Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Menutup Aib Diri Sendiri dan Orang Lain

Diantara akhlak yang mulia, budi pekerti yang agung, dan sifat yang terpuji, yang apabila seseorang berakhlak dengannya menjadikan ia dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni sifat menutup aib orang lain. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha Menutup dan Dia suka menutup aib hamba-hambaNya. Rasullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menutup aib seseorang di dunia, niscaya Allah akan menutup aibnya di hari Kiamat”.

Ada salah seorang yang menceritakan kepada saya (yakni Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf) sebuah kisah yang sangat menakjubkan. Dikisahkan ada seorang laki-laki yang berasal dari kota Madinah Al-Munawaroh telah bermimpi bertemu Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dan ketahuilah mimpi bertemu Rasulullah adalah haq (benar). Dalam mimpi tersebut, Rasulullah berkata kepadanya, “Berilah kabar gembira kepada Fulan bin Fulan yang tinggal di kota Makkah bahwa dia akan bersamaku insya Allah”. Maka laki-laki ini pun pergi ke Makkah untuk menemui Fulan bin Fulan sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah dalam mimpi tersebut.

Setelah sampai di Makkah, dia bertanya-tanya tentang si Fulan ini. Ketika ditanyakan tentang si Fulan, tidak ada seorang pun yang mau menunjukannya kecuali yang ia temukan justru apabila nama Fulan ini disebut maka mereka orang-orang penduduk Makkah tidak memperdulikannya. Hingga pada suatu hari, ia pun berhasil menemukan sosok si Fulan setelah bersusah payah mencarinya. Barulah ia tahu bahwa si Fulan ini ternyata seorang yang paling jahat dan paling buruk akhlaknya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia tidak membaguskan shalatnya dan senantiasa melakukan maksiat. Saat berjumpa dengannya, dia pun bertanya kepada si Fulan:

Wahai Fulan, apakah amalan sholeh yang Engkau lakukan sepanjang hidupmu yang Engkau rasa Allah menerimanya?”.

Si Fulan menjawab, “Sepanjang hidupku tidak ada amal sholeh yang telah aku lakukan yang aku berharap dengannya”.

Dia bertanya lagi, “Tidak, coba ingat-ingat adakah perkara baik yang pernah Engkau lakukan?”.

Mungkin ada sesuatu perkara yang baik semasa aku menikah. Pada waktu malam pertama, istriku berkata: ‘Tutuplah aibku niscaya Allah akan menutup aibmu karena aku sedang mengandung (hamil) anak di luar nikah’. Maka aku merahasiakan perkara ini dengan penuh kesabaran dan tidak memberitahu siapapun hingga ia melahirkan bayi itu. Selepas kelahiran bayi itu, aku mengambilnya dan aku pergi ke tempat Sa’i dan meletakannya di atas Bukit Shofa. Lantas terdengar jeritan, ‘Ada bayi kecil di sini!’. Maka ramailah orang-orang berdatangan dan berkumpul kemudian mencari-cari keluarga si bayi ini. Dan aku hanya sekedar memperhatikan sampai pembicaraan reda. Kemudian aku pun datang dan berkata, ‘Aku akan membesarkan bayi ini sampai keluarganya menuntutnya’. Lalu aku mengambil bayi itu pulang kepada ibunya dan mengasuhnya sampai sekarang. Tidak ada seorang pun yang tahu akan hal ini kecuali Engkau sekarang. Tidak ada siapapun yang mengetahui tentang ini kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala”, jawab Fulan.

Maka laki-laki itu pun berkata, “Subhanalloh, amal inilah yang telah membawa Engkau ke tahapan seperti ini. Aku telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam memberi kabar gembira kepadamu bahwa Engkau akan bersamanya kelak”.

Si Fulan pun terkesan mendengar berita tersebut lalu menangis dan ini menjadi sebab taubat baginya dan penerimaan Allah terhadapnya.

Sungguh kisah ini memberikan makna dan pelajaran yang sangat penting. Wahai saudaraku, manusia pada hari ini jika melihat keburukan yang kecil pada seseorang, mereka tidak tahu bagaimana menutupinya. Saat ini manusia lemah dalam menutup keburukan orang lain. Di dalam saluran dan program televisi, internet, dan lain sebagainya, niscaya engkau mendapatkan manusia sekarang begitu suka membuka aib orang lain. Bahkan mereka tidak suka menutup aib orang lain. Maka lihatlah dirimu sendiri duhai saudaraku, yang suka membuka aib orang lain, maka ketahuilah sifat ini sifat yang buruk dan dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jika menemukan pada dirimu suka menutup aib orang lain, maka ketahuilah itu adalah sifat yang terpuji dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu merupakan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung, “Sesungguhnya Allah Maha Menutup dan Dia suka menutup aib hambaNya”. Bahkan setiap manusia perlu melindungi dirinya jika ia melihat aib pada diri seseorang, dengan tidak menyebut aibnya.

Sebagian ulama menyebutkan bahwa menutup aib ini mempunyai beberapa tingkatan. Setinggi-tinggi tingkatan tersebut adalah jika dia melihat aib pada diri orang lain maka ia menutup aib itu dari dirinya sendiri. Ada seorang pemuda yang aku kenal telah menceritakan kepadaku. Bahwa dia telah melakukan segala maksiat, dan kita berlindung kepada Allah dari padanya. Namun, Allah memuliakannya dengan taubat. Semasa musim haji, selepas hari Arafah di Mina, dia meminta kepadaku untuk dipertemukan dengan seorang Guruku (Syaikh), maka aku pun mengatur pertemuan tersebut. Ketika berjumpa dengan Syaikh tersebut, dia mulai menceritakan segala keburukannya, “Wahai Tuan, aku telah melakukan perkara yang buruk”. Lalu Syaikh itu diam kemudian berkata, “Wahai Fulan, Allah telah menutup aibmu maka janganlah Engkau membukanya kepadaku. Akan tetapi kita baru pulang dari Arafah, insya Allah kita berperasangka baik bahwa Allah telah mengampuni dosamu, maka janganlah menyebut segala dosa dan maksiatmu. Mulailah hidupmu dengan permulaan yang baru”.

Aku merasa kagum dengan kejadian ini dan aku mengambil iktibar dari sebaik-baik pelajaran Syaikh kepada pemuda tersebut. Bahwa Syaikh ini tidak suka membuka aib saudara muslim yang lain. Sayangnya perkara yang banyak disukai oleh kebanyakan orang justru mengetahui aib orang lain dan menyebarluaskannya, lalu ia menyangka ini perkara yang baik. Oleh karena itu, akhlak ini, akhlak menutup aib orang lain, merupakan akhlak yang agung dan kita perlu berusaha ke arahnya (meneladaninya). Kita berdoa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan kita akhlak ini, sehingga menutup aib kita di akhirat. Kita sangat ingin agar Allah menutup aib kita karena jika Allah membuka aib kita niscaraya tidak ada seorang pun yang mau duduk bersandingan dan bersalaman dengan kita di dunia ini. Maka sebagaimana engkau ingin aibmu ditutupi, tutuplah aib hamba Allah niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup aibmu.

Kisah Akhlak Islam: Menutup Aib Diri Sendiri dan Orang Lain

(Disarikan dari kajian yang disampaikan oleh Sayyidil Habib Muhammad bin Abdurrahman Asseggaf, Pendiri Program Fattabi’ouni dan Pemilik Al Irtsuna Nabawi TV, Jeddah, Negeri Hijaz).

Sumber: Pejuang Ahlussunnah in Mengenal Islam.

21 May 2015 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | , | Leave a comment

15 Cara Mendidik Anak Solat. Tips & Panduan Mudah!

Dari :Masjid Negara Kuala Lumpur

1. Dekatkan anak dengan laungan Azan

Apabila mendengar azan di TV, biarkan ia disiarkan di TV dan ajarkan anak cara menyahut azan. Begitu juga jika di luar rumah atau di dalam kereta, berhenti berbual atau apa saja aktiviti ketika itu dan sahutlah azan. Ini dapat menjadi contoh untuk anak-anak dan mengajar mereka azan dan juga cara mnghormati dan menyahut azan. Jika berkesempatan, boleh ceritakan pada anak sejarah azan, kenapa ada azan dan kisah Bilal bin Rabah. Baca doa lepas azan, biar anak tengok

2. Ajarkan anak doa selepas azan

Bacakan doa selepas azan dan ajak anak untuk ikut atau meng-amiin kan doa itu. Jika di amalkan selalu, 5 kali sehari, 7 kali seminggu, sampai sebulan insyaAllah anak pun sudah boleh membacanya sendiri. Jangan lupa amalkannya di rumah ataupun di luar ataupun di dalam kereta. Ambil peluang di mana saja ketika mendengar azan. Ajar anak jadi imam pada adik-beradik lain

3. Didik solat sejak bayi

Jika anda mempunyai anak kecil, setiap kali solat, bawa sekali anak dalam solat dengan cara mendukung anak (rujuk cara dukung anak dalam solat). Ini boleh dilakukan oleh ibu ataupun bapa. Jika di lakukan setiap kali di awal waktu solat, anak kecil itu akan sentiasa bersedia setiap kali masuk waktu solat.

Sekiranya anak sudah sedikit besar dan tidak mampu untuk didukung lagi, letakkan anak di sebelah kita bersolat seperti di dalam ‘playpen’ supaya anak dapat melihat kita bersolat. Kebanyakan situasi, anak-anak akan tenang apabila berada bersama kita ketika solat. In Shaa Allah, dipermudahkan.

Tidak perlu tunggu hingga 10 tahun, baru kita terhegeh-hegeh mahu mengajarkan dan menunjukka cara mendidik anak solat. Mulakan dari usia bayi lagi.

Lihat bagaimana anak berwudu’

4. Ajarkan anak wudhu’

Jangan lepas tangan, biarkan tanggunjawab pada guru di sekolah tunjukkan cara wudhu’. Semak juga cara bagaimana anak ambil wudu’.

Ajarkan anak mengambil wudhu’ dengan betul. Tampalkan cara mengambil wudhu’ bergambar di setiap bilik air supaya mudah anak mengikutinya. Setiap kali selepas azan, terus suruh anak anak ambil wudhu’. Cara mendidik anak solat bermula dengan wudhu’. Bila wudhu’ sempurna, barulah solat juga sempurna.

(Cara ambil wudhu’ boleh didpati di muka belakang Muqaddam).

Baca Al-Quran pada anak

5. Dengarkan anak bacaan dalam solat

Solat bersama anak dan kuatkan sedikit bacaan dalam solat supaya anak dapat mendengar dan mengikut. Pada masa yang sama anak akan menghafal bacaan dalam solat dan secara tak langsung menghafal surah-surah lazim.

Suami ajak anak lelaki ke masjid

6. Solat bersama atau berjemaah

Cuba untuk solat bersama sama pada setiap waktu, bangun awal untuk sama sama solat Subuh sebelum keluar bekerja atau menghantar anak ke tadika atau sekolah. Solat berjemaah dan kenalkan aturan saf. Jika ayah bekerja, bolehlah solat bersebelahan dengan ibu. Jika tidak ke surau atau masjid, apabila hujung minggu, ambil peluang untuk berjemaah bersama-sama.

7. Ajarkan anak berwirid

Bacakan wirid supaya anak dapat mendengarnya dengan jelas. Lama-kelamaan anak juga turut hafal kerana 5 kali sehari diperdengarkan wirid yang sama. Di waktu waktu terluang, bacakan maksud wirid tersebut. Mohon pada Allah agar anak berjaya dunia akhirat

8. Bacakan doa untuk anak

Selepas berwirid, bacakan doa dalam Bahasa Melayu yang ‘special’ untuk setiap anak, biar mereka mendengar doa itu. Selitkan juga doa syukur kerana mendapat anak yang baik seperti mereka (sebutkan nama anak sekali dalam doa) yang rajin solat, rajin belajar, rajin menolong ibu dan ayah.

Isikan pengharapan kita di dalam doa itu kepdaa Allah dan biarkan anak anak mendengar doa tersebut. Cuba lihat reaksi mereka. Cara ini mampu melembutkan hati anak anak. Bersalaman, hormati adik-beradik yang lebih tua

9. Bersalaman selepas solat

Bersalaman selepas solat di iringi dengan ciuman dan pelukan kasih sayang. Cara ini dapat mengalirkan ikatan yang kuat antara ibubapa dan anak. Peluk rapat-rapat ahli keluarga kita.

Walaupun anak kecil tidak tahu apa-apa, mereka akan rasakan aura kegembiraan itu jika bersalaman satu keluarga. Bukan sahaja satu cara mendidik anak solat, bersalaman dapat mengeratkan lagi hubungan kekeluargaan.

10. Beri mereka pujian

Puji mereka setiap kali selepas solat. Puji sikap mereka yang tekun, solat dengan baik, tidak joget-joget dan bermain-main. Beritahu mereka yang kita bangga dan bersyukur mendapat anak seperti mereka.

11. Tazkirah

Jika berkesempatan, selitkan sessi tentang perkara mengenai solat setiap kali selepas solat. Seperti rukun solat, apa faedah solat, sejarah solat Nabi Muhammad dan Isra’ Mikraj. Anggaplah ia sessi tazkirah bersama anak, boleh di amalkan seminggu sekali atau setiap kali selepas solat Magrib. Cara mendidik anak solat yang sebegini selalu lebih berkesan, dan melekat dalam minda anak. Tegur anak apabila buat kesilapan

12. Tegur kesilapan solat anak

Setiap kali solat, jika tepandang silap anak, tegur mereka selepas sesi berdoa. Tetapi jangan lupa untuk mulakan dengan pujian setiap kali ingin tegur kesilapan anak. Beginilah cara mendidik anak solat yang anak suka. Ibu bapa tidak marah, malah beri pujian pula.

13. Ajak anak ke masjid atau surau

Jika berdekatan rumah ada masjid, sila ke masjid. Jika tiada ,ke surau sahaja. Ini adalah antara cara yang paling efektif. Bila selalu ke masjid dan solat, mereka dapat praktis dan lihat bagaimana orang lain solat sambil ikut imam.

Kadang-kadang, anak kecil hanya tahu bermain sahaja di masjid atau surat. Biarkan sahaja mereka, asalkan tidak membuat bising yang keterlaluan. Inilah satu cara mendekatkan mereka dengan rumah Allah, dalam salah satu cara mendidik anak solat secara halus. Walaupun tidak faham, lama-kelamaan, dia akan memahaminya sendiri.

14. Belikan telekung dan songkok/kopiah yang anak suka

Ingat lagi zaman dulu-dulu, ramai ibu sanggup mengait buah kopiah anak sendiri? Siap ada nama lagi. Itu adalah salah satu cara agar anak rajin pakai kopiah dan mengerjakan sembahyang. Nampak jelas kesungguhan orang-orang lama dalam usaha mengajarkan cara mendidik anak solat, sebelum mereka tahu apa-apa tentang solat.

Sekiranya ada anak perempuan, ajak dia ‘shopping’ sama-sama dan belikan telekung yang dia berkenan. Semoga usaha mendidik anak solat akan jadi lebih mudah jika anak ada pakaian kegemaran mereka sendiri.

15. Amalkan doa surah Ibrahim ayat 40

Dalam usaha dan cara mendidik anak solat, amalkan doa dari Surah Ibrahim ayat 40 setiap kali selepas solat dan sebelum tidur iaitu dihembuskan di umbun2 mereka. Bacakan supaya anak dapat mendengar sama dan ajak anak membaca doa itu bersama, lama kelamaan mereka dapat menghafal doa itu.

(40) رَبِّ اجْعَلْنِى مُقِيمَ الصَّلوةِ وَمِن ذُرِّيَتِى رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ

Maksudnya: Wahai Tuhanku! Jadikanlah daku orang yang mendirikan sembahyang dan demikianlah juga zuriat keturunanku. Wahai Tuhan kami, perkenankanlah doa permohonanku.

Didiklah anak tentang solat bermula dengan solat 5 waktu , dan kemudiannya barulah solat-solat sunat berjemaah seperti solat hari raya dan sebagainya. Jangan nanti anak anak hanya tahu solat Hari Raya sahaja, tetapi tidak tahu solat 5 waktu dan solat Jumaat. Terlalu banyak perkara yang boleh kita lakukan untuk mendekatkan anak dengan solat.

Pukul anak jika tidak solat?

Menurut Mufti Negeri Sembilan, pukul ialah satu konsep balasan kepada kesalahan yang dilakukan oleh anak. Sehubungan dengan itu, kita harus mendenda anak sekiranya mereka cuai atau melakukan kesalahan. Berdasarkan ini, Islam mengharuskan kita memukul atau merotan anak sekiranya mereka meninggalkan solat ketika berumur sepuluh tahun. Pada usia ini ada antara anak kita yang telah mencapai umur baligh atau hampir baligh iaitu usia taklif. Akan tetapi apa yang diharuskan itu mestilah satu perkara yang munasabah.

Dalam usaha mengajar dan menunjukkan cara mendidik anak solat, selain ibu bapa, para guru juga diharuskan mendenda atau merotan anak muridnya yang cuai atau melakukan kesalahan. Walau bagaimana pun janganlah terlalu mudah untuk mengenakan denda atau rotan tanpa cuba memperbaiki atau memperbetulkannya terlebih dahulu dengan pelbagai cara yang lain seperti nasihat.

Perkara ini penting dilakukan bagi tujuan menanamkan perasaan pada anak bahawa denda atau rotan itu bertujuan untuk menghentikan mereka daripada melakukan kesalahan berulang-kali untuk kepentingan diri mereka sendiri. Lantaran, Islam lebih menggalakkan kita berlemah-lembut dalam menyampaikan ilmu kepada anak-anak agar matlamat mendidik anak-anak tersebut tercapai dan tidak menganggu perkembangan psikologi mereka.

Harapan kami

Usaha mengajar dan cara mendidik anak solat bermula dari kecil. Tempoh umur 1-10 tahun ialah masa yang kritikal. Pada usia kecil, kita kena terapkan betapa pentingnya solat dalam diri anak kita.

Andainya tidak semua tips di atas mampu kita lakukan, lakukan sedikit yang termampu. In Shaa Allah, Allah akan membantu yang selebihnya. Dan ingatlah bahawa apa yang anda ajarkan adalah untuk bekalan mereka dan bekalan kita semua.

Semoga bermanfaat.

[1] Di ambil dari Prophetic Parenting, Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid page 353.

18 May 2015 Posted by | Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Sifat Dasar Iblis Dalam Diri Manusia

Salah satu sifat dasar Iblis adalah “Saya lebih baik darinya”. “Kau telah menciptakan aku dari api dan telah menciptakannya dari tanah“, (Qur’an Surat al-A’raf: 12).

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Qur’an Surat al-A’raf: 12).

Ini kriteria sifat dasar iblis “Saya lebih baik darinya”, tapi kriteria sifat Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam adalah senantiasa bertambah ketakutan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertambah tawadhu’, bertambah kasih sayang, dan juga bertambah ramah terhadap sesama makhluk.

Apabila manusia itu bertambah kesholehannya, apakah dari jalan belajar atau beribadah, dengan belajar seperti membaca atau memahami masalah atau dengan beribadah seperti mengerjakan shalat malam dan berpuasa, bukti kejujuran amalannya itu tidak hanya ada pada penampilannya tapi akan terlihat jelas pada akhlaknya serta pergaulannya. Dan bukti ketidakjujuran amalannya itu adalah tidak terlihat pada akhlaknya bahkan sebaliknya. Setiap kali dia banyak melakukan ibadah, setiap kali itu pulalah ia banyak kepura-puraannya, semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah bertambah kerut wajahnya. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah dia membatasi dirinya dari beberapa kelompok manusia. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah banyaknya dia menghina kelompok-kelompok masyarakat. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah dia bertambah kasar terhadap sesama keluarga terdekatnya yang kurang mentaati agama. Darimana datangnya semua hal ini? Bukanlah seperti ini sifat orang yang berkomitmen dalam beragama. Sebabnya tidak ada hubungan diantara cara ibadah yang dilakukannya atau cara ahli ilmu dengan hakikat yang sebenarnya yakni hubungan hati dengan Allah Subhanhu wa Ta’ala. Jadi kita memerlukan pergaulan dengan orang-orang shaleh agar kita dapat melihat kejujuran hati ini, agar dapat muhasabah diri ini dengan penuh kejujuran.

Duhai orang-orang yang telah dimuliakan Allah dengan selalu pulang pergi ke masjid, apakah yang kamu dapat darinya? Pandangan macam apakah yang kamu lihat kepada mereka yang ada di luar masjid? Kamu akan keluar dari masjid setelah majelis ini usai. Kamu akan temukan di jalanan pemuda-pemuda dengan kelakuan yang buruk. Ada yang kelakukannya meninggikan suara mengganggu orang di sekelilingnya dan tak mau peduli dengan suara-suara yang menegurnya. Bagaimanakah kamu akan melihatnya? Hah?! Adakah kamu akan melihatnya dengan pandangan belas kasihan serta kasih sayang? Tadi baru saja kamu mendengarkan nasihat-nasihat ini.

“Ya Allah sebagaimana Engkau telah dengarkan nasihat ini kepadaku serta memberi petunjuk kepadaku, maka dengarkanlah pula kepada mereka dan tunjukilah mereka”.

Apabila kamu melewati mereka, senyumlah kepada mereka dan ucapkan “Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh”. Kamu terus berjalan dengan tenang, berilah kesan di hati mereka agar mengikuti apa yang kamu lakukan itu.

Setelah kamu keluar dari majelis pengajian ini, kamu mungkin terasa diri penuh dengan kesholehan. Kamu telah banyak menelaah kitab, melakukan shalat jamaah, kemudian kamu keluar dan mendapati mereka-mereka ini. (Dengan sinisnya, kamu brerkata:) “Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. “Aku berlindung kepada Allah, eh apa ini?”. Kamu melihat mereka dengan pandangan kehinaan. Cara ini bukannya cara berlindung dari maksiat. Bukan begini cara menjauhinya, bukanlah seperti itu caranya. Berbeda antara ilmu yang diajari oleh Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dengan ilmu yang diajari oleh iblis.

Ada suatu kisah menyebutkan. Ada seorang penuntut ilmu sedang mengalami kebingungan dan keraguan, apakah akan masuk mengikuti majelis ini atau majelis yang itu. Dia melihat 2 kumpulan majelis pengajian ilmu yang berbeda. Kedua majelis sama-sama mengajarkan al-Qur’an dan al-Hadits. Dia bingung mau memilih dan mengikuti majelis yang mana. Lantas dia pergi kepada seorang yang sholeh untuk membuat pilihan baginya, lalu orang shaleh itu berkata: “Aku akan membawa kamu pergi menuju kedua majelis tersebut”.

Mereka kemudian masuk ke kumpulan majelis yang pertama dan berdiri. Orang shaleh ini sengaja berbuat demikian karena untuk mengetahui majelis mana yang harus dia ikuti. Mereka berdua berdiri di kumpulan majelis yang pertama dan ketika itu Sang Syaikh sedang mengajar. Di saat Syaikh itu melihat mereka berdua sedang berdiri, Syaikh berkata kepada mereka: “Duduk! Kenapa kamu berdiri?”. Orang shaleh ini menjawab: “Aku tidak ingin duduk di majelis kamu ini”. Syaikh itu bertanya: “Kenapa kamu tidak ingin duduk?”. Orang shaleh itu kembali menjawab: “Dalam hatiku ada rasa tak puas hati dengan kamu”. Syaikh berkata: “Dan aku juga sangat-sangat tak puas hati dengan kamu, keluarlah syaitan, dan jangan kamu merusak majelis ini..!”. Sang Pemuda berkata: “Ayo kita keluar dari sini sebelum kena pukul”.

Kemudian mereka berdua pergi ke kumpulan selanjutnya, majelis yang kedua, juga melakukan hal yang sama dalam keadaan berdiri. Ketika dalam majelis itu Syaikh melihat mereka yang berdiri dan berkata: “Mengapa kamu berdua tidak duduk?”. Nampak perbedaan dengan Syaikh yang tadi yang berkata “Duduk..!” dengan “Mengapa kamu berdua tidak duduk?”. Orang shaleh itu menjawab: “Aku tidak ingin duduk dalam majelismu ini”. Sang Syaikh kembali berkata: “Kenapa?’. Orang shaleh itu berkata: “Aku ada rasa tidak puas hati dengan kamu”. Lantas Syaikh itu menutup wajahnya lalu menangis dan berkata: “Innalillah wa inna ilaihi roji’un, astaghfirullohi wa atubu ilaih, mungkin Allah telah membukan kepada kamu aibku yang telah disembunyikan”. Dan Syaikh itu terus menangis sambil berkata: “Astaghfirullohi wa atubu ilaih… Astaghfirullohi wa atubu ilaih… Astaghfirullohi wa atubu ilaih… ”, (memohon ampunan Allah dan bertaubat kepadaNya). Dan orang shaleh yang berdiri itu menoleh kepada si pemuda yang bertanya kepadanya tadi: “Hai pemuda, majelis manakah yang akan kamu pilih? Di sini atau di sana?”.

Kriteria sifat orang yang shaleh itu akan tampak jelas pada akhlaknya yang shaleh pula. Jika kamu merasa harus membuat suatu pilihan. Dikatakan orang ini dalam kebenaran dan orang lain pula kata mereka dalam kebenaran, caranya lihatlah kepada akhlak mereka. Dimana ada tanda akhlak yang mulia, tandanya di situ ada agama. Dimana ada tanda akhlak yang mulia, tanda adanya juga di situ ilmu. Sekiranya di situ tidak ada akhlak yang mulia, maka di situ juga tidak ada agama dan ilmu. Tidak mungkin beragama itu tanpa ada akhlak yang mulia. Tidak mungkin ciri sifat kesholehan itu dengan tidak disertai akhlak yang mulia. Tidak mungkin adanya ilmu itu, dengan tanpa adanya akhlak yang mulia. Maka setiap yang berilmu dan yang beragama, jika tidak terdzahir (tampak) padanya akhlak yang mulia, maka di situ ada kecacatan pada orang yang berilmu dan yang beragama. Inilah kriterianya, janganlah kita berfikir melihat kepada orang lain tetapi pandanglah kepada diri kita sendiri, untuk memperbaiki diri diantara kita dengan Allah Subhanhu wa Ta’ala. Jadi, terjadinya kecacatan pada orang yang berilmu dan beragama mungkin karena terpisah darinya kefahaman makna kesholehan tentang akhlak pergaulan atau pun dengan sebab yang lain. Dengan sebab terpisahnya dia dari kelompok masyarakat yang memuliakan orang yang beragama dari yang lainnya, dan yang terakhir yaitu melihat kesan-kesan kesholehan pada diri kamu, yakni melihat terhadap hasil kesholehan yang lahir dalam diri kamu dan bagaimana kamu maju terhadapnya. Inilah kriteria sifat kesholehan, perhatikan dalam diri kamu, jangan kamu menilai dirimu ada sesuatu yang lebih baik dari orang lain.

Agama kita ini adalah agama yang beradab dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mencerminkan akhlak yang mulia terhadap makhlukNya. Jadi untuk itu kita muhasabah diri kita terhadap kesholehan yang kita peroleh ini, sebab jika kita muhasabah terhadap kesholehan diri ini, maka kita merasa membutuhkan