Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

BERKAITAN HIDANGAN ATAU JAMUAN MAKAN DITEMPAT KEMATIAN.

Wahai Rasulullah SAW…..sesungguhnya ibuku telah sedang aku tidak ada di tempat, apakah jika aku bersedekah untuknya bermanfaat baginya?.

Rasulullah saw. menjawab: Ya.

Saad berkata:

saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya” (HR Bukhari).

Huraian dari hidangan makanan ditempat ahli mayit.

Ada dua pendapat di kalangan ulama berkaitan dengan hukum menghidangkan makanan dari pihak keluarga si mayit kepada para jamaah tahlilan maupun orang-orang yang datang bertakziyah padanya.

a. Pendapat yang berkata makruh.

Hal ini berdasarkan pada dua hadis,..

Pertama, hadis Jarir bin Abdullah al-Bajali yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibn Majah dengan sanad yang shahih. Jarir bin Abdullah berkata,..

👉”Kami menganggap berkumpul pada keluarga mayit dan disediakan makanan dari pihak keluarga mayit bagi mereka (yang berkumpul) termasuk niyahah (ratapan).”

Berdasarkan hadis ini, para ulama mazhab Hanafi berpendapat makruh memberikan makanan pada hari pertama, kedua, ketiga dan setelah tujuh hari kepada pentakziyah sebagaimana ditegaskan oleh al-Imam Ibn Abidin dalam Hasyiyah Radd al-Muhtar juz 2 hlm. 240.

Kedua, Hadis riwayat al-Tirmidzi, al-Hakim dan lain-lainnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

👉”Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far, karena mereka sekarang sibuk dengan kematian Ja’far.”

Para ulama berpendapat, bahwa yang disunnatkan sebenarnya adalah tetangga keluarga mayit atau kerabat-kerabat mereka yang jauh membuatkan makanan bagi keluarga mayit yang sedang berduka, yang cukup untuk keperluan mereka dalam waktu selama sehari semalam.

Pendapat ini diikuti oleh majoriti fuqaha, dan majoriti ulama mazahib al-arba’ah.
Dan ini juga merupakan praktek umat islam dinusantara,..saat ada tetangga meninggal, maka para tetangga takziyah dengan membawa beras, uang serta membantu memasak untuk keluarga musibah dan memasak bagi yang bertakziah yang mana makanan itu berasal dari tetangga2 sekitar dan sama sekali tidak mengambil harta dari keluarga musibah.

b. Ulama yang lain berpendapat bolehnya menghidangkan makanan dari pihak keluarga mayit bagi para jamaah tahlilan maupun para pentakziyah,walaupun pada masa-masa tiga hari hari pertama meninggalnya si mayit.
Hal ini berdasarkan pada beberapa dalil antara lain:

Pertama, Ahmad bin Mani’ meriwayatkan dalam Musnad-nya dari jalur al-Ahnaf bin Qais yang berkata:

👉”Setelah Khalifah Umar bin al-Khaththab ditikam, maka beliau meberitahukan agar Shuhaib yang bertindak sebagai imam shalat selama tiga hari dan memerintahkan menyediakan makanan untuk orang-orang yang datang bertakziyah.”

Menurut al-Hafiz Ibn Hajar, sanad hadis ini bernilai hasan. (Lihat al-Hafiz Ibn Hajar, al-Mathalib al-‘Aliyah fi Zawaid al-Masanid al-Tsamaniyah, juz 1, hlm. 199, hadits no. 709).

Kedua, al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam kitab al-Zuhd dari al-Imam Thawus (ulama salaf dari generasi tabi’in), yang berkata:

👉”Sesungguhnya orang-orang yang meninggal dunia itu diuji oleh di dalam kubur mereka selama tujuh hari. Mereka (para generasi salaf) menganjurkan mengeluarkan sedekah makanan untuk mereka selama tujuh hari tersebut.”

Menurut al-Hafiz Ibn Hajar, sanad hadis ini kuat (shahih). (Lihat, al-Hafiz Ibn Hajar, al-Mathalib al-‘Aliyah, juz 1, hlm. 199, hadis no. 710).

Ketiga, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada sebuah jenazah, maka aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berada diatas kubur berpesan kepada penggali kubur :

👉“perluaskanlah olehmu dari bagian kakinya, dan juga luaskanlah pada bagian kepalanya”, Maka tatkala telah kembali dari kubur, seorang wanita (istri mayyit, red) mengundang (mengajak) Rasulullah, maka Rasulullah datang seraya didatangkan (hidangan) makanan yang diletakkan dihadapan Rasulullah, kemudian diletakkan juga pada sebuah perkumpulan (qaum/sahabat), kemudian dimakanlah oleh mereka.

Maka ayah-ayah kami melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam makan dengan suapan, dan bersabda:

👉“aku mendapati daging kambing yang diambil tanpa izin pemiliknya”.

Kemudian wanita itu berkata : “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengutus ke Baqi’ untuk membeli kambing untukku, namun tidak menemukannya, maka aku mengutus kepada tetanggaku untuk membeli kambingnya kemudian agar di kirim kepadaku, namun ia tidak ada, maka aku mengutus kepada isterinya (untuk membelinya) dan ia kirim kambing itu kepadaku, maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

👉“berikanlah makanan ini untuk tawanan”.

(Sunan Abi Daud no. 3332 ; As-Sunanul Kubrra lil-Baihaqi no. 10825 ; hadits ini shahih ; Misykaatul Mafatih (5942) At-Tabrizi dan Mirqatul Mafatih syarh Misykah al-Mashabih (5942) karangan al-Mulla ‘Alial-Qari, hadis tersebut derajat shahih.

Lebih jauh lagi, didalam kitab tersebut disebutkan dengan lafaz berikut,…

(استقبله داعي امرأته) ، أي: زوجة المتوفى.

“Rasulullah menerima ajakan wanitanya, yakni istri dari yang wafat”.).

Semoga bermanfaat,…dan sila share untuk semua.

Disediakan oleh : Ustaz Dr Zaaref Al HaQQy.

07/07/2020 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

ORANG AWAM BERTANYA DALIL?

1- ORANG AWAM bermaksud dia tidak dalam kalangan penuntut ilmu agama yang menekuni dan mendalami.

2- Apabila dia bertanya seorang guru, adakah perlu dia bertanya sumber di MANA DALIL?

3- Jawapannya TIDAK perlu, walaupun bertanya bukanlah suatu kesalahan.

4- Tanggungjawab awam ialah bertanya kepada ahli zikr sekiranya tidak mengetahui seperti firman Allah (فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون) surah an Nahl:43

5- Begitulah yang berlaku sejak generasi sahabat , tabiin, imam-imam mazhab dan seterusnya.

6- FUQAHA’ di kalangan sahabat tidaklah ramai. Kata Imam ibn Qayyim hanya sekitar 130 orang sahabat yang di ketahui fatwa mereka dari kalangan sahabat sedangkan jumlah sahabat adalah melebihi 120 ribu orang.

7- Yang paling unggul dikalangan mereka pula, hanya sekitar 10 orang sahaja.

8- Apabila seorang sahabat bertanya hukum, tiada mereka bertanya apakah DALILNYA?

9- Perkara ini banyak terdapat dalam kitab2 hadis seperti musannaf Ibn Abi Syaibah dan musannaf abd Razzaq.

10- Begitu juga banyak fatwa-fatwa Imam mazhab dalam kitab mereka.

11- Tidak perlu secara mutlaq seorang mufti berfatwa dengan membawa dalil, untuk membezakan fatwa dan tasnif. Mereka berhujjah bahawa ulama setiap zaman dari kalangan sahabat dan selepas mereka berfatwa kepada orang awam . Mereka beramal dengannya tanpa diterangkan dalil. Situasi ini tersebar tanpa diingkari para ulama zaman berzaman dan ia adalah ijmak. (Syaikh San’aani, Ijabah al Sail Syarh Bughyah al Amal 407)

12- Kata alQadi abul Qasim asSaimariy, “pendetailan, sekiranya yang bertanya adalah faqih, maka hendaklah disebutkan dalilnya, sekiranya orang awam, maka tidaklah perlu(Allamah alQasimi,al Fatwa fil islama 98). Begitu juga disebutkan oleh alHafiz Khatib alBaghdadi. (alFaqih wal Mutafaqqih 2/406)

Oleh: Ustaz Dr Muhammad Lukman Ibrahim

06/07/2020 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

“Tauhid terbagi menjadi tiga, Rububiyah, Uluhiyah dan al Asma’ wa as Shifat”…???

Kopy paster dari page pondok jiran seberang….bagus untuk dipelajari.

Apa Kamu Nak Jawab Wahhabi Setelah Fakta Ini??

Apabila Wahhabi berkata:
“Tauhid terbagi menjadi tiga, Rububiyah, Uluhiyah dan al Asma’ wa as Shifat”

Maka katakanlah:

✔️Ini adalah bid’ah dlolalah (bid’ah sesat) dari Ibnu Taimiyah pada abad ke 7 hijriyah yang diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an Najdi at Tamimi.

👍Tidak ada Nash dari al Qur’an dan hadits yang secara eksplisit menjelaskan adanya pembagian tauhid tersebut.

👍Tidak ada juga para sahabat, tabi’in dan para ulama salaf yang membagi tauhid seperti yang kalian lakukan, bahkan al Imam Ahmad bin Hanbal Radliyallahu ‘anhu yang kalian klaim sebagai panutan kalian (padahal beliau terbebas dari Aqidah rusak kalian) juga tidak pernah ditemukan menjelaskan pembagian tauhid ini.

✔️Pembagian tauhid ini tergolong sebagai bid’ah sesat karena bertentangan dengan syara’. Penjelasannya sebagai berikut:

☑️ Dengan konsep tauhid Rububiyah kalian mengatakan bahwa orang-orang kafir itu bertauhid Rububiyah, karena itu para Nabi diutus oleh Allah untuk menyeru pada tauhid Uluhiyah.

👍Pernyataan ini bertentangan dengan al Qur’an, hadits dan akal.

1⃣Dalam Al Qur’an, Allah ta’ala berfirman:

مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِیُقَرِّبُونَاۤ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰۤ

[Surat Az-Zumar 3].

“Tidaklah kami beribadah kepada mereka (berhala-berhala) kecuali agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.

👆Ayat ini secara jelas menegaskan bahwa orang-orang kafir tidak bertauhid Rububiyah, karena ketika menyembah berhala, mereka meyakini bahwa berhala itu bisa menciptakan hidayah dan pendekatan diri mereka kepada Allah.

Dalam ayat yang menceritakan tentang Fir’aun yang mengaku sebagai Rabb, Fir’aun berkata:

انا ربكم الاعلى

“Aku adalah Tuhan kalian yang maha tinggi”(an Naziat: 24)

👆Ayat ini menunjukkan bahwa Fir’aun tidak bertauhid Rububiyah sebagaimana kalian klaim.

Fir’aun juga mengaku sebagai Ilaah:

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡمَلَأُ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرِی

[Surat Al-Qashash 38]
“Dan Fir’aun berkata, Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui bagi kalian ilaah selain aku”.

👆Ayat ini menunjukkan bahwa Fir’aun tidak bertauhid Uluhiyah.

♦️Dua ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada beda antara tauhid Rububiyah dan Uluhiyah. Karena di satu ayat Fir’aun mengaku sebagai Rabb dan di satu ayat Fir’aun mengaku sebagai ilaah.

2⃣Dalam hadits tentang pertanyaan kubur oleh dua malaikat, Munkar dan Nakir. Pertanyaan keduanya adalah:
من ربك؟
– Seandainya Tauhid Rububiyah itu beda dengan tauhid Uluhiyah dan bahwa tauhid Rububiyyah tanpa tauhid Uluhiyah tidak cukup untuk menjadikan seseorang beriman maka pertanyaannya pasti berbunyi:

من إلهك؟

atau kedua-duanya,..

من ربك ومن إلهك؟

3⃣Secara akal tidak mungkin orang yang meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta dan pengatur alam semesta itu menyembah selain-Nya, yang dia ketahui bukan pencipta dan bukan pengatur alam semesta ini.

☑️Dengan konsep tauhid Uluhiyah, kalian mengatakan bahwa orang yang melakukan tawassul, tabarruk dan Istighotsah dengan nabi dan para wali itu musyrik (beribadah kepada Nabi dan wali).

👍Ini adalah tuduhan syirik terhadap Nabi yang telah mengajarkan tawassul pada seorang sahabat buta, tuduhan syirik terhadap para sahabat seperti sahabat Umar ibn al Khaththab, Abu Ayyub al Anshori, Bilal Ibnu Harits al Muzani, Bilal bin Robah, Abdullah bin Umar dan para sahabat lainnya yang telah mempraktikkan tawassul dengan nabi dan para wali. Ini juga tuduhan syirik terhadap para ulama salaf dan mayoritas umat Islam yang senantiasa melakukan tawassul dengan nabi dan para wali.

👍Dalam tawassul tidak ada unsur ibadah kepada selain Allah, karena tawassul itu berdo’a kepada Allah dengan keagungan seorang Nabi atau Wali, bukan berdo’a kepada Nabi atau wali.

♦️Tidak ada seorang muslim-pun ketika bertawassul yang meyakini bahwa Nabi atau Wali itu adalah pencipta manfaat atau madlorrot, tetapi penyebutan nama mereka dalam doa kepada Allah adalah sebab syar’i dari dikabulkannya do’a seseorang.

☑️ Konsep tauhid al Asma’ wa as Shifat adalah cara kalian untuk menyembunyikan Aqidah tasybih dan tajsim.

Kalian mengatakan: “kami tidak mensifati Allah kecuali dengan sifat yang Allah sifatkan pada Dzat-Nya”.

Dengan konsep ini kalian juga mengkafirkan majoriti umat Islam yang mentakwil ayat-ayat sifat mutasyabihat yang makna zahirnya mengindikasikan bahwa Allah serupa dengan makhluk.

👍Dengan dalih pernyataan itu kalian mensifati Allah dengan duduk (julus), bersemayam (istiqrar), padahal Allah tidak pernah mensifati Dzat-Nya dengan sifat itu. *”Teori dan prakteknya berbeda”*

(Petikan dari FB Zaref Shah Al HaQQy)

04/07/2020 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Anjing bukan Najis?

Salam ustaz,..saye pernah terbaca fiqih seorang wahhabi kata Anjing bukan Najis,..betul ker,..?

Wasalam,…persoalan ini memang banyak mempersoalkan,..Namun mereka selalu mengutip pandangan segelitir ulama dan tak nak melihat jumhur.

Melalui isu ini dapat ditekuni bahawasanya terdapat perbezaan hukum di antara ulama’ empat mazhab mu’tabar. Namun di Malaysia konsep pemahaman agama Islam yang berorentasikan Mazhab Syafie telah zaman-berzaman dipraktikkan dan merupakan budaya masyarakat setempat yang perlu diraikan. Maka kami akan kemukakan jawapan menerusi Mazhab Syafie.

Anjing adalah termasuk sebagai najis mughallazah iaitu najis berat. Sama ada yang digunakan untuk berburu atau tidak, yang kecil atau yang besar. Ini berdasarkan hadis daripada Abu Hurairah R.A. Kata beliau :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي دَارَ قَوْمٍ مِنَ الأَنْصَارِ وَدُونَهُمْ دَارٌ ، قَالَ : فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ ، فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، سُبْحَانَ اللهِ تَأْتِي دَارَ فُلاَنٍ ، وَلاَ تَأْتِي دَارَنَا ، فقَالَ : فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لأَنَّ فِي دَارِكُمْ كَلْبًا ، قَالُوا : فَإِنَّ فِي دَارِهِمْ سِنُّوْرًا ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ السِّنُّوْرَ سَبُعٌ

Maksudnya :” Nabi SAW pernah masuk ke rumah seorang Ansar dan Nabi juga pernah tidak masuk ke rumah seorang Ansar yang lain. Abu Hurairah berkata : Perbuatan tersebut menyebabkan mereka terasa. Mereka berkata : Wahai Rasulullah, Maha Suci Allah, engkau masuk ke rumah fulan dan tidak masuk ke rumah kami. Nabi SAW bersabda : Ini kerana di dalam rumah kamu ada anjing. Mereka berkata : Di dalam rumah mereka terdapat sinnur (sejenis kucing yang disebut juga felidae). Maka Nabi SAW menjawab : Sesungguhnya sinnur itu adalah haiwan liar.”

(Hadis riwayat Imam Ahmad, No. 8324 di dalam Musnad).

Merujuk kepada Mazhab Syafie, setiap inci bagi seekor anjing itu adalah dikira sebagai najis. Sepertimana yang dikatakan oleh Imam al-Nawawi;

واعلم أنه لا فرق عندنا بين ولوغ الكلب وغيره من أجزائه فإذا أصاب بوله أو روثه أو دمه أو عرقه أو شعره أو لعابه أو عضو من أعضائه شيئا طاهرا في حال رطوبة أحدهما وجب غسله سبع مرات إحداهن بالتراب

Maksudnya; “Ketahuilah, tidak ada perbezaan di kalangan kami antara jilatan anjing dengan selainnya; daripada anggota-anggota anjing. Apabila terkena kencingnya, najisnya, darahnya, peluhnya, bulunya, air liurnya atau mana-mana anggota dari anggota badannya yang bersih ketika ia sedang berada pada keadaan apa sekalipun, maka wajib membasuhnya dengan tujuh kali basuhan dan salah satu daripadanya adalah tanah.

(Rujuk Al Minhaj bi Sharh Sahih Muslim, m/s 185)

Menyentuh anjing secara sengaja kerana menajiskan diri tanpa tujuan atau hajat adalah haram di sisi Islam. Sepertimana yang dinyatakan oleh Imam al-Bujairimi dan Sheikh Ibnu Hajar al-Haithami:

التضمخ بالنجاسة إنما يحرم

Maksudnya: Menyentuh najis secara sengaja ia adalah Haram.

(Rujuk Hasyiah Bujairami ala Syarah Manhaj al-Tullab, m/s 105 dan Hawasyi Tuhfah al-Manhaj bi Syarah al-Manhaj, m/s 174).

Kesimpulan di dalam isu ini, kami berpendapat menyentuh anjing atau mengusap kepalanya dengan tujuan lakonan dalam filem adalah tidak dibenarkan kerana dilakukan dengan sengaja tanpa sebab yang diizinkan oleh syara’. Jika menyentuhnya membawa kepada dosa dan sewajibnya menyamak tangan selepas sesi pengambaran dengan 7 kali basuhan air mutlak dan salah satu daripadanya air yang bercampur tanah.

Namun begitu, terdapat rukhsah bagi mereka yang membela atau memegang anjing yang didahulukan hajat dan keperluan selari dengan kehendak syara’. Ini berdasarkan dalil daripada hadis Nabi SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَمْسَكَ كَلْبًا، فَإِنَّهُ يَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطٌ، إِلَّا كَلْبَ حَرْثٍ أَوْ مَاشِيَةٍ

Maksudnya; “barangsiapa yang membela anjing, maka sesungguhnya mengurangi pada setiap hari dari amalannya satu qirat, kecuali anjing untuk pengawasan atau anjing menjaga binatang ternakan”.

(Hadis riwayat Bukhari, No. 2322)

Dari hadis tersebut, ia merupakan keizinan bagi mereka yang mahu membela anjing dengan disertakan hajat dan tujuan iaitu sebagai haiwan pemburu; atau pemandu jalan untuk orang buta sekiranya amat memerlukan dan tiada orang lain yang dapat membantu; atau tujuan keselamatan pihak berkuasa seperti Polis dan Kastam dan juga untuk mengawal keselamatan di sekitar rumah; atau sebagai haiwan penjaga untuk menjaga haiwan ternakan.

WallahuA’lam.

(Oleh Ustaz Zaref Shah Al HaQQy)

28/06/2020 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | | Leave a comment

*ISU ZIKIR ISM MUFRAD (MENYEBUT ALLAH, ALLAH BERULANG2 KALI)*

(1) Jumpa photoshot ini. (Btw… Siapa tahu HFA tu apa/siapa?)

(2) Jelas daripada apa yang disimpulkan dapat dilihat bagaimana kekeliruan2 dan sangkaan2 tiba2 diangkat seolah-olah itulah hakikat kebenaran sehinggakan tuntutan yang thabit daripada Al-Quran dan As-Sunnah pula dituduh bid’ah yang sesat!!! 🤦🏻‍♂️

(3)Dakwaan kononnya “bila dipersoalkan baru DICARI dalil2nya” jelas tidak kena dengan realiti.

(4) Dalil2 menyebut (zikir) Allah banyak2 dan berulang2 kali telah ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Bila dipersoalkan oleh orang-orang yang keliru tentang asas zikir (menyebut) Allah itu, maka DIPERJELASKAN dalil2nya, bukan BARU DICARI!

(5) Masalah dengan sebahagian ummat Islam sekarang adalah merasakan seolah-olah dalil itu hanya Sunnah fi’liyyah (perbuatan RasuulilLaah S.A.W) sahaja, padahal Al-Quran, As-Sunnah – termasuk qawliah (perkataan2 RasuulilLaah S.A.W) dan taqriiriyyah (pengiktirafan2 daripada RasuulilLaah S.A.W) -, ijmak dan Qiyaas dan lain-lain adalah dalil2 muktabar di dalam penetapan hukum.

_________///_________

* Ada 10 siri penerangan oleh Maulana Lutfi Muharam HafizhohulLaah yang lebih dari memadai sebenarnya bagi orang yang benar-benar jujur mencari kebenaran dan ikhlas berlapang dada meraikan sudut pandangan berbeza.

👇🏼👇🏼👇🏼

*Himpunan link status ilmiah dari Maulana Ahmad Lutfi Abu Faqeh tentang “Masaalah zikir ALLAH secara tunggal”. (isu zikir Allah Allah)*

1- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 1

2- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 2

3- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 3

4- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 4

5- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 5

6- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 6

7- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 7

8- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 8

9- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 9

10- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 10 (Akhir)

(FB Ustaz Engku Ahmad Fadzil)

22/06/2020 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | | Leave a comment

ISU Zikir ALLAH.

Ada orang bertanya, kenapa kita zikir nama Allah sahaja, kan Allah itu daripada dua perkataan al dan ilah maka Allah bermakna Tuhan itu, takkan kita zikir Tuhan itu 100 kali, apa manfaatnya?

Sebenarnya para ulama’ telah bersepakat bahawa Allah adalah lafzul jalalah dan ismu’Llah al-a’zham, nama Tuhan yang paling agung. Oleh itu Allah bukan bermakna Tuhan, tetapi ia adalah nama khas bagi Tuhan yang sebenar. Tuhan dlm bahasa Arab adalah ilah/ rabb. Jadi tak betul pandangan orang yang menyangka bahawa Allah itu nama umum yang bermaksud Tuhan. Ia adalah nama khusus dan nama ini diberikan oleh Allah sendiri, bukan dicipta oleh manusia.

Oleh kerana itu terjemahan bagi la ilaha illa’Llah bukan “tiada tuhan melainkan tuhan”, tetapi “tiada tuhan melainkan Allah”. Allah disitu adalah nama bagi Tuhan yang sebenar. Jika diterjemahkan kepada tiada Tuhan melainkan Tuhan maka ini terjemahan yang keliru dan tiada maknanya.

Maka jelaslah bahawa zikir nama Allah besar manfaatnya, ia mengingatkan kita kepadaNya, supaya kita tidak leka dengan yang lain, mendekatkan kita kepada Tuhan sebenar yang kita sentiasa mengabdikan diri padaNya, bukan tuhan-tuhan yang lain.

Ustaz Dr Khalif Muammar

21/06/2020 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Kenapa Rasulullah Beristighfar?

1. Sheikh al-Dahlawi menyebutkan bahawa terdapat sarjana Muslim yang berasa hairan mengapa Rasulullah sering beristighfar sedangkan Baginda telah diampunkan dosanya. Kata Sheikh al-Dahlawi:

*ولقد تحير العلماء في بيان معنى هذا الحديث وتأويله*

“Sesungguhnya (sebahagian) ulama merasa hairan ketika membahaskan hadith ini (hadith istighfar Rasulullah).” Ini kerana kita semua sedia maklum bahawa Rasulullah telah dikurniakan keampunan buat Baginda, bahkan Baginda adalah maksum. Lalu untuk apa lagi istighfar tersebut?

2. Menurut riwayat Sahih Muslim, Rasulullah dikatakan tenggelam dalam kekhusyukkan beristighfar. Sabda Baginda Nabi:

*إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِئَةَ مَرَّةٍ*

“Sesungguhnya hatiku tenggelam dalam keseronokan beristighfar. Dan sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah setiap hari seratus kali.” (HR Muslim)

3. Timbul persoalan di sini, mengapa Rasulullah yang maksum ini khusyuk dan tenggelam jiwanya dalam memohon keampunan buat Allah sedangkan Baginda adalah maksum.

Menurut al-Imam al-Nawawi, Baginda beristighfar bukan buat dirinya akan tetapi untuk umatnya iaitu kita! Kata al-Imam al-Nawawi:

*هُوَ هَمُّهُ بِسَبَبِ أُمَّتِهِ وَمَا اطَّلَعَ عَلَيْهِ مِنْ أَحْوَالِهَا بَعْدَهُ فَيَسْتَغْفِرُ لَهُمْ*

“Ia adalah disebabkan kerana keperihatian Nabi terhadap umatnya, Baginda memerhati hal ehwal yang akan menimpa umatnya lalu Baginda beristighfar buat mereka. (al-Nawawi, Sharh Muslim).

4. Bayangkan, Rasulullah sendiri memohon istighfar buat kita kerana dosa dan kesilapan yang kita lakukan. Tidak malukah kita kepada Rasulullah yang memohon istighfar buat umatnya sedangkan kita sendiri jarang beristighfar?

5. Menurut al-Qadi Iyyad pula, Baginda mengucapkan istighfar setiap masa kerana bimbang terdapat terdapat masa yang hatinya leka dari mengingati Allah.

*كَانَ شَأْنُهُ الدَّوَامَ عَلَيْهِ فَإِذَا فتَرَ عَنْهُ أَوْ غَفَلَ عَدَّ ذَلِكَ ذَنْبًا وَاسْتَغْفَرَ مِنْهُ*

“Sesungguhnya hati Rasulullah itu sentiasa berada dalam keadaan zikir (mengingati Allah), namun apabila Baginda teralpa atau terleka seketika, maka Baginda segera beristighfar kerana leka dari berzikir kepada Allah.” (Sharh Muslim)

6. MashAllah! Begitu tinggi iman seorang Nabi. Tidak ada masa bagi hatinya untuk alpa dari mengingati Allah. Sekiranya terleka seketika, Baginda segera memohon keampunan dari Allah.

7. Malah al-Nawawi menegaskan bahawa istighfar Rasulullah itu adalah manifestasi pengabdian Baginda kepada Allah, iaitu menundukkan seluruh jiwa dan raganya hanya kerana Allah sebagai tanda hamba yang bersyukur.

8. Andai Rasulullah sendiri beristighfar untuk kita setiap hari, malulah kita jika kita sendiri tidak beristighfar setiap hari. Malah sekiranya Rasulullah sendiri beristighfar untuk menzahirkan sifat kehambaan dan syukur kepada Allah, maka kita lebih perlu untuk menzahirkan rasa syukur kepada Allah.

Semoga Allah membimbing kita.

Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

20/06/2020 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

TAKUT MASUK RUMAH YANG DAH LAMA DITINGGALKAN ATAU DAH LAMA TAK DIDIAMI

Oleh : Ustaz Wan Asrul AL- Kalantani

Ramai yang risau untuk berkunjung ke hotel, homestay dan resort untuk percutian setelah selesai Musim PKP, ALASAN?

Takut ada gangguan jin kata mereka. Rumah atau kediaman yang lama tidak diduduki akan didiami oleh jin, kata mereka lagi. Heboh khabarini. Betulkah?

No.1:

Jangan takut dengan semua itu, takut pada ALLAH. Jangan bimbang, tiada mudharat, dengan izin ALLAH Azza Wa Jalla.

No.2:

Ummar atau Awamir sejenis golongan jin yang akan masuk mendiami rumah manusia selepas 3 hari tiada manusia di dalam rumah. Tempat tinggal mereka sebenar di mana? Mereka ini tinggal di atas bumbung rumah manusia. Eh kenapa pula? Memang itu fitrah. Bayangkan mereka pun tinggal dalam rumah seperti manusia, tentunya haru biru jadinya, adil ALLAH letakkan kedudukan, supaya tidak berebut manusia dan jin. Jadi, selepas 3 hari, tiada manusia menghuni kediaman tersebut, Awamir akan masuk, untuk makluman Awamir jenis jin kebudak-budakan, sifat mereka suka bermain, itu sahaja, tidak lebih dari itu. Sebab itu mereka akan masuk ke dalam rumah manusia yang tiada penghuni. Samalah budak-budak alam manusia pun, begitu juga keadaannya. Dan mereka ini takut pada manusia, terutamanya manusia Soleh, sudah tentu.

No.3:

Jika ada kediaman yang sudah lama tidak didiami, kaedahnya mudah sahaja. Ketuk pintu isyarat kehadiran kita, ucapkan kalimat :

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
“Selamat sejahtera atasmu wahai NABI dan rahmat ALLAH dan keberkatanNYA.
Selamat sejahtera atas kita dan juga hamba-hamba ALLAH yang baik-baik.”

Kemudian ucapkan Salam :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Rumah tiada orang pun kena bagi salam juga kah? Yes of course. Merujuk Surah An Nur ayat 61 :

فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّـهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
“Maka apabila kamu masuk ke mana-mana rumah, hendaklah kamu memberi salam kepada (sesiapa yang seperti) kamu dengan memohon kepada ALLAH cara hidup yang berkat lagi baik.”

Jadi, jangan kepelikan sangat ya.

Jika hendak tambah, boleh tambah dengan doa Masuk Rumah :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَوْلِجِ وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ
بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا، وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا، وَعَلَى رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا
Ya ALLAH, aku memohon sebaik-baik tempat masuk dan sebaik-baik tempat keluar.
Dengan nama ALLAH, kami masuk (ke rumah), dengan nama ALLAH, kami keluar (darinya) dan kepada RABB kami, kami bertawakkal.

No.4:,

Melangkah masuk ke dalam rumah dengan yaqin pertolongan ALLAH Azza Wa Jalla ada bersama kita. Sudah tentu langkah masuk dengan kaki kanan ya.

Usah kaget mencari ustaz atau paranormal hendak menghalau kononnya jin dalam rumah.

Kalian lakukan seperti kaedah di atas, selesai cerita. InsyaALLAH lancar segalanya.

Semoga bermanfaat. Wassalam..

12/06/2020 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , , , | Leave a comment

8 PERKARA YANG MENCARIK ADAT

Diterangkan di dalam kitab Aqidatul Najin Fi Ilmu Usul Ad Din bahawa perkara luar biasa (mencarik adat) merangkumi 8 perkara:

[1] Mukjizat : berlaku kepada rasul selepas kerasulan
[2] Irhas إرهاس : Berlaku kepada rasul sebelum kerasulan
[3] Karamah : Berlaku pada wali allah
[4] Ma’unah : Berlaku di kalangan orang awam untuk terlepas dari kesusahan. Maunah beerti pertolongan Allah kepada seseorang supaya menjadi kuat beribadah dan taat kepada TuhanNya

[Peringatan] Empat perkara luar biasa di atas adalah yang benar, tidak perlu belajar.

[5] Sihir : berlaku dikalangan mereka yang mengamalkan sihir
[6] Istidraj إستدرج : Terdapat dikalangan orang kafir dan orang muslim yang fasiq melalui tipu daya. Erti istidraj ialah kerja yang disangka baik tetapi membawa tuannya ke neraka.
[7] Sya’wadzah شعوذة : Permainan silap mata yang merupakan satu sihir
[8] Ihanah إهانة : Lahir dari orang dusta

[Peringatan] Empat perkara luar biasa terakhir adalah yang batil, diperolehi dengan belajar.
(rujuk : Aqidatul Najin Fi Ilmi Usul Addin : m/s 76)

#Sumber

12/06/2020 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

KENAPA KITAB AL-UMM TIDAK DIBUAT RUJUKAN PENGAJIAN??

Pagi ni, saya ada dapat satu video menerusi YouTube, seorg maulahum yg membicarakan mengenai rujukan kpd al-Umm, kenapa tidak dijadikan sumber pengajian? Persoalan yg sangat menarik, maka saya berikan serba sedikit pandangan seperti berikut:

1) Jika maulahum nak rujuk terus kpd kitab al-Umm, ya, seeloknya maulahum perlu juga membuat mukhtasar terhadap kitab ini agar memudahkan masyarakat memahami karya al-Umm sebagaimana yg dilakukan oleh Imam al-Muzani, murid kepada Imam al-Shafi’i. Perlu diingat, setelah karya mukhtasar oleh al-Muzani dilakukan, maka terhasil pula karya-karya yg mensyarahkannya, ada pula karya2 yg meringkaskan karya-karya syarah itu, disusuli lagi dgn karya-karya hasyiah dsb sehinggalah umat Islam dapat memahami fiqh al-Shafi’i dgn sebaiknya. Persoalannya, maulahum mampu ke nak melakukan demikian walaupun dimulai dgn karya mukhtasar terlebih dahulu? Dah faham ke kesemua istilah yg terdapat di dalam karya al-Umm? Mampu dan faham la kot noo. Sebab tu la dia minta kita terus rujuk karya ini. Kalau kita, kita jawab, kita tak mampu. Jadi, nak menanti la satu karya mukhtasar oleh maulahum pula..😁😁

2) Golongan wahhabiyah hanya merujuk karya al-Umm ketika membicarakan mengenai permasalahan khilaf yg seringkali digunakan oleh mereka utk permasalahan tertentu sahaja, sedangkan al-Umm adalah karya fiqh yg merangkumi semua permasalahan agama. Biasanya, golongan wahhabiyah hanya merujuk karya al-Umm utk isu talqin, bacaan al-Quran adakah sampai kepada si mati, dan zikir secara berjemaah selepas solat sahaja. Sepatutnya mereka perlu merujuk kesemua karya al-Umm itu dari mula sehingga habis. Kenapa tidak merujuk semua? Agaknya, mereka sendiri pun tidak menguasai karya ini dengan baik, sbb itulah mereka tidak merujuk semua permasalahan agama menerusi karya ini. Jadi, adakah masih nak menyahut cabaran utk menghasilkan karya mukhtasar kpd al-Umm? Tanya saja. Bukanlah nak memperkecilkan sesiapa..😁😁

3) Maulahum kata, ulama Nusantara tidak ajar kitab al-Umm sbb ditakuti akan terdedah dalil-dalil yg di mana org awam akan persoalkan dalil2 itu. Jadi, nak elak daripada ditanya dalil-dalil, akan digunakan kitab kecil sahaja sbb tiada dalil. Mudah sikit nak ajar masyarakat tanpa dalil. Kita jawab begini: di dalam permasalahan fiqh, ada tingkatan pembelajarannya. Ada tingkatan permulaan, pertengahan, tingkatan yg tinggi, tingkatan hafazan trhdp mutun mazhab, seterusnya mujtahid dalam mazhab dsb. Org awam yg nak belajar fiqh, baru sampai ke tingkatan mana? Dah sampai ke tingkatan tinggi ka? Dah bersedia utk berbahas ka? Sudah tentu mereka baru peringkat permulaan. Apa faedahnya mereka diajar kitab yg tinggi2? Jika didedahkan kpd dalil pun, mereka tidaklah mengusai dalil-dalil itu. Mereka fahamkah utk istinbat dalil2? Sbb itulah para ulama mengajar kitab-kitab yg ringan utk memudahkan org awam faham fiqh dan beramal dgnnya, bukan takut org awam tanya itu ini, mana dalil dsb. Fiqh adalah utk diamalkam, bukan utk diperdebatkan. Jika dah sampai ke peringkat tinggi pun, mereka tidaklah diajar utk berdebat dgn org, tetapi diajar utk menyelesaikan isu-isu baru pada zaman kini yg tidak disebutkan dgn jelas dlm kitab2 lama, utk disesuaikan dgn kaedah-kaedah dlm mazhab Shafi’i.

Saya rasa, cukuplah sekadar ini perbicaraan mengenai isu di atas. Moga-moga kita mendapat kefahaman yg mendalam terhadap agama, bukannya mendabik dada seakan-akan diri itu terlalu alim berbanding para ulama nusantara.

Wallahua’lam.

Kredit : Dr Murshidi Mohd Noor

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213024412964276&id=1810990976

08/06/2020 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

Kemuktabaran Faham Ulama Syafii Terhadap Hadis Bidaah

Oleh : Dr Mohd Khafidz Soroni (KUIS)

Oleh kerana mazhab Imam as-Syafii didokong oleh ramai ulama hadis, maka ia menjadi antara mazhab fiqah muktabar ASWJ yang tersebar luas dan dipegang oleh ramai umat Islam di dunia. Nusantara merupakan antara wilayah dalam dunia Islam yang dipengaruhi oleh mazhab Syafii. Sejak sekian abad lamanya, umat Islam Nusantara beramal dengan mazhab Syafii. Para ulama Nusantara juga secara konsisten mempraktikkan kaedah dan usul mazhab Syafii ini. Ini termasuklah kefahaman mereka terhadap konsep bidaah.

Namun, dalam era mutakhir, kefahaman ulama Syafii terhadap konsep bidaah ini mula ‘dikacau’ dan ‘diganggu gugat’ oleh aliran mazhab lain yang dibawa masuk ke Nusantara. Hal ini sewajarnya tidak berlaku jika cara yang digunakan adalah dalam batasan adab berkhilaf pendapat.

Ibaratnya seperti orang luar yang datang masuk ke sebuah kampung, maka tidak sewajarnya dia terus berbuat sesuka hati, menyuruh itu, mengubah ini dan menegur perbuatan orang kampung yang menurut kaca matanya salah dan silap. Orang seperti ini sudah tentu akan dicap oleh mereka sebagai biadap. Apatah lagi jika dia memang jahil tentang tata cara, aturan dan pendekatan yang dipraktikkan oleh penduduk kampung tersebut.

Hadis Tentang Bidaah

Hadis al-‘Irbadh bin Sariyah RA tentang bidaah bukanlah hadis yang tersembunyi bagi para ulama Syafii. Mereka juga bukan jahil tentang pengertian dan maksudnya. Namun, pendekatan mereka dalam memahaminya yang perlu difaham dan dihadam. Kemunculan istilah ‘as-sunnah’ dan ‘al-bidaah’ dalam hadis al-‘Irbadh menjadikan hadis ini cukup penting sehingga Imam an-Nawawi mengkelaskannya dalam kitab al-Arba‘in beliau antara 42 buah hadis yang disebut sebagai (قواعد الدين) “kaedah-kaedah atau dasar-dasar agama”. Matannya:

عن العـرباض بن سارية رضي الله عنه، قال: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ فَقَالَ: أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. وفي رواية: وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ. (رواه أحمد [17144] وأبو داود [4607] والترمذي [2676] وقال: حديث حسن صحيح، وابن ماجه وابن حبان والحاكم وقال: حديث صحيح ليس له علة)

Terjemahan:

Daripada al-‘Irbadh bin Sariyah RA katanya: Pernah suatu hari Rasulullah SAW bersolat dengan kami, kemudian baginda menghadap kepada kami, lalu menyampaikan peringatan yang mendalam kepada kami yang menyebabkan air mata tergenang dan hati-hati menjadi takut, maka (setelah selesai) seseorang bertanya: ‘Ya Rasulullah, seolah-olah ini adalah peringatan untuk mengucap selamat tinggal, maka apakah yang tuan ingin pesan/wasiat kepada kami?’ Lalu Baginda SAW bersabda: ‘Aku berwasiat kepada kamu sekelian supaya bertaqwa kepada Allah, supaya mendengar dan taat, walaupun ia seorang hamba abdi Habasyi (yang diangkat menjadi ketua kamu sekelian). Maka sesungguhnya sesiapa dari kalangan kamu yang hidup sesudahku, ia akan melihat berlaku perselisihan yang banyak, maka hendaklah kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafa’ al-Rasyidin yang mendapat hidayat (daripada Allah), peganglah dan gigitlah ia dengan gigi geraham kamu. Dan hendaklah kamu sekalian berwaspada/berjaga-jaga daripada (mengadakan) perkara-perkara baru (dalam urusan agama), maka sesungguhnya setiap yang baru itu adalah bidaah, dan setiap bidaah itu adalah sesat’. Dalam satu riwayat: ‘Dan hendaklah kamu sekalian berwaspada daripada perkara-perkara baru, maka sesungguhnya ia adalah sesat’. (HR Ahmad, Abu Dawud, al-Tirmidhi, katanya: Hadith hasan sahih, Ibn Majah, Ibn Hibban dan al-Hakim).

Laras bahasa (siyaq) hadis jelas menunjukkan ianya berkait dengan “kaedah-kaedah atau dasar-dasar agama” sepertimana kata Imam an-Nawawi. Dengan erti kata lain, hadis ini menegaskan bahawa umat Islam wajib mengikuti syariat Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam supaya mereka tergolong sebagai Ahli Sunnah serta memperingatkan mereka agar tidak menyimpang dari syariat baginda SAW yg pastinya menjadikan mereka tergolong sebagai Ahli Bidaah.

Faham Ulama Syafii

al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari turut mengkelaskan hadis ini sebagai kaedah syarak yang umum (قاعدة شرعية كلية). Kata beliau (13/254):

وأما قوله في حديث العرباض: “فإن كل بدعة ضلالة”، بعد قوله: “وإياكم ومحدثات الأمور”، فإنه يدل على أن المحدث يسمى بدعة. وقوله: “كل بدعة ضلالة” قاعدة شرعية كلية بمنطوقها ومفهومها. أما منطوقها فكأن يقال: حكم كذا بدعة وكل بدعة ضلالة، فلا تكون من الشرع لأن الشرع كله هدى. فان ثبت أن الحكم المذكور بدعة صحت المقدمتان وأنتجتا المطلوب، والمراد بقوله: “كل بدعة ضلالة” ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام.

Terjemahan: “Adapun sabdanya dalam hadis al-‘Irbadh: “Maka sesungguhnya setiap bidaah itu adalah sesat” selepas sabdanya: “Dan hendaklah kamu sekalian berwaspada daripada (mengadakan) perkara-perkara baru”, maka ia menunjukkan bahawa perkara baru itu dinamakan bidaah. Dan sabdanya: “Setiap bidaah itu adalah sesat” adalah satu kaedah syarak yang umum dari aspek laras bahasanya dan juga konsepnya. Adapun aspek laras bahasanya, maka seolah-olah dikatakan: Hukum ini adalah bidaah dan setiap bidaah itu adalah sesat, maka ianya bukan daripada syarak kerana syarak itu kesemuanya adalah petunjuk belaka. Maka, jika sabit hukum berkenaan sebagai bidaah, maka sahlah dua mukadimah tadi dan menghasilkan apa (hukum) yang dikehendaki. Dan maksud sabdanya: “Setiap bidaah itu adalah sesat” ialah apa yang diada-adakan, sedangkan tidak ada sebarang dalil baginya daripada syarak, sama ada melalui dalil khas mahupun am”.

Jelasnya, hadis tersebut adalah termasuk kaedah-kaedah umum dalam syarak (القواعد الشرعية الكلية), namun ia tidak termasuk dalam kaedah-kaedah fiqah (القواعد الفقهية). Justeru itu, Imam Taj ad-Din as-Subki (w. 771H) mahupun Imam as-Suyuti (w. 911H) tidak memasukkannya sebagai kaedah-kaedah fiqah di dalam kitab mereka, al-Asybah wa al-Naza’ir. Perkara ini jelas disepakati oleh semua ulama fiqah, khususnya ulama mazhab Syafii.

Justeru, perkara baru yang dianggap bidaah ialah perkara baru yang terkeluar daripada syariat. Adapun perkara baru yang didapati tidak terkeluar daripada syariat, maka ia tidak dianggap sebagai bidaah yang dimaksudkan di dalam hadis tersebut. Kerana itu Imam as-Syafi‘i (w. 204H) membahagikan bidaah kepada dua bahagian, iaitu bidaah yang dipuji (baik) dan bidaah yang dikeji (buruk). Pembahagian ini bukan sebab beliau jahil tentang hadis larangan melakukan bidaah, tetapi kerana keluasan ilmu, ketajaman akal dan kejituan pengamatan beliau terhadap apa yang dimaksudkan oleh baginda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam.

al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath al-Bari menukilkan (13/253):

قَالَ الشَّافِعِيُّ: “الْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ مَحْمُودَةٌ وَمَذْمُومَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُودٌ، وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُومٌ”، أَخْرَجَهُ أَبُو نُعَيْمٍ بِمَعْنَاهُ مِنْ طَرِيقِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْجُنَيْدِ عَنِ الشَّافِعِيِّ. وَجَاءَ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَيْضًا مَا أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي مَنَاقِبِهِ قَالَ: “الْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ مَا أُحْدِثُ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلَالِ، وَمَا أُحْدِثُ مِنَ الْخَيْرِ لَا يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُومَةٍ”. اهـ

Maksudnya:

Kata Imam al-Syafi’i: “Bidaah ada dua bahagian; (bidaah) yg dipuji dan (bidaah) yg dikeji. Maka, apa yang menepati sunnah, maka ia adalah yg dipuji dan apa yang menyalahinya, maka ia adalah yg dikeji”. Abu Nu’aim mengeluarkannya dgn makna yang serupa daripada jalur Ibrahim bin al-Junaid daripada al-Syafi’i. Juga diriwayatkan daripada al-Syafi’i yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam kitab Manaqibnya, kata beliau: “Perkara2 yang baharu ada dua jenis; (Pertama) apa yang direka-reka yang menyalahi al-Quran atau sunnah atau athar atau ijmak, maka ini adalah bidaah yang sesat. (Kedua) apa yang direka-reka daripada kebaikan yang tidak menyalahi sedikit pun daripada yg tersebut, maka ini adalah perkara baharu yg tidak dikeji”.

Jelasnya, sesuatu kebaikan atau amalan yang tidak menyalahi al-Quran, sunnah, athar atau ijmak menurut Imam al-Syafi’i adalah harus dilakukan. Perlu diketahui, Imam al-Syafi‘i adalah antara tokoh besar dari kalangan Atba‘ at-Tabi‘in yg sempat melihat cara dan kebiasaan hidup secara amali generasi Salaf yg awal. Maka, sudah tentu beliau memahami bagaimana para ulama Salaf berinteraksi dgn perkara2 baharu dan isu2 bidaah.

Lihat misalnya antara yg dilakukan oleh para sahabat RA:

Bilal RA memulakan solat sunat wuduk setiap kali beliau berwuduk, apabila amalan tsb diketahui oleh Nabi SAW kemudiannya, baginda tidak pula menegurnya agar tidak berbuat begitu lagi. Ada seorg sahabat Nabi SAW yg setiap kali beliau mengimami solat, beliau akan membaca Surah al-Ikhlas pd setiap rakaatnya. Perbuatannya ini tidak dilarang oleh Nabi SAW. Seorg sahabat Nabi SAW pernah mengucapkan ketika beliau bangkit dari rukuk: (ربنا لك الحمد حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه).Khubaib bin ‘Adi RA tlh bersolat sunat dua rakaat sebelum beliau dibunuh. Imam al-Bukhari meriwayatkan: (فكان خبيب هو من سن الركعتين لكل امرئ مسلم قتل صبراً) “Maka, Khubaib merupakan org yg memulakan sunat dua rakaat bagi setiap org muslim yg dibunuh dlm keadaan sabar”.Mu‘awiyah bin Mu‘awiyah al-Muzani RA sentiasa melazimi bacaan Surah al-Ikhlas dlm apa jua keadaan, sama ada berdiri, duduk, berkenderaan atau berjalan kaki hingga jenazahnya tlh disaksikan oleh 70,000 malaikat.Dan pelbagai lagi. (lihat secara luas dlm kitab as-Sunnah wa al-Bidaah oleh as-Sayyid ‘Abdullah Mahfuz al-Haddad Ba‘alawi)

Kalaulah para ulama memahami hadis bidaah itu sptmn zahirnya, nescaya ilmu fiqah tidak akan wujud sbgmn yg kita lihat sekarang. Sbb itu, antaranya Imam an-Nawawi (w. 676H) memahami hadis tsb sbg ‘am makhsus (umum yang dikhususkan). Kata beliau dlm al-Majmu‘ (4/518):

قوله صلي الله عليه وسلم: “كل بدعة ضلالة”، هذا من العام المخصوص لان البدعة كل ما عمل علي غير مثال سبق. قال العلماء: وهى خمسة اقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة. وقد ذكرت أمثلتها واضحة في تهذيب الاسماء واللغات، ومن البدع الواجبة تعلم أدلة الكلام للرد علي مبتدع أو ملحد تعرض، وهو فرض كفاية، ومن البدع المندوبات بناء المدارس والربط وتصنيف العلم ونحو ذلك. اهـ بتصرف يسير

Maksudnya:

“Sabdanya SAW: ‘Setiap yg bidaah itu sesat’. Ini adalah drpd perkara umum yang dikhususkan krn bidaah ialah setiap perkara yg diamalkan yg tidak menurut contoh yg terdahulu. Kata para ulama: Ia ada lima bahagian, iaitu wajib, sunat, haram, makruh dan harus. Aku tlh menyebutkan contoh2nya secara jelas di dlm kitab Tahzib al-Asma’ wa al-Lughat. Antara bidaah yg wajib ialah mempelajari dalil2 kalam utk menolak ahli bidaah atau ateis yg mencabar, dan ianya adalah fardhu kifayah… dan antara bidaah yg sunat pula ialah membina sekolah dan balai, menyusun ilmu dan seumpamanya”.

Oleh krn kata-kata Imam an-Nawawi dlm kitab Tahzib al-Asma’ wa al-Lughat itu lbh terperinci, maka saya bawakan perkataan beliau itu sepenuhnya spt berikut, kata beliau (3/22):

“Bidaah dari segi syarak ialah mengadakan sesuatu yg tidak pernah ada di zaman Rasulullah SAW, dan ianya trbahagi kpd baik dan buruk. Kata Syeikh Imam yg disepakati keimaman, kehebatan dan penguasaannya dlm pelbagai jenis ilmu serta kebijaksanaannya Abu Muhammad ‘Abd al-‘Aziz ibn ‘Abd as-Salam (w. 660H) رحمه الله ورضي عنه di akhir kitab al-Qawa‘id: Bidaah itu trbahagi kpd wajib, haram, sunat, makruh dan harus.

Katanya lagi: Kaedah dlm hal demikian ialah membentangkan bidaah itu kepada kaedah-kaedah syariat. Maka, jika ia termasuk dlm kaedah-kaedah wajib, maka wajiblah ia, atau dlm kaedah-kaedah haram, maka haramlah, atau sunat, maka sunatlah, atau makruh, maka makruhlah, atau harus, maka haruslah.

Contoh-contoh bagi bidaah yg wajib, antaranya: (Pertama) menyibukkan diri dgn ilmu nahu yg dpt difahami melaluinya kalam Allah Taala dan kalam Rasulullah SAW, dan yg demikian itu adalah wajib, krn memelihara syariat itu adalah wajib serta tidak dapat dipenuhi pemeliharaannya melainkan dgn cara yg demikian. Sesuatu yg tidak sempurna perkara yg wajib itu melainkan dgnnya, maka ia adalah wajib (ما لا يتم الواجب إلا به، فهو واجب). Kedua, menjaga kalimah gharib (janggal) al-Quran dan sunnah dari aspek bahasa. Ketiga, membukukan ilmu usul ad-din dan usul al-fiqh. Keempat, perbincangan ttg al-jarh wa al-taadil dan membezakan hadis yg sahih drpd hadis yg lemah. Sesungguhnya kaedah2 syariat menunjukkan bhw menjaga syariat itu adalah fardhu kifayah pd perkara yg merupakan tambahan ke atas perkara yg fardhu ain, dan yg demikian itu semua tidak dpt dipenuhi melainkan dengan apa yg tlh kami sebutkan. Contoh-contoh bagi bidaah yg haram, antaranya: mazhab2 Qadariyyah, Jabariyyah, Murji’ah dan Mujassimah. Manakala menolak hujah-hujah mrk pula adalah trmasuk bidaah yg wajib.Contoh-contoh bagi bidaah yg sunat, antaranya: membina balai-balai dan sekolah-sekolah serta semua perkara kebajikan yg tidak pernah ada di zaman yg awal. Antaranya lagi: solat tarawih (20 rakaat scara berjemaah dgn satu imam), perbicaraan ttg perkara2 tasawuf yg halus serta perdebatan ilmiah. Antaranya lagi: mengadakan forum2 utk menyatakan dalil jika tujuannya itu adalah demi redha Allah Taala.Contoh-contoh bagi bidaah yg makruh, antaranya seperti: mempercantikkan masjid dan memperhiasi mushaf al-Quran.Contoh-contoh bagi bidaah yg harus, antaranya: bersalaman selepas solat Subuh dan Asar. Antaranya lagi: memperluaskan pd perkara-perkara yg sedap dari aspek makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal, memakai selendang dan meluaskan lengan baju.

Boleh jadi terdapat perbezaan pendapat pada sesetengah perkara yang tersebut, iaitu seperti sebahagian ulama menjadikannya termasuk antara bidaah yang makruh, manakala sebahagian yang lain pula menjadikannya termasuk antara sunnah yang diamalkan di zaman Rasulullah SAW dan zaman seterusnya, iaitu sepertimana bacaan isti‘azah dalam solat dan bacaan basmalah. Demikianlah akhir kata-kata beliau (yakni Imam Ibn ‘Abd as-Salam).

al-Baihaqi tlh meriwayatkan dengan sanadnya dlm kitab ‘Manaqib as-Syafi‘i’ drpd Imam as-Syafi‘i رضي الله عنه kata beliau: “Perkara-perkara yang baharu itu ada dua jenis; Pertama, apa yang diada-adakan yang menyalahi al-Quran atau sunnah atau athar atau ijmak, maka ini adalah bidaah yang sesat. Kedua, apa yang diada-adakan daripada perkara kebaikan yang tidak ada khilaf pdnya bagi seorg pun dari kalangan para ulama, maka ini adalah perkara baharu yang tidak dikeji”.

Kata ‘Umar رضي الله عنه mengenai solat qiyam di bulan Ramadhan (tarawih): (نعمت البدعة هذه) “Sebaik-baik bidaah yg ini”, yakni ianya perkara baru yg belum pernah ada, dan apabila berlaku, ianya tidak pun mengandungi sebarang penolakan terhadap perkara yg telah lalu. Demikian akhir kalam as-Syafi‘i رضي الله تعالى عنه. (tamat nukilan Imam an-Nawawi)

Kata-kata Imam Ibn ‘Abd as-Salam itu juga dinukilkan dan diperakukan oleh al-Hafiz Ibn Hajar di dlm kitabnya Fath al-Bari (13/254). Kata beliau juga di bahagian lain (4/253):

والبدعة أصلها ما أحدث على غير مثال سابق، وتطلق في الشرع في مقابل السنة، فتكون مذمومة، والتحقيق أنها أن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة وأن كانت مما تندرج تحت مستقبح في الشرع فهي مستقبحة، وإلا فهي من قسم المباح، وقد تنقسم إلى الأحكام الخمسة.

Maksudnya:

“Bidaah itu asalnya ialah apa yang diada-adakan yang tidak menurut contoh yang terdahulu. Dan ia diungkapkan dari segi syarak sebagai lawan kepada sunnah, maka ianya adalah dikeji. Secara tahkik, sesungguhnya ia jika termasuk antara perkara yang tergolong di bawah perkara yang dipandang baik dari segi syarak, maka ia adalah baik, dan jika ia termasuk antara perkara yang tergolong di bawah perkara yang dilihat buruk dari segi syarak, maka ia adalah buruk. Jika tidak pula, maka ia adalah daripada bahagian harus. Ia juga terbahagi kepada hukum-hakam yang lima”.

Penutup

Ringkasnya, sesuatu perkara yang baru menurut ulama Syafii adalah tertakluk kepada hukum hakam fiqah yang lima. Manakala sesuatu kebaikan atau amalan yang tidak menyalahi al-Quran, sunnah, athar mahupun ijmak ulama menurut mereka adalah dibolehkan dan tidak salah untuk dilaksanakan. Demikianlah kefahaman ulama Syafii terhadap konsep bidaah dan hadis yang berkaitan dengannya. Kefahaman ini jelas merupakan kefahaman yang muktabar yang diterima oleh semua para ulama.

Apa yang lucu, ada seorang Arab yang kononnya mahir dengan bahasa Arab menyatakan bahawa kefahaman terhadap hadis bidaah seperti itu adalah salah dan silap, sambil membebel tentang amalan-amalan khilafiyyah yang diamalkan oleh orang Melayu. Apakah kefahaman bahasa Arabnya itu lebih muktabar daripada kefahaman Imam as-Syafi‘i, Imam al-Baihaqi, Imam Ibn ‘Abd as-Salam, Imam an-Nawawi, al-Hafiz Ibn Hajar dan lain-lainnya رحمهم الله تعالى??? Memang agak lucu, bak kata pepatah: ‘Bagai anjing menyalak bukit, bukit takkan runtuh’.

https://sawanih.blogspot.com/2020/06/kemuktabaran-faham-ulama-syafii.html?m=1

04/06/2020 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Ahli Hadis Silam dan Moden: Antara Langit dan Bumi

Oleh : Dr Mohd Khafidz Soroni KUIS

1. Terdapat sebuah kelompok Islam kini yang mendakwa mengikut mazhab ahli hadis dan tidak mahu mengikut mana-mana mazhab fiqah muktabar yang sedia ada. Antara alasan mudahnya, ahli hadis silam tidak mengikut mana-mana mazhab fiqah. Mereka juga mahir tentang fiqah, bukan sekadar hadis semata-mata. Dakwa mereka, sesiapa yang mengatakan ahli hadis silam tidak pandai ilmu fiqh adalah tersilap kerana mereka bukan sahaja menukilkan hadis dan menilainya, bahkan mereka juga mementingkan aspek fiqah pada hadis. Misalnya, tajuk-tajuk bab (تراجم الأبواب) dalam Sahih al-Bukhari membuktikan betapa tajamnya pemahaman Imam al-Bukhari (w. 256H) dalam bab fiqah.

2. Hakikatnya, mendatangkan nama al-Bukhari sebagai contoh tidak memberikan isyarat tipikal bahawa kesemua ahli hadis itu adalah sama seperti beliau. Imam al-Bukhari hanyalah salah seorg daripada sebilangan tokoh yang menguasai hadis dan fiqah sekaligus daripada sekian puluhan ribu ahli hadis di zaman itu. Benar, jasa ahli hadis dalam disiplin pengajian Islam memang cukup besar dalam memelihara warisan hadis Nabi SAW. Namun, tidak kesemua mereka mahir dalam aspek istinbat hukum yang lebih dikuasai oleh ahli fiqah.

3. Kelompok tersebut sebenarnya skadar memberikan contoh Imam al-Bukhari atau beberapa imam hadis lain bagi mengharuskan kumpulan mereka tidak mengikut mana-mana mazhab fiqah muktabar yang ada. Walhal perbezaan antara mereka dengan imam-imam hadis itu adalah cukup besar dan jauh ketara, bagaikan langit dengan bumi.

4. Ahli hadis silam hidup dalam persekitaran ilmu yang cukup hebat dan mantap. Ini kerana mereka hidup dalam tempoh yang tidak begitu jauh dari zaman para sahabat radiyaLlahu ‘anhum dan para tabiin radiyaLlahu ‘anhum. Justeru, warisan ilmu daripada mereka, termasuk hadis dan fiqah sudah terjasad dalam persekitaran hidup pada masa itu. Di samping, ada di kalangan mereka yang mencapai tahap ilmu yang lebih tinggi, iaitu sebagai mujtahid. Misalnya:

i. Di Makkah; Imam Sufyan bin ‘Uyainah (198).
ii. Di Madinah; Imam Sa‘id bin al-Musayyib (94), Imam Rabi‘ah ar-Ra’y (136), Imam Malik bin Anas (179).
iii. Di Mesir; Imam al-Laith bin Sa’ad (175), Imam as-Syafi’i (204).
iv. Di Basrah; Imam al-Hasan al-Basri (110).
v. Di Kufah; Imam Ibrahim an-Nakha‘i (96), Imam as-Sya‘bi (103), Imam Ibn Syubrumah (144), Imam Ibn Abi Laila (148), Imam Abu Hanifah (150), Imam Sufyan at-Thauri (161), Imam Syuraik al-Qadhi (177).
vi. Di Baghdad; Imam ‘Abdul Rahman bin Mahdi (198), Imam Abu Thaur (240), Imam Ahmad bin Hanbal (241), Imam Dawud az-Zahiri (270), Imam Ibnu Jarir at-Tabari (310).
vii. Di Naisabur; Imam Ishaq bin Rahawaih (238).
viii. Di Syam; Imam al-Auza‘i (157).
ix. Di Khurasan; Imam Ibn al-Mubarak (181).
x. Di Andalus; Baqi bin Makhlad (276).

5. Dalam persekitaran ilmu sebegitu, maka tidak hairan jika ada yang mengatakan Imam al-Bukhari dan beberapa imam hadis lain juga mencapai tahap mujtahid. Bahkan, dikatakan terdapat lebih 70 mujtahid kesemuanya di dalam tempoh itu. Namun, apabila masuk kurun ke-4 Hijrah dan seterusnya, maka lama kelamaan hanya tinggal empat mazhab fiqah yang muktabar sahaja, iaitu Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali, yang secara konsisten diwarisi dan dikhidmati oleh para ulama Islam. Manakala yang lain-lain terhenti atau pupus di pertengahan jalan kerana tidak diwarisi dan dikhidmati sebagaimana empat buah mazhab tersebut, termasuklah mazhab Imam al-Bukhari.

6. Justeru, selama berabad-abad kemudiannya, disiplin empat mazhab fiqah muktabar Ahli Sunnah Wal Jama’ah ini dipraktiskan oleh majoriti masyarakat Islam di seluruh dunia kecuali mazhab Imami di Iran, Zaidi di Yaman dan Ibadhi di Oman. Dalam persekitaran ilmu yang diwarisi sedemikian, tiba-tiba muncul dalam era mutakhir ini satu kelompok yang mendakwa mereka kononnya mengikut mazhab ahli hadis silam yang tersebut dan tidak mahu mengikut mana-mana mazhab fiqah muktabar yang telah sedia diwarisi secara sistematik, tersusun, berdisiplin, lengkap, berkaedah dan bersambung sanad itu.

7. Pada fikiran anda, adakah sama antara kedua-dua golongan tersebut, antara ‘ahli hadis’ yang mengikut dan ahli hadis yang diikut?? Adakah sama antara institusi mazhab yang merumuskan petunjuk hadis, baik wajib atau sunat, haram atau makruh, sah atau batal, sempurna atau tidak, harus atau tidak; dengan kelompok anti mazhab yang melihat petunjuk hadis hanya dalam skop sunnah dan bidaah saja, atau sbenarnya mereka hanya menumpang mazhab Hanbali melalui acuan Ibn Taimiyyah, sama ada mereka sedar atau tidak??

8. Sebagaimana ahli hadis dan ahli fiqah silam memerlukan antara satu sama lain, sepertimana kata seorang tokoh hadis, Imam al-A‘masy (w. 148H):

أنتم يا معشر الفقهاء الأطباء ونحن الصيادلة
“Kamu sekalian, wahai para fuqaha’ adalah doktor dan kami pula adalah ahli farmasi” (lihat: Thiqat Ibn Hibban).

Disebabkan doktor mahir merawat pesakit, tetapi mereka tidak memiliki ubat-ubatan. Manakala ahli farmasi pula memiliki ubat-ubatan, tetapi mereka tidak mahir merawat pesakit. Maka saya berpendapat, kondisi mereka pada masa sekarang masih tetap sama, di mana ahli hadis lebih mengetahui jalan-jalan riwayat hadis, namun ahli fiqah pula lebih mengetahui jalan-jalan amali bagi hadis, selain kaedah beramal yang betul dengan hukum hakam syarak. Jelasnya kedua-dua bidang ilmu ini masih saling perlu memerlukan dan lengkap melengkapi. Bukannya dengan hadis saja, sudah cukup segala-galanya, walaupun mengakibatkan suasana caca merba sepertimana yang kita lihat pada masa sekarang.

Wallahu a‘lam.

Dr. Mohd Khafidz Soroni

03/06/2020 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | Leave a comment

Covid19 – SOP Pembukaan Pasaraya & SOP Pembukaan Masjid-Masjid

ARG (Ahli Sunnah Wal Jemaah Research Group) mempunyai pengalaman dalam bekerjasama rapat dengan masjid-masjid dengan menganjurkan pelbagai program sejak 6 tahun kebelakangan ini. ARG mempunyai pengalaman berurusan secara rapat dan aktif dengan pengurusan masjid-masjid Di Johor, N9, Melaka, Pahang, Selangor & Kuala Lumpur. Dari pengalaman dan pemerhatian sedia ada, SOP pembukaan masjid mesti diteliti secara praktikal.

Ramai yang mula mempersoalkan kenapa masih banyak masjid-masjid masih tidak dibuka sama seperti pasaraya. Membandingkan pasaraya dan masjid masih dalam daerah logik yang masih boleh diterima kerana ia adalah sekitar membandingkan risiko jangkitan. namun begitu, logik ini juga mesti digunakan ketika membandingkan kemampuan pentadbiran, kewangan, fasiliti dan sumber manusia sesebuah pasaraya dan masjid dalam memenuhi SOP yang digariskan oleh KKM dan Ulil Amri. Berapa banyak masjid yang mempunyai kualiti kekuatan kewangan, pekerja, fasiliti dan pentadbiran seperti pasaraya?

Secara Umumnya Sesuatu Pasaraya Mempunyai SOP:-

1. CCTV bagi pemantauan
2. Staf fulltimer guard utk kawal pintu masuk, mempunyai jadual giliran staf utk rekod suhu dan mengawal jumlah yg masuk agar tidak terlalu ramai.
3. Staff fultimer cleaner utk sanitize troli, escalator, tandas dll SEPANJANG masa beroperasi.
4. Ada banyak label jarak sosial distancing dan label2 lain yg berkaitan.

4 SOP diatas adalah untuk pasaraya dan pastinya SOP untuk masjid terdapat tambahan lain cthnya perlu bawa sejadah sendiri, masa maksimum seseorang berada dalam ruang solat dan lain-lain berkaitan.

Jadi secara umumnya, jika sesebuah Masjid mahu buka aktiviti pada umum sepanjang masa, sekurang-kurangnya perlu patuh pada 4 SOP yg dipatuhi oleh pasaraya dan ditambah beberapa SOP lain mengikut kesesuaian masjid. Begitulah secara teorinya, bagaimana pula secara praktikal?

Realiti Masjid Di Malaysia

Masjid di Malaysia ini beragam bentuk pengurusannya, ada Masjid Kerajaan, Kariah & Institusi. Masjid kariah pula ada masjid bandar, pinggiran bandar, taman, kampung dan lain-lain.

Setiap masjid mempunyai barisan ajk yg berlainan dan kemampuan kewangan yang berlainan antara satu sama lain. Ada masjid yang ditadbir oleh ajk-ajk masjid yg memang berminat dan berkebolehan. Ada juga masjid yang ditadbir oleh ajk masjid yang terpaksa jadi ajk kerana takda orang mahu uruskan. Kebiasaannya ia berlaku di masjid-masjid yg kurang kemampuan kewangan dan kurang kariah.

Mampukah Masjid-Masjid Mempersiapkan Diri Mereka Seperti Mana Pasaraya?

Kemungkinan besar, masih sangat banyak masjid sukar untuk memenuhi SOP sepertimana 4 SOP pasaraya yg dicatitkan diatas. Ada pelbagai kemungkinan

– Masjid yang ditadbir oleh ajk yang bagus tetap sukar (bukan mustahil) untuk laksanakan SOP setaraf di pasaraya jika kemampuan kewangan dan tenaga kerja yg konsisten (fulltimer) yang tidak cukup. Sukarelawan semata-mata adalah tidak mencukupi untuk kelancaran sesuatu SOP.

– Masjid yang mempunyai kewangan yang cukup belum tentu mampu laksanakan jika ditadbir oleh ajk yg tidak mahir.

– masjid yg tidak mempunyai kemampuan kewangan, sumber tenaga konsisten pastilah hampir mustahil dapat melaksanakan SOP sama seperti di pasaraya.

– masih sangat banyak masjid yang tidak memasang cctv dan lain-lain teknologi bagi memudahkan pihak berkuasa memantau kelancaran pelaksanaan SOP.

Solusi?

Ulil Amri melihat sesuatu maslahah keseluruhan kerana Ulil Amri terlibat secara praktikal dari masjid yang kaya raya hingga ke masjid yang tidak mampu bayar bil elektrik. Maksudnya, ulil amri dapat melihat, merasa dan menjangkakan cabaran yang lebih tepat berbanding orang awam yang circlenya tidak seluas circle ulil amri.

Oleh kerana kepelbagaian ragam pentadbiran dan kemampuan masjid ini, ia bukan satu perkara yg mudah untuk Ulil Amri memutuskan satu SOP yang selaras untuk semua masjid digunapakai secara pukul rata. Ini adalah cadangannya:-

1. Ulil Amri perlu mengenalpasti mana masjid yang boleh dan mampu melaksanakan SOP yg digariskan sama seperti pasaraya untuk dibuat sebagai pilot test terlebih dahulu. Mungkin beberapa masjid sahaja untuk melihat apa cabarannya. Mana-mana masjid yang merasakan mereka mampu meyakinkan ulil amri bahawa mereka mampu mengendalikan SOP masjid setaraf dgn SOP pasaraya, mereka boleh memohon dan meyakinkan ulil amri masing-masing.

2. Masjid boleh membuat 1 kertas kerja khas implikasi kewangan untuk mempersiapkan masjid patuh SOP mungkin implikasi selama 3 bulan dan buktikan masjid mampu untuk menanggungnya.

3. Lancarkan tabung khas untuk kariah menyumbang persiapan kewangan masjid untuk membuka masjid yg patuh SOP.

Jika sesebuah masjid diberi kebenaran untuk dibuka penuh, kemudian ternyata tidak mematuhi SOP yang digariskan, masjid tersebut perlu ditutup spt mana pasaraya yang ditutup kerana melanggari SOP. Persoalannya, adakah akan terjadi fitnah nanti? Mungkin ya dan mungkin tidak.

Pasaraya jika melanggar SOP akan didenda, dipaksa tutup dan sesetengah kes boleh dibawa ke muka pengadilan jika berdegil. Bagaimana dengan masjid? Siapa yg akan kena denda? Siapa yg akan bertanggung jawab sepenuhnya jika masjid gagal? Ini juga mesti diperhalusi.

Disediakan Oleh:

Unit Penyelidikan
Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group (ARG)

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3247037435327144&id=785701311460781

02/06/2020 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | 1 Comment

SOLAT BERJAMAAH YG DIJARAKKAN SEMETER UTK MENGELAK PENYEBARAN COVID-19

Solat secara berjamaah yg dilakukan pada masa kini adalah berlainan dgn cara biasa dilaksanakan iaitu dgn menjarakkan antara org yg berada dlm saf solat, lebih kurang semeter dgn tujuan utk mengelak penyebaran wabak pandemik COVID-19 yg masih belum reda.Saf jamaah dgn jarak sedemikian dgn tujuan utk mengelak penyebaran wabak pandemik antara ahli jamaah setelah dinasihati oleh pihak berautoriti seperti KKM, hukumnya adalah harus di dalam Islam. Oleh yg demikian, tidak timbul isu “solat berjamaah yg berjarak tidak ikut sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم” kerana sifat saf solat sedemikian bukanlah diada-adakan, tetapi meraikan situasi semasa yg amat bahaya dgn penyebaran wabak penyakit yg memudaratkan.Tidak dinafikan bahawa dalam keadaan biasa, solat secara berjamaah amat dituntut utk dirapatkan saf antara ahli jamaah, jgn bagi ada ruang antara individu yg berada di dlm saf dsb dan ini merupakan sebesar-besar tuntutan agama. Walaubagaimanapun, tuntutan ini hanyalah berbentuk istihbab (sunat) sahaja yg tidak wajib menurut pandangan ulama dlm empat mazhab.Oleh yg demikian, meninggalkan perkara sunat disebabkan hajah (keperluan) iaitu meninggalkan perbuatan merapatkan saf kerana ditakuti penyebaran wabak pandemik COVID-19, merupakan hal yg tidak dapat dielakkan lagi buat masa kini. Di dalam karya ulama, terdapat permasalahan mengenai hukum makruh individu yg solat berjamaah yg safnya dipisahkan dgn tiang. Justeru, menjarakkan individu dlm saf solat berjamaah ketika wabak pandemik COVID-19 ini, adalah seakan-akan permasalahan individu yg solat secara berjamaah yg kedudukan safnya terpisah antara tiang-tiang masjid. Hukumnya makruh kerana kedudukan safnnya yg terputus disebabkan tiang masjid. Namun begitu, terdapat sedikit perbezaan dgn situasi solat berjamaah yg dijarakkan dlm saf pada masa kini kerana keperluan disebabkan wabak pandemik COVID-19, hukum makruh itu telah bertukar menjadi harus kerana hajah (keperluan).Hukum ‘al-hajah’ di dalam Islam, apabila ianya memang wujud, maka dibolehkan utk meninggalkan perkara yg wajib sekalipun, termasuk dlm hal-hal yang ada kaitan dgn solat, apatah lagi perkara merapatkan saf di dalam solat secara berjamaah hanyalah mustahab (sunat) sahaja, lagi-lagilah dibolehkan dlm situasi hajah utk mengelak penyebaran wabak pandemik COVID-19.Berdasarkan perbincangan di atas, solat berjamaah yg mana kedudukan safnya dijarakkan antara individu, dlm situasi biasa, sah solat tersebut walaupun tanpa keperluan. Apatah lagi, solat berjamaah yg dijarakkan safnya disebabkan wabak pandemik yg melanda kini, lebih-lebih lagilah dibolehkan dan sah. Oleh yg demikian, tidak timbul isu “solat berjemaah yg dijarakkan buat masa ini tidak ikut sunnah” kerana menerusi ajaran Nabi صلى الله عليه وسلم sendiri, ketika umat Islam menghadapi situasi getir yg di luar kebiasaan dan termasuk dlm kategori hajah, maka perkara yg wajib dibenarkan utk ditinggalkan, apatah lagi perkara yg sunat.Itulah keluasan “sunnah” yg diajarkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم kepada umatnya dlm meraikan pelbagai situasi dan zaman.Wallahua’lam.Ustaz Dr Mohd Murshidi Mohd Noor

25/05/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Ada orang menyindir apa kah tarikat Imam Shafie.Imam Ahmad,Imam Hanafi…….

Adakah orang yang menyindir ini faham apa itu tarikat?
Pengertian tarikat:
Tarikat diambil dari perkatan arab membawa maksud jalan. Kalau disebut tarikat Al-Fikr membawa maksud jalan berfikir. Jika disebut tarikat Az-Zikr membawa maksud jalan berzikir dan lain-lain. Dalam Al-Quran biasanya tarikat digunakan untuk jalan yang diikuti oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang diajarkan kepada baginda oleh Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Ini merangkumi soal jalan baginda beribadat, berakidah, bermuamalah, mengadakan hubungan antarabangsa, mendirikan negara, melayan tetamu, menyiapkan bala tentera dalam peperangan, menguruskan keluarga dan lain-lain.

Dari segi istilah, tarikat ditakrifkan oleh Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabau seorang ulama dari Indonesia yang pernah menjadi khatib di Makkah Al-Mukkaramah sebagai jalan yang ditempuhi oleh nabi SAW, para sahabat, ulama dan para ahli sufi generasi awal dahulu. Jalan ini mesti diikuti oleh umat Islam.

Menurut Syeikh Al-Jurjani tarikat ialah jalan khusus menuju kepada Allah yang melibatkan pengharungan beberapa halangan dan penempuhan beberapa tingkatan rohani dalam berbagai maqam.

Syeikh Al-Kandahlawi pula mendefinisikan tarikat itu sebagai sejalan dengan makna ihsan yang terdapat dalam sebuah hadis yang sahih iaitu seorang itu beribadat kepada Allah seolah-olah ia melihat Allah, Jika ia tidak melihat Allah, Allah melihatnya. Bagaimanpun tarikat tasauf sekarang lebih tertumpu kepada teknik berzikir untuk membersihkan jiwa kerana itu timbullah istilah tarikat Qadiriyah, Naqsyabandiyyah dan sebagainya.

Setiap muslim wajib melalui tarikat untuk menuju kepada Allah tetapi bukan melalui tarikat yang ada sekarang ini, sebaliknya tarikat dalam ertikata jalan yang dibawa oleh junjungan besar Nabi Muhammad SAW dan diikuti oleh para sahabatnya. Tarikat ini merangkumi soal akidah, ibadat dan akhlak. Kerana itu mereka hendaklah menuntut ilmu dari para ulama yang dipercayai keimuannya, tidak melakukan bid’ah dan sentiasa menunaikan amalan yang wajib di samping berterusan melakukan amalan yang sunat. Selain itu ia juga perlu tegas dalam menentang perkara mungkar. Ulama seperti inilah menurut Ibn Al-Qayyim yang layak dijadikan guru.

Tidak mahu bertarikat dengan erti kata tidak mengikuti salah satu dari tarikat zikir yang disertai oleh sesetengah masyarakat sekarang seperti Tarikat Ahmadiyyah dan sebagainya tidaklah menjadi kesalahan, tetapi tidak bertarikat dalam ertikata tidak mengikut cara nabi berakidah, beribadah dan berakhlak adalah haram dan berdosa malah terkeluar dari islam.

Membenci tarikat Zikir adalah sesuatu yang tidak wajar kerana zikir kepada Allah adalah perkara yang boleh menggilapkan hati dan mendekatkan diri seseorang kepadaNya.

Walau bagaimanapun jangan difahami istilah zikir itu sekadar zikir lisan sahaja, malah zikir dalam ertikata yang sebenarnya merangkumi zikir hati, lisan dan anggota. Ini merangkumi berjihad fi sabilillah, mendirikan solat, mengeluarkan zakat menunaikan fardu haji di Baitullah, berbuat baik kepada jiran tetangga, menziarahi orang sakit, menolong orang yang dalam kesusahan, menziarahi kubur, beriktikaf, menuntut ilmu, mengulangkaji ilmu, mengadakan majlis perbincangan ilmu dan lain-lain.

Bagimanapun jika seseorang itu membenci teknik zikir yang dilakukan dalam sesuatu tarikat itu kerana ia bercanggah dengan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah sesuatu yang baik, kerana itu bererti ia tidak meredai sunnah Rasulullah SAW dicemari oleh tangan-tangan manusia yang tidak berilmu.

25/05/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Taqlid

Di kampung alfaqir di Sg Petani, ada satu madrasah India muslim, kat situ depa tempatkan seorang imam yg mmg depa khas import datang dari negara india,secara maklum tuan imam ni bermazhab hanafi.. mula² dia datang dulu, nak cakap bahasa melayu pun xpandai..

dan menjadi kebiasaan, beliau menjadi imam solat 5 waktu dan ahli jemaah beliau adalah dari kalangan masyarakat india muslim yg bermazhab hanafi sahaja

namun, bila datang ramadhan, beliau seringkali berasa gusar, kerana ahli jemaah yg hadir ada juga dari kalangan masyarakat melayu yg bermazhab syafie untuk join solat tarawikh.

pernah sekali alfaqir dtg surau madrasah tu untuk solat isyak, beliau menolak untuk menjadi imam, dan menyuruh alfaqir untuk menjadi imam, kerana imam jemputan untuk solat tarawikh belum sampai, memandangkan masa tu ramai ahli jemaah dari kalangan melayu yg bermazhab syafie..seusai tarawikh alfaqir ada bertanya kepada beliau,

” kenapa ustaz menolak jadi imam?”

dijawap beliau, ” sy hanafi, malaysia syafie, kena ikut syafie, sekarang sy masih belajar syafie, makmum ramai syafie, follow uruf ”

Subhanallah. tersentak dlm hati alfaqir.

imam ni betul² berpegang pada disiplin taqlid mazhab, selagi mana dia belum mahir dlm bab syarat sah wuduk, syarat sah solat,atau apa sahaja fiqh dlm mazhab syafie, beliau xkan sesekali menjadi imam demi menjaga ahli jemaah yg bermazhab syafie..

malah berpegang, menjadi kewajipan beliau untuk belajar dgn uruf mazhab setempat.

tp lain pula bg org kita sekarang ni, lagi bermudah² dalam bab taqlid mazhab,

rasa nak pegang anjing,taqlid mazhab maliki,
rasa xmau baca alfatihah ketika jadi makmum, taqlid mazhab hanafi,
rasa malas nak baca qunut subuh, taqlid mazhab hanbali.

kerja dok tukar mazhab saja,macam tukaq baju dlm fitting room, last² carca merba..

ada dinaqalkan di dalam kitab Sulam Sibyan karangan almarhum Tuan Guru Tok Ayah Chik Kodiang rahimahullahu taala,

sesungguhnya perlakuan menukar mazhab mengikut nafsu dan keinginan bg mencari kelonggaran, itu dinamakan talfiq, dan dihukumkan HARAM kepada mereka yg tidak mengetahui @ mempelajari fiqh empat mazhab secara tahqiq.

Sumber

23/05/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Renungan & Teladan, Tazkirah | , | Leave a comment

KHUTBAH SETELAH SOLAT SUNAT HARI RAYA

Tidak lama lagi kita akan menyambut hari raya Aidilfitri. Sambutan tersebut bakal dilaksanakan dgn sederhana memandangkan ramai yg tidak dapat balik kampung berhari raya. Selain itu, solat sunat hari raya pada kali ini dilakukan di rumah masing-masing kerana wabak pandemik COVID-19 yg belum pulih sepenuhnya.

Ramailah nanti imam2 interim utk solat sunat hari raya pada tahun ini. Utk menjadi imam, mungkin tiada masalah bagi kebanyakan org, tetapi utk berkhutbah mungkin agak kekok sedikit oleh sesetengah individu. Apa2 pun teks khutbah hari raya telah pun disediakan oleh pihak2 tertentu. Imam interim ini hanya perlu membaca teks khutbah itu sahaja.

Di sini saya ingin berbicara ttg status khutbah hari raya apabila kita melaksanakan solat sunat hari raya di rumah. Saya dapati terdapat dua pandangan mengenainya.

Pertama mengatakan bahawa khutbah itu tidaklah disyaratkan, tetapi disunatkan apabila dilakukan solat sunat hari raya secara berjamaah bersama ahli keluarga. Pandangan pertama ini adalah berdasarkan mazhab al-Shafi’i [Mughni al-Muhtaj: 1/589]. Hal ini adalah bagi mengikuti sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم dan para Khulafa’ al-Rashidin yg mana setiap kali mereka mengerjakan solat sunat hari raya, maka akan diikuti setelah itu oleh dua khutbah. Bagi mazhab al-Shafi’i, tiada beza antara solat sunat secara berjemaah yg dilakukan oleh mereka yg bermukim atau bermusafir, ianya tetap disunatkan berkhutbah setelah mengerjakan solat sunat hari raya.

Pandangan kedua, khutbah setelah solat sunat hari raya yg dilakukan di rumah walaupun secara berjamaah adalah tidak disyariatkan. Hal ini kerana dilihat kepada tujuan asal solat sunat hari raya diadakan iaitu bertujuan menghimpunkan org ramai di satu tempat seperti masjid, musalla atau tanah lapang, lalu dgn sebab perhimpunan itu diadakan khutbah setelahnya yg disampaikan oleh imam solat sbg wakil ulil amri. Jika di rumah, maka maksud asal perhimpunan itu sudah tiada lagi dan dengan sendirinya tidak sesuai diadakan khutbah setelahnya.

Berdasarkan pandangan kedua ini, sebab diadakan khutbah itu adalah kerana perhimpunan org ramai di satu tempat yg memang dikhaskan utk berhimpun. Jadi, apabila solat sunat itu dikerjakan di rumah yg bukan tempat perhimpunan org ramai, hanya sekadar ahli keluarga sahaja, maka tidak disyariatkan atau tidak disunatkan utk berkhutbah setelah solat sunat hari raya. Berdasarkan riwayat daripada Anas bin Malik, satu ketika beliau terluput dari solat sunat hari raya bersama imam, maka beliau menghimpunkan ahli keluarganya utk solat sunat hari raya bersama-sama di rumah. Berdasarkan riwayat ini, tidak disebutkan pula beliau mengadakan khutbah setelah solat sunat itu dikerjakan. Pandangan kedua ini dipegang oleh mazhab Hanbali dan Maliki serta Imam al-Bukhari di dalam karya sahihnya.

Berdasarkan dua pandangan yg berbeza ini maka kita di Malaysia yg mengamalkan mazhab Shafi’i, bagi situasi solat sunat hari raya yg diadakan di rumah kerana halangan ke masjid disebabkan wabak COVID-19, sekiranya dilakukan secara berjamaah bersama ahli keluarga, maka disunatkan utk berkhutbah setelah itu. Walau bagaimanapun tanpa khutbah, solat tetap sah kerana khutbah bukanlah syarat sahnya solat. Oleh yg demikian, apabila ianya sunat, maka elok kita mengamalkannya daripada mengabaikannya di pagi hari raya nanti. Namun, jika tidak confident utk berkhutbah atau kerana sbb2 yg lain, maka tidak mengapa tidak melaksanakannya.

Selamat berpuasa dan Selamat Hari Raya Aidilfitri buat umat Islam di Malaysia.

Wallahua’lam

Sumber: FB Ustaz Dr Murshidi Mohd Noor

22/05/2020 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Hukum Sedekah Al-Fatihah Kepada Nabi S.a.w -Bahagian 1

Ibnu Hassan Al-Qusyasyi

Tuntutan: “Pada Menyatakan Hukum ‘Harus’ Menghadiahkan Pahala Bacaan Surah Al-Fatihah Dan Seumpamanya ke atas Junjungan Besar Nabi Muhammad s.a.w. Serta Mengucapkan Lafaznya (al-Fatihah), Bertujuan Untuk Menambah Kemuliaan Baginda.”**

Terjemahan Oleh: Mohammad Taha Hj. Hassan

(Soalan )10. (Imam Ibnu Hajar al-Haitami) ditanya: Berkenaan seorang lelaki yang mengucapkan ‘al-Fatihah’ bertujuan untuk menambahkan kemuliaan nabi Muhammad s.a.w. (bersedekah membaca al-Fatihah). Kemudian bangun seorang lelaki daripada kalangan ahli ilmu (setelah mendengar ucapan itu), lantas berkata kepada lelaki tersebut: “Kamu telah kafir! Jangan ulangi kata-katamu ini, (ucapan sedekah al-Fatihah). Sekali lagi ia boleh mengkafirkan kamu!!”

Adakah (benar) perkara tersebut? Adakah harus untuk mengatakan kepada seseorang yang menlafazkan ucapan (sedekah) al-Fatihah tersebut sewenang-wenangnya boleh mengatakan “Kamu telah kafir” atau “Kamu kafir”? Apakah balasan (hukuman) yang mesti dikenakan ke atas orang yang melemparkan ungkapan ‘kafir’ tersebut? Pada masa yang sama, sangkaan beliau adalah merupakan daripada kalangan ahli ilmu?

Maka saya (Imam Ibnu Hajar al-Haitami) menjawab – Semoga Allah meluaskan kedudukan (kekalan dan kewujudan) nabi Muhammad s.a.w. serta memanfaatkan ilmu dan keberkatannya – Bukanlah lelaki yang mengatakan sedemikian rupa (lafaz kafir) kepada lelaki yang mengungkapkan ‘al-Fatihah’ (hingga seterusnya) adalah merupakan ciri seorang daripada kalangan ahli ilmu, bahkan kata-kata dan keingkarannya menunjukkan bahawa itu adalah kejahilan dan keterlampauan dirinya. Sesungguhnya beliau tidak memahami apa yang dikatakan dan tidak pula mengetahui apakah kesan (akibat) yang akan dikenakan ke atas dirinya tentang perkara tersebut berdasarkan ketetapan ulama terhadap kejahilan dan kefasikan dirinya. Ketetapan ulama ke atas dirinya (orang yang mengatakan kafir) adalah di sebabkan sikap ‘At-Tahawwur’ (terlalu cepat memutuskan hukum tanpa dalil yang lengkap dan fahaman yang benar). Bagaimana beliau mengkafirkan seorang muslim, di mana tiada seorang pun yang mengkafirkannya? Bahkan kedapatan pendapat daripada sekumpulan ulama Mutaqaddimin (terdahulu) dan Mutaakhirin (terkemudian) yang menyatakan hukum ‘Istihsan’ (perkara yang dilihat baik) pada perkara tersebut (sedekah al-Fatihah). Seperti mana akan saya jelaskan pada anda berkenaan kalam mereka (tentang perkara ini).

Oleh yang demikian, sekiranya beliau (orang yang berkata kafir) itu bertujuan mengkafirkan atas nama agamanya (Islam) dengan ungkapan kafir (kafir secara sengaja), maka beliau juga turut kafir, dan hendaklah dipancung lehernya jika beliau tidak bertaubat. Kerana beliau menamakan Islam itu kafir. Sekiranya beliau tidak bermaksud untuk mengkafirkannya atas nama Islam, ‘haram’ ke atasnya terhadap keingkaran yang dilakukan. Di samping beliau berhak mendapat hukuman dan ‘Ta’dib al-Baligh’ (tindakan tata tertib dan adab disiplin yang ketat) serta ‘wajib’ ke atas hakim Syariah al-Mutahharah untuk melaksana –Semoga Allah memberi petunjuk dan membawanya ke jalan kebaikan- hukuman dan ta’zir ke atasnya, berdasarkan kesesuaian terhadap keterlampauannya yang buruk serta ‘Tahawwurat’ yang dahsyat ini.

Telah sampai (khabar) kepada saya (Imam Ibnu Hajar al-Haitami) bahawa sesungguhnya lelaki tersebut dihukum (balasan) dengan (lontaran yang sama oleh hakim syariah) iaitu hukuman ‘kafir’. Dan beliau diminta untuk bertaubat serta disuruh untuk melafazkan 2 kalimah syahadah (untuk memperbaharui Islamnya). Dan ini adalah kesilapan daripada dirinya sendiri di sebabkan keterlampauan melakukan dosa, kefasikan dan berkelakuan buruk terhadap Allah s.w.t dan nabi Muhammad s.a.w serta syariatnya yang agung, di mana berlaku sesuatu pada syariat Allah s.w.t satu perkara yang tidak pernah berlaku sebelumnya (iaitu isu mengkafirkan orang Islam yang lain tanpa sebab).

Sekiranya dakwaan kafirnya itu selamat (betul) sekalipun, adalah menjadi suatu kewajipan padanya untuk mengenal (mengajar) kepada orang awam (yang tidak mengetahui) terhadap perkara tersebut. Sekiranya (mereka) taat pada ajaran tersebut, maka ia adalah satu perkara yang jelas. Dan sekiranya bertentangan dengannya (perkara yang dilakukan oleh orang awam), maka larangilah ia. Dan ada pun apabila berlaku keadaan secara tiba-tiba terkeluar daripada (mulut) orang awam tersebut, satu kalimah yang tidak difahami seorang pun melainkan ia bertujuan untuk memuliakan dan memberi penghormatan untuk kedudukan nabi Muhammad s.a.w yang tinggi (terpuji), dalam masa yang sama seseorang telah mengkafirkannya (orang awam) atau mengungkapkan kalimah seumpamanya (seperti musyrik), di sebabkan hanya kalimah yang keluar daripada mulut orang awam tersebut, maka ia menunjukkan kejahilan dan kebodohan orang (si pendakwa) tersebut. Sesungguhnya beliau tidak mengetahui syarat Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar serta sebab yang membawa kepada kekufuran manusia dan perkara yang tidak mengkufurkannya. Cukuplah, anda sebagai saksi terhadap apa yang berlaku tentang permasalahan yang banyak diperkatakan oleh ulama mengenainya (masalah sedekah al-Fatihah), di samping ketidakcukupan (terhimpun) ilmu lelaki ini (orang yang mendakwa kafir). Dan tiada penyelesaian pada lelaki tersebut terhadap perkara yang difahaminya. Oleh yang demikian, beliau hendaklah merujuk perkara yang tidak diketahui kepada ahlinya yang mengetahui (ulama) untuk mereka menerangkan kepadanya berkaitan hukum dan kalam ulama tentang perkara tersebut. Bukanlah perkara ini satu cipta reka dari ulama Mutaakhirin, bahkan ia ada dinyatakan oleh ulama agung daripada kalangan Mutaqaddimin seperti imam al-Hulaimi dan sahabatnya imam al-Baihaqi. Cukuplah bagi anda untuk kedua orang imam yang hebat ini serta pengikutnya daripada kalangan ulama Mutaakhirin, iaitu seorang penyunting mazhab (yang terkenal) imam Abu Zakaria Nawawi Rahimahullah Ta’ala, di dalam kitabnya ‘Raudhah’ dan ‘Minhaj’.

Beliau (imam Nawawi) berkata di dalam kedua-dua kitabnya;

( صلى الله عليه وسلم وزاده فضلا وشرفا لديه )

Bermaksud: “Allah berselawat dan memberi salam ke atas junjungan besar nabi Muhammad s.a.w., dan ditambahkan penghormatan serta kemuliaan di sisinya (Allah s.w.t)”.

Cukuplah untuk anda dengan 2 kitab ini, seolah-olah orang yang mengingkari tidak pernah membaca isi yang terkandung di dalam kitab al-Feqh (mana-mana mazhab yang muktabar) dan tidak pula al-Minhaj (mazhab khas imam Syafie). Inilah keadaan orang yang mengkafirkan orang lain, bagaimana beliau begitu mudah (cepat) dengan mengingkari perkara ini serta memutuskan sesuatu hukum tanpa dalil yang lengkap dan fahaman yang benar?! Jika anda mengetahui (merujuk) tentang penjelasan imam Nawawi mengenainya (sedekah al-Fatihah) di dalam kedua kitab ini (Raudhah dan Minhaj), yang mana keduanya adalah merupakan (sandaran & rujukan kitab) bagi penghulu mazhab (mazhab imam Syafie), nescaya anda mengetahui kebatilan dakwaan pengingkaran terhadap orang yang jahil ini.

Sesungguhnya sangkaan beliau mengenai ‘penambahan kemuliaan’ untuk nabi Muhammad s.a.w itu adalah merupakan kedudukan asal baginda yang kurang (rendah), hanyalah tanggapan yang batil dan tiada dalil mengenainya. Sebagaimana (kenyataan ini) telah dijelaskan oleh 2 tokoh imam yang hebat, iaitu imam Hulaimi dan imam al-Baihaqi terhadap penyelewengan dan kebatilannya. Ibarat (contoh) yang pertama seperti yang terkandung di dalam kitab Syua’b al-Iman: Apabila kita berkata:

“للهم صل على محمدا”

Maka, sesungguhnya kita (sebenarnya) menginginkan: “Ya Allah! Kurniakan keagungan nabi Muhammad s.a.w di dunia dengan mengangkat sebutan (namanya), menzahirkan agamanya (Islam), mengekalkan syariatnya. Dan di akhirat pula dengan mendapat syafaat baginda nabi untuk umatnya, diberikan ganjaran dan pahala, mendahulukan kemuliaannya daripada umat-umat yang terdahulu dan yang terkemudian dengan kedudukan yang terpuji serta kebersamaannya dengan kumpulan al-Muqarrabin yang menyaksikan (kewujudan dan kesaan Allah s.w.t).”

Berkata imam al-Hulaimi: “Dan inilah perkara-perkara yang telah Allah s.w.t wajibkan (memberikan kelebihan) untuk nabinya Muhammad s.a.w (hak untuk baginda), dan setiap sesuatu dari kelebihan tersebut memiliki darjat dan kemuliaan. Sesungguhnya harus hukumnya jika salah seorang daripada umatnya berselawat, kemudian memohon kepada Allah s.w.t untuk memperkenankan doanya dengan (susunan ayat pujian) bagi menambahkan kemuliaan nabi pada setiap perkara (keadaan) yang kita namakan sebagai kedudukan dan darjat (yang mulia). Dan inilah tujuan maksud selawat yang sebenar, iaitu menunaikan hak nabi s.a.w dan mendekatkan diri dengan ucapan selawat kepada Allah s.w.t. Seterusnya, kenyataan yang menunjukkan di atas ucapan kita;

“اللهم صلى على محمد صلاة منا عليه”

Sesungguhnya kita tidak memiliki untuk sampai ke tahap hakikat selawat Allah s.w.t ke atas junjungan nabi terhadap apa yang diagungkan oleh Allah s.w.t untuk kemuliaan darjat serta kedudukan baginda di sisinya. Itu semua tertakluk di bawah kekuasaan Allah s.w.t. Maka, benarlah bahawa selawat kita untuk nabi s.a.w adalah ‘doa’ untuk baginda serta pengharapan daripada Allah s.w.t untuk pujian padanya.” – selesai kalam al-Hulaimi di dalam kitabnya Syua’b.-

Perhatikan kata-kata imam al-Hulaimi:

“وإجزال أجره ومثوبته”

Bermaksud: “Limpahkan ganjaran dan pahalanya.”

Dan ungkapannya:

“أن يزاد النبي صلى الله عليه وسلم”

Bermaksud: “(Untuk) ditambahkan ( kedudukan) nabi s.a.w.…”, hingga ke akhirnya.

Anda akan dapati secara jelas (terhadap ungkapan imam al-Hulaimi), bahawa sesungguhnya penambahan kedudukan (kemuliaan) nabi Muhammad s.a.w dapat diterima dari segi perkara ‘pahala’ dan selainnya, berikutan (hasil) dari perkara-perkara yang boleh menambahkan kemuliaan dan kebesaran baginda s.a.w. Perkara ini dikuatkan lagi, bahawa sesungguhnya baginda nabi s.a.w adalah makhluk yang paling sempurna dan paling baik di kalangan mereka sehingga tidak dapat dibilang dan dikira ciri-ciri pujian kesempurnaannya yang tinggi. Bahkan kedudukan baginda sentiasa bertambah terhadap pujian tersebut dan tiada had ke penghujungnya. Kedudukan demi kedudukan yang mulia hasil dari (doa dan pujian tersebut), ia tidak dimaklumkan (diketahui) ke atas diri orang tersebut (lelaki yang bersedekah al-Fatihah) dan yang mengetahui keadaan tersebut hanyalah Allah s.w.t. Oleh yang demikian, sifat kesempurnaan baginda nabi s.a.w bersama keagungan Allah s.w.t tidak melarang (lelaki tersebut) untuk menyampaikan hajatnya bagi menambahkan lagi lebih banyak, ketinggian serta (keadaan) berterusan pujian kepada nabi atas kurniaan (kelebihan) Allah s.w.t daripada sifat pemurah dan kemuliaannya. Sesungguhnya tiada penghujung bagi kekayaan Allah s.w.t yang luas dan tidak pula (kurang) kepada sifat kesempurnaan nabi Muhammad s.w.t terhadap kurniaan yang telah dianugerahkan pada perkara tersebut (pujian).

Dan ibarat imam al-Baihaqi pada tafsirnya:

“السلام عليك أيها النبي”

Dan berkemungkinan ia bermaksud: السلامة “Al-Salamah” (yakni keselamatan); iaitu Allah s.w.t berkehendakkan ke atasmu (nabi Muhammad s.a.w) سلام Salam (keselamatan/kesejahteraan). Seterusnya, kalimah السلام ‘al-Salam’ seperti terdapat pada (susunan) kalimah المقام ‘al-Maqam’. Dan المقامة “Al-Maqamah” bermaksud: “Allah menyelamatkan kamu daripada celaan (kecaman) dan kekurangan.”

Maka, apabila anda mengatakan;

“اللهم سلِّم على محمد”

Sesungguhnya anda berkehendakkan: “Ya Allah, tuliskan (takdir di Luh Mahfuz) untuk nabi Muhammad s.a.w terhadap dakwah, umat serta sebutannya, ‘SELAMAT’ dari setiap kekurangan. Maka, ‘tambahkan’ kemuliaan seruan dakwahnya (tauhid, syariat dan agama) pada hari-hari yang berlalu, keberkatan untuk umatnya serta ditinggikan sebutan (nama dan darjatnya),” –selesai-

20/05/2020 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

NAK PAKAI IMAM SYAFIE ATAU NAK PAKAI HADIS NABI SAW ?

“Nak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi? Imam Syafie dengan Nabi siapa lagi mulia?”

“Hadis dah lengkap kenapa nak pakai mazhab lagi?”

Ini adalah antara ayat ayat yang keluar dari mulut orang yang kononnya bukan Muqallid dan bukan Mujtahid tetapi disebabkan mahu nampak sedikit gah. Diciptakan satu istilah baru “Muttabeq” namanya

Satu permasaalahan apabila ditanya kamu bermazhab apa? Saya bermazhab Al Quran dan Hadis sepertimana Sahabat nabi tak memerlukan kepada Imam Mujtahid seperti itu jugalah saya.

Sebenarnya, walaupun dicipta istilah “Muttabeq” sekalipun ia masih lagi dihukumkan “Muqallid” kerana selagi seseorang itu tidak mencapai martabat “Mujtahid Mutlak” wajib atasnya untuk mengikut Imam imam mazhab yang empat.

Wajib juga atas kita mengakui bahawa Rasulullah adalah makhluk yang paling mulia. Mana sama martabat Imam Syafie dengan Rasulullah. Tetapi Imam Syafie adalah seorang Mujtahid Mutlak. Sehinggakan ada ulama menyebut seorang Mujtahid Mutlak adalah orang tidak ada satupun Hadis Rasulullah atas muka bumi ini tidak ada didalam dadanya melainkan semuanya telah dia hafal. Ini adalah tahap keilmuaan seorang Mujtahid Mutlak. Ikut mazhab itu adalah mengikut Nabi.

Mazhab adalah rumusan kefahaman Al Quran dan Hadis yang telah disiapkan oleh Ulama. Mereka adalah insan yang lengkap serba serbi ilmu. Bersangat sangatan Alimnya. Mereka tahu bagaimana hendak proses Al Quran dan Hadis sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Kita orang awam. Tak ada perkakasan.

Satu contoh misalan. Tayar kereta kita pancit. Adakah kita perlu pergi ke Kebun Getah, ambik getah skrap untuk buat tayar? Dengan perkakasan tak ada, rasanya ini satu kerja gila. Paling mudah adalah dengan beli sahaja Tayar dikedai Tayar. Walaupun orang yang ada 100 ekar ladang getah. Masih lagi beli tayar dikedai, tidak diprosesnya getah skrap untuk dibuat tayar sendiri.

Al Quran dan Hadis adalah bahan mentah. Kita orang awam tak ada perkakasan ilmu yang lengkap seperti Para Imam Mujtahid. Adakah kita mahu membuat kerja gila dengan memproses Al Quran dan Hadis mengikut Keterbatasan ilmu yang kita ada? Ini adalah punca kesesatan. Menggunakan Al Quran dan Hadis yang mentah sebagai “Buffet” aci main petik, petik, petik, ayat mana yang sesuai dengan Nafsu ambik jadikan hujjah dan ayat mana tak kena dengan nafsu cari ayat Al Quran lain atau Hadis lain untuk mengiyakan perbuatannya. Ini punca kesesatan. Nauzubillahiminzalikh.

Para sahabat dahulu tidak mempunyai mujtahid mutlak kerana segala permasalahan hukum hakam terus ditanyakan kepada Rasulullah.

Kaedah kita, Mazhab yang dah dirumuskan itulah adalah merupakan rumusan kefahaman Al Quran dan Hadis. Pesan Tok Guru, “Ikut mazhab itu ikut nabi la” tidak perlu menunjuk handal kononnya pakai mazhab yang menggunakan hadis shoheh sahaja. Antara kamu dengan Imam Syafie siapa lebih alim Hadis? Siapa lebih banyak menghafal hadis? Kamu atau Imam Syafie?

Jadilah seperti salah seorang pakar hadis malaysia Tuan Guru Wan Izzuddin atau lebih mesra dengan panggilan Pak Anjang Izzuddin. Pengalaman admin dan rakan rakan mengziarahi beliau di pondoknya Gajah Mati, tidak ada langsung kalam kalamnya yang kontradik dengan ulama ulama melayu yang lain. Walaupun bergelar seorang Muhaddith dan Musnid.

-Admin QF Nuuri-
(( Fitrah Islami ))

17/05/2020 Posted by | Hadis, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

PERBEZAAN ANTARA FARDU AIN DAN FARDU KIFAYAH: SOLAT JUMAAT DLM MASA COVID-19

Kedua-dua perkara ini iaitu fardu ain dan fardu kifayah wajib dilaksanakan oleh setiap mukallaf.

Perbezaan antara kedua-duanya ialah fardu ain wajib dilakukan oleh setiap muslim yg mukallaf. Seseorang yg melakukan fardu ain maka ia sudah terlepas daripada kewajipan utk menunaikannya, tetapi org lain yg masih belum melaksanakannya, maka masih tidak terlepas daripada kewajipan tersebut. Justeru dlm hal ini, tidak mungkin sama sekali hukum fardu ain itu berpindah kepada hukum fardu kifayah. Selamanya tidak akan berpindah hukum antara kedua-duanya kerana masing-masing bertanggungjawab utk melaksanakannya.

Adapun fardu kifayah, apabila ada sebahagian masyarakat telah melaksanakannya, maka gugur hukum wajib ke atas org lain utk menunaikannya. Sekiranya tiada siapa yg melaksanakan kewajipan fardu kifayah itu, maka kesemua org yg berada di sesuatu kawasan akan berdosa kesemuanya. Fardu kifayah boleh berpindah kpd fardu ain dlm hal2 tertentu seperti dlm kes amar ma’ruf nahi mungkar iaitu apabila seseorang ternampak kemungkaran berlaku di hadapannya tetapi orang lain tidak nampak, maka wajib ain ke atasnya mengubah kemungkaran itu walaupun hukum asalnya adalah fardu kifayah.

Berdasarkan perbezaan dua perkara ini maka timbul persoalan mengenai solat Jumaat pada masa COVID-19. Bagaimana kita hendak mengaitkan kedua-dua ini dgn isu solat Jumaat yg didirikan pada masa COVID-19? Adakah hukum fardu ain solat Jumaat telah berpindah kepada hukum fardu kifayah? Di atas, kita telah nyatakan bahawa hukum fardu ain selama-lamanya tidak boleh berpindah kpd hukum fardu kifayah. Namun begitu, ada segelintir yg berpandangan bahawa hukum solat Jumaat pada masa COVID-19 ini telah pun berpindah menjadi fardu kifayah. Kenyataan sebegini agak mengelirukan kerana tiada mana-mana ulama pun yg menyebutkan demikian.

Berdasarkan permasalahan di atas timbul persoalan, adakah ketika COVID-19 ini, hukum org yg tidak mengerjakan solat Jumaat dikira berdosa, sehingga perlu ada sekumpulan org lain menggalas tanggungjawab itu utk mendirikan solat Jumaat? Jika begitu keadaannya, adakah apabila ada sekumpulan org lain menunaikan solat Jumaat pada masa COVID-19 ini, maka gugur dosa org lain yg tidak solat Jumaat kerana dianggap berdosa tidak melaksanakannya? Selain itu, tidakkah ulama kontemporari telah pun berfatwa bahawa solat Jumaat ketika COVID-19 ini gugur kewajipannya sebab ada keuzuran, kerana virus ini sangat merbahaya apabila org ramai berkumpul dlm sekala yg ramai seperti kes solat Jumaat? Jika beginilah fatwa yg dikeluarkan, tidakkah jika tidak dilaksanakan solat Jumaat ketika COVID-19 ini, tidak berdosa walaupun dlm tempoh yg lama?

Bagi meraikan situasi kini yg mana solat Jumaat telah pun dibenarkan dilaksanakan dgn mematuhi SOP yg ditetapkan, mungkin lebih elok kita jawab begini, sebenarnya hukum fardu ain solat Jumaat tidaklah berpindah kpd fardu kifayah dlm situasi apa pun termasuklah kes COVID-19 ini. Kewajipan solat Jumaat bagi setiap muslim hukumnya tetap fardu ain, cuma dlm situasi kini, gugur kewajipannya disebabkan wabak COVID-19 yg melanda dunia, sifatnya yg sangat merbahaya dan boleh mengancam nyawa manusia. Oleh itu, kewajipan solat Jumaat gugur disebabkan hal tersebut, lalu diganti dgn solat Zohor.

Adapun ulil amri membenarkan sekumpulan org mendirikan solat Jumaat dlm bilangan tertentu, maka hal ini kerana mengambil kira permintaan org ramai agar solat Jumaat tetap dilaksanakan walaupun dlm jumlah yg minima kerana solat Jumaat merupakan salah satu syiar Islam yg tidak patut diabaikan. Hal ini kerana daripada tidak dikerjakan langsung solat Jumaat, maka lebih afdal dikerjakan juga walaupun dlm bilangan jemaah yg minima. Apabila cukup bilangan minima, maka telah cukup syarat utk mendirikan solat Jumaat bagi tertegaknya syiar Islam itu walaupun dalam keadaan yg tidak sempurna.

Cumanya hukum sebilangan orang yg mengerjakan solat Jumaat itu adakah dikira sbg fardu ain ke atas mereka atau terdapat hukum lain, tidak dijelaskan oleh mana-mana fatwa di Malaysia. Apa yg pasti, mereka yg tidak diarahkan utk solat Jumaat pada masa tempoh COVID-19 ini sememangnya tidak menanggung apa2 dosa kerana terdapat keuzuran. Tidak berdosa itu bukan disebabkan adanya kumpulan org yg mendirikan solat Jumaat, maka gugur dosa org lain, tetapi mmg hukum asalnya tidak berdosa disbbkan uzur syar’i.

Akhir kalam, kita perlu memahami isu ini dgn sebaiknya agar perlaksanaan ibadah kita dilakukan dgn sebaiknya, dan memperolehi rahmat serta reda-Nya. Tingkatkan amal ibadah kita pada sepuluh hari dan malam terakhir Ramadan ini agar kita memperoleh maghfirah-Nya.

Wallahua’lam.

Sumber:FB Ustaz Dr Mohd Murshidi Mohd Noor

15/05/2020 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

GOLONGAN YG MENGGUGAT IMSAK

Semua sepakat, bahwa yang namanya adalah menahan makan dan minum atau perkara yang membatalkan puasa mulai dari fajar shadiq sampai maghrib, bukan dari “waktu imsak” sampai maghrib.
Tradisi masyarakat Islam pada umumnya, ketika masuk “waktu imsak”, mereka membunyikan tanda atau lewat pembesar suara masjid atau mushalla, bahwa waktu imsak sudah tiba.

Tanda “waktu imsak” didasarkan pada Hadits Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit :
ﺗَﺴَﺤَّﺮْﻧَﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻡَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻗُﻠْﺖُ ﻛَﻢْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﺄَﺫَﺍﻥِ ﻭَﺍﻟﺴَّﺤُﻮﺭِ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺪْﺭُ ﺧَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺁﻳَﺔً
“Kami sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau menjalankan shalat”. Aku (Anas bin Malik) bertanya (kepada Zaid bin Tsabit): “Berapa kadar antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab: “Kadar 50 ayat”. (HR. Bukhari)

Dalam sebuah riwayat shahih yang lain disebutkan, bahwa Qatadah bertanya kepada Anas ketika bercerita tentang Zaid bin Tsabit yang sahur bersama Rasulullah:
“Berapa kadar antara selesainya keduanya dari makan sahur dan masuk mengerjakan shalat ? Anas menjawab : “Seperti kadarnya seorang laki-laki membaca 50 ayat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para Ulama membuat perkiraan, pembacaan 50 ayat tenggang waktu antara sahur dengan adzan shubuh adalah antara 10 sampai 15 menit.
Tradisi pemberitahuan “waktu imsak” tersebut kini digugat dan dihukum bid’ah sesat oleh Wahhabi ngaku sebagai salafi. Menurut mereka, antara waktu sahur dengan waktu shalat shubuh tidak ada sela waktu yang disebut imsak. Alasan mereka adalah karena tidak ada dalil tentang “waktu imsak” itu sendiri. Dan masih menurut mereka, hadits shahih senggang waktu 50 ayat yang sudah disebutkan di atas salah difahami oleh kaum muslimin yang meyakini adanya “waktu imsak”.

Betul bahwa waktu sahur berakhir ketika masuk fajar shadiq. Tetapi masalahnya, “waktu imsak” yang merupakan waktu dimana kita disunatkan tidak lagi makan dan minum adalah waktu ihtiyath atau waktu berhati-hati. Silakan saja setelah “waktu imsak” masih makan dan minum, karena “waktu imsak” tersebut bukan sebuah larangan makan dan minum seperti yang disangkakan sebahagian masyarakat kita yang awam. Tetapi mengingkari adanya waktu sela “waktu imsak” adalah sama dengan menyelisihi pemahaman para ulama dari Hadits Nabi di atas. Dan kedua hadits shahih yang telah disebutkan merupakan hujjah yang kuat.

Kaum Wahhabi menolak kesunatan memberi jeda waktu kadar 50 ayat sebelum shubuh yang disebut “waktu imsak”, berdasarkan atas tafsiran Abdullah bin Bassam dalam kitabnya, Taisir al-Allam syarah Umdah al-Hukkam (I/293) :
“Anas berkata: “Aku bertanya kepada Zaid: “Berapa kadar antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab: “Kadar 50 ayat”. Tafsir kata yang gharib: “Adzan yang dikehendaki Nabi adalah iqamah. Yang memperjelasnya adalah hadits dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Anas dari Zaid. Ia berkata: “Kami sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kami menjalankan shalat”. Aku (Anas) bertanya: “Berapa jarak antara keduanya?” Zaid menjawab: “Kadar 50 ayat”

Dari keterangan tsb, mereka mengambil kesimpulan, bahwa jarak antara sahur dengan iqamah shalat adalah berdekatan sekali dengan waktu shubuh. Mereka dengan tegas mengatakan, Rasulullah dan juga para shahabat melakukan makan sahur saat mendekati adzan shubuh atau bahkan (selesai) mendekati iqamah. Menurut mereka, tidak ada masa senggang antara adzan shubuh dengan sahur 50 ayat seperti yang dipahami dari lahiriyah teks hadits.
Jadi, masalah yang dijadikan polemik adalah apakah kadar 50 ayat dalam hadits Nabi di atas dimulai dari sahur sampai adzan shubuh (adzan fajar shadiq) atau sampai iqamah (mengerjakan shalat) ? Wahabi dengan sangat jelas memilih pendapat yang kedua.

Mari kita kaji lebih lanjut merujuk komentar-komentar ulama-ulama ahlussunnah yang kredibel dibidangnya. Apakah yang mereka katakan sama dengan yang dikatakan kaum Wahabi ?
👤 Imam Ibnu Daqiq al-Id dalam Ihkam al-Ahkam syarah Umdah al-Ahkam (I/269) berkata:
“Ini adalah dalil tentang kesunatan mengakhirkan sahur dan mendekatkan ke fajar. Yang zhahir, yang dikehendaki dengan adzan di sini adalah adzan kedua”.
Imam Nawawi dalam Syarah Muslim (VII/208) berkata : “Dalam hadits ini terdapat anjuran mengakhirkan sahur sampai sebelum sedikit fajar”.
Artinya ,,, terdapat anjuran sebelum fajar tiba kita tidak lagi melakukan sahur. Itulah “waktu imsak”.

👤 Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (II/54) : “Berapa kadar antara adzan dan sahur ? Maksudnya adalah adzan Ibnu Ummi Maktum, karena Bilal mengumandangkan adzan sebelum fajar, dan yang lain (Ibnu Ummi Maktum) mengumandangkan adzan ketika sudah muncul fajar”.

👤 Imam ad-Dusuqi al-Maliki dalam Hasyiyah-nya (V/ ,,, ) : “Maka telah datang riwayat, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan sahur sekira antara selesai sahur dengan fajar adalah kadar orang membaca 50 ayat”

👤 Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari dalam Asnal Mathalib (V/324) : “Yang sunnah, antara sahur dengan fajar adalah kadar 50 ayat”.

Jadi jelas, bahwa jarak waktu antara sahur dengan mengerjakan shalat sebagaimana dalam hadits Bukhari dan Muslim adalah antara sahur dengan adzan kedua sebagaimana dikatakan oleh banyak ulama.

Kemudian Wahhabi mencoba menguatkan pendapatnya, yakni tentang tidak adanya ruang sama sekali antara sahur dengan adzan shubuh, meskipun hanya bersifat sunat, dengan beberapa riwayat. Dan berikut ini kutipan riwayat-riwayat tersebut beserta paparan jawabannya:

● HADITS PERTAMA
“Ketika salah satu kalian mendengar adzan sementara wadah (minuman) masih ada ditangannya, maka janganlah diletakkan sampai ia menyelesaikan hajat darinya (meminumnya)” (HR. Ahmad dll.)
★ Bantahan : Entah bagaimana cara mereka memahami hadits shahih riwayat Ahmad ini ? Apakah mereka memahami, bahwa setelah adzan shubuh kita masih diperbolehkan makan dan minum sebagaimana lahiriyyah hadits tersebut ?

Lebih jelasnya, al-Hafizh al-Munawi dalam Faidh al-Qadir (I/474) yang menjelaskan isi maksud hadits tersebut. Dan satu yang dapat dipastikan, penjelasan ini akan berbeda dengan yang dipahami kaum Wahhabi.
Al-Munawi berkata : “Sabda Nabi (Hingga ia menyelesaikan hajatnya) dengan minum darinya secukupnya, selama tidak nyata munculnya fajar atau menyangka sudah dekat dengan fajar. Apa yang disebutkan, bahwa yang dimaksudkan panggilan adalah adzan shubuh adalah yang dipedomani Imam ar-Rafi’i. Ia berkata : “Rasulullah mengkehendaki adzannya Bilal yang pertama, dengan dalil hadits: “Sesungguhnya Bilal adzan ketika masih waktu malam, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan”. Menurut sebagian pendapat, panggilan yang dimaksudkan adalah adzan Maghrib. Maka, ketika orang puasa mendengar adzan sementara wadah makanan masih ada ditangannya, janganlah ia meletakkan tetapi segera berbuka dalam rangka menjaga kesunatan menyegerakan berbuka. Dan ini yang dipedomani Imam ath-Thayyibi”

Menjadi jelas, bahwa adzan yang dimaksudkan dalam hadits adalah adzan Bilal yang pertama yang berarti belum masuk waktu shubuh.

● HADITS KEDUA
“Shalat sudah dilaksanakan sedangkan wadah minuman masih di tangan Umar. Lalu Umar bertanya: “Aku (Umar) bertanya: “Aku boleh meminumnya wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab: “Benar boleh”. Maka Umar pun meminumnya”. (HR. Abu Ya’la al-Maushili)
★ Bantahan : sungguh pemahaman sangat aneh jika hadits ini dijadikan pendukung menghukum bid’ahnya sesatnya waktu Imsak. Hadits ini membicarakan tentang, jika shalat akan segera dikerjakan sementara ia masih memegang cangkir minuman, maka ia diperbolehkan minum terlebih dahulu sebelum shalat. Dan hujjah atas pernyataan ini adalah Imam al-Bushiri dalam Ittifah al-Khairah (II/180) yang memberi judul hadits ini: “Bab mendahulukan makan dan minum sebelum shalat”.

Bahkan jika difahami seperti pemahaman wahhabi, seharusnya setelah adzan dan setelah iqamah shubuh masih boleh makan. Buktinya Umar bin Khaththab diperintahkan minum padahal shalat sudah hendak dikerjakan. Sungguh pemahaman yang jauh dari ilmu.

● HADITS KETIGA
Abu Zubair bertanya kepada Jabir tentang seseorang yang bermaksud puasa sementara ia masih memegang gelas untuk minum, tetapi ia mendengar adzan? Jabir menjawab : Kami menceritakan, bahwa Rasulullah bersabda: “Hendaknya ia minum!”. (HR. Ahmad)
★ Bantahan : Imam Mulla Ali al-Qari menukil hadits ini dalam masalah ketika makan malam (asya’) sudah siap, sementara shalat sudah hendak dikerjakan. Maka, baiknya ia makan sekedarnya terlebih dahulu sebelum ia mengerjakan shalat. Dan sungguh aneh bin ajaib jika hadits diatas dijadikan dasar dalam mendukung pernyataan bid’ahnya bahwa tidak ada jeda “waktu imsak” yang sunat itu.
Hadits ini pun kalau dipahami secara tekstyal menurut pemahaman kaum Wahhabi, seharusnya makan dan minum diperbolehkan meskipun sudah masuk waktu shubuh. Tetapi paham seperti ini adalah paham yang jauh melenceng dari pengertian puasa itu sendiri.

● HADITS KEEMPAT
Hadits Bilal : “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi tahukan waktu shalat, sementara beliau berkehendak puasa, maka beliau minum dan memberikan kepadaku, baru kemudian keluar untuk shalat” (HR. Ahmad dll).
★ Bantahan : Hadits ini menunjukkan tentang sunatnya mengakhirkan sahur, bukan sahur ketika waktu shubuh sudah masuk. Terbukti al-Bushiri memasukkan hadits ini dalam anjuran menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.

Jika hadits ini dipahami secara literal seperti cara pikir wahhabi, maka artinya menjadi bahwa Rasulullah masih makan sahur padahal waktu shubuh sudah masuk. Dan ini adalah pemahaman amat sangat sangat keliru !!!

●HADITS KELIMA
Hadits Anas bin Malik : Sesungguhnya Rasulullah berkata: “Lihatlah siapa yang berada dalam masjid, undanglah dia !”. Ternyata ada Abu Bakar dan Umar , maka aku undang mereka berdua. Kemudian mereka makan dan kemudian keluar. Lalu Rasulullah shalat shubuh bersama mereka” (HR. Bazzar)
★Bantahan : Hadits “hasan” ini tidak menunjukkan jika Rasulullah dan sahabat Abu Bakar dan Umar berpuasa, tetapi anjuran makan bersama-sama sebagaimana al-Bushiri dalam Ittihaf al-Khairah (IV/279) yang memasukkannya dalam bab “Makan bersama-sama”.

● HADITS KEENAM
Hadits Abdullah bin Umar yang berkata : Alqamah bin Alatsah disamping Rasulullah . Kemudian datanglah Bilal yang mengumandangkan adzan shalat. Lalu Rasulullah berkata: “Tunggulah wahai Bilal !, Alqamah sedang sahur dan dia baru mulai makan sahur” (HR. Abu Dawud Thayalisi).
★ Bantahan : Bukankah Bilal adalah shahabat Rasulullah yang ditugaskan mengumandangkan adzan pertama shubuh yang berarti sebelum adzan shubuh yang kedua (fajar shadiq) yang dikumandangkan Ibnu Ummi Maktum ? Hadits tersebut sama sekali tidak terkait dengan yang didakwakan wahhabi.

Dalam sebuah hadits Nabi disebutkan : Sesungguhnya Bilal adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, kar3na adzan Bilal yang masih belum masuk waktu shubuh maka sahurnya Alqamah juga sebelum shubuh.
——————
Sekali lagi,,, tanda imsakiyyah 50 ayat di atas hanya bersifat sunat untuk berhati-hati dalam memulai puasanya.

Sumber: Fb Ustaz Zarief Shah Al HaQQy

12/05/2020 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

TAQRIB SALAF-KHALAF??

Ada satu kumpulan di Malaysia ni berusaha utk taqrib Salaf-Khalaf di Malaysia. Tetapi saya kurang pasti kumpulan ini dah mempengaruhi ramai org atau belum buat masa kini. Apa pun saya dikhabarkan, mereka ini cuba bergerak berdasarkan platform politik.

Cuma saya nk tanya begini, kumpulan ini yg nk taqrib tu faham ke apa maksud Salaf? Apa definisi Salaf yg mereka pegang? Jika dari sudut zaman, generasi Salaf telah berlalu. Jika dari sudut manhaj pula, adakah ulama Khalaf tidak meneruskan manhaj generasi Salaf, lalu meninggalkan manhaj Salaf itu? Sudah tentu tidak kerana ulama Khalaf adalah penerus kepada pegangan dan pemahaman ilmu yg dibawa oleh generasi Salaf. Jika mereka dapat jawab dgn ilmiah pengertian ‘Salaf’ dgn merujuk kpd karya-karya yg dikarang oleh ulama ASWJ, maka saya pasti mereka akan dapat jawapannya. Jika mereka berkeras juga dgn definisi ‘Salaf’ yg difahami oleh mereka tanpa merujuk karya ulama ASWJ, apa guna mereka nk laksanakan usaha taqrib tersebut sedangkan definisi ‘Salaf’ pun mereka tak lepas. Definisi yg lebih dipengaruhi oleh definisi yg dilakukan oleh puak Wahhabiyah yg memusuhi ulama khalaf.

Itu baru definisi, belum aspek yg lain. Sekarang ni, cuba perhatikan pula apa usaha yg dilakukan oleh ulama kita sejak dahulu kala utk menyatukan ummah. Aliran mazhab dlm aqidah dan fiqah adalah pelbagai maka masyarakat tidak dibiarkan menganut pelbagai mazhab yg bukan ASWJ yg boleh membawa kpd perpecahan yg teruk. Masyarakat tidak akan aman apabila ada sahaja di kalangan mereka golongan Syiah, Khawarij, Liberal, Wahhabiyah yg cuba menyusup di dlm masyarakat kerana golongan minoriti ini sentiasa membawa pandangan-pandangan yg ganjil yg boleh menyebabkan kekacauan dan keresahan dlm masyarakat. Maka dikuatkuasakan undang-undang di Tanah Melayu dari sudut agama utk tujuan penyatuan ummah bahawa dari aspek aqidah aliran yg diterima pakai hanyalah Asha’irah wal Maturidiyyah, dari aspek fiqh adalah fiqh mazhab Shafi’i di samping tiga mazhab muktabar, dan tasawuf berasaskan pembawaan Al-Ghazali dan Junayd Al-Baghdadi. Tiga tunjang utama ini yg dapat menyatukan masyarakat Melayu kerana tidak akan berlaku khilaf yg besar apabila tiga tunjang dasar inj dipegang. Jika ada khilaf pun, bab2 furu’ sahaja.

Berlainan sekiranya diterima segala aliran yg masuk ke Malaysia tanpa tapisan sama sekali maka akan menyebabkan masyarakat akan berpecah dgn teruk kerana perkara khilaf yg berlaku tidak lagi soal furu’ malahan melibatkan soal usul. Khilaf ini tidak akan berkesudahan kerana golongan minoriti ini sentiasa hendak menegakkan benang yg basah walaupun berada di pihak yg salah. Justeru, apa makna usaha anda utk taqrib yg anda fikir khilaf furu’ itu kerana anda memberikan definisi yg salah terhadap perkataan ‘Salaf’ itu sendiri sehingga merebak kepada isu-isu lain yg lebih besar. Ini kerana anda sendiri tidak berhati-hati dlm soal ilmu, tetapi hendak membawa satu soal yg anda anggap bedar sedangkan hal terbabit merupakan bibit halus utk memecah belahkan masyarakat ke dalam suasana yg lebih teruk tetapi anda sulam usaha anda itu dgn “taqrib Salaf-Khalaf” sedangkan anda sedang membuka pintu perpecahan yg sebenarnya telah ditutup oleh para ulama kita sejak dahulu lagi.

Justeru, usaha yg patut anda utamakan, kembalikan masyarakat keseluruhannya kepada ASWJ aliran Asha’irah wal Maturidiyyah, fiqh bermazhab dan bertasawwuf yg muktabar. Inilah kunci penyatuan ummah yg telah pun disepakati oleh para ulama kita di alam Melayu. Jgn cuba nk bawa satu fikrah baru yg anda sendiri pun tidak pasti kesannya kpd masyarakat. Ketika ulama kita selesaikan isu ini, anda pun masih di alam roh, tidak wujud lagi pun di dunia. Apabila anda dilahirkan di dunia, anda cuba pula nk bawa benda lain lalu membelakangkan usaha yg telah dilakukan oleh para ulama kita di alam Melayu.

Wallahua’lam.

(Dari: FB Ustaz Dr Mohd Murshidi Mohd Noor)

09/05/2020 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

QAWL MUKTAMAD BAHARU DLM MAZHAB SHAFI’I??

Sekadar coretan ringkas daripada saya yg daif ini mengenai pandangan yg mengatakan telah wujud qawl muktamad baharu dlm mazhab Shafi’i.

Pada pandangan saya, untuk mewujudkan qawl muktamad baru dlm mazhab Shafi’i, bukannya datang daripada mana2 ajk fatwa, kerana proses mewujudkan qawl muktamad itu mestilah datang daripada org yg selevel imam mujtahidin juga seperti Imam Nawawi, Imam Rafi’i, Imam Ibn Hajar al-Haitami, Imam al-Ramli dan seumpama mereka.

Pernah dahulu kala, dunia pernah memiliki ulama yg tersangat hebat dan alim dlm mazhab Shafi’i iaitu Sheikh Yasin al-Fadani yg jika diikutkan berdasarkan pemerhatian kita, beliau sudah tentu berkemampuan utk tarjih semula mazhab atau mewujudkan qawl muktamad mazhab Shafi’i yg baru, kerana menguasai kesemua karya-karya mazhab Shafi’i, tetapi beliau tidak lakukan demikian dan hanya bertaklid kpd mazhab al-Shafi’i sahaja.

Ini bermakna pada hemat saya, zaman utk mewujudkan qawl muktamad dlm mazhab sudah pun berlalu. Kita yg berfatwa pada zaman kini hanya merujuk kpd qawl muktamad yg telah sedia ada yg mana di Malaysia kita mengutamakan qawl muktamad dlm mazhab Shafi’i. Jika menghadapi situasi yg sukar seperti berlaku bertembungan antara maslahah, mafsadah, uzur syar’i, siyasah syar’iyyah dan sebagainya yg keadaannya berlawanan dgn kepentingan awam, maka akan dirujuk pula kepada qawl muktamad dlm tiga mazhab muktabar selain mazhab Shafi’i.

Justeru, jika ada yg beranggapan telah ada qawl muktamad baru dlm mazhab atau pun ianya diistilahkan sebagai ‘keputusan akhir jawatankuasa fatwa’, maka saya berpandangan hal yg seperti itu hanyalah sekadar melakukan ijtihad kini yg meraikan situasi semasa, bukannya qawl muktamad baru dlm mazhab. Selain itu, ketidak wajaran mengadakan qawl muktamad baru dlm mazhab kerana qawl muktamad itu telah pun dibukukan dan telah pun menjadi bahan sejarah. Oleh itu, tidak sesuai utk diadakan qawl muktamad yg baharu.

Jika nak bagi ada pun qawl muktamad baru itu, maka perlu cukup syarat, tetapi syaratnya amat ketat yg mustahil utk dipenuhi oleh ilmuwan yg ada pada zaman kini. Sehubungan dgn itu, jika hendak dikatakan juga adanya pandangan muktamad baru, kemungkinan org zaman kini perlu berfikir ke arah mewujudkan mazhab baharu sebagai mazhab kelima yg mempunyai pandangan muktamadnya yg tersendiri, mazhab yg ada ciri tersendiri yg tidak sama dgn empat mazhab yg ada. Tindakan sebegini lebih mudah difahami oleh org ramai berbanding dakwaan ttg adanya qawl muktamad yg baharu. Tetapi, sudah tentu akan menerima kritikan yg hebat kerana kemustahilan utk mewujudkan mazhab kelima.

Akhir kalam, jika hendak mewujudkan juga la qawl muktamad yg baru dlm mazhab Shafi’i, maka saya berpandangan kita perlulah berusaha melahirkan semula ulama mujtahidin mazhab Shafi’i yg setaraf Imam Nawawi, Imam Rafi’i, Imam Ibn Hajar al-Haitami, Imam al-Ramli, Sheikh Zakariyya al-Ansari, Sheikh Yasiin al-Fadani, maka barulah sesuai utk adanya qawl muktamad baru dlm mazhab. Tidak cukup sekadar jk fatwa berhimpun utk melakukan keputusan baru yg bertentangan dgn qawl muktamad yg sedia ada, lalu keputusan itu dikatakan pula qawl muktamad baharu dlm mazhab Shafi’i, maka saya berpandangan adalah tidak wajar dakwaan sedemikian.

Semoga bermanfaat coretan yg ringkas ini.

Wallahua’lam.

Olih: Ustaz Dr Mohd Murshidi Mohd Noor

08/05/2020 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Fatwa Darul Ifta’ Mesir Berkenaan Hukum Bernikah Secara Online:

Darul Al-Ifta Mesir mengesahkan kesahihan fatwa yang dikeluarkan oleh badan berkenaan bahawa pernikahan online yang dijalankan melalui video conference adalah tidak sah. Ianya adalah kerana pernikahan secara online mengandungi banyak kecacatan yang boleh merosakkan akad tersebut, terutamanya yang bersangkutan dengan makna keredhaan yg sebenar sebagai mana yg di tunjukkan oleh syarak.

Apatahlagi Yang menyentuh aspek kehadiran saksi dan penyaksian mereka terhadap proses perjalanan majlis akad tersebut.

Dar Al-Ifta Mesir juga menjelaskan dalam salah satu dari fatwa terbarunya bahawa memastikan bahawa sesuatu akad nikah itu menjadi sah maka pihak pengantin hendaklah mematuhi beberapa syarat yg wajib dipatuhi dan di penuhi.

1) Upacara akad nikah pada asalnya perlu dijalankan dalam keadaan biasa, seperti hadirnya keluarga kedua pengantin atau setidaknya wakil dari pihak kedua mempelai.

2) Memberlakukan sighah akad dengan cara menghadirkan dua orang saksi dalam satu majlis.

Berdasarkan kepada Sabda Nabi saw:
لا نكاح الا بولي وشاهدي عدل، وما كان من نكاح على غير ذلك فهو باطل.

“Tiada pernikahan melainkan dengan kehadiran seorang wali dan dua orang saksi. Dan apa jua bentuk pernikahan yang berlaku dengan cara selain dari itu maka pernikahan tersebut adalah batil”.

Dan pihak Darul Ifta’ menambah lagi bahawa proses pendengaran Para saksi terhadap Sighah akad menerusi peralatan modern (gadget) seperti telefon bimbit dan aplikasi perbualan secara online melalui internet maka ianya tidak boleh diterima pakai kerana suara seseorang boleh bercampur baur dan ini tidak memadai dalam akad nikah.

Kerana kaedah fiqhiyyah mengatakan bahawa:

يحتاط في الفروج ما لا يحتاط الأموال

Di utamakan sikap berhati-hati dalam urusan menghalalkan kemaluan (urusan munakahat) melebihi sifat kehati-hatian dalam urusan harta benda (muamalat).

Fatwa tersebut menegaskan bahawa tokoh-tokoh penting dalam mazhab Syafie mensyaratkan (dalam Qaul yang muktamad) berkenaan dua orang saksi nikah bahawa keduanya baik penglihatan, celik dan tidak cukup sekadar elok pendengaran semata mata.

Hal ini diakui oleh Imam Nawawi sendiri dalam kitabnya Minhajul Tolibin dimana beliau mengatakan bahawa:

Dan tidak sah ia (akad nikah) melainkan dilakukan dihadapan dua orang saksi.

Dan syarat bagi kedua orang yang akan menjadi saksi bahawa mereka berdua mestilah:

1) Merdeka
2) Lelaki
3) Adil
4) Mendengar
5) Melihat

Dan Syeikh Khatib As Syarbini dalam komentar beliau terhadap makna “melihat” mengatakan:

Kedua syarat terakhir tersebut diletakkan oleh Imam An Nawawi kerana sebuah keterangan akad tidak akan jelas maknanya melainkan dengan melihat dan mendengar (secara serentak).

Fatwa tersebut juga menegaskan bahawa pernikahan tersebut tidak boleh dianggap sah hanya dengan berpandukan gambar dan suara video semata mata.

(Apa jua kebarangkalian yang ada) samaada melalui telefon bimbit atau aplikasi mudah alih jalur lebar (internet) bahkan jika cukup padanya syarat yg ditetapkan oleh tokoh-tokoh syafiiyyah berkenaan sekalipun. Kerana pemberlakuan syarat yg ditetapkan oleh tokoh berkenaan itu berlaku atas asas yg tidak pasti (zonniyyah) dan bukan secara pasti (qath’iyyah).

Kerana dalam proses akad dengan aplikasi tersebut boleh di pengaruhi unsur penipuan atau penyelewengan melalui aplikasi yg berlainan yg boleh mengubah bunyi suara, gambar video.

Tambahan pula kaedah fiqhiyyah menyebutkan bahawa dalam urusan melibatkan faraj (perkahwinan) perlu lebih berhati-hati melebihi akad yg lain.

Maka sebagai mufti kami tidak boleh menghalalkan suatu pernikahan Yang bersandarkan kepada suatu yg zanni. Dan demikian itu kerana ingin menutup jalan kefasadan (saddu Az Zara’i) dan apa jua kesan negatif yang akan terzahir hasil dari keputusan tersebut.

Pihak Dar Al-Ifta memberi amaran kepada sekelian pemuda pemudi agar tidak menerima galakan tersebut (nikah online) yang secara jelas bercanggah dengan syariat. Juga bimbang mengenai kesan buruk yang akan menimpa mereka dalam bentuk penyesalan di kemudian hari.

Hingga mengheret mereka (pemuda pemudi) ke dalam kancah kedurhakaan dan keganasan rumahtangga kesan dari kesilapan menjalani perkahwinan dalam keadaan tidak patuh kepada ajaran syariat, juga kesan buruk dari pernikahan yang tidak di redhai oleh Allah dan RasulNya saw.

Sekian.

Penterjemah: Al Faqeer Cik Wan Hilmy Wan Mohamed

21/04/2020 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

SENARAI KITAB ULAMA ASWJ YANG MENOLAK FAHAMAN WAHHABI

1. Fasl al-Khitab fi Radd ‘ala Muhammad ibn Abdil Wahhab oleh Syaikh Sulaiman ibn Abdil Wahhab. Inilah merupakan kitab yang pertama yang menolak fahaman Wahhabi yang ditulis oleh saudara kandung pengasas fahaman Wahhabi.

2. As-Sowa’qul Ilahiyyah fi Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Syaikh Sulaiman ibn ‘Abdul Wahhab al-Najdi

3. Fitnah al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (kitab ini telah diterjemahkan ke bahasa Melayu oleh Ustaz Muhammad Fuad bin Kamaluddin ar-Rembawi)

4. Ad-Durarus Saniyah fi al-Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (kitab ini telah diterjemahkan ke bahasa Melayu, maaflah ambo lupa tajuknya)

5. Khulasatul Kalam fi Bayani ‘Umara` al-Balad al-Haram karangan al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

6. Saif al-Jabbar oleh Syaikh Fadhlur Rasul

7. Al-Aqwal al-Mardiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-Syaikh al-Faqih ‘Atha’ al-Kasam al-Dimashqi al-Hanafi

8. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Sholeh al-Kuwaisy al-Tunisi

9. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Abu Hafs Umar al-Mahjub

10. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Muhammad Sholeh al-Zamzami al-Syafie

11. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Ibrahim ibn Abdul Qadir al-Tarabulasi al-Riyahi al-Tunisi

12. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Mufti Madinah Zubir di Bashrah – Syaikh Abdul Muhsin al-Asyniqiri al-Hanbali

13. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Mufti Fez – Syaikh al-Makhdum al-Mahdi

14. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Qadhi Jamaa’ah di Maghribi – Syaikh Ibn Kiran

15. Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh Syaikhul Islam Tunisia- Syaikh Ismail al-Tamimi al-Maliki

16. Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh Syaikh Ahmad al-Misri al-Ahsa’i

17. Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh al-‘Allamah Barakat al-Syafie al-Ahmadi al-Makki

18. Ar-Radd ‘ala Muhmmaad ibn Abdil Wahhab karangan Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi asy-Syafie.

19. At-Taudhih ‘ala Tauhid al-Khallaq fi Jawab Ahli al-Iraq ‘ala Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab karangan Syaikh ‘Abdullah Affendi al-Rawi

20. Al-Haqiqah al-Islamiyah fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Abdul Ghani ibn Sholeh Hamadah.

21. Ad-Dalil Kafi fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabi oleh Syaikh Misbah ibn Muhamad Syabqalu al-Beiruti

22. Radd Muhtar ‘ala Durr al-Mukhtar oleh Ibn ‘Abidin al-Hanafi al-Dimasyqi

23. Al-Haq al-Mubin fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyin oleh Syaikh Ahmad Sa’id al-Faruqi al-Sirhindi al-Naqsyabandi

24. Al-Haqaiq al-Islamiyah fi Radd ‘ala Maza’im al-Wahhabiyyah bi Adillah al-Kitab wa al-Sunnah al-Nabawiyyah oleh Syaikh Malik ibn Syaikh Mahmud.

25. Ar-Rudud ‘ala Muhammad ibn Abdul Wahhab oleh al-Muhaddits Sholeh al-Fullani al-Maghribi.

26. Ar-Radd ‘ala Muhammad ibn Abdul Wahhab oleh Syaikh Abdullah al-Qudumi al-Hanbali al-Nablusi

27. Risalah fi Musyajarah baina Ahl Makkah wa Ahl Nadj fil ‘Aqidah oleh Syaikh Muhammad ibn Nasir al-Hazimi al-Yamani

28. Sa’adah ad-Darain fi ar-Radd ‘ala Firqatain – al-Wahhabiyyah wa Muqallidah al-Zhahiriyyah oleh Syaikh Ibrahim ibn Utsman ibn Muhammad al-Samhudi al-Manshuri al-Misri

29. Al-Saif al-Batir li ‘Unuq al-Munkir ‘ala al-Akabir oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Quthubul Irsyad al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi al-Haddad.

30. As-Suyuf al-Masyriqiyyah li Qat’ie A’naaq al-Qailin bi Jihah wa al-Jismiyah oleh Syaikh ‘Ali ibn Muhammad al-Maili al-Jamali al-Tunisi al-Maghribi al-Maliki

31. Raudh al-Majal fi al-Radd ‘ala Ahl al-Dholal oleh Syaikh Abdurrahman al-Hindi al-Delhi al-Hanafi

32. Sidq al-Khabar fi Khawarij al-Qarn al-Tsani Asyara fi Itsbathi ‘an al-Wahhabiyyah min al-Khawarij oleh Syaikh al-Syarif ‘Abdullah ibn Hassan Basya ibn Fadhi Basya al-‘Alawi al-Husaini al-Hijazi

33. Al-Minhah al-Wahbiyyah fi Raddi al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Daud bin Sulaiman al-Baghdadi an-Naqsyabandi al-Khalidi

34. Al-Haqaaiq al-Islamiyyah fi ar-Raddi ‘ala al-Mazaa’im al-Wahhabiyyah bi Adillah al-Ktab wa as-Sunnah an-Nabawiyyah oleh al-Hajj Malek Bih ibn Asy-Syaikh Mahmud, Mudir Madrasah al-‘Irfan, Kutbali, Mali

35. Misbah al-Anam wa Jala-uz-Zhalam fi Raddi Syubah al-Bid’i an-Najdi Allati Adhalla biha al-‘Awwam oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Quthubul Irsyad al-Habib ‘Abdullah bin ‘alwi al-Haddad.

36. An-Nuqul as-Syar’iyyah fi Raddi ‘alal Wahhabiyyah oleh Hasan ibn ‘Umar ibn Ma’ruf as-Shatti al-Hanbali

37. Nasiha li Ikhwanina Ulama Najd oleh as-Sayyid Yusuf ibn Sayyid Hasyim ar-Rifaie

38. Tahakkum al-Muqallidin bi Mudda`i Tajdid ad-Din karangan Syaikh Muhammad bin ‘Abdur Rahman bin ‘Afaliq al-Hanbali,

39. Saiful Jihad li Mudda`i al-Ijtihad karangan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Lathif asy-Syafi`i

40. Tarikh al-Wahhabiyyah oleh Ayyub Sabri Pasha (meninggal dunia tahun 1308H/1890M). Faydul Wahhab fi Bayan Ahl al-Haq wa Man Dhalla ‘an ash-Shawab karangan Syaikh ‘Abdur Rabbih bin Sulaiman asy-Syafi`i

41. As-Sarim al-Hindi fi ‘Unuqin-Najdi karangan Syaikh ‘Atha` al-Makki;

42. As-Sarim al-Hindi fi Ibanat Tariqat asy-Syaikh an-Najdi karangan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Isa bin Muhammad as-San`ani

43. Al-Basha`ir li Munkiri at-Tawassul ka Amtsal Muhammad ibn Abdul Wahhab karangan Syaikh Hamd-Allah ad-Dajwi

44. Risalah Irsyadul Jaawiyyin ila Sabilil ‘Ulama-il-‘Aamiliin karangan Tuan Guru Haji ‘Abdul Qadir bin Haji Wangah bin ‘Abdul Lathif bin ‘Utsman al-Fathoni

45. Sinar Matahari Buat Penyuluh Kesilapan Abu Bakar al-Asy’ari karangan Syaikh Abdul Qadir bin ‘Abdul Muthalib al-Mandili

46. Tajrid Saif al-Jihad li Mudda’I al-Ijtihad karangan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Lathif asy-Syafie.

47. Al-Mazhab atau Tiada Haram Bermazhab karangan Syaikh Abdul Qadir bin ‘Abdul Muthalib al-Mandili

48. Kitab Senjata Syari’at karangan Ustaz Abu Zahidah bin Haji Sulaiman dan Abu Qani’ah Haji Harun bin Muhammad as-Shamadi al-Kalantani.

49. Al-Fajr ash-Shodiq fi al-Radd ‘ala al-Maariq karangan Syaikh Jamil Affendi Shodiqi az-Zuhawi.

50. Al-Ushul al-Arba’ah fi Tardid al-Wahhabiyyah/ Al-‘Aqaid as-Shohihah fi Tardid al-Wahhabiyyah karangan Muhammad Hasan, Shohib al-Sirhindi al-Mujaddidi.

51. Al-Awraq al-Baghdadiyyah fi al-Jawabat an-Najdiyyah karangan Syaikh Ibrahim ar-Rawi al-Baghdadi.

52. Al-Bara’ah min al-Ikhtilaf fi ar-Radd ‘ala Ahli asy-Syiqaq wa an-Nifaq wa ar-Radd ‘ala Firqah al-Wahhabiyyah al-Dhallah karangan Syaikh Zainul ‘Abidin as-Sudani.

53. Al-Barahin as-Sati’ah karangan Syaikh Salamah al-‘Azzami

54. Risalah fi Ta’yid Madzhab as-Sufiyyah wa ar-Radd ‘ala al-Mu’taridhin ‘Alaihim karangan Syaikh Salamah al-‘Azzami

55. Risalah fi Jawaz at-Tawassul fi ar-Radd ‘ala Muhammad ibn ‘Abdil Wahhab karangan al-‘Allamah Syaikh Mahdi al-Wazaani, Mufti Fez, Maghribi.

56. Risalah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah karangan Syaikh Qasim Abi al-Fadhl al-Mahjub al-Maliki

57. Al-Risalah ar-Raddiyyah ‘ala at-Tho’ifah al-Wahhabiyyah karangan Syaikh Muhammad ‘Atholah yang dikenali sebagai Ato ar-Rumi

58. ’Iqd Nafis fi Radd Syubhat al-Wahhabi al-Ta’is karangan Syaikh Ismail Abi al-Fida` at-Tamimi at-Tunisi. Beliau adalah seorang yang faqih dan ahli sejarah.

59. Al-Madarij as-Saniyyah fi Radd al-Wahhabiyyah karangan Maulana Aamir al-Qadiri, guru di Darul Ulum al-Qadiriyyah, Karachi, Pakistan

Dan banyak lagi.

Catitan Oleh;
Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari
Universiti Al-Azhar Mesir

16/04/2020 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Bagaimana Tata cara bersuci dan solat bagi Tenaga Kesihatan yang menggunakan Alat Pelindung Diri (PPE)?

Persoalan yang muncul saat ini adalah ketika seorang tenaga kesehatan (nakes) dalam penanganan covid-19 diwajibkan untuk mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) yang berupa pakaian lengkap, yang aturannya tidak dapat ditanggalkan setiap saat kecuali pada saat tertentu, di mana terkadang nakes yang mengenakannya melewati dua waktu sholat dan terkadang ia dalam keadaan hadats dan belum waktunya dapat melepaskan pakaian tersebut. Kondisi ini bertmbah sulit karena jumlah APD sangat terbatas, dan hanya bisa dikenakan satu kali. Maka dalam kondisi seperti ini, bagaimana cara bersuci dan sholatnya dalam kondisi seperti ini?, maka jawabannya dapat disimpulkan dalam beberapa poin berikut ini:

Kesimpulan:
1. Kondisi darurat adalah jika APD tidak dikenakan maka akan mengancam keselamatan jiwanya dimana ia rentan tertular virus.
2. Sebelum menggunakan APD, maka seharusnya tenaga kesehatannya telah bersuci baik dari hadats kecil dengan berwudhu atau hadats besar dengan mandi.
3. Jika dalam kondisi suci, belum ada yang membatalkan wudhunya maka nakes dapat sholat langsung sebagaimana biasanya.
4. Jika wudhunya batal, dan ia masih harus berada dalam kondisi mengenakan APD sementara dikhawatirkan waktu sholat selesai, maka dalam kondisi seperti ini ia sholat sesuai keadaannya meskipun dalam keadaan terhalang bersuci.
5. Jika dalam kondisi tertentu, dengan sebab tugas nakes tidak dapat melaksanakan sholat pada waktunya atau tidak dapat menjamak sholatnya maka dalam kondisi ini ia segera melaksanakan sholat pada saat yang memungkinkan.

Penjelasan Detail :

1. Kondisi yang digambarkan adalah kondisi yang dapat dikategorikan darurat atau minimal mendekati darurat, di mana kondisi yang ada mengharuskan nakes untuk berada dalam pakaian tersebut dalam waktu yang relatif lama dan jika APD tidak dikenakan maka akan mengancam keselamatan jiwanya dimana ia rentan tertular virus covid-19. Maka dalil dan kaidah yang digunakan adalah sebagai berikut:

Firman Allah Ta’ala:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian”. (QS. at-Taghaabun: 16)

Hadits:

فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apabila aku perintahkan kalian satu perkara, maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian”. (HR. Bukhari No. 7288 & Muslim No. 1337)

Kaidah:
المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التّيسيرَ
“Kesulitan mendatangkan kemudahan” (al-Mantsur fi al-Qawaid al-Fiqhiyyah 3/ 19)

Kaidah:
دَرْءُ المَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ علَى جَلْبِ المَصَالِحِ
“Menolak mudharat lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan”. (al-Qawaid al Fiqhiyyah wa Tathbiquha fi al Madzahib al-Arba’ah 1/ 238).

2. Sebelum menggunakan APD, maka seharusnya tenaga kesehatannya telah bersuci baik dari hadats kecil dengan berwudhu atau hadats besar dengan mandi. Dan semaksimal mungkin setelah mengenakan APD, ia berusaha untuk terus menjaga kondisi suci ini semampu mungkin.

3. Jika dalam kondisi suci, belum ada yang membatalkan wudhunya maka nakes dapat sholat sebagaimana biasanya pada waktunya dengan mengenakan APD. Namun jika tidak mungkin melaksanakan setiap sholat pada waktunya, maka dalam kondisi ini ia dapat menjamak 2 sholat ( sholat Dhuhur dan Ashar serta sholat Magrib dan Isya) masing-masing sesuai dengan bilangan rakaatnya (tidak diqashar). Berdasarkan hadits Ibnu Abbas –Radhiyallahu’anhuma- :

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ، وَلَا مَطَرٍ”، فَقِيلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ: مَا أَرَادَ إِلَى ذَلِكَ؟ قَالَ: “أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ”

“Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menjamak sholat Dhuhur dan Ashar begitujuga Sholat Magrib dan Isya’ tanpa ada rasa takut dan tanpa ada hujan”. Ibnu Abbas ditanya, apa yang beliau inginkan dengan hal ini?, beliau berkata: “Beliau tidak ingin memberatkan ummatnya”. (HR. Ahmad No. 3323 Abu Daud No. 1211, at-Tirmidziy No. 187, dan haditsnya disahihkan oleh al-Albaniy).

4. Jika wudhunya batal, dan ia masih harus berada dalam kondisi mengenakan APD sementara dikhawatirkan waktu sholat selesai, maka dalam kondisi seperti ini ia sholat sesuai keadaannya meskipun dalam keadaan terhalang bersuci. Dan menurut pendapat yang kuat ia tidak perlu mengqadha (mengganti) sholat tersebut. Keadaan ini dapat diqiyaskan dengan kondisi orang yang tidak mampu berwudhu dan bertayammum (Faaqidu at-thahurain). Berkata Ibnu Qudamah -Rahimahullah- dalam masalah ini:

وإن عدم بكل حال صلى على حسب حاله. وهذا قول الشافعي

“Jika ia dalam semua kondisi tidak mendapatkan apa-apa maka ia sholat sesuai dengan keadaannya. Dan ini pendapat Imam Syafi’i.” (al-Mughni 1/ 184).
Berkata al-Hajjawiy –Rahimahullah-:

ومن عدم الماء والتراب أو لم يمكنه استعمالهما لمانع كمن به قروح لا يستطيع معها مس البشرة بوضوء ولا تيمم صلى على حسب
حاله وجوبا ولا إعادة.

“Barang siapa tidak mendapatkan air atau debu atau ia tidak mampu menggunakan keduanya karena adanya halangan, seperti seseorang yang memiliki luka bernanah yang kulitnya tidak dapat tersentuh dengan wudhu dan tayammum maka ia wajib melaksanakan sholat sesuai keadaannya dan ia tidak perlu mengulangi sholatnya”. (al-Iqnaa’ 1/ 54).

5. Jika dalam kondisi tertentu, dengan sebab tugas nakes tidak dapat melaksanakan sholat pada waktunya atau tidak dapat menjamak sholatnya maka dalam kondisi ini ia segera melaksanakan sholat pada saat yang memungkinkan dan menyesuaikan dengan keadaan meskipun waktu pelaksanaanya telah berlalu. Kondisi yang seperti ini berdasarkan apa yang dialami oleh Rasulullah –Shallallahu’alaihi wasallam- beserta para sahabat pada perang Ahzab/Khandaq, yang terpaksa menunda pelaksanaan sholat ashar sampai setelah terbenam matahari karena kesibukan berperang, (silahkan dilihat riwayat al-Bukhari No. 4533 & Muslim No. 27). Berkata Syeikh Ibn Baz –Rahimahullah-:a

الواجب على المسلم أن يصلي الصلاة في وقتها، وألا يشغل عنها بشيء، اللهم إلا من شيء ضروري الذي لا حيلة فيه
كإنقاذ غريق، إنقاذ من حريق، ومن هجوم عدو، هذا لا بأس به بأن تؤخر الصلاة ولو خرج وقتها، أما الأمور العادية
التي لا خطر فيها فلا يجوز تأخير الصلاة من أجلها، فقد ثبت عن الرسول – صلى الله عليه وسلم – لما حصر
أهل مكة المدينة يوم الأحزاب أخر صلاة الظهر والعصر إلى ما بعد المغرب.

“Kewajiban bagi seorang muslim untuk melaksanakan sholat pada waktunya, dan jangan sedikitpun disibukkan dengan hal yang lain untuk melaksanakan sholat, kecuali sesuatu yang darurat yang tidak mungkin dihindarkan, seperti: tindakan penyelamatan orang yang tenggelam, atau korban kebakaran, serangan musuh, maka dalam keadaan ini tidak mengapa ia mengakhirkan sholat meskipun waktunya telah keluar. Adapun dalam kondisi normal yang tidak berbahaya, maka tidak boleh menunda sholat. Hal ini berdasarkan apa yang sahih dari Rasulullah –Shallallahu’alaihi wasallam- ketika pasukan kota Mekkah menegepung kota Madinah dalam perang Ahzab, beliau menunda pelaksanaan sholat Dhuhur dan Ashar setelah masuk waktu Maghrib”. (Fatawa Nuur ‘ala ad-Darb 7/ 94).

Oleh Ust. Ahmad Hanafi, Lc., M.A., Ph.D.

10/04/2020 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Mazhab Rojak

Hari ni ada org mempersoalkan kpd saya ttg mazhab rojak sbb saya ada membincangkannya dlm Berita Harian tempoh hari.

Saya kata, utk org awam, elok pegang satu mazhab bagi kemas. Jgn campur aduk mazhab. Nanti keliru. Jgn berpegang kpd mazhab rojak.

Dia kata lagi dlm nada yg tidak puas hati: “salah ka org awam nk pegang mazhab cara rojak?”

Saya pun dah malas nk jawab soalan itu, nanti panjang pula perbincangan, sedangkan ulama dah habis berbincang permasalahan tersebut.

Cuma saya nk kongsi sedikit di sini kenapa tidak sesuai mazhab rojak;

Ok, cuba tengok situasi ini:

👇🏼👇🏼👇🏼

# sentuh isteri tak batal air wuduk

# lelaki pakai seluar pendek sah solat

# sentuh anjing dlm keadaan lembap tak perlu basuh tujuh kali

# solat fardu secara berjemaah dia kata sunat (mazhab Shafi’i kata fardu kifayah)

# Al-Fatihah tak baca pun tak pa dlm solat

# Sentuh dan baca Al-Quran dlm keadaan hadas besar tidak mengapa

# sentuh mushaf al-Quran ketika hadas kecil tidak mengapa

# wanita haid boleh berada lama di dalam masjid

# dan banyak lagi permasalahan yg lain

👆🏼👆🏼👆🏼

Cuba perhatikan amalan di atas, apakah mazhab yg org itu pegang? Manakah mazhab yg mengatakan sah amalannya itu? Tidakkah agama ini akan menjadi sesuatu yg dipermainkan dgn sesuka hati oleh sesiapa sahaja?

Bagi anda yg menyokong mazhab rojak, setujukah anda bahawa umat Islam mengamalkan semua perkara di atas dgn cara campur aduk dgn alasan “apa masalahnya mazhab rojak?”

Org yg tidak berpuas hati akan berkata lagi, “tidakkah di perbankan fatwanya dah jadi rojak?”

Kita jawab begini: Berlainan dgn ahli-ahli fatwa yg dilantik, mereka berijtihad utk permasalahan semasa yg kadangkala perlu bertaklid kpd mazhab selain mazhab Shafi’i apabila bertembung antara maslahah, mafsadah, masyaqqah dsb.

Hal ini tidak boleh dianggap sbg mazhab rojak kerana mereka merujuk kepada usul, kaedah usul, maqasid dsb yg turut diterima dlm mazhab Shafi’i ketika menghadapi situasi tertentu.

Moga bermanfaat sedikit penerangan ini.

Wallahua’lam.

Sumber: FB Ustaz Murshidi Mohd Noor

05/04/2020 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Siapa Layak Menetapkan Hadis Sahih atau Dhaif?

Salam Ustaz,…Apakah kita orang awam boleh untuk menentukan (menetapkan) sesebuah status hadith itu sahih atau dhaif,..karena pada masakini ramai yang menjadi muhaddisin tanpa ilmu dan kepakarannya,…seperti orang yang mengaku diri kelulusan PhD hadith,..?.

Jawapan:

Wasalam,…sebenarnya pertanyaan ini sungguh berat untuk saye menjawab,..
dengan beberapa kekurangan pada diri saya,…namun saye cube menjelaskan menurut kemampuan yang saye pelajari,…Alhamdulillah.

1 . Yang boleh menetapkan status sebuah hadith bukanlah kita yang awam ini, melainkan para ulama hadith. Mereka saja yang mempunyai kapasiti, legelity, autoriti dan tools untuk melakukannya. Dan buat kita, cukuplah kita membaca karya-karya agung mereka melalui kitab-kitab hasil naqd (kritik) mereka.

Menetapkan status suatu hadith dikenal dengan istilah al-hukmu ‘alal hadith. Upaya ini adalah bagian dari kerja besar para ulama hadith (muhadditsin). Mereka punya sekian banyak kriteria dalam menentukan derajat suatu hadith.

Secara umum, studi ini dilakukan pada dua sisi. Yaitu sisi para perawinya dan juga sisi matan hadithnya, atau isi materinya. Jadi yang dinilai bukan hanya salah satunya saja, melainkan keduanya.

2 . Keshahihan suatu hadith akan dinilai pertama kali dari masalah siapa yang meriwayatkannya. Dan yang dinilai bukan hanya perawi pada urutan paling akhir saja. Akan tetapi mulai dari level pertama yaitu para shahabat, kemudian level kedua yaitu para tabi’in, kemudian level ketiga yaitu para tabi’it-tabi’in dan seterusnya hingga kepada perawi paling akhir atau paling bawah.
Nama para perawi paling akhir itu adalah yang sering kita dengar sebagai hadith yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah, At-Tirmiziy, Abu Daud dan lainnya. Akan tetapi, yang dijadikan ukuran bukan semata-mata para perawi di level paling bawah atau paling akhir saja.

Melainkan keadaan para perawi dari level paling atas hingga paling bawah dijadikan objek penelitian. Khususnya pada level di bawah para shahabat. Sebab para ulama sepakat bahwa para shahabat itu seluruhnya orang yang ‘adil dan tsiqah. Sehingga yang dinilai hanya dari level tabi’in ke bawah saja.

3 . Satu persatu biografi para perawi hadith itu diteliti dengan cermat. Penelitian dipusatkan (tumpuan) pada dua kriteria. Yaitu kriteria al-‘adalah dan kriteria adh-dhabth.

a. Kriteria al-‘adalah

Kriteria pertama adalah masalah ‘adalah. Maksudnya sisi nilai ketaqwaan, keIslaman, akhlaq, ke-wara’-an, kezuhudan dan kualiti pengamalan ajaran Islam. Kriteria ini penting sekali, sebab ternyata kebanyakan hadith palsu itu lahir dari mereka yang kualiti pengamalan keIslamannya kurang.

Misalnya mereka yang sengaja mengarang atau memalsukan hadith demi menjilat penguasa. Atau demi kepentingan politik dan kedudukan. Atau untuk sekadar mengejar kemasyhuran.

Orang-orang yang bermasalah dari segi al-‘adalah ini akan dicatat dan dicacat oleh sejarah. Mereka akan dimasukkan ke dalam daftar black-list bila ketahuan pernah melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan aqidah, akhlaq dan etika Islam.

Bahkan para ulama sampai melahirkan disiplin imu khusus yang disebut ilmu al-jarhu wa at-ta’dil.

Ilmu ini mengkhususkan diri pada database catatan hitam seseorang yang memiliki cacat atau kelemahan. Orang-orang yang dianggap cacat mendapatkan julukan khas dalam ilmu ini. Misalnya si fulan adalah akzabun nass (manusia paling pendusta), fulan kazzab (pendusta), si fulan matruk (haditsnya ditinggalkan) dan sebagainya.

b. Krieria adh-dhabth

Kriteria adh-dhabth adalah penilaian dari sisi kemampuan seorang perawi dalam menjaga originaliti hadith yang diriwayatkanya. Misalnya, adakah dia mampu menghafal dengan baik hadith yang dimilikinya. Atau mempunyai catatan yang rapi dan teratur. Sebab boleh jadi seorang perawi memiliki hafalan yang banyak, akan tetapi tidak dhabith atau tidak teratur, bahkan boleh jadi acak-acakan bercampur baur antara rangkaian perawi suatu hadith dengan rangkaian perawi hadith lainnya.

Biasanya dari sisi adh-dhabth ini para perawi memang orang yang shaleh. Tetapi kalau hafalan atau database periwayatan haditsnya bercampur baur, maka dia dikatakan tidak dhaabith. Cacat ini membuatnya menempati posisi lemah dalam daftar para perawi hadith.

Hadith yang diriwayatkan lewat dirinya boleh saja dinilai dha’if atau lemah.

4 . Keperluan pada Ensiklopedi Hadith Lengkap.

Untuk mendapatkan kumpulan hadith yang shahih, kita boleh membuka kitab yang disusun oleh para ulama. Di antara yang terkenal adalah kitab Ash-Shahih yang disusun oleh Al-Imam Al-Buhkari dan kitab Ash-Shahih yang disusun oleh Imam Muslim. Akan tetapi bukan bermakna semua hadith menjadi tidak shahih bila tidak terdapat di dalam kedua kitab ini.

Sesungguhnya, kedua kitab ini hanya menghimpun sebagian kecil dari hadith-hadith yang shahih. Di luar kedua kitab ini, masih banyak lagi hadith yang shahih lainnya.

5 . Keberadaan kedua kitab itu meski sudah banyak bermanfaat, namun masih diperlukan kerja keras para ulama untuk mengumpulkan semua hadith yang ada di muka bumi, lalu satu per satu diteliti para perawinya. Dan seluruhnya disusun di dalam suatu data simpanan.

Sehingga setiap kali kita menemukan suatu hadith, kita boleh lakukan searching, lalu tampil matan-nya beserta para perawinya dengan lengkap mulai dari tingkat shahabat hingga level terakhir, sekaligus juga catatan rekord tiap perawi itu secara legkap sebagaimana yang sudah ditulis oleh para ulama.

6 . Yang sudah ada sekarang ini baru program sebatas hadith-hadith yang ada di dalam 9 kitab saja, yang dikenal dengan kutubus-sittah.

Program ini sudah lumayan membantu, karena boleh dikemas dalam satu keping CD saja. Bahkan Kementerian Agama, Wakaf, Dakwah dan Irsyad Saudi Arabia membuka situs yang memuat data simpanan kesembian kitab hadits ini, sehingga boleh diakses oleh siapa saja dan dari mana saja di seluruh dunia secara gratis.

7 . Sayangnya, hadith-hadith yang ada di program ini masih terbatas pada 9 kitab hadith saja, meski sudah dilengkapi dengan kitab-kitab penjelasnya (syarah). Padahal ada begitu banyak hadith yang belum tercantum di dalam kutubus-sittah.

Lagi pula program itu pun belum dilengkapi dengan al-hukmu ‘alal hadith. Baru sekadar membuat data simpan hadith yang terdapat di 9 kitab itu.

Dan meski setiap hadith itu sudah dilengkapi nama-nama perawinya, namun belum ada hasil penelitian atas status para perawi itu,…Jadi hadith-hadith itu masih boleh dikatakan mentah.

8 . Projek ini cukup besar untuk dikerjakan oleh per-orangan. Harus ada kumpulan team yang terdiri dari ribuan ulama hadith dengan spesifikasi ekspert. Mereka harus bekerja full-time untuk jumlah jam kerja yang juga besar. Tentu saja masalah yang paling besar adalah anggaran.

Sampai hari ini, sudah ada beberapa lembaga yang merintisnya membuka jalan. Para ulama di Al-Azhar Mesir, para ulama di Kuwait, para ulama di Saudi dan di beberapa tempat lain, masing-masing sudah mulai mengerjakan……Sayangnya hasilnya belum juga nampak.

Berkemungkinan karena mereka bekerja sendiri-sendiri dan tidak melakukan sinergi. Padahal kalau semua potensi itu disatukan dalam sebuah managemen profesial, insyaa Allah kita boleh menyumbangkan sesuatu yang berharga di abad 15 hijriyah ini.

Hitung-hitung sebagai hamper untuk kebangkitan Islam yang sudah sejak lama didengung-dengungkan itu. Sebuah warisan pekerjaan dari generasi lampau untuk kita demi mencapai masterpiece.

Mohon maaf atas kekurangan,…semoga bermanfaat dan terjawab hendaknya.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh?

Sumber: Ustaz Zaref Shah Al HaQQy

04/04/2020 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | | Leave a comment

*TIDAK MELAKSANAKAN SOLAT JUMAAT DAN JEMAAH DISEBABKAN VIRUS CORONA*

(Penulis : Dr Zein bin Muhammad Al-aydarus, dosen ilmu hadist di Universitas Hadramaut.)

Diterjemahkan oleh: Abbas Rahbini Mawardi

Bagaimana Hukum tidak melaksanakan shalat jumat dan jama’ah di masjid disebabkan oleh virus corona, terlebih di hadramaut ada ajakan untuk tidak melaksanakan nya meskipun diketahui tidak terpapar virus corona?

Jawab :

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Kami meminta kepada Allah belas kasihan dan pertolongan semoga Allah menjaga kaum muslimin dari segala wabah dan penyakit baik penyakit dzahir maupun penyakit batin.

Para pakar Ulama Fiqh telah menjelaskan, bahwa diantara salah satu udzur Shalat Jumat dan shalat jama’ah adalah karena faktor adanya penyakit yang menimpa kepada orang islam.

Ulama Mutaqaddimin memperjelas, yaitu penyakit menular, seperti tha’un, lepra, kusta, dan sejenisnya. Para ahli medis kedokteran masa kini telahpun mengatakan, bahwa corona adalah jenis dari penyakit menular.

Lebih lanjut Ulama’ fiqh menjelaskan bahwa, adanya kekhawatiran tertimpa mudharat kepada dirinya atau kepada orang lain maka itu sudah dianggap Udzur yang masuk pada bagian dari Udzur-udzur shalat jumat dan shalat jama’ah.

Berkata Al-allamah zakaria Al-anshari As-syafi’i -rahimahullah-

adanya kekhawatiran terhadap yang dijaganya, baik itu nyawa atau harta atau hak nya, atau pihak-pihak yang wajib dilindunginya.

_[Fathul wahhab syarah minhajut-thullab 109/1]._

_hal senada juga dijelaskan dalam kitab [syarah Al-mahalli ‘ala al-minhaj 258/1]_

_Al-allamah ibn hajar Al-haitami -rahimahullah- pernah ditanya ._

_Al-qadhi iyadh telah menukil dari beberapa ulama’ bahwa Penderita penyakit lepra dan kusta dicegah hadir ke masjid dan shalat jumat, dan juga dicegah berbaur atau berkumpul dengan orang lain, apakah pencegahan tersebut berhukum wajib? Atau sunnah??_

_Dan apakah penderita penyakit tersebut dikatagorikan sebagai udzur yang menggugurkan kewajiban haji dan umrah, sebab Umrah dan haji itu memerlukan masuk kedalam masjid dan juga mesti berbaur dengan orang lain._

_Atau apakah dibedakan antara shalat jumat dengan ibadah haji dan umrah, mengingat ibadah haji dan umrah tidak perlu dilakukan berkali-kali, berbeda dengan shalat jumat. Dan apakah haji tathawwu’ dianggap seperti haji fardhu atau tidak?._

_Maka Al-imam Ibn hajar Radhiyallahu menjawab:_

_Berkata Al-qadhi, berkata sebagian Ulama’ . Semestinya apabila salah seorang sudah diketahui menderita penyakit ain, maka dia diasingkan , supaya terhindar dan terjaga darinya, dan semestinya bagi pihak penguasa mencegah agar tak berbaur atau tak berkumpul dengan orang lain, perintahkan untuk berkurung dirumahnya dan cukupi kebutuhan nya jika dia orang tak punya. Sebab mudharatnya itu lebih berbahaya daripada penderita penyakit kusta. Yang mana penderita kusta ini dicegah oleh sayyidina Umar ibn khattab radhiyallahi anhu dan juga oleh Ulama’ setelahnya agar tidak berkumpul atau tak berbaur dengan orang lain,_

_Berkata Al-imam Nawawi dalam kitab Syarah Muslim, pendapat ini adalah pendapat yang sohih dan lebih spesifik, dan tak dikatahui pendapat dari Ulama’ lain yang menentangnya_

_Maka dengan ini diketahui bahwa faktor dicegahnya penderita penyakit lepra atau kusta itu karena dikhawatiri mudharatnya kepada orang lain. Dalam kondisi seperti ini mencegah nya mempunyai kekuatan hukum wajib._

_Dan terhadap pemilik penyakit pandangan ain lebih diwajibkan lagi untuk dicegah agar tak berbaur dengan orang lain menurut pendapat yang muktamad, sebagaimana diketahui dari pendapat Ulama’._

_Inti poin dari pencegahan itu adalah agar terhindar dari berbaur dengan orang banyak. Pencegahan itu bukan terhadap masuk masjid, baik itu menghadiri shalat Jumat atau shalat berjemaah, (melainkan lebih kepada agar tak berbaur dan berkumpul dengan orang lain) selagi tidak berbaur atau berkumpul dengan orang banyak maka itu boleh-boleh saja._

_Dengan demikian maka hal-hal diatas tidak dianggap sebagai udzur dari melakukan Ibadah haji atau ibadah umr

ah, baik itu yang sunnah maupun yang wajib bahkan yang kifayah sekalipun, sebab ibadah haji dan umrah masih bisa memungkinkan untuk dilakukan dengan tidak berbaur dengan orang lain. Dan adapun hal itu tidak memungkinkan (tak bisa menghindari dari berbaur dengan orang lain)_

_Maka dijawab, Sesungguhnya kewajiban melaksanakan ibadah an-nusuk (haji dan umrah) lebih dimu’akkadkan daripada kewajiban shalat Jumat, oleh itu maka tidak mengharuskan untuk dikatagorikan sebagai Udzur, maka tak perlu ditanggapi keterangan yang disandarkan kepada kitab Syarah Al-‘ubab, bahwa angin yang buruk dianggap sebagai udzur meskipun tidak mengakibatkan berbaur dengan orang lain, wallahu A’lam bis sowab_

_(Al-fatawa Kubra Al-fiqhiyyah 212/1)_

Telah disebutkan didalam kitab at-tuhfah oleh Ibn Hajar. Bahwa penderita penyakit Lepra dan kusta dicegah berbaur dengan orang lain, dan diberi nafkah untuk mencukupi kebutuhan nya dari harta simpanan Baitul maal.

Adapun penyakit yang mudah disembuhkan maka tidak dikatagorikan sebagai Udzur, maka ada kewajiban untuk menghadiri shalat jumat, dan sunnah berusaha untuk penyembuhan.

dengan ini diketahui bahwa syarat gugurnya kewajiban shalat jumat dan berjama’ah adalah apabila tidak ada unsur kesengajaan untuk menggugurkan kewajiban, sebagaimana yang telah dijelaskan didepan, Meskipun sulit untuk disembuhkan, -apabila disengaja agar tidak menghadiri shalat jumat, maka itu tidak dianggapnya sebagai Udzur-

[Tuhfatul Minhaj bi syarhi Al-minhaj 276/6].

Keterangan serupa juga ada di kitab Nihayatul muhtaj ‘ila syarhi Al-minhaj, dari Al-allamah Ar-ramli, (160/2)

Berkata Al-allamah Zakaria Al-anshori -rahimahullah-

tidak memberi komentar dalam kasus lepra dan kusta, namun Al-imam Az-zarkasyi berkata, pendapat yang lebih kuat lepra dan kusta adalah udzur, karena mudharatnya melebihi daripada makan bawang putih.

Beliau berkata, Al-imam Qadhi iyadh telah menukil dari para Ulama’ bahwa penderita penyakit lepra dan kusta dilarang datang ke masjid, juga shalat jum’at dan juga dilarang berbaur dengan orang banyak.

[Asnaa Al-mathalib 215/1]

Sebagaimana shalat berjemaah maka shalat jum’at juga termasuk,

Berkata Al-imam Nawawi -rahimahullah- :

tidak wajib shalat jumat bagi orang yang pada dirinya terdapat udzur-udzur yang meringankan untuk tidak melaksanakan shalat berjama’ah . Berkata Al-imam Ibn hajar, sebagai penjabaran dari apa yang telah dikatakan oleh Imam Nawawi, udzur-udzur jama’ah tersebut adalah apabila datang pada hari jumat, tidak seperti angin kencang yang datang diwaktu malam. (Tidak datang saat waktu shalat jum’at)

Kemudian beberapa Ulama mempermasalahkan, lapar sebagai Udzur, sampai-sampai meninggalkan shalat jum’at, bagaimana status hukum fardhu ain disamakan dengan status hukum sunnah, atau fardhu kifayah? Berkata Al-imam As-subki, Namun sumber mereka adalah perkataan Ibn Abbas -radhiyallahu anhuma- “Jum’at seperti shalat jama’ah” maka dijawab:

sebagaimana yang saya isyaratkan tadi, yaitu mengelakkan qias shalat jum’at kepada Shalat jama’ah, akan tetapi telah sohih secara nash bahwa diantara udzur-udzur Jum’at adalah sakit, maka setiap sesuatu yang serupa yang penderitaan nya sama atau penderitaan nya melebihi, maka itu juga dianggap sebagai katagori udzur jama’ah, maka dengan ini menjadi jelas apa yang mereka katakan adalah benar, dan menjadi terang bahwa perkataan Ibn Abbas -radhiyallahu anhuma- adalah sebagai panguat dari apa yang mereka uraikan bukan sebagai dalil dari apa yang mereka sebutkan.

(Tuhfatul muhtaj, bisyarhi Al-minhaj 99/2) juga lihat pada kitab (nihayatul muhtaj, ‘ila syarhi Al-minhaj 286/2)

*KESIMPULAN*

_Bahwa pakar Ulama’ fiqh telah menjabarkan secara jelas bahwa , Penyakit jika sudah nyata menimpa pada sebuah negara atau menimpa seseorang, serta sudah disahkan oleh tenaga medis atau dokter, maka seseorang tersebut, atau penduduk sebuah negara tersebut dicegah untuk melaksanakan shalat berjemaah dimasjid, baik itu shalat jama’ah jum’at maupun shalat jama’ah lain nya, untuk menyelamatkan nyawa orang-orang islam, oleh karena itu maka mereka melaksanakan

shalat berjama’ah dirumah masing-masing, sebab menyelamatkan nyawa adalah tujuan paling penting dari agama,_

Allah berfirman :

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

_dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan_.

Juga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

_Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu._

Adapun menutup masjid-masjid, dan mecegah orang untuk melaksanakan shalat jama’ah dan shalat jumat , tanpa adanya ketertimpa’an penyakit menular seperti covid-19 corona virus, dan tanpa ada pengesahan dari pihak kesehatan di negera ini, terlebih di negeri yaman-hadramaut- maka tidak boleh secara syara’ melarang kaum muslimin untuk melaksanakan shalat di masjid-masjid Allah. Sebab

الحكم يدور مع العلة وجوداً وعدماً

_Hukum itu berputar bersama Ilatnya, ada dan tidak adanya illat itu._

Selagi penyakit itu tidak menimpa kepada salah seorang dari kita, maka tidak ada alasan udzur yang diringankan oleh syariat untuk meninggalkan shalat jama’ah atau shalat jum’at. Dan tidak boleh membangun pencegahan didasari oleh perkira’an atau persangka’an semata. Karena

إن درء المفاسد أولى من جلب المصالح إذا تحققت المفسدة من الاجتماع

_Mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan, jika kerusakan itu sudah nyata-nyata ada dalam kumpulan masyarakat_.

perkir’an atau ragu-ragu atas adanya kerusakan, maka tidak boleh dijadikan sebuah sandaran atau patokan, sementara kemaslahatan shalat berjamaah dan shalat jum’at itu sudah nyata-nyata adanya.

Saya khawatir, orang yang mencegah atau mengosongkan tempat ibadah dari shalat jama’ah dan shalat jum’at tanpa adanya unsur yang memenuhi syarat pencegahan seperti diatas, akan masuk pada golongan orang dzalim dan menghalang-galangi menegakkan shalat dan dzikir di rumah-rumah Allah, Allag subhanahu wa ta’la berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ [سورة البقرة : 114]

_Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat (Al-baqarah :114)_

Dan terhadap para jama’ah shalat harus berhati-hati dan waspada dalam segala hal dari saluran infeksi, terutama pasien yang sistem kekebalan tubuhnya lemah, seperti pasien asma dan diabetes dan sejenisnya, yang rentan terkena dampak bahaya nya, bagi mereka dianggap ada Udzur dalam meninggalkan shalat Berjama’ah dan Shalat Jum’at,
Dengan perlunya mengambil tindakan pencegahan yang ketat di gerai-gerai negari, memeriksa mereka yang datang ke negeri itu, dan menempatkan mereka dalam isolasi yang tepat sampai menjadi jelas bahwa mereka tidak memiliki penyakit ini.

Penulis : Dr Zein bin Muhammad Al-aydarus, dosen di Universitas Hadramaut, imam khatib di masjid jami’ Ar-raudlah Makla._

Sumber: Group Telegram Sahabat Aswaja.

27 rajab 1441 H
22/03/2020 M

27/03/2020 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Adakah Wajib Qadha’ Solat Zuhur Sekiranya Haid Datang Pada Waktu Asar?

Image result for datang haid awal

Soalan:

Assalamualaikum Tuan. Adakah perlu jika kita datang haid pada waktu asar (dah solat zuhur) adakah kita perlu qadha asar & zuhur sekali? Yang saya faham kalau yang perlu kita qadha jika kita check darah haid keeping pada waktu asar, lebih baik qadha zuhur sekali kerana ada kemungkinan darah sudah kering pada waktu zuhur. Tweet nih dah viral.. Mohon tuan beri penjelasan… Jazakallahu khoiran kathiro.

Jawapan:

Waalaikumussalam wbt,

Alhamdulillah, segala puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah swt. Selawat dan salam kami ucapkan ke atas junjungan besar Nabi Muhammad saw, para isteri dan keluarga baginda, para sahabat, seterusnya golongan yang mengikuti jejak langkah baginda sehingga hari kiamat.

Kami merasakan empunya twit tersebut telah terkeliru. Sebenarnya, wajib bagi wanita yang berhenti haidnya pada waktu Asar atau Isyak untuk menunaikan solat fardhu tersebut serta mengqadhakan solat fardhu yang sebelumnya yakni solat Zuhur atau Maghrib, jika mereka sempat berada dalam waktu kedua itu sekadar takbiratul ihram, bukannya bagi wanita yang baru datang haid.

Kata Imam al-Nawawi Rahimahullah: “Yang sahih di sisi kami (mazhab al-Syafie) bahawa mereka yang uzur wajib untuk melaksanakan solat Zuhur jika dia sempat melaksanakan apa yang wajib dengannya dalam solat Asar (apabila hilang uzurnya). Inilah pendapat Abdurrahman bin Auf, Ibn Abbas, ahli fiqh Madinah yang tujuh, Ahmad, dan selain mereka. Manakala kata al-Hasan, Qatadah, Hammad, al-Thauri, Abu Hanifah dan Malik, tidak wajib ke atas orang itu.)”

Rujuk al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (3/66)

Ini kerana waktu Asar adalah waktu uzur bagi solat Zuhur dan waktu Isyak adalah waktu uzur bagi solat Maghrib. Waktu uzur di sini boleh diertikan sebagai ‘waktu kecemasan’ yakni waktu yang dibenarkan penangguhan solat

fardu ke waktu solat fardu yang lain disebabkan suatu keuzuran dan kepayahan seperti musafir.  Dalam konteks haid dalam soalan di atas, wajib qadha waktu pertama bukan hanya bersifat afdhal (lebih baik) tetapi wajib kerana waktu kedua adalah waktu uzur bagi solat pertama.

Buktinya seperti kata Imam al-Syirazi Rahimahullah dalam kitab al-Muhazzab: “Dalilnya ialah bahawa waktu Asar bersama waktu Zuhur, dan waktu Isyak bersama waktu Maghrib adalah hak orang yang uzur yakni musafir. Maka, mereka yang berada dalam kategori uzur (seperti wanita berhaid apabila suci, orang gila apabila sedar dan lain-lain), waktu kedua itu adalah waktu solat pertama di sisi mereka.”

Kata Imam al-Nawawi Rahimahullah  menghuraikan: “Sekiranya solat (kedua) yang sempat itu adalah Subuh, Zuhur, atau Maghrib maka tidak wajib solat melainkan solat itu sendiri. Sekiranya solat Asar dan Isyak, maka wajib melaksanakan solat Zuhur dengan Asar, dan solat Isyak dengan Maghrib

tanpa khilaf (dalam mazhab al-Syafie).” Pendapat yang azhar (tepat) bahawa waktu solat yang sempat itu ialah seseorang itu berada dalam suatu waktu solat tidak kurang masanya daripada kadar takbiratul ihram, manakala pendapat lain ialah satu rakaat. Rujuk al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (3/65)

Adapun dalam kes di atas, jika seorang wanita itu bermula haidnya pada waktu Asar, sedangkan dia sudah menunaikan solat fardu Zuhur, maka dia hanya wajib untuk menunaikan solat fardhu Asar, atau mengqadhanya selepas suci jika dia tidak sempat solat sebelum datangnya haid. Begitu juga jika dia sudah melaksanakan solat Asar, kemudian datang haid pada waktu Asar juga, maka dia tidak perlu mengqadha solat Zuhur dan Asar kerana dia sudah selesai melaksanakan kedua-duanya. Tidak menjadi syarat sah suatu solat itu mesti sah juga solat fardu selepasnya, atau datang penghalang (seperti haid dan gila) pada waktunya sedangkan solat-solat fardu itu sudah pun dilaksanakan.

Untuk memudahkan faham, kami nyatakan dengan contoh. Fatimah datang haid pada 1 haribulan Mac jam 6.00 petang sedangkan dia masih belum menunaikan solat fardu Asar. Maka, apabila Fatimah suci kelak, dia wajib mengqadha’ solat fardhu Asar yang dia luputkan pada 1 haribulan itu. Fatimah tidak wajib mengqadha’kan solat fardhu Zuhur yang sudah selesai dia tunaikan pada hari itu. Pada 7 haribulan Mac, jam 6.00 petang, Fatimah sudah suci daripada haid dan mandi wajib. Maka dia wajib untuk mengqadhakan solat fardhu Asar bagi 1 haribulan yang lalu dan solat fardhu Zuhur pada hari ini, dan menunaikan solat fardhu Asar pada waktunya.

Wallahua’lam.

Sumber: 

11/03/2020 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Hukumnya membaca laa ilaaha illallaah ketika di perjalanan menuju kuburan.

Ustaz,…Bagaimanakah hukumnya membaca laa ilaaha illallaah ketika di perjalanan menuju pemakaman mayyit apakah sunnah atau mubah ?.

Jawapan,….”Mengiringi Jenazah Membaca Kalimat Tahlil”,…Sebenarnya perbuatan ini telah berlangsung sejak lama.

Perbuatan ini tidak dilarang di dalam Islam karena mengandung kebaikan berdzikir pada Allah SWT.

Perbuatan seperti ini juga jauh lebih baik daripada berbicara yang tidak berguna terutama soal duniawi.
Apalagi keadaannya dalam suasana berkabung.

Bacaan dzikir yang paling sesuai dengan keadaan saat itu adalah bacaan tahlil La Ilaha Illa Allah sebagaimana disampaikan Al Hafidz Az Zaila’iy :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: لَمْ يَكُنْ يُسْمَعُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ يَمْشِي خَلْفَ الْجِنَازَةِ، إلَّا قَوْلُ: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، مُبْدِيًا، وَرَاجِعًا.

Dari Ibnu Umar mengatakan, “Tidak ada kata yang didengar dari Rasulullah SAW saat beliau berjalan di belakang jenazah kecuali La Ilaha Illa Allah, dengan jelas dan diulang-ulang”.

Memang hadits ini tidak menunjukkan secara jelas apakah Rasulullah SAW membaca tahlil dengan suara lirih atau seru. Namun melihat bahwa para Sahabat mendengar apa yangbeliau baca maka tentu saja beliau membacanya dengan seru, bukan berbisik.

Sumber,..Nasb ar Rayah fi Takhrij Ahadits Al Hidayah, juz 2, hal. 212

Tradisi seperti itu sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, dan amalan tersebut tidak dilarang oleh agama, sebab selain mengandung nilai-nilai kebaikan dengan berdzikir kepada Allah Swt perbuatan itu tentu jauh lebih baik dari pada berbicara masalah duniawi dalam suasana berkabung, sebagaimana dijelaskan oleh syekh Muhammad Bin A’lan al-Siddiqi dalam kitabnya al-Futukhat al-Rabbaniyah;

وَقَدْ جَرَّتْ اَلْعَادَةُ فِىْ بَلَدِناَ زَبِيْدٍ بِالْجَهْرِ باِلذِّكْرِ اَماَمَ الْجَناَزَةِ بِمَحْضَرٍ مِنَ اْلعُلَمَاءِ وَاْلفُقَهَاءِ وَالصُّلَحَاءِ وَقَدْ عَمَّتْ اَلْبَلْوَى بِمَا شَاهِدْناَهُ مِنْ اِشْتِغَالٍ غاَلِبٍ الْمُشَيِّعِيْنَ بِالْحَدِيْثِ اَلدُّنْيَوِيِّ وَرُبَّمَا اَدَاهُمْ ذَلِكَ اِلَى الْغِيْبَةِ اَوْ غَيْرِهَا مِنَ اْلكَلاَمِ اَلْمُحَرَّمَةِ فَالَّذِيْ اِخْتَارَهُ اِنَّ شُغْلَ اِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ اَلْمُؤَدِّيْ اِلَى تَرْكِ اْلكَلاَمِ وَتَقْلِيْلِهِ اَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِى اْلكَلاَمِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَاباً بِأَخَّفِ الْمَفْسَدَتَيْنِ . كَماَ هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ وَسَوَاءٌ اَلذِّكْرُ وَالتَّهْلِيْلُ وَغَيْرُهَا مِنْ اَنْوَاعِ الذِّكْرِ وَاللهُ اَعْلَمُ (الفتوحات الربانية على اذكر النواوية ج 4 ص 183)

Telah menjadi tradisi di daerah kami Zabid untuk mengeraskan dzikir di hadapan jenazah (ketika menghantar ke kuburan).

Dan itu dilakukan di hadapan para ulama’, ahli fiqih dan orang-orang saleh.
Dan sudah menjadi kebiasaan buruk yang telah kita ketahui, bahwa ketika menghantarkan jenazah, orang-orang sibuk dengan perbincangan masalah-masalah duniawi, dan tidak jarang perbincangan itu menjerumuskan mereka ke dalam ghibah atau perkataan lain yang diharamkan.

Adapun hal yang terbaik adalah mendengarkan dzikir yang menyebabkan mereka tidak berbicara mengenai hal-hal yang tidak baik,berdzikir adalah lebih utama dari pada membiarkan mereka bebas membicarakan masalah-masalah duniawi.

Ini sesuai dengan prinsip memilih yang lebih kecil mafsadahnya, yang merupakan salah satu kaidah syar’iyah.
Tidak ada bedanya apakah yang dibaca itu dzikir, tahlil ataupun yang lainnya.(Al-Futuhat al-Rabbaniyah ‘ala Adzkari al-Nabawiyah juz IV, hal. 183).

Dan lebih jelas lagi di terangkan dalam kitab Tanwirul Qulub, bahwa disunnahkan melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, membaca dzikir atau membaca shalawat kepada nabi Muhammad Saw., dan dilarang gaduh atau berbincang-bincang tentang perkara yang tidak berguna:

وَيُسَنُّ الْمَشْيُ اَمَامَهَا وَقُرْبَهَا وَاْلاِسْرَاعُ بِهَا وَالتَّفَكُّرُ فِى الْمَوْتِ وَماَبَعْدَهُ . وَكُرِهَ اللُّغَطُ وَالْحَدِيْثُ فِيْ اُمُوْرِ الدُّنْيَا وَرَفْعِ الصَّوْتِ اِلاَّ بِالْقُرْأَنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلاَتِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلاَ بَأْْسَ بِهِ اْلاَنَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ. ( تنوير القلوب ص 213 )

Para pengantar jenazah yang berjalan kaki disunnahkan berjalan di depan keranda atau di dekatnya sambil berjalan cepat dan berfikir tentang dan sesudah mati.
Tetapi tidak disunnahkan bagi para pengantar jenazah untuk gaduh, bercakap-cakap urusan dunia, apalagi dengan suara keras, kecuali melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, membaca dzikir, atau shalawat kepada nabi karena hal ini menambah syi’ar bagi si mayit.(Tanwir al-Qulub halaman 213).

Sedangkan Dzikir yang paling baik dibaca adalah kalimat La Ilaha Ilallah. Di dalam kitab Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal disebutkan:

عن ابن عمر رضي الله عنه, قَالَ لَمْ نَكُنْ نَسْمَعُ مِنْ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَهُوَ يَمْشِي خَلْفَ الْجَنَازَةِ, إِلَّا قَوْلُ: لَا إِلَهَ إِلَّا الله, مُبْدِيًّا, وَرَاجِعًا. أخرجه ابن عدى في الكامل. (نصب الراية في تخريج أحاديث الهداية, 2/ 212)

Dari Ibn Umar RA ia berkata, “Kami Tidak pernah terdengar dari Rasulullah SAW ketika beliau mengantarkan jenazah kecuali ucapan: La Ilaaha Illallah, pada waktu berangkat dan pulangnya” (Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal, juz II, hal. 572).

Hadits ini tidak memberikan penjelasan apakah Nabi Muhammad SAW membaca kalimat tahlil itu pelan atau dikeraskan.

Namun kalau sahabat mendengar dzikir yang beliau baca, sudah tentu Nabi Muhammad SAW melafazkannya dengan keras, bukan sekedar berbisik.

Dapat disimpulkan bahwa membaca dzikir ketika mengiringi jenazah merupakan perbuatan yang dianjurkan.
Dan yang lebih utama diucapkan adalah bacaan La Ilaha Ilallah.

Wallahu A’lam.

Sumber: FB Zaref Shah Sl HaQQy

21/02/2020 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

KAMILIN JAMILIN VS IMAM ASY SYAFIE

Benarkah Imam Asy Syafie membenci ilmu Kalam ?

Diceritakan daripada ar Rabi’ bin Sulaiman, Imam Asy Syafie berkata “Seseorang yang berjumpa Allah (mati) sambil membawa semua dosa selain syirik, lebih baik daripada orang yang tertimpa ilmu kalam”

(Manaqib Asy Syafie 1/453)

Penjelasan :

Menurut al Baihaqi, celaan Imam Asy Syafie kepada ilmu kalam dan ahlinya ditujukan KHUSUS KHAS kepada orang-orang tertentu iaitu Hafs al Fard, Ibrahim bin ‘Ulayyah dan tokoh-tokoh bid’ah yang lainnya. Adapun ilmu kalam yang menjadi pegangan Ahli Sunnah Wal Jama’ah dan tokoh-tokohnya, maka pegangan mereka itu terkeluar daripada celaan tersebut.

Berkata Imam al Baihaqi

” Beliau maksudkan kalam ahli bid’ah yang meninggalkan alKitab dan As Sunnah dan menjadikan akal sebagai pegangan lalu meluruskan al Quran sesuai dengan kehendak akal mereka. Apabila disampaikan sunnah yang bertentangan dengan pendapat mereka, mereka berpaling daripadanya menuduh para perawinya. Adapun ahli sunnah, maka mazhab mereka terbangun di atas al Kitab dan As Sunnah. Mereka berpegang dengan akal sekadar menolak anggapan bahawa mazhab mereka tidak rasional”

(Manaqib As Syafie 1/463)

Ilmu kalam menurut Imam Asy Syafie, Imam Abu Hanifah, Imam Malik serta salafussoleh yang lain

Imam Asy Syafie menguasai Ilmu Kalam ?

Al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi berkata dalam kitabnya Manaqib al-Syafi’i.

وقرأت في كتاب أبي نعيم الأصبهاني حكاية عن الصاحب بن عباد أنه ذكر في كتابه بإسناده عن إسحاق أنه قال: قال لي أبي: كلَّم الشافعي يوماً بعض الفقهاء فدقق عليه وحقق، وطالب وضيق، فقلت له: يا أبا عبد الله: هذا لأهل الكلام لا لأهل الحلال والحرام، فقال: أحكمنا ذاك قبل هذا” اهـ.

Aku membaca sebuah hikayat dalam kitabnya Abu Nu’aim dari al-Shahib bin ‘Abbad, bahwa ia menyebutkan dalam kitabnya dengan sanadnya, dari Ishaq, bahwa ia berkata: “Ayahku berkata kepadaku: “Suatu hari Imam al-Syafi’i berbicara kepada sebagian ulama fuqaha, lalu beliau berbicara dengan cara yang rinci, mendalam, menuntut dan mempersempit bahasan. Lalu aku berkata: “Wahai Abu Abdillah: “Cara Anda menjelaskan ini metodologi ahli kalam, bukan ahli halal dan haram (fuqaha)”. Lalu beliau berkata: “Aku menguasai itu (ilmu kalam), sebelum menguasai ini (ilmu fiqih).”

(Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, juz 1 hlm 457).

Riwayat al-Imam al-Baihaqi dalam Manaqib al-Syafi’i sebagai berikut:

وقال الربيع بن سليمان: “حضرت الشافعي وحدَّثني أبو شعيب إلا أني أعلم أنه حضر عبد الله بن عبد الحكم ويوسف بن عمرو بن يزيد وحفص الفرد وكان الشافعي يسميه المنفرد، فسأل حفص عبد الله بن عبد الحكم فقال: ما تقول في القرءان، فأبى أن يجيبه فسأل يوسف بن عمرو،فلم يجبه وكلاهما أشار إلى الشافعي، فسأل الشافعي فاحتجَّ عليه الشافعي، فطالت فيه المناظرة فقام الشافعي بالحجة عليه بأن القرءان كلام الله غير مخلوق، وكفَّر حفصاً الفرد، قال الربيع: فلقيت حفصاً الفرد في المسجد بعدُ فقال: أراد الشافعي قتلي ” اهـ.

Al-Rabi’ bin Sulaiman berkata: “Aku menghadiri Imam al-Syafi’i, dan Abu Syu’aib bercerita kepadaku, hanya saja aku mengetahui bahwasanya telah hadir Abdullah bin Abdul Hakam, Yusuf bin Amr bin Yazid dan Hafsh al-Fard. Al-Syafi’i menamakannya al-Munfarid (yang suka nyeleneh). Lalu Hafsh bertanya kepada Abdullah bin Abdul Hakam: “Bagaimana pendapatmu tentang al-Qur’an?” Abdullah tidak mau menjawabnya. Lalu Hafsh bertanya kepada Yusuf bin Amr. Yusuf juga tidak menjawabnya. Lalu keduanya mengisyaratkan kepada al-Syafi’i. Lalu Hafsh bertanya kepada al-Syafi’i, lalu al-Syafi’i mematahkan hujjahnya Hafsh. Lalu perdebatan menjadi panjang. Akhirnya al-Syafi’i memenangkan hujjah kepada Hafsh bahwa al-Qur’an itu firman Allah dan bukan makhluq, dan ia mengkafirkan Hafsh.” Al-Rabi’ berkata: “Lalu aku bertemu Hafsh sesudah itu di Masjid. Ia berkata: “Al-Syafi’i hendak membunuhku.”

(Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, juz 1 hlm 455).

Riwayat di atas yang menceritakan perdebatan Imam al-Syafi’i dan akhirnya mengalahkan Hafsh al-Fard menjadi bukti bahwa beliau menguasai ilmu kalam. Perdebatan dengan ahli kalam hanya bisa dilakukan dengan teori ilmu kalam yang sama. Hal ini sebagai bukti bahwa Imam al-Syafi’i menguasai ilmu kalam. Sedangkan ilmu kalam yang beliau cela adalah ilmu kalam versi Hafsh al-Fard, Mu’tazilah dan ahli bid’ah.

Imam Malik memuji ulamak yang ahli dalam ilmu kalam

Al-Imam al-Baihaqi meriwayatkan:

قَالَ ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ أَنَّهُ دَخَلَ يَوْمًا عَلىَ عَبْدِ اللهِ بْنِ يَزِيْدَ بْنِ هُرْمُزٍ فَذَكَرَ قِصَّةً ـ ثُمَّ قَالَ : وَ كَانَ ـ يَعْنِي ابْنَ هُرْمُزٍ ـ بَصِيْرَا بِالْكَلاَمِ وَ كَانَ يَرُدُّ عَلىَ أَهْلِ اْلأَهْوَاءِ وَ كَانَ مِنْ أَعْلَمِ النَّاسِ بِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنْ هَذَا اْلأَهْوَاءِ

Ibnu Wahab berkata: “Malik bercerita kepada kami, bahwa pada suatu hari ia mendatangi Abdullah bin Yazid bin Hurmuz, lalu ia menyebutkan suatu kisah, kemudian Malik berkata: “Ibnu Hurmuz seorang ulama yang ahli dalam ilmu kalam. Ia membantah kelompok ahli bid’ah. Ia termasuk ulama yang paling menguasai masalah-masalah yang diperselisihkan oleh mereka terkait ajaran-ajaran bid’ah tersebut.”

(Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, juz 1 hlm 96).

Dalam pernyataan di atas jelas sekali, Imam Malik radhiyallahu ‘anhu memuji gurunya, Abdullah bin Yazid bin Hurmuz karena keahliannya dalam bidang ilmu kalam dan perjuangannya dalam membantah ajaran-ajaran ahli bid’ah. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu kalam itu ada yang tercela dan ada yang terpuji. Ilmu kalam yang dicela oleh ulama salaf adalah ilmu kalam yang ditekuni oleh kaum ahli bid’ah untuk membela ajaran bid’ah mereka, seperti kaum Mu’tazilah, Qadariyah, Syiah dan semacamnya. Ilmu kalam yang terpuji adalah ilmu kalam yang ditekuni oleh ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah untuk membela ajaran al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’.

Imam Abu Hanifah pakar ilmu kalam :

Al-Salmasi juga memuji al-Imam Abu Hanifah sebagai pakar ilmu kalam. Ia berkata:

فصل: في ذكر أبي حنيفة رضي الله عنه أما أبو حنيفة فله في الدين المراتب الشريفة والمناصب المنيفة، … سيد الفقهاء في عصره، وراس العلماء في مصره، … سبق الكافة منهم إلى تقرير القياس والكلام

Bagian tentang Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu. Adapun Abu Hanifah, maka ia memiliki martabat yang mulia dan pangkat yang luhur dalam agama. Penghulu para fuqaha pada masanya, pemimpin para ulama di kotanya. Ia mendahului mereka semua dalam menetapkan Qiyas dan ilmu Kalam.

(Al-Salmasi, Manazil al-Aimmah al-Arba’ah, hlm 161).

P/S : Kita nak ikut siapa yang selamat ? Kamilin Jamilin atau ulamak salafussoleh ? Jauhi virus palatau.

Sumber: Kami tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia.

12/02/2020 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

Menjawab golongan yang mendakwa Ilmu Qalam merosakkan….

Kalau bukan kerana ilmu kalam, seni hadith pun tidak wujud. Ilmu mustholah dan qawaid hadith itu dibina di atas manhaj mutakallimin.

Kalau bukan kerana qawaaid ‘aqliyyah para mutakallimin, bagaimana ditentukan hadith sahih atau tidak sahih dan segala mustholatnya selepas wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم

Benarlah manusia akan bermusuh dengan apa yang dia tidak tahu.

Kalian melaung-laungkan amanah ilmu dan kesarjanaan tetapi mengapa kalian bercakap bidang selain daripada bidang pengajian kalian di universiti?

Apakah dengan menguasai bidang hadith (so called) menjadi tiket untuk kita bercakap semua bidang ilmu?

Firman Allah ;

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah engkau mengikut apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya; sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati, semua anggota-anggota itu tetap akan ditanya tentang apa yang dilakukannya.

Kata ulama ;

نصف العلم أخطر من الجهل

Ilmu yang setengah (tidak menguasai sebenar-benar ilmu) itu lebih berbahaya daripada kejahilan.

Orang jahil itu tidak akan menyesatkan manusia dengan fatwa dan pandangannya tetapi orang yang setengah alim itu akan menyesatkan dirinya dan orang lain dengan fatwa dan pandangannya.

Semoga Allah memelihara kita dari kesesatan orang setengah alim dan menunjukkan kita kepada alim yang sebenar.

Apa yang dilarang berkaitan dengan ilmu kalam itu berlebih-lebihan sepertimana huraian para ulama kita. Berlebih-lebihan inilah yang menyesatkan sebahagian ahli falsafah Islam dan firaq islamiah seperti muktazilah, jahmiyyah dan lain-lain.

Tambahan lagi berlebih-lebihan di dalam perbahasan ilmu kalam itu tidak termasuk di dalam ilmu fardhu ‘ain. Sayugia bagi orang awam itu mendalami qadar fadhu ‘ain sahaja dan memberikan keutamaan kepada ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu penyuciaan jiwa.

Apakah kita menyalahkan pisau dan menafikan kebaikan dan kepentingan pisau ketikamana ada orang menggunakan pisau untuk membunuh orang?

Wallahu A’laam.

Olih Ustaz Mohd Al Amin bin Daud Al Azhari

11/02/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Comments Off on Menjawab golongan yang mendakwa Ilmu Qalam merosakkan….

SIAPAKAH PENGIKUT ULAMA’ SALAF SEBENARNYA

1) Imam Hanafi lahir: 80 H
2) Imam Maliki lahir: 93 H
3) Imam Syafie lahir: 150 H
4) Imam Hanbali lahir:164 H
5) Imam Asy’ari lahir: 240 H

Mereka ini semua Ulama’ Salafus Sholeh atau dikenali dengan nama Ulama’ SALAF

Apa itu SALAF?
Salaf ialah nama “zaman” yaitu merujuk kepada golongan Ulama’ yang hidup antara kurun zaman kerosulan NABI MUHAMMAD SAW hingga 300 HIJRAH. Tiga kurun pertama itu bisa diartikan 3 Abad pertama (0-300 H)

1). Golongan generasi pertama dari 300 tahun hijrah tu disebut “Sahabat Nabi” karena mereka pernah bertemu NABI SAW

2). Golongan generasi kedua pula disebut “Tabi’in” yaitu golongan yang pernah bertemu Sahabat NABI meski tidak pernah bertemu NABI

3). Golongan generasi ketiga disebut sebagai “Tabi’ tabi’in” yaitu golongan yang tak pernah bertemu NABI dan sahabat tapi bertemu dengan tabi’in

Jadi Imam Abu Hanifah (pencetus mazhab Hanafi) merupakan murid Sahabat NABI maka beliau seorang TABI’IN.

Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanbali (Ahmad bin Hanbal), Imam Asy’ari pula berguru dengan tabi’in maka mereka adalah golongan TABI’IT TABI’IN

Jadi kesemua Imam² yang mulia ini merupakan golongan SALAF YANG SEBENARNYA dan pengikut madzhab mereka-lah yang paling layak digelar sebagai “Salafi” atau “Salafiyah” karena “salafi” maksudnya “pengikut golongan SALAF”.

Jadi beruntung-lah kita di Nusantara yang sebagian besar masih berpegang kepada MADZHAB Syafi’i yang merupakan MADZHAB SALAF yang SEBENARNYA dan tdk lari dari paham NABI DAN SAHABAT.

SEMENTARA ULAMA’ RUJUKAN WAHABI YANG MENGAKU SEBAGAI SALAFI ADALAH SBB :

1) Ibnu Taimiyyah lahir: 661 H (lahir 361 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)
2) Nashiruddin Al-Albani lahir: 1333 H (wafat tahun 1420 H atau 1999 Masehi,lahir 1033 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)

3) Muhammad Abdul Wahhab (pendiri gerakan Wahabi): 1115 H (lahir 815 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)
4) Bin baz lahir: 1330 H (wafat tahun 1420 H atau 1999 Masehi, sama dengan Albani, lahir 1030 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)

5) Al-Utsaimin lahir: 1928 Masehi (wafat tahun 2001), beliau lahir entah berapa ribu tahun setelah zaman SALAF

Mereka ini semua hidup di AKHIR ZAMAN kecuali Ibnu Taimiyyah yang hidup di pertengahan zaman antara zaman salaf dan zaman dajjal (akhir zaman)

Saat ISLAM diserang oleh tentara Mongol
Tak ada sorang-pun Imam rujukan mereka yang mereka ikuti hidup di zaman SALAF
Mereka ini (Ulama’ rujukan wahabi) semua sangat jauh dari zaman salaf tapi aneh apabila pengikut sekte Wahabi membanggakan diri sebagai “Salafi”

(pengikut Golongan Salaf) dan menyebut sebagai SALAFI WAHABI.

Sedangkan rujukan mereka adalah dari kalangan yang datang dari golongan Ulama’² akhir zaman
Mereka menuding ajaran Sifat 20 Imam Asy’ari yang lahir tahun 240 H sebagai bid’ah yang sesat.

Padahal ajaran Tauhid Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat yang mereka ajarkan juga bid’ah dan diajarkan pada masa Khalaf, oleh orang yang lahir tahun 1115 H


Ini jelas membodohi AQIDAH ummat ISLAM

Semoga bermanfa’at .

Sumber: FB Muhammad Umar Al Fateh

08/02/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

SAHKAH SOLAT ORANG LELAKI APABILA BERSEBELAHAN DENGAN SAF ORANG PEREMPUAN TETAPI DI PISAHKAN DENGAN PENGHADANG ATAU TABIR.

Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan.

Soalan :

Pada bulan Ramadan yang lepas, surau kami menjadi penuh dengan kehadiran jemaah semasa solat isyak dan tarawih. Sehinggakan kedudukan saf di antara lelaki menjadi bersebelahan dengan saf orang perempuan. Namun terdapat tirai penghadang di antara kedua saf tersebut. Adakah sah solat dalam keadaan begini ?

Jawapan :

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah S.W.T. Selawat dan salam Kami panjatkan ke atas junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W, para isteri dan keluarga baginda, para sahabat, seterusnya golongan yang mengikuti jejak langkah baginda sehingga hari kiamat.

Para fuqaha membahagikan isu solat orang lelaki bersebelahan dengan orang perempuan ini kepada beberapa keadaan yang berikut:

Keadaan Pertama: Solat orang lelaki bersebelahan dengan orang perempuan dengan imam yang sama.

Dalam kes ini, para fuqaha berpendapat bahawa solat tersebut adalah sah bagi kedua-dua lelaki dan perempuan namun hukumnya adalah makruh. Ini kerana, yang sunnahnya adalah orang perempuan solat di belakang orang lelaki. Manakala bagi Imam Abu Hanifah, kedudukan tersebut menyebabkan solat orang lelaki itu terbatal sekiranya tidak ada penghadang di antara keduanya. Namun, sekiranya terdapat pembatas, maka Imam Abu Hanifah berpendapat selari dengan jumhur fuqaha yang menyatakan ianya tidak merosakkan solat.

Keadaan Kedua: Solat orang lelaki bersebelahan dengan orang perempuan namun solat secara berasingan.

Ini bermaksud, solat yang dilakukan ini dilakukan secara sendiri-sendiri tanpa mengikut imam. Akan tetapi, ia berlaku secara bersebelahan di antara lelaki dan perempuan. Sebagai contoh, dalam satu ruangan yang mana seorang lelaki dan perempuan yang selesai berjamaah, kemudian keduanya berdiri menunaikan solat sunat secara bersendirian namun dilakukan bersebelahan. Adakah batal solat salah seorang dari keduanya. Berikut kami kongsikan beberapa pendapat fuqahaberkenaan isu ini:

Kata Imam Al-Nawawi Rahimahullah: Apabila seorang lelaki mengerjakan solat dan di sebelahnya terdapat seorang perempuan, maka tidak batal solatnya dan solat perempuan tersebut. Sama ada dia seorang imam ataupun makmum. Inilah mazhab kita (Al-Syafi’eyyah) dan inilah juga pendapat Imam Malik dan kebanyakan ulama. Dan Imam Abu Hanifah berkata: Sekiranya perempuan tersebut bukan dalam keadaan sedang bersolat, atau dia di dalam solat yang tidak bercampur (solat bersendirian) dengan solat lelaki tersebut, maka sah solat lelaki itu dan sah juga solat wanita tersebut. Sekiranya wanita itu menyertai solat lelaki tersebut (solat bersama), dan dia berdiri di sebelah lelaki, maka batallah solat orang yang berada di sebelah perempuan tersebut. Namun solat perempuan itu tidak batal dan begitu juga solat orang yang berikutnya kerana di antara keduanya terdapat penghadang.  Rujuk Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, Al-Nawawi (3/231).

Imam Al-Nawawi juga berhujah dengan menggunakan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah A’isyah R.anha beliau berkata:

وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي، وَإِنِّي عَلَى السَّرِيرِ ـ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ ـ مُضْطَجِعَةً 

Maksudnya: Demi Allah sesungguhnya aku telah melihat Nabi S.A.W sedang menunaikan solat, dan aku berada di atas katil – di antara baginda dan kiblat – dalam keadaan aku berbaring.

Riwayat Al-Bukhari (514)

Kata Imam Al-Nawawi: Sekiranya solat tidak terbatal dalam keadaan A’isyah tidak melakukan ibadah maka sekiranya dia sedang beribadah maka itu adalah lebih utama (tidak batal). Rujuk Al-Majmu’, Al-Nawawi (3/252).

Kenyataan Imam Al-Nawawi ini menjelaskan perbezaan pendapat berkenaan isu orang perempuan berada di hadapan orang lelaki semasa solat. Di dalam kes ini, A’isyah yang sedang berbaring berada di hadapan Nabi S.A.W yang sedang solat. Justeru, ini menunjukkan bahawa solat Nabi S.A.W tidak terbatal dengan keberadaan A’isyah di hadapan baginda. Maka, demikianlah juga seorang lelaki yang sedang solat dan di sebelahnya juga terdapat seorang perempuan yang sedang bersolat. Qiyas digunakan bahawa sekiranya perempuan yang tidak melakukan ibadah tidak membatalkan solat orang lelaki, adalah lebih utama jika dia sedang solat maka turut tidak membatalkan solat orang lelaki.

Kesimpulan

Setelah kami mengemukakan beberapa hujah dan pandangan para fuqaha di atas, kami cenderung kepada pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahawa solat seorang lelaki bersebelahan dengan orang perempuan dengan terdapatnya tirai penghadang adalah tidak membatalkan solat. Bahkan Imam Abu Hanifah juga bersetuju dengan pandangan ini. Lebih-lebih lagi melihat kepada keadaan surau yang sempit dengan kehadiran jemaah yang begitu ramai hadir untuk menunaikan solat tarawih pada bulan Ramadan. Semoga Allah S.W.T memberikan kita kefahaman yang jelas dalam beragama. Ameen.

Sumber:
Mufti Wilayah Persekutuan
https://muftiwp.gov.my/ms/artikel/al-kafi-li-al-fatawi/765-al-kafi-641-sahkah-solat-orang-lelaki-apabila-bersebelahan-dengan-saf-orang-perempuan

28/01/2020 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Comments Off on SAHKAH SOLAT ORANG LELAKI APABILA BERSEBELAHAN DENGAN SAF ORANG PEREMPUAN TETAPI DI PISAHKAN DENGAN PENGHADANG ATAU TABIR.

Nak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi? Imam Syafie dengan Nabi siapa lagi mulia?”

*SOAL JAWAB MELALUI WHATSAPP PAGI INI*

Moga2 ada manfaat… 👇🏼👇🏼👇🏼

[16/01, 8:47 am] MC 8690 *** “Nak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi? Imam Syafie dengan Nabi siapa lagi mulia?”

“Hadis dah lengkap kenapa nak pakai mazhab lagi?”

Ini adalah antara ayat ayat yang keluar dari mulut orang yang kononnya bukan Muqallid dan bukan Mujtahid tetapi disebabkan mahu nampak sedikit gah. Diciptakan satu istilah baru “Muttabeq” namanya

Satu permasaalahan apabila ditanya kamu bermazhab apa? Saya bermazhab Al Quran dan Hadis sepertimana Sahabat nabi tak memerlukan kepada Imam Mujtahid seperti itu jugalah saya.

Sebenarnya, walaupun dicipta istilah “Muttabeq” sekalipun ia masih lagi dihukumkan “Muqallid” kerana selagi seseorang itu tidak mencapai martabat “Mujtahid Mutlak” wajib atasnya untuk mengikut Imam imam mazhab yang empat.

Wajib juga atas kita mengakui bahawa Rasulullah adalah makhluk yang paling mulia. Mana sama martabat Imam Syafie dengan Rasulullah. Tetapi Imam Syafie adalah seorang Mujtahid Mutlak. Sehinggakan ada ulama menyebut seorang Mujtahid Mutlak adalah orang tidak ada satupun Hadis Rasulullah atas muka bumi ini tidak ada didalam dadanya melainkan semuanya telah dia hafal. Ini adalah tahap keilmuaan seorang Mujtahid Mutlak. Ikut mazhab itu adalah mengikut Nabi.

Mazhab adalah rumusan kefahaman Al Quran dan Hadis yang telah disiapkan oleh Ulama. Mereka adalah insan yang lengkap serba serbi ilmu. Bersangat sangatan Alimnya. Mereka tahu bagaimana hendak proses Al Quran dan Hadis sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Kita orang awam. Tak ada perkakasan.

Satu contoh misalan. Tayar kereta kita pancit. Adakah kita perlu pergi ke Kebun Getah, ambik getah skrap untuk buat tayar? Dengan perkakasan tak ada, rasanya ini satu kerja gila. Paling mudah adalah dengan beli sahaja Tayar dikedai Tayar. Walaupun orang yang ada 100 ekar ladang getah. Masih lagi beli tayar dikedai, tidak diprosesnya getah skrap untuk dibuat tayar sendiri.

Al Quran dan Hadis adalah bahan mentah. Kita orang awam tak ada perkakasan ilmu yang lengkap seperti Para Imam Mujtahid. Adakah kita mahu membuat kerja gila dengan memproses Al Quran dan Hadis mengikut Keterbatasan ilmu yang kita ada? Ini adalah punca kesesatan. Menggunakan Al Quran dan Hadis yang mentah sebagai “Buffet” aci main petik, petik, petik, ayat mana yang sesuai dengan Nafsu ambik jadikan hujjah dan ayat mana tak kena dengan nafsu cari ayat Al Quran lain atau Hadis lain untuk mengiyakan perbuatannya. Ini punca kesesatan. Nauzubillahiminzalikh.

Para sahabat dahulu tidak mempunyai mujtahid mutlak kerana segala permasalahan hukum hakam terus ditanyakan kepada Rasulullah.

Kaedah kita, Mazhab yang dah dirumuskan itulah adalah merupakan rumusan kefahaman Al Quran dan Hadis. Pesan Tok Guru, “Ikut mazhab itu ikut nabi la” tidak perlu menunjuk handal kononnya pakai mazhab yang menggunakan hadis shoheh sahaja. Antara kamu dengan Imam Syafie siapa lebih alim Hadis? Siapa lebih banyak menghafal hadis? Kamu atau Imam Syafie?

Jadilah seperti salah seorang pakar hadis malaysia Tuan Guru Wan Izzuddin atau lebih mesra dengan panggilan Pak Anjang Izzuddin. Pengalaman admin dan rakan rakan mengziarahi beliau di pondoknya Gajah Mati, tidak ada langsung kalam kalamnya yang kontradik dengan ulama ulama melayu yang lain. Walaupun bergelar seorang Muhaddith dan Musnid.

-Admin QF Nuuri-

[16/01, 8:48 am] MC 8690 *** Salam Ustaz,
Muttabeq ni apa?

[16/01, 9:20 am] ENGKU AHMAD FADZIL ALI: متبعNak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi? Imam Syafie dengan Nabi siapa lagi mulia?”
Adalah اسم فاعل kata nama pembuat bagi perbuatan اتبع، يتبع yang bererti “mengikut”.

Jadi muttabi’ ertinya 👇🏼
“Orang yang mengikut”.

Kononnya ia adalah satu kedudukan antara “muqallid” (orang yang ikut fatwa ulama tanpa tahu dalil) dan “mujtahid” (ulama yang mampu berinteraksi dengan dalil2 menggunakan kaedah2 bagi mengeluarkan hukum).

Jadi kononnya oleh kerana muttabi’ tahu dalil2 yang digunakan oleh mujtahid dalam berfatwa maka mereka tak perlu bertaqlid kepada fatwa mujtahid tetapi boleh memilih mana fatwa yang kuat dalil2nya untuk diikuti.

Ini sangkaan yang keliru dan bathil kerana yang boleh menilai kekuatan dalil adalah para mujtahid.

Oleh itu orang-orang yang kononnya muttabi’ ini sebenarnya masih lagi tahap muqallid kerana mereka sebenarnya tidak memenuhi syarat2 mujtahid. Sekadar tahu dalil2 ulama tidak menjadikan seseorang itu mujtahid. Oleh kerana mereka muqallid, wajib mereka bertaqlid kepada fatwa2 ulama-ulama yang mujtahid dan bukan berlagak pandai kononnya menimbang antara pandangan2 ulama mana yang kuat dalil2nya, padahal mereka BUKAN ahli dalil, hanya sekadar tahu sebahagian dalil2 ulama.

Wallaahu ta’aala a’lam.

USTAZ ENGKU AHMAD FADZIL

16/01/2020 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

Jual Beli Air hukum nya Haram

Ramai yang tahu bahawa benda atau barangan haram, haram dijual beli. Tetapi ramai yang tidak tahu, jual beli air juga adalah haram. Jadi, sesiapa yang menjual air maka dia menerima pendapatan haram.

Seperti juga menjual barangan curi, adalah hasilnya dia mendapat pendapatan haram. Biawak adalah haram, maka sesiapa yang menangkap biawak dan menjual biawak itu, maka dia mendapat hasil haram.

Walau bagaimanapun, jika semua benda dan barangan haram itu ditukar kepada menjual perkhidmatan, maka hasilnya adalah halal. Contoh, seorang petani menangkap ular, dia matikan dan samak, kemudian kulitnya dijual kepada pengusaha kasut atau bag. Maka ketika itu dia menjual perkhidmatan.
Begitu juga dengan air, dia salurkan air, dan dibersihkan air itu dan kemudian dibotolkan, kemudian dijual. Maka ketika itu dia dikatakan menjual perkhidmatan. Hasilnya adalah halal.

Belajarlah fiqah nanti menjadi kaya ilmu.

FB Ustaz Ahmad Baei

11/01/2020 Posted by | Fiqh, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | | Leave a comment

Menjawab Anggapan “Semua Agama Adalah Sama”

Tidak sedikit orang berkata “Semua agama sama”. Dewasa ini ucapan seperti ini kerap kali disebut dikalangan masyarakat samada dari kalangan bukan Islam atau di kalangan muslim sendiri.

Fahaman sebegini sebenarnya adalah fahaman yang baru dan ia tidak berlaku pada zaman dahulu. Ia muncul dari dua kelompok iaitu golongan apatisme dan juga golongan pluralis liberalisme.

Golongan apatisme adalah golongan yang tidak (atau malas?) berfikir tentang agama dan mereka hanya fokus kepada hal keduniaannya sahaja dan mereka bukanlah orang yang berlatar belakang memahami kerangka agama. Kebanyakkan dari kalangan mereka hanya bercakap berdasarkan andaian mereka sahaja. Jika ditanya kepada mereka adakah mereka sudah membaca kesemua kitab agama dan memahami semua agama sehingga mencapai konklusi bahawa semua agama adalah sama? Sudah tentu tidak, melainkan ia adalah ucapan dari andaian dan sikap yang malas berfikir tentang ketuhanan.

Manakala golongan pluralisme pula mereka membawa metod hak kebebasan melangkaui agama. Mereka meletakkan elemen simpati (hak kebebasan dan pembelaan kepada manusia) yang Tuhan tidak akan menghukum manusia di atas perbezaan itu. Bagi mereka terjadinya agama-agama di dunia ini juga merupakan kehendak Tuhan dan tidak salah untuk mereka beragama kerana kesemuanya akan menuju kepada Tuhan yang sama kerana semuanya adalah ciptaan Tuhan.

Ternyata fahaman ini tidak memahami realiti kronologi agama itu sendiri. Sememangnya Tuhan menurunkan agama tetapi hanya terdapat satu-satunya agama yang Tuhan redhai. Fahamkah kita bagaimana sikap orang mengubah-ubah ajaran agama Tuhan itu sehingga menjadi sebuah ajaran yang jauh menyimpang dari ajaran asal? Adakah bila terdapat seorang penipu yang terkenal mendakwa dirinya adalah seorang rasul dan dia membawa agama. Tergamakkah ingin mengatakan bahawa agama yang dia bawa itu juga diredhai oleh Tuhan walau sudah jelas dia adalah menipu? Sudah tentu tidak.

Islam Satu-Satunya Agama Dijamin Tuhan

Al Quran adalah kitab wahyu dari Tuhan yang bebas dari penyelewengan. Seluruh dunia membaca versi al Quran yang sama. Ia adalah wahyu yang terakhir membimbing manusia akhir zaman. Tidak ada satu pun kitab agama sebelum al Quran yang memiliki ayat jaminan bahawa ia adalah satu-satunya agama diredhai oleh Tuhan kecuali di dalam al Quran.

Allah berfirman yang bermaksud:

“Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.” (Surah Ali Imran: 19)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Surah Ali Imran: 85)

Adalah pelik jika seorang muslim boleh mengungkap kata-kata bahawa semua agama adalah sama. Malah jika diperhatikan di dalam al Quran, Allah menceritakan keadaan ahli kitab dikalangan Yahudi dan Kristian serta orang-orang yang menyembah berhala, setelah dibentangkan bukti dan kebenaran dihadapan mereka dan jika mereka menolak, mereka akan dibalas dimasukkan ke dalam neraka:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik itu akan ditempatkan di dalam neraka Jahannam, kekallah mereka di dalamnya. Mereka itulah sejahat-jahat makhluk.” (Surah al Bayyinah: 6)

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud:

“Demi zat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya. Tiada seorang-pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi mahupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka”. (Hadits Riwayat Muslim no.153 dalam kitabul Iman)

Lebih Teruk Dari Arab Jahiliyyah

Jika dilihat di dalam sejarah, ungkapan “semua agama adalah sama” ini tidak pernah diungkap oleh orang-orang terdahulu. Jika mahu dibandingkan dengan sikap orang arab Jahiliyyah pun tidak mengungkap perkataan itu kerana mereka tahu terdapat perbezaan diantara agama mereka dengan agama yang dibawa oleh nabi Muhammad.

Jika tidak mereka tidak akan menentang dakwah nabi Muhammad. Malah antara tawaran yang mereka berikan kepada Nabi Muhammad dengan harapan untuk ‘meredakan’ usaha dakwah nabi adalah dengan dibahagikan selang sehari bertukar-tukar tuhan untuk disembah. Contoh pada hari ini, mereka menyuruh nabi Muhammad bersama mereka untuk menyembah tuhan mereka manakala keesokan hari pula mereka semua akan menyembah Allah dan begitu bergilir kepada hari berikutnya.

Hasil dari itu turunlah surah al Kafiruun yang menerangkan bahawa masing-masing tidak menyembah tuhan yang sama dan masing-masing tidak beribadat dengan cara yang sama, agamamu untukmu dan agamaku untukku.

Ini menunjukkan sejahil orang arab jahiliyyah juga memahami bahawa terdapat perbezaan diantara agama yang mereka anut dengan agama yang dibawa oleh nabi Muhammad. Akan tetapi pada hari ini begitu boros sekali ungkapan ini kerap disebut oleh orang muslim yang sudah jelas kepada mereka tentang ajaran al Quran yang memisahkan diantara kebenaran dan kebatilan.

Kesimpulan

Perkataan “semua agama sama” adalah kalimah yang tidak patut menjadi ucapan dikalangan masyarakat yang beragama. Kerana jika diambil sikap sebegitu hakikatnya ia adalah sikap seorang tidak beragama langsung.

Ada beza diantara perkataan “Semua agama menganjurkan berbuat baik” dengan “Semua agama membawa ke syurga”. Jika perkataan pertama itu ia boleh dibincangkan lagi akan tetapi jika perkataan “Semua agama menyembah Tuhan yang sama, atau semua agama menuju ke syurga” itu adalah ucapan seseorang yang tidak memahami agama langsung. Jika seseorang itu beragama dan percaya kepada keimanan ajarannya pasti tidak akan terkeluar perkataan ini kerana realitinya tidak sebegitu.

Malah hal ini juga pasti diakui oleh penganut agama lain mengikut kepercayaan mereka bahawa agama mereka juga tidak sama dengan agama lain. Malah dengan wujudnya perbezaan itu tidak semestinya tidak boleh bertoleransi. Ia adalah soal keimanan yang masing-masing memiliki keyakinan dan hujah. Maka persembahkanlah hujah itu jika kita berada di pihak yang benar seperti dianjurkan oleh al Quran:

Katakanlah “Bawalah kemari keterangan-keterangan yang (membuktikan kebenaran) apa yang kamu katakan itu, jika betul kamu orang-orang yang benar”. (Surah al Baqarah: 111)

Sumber: R & D Team Multiracial Reverted Muslims

April 21, 2019

11/01/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

SEJARAH ASAL-USUL NEGERI SEMBILAN DARUL KHUSUS MULAI ZAMAN RASULULLAH SAMPAI SEKARANG

Diriwayatkan Oleh:
_*Asy-Syaikh Al-Habib Prof.Dr. Shohibul Faroji Azmatkhan*_

*A. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN RASULULLAH*

Berdasarkan Kitab Tarikh Melayu yang ditulis pada tahun 1899 oleh Al-Imam Al-Habib Abdur Razzaq bin Musthafa Al-Husaini, dikatakan bahwa:

_”Agama Islam masuk ke Negeri Sembilan Darul Khusus Malaysia sudah ada sejak zaman Rasulullah yaitu sekitar tahun 629 Masehi. Pada saat itu Rasulullah memerintahkan sembilan para sahabat untuk mendakwahkan Agama Islam di Timur Jazirah Arab, yaitu di Tanah Melayu sekarang ini.”_

Sembilan Sahabat Nabi Muhammad yang diperintahkan berdakwah ke Tanah Melayu adalah:
1. Asy-Sumaisi (Sahabat Nabi), berdakwah ke Tanah Melayu, menemukan dan menamakan pertama kali daerah JELEBU. Sekitar tahun 629 Masehi.

2. Ikrimah bin Abu Jahal (Sahabat Nabi), setelah masuk Islam, turut berdakwah sampai ke Tanah Melayu dan menemukan dataran Johol, sekitar tahun 632 Masehi.

3. Anas bin Malik (Sahabat Nabi), melakukan ekspedisi dakwah ke tanah melayu, dan menemukan serta menamakan daerah JOHOR DARUN NA’IM. Pada tahun 630 Masehi.

4. Jabir bin Abdullah (Sahabat Nabi), berdakwah Islam di tanah Melayu, menemukan dan menamakan pertama kali KEDAH DARUL AMNI, tahun 631 Masehi.

5. Abdullah bin Umar bin Khattab (Sahabat Nabi), berdakwah ke Tanah Melayu, menemukan dan menamakan KELANTAN DARUN NA’IM.

6. Abu Said Al-Khudri (Sahabat Nabi), mendakwahkan Islam di Tanah Melayu, menemukan dan menemakan TERANGGANU DARUL IMAN, pada tahun 631 Masehi.

7. Arqam bin Abi Arqam (Sahabat Nabi), melakukan dakwah Islam sampai ke Tanah Melayu, menemukan dan menamakan PAHANG DARUL MAKMUR, pada tahun 630 Masehi.

8. Abu Ya’la Syaddad bin Aus (Sahabat Nabi), berdakwah di Tanah Melayu, menemukan dan menamakan SELANGOR DARUL IHSAN. Pada tahun 630 Masehi.

9. Imam Ali bin Abi Thalib, melakukan dakwah Islam di Tanah Melayu, menemukan dan menamakan NEGERI PERLIS INDRA KAYANGAN, selepas Beliau menemukan Tanah GARUT di Jawa Barat Indonesia. Pada tahun 630 Masehi.

10. NEGERI SEMBILAN DARUL KHUSUS, ditemukan tahun 633 karena sembilan sahabat Nabi bertemu di Negeri ini. Lalu mengembangkan dakwah, dan akhirnya kembali ke Madinah.

_(Referensi Kitab Tarikh Melayu, Karya Al-Imam Abdur Razzaq bin Musthafa Al-Husaini, page 117, tahun 1899)_

*B. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN WALISONGO*

Dalam Kitab Kisah Perjalanan Haji Walisongo, yang ditulis Al-Imam Nawawi Al-Bantani, dikisahkan Pada zaman Walisongo, sembilan wali saat pulang dari Ibadah Haji, pada tahun 1413 Masehi, singgah di sebuah Negeri di Tanah Melayu, dan negeri itu diberi nama *Negeri Sembilan Darul Khusus*.

Negeri Sembilan Darul Khusus masyhur disebut Negeri Walisongo, dan dinegeri ini Dzurriyyah Walisongo mulai banyak berdakwah.

Beberapa tahun singgah di Negeri Sembilan, Walisongo kembali ke Tanah Jawa (Indonesia).

_(Referensi : Kitab Kisah Perjalanan Haji Walisongo, Karya Imam Nawawi Al-Bantani, Page 72, ditulis tahun 1890 Masehi)_

*C. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN MELAYU KUNO*

Setelah kedatangan Walisongo ke Negeri Sembilan Darul Khusus, lalu banyak hijrah dan merantau orang-orang Minangkabau dari Pulau Sumatera melalui Melaka dan sampai ke Rembau.

Orang-orang Minangkabau ini adalah para Dzurriyyah Sunan Giri dan juga murid atau santri Sunan Giri.

Di Negeri Sembilan ini para Dzurriyyah Sunan Giri menikah dengan penduduk Negeri Sembilan yang sudah lama hidup di Negeri ini. Saat itu Negeri Sembilan masih hutan yang sangat lebat. Sedikit sekali penduduknya, sehingga Ulama di Negeri ini mewajibkan POLIGAMI untuk memperbanyak keturunan atau dzurriyyah, agar Islam berkembang pesat dan Dzurriyyah nya banyak.

Ulama yang terkenal di Negeri Sembilan pada masa Kesultanan Johor, adalah Sayyid Mujtaba bin Makki, Berdasarkan salah satu catatan sejarah Negeri Sembilan yang ditulisnya, bahwa Negeri Sembilan pada awalnya dikatakan terdiri dari Sembilan Negeri yaitu:
1. Sungai Ujong,
2. Rembau,
3. Johol,
4. Jelebu,
5. Naning,
6. Kelang (kini Klang),
7. Hulu Pahang,
8. Jelai dan
9. Hulu Muar.

*D. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN SEKARANG*

Negeri Sembilan termasuk salah satu negara bagian yang menjadi negara Federasi Malaysia. Sebelah selatan berbatasan dengan Melaka dan Johor, sebelah timur berbatasan dengan Pahang, sebelah utara berbatasan dengan Selangor dan sebelah barat berbatasan dengan Selat Melaka.

Penduduk bangsa Melayu yang kira-kira seperempat juta itu sebahagian besar masih mempunyai hubungan dengan adat Minangkabau. Karena banyak murid Walisongo dari Minangkabau yang menetap di Negeri Sembilan.

Pantun mereka berbunyi :

_Leguh legah bunyi pedati._
_Pedati orang pergi ke Padang._
_Genta kerbau berbunyi juga._
_Biar sepiring dapat pagi._
_Walau sepinggan dapat petang._
_Pagaruyung teringat juga_

Negeri Sembilan merupakan sebuah kerajaan tetapi pemerintahannya berdasarkan Konstitusi yang disana dikatakan Perlembagaan Negeri. Badan Legislatifnya bernama “Dewan Perhimpunan/Perundingan Negeri yang mempunyai anggota 24 orang. Anggota-anggota ini dipilih oleh rakyat dalam Pemilihan Umum yang disini dikatakan : Pilihan raya.

Pelaksanaan pemerintahan dilaksanakan oleh Menteri Besar yang didampingi oleh 8 orang anggotanya yang bernama : “Anggota Majelis Musyawarah Kerajaan Negeri”.

Gelaran raja ialah Duli Yang Mahamulia Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan.

Pemerintahan Negeri Sembilan terbagi atas 6 daerah, yaitu:
1. Seremban,
2. Kuala Pilah,
3. Port Dickson,
4. Jelebu,
5. Tampin dan
6. Rembau.

Ibukota Negeri Sembilan adalah Seremban.

Istana raja terdapat di ibukota Seremban ini bernama Istana Seri Menanti. Tetapi arsitekturnya tidak lagi dengan cara Minang melainkan sudah berkomposisi antara arsitektur Minang dan Melayu.

Ada 12 suku di Negeri Sembilan yaitu:
1. Tanah Datar
2. Batuhampar
3. Seri Lemak Pahang
4. Seri Lemak Minangkabau
5. Mungka
6. Payakumbuh
7. Seri Malanggang
8. Tigo Batu
9. Biduanda
10. Tigo Nenek
11. Anak Aceh
12. Batu Belang

*REFERENSI:*

_Al-Imam Abdur Razzaq bin Musthafa Al-Husaini, Kitab Tarikh Melayu, page 117, tahun 1899)_

_Imam Nawawi Al-Bantani, Kitab Kisah Perjalanan Haji Walisongo, Page 72, ditulis tahun 1890 Masehi)_

22/12/2019 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | 3 Comments

Qasidah dan Syair memuji Rasulullah SAW – Dibolehkan atau Dilarang?

1- Kita sedia maklum bagaimana orang-orang Arab sejak zaman Jahiliyah lagi tak dapat dipisahkan dengan bentuk kesenian dan kesusasteraan mereka seperti Syair dan Qasidah. Ini jelas apabila kita mempelajari sejarah Arab bahkan dalam Sirah Nabawiyyah juga ada disebutkan tentang perkara ini.

2- Malah di dalam Al-Quran sendiri berulang perkataan ‘Syair’ dan sebuah surah dinamakan dengan as-Syu’ara yang bermaksud ‘para penyair’. Bermula dari ayat 224 di dalam surah tersebut kita dapati Allah SWT menyebut bahawa terdapat penyair yang beriman dan beramal soleh dan ada juga penyair yang tidak beriman dan berdusta.

3- Maka jelas bahawa terdapat perbezaan di antara penyair dan syairnya yang diterima oleh Islam dengan penyair dan syairnya yang tidak diiktiraf di dalam Islam.

4- Kita dapati para sahabat bersyair dan melantunkan qasidah di hadapan Baginda SAW dan Baginda akan mendengar, terkadang tersenyum dan terkadang memuji syair yang baik. Manakala Baginda akan membetulkan kalau ada syair yang salah dan tidak tepat.

5- Zaman berzaman juga kita dapati para ulama begitu kreatif dan hebat dalam mengarang syair-syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW. Ia bukanlah satu perkara yang pelik kerana syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW telah pun ada pada zaman Baginda SAW sendiri.

6- Kitab-kitab Hadith dan Sirah sendiri mengumpulkan pelbagai syair pujian terhadap Baginda SAW dikarang dan dideklamasikan oleh para Sahabat seperti Sayyiduna Hassan Bin Thabit RA, Abdullah Bin Rawahah RA, Abu Bakr as-Siddiq RA, Umar Bin al-Khattab RA, Ka’ab Bin Malik RA, Ka’ab Bin Zuhair RA, al-Abbas Bin Abd. Muttolib dan lain-lain.

7- Syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW ini dibacakan di hadapan Baginda SAW dan Baginda SAW tidak memarahi atau melarang. Bagaimanakah pula kita pada hari ni tidak suka atau melarang bacaannya?

8- Oleh itu para ulama zaman berzaman mengambil contoh perbuatan para Sahabat RA dengan memuji Rasulullah SAW dalam bentuk syair dan qasidah. Syair dan qasidah ini dibukukan dan dibacakan malah disebarkan kepada masyarakat.

9- Ada pihak yang kita dapati mempunyai ‘alahan’ dan tidak suka syair dan qasidah memuji Rasulullah SAW. Ada pula yang melarang dengan membawa dalil daripada sebuah Hadith Sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari RH:
لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم
Maksudnya:
‘Jangan berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

10- Sedangkan maksud Hadith di atas adalah – jangan memuji Rasulullah SAW dengan pujian yang salah iaitu mengangkat Baginda sehingga mencapai tahap ketuhanan seperti yang kita lihat di dalam terjemahan Hadith di atas iaitu potongan ‘sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

11- Seeloknya kita pelajari maksud syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW dan menghayati bagaimana para ulama memilih perkataan yang indah dan berirama untuk memuji manusia yang paling indah – Rasulullah SAW.

Adlan Abd Aziz
Timbalan Pengerusi ISLAMI Kebangsaan
*Tirmidhi Centre*
@

22/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Madah dan Sajak, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah, wahabi | , , | Leave a comment

Mana lebih utama, Malam Lailatul Qadar dengan Malam Kelahiran Baginda Nabi SAW?

Tumpang tanya,… mana lebih utama malam lailatul qadar dengan mlm kelahiran baginda nabi. Mohon pencerahan dan klu ada mohon rujukannya….

Jawapan kami;

Menurut ulama Mazhab Syafi’i, hari (siang) yang paling afdal ialah hari Arafah.

Diriwayatkan daripada Jabir radhiallahu anhu, Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam bersabda:

أفضلُ الأيام يومُ عرفة

”Sebaik-baik hari ialah hari Arafah.”(Riwayat Ibn Hibban).

Diriwayatkan lagi daripada Jabir radhiallahu anhu, Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يوْمٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يوْمِ عَرَفَةَ …

”Tiada hari yang paling baik di sisi Allah melainkan hari Arafah…”(Riwayat Ibnu Hibban, Abu Ya’la).

Kemudian diikuti hari Jumaat, kemudian hari Aidul Adha dan kemudian hari Aidul Fitri.

Adapun malam yang paling afdal pula ialah malam Nabi sollallahu alaihi wa sallam dilahirkan. Hal ini kerana pada malam tersebut telah lahirnya seorang insan mulia yang telah memberikan manfaat yang umum dan kebajikan yang agung ke seluruh alam.

Kemudian diikuti malam Lailatul Qadr, kemudian malam Jumaat dan kemudian malam Nabi sollallahu alaihi wa sallam diisrakkan. Justeru, inilah turutan malam yang paling afdal bagi nisbah umat Nabi sollallahu alaihi wa sallam.

Manakala, malam yang paling afdal bagi nisbah Nabi sollallahu alaihi wa sallam pula ialah malam baginda diisrakkan. Hal ini kerana, pada malam tersebut baginda telah bertemu Tuhannya dengan mata kepalanya sendiri mengikut pendapat yang sahih.

Sehubungan dengan itu, malam lebih afdal berbanding dengan hari siang.

Manakala menurut Imam Ahmad bin Hanbal pula, hari yang paling afdal secara mutlak ialah hari Jumaat. Malah, ia lebih afdal berbanding hari Afarah dan malam hari Afarah juga lebih afdal secara mutlak berbanding malam Lailatul Qadr.
اليسع
Wallahu a’lam.

Rujukan

– Hasyiah al-Bujairimi
– Hasyiah al-Jamal
– Hasyiah al-Syarqawi
– Hasyiah al-Baijuri
– Hasyiah al-Syarwani
– Fath al-‘Allam
– Nihayah al-Zain

Sumber : Koleksi Q&A Ustaz Alyasak
https://t.me/Q_A_Us_Alyasak_channel

20/12/2019 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Kenali riba dan bersama menjauhinya

Olih Ustaz Zaharuddin-

Riba adalah ziyadah atau increment atau excess pada perkara tertentu lebih menjurus kepada terlebih pada sesuatu iaitu

1) Di dalam hutang

Cth: Beri RM1000, minta bayar balik dalam RM1100, maka RM100 adalah riba samada rasa tertindas atau tidak rasa tertindas

2) Bayaran secara bertangguh

Cth: Perlu bayar RM2000 dalam masa 5 bulan, si penghutang tidak membayar dalam jangkamasa tersebut, lalu si penghutang beri tangguh dengan dikenakan syarat dari RM2000 menjadi RM2050 kerana kelewatan membayar. RM50 itu adalah riba

3) Riba dalam pertukaran barang dengan barang, terdapat 6 jenis barang

Cth: Tukar emas lama iaitu 2g dengan emas baru 3g. Jika ada pertambahan/pengurangan maka ia adalah riba

4) Bayar emas dalam waktu yang bertangguh

Ulama iaitu Umar Al-Khatab menyarankan untuk kita berusaha bersungguh-sungguh untuk memahami riba.

Umar Al-Khatab: “Aku berharap Nabi Muhammad s.a.w tidak meninggalkan kita dalam keadaan kita tidak didedahkan secara terperinci berkenaan dengan 3 perkara iaitu perwarisan harta cucu oleh datuknya, kalalah (harta si mati yang tidak meninggalkan waris atau mempunyai waris) dan jenis-jenis riba. (Riwayat Al-Bukhari)

Imam Ibn Kathir (ulama yang sohor): “ Bab riba adalah bab yang susah untuk difahami”

Imam Abu Hamid Al-Ghazali: “Bab riba adalah bab yang sukar untuk diajari”

Pengajian bab riba adalah tanda keimanan dan ketakwaan yang tinggi kerana kesukarannya untuk memahami, untuk pelajari dan untuk menjauhinya (ada disebut dalam Surah Al-Baqarah)

Di dalam pengajaran riba ada pandangan ekstrem, tasahul (ringan/mudah) dan wasati (seimbang dan equilibirilium). Namun pandangan wasati yang dilebihkan kerana lebih tepat dan mantap pada sesuatu zaman untuk mengelak kesukaran kepada masyarakat.

Cth pandangan wasati: Tidak riba jika penjual menaikkan harga sesuatu barang

Riba dalam bentuk pinjaman

Dalam bahasa arab 2 jenis pinjaman iaitu

  • Qar, pinjaman dengan bayaran dalam bentuk yang sama. Cth: Duit seringit dengan duit seringit, beras (long grain) dengan beras (long grain yang sama)
  • I’arah, pinjaman dengan bayaran dalam bentuk yang berbeza, Cth: iPad2 (umur 2 tahun) dengan iPad2 (1 tahun)

Persepakatan ulama silam, pinjaman dalam bentuk Qar atau I’arah jika disyaratkan pembayarannya samada di dalam bentuk berlainan seperti hadiah, melebihi daripada pinjaman permulaannya adalah haram dan RIBA.

Cth dalam konteks semasa,

    • Pinjaman wang dengan bank konvensional untuk membeli kereta iaitu RM100K, 10 % bayar deposit dan 90% lagi dari ‘loan’ bank konvensional. Bank kovensional beri pinjam RM100k yang perlu dibayar dalam jangkamasa 5 tahun dengan pertambahan interest iaitu 4%. Maka 4% itu adalah RIBA. Ada yang menggunakan hujah inflasi bagi menerima interest 4% dengan mengatakan harga RM1 pada tahun 2000 adalah berlainan dengan harga RM1 dalam tahun 2012. HUJAH INFLASI TIDAK DITERIMA DI DALAM ISLAM

      PEMBELIAN KERETA DENGAN PINJAMAN DARIPADA BANK KOVENSIONAL ADALAH RIBA.

      Sesiapa yang mengambil atau memberi RIBA adalah mengisytiharkan perang dengan ALLAH S.A.W dan RASULLAH S.W.T

      Rasullah bersabda, dosa sesiapa yang terlibat dengan RIBA, walaupun sebanyak 1 dirham (RM20) bersamaan dengan berzina sebanyak 36 kali. Akibat dosa begini iaitu riba yang tidak disedari antara punca penyebab solat kurang khusyuk, doa tidak diterima, tidak mahu nasihat dsb.

      Rasullah juga bersabda, riba boleh datang dalam 72 pintu, yang paling ringan dosanya umpama seorang lelaki berzina dengan ibunya dan untuk perempuan, umpama berzina dengan bapanya.

      • Pinjaman untuk rumah yang dibuat dengan bank konvensional selain riba terdapat juga GHARAR (penambahan yang tidak tahu berapa nilainya)

        Cth: pinjaman RM200k dengan interest 4% dan pertambahan BLR-2.0%. BLR itu adalah gharar dimana nilainya mengikut ekonomi Malaysia yang tidak diketahui dinilainya.

        Maka, dosa meminjam duit dengan bank konvensional untuk membeli rumah adalah LEBIH BERDOSA berbanding dengan beli kereta kerana adanya GHARAR.

        • Kad kredit dengan bank kovensional. Pembelian barang dengan kad kredit konvensional ada tempoh untuk membayarnya (Cth:20 hari). Jika tidak membayarnya akan dikenakan RIBA. Jika membayarnya dalam tempoh tersebut juga adalah RIBA kerana kita menyokong urusniaga dengan bank konvensional iaitu si penjual (merchant) akan memberi sebanyak 2-3% kepada pengeluar kad konvensional.

          SOALAN 1: Pinjaman dengan kad kredit konvensional iaitu sebanyak RM3000 dengan 0% interest selama 3 bulan. Selepas 3 bulan, interest akan dikenakan adalah 6.5%. Adakah 6.5% adalah riba?

          SOALAN 2: Pembiayaian dengan Bank Islam ada dinamakan keuntungan dengan akad adakah bersamaan dengan pinjaman dengan bank konvensional yang ada perjanjian?

          SOALAN 3: Dalam perjanjian pinjaman konvensional jika kita menanda tangani adalah mengiyakan pinjaman tersebut adakah riba?

          JAWAPAN: Kad kredit konvensional yang menawarkan pinjaman yang dikenakan 6.5% selepas 3 bulan adalah RIBA. Maka perlulah selesaikan secepat mungkin jika sudah melakukannya samada masih dalam tempoh atau melebihi tempoh pembayaran kerana kita sudah menyokong urusniaga bank konvensional tersebut.

          Rasullah bersabda, akan dilaknati orang yang MEMBERI, MENERIMA, menjadi SAKSI dan PENULIS perjanjian urusniaga RIBA

          Pembiayaian dengan bank Islam yang mempunyai akad yang ada kontrak dan rukun dan juga apa yang dijualnya adalah berbeza dengan bank konvensional . Si penerima akad tersebut perlu melihat dengan teliti dokumen tersebut sebelum mengiyakan dan menandatangani perjanjian.

          Di dalam Fiqh Islam keredhaan dengan sesuatu pada permulaan adalah juga redha pada pengakhirannya. Maka menandatangi perjanjian pinjaman konvensional yang dimana akan dikenakan riba pada masa akan datang, maka pada ketika itu kita terlibat dengan riba.

          SOALAN 4: Apa beza BFR (Islamic housing loan) dengan BLR (Conventional housing loan)?

          SOALAN 5: Status Amanah Saham Bank Rakyat?

          SOALAN 6: Bagaimana kita hendak menghapuskan dosa lepas kerana melakukan riba?

          SOALAN 7: Status pinjaman perumahan dengan menggunakan ‘goverment loan’ ada kaitan dengan riba atau tidak?

          SOALAN 8: Pembelian kereta dengan CIMB Islamik dengan akad adakah terlibat dengan riba?

          SOALAN 9: Pembelian rumah dengan pinjaman daripada bank konvensional, hendak membeli dengan cash tidak mampu, maka bagaimana dengan pinjaman tersebut dan alternative untuk mengelaknya?

          JAWAPAN: Beza antara BFR (Base Financing Rate) dengan BLR (Base Lending Rate). BLR adalah kadar benchmark untuk kadar pinjaman bank konvensional atau kos pinjaman duit. Bank –bank islam tiada pinjaman, hanya ada pembiayaan. Bank-bank islam menggunakan duit yang didapatkan daripada orang ramai untuk membeli asset dan menjual asset kepada pelanggan mereka. Kebanyakkan orang tidak mengetahui mengenai asset yang dibeli kerana tidak membaca kontrak. Walaubagaimanapun kadar BFR dan BLR adalah sama tetapi BFR adalah halal

          Perumpamaan BFR adalah: Membuka kedai daging halal lembu Australia di tempat yang tiada kedai daging halal, si penjual daging halal akan meninjau harga daging semasa dan menjual daging dengan harga yang sama dengan daging di kedai daging tidak halal.

          Dividen saham Bank Rakyat adalah patuh syariah dan halal

          Maksud dalam surah Al-Baqarah ayat 277-278:

          Maka apabila datang peringatan tentang dosa-dosa riba, yang terlibat dengan riba hendaklah dengan SEGERA BERHENTI.

          Ada 4 perkara hendak hapuskan dosa jahil tentang riba.

          • Berhenti dengan segera melakukan perkara RIBA
          • Minta taubat
          • Banyakkan sedekah
          • Perbanyakkan bercerita dan ajari tentang riba dan dosa riba kepada orang lain bagi menunjukkan kita bersungguh-sungguh memerangi riba dan menutup kesalahan kita ketika melakukan riba

          Pinjaman perumahan bagi kakitangan kerajaan telah ada 2 bentuk iaitu konvensional dan islamik. Orang Islam MESTI mengambil yang islamik. Status pinjaman yang telah dibuat boleh dirujuk pada kontrak pinjaman perumahan. Kontrak islamik dinyatakan tentang BBA (al-Bai’ Bithaman Ajil), jika tiada minta untuk ditukar

          Status pembelian kereta dengan CIMB Islamik adalah halal

          Perumahan tidak perlu beli dengan cash. Islam membenarkan pembelian secara bertangguh tetapi hendaklah dituliskan hutang tersebut bagi mengelakkan kelupaan. Maka pembelian rumah boleh dibeli dengan bayaran bertangguh dimana rumah tersebut dibeli melalui bank, bank akan melakukan transaksi pembelian dengan pemaju dan menjual semula kepada kita dan kita membayar secara bertangguh. Hanya bank-bank islamik sahaja melakukan transaksi begini. Dengan itu cara selamat mengelak riba adalah melakukan pembiayaan rumah atau refinancing dengan bank-bank islamik.

          SOALAN 10: Mengadai emas di kedai pajak yang mengenakan bayaran pajakan 1-2%. Jika tidak membayar dalam tempoh tertentu maka emas itu akan diambil oleh kedai pajak. Adakah perkara itu terlibat dengan riba?

          JAWAPAN: Gadai emas perlu dipastikan samada Ar-Rahnu atau kedai pajak biasa. Jika kedai pajak biasa, ada RIBA. Jika Ar-Rahnu maka ia adalah patuh syariah.

          SOALAN 11: 2 tahun selepas penyerahan rumah dikenakan bayaran lewat. Bolehkah pemaju kenakan denda tersebut dan adakah ianya riba? Bolehkah ditukar term kerpada denda lewat bayar?

          JAWAPAN: Term tidak boleh diubah sendiri kerana berkaitan dengan kontrak dengan penjual. DI dalam akta pembangunan perumahan mungkin terdapat klosa-klosa yang mengenakan denda apabila lewat bayar. Maka orang yang membuat akta tersebut dipertanggungjawabkan. Orang ramai yang dikenakan rukhsah atas pembayaran tersbut, namun haruslah berusaha sedaya-upaya untuk membayar sebelum tempoh itu tamat untuk mengelak riba

          SOALAN 12: Kenapa bayaran pembiayaian bank –bank Islam lebih mahal berbanding dengan bank-bank konvensional

          JAWAPAN: Sebenarnya pembayaran pembiayaian bank-bank islamik adalah murah. Anggapan mahal itu adalah kerana orang ramai tidak mengetahui cara mengiranya. Boleh rujuk di zaharudin.net.

          SOALAN 13: Bolehkan duit dividen KWSP digunakan untuk membayar income tax?

          JAWAPAN: Perjelasan dari sudut akademik, wang perlaburan KWSP adalah bercampur iaitu halal dan haram. KWSP mengatakan tidak banyak perlaburan halal dapat dilakukan sedangkan duit di dalam simpanan KWSP orang ramai adalah banyak. Maka duit KWSP dilaburkan di tempat patuh syariah dan yang haram. Jika tidak duit itu akan dorman atau beku jika tidak dilaburkan. Maka dividen yang didapati daripada KWSP adalah bercampur iaitu 30% dari sumber halal dan 70% adalah dari sumber haram. Maka 30% dividen bolehlah diambil dan 70% bolehlah didermakan untuk kegunaan umum. Oleh sebab bayaran income tax adalah berbentuk personal maka dividen KWSP tidak boleh digunakan kerana sebahagian besarnya adalah dari sumber yang meragukan. Apa sahaja duit yang HARAM tidak boleh digunakan untuk peribadi tetapi hendaklah disalurkan kepada kegunaan awam dan fakir miskin.

          SOALAN 14: Adakah pertandingan memancing yang menawarkan hadiah yang lumayan tetapi dikenakan yuran penyertaan adalah riba?

          JAWAPAN: Jika pertandingan memancing mengenakan yuran penyertaan sebanyak RM50 bagi satu peserta. Pemenang hadiah adalah datang dari duit hasil kutipan yuran penyertaan sahaja maka ianya adalah JUDI. Jika hadiah datang dari penajaan sahaja tanpa melibatkan wang penyertaan maka ianya HARUS kerana wang penyertaan digunakan untuk pendaftaran dan hadiah yang diberikan adalah datang dari sponsor, dan pertandingan itu tidak melibatkan zero sum game and game of luck.

          SOALAN 15: Pinjaman dengan bank islamik tetapi yang menguruskan pinjaman tersebut adalah orang bukan Islam dan tidak berlaku akad tetapi semua perjanjian telah ditandatangani. Bagaimana dengan status perjanjian tersebut?

          SOALAN 16: Membeli rumah tetapi rumah atas nama isteri. Siapakah perlu membayar rumah tersebut samada suami atau isteri?

          SOALAN 17: Bagaimana denifinisi keberkatan dalam hasil pendapatan. Adakah berkat itu diukur dengan banyaknya rezeki yang didapati?

          JAWAPAN: Tiada pinjaman dalam bank-bank Islam tetapi hanya terdapat PEMBIAYAAN. Pembiayaan islamik tersebut diuruskan oleh orang bukan Islam adalah SAH. TIADA syarat sah jual beli yang mensyaratkan hanya beli dengan orang Islam.

          Cth: Pengurusan masjid boleh meminta orang bukan Islam menjual kuih kepada orang Islam asalkan kuih dan cara penjualan adalah halal.

          Rasullah s.a.w bersabda “ Tidak boleh kamu bersyarikat atau menjadikan partner kamu adalah orang bukan Islam kecuali urusan jual-beli adalah mengikut cara Islam, bermakna orang Islam boleh mengambil pekerja bukan Islam dan pakaiannya adalah seksi. Pihak pengurusan boleh secara beransur-ansur menyuruh orang bukan Islam berpakaian lebih sopan.

          Jika rumah atas nama isteri itu dibeli oleh isteri maka si pembayar adalah antara si suami dan si isteri tetapi tanggungjawab menyediakan penginapan adalah di atas bahu si suami maka suami lebih layak membayar kecuali jika si isteri secara ihsan bersetuju membayar dan rumah itu atas nama si isteri. Maka rumah itu adalah hak si isteri, jika si isteri meninggal, si suami tidak mempunyai hak harta pusaka atas rumah tersebut.

          Defini keberkatan dalam rezeki tidak semestinya banyak. Berkat itu tidak terletak pada numbers tetapi ianya terletak pada hati seseorang dimana berkat itu apabilamerasakan kecukupannya walaupun sedikit dan apabila banyak rezekinya, orang tersebut lebih suka memberinya. Jika orang yang berharta tetapi bakhil dan tidak mengeluarkan zakat maka rezeki itu adalah tidak berkat.

          Rasullah s.a.w bersabda, harta yang baik adalah berada pada tangan orang yang baik dimana orang tersebut suka bersedekah dan membayar zakat.

          Contoh terbaik untuk melihat keberkatan adalah daripada Rasullah s.a.w, ketika baginda mendapat apa sahaja barang akan bersedekah barang tersebut. Ada hadis mengatakan, ketika rasullah s.a.w wafat, baginda tidak meninggalkan wang dan harta tetapi meninggalkan ilmu.

          Keberkatan dalam perniagaan boleh dilihat semakin banyak keuntungan yang didapati semakin taat dan amanah orang tersebut/ pekerja di dalam syarikat tersebut seperti yang berlaku kepada Nabi Muhammad s.a.w dimana baginda sangat amanah dalam urusniaga dan semakin ramai pelanggan kerana akhlak baginda. Jika perniaagaan untung tetapi pekerja semakin banyak menipu, pecah amanah maka ianya tidak berkat.

          KESIMPULAN: Tiada alasan untuk tidak tinggalkan riba. Rasullah s.a.w bersabda, “ sesiapa yang meninggalkan perkara syubhah maka dia sudah berjaya menjaga maruah dan menegakkan agamanya dan sesiapa yang terlibat dengan syubhah maka dia akan jatuh dalam perkara haram.

          11/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Muamalat (Harta), Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Isu berkaitan kedudukan anak-anak dalam saf ketika solat berjemaah.

          Image result for saf kanak kanak
          Soalan :

          Sekarang ni di masjid-masjid timbul isu berkaitan kedudukan anak-anak dalam saf ketika solat berjemaah.

          Boleh bantu beri pandangan?

          Jawapan :

          Oleh Dr. Ustaz Mohd Khafidz Soroni(Hadith).

          بسم الله وبه نستعين

          1. Asalnya masyarakat telah pun sedia mengikut apa yang telah diajarkan oleh para ulama kita mazhab Syafii, mengikut sepertimana yang telah dihuraikan dalam kitab-kitab besar fiqh Syafii. Namun, lama kelamaan apabila setengah kita makin jauh dari mendalami ilmu & mempelajari kitab-kitab besar mazhab Syafii ini, kita mula keliru apabila ada golongan yang datang kemudian gemar mengatakan “ini sunnah”, “ini bidaah”. Sedangkan di dalam kitab2 itu telah pun diterangkan secara terperinci hukum hakamnya, mana yang sah, mana yang batal, mana yang sunnah, mana yang makruh, mana yang harus, mana yang afdhal/terlebih sempurna, mana yang syarat dan bukan syarat dan sebagainya.

          2. Perbincangan dalam kitab-kitab fiqh sebenarnya lebih harmoni dan halus, tidak sekadar “ini sunnah”, “ini bidaah”. Golongan tersebut sebenarnya keliru & mengelirukan. Lebih merumitkan apabila mereka mengambil fatwa itu daripada ulama negara lain yang boleh menerima pandangan itu menurut usul mazhab mereka barangkali, lalu dibawa ke negara kita yang sudah sedia ada ulamanya yang mengikut usul mazhab sendiri. Barangkali tidak ada apa-apa jika fatwa yang datang dari luar itu sekadar diamal oleh pembawanya, namun yang meresahkan ialah apabila si pembawa itu kurang ilmu lalu menyalah-nyalahkan pandangan mazhab tempatan yang sudah sedia lama diamalkan. Golongan keliru ini hanya tahu menghukum “ini sunnah”, “ini bidaah”.

          3. Dalam mazhab Syafii, sunnah kedudukan saf yang sempurna ketika solat berjemaah ialah sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam an-Nawawi (w. 676H) dalam al-Minhaj: “Hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Pernyataan ini umum dan jika ada masalah-masalah yang datang kemudian perlulah dihuraikan sesuai mengikut situasinya. (Dalam setengah kitab seperti Asna al-Matalib oleh Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari (w. 926H) dinyatakan; yang berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian khunsa, kemudian perempuan)

          4. Semua ulama yang mensyarahkan kata-kata tersebut tidak pun menafikannya dengan mengatakan “kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan orang dewasa” dan sebagainya. Boleh rujuk seperti Tuhfah al-Muhtaj oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Hasyiah Qalyubi (w. 1069H) & Umairah (w. 957H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan lain-lain.

          .5. Dalil mereka adalah hadis sahih:

          لِيَلِيَنِّي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ. (أخرجه مسلم وأبو داود والنسائي في الكبرى وابن ماجه)

          “Hendaklah berdiri di belakangku dari kalangan kamu orang-orang yang matang/baligh dan faham/berakal, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka”.

          6. Bahkan ada diriwayatkan hadis dengan sanad hasan yang menyebut secara jelas susunan saf tersebut iaitu:

          عَن أبي مَالك الْأَشْعَرِيّ قَالَ: أَلَا أُحَدِّثُكُمْ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَصَفَّ الرِّجَالَ وَصَفَّ خَلْفَهُمُ الْغِلْمَانَ، ثُمَّ صَلَّى بِهِمْ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَاد حسن، قاله النووي في خلاصة الأحكام)

          Daripada Abu Malik al-Asya‘ri RA katanya: “Mahukah aku khabarkan kamu tentang solat Nabi SAW, iaitu baginda mendirikan solat dan menyusun saf kaum lelaki dan menyusun di belakang mereka saf kanak-kanak, kemudian baru baginda mengimami mereka”. Dalam versi lain:

          كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلِيهِ فِي الصَّلَاةِ الرِّجَالُ، ثُمَّ الصِّبْيَانُ، ثُمَّ النِّسَاءُ. (رَوَاه الْبَيْهَقِيُّ في السنن الكبرى وضَعَّفَهُ)

          “Telah berdiri di belakang Rasulullah SAW di dalam solat, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Sanad hadis ini daif, namun dikuatkan dengan hadis-hadis di atas.

          7. Hadis-hadis ini tidaklah menunjukkan hukum wajib dan hanya menunjukkan kesempurnaan serta yang afdhal. Jika ada kanak-kanak yang berdiri di dalam saf orang dewasa dan tidak bermain-main, tidaklah perlu dihalang dan ditegah.

          8. Kata Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari dalam Asna al-Matalib:

          “Kata al-Azra‘i: Dikemudiankan saf kanak-kamak daripada kaum lelaki adalah jika sudah tidak muat saf kaum lelaki. Jika tidak (yakni masih ada ruang), dipenuhkan saf itu dengan kanak-kanak, tiada masalah. Semuanya ini adalah mustahab, bukannya syarat. Sekiranya mereka menyalahi (susunan ini), sah solat mereka itu berserta makruh.” Katanya lagi: “Dan jangan ditukarkan kanak2 yang hadir dahulu untuk kaum lelaki yang hadir kemudian…”.

          Ini kerana mereka lebih berhak berdiri di situ, walaupun pada saf pertama, sepertimana yang disebut dlm al-Minhaj al-Qawim, Mughni al-Muhtaj dan lain-lain.

          9. Disebut dalam I’anah at-Talibin oleh Syekh Abu Bakr Syata (w. 1310H):

          “Disunatkan jika ada berbagai-bagai peringkat makmum, hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, walaupun hamba sahaya, kemudian sesudahnya – jika telah penuh saf mereka – kanak-kanak, kemudian sesudah mereka– walaupun tidak penuh saf mereka – kaum perempuan”. Kata beliau lagi: “Apabila susunan tersebut disalahi, ianya makruh”.

          Rujuk juga perinciannya di dalam Tuhfah al-Muhtaj & al-Minhaj al-Qawim oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan laun-lain.

          10. Pandangan yang mengatakan kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan org dewasa dengan erti kata diselang selikan atau setiap kanak-kanak mesti berdiri di sebelah bapanya adalah pandangan yang janggal dan mengelirukan. Lebih parah lagi didakwa itu adalah sunnah dan selainnya adalah bidaah! Kita tidak tahu ada ulama-ulamak muktabar terdahulu yang mengeluarkan fatwa sedemikian.

          Wallahu a’lam.

          Sumber :

          https://www.facebook.com/…/a.558069754360…/600968816737095/…

          09/12/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          Salah satu syarat sah berjemaah ialah makmum tidak menyalahi imam pada sunat yang jadi buruk dan jahat apabila ia menyalahinya.

          Ada 4 perkara dalam bab ini.

          1. Sujud Tilawah. Tidak boleh sekali-kali menyalahi imam dalam sujud tilawah. Kalau imam sujud wajib sujud. Kalau imam tinggal, wajib juga tinggalkan.

          2. Sujud Sahwi. Dalam sujud sahwi, wajib mengikut imam jika imam buat. Tetapi jika imam meninggalkannya, boleh bagi makmum sujud sahwi selepas imam memberi salam.

          3. Tahiyyat awal. Wajib ikut imam jika imam tinggalkan tahiyyat awal. Tapi jika imam buat tahiyyat awal, boleh makmum terus bangun tunggu imam dalam qiam. Namum yang afdhal bagi makmum ketika mana imam meninggalkan tahiyyat awal, ia niat mufaraqah dan membaca tahiyyat awal kemudian ia teruskan solat sendiri.

          4. Qunut. Qunut adalah perkara yang paling ringan sekali. Boleh makmum tinggalkan qunut walaupun imam membacanya. Begitulah sebaliknya, boleh makmum membaca qunut walaupun imam meninggalkannya. Dengan syarat tidak terlalu panjang sehingga tertinggal daripada imam 2 rukun.

          Inilah antara empat perkara yang perlu difahami oleh orang yang ingin menunaikan solat berjamaah.

          Disediakan oleh:
          Panel Asatizah ARGKL Selangor

          06/12/2019 Posted by | Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

          *Qasidah dan Syair memuji Rasulullah SAW – Dibolehkan atau Dilarang?

          1- Kita sedia maklum bagaimana orang-orang Arab sejak zaman Jahiliyah lagi tak dapat dipisahkan dengan bentuk kesenian dan kesusasteraan mereka seperti Syair dan Qasidah. Ini jelas apabila kita mempelajari sejarah Arab bahkan dalam Sirah Nabawiyyah juga ada disebutkan tentang perkara ini.

          2- Malah di dalam Al-Quran sendiri berulang perkataan ‘Syair’ dan sebuah surah dinamakan dengan as-Syu’ara yang bermaksud ‘para penyair’. Bermula dari ayat 224 di dalam surah tersebut kita dapati Allah SWT menyebut bahawa terdapat penyair yang beriman dan beramal soleh dan ada juga penyair yang tidak beriman dan berdusta.

          3- Maka jelas bahawa terdapat perbezaan di antara penyair dan syairnya yang diterima oleh Islam dengan penyair dan syairnya yang tidak diiktiraf di dalam Islam.

          4- Kita dapati para sahabat bersyair dan melantunkan qasidah di hadapan Baginda SAW dan Baginda akan mendengar, terkadang tersenyum dan terkadang memuji syair yang baik. Manakala Baginda akan membetulkan kalau ada syair yang salah dan tidak tepat.

          5- Zaman berzaman juga kita dapati para ulama begitu kreatif dan hebat dalam mengarang syair-syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW. Ia bukanlah satu perkara yang pelik kerana syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW telah pun ada pada zaman Baginda SAW sendiri.

          6- Kitab-kitab Hadith dan Sirah sendiri mengumpulkan pelbagai syair pujian terhadap Baginda SAW dikarang dan dideklamasikan oleh para Sahabat seperti Sayyiduna Hassan Bin Thabit RA, Abdullah Bin Rawahah RA, Abu Bakr as-Siddiq RA, Umar Bin al-Khattab RA, Ka’ab Bin Malik RA, Ka’ab Bin Zuhair RA, al-Abbas Bin Abd. Muttolib dan lain-lain.

          7- Syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW ini dibacakan di hadapan Baginda SAW dan Baginda SAW tidak memarahi atau melarang. Bagaimanakah pula kita pada hari ni tidak suka atau melarang bacaannya?

          8- Oleh itu para ulama zaman berzaman mengambil contoh perbuatan para Sahabat RA dengan memuji Rasulullah SAW dalam bentuk syair dan qasidah. Syair dan qasidah ini dibukukan dan dibacakan malah disebarkan kepada masyarakat.

          9- Ada pihak yang kita dapati mempunyai ‘alahan’ dan tidak suka syair dan qasidah memuji Rasulullah SAW. Ada pula yang melarang dengan membawa dalil daripada sebuah Hadith Sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari RH:
          لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم
          Maksudnya:
          ‘Jangan berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

          10- Sedangkan maksud Hadith di atas adalah – jangan memuji Rasulullah SAW dengan pujian yang salah iaitu mengangkat Baginda sehingga mencapai tahap ketuhanan seperti yang kita lihat di dalam terjemahan Hadith di atas iaitu potongan ‘sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

          11- Seeloknya kita pelajari maksud syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW dan menghayati bagaimana para ulama memilih perkataan yang indah dan berirama untuk memuji manusia yang paling indah – Rasulullah SAW.

          Ustaz Adlan Abd Aziz
          Timbalan Pengerusi ISLAMI Kebangsaan

          Tirmidhi Centre

          03/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi juga mempertahankan Asya`irah sebagai salah satu dari kumpulan Ahlis Sunnah Wal Jamaah.

          Ulama terdahulu juga telah menjelaskan kedudukan Asya`irah sebagai Ahlis Sunnah.

          Imam Al-Zahabi di dalam kitabnya Siyar Al-A`lam berkata, “Abu Musa Al-Asy’ari berada di atas pegangan akidah Ahlis Sunnah Wal Jamaah.”

          Demikian juga pendapat ulama lain seperti Qadhi `Iyadh di dalam kitab Tartib Al-Madarik, Imam Ibn `Asakir dan Al-Subki. Mereka bahkan berpendapat imam Abu Hasan Al-Asy`ari termasuk dari kalangan Salaf dan imam Ahli Hadis.

          Golongan yang selesa dengan aliran Asya’irah pula tidak boleh menolak aliran Salaf (bukan salaf versi wahhabi) sebagai Ahlis Sunnah kerana mereka juga mengamalkan Islam berpandukan nas Al-Quran, Hadis dan fahaman para sahabat Nabi s.a.w. yang memang diakui semua sebagai sumber agama.

          Imam Ibn Al-Jauzi, seorang tokoh ulama beraliran Asya`irah menyebut di dalam kitabnya Talbis Iblis bahawa yang dinamakan sebagai Ahlis Sunnah itu adalah mereka yang mengikuti kebenaran dan ahli bid`ah pula yang mengikuti kesesatan. Selanjutnya beliau menukil kata-kata Ali Al-Madini yang mengakui golongan Ahli Hadis sebagai Ahlis Sunnah.

          salaf-khalaf Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, sebagai contoh, seorang yang mendukung dan berpegang dengan mazhab Asya`irah juga mengakui mazhab Salaf (Ori) sebagai Ahlis Sunnah dan berpegang bahawa pendapat mereka dalam soal ayat-ayat mutasyabihat lebih selamat.

          Seorang ulama Al-Azhar kontemporari bernama Muhammad bin Abdul Malik Al-Zughbi turut menjelaskan bahawa tiada masalah atau pertikaian antara umat Islam terdahulu di kurun-kurun yang pertama Islam mengenai sifat-sifat Allah.

          Tercetusnya masalah dalam lingkungan Ahli Sunnah pada awal kurun ketiga hijrah dan ia berkisar hanya pada perkara-perkara ijtihad dalam pentakwilan sifat-sifat Allah.

          Kesimpulan dasarnya di sisi semua ulama mengenai pegangan Ahlis Sunnah ialah fahaman yang kembali kepada sumber asal iaitu Al-Quran dan Sunnah serta amalan para sahabat dan tabi`in dan mereka juga tidak berselisih mengenai fakta bahawa akidah yang dipegang dan diamalkan umat Islam pada kurun pertama Islam adalah benar kerana bersumber pada Al-Quran dan Sunnah.

          Walaupun istilah Ahlis Sunnah belum digunapakai pada ketika itu, tetapi tiada khilaf dari kalangan ulama yang datang kemudian untuk menerima pendapat yang dipegang oleh mereka di zaman itu mengenai tidak mentakwil sifat-sifat Allah sebagai pendapat yang sah Ahlis Sunnah.

          Bahkan pendapat ini mendahului pendapat Asya`irah dalam Ahlis Sunnah seperti yang dinyatakan Oleh para ulama.

          Matlamat utama bagi semua adalah melahirkan anak-anak murid yang baik akhlaknya, cerdas pemikirannya dan bersikap profesional dalam menguruskan diri dan sekitaran apabila melangkah ke medan kehidupan.

          Para ulama Salaf dan Asya`irah dari dahulu hingga sekarang telah bersepakat mengenai tanzih (mensucikan Allah dari segala persamaan dengan makhluk dan segala sifat-sifat kekurangan).

          Malah terdapat banyak persamaan dalam persoalan akidah antara aliran Salaf dan Asya’irah, iaitu;

          A . kedua-dua pihak jelas mensucikan Allah taala daripada menyerupai makhluk.

          B . kedua-dua pihak meyakini bahawa maksud sebenar ayat mutasyabihat bukanlah maksud zahirnya yang menyerupai makhluk.

          C . kedua-dua pihak mengetahui lafaz yang digunakan dalam ayat-ayat itu adalah lafaz yang difahami oleh manusia dan dapat dirasai oleh pancaindera.

          Walaupun bahasa Arab luas, tetapi ia tidak merangkumi semua hakikat ilmu. Hakikat Allah s.w.t tidak mampu diterangkan oleh keterbatasan bahasa itu. Bahasa adalah sesuatu yang terhad kerana ia difahami dari sudut makna lafaz sahaja. Menentukan makna hanya dari sudut lafaz sahaja tidak memberi erti yang tepat.

          D . Kedua-dua sepakat pada keharusan takwil. Perselisihan hanya pada keperluan menentukan makna takwil yang diperlukan bagi menjaga akidah masyarakat umum daripada menyamakan Allah taala dengan makhluk.

          Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata, “Perselisihan seperti itu tidak perlu dirumitkan dan diperbesarkan.”

          Dalam isu menghuraikan maksud sifat Allah yang tertentu, ada yang membiarkannya tanpa takwilan apa-apa, iaitu menyerahkan maksudnya secara total kepada Allah.

          Mereka itulah golongan yang menuruti aliran Salaf.

          Ada pula yang mentakwil untuk memberi kefahaman betul kepada masyarakat awam tentang sifat Allah yang tidak sama dengan makhluk.

          Imam Ibn Kathir merupakan contoh terbaik dalam hal ini.
          Adakalanya beliau menggunakan kaedah takwil dan adakalanya tidak.

          Sebagai contoh, ketika mentafsirkan ayat istiwa’, beliau berkata, “Manusia mempunyai pelbagai pandangan tentang perkara ini.

          Saya (Ibn Kathir) mengikut pandangan Salaf dalam ayat ini, antaranya seperti Imam Malik, Al-Auza`i, Al-Thauri, Al-Laith bin Sa`ad, Al-Syafi`i, Ahmad, Ishak bin Rahawaih dan yang lain dari kalangan para imam dahulu dan sekarang.

          Mereka mengambil pandangan bagi membiarkan nas itu sebagaimana zahir,tanpa tafsir,tanpa terjemah dan tanpa membicarakannya,cukup dengan bacaan Qiraatnya tanpa disebut bagaimana dan tidak menyerupakan dengan sifat makhluk, serta tidak menafikan nas-nas itu.”

          Tetapi pada ayat-ayat sifat yang lain, beliau mengambil kaedah pentakwilan pada ayat-ayat mengenai sifat tangan.

          Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata bahawa kaedah takwil juga digunakan oleh golongan Salaf jikalau takwilan itu hampir kepada nas Al-Quran dan tidak terkeluar jauh dari maksud yang sebenar.

          Ini dilakukan oleh imam Ibn Kathir seperti contoh di atas dan juga imam Al-Baihaqi, Al-Nawawi, Ibn Hajar dan ramai lagi.

          Syeikh Muhammad Al-Hasan Al-Syinqiti, seorang alim dari Mauritania berkata,…

          “Harus berlaku kesilapan pada golongan Asya`irah, Maturidiah, Hanbali,.. dan mereka semua tidak boleh dikafirkan oleh kesilapan-kesilapan tersebut.”

          Walau apa pun, pelbagai bentuk tasawwur yang wujud di dunia Melayu seperti akidah ijtihad Ibn Taimiyah, Salafi Wahabi ataupun dinamika Afghani, Salafi Abduh, Haraki al-Banna, namun sikap kita harus waspada atas kepelbagaian tasawwur dan ittijah di atas.

          Rujukan:

          Yusuf Al-Qaradhawi. 2014. Merungkai pertelingkahan isu akidah antara salaf dan khalaf. PTS Islamika Sdn. Bhd. Selangor.
          DLL.

          Sumber: FB Zarief Shah Al HaQQy

          01/12/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          T A L F I Q

          Ada wahhabi yg kata apa yg kita buat sekarang ni pun dah tak pure mazhab syafie pun.Contohnya dalam masalah zakat kita dah tak ikut mazhab syafie.Boleh pulak?

          Jawabnya adalah seperti berikut:
          Ada dua puluh kaedah fiqh yg telah diijmakkan oleh kesemua mazhab .Salah satunya ialah kaedah yg berbunyi:
          المشقة تجلب التيسير
          Kesukaran dapat menarik kemudahan.
          Kaedah berasal dari firman Allah
          يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر
          Allah menghendakki kemudahan utk kamu dan Dia tidak menghendakki kesukaran utk kamu.

          Bagaimana kaedah ini dapat diterapkan dalam bab zakat.

          Berdasarkan kepada fatwa Imam Al Syafie zakat fitrah hendaklah dengan makanan yang mengenyangkan.Sebagai pengikut mazhab Syafie inilah asalnyanyg wajib.Tapi oleh kerana pada zaman sekarang ada kesukaran dalam melaksanakan fatwa itu maka ketika itu boleh berpindah kepada fatwa ulama yg paling hampir yaitu mengeluarkan zakat dengan matawang berdasarkan adanya kesukaran dan sesuai dengan kaedah tadi al masyaqqah tajlibu al taisir.Setiap kesukaran dapat menarik kemudahan.Adakah kita terleluar dari mazhab syafie?Jawab nya tidak dengan tiga alasan:
          1)Kita masih lagi menganggap fatwa imam Syafie itulah yg sahih dan kuat dan yang lain itu dhaif
          2)Satu satu nya alasan kita meninggalkan fatwa beliau dalam bab itu bukan kerana fatwanya dhaif tapi kerana dharurat dan hajat yg mendesak
          3)Perbuatan kita meninggalkan fatwa beliau dalam masalah kesukaran itu adalah berdasarkan kepada kaedah di atas yg telah ijmak oleh semua mazhab termasuk imam syafie sendiri.

          Jadi perbuatan kita itu tidak boleh dianggap talfiq.

          Yang dianggap talfiq apabila kita meninggalkan fatwa mazhab asal kita dengan menganggap fatwa mazhab asal kita itu lemah.Sedangkan dalam dua puluh kaedah fiqh seperti yg dibiincangkan dan diawpakati oleh ulama ulama usul dari semua mazhab tidak ada satu kaedah pun yg mengatakan ahlu taqlid boleh meninggalkan fatwa mazhab asalnya dengan alasan fatwa mazhab asalnya lemah.Macam mana dia boleh tahu fatwa mazhab asalnya adalah lemah sedangkan dia hanya seorang pentaqlid?Sebab itu agama jadi rosak.Paha bukan aurat laa..Pegang anjing tak najislah, daging buaya halal lah sebab setiap orang dengan sesuka hati nya mengkuatkan dan melemahkan pandangan yg mereka sukai sesuai hawa nafsu masing masing!

          Sumber: FB Ustaz Ilham Othmany

          29/11/2019 Posted by | Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          BUKTI KUKUH JENAYAH AKADEMIK; WAHHABI MENGUBAH ISI KANDUNGAN KITAB ULAMAK SALAF!

          Kaum Wahabi yang mendakwa dirinya Salafi dan menghalalkan segala cara untuk mempromosikan ajaran mereka termasuk dengan cara menghapus isi kandungan dari kitab para ulama salaf yang mengkritik mereka atau menyalahkan doktrin Wahhabi.

          Berikut daftar kitab yang dirubah, dihapus, disunting dan dipalsukan oleh kaum Wahhabi.

          1. Dalam kitab ad-Durar asSaniyyah, jilid 1, hal 228, diperintahkan untuk memusnahkan atau menghilangkan, sebahagian isi kandungan Kitab-Kitab karya Ulama, jika tidak sesuai dengan aqidah Wahabi.

          2. Kitab Riyadhus Sholihin, karya Imam Nawawi, memuat judul Doa Ziarah Kubur Nabi, dirubah menjadi Ziarah Masjid Nabi, kerana Wahabi Anti Ziarah Kubur.

          3. Perkataan Imam AsSubki, yang dinukilkan Imam Abul ‘Izz, dalam Syarah Aqidah Thohawiyah, dari kitab Mu’id An-Ni’am, hal 62, dirubah habis-habisan. Yang semula disebut Asy’ari sebagai isi Aqidah Thohawiyah, dihilangkan sama sekali. Yang semula disebut sebahagian Hanbali ikut tajsim dihilangkan juga.

          4. Kitab Aqidah AsSalaf Ashhabul Hadis, karya Syeikh Islam Abu Usman Ismail Ash-Shobuni, hal 6, aslinya tertulis Ziarah Kubur Nabi tapi diubah jadi Ziarah Masjid Nabi.

          5. Kitab Hasyiyah AsSowi ‘ala Tafsir al-Jalalain, karya Syeikh Ahmad bin Muhammad asSowi al-Maliki, hal 78, aslinya tertulis, bahwa wahabi adalah Jelmaan Khawarij, yang telah merusak penafsiran al-Qur’an dan asSunnah, dan suka membunuh kaum muslimin, tapi dihapus semuanya.

          6. Kitab Tafsir al-Kasysyaf, karya Imam az-Zamakhsyari, dalam tafsir Surat al-Qiyaamah, ayat 22-23, penafsiran si pengarang yang Mu’tazilah, diubah habis jadi penafsiran Wahabi.

          7. Kitab al-Ibanah, karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari, yang terang-terangan menolak TAJSIM dan TASYBIH, dirubah habis-habisan menjadi mendukung TAJSIM dan TASYBIH.

          8. Kitab al-Fawaid al-Muntakhobat, karya Ibnu Jami az-Zubairi, di hal 207 menyatakan, bahwa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah THOGHUT BESAR, tapi dihapus sama sekali.

          9. Semua cetakan kitab Diwan Imam Asy-Syafi’, di hal 47, ada bait berbunyi FAQIIHAN WA SHUFIYYAN FAKUN LAISA WAHIDAN, artinya Jadilah Ahli Fiqih dan Shufi sekaligus, jangan hanya salah satunya. Tapi dalam cetakan WAHABI, termasuk versi elektronik (e-book) dengan alamat http://www.almeshkat.net, bait tersebut dibuang karena Wahabi MUSUH SHUFI.

          10. Kitab Shahih Bukhari dipalsukan juga. Imam Ibnu Hajar al-Asqolani, dalam Fathul Bari, menjelaskan adanya Pasal al-Ma’rifah, dan Bab al-Mazholim dalam Shahih Bukhari, tapi dalam Shahih Bukhari, cetakan Wahabi saat ini, Pasal dan Bab itu hilang.

          11. Kitab Shahih Muslim dipalsukan juga. Hadits Fadhoil Maryam, Asiyah, Khadijah dan Fathimah, dihapus dari Shahih Muslim yang dicetak, padahal Mustadrok al-Hakim mencatat itu. Lucunya, Shahih Muslim, cetakan Masykul, jilid 7 hal 133, ada Bab Fadhoil Khadijah, tapi isinya tentang Fadhoil Maryam, Asiyah dan Aisyah.

          12. Wahabi mengaku cinta Imam Ahmad, tapi Kitab Musnad Imam Ahmad diperkosa juga. Dalam Musnad Imam Ahmad, aslinya ada Hadits tentang Rasulullah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor, serta mempersaudarakan dirinya dengan Ali. Tapi kini oleh Wahabi, Hadis tersebut dibuang, tidak ada dalam Musnad cetakan mereka.

          13. Kitab ash-Showa’iq al-Muhriqoh, karya Ibnu Hajar al-Haitami, tidak luput dari kejahatan Wahabi. Sejumlah Hadis tentang Ali dan Ahlul Bait Nabi, dipalsukan dengan dihapus sebagian dan diubah.

          14. Dalam kitab Hasyiah Ibnu ‘Abidin, yang bermadzhab Hanafi, ada PASAL KHUSUS tentang Wali, Abdal dan orang-orang Sholeh, serta Karomah. Tapi kini oleh Wahabi, satu pasal full DIMUSNAHKAN.

          15. Ucapan Syeikh as-Sakhawi tentang Imam al-A’la al-Bukhari yang menyatakan bahwa Sang Imam SANGAT TAKUT dekat dengan Penguasa, dirubah jadi SANGAT DEKAT dengan Penguasa.

          16. Kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, jilid ke-10, tentang ILMU SULUK dan TASHAWWUF, pernah cukup lama tidak diterbitkan oleh Wahabi. Baru setelah diprotes banyak pihak, akhirnya disisipin lagi jilid tersebut.

          17. Kitab Nihayatul Qoul al-Mufid, karya Syeikh Muhammad Makki Nashr al-Juraisi, yang menulis bahwa dirinya Madzhab Syafi’i dengan THORIQOH SYADZALI, tapi dibuang Thoriqohnya.

          18. Dalam kitab al-Mughni, karya Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali, ada BAB ISTIGHOTSAH, tapi dalam cetakan ulang Wahabi, dibuang sama sekali.

          19. Kitab Tarikh al-Ya’qubi, jilid 2 hal 37, aslinya menyebut “Nash” buat Ali di Ghadir Khum. Tapi dalam cetakan Wahabi, kata Nash dan Ghadir Khum dilenyapkan.

          20. As-Syeikh al-Muhaddits Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari, dalam kitabnya, al-Burhan al-Jaliy, mencatat PEMALSUAN WAHABI terhadap Kitab Ahwal al-Qubur, karya Ibnu Rajab al-Hanbali, dan Kitab Tafsir al-Bahr al-Muhith, karya Abu Hayyan, serta sebuah kitab lainnya yang berjudul Iqtidho Ash-Shiroth Al-Mustaqim.

          Sumber: FB Ustaz Abdul Jalil Ibn Umar

          27/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          SAMBUTAN MAULID NABI ADALAH MERAIKAN KEMATIAN NABI SALLALAHU ‘ALAIHI WASALLAM ? -DAKWA HUSSEIN YEE HUSSEIN YEE VS ULAMAK MUKTABAR ASWJ

          Dalam satu youtube kuliah Hussein Yee kononnya umat Islam seluruh dunia yang menyambut maulidul Rasul adalah meraikan kewafatan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam.

          Rujuk : https://youtu.be/sB8tZnsbKCg
          Minit : 0.18 hingga 0:22

          Jawapan untuk dakwaan Hussein Yee :

          1. Nama pun Maulid – kelahiran. Maka bila disebut Maulid Nabi ia adalah satu dari syiar Islam memperingati kelahiran junjungan besar Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan ramai ulamak muktabar yang membenarkannya serta umat Islam seluruh dunia menyambutnya. Ironinya dalam video minit 0:27 di atas saudara Hussein Yee lebih mendengar hinaan Yahudi dari jawapan dan pandangan Ulamak ISLAM.

          2. Mengenai tarikh kelahiran Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, sememangnya ada perbahasan dan umat Islam seluruh dunia mengambil tarikh 12 Rabi’ul Awwal sebagai tarikh kelahiran junjungan besar Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagaimana penjelasan dari Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan :

          Masyarakat mulai memperkatakan tentang tarikh sebenar Maulid Nabi dan sesetengahnya berkata bahawa tarikh 12 Rabiul Awwal yang disambut oleh majoriti umat Islam itu palsu malah tidak tepat.

          Adakah benar kenyataan itu?

          Mari kita lihat perbahasan dibawah ini.

          Hari Lahir Nabi

          Para Ulama’ dah ilmuwan bersepakat bahawa Rasulullah saw dilahirkan pada Hari Isnin sebagaimana dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

          Berkenaan Tahun Kelahiran Rasulullah saw pula telah dijelaskan dalam banyak hadis diantaranya:

          وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيْلِ. رواه البزار والطبراني في الكبير ورجاله موثقون (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد . محقق – ج 1 / ص 242)

          “Ibnu Abbas berkata: Rasulullah dilahirkan di tahun gajah” Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan At-Thobroni dan para perawinya adalah dipercayai.

          Dalam riwayat lain juga ditegaskan bahawa Qais bin Makhzamah memiliki persamaan tahun kelahiran dengan Rasulullah di tahun Gajah (Hadis Riwayat Imam Ahmad dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth)

          Tarikh Kelahiran Nabi

          Imam Nawawi berkata:

          وَاخْتَلَفُوا فِي يَوْم الْوِلَادَة هَلْ هُوَ ثَانِي الشَّهْر ، أَمْ ثَامِنه ، أَمْ عَاشِره ، أَمْ ثَانِي عَشَره ؟ (شرح النووي على مسلم – ج 8 / ص 66)

          “Ulama berbeza pendapat tentang hari kelahirannya, adakah hari 2 bulan Rabiul Awal, ke 8, ke 10 ataukah ke 12 ? (Syarah Sahih Muslim 8/66)

          Dalil-Dalil Yang Kuat Rasulullah saw Lahir Pada 12 Rabiul Awal

          – Hadis Riwayat Imam Baihaqi:

          عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ قَالَ : وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً مَضَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ قَالَ الْبَيْهَقِي رَحِمَهُ اللهُ : وَرَوَيْنَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ثُمَّ عَنْ قَيْسِ بْنِ مَخْزَمَةَ ثُمَّ عَنْ قبُاَثَ بْنِ أَشِيْمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ عَامَ الْفِيْلِ وَكَانَ الزُّهْرِي وَمَنْ تَابَعَهُ يَقُوْلُوْنَ وُلِدَ بَعْدَهُ وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ (شعب الإيمان – ج 2 / ص 134)

          Muhammad bin Ishaq berkata: “Rasulullah dilahirkan pada 12 malam bulan Rabiul Awal”. Al-Baihaqi berkata: “Kami meriwayatkan dari Ibnu Abbas kemudian dari Qais bin Makhzamah kemudian dari Qubats bin Asyim bahawa Nabi dilahirkan pada tahun Gajah. Al-Zuhri dan yang mengikutinya mengatakan bahawa dilahirkan sesudah tahun Gajah. Pendapat pertama lebih sahih (Hadis Riwayat Imam Baihaqi dalam Syuab al-Iman)

          – Riwayat Ibnu Abi Syaibah

          قَالَ أَبُوْ بَكْرِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ : حَدَّثَنَا عُثْمَانُ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ مَيْنَاءَ عَنْ جَابِرٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَا : وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيْلِ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ وَفِيْهِ بُعِثَ وَفِيْهِ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ وَفِيْهِ هَاجَرَ وَفِيْهِ مَاتَ فِيْهِ انْقِطَاعٌ وَقَدِ اخْتَارَهُ الْحَافِظُ عَبْدُ الْغَنِى بْنُ سُرُوْرٍ الْمَقْدِسِي فِي سِيْرَتِهِ (سيرة ابن كثير – ج 2 / ص 93)

          “Jabir dan Ibnu Abbas berkata: “Nabi dilahirkan pada tahun Gajah, hari Isnin 12 Rabiul Awal. Di hari Isnin beliau diangkat menjadi Nabi, melakukan Mi’raj ke langit, berhijrah ke Madinah dan hari Isnin beliau wafat”

          Sanadnya terputus dan dipilih oleh al-Hafiz Abd al-Ghani bin Surur al-Maqdisi dalam kitab sejarahnya” (Sirah Ibni Katsir, 2/93). Riwayat ini juga dapat dilihat dalam al-Bidayah wa Nihayah Ibnu Katsir.

          – Ahli Hadis al-Munawi

          (تنبيه) الْأَصَحُّ أَنَّهُ وُلِدَ بِمَكَّةَ بِالشُّعَبِ بِعِيْدِ فَجْرِ الْاِثْنَيْنِ ثَانِيَ عَشَرَ رَبِيْعَ الْأَوَّلِ عَامَ الْفِيْلِ (فيض القدير – ج 3 / ص 768)

          “Pendapat yang lebih sahih bahawa Nabi dilahirkan di Kabilah Quraisy pada fajar hari Isnin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah” (Faidh al-Qadir 3/768)

          – Syaikh Abdullah al-Faqih

          وَأَكْثَرُ أَهْلِ السِّيَرِ عَلَى أَنَّهُ وُلِدَ يَوْمَ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ عَامَ الْفِيْلِ، بَعْدَ الْحَادِثَةِ بِخَمْسِيْنَ يَوْماً (فتاوى الشبكة الإسلامية – ج 44 / ص 50)

          “Kebanyakan ahli sejarah bahawa Nabi dilahirkan pada 12 Rabiul Awal, tahun Gajah, setelah 50 hari dari peristiwa tersebut” (Fatawa al-Syabkah al-Islamiyah, 44/50)

          فَالْمَشْهُوْرُ فِي كُتُبِ السِّيْرَةِ النَّبَوِيَّةِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ فِي الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ عَامَ الْفِيْلِ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ (فتاوى الشبكة الإسلامية – ج 126 / ص 120)

          “Pendapat yang masyhur dalam kitab-kitab sejarah kenabian bahawa Nabi dilahirkan pada 12 Rabiul Awal, tahun Gajah” (Fatawa al-Syabkah al-Islamiyah, 126/120)

          Marilah semua umat Islam kita bersama-sama menyambut Sambutan Maulidur Rasul tanpa ragu-ragu atau bimbang dengan persoalan-persoalan yang sudah lama dibahaskan oleh para Ulama’ terdahulu dan semoga kita tergolong dalam golongan yang mencintai Rasulullah saw.

          3. Antara ulamak yang membenarkan Maulid Nabi :

          – Al-Imam Abul Khaththab Ibnu Dihyah (W 633 H) “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir
          – al-Imam Abu Syamah (W 665 H) guru kepada Imam an nawawi.
          – al Imam Ibnu Jauzi (ulamak hadis)- Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/27
          – al-Hafidz al-Iraqi (725-808 H), guru al-Hafidz Ibnu Hajar. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maurid al-Hani fi al-Maulid as-Sani “
          – alhafiz Ibnu Hajar al-Asqolani – Al-Hawi lil Fatawi : 229
          – al-Imam al-Hafidz as-Sayuthi (849-911 H). –
          Al-Hawi lil Fatawa, as-Suyuthi : 1/18
          – al-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami (W 975 H) – Al-Fatawa al-Hadtisiyyah : 202

          Semua ini adalah kibar ulamak yang pakar dalam hadis, aqidah dah feqh !

          4. Umat Islam di Negara China pun dah lama sambut Maulidul Rasul

          5. Wahai Hussein Yee – dakwah beribu masuk Islam bukan lesen untuk kamu berbohong dan menghasut untuk benci sambutan Maulidul Rasul. Di Malaysia, Yang Dipertuan Agong, seluruh negeri (kecuali Perlis) menyambut Maulidul Rasul. Kita hendak ikut Hussein Yee atau Ulamak Muktabar Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?

          Sumber

          24/11/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          Adakah Mati Kemalangan Jalan Raya Syahid?

          Mematuhi peraturan lalu lintas suatu ibadat

          ULAMA memberikan pelbagai pandangan mengenai orang yang terbunuh di jalan raya. Pada dasarnya ia bergantung kepada sebab berlakunya kejadian itu. Adakah ia disebabkan oleh kecuaian pemandu atau menjadi mangsa kecuaian orang lain. Di sini boleh dibahagikan masalah ini mengikut perspektif Islam.

          Pertama, terbunuh dalam kemalangan jalan raya disebabkan kecuaian sendiri seperti memandu laju melebihi had yang dibenarkan dan dalam keadaan yang membahayakan atau memandu dalam keadaan mabuk.

          Kebanyakan ulama berpendapat perbuatan demikian mengundang bahaya yang boleh dikategorikan sebagai mencampakkan diri ke arah kebinasaan sebagaimana firman Allah bermaksud: “Janganlah kamu korbankan dirimu dengan tanganmu ke arah kebinasaan.” (Surah al-Baqarah, ayat 195)

          Rasulullah bersabda seperti diriwayatkan Thabir Dhuhak, maksudnya: “Sesiapa yang membunuh diri sendiri dengan sesuatu benda, nescaya Allah azabkannya dalam neraka jahanam nanti dengan benda itu.”

          Mengikut Sahih Muslim, Abu Hurairah menceritakan bahawa Rasulullah bersabda bermaksud: “Sesiapa yang membunuh diri dengan besi, maka dengan besi itulah dia menikam dirinya dalam neraka jahanam selama-lamanya, sesiapa yang meminum racun sehingga mati nescaya dia akan meminum racun dalam neraka jahanam, sesia-pa yang terjun bukit dan mati, nescaya dia akan terjun di dalam neraka kekal selama-lamanya.”

          Berdasarkan keterangan ini menunjukkan bahawa orang yang terkorban di jalan raya disebabkan kecuaian dirinya ketika memandu adalah berdosa dan ada ulama yang menganggap orang yang mati sedemikian adalah boleh dihukum membunuh diri dan berdosa besar kepada Allah.

          Berpandukan hadis di atas, Rasulullah yang menyebut sesiapa membunuh diri dengan besi, Allah akan azabkannya di akhirat kelak dengan besi itu.

          Malah di Arab Saudi pernah dikeluarkan fatwa mengatakan bahawa orang yang terkorban dalam kemalangan jalan raya disebabkan kecuaiannya adalah dianggap membunuh diri dan berdosa besar.

          Oleh itu, pemerintah dan pihak berkuasa Arab Saudi mengingatkan remaja bahawa mereka akan masuk neraka sekiranya terkorban di jalan raya disebabkan kecuaian mereka sendiri ketika memandu kenderaan.

          Kedua, sekiranya seseorang pemandu yang cuai itu hanya cedera parah atau cedera ringan, sedangkan orang yang menjadi mangsa langgar, mati di dalam kemalangan itu adalah termasuk dalam hukum membunuh dan berdosa besar.

          Perkara ini dijelaskan Rasulullah dalam hadisnya: “Jauhilah kamu tujuh perkara yang membinasakan. Sahabat bertanya: Apa dia ya Rasulullah? Sabda Rasulullah: ialah syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan benar, memakan harta anak yatim, makan riba, lari dari medan peperangan dan menuduh perempuan yang baik dengan zina.”

          Kerana itu terbunuh di jalan raya akibat kecuaian orang lain seperti menjadi mangsa pemandu mabuk atau mangsa langgar lari, kebanyakan ulama mengklasifikasikan mati sedemikian adalah mati syahid dunia selain mati kerana wabak penyakit, mati terbakar, mati sakit dalam perut, mati lemas dan mati tertimbus.

          Ulama juga mengkiaskan bahawa mati terbunuh dalam kemalangan jalan raya, di kilang industri dan jatuh kapal terbang dan seumpamanya adalah termasuk dalam mati syahid.

          Perlu dijelaskan di sini bahawa mati syahid dunia akibat kemalangan jalan raya ini bukanlah merangsangkan lagi individu atau masyarakat untuk berkorban di jalan raya dengan harapan boleh masuk syurga dan terlepas daripada azab kubur dan azab neraka.

          Anggapan sebegini adalah salah kerana dimaksudkan mati syahid di sini ialah keadaan mati itu ngeri dan menderita sebelum menghembuskan nafas dan kerana itulah dinamakan syahid dunia, tetapi bukan syahid dunia dan akhirat seperti gugurnya pejuang Islam di medan perang untuk menegakkan kalimah Allah.

          Tetapi orang yang mati syahid dunia ini bergantung kepada amalan masing-masing ketika hidupnya iaitu adakah mereka beriman dan melakukan amalan soleh sepanjang hayatnya. Janji dan pembalasan Allah adalah bergantung kepada keimanan dan amalan seseorang.

          Jadi jelaslah bahawa keadaan mati seseorang itu bergantung ketika apa yang dilakukan ketika hidup sama ada baik atau sebaliknya. Oleh itu, sebagai seorang Islam hendaklah melaksanakan segala suruhan Allah dan menjauhi segala laranganNya.

          Di antara suruhan Allah ialah berdisiplin di jalan raya, mematuhi segala peraturan lalu lintas yang digubal khas untuk menjamin keselamatan pengguna jalan raya, menghormati dan bertolak ansur serta sentiasa ingat kepada Allah kerana memandu itu adalah ibadat.

          Setiap gerakan tangan, mata dan pemikiran kita mendapat pahala daripada Allah selama mana hati kita sentiasa ingat kepada Allah.
          Sumber

          Sumber

          14/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

          Hukum Sambut Maulidurrasul

          “ALLAH SWT berselawat ke atas Muhammad,” sering kita lafazkan sama ada dalam bentuk selawat mahupun qasidah yang mengandungi ucapan itu, sekali gus menunjukkan betapa agungnya cinta Allah SWT terhadap pesuruh-Nya itu.

          Martabat Rasulullah SAW di sisi Allah SWT amatlah tinggi sehingga Baginda digelar kekasih Allah tetapi sejauh mana kita menghayati dan menjiwai cinta terhadap Junjungan Nabi Muhammad SAW?

          Oleh itu, antara tanda dalam memuliakan Rasulullah SAW ialah menganjurkan Maulidur Rasul yang menjadi pengisian kerohanian amat baik kerana sekurang-kurangnya mampu mengingatkan setiap umat Islam supaya menjadikan Baginda sebagai panduan mengisi keperluan duniawi dan mengejar akhirat.

          Selain selawat dan puji-pujian ke atas Nabi Muhammad SAW, majlis Maulidur Rasul memberikan ilmu dan maklumat berguna kepada masyarakat apabila diisi dengan tausiyah atau ucapan oleh alim ulama serta pendakwah mengenai sirah dan sunnah termasuk doa untuk meraih keberkatan dan dilimpahi rahmat Allah SWT.

          Pendakwah bebas, Habib Nael Ben Taher, berkata tujuan utama menyambut Maulidur Rasul adalah menyemai dan menyuburkan rasa bersyukur kepada Allah SWT terhadap nikmat pengutusan Nabi Muhammad SAW kepada kita.

          “Jika ada pihak yang mengatakan sambutan Maulidur Rasul sekadar budaya, maka sesungguhnya ia sebaik-baik adat dan budaya. Sehingga saat ini, begitu banyak negara yang menyambut Maulidur Rasul sejak turun-temurun di seluruh dunia seperti Indonesia, India dan Mesir.

          “Tujuannya adalah untuk menggerakkan semangat dan menyemai cinta serta rindu yang sejati kepada Rasulullah SAW. Ini kerana jika kita sentiasa ingat kepada Rasulullah SAW, kemuliaan itu akan kembali kepada kita sendiri kerana Baginda sebenarnya sudah dimuliakan, dicintai dan dirindui Allah SWT,” katanya kepada Ibrah di sini.

          Beliau yang juga Pembimbing Majlis Rasulullah SAW Malaysia berkata, orang pertama menyambut Maulidur Rasul adalah Baginda sendiri. Ini kerana ada orang bertanya kepada Nabi SAW mengenai kelebihan puasa Isnin, Baginda bersabda: Hari Isnin adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutuskan menjadi rasul dan hari al-Quran diturunkan kepadaku.” (HR Muslim)

          “Menurut ulama, Rasulullah SAW yang mengikatkan hari kelahirannya sendiri dengan kesyukuran kepada Allah SWT, iaitu dengan melaksanakan ibadat puasa. Justeru kita perlu mengagungkan hari kelahirannya kerana Baginda sendiri bersyukur dan menyambut dengan ibadat yang mulia,” katanya.

          Habib Nael berkata, Imam Ibnu Kathir menerusi kitabnya Al-Bidayah Wa An-Nihayah menjelaskan antara sambutan terawal Maulidur Rasul dibuat oleh Raja al-Muzaffar yang menganjurkannya pada Rabiulawal dengan membuat perhimpunan secara besar-besaran.

          “Beliau membelanjakan sebanyak 300,000 dinar setiap tahun untuk menyambut Maulidur Rasul di Ibril yang terletak berdekatan Syam, bermula 604 Hijrah hingga dihadiri rakyat yang datang dari segenap tempat.

          “Raja al-Muzaffar dikatakan seorang alim, adil dan sanggup mengeluarkan hartanya dengan begitu banyak demi menyambut Maulidur Rasul kerana baginda mengetahui keagungan Nabi Muhammad SAW dan jasa terhadap umatnya yang kalau dikeluarkan seluruh harta dunia sekalipun tidak akan mampu membalas jasa itu,” katanya.

          Susulan itu, kata Habib Nael, Maulidur Rasul disambut pada setiap zaman dan kawasan sehingga ulama menulis dan menghasilkan pelbagai kitab Maulid yang terkemuka.

          Antaranya Maulid Ad-Daiba’i, Maulid Dhiya Ulami’ dan Maulid Simtut Durar yang mengandungi ayat al-Quran, hadis, sirah, syair dan doa munajat serta selawat kepada Rasulullah SAW.

          Mengulas tanggapan sesetengah pihak yang melabel majlis Maulidur Rasul menyimpang daripada syariat Islam. Habib Nael berkata, majlis sedemikian tidak terkeluar sama sekali daripada ajaran Rasulullah SAW.

          “Dalam majlis ini, ada bacaan al-Quran, hadis Nabi, zikir, berselawat, bacaan sirah Nabi dan tausiyah daripada ulama mengenai Rasulullah SAW serta peringatan selain berdoa.

          “Bukankah semua ini perkara mulia dianjurkan Rasulullah SAW. Selagi majlis itu tidak bercampur dengan perkara yang diharamkan dalam islam, maka ia dibolehkan serta mendapat pahala atas segala kebaikan yang kita lakukan seperti yang ditegaskan Imam Ibnu Hajar, Imam Suyuti dan Ibnu Taimiyyah.

          “Sekiranya majlis seumpama itu mengandungi perkara diharamkan, maka sudah tentu hukumnya adalah haram,” katanya.

          Bagi pencinta Rasulullah SAW, Habib Nael berkata, mengingati Maulidur Rasul adalah wajib berdasarkan firman Allah SWT yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi. Wahai orang beriman, berselawatlah kamu ke atas Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (Al-Ahzab:56).

          “Kita meyakini Nabi Muhammad diutuskan sebagai rahmat kepada seluruh alam seperti yang jelas dalam al-Quran, maka Allah SWT memerintahkan kita bergembira dengan rahmat-Nya. Orang yang gembira terhadap nikmat Allah akan mudah bersyukur kepada-Nya.

          Habib Nael berkata, Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan antara ubat penyakit ujub ialah gembira atas pemberian Allah SWT.

          “Jika kita gembira dan berkata, ‘Ya Allah, segala puji-pujian kepada-Mu kerana melalui Nabi Muhammad SAW, kami dapat membaca al-Quran, menunaikan solat dan mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri dan mencintai-Mu, sekali gus mempelajari bagaimana berakhlak mulia.’

          “Bukankah hal ini akan menambahkan kesyukuran kepada hati sehingga dapat mengubati penyakit hati seperti sombong dan berbangga dengan amalannya sendiri atau ujub itu,” katanya.

          Sementara itu, pendakwah, Amaluddin Mohd Napiah, berkata Maulidur Rasul bukan perayaan biasa sebaliknya sambutan majoriti kaum Muslimin di seluruh pelusuk dunia untuk menyatakan perasaan syukur kepada Allah dan melahirkan rasa gembira atas kelahiran serta keputeraan Nabi Muhammad SAW.

          “Malah di sesetengah negara, sambutan ini berlangsung dari awal hingga akhir Rabiulawal dalam rangka menghayati dan menghidupkan sunnah.

          “Tidaklah bermakna kita tidak mencintai Nabi Muhammad SAW pada bulan lain kerana setiap masa kita dituntut agama untuk berbuat demikian tetapi kemuliaan Rabiulawal yang dinisbahkan kepada kelahiran Rasulullah SAW ditunggu-tunggu dan membawa cahaya, sekali gus umat Islam menzahirkan rasa syukur tidak terhingga kepada Allah SWT,” katanya.

          Mengulas lanjut katanya, kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut-sebut jauh lebih awal daripada kelahiran Baginda yang termaktub dalam dalam kitab terdahulu seperti Injil dan Taurat bahawa akan ada penutup nabi yang lahir dengan pelbagai ciri serta petanda.

          “Jadi, kelahiran Nabi Muhammad menjadi berita gembira yang ditunggu oleh kaum yang masih beriman di antara masa jahiliyah yang menimpa, malah Baginda seolah menjadi cahaya terang-benderang dalam kegelapan pada era jahiliyah.

          “Imam Ahmad RA meriwayatkan hadis dari al-Irbadh ibnu Sariyah as-Sulami, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Aku berada di sisi Allah dalam Ummul Kitab, penutup Nabi dan Adam masih dalam bentuk tanah serta aku akan menjelaskan takwilnya kepada kalian: “Aku adalah doanya ayahku Ibrahim, berita gembira Isa kepada kaumnya, mimpi ibuku yang melihat cahaya keluar darinya menerangi istana Syam, demikian juga ibu sekalian Nabi melihat peristiwa yang sama.” (HR al-Hakim)

          Amaluddin berkata, antara hujah ulama mengharuskan majlis Maulidur Rasul ialah kenyataan dikeluarkan mantan Mufti Mesir, Syeikh Muhammad Bakhit al-Muti’i.

          “Beliau berkata, setiap apa yang dijadikan ketaatan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang tidak ditentukan syariat (Allah) waktu dan tempat tertentu maka boleh bagi setiap mukallaf untuk melakukannya.

          “Begitu juga setiap yang tidak termasuk dalam larangan umum atau khusus daripada syariat, maka hukumnya adalah harus. Apa yang selainnya (yakni ada larangan) adalah bidaah yang haram atau makruh. Maka wajib untuk menghindarinya dan menghalangnya,.

          Bahkan, ilmuwan Islam, bekas Sheikh al-Azhar, Sheikh Abdul Halim Mahmud memetik hadis Rasulullah SAW yang bersabda: “Sesiapa yang melakukan sunnah yang baik, maka dia mendapat pahalanya dan pahala orang yang beramal dengannya. Sesiapa yang melakukan sunnah yang buruk, maka dia menanggung dosanya dan dosa sesiapa yang beramal dengannya.” (HR Muslim)

          Menurut Sheikh Abdul Halim, peninggalan salafussoleh (generasi tiga abad pertama dalam Islam) bagi amalan soleh ini selagi tidak bertentangan dengan syariat, apatah lagi ia membabitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang mulia.

          Sumber: BH Online

          Jumaat 16 Nov 2018.

          09/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Mengapa Liberal Menyokong Pesalah Gay?

          1. Ada dikalangan pendokong Liberal yang sanggup memberikan sokongan kepada golongan Gay yang didapati bersalah kerana cuba melakukan persetubuhan diluar tabii. Malah apa yang lebih menyedihkan, ada dikalangan pesalah Gay ini (yang cuba melakukan persetubahan diluar tabii) sudah pun berkahwin.

          2. Di sini barulah kita faham mengapa Rasulullah benar-benar bertegas dalam menangani isu kemungkaran peribadi, ia bukan sahaja merosakkan individu bahkan meruntuhkan institusi kekeluargaan.

          3. Jangan pula ada dikalangan kita yang terkeliru memahami konsep Rahmatan lil Alamin sehingga membenarkan kemungkaran peribadi dengan istilah kosmetik seperti personal sphere dan public sphere. Perkara keemungkaran harus ditangani secara menyeluruh.

          4. Dengan sebab itu al-Quran bertegas melarang kemungkaran ini bahkan Allah menyifatkan perbuatan hubungan sejenis mereka sebagai perbuatan yang keji (fahishah) dan melampau (musrifun). Firman Allah:

          وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ . إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

          “Ingatlah ketika Nabi Lut berkata kepada kaumnya: “Patutkah kamu melakukan perbuatan yang keji, yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun dari sebelum kamu? “Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk memuaskan nafsu syahwat kamu dengan meninggalkan perempuan, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”

          5. Maka tidak hairanlah juga apabila Rasulullah turut bersikap keras dalam perkara ini dengan melaknat mereka yang melakukan perlakuan Gay ini. Sabda Rasulullah:

          لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، ثَلاثًا

          “Allah melaknat mereka yang melakukan amalan kaum Nabi Lut. Rasulullah mengulangi laknat ini sebanyak tiga kali.”. (HR Ahmad, dinilai Hasan oleh al-Arna’ut)

          6. Atas dasar dalil al-Quran dan hadith di atas, para sahabat turut mengenakan hukuman yang keras terhadap pelaku liwat. Malah, al-Imam al-Syafie menjelaskan bahawa pelaku liwat boleh dihukum rejam. Kata al-Syafie:

          قال الشافعي : وبهذا نأخذ برجم اللوطي محصناً كان أو غير محصن

          “Kata al-Imam al-Syafie: dengan ini kami berpandangan bahawa pelaku liwat hendaklah direjam samada sudah berkahwin atau belum.” (al-Shaukani, Nail al-Autar)

          7. Andai sekiranya Allah menyifatkan pelaku Gay ini sebagai melakukan dosa besar, Rasulullah melaknat golongan ini, para sahabat turut mengenakan hukuman yang keras dan begitu juga al-Imam al-Syafie, tergamakkah kita bersikap dengan sikap yang bercanggah dengan Allah dan Rasul sehingga sanggup kita menyokong golongan Gay ini?

          Semoga Allah memberikan hidayah buat kita semua. Semoga Allah menyelamatkan kita dari kecelaruan pemikiran Liberal yang merosakkan ajaran Islam. Semoga Allah membimbing kita.

          Olih: Dr. Ahmad Sanusi Azmi
          https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

          08/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

          SAAT DIRIMU BELUM MAMPU KE TANAH HARAM

          Ibn Rajab al-Hambali rahimahullah berkata:

          من لم يستطع الوقوف بعرفة. فليقف عند حدود الله الذي عرفه.

          Barangsiapa yang tidak mampu melakukan Wukuf di ‘Arafah, hendaklah dia Wuquf (berhenti) daripada batasan-batasan Syariat Allah yang telah diketahuinya.

          ومن لم يستطع المبيت بمزدلفة. فليبت على طاعة الله ليقربه ويزلفه.

          Dan barangsiapa yang tidak mampu Mabit (bermalam) di Muzdalifah, hendaklah dia Mabit di atas ketaatan kepada Allah mendekatkan diri kepada-Nya.

          ومن لم يقدر على ذبح هديه بمنى. فليذبح هواه ليبلغ به الُمنى.

          Dan barangsiapa yang tidak berkeupayaan menyembelih binatang Hadyinya di Mina, hendaklah dia menyembelih/ mengorbankan Hawa Nafsunya bagi meraih harapan yang diidamkan.

          ومن لم يستطع الوصول للبيت لأنه بعيد. فليقصد رب البيت فإنه أقرب إليه من حبل الوريد.

          Dan barangsiapa yang tidak mampu sampai ke Baitul Haram kerana jauh, hendaklah dia menuju (sentiasa mengingati) akan Rab Baitul Haram kerana Dia lebih dekat daripada tali urat lehernya.

          Sumber:

          Lataif al-Ma’arif fima li Mawasim al-‘Am min al-Wazaif.

          Koleksi Q&A Ustaz Alyasak
          https://t.me/Q_A_Us_Alyasak_channel

          07/11/2019 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Perjalanan dari Makkah ke TAIF, apakah ia WAJIB Tawaf Wada’?

          As Salam.

          Mhn jasa baik Ust, sekiranya berkelapangan… utk memberi pencerahan mengenai perjalanan dr Makkah ke TAIF,
          apakah ia WAJIB Tawaf Wada’?

          Jawapan kami;

          Melaksanakan tawaf Wada’ bagi individu yang ingin meninggalkan Bait al-Haram ke suatu tempat yang jaraknya melebihi dua marhalah hukumnya adalah wajib mengikut pendapat yang muktamad.

          Ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas radhiallahu anhuma, Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam bersabda:

          لاَ يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ

          “Tidaklah seorang daripada kamu yang ingin berangkat pulang sehingga mengakhirkannya dengan melakukan tawaf.”(Riwayat Muslim).

          Diriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas radhiallahu anhuma:

          أَمْرَ النَّاسَ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ إِلَّا أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْمَرْأَةِ الْحَائِضِ

          “Manusia diarahkan (oleh Nabi sollallahu alaihi wa sallam) untuk melakukan tawaf wada’ kecuali keringanan diberikan kepada wanita yang haid daripada melakukannya).”(Riwayat Muslim).

          Disebutkan oleh Imam al-Nawawi:

          وَإِذَا أَرَادَ الخُرُوجَ مِنْ مَكَّةَ طَافَ لِلْوَدَاعِ، وَلَا يَمْكُثُ بَعْدَهُ، وَهُوَ وَاجِبٌ يُجْبَرُ تَرْكُهُ بِدَمٍ، وَفِي قَوْلٍ: سُنَّةٌ لَا يُجْبَرُ، فَإِنْ أَوْجَبْنَاهُ، فَخَرَجَ بِلَا وَدَاعٍ فَعَادَ قَبْلَ مَسَافَةِ الْقَصْرِ سَقَطَ الدَّمُ، أَوْ بَعْدَهَا فَلَا عَلَى الصَّحِيحِ.

          “Apabila seseorang ingin keluar dari Mekah, maka hendaklah dia tawaf Wada’ dan dia tidak boleh duduk menetap lagi selepasnya. Tawaf Wada’ adalah perkara wajib yang perlu ditampung dengan dam jika meninggalkannya.

          Menurut satu pendapat, ia adalah sunat dan tidak perlu ditampung dengan dam jika meninggalkannya.

          Justeru, jika kita berpendapat tawaf Wada sebagai wajib, maka jika dia keluar dari Mekah tanpa tawaf Wada’ dan kembali sebelum melepasi jarak perjalanan qasar (dua marhalah), dam itu gugur atau selepas melepasi jarak tersebut, maka dam itu tidak gugur mengikut pendapat yang sahih.”

          Sehubungan dengan itu, menurut Keputusan Resolusi Muzakarah Haji Peringkat Kebangsaan kali ke-35 Musim Haji 1439H 9 bertarikh 11 November 2018, tawaf Wada’ hendaklah dilakukan jika jemaah haji atau umrah pergi ke Taif melalui mana-mana laluan yang melebihi dua marhalah.
          اليسع
          Wallahu a’lam.

          Rujukan

          – Al-Idhah
          – Al-Majmuk
          – Tuhfah al-Muhtaj
          – Nihayah al-Muhtaj
          – Mughni al-Muhtaj
          – Hasyiah I’anah al-Talibin
          – Kasyf al-Litham

          Koleksi Q&A Ustaz Alyasak
          https://t.me/Q_A_Us_Alyasak_channel

          07/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | 2 Comments

          Golongan Asatiza Wahabi gemar melemahkan semangat orang mengamalkan agama-Pengakuan bekas wahabi

          Dulu ketika ikut kelas Kitab Riyadhus Solehin yang diajar oleh ust yang Pro Wahabi.. , *Ketika membicarakan hadis kelebihan zikir berjemaah*, *ustaz pro wahabi gemar hurai dgn bab menghukum shj* yakni dengan membidaahkan amalan zikir berjemaah, mendakwa mengerakan badan ketika zikir itu sesat, guna tasbih ketika zikir itu bidaah sesat, lafaz zikir bukan dari hadis tu bidaah sesat, zikir tarekat itu sesat, selawat syifa, selawat tafrijah itu syirik dll yang seumpamanya.. *Semuanya berkisar sesat, syirik dan bidaah*.. Itu pelajaran yang diperolehi.. *Keluar dari majlis dari mereka tidak menambahkan rasa cinta utk berzikir kepada Allah, baik dlm keadaan seorang diri atau berjemaah, tidak menambah jazbah utk berzikir*, tidak menambah sifat ihtisab yakni mengharapkan janji Allah ketika berzikir.. *Keluar dari majlis mereka( walaupun hadis bercerita ttg kelebihan berzikir) tapi melahirkan penuntut ilmu yang memakai kacamata yang menghukum, memandang rendah pada orang lain, menambahkan kesombongan* dengan ilmu mereka,dan yang paling sedih akan melemahkan semangat untuk berzikir.. Allahu.. Manhaj mereka sungguh berbeza, dari jalan para salafussoleh..

          Sumber: Ibnu Endot

          ##Perkongsian dari teman yang bekas pengikut manhaj Wahabi..

          03/11/2019 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          HUKUM TASYBIK

          SOALAN :

          Apakah hukumnya seorang melakukan perbuatan menggenggam kedua jari tanganya bersama kerana ada yang mengatakan perbuatan tersebut adalah haram?

          JAWAPAN :

          Perbuatan yang maksudkan ialah tasybik.Tasybik ialah seorang itu menggengam kedua tangannya dengan cara menyilangkan antara jari tangan kanannya dengan jari tangan kirinya.

          Hukum melakukan tasybik ini makruh bagi orang yang mahu mengerjakan solat atau sedang menunggu untuk mengerjakan solat atau pun di dalam solat.

          Ini berdasarkan sebuah hadith yang diriwayatkan daripada Ka’ab bin Ujrah r.a. Rasulullah saw bersabda :

          إذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ، ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إلَى المَسْجِدِ؛ فَلاَ يُشَبِّكَنَّ بَيْنَ أَصَابِعِهِ؛ فَإنَّهُ فِي صَلاَةٍ

          Artinya : “Apabila berwuduk seorang kamu maka hendaklah dia elokkan wuduknya kemudian keluar ia kepada tempat solat maka jangan ia tasybik antara jari-jarinya kerana dia ketika itu sepetti di dalam solat.” Hadith riwayat Abu Daud & Tirmizi.

          Ada pun jika selesai dari solat atau bukan hendak mengerjakan solat maka tidak dimakruhkan perbuatan tasybik ini kerana Nabi saw melakukannya.

          Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a. katanya :

          شَبَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَابِعَهُ

          Artinya : “Telah bertasybik olih Nabi saw akan segala jari jemarinya.” Hadith riwayat Imam Bukhari.

          Dan diriwayatkan dari Abu Musa Al-As’ary r.a. katanya Nabi saw bersabda :

          إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

          Artinya : “Sungguhnya orang-orang beriman itu seperti satu binaan yang saling menguatkan antara satu sama lain lalu baginda tasybik akan segala jari jemarinya.” Hadith riwayat Imam Bukhari.

          Berkata Syeikh Ibnu Hajar Al-Haithami :

          وَإِنَّمَا يُكْرَهُ لِمَنْ بِالْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ

          Artinya : “Dan hanyalah dimakruhkan tasybik itu bagi orang yang berada dalam masjid menunggu untuk solat.” Kitab Minhajul Qawwim.

          Berkata Dr Wahbah Zuhaili dalam kitab Al-Fiqh Al-Islami sebab dimakruhkan tasybik dalam solat atau ketika menunggu solat kerana ia termasuk bermain-main yang menghalang kusyuk.

          Wallahua’lam

          Ustaz Azhar Idrus

          30/10/2019 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | Leave a comment

          Setahun jagung sahaja dalam bidang ilmu hadis – tetapi memandai mandai mencari kesalahan Imam 4 mazhab ini….

          Berkata Maulana Hussein Abd Kadir Yusufi :

          “Maulana Zakariyya mengajar hadis sewaktu umur 20 tahun sampai umurnya 80 tahun. Katanya, makin lama saya belajar hadis, semakin lama saya mengajar hadis, semakin banyak saya jumpa dalil-dalil Imam 4 Mazhab yang bertepatan dengan Al-Quran dan Sunnah. Makin lama belajar dan mengajar semakin jelas nampak kebenaran Imam 4 Mazhab.”

          “Sebaliknya, setengah kita sekarang ini belajar hadis hanya beberapa tahun saja – Setahun jagung sahaja dalam bidang ilmu hadis – Setengahnya bahasa arab pun lintang pukang lagi tetapi sudah pandai mencari kesalahan Imam 4 mazhab ini….

          Begitulah, dewasa ini ramai mereka yang gemar memaudhu’kan hadith-hadith Hasan dan hadith-hadith dhaif yang sudah naik ke darjat Hasan lighairih yang layak beramal dengannya dan boleh berhujah dalam hukum-hakam.

          Kesemua ini berlaku berpunca daripada kesempitan ilmu hadith dan mereka mengambil penentuan kedudukan hadith sebagai maudhu’ hanya daripada individu muhaddith tertentu sahaja yang terlalu keras dalam menentukan hadith sebagai maudhu’ dan tidak mengambil kira penentuan darjat hadith oleh muhaddithin yagn mempunyai sikap yang sederhana dalam cara menentukan hadith maudhu’.

          Ekoran daripada itu;

          1. Banyak hadith yang layak beramal dan berhujah dengannya disingkir dan seterusnya amalan-amalan yang disahkan dapat beramal dengannya berdasarkan kebanyakan hadith-hadith hasan dan hadith-hadith Hasan lighairih dianggap bid’ah dhalalah lagi sesat dan dihukum masuk neraka.

          2. Menyebar luas fitnah-fitnah dan menyalahkan para fuqaha mujtahid ini yang mengeluarkan hukum-hakam daripada hadith-hadith yang mana mereka sahaja yang menganggapnya sebagai hadith maudhu’…

          Tidak mendalami ilmu hadith berlagak seolah olah sebagai mujtahid. Mereka sendiri pun tidak mampu menentukan kedudukan sesebuah hadith sebagai sahih, hasan, dhaif dan maudhu’ tapi terpaksa bergantung kepada Albani, Ibn Taimiyah dan Ibn Al-Jauzi.

          Mereka enggan mengikuti ijtihad mana-mana imam dengan melaungkan slogan ingin mengikut Al-Quran dan As-Sunnah.

          Siapakah mujtahid yang sebenar ?..Imam empat mazhabkah atau anda?..

          Inilah kelompok spesis Wahabi, Pseudo-Salafi, Aalla Mazhabiyah dan anti-mazhab.. Menggunakan sangkaan dan fikiran mereka sendiri yang bukan saja menyesatkan diri sendiri, bahkan memecah belahkan dan mengelirukan seluruh masyarakat/ummah..

          Allahul Musta’an..

          IBNU ALI EL AZHARI..

          26/10/2019 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Hadis, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

          MENJAWAB DAKWAAN ‘ DR AHMAD JAILANI ABDUL GHANI ‘ BAHAWA SAMBUTAN MAULID NABI DARI SYIAH.

          Bacaan Fatwa Imam al-Hafiz Al-Sayuti berkaitan dengan hukum Maulid Nabi.

          Syekh al-Suyuthi pernah ditanya berkaitan dengan hukum perayaan maulid Nabi Muhammad . Dalam kitabnya Al-Hawi lil Fatawa, beliau menjawab:

          عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبارالواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات، ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف

          Maksudnya:
          “Menurut saya, hukum pelaksanaan maulid Nabi, yang mana pada hari itu masyarakat berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan membaca kisah Nabi pada permulaan perintah Nabi serta peristiwa yang terjadi pada saat baginda dilahirkan, kemudian mereka menikmati hidangan yang disajikan dan kembali pulang ke rumah masing-masing tanpa ada tambahan lainnya, adalah bid’ah hasanah. Diberi pahala pada orang yang memperingatinya kerana bertujuan untuk mengangungkan Nabi serta menunjukkan kebahagiaan atas kelahiran Baginda.”
          -Tamat-

          Dgr dulu dan tonton rakaman ini.

          Boleh juga tonton di youtube ini:
          https://youtu.be/lityL5AuBf8

          Atau tonton di link Fb ini:
          https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=401605574006791&id=100024720556788

          Semoga Allah Melindungi Umat Islam dan mengekalkan dlm akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah.

          Akidah Islam:
          ALLAH WUJUD TANPA TEMPAT.

          -ADMIN-

          Facebook:
          Ahmad Faidzurrahim
          Ustaz Ahmad Faidzurrahim

          Telegram:
          https://t.me/joinchat/AAAAAE5W_012M87ttPndBg

          Instagram:
          kuliah_ustaz_faidzurrahim

          SEBARKAN!!!

          Sebarkan & Viralkan!

          22/10/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , , | 1 Comment

          PUNCA KEBANYAKAN PELAJAR MADINAH MEMBID’AHKAN AMALAN SYAFI’EYAH

          Umumnya, mereka yang belajar di Madinah banyak yang belum menguasai Fiqh Mazhab Syafi’e sebelum melanjutkan pelajaran mereka di Madinah. Mengaji sekadar untuk exam di peringkat SPM juga menjadi punca kurang mahirnya pelajar mengenai selok belok mazhab Syafi’e dan ushulnya.

          Setelah tiba di Madinah, mereka didedahkan dengan pengajian Fiqh Muqaran (perbandingan) menggunakan kitab Bidayatul Mujtahid Ibnu Rusyd Al Hafid. Jika tidak pun, akan menggunakan nota yang dirujuk daripada kitab tersebut. Maka apabila menggunakan kitab ini, ruang tarjih terbuka luas. Sedangkan pelajar belum lagi mempunyai kelayakan sebagai mujtahid untuk mentarjih.

          Di samping itu, pengajian talaqqi di sekitar Madinah juga menggunakan kitab hanabilah seperti Zaadul Mustaqnik dan Al Muqnik. Dalam kitab-kitab tersebut dihuraikan adillah dan istidlal mazhab hambali. Maka dengan ini, mekarlah mazhab hambali dalam amalan pelajar tersebut.

          Oleh itu, tidak hairanlah kenapa apabila pulang ke Malaysia, kebanyakannya membawa amalan acah-acah hanabilah. Mereka menyangka yang paling tepati sunnah itu ialah amalan hanabilah. Bismillah dibaca sirr (perlahan), tidak berqunut subuh. Walhal mereka belum lagi meneguk adillah dan istidlal syafi’eyah.

          Diadun pula dengan sikap ekstrim apabila sering berzikir dengan kalimah kufur dan bid’ah. Jadinya mudah terkeluar kalimat-kalimat tersebut apabila mereka dapati amalan masyarakat tidak sama dengan apa yang mereka tahu.

          Dikukuhkan lagi dengan pengajian ushul fiqh yang menggunakan kitab Raudhatun Nazir oleh Ibnu Qudamah Al Hambali bagi pelajar fakulti Syariah dan Ushul Fiqh oleh Syeikh Ibnu Uthaimeen. Maka ushul yang ditelaah ialah ushul hanabilah.

          Jarang sekali melihat atau kedengaran mereka bertalaqqi fiqh mazhab Syafi’e atau ushul Syafi’e kecuali mereka yang benar-benar ingin mendalami ilmunya sahaja.

          Justeru, demikianlah semoga sedikit sebanyak menerangkan kekeliruan. Tujuan saya menulis perkara ini bukan untuk meremehkan, tetapi untuk membuka mata agar kita hormati pandangan para Imam mazhab dan pengikutnya. Sedangkan An-Nawawi pun bermazhab, apatah lagi kita.

          Ust Ustaz Nasir Al-Bakri….

          Sumber: FB Bull DO Zer

           

          10/10/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Tata Cara Tahnik

          Hikmah Tahnik :
          Perbuatan tahnik adalah untuk mengharapkan kebaikan bagi si anak dengan keimanan, karena kurma adalah buah dari pohon yang diumpamakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan seorang mukmin dan juga karena manisnya. Lebih-lebih bila yang mentahnik itu seorang yang memiliki keutamaan, ulama dan orang shalih, karena ia
          memasukkan air ludahnya ke dalam kerongkongan bayi. Tidaklah engkau lihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mentahnik Abdullah bin Az-Zubair, dengan barakah air ludah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abdullah telah menghimpun keutamaan dan kesempurnaan yang tidak dapat digambarkan. Dia seorang pembaca Al-Qur’an, orang yang menjaga kemuliaan diri dalam Islam dan terdepan dalam kebaikan. [Umdatul Qari bi Syarhi Shahih Al-Bukhari (21/84) oleh Al-Aini dengan sedikit olahan semula]

          Pedoman Hukum dari Hadis Tahnik :

          Pertama: Para ulama sepakat tentang sunnahnya mentahnik bayi yang baru lahir dengan kurma dan ia sunat dilakukan di hari pertama.

          Kedua: Jika tidak ada kurma untuk mentahnik, maka boleh digantikan dengan sesuatu yang manis seperti madu.

          Ketiga: Cara tahnik adalah orang yang mentahnik mengunyah kurma sehingga lumat dan mudah ditelan, lalu dia membuka mulut si bayi dan menyuap sedikit kunyahan kurma itu menggunakan jari telunjuknya ke langit-langit mulut bayi itu dengan cara mengerak-gerakkan jari ke kanan dan kekiri sehingga bayi itu mengisap dan menelan cairan kurma tersebut.

          Keempat: Hendaklah yang melakukan tahnik adalah orang sholih sehingga boleh diminta do’a keberkatannya. Jika orang sholih tersebut tidak hadir, maka hendaklah bayi tersebut yang dibawa menemui orangnya.

          Kelima : sebahagian ulama menyatakan urutan keutamaan makanan yang dijadikan bahan untuk mentahnik ialah: tamar (kurma kering); barulah rutob (kurma basah); barulah makanan manis seperti madu; dan setelah itu adalah makanan yang tidak disentuh api.

          P/S : meludah ke mulut bayi hanya khususiyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Manakala selain Baginda maka tidak boleh bertabarruk dengan air ludahnya. Oleh itu dianjurkan juga bertabarruk dengan air zam zam yang ada keberkatannya tersendiri.

          Doa dan amalan para solihin semasa mentahnik bayi :

          Sebahagian dari amalan dan doa yang ana terima dari guru-guru ana antaranya tuan guru haji Yahya Junait, Syekh Zakaria Awang Besar, dan Tuan guru Haji Soleh Penanti :

          Bacaan sebelum berdoa :
          Sesudah ditahnikkan adalah baik dibaca terlebih dahulu bacaan di bawah ini mudah – mudahan menjadi anak yang soleh atau solehah, terpelihara dari gangguan syaitan dan sihat tubuh badan. insya Allah :

          1.Surah yusuf ayat 64 :
          فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
          Allah jualah penjaga Yang sebaik-baiknya, dan Dia lah jua Yang Maha Mengasihani dari sesiapa sahaja Yang menaruh belas kasihan”.

          2.Surah al-Buruj ayat 20-21 :
          وَاللَّهُ مِنْ وَرَائِهِمْ مُحِيطٌ , بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَّجِيدٌ , فِى لَوْحٍ مَحْفُوظٍ
          Ayat 20. sedang Allah, dari belakang mereka, melingkungi mereka (dengan kekuasaanNya)!

          Ayat 21. (Sebenarnya apa Yang Engkau sampaikan kepada mereka bukanlah syair atau sihir), bahkan ialah Al-Quran Yang tertinggi kemuliaannya;

          Ayat 22. (lagi Yang terpelihara Dengan sebaik-baiknya) pada Lauh Mahfuz.

          3.Surah al-Hijr ayat 17 :
          وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ

          4- surah al- Ikhlas ,
          5- surah al-alaq ,
          6- surah an-Nas,
          7- bacaan :
          أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِن كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ وَمِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ
          Aku mohon perlindungan dengan kalimat-kalimat allah yang sempurna dari kejahatan panahan mata dengki dan syaitan serta setiap kemudaratan.

          8- Bacaan :
          حَصَنْتُهُ بِالْحَيِّ الْقَيُّمِ وَدَفَعْتُ عَنكَ بِأَلْفِ أَلْفِ لاَحَوْلَ وَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
          Aku serahkan jagaan dirimu ( anak ) kepada tuhan Yang Maha Hidup dan Yang Maha Berkuasa,
          Aku pertahankan dirimu ( anak ) dengan sejuta ucapan la haula wala Quwwata illa Billlahil aliyyi al-adhim..

          9- surah al-Qadr ,

          10- Surah al-Ikhlas ,

          11- Bacaan doa :
          اللَّهُمَّ أَنْشَأَهُ نَشْأَةً صَالِحَةً وَأَحْيِهِ حَيَاةً طَيِّبَةً وَأَسْعِدْهُ سَعَادَةَ الْحُسْنَى وَاجْعَلْهُ بَرًّا بِوَالِدَيْهِ غَيْرَ عَاقٍ لَهُمَا وَاجْعَلْهُ مِنَ الصَّالِحِينَ الْعَارِفِينَ الْعَامِلِينَ وَأَكْفِهِ شَرَّ النَّظْرَةِ وَالْعَيْنِ وَالْحَاسِدِينَ وَأَعِذْهُ عَن خَلْقِكَ أَجْمَعِينَ وَلاَتُحْوِجْهُ إِلاَّ لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَاغْفِرْ لِوَالِدَيْهِ وَالْحَاضِرِينَ أَجْمَعِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

          MAKSUDNYA :
          Ya Allah hidupkanlah dia dengan kehidupan yang soleh dan baik, bahagiakanlah dia dengan kebahagian yang sempurna, jadikanlah dia anak yang berbakti kepada kedua ibu bapanya, tidak menderhakai mereka berdua, jadikanlah dia tergolong di kalangan orang-orang yang soleh, berpengetahuan agama dan beramal. Selamatkanlah dia dari kejahatan panahan mata dan orang yang berdengki, jauhilah dia dari kejahatan semua makhluk-Mu, janganlah Engkau jadikan dia bergantung harap kepada orang lain selain bergantung harap kepada-Mu wahai Tuhan Yang Maha Bijaksana.. Ampunilah kedua ibu bapanya, dan semua yang hadir wahai Tuhan Penguasa Alam..

          P/S : bacaan-bacaan ini adalah tajarrub as – Solihin, bukan suatu amalan yang disandarkan kepada sunnah Rasulullah s.a.w.. diamalkan sebagai bertabarruk dengan ayat-ayat suci al-Quran. Sekiranya keadaan tidak mengizinkan. Cukuplah dengan hanya berdoa.

          AKHUKUM USTAZ MOHD HAZRI AL-BINDANY

          Sumber:

          06/10/2019 Posted by | Fad hail Amal, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          SEDIKIT PERKONGSIAN: PENYALAHGUNAAN TAUHID 3 DAN KESAN-KESANNYA KE ARAH SIKAP TAKFIRI (MUDAH MENGKAFIRKAN UMMAT ISLAM YANG TIDAK SEPANDANGAN)

          Al ‘Allamah al Mufassir al Muhaddith Sheikh Yusof al Dijwi RA, Ahli Lembaga Majlis Ulama Besar al Azhar.

          Beliau mengeluarkan fatwa penolakan al Azhar terhadap (penyalahgunaan makna) tauhid rububiah dan uluhiah. Kenyataannya ini dipaparkan dalam Majalah Nur al Islam edisi tahun 1933 yang merupakan lidah rasmi al Azhar pada masa itu.

          Fatwa yang dikeluarkannya ini, turut dipersetujui oleh ulama al Azhar yang lain tanpa adanya sebarang bangkangan. Sehingga hari ini, fatwa tersebut masih lagi segar. Ini dapat dilihat dalam beberapa majalah yang diiktiraf oleh al Azhar. Antaranya, di dalam majalah al Muslim. Al Muhaddith al ‘Allamah Sheikh Muhammad Zaki Ibrahim r.a telah mengeluarkan kembali fatwa ini dalam majalah tersebut.

          Al Muhaddith al ‘Allamah Sheikh Salamah al Qudha’i al ‘Azzami al Syafi’i r.a dalam kitabnya al Barahin al Sati’ah fi Raddi b’ad al bida’ al Syai’ah.

          Kitab ini telah mendapat pengiktirafan dan pujian daripada muhaddith pada zaman tersebut iaitu al ‘Allamah Sheikh Muhammad Zahid al Kauthari r.a.

          Al Allamah al Muhaddith Prof. Dr. Sayyid Muhammad ibn Alawi al Maliki al Hasani, ulama besar di Mekah al Mukarramah dan bekas tenaga pengajar Masjid al Haram yang diakui ilmunya oleh ulama pada zaman ini.

          Beliau telah menulis penolakannya terhadap tauhid ini dalam kitabnya Huwallah. Bahkan beliau menyarankan kerajaan Arab Saudi supaya mengkaji semula pengajaran tauhid ini di institusi pengajian rendah, menengah dan Tinggi di dalam Muktamar Hiwar al Watoni di Mekah yang diadakan pada 5/11/1424 hingga 9/11/1424. Ia disebut di dalam kertas kerja beliau yang bertajuk al Ghuluw.

          Mufti Besar Mesir, Prof. Dr. Ali Jumu’ah.

          Beliau turut menyentuh masalah ini di dalam laman web beliau ketika menjawab soalan yang dikemukakan kepadanya. Iaitu, tentang seorang pemuda yang mengkafirkan seluruh penduduk kampung kerana bertawassul dengan mendakwa orang yang bertawassul tergolong dalam golongan musyrikin yang beriman dengan tauhid rububiah tetapi tidak beriman dengan tauhid uluhiah.

          Beliau menolak sekeras-kerasnya pembahagian tauhid ini dengan mengatakan bahawa pembahagian tauhid ini adalah perkara rekaan yang tidak pernah datang dari Salafussoleh tetapi orang pertama yang menciptanya ialah Sheikh Ibnu Taimiyyah.
          Beliau juga menyatakan bahawa pendapat yang menyatakan bahawa tauhid rububiah sahaja tidak mencukupi bagi keimanan seseorang adalah pendapat yang diadakan-diadakan dan bercanggah dengan ijmak kaum Muslimin sebelum Ibnu Taimiyyah.

          *Prof. Dr. Muhammad Sa’id al Ramadhan Bouti, Ulama Kontemporari Dunia Islam dari Syria.

          Beliau menyatakan dengan tegas bahawa pembahagian tauhid ini adalah bidaah dalam Seminar Pengurusan Fatwa Negara-negara Asean anjuran Universiti Sains Islam Malaysia pada pada 16 hingga 17 April 2005 di Hotel Nikko Kuala Lumpur.

          Prof. Dr. Isa ibn Abdullah Mani’ al Himyari – Mantan Pengarah Jabatan Waqaf dan Hal Ehwal Islam Dubai.

          Beliau telah menulis mengenai kepincangan pembahagian tauhid ini di dalam kitabnya yang bertajuk ‘al Fath al Mubin fi Bara’at al Muwahhidin min ‘Aqaid al Musyabbihin.

          Al ‘Allamah Abu Abdullah ‘Alawi al Yamani dalam kitabnya Intabih Dinuka fi Khatorin.

          Kitab ini telah mendapat pujian dari lima ulama besar Yaman.

          *Al ‘Allamah Abu al Hasanain Abdullah ibn Abdur Rahman al Makki al Syafi’i, ulama besar Mekah.

          Beliau juga telah membahaskan masalah ini di dalam kitabnya al Qaul al Wajih fi Tanzih Allah Taala ‘an al Tasybih.

          Dr. Sheikh Yusof al Bakhur al Hasani salah seorang ahli fatwa di Kanada juga telah menulis risalah mengenainya.

          Sheikh Sirajuddin Abbas seorang ulama unggul Indonesia, juga menghuraikan masalah ini yang ditulis dalam versi Melayu dalam kitabnya Akidah Ahli Sunnah wal Jamaah.

          Beliau dengan tegas menyatakan bahawa tauhid ini merupakan iktikad rekaan puak Wahhabi dan bukannya iktikad ASWJ.
          Dalam satu petikan, beliau menyatakan: Kaum Wahhabi mencipta pengajian baru ini bertujuan untuk menggolongkan orang-orang yang datang menziarahi Makam Nabi SAW di Madinah, orang-orang yang berdoa dengan bertawassul dan orang yang minta syafaat Nabi SAW serupa dengan orang kafir yang dikatakan bertauhid rububiah itu.

          Al ‘Allamah Muhammad al ‘Arabi ibn al Tabbani al Hasani, Tenaga Pengajar di Masjid al Haram.

          Beliau juga turut menulis kepincangan tauhid ini di dalam kitabnya Bara’ah al Asy’ariyyin min ‘Aqaid al Mukhalifin.
          *Dr. Umar Abdullah Kamil, sarjana dan pakar ekonomi Arab Saudi serta ahli eksekutif Universiti al Azhar.

          Beliau pernah membentangkan kebatilan konsep Tauhid 3 Serangkai ini di dalam Seminar Perpaduan Ummah dan Pemurniaan Akidah anjuran Kerajaan Negeri Pahang pada 25-26 Ogos 2006 dan di Multaqa 3 Ulama Mekah al Mukarramah yang dianjurkan oleh Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Johor pada 20 Februari 2008.

          Kertas kerja tersebut telah diterbitkan oleh Sekretariat Penjelasan Hukum Berkenaan Isu-isu Aqidah dan Syariah Majlis Agama Islam Johor.

          Beliau turut membahaskan kepincangan pembahagian tauhid ini di dalam kitabnya yang bertajuk Kalimah Hadi’ah fi Bayan Khata’ al Taqsim al Thulasi li al Tauhid (Perkataan yang tenang dalam menjelaskan kesalahan pembahagian yang tiga bagi ilmu Tauhid).

          Al Allamah Abdur Rahman Hasan Habannakah al Maidani.

          Beliau juga telah menulis masalah ini secara khusus di dalam kitabnya yang bertajuk Tauhid al Rububiah wa Tauhid al Ilahiyyah wa Mazahib al nas bi al Nisbah Ilaihima.

          Kredit : diolah daripada kajian dan tulisan PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

          06/10/2019 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          Menjawab Tuduhan yang mendakwa Habaib adalah Syiah

          Habib Ali Zaenal Abidin Menjawab Tuduhan yang mendakwa Habaib adalah Syiah Oleh Panel Wahhabi di Konvensyen ‘Sunnah’ DBP

          Penjelasan :

          1. Siapakah Habib Ahmad bin Isa al Muhajir ?
          – berhijrah ke Hadramaut kerana fitnah Qaramitah di Iraq
          – Salasilah keturunan beliau mengikut Mazhab Asy Syafie

          2. Apakah manhaj aqidah Habaib, dalam Feqh ?
          – Beliau orang yang pertama menyebarkan Mazhab Asy Syafie di bumi Hadramaut

          3. Para Habaib yang singgah ke India untuk sebar dakwah – menyebarkan mazhab Asy Syafie dan ke nusantara – Acheh, Indonesia, Pulau Jawa. Antaranya Wali Songo – dari keturunan Habib Ahmad bin Isa al Muhajir.

          4. Di Bumi Malaysia – di Johor 4 orang Mufti adalah dari keturunan Habib Ahmad bin Isa al Muhajir. Dua daripadanya adalah dari al Attas dan dua lagi dari Al Attas.

          5. Mufti Johor yang merupakan keturunan dari Habib Ahmad bin Isa al Muhajir menulis kitab mengenai syiah dan menjelaskan Syiah Imamiah wujud selepas zaman Habib Ahmad bin Isa al Muhajir, jadi bagaimana boleh dituduh Syiah Imamiah kepada beliau ?

          6. Siapakah golongan alawiyyin ?

          7. Isu Yaqazah

          8. Syiah benci nama para sahabat seperti Umar jadi bagaimana Habib Umar bin Hafiz dituduh sebagai syiah ?

          9. Qasidah yang dibacakan oleh Habib Syech mengandungi pujian kepada Sayyidina Abu Bakar, Umar dan Uthman. Bagaimana Habib Syech dituduh sebagai seorang Syiah yang memuji para sahabat yang dibenci oleh Syiah ?

          10. Ambil iktibar mengenai penyebaran berita palsu pada zaman Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam.

          05/10/2019 Posted by | Bersama Tokoh, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Haram Hukumnya Wanita Mengikuti Senam Aerobik & Zumba Di Tempat Umum

          Haram hukumnya wanita mengikuti senam aerobik, zumba dan joget-joget di tempat umum, kerana:

          1. Ikhtilat, Terjadinya campur-baur laki2 dan perempuan.

          2. Tabarruj

          3. Mendengakan musik disco/dang dut koplo.

          4. Bergoyang melenggak lenggok.

          5. Pakaian ketat dan Sexy.

          6. Menampakkan Aurat.

          7. Dapat membangkitkan dan Menggoda syahwat lawan jenis.

          8. Tasyabbuh, Merupakan syiar dan kebiasaan yg bukan dari islam,

          9. Wanita lebih baik berdiam diri di rumah.Nabi mengancam dengan neraka wanita yang sengaja mempertontonkan keindahan tubuhnya di depan lelaki dengan cara berlenggak-lenggok, menggoyang-goyang tubuh memicu hasrat, berpakaian merangsang dan semisalnya.

          Imam Muslim meriwayatkan;صحيح مسلم (11/ 59)عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

          Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; kaum membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia memukuli orang dan wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan miring, rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.” (H.R.Muslim)

          Senam secara otomatis akan menggerak-gerakkan anggota tubuh dan menggoyang-goyangkannya.

          Jika hal ini dilakukan di depan lelaki yang tidak halal melihatnya, maka hal tersebut lebih dekat pada ciri wanita celaka yang disebutkan dalam hadis di atas.

          Semoga bermanfaat serta menjadi renungan kita semua, Dan Semoga Allah istiqomahkan kita untuk tetap dalam ketaqwaan.

          Sumber:Khalifah Media

          20/09/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

          Kedai makan “NO PORK”

          Min dapat pm dari seorang chef di restoran terkemuka area Selangor dan KL. Ikuti luahan dan pengalaman beliau tentang majikan non muslim yg meremehkan isu halal.

          Kedai makan “NO PORK”

          Saya seorang tukang masak atau Chef yang berkerja di sekitar selangor dan KL, pengalaman hampir 10 tahun berkerja di pelbagai jenis hotel dan restaurant. Terdetik saya nak berkongsi cerita ini setelah melihat beberapa posting berkaitan isu makan di kedai tanpa sijil halal namun berlabel pork free, ramai muslim yang dilihat makan dan minum di kedai sebegini. Jadi biarlah saya sebagai orang yang bergelumang dalam industri ini berkongsi sikit cerita pada semua.
          Restoran pork free biasanya di miliki oleh non muslim, mereka tak mahu apply sijil halal sebab susah dan bagi mereka buang dan duit, dan sebenarnya tak mungkin akan lulus, kenapa? Saya akan ceritakan di bawah. Tapi oleh kerana mereka sedar 70% hasil jualan biasanya datang dari kaum melayu yakni muslim maka mereka memilih untuk meletakkan logo “No Pork” di kedai mereka.

          Pernah saya berkerja di sebuah syarikat di KL, sebagai Chef makanan western dan Melayu, tetapi atas kerana perubahan hala tuju perniagaan, owner tempat saya berkerja menambah sisi perniagaan iaitu restaurant makan tengahari “pork free”, jujurnya saya terlibat dengan operasi dari awal hingga sekarang. Saya dapat melihat segenap aspek apa yang berlaku dalam restaurant pork free.

          Sebab apa mereka tak mahu mohon sijil halal jakim sedangkan mereka mahu pelanggan dari orang muslim? Pertama, ada sebahagian mereka mahu menjual alcohol di premis yang sama, kedua, bahan masakan yang mereka guna tidak memiliki sijil halal, dan pengeluarnya di ragui. Kenapa ini berlaku, jujurnya, pemilik restoran ini bukanlah jahat atau sengaja, yang saya dapati ialah mereka tidak betul betul memahami konsep halal itu. Saya pernah cuba menegur bekas majikan saya, tapi dia masih kurang faham. Bagi beliau, cukup sekadar tidak menggunakan produk babi sudah cukup sesuai untuk pelanggan islam. Pemahamannya kurang.

          Betul, tiada babi yang di gunakan, tapi, di dapur, ada cooking wine, ayam yang di guna di ragui sembelihan, (pernah check tiada kesan sembelihan), makanan dalam tin dari syarikat yang sama yang mengeluarkan produk babi, bahan bahan yang di import terus dari China, Taiwan dan sebagainya, (atas alasan rasa dan quality lebih baik) tiada cop halal jakim, bahkan tiada cop halal mana mana pun, ini adalah contoh apa yang saya dapat lihat dari pengalaman sendiri, betul pork free, tapi pasti ia tidak halal untuk di muslim.

          Bekas majikan saya mengaku sendiri, hampir 70 peratus hasil jualan dari melayu muslim, hinggakan dia perlu menggaji pekerja muslim wanita bertudung untuk berkerja di ruang hadapan, supaya muslim berani untuk makan di situ, hakikatnya, tukang masak adalah non muslim, bahan masakan juga diragui dan tidak halal. Iya, tidak ada menggunakan babi, tapi masih tidak halal untuk muslim.

          Wallahhi, saya rasa bertanggungjawab untuk share hakikat ni, sebab saya ada dalam industri, sekurang kurangnya, ini pengalaman di tempat saya pernah berkerja, mungkin tempat lain berbeza, tapi untuk renungan kita bersama, mari berfikir kenapa restoran ini tak mahu dapatkan sijil halal jakim, sedangkan mahu pelanggan dari melayu islam (sanggup pamerkan logo Pork Free). Jika tak pasti halal atau haram, sudah pasti menjadi ragu ragu, syubhah, kita muslim kena elakkan.

          Akhir kata, pada yang membaca, tolong renungkan semula, kenapa bersusah susah makan yang syubhah sedangkan boleh cari yang pasti halal.

          Harap perkongsian ini membuka mata semua.

          Sumber – FB

          18/09/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          MAKSUD “KEMBALI KEPADA AL-QURAN DAN AL-SUNNAH”

          Olih: Ustaz Dr Mohd Murshidi Mohd Noor

          1) Hari ni saya ada terbaca ulasan oleh salah seorang motivator yg pos dlm FBnya menganggap kerja buatnya merujuk kepada Al-Quran dan al-Sunnah serta menasihati org ramai agar jgn buat benda baru dalam agama..

          2) Apabila kita membaca kenyataan ini sepintas lalu, kata-kata itu amat indah sekali. Cuma maksud sebenar bagi kata-kata itu perlu diperhalusi lagi.

          3) Jika yg dimaksudkan dgn kembali kpd al-Quran dan Sunnah itu ialah membaca sendiri kitab al-Quran dan al-Sunnah tanpa bimbingan daripada para alim ulama, maka pemahaman seperti itu tidak kena pada tempatnya. Hal ini kerana tidak semua tempat di dalam al-Quran dan Sunnah dapat difahami oleh semua org. Pada ayat atau hadith yg misalnya berkaitan dgn ayat mutasyabihaat, hukum-hakam, nasikh mansukh, tafsiran makna tersirat dsb tidak semua boleh memahami dgn baik akan hal ini.

          4) Kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah mestilah difahami dgn erti kata kembali kepada pemahaman yg sebenar sebagaimana yg diajar oleh para alim ulama, bukannya kembali kpd “pemahaman sendiri atau tafsiran masing-masing terhadap al-Quran dan al-Sunnah, lalu mendakwa itulah maksud kembali kpd al-Quran dan al-Sunnah sebenar, sedangkan dlm masa yg sama menentang ulama dan tidak mempelajari ilmu kpd ulama”. Oleh yg demikian, kita sebagai org awam, amat tidak memadai hanya sekadar melihat terjemahan al-Quran dan al-Sunnah, lalu terus mengamalkannya tanpa mempelajari kepada para alim ulama yg membicarakan mengenainya.

          5) Di dalam al-Quran dan al-Sunnah terdapat ayat yg berbentuk mujmal, muhkam, mutasyabih, nasikh, mansukh, am, khas, muqayyad, dan banyak lagi yg mana sudah tentu utk memahaminya dgn baik perlu kepada bimbingan para alim ulama. Jika kita tidak merujuk kpd bimbingan ulama, maka ayat yg sebenarnya tidak berlaku pertentangan antara satu sama lain, dikatakan berlaku bertentangan disebabkan pemahaman dan ilmu kita yg dangkal. Misalnya ayat al-Quran yg menyatakan boleh qasar solat ketika dalam situasi peperangan, hanya menyebut dlm situasi peperangan sahaja, tidak menyebut mengenai keadaan musafir yg bukan dlm situasi peperangan. Rukhsah utk membolehkan qasar solat ketika bermusafir yg bukan dlm situasi peperangan boleh didapati penjelasannya menerusi hadith dan kalam ulama yg membicarakan mengenainya. Jika kita tidak berpandukan kpd pengajaran dan bimbingan daripada alim ulama utk memahami ayat al-Quran dan hadith, sudah tentu kita tidak dapat beramal dgn wahyu Allah SWT dgn erti kata yg sebenarnya.

          6) Justeru, kembalilah kepada bimbingan para alim ulama utk memahami al-Quran dan al-Sunnah dgn baik, barulah benar slogan yg mengatakan “Kembali Kepada al-Quran dan al-Sunnah”. Jika kita tidak kembali kpd bimbingan para alim ulama utk memahami al-Quran dan al-Sunnah, maka sebenarnya tanpa sedar kita semakin terpesong dan jauh daripada al-Quran dan Sunnah. Bertambah parah apabila kita mendakwa yg kita lebih memahami daripada ulama, lalu menentang ulama dgn sekeras-kerasnya. Semoga kita sentiasa menjadi insan yg sentiasa dibimbing oleh ulama pewaris para Nabi.

          7) Jika anda digelar ‘wahabi’ oleh org ramai kerana pemahaman anda yg salah terhadap maksud “kembali kepada Al-Quran dan al-Sunnah”, maka insaflah diri dan jangan keras kepala utk menganggap diri anda itu membawa fahaman yg betul, lalu menyalahkan para ulama dgn menuduh ulama membawa ajaran Islam yg tidak tulen..jika anda sentiasa menyalahkan ulama dan merasai diri betul, bila lagi utk anda insaf bagi ‘mencemarkan diri’ menghadiri majlis-majlis ilmu kpd para alim ulama secara bertalaqqi????

          Wallahua’lam

          17/09/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          Jangan Taksub Atau Fanatik Selain Daripada Mentaati Allah & RasulNya

          Setiap insan atau individu dituntut membaca dan memahami Al-Quran dan mengikut Sunnah Nabi S.A.W. Janganlah kita terlalu taksub atau fanatik dengan individu-individu lain. Lihat sekeliling anda. Ramai antara kita yang seperti taksub atau fanatik dengan seseorang individu sampai apa yang dicakap semuanya benar tanpa menilai sendiri apa yang mereka sampaikan. Ini termasuklah individu seperti ustaz-ustaz, ulamak-ulamak, pemimpin-pemimpin, parti-parti dan lain-lain lagi.

          Allah S.W.T berpesan “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini – dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) – sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan.” (Al-Hujuraat 49:6)

          “…..Oleh itu selidikilah (apa-apa jua lebih dahulu, dan janganlah bertindak dengan terburu-buru). Sesungguhnya Allah sentiasa memerhati dengan mendalam akan segala yang kamu lakukan.” (An-Nisaa’ 4:94)

          Tapi bagaimana anda ingin menilainya?

          Ikutlah pesan Nabi S.A.W. Antara pesan Nabi S.A.W dalam khutbah terakhirnya “Aku tinggalkan sesuatu kepada kamu, yang jika kamu berpegang teguh, kamu tidak akan tersesat selama-lamanya iaitu Al-Quran dan Sunnah NabiNya”.

          Ikutlah perintah Allah yang menyuruh kita membaca, memahami dan beramal dengan Al-QuranNya. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu sebuah Kitab (Al-Quran) yang mengandungi perkara yang menimbulkan sebutan baik dan kelebihan untuk kamu, maka mengapa kamu tidak memahaminya (dan bersyukur akan nikmat yang besar itu)? (Al-Anbiyaa’ 21: Ayat 10)

          Tapi bagaimana hendak menilai sesuatu yang disampaikan itu betul atau sahih?

          Anda perlulah menimba ilmu itu sendiri. Satu sumber terbesar yang anda perlu pegang ialah Al-Quran. Baca dan fahamilah ia. Lebih elok dibaca dan difahami setiap hari hingga ke akhir hayat kita. Kemudian baca hadis-hadis sahih Nabi S.A.W.

          Petikan:

          Golongan yang selamat tidak fanatik kecuali kepada firman Allah dan sabda RasulNya yang maksum yang berbicara tidak berdasarkan hawa nafsu. Adapun manusia selainnya betapa pun tinggi darjatnya terkadang dia melakukan kesalahan sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam,
          كُلُّ بَنِي آدَم خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
          “Setiap anak Adam melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat.” (Hasan. Riwayat Ahmad)
          Semoga kita sentiasa dirahmati Allah. Lagi artikel tentang perkara ini disini:

          http://ustazidrissulaiman.wordpress.com/2013/06/04/golongan-yang-selamat-tidak-taksub-fanatik-kecuali-pada-firman-allah-sabda-rasulullah/

          “Bacalah Al-Quran dan Terjemahannya Sekali” setiap hari walaupun 1 ayat sehari sehingga akhir hayat kita. Banyak manafaatnya. Sambil itu, dalamilah ilmu-ilmu lain terutamanya hadis yang disampaikan oleh Rasulullah S.A.W. Semoga kita dirahmati Allah. In Shaa Allah.

          Sumber

          17/09/2019 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | Leave a comment

          Pengajian Hadis Akan Tempang Tanpa Pengajian Fiqh

          Ustaz Yunan A Samad

          Pelajar hadis amatur selalunya berfikir hadis yang sahih perlu diamalkan tanpa sebarang bantahan sekalipun ianya bercanggah dengan fatwa mazhab yang diikuti. Antara hujah mereka, Allah menyuruh kita mengikut Nabi SAW menerusi sunnahnya yang sahih. Justeru, adalah “salah” seseorang muslim enggan mematuhi hadis sahih yang ditemuinya. Di samping kepercayaan mereka bahawa tidak boleh mengikut (bertaklid) manusia lain walau setinggi mana kedudukan ilmunya kerana beliau tidak maksum. Dalam hal ini, hanya Baginda SAW sahaja yang maksum.

          Kefahaman seperti di atas, menghasilkan dua kekeliruan lazim. Pertama ; kena beramal dengan hadis sahih. Kedua; manusia diperintah untuk mengikut Nabi SAW bukannya imam mazhab tertentu.

          Merungkaikan kekeliruan pertama, suka dinyatakan bahawa kenyataan “ASALKAN HADIS ITU SAHIH, MESTI SEGERA DIAMALKAN” adalah kurang tepat. Sebaliknya yang perlu dipersoalkan ialah “SEJAUHMANA HADIS SAHIH ITU BOLEH DIAMALKAN?”. Mari kita lihat asas-asas perbincangan berikut :

          1). Perbincangan ulama hadis mengenai penerimaan sesebuah hadis untuk diamalkan amat bergantung kepada pelbagai syarat yang ditetapkan pada sanad dan matan hadis tersebut dan dalam hal ini adakah pensyaratan seseorang muhaddis telah diikuti sepenuhnya oleh semua muhaddis lain??. Jawapannya TIDAK kerana mereka tidak sepakat. Sukar untuk disepakati kerana terdapat syarat berkait dengan hadis (matan& sanad) dan berkait dengan kaedah usul ijtihad. Justeru itu, penentuan beramal dengan hadis tidak hanya terhenti pada pengetahuan status perawi yang boleh diselidiki dalam kitab Taqrib al-Tahzib al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani (contoh) semata-mata.

          2). Seterusnya, fungsi ilmu fiqh memberikan kefahaman lebih holistik ketika kita berinteraksi dengan hadis atau sunnah yang sahih. Perkara ini disedari oleh para ulama sejak awal lagi bahawa kesahihan status sesebuah hadis adalah satu hal yang berbeza dengan cara beramal dengan hadis sahih. Bukan semua yang dihukumkan sahih mesti diamalkan secara sembrono. Tidak!… kerana untuk beramal pula, terdapat kaedah dan syarat-syaratnya.

          Kita boleh menyaksikan pada catatan Ibn Abi Khaysamah dalam Syarh Ilal al-Tirmizi dan Abu Nu’aim (1988) dalam al-Hilyah yang meriwayatkan daripada jalur Isa bin Yunus, daripada al-A’masyh daripada Ibrahim al-Nakha’i, katanya :

          إني لأسمع الحديث ، فآخذ بما يؤخذ به وأدع سائره
          Maksudnya : “Saya mendengar hadis, lalu melihat pada hadis mana yang diambil maka akan saya ambil dan meninggalkan selebihnya”

          Ibn Abd al-Barr (1994) dalam Jami’ Bayan al-Ilm meriwayatkan daripada Qadhi Ibn Abi Laila berkata : “Seorang penuntut hadis tidak akan menjadi faqih sehingga ia (tahu) hadis mana yang perlu diambil dan ditinggalkan” (لَا يَفْقَهُ الرَّجُلُ فِي الْحَدِيثِ حَتَّى يَأْخُذَ مِنْهُ وَيَدَعَ)

          Abu Nu’aym (1988) menceritakan Imam Abdul Rahman bin Mahdi pernah menyebut :

          لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الرَّجُلُ إِمَامًا حَتَّى يَعْلَمَ مَا يَصِحُّ مِمَّا لَا يَصِحُّ , وَحَتَّى لَا يَحْتَجَّ بِكُلِّ شَيْءٍ , وَحَتَّى يَعْلَمَ مَخَارِجَ الْعِلْمِ

          Maksudnya : “Tidak harus bagi seseorang lelaki menjadi imam (tokoh) sehingga dia tahu hadis sahih dan tidak sahih, supaya dia tidak berhujah dengan semua hadis (secara random) dan sehingga dia tahu tempat ilmu itu keluarnya ilmu”.

          Imam Abdullah bin Wahab, seorang ulama Malikiyyah berkata beliau berguru dengan tiga ratus enam puluh orang ulama. Jika bukan dengan bimbingan Malik dan al-Laith, sudah tentu beliau tersesat (لقيت ثلاثمائة عالم و ستين عالما و لولا مالك و الليث لضللت في العلم).

          Maksud tersesat dalam ilmu hadis dalam pernyataan tersebut telah dijelaskan oleh Sheikh Muhammad Zahid al-Kawthari bukan bermakna sesiapa yang menceburi bidang hadis yang mulia itu akan menyeleweng. Abdullah bin Wahab menganggap beliau mungkin jadi “sesat” kerana setiap hadis yang datang daripada Rasulullah SAW perlu ditapis terlebih dahulu sebelum diamalkan kerana kebiasaannya terdapat banyak hadis yang menunjukkan hukum berbeza dalam satu masalah.

          3). Apabila disebut pengajian fiqh, kita tidak boleh mengabaikan fiqh mazahib muktabar. Ini kerana institusi mazahib seperti mazhab Syafi’i (khususnya di Malaysia) berperanan menyusun hukum-hukum berkaitan ibadat & muamalat secara sistematik, konsisten dan menyeluruh dalam satu pengajaran ahkam syar’iyyah untuk diamalkan oleh orang awam. Institusi mazhablah yang tolong filter petunjuk hadis adakah ianya wajib atau sunat, haram atau makruh, sah atau batal, sempurna atau kurang. Jika tidak, petunjuk hadis itu akan berserakan sehingga sukar diamalkan oleh orang awam.

          Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, untuk “beramal” dengan hadis sahih tertentu, ia mesti didahului dengan faktor “penerimaan” hadis itu terlebih dahulu. Bentuk penerimaan itu amat berkait dengan fiqh atau kefahaman fuqaha (yang majoritinya bermazhab) yang menilai sebuah hukum dalam hadis yang sahih adakah ia telah dimansuhkan atau diperincikan kondisinya oleh hadis lain. Hukum yang mansuh tidak boleh diamalkan, walaupun hadisnya sahih. Begitu juga terdapat sesetengah hadis ditinggalkan oleh imam mujtahid tertentu kerana mentarjihkan madlul hadis sahih lain untuk beramal. Perkara ini disedari oleh Imam Sufyan al-Thawri yang menekankan bahawa interpretasi (pentafsiran makna) hadis lebih baik daripada mendengarnya (تفسير الحديث خير من سماعه) (Ibn Abd al-Barr, 1994). Imam Abu Ali al-Naysaburi juga berkata kefahaman hadis lebih penting daripada hafazan (الفهم عندنا أجل من الحفظ).

          Kepentingan kefahaman fiqh hadis dalam maksud di atas adalah merujuk kepada golongan awam yang bukan bertaraf ulama kerana dikhuatiri mereka tersalah aplikasi maksud (madlul) hadis pada tempat yang salah. Sheikh Muhammad Awwamah (1987) menceritakan pernah berlaku di Syria dahulu seorang lelaki yang menghukumkan sesiapa yang tidak membaca Fatihah dalam solat adalah kafir. Dia beranggapan solat tanpa fatihah oleh orang mazhab Hanafi yang solat berjemaah, adalah tidak sah. Tidak sah solat sama seperti tidak solat atau meninggalkan solat. Berdasarkan kefahaman songsangnya daripada sebuah hadis lain mengenai tanda kafir seseorang adalah tidak bersolat, maka rumusannya orang yang meninggalkan solat menjadi kafir dan boleh dibunuh.

          Hal ini amat berbahaya bagi pelajar hadis amatur tanpa bimbingan ulama fiqh. Untuk golongan seperti inilah Imam Abdullah Ibn Wahab mensasarkan kenyataannya “hadis seumpama padang yang menyesatkan kecuali bagi fuqaha (yang mengetahui kaedah beramal dengan hukum syarak)”.

          Berbeza dengan ulama hadis, para fuqaha mempunyai alasan kenapa tidak memperbanyakkan periwayatan hadis. Antaranya untuk mengelak kekeliruan dalam kefahaman masyarakat. Imam al-Syafi’i menceritakan pada satu hari gurunya, Imam Malik ditanya, “Sufyan bin Uyaynah mempunyai beberapa riwayat hadis daripada al-Zuhri yang tidak ada pada kamu?”. Malik menjawab : “Jikalau semua hadis yang aku dengar mesti disampaikan kepada semua orang, bermakna aku ingin menyesatkan mereka semua” (نا أَحْمَدُ بْنُ خَالِدٍ الْخَلَّالُ، قَالَ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ، يَقُولُ: قِيلَ لِمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ: إِنَّ عِنْدَ ابْنِ عُيَيْنَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ، أَشْيَاءَ لَيْسَتْ عِنْدَكَ فَقَالَ مَالِكٌ: وَأَنَا كُلُّ مَا سَمِعْتُهُ مِنَ الْحَدِيثِ أُحَدِّثُ بِهِ النَّاسَ؟ أَنَا إِذًا أُرِيدُ أَنْ أُضِلَّهُمْ) (Al-Khatib, al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami’, dalam Awwamah, 1987).

          Para ulama muhaqqiqun menekankan bahawa aspek kefahaman yang betul perlu dipupuk terlebih dahulu supaya pengamalan hadis berjalan dengan harmoni. Al-Ramahurmuzi meriwayatkan dalam kitab al-Muhaddith al-Fasil dan al-Khatib dalam al-Faqih wa al-Mutafaqqih, Imam Malik menasihati dua orang saudaranya, Abu Bakar dan Ismail Ibn Abi Uwais dengan berkata “Aku melihat kamu berdua gemar mengumpul dan mendengar hadis. Jika kamu mahu menerima manfaat daripada ilmu hadis, maka kurangkan berbuat demikian dengan mendalami ilmu fiqh” (Teks asal berbunyi > حَدَّثَنَا مُصْعَبٌ الزُّبَيْرِيُّ قَالَ سَمِعْتُ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ، وَقَدْ قَالَ لِابْنَيْ أُخْتِهِ، أَبِي بَكْرٍ وَإِسْمَاعِيلَ ابْنَيْ أَبِي أُوَيْسٍ: «أُرَاكُمَا تُحِبَّانِ هَذَا الشَّأْنَ، وَتَطْلُبَانِهِ» يَعْنِي الْحَدِيثَ قَالَا: نَعَمْ قَالَ: إِنْ أَحْبَبْتُمَا أَنْ تَنْتَفِعَا وَيَنْفَعُ اللَّهُ بِكُمَا، فَأَقِلَّا مِنْهُ، وَتَفَقَّهَا).

          Abu Nu’aim al-Fadhl Ibn Dukayn, salah seorang guru terkenal Imam al-Bukhari menceritakan pada satu hari beliau berjalan melintasi Zufar Ibn al-Huzail, seorang murid Imam Abu Hanifah. Zufar memanggil untuk mengajar beliau hadis mana yang perlu diambil dan mana yang perlu ditolak kerana ada yang menjadi nasikh dan ada telah dimansuhkan.

          Terdapat banyak lagi rekod yang menunjukkan para fuqaha mengajar ahli hadis tentang penggunaan hadis sahih, antaranya kefahaman yang betul tentang madlul sesebuah hadis mesti diperolehi daripada para fuqaha muktabar. Penjelasan hal ini telah disampaikan dalam bentuk nasihat guru Imam Malik iaitu Sheikh Abu al-Zinad Abdullah bin Zakwan yang berbunyi :

          وَايْمُ اللَّهِ إِنْ كُنَّا لَنَلْتَقِطُ السُّنَنَ مِنْ أَهْلِ الْفِقْهِ وَالثِّقَةِ، وَنَتَعَلَّمُهَا شَبِيهًا بِتَعَلُّمِنَا آيَ الْقُرْآنِ
          Maksudnya : “Demi Allah, kami mengutip sunnah daripada ahli fiqh dan ahli siqah dan kami mempelajarinya sama seperti mempelajari al-Quran” (Ibn Abdil Barr, 1994).

          Dr. HK
          Jumaat, 18 Jan 2019
          ____________________________
          Penjelasan ini KHUSUS untuk pembaca awam, pelajar amatur & siswa junior pengajian Islam BUKANNYA kumpulan sarjana syariah, hadis dan pakar ilmu-ilmu Islam bertaraf ulamak.

          16/09/2019 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          Nasrul Haq – Bukan Ajaran Islam

          oleh:Asyraf Wajdi(majalah DAKWAH, Mei 1978)

          PERSIDANGAN Ketua-ketua Jabatan Agama Islam Negeri-negeri yang bersidang pada 11hb.April, 1978 bersamaan 2hb. Jamadil Awal 1398 di Jabatan Perdana Menteri, Bahagian Agama telah menerima dan mengkaji laporan Jawatankuasa Khas berkenaan Nasrul Haq. Persidangan pada hari itu telah mendapati bahawa ajaran Nasrul Haq adalah bukan daripada ajaran Islam. Bagi tindakan selanjutnya adalah diserahkan kepada Majlis Agama Islam Negeri-negeri, kerana tugas agama adalah di bawah kuasa kerajaan negeri masing-masing.
          Memandangkan beberapa kekeliruan yang timbul akibat penyalahgunaan perkataan seperti Khalifah, Naib Khalifah, Mahaguru dan sebagainya,maka Persidangan mengesyorkan supaya perkataan-perkataan tersebut tidak digunakan lagi sebagai gelaran kepada peminpin, ketua atau guru bagi apa-apa pertubuhan jua pun.
          Saudara Subki Latif dalam ruangan fokas akhbar harian Watan pada 14hb. April 1978 menimbulkan persoalan tentang tidak adanya keterangan lanjut tentang mengapa pertubuhan itu dikatakan bukan ajaran Islam:
          Adakah ia boleh diamalkan oleh orang-orang Islam?
          Apakah tidak berdosa orang-orang Islam yang menjadi anggotanya?
          Mengapakah Seni Silat Gayong, Silat Lincah, Silat Cekak dan sebagainya tidak pernah dipertikaikan?
          Untuk mengelakkan keliru dan untuk tidak menimbulkan perasaan curiga kepada Ketua-ketua Jabatan Agama Islam Negeri yang mengadakan mesyuarat pada hari itu khusus kepada jawatankuasa yang diberi tugas mengkaji berkenaan dengan Nasrul Haq itu maka perlulah lebih dahulu diketahui bahawa jawatankuasa khas itu bukanlah mengkaji pertubuhan Persaudaraan Nasrul Haq, tetapi apa yang dikajinya ialah amalan-amalan dan dorongan yang menyebabkan orang ramai menumpu perhatian kepada pertubuhan itu.
          Untuk menjadi anggota pertubuhan itu tidak menjadi masalah. Kerana ia adalah merupakan pertubuhan belia atau pertubuhan kebajikan yang lain juga, tetapi yang menjadi masalahnya ialah amalannya di mana kononnya boleh memberi perkara luar biasa telah menimbulkan reaksi di kalangan masyarakat.
          Jawatankuasa ini memberi perhatian yang utama kepada pertubuhan Nasrul Haq kerana ia bukanlah merupakan seni mempertahankan diri. Tidak ada nilai-nilai seni seperti silat-silat yang lain. Apa yang ada hanya gerak-gerak tubuh, tangan , kaki, kepala dan mata menurut cara-cara tertentu dengan bacaan-bacaan tertentu untuk melahirkan perkara-perkara luar biasa.
          Tidak ada cara menepis, tumbuk atau mengelak tendangan musuh. Tidak juga diajar bagaimana hendak merebahkan musuh atau mematahkan lawan atau bagaimana cara menghantar tumbukan yang padu atau sepak yang padat dan sebagainya untuk merebahkan lawan.
          Bacaan-bacaan yang tertentu itu pula ialah bacaan Al-Fatihah dan zikir-zikir yang dipergunakan bukan pada tempatnya dan bukan untuk ibadat, tetapi untuk mewujudkan perkara luar biasa yang berkenaan.
          Memang tidak dapat dinafikan bahawa perkara luar biasa itu berlaku di gelanggang-gelanggang utamanya di hadapan khalifahnya. Hinggakan ia boleh berlaku kepada orang-orang ‘a-si yang sering melakukan maksiat, bahkan boleh berlaku kepada benda-benda yang tidak bernyawa juga.
          Kerana hebatnya perkembangan amalan Nasrul Haq ini maka ramailah orang-orang Islam menyertainya. Tetapi apabila perkara luar biasa itu tidak berlaku berpanjangan selain daripada di gelanggang dan di hadapan khalifah sahaja, maka timbullah desakan kepada Majlis-majlis Agama dan badan agama untuk menentukan amalan ini sama ada ia dari ajaran Islam atau tidak dan adakah ia boleh dijadikan alat untuk berdakwah atau sebagainya.
          Pihak Jabatan Agama di negeri-negeri merasai bertanggungjawab untuk menyelesaikan keraguan orang ramai yang mendesak itu. Lalu ditubuhkan jawatankuasa khas untuk mengkaji masalah yang berkenaan supaya hasil kajian itu boleh dibawa kepada jawatankuasa syariah atau jawatankuasa fatwa di negeri masing-masing menurut hemat jawatankuasa yang berkenaan di negeri-negeri.
          Jawatankuasa Khas telah mengkaji beberapa aspek setelah mengadakan dua kali perbincangan dengan pihak penganjur Nasrul Haq pada 14hb. Januari dan 16hb. Februari, 1978. Sekali perbincangan dengan mufti-mufti seluruh Malaysia pada 7hb. Februari, 1978. Wawancara-wawancara juga telah diadakan dengan Jurulatih Kanan Nasrul Haq, Penasihat Nasrul Haq dan beberapa orang jawatankuasanya dan beberapa orang pegawai belia di Kementerian Belia sendiri.
          Jawatankuasa ini juga telah mengkaji buku-buku, majalah, akhbar dan risalah-risalah yang telah diterbitkan berkenaan dengan Nasrul Haq termasuk pendapat ulama-ulama dari seluruh Malaysia.
          Aspek yang dikaji di antaranya ialah asal-usul Nasrul Haq yang dikatakan berasal dari Minangkabau, Sumatera. Pengasasnya di Sumatera ialah Syeikh Musa Paradik. Jurusnya ditemui oleh Tuan Haji Johannes Cheoldi S.P. ketika menunaikan fardu haji di Mekah dan dipraktikkan di Gua Hira’ dengan seorang teman yang datang dari Indonesia.
          Ada pula pendapat yang mengatakan asal-usul Nasrul Haq ini berasal dari Pagaruyong dan dibawa ke Jawa Barat oleh Datuk Shah Bandar kemudian dipelajari oleh empat orang pendekar. Kemudian dipelajari oleh Aki Tasik yang berasal dari Suka Bumi. Tuan Haji Johannes dikatakan belajar ilmu Nasrul Haq ini daripada Haji Elias Sultan Sati, murid dari Aki Tasik.
          Bentuk amalan (Nasrul Haq) ini terbahagi kepada dua,iaitu Rohani dan Jasmani. Perpaduan di antara Rohani dan Jasmani inilah melahirkan perkara luar biasa. Cara amalannya ialah setiap murid dikehendaki membaca Al-Fatihah sebanyak tiga kali. Kemudian baru memulakan jurus yang disertai dengan mengingatkan Allah. Tujuannya untuk mendapatkan kekuatan batin dan kekuatan luar biasa yang didakwakan sebagai maunah atau fadilat dari Allah. Jawatankuasa ini juga ytelah mengkaji masalah sumpah, bai’ah dan kesannya terhadap orang yang terlibat dengan amalan ini.
          Jawatankuasa khas juga telah mengambil perhatian utama kepada kesan kuasa luar biasa yang menjadikan sebagai penahan dari suatu serangan itu boleh dipindah-pindahkan bukan saja kepada manusia Islam atau bukan Islam, bahkan boleh juga dipindahkan kepada apa-apa saja sekiranya khalifah atau guru menjuruskan atau memasukkan kuasa tersebut.
          Hal ini boleh menimbulkan keliru tentang jenis perkara luar biasa itu, lebih-lebih lagi seringkali ia tidak memerlukan zikir atau apa-apa ayat lagi cuma memadai dengan jurus saja.
          Di dalam gelanggang Nasrul Haq, khalifah-khalifah sering berusaha untuk memastikan kuasa luar biasa itu berkesan dan diisyaratkan pihak penyerang mesti berada dalam keadaan marah. Katanya, ilmu ini tidak berkesan atau tidak menimbulkan apa-apa jika penyerang tidak mempunyai perasaan marah. Hal ini meragukan kerana penyerang itu tidak semuanya berperasaan marah lebih-lebih lagi ketika menggunakan alat senjata moden.
          Beberapa kekeliruan timbul lagi apabila ternyata banyak bukti yang menunjukkan bahawa amalan Nasrul Haq ini hanya dapat dilahirkan perkara-perkara luar biasa di dalam gelanggang, ketika menjalankan sesuatu latihan atau pertunjukan bersama khalifahnya saja. Tetapi apabila dicuba di masa-masa yang lain nampaknya tidak banyak berkesan lagi, bahkan tidak berkesan langsung.
          Keputusan Jawatankuasa Khas yang diisytiharkan tempoh hari tidak bertujuan untuk menentukan halal atau haram kerana ia di luar tugas jawatankuasa yang berkenaan. Jawatankuasa itu hanya menggariskan sepuluh pandangan untuk dirumuskan sebagai keputusan atau kesimpulan. Antara rumusan-rumusan tersebut ialah:
          Amalan Nasrul Haq mengandungi unsur-unsur yang boleh membawa kepada pertentangan dengan akidah Islam.
          Amalan ini pada peringkat awalnya cuba berselindung di sebalik ayat-ayat suci Al-Quran dan petikan hadis Rasulullah yang ada kaitannya dengan konsep mengingatkan Allah (zikrullah) dengan tujuan untuk mempengaruhi orang ramai supaya yakin dengan ajaran ilmu ini.
          Penyelewengan di dalam ajaran ini mulai nampak apabila pemimpin atau khalifah ilmu ini telah mengakui bahawa ilmu ini boleh dipelajari dan memperolehi kesannya oleh orang-orang bukan Islam. Ini membuktikan bahawa amalan ilmu ini tidak lagi terikat dengan perkara zikir dan bacaan Al-Fatihah lagi.
          Amalan Nasrul Haq boleh membawa suatu keyakinan kepada pengikut-pengikutnya bahawa mereka tidak perlu lagi menggunakan senjata untuk menentang musuh, malah memadai dengan berzikir sahaja untuk mendapatkan pertolongan daripada Allah.
          Amalan Nasrul Haq tidak lagi memberi kesan yang baik dari segi dakwah, kerana mereka yang terlibat dengan ajaran ini mungkin sanggup melakukan perintah Allah dengan tujuan untuk mendapatkan kesan kuasa luar biasa yang terdapat di dalam ilmu ini sahaja, tetapi apabila mereka gagal mendapatkan kesan kuasa luar biasa tersebut, mereka akan kembali kepada peribadi mereka yang asal.
          Membaca surah Al-Fatihah atau ayat-ayat suci Al-Quran adalah digalakkan, kerana membaca dan mengamalkannya adalah suatu ibadat yang semata-mata untuk mendapatkan keredaan daripada Allah. Tetapi jika dibaca dan diamalkan dengan tujuan untuk mendapatkan kekuatan luar biasa yang boleh dipertunjuk dan diperturunkan, maka itu bukan lagi ibadat. Bila perkara ibadat dilakukan bukan (dengan) tujuan beribadat, itu adalah mempersenda-sendakan ibadat dan dengan tidak disedari telah menipu diri sendiri dan Allah.
          Kesan kuasa luar biasa yang terdapat dalam amalan ilmu ini bukanlah merupakan suatu perkara yang mustahil akan berlaku, kerana kesemuanya adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Tetapi jika kesan luar biasa itu berlaku melalui saluran-saluran yang kotor, sama ada gurunya yang bersifat kotor atau melalui saluran rohani-rohani yang kotor seperti jin, syaitan dan Afrit, maka hasilnya juga adalah kotor.
          Untuk mengetahui atau menganalisis sesuatu perkara – amalan atau kepercayaan – itu benar atau salah, tidak semestinya memeluk atau memasuki terlebih dahulu perkara tersebut, seperti mana untuk menyatakan sesuatu agama atau kepercayaan itu benar atau salah adalah lebih penting mengkaji serta menganalisis terlebih dahulu sebelum mengakui,memasuki atau menyertainya. Tetapi untuk membuktikan sesuatu ilmu atau amalan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenar adalah tidak memadai dengan hanya mengemukakan alasan atau hujah yng berdasarkan kepada keterangan daripada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah bagi membuktikan kebenarannya yang hakiki.
          Pemimpin Nasrul Haq sering mengakui bahawa mereka adalah jahil dalam soal agama dan bersedia menerima nasihat serta teguran daripada ulama, maka sudah sewajarnya pihak penganjur ilmu ini menerima dengan hati yang terbuka segala pandangan dan cadangan yang dikemukakan di dalam laporan kajian ini demi memelihara kesucian akidah Islam dan demi menyelamatkan umat Islam di negara ini, khususnya pengikut-pengikut amalan ini supaya tidak menyeleweng dari iktikad atau pegangan terhadap ajaran Islam yang sebenar.
          Walau bagaimanapun persidangan Ketua-ketua Jabatan Agama Islam Negeri-negeri pada hari itu menjunjung tinggi hasrat dan cita-cita Kementerian Belia dan Sukan terutamanya hasrat Datuk Abdul Samad Idris sendiri selaku menteri yang bertanggungjawab untuk menyerapkan iman dan menambahkan taqwa di kalangan belia-belia kita. Tetapi masalahnya mereka tidak mahu penyerapan itu melalui jalan yang boleh menimbulkan keliru.
          Untuk itu mesyuarat mencadangkan kepada Datuk Abdul Samad Idris sendiri supaya Kementerian Belia dapat melantik seorang Koordinator dalam bidang dakwah untuk menggerakkan kegiatan-kegiatan agama di kalangan belia. Bahagian Agama Jabatan Perdana Menteri, Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia dan jabatan-jabatan agama di negeri-negeri telah memberi persetujuan untuk bekerjasama.
          Untuk pengetahuan pembaca bahawa anggota jawatankuasa khas itu terdiri daripada YB Datuk Sri Haji Kamaruddin Mat Isa, Tim. Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Tan Sri Prof. Haji Abdul Jalil Hassan, Datuk Haji Abu Hassan Sail, Datuk Syeikh Abdul Mohsein Haji Salleh, Tuan Haji Ghazali bin Haji Abdullah, Tuan Haji Mohd.Talha bin Haji Abdul Rahman, Ustaz Haji Dusuki bin Haji Ahmad, Ustaz Mahsin bin Haji Mansor dan Ustaz Haji Ahmad bin Awang.

          13/09/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          SIAPA SESUNGGUHNYA GOLONGAN AL-ASY’ARIYYAH ?

          Penjelasan dari As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani : “Ramai kaum muslimin jahil (tidak mengetahui) mengenai madzhab al-‘Asya’irah (kelompok ulama pengikut madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari) dan tidak mengetahui siapakah mereka, serta metode mereka dalam bidang aqidah. Kerana ketidak tahuan itu, ada sebagian dari kaum Muslimin, tidak ber…hati-hati, melemparkan tuduhan bahwa golongan Asya’irah sesat atau telah keluar dari Islam dan mulhid (menyimpang dari kebenaran) di dalam memahami sifat-sifat Allah.

          Kejahilan terhadap madzhab al-Asya’irah ini adalah faktor retaknya kesatuan golongan Ahlus Sunnah dan terpecah-pecahnya kesatuan mereka, sehingga sebagian golongan yang jahil memasukkan al-Asya’irah dalam kelompok golongan yang sesat . Saya tidak tahu, mengapa golongan yang beriman dan golongan yang sesat disamakan ?

          Dan bagaimana golongan Ahl as-Sunnah dan golongan ekstrim mu’tazilah (Jahmiyyah) disamakan?
          أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ
          مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
          “Maka apakah patut Kami menjadikan orng-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ?, Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan ?” (QS. Al-Qalam : 35 – 36)

          Al-Asya’irah adalah para pemimpin ulama yang membawa petunjuk dari kalangan ulama muslimin yang ilmu mereka memenuhi bagian timur dan barat dunia dan disepakati oleh manusia sepakat atas keutamaan, keilmuan dan keagamaan mereka.

          Mereka adalah tokoh-tokoh besar ulama Ahlussunnah berwibawa tinggi yang berdiri teguh menentang kecongkaan dan kesombongan golongan Mu’tazilah.
          Dalam menuturkan tentang golongan Al-Asya’irah, Ibnu Taimiyyah berkata:
          والعلماء أنصار علوم الدين والأشاعرة أنصار أصول الدين – الفتاوى الجزء الرابع
          “Para ulama adalah pembela ilmu agama dan al-Asya’irah pembela dasar-dasar agama (ushuluddin) – (Al-Fataawaa, juz 4)

          Sesungguhnya mereka (penganut madzhab al-Asya’irah) terdiri dari tokoh-tokoh hadits (Muhadditsin), para Ahli fiqih dan para Ahlitafsir dari kalangan tokoh Imam-imam yang utama (yang menjadi panutan dan sandaran para ulama lain) seperti :
          -] Syaikhul Islam Ahmad ibn Hajar al-‘Asqalani رحمه الله, tokoh hadits yang tidak dipertikaikan lagi sebagai gurunya para ahli hadits, penyusun kitab Fathul Baari ‘ala Syarhil Bukhaari. Bermazhab Asya’irah. Karyanya sentiasa menjadi rujukan para ulama’.

          -] Syaikhul Ulama Ahl as-Sunnah, al-Imam an-Nawaawi رحمه الله, penyusun Syarh Shahih Muslim, dan penyusun banyak kitab yang masyhur. Beliau bermazhab Asya’irah.

          -] Syaikhul Mufassirin al-Imam al-Qurthubi رحمه الله penyusun tafsir al-Jaami’ li Ahkaamil Qur’an. Beliau bermazhab Asya’irah.

          -] Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haithami رحمه الله, penyusun kitab az-Zawaajir ‘an al-Iqtiraaf al-Kabaa’ir. Beliau bermazhab Asya’irah.

          -] Syaikhul Fiqh wal Hadits al-Imam al-Hujjah wa ats-Tsabat Zakaaria al-Anshari رحمه الله Beliau bermazhab Asya’irah.
          -] Al-Imam Abu Bakar al-Baaqilani رحمه الله
          -] Al-Imam al-Qashthalani رحمه الله
          -] Al-Imam an-Nasafi رحمه الله
          -] Al-Imam asy-Syarbini رحمه الله
          -] Abu Hayyan an-Nahwi رحمه الله, penyusun tafsir al-Bahr al-Muhith.
          -] Al-Imam Ibn Juza رحمه الله, penyusun at-Tashil fi ‘Uluumittanziil.

          -] Dan lain sebagainya, yang kesemua merupakan tokoh-tokoh Ulama ‘Asya’irah.
          Seandainya kita menghitung jumlah ulama besar dari Ahli Hadits, Ahli Tafsir dan Ahli Fiqh yang bermazhab al-Asya’irah, maka tidak mungkin mampu untuk dilakukan dan kita memerlukan beberapa jilid buku untuk merangkai nama para ulama besar yang ilmu mereka memenuhi wilayah timur dan barat bumi.

          Adalah salah satu kewajiban kita untuk berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa dan mengakui keutamaan orang-orang yang berilmu dan memiliki kelebihan yakni para tokoh ulama, yang telah menabur khidmat mereka kepada syari’at Sayyid Para Rasul, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.

          Dari mana lagi kebaikan yang kita harapkan sekiranya kita melemparkan tuduhan menyimpang daripada kebenaran dan sesat kepada para ulama besar kita dan para salafus sholeh ? Bagaimana Allah akan membukakan mata hati kita untuk mengambil manfaat dari ilmu-ilmu mereka setelah kita beri’tiqad bahwa mereka berada dalam keraguan dan menyimpang dari jalan Islam ???.

          Sungguh saya ingin mengatakan: “Adakah ulama masakini dari kalangan Doktor [penyandang ijazah PhD] dan cerdik pandai, mampu melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dan Al-Imam An-Nawawi رحمهماالله dalam berkhidmat terhadap Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang suci ?

          Adakah kita mampu untuk memberi khidmat terhadap Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم sebagaimana yang dilakukan oleh kedua-dua ulama besar ini ?
          emoga Allah memberikan karunia kepada mereka rahmat serta keridhaan-Nya. Lalu bagaimana kita bisa menuduh mereka berdua telah sesat dan juga para ulama al-Asya’irah yang lain, padahal kita memerlukan ilmu-ilmu mereka ?

          Dan bagaimana kita bisa mengambil ilmu dari mereka jika mereka didalam kesesatan ? PadahalAl-Imam Ibnu Sirin رحمه الله pernah berkata :
          إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم
          “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikan daripada siapa kalian mengambil agama kalian.”

          Apakah tidak cukup bagi orang yang tidak sependapat dengan para Imam di atas, untuk mengatakan, “Mereka rahimahullah telah berijtihad dan mereka salah dalam menafsirkan sifat-sifat Allah. Maka yang lebih baik adalah tidak mengikuti metode mereka.” Sebagai pengganti dari ungkapan kita yang telah menuduh mereka menyimpang dan sesat lalu kita marah atas orang yang mengkategorikan mereka sebagai Ahlussunnah.

          Dan seandainya Al-Imam an-Nawawi, Al-‘Asqalani, Al-Qurthubi, Al-Fakhrurrazi, Al-Haithami dan Zakaria Al-Anshari dan ulama berwibawa yang lain tidak dikategorikan sebagai Ahlussunnah Wal Jama’ah, lalu siapakah lagi yang termasuk Ahlussunnah Wal Jama’ah ?.

          Sungguh, dengan tulus kami mengajak semua pendakwah dan mereka yang bergiat di medan dakwah Islam agar bertaqwa kepada Allah dalam urusan ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم, khususnya terhadap tokoh-tokoh ulama dan para fuqaha’nya. Karena, ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم senantiasa berada dalam kebaikan hingga hari kiamat. Dan tidak ada kebaikan bagi kita jika tidak mengakui kedudukan dan keutamaan para Ulama kita sendiri.

          Al-Asya’irah adalah pengikut Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang mempunyai jasa yang besar dalam membersihkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah daripada kekeruhan yang dicetuskan oleh golongan Mu’tazilah.

          Kebanyakan pendukung dan Ulama besar umat ini adalah dari golongan al-Asya’irah. Sedangkan golongan yang memperdebatkan mereka ini sama sekali mencapai secarik buku mereka pun dari segi ilmu, wara’ dan taqwa.

          Di antara ulama Al-Asya’irah ialah: Imam Al-Haramain, Imam al-Ghazali, al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani, Imam Fakhruddin ar-Razi dan sebagainya. Apakah dosa yang telah mereka lakukan ?

          Adakah karena mereka bersungguh-sungguh untuk membuat bantahan atas kekeliruan yang ditimbulkan oleh golongan Musyabbihah yang berhubungan dengan Dzat Allah ? Golongan Musyabbihah ini mencoba untuk menetapkan bahwa Allah Ta’ala mempunyai jisim melalui ayat-ayat Mutasyabihat dan hadits-hadits yang menyatakan secara dzahirnya bahwa Allah mempunyai tangan, mata, siku, jari-jari dan sebagainya. -Selesai.

          ULAMA-ULAMA BERMADZHAB AL-ASYA’IRAH

          ::: Peringkat Pertama : Dari Kalangan Murid Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari
          * Abu Abdullah bin Mujahid Al-Bashri
          * Abu Al-hasan Al-Bahili Al-Bashri
          * Abu Al-Hasan Bandar bin Al-Husein Al-Syirazi As-Sufi
          * Abu Muhammad At-Thobari Al-‘Iraqi
          * Abu Bakr Al-Qaffal As-Syasyi
          * Abu Sahl As-So’luki An-Naisaburi
          * Abu Yazid Al-Maruzi
          * Abu Abdillah bin Khafif As-Syirazi
          * Abu Bakr Al-Jurjani Al-Isma’ili
          * Abu Al-Hasan Abdul ‘Aziz At-Thobari
          * Abu Al-Hasan Ali At-Thobari
          * Abu Ja’far As-Sulami Al-Baghdadi
          * Abu Abdillah Al-Asfahani
          * Abu Muhammad Al-Qursyi Al-Zuhri
          * Abu Bakr Al-Bukhari Al-Audani
          * Abu Al-Manshur bin Hamsyad An-Naisaburi
          * Abu Al-Husein bin Sam’un Al-Baghdadi
          * Abu Abdul Rahman As-Syaruthi Al-Jurjani
          * Abu Ali Al-Faqih Al-Sarkhosyi

          :: Peringkat Kedua,
          * Abu Sa’ad bin Abi Bakr Al-Isma’ili Al-Jurjani
          * Abu Thayyib bin Abi Sahl As-So’luki An-Naisaburi
          * Abu Al-Hasan bin Daud Al-Muqri Al-Darani Ad-Dimasyqi
          * Al-Qodhi Abu Bakr bin At-Thoyyib bin Al-Baqillani
          * Abu ‘Ali Ad-Daqqaq An-Naisaburi (guru Imam Al-Qusyairi)
          * Al-Hakim Abu Abdillah bin Al-Bai’e An-Naisaburi
          * Abu Manshur bin Abi Bakr Al-Isma’ili
          * Al-Ustaz Abu Bakr Furak Al-Isfahani
          * Abu Sa’ad bin Uthman Al-Kharkusyi
          * Abu Umar Muhammad bin Al-Husein Al-Basthomi
          * Abu Al-Qasim bin Abi Amr Al-Bajli Al-Baghdadi
          * Abu Al-Hasan bin Maysazah Al-Isfahani
          * Abu Tholib bin Al-Muhtadi Al-Hasyimi
          * Abu Mu’ammar bin Abi Sa’ad Al-Jurjani
          * Abu Hazim Al-‘Abdawi An-Naisaburi
          * Al-Ustaz Abu Ishaq Al-Isfara’ini
          * Abu ‘Ali bin Syazan Al-Baghdadi
          * Abu Nu’aim Al-Hafiz Al-Isfahani
          * Abu Hamid Ahmad bin Muhammad Al-Istawa’ie Ad-Dalwi

          :: Peringkat ketiga,
          * Abu Al-Hasan As-Sukri Al-Baghdadi
          * Abu Manshur Al-Ayyubi An-Naisaburi
          * Abu Muhammad Abdul Wahab Al-Baghdadi
          * Abu Al-Hasan An-Na’imi Al-Bashri
          * Abu Thohir bin Khurasah Ad-Dimasyqi
          * Al-Ustaz Abu Manshur An-Naisaburi
          * Abu Dzar Al-Haraqi Al-Hafiz
          * Abu Bakr Ad-Dimsyaqi (Ibn Al-Jurmi)
          * Abu Muhammad Al-Juwaini (ayahnda Imam Al-Haramain Al-Juwaini)
          * Abu Al-Qasim bin Abi Uthman Al-Hamdani
          * Abu Ja’far As-Samnani
          * Abu Hatim At-Thobari Al-Qozwini
          * Abu Al-Hasan Rasya bin Nazhif Al-Muqri
          * Abu Muhammad Al-Isfahani (Ibn Al-Laban)
          * Abu Al-Fath Salim bin Ayyub Al-Razi
          * Abu Abdillah Al-Khobazi Al-Muqri
          * Abu Al-Fadhl bin ‘Amrus Al-Baghdadi Al-Maliki
          * Al-Ustaz Abu Al-Qasim Al-Isfarayini
          * Al-Hafiz Abu Bakr Al-Baihaqi (pemilik Al-Asma’ wa As-Sifat)

          :: Peringkat keempat,
          * Abu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi
          * Al-Ustaz Abu Al-Qasim Al-Qusyairi
          * Abu ‘Ali bin Abi Harishoh Al-Hamdani Ad-Dimasyqi
          * Abu Al-Muzhoffar Al-Isfara’ini
          * Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali As-Syirazi
          * Imam Al-Haramain Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini
          * Abu Al-Fath Nasr bin Ibrahim Ad-Dimasyqi
          * Abu Abdillah At-Thobari

          :: Peringkat kelima,
          * Abu Al-Muzoffar Al-Khowafi
          * Al-Imam Abu Al-Hasan At-Thobari (Balika Al-Harrasi)
          * Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali
          * Al-Imam Abu Bakr Al-Syasyi
          * Abu Al-Qashim Al-Anshori An-Naisaburi
          * Al-Imam Abu Nasr bin Abi Al-Qasim Al-Qusyairi
          * Al-Imam Abu ‘Ali Al-Hasan bin Sulaiman Al-Isbahani
          * Abu Sa’id As-ad bin Abi Nashr bin Al-Fadhl Al-‘Umri
          * Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Yahya Al-Uthmani Ad-Dibaji
          * Al-Qadhi Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Salamah (Ibn Al-Ratbi)
          * Al-Imam Abu Abdillah Al-Farawi
          * Imam Abu Sa’ad Isma’il bin Ahmad An-Naisaburi Al-Karmani
          * Imam Abu Al-Hasan Al-Sulami Ad-Dimasyqi
          * Imam Abu Manshur Mahmud bin Ahmad Masyazah
          * Abu Al-Fath Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad Al-Isfara’ini
          * Abu Al-Fath Nasrullah bin Muhammad Al-Mashishi

          :: Peringkat keenam,
          * Al-Imam Fakhruddin Al-Razi (pemilik At-Tafsir Al-Kabir dan Asas At-Taqdis)
          * Imam Saifullah Al-Amidi (empunya Abkar Al-Afkar)
          * Sulton Al-Ulama’ Izzuddin bin Abdil Salam
          * Sheikh Abu ‘Amr bin Al-Hajib
          * Sheikhul Islam Izzuddin Al-Hushairi Al-Hanafi (pemilik At-Tahsil wal Hashil)
          * Al-Khasru Syahi
          ::: Peringkat ketujuh,
          * Sheikh Taqiyuddin Ibn Daqiq Al-‘Idd
          * Sheikh ‘Ala’uddin Al-Baji
          * Al-Imam Al-Walid Taqiyuddin Al-Subki (murid Sheikh Abdul Ghani An-Nablusi)
          * Sheikh Shofiyuddin Al-Hindi
          * Sheikh Shadruddin bin Al-Marhal
          * Sheikh Zainuddin
          * Sheikh Shodruddin Sulaiman Abdul Hakam Al-Maliki
          * Sheikh Syamsuddin Al-Hariri Al-Khatib
          * Sheikh Jamaluddin Az-Zamlakani
          * Sheikh Jamaluddin bin Jumlah
          * Sheikh Jamaluddin bin Jamil
          * Qodhi Al-Quddho Syamsuddin As-Saruji Al-Hanafi
          * Al-Qadhi Syamsuffin bin Al-Hariri
          * Al-Qodhi ‘Addhuddin Al-Iji As-Syirazi (pemilik kitab Al-Mawaqif fi Ilm Al-Kalam)
          ::: Dan sebagainya… Nafa’anaLlahu bi ulumihim wa barakatihim.. amin…….. [Selesai nukilan].

          Lihatlah, sesungguhnya Al-Asyairah diikuti oleh jumlah yang sangat besar dari para ‘ULAMA’. Apakah mereka semua ini sesat jika ada pihak mengatakan golongan Al-Asyairah sesat ? Pikirkanlah…dan bagaimana pula dengan golongan-golongan yang lainnya, apakah ada aliran mereka yang mampu melahirkan para ULAMA’ seperti Al-Asyairah?

          Wallahu ‘alam..

          Dari Ustaz Yunan A Samad

          13/09/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          Yasinan Tiap Malam Jumat.

          Pertanyaan:

          Bolehkah membaca Yasin setiap malam Jumat sebagaimana yang telah umum dilakukan dalam masyarakat?

          Jawaban:

          Ada dua hal yang telah dilakukan dalam amaliyah tersebut, yaitu mengkhususkan membaca Quran pada malam Jumat dan mengkhususkan Surat Yasin.

          Dalil yang pertama:

          عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِىُّ g يَأْتِى مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا . وَكَانَ عَبْدُ اللهِ k يَفْعَلُهُ (رواه البخارى رقم 1193 ومسلم رقم 3462).

          “Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Saw mendatangi masjid Quba’ setiap hari Sabtu, baik berjalan atau menaiki tunggangan. Dan Abdullah bin Umar melakukannya” (HR Bukhari No 1193 dan Muslim No 3462).

          Al-Hafiz Ibnu Hajar yang diberi gelar Amirul Mu’minin fil Hadis, beristidal dari hadis diatas:

          وَفِي هَذَا اَلْحَدِيْثِ عَلَى اِخْتِلاَف طُرُقِهِ دَلاَلَةٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيْصِ بَعْضِ اْلأَيَّامِ بِبَعْضِ اْلأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ (فتح الباري لابن حجر 4 / ص 197).

          “Dalam hadis ini, dengan bermacam jalur riwayatnya, menunjukkan diperboleh kan menentukan sebagian hari tertentu dengan sebagian amal-amal saleh, dan melakukan-nya secara terus-menerus” (Fath al-Bari 4/197).

          Dalil kedua:

          عَنْ أَنَسٍ h كَانَ رَجُلٌ (كلثوم بن الهدم) مِنَ الأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ، وَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ بِهَا لَهُمْ فِى الصَّلاَةِ مِمَّا يَقْرَأُ بِهِ افْتَتَحَ بِـ (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ) حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا، ثُمَّ يَقْرَأُ سُورَةً أُخْرَى مَعَهَا، وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ، فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ تَفْتَتِحُ بِهَذِهِ السُّورَةِ، ثُمَّ لاَ تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِأُخْرَى، فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِأُخْرَى. فَقَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا، إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِذَلِكَ فَعَلْتُ، وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ. وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِهِمْ، وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ، فَلَمَّا أَتَاهُمُ النَّبِىُّ g أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ «يَا فُلاَنُ مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُومِ هَذِهِ السُّورَةِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ». فَقَالَ إِنِّى أُحِبُّهَا . فَقَالَ «حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ» (رواه البخاري 774).

          “Ada seorang sahabat bernama Kaltsum bin Hadm yang setiap salat membaca surat al-Ikhlas.

          Rasulullah Saw bertanya: “Apa yang membuatmu terus-menerus membaca surat al-Ikhlas ini setiap rakaat?”.

          Kaltsul bin Hadm menjawab: “Saya senang dengan al-Ikhlas”.

          Rasulullah bersabda: “Kesenangan mu pada surat itu memasukkanmu ke dalam surga” (HR al-Bukhari No 774).

          Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

          وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيصِ بَعْضِ الْقُرْآنِ بِمَيْلِ النَّفْسِ إِلَيْهِ وَالِاسْتِكْثَارِ مِنْهُ وَلَا يُعَدُّ ذَلِكَ هِجْرَانًا لِغَيْرِهِ (فتح الباري لابن حجر ج 3 / ص 150).

          “Hadis ini adalah dalil diperbolehkan menentukan membaca sebagian al-Quran berdasarkan kemahuan dan memperbanyak bacaan tersebut.

          Dan hal ini bukanlah pembiaran pada surat yang lain” (Fathul Bari III/105).

          Berdasarkan hadis-hadis sahih dan ulama ahli hadis, maka hukumnya diperbolehkan.

          Keutamaan Membaca Surah Yassin

          Hadits Pertama:

          وقال الحافظ أبو يعلى: حدثنا إسحاق بن أبي إسرائيل، حدثنا حجا بن محمد، عن هشام بن زياد، عن الحسن قال: سمعت أبا هريرة يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من قرأ يس في ليلة أصبح مغعورًا له. ومن قرأ: “حم” التي فيها الدخان أصبح مغعورًا له”.

          Al-Hafiz Abu Ya’la berkata, “Ishaq bin Abi Isra’il meriwayatkan kepada kami, Hajjaj bin Muhammad meriwayatkan kepada kami, dari Hisyam bin Ziyad, dari al-Hasan, ia berkata, ‘Saya mendengar Abu Hurairah berkata, ‘Rasulullah Saw bersabda, ‘Siapa yang membaca surat Yasin pada suatu malam, maka pada pagi harinya ia diampuni.

          Dan siapa yang membaca surat Ha Mim yang di dalamnya ada ad-Dukhan, maka pada pagi harinya ia diampuni”.

          Imam Ibnu Katsir berkata : إسناد جيد . Sanad Jayyid (baik).

          Hadits Kedua:

          Selanjutnya Imam Ibnu Katsir menyebutkan hadits,

          ثم قال الإمام أحمد: حدثنا عارم، حدثنا ابن المبارك، حدثنا سليمان التيمي، عن أبي عثمان وليس بالنهدي عن أبيه، عن – – مَعْقِل بن يَسَار قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “اقرؤوها على موتاكم” يعني: يس. – ورواه أبو داود، والنسائي في “اليوم والليلة” وابن ماجه من حديث عبد الله بن المبارك، به إلا أن في رواية النسائي: عن أبي عثمان، عن معقل بن يسار.

          Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “’Arim meriwayatkan kepada kami, Ibnu al-Mubarak meriwayatkan kepada kami, Sulaiman at-Taimi meriwayatkan kepada kami, dari Abu ‘Utsman –bukan an-Nahdi-, dari Bapaknya, dari Ma’qil bin Yasar. Ia berkata, ‘Rasulullah Saw bersabda, ‘Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang sudah mati diantara kamu’. Maksudnya adalah bacakanlah surat Yasin.

          Diriwayatkan oleh Abu Daud, an-Nasa’i dalam al-Yaum wa al-Lailah, Ibnu Majah dari Abdullah bin al-Mubarak, hanya saja dalam riwayat an-Nasa’i disebutkan: dari Abu ‘Utsman, dari Ma’qil bin Yasar.

          Berkata Imam Ibnu Katsir:

          ولهذا قال بعض العلماء: من خصائص هذه السورة: أنها لا تقرأ عند أمر عسير إلا يسره الله. وكأن قراءتها عند الميت لتنزل الرحمة والبركة، وليسهل عليه خرو الروح، والله أعلم.

          Oleh sebab itu sebagian ulama berkata:

          “Diantara keistimewaan surat ini (surat Yasin), sesungguhnya tidaklah surat Yasin dibacakan pada suatu perkara sulit, malainkan Allah Swt memudahkan nya. Seakan-akan dibacakannya surat Yasin di sisi mayat agar turun rahmat dan berkah dan memudahkan baginya keluarnya ruh”, wallahu a’lam

          Hadits Keempat:

          حديث من قرأ يس ابتغاء وجه الله غعر له

          Hadits: “Siapa yang membaca surat Yasin karena mengharapkan keagungan Allah Swt, maka Allah Swt mengampuninya”.
          Komentar Imam asy-Syaukani:

          رواه البيهقي عن أبي هريرة مرفوعا وإسناده على شرط الصحيح وأخرجه أبو نعيم وأخرجه الخطيب فلا وجه لذكره في كتب الموضوعات

          Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dari Abu Hurairah, hadits Marfu’, sanadnya menurut syarat shahih.

          Disebutkan Imam Abu Nu’aim, juga disebutkan Imam al-Khathib al-Baghdadi, tidak perlu disebutkan dalam kitab-kitab hadits palsu.

          Andai hadits-hadits ini dha’if, tetap boleh diamalkan sebagai fadha’il amal.

          Tentang beramal dengan hadits dha’if, lihat masalah Hukum Beramal Dengan Hadits Dha’if.

          Imam as-Suyuthi menyebutkan dalam Tadrib ar-Rawy fi Syarh Taqrib an-Nawawi,
          Boleh meriwayatkan dan mengamalkan hadits Dha’if, dengan syarat:

          1. Bukan pada masalah Aqidah; tentang sifat Allah, perkara yang boleh dan mustahil bagi Allah, penjelasan firman Allah Swt.

          2. Bukan pada hukum halal dan haram. Boleh pada kisah-kisah, fadha’il (keutamaan) amal dan nasihat.

          3. Tidak terlalu dha’if; perawinya bukan kadzdzab (pendusta), tertuduh sebagai pendusta atau terlalu banyak kekeliruan dalam periwayatan.

          4. Bernaung di bawah hadits shahih.

          5. Tidak diyakini sebagai suatu ketetapan, hanya sebagai bentuk kehati-hatian.

          Teks lengkapnya:

          ) ورواية ما سوى الموضوع من الضعيف والعمل به من غير بيان ضععه في غير صعات الله تعالى ( وما يجوز ويستحيل عليه وتعسير كلامه )والأحكام كالحلال والحرام و ( غيرهما وذلك كالقصص وفضائل الأعمال والمواعظ وغيرها ) مما لا تعلق له بالعقائد والأحكام ( ومن نقل عنه ذلك ابن حنبل وابن مهدي وابن المبارك قالوا إذا روينا في الحلال والحرام شددنا وإذا روينا في العضائل ونحوها تساهلنا تنبيه لم يذكر ابن الصلاح والمصنف هنا وفي سائر كتبه لما ذكر سوى هذا الشرط وهو كونه في العضائل ونحوها وذكر شيخ الإسلام له ثلاثة شروط أحدها أن يكون الضعف غير شديد فيخر من انعرد من الكذابين والمتهمين بالكذب ومن فحش غلطه نقل العلائي الاتعاق عليه الثاني أن يندر تحت اصل معمول به الثالث أن لا يعتقد عند العمل به ثبوته بل يعتقد الاحتياط وقال هذان ذكرهما ابن عبد السلام وابن دقيق العيد وقيل لا يجوز العمل به مطلقا قاله أبو بكر بن العربي وقيل يعمل به مطلقا وتقدم عزو ذلك إلى ابي داود وأحمد وانهما يريان ذلك أقوى من رأي الرجال وعبارة الزركشي الضعيف مردود ما لم يقتض ترغيبا أو ترهيبا أو تتعدد طرقه ولم يكن المتابا منحطا عنه وقيل لا يقبل مطلقا وقيل يقبل إن شهد له أصل واندر تحت عموم انتهى ويعمل بالضعيف ايضا في الأحكام إذا كان فيه احتياط

          Contoh: Hadits Doa Buka Puasa.

          عن معاذ بن زُهْرة: أنه بلغه أن النب ي صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَ لَّمَ كان إذا أفْطر؛ قال: ” اللهم لك صُمْت، وعلى رزقك أفطرت ”

          Dari Mu’adz bin Zuhrah: telah sampai kepadanya bahwa ketika berbuka Rasulullah Saw mengucapkan

          “Ya Allah untuk-Mu puasaku dan atas rezeki-Mu aku berbuka”.

          Berkata Syekh al-Albani,

          إسناده ضعيف مرسل؛ معاذ هذا تابعي مجهول، وبالارسال أعله الحافظ المنذري

          Sanadnya dha’if mursal, status Mu’adz ini adalah seorang tabi’i majhul.
          Disebabkan mursal dijadikan ‘illat oleh al-Hafiz al-Mundziri.

          Syekh Ibnu ‘Utsaimin Membolehkan Doa Yang Didha’ifkan Syekh al-Albani:

          إن وقت الإفطار موطن إجابة للدعاء، لأنه في آخر العبادة، ولأن الإنسان أشد ما يكون غالبا من ضعف النعس عند إفطاره، اللهم لك « : وكلما كان الإنسان أضعف نعسا،ً وأرق قلبا كان أقرب إلى الإنابة والإخبات إلى الله عز وجل، والدعاء المأثور ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن « : ومنه أيضا قول النبي عليه الصلاة والسلام » صمت، وعلى رزقك أفطرت .» شاءالله

          Sesungguhnya waktu berbuka adalah waktu terkabulnya doa, karena waktu berbuka itu waktu akhir ibadah, karena biasanya manusia dalam keadaan sangat lemah ketika akan berbuka, setiap kali manusia dalam keadaan jiwa yang lemah, hati yang lembut, maka lebih dekat kepada penyerahan diri kepada Allah Swt. Doa yang ma’tsur adalah:

          اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت

          “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu”.

          “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan atas rezeki-Mu aku berbuka”.

          Juga sabda Rasulullah Saw:

          ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاءالله

          “Dzahaba azh-Zhama’u wabtallati al-‘Uruqu wa tsabata al-Ajru insya Allah”
          “Dahaga telah pergi, urat-urat telah basah dan balasan telah ditetapkan insya Allah1.

          Membaca Surat al-Kahfi Hari/Malam Jum’at.

          Tidak hanya membaca surat Yasin, tapi hadits lain menyebutkan keutamaan membaca surat al-Kahfi malam Jum’at. Dalam hadits disebutkan,

          من قرأ سورة الكهف في يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين

          “Siapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, ia diterangi cahaya antara dua Jum’at”. (HR. an-Nasa’i dan al-Baihaqi)
          Dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib.

          Sila simak huraian dibawah ini.

          الملك ، والواقعة ، والدخان.
          321 – فعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من قرأ (يس) في يوم وليلة ابتغاء وجه الله غفر له ” (3).
          (3) رواه ابن السني في ” عمل اليوم والليلة ” من حديث أبي هريرة ، وعزاه المنذري في ” الترغيب والترهيب ” لمالك وابن السني وابن حبان في صحيحه من حديث جندب ، وعزاه صاحب المشكاه للبيهقي في شعب الإيمان من حديث معقل بن يسار ، ورواه الطبراني في الدعاء ، والدارمي في سننه من حديث أبي هريرة ، وللحديث طرق ينهض بها.

          “Kami (kalangan perawi hadits) meriwayatkan banyak hadits tentang membaca surat-surat (tertentu) di hari dan malam jum’at, diantaranya : Surat Yaasiin, Surat Tabaaruk al-Mulk, Surat Waqi’ah dan Surat ad-Dukhan.

          Diriwayatkan dari Abi Hurairah Ra.

          Dari Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam “Barangsiapa membaca Yaasiin dihari dan malam jumah dengan mengharap ridha Allah, diampuni dosanya” (HR. Ibnu Sinni dalam bab ‘amalan dihari dan malam jum’at’ dari Abu Hurairah, Syekh mundzir menganggap hadits ini kuat dalam kitab ‘Targhib wa at-tarhiib’ riwayat Malik, Ibnu Sinni, dan Ibnu Hibbaan dari riwayat Jandab, Pengarang kitab ‘alMisykaah’ juga menganggap hadits ini kuat dalam riwayat Imam baihaqqi dari riwayat Mu’aqqal Bin Yasaar, Imam Thabranii meriwayatkannya dalam ‘bab doa’ dan Imam ad-Daarimi juga meriwayatkan dalam kitab sunannya). Al-Adzkaar I/110.

          1100 – وروي عنه رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من قرأ سورة يس في ليلة الجمعة غفر له
          رواه الأصبهاني

          “Barangsiapa membaca Yaasiin dihari dan malam jumah dengan mengharap ridha Allah, diampuni dosanya” (HR Asbahaani). At-Targhiib wa at-Tarhiib I/298.

          وذكر الثعلبي عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : “من قرأ سورة يس ليلة الجمعة أصبح مغفورا له”

          Imam Tsa’labi menuturkan dari Abu Hurairah Ra. “Barangsiapa membaca Yaasiin di malam jum’at, maka paginya diampuni dosanya”.

          alJaamii’ Li Ahkaam al-Quraan XV/3, Tafsiir Siraj al-Muniir III/301.

          وهي مكية ، وروى مقاتل بن حيان ، عن قتادة ، عن أنس ، عن النبي قال : ‘ إن لكل شيء قلبا ، وإن قلب القرآن سورة يس ، ومن قرأ سورة يس أعطاه الله ثواب قراءة القرآن عشر مرات .

          “Surat Yaasin termasuk Makkiyyah (surat yang diturunkan dikota makah) Muqatil Bin Hayan meriwayatkan dari Sahabat Anas dari Nabi shallaahu alaihi wasallam,..

          “Sesungguhnya setiap sesuatu memilik hati, sedang hati alQuran adalah surat yaasiin, maka barangsiapa membaca surat yasin, Allah memberi pahala padanya sepuluh bacaan al quran”. Tafsiir as-Sam’aani IV/265 . Wallaahu A’lamu Bis Shawaab…

          Tariq Sufi.

          Sumber: FB Ilham Othmany

          07/09/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , , | Leave a comment

          Surat Terbuka Buat Penganut Ajaran Salafi Palsu.

          Assalamualaikum wrt

          Saudaraku, yang dimuliakan Allah.
          Pertama sekali, syukur kepada Allah Allah kerana kita dimuliakan kerana mengtauhidkan Allah sebagai ilah dan Muhammad S.A.W sebagai Rasul.

          Dikalangan saudara. Ramai yang berpangkat mulia dan berpendidikkan tinggi seperti Mufti, Dr, Maulana dan sebagainya. Saya menzahirkan perasaan Hormat dan Kagum diatas kesanggupan saudara saudari menempuh jalan bagi menuntut ilmu Agama Allah bagi memahami Deen-Nya sehingga ke taraf tersebut dan sanggup berkorban apa saja sehingga sanggup berhutang bagi mencapai maksud tersebut.

          Saudara yang dirahmati Allah, ketahuilah. Selagi mana seseorang itu berada atas landasan Aqidah yang betul yaitu Ahlil Sunnah Wal Jamaah. Wajib keatas diri saya bagi mempertahankan nyawanya dari dibunuh. Ini adalah kewajipan.

          Mungkin ada dari kalam kalam saya yang mengundang perit hati. Saya memohon maaf diatas ucapan tersebut. Percayalah, kata kata saya itu tidak lain melainkan hanya untuk mengajak kalian kembali kepangkal jalan yang sebenar yaitu Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Bukan kepada aqidah yang mengjisimkan dan mengtashbihkan Allah sama seperti makhluk. Yaqinlah saudara. Allah tidak berhajat kepada sesuatu.

          Saudara, Salaf yang sebenar bukanlah suatu kefahaman yang mengjisimkan Allah atau mengtasybihkan Allah. Mereka tetap mengtanzihkan Allah dari Jisim atau Syibih yang sama seperti Makhluk. Jika Allah duduk di atas Arasy, sebelum duduk adakah Allah berdiri? Sebelum terciptanya Arasy, dimanakah tempat duduk Allah? Jika Allah bertempat adakah Allah mempunyai Tinggi, Luas, atau Besar? Bukankah Allah tidak berhajat kepada sesuatu sekalipun pada Arasy?

          Saudaraku yang dimuliakan. Ulama adalah “tiang tiang seri” Agama. Tanpa mereka. Hancur luluhlah agama, merekalah yang menggunakan kepakaran mereka bagi mengeluarkan hukum dari Al Quran dan Hadis yang mana kita sendiri tidak layak untuk mengeluarkan hukum secara langsung dari Quran dan Hadis kerana tiada kepakaran. Siapalah kita untuk membanding bezakan Fatwa Imam Mazhab dengan mengikut mazhab yang hadisnya yang paling shoheh seolah olah kita lebih Alim Hadis berbanding dengan Imam Imam Mujtahid.

          Tahukah saudara apa akibatnya jika Al Quran dan Hadis diambil secara mentah mentah. Wahabii. Syiah. ISIS. LIBERAL dan Ajaran ajaran sesat yang lain. Dalilnya adalah Al Quran dan Hadis juga tetapi tanpa mengikut format dan displin yang sepatitnya dilalui maka semuanya sesat. نعوذ بالله من ذلك

          Saudara, pandangan saya, Konsep keterbukaan islam yang diperkatakan mungkin hanyalah membuka pintu kelonggaran hukum islam kepada orang islam dan membuka pintu hak hak khas untuk ummat islam kepada orang kafir seperti zakat. Banyak lagi sumber sumber lain boleh disumbangkan kepada orang kafir mengapa perlu menggunakan hak “Eksklusif” orang islam?

          Sebenarnya saudara. Perkara ini hanyalah menyempitkan pemikiran ummat islam tentang beragama apabila dengan perkara khas orang islam diterbukakan manakala perkara asas yang perlu ummat islam faham di Bidaahkan seperti misalan Ilmu Tauhid Sifat 20 yang dikatakan Bidaah Falsafah dan sebagainya.

          Tidak perlu saya ungkap peristiwa Pemecatan Imam Imam Masjid oleh Sohibus Samahah Tuan Mufti kerana hal hal yang langsung tidak salah dalam agama malah dituntut.

          Saudara, tidakkah saudara rasa perkara ini hanyalah meleraikan ikatan ikatan perhubungan ummat dari berpegang dengan agama kepada konsep keterbukaan beragama? Saudara, kasihanilah orang orang awam. Mereka tidak punya kayu ukur atau asas kefahaman agama melainkan hanya mengikut insan insan yang disangkakan pada mereka adalah benar tetapi hanya memeningkan bahkan ada yang menyesatkan mereka. Walhasil orang awam hanya memilih untuk bermudah mudah dalam urusan beragama. Bukankah itu satu bala dalam agama apabila semua mengambil tidak berat hal ehwal agama?

          Saudara yang dirahmati Allah. Muslim. Pakainya adalah pakaian Rasulullah kerana setiap perkara yang disandarkan kepada Rasulullah semuanya adalah Sunnah. Terkadang saya hairan. Saudara saudara yang dimulutnya sentiasa beratib “Sunnah.. Sunnah.. Ini Ada Hadis.. Ini Hadis Shoheh.. Ini Rasulullah buat.. Ini Rasulullah Tak Buat..” tetapi saudara lebih mementingkan pakaian barat dengan mengatakan ini adalah pakaian “Kontemporari” atau terkini walhal pakaian atau cara yang terbaik adalah dengan mengikut cara dan sunnah Rasulullah SAW.

          Berhentilah menyalahkan ulama terdahulu kononnya menjadi “Hero” ummat dengan menggunakan istilah “Fikh Wakeq” atau “Fikh Kontemporari” atau bahasa lainnya “Menepati Maqosid Syariah” yang mana membuka pintu pintu kebebasan dan Liberal sehinggakan ajaran ajaran sesat yang lainnya menggunakan Kalam kalam dari pihak saudara bagi menjadikan hujjah keatas kesesatan mereka dan mengembangkan ajaran sesat mereka itu. Ini masaalahnya.

          Malah dari perkhabarkan yang diberitakan seorang Tokoh Liberal memuji Tuan Sohibus Samahah diatas konsep “keterbukaan yang keterlaluan”

          Akhir kalam, Mungkin cara dakwah yang saya sampaikan mengoris hati dan perasaan saudara, ketahuilah saudara. Semua yang saya lakukan atas dasar Kasih dan Mahabbah. Semua muslim adalah bersaudara. Tidak sanggup saya melihat saudara islam saya mengjisimkan atau mengtasyhbihkan Allah sama macam makhluk. Perkara sebegini boleh menjerumuskan kita ke lembah kekufuran.
          Saudara, jika mungkin uslub saya adalah uslub kasar dalam berdakwah, saya sarankan saudara menerima uslub Para Habaib. Habib habib ini dakwahnya begitu lemah lembut dan mengajak manusia ke jalan Allah dengan penuh Hikmah. Ditambah pula dengan leluhur mereka adalah titihan dari Rasulullah SAW.

          Jika saudara tidak dapat menerima dakwah saya, maka terimalah dakwah para Habaib.

          Semoga Allah SWT memberikan kepada hati hati kita hidayah dan taufiq-Nya untuk berada diatas Aqidah yang sebenar Ahlul Sunnah Wal Jamaah, Dikurniakan Allah didalam hati kita supaya mengasihi dan membesarkan Para Habaib. Dianugerahkan kepada kita keampunan. Diberikan kepada kita Guru yang sebenar. Diberikan kepada kita kehidupan beragama yang sebenar
          Diberikan kepada kita cara amalkan sunnah yang sebenar
          Moga dengan itu kita semua mendapat rahmat dan diberi keizinan oleh Allah untuk berkumpul bersama sama Rasulullah SAW.

          Islam itu Bersaudara

          -Tuan Guru Ustaz Ahmad Rozaini Abdul Rahman An Nuuri-

          06/09/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah, wahabi | , | Leave a comment

          Siapa pula yang memimpin majlis tahlilan ketika Imam Syafie wafat?

          Jawapannya:

          Ia adalah seorang wali (penguasa) yang bernama Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam.
          Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam adalah seseorang yang diwasiatkan oleh Imam Syafie, apabila beliau wafat agar dimandikan dan diurus oleh Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, dari kerja-kerja memandikan, memimpin solat jenazah, menguburkan, mendoakan serta mengadakan majlis tahlilan bersama jamaah yang lain yang hadir saat Imam Syafi’i wafat.
          Imam Syafie wafat pada malam Jumaat pada waktu subuh pada hari terakhir bulan Rejab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Masihi pada usia 52 tahun.

          Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafie sampai hari ini, dan disana pula dibangun sebuan masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafie. Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya kerana banyaknya penziarah. (Sila rujuk kitab tarikh atau Manaqib Imam Syafie)

          》Persoalan mengenai pendirian Imam Syafie:
          Imam Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani berkata: “Saya pernah bertanya kepada Imam Syafie mengenai bacaan Al-Quran di kubur. Ternyata beliau itu (Imam Syafie) membolehkannya”.

          》Hal ini dikukuhkan lagi apabila Imam Syafie sendiri pernah menziarahi makam Imam Laith bin Sa’ad, kemudian beliau membaca Al-Quran.

          ﻭﻗﺪ ﺗﻮﺍﺗﺮ ﺍﻥ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺯﺍﺭ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﻭﺍﺛﻨﻰ ﺧﻴﺮﺍ ﻭﻗﺮﺃ ﻋﻨﺪﻩ ﺧﺘﻤﺔ ﻭﻗﺎﻝ : ﺍﺭﺟﻮﺍ ﺍﻥ ﺗﺪﻭﻡ ﻓﻜﺎﻥ ﺍﻻﻣﺮ ﻛﺬﻟﻚ

          “Dan telah mutawatir (masyhur) riwayat bahawa Imam Syafie telag menziarahi makam Imam Laith bin Sa’ad. Beliau memujinya dan membaca Al-Quran di sisi kuburnya dengan sekali khatam. Imam Syafie berkata: Aku mengharapkan agar ia (amalan membaca Al-Quran seperti di sisi makan Imam Laith) akan berterusan, maka begitulah seperti apa yang dikatakan (didoakan) oleh Imam Syafie”
          (Rujuklah kitab az-Zakhirah Ath-Thaminah, ms.64)

          》Bagaimana pula dengan perkataan Imam Syafie:

          ﻭﺃﻛﺮﻩ ﺍﻟﻤﺄﺗﻢ ﻭﻫﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻭﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻬﻢ ﺑﻜﺎﺀ ﻓﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﺤﺪﺩ ﺍﻟﺤﺰﻥ ﻭﻳﻜﻠﻒ ﺍﻟﻤﺆﻧﺔ
          “Dan aku
          membenci ma’tam iaitu adanya perkumpulan walaupun tidaklah berlaku pada mereka perbuatan menangir kerana perbuatan itu akan mengembalikan kesedihan dan menambahkan bebanan.” (Al-Umm, j.1, ms.318)
          * Segelintir orang jahil bertopengkan ‘ustaz’ telah menyangka Majlis Ma’tam yang dibenci oleh Imam Syafie adalah sama dengan Majlis Tahlilan. Sedangkan “ma’tam ialah perkumpulan orang yang kebiasaannya akan bertambahlah kesedihan dalam perkumpulan mereka.” (Rujuklah Al-Munjid, ms.2)

          * Maka, illah larangan ma’tam ialah kerana ia termasuk dalam ‘niyahah’ iaitu meratap pemergian si mati. Hal ini dilarang dalam agama kerana Nabi s.a.w bersabda:

          ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎﺀ ﺍﻟﺤﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻭ ﺑﺒﻜﺎﺀ ﺍﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
          “Mayat akan diazab kerana tangisan rantapan orang hidup ke atasnya atau tangisan rantapan keluarganya” (HR. Muslim)

          * Konsep yang berbeza pada majl

          is tahlilan, kerana ia bukan majlis meratap dan bersedih. Melainkan sebagai suatu usaha keluarga si mati untuk mengirimkan pahala kepada si mati dengan pelbagai amalan kebaikan.

          》Begitu juga seperti larangan kenduri wahsyah yang diterangkan dalam kitab-kitab fiqh yang lain, larangan tersebut berserta dengan illah yang berbeza. Sebab itulah, urusan menentukan hukum diberikan kepada alim ulama bukannya kepada cikgu geografi.

          》Bagaimana pula, dengan pendapat Imam Syafie mengenai mengirim pahala bacaan Al-Quran?

          * Imam Nawawi telah menyatakan mengirim pahala doa dan sedekah adalah sampai dengan IJMAK ULAMA.

          ﻳﺼﻠﻪ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﺎﻻﺟﻤﺎﻉ

          (Rujuklah Fatawa Imam Nawawi, ms.146)
          * Ini bermakna, usaha keluarga mengirim pahala sedekah makanan dalam majlis tahlilan itu SAMPAI kepada si mati dengan ijmak ulama.

          》Namun, yang menjadi khilaf ialah 0ahala bacaam Al-Quran. Menurut Imam Nawawi, ia sampai.

          Dan menurut Syeikhul Islam Zakaria Al-Anshari:

          ﺍﻥ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻱ ﻓﻰ ﺗﻼﻭﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻣﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺍﺫﺍ ﻗﺮﺃ ﻻ ﺑﺤﻀﺮﺓ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﻮ ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ ﻟﻪ ﺍﻭ ﻧﻮﺍﻩ ﻭﻟﻢ ﻳﺪﻉ

          “Sesungguhnya pendapat masyhur dalam mazhab Syafie mengenai bacaan Al-Quran (yang pahalanya dikirimkan kepada si mati) adalah apabila dibaca tidak dilakukan ketika mayat berada dihadapan pembaca, dan jika tidak diniatkan hadiah pahala kepadanya atau diniatkan pahala bacaan kepadanya tetapi tidak membaca doa sesudah bacaan Al-Quran tersebut.”
          (Rujuklah Hukm Asy-Syar’iyyah Al-Islamiah fil Ma’tam Al-Arbain, ms.43)

          * Maka, beginilah kesimpulan ulama bermazhab Syafie simpulkan setiap perbuatan, ijtihad dan wasiat Imam Syafie. Kerana mereka lebih memahami fiqh dalam mazhab berbanding cikgu geografi.

          ☆ Penulis kitab Al-Hawi iaitu Imam Suyuthi & penulis kitab Hukm Asy-Sya’iyyah Al-Islamiah fil Ma’tam Al-Arbain ialah Syeikh Hasanain Makhluf, kedua-duanya tinggal di Mesir. Mereka menyokong majlis tahlilan dengan pelbagai hujjah yang dinyatakan dalam kitab mereka tersebut.

          SOALNYA, bilakah amalan hindu bertapak di Mesir?

          Disediakan oleh: Hafiz Al Za’farani (HAZA)

          04/09/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          Adakah umat Islam mengadakan kenduri Arwah kepada Nabi Muhammad s.a.w?

          Adakah umat Islam mengadakan kenduri Arwah kepada Nabi Muhammad s.a.w?

          Dan siapa pula yg memimpin majlis tahlil ketika Imam Shafie wafat?

          1) Adakah umat Islam mengadakan kenduri Arwah kepada Nabi Muhammad s.a.w? Dan siapa pula yg memimpin majlis tahlil ketika Imam Shafie wafat?

          Jawapannya:

          Tiada seorang pun yang mengadakan kenduri arwah atau majlis tahlilan kepada Baginda s.a.w kerana Rasulullah s.a.w adalah *MAKSUM* dan telah dijamin Syurga.

          》Majlis Tahlilan bertujuan untuk keluarga si mati sedekahkan makanan kepada keluarga jauh dan jiran tetangga yang mana sedekah itu diniatkan pahalanya kepada si mati. Dan hadirin berzikir, membaca Al-Quran, berdoa agar pahala disedekahkan kepada si mati.

          ﻋﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﻋﺒﺴﺔ ﻗﺎﻝ ﺍﺗﻴﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﻠﺖ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﺍﻻﺳﻼﻡ؟ ﻗﺎﻝ ﻃﻴﺐ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻭﺍﻃﻌﺎﻡ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ

          “Dari Amru bin Abasah berkata: Aku mendatangi Rasulullah s.a.w lalu aku bertanya: Wahai Rasulullah s.a.w, apakah Islam? Baginda s.a.w berkata: Perkataan yang baik dan menjamu makanan” (Hr. Ahmad)

          》Jika ada yang mempertikaikan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, mari kita lihat hadis Muslim:

          ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺍﻥ ﺭﺟﻼ ﺳﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻱ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﺧﻴﺮ؟ ﻗﺎﻝ “ ﺗﻄﻌﻢ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﺗﻘﺮﺃ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻋﺮﻓﺖ ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﺗﻌﺮﻑ ”

          “Dari Abdullah bin Amru berkata, telah datang seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shalallah alaihi wasallam, bagaimana Islam yang terbaik?

          Baginda s.a.w bersabda, yang menjamu makanan dan menyebarkan salam kepada yang kamu kenali atau kepada orang yang tidak kamu kenali” (Hr. Muslim, no.39)

          》Mengenai persoalan sampai atau tidak kiriman pahala kepada si mati, ia telah dijawab bahawa pahala sampai kepada si mati oleh:

          1) Imam Nawawi melalui kitab Fatawa Nawawi

          2) Imam Ibnu Hajar Al-Haitami melalui kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiah Al-Kubra, j.2, ms.30-31.

          3) Ibnu Qayyim melalui kitab Al-Ruh, ms.143.

          4) Ibnu Taimiyyah melalui kitab Hukm Al-Syar’iyyah Al-Islamiyyah fi Ma’tam Al-Arbain, ms.36
          Dan lain-lain.

          》Imam Suyuthi telah menyatakan boleh diadakan jamuan makan sebagai sedekah kepada si mati selama 7 hari atau 40 hari:

          “Sesungguhnya At-Thowus berkata:

          Seorang yang mati akan beroleh ujian dari Allah dalam kuburnya selama 7 hari”

          Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan jamuan makan (sebagai sedekah) untuk si mati selama hari-hari tersebut.”

          Sahabat Ubaid bin Umair berkata: “Seorang mukmin dan munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mukmin akan beroleh ujian selama 7 hari, sedangkan seorang munafiq selama 40 hari di waktu pagi”
          (Rujuklah kitab al-Hawi, Imam Suyuthi, j.2, ms. 178)

          》Selain itu, Imam Suyuthi telah bersaksi bahawa:

          “Sesungguhnya sunatnya bersedekah memberi makan selama 7 hari telah sampai kepadaku, ia berterusan hingga sekarang di Mekkah dan Madinah. Secara zahirnya ia tidak ditinggalkan (daripada diamalkannya) dari masa sahabat sehingga sekarang dan mereka melakukannya sebagai tradisi diambil dari ulama Salaf sejak generasi pertama”
          (Rujuklah kitab al-Hawi, Imam Suyuthi, j.2, ms. 194)

          》Kelihatannya, persaksian Imam Syuthi yang hidup sepanjang tahun 849-911H ada benarnya juga kerana telah dinyatakan oleh Imam Ibnu Asakir:

          “Beliau telah mendengar Al-Syeikh Al-Faqih Abu Al-Fath Nashrullah bin Muhammad bin Abd Al-Qawi Al-Masyisyi berkata: Telah wafat Al-Syeikh Nashr bin Ibrahim Al- Maqdisi pada hari Selasa 9 Muharram 490H di Damsyiq. Kami telah berhenti/berada di kuburnya selama 7 malam, membaca Al-Quran pada setiap malam 20 kali khatam.
          (Rujuklah Tabyin Kazb Al-Muftari fi Ma Nusiba ila Al-Imam Abi Al-Hasan al-Asy’ari)
          * Hal ini berlaku pada tahun 490H.

          》Dan juga dibuktikan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani:

          “Ahmad Ibn Muni’ melaporkan di dalam Musnadnya daripada Al-Ahnaf Ibnu Qais berkata: Apabila Saidina Umar r.a telah ditikam (dibunuh) beliau telah memerintahkan Suhaib untuk mengerjakan sembahyang dengan orang ramai selama 3 hari dan beliau menyuruh agar disedikan makanan kepada orang ramai.”

          Kata Amirul Mukminin Fil Hadis Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Isnadnya adalah hasan.
          (Rujuklah Al-Mathalib Al-Aliyyah, j.1, ms.199, hadis no.

          709)
          * Hal ini berlaku sekitar tahun 23H.

          》Dan juga, terdapat hadith dalam Sunan Abu Daud yang menyatakan selepas mengebumian jenazah, Rasulullah menerima jemputan ke rumah untuk makan. Menurut syarah Sunan Abu Daud:

          ( ﺩﺍﻋﻰ ﺍﻣﺮﺍﺓ ‏) … ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻤﺸﻜﺎﺓ، ﺩﺍﻋﻲ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﺑﺎﻻﺿﺎﻓﺔ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻀﻤﻴﺮ . ﻓﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ : ﺃﻱ ﺯﻭﺟﺔ ﺍﻟﻤﺘﻮﻓﻲ

          (Da’i Imra’ah)… dan di dalam kitab al-Misykat digunakan ‘da’i imra’atihi’ yang disandarkan kepada dhamir (iaitu ‘nya’). Al-Qari berkata: iaitu ISTERI SI MATI.
          (Rujuklah ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud)

          * Hal ini menunjukkan ahli keluarga si mati menjemput nabi s.a.w makan seperti yang telah disimpulkan oleh Syeikh Ibrahim Al-Halabi:
          “Hadith ini menunjukkan atas bolehnya ahli keluarga mayat menyediakan makanan dan menjemput orang lain untuk makan. Jika makanan itu diberikan kepada fakir miskin adalah baik. Melainkan (iaitu tidak boleh berbuat demikian) jika salah seorang dari ahli waris ada yang masih kecil makan tidak boleh diambol dari harta ahli waris si mati”
          (Rujuklah Al-Bariqah Al-Muhammadiyyah, j.3, ms.235 dan Al-Masail Al-Muntakhabah,ms.49)
          * Hal ini berlaku pada zaman Nabi s.a.w.
          = = = = = = = = = = = =

          2. Siapa pula yang memimpin majlis tahlilan ketika Imam Syafie wafat?

          Jawapannya:

          Ia adalah seorang wali (penguasa) yang bernama Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam.
          Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam adalah seseorang yang diwasiatkan oleh Imam Syafie, apabila beliau wafat agar dimandikan dan diurus oleh Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, dari kerja-kerja memandikan, memimpin solat jenazah, menguburkan, mendoakan serta mengadakan majlis tahlilan bersama jamaah yang lain yang hadir saat Imam Syafi’i wafat.
          Imam Syafie wafat pada malam Jumaat pada waktu subuh pada hari terakhir bulan Rejab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Masihi pada usia 52 tahun.

          Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafie sampai hari ini, dan disana pula dibangun sebuan masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafie. Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya kerana banyaknya penziarah. (Sila rujuk kitab tarikh atau Manaqib Imam Syafie)

          》Persoalan mengenai pendirian Imam Syafie:
          Imam Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani berkata: “Saya pernah bertanya kepada Imam Syafie mengenai bacaan Al-Quran di kubur. Ternyata beliau itu (Imam Syafie) membolehkannya”.

          》Hal ini dikukuhkan lagi apabila Imam Syafie sendiri pernah menziarahi makam Imam Laith bin Sa’ad, kemudian beliau membaca Al-Quran.

          ﻭﻗﺪ ﺗﻮﺍﺗﺮ ﺍﻥ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺯﺍﺭ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﻭﺍﺛﻨﻰ ﺧﻴﺮﺍ ﻭﻗﺮﺃ ﻋﻨﺪﻩ ﺧﺘﻤﺔ ﻭﻗﺎﻝ : ﺍﺭﺟﻮﺍ ﺍﻥ ﺗﺪﻭﻡ ﻓﻜﺎﻥ ﺍﻻﻣﺮ ﻛﺬﻟﻚ

          “Dan telah mutawatir (masyhur) riwayat bahawa Imam Syafie telag menziarahi makam Imam Laith bin Sa’ad. Beliau memujinya dan membaca Al-Quran di sisi kuburnya dengan sekali khatam. Imam Syafie berkata: Aku mengharapkan agar ia (amalan membaca Al-Quran seperti di sisi makan Imam Laith) akan berterusan, maka begitulah seperti apa yang dikatakan (didoakan) oleh Imam Syafie”
          (Rujuklah kitab az-Zakhirah Ath-Thaminah, ms.64)

          》Bagaimana pula dengan perkataan Imam Syafie:

          ﻭﺃﻛﺮﻩ ﺍﻟﻤﺄﺗﻢ ﻭﻫﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻭﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻬﻢ ﺑﻜﺎﺀ ﻓﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﺤﺪﺩ ﺍﻟﺤﺰﻥ ﻭﻳﻜﻠﻒ ﺍﻟﻤﺆﻧﺔ
          “Dan aku
          membenci ma’tam iaitu adanya perkumpulan walaupun tidaklah berlaku pada mereka perbuatan menangir kerana perbuatan itu akan mengembalikan kesedihan dan menambahkan bebanan.” (Al-Umm, j.1, ms.318)
          * Segelintir orang jahil bertopengkan ‘ustaz’ telah menyangka Majlis Ma’tam yang dibenci oleh Imam Syafie adalah sama dengan Majlis Tahlilan. Sedangkan “ma’tam ialah perkumpulan orang yang kebiasaannya akan bertambahlah kesedihan dalam perkumpulan mereka.” (Rujuklah Al-Munjid, ms.2)

          * Maka, illah larangan ma’tam ialah kerana ia termasuk dalam ‘niyahah’ iaitu meratap pemergian si mati. Hal ini dilarang dalam agama kerana Nabi s.a.w bersabda:

          ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎﺀ ﺍﻟﺤﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻭ ﺑﺒﻜﺎﺀ ﺍﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
          “Mayat akan diazab kerana tangisan rantapan orang hidup ke atasnya atau tangisan rantapan keluarganya” (HR. Muslim)

          * Konsep yang berbeza pada majl

          is tahlilan, kerana ia bukan majlis meratap dan bersedih. Melainkan sebagai suatu usaha keluarga si mati untuk mengirimkan pahala kepada si mati dengan pelbagai amalan kebaikan.

          》Begitu juga seperti larangan kenduri wahsyah yang diterangkan dalam kitab-kitab fiqh yang lain, larangan tersebut berserta dengan illah yang berbeza. Sebab itulah, urusan menentukan hukum diberikan kepada alim ulama bukannya kepada cikgu geografi.

          》Bagaimana pula, dengan pendapat Imam Syafie mengenai mengirim pahala bacaan Al-Quran?

          * Imam Nawawi telah menyatakan mengirim pahala doa dan sedekah adalah sampai dengan IJMAK ULAMA.

          ﻳﺼﻠﻪ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﺎﻻﺟﻤﺎﻉ

          (Rujuklah Fatawa Imam Nawawi, ms.146)
          * Ini bermakna, usaha keluarga mengirim pahala sedekah makanan dalam majlis tahlilan itu SAMPAI kepada si mati dengan ijmak ulama.

          》Namun, yang menjadi khilaf ialah 0ahala bacaam Al-Quran. Menurut Imam Nawawi, ia sampai.

          Dan menurut Syeikhul Islam Zakaria Al-Anshari:

          ﺍﻥ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻱ ﻓﻰ ﺗﻼﻭﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻣﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺍﺫﺍ ﻗﺮﺃ ﻻ ﺑﺤﻀﺮﺓ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﻮ ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ ﻟﻪ ﺍﻭ ﻧﻮﺍﻩ ﻭﻟﻢ ﻳﺪﻉ

          “Sesungguhnya pendapat masyhur dalam mazhab Syafie mengenai bacaan Al-Quran (yang pahalanya dikirimkan kepada si mati) adalah apabila dibaca tidak dilakukan ketika mayat berada dihadapan pembaca, dan jika tidak diniatkan hadiah pahala kepadanya atau diniatkan pahala bacaan kepadanya tetapi tidak membaca doa sesudah bacaan Al-Quran tersebut.”
          (Rujuklah Hukm Asy-Syar’iyyah Al-Islamiah fil Ma’tam Al-Arbain, ms.43)

          * Maka, beginilah kesimpulan ulama bermazhab Syafie simpulkan setiap perbuatan, ijtihad dan wasiat Imam Syafie. Kerana mereka lebih memahami fiqh dalam mazhab berbanding cikgu geografi.

          ☆ Penulis kitab Al-Hawi iaitu Imam Suyuthi & penulis kitab Hukm Asy-Sya’iyyah Al-Islamiah fil Ma’tam Al-Arbain ialah Syeikh Hasanain Makhluf, kedua-duanya tinggal di Mesir. Mereka menyokong majlis tahlilan dengan pelbagai hujjah yang dinyatakan dalam kitab mereka tersebut.

          SOALNYA, bilakah amalan hindu bertapak di Mesir?

          Disediakan oleh: Hafiz Al Za’farani (HAZA)

          04/09/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          MAYAT TAU ORANG YANG MENZIARAH NYA.

          Dari Ibnu Abu al Muttaid, dia berkata, “Telah berkata kepadaku Tamadlar binti Sahal, istri Ayub bin Uyainah, “Telah datang kepadaku putri Sufyan bin Uyainah dan dia berkata, “Dimana pamanku Ayub?” aku menjawab, “Dia berada didalam masjid.”

          Tanpa berlama-lama dia lalu menemui Ayub.

          Putri Sufyan berkata, “Wahai pamanku! Sesungguhnya ayahku telah menemui aku didalam mimpi.

          Dia berkata, “Semoga Allah membalas saudaraku Ayub dengan kebaikan, karena dia telah banyak menziarahi aku hingga saat ini.” Ayub berkata, “Memang benar aku telah mendatangi satu jenazah setelah selesai pemakaman selesai aku lalu pergi kemakam dia.”

          Imam Ibnu Hajar dalam Fatawi al Fiqhiyyah al Kubra telah menjelaskan kalau mayit boleh mengetahui orang yang menziarahinya dan dia akan merasa tentram dengan orang kehadiran orang itu, berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu al Dunia,

          ماَ مِنْ رَجُلٍ يَزُورُ قَبْرَ أَخِيْهِ وَ يَجْلِسُ عَلَيْهِ إِلاَّ اسْتَأْنَسَ وَ رُدَّ حَتَّى يَقُومَ.

          “Tidaklah dari seseorang yang menziarahi makam saudaranya dan duduk didekatnya kecuali saudaranya akan merasa tentram hingga dia berdiri untuk pulang.”

          Dan telah shahih hadits,

          ماَ مِنْ اَحَدٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ أَخِيْهِ الْمُؤْمِنِ كاَنَ يَعْرِفُهُ فِي الدُّنْياَ فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلاَّ عَرَفَهُ وَ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ.

          “Tidaklah dari seseorang yang melewati makam saudaranya yang mukmin yang dia mengenalnya di dunia lalu dia bersalam kepadanya, melainkan saudaranya itu akan mengenalnya dan menjawab salamnya.”

          Wallahu’alam.

          01/09/2019 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

          Mengapa Liberal Memburukkan Mufti?

          Olih: Ustaz Dr. Ahmad Sanusi Azmi

          1. Apabila *Faisal Tehrani* menyifatkan Mufti sebagai seorang yang tidak mempunyai akal, bersifat angkuh malah seorang penyembah berhala diri, ini adalah satu kenyataan yang berat. Ia seakan satu hasutan untuk memburukkan institusi keagamaan sedangkan Mufti mempunyai peranan yang besar dalam memberikan nasihat berhubung hal ehwal agama.

          2. Seseorang yang benar-benar menyayangi ahli keluarga Nabi itu akan sentiasa memandang tinggi para ilmuan seperti Mufti. Perhatikan apa yang dikatakan oleh Saidina Ali, menantu Rasulullah ini:

          “إن من حق العالم أن لا تكثر عليه بالسؤال وعليك أن توقره وتعظمه لله تعالى ما دام يحفظ أمر -الله تعالى-، ولا تجلس أمامه، وإن كانت له حاجة…”

          “Sesungguhnya salah satu hak yang perlu dipelihara terhadap orang alim itu adalah kamu tidak memenatkannya dengan soalan, dan hendaklah kamu memuliakannya dan mengagungkannya selagi mana dia menjaga hak Allah. Janganlah kamu duduk dihadapanya (kerana menghormatinya) sekalipun kamu mempunyai keperluan…”

          3. Malah sekiranya seseorang itu menyayangi ahli keluarga Nabi, mereka akan sentiasa menghormati para ulama seperti yang dilakukan oleh sepupu Rasulullah Saidina Abdullah ibn Abbas. Abdullah ibn Abbas dikatakan seorang yang sangat menghormati para ilmuan agama. Beliau pernah memimpin kuda Zaid ibn Thabit kerana menghormati ilmuan agama tersebut.

          4. Bahkan Abdullah ibn Abbas pernah menempelak mereka yang mencerca para ilmuan. Kata Abdullah ibn Abbas:

          من آذى فقيها فقد آذى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومن آذى رسول الله (صلى الله عليه وسلم) فقد آذى الله -عز وجل

          “Barangsiapa yang menyakiti seorang faqih, maka dia telah menyakiti Rasulullah dan barangsiapa yang menyakiti Rasulullah, sesungguhnya dia telah menyakiti Allah.

          5. Jelas sekali disini, para ahli keluarga Nabi itu adalah orang yang sangat mencintai ulama. Kenyataan Faisal Tehrani tersebut seakan bukan daripada apa yang diajarkan oleh Rasulullah, bahkan ahli keluarga Rasulullah. Perlakuan tersebut mirip kepada Syiah Sesat yang membenci sahabat Nabi. Mereka mengutuk para sahabat dengan cercaan yang keji.

          6. Bahkan tindakan memburukkan Mufti dan agamawan ini tidak ubah seperti doktrin Liberal yang cuba menghasut masyarakat membenci Ulama. Mereka cuba memisahkan agama dari kehidupan manusia.

          Semoga Allah membimbing kita semua.

          Dr. Ahmad Sanusi Azmi
          https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

          31/08/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          BUDAYA – KOMPANG & TARIAN.

          -[Kalam Al-Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid ]

          Di dalam Shahih Bukhari & Shahih Muslim, diceritakan tentang beberapa budaya yang datang daripada luar tetapi diakui dan dibolehkan oleh Nabi S.A.W. Yakni di dalam hukum menjadi harus. Bukan sunnah mahupun wajib. Ianya adalah HARUS.

          Yang pertama budaya KOMPANG. Yang kedua budaya TARIAN.

          Kompang itu adanya di Madinah di zaman dahulu. Tarian yang ada di zaman Nabi S.A.W itu datangnya dari negeri Habasyah (Ethiopia)

          Di zaman Nabi S.A.W seorang perempuan datang kepada Nabi S.A.W dan memberitahukan “Ya Rasulullah, saya bernazar kalau kamu balik selamat saya akan pukul kompang”. Maka Nabi S.A.W bersabda “Tunaikan nazarmu”.

          Itu bahagian daripada apa yang menjadi kebiasaan orang di Madinah dahulu bilamana gembira maka akan pukul kompang.

          Ketika motifnya perempuan itu baik, yakni gembira Nabi S.A.W balik selamat dan ingin diungkapkan dengan memukul kompang, maka Nabi S.A.W bersabda “Tunaikan nazarmu”. Maka perempuan itupun memukul kompang di hadapan Nabi S.A.W.

          Nabi S.A.W juga bersabda “Isytiharkan pernikahan itu dengan kompang”. Suatu hari ketika ada pernikahan dan di situ tidak ada kompang, tidak ada orang-orang yang membaca syair/berqasidah, Nabi S.A.W berkata “Di mana orang yang suka baca syair?” Dicari oleh Nabi S.A.W sebab hari pernikahan adalah hari gembira.

          Kegembiraan yang ada di zaman Nabi S.A.W diungkapkan antaranya dengan memukul kompang dan bersyair.

          Maka ulama mengambil pendapat bahawasanya diperbolehkan memukul kompang bilamana motif kegembiraan itu baik. Tapi bukan maksudnya sunnah pukul kompang untuk mengungkapkan kegembiraan, ianya harus sahaja.

          Di zaman Nabi S.A.W juga ada golongan Habasyah (Ethiopia) yang mempunyai budaya menari di hari kegembiraan dengan tarian yang menggunakan tongkat.

          Maka ketika hari raya, mereka orang-orang Habasyah itu menari di Masjid Nabi S.A.W. Menarinya mereka semata-mata untuk gembira kerana itu hari raya, maka diungkapkan kegembiraan mereka dengan tarian.

          Jangan salah faham tarian tersebut dengan tarian seperti di disko dan sebagainya yang ada di sekeliling kita zaman ini. Ianya adalah tarian yang sopan. Ada sebuah buku ditulis oleh ulama dari Al Azhar, namanya Sheikh Abdul Fattah, menulis tentang hukum tarian dan macam-macam tarian serta sejarah lahirnya tarian. Dibahaskan dalam buku tersebut apa hukum menari. Tarian ini punya sejarahnya. Ada sumbernya.

          Maka waktu orang-orang Habasyah menari di hadapan Nabi S.A.W, Rasulullah S.A.W mengizinkan kepada isterinya Siti Aisyah r.a untuk menyaksikan. Dan ini adalah sebagai satu sumber yang di hari gembira diperbolehkan seseorang itu mengungkapkannya dengan tarian yang sopan.

          Imam Ibnu Hajar Al-Asqallani berkata: bahawa lelaki-lelaki Habasyah menari sambil bersyair dengan bahasa mereka (bukan Bahasa Arab). Lalu Nabi S.A.W bertanya: Apa yang mereka katakan? Lalu dijawab: Mereka mengatakan “Muhammad hamba yang soleh”

          Dalam riwayat yang lain, Nabi S.A.W justeru memberi sokongan dengan bersabda: “Ayuh teruskan dengan semangat wahai Bani Arfadah (nama datuk orang Habasyah).”

          Imam Ibnu Hajar Al-Asqallani berkata, “Ini adalah cara dan kebiasaan mereka, dan ini adalah perkara yang harus dan tidak disalahkan.”

          Di antara iktibar yang dapat diambil adalah:

          1. Rasulullah S.A.W mendengarkan bahkan membenarkan syair/qasidah walaupun bukan Bahasa Arab selagi maknanya baik.

          2. Boleh menyaksikan hiburan dalam bentuk tarian dan memberikan semangat kepada mereka yang mempersembahkan, selagi tidak bercanggah dengan agama dan nilai-nilai kesopanan.

          Dalam riwayat yang lain, Saidina Abu Bakar As-Siddiq r.a. melarang tarian tadi, dan terdapat riwayat lain yang menyatakan demikian juga Saidina Umar Al-Khattab r.a. melarangnya, maka Nabi S.A.W menegur keduanya dan bersabda, “Biarkanlah mereka (menari dan bersyair), setiap kaum mempunyai Hari Raya, dan inilah Hari Raya kami (kaum Muslimin).”

          Pada riwayat yang lain, Nabi S.A.W bersabda, “Biarkanlah mereka bermain (menari dan bersyair) agar supaya bangsa yahudi tahu bahwa dalam agama kami (Islam) luas (tidak jumud). Sesungguhnya Saya (Rasulullah S.A.W) diutus dengan ajaran yang suci lagi tidak jumud.”

          Di antara iktibar yang dapat diambil adalah:

          1. Nabi S.A.W menegur orang yang melarang acara tarian itu. Kalau di zaman sekarang ada yang menegur acara seumpama ini, bukankah sepatutnya dia yang perlu mendapat teguran?

          2. Nabi S.A.W memperbolehkan bergembira dengan tarian yang sopan dan bersyair dengan 2 sebab:

          • Ini adalah hari raya kami (yakni hari gembira). Diperbolehkan bergembira di hari raya dan hari gembira yang lain dengan tarian, syair atau yang lain selagi tidak bercanggah dengan agama dan nilai-nilai kesopanan.

          • Agar kaum yahudi tahu kalau agama ini tidak jumud. Yakni, ingin menyatakan bahawa agama Islam memperbolehkan berhibur walaupun dengan tarian, dan seumpamanya dan menjawab dakwaan yahudi bahawa agama Islam adalah jumud dan melarang penganutnya untuk berhibur.

          Wallahu’alam .

          30/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , , | Leave a comment

          Pesan Tuan Guru Hj. Salleh Musa حفظه الله تعالى

          Image may contain: 1 person, text

          “Hangpa mengaji tauhid biaq betoi, AQIDAH tuu yang perlu jaga.. Hangpa jangan dok buang masa, jangan dok biarkan usia hangpa HANYUT begitu saja.. Isikan usia hangpa ni dengan mengaji ilmu agama.. Muliakan dengan ilmu TAUHID.. Lepas tuu, pi mengaji ilmu FEQAH.. Lepas tuu baru pi mengaji ilmu TASAWUF.. Jangan dok kalut nak pi ilmu TASAWUF, hadis dan sebagainya jika Allah سبحانه وتعالى sendiripun hangpa tak kenal.. Macam mana nak kenal Allah سبحانه وتعالى jika takmau ngaji ilmu TAUHID.. Sebab tak kenal Allah سبحانه وتعالى lah depa dok suka sesatkan orang, bida’ahkan orang.. Ada ilmu HADIS, tapi ilmu TAUHID takdak.. Punah habis semuanya..

          Nak mengaji ni, ibarat nak naik TANGGA.. Kena langkah dari BAWAH, barulah sampai kat tingkat ATAS.. Jangan dok kalut nak meloncat nak ke tingkat atas dari tingkat BAWAH.. Satgi jatuh, mampuih.. Kalau nak naik, ikutlah turutan yang betul.. Jangan dok ikut puak-puak Syi’ah, Wahabi, Mu’tazilah, Sekular, Liberal dan sebagainya..

          Kita pegang sungguh-sungguh dengan Manhaj AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.. Jangan dok lari dari DASAR pegangan kita.. Sekarang ni, ulama’ – ulama’ tua tak banyak dah.. Hangpa pi lah tengok dalam Malaysia, Thailand, Indonesia semua tak banyak dah.. Yang ada pun tinggal berapa orang jaa ulama’ tua yang masih Sementara depa masih ada lagi ni, pi lah dampingi depa.. Pi duduk dalam Majlis Ilmu depa.. Cedok (ambik) ilmu depa, insyaAllah, Allah سبحانه وتعالى akan bantu..” Pesanan ditujukan khas untuk diri sendiri yang jahil takdak ilmu, sangat lagho & hina dina..

          Kredit : Al-Faqir Ilallah, Abu Fadhil Ridhauddin

          27/08/2019 Posted by | Aqidah, Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

          55 CIRI-CIRI SALAFI WAHABI

          Oleh: KH Thobary Syadzily

          Inilah aliran Salafi Wahabi yakni ajaran yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi an-Najdi :

          1. Allah bersemayam di atas ‘arsy seperti akidahnya kaum Yahudi.

          2. Golongan yang beriman kepada setengah ayat Al-Qur’an dan kafir dengan setengah ayat Al-Quran yang lain.

          3. Golongan yang menolak Takwil pada setengah ayat, dan membolehkan Takwil pada setengah ayat yang lain berdasarkan mengikuti hawa nafsu mereka.

          4. Golongan yang menafikan Kenabian Nabi Adam A.S.

          5. Golongan yang menyatakan bahwa Alam ini Qidam/Maha Dahulu lebih drpd Allah (Rujuk pandangan ibn Taimiyyah).

          6. Golongan yang mengkafirkan Imam Abu al-Hasan Al-Asy’ari dan para pengikutnya.

          7. Golongan yang mengkafirkan Sultan Sholahuddin Al-Ayyubi dan Sultan Muhammad Al-Fateh.

          8. Golongan yang mengkafirkan Imam An-Nawawi dan Seluruh Ulama Islam yang menjadi para pengikutnya (Asy’ariyah dan Maturidiyah).

          9. Golongan yang mengdhoifkan hadits-hadits sohih dan mengsohihkan hadis-hadis dhoif (lihat penulisan Albani).

          10. Golongan yang tidak mempelajari ilmu dari Guru atau Syeikh, hanya copy paste dan membaca dari buku2 dsb.

          11. Golongan yang mengharamkan bermusafir ke Madinah dengan niat ziarah Nabi Muhammad SAW.

          12. Golongan yang membunuh Ummat Islam beramai-ramai di Mekah, Madinah, dan beberapa kawasan di tanah Hijaz (lihat tarikh an-Najdi).

          13. Golongan yang meminta bantuan Askar dan Senjata pihak Britain (yang bertapak di tempat Kuwait pada ketika itu) ketika kalah dalam perang ketika mereka ingin menjajah Mekkah dan Madinah.

          14. Golongan yang menghancurkan turath (sejarah peninggalan) Ummat Islam di Mekkah dan Madinah.(lihat kawasan pekuburan Jannatul Baqi, Bukit Uhud dsb)

          15. Golongan yang membenci kaum ahlul bait.

          16. Golongan yang bertentangan dengan Ijma para Shohabah, Tabiin, Salafus Soleh, Khalaf dan seluruh Ulama ASWAJA.

          17. Golongan yang mendakwa akal tidak boleh digunakan dalam dalil syara’, dengan menolak fungsi akal (ayat-ayat Al-Quran menyarankan menggunakan akal)

          18. Golongan yang mengejar syuhrah (pangkat, nama, promosi,kemasyhuran) dengan menggunakan pemahaman mereka yang salah terhadap Al-Quran dan As-Sunnah.

          19. Golongan yang mengdhoifkan hadis solat tarawih 20 rakaat.(Albani)

          20. Golongan yang mengharamkan menggunakan Tasbih.(Albani)

          21. Golongan yang mengharamkan berpuasa pada hari sabtu walaupun hari Arafah jatuh pada hari tersebut.(Albani)

          22. Golongan yang memperlecehkan Imam Abu Hanifah R.A.(Albani)

          23. Golongan yang mendakwa Allah memenuhi alam ini dan menghina Allah dengan meletakkan anggota pada Allah SWT.

          24. Golongan yang mendakwa Nabi Muhammad SAW tidak hayyan (hidup) di kuburan beliau .(Albani)

          25. Golongan yang melarang membaca Sayyidina dan menganggap perbuatan itu bidaah dholalah / sesat.

          26. Golongan yang mengingkari membaca Al-Quran dan membaca talqin pada orang yang meninggal.

          27. Golongan yang melarang membaca selawat selepas azan.(Albani)

          28. Golongan yang mengatakan Syurga dan Neraka ini fana (tidak akan kekal).(ibn Taimiyyah)

          29. Golongan yang mengatakan lafaz talaq tiga tidak jatuh, jika aku talaq kamu dengan talaq tiga cuma jatuh satu talak. (ibn Taimiyyah).

          30. Golongan yang mengisbatkan (menyatakan/menetapkan) tempat bagi Allah. (Ibn Taimiyyah)

          31. Golongan yang menggunakan wang ringgit untuk menggerakkan ajaran sesat mereka, membuat tadlis (penipuan dan pengubahan) di dalam kitab-kitab ulama yang tidak sependapat dengan mereka.

          32. Golongan yang mengkafirkan orang Islam yang menetap di Palestine sekarang ini. (Albani)

          33. Golongan yang membidaahkan seluruh umat Islam.

          34. Golongan yang menghukum syirik terhadap amalan umat Islam yang tidak sepaham dengan mereka.

          35. Golongan yang membawa ajaran tauhid tetapi tidak pernah belajar ilmu tauhid.(Ibn Taimiyyah)

          36. Golongan yang mengatakan bahawa Abu Jahal dan Abu Lahab juga mempunyai tauhid, tidak pernah Nabi Muhammad SAW mengajar begini atau pun para Shohabah R.A. (Muhammad Abdul Wahab)

          37. Golongan yang membolehkan memakai lambang salib hanya semata-mata untuk mujamalah/urusan resmi kerajaan, dan hukumnya tidak kufur. (Bin Baz)

          38. Golongan yang membiayai kewangan Askar Kaum Kuffar untuk membunuh Umat Islam dan melindungi negara mereka. (kerajaan Wahabi Saudi)

          39. Golongan yang memberi Syarikat-syarikat Yahudi memasuki Tanah Haram.(Kerajaan Wahabi Saudi)

          40. Golongan yang memecah-belah Umat Islam dan institusi kekeluargaan.

          41. Golongan yang mengharamkan Maulid dan bacaan-bacaan barzanji, marhaban.

          42. Golongan yang menghalalkan bom bunuh diri atas nama jihad walaupun orang awam kafir yang tidak bersenjata mati. (selain di Palestine)

          43. Golongan yang menghalalkan darah Ahlus Sunnah Wal Jamaah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Lihat di Lubnan, Chechnya, Algeria, dan beberapa negara yang lain.

          44. Golongan yang menimbulkan fitnah terhadap Umat Islam dan menjelek-jelekkan nama baik Islam.

          45. Golongan yang membuat kekacauan di Fathani, Thailand.

          46. Golongan yang sesat menyesatkan rakyat Malaysia.

          47. Golongan yang meninggalkan ajaran dan ilmu-ilmu Ulama ASWAJA yang muktabar.

          48. Golongan yang meninggalkan methodologi ilmu ASWAJA.

          49. Golongan yang Minoritas dalam dunia, malah baru berumur setahun jagung.

          50. Golongan yang menuduh orang lain dengan tujuan melarikan diri atau menyembunyikan kesesatan mereka.

          51. Golongan yang jahil, tidak habis mempelajari ilmu-ilmu Agama, tetapi ingin membuat fatwa sesuka hati.

          52. Golongan yang melarang bertaqlid, tetapi mereka lebih bertaqlid kepada mazhab sesat mereka.

          53. Golongan yang secara zahirnya berjubah, berkopiah, singkat jubah, janggut panjang, tetapi berlewat, tidak menghormati ulama, mengutuk para Alim Ulama dan tidak amanah dengan ilmu dan agama Islam.

          54. Golongan yang tidak berhujjah dalam ajaran mereka.

          55. Golongan yang membawa ajaran sesat Ibn Taimiyyah/Muhamad Ibn Abd Wahab, kedua-dua individu ini telah dicemuh, ditentang, dijawab oleh Jumhur Ulama ASWAJA atas dasar akidah mereka yang menyeleweng.

          27/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

          Fahaman Zakir Naik tidak selari dengan ASWJ,kata ahli agama

          Pengasas dan Pengerusi Pusat Pengajian dan Pendidikan Islam Ar-Rifaie Selangor, Ustaz Ahmad Hafiz Mohd Alwi Al-Bakaniyy berpendapat, pendakwah antarabangsa Dr Zakir Naik perlu mempelajari fahaman akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) yang berteraskan aliran al-Asya’irah dan al-Maturidiyyah sekiranya beliau mahu berdakwah di negara ini.

          Ahmad Hafiz yang juga merupakan Panel Pakar Rujuk Deradikalisasi bagi Kes-Kes Khas Keganasan, Kementerian Dalam Negeri (KDN) dan Polis Diraja Malaysia (PDRM) turut menasihati pendakwah dari India itu, supaya mempelajari sifat 20 yang wajib bagi Allah, kitab Risalatul Tauhid dan juga kitab-kitab akidah yang lain sebelum berdakwah.

          Ini kerana katanya, fahaman Zakir Naik dilihat tidak selari dengan akidah ASWJ di negara ini, terutamanya dalam bab ketuhanan seperti yang diceritakan oleh pendakwah tersebut.

          “Bab ketuhanan ini sebagai contoh, apabila dia mengisbatkan (menetapkan) bahawa Tuhan itu yakni Allah sama dengan makhluk. Ia sudah menjadi satu kredit kepada Yahudi yang mengatakan Tuhan dia juga adalah Allah yang bersifat triniti.

          “Pada tahun 2016 kalau tak silap saya, apabila Zakir Naik datang ke sini (Malaysia), ada orang bertanya, Allah di mana? Dia (Zakir) membawa fahaman yang mengatakan bahawa Allah di Arasy, duduk di atas Arasy.

          “Akidah Islam menyatakan Allah ada tanpa tempat. Allah tidak sama dengan makhluk. Kita tidak mahu orang masuk ke dalam agama Islam dan pada masa sama, mereka pula menyekutukan Allah.

          “Zakir Naik turut mensyirikkan amalan Tawassul yang merupakan ajaran yang diajar sendiri oleh Nabi Muhammad, para sahabat serta ulama-ulama ASWJ Asyairah & Maturidiyyah dan diamalkan oleh majoriti umat Islam di dunia sehingga kini. Hal ini secara tidak langsung dia telah mensyirikkan majoriti umat Islam,”ujarnya,

          Beliau mengulas demikian kepada Malaysia Dateline, ketika ditanya mengenai larangan berceramah diseluruh negara yang dikenakan ke atas Dr Zakir Naik oleh pihak polis dan berhubung konsep dakwah yang diamalkan pendakwah tersebut..

          Dalam pada itu, Ahmad Hafiz yang berpengalaman sebagai pengkuliah dan penceramah tetap kursus pemantapan akidah, Maktab PDRM Cheras, Kuala Lumpur turut mempersoalkan bagaimana penceramah tersebut boleh membawa orang bukan Islam masuk ke dalam agama Islam, tetapi pada masa sama mensyirikkan umat Islam.

          “Beliau (Zakir) juga membid’ahkan (menghukumkan haram) amalan-amalan umat Islam seperti sambutan Maulidur Rasul yang merupakan amalan baik diamalkan oleh seluruh umat Islam di Malaysia khasnya, tahlil dan lain-lain. Ini akan membawa kepada keruntuhan akidah serta perpecahan ummah,” katanya lagi.

          Namun, tidak dinafikan ilmu perbandingan agama yang dibawa oleh pendakwah antarabangsa itu, berpotensi membawa imej yang terbaik (positif) terhadap agama Islam, khususnya daripada pandangan masyarakat dunia.

          Ahmad Hafiz berkata, ilmu agama yang dimiliki Zakir boleh dikatakan bahawa beliau adalah seorang yang mahir dalam menguasai kitab-kitab agama lain (perbandingan agama), tetapi bukannya dalam bidang akidah.

          “Saya tidak tahu secara mendalam tentang ilmu yang ada pada dirinya, tetapi melalui video-video yang orang hantar pada saya, boleh dikatakan beliau mahir dalam menguasai bab perbandingan agama.

          “Kami ingin menegaskan, jika beliau berminat ingin duduk di negara kita untuk berdakwah, maka berdakwah lah mengikut metode yang sihat dan selamat iaitu ASWJ salaf, khalaf, Asyairah dan Maturidiyyah yang hakiki,” ujarnya yang merupakan graduan Talaqqi dari Universiti Al-Azhar Mesir dalam Kuliah Usuluddin, Bidang Akidah dan Falsafah.

          Ahmad Hafiz secara peribadi turut menyatakan bahawa beliau bersedia untuk bermuzakarah dengan penceramah tersebut atau anak-anak muridnya secara ilmiah, bagi mendapatkan kata sepakat berkaitan kesatuan akidah dan penyatuan umat.

          27/08/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          SIRI 2 TABAYYUN: ANALISIS HUJJAH DR. ZAKIR NAIK PADA DAKWAAN ALLAH BERADA DI ARASY

          1. Hasil muzakarah kali ini, kami para panel membincangkan berkaitan dalil yang digunakan Dr. Zakir Naik (ZN) dalam dakwaannya bahawa Allah berada di atas Arasy. Hal ini rentetan daripada komentar daripada pentaksub ZN di posting kami sebelumnya yang mendakwa aqidah Allah berada di atas Arasy tidak salah kerana berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah.

          Penulisan sebelum ini:

          ………………………………………………………..

          2. Berdasarkan video ZN yang kami teliti, beliau menggunakan dua dalil untuk mengithbatkan Allah berada di atas Arasy, iaitu:
          i) Al-Quran (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى) – Surah Taha: 5
          ii) As-Sunnah (Hadis Jariah)
          ………………………………………………………..

          3. Oleh yang demikian, kami telah bermuzakarah untuk menghalusi dalil yang digunakan oleh ZN adakah tepat atau menyalahi dengan kaedah ASWJ dalam aqidah?
          ………………………………………………………..

          4. Fakta Pertama: Ulama ASWJ hanya mengunakan dalil yang menepati syarat qath’ie thubut dan qath’ie dilalah sebagai dalil aqidah.
          ………………………………………………………..

          5. Adapun, surah Taha ayat 5 menepati syarat qath’ie thubut tetapi tidak qath’ie dilalah. Manakala, hadis jariah pula mengalami masalah pada qath’ie thubut dan juga qath’ie dilalah. Oleh yang demikian, ulama ASWJ tidak mengambil kedua-dua dalil ini sebagai asas aqidah, melainkan golongan Wahhabi sahaja menjadikannya sebagai tonggak aqidah mereka dan inilah juga yang dilakukan oleh ZN.
          ………………………………………………………..

          6. Fakta Kedua: Surah Taha ayat 5 tidak menepati syarat qath’ie dilalah adalah kerana ia termasuk dalam ayat Al-Mutasyabihat yang mana dilalahnya samar-samar disebabkan mempunyai beberapa makna, antaranya:
          a) اعْتَدَلَ : lurus
          b) صعد : menuju
          c) ظهر : jelas
          d) الرَّجُلُ : lelaki
          e) التمام : lengkap @ sempurna
          f) جلس : duduk @ bersemayam
          g) استقر : menetap
          h) نضج : Telah masak
          i) قهر : Mengerasi
          j) ملك و استولى : Memiliki dan Menguasai
          ………………………………………………………..

          7. Oleh yang demikian, tidak semua maksud di atas layak dinisbahkan kepada Allah. Dalam berinteraksi dengan dalil seperti ini, ulama ASWJ mempunyai dua kaedah iaitu:

          [Pertama] Tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah)

          a) Imam Sufyan Ibnu Uyainah (107-198H):
          كل ما وصف الله به نفسه في كتابه فتفسيره تلاوته والسكوت عنه
          “Setiap apa yang disifatkan oleh Allah dengannya bagi-Nya dalam Al-Quran maka tafsirannya adalah bacaannya dan berdiam (tidak dibincang) mengenainya”

          b) Imam Ibnu Suraij (249-306 H) :
          ولا نترجم عن صفاته بلغة غير العربية ونسلم الخبر الظاهر والآية لظير تنزيلها
          Dan kami tidak menterjemahkan sifat-sifat Allah dengan selain bahasa Arab serta kami serahkan khabar yang zahir dan ayat-ayat kepada zahir diturunkannya (nash-nash sifat).

          c) Imam Suyuthi menyimpulkan dalam kitabnya Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, 2/6:
          وجمهور أهل السنة، منهم السلف، وأهل الحديث على الإيمان بها، وتفويض معناها المراد منها إلى الله تعالى, ولا نفسرها مع تنزيها
          “Jumhur Ahlus Sunnah dari kalangan Salaf dan Ahlu Hadis di atas beriman dengannya (Al-Mutasyabihah) dan tafwidh (menyerah) maknanya yang dikehendaki oleh Allah. Tidak ditafsirkannya beserta menyucikan.”

          [Kedua] Takwil (menentukan makna yang layak dinisbahkan kepada Allah)

          a) Imam Murtadha Az-Zabidi di dalam kitabnya Tajul Arus syarhul Qamus:
          قالَ الرَّاغبُ : ومَتَى ما عُدِّي بعلى اقْتَضَى مَعْنى الاسْتِيلاءِ كقوْلِه ، عزَّ وجلَّ : { الرَّحْمن على العَرْشِ اسْتَوى }
          “Dan berkata Ar-Raghib (dalam kitab Al-Mufradat): Dan ketika Istawa mutaadi dengan huruf ‘Ala maka makna yang ditentukan ialah Istiila’ (menguasai) , seperti firman Allah: (Ar-Rahman alal arsyistawa).

          Oleh yang demikian, surah Taha ayat 5 tidak difahami dengan makna Allah berada di atas Arasy melainkan ulama ASWJ memahami dengan makna “Tuhan bernama Rahman ke atas Arasy menguasai”.

          b) Imam Ibnu Jarir At-Tobari (w.310H)
          Ketika mentafsir surah Al-Baqarah, ayat 29, beliau mentafsirkan Istawa dengan katanya:
          فقل علا عليها علو ملك وسلطان لا علو انتقال وزوال
          “Maka katakan Dia meninggi ke atasnya sebagai tingginya kekuasaan dan penguasaan bukan tinggi dengan maksud perpindahan atau berarah (tidak disifatkan dengan arah atas)”

          c) Dan ramai lagi ulama lain seperti Abdullah Ibnu Mubarak (w.237H) dalam kitabnya Gharib Al-Quran Wa Tafsiruh, Imam Abu Mansur Al-Maturidi (w.333H) dalam kitabnya Ta’wilat Ahl As-Sunnah, Imam Sulaiman Ibn Ahmad Ath-Thabarani (w.360H) dalam kitab At-Tafsir Al-Kabir, Imam Ibnu Furak (w.406H) dalam kitab Musykil Al-Hadis dan ramai lagi.
          ………………………………………………………..

          8. Berdasarkan fakta di atas, ZN tidak menggunakan mana-mana kaedah ASWJ yang termaktub melainkan beliau mengambil aqidah berdasarkan zahir ayat, sedangkan para ulama melarang perbuatan demikian bagi ayat Al-Mutasyabihat seperti dijelaskan oleh Imam Al-Hafiz Al-Kirmani, seorang ulama’ hadith yang agung (786 H)
          قوله “في السماء” : ظاهره غير مراد ، إذ الله منزه عن الحلول في المكان
          “Firman Allah “fis sama'” maka maksud zahirnya bukanlah kehendak yang dimaksud oleh Allah, kerana Allah s.w.t. suci daripada bertempat pada sebarang tempat.” (Fath Al-Bari, juz.13, ms.412)
          ………………………………………………………..

          9. Fakta Ketiga: Hadis jariah tidak boleh dijadikan dalil kepada aqidah kerana hadis tersebut adalah hadis mudhtharib (dhaif), maka hal ini jelas bahawa hadis dhaif tidak boleh menjadi dalil kepada aqidah.
          ………………………………………………………..

          10. Hadis ini menjadi hadis mudhtharib kerana redaksi matan yang berbeza-beza, saling bertentangan antara satu sama lain sehingga tidak boleh dihimpunkan makna riwayat-riwayat tersebut. Hal ini kerana hadis jariah terdapat pelbagai redaksi pada matan, antaranya:

          i) Riwayat daripada Mushannaf Abdurrazaq, Musnad Ahmad dan Muwatha’ Imam Malik dengan soalan “Adakah engkau bersaksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah?”. Kemudian dijawab “Ya”.

          ii) Riwayat daripada Al-Haithami dalam Majma Al-Zawaid datang dengan soalan “Dimana Allah” maka hamba perempuan itu isyaratkan jari ke langit.

          iii) Riwayat daripada Muslim dalam shahihnya datang dengan soalan “Di mana Allah” maka dijawab “Di langit”.

          iv) Riwayat daripada Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi datang dengan soalan “Siapa tuhan kamu?” maka dijawab “Allah”.

          Walaupun kisah, orang dan kejadian yang sama namun, terdapat perbezaan yang jauh pada soalan yang dikemukakan oleh Nabi dan jawapan jariah itu, maka hal ini menjadikan hadis ini dinilai mudhtharib. Justeru, amat salah jika menjadikan hadis ini sebagai hujjah dalam aqidah.
          ………………………………………………………..

          11. Bahkan, menurut Al-Hafiz Al-Baihaqi, kitab Shahih Muslim yang ada padanya, Imam Muslim tidak sertakan matan berkenaan persoalan di mana Allah itu, yang mana menunjukkan hadis tersebut diperselisihkan dalam kalangan ulama. Hal ini beliau nyatakan dalam kitabnya Al-Asma’ Was Shifaat:

          قَدْ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مُقَطَّعًا مِنْ حَدِيثِ الْأَوْزَاعِيِّ وَحَجَّاجٍّ الصَّوَّافِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ دُونَ قِصَّةِ الْجَارِيَةِ، وَأَظُنُّهُ إِنَّمَا تَرَكَهَا مِنَ الْحَدِيثِ لِاخْتِلَافِ الرُّوَاةِ فِي لَفْظِهِ.
          “Imam Muslim telah meriwayatkannya dengan terpotong (tidak keseluruhan) dari hadis al Auza’i dan Hajjaj ash Shawwaf dari Yahya ibn Abi Kathir tanpa menyebut kisah Jariah. Mungkin beliau meninggalkan penyebutannya dalam hadis itu disebabkan perselisihan para perawi dalam menukilkan redaksinya.”
          ………………………………………………………..

          12. Sekalipun, jika dinilai sahih oleh sebahagian ulama, mereka menyatakan bahawa wajib mensucikan Allah daripada menyerupai dengan makhluk dan zahir nash bukanlah maksud yang dikehendaki oleh Allah kerana hadis ini termasuk dalam Al-Mutasyabihat, inilah yang dinyatakan oleh Imam Nawawi dan Qadhi Iyadh.
          ………………………………………………………..

          13. Kesimpulannya, ZN telah melakukan kesilapan besar dalam hal ini dan kesilapan ini perlu diperbetulkan agar penyokong ZN tidak mengambil aqidah yang salah sehingga merosak iman mereka. Semoga kita semua menerima dengan hati yang terbuka dan menyelamatkan aqidah kita daripada terseleweng.

          Disclaimer:
          Tulisan ini bukanlah bertujuan untuk mengusir ZN, tiada kaitan juga dengan puak DAP, namun bagi mengenalpasti aqidah sebenar ZN yang diagung-agungkan sesetengah pihak. ZN boleh terus berada di Malaysia, diam-diam dan jangan menyebarkan fahamannya. Jika nak berpindah ke Saudi juga lebih baik kerana fahamannya serasi dengan masyarakat di sana.

          Disediakan oleh:
          Sekretariat Muzakarah Hadis & Syariat (MUHADIS)
          19 Ogos 2019

          26/08/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , , | Leave a comment

          SIRI 1 TABAYYUN: MANHAJ AQIDAH DR ZAKIR NAIK

          1. Sejak penulisan kami sebelum ini menjadi viral, terdapat banyak respon daripada kalangan orang Islam samada yang bermanhaj ASWJ atau berfahaman Wahhabi atau orang jahil yang tidak memahami perbezaan ideologi dalam Islam.

          Penulisan tersebut boleh dilihat di sini:

          ………………………………………………..

          2. Oleh yang demikian, kami mendapati dalam isu ZN ramai daripada kalangan ASWJ sendiri menggadaikan maruah dengan menjulang tokoh yang mesra dengan fahaman Wahhabi ini. Bahkan ada yang tidak menyedari apakah aqidah ZN yang sebenarnya sehingga menuduh kami para panel Muzakarah Hadis & Syariat (MUHADIS) sebagai fitnah dan mengadu domba.
          ………………………………………………..

          3. Rentetan daripada itu, kami akan mengeluarkan beberapa siri tabayyun bertujuan meneliti aqidah dan fahaman ZN yang sebenarnya. Kaedah dibuat berdasarkan tiga soalan:
          i) Apakah pegangan, kefahaman dan aqidah ZN?
          ii) Mengenalpasti sumber kefahaman ZN daripada ideologi yang mana?
          iii) Bagaimana ideologi Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) yang sebenar?
          ………………………………………………..

          4. Bagi tujuan tersebut, kami memilih tajuk yang pertama berkaitan dengan aqidah Dr. Zakir Naik ketika menjawab “Where is Allah?” (Dimanakah keberadaan Allah?). Penelitian dibuat berdasarkan video Dr. Zakir Naik yang menjawab persoalan ini walau dimana sahaja disoal:
          i) Video 1: Where is Allah?- Dr Zakir Naik #HUDATV (minit 2.06)

          ii) Video 2: Where is Allah? Where does He live?-Dr Zakir Naik #HUDATV (minit 0.31)

          iii) Video 3: Allah is not everywhere, Allah is in his Arsh [Dr Zakir Naik] (versi Urdu) (minit 0.45)

          ………………………………………………..

          5. Berdasarkan ketiga-tiga video di atas, soalan pertama terjawab dengan jelas kelihatan Dr. Zakir Naik konsisten berfahaman bahawa Allah berada di Arasy dan menetapkan tempat bagi Allah.
          ………………………………………………..

          6. Oleh yang demikian, bagi menjawab soalan kedua, kita perlu mengenalpasti kefahaman ini berdasarkan ideologi yang mana?

          i) Ajaran daripada kitab Yahudi, [Safar Yuhana]:

          “الْجَالِسُ عَلَى الْعَرْشِ يَحُلُّ فَوْقَهُمْ”

          “(Tuhan) duduk (bersemayam) di atas `Arasy, berada di atas mereka” (Al-Ishah (8), nombor 15)

          “وَشُكْرًا لِلْجَالِسِ عَلَى الْعَرْشِ الْحَيِّ الأَبَدِيِّ”.

          “Dan berterima kasihlah kepada (Tuhan ) yang duduk di atas `Arasy yang Maha hidup lagi abadi”. (Al-Ishah (4), nombor 9)

          ii) Ajaran daripada Ibnu Taimiyyah (tokoh rujukan bagi Wahhabi)

          الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى” الاِسْتَوَاءُ مِنَ اللهِ عَلَى عَرْشِهِ الْجَيِّدِ عَلَى الْحَقِيْقَةِ لا عَلَى الْمَجَازِ”

          “Firman Allah : الرحمن على العرش الستوى bahawa “Istawa” Allah itu di atas `Arasy-Nya secara makna hakiki (duduk) bukan makna majaz” (Syarh Hadis An-Nuzul, ms.145)

          Ibnu Taimiyyah juga menyamakan Allah dengan makhluk dengan katanya:
          إِنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله يُجْلِسُهُ رَبُّهُ عَلَى الْعَرْشِ مَعَهُ
          “Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Allah mendudukannya di atas `Arasy bersama-Nya” (Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Al-Fatawa, juz.4, ms. 374)

          iii) Ajaran daripada tokoh Wahhabi (Ibnu Uthaimin dan Bin Baz)

          وأهل السنة والجماعة يؤمنون بأن الله تعالى مستوٍ على عرشه استواءً يليق بجلاله ولا يماثل استواء المخلوقين. فإن سألت : ما معنى الاستواء عندهم ؟ فمعناه العلو والاستقرار
          “Ahlussunnah Wal Jamaah (pada sangkaannya) mengimani bahwa Allah istiwa di atas Arsy-Nya dengan Istiwa yang layak bagi-Nya,dan tidak semisal istiwa’nya makhluk, seandainya Engkau bertanya: Apa makna Istiwa menurut mereka? Maka maknanya adalah al ‘Uluw (tinggi) dan al Istiqror (menetap)” (Ibnu Uthaimin, Majmu’ Fatawa Wa Rasail, juz.8, ms.317)

          وهي العقيدة الصحيحة من الإيمان بأن الله الواجب الإيمان بأن الله سبحانه في السماء فوق العرش، عال على جميع الخلق، كما قال سبحانه في كتابه العزيز: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}
          “Aqidah yang sahih dari keimanan yang wajib beriman dengan Allah bahawa Allah subhanahu berada di langit di atas Arasy, tinggi atas seluruh makhluk, seperti firman Allah subhanahu dalam kitab-Nya Al-Aziz: (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى)” (Bin Baz, Majmu’ Fatawa, juz.9, ms.457)
          ………………………………………………..

          7. Berdasarkan fakta-fakta ini, kami mendapati kefahaman ZN bukan daripada ajaran Islam yang tulen melainkan ada pengaruh luar seperti ajaran Yahudi, ajaran Ibnu Taimiyyah dan ajaran Wahhabi. Setelah kita meneliti fakta ini dengan adil dan insaf, adakah lagi pentaksub ZN daripada ASWJ mahu mempertahankan beliau?
          ………………………………………………..

          8. Seterusnya, bagi menjawab soalan ketiga, berkaitan manhaj ASWJ yang sebenar dalam isu ini. Kita boleh dapati melalui kenyataan para ulama muktabar seperti berikut:

          i) Imam Asy-Syafie (w. 150H)
          من قال او اعتقد ان الله جالس على العرش فهو كافر
          “Sesiapa berkata atau beritiqad Allah duduk atas Arasy maka dia menjadi kafir” (Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Muhtadi, ms.551)

          ii) Imam Ibnu Jarir At-Tobari (w.310)
          Ketika mentafsir surah Al-Baqarah, ayat 29, beliau mentafsirkan Istawa dengan katanya:
          فقل علا عليها علو ملك وسلطان لا علو انتقال وزوال
          “Maka katakan Dia meninggi ke atasnya sebagai tingginya kekuasaan dan penguasaan bukan tinggi dengan maksud perpindahan atau berarah (tidak disifatkan dengan arah atas)”

          iii) Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (w.324)
          كان الله ولا مكان فخلق العرش والكرسي ولم يحتج الى مكان. وهو بعد خلق المكان كما كان قبل خلقه.
          “Kewujudan Allah azali dan tanpa bertempat, kemudian Allah mencipta Arasy dan Kursi dan Dia tidak berhajat kepada tempat. Kewujudan-Nya setelah menciptakan tempat sebagaimana kewujudan-Nya sebelum menciptakan tempat (iaitu Allah tidak bertempat)” (Tabyin Kazib Al-Muftari, ms.150)

          iv) Imam Ibnu Hibban (w. 342H)
          كان-الله-ولا زمان ولا مكان
          “Allah ada azali, tanpa masa dan tanpa tempat” (Sahih Ibn Al-Hibban, juz.8, ms.4)

          v) Kesimpulan aqidah ASWJ telah dibuat oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974):
          وَاعْلَمْ أَنَّ الْقَرَافِيَّ وَغَيْرَهُ حَكَوْا عَنِ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَ أَحْمَدَ وَأَبِي حَنِيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ الْقَوْلَ بِكُفْرِ الْقَائِلِيْنَ بِالْجِهَةِ وَالتَّجْسِيْمِ وَهُمْ حَقِيْقُوْنَ بِذَلِكَ
          “Dan ketahuilah bahawa al-Qarafi dan selain beliau telah menceritakan daripada al-Syafi`e, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah radiyallahu`anhum tentang pendapat kufurnya golongan yang berpendapat dengan arah [tempat] dan tajsim (bagi Allah ta`ala), dan mereka (para imam mazhab tersebut) pasti tentang perkara tersebut”
          ………………………………………………..

          9. Kesimpulannya manhaj ASWJ ialah beriman dengan ayat (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى), namun menafikan tempat ke atas Allah, menafikan arah ke atas Allah dan menafikan penjisiman ke atas Allah. Berbeza dengan kenyataan ZN seperti di bawah:
          i) Video 1 “Allah is on Arasy” (Allah berada di atas Arasy).
          ii) Video 2 “Allah is on top is also correct, Allah is on Arasy is also correct” (Allah berada di atas juga betul, Allah berada di Arasy juga betul)
          iii) Video 3 versi urdu, ZN mengatakan (Allah duduk di atas Arasy)
          ………………………………………………..

          10. Hasil daripada siri tabayyun kali ini merumuskan bahawa kefahaman atau aqidah ZN dalam bab ini terkeluar daripada aqidah ASWJ dan aqidah Islam yang tulen. Semoga kita dapat menerimanya dengan hati terbuka dan menolak ketaksuban kerana tiada yang maksum melainkan Nabi.

          Disclaimer:
          Tulisan ini bukanlah bertujuan untuk mengusir ZN, tetapi bagi mengenalpasti aqidah sebenar ZN yang diagung-agungkan setengah pihak. ZN boleh terus berada di Malaysia, diam-diam dan jangan menyebarkan fahamannya. Jika nak berpindah ke Saudi juga lebih baik kerana fahamannya serasi dengan masyarakat di sana.

          Disediakan oleh:
          Sekretariat Muzakarah Hadis & Syariat (MUHADIS)
          16 Ogos 2019

          26/08/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          Betul kah doa orang hidup sampai kepada si mati?

          PELIK,TAPI BENAR.

          masih ramai dikalangan kita yang tidak mengetahui terhadap suatu perkara yang sudah ijma’ para ulama.
          Dan masih ada yang mempertikaikan “ijma’ ” itu dan bertanya,..betul ker doa dari orang itu sampai kepada simati,..?

          Saye cube susun dari hujah-hujah ulama dan jumhur “ijma’ ” yang telah ditulis dalam kitab-kitab mereka sebagai berikut :

          “DOA DARI YANG HIDUP UNTUK SIMATI”

          Kaitan dengan do’a, hal ini tidak begitu dipermasalahkan, sebab telah menjadi kepakatan ulama ahlus sunnah wal jama’ah bahwa do’a sampai kepada orang mati dan memberikan manfaat bagi orang mati.

          Begitu banyak dalil yang menguatkan hal ini.

          Diantaranya dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’alaa telah berfirman :

          والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رءوف رحيم

          “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr 59 ; 10)

          Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’alaa memberitahukan bahwa orang-orang yang datang setelah para sahabat Muhajirin maupun Anshar mendo’akan dan memohonkan ampun untuk saudara-saudaranya yang beriman yang telah (wafat) mendahului mereka sampai hari qiamat.

          Mereka yang dimaksudkan adalah para tabi’in dimana mereka datang setelah masa para sahabat, mereka berdoa untuk diri mereka sendiri dan untuk saudara mukminnya serta memohon ampun untuk mereka.

          وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

          “dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan” (QS. Muhammad 47 : 19)

          Ayat ini mengisyaratkan bermanfaatnya do’a atau permohonan ampun oleh yang hidup kepada orang yang meninggal dunia. Serta perintah untuk memohonkan ampunan bagi orang-orang mukmin.

          رب اغفر لي ولوالدي ولمن دخل بيتي مؤمنا وللمؤمنين والمؤمنات ولا تزد الظالمين إلا تبارا

          “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.

          Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”. (QS. Nuh 71 : 28)

          Allah Subhanahu wa Ta’alaa juga berfirman :

          وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ

          “dan mendo’alah untuk mereka, sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka” (QS. at-Taubah : 104)

          Frasa “shalli ‘alayhim” maksudnya adalah berdolah dan mohon ampulan untuk mereka, ini menunjukkan bahwa do’a bermanfaat kepada orang lain.

          كان رسول الله صلى الله عليه وسلم كلما كان ليلتها من رسول الله صلى الله عليه وسلم يخرج من آخر الليل إلى البقيع فيقول السلام عليكم دار قوم مؤمنين وأتاكم ما توعدون غدا مؤجلون وإنا إن شاء الله بكم لاحقون اللهم اغفر لأهل بقيع الغرقد.

          “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada malam hari yaitu keluar pada akhir malam ke pekuburan Baqi’, kemudian Rasulullah mengucapkan,…. “Assalamu’alaykum dar qaumin mu’minin wa ataakum ma tu’aduwna ghadan muajjaluwna wa innaa InsyaAllahu bikum laa hiquwn, Allahummaghfir lil-Ahli Baqi al-Gharqad”.

          Ini salah satu ayat dan hadits yang menyatakan bahwa mendo’akan orang mati adalah masyru’ (perkara yang disyariatkan), dan menganjurkan kaum muslimin agar mendo’akan saudara muslimnya yang telah meninggal dunia.

          Banyak-ayat-ayat serupa dan hadits-hadits yang menunjukkan hal itu.

          ‘Ulama besar madzhab Syafi’iyah yaitu al-Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar menyebutkan :

          بابُ ما ينفعُ الميّتَ من قَوْل غيره : أجمع العلماء على أن الدعاء للأموات ينفعهم ويَصلُهم‏.‏ واحتجّوا بقول اللّه تعالى‏:‏ ‏{‏وَالَّذِينَ جاؤوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنا اغْفِرْ لَنا ولإِخْوَانِنا الَّذين سَبَقُونا بالإِيمَانِ‏} وغير ذلك من الآيات المشهورة بمعناها، وفي الأحاديث المشهورة كقوله صلى اللّه عليه وسلم‏:‏ ‏”‏اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأهْلِ بَقِيعِ الغَرْقَدِ‏”‏ وكقوله صلى اللّه عليه وسلم‏:‏ ‏”‏اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنا وَمَيِّتِنَا‏”‏ وغير ذلك‏.‏

          “Bab perkataan dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi mayyit : ‘Ulama telah ber-ijma’ (bersepakat ) bahwa do’a untuk orang meninggal dunia bermanfaat dan pahalanya sampai kepada mereka. Dan ‘Ulama’ berhujjah dengan firman Allah :

          “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami (59:10)”, dan ayat-ayat lainnya yang maknanya masyhur, serta dengan hadits-hadits masyhur seperti do’a Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam “ya Allah berikanlah ampunan kepada ahli pekuburan Baqi al-Gharqad”, juga do’a : “ya Allah berikanlah Ampunan kepada yang masih hidup dan sudah meninggal diantara kami”, dan hadits- yang lainnya.”

          Didalam Minhajuth Thalibin :

          وتنفع الميت صدقة ودعاء من وارث وأجنبي.

          “dan memberikan manfaat kepada mayyit berupa shadaqah juga do’a dari ahli waris dan orang lain”.

          Imam al-Mufassir Ibnu Katsir asy-Syafi’i terkait do’a dan shadaqah juga menyatakan sampai.

          فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما

          “Adapun do’a dan shadaqah, maka pada yang demikian ulama telah sepakat atas sampainya pahala keduanya, dan telah ada nas-nas dari syariat atas keduanya”.

          Syaikh an-Nawawi al-Bantani (Sayyid ‘Ulama Hijaz) didalam Nihayatuz Zain :

          وَالدُّعَاء ينفع الْمَيِّت وَهُوَ عقب الْقِرَاءَة أقرب للإجابة

          “dan do’a memberikan manfaat bagi mayyit, sedangkan do’a yang mengiringi pembacaan al-Qur‘an lebih dekat di ijabah”.

          Syaikh al-‘Allamah Zainudddin bin ‘Abdul ‘Aziz al-Malibari didalam Fathul Mu’in :

          وتنفع ميتا من وارث وغيره صدقة عنه ومنها وقف لمصحف وغيره وبناء مسجد وحفر بئر وغرس شجر منه في حياته أو من غيره عنه بعد موته. ودعاء له إجماعا وصح في الخبر أن الله تعالى يرفع درجة العبد في الجنة باستغفار ولده له وقوله تعالى: {وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى} عام مخصوص بذلك وقيل منسوخ.

          “dan memberikan manfaat bagi mayyit dari ahli waris atau orang lain berupa shadaqah darinya, diantara contohnya adalah mewaqafkan mushaf dan yang lainnya, membangun masjid, sumur dan menanam pohon pada masa dia masih hidup atau dari orang lain yang dilakukan untuknya setelah kematiannya, dan do’a juga bermanfaat bagi orag mati berdasarkan ijma’, dan telah shahih khabar bahwa Allah Ta’alaa mengangkat derajat seorang hamba di surga dengan istighafar (permohonan ampun) putranya untuknya.
          dan tentang firman Allah “wa an laysa lil-insaani ilaa maa sa’aa” adalah ‘amun makhsush dengan hal itu, bahkan dikatakan mansukh”.

          Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi didalam I’anatuth Thalibin :

          (قوله: ودعاء) معطوف على صدقة، أي وينفعه أيضا دعاء له من وارث وغيره،

          “Frasa (do’a) ma’thuf atas lafaz shadaqah, yakni do’a juga memberikan manfaat bagi orang mati baik dari ahli waris atau orang lain”.

          Syaikhul Islam al-Imam Zakariyya al-Anshari didalam Fathul Wahab :

          ” وينفعه ” أي الميت من وارث وغيره ” صدقة ودعاء ” بالإجماع وغيره وأما قوله تعالى: (وأن ليس للإنسان إلا ما سعى) فعام مخصوص بذلك وقيل منسوخ وكما ينتفع الميت بذلك ينتفع به المتصدق والداعي

          “dan memberikan manfaat bagi orang mati baik dari ahli waris atau orang lain berupa shadaqah dan do’a berdasarkan ijma’ dan hujjah lainnnya, adapun firman Allah “wa an laysa lil-insaani ilaa maa sa’aa” adalah ‘amun makhshush dengan hal itu bahkan dikatakan mansukh, sebagaimana itu bermanfaat bagi mayyit juga bermanfaat bagi person yang bershadaqah dan yang berdo’a”.

          Imam Ibnu Hajar al-Haitami didalam Tuhfatul Muhtaj :

          (وينفع الميت صدقة) عنه ومنها وقف لمصحف وغيره وحفر بئر وغرس شجر منه في حياته أو من غيره عنه بعد موته (ودعاء) له (من وارث وأجنبي) إجماعا وصح في الخبر: «إن الله تعالى يرفع درجة العبد في الجنة باستغفار ولده له» وهما مخصصان وقيل ناسخان لقوله تعالى (وأن ليس للإنسان إلا ما سعى) (النجم: 39) إن أريد ظاهره وإلا فقد أكثروا في تأويله، ومنه أنه محمول على الكافر أو أن معناه لا حق له إلا فيما سعى، وأما ما فعل عنه فهو محض فضل لا حق له فيه

          “dan memberikan manfaat kepada mayyit berupa shadaqah darinya, seperti mewaqafkan mushaf dan yang lainnya, menggali sumur dan menanam pohon pada masa hidupnya atau dari orang lain untuknya setelah kematiannya, dan do’a juga bermanfaat bagi orang mati baik berasal dari ahli waris atau orang lain berdasarkan ijma’ dan telah shahih didalam khabar bahwasanya Allah mengangkat derajat seorang hamba didalam surga dengan istighfar anaknya untuknya, keduanya (ijma’ dan khabar) merupakan pengkhusus, bahkan dikatakan sebagai penasikh untuk firman Allah (wa an laysa lil-insaani ilaa ma sa’aa) jika menginginkan dhahirnya, namun jika tidak maka kebanyakan ulama menta’wilnya, diantaranya itu dibawa atas pengertian kepada orang kafir atau maknanya tidak ada haq baginya kecuali pada perkara yang diusahakannya”.

          Imam Syamsuddin al-Khathib as-Sarbiniy didalam Mughni :

          ثم شرع فيما ينفع الميت فقال (وتنفع الميت صدقة) عنه، ووقف، وبناء مسجد، وحفر بئر ونحو ذلك (ودعاء) له (من وارث وأجنبي) كما ينفعه ما فعله من ذلك في حياته

          “kemudian disyariatkan tentang perkara yang bermanfaat bagi mayyit, maka kemudian ia berkata (dan bermanfaat bagi mayyit berupa shadaqah) darinya, waqaf, membangun masjid, menggali sumur dan seumpamanya, (juga bermanfaat berupa do’a) untuknya (baik dari ahli waris atau orang lain) sebagaimana bermanfaatnya perkara yang ia kerjakan pada masa hidupnya”.

          Al-‘Allamah Muhammad az-Zuhri al-Ghamrawi didalam As-Siraajul Wahaj :

          وتنفع الميت صدقة عنه ووقف مثلا ودعاء من وارث وأجنبي كما ينفعه ما فعله من ذلك في حياته ولا ينفعه غير ذلك من صلاة وقراءة ولكن المتأخرون على نفع قراءة القرآن وينبغي أن يقول اللهم أوصل ثواب ما قرأناه لفلان بل هذا لا يختص بالقراءة فكل أعمال الخير يجوز أن يسأل الله أن يجعل مثل ثوابها للميت فان المتصدق عن الميت لا ينقص من أجره شيء

          “dan shadaqah darinya bisa memberikan manfaat bagi mayyit seumpama mewaqafkan sesuatu, juga do’a dari ahli waris atau orang lain sebagaimana bermanfaatnya sesuatu yang itu ia lakukan pada masa hidupnya dan tidak memberikan manfaat berupa shalat dan pembacaan al-Qur’an akan tetapi ulama mutaakhirin berpendapat atas bermanfaatnya pembacaan al-Qur’an, dan sepatutrnya mengucapakan :

          “ya Allah sampaikan apa apa yang kami baca untuk fulan”, bahkan ini tidak khusus untuk qira’ah saja tetapi juga seluruh amal kebaikan boleh untuk memohon kepada Allah agar menjadikan pahalanya untuk mayyit, sungguh orang yang bershadaqah untuk mayyit tidak mengurangi pahalanya dirinya”.

          Al-‘Allamah Syaikh Sulaiman al-Jamal didalam Futuhat al-Wahab :

          قوله: وينفعه صدقة) ومنها وقف لمصحف وغيره وحفر بئر وغرس شجرة منه في حياته، أو من غيره عنه بعد موته ودعاء له من وارث وأجنبي إجماعا

          “(frasa bermanfaatnya shadaqah) diantaranya yakni waqaf untuk mushhaf dan yang lainnya, menggali sumur dan menanam pohon darinya pada masa hidupnya atau dari orang lain untuknya setelah kematiannya, dan do’a untuknya dari ahli waris dan orang lain berdasarkan ijma’”.

          Masih banyak lagi pertanyaan ulama-ulama Syafi’iyah yang termaktub didalam kitab-kitab mereka. Oeh karena itu dapat disimpulkan bahwa do’a jelas sampai dan memberikan kepada orang mati dan ulama telah ber-ijma’ tentang ini.

          Artinya dari sini, mayyit boleh memperoleh manfaat dari amal orang lain berupa do’a.

          Ini adalah amal baik dan penuh kasih sayang terhadap saudara muslimnya yang telah meninggal dunia, dan telah menjadi kebiasaan kaum muslimin terutama yang bermazhab syafi’i baik diNusantara dan yang lainnya, yang dikemas dalam kegiatan tahlilan.

          Wallahu’alam.

          Sumber Fb: Ustaz Zaref Shah Al Haqqy

          25/08/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

          WAHHABI MODEN

          Sebenarnya banyak golongan yang berpangkat Dr, agamawan atau sesiapa pun yang ada penyakit Wahhabi ini tidak akan mengaku bahawa mereka mempunyai fahaman Wahhabi. Malah, mereka marah apabila diri mereka digelar sebagai WAHHABI.

          Adakah Wahhabi ini ajaran sesat? Bukan saya yang berkata begitu. Tetapi para ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang berpendapat bahawa Wahhabi adalah satu fahaman yang sesat dari segi akidah, menyesatkan umat Islam dan tergelincir daripada fahaman Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang sebenar.

          Syeikh Ahmad Zaini Dahlan al-Hasani, Mufti Mazhab Syafie di Makkah al-Mukarramah di zamannya menyatakan di dalam kitabnya, al-Durar al-Saniyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah:

          “Zahirnya Wahhabi merupakan bala yang didatangkan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Ia juga merupakan fitnah daripada sebesar-besar fitnah yang muncul dalam agama Islam yang mengganggu ketenteraman fikiran, menghangatkan orang-orang yang berakal dan mengelirukan orang-orang yang kurang berakal, lantaran diterjah oleh pemikiran dan ajaran mereka yang meragukan. Sedangkan mereka berselindung di sebalik label PENEGAK AGAMA”.

          Sesat jalan dan haluan tidak mengapa. Tetapi, jangan kita menjadi sesat dan keliru dalam pemikiran sehingga mengeluarkan satu hukum yang salah. Selepas itu, mengkafirkan dan mendatangkan dalil dengan alasan si pelaku masuk api neraka atau seorang yang sudah berdusta dalam agamanya.

          Gempar seketika apabila seseorang yang ada jawatan dalam politik menjelaskan bahawa Wahhabi bukan ajaran sesat. Malah, dia bersungguh-sungguh mendatangkan beberapa enakmen dan pandangan daripada pihak tertentu untuk menyatakan Wahhabi tergolong dalam Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

          Saya berpendirian bahawa sesiapa pun yang bergelar Muslim, tidak dibenarkan mengkafirkan dan membidaahkan sesuatu perkara jika ibadah atau amalan itu tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW. Kita juga bersetuju jika ibadah dan amalan itu dipandang baik. Malah, majoriti ulama’ berpandangan bahawa ia tidak menjadi masalah dan boleh diamalkan.

          Jadi, di manakah Wahhabi jika dikatakan sesat? Sesatnya mereka itu akibat tidak menemui sumber dalam pengeluaran hukum agama dan penjelasan ulama’. Maka selama itulah mereka sesat kerana tidak memahami dengan baik fiqh agama dan tidak menghormati pandangan ulama yang membenar dan memperakui jalan ibadah itu.

          Seperkara lagi, bilakah WAHHABI dikatakan bersifat maksum dan tidak pernah bersalah? Mereka inilah punca berlakunya WABAK penyakit yang lebih teruk daripada penyakit kanser sehingga umat Islam berpecah-belah dan saling mencaci dan memaki sesama mereka. Adakah Wahhabi begitu maksum untuk dimuliakan dan diagung-agungkan?

          Tidak ada ajaran yang lebih teruk daripada fahaman WAHHABI yang berani memaki dan menghina para ulama’ terdahulu? Adakah Islam diajar menghina ulama’ pewaris nabi? Adakah mereka ini layak untuk dikatakan tidak sesat dan melampaui batas dalam agama?

          Apabila seseorang disyaki dan cenderung kepada penyakit ini, maka ia layak digelar sebagai WAHHABI MODEN. Gelaran ini terbuka untuk sesiapa yang ada ciri-ciri tidak menghormati pandangan ulama’ walaupun anda seorang Mufti!

          Jika benar kita adalah seorang yang adil dan wasatiyyah, kita tidak akan memberi ruang kepada anak-anak WAHHABI mendapat peluang, kedudukan dan jawatan di negara ini. Sedangkan merekalah sebenarnya siang dan malam melalui kuliah-kuliah mereka membawa perpecahan dan juga fitnah di negara ini. Bahkan mereka yang memulakan dahulu budaya bercakap bohong dan mendabik dada seolah-olah mereka sahaja yang betul dan pendapat ilmuwan lain semuanya salah.

          Tangan-tangan Ahli Sunnah juga perlu diperhatikan. Jangan kita sesekali terpalit dan turut berjasa menaikkan WAHHABI di negara ini. Janganlah kita merencatkan perjuangan sejati para pejuang sejati Ahlus Sunnah Wal Jamaah di negara ini. Sekian lama kita memberi; janganlah lupa dan cepat lupa diri.

          Ahlus Sunnah Wal Jamaah dahulu tidak pernah berhutang dengan pemerintah, orang-orang politik dan orang-orang yang ada kepentingan diri. Pondok dan madrasah terbina teguh dengan keikhlasan tuan-tuan guru yang mengajarkan ilmu tauhid dan zikir terhadap pengenalan diri. Malah, itulah juga benteng menolak bala daripada Ilahi.

          Ahlus Sunnah Wal Jamaah bukanlah jemaah atau pertubuhan untuk menonjolkan mereka sebagai yang terbaik. Tetapi Ahlus Sunnah adalah mereka yang berani mempertahankan nama Allah SWT dan agama-Nya. Jangan kita menjadi paku-pakis terlompat di sana-sini sehingga hilang identiti diri. Pening dan keliru anak-anak Islam memikirkan orang yang mengatakan WAHHABI ini benar ketika berada di majlis kita untuk berucap dan merasmikan sesuatu majlis. Sedangkan dalam masa yang sama, mereka ini juga memberi ruang dan bertepuk tampar sesama Pak Wahhabi ini. Adakah Ahlus Sunnah sudah terpesona dengan jawatan dan pangkat mereka?

          Soalan yang perlu ditanya, bilakah masa PAK-PAK WAHHABI ada meminta maaf kepada Ahlus Sunnah? Sedangkan mereka tidak pernah minta maaf setelah menghina IMAM-IMAM kita. Di manakah keadilan untuk kita apabila WAHHABI disahkan sebagai ajaran murni, sedangkan kesalahan mereka amat ketara di media dan segala saluran mereka.

          Kita boleh DUDUK dengan WAHHABI setelah mereka membuat pengakuan terbuka bahawa selama ini mereka tersilap berfatwa, lalu memohon maaf dengan ikhlas setelah melemparkan tuduhan dan fitnah kepada kita semua.

          Saya adalah orang yang pertama yang akan bersalam dengan mereka dan berkata, “Jangan buat lagi, ya! Pening orang awam. Kami sudah ok di Malaysia dengan 1000 dalil.”

          Ahlus Sunnah tidak akan pernah berhutang dengan mereka melainkan orang-orang yang ada membina hubungan dan rangkaian dengan mereka. Guru sendiri difitnah, bermesra pula dengan tauke-tauke WAHHABI.

          Ya Allah! Padamkan kesesatan dan kekeliruan di negara ini daripada tangan orang-orang yang keliru dan terhijab.

          Kuatkanlah kesatuan para pejuang sejati Ahlus Sunnah Wal Jamaah di negara ini.

          Sebagai penutup bicara, saya bawakan kisah taubat seorang ulama’ Wahhabi.

          Syeikh Muhammad Abdul Salam al-Kazimi al-Hasani, seorang ulama’ di Jami’ah al-Ghauthiyyah Daka, Bangladesh berkata sambil menangis:

          “Mazhab Wahhabi adalah mazhab yang berbahaya dan meruntuhkan masyarakat Islam. Akidah yang melencong ini mendatangkan fitnah. Golongan Wahhabi menyatakan bahawa kami mengikut al-Quran dan Sunnah, tetapi apa yang sebenarnya berlaku ialah mereka mengikut telunjuk syaitan”.

          Syeikh Muhammad Abdul Salam akhirnya bertaubat. Setelah beliau keluar daripada fahaman Wahhabi, beliau berkata:

          “Aku adalah seorang Wahhabi, kemudian aku bertaubat”.
          (Manar al-Huda bil. 68 Rabiulakhir 1419H bersamaan Ogos 1998: 19.)

          Mohon maaf atas segalanya…
          Yang benar tetap benar…

          Ahmad Lutfi bin Abdul Wahab Al-Linggi
          Jumaat 29 April 2016
          11.03 pagi
          Kota Damansara.

          20/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          Apabila Wahhabi berkata: _”Kami tidak bermadzhab, kami mengikuti Rasulullah secara langsung sebagaimana para ulama salaf”_

          Dari FB Saiful Ayob

          Apabila Wahhabi berkata:
          _”Kami tidak bermadzhab, kami mengikuti Rasulullah secara langsung sebagaimana para ulama salaf”_

          Maka katakan:

          *Kalian sedang mengigau, tidak mengetahui apa yang kalian katakan. Bagaimana kalian bisa mengikuti Rasulullah secara langsung?!*
          ✔️Apakah kalian pernah bertemu dengan Rasulullah secara langsung?!, jawabannya pasti tidak.

          Jika mereka berkata: “Kami mengikuti Rasulullah dengan memahami sunnah-sunnahnya secara langsung”

          Maka katakan:
          ✔️Apakah anda menguasai bahasa Arab dengan segala alatnya (Nahwu, shorof, balaghoh dan lainya)?
          ✔️Apakah kamu hafal al Qur’an dan ratusan ribu hadits dg sanadnya?
          ✔️Apakah kamu paham asbabun nuzul dan asbabul wurud?
          ✔️Apakah kamu paham an Nasikh wal Mansukh, al Am wal Khosh, al muhkam wal mutasyabih, al muthlaq wal muqayyad, al mujmal wal mubayyan dan seterusnya?
          Jawabannya pasti juga tidak.

          Jika mereka berkata:
          “Kami memahaminya dengan membaca terjemahan al Qur’an dan hadits”.

          Maka katakan:
          Itu namanya taqlid (mengikuti pemahaman) penerjemah. Apakah menurut kalian para penerjemah itu lebih luas ilmunya dari imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Syafi’i dan imam Ahmad?! Sehingga kalian rela meninggalkan para imam madzhab dan beralih taqlid pada para penerjemah al Qur’an dan hadits.

          Apabila mereka berkata:
          “Kami mengikuti para ulama dan ustadz-ustadz sunnah”.

          Maka katakan:
          Itulah yang disebut taqlid, tadi kalian katakan mengikuti Rasulullah secara langsung dan sekarang kalian katakan ikut ‘ulama sunnah’?! Ini kontradiksi…!!
          ✔️Perlu kalian ketahui! al Hafidz an Nawawi, al Hafidz Ibnu Hajar al Asqolani, al Hafidz al Bayhaqi, al Imam Al Ghozali dan jutaan ulama lainnya, meskipun dari segi keilmuan mereka jauh lebih tinggi dari kalian tetapi mereka juga bermadzhab.
          Aneh.. jika orang-orang seperti kalian tidak mau bermadzhab.
          ✔️Perkataan kalian bahwa para ulama Salaf tidak ada yang taqlid juga tidak benar, apabila kalian pernah membaca kitab-kitab mushtholahul hadits seperti Tadrib ar Rowi pastilah kalian tahu bahwa para sahabat yang telah mencapai derajat Mufti atau Mujtahid itu hanya ada 200 sahabat [menurut pendapat yang kuat], artinya ratusan ribu sahabat lainya bertaqlid kepada yang dua ratus tersebut.

          19/08/2019 Posted by | Aqidah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          SIFAT-SIFAT ALLAH PERBANDINGAN DIANTARA ASHA’IRAH VS MU’TAZILLAH.

          Persoalan sifat-sifat Allah s.w.t.

          tidak dibincangkan secara mendalam pada zaman Rasulullah s.a.w. Umat Islam pada zaman ini menerima terus apa sahaja sifat- sifat Allah sebagaimana Allah s.w.t. mesifatkan dirinya di dalam al-Qur’an tanpa mempersoalkan makna disebalik sifat-sifat tersebut.

          Allah s.w.t. bersifat dengan sifat kesempurnaan yang mutlak dan sifat-sifat tersebut adalah banyak.
          Walau bagaimana pun Allah s.w.t. menjelaskan sebahagian dari sifat-sifat-Nya kepada manusia menerusi al-Qur’an.

          Umpamanya Allah s.w.t. Amat Mendengar dan Maha Mengetahui dan firman-Nya lagi “Maka sesungguhnya Allah s.w.t. adalah Maha Penyayang lagi Maha Berkuasa”

          Olehyang demikian sifat-sifat Allah yang terdapat di dalam al-Qur’anadalah jelas menunjukkan kesempurnaan-Nya. Sifat-sifat kesempurnaan tersebut memberikan nilai yang lebih tinggi dan lebih besar keranaAllah s.w.t.
          adalah penciptas egala makhluk. Justeru itu la memiliki sifat Pengetahuan, Kemampuan dan semua sifat-sifat kesempurnaanyang lainnya.

          Bagaimanapun tanda-tanda Pengetahuan dan Kekuatan-Nya adalah hasil dari tanda Kehidupan-Nya,dan ianya pula dapat dilihatdari sistemketeraturan alam semesta.

          Allah s.w.t adalah bebas dari sebarangkecacatan dan kekurangan, bahkan tiada sesuatupun yang dapat disamakan dengan-Nya.

          Seandainya perkara ini diletakkan kepada Allah maka pastilah nilai kebesaran dan keagungan Allah akan jatuh ke tahap yang lebih rendah.

          Keadaan ini bertentangan sama sekali denganfirman-Nya “Katakanlah Allah adalah satu. Allah menjadi tumpuan segala makhluk untuk memohon sebarang hajat.

          Dia tidak beranak dan tidak pula diperanak kan. Dan tidak ada sesiapa pun yang setara dengan-Nya”

          Dengan ini jelaslah bahawa sifat kesempurnaan Allah menunjukkan Allah s.w.t. suci dari segala bentuk kekurangan.

          DZAT DAN SIFAT.

          Masalah dzat dan sifat adalah suatu masalah yang sering menimbulkan kontroversi oleh kebanyakan para mutakallimun kerana ia mempunyai hubung kait di antara satu sama lain.

          Masalah ini mula diperbincangkan pada awal abad kedua Hijrah oleh Jahm b. Safwan (m.127H.).

          Kemudian ianya menjadi perdebatan pemikiran di antara golongan Muktazilah,musyabihah,mujasimah dan al-‘Asya’irah di dalam perspektif ‘Urn al-Kalam.

          Persoalan yang timbul ialah, adakah Allah s.w.t. mempunyai sifat ataupun tidak?.

          SekiranyaAllah s.w.t mempunyai sifat, adakah sifat-sifat tersebut kekal (qadim) sebagaimana kekalnya dzat Allah s.w.t. ataupun sifat-sifat tersebut baharu dimiliki oleh Allah selepas kewujudan-Nya?.

          Di samping persoalan-persoalan tersebut, terdapat banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menetapkan Allah s.w.t. mempunyai sifat. Sifat-sifat tersebut termasuklah sifat Amat Mengetahui (‘Alim), Berkuasa (Qadir), Mendengar (Sami’), Melihat (Basir) dan sebagainya.

          Konsep Sifat-sifat Allah:Analisis & PerbandinganAntara AliranMu’tazilah & Asya’irah
          Di bawah ini diperturunkan beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan sifat- sifat Allah s.w.t. di antaranya :

          1. Surah al-An’am (5) : 59 “Dan di sisi Allahsegala Kunci perbendaharaan yang ghaib,tidak ada sesiapapun yang mengetahuinyamelainkan Dia.

          Seterusnya la amat Mengetahuiapa yang terkandung di daratan mahupun di lautan sertatidak akan gugur sehelai daun melainkan dalam pengetahuan-Nya “.

          2. Surah al-Baqarah (2) : 106 “Sesungguhnya Allah Amat Berkuasa terhadap segala sesuatu”.

          3. Surahal-Baqarah (2) : 181 “Sesungguhnya Allah Amat Mendengar dan Amat Mengetahui”.

          4. Surah Fatir(35) : 3 “Sesungguhnya Allah Amat Mengetahui tentang hamba-Nya serta Melihat dan Memerhatikannya “.

          Selain daripada ayat-ayat tersebut terdapat jugabeberapa ayat al-Qur’an yang menunjukkan sifat-sifat Allah berbeza dari makhluk-Nya.

          Sebagai buktinya firman Allah dalam Surah al-Syura’ (42): 11 bermaksud “Tidak ada sesuatupun yang setanding dengan-Nya”,dan juga dalam surah al-Ikhlas (112) : 4 bermaksud “Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya “.

          Hakikat MakrifatAllah telah pun diterangkan oleh Khalifah Ali b.
          Abu Talib menerusi khutbahnya :

          “Asas agama ialah ma’rifat-Allah. Untuk menyempurnakan makrifat tersebut hendaklah mentakdiskan-Nya serta mengesakan- Nya dengan segala keikhlasan.

          Hakikat kesempurnaan dan keikhlasan tersebutialah menolak segala bentuk sifat-sifat yang keji bagiAllah ataupun sifat-sifat yang berbeza daridzat-Nya.

          Allah s.w.t. tidak mempunyaipersamaan dengan sesuatu benda yang dapat difikirkan oleh manusia.

          Begitu juga sifat-sifat yang dapat diletakkan kepada-Nya.

          Justeru itu barangsiapa yang memberikan sifat-sifat kepada Allah nescaya mereka mempercayai sifat-sifat itu sebagai Allah s.w.t. Pegangan ini mengakibatkan bertambah bilangan kepada Allah.

          Hal yang sebegini adalah mustahil bagiAllah s.w.t. ”

          Berasaskan kepada pendapat tersebut, Imam Ja’far al-Sadiq (m. 148 H)7 menjelaskan bahawa sifat dan dzat Allah adalah satu dan tidak berbilang-bilang dari sudut/segi apa sekalipun.

          Sifat ini bukanlah sesuatu yang lain daripada dzat-Nya.

          Sebagai contohnya, beliau mengatakan bahawa sifat-sifat Allah seperti Mengetahui (‘Alim), Berkuasa (Qadir), Hidup (Hayy), Melihat (Basir) dan Mendengar (Sami’)adalah hakikatdzaf-Nya.

          Lantaran itu kesempurnaan-kesempurnaan yang ditunjukkan kepada sifat-sifat-Nya pada hakikatnya sama dengan fea?-Nya sendiri.

          Golongan Muktazilah pula di dalam persoalan ini menafikan adanya sifat bagi Allah s.w.t. Adalah tidak menghairankan sekiranya mereka dikenali sebagai golongan mu ‘attilah.

          Akal mereka tidak membolehkan merekamengakui sifat-sifat Allah dan berbeza dari dzat.

          Alasannya ialah jika sifat Allah tidak dianggap sama dengan dzat maka timbullah Jama’ Baqa’.

          Hasilnya akan gugurlah akidah tauhid.

          Menurut al-Syahrastani(m. 507H.), Wasil b. ‘Ata’ (m. BOH.) adalah orang yang pertama di kalangan Muktazilah yang meletakkan asas di dalam perbincangan menafikan sifat-sifat Allah s.w.t.” Ini bererti apa yang disebutkan sifat Allah s.w.t. adalah bukan sifat yang wujud tersendiri di luar dzat Allah, tetapi sifat tersebut merupakan dzat Allah s.w.t. sendiri.

          Menurut Wasil sendiri sekiranya sebarang sifat dikatakan kekal, sudah tentu ia memerlukanJama’ Baqa’ dan kepercayaan tentang keesaan Allah menjadi palsu.

          Konsep Sifat-sifat Allah:Analisis & Perbandingan Antara AliranMu’tazilah & Asya’irah.

          Al-Asy’ari (m. 33OH.)12, sewaktu menjelaskan pendapat golongan Muktazilah berhubung dengan sifat-sifat Alla hadalah bersifat negatif. Sehinggakan beliau mengatakan golongan Muktazilah berpendapat bahawa Allah s.w.t. tidak mempunyai pengetahuan,kekuasaan,hayat dan sebagainya.

          Ini tidak bererti golongan Muktazilah menganggap Allah s.w.t. tidak mengetahui, berkuasa, hidup dan sebagainya tetapi Allah s.w.t. tetap mengetahui dan berkuasa. Sifat-sifat tersebut bukanlah dalam pengertian sifat yang sebenarnya. Ini bererti Allah s.w.t. mengetahui, berkuasa dan hidup dengan dzat-Nya..

          Kecenderungan Wasil untukmenjelaskan persoalan sifat Allah masih lagi dalam kesamaran. Abu Hudhayl al-‘Allaf (m. 268H.) yang terkenal dengan kekentalan hujahnya menentang pandangan yang mengatakan bahawa dzat Allah tidak mempunyai kualiti dan tidak sekali-kali dikatakan sebagai jamak.

          Kualiti sifat Allah adalah sama dengan dzat serta tidak dapat diasingkan daripada kedua-duanya.

          Beliau bersetuju bahawa sifat Allah adalah satu dan sama dengan dzat.

          Ini menunjukkan bahawa apabila dikatakan Allah Maha Mengetahui maka pengertiannya adalah bukan ilmu ada dalam dzat Allah sebaliknya ilmu adalah dzat Allah.

          Ringkasnya Allah Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Hidup dengan Ilmu, Kuasa dan Kehidupan itu sebagai dzat-Nya yang sebenar.

          Pandangan Abu Hudhayl adalah bersesuaian dengan kenyataan ahli falsafah yang berpendapat bahawa dzat Allah tidak mempunyai kualiti dan kuantiti bahkan ia adalah mutlak satu.

          Oleh itu sifat Allah tidak lain tidak bukan daripada dzat Allah. Apa sahaja kualiti-Nya yang boleh ditegakkan samada ‘adam (tiada) ataupun usul (penting) tidak boleh dikaitkan dengan Allah.

          Sebagai contohnya Allah bukanlah sebagai satu tubuh, bahan, atau ‘arad, tetapi Ia adalah wujudnya dzat-Nya yang sebenar dan Tauhid-Nya itu benar.

          Abu Hudhayl seterusnya tidak mengakui sifat-sifat Allah berasingan daripada dzat-Nya dalam sebarang pengertian.

          Ini disebabkan beliau menyedari bahawa tanggapan tersebut membuatkan akidah tauhid akan terbatal sama sekali. Dengan alasan beliau, maka jelaslah bahawa golongan Kristian yang memperkembang kan teori Trisakti terpaksa meninggalkan akidah tauhid.

          Kehadiran Mu’ammar (m. 228H.) telah membesar-besarkan penafiannya tentang sifat-sifat Allah.

          Beliau menegaskan bahawa dzat Alla hadalah bebas daripada aspek jamak.Sekiranya seseorang itu percaya tentang sifat-sifat Allah maka dzat Allah akan menjadi jamak.Sikap keterlaluan yang diperlihatkan oleh beliau menyebabkan beliau mengatakan bahawa Allah tidak mengetahui diri-Nya sendiri atau orang lain kerana mengetahui dan pengetahuan itu sesuatu yang berada di dalam atau di luar Allah.

          Jika pengetahuan bukan sesuatu di dalam Allah, dan yang diketahui berasingan daripada yang mengetahui bermakna bahawa dzat Allah itu berbilang-bilang.

          Tambahan pula, pengetahuan Allah akanbergantungdan memerlukan kepada”yang lain” Sebagai hasilnya, kemutlakkan Allah akan dinafikan sama sekali.

          Dengan menafikan sifat-sifat Allah, Mu’ammar telah menerima terus pengaruh falsafah Neo-Platonisme.

          Doktrin utama Plotinus ialah dzat Allah satu dan mutlak. Allah berada diatas segala-galanya tanpa haddan batasan.Justeru itu, seseorang tidak boleh mengatakan sifat-Nya cantik,baik,berfikir atau berkehendak kerana sifat tersebut mempunyai batasan dan tidak sempurna.

          Abu ‘Ali al-Jubba’i (m. 290H) pula mengemukakan pendapat yang agak berbeza sedikit denganmerekayang sebelumnya. Walau bagaimanapun pada dasarnya beliau berpegang pada prinsip asas iaitu menafikan sifat Allah. Menurut beliau, Allah mengetahui (Alim)dengan dzat-Nya.. Allah s.w.t. tidak memerlukan kepada sesuatu sifat di dalam bentuk pengetahuan atau pun keadaan mengetahui.

          Beliauseterusnya menamakan pendapatnya sebagai i’tibarat al-‘Aqliyyah yang tidak ada sesuatupunboleh dikatakansebagai tambahan bagi Allah s.w.t.

          Abu Hasyim (m. 325H) pula berpendapat sebaliknya, iaitu beliau mengatakan bahawa sifat Allah tidak lain tidak bukan adalah dzat-Nya.

          Beliau kemudiannya menginteprestasi kan perkataan dzat Allah sebagai hal(keadaan). Dengan itu apabila beliau mengatakan “Allah mengetahui dengan dzat-Nya.”

          membawa pengertian bahawa Allah mempunyai keadaan mengetahui.

          Al-Jubba’i menolak keadaan teori Abu Hasyim.

          Beliau berkata bahawa keadaan ini hanyalah aspek mental yang tidak terkandung dalam dzat tetapi ditemui dalam pemerhatian dzat itu. Dengan perkataan lain, ia hanyalah sifat umum atau hubungan yang tidak wujud pada luaran tetapi hanya ditemui dalam minda pemerhati.

          Dalam keadaan yang kesamaran Imam al-Baqilani menyokong pendapat Abu Hasyim, manakala Imam al-Asy’ari menolak pandangan tersebut sebaliknya Imam al- Haramayn pada awalnya menyokong tetapi kemudiannya menolak.

          Abu al-Jabbar Ahmad (m. 415H) merupakan tokoh yang terakhir daripada golongan Muktazilah. Dalam masalah ini beliau telah memperkuatkan pendapat Abu ‘AH al-Jubba’i dengan mengatakan bahawa sifat dan dzat adalah sama.

          Walaupun terdapat sedikit perbezaan di kalangan tokoh-tokoh Muktazilah, tetapi mereka tetap bersepen dapat dalam prinsipasas mereka bahawa Allah s.w.t tidak mempunyai sifat. Adalah tidak menghairankan sekiranya mereka dituduh sebagai golongan mu’attilah (menafikan sifat Allah).

          Beralih pula kepada pendapat Asya’irah.

          Mereka mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan golongan Muktazilah. Prinsip asasi mereka ialah mengutamakan wahyu untuk meletakkan asas yang kukuh dalam Islam.

          Gerakan mereka menjadi semakin utuh/kukuh dan mendapat tempat di merata-rata tempat dalam dunia Islam. Mereka dengan tegas mengatakan bahawa Allah s.w.t. mempunyai sifat (bukan seperti pengertian musyabihah,mujasimah).

          Tokoh-tokoh yang terkemuka di kalangan mereka ialah Abu Hasan ‘Ali b. Ismail al-Asy’ari (m. 330H) di Mesopotamia manakala Abu Mansur al-Maturidi(m. ) di Samarqand.

          Di antara kedua-dua tokoh tersebut al-Asy’ari menjadi wira dan paling disukai kerana kebangkitannya menyebabkan runtuhnya sistem Muktazilah.
          Beliau seterusnya dikenali sebagai pengasas teologi ortodoks dan mazhab yang diasaskan oleh beliau dinamakan Asya’irah.

          Menurut al-Syahrastani,al-Asy’ari meyakini sifat-sifat Allah.

          Beliau menetapkan sifat-sifat Allah berpandukan kepada ayat-ayat (muhkam) dalam al-Qur’an. Sifat-sifat yang boleh didapati di dalam al-Qur’an menurut pandangan nya ialah sifat al-‘Ilm dan al-Qudrah.

          Dalilnya, surah al-Nisai(4) : 166 bermaksud “Allah menurunkan dengan ilmu-Nya’dan Surah al-Zariyyat (54) : 58 bermaksud”Yang memiliki kekuatan yang teguh”.

          Justeru itu beliau menyatakan bahawa Allah s.w.t. Mengetahui, Menghendaki dan Menguasai, di samping menyatakan bahawa Allah mempunyai Pengetahuan, Kemahuan dan Kekuatan.

          Menurut al-Asy’ari lagi, mustahil Allah s.w.t. mengetahui dengan dzat-Nya. seperti yang diperkatakan oleh golongan Muktazilah.

          Pengertian tersebut akan memberi kan gambaran bahawa dzat Allah adalah pengetahuan dan Allah sendiri juga adalah pengetahuan. Menurut beliau lagi, Allah bukannya ‘Urn tetapi Yang Maha Mengetahui (‘Alim). Dengan yang demikian Allah mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan-Nya adalah bukan Jzaf-Nya. Pengertian tersebut juga samalah dengan sifat-sifat yang lain seperti Hidup,Kuasa, Dengar dan Lihat.

          Sehubungandengan ini al-Baghdadi (m. 429H) berpendapat bahawa pendapat- pendapat di kalangan Asya’irah mempunyai persamaan tentang Pengetahuan, Kehidupan, Kemahuan, Pendengaran, Penglihatan dan Percakapan Allah, bahkan kesemua sifat-sifat tersebut adalah kekal(Qadim).2v Menurut al-Ghazali(m. 505H) pula sifat-sifat tersebuttidak sama dengan dzat Allah, malahan berlainan dari dzat- Nya tetapi ia berada di dalam dzat itusendiri.

          Secara umumnya pendapat-pendapat di kalangan Asya’irah berhubung dengan sifat dan dzat adalah tidak menunjukkan sebarang perbezaan. Mereka menetapkan sifat-sifat sebagai suatu sifat yangQadim. Di samping itu juga mereka menegaskan bahawa sifat-sifat itu bukanlah dzat Allah dan bukan juga perkara lain daripada dzat- Nya.

          Kemudian ianya wujud bersama-sama (za’id) dengan dzat Allah.

          Dalam masalah ini golongan Asya’irah berada dalam keadaan yang agak sukar dan serba salah. Mereka tidak dapat menegaskan sifat qadim Allah sebagai sama atau pun berbeza sama sekali dengan dzat Allah.

          Meskipun begitu mereka tidak bersetuju dengan pandangan golongan Muktazilah sekaligus menegaskan persamaan sifat dengan dzat bererti menafikan secara langsung hakikat sifat tersebut. Dengan yang demikian mereka berpendapat bahawa sifat itu, mengikut satu pengertian iaitu termasuk di dalam dzat manakala dalam pengertian yang lain pula terkeluar dari dzat Allah.

          Lantaran itu merekamenyarankan bahawa dzat dan sifat merupakan dua benda yang berlainan tetapi tidak boleh dikaitkan dengan Allah Yang Maha Agung.
          Merekamembezakan antara makna (mafhum) sesuatu benda dengan hakikatnya.

          Oleh itu apayang dipentingkan di sini ialah makna, sifat dan dzat adalah mempunyai pengertian yang berbeza. Dzat Allah bukanlah Mengetahui atau Berkuasa atau Bijaksana tetapi setakat yang berkaitan dengan hakikat dan muktamad nya, sifat terkandung dalam dzat Allah.

          Justeru itu tidak hairanlah sekiranya mereka menetapkan bahawa sifat-sifat tersebut sebagai sifat al-Ma’ani.

          Menurut al-Syahrastani,al-Asy’ari melandaskan pendapatnya dengan mengkiaskan atau membanding kan di antara perkara yang tidak dapat dilihat (al-Gha’ib) dengan perkara yang dapat dilihat (al-Syahid). Umpamanya, sifat-sifat Allah seperti Qadir (berkuasa),’Alim (berpengetahuan) dan Murid (berkehendak). Sifat-sifat tersebut menurut beliau ada yang menciptakan nya. Justeru itu beliau mengatakan bahawa Allah s.w.t.itu adalah ‘ilm, qudrah dan iradah.

          Apa yang dimaksudkan dengan hujah kias tersebut ialah tidak ada perbezaan di antara sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia dengan apa yang dimiliki oleh Allah s.w.t. Sebagai contohnya, apabila dikatakan seseorang itu ‘alim maka pengertian sebenarnya ialah seseorang itu mempunyai ilmu pengetahuan. Justeru itu perkara yang sama didapati ada pada Allah. Maka apabila dikatakan Allah s.w.t.itu ‘Alim pasti Allah s.w.t. mempunyai sifat Ilmu Pengetahuan.

          Al-Asy’ari seterusnya mengemukakan alasan dengan membuat beberapa andaian. Andaian tersebut seperti, pertama : Allah s.w.t. ‘Alim dengan diri-Nya dan kedua : Allah s.w.t. ‘Alim dengan ‘ilm. Seandainya Allah ‘Alim dengan diri-Nya maka diri-Nya adalah ‘ilm. Menurut beliau lagi, mustahil ‘ilm itu ‘Alim sedangkan Allah s.w.t.itu ‘Alim?* Lantaran itu Allah s.w.t. ‘Alim dengan ‘ilm malahan ‘ilm itu bukanlah diri-Nya.

          Andaian yang seterusnya ialah sekiranya kesemua sifat Allah itu sama seperti dzat-Nya maka dzat Allah mestinya mempunyai gabungan yang sejenis tentang kualiti yang bertentangan.

          Contohnya : Allah itu bersifat belas kasihan(rahim) dan juga bersifat pembalas dendam (qahhar). Kedua-dua sifat yang saling bertentangan itu akan menjadikan dzat Allah yang satu dan tersendiri dan tidak boleh dibahagikan. Faktor sebegini sudah tentu tidak munasabah diletakkan kepada Allah s.w.t. Tambahan pula sekiranya sifat itu sama dengan dzat maka tidak ada feadahakan diperolehi dengan memberikan sifat itu kepada-Nya.

          Oleh yang demikian sifat Allah tidak sama dengan dzat Allah.

          Walaupun tidak sama dengan dzat namun ianya pula tidak berbeza sama sekali daripada Sumbangan al-Maturidi (m.333 H) berhubung dengan sifat dan dzat Allah ialah menentang golongan tasybih dan tajsim dalam semua bentuknya tanpa menafikan sifat Allah s.w.t. Pengucapan yang berbentuk antropomofisme yang digunakan dalam al-Qur’an seperti wajah, mata, dan perihal duduk diatas ‘Arasy tidak boleh diterima secara pentafsiran zahir dan bertentangan dengan maksud al-Qur’an.

          Oleh yang demikian, petikan perenggan tersebut mestilah ditafsirkan berdasarkan petikan tanzih yang jelas maksudnya dengan cara yang tekal dan sah mengikut penggunaan gaya bahasaArab,ataupun maksud yang sebenarnya hendaklah diserahkan kepada pengetahuan Allah.

          Menurut al-Maturidi lagi, untuk menerangkan sifat dan tabii Allah ialah dengan cara yang tidak akan membayangkan sebarang persamaan atau perbandingan. Ini menunjukkan bahawa keimanan kepada satu Kuasa Agung dan Hakikat Mutlak adalah bersifat am atau sejagat. Baginya,pendekatan yang dikemukakan oleh golongan Muktazilah adalah membahayakan kepercayaan am tentang kewujudan Allah iaitu menafikan sifat Allah dan keqadimannya.
          Olehyangdemikian apabila dikatakanAllah itu bijaksana maka ia bermaksud Allah s.w.t. mempunyai sifat kebijaksanaan.

          Penafian sifat Allah hanyamenimbulkan kekeliruan dan menyukarkan pengetahuan tentang Allahsehinggaakhirnya menjadikan Allah ghairal-wujud yang tidak dikenali serta diketahui.
          Begitu juga penafian tentang qadim Allah membuatkan-Nya tidak sempurna sejak dari mula dan tertakluk kepada perubahan.

          Wallahu’alam.

          19/08/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          PENGETAHUAN,.. AHLUSSUNNAH BUKAN KONGKONGAN WAHHABI,SYIAH,MUSYABIHAH,MUJASIMAH DLL.

          “Muhammad Izzat Al-Kutawi terdesak klaim jenama Ahlussunnah” kepada wahhabiyyah.

          “Muhammad Izzat Al-Kutawi terdesak klaim jenama Ahlussunnah” kepada wahhabiyyah.

          Ahlussunnah atau nama lengkapnya Ahlussunnah wal jamaah (ASWJ) bukan untuk dikong-kong oleh kelompok yang kehausan nama ini.

          Ahlussunnah adalah satu-satu nya manhaj yang benar diatas jalan yang benar iaitu jalan para Nabi,sahabat dan seterusnya.

          Bukti-Bukti Kebenaran Akidah Asy’ariyyah
          Sebagai Akidah Ahlussunnah.

          Sebagaimana telah kita ketahui bahwa di antara mukjizat Rasulullah adalah beberapa perkara atau peristiwa yang beliau ungkapkan dalam hadits-haditsnya, baik peristiwa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.

          Juga sebagaimana telah kita ketahui bahwa seluruh ucapan Rasulullah adalah wahyu dari Allah, artinya segala kalimat yang keluar dari mulutmuliabeliau bukan semata-mata timbul dari hawa nafsu.

          Dalam pada ini Allah berfirman:

          Maknanya: “Dan tidaklah dia-Muhammad- berkata-kata dari hawa nafsunya, sesungguhnya tidak lain kata-katanya tersebut adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya” (QS. An-Najm: 3-4).

          Di antara pemberitaan Rasulullah yang merupakan salah satu mukjizat beliau adalah sebuah hadits yang beliau sabdakan bahwa kelak dari keturunan Quraisy akan datang seorang alim besar yang ilmu-ilmunya akan tersebar diberbagai pelusuk dunia,beliau bersabda:

          Maknanya: “Janganlah kalian mencaci Quraisy karena sesungguhnya-akan datang- seorang alim dari keturunan Quraisy yang ilmunya akan memenuhi seluruh pelusuk bumi” (HR. Ahmad).

          Terkait dengan sabda ini para ulama kemudian mencari siapakah yang dimaksud oleh Rasulullah dalam haditsnya tersebut?

          Para Imam mazhab terkemuka yang ilmunya dan para muridnya serta para pengikutnya banyak tersebur paling tidak ada empat orang; al-Imâm Abu Hanifah, al-Imâm Malik, al-Imâm asy-Syafi’i, dan al-Imâm Ahmad ibn Hanbal.

          Dari keempat Imam yang agung ini para ulama menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadits Rasulullah di atas adalah al- Imâm asy-Syafi’i, sebab hanya beliau yang berasal dari keturunan Quraisy.
          Tentunya kesimpulan ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa mazhab al-Imâm asy-Syafi’i telah benar-benar tersebar di berbagai belahan dunia Islam hingga sekarang ini.

          Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:

          Maknanya: “Hampir-hampir seluruh orang akan memukul punuk-punuk unta (artinya mengadakan perjalan mencari seorang yang alim untuk belajar kepadanya), danternyata mereka tidak mendapati seorangpun yang alim yang lebih alim dari orang alim yang berada di Madinah”. (HR. Ahmad).

          Para ulama menyimpulkan bahwa yang maksud oleh Rasulullah dalam haditsnya ini tidak lain adalah al-Imâm Malik ibn Anas, perintis Madzhab Maliki; salah seorang guru al-Imâm asy-Syafi’i. Itu karena hanya al-Imâm Malik dari Imam madzhab yang empat yang menetap di Madinah, yang oleh karenanya beliaudigelari dengan Imâm Dâr al-Hijrah (Imam Kota Madinah). Kapasitas keilmuan beliau tentu tidak disangsikan lagi, terbukti dengan eksisnya ajaran madzhab yang beliau rintis hingga sekarang ini.

          Tentang al-Imâm Abu Hanifah, demikian pula terdapat dalil tekstual yangmenurut sebagian ulamamenunjukan bahwa beliau adalah sosok yang dimaksud oleh Rasulullah dalam sebuah haditsnya, bahwa Rasulullah bersabda:

          Maknanya: “Seandainya ilmu itu tergantung di atas bintang-bintang Tsurayya maka benar-benar ia akan diraih oleh orang-orang dari keturunan Persia” (HR. Ahmad).

          Sebagian ulama menyimpulkan bahwa yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah al-Imâm Abu Hanifah, oleh karena hanya beliau di antara Imam mujtahid yang empat yang berasal dari daratan Persia.

          Al-Imâm Abu Hanifah telah belajar langsung kepada tujuh orang sahabat Rasulullah dan kepada sembilan puluh tiga ulama terkemuka dari kalangan tabi’in.

          Tujuh orang sahabat Rasulullah tersebut adalah; Abu ath-Thufail Amir ibn Watsilah al-Kinani, Anas ibn Malik al-Anshari, Harmas ibn Ziyad al-Bahili, Mahmud ibn Rabi’ al-Anshari, Mahmud ibn Labid al-Asyhali, Abdullah ibn Busyr al-Mazini, dan Abdullah ibn Abi al-Awfa al-Aslami.

          Demikian pula dengan al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, para ulama kita menetapkan bahwa terdapat beberapa dalil yang menunjukan kebenaran akidah Asy’ariyyah.

          Ini menunjukan bahwa rumusan akidah yang telah dibukukan oleh al-Imâm Abu al-Hasan sebagai akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah; adalah keyakinan majoriti umat Nabi Muhammad sebagai al-Firqah an- Nâjiyah; kelumpuk yang kelak di akhirat akan selamat kelak.

          Al-Imâm al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Mufatrî menuliskan satu bab yang ia namakan: “Bab beberapa riwayat dari Rasulullah tentang kabar gembira dengan kedatangan Abu Musa al-Asy’ari dan para penduduk Yaman yang merupakan isyarat dari Rasulullah secara langsung akan kedudukan ilmu Abu al-Hasan al-Asy’ari”.

          Bahkan kabar gembira tentang kebenaran akidah Asy’ariyyah ini tidak hanya dalam beberapa hadits saja, tapi juga terdapat dalam al-Qur’an.

          Dengan demikian hal ini merupakan bukti nyata sekaligus sebagai kabar gembira dari Rasulullah langsung untuk orang-orang pengikut al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

          Mari dengan mengenal keutamaan sahabat Abu Musa al-Asy’ari yang merupakan moyang dari al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

          Bahwa terdapat banyak sekali hadits-hadits Rasulullah yang menceritakan keutamaan sahabat Abu Musa al-Asy’ari ini, beliau adalah salah seorang Ahl ash-Shuffah dari para sahabat Muhajirin yang mengabdi seluruh waktunya hanya untuk menegakan ajaran Rasulullah.

          Sebelum kita membicarakan keutamaan- keutamaan sahabat mulia ini ada beberapa catatan penting yang handak penulis ungkapkan dalam permulaan ini; adalah sebagai berikut:

          Satu: Al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî mengutip hadits mauqûf dengan sanad dari sahabat Hudzaifah ibn al-Yaman, bahwa ia (Hudzaifah) berkata:

          Maknanya:“Sesungguhnya keberkahan doa Rasulullah yang beliau peruntukan bagi seseorang tidak hanya mengenai orang tersebut saja, tapi juga mengenai anak-anak orang itu, cucu-cucunya, dan bahkan seluruh orang dari keturunannya”. (HR Ibn Asakir).

          Pernyataan sahabat Hudzaifah ini benar adanya, setidaknya al-Hâfizh Ibn Asakir mengutip hadits sahabat Hudzaifah ini dengan tiga jalur sanad yang berbeda. Sanad-sanad hadits tersebut menguatkan satu atas yang lainnya.

          Dua: Sejalan dengan hadits mauqûf di atas terdapat sebuah hadits marfû’; artinya hadits yang langsung berasal dari pernyataan Rasulullah sendiri, yaitu hadits dari sahabatAbdullah ibn Abbas, bahwa Rasulullah bersabda:

          Maknanya:“Sesungguhnya Allah benar-benar akan mengangkat derajat keturunan-keturunan seorang mukmin hingga semua keturunan orang tersebut bertemu dengan orang itu sendiri.

          Sekalipun orang-orang keturunannya tersebut dari sudut amalan jauh berada di bawah orang itu (moyang mereka), agar supaya orang itu merasa gembira dengan keturunan-keturunannya tersebut” (HR.Ibn Asakir).

          Setelah menyampaikan hadits ini kemudian Rasulullah membacakan firman Allah dalam QS. ath-Thur: 21:ََ

          Maknanya:”Sesungguhnya mereka yang beriman dan seluruh keturunan mereka yang mengikutinya dalam keimanan akan kami Kami(Allah)pertemukan mereka itu (moyang-moyangnya) dengan seluruh keturunannya” (QS. Ath-Thur: 21).

          Hadits ini diriwayatkan oleh Huffâzh al-Hadîts, di antaranya selain oleh Ibn Asakir sendiri dengan sanad-nya dari sahabat Abdullah ibn Abbas, demikian pula diriwayatkan oleh al-Imâm Sufyan ats-Tsauri dari Amr ibn Murrah, hanya saja hadits dengan jalur sanad dari al-Imâm Sufyan ats-Tsauri tentang ini adalah mauqûf dari sahabat Abdullah ibn Abbas.

          Dalam pada ini, lanjutan firman Allah dalam QS. ath-Thur: 21 di atas “… Wa Mâ Alatnâhum”, ditafsirkan oleh Ibn Abbas;

          “Wa Mâ Naqashnâhum”, artinya tidak akan dikurangi dari mereka suatu apapun, atau bahwa mereka semua; antara moyang dan keturunan-keturunannya akan disejajarkan.

          Tiga: Diriwayatkan pula dari sahabat Abdullah ibn Abbas tentang firman Allah: ”Wa An Laysa Lil-Insân Illâ Mâ Sa’â” (QS. An-Najm: 39),

          artinya bahwa tidak ada apapun bagi seorang manusia untuk ia miliki dari kebaikan kecuali apa yang telah ia usahakannya sendiri. Setelah datang ayat ini kemudian turun firman Allah: ”Alhaqnâ Bihim Dzurriyatahum Bi-Imân” (QS. Ath-Thur: 21),

          artinya bahwa orang-orang mukmin terdahulu akan dipertemukan oleh Allah dengan keturunan- keturunan mereka karena dasar keimanan.

          Dalam pentafsiran ayat ini sahabat Abdullah ibn Abbas berkata: “Kelak Allah akan memasukan anak-anak ke dalam surga karena kesalehan ayah-ayah mereka”.

          Empat: Terkait dengan firman Allah: ”Alhaqnâ Bihim Dzurriyatahum Bi-Imân” (QS. Ath-Thur:21)

          diriwayatkan pula dari al-Imâm Mujahid; salah seorang pakar tafsir murid sahabatAbdullah ibn Abbas, bahwa dalam menafsirkan firman Allah tersebut beliau berkata: “Sesungguhnya karena kebaikan dan kesalehan seorang ayah maka Allah akan memperbaiki dan menjadikan saleh anak- anak dan cucu-cucu (keturunan) orang tersebut”.

          Dari beberapa bukti di atas dapat kita faham bahwa sebenarnya kesalehan, keilmuan, keberanian, kezuhudan, dan berbagai sifat terpuji lainnya yang ada pada sosok al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah sifat-sifat yang memang secara turun-temurun beliau warisi dari kakek-kekeknya terdahulu.

          Dalam hal ini termasuk salah seorang moyang terkemuka beliau yang paling ”penting” adalah sahabat dekat Rasulullah; yaitu Abu Musa al-Asy’ari.

          Ini semua tentunya ditambah lagi dengan kepribadian-kepribadian saleh dari kakek-kakek beliau lainnya.

          Berikut ini akan kita kupas satu persatu beberapa bukti yang menunjukan keutamaan sahabat Abu Musa al-Asy’ari, yang hal ini sekaligus memberikan petunjuk tentang keutamaan al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

          Beberapa hadits terkait dengan keutamaan (fadhâ-il) sahabat Abu Musa al-Asy’ari telah dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa hal itu memberikan isyarat akan keutamaan (fadhâ-il) al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari dan menunjukan bagi kebenaran akidah yang telah beliau rumuskan, yaitu akidah Asy’ariyyah yang khusus akidah Ahlussunnah; akidah yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, di antaranya sebagai berikut:

          A.Satu: Firman Allah QS. Al Ma’idah: 54
          Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

          Maknanya: “Wahai sekalian orang beriman barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah, mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada sesama orang mukmin dan sangat kuat-ditakuti- oleh orang-orang kafir.
          Mereka berjihad dijalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap cacian orang yang mencaci”. (QS. Al-Ma’idah: 54).

          Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika turun ayat ini, Rasulullah memberitakannya sambil menepuk pundak sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya bersabda: “Mereka (kaum tersebut) adalah kaum orang ini!!”.

          Dari hadits ini para ulama menyimpulkan bahwa kaum yang dipuji dalam ayat di atas tidak lain adalah kaum Asy’ariyyah, karena sahabat Abu Musa al-Asy’ari adalah moyang dari al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, sebagaimana telah kita tulis dalam biografiringkas al-Imâm Abu al-Hasan sendiri.

          Dalam penafsiran firman Allah di atas: “Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah….” (QS. Al-Ma’idah: 54),al-Imâm Mujahid berkata: “Mereka adalah kaum dari negeri Saba’ (Yaman)”.

          Kemudian al- Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî menambahkan: “Dan orang-orang Asy’ariyyah adalah kaum yang berasal dari negeri Saba’”.

          Penafsiran ayat di atas bahwa kaum yang dicintai Allah dan mencintai Allah tersebut adalah kaum Asy’ariyyah telah dinyatakan pula oleh para ulama terkemuka dari para ahli hadits.

          Lebih dari cukup bagi kita bahwa hal itu telah dinyatakan oleh orang sekelas al-Imâm al-Hâfizh Ibn Asakir dalam kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî.

          Beliau adalah seorang ahli hadits terkemuka (Afdlal al-Muhaditsîn) di seluruh daratan Syam pada masanya.

          Al-Imâm Tajuddin as-Subki dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah menuliskan: “Ibn Asakir adalah termasuk orang-orang pilihan dari umat ini, baik dalam ilmunya, agamanya, maupun dalam hafalannya. Setelah al-Imâm ad-Daraquthni tidak ada lagi orang yang sangat kuat dalam hafalan selain Ibn Asakir.

          Semua orang sepakat dalam hal ini, baik mereka yang sejalan dengan Ibn Asakir sendiri, atau mereka yang memusuhinya”.

          Lebih dari pada itu Ibn Asakir sendiri dalam kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî telah mengutip pernyataan para ulama hadits terkemuka (Huffâzh al-Hadîts) sebelumnya yang telah metafsirkan ayat tersebut demikian, di antaranya ahli hadits terkemuka al- Imâm al-Hâfizh Abu Bakar al-Bayhaqi penulis kitab Sunan al-Bayhaqi dan berbagai karyabesar lainnya.

          Al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî menuliskan pernyataan al- Imâm al-Bayhaqi dengan sanad-nya dari Yahya ibn Fadlillah al-Umari, dari Makky ibn Allan, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami al-Hâfizh Abu al-Qasim ad- Damasyqi, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Syaikh Abu Abdillah Muhammad ibn al-Fadl al-Furawy, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami al- Hâfizh Abu Bakar Ahmad ibn al-Husain ibn Ali al-Bayhaqi, bahwa ia (al-Bayhaqi) berkata:

          berisyarat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya berkata: “Mereka adalah kaum orang ini”. Dalam hadits ini terdapat isyarat akan keutamaan dan derajat mulia bagi al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, karena tidak lain beliau adalah berasal dari kaum dan keturunan sahabat Abu Musa al-Asy’ari.

          Mereka adalah kaum yangdiberi karunia ilmu dan pemahaman yang benar. Lebih khusus lagi mereka adalah kaum yang memiliki kekuatan dalam membela sunah-sunnah Rasulullah dan memerangi berbagai macam bid’ah. Mereka memiliki dalil-dalil yang kuat dalam memerangi bebagai kebatilan dan kesesatan.

          Dengan demikian pujian dalam ayat di atas terhadap kaum Asy’ariyyah, bahwa mereka kaum yang dicintai Allah dan mencintai Allah, adalah karena telah terbukti bahwa akidah yang mereka yakini sebagai akidah yang hak, dan bahwa ajaran agama yang mereka bawa sebagai ajaran yang benar, serta terbukti bahwa mereka adalah kaum yang memiliki kayakinan yang sangat kuat.

          Maka siapapun yang di dalam akidahnya mengikuti ajaran-ajaran mereka, artinya dalam konsep meniadakan keserupaan Allah dengan segala makhluk-Nya, dan dalam metode memegang teguh al-Qur’an dan Sunnah, sesuai dan sejalan dengan faham-faham Asy’ariyyah maka ia berarti termasuk dari golongan mereka”.

          Al-Imâm Tajuddin as-Subki dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah mengomentari pernyataan al-Imâm al-Bayhaqi di atas, berkata:

          “Kita katakan;-tanpa kita memastikan bahwa ini benar-benar maksud Rasulullah-, bahwa ketika Rasulullah menepuk punggung sahabat Abu Musa al- Asy’ari, sebagaimana dalam hadits di atas, seakan beliau sudah mengisyaratkan akan adanya kabar gembira bahwa kelak akan lahir dari keturunannya yang ke sembilan al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

          Sesungguhnya Rasulullah itu dalam setiap ucapannya terdapat berbagai isyarat yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang yang mendapat karunia petunjuk Allah. Dan mereka itu adalah orang yang kuat dalam ilmu (ar-Râsikhûn Fi al-‘Ilm) dan memiliki mata hati yang cerah.

          Firman Allah: “Seorang yang oleh Allah tidak dijadikan petunjuk baginya, maka sama sekali ia tidak akan mendapatkan petunjuk” (QS. An-Nur: 40)”

          Ke-tamaan Asy’ariyyah.

          Satu: Hadits Shahih Riwayat al-Bukhari Dan Muslim Dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari
          Dari sahabat Abu Musa al-‘Asy’ari-semoga ridla Allah selalu terlimpah baginya- dari Rasulullah bersabda:

          Maknanya: “Sesungguhnya orang-orang Asy’ariyyah apa bila mereka telah turun ke medan perang, atau apa bila persediaan makanan mereka di Madinah sangat sedikit maka mereka akan mengumpulkan seluruh makanan yang mereka milikidalam satu wadah, kemudian makanan tersebut dibagi-bagikan di antara mereka secara merata. Mereka adalah bagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari diri mereka”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

          Sabda Rasulullah ini memberikan penjelasan tentang sifat-sifat para sahabatnya dari kaum Asy’ariyyah, yaitu para sahabat yang datang dari wilayah Yaman.

          Dalam hadits ini Rasulullah memuji mereka, bahkan hingga beliau mengatakan “Mereka adalah bagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari diri mereka”. Anda perhatikan dan resapi sabda Rasulullah bagian terakhir ini. Ucapan beliau pada penggalan terakhir tersebut adalah bukti yang sangat kuat tentang keutamaan orang-orang Asy’ariyyah dari kalangan sahabat Rasulullah. Ini menunjukan bahwa moyang al-Imâm Abu al- Hasanal-Asy’ari dan kaumnya adalah orang-orang yang sangat dekat dengan Rasullah, mereka semua telah benar-benar mendapatkan tempat dalam hati Rasulullah.

          Tentu sabda Rasulullah ini tidak hanya berlaku bagi kaum Asy’ariyyah dari para sahabat saja, namun juga mencakup bagi kaum Asy’ariyyah dari generasi berikutnya yang berasal dari keturunan mereka, karena sebagaimana telah kita jelaskan di atas bahwa doa dan berkah dari Rasulullah bagi seseorang akan mengenai keturunan-keturunan orang itu sendiri.

          Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al- Muftarî setidaknya dari dua jalur sanad yang berbeda. Selain oleh Ibn Asakir, hadits ini diriwayatkan oleh banyak perawi hadits lainnya, di antaranya oleh al-Imâm al-Bukhari dan al-Imâm Muslim dalam dua kitab Shahîh-nya.

          Dengan demikian telah nyata bagi kita bahwa hadits ini adalah hadits shahih yang sama sekali tidak perlu diperselisihkan.

          Wallahu’alam.