Asna al-Matalib (9:359) dan lain-lain.

Pandangan yang membenarkan penasaban anak zina (anak luar nikah, anak tidak sah taraf) kepada bapa kandungnya, yang menyebabkan kelahiran anak zina ini, tidak mengambil kira hukum-hukum fiqh di atas yang telah disepakati oleh para ulama’ mazhab fiqh yang muktabar yang sudah tentu akan memberi kesan yang besar kepada tatanan sosial dan institusi keluarga.

Kesimpulan daripada perbincangan di atas adalah seperti berikut:

1. Pandangan Ibn Taymiyyah yang ditaqlid oleh para pengikutnya, iaitu Ibn Qayyim, Yusuf al-Qaradawi, Ibn Uthaymin (ulama’ Arab Saudi), tidak disokong oleh nas al-Qur’an dan al-Sunnah sama sekali. Malah pandangan mereka telah membelakangkan hadith-hadith sahih yang disepakati oleh para muhaddithin besar iaitu Imam al-Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hanbal, al-Nasa’i, Tirmizi, Abu Daud dan lain-lain. Ijtihad mereka ini tidak sah kerana bertentangan dengan hadith-hadith sahih. Kaedah fiqh ada menyebut tiada ijtihad apabila terdapat nas. Justeru pandangan jumhur ulama’ adalah pandangan yang benar kerana bersandarkan kepada nas atau dalil yang sahih lagi kuat.

2. Pada intinya pandangan minoriti hanya bersandarkan kepada akal rasional yang menolak perbezaan di antara ibu dengan ayah, jika ia boleh untuk si ibu mengapa tidak boleh untuk si ayah sedangkan kedua-duanya merupakan penzina. Pendekatan seperti ini berbahaya, khususnya jika hadith dan perintah Nabi SAW telah jelas tidak membenarkan penasaban anak zina kepada lelaki penzina. Pendekatan seperti ini malah berlawanan dengan dakwaan pengikut Ibn Taymiyyah (yang dikenali dengan Salafiyyah) bahawa mereka mengutamakan al-Qur’an dan hadith berbanding akal rasional.

3. Dakwaan bahawa terdapat maslahah (kebaikan) yang besar dalam ijtihad mereka ternyata tidak benar. Maslahah tidak dapat ditegakkan dengan kepalsuan dan penipuan. Justeru banyak mafsadah (kerosakan) yang akan muncul akibat daripada kebenaran untuk menasabkan anak zina kepada lelaki penzina. Ini kerana pensyari’atan sesuatu hukuman dalam Islam mengandungi maslahah yang besar kepada umat manusia, hukum hudud dan qisas contohnya dapat mengurangkan jenayah dan dengan demikian masyarakat akan hidup aman harmoni. Hukuman yang ringan pula tidak akan dapat menghalang penjenayah daripada terus melakukan jenayah. Larangan menasabkan anak zina kepada lelaki penzina oleh Rasulullah salla’Llah ‘alayhi wasallam adalah satu hukuman kepada penzina agar ia sedar kesilapan yang dilakukan dan meskipun mungkin telah bertaubat terdapat kesan yang berterusan yang perlu menjadi pengajaran kepada dirinya dan orang lain. Dengan ketiadaan hukuman ini, ditambah lagi dengan ketiadaan pelaksanaan Shari’ah yang menyeluruh, maka sudah tentu perzinaan akan semakin berleluasa.

4. Mufti tidak sepatutnya membelakangi pandangan jumhur ulama’ yang kuat. Ia tidak boleh sewenang-wenangnya mengambil suatu pandangan berdasarkan sentiment peribadi, apalagi taassub kepada tokoh ulama’ tertentu yang mana pandangannya ternyata tidak kuat bahkan bertentangan dengan nas Shara’. Ibn Taymiyyah bukan seorang yang maksum, pandangan beliau tidak semua benar, khususnya apabila pandangan beliau itu bertentangan dengan pandangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah yang lain maka kemungkinan pandangan beliau silap amat besar, contohnya dalam isu ziarah kubur Nabi salla’Llah ‘alayhi wasallam, kefana’an neraka, sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan beberapa isu lain.

5. Mufti perlu mengambil peranan sebagai faktor pemersatu umat Islam dan bukan faktor pemecah belah. Ia tidak sepatutnya mengeluarkan pandangan-pandangan yang mengelirukan orang awam yang bertentangan dengan fatwa-fatwa yang telah diterima pakai dan disepakati di negara ini zaman berzaman, bahkan di negara umat Islam umumnya.

