Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Polemik isu menyentuh anjing

Hukum menyentuh anjing.

Para ulama madzhab (Hanafi, Syafi’i dan Hanbali) sepakat bahwa air liur anjing najis kecuali Maliki yang berpendapat anjing tidak najis sama ada air liur atau bulunya.

Bagi kaum muslimin di Indonesia, Malaysia, Singapura, Yaman dan lainnya kebanyakan mengikuti madzhab Syafi’iyyah yang menghukumi najis seluruh bagian tubuh anjing jika disentuhnya dalam keadaan basah.

Asy-Syarbini mengatakan :

(وما نجس ) من جامد ولو بعضا من صيد أو غيره ( بملاقاة شيء من كلب ) سواء في ذلك لعابه وبوله وسائر رطوباته وأجزائه الجافة إذا لاقت رطبا ( غسل سبعا إحداهن ) في غير أرض ترابية ( بتراب )

“ – Dan apa yang najis – dari sesuatu yang padat walaupun sebagiannya dari buruan atau lainnya – karena besentuhan dengan bagian anjing – sama ada itu air liurnya atau kencingnya dan semua bagiannya yang basah dan anggota tubuhnya yang yang kering jika menyentuh sesuatu yang basah – maka mensucikannya tujuh kali saah satunya dengan tanah. “[1]

Artinya jika menyentuh anjing salah satunya (anjing atau yang menyentuh) sama ada tubuh, pakaian atau tempat dalam keadaan basah, maka menjadi najis dan mensucikannnya tujuh kali cucian salah satunya dicampur dengan tanah. Mafhumnya jika keduanya tidak basah, maka tidaklah najis.

Imam an-Nawawi berkata :

مذهبنا أن الكلاب كلها نجسة، المُعَلَّم وغيره، الصغير والكبير، وبه قال الأوزاعي وأبو حنيفة وأحمد وإسحاق وأبو ثور وأبو عبيد

“ Madzhab kami, mengatakan bahwa anjing seluruh bagiannya adalah najis, sama ada anjing terlatih atau bukan, kecil ataupun besar. Pendapat ini juga dikatakan oleh al-Awza’i, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Abu Tsaur dan Abu Ubaid “.[2]

Syaikhul Islam Zakariyah al-Anshari mengatakan :

والكلب ولو معلما لخبر الصحيحين «إذا ولغ الكلب في إناء أحدكم فليرقه ثم ليغسله سبع مرات» ولخبر مسلم «طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب»وجه الدلالة أن الماء لو لم يكن نجسا لما أمر بإراقته لما فيها من إتلاف المال المنهي عن إضاعته وأن الطهارة إما عن حدث أو نجس ولا حدث على الإناء فتعينت طهارة النجس فثبت نجاسة فمه وهو أطيب أجزائه بل هو أطيب الحيوان نكهة لكثرة ما يلهث فبقيتها أولى

“…(najis juga) anjing walaupun terlatih karena ada dua hadits sahih, “ Jika anjing menjilat bejana salah seorang kalian, maka tumpahkanlah dan cuicilah tujuh kali “, dan juga hadits Muslim : ““Sucinya bejana di antara kalian yaitu apabila anjing menjilatnya adalah dengan dicuci tujuh kali dan awalnya dengan tanah.” Sisi pendalilannya adalah sesungguhnya air itu tidak menjadi najis, maka niscaya tidak akan diperintahkan menumpahkannya karena termasuk membuang harta yang terlarang untuk dihilangkan. Dan sesungguhnya bersuci itu adakalanya karena sebab hadats atau najis, sedangkan tidak ada istilah hadats pada bejana, maka menjadi nyata bahwa itu adalah membersihkan dari najis. Maka nyatalah kenajisan mulut anjing tersebut, dan mulut adalah anggota tubuh yang paling bagus bahkan ia paling bagusnya bau mulut hewan karena seringnya menjulurkan lidahnya, maka anggota tubuh lainnya lebih utama (untuk dihukumi najis) “.[3]

Dari teks di atas diketahui sisi pendalilan atas kenajisan seluruh bagian tubuh anjing yaitu :

– Dari hadits sahih di atas, dapat dipahami bahwa jika air itu tidak najis maka tidak akan diperintahkan untuk ditumpahkan, karena air termasuk harta yang dilarang untuk dibuang sia-sia.

– Mensucikan sesuatu adakalanya karena najis atau hadats, sedangkan bejana tidak mungkin ada hadatsnya, maka perintah mensucikan bejana tersebut tidak ada lain karena adanya najis.

– Mulut adalah anggota tubuh yang paling bagus, jika mulut bagian tubuh yang paling bagus pada anjing dinilai najis, maka bagian tubuh lainnya lebih patut dinilai najis.

Imam an-Nawawi mengatakan :

قال البيهقي: أجمع المسلمون على نجاسة بول الكلب” وكذلك بول وغائط جميع الحيوانات مما لا يؤكل لحمه

“ Imam al-Baihaqi mengatakan, “ Para ulama sepakat (ijma’) atas najisnya kencing anjing “, demikian juga kencing dan kotoran semua hewan yang haram dimakan dagingnya “.[4]

Adapun hadits :

كَانَتِ الْكِلَابُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

“ Konon anjing-anjing di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kencing dan berlalu di masjid, para sahabat tidak ada yang memercikkan sedikitpun dari itu semua “.

Maka jawabannya adalah : Najis anjing sudah ijma’ para ulama. Sedangkan kasus di atas adalah begini; asal bumi ini adalah suci, maka kapan saja kita tidak mengetahui, apakah bumi masjid itu terkena najis anjing atau tidak, maka kita hukumi dengan yakin yaitu tidak adanya wujud najis tersebut, bumi telah Allah jadikan sebagai masjid (layak untuk tempat sujud). Dan kita tidak dibebankan untuk meneliti bekas-bekas anjing di dalamnya.

Dalam hadits sahih Muslim pun disebutkan :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم أَصْبَحَ يَوْمًا وَاجِمًا، فَقَالَتْ مَيْمُونَةُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدِ اسْتَنْكَرْتُ هَيْئَتَكَ مُنْذُ الْيَوْمِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : ” إِنَّ جِبْرِيلَ كَانَ وَعَدَنِي أَنْ يَلْقَانِي اللَّيْلَةَ فَلَمْ يَلْقَنِي أَمَ وَاللَّهِ مَا أَخْلَفَنِي “، قَالَ : فَظَلَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَوْمَهُ ذَلِكَ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ وَقَعَ فِي نَفْسِهِ جِرْوُ كَلْبٍ تَحْتَ فُسْطَاطٍ لَنَا، فَأَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهِ مَاءً، فَنَضَحَ مَكَانَهُ فَلَمَّا أَمْسَى لَقِيَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ لَهُ قَدْ كُنْتَ وَعَدْتَنِي أَنْ تَلْقَانِي الْبَارِحَةَ قَالَ أَجَلْ وَلَكِنَّا لَا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ فَأَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ فَأَمَرَ بِقَتْلِ الْكِلَابِ حَتَّى إِنَّهُ يَأْمُرُ بِقَتْلِ كَلْبِ الْحَائِطِ الصَّغِيرِ وَيَتْرُكُ كَلْبَ الْحَائِطِ الْكَبِيرِ

“ Sesungguhnya pada suatu pagi Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam kelihatan diam karena susah dan sedih. Maimunah berkata; “Ya, Rasululloh! Aku heran melihat sikap Anda sehari ini. Apa yang telah terjadi?” Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Jibril berjanji akan datang menemuiku malam tadi, ternyata dia tidak datang. Ketahuilah, dia pasti tidak menyalahi janji denganku! ‘ Demikianlah Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam senantiasa kelihatan susah dan sedih sehari itu. Kemudian beliau melihat seekor anak anjing di bawah tempat tidur kami, lalu beliau menyuruh keluarkan anak anjing itu. Kemudian diambilnya air lalu dipercikinya (bekas-bekas) tempat anjing itu. Ketika hari sudah petang, Jibril datang menemui beliau. Kata beliau kepada Jibril: ‘Anda berjanji akan datang pagi-pagi.’ Jibril menjawab; ‘Benar! Tetapi kami tidak dapat masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar-gambar.’ Pada pagi harinya Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan supaya membunuh semua anjing, sampai anjing penjaga kebun yang sempit, tetapi beliau membiarkan anjing penjaga kebun yang luas.’ (HR. Muslim)

Dari hadits di atas, diketahui bahwa seandainya anjing tidak najis, maka Nabi tidak akan memercikkan bekas-bekas tempat anjing tersebut dengan air.

Dengan ini bagi kami yang paling rajih adalah pendapat yang menghukumi kenajisan seluruh bagian anjing jika disentuhnya dalam keadaan basah salah satunya. Maka tidak sepatutnya memaksa kami mengikuti pendapat sebalilknya, apatah lagi kaum muslimin Malaysia, Indonesia dan lainnya mayoritas mengikuti pendapat Syafi’iyyah, sepatutnya mereka menghormati pendapat ini yang sudah dipegang selama puluhan tahun secara turun menurun. Apakah pengikut Syafi’iyyah atau Hanbaliyyah boleh memaksakan penduduk Libia yang mayoritas bermadzhab Maliki untuk mengikuti pendapatnya saat berada di Libia ? tentu akan terjadi konflik bila hal ini terjadi.

Kalau pun masing-masing pendapat masih samar mana yang rajih, maka yang patut dipegang dan diambil adalah pendapat yang lebih mendekati kehati-hatian dalam Agama. Karena melaksakan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

دع ما يريبك إلى ما لا يريبك

“ Tinggalkan apa yang membuatmu ragu kepada apa yang tidak membuatmu ragu “. (HR. At-Turmudzi)

Hukum menyentuh anjing tanpa adanya keperluan.

Lalu bagaimana hukumnya jika menyentuh anjing tanpa adanya hajat atau keperluan ?

Jika kita yakin tangan kita atau anjing itu tidak basah alias kering, maka hukumnya tidak najis dan boleh namun makruh. Namun jika tangan kita basah dan sengaja menyentuh anjing, maka jelas hukumnya najis dan haram karena ada unsur kesengajaan menyentuh najis. Imam al-Malibari mengatakan :

(ولا يجب اجتناب النجس) في غير الصلاة ومحله في غير التضمخ به في بدن أو ثوب فهو حرام بلا حاجة

“ – Dan tidak wajib menjauhi Najis – di selain sholat dan tempatnya, kecuali di selain melumurkan najis pada badan atau pakaian, maka perbuatan itu adalah haram “.[5]

Imam An-Nawawi al-Bantani mengatakan :

والمقصد الرابع  من مقاصد الطهارة إزالة النجاسة وإزالتها واجبة إلا في النجاسة المعفو عنها وهي على الفور إن عصى بها كأن تضمخ بها لغير حاجة

“ Tujuan yang keempat dari tujuan-tujuan bersuci adalah menghilangkan najis. Menghilangkan najis hukumnya wajib kecuali pada najis yang dimaafkan, dan mensucikan najis itu dilakukan dengan segera jika terkena najis dengan berdosa seperti melumurkan dengan najis tanpa adanya hajat “.[6]

Hukum memelihara anjing.

Memelihara anjing hukumnya haram kecuali jika ada tujuan-tujuan yang dibenarkan Syare’at seperti menjaga tanaman, ternak atau buruan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنِ اقْتَنَى كَلبًا إِلاَّ كَلْبَ مَا شِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَيْدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمِ قِيْرَاطُ

Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak dan anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak satu qirâth (satu qirâth adalah sebesar gunung Uhud).” [HR. Muslim no. 2941].

Imam an-Nawawi mengatakan :

رخص النبي صلى الله عليه وسلم في كلب الصيد وكلب الغنم، وفي الرواية الأخرى وكلب الزرع ونهى عن اقتناء غيرها، وقد اتفق أصحابنا وغيرهم على أنه يحرم اقتناء الكلب لغير حاجة، مثل أن يقتني كلباً إعجاباً بصورته أو للمفاخرة به، فهذا حرام بلا خلاف

“ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringangan pada anjing buruan dan anjing penjaga ternak, dalam riwayat yang lain, anjing penjaga tanaman dan melarang memelihara anjing dari selain tujuan itu. Para sahabat kami dan lainnya telah sepakat bahwa haram memelihara anjing tanpa ada hajat (keperluan) seperti memelihara anjing karena kagum dengan bentuknya atau karena untuk bangga-banggaan, maka ini semua haram tanpa khilaf “.[7]

Al-Hafidz Ibnu Hajar menaqal pendapat Ibnu Abdil Barr yang menghukumi makruh menjadikan anjing untuk selain kepentingan seperti dalam hadits, namun sebenarnya itu diqiyaskan pada makna buruan dan sesuatu yang dapat menarik manfaat dan mencegah bahaya, kemudian Ibnu Abdil Barr melanjutkan :

وفي قوله : نقص من عمله – أي من أجر عمله – ما يشير إلى أن اتخاذها ليس بمحرم ، لأن ما كان اتخاذه محرما امتنع اتخاذه على كل حال سواء نقص الأجر أو لم ينقص ، فدل ذلك على أن اتخاذها مكروه لا حرام

“ Dan ucapan ; “ Berkurang dari amalnya “ maksudnya dari pahala amalnya “, ini mengisyaratkan bahwa menjadikannya (binatang peliharaan) tidaklah haram, karena setiap yang menjadikannya dihkumi haram, maka dilarang juga menjadikannya dalam keadaan apapun, sama ada pahalanya berkurang ataupun tidak. Maka hal itu menunjukkan bahwa menjadikannyanya hukumnya adalah makruh bukan haram “.[8]

Akan tetapi al-Hafidz Ibnu Hajar membantahnya :

وما ادَّعاه من عدم التحريم واستند له بما ذكره ليس بلازمٍ ، بل يحتمل أنْ تكون العقوبة تقع بعدم التوفيق للعمل بمقدار قيراط مما كان يعمله من الخير لو لم يتخذ الكلب. ويحتمل أن يكون الاتخاذ حراماً، والمراد بالنقص أن الإثم الحاصل باتخاذه يوازي قدر قيراط أو قيراطين من أجر فينقص من ثواب المتَّخذ قدر ما يترتب عليه من الإثم باتخاذه وهو قيراط أو قيراطان

“ Apa yang diklaim Ibnul Abdil Barr dari tidak haramnya hal itu dan bersandar dengan apa yang telah ia sebutkan tadi, tidaklah lazim. Bahkan berkemungkinan hukuman (kurang satu atau dua qirath) terjadi dengan tidak mendapat taufiq untuk beramal pada kadar satu qirath daripada amalam-amalan baiknya walau tidak memelihara anjing sekalipun. Dan berkemungkinan memelihara anjing itu adalah haram, dan apa yang dikehendaki dengan pengurangan ialah dosa yg terhasil dengan memelihara anjing adalah bersamaan kadar satu atau dua qirath daripada pahala, maka pahala pemelihara anjing berkurang pada kadar apa yang ditetapkan ke atasnya daripada dosa kerana memeliharanya iaitu satu atau dua qirath.“.[9]

Maka kesimpulannya adalah memelihara anjing tanpa adanya hajat seperti yang disebutkan dalam hadits yaitu untuk menjaga ternak, tanaman atau untuk berburu atau untuk sesuatu yang semakna misal menjaga rumah, maka pendapat yang mu’tamad dan diikuti mayoritas ulama hukumnya adalah haram.

Sebuah penelitian kedokteran membuktikan bahwa anjing dapat menyebarkan banyak penyakit ; Prof. Thabârah dalam kitab Rûh ad-Dîn al-Islâmi menyatakan, “ Di antara hukum Islam bagi perlindungan badan adalah penetapan najisnya anjing. Ini adalah mu’jizat ilmiyah yang dimiliki Islam yang mendahului kedokteran modern. Kedokteran modern menetapkan bahwa anjing menyebarkan banyak penyakit kepada manusia, karena anjing mengandung cacing pita yang menularkannya kepada manusia dan menjadi sebab manusia terjangkit penyakit yang berbahaya, bisa sampai mematikan. Sudah ditetapkan bahwa seluruh anjing tidak lepas dari cacing pita sehingga wajib menjauhkannya dari semua yang berhubungan dengan makanan dan minuman manusia “.[10]

Tidak selayaknya seorang muslim mengikuti cara orang-orang kafir; berlari bersama anjing, menyentuh mulutnya atau menciumnya yang dapat menyebabkan berbagai penyakit.

Bukan berarti Islam berpandangan jahat terhadap anjing, justru Islam lah agama yang paling mengerti hak-hak binatang dan paling kasih sayang terhadap binatang apapun. Namun Islam juga memberikan aturan semuanya untuk kemaslahatan umat manusia supaya sehat dunia akherat dan selamat dunia akherat.

Oleh: Ibnu Abdillah al-Katibiy

Kota Santri, 22-10-2014

Sumber: http://www.aswj-rg.com/2014/10/menjawab-polemik-isu-anjing.html


[1] Mughni al-Muhtaj : 1/239

[2] Al-Majmu’ : 2/585

[3] Syarh al-Bahjah al-Wardiyyah : 1/135

[4] Al-Majmu’ : 2/524

[5] Fath al-Mu’in : 11

[6] Nihayah az-Zain : 44

[7] Al-Majmu’ : 2/599

[8] Fath al-Bari : 8/5, lihat juga at-Tamhid : 14/221

[9] Fath al-Bari : 8/5

[10] Taudhîhul-Ahkam, Syaikh Ali Bassâm, 1/137

23 October 2014 Posted by | Uncategorized | , | Leave a comment

Pesta pegang anjing undang polemik

SEHARI dua ini nampaknya isu pesta anjing atau program ‘I Want To Touch A Dog’ pula menduduki carta teratas bahan polemik dan perbahasan terhebat, bukan sahaja di media perdana juga media sosial. Belum pun surut isu pesta arak Octoberfest kini umat diajak berpolemik dengan satu lagi isu yang sebenarnya mudah membangkit amarah umat Islam di Malaysia.

Semacam rakyat negara ini sudah tidak lagi terangsang untuk membicarakan isu-isu negara atau agenda ummah yang lebih besar hingga sering kali diajak berpolemik dengan perkara-perkara picisan yang hakikatnya tidak membangunkan minda dan jiwa.

Sehingga hari ini penulis sendiri sukar menerima rasional yang diberikan penganjur ‘pesta memegang anjing’ yang dianjurkan Ahad lalu itu. Antaranya justifikasi yang diberikan termasuklah menghilangkan perasaan ‘fobia’ atau rasa takut mahupun jijik terhadap anjing yang juga makhluk ALLAH.

Mungkin niat penganjur adalah baik tetapi pada masa sama mereka seharusnya memahami sensitiviti umat Islam secara majoritinya. Malah menurut Syed Azmi Alhabshi ketua penganjur, apabila dimuat-naik bahan publisiti program tersebut ke dalam Facebook, beliau menerima pelbagai kritikan dan celaan.

Sudah tentu program yang menggalakkan menyentuh anjing, mengundang kontroversi terutama dalam masyarakat Islam Malaysia yang secara tradisinya sudah lama berpegang kepada Mazhab Syafie yang mengklasifikasikan anjing sebagai najis berat (mughallazah).

Bagi yang mempertahankan program ini, ada yang berhujah mengatakan tiada salahnya memegang anjing kerana ia juga makhluk ciptaan ALLAH. Lagipun anjing terkenal sangat patuh pada tuannya.

Walau bagaimanapun perlu diingatkan hukum-hakam agama tidak boleh sewenang-wenangnya dirasionalkan dengan pemikiran akal dan perasaan manusia. Prinsip Islam yang mesti dipegang oleh setiap penganutnya harus sentiasa berpandukan nas dan dalil al-Quran, As-Sunnah, Ijmak dan Qiyas yang tepat dan sahih.

Sebab itulah apabila menyentuh isu kenajisan anjing, Nabi SAW diriwayatkan dalam Sahih Muslim dengan sabdanya: “Cara penyucian bekas salah seorang daripada kamu, apabila ia dijilat anjing ialah dengan membasuhnya sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan tanah”.

Perkataan ‘tohur’ dalam hadis ini memberi maksud cara menyucikan atau menyucikan, yang secara jelas menunjukkan sifat anjing itu sendiri yang najis lantaran penyucian hanya diperlukan untuk zat yang bernajis sahaja.

Para ulama kalangan fukaha juga menggunakan kaedah qiyas untuk menyamakan hukum dan cara basuhan bukan hanya tertakluk pada bekas jilatan anjing sahaja, bahkan seluruh tubuh anjing. Ini kerana lidah dan mulut adalah anggota utama dalam seekor haiwan yang tanpanya haiwan tentu akan mati kerana tidak boleh makan mahupun minum. Justeru jika air liur yang keluar daripada lidah dan mulut adalah najis maka sudah tentu seluruh badan yang mengeluarkan peluh adalah najis juga.

Sebab itulah menurut mazhab Syafie, perbuatan menyentuh anjing secara sengaja tanpa sebab munasabah adalah haram. Perbuatan ini disebut dalam perbahasan fekah dengan istilah ‘Al-Tadhammukh Bi Al-Najasah’. Imam Muhammad Al-Ramli dalam kitabnya Nihayah al-Muhtaj menyebutkan bahawa perbuatan meletakkan atau menyentuh najis pada anggota badan adalah haram.

Pandangan ini adalah yang mewakili majoriti fukaha secara jumhur. Sebahagian lain menghukumkannya makruh. Namun yang pasti perbuatan memegang najis mughallazah tanpa keperluan yang mendesak seperti untuk menyelamatkannya adalah amat tidak digalakkan.

Ada juga yang berhujah mengatakan bahawa yang dikatakan najis apabila terkena badan anjing yang basah mahupun najis dan air liurnya. Maka jika kena pun boleh disamak. Dengan kata lain, kalau hendak memegang najis tiada salahnya, yang penting dibasuh bila hendak mengerjakan ibadah.

Hujah sebegini sekali lagi tidak berpandukan suluhan ilmu fekah yang sahih. Jika hujah ini nak diguna pakai maka tidak ada salahnya jika kita melumurkan najis di atas badan kita kemudian dibersihkan pula. Tindakan sebegini samalah seperti mereka yang sengaja melakukan dosa dengan alasan boleh bertaubat kemudiannya.

Sebab itulah bagi penulis kalau nak diperdebatkan masalah hukum memang boleh membuka kepada polemik perbahasan fekah yang panjang dan tidak perlu. Banyak lagi isu dan agenda besar umat yang perlu diutamakan daripada berbalah mengenai haiwan.

Penganjur seharusnya ada rasa tanggungjawab dengan menilai sama ada perbuatan mereka itu lebih banyak manfaat atau kemudaratan dan fitnah. Sebab itulah dalam Islam, kita diajar untuk memahami prinsip ‘maalaatul af’aal’ atau penilaian kesan terhadap setiap perbuatan.  Kalau kesannya lebih buruk seperti yang tercetus hari ini dalam isu pesta memegang anjing ini, tentulah apa sahaja niat yang baik tidak memberi apa-apa makna lagi.

Oleh: DR ASYRAF WAJDI DUSUKI

* Penulis ialah Yang Dipertua Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (Yadim)

Dipetik dari Sinar Harian

22 October 2014 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | , | Leave a comment

Kenali berbagai-bagai tabiat haiwan yang ada di dalam jiwa insan, agar kita tidak bersifat demikian.

 

1. Tabiat babi, buruk makan dan sangat membawa dan menyebar kekotoran.

2. Tabiat anjing adalah tamak, apa sahaja hendak dijadikan rebutan. Akhirnya berkelahi sesama manusia macam anjing berebut tulang.

3. Tabiat kuda, suka menendang. Menggambarkan keangkuhan dan kesombongannya.

4. Tabiat lembu atau kerbau bodohnya dan bebal payah diajar. Di dalam bodoh-bodoh pun suka menanduk sekalipun tuannya sendiri.

5. Tabiat musang, suka menipu daya. Kerja musang mencuri dan memakan ayam-ayam dan buah-buahan di kebun orang. Begitulah manusia yang bersifat musang suka sahaja menipu orang.

6. Tabiat singa, garang dan menerkam. Itulah gambaran manusia yang suka menzalim dan menganiaya orang tanpa belas kasihan. Yang penting dapat memakan mangsanya agar perut kenyang.

7. Tabiat ular sawa, apabila sudah kenyang, tidak dapat aktif lagi. Suka tidur-tidur sahaja. Begitulah manusia, apabila terlalu kenyang malas pun tiba. Suka tidur dan rehat-rehat sahaja.

 

Sumber: Mohd Fadli Yusof

21 October 2014 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , , , , , , | Leave a comment

Pendalilan anjing adalah najis mengikut Mazhab Asy Syafie

Sumber pendalilan anjing adalah najis mengikut Mazhab Asy Syafie sebagaimana dalam hadith :

1. Apabila anjing menjilat mangkuk kamu, maka tumpahkanlah air yang di dalamnya dan basuhlah mangkuk itu 7 kali. (Hadith sahih riwayat Muslim)

2. Apabila menjilat anjing akan mangkukmu, maka basuhlah mangkuk itu 7 kali yang pertama dengan tanah (Hadith sahih riwayat Muslim)

3. Apabila anjing menjilat mangkukmu , maka basuhlah mangkuk itu 7 kali, yang paling akhir dengan tanah (Riwayat Muslim)

4. Apabila menjilat anjing akan mangkukmu, maka basuhlah mangkuk itu 7 kali, salah satunya dengan tanah (Hadith riwayat Muslim)

5. Kebersihan mangkuk kamu apabila dijilat anjing harus dicuci antaranya dengan tanah (Riwayat Muslim)

6. Kalau anjing minum di mangkukmu maka cucilah mangkuk itu 7 kali (Hadith riwayat Imam Bukhari, lihat Fathul Bari jilid 1, halaman 286)

7. Dari Ibnu Mas’ud al Ansari beliau berkata : Bahawasanya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam melarang menerima harga anjing, wang kerana zina dan upah tukang tenung. (hadith riwayat Imam Bukhari, lihat Fathul Bari jilid 5, halaman 331)

8. Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu : Melarang Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam menerima harga anjing. Dan Nabi bersabda kalau datang orang meminta harga anjing maka penuhilah telpak tangannya dengan tanah (Hadith riwayat Abu Daud, lihat Fathul Bari jilid 5, halaman 331).

9. Tidak masuk malaikat ke rumah yang ada di dalamnya anjing dan gambar (patung) (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

10. Barangsiapa menyimpan anjing, terkecuali anjing pemburu atau pengembala, maka dikurangkan pahala amalannya dua kirat satu hari (Riwayat Imam BUkhari dan Muslim)

Pandangan dalam Mazhab Asy Syafie mengenai kenajisan Anjing :

Imam Asy Syafie :

Kitab al Umm – Kalau minum pada mangkuk itu anjing atau babi maka tidaklah bersih mangkuk itu kecuali kalau dibasuh 7 kali (Al Umm, juzu’ 1, halaman 6)

Imam An Nawawi :

Dalam kitab Minhaj menerangkan : Najis itu ialah sekalian benda yang cair yang memabukkan, anjing, babi dan anak-anak yang lahir dari keduanya, bangkai (selain mayat manusia, ikan dan belalang), darah, nanah, muntah, tahu, kencing, mazi, wadi, mani (selain mani manusia) dan mani haiwan yang tidak dimakan.

Imam Ramli :

Dalam kitab Nihayah : Dan yang najis juga anjing walaupun anjing yang sudah terdidik. (Nahayah, juzu’ 1, halaman 218)

Syeikh Yusuf Ardabili :

Najis-najis itu ialah khamar, sekalian yang membuatkan mabuk, anjing babi dan anak yang terbit dari keduanya… (Al Anwar, juzu’ 1, halmaan 6)

Imam Khatib Syarbaini :

Dan yang najis juga adalah anjing, walaupun anjing terdidik, kerana hadith yang tersebut dalam kitab Muslim (Mughni, Juzu’ 1, halaman 78)

Wajib bagi seorang Muslim agar menjauhi najis dan menyentuhnya di setiap waktu dan keadaan sama ada di dalam solat atau di luar solat maka dalam hal ini segolongan ahli ilmu mengatakan memegang najis tanpa keperluan (yang diizinkan syarak seperti beristinjak) adalah diharamkan walaupun di luar solat iaitu secara sengaja.

(Tuhfah al Muhtaj fi Syarh al Minhaj 1/481)

Disahkan hukum ini oleh Imam Nawawi, rafie dan kesemua muta’akhirin.

Sumber: Ustaz Zamihan Al-Ghari

20 October 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Malaikat Rahmat Tidak Akan Memasuki Rumah yang Didalamnya Terdapat Gambar, Patung dan Anjing

 

Rasulullah bersabda: “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing (2), juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [Hadits sahih Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah]

Islam adalah agama yang mencintai kebersihan sehingga mengingatkan bahayanya memiliki anjing, bahkan melarang memelihara anjing kecuali untuk kepentingan penjagaan keamanan atau pertanian. Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing [1] dan pahala pemilik anjing akan susut atau berkurang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda (yang artinya) : “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing (2), juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [Hadits sahih ditakhrij oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah yang semuanya dari Abu Thalhah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahihul-Jami’ No. 7262]

Rasulullah bersabda (yang artinya) : “ Sesungguhnya malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing” [Hadits sahih ditakhrij oleh Thabrani dan Imam Dhiyauddin dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat pula Shahihul Jami’ No. 1962]

Rasulullah bersabda (yang artinya) : “ Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)” [Hadits sahih ditakhrij oleh Ibnu Majah dan lihat Shahihul Jami’ No. 1961]

Ibnu Hajar (3) berkata : “Ungkapan malaikat tidak akan memasuki….” menunjukkan malaikat secara umum (malaikat rahmat, malaikat hafazah, dan malaikat lainnya)”. Tetapi, pendapat lain mengatakan : “Kecuali malaikat hafazah, mereka tetap memasuki rumah setiap orang karena tugas mereka adalah mendampingi manusia sehingga tidak pernah berpisah sedetikpun dengan manusia. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ibnu Wadhdhah, Imam Al-Khaththabi, dan yang lainnya.

Sementara itu, yang dimaksud dengan ungkapan rumah pada hadits di atas adalah tempat tinggal seseorang, baik berupa rumah, gubuk, tenda, dan sejenisnya. Sedangkan ungkapan anjing pada hadits tersebut mencakup semua jenis anjing. Imam Qurthubi berkata : “Telah terjadi ikhtilaf di antara para ulama tentang sebab-sebabnya malaikat rahmat tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing. Sebagian ulama mengatakan karena anjing itu najis, yang lain mengatakan bahwa ada anjing yang diserupai oleh setan, sedangkan yang lainnya mengatakan karena di tubuh anjing itu menempel najis.

Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian dengan Jibril bahwa Jibril akan datang. Ketika waktu pertemuan itu tiba, ternyata Jibril tidak datang. Sambil melepaskan tongkat yang dipegangnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah tidak mungkin mengingkari janjinya, tetapi mengapa Jibril belum datang ?” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh, ternyata beliau melihat seekor anak anjing di bawah tempat tidur. “Kapan anjing ini masuk ?” tanya beliau. Aku (Aisyah) menyahut : “Entahlah”. Setelah anjing itu dikeluarkan, masuklah malaikat Jibril. “Mengapa engkau terlambat ? tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jibril. Jibril menjawab: “Karena tadi di rumahmu ada anjing. Ketahuilah, kami tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)” [Hadits Riwayat Muslim].

Malaikat rahmat pun tidak akan mendampingi suatu kaum yang terdiri atas orang-orang yang berteman dengan anjing. Abu Haurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “ Malaikat tidak akan menemani kelompok manusia yang di tengah-tengah mereka terdapat anjing“. [Hadits Riwayat Muslim]

Imam Nawawi mengomentari hadits tersebut : “Hadits di atas memberikan petunjuk bahwa membawa anjing dan lonceng pada perjalanan merupakan perbuatan yang dibenci dan malaikat tidak akan menemani perjalanan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan malaikat adalah malaikat rahmat (yang suka memintakan ampun) bukan malaikat hafazhah yang mencatat amal manusia. [Lihat Syarah Shahih Muslim 14/94]

Sementara itu, mengenai hukum yang berkaitan dengan hasil jual beli anjing (harga anjing), terdapat beberapa nash yang mengharamkan, diantaranya adalah sebagai berikut. Abi Juhaifah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hasil yang diperoleh dari jual beli anjing, darah, dan usaha pelacuran [Hadits shahih ditakhrijkan oleh Bukhari juga ditakhrijkan dalam Ahaditsul Buyu’ oleh Imam ay-Thayalisi, Imam Ahmad, juga oleh Baihaqi. Dan lihat Shahihul Jami’ no. 6949].

Jabir Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang jual beli anjing dan kucing (4) Selain itu, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang jual beli anjing, hasil kezaliman, dan upah dari hasil praktik perdukunan [Hadits shahih ditakhrijkan oleh Bukhari, Muslim, Imam hadits yang empat. Hadits ini juga ada dalam Shahihul Jami’ no. 6951].

Imam al-Baghawi berkata (5) : “Menurut mayoritas ulama, jual beli anjing itu hukumnya haram sebagaimana upah dari hasil perdukunan (pertenungan), dan pelacuran. Kaitannya dengan hal itu, Abi Hurairah berkata : “Semuanya itu tergolong dalam penghasilan haram“.

 

Footnote :

1. Yang sangat kami sayangkan adalah adanya beberapa orang yang mengaku modern dan maju memiliki anjing dan menganggapnya sebagai teman serta digauli melebihi pergaulannya terhadap manusia. Hal itu dilakukan dalam rangka meniru kebiasaan masyarakat barat.

2. Di dalam kitab Faidhul-Qadir 2/394, Imam al-Manawi mengatakan : “Yang dimaksud dengan malaikat pada hadits tersebut adalah malaikat rahmat dan keberkahan atau malaikat yang bertugas keliling mengunjungi para hamba Allah untuk mendengarkan dzikir dan sejenisnya, bukan malaikat penulis amal perbuatan manusia karena malaikat itu tidak akan pernah meninggalkan manusia sekejap pun sebagai mana halnya malaikat maut. Mengapa malaikat rahmat tidak mau memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing ?. Karena anjing itu mengandung najis, sedangkan malaikat terpelihara dari tempat-tempat yang kotor. Mereka adalah makhluk Allah yang paling mulia serta tetap berada pada tingkat kebersihan dan kesucian yang paling luhur. Perbandingan antara malaikat yang suci dan anjing yang najis laksana terang dan gelap. Barangsiapa yang mendekati anjing, malaikat akan menjauh darinya.

3. Fathul Bari bab 48 At-Tashawir hadits No. 5949

4. Hadits shahih ditakhrijkan oleh Ahmad, hakim, dan Imam hadits yang empat. Hadits ini juga ada dalam Shahihul Jami’ no. 6950

5. Lihat Syarhus Sunnah 8/23

6.http://www.e-fatwa.gov.my/sites/default/files/kedudukan_anjing_dan_hukum_berkaitannya.pdf

(Dikutip dari Buyuut Laa tad khuluha al malaikat, edisi Indonesia Rumah yang Tidak Dimasuki Malaikat, Salafy.or.id offline ,penulis Abu Hudzaifah Ibrahim bin Muhammad, Judul Penghalang Malaikat Rahmat masuk Rumah

Sumber: Quran dan Sunnah.wordpress

20 October 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

Hukum pelihara anjing….

anjing

 

Renung-Renungkanlah semua…

SEJAK kebelakangan ini terdapat ramai umat Islam di negara ini, terutamanya yang Melayu membela anjing walaupun haiwan itu termasuk dalam kategori najis mughalazzah iaitu jika terkena air liur atau terpegang badan anjing yang basah maka wajib dibasuh dengan air yang bercampur tanah sekali diikuti dengan enam kali air yang bersih.

Antara alasan-alasan yang mereka beri:

1) Tidak terdapat dalam al-Quran yang menyatakan orang Islam tidak boleh membela anjing.

2) Rasullullah SAW tidak pernah mengharamkan orang Islam membela anjing.

3) Anjing juga seperti haiwan-haiwan yang lain adalah makhluk Allah.

4) Terdapat ramai pemimpin-pemimpin Islam di negara luar juga membela anjing malah ada yang membiarkan anjing mereka memasuki rumah dan bilik tidur.

5) Ramai penganut-penganut Islam di negara-negara Arab, Pakistan dan Afghanistan membela anjing.

6) Ada kisah yang menceritakan tentang tiga orang pemuda terkurung di dalam gua bersama seekor anjing selama 300 tahun, kemudian dibebaskan Allah yang mana dikatakan pemuda-pemuda tersebut termasuk anjing mereka dimasukkan Allah ke dalam syurga.

7) Ada kisah di Amerika seorang penganut Islam yang buta kedua-dua matanya mempunyai seekor anjing penunjuk jalan untuk ke masjid.

Terdapat sebilangan ustaz-ustaz dan guru-guru agama yang berpendapat tidak salah orang Islam membela anjing.

Seperkara lagi, benarkah Rasullullah ada bersabda: "Tidak akan masuk Malaikat Rahmat ke dalam rumah seseorang Islam itu yang mana di rumah tersebut ada membela anjing."

JAWAPAN

Pada dasarnya, ketetapan najis bagi air liur anjing ini dipandang daripada dimensi yang bersifat ritual, bukan rasional, sehingga tidak harus ada alasan logik. Dimensi akal masih jauh daripada kesempurnaan untuk menganalisis secara teliti tentang najis air liur anjing.

Memang, agama tidaklah diukur dengan akal. Sayidina Ali mengatakan: "Andaikan agama diukur dengan akal, maka mengusap sisi bawah muzah (sepatu) lebih utama daripada mengusap sisi atasnya. Dan Rasulullah SAW telah mengusap di atas dua sepatu." (riwayat Abu Dawud).

Ada yang berpendapat apa salahnya memelihara anjing kerana ia juga makhluk ciptaan Allah SWT. Lagi pula, ia sangat taat pada tuannya. Sebab itu agama Islam tidak boleh dikias sesuka hati mengikut perasaan.

Apa yang digaris oleh Islam dalam syariatnya ialah lebih kepada menjaga kemaslahatan penganutnya. Bukan sekadar menyuruh Muslim membuat itu dan meninggalkan ini, malahan lebih daripada itu.

Sebagai pembuka perbincangan, suka saya nukilkan beberapa dapatan kajian saintifik yang kebanyakan kita tidak mengetahuinya.

Walaupun sesuatu suruhan dan tegahan yang dinyatakan oleh Allah dan rasul-Nya pada awalnya diterima oleh sahabat dan para salaf soleh dengan tanpa bantahan, tanpa bertanya hikmah mahupun falsafah di sebaliknya. Tetapi mutakhir ini, kebanyakan tegahan dan suruhan dapat dibuktikan hikmah dan falsafahnya.

Antaranya, kenapa najis kedua ini diwajibkan membasuhnya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah? Sains ada jawapannya.

Sebanyak 79.7 peratus penderita barah payudara ternyata sering berdampingan dengan anjing seperti memeluk, mencium, menggendong, memandikan dan semua aktiviti perawatan anjing. Hanya 4.4 peratus pesakit yang tidak memiliki haiwan peliharaan. Di Norway, 53.3 peratus daripada 14,401 pemilik anjing mengidap barah.

Ternyata barah pada anjing dan manusia disebabkan oleh virus yang sama iaitu mammary tumor virus (MMTV).

Dalam satu kajian oleh para penyelidik Munich Universiti mengenai kuman yang dibawa oleh anjing dan kesannya pada manusia, menunjukkan 80 peratus punca penyakit payudara berpunca daripada kuman yang dibawa oleh anjing.

Dari sudut fiqh, suka saya kemukakan pandangan Imam al-Syafie sebagai pandangan yang terpilih dengan beberapa alasan tanpa memperkecilkan pandangan mazhab lain. Ini kerana rakyat Malaysia berpegang dengan mazhab al-Syafie.

Pendapat Pertama: Anjing adalah najis keseluruhannya, sama ada kecil atau besar adalah najis, berdasarkan adanya perintah mencuci bejana yang dijilatnya sebanyak tujuh kali. Bahkan, menurut pendapat Imam al-Syafie tentang najisnya anjing ini termasuk najis mughallazah (najis berat).

Sebab mencuci bejana yang kena najis tersebut sampai tujuh kali dan satu kali di antaranya harus dicampuri dengan debu tanah. Ini adalah pendapat mazhab al-Syafie dan Hanbali yang amat ketat dalam persoalan anjing. Pendapat ini diikuti umumnya kaum Muslimin di Malaysia dan yang bermazhab al-Syafie.

Terdapat dua dalil yang menjadi hujah bagi pendapat pertama ini. Dalil Pertama berdasarkan kaedah Qiyas.

Menurut mereka anjing dan babi serta yang lahir daripada keduanya adalah najis, termasuk keringatnya. Suruhan Rasulullah SAW untuk membasuh bekas yang diminum oleh anjing adalah dalil bagi menunjukkan najisnya lidah, air liur dan mulut anjing.

Memandangkan lidah dan mulut adalah anggota utama di mana tanpa lidah dan mulut haiwan tersebut akan mati kerana tidak boleh mendapatkan makanan dan minuman. Jika lidah dan mulut dikategorikan sebagai najis, maka sudah tentu lain-lain anggotanya adalah najis juga.

Selain itu, air liur anjing terhasil daripada peluhnya sendiri, maka jika peluh yang keluar daripada mulut (air liur) adalah najis, maka sudah tentu peluh yang keluar daripada seluruh badannya adalah najis juga.

Imam An-Nawawi menyebut di dalam Al-Minhaj: "Yang disebut najis itu adalah setiap cecair yang memabukkan, anjing babi dan apa-apa yang lahir daripada keduanya…" (Mughni Al-Muhtaj, Khatib Syarbini:1/110).

Kata al-Qardhawi, hukum membela anjing sebagai binatang kesayangan (hobi) adalah haram, yakni diharamkan oleh Rasulullah. Dalilnya: Daripada Sufyan bin Abu Zuhair, bahawa Nabi SAW bersabda: Barang siapa memelihara anjing bukan untuk menjaga ladang atau ternak, maka setiap hari pahalanya berkurangan satu qirath. (riwayat Bukhari dan Muslim dan semua ahli hadis yang lain).

Inilah juga pendapat majoriti mazhab Syafie, Hanbali, Maliki dan Zahiri (al-Majmuu’, IX/234)

Daripada Abdullah bin Umar dia berkata: "Aku mendengar Nabi SAW bersabda: Sesiapa memelihara anjing selain anjing untuk berburu atau anjing menjaga binatang ternak, maka pahalanya akan berkurang dua qirath setiap harinya." (Riwayat Bukhari no. 5059 dan Muslim, no: 2940).

Juga daripada Ibnu Umar RA berkata: "Rasulullah SAW memerintahkan supaya membunuh anjing kecuali anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga kambing atau menjaga haiwan ternak. (riwayat Muslim no. 1571)"

Antara alasan-alasan fuqaha seperti Ibnu Hajar ialah :

1. Ia menakutkan jiran dan orang lalu lalang di luar rumah atau orang yang mengunjunginya.

2. Berkurangnya pahala kepada pemeliharanya.

3. Keengganan Malaikat masuk rumah yang ada anjing.

4. Ada anjing yang menjadi daripada jelmaan anjing (anjing hitam pekat).

5. Tabiat anjing yang suka menjilat dan kenajisan jilatan itu mungkin menyukarkan pemeliharanya. (al-Fath, X/395)

Ada pendapat yang mengatakan ia makruh sahaja kerana tiada larangan yang tegas, demikian kata Ibnu Abdil Barr (at-Tamhid, 14/221).

Imam al-Nawawi berpendapat bahawa selain alasan untuk tiga tujuan membela anjing yang diharuskan melalui sabda baginda, iaitu boleh atau tidak membela anjing selain menjaga ternakan, menjaga tanaman dan memburu. Baginda mengharuskan sekiranya anjing itu dipelihara untuk menjaga keselamatan rumah dan tuan. Ini kerana alasan keharusan yang terdapat dalam hadis menunjukkan keperluan untuk membela anjing dengan adanya keperluan.

Namun, ini tidak bermaksud anjing disimpan dalam rumah kerana Nabi SAW telah menegaskan bahawa Malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang terdapat anjing, sekali gus mengelak sebarang kemudaratan yang mungkin berlaku kerana anjing.

Ini kerana tuan rumah tidak akan dapat memantau setiap gerak geri anjing sepanjang di dalam rumah. Juga dikhuatiri jilatan yang sukar dikesan bila kering. Justeru mengelak itu adalah lebih baik.

 

[Posted by Melayu Berwawasan]

3 August 2013 Posted by | Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | | Leave a comment

   

%d bloggers like this: