Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

*TIDAK MELAKSANAKAN SOLAT JUMAAT DAN JEMAAH DISEBABKAN VIRUS CORONA*

(Penulis : Dr Zein bin Muhammad Al-aydarus, dosen ilmu hadist di Universitas Hadramaut.)

Diterjemahkan oleh: Abbas Rahbini Mawardi

Bagaimana Hukum tidak melaksanakan shalat jumat dan jama’ah di masjid disebabkan oleh virus corona, terlebih di hadramaut ada ajakan untuk tidak melaksanakan nya meskipun diketahui tidak terpapar virus corona?

Jawab :

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Kami meminta kepada Allah belas kasihan dan pertolongan semoga Allah menjaga kaum muslimin dari segala wabah dan penyakit baik penyakit dzahir maupun penyakit batin.

Para pakar Ulama Fiqh telah menjelaskan, bahwa diantara salah satu udzur Shalat Jumat dan shalat jama’ah adalah karena faktor adanya penyakit yang menimpa kepada orang islam.

Ulama Mutaqaddimin memperjelas, yaitu penyakit menular, seperti tha’un, lepra, kusta, dan sejenisnya. Para ahli medis kedokteran masa kini telahpun mengatakan, bahwa corona adalah jenis dari penyakit menular.

Lebih lanjut Ulama’ fiqh menjelaskan bahwa, adanya kekhawatiran tertimpa mudharat kepada dirinya atau kepada orang lain maka itu sudah dianggap Udzur yang masuk pada bagian dari Udzur-udzur shalat jumat dan shalat jama’ah.

Berkata Al-allamah zakaria Al-anshari As-syafi’i -rahimahullah-

adanya kekhawatiran terhadap yang dijaganya, baik itu nyawa atau harta atau hak nya, atau pihak-pihak yang wajib dilindunginya.

_[Fathul wahhab syarah minhajut-thullab 109/1]._

_hal senada juga dijelaskan dalam kitab [syarah Al-mahalli ‘ala al-minhaj 258/1]_

_Al-allamah ibn hajar Al-haitami -rahimahullah- pernah ditanya ._

_Al-qadhi iyadh telah menukil dari beberapa ulama’ bahwa Penderita penyakit lepra dan kusta dicegah hadir ke masjid dan shalat jumat, dan juga dicegah berbaur atau berkumpul dengan orang lain, apakah pencegahan tersebut berhukum wajib? Atau sunnah??_

_Dan apakah penderita penyakit tersebut dikatagorikan sebagai udzur yang menggugurkan kewajiban haji dan umrah, sebab Umrah dan haji itu memerlukan masuk kedalam masjid dan juga mesti berbaur dengan orang lain._

_Atau apakah dibedakan antara shalat jumat dengan ibadah haji dan umrah, mengingat ibadah haji dan umrah tidak perlu dilakukan berkali-kali, berbeda dengan shalat jumat. Dan apakah haji tathawwu’ dianggap seperti haji fardhu atau tidak?._

_Maka Al-imam Ibn hajar Radhiyallahu menjawab:_

_Berkata Al-qadhi, berkata sebagian Ulama’ . Semestinya apabila salah seorang sudah diketahui menderita penyakit ain, maka dia diasingkan , supaya terhindar dan terjaga darinya, dan semestinya bagi pihak penguasa mencegah agar tak berbaur atau tak berkumpul dengan orang lain, perintahkan untuk berkurung dirumahnya dan cukupi kebutuhan nya jika dia orang tak punya. Sebab mudharatnya itu lebih berbahaya daripada penderita penyakit kusta. Yang mana penderita kusta ini dicegah oleh sayyidina Umar ibn khattab radhiyallahi anhu dan juga oleh Ulama’ setelahnya agar tidak berkumpul atau tak berbaur dengan orang lain,_

_Berkata Al-imam Nawawi dalam kitab Syarah Muslim, pendapat ini adalah pendapat yang sohih dan lebih spesifik, dan tak dikatahui pendapat dari Ulama’ lain yang menentangnya_

_Maka dengan ini diketahui bahwa faktor dicegahnya penderita penyakit lepra atau kusta itu karena dikhawatiri mudharatnya kepada orang lain. Dalam kondisi seperti ini mencegah nya mempunyai kekuatan hukum wajib._

_Dan terhadap pemilik penyakit pandangan ain lebih diwajibkan lagi untuk dicegah agar tak berbaur dengan orang lain menurut pendapat yang muktamad, sebagaimana diketahui dari pendapat Ulama’._

_Inti poin dari pencegahan itu adalah agar terhindar dari berbaur dengan orang banyak. Pencegahan itu bukan terhadap masuk masjid, baik itu menghadiri shalat Jumat atau shalat berjemaah, (melainkan lebih kepada agar tak berbaur dan berkumpul dengan orang lain) selagi tidak berbaur atau berkumpul dengan orang banyak maka itu boleh-boleh saja._

_Dengan demikian maka hal-hal diatas tidak dianggap sebagai udzur dari melakukan Ibadah haji atau ibadah umr

ah, baik itu yang sunnah maupun yang wajib bahkan yang kifayah sekalipun, sebab ibadah haji dan umrah masih bisa memungkinkan untuk dilakukan dengan tidak berbaur dengan orang lain. Dan adapun hal itu tidak memungkinkan (tak bisa menghindari dari berbaur dengan orang lain)_

_Maka dijawab, Sesungguhnya kewajiban melaksanakan ibadah an-nusuk (haji dan umrah) lebih dimu’akkadkan daripada kewajiban shalat Jumat, oleh itu maka tidak mengharuskan untuk dikatagorikan sebagai Udzur, maka tak perlu ditanggapi keterangan yang disandarkan kepada kitab Syarah Al-‘ubab, bahwa angin yang buruk dianggap sebagai udzur meskipun tidak mengakibatkan berbaur dengan orang lain, wallahu A’lam bis sowab_

_(Al-fatawa Kubra Al-fiqhiyyah 212/1)_

Telah disebutkan didalam kitab at-tuhfah oleh Ibn Hajar. Bahwa penderita penyakit Lepra dan kusta dicegah berbaur dengan orang lain, dan diberi nafkah untuk mencukupi kebutuhan nya dari harta simpanan Baitul maal.

Adapun penyakit yang mudah disembuhkan maka tidak dikatagorikan sebagai Udzur, maka ada kewajiban untuk menghadiri shalat jumat, dan sunnah berusaha untuk penyembuhan.

dengan ini diketahui bahwa syarat gugurnya kewajiban shalat jumat dan berjama’ah adalah apabila tidak ada unsur kesengajaan untuk menggugurkan kewajiban, sebagaimana yang telah dijelaskan didepan, Meskipun sulit untuk disembuhkan, -apabila disengaja agar tidak menghadiri shalat jumat, maka itu tidak dianggapnya sebagai Udzur-

[Tuhfatul Minhaj bi syarhi Al-minhaj 276/6].

Keterangan serupa juga ada di kitab Nihayatul muhtaj ‘ila syarhi Al-minhaj, dari Al-allamah Ar-ramli, (160/2)

Berkata Al-allamah Zakaria Al-anshori -rahimahullah-

tidak memberi komentar dalam kasus lepra dan kusta, namun Al-imam Az-zarkasyi berkata, pendapat yang lebih kuat lepra dan kusta adalah udzur, karena mudharatnya melebihi daripada makan bawang putih.

Beliau berkata, Al-imam Qadhi iyadh telah menukil dari para Ulama’ bahwa penderita penyakit lepra dan kusta dilarang datang ke masjid, juga shalat jum’at dan juga dilarang berbaur dengan orang banyak.

[Asnaa Al-mathalib 215/1]

Sebagaimana shalat berjemaah maka shalat jum’at juga termasuk,

Berkata Al-imam Nawawi -rahimahullah- :

tidak wajib shalat jumat bagi orang yang pada dirinya terdapat udzur-udzur yang meringankan untuk tidak melaksanakan shalat berjama’ah . Berkata Al-imam Ibn hajar, sebagai penjabaran dari apa yang telah dikatakan oleh Imam Nawawi, udzur-udzur jama’ah tersebut adalah apabila datang pada hari jumat, tidak seperti angin kencang yang datang diwaktu malam. (Tidak datang saat waktu shalat jum’at)

Kemudian beberapa Ulama mempermasalahkan, lapar sebagai Udzur, sampai-sampai meninggalkan shalat jum’at, bagaimana status hukum fardhu ain disamakan dengan status hukum sunnah, atau fardhu kifayah? Berkata Al-imam As-subki, Namun sumber mereka adalah perkataan Ibn Abbas -radhiyallahu anhuma- “Jum’at seperti shalat jama’ah” maka dijawab:

sebagaimana yang saya isyaratkan tadi, yaitu mengelakkan qias shalat jum’at kepada Shalat jama’ah, akan tetapi telah sohih secara nash bahwa diantara udzur-udzur Jum’at adalah sakit, maka setiap sesuatu yang serupa yang penderitaan nya sama atau penderitaan nya melebihi, maka itu juga dianggap sebagai katagori udzur jama’ah, maka dengan ini menjadi jelas apa yang mereka katakan adalah benar, dan menjadi terang bahwa perkataan Ibn Abbas -radhiyallahu anhuma- adalah sebagai panguat dari apa yang mereka uraikan bukan sebagai dalil dari apa yang mereka sebutkan.

(Tuhfatul muhtaj, bisyarhi Al-minhaj 99/2) juga lihat pada kitab (nihayatul muhtaj, ‘ila syarhi Al-minhaj 286/2)

*KESIMPULAN*

_Bahwa pakar Ulama’ fiqh telah menjabarkan secara jelas bahwa , Penyakit jika sudah nyata menimpa pada sebuah negara atau menimpa seseorang, serta sudah disahkan oleh tenaga medis atau dokter, maka seseorang tersebut, atau penduduk sebuah negara tersebut dicegah untuk melaksanakan shalat berjemaah dimasjid, baik itu shalat jama’ah jum’at maupun shalat jama’ah lain nya, untuk menyelamatkan nyawa orang-orang islam, oleh karena itu maka mereka melaksanakan

shalat berjama’ah dirumah masing-masing, sebab menyelamatkan nyawa adalah tujuan paling penting dari agama,_

Allah berfirman :

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

_dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan_.

Juga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

_Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu._

Adapun menutup masjid-masjid, dan mecegah orang untuk melaksanakan shalat jama’ah dan shalat jumat , tanpa adanya ketertimpa’an penyakit menular seperti covid-19 corona virus, dan tanpa ada pengesahan dari pihak kesehatan di negera ini, terlebih di negeri yaman-hadramaut- maka tidak boleh secara syara’ melarang kaum muslimin untuk melaksanakan shalat di masjid-masjid Allah. Sebab

الحكم يدور مع العلة وجوداً وعدماً

_Hukum itu berputar bersama Ilatnya, ada dan tidak adanya illat itu._

Selagi penyakit itu tidak menimpa kepada salah seorang dari kita, maka tidak ada alasan udzur yang diringankan oleh syariat untuk meninggalkan shalat jama’ah atau shalat jum’at. Dan tidak boleh membangun pencegahan didasari oleh perkira’an atau persangka’an semata. Karena

إن درء المفاسد أولى من جلب المصالح إذا تحققت المفسدة من الاجتماع

_Mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan, jika kerusakan itu sudah nyata-nyata ada dalam kumpulan masyarakat_.

perkir’an atau ragu-ragu atas adanya kerusakan, maka tidak boleh dijadikan sebuah sandaran atau patokan, sementara kemaslahatan shalat berjamaah dan shalat jum’at itu sudah nyata-nyata adanya.

Saya khawatir, orang yang mencegah atau mengosongkan tempat ibadah dari shalat jama’ah dan shalat jum’at tanpa adanya unsur yang memenuhi syarat pencegahan seperti diatas, akan masuk pada golongan orang dzalim dan menghalang-galangi menegakkan shalat dan dzikir di rumah-rumah Allah, Allag subhanahu wa ta’la berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ [سورة البقرة : 114]

_Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat (Al-baqarah :114)_

Dan terhadap para jama’ah shalat harus berhati-hati dan waspada dalam segala hal dari saluran infeksi, terutama pasien yang sistem kekebalan tubuhnya lemah, seperti pasien asma dan diabetes dan sejenisnya, yang rentan terkena dampak bahaya nya, bagi mereka dianggap ada Udzur dalam meninggalkan shalat Berjama’ah dan Shalat Jum’at,
Dengan perlunya mengambil tindakan pencegahan yang ketat di gerai-gerai negari, memeriksa mereka yang datang ke negeri itu, dan menempatkan mereka dalam isolasi yang tepat sampai menjadi jelas bahwa mereka tidak memiliki penyakit ini.

Penulis : Dr Zein bin Muhammad Al-aydarus, dosen di Universitas Hadramaut, imam khatib di masjid jami’ Ar-raudlah Makla._

Sumber: Group Telegram Sahabat Aswaja.

27 rajab 1441 H
22/03/2020 M

27/03/2020 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Adakah Wajib Qadha’ Solat Zuhur Sekiranya Haid Datang Pada Waktu Asar?

Image result for datang haid awal

Soalan:

Assalamualaikum Tuan. Adakah perlu jika kita datang haid pada waktu asar (dah solat zuhur) adakah kita perlu qadha asar & zuhur sekali? Yang saya faham kalau yang perlu kita qadha jika kita check darah haid keeping pada waktu asar, lebih baik qadha zuhur sekali kerana ada kemungkinan darah sudah kering pada waktu zuhur. Tweet nih dah viral.. Mohon tuan beri penjelasan… Jazakallahu khoiran kathiro.

Jawapan:

Waalaikumussalam wbt,

Alhamdulillah, segala puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah swt. Selawat dan salam kami ucapkan ke atas junjungan besar Nabi Muhammad saw, para isteri dan keluarga baginda, para sahabat, seterusnya golongan yang mengikuti jejak langkah baginda sehingga hari kiamat.

Kami merasakan empunya twit tersebut telah terkeliru. Sebenarnya, wajib bagi wanita yang berhenti haidnya pada waktu Asar atau Isyak untuk menunaikan solat fardhu tersebut serta mengqadhakan solat fardhu yang sebelumnya yakni solat Zuhur atau Maghrib, jika mereka sempat berada dalam waktu kedua itu sekadar takbiratul ihram, bukannya bagi wanita yang baru datang haid.

Kata Imam al-Nawawi Rahimahullah: “Yang sahih di sisi kami (mazhab al-Syafie) bahawa mereka yang uzur wajib untuk melaksanakan solat Zuhur jika dia sempat melaksanakan apa yang wajib dengannya dalam solat Asar (apabila hilang uzurnya). Inilah pendapat Abdurrahman bin Auf, Ibn Abbas, ahli fiqh Madinah yang tujuh, Ahmad, dan selain mereka. Manakala kata al-Hasan, Qatadah, Hammad, al-Thauri, Abu Hanifah dan Malik, tidak wajib ke atas orang itu.)”

Rujuk al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (3/66)

Ini kerana waktu Asar adalah waktu uzur bagi solat Zuhur dan waktu Isyak adalah waktu uzur bagi solat Maghrib. Waktu uzur di sini boleh diertikan sebagai ‘waktu kecemasan’ yakni waktu yang dibenarkan penangguhan solat

fardu ke waktu solat fardu yang lain disebabkan suatu keuzuran dan kepayahan seperti musafir.  Dalam konteks haid dalam soalan di atas, wajib qadha waktu pertama bukan hanya bersifat afdhal (lebih baik) tetapi wajib kerana waktu kedua adalah waktu uzur bagi solat pertama.

Buktinya seperti kata Imam al-Syirazi Rahimahullah dalam kitab al-Muhazzab: “Dalilnya ialah bahawa waktu Asar bersama waktu Zuhur, dan waktu Isyak bersama waktu Maghrib adalah hak orang yang uzur yakni musafir. Maka, mereka yang berada dalam kategori uzur (seperti wanita berhaid apabila suci, orang gila apabila sedar dan lain-lain), waktu kedua itu adalah waktu solat pertama di sisi mereka.”

Kata Imam al-Nawawi Rahimahullah  menghuraikan: “Sekiranya solat (kedua) yang sempat itu adalah Subuh, Zuhur, atau Maghrib maka tidak wajib solat melainkan solat itu sendiri. Sekiranya solat Asar dan Isyak, maka wajib melaksanakan solat Zuhur dengan Asar, dan solat Isyak dengan Maghrib

tanpa khilaf (dalam mazhab al-Syafie).” Pendapat yang azhar (tepat) bahawa waktu solat yang sempat itu ialah seseorang itu berada dalam suatu waktu solat tidak kurang masanya daripada kadar takbiratul ihram, manakala pendapat lain ialah satu rakaat. Rujuk al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (3/65)

Adapun dalam kes di atas, jika seorang wanita itu bermula haidnya pada waktu Asar, sedangkan dia sudah menunaikan solat fardu Zuhur, maka dia hanya wajib untuk menunaikan solat fardhu Asar, atau mengqadhanya selepas suci jika dia tidak sempat solat sebelum datangnya haid. Begitu juga jika dia sudah melaksanakan solat Asar, kemudian datang haid pada waktu Asar juga, maka dia tidak perlu mengqadha solat Zuhur dan Asar kerana dia sudah selesai melaksanakan kedua-duanya. Tidak menjadi syarat sah suatu solat itu mesti sah juga solat fardu selepasnya, atau datang penghalang (seperti haid dan gila) pada waktunya sedangkan solat-solat fardu itu sudah pun dilaksanakan.

Untuk memudahkan faham, kami nyatakan dengan contoh. Fatimah datang haid pada 1 haribulan Mac jam 6.00 petang sedangkan dia masih belum menunaikan solat fardu Asar. Maka, apabila Fatimah suci kelak, dia wajib mengqadha’ solat fardhu Asar yang dia luputkan pada 1 haribulan itu. Fatimah tidak wajib mengqadha’kan solat fardhu Zuhur yang sudah selesai dia tunaikan pada hari itu. Pada 7 haribulan Mac, jam 6.00 petang, Fatimah sudah suci daripada haid dan mandi wajib. Maka dia wajib untuk mengqadhakan solat fardhu Asar bagi 1 haribulan yang lalu dan solat fardhu Zuhur pada hari ini, dan menunaikan solat fardhu Asar pada waktunya.

Wallahua’lam.

Sumber: 

11/03/2020 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Hukumnya membaca laa ilaaha illallaah ketika di perjalanan menuju kuburan.

Ustaz,…Bagaimanakah hukumnya membaca laa ilaaha illallaah ketika di perjalanan menuju pemakaman mayyit apakah sunnah atau mubah ?.

Jawapan,….”Mengiringi Jenazah Membaca Kalimat Tahlil”,…Sebenarnya perbuatan ini telah berlangsung sejak lama.

Perbuatan ini tidak dilarang di dalam Islam karena mengandung kebaikan berdzikir pada Allah SWT.

Perbuatan seperti ini juga jauh lebih baik daripada berbicara yang tidak berguna terutama soal duniawi.
Apalagi keadaannya dalam suasana berkabung.

Bacaan dzikir yang paling sesuai dengan keadaan saat itu adalah bacaan tahlil La Ilaha Illa Allah sebagaimana disampaikan Al Hafidz Az Zaila’iy :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: لَمْ يَكُنْ يُسْمَعُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ يَمْشِي خَلْفَ الْجِنَازَةِ، إلَّا قَوْلُ: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، مُبْدِيًا، وَرَاجِعًا.

Dari Ibnu Umar mengatakan, “Tidak ada kata yang didengar dari Rasulullah SAW saat beliau berjalan di belakang jenazah kecuali La Ilaha Illa Allah, dengan jelas dan diulang-ulang”.

Memang hadits ini tidak menunjukkan secara jelas apakah Rasulullah SAW membaca tahlil dengan suara lirih atau seru. Namun melihat bahwa para Sahabat mendengar apa yangbeliau baca maka tentu saja beliau membacanya dengan seru, bukan berbisik.

Sumber,..Nasb ar Rayah fi Takhrij Ahadits Al Hidayah, juz 2, hal. 212

Tradisi seperti itu sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, dan amalan tersebut tidak dilarang oleh agama, sebab selain mengandung nilai-nilai kebaikan dengan berdzikir kepada Allah Swt perbuatan itu tentu jauh lebih baik dari pada berbicara masalah duniawi dalam suasana berkabung, sebagaimana dijelaskan oleh syekh Muhammad Bin A’lan al-Siddiqi dalam kitabnya al-Futukhat al-Rabbaniyah;

وَقَدْ جَرَّتْ اَلْعَادَةُ فِىْ بَلَدِناَ زَبِيْدٍ بِالْجَهْرِ باِلذِّكْرِ اَماَمَ الْجَناَزَةِ بِمَحْضَرٍ مِنَ اْلعُلَمَاءِ وَاْلفُقَهَاءِ وَالصُّلَحَاءِ وَقَدْ عَمَّتْ اَلْبَلْوَى بِمَا شَاهِدْناَهُ مِنْ اِشْتِغَالٍ غاَلِبٍ الْمُشَيِّعِيْنَ بِالْحَدِيْثِ اَلدُّنْيَوِيِّ وَرُبَّمَا اَدَاهُمْ ذَلِكَ اِلَى الْغِيْبَةِ اَوْ غَيْرِهَا مِنَ اْلكَلاَمِ اَلْمُحَرَّمَةِ فَالَّذِيْ اِخْتَارَهُ اِنَّ شُغْلَ اِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ اَلْمُؤَدِّيْ اِلَى تَرْكِ اْلكَلاَمِ وَتَقْلِيْلِهِ اَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِى اْلكَلاَمِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَاباً بِأَخَّفِ الْمَفْسَدَتَيْنِ . كَماَ هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ وَسَوَاءٌ اَلذِّكْرُ وَالتَّهْلِيْلُ وَغَيْرُهَا مِنْ اَنْوَاعِ الذِّكْرِ وَاللهُ اَعْلَمُ (الفتوحات الربانية على اذكر النواوية ج 4 ص 183)

Telah menjadi tradisi di daerah kami Zabid untuk mengeraskan dzikir di hadapan jenazah (ketika menghantar ke kuburan).

Dan itu dilakukan di hadapan para ulama’, ahli fiqih dan orang-orang saleh.
Dan sudah menjadi kebiasaan buruk yang telah kita ketahui, bahwa ketika menghantarkan jenazah, orang-orang sibuk dengan perbincangan masalah-masalah duniawi, dan tidak jarang perbincangan itu menjerumuskan mereka ke dalam ghibah atau perkataan lain yang diharamkan.

Adapun hal yang terbaik adalah mendengarkan dzikir yang menyebabkan mereka tidak berbicara mengenai hal-hal yang tidak baik,berdzikir adalah lebih utama dari pada membiarkan mereka bebas membicarakan masalah-masalah duniawi.

Ini sesuai dengan prinsip memilih yang lebih kecil mafsadahnya, yang merupakan salah satu kaidah syar’iyah.
Tidak ada bedanya apakah yang dibaca itu dzikir, tahlil ataupun yang lainnya.(Al-Futuhat al-Rabbaniyah ‘ala Adzkari al-Nabawiyah juz IV, hal. 183).

Dan lebih jelas lagi di terangkan dalam kitab Tanwirul Qulub, bahwa disunnahkan melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, membaca dzikir atau membaca shalawat kepada nabi Muhammad Saw., dan dilarang gaduh atau berbincang-bincang tentang perkara yang tidak berguna:

وَيُسَنُّ الْمَشْيُ اَمَامَهَا وَقُرْبَهَا وَاْلاِسْرَاعُ بِهَا وَالتَّفَكُّرُ فِى الْمَوْتِ وَماَبَعْدَهُ . وَكُرِهَ اللُّغَطُ وَالْحَدِيْثُ فِيْ اُمُوْرِ الدُّنْيَا وَرَفْعِ الصَّوْتِ اِلاَّ بِالْقُرْأَنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلاَتِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلاَ بَأْْسَ بِهِ اْلاَنَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ. ( تنوير القلوب ص 213 )

Para pengantar jenazah yang berjalan kaki disunnahkan berjalan di depan keranda atau di dekatnya sambil berjalan cepat dan berfikir tentang dan sesudah mati.
Tetapi tidak disunnahkan bagi para pengantar jenazah untuk gaduh, bercakap-cakap urusan dunia, apalagi dengan suara keras, kecuali melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, membaca dzikir, atau shalawat kepada nabi karena hal ini menambah syi’ar bagi si mayit.(Tanwir al-Qulub halaman 213).

Sedangkan Dzikir yang paling baik dibaca adalah kalimat La Ilaha Ilallah. Di dalam kitab Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal disebutkan:

عن ابن عمر رضي الله عنه, قَالَ لَمْ نَكُنْ نَسْمَعُ مِنْ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَهُوَ يَمْشِي خَلْفَ الْجَنَازَةِ, إِلَّا قَوْلُ: لَا إِلَهَ إِلَّا الله, مُبْدِيًّا, وَرَاجِعًا. أخرجه ابن عدى في الكامل. (نصب الراية في تخريج أحاديث الهداية, 2/ 212)

Dari Ibn Umar RA ia berkata, “Kami Tidak pernah terdengar dari Rasulullah SAW ketika beliau mengantarkan jenazah kecuali ucapan: La Ilaaha Illallah, pada waktu berangkat dan pulangnya” (Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal, juz II, hal. 572).

Hadits ini tidak memberikan penjelasan apakah Nabi Muhammad SAW membaca kalimat tahlil itu pelan atau dikeraskan.

Namun kalau sahabat mendengar dzikir yang beliau baca, sudah tentu Nabi Muhammad SAW melafazkannya dengan keras, bukan sekedar berbisik.

Dapat disimpulkan bahwa membaca dzikir ketika mengiringi jenazah merupakan perbuatan yang dianjurkan.
Dan yang lebih utama diucapkan adalah bacaan La Ilaha Ilallah.

Wallahu A’lam.

Sumber: FB Zaref Shah Sl HaQQy

21/02/2020 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

KAMILIN JAMILIN VS IMAM ASY SYAFIE

Benarkah Imam Asy Syafie membenci ilmu Kalam ?

Diceritakan daripada ar Rabi’ bin Sulaiman, Imam Asy Syafie berkata “Seseorang yang berjumpa Allah (mati) sambil membawa semua dosa selain syirik, lebih baik daripada orang yang tertimpa ilmu kalam”

(Manaqib Asy Syafie 1/453)

Penjelasan :

Menurut al Baihaqi, celaan Imam Asy Syafie kepada ilmu kalam dan ahlinya ditujukan KHUSUS KHAS kepada orang-orang tertentu iaitu Hafs al Fard, Ibrahim bin ‘Ulayyah dan tokoh-tokoh bid’ah yang lainnya. Adapun ilmu kalam yang menjadi pegangan Ahli Sunnah Wal Jama’ah dan tokoh-tokohnya, maka pegangan mereka itu terkeluar daripada celaan tersebut.

Berkata Imam al Baihaqi

” Beliau maksudkan kalam ahli bid’ah yang meninggalkan alKitab dan As Sunnah dan menjadikan akal sebagai pegangan lalu meluruskan al Quran sesuai dengan kehendak akal mereka. Apabila disampaikan sunnah yang bertentangan dengan pendapat mereka, mereka berpaling daripadanya menuduh para perawinya. Adapun ahli sunnah, maka mazhab mereka terbangun di atas al Kitab dan As Sunnah. Mereka berpegang dengan akal sekadar menolak anggapan bahawa mazhab mereka tidak rasional”

(Manaqib As Syafie 1/463)

Ilmu kalam menurut Imam Asy Syafie, Imam Abu Hanifah, Imam Malik serta salafussoleh yang lain

Imam Asy Syafie menguasai Ilmu Kalam ?

Al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi berkata dalam kitabnya Manaqib al-Syafi’i.

وقرأت في كتاب أبي نعيم الأصبهاني حكاية عن الصاحب بن عباد أنه ذكر في كتابه بإسناده عن إسحاق أنه قال: قال لي أبي: كلَّم الشافعي يوماً بعض الفقهاء فدقق عليه وحقق، وطالب وضيق، فقلت له: يا أبا عبد الله: هذا لأهل الكلام لا لأهل الحلال والحرام، فقال: أحكمنا ذاك قبل هذا” اهـ.

Aku membaca sebuah hikayat dalam kitabnya Abu Nu’aim dari al-Shahib bin ‘Abbad, bahwa ia menyebutkan dalam kitabnya dengan sanadnya, dari Ishaq, bahwa ia berkata: “Ayahku berkata kepadaku: “Suatu hari Imam al-Syafi’i berbicara kepada sebagian ulama fuqaha, lalu beliau berbicara dengan cara yang rinci, mendalam, menuntut dan mempersempit bahasan. Lalu aku berkata: “Wahai Abu Abdillah: “Cara Anda menjelaskan ini metodologi ahli kalam, bukan ahli halal dan haram (fuqaha)”. Lalu beliau berkata: “Aku menguasai itu (ilmu kalam), sebelum menguasai ini (ilmu fiqih).”

(Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, juz 1 hlm 457).

Riwayat al-Imam al-Baihaqi dalam Manaqib al-Syafi’i sebagai berikut:

وقال الربيع بن سليمان: “حضرت الشافعي وحدَّثني أبو شعيب إلا أني أعلم أنه حضر عبد الله بن عبد الحكم ويوسف بن عمرو بن يزيد وحفص الفرد وكان الشافعي يسميه المنفرد، فسأل حفص عبد الله بن عبد الحكم فقال: ما تقول في القرءان، فأبى أن يجيبه فسأل يوسف بن عمرو،فلم يجبه وكلاهما أشار إلى الشافعي، فسأل الشافعي فاحتجَّ عليه الشافعي، فطالت فيه المناظرة فقام الشافعي بالحجة عليه بأن القرءان كلام الله غير مخلوق، وكفَّر حفصاً الفرد، قال الربيع: فلقيت حفصاً الفرد في المسجد بعدُ فقال: أراد الشافعي قتلي ” اهـ.

Al-Rabi’ bin Sulaiman berkata: “Aku menghadiri Imam al-Syafi’i, dan Abu Syu’aib bercerita kepadaku, hanya saja aku mengetahui bahwasanya telah hadir Abdullah bin Abdul Hakam, Yusuf bin Amr bin Yazid dan Hafsh al-Fard. Al-Syafi’i menamakannya al-Munfarid (yang suka nyeleneh). Lalu Hafsh bertanya kepada Abdullah bin Abdul Hakam: “Bagaimana pendapatmu tentang al-Qur’an?” Abdullah tidak mau menjawabnya. Lalu Hafsh bertanya kepada Yusuf bin Amr. Yusuf juga tidak menjawabnya. Lalu keduanya mengisyaratkan kepada al-Syafi’i. Lalu Hafsh bertanya kepada al-Syafi’i, lalu al-Syafi’i mematahkan hujjahnya Hafsh. Lalu perdebatan menjadi panjang. Akhirnya al-Syafi’i memenangkan hujjah kepada Hafsh bahwa al-Qur’an itu firman Allah dan bukan makhluq, dan ia mengkafirkan Hafsh.” Al-Rabi’ berkata: “Lalu aku bertemu Hafsh sesudah itu di Masjid. Ia berkata: “Al-Syafi’i hendak membunuhku.”

(Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, juz 1 hlm 455).

Riwayat di atas yang menceritakan perdebatan Imam al-Syafi’i dan akhirnya mengalahkan Hafsh al-Fard menjadi bukti bahwa beliau menguasai ilmu kalam. Perdebatan dengan ahli kalam hanya bisa dilakukan dengan teori ilmu kalam yang sama. Hal ini sebagai bukti bahwa Imam al-Syafi’i menguasai ilmu kalam. Sedangkan ilmu kalam yang beliau cela adalah ilmu kalam versi Hafsh al-Fard, Mu’tazilah dan ahli bid’ah.

Imam Malik memuji ulamak yang ahli dalam ilmu kalam

Al-Imam al-Baihaqi meriwayatkan:

قَالَ ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ أَنَّهُ دَخَلَ يَوْمًا عَلىَ عَبْدِ اللهِ بْنِ يَزِيْدَ بْنِ هُرْمُزٍ فَذَكَرَ قِصَّةً ـ ثُمَّ قَالَ : وَ كَانَ ـ يَعْنِي ابْنَ هُرْمُزٍ ـ بَصِيْرَا بِالْكَلاَمِ وَ كَانَ يَرُدُّ عَلىَ أَهْلِ اْلأَهْوَاءِ وَ كَانَ مِنْ أَعْلَمِ النَّاسِ بِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنْ هَذَا اْلأَهْوَاءِ

Ibnu Wahab berkata: “Malik bercerita kepada kami, bahwa pada suatu hari ia mendatangi Abdullah bin Yazid bin Hurmuz, lalu ia menyebutkan suatu kisah, kemudian Malik berkata: “Ibnu Hurmuz seorang ulama yang ahli dalam ilmu kalam. Ia membantah kelompok ahli bid’ah. Ia termasuk ulama yang paling menguasai masalah-masalah yang diperselisihkan oleh mereka terkait ajaran-ajaran bid’ah tersebut.”

(Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, juz 1 hlm 96).

Dalam pernyataan di atas jelas sekali, Imam Malik radhiyallahu ‘anhu memuji gurunya, Abdullah bin Yazid bin Hurmuz karena keahliannya dalam bidang ilmu kalam dan perjuangannya dalam membantah ajaran-ajaran ahli bid’ah. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu kalam itu ada yang tercela dan ada yang terpuji. Ilmu kalam yang dicela oleh ulama salaf adalah ilmu kalam yang ditekuni oleh kaum ahli bid’ah untuk membela ajaran bid’ah mereka, seperti kaum Mu’tazilah, Qadariyah, Syiah dan semacamnya. Ilmu kalam yang terpuji adalah ilmu kalam yang ditekuni oleh ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah untuk membela ajaran al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’.

Imam Abu Hanifah pakar ilmu kalam :

Al-Salmasi juga memuji al-Imam Abu Hanifah sebagai pakar ilmu kalam. Ia berkata:

فصل: في ذكر أبي حنيفة رضي الله عنه أما أبو حنيفة فله في الدين المراتب الشريفة والمناصب المنيفة، … سيد الفقهاء في عصره، وراس العلماء في مصره، … سبق الكافة منهم إلى تقرير القياس والكلام

Bagian tentang Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu. Adapun Abu Hanifah, maka ia memiliki martabat yang mulia dan pangkat yang luhur dalam agama. Penghulu para fuqaha pada masanya, pemimpin para ulama di kotanya. Ia mendahului mereka semua dalam menetapkan Qiyas dan ilmu Kalam.

(Al-Salmasi, Manazil al-Aimmah al-Arba’ah, hlm 161).

P/S : Kita nak ikut siapa yang selamat ? Kamilin Jamilin atau ulamak salafussoleh ? Jauhi virus palatau.

Sumber: Kami tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia.

12/02/2020 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

Menjawab golongan yang mendakwa Ilmu Qalam merosakkan….

Kalau bukan kerana ilmu kalam, seni hadith pun tidak wujud. Ilmu mustholah dan qawaid hadith itu dibina di atas manhaj mutakallimin.

Kalau bukan kerana qawaaid ‘aqliyyah para mutakallimin, bagaimana ditentukan hadith sahih atau tidak sahih dan segala mustholatnya selepas wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم

Benarlah manusia akan bermusuh dengan apa yang dia tidak tahu.

Kalian melaung-laungkan amanah ilmu dan kesarjanaan tetapi mengapa kalian bercakap bidang selain daripada bidang pengajian kalian di universiti?

Apakah dengan menguasai bidang hadith (so called) menjadi tiket untuk kita bercakap semua bidang ilmu?

Firman Allah ;

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah engkau mengikut apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya; sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati, semua anggota-anggota itu tetap akan ditanya tentang apa yang dilakukannya.

Kata ulama ;

نصف العلم أخطر من الجهل

Ilmu yang setengah (tidak menguasai sebenar-benar ilmu) itu lebih berbahaya daripada kejahilan.

Orang jahil itu tidak akan menyesatkan manusia dengan fatwa dan pandangannya tetapi orang yang setengah alim itu akan menyesatkan dirinya dan orang lain dengan fatwa dan pandangannya.

Semoga Allah memelihara kita dari kesesatan orang setengah alim dan menunjukkan kita kepada alim yang sebenar.

Apa yang dilarang berkaitan dengan ilmu kalam itu berlebih-lebihan sepertimana huraian para ulama kita. Berlebih-lebihan inilah yang menyesatkan sebahagian ahli falsafah Islam dan firaq islamiah seperti muktazilah, jahmiyyah dan lain-lain.

Tambahan lagi berlebih-lebihan di dalam perbahasan ilmu kalam itu tidak termasuk di dalam ilmu fardhu ‘ain. Sayugia bagi orang awam itu mendalami qadar fadhu ‘ain sahaja dan memberikan keutamaan kepada ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu penyuciaan jiwa.

Apakah kita menyalahkan pisau dan menafikan kebaikan dan kepentingan pisau ketikamana ada orang menggunakan pisau untuk membunuh orang?

Wallahu A’laam.

Olih Ustaz Mohd Al Amin bin Daud Al Azhari

11/02/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Comments Off on Menjawab golongan yang mendakwa Ilmu Qalam merosakkan….

SIAPAKAH PENGIKUT ULAMA’ SALAF SEBENARNYA

1) Imam Hanafi lahir: 80 H
2) Imam Maliki lahir: 93 H
3) Imam Syafie lahir: 150 H
4) Imam Hanbali lahir:164 H
5) Imam Asy’ari lahir: 240 H

Mereka ini semua Ulama’ Salafus Sholeh atau dikenali dengan nama Ulama’ SALAF

Apa itu SALAF?
Salaf ialah nama “zaman” yaitu merujuk kepada golongan Ulama’ yang hidup antara kurun zaman kerosulan NABI MUHAMMAD SAW hingga 300 HIJRAH. Tiga kurun pertama itu bisa diartikan 3 Abad pertama (0-300 H)

1). Golongan generasi pertama dari 300 tahun hijrah tu disebut “Sahabat Nabi” karena mereka pernah bertemu NABI SAW

2). Golongan generasi kedua pula disebut “Tabi’in” yaitu golongan yang pernah bertemu Sahabat NABI meski tidak pernah bertemu NABI

3). Golongan generasi ketiga disebut sebagai “Tabi’ tabi’in” yaitu golongan yang tak pernah bertemu NABI dan sahabat tapi bertemu dengan tabi’in

Jadi Imam Abu Hanifah (pencetus mazhab Hanafi) merupakan murid Sahabat NABI maka beliau seorang TABI’IN.

Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanbali (Ahmad bin Hanbal), Imam Asy’ari pula berguru dengan tabi’in maka mereka adalah golongan TABI’IT TABI’IN

Jadi kesemua Imam² yang mulia ini merupakan golongan SALAF YANG SEBENARNYA dan pengikut madzhab mereka-lah yang paling layak digelar sebagai “Salafi” atau “Salafiyah” karena “salafi” maksudnya “pengikut golongan SALAF”.

Jadi beruntung-lah kita di Nusantara yang sebagian besar masih berpegang kepada MADZHAB Syafi’i yang merupakan MADZHAB SALAF yang SEBENARNYA dan tdk lari dari paham NABI DAN SAHABAT.

SEMENTARA ULAMA’ RUJUKAN WAHABI YANG MENGAKU SEBAGAI SALAFI ADALAH SBB :

1) Ibnu Taimiyyah lahir: 661 H (lahir 361 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)
2) Nashiruddin Al-Albani lahir: 1333 H (wafat tahun 1420 H atau 1999 Masehi,lahir 1033 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)

3) Muhammad Abdul Wahhab (pendiri gerakan Wahabi): 1115 H (lahir 815 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)
4) Bin baz lahir: 1330 H (wafat tahun 1420 H atau 1999 Masehi, sama dengan Albani, lahir 1030 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)

5) Al-Utsaimin lahir: 1928 Masehi (wafat tahun 2001), beliau lahir entah berapa ribu tahun setelah zaman SALAF

Mereka ini semua hidup di AKHIR ZAMAN kecuali Ibnu Taimiyyah yang hidup di pertengahan zaman antara zaman salaf dan zaman dajjal (akhir zaman)

Saat ISLAM diserang oleh tentara Mongol
Tak ada sorang-pun Imam rujukan mereka yang mereka ikuti hidup di zaman SALAF
Mereka ini (Ulama’ rujukan wahabi) semua sangat jauh dari zaman salaf tapi aneh apabila pengikut sekte Wahabi membanggakan diri sebagai “Salafi”

(pengikut Golongan Salaf) dan menyebut sebagai SALAFI WAHABI.

Sedangkan rujukan mereka adalah dari kalangan yang datang dari golongan Ulama’² akhir zaman
Mereka menuding ajaran Sifat 20 Imam Asy’ari yang lahir tahun 240 H sebagai bid’ah yang sesat.

Padahal ajaran Tauhid Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat yang mereka ajarkan juga bid’ah dan diajarkan pada masa Khalaf, oleh orang yang lahir tahun 1115 H


Ini jelas membodohi AQIDAH ummat ISLAM

Semoga bermanfa’at .

Sumber: FB Muhammad Umar Al Fateh

08/02/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

SAHKAH SOLAT ORANG LELAKI APABILA BERSEBELAHAN DENGAN SAF ORANG PEREMPUAN TETAPI DI PISAHKAN DENGAN PENGHADANG ATAU TABIR.

Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan.

Soalan :

Pada bulan Ramadan yang lepas, surau kami menjadi penuh dengan kehadiran jemaah semasa solat isyak dan tarawih. Sehinggakan kedudukan saf di antara lelaki menjadi bersebelahan dengan saf orang perempuan. Namun terdapat tirai penghadang di antara kedua saf tersebut. Adakah sah solat dalam keadaan begini ?

Jawapan :

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah S.W.T. Selawat dan salam Kami panjatkan ke atas junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W, para isteri dan keluarga baginda, para sahabat, seterusnya golongan yang mengikuti jejak langkah baginda sehingga hari kiamat.

Para fuqaha membahagikan isu solat orang lelaki bersebelahan dengan orang perempuan ini kepada beberapa keadaan yang berikut:

Keadaan Pertama: Solat orang lelaki bersebelahan dengan orang perempuan dengan imam yang sama.

Dalam kes ini, para fuqaha berpendapat bahawa solat tersebut adalah sah bagi kedua-dua lelaki dan perempuan namun hukumnya adalah makruh. Ini kerana, yang sunnahnya adalah orang perempuan solat di belakang orang lelaki. Manakala bagi Imam Abu Hanifah, kedudukan tersebut menyebabkan solat orang lelaki itu terbatal sekiranya tidak ada penghadang di antara keduanya. Namun, sekiranya terdapat pembatas, maka Imam Abu Hanifah berpendapat selari dengan jumhur fuqaha yang menyatakan ianya tidak merosakkan solat.

Keadaan Kedua: Solat orang lelaki bersebelahan dengan orang perempuan namun solat secara berasingan.

Ini bermaksud, solat yang dilakukan ini dilakukan secara sendiri-sendiri tanpa mengikut imam. Akan tetapi, ia berlaku secara bersebelahan di antara lelaki dan perempuan. Sebagai contoh, dalam satu ruangan yang mana seorang lelaki dan perempuan yang selesai berjamaah, kemudian keduanya berdiri menunaikan solat sunat secara bersendirian namun dilakukan bersebelahan. Adakah batal solat salah seorang dari keduanya. Berikut kami kongsikan beberapa pendapat fuqahaberkenaan isu ini:

Kata Imam Al-Nawawi Rahimahullah: Apabila seorang lelaki mengerjakan solat dan di sebelahnya terdapat seorang perempuan, maka tidak batal solatnya dan solat perempuan tersebut. Sama ada dia seorang imam ataupun makmum. Inilah mazhab kita (Al-Syafi’eyyah) dan inilah juga pendapat Imam Malik dan kebanyakan ulama. Dan Imam Abu Hanifah berkata: Sekiranya perempuan tersebut bukan dalam keadaan sedang bersolat, atau dia di dalam solat yang tidak bercampur (solat bersendirian) dengan solat lelaki tersebut, maka sah solat lelaki itu dan sah juga solat wanita tersebut. Sekiranya wanita itu menyertai solat lelaki tersebut (solat bersama), dan dia berdiri di sebelah lelaki, maka batallah solat orang yang berada di sebelah perempuan tersebut. Namun solat perempuan itu tidak batal dan begitu juga solat orang yang berikutnya kerana di antara keduanya terdapat penghadang.  Rujuk Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, Al-Nawawi (3/231).

Imam Al-Nawawi juga berhujah dengan menggunakan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah A’isyah R.anha beliau berkata:

وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي، وَإِنِّي عَلَى السَّرِيرِ ـ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ ـ مُضْطَجِعَةً 

Maksudnya: Demi Allah sesungguhnya aku telah melihat Nabi S.A.W sedang menunaikan solat, dan aku berada di atas katil – di antara baginda dan kiblat – dalam keadaan aku berbaring.

Riwayat Al-Bukhari (514)

Kata Imam Al-Nawawi: Sekiranya solat tidak terbatal dalam keadaan A’isyah tidak melakukan ibadah maka sekiranya dia sedang beribadah maka itu adalah lebih utama (tidak batal). Rujuk Al-Majmu’, Al-Nawawi (3/252).

Kenyataan Imam Al-Nawawi ini menjelaskan perbezaan pendapat berkenaan isu orang perempuan berada di hadapan orang lelaki semasa solat. Di dalam kes ini, A’isyah yang sedang berbaring berada di hadapan Nabi S.A.W yang sedang solat. Justeru, ini menunjukkan bahawa solat Nabi S.A.W tidak terbatal dengan keberadaan A’isyah di hadapan baginda. Maka, demikianlah juga seorang lelaki yang sedang solat dan di sebelahnya juga terdapat seorang perempuan yang sedang bersolat. Qiyas digunakan bahawa sekiranya perempuan yang tidak melakukan ibadah tidak membatalkan solat orang lelaki, adalah lebih utama jika dia sedang solat maka turut tidak membatalkan solat orang lelaki.

Kesimpulan

Setelah kami mengemukakan beberapa hujah dan pandangan para fuqaha di atas, kami cenderung kepada pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahawa solat seorang lelaki bersebelahan dengan orang perempuan dengan terdapatnya tirai penghadang adalah tidak membatalkan solat. Bahkan Imam Abu Hanifah juga bersetuju dengan pandangan ini. Lebih-lebih lagi melihat kepada keadaan surau yang sempit dengan kehadiran jemaah yang begitu ramai hadir untuk menunaikan solat tarawih pada bulan Ramadan. Semoga Allah S.W.T memberikan kita kefahaman yang jelas dalam beragama. Ameen.

Sumber:
Mufti Wilayah Persekutuan
https://muftiwp.gov.my/ms/artikel/al-kafi-li-al-fatawi/765-al-kafi-641-sahkah-solat-orang-lelaki-apabila-bersebelahan-dengan-saf-orang-perempuan

28/01/2020 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Comments Off on SAHKAH SOLAT ORANG LELAKI APABILA BERSEBELAHAN DENGAN SAF ORANG PEREMPUAN TETAPI DI PISAHKAN DENGAN PENGHADANG ATAU TABIR.

Nak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi? Imam Syafie dengan Nabi siapa lagi mulia?”

*SOAL JAWAB MELALUI WHATSAPP PAGI INI*

Moga2 ada manfaat… 👇🏼👇🏼👇🏼

[16/01, 8:47 am] MC 8690 *** “Nak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi? Imam Syafie dengan Nabi siapa lagi mulia?”

“Hadis dah lengkap kenapa nak pakai mazhab lagi?”

Ini adalah antara ayat ayat yang keluar dari mulut orang yang kononnya bukan Muqallid dan bukan Mujtahid tetapi disebabkan mahu nampak sedikit gah. Diciptakan satu istilah baru “Muttabeq” namanya

Satu permasaalahan apabila ditanya kamu bermazhab apa? Saya bermazhab Al Quran dan Hadis sepertimana Sahabat nabi tak memerlukan kepada Imam Mujtahid seperti itu jugalah saya.

Sebenarnya, walaupun dicipta istilah “Muttabeq” sekalipun ia masih lagi dihukumkan “Muqallid” kerana selagi seseorang itu tidak mencapai martabat “Mujtahid Mutlak” wajib atasnya untuk mengikut Imam imam mazhab yang empat.

Wajib juga atas kita mengakui bahawa Rasulullah adalah makhluk yang paling mulia. Mana sama martabat Imam Syafie dengan Rasulullah. Tetapi Imam Syafie adalah seorang Mujtahid Mutlak. Sehinggakan ada ulama menyebut seorang Mujtahid Mutlak adalah orang tidak ada satupun Hadis Rasulullah atas muka bumi ini tidak ada didalam dadanya melainkan semuanya telah dia hafal. Ini adalah tahap keilmuaan seorang Mujtahid Mutlak. Ikut mazhab itu adalah mengikut Nabi.

Mazhab adalah rumusan kefahaman Al Quran dan Hadis yang telah disiapkan oleh Ulama. Mereka adalah insan yang lengkap serba serbi ilmu. Bersangat sangatan Alimnya. Mereka tahu bagaimana hendak proses Al Quran dan Hadis sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Kita orang awam. Tak ada perkakasan.

Satu contoh misalan. Tayar kereta kita pancit. Adakah kita perlu pergi ke Kebun Getah, ambik getah skrap untuk buat tayar? Dengan perkakasan tak ada, rasanya ini satu kerja gila. Paling mudah adalah dengan beli sahaja Tayar dikedai Tayar. Walaupun orang yang ada 100 ekar ladang getah. Masih lagi beli tayar dikedai, tidak diprosesnya getah skrap untuk dibuat tayar sendiri.

Al Quran dan Hadis adalah bahan mentah. Kita orang awam tak ada perkakasan ilmu yang lengkap seperti Para Imam Mujtahid. Adakah kita mahu membuat kerja gila dengan memproses Al Quran dan Hadis mengikut Keterbatasan ilmu yang kita ada? Ini adalah punca kesesatan. Menggunakan Al Quran dan Hadis yang mentah sebagai “Buffet” aci main petik, petik, petik, ayat mana yang sesuai dengan Nafsu ambik jadikan hujjah dan ayat mana tak kena dengan nafsu cari ayat Al Quran lain atau Hadis lain untuk mengiyakan perbuatannya. Ini punca kesesatan. Nauzubillahiminzalikh.

Para sahabat dahulu tidak mempunyai mujtahid mutlak kerana segala permasalahan hukum hakam terus ditanyakan kepada Rasulullah.

Kaedah kita, Mazhab yang dah dirumuskan itulah adalah merupakan rumusan kefahaman Al Quran dan Hadis. Pesan Tok Guru, “Ikut mazhab itu ikut nabi la” tidak perlu menunjuk handal kononnya pakai mazhab yang menggunakan hadis shoheh sahaja. Antara kamu dengan Imam Syafie siapa lebih alim Hadis? Siapa lebih banyak menghafal hadis? Kamu atau Imam Syafie?

Jadilah seperti salah seorang pakar hadis malaysia Tuan Guru Wan Izzuddin atau lebih mesra dengan panggilan Pak Anjang Izzuddin. Pengalaman admin dan rakan rakan mengziarahi beliau di pondoknya Gajah Mati, tidak ada langsung kalam kalamnya yang kontradik dengan ulama ulama melayu yang lain. Walaupun bergelar seorang Muhaddith dan Musnid.

-Admin QF Nuuri-

[16/01, 8:48 am] MC 8690 *** Salam Ustaz,
Muttabeq ni apa?

[16/01, 9:20 am] ENGKU AHMAD FADZIL ALI: متبعNak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi? Imam Syafie dengan Nabi siapa lagi mulia?”
Adalah اسم فاعل kata nama pembuat bagi perbuatan اتبع، يتبع yang bererti “mengikut”.

Jadi muttabi’ ertinya 👇🏼
“Orang yang mengikut”.

Kononnya ia adalah satu kedudukan antara “muqallid” (orang yang ikut fatwa ulama tanpa tahu dalil) dan “mujtahid” (ulama yang mampu berinteraksi dengan dalil2 menggunakan kaedah2 bagi mengeluarkan hukum).

Jadi kononnya oleh kerana muttabi’ tahu dalil2 yang digunakan oleh mujtahid dalam berfatwa maka mereka tak perlu bertaqlid kepada fatwa mujtahid tetapi boleh memilih mana fatwa yang kuat dalil2nya untuk diikuti.

Ini sangkaan yang keliru dan bathil kerana yang boleh menilai kekuatan dalil adalah para mujtahid.

Oleh itu orang-orang yang kononnya muttabi’ ini sebenarnya masih lagi tahap muqallid kerana mereka sebenarnya tidak memenuhi syarat2 mujtahid. Sekadar tahu dalil2 ulama tidak menjadikan seseorang itu mujtahid. Oleh kerana mereka muqallid, wajib mereka bertaqlid kepada fatwa2 ulama-ulama yang mujtahid dan bukan berlagak pandai kononnya menimbang antara pandangan2 ulama mana yang kuat dalil2nya, padahal mereka BUKAN ahli dalil, hanya sekadar tahu sebahagian dalil2 ulama.

Wallaahu ta’aala a’lam.

USTAZ ENGKU AHMAD FADZIL

16/01/2020 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

Jual Beli Air hukum nya Haram

Ramai yang tahu bahawa benda atau barangan haram, haram dijual beli. Tetapi ramai yang tidak tahu, jual beli air juga adalah haram. Jadi, sesiapa yang menjual air maka dia menerima pendapatan haram.

Seperti juga menjual barangan curi, adalah hasilnya dia mendapat pendapatan haram. Biawak adalah haram, maka sesiapa yang menangkap biawak dan menjual biawak itu, maka dia mendapat hasil haram.

Walau bagaimanapun, jika semua benda dan barangan haram itu ditukar kepada menjual perkhidmatan, maka hasilnya adalah halal. Contoh, seorang petani menangkap ular, dia matikan dan samak, kemudian kulitnya dijual kepada pengusaha kasut atau bag. Maka ketika itu dia menjual perkhidmatan.
Begitu juga dengan air, dia salurkan air, dan dibersihkan air itu dan kemudian dibotolkan, kemudian dijual. Maka ketika itu dia dikatakan menjual perkhidmatan. Hasilnya adalah halal.

Belajarlah fiqah nanti menjadi kaya ilmu.

FB Ustaz Ahmad Baei

11/01/2020 Posted by | Fiqh, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | | Leave a comment

Menjawab Anggapan “Semua Agama Adalah Sama”

Tidak sedikit orang berkata “Semua agama sama”. Dewasa ini ucapan seperti ini kerap kali disebut dikalangan masyarakat samada dari kalangan bukan Islam atau di kalangan muslim sendiri.

Fahaman sebegini sebenarnya adalah fahaman yang baru dan ia tidak berlaku pada zaman dahulu. Ia muncul dari dua kelompok iaitu golongan apatisme dan juga golongan pluralis liberalisme.

Golongan apatisme adalah golongan yang tidak (atau malas?) berfikir tentang agama dan mereka hanya fokus kepada hal keduniaannya sahaja dan mereka bukanlah orang yang berlatar belakang memahami kerangka agama. Kebanyakkan dari kalangan mereka hanya bercakap berdasarkan andaian mereka sahaja. Jika ditanya kepada mereka adakah mereka sudah membaca kesemua kitab agama dan memahami semua agama sehingga mencapai konklusi bahawa semua agama adalah sama? Sudah tentu tidak, melainkan ia adalah ucapan dari andaian dan sikap yang malas berfikir tentang ketuhanan.

Manakala golongan pluralisme pula mereka membawa metod hak kebebasan melangkaui agama. Mereka meletakkan elemen simpati (hak kebebasan dan pembelaan kepada manusia) yang Tuhan tidak akan menghukum manusia di atas perbezaan itu. Bagi mereka terjadinya agama-agama di dunia ini juga merupakan kehendak Tuhan dan tidak salah untuk mereka beragama kerana kesemuanya akan menuju kepada Tuhan yang sama kerana semuanya adalah ciptaan Tuhan.

Ternyata fahaman ini tidak memahami realiti kronologi agama itu sendiri. Sememangnya Tuhan menurunkan agama tetapi hanya terdapat satu-satunya agama yang Tuhan redhai. Fahamkah kita bagaimana sikap orang mengubah-ubah ajaran agama Tuhan itu sehingga menjadi sebuah ajaran yang jauh menyimpang dari ajaran asal? Adakah bila terdapat seorang penipu yang terkenal mendakwa dirinya adalah seorang rasul dan dia membawa agama. Tergamakkah ingin mengatakan bahawa agama yang dia bawa itu juga diredhai oleh Tuhan walau sudah jelas dia adalah menipu? Sudah tentu tidak.

Islam Satu-Satunya Agama Dijamin Tuhan

Al Quran adalah kitab wahyu dari Tuhan yang bebas dari penyelewengan. Seluruh dunia membaca versi al Quran yang sama. Ia adalah wahyu yang terakhir membimbing manusia akhir zaman. Tidak ada satu pun kitab agama sebelum al Quran yang memiliki ayat jaminan bahawa ia adalah satu-satunya agama diredhai oleh Tuhan kecuali di dalam al Quran.

Allah berfirman yang bermaksud:

“Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.” (Surah Ali Imran: 19)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Surah Ali Imran: 85)

Adalah pelik jika seorang muslim boleh mengungkap kata-kata bahawa semua agama adalah sama. Malah jika diperhatikan di dalam al Quran, Allah menceritakan keadaan ahli kitab dikalangan Yahudi dan Kristian serta orang-orang yang menyembah berhala, setelah dibentangkan bukti dan kebenaran dihadapan mereka dan jika mereka menolak, mereka akan dibalas dimasukkan ke dalam neraka:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik itu akan ditempatkan di dalam neraka Jahannam, kekallah mereka di dalamnya. Mereka itulah sejahat-jahat makhluk.” (Surah al Bayyinah: 6)

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud:

“Demi zat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya. Tiada seorang-pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi mahupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka”. (Hadits Riwayat Muslim no.153 dalam kitabul Iman)

Lebih Teruk Dari Arab Jahiliyyah

Jika dilihat di dalam sejarah, ungkapan “semua agama adalah sama” ini tidak pernah diungkap oleh orang-orang terdahulu. Jika mahu dibandingkan dengan sikap orang arab Jahiliyyah pun tidak mengungkap perkataan itu kerana mereka tahu terdapat perbezaan diantara agama mereka dengan agama yang dibawa oleh nabi Muhammad.

Jika tidak mereka tidak akan menentang dakwah nabi Muhammad. Malah antara tawaran yang mereka berikan kepada Nabi Muhammad dengan harapan untuk ‘meredakan’ usaha dakwah nabi adalah dengan dibahagikan selang sehari bertukar-tukar tuhan untuk disembah. Contoh pada hari ini, mereka menyuruh nabi Muhammad bersama mereka untuk menyembah tuhan mereka manakala keesokan hari pula mereka semua akan menyembah Allah dan begitu bergilir kepada hari berikutnya.

Hasil dari itu turunlah surah al Kafiruun yang menerangkan bahawa masing-masing tidak menyembah tuhan yang sama dan masing-masing tidak beribadat dengan cara yang sama, agamamu untukmu dan agamaku untukku.

Ini menunjukkan sejahil orang arab jahiliyyah juga memahami bahawa terdapat perbezaan diantara agama yang mereka anut dengan agama yang dibawa oleh nabi Muhammad. Akan tetapi pada hari ini begitu boros sekali ungkapan ini kerap disebut oleh orang muslim yang sudah jelas kepada mereka tentang ajaran al Quran yang memisahkan diantara kebenaran dan kebatilan.

Kesimpulan

Perkataan “semua agama sama” adalah kalimah yang tidak patut menjadi ucapan dikalangan masyarakat yang beragama. Kerana jika diambil sikap sebegitu hakikatnya ia adalah sikap seorang tidak beragama langsung.

Ada beza diantara perkataan “Semua agama menganjurkan berbuat baik” dengan “Semua agama membawa ke syurga”. Jika perkataan pertama itu ia boleh dibincangkan lagi akan tetapi jika perkataan “Semua agama menyembah Tuhan yang sama, atau semua agama menuju ke syurga” itu adalah ucapan seseorang yang tidak memahami agama langsung. Jika seseorang itu beragama dan percaya kepada keimanan ajarannya pasti tidak akan terkeluar perkataan ini kerana realitinya tidak sebegitu.

Malah hal ini juga pasti diakui oleh penganut agama lain mengikut kepercayaan mereka bahawa agama mereka juga tidak sama dengan agama lain. Malah dengan wujudnya perbezaan itu tidak semestinya tidak boleh bertoleransi. Ia adalah soal keimanan yang masing-masing memiliki keyakinan dan hujah. Maka persembahkanlah hujah itu jika kita berada di pihak yang benar seperti dianjurkan oleh al Quran:

Katakanlah “Bawalah kemari keterangan-keterangan yang (membuktikan kebenaran) apa yang kamu katakan itu, jika betul kamu orang-orang yang benar”. (Surah al Baqarah: 111)

Sumber: R & D Team Multiracial Reverted Muslims

April 21, 2019

11/01/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

SEJARAH ASAL-USUL NEGERI SEMBILAN DARUL KHUSUS MULAI ZAMAN RASULULLAH SAMPAI SEKARANG

Diriwayatkan Oleh:
_*Asy-Syaikh Al-Habib Prof.Dr. Shohibul Faroji Azmatkhan*_

*A. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN RASULULLAH*

Berdasarkan Kitab Tarikh Melayu yang ditulis pada tahun 1899 oleh Al-Imam Al-Habib Abdur Razzaq bin Musthafa Al-Husaini, dikatakan bahwa:

_”Agama Islam masuk ke Negeri Sembilan Darul Khusus Malaysia sudah ada sejak zaman Rasulullah yaitu sekitar tahun 629 Masehi. Pada saat itu Rasulullah memerintahkan sembilan para sahabat untuk mendakwahkan Agama Islam di Timur Jazirah Arab, yaitu di Tanah Melayu sekarang ini.”_

Sembilan Sahabat Nabi Muhammad yang diperintahkan berdakwah ke Tanah Melayu adalah:
1. Asy-Sumaisi (Sahabat Nabi), berdakwah ke Tanah Melayu, menemukan dan menamakan pertama kali daerah JELEBU. Sekitar tahun 629 Masehi.

2. Ikrimah bin Abu Jahal (Sahabat Nabi), setelah masuk Islam, turut berdakwah sampai ke Tanah Melayu dan menemukan dataran Johol, sekitar tahun 632 Masehi.

3. Anas bin Malik (Sahabat Nabi), melakukan ekspedisi dakwah ke tanah melayu, dan menemukan serta menamakan daerah JOHOR DARUN NA’IM. Pada tahun 630 Masehi.

4. Jabir bin Abdullah (Sahabat Nabi), berdakwah Islam di tanah Melayu, menemukan dan menamakan pertama kali KEDAH DARUL AMNI, tahun 631 Masehi.

5. Abdullah bin Umar bin Khattab (Sahabat Nabi), berdakwah ke Tanah Melayu, menemukan dan menamakan KELANTAN DARUN NA’IM.

6. Abu Said Al-Khudri (Sahabat Nabi), mendakwahkan Islam di Tanah Melayu, menemukan dan menemakan TERANGGANU DARUL IMAN, pada tahun 631 Masehi.

7. Arqam bin Abi Arqam (Sahabat Nabi), melakukan dakwah Islam sampai ke Tanah Melayu, menemukan dan menamakan PAHANG DARUL MAKMUR, pada tahun 630 Masehi.

8. Abu Ya’la Syaddad bin Aus (Sahabat Nabi), berdakwah di Tanah Melayu, menemukan dan menamakan SELANGOR DARUL IHSAN. Pada tahun 630 Masehi.

9. Imam Ali bin Abi Thalib, melakukan dakwah Islam di Tanah Melayu, menemukan dan menamakan NEGERI PERLIS INDRA KAYANGAN, selepas Beliau menemukan Tanah GARUT di Jawa Barat Indonesia. Pada tahun 630 Masehi.

10. NEGERI SEMBILAN DARUL KHUSUS, ditemukan tahun 633 karena sembilan sahabat Nabi bertemu di Negeri ini. Lalu mengembangkan dakwah, dan akhirnya kembali ke Madinah.

_(Referensi Kitab Tarikh Melayu, Karya Al-Imam Abdur Razzaq bin Musthafa Al-Husaini, page 117, tahun 1899)_

*B. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN WALISONGO*

Dalam Kitab Kisah Perjalanan Haji Walisongo, yang ditulis Al-Imam Nawawi Al-Bantani, dikisahkan Pada zaman Walisongo, sembilan wali saat pulang dari Ibadah Haji, pada tahun 1413 Masehi, singgah di sebuah Negeri di Tanah Melayu, dan negeri itu diberi nama *Negeri Sembilan Darul Khusus*.

Negeri Sembilan Darul Khusus masyhur disebut Negeri Walisongo, dan dinegeri ini Dzurriyyah Walisongo mulai banyak berdakwah.

Beberapa tahun singgah di Negeri Sembilan, Walisongo kembali ke Tanah Jawa (Indonesia).

_(Referensi : Kitab Kisah Perjalanan Haji Walisongo, Karya Imam Nawawi Al-Bantani, Page 72, ditulis tahun 1890 Masehi)_

*C. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN MELAYU KUNO*

Setelah kedatangan Walisongo ke Negeri Sembilan Darul Khusus, lalu banyak hijrah dan merantau orang-orang Minangkabau dari Pulau Sumatera melalui Melaka dan sampai ke Rembau.

Orang-orang Minangkabau ini adalah para Dzurriyyah Sunan Giri dan juga murid atau santri Sunan Giri.

Di Negeri Sembilan ini para Dzurriyyah Sunan Giri menikah dengan penduduk Negeri Sembilan yang sudah lama hidup di Negeri ini. Saat itu Negeri Sembilan masih hutan yang sangat lebat. Sedikit sekali penduduknya, sehingga Ulama di Negeri ini mewajibkan POLIGAMI untuk memperbanyak keturunan atau dzurriyyah, agar Islam berkembang pesat dan Dzurriyyah nya banyak.

Ulama yang terkenal di Negeri Sembilan pada masa Kesultanan Johor, adalah Sayyid Mujtaba bin Makki, Berdasarkan salah satu catatan sejarah Negeri Sembilan yang ditulisnya, bahwa Negeri Sembilan pada awalnya dikatakan terdiri dari Sembilan Negeri yaitu:
1. Sungai Ujong,
2. Rembau,
3. Johol,
4. Jelebu,
5. Naning,
6. Kelang (kini Klang),
7. Hulu Pahang,
8. Jelai dan
9. Hulu Muar.

*D. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN SEKARANG*

Negeri Sembilan termasuk salah satu negara bagian yang menjadi negara Federasi Malaysia. Sebelah selatan berbatasan dengan Melaka dan Johor, sebelah timur berbatasan dengan Pahang, sebelah utara berbatasan dengan Selangor dan sebelah barat berbatasan dengan Selat Melaka.

Penduduk bangsa Melayu yang kira-kira seperempat juta itu sebahagian besar masih mempunyai hubungan dengan adat Minangkabau. Karena banyak murid Walisongo dari Minangkabau yang menetap di Negeri Sembilan.

Pantun mereka berbunyi :

_Leguh legah bunyi pedati._
_Pedati orang pergi ke Padang._
_Genta kerbau berbunyi juga._
_Biar sepiring dapat pagi._
_Walau sepinggan dapat petang._
_Pagaruyung teringat juga_

Negeri Sembilan merupakan sebuah kerajaan tetapi pemerintahannya berdasarkan Konstitusi yang disana dikatakan Perlembagaan Negeri. Badan Legislatifnya bernama “Dewan Perhimpunan/Perundingan Negeri yang mempunyai anggota 24 orang. Anggota-anggota ini dipilih oleh rakyat dalam Pemilihan Umum yang disini dikatakan : Pilihan raya.

Pelaksanaan pemerintahan dilaksanakan oleh Menteri Besar yang didampingi oleh 8 orang anggotanya yang bernama : “Anggota Majelis Musyawarah Kerajaan Negeri”.

Gelaran raja ialah Duli Yang Mahamulia Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan.

Pemerintahan Negeri Sembilan terbagi atas 6 daerah, yaitu:
1. Seremban,
2. Kuala Pilah,
3. Port Dickson,
4. Jelebu,
5. Tampin dan
6. Rembau.

Ibukota Negeri Sembilan adalah Seremban.

Istana raja terdapat di ibukota Seremban ini bernama Istana Seri Menanti. Tetapi arsitekturnya tidak lagi dengan cara Minang melainkan sudah berkomposisi antara arsitektur Minang dan Melayu.

Ada 12 suku di Negeri Sembilan yaitu:
1. Tanah Datar
2. Batuhampar
3. Seri Lemak Pahang
4. Seri Lemak Minangkabau
5. Mungka
6. Payakumbuh
7. Seri Malanggang
8. Tigo Batu
9. Biduanda
10. Tigo Nenek
11. Anak Aceh
12. Batu Belang

*REFERENSI:*

_Al-Imam Abdur Razzaq bin Musthafa Al-Husaini, Kitab Tarikh Melayu, page 117, tahun 1899)_

_Imam Nawawi Al-Bantani, Kitab Kisah Perjalanan Haji Walisongo, Page 72, ditulis tahun 1890 Masehi)_

22/12/2019 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | 2 Comments

Qasidah dan Syair memuji Rasulullah SAW – Dibolehkan atau Dilarang?

1- Kita sedia maklum bagaimana orang-orang Arab sejak zaman Jahiliyah lagi tak dapat dipisahkan dengan bentuk kesenian dan kesusasteraan mereka seperti Syair dan Qasidah. Ini jelas apabila kita mempelajari sejarah Arab bahkan dalam Sirah Nabawiyyah juga ada disebutkan tentang perkara ini.

2- Malah di dalam Al-Quran sendiri berulang perkataan ‘Syair’ dan sebuah surah dinamakan dengan as-Syu’ara yang bermaksud ‘para penyair’. Bermula dari ayat 224 di dalam surah tersebut kita dapati Allah SWT menyebut bahawa terdapat penyair yang beriman dan beramal soleh dan ada juga penyair yang tidak beriman dan berdusta.

3- Maka jelas bahawa terdapat perbezaan di antara penyair dan syairnya yang diterima oleh Islam dengan penyair dan syairnya yang tidak diiktiraf di dalam Islam.

4- Kita dapati para sahabat bersyair dan melantunkan qasidah di hadapan Baginda SAW dan Baginda akan mendengar, terkadang tersenyum dan terkadang memuji syair yang baik. Manakala Baginda akan membetulkan kalau ada syair yang salah dan tidak tepat.

5- Zaman berzaman juga kita dapati para ulama begitu kreatif dan hebat dalam mengarang syair-syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW. Ia bukanlah satu perkara yang pelik kerana syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW telah pun ada pada zaman Baginda SAW sendiri.

6- Kitab-kitab Hadith dan Sirah sendiri mengumpulkan pelbagai syair pujian terhadap Baginda SAW dikarang dan dideklamasikan oleh para Sahabat seperti Sayyiduna Hassan Bin Thabit RA, Abdullah Bin Rawahah RA, Abu Bakr as-Siddiq RA, Umar Bin al-Khattab RA, Ka’ab Bin Malik RA, Ka’ab Bin Zuhair RA, al-Abbas Bin Abd. Muttolib dan lain-lain.

7- Syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW ini dibacakan di hadapan Baginda SAW dan Baginda SAW tidak memarahi atau melarang. Bagaimanakah pula kita pada hari ni tidak suka atau melarang bacaannya?

8- Oleh itu para ulama zaman berzaman mengambil contoh perbuatan para Sahabat RA dengan memuji Rasulullah SAW dalam bentuk syair dan qasidah. Syair dan qasidah ini dibukukan dan dibacakan malah disebarkan kepada masyarakat.

9- Ada pihak yang kita dapati mempunyai ‘alahan’ dan tidak suka syair dan qasidah memuji Rasulullah SAW. Ada pula yang melarang dengan membawa dalil daripada sebuah Hadith Sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari RH:
لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم
Maksudnya:
‘Jangan berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

10- Sedangkan maksud Hadith di atas adalah – jangan memuji Rasulullah SAW dengan pujian yang salah iaitu mengangkat Baginda sehingga mencapai tahap ketuhanan seperti yang kita lihat di dalam terjemahan Hadith di atas iaitu potongan ‘sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

11- Seeloknya kita pelajari maksud syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW dan menghayati bagaimana para ulama memilih perkataan yang indah dan berirama untuk memuji manusia yang paling indah – Rasulullah SAW.

Adlan Abd Aziz
Timbalan Pengerusi ISLAMI Kebangsaan
*Tirmidhi Centre*
@

22/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Madah dan Sajak, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah, wahabi | , , | Leave a comment

Mana lebih utama, Malam Lailatul Qadar dengan Malam Kelahiran Baginda Nabi SAW?

Tumpang tanya,… mana lebih utama malam lailatul qadar dengan mlm kelahiran baginda nabi. Mohon pencerahan dan klu ada mohon rujukannya….

Jawapan kami;

Menurut ulama Mazhab Syafi’i, hari (siang) yang paling afdal ialah hari Arafah.

Diriwayatkan daripada Jabir radhiallahu anhu, Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam bersabda:

أفضلُ الأيام يومُ عرفة

”Sebaik-baik hari ialah hari Arafah.”(Riwayat Ibn Hibban).

Diriwayatkan lagi daripada Jabir radhiallahu anhu, Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يوْمٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يوْمِ عَرَفَةَ …

”Tiada hari yang paling baik di sisi Allah melainkan hari Arafah…”(Riwayat Ibnu Hibban, Abu Ya’la).

Kemudian diikuti hari Jumaat, kemudian hari Aidul Adha dan kemudian hari Aidul Fitri.

Adapun malam yang paling afdal pula ialah malam Nabi sollallahu alaihi wa sallam dilahirkan. Hal ini kerana pada malam tersebut telah lahirnya seorang insan mulia yang telah memberikan manfaat yang umum dan kebajikan yang agung ke seluruh alam.

Kemudian diikuti malam Lailatul Qadr, kemudian malam Jumaat dan kemudian malam Nabi sollallahu alaihi wa sallam diisrakkan. Justeru, inilah turutan malam yang paling afdal bagi nisbah umat Nabi sollallahu alaihi wa sallam.

Manakala, malam yang paling afdal bagi nisbah Nabi sollallahu alaihi wa sallam pula ialah malam baginda diisrakkan. Hal ini kerana, pada malam tersebut baginda telah bertemu Tuhannya dengan mata kepalanya sendiri mengikut pendapat yang sahih.

Sehubungan dengan itu, malam lebih afdal berbanding dengan hari siang.

Manakala menurut Imam Ahmad bin Hanbal pula, hari yang paling afdal secara mutlak ialah hari Jumaat. Malah, ia lebih afdal berbanding hari Afarah dan malam hari Afarah juga lebih afdal secara mutlak berbanding malam Lailatul Qadr.
اليسع
Wallahu a’lam.

Rujukan

– Hasyiah al-Bujairimi
– Hasyiah al-Jamal
– Hasyiah al-Syarqawi
– Hasyiah al-Baijuri
– Hasyiah al-Syarwani
– Fath al-‘Allam
– Nihayah al-Zain

Sumber : Koleksi Q&A Ustaz Alyasak
https://t.me/Q_A_Us_Alyasak_channel

20/12/2019 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Kenali riba dan bersama menjauhinya

Olih Ustaz Zaharuddin-

Riba adalah ziyadah atau increment atau excess pada perkara tertentu lebih menjurus kepada terlebih pada sesuatu iaitu

1) Di dalam hutang

Cth: Beri RM1000, minta bayar balik dalam RM1100, maka RM100 adalah riba samada rasa tertindas atau tidak rasa tertindas

2) Bayaran secara bertangguh

Cth: Perlu bayar RM2000 dalam masa 5 bulan, si penghutang tidak membayar dalam jangkamasa tersebut, lalu si penghutang beri tangguh dengan dikenakan syarat dari RM2000 menjadi RM2050 kerana kelewatan membayar. RM50 itu adalah riba

3) Riba dalam pertukaran barang dengan barang, terdapat 6 jenis barang

Cth: Tukar emas lama iaitu 2g dengan emas baru 3g. Jika ada pertambahan/pengurangan maka ia adalah riba

4) Bayar emas dalam waktu yang bertangguh

Ulama iaitu Umar Al-Khatab menyarankan untuk kita berusaha bersungguh-sungguh untuk memahami riba.

Umar Al-Khatab: “Aku berharap Nabi Muhammad s.a.w tidak meninggalkan kita dalam keadaan kita tidak didedahkan secara terperinci berkenaan dengan 3 perkara iaitu perwarisan harta cucu oleh datuknya, kalalah (harta si mati yang tidak meninggalkan waris atau mempunyai waris) dan jenis-jenis riba. (Riwayat Al-Bukhari)

Imam Ibn Kathir (ulama yang sohor): “ Bab riba adalah bab yang susah untuk difahami”

Imam Abu Hamid Al-Ghazali: “Bab riba adalah bab yang sukar untuk diajari”

Pengajian bab riba adalah tanda keimanan dan ketakwaan yang tinggi kerana kesukarannya untuk memahami, untuk pelajari dan untuk menjauhinya (ada disebut dalam Surah Al-Baqarah)

Di dalam pengajaran riba ada pandangan ekstrem, tasahul (ringan/mudah) dan wasati (seimbang dan equilibirilium). Namun pandangan wasati yang dilebihkan kerana lebih tepat dan mantap pada sesuatu zaman untuk mengelak kesukaran kepada masyarakat.

Cth pandangan wasati: Tidak riba jika penjual menaikkan harga sesuatu barang

Riba dalam bentuk pinjaman

Dalam bahasa arab 2 jenis pinjaman iaitu

  • Qar, pinjaman dengan bayaran dalam bentuk yang sama. Cth: Duit seringit dengan duit seringit, beras (long grain) dengan beras (long grain yang sama)
  • I’arah, pinjaman dengan bayaran dalam bentuk yang berbeza, Cth: iPad2 (umur 2 tahun) dengan iPad2 (1 tahun)

Persepakatan ulama silam, pinjaman dalam bentuk Qar atau I’arah jika disyaratkan pembayarannya samada di dalam bentuk berlainan seperti hadiah, melebihi daripada pinjaman permulaannya adalah haram dan RIBA.

Cth dalam konteks semasa,

    • Pinjaman wang dengan bank konvensional untuk membeli kereta iaitu RM100K, 10 % bayar deposit dan 90% lagi dari ‘loan’ bank konvensional. Bank kovensional beri pinjam RM100k yang perlu dibayar dalam jangkamasa 5 tahun dengan pertambahan interest iaitu 4%. Maka 4% itu adalah RIBA. Ada yang menggunakan hujah inflasi bagi menerima interest 4% dengan mengatakan harga RM1 pada tahun 2000 adalah berlainan dengan harga RM1 dalam tahun 2012. HUJAH INFLASI TIDAK DITERIMA DI DALAM ISLAM

      PEMBELIAN KERETA DENGAN PINJAMAN DARIPADA BANK KOVENSIONAL ADALAH RIBA.

      Sesiapa yang mengambil atau memberi RIBA adalah mengisytiharkan perang dengan ALLAH S.A.W dan RASULLAH S.W.T

      Rasullah bersabda, dosa sesiapa yang terlibat dengan RIBA, walaupun sebanyak 1 dirham (RM20) bersamaan dengan berzina sebanyak 36 kali. Akibat dosa begini iaitu riba yang tidak disedari antara punca penyebab solat kurang khusyuk, doa tidak diterima, tidak mahu nasihat dsb.

      Rasullah juga bersabda, riba boleh datang dalam 72 pintu, yang paling ringan dosanya umpama seorang lelaki berzina dengan ibunya dan untuk perempuan, umpama berzina dengan bapanya.

      • Pinjaman untuk rumah yang dibuat dengan bank konvensional selain riba terdapat juga GHARAR (penambahan yang tidak tahu berapa nilainya)

        Cth: pinjaman RM200k dengan interest 4% dan pertambahan BLR-2.0%. BLR itu adalah gharar dimana nilainya mengikut ekonomi Malaysia yang tidak diketahui dinilainya.

        Maka, dosa meminjam duit dengan bank konvensional untuk membeli rumah adalah LEBIH BERDOSA berbanding dengan beli kereta kerana adanya GHARAR.

        • Kad kredit dengan bank kovensional. Pembelian barang dengan kad kredit konvensional ada tempoh untuk membayarnya (Cth:20 hari). Jika tidak membayarnya akan dikenakan RIBA. Jika membayarnya dalam tempoh tersebut juga adalah RIBA kerana kita menyokong urusniaga dengan bank konvensional iaitu si penjual (merchant) akan memberi sebanyak 2-3% kepada pengeluar kad konvensional.

          SOALAN 1: Pinjaman dengan kad kredit konvensional iaitu sebanyak RM3000 dengan 0% interest selama 3 bulan. Selepas 3 bulan, interest akan dikenakan adalah 6.5%. Adakah 6.5% adalah riba?

          SOALAN 2: Pembiayaian dengan Bank Islam ada dinamakan keuntungan dengan akad adakah bersamaan dengan pinjaman dengan bank konvensional yang ada perjanjian?

          SOALAN 3: Dalam perjanjian pinjaman konvensional jika kita menanda tangani adalah mengiyakan pinjaman tersebut adakah riba?

          JAWAPAN: Kad kredit konvensional yang menawarkan pinjaman yang dikenakan 6.5% selepas 3 bulan adalah RIBA. Maka perlulah selesaikan secepat mungkin jika sudah melakukannya samada masih dalam tempoh atau melebihi tempoh pembayaran kerana kita sudah menyokong urusniaga bank konvensional tersebut.

          Rasullah bersabda, akan dilaknati orang yang MEMBERI, MENERIMA, menjadi SAKSI dan PENULIS perjanjian urusniaga RIBA

          Pembiayaian dengan bank Islam yang mempunyai akad yang ada kontrak dan rukun dan juga apa yang dijualnya adalah berbeza dengan bank konvensional . Si penerima akad tersebut perlu melihat dengan teliti dokumen tersebut sebelum mengiyakan dan menandatangani perjanjian.

          Di dalam Fiqh Islam keredhaan dengan sesuatu pada permulaan adalah juga redha pada pengakhirannya. Maka menandatangi perjanjian pinjaman konvensional yang dimana akan dikenakan riba pada masa akan datang, maka pada ketika itu kita terlibat dengan riba.

          SOALAN 4: Apa beza BFR (Islamic housing loan) dengan BLR (Conventional housing loan)?

          SOALAN 5: Status Amanah Saham Bank Rakyat?

          SOALAN 6: Bagaimana kita hendak menghapuskan dosa lepas kerana melakukan riba?

          SOALAN 7: Status pinjaman perumahan dengan menggunakan ‘goverment loan’ ada kaitan dengan riba atau tidak?

          SOALAN 8: Pembelian kereta dengan CIMB Islamik dengan akad adakah terlibat dengan riba?

          SOALAN 9: Pembelian rumah dengan pinjaman daripada bank konvensional, hendak membeli dengan cash tidak mampu, maka bagaimana dengan pinjaman tersebut dan alternative untuk mengelaknya?

          JAWAPAN: Beza antara BFR (Base Financing Rate) dengan BLR (Base Lending Rate). BLR adalah kadar benchmark untuk kadar pinjaman bank konvensional atau kos pinjaman duit. Bank –bank islam tiada pinjaman, hanya ada pembiayaan. Bank-bank islam menggunakan duit yang didapatkan daripada orang ramai untuk membeli asset dan menjual asset kepada pelanggan mereka. Kebanyakkan orang tidak mengetahui mengenai asset yang dibeli kerana tidak membaca kontrak. Walaubagaimanapun kadar BFR dan BLR adalah sama tetapi BFR adalah halal

          Perumpamaan BFR adalah: Membuka kedai daging halal lembu Australia di tempat yang tiada kedai daging halal, si penjual daging halal akan meninjau harga daging semasa dan menjual daging dengan harga yang sama dengan daging di kedai daging tidak halal.

          Dividen saham Bank Rakyat adalah patuh syariah dan halal

          Maksud dalam surah Al-Baqarah ayat 277-278:

          Maka apabila datang peringatan tentang dosa-dosa riba, yang terlibat dengan riba hendaklah dengan SEGERA BERHENTI.

          Ada 4 perkara hendak hapuskan dosa jahil tentang riba.

          • Berhenti dengan segera melakukan perkara RIBA
          • Minta taubat
          • Banyakkan sedekah
          • Perbanyakkan bercerita dan ajari tentang riba dan dosa riba kepada orang lain bagi menunjukkan kita bersungguh-sungguh memerangi riba dan menutup kesalahan kita ketika melakukan riba

          Pinjaman perumahan bagi kakitangan kerajaan telah ada 2 bentuk iaitu konvensional dan islamik. Orang Islam MESTI mengambil yang islamik. Status pinjaman yang telah dibuat boleh dirujuk pada kontrak pinjaman perumahan. Kontrak islamik dinyatakan tentang BBA (al-Bai’ Bithaman Ajil), jika tiada minta untuk ditukar

          Status pembelian kereta dengan CIMB Islamik adalah halal

          Perumahan tidak perlu beli dengan cash. Islam membenarkan pembelian secara bertangguh tetapi hendaklah dituliskan hutang tersebut bagi mengelakkan kelupaan. Maka pembelian rumah boleh dibeli dengan bayaran bertangguh dimana rumah tersebut dibeli melalui bank, bank akan melakukan transaksi pembelian dengan pemaju dan menjual semula kepada kita dan kita membayar secara bertangguh. Hanya bank-bank islamik sahaja melakukan transaksi begini. Dengan itu cara selamat mengelak riba adalah melakukan pembiayaan rumah atau refinancing dengan bank-bank islamik.

          SOALAN 10: Mengadai emas di kedai pajak yang mengenakan bayaran pajakan 1-2%. Jika tidak membayar dalam tempoh tertentu maka emas itu akan diambil oleh kedai pajak. Adakah perkara itu terlibat dengan riba?

          JAWAPAN: Gadai emas perlu dipastikan samada Ar-Rahnu atau kedai pajak biasa. Jika kedai pajak biasa, ada RIBA. Jika Ar-Rahnu maka ia adalah patuh syariah.

          SOALAN 11: 2 tahun selepas penyerahan rumah dikenakan bayaran lewat. Bolehkah pemaju kenakan denda tersebut dan adakah ianya riba? Bolehkah ditukar term kerpada denda lewat bayar?

          JAWAPAN: Term tidak boleh diubah sendiri kerana berkaitan dengan kontrak dengan penjual. DI dalam akta pembangunan perumahan mungkin terdapat klosa-klosa yang mengenakan denda apabila lewat bayar. Maka orang yang membuat akta tersebut dipertanggungjawabkan. Orang ramai yang dikenakan rukhsah atas pembayaran tersbut, namun haruslah berusaha sedaya-upaya untuk membayar sebelum tempoh itu tamat untuk mengelak riba

          SOALAN 12: Kenapa bayaran pembiayaian bank –bank Islam lebih mahal berbanding dengan bank-bank konvensional

          JAWAPAN: Sebenarnya pembayaran pembiayaian bank-bank islamik adalah murah. Anggapan mahal itu adalah kerana orang ramai tidak mengetahui cara mengiranya. Boleh rujuk di zaharudin.net.

          SOALAN 13: Bolehkan duit dividen KWSP digunakan untuk membayar income tax?

          JAWAPAN: Perjelasan dari sudut akademik, wang perlaburan KWSP adalah bercampur iaitu halal dan haram. KWSP mengatakan tidak banyak perlaburan halal dapat dilakukan sedangkan duit di dalam simpanan KWSP orang ramai adalah banyak. Maka duit KWSP dilaburkan di tempat patuh syariah dan yang haram. Jika tidak duit itu akan dorman atau beku jika tidak dilaburkan. Maka dividen yang didapati daripada KWSP adalah bercampur iaitu 30% dari sumber halal dan 70% adalah dari sumber haram. Maka 30% dividen bolehlah diambil dan 70% bolehlah didermakan untuk kegunaan umum. Oleh sebab bayaran income tax adalah berbentuk personal maka dividen KWSP tidak boleh digunakan kerana sebahagian besarnya adalah dari sumber yang meragukan. Apa sahaja duit yang HARAM tidak boleh digunakan untuk peribadi tetapi hendaklah disalurkan kepada kegunaan awam dan fakir miskin.

          SOALAN 14: Adakah pertandingan memancing yang menawarkan hadiah yang lumayan tetapi dikenakan yuran penyertaan adalah riba?

          JAWAPAN: Jika pertandingan memancing mengenakan yuran penyertaan sebanyak RM50 bagi satu peserta. Pemenang hadiah adalah datang dari duit hasil kutipan yuran penyertaan sahaja maka ianya adalah JUDI. Jika hadiah datang dari penajaan sahaja tanpa melibatkan wang penyertaan maka ianya HARUS kerana wang penyertaan digunakan untuk pendaftaran dan hadiah yang diberikan adalah datang dari sponsor, dan pertandingan itu tidak melibatkan zero sum game and game of luck.

          SOALAN 15: Pinjaman dengan bank islamik tetapi yang menguruskan pinjaman tersebut adalah orang bukan Islam dan tidak berlaku akad tetapi semua perjanjian telah ditandatangani. Bagaimana dengan status perjanjian tersebut?

          SOALAN 16: Membeli rumah tetapi rumah atas nama isteri. Siapakah perlu membayar rumah tersebut samada suami atau isteri?

          SOALAN 17: Bagaimana denifinisi keberkatan dalam hasil pendapatan. Adakah berkat itu diukur dengan banyaknya rezeki yang didapati?

          JAWAPAN: Tiada pinjaman dalam bank-bank Islam tetapi hanya terdapat PEMBIAYAAN. Pembiayaan islamik tersebut diuruskan oleh orang bukan Islam adalah SAH. TIADA syarat sah jual beli yang mensyaratkan hanya beli dengan orang Islam.

          Cth: Pengurusan masjid boleh meminta orang bukan Islam menjual kuih kepada orang Islam asalkan kuih dan cara penjualan adalah halal.

          Rasullah s.a.w bersabda “ Tidak boleh kamu bersyarikat atau menjadikan partner kamu adalah orang bukan Islam kecuali urusan jual-beli adalah mengikut cara Islam, bermakna orang Islam boleh mengambil pekerja bukan Islam dan pakaiannya adalah seksi. Pihak pengurusan boleh secara beransur-ansur menyuruh orang bukan Islam berpakaian lebih sopan.

          Jika rumah atas nama isteri itu dibeli oleh isteri maka si pembayar adalah antara si suami dan si isteri tetapi tanggungjawab menyediakan penginapan adalah di atas bahu si suami maka suami lebih layak membayar kecuali jika si isteri secara ihsan bersetuju membayar dan rumah itu atas nama si isteri. Maka rumah itu adalah hak si isteri, jika si isteri meninggal, si suami tidak mempunyai hak harta pusaka atas rumah tersebut.

          Defini keberkatan dalam rezeki tidak semestinya banyak. Berkat itu tidak terletak pada numbers tetapi ianya terletak pada hati seseorang dimana berkat itu apabilamerasakan kecukupannya walaupun sedikit dan apabila banyak rezekinya, orang tersebut lebih suka memberinya. Jika orang yang berharta tetapi bakhil dan tidak mengeluarkan zakat maka rezeki itu adalah tidak berkat.

          Rasullah s.a.w bersabda, harta yang baik adalah berada pada tangan orang yang baik dimana orang tersebut suka bersedekah dan membayar zakat.

          Contoh terbaik untuk melihat keberkatan adalah daripada Rasullah s.a.w, ketika baginda mendapat apa sahaja barang akan bersedekah barang tersebut. Ada hadis mengatakan, ketika rasullah s.a.w wafat, baginda tidak meninggalkan wang dan harta tetapi meninggalkan ilmu.

          Keberkatan dalam perniagaan boleh dilihat semakin banyak keuntungan yang didapati semakin taat dan amanah orang tersebut/ pekerja di dalam syarikat tersebut seperti yang berlaku kepada Nabi Muhammad s.a.w dimana baginda sangat amanah dalam urusniaga dan semakin ramai pelanggan kerana akhlak baginda. Jika perniaagaan untung tetapi pekerja semakin banyak menipu, pecah amanah maka ianya tidak berkat.

          KESIMPULAN: Tiada alasan untuk tidak tinggalkan riba. Rasullah s.a.w bersabda, “ sesiapa yang meninggalkan perkara syubhah maka dia sudah berjaya menjaga maruah dan menegakkan agamanya dan sesiapa yang terlibat dengan syubhah maka dia akan jatuh dalam perkara haram.

          11/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Muamalat (Harta), Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Isu berkaitan kedudukan anak-anak dalam saf ketika solat berjemaah.

          Image result for saf kanak kanak
          Soalan :

          Sekarang ni di masjid-masjid timbul isu berkaitan kedudukan anak-anak dalam saf ketika solat berjemaah.

          Boleh bantu beri pandangan?

          Jawapan :

          Oleh Dr. Ustaz Mohd Khafidz Soroni(Hadith).

          بسم الله وبه نستعين

          1. Asalnya masyarakat telah pun sedia mengikut apa yang telah diajarkan oleh para ulama kita mazhab Syafii, mengikut sepertimana yang telah dihuraikan dalam kitab-kitab besar fiqh Syafii. Namun, lama kelamaan apabila setengah kita makin jauh dari mendalami ilmu & mempelajari kitab-kitab besar mazhab Syafii ini, kita mula keliru apabila ada golongan yang datang kemudian gemar mengatakan “ini sunnah”, “ini bidaah”. Sedangkan di dalam kitab2 itu telah pun diterangkan secara terperinci hukum hakamnya, mana yang sah, mana yang batal, mana yang sunnah, mana yang makruh, mana yang harus, mana yang afdhal/terlebih sempurna, mana yang syarat dan bukan syarat dan sebagainya.

          2. Perbincangan dalam kitab-kitab fiqh sebenarnya lebih harmoni dan halus, tidak sekadar “ini sunnah”, “ini bidaah”. Golongan tersebut sebenarnya keliru & mengelirukan. Lebih merumitkan apabila mereka mengambil fatwa itu daripada ulama negara lain yang boleh menerima pandangan itu menurut usul mazhab mereka barangkali, lalu dibawa ke negara kita yang sudah sedia ada ulamanya yang mengikut usul mazhab sendiri. Barangkali tidak ada apa-apa jika fatwa yang datang dari luar itu sekadar diamal oleh pembawanya, namun yang meresahkan ialah apabila si pembawa itu kurang ilmu lalu menyalah-nyalahkan pandangan mazhab tempatan yang sudah sedia lama diamalkan. Golongan keliru ini hanya tahu menghukum “ini sunnah”, “ini bidaah”.

          3. Dalam mazhab Syafii, sunnah kedudukan saf yang sempurna ketika solat berjemaah ialah sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam an-Nawawi (w. 676H) dalam al-Minhaj: “Hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Pernyataan ini umum dan jika ada masalah-masalah yang datang kemudian perlulah dihuraikan sesuai mengikut situasinya. (Dalam setengah kitab seperti Asna al-Matalib oleh Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari (w. 926H) dinyatakan; yang berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian khunsa, kemudian perempuan)

          4. Semua ulama yang mensyarahkan kata-kata tersebut tidak pun menafikannya dengan mengatakan “kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan orang dewasa” dan sebagainya. Boleh rujuk seperti Tuhfah al-Muhtaj oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Hasyiah Qalyubi (w. 1069H) & Umairah (w. 957H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan lain-lain.

          .5. Dalil mereka adalah hadis sahih:

          لِيَلِيَنِّي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ. (أخرجه مسلم وأبو داود والنسائي في الكبرى وابن ماجه)

          “Hendaklah berdiri di belakangku dari kalangan kamu orang-orang yang matang/baligh dan faham/berakal, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka”.

          6. Bahkan ada diriwayatkan hadis dengan sanad hasan yang menyebut secara jelas susunan saf tersebut iaitu:

          عَن أبي مَالك الْأَشْعَرِيّ قَالَ: أَلَا أُحَدِّثُكُمْ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَصَفَّ الرِّجَالَ وَصَفَّ خَلْفَهُمُ الْغِلْمَانَ، ثُمَّ صَلَّى بِهِمْ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَاد حسن، قاله النووي في خلاصة الأحكام)

          Daripada Abu Malik al-Asya‘ri RA katanya: “Mahukah aku khabarkan kamu tentang solat Nabi SAW, iaitu baginda mendirikan solat dan menyusun saf kaum lelaki dan menyusun di belakang mereka saf kanak-kanak, kemudian baru baginda mengimami mereka”. Dalam versi lain:

          كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلِيهِ فِي الصَّلَاةِ الرِّجَالُ، ثُمَّ الصِّبْيَانُ، ثُمَّ النِّسَاءُ. (رَوَاه الْبَيْهَقِيُّ في السنن الكبرى وضَعَّفَهُ)

          “Telah berdiri di belakang Rasulullah SAW di dalam solat, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Sanad hadis ini daif, namun dikuatkan dengan hadis-hadis di atas.

          7. Hadis-hadis ini tidaklah menunjukkan hukum wajib dan hanya menunjukkan kesempurnaan serta yang afdhal. Jika ada kanak-kanak yang berdiri di dalam saf orang dewasa dan tidak bermain-main, tidaklah perlu dihalang dan ditegah.

          8. Kata Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari dalam Asna al-Matalib:

          “Kata al-Azra‘i: Dikemudiankan saf kanak-kamak daripada kaum lelaki adalah jika sudah tidak muat saf kaum lelaki. Jika tidak (yakni masih ada ruang), dipenuhkan saf itu dengan kanak-kanak, tiada masalah. Semuanya ini adalah mustahab, bukannya syarat. Sekiranya mereka menyalahi (susunan ini), sah solat mereka itu berserta makruh.” Katanya lagi: “Dan jangan ditukarkan kanak2 yang hadir dahulu untuk kaum lelaki yang hadir kemudian…”.

          Ini kerana mereka lebih berhak berdiri di situ, walaupun pada saf pertama, sepertimana yang disebut dlm al-Minhaj al-Qawim, Mughni al-Muhtaj dan lain-lain.

          9. Disebut dalam I’anah at-Talibin oleh Syekh Abu Bakr Syata (w. 1310H):

          “Disunatkan jika ada berbagai-bagai peringkat makmum, hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, walaupun hamba sahaya, kemudian sesudahnya – jika telah penuh saf mereka – kanak-kanak, kemudian sesudah mereka– walaupun tidak penuh saf mereka – kaum perempuan”. Kata beliau lagi: “Apabila susunan tersebut disalahi, ianya makruh”.

          Rujuk juga perinciannya di dalam Tuhfah al-Muhtaj & al-Minhaj al-Qawim oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan laun-lain.

          10. Pandangan yang mengatakan kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan org dewasa dengan erti kata diselang selikan atau setiap kanak-kanak mesti berdiri di sebelah bapanya adalah pandangan yang janggal dan mengelirukan. Lebih parah lagi didakwa itu adalah sunnah dan selainnya adalah bidaah! Kita tidak tahu ada ulama-ulamak muktabar terdahulu yang mengeluarkan fatwa sedemikian.

          Wallahu a’lam.

          Sumber :

          https://www.facebook.com/…/a.558069754360…/600968816737095/…

          09/12/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          Salah satu syarat sah berjemaah ialah makmum tidak menyalahi imam pada sunat yang jadi buruk dan jahat apabila ia menyalahinya.

          Ada 4 perkara dalam bab ini.

          1. Sujud Tilawah. Tidak boleh sekali-kali menyalahi imam dalam sujud tilawah. Kalau imam sujud wajib sujud. Kalau imam tinggal, wajib juga tinggalkan.

          2. Sujud Sahwi. Dalam sujud sahwi, wajib mengikut imam jika imam buat. Tetapi jika imam meninggalkannya, boleh bagi makmum sujud sahwi selepas imam memberi salam.

          3. Tahiyyat awal. Wajib ikut imam jika imam tinggalkan tahiyyat awal. Tapi jika imam buat tahiyyat awal, boleh makmum terus bangun tunggu imam dalam qiam. Namum yang afdhal bagi makmum ketika mana imam meninggalkan tahiyyat awal, ia niat mufaraqah dan membaca tahiyyat awal kemudian ia teruskan solat sendiri.

          4. Qunut. Qunut adalah perkara yang paling ringan sekali. Boleh makmum tinggalkan qunut walaupun imam membacanya. Begitulah sebaliknya, boleh makmum membaca qunut walaupun imam meninggalkannya. Dengan syarat tidak terlalu panjang sehingga tertinggal daripada imam 2 rukun.

          Inilah antara empat perkara yang perlu difahami oleh orang yang ingin menunaikan solat berjamaah.

          Disediakan oleh:
          Panel Asatizah ARGKL Selangor

          06/12/2019 Posted by | Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

          *Qasidah dan Syair memuji Rasulullah SAW – Dibolehkan atau Dilarang?

          1- Kita sedia maklum bagaimana orang-orang Arab sejak zaman Jahiliyah lagi tak dapat dipisahkan dengan bentuk kesenian dan kesusasteraan mereka seperti Syair dan Qasidah. Ini jelas apabila kita mempelajari sejarah Arab bahkan dalam Sirah Nabawiyyah juga ada disebutkan tentang perkara ini.

          2- Malah di dalam Al-Quran sendiri berulang perkataan ‘Syair’ dan sebuah surah dinamakan dengan as-Syu’ara yang bermaksud ‘para penyair’. Bermula dari ayat 224 di dalam surah tersebut kita dapati Allah SWT menyebut bahawa terdapat penyair yang beriman dan beramal soleh dan ada juga penyair yang tidak beriman dan berdusta.

          3- Maka jelas bahawa terdapat perbezaan di antara penyair dan syairnya yang diterima oleh Islam dengan penyair dan syairnya yang tidak diiktiraf di dalam Islam.

          4- Kita dapati para sahabat bersyair dan melantunkan qasidah di hadapan Baginda SAW dan Baginda akan mendengar, terkadang tersenyum dan terkadang memuji syair yang baik. Manakala Baginda akan membetulkan kalau ada syair yang salah dan tidak tepat.

          5- Zaman berzaman juga kita dapati para ulama begitu kreatif dan hebat dalam mengarang syair-syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW. Ia bukanlah satu perkara yang pelik kerana syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW telah pun ada pada zaman Baginda SAW sendiri.

          6- Kitab-kitab Hadith dan Sirah sendiri mengumpulkan pelbagai syair pujian terhadap Baginda SAW dikarang dan dideklamasikan oleh para Sahabat seperti Sayyiduna Hassan Bin Thabit RA, Abdullah Bin Rawahah RA, Abu Bakr as-Siddiq RA, Umar Bin al-Khattab RA, Ka’ab Bin Malik RA, Ka’ab Bin Zuhair RA, al-Abbas Bin Abd. Muttolib dan lain-lain.

          7- Syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW ini dibacakan di hadapan Baginda SAW dan Baginda SAW tidak memarahi atau melarang. Bagaimanakah pula kita pada hari ni tidak suka atau melarang bacaannya?

          8- Oleh itu para ulama zaman berzaman mengambil contoh perbuatan para Sahabat RA dengan memuji Rasulullah SAW dalam bentuk syair dan qasidah. Syair dan qasidah ini dibukukan dan dibacakan malah disebarkan kepada masyarakat.

          9- Ada pihak yang kita dapati mempunyai ‘alahan’ dan tidak suka syair dan qasidah memuji Rasulullah SAW. Ada pula yang melarang dengan membawa dalil daripada sebuah Hadith Sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari RH:
          لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم
          Maksudnya:
          ‘Jangan berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

          10- Sedangkan maksud Hadith di atas adalah – jangan memuji Rasulullah SAW dengan pujian yang salah iaitu mengangkat Baginda sehingga mencapai tahap ketuhanan seperti yang kita lihat di dalam terjemahan Hadith di atas iaitu potongan ‘sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

          11- Seeloknya kita pelajari maksud syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW dan menghayati bagaimana para ulama memilih perkataan yang indah dan berirama untuk memuji manusia yang paling indah – Rasulullah SAW.

          Ustaz Adlan Abd Aziz
          Timbalan Pengerusi ISLAMI Kebangsaan

          Tirmidhi Centre

          03/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi juga mempertahankan Asya`irah sebagai salah satu dari kumpulan Ahlis Sunnah Wal Jamaah.

          Ulama terdahulu juga telah menjelaskan kedudukan Asya`irah sebagai Ahlis Sunnah.

          Imam Al-Zahabi di dalam kitabnya Siyar Al-A`lam berkata, “Abu Musa Al-Asy’ari berada di atas pegangan akidah Ahlis Sunnah Wal Jamaah.”

          Demikian juga pendapat ulama lain seperti Qadhi `Iyadh di dalam kitab Tartib Al-Madarik, Imam Ibn `Asakir dan Al-Subki. Mereka bahkan berpendapat imam Abu Hasan Al-Asy`ari termasuk dari kalangan Salaf dan imam Ahli Hadis.

          Golongan yang selesa dengan aliran Asya’irah pula tidak boleh menolak aliran Salaf (bukan salaf versi wahhabi) sebagai Ahlis Sunnah kerana mereka juga mengamalkan Islam berpandukan nas Al-Quran, Hadis dan fahaman para sahabat Nabi s.a.w. yang memang diakui semua sebagai sumber agama.

          Imam Ibn Al-Jauzi, seorang tokoh ulama beraliran Asya`irah menyebut di dalam kitabnya Talbis Iblis bahawa yang dinamakan sebagai Ahlis Sunnah itu adalah mereka yang mengikuti kebenaran dan ahli bid`ah pula yang mengikuti kesesatan. Selanjutnya beliau menukil kata-kata Ali Al-Madini yang mengakui golongan Ahli Hadis sebagai Ahlis Sunnah.

          salaf-khalaf Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, sebagai contoh, seorang yang mendukung dan berpegang dengan mazhab Asya`irah juga mengakui mazhab Salaf (Ori) sebagai Ahlis Sunnah dan berpegang bahawa pendapat mereka dalam soal ayat-ayat mutasyabihat lebih selamat.

          Seorang ulama Al-Azhar kontemporari bernama Muhammad bin Abdul Malik Al-Zughbi turut menjelaskan bahawa tiada masalah atau pertikaian antara umat Islam terdahulu di kurun-kurun yang pertama Islam mengenai sifat-sifat Allah.

          Tercetusnya masalah dalam lingkungan Ahli Sunnah pada awal kurun ketiga hijrah dan ia berkisar hanya pada perkara-perkara ijtihad dalam pentakwilan sifat-sifat Allah.

          Kesimpulan dasarnya di sisi semua ulama mengenai pegangan Ahlis Sunnah ialah fahaman yang kembali kepada sumber asal iaitu Al-Quran dan Sunnah serta amalan para sahabat dan tabi`in dan mereka juga tidak berselisih mengenai fakta bahawa akidah yang dipegang dan diamalkan umat Islam pada kurun pertama Islam adalah benar kerana bersumber pada Al-Quran dan Sunnah.

          Walaupun istilah Ahlis Sunnah belum digunapakai pada ketika itu, tetapi tiada khilaf dari kalangan ulama yang datang kemudian untuk menerima pendapat yang dipegang oleh mereka di zaman itu mengenai tidak mentakwil sifat-sifat Allah sebagai pendapat yang sah Ahlis Sunnah.

          Bahkan pendapat ini mendahului pendapat Asya`irah dalam Ahlis Sunnah seperti yang dinyatakan Oleh para ulama.

          Matlamat utama bagi semua adalah melahirkan anak-anak murid yang baik akhlaknya, cerdas pemikirannya dan bersikap profesional dalam menguruskan diri dan sekitaran apabila melangkah ke medan kehidupan.

          Para ulama Salaf dan Asya`irah dari dahulu hingga sekarang telah bersepakat mengenai tanzih (mensucikan Allah dari segala persamaan dengan makhluk dan segala sifat-sifat kekurangan).

          Malah terdapat banyak persamaan dalam persoalan akidah antara aliran Salaf dan Asya’irah, iaitu;

          A . kedua-dua pihak jelas mensucikan Allah taala daripada menyerupai makhluk.

          B . kedua-dua pihak meyakini bahawa maksud sebenar ayat mutasyabihat bukanlah maksud zahirnya yang menyerupai makhluk.

          C . kedua-dua pihak mengetahui lafaz yang digunakan dalam ayat-ayat itu adalah lafaz yang difahami oleh manusia dan dapat dirasai oleh pancaindera.

          Walaupun bahasa Arab luas, tetapi ia tidak merangkumi semua hakikat ilmu. Hakikat Allah s.w.t tidak mampu diterangkan oleh keterbatasan bahasa itu. Bahasa adalah sesuatu yang terhad kerana ia difahami dari sudut makna lafaz sahaja. Menentukan makna hanya dari sudut lafaz sahaja tidak memberi erti yang tepat.

          D . Kedua-dua sepakat pada keharusan takwil. Perselisihan hanya pada keperluan menentukan makna takwil yang diperlukan bagi menjaga akidah masyarakat umum daripada menyamakan Allah taala dengan makhluk.

          Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata, “Perselisihan seperti itu tidak perlu dirumitkan dan diperbesarkan.”

          Dalam isu menghuraikan maksud sifat Allah yang tertentu, ada yang membiarkannya tanpa takwilan apa-apa, iaitu menyerahkan maksudnya secara total kepada Allah.

          Mereka itulah golongan yang menuruti aliran Salaf.

          Ada pula yang mentakwil untuk memberi kefahaman betul kepada masyarakat awam tentang sifat Allah yang tidak sama dengan makhluk.

          Imam Ibn Kathir merupakan contoh terbaik dalam hal ini.
          Adakalanya beliau menggunakan kaedah takwil dan adakalanya tidak.

          Sebagai contoh, ketika mentafsirkan ayat istiwa’, beliau berkata, “Manusia mempunyai pelbagai pandangan tentang perkara ini.

          Saya (Ibn Kathir) mengikut pandangan Salaf dalam ayat ini, antaranya seperti Imam Malik, Al-Auza`i, Al-Thauri, Al-Laith bin Sa`ad, Al-Syafi`i, Ahmad, Ishak bin Rahawaih dan yang lain dari kalangan para imam dahulu dan sekarang.

          Mereka mengambil pandangan bagi membiarkan nas itu sebagaimana zahir,tanpa tafsir,tanpa terjemah dan tanpa membicarakannya,cukup dengan bacaan Qiraatnya tanpa disebut bagaimana dan tidak menyerupakan dengan sifat makhluk, serta tidak menafikan nas-nas itu.”

          Tetapi pada ayat-ayat sifat yang lain, beliau mengambil kaedah pentakwilan pada ayat-ayat mengenai sifat tangan.

          Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata bahawa kaedah takwil juga digunakan oleh golongan Salaf jikalau takwilan itu hampir kepada nas Al-Quran dan tidak terkeluar jauh dari maksud yang sebenar.

          Ini dilakukan oleh imam Ibn Kathir seperti contoh di atas dan juga imam Al-Baihaqi, Al-Nawawi, Ibn Hajar dan ramai lagi.

          Syeikh Muhammad Al-Hasan Al-Syinqiti, seorang alim dari Mauritania berkata,…

          “Harus berlaku kesilapan pada golongan Asya`irah, Maturidiah, Hanbali,.. dan mereka semua tidak boleh dikafirkan oleh kesilapan-kesilapan tersebut.”

          Walau apa pun, pelbagai bentuk tasawwur yang wujud di dunia Melayu seperti akidah ijtihad Ibn Taimiyah, Salafi Wahabi ataupun dinamika Afghani, Salafi Abduh, Haraki al-Banna, namun sikap kita harus waspada atas kepelbagaian tasawwur dan ittijah di atas.

          Rujukan:

          Yusuf Al-Qaradhawi. 2014. Merungkai pertelingkahan isu akidah antara salaf dan khalaf. PTS Islamika Sdn. Bhd. Selangor.
          DLL.

          Sumber: FB Zarief Shah Al HaQQy

          01/12/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          T A L F I Q

          Ada wahhabi yg kata apa yg kita buat sekarang ni pun dah tak pure mazhab syafie pun.Contohnya dalam masalah zakat kita dah tak ikut mazhab syafie.Boleh pulak?

          Jawabnya adalah seperti berikut:
          Ada dua puluh kaedah fiqh yg telah diijmakkan oleh kesemua mazhab .Salah satunya ialah kaedah yg berbunyi:
          المشقة تجلب التيسير
          Kesukaran dapat menarik kemudahan.
          Kaedah berasal dari firman Allah
          يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر
          Allah menghendakki kemudahan utk kamu dan Dia tidak menghendakki kesukaran utk kamu.

          Bagaimana kaedah ini dapat diterapkan dalam bab zakat.

          Berdasarkan kepada fatwa Imam Al Syafie zakat fitrah hendaklah dengan makanan yang mengenyangkan.Sebagai pengikut mazhab Syafie inilah asalnyanyg wajib.Tapi oleh kerana pada zaman sekarang ada kesukaran dalam melaksanakan fatwa itu maka ketika itu boleh berpindah kepada fatwa ulama yg paling hampir yaitu mengeluarkan zakat dengan matawang berdasarkan adanya kesukaran dan sesuai dengan kaedah tadi al masyaqqah tajlibu al taisir.Setiap kesukaran dapat menarik kemudahan.Adakah kita terleluar dari mazhab syafie?Jawab nya tidak dengan tiga alasan:
          1)Kita masih lagi menganggap fatwa imam Syafie itulah yg sahih dan kuat dan yang lain itu dhaif
          2)Satu satu nya alasan kita meninggalkan fatwa beliau dalam bab itu bukan kerana fatwanya dhaif tapi kerana dharurat dan hajat yg mendesak
          3)Perbuatan kita meninggalkan fatwa beliau dalam masalah kesukaran itu adalah berdasarkan kepada kaedah di atas yg telah ijmak oleh semua mazhab termasuk imam syafie sendiri.

          Jadi perbuatan kita itu tidak boleh dianggap talfiq.

          Yang dianggap talfiq apabila kita meninggalkan fatwa mazhab asal kita dengan menganggap fatwa mazhab asal kita itu lemah.Sedangkan dalam dua puluh kaedah fiqh seperti yg dibiincangkan dan diawpakati oleh ulama ulama usul dari semua mazhab tidak ada satu kaedah pun yg mengatakan ahlu taqlid boleh meninggalkan fatwa mazhab asalnya dengan alasan fatwa mazhab asalnya lemah.Macam mana dia boleh tahu fatwa mazhab asalnya adalah lemah sedangkan dia hanya seorang pentaqlid?Sebab itu agama jadi rosak.Paha bukan aurat laa..Pegang anjing tak najislah, daging buaya halal lah sebab setiap orang dengan sesuka hati nya mengkuatkan dan melemahkan pandangan yg mereka sukai sesuai hawa nafsu masing masing!

          Sumber: FB Ustaz Ilham Othmany

          29/11/2019 Posted by | Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          BUKTI KUKUH JENAYAH AKADEMIK; WAHHABI MENGUBAH ISI KANDUNGAN KITAB ULAMAK SALAF!

          Kaum Wahabi yang mendakwa dirinya Salafi dan menghalalkan segala cara untuk mempromosikan ajaran mereka termasuk dengan cara menghapus isi kandungan dari kitab para ulama salaf yang mengkritik mereka atau menyalahkan doktrin Wahhabi.

          Berikut daftar kitab yang dirubah, dihapus, disunting dan dipalsukan oleh kaum Wahhabi.

          1. Dalam kitab ad-Durar asSaniyyah, jilid 1, hal 228, diperintahkan untuk memusnahkan atau menghilangkan, sebahagian isi kandungan Kitab-Kitab karya Ulama, jika tidak sesuai dengan aqidah Wahabi.

          2. Kitab Riyadhus Sholihin, karya Imam Nawawi, memuat judul Doa Ziarah Kubur Nabi, dirubah menjadi Ziarah Masjid Nabi, kerana Wahabi Anti Ziarah Kubur.

          3. Perkataan Imam AsSubki, yang dinukilkan Imam Abul ‘Izz, dalam Syarah Aqidah Thohawiyah, dari kitab Mu’id An-Ni’am, hal 62, dirubah habis-habisan. Yang semula disebut Asy’ari sebagai isi Aqidah Thohawiyah, dihilangkan sama sekali. Yang semula disebut sebahagian Hanbali ikut tajsim dihilangkan juga.

          4. Kitab Aqidah AsSalaf Ashhabul Hadis, karya Syeikh Islam Abu Usman Ismail Ash-Shobuni, hal 6, aslinya tertulis Ziarah Kubur Nabi tapi diubah jadi Ziarah Masjid Nabi.

          5. Kitab Hasyiyah AsSowi ‘ala Tafsir al-Jalalain, karya Syeikh Ahmad bin Muhammad asSowi al-Maliki, hal 78, aslinya tertulis, bahwa wahabi adalah Jelmaan Khawarij, yang telah merusak penafsiran al-Qur’an dan asSunnah, dan suka membunuh kaum muslimin, tapi dihapus semuanya.

          6. Kitab Tafsir al-Kasysyaf, karya Imam az-Zamakhsyari, dalam tafsir Surat al-Qiyaamah, ayat 22-23, penafsiran si pengarang yang Mu’tazilah, diubah habis jadi penafsiran Wahabi.

          7. Kitab al-Ibanah, karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari, yang terang-terangan menolak TAJSIM dan TASYBIH, dirubah habis-habisan menjadi mendukung TAJSIM dan TASYBIH.

          8. Kitab al-Fawaid al-Muntakhobat, karya Ibnu Jami az-Zubairi, di hal 207 menyatakan, bahwa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah THOGHUT BESAR, tapi dihapus sama sekali.

          9. Semua cetakan kitab Diwan Imam Asy-Syafi’, di hal 47, ada bait berbunyi FAQIIHAN WA SHUFIYYAN FAKUN LAISA WAHIDAN, artinya Jadilah Ahli Fiqih dan Shufi sekaligus, jangan hanya salah satunya. Tapi dalam cetakan WAHABI, termasuk versi elektronik (e-book) dengan alamat http://www.almeshkat.net, bait tersebut dibuang karena Wahabi MUSUH SHUFI.

          10. Kitab Shahih Bukhari dipalsukan juga. Imam Ibnu Hajar al-Asqolani, dalam Fathul Bari, menjelaskan adanya Pasal al-Ma’rifah, dan Bab al-Mazholim dalam Shahih Bukhari, tapi dalam Shahih Bukhari, cetakan Wahabi saat ini, Pasal dan Bab itu hilang.

          11. Kitab Shahih Muslim dipalsukan juga. Hadits Fadhoil Maryam, Asiyah, Khadijah dan Fathimah, dihapus dari Shahih Muslim yang dicetak, padahal Mustadrok al-Hakim mencatat itu. Lucunya, Shahih Muslim, cetakan Masykul, jilid 7 hal 133, ada Bab Fadhoil Khadijah, tapi isinya tentang Fadhoil Maryam, Asiyah dan Aisyah.

          12. Wahabi mengaku cinta Imam Ahmad, tapi Kitab Musnad Imam Ahmad diperkosa juga. Dalam Musnad Imam Ahmad, aslinya ada Hadits tentang Rasulullah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor, serta mempersaudarakan dirinya dengan Ali. Tapi kini oleh Wahabi, Hadis tersebut dibuang, tidak ada dalam Musnad cetakan mereka.

          13. Kitab ash-Showa’iq al-Muhriqoh, karya Ibnu Hajar al-Haitami, tidak luput dari kejahatan Wahabi. Sejumlah Hadis tentang Ali dan Ahlul Bait Nabi, dipalsukan dengan dihapus sebagian dan diubah.

          14. Dalam kitab Hasyiah Ibnu ‘Abidin, yang bermadzhab Hanafi, ada PASAL KHUSUS tentang Wali, Abdal dan orang-orang Sholeh, serta Karomah. Tapi kini oleh Wahabi, satu pasal full DIMUSNAHKAN.

          15. Ucapan Syeikh as-Sakhawi tentang Imam al-A’la al-Bukhari yang menyatakan bahwa Sang Imam SANGAT TAKUT dekat dengan Penguasa, dirubah jadi SANGAT DEKAT dengan Penguasa.

          16. Kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, jilid ke-10, tentang ILMU SULUK dan TASHAWWUF, pernah cukup lama tidak diterbitkan oleh Wahabi. Baru setelah diprotes banyak pihak, akhirnya disisipin lagi jilid tersebut.

          17. Kitab Nihayatul Qoul al-Mufid, karya Syeikh Muhammad Makki Nashr al-Juraisi, yang menulis bahwa dirinya Madzhab Syafi’i dengan THORIQOH SYADZALI, tapi dibuang Thoriqohnya.

          18. Dalam kitab al-Mughni, karya Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali, ada BAB ISTIGHOTSAH, tapi dalam cetakan ulang Wahabi, dibuang sama sekali.

          19. Kitab Tarikh al-Ya’qubi, jilid 2 hal 37, aslinya menyebut “Nash” buat Ali di Ghadir Khum. Tapi dalam cetakan Wahabi, kata Nash dan Ghadir Khum dilenyapkan.

          20. As-Syeikh al-Muhaddits Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari, dalam kitabnya, al-Burhan al-Jaliy, mencatat PEMALSUAN WAHABI terhadap Kitab Ahwal al-Qubur, karya Ibnu Rajab al-Hanbali, dan Kitab Tafsir al-Bahr al-Muhith, karya Abu Hayyan, serta sebuah kitab lainnya yang berjudul Iqtidho Ash-Shiroth Al-Mustaqim.

          Sumber: FB Ustaz Abdul Jalil Ibn Umar

          27/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          SAMBUTAN MAULID NABI ADALAH MERAIKAN KEMATIAN NABI SALLALAHU ‘ALAIHI WASALLAM ? -DAKWA HUSSEIN YEE HUSSEIN YEE VS ULAMAK MUKTABAR ASWJ

          Dalam satu youtube kuliah Hussein Yee kononnya umat Islam seluruh dunia yang menyambut maulidul Rasul adalah meraikan kewafatan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam.

          Rujuk : https://youtu.be/sB8tZnsbKCg
          Minit : 0.18 hingga 0:22

          Jawapan untuk dakwaan Hussein Yee :

          1. Nama pun Maulid – kelahiran. Maka bila disebut Maulid Nabi ia adalah satu dari syiar Islam memperingati kelahiran junjungan besar Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan ramai ulamak muktabar yang membenarkannya serta umat Islam seluruh dunia menyambutnya. Ironinya dalam video minit 0:27 di atas saudara Hussein Yee lebih mendengar hinaan Yahudi dari jawapan dan pandangan Ulamak ISLAM.

          2. Mengenai tarikh kelahiran Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, sememangnya ada perbahasan dan umat Islam seluruh dunia mengambil tarikh 12 Rabi’ul Awwal sebagai tarikh kelahiran junjungan besar Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagaimana penjelasan dari Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan :

          Masyarakat mulai memperkatakan tentang tarikh sebenar Maulid Nabi dan sesetengahnya berkata bahawa tarikh 12 Rabiul Awwal yang disambut oleh majoriti umat Islam itu palsu malah tidak tepat.

          Adakah benar kenyataan itu?

          Mari kita lihat perbahasan dibawah ini.

          Hari Lahir Nabi

          Para Ulama’ dah ilmuwan bersepakat bahawa Rasulullah saw dilahirkan pada Hari Isnin sebagaimana dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

          Berkenaan Tahun Kelahiran Rasulullah saw pula telah dijelaskan dalam banyak hadis diantaranya:

          وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيْلِ. رواه البزار والطبراني في الكبير ورجاله موثقون (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد . محقق – ج 1 / ص 242)

          “Ibnu Abbas berkata: Rasulullah dilahirkan di tahun gajah” Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan At-Thobroni dan para perawinya adalah dipercayai.

          Dalam riwayat lain juga ditegaskan bahawa Qais bin Makhzamah memiliki persamaan tahun kelahiran dengan Rasulullah di tahun Gajah (Hadis Riwayat Imam Ahmad dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth)

          Tarikh Kelahiran Nabi

          Imam Nawawi berkata:

          وَاخْتَلَفُوا فِي يَوْم الْوِلَادَة هَلْ هُوَ ثَانِي الشَّهْر ، أَمْ ثَامِنه ، أَمْ عَاشِره ، أَمْ ثَانِي عَشَره ؟ (شرح النووي على مسلم – ج 8 / ص 66)

          “Ulama berbeza pendapat tentang hari kelahirannya, adakah hari 2 bulan Rabiul Awal, ke 8, ke 10 ataukah ke 12 ? (Syarah Sahih Muslim 8/66)

          Dalil-Dalil Yang Kuat Rasulullah saw Lahir Pada 12 Rabiul Awal

          – Hadis Riwayat Imam Baihaqi:

          عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ قَالَ : وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً مَضَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ قَالَ الْبَيْهَقِي رَحِمَهُ اللهُ : وَرَوَيْنَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ثُمَّ عَنْ قَيْسِ بْنِ مَخْزَمَةَ ثُمَّ عَنْ قبُاَثَ بْنِ أَشِيْمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ عَامَ الْفِيْلِ وَكَانَ الزُّهْرِي وَمَنْ تَابَعَهُ يَقُوْلُوْنَ وُلِدَ بَعْدَهُ وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ (شعب الإيمان – ج 2 / ص 134)

          Muhammad bin Ishaq berkata: “Rasulullah dilahirkan pada 12 malam bulan Rabiul Awal”. Al-Baihaqi berkata: “Kami meriwayatkan dari Ibnu Abbas kemudian dari Qais bin Makhzamah kemudian dari Qubats bin Asyim bahawa Nabi dilahirkan pada tahun Gajah. Al-Zuhri dan yang mengikutinya mengatakan bahawa dilahirkan sesudah tahun Gajah. Pendapat pertama lebih sahih (Hadis Riwayat Imam Baihaqi dalam Syuab al-Iman)

          – Riwayat Ibnu Abi Syaibah

          قَالَ أَبُوْ بَكْرِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ : حَدَّثَنَا عُثْمَانُ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ مَيْنَاءَ عَنْ جَابِرٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَا : وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيْلِ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ وَفِيْهِ بُعِثَ وَفِيْهِ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ وَفِيْهِ هَاجَرَ وَفِيْهِ مَاتَ فِيْهِ انْقِطَاعٌ وَقَدِ اخْتَارَهُ الْحَافِظُ عَبْدُ الْغَنِى بْنُ سُرُوْرٍ الْمَقْدِسِي فِي سِيْرَتِهِ (سيرة ابن كثير – ج 2 / ص 93)

          “Jabir dan Ibnu Abbas berkata: “Nabi dilahirkan pada tahun Gajah, hari Isnin 12 Rabiul Awal. Di hari Isnin beliau diangkat menjadi Nabi, melakukan Mi’raj ke langit, berhijrah ke Madinah dan hari Isnin beliau wafat”

          Sanadnya terputus dan dipilih oleh al-Hafiz Abd al-Ghani bin Surur al-Maqdisi dalam kitab sejarahnya” (Sirah Ibni Katsir, 2/93). Riwayat ini juga dapat dilihat dalam al-Bidayah wa Nihayah Ibnu Katsir.

          – Ahli Hadis al-Munawi

          (تنبيه) الْأَصَحُّ أَنَّهُ وُلِدَ بِمَكَّةَ بِالشُّعَبِ بِعِيْدِ فَجْرِ الْاِثْنَيْنِ ثَانِيَ عَشَرَ رَبِيْعَ الْأَوَّلِ عَامَ الْفِيْلِ (فيض القدير – ج 3 / ص 768)

          “Pendapat yang lebih sahih bahawa Nabi dilahirkan di Kabilah Quraisy pada fajar hari Isnin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah” (Faidh al-Qadir 3/768)

          – Syaikh Abdullah al-Faqih

          وَأَكْثَرُ أَهْلِ السِّيَرِ عَلَى أَنَّهُ وُلِدَ يَوْمَ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ عَامَ الْفِيْلِ، بَعْدَ الْحَادِثَةِ بِخَمْسِيْنَ يَوْماً (فتاوى الشبكة الإسلامية – ج 44 / ص 50)

          “Kebanyakan ahli sejarah bahawa Nabi dilahirkan pada 12 Rabiul Awal, tahun Gajah, setelah 50 hari dari peristiwa tersebut” (Fatawa al-Syabkah al-Islamiyah, 44/50)

          فَالْمَشْهُوْرُ فِي كُتُبِ السِّيْرَةِ النَّبَوِيَّةِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ فِي الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ عَامَ الْفِيْلِ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ (فتاوى الشبكة الإسلامية – ج 126 / ص 120)

          “Pendapat yang masyhur dalam kitab-kitab sejarah kenabian bahawa Nabi dilahirkan pada 12 Rabiul Awal, tahun Gajah” (Fatawa al-Syabkah al-Islamiyah, 126/120)

          Marilah semua umat Islam kita bersama-sama menyambut Sambutan Maulidur Rasul tanpa ragu-ragu atau bimbang dengan persoalan-persoalan yang sudah lama dibahaskan oleh para Ulama’ terdahulu dan semoga kita tergolong dalam golongan yang mencintai Rasulullah saw.

          3. Antara ulamak yang membenarkan Maulid Nabi :

          – Al-Imam Abul Khaththab Ibnu Dihyah (W 633 H) “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir
          – al-Imam Abu Syamah (W 665 H) guru kepada Imam an nawawi.
          – al Imam Ibnu Jauzi (ulamak hadis)- Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/27
          – al-Hafidz al-Iraqi (725-808 H), guru al-Hafidz Ibnu Hajar. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maurid al-Hani fi al-Maulid as-Sani “
          – alhafiz Ibnu Hajar al-Asqolani – Al-Hawi lil Fatawi : 229
          – al-Imam al-Hafidz as-Sayuthi (849-911 H). –
          Al-Hawi lil Fatawa, as-Suyuthi : 1/18
          – al-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami (W 975 H) – Al-Fatawa al-Hadtisiyyah : 202

          Semua ini adalah kibar ulamak yang pakar dalam hadis, aqidah dah feqh !

          4. Umat Islam di Negara China pun dah lama sambut Maulidul Rasul

          5. Wahai Hussein Yee – dakwah beribu masuk Islam bukan lesen untuk kamu berbohong dan menghasut untuk benci sambutan Maulidul Rasul. Di Malaysia, Yang Dipertuan Agong, seluruh negeri (kecuali Perlis) menyambut Maulidul Rasul. Kita hendak ikut Hussein Yee atau Ulamak Muktabar Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?

          Sumber

          24/11/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          Adakah Mati Kemalangan Jalan Raya Syahid?

          Mematuhi peraturan lalu lintas suatu ibadat

          ULAMA memberikan pelbagai pandangan mengenai orang yang terbunuh di jalan raya. Pada dasarnya ia bergantung kepada sebab berlakunya kejadian itu. Adakah ia disebabkan oleh kecuaian pemandu atau menjadi mangsa kecuaian orang lain. Di sini boleh dibahagikan masalah ini mengikut perspektif Islam.

          Pertama, terbunuh dalam kemalangan jalan raya disebabkan kecuaian sendiri seperti memandu laju melebihi had yang dibenarkan dan dalam keadaan yang membahayakan atau memandu dalam keadaan mabuk.

          Kebanyakan ulama berpendapat perbuatan demikian mengundang bahaya yang boleh dikategorikan sebagai mencampakkan diri ke arah kebinasaan sebagaimana firman Allah bermaksud: “Janganlah kamu korbankan dirimu dengan tanganmu ke arah kebinasaan.” (Surah al-Baqarah, ayat 195)

          Rasulullah bersabda seperti diriwayatkan Thabir Dhuhak, maksudnya: “Sesiapa yang membunuh diri sendiri dengan sesuatu benda, nescaya Allah azabkannya dalam neraka jahanam nanti dengan benda itu.”

          Mengikut Sahih Muslim, Abu Hurairah menceritakan bahawa Rasulullah bersabda bermaksud: “Sesiapa yang membunuh diri dengan besi, maka dengan besi itulah dia menikam dirinya dalam neraka jahanam selama-lamanya, sesiapa yang meminum racun sehingga mati nescaya dia akan meminum racun dalam neraka jahanam, sesia-pa yang terjun bukit dan mati, nescaya dia akan terjun di dalam neraka kekal selama-lamanya.”

          Berdasarkan keterangan ini menunjukkan bahawa orang yang terkorban di jalan raya disebabkan kecuaian dirinya ketika memandu adalah berdosa dan ada ulama yang menganggap orang yang mati sedemikian adalah boleh dihukum membunuh diri dan berdosa besar kepada Allah.

          Berpandukan hadis di atas, Rasulullah yang menyebut sesiapa membunuh diri dengan besi, Allah akan azabkannya di akhirat kelak dengan besi itu.

          Malah di Arab Saudi pernah dikeluarkan fatwa mengatakan bahawa orang yang terkorban dalam kemalangan jalan raya disebabkan kecuaiannya adalah dianggap membunuh diri dan berdosa besar.

          Oleh itu, pemerintah dan pihak berkuasa Arab Saudi mengingatkan remaja bahawa mereka akan masuk neraka sekiranya terkorban di jalan raya disebabkan kecuaian mereka sendiri ketika memandu kenderaan.

          Kedua, sekiranya seseorang pemandu yang cuai itu hanya cedera parah atau cedera ringan, sedangkan orang yang menjadi mangsa langgar, mati di dalam kemalangan itu adalah termasuk dalam hukum membunuh dan berdosa besar.

          Perkara ini dijelaskan Rasulullah dalam hadisnya: “Jauhilah kamu tujuh perkara yang membinasakan. Sahabat bertanya: Apa dia ya Rasulullah? Sabda Rasulullah: ialah syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan benar, memakan harta anak yatim, makan riba, lari dari medan peperangan dan menuduh perempuan yang baik dengan zina.”

          Kerana itu terbunuh di jalan raya akibat kecuaian orang lain seperti menjadi mangsa pemandu mabuk atau mangsa langgar lari, kebanyakan ulama mengklasifikasikan mati sedemikian adalah mati syahid dunia selain mati kerana wabak penyakit, mati terbakar, mati sakit dalam perut, mati lemas dan mati tertimbus.

          Ulama juga mengkiaskan bahawa mati terbunuh dalam kemalangan jalan raya, di kilang industri dan jatuh kapal terbang dan seumpamanya adalah termasuk dalam mati syahid.

          Perlu dijelaskan di sini bahawa mati syahid dunia akibat kemalangan jalan raya ini bukanlah merangsangkan lagi individu atau masyarakat untuk berkorban di jalan raya dengan harapan boleh masuk syurga dan terlepas daripada azab kubur dan azab neraka.

          Anggapan sebegini adalah salah kerana dimaksudkan mati syahid di sini ialah keadaan mati itu ngeri dan menderita sebelum menghembuskan nafas dan kerana itulah dinamakan syahid dunia, tetapi bukan syahid dunia dan akhirat seperti gugurnya pejuang Islam di medan perang untuk menegakkan kalimah Allah.

          Tetapi orang yang mati syahid dunia ini bergantung kepada amalan masing-masing ketika hidupnya iaitu adakah mereka beriman dan melakukan amalan soleh sepanjang hayatnya. Janji dan pembalasan Allah adalah bergantung kepada keimanan dan amalan seseorang.

          Jadi jelaslah bahawa keadaan mati seseorang itu bergantung ketika apa yang dilakukan ketika hidup sama ada baik atau sebaliknya. Oleh itu, sebagai seorang Islam hendaklah melaksanakan segala suruhan Allah dan menjauhi segala laranganNya.

          Di antara suruhan Allah ialah berdisiplin di jalan raya, mematuhi segala peraturan lalu lintas yang digubal khas untuk menjamin keselamatan pengguna jalan raya, menghormati dan bertolak ansur serta sentiasa ingat kepada Allah kerana memandu itu adalah ibadat.

          Setiap gerakan tangan, mata dan pemikiran kita mendapat pahala daripada Allah selama mana hati kita sentiasa ingat kepada Allah.
          Sumber

          Sumber

          14/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

          Hukum Sambut Maulidurrasul

          “ALLAH SWT berselawat ke atas Muhammad,” sering kita lafazkan sama ada dalam bentuk selawat mahupun qasidah yang mengandungi ucapan itu, sekali gus menunjukkan betapa agungnya cinta Allah SWT terhadap pesuruh-Nya itu.

          Martabat Rasulullah SAW di sisi Allah SWT amatlah tinggi sehingga Baginda digelar kekasih Allah tetapi sejauh mana kita menghayati dan menjiwai cinta terhadap Junjungan Nabi Muhammad SAW?

          Oleh itu, antara tanda dalam memuliakan Rasulullah SAW ialah menganjurkan Maulidur Rasul yang menjadi pengisian kerohanian amat baik kerana sekurang-kurangnya mampu mengingatkan setiap umat Islam supaya menjadikan Baginda sebagai panduan mengisi keperluan duniawi dan mengejar akhirat.

          Selain selawat dan puji-pujian ke atas Nabi Muhammad SAW, majlis Maulidur Rasul memberikan ilmu dan maklumat berguna kepada masyarakat apabila diisi dengan tausiyah atau ucapan oleh alim ulama serta pendakwah mengenai sirah dan sunnah termasuk doa untuk meraih keberkatan dan dilimpahi rahmat Allah SWT.

          Pendakwah bebas, Habib Nael Ben Taher, berkata tujuan utama menyambut Maulidur Rasul adalah menyemai dan menyuburkan rasa bersyukur kepada Allah SWT terhadap nikmat pengutusan Nabi Muhammad SAW kepada kita.

          “Jika ada pihak yang mengatakan sambutan Maulidur Rasul sekadar budaya, maka sesungguhnya ia sebaik-baik adat dan budaya. Sehingga saat ini, begitu banyak negara yang menyambut Maulidur Rasul sejak turun-temurun di seluruh dunia seperti Indonesia, India dan Mesir.

          “Tujuannya adalah untuk menggerakkan semangat dan menyemai cinta serta rindu yang sejati kepada Rasulullah SAW. Ini kerana jika kita sentiasa ingat kepada Rasulullah SAW, kemuliaan itu akan kembali kepada kita sendiri kerana Baginda sebenarnya sudah dimuliakan, dicintai dan dirindui Allah SWT,” katanya kepada Ibrah di sini.

          Beliau yang juga Pembimbing Majlis Rasulullah SAW Malaysia berkata, orang pertama menyambut Maulidur Rasul adalah Baginda sendiri. Ini kerana ada orang bertanya kepada Nabi SAW mengenai kelebihan puasa Isnin, Baginda bersabda: Hari Isnin adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutuskan menjadi rasul dan hari al-Quran diturunkan kepadaku.” (HR Muslim)

          “Menurut ulama, Rasulullah SAW yang mengikatkan hari kelahirannya sendiri dengan kesyukuran kepada Allah SWT, iaitu dengan melaksanakan ibadat puasa. Justeru kita perlu mengagungkan hari kelahirannya kerana Baginda sendiri bersyukur dan menyambut dengan ibadat yang mulia,” katanya.

          Habib Nael berkata, Imam Ibnu Kathir menerusi kitabnya Al-Bidayah Wa An-Nihayah menjelaskan antara sambutan terawal Maulidur Rasul dibuat oleh Raja al-Muzaffar yang menganjurkannya pada Rabiulawal dengan membuat perhimpunan secara besar-besaran.

          “Beliau membelanjakan sebanyak 300,000 dinar setiap tahun untuk menyambut Maulidur Rasul di Ibril yang terletak berdekatan Syam, bermula 604 Hijrah hingga dihadiri rakyat yang datang dari segenap tempat.

          “Raja al-Muzaffar dikatakan seorang alim, adil dan sanggup mengeluarkan hartanya dengan begitu banyak demi menyambut Maulidur Rasul kerana baginda mengetahui keagungan Nabi Muhammad SAW dan jasa terhadap umatnya yang kalau dikeluarkan seluruh harta dunia sekalipun tidak akan mampu membalas jasa itu,” katanya.

          Susulan itu, kata Habib Nael, Maulidur Rasul disambut pada setiap zaman dan kawasan sehingga ulama menulis dan menghasilkan pelbagai kitab Maulid yang terkemuka.

          Antaranya Maulid Ad-Daiba’i, Maulid Dhiya Ulami’ dan Maulid Simtut Durar yang mengandungi ayat al-Quran, hadis, sirah, syair dan doa munajat serta selawat kepada Rasulullah SAW.

          Mengulas tanggapan sesetengah pihak yang melabel majlis Maulidur Rasul menyimpang daripada syariat Islam. Habib Nael berkata, majlis sedemikian tidak terkeluar sama sekali daripada ajaran Rasulullah SAW.

          “Dalam majlis ini, ada bacaan al-Quran, hadis Nabi, zikir, berselawat, bacaan sirah Nabi dan tausiyah daripada ulama mengenai Rasulullah SAW serta peringatan selain berdoa.

          “Bukankah semua ini perkara mulia dianjurkan Rasulullah SAW. Selagi majlis itu tidak bercampur dengan perkara yang diharamkan dalam islam, maka ia dibolehkan serta mendapat pahala atas segala kebaikan yang kita lakukan seperti yang ditegaskan Imam Ibnu Hajar, Imam Suyuti dan Ibnu Taimiyyah.

          “Sekiranya majlis seumpama itu mengandungi perkara diharamkan, maka sudah tentu hukumnya adalah haram,” katanya.

          Bagi pencinta Rasulullah SAW, Habib Nael berkata, mengingati Maulidur Rasul adalah wajib berdasarkan firman Allah SWT yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi. Wahai orang beriman, berselawatlah kamu ke atas Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (Al-Ahzab:56).

          “Kita meyakini Nabi Muhammad diutuskan sebagai rahmat kepada seluruh alam seperti yang jelas dalam al-Quran, maka Allah SWT memerintahkan kita bergembira dengan rahmat-Nya. Orang yang gembira terhadap nikmat Allah akan mudah bersyukur kepada-Nya.

          Habib Nael berkata, Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan antara ubat penyakit ujub ialah gembira atas pemberian Allah SWT.

          “Jika kita gembira dan berkata, ‘Ya Allah, segala puji-pujian kepada-Mu kerana melalui Nabi Muhammad SAW, kami dapat membaca al-Quran, menunaikan solat dan mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri dan mencintai-Mu, sekali gus mempelajari bagaimana berakhlak mulia.’

          “Bukankah hal ini akan menambahkan kesyukuran kepada hati sehingga dapat mengubati penyakit hati seperti sombong dan berbangga dengan amalannya sendiri atau ujub itu,” katanya.

          Sementara itu, pendakwah, Amaluddin Mohd Napiah, berkata Maulidur Rasul bukan perayaan biasa sebaliknya sambutan majoriti kaum Muslimin di seluruh pelusuk dunia untuk menyatakan perasaan syukur kepada Allah dan melahirkan rasa gembira atas kelahiran serta keputeraan Nabi Muhammad SAW.

          “Malah di sesetengah negara, sambutan ini berlangsung dari awal hingga akhir Rabiulawal dalam rangka menghayati dan menghidupkan sunnah.

          “Tidaklah bermakna kita tidak mencintai Nabi Muhammad SAW pada bulan lain kerana setiap masa kita dituntut agama untuk berbuat demikian tetapi kemuliaan Rabiulawal yang dinisbahkan kepada kelahiran Rasulullah SAW ditunggu-tunggu dan membawa cahaya, sekali gus umat Islam menzahirkan rasa syukur tidak terhingga kepada Allah SWT,” katanya.

          Mengulas lanjut katanya, kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut-sebut jauh lebih awal daripada kelahiran Baginda yang termaktub dalam dalam kitab terdahulu seperti Injil dan Taurat bahawa akan ada penutup nabi yang lahir dengan pelbagai ciri serta petanda.

          “Jadi, kelahiran Nabi Muhammad menjadi berita gembira yang ditunggu oleh kaum yang masih beriman di antara masa jahiliyah yang menimpa, malah Baginda seolah menjadi cahaya terang-benderang dalam kegelapan pada era jahiliyah.

          “Imam Ahmad RA meriwayatkan hadis dari al-Irbadh ibnu Sariyah as-Sulami, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Aku berada di sisi Allah dalam Ummul Kitab, penutup Nabi dan Adam masih dalam bentuk tanah serta aku akan menjelaskan takwilnya kepada kalian: “Aku adalah doanya ayahku Ibrahim, berita gembira Isa kepada kaumnya, mimpi ibuku yang melihat cahaya keluar darinya menerangi istana Syam, demikian juga ibu sekalian Nabi melihat peristiwa yang sama.” (HR al-Hakim)

          Amaluddin berkata, antara hujah ulama mengharuskan majlis Maulidur Rasul ialah kenyataan dikeluarkan mantan Mufti Mesir, Syeikh Muhammad Bakhit al-Muti’i.

          “Beliau berkata, setiap apa yang dijadikan ketaatan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang tidak ditentukan syariat (Allah) waktu dan tempat tertentu maka boleh bagi setiap mukallaf untuk melakukannya.

          “Begitu juga setiap yang tidak termasuk dalam larangan umum atau khusus daripada syariat, maka hukumnya adalah harus. Apa yang selainnya (yakni ada larangan) adalah bidaah yang haram atau makruh. Maka wajib untuk menghindarinya dan menghalangnya,.

          Bahkan, ilmuwan Islam, bekas Sheikh al-Azhar, Sheikh Abdul Halim Mahmud memetik hadis Rasulullah SAW yang bersabda: “Sesiapa yang melakukan sunnah yang baik, maka dia mendapat pahalanya dan pahala orang yang beramal dengannya. Sesiapa yang melakukan sunnah yang buruk, maka dia menanggung dosanya dan dosa sesiapa yang beramal dengannya.” (HR Muslim)

          Menurut Sheikh Abdul Halim, peninggalan salafussoleh (generasi tiga abad pertama dalam Islam) bagi amalan soleh ini selagi tidak bertentangan dengan syariat, apatah lagi ia membabitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang mulia.

          Sumber: BH Online

          Jumaat 16 Nov 2018.

          09/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Mengapa Liberal Menyokong Pesalah Gay?

          1. Ada dikalangan pendokong Liberal yang sanggup memberikan sokongan kepada golongan Gay yang didapati bersalah kerana cuba melakukan persetubuhan diluar tabii. Malah apa yang lebih menyedihkan, ada dikalangan pesalah Gay ini (yang cuba melakukan persetubahan diluar tabii) sudah pun berkahwin.

          2. Di sini barulah kita faham mengapa Rasulullah benar-benar bertegas dalam menangani isu kemungkaran peribadi, ia bukan sahaja merosakkan individu bahkan meruntuhkan institusi kekeluargaan.

          3. Jangan pula ada dikalangan kita yang terkeliru memahami konsep Rahmatan lil Alamin sehingga membenarkan kemungkaran peribadi dengan istilah kosmetik seperti personal sphere dan public sphere. Perkara keemungkaran harus ditangani secara menyeluruh.

          4. Dengan sebab itu al-Quran bertegas melarang kemungkaran ini bahkan Allah menyifatkan perbuatan hubungan sejenis mereka sebagai perbuatan yang keji (fahishah) dan melampau (musrifun). Firman Allah:

          وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ . إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

          “Ingatlah ketika Nabi Lut berkata kepada kaumnya: “Patutkah kamu melakukan perbuatan yang keji, yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun dari sebelum kamu? “Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk memuaskan nafsu syahwat kamu dengan meninggalkan perempuan, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”

          5. Maka tidak hairanlah juga apabila Rasulullah turut bersikap keras dalam perkara ini dengan melaknat mereka yang melakukan perlakuan Gay ini. Sabda Rasulullah:

          لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، ثَلاثًا

          “Allah melaknat mereka yang melakukan amalan kaum Nabi Lut. Rasulullah mengulangi laknat ini sebanyak tiga kali.”. (HR Ahmad, dinilai Hasan oleh al-Arna’ut)

          6. Atas dasar dalil al-Quran dan hadith di atas, para sahabat turut mengenakan hukuman yang keras terhadap pelaku liwat. Malah, al-Imam al-Syafie menjelaskan bahawa pelaku liwat boleh dihukum rejam. Kata al-Syafie:

          قال الشافعي : وبهذا نأخذ برجم اللوطي محصناً كان أو غير محصن

          “Kata al-Imam al-Syafie: dengan ini kami berpandangan bahawa pelaku liwat hendaklah direjam samada sudah berkahwin atau belum.” (al-Shaukani, Nail al-Autar)

          7. Andai sekiranya Allah menyifatkan pelaku Gay ini sebagai melakukan dosa besar, Rasulullah melaknat golongan ini, para sahabat turut mengenakan hukuman yang keras dan begitu juga al-Imam al-Syafie, tergamakkah kita bersikap dengan sikap yang bercanggah dengan Allah dan Rasul sehingga sanggup kita menyokong golongan Gay ini?

          Semoga Allah memberikan hidayah buat kita semua. Semoga Allah menyelamatkan kita dari kecelaruan pemikiran Liberal yang merosakkan ajaran Islam. Semoga Allah membimbing kita.

          Olih: Dr. Ahmad Sanusi Azmi
          https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

          08/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

          SAAT DIRIMU BELUM MAMPU KE TANAH HARAM

          Ibn Rajab al-Hambali rahimahullah berkata:

          من لم يستطع الوقوف بعرفة. فليقف عند حدود الله الذي عرفه.

          Barangsiapa yang tidak mampu melakukan Wukuf di ‘Arafah, hendaklah dia Wuquf (berhenti) daripada batasan-batasan Syariat Allah yang telah diketahuinya.

          ومن لم يستطع المبيت بمزدلفة. فليبت على طاعة الله ليقربه ويزلفه.

          Dan barangsiapa yang tidak mampu Mabit (bermalam) di Muzdalifah, hendaklah dia Mabit di atas ketaatan kepada Allah mendekatkan diri kepada-Nya.

          ومن لم يقدر على ذبح هديه بمنى. فليذبح هواه ليبلغ به الُمنى.

          Dan barangsiapa yang tidak berkeupayaan menyembelih binatang Hadyinya di Mina, hendaklah dia menyembelih/ mengorbankan Hawa Nafsunya bagi meraih harapan yang diidamkan.

          ومن لم يستطع الوصول للبيت لأنه بعيد. فليقصد رب البيت فإنه أقرب إليه من حبل الوريد.

          Dan barangsiapa yang tidak mampu sampai ke Baitul Haram kerana jauh, hendaklah dia menuju (sentiasa mengingati) akan Rab Baitul Haram kerana Dia lebih dekat daripada tali urat lehernya.

          Sumber:

          Lataif al-Ma’arif fima li Mawasim al-‘Am min al-Wazaif.

          Koleksi Q&A Ustaz Alyasak
          https://t.me/Q_A_Us_Alyasak_channel

          07/11/2019 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Perjalanan dari Makkah ke TAIF, apakah ia WAJIB Tawaf Wada’?

          As Salam.

          Mhn jasa baik Ust, sekiranya berkelapangan… utk memberi pencerahan mengenai perjalanan dr Makkah ke TAIF,
          apakah ia WAJIB Tawaf Wada’?

          Jawapan kami;

          Melaksanakan tawaf Wada’ bagi individu yang ingin meninggalkan Bait al-Haram ke suatu tempat yang jaraknya melebihi dua marhalah hukumnya adalah wajib mengikut pendapat yang muktamad.

          Ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas radhiallahu anhuma, Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam bersabda:

          لاَ يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ

          “Tidaklah seorang daripada kamu yang ingin berangkat pulang sehingga mengakhirkannya dengan melakukan tawaf.”(Riwayat Muslim).

          Diriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas radhiallahu anhuma:

          أَمْرَ النَّاسَ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ إِلَّا أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْمَرْأَةِ الْحَائِضِ

          “Manusia diarahkan (oleh Nabi sollallahu alaihi wa sallam) untuk melakukan tawaf wada’ kecuali keringanan diberikan kepada wanita yang haid daripada melakukannya).”(Riwayat Muslim).

          Disebutkan oleh Imam al-Nawawi:

          وَإِذَا أَرَادَ الخُرُوجَ مِنْ مَكَّةَ طَافَ لِلْوَدَاعِ، وَلَا يَمْكُثُ بَعْدَهُ، وَهُوَ وَاجِبٌ يُجْبَرُ تَرْكُهُ بِدَمٍ، وَفِي قَوْلٍ: سُنَّةٌ لَا يُجْبَرُ، فَإِنْ أَوْجَبْنَاهُ، فَخَرَجَ بِلَا وَدَاعٍ فَعَادَ قَبْلَ مَسَافَةِ الْقَصْرِ سَقَطَ الدَّمُ، أَوْ بَعْدَهَا فَلَا عَلَى الصَّحِيحِ.

          “Apabila seseorang ingin keluar dari Mekah, maka hendaklah dia tawaf Wada’ dan dia tidak boleh duduk menetap lagi selepasnya. Tawaf Wada’ adalah perkara wajib yang perlu ditampung dengan dam jika meninggalkannya.

          Menurut satu pendapat, ia adalah sunat dan tidak perlu ditampung dengan dam jika meninggalkannya.

          Justeru, jika kita berpendapat tawaf Wada sebagai wajib, maka jika dia keluar dari Mekah tanpa tawaf Wada’ dan kembali sebelum melepasi jarak perjalanan qasar (dua marhalah), dam itu gugur atau selepas melepasi jarak tersebut, maka dam itu tidak gugur mengikut pendapat yang sahih.”

          Sehubungan dengan itu, menurut Keputusan Resolusi Muzakarah Haji Peringkat Kebangsaan kali ke-35 Musim Haji 1439H 9 bertarikh 11 November 2018, tawaf Wada’ hendaklah dilakukan jika jemaah haji atau umrah pergi ke Taif melalui mana-mana laluan yang melebihi dua marhalah.
          اليسع
          Wallahu a’lam.

          Rujukan

          – Al-Idhah
          – Al-Majmuk
          – Tuhfah al-Muhtaj
          – Nihayah al-Muhtaj
          – Mughni al-Muhtaj
          – Hasyiah I’anah al-Talibin
          – Kasyf al-Litham

          Koleksi Q&A Ustaz Alyasak
          https://t.me/Q_A_Us_Alyasak_channel

          07/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | 1 Comment

          Golongan Asatiza Wahabi gemar melemahkan semangat orang mengamalkan agama-Pengakuan bekas wahabi

          Dulu ketika ikut kelas Kitab Riyadhus Solehin yang diajar oleh ust yang Pro Wahabi.. , *Ketika membicarakan hadis kelebihan zikir berjemaah*, *ustaz pro wahabi gemar hurai dgn bab menghukum shj* yakni dengan membidaahkan amalan zikir berjemaah, mendakwa mengerakan badan ketika zikir itu sesat, guna tasbih ketika zikir itu bidaah sesat, lafaz zikir bukan dari hadis tu bidaah sesat, zikir tarekat itu sesat, selawat syifa, selawat tafrijah itu syirik dll yang seumpamanya.. *Semuanya berkisar sesat, syirik dan bidaah*.. Itu pelajaran yang diperolehi.. *Keluar dari majlis dari mereka tidak menambahkan rasa cinta utk berzikir kepada Allah, baik dlm keadaan seorang diri atau berjemaah, tidak menambah jazbah utk berzikir*, tidak menambah sifat ihtisab yakni mengharapkan janji Allah ketika berzikir.. *Keluar dari majlis mereka( walaupun hadis bercerita ttg kelebihan berzikir) tapi melahirkan penuntut ilmu yang memakai kacamata yang menghukum, memandang rendah pada orang lain, menambahkan kesombongan* dengan ilmu mereka,dan yang paling sedih akan melemahkan semangat untuk berzikir.. Allahu.. Manhaj mereka sungguh berbeza, dari jalan para salafussoleh..

          Sumber: Ibnu Endot

          ##Perkongsian dari teman yang bekas pengikut manhaj Wahabi..

          03/11/2019 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          HUKUM TASYBIK

          SOALAN :

          Apakah hukumnya seorang melakukan perbuatan menggenggam kedua jari tanganya bersama kerana ada yang mengatakan perbuatan tersebut adalah haram?

          JAWAPAN :

          Perbuatan yang maksudkan ialah tasybik.Tasybik ialah seorang itu menggengam kedua tangannya dengan cara menyilangkan antara jari tangan kanannya dengan jari tangan kirinya.

          Hukum melakukan tasybik ini makruh bagi orang yang mahu mengerjakan solat atau sedang menunggu untuk mengerjakan solat atau pun di dalam solat.

          Ini berdasarkan sebuah hadith yang diriwayatkan daripada Ka’ab bin Ujrah r.a. Rasulullah saw bersabda :

          إذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ، ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إلَى المَسْجِدِ؛ فَلاَ يُشَبِّكَنَّ بَيْنَ أَصَابِعِهِ؛ فَإنَّهُ فِي صَلاَةٍ

          Artinya : “Apabila berwuduk seorang kamu maka hendaklah dia elokkan wuduknya kemudian keluar ia kepada tempat solat maka jangan ia tasybik antara jari-jarinya kerana dia ketika itu sepetti di dalam solat.” Hadith riwayat Abu Daud & Tirmizi.

          Ada pun jika selesai dari solat atau bukan hendak mengerjakan solat maka tidak dimakruhkan perbuatan tasybik ini kerana Nabi saw melakukannya.

          Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a. katanya :

          شَبَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَابِعَهُ

          Artinya : “Telah bertasybik olih Nabi saw akan segala jari jemarinya.” Hadith riwayat Imam Bukhari.

          Dan diriwayatkan dari Abu Musa Al-As’ary r.a. katanya Nabi saw bersabda :

          إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

          Artinya : “Sungguhnya orang-orang beriman itu seperti satu binaan yang saling menguatkan antara satu sama lain lalu baginda tasybik akan segala jari jemarinya.” Hadith riwayat Imam Bukhari.

          Berkata Syeikh Ibnu Hajar Al-Haithami :

          وَإِنَّمَا يُكْرَهُ لِمَنْ بِالْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ

          Artinya : “Dan hanyalah dimakruhkan tasybik itu bagi orang yang berada dalam masjid menunggu untuk solat.” Kitab Minhajul Qawwim.

          Berkata Dr Wahbah Zuhaili dalam kitab Al-Fiqh Al-Islami sebab dimakruhkan tasybik dalam solat atau ketika menunggu solat kerana ia termasuk bermain-main yang menghalang kusyuk.

          Wallahua’lam

          Ustaz Azhar Idrus

          30/10/2019 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | Leave a comment

          Setahun jagung sahaja dalam bidang ilmu hadis – tetapi memandai mandai mencari kesalahan Imam 4 mazhab ini….

          Berkata Maulana Hussein Abd Kadir Yusufi :

          “Maulana Zakariyya mengajar hadis sewaktu umur 20 tahun sampai umurnya 80 tahun. Katanya, makin lama saya belajar hadis, semakin lama saya mengajar hadis, semakin banyak saya jumpa dalil-dalil Imam 4 Mazhab yang bertepatan dengan Al-Quran dan Sunnah. Makin lama belajar dan mengajar semakin jelas nampak kebenaran Imam 4 Mazhab.”

          “Sebaliknya, setengah kita sekarang ini belajar hadis hanya beberapa tahun saja – Setahun jagung sahaja dalam bidang ilmu hadis – Setengahnya bahasa arab pun lintang pukang lagi tetapi sudah pandai mencari kesalahan Imam 4 mazhab ini….

          Begitulah, dewasa ini ramai mereka yang gemar memaudhu’kan hadith-hadith Hasan dan hadith-hadith dhaif yang sudah naik ke darjat Hasan lighairih yang layak beramal dengannya dan boleh berhujah dalam hukum-hakam.

          Kesemua ini berlaku berpunca daripada kesempitan ilmu hadith dan mereka mengambil penentuan kedudukan hadith sebagai maudhu’ hanya daripada individu muhaddith tertentu sahaja yang terlalu keras dalam menentukan hadith sebagai maudhu’ dan tidak mengambil kira penentuan darjat hadith oleh muhaddithin yagn mempunyai sikap yang sederhana dalam cara menentukan hadith maudhu’.

          Ekoran daripada itu;

          1. Banyak hadith yang layak beramal dan berhujah dengannya disingkir dan seterusnya amalan-amalan yang disahkan dapat beramal dengannya berdasarkan kebanyakan hadith-hadith hasan dan hadith-hadith Hasan lighairih dianggap bid’ah dhalalah lagi sesat dan dihukum masuk neraka.

          2. Menyebar luas fitnah-fitnah dan menyalahkan para fuqaha mujtahid ini yang mengeluarkan hukum-hakam daripada hadith-hadith yang mana mereka sahaja yang menganggapnya sebagai hadith maudhu’…

          Tidak mendalami ilmu hadith berlagak seolah olah sebagai mujtahid. Mereka sendiri pun tidak mampu menentukan kedudukan sesebuah hadith sebagai sahih, hasan, dhaif dan maudhu’ tapi terpaksa bergantung kepada Albani, Ibn Taimiyah dan Ibn Al-Jauzi.

          Mereka enggan mengikuti ijtihad mana-mana imam dengan melaungkan slogan ingin mengikut Al-Quran dan As-Sunnah.

          Siapakah mujtahid yang sebenar ?..Imam empat mazhabkah atau anda?..

          Inilah kelompok spesis Wahabi, Pseudo-Salafi, Aalla Mazhabiyah dan anti-mazhab.. Menggunakan sangkaan dan fikiran mereka sendiri yang bukan saja menyesatkan diri sendiri, bahkan memecah belahkan dan mengelirukan seluruh masyarakat/ummah..

          Allahul Musta’an..

          IBNU ALI EL AZHARI..

          26/10/2019 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Hadis, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

          MENJAWAB DAKWAAN ‘ DR AHMAD JAILANI ABDUL GHANI ‘ BAHAWA SAMBUTAN MAULID NABI DARI SYIAH.

          Bacaan Fatwa Imam al-Hafiz Al-Sayuti berkaitan dengan hukum Maulid Nabi.

          Syekh al-Suyuthi pernah ditanya berkaitan dengan hukum perayaan maulid Nabi Muhammad . Dalam kitabnya Al-Hawi lil Fatawa, beliau menjawab:

          عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبارالواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات، ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف

          Maksudnya:
          “Menurut saya, hukum pelaksanaan maulid Nabi, yang mana pada hari itu masyarakat berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan membaca kisah Nabi pada permulaan perintah Nabi serta peristiwa yang terjadi pada saat baginda dilahirkan, kemudian mereka menikmati hidangan yang disajikan dan kembali pulang ke rumah masing-masing tanpa ada tambahan lainnya, adalah bid’ah hasanah. Diberi pahala pada orang yang memperingatinya kerana bertujuan untuk mengangungkan Nabi serta menunjukkan kebahagiaan atas kelahiran Baginda.”
          -Tamat-

          Dgr dulu dan tonton rakaman ini.

          Boleh juga tonton di youtube ini:
          https://youtu.be/lityL5AuBf8

          Atau tonton di link Fb ini:
          https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=401605574006791&id=100024720556788

          Semoga Allah Melindungi Umat Islam dan mengekalkan dlm akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah.

          Akidah Islam:
          ALLAH WUJUD TANPA TEMPAT.

          -ADMIN-

          Facebook:
          Ahmad Faidzurrahim
          Ustaz Ahmad Faidzurrahim

          Telegram:
          https://t.me/joinchat/AAAAAE5W_012M87ttPndBg

          Instagram:
          kuliah_ustaz_faidzurrahim

          SEBARKAN!!!

          Sebarkan & Viralkan!

          22/10/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , , | 1 Comment

          PUNCA KEBANYAKAN PELAJAR MADINAH MEMBID’AHKAN AMALAN SYAFI’EYAH

          Umumnya, mereka yang belajar di Madinah banyak yang belum menguasai Fiqh Mazhab Syafi’e sebelum melanjutkan pelajaran mereka di Madinah. Mengaji sekadar untuk exam di peringkat SPM juga menjadi punca kurang mahirnya pelajar mengenai selok belok mazhab Syafi’e dan ushulnya.

          Setelah tiba di Madinah, mereka didedahkan dengan pengajian Fiqh Muqaran (perbandingan) menggunakan kitab Bidayatul Mujtahid Ibnu Rusyd Al Hafid. Jika tidak pun, akan menggunakan nota yang dirujuk daripada kitab tersebut. Maka apabila menggunakan kitab ini, ruang tarjih terbuka luas. Sedangkan pelajar belum lagi mempunyai kelayakan sebagai mujtahid untuk mentarjih.

          Di samping itu, pengajian talaqqi di sekitar Madinah juga menggunakan kitab hanabilah seperti Zaadul Mustaqnik dan Al Muqnik. Dalam kitab-kitab tersebut dihuraikan adillah dan istidlal mazhab hambali. Maka dengan ini, mekarlah mazhab hambali dalam amalan pelajar tersebut.

          Oleh itu, tidak hairanlah kenapa apabila pulang ke Malaysia, kebanyakannya membawa amalan acah-acah hanabilah. Mereka menyangka yang paling tepati sunnah itu ialah amalan hanabilah. Bismillah dibaca sirr (perlahan), tidak berqunut subuh. Walhal mereka belum lagi meneguk adillah dan istidlal syafi’eyah.

          Diadun pula dengan sikap ekstrim apabila sering berzikir dengan kalimah kufur dan bid’ah. Jadinya mudah terkeluar kalimat-kalimat tersebut apabila mereka dapati amalan masyarakat tidak sama dengan apa yang mereka tahu.

          Dikukuhkan lagi dengan pengajian ushul fiqh yang menggunakan kitab Raudhatun Nazir oleh Ibnu Qudamah Al Hambali bagi pelajar fakulti Syariah dan Ushul Fiqh oleh Syeikh Ibnu Uthaimeen. Maka ushul yang ditelaah ialah ushul hanabilah.

          Jarang sekali melihat atau kedengaran mereka bertalaqqi fiqh mazhab Syafi’e atau ushul Syafi’e kecuali mereka yang benar-benar ingin mendalami ilmunya sahaja.

          Justeru, demikianlah semoga sedikit sebanyak menerangkan kekeliruan. Tujuan saya menulis perkara ini bukan untuk meremehkan, tetapi untuk membuka mata agar kita hormati pandangan para Imam mazhab dan pengikutnya. Sedangkan An-Nawawi pun bermazhab, apatah lagi kita.

          Ust Ustaz Nasir Al-Bakri….

          Sumber: FB Bull DO Zer

           

          10/10/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Tata Cara Tahnik

          Hikmah Tahnik :
          Perbuatan tahnik adalah untuk mengharapkan kebaikan bagi si anak dengan keimanan, karena kurma adalah buah dari pohon yang diumpamakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan seorang mukmin dan juga karena manisnya. Lebih-lebih bila yang mentahnik itu seorang yang memiliki keutamaan, ulama dan orang shalih, karena ia
          memasukkan air ludahnya ke dalam kerongkongan bayi. Tidaklah engkau lihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mentahnik Abdullah bin Az-Zubair, dengan barakah air ludah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abdullah telah menghimpun keutamaan dan kesempurnaan yang tidak dapat digambarkan. Dia seorang pembaca Al-Qur’an, orang yang menjaga kemuliaan diri dalam Islam dan terdepan dalam kebaikan. [Umdatul Qari bi Syarhi Shahih Al-Bukhari (21/84) oleh Al-Aini dengan sedikit olahan semula]

          Pedoman Hukum dari Hadis Tahnik :

          Pertama: Para ulama sepakat tentang sunnahnya mentahnik bayi yang baru lahir dengan kurma dan ia sunat dilakukan di hari pertama.

          Kedua: Jika tidak ada kurma untuk mentahnik, maka boleh digantikan dengan sesuatu yang manis seperti madu.

          Ketiga: Cara tahnik adalah orang yang mentahnik mengunyah kurma sehingga lumat dan mudah ditelan, lalu dia membuka mulut si bayi dan menyuap sedikit kunyahan kurma itu menggunakan jari telunjuknya ke langit-langit mulut bayi itu dengan cara mengerak-gerakkan jari ke kanan dan kekiri sehingga bayi itu mengisap dan menelan cairan kurma tersebut.

          Keempat: Hendaklah yang melakukan tahnik adalah orang sholih sehingga boleh diminta do’a keberkatannya. Jika orang sholih tersebut tidak hadir, maka hendaklah bayi tersebut yang dibawa menemui orangnya.

          Kelima : sebahagian ulama menyatakan urutan keutamaan makanan yang dijadikan bahan untuk mentahnik ialah: tamar (kurma kering); barulah rutob (kurma basah); barulah makanan manis seperti madu; dan setelah itu adalah makanan yang tidak disentuh api.

          P/S : meludah ke mulut bayi hanya khususiyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Manakala selain Baginda maka tidak boleh bertabarruk dengan air ludahnya. Oleh itu dianjurkan juga bertabarruk dengan air zam zam yang ada keberkatannya tersendiri.

          Doa dan amalan para solihin semasa mentahnik bayi :

          Sebahagian dari amalan dan doa yang ana terima dari guru-guru ana antaranya tuan guru haji Yahya Junait, Syekh Zakaria Awang Besar, dan Tuan guru Haji Soleh Penanti :

          Bacaan sebelum berdoa :
          Sesudah ditahnikkan adalah baik dibaca terlebih dahulu bacaan di bawah ini mudah – mudahan menjadi anak yang soleh atau solehah, terpelihara dari gangguan syaitan dan sihat tubuh badan. insya Allah :

          1.Surah yusuf ayat 64 :
          فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
          Allah jualah penjaga Yang sebaik-baiknya, dan Dia lah jua Yang Maha Mengasihani dari sesiapa sahaja Yang menaruh belas kasihan”.

          2.Surah al-Buruj ayat 20-21 :
          وَاللَّهُ مِنْ وَرَائِهِمْ مُحِيطٌ , بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَّجِيدٌ , فِى لَوْحٍ مَحْفُوظٍ
          Ayat 20. sedang Allah, dari belakang mereka, melingkungi mereka (dengan kekuasaanNya)!

          Ayat 21. (Sebenarnya apa Yang Engkau sampaikan kepada mereka bukanlah syair atau sihir), bahkan ialah Al-Quran Yang tertinggi kemuliaannya;

          Ayat 22. (lagi Yang terpelihara Dengan sebaik-baiknya) pada Lauh Mahfuz.

          3.Surah al-Hijr ayat 17 :
          وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ

          4- surah al- Ikhlas ,
          5- surah al-alaq ,
          6- surah an-Nas,
          7- bacaan :
          أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِن كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ وَمِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ
          Aku mohon perlindungan dengan kalimat-kalimat allah yang sempurna dari kejahatan panahan mata dengki dan syaitan serta setiap kemudaratan.

          8- Bacaan :
          حَصَنْتُهُ بِالْحَيِّ الْقَيُّمِ وَدَفَعْتُ عَنكَ بِأَلْفِ أَلْفِ لاَحَوْلَ وَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
          Aku serahkan jagaan dirimu ( anak ) kepada tuhan Yang Maha Hidup dan Yang Maha Berkuasa,
          Aku pertahankan dirimu ( anak ) dengan sejuta ucapan la haula wala Quwwata illa Billlahil aliyyi al-adhim..

          9- surah al-Qadr ,

          10- Surah al-Ikhlas ,

          11- Bacaan doa :
          اللَّهُمَّ أَنْشَأَهُ نَشْأَةً صَالِحَةً وَأَحْيِهِ حَيَاةً طَيِّبَةً وَأَسْعِدْهُ سَعَادَةَ الْحُسْنَى وَاجْعَلْهُ بَرًّا بِوَالِدَيْهِ غَيْرَ عَاقٍ لَهُمَا وَاجْعَلْهُ مِنَ الصَّالِحِينَ الْعَارِفِينَ الْعَامِلِينَ وَأَكْفِهِ شَرَّ النَّظْرَةِ وَالْعَيْنِ وَالْحَاسِدِينَ وَأَعِذْهُ عَن خَلْقِكَ أَجْمَعِينَ وَلاَتُحْوِجْهُ إِلاَّ لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَاغْفِرْ لِوَالِدَيْهِ وَالْحَاضِرِينَ أَجْمَعِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

          MAKSUDNYA :
          Ya Allah hidupkanlah dia dengan kehidupan yang soleh dan baik, bahagiakanlah dia dengan kebahagian yang sempurna, jadikanlah dia anak yang berbakti kepada kedua ibu bapanya, tidak menderhakai mereka berdua, jadikanlah dia tergolong di kalangan orang-orang yang soleh, berpengetahuan agama dan beramal. Selamatkanlah dia dari kejahatan panahan mata dan orang yang berdengki, jauhilah dia dari kejahatan semua makhluk-Mu, janganlah Engkau jadikan dia bergantung harap kepada orang lain selain bergantung harap kepada-Mu wahai Tuhan Yang Maha Bijaksana.. Ampunilah kedua ibu bapanya, dan semua yang hadir wahai Tuhan Penguasa Alam..

          P/S : bacaan-bacaan ini adalah tajarrub as – Solihin, bukan suatu amalan yang disandarkan kepada sunnah Rasulullah s.a.w.. diamalkan sebagai bertabarruk dengan ayat-ayat suci al-Quran. Sekiranya keadaan tidak mengizinkan. Cukuplah dengan hanya berdoa.

          AKHUKUM USTAZ MOHD HAZRI AL-BINDANY

          Sumber:

          06/10/2019 Posted by | Fad hail Amal, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          SEDIKIT PERKONGSIAN: PENYALAHGUNAAN TAUHID 3 DAN KESAN-KESANNYA KE ARAH SIKAP TAKFIRI (MUDAH MENGKAFIRKAN UMMAT ISLAM YANG TIDAK SEPANDANGAN)

          Al ‘Allamah al Mufassir al Muhaddith Sheikh Yusof al Dijwi RA, Ahli Lembaga Majlis Ulama Besar al Azhar.

          Beliau mengeluarkan fatwa penolakan al Azhar terhadap (penyalahgunaan makna) tauhid rububiah dan uluhiah. Kenyataannya ini dipaparkan dalam Majalah Nur al Islam edisi tahun 1933 yang merupakan lidah rasmi al Azhar pada masa itu.

          Fatwa yang dikeluarkannya ini, turut dipersetujui oleh ulama al Azhar yang lain tanpa adanya sebarang bangkangan. Sehingga hari ini, fatwa tersebut masih lagi segar. Ini dapat dilihat dalam beberapa majalah yang diiktiraf oleh al Azhar. Antaranya, di dalam majalah al Muslim. Al Muhaddith al ‘Allamah Sheikh Muhammad Zaki Ibrahim r.a telah mengeluarkan kembali fatwa ini dalam majalah tersebut.

          Al Muhaddith al ‘Allamah Sheikh Salamah al Qudha’i al ‘Azzami al Syafi’i r.a dalam kitabnya al Barahin al Sati’ah fi Raddi b’ad al bida’ al Syai’ah.

          Kitab ini telah mendapat pengiktirafan dan pujian daripada muhaddith pada zaman tersebut iaitu al ‘Allamah Sheikh Muhammad Zahid al Kauthari r.a.

          Al Allamah al Muhaddith Prof. Dr. Sayyid Muhammad ibn Alawi al Maliki al Hasani, ulama besar di Mekah al Mukarramah dan bekas tenaga pengajar Masjid al Haram yang diakui ilmunya oleh ulama pada zaman ini.

          Beliau telah menulis penolakannya terhadap tauhid ini dalam kitabnya Huwallah. Bahkan beliau menyarankan kerajaan Arab Saudi supaya mengkaji semula pengajaran tauhid ini di institusi pengajian rendah, menengah dan Tinggi di dalam Muktamar Hiwar al Watoni di Mekah yang diadakan pada 5/11/1424 hingga 9/11/1424. Ia disebut di dalam kertas kerja beliau yang bertajuk al Ghuluw.

          Mufti Besar Mesir, Prof. Dr. Ali Jumu’ah.

          Beliau turut menyentuh masalah ini di dalam laman web beliau ketika menjawab soalan yang dikemukakan kepadanya. Iaitu, tentang seorang pemuda yang mengkafirkan seluruh penduduk kampung kerana bertawassul dengan mendakwa orang yang bertawassul tergolong dalam golongan musyrikin yang beriman dengan tauhid rububiah tetapi tidak beriman dengan tauhid uluhiah.

          Beliau menolak sekeras-kerasnya pembahagian tauhid ini dengan mengatakan bahawa pembahagian tauhid ini adalah perkara rekaan yang tidak pernah datang dari Salafussoleh tetapi orang pertama yang menciptanya ialah Sheikh Ibnu Taimiyyah.
          Beliau juga menyatakan bahawa pendapat yang menyatakan bahawa tauhid rububiah sahaja tidak mencukupi bagi keimanan seseorang adalah pendapat yang diadakan-diadakan dan bercanggah dengan ijmak kaum Muslimin sebelum Ibnu Taimiyyah.

          *Prof. Dr. Muhammad Sa’id al Ramadhan Bouti, Ulama Kontemporari Dunia Islam dari Syria.

          Beliau menyatakan dengan tegas bahawa pembahagian tauhid ini adalah bidaah dalam Seminar Pengurusan Fatwa Negara-negara Asean anjuran Universiti Sains Islam Malaysia pada pada 16 hingga 17 April 2005 di Hotel Nikko Kuala Lumpur.

          Prof. Dr. Isa ibn Abdullah Mani’ al Himyari – Mantan Pengarah Jabatan Waqaf dan Hal Ehwal Islam Dubai.

          Beliau telah menulis mengenai kepincangan pembahagian tauhid ini di dalam kitabnya yang bertajuk ‘al Fath al Mubin fi Bara’at al Muwahhidin min ‘Aqaid al Musyabbihin.

          Al ‘Allamah Abu Abdullah ‘Alawi al Yamani dalam kitabnya Intabih Dinuka fi Khatorin.

          Kitab ini telah mendapat pujian dari lima ulama besar Yaman.

          *Al ‘Allamah Abu al Hasanain Abdullah ibn Abdur Rahman al Makki al Syafi’i, ulama besar Mekah.

          Beliau juga telah membahaskan masalah ini di dalam kitabnya al Qaul al Wajih fi Tanzih Allah Taala ‘an al Tasybih.

          Dr. Sheikh Yusof al Bakhur al Hasani salah seorang ahli fatwa di Kanada juga telah menulis risalah mengenainya.

          Sheikh Sirajuddin Abbas seorang ulama unggul Indonesia, juga menghuraikan masalah ini yang ditulis dalam versi Melayu dalam kitabnya Akidah Ahli Sunnah wal Jamaah.

          Beliau dengan tegas menyatakan bahawa tauhid ini merupakan iktikad rekaan puak Wahhabi dan bukannya iktikad ASWJ.
          Dalam satu petikan, beliau menyatakan: Kaum Wahhabi mencipta pengajian baru ini bertujuan untuk menggolongkan orang-orang yang datang menziarahi Makam Nabi SAW di Madinah, orang-orang yang berdoa dengan bertawassul dan orang yang minta syafaat Nabi SAW serupa dengan orang kafir yang dikatakan bertauhid rububiah itu.

          Al ‘Allamah Muhammad al ‘Arabi ibn al Tabbani al Hasani, Tenaga Pengajar di Masjid al Haram.

          Beliau juga turut menulis kepincangan tauhid ini di dalam kitabnya Bara’ah al Asy’ariyyin min ‘Aqaid al Mukhalifin.
          *Dr. Umar Abdullah Kamil, sarjana dan pakar ekonomi Arab Saudi serta ahli eksekutif Universiti al Azhar.

          Beliau pernah membentangkan kebatilan konsep Tauhid 3 Serangkai ini di dalam Seminar Perpaduan Ummah dan Pemurniaan Akidah anjuran Kerajaan Negeri Pahang pada 25-26 Ogos 2006 dan di Multaqa 3 Ulama Mekah al Mukarramah yang dianjurkan oleh Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Johor pada 20 Februari 2008.

          Kertas kerja tersebut telah diterbitkan oleh Sekretariat Penjelasan Hukum Berkenaan Isu-isu Aqidah dan Syariah Majlis Agama Islam Johor.

          Beliau turut membahaskan kepincangan pembahagian tauhid ini di dalam kitabnya yang bertajuk Kalimah Hadi’ah fi Bayan Khata’ al Taqsim al Thulasi li al Tauhid (Perkataan yang tenang dalam menjelaskan kesalahan pembahagian yang tiga bagi ilmu Tauhid).

          Al Allamah Abdur Rahman Hasan Habannakah al Maidani.

          Beliau juga telah menulis masalah ini secara khusus di dalam kitabnya yang bertajuk Tauhid al Rububiah wa Tauhid al Ilahiyyah wa Mazahib al nas bi al Nisbah Ilaihima.

          Kredit : diolah daripada kajian dan tulisan PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

          06/10/2019 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          Menjawab Tuduhan yang mendakwa Habaib adalah Syiah

          Habib Ali Zaenal Abidin Menjawab Tuduhan yang mendakwa Habaib adalah Syiah Oleh Panel Wahhabi di Konvensyen ‘Sunnah’ DBP

          Penjelasan :

          1. Siapakah Habib Ahmad bin Isa al Muhajir ?
          – berhijrah ke Hadramaut kerana fitnah Qaramitah di Iraq
          – Salasilah keturunan beliau mengikut Mazhab Asy Syafie

          2. Apakah manhaj aqidah Habaib, dalam Feqh ?
          – Beliau orang yang pertama menyebarkan Mazhab Asy Syafie di bumi Hadramaut

          3. Para Habaib yang singgah ke India untuk sebar dakwah – menyebarkan mazhab Asy Syafie dan ke nusantara – Acheh, Indonesia, Pulau Jawa. Antaranya Wali Songo – dari keturunan Habib Ahmad bin Isa al Muhajir.

          4. Di Bumi Malaysia – di Johor 4 orang Mufti adalah dari keturunan Habib Ahmad bin Isa al Muhajir. Dua daripadanya adalah dari al Attas dan dua lagi dari Al Attas.

          5. Mufti Johor yang merupakan keturunan dari Habib Ahmad bin Isa al Muhajir menulis kitab mengenai syiah dan menjelaskan Syiah Imamiah wujud selepas zaman Habib Ahmad bin Isa al Muhajir, jadi bagaimana boleh dituduh Syiah Imamiah kepada beliau ?

          6. Siapakah golongan alawiyyin ?

          7. Isu Yaqazah

          8. Syiah benci nama para sahabat seperti Umar jadi bagaimana Habib Umar bin Hafiz dituduh sebagai syiah ?

          9. Qasidah yang dibacakan oleh Habib Syech mengandungi pujian kepada Sayyidina Abu Bakar, Umar dan Uthman. Bagaimana Habib Syech dituduh sebagai seorang Syiah yang memuji para sahabat yang dibenci oleh Syiah ?

          10. Ambil iktibar mengenai penyebaran berita palsu pada zaman Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam.

          05/10/2019 Posted by | Bersama Tokoh, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Haram Hukumnya Wanita Mengikuti Senam Aerobik & Zumba Di Tempat Umum

          Haram hukumnya wanita mengikuti senam aerobik, zumba dan joget-joget di tempat umum, kerana:

          1. Ikhtilat, Terjadinya campur-baur laki2 dan perempuan.

          2. Tabarruj

          3. Mendengakan musik disco/dang dut koplo.

          4. Bergoyang melenggak lenggok.

          5. Pakaian ketat dan Sexy.

          6. Menampakkan Aurat.

          7. Dapat membangkitkan dan Menggoda syahwat lawan jenis.

          8. Tasyabbuh, Merupakan syiar dan kebiasaan yg bukan dari islam,

          9. Wanita lebih baik berdiam diri di rumah.Nabi mengancam dengan neraka wanita yang sengaja mempertontonkan keindahan tubuhnya di depan lelaki dengan cara berlenggak-lenggok, menggoyang-goyang tubuh memicu hasrat, berpakaian merangsang dan semisalnya.

          Imam Muslim meriwayatkan;صحيح مسلم (11/ 59)عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

          Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; kaum membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia memukuli orang dan wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan miring, rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.” (H.R.Muslim)

          Senam secara otomatis akan menggerak-gerakkan anggota tubuh dan menggoyang-goyangkannya.

          Jika hal ini dilakukan di depan lelaki yang tidak halal melihatnya, maka hal tersebut lebih dekat pada ciri wanita celaka yang disebutkan dalam hadis di atas.

          Semoga bermanfaat serta menjadi renungan kita semua, Dan Semoga Allah istiqomahkan kita untuk tetap dalam ketaqwaan.

          Sumber:Khalifah Media

          20/09/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

          Kedai makan “NO PORK”

          Min dapat pm dari seorang chef di restoran terkemuka area Selangor dan KL. Ikuti luahan dan pengalaman beliau tentang majikan non muslim yg meremehkan isu halal.

          Kedai makan “NO PORK”

          Saya seorang tukang masak atau Chef yang berkerja di sekitar selangor dan KL, pengalaman hampir 10 tahun berkerja di pelbagai jenis hotel dan restaurant. Terdetik saya nak berkongsi cerita ini setelah melihat beberapa posting berkaitan isu makan di kedai tanpa sijil halal namun berlabel pork free, ramai muslim yang dilihat makan dan minum di kedai sebegini. Jadi biarlah saya sebagai orang yang bergelumang dalam industri ini berkongsi sikit cerita pada semua.
          Restoran pork free biasanya di miliki oleh non muslim, mereka tak mahu apply sijil halal sebab susah dan bagi mereka buang dan duit, dan sebenarnya tak mungkin akan lulus, kenapa? Saya akan ceritakan di bawah. Tapi oleh kerana mereka sedar 70% hasil jualan biasanya datang dari kaum melayu yakni muslim maka mereka memilih untuk meletakkan logo “No Pork” di kedai mereka.

          Pernah saya berkerja di sebuah syarikat di KL, sebagai Chef makanan western dan Melayu, tetapi atas kerana perubahan hala tuju perniagaan, owner tempat saya berkerja menambah sisi perniagaan iaitu restaurant makan tengahari “pork free”, jujurnya saya terlibat dengan operasi dari awal hingga sekarang. Saya dapat melihat segenap aspek apa yang berlaku dalam restaurant pork free.

          Sebab apa mereka tak mahu mohon sijil halal jakim sedangkan mereka mahu pelanggan dari orang muslim? Pertama, ada sebahagian mereka mahu menjual alcohol di premis yang sama, kedua, bahan masakan yang mereka guna tidak memiliki sijil halal, dan pengeluarnya di ragui. Kenapa ini berlaku, jujurnya, pemilik restoran ini bukanlah jahat atau sengaja, yang saya dapati ialah mereka tidak betul betul memahami konsep halal itu. Saya pernah cuba menegur bekas majikan saya, tapi dia masih kurang faham. Bagi beliau, cukup sekadar tidak menggunakan produk babi sudah cukup sesuai untuk pelanggan islam. Pemahamannya kurang.

          Betul, tiada babi yang di gunakan, tapi, di dapur, ada cooking wine, ayam yang di guna di ragui sembelihan, (pernah check tiada kesan sembelihan), makanan dalam tin dari syarikat yang sama yang mengeluarkan produk babi, bahan bahan yang di import terus dari China, Taiwan dan sebagainya, (atas alasan rasa dan quality lebih baik) tiada cop halal jakim, bahkan tiada cop halal mana mana pun, ini adalah contoh apa yang saya dapat lihat dari pengalaman sendiri, betul pork free, tapi pasti ia tidak halal untuk di muslim.

          Bekas majikan saya mengaku sendiri, hampir 70 peratus hasil jualan dari melayu muslim, hinggakan dia perlu menggaji pekerja muslim wanita bertudung untuk berkerja di ruang hadapan, supaya muslim berani untuk makan di situ, hakikatnya, tukang masak adalah non muslim, bahan masakan juga diragui dan tidak halal. Iya, tidak ada menggunakan babi, tapi masih tidak halal untuk muslim.

          Wallahhi, saya rasa bertanggungjawab untuk share hakikat ni, sebab saya ada dalam industri, sekurang kurangnya, ini pengalaman di tempat saya pernah berkerja, mungkin tempat lain berbeza, tapi untuk renungan kita bersama, mari berfikir kenapa restoran ini tak mahu dapatkan sijil halal jakim, sedangkan mahu pelanggan dari melayu islam (sanggup pamerkan logo Pork Free). Jika tak pasti halal atau haram, sudah pasti menjadi ragu ragu, syubhah, kita muslim kena elakkan.

          Akhir kata, pada yang membaca, tolong renungkan semula, kenapa bersusah susah makan yang syubhah sedangkan boleh cari yang pasti halal.

          Harap perkongsian ini membuka mata semua.

          Sumber – FB

          18/09/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          MAKSUD “KEMBALI KEPADA AL-QURAN DAN AL-SUNNAH”

          Olih: Ustaz Dr Mohd Murshidi Mohd Noor

          1) Hari ni saya ada terbaca ulasan oleh salah seorang motivator yg pos dlm FBnya menganggap kerja buatnya merujuk kepada Al-Quran dan al-Sunnah serta menasihati org ramai agar jgn buat benda baru dalam agama..

          2) Apabila kita membaca kenyataan ini sepintas lalu, kata-kata itu amat indah sekali. Cuma maksud sebenar bagi kata-kata itu perlu diperhalusi lagi.

          3) Jika yg dimaksudkan dgn kembali kpd al-Quran dan Sunnah itu ialah membaca sendiri kitab al-Quran dan al-Sunnah tanpa bimbingan daripada para alim ulama, maka pemahaman seperti itu tidak kena pada tempatnya. Hal ini kerana tidak semua tempat di dalam al-Quran dan Sunnah dapat difahami oleh semua org. Pada ayat atau hadith yg misalnya berkaitan dgn ayat mutasyabihaat, hukum-hakam, nasikh mansukh, tafsiran makna tersirat dsb tidak semua boleh memahami dgn baik akan hal ini.

          4) Kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah mestilah difahami dgn erti kata kembali kepada pemahaman yg sebenar sebagaimana yg diajar oleh para alim ulama, bukannya kembali kpd “pemahaman sendiri atau tafsiran masing-masing terhadap al-Quran dan al-Sunnah, lalu mendakwa itulah maksud kembali kpd al-Quran dan al-Sunnah sebenar, sedangkan dlm masa yg sama menentang ulama dan tidak mempelajari ilmu kpd ulama”. Oleh yg demikian, kita sebagai org awam, amat tidak memadai hanya sekadar melihat terjemahan al-Quran dan al-Sunnah, lalu terus mengamalkannya tanpa mempelajari kepada para alim ulama yg membicarakan mengenainya.

          5) Di dalam al-Quran dan al-Sunnah terdapat ayat yg berbentuk mujmal, muhkam, mutasyabih, nasikh, mansukh, am, khas, muqayyad, dan banyak lagi yg mana sudah tentu utk memahaminya dgn baik perlu kepada bimbingan para alim ulama. Jika kita tidak merujuk kpd bimbingan ulama, maka ayat yg sebenarnya tidak berlaku pertentangan antara satu sama lain, dikatakan berlaku bertentangan disebabkan pemahaman dan ilmu kita yg dangkal. Misalnya ayat al-Quran yg menyatakan boleh qasar solat ketika dalam situasi peperangan, hanya menyebut dlm situasi peperangan sahaja, tidak menyebut mengenai keadaan musafir yg bukan dlm situasi peperangan. Rukhsah utk membolehkan qasar solat ketika bermusafir yg bukan dlm situasi peperangan boleh didapati penjelasannya menerusi hadith dan kalam ulama yg membicarakan mengenainya. Jika kita tidak berpandukan kpd pengajaran dan bimbingan daripada alim ulama utk memahami ayat al-Quran dan hadith, sudah tentu kita tidak dapat beramal dgn wahyu Allah SWT dgn erti kata yg sebenarnya.

          6) Justeru, kembalilah kepada bimbingan para alim ulama utk memahami al-Quran dan al-Sunnah dgn baik, barulah benar slogan yg mengatakan “Kembali Kepada al-Quran dan al-Sunnah”. Jika kita tidak kembali kpd bimbingan para alim ulama utk memahami al-Quran dan al-Sunnah, maka sebenarnya tanpa sedar kita semakin terpesong dan jauh daripada al-Quran dan Sunnah. Bertambah parah apabila kita mendakwa yg kita lebih memahami daripada ulama, lalu menentang ulama dgn sekeras-kerasnya. Semoga kita sentiasa menjadi insan yg sentiasa dibimbing oleh ulama pewaris para Nabi.

          7) Jika anda digelar ‘wahabi’ oleh org ramai kerana pemahaman anda yg salah terhadap maksud “kembali kepada Al-Quran dan al-Sunnah”, maka insaflah diri dan jangan keras kepala utk menganggap diri anda itu membawa fahaman yg betul, lalu menyalahkan para ulama dgn menuduh ulama membawa ajaran Islam yg tidak tulen..jika anda sentiasa menyalahkan ulama dan merasai diri betul, bila lagi utk anda insaf bagi ‘mencemarkan diri’ menghadiri majlis-majlis ilmu kpd para alim ulama secara bertalaqqi????

          Wallahua’lam

          17/09/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          Jangan Taksub Atau Fanatik Selain Daripada Mentaati Allah & RasulNya

          Setiap insan atau individu dituntut membaca dan memahami Al-Quran dan mengikut Sunnah Nabi S.A.W. Janganlah kita terlalu taksub atau fanatik dengan individu-individu lain. Lihat sekeliling anda. Ramai antara kita yang seperti taksub atau fanatik dengan seseorang individu sampai apa yang dicakap semuanya benar tanpa menilai sendiri apa yang mereka sampaikan. Ini termasuklah individu seperti ustaz-ustaz, ulamak-ulamak, pemimpin-pemimpin, parti-parti dan lain-lain lagi.

          Allah S.W.T berpesan “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini – dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) – sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan.” (Al-Hujuraat 49:6)

          “…..Oleh itu selidikilah (apa-apa jua lebih dahulu, dan janganlah bertindak dengan terburu-buru). Sesungguhnya Allah sentiasa memerhati dengan mendalam akan segala yang kamu lakukan.” (An-Nisaa’ 4:94)

          Tapi bagaimana anda ingin menilainya?

          Ikutlah pesan Nabi S.A.W. Antara pesan Nabi S.A.W dalam khutbah terakhirnya “Aku tinggalkan sesuatu kepada kamu, yang jika kamu berpegang teguh, kamu tidak akan tersesat selama-lamanya iaitu Al-Quran dan Sunnah NabiNya”.

          Ikutlah perintah Allah yang menyuruh kita membaca, memahami dan beramal dengan Al-QuranNya. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu sebuah Kitab (Al-Quran) yang mengandungi perkara yang menimbulkan sebutan baik dan kelebihan untuk kamu, maka mengapa kamu tidak memahaminya (dan bersyukur akan nikmat yang besar itu)? (Al-Anbiyaa’ 21: Ayat 10)

          Tapi bagaimana hendak menilai sesuatu yang disampaikan itu betul atau sahih?

          Anda perlulah menimba ilmu itu sendiri. Satu sumber terbesar yang anda perlu pegang ialah Al-Quran. Baca dan fahamilah ia. Lebih elok dibaca dan difahami setiap hari hingga ke akhir hayat kita. Kemudian baca hadis-hadis sahih Nabi S.A.W.

          Petikan:

          Golongan yang selamat tidak fanatik kecuali kepada firman Allah dan sabda RasulNya yang maksum yang berbicara tidak berdasarkan hawa nafsu. Adapun manusia selainnya betapa pun tinggi darjatnya terkadang dia melakukan kesalahan sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam,
          كُلُّ بَنِي آدَم خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
          “Setiap anak Adam melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat.” (Hasan. Riwayat Ahmad)
          Semoga kita sentiasa dirahmati Allah. Lagi artikel tentang perkara ini disini:

          http://ustazidrissulaiman.wordpress.com/2013/06/04/golongan-yang-selamat-tidak-taksub-fanatik-kecuali-pada-firman-allah-sabda-rasulullah/

          “Bacalah Al-Quran dan Terjemahannya Sekali” setiap hari walaupun 1 ayat sehari sehingga akhir hayat kita. Banyak manafaatnya. Sambil itu, dalamilah ilmu-ilmu lain terutamanya hadis yang disampaikan oleh Rasulullah S.A.W. Semoga kita dirahmati Allah. In Shaa Allah.

          Sumber

          17/09/2019 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | Leave a comment

          Pengajian Hadis Akan Tempang Tanpa Pengajian Fiqh

          Ustaz Yunan A Samad

          Pelajar hadis amatur selalunya berfikir hadis yang sahih perlu diamalkan tanpa sebarang bantahan sekalipun ianya bercanggah dengan fatwa mazhab yang diikuti. Antara hujah mereka, Allah menyuruh kita mengikut Nabi SAW menerusi sunnahnya yang sahih. Justeru, adalah “salah” seseorang muslim enggan mematuhi hadis sahih yang ditemuinya. Di samping kepercayaan mereka bahawa tidak boleh mengikut (bertaklid) manusia lain walau setinggi mana kedudukan ilmunya kerana beliau tidak maksum. Dalam hal ini, hanya Baginda SAW sahaja yang maksum.

          Kefahaman seperti di atas, menghasilkan dua kekeliruan lazim. Pertama ; kena beramal dengan hadis sahih. Kedua; manusia diperintah untuk mengikut Nabi SAW bukannya imam mazhab tertentu.

          Merungkaikan kekeliruan pertama, suka dinyatakan bahawa kenyataan “ASALKAN HADIS ITU SAHIH, MESTI SEGERA DIAMALKAN” adalah kurang tepat. Sebaliknya yang perlu dipersoalkan ialah “SEJAUHMANA HADIS SAHIH ITU BOLEH DIAMALKAN?”. Mari kita lihat asas-asas perbincangan berikut :

          1). Perbincangan ulama hadis mengenai penerimaan sesebuah hadis untuk diamalkan amat bergantung kepada pelbagai syarat yang ditetapkan pada sanad dan matan hadis tersebut dan dalam hal ini adakah pensyaratan seseorang muhaddis telah diikuti sepenuhnya oleh semua muhaddis lain??. Jawapannya TIDAK kerana mereka tidak sepakat. Sukar untuk disepakati kerana terdapat syarat berkait dengan hadis (matan& sanad) dan berkait dengan kaedah usul ijtihad. Justeru itu, penentuan beramal dengan hadis tidak hanya terhenti pada pengetahuan status perawi yang boleh diselidiki dalam kitab Taqrib al-Tahzib al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani (contoh) semata-mata.

          2). Seterusnya, fungsi ilmu fiqh memberikan kefahaman lebih holistik ketika kita berinteraksi dengan hadis atau sunnah yang sahih. Perkara ini disedari oleh para ulama sejak awal lagi bahawa kesahihan status sesebuah hadis adalah satu hal yang berbeza dengan cara beramal dengan hadis sahih. Bukan semua yang dihukumkan sahih mesti diamalkan secara sembrono. Tidak!… kerana untuk beramal pula, terdapat kaedah dan syarat-syaratnya.

          Kita boleh menyaksikan pada catatan Ibn Abi Khaysamah dalam Syarh Ilal al-Tirmizi dan Abu Nu’aim (1988) dalam al-Hilyah yang meriwayatkan daripada jalur Isa bin Yunus, daripada al-A’masyh daripada Ibrahim al-Nakha’i, katanya :

          إني لأسمع الحديث ، فآخذ بما يؤخذ به وأدع سائره
          Maksudnya : “Saya mendengar hadis, lalu melihat pada hadis mana yang diambil maka akan saya ambil dan meninggalkan selebihnya”

          Ibn Abd al-Barr (1994) dalam Jami’ Bayan al-Ilm meriwayatkan daripada Qadhi Ibn Abi Laila berkata : “Seorang penuntut hadis tidak akan menjadi faqih sehingga ia (tahu) hadis mana yang perlu diambil dan ditinggalkan” (لَا يَفْقَهُ الرَّجُلُ فِي الْحَدِيثِ حَتَّى يَأْخُذَ مِنْهُ وَيَدَعَ)

          Abu Nu’aym (1988) menceritakan Imam Abdul Rahman bin Mahdi pernah menyebut :

          لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الرَّجُلُ إِمَامًا حَتَّى يَعْلَمَ مَا يَصِحُّ مِمَّا لَا يَصِحُّ , وَحَتَّى لَا يَحْتَجَّ بِكُلِّ شَيْءٍ , وَحَتَّى يَعْلَمَ مَخَارِجَ الْعِلْمِ

          Maksudnya : “Tidak harus bagi seseorang lelaki menjadi imam (tokoh) sehingga dia tahu hadis sahih dan tidak sahih, supaya dia tidak berhujah dengan semua hadis (secara random) dan sehingga dia tahu tempat ilmu itu keluarnya ilmu”.

          Imam Abdullah bin Wahab, seorang ulama Malikiyyah berkata beliau berguru dengan tiga ratus enam puluh orang ulama. Jika bukan dengan bimbingan Malik dan al-Laith, sudah tentu beliau tersesat (لقيت ثلاثمائة عالم و ستين عالما و لولا مالك و الليث لضللت في العلم).

          Maksud tersesat dalam ilmu hadis dalam pernyataan tersebut telah dijelaskan oleh Sheikh Muhammad Zahid al-Kawthari bukan bermakna sesiapa yang menceburi bidang hadis yang mulia itu akan menyeleweng. Abdullah bin Wahab menganggap beliau mungkin jadi “sesat” kerana setiap hadis yang datang daripada Rasulullah SAW perlu ditapis terlebih dahulu sebelum diamalkan kerana kebiasaannya terdapat banyak hadis yang menunjukkan hukum berbeza dalam satu masalah.

          3). Apabila disebut pengajian fiqh, kita tidak boleh mengabaikan fiqh mazahib muktabar. Ini kerana institusi mazahib seperti mazhab Syafi’i (khususnya di Malaysia) berperanan menyusun hukum-hukum berkaitan ibadat & muamalat secara sistematik, konsisten dan menyeluruh dalam satu pengajaran ahkam syar’iyyah untuk diamalkan oleh orang awam. Institusi mazhablah yang tolong filter petunjuk hadis adakah ianya wajib atau sunat, haram atau makruh, sah atau batal, sempurna atau kurang. Jika tidak, petunjuk hadis itu akan berserakan sehingga sukar diamalkan oleh orang awam.

          Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, untuk “beramal” dengan hadis sahih tertentu, ia mesti didahului dengan faktor “penerimaan” hadis itu terlebih dahulu. Bentuk penerimaan itu amat berkait dengan fiqh atau kefahaman fuqaha (yang majoritinya bermazhab) yang menilai sebuah hukum dalam hadis yang sahih adakah ia telah dimansuhkan atau diperincikan kondisinya oleh hadis lain. Hukum yang mansuh tidak boleh diamalkan, walaupun hadisnya sahih. Begitu juga terdapat sesetengah hadis ditinggalkan oleh imam mujtahid tertentu kerana mentarjihkan madlul hadis sahih lain untuk beramal. Perkara ini disedari oleh Imam Sufyan al-Thawri yang menekankan bahawa interpretasi (pentafsiran makna) hadis lebih baik daripada mendengarnya (تفسير الحديث خير من سماعه) (Ibn Abd al-Barr, 1994). Imam Abu Ali al-Naysaburi juga berkata kefahaman hadis lebih penting daripada hafazan (الفهم عندنا أجل من الحفظ).

          Kepentingan kefahaman fiqh hadis dalam maksud di atas adalah merujuk kepada golongan awam yang bukan bertaraf ulama kerana dikhuatiri mereka tersalah aplikasi maksud (madlul) hadis pada tempat yang salah. Sheikh Muhammad Awwamah (1987) menceritakan pernah berlaku di Syria dahulu seorang lelaki yang menghukumkan sesiapa yang tidak membaca Fatihah dalam solat adalah kafir. Dia beranggapan solat tanpa fatihah oleh orang mazhab Hanafi yang solat berjemaah, adalah tidak sah. Tidak sah solat sama seperti tidak solat atau meninggalkan solat. Berdasarkan kefahaman songsangnya daripada sebuah hadis lain mengenai tanda kafir seseorang adalah tidak bersolat, maka rumusannya orang yang meninggalkan solat menjadi kafir dan boleh dibunuh.

          Hal ini amat berbahaya bagi pelajar hadis amatur tanpa bimbingan ulama fiqh. Untuk golongan seperti inilah Imam Abdullah Ibn Wahab mensasarkan kenyataannya “hadis seumpama padang yang menyesatkan kecuali bagi fuqaha (yang mengetahui kaedah beramal dengan hukum syarak)”.

          Berbeza dengan ulama hadis, para fuqaha mempunyai alasan kenapa tidak memperbanyakkan periwayatan hadis. Antaranya untuk mengelak kekeliruan dalam kefahaman masyarakat. Imam al-Syafi’i menceritakan pada satu hari gurunya, Imam Malik ditanya, “Sufyan bin Uyaynah mempunyai beberapa riwayat hadis daripada al-Zuhri yang tidak ada pada kamu?”. Malik menjawab : “Jikalau semua hadis yang aku dengar mesti disampaikan kepada semua orang, bermakna aku ingin menyesatkan mereka semua” (نا أَحْمَدُ بْنُ خَالِدٍ الْخَلَّالُ، قَالَ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ، يَقُولُ: قِيلَ لِمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ: إِنَّ عِنْدَ ابْنِ عُيَيْنَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ، أَشْيَاءَ لَيْسَتْ عِنْدَكَ فَقَالَ مَالِكٌ: وَأَنَا كُلُّ مَا سَمِعْتُهُ مِنَ الْحَدِيثِ أُحَدِّثُ بِهِ النَّاسَ؟ أَنَا إِذًا أُرِيدُ أَنْ أُضِلَّهُمْ) (Al-Khatib, al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami’, dalam Awwamah, 1987).

          Para ulama muhaqqiqun menekankan bahawa aspek kefahaman yang betul perlu dipupuk terlebih dahulu supaya pengamalan hadis berjalan dengan harmoni. Al-Ramahurmuzi meriwayatkan dalam kitab al-Muhaddith al-Fasil dan al-Khatib dalam al-Faqih wa al-Mutafaqqih, Imam Malik menasihati dua orang saudaranya, Abu Bakar dan Ismail Ibn Abi Uwais dengan berkata “Aku melihat kamu berdua gemar mengumpul dan mendengar hadis. Jika kamu mahu menerima manfaat daripada ilmu hadis, maka kurangkan berbuat demikian dengan mendalami ilmu fiqh” (Teks asal berbunyi > حَدَّثَنَا مُصْعَبٌ الزُّبَيْرِيُّ قَالَ سَمِعْتُ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ، وَقَدْ قَالَ لِابْنَيْ أُخْتِهِ، أَبِي بَكْرٍ وَإِسْمَاعِيلَ ابْنَيْ أَبِي أُوَيْسٍ: «أُرَاكُمَا تُحِبَّانِ هَذَا الشَّأْنَ، وَتَطْلُبَانِهِ» يَعْنِي الْحَدِيثَ قَالَا: نَعَمْ قَالَ: إِنْ أَحْبَبْتُمَا أَنْ تَنْتَفِعَا وَيَنْفَعُ اللَّهُ بِكُمَا، فَأَقِلَّا مِنْهُ، وَتَفَقَّهَا).

          Abu Nu’aim al-Fadhl Ibn Dukayn, salah seorang guru terkenal Imam al-Bukhari menceritakan pada satu hari beliau berjalan melintasi Zufar Ibn al-Huzail, seorang murid Imam Abu Hanifah. Zufar memanggil untuk mengajar beliau hadis mana yang perlu diambil dan mana yang perlu ditolak kerana ada yang menjadi nasikh dan ada telah dimansuhkan.

          Terdapat banyak lagi rekod yang menunjukkan para fuqaha mengajar ahli hadis tentang penggunaan hadis sahih, antaranya kefahaman yang betul tentang madlul sesebuah hadis mesti diperolehi daripada para fuqaha muktabar. Penjelasan hal ini telah disampaikan dalam bentuk nasihat guru Imam Malik iaitu Sheikh Abu al-Zinad Abdullah bin Zakwan yang berbunyi :

          وَايْمُ اللَّهِ إِنْ كُنَّا لَنَلْتَقِطُ السُّنَنَ مِنْ أَهْلِ الْفِقْهِ وَالثِّقَةِ، وَنَتَعَلَّمُهَا شَبِيهًا بِتَعَلُّمِنَا آيَ الْقُرْآنِ
          Maksudnya : “Demi Allah, kami mengutip sunnah daripada ahli fiqh dan ahli siqah dan kami mempelajarinya sama seperti mempelajari al-Quran” (Ibn Abdil Barr, 1994).

          Dr. HK
          Jumaat, 18 Jan 2019
          ____________________________
          Penjelasan ini KHUSUS untuk pembaca awam, pelajar amatur & siswa junior pengajian Islam BUKANNYA kumpulan sarjana syariah, hadis dan pakar ilmu-ilmu Islam bertaraf ulamak.

          16/09/2019 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          Nasrul Haq – Bukan Ajaran Islam

          oleh:Asyraf Wajdi(majalah DAKWAH, Mei 1978)

          PERSIDANGAN Ketua-ketua Jabatan Agama Islam Negeri-negeri yang bersidang pada 11hb.April, 1978 bersamaan 2hb. Jamadil Awal 1398 di Jabatan Perdana Menteri, Bahagian Agama telah menerima dan mengkaji laporan Jawatankuasa Khas berkenaan Nasrul Haq. Persidangan pada hari itu telah mendapati bahawa ajaran Nasrul Haq adalah bukan daripada ajaran Islam. Bagi tindakan selanjutnya adalah diserahkan kepada Majlis Agama Islam Negeri-negeri, kerana tugas agama adalah di bawah kuasa kerajaan negeri masing-masing.
          Memandangkan beberapa kekeliruan yang timbul akibat penyalahgunaan perkataan seperti Khalifah, Naib Khalifah, Mahaguru dan sebagainya,maka Persidangan mengesyorkan supaya perkataan-perkataan tersebut tidak digunakan lagi sebagai gelaran kepada peminpin, ketua atau guru bagi apa-apa pertubuhan jua pun.
          Saudara Subki Latif dalam ruangan fokas akhbar harian Watan pada 14hb. April 1978 menimbulkan persoalan tentang tidak adanya keterangan lanjut tentang mengapa pertubuhan itu dikatakan bukan ajaran Islam:
          Adakah ia boleh diamalkan oleh orang-orang Islam?
          Apakah tidak berdosa orang-orang Islam yang menjadi anggotanya?
          Mengapakah Seni Silat Gayong, Silat Lincah, Silat Cekak dan sebagainya tidak pernah dipertikaikan?
          Untuk mengelakkan keliru dan untuk tidak menimbulkan perasaan curiga kepada Ketua-ketua Jabatan Agama Islam Negeri yang mengadakan mesyuarat pada hari itu khusus kepada jawatankuasa yang diberi tugas mengkaji berkenaan dengan Nasrul Haq itu maka perlulah lebih dahulu diketahui bahawa jawatankuasa khas itu bukanlah mengkaji pertubuhan Persaudaraan Nasrul Haq, tetapi apa yang dikajinya ialah amalan-amalan dan dorongan yang menyebabkan orang ramai menumpu perhatian kepada pertubuhan itu.
          Untuk menjadi anggota pertubuhan itu tidak menjadi masalah. Kerana ia adalah merupakan pertubuhan belia atau pertubuhan kebajikan yang lain juga, tetapi yang menjadi masalahnya ialah amalannya di mana kononnya boleh memberi perkara luar biasa telah menimbulkan reaksi di kalangan masyarakat.
          Jawatankuasa ini memberi perhatian yang utama kepada pertubuhan Nasrul Haq kerana ia bukanlah merupakan seni mempertahankan diri. Tidak ada nilai-nilai seni seperti silat-silat yang lain. Apa yang ada hanya gerak-gerak tubuh, tangan , kaki, kepala dan mata menurut cara-cara tertentu dengan bacaan-bacaan tertentu untuk melahirkan perkara-perkara luar biasa.
          Tidak ada cara menepis, tumbuk atau mengelak tendangan musuh. Tidak juga diajar bagaimana hendak merebahkan musuh atau mematahkan lawan atau bagaimana cara menghantar tumbukan yang padu atau sepak yang padat dan sebagainya untuk merebahkan lawan.
          Bacaan-bacaan yang tertentu itu pula ialah bacaan Al-Fatihah dan zikir-zikir yang dipergunakan bukan pada tempatnya dan bukan untuk ibadat, tetapi untuk mewujudkan perkara luar biasa yang berkenaan.
          Memang tidak dapat dinafikan bahawa perkara luar biasa itu berlaku di gelanggang-gelanggang utamanya di hadapan khalifahnya. Hinggakan ia boleh berlaku kepada orang-orang ‘a-si yang sering melakukan maksiat, bahkan boleh berlaku kepada benda-benda yang tidak bernyawa juga.
          Kerana hebatnya perkembangan amalan Nasrul Haq ini maka ramailah orang-orang Islam menyertainya. Tetapi apabila perkara luar biasa itu tidak berlaku berpanjangan selain daripada di gelanggang dan di hadapan khalifah sahaja, maka timbullah desakan kepada Majlis-majlis Agama dan badan agama untuk menentukan amalan ini sama ada ia dari ajaran Islam atau tidak dan adakah ia boleh dijadikan alat untuk berdakwah atau sebagainya.
          Pihak Jabatan Agama di negeri-negeri merasai bertanggungjawab untuk menyelesaikan keraguan orang ramai yang mendesak itu. Lalu ditubuhkan jawatankuasa khas untuk mengkaji masalah yang berkenaan supaya hasil kajian itu boleh dibawa kepada jawatankuasa syariah atau jawatankuasa fatwa di negeri masing-masing menurut hemat jawatankuasa yang berkenaan di negeri-negeri.
          Jawatankuasa Khas telah mengkaji beberapa aspek setelah mengadakan dua kali perbincangan dengan pihak penganjur Nasrul Haq pada 14hb. Januari dan 16hb. Februari, 1978. Sekali perbincangan dengan mufti-mufti seluruh Malaysia pada 7hb. Februari, 1978. Wawancara-wawancara juga telah diadakan dengan Jurulatih Kanan Nasrul Haq, Penasihat Nasrul Haq dan beberapa orang jawatankuasanya dan beberapa orang pegawai belia di Kementerian Belia sendiri.
          Jawatankuasa ini juga telah mengkaji buku-buku, majalah, akhbar dan risalah-risalah yang telah diterbitkan berkenaan dengan Nasrul Haq termasuk pendapat ulama-ulama dari seluruh Malaysia.
          Aspek yang dikaji di antaranya ialah asal-usul Nasrul Haq yang dikatakan berasal dari Minangkabau, Sumatera. Pengasasnya di Sumatera ialah Syeikh Musa Paradik. Jurusnya ditemui oleh Tuan Haji Johannes Cheoldi S.P. ketika menunaikan fardu haji di Mekah dan dipraktikkan di Gua Hira’ dengan seorang teman yang datang dari Indonesia.
          Ada pula pendapat yang mengatakan asal-usul Nasrul Haq ini berasal dari Pagaruyong dan dibawa ke Jawa Barat oleh Datuk Shah Bandar kemudian dipelajari oleh empat orang pendekar. Kemudian dipelajari oleh Aki Tasik yang berasal dari Suka Bumi. Tuan Haji Johannes dikatakan belajar ilmu Nasrul Haq ini daripada Haji Elias Sultan Sati, murid dari Aki Tasik.
          Bentuk amalan (Nasrul Haq) ini terbahagi kepada dua,iaitu Rohani dan Jasmani. Perpaduan di antara Rohani dan Jasmani inilah melahirkan perkara luar biasa. Cara amalannya ialah setiap murid dikehendaki membaca Al-Fatihah sebanyak tiga kali. Kemudian baru memulakan jurus yang disertai dengan mengingatkan Allah. Tujuannya untuk mendapatkan kekuatan batin dan kekuatan luar biasa yang didakwakan sebagai maunah atau fadilat dari Allah. Jawatankuasa ini juga ytelah mengkaji masalah sumpah, bai’ah dan kesannya terhadap orang yang terlibat dengan amalan ini.
          Jawatankuasa khas juga telah mengambil perhatian utama kepada kesan kuasa luar biasa yang menjadikan sebagai penahan dari suatu serangan itu boleh dipindah-pindahkan bukan saja kepada manusia Islam atau bukan Islam, bahkan boleh juga dipindahkan kepada apa-apa saja sekiranya khalifah atau guru menjuruskan atau memasukkan kuasa tersebut.
          Hal ini boleh menimbulkan keliru tentang jenis perkara luar biasa itu, lebih-lebih lagi seringkali ia tidak memerlukan zikir atau apa-apa ayat lagi cuma memadai dengan jurus saja.
          Di dalam gelanggang Nasrul Haq, khalifah-khalifah sering berusaha untuk memastikan kuasa luar biasa itu berkesan dan diisyaratkan pihak penyerang mesti berada dalam keadaan marah. Katanya, ilmu ini tidak berkesan atau tidak menimbulkan apa-apa jika penyerang tidak mempunyai perasaan marah. Hal ini meragukan kerana penyerang itu tidak semuanya berperasaan marah lebih-lebih lagi ketika menggunakan alat senjata moden.
          Beberapa kekeliruan timbul lagi apabila ternyata banyak bukti yang menunjukkan bahawa amalan Nasrul Haq ini hanya dapat dilahirkan perkara-perkara luar biasa di dalam gelanggang, ketika menjalankan sesuatu latihan atau pertunjukan bersama khalifahnya saja. Tetapi apabila dicuba di masa-masa yang lain nampaknya tidak banyak berkesan lagi, bahkan tidak berkesan langsung.
          Keputusan Jawatankuasa Khas yang diisytiharkan tempoh hari tidak bertujuan untuk menentukan halal atau haram kerana ia di luar tugas jawatankuasa yang berkenaan. Jawatankuasa itu hanya menggariskan sepuluh pandangan untuk dirumuskan sebagai keputusan atau kesimpulan. Antara rumusan-rumusan tersebut ialah:
          Amalan Nasrul Haq mengandungi unsur-unsur yang boleh membawa kepada pertentangan dengan akidah Islam.
          Amalan ini pada peringkat awalnya cuba berselindung di sebalik ayat-ayat suci Al-Quran dan petikan hadis Rasulullah yang ada kaitannya dengan konsep mengingatkan Allah (zikrullah) dengan tujuan untuk mempengaruhi orang ramai supaya yakin dengan ajaran ilmu ini.
          Penyelewengan di dalam ajaran ini mulai nampak apabila pemimpin atau khalifah ilmu ini telah mengakui bahawa ilmu ini boleh dipelajari dan memperolehi kesannya oleh orang-orang bukan Islam. Ini membuktikan bahawa amalan ilmu ini tidak lagi terikat dengan perkara zikir dan bacaan Al-Fatihah lagi.
          Amalan Nasrul Haq boleh membawa suatu keyakinan kepada pengikut-pengikutnya bahawa mereka tidak perlu lagi menggunakan senjata untuk menentang musuh, malah memadai dengan berzikir sahaja untuk mendapatkan pertolongan daripada Allah.
          Amalan Nasrul Haq tidak lagi memberi kesan yang baik dari segi dakwah, kerana mereka yang terlibat dengan ajaran ini mungkin sanggup melakukan perintah Allah dengan tujuan untuk mendapatkan kesan kuasa luar biasa yang terdapat di dalam ilmu ini sahaja, tetapi apabila mereka gagal mendapatkan kesan kuasa luar biasa tersebut, mereka akan kembali kepada peribadi mereka yang asal.
          Membaca surah Al-Fatihah atau ayat-ayat suci Al-Quran adalah digalakkan, kerana membaca dan mengamalkannya adalah suatu ibadat yang semata-mata untuk mendapatkan keredaan daripada Allah. Tetapi jika dibaca dan diamalkan dengan tujuan untuk mendapatkan kekuatan luar biasa yang boleh dipertunjuk dan diperturunkan, maka itu bukan lagi ibadat. Bila perkara ibadat dilakukan bukan (dengan) tujuan beribadat, itu adalah mempersenda-sendakan ibadat dan dengan tidak disedari telah menipu diri sendiri dan Allah.
          Kesan kuasa luar biasa yang terdapat dalam amalan ilmu ini bukanlah merupakan suatu perkara yang mustahil akan berlaku, kerana kesemuanya adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Tetapi jika kesan luar biasa itu berlaku melalui saluran-saluran yang kotor, sama ada gurunya yang bersifat kotor atau melalui saluran rohani-rohani yang kotor seperti jin, syaitan dan Afrit, maka hasilnya juga adalah kotor.
          Untuk mengetahui atau menganalisis sesuatu perkara – amalan atau kepercayaan – itu benar atau salah, tidak semestinya memeluk atau memasuki terlebih dahulu perkara tersebut, seperti mana untuk menyatakan sesuatu agama atau kepercayaan itu benar atau salah adalah lebih penting mengkaji serta menganalisis terlebih dahulu sebelum mengakui,memasuki atau menyertainya. Tetapi untuk membuktikan sesuatu ilmu atau amalan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenar adalah tidak memadai dengan hanya mengemukakan alasan atau hujah yng berdasarkan kepada keterangan daripada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah bagi membuktikan kebenarannya yang hakiki.
          Pemimpin Nasrul Haq sering mengakui bahawa mereka adalah jahil dalam soal agama dan bersedia menerima nasihat serta teguran daripada ulama, maka sudah sewajarnya pihak penganjur ilmu ini menerima dengan hati yang terbuka segala pandangan dan cadangan yang dikemukakan di dalam laporan kajian ini demi memelihara kesucian akidah Islam dan demi menyelamatkan umat Islam di negara ini, khususnya pengikut-pengikut amalan ini supaya tidak menyeleweng dari iktikad atau pegangan terhadap ajaran Islam yang sebenar.
          Walau bagaimanapun persidangan Ketua-ketua Jabatan Agama Islam Negeri-negeri pada hari itu menjunjung tinggi hasrat dan cita-cita Kementerian Belia dan Sukan terutamanya hasrat Datuk Abdul Samad Idris sendiri selaku menteri yang bertanggungjawab untuk menyerapkan iman dan menambahkan taqwa di kalangan belia-belia kita. Tetapi masalahnya mereka tidak mahu penyerapan itu melalui jalan yang boleh menimbulkan keliru.
          Untuk itu mesyuarat mencadangkan kepada Datuk Abdul Samad Idris sendiri supaya Kementerian Belia dapat melantik seorang Koordinator dalam bidang dakwah untuk menggerakkan kegiatan-kegiatan agama di kalangan belia. Bahagian Agama Jabatan Perdana Menteri, Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia dan jabatan-jabatan agama di negeri-negeri telah memberi persetujuan untuk bekerjasama.
          Untuk pengetahuan pembaca bahawa anggota jawatankuasa khas itu terdiri daripada YB Datuk Sri Haji Kamaruddin Mat Isa, Tim. Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Tan Sri Prof. Haji Abdul Jalil Hassan, Datuk Haji Abu Hassan Sail, Datuk Syeikh Abdul Mohsein Haji Salleh, Tuan Haji Ghazali bin Haji Abdullah, Tuan Haji Mohd.Talha bin Haji Abdul Rahman, Ustaz Haji Dusuki bin Haji Ahmad, Ustaz Mahsin bin Haji Mansor dan Ustaz Haji Ahmad bin Awang.

          13/09/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          SIAPA SESUNGGUHNYA GOLONGAN AL-ASY’ARIYYAH ?

          Penjelasan dari As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani : “Ramai kaum muslimin jahil (tidak mengetahui) mengenai madzhab al-‘Asya’irah (kelompok ulama pengikut madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari) dan tidak mengetahui siapakah mereka, serta metode mereka dalam bidang aqidah. Kerana ketidak tahuan itu, ada sebagian dari kaum Muslimin, tidak ber…hati-hati, melemparkan tuduhan bahwa golongan Asya’irah sesat atau telah keluar dari Islam dan mulhid (menyimpang dari kebenaran) di dalam memahami sifat-sifat Allah.

          Kejahilan terhadap madzhab al-Asya’irah ini adalah faktor retaknya kesatuan golongan Ahlus Sunnah dan terpecah-pecahnya kesatuan mereka, sehingga sebagian golongan yang jahil memasukkan al-Asya’irah dalam kelompok golongan yang sesat . Saya tidak tahu, mengapa golongan yang beriman dan golongan yang sesat disamakan ?

          Dan bagaimana golongan Ahl as-Sunnah dan golongan ekstrim mu’tazilah (Jahmiyyah) disamakan?
          أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ
          مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
          “Maka apakah patut Kami menjadikan orng-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ?, Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan ?” (QS. Al-Qalam : 35 – 36)

          Al-Asya’irah adalah para pemimpin ulama yang membawa petunjuk dari kalangan ulama muslimin yang ilmu mereka memenuhi bagian timur dan barat dunia dan disepakati oleh manusia sepakat atas keutamaan, keilmuan dan keagamaan mereka.

          Mereka adalah tokoh-tokoh besar ulama Ahlussunnah berwibawa tinggi yang berdiri teguh menentang kecongkaan dan kesombongan golongan Mu’tazilah.
          Dalam menuturkan tentang golongan Al-Asya’irah, Ibnu Taimiyyah berkata:
          والعلماء أنصار علوم الدين والأشاعرة أنصار أصول الدين – الفتاوى الجزء الرابع
          “Para ulama adalah pembela ilmu agama dan al-Asya’irah pembela dasar-dasar agama (ushuluddin) – (Al-Fataawaa, juz 4)

          Sesungguhnya mereka (penganut madzhab al-Asya’irah) terdiri dari tokoh-tokoh hadits (Muhadditsin), para Ahli fiqih dan para Ahlitafsir dari kalangan tokoh Imam-imam yang utama (yang menjadi panutan dan sandaran para ulama lain) seperti :
          -] Syaikhul Islam Ahmad ibn Hajar al-‘Asqalani رحمه الله, tokoh hadits yang tidak dipertikaikan lagi sebagai gurunya para ahli hadits, penyusun kitab Fathul Baari ‘ala Syarhil Bukhaari. Bermazhab Asya’irah. Karyanya sentiasa menjadi rujukan para ulama’.

          -] Syaikhul Ulama Ahl as-Sunnah, al-Imam an-Nawaawi رحمه الله, penyusun Syarh Shahih Muslim, dan penyusun banyak kitab yang masyhur. Beliau bermazhab Asya’irah.

          -] Syaikhul Mufassirin al-Imam al-Qurthubi رحمه الله penyusun tafsir al-Jaami’ li Ahkaamil Qur’an. Beliau bermazhab Asya’irah.

          -] Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haithami رحمه الله, penyusun kitab az-Zawaajir ‘an al-Iqtiraaf al-Kabaa’ir. Beliau bermazhab Asya’irah.

          -] Syaikhul Fiqh wal Hadits al-Imam al-Hujjah wa ats-Tsabat Zakaaria al-Anshari رحمه الله Beliau bermazhab Asya’irah.
          -] Al-Imam Abu Bakar al-Baaqilani رحمه الله
          -] Al-Imam al-Qashthalani رحمه الله
          -] Al-Imam an-Nasafi رحمه الله
          -] Al-Imam asy-Syarbini رحمه الله
          -] Abu Hayyan an-Nahwi رحمه الله, penyusun tafsir al-Bahr al-Muhith.
          -] Al-Imam Ibn Juza رحمه الله, penyusun at-Tashil fi ‘Uluumittanziil.

          -] Dan lain sebagainya, yang kesemua merupakan tokoh-tokoh Ulama ‘Asya’irah.
          Seandainya kita menghitung jumlah ulama besar dari Ahli Hadits, Ahli Tafsir dan Ahli Fiqh yang bermazhab al-Asya’irah, maka tidak mungkin mampu untuk dilakukan dan kita memerlukan beberapa jilid buku untuk merangkai nama para ulama besar yang ilmu mereka memenuhi wilayah timur dan barat bumi.

          Adalah salah satu kewajiban kita untuk berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa dan mengakui keutamaan orang-orang yang berilmu dan memiliki kelebihan yakni para tokoh ulama, yang telah menabur khidmat mereka kepada syari’at Sayyid Para Rasul, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.

          Dari mana lagi kebaikan yang kita harapkan sekiranya kita melemparkan tuduhan menyimpang daripada kebenaran dan sesat kepada para ulama besar kita dan para salafus sholeh ? Bagaimana Allah akan membukakan mata hati kita untuk mengambil manfaat dari ilmu-ilmu mereka setelah kita beri’tiqad bahwa mereka berada dalam keraguan dan menyimpang dari jalan Islam ???.

          Sungguh saya ingin mengatakan: “Adakah ulama masakini dari kalangan Doktor [penyandang ijazah PhD] dan cerdik pandai, mampu melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dan Al-Imam An-Nawawi رحمهماالله dalam berkhidmat terhadap Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang suci ?

          Adakah kita mampu untuk memberi khidmat terhadap Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم sebagaimana yang dilakukan oleh kedua-dua ulama besar ini ?
          emoga Allah memberikan karunia kepada mereka rahmat serta keridhaan-Nya. Lalu bagaimana kita bisa menuduh mereka berdua telah sesat dan juga para ulama al-Asya’irah yang lain, padahal kita memerlukan ilmu-ilmu mereka ?

          Dan bagaimana kita bisa mengambil ilmu dari mereka jika mereka didalam kesesatan ? PadahalAl-Imam Ibnu Sirin رحمه الله pernah berkata :
          إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم
          “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikan daripada siapa kalian mengambil agama kalian.”

          Apakah tidak cukup bagi orang yang tidak sependapat dengan para Imam di atas, untuk mengatakan, “Mereka rahimahullah telah berijtihad dan mereka salah dalam menafsirkan sifat-sifat Allah. Maka yang lebih baik adalah tidak mengikuti metode mereka.” Sebagai pengganti dari ungkapan kita yang telah menuduh mereka menyimpang dan sesat lalu kita marah atas orang yang mengkategorikan mereka sebagai Ahlussunnah.

          Dan seandainya Al-Imam an-Nawawi, Al-‘Asqalani, Al-Qurthubi, Al-Fakhrurrazi, Al-Haithami dan Zakaria Al-Anshari dan ulama berwibawa yang lain tidak dikategorikan sebagai Ahlussunnah Wal Jama’ah, lalu siapakah lagi yang termasuk Ahlussunnah Wal Jama’ah ?.

          Sungguh, dengan tulus kami mengajak semua pendakwah dan mereka yang bergiat di medan dakwah Islam agar bertaqwa kepada Allah dalam urusan ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم, khususnya terhadap tokoh-tokoh ulama dan para fuqaha’nya. Karena, ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم senantiasa berada dalam kebaikan hingga hari kiamat. Dan tidak ada kebaikan bagi kita jika tidak mengakui kedudukan dan keutamaan para Ulama kita sendiri.

          Al-Asya’irah adalah pengikut Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang mempunyai jasa yang besar dalam membersihkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah daripada kekeruhan yang dicetuskan oleh golongan Mu’tazilah.

          Kebanyakan pendukung dan Ulama besar umat ini adalah dari golongan al-Asya’irah. Sedangkan golongan yang memperdebatkan mereka ini sama sekali mencapai secarik buku mereka pun dari segi ilmu, wara’ dan taqwa.

          Di antara ulama Al-Asya’irah ialah: Imam Al-Haramain, Imam al-Ghazali, al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani, Imam Fakhruddin ar-Razi dan sebagainya. Apakah dosa yang telah mereka lakukan ?

          Adakah karena mereka bersungguh-sungguh untuk membuat bantahan atas kekeliruan yang ditimbulkan oleh golongan Musyabbihah yang berhubungan dengan Dzat Allah ? Golongan Musyabbihah ini mencoba untuk menetapkan bahwa Allah Ta’ala mempunyai jisim melalui ayat-ayat Mutasyabihat dan hadits-hadits yang menyatakan secara dzahirnya bahwa Allah mempunyai tangan, mata, siku, jari-jari dan sebagainya. -Selesai.

          ULAMA-ULAMA BERMADZHAB AL-ASYA’IRAH

          ::: Peringkat Pertama : Dari Kalangan Murid Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari
          * Abu Abdullah bin Mujahid Al-Bashri
          * Abu Al-hasan Al-Bahili Al-Bashri
          * Abu Al-Hasan Bandar bin Al-Husein Al-Syirazi As-Sufi
          * Abu Muhammad At-Thobari Al-‘Iraqi
          * Abu Bakr Al-Qaffal As-Syasyi
          * Abu Sahl As-So’luki An-Naisaburi
          * Abu Yazid Al-Maruzi
          * Abu Abdillah bin Khafif As-Syirazi
          * Abu Bakr Al-Jurjani Al-Isma’ili
          * Abu Al-Hasan Abdul ‘Aziz At-Thobari
          * Abu Al-Hasan Ali At-Thobari
          * Abu Ja’far As-Sulami Al-Baghdadi
          * Abu Abdillah Al-Asfahani
          * Abu Muhammad Al-Qursyi Al-Zuhri
          * Abu Bakr Al-Bukhari Al-Audani
          * Abu Al-Manshur bin Hamsyad An-Naisaburi
          * Abu Al-Husein bin Sam’un Al-Baghdadi
          * Abu Abdul Rahman As-Syaruthi Al-Jurjani
          * Abu Ali Al-Faqih Al-Sarkhosyi

          :: Peringkat Kedua,
          * Abu Sa’ad bin Abi Bakr Al-Isma’ili Al-Jurjani
          * Abu Thayyib bin Abi Sahl As-So’luki An-Naisaburi
          * Abu Al-Hasan bin Daud Al-Muqri Al-Darani Ad-Dimasyqi
          * Al-Qodhi Abu Bakr bin At-Thoyyib bin Al-Baqillani
          * Abu ‘Ali Ad-Daqqaq An-Naisaburi (guru Imam Al-Qusyairi)
          * Al-Hakim Abu Abdillah bin Al-Bai’e An-Naisaburi
          * Abu Manshur bin Abi Bakr Al-Isma’ili
          * Al-Ustaz Abu Bakr Furak Al-Isfahani
          * Abu Sa’ad bin Uthman Al-Kharkusyi
          * Abu Umar Muhammad bin Al-Husein Al-Basthomi
          * Abu Al-Qasim bin Abi Amr Al-Bajli Al-Baghdadi
          * Abu Al-Hasan bin Maysazah Al-Isfahani
          * Abu Tholib bin Al-Muhtadi Al-Hasyimi
          * Abu Mu’ammar bin Abi Sa’ad Al-Jurjani
          * Abu Hazim Al-‘Abdawi An-Naisaburi
          * Al-Ustaz Abu Ishaq Al-Isfara’ini
          * Abu ‘Ali bin Syazan Al-Baghdadi
          * Abu Nu’aim Al-Hafiz Al-Isfahani
          * Abu Hamid Ahmad bin Muhammad Al-Istawa’ie Ad-Dalwi

          :: Peringkat ketiga,
          * Abu Al-Hasan As-Sukri Al-Baghdadi
          * Abu Manshur Al-Ayyubi An-Naisaburi
          * Abu Muhammad Abdul Wahab Al-Baghdadi
          * Abu Al-Hasan An-Na’imi Al-Bashri
          * Abu Thohir bin Khurasah Ad-Dimasyqi
          * Al-Ustaz Abu Manshur An-Naisaburi
          * Abu Dzar Al-Haraqi Al-Hafiz
          * Abu Bakr Ad-Dimsyaqi (Ibn Al-Jurmi)
          * Abu Muhammad Al-Juwaini (ayahnda Imam Al-Haramain Al-Juwaini)
          * Abu Al-Qasim bin Abi Uthman Al-Hamdani
          * Abu Ja’far As-Samnani
          * Abu Hatim At-Thobari Al-Qozwini
          * Abu Al-Hasan Rasya bin Nazhif Al-Muqri
          * Abu Muhammad Al-Isfahani (Ibn Al-Laban)
          * Abu Al-Fath Salim bin Ayyub Al-Razi
          * Abu Abdillah Al-Khobazi Al-Muqri
          * Abu Al-Fadhl bin ‘Amrus Al-Baghdadi Al-Maliki
          * Al-Ustaz Abu Al-Qasim Al-Isfarayini
          * Al-Hafiz Abu Bakr Al-Baihaqi (pemilik Al-Asma’ wa As-Sifat)

          :: Peringkat keempat,
          * Abu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi
          * Al-Ustaz Abu Al-Qasim Al-Qusyairi
          * Abu ‘Ali bin Abi Harishoh Al-Hamdani Ad-Dimasyqi
          * Abu Al-Muzhoffar Al-Isfara’ini
          * Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali As-Syirazi
          * Imam Al-Haramain Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini
          * Abu Al-Fath Nasr bin Ibrahim Ad-Dimasyqi
          * Abu Abdillah At-Thobari

          :: Peringkat kelima,
          * Abu Al-Muzoffar Al-Khowafi
          * Al-Imam Abu Al-Hasan At-Thobari (Balika Al-Harrasi)
          * Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali
          * Al-Imam Abu Bakr Al-Syasyi
          * Abu Al-Qashim Al-Anshori An-Naisaburi
          * Al-Imam Abu Nasr bin Abi Al-Qasim Al-Qusyairi
          * Al-Imam Abu ‘Ali Al-Hasan bin Sulaiman Al-Isbahani
          * Abu Sa’id As-ad bin Abi Nashr bin Al-Fadhl Al-‘Umri
          * Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Yahya Al-Uthmani Ad-Dibaji
          * Al-Qadhi Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Salamah (Ibn Al-Ratbi)
          * Al-Imam Abu Abdillah Al-Farawi
          * Imam Abu Sa’ad Isma’il bin Ahmad An-Naisaburi Al-Karmani
          * Imam Abu Al-Hasan Al-Sulami Ad-Dimasyqi
          * Imam Abu Manshur Mahmud bin Ahmad Masyazah
          * Abu Al-Fath Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad Al-Isfara’ini
          * Abu Al-Fath Nasrullah bin Muhammad Al-Mashishi

          :: Peringkat keenam,
          * Al-Imam Fakhruddin Al-Razi (pemilik At-Tafsir Al-Kabir dan Asas At-Taqdis)
          * Imam Saifullah Al-Amidi (empunya Abkar Al-Afkar)
          * Sulton Al-Ulama’ Izzuddin bin Abdil Salam
          * Sheikh Abu ‘Amr bin Al-Hajib
          * Sheikhul Islam Izzuddin Al-Hushairi Al-Hanafi (pemilik At-Tahsil wal Hashil)
          * Al-Khasru Syahi
          ::: Peringkat ketujuh,
          * Sheikh Taqiyuddin Ibn Daqiq Al-‘Idd
          * Sheikh ‘Ala’uddin Al-Baji
          * Al-Imam Al-Walid Taqiyuddin Al-Subki (murid Sheikh Abdul Ghani An-Nablusi)
          * Sheikh Shofiyuddin Al-Hindi
          * Sheikh Shadruddin bin Al-Marhal
          * Sheikh Zainuddin
          * Sheikh Shodruddin Sulaiman Abdul Hakam Al-Maliki
          * Sheikh Syamsuddin Al-Hariri Al-Khatib
          * Sheikh Jamaluddin Az-Zamlakani
          * Sheikh Jamaluddin bin Jumlah
          * Sheikh Jamaluddin bin Jamil
          * Qodhi Al-Quddho Syamsuddin As-Saruji Al-Hanafi
          * Al-Qadhi Syamsuffin bin Al-Hariri
          * Al-Qodhi ‘Addhuddin Al-Iji As-Syirazi (pemilik kitab Al-Mawaqif fi Ilm Al-Kalam)
          ::: Dan sebagainya… Nafa’anaLlahu bi ulumihim wa barakatihim.. amin…….. [Selesai nukilan].

          Lihatlah, sesungguhnya Al-Asyairah diikuti oleh jumlah yang sangat besar dari para ‘ULAMA’. Apakah mereka semua ini sesat jika ada pihak mengatakan golongan Al-Asyairah sesat ? Pikirkanlah…dan bagaimana pula dengan golongan-golongan yang lainnya, apakah ada aliran mereka yang mampu melahirkan para ULAMA’ seperti Al-Asyairah?

          Wallahu ‘alam..

          Dari Ustaz Yunan A Samad

          13/09/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          Yasinan Tiap Malam Jumat.

          Pertanyaan:

          Bolehkah membaca Yasin setiap malam Jumat sebagaimana yang telah umum dilakukan dalam masyarakat?

          Jawaban:

          Ada dua hal yang telah dilakukan dalam amaliyah tersebut, yaitu mengkhususkan membaca Quran pada malam Jumat dan mengkhususkan Surat Yasin.

          Dalil yang pertama:

          عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِىُّ g يَأْتِى مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا . وَكَانَ عَبْدُ اللهِ k يَفْعَلُهُ (رواه البخارى رقم 1193 ومسلم رقم 3462).

          “Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Saw mendatangi masjid Quba’ setiap hari Sabtu, baik berjalan atau menaiki tunggangan. Dan Abdullah bin Umar melakukannya” (HR Bukhari No 1193 dan Muslim No 3462).

          Al-Hafiz Ibnu Hajar yang diberi gelar Amirul Mu’minin fil Hadis, beristidal dari hadis diatas:

          وَفِي هَذَا اَلْحَدِيْثِ عَلَى اِخْتِلاَف طُرُقِهِ دَلاَلَةٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيْصِ بَعْضِ اْلأَيَّامِ بِبَعْضِ اْلأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ (فتح الباري لابن حجر 4 / ص 197).

          “Dalam hadis ini, dengan bermacam jalur riwayatnya, menunjukkan diperboleh kan menentukan sebagian hari tertentu dengan sebagian amal-amal saleh, dan melakukan-nya secara terus-menerus” (Fath al-Bari 4/197).

          Dalil kedua:

          عَنْ أَنَسٍ h كَانَ رَجُلٌ (كلثوم بن الهدم) مِنَ الأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ، وَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ بِهَا لَهُمْ فِى الصَّلاَةِ مِمَّا يَقْرَأُ بِهِ افْتَتَحَ بِـ (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ) حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا، ثُمَّ يَقْرَأُ سُورَةً أُخْرَى مَعَهَا، وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ، فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ تَفْتَتِحُ بِهَذِهِ السُّورَةِ، ثُمَّ لاَ تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِأُخْرَى، فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِأُخْرَى. فَقَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا، إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِذَلِكَ فَعَلْتُ، وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ. وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِهِمْ، وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ، فَلَمَّا أَتَاهُمُ النَّبِىُّ g أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ «يَا فُلاَنُ مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُومِ هَذِهِ السُّورَةِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ». فَقَالَ إِنِّى أُحِبُّهَا . فَقَالَ «حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ» (رواه البخاري 774).

          “Ada seorang sahabat bernama Kaltsum bin Hadm yang setiap salat membaca surat al-Ikhlas.

          Rasulullah Saw bertanya: “Apa yang membuatmu terus-menerus membaca surat al-Ikhlas ini setiap rakaat?”.

          Kaltsul bin Hadm menjawab: “Saya senang dengan al-Ikhlas”.

          Rasulullah bersabda: “Kesenangan mu pada surat itu memasukkanmu ke dalam surga” (HR al-Bukhari No 774).

          Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

          وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيصِ بَعْضِ الْقُرْآنِ بِمَيْلِ النَّفْسِ إِلَيْهِ وَالِاسْتِكْثَارِ مِنْهُ وَلَا يُعَدُّ ذَلِكَ هِجْرَانًا لِغَيْرِهِ (فتح الباري لابن حجر ج 3 / ص 150).

          “Hadis ini adalah dalil diperbolehkan menentukan membaca sebagian al-Quran berdasarkan kemahuan dan memperbanyak bacaan tersebut.

          Dan hal ini bukanlah pembiaran pada surat yang lain” (Fathul Bari III/105).

          Berdasarkan hadis-hadis sahih dan ulama ahli hadis, maka hukumnya diperbolehkan.

          Keutamaan Membaca Surah Yassin

          Hadits Pertama:

          وقال الحافظ أبو يعلى: حدثنا إسحاق بن أبي إسرائيل، حدثنا حجا بن محمد، عن هشام بن زياد، عن الحسن قال: سمعت أبا هريرة يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من قرأ يس في ليلة أصبح مغعورًا له. ومن قرأ: “حم” التي فيها الدخان أصبح مغعورًا له”.

          Al-Hafiz Abu Ya’la berkata, “Ishaq bin Abi Isra’il meriwayatkan kepada kami, Hajjaj bin Muhammad meriwayatkan kepada kami, dari Hisyam bin Ziyad, dari al-Hasan, ia berkata, ‘Saya mendengar Abu Hurairah berkata, ‘Rasulullah Saw bersabda, ‘Siapa yang membaca surat Yasin pada suatu malam, maka pada pagi harinya ia diampuni.

          Dan siapa yang membaca surat Ha Mim yang di dalamnya ada ad-Dukhan, maka pada pagi harinya ia diampuni”.

          Imam Ibnu Katsir berkata : إسناد جيد . Sanad Jayyid (baik).

          Hadits Kedua:

          Selanjutnya Imam Ibnu Katsir menyebutkan hadits,

          ثم قال الإمام أحمد: حدثنا عارم، حدثنا ابن المبارك، حدثنا سليمان التيمي، عن أبي عثمان وليس بالنهدي عن أبيه، عن – – مَعْقِل بن يَسَار قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “اقرؤوها على موتاكم” يعني: يس. – ورواه أبو داود، والنسائي في “اليوم والليلة” وابن ماجه من حديث عبد الله بن المبارك، به إلا أن في رواية النسائي: عن أبي عثمان، عن معقل بن يسار.

          Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “’Arim meriwayatkan kepada kami, Ibnu al-Mubarak meriwayatkan kepada kami, Sulaiman at-Taimi meriwayatkan kepada kami, dari Abu ‘Utsman –bukan an-Nahdi-, dari Bapaknya, dari Ma’qil bin Yasar. Ia berkata, ‘Rasulullah Saw bersabda, ‘Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang sudah mati diantara kamu’. Maksudnya adalah bacakanlah surat Yasin.

          Diriwayatkan oleh Abu Daud, an-Nasa’i dalam al-Yaum wa al-Lailah, Ibnu Majah dari Abdullah bin al-Mubarak, hanya saja dalam riwayat an-Nasa’i disebutkan: dari Abu ‘Utsman, dari Ma’qil bin Yasar.

          Berkata Imam Ibnu Katsir:

          ولهذا قال بعض العلماء: من خصائص هذه السورة: أنها لا تقرأ عند أمر عسير إلا يسره الله. وكأن قراءتها عند الميت لتنزل الرحمة والبركة، وليسهل عليه خرو الروح، والله أعلم.

          Oleh sebab itu sebagian ulama berkata:

          “Diantara keistimewaan surat ini (surat Yasin), sesungguhnya tidaklah surat Yasin dibacakan pada suatu perkara sulit, malainkan Allah Swt memudahkan nya. Seakan-akan dibacakannya surat Yasin di sisi mayat agar turun rahmat dan berkah dan memudahkan baginya keluarnya ruh”, wallahu a’lam

          Hadits Keempat:

          حديث من قرأ يس ابتغاء وجه الله غعر له

          Hadits: “Siapa yang membaca surat Yasin karena mengharapkan keagungan Allah Swt, maka Allah Swt mengampuninya”.
          Komentar Imam asy-Syaukani:

          رواه البيهقي عن أبي هريرة مرفوعا وإسناده على شرط الصحيح وأخرجه أبو نعيم وأخرجه الخطيب فلا وجه لذكره في كتب الموضوعات

          Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dari Abu Hurairah, hadits Marfu’, sanadnya menurut syarat shahih.

          Disebutkan Imam Abu Nu’aim, juga disebutkan Imam al-Khathib al-Baghdadi, tidak perlu disebutkan dalam kitab-kitab hadits palsu.

          Andai hadits-hadits ini dha’if, tetap boleh diamalkan sebagai fadha’il amal.

          Tentang beramal dengan hadits dha’if, lihat masalah Hukum Beramal Dengan Hadits Dha’if.

          Imam as-Suyuthi menyebutkan dalam Tadrib ar-Rawy fi Syarh Taqrib an-Nawawi,
          Boleh meriwayatkan dan mengamalkan hadits Dha’if, dengan syarat:

          1. Bukan pada masalah Aqidah; tentang sifat Allah, perkara yang boleh dan mustahil bagi Allah, penjelasan firman Allah Swt.

          2. Bukan pada hukum halal dan haram. Boleh pada kisah-kisah, fadha’il (keutamaan) amal dan nasihat.

          3. Tidak terlalu dha’if; perawinya bukan kadzdzab (pendusta), tertuduh sebagai pendusta atau terlalu banyak kekeliruan dalam periwayatan.

          4. Bernaung di bawah hadits shahih.

          5. Tidak diyakini sebagai suatu ketetapan, hanya sebagai bentuk kehati-hatian.

          Teks lengkapnya:

          ) ورواية ما سوى الموضوع من الضعيف والعمل به من غير بيان ضععه في غير صعات الله تعالى ( وما يجوز ويستحيل عليه وتعسير كلامه )والأحكام كالحلال والحرام و ( غيرهما وذلك كالقصص وفضائل الأعمال والمواعظ وغيرها ) مما لا تعلق له بالعقائد والأحكام ( ومن نقل عنه ذلك ابن حنبل وابن مهدي وابن المبارك قالوا إذا روينا في الحلال والحرام شددنا وإذا روينا في العضائل ونحوها تساهلنا تنبيه لم يذكر ابن الصلاح والمصنف هنا وفي سائر كتبه لما ذكر سوى هذا الشرط وهو كونه في العضائل ونحوها وذكر شيخ الإسلام له ثلاثة شروط أحدها أن يكون الضعف غير شديد فيخر من انعرد من الكذابين والمتهمين بالكذب ومن فحش غلطه نقل العلائي الاتعاق عليه الثاني أن يندر تحت اصل معمول به الثالث أن لا يعتقد عند العمل به ثبوته بل يعتقد الاحتياط وقال هذان ذكرهما ابن عبد السلام وابن دقيق العيد وقيل لا يجوز العمل به مطلقا قاله أبو بكر بن العربي وقيل يعمل به مطلقا وتقدم عزو ذلك إلى ابي داود وأحمد وانهما يريان ذلك أقوى من رأي الرجال وعبارة الزركشي الضعيف مردود ما لم يقتض ترغيبا أو ترهيبا أو تتعدد طرقه ولم يكن المتابا منحطا عنه وقيل لا يقبل مطلقا وقيل يقبل إن شهد له أصل واندر تحت عموم انتهى ويعمل بالضعيف ايضا في الأحكام إذا كان فيه احتياط

          Contoh: Hadits Doa Buka Puasa.

          عن معاذ بن زُهْرة: أنه بلغه أن النب ي صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَ لَّمَ كان إذا أفْطر؛ قال: ” اللهم لك صُمْت، وعلى رزقك أفطرت ”

          Dari Mu’adz bin Zuhrah: telah sampai kepadanya bahwa ketika berbuka Rasulullah Saw mengucapkan

          “Ya Allah untuk-Mu puasaku dan atas rezeki-Mu aku berbuka”.

          Berkata Syekh al-Albani,

          إسناده ضعيف مرسل؛ معاذ هذا تابعي مجهول، وبالارسال أعله الحافظ المنذري

          Sanadnya dha’if mursal, status Mu’adz ini adalah seorang tabi’i majhul.
          Disebabkan mursal dijadikan ‘illat oleh al-Hafiz al-Mundziri.

          Syekh Ibnu ‘Utsaimin Membolehkan Doa Yang Didha’ifkan Syekh al-Albani:

          إن وقت الإفطار موطن إجابة للدعاء، لأنه في آخر العبادة، ولأن الإنسان أشد ما يكون غالبا من ضعف النعس عند إفطاره، اللهم لك « : وكلما كان الإنسان أضعف نعسا،ً وأرق قلبا كان أقرب إلى الإنابة والإخبات إلى الله عز وجل، والدعاء المأثور ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن « : ومنه أيضا قول النبي عليه الصلاة والسلام » صمت، وعلى رزقك أفطرت .» شاءالله

          Sesungguhnya waktu berbuka adalah waktu terkabulnya doa, karena waktu berbuka itu waktu akhir ibadah, karena biasanya manusia dalam keadaan sangat lemah ketika akan berbuka, setiap kali manusia dalam keadaan jiwa yang lemah, hati yang lembut, maka lebih dekat kepada penyerahan diri kepada Allah Swt. Doa yang ma’tsur adalah:

          اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت

          “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu”.

          “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan atas rezeki-Mu aku berbuka”.

          Juga sabda Rasulullah Saw:

          ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاءالله

          “Dzahaba azh-Zhama’u wabtallati al-‘Uruqu wa tsabata al-Ajru insya Allah”
          “Dahaga telah pergi, urat-urat telah basah dan balasan telah ditetapkan insya Allah1.

          Membaca Surat al-Kahfi Hari/Malam Jum’at.

          Tidak hanya membaca surat Yasin, tapi hadits lain menyebutkan keutamaan membaca surat al-Kahfi malam Jum’at. Dalam hadits disebutkan,

          من قرأ سورة الكهف في يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين

          “Siapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, ia diterangi cahaya antara dua Jum’at”. (HR. an-Nasa’i dan al-Baihaqi)
          Dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib.

          Sila simak huraian dibawah ini.

          الملك ، والواقعة ، والدخان.
          321 – فعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من قرأ (يس) في يوم وليلة ابتغاء وجه الله غفر له ” (3).
          (3) رواه ابن السني في ” عمل اليوم والليلة ” من حديث أبي هريرة ، وعزاه المنذري في ” الترغيب والترهيب ” لمالك وابن السني وابن حبان في صحيحه من حديث جندب ، وعزاه صاحب المشكاه للبيهقي في شعب الإيمان من حديث معقل بن يسار ، ورواه الطبراني في الدعاء ، والدارمي في سننه من حديث أبي هريرة ، وللحديث طرق ينهض بها.

          “Kami (kalangan perawi hadits) meriwayatkan banyak hadits tentang membaca surat-surat (tertentu) di hari dan malam jum’at, diantaranya : Surat Yaasiin, Surat Tabaaruk al-Mulk, Surat Waqi’ah dan Surat ad-Dukhan.

          Diriwayatkan dari Abi Hurairah Ra.

          Dari Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam “Barangsiapa membaca Yaasiin dihari dan malam jumah dengan mengharap ridha Allah, diampuni dosanya” (HR. Ibnu Sinni dalam bab ‘amalan dihari dan malam jum’at’ dari Abu Hurairah, Syekh mundzir menganggap hadits ini kuat dalam kitab ‘Targhib wa at-tarhiib’ riwayat Malik, Ibnu Sinni, dan Ibnu Hibbaan dari riwayat Jandab, Pengarang kitab ‘alMisykaah’ juga menganggap hadits ini kuat dalam riwayat Imam baihaqqi dari riwayat Mu’aqqal Bin Yasaar, Imam Thabranii meriwayatkannya dalam ‘bab doa’ dan Imam ad-Daarimi juga meriwayatkan dalam kitab sunannya). Al-Adzkaar I/110.

          1100 – وروي عنه رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من قرأ سورة يس في ليلة الجمعة غفر له
          رواه الأصبهاني

          “Barangsiapa membaca Yaasiin dihari dan malam jumah dengan mengharap ridha Allah, diampuni dosanya” (HR Asbahaani). At-Targhiib wa at-Tarhiib I/298.

          وذكر الثعلبي عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : “من قرأ سورة يس ليلة الجمعة أصبح مغفورا له”

          Imam Tsa’labi menuturkan dari Abu Hurairah Ra. “Barangsiapa membaca Yaasiin di malam jum’at, maka paginya diampuni dosanya”.

          alJaamii’ Li Ahkaam al-Quraan XV/3, Tafsiir Siraj al-Muniir III/301.

          وهي مكية ، وروى مقاتل بن حيان ، عن قتادة ، عن أنس ، عن النبي قال : ‘ إن لكل شيء قلبا ، وإن قلب القرآن سورة يس ، ومن قرأ سورة يس أعطاه الله ثواب قراءة القرآن عشر مرات .

          “Surat Yaasin termasuk Makkiyyah (surat yang diturunkan dikota makah) Muqatil Bin Hayan meriwayatkan dari Sahabat Anas dari Nabi shallaahu alaihi wasallam,..

          “Sesungguhnya setiap sesuatu memilik hati, sedang hati alQuran adalah surat yaasiin, maka barangsiapa membaca surat yasin, Allah memberi pahala padanya sepuluh bacaan al quran”. Tafsiir as-Sam’aani IV/265 . Wallaahu A’lamu Bis Shawaab…

          Tariq Sufi.

          Sumber: FB Ilham Othmany

          07/09/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , , | Leave a comment

          Surat Terbuka Buat Penganut Ajaran Salafi Palsu.

          Assalamualaikum wrt

          Saudaraku, yang dimuliakan Allah.
          Pertama sekali, syukur kepada Allah Allah kerana kita dimuliakan kerana mengtauhidkan Allah sebagai ilah dan Muhammad S.A.W sebagai Rasul.

          Dikalangan saudara. Ramai yang berpangkat mulia dan berpendidikkan tinggi seperti Mufti, Dr, Maulana dan sebagainya. Saya menzahirkan perasaan Hormat dan Kagum diatas kesanggupan saudara saudari menempuh jalan bagi menuntut ilmu Agama Allah bagi memahami Deen-Nya sehingga ke taraf tersebut dan sanggup berkorban apa saja sehingga sanggup berhutang bagi mencapai maksud tersebut.

          Saudara yang dirahmati Allah, ketahuilah. Selagi mana seseorang itu berada atas landasan Aqidah yang betul yaitu Ahlil Sunnah Wal Jamaah. Wajib keatas diri saya bagi mempertahankan nyawanya dari dibunuh. Ini adalah kewajipan.

          Mungkin ada dari kalam kalam saya yang mengundang perit hati. Saya memohon maaf diatas ucapan tersebut. Percayalah, kata kata saya itu tidak lain melainkan hanya untuk mengajak kalian kembali kepangkal jalan yang sebenar yaitu Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Bukan kepada aqidah yang mengjisimkan dan mengtashbihkan Allah sama seperti makhluk. Yaqinlah saudara. Allah tidak berhajat kepada sesuatu.

          Saudara, Salaf yang sebenar bukanlah suatu kefahaman yang mengjisimkan Allah atau mengtasybihkan Allah. Mereka tetap mengtanzihkan Allah dari Jisim atau Syibih yang sama seperti Makhluk. Jika Allah duduk di atas Arasy, sebelum duduk adakah Allah berdiri? Sebelum terciptanya Arasy, dimanakah tempat duduk Allah? Jika Allah bertempat adakah Allah mempunyai Tinggi, Luas, atau Besar? Bukankah Allah tidak berhajat kepada sesuatu sekalipun pada Arasy?

          Saudaraku yang dimuliakan. Ulama adalah “tiang tiang seri” Agama. Tanpa mereka. Hancur luluhlah agama, merekalah yang menggunakan kepakaran mereka bagi mengeluarkan hukum dari Al Quran dan Hadis yang mana kita sendiri tidak layak untuk mengeluarkan hukum secara langsung dari Quran dan Hadis kerana tiada kepakaran. Siapalah kita untuk membanding bezakan Fatwa Imam Mazhab dengan mengikut mazhab yang hadisnya yang paling shoheh seolah olah kita lebih Alim Hadis berbanding dengan Imam Imam Mujtahid.

          Tahukah saudara apa akibatnya jika Al Quran dan Hadis diambil secara mentah mentah. Wahabii. Syiah. ISIS. LIBERAL dan Ajaran ajaran sesat yang lain. Dalilnya adalah Al Quran dan Hadis juga tetapi tanpa mengikut format dan displin yang sepatitnya dilalui maka semuanya sesat. نعوذ بالله من ذلك

          Saudara, pandangan saya, Konsep keterbukaan islam yang diperkatakan mungkin hanyalah membuka pintu kelonggaran hukum islam kepada orang islam dan membuka pintu hak hak khas untuk ummat islam kepada orang kafir seperti zakat. Banyak lagi sumber sumber lain boleh disumbangkan kepada orang kafir mengapa perlu menggunakan hak “Eksklusif” orang islam?

          Sebenarnya saudara. Perkara ini hanyalah menyempitkan pemikiran ummat islam tentang beragama apabila dengan perkara khas orang islam diterbukakan manakala perkara asas yang perlu ummat islam faham di Bidaahkan seperti misalan Ilmu Tauhid Sifat 20 yang dikatakan Bidaah Falsafah dan sebagainya.

          Tidak perlu saya ungkap peristiwa Pemecatan Imam Imam Masjid oleh Sohibus Samahah Tuan Mufti kerana hal hal yang langsung tidak salah dalam agama malah dituntut.

          Saudara, tidakkah saudara rasa perkara ini hanyalah meleraikan ikatan ikatan perhubungan ummat dari berpegang dengan agama kepada konsep keterbukaan beragama? Saudara, kasihanilah orang orang awam. Mereka tidak punya kayu ukur atau asas kefahaman agama melainkan hanya mengikut insan insan yang disangkakan pada mereka adalah benar tetapi hanya memeningkan bahkan ada yang menyesatkan mereka. Walhasil orang awam hanya memilih untuk bermudah mudah dalam urusan beragama. Bukankah itu satu bala dalam agama apabila semua mengambil tidak berat hal ehwal agama?

          Saudara yang dirahmati Allah. Muslim. Pakainya adalah pakaian Rasulullah kerana setiap perkara yang disandarkan kepada Rasulullah semuanya adalah Sunnah. Terkadang saya hairan. Saudara saudara yang dimulutnya sentiasa beratib “Sunnah.. Sunnah.. Ini Ada Hadis.. Ini Hadis Shoheh.. Ini Rasulullah buat.. Ini Rasulullah Tak Buat..” tetapi saudara lebih mementingkan pakaian barat dengan mengatakan ini adalah pakaian “Kontemporari” atau terkini walhal pakaian atau cara yang terbaik adalah dengan mengikut cara dan sunnah Rasulullah SAW.

          Berhentilah menyalahkan ulama terdahulu kononnya menjadi “Hero” ummat dengan menggunakan istilah “Fikh Wakeq” atau “Fikh Kontemporari” atau bahasa lainnya “Menepati Maqosid Syariah” yang mana membuka pintu pintu kebebasan dan Liberal sehinggakan ajaran ajaran sesat yang lainnya menggunakan Kalam kalam dari pihak saudara bagi menjadikan hujjah keatas kesesatan mereka dan mengembangkan ajaran sesat mereka itu. Ini masaalahnya.

          Malah dari perkhabarkan yang diberitakan seorang Tokoh Liberal memuji Tuan Sohibus Samahah diatas konsep “keterbukaan yang keterlaluan”

          Akhir kalam, Mungkin cara dakwah yang saya sampaikan mengoris hati dan perasaan saudara, ketahuilah saudara. Semua yang saya lakukan atas dasar Kasih dan Mahabbah. Semua muslim adalah bersaudara. Tidak sanggup saya melihat saudara islam saya mengjisimkan atau mengtasyhbihkan Allah sama macam makhluk. Perkara sebegini boleh menjerumuskan kita ke lembah kekufuran.
          Saudara, jika mungkin uslub saya adalah uslub kasar dalam berdakwah, saya sarankan saudara menerima uslub Para Habaib. Habib habib ini dakwahnya begitu lemah lembut dan mengajak manusia ke jalan Allah dengan penuh Hikmah. Ditambah pula dengan leluhur mereka adalah titihan dari Rasulullah SAW.

          Jika saudara tidak dapat menerima dakwah saya, maka terimalah dakwah para Habaib.

          Semoga Allah SWT memberikan kepada hati hati kita hidayah dan taufiq-Nya untuk berada diatas Aqidah yang sebenar Ahlul Sunnah Wal Jamaah, Dikurniakan Allah didalam hati kita supaya mengasihi dan membesarkan Para Habaib. Dianugerahkan kepada kita keampunan. Diberikan kepada kita Guru yang sebenar. Diberikan kepada kita kehidupan beragama yang sebenar
          Diberikan kepada kita cara amalkan sunnah yang sebenar
          Moga dengan itu kita semua mendapat rahmat dan diberi keizinan oleh Allah untuk berkumpul bersama sama Rasulullah SAW.

          Islam itu Bersaudara

          -Tuan Guru Ustaz Ahmad Rozaini Abdul Rahman An Nuuri-

          06/09/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah, wahabi | , | Leave a comment

          Siapa pula yang memimpin majlis tahlilan ketika Imam Syafie wafat?

          Jawapannya:

          Ia adalah seorang wali (penguasa) yang bernama Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam.
          Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam adalah seseorang yang diwasiatkan oleh Imam Syafie, apabila beliau wafat agar dimandikan dan diurus oleh Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, dari kerja-kerja memandikan, memimpin solat jenazah, menguburkan, mendoakan serta mengadakan majlis tahlilan bersama jamaah yang lain yang hadir saat Imam Syafi’i wafat.
          Imam Syafie wafat pada malam Jumaat pada waktu subuh pada hari terakhir bulan Rejab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Masihi pada usia 52 tahun.

          Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafie sampai hari ini, dan disana pula dibangun sebuan masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafie. Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya kerana banyaknya penziarah. (Sila rujuk kitab tarikh atau Manaqib Imam Syafie)

          》Persoalan mengenai pendirian Imam Syafie:
          Imam Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani berkata: “Saya pernah bertanya kepada Imam Syafie mengenai bacaan Al-Quran di kubur. Ternyata beliau itu (Imam Syafie) membolehkannya”.

          》Hal ini dikukuhkan lagi apabila Imam Syafie sendiri pernah menziarahi makam Imam Laith bin Sa’ad, kemudian beliau membaca Al-Quran.

          ﻭﻗﺪ ﺗﻮﺍﺗﺮ ﺍﻥ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺯﺍﺭ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﻭﺍﺛﻨﻰ ﺧﻴﺮﺍ ﻭﻗﺮﺃ ﻋﻨﺪﻩ ﺧﺘﻤﺔ ﻭﻗﺎﻝ : ﺍﺭﺟﻮﺍ ﺍﻥ ﺗﺪﻭﻡ ﻓﻜﺎﻥ ﺍﻻﻣﺮ ﻛﺬﻟﻚ

          “Dan telah mutawatir (masyhur) riwayat bahawa Imam Syafie telag menziarahi makam Imam Laith bin Sa’ad. Beliau memujinya dan membaca Al-Quran di sisi kuburnya dengan sekali khatam. Imam Syafie berkata: Aku mengharapkan agar ia (amalan membaca Al-Quran seperti di sisi makan Imam Laith) akan berterusan, maka begitulah seperti apa yang dikatakan (didoakan) oleh Imam Syafie”
          (Rujuklah kitab az-Zakhirah Ath-Thaminah, ms.64)

          》Bagaimana pula dengan perkataan Imam Syafie:

          ﻭﺃﻛﺮﻩ ﺍﻟﻤﺄﺗﻢ ﻭﻫﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻭﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻬﻢ ﺑﻜﺎﺀ ﻓﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﺤﺪﺩ ﺍﻟﺤﺰﻥ ﻭﻳﻜﻠﻒ ﺍﻟﻤﺆﻧﺔ
          “Dan aku
          membenci ma’tam iaitu adanya perkumpulan walaupun tidaklah berlaku pada mereka perbuatan menangir kerana perbuatan itu akan mengembalikan kesedihan dan menambahkan bebanan.” (Al-Umm, j.1, ms.318)
          * Segelintir orang jahil bertopengkan ‘ustaz’ telah menyangka Majlis Ma’tam yang dibenci oleh Imam Syafie adalah sama dengan Majlis Tahlilan. Sedangkan “ma’tam ialah perkumpulan orang yang kebiasaannya akan bertambahlah kesedihan dalam perkumpulan mereka.” (Rujuklah Al-Munjid, ms.2)

          * Maka, illah larangan ma’tam ialah kerana ia termasuk dalam ‘niyahah’ iaitu meratap pemergian si mati. Hal ini dilarang dalam agama kerana Nabi s.a.w bersabda:

          ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎﺀ ﺍﻟﺤﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻭ ﺑﺒﻜﺎﺀ ﺍﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
          “Mayat akan diazab kerana tangisan rantapan orang hidup ke atasnya atau tangisan rantapan keluarganya” (HR. Muslim)

          * Konsep yang berbeza pada majl

          is tahlilan, kerana ia bukan majlis meratap dan bersedih. Melainkan sebagai suatu usaha keluarga si mati untuk mengirimkan pahala kepada si mati dengan pelbagai amalan kebaikan.

          》Begitu juga seperti larangan kenduri wahsyah yang diterangkan dalam kitab-kitab fiqh yang lain, larangan tersebut berserta dengan illah yang berbeza. Sebab itulah, urusan menentukan hukum diberikan kepada alim ulama bukannya kepada cikgu geografi.

          》Bagaimana pula, dengan pendapat Imam Syafie mengenai mengirim pahala bacaan Al-Quran?

          * Imam Nawawi telah menyatakan mengirim pahala doa dan sedekah adalah sampai dengan IJMAK ULAMA.

          ﻳﺼﻠﻪ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﺎﻻﺟﻤﺎﻉ

          (Rujuklah Fatawa Imam Nawawi, ms.146)
          * Ini bermakna, usaha keluarga mengirim pahala sedekah makanan dalam majlis tahlilan itu SAMPAI kepada si mati dengan ijmak ulama.

          》Namun, yang menjadi khilaf ialah 0ahala bacaam Al-Quran. Menurut Imam Nawawi, ia sampai.

          Dan menurut Syeikhul Islam Zakaria Al-Anshari:

          ﺍﻥ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻱ ﻓﻰ ﺗﻼﻭﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻣﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺍﺫﺍ ﻗﺮﺃ ﻻ ﺑﺤﻀﺮﺓ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﻮ ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ ﻟﻪ ﺍﻭ ﻧﻮﺍﻩ ﻭﻟﻢ ﻳﺪﻉ

          “Sesungguhnya pendapat masyhur dalam mazhab Syafie mengenai bacaan Al-Quran (yang pahalanya dikirimkan kepada si mati) adalah apabila dibaca tidak dilakukan ketika mayat berada dihadapan pembaca, dan jika tidak diniatkan hadiah pahala kepadanya atau diniatkan pahala bacaan kepadanya tetapi tidak membaca doa sesudah bacaan Al-Quran tersebut.”
          (Rujuklah Hukm Asy-Syar’iyyah Al-Islamiah fil Ma’tam Al-Arbain, ms.43)

          * Maka, beginilah kesimpulan ulama bermazhab Syafie simpulkan setiap perbuatan, ijtihad dan wasiat Imam Syafie. Kerana mereka lebih memahami fiqh dalam mazhab berbanding cikgu geografi.

          ☆ Penulis kitab Al-Hawi iaitu Imam Suyuthi & penulis kitab Hukm Asy-Sya’iyyah Al-Islamiah fil Ma’tam Al-Arbain ialah Syeikh Hasanain Makhluf, kedua-duanya tinggal di Mesir. Mereka menyokong majlis tahlilan dengan pelbagai hujjah yang dinyatakan dalam kitab mereka tersebut.

          SOALNYA, bilakah amalan hindu bertapak di Mesir?

          Disediakan oleh: Hafiz Al Za’farani (HAZA)

          04/09/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          Adakah umat Islam mengadakan kenduri Arwah kepada Nabi Muhammad s.a.w?

          Adakah umat Islam mengadakan kenduri Arwah kepada Nabi Muhammad s.a.w?

          Dan siapa pula yg memimpin majlis tahlil ketika Imam Shafie wafat?

          1) Adakah umat Islam mengadakan kenduri Arwah kepada Nabi Muhammad s.a.w? Dan siapa pula yg memimpin majlis tahlil ketika Imam Shafie wafat?

          Jawapannya:

          Tiada seorang pun yang mengadakan kenduri arwah atau majlis tahlilan kepada Baginda s.a.w kerana Rasulullah s.a.w adalah *MAKSUM* dan telah dijamin Syurga.

          》Majlis Tahlilan bertujuan untuk keluarga si mati sedekahkan makanan kepada keluarga jauh dan jiran tetangga yang mana sedekah itu diniatkan pahalanya kepada si mati. Dan hadirin berzikir, membaca Al-Quran, berdoa agar pahala disedekahkan kepada si mati.

          ﻋﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﻋﺒﺴﺔ ﻗﺎﻝ ﺍﺗﻴﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﻠﺖ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﺍﻻﺳﻼﻡ؟ ﻗﺎﻝ ﻃﻴﺐ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻭﺍﻃﻌﺎﻡ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ

          “Dari Amru bin Abasah berkata: Aku mendatangi Rasulullah s.a.w lalu aku bertanya: Wahai Rasulullah s.a.w, apakah Islam? Baginda s.a.w berkata: Perkataan yang baik dan menjamu makanan” (Hr. Ahmad)

          》Jika ada yang mempertikaikan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, mari kita lihat hadis Muslim:

          ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺍﻥ ﺭﺟﻼ ﺳﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻱ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﺧﻴﺮ؟ ﻗﺎﻝ “ ﺗﻄﻌﻢ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﺗﻘﺮﺃ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻋﺮﻓﺖ ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﺗﻌﺮﻑ ”

          “Dari Abdullah bin Amru berkata, telah datang seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shalallah alaihi wasallam, bagaimana Islam yang terbaik?

          Baginda s.a.w bersabda, yang menjamu makanan dan menyebarkan salam kepada yang kamu kenali atau kepada orang yang tidak kamu kenali” (Hr. Muslim, no.39)

          》Mengenai persoalan sampai atau tidak kiriman pahala kepada si mati, ia telah dijawab bahawa pahala sampai kepada si mati oleh:

          1) Imam Nawawi melalui kitab Fatawa Nawawi

          2) Imam Ibnu Hajar Al-Haitami melalui kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiah Al-Kubra, j.2, ms.30-31.

          3) Ibnu Qayyim melalui kitab Al-Ruh, ms.143.

          4) Ibnu Taimiyyah melalui kitab Hukm Al-Syar’iyyah Al-Islamiyyah fi Ma’tam Al-Arbain, ms.36
          Dan lain-lain.

          》Imam Suyuthi telah menyatakan boleh diadakan jamuan makan sebagai sedekah kepada si mati selama 7 hari atau 40 hari:

          “Sesungguhnya At-Thowus berkata:

          Seorang yang mati akan beroleh ujian dari Allah dalam kuburnya selama 7 hari”

          Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan jamuan makan (sebagai sedekah) untuk si mati selama hari-hari tersebut.”

          Sahabat Ubaid bin Umair berkata: “Seorang mukmin dan munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mukmin akan beroleh ujian selama 7 hari, sedangkan seorang munafiq selama 40 hari di waktu pagi”
          (Rujuklah kitab al-Hawi, Imam Suyuthi, j.2, ms. 178)

          》Selain itu, Imam Suyuthi telah bersaksi bahawa:

          “Sesungguhnya sunatnya bersedekah memberi makan selama 7 hari telah sampai kepadaku, ia berterusan hingga sekarang di Mekkah dan Madinah. Secara zahirnya ia tidak ditinggalkan (daripada diamalkannya) dari masa sahabat sehingga sekarang dan mereka melakukannya sebagai tradisi diambil dari ulama Salaf sejak generasi pertama”
          (Rujuklah kitab al-Hawi, Imam Suyuthi, j.2, ms. 194)

          》Kelihatannya, persaksian Imam Syuthi yang hidup sepanjang tahun 849-911H ada benarnya juga kerana telah dinyatakan oleh Imam Ibnu Asakir:

          “Beliau telah mendengar Al-Syeikh Al-Faqih Abu Al-Fath Nashrullah bin Muhammad bin Abd Al-Qawi Al-Masyisyi berkata: Telah wafat Al-Syeikh Nashr bin Ibrahim Al- Maqdisi pada hari Selasa 9 Muharram 490H di Damsyiq. Kami telah berhenti/berada di kuburnya selama 7 malam, membaca Al-Quran pada setiap malam 20 kali khatam.
          (Rujuklah Tabyin Kazb Al-Muftari fi Ma Nusiba ila Al-Imam Abi Al-Hasan al-Asy’ari)
          * Hal ini berlaku pada tahun 490H.

          》Dan juga dibuktikan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani:

          “Ahmad Ibn Muni’ melaporkan di dalam Musnadnya daripada Al-Ahnaf Ibnu Qais berkata: Apabila Saidina Umar r.a telah ditikam (dibunuh) beliau telah memerintahkan Suhaib untuk mengerjakan sembahyang dengan orang ramai selama 3 hari dan beliau menyuruh agar disedikan makanan kepada orang ramai.”

          Kata Amirul Mukminin Fil Hadis Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Isnadnya adalah hasan.
          (Rujuklah Al-Mathalib Al-Aliyyah, j.1, ms.199, hadis no.

          709)
          * Hal ini berlaku sekitar tahun 23H.

          》Dan juga, terdapat hadith dalam Sunan Abu Daud yang menyatakan selepas mengebumian jenazah, Rasulullah menerima jemputan ke rumah untuk makan. Menurut syarah Sunan Abu Daud:

          ( ﺩﺍﻋﻰ ﺍﻣﺮﺍﺓ ‏) … ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻤﺸﻜﺎﺓ، ﺩﺍﻋﻲ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﺑﺎﻻﺿﺎﻓﺔ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻀﻤﻴﺮ . ﻓﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ : ﺃﻱ ﺯﻭﺟﺔ ﺍﻟﻤﺘﻮﻓﻲ

          (Da’i Imra’ah)… dan di dalam kitab al-Misykat digunakan ‘da’i imra’atihi’ yang disandarkan kepada dhamir (iaitu ‘nya’). Al-Qari berkata: iaitu ISTERI SI MATI.
          (Rujuklah ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud)

          * Hal ini menunjukkan ahli keluarga si mati menjemput nabi s.a.w makan seperti yang telah disimpulkan oleh Syeikh Ibrahim Al-Halabi:
          “Hadith ini menunjukkan atas bolehnya ahli keluarga mayat menyediakan makanan dan menjemput orang lain untuk makan. Jika makanan itu diberikan kepada fakir miskin adalah baik. Melainkan (iaitu tidak boleh berbuat demikian) jika salah seorang dari ahli waris ada yang masih kecil makan tidak boleh diambol dari harta ahli waris si mati”
          (Rujuklah Al-Bariqah Al-Muhammadiyyah, j.3, ms.235 dan Al-Masail Al-Muntakhabah,ms.49)
          * Hal ini berlaku pada zaman Nabi s.a.w.
          = = = = = = = = = = = =

          2. Siapa pula yang memimpin majlis tahlilan ketika Imam Syafie wafat?

          Jawapannya:

          Ia adalah seorang wali (penguasa) yang bernama Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam.
          Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam adalah seseorang yang diwasiatkan oleh Imam Syafie, apabila beliau wafat agar dimandikan dan diurus oleh Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, dari kerja-kerja memandikan, memimpin solat jenazah, menguburkan, mendoakan serta mengadakan majlis tahlilan bersama jamaah yang lain yang hadir saat Imam Syafi’i wafat.
          Imam Syafie wafat pada malam Jumaat pada waktu subuh pada hari terakhir bulan Rejab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Masihi pada usia 52 tahun.

          Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafie sampai hari ini, dan disana pula dibangun sebuan masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafie. Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya kerana banyaknya penziarah. (Sila rujuk kitab tarikh atau Manaqib Imam Syafie)

          》Persoalan mengenai pendirian Imam Syafie:
          Imam Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani berkata: “Saya pernah bertanya kepada Imam Syafie mengenai bacaan Al-Quran di kubur. Ternyata beliau itu (Imam Syafie) membolehkannya”.

          》Hal ini dikukuhkan lagi apabila Imam Syafie sendiri pernah menziarahi makam Imam Laith bin Sa’ad, kemudian beliau membaca Al-Quran.

          ﻭﻗﺪ ﺗﻮﺍﺗﺮ ﺍﻥ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺯﺍﺭ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﻭﺍﺛﻨﻰ ﺧﻴﺮﺍ ﻭﻗﺮﺃ ﻋﻨﺪﻩ ﺧﺘﻤﺔ ﻭﻗﺎﻝ : ﺍﺭﺟﻮﺍ ﺍﻥ ﺗﺪﻭﻡ ﻓﻜﺎﻥ ﺍﻻﻣﺮ ﻛﺬﻟﻚ

          “Dan telah mutawatir (masyhur) riwayat bahawa Imam Syafie telag menziarahi makam Imam Laith bin Sa’ad. Beliau memujinya dan membaca Al-Quran di sisi kuburnya dengan sekali khatam. Imam Syafie berkata: Aku mengharapkan agar ia (amalan membaca Al-Quran seperti di sisi makan Imam Laith) akan berterusan, maka begitulah seperti apa yang dikatakan (didoakan) oleh Imam Syafie”
          (Rujuklah kitab az-Zakhirah Ath-Thaminah, ms.64)

          》Bagaimana pula dengan perkataan Imam Syafie:

          ﻭﺃﻛﺮﻩ ﺍﻟﻤﺄﺗﻢ ﻭﻫﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻭﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻬﻢ ﺑﻜﺎﺀ ﻓﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﺤﺪﺩ ﺍﻟﺤﺰﻥ ﻭﻳﻜﻠﻒ ﺍﻟﻤﺆﻧﺔ
          “Dan aku
          membenci ma’tam iaitu adanya perkumpulan walaupun tidaklah berlaku pada mereka perbuatan menangir kerana perbuatan itu akan mengembalikan kesedihan dan menambahkan bebanan.” (Al-Umm, j.1, ms.318)
          * Segelintir orang jahil bertopengkan ‘ustaz’ telah menyangka Majlis Ma’tam yang dibenci oleh Imam Syafie adalah sama dengan Majlis Tahlilan. Sedangkan “ma’tam ialah perkumpulan orang yang kebiasaannya akan bertambahlah kesedihan dalam perkumpulan mereka.” (Rujuklah Al-Munjid, ms.2)

          * Maka, illah larangan ma’tam ialah kerana ia termasuk dalam ‘niyahah’ iaitu meratap pemergian si mati. Hal ini dilarang dalam agama kerana Nabi s.a.w bersabda:

          ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎﺀ ﺍﻟﺤﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻭ ﺑﺒﻜﺎﺀ ﺍﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
          “Mayat akan diazab kerana tangisan rantapan orang hidup ke atasnya atau tangisan rantapan keluarganya” (HR. Muslim)

          * Konsep yang berbeza pada majl

          is tahlilan, kerana ia bukan majlis meratap dan bersedih. Melainkan sebagai suatu usaha keluarga si mati untuk mengirimkan pahala kepada si mati dengan pelbagai amalan kebaikan.

          》Begitu juga seperti larangan kenduri wahsyah yang diterangkan dalam kitab-kitab fiqh yang lain, larangan tersebut berserta dengan illah yang berbeza. Sebab itulah, urusan menentukan hukum diberikan kepada alim ulama bukannya kepada cikgu geografi.

          》Bagaimana pula, dengan pendapat Imam Syafie mengenai mengirim pahala bacaan Al-Quran?

          * Imam Nawawi telah menyatakan mengirim pahala doa dan sedekah adalah sampai dengan IJMAK ULAMA.

          ﻳﺼﻠﻪ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﺎﻻﺟﻤﺎﻉ

          (Rujuklah Fatawa Imam Nawawi, ms.146)
          * Ini bermakna, usaha keluarga mengirim pahala sedekah makanan dalam majlis tahlilan itu SAMPAI kepada si mati dengan ijmak ulama.

          》Namun, yang menjadi khilaf ialah 0ahala bacaam Al-Quran. Menurut Imam Nawawi, ia sampai.

          Dan menurut Syeikhul Islam Zakaria Al-Anshari:

          ﺍﻥ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻱ ﻓﻰ ﺗﻼﻭﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻣﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺍﺫﺍ ﻗﺮﺃ ﻻ ﺑﺤﻀﺮﺓ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﻮ ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ ﻟﻪ ﺍﻭ ﻧﻮﺍﻩ ﻭﻟﻢ ﻳﺪﻉ

          “Sesungguhnya pendapat masyhur dalam mazhab Syafie mengenai bacaan Al-Quran (yang pahalanya dikirimkan kepada si mati) adalah apabila dibaca tidak dilakukan ketika mayat berada dihadapan pembaca, dan jika tidak diniatkan hadiah pahala kepadanya atau diniatkan pahala bacaan kepadanya tetapi tidak membaca doa sesudah bacaan Al-Quran tersebut.”
          (Rujuklah Hukm Asy-Syar’iyyah Al-Islamiah fil Ma’tam Al-Arbain, ms.43)

          * Maka, beginilah kesimpulan ulama bermazhab Syafie simpulkan setiap perbuatan, ijtihad dan wasiat Imam Syafie. Kerana mereka lebih memahami fiqh dalam mazhab berbanding cikgu geografi.

          ☆ Penulis kitab Al-Hawi iaitu Imam Suyuthi & penulis kitab Hukm Asy-Sya’iyyah Al-Islamiah fil Ma’tam Al-Arbain ialah Syeikh Hasanain Makhluf, kedua-duanya tinggal di Mesir. Mereka menyokong majlis tahlilan dengan pelbagai hujjah yang dinyatakan dalam kitab mereka tersebut.

          SOALNYA, bilakah amalan hindu bertapak di Mesir?

          Disediakan oleh: Hafiz Al Za’farani (HAZA)

          04/09/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          MAYAT TAU ORANG YANG MENZIARAH NYA.

          Dari Ibnu Abu al Muttaid, dia berkata, “Telah berkata kepadaku Tamadlar binti Sahal, istri Ayub bin Uyainah, “Telah datang kepadaku putri Sufyan bin Uyainah dan dia berkata, “Dimana pamanku Ayub?” aku menjawab, “Dia berada didalam masjid.”

          Tanpa berlama-lama dia lalu menemui Ayub.

          Putri Sufyan berkata, “Wahai pamanku! Sesungguhnya ayahku telah menemui aku didalam mimpi.

          Dia berkata, “Semoga Allah membalas saudaraku Ayub dengan kebaikan, karena dia telah banyak menziarahi aku hingga saat ini.” Ayub berkata, “Memang benar aku telah mendatangi satu jenazah setelah selesai pemakaman selesai aku lalu pergi kemakam dia.”

          Imam Ibnu Hajar dalam Fatawi al Fiqhiyyah al Kubra telah menjelaskan kalau mayit boleh mengetahui orang yang menziarahinya dan dia akan merasa tentram dengan orang kehadiran orang itu, berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu al Dunia,

          ماَ مِنْ رَجُلٍ يَزُورُ قَبْرَ أَخِيْهِ وَ يَجْلِسُ عَلَيْهِ إِلاَّ اسْتَأْنَسَ وَ رُدَّ حَتَّى يَقُومَ.

          “Tidaklah dari seseorang yang menziarahi makam saudaranya dan duduk didekatnya kecuali saudaranya akan merasa tentram hingga dia berdiri untuk pulang.”

          Dan telah shahih hadits,

          ماَ مِنْ اَحَدٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ أَخِيْهِ الْمُؤْمِنِ كاَنَ يَعْرِفُهُ فِي الدُّنْياَ فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلاَّ عَرَفَهُ وَ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ.

          “Tidaklah dari seseorang yang melewati makam saudaranya yang mukmin yang dia mengenalnya di dunia lalu dia bersalam kepadanya, melainkan saudaranya itu akan mengenalnya dan menjawab salamnya.”

          Wallahu’alam.

          01/09/2019 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

          Mengapa Liberal Memburukkan Mufti?

          Olih: Ustaz Dr. Ahmad Sanusi Azmi

          1. Apabila *Faisal Tehrani* menyifatkan Mufti sebagai seorang yang tidak mempunyai akal, bersifat angkuh malah seorang penyembah berhala diri, ini adalah satu kenyataan yang berat. Ia seakan satu hasutan untuk memburukkan institusi keagamaan sedangkan Mufti mempunyai peranan yang besar dalam memberikan nasihat berhubung hal ehwal agama.

          2. Seseorang yang benar-benar menyayangi ahli keluarga Nabi itu akan sentiasa memandang tinggi para ilmuan seperti Mufti. Perhatikan apa yang dikatakan oleh Saidina Ali, menantu Rasulullah ini:

          “إن من حق العالم أن لا تكثر عليه بالسؤال وعليك أن توقره وتعظمه لله تعالى ما دام يحفظ أمر -الله تعالى-، ولا تجلس أمامه، وإن كانت له حاجة…”

          “Sesungguhnya salah satu hak yang perlu dipelihara terhadap orang alim itu adalah kamu tidak memenatkannya dengan soalan, dan hendaklah kamu memuliakannya dan mengagungkannya selagi mana dia menjaga hak Allah. Janganlah kamu duduk dihadapanya (kerana menghormatinya) sekalipun kamu mempunyai keperluan…”

          3. Malah sekiranya seseorang itu menyayangi ahli keluarga Nabi, mereka akan sentiasa menghormati para ulama seperti yang dilakukan oleh sepupu Rasulullah Saidina Abdullah ibn Abbas. Abdullah ibn Abbas dikatakan seorang yang sangat menghormati para ilmuan agama. Beliau pernah memimpin kuda Zaid ibn Thabit kerana menghormati ilmuan agama tersebut.

          4. Bahkan Abdullah ibn Abbas pernah menempelak mereka yang mencerca para ilmuan. Kata Abdullah ibn Abbas:

          من آذى فقيها فقد آذى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومن آذى رسول الله (صلى الله عليه وسلم) فقد آذى الله -عز وجل

          “Barangsiapa yang menyakiti seorang faqih, maka dia telah menyakiti Rasulullah dan barangsiapa yang menyakiti Rasulullah, sesungguhnya dia telah menyakiti Allah.

          5. Jelas sekali disini, para ahli keluarga Nabi itu adalah orang yang sangat mencintai ulama. Kenyataan Faisal Tehrani tersebut seakan bukan daripada apa yang diajarkan oleh Rasulullah, bahkan ahli keluarga Rasulullah. Perlakuan tersebut mirip kepada Syiah Sesat yang membenci sahabat Nabi. Mereka mengutuk para sahabat dengan cercaan yang keji.

          6. Bahkan tindakan memburukkan Mufti dan agamawan ini tidak ubah seperti doktrin Liberal yang cuba menghasut masyarakat membenci Ulama. Mereka cuba memisahkan agama dari kehidupan manusia.

          Semoga Allah membimbing kita semua.

          Dr. Ahmad Sanusi Azmi
          https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

          31/08/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          BUDAYA – KOMPANG & TARIAN.

          -[Kalam Al-Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid ]

          Di dalam Shahih Bukhari & Shahih Muslim, diceritakan tentang beberapa budaya yang datang daripada luar tetapi diakui dan dibolehkan oleh Nabi S.A.W. Yakni di dalam hukum menjadi harus. Bukan sunnah mahupun wajib. Ianya adalah HARUS.

          Yang pertama budaya KOMPANG. Yang kedua budaya TARIAN.

          Kompang itu adanya di Madinah di zaman dahulu. Tarian yang ada di zaman Nabi S.A.W itu datangnya dari negeri Habasyah (Ethiopia)

          Di zaman Nabi S.A.W seorang perempuan datang kepada Nabi S.A.W dan memberitahukan “Ya Rasulullah, saya bernazar kalau kamu balik selamat saya akan pukul kompang”. Maka Nabi S.A.W bersabda “Tunaikan nazarmu”.

          Itu bahagian daripada apa yang menjadi kebiasaan orang di Madinah dahulu bilamana gembira maka akan pukul kompang.

          Ketika motifnya perempuan itu baik, yakni gembira Nabi S.A.W balik selamat dan ingin diungkapkan dengan memukul kompang, maka Nabi S.A.W bersabda “Tunaikan nazarmu”. Maka perempuan itupun memukul kompang di hadapan Nabi S.A.W.

          Nabi S.A.W juga bersabda “Isytiharkan pernikahan itu dengan kompang”. Suatu hari ketika ada pernikahan dan di situ tidak ada kompang, tidak ada orang-orang yang membaca syair/berqasidah, Nabi S.A.W berkata “Di mana orang yang suka baca syair?” Dicari oleh Nabi S.A.W sebab hari pernikahan adalah hari gembira.

          Kegembiraan yang ada di zaman Nabi S.A.W diungkapkan antaranya dengan memukul kompang dan bersyair.

          Maka ulama mengambil pendapat bahawasanya diperbolehkan memukul kompang bilamana motif kegembiraan itu baik. Tapi bukan maksudnya sunnah pukul kompang untuk mengungkapkan kegembiraan, ianya harus sahaja.

          Di zaman Nabi S.A.W juga ada golongan Habasyah (Ethiopia) yang mempunyai budaya menari di hari kegembiraan dengan tarian yang menggunakan tongkat.

          Maka ketika hari raya, mereka orang-orang Habasyah itu menari di Masjid Nabi S.A.W. Menarinya mereka semata-mata untuk gembira kerana itu hari raya, maka diungkapkan kegembiraan mereka dengan tarian.

          Jangan salah faham tarian tersebut dengan tarian seperti di disko dan sebagainya yang ada di sekeliling kita zaman ini. Ianya adalah tarian yang sopan. Ada sebuah buku ditulis oleh ulama dari Al Azhar, namanya Sheikh Abdul Fattah, menulis tentang hukum tarian dan macam-macam tarian serta sejarah lahirnya tarian. Dibahaskan dalam buku tersebut apa hukum menari. Tarian ini punya sejarahnya. Ada sumbernya.

          Maka waktu orang-orang Habasyah menari di hadapan Nabi S.A.W, Rasulullah S.A.W mengizinkan kepada isterinya Siti Aisyah r.a untuk menyaksikan. Dan ini adalah sebagai satu sumber yang di hari gembira diperbolehkan seseorang itu mengungkapkannya dengan tarian yang sopan.

          Imam Ibnu Hajar Al-Asqallani berkata: bahawa lelaki-lelaki Habasyah menari sambil bersyair dengan bahasa mereka (bukan Bahasa Arab). Lalu Nabi S.A.W bertanya: Apa yang mereka katakan? Lalu dijawab: Mereka mengatakan “Muhammad hamba yang soleh”

          Dalam riwayat yang lain, Nabi S.A.W justeru memberi sokongan dengan bersabda: “Ayuh teruskan dengan semangat wahai Bani Arfadah (nama datuk orang Habasyah).”

          Imam Ibnu Hajar Al-Asqallani berkata, “Ini adalah cara dan kebiasaan mereka, dan ini adalah perkara yang harus dan tidak disalahkan.”

          Di antara iktibar yang dapat diambil adalah:

          1. Rasulullah S.A.W mendengarkan bahkan membenarkan syair/qasidah walaupun bukan Bahasa Arab selagi maknanya baik.

          2. Boleh menyaksikan hiburan dalam bentuk tarian dan memberikan semangat kepada mereka yang mempersembahkan, selagi tidak bercanggah dengan agama dan nilai-nilai kesopanan.

          Dalam riwayat yang lain, Saidina Abu Bakar As-Siddiq r.a. melarang tarian tadi, dan terdapat riwayat lain yang menyatakan demikian juga Saidina Umar Al-Khattab r.a. melarangnya, maka Nabi S.A.W menegur keduanya dan bersabda, “Biarkanlah mereka (menari dan bersyair), setiap kaum mempunyai Hari Raya, dan inilah Hari Raya kami (kaum Muslimin).”

          Pada riwayat yang lain, Nabi S.A.W bersabda, “Biarkanlah mereka bermain (menari dan bersyair) agar supaya bangsa yahudi tahu bahwa dalam agama kami (Islam) luas (tidak jumud). Sesungguhnya Saya (Rasulullah S.A.W) diutus dengan ajaran yang suci lagi tidak jumud.”

          Di antara iktibar yang dapat diambil adalah:

          1. Nabi S.A.W menegur orang yang melarang acara tarian itu. Kalau di zaman sekarang ada yang menegur acara seumpama ini, bukankah sepatutnya dia yang perlu mendapat teguran?

          2. Nabi S.A.W memperbolehkan bergembira dengan tarian yang sopan dan bersyair dengan 2 sebab:

          • Ini adalah hari raya kami (yakni hari gembira). Diperbolehkan bergembira di hari raya dan hari gembira yang lain dengan tarian, syair atau yang lain selagi tidak bercanggah dengan agama dan nilai-nilai kesopanan.

          • Agar kaum yahudi tahu kalau agama ini tidak jumud. Yakni, ingin menyatakan bahawa agama Islam memperbolehkan berhibur walaupun dengan tarian, dan seumpamanya dan menjawab dakwaan yahudi bahawa agama Islam adalah jumud dan melarang penganutnya untuk berhibur.

          Wallahu’alam .

          30/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , , | Leave a comment

          Pesan Tuan Guru Hj. Salleh Musa حفظه الله تعالى

          Image may contain: 1 person, text

          “Hangpa mengaji tauhid biaq betoi, AQIDAH tuu yang perlu jaga.. Hangpa jangan dok buang masa, jangan dok biarkan usia hangpa HANYUT begitu saja.. Isikan usia hangpa ni dengan mengaji ilmu agama.. Muliakan dengan ilmu TAUHID.. Lepas tuu, pi mengaji ilmu FEQAH.. Lepas tuu baru pi mengaji ilmu TASAWUF.. Jangan dok kalut nak pi ilmu TASAWUF, hadis dan sebagainya jika Allah سبحانه وتعالى sendiripun hangpa tak kenal.. Macam mana nak kenal Allah سبحانه وتعالى jika takmau ngaji ilmu TAUHID.. Sebab tak kenal Allah سبحانه وتعالى lah depa dok suka sesatkan orang, bida’ahkan orang.. Ada ilmu HADIS, tapi ilmu TAUHID takdak.. Punah habis semuanya..

          Nak mengaji ni, ibarat nak naik TANGGA.. Kena langkah dari BAWAH, barulah sampai kat tingkat ATAS.. Jangan dok kalut nak meloncat nak ke tingkat atas dari tingkat BAWAH.. Satgi jatuh, mampuih.. Kalau nak naik, ikutlah turutan yang betul.. Jangan dok ikut puak-puak Syi’ah, Wahabi, Mu’tazilah, Sekular, Liberal dan sebagainya..

          Kita pegang sungguh-sungguh dengan Manhaj AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.. Jangan dok lari dari DASAR pegangan kita.. Sekarang ni, ulama’ – ulama’ tua tak banyak dah.. Hangpa pi lah tengok dalam Malaysia, Thailand, Indonesia semua tak banyak dah.. Yang ada pun tinggal berapa orang jaa ulama’ tua yang masih Sementara depa masih ada lagi ni, pi lah dampingi depa.. Pi duduk dalam Majlis Ilmu depa.. Cedok (ambik) ilmu depa, insyaAllah, Allah سبحانه وتعالى akan bantu..” Pesanan ditujukan khas untuk diri sendiri yang jahil takdak ilmu, sangat lagho & hina dina..

          Kredit : Al-Faqir Ilallah, Abu Fadhil Ridhauddin

          27/08/2019 Posted by | Aqidah, Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

          55 CIRI-CIRI SALAFI WAHABI

          Oleh: KH Thobary Syadzily

          Inilah aliran Salafi Wahabi yakni ajaran yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi an-Najdi :

          1. Allah bersemayam di atas ‘arsy seperti akidahnya kaum Yahudi.

          2. Golongan yang beriman kepada setengah ayat Al-Qur’an dan kafir dengan setengah ayat Al-Quran yang lain.

          3. Golongan yang menolak Takwil pada setengah ayat, dan membolehkan Takwil pada setengah ayat yang lain berdasarkan mengikuti hawa nafsu mereka.

          4. Golongan yang menafikan Kenabian Nabi Adam A.S.

          5. Golongan yang menyatakan bahwa Alam ini Qidam/Maha Dahulu lebih drpd Allah (Rujuk pandangan ibn Taimiyyah).

          6. Golongan yang mengkafirkan Imam Abu al-Hasan Al-Asy’ari dan para pengikutnya.

          7. Golongan yang mengkafirkan Sultan Sholahuddin Al-Ayyubi dan Sultan Muhammad Al-Fateh.

          8. Golongan yang mengkafirkan Imam An-Nawawi dan Seluruh Ulama Islam yang menjadi para pengikutnya (Asy’ariyah dan Maturidiyah).

          9. Golongan yang mengdhoifkan hadits-hadits sohih dan mengsohihkan hadis-hadis dhoif (lihat penulisan Albani).

          10. Golongan yang tidak mempelajari ilmu dari Guru atau Syeikh, hanya copy paste dan membaca dari buku2 dsb.

          11. Golongan yang mengharamkan bermusafir ke Madinah dengan niat ziarah Nabi Muhammad SAW.

          12. Golongan yang membunuh Ummat Islam beramai-ramai di Mekah, Madinah, dan beberapa kawasan di tanah Hijaz (lihat tarikh an-Najdi).

          13. Golongan yang meminta bantuan Askar dan Senjata pihak Britain (yang bertapak di tempat Kuwait pada ketika itu) ketika kalah dalam perang ketika mereka ingin menjajah Mekkah dan Madinah.

          14. Golongan yang menghancurkan turath (sejarah peninggalan) Ummat Islam di Mekkah dan Madinah.(lihat kawasan pekuburan Jannatul Baqi, Bukit Uhud dsb)

          15. Golongan yang membenci kaum ahlul bait.

          16. Golongan yang bertentangan dengan Ijma para Shohabah, Tabiin, Salafus Soleh, Khalaf dan seluruh Ulama ASWAJA.

          17. Golongan yang mendakwa akal tidak boleh digunakan dalam dalil syara’, dengan menolak fungsi akal (ayat-ayat Al-Quran menyarankan menggunakan akal)

          18. Golongan yang mengejar syuhrah (pangkat, nama, promosi,kemasyhuran) dengan menggunakan pemahaman mereka yang salah terhadap Al-Quran dan As-Sunnah.

          19. Golongan yang mengdhoifkan hadis solat tarawih 20 rakaat.(Albani)

          20. Golongan yang mengharamkan menggunakan Tasbih.(Albani)

          21. Golongan yang mengharamkan berpuasa pada hari sabtu walaupun hari Arafah jatuh pada hari tersebut.(Albani)

          22. Golongan yang memperlecehkan Imam Abu Hanifah R.A.(Albani)

          23. Golongan yang mendakwa Allah memenuhi alam ini dan menghina Allah dengan meletakkan anggota pada Allah SWT.

          24. Golongan yang mendakwa Nabi Muhammad SAW tidak hayyan (hidup) di kuburan beliau .(Albani)

          25. Golongan yang melarang membaca Sayyidina dan menganggap perbuatan itu bidaah dholalah / sesat.

          26. Golongan yang mengingkari membaca Al-Quran dan membaca talqin pada orang yang meninggal.

          27. Golongan yang melarang membaca selawat selepas azan.(Albani)

          28. Golongan yang mengatakan Syurga dan Neraka ini fana (tidak akan kekal).(ibn Taimiyyah)

          29. Golongan yang mengatakan lafaz talaq tiga tidak jatuh, jika aku talaq kamu dengan talaq tiga cuma jatuh satu talak. (ibn Taimiyyah).

          30. Golongan yang mengisbatkan (menyatakan/menetapkan) tempat bagi Allah. (Ibn Taimiyyah)

          31. Golongan yang menggunakan wang ringgit untuk menggerakkan ajaran sesat mereka, membuat tadlis (penipuan dan pengubahan) di dalam kitab-kitab ulama yang tidak sependapat dengan mereka.

          32. Golongan yang mengkafirkan orang Islam yang menetap di Palestine sekarang ini. (Albani)

          33. Golongan yang membidaahkan seluruh umat Islam.

          34. Golongan yang menghukum syirik terhadap amalan umat Islam yang tidak sepaham dengan mereka.

          35. Golongan yang membawa ajaran tauhid tetapi tidak pernah belajar ilmu tauhid.(Ibn Taimiyyah)

          36. Golongan yang mengatakan bahawa Abu Jahal dan Abu Lahab juga mempunyai tauhid, tidak pernah Nabi Muhammad SAW mengajar begini atau pun para Shohabah R.A. (Muhammad Abdul Wahab)

          37. Golongan yang membolehkan memakai lambang salib hanya semata-mata untuk mujamalah/urusan resmi kerajaan, dan hukumnya tidak kufur. (Bin Baz)

          38. Golongan yang membiayai kewangan Askar Kaum Kuffar untuk membunuh Umat Islam dan melindungi negara mereka. (kerajaan Wahabi Saudi)

          39. Golongan yang memberi Syarikat-syarikat Yahudi memasuki Tanah Haram.(Kerajaan Wahabi Saudi)

          40. Golongan yang memecah-belah Umat Islam dan institusi kekeluargaan.

          41. Golongan yang mengharamkan Maulid dan bacaan-bacaan barzanji, marhaban.

          42. Golongan yang menghalalkan bom bunuh diri atas nama jihad walaupun orang awam kafir yang tidak bersenjata mati. (selain di Palestine)

          43. Golongan yang menghalalkan darah Ahlus Sunnah Wal Jamaah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Lihat di Lubnan, Chechnya, Algeria, dan beberapa negara yang lain.

          44. Golongan yang menimbulkan fitnah terhadap Umat Islam dan menjelek-jelekkan nama baik Islam.

          45. Golongan yang membuat kekacauan di Fathani, Thailand.

          46. Golongan yang sesat menyesatkan rakyat Malaysia.

          47. Golongan yang meninggalkan ajaran dan ilmu-ilmu Ulama ASWAJA yang muktabar.

          48. Golongan yang meninggalkan methodologi ilmu ASWAJA.

          49. Golongan yang Minoritas dalam dunia, malah baru berumur setahun jagung.

          50. Golongan yang menuduh orang lain dengan tujuan melarikan diri atau menyembunyikan kesesatan mereka.

          51. Golongan yang jahil, tidak habis mempelajari ilmu-ilmu Agama, tetapi ingin membuat fatwa sesuka hati.

          52. Golongan yang melarang bertaqlid, tetapi mereka lebih bertaqlid kepada mazhab sesat mereka.

          53. Golongan yang secara zahirnya berjubah, berkopiah, singkat jubah, janggut panjang, tetapi berlewat, tidak menghormati ulama, mengutuk para Alim Ulama dan tidak amanah dengan ilmu dan agama Islam.

          54. Golongan yang tidak berhujjah dalam ajaran mereka.

          55. Golongan yang membawa ajaran sesat Ibn Taimiyyah/Muhamad Ibn Abd Wahab, kedua-dua individu ini telah dicemuh, ditentang, dijawab oleh Jumhur Ulama ASWAJA atas dasar akidah mereka yang menyeleweng.

          27/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

          Fahaman Zakir Naik tidak selari dengan ASWJ,kata ahli agama

          Pengasas dan Pengerusi Pusat Pengajian dan Pendidikan Islam Ar-Rifaie Selangor, Ustaz Ahmad Hafiz Mohd Alwi Al-Bakaniyy berpendapat, pendakwah antarabangsa Dr Zakir Naik perlu mempelajari fahaman akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) yang berteraskan aliran al-Asya’irah dan al-Maturidiyyah sekiranya beliau mahu berdakwah di negara ini.

          Ahmad Hafiz yang juga merupakan Panel Pakar Rujuk Deradikalisasi bagi Kes-Kes Khas Keganasan, Kementerian Dalam Negeri (KDN) dan Polis Diraja Malaysia (PDRM) turut menasihati pendakwah dari India itu, supaya mempelajari sifat 20 yang wajib bagi Allah, kitab Risalatul Tauhid dan juga kitab-kitab akidah yang lain sebelum berdakwah.

          Ini kerana katanya, fahaman Zakir Naik dilihat tidak selari dengan akidah ASWJ di negara ini, terutamanya dalam bab ketuhanan seperti yang diceritakan oleh pendakwah tersebut.

          “Bab ketuhanan ini sebagai contoh, apabila dia mengisbatkan (menetapkan) bahawa Tuhan itu yakni Allah sama dengan makhluk. Ia sudah menjadi satu kredit kepada Yahudi yang mengatakan Tuhan dia juga adalah Allah yang bersifat triniti.

          “Pada tahun 2016 kalau tak silap saya, apabila Zakir Naik datang ke sini (Malaysia), ada orang bertanya, Allah di mana? Dia (Zakir) membawa fahaman yang mengatakan bahawa Allah di Arasy, duduk di atas Arasy.

          “Akidah Islam menyatakan Allah ada tanpa tempat. Allah tidak sama dengan makhluk. Kita tidak mahu orang masuk ke dalam agama Islam dan pada masa sama, mereka pula menyekutukan Allah.

          “Zakir Naik turut mensyirikkan amalan Tawassul yang merupakan ajaran yang diajar sendiri oleh Nabi Muhammad, para sahabat serta ulama-ulama ASWJ Asyairah & Maturidiyyah dan diamalkan oleh majoriti umat Islam di dunia sehingga kini. Hal ini secara tidak langsung dia telah mensyirikkan majoriti umat Islam,”ujarnya,

          Beliau mengulas demikian kepada Malaysia Dateline, ketika ditanya mengenai larangan berceramah diseluruh negara yang dikenakan ke atas Dr Zakir Naik oleh pihak polis dan berhubung konsep dakwah yang diamalkan pendakwah tersebut..

          Dalam pada itu, Ahmad Hafiz yang berpengalaman sebagai pengkuliah dan penceramah tetap kursus pemantapan akidah, Maktab PDRM Cheras, Kuala Lumpur turut mempersoalkan bagaimana penceramah tersebut boleh membawa orang bukan Islam masuk ke dalam agama Islam, tetapi pada masa sama mensyirikkan umat Islam.

          “Beliau (Zakir) juga membid’ahkan (menghukumkan haram) amalan-amalan umat Islam seperti sambutan Maulidur Rasul yang merupakan amalan baik diamalkan oleh seluruh umat Islam di Malaysia khasnya, tahlil dan lain-lain. Ini akan membawa kepada keruntuhan akidah serta perpecahan ummah,” katanya lagi.

          Namun, tidak dinafikan ilmu perbandingan agama yang dibawa oleh pendakwah antarabangsa itu, berpotensi membawa imej yang terbaik (positif) terhadap agama Islam, khususnya daripada pandangan masyarakat dunia.

          Ahmad Hafiz berkata, ilmu agama yang dimiliki Zakir boleh dikatakan bahawa beliau adalah seorang yang mahir dalam menguasai kitab-kitab agama lain (perbandingan agama), tetapi bukannya dalam bidang akidah.

          “Saya tidak tahu secara mendalam tentang ilmu yang ada pada dirinya, tetapi melalui video-video yang orang hantar pada saya, boleh dikatakan beliau mahir dalam menguasai bab perbandingan agama.

          “Kami ingin menegaskan, jika beliau berminat ingin duduk di negara kita untuk berdakwah, maka berdakwah lah mengikut metode yang sihat dan selamat iaitu ASWJ salaf, khalaf, Asyairah dan Maturidiyyah yang hakiki,” ujarnya yang merupakan graduan Talaqqi dari Universiti Al-Azhar Mesir dalam Kuliah Usuluddin, Bidang Akidah dan Falsafah.

          Ahmad Hafiz secara peribadi turut menyatakan bahawa beliau bersedia untuk bermuzakarah dengan penceramah tersebut atau anak-anak muridnya secara ilmiah, bagi mendapatkan kata sepakat berkaitan kesatuan akidah dan penyatuan umat.

          27/08/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          SIRI 2 TABAYYUN: ANALISIS HUJJAH DR. ZAKIR NAIK PADA DAKWAAN ALLAH BERADA DI ARASY

          1. Hasil muzakarah kali ini, kami para panel membincangkan berkaitan dalil yang digunakan Dr. Zakir Naik (ZN) dalam dakwaannya bahawa Allah berada di atas Arasy. Hal ini rentetan daripada komentar daripada pentaksub ZN di posting kami sebelumnya yang mendakwa aqidah Allah berada di atas Arasy tidak salah kerana berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah.

          Penulisan sebelum ini:

          ………………………………………………………..

          2. Berdasarkan video ZN yang kami teliti, beliau menggunakan dua dalil untuk mengithbatkan Allah berada di atas Arasy, iaitu:
          i) Al-Quran (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى) – Surah Taha: 5
          ii) As-Sunnah (Hadis Jariah)
          ………………………………………………………..

          3. Oleh yang demikian, kami telah bermuzakarah untuk menghalusi dalil yang digunakan oleh ZN adakah tepat atau menyalahi dengan kaedah ASWJ dalam aqidah?
          ………………………………………………………..

          4. Fakta Pertama: Ulama ASWJ hanya mengunakan dalil yang menepati syarat qath’ie thubut dan qath’ie dilalah sebagai dalil aqidah.
          ………………………………………………………..

          5. Adapun, surah Taha ayat 5 menepati syarat qath’ie thubut tetapi tidak qath’ie dilalah. Manakala, hadis jariah pula mengalami masalah pada qath’ie thubut dan juga qath’ie dilalah. Oleh yang demikian, ulama ASWJ tidak mengambil kedua-dua dalil ini sebagai asas aqidah, melainkan golongan Wahhabi sahaja menjadikannya sebagai tonggak aqidah mereka dan inilah juga yang dilakukan oleh ZN.
          ………………………………………………………..

          6. Fakta Kedua: Surah Taha ayat 5 tidak menepati syarat qath’ie dilalah adalah kerana ia termasuk dalam ayat Al-Mutasyabihat yang mana dilalahnya samar-samar disebabkan mempunyai beberapa makna, antaranya:
          a) اعْتَدَلَ : lurus
          b) صعد : menuju
          c) ظهر : jelas
          d) الرَّجُلُ : lelaki
          e) التمام : lengkap @ sempurna
          f) جلس : duduk @ bersemayam
          g) استقر : menetap
          h) نضج : Telah masak
          i) قهر : Mengerasi
          j) ملك و استولى : Memiliki dan Menguasai
          ………………………………………………………..

          7. Oleh yang demikian, tidak semua maksud di atas layak dinisbahkan kepada Allah. Dalam berinteraksi dengan dalil seperti ini, ulama ASWJ mempunyai dua kaedah iaitu:

          [Pertama] Tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah)

          a) Imam Sufyan Ibnu Uyainah (107-198H):
          كل ما وصف الله به نفسه في كتابه فتفسيره تلاوته والسكوت عنه
          “Setiap apa yang disifatkan oleh Allah dengannya bagi-Nya dalam Al-Quran maka tafsirannya adalah bacaannya dan berdiam (tidak dibincang) mengenainya”

          b) Imam Ibnu Suraij (249-306 H) :
          ولا نترجم عن صفاته بلغة غير العربية ونسلم الخبر الظاهر والآية لظير تنزيلها
          Dan kami tidak menterjemahkan sifat-sifat Allah dengan selain bahasa Arab serta kami serahkan khabar yang zahir dan ayat-ayat kepada zahir diturunkannya (nash-nash sifat).

          c) Imam Suyuthi menyimpulkan dalam kitabnya Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, 2/6:
          وجمهور أهل السنة، منهم السلف، وأهل الحديث على الإيمان بها، وتفويض معناها المراد منها إلى الله تعالى, ولا نفسرها مع تنزيها
          “Jumhur Ahlus Sunnah dari kalangan Salaf dan Ahlu Hadis di atas beriman dengannya (Al-Mutasyabihah) dan tafwidh (menyerah) maknanya yang dikehendaki oleh Allah. Tidak ditafsirkannya beserta menyucikan.”

          [Kedua] Takwil (menentukan makna yang layak dinisbahkan kepada Allah)

          a) Imam Murtadha Az-Zabidi di dalam kitabnya Tajul Arus syarhul Qamus:
          قالَ الرَّاغبُ : ومَتَى ما عُدِّي بعلى اقْتَضَى مَعْنى الاسْتِيلاءِ كقوْلِه ، عزَّ وجلَّ : { الرَّحْمن على العَرْشِ اسْتَوى }
          “Dan berkata Ar-Raghib (dalam kitab Al-Mufradat): Dan ketika Istawa mutaadi dengan huruf ‘Ala maka makna yang ditentukan ialah Istiila’ (menguasai) , seperti firman Allah: (Ar-Rahman alal arsyistawa).

          Oleh yang demikian, surah Taha ayat 5 tidak difahami dengan makna Allah berada di atas Arasy melainkan ulama ASWJ memahami dengan makna “Tuhan bernama Rahman ke atas Arasy menguasai”.

          b) Imam Ibnu Jarir At-Tobari (w.310H)
          Ketika mentafsir surah Al-Baqarah, ayat 29, beliau mentafsirkan Istawa dengan katanya:
          فقل علا عليها علو ملك وسلطان لا علو انتقال وزوال
          “Maka katakan Dia meninggi ke atasnya sebagai tingginya kekuasaan dan penguasaan bukan tinggi dengan maksud perpindahan atau berarah (tidak disifatkan dengan arah atas)”

          c) Dan ramai lagi ulama lain seperti Abdullah Ibnu Mubarak (w.237H) dalam kitabnya Gharib Al-Quran Wa Tafsiruh, Imam Abu Mansur Al-Maturidi (w.333H) dalam kitabnya Ta’wilat Ahl As-Sunnah, Imam Sulaiman Ibn Ahmad Ath-Thabarani (w.360H) dalam kitab At-Tafsir Al-Kabir, Imam Ibnu Furak (w.406H) dalam kitab Musykil Al-Hadis dan ramai lagi.
          ………………………………………………………..

          8. Berdasarkan fakta di atas, ZN tidak menggunakan mana-mana kaedah ASWJ yang termaktub melainkan beliau mengambil aqidah berdasarkan zahir ayat, sedangkan para ulama melarang perbuatan demikian bagi ayat Al-Mutasyabihat seperti dijelaskan oleh Imam Al-Hafiz Al-Kirmani, seorang ulama’ hadith yang agung (786 H)
          قوله “في السماء” : ظاهره غير مراد ، إذ الله منزه عن الحلول في المكان
          “Firman Allah “fis sama'” maka maksud zahirnya bukanlah kehendak yang dimaksud oleh Allah, kerana Allah s.w.t. suci daripada bertempat pada sebarang tempat.” (Fath Al-Bari, juz.13, ms.412)
          ………………………………………………………..

          9. Fakta Ketiga: Hadis jariah tidak boleh dijadikan dalil kepada aqidah kerana hadis tersebut adalah hadis mudhtharib (dhaif), maka hal ini jelas bahawa hadis dhaif tidak boleh menjadi dalil kepada aqidah.
          ………………………………………………………..

          10. Hadis ini menjadi hadis mudhtharib kerana redaksi matan yang berbeza-beza, saling bertentangan antara satu sama lain sehingga tidak boleh dihimpunkan makna riwayat-riwayat tersebut. Hal ini kerana hadis jariah terdapat pelbagai redaksi pada matan, antaranya:

          i) Riwayat daripada Mushannaf Abdurrazaq, Musnad Ahmad dan Muwatha’ Imam Malik dengan soalan “Adakah engkau bersaksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah?”. Kemudian dijawab “Ya”.

          ii) Riwayat daripada Al-Haithami dalam Majma Al-Zawaid datang dengan soalan “Dimana Allah” maka hamba perempuan itu isyaratkan jari ke langit.

          iii) Riwayat daripada Muslim dalam shahihnya datang dengan soalan “Di mana Allah” maka dijawab “Di langit”.

          iv) Riwayat daripada Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi datang dengan soalan “Siapa tuhan kamu?” maka dijawab “Allah”.

          Walaupun kisah, orang dan kejadian yang sama namun, terdapat perbezaan yang jauh pada soalan yang dikemukakan oleh Nabi dan jawapan jariah itu, maka hal ini menjadikan hadis ini dinilai mudhtharib. Justeru, amat salah jika menjadikan hadis ini sebagai hujjah dalam aqidah.
          ………………………………………………………..

          11. Bahkan, menurut Al-Hafiz Al-Baihaqi, kitab Shahih Muslim yang ada padanya, Imam Muslim tidak sertakan matan berkenaan persoalan di mana Allah itu, yang mana menunjukkan hadis tersebut diperselisihkan dalam kalangan ulama. Hal ini beliau nyatakan dalam kitabnya Al-Asma’ Was Shifaat:

          قَدْ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مُقَطَّعًا مِنْ حَدِيثِ الْأَوْزَاعِيِّ وَحَجَّاجٍّ الصَّوَّافِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ دُونَ قِصَّةِ الْجَارِيَةِ، وَأَظُنُّهُ إِنَّمَا تَرَكَهَا مِنَ الْحَدِيثِ لِاخْتِلَافِ الرُّوَاةِ فِي لَفْظِهِ.
          “Imam Muslim telah meriwayatkannya dengan terpotong (tidak keseluruhan) dari hadis al Auza’i dan Hajjaj ash Shawwaf dari Yahya ibn Abi Kathir tanpa menyebut kisah Jariah. Mungkin beliau meninggalkan penyebutannya dalam hadis itu disebabkan perselisihan para perawi dalam menukilkan redaksinya.”
          ………………………………………………………..

          12. Sekalipun, jika dinilai sahih oleh sebahagian ulama, mereka menyatakan bahawa wajib mensucikan Allah daripada menyerupai dengan makhluk dan zahir nash bukanlah maksud yang dikehendaki oleh Allah kerana hadis ini termasuk dalam Al-Mutasyabihat, inilah yang dinyatakan oleh Imam Nawawi dan Qadhi Iyadh.
          ………………………………………………………..

          13. Kesimpulannya, ZN telah melakukan kesilapan besar dalam hal ini dan kesilapan ini perlu diperbetulkan agar penyokong ZN tidak mengambil aqidah yang salah sehingga merosak iman mereka. Semoga kita semua menerima dengan hati yang terbuka dan menyelamatkan aqidah kita daripada terseleweng.

          Disclaimer:
          Tulisan ini bukanlah bertujuan untuk mengusir ZN, tiada kaitan juga dengan puak DAP, namun bagi mengenalpasti aqidah sebenar ZN yang diagung-agungkan sesetengah pihak. ZN boleh terus berada di Malaysia, diam-diam dan jangan menyebarkan fahamannya. Jika nak berpindah ke Saudi juga lebih baik kerana fahamannya serasi dengan masyarakat di sana.

          Disediakan oleh:
          Sekretariat Muzakarah Hadis & Syariat (MUHADIS)
          19 Ogos 2019

          26/08/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , , | Leave a comment

          SIRI 1 TABAYYUN: MANHAJ AQIDAH DR ZAKIR NAIK

          1. Sejak penulisan kami sebelum ini menjadi viral, terdapat banyak respon daripada kalangan orang Islam samada yang bermanhaj ASWJ atau berfahaman Wahhabi atau orang jahil yang tidak memahami perbezaan ideologi dalam Islam.

          Penulisan tersebut boleh dilihat di sini:

          ………………………………………………..

          2. Oleh yang demikian, kami mendapati dalam isu ZN ramai daripada kalangan ASWJ sendiri menggadaikan maruah dengan menjulang tokoh yang mesra dengan fahaman Wahhabi ini. Bahkan ada yang tidak menyedari apakah aqidah ZN yang sebenarnya sehingga menuduh kami para panel Muzakarah Hadis & Syariat (MUHADIS) sebagai fitnah dan mengadu domba.
          ………………………………………………..

          3. Rentetan daripada itu, kami akan mengeluarkan beberapa siri tabayyun bertujuan meneliti aqidah dan fahaman ZN yang sebenarnya. Kaedah dibuat berdasarkan tiga soalan:
          i) Apakah pegangan, kefahaman dan aqidah ZN?
          ii) Mengenalpasti sumber kefahaman ZN daripada ideologi yang mana?
          iii) Bagaimana ideologi Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) yang sebenar?
          ………………………………………………..

          4. Bagi tujuan tersebut, kami memilih tajuk yang pertama berkaitan dengan aqidah Dr. Zakir Naik ketika menjawab “Where is Allah?” (Dimanakah keberadaan Allah?). Penelitian dibuat berdasarkan video Dr. Zakir Naik yang menjawab persoalan ini walau dimana sahaja disoal:
          i) Video 1: Where is Allah?- Dr Zakir Naik #HUDATV (minit 2.06)

          ii) Video 2: Where is Allah? Where does He live?-Dr Zakir Naik #HUDATV (minit 0.31)

          iii) Video 3: Allah is not everywhere, Allah is in his Arsh [Dr Zakir Naik] (versi Urdu) (minit 0.45)

          ………………………………………………..

          5. Berdasarkan ketiga-tiga video di atas, soalan pertama terjawab dengan jelas kelihatan Dr. Zakir Naik konsisten berfahaman bahawa Allah berada di Arasy dan menetapkan tempat bagi Allah.
          ………………………………………………..

          6. Oleh yang demikian, bagi menjawab soalan kedua, kita perlu mengenalpasti kefahaman ini berdasarkan ideologi yang mana?

          i) Ajaran daripada kitab Yahudi, [Safar Yuhana]:

          “الْجَالِسُ عَلَى الْعَرْشِ يَحُلُّ فَوْقَهُمْ”

          “(Tuhan) duduk (bersemayam) di atas `Arasy, berada di atas mereka” (Al-Ishah (8), nombor 15)

          “وَشُكْرًا لِلْجَالِسِ عَلَى الْعَرْشِ الْحَيِّ الأَبَدِيِّ”.

          “Dan berterima kasihlah kepada (Tuhan ) yang duduk di atas `Arasy yang Maha hidup lagi abadi”. (Al-Ishah (4), nombor 9)

          ii) Ajaran daripada Ibnu Taimiyyah (tokoh rujukan bagi Wahhabi)

          الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى” الاِسْتَوَاءُ مِنَ اللهِ عَلَى عَرْشِهِ الْجَيِّدِ عَلَى الْحَقِيْقَةِ لا عَلَى الْمَجَازِ”

          “Firman Allah : الرحمن على العرش الستوى bahawa “Istawa” Allah itu di atas `Arasy-Nya secara makna hakiki (duduk) bukan makna majaz” (Syarh Hadis An-Nuzul, ms.145)

          Ibnu Taimiyyah juga menyamakan Allah dengan makhluk dengan katanya:
          إِنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله يُجْلِسُهُ رَبُّهُ عَلَى الْعَرْشِ مَعَهُ
          “Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Allah mendudukannya di atas `Arasy bersama-Nya” (Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Al-Fatawa, juz.4, ms. 374)

          iii) Ajaran daripada tokoh Wahhabi (Ibnu Uthaimin dan Bin Baz)

          وأهل السنة والجماعة يؤمنون بأن الله تعالى مستوٍ على عرشه استواءً يليق بجلاله ولا يماثل استواء المخلوقين. فإن سألت : ما معنى الاستواء عندهم ؟ فمعناه العلو والاستقرار
          “Ahlussunnah Wal Jamaah (pada sangkaannya) mengimani bahwa Allah istiwa di atas Arsy-Nya dengan Istiwa yang layak bagi-Nya,dan tidak semisal istiwa’nya makhluk, seandainya Engkau bertanya: Apa makna Istiwa menurut mereka? Maka maknanya adalah al ‘Uluw (tinggi) dan al Istiqror (menetap)” (Ibnu Uthaimin, Majmu’ Fatawa Wa Rasail, juz.8, ms.317)

          وهي العقيدة الصحيحة من الإيمان بأن الله الواجب الإيمان بأن الله سبحانه في السماء فوق العرش، عال على جميع الخلق، كما قال سبحانه في كتابه العزيز: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}
          “Aqidah yang sahih dari keimanan yang wajib beriman dengan Allah bahawa Allah subhanahu berada di langit di atas Arasy, tinggi atas seluruh makhluk, seperti firman Allah subhanahu dalam kitab-Nya Al-Aziz: (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى)” (Bin Baz, Majmu’ Fatawa, juz.9, ms.457)
          ………………………………………………..

          7. Berdasarkan fakta-fakta ini, kami mendapati kefahaman ZN bukan daripada ajaran Islam yang tulen melainkan ada pengaruh luar seperti ajaran Yahudi, ajaran Ibnu Taimiyyah dan ajaran Wahhabi. Setelah kita meneliti fakta ini dengan adil dan insaf, adakah lagi pentaksub ZN daripada ASWJ mahu mempertahankan beliau?
          ………………………………………………..

          8. Seterusnya, bagi menjawab soalan ketiga, berkaitan manhaj ASWJ yang sebenar dalam isu ini. Kita boleh dapati melalui kenyataan para ulama muktabar seperti berikut:

          i) Imam Asy-Syafie (w. 150H)
          من قال او اعتقد ان الله جالس على العرش فهو كافر
          “Sesiapa berkata atau beritiqad Allah duduk atas Arasy maka dia menjadi kafir” (Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Muhtadi, ms.551)

          ii) Imam Ibnu Jarir At-Tobari (w.310)
          Ketika mentafsir surah Al-Baqarah, ayat 29, beliau mentafsirkan Istawa dengan katanya:
          فقل علا عليها علو ملك وسلطان لا علو انتقال وزوال
          “Maka katakan Dia meninggi ke atasnya sebagai tingginya kekuasaan dan penguasaan bukan tinggi dengan maksud perpindahan atau berarah (tidak disifatkan dengan arah atas)”

          iii) Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (w.324)
          كان الله ولا مكان فخلق العرش والكرسي ولم يحتج الى مكان. وهو بعد خلق المكان كما كان قبل خلقه.
          “Kewujudan Allah azali dan tanpa bertempat, kemudian Allah mencipta Arasy dan Kursi dan Dia tidak berhajat kepada tempat. Kewujudan-Nya setelah menciptakan tempat sebagaimana kewujudan-Nya sebelum menciptakan tempat (iaitu Allah tidak bertempat)” (Tabyin Kazib Al-Muftari, ms.150)

          iv) Imam Ibnu Hibban (w. 342H)
          كان-الله-ولا زمان ولا مكان
          “Allah ada azali, tanpa masa dan tanpa tempat” (Sahih Ibn Al-Hibban, juz.8, ms.4)

          v) Kesimpulan aqidah ASWJ telah dibuat oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974):
          وَاعْلَمْ أَنَّ الْقَرَافِيَّ وَغَيْرَهُ حَكَوْا عَنِ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَ أَحْمَدَ وَأَبِي حَنِيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ الْقَوْلَ بِكُفْرِ الْقَائِلِيْنَ بِالْجِهَةِ وَالتَّجْسِيْمِ وَهُمْ حَقِيْقُوْنَ بِذَلِكَ
          “Dan ketahuilah bahawa al-Qarafi dan selain beliau telah menceritakan daripada al-Syafi`e, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah radiyallahu`anhum tentang pendapat kufurnya golongan yang berpendapat dengan arah [tempat] dan tajsim (bagi Allah ta`ala), dan mereka (para imam mazhab tersebut) pasti tentang perkara tersebut”
          ………………………………………………..

          9. Kesimpulannya manhaj ASWJ ialah beriman dengan ayat (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى), namun menafikan tempat ke atas Allah, menafikan arah ke atas Allah dan menafikan penjisiman ke atas Allah. Berbeza dengan kenyataan ZN seperti di bawah:
          i) Video 1 “Allah is on Arasy” (Allah berada di atas Arasy).
          ii) Video 2 “Allah is on top is also correct, Allah is on Arasy is also correct” (Allah berada di atas juga betul, Allah berada di Arasy juga betul)
          iii) Video 3 versi urdu, ZN mengatakan (Allah duduk di atas Arasy)
          ………………………………………………..

          10. Hasil daripada siri tabayyun kali ini merumuskan bahawa kefahaman atau aqidah ZN dalam bab ini terkeluar daripada aqidah ASWJ dan aqidah Islam yang tulen. Semoga kita dapat menerimanya dengan hati terbuka dan menolak ketaksuban kerana tiada yang maksum melainkan Nabi.

          Disclaimer:
          Tulisan ini bukanlah bertujuan untuk mengusir ZN, tetapi bagi mengenalpasti aqidah sebenar ZN yang diagung-agungkan setengah pihak. ZN boleh terus berada di Malaysia, diam-diam dan jangan menyebarkan fahamannya. Jika nak berpindah ke Saudi juga lebih baik kerana fahamannya serasi dengan masyarakat di sana.

          Disediakan oleh:
          Sekretariat Muzakarah Hadis & Syariat (MUHADIS)
          16 Ogos 2019

          26/08/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          Betul kah doa orang hidup sampai kepada si mati?

          PELIK,TAPI BENAR.

          masih ramai dikalangan kita yang tidak mengetahui terhadap suatu perkara yang sudah ijma’ para ulama.
          Dan masih ada yang mempertikaikan “ijma’ ” itu dan bertanya,..betul ker doa dari orang itu sampai kepada simati,..?

          Saye cube susun dari hujah-hujah ulama dan jumhur “ijma’ ” yang telah ditulis dalam kitab-kitab mereka sebagai berikut :

          “DOA DARI YANG HIDUP UNTUK SIMATI”

          Kaitan dengan do’a, hal ini tidak begitu dipermasalahkan, sebab telah menjadi kepakatan ulama ahlus sunnah wal jama’ah bahwa do’a sampai kepada orang mati dan memberikan manfaat bagi orang mati.

          Begitu banyak dalil yang menguatkan hal ini.

          Diantaranya dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’alaa telah berfirman :

          والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رءوف رحيم

          “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr 59 ; 10)

          Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’alaa memberitahukan bahwa orang-orang yang datang setelah para sahabat Muhajirin maupun Anshar mendo’akan dan memohonkan ampun untuk saudara-saudaranya yang beriman yang telah (wafat) mendahului mereka sampai hari qiamat.

          Mereka yang dimaksudkan adalah para tabi’in dimana mereka datang setelah masa para sahabat, mereka berdoa untuk diri mereka sendiri dan untuk saudara mukminnya serta memohon ampun untuk mereka.

          وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

          “dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan” (QS. Muhammad 47 : 19)

          Ayat ini mengisyaratkan bermanfaatnya do’a atau permohonan ampun oleh yang hidup kepada orang yang meninggal dunia. Serta perintah untuk memohonkan ampunan bagi orang-orang mukmin.

          رب اغفر لي ولوالدي ولمن دخل بيتي مؤمنا وللمؤمنين والمؤمنات ولا تزد الظالمين إلا تبارا

          “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.

          Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”. (QS. Nuh 71 : 28)

          Allah Subhanahu wa Ta’alaa juga berfirman :

          وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ

          “dan mendo’alah untuk mereka, sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka” (QS. at-Taubah : 104)

          Frasa “shalli ‘alayhim” maksudnya adalah berdolah dan mohon ampulan untuk mereka, ini menunjukkan bahwa do’a bermanfaat kepada orang lain.

          كان رسول الله صلى الله عليه وسلم كلما كان ليلتها من رسول الله صلى الله عليه وسلم يخرج من آخر الليل إلى البقيع فيقول السلام عليكم دار قوم مؤمنين وأتاكم ما توعدون غدا مؤجلون وإنا إن شاء الله بكم لاحقون اللهم اغفر لأهل بقيع الغرقد.

          “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada malam hari yaitu keluar pada akhir malam ke pekuburan Baqi’, kemudian Rasulullah mengucapkan,…. “Assalamu’alaykum dar qaumin mu’minin wa ataakum ma tu’aduwna ghadan muajjaluwna wa innaa InsyaAllahu bikum laa hiquwn, Allahummaghfir lil-Ahli Baqi al-Gharqad”.

          Ini salah satu ayat dan hadits yang menyatakan bahwa mendo’akan orang mati adalah masyru’ (perkara yang disyariatkan), dan menganjurkan kaum muslimin agar mendo’akan saudara muslimnya yang telah meninggal dunia.

          Banyak-ayat-ayat serupa dan hadits-hadits yang menunjukkan hal itu.

          ‘Ulama besar madzhab Syafi’iyah yaitu al-Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar menyebutkan :

          بابُ ما ينفعُ الميّتَ من قَوْل غيره : أجمع العلماء على أن الدعاء للأموات ينفعهم ويَصلُهم‏.‏ واحتجّوا بقول اللّه تعالى‏:‏ ‏{‏وَالَّذِينَ جاؤوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنا اغْفِرْ لَنا ولإِخْوَانِنا الَّذين سَبَقُونا بالإِيمَانِ‏} وغير ذلك من الآيات المشهورة بمعناها، وفي الأحاديث المشهورة كقوله صلى اللّه عليه وسلم‏:‏ ‏”‏اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأهْلِ بَقِيعِ الغَرْقَدِ‏”‏ وكقوله صلى اللّه عليه وسلم‏:‏ ‏”‏اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنا وَمَيِّتِنَا‏”‏ وغير ذلك‏.‏

          “Bab perkataan dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi mayyit : ‘Ulama telah ber-ijma’ (bersepakat ) bahwa do’a untuk orang meninggal dunia bermanfaat dan pahalanya sampai kepada mereka. Dan ‘Ulama’ berhujjah dengan firman Allah :

          “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami (59:10)”, dan ayat-ayat lainnya yang maknanya masyhur, serta dengan hadits-hadits masyhur seperti do’a Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam “ya Allah berikanlah ampunan kepada ahli pekuburan Baqi al-Gharqad”, juga do’a : “ya Allah berikanlah Ampunan kepada yang masih hidup dan sudah meninggal diantara kami”, dan hadits- yang lainnya.”

          Didalam Minhajuth Thalibin :

          وتنفع الميت صدقة ودعاء من وارث وأجنبي.

          “dan memberikan manfaat kepada mayyit berupa shadaqah juga do’a dari ahli waris dan orang lain”.

          Imam al-Mufassir Ibnu Katsir asy-Syafi’i terkait do’a dan shadaqah juga menyatakan sampai.

          فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما

          “Adapun do’a dan shadaqah, maka pada yang demikian ulama telah sepakat atas sampainya pahala keduanya, dan telah ada nas-nas dari syariat atas keduanya”.

          Syaikh an-Nawawi al-Bantani (Sayyid ‘Ulama Hijaz) didalam Nihayatuz Zain :

          وَالدُّعَاء ينفع الْمَيِّت وَهُوَ عقب الْقِرَاءَة أقرب للإجابة

          “dan do’a memberikan manfaat bagi mayyit, sedangkan do’a yang mengiringi pembacaan al-Qur‘an lebih dekat di ijabah”.

          Syaikh al-‘Allamah Zainudddin bin ‘Abdul ‘Aziz al-Malibari didalam Fathul Mu’in :

          وتنفع ميتا من وارث وغيره صدقة عنه ومنها وقف لمصحف وغيره وبناء مسجد وحفر بئر وغرس شجر منه في حياته أو من غيره عنه بعد موته. ودعاء له إجماعا وصح في الخبر أن الله تعالى يرفع درجة العبد في الجنة باستغفار ولده له وقوله تعالى: {وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى} عام مخصوص بذلك وقيل منسوخ.

          “dan memberikan manfaat bagi mayyit dari ahli waris atau orang lain berupa shadaqah darinya, diantara contohnya adalah mewaqafkan mushaf dan yang lainnya, membangun masjid, sumur dan menanam pohon pada masa dia masih hidup atau dari orang lain yang dilakukan untuknya setelah kematiannya, dan do’a juga bermanfaat bagi orag mati berdasarkan ijma’, dan telah shahih khabar bahwa Allah Ta’alaa mengangkat derajat seorang hamba di surga dengan istighafar (permohonan ampun) putranya untuknya.
          dan tentang firman Allah “wa an laysa lil-insaani ilaa maa sa’aa” adalah ‘amun makhsush dengan hal itu, bahkan dikatakan mansukh”.

          Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi didalam I’anatuth Thalibin :

          (قوله: ودعاء) معطوف على صدقة، أي وينفعه أيضا دعاء له من وارث وغيره،

          “Frasa (do’a) ma’thuf atas lafaz shadaqah, yakni do’a juga memberikan manfaat bagi orang mati baik dari ahli waris atau orang lain”.

          Syaikhul Islam al-Imam Zakariyya al-Anshari didalam Fathul Wahab :

          ” وينفعه ” أي الميت من وارث وغيره ” صدقة ودعاء ” بالإجماع وغيره وأما قوله تعالى: (وأن ليس للإنسان إلا ما سعى) فعام مخصوص بذلك وقيل منسوخ وكما ينتفع الميت بذلك ينتفع به المتصدق والداعي

          “dan memberikan manfaat bagi orang mati baik dari ahli waris atau orang lain berupa shadaqah dan do’a berdasarkan ijma’ dan hujjah lainnnya, adapun firman Allah “wa an laysa lil-insaani ilaa maa sa’aa” adalah ‘amun makhshush dengan hal itu bahkan dikatakan mansukh, sebagaimana itu bermanfaat bagi mayyit juga bermanfaat bagi person yang bershadaqah dan yang berdo’a”.

          Imam Ibnu Hajar al-Haitami didalam Tuhfatul Muhtaj :

          (وينفع الميت صدقة) عنه ومنها وقف لمصحف وغيره وحفر بئر وغرس شجر منه في حياته أو من غيره عنه بعد موته (ودعاء) له (من وارث وأجنبي) إجماعا وصح في الخبر: «إن الله تعالى يرفع درجة العبد في الجنة باستغفار ولده له» وهما مخصصان وقيل ناسخان لقوله تعالى (وأن ليس للإنسان إلا ما سعى) (النجم: 39) إن أريد ظاهره وإلا فقد أكثروا في تأويله، ومنه أنه محمول على الكافر أو أن معناه لا حق له إلا فيما سعى، وأما ما فعل عنه فهو محض فضل لا حق له فيه

          “dan memberikan manfaat kepada mayyit berupa shadaqah darinya, seperti mewaqafkan mushaf dan yang lainnya, menggali sumur dan menanam pohon pada masa hidupnya atau dari orang lain untuknya setelah kematiannya, dan do’a juga bermanfaat bagi orang mati baik berasal dari ahli waris atau orang lain berdasarkan ijma’ dan telah shahih didalam khabar bahwasanya Allah mengangkat derajat seorang hamba didalam surga dengan istighfar anaknya untuknya, keduanya (ijma’ dan khabar) merupakan pengkhusus, bahkan dikatakan sebagai penasikh untuk firman Allah (wa an laysa lil-insaani ilaa ma sa’aa) jika menginginkan dhahirnya, namun jika tidak maka kebanyakan ulama menta’wilnya, diantaranya itu dibawa atas pengertian kepada orang kafir atau maknanya tidak ada haq baginya kecuali pada perkara yang diusahakannya”.

          Imam Syamsuddin al-Khathib as-Sarbiniy didalam Mughni :

          ثم شرع فيما ينفع الميت فقال (وتنفع الميت صدقة) عنه، ووقف، وبناء مسجد، وحفر بئر ونحو ذلك (ودعاء) له (من وارث وأجنبي) كما ينفعه ما فعله من ذلك في حياته

          “kemudian disyariatkan tentang perkara yang bermanfaat bagi mayyit, maka kemudian ia berkata (dan bermanfaat bagi mayyit berupa shadaqah) darinya, waqaf, membangun masjid, menggali sumur dan seumpamanya, (juga bermanfaat berupa do’a) untuknya (baik dari ahli waris atau orang lain) sebagaimana bermanfaatnya perkara yang ia kerjakan pada masa hidupnya”.

          Al-‘Allamah Muhammad az-Zuhri al-Ghamrawi didalam As-Siraajul Wahaj :

          وتنفع الميت صدقة عنه ووقف مثلا ودعاء من وارث وأجنبي كما ينفعه ما فعله من ذلك في حياته ولا ينفعه غير ذلك من صلاة وقراءة ولكن المتأخرون على نفع قراءة القرآن وينبغي أن يقول اللهم أوصل ثواب ما قرأناه لفلان بل هذا لا يختص بالقراءة فكل أعمال الخير يجوز أن يسأل الله أن يجعل مثل ثوابها للميت فان المتصدق عن الميت لا ينقص من أجره شيء

          “dan shadaqah darinya bisa memberikan manfaat bagi mayyit seumpama mewaqafkan sesuatu, juga do’a dari ahli waris atau orang lain sebagaimana bermanfaatnya sesuatu yang itu ia lakukan pada masa hidupnya dan tidak memberikan manfaat berupa shalat dan pembacaan al-Qur’an akan tetapi ulama mutaakhirin berpendapat atas bermanfaatnya pembacaan al-Qur’an, dan sepatutrnya mengucapakan :

          “ya Allah sampaikan apa apa yang kami baca untuk fulan”, bahkan ini tidak khusus untuk qira’ah saja tetapi juga seluruh amal kebaikan boleh untuk memohon kepada Allah agar menjadikan pahalanya untuk mayyit, sungguh orang yang bershadaqah untuk mayyit tidak mengurangi pahalanya dirinya”.

          Al-‘Allamah Syaikh Sulaiman al-Jamal didalam Futuhat al-Wahab :

          قوله: وينفعه صدقة) ومنها وقف لمصحف وغيره وحفر بئر وغرس شجرة منه في حياته، أو من غيره عنه بعد موته ودعاء له من وارث وأجنبي إجماعا

          “(frasa bermanfaatnya shadaqah) diantaranya yakni waqaf untuk mushhaf dan yang lainnya, menggali sumur dan menanam pohon darinya pada masa hidupnya atau dari orang lain untuknya setelah kematiannya, dan do’a untuknya dari ahli waris dan orang lain berdasarkan ijma’”.

          Masih banyak lagi pertanyaan ulama-ulama Syafi’iyah yang termaktub didalam kitab-kitab mereka. Oeh karena itu dapat disimpulkan bahwa do’a jelas sampai dan memberikan kepada orang mati dan ulama telah ber-ijma’ tentang ini.

          Artinya dari sini, mayyit boleh memperoleh manfaat dari amal orang lain berupa do’a.

          Ini adalah amal baik dan penuh kasih sayang terhadap saudara muslimnya yang telah meninggal dunia, dan telah menjadi kebiasaan kaum muslimin terutama yang bermazhab syafi’i baik diNusantara dan yang lainnya, yang dikemas dalam kegiatan tahlilan.

          Wallahu’alam.

          Sumber Fb: Ustaz Zaref Shah Al Haqqy

          25/08/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

          WAHHABI MODEN

          Sebenarnya banyak golongan yang berpangkat Dr, agamawan atau sesiapa pun yang ada penyakit Wahhabi ini tidak akan mengaku bahawa mereka mempunyai fahaman Wahhabi. Malah, mereka marah apabila diri mereka digelar sebagai WAHHABI.

          Adakah Wahhabi ini ajaran sesat? Bukan saya yang berkata begitu. Tetapi para ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang berpendapat bahawa Wahhabi adalah satu fahaman yang sesat dari segi akidah, menyesatkan umat Islam dan tergelincir daripada fahaman Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang sebenar.

          Syeikh Ahmad Zaini Dahlan al-Hasani, Mufti Mazhab Syafie di Makkah al-Mukarramah di zamannya menyatakan di dalam kitabnya, al-Durar al-Saniyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah:

          “Zahirnya Wahhabi merupakan bala yang didatangkan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Ia juga merupakan fitnah daripada sebesar-besar fitnah yang muncul dalam agama Islam yang mengganggu ketenteraman fikiran, menghangatkan orang-orang yang berakal dan mengelirukan orang-orang yang kurang berakal, lantaran diterjah oleh pemikiran dan ajaran mereka yang meragukan. Sedangkan mereka berselindung di sebalik label PENEGAK AGAMA”.

          Sesat jalan dan haluan tidak mengapa. Tetapi, jangan kita menjadi sesat dan keliru dalam pemikiran sehingga mengeluarkan satu hukum yang salah. Selepas itu, mengkafirkan dan mendatangkan dalil dengan alasan si pelaku masuk api neraka atau seorang yang sudah berdusta dalam agamanya.

          Gempar seketika apabila seseorang yang ada jawatan dalam politik menjelaskan bahawa Wahhabi bukan ajaran sesat. Malah, dia bersungguh-sungguh mendatangkan beberapa enakmen dan pandangan daripada pihak tertentu untuk menyatakan Wahhabi tergolong dalam Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

          Saya berpendirian bahawa sesiapa pun yang bergelar Muslim, tidak dibenarkan mengkafirkan dan membidaahkan sesuatu perkara jika ibadah atau amalan itu tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW. Kita juga bersetuju jika ibadah dan amalan itu dipandang baik. Malah, majoriti ulama’ berpandangan bahawa ia tidak menjadi masalah dan boleh diamalkan.

          Jadi, di manakah Wahhabi jika dikatakan sesat? Sesatnya mereka itu akibat tidak menemui sumber dalam pengeluaran hukum agama dan penjelasan ulama’. Maka selama itulah mereka sesat kerana tidak memahami dengan baik fiqh agama dan tidak menghormati pandangan ulama yang membenar dan memperakui jalan ibadah itu.

          Seperkara lagi, bilakah WAHHABI dikatakan bersifat maksum dan tidak pernah bersalah? Mereka inilah punca berlakunya WABAK penyakit yang lebih teruk daripada penyakit kanser sehingga umat Islam berpecah-belah dan saling mencaci dan memaki sesama mereka. Adakah Wahhabi begitu maksum untuk dimuliakan dan diagung-agungkan?

          Tidak ada ajaran yang lebih teruk daripada fahaman WAHHABI yang berani memaki dan menghina para ulama’ terdahulu? Adakah Islam diajar menghina ulama’ pewaris nabi? Adakah mereka ini layak untuk dikatakan tidak sesat dan melampaui batas dalam agama?

          Apabila seseorang disyaki dan cenderung kepada penyakit ini, maka ia layak digelar sebagai WAHHABI MODEN. Gelaran ini terbuka untuk sesiapa yang ada ciri-ciri tidak menghormati pandangan ulama’ walaupun anda seorang Mufti!

          Jika benar kita adalah seorang yang adil dan wasatiyyah, kita tidak akan memberi ruang kepada anak-anak WAHHABI mendapat peluang, kedudukan dan jawatan di negara ini. Sedangkan merekalah sebenarnya siang dan malam melalui kuliah-kuliah mereka membawa perpecahan dan juga fitnah di negara ini. Bahkan mereka yang memulakan dahulu budaya bercakap bohong dan mendabik dada seolah-olah mereka sahaja yang betul dan pendapat ilmuwan lain semuanya salah.

          Tangan-tangan Ahli Sunnah juga perlu diperhatikan. Jangan kita sesekali terpalit dan turut berjasa menaikkan WAHHABI di negara ini. Janganlah kita merencatkan perjuangan sejati para pejuang sejati Ahlus Sunnah Wal Jamaah di negara ini. Sekian lama kita memberi; janganlah lupa dan cepat lupa diri.

          Ahlus Sunnah Wal Jamaah dahulu tidak pernah berhutang dengan pemerintah, orang-orang politik dan orang-orang yang ada kepentingan diri. Pondok dan madrasah terbina teguh dengan keikhlasan tuan-tuan guru yang mengajarkan ilmu tauhid dan zikir terhadap pengenalan diri. Malah, itulah juga benteng menolak bala daripada Ilahi.

          Ahlus Sunnah Wal Jamaah bukanlah jemaah atau pertubuhan untuk menonjolkan mereka sebagai yang terbaik. Tetapi Ahlus Sunnah adalah mereka yang berani mempertahankan nama Allah SWT dan agama-Nya. Jangan kita menjadi paku-pakis terlompat di sana-sini sehingga hilang identiti diri. Pening dan keliru anak-anak Islam memikirkan orang yang mengatakan WAHHABI ini benar ketika berada di majlis kita untuk berucap dan merasmikan sesuatu majlis. Sedangkan dalam masa yang sama, mereka ini juga memberi ruang dan bertepuk tampar sesama Pak Wahhabi ini. Adakah Ahlus Sunnah sudah terpesona dengan jawatan dan pangkat mereka?

          Soalan yang perlu ditanya, bilakah masa PAK-PAK WAHHABI ada meminta maaf kepada Ahlus Sunnah? Sedangkan mereka tidak pernah minta maaf setelah menghina IMAM-IMAM kita. Di manakah keadilan untuk kita apabila WAHHABI disahkan sebagai ajaran murni, sedangkan kesalahan mereka amat ketara di media dan segala saluran mereka.

          Kita boleh DUDUK dengan WAHHABI setelah mereka membuat pengakuan terbuka bahawa selama ini mereka tersilap berfatwa, lalu memohon maaf dengan ikhlas setelah melemparkan tuduhan dan fitnah kepada kita semua.

          Saya adalah orang yang pertama yang akan bersalam dengan mereka dan berkata, “Jangan buat lagi, ya! Pening orang awam. Kami sudah ok di Malaysia dengan 1000 dalil.”

          Ahlus Sunnah tidak akan pernah berhutang dengan mereka melainkan orang-orang yang ada membina hubungan dan rangkaian dengan mereka. Guru sendiri difitnah, bermesra pula dengan tauke-tauke WAHHABI.

          Ya Allah! Padamkan kesesatan dan kekeliruan di negara ini daripada tangan orang-orang yang keliru dan terhijab.

          Kuatkanlah kesatuan para pejuang sejati Ahlus Sunnah Wal Jamaah di negara ini.

          Sebagai penutup bicara, saya bawakan kisah taubat seorang ulama’ Wahhabi.

          Syeikh Muhammad Abdul Salam al-Kazimi al-Hasani, seorang ulama’ di Jami’ah al-Ghauthiyyah Daka, Bangladesh berkata sambil menangis:

          “Mazhab Wahhabi adalah mazhab yang berbahaya dan meruntuhkan masyarakat Islam. Akidah yang melencong ini mendatangkan fitnah. Golongan Wahhabi menyatakan bahawa kami mengikut al-Quran dan Sunnah, tetapi apa yang sebenarnya berlaku ialah mereka mengikut telunjuk syaitan”.

          Syeikh Muhammad Abdul Salam akhirnya bertaubat. Setelah beliau keluar daripada fahaman Wahhabi, beliau berkata:

          “Aku adalah seorang Wahhabi, kemudian aku bertaubat”.
          (Manar al-Huda bil. 68 Rabiulakhir 1419H bersamaan Ogos 1998: 19.)

          Mohon maaf atas segalanya…
          Yang benar tetap benar…

          Ahmad Lutfi bin Abdul Wahab Al-Linggi
          Jumaat 29 April 2016
          11.03 pagi
          Kota Damansara.

          20/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          Apabila Wahhabi berkata: _”Kami tidak bermadzhab, kami mengikuti Rasulullah secara langsung sebagaimana para ulama salaf”_

          Dari FB Saiful Ayob

          Apabila Wahhabi berkata:
          _”Kami tidak bermadzhab, kami mengikuti Rasulullah secara langsung sebagaimana para ulama salaf”_

          Maka katakan:

          *Kalian sedang mengigau, tidak mengetahui apa yang kalian katakan. Bagaimana kalian bisa mengikuti Rasulullah secara langsung?!*
          ✔️Apakah kalian pernah bertemu dengan Rasulullah secara langsung?!, jawabannya pasti tidak.

          Jika mereka berkata: “Kami mengikuti Rasulullah dengan memahami sunnah-sunnahnya secara langsung”

          Maka katakan:
          ✔️Apakah anda menguasai bahasa Arab dengan segala alatnya (Nahwu, shorof, balaghoh dan lainya)?
          ✔️Apakah kamu hafal al Qur’an dan ratusan ribu hadits dg sanadnya?
          ✔️Apakah kamu paham asbabun nuzul dan asbabul wurud?
          ✔️Apakah kamu paham an Nasikh wal Mansukh, al Am wal Khosh, al muhkam wal mutasyabih, al muthlaq wal muqayyad, al mujmal wal mubayyan dan seterusnya?
          Jawabannya pasti juga tidak.

          Jika mereka berkata:
          “Kami memahaminya dengan membaca terjemahan al Qur’an dan hadits”.

          Maka katakan:
          Itu namanya taqlid (mengikuti pemahaman) penerjemah. Apakah menurut kalian para penerjemah itu lebih luas ilmunya dari imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Syafi’i dan imam Ahmad?! Sehingga kalian rela meninggalkan para imam madzhab dan beralih taqlid pada para penerjemah al Qur’an dan hadits.

          Apabila mereka berkata:
          “Kami mengikuti para ulama dan ustadz-ustadz sunnah”.

          Maka katakan:
          Itulah yang disebut taqlid, tadi kalian katakan mengikuti Rasulullah secara langsung dan sekarang kalian katakan ikut ‘ulama sunnah’?! Ini kontradiksi…!!
          ✔️Perlu kalian ketahui! al Hafidz an Nawawi, al Hafidz Ibnu Hajar al Asqolani, al Hafidz al Bayhaqi, al Imam Al Ghozali dan jutaan ulama lainnya, meskipun dari segi keilmuan mereka jauh lebih tinggi dari kalian tetapi mereka juga bermadzhab.
          Aneh.. jika orang-orang seperti kalian tidak mau bermadzhab.
          ✔️Perkataan kalian bahwa para ulama Salaf tidak ada yang taqlid juga tidak benar, apabila kalian pernah membaca kitab-kitab mushtholahul hadits seperti Tadrib ar Rowi pastilah kalian tahu bahwa para sahabat yang telah mencapai derajat Mufti atau Mujtahid itu hanya ada 200 sahabat [menurut pendapat yang kuat], artinya ratusan ribu sahabat lainya bertaqlid kepada yang dua ratus tersebut.

          19/08/2019 Posted by | Aqidah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          SIFAT-SIFAT ALLAH PERBANDINGAN DIANTARA ASHA’IRAH VS MU’TAZILLAH.

          Persoalan sifat-sifat Allah s.w.t.

          tidak dibincangkan secara mendalam pada zaman Rasulullah s.a.w. Umat Islam pada zaman ini menerima terus apa sahaja sifat- sifat Allah sebagaimana Allah s.w.t. mesifatkan dirinya di dalam al-Qur’an tanpa mempersoalkan makna disebalik sifat-sifat tersebut.

          Allah s.w.t. bersifat dengan sifat kesempurnaan yang mutlak dan sifat-sifat tersebut adalah banyak.
          Walau bagaimana pun Allah s.w.t. menjelaskan sebahagian dari sifat-sifat-Nya kepada manusia menerusi al-Qur’an.

          Umpamanya Allah s.w.t. Amat Mendengar dan Maha Mengetahui dan firman-Nya lagi “Maka sesungguhnya Allah s.w.t. adalah Maha Penyayang lagi Maha Berkuasa”

          Olehyang demikian sifat-sifat Allah yang terdapat di dalam al-Qur’anadalah jelas menunjukkan kesempurnaan-Nya. Sifat-sifat kesempurnaan tersebut memberikan nilai yang lebih tinggi dan lebih besar keranaAllah s.w.t.
          adalah penciptas egala makhluk. Justeru itu la memiliki sifat Pengetahuan, Kemampuan dan semua sifat-sifat kesempurnaanyang lainnya.

          Bagaimanapun tanda-tanda Pengetahuan dan Kekuatan-Nya adalah hasil dari tanda Kehidupan-Nya,dan ianya pula dapat dilihatdari sistemketeraturan alam semesta.

          Allah s.w.t adalah bebas dari sebarangkecacatan dan kekurangan, bahkan tiada sesuatupun yang dapat disamakan dengan-Nya.

          Seandainya perkara ini diletakkan kepada Allah maka pastilah nilai kebesaran dan keagungan Allah akan jatuh ke tahap yang lebih rendah.

          Keadaan ini bertentangan sama sekali denganfirman-Nya “Katakanlah Allah adalah satu. Allah menjadi tumpuan segala makhluk untuk memohon sebarang hajat.

          Dia tidak beranak dan tidak pula diperanak kan. Dan tidak ada sesiapa pun yang setara dengan-Nya”

          Dengan ini jelaslah bahawa sifat kesempurnaan Allah menunjukkan Allah s.w.t. suci dari segala bentuk kekurangan.

          DZAT DAN SIFAT.

          Masalah dzat dan sifat adalah suatu masalah yang sering menimbulkan kontroversi oleh kebanyakan para mutakallimun kerana ia mempunyai hubung kait di antara satu sama lain.

          Masalah ini mula diperbincangkan pada awal abad kedua Hijrah oleh Jahm b. Safwan (m.127H.).

          Kemudian ianya menjadi perdebatan pemikiran di antara golongan Muktazilah,musyabihah,mujasimah dan al-‘Asya’irah di dalam perspektif ‘Urn al-Kalam.

          Persoalan yang timbul ialah, adakah Allah s.w.t. mempunyai sifat ataupun tidak?.

          SekiranyaAllah s.w.t mempunyai sifat, adakah sifat-sifat tersebut kekal (qadim) sebagaimana kekalnya dzat Allah s.w.t. ataupun sifat-sifat tersebut baharu dimiliki oleh Allah selepas kewujudan-Nya?.

          Di samping persoalan-persoalan tersebut, terdapat banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menetapkan Allah s.w.t. mempunyai sifat. Sifat-sifat tersebut termasuklah sifat Amat Mengetahui (‘Alim), Berkuasa (Qadir), Mendengar (Sami’), Melihat (Basir) dan sebagainya.

          Konsep Sifat-sifat Allah:Analisis & PerbandinganAntara AliranMu’tazilah & Asya’irah
          Di bawah ini diperturunkan beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan sifat- sifat Allah s.w.t. di antaranya :

          1. Surah al-An’am (5) : 59 “Dan di sisi Allahsegala Kunci perbendaharaan yang ghaib,tidak ada sesiapapun yang mengetahuinyamelainkan Dia.

          Seterusnya la amat Mengetahuiapa yang terkandung di daratan mahupun di lautan sertatidak akan gugur sehelai daun melainkan dalam pengetahuan-Nya “.

          2. Surah al-Baqarah (2) : 106 “Sesungguhnya Allah Amat Berkuasa terhadap segala sesuatu”.

          3. Surahal-Baqarah (2) : 181 “Sesungguhnya Allah Amat Mendengar dan Amat Mengetahui”.

          4. Surah Fatir(35) : 3 “Sesungguhnya Allah Amat Mengetahui tentang hamba-Nya serta Melihat dan Memerhatikannya “.

          Selain daripada ayat-ayat tersebut terdapat jugabeberapa ayat al-Qur’an yang menunjukkan sifat-sifat Allah berbeza dari makhluk-Nya.

          Sebagai buktinya firman Allah dalam Surah al-Syura’ (42): 11 bermaksud “Tidak ada sesuatupun yang setanding dengan-Nya”,dan juga dalam surah al-Ikhlas (112) : 4 bermaksud “Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya “.

          Hakikat MakrifatAllah telah pun diterangkan oleh Khalifah Ali b.
          Abu Talib menerusi khutbahnya :

          “Asas agama ialah ma’rifat-Allah. Untuk menyempurnakan makrifat tersebut hendaklah mentakdiskan-Nya serta mengesakan- Nya dengan segala keikhlasan.

          Hakikat kesempurnaan dan keikhlasan tersebutialah menolak segala bentuk sifat-sifat yang keji bagiAllah ataupun sifat-sifat yang berbeza daridzat-Nya.

          Allah s.w.t. tidak mempunyaipersamaan dengan sesuatu benda yang dapat difikirkan oleh manusia.

          Begitu juga sifat-sifat yang dapat diletakkan kepada-Nya.

          Justeru itu barangsiapa yang memberikan sifat-sifat kepada Allah nescaya mereka mempercayai sifat-sifat itu sebagai Allah s.w.t. Pegangan ini mengakibatkan bertambah bilangan kepada Allah.

          Hal yang sebegini adalah mustahil bagiAllah s.w.t. ”

          Berasaskan kepada pendapat tersebut, Imam Ja’far al-Sadiq (m. 148 H)7 menjelaskan bahawa sifat dan dzat Allah adalah satu dan tidak berbilang-bilang dari sudut/segi apa sekalipun.

          Sifat ini bukanlah sesuatu yang lain daripada dzat-Nya.

          Sebagai contohnya, beliau mengatakan bahawa sifat-sifat Allah seperti Mengetahui (‘Alim), Berkuasa (Qadir), Hidup (Hayy), Melihat (Basir) dan Mendengar (Sami’)adalah hakikatdzaf-Nya.

          Lantaran itu kesempurnaan-kesempurnaan yang ditunjukkan kepada sifat-sifat-Nya pada hakikatnya sama dengan fea?-Nya sendiri.

          Golongan Muktazilah pula di dalam persoalan ini menafikan adanya sifat bagi Allah s.w.t. Adalah tidak menghairankan sekiranya mereka dikenali sebagai golongan mu ‘attilah.

          Akal mereka tidak membolehkan merekamengakui sifat-sifat Allah dan berbeza dari dzat.

          Alasannya ialah jika sifat Allah tidak dianggap sama dengan dzat maka timbullah Jama’ Baqa’.

          Hasilnya akan gugurlah akidah tauhid.

          Menurut al-Syahrastani(m. 507H.), Wasil b. ‘Ata’ (m. BOH.) adalah orang yang pertama di kalangan Muktazilah yang meletakkan asas di dalam perbincangan menafikan sifat-sifat Allah s.w.t.” Ini bererti apa yang disebutkan sifat Allah s.w.t. adalah bukan sifat yang wujud tersendiri di luar dzat Allah, tetapi sifat tersebut merupakan dzat Allah s.w.t. sendiri.

          Menurut Wasil sendiri sekiranya sebarang sifat dikatakan kekal, sudah tentu ia memerlukanJama’ Baqa’ dan kepercayaan tentang keesaan Allah menjadi palsu.

          Konsep Sifat-sifat Allah:Analisis & Perbandingan Antara AliranMu’tazilah & Asya’irah.

          Al-Asy’ari (m. 33OH.)12, sewaktu menjelaskan pendapat golongan Muktazilah berhubung dengan sifat-sifat Alla hadalah bersifat negatif. Sehinggakan beliau mengatakan golongan Muktazilah berpendapat bahawa Allah s.w.t. tidak mempunyai pengetahuan,kekuasaan,hayat dan sebagainya.

          Ini tidak bererti golongan Muktazilah menganggap Allah s.w.t. tidak mengetahui, berkuasa, hidup dan sebagainya tetapi Allah s.w.t. tetap mengetahui dan berkuasa. Sifat-sifat tersebut bukanlah dalam pengertian sifat yang sebenarnya. Ini bererti Allah s.w.t. mengetahui, berkuasa dan hidup dengan dzat-Nya..

          Kecenderungan Wasil untukmenjelaskan persoalan sifat Allah masih lagi dalam kesamaran. Abu Hudhayl al-‘Allaf (m. 268H.) yang terkenal dengan kekentalan hujahnya menentang pandangan yang mengatakan bahawa dzat Allah tidak mempunyai kualiti dan tidak sekali-kali dikatakan sebagai jamak.

          Kualiti sifat Allah adalah sama dengan dzat serta tidak dapat diasingkan daripada kedua-duanya.

          Beliau bersetuju bahawa sifat Allah adalah satu dan sama dengan dzat.

          Ini menunjukkan bahawa apabila dikatakan Allah Maha Mengetahui maka pengertiannya adalah bukan ilmu ada dalam dzat Allah sebaliknya ilmu adalah dzat Allah.

          Ringkasnya Allah Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Hidup dengan Ilmu, Kuasa dan Kehidupan itu sebagai dzat-Nya yang sebenar.

          Pandangan Abu Hudhayl adalah bersesuaian dengan kenyataan ahli falsafah yang berpendapat bahawa dzat Allah tidak mempunyai kualiti dan kuantiti bahkan ia adalah mutlak satu.

          Oleh itu sifat Allah tidak lain tidak bukan daripada dzat Allah. Apa sahaja kualiti-Nya yang boleh ditegakkan samada ‘adam (tiada) ataupun usul (penting) tidak boleh dikaitkan dengan Allah.

          Sebagai contohnya Allah bukanlah sebagai satu tubuh, bahan, atau ‘arad, tetapi Ia adalah wujudnya dzat-Nya yang sebenar dan Tauhid-Nya itu benar.

          Abu Hudhayl seterusnya tidak mengakui sifat-sifat Allah berasingan daripada dzat-Nya dalam sebarang pengertian.

          Ini disebabkan beliau menyedari bahawa tanggapan tersebut membuatkan akidah tauhid akan terbatal sama sekali. Dengan alasan beliau, maka jelaslah bahawa golongan Kristian yang memperkembang kan teori Trisakti terpaksa meninggalkan akidah tauhid.

          Kehadiran Mu’ammar (m. 228H.) telah membesar-besarkan penafiannya tentang sifat-sifat Allah.

          Beliau menegaskan bahawa dzat Alla hadalah bebas daripada aspek jamak.Sekiranya seseorang itu percaya tentang sifat-sifat Allah maka dzat Allah akan menjadi jamak.Sikap keterlaluan yang diperlihatkan oleh beliau menyebabkan beliau mengatakan bahawa Allah tidak mengetahui diri-Nya sendiri atau orang lain kerana mengetahui dan pengetahuan itu sesuatu yang berada di dalam atau di luar Allah.

          Jika pengetahuan bukan sesuatu di dalam Allah, dan yang diketahui berasingan daripada yang mengetahui bermakna bahawa dzat Allah itu berbilang-bilang.

          Tambahan pula, pengetahuan Allah akanbergantungdan memerlukan kepada”yang lain” Sebagai hasilnya, kemutlakkan Allah akan dinafikan sama sekali.

          Dengan menafikan sifat-sifat Allah, Mu’ammar telah menerima terus pengaruh falsafah Neo-Platonisme.

          Doktrin utama Plotinus ialah dzat Allah satu dan mutlak. Allah berada diatas segala-galanya tanpa haddan batasan.Justeru itu, seseorang tidak boleh mengatakan sifat-Nya cantik,baik,berfikir atau berkehendak kerana sifat tersebut mempunyai batasan dan tidak sempurna.

          Abu ‘Ali al-Jubba’i (m. 290H) pula mengemukakan pendapat yang agak berbeza sedikit denganmerekayang sebelumnya. Walau bagaimanapun pada dasarnya beliau berpegang pada prinsip asas iaitu menafikan sifat Allah. Menurut beliau, Allah mengetahui (Alim)dengan dzat-Nya.. Allah s.w.t. tidak memerlukan kepada sesuatu sifat di dalam bentuk pengetahuan atau pun keadaan mengetahui.

          Beliauseterusnya menamakan pendapatnya sebagai i’tibarat al-‘Aqliyyah yang tidak ada sesuatupunboleh dikatakansebagai tambahan bagi Allah s.w.t.

          Abu Hasyim (m. 325H) pula berpendapat sebaliknya, iaitu beliau mengatakan bahawa sifat Allah tidak lain tidak bukan adalah dzat-Nya.

          Beliau kemudiannya menginteprestasi kan perkataan dzat Allah sebagai hal(keadaan). Dengan itu apabila beliau mengatakan “Allah mengetahui dengan dzat-Nya.”

          membawa pengertian bahawa Allah mempunyai keadaan mengetahui.

          Al-Jubba’i menolak keadaan teori Abu Hasyim.

          Beliau berkata bahawa keadaan ini hanyalah aspek mental yang tidak terkandung dalam dzat tetapi ditemui dalam pemerhatian dzat itu. Dengan perkataan lain, ia hanyalah sifat umum atau hubungan yang tidak wujud pada luaran tetapi hanya ditemui dalam minda pemerhati.

          Dalam keadaan yang kesamaran Imam al-Baqilani menyokong pendapat Abu Hasyim, manakala Imam al-Asy’ari menolak pandangan tersebut sebaliknya Imam al- Haramayn pada awalnya menyokong tetapi kemudiannya menolak.

          Abu al-Jabbar Ahmad (m. 415H) merupakan tokoh yang terakhir daripada golongan Muktazilah. Dalam masalah ini beliau telah memperkuatkan pendapat Abu ‘AH al-Jubba’i dengan mengatakan bahawa sifat dan dzat adalah sama.

          Walaupun terdapat sedikit perbezaan di kalangan tokoh-tokoh Muktazilah, tetapi mereka tetap bersepen dapat dalam prinsipasas mereka bahawa Allah s.w.t tidak mempunyai sifat. Adalah tidak menghairankan sekiranya mereka dituduh sebagai golongan mu’attilah (menafikan sifat Allah).

          Beralih pula kepada pendapat Asya’irah.

          Mereka mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan golongan Muktazilah. Prinsip asasi mereka ialah mengutamakan wahyu untuk meletakkan asas yang kukuh dalam Islam.

          Gerakan mereka menjadi semakin utuh/kukuh dan mendapat tempat di merata-rata tempat dalam dunia Islam. Mereka dengan tegas mengatakan bahawa Allah s.w.t. mempunyai sifat (bukan seperti pengertian musyabihah,mujasimah).

          Tokoh-tokoh yang terkemuka di kalangan mereka ialah Abu Hasan ‘Ali b. Ismail al-Asy’ari (m. 330H) di Mesopotamia manakala Abu Mansur al-Maturidi(m. ) di Samarqand.

          Di antara kedua-dua tokoh tersebut al-Asy’ari menjadi wira dan paling disukai kerana kebangkitannya menyebabkan runtuhnya sistem Muktazilah.
          Beliau seterusnya dikenali sebagai pengasas teologi ortodoks dan mazhab yang diasaskan oleh beliau dinamakan Asya’irah.

          Menurut al-Syahrastani,al-Asy’ari meyakini sifat-sifat Allah.

          Beliau menetapkan sifat-sifat Allah berpandukan kepada ayat-ayat (muhkam) dalam al-Qur’an. Sifat-sifat yang boleh didapati di dalam al-Qur’an menurut pandangan nya ialah sifat al-‘Ilm dan al-Qudrah.

          Dalilnya, surah al-Nisai(4) : 166 bermaksud “Allah menurunkan dengan ilmu-Nya’dan Surah al-Zariyyat (54) : 58 bermaksud”Yang memiliki kekuatan yang teguh”.

          Justeru itu beliau menyatakan bahawa Allah s.w.t. Mengetahui, Menghendaki dan Menguasai, di samping menyatakan bahawa Allah mempunyai Pengetahuan, Kemahuan dan Kekuatan.

          Menurut al-Asy’ari lagi, mustahil Allah s.w.t. mengetahui dengan dzat-Nya. seperti yang diperkatakan oleh golongan Muktazilah.

          Pengertian tersebut akan memberi kan gambaran bahawa dzat Allah adalah pengetahuan dan Allah sendiri juga adalah pengetahuan. Menurut beliau lagi, Allah bukannya ‘Urn tetapi Yang Maha Mengetahui (‘Alim). Dengan yang demikian Allah mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan-Nya adalah bukan Jzaf-Nya. Pengertian tersebut juga samalah dengan sifat-sifat yang lain seperti Hidup,Kuasa, Dengar dan Lihat.

          Sehubungandengan ini al-Baghdadi (m. 429H) berpendapat bahawa pendapat- pendapat di kalangan Asya’irah mempunyai persamaan tentang Pengetahuan, Kehidupan, Kemahuan, Pendengaran, Penglihatan dan Percakapan Allah, bahkan kesemua sifat-sifat tersebut adalah kekal(Qadim).2v Menurut al-Ghazali(m. 505H) pula sifat-sifat tersebuttidak sama dengan dzat Allah, malahan berlainan dari dzat- Nya tetapi ia berada di dalam dzat itusendiri.

          Secara umumnya pendapat-pendapat di kalangan Asya’irah berhubung dengan sifat dan dzat adalah tidak menunjukkan sebarang perbezaan. Mereka menetapkan sifat-sifat sebagai suatu sifat yangQadim. Di samping itu juga mereka menegaskan bahawa sifat-sifat itu bukanlah dzat Allah dan bukan juga perkara lain daripada dzat- Nya.

          Kemudian ianya wujud bersama-sama (za’id) dengan dzat Allah.

          Dalam masalah ini golongan Asya’irah berada dalam keadaan yang agak sukar dan serba salah. Mereka tidak dapat menegaskan sifat qadim Allah sebagai sama atau pun berbeza sama sekali dengan dzat Allah.

          Meskipun begitu mereka tidak bersetuju dengan pandangan golongan Muktazilah sekaligus menegaskan persamaan sifat dengan dzat bererti menafikan secara langsung hakikat sifat tersebut. Dengan yang demikian mereka berpendapat bahawa sifat itu, mengikut satu pengertian iaitu termasuk di dalam dzat manakala dalam pengertian yang lain pula terkeluar dari dzat Allah.

          Lantaran itu merekamenyarankan bahawa dzat dan sifat merupakan dua benda yang berlainan tetapi tidak boleh dikaitkan dengan Allah Yang Maha Agung.
          Merekamembezakan antara makna (mafhum) sesuatu benda dengan hakikatnya.

          Oleh itu apayang dipentingkan di sini ialah makna, sifat dan dzat adalah mempunyai pengertian yang berbeza. Dzat Allah bukanlah Mengetahui atau Berkuasa atau Bijaksana tetapi setakat yang berkaitan dengan hakikat dan muktamad nya, sifat terkandung dalam dzat Allah.

          Justeru itu tidak hairanlah sekiranya mereka menetapkan bahawa sifat-sifat tersebut sebagai sifat al-Ma’ani.

          Menurut al-Syahrastani,al-Asy’ari melandaskan pendapatnya dengan mengkiaskan atau membanding kan di antara perkara yang tidak dapat dilihat (al-Gha’ib) dengan perkara yang dapat dilihat (al-Syahid). Umpamanya, sifat-sifat Allah seperti Qadir (berkuasa),’Alim (berpengetahuan) dan Murid (berkehendak). Sifat-sifat tersebut menurut beliau ada yang menciptakan nya. Justeru itu beliau mengatakan bahawa Allah s.w.t.itu adalah ‘ilm, qudrah dan iradah.

          Apa yang dimaksudkan dengan hujah kias tersebut ialah tidak ada perbezaan di antara sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia dengan apa yang dimiliki oleh Allah s.w.t. Sebagai contohnya, apabila dikatakan seseorang itu ‘alim maka pengertian sebenarnya ialah seseorang itu mempunyai ilmu pengetahuan. Justeru itu perkara yang sama didapati ada pada Allah. Maka apabila dikatakan Allah s.w.t.itu ‘Alim pasti Allah s.w.t. mempunyai sifat Ilmu Pengetahuan.

          Al-Asy’ari seterusnya mengemukakan alasan dengan membuat beberapa andaian. Andaian tersebut seperti, pertama : Allah s.w.t. ‘Alim dengan diri-Nya dan kedua : Allah s.w.t. ‘Alim dengan ‘ilm. Seandainya Allah ‘Alim dengan diri-Nya maka diri-Nya adalah ‘ilm. Menurut beliau lagi, mustahil ‘ilm itu ‘Alim sedangkan Allah s.w.t.itu ‘Alim?* Lantaran itu Allah s.w.t. ‘Alim dengan ‘ilm malahan ‘ilm itu bukanlah diri-Nya.

          Andaian yang seterusnya ialah sekiranya kesemua sifat Allah itu sama seperti dzat-Nya maka dzat Allah mestinya mempunyai gabungan yang sejenis tentang kualiti yang bertentangan.

          Contohnya : Allah itu bersifat belas kasihan(rahim) dan juga bersifat pembalas dendam (qahhar). Kedua-dua sifat yang saling bertentangan itu akan menjadikan dzat Allah yang satu dan tersendiri dan tidak boleh dibahagikan. Faktor sebegini sudah tentu tidak munasabah diletakkan kepada Allah s.w.t. Tambahan pula sekiranya sifat itu sama dengan dzat maka tidak ada feadahakan diperolehi dengan memberikan sifat itu kepada-Nya.

          Oleh yang demikian sifat Allah tidak sama dengan dzat Allah.

          Walaupun tidak sama dengan dzat namun ianya pula tidak berbeza sama sekali daripada Sumbangan al-Maturidi (m.333 H) berhubung dengan sifat dan dzat Allah ialah menentang golongan tasybih dan tajsim dalam semua bentuknya tanpa menafikan sifat Allah s.w.t. Pengucapan yang berbentuk antropomofisme yang digunakan dalam al-Qur’an seperti wajah, mata, dan perihal duduk diatas ‘Arasy tidak boleh diterima secara pentafsiran zahir dan bertentangan dengan maksud al-Qur’an.

          Oleh yang demikian, petikan perenggan tersebut mestilah ditafsirkan berdasarkan petikan tanzih yang jelas maksudnya dengan cara yang tekal dan sah mengikut penggunaan gaya bahasaArab,ataupun maksud yang sebenarnya hendaklah diserahkan kepada pengetahuan Allah.

          Menurut al-Maturidi lagi, untuk menerangkan sifat dan tabii Allah ialah dengan cara yang tidak akan membayangkan sebarang persamaan atau perbandingan. Ini menunjukkan bahawa keimanan kepada satu Kuasa Agung dan Hakikat Mutlak adalah bersifat am atau sejagat. Baginya,pendekatan yang dikemukakan oleh golongan Muktazilah adalah membahayakan kepercayaan am tentang kewujudan Allah iaitu menafikan sifat Allah dan keqadimannya.
          Olehyangdemikian apabila dikatakanAllah itu bijaksana maka ia bermaksud Allah s.w.t. mempunyai sifat kebijaksanaan.

          Penafian sifat Allah hanyamenimbulkan kekeliruan dan menyukarkan pengetahuan tentang Allahsehinggaakhirnya menjadikan Allah ghairal-wujud yang tidak dikenali serta diketahui.
          Begitu juga penafian tentang qadim Allah membuatkan-Nya tidak sempurna sejak dari mula dan tertakluk kepada perubahan.

          Wallahu’alam.

          19/08/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          PENGETAHUAN,.. AHLUSSUNNAH BUKAN KONGKONGAN WAHHABI,SYIAH,MUSYABIHAH,MUJASIMAH DLL.

          “Muhammad Izzat Al-Kutawi terdesak klaim jenama Ahlussunnah” kepada wahhabiyyah.

          “Muhammad Izzat Al-Kutawi terdesak klaim jenama Ahlussunnah” kepada wahhabiyyah.

          Ahlussunnah atau nama lengkapnya Ahlussunnah wal jamaah (ASWJ) bukan untuk dikong-kong oleh kelompok yang kehausan nama ini.

          Ahlussunnah adalah satu-satu nya manhaj yang benar diatas jalan yang benar iaitu jalan para Nabi,sahabat dan seterusnya.

          Bukti-Bukti Kebenaran Akidah Asy’ariyyah
          Sebagai Akidah Ahlussunnah.

          Sebagaimana telah kita ketahui bahwa di antara mukjizat Rasulullah adalah beberapa perkara atau peristiwa yang beliau ungkapkan dalam hadits-haditsnya, baik peristiwa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.

          Juga sebagaimana telah kita ketahui bahwa seluruh ucapan Rasulullah adalah wahyu dari Allah, artinya segala kalimat yang keluar dari mulutmuliabeliau bukan semata-mata timbul dari hawa nafsu.

          Dalam pada ini Allah berfirman:

          Maknanya: “Dan tidaklah dia-Muhammad- berkata-kata dari hawa nafsunya, sesungguhnya tidak lain kata-katanya tersebut adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya” (QS. An-Najm: 3-4).

          Di antara pemberitaan Rasulullah yang merupakan salah satu mukjizat beliau adalah sebuah hadits yang beliau sabdakan bahwa kelak dari keturunan Quraisy akan datang seorang alim besar yang ilmu-ilmunya akan tersebar diberbagai pelusuk dunia,beliau bersabda:

          Maknanya: “Janganlah kalian mencaci Quraisy karena sesungguhnya-akan datang- seorang alim dari keturunan Quraisy yang ilmunya akan memenuhi seluruh pelusuk bumi” (HR. Ahmad).

          Terkait dengan sabda ini para ulama kemudian mencari siapakah yang dimaksud oleh Rasulullah dalam haditsnya tersebut?

          Para Imam mazhab terkemuka yang ilmunya dan para muridnya serta para pengikutnya banyak tersebur paling tidak ada empat orang; al-Imâm Abu Hanifah, al-Imâm Malik, al-Imâm asy-Syafi’i, dan al-Imâm Ahmad ibn Hanbal.

          Dari keempat Imam yang agung ini para ulama menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadits Rasulullah di atas adalah al- Imâm asy-Syafi’i, sebab hanya beliau yang berasal dari keturunan Quraisy.
          Tentunya kesimpulan ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa mazhab al-Imâm asy-Syafi’i telah benar-benar tersebar di berbagai belahan dunia Islam hingga sekarang ini.

          Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:

          Maknanya: “Hampir-hampir seluruh orang akan memukul punuk-punuk unta (artinya mengadakan perjalan mencari seorang yang alim untuk belajar kepadanya), danternyata mereka tidak mendapati seorangpun yang alim yang lebih alim dari orang alim yang berada di Madinah”. (HR. Ahmad).

          Para ulama menyimpulkan bahwa yang maksud oleh Rasulullah dalam haditsnya ini tidak lain adalah al-Imâm Malik ibn Anas, perintis Madzhab Maliki; salah seorang guru al-Imâm asy-Syafi’i. Itu karena hanya al-Imâm Malik dari Imam madzhab yang empat yang menetap di Madinah, yang oleh karenanya beliaudigelari dengan Imâm Dâr al-Hijrah (Imam Kota Madinah). Kapasitas keilmuan beliau tentu tidak disangsikan lagi, terbukti dengan eksisnya ajaran madzhab yang beliau rintis hingga sekarang ini.

          Tentang al-Imâm Abu Hanifah, demikian pula terdapat dalil tekstual yangmenurut sebagian ulamamenunjukan bahwa beliau adalah sosok yang dimaksud oleh Rasulullah dalam sebuah haditsnya, bahwa Rasulullah bersabda:

          Maknanya: “Seandainya ilmu itu tergantung di atas bintang-bintang Tsurayya maka benar-benar ia akan diraih oleh orang-orang dari keturunan Persia” (HR. Ahmad).

          Sebagian ulama menyimpulkan bahwa yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah al-Imâm Abu Hanifah, oleh karena hanya beliau di antara Imam mujtahid yang empat yang berasal dari daratan Persia.

          Al-Imâm Abu Hanifah telah belajar langsung kepada tujuh orang sahabat Rasulullah dan kepada sembilan puluh tiga ulama terkemuka dari kalangan tabi’in.

          Tujuh orang sahabat Rasulullah tersebut adalah; Abu ath-Thufail Amir ibn Watsilah al-Kinani, Anas ibn Malik al-Anshari, Harmas ibn Ziyad al-Bahili, Mahmud ibn Rabi’ al-Anshari, Mahmud ibn Labid al-Asyhali, Abdullah ibn Busyr al-Mazini, dan Abdullah ibn Abi al-Awfa al-Aslami.

          Demikian pula dengan al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, para ulama kita menetapkan bahwa terdapat beberapa dalil yang menunjukan kebenaran akidah Asy’ariyyah.

          Ini menunjukan bahwa rumusan akidah yang telah dibukukan oleh al-Imâm Abu al-Hasan sebagai akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah; adalah keyakinan majoriti umat Nabi Muhammad sebagai al-Firqah an- Nâjiyah; kelumpuk yang kelak di akhirat akan selamat kelak.

          Al-Imâm al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Mufatrî menuliskan satu bab yang ia namakan: “Bab beberapa riwayat dari Rasulullah tentang kabar gembira dengan kedatangan Abu Musa al-Asy’ari dan para penduduk Yaman yang merupakan isyarat dari Rasulullah secara langsung akan kedudukan ilmu Abu al-Hasan al-Asy’ari”.

          Bahkan kabar gembira tentang kebenaran akidah Asy’ariyyah ini tidak hanya dalam beberapa hadits saja, tapi juga terdapat dalam al-Qur’an.

          Dengan demikian hal ini merupakan bukti nyata sekaligus sebagai kabar gembira dari Rasulullah langsung untuk orang-orang pengikut al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

          Mari dengan mengenal keutamaan sahabat Abu Musa al-Asy’ari yang merupakan moyang dari al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

          Bahwa terdapat banyak sekali hadits-hadits Rasulullah yang menceritakan keutamaan sahabat Abu Musa al-Asy’ari ini, beliau adalah salah seorang Ahl ash-Shuffah dari para sahabat Muhajirin yang mengabdi seluruh waktunya hanya untuk menegakan ajaran Rasulullah.

          Sebelum kita membicarakan keutamaan- keutamaan sahabat mulia ini ada beberapa catatan penting yang handak penulis ungkapkan dalam permulaan ini; adalah sebagai berikut:

          Satu: Al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî mengutip hadits mauqûf dengan sanad dari sahabat Hudzaifah ibn al-Yaman, bahwa ia (Hudzaifah) berkata:

          Maknanya:“Sesungguhnya keberkahan doa Rasulullah yang beliau peruntukan bagi seseorang tidak hanya mengenai orang tersebut saja, tapi juga mengenai anak-anak orang itu, cucu-cucunya, dan bahkan seluruh orang dari keturunannya”. (HR Ibn Asakir).

          Pernyataan sahabat Hudzaifah ini benar adanya, setidaknya al-Hâfizh Ibn Asakir mengutip hadits sahabat Hudzaifah ini dengan tiga jalur sanad yang berbeda. Sanad-sanad hadits tersebut menguatkan satu atas yang lainnya.

          Dua: Sejalan dengan hadits mauqûf di atas terdapat sebuah hadits marfû’; artinya hadits yang langsung berasal dari pernyataan Rasulullah sendiri, yaitu hadits dari sahabatAbdullah ibn Abbas, bahwa Rasulullah bersabda:

          Maknanya:“Sesungguhnya Allah benar-benar akan mengangkat derajat keturunan-keturunan seorang mukmin hingga semua keturunan orang tersebut bertemu dengan orang itu sendiri.

          Sekalipun orang-orang keturunannya tersebut dari sudut amalan jauh berada di bawah orang itu (moyang mereka), agar supaya orang itu merasa gembira dengan keturunan-keturunannya tersebut” (HR.Ibn Asakir).

          Setelah menyampaikan hadits ini kemudian Rasulullah membacakan firman Allah dalam QS. ath-Thur: 21:ََ

          Maknanya:”Sesungguhnya mereka yang beriman dan seluruh keturunan mereka yang mengikutinya dalam keimanan akan kami Kami(Allah)pertemukan mereka itu (moyang-moyangnya) dengan seluruh keturunannya” (QS. Ath-Thur: 21).

          Hadits ini diriwayatkan oleh Huffâzh al-Hadîts, di antaranya selain oleh Ibn Asakir sendiri dengan sanad-nya dari sahabat Abdullah ibn Abbas, demikian pula diriwayatkan oleh al-Imâm Sufyan ats-Tsauri dari Amr ibn Murrah, hanya saja hadits dengan jalur sanad dari al-Imâm Sufyan ats-Tsauri tentang ini adalah mauqûf dari sahabat Abdullah ibn Abbas.

          Dalam pada ini, lanjutan firman Allah dalam QS. ath-Thur: 21 di atas “… Wa Mâ Alatnâhum”, ditafsirkan oleh Ibn Abbas;

          “Wa Mâ Naqashnâhum”, artinya tidak akan dikurangi dari mereka suatu apapun, atau bahwa mereka semua; antara moyang dan keturunan-keturunannya akan disejajarkan.

          Tiga: Diriwayatkan pula dari sahabat Abdullah ibn Abbas tentang firman Allah: ”Wa An Laysa Lil-Insân Illâ Mâ Sa’â” (QS. An-Najm: 39),

          artinya bahwa tidak ada apapun bagi seorang manusia untuk ia miliki dari kebaikan kecuali apa yang telah ia usahakannya sendiri. Setelah datang ayat ini kemudian turun firman Allah: ”Alhaqnâ Bihim Dzurriyatahum Bi-Imân” (QS. Ath-Thur: 21),

          artinya bahwa orang-orang mukmin terdahulu akan dipertemukan oleh Allah dengan keturunan- keturunan mereka karena dasar keimanan.

          Dalam pentafsiran ayat ini sahabat Abdullah ibn Abbas berkata: “Kelak Allah akan memasukan anak-anak ke dalam surga karena kesalehan ayah-ayah mereka”.

          Empat: Terkait dengan firman Allah: ”Alhaqnâ Bihim Dzurriyatahum Bi-Imân” (QS. Ath-Thur:21)

          diriwayatkan pula dari al-Imâm Mujahid; salah seorang pakar tafsir murid sahabatAbdullah ibn Abbas, bahwa dalam menafsirkan firman Allah tersebut beliau berkata: “Sesungguhnya karena kebaikan dan kesalehan seorang ayah maka Allah akan memperbaiki dan menjadikan saleh anak- anak dan cucu-cucu (keturunan) orang tersebut”.

          Dari beberapa bukti di atas dapat kita faham bahwa sebenarnya kesalehan, keilmuan, keberanian, kezuhudan, dan berbagai sifat terpuji lainnya yang ada pada sosok al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah sifat-sifat yang memang secara turun-temurun beliau warisi dari kakek-kekeknya terdahulu.

          Dalam hal ini termasuk salah seorang moyang terkemuka beliau yang paling ”penting” adalah sahabat dekat Rasulullah; yaitu Abu Musa al-Asy’ari.

          Ini semua tentunya ditambah lagi dengan kepribadian-kepribadian saleh dari kakek-kakek beliau lainnya.

          Berikut ini akan kita kupas satu persatu beberapa bukti yang menunjukan keutamaan sahabat Abu Musa al-Asy’ari, yang hal ini sekaligus memberikan petunjuk tentang keutamaan al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

          Beberapa hadits terkait dengan keutamaan (fadhâ-il) sahabat Abu Musa al-Asy’ari telah dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa hal itu memberikan isyarat akan keutamaan (fadhâ-il) al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari dan menunjukan bagi kebenaran akidah yang telah beliau rumuskan, yaitu akidah Asy’ariyyah yang khusus akidah Ahlussunnah; akidah yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, di antaranya sebagai berikut:

          A.Satu: Firman Allah QS. Al Ma’idah: 54
          Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

          Maknanya: “Wahai sekalian orang beriman barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah, mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada sesama orang mukmin dan sangat kuat-ditakuti- oleh orang-orang kafir.
          Mereka berjihad dijalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap cacian orang yang mencaci”. (QS. Al-Ma’idah: 54).

          Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika turun ayat ini, Rasulullah memberitakannya sambil menepuk pundak sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya bersabda: “Mereka (kaum tersebut) adalah kaum orang ini!!”.

          Dari hadits ini para ulama menyimpulkan bahwa kaum yang dipuji dalam ayat di atas tidak lain adalah kaum Asy’ariyyah, karena sahabat Abu Musa al-Asy’ari adalah moyang dari al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, sebagaimana telah kita tulis dalam biografiringkas al-Imâm Abu al-Hasan sendiri.

          Dalam penafsiran firman Allah di atas: “Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah….” (QS. Al-Ma’idah: 54),al-Imâm Mujahid berkata: “Mereka adalah kaum dari negeri Saba’ (Yaman)”.

          Kemudian al- Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî menambahkan: “Dan orang-orang Asy’ariyyah adalah kaum yang berasal dari negeri Saba’”.

          Penafsiran ayat di atas bahwa kaum yang dicintai Allah dan mencintai Allah tersebut adalah kaum Asy’ariyyah telah dinyatakan pula oleh para ulama terkemuka dari para ahli hadits.

          Lebih dari cukup bagi kita bahwa hal itu telah dinyatakan oleh orang sekelas al-Imâm al-Hâfizh Ibn Asakir dalam kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî.

          Beliau adalah seorang ahli hadits terkemuka (Afdlal al-Muhaditsîn) di seluruh daratan Syam pada masanya.

          Al-Imâm Tajuddin as-Subki dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah menuliskan: “Ibn Asakir adalah termasuk orang-orang pilihan dari umat ini, baik dalam ilmunya, agamanya, maupun dalam hafalannya. Setelah al-Imâm ad-Daraquthni tidak ada lagi orang yang sangat kuat dalam hafalan selain Ibn Asakir.

          Semua orang sepakat dalam hal ini, baik mereka yang sejalan dengan Ibn Asakir sendiri, atau mereka yang memusuhinya”.

          Lebih dari pada itu Ibn Asakir sendiri dalam kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî telah mengutip pernyataan para ulama hadits terkemuka (Huffâzh al-Hadîts) sebelumnya yang telah metafsirkan ayat tersebut demikian, di antaranya ahli hadits terkemuka al- Imâm al-Hâfizh Abu Bakar al-Bayhaqi penulis kitab Sunan al-Bayhaqi dan berbagai karyabesar lainnya.

          Al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî menuliskan pernyataan al- Imâm al-Bayhaqi dengan sanad-nya dari Yahya ibn Fadlillah al-Umari, dari Makky ibn Allan, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami al-Hâfizh Abu al-Qasim ad- Damasyqi, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Syaikh Abu Abdillah Muhammad ibn al-Fadl al-Furawy, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami al- Hâfizh Abu Bakar Ahmad ibn al-Husain ibn Ali al-Bayhaqi, bahwa ia (al-Bayhaqi) berkata:

          berisyarat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya berkata: “Mereka adalah kaum orang ini”. Dalam hadits ini terdapat isyarat akan keutamaan dan derajat mulia bagi al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, karena tidak lain beliau adalah berasal dari kaum dan keturunan sahabat Abu Musa al-Asy’ari.

          Mereka adalah kaum yangdiberi karunia ilmu dan pemahaman yang benar. Lebih khusus lagi mereka adalah kaum yang memiliki kekuatan dalam membela sunah-sunnah Rasulullah dan memerangi berbagai macam bid’ah. Mereka memiliki dalil-dalil yang kuat dalam memerangi bebagai kebatilan dan kesesatan.

          Dengan demikian pujian dalam ayat di atas terhadap kaum Asy’ariyyah, bahwa mereka kaum yang dicintai Allah dan mencintai Allah, adalah karena telah terbukti bahwa akidah yang mereka yakini sebagai akidah yang hak, dan bahwa ajaran agama yang mereka bawa sebagai ajaran yang benar, serta terbukti bahwa mereka adalah kaum yang memiliki kayakinan yang sangat kuat.

          Maka siapapun yang di dalam akidahnya mengikuti ajaran-ajaran mereka, artinya dalam konsep meniadakan keserupaan Allah dengan segala makhluk-Nya, dan dalam metode memegang teguh al-Qur’an dan Sunnah, sesuai dan sejalan dengan faham-faham Asy’ariyyah maka ia berarti termasuk dari golongan mereka”.

          Al-Imâm Tajuddin as-Subki dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah mengomentari pernyataan al-Imâm al-Bayhaqi di atas, berkata:

          “Kita katakan;-tanpa kita memastikan bahwa ini benar-benar maksud Rasulullah-, bahwa ketika Rasulullah menepuk punggung sahabat Abu Musa al- Asy’ari, sebagaimana dalam hadits di atas, seakan beliau sudah mengisyaratkan akan adanya kabar gembira bahwa kelak akan lahir dari keturunannya yang ke sembilan al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

          Sesungguhnya Rasulullah itu dalam setiap ucapannya terdapat berbagai isyarat yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang yang mendapat karunia petunjuk Allah. Dan mereka itu adalah orang yang kuat dalam ilmu (ar-Râsikhûn Fi al-‘Ilm) dan memiliki mata hati yang cerah.

          Firman Allah: “Seorang yang oleh Allah tidak dijadikan petunjuk baginya, maka sama sekali ia tidak akan mendapatkan petunjuk” (QS. An-Nur: 40)”

          Ke-tamaan Asy’ariyyah.

          Satu: Hadits Shahih Riwayat al-Bukhari Dan Muslim Dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari
          Dari sahabat Abu Musa al-‘Asy’ari-semoga ridla Allah selalu terlimpah baginya- dari Rasulullah bersabda:

          Maknanya: “Sesungguhnya orang-orang Asy’ariyyah apa bila mereka telah turun ke medan perang, atau apa bila persediaan makanan mereka di Madinah sangat sedikit maka mereka akan mengumpulkan seluruh makanan yang mereka milikidalam satu wadah, kemudian makanan tersebut dibagi-bagikan di antara mereka secara merata. Mereka adalah bagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari diri mereka”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

          Sabda Rasulullah ini memberikan penjelasan tentang sifat-sifat para sahabatnya dari kaum Asy’ariyyah, yaitu para sahabat yang datang dari wilayah Yaman.

          Dalam hadits ini Rasulullah memuji mereka, bahkan hingga beliau mengatakan “Mereka adalah bagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari diri mereka”. Anda perhatikan dan resapi sabda Rasulullah bagian terakhir ini. Ucapan beliau pada penggalan terakhir tersebut adalah bukti yang sangat kuat tentang keutamaan orang-orang Asy’ariyyah dari kalangan sahabat Rasulullah. Ini menunjukan bahwa moyang al-Imâm Abu al- Hasanal-Asy’ari dan kaumnya adalah orang-orang yang sangat dekat dengan Rasullah, mereka semua telah benar-benar mendapatkan tempat dalam hati Rasulullah.

          Tentu sabda Rasulullah ini tidak hanya berlaku bagi kaum Asy’ariyyah dari para sahabat saja, namun juga mencakup bagi kaum Asy’ariyyah dari generasi berikutnya yang berasal dari keturunan mereka, karena sebagaimana telah kita jelaskan di atas bahwa doa dan berkah dari Rasulullah bagi seseorang akan mengenai keturunan-keturunan orang itu sendiri.

          Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al- Muftarî setidaknya dari dua jalur sanad yang berbeda. Selain oleh Ibn Asakir, hadits ini diriwayatkan oleh banyak perawi hadits lainnya, di antaranya oleh al-Imâm al-Bukhari dan al-Imâm Muslim dalam dua kitab Shahîh-nya.

          Dengan demikian telah nyata bagi kita bahwa hadits ini adalah hadits shahih yang sama sekali tidak perlu diperselisihkan.

          Wallahu’alam.

          19/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          ISU ZAKIR NAIK: SATU PENCERAHAN RINGKAS KPD ORANG AWAM.

          Telah menjadi tular berkenaan perbahasan mengenai Dr. Zakir Naik sehingga terdapat beberapa kelompok iaitu :

          1) Kelompok Menyokong dan mendokong Dr. Zakir Naik sepenuhnya :

          Kelompok ini terdapat beberapa pecahan padanya pula, iaitu :
          – Orang awam yang jahil mengenai perbahasan ilmu
          – Orang yang berfahaman Wahhabi

          2) Kelompok Menolak Dr. Zakir Naik sepenuhnya :

          Kelompok ini juga terdapat beberapa pecahan padanya, iaitu :
          – Ahli Sunnah wal Jama’ah(yang Syadid/Tegas)
          – Liberal and the geng

          3) Kelompok Mengambil sikap pertengahan.

          Kelompok ini kebanyakkannya terdiri daripada Ahli Sunnah wal Jama’ah yang bersikap pertengahan iaitu menerima yang mana tidak bercanggah dengan manhaj Ahli Sunnah wal Jama’ah dan menolak mana-mana yang bercanggah serta kelompok ini tidak bersetuju jika ada nyawa seorang Muslim yang terkorban.

          _________________________________________

          Berkenaan apa yang boleh diterima daripada Dr. Zakir Naik itu semua sudah sedia maklum iaitu berkenaan kehebatannya dalam Perbandingan Agama.

          Maka apakah yang menjadi Isu(dalam perbahasan Islam) sehingga ada yang menolaknya?

          Dr. Zakir Naik sebenarnya hanya hebat dalam Perbandingan Agama, namun beliau tidak cukup hebat dalam Perbahasan Mengenai Ilmu Agama Islam(Fiqh,Hadith,Tasawwuf dll) itu sendiri. Dan inilah yang menjadi Isu.

          Seandainya Dr. Zakir Naik tidak menyentuh mengenai Perbahasan Ilmu Agama Islam(yang mana bukan dalam bidang kepakaran beliau) dan hanya menyentuh berkaitan Perbandingan Agama(bidang beliau) sahaja, maka mungkin Isu seperti ini tidak timbul.

          Diantara perkara yang mana Dr. Zakir Naik bercanggah dengan pendapat Ulama-Ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah(Majority Ummat) ialah :

          i) Berkaitan pembahagian Bid’ah :

          Dimana Dr. Zakir Naik menggunakan Method Wahhabi dalam pendalilan sehingga beliau mengatakan bahawa Bid’ah itu semuanya sesat. Sepertimana dalam video berikut :

          ( Boleh skip ke minit 3.15 )

          Padahal telah sepakat Ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah bahawa Bid’ah itu bukan semuanya sesat sehingga ianya(Bid’ah) dibahagikan kepada 5 bahagi sepertimana yang telah dilakukan oleh Sultan al-Ulama ‘Izzuddin ibn Abdis-Salam, Imam al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani, Imam an-Nawawi dan lain-lain.

          Maka kaedah Dr. Zakir Naik dalam “Pendalilan Lurus Bendul” tanpa melihat pada kesinambungan Hadith-Hadith yang lain dan perbahasan mengenainya adalah bercanggah dengan kaedah Jumhur Ulama.(Saya tidak nyatakan disini bagaimana Ulama membahagikan Bid’ah tersebut agar tulisan tidak menjadi terlalu panjang).

          Jika diterima bulat-bulat bahawa semua Bid’ah itu adalah sesat, maka adakah Saidina Uthman رضي الله عنه telah dihukumkan sebagai sesat?

          Kerana Saidina Uthman رضي الله عنه telah melakukan azan solat jumaat 2 kali dan perkara ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan hal ini diamalkan sehingga ke hari ini.

          ii) Berkaitan Maulid Nabi ﷺ :

          Setelah diketahui bahawa Dr. Zakir Naik menganggap bahawa Bid’ah itu semuanya sesat, maka beliau juga telah menghukumkan Majlis Maulid Nabi ﷺ sebagai bid’ah yang sesat. Sepertimana dalam video berikut :

          (Boleh skip ke minit 2.20)

          Sedangkan para Ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah mengatakan bahawa Maulid Nabi ﷺ termasuk Bid’ah Hasanah sepertimana yang dinyatakan oleh Imam as-Suyuthi dalam menukil pendapat Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitabnya(Imam as-Suyuthi) al-Hawi lil Fatawi.

          Bahkan, Mengadakan Majlis Maulid Nabi ﷺ dalam rangka bersyukur kepada Allah ﷻ dan bersyukur kerana dihadirkan atau diutuskan Nabi Muhammad ﷺ kepada umat ini termasuk Sunnah Taqririyyah yang mana pernah dilakukan oleh para Sahabat sepertimana dalam Hadith yang terdapat dalam Sunan an-Nasa’i. Boleh rujuk tulisan saya sebelum ini pada link :

          https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2869406419742529&id=100000195961317

          iii) Berkaitan Menyamakan Allah ﷻ dengan sifat Jisim :

          Apabila Dr. Zakir Naik ditanya mengenai “Dimana Allah?”, Beliau telah menjawab dengan menggunakan Method jawapan Wahhabi iaitu “Allah ﷻ berada diatas Langit di Arasy”. Sepertimana dalam video berikut :

          Sedangkan Allah ﷻ tidak memerlukan kepada arah(atas,bawah,kiri,kanan,depan,belakang), Allah ﷻ tidak memerlukan ruang dan tidak memerlukan kepada tempat.

          Kerana arah, tempat dan ruang itu termasuk makhluk yang diciptakan oleh Allah ﷻ dan Allah ﷻ tidak memerlukan dan tidak berhajat kepada makhluk ciptaan-Nya.

          Dan hanya sifat Jisim yang memerlukan kepada ruang dan tempat. Sedangkan Allah ﷻ itu bukan Jirim, bukan Jisim dan bukan Aradh.

          Bahkan, jawapan Dr. Zakir Naik itu juga telah bercanggah dengan aQidah Jumhur Ahli Sunnah wal Jama’ah baik dari sudut Tafwidh mahupun Ta’wil.

          Dan Hadith Jariah yang digunakan oleh Dr. Zakir Naik tersebut juga mempunyai perbahasan yang panjang dan tidak boleh diambil secara zahir Hadith sahaja.

          iv) Berkaitan Tawassul :

          Dr. Zakir Naik mengatakan bahawa tidak ada Dalil berkenaan Tawassul dan beliau juga menghukumkan Tawassul sebagai Haram. Sepertimana dalam Video berikut :

          (Boleh skip ke minit 1.30)

          Sedangkan Rasulullah ﷺ sendiri telah melakukan Tawassul dan juga para Sahabat telah melakukan Tawassul. Maka jika kita mengikuti kaedah ini, bermaksud kita telah mengatakan bahawa Rasulullah ﷺ dan para sahabat telah melakukan perkara yang Haram dan ini jelas tidak benar.

          Adapun ayat al-Quran yang dikatakan oleh Dr. Zakir Naik dalam video tersebut diantaranya ialah merujuk kepada Syafa’at dan bukan merujuk kepada Tawassul. Hal ini sehingga ada yang mengajak Dr. Zakir Naik berdebat akan tetapi beliau menolaknya dan ketika disoal oleh kumpulan tersebut, beliau(Dr. Zakir Naik) tidak mampu menjawabnya. Sila lihat Video tersebut :

          Dan banyak lagi kesilapan Dr. Zakir Naik dalam masalah yang berkaitan dengan Ilmu Agama Islam itu sendiri.

          Namun kepakaran beliau dalam Perbandingan Agama itu kita tidak menafikannya bahawa beliau sememangnya mahir.

          _________________________________________

          Adapun mengenai menghalau atau menghantar Dr. Zakir Naik semula ke Negara India dan membiarkan beliau dihukum, ini adalah pendapat yang tergesa-gesa.

          Sedangkan nyawa seorang Muslim itu perlu dijaga dan dipelihara sepertimana yang terdapat dalam susunan Maqasid Syariah yang 6.

          Maka sebaiknya dalam hal ini kita mengambil sikap pertengahan yakni samaada membiarkan Dr. Zakir Naik menetap di Malaysia demi memelihara nyawa, akan tetapi menetapkan had kepada beliau yakni hanya bercakap sebatas mana kepakaran beliau sahaja iaitu hanya dalam Perbandingan Agama.

          Atau sepertimana yang dicadangkan oleh beberapa orang bahawa dihantarkan Dr. Zakir Naik ke Saudi kerana disana selari dengan manhaj yang dibawa oleh Dr. Zakir Naik.

          _________________________________________

          Dr. Zakir Naik mengambil ilmu Perbandingan Agama melalui gurunya Syeikh Ahmad Deedat yang mengambil daripada Kitab Izhar al-Haq dan beliau(Syeikh Ahmad Deedat) berlatih dalam perdebatan selama 40 tahun sepertimana yang terdapat dalam buku yang berjudul “The Choice”.

          Namun Muridnya(Dr. Zakir Naik) hanya meneladani gurunya(Syeikh Ahmad Deedat) dalam Perbandingan Agama sahaja sehingga dalam perbahasan lain, Gurunya(Syeikh Ahmad Deedat) lebih cenderung kepada Ahli Sunnah wal Jama’ah(Majority Ummat) dan Dr. Zakir Naik pula lebih cenderung kepada method Wahhabi.

          Diantara yang membezakan mereka ialah dimana Syeikh Ahmad Deedat tidak mempunyai masalah dalam perayaan Maulid Nabi ﷺ ketika mana beliau(Syeikh Ahmad Deedat) disoal oleh seorang lelaki yang cenderung kepada Wahhabi. Sila lihat video berikut :

          Syeikh Ahmad Deedat membenarkan Maulid Nabi ﷺ :

          -SYEIKHUNA Abdul Aziz Syed Ali

          19/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          Solat yang paling afdal setelah solat wajib adalah solat malam.

          Solat yang paling afdal setelah solat wajib adalah solat malam yakni solat tahajud ataupun solat yang mana dilakukan pada waktu malam hari. Syaitan mengikatkan simpul di belakang badan seseorang jika ia tidak bangun mengerjakan solat malam.

          Diriwayatkan daripada Saidina Abu Hurairah Radhiyallahu’Anhu. Rasulullah ﷺ bersabda “Pada saat kamu tidur, syaitan mengikatkan 3 simpul pada bahagian belakang kepalamu.” Pada setiap simpul itu dibacakan kata-kata berikut yakni mantera/jampi syaitan. Macam mana diikatkan? Dengan apa diikatkan?

          Bomoh itu tukang sihir itu bilamana ingin melakukan sihir ia akan meletakkan sesuatu dan diikat. Lebih kurang itu syaitan jampinya. Syaitan mengikat sesuatu yang ikatan itu adalah simpul kepada sesuatu yang diikat akan menjadi ketat yang di dalam tak boleh keluar dan yang di luar tak boleh masuk.

          Diikatkan di belakang kepala supaya otak berfikir malam masih panjang maka diikat. Kalau malam panjang tidurnya lagi panjang juga. Tak cukup 1 ikatan di bagi lagi 2 ikatan lagi yang mana setiap ikatan itu dikatakan panjang lagi waktu malam, masih panjang diikat.

          Itu adalah bisikan syaitan yang mana perkara ikatan syaitan adalah simbolik kepada usaha syaitan menganggu bisikan melalui belakang kepala yang mana merupakan tempat, bahagian penting manusia.

          Kata Baginda Rasulullah ﷺ “Syaitan mengikatkan 3 simpul di bahagian belakang kepala. Di setiap simpul dibacakan malam masih panjang maka teruskanlah tidur kamu.” Yakni bilamana kita nak bangkit, kita terasa lamanya nak masuk waktu subuh jadi kita baring balik sehingga kita tak sedarkan diri dan kita bangkit waktu dah azan maka dah terlepas untuk solat malam.

          Baginda Rasulullah ﷺ
          mengajar kita cara untuk membuka 3 ikatan sampul syaitan ini.

          1)Apabila kamu bangun mengingati Allah dan membaca doa bangun tidur maka simpul pertama lepas.

          2)Apabila orang itu berwudhuk maka simpul kedua lepas.

          3)Apabila dia menunaikan solat maka simpul yang ketiga lepas.

          Dan pada pagi harinya waktu subuh dia akan bangun dengan semangat dan suasana hati yang tenang. Sebaliknya sekiranya tidak melakukan begitu yakni tidak bangkit mengingati Allah maka ikatan itu kekal
          berada di belakang kepalanya. Ianya akan bangun dalam suasana hati yang buruk dan juga malas.

          (Allah!! Kita ini biasa bangun tidur handphone yang kita ingat dulu yang kita cari dulu, tidak berwudhuk, selalu lupa nak bersiwak dan tidak menyegerakan solat. Malas dan susah nak ingat Allah, malas dan suka nak tangguh-tangguh solat, malas nak berzikir, malas nak berselawat dan melakukan amal ketaatan kepada Allah.)

          Dikatakan orang yang terlepas bangun subuh sementara dia mampu untuk bangun MAAF CAKAP!!! SYAITAN TELAH KENCING PADANYA!! Kalau sehari tak apa tapi kalau setiap hari bagaimana? Jangan jadikan diri kita seperti tandas bagi syaitan, dikencing oleh syaitan.

          Sudahlah taat dengan bisikan syaitan. Selepas itu mendapat penghinan pula dikencing oleh syaitan. Alangkah hinanya orang itu di mata syaitan sendiri. Apatah lagi di sisi Allah سبحانه وتعالى.

          Ketahuilah yang PALING BERAT bagi ORANG MUNAFIK itu adalah MENUNAIKAN SOLAT ISYAK dan SUBUH. Sesungguhnya orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka.

          Nauzubillah min zalik!!! Semoga kita semua tidak tergolong dalam golongan orang munafik yang berat menunaikan solat fardhu isyak dan subuh dan moga-moga kita tidak akan terus membiarkan diri kita lalai dengan bisikan syaitan, kerap dikencing oleh syaitan.

          #MutiaraKata[HABIB ALI ZAENAL ABIDIN BIN ABU BAKAR AL-HAMID HAFIDZOHULLAH]

          Facebook : The Capal

          19/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

          PENJELASAN ILMIAH BERKAITAN DENGAN ISU BIDA’AH DARI KACAMATA AHLI SUNNAH WAL JAMAAH

          📹Rakaman 8 tahun yg lampau di Masjid Pusat Latihan Tentera di Masjid Sungai Besi Kuala Lumpur.

          🛑1- Sesi pertama👇

          🛑2- Sesi kedua👇

          🛑3- Sesi ketiga👇

          🛑4- Sesi keempat👇

          Semoga rakaman-rakaman ini dpt membantu pencerahan berkaitan dgn isu Bidaah.

          📺Selamat menonton & sebarkan!!!

          Facebook:
          1- Ahmad Faidzurrahim
          2- Ustaz Ahmad Faidzurrahim.

          Instagram:
          kuliah_ustaz_faidzurrahim.

          Telegram:
          https://t.me/joinchat/AAAAAE5W_012M87ttPndBg

          Kami cinta Angkatan Tentera Malaysia.

          SEBARKAN!!!

          Sumber:

          19/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

          “Nak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi?

          “Nak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi? Imam Syafie dengan Nabi siapa lagi mulia?”

          “Hadis dah lengkap kenapa nak pakai mazhab lagi?”

          Ini adalah antara ayat ayat yang keluar dari mulut orang yang kononnya bukan Muqallid dan bukan Mujtahid tetapi disebabkan mahu nampak sedikit gah. Diciptakan satu istilah baru “Muttabeq” namanya

          Satu permasaalahan apabila ditanya kamu bermazhab apa? Saya bermazhab Al Quran dan Hadis sepertimana Sahabat nabi tak memerlukan kepada Imam Mujtahid seperti itu jugalah saya.

          Sebenarnya, walaupun dicipta istilah “Muttabeq” sekalipun ia masih lagi dihukumkan “Muqallid” kerana selagi seseorang itu tidak mencapai martabat “Mujtahid Mutlak” wajib atasnya untuk mengikut Imam imam mazhab yang empat.

          Wajib juga atas kita mengakui bahawa Rasulullah adalah makhluk yang paling mulia. Mana sama martabat Imam Syafie dengan Rasulullah. Tetapi Imam Syafie adalah seorang Mujtahid Mutlak. Sehinggakan ada ulama menyebut seorang Mujtahid Mutlak adalah orang tidak ada satupun Hadis Rasulullah atas muka bumi ini tidak ada didalam dadanya melainkan semuanya telah dia hafal. Ini adalah tahap keilmuaan seorang Mujtahid Mutlak. Ikut mazhab itu adalah mengikut Nabi.

          Mazhab adalah rumusan kefahaman Al Quran dan Hadis yang telah disiapkan oleh Ulama. Mereka adalah insan yang lengkap serba serbi ilmu. Bersangat sangatan Alimnya. Mereka tahu bagaimana hendak proses Al Quran dan Hadis sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Kita orang awam. Tak ada perkakasan.

          Satu contoh misalan. Tayar kereta kita pancit. Adakah kita perlu pergi ke Kebun Getah, ambik getah skrap untuk buat tayar? Dengan perkakasan tak ada, rasanya ini satu kerja gila. Paling mudah adalah dengan beli sahaja Tayar dikedai Tayar. Walaupun orang yang ada 100 ekar ladang getah. Masih lagi beli tayar dikedai, tidak diprosesnya getah skrap untuk dibuat tayar sendiri.

          Al Quran dan Hadis adalah bahan mentah. Kita orang awam tak ada perkakasan ilmu yang lengkap seperti Para Imam Mujtahid. Adakah kita mahu membuat kerja gila dengan memproses Al Quran dan Hadis mengikut Keterbatasan ilmu yang kita ada? Ini adalah punca kesesatan. Menggunakan Al Quran dan Hadis yang mentah sebagai “Buffet” aci main petik, petik, petik, ayat mana yang sesuai dengan Nafsu ambik jadikan hujjah dan ayat mana tak kena dengan nafsu cari ayat Al Quran lain atau Hadis lain untuk mengiyakan perbuatannya. Ini punca kesesatan. Nauzubillahiminzalikh.

          Para sahabat dahulu tidak mempunyai mujtahid mutlak kerana segala permasalahan hukum hakam terus ditanyakan kepada Rasulullah.

          Kaedah kita, Mazhab yang dah dirumuskan itulah adalah merupakan rumusan kefahaman Al Quran dan Hadis. Pesan Tok Guru, “Ikut mazhab itu ikut nabi la” tidak perlu menunjuk handal kononnya pakai mazhab yang menggunakan hadis shoheh sahaja. Antara kamu dengan Imam Syafie siapa lebih alim Hadis? Siapa lebih banyak menghafal hadis? Kamu atau Imam Syafie?

          Jadilah seperti salah seorang pakar hadis malaysia Tuan Guru Wan Izzuddin atau lebih mesra dengan panggilan Pak Anjang Izzuddin. Pengalaman admin dan rakan rakan mengziarahi beliau di pondoknya Gajah Mati, tidak ada langsung kalam kalamnya yang kontradik dengan ulama ulama melayu yang lain. Walaupun bergelar seorang Muhaddith dan Musnid.

          -Admin QF Nuuri-

          14/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | 2 Comments

          Penulis Wahhabi Khalid Kabir Allal menuduh Imam al-Ghazali rahimahullah sebagai munafiq

          Olih: Ustaz Dr Khalif Muammar

          Ada seorang penulis Wahhabi Khalid Kabir Allal menuduh Imam al-Ghazali rahimahullah sebagai munafiq, bertaqiyyah menyembunyikan Aqidahnya yang sebenar demi mengelirukan umat Islam.

          Ada yang tak puas hati bila saya katakan Wahhabi atau Pseudo-Salafi telah beratus tahun mengkafirkan dan menyesatkan Asha’irah dan ahli Sufi, “itu fitnah” kata mereka “tiada bukti”.

          Sebenarnya terlalu banyak bukti, cuma jangan pejamkan mata sahaja saudara akan jumpa.

          Di Malaysia ada mufti yang terlepas cakap dalam khutbah mengatakan Asha’irah sesat, tetapi kemudian dipadam. Jika anda tidak mendengar tokoh Wahhabi di Malaysia ini tidak mengkafirkan dan menyesatkan Asha’irah dan golongan Ahli al-Sunnah wal Jama’ah yang lain maka ketahuilah ia strategi mereka untuk tidak kelihatan ekstrim kerana realiti guru2 mereka di Arab sangat berbeza. Jadi Siapa yang bertaqiyyah sebenarnya.

          Untuk pengetahuan ulama’ muktabar Asha’irah tidak pernah mengkafirkan Pseudo-Salafi.

          13/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

          Dr Zakir Naik : Antara Fakta Dan Mitos.

          (Oleh Ustaz Nurul Haq)

          Dr Zakir Naik kerap diangkat sebagai pakar perbandingan agama yang tiada taranya, dengan kemampuan menghafaz keseluruhan Al-Quran dan kitab agama lain seperti Bible dan Veda.

          Dalam bahasa mudahnya, pendakwah dari India itu dimomokkan sebagai sosok yang hebat dan digeruni pihak lawan. Ada yang mengangkat beliau sebagai “ustaz”, tidak kurang juga pihak yang menggelarnya ulama dan pelbagai lagi gelaran hebat yang dinisbahkan kepada Zakir.

          Zakir sendiri tidak meminta digelar sedemikian dan beliau juga tidak pernah menggelar diri sendiri dengan gelaran tersebut. Ya mungkin ada pihak yang menjawab bahawa Zakir seorang yang merendah diri, oleh itu beliau tidak akan sesekali mendabik dada sebagai ustaz atau seorang ulama. Takkanlah masuk bakul angkat sendiri.

          Antara fakta dan mitos

          Namun, fakta perlu dipisahkan daripada mitos. Sudah tiba masanya kita mendidik diri dengan ilmu yang benar, dan meneliti sesuatu perkara secara adil mengikut disiplin ilmu. Tanpa ilmu, apa yang menjadi panduan kita dalam menentukan kebenaran ialah sentimen terhadap sesuatu perkara dan logik akal semata-mata.

          Jangan jadikan kepetahan berkata-kata, jubah, serban, janggut dan hafalan beberapa potong ayat Al-Quran sebagai penentu keilmuan seseorang. Jangan jadikan kemasyhuran dan anugerah sebagai pengukur kebenaran. Diamnya seseorang tidak bermaksud jahil, kelantangan pula tidak mencerminkan ilmu kerana pada lazimnya tong kosong nyaring bunyinya.

          Berbalik kepada Zakir, penulisan ini membahaskan beberapa khabar angin tentang kebolehan luar biasa beliau yang tidak ada tolok bandingnya, dengan menyentuh 10 isu. Setelah itu, kita akan menelusi permasalahan pokok berkaitan akidah dan syariat yang dibawa Zakir.

          1. Zakir Naik seorang ulama dan pakar agama

          Hakikatnya, Zakir Naik adalah seorang doktor perubatan yang tidak mengamalkan profesi tersebut. Beliau tidak mempunyai latar belakang pendidikan Islam yang kukuh sama ada secara rasmi atau tidak rasmi.

          Untuk digelar seorang ulama atau agamawan, seseorang itu mestilah mempunyai kelayakan ikhtisas pengajian Islam sama ada secara akademik ataupun secara tradisional bersanad melalui talaqqi (sistem pondok). Keupayaan berbahasa Arab dan kemampuan menelaah sumber primer Islam dalam Bahasa Arab juga adalah kriteria utama seorang yang bergelar ilmuan Islam.

          Malangnya, kesemua ini tidak dimiliki oleh Zakir. Dalam sejarah Islam, tidak pernah didengari ulama yang tidak boleh berbahasa Arab walaupun mereka bukan orang Arab seperti Imam Bukhari, dan tidak pernah juga wujud pakar agama yang bacaan Al-Qurannya tidak boleh difahami dek kesalahan sebutan makhraj huruf yang mencacatkan maksud.

          Di Malaysia sendiri, kita ada muallaf yang menguasai Bahasa Arab dengan baik bahkan mampu mengajar tajwid. Alangkah baiknya jika Zakir terlebih dahulu mempelajari Bahasa Arab dan memantapkan ilmu Islam sebelum mendalami selok-belok agama lain. Nampaknya fenomena ustaz/ustazah “segera” ini sudah menular ke serata pelosok dunia.

          2. Zakir Naik seorang hafiz Quran

          Zakir bukanlah seorang hafiz Al-Quran, dan beliau juga tidak pernah mendakwa sedemikian. Tetapi, tidak dinafikan beliau memang ada menghafal beberapa ayat dan surah tertentu khususnya berkaitan topik perbandingan agama.

          Berkemungkinan tanggapan beliau seorang hafiz Al-Quran disebabkan kebolehan beliau memetik ayat Al-Quran sepintas lalu tanpa merujuk teks. Kemampuan beliau ini kemudian digembar-gemburkan sebagai hafiz Al-Quran. Maka timbullah mitos yang sukar dipadamkan disebabkan ketaksuban golongan tertentu.

          Ada baiknya jika soalan berkaitan hafiz ini dilontarkan kepada Zakir dalam sesi ceramahnya di masa hadapan bagi menjernihkan kontroversi. Selain itu, jika betul pun beliau seorang hafiz, hafazan tanpa pemahaman adalah sia-sia. Bak burung kakak tua yang hanya mampu mengulangi apa yang dihafalnya, maka muncullah fahaman “Allah berada di atas langit”, “Allah duduk di atas ‘Arash”, “Aku lebih memahami Sunnah dari Imam Al-Syafi’ie,” dan sebagainya.

          3. Zakir Naik hafal kitab suci lain

          Ketebalan Bible adalah dua kali ganda ketebalan Al-Quran. Ini belum lagi dikira ketebalan Bible mazhab Kristian Ortodoks yang jauh lebih tebal kerana ia memuatkan beberapa Sefer (kitab) tambahan.

          Maka dengan fakta ini, adakah masuk akal jika Al-Quran yang berjumlah 604 halaman itu pun tidak terhafal – inikan pula Bible yang beribu muka surat! Sejak Bible dibukukan secara rasmi sebagai kitab suci oleh Gereja Roman Katolik pada tahun 393 Masehi oleh persidangan uskup yang dikenali sebagai Synod of Hippo Regius, tidak ada sebarang catatan sejarah yang merekodkan individu yang menghafal keseluruhan Bible.

          Ini kerana manuskrip kitab suci tersebut ditulis dalam pelbagai bahasa kuno seperti Yunani, Ibrani, Suryani, Qibti bahkan Arab. Naskhah Yunani sahaja berjumlah 5,686 dan berbeza antara satu dengan lain dari sudut ragam bahasa, loghat, kosakata dan struktur kalimat.

          Begitu juga dengan Naskhah Latin (10,000), Ibrani, Habsyi, Qibti, Armenia, Suryani dan selainnya yang mencecah 9,300 manuskrip berbeza.

          Maka adalah amat mustahil wujudnya insan yang mampu menghafal keseluruhan Bible, kecuali insan tersebut adalah seorang Nabi yang dikurniakan wahyu maka sewajibnya dia menghafal sesuatu kitab suci yang diberikan kepadanya seperti Nabi Musa yang menghafal Taurat dan Nabi Isa yang menghafal Injil.

          Namun begitu, terdapat dua invididu yang dikatakan menghafal terjemahan Bible versi Protestant dalam Bahasa Inggeris. Mereka adalah Dr Van Impe dan John Goetch. Namun, dakwaan ini tidak pernah dibuktikan secara empirikal.

          Bible Protestant adalah jauh lebih nipis kerana tidak memuatkan 7 buah Sefer yang dikenali sebagai Deuterocanonical. Maka, apa yang jelas adalah Zakir Naik hanya menghafal ayat-ayat tertentu sahaja yang berkaitan dengan isi maklumat yang hendak disampaikannya kepada umum.

          Kitab lain agama Yahudi/Kristian seperti Talmud, Mishnah, Gemarra, Pseudepigrapha, Apocryphal New Testament dan kitab utama agama Hindu/Buddha seperti Veda, Baghavad Gita, Tripitaka, Saddharma Pundarika, Avesta dan seumpamanya sudah tentu tidak dihafal beliau kerana sedemikian tebalnya. Kalaupun hendak melonjakkan seseorang tokoh itu ke makam yang tertinggi, biarlah berpada dan berdasarkan fakta, bukannya mitos.

          4. Zakir Naik anak murid Ahmed Deedat

          Zakir disensasikan sebagai murid penceramah Afrika Selatan, Ahmad Deedat, walaupun beliau tidak pernah sama sekali berguru dengan tokoh yang dimaksudkan. Ia sekadar pertemuan sekali pada 1987.

          Maksud berguru ialah seorang yang rendah ilmunya menuntut daripada seorang yang lebih tinggi ilmunya dan berlaku sesi penyampaian maklumat daripada guru secara langsung kepada muridnya. Jikalau seseorang menimba ilmu melalui “Syaikh” Google ataupun bacaan buku semata-mata ataupun rakaman YouTube, itu tidak dapat diertikan sebagai bergurukan tokoh tertentu sebagaimana seseorang yang membaca kitab Hadith Sahih Bukhari tidak dapat dikatakan berguru dengan Rasulullah. Begitu juga jikalau kita mendengar rakaman kuliah seorang professor di Amerika melalui YouTube, tidak boleh dikatakan professor tersebut adalah guru kita.

          5. Zakir Naik tokoh perbandingan agama

          Dakwaan ini adalah benar jika dilihat kemahiran beliau mematahkan hujah lawan secara spontan dan pengalaman beliau yang luas walaupun mungkin tidak setinggi mana. Begitu juga dengan pengetahuan beliau tentang isu yang didebatkan.

          Nampaknya, memang Zakir sudah membuat persiapan awal sebelum sesi debat dimulakan. Kemahiran berdebat beliau memang mengagumkan. Umumnya, pandangan atau pegangannya dalam ilmu perbandingan agama boleh diterima. Oleh itu, tidaklah salah jika Zakir dianugerahkan Tokoh Maal Hijrah bagi mengenang kebolehan beliau.

          Setakat ini belum ada tokoh Muslim yang berani ke hadapan seperti beliau. Kebolehan beliau ini sewajarnya dilihat sebagai satu kekuatan umat Islam dan mampu menjadi senjata yang ampuh jika Zakir diperkasakan dengan ilmu Islam yang sahih. Syabas dan seribu tahniah diucapkan buat Zakir.

          Sungguhpun begitu, beliau bukanlah pakar rujuk ataupun tokoh dalam bidang khusus agama Islam sama ada pada bab Usuluddin, Syariah, Usul Al-Fiqh, Tafsir, Hadith, dan sebagainya. Kita perlu berhati-hati dan mengambil manfaat daripada seseorang itu berdasarkan bidang yang dimahirinya sahaja.

          Seperti Firman Allah yang bermaksud hendaklah rujuk kepada ahlinya jika tidak tahu (Al-Nahl 16:43). Contohnya kereta yang rosak, maka hendaklah dihantar ke mekanik jangan dihantar ke tukang jahit. Tak mustahil kereta akan bertambah rosak dek tersadai berbulan-bulan atau “dijahit” oleh si tukang jahit. Jika sakit jumpa doktor bukan jumpa guru geografi. Begitulah perumpaannya

          6. Zakir Naik berfahaman wahhabi

          Satu perkara yang mesti diketahui umum ialah, mereka yang berfahaman Wahhabi tidak akan sesekali mengaku Wahhabi. Slogan yang sering dilaungkan ialah Ittiba’ Al-Sunnah, iaitu mengikut Sunnah – ataupun berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah.

          Dalam pada itu, kita tidak boleh sewenang-wenangnya melemparkan tuduhan terhadap seseorang yang kita tidak bersetuju dengannya. Sama ada tuduhan Wahhabi, kafir, sesat, bidaah, syirik dan seumpamanya mestilah dielakkan dan jangan sesekali dijadikan kalimah zikir kita. Islam menuntut kita bersangka baik terhadap semua orang Islam kecuali terdapat tanda-tanda zahir yang ketara dan tidak memungkinkan untuk disalah-ertikan.

          Perihal Zakir Naik ini, memang tidak dapat dinafikan beliau mempunyai kecenderungan kepada fikrah Wahhabi dari beberapa sudut:

          Usuluddin: Kekeliruan dalam bab Tauhid. Beliau berpegang dengan akidah 3 serangkai, menisbahkan jihah (arah) dan tempat kepada Allah yang menatijahkan fahaman Tajsim dan Tasybih. Ini bertentangan dengan ahli Sunnah yang memahami Tauhid melalui Sifat 20 dan beriman bahawa kewujudan Allah itu tidak tertakluk kepada tempat, ruang, arah ataupun masa.

          Syariah: Tidak beriltizam dengan mazhab yang ditadwinkan. Bahkan beliau memperlekehkan para imam mujtahid pendiri Mazhab sehingga mendakwa lebih memahami Sunnah daripada Imam Al-Syafi’ie dalam bab membatalkan wudhu jika tersentuh dengan golongan bukan mahram tanpa lapik.

          Akhlak: Zakir dilihat gemar menyesatkan umat Islam bagi amalan yang beliau anggap bidaah seperti sambutan mawlid, tahlil arwah dan lain-lain. Beliau juga beranggapan amalan sedemikian mengundang syirik yang menghumbankan pengamalnya ke neraka.

          7. Zakir mengislamkan ribuan orang

          Angka sebenar yang memeluk Islam di tangan Zakir tidaklah sampai ribuan orang seperti yang dipropagandakan. Apa yang pasti ialah memang ramai orang menerima Islam melalui ceramah beliau.

          Jasa Zakir dalam hal ini janganlah dilupakan. Walaubagaimanapun, hakikat ini tidak membenarkan fahaman yang dibawa Zakir. Nabi Nuh yang berdakwah lebih 10 abad hanya mempunyai pengikut seramai 80 orang mengikut riwayat Al-Suyuti. Adakah dengan segelintir pengikut ini membuktikan Nabi Nuh tidak benar?

          Seorang lelaki di zaman Rasulullah, Abdullah Ibn Saad Ibn Abi Sarh, sendiri pernah murtad sebelum kembali kepada Islam. Adakah ini menunjukkan kebatilan Baginda atau kegagalan dakwah Baginda sebagai Utusan Allah?

          Perisik Belanda, Christiaan Snouk Hurgronje yang menyamar sebagai seorang Islam dengan nama “Haji Abdul-Ghaffar” di Aceh pada 1981 dikatakan pernah mengislamkan beberapa orang bukan Islam dan menjadi pembantu Mufti Besar Batavia, Habib Usman Bin Yahya dalam bidang fatwa. Adakah ini bukti kebenaran beliau? Seadilnya, apa yang benar katakan benar dan apa yang salah hendaklah ditolak.

          8. Zakir Naik mahir pelbagai bahasa

          Dakwaan beliau berkebolehan berbahasa Arab sudah disentuh sebelum ini. Zakir hanya boleh bertutur dalam Bahasa Inggeris dan Hindi (dan mungkin salah satu dialek/bahasa India yang lain).

          Apa yang pasti, beliau tidak boleh berbahasa Ibrani, Sanskrit dan Latin. Ceramah beliau juga hanya disampaikan dalam Bahasa Inggeris.

          9. Zakir Naik tokoh Maal Hijrah dan ramai pengikut

          Perkara ini sudah dibincangkan sebelum ini. Anugerah Tokoh Maal Hijrah sememangnya sesuatu yang wajar sebagai satu bentuk pengiktirafan terhadap sumbangan beliau dalam dunia Islam walaupun beliau sendiri menganggap sambutan Maal Hijrah yang tidak pernah diraikan oleh Nabi sebagai bidaah.
          Jumlah pengikut yang ramai tidak menjamin kebenaran seseorang atau sesuatu ideologi. Kumpulan teroris IS mempunyai pengikut yang ramai seluruh dunia. Adakah ini bermaksud IS itu satu kumpulan yang benar?

          Tidak dapat dinafikan terdapat bantahan terhadap kehadiran beliau di negara ini. Sewajarnya, apa yang dibangkitkan oleh sesetangah pihak berkaitan Zakir hendaklah dipertimbangkan.

          * Nurul Haq Shahrir (Penulis) mempunyai ijazah sarjana (MA) Fiqh dan Usul Al-Fiqh, di samping sarjana muda Syariah. Beliau juga berkelulusan STB, M.Div (USA) dan Licentiate (JCL – Juris Canonici Licentia) dalam bidang Teologi Kristian dan Kanun Gereja (Urbaniana).

          11/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | 1 Comment

          Ramai yang memandang remeh isu Wahhabi atau Pseudo-Salafi

          (Olih Dr Khalif Muammar)

          Ramai yang memandang remeh isu Wahhabi atau Pseudo-Salafi
          Ia dianggap sebagai isu khilafiyyah, tiada yang benar dan tiada yang salah. Bagi mereka persatuan umat Islam hanya boleh dicapai dengan memejamkan mata terhadap isu ini dan bersetuju untuk tidak bersetuju. Memperbesarkan masalah ini hanya akan mengeruhkan lagi keadaan akibatnya persatuan tidak akan tercapai. Maka untuk memastikan umat Islam bersatu kita tidak perlu bahas dan persoalkan gerakan ini menyusup masuk ke dalam organisasi-organisasi Islam. Biarkan mereka mencapai agenda mereka untuk mempengaruhi lebih ramai orang Islam dan berkuasa seperti di sesetengah negara Arab.

          Andaian ini adalah suatu kesilapan besar. Kita tidak boleh membiarkan api berada di dalam sekam, kerana ia pasti akan membakar. Isu Wahhabi dan Pseudo-Salafi bukan isu picisan, ia isu mengkafirkan dan menyesatkan sesama Islam, isu menolak autoriti yang sah, para ulama’ muktabar, yang telah memandu umat Islam selama lebih seribu tahun, sehingga akhirnya ramai orang Islam dipandu oleh para ulama’ yang melampau dalam i’tiqad dan amalan, berlaku banyak huru hara, gejala takfir, tabdi’ dan tadlil berleluasa. Umat Islam berpecah belah akibat wujudnya kelompok pelampau agama ini di kalangan umat Islam. Apabila berkuasa mereka akan memaksakan fahaman mereka kepada umat Islam, pendekatan yang rigid, anti sains dan anti akal diambil sehingga akhirnya agama Islam dianggap sebagai agama yang jumud dan kolot. Idea bumi datar, haram mengambil gambar, wajib berpurdah, wanita tidak boleh memandu, pemisahan gender yang sangat ketat. Kewujudan mereka di negara ini terbukti telah menjadi faktor pemecahbelah umat Islam apabila mereka mempertikaikan isu-isu khilafiyyah, seperti bacaan qunut, niat ketika Solat, bacaan tahlil dan yasin, bertawassul kepada Nabi, membid’ahkan tasawwuf, dan menyesatkan golongan Asha’irah.

          Dengan membid’ahkan Tasawwuf dan menyesatkan Asha’irah mereka sebenarnya telah menyesatkan lebih 90% ulama’ di alam Melayu dari sejak zaman kedatangan Islam pada abad ke-8 Masihi, zaman penyebaran Islam pada abad ke-15 oleh walisongo, sehinggalah ke hari ini. Semua ulama’ yang mengamalkan Tasawwuf dan berpegang dengan Aqidah Asha’irah dan umat Islam yang mengikuti mereka dianggap sesat, musyrik dan kafir. Kewujudan kelompok ini juga menjadi pemicu kepada golongan liberal yang sememangnya berusaha meminggirkan autoriti dan membenci para ulama’. Jelas bahawa dengan wujudnya ancaman ini dan membiarkannya berlaku maka agenda persatuan umat hanya akan akan kekal sebagai mimpi dan tidak pernah serius difikirkan.

          10/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

          Benar kah Negeri Kelantan di kata tidak mesra Asatizah2 & Penceramah ASWJ?

          Syeikh Nuruddin al-Banjari, saban bulan bertandang mencurahkan ilmu di Kelantan, ada kehadiran beliau dipromosi?

          Malah kehadiran beliau di Masjid Muhammadi dipandang sepi.

          Baba Ismail Sepanjang selaris menjenguk bumi Kelantan, ada diwar-warkan majlis ilmu beliau bakal dilangsungkan bila dan di mana?

          Malah, kehadiran ulamak yang tuntas memberi penjelasan agama itu dipandang basi.

          Habib Zain Sumaith, bila kali terakhir menjejak bumi Kelantan?

          13 Jun 2011. Selepas tarikh itu, kehadiran beliau tidak lagi dialu-alukan dan pegawai Jaheik yang membenarkan premis Balai Islam Lundang digunakan untuk majlis Habib dilempar ke ulu negeri Kelantan.

          Maulana Ilyas Ghuman, singa Ahli Sunnah wal Jamaah dari Benua Hindi sudah dua kali bertandang di Kelantan. Tapi apa yang berlaku, ada tuan guru pondok malah melarang anak murid bertamu di majlis ilmu Maulana yang banyak istifadah jelas dan mapan tentang aqidah dan syariat Islam!

          Mahu dibilang lagi? Cukup..

          Bandingkan saja dengan kedatangan Zakir Naik, bagaimana seorang manusia yang dia sendiri keliru tentang Islam begitu diraikan?

          Sebulan awal, kehadiran Zakir Naik dimasyhurkan. Penuh bandar Kota Bharu dan pelusuk simpang jalan, bunting dan banner bergentayangan. Muka YAB Menteri Besar menjadi back up belakang dan Mufti Satu Malaya, Azhar Idrus back up di hadapan!

          Bukan suatu kebimbangan bagi kita, kesongsangan aqidah Zakir Naik bakal mempengaruhi pegangan masyarakat Islam Kelantan. Tidak juga kita risau, budak-budak pondok Pas jadi Wahabi kerana Zakir Naik.

          Ajar kitab jawi Melayu pun, mereka dah tak keruan, payah nak faham. Apatah lagi mahu mengambil reti English Speech Zakir Naik membicarakan Milal Nihal.

          Kebimbangan kita adalah pengaruh Wahabi yang makin berkembang, setelah semusim lagi golongan itu diberi kuasa!

          Pas Kelantan tidak ada sedikit pun kebimbangan tentang kehilangan sokongan orang pondok yang sekian zaman menjadi tulang belakang mengekalkan kuasa mereka. Apa sahaja kekecewaan terhadap tindakan kerajaan, boleh dipujuk dengan jaya dengan sebutir karipap dan secawan teh di Pejabat Menteri Besar.

          Anak-anak murid yang berada di bawah pengaruh tok-tok guru yang lantang menegur Kerajaan Islam Kelantan, boleh ditarik balik sokongan terhadap Pas dengan hanya beberapa minit ‘basuh semula’ otak.. cukup dengan jemputan satu majlis yang dihadiri Tuan Guru Presiden.

          Hasil pertemuan singkat, disudahi dengan pelapis ‘ulamak pondok’ bersusun memberi dakapan dan ciuman memohon maaf dan menyata insaf lantaran penentangan mereka sebelum ini kepada kerja Pas Kelantan.

          “Minta maaf, tok guru. Ambo selama ni salah anggap..!” Habis lupa segala pengajian kitab dan pulang menyampaikan ‘mesej kebenaran’ kepada guru tua di pondok.

          “Dia sebenar lagu ni, baba..”

          Guru tua yang dah ada pakej darah tinggi, kencing manis.. bertambah mendapat gout otak; hilang akal… buntu!

          Hanya kepada Allah dapat mengadu, “..kering sudah kalam kataku untuk sampaikan agama mu, Ya Allah!”

          Jemputan Zakir Naik ke negeri ini, tidak lain adalah isyarat kuasa Wahabi makin menjarah di Kelantan.

          Majlis ulung dan besar ini bukan disasar kepada penyokong tradisi mereka di kalangan orang pondok. Kalau orang pondok sedikit terasa hati, bukan jadi hal..

          Jelajah Zakir Naik juga bukan suatu ekspedisi dakwah. Kita pun tahu, sasaran audien yang dijemput bukan daripada masyarakat non muslim dan pembesar anutan kafir.

          Zakir Naik bukan didatangkan untuk mengeluarkan penganut Buddha, Hindu dan Kristian Kelantan daripada kegelapan kepercayaan mereka!

          Berhala sembahan kafir akan terus kekal menjadi mercu kebanggaan orang Kelantan.

          Audien sasaran daripada penganjuran tidak lain adalah umat Islam..

          Begitu pun, pihak penganjur bukan meletak matlamat, daripada majlis ini Zakir Naik akan berjaya meWahabikan orang Kelantan.

          Seperti apa yang telah dinyatakan, tiada istifadah akan dapat diambil rakyat Kelantan daripada English Speech dan bicara Milal Nilal Zakir Naik.

          Datangkan siapa saja..

          Orang Kelantan cukup kental daripada dibersihkan daripada amalan warisan; tahlilan, sambutan maulid dan seumpama.. dah jadi Wahabi pun mereka akan tetap ziarah kubur, mengaji 40, talqin mayat dan kacau bubur!

          Penganjuran besar ini adalah langkah menarik pandangan dan mencari populariti serta pengaruh daripada golongan berpendidikan tinggi untuk bersama mereka.

          Sokongan daripada golongan elit; profesional, idealis dan punya aset ini penting untuk survival politik, pengekalan kuasa dan pelebaran secara halus fahaman mereka.

          Pilihanraya raya umum lepas menjadi bukti tentang kepentingan sokongan golongan berkelas ini, dengan kemenangan besar Pas! Mereka kekal berkuasa dengan sokongan padu para perantau yang berpendidikan, berkerjaya, berkedudukan…. punya perniagaan dan jawatan!

          Golongan ini bukan celik pun dengan perkembangan Wahabi di Kelantan. Apa yang mereka lihat, orang Kelantan elok je berkenduri arwah.., solat Subuh pun masih baca Qunut!

          Apatah lagi bila kematian hujah, dah tu nak bagi Amanah yang di bawah pengaruh DAP kafir untuk perintah Kelantan?

          Golongan ‘cerdik-pandai’ ini lah yang perlu diberi suntikan kefahaman, justeru mereka mempunyai otak yang boleh dimanfaatkan kepada perkembangan aqidah dan syariat mereka. Fahaman Wahabi ini perlu diasimilasi serta dipandang biasa, di letak sebagai nilai keterbukaan Islam dan hak untuk bebas berpandangan serta tidak dilihat sebagai api pencetus ketegangan dan pemecah belah umat Islam.

          Nah, kalau yang cerdik sudah dipengaruhi, apa sangat dengan golongan yang masih pening mencari baris atas bawah dan laskar jihad ARC!!? Tahu belarak jah sep kita.. Islam akan menang dan tegak di bumi Kelantan!!

          Tulisan Ustaz Hassan Basri, Tumpat

          07/08/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          PENJELASAN JAKIM BERKENAAN FATWA TERHADAP AIR JAMPI SECARA KOMERSIAL

          Foto Hiasan

          1) Pada asasnya, Islam mengharuskan untuk mengambil upah atas jampi dan rawatan yang dilakukan. Ini kerana perbuatan sedemikian adalah dibenarkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan hadith riwayat al-Bukhari dan Muslim yang berbunyi, “Seorang sahabat merawat seorang Arab yang lain dengan membacakan surah al-Fatihah, lalu disembuhkan oleh Allah dan diambil upah dengannya, kemudian dia memberitahu kepada Nabi tentangnya, dan Nabi tidak mengingkarinya…”

          2) Tambahan pula, mereka yang mengusahakan produk-produk air jampi sudah tentu memerlukan kos tertentu untuk menghasilkan sesuatu produk. Oleh yang demikian tidak salah untuk mereka meletakkan harga pada produk yang dijual sambil mengambil keuntungan yang berpatutan.

          3) Walau bagaimanapun, apa yang menjadi kemusykilan apabila terdapat sesetengah pengusaha yang teramat melampau dalam mengkomersialkan produk-produk mereka. Sebagai contoh, mereka mempromosikan produk-produk tersebut sambil menunjukkan pelbagai testimoni sebagai bukti kemujaraban. Tidak diketahui secara pasti sama ada testimoni tersebut benar-benar terjadi atau sekadar taktik perniagaan.

          4) Pihak yang mempertikaikan produk mereka pula akan disanggah kononnya cuba mempersoalkan mukjizat al-Quran. Lalu, dengan berbekalkan hujah-hujah agama, produk-produk tersebut dijual secara berleluasa sambil menyebut khasiat-khasiatnya yang tertentu seperti mempercepatkan jodoh, mengeratkan hubungan suami isteri, membenteng diri daripada gangguan sihir, menaikkan seri wajah dan seribu satu macam khasiat lagi.

          5) Dalam hal ini, bekas Syeikh al-Azhar Mahmud Syaltut pernah menyatakan kebimbangan terhadap apa yang berlaku. Kerana itu, beliau sendiri tidak mengharuskan perbuatan menulis ayat-ayat al-Quran pada kertas atau bekas-bekas tertentu, kemudian dibasuh dan diminum. Pada pandangannya perbuatan tersebut telah disalahgunakan oleh pihak tertentu untuk mengumpulkan wang ringgit dengan cara yang tidak diterima oleh Islam.

          6) Fatwa ini mungkin bercanggah dengan pandangan para ulama yang membenarkan kaedah rawatan seperti yang dinyatakan, namun penegasan beliau adalah pada unsur-unsur yang mengeksploitasikan dan memanipulasikan ayat-ayat suci al-Quran. Sukar untuk dinafikan, apabila kaedah rawatan seperti ini dijadikan perniagaan komersial, unsur-unsur memperdagangkan al-Quran dan Sunnah Nabi SAW tetap ada kerana sasaran utama setiap perniagaan komersial adalah untuk meraih keuntungan duniawi.

          7) Apatah lagi apabila perniagaan berorientasikan air jampi semakin mendapat sambutan masyarakat. Pengusaha-pengusaha produk menjadi semakin ghairah untuk saling bersaing antara satu sama lain bagi mempamerkan produk mereka lebih mujarab, lebih Sunnah bahkan lebih mustajab bacaan al-Quran dan doanya berbanding produk lain.

          8 ) Antara contoh yang boleh dijadikan teladan adalah apa yang berlaku kepada penjualan Air Musoffa secara komersial suatu ketika dahulu. Pengusaha air tersebut telah membuat promo menerusi rancangan temubual radio yang ditaja oleh syarikatnya sendiri. Dalam rancangan tersebut pengusaha produk telah menyebut pelbagai khasiat tentang produknya termasuk mengatakan jika Air Musoffa direnjiskan ke atas kenderaan, ia akan mengelakkan daripada ditimpa bala bencana.

          9) Dalam segmen tajaan itu juga, pengusaha produk menawarkan hadiah kepada para pendengar yang dapat memberikan testimoni terbaik. Apa yang dikhuatiri, terdapat beberapa testimoni yang diberikan menjurus kepada kepercayaan khurafat yang ditegah agama. Malah, perbuatan menjadikan testimoni sebagai alat pelarisan boleh membuka ruang kepada penipuan dan pembohongan.

          10) Selain itu, kaedah-kaedah rawatan yang didakwa bersumberkan Islam ini, kadang-kadang menjadi penyebab segelintir orang mensekularkan perubatan moden. Sesetengah pengusaha produk sebegini giat berkempen mengatakan perubatan moden bukan daripada perubatan Islam, makanya masyarakat perlu melanggan produk-produk mereka.

          11) Padahal mereka terlupa, tokoh-tokoh awal perubatan moden itu sendiri dipelopori oleh para ulama Islam tersohor seperti Ibnu Sina, al-Zahrawi, Ibnu al-Haytham, al-Razi, Ibnu Rusyd dan lain-lain yang sekaligus membuktikan perubatan moden adalah sebahagian daripada perubatan Islam.

          12) Kesimpulannya, tiada siapa yang menafikan bahawa al-Quran memiliki kelebihan untuk menyembuhkan segala penyakit rohani dan jasmani dengan izin Allah SWT. Namun untuk mempergunakan al-Quran bagi tujuan melariskan produk atau bagi menjustifikasikan produknya sebagai yang terbaik daripada yang lain, maka ia termasuk dalam perbuatan yang memperdagangkan al-Quran dengan harga yang murah. Firman Allah SWT: “Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (dirinya dan orang lain) dari agama Allah; sesungguhnya amatlah buruk apa yang mereka telah kerjakan”. (Surah al-Taubah: 9)

          SUMBER: Panel Aqidah, JAKIM

          07/08/2019 Posted by | Fatwa, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Perkara Khilaf Antara Rahmat dan Fitnah

          Para Ilmuwan Islam bukan sahaja kaya dengan ilmu berkaitan Aqidah dan Syariat tetapi kaya dengan amalan Adab dan Akhlak khususnya apabila berbeza pendapat. Budaya populis membahaskan perkara khilaf Ulamak yang dijenamakan atas nama kajian ilmiyah untuk memenangkan pendapat yang disokong akhirnya menjadi fitnah kepada khalayak awam yang kurang berilmu. Perkara khilaf akan kekal menjadi khilaf walaupun didatangkan dengan pelbagai hujah kerana setiap pendapat itu sememangnya didatangkan dengan hujahan ilmiyah menerusi pelbagai kaedah fiqhiyyah. Keilmuan dan sudut pandangan masing-masing ilmuwan pula menjadikan dia lebih cenderong berpegang dengan satu pendapat berbanding yang lain. Hanya ilmuwan yang tidak berakhlak berkeras hanya pendapatnya yang betul dan lain adalah salah. Itu bagi sesama ilmuwan.

          Namun, bagi khalayak awam yang kurang mendalami disiplin-disiplin ilmu Islam, dengan kedangkalan ilmu, seseorang awam menilai suatu perkara khilaf perselisihan pendapat ulamak sebagai salah kerana terpedaya dengan hujahan ilmuwan yang disokong oleh dirinya. Akhirnya perkara khilaf yang sewajarnya menjadi rahmat menggambarkan keluasan Islam menjadi suatu bala pertengkaran dan pergaduhan antara khalayak.

          Al-Layth bin Sa’ad (hidup 94 – 175 H), seorang tokoh Fiqh di Mesir menceritakan, “saya bertemu Imam Malik (hidup 93-179 H) di Madinah lalu saya berkata: “saya melihat kamu menyapu peluh didahimu.” Malik menjawab: “saya berpeluh berada bersama Abu Hanifah (hidup 80 – 150 H) kerana beliau seorang yang sangat faqih wahai orang Mesir.” Kemudian saya bertemu pula Imam Abu Hanifah dan saya berkata kepadanya: “Alangkah indahnya ulasan Imam Malik terhadap kamu”. Abu Hanifah lantas berkata: “Demi Allah. Saya tidak melihat seseorang yang lebih pantas daripada beliau membawa jawapan yang benar dan kritikan yang sempurna”
          (Dipetik dari kitab al-Intiqa’ fi Fadhail al-A’immah al-Thalathah al-Fuqaha karya Ibnu Abd al-Barr)

          Demikianlah akhlak para ulamak meskipun berbeza pendapat dan mazhab.

          Dr Khairuddin Takiri

          01/08/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          SIFAT 20 & MAKRIFATULLAH

          Apakah maksud sifat 20?

          Sifat dua puluh adalah satu konsep ilmu yang ciptaannya sangat ajaib, di dalam mentafsir kaedah mengenal Allah melalui ilmu makrifat.

          Sifat 20 dicipta oleh ilham para sufi dan para aulia’ terdahulu, bagi tujuan mengajar kita menuju jalan mengenal Allah. Barang siapa mempelajari sifat 20 dengan bersungguh-sungguh, berserta faham akan maksud dan makna yang tersirat, InsyaAllah ia akan dapat mengenal Allah swt dengan nyata dan terang.

          Banyak cabang ilmu dan banyak kaedah pembelajaran yang telah didedahkan melalui kitab, melalui pondok, melalui sekolah dan tidak kurang pula melalui guru-guru agama.

          Semua itu bertujuan bagi mencari jalan, mencari cara dan mencari kaedah untuk mengenal Allah. Di antara banyak-banyak cara dan di antara banyak-banyak kaedah, cara dan kaedah terbaik bagi mengenal Allah swt adalah dengan mempelajari sifat 20.

          Allah tidak akan dapat dikenal melalui mata zahir, ianya dapat dikenal melalui mata hati dengan mempelajari sifat-sifatnya.

          APAKAH ASAS SIFAT 20?

          Sifat 20 berasaskan kepada 4 perkara;

          1) Zat
          2) Sifat
          3) Af’al
          4) Asma’

          APAKAH SIFAT ALLAH YANG 20 ITU?

          1. Wujud = ada
          2. Qidam = sedia
          3. Baqa’ = kekal
          4. Mukholafatuhu lilhawadis = bersalahan dengan yang baharu
          5. Qiamuhu binafsih = berdiri sendiri
          6. Wahdaniah = esa
          7. Qudrat = kuasa
          8. Iradat = menghendaki
          9. Ilmu = mengetahui
          10. Hayat = hidup
          11. Sama’ = mendengar
          12. Basar = melihat
          13. Kalam = berkata-kata
          14. Qodirun = maha berkuasa
          15. Muridun = maha menghendaki
          16. Alimun = maha mengetahui
          17. Hayyun = maha hidup
          18. Sami’un = maha mendengar
          19. Basirun = maha melihat
          20. Mutakallimun = maha berkata-kata

          20 sifat Allah itu terbahagi kepada berapa bahagian?

          20 sifat-sifat Allah terbahagi kepada 4 bahagian.

          1. Bahagian sifat Nafsiah
          2. Bahagian sifat salbiah
          3. Bahagian sifat Ma’ani
          4. Bahagian sifat Ma’nawiah

          Bahagian yang empat inilah yang dikatakan menjadi inti pati dan isi kepada ilmu mengenal Allah. 4 bahagian inilah nantinya yang akan mengupas dan yang akan menterjemahkan sifat 20. Barang siapa yang berhajat untuk mengenal Allah, perlu diambil perhatian kepada ke empat-empat bahagian tersebut.

          SIFAT NAFSIAH

          Apakah sifat yang terkandung dalam nafsiah?

          Sifat yang terkandung di dalam nafsiah itu, hanya satu iaitu sifat wujud. Wujud yang membawa maksud ada. Adanya Allah itu, meliputi segala yang zahir mahu pun yang batin.

          Apakah maksud sifat nafsiah?

          Sifat nafsiah itu, bermaksud menafikan kewujudan yang lain selain Allah. Hanya Allah sahaja yang ada dan hanya Allah sahaja yang wujud.

          Wujudnya Allah itu, adalah ujud yang disertai sekali dengan zat, sifat, af’al dan asma’Nya. Zat Allah itu merupakan sifatNya dan sifat Allah itu adalah juga merupakan zatNya. Zat dengan sifat Allah itu adalah ujud yang tidak terpisah, berpisah, bercerai dan ujud yang tidak berasingan.

          Keujudan zat dengan keujudan sifat Allah itu, adalah esa (satu juga pada hakikatnya). Seumpama sifat ilmu dengan sifat kalam Allah. Apabila sifatnya bersifat mendengar (sama’), bererti zatnya juga, bersifat berpendengaran (sami’un). Apabila Allah bersifat melihat (basar), bererti zatNya bersifat berpenglihatan (basirun). Apabila Allah bersifat kuasa (kudrat), bererti zatNya bersifat kekuasaan (kodirun). Begitulah seterusnya dengan sifat-sifatnya yang lain.

          Sifat Allah itu seumpama sifat angin dengan sifat bergoyang (bertiup). Apabila kita melihat pokok bergoyang, itu menandakan adanya angin. Tergoyangnya pokok, adalah bagi menandakan bergoyangnya angin. Sifat bergoyang itu sebenarnya bukan sifat pokok, yang bergoyang itu sebenarnya adalah sifat angin.

          Walau bagaimanapun sifat angin dan sifat bergoyangnya pokok itu, adalah satu sifat yang sama. Jika tidak ada angin, masakan pokok bergoyang. Pokok tidak boleh bergoyang dengan sendiri, jika bukan kerana digoyang dan ditiup oleh angin. Begitulah juga sifat Allah dengan ZatNya, tidak boleh bercerai.

          Begitulah juga kaedahnya kita mentafsir sifat 20. Apabila ianya dirujuk kepada diri. Barulah kita dapat melihat dan mengenal Allah melaluinya. Seandainya sifat 20 itu tidak dirujuk kepada diri, selama itulah kita tidak akan dapat mengenal dan melihat Allah. Dalam memahami sifat nafsiah (nafi) iaitu sifat menafikan, menidakkan, atau sifat menolak.

          Kita dikehendaki menidakkan sifat-sifat yang lain selain Allah. Kita dikehendaki menidakkan kewujudan sifat alam dan sifat diri kita sendiri. Menidakkan sifat diri kita, supaya ianya menjadi tidak ada dan tidak wujud (binasa). Cara untuk menidakkan sifat diri kita dan untuk mewujudkan sifat Allah itu, adalah dengan cara, menyerah atau membinasakan diri kepada Allah.

          Bila mana sifat telinga telah dipulangkan, ianya akan disambut dengan sifat pendengaran Allah. Bila mana sifat mata telah binasa, akan disambut dengan sifat penglihatan Allah. Sifat berfikir, akan disambut dengan ilmu Allah. Selagi sifat mata menjadi sebahagian daripada sifat kita, sudah pasti kita tidak akan dapat melihat Allah melalui pandangan dan penglihatanNya.

          Setelah sifat mata kita itu dipulangkan kepada Allah, akan bertukar menjadi sifat basar Allah, barulah sifat penglihatan basirun Allah itu, boleh melalui sifat mata kita. Bermaknanya di sini bahawa, sifat mata yang ada pada kita sekarang ini, tidak boleh dan tidak layak menerima penglihatan Allah melaluinya, melainkan sifat mata makhluk telah binasa dan bertukar kepada sifat wajah Allah.

          Maka kita tidak layak untuk menanggung atau menerima sifat penglihatan Allah yang maha tinggi. Sifat makhluk tidak layak untuk menanggung sifat Allah, melainkan sifat kita itu ditukar milik, supaya menjadi milik Allah, setelah melalui proses penyerahan diri (penyerahan tugas dan penyerahan hak milik) kepada Allah.

          Apabila sudah menjadi milik Allah, barulah mata kita itu, dapat melihat melalui penglihatan Allah. Apabila mata kita itu telah menjadi milik Allah, barulah sifat basirun (penglihatan) Allah itu dapat terpancar melalui mata kita.

          Apabila penglihatan Allah sudah menembusi mata kita, dengan sendirinya sifat mata akan binasa. Mata makhluk akan hangus terbakar, binasa dan lenyap lantaran dipenuhi oleh cahaya Allah. Cahaya penglihatan Allah itu sendiri, yang membinasakan sifat mata kita. Hanya Allah sahaja yang dapat menanggung sifat Allah. Sifat mata kita tidak dapat untuk menanggung sifat penglihatan Allah.

          Selagi mata masih bersifat makhluk atau masih menjadi sebahagian dari anggota diri kita, selagi itulah wajah Allah tidak boleh mengambil tempat. Selagi sifat Allah tidak dapat mengambil tempat, selagi itulah, kita tidak akan dapat mengenal dan melihat Allah melaluinya. Inilah konsep nafsiah, iaitu konsep menidakkan sifat makhluk supaya dapat menjadikan semuanya bersifat wajah Allah.

          Setelah kita berjaya dalam menidakkan, fana’ dan leburkan diri kita ke dalam cahaya Allah, maka jadilah telinga kita itu, merupakan pendengaran Allah, jadilah mata kita itu, penglihatan Allah dan sebagainya.

          Mata kita tidak layak untuk menanggung penglihatan Allah. Begitu juga dengan sifat-sifat yang lain, ianya merupakan pakaian dan persalinan Allah. Sifat kita selaku makhluk, tidak layak untuk memakai yang menjadi persalinan Allah. Seandainya kita terpakai persalinan Allah, cepat-cepatlah bertaubat.

          Apabila Allah bersifat basar, Allah juga bersifat basirun. Apabila Allah bersifat qudrat, Allah juga bersifat Qodirun dan sebagainya. Oleh yang demikian bagi yang telah sampai kepada makam (tahap) makrifat, menjadikan yang dilihat itu, adalah juga yang melihat dan yang melihat itu, adalah juga yang dilihat, yang disembah itu, adalah yang menyembah dan yang menyembah itu, adalah juga yang disembah.

          Dengan syarat diri kita telah binasa, mati, lebur, dan karam dalam zouk cahaya wajah Allah. Walaupun Allah itu bersifat dengan 20 sifat, namun semua 20 sifat itu, adalah esa (satu) juga dalam zatNya. Walaupun sifat Allah itu banyak, tetapi ia satu dalam zatNya.

          Yang menjadikan sifat Allah itu berbilang-bilang adalah dikeranakan khayalan fikiran dan lemahnya sangkaan akal manusia. Sedangkan pada dasar dan pada hakikatnya, kesemua sifat Allah itu adalah satu (esa), tidak berbilang-bilang.

          Mempelajari, memahami serta mengetahui sifat nafsiah bertujuan memberi peringatan kepada kita bahawa, tidak ada yang berbentuk, melainkan yang berbentuk itu adalah bentuk bagi Allah dan tidak ada yang bersifat, melainkan yang bersifat itu hanya sifat bagi Allah. Tidak ada yang berupa melainkan yang berupa itu adalah rupa bagi Allah.

          Di dalam memahami sifat nafsiah, kita dikehendaki menafikan, mematikan, melenyapkan, menghilangkan dan membinasakan semua sifat-sifat yang lain selain dari sifat Allah. Di peringkat pengajian ilmu sifat nafsiah, kita dikehendaki melihat bahawa hanya Allah sahaja yang ada, ujud, wujud dan maujud.

          Keujudan makhluk alam pada peringkat ini belum lagi boleh diletak dalam gambaran fikiran dan belum lagi boleh dibayangkan dalam ciptaan khayalan akal. Yang ada dan yang ujud pada peringkat sifat nafsiah itu, hanyalah Allah semata-mata.

          Sifat nafsiah adalah sifat bagi mengajar kita tentang kewujudan Allah secara mutlak dan secara “wujudiah”. (wujud yang meliputi), meliputi sekalian alam, meliputi sekalian makhluk dan meliputi sekalian diri kita. Sifat nafsiah dalam wujudiah itu adalah membawa makna kewujudan Allah secara mutlak, secara bersendirian, secara keesaanNya, tanpa adanya lagi yang lain selain Allah.

          Seumpama bukan pokok yang bergoyang tetapi yang bergoyang itu adalah angin. Walaupun kita nampak yang bergoyang itu pokok, di dalam kefahaman pengajian ilmu makrifah yang bergoyang itu bukan lagi pokok, sesungguhnya yang bergoyang itu adalah sifat angin. Inilah kedudukan sifat nafsiah dalam tafsiran makrifat.

          Di dalam kita belajar sifat nafsiah dalam sifat 20 kita jangan lupa untuk menghubung kaitkan dengan kalimah syahadah. Pelajaran sifat nafsiah dalam sifat 20, bukan sekadar bertujuan untuk dihafal. Pelajaran sifat nafsiah itu selain bertujuan untuk mengenal sifat Allah melalui sifat 20, ianya juga adalah bertujuan bagi mentafsir kalimah syahdah. Sifat nafsiah itu, adalah satu kaedah kiasan sahaja. Tujuan sebenar kiasan sifat nafsiah itu, adalah disasarkan kepada tafsiran dan pemahaman kalimah syahadah.

          Sifat nafsiah apabila dikaitkan, diletak atau diterjemahkan pada tafsiran syahadah, ia berada pada kedudukan kalimah “LAA” (iaitu kalimah nafi). Kalimah nafi adalah kalimah menolak yang lain selain Allah, membinasakan yang lain selain Allah. Kewujudan sifat-sifat yang lain itu, seumpama bayang cahaya. Apabila hilang cahaya maka hilanglah bayang.

          Apabila kita dapat memahami dan menghayati pengertian isi ilmu nafsiah dalam sifat 20 dengan penuh penghayatan, ianya membuatkan ucapan syahadah kita, benar-benar diterima Allah.

          Bagaimana cara ucapan syahadah yang penuh makna?

          Ada pun ucapan syahadah yang penuh makna itu, adalah dengan melafazkan ungkapan kalimah “Laa” dengan menghilangkan dan membinasakan sifat-sifat yang lain, selain Allah. Sehingga tidak ada lagi keujudan bulan, bintang, alam, dunia dan keujudan kehidupan diri, melainkan Allah lah yang ujud, wujud dan maujud, pada sekalian wajah alam.

          Ucapan perkataan “Laa” adalah tahap ucapan yang tidak ada lagi sesiapa. Tidak ada apa-apa di kiri, di kanan, di atas, dan tidak apa-apa lagi di bawah kita, melainkan semasa melafazkan kalimah “Laa” kita dikehendaki mengisi keyakinan hati dan mengisi kepercayaan akal, bahawa tidak ada yang lain lagi pada keujudan alam ini, melainkan sekalian yang ada ini, adalah wajah Allah (yang meliputi segalanya). Itulah di antara tujuan kita mempelajari sifat nafsiah (sifat 20)

          APAKAH BENTUK SIFAT NAFSIAH?

          Sifat nafsiah adalah berbentuk “PERKHABARAN”, sifat yang hanya ada pada zat Allah dan tidak memberi bekas kepada alam, sifat nafsiah itu, tidak pula boleh dikualiti dan tidak boleh dikuantitikan. Adanya Allah adalah ada yang mutlak, ada yang tidak di keranakan oleh suatu kerana yang lain.

          Sifat nafsiah adalah sifat yang mengkhabarkan kepada kita bahawa Allah itu ada, adanya Allah itu melalui perkhabaran yang tidak dapat dipegang atau dirasa dengan tangan, tidak dapat dizahirkan untuk dilihat. Perkhabaran adalah perkara yang tidak boleh dikualiti atau dikuantitikan. Ia hanya boleh dirasa dan diyakini oleh hati.

          SIFAT MA’ANI

          Sifat Apakah Yang Terkandung Di Dalam Ma’ani?

          Sifat yang terkandung di dalam sifat ma’ani ada 7 perkara:

          1. Qudrat = kuasa
          2. Iradat = berkehendak
          3. Ilmu = mengetahui
          4. Hayat = hidup
          5. Sama’ = mendengar
          6. Basar = melihat
          7. Qalam = berkata-kata

          Bagaimana Menterjemah Sifat Ma’ani Pada Diri Kita?

          Sifat ma’ani Allah Ta’ala yang jelas terzahir pada diri kita ada 7:

          1. Hidup
          2. Mengetahui
          3. Berkuasa
          4. Berkehendak
          5. Melihat
          6. Mendengar
          7. Berkata-kata

          Ada dengan terang dan jelas menzahir sifat-sifatNya ke atas diri kita. Tujuan dizahirkan sifatNya supaya dijadikan sebagai pedoman, sebagai panduan dan sebagai iktibar untuk kita mengenal, melihat dan memandang Allah melaluinya.

          Allah bukan ain (bukan benda) yang boleh dikenal melalui bentuk hitam dan putih. Allah menzahirkan sifat-sifatnya ke atas diri kita adalah bertujuan supaya dijadikan “Tempat memandang sifat-sifatnya” kepada mereka-mereka yang berpandangan jauh.

          Tetapi ramai yang masih tidak memerhatikannya. Sifat hidup, sifat mengetahui, sifat berkuasa, sifat berkehendak, sifat melihat, dan sifat berkata-kata yang dipakai Allah atas diri kita, adalah menjadi tanda kebesaranNya atas diri kita supaya kita memerhati dan melihatnya. Sifat-sifat tersebut bukannya sifat peribadi kita tetapi sifat tersebut sebenarnya adalah hak kepunyaan mutlak Allah Ta’ala.

          Sifat yang kita pakai ini adalah pinjaman semata-mata. Dari itu hendaklah kita sedar dan insaf akan hal itu. Kesemua sifat-sifat tersebut adalah hak milik Allah dan kepunyaan Allah swt yang sepatutnya dikembalikan semula kepada tuan yang empunya, sementara hayat masih dikandung badan.

          Penzahiran sifat ma’ani (angin) atas makluk (diri kita) adalah sekadar pinjaman yang berupa pakaian sementara, yang akhirnya dikehendaki kembali semula kepada tuan yang empunya. Allah tidak boleh diibarat atau dimisalkan dengan sesuatu.

          Maha suci Allah dari ibarat dan misal. Segala misalan atau segala perumpamaan yang dinukilkan itu, hanyalah sekadar untuk mempermudahkan faham. Sifat ma’ani itu, adalah seumpama bayang-bayang, manakala Allah Ta’ala itu, adalah seumpama tuan yang empunya bayang.

          Firman Allah:

          Surah Al-Furqān (ayat 45)

          أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا

          Tidakkah engkau melihat kekuasaan Tuhanmu? – bagaimana Ia menjadikan bayang-bayang itu terbentang (luas kawasannya) dan jika Ia kehendaki tentulah Ia menjadikannya tetap (tidak bergerak dan tidak berubah)! Kemudian Kami jadikan matahari sebagai tanda yang menunjukkan perubahan bayang-bayang itu;

          “Allah Jadikan Manusia dalam bayangNya”

          Maksud bayang itu, adalah merujuk kepada makhluk dan diri kita. Bayang (diri) sebenarnya tidak mempunyai apa-apa sifat. Bayang hanya sekadar sifat yang menumpang dari yang empunya bayang. Bergeraknya bayang adalah gerak daripada yang empunya bayang. Berdirinya bayang adalah dengan berdirinya tuan yang empunya bayang (Allah). Mustahil bayang itu boleh berdiri dengan sendiri tanpa kuasa dari yang empunya bayang (Allah). Bayang dengan yang empunya bayang itu, mustahil bersatu dan mustahil bercerai.

          Diri kita dengan wajah Allah itu, adalah seumpama ujud bayang dengan yang empunya bayang atau seumpama bayangan wajah di permukaan cermin. Sifat ma’ani itu tidak boleh berdiri dengan sendiri tanpa bergantung dari sifat maknawiah. Hubungan antara sifat ma’ani dengan sifat maknawiah itu, adalah seumpama hubungan antara bayang dengan yang empunya bayang.

          Contohnya seumpama sifat mata dengan penglihatan, sifat telinga dengan pendengaran dan sifat mulut dengan yang berkata-kata. Walau bagaimana keadaan sekalipun, ianya tetap tidak boleh bercerai dan juga boleh bercantum. Inilah yang dikatakan hubungan sifat ma’ani dengan sifat ma’anawiah itu, bercantum tidak bercerai tiada.

          “Tiada bercerai antara nafi dan isbat, dan siapa-siapa yang menceraikan antara keduanya maka orang itu kafir adanya”

          Bayang bukan cahaya tetapi tidak lain dari cahaya. Cahaya bukan matahari tetapi tidak lain dari matahari. Begitu jugalah contohnya hubungan antara Allah dengan diri kita. Dari itu marilah kita sama-sama mengambil faham dan insaf bahawa sifat yang kita miliki ini, sebenarnya hak kepunyaan Allah, yang harus kita serah kembali kepada yang empunya.

          Tujuan mempelajari sifat ma’ani adalah bertujuan supaya kita mengaku bahawa sebenarnya diri kita ini tidak ada, tidak wujud, dan tidak terjadi. Yang wujud, yang ada dan yang terjadi adalah hanya semata-mata Allah, seumpama sifat bayang, terzahirnya bayang itu, adalah bagi tujuan menampakkan dan menyatan sifat yang empunya bayang itu sendiri.

          Di dalam keghairahan membicarakan soal sifat ma’ani, harus diingat bahawa Allah tidak bertempat. Allah tidak menjelma ke atas jasad. Allah tidak bertempat di dalam atau di luar badan, Allah tidak bersatu, tidak bercantum dengan badan, Allah bukan kesatuan, Allah bukan bersyarikat, bukan bercantum dengan jasad kita. Ada orang yang mengaku bahawa Allah menjelma di dalam jasad dan tidak kurang pula ada yang mengaku menjadi Tuhan dan sebagainya.

          Bukan kita yang meliputi Allah, tetapi Allah lah yang meliputi kita. Kesemua sifat yang kita miliki ini adalah milik Allah, sifat yang ada pada diri kita akan hancur, binasa dan hilang lenyap, sifat yang kekal dan yang abadi itu, hanyalah Allah swt.

          Firman Allah:

          Surah Al-Qaşaş (ayat 88)

          وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

          Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama-sama Allah. Tiada Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu akan binasa melainkan Zat Allah. BagiNya lah kuasa memutuskan segala hukum, dan kepadaNya lah kamu semua dikembalikan.

          Apa Hubungan Sifat Maani Dengan Roh?

          Sifat ma’ani adalah wajah Allah yang terzahir melalui sifat dan rupa paras roh, melalui sifat mata, mulut, telinga, dan anggota tubuh seluruhnya. Sebagaimana rupa dan paras roh, sebegitulah wajah ma’ani Allah, kerana rohlah sifat ma’ani Allah.

          Untuk melihat sifat ma’ani Allah, lihatlah pada wajah dan sifat rupa paras diri kita sendiri. Hubungan roh dengan sifat ma’ani itu, seumpama sifat mata pada roh, penglihatan bagi Allah, telinga pada roh, pendengaran bagi Allah, dan begitulah seterusnya.

          Apakah Hubungannya Sifat Ma’ani Dengan Kalimah Syahadah?

          Tujuan kita mempelajari dan mendalami ilmu ma’ani itu, adalah untuk membawa kepada pemahaman kalimah syahadah. Tujuan nafsiah membawa pengertian kepada kalimah “Laa” adalah kalimah bagi menafikan kewujudan sifat makhluk. Manakala sifat ma’ani kalimah “Ila ha” pula, bermaksud mengadakan atau mengiakan dan mengambil balik segala apa yang kita telah tolak dalam kalimah “Laa”. Jika dalam kalimah “Laa” kita tolak semua sifat makhluk, manakala dalam kalimah “Ila ha” pula, ianya kita adakan semula. Walaupun sifatnya diadakannya kembali, ianya adalah sekadar sifat yang menumpang.

          Jika dalam kalimah “Laa” kita mengaku bahawa tidak ada lain, selain Allah, manakala dalam kalimah “Ila ha” pula kita mengaku bahawa Allah telah menzahirkan makhluknya melalui 7 sifatNya, seumpama sifat hidup, kuasa, berkehendak, mengetahui, mendengar, melihat dan sifat berkata-kata. Walau bagaimanapun 7 sifat tersebut di atas hanya sekadar sifat menumpang. Seumpama sifat sama’ menumpang sifat sami’un, sifat basar menumpang sifat basirun dan begitulah seterusnya.

          Untuk dihubung kaitkan dengan kalimah syahadah, kita hendaklah melihat sifat mata yang kita miliki, tidak berguna, tanpa penglihatan Allah, telinga kita tidak akan bermakna tanpa pendengaran Allah, mulut tidak bererti tanpa berkata-kata Allah, hidung tidak berguna tanpa hidup Allah, akal tidak bererti jika tanpa ilmu Allah, anggota tidak bermakna tanpa kuasa Allah. Segala-galanya yang ada pada kita bergantung dan menumpang sifat Allah.

          Semasa melafazkan kalimah “Ila ha” dalam bersyahadah, kita dikehendaki mengingati diri kita bahawa sifat yang ada pada diri dan yang kita bawa ini, tidak boleh berdiri sendiri, hanyalah sekadar sifat yang menumpang dan bergantung kepada sifat Allah. Diri kita tidak memiliki apa-apa. Kita tidak akan dapat melihat tanpa basirun Allah dan kita tidak akan dapat mendengar tanpa samiun Allah.

          Dari kesedaran dan keinsafan itu, membawa hati kita kepada suatu perasaan kosong, hiba, hina, kerdil, miskin, kecil dan perasaan fakir di hadapan Allah. Inilah tujuan kita mempelajari sifat ma’ani.

          Diri kita ini sesungguhnya yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Ibu bapa, anak-isteri, kaum-keluarga, harta benda, hidup mati dan kaya miskin itu, adalah hak Allah ta’ala, yang boleh diambilnya balik pada bila-bila masa. Yang kita miliki ini, adalah semata-mata hak kepunyaan Allah.

          Di tangan Allah lah diri kita, segala kekuatan, kecantikan, kekayaan dan kegagahan yang selama ini kita megah-megahkan itu, sebenarnya adalah milik kepunyaan Allah.

          Dengan kefahaman bahawa, sifat diri kita ini, sebenarnya mati dan menumpang. Seumpama sifat mata, telinga, mulut, tangan, kaki dan seluruh anggota, menumpang wajah kebesaran Allah. Yang hendaknya dikembalikan semula sifat itu kepada Allah.

          Anggaplah diri kita ini, sudah mati, binasa, hilang dan lenyap dalam wajah Allah. Yang kita miliki ini, semuanya adalah hak Allah Ta’ala belaka. Hendaklah kita serah kembali kepada Allah. Kembalikan sifat-sifat tersebut kepada Allah. Jadikanlah diri kita ini seumpama fakir, muflis, hina, mati, binasa, dan hilang dalam kekuasaan Allah. Inilah di antara hikmah dan di antara intipati mempelajari sifat ma’ani dalam sifat 20.

          Bagaimana Mengenal Allah Melalui Sifat Ma’ani?

          Peranan sifat ma’ani hanya sekadar menjadi saksi (kesaksian) Sifat ma’ani berperanan sekadar sifat menumpang. Seumpama basar, hanya menumpang kepada sifat basirun. Telinga menumpang sifat sama’, manakala sama’ pula menumpang sifat samiun. Lidah menumpang sifat kalam, manakala kalam pula menumpang sifat mutakallimun. Sifat ma’ani adalah sifat menumpang sifat maknawiah (sifat kekuasaan Allah).

          Dari kefahaman itu, dapatlah kita tilik diri sendiri, betapa sifat yang ada pada diri kita ini, semuanya kepunyaan Allah. Kita ada mata, tatapi Allah yang memiliki sifat penglihatan. Kita ada telinga tetapi Allah yang memiliki sifat pendengaran. Kita ada mulut tetapi Allah yang memiliki sifat berkata-kata. Begitulah seterusnya, yang menggambarkan bahawa diri kita ini adalah kepunyaan Allah.

          Sifat ma’ani bertujuan supaya sifat Allah dapat dilihat melalui pancaindera, pada roh, dan pada diri kita sendiri. Allah berilmu manakala diri pula bersifat mengetahui melalui akal. Allah berkudrat, manakala diri pula bersifat berkuasa melalui pancaindera. Allah beriradat, manakala diri pula bersifat berkehendak (dapat berkeinginan melalui rasa). Allah bersifat sama’ manakala diri pula bersifat mendengar melalui telinga. Allah bersifat basar manakala diri pula bersifat melihat melalui mata. Allah bersifat kalam, manakala diri pula bersifat berkata-kata melalui lidah.

          Jangan sekali-kali kita menjadi lupa diri, bahawa semua sifat-sifat yang kita miliki ini, adalah kepunyaan Allah, diri kita ini, hanya sekadar menumpang sifat Allah. Apabila kita faham sifat ma’ani, dengan sendirinya membawa diri kita pulang ke pangkuan Allah dengan tangan kosong, dengan menyerahkan segala sifat kepada Allah.

          Bahawasanya diri kita ini, sebenarnya adalah kepunyaan dan milik Allah sepenuhnya secara mutlak. Sifat yang kita pakai dan yang ada pada kita ini, seumpama sifat bayang (menumpang yang empunya bayang).

          Setelah kita sedar, bahawa sifat yang kita pakai ini adalah sifat pinjaman dan menumpang sifat Allah, sebaiknya kembalikanlah semua sifat-sifat itu kepada Allah. Jangan sekali-kali cuba memakai pakaian Allah, walaupun secara percuma atau secara pinjaman, kerana kita tahu bahawa pakaian Allah itu, amat tidak layak untuk dipakai oleh kita. Kita tidak layak memakai pakaian Allah dan kita tidak layak untuk menerima pinjaman Allah. Pakaian Allah itu, Allah lah pemiliknya, Allah lah yang layak memakainya.

          Sebenarnya kita ini, tidak punya apa-apa pakaian atau persalinan. Kita ini adalah ibarat tangan kosong. Yang menjadi milik dan kepunyaan kita bukan pakaian atau persalinan, yang menjadi milik dan kepunyaan kita yang mutlak, adalah Allah itu sendiri.

          Inilah konsep yang hendak diketengahkan dan yang hendak diterapkan melalui sifat ma’ani. Konsep serta kefahaman inilah yang benar-benar perlu kita fahami. Cuba fahami dan hayati betul-betul sifat ma’ani yang tujuh itu, apabila kita telah kasyaf dalam menghayati sifat ma’ani, di sinilah membawanya lebur dan terbakarnya sifat diri yang palsu dan yang menumpang ini.

          Bagi mereka-mereka yang mengenal Allah, apabila dia cuba untuk memakai sifat Allah. Maka hancur terbakarlah anggotanya, lebur musnahlah sifat jasadnya. Mereka tidak sekali-kali berani memakai sifat pakaian Allah. Pakaian Allah itu ada tujuh iaitu seumpama sifat hidup, ilmu, kudrat, iradat, samak, basar dan kalam, manakala pakaian kita juga tujuh seumpama:

          1. Pakaian sifat mati (binasa).
          2. Pakaian sifat bodoh dungu.
          3. Pakaian sifat lemah, lumpuh tidak berupaya.
          4. Pakaian sifat tidak berkemahuan, tidak berkehendak.
          5. Pakaian sifat pekak dan tuli.
          6. Pakaian sifat buta.
          7. Pakaian sifat bisu.

          Inilah pakaian dan sifat-sifat yang kita pakai serta pakaian mereka-mereka yang mengenal diri dan yang mengenal Allah swt. Mereka ini beranggapan dan beriktikad bahawa, diri serta jasad mereka sudah mati, tidak ada, lebur dan binasa. Mereka tidak lagi berakal, tidak lagi mempunyai kekuatan, tidak lagi berkemahuan, tidak lagi berpendengaran, tidak lagi berpenglihatan, dan tidak lagi bersuara diri. Jasad mereka sudah fana’, sudah baqa’ dan karam dalam wajah Allah swt.

          Diri mereka tidak ubah seumpama mayat yang hidup. Mereka tidak memakai pakaian Allah, mereka tidak meminjam pakaian Allah, mereka tidak mengambil persalinan Allah, mereka tidak memakai apa-apa yang menjadi hak Allah. Tidak layak bagi mereka untuk menerima apa-apa yang menjadi milik Allah. Bagi mereka, segala-galanya adalah dari Allah, kepada Allah dan berserta Allah. Baik di dalam tidur, dalam jaga, dalam gerak, dalam tutur kata, dalam penglihatan, pendengaran, berkeinginan dan sebagainya, semuanya milik Allah.

          Bukan sifat mata yang mereka pandang, tetapi penglihatan Allah, bukan sifat telinga menjadi tumpuan, tetapi pendengaran Allah, bukan mulut menjadi keinginan, yang menjadi keinginan mereka ialah suara (kata-kata) Allah. Yang berkeinginan dan berkehendak itu, adalah Allah swt. Yang berkuasa dan berilmu itu adalah Allah. Inilah kaedah pegangan iktikad orang makrifat, dalam menterjemah sifat ma’ani. Yang menjadikan hati kita penuh yakin kepada Allah.

          Tujuan sifat ma’ani diketengahkan untuk dipelajari dan difahami, adalah untuk membawa kita kepada suatu keinsafan diri, bahawa semua yang kita miliki dan yang ada pada diri kita ini, sebenarnya adalah milik Allah. Setelah kita sedar yang segala-gala sifat itu menjadi milik Allah, hendaklah kita kembalikannya semula kepada Allah.

          Seandainya yang menjadi milik Allah itu telah kita serahkan semula kepada Allah, semasa hayat masih dikandung badan dan semasa masih berada di dalam dunia, apabila kita pulang ke rahmatullah kelak (setelah kita mati nanti), tidak ada apa-apa lagi yang perlu ditanya, perlu dihisab dan perlu dipersoalkan oleh Malaikat.

          Perkara yang membuat kita ditanya dan disoal itu, adalah kerana hutang sifat kita semasa di dunia masih belum dijelaskan, mereka yang belum melangsaikan pinjaman dan yang belum mengembalikan hak Allah semasa hayat masih ada dan semasa masih hidup di dunia, hutang sifat yang kita pinjam dari Allah, hendaklah dikembalikan semula kepada Allah. Jika ianya dilangsaikan semasa di dunia, tidaklah ada lagi soal jawab dari Munkar dan Nakir di dalam kubur.

          Apa lagi yang Allah hendak tuntut, apa lagi yang Allah hendak tagih dari kita, jika semuanya telah dikembalikan dan diserahkan kepadaNya. Hidup dan mati kita telah kita serahkan kepada Allah, jasad zahir dan batin telah dikembalikan kepada Allah. Apa lagi yang hendak Allah dakwa? Apa lagi yang hendak Allah tuntut?

          Yang hendak Allah dakwa dan tuntut itu, bagi mereka-mereka yang kembali ke pangkuannya dengan tidak menjelaskan hutang sifat dan tidak mengembalikan hakNya. HakNya diambil pakai, diambil guna, tetapi tidak pandai untuk memulangkan dan tidak pula pandai mengembalikannya semula kepada Allah.

          Jika semuanya telah dikembalikan kepada yang empunya, nescaya tidak ada lagi, tuntut menuntut, dakwa-dakwi dan tidak lagi ada soal jawab kubur, malah di pintu syurga lah kita disambut oleh Allah swt.

          Inilah tujuan pengajaran sifat ma’ani diperkenalkan. Ini adalah tujuan sifat ma’ani diketengahkan untuk diambil tahu oleh sekalian kita. Dengan mempelajari sifat ma’ani, akan membawa kita tahu untuk membezakan, yang mana hak kita dan yang mana hak Allah swt. Perhatikan sekali lagi perkara ma’ani dan hendaknya kita hayati dan tilik dengan mata hati yang kasyaf.

          Selagi hayat masih dikandung jasad, kita di kehendaki mengembalikan hak kepada yang berhak, nantinya bila tiba di alam akhirat kelak, kita akan mendapat layanan dan sambutan yang istimewa dari penguasa langit, lain dari yang lain. Kita akan ditempatkan bersama orang yang sempurna lagi terpuji.

          Roh orang-orang sebeginilah dinamakan roh mutmainnah, roh yang diterima Allah. Tempat kita itu, adalah di sisi Allah, bukannya di sisi tanah yang mengandungi ulat dan cacing.

          Roh sebeginilah yang dikatakan roh yang suci bersih, roh yang sentiasa disertai air sembahyang, roh yang sentiasa di iringi dengan kalimah syahadah. Inilah roh mereka-mereka yang mati sebelum mati dan roh mereka-mereka yang mengenal diri semasa di dunia. Inilah yang dikatakan roh yang mengenal tuannya.

          Tuan yang empunya roh itu, tidak lain dan tidak bukan hanya Allah swt yang satu lagi esa. Inilah penjelasan dan kupasan tentang kefahaman ilmu mengenal Allah (makrifat) melalui pelajaran sifat ma’ani dalam sifat 20, yang bukan sahaja setakat tahu makna tetapi hendaklah dihayati dengan isi di sebaliknya.

          Sumber:FB Ustaz Yunan A Samad

          25/07/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | 3 Comments

          Apabila hukum dalam kitab Fiqh bercanggah dengan Hadith.

          SOALAN

          Kalau sesuatu hukum itu ada disebut dalam kitab feqh, namun becanggah dengan hadith , mana yang patut diutamakan ?. Mohon penjelasan yang terperinci dari al-fadhil ustaz.

          JAWAPAN

          1. Perlu kita tahu bahawa hukum hakam yang disebut didalam KITAB FEQH MUKTABAR adalah hukum hakam yang diambil daripada AL-QURAN dan AS-SUNNAH menurut penelitian dan kefahaman ulama muktabar.
          .
          1.1. Sebab itulah satu fitnah besar terhadap ulama muktabar apabila ada golongan yang tidar sedar diri, yang jumud, mengajak manusia supaya menolak feqh imam Syafii dan seumpamanya atas slogan kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah.
          .
          1.2. Tanpa disedari golongan ini telah menyesatkan imam Syafei dan ulama yang seumpamanya, kerana dengan slogan tersebut seolah-olah feqh imam Syafii menyalahi al-Quran dan as-Sunnah.
          .
          1.3. Dari mana datangnya feqh imam Syafii dan feqh ulama yang seumpamanya klu tidak dari al-Quran dan as-Sunnah. insaflah wahai orang yang beraqal.
          .
          .
          2. Berselisih pandangan didalam memahami nas-nas syara’ yang bersifat ZONNIY DILALAH adalah perkara biasa, akan tetapi syaratnya adalah perselisihan tersebut datang dari ahlinya. Bukan datang dari golongan yang ilmu tata bahasa arabnya pun masih gagal.
          .
          .
          3. Maka dengan penjelasan ringkas diatas dapat kita faham bahawasanya pada hakikatnya hukum hakam yang disebut didalam kitab feqh muktabar sebenarnya ia di ambil dan difahami daripada al-Quran dan Hadith nabi saw melalui penelitian dan kefahaman ulama muktabar.
          .
          .
          4. Nas-nas syara’ daripada al-Quran dan Hadith ada yang nasikh ( menghilangkan hukum yang sebelumnya ), ada yang mansukh ( dihilangkan hukumnya ), ada yang bersifat umum, ada yang bersifat khusus, ada yang bersifat mutlak, ada yang bersifat mukayyad, yang mana hal-hal ini bukanlah semua manusia dapat memahaminya dan mengetahuinya. Hanya ahlinya sahaja yang dapat memahami hal ini, iaitu orang yang telah melalui disiplin ilmu.
          .
          .
          5. Kerana itulah kita sebagai orang awam apabila kita terjumpa ayat al-Quran atau terbaca satu hadith, kita tidak boleh terus mengambil hukum daripadanya jika kita bukan ahlinya.
          .
          5.1. mengambil hukum terus daripada hadith oleh bukan ahlinya akan membawa kepada kesesatan.

          Kata imam Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahullah :

          الْحَدِيثُ مَضَلَّةٌ إلَّا لِلْفُقَهَاءِ

          Terjemahan : “Hadith adalah tempat sesat melainkan bagi ulama fiqh.”

          Kata imam Abdullah bin Wahb salah seorang murid imam malik Rahimahuma Allah :

          الحديث مضلة إلا للعلماء

          Terjemahan : ” Hadith adalah tempat sesat melainkan bagi ulama’.”
          .
          5.2. Hal ini dari kerana, untuk mengambil hukum-hakam dari nas-nas syara’ perlu melalui kaedah-kaedahnya.
          .
          5.3. Sebab itulah ulama usul dalam kitab usul feqh menyebut definisi usul feqh :

          معرفَة دَلَائِل الْفِقْه إِجْمَالا، وَكَيْفِيَّة الاستفادة مِنْهَا، وَحَال المستفيد.

          Terjemahan : ” Mengetahui dalil-dalil fiqh secara ijmal, cara memanfaatkan dalil tersebut, dan keadaan orang yang memanfaatkan dalil.”

          [ نهاية السول 1/10 ]

          (1) Tahu dalil-dalil fiqh secarab ijmal.
          (2) Cara berdalil dengannya.
          (3) Keadaan orang yang memanfaatkan dalil.
          .
          5.4. Tahu dalil-dalil sahaja masih lagi belum mencukupi, bahkan perlu pula tahu cara memahami dalil dan cara memanfaatkannya. Dalam hadith Abi Umamah nabi saw bersabda :

          عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َأَنَّهُ قَال َ: خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ . قَالُوا: وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، وَفِينَا كِتَابُ اللَّهِ؟ قَالَ: فَغَضِبَ، ثُمَّ قَالَ: ثَكِلَتْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ أَوَلَمْ تَكُنِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمْ شَيْئًا ؟. إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ، إِنَّ ذَهَاب
          َ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ.

          Terjemahan : ” Daripada Abi Umamah, daripada Rasulullah saw, bahawasanya baginda saw bersabda : Ambillah ilmu itu sebelum ia hilang. Para sahabat bertanya, Ya Rasulullah!, bagaimana hilangnya ilmu itu, sementara al-Quran masih lagi ada bersama kami?. kata abu Umamah : Rasulullah saw marah, lalu Rasulullah saw bersabda : semoga ibu kamu kehilangan kamu, Bukankah telah adanya kitab Taurat dan Injil di tangan Bani Israil, akan tetapi kedua kitab itu tidak dapat memberi manfaat kepada mereka sedikit pun?. Sesungguhnya hilangnya ilmu itu adalah disebabkan hilangnya para ahli ilmu (ulama). Sesungguhnya hilangnya ilmu itu adalah dengan cara hilangnya para ulama.”

          [ HR ad-Darimi no.246 ( hadith hasan dengan syawahidnya) ]
          .
          5.5. Hadith diatas memberi maksud ada al-Quran masih lagi belum mencukupi, bahkan perlu ada ulama yang yang tahu cara mengambil hukum daripada al-Quran itu sendiri .

          ALLAH Taala berfirman :,

          فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ .

          Terjemahan : ” Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

          ( An-Nahl: 43 )
          .
          .
          6. Apabila kita jumpa satu hadith yang menyebut satu hukum, tiba-tiba kita dapati dalam kitab fiqh mazhab Syafii sebgai contoh hukumnya bercanggah pada zahirnya dengan apa yang disebut dalam hadith tersebut, maka dalam situasi ini kita perlu rujuk kepada ahlinya untuk kita tahu bagaimana untuk memahami hadith tersebut menurut pandangan Mazhab Syafii. jangan sekali-kali kita mengguna kejahilan kita lalu secara melulu kita menghukum apa yang disebut dalam kitab fiqh mazhab Syafii itu salah dan sesat.
          .
          6.1. Sebagai contoh : Dalam kitab feqh mazhab Syafii, Maliki dan Hanafi ada menyebut tentang berbekam tidak membatalkan puasa, sedangkan ada hadith menyebut :

          أفطر الحاجم والمحجوم.

          Terjemahan : ” batal puasa tukang bekam dan orang yang berbekam.”

          [ HR Ahmad, Abu Daud, At-Tirmizi dan Ibnu Majah ]
          .
          6.2. Apabila dirujuk kepada Ulama-ulama mazhab Syafii, Maliki dan Hanafi ternyata bukan mereka tidak mengetahui tentang hadith diatas. bagaimana boleh mereka tidak mengetahui hadis di atas sedangkan didalam setiap mazhab itu ada Ratusan ulama-ulama hadith. akan tetapi mereka melihat kepada hadith-hadith lain, antaranya :

          َعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم : احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ, وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ.

          Terjemahan : ” Dari Ibni Abbas r.anhuma bahawasanya Nabi saw berbekam semasa ihram dan Nabi saw berbekam semasa baginda saw berpuasa.”

          [ HR Al-Bukhari dalam sahihnya ]

          عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : رخَّص رسول الله صلى الله عليه وسلم في القُبلة للصائم والحجامة.

          Terjemahan :” Dari abi sa’id Al-khudriy r.a. beliau berkata : Rasulullah saw membenarkan cium (isteri) dan berbekam bagi orang yang berpuasa”.

          [ HR Ad-Darqutni 2/183, dan beliau berkata : ” Perawinya semuanya thiqah”. ]
          .
          6.3. Bermaknanya, ulama-ulama diatas berpendapat Hadith yang menyebut batal puasa dengan berbekam dinasakhkan hukumnya oleh hadith Ibni Abbas dan Abi Sa’id Al-khudriy dengan alasan-alasan mereka tersendiri.

          Berkata Imam ibnu Abdil Barr Rahimahullah didalam kitab الاستذكار juz.10 hlm.125 :

          والقول عندي في هذه الأحاديث أن حديث ابن عباس : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم احتجم صائماً محرماً، ناسخ لقوله : أفطر الحاجم والمحجوم …

          Terjemahan : ” Pandangan aku berkenaan hadith-hadith ini bahawasanya hadith Ibni Abbas (rasulullah saw berbekam sedangkan baginda sedang berpuasa dan sedang ihram) ia menasakhkan sabda nabi saw : ( tukang bekam dan orang yang dibekam batal puasanya)”.
          .
          .
          KESIMPULAN
          .
          .
          Sekiranya ada sesuatu hukum itu disebut dalam kitab muktabar berbeza dengan apa yang disebut didalam hadith nabi saw maka kita sebagai orang awam jangan terlalu cepat menyalahkan dan menyesatkan kitab fiqh muktabar tersebut.

          Langkah yang sepatutnya diambil oleh orang awam adalah medahulukan hukum yang disebut didalam kitab fiqh muktabar melalui huraian guru, berbanding dengan hadith yang hanya difahami dengan otak sendiri yang di ambil dari terjemahannya sahaja. Hal ini bukan bermakna kita menolak hadith, tetapi ia memberi maksud kita menyerahkan huraian hadith tersebut kepada ahlinya.

          Untuk meyakinkan lagi bagaimana cara huraian sebenar untuk hadith tersebut adalah berjumpa dan bertanyakan ulama muktabar yang pernah melalui disiplin ilmu yang mempunyai sanad yang bersambung kepada ulama ulama mazhab Syafii sebagai contoh.

          Jangan kita bertanya kepada golongan yang tidak pernah melalui disiplin ilmu feqh, disiplin ilmu usul feqh, dan golongan yang tidak melalui pengajian ilmu hadith secara dirayah daripada ulama muktabar yang mempunyai sanad yang bersambung sampai kepada Rasulullah saw.

          Ini kerana golongan yang tidak duduk bertalaqi dari ulama yang mempunyai sanad yang bersambung sampai kepada ulama-ulama muktabar sehingga kepada Rasulullah saw ia tidak mempunyai nasab ilmu, sebab itulah dalam hati mereka tidak mempunyai perasaan sifat belas kasihan dan sentiasa berburuk sangak terhadap nenek moyang pada sudut ilmu, maka tidak hairanlah akhlak mereka buruk dan tidak beradab terhadap ulama-ulama muktabar dahulu.
          .
          .
          والله أعلم بالصواب

          وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات

          أبو أسامة محمد حنفية بن الحاج حسين

          مدير مركز الدراسات الإسلامية ببوكيت كيجغ كماسيك ترنجانو.

          (Dari FB Ustaz Yunan A Samad)

          22/07/2019 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Hadis, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

          ZIKIR SAMBIL ‘GOYANG BADAN’ TIDAK DILARANG

          Pengerusi Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan (JFK), Prof Emeritus Tan Sri Abd Shukor Husin berkata secara asasnya tiada larangan terhadap perbuatan melakukan zikir sambil ‘menggoyangkan badan’.

          Menurutnya, untuk mengatakan perbuatan ini haram atas dasar Rasulullah tidak pernah melakukannya, ia adalah tidak tepat kerana pada asasnya perkara harus kekal harus melainkan ia bertentangan dengan prinsip dan semangat al-Quran dan Sunnah.

          “Sesuatu yang tidak dibuat oleh Nabi tidak semestinya haram berdasarkan kaedah tarku al-shay’ la yaqtadi tahrimuhu iaitu sekiranya (Rasulullah) meninggalkan sesuatu tidak semestinya bererti membawa hukum pengharamannya’. Juga berdasarkan kaedah fiqh al-umur bi maqasidiha (setiap perkara adalah berdasarkan matlamatnya).

          “Walaubagaimanapun perbuatan zikir yang dilakukan haruslah tidak keterlaluan sehingga menghilangkan matlamat zikir itu sendiri iaitu untuk mengingati ALLAH. Ia juga hendaklah tidak melibatkan perkara-perkara yang haram dan maksiat seperti percampuran bebas lelaki dan wanita, pembukaan aurat, iringan nyanyian dan muzik yang keterlaluan sehingga merosakkan amalan zikir tersebut dan lari dari batas syariah Islam,” katanya ketika sidang media khas Majlis Muzakarah Fatwa Kebangsaan di Ibu Pejabat Jakim Putrajaya, hari ini.

          Mengulas lanjut, Abd Shukor berkata, perkara penting yang harus diambil perhatian dalam isu ini ialah perkara yang dilakukan tidak seharusnya melampaui batas.

          “Apa sahaja dalam agama yang bersifat melampaui batas adalah ditolak. Oleh yang demikian kita melihat ramai ulama yang membezakan pergerakan dalam zikir antara yang bersifat fitrah dengan sesuatu yang dibuat-buat atau secara berlebihan.

          “Sesuatu yang dibuat-buat atau berlebih-lebihan adalah tertolak kerana ia bertentangan dengan semangat zikir iaitu untuk mengingati ALLAH,” katanya.

          Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan

          Sumber : Sinar Harian 20 April 2015

          16/07/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          Pengiklanan Arak Yang Mengelirukan

          1. Telah tersebar satu gambar pengiklanan arak yang diletakkan disebuah kedai serbaneka. Ia kelihatan mengelirukan apabila arak tersebut ditempatkan berdekatan dengan minuman halal yang lain. Lebih membimbangkan, ayat pengiklanan tersebut seakan mengelirukan apabila ditulis dengan tagline NOW YOU CAN (sekarang kamu boleh!) dan ZERO ALCOHOL.

          2. Sekalipun mungkin ayat NOW YOU CAN ini ditujukan kepada non-Muslim, ia masih boleh memberikan penafsiran yang salah kepada Muslim yang menyangkakan minuman tersebut bukan arak kerana kenyataan ZERO ALCOHOL (0.0% kandungan alkohol).

          3. Dalam sejarah Islam, Khalifah Umar Abdul Aziz dilihat tegas dalam menangani isu arak ini. Beliau pernah mengarahkan orang kafir supaya tidak menzahirkan aktiviti arak mereka. al-Imam al-Bayhaqi ketika menghuraikan tentang syarat-syarat ahli zimmah (non-Muslim) yang tinggal bersama Muslim menyebutkan:

          كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: أَلَّا يُظْهِرُوا الْخَمْرَ

          “Umar Abdul Aziz pernah menulis surat supaya arak (bagi non Muslim) seharusnya tidak dizahirkan” (tidak diheboh, didedah dan berlaku secara tertutup). (al-Bayhaqi, Ma’rifa al-Sunan wa al-Athar, 13/383).

          4. Bahkan, Umar Abdul Aziz dikatakan cuba menyekat kemasukan dan kebebasan aktiviti import/eksport penjualan arak. Perkara ini direkodkan oleh al-Imam Ibn Abi Syaibah yang menyebutkan:

          عَنْ مُثَنَّى بْنِ سَعِيدٍ، قَالَ: شَهِدْتُ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ كَتَبَ إِلَى عَامِلِهِ بِوَاسِطٍ: «أَنْ لَا تَحْمِلُوا الْخَمْرَ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَى قَرْيَةٍ…

          “Muthanna ibn Sa’d berkata: Aku menyaksikan Umar Abdul Aziz menulis kepada Gabenornya bahawa: Jangan dibawa arak dari satu kampung ke satu kampung yang lain.” (Ibn Abi Syaibah, al-Musannaf, 5:100)

          5. Menurut al-Imam Malik pula, Umar Abdul Aziz dikatakan pernah mengarahkan supaya tempat-tempat perahan arak milik Muslim seharusnya dihapuskan. Kata al-Imam Malik:

          قال مالك: أفبلغك أن عمر بن عبد العزيز كتب في كسر معاصير الخمر؟ قال: نعم. قيل: معاصير المسلمين وأهل الذمة. قال: لا أرى ذلك إلا في التي للمسلمين.

          “Kata Malik: Apakah tidak sampai kepada kamu bahawa Umar Abdul Aziz pernah menulis (arahan) supaya dipecahkan (dirobohkan) tempat-tempat memerah arak? Dia (perawi) berkata: Ya! (lalu beliau ditanya): Tempat perahan milik Muslim atau milik non Muslim? Malik menjawab: Milik Muslim sahaja.

          6. Lihatlah betapa tegasnya Umar Abdul Aziz dalam berurusan dengan perkara yang melibatkan arak. Muslim langsung tidak dibenarkan terlibat dengan urusan arak. Non-Muslim pula tidak dibenarkan untuk menzahirkan aktiviti arak mereka. Aktiviti ekonomi yang melibatkan arak diperketatkan. Kilang penghasil arak pula dipantau.

          Moga Allah membantu Muslim dalam menangani isu arak.

          Olih Dr. Ahmad Sanusi Azmi
          https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

          15/07/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

          Persoalan berMazhab

          Sekiranya masyarakat awam dihidangkan empat mazhab dlm perbincangan fiqh, mereka perlu memilih pandangan yg paling kuat serta rajih..

          Persoalannya, adakah mereka mampu utk tarjihkan pandangan? Kaedah apa yg akan digunakan oleh mereka utk tarjihkan sesuatu pandangan? Jawapannya mereka tak mampu..

          Jika tak mampu, mereka akan merujuk org yg mengajar mereka empat mazhab itu..persoalannya, adakah org yg dirujuk itu adalah di kalangan ulama mujtahidin? Jawapannya: tidak juga kerana utk mendapatkan ulama mujtahidin zaman kita ini amat sukar..yg ada hanyalah ijtihad secara berjamaah melalui persidangan yg dianjurkan atau mesyuarat yg diaturkan secara berkala oleh pihak berwajib..

          Jadi, jalan penyelesaiannya, masyarakat awam perlu memilih satu mazhab sahaja utk mengamalkan agama..kerana wajib bagi mereka bertaqlid..Islam tidak mentaklifkan masyarakat awam sesuatu yg mereka tidak mampu, kerana mereka bukan ahli ijtihad..

          Bagi mereka yg mengajar agama pula terutama di masjid2, ajarlah masyarakat berdasarkan satu mazhab sahaja utk kemudahan org awam..jgn kelirukan org awam dgn pelbagai pandangan sedangkan anda sendiri pun hanya menciplak hujah org lain..bukan berhujah sendiri..hal ini kerana anda bukanlah mujtahid sebenar yg layak berijtihad, anda hanyalah MUJTAHID JADIAN sahaja..

          Wallahua’lam..

          Olih: Mohd Murshidi Mohd Noor

          14/07/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

          Tawassul Menurut Empat Madzhab

          Masalah tawassul dengan para nabi dan orang saleh ini hukumnya boleh dengan kesepakatan (Ijma’) para ulama. Hal ini dinyatakan oleh ulama empat madzhab, di antaranya disebutkan oleh al-Mardawi al-Hanbali dalam Kitabnya al-Inshaf, Al-Imam al-Hafizh Taqiyyuddin as-Subki asy-Syafi’i dalam kitabnya Syifa’ as-Saqam, Mulla ‘Ali al-Qari al-Hanafi dalam Syarh al-Misykat, dan Ibn al-Hajj al-Maliki dalam kitabnya al-Madkhal.

          Ibn Muflih al-Hanbali dalam kitab al-Furu’ berkata:

          وَيَجُوْزُ التَّوَسُّلُ بِصَالِحٍ، وَقِيْلَ: يُسْتَحَبُّ

          _*“Boleh bertawassul dengan orang saleh, bahkan dalam suatu pendapat disunnahkan” .*_

          Al-Imam al-Buhuti al-Hanbali dalam kitab Kasysyaf al-Qina’, menuliskan sebagai berikut:

          وَقَالَ السَّامِرِيُّ وَصَاحِبُ التَّلْخِيْصِ: لاَ بَأْسَ بِالتَّوَسُّلِ لِلاسْتِسْقَاءِ بِالشُّيُوْخِ وَالعُلَمَاءِ الْمُتَّقِيْنَ، وَقَالَ فِيْ الْمُذَهَّبِ: يَجُوْزُ أَنْ يُسْتَشْفَعَ إِلَى اللهِ بِرَجُلٍ صَالِحٍ، وَقِيْلَ يُسْتَحَبُّ. وَقَالَ أَحْمَدُ فِيْ مَنْسَكِهِ الَّذِيْ كَتَبَهُ لِلْمَرُّوْذِيِّ: إِنَّهُ يَتَوَسَّلُ بِالنَّبِيِّ فِيْ دُعَائِهِ –يَعْنِيْ أَنَّ الْمُسْتَسْقِيَ يُسَنُّ لَهُ فِيْ اسْتِسْقَائِهِ أَنْ يَتَوَسَّلَ بِالنَّبِيِّ- ، وَجَزَمَ بِهِ فِيْ الْمُسْتَوْعَبِ وَغَيْرِهِ”، ثُمَّ قَالَ:”قَالَ إِبْرَاهِيْمُ الْحَرْبِيُّ: الدُّعَاءُ عِنْدَ قَبْرِ مَعْرُوْفٍ الْكَرْخِيِّ التِّرْيَاقُ الْمُجَرَّبُ.

          _*“As-Samiri dan pengarang kitab at-Talkhish berkata: Boleh bertawassul untuk meminta hujan kepada Allah dengan orang-orang saleh dan para ulama yang bertaqwa. Pengarang kitab al-Mudzahhab berkata: Boleh beristisyfa’ dan bertawassul kepada Allah dengan orang yang saleh, bahkan menurut suatu pendapat disunnahkan. Al-Imam Ahmad mengatakan dalam kitab Mana-sik yang beliau tulis untuk al-Marrudzi: Orang yang berdoa setelah istisqa’ hendaklah bertawassul dengan Rasulullah dalam doa-nya. Dalam kitab al-Mustau’ab dan lainnya -disebutkan- bahwa hal ini dipastikan sebagai (pendapat) madzhab Ahmad”. Kemudian al-Buhuti berkata: “Ibrahim al-Harbi berkata: Berdoa di makam Ma’ruf al-Karkhi adalah obat yang mujarrab (artinya, jika berdoa di sana akan dikabulkan oleh Allah)” .*_

          Al-Imam Ibrahim al-Harbi adalah seorang ulama dan sufi besar yang hidup semasa dengan al-Imam Ahmad ibn Hanbal. Beliau benar-benar salah seorang ulama terkemuka saat itu, hingga al-Imam Ahmad ibn Hanbal memerintahkan anaknya, yaitu ‘Abdullah ibn Ahmad, untuk berguru kepadanya.

          Syekh ‘Ala-uddin al-Mardawi al-Hanbali, salah satu ulama madzhab Hanbali terkemuka, dalam kitab al-Inshaf, menuliskan sebagai berikut:

          وَمِنْهَا يَجُوْزُ التَّوَسُّلُ بِالرَّجُلِ الصَّالِحِ عَلَى الصَّحِيْحِ مِنَ الْمَذْهَبِ، وَقِيْلَ يُسْتَحَبُّ، قَالَ الإِمَامُ أَحْمَدُ لِلْمَرُّوْذِيِّ: يَتَوَسَّلُ بِالنَّبِيِّ فِيْ دُعَائِهِ، وَجَزَمَ بِهِ فِيْ الْمُسْتَوْعَبِ وَغَيْرِهِ

          _*“Di antaranya: boleh bertawassul dengan orang saleh menurut pendapat yang shahih dalam madzhab (Hanbali), bahkan menurut suatu pendapat dalam madzhab disunnahkan. Al-Imam Ahmad mengatakan kepada al Marrudzi: hendaklah orang yang beristisqa’ bertawassul dengan Nabi dalam doanya, dan hal ini dipastikan sebagai madzhab Ahmad dalam kitab al Mustaw’ab dan lainnya” .*_

          Bahkan al-Imam Ahmad ibn Hanbal sendiri berkomentar tentang salah seorang sufi kenamaan, yaitu Abu ‘Abdillah Shafwan ibn Sulaim al-Madani, bahwa dia adalah seorang yang sangat patut untuk dijadikan wasilah kepada Allah. Perkataan al-Imam Ahmad ini dinukil oleh al-Hafizh Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, sebagai berikut:

          قَالَ أَحْمَدُ: هُوَ يُسْتَسْقَى بِحَدِيْثِهِ وَيَنْزِلُ الْقَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ بِذِكْرِهِ، وَقَالَ مَرَّةً: هُوَ ثِقَةٌ مِنْ خِيَارِ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ

          _*“Ahmad ibn Hanbal berkata: “Dia (Shafwan bin Sulaim) adalah orang yang kita memohon hujan kepada Allah dengan haditsnya dan akan turun hujan dengan menyebut namanya”. Pada kesempatan lain Ahmad berkata: Beliau (Shafwan ibn Suliam) adalah orang yang tsiqah (terpercaya) dan termasuk hamba Allah yang saleh” .*_

          Perkataan al-Imam Ahmad ibn Hanbal tentang Shafwan ibn Sulaim ini, selain dikutip oleh al-Hafizh az-Zabidi, juga telah dikutip oleh al-Hafizh as-Suyuthi dalam Thabaqat al-Huffazh . Dalam kutipan al-Hafizh as-Suyuthi sebagai berikut:

          وَذُكِرَ عِنْدَ أَحْمَدَ فَقَالَ: هَذَا رَجُلٌ يُسْتَشْفَى بِحَدِيْثِهِ وَيَنْزِلُ القَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ بِذِكْرِهِ

          _*“Suatu ketika disebut nama Shafwan ibn Sulaim di hadapan Ahmad, maka Ahmad berkata: Dia ini adalah orang yang kita memohon kesembuhan kepada Allah dengan haditsnya dan akan turun hujan dengan menyebut namanya”.*_

          Kemudian ‘Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal menukil pernyataan ayahnya sendiri, -yaitu al-Imam Ahmad ibn Hanbal, dalam kitab al-‘Ilal Wa Ma’rifah ar-Rijal, bahwa ayahnya tersebut berkata:

          قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ: رَجُلاَنِ صَالِحَانِ يُسْتَسْقَى بِهِمَا ابْنُ عَجْلاَنَ وَيَزِيْدُ بْنُ يَزِيْدَ بْنِ جَابِرٍ

          _*“Ahmad ibn Hanbal berkata: Sufyan ibn ‘Uyainah berkata: Ada dua orang saleh yang kita memohon hujan kepada Allah dengan menyebut namanya: Ibn ‘Ajlan dan Yazid ibn Yazid ibn Jabir” .*_

          Marilah kita renungkan, dalam pernyataan-pernyataannya ini al-Imam Ahmad ibn Hanbbal sama sekali tidak berkata: “Yustasqa Bi Du’aih…” (Dimohonkan hujan dengan doa orang-orang saleh tersebut). Tidak seperti pemahaman kaum Wahabiyyah yang mengatakan bahwa tawassul hanya boleh dilakukan dengan doa seorang yang hadir saja, atau mengatakan bahwa tawassul dengan menyebut orang-orang saleh adalah perbuatan syirik. Sebaliknya, al-Imam Ahmad justru menjadikan penyebutan orang-orang saleh seperti tersebut di atas adalah sebagai sebab turunnya hujan.

          Dari sini kita tarik kesimpulan bahwa al-Imam Ahmad ibn Hanbal, dan ajaran madzhab Hanbali -sebagaimana juga madzhab-madzhab yang lain- telah membolehkan tawassul dengan Rasulullah dan orang-orang saleh yang sudah meninggal, bahkan hal itu disunnahkan. Lalu dari mana dasar kaum Wahhabaiyyah, -yang mengaku pengikut madzhab Hanbali-, mengatakan bahwa tawassul adalah haram, bahkan sebagai perbuatan syirik?! Dari mana mereka mengatakan bahwa para ulama Salaf telah melarang dan bahwa mereka tidak pernah melakukan tawassul?! Sungguh aneh, mengaku pengikut al-Imam Ahmad atau mengaku bermadzhab Hanbali, tapi kemudian mengatakan haram bahkan mengatakan syirik terhadap sesuatu yang dibolehkan oleh Al-Imam Ahmad dan ulama madzhabnya sendiri! Bukankah jika demikian pengakuan mereka bermadzhab Hanbali hanya sebagai “kedok” belaka?!

          Lihatlah, Imam Abu al-Wafa’ ibn ‘Aqil (w 503 H), salah seorang ulama besar madzhab Hanbali, bahkan sebagai Ahl at-Takhrij (Ashab al-Wujuh) dalam madzhab ini, beliau sangat menganjurkan dan menekankan ziarah ke makam Rasulullah. Beliau juga sangat menganjurkan untuk tawassul dengan Rasulullah, seperti yang telah beliau sebutkan dalam kitab at-Tadzkirah. Ini adalah salah satu bukti bahwa orang-orang yang mengaku bermadzhab Hanbali, tapi kemudian mengharamkan tawassul dan memusyrikkan pelakunya, sebetulnya mereka adalah orang-orang yang menyempal dari madzhab Hanbali sendiri. Benar, itulah prilaku mereka yang selalu membawa ajaran-ajaran baru, baik dalam masalah-masalah Ushuliyyah maupun dalam masalah-masalah Furu’iyyah. Dan merekalah yang “mengotori” dan bertanggung jawab atas “tercemarnya” kagungan madzhab Hanbali, madzhab yang telah dirintis oleh al-Imam Ahmad ibn Hanbal ini.

          Kholil Abou Fateh
          al-Asy’ari asy-Syafi’i ar-Rifa’i al-Qadiri

          (Dari FB Ustaz Yunan A Samad)

          09/07/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | | Leave a comment

          PEMBELAAN BUAT IMAM GHAZALI RAHIMAHULLAH:

          Oleh: Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan

          SIAPA YANG MENDAKWA ‘IMAM GHAZALI TERMASUK GOLONGAN YANG TERTIPU’ MAKA SEBENARNYA ‘DIA’ YANG TERTIPU

          Kebelakangan ini kita mendengar ada penceramah yang lantang menghina Imam Ghazali, sebaiknya dinasihatkan mereka merenungi diri mereka sendiri adakah mereka ini setaraf atau tidak dengan Hujjatul Islam Imam Ghazali sebelum menghina Ulama’ hebat ini

          Jawatankuasa Fatwa Negeri Sembilan telah memasukkan Imam Ghazali sebagai sumber rujukan bagi memahami ‘Tasawwuf’ seperti dibawah ini :

          http://www.muftins.gov.my/index.php/arkib2/himpunan-fatwa/171-keputusan-mesyuarat-fatwa/933-tafsiran-pegangan-dan-aqidah-ahli-sunnah-wal-jamaah

          Tafsiran Pegangan dan Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah

          Tarikh Keputusan : 25 Februari 2016

          Setelah meneliti setiap pandangan ahli mesyuarat dan hujah-hujah yang dikemukakan, Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Negeri Sembilan Bil. 02/2016-1437H yang bersidang pada 25 Februari 2016 bersamaan 16 Jamadilawal 1437H telah bersetuju menerima cadangan takrifan berkaitan Ahli Sunnah Wal Jamaah dalam konteks Negeri Sembilan iaitu merujuk kepada kelompok majoriti umat Islam mereka yang berpegang dengan ajaran Islam yang sebenar berdasarkan al-Quran dan panduan Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan para ulama Islam muktabar serta berpegang dalam hal berkaitan dengan:

          1. Aqidah dan Tauhid, berdasarkan pegangan Imam Abu Hasan al-Ash’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.

          2. Fiqh dan Syariah, berdasarkan mazhab Shafii di samping meraikan mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbali.

          3. Tasawwuf, berdasarkan manhaj ulama sufi berwibawa seperti Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali.

          Malah antara yang disebarkan adalah perkara-perkara buruk tentang Imam Ghazali berkenaan lemahnya Imam Ghazali dalam bidang hadis, tetapi benarkah dakwaan itu?

          Ustaz Mohd Khafidz Bin Soroni (Ahli Panel Penyelidik Fatwa Kerajaan Negeri Sembilan) menulis bagi menjawab dakwaan-dakwaan tersebut di bawah ini :

          http://sawanih.blogspot.my/2011/12/status-imam-al-ghazali-450-505h-dalam.html?m=1

          Status Imam al-Ghazali (450-505H) Dalam Ilmu Hadis

          Ada seorang ustaz al-fadhil menghubungi saya bertanyakan tentang kedudukan Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis. Ini barangkali kerana ingin menjawab persoalan mereka yang memandang rendah tentang keupayaan Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis. Maka saya katakan, ada sebuah kitab yang bagus dalam membincangkan masalah ini, iaitu kitab al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith oleh Dr. Muhammad ‘Aqil bin ‘Ali al-Mahdali.

          Pertamanya, amat perlu difahami apakah maksud ilmu hadis itu. Ilmu hadis yang bagaimana? Kerana ilmu hadis itu mempunyai banyak pecahan di bawahnya. Walhal, maksud kurang keupayaan Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis itu sebenarnya merujuk kepada ilmu hadis tertentu, terutama berkaitan kajian sanad seperti al-jarh wa al-ta’dil dan rijal al-hadith, bukannya keseluruhan cabang dalam ilmu hadis. Ini kerana beliau berkeupayaan dalam ilmu mustalah al-hadith, atau riwayah al-hadith yang objektif utamanya adalah untuk membezakan mana hadith yang sahih dan mana hadith yang daif, sepertimana yang dapat dilihat dalam kitab-kitab usul al-fiqhnya, iaitu al-Mankhul dan al-Mustasfa.

          Beliau juga berkeupayaan dalam mengetahui pelbagai hadis di mana telah memuatkan sebanyak lebih 4,800 buah hadis di dalam kitabnya Ihya’ `Ulum al-Din. Iaitu suatu bilangan yang jarang ada di dalam sesebuah kitab seperti itu. Justeru, bukan kesemuanya atau sebahagian besarnya hadis daif dan munkar seperti yang didakwa oleh sesetengah orang.

          Bahkan, sebahagian besar hadis-hadis kitab Ihya’ `Ulum al-Din adalah masih hadis-hadis sahih dan hasan, serta daif yang dapat diterima dalam bab fada’il amal (kelebihan-kelebihan amalan). Imam al-Ghazali sewajarnya lebih diberi keuzuran kerana konsep kitab Ihya’ `Ulum al-Din yang disusunnya itu ialah fada’il acmal, bukannya ahkam atau akidah. Berbanding setengah ulama yang menyusun kitab dalam bab ahkam atau akidah, tetapi memuatkannya dengan hadis-hadis daif dan munkar.

          Demikian antara jawapan saya menurut apa yang terlintas di dalam kepala pada masa itu.

          Hadis-Hadis Ihya’ `Ulum Al-Din

          Pandangan yang mendakwa kelemahan Imam al-Ghazali dalam ilmu hadis bukanlah suatu yang baru. Zahirnya, mereka hanya mengikut pendapat yang mengatakannya demikian, terutama disebabkan hadis-hadis kitabnya Ihya’ `Ulum al-Din. Antaranya:

          Kata al-Hafiz Ibn al-Jawzi (w. 597H): “Beliau memenuhi kitabnya dengan hadis-hadis yang batil yang dia tidak tahu kebatilannya” (Talbis Iblis, hlm. 190).

          Imam Taj al-Din al-Subki (w. 771H) menyatakan: “Adapun apa yang dianggap aib pada al-Ihya’ disebabkan kelemahan sebahagian hadis-hadisnya, ini kerana al-Ghazali diketahui bahawa beliau tidak mempunyai kepakaran dalam bidang hadis” (Tabaqat al-Syafi`yyah al-Kubra, 6/249).

          Imam Ibn Kathir (w. 774H) berkata: “Di dalamnya banyak hadis yang gharib, munkar dan palsu” (Al-Bidayah wa al-Nihayah, 12/214).

          Sebanyak mana bilangannya? Menurut Dr. Muhammad ‘Aqil al-Mahdali dalam al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith, bilangan hadis-hadis dalam Ihya’ `Ulum al-Din ialah 4,848 buah hadis. Ini berpandukan kepada kitab Is‘af al-Mulihhin bi-Tartib Ahadith Ihya’ ‘Ulum al-Din susunan Syeikhuna al-Muhaddith Syeikh Mahmud Sa‘id Mamduh. Bagaimanapun, kitab tersebut hanya menyusun semula hadis-hadis yang ditakhrij oleh al-Hafiz al-‘Iraqi (w. 806H) dalam al-Mughni `an Haml al-Asfar fi al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ihya’ min al-Akhbar, sedangkan masih ada sebilangan kecil hadis yang tidak ditakhrijkan olehnya.

          Jika Imam Taj al-Din al-Subki (w. 771H) mengira sebanyak 943 hadis yang tidak ditemukan sanadnya (Tabaqat al-Syafi`yyah al-Kubra, 6/287- 389). Maka bakinya jika begitu, ialah sebanyak 3,905 hadis yang masih mempunyai sanad antara sahih, hasan dan daif. Jumlah ini masih dianggap jumlah yang besar. Malah sebahagian daripada bilangan 943 hadis yang tidak ditemukan sanadnya oleh Taj al-Din al-Subki itu sebenarnya masih mempunyai sanad, dan sebahagiannya pula ada yang diperselisihkan darjatnya antara sahih, hasan, daif atau mawdu‘. Ini dapat dilihat dalam takhrij al-Hafiz al-‘Iraqi dan takhrij al-Hafiz Murtadha al-Zabidi yang lebih luas dalam Ithaf al-Sadah al-Muttaqin. (Lihat: al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith oleh Dr. Muhammad ‘Aqil al-Mahdali)

          Boleh dikatakan, tidak ada kitab tasawuf yang mengandungi jumlah hadis sebanyak itu. Maka dakwaan bahawa Imam al-Ghazali hanya menceduk hadis-hadis kitabnya daripada kitab-kitab fiqh dan tasawuf barangkali dapat dipertikaikan. Ini mengukuhkan lagi pendapat bahawa beliau juga telah memetik hadis-hadis kitab Ihya’ `Ulum al-Din daripada kitab-kitab hadis itu sendiri (al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith hlm. 74 & 118).

          Bagaimanapun, sewajarnya setiap pembaca kitab Ihya’ `Ulum al-Din berhati-hati dalam memetik hadis-hadisnya dan menelitinya menerusi takhrij al-Hafiz al-`Iraqi yang biasanya dicetak bersama-sama dengan kitab Ihya’. Meskipun adakalanya, hukum beliau berbeza dengan hukum al-Hafiz Murtadha al-Zabidi. Sekurang-kurangnya hadis daif masih dapat diamalkan dalam bab fada’il acmal.

          Imam al-Ghazali Mahir Ilmu Hadis Riwayah Dan Dirayah

          Bukankah Imam al-Ghazali cukup terkenal sebagai seorang faqih (ahli fiqh)? Sudah tentu beliau mahir berkaitan fiqh al-hadith, atau ilmu dirayah al-hadith. Beliau tentunya memiliki ilmu yang cukup berkaitan hadis-hadis ahkam. Oleh sebab itu, beliau mampu menghasilkan kitab-kitab fiqh yang menjadi rujukan muktabar dan diiktiraf oleh para ulama, khususnya dalam mazhab al-Syafi‘i.

          [*Berhubung ilmu hadis riwayah dan dirayah, saya mengikut pembahagian kebanyakan ulama, namun dengan takrifan al-Muhaddith Sayyid ‘Abdullah al-Ghumari dalam Tawjih al-‘Inayah, yang turut disepakati Prof. Dr. Abu al-Laith al-Khair Abadi. Iaitu ilmu riwayah al-hadith berkaitan para perawi dan riwayat mereka, manakala ilmu dirayah al-hadith hanya berkaitan matan hadis. Berlainan dengan Dr. Muhammad ‘Aqil al-Mahdali yang mengikut pembahagian Prof. Dr. Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki dalam al-Manhal al-Latif]

          Justeru dengan ini, kita dapat lihat Imam al-Ghazali mengetahui tentang dua cabang utama ilmu hadis, iaitu ilmu riwayah al-hadith dan ilmu dirayah al-hadith. Adapun kata-kata Imam al-Ghazali dalam Qanun al-Ta’wil (hlm. 30): “Dan barang bekalanku dalam ilmu hadis adalah sedikit”. Saya berpendapat ianya adalah dalam nada tawaduk dan merendah diri, apatah lagi kerana beliau berani mengisytiharkan dirinya begitu. Dalam erti kata lain, beliau menganggap dirinya bukanlah seorang imam dalam ilmu hadis sebagaimana imam-imam hadis yang tersohor di zamannya ataupun di zaman sebelumnya. Namun, ini tidak bermakna beliau langsung tidak mengetahui ilmu hadis.

          Antara imam-imam hadis di zamannya atau di zaman sebelumnya, iaitu sekitar kurun kelima hijrah ialah al-Hakim (w. 405H), Abu ‘Abd al-Rahman al-Sulami (w. 412H), Tammam al-Dimasyqi (w. 414H), al-Lalika’i (w. 418H), Hamzah al-Sahmi (w. 427H), Abu Nu‘aim al-Asbahani (w. 430H), al-Mustaghfiri (w. 432H), Abu Zar al-Harawi (w. 434H), al-Khallal (w. 439H), Abu ‘Amru al-Dani (w. 444H), al-Qudha‘i (w. 454H), al-Bayhaqi (w. 458H), Ibn ‘Abd al-Barr (w. 463H), al-Khatib al-Baghdadi (w. 463H), Abu al-Qasim Ibn Mandah (w. 470H), al-Baji (w. 474H), al-Sam‘ani (w. 489H), al-Ruyani (w. 501H), al-Daylami (w. 509H) dan lain-lain.

          Maka, dakwaan bahawa Imam al-Ghazali tidak mahir hadis perlu disemak semula. Kerana hakikatnya, ia bukan secara umum begitu. Beliau hanya tidak mendalami ilmu riwayah al-hadith dari segi kajian sanad dan praktikalnya secara lebih mendalam, dari sudut al-jarh wa al-ta’dil dan rijal al-hadith, serta dari segi periwayatan lautan kitab-kitab hadis secara sama’/talaqqi. Barangkali inilah maksud kenapa beliau menelaah Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim di akhir hayatnya, iaitu kerana ingin mendalami rijal al-hadith dalam kedua-dua kitab sahih yang agung tersebut, dan sebagai usaha permulaan bagi mendengar dan menelaah lautan kitab-kitab hadis yang amat banyak bilangannya. Sebagaimana sebahagian ulama merekodkannya di dalam kitab-kitab sanad mereka.

          Jelasnya, meskipun Imam al-Ghazali bukanlah seorang imam atau tokoh besar dalam ilmu hadis, beliau dianggap masih berkeupayaan dalam ilmu hadis, riwayah dan dirayahnya.

          Imam al-Ghazali Mendengar Hadis di Akhir Usia

          Menurut Dr. Muhammad ‘Aqil al-Mahdali, Imam al-Ghazali telah mempelajari hadis secara wijadah (penemuan) dan juga ijazah, namun beliau tidak mempelajarinya secara sama‘ (talaqqi) kecuali di akhir hayatnya (al-Imam al-Ghazali wa ‘Ilm al-Hadith hlm. 81-83). Sebab itu, beliau berusaha untuk mengatasi kelemahannya itu, dan ini yang membawa beliau untuk mendengar Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim melalui al-Hafiz Abu al-Fityan ‘Umar bin Abi al-Hasan al-Rawasi.

          Al-Hafiz Ibn ‘Asakir menyebutkan bahawa Imam al-Ghazali telah mendengar Sahih al-Bukhari daripada Abu Sahl Muhammad ibn ‘Abdullah al-Hafsi (Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/200). Dan antara syeikh-syeikhnya yang lain dalam ilmu hadis ialah al-Hakim Abu al-Fath Nasr ibn ‘Ali ibn Ahmad al-Hakimi al-Tusi, Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn Ahmad al-Khawari, dan Muhammad ibn Yahya ibn Muhammad al-Syuja‘i al-Zawzani (Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/220).

          Kata muridnya, al-Hafiz ‘Abd al-Ghafir al-Farisi (w. 529H): “Di akhir hayatnya, beliau telah memberi tumpuan terhadap hadis Nabi al-Mustafa SAW, dan duduk bersama para ahlinya, serta menelaah al-Sahihain, al-Bukhari dan Muslim, yang mana kedua-duanya merupakan hujjah Islam. Seandainya beliau hidup lama, nescaya beliau mampu mengatasi semua orang dalam disiplin ilmu (hadis) tersebut dengan waktu yang cukup singkat yang beliau luangkan untuk memperolehinya. Tidak diragukan lagi bahwa beliau telah mendengar hadis-hadis di waktu-waktu sebelumnya, dan beliau hanya menyibukkan diri dengan mendengarnya (secara sama‘) di akhir hayat. Dan beliau tidak berkesempatan meriwayatkannya. Namun, hal itu tidak memudaratkan terhadap apa yang beliau tinggalkan dari kitab-kitab yang telah ditulis dalam bab usul, furu’ dan seluruh bahagian yang lain, yang akan kekal disebut-sebut namanya. Dan telah tertetap di sisi mereka yang menelaah dan mengambil faedah daripadanya bahwa tidak ada lagi orang terkemudian yang sebanding dengannya sesudah beliau”. (Lihat: Tabyin Kazib al-Muftari oleh al-Hafiz Ibn ‘Asakir, hlm. 296; Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/210).

          Kata ‘Abd al-Ghafir al-Farisi lagi: “Aku pernah dengar bahawa beliau telah mendengar Sunan Abi Dawud al-Sijistani dari al-Hakim Abu al-Fath al-Hakimi al-Tusi, namun saya tidak menemukan bukti sama‘nya” (Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/212). Sebab itu, ada dikatakan bahawa Imam al-Ghazali pernah menyebut bahawa menelaah kitab Sunan Abi Dawud itu sudah memadai bagi seorang mujtahid.

          Kata ‘Abd al-Ghafir al-Farisi: “Beliau juga telah mendengar berbagai-bagai hadis secara formal bersama-sama para fuqaha’. Antara yang saya temukan bukti sama‘nya ialah apa yang beliau dengar daripada kitab Mawlid al-Nabi SAW karangan Abu Bakr Ahmad bin ‘Amr ibn Abi ‘Asim al-Syaybani, riwayat al-Imam Syeikh Abu Bakr Muhammad bin al-Harith al-Asbahani, dari Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja‘far ibn Hayyan, dari pengarangnya. Imam al-Ghazali telah mendengarnya dari Syeikh Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn Ahmad al-Khawari – Khawar Tabaran – rahimahullah, bersama-sama dua orang anaknya, Syeikh ‘Abd al-Jabbar dan Syeikh ‘Abd al-Hamid serta sekumpulan para fuqaha’… Kitab tersebut di dalam dua juzuk yang didengar oleh beliau” (Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/212-214).

          Kata al-Hafiz Ibnu ‘Asakir al-Dimasyqi (w. 571H): “Beliau telah mendengar Sahih al-Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin ‘Abd Allah al-Hafsi, dan menjadi guru di Madrasah Nizamiyyah di Baghdad. Kemudian beliau keluar ke Syam mengunjungi Baitul Maqdis. Beliau memasuki Dimasyq pada tahun 489H dan tinggal di sana dalam satu tempoh. Disampaikan kepadaku bahawa beliau telah menulis di sana sebahagian karya-karyanya. Kemudian beliau kembali ke Baghdad, lalu ke Khurasan. Beliau telah mengajar dalam satu tempoh di Tus. Setelah itu, beliau meninggalkan pengajaran dan perdebatan, dan menyibukkan diri dengan ibadah”. Al-Hafiz Abu Sa‘d ibn al-Sam‘ani menyebut bahawa beliau pernah mengundang Abu al-Fityan ‘Umar bin Abi al-Hasan al-Rawasi al-Hafiz al-Tusi dan memuliakan beliau, serta mendengar darinya Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim” (Lihat: Tabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, 6/214-215).

          Menurut Ibn Kathir : “Dikatakan pada akhir hayatnya, beliau telah cenderung kepada mendengar hadith dan menghafal al-Sahihain (al-Bukhari dan Muslim)…”, “Kemudian (di akhir hayat) beliau telah pulang ke negerinya Tus dan tinggal di sana, membina sebuah ribat, membuat rumah yang baik, menanam tanam-tanaman di sebuah kebun yang indah, memberi tumpuan membaca al-Quran dan menghafal hadith-hadith sahih” (Al-Bidayah wa al-Nihayah, 12/214-215).

          Jelaslah bahawa beliau bukannya langsung tidak mengetahui ilmu riwayah al-hadith, apatah lagi ilmu dirayah al-hadith yang mana beliau adalah jaguhnya dalam mazhab al-Syafi‘i.

          p/s Semoga Allah menjauhkan kita dari menghina Ulama’ yang Haq

          09/07/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          HATI HATI DGN ASATIZAH YG MENGUPAS MASALAH FIQH HANYA DGN MERUJUK HADITH

          Tempat yang betul untuk mengambil hukum hakam dalam masalah fiqh ialah daripada kitab-kitab fiqh, bukan hanya memadai daripada kitab-kitab syarahan hadis. Ini kerana dalam kitab syarah hadis biasanya tidak diterangkan sesuatu permasalahan dengan terperinci dan tidak diberitahu adakah hukum itu muktamad/rajih dalam mazhab atau tidak muktamad/marjuh.

          Bahkan seringkali juga berlaku ketidak tepatan nukilan sesuatu permasalahan daripada mazhab tertentu dalam kitab syarah hadis disebabkan pengarangnya bukan bermazhab dengan mazhab tersebut, bukan kerana pengarangnya tidak jujur. Perkara ini jelas bagi sesiapa yang biasa menelaah kitab-kitab syarah hadis.

          Justeru masalah fiqh mazhab Syafii hendaklah dirujuk kitab fiqh Syafii, mazhab Hanafi daripada kitab fiqh Hanafi, dan begitulah seterusnya.

          Pengalaman ketika belajar di Pakistan dahulu, para ustaz akan menerangkan ikhtilaf mazhab dalam hadis yang berkaitan masalah fiqh. Setelah diterangkan ikhtilaf antara para imam mazhab, mereka akan mentarjihkan mazhab Hanafi dengan mendatangkan dalil-dalilnya, disebabkan mereka bermazhab Hanafi. Namun mereka tetap menghormati mazhab-mazhab lain.

          Seringkali berlaku apabila mereka menukilkan pendapat mazhab Syafii kemudian dimarjuhkan, dinukilkan pendapat yang tidak muktamad. Kadang-kadang qaul qadim pun dinukilkan, sedangkan kita yang bermazhab Syafii pun tak pernah pegang pendapat tu, bahkan tak pernah dengar pun diamalkan. Ini berpunca daripada hanya memadai melihat nukilan sesuatu mazhab daripada kitab syarah hadis.

          Di sini ada beberapa faedah dapat diambil,

          1. Rujuk masalah fiqh daripada kitab fiqh mazhab

          2. Rujukan mazhab tertentu daripada ulama mazhab tersebut صاحب البيت أدرى بما فيه

          3. Dinasihatkan sebaik-baiknya sesiapa yang nak pergi belajar di negara luar terutamanya negara yang mengamalkan mazhab lain supaya belajarlah dahulu ilmu-ilmu alat, fiqh dan usul fiqh daripada para ulama’ tempatan. Selepas dah kuasai dengan baik, pergilah ke mana pun, supaya dia tidak gopoh menyalahkan ulama tempatan bila pulang nanti.

          4. Para ulama India dan Pakistan secara umumnya bermazhab Hanafi, dan mereka juga belajar kitab-kitab hadis, kutub sittah dan lain-lain. Namun mereka tidak pun meninggalkan mazhab mereka atau menyalahkan mazhab mereka, walaupun belajar tinggi dalam bidang hadis. Sebabnya ialah mereka belajar dari bawah ke atas, pengajian kutub sittah dipelajari pada tahun Daurah Hadis iaitu tahun akhir. Bukan terus lompat ke atas tanpa melalui anak-anak tangga bawah. Peliknya ada orang bila belajar kitab hadis, terus tak nak bermazhab dan menyalahkan imam-imam mazhab.

          والله أعلم، وبالله التوفيق

          (Ustaz Abdullah Amir)

          08/07/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | 1 Comment

          Adat Wahhabi VS Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

          1. *Wahabi Gemar mengkafir, mensyirik saudara seIslam*. Perkara yang paling asas, Allah dan RasulNya melarang mengkafir, mensyirik saudara sendiri tanpa hak.

          2. *Wahabi Membid’ah sesatkan amalan yang mempunyai sandaran dari al Quran dan as Sunnah.* Antara amalan yang suka disesatkan dan dinerakakan oleh ajaran sesat ini adalah – tawassul, tahlilan, maulidul Rasul, bacaan Qunut Subuh, wirid dan zikir beramai-ramai selepas solat, menggunakan tasbih ketika berzikir, bacaan selawat yang dicipta oleh para sahabat dan salafussoleh serta alim ulamak dan banyak lagi.

          Sedangkan *amalan-amalan ini ada sandaran dari dalil umum dan khusus dalam al Quran dan as Sunnah serta amalan para salafussoleh.*

          3. *Wahabi suka mencari permusuhan dan bukan perdamaian*. Setiap tempat yang dimasuki oleh Wahhabi pasti menimbulkan perpecahan kepada umat Islam, permusuhan, pertelingkahan. Kerana Wahhabi merasakan merekalah yang benar dan masuk syurga. Manakala yang tidak mengikut pandangan mereka akan masuk neraka, kafir dan syirik.

          – Sedangkan Allah dan RasulNya menitikberatkan kasih sayang, rahmah, mawaddah sesama saudara seIslam.

          4. *Wahabi Merasakan diri mereka mengikut al Quran dan As Sunnah yang sebenar.* Manakala majoriti ulamak dan umat Islam adalah ahli bid’ah sesat.

          5. *Slogan ajaran syazz ini adalah – ikut al Quran dan as Sunnah dan terbaru menolak hadith dhoief padahal hadith dhoief diterima dan diamalkan oleh jumhur ulamak muhaddithin.* Hakikatnya mereka memahami al Quran dan as Sunnah dengan cara yang batil,

          6. *Wahabi Menolak pandangan ulamak muktabar yang lebih mendalami al Quran dan as Sunnah apabila dirasakan pandangan para ulamak ini bertentangan dengan hawa nafsu mereka yang kononnya dari al Quran dan as Sunnah.* Padahal dalam surah An Nahl ayat 43- Allah menyuruh kita merujuk kepada alim ulamak. Dan Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam menyatakan mafhumnya Ulamak adalah pewaris para Nabi.

          7. *Sasaran Wahhabi adalah orang yang baru berjinak-jinak mengenal dan mempelajari Islam.* Akibatnya, orang awam yang jahil pun berani untuk mempertikaikan ijtihad para mujtahid kononnya mengikut al Quran dan As Sunnah.

          8. *Zikir seharian Wahhabi adalah bid’ah sesat, syirik dan kafir.*

          – Zikir ini sudah lama diamalkan oleh Wahhabi terhadap umat Islam. Bahkan sesama sendiri antara mereka juga ada yang saling membid’ah dan mengkafir.

          9. *Menjauhkan Umat Islam dari beramal serta memahami ajaran Islam dengan pemahaman yang sahih.*

          – Kerja-kerja *Wahhabi amat disukai oleh musuh Islam seperti Orientalis, Liberalis, Pluralis, Anti Hadith dan sebagainya.* Kerana mereka memang mahu umat Islam jauh dari mengamalkan ajaran Islam.

          – Bila amalan-amalan yang diajar dan dipandu alim ulamak dipertikaikan dan disesatkan Wahhabi, maka umat Islam semakin malas untuk beramal, meninggalkan dan semakin seronok dengan hiburan, kemaksiatan dan mencipta bid’ah sesat yang sebenar dan dilarang dalam Islam seperti budaya hedonis, mentafsir al Quran dan hadith tanpa disiplin ilmu, ajaran-ajaran sesat Ayah Pin, Rasul Kahar dan sebagainya

          10. *Antara persamaan ajaran Wahhabi dan ajaran sesat seperti Liberal, Pluralisme dan yang lain :*

          – *Mempertikaikan keautoritian ulamak.*
          – *Literal terhadap al Quran dan hadith*
          – *Mentafsir al Quran dan hadith mengikut akal dan hawa nafsu tanpa disiplin ilmu.*
          – *beraqidahkan Allah bertempat, berarah, beranggota, berjisim.*

          11. 🛑 *Sanggup bertaqiyyah seperti syiah sebelum sebar ajaran*

          – Modus operandi pengikut ajaran pada mulanya mereka mengikut arus perdana manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, kemudian mula memasukkan jarum halus menimbulkan isu khilafiyyah dan mengelirukan orang awam. Seterusnya apabila sudah popular di media, televisyen, radio mula membuka topeng masing-masing mengajar ajaran Wahhabi mengkafir, mensyirik, membid’ah, tajsim dan tasybih kepada orang awam.

          – Ada yang berperwatakan memang semulajadi keras dan ada yang berperwatakan lembut tetapi dalam kuliah, tulisannya mengkafir dan mensyirik amalan salafussoleh dan umat Islam.

          12. 🛑 *Ajaran ini diwarisi terrroris/pengganas bertopengkan Islam yang hauskan darah umat Islam sebagaimana yang telah banyak didedahkan oleh PDRM – Counter Terrorisme, para pengkaji gerakan Islam, pakar-pakar anti keganasan. Ia mengulangi sejarah hitam Wahhabi ketika menguasai Mekah al Mukarramah dalam kitab Tarikh Najd karangan tokoh sejarah Wahhabi dengan membunuh ulamak dan umat Islam ketika itu.*

          Sumber ASWAJA.

          02/07/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

          Allah Di Mana? Di Atas Langit atau Di Semua Tempat?

          Oleg: Ustaz Mohd Khafidz Soroni

          Soalan di atas, lazimnya ditanya oleh salah satu dari dua orang berikut, sama ada dia memang tak tahu dan inginkan jawapan, atau soalan perangkap ‘salafi’ (boleh baca salah pi) yang ingin menguji akidah ‘lawan’nya. Ini kerana mereka sudah meyakini bahawa Allah Taala itu tempatnya di atas langit.

          Jika orang tersebut menjawab di atas langit, dia akan berpuashati, tetapi jika orang tersebut menjawab di semua tempat atau di mana-mana sahaja (seperti fahaman Muktazilah), maka dia akan memerli dan memperbodohkan begini: “Walaupun di tandas?!”.

          Sebenarnya soalan pilihan; ‘di atas langit atau di semua tempat’ seperti di atas adalah soalan bidaah. Saya katakan ianya bidaah sayyi’ah (yang keji). Ini kerana ianya telah menimbulkan terlalu banyak perbalahan dan sengketa sehingga kini. Maka eloklah ditinggalkan sahaja pertanyaan bidaah tersebut.

          Ini kerana jawapan yang pertama dan yang kedua adalah mustahil bagi Allah, selagi ia berhubung dengan tempat, sepertimana yang akan diterangkan nanti. Allah Taala tidak berada di tempat tertentu, sama ada atas, bawah, kiri, kanan, depan atau belakang. Ini tidak bermakna Allah Taala itu ‘ma’dum’ (معدوم) yakni ‘yang ditiadakan’ (seperti ejekan setengah ‘ salafi’ pembidaah yang jengkel), kerana Dia telah sedia ada wujud dengan zat-Nya. Begitu juga Allah Taala tidak berada di semua tempat.

          Jawapan Yang Sahih

          Namun, pertanyaan; ‘di mana Allah?’ bukanlah bidaah. Ini kerana Allah Taala telah mengetahui tabiat manusia yang pasti akan bertanya soalan seperti itu. Dan Allah Taala tidak mahu umat Nabi Muhammad SAW ini menjadi sepertimana orang Yahudi dan orang Kristian yang beriktikad bahawa Allah Taala itu di atas langit dengan zat-Nya, lalu diturunkan anak-Nya ‘Uzair menurut Yahudi, dan Jesus (‘Isa) menurut Kristian, ke atas muka bumi, لا حول ولا قوة إلا بالله.

          Oleh kerana itu Allah Taala telah menurunkan jawapannya seperti berikut, firman-Nya dalam surah al-Baqarah:

          Terjemahan: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku, maka (beritahu kepada mereka): Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyahut seruan-Ku (dengan mematuhi perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku mudah-mudahan mereka menjadi baik serta betul”. (186)

          Bagaimanapun jika mereka tidak berpuashati dengan jawapan dari kalam Allah ini, katakanlah: Allah wujud tanpa bertempat (الله موجود بلا مكان). Ini kerana Allah Taala tidak memerlukan tempat (dan langit adalah termasuk daripada tempat). Yang memerlukan tempat ialah makhluk. Dia-lah yang menciptakan tempat, maka tempat adalah termasuk daripada makhluk. Allah Taala tidak memerlukan apa-apa daripada makhluk-Nya dan tidak bergantung kepada mereka sedikitpun.

          Komentar Hadith Jariyah

          Adapun hadith jariyah (hamba perempuan) yang menunjukkan seolah-olah Allah Taala di langit, dijawab oleh para ulama Ahlus Sunnah wal-Jamaah seperti berikut;

          1- Ianya bukan hadith mutawatir. Maksudnya hanya segelintir sahabat Nabi SAW sahaja yang meriwayatkannya, tidak ramai. Maka orang yang mati tanpa akidah ‘Allah di atas langit’ tidaklah berdosa. Justeru, usul akidah mesti disabitkan dengan hadith mutawatir.

          2- Hadith tersebut tidak dimuatkan oleh ulama-ulama hadith yang meriwayatkannya di dalam bab akidah, kecuali golongan musyabbihah dan sebahagian ahli hadith yang terpengaruh dengan mereka dalam mazhab Hanbali.

          3- Ini kerana cara ia difahami berhubung dengan situasi hadith itu diucapkan, di mana jariyah tersebut adalah orang biasa yang kurang berpelajaran, maka wajarlah Nabi SAW melayaninya menurut kemampuan akal fikirannya. Dalam riwayat berkenaan beliau menjawab: “Di langit”, kerana inilah kefahaman semua orang biasa, termasuk kaum Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin yang percaya kewujudan Tuhan dan kekuasaannya. Apa yang membezakan dengan mereka di sini ialah pengakuannya terhadap kerasulan Nabi SAW, lalu baginda menghukumkannya sebagai mukminah. Manakala dalam satu riwayat lain, beliau hanya menunjuk ke arah atas, manakala yang berkata ‘ke langit’ ialah perawi hadith yang menceritakan situasi berkenaan.

          4- Maka para ulama menafsirkannya menurut kaedah; ‘merujukkan nas yang mutasyabihat (mengelirukan) kepada nas yang muhkamat (meyakinkan)’. Antara nas yang muhkamat di sini ialah ayat (ليس كمثله شيء), “Tiada suatu apapun yang menyerupai-Nya”. Jika Nabi SAW pernah bersabda; ‘Allah di langit’, pasti tidak timbul masalah, dan ianya tidak menjadi nas yang mengelirukan (mutasyabihat). Justeru, ulama menyatakan bahawa jawapan/isyarat jariyah tersebut adalah menunjukkan ketinggian kedudukan Allah (علو المكانة), dan bukannya ketinggian tempat Allah berada (علو المكان). Ini ditunjukkan dengan kalimah (في السماء), “di langit” dengan lafaz mufrad (tunggal) sahaja, bukan dengan lafaz (فوق السماء السابعة), “di atas langit ketujuh”, atau dengan lafaz plural (فوق السموات), “di atas semua langit”. Maka kalimah al-sama’ dalam adat Arab mengisyaratkan kepada alam ghaib yang tidak dapat diketahui hakikat sebenarnya.

          5- Tambah mereka lagi; adat umat Islam menadah tangan ke langit ketika berdoa adalah kerana langit itu adalah kiblat bagi doa (tidak kira sama ada anda di Kutub Utara atau di Kutub Selatan maka kiblat semasa berdoa ialah langit), sepertimana kita bersembahyang menghadap Allah Taala, maka kiblatnya ialah ke Kaabah. Ini bukanlah bermakna Allah Taala berada di hadapan kita dengan zat-Nya, dan tidak ada di sebelah belakang.. Jika kita mengamati kedudukan bumi dari angkasa dan mengamati seluruh alam cakerawala ini, di samping menginsafi kekerdilan diri, pasti kita akan akur dengan ayat al-Quran di atas. سبحان الله..

          6- Kefahaman akidah orang awam seperti yang saya sebut di atas juga, berlaku dalam beberapa perkara akidah yang lain, seperti soal perbuatan hamba (أفعال العباد), kefahaman tentang iradah (kehendak) manusia dan qadar Allah SWT. Jika tidak diberi penjelasan atau diajarkan ilmu yang sahih, mereka akan menyangka bahawa Allah SWT menjadikan manusia dan membiarkan mereka berusaha mengurus hidup mereka masing-masing dengan sendiri tanpa campurtangan daripada-Nya. Atau pun mereka percaya hidup mereka ini telah ditentukan semuanya oleh Allah SWT, maka tidak perlu berusaha untuk mengubah apa-apa yang telah ditetapkan dan berserah sahaja bulat-bulat.

          7- Sebahagian ulama Ahlus Sunnah seperti Imam Muhammad Zahid al-Kawthari dan al-Hafiz ‘Abdullah al-Ghumari mengatakan bahawa hadith tersebut adalah syaz, iaitu hadith yang sahih sanadnya, tetapi matannya berlawanan dengan hadith-hadith sahih yang lain. Ini kerana kebanyakan dakwah Nabi SAW adalah dengan seruan supaya mengucap syahadah (لا إله إلا الله), bukannya bertanya ; “Di mana Allah?” (أين الله). Malah sebahagian jalan riwayat hadith berkenaan diriwayatkan dengan lafaz yang jelas : (أتشهدين أن لا إله إلا الله). Maka hadith syaz tidak dapat dijadikan hujah.

          Wallahu a’lam.

          Rujukan tambahan:

          1- Fatwa al-Hai’ah al-‘Ammah – sini.
          http://www.awqaf.ae/Fatwa.aspx?SectionID=9&RefID=4018

          2- Risalah al-Burhan al-Sadiq.
          http://cb.rayaheen.net/showthread.php?tid=25531

          3- Fatwa Dar al-Ifta’ Mesir – sini.
          http://dar-alifta.org.eg/AR/Default.aspx

          http://sawanih.blogspot.my/2009/08/allah-di-mana-di-atas-atau-di-semua.html?m=1

          28/06/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

          Imam-Imam Mahzab Ahli Sunnah Wal Jamaah

          Imam-Imam Mahzab Ahli Sunnah Wal Jamaah terbahagi kepada tiga bahagian:

          1- Golongan ulama yang beriman dan menyelidik tentang akidah dan menyatakan dalil akal dan naqal (Al-Quran dan Hadis) diatas landasan yang benar..
          (ILMU TAUHID)..
          Mereka adalah:
          Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, Imam Abu Mansur Al-Maturidi dan lain-lain imam Ahli Sunnah Wal Jamaah..

          2- Golongan ulama yang beramal dan menyelidik tentang hukum-hakam dan menghuraikannya berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah..
          (ILMU FEKAH)..
          Mereka adalah:
          1- Imam Abu Hanifah – Pengasas Mazhab Hanafi..
          2- Imam Malik – Pengasas Mazhab Malik..
          3- Imam As-Syafi’i – Pengasas Mazhab Syafi’i..
          4- Imam Ahmad Bin Hambal – Pengasas Mazhab Hambali..

          3- Golongan ulama yang berakhlak mulia dan menyelidik tentang soal penyakit-penyakit hati, seperti ria’, hasad, ujub dan sebagainya, mereka adalah pakar rohani dan doktor mengubati penyakit-penyakit hati..
          (ILMU TASAWUF)..
          Mereka adalah:
          Hujjatul Islam Syekih Abu Hamid Al-Ghazali, Syekih Junaid Al-Baghdadi dan lain-lain lagi..

          Sumber: FB Ustaz Yunan A Samad

          27/06/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

          JAWAPAN PERTANYAAN SALAFI

          Oleh: Kiyai Nur Hidayat Muhammad

          Kebiasaan salafi sering bertanya, mengapa orang-orang bermazhab Syafi’i jarang mengadakan kajian kitab Syarhus-Sunnah karangan Imam al-Muzani, murid terdekat Imam as-Syafi’i?

          Kemudian Salafi itu berkata,… orang-orang yang mengaku bermazhab Syafi’i tapi tidak mengikuti imam syafie karena mereka lebih memilih akidah Asy’ariyyah dan sufiyah yang meyakini “Allah wujud tanpa tempat dan arah” atau “Allah ada di mana-mana” berbanding akidah Ahlussunnah yang dibawa Imam al-Muzani dalam kitab tersebut, karena beliau tegas menetapkan “ketinggian Allah” dan meyakini “Allah bersemayam di atas arsy”.

          Jawapannya begini…

          1. Kitab Syarhus Sunnah penisbatan nya kepada Imam al-Muzani masih meragukan, karena dalam sanad riwayat kitabnya terdapat beberapa perawi yang majhul “tidak diketahui biografinya”, seperti Syamsuddin Abul Izz Yusuf al-Hakkari, Hasan bin Ali al-Yazuri, dan Ali bin Abdillah al-Halwani.

          2. “Allah ada di mana-mana” bukanlah akidah Ahlussunnah.

          Sama seperti “Allah bersemayam “bermakna menempati”di atas arsy-Nya” dan bukan akidah Ahlussunnah. Akidah Ahlussunnah adalah “Allah wujud tanpa tempat dan arah” atau “Allah tinggi derajat dan kedudukannya” atau “Allah tinggi “uluw derajat dan kekuasaannya” di atas arsy”.

          3. Dari pembacaan saya atas kitab Syarhus Sunnah yang sangat ringkas tersebut, yang hanya ditulis dalam beberapa lembar saja, “ditelaah dan ditahqiq oleh Jamal Azzun”, tidak ditemukan kalimat yang pelik atau menyelisihi akidah Ahlussunnah Asy’ariyyah atau Maturidiyyah secara umum.

          Hanya ada beberapa kalimat yang diperlukan penjelasan atau syarah:

          PERTAMA:
          Pada pasal pertama, Imam al-Muzani memulai dengan pembahasan:

          العلو : العالي [عال] على عرشه

          Kalimat ini bukan masalah dalam akidah Ahlussunnah Asy’ariyyah, karena uluw Allah memang terdapat nash-nya.

          Dan Ahlussunnah telah bersepakat methode tafwidh “serahkan makna yang dikehendaki kepada Allah” dan ta’wil sebagai pilihan manhaj interaksi nya dengan mutasyabihat.

          Ta’wilnya adalah uluw makanah “ketinggian derajat, kekuasan dan kedudukan Allah” bukan uluw jihah atas atau tempat “arah dan tempat atas”, karena Allah bersih dari tempat dan arah.

          Allah bersih dari tempat adalah ijma’ ulama’:

          واجمعوا على انه لايحويه مكان

          “Ulama’ Ahlussunnah ijma’ bahwa Allah tidak diliputi tempat” (Al-Farq Bainal Firaq).

          Allah bersih dari arah adalah akidah salaf:

          ولاتحويه الجهات الست

          “Allah tidak diliputi arah enam “termasuk atas” (Akidah Thahawiyah).

          Dalam naskah “manuskrip” Syarhus Sunnah yang lain, kata muhaqqiqnya Jamal Azzun, terdapat tambahan berikut:

          العالي (عال) على عرشه في مجده بذاته

          Lafaz ini populer juga diucapkan oleh Imam Ibn Abi Zaid al-Qairuwani.

          Tetapi Imam adz-Dzahabi dalam al-Uluw tegas memberikan kritik atas penambahan kalimat tersebut dan menganggap fudhul “tidak semestinya”, karena ijma’ ulama’ tentang tidak bolehnya menambah-nambah kan sifat yang datang dari Allah dan Rasul-Nya tanpa tambahan.

          Selain itu juga, penambahan tersebut masih meragukan “masykuk fih”, karena dalam dua manuskrip yang lain tidak ditemukan.

          KEDUA:

          Pada pertengahan pembahasan, Imam al-Muzani menyebut:

          بائن من خلقه

          Ucapan ini memang datang dari sebagian ulama’ salaf “tabi’it tabi’in” dan maknanya adalah “Allah tidak masuk ke dalam alam dan alam tidak masuk pada Allah” (al-Asma was Shifat, al-Baihaqi).

          Walaupun penisbatan kalimat “bain” kepada Allah ini sedikit kontroversial, tetapi pengertian nya tidak bersilang dengan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyyah.

          4. Isu Imam al-Muzani menentang ilmu kalam.

          Isu ini sebenarnya berada di luar topik pembahasan kitab Syarhus-Sunnah.

          Ringkasnya, ilmu kalam ada dua,…
          mamduh “terpuji” dan madzmum “tercela”.

          Ketika disebutkan celaan ulama’ salaf terhadap ilmu kalam, maka maksudnya adalah ilmu kalam yang madzmum, karena catitan sejarah menyebutkan, ulama’-ulama’ salaf seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan lain-lain juga menggunakan hujjah kalamiyyah.

          Dan sudah banyak jawapan ulama’ Ahlussunnah tentang ini.

          Wallahu A’lam.

          (Sumber: FB Ustaz Yunan A Samad)

          26/06/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

          Matikan Telefon Bimbit Ketika Solat

          1. Tidak mengapa seseorang itu mematikan telefonnya ketika solat dengan syarat dia menjaga pergerakkannya. Ini kerana ringtone telefon amat mengganggu jemaah lain untuk khusyuk.

          Rasulullah pernah menegur sahabat yang membaca al-Quran di dalam masjid dengan suara yang kuat kerana dikhuatiri mengganggu jemaah lain. Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Daud yang menyebutkan:

          اعتكف رسول الله صلى الله عليه وسلم في المسجد فسمعهم يجهرون بالقراءة فكشف الستر وقال : ألا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة – أو قال في الصلاة

          “Suatu hari Rasulullah beriktikaf di dalam masjid dan Baginda mendengar ada sahabat yeng menguatkan bacaan (al-Quran) mereka. Rasulullah lalu menyelak tabir Baginda dan berkata:

          Bukankah kamu semua sedang bermunajat kepada Allah? Janganlah ada sebahagian kamu menyakiti (mengganggu) yang lain. Jangan pula kamu tinggikan suara kamu di dalam bacaan (al-Quran kamu) (sebahagian riwayat menyatakan meninggikan suara ketika solat kamu).” (HR Abu Daud).

          2. Bayangkan, andai sekiranya perbuatan meninggikan suara ketika membaca al-Quran pun dilarang oleh Rasulullah kerana mengganggu ibadah jemaah yang lain, apatah lagi ringtone dengan lagu yang merosakkan tumpuan orang lain dalam solat mereka.

          3. Bagaimana pula pergerakan yang diharuskan ketika dalam solat untuk mematikan telefon? Seseorang itu diharuskan untuk melakukan pergerakan kecil atas tujuan yang dibenarkan oleh syarak. Beberapa hadith menunjukkan Rasulullah melakukan pergerakan kecil dalam solat atas keperluan yang diharuskan oleh syarak.

          4. Sebagai contoh Baginda pernah mendokong cucu Baginda yang bernama Umamah ketika Nabi sedang solat. Perkara ini direkodkan di dalam Sahih al-Bukhari yang menyebutkan:

          أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

          “Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah mendirikan solat sambil mendokong cucu Baginda bernama Umamah binti Zainab. Ketika Baginda ingin sujud, Baginda meletakkan Zainab dan ketika Baginda bangun, Baginda mengambil dan mendokongnya semula.” (HR al-Bukhari)

          5. Rasulullah juga dilihat pernah memindahkan orang di dalam solat. Perkara ini diceritakan oleh Abdullah ibn Abbas yang menyebutkan:

          قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَ بِرَأْسِي، فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ

          “Rasulullah pernah mendirikan solat pada satu malam lalu aku solat bersamanya. Aku berdiri disebelah kiri Rasulullah. Rasulullah lalu memegang kepalaku dan menarikku ke sebelah kanan Baginda.” (HR al-Bukhari)

          6. Rasulullah pernah membuka pintu ketika mendirikan solat sunat. Perkara ini diceritakan oleh Aisyah yang menyebutkan:

          اسْتَفْتَحْتُ الْبَابَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي تَطَوُّعًا وَالْبَابُ عَلَى الْقِبْلَةِ فَمَشَى عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ يَسَارِهِ، فَفَتَحَ الْبَابَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُصَلَّاهُ

          “Aku cuba membuka pintu ketika Rasulullah sedang mendirikan solat sunat. Dan ketika itu pintu tersebut berada di arah Kiblat. Maka Rasulullah bergerak ke kanan atau ke kiri, lalu Baginda membuka pintu tersebut. Kemudian kembali ke tempat solatnya lalu meneruskan solat Baginda.” (HR al-Nasa’i)

          7. Jika diperhatikan hadith di atas, pergerakan yang dilakukan oleh Rasulullah ketika solat tidak membatalkan solat Baginda. Menurut Mazhab Syafie, terdapat beberapa syarat yang mesti dijaga oleh seseorang bagi mengelakkan solatnya terbatal. Antaranya adalah tidak melakukan pergerakan yang banyak dan berturut-turut. Dan pergerakan tersebut diharuskan oleh syarak.

          Sekiranya seseorang itu boleh menjaga segala keperluan ini, maka pergerakan kecilnya untuk mematikan telefon adalah sesuatu yang harus. Membiarkan telefon berbunyi sehingga mengganggu jemaah lain adalah lebih dilarang.

          Semoga Allah membimbing kita.

          Dr. Ahmad Sanusi Azmi
          https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

          Masuk Neraka Kerana Kucing
          ==============
          1. Dahulu lagi Rasulullah berpesan, ada seorang wanita yang masuk ke neraka kerana menyeksa kucing. Hari ini kita menyaksikan sendiri bagaimana perlakuan tersebut dirakamkan. Tindakan seorang lelaki yang menjerut dan menggantung kucing tersebut sehingga mati adalah insiden yang sangat sadis.

          2. Hadith tersebut disampaikan kepada kita melalui bentuk penceritaan. Sabda Rasulullah:

          دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا ، فَلَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا ، وَلَا هِيَ أَرْسَلَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ ، حَتَّى مَاتَتْ هَزْلً

          “Seorang wanita masuk ke neraka kerana seekor kucing yang diikatnya, dia tidak memberinya makan, tidak juga dia membebaskan kucing tersebut untuk mencari makan dibumi ini, sehinggalah kucing tersebut mati kelaparan.

          3. Hadith ini mengingatkan kepada kita bagaimana satu perkara yang dianggap remeh oleh seseorang boleh mengheret dirinya ke neraka. Dengan sebab itu kita digesa untuk menjauhi segala kezaliman sekalipun dengan yang haiwan.

          4. Hadith ini turut menggambarkan kepada kita manusia boleh menjadi lebih kejam dari binatang. Rasulullah menggunakan contoh seorang perempuan yang sifat semulajadinya sepatutnya lembut dan penyayang. Namun, ia boleh jadi keras dan zalim sekiranya tidak dipandu dengan syarak.

          Moga Allah membimbing kita.

          Dr. Ahmad Sanusi Azmi
          https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

          14/06/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

          Zikir Hasbi Rabbi sesat?

          Ulasan Berkenaan Zikir Hasbi Rabbi

          Respons kepada FB Ustaz Zahazan Mohammad..
          Beliau mengambil artikel berkenaan dari Blog Abu Haseef. Siapa kah empunya blog berkenaan beliau adalah Ustaz Aizam Mas`od (Pegawai JAKIM yang sering terpalit dalam membidaahkan pihak lain)

          Intipati Artikel

          Panel Kajian Aqidah Bah. Hal Ehwal Islam, Jabatan Perdana Menteri (sekarang JAKIM) kali ke-7/1996 yang bermesyuarat pada 24 dan 25 Ogos 1996. Mesyuarat telah memutuskan bahawa zikir berkenaan (Hasbi Rabbi) mengandungi kalimah-kalimah yang bertentangan dengan konsep Islam. Di antaranya mengenai konsep Nur Muhammad. Mesyuarat bersetuju zikir berkenaan tidak diamalkan dan tidak disiarkan di media massa.

          Kemudian artikel itu didominasi sepenuhnya oleh penulisan Ustaz Aizam Mas`od selaku penulis artikel berkenaan. Di akhir artikel berkenaan beliau menyatakan “Bagaimanapun, keputusan Panel Aqidah JAKIM ini bukanlah keputusan fatwa yang mengikat mana-mana pihak, tetapi ia adalah nasihat dan penjelasan mereka kepada masyarakat awam berkenaan zikir tersebut”

          Permasalahan mengenai zikir Hasbi Rabbi tidak pernah dibincangkan oleh Majlis Fatwa Kebangsaan. Sedangakan Majlis Fatwa Kebangsaan lah yang paling layak dalam mengeluarkan FATWA jika timbul permasalahan hukum. Oleh itu, jelas bahawa MENGAMALKAN ZIKIR HASBI RABBI bukan lah satu permasalahan.

          Keputusan Panel Kajian Aqidah Bah. Hal Ehwal Islam, Jabatan Perdana Menteri (sekarang JAKIM) kali ke-7/1996 berkenaan Zikir Hasbi Rabbi itu adalah bersifat Nasihat Dan Penjelasan. DAN SECARA TOTALNYA, BAGI SIAPA YANG HENDAK BERAMAL DENGAN ZIKIR BERKENAAN TIDAK ADA MASALAH. Tiada larangan bagi yang hendak mengamalkannya selagi tidak ada Fatwa Pengharamannya.

          Persoalannya apa isu yang cuba disampaikan oleh Penulis blog Abu Haseef@ Ustaz Aizam?

          i. Pertama masalah yang timbul zikir itu TIDAK DATANG dari Nabi Muhammad dan perlu digantikan dengan rangkap @zikir lain.

          ii. Kedua persoalan yang timbul dari segi perbahasan Nur Muhammad.
          Jawapan balas kepada blog Abu Haseef:
          i. Pertamanya, mari kita dalami apa sebenarnya yang menjadi permasalahan tentang zikir tersebut. Jika dihayati maksud zikir tersebut TIDAK terdapat satu pun PERCANGGAHAN dengan dalil Al Quran dan As Sunnah. Maksud zikir tersebut:

          Hasbi Rabbi Jallallah
          Cukuplah Tuhan bagi ku Allah Maha Agung

          Mafi Qalbi Ghairullah
          Tiada di dalam hati ku kecuali Allah

          Nur Muhammad Sallallah
          Cahaya Muhammad selamat atas NYA

          Haqqul Laillahhaillallah
          Benarlah tiada Tuhan selain Allah..

          Dari rangkap pertama, kedua, ketiga hatta rangkap keempat sekalipun tiada suatu ayat atau frasa yang boleh MEROSAKKAN AQIDAH UMAT ISLAM. Jika di jelmakan kepada zahir kata kata, zikir ini merupakan:

          i. Zikir Pengakuan KeEsaan Allah,
          ii. Zikir berkenaan doa seorang Hamba supaya ALLAH mencampakkan rasa cinta dihati hamba NYA hanya kepada Allah.

          Walaupun zikir ini tidak sabit dengan Rasulullah SAW, tetapi terdapat dalil berkaitan betapa doa dan pujian pujian kepada ALLAH walaupun tidak datang dari Rasulullah tetapi Rasulullah tidak mencela malah memuji si pembaca doa yang memuji Allah.

          Dalilnya:
          “Anas bin Malik berkata:” Suatu ketika Rasulullah SAW bertemu dengan lelaki A’rabi (pedalaman) yang sedang berdoa dalam solatnya dan berkata: “Wahai Tuhan yang tidak kelihatan oleh mata, tidak dipengaruhi oleh keraguan, yang tidak dapat diterangkan dengan kata kata, tidak berubah mengikut waktu dan tidak pula oleh malapetaka; Tuhan yang mengetahui timbangan gunung, luasnya lautan, jumlah titisan air hujan, jumlah daun-daun pepohonan, jumlah segala apa yang ada di gelap malam dan terangnya siang, satu langit dan satu bumi tidak menghalanginya ke langit dan bumi yang lain, lautan tidak dapat menyembunyikan dasarnya, gunung tidak dapat menyembunyikan isinya, jadikanlah umur terbaikku pengakhirannya, amal terbaikku sebagai bekalnya dan hari terbaikku hari aku bertemu dengan-Mu.”

          Setelah laki-laki A’rabi itu selesai berdoa, Nabi SAW memanggilnya dan memberinya hadiah berupa emas dan beliau berkata kepada laki-laki itu: “Aku memberimu emas itu karena pujianmu yang sangat aku suka kepada Allah”.

          Hadith tersebut diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam al-Mu’jam al- Ausath (9447) dengan sanad hadith yang elok dan baik (Jayyid).

          Hadith ini menunjukkan bolehnya berdoa atau memuji Allah@ zikir yang belum pernah diajarkan oleh Nabi. Andai kata zikir memuji Allah itu, bahkan doa itu BERCANGGAH kenapa Nabi tidak menegur si lelaki yang berdoa dengan susunannya sendiri, juga tidak berkata kepadanya: “Mengapa kamu berdoa atau memuji Allah dengan doa@ pujian yang belum pernah aku ajarkan?”. Tetapi sebaliknya Nabi SAW memujinya dan memberinya hadiah kepada lelaki tersebut.

          Persoalan kedua berhubung Nur Muhammad yang menjadi perselisihan para Ulama. Insya Allah, disisi artikel ini akan menengahkan hujah berkenaan Nur Muhammad mengikut Al Quran. Dalilnya: firman Allah swt dalam Surah Al Maaidah ayat ke 4 yang bermaksud,”Sesungguhnya telah datang kepada kamu cahaya kebenaran (Nabi Muhammad s.a.w.) dari Allah dan sebuah Kitab (Al-Quran) yang jelas nyata keterangannya”.

          Sebahagian ulama menjelaskan maksud “Nur” di dalam ayat tersebut ialah MERUJUK kepada Nabi Muhammad s.a.w. Allah telah mendatangkan CAHAYA kebenaran iaitu Nur Muhammad dan sebuah Kitab iaitu Al Quran. Ini dinyatakan di dalam Tafsir al Tabarani, Ibnu Hatim dan Al Qutubi. Peristiwa ini juga berlaku di kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. dimana cahaya serta kelahiran baginda menerangi istana-istana Busyra Syam.

          Persoalan yang ditimbulkan oleh Panel Kajian Aqidah Bah. Hal Ehwal Islam, Jabatan Perdana Menteri (sekarang JAKIM) kali ke-7/1996 berkaitan dengan Nur Muhammad TELAH TERJAWAB apabila Majis Fatwa Kebangsaan telah mengeluarkan Fatwa pada tarikh 22 Jan, 2002 iaitu Fatwa Nur Muhammad Menurut Ahli Sunnah Wal Jamaah http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/nur-muhammad-menurut-ulama-ahlus-sunnah-wal-jamaah-0 .Secara muhibbahnya, keputusan Fatwa KLFNS/3/6/2002 adalah lebih wajar dipatuhi berbanding Mesyuarat Panel Kajian Aqidah kali ke 7/1996 yang dibuat keterbelakang iaitu pada tahun 1996. Dimana penegasan Fatwa iaitu dengan frasa seperti berikut Konsep “Nur Muhammad’ sebagaimana yang dipegang oleh sebahagian ulama mu’tabar, sewajarnya diletakkan dalam perkara khilafiyyah yang sepatutnya ditanggapi diterima dengan fikiran terbuka dan rasa tasamuh (berlapang dada) yang tinggi. Percaya atau tidak kepada hal yang demikian tidaklah merosakkan aqidah”. “Menyesatkan konsep ‘Nur Muhammad’ secara keseluruhan akan mengakibatkan hukuman sesat kepada ramai ulama mu’tabar yang menjadi sandaran ummat”.

          Oleh itu, teruskan beramal dengan Zikir Hasbi Rabbi… Jangan “terkesan” dengan fitnah akhir zaman. “Orang beriman dijadikan Musuh, Maksiat depan mata depa tersenyum, terdiam kaku”

          Maha benar la Firman Allah “”Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah (zikrullah) hati menjadi tenang”.(Ar-Ra’d ayat 28). Hakikatnya, zikir Hasbi Rabbi ini telah banyak memberi kesan yang mendalam bagi mereka yang keras hatinya. Dari muda hingga yang berusia semua terkesan apabila mendengarnya. Moga sentiasa dalam Hidayah Allah. Insya Allah. Wallahua`lam

          Puak puak wahabi nak fitnah apa.. suka hati ampa la.. Insya Allah, Allah bersama kami

          12/06/2019 Posted by | Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

          TAK ADA DALIL TAK BOLEH BERAMAL?

          Ada orang kata; Wajib tahu dalil baru boleh beramal, kalau takde dalil ertinya taqlid pada ulamak, ulamak bukan nabi sebab kita beramal mesti pastikan benda tu datang dari nabi. Benarkah kata mereka kita beramal kena bersumberkan al-Quran dan Hadith sahaja?

          Tapi dalam masa yg sama mereka menuduh ikut ulamak-ulamak mazhab sebagai salah seolah-olah ulamak-ulamak mazhab tu mereka-reka hukum.

          Baiklah. Mari kita tanya mereka 1001 soalan mengenai dalil amalan-amalan kita selama ini.

          Soalan ke 1001:
          Apa dalil (al-Quran atau al-Hadith) solat subuh 2 rakaat?

          Apa dalil (al-Quran atau al-Hadith) waktu subuh masuk dengan terbit fajar sadiq?

          Apa dalil (al-Quran atau al-Hadith) waktu subuh habis dengan terbit matahari?

          Terbit sebahagian matahari ke atau terbit seluruh bulatan matahari dan nyatakan dalilnya (al-Quran atau al-Hadith)?

          Apa dalil (al-Quran atau al-Hadith) boleh ikut taqwim waktu solat dan jam nak tahu subuh dah masuk ke tidak, bukan ke sepatutnya kena tengok fajar sadiq kat kaki langit?

          Sila kemukakan dalil Quran dan Hadith sahaja…

          Apa hukum orang yang solat fardhu subuh tapi tak tahu semua dalil Quran dan Hadith yang berkaitan tapi tahu melalui ulama je yang tak maksum? Tidak sahkah solat yg didirikannya?

          (Sumber: FB Ustaz Yunan A Samad)

          08/06/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

          PLURALISME AGAMA YANG MAKIN MEMBARAH DIBAWAH REGIM PH

          Oleh: Dr Riduan Mohamad Nor.

          Seperti bala senang menghempap tanah leluhur apabila fahaman neo muktazilah, Islam Inklusif atau Islam liberal sedang merayap dan mengukuhkan akarnya. Pluralisme agama di atas nama keharmonian kaum dan merapatkan jurang segregasi kaum adalah racun yang membunuh akidah. Simptom ini makin mencolek mata dan nurani kita semua yang beriman. Berdoa beramai-ramai dengan pelbagai fahaman agama diperkuburan bukan Islam, iftar jamaie di rumah ibadah bukan Islam, kongsi raya bahkan meletakkan semua agama menuju ke arah shurga dan semua agama menuju kearah kebenaran adalah fahaman jamak agama yang membaham kemuliaan Islam. Pluralisme agama adalah bayi dibidani daripada pemikiran neo muktazilah, dalam sejarahnya sangat bejat menyerang Indonesia semenjak zaman Bung Karno serta pintu banjir kesesatan Islam inklusif terbuka luas dizaman transisi pasca Mei 1998.

          Dengan terjahan dunia langit terbuka kelompok ini dengan aktif menebarkan sikap serta pandangan mereka, bahkan secara terbuka mengadakan bantahan awam untuk berekspresi akan tuntutan-tuntutan mereka. Mereka secara terbuka menyerang institusi agama negara ini serta berkolabarasi dengan sesiapa sahaja yang menyokong perjuangan mereka.

          Terjahan kepada Islam berlangsung sepanjang zaman dan menuntut umat Islam berdada dengan penyelewengan ini. Antara kebobrokan yang kian mendapat tempat dalam kalangan umat Islam yang jahil ialah fahaman Islam liberal, menyusup secara diam dan pantas dalam akar ummah di pelbagai posisi.

          Isu ini semakin menjadi hangat dengan pihak berkuasa agama melarang wacana Mustapha Akyol, seorang sarjana Turki yang ingin menebarkan fahaman agamanya kepada rakyat negara ini, kita melihat bagaimana kelompok Islam liberal negara ini bersungguh-sungguh mempertahankan kewajaran carafikir mereka.

          CIRI-CIRI FAHAMAN ISLAM LIBERAL

          1. Mereka menganut fahaman pluralisme

          Iaitu fahaman yang menyatakan bahawa semua agama adalah sama yakni benar belaka. Orang Islam tidak boleh meyakini bahawa hanya agama Islam sahaja yang benar. Sebaliknya mereka hendaklah mengiktiraf agama lain juga benar dan betul. Urusetia Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla dalam majalah Gatra (Indonesia) keluaran 21 Disember 2002 menyatakan: “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran”.

          Dengan fahaman inilah, maka lahirnya ideologi Pancasila di Indonesia. Darinya juga, penganut fahaman Islam liberal menyeru agar dibenar perkahwinan campur antara agama kerana semua agama adalah benar dan betul dan perkahwinan sebegini sememangnya telah diamalkan di Indonesia menunjukkan kejayaan besar golongan Islam liberal di sana. Di Malaysia, penularan fahaman pluralisme dapat dilihat dalam kes-kes berikut:

          a. Sambutan Kongsi-Raya iaitu menyambut perayaan agama secara bersama-sama di antara agama-agama di Malaysia (Islam, Hindu, Cina dan Kristian). Sekalipun telah ditegur oleh mufti dan para ulama dalam Muzakarah Ulamak 2006 (13 Jun) di Perak sebagai bertentangan dengan Islam, namun golongan Islam liberal menolak pandangan mufti dan ulama-ulama tersebut dan menuduh mereka jumud, kolot atau berpemikiran tertutup; dan

          b. Kerana terpengaruh dengan fahaman pluralisme inilah maka beberapa Menteri Muslim dan sebuah NGO muslim (iaitu Sisters In Islam) telah turut menyokong penubuhan InterFaith Council (IFC) atau Majlis/Suruhanjaya Antara Agama-Agama. Suruhanjaya Antara Agama ini dicadangkan oleh MCCBCHS atau Majlis Kristian Budha Hindu dan Sikh Malaysia melalui memorandum yang telah dihantar ke Majlis Peguam pada 21 Ogos 2001.

          2. Mendesak agar diberikan hak kebebasan murtad untuk penganut Islam di Malaysia

          Dalam isu murtad – seperti kes Lina Joy (yang nama asalnya Azlina Jailani), golongan Islam liberal di Malaysia antara yang mendesak agar penganut Islam diberi hak untuk murtad dari agama (Islam) tanpa sebarang tindakan undang-undang dan tanpa tertakluk dengan keputusan Mahkamah Syariah. Seorang peguam yang juga merupakan ahli Parlimen daripada parti kerajaan iaitu Zaid Ibrahim pernah mengungkapkan isu murtad ini dalam satu forum yang dianjurkan oleh SUHAKAM pada 9 September.

          Bagi kelompok Islam liberal yang jahil ini mereka berhujah bahawa hak untuk murtad menurut mereka adalah kebebasan beragama yang juga diakui oleh al-Quran. Mereka menyalah tafsirkan ayat Allah yang berbunyi; “Tidak ada paksaan dalam agama”. (Al-Baqarah; 256)

          Menurut tafsiran ulama tafsir yang muktabar, ayat di atas hanya terpakai bagi orang bukan Islam, yakni mereka tidak harus dipaksa untuk menganut Islam kecuali dengan kerelaan sendiri. Adapun bagi penganut Islam, maka mereka wajib beramal dengan segala tuntutan Islam termasuk tuntutan memelihara akidah dan iman.

          Dalam kes murtad, orang Islam yang keluar daripada agama akan dikenakan hukuman yang berat di akhirat dan di dunia. Hukuman di akhirat ia akan dihumbankan Allah dalam neraka untuk selama-lamanya.

          Adapun hukuman di dunia ia akan dibunuh sebagaimana yang sabit dengam dalil as-Sunnah yang sahih iaitu sabda Nabi SAW yang bermaksud: “Sesiapa menukar agamanya (yakni murtad), maka hendaklah kamu membunuhnya”. (Riwayat Imam Bukhari, Ahmad, Abu Daud dan lain-lain dari Ibnu Abbas).

          3. Ayat-ayat al-Quran perlu ditafsir semula agar selari dengan peredaran zaman

          Menurut golongan Islam liberal, al-Quran perlu ditafsir semula tanpa terikat dengan tafsiran ulama terdahulu. Tafsiran ulama terdahulu telah jauh ketinggalan dan tidak sesuai lagi untuk zaman sekarang. Dalam mentafsir al-Quran tidak perlu terikat dengan ilmu Asbabun-Nuzul, Nasikh wal Mansukh, tafsiran Rasulullah, para sahabat dan ahli-ahli tafsir terdahulu. Memadai menurut mereka tafsiran itu menepati logik akal dan rasional.

          “Semua umat Islam perlu kembali kepada asas-asas Islam dengan menolak tafsiran klasik (lama) yang telah ketinggalan zaman. Kepada umat Islam, kita menyeru supaya digerakkan usaha-usaha membuat tafsiran al-Quran berdasarkan kaedah saintifik”. (Kassim Ahmad, 12 Oktober 2000, News Straits Times)

          Jelasnya, golongan Islam liberal mengajak umat Islam kepada penafsiran ayat-ayat al-Quran berdasarkan ilmu akal semata-mata. Kerana itu mereka awal-awal lagi telah menolak hadis Nabi yang bermaksud, “Sesiapa yang mentafsir al-Quran dengan akal fikirannya semata-mata, maka sediakanlah tempat duduknya dari api neraka” dengan mendakwa hadis tersebut bercanggah dengan al-Quran yang menyeru manusia supaya berfikir, merenung dan menggunakan akal.

          4. Mempertikai syariat Allah dan hukum-hakam fiqh dengan hujah rasional

          Pada pandangan mereka hukum syariat Islam adalah ciptaan ulama dan fuqaha. Oleh itu, mereka menganggap syariat Islam tidaklah suci secara sepenuhnya dan ia terdedah kepada penilaian semula dan kritikan termasuklah hukum-hakam syariat yang qatie. Antara hukum-hakam syariat yang menurut pandangan mereka perlu dinilai semula ialah:

          a. Hukum faraid yang tidak sama rata antara lelaki dan wanita;

          b. Keharusan poligami bagi lelaki;

          c. Kewajipan bertudung kepala ke atas wanita;

          d. Hukuman bunuh ke atas orang murtad;

          e. Hukum jenayah hudud yang menurut mereka adalah pengaruh budaya Arab Jahiliyah;

          f. Larangan wanita daripada menjadi pemimpin termasuklah dalam solat;

          g. Hak mutlak suami untuk mencerai isteri;

          h. Larangan perkahwinan antara orang Islam dan bukan Islam; dan

          i. Undang-undang moral agama yang dikatakan melanggar hak asasi dan kebebasan manusia.

          Demi menjayakan hasrat mereka itu maka mereka menyeru kepada pembaharuan fiqh secara bebas tanpa perlu merujuk kepada ulama dan disiplin ilmu Usul Fiqh. Golongan Islam liberal menolak autoriti ulama dalam bidang agama. Mereka amat menekankan kebebasan berpendapat bahawa sesiapa sahaja berhak bercakap tentang agama.

          5. Menolak penguatkuasaan undang-undang moral agama

          Golongan Islam liberal menentang penguatkuasaan undang-undang moral berteraskan agama kerana menurut mereka undang-undang tersebut melanggar kebebasan dan hak asasi manusia.

          Sebagai contohnya, tindakan pihak berkuasa tempatan (PBT) dan Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (JAWI) suatu ketika dulu menahan para pengunjung Islam di pusat-pusat hiburan telah mendapat bantahan keras dari Sisters In Islam dan 50 NGO yang lain.

          Mereka telah mengemukakan memorandum kepada pihak kerajaan supaya tidak menggunakan pendekatan undang-undang untuk mengawasi akhlak rakyat kerana tindakan itu dianggap bercanggah dengan hak asasi manusia.

          Malah dalam satu kenyataannya SIS meminta pihak kerajaan agar membubarkan semua undang-undang agama yang menghalang rakyat daripada mengecapi hak asasi peribadi dan bersuara.

          Malahan pertubuhan itu juga tidak bersetuju dengan apa cara dan usaha menggunakan undang-undang untuk memelihara iman seorang muslim. Hal ini kerana persoalan yang berkaitan dengan moral dan agama dianggap sebagai hak peribadi dan kebebasan tersebut tidak seharusnya dikawal dengan menggunakan kuasa perundangan.

          Pasca PRU 14 ini akan menyaksikan banyak tuntutan kelompok pendokong Islam liberal dan pluralisme agama akan digemakan. Riak-riak kepongahan mereka semakin menyerlah,kerana turut merasakan mereka turut memberikan sumbangan kepada kemenangan PH baru- baru ini. Umat Islam mestilah mengambil cakna perkembangan semasa yang berlaku, menularkan fahaman neo muktazilah yang akan mengganggu kelestarian agama Islam dan penganutnya. Ahzab moden sedang mengepung ummat ini daripada segenap penjuru , dengan senjata fitnah mereka. Bangkitlah wahai ummat!

          (Penulis ialah AJK PAS Pusat, Pengerusi LESTARI)

          28/05/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

          Bitcoin – Adakah ia menepati Syariat?

          Dari Jabatan Mufti Wilayah Persekutuan

          Secara tuntasnya, setelah menilai pandangan ulama dan sarjana Islam berkenaan bitcoin, maka didapati mata wang ini tidak menepati ciri-ciri mata wang yang ditetapkan dalam Islam apabila ia tidak mampu menyimpan nilai secara konsisten. Meskipun masyarakat umum boleh menerimanya sebagai mata wang namun ketidakstabilan nilai pada mata wang ini boleh mengundang kemudaratan kepada pengguna pada masa akan datang.

          Selain itu, ketiadaan badan berautoriti yang mengawal selia mata wang ini juga boleh mengundang pelbagai perkara negatif seterusnya mampu mengganggu-gugat sistem mata wang rasmi dalam sesebuah negara.

          Berdasarkan pemerhatian terhadap amalan semasa, bitcoin lebih dilihat sebagai satu aset pelaburan, dan ia tidak menepati tujuan asal penciptaan bitcoin itu sendiri, iaitu sebagai mata wang alternatif kepada sistem mata wang fiat yang sedia ada.

          Justeru, tindakan menyekat penggunaan mata wang ini adalah wajar berdasarkan kepada kaedah Sadd al-Zarai’ (menutup jalan yang boleh membawa kepada kemudaratan) agar ia tidak berlegar di kalangan masyarakat umum. Sesuatu yang asalnya harus boleh dicegah apabila ia ternyata boleh membawa kemudaratan yang lebih besar.

          Pemerintah dan badan berautoriti juga berhak untuk menghalang sebarang transaksi bitcoin ini demi memelihara maslahah masyarakat umum. Perkara ini bertepatan dengan kaedah fiqh yang menyebut:

          تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

          Maksudnya: Tindakan seseorang pemerintah ke atas rakyat adalah berdasarkan kepada maslahah.

          Maka mata wang bitcoin dalam bentuk yang ada pada masa sekarang adalah tidak syar’iy kerana ia tidak menepati sepenuhnya ciri-ciri mata wang yang digariskan oleh Islam, dan ia mampu memberikan pelbagai ancaman terhadap kemaslahatan umum. Namun begitu, hukum ini boleh berubah jika penambahbaikan dilakukan terhadap bitcoin samada dari sudut pengeluaran, pengawalan harga, sistem keselamatan di bursa dan regulasi untuk mengelakkannya daripada diekploitasi oleh pihak tidak bertanggungjawab.

          Berdasarkan hujahan ini juga, Mesyuarat Perundingan Hukum Syarak Wilayah Persekutuan telah memutuskan bahawa Bitcoin yang terdapat pada masa sekarang tidak menepati ciri-ciri mata wang yang telah ditetapkan oleh Islam, diputuskan bahawa Bitcoin mampu mengundang pelbagai kemudaratan terhadap sistem kewangan sesebuah negara. Oleh kerana itu, penggunaan Bitcoin yang ada pada masakini sebagai satu mata wang adalah dilarang bagi memelihara kemaslahatan umum.

          Wallahu a’lam.

          Akhukum fillah,

          SS Dato’ Seri Dr. Zulkifli Bin Mohamad Al-Bakri

          Mufti Wilayah Persekutuan

          [1] Rujuk http://www.theedgemarkets.com/article/media-prima-hit-ransomware-attack-%E2%80%94-sources

          [2] Anwar Zainal Abidin. 2002. “Sejarah Penggunaan Mata Wang Dinar.” Ulum Islamiyyah. Kolej Universiti Islam Malaysia. Jld. 1. no. 1. hlm. 25. Lihat juga Zarra Nezhad, Mansour. 2004. “A Brief History of Money in Islam and Estimating the Value of Dirham and Dinar.” Review of Islamic Economics 8.2: hlm. 51-65. Lihat juga Wan Kamal Mujani. 2009. Sejarah Dinar Dari Zaman Pra Islam Sehingga Zaman ‘Uthmani. Bangi : IKRAB, UKM. hlm 9. Lihat juga Salmy Edawati Yaacob. 2009. “Sejarah Dinar Emas dan Kronologi Pertukaran Mata Wang Dunia.” Jurnal Al-Tamaddun 4 (2009): hlm. 107-127.

          [3] Anwar Zainal Abidin. 2002. “Sejarah Penggunaan Mata Wang Dinar.” hlm. 25; Wan Kamal Mujani. 2009. Sejarah Dinar Dari Zaman Pra Islam Sehingga Zaman ‘Uthmani. hlm. 9-10.

          [4] Wan Kamal Mujani. 2009. Sejarah Dinar Dari Zaman Pra Islam Sehingga Zaman ‘Uthmani. hlm. 10; Salmy Edawati Yaacob. 2009. “Sejarah Dinar Emas dan Kronologi Pertukaran Mata Wang Dunia.” hlm. 110.

          [5] Anwar Zainal Abidin. 2002. “Sejarah Penggunaan Mata Wang Dinar.” hlm. 26. Lihat juga al-Baladhuri, Futuh al-Buldan, hlm. 653.

          [6] Zarra Nezhad, Mansour. “A Brief History of Money in Islam and Estimating the Value of Dirham and Dinar.” hlm. 51-54. Anwar Zainal Abidin. 2002. “Sejarah Penggunaan Mata Wang Dinar.” hlm. 28.

          [7] Yaacob, Salmy Edawati. “Sejarah Dinar Emas dan Kronologi Pertukaran Mata Wang Dunia.” hlm. 112.

          [8] Ini juga sebagaimana yang disimpulkan oleh Anwar Zainal Abidin dalam kajiannya “Sejarah Penggunaan Mata Wang Dinar.” hlm. 48.

          [9] Ahmad S., & Yaacob, S. E. 2012. Dinar Emas Sejarah Dan Aplikasi Semasa. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia; Yaacob, Salmy Edawati. 2015. Dilema Dinar Emas. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia. Hlm. 68.

          [10] Al-Tabariy, Muhammad bin Jarir. tt. Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an. Dar Hijr. Jld. 12, hlm.

          [11] Al-Raghib al-Asfahani. tt. al-Mufradat fi Gharib al-Quran. Beirut: Dar al-Ma’rifah. Jld. 1, hlm.

          [12] Sahnun, Muhammad bin Said. tt. al-Mudawwanah al-Kubra. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Jld. 8, hlm. 305.

          [13] Al-Ghazali, Abu Hamid. tt. Ihya’ Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma’rifah. Jld. 4, hlm. 265.

          [14] Ibnu Taimiyyah, Taqiy al-Din Ahmad. Majmu’ al-Fatawa. Darul Wafa’. Cet. 3, Jld. 29, hlm. 471-

          [15] Ibnu al-Qayyim. 1973. I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-‘Alamin. Beirut: Dar al-Jil. Jld. 2, hlm. 157.

          [16] Ibn Khaldun, Abdul Rahman bin Muhammad. tt. al-Muqaddimah. t.tp: t.pt. Jld. 1, hlm. 215.

          [17] Nazim al-Syamri Muhammad Nuri. 1987. al-Nuqud wa al-Masarif. Beirut: Dar al-Kutub li al-Tiba’ah wa al-Nasyr. hlm. 142.

          [18] Ahmad S., & Yaacob, S. E. 2012. Dinar Emas Sejarah Dan Aplikasi Semasa. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia. hlm. 43-44.

          [19] al-Zuhaili, Wahbah. 1996. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (terj.). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Jld. 4, hlm. 652.

          [20] Mustafa Bugha et. al. 1992. al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Mazhab al-Imam al-Syafi’ie. Damsyiq: Dar al-Qalam. Jld. 6. hlm. 94-97.

          [21] Imam Muslim. tt. Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-`Arabi. Jil. 3, hlm. 1210, hadis no. 1584.

          [22] al-Zuhaili, Wahbah. 1996. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (terj.) Jld. 4, hlm. 653-654.

          [23] Imam Muslim. tt. Sahih Muslim.. Jil. 3, hlm. 1210, hadis no. 1587.

          [24] Imam al-Bukhari. tt. Sahih al-Bukhari. Dar Tuq al-Najat. Jil. 3, hlm. 74, hadis no. 2177.

          [25] Lihat keputusan Mesyuarat Majlis Penasihat Shariah (MPS) Bank Negara Malaysia Ke-179 bertarikh 22 Ogos 2017 bertajuk Penentuan Majlis Akad dan Serah Terima Bagi Bai` al-Sarf Dalam Operasi Kewangan Semasa yang dimuat naik di laman web Bank Negara Malaysia (www.bnm.gov.my). Akses pada 17 Januari 2018.

          [26] Ibid.

          [27] Edward Murphy et al, 2015, Bitcoin; Questions, Answers, and Analysis of Legal Issues, Congressional Research Service, hlm. 1

          [28] “What is Bitcoin?”(http://money.cnn.com/infographic/technology/what-is-bitcoin/) Dilawati pada 12 Januari 2018

          [29] http://fortune.com/2017/11/25/lost-bitcoins/“Exclusive: Nearly 4 Million Bitcoins Lost Forever, New Study Says” Dilawati pada 12 Januari 2018

          [30] Rujuk Satoshi Nakamoto, t.t, Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System, www.bitcoin.org

          [31]https://www.economist.com/news/business/21638124-minting-digital-currency-has-become-big-ruthlessly-competitive-business-magic “The magic of mining”- 13 January 2018

          [32] https://www.facebook.com/muamalat.my/posts/1414275821988496:0, dilawati pada 24 Januari 2018.

          [33] https://www.ccn.com/bitcoin-hits-new-yearly-low-volume-only-way-to-reverse-trend-is-a-big-spike/

          [34] http://www.independent.co.uk/life-style/gadgets-and-tech/news/bitcoin-price-live-updates-latest-value-exchange-rate-digital-cryptocurrency-futures-investment-a8147681.html“Bitcoin price – live updates on the volatile cryptocurrency”- 5 Januari 2018

          [35] https://www.reuters.com/article/us-bitcoin-mtgox-bankruptcy/mt-gox-files-for-bankruptcy-hit-with-lawsuit-idUSBREA1R0FX20140228 “Mt. Gox files for bankruptcy, hit with lawsuit”- 8 Januari 2018

          [36]