Wallahu a’lam bi al-sawab.

Profesor Madya Dr. Khalif Muammar A Harris.

Pengarah CASIS

UTM

12/08/2018 Posted by | Bicara Ulama, Muamalat (Keluarga), Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Wali Fasiq Menurut Mazhab Syafi‘i

Wali Fasiq Menurut Mazhab Syafi‘i

PANDUAN HUKUM: Wali Fasiq Menurut Mazhab Syafi‘i
Alyasak bin Berhan

Definisi Fasiq

Fasiq adalah orang yang melakukan dosa-dosa besar atau orang yang sering melakukan dosa-dosa kecil dan kebaikan tidak melebihi maksiatnya, atau kedua-duanya (dosa dan kebaikan) sama banyak, maka orang tersebut dihukumkan sebagai fasiq.

Definisi Adil

Adil menurut bahasa adalah menuntut istiqamah (konsisten) dan lurus.

Adapun menurut ‘uruf pula adalah; memiliki naluri yang boleh menegah seseorang daripada melakukan dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil yang dipandang hina seperti mencuri beberapa suap makanan dan mencuri sedikit buah. Juga menegah daripada perbuatan-perbuatan harus yang dipandang buruk (dari segi ‘uruf) seperti berjalan tanpa menutup kepala dan makan di pasar.

Syarat Wali

Disyaratkan wali nikah tidak fasiq kerana adil tidak disyaratkan pada wali nikah. Oleh kerana itulah, apabila seseorang kanak-kanak yang sudah baligh dan dia tidak melakukan dosa-dosa besar serta tidak melazimi dosa-dosa kecil, maka ketika itu dia layak menjadi wali serta-merta walaupun dia bukanlah seorang yang adil dan bukan juga seorang yang fasiq. Begitu juga seseorang wali yang kafir apabila memeluk Islam, maka ketika itu dia layak menjadi wali serta-merta.

Disebutkan oleh Syeikh Ahmad al-Syatiri ;

شُرُوْطُ وَلِيِّ النِّكَاحِ ثَمَانِيَةٌ: الاخْتِيَارُ, وَالْحُرِّيِّةُ, وَالذُّكُوْرَةُ, وَالتَّكْلِيْفُ, وَعَدَمُ الْفِسْقِ, وَعَدَمُ اخْتِلَالِ النَّظَرِ بِهَرَمٍ أَوْ خَبَلٍ, وَعَدَمُ الْحَجْرِ بِالسَّفَهِ, وَعَدَمُ الإِحْرَامِ
Yang bermaksud, “Syarat-syarat wali nikah ada 8 perkara iaitu; pilihan sendiri (tidak dipaksa), merdeka, lelaki, mukallaf, tidak fasiq, tiada kecacatan fikiran sama ada dengan sebab terlalu tua atau rosak fikiran (sakit), tidak terhalang urusan hartanya kerana safih (سفيه) dan tidak berihram.”

Sehubungan itu, orang yang fasiq tidak sah mewalikan nikah mengikut pendapat yang muktamad di sisi Syeikh al-Ramli dan al-Khatib al-Syirbini secara mutlak. Justeru, hak perwalian tersebut akan berpindah kepada wali ab‘ad.

Namun, apabila wali yang fasiq bertaubat ketika ingin mengakadkan nikah iaitu dengan meninggalkan dosa-dosa yang dilakukan serta berazam tidak akan mengulanginya dan akan memulangkan hak orang yang dizaliminya jika berkesempatan, maka ketika itu dia layak menjadi wali serta-merta. Oleh kerana itulah, wali yang fasiq perlu ditaubatkan ketika ingin melaksanakan akad nikah agar akad tersebut sah.

Walaubagaimanapun, menurut apa yang zahir daripada perkataan Syeikh Ibn Hajar, wali fasiq harus mewalikan nikah sekiranya hak perwalian tersebut akan berpindah kepada wali hakim yang melakukan perkara-perkara fasiq yang sejenis atau lebih daripada yang dilakukan oleh wali fasiq tersebut. Inilah pendapat yang dipegang oleh Imam al-Ghazali, al-Nawawi di dalam Kitab al-Raudhah, Ibn al-Solah, al-Azra‘ei, al-Subki dan merupakan pendapat yang dipilih oleh segolongan ulamak lain.
اليسع

Rujukan:

– Tuhfah al-Muhtaj
– Nihayah al-Muhtaj
– Mughni al-Muhtaj
– Zaitunah al-Ilqah
– Hasyiah al-Baijuri
– I‘anah al-Talibin
– Al-Manhal al-Nadhdhakh
– Al-Yaqut al-Nafis
– Bughyah al-Najah

– Al-Dalil al-Nassah

Wallahu a‘lam.

Blogger Tolib al-‘Ilm: 

14/12/2017 Posted by | Fiqh, Muamalat (Keluarga), Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Pakar Genetika : Wanita Paling bersih Di Dunia, Adalah Wanita Muslim.

Related image

OLEH AHMAD SANUSI

Seorang pakar genetika Robert Guilhem mendeklarasikan keislamannya setelah terperangah kagum oleh ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang Masa Iddah (yaitu masa tunggu selama tiga bulan bagi wanita, untuk boleh menikah lagi) bagi wanita Muslimah yang dicerai suaminya seperti yang diatur Islam.

Guilhem, membuktikan dalam penelitiannya, bahwa jejak rekam seorang laki-laki di tubuh wanita akan hilang setelah tiga bulan. Guilhem yakin dengan bukti-bukti ilmiahnya. Bukti-bukti itu menyimpulkan bahwa hubungan persetubuhan suami istri akan menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik (rekam jejak) khususnya pada perempuan.

Jika pasangan ini setiap bulannya tidak melakukan persetubuhan maka sidik itu akan perlahan-lahan hilang antara 25-30 persen. Dan, setelah tiga bulan berlalu, maka sidik itu akan hilang secara keseluruhan.

Sehingga perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik laki-laki lainnya. Bukti empiris ini mendorong pakar genetika Yahudi ini melakukan penelitian dan pembuktian di sebuah perkampungan Afrika Muslim di
Amerika.

Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa setiap wanita Muslim di sana hanya mengandung dari jejak sidik pasangan mereka saja. Sementara penelitian ilmiah di sebuah perkampungan lain di Amerika (perkampungan non Muslim) membuktikan bahwa wanitanya yang hamil memiliki jejak sidik beberapa laki-laki, dua hingga tiga.

Artinya, wanita-wanita non Muslim di sana melakukan hubungan intim dengan laki-laki selain pernikahan yang sah. Yang mengagetkan sang pakar ini, adalah ketika dia melakukan penelitian ilmiah terhadap istrinya sendiri.

Ternyata ia menemukan istrinya memiliki tiga rekam sidik laki-laki, alias istrinya berselingkuh. Dari penelitiannya, hanya satu saja, dari tiga anaknya berasal dari dirinya, yaitu setelah ia melakukan test DNA terhadap anak anaknya.

Setelah penelitian-penelitian yang dilakukannya, ia meyakini bahwa hanya Islamlah yang menjaga martabat perempuan, dan menjaga keutuhan kehidupan sosial. Ia yakin, bahwa wanita muslimah adalah wanita paling bersih di muka bumi ini.

Guru besar anatomi medis di Pusat Nasional Mesir, dan konsultan medis, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa Robert Gelhem, pemimpin Yahudi di Albert Einstein College, dan pakar genetika ini mendeklarasikan dirinya masuk Islam, ketika ia mengetahui hakikat empiris ilmiah, dan kemukjizatan Al-Quran tentang penyebab penentuan iddah (masa tunggu) perempuan yang dicerai suaminya dengan masa 3 bulan. (Dian Bango Alamanda)

Sumber: sharia.co.id/muslimterkini.com

14/11/2016 Posted by | Fiqh, Informasi, Muamalat (Keluarga), Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Isteri tidak boleh dibebankan dengan kerja rumah?

Akhir-akhir ini sering kedengaran ustaz-ustaz popular yang mengatakan bahawa isteri tidak mempunyai apa-apa tanggungjawab di rumah melainkan bersolek dan mengandungkan anak, tugas kerja rumah ditanggung oleh suami dan bukan isteri, alasannya tiada dalil yang menyatakan bahawa isteri bertanggungjawab untuk membuat kerja-kerja rumah.

Tiadanya dalil (nas) secara spesifik atas sesuatu perkara tidak bermakna sesuatu perkara itu boleh ditolak, kerana para ulama’ juga menggunakan dalil akal, uruf, selain daripada nas al-Qur’an dan al-Sunnah. Tidaklah munasabah, bertentangan dengan common sense, isteri duduk diam tanpa apa-apa kerja di rumah sedang suami bertungkus lumus mencari nafkah di luar dan bila balik pula suami juga perlu menyiapkan makanan, menyuci pakaian, jika tidak mampu maka suami perlu menyediakan khadam bagi isterinya. Pandangan ini adalah pandangan yang ekstrim, melampau, kerana terlalu literal dan tidak menggunakan akal fikiran dalam memahami ajaran Islam. Uruf juga menuntut agar isteri melakukan kerja-kerja rumah sebagai usaha meringankan beban suami di luar, jika isteri tidak melaksanakan tanggungjawabnya maka ia akan menggundang kemarahan suami, dan mentaati suami adalah suatu kewajipan dalam Islam.

Sememangnya Rasulullah saw membasuh pakaiannya sendiri, menguli roti yang dimakannya, tetapi itu adalah untuk meringankan beban isterinya, dan kemuliaan peribadinya yang tidak suka menyusahkan orang lain. Ia tidak sama sekali bermakna isteri tidak memiliki apa-apa tugas di rumah. Mengapa tidak diambil kisah Siti Fatimah puteri Rasulullah yang mengadu sakit-sakit badan kerana banyak kerja rumah yang dilakukannya seraya meminta kepada Rasulullah agar diberikan seorang khadam, namun jawapan Rasulullah malah menyuruh Fatimah ra agar bersabar dan membanyakkan berzikir agar semua kepenatan itu diberi ganjaran yang setimpal oleh Allah SWT.

Sememangnya pandangan bahawa isteri tidak bertanggungjawab terhadap kerja-kerja di rumah akan diminati oleh ramai orang, khususnya apabila terdapat sebahagian kaum wanita yang diperhambakan di rumah oleh sebahagian suami, namun kedua-dua pandangan sama ada yang memperhambakan mahupun yang mentuankan isteri adalah pandangan yang ekstrim, kerana kedua-duanya akan menyebabkan ketidakharmonian dan keruntuhan institusi keluarga. Keharmonian institusi keluarga bergantung kepada keadilan, di mana setiap individu mengetahui dan melaksanakan tugas dan tanggungjawab masing-masing dengan baik. Perlu adanya kesalingan, jika suami bekerja di luar maka isteri bekerja di rumah, jika dua-dua di luar maka perlu ada mekanisme agar kerja di rumah diringankan.

Islam adalah agama yang adil, ia tidak mendiskriminasikan dan menzalimi mana-mana pihak, tetapi meletakkan setiap orang di tempatnya masing-masing demi kebaikan bersama.

Ustaz Dr Khalif Muammar

23/04/2016 Posted by | Muamalat (Keluarga), Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Mengahwini perempuan yang mengandung anak luar nikah

Kahwind peremupuan mengandung

 

Persidangan Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-3 yang bersidang pada 21-22 Jan 1971 telah membincangkan Mengahwini Perempuan Yang Sedang Mengandung Anak Luar Nikah. Persidangan telah memutuskan bahawa perempuan yang sedang mengandung anak luar nikah harus dinikahkan tetapi anaknya tidak boleh dinasabkan kepada lelaki itu, tidak dapat pesaka daripadanya, tidak menjadi mahram kepadanya dan lelaki itu tidak boleh menjadi walinya.

30/03/2015 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Ibadah, Muamalat (Keluarga), Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Ciri ciri orang yang memutuskan silaturrahim

Segala puji atas Zat yang menjadikan kita berbangsa dan berbahasa, Hingga terjalinnya ukhuwah dalam Silahrarim yang Di dalamnya tersimpan rahasia agung untuk menjadi hamba yang baik dalam pada pandangan Allah.

Selawat serta salam sentiasa kita curahkan kepada Rasulullah SAW.

Begitu banyak orang-orang yang tertipu akan tipu daya tipu daya syaitan yang berkaitan dengan asas dalam ajaran Islam, dalam hal ini adalah menjaga tali persaudaraan (Silah Rahim)

Sunguh sangat menyedihkan bila kita mengetahui secara komprehensif akan ancaman bagi orang-orang yang memutuskan tali persaudaraan namun kita tidak menghiraukan akan ancaman tersebut.

“Dari Abdullah bin Abi Aufa r.a, beliau berkata, suatu petang di hari Arafah, pada waktu kami duduk mengelilingi Rasulullah saw, tiba-tiba beliau bersabda, “Jika di majis ini ada orang yang memutuskan silaturahim, silahkan berdiri, jangan duduk bersama kami”

Hadis ini menerangkan secara terus terang bahwa rasulullah tidak menerima orang-orang yang memutuskan tali persaudaraan (Silaturahim) sebagai golongannya, Nauzubillah min dzalik..

Hukum memutuskan silaturrahim

Memutuskan silaturrahim pula hukumnya haram dan dikira melakukan maksiat besar sehingga mendapat laknat dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala, Sebagaimana firmanNya:

Maksudnya: “(Kalau kamu tidak mematuhi perintah) maka tidakkah kamu harus dibimbang dan dikhuatirkan-jika kamu dapat memegang kuasa-kamu akan melakukan kerosakan di muka bumi, dan memutuskan hubungan silaturrahim dengan kaum kerabat?. (Orang-orang yang melakukan perkara-perkara yang tersebut) merekalah yang dilaknat oleh Allah serta ditulikan pendengaran mereka, dan dibutakan penglihatannya.” (Surah Muhammad: Ayat 22-23)

Apatah lagi orang yang memutuskan silaturrahim ini tidak masuk syurga, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

َMaksudnya:

“Tidak masuk syurga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.” (Hadits riwayat Muslim)

Bagaimana kita mengetahui bahwa diri kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang memutuskan silaturahim yang telah nyata tidak di akui oleh Rasulullah sebagai ummatnya?

Berikut Ciri-ciri Orang yang memutuskan tali persaudaraan :

Gelisah akan hadiranya orang yang berniat untuk menjaga tali persaudaan

Tentu orang yang memutuskan tali persaudaraan tidak akan senang dengan kehadiran orang yang telah di putus tali persaudaraanya, Bahkan sebelum datang kehadriannya (Orang yang di putuskan tali persaudaraannya) hatinya akan merasa tidak tenang, ia akan merasa gelisah ketika mendengar nama orang yang ia putuskan silaturahim.

Bertolak Atau Berusaha menghindari sesama muslim dengan Alasan Yang mengatas namakan Kebaikan/Agama

Pemahaman yang kurang begitu memadai tentang suatu masalah boleh menjadi masalah tambahan dalam suatu perkara, hal ini seringkali terjadi kepada orang yang tengah memutuskan silaturahim, dengan argument yang tidak begitu kuat dan faktual dengan referensi yang ada, membuatnya lebih jauh tehanyut oleh tipuan syaitan.

Sentiasa acuh-takacuh dengan apa yang terjadi kepada saudaranya sesama muslim

Diantara penyebab orang memutuskan tali persaudaraan adalah adanya sengketa pemahaman/masalah yang membuatnya terjatuh akan lembah kehinaan, jika di biarkan maka hal ini akan semakin berbahaya, tidak hanya untuk dirinya sendiri namun bisa berdampak kepada orang di sekitarnya.

Merasa paling benar dengan apa yang dilakukan tanpa melihat esensi yang sebenarnya

Orang yang memutuskan tali persaudaraan biasanya dirinya di kuasai nafsu yang bersarang di dalam hatinya, maka pada saat itu segala macam penyakit hati akan semakin bertumpuk berdatangan dan bersarang di dalamnya termasuk Merasa Paling betul, dan sungguh sangat membahayakan bagi dirinya juga orang (Jika lemah pemahaman) di sekitarnya.

Mudah melupakan apa yang pernah terjadi kepada dirinya bersama saudaranya sesama muslim

Kesan Atau mungkin boleh di katakan sebagai fakta bagi orang yang memutuskan tali persaudaraan adalah permusuhan, hingga ketika ia berpisah (memutus silaturahim) maka ia akan berusaha melupakan segala sesuatu yang pernah di lewainya bersama orang yang ia putus tali persaudaraannya.

sekilas kita memang sangat menganggap hal itu wajar untuk di lakukan, bahkan mungkin sebagian dari kita menganggap memang sudah seharusnya untuk di lakukan, namun bagaimana bila hal yang di lalui adalah suatu momentum yang memiliki dampak besar jika di lakukan (Melupakannya), yang berkaitan hubungan vertikal antara ia dengan orang yang di putuskan silaturahimnya Dan Allah.

Menganggap dan meringankan akan Dosa

Bagaimana tidak, orang yang memutuskan tali persaudaraan menganggap dosa itu sangat kecil sedangkan rasulullah SAW Pernah Bersabda :“Tidak akan pernah masuk kedalam syurga bagi orang yang memutuskan tali persaudaraan” (bukhrori muslim) sedangkan orang yg memutuskan silaturrahim tidak menghiraukan hadist tersebut.

Na’uzubillah….

Barokallah…

Oleh: Siti Rahmah

16/07/2014 Posted by | Ibadah, Muamalat (Keluarga) | | 2 Comments

   

%d bloggers like this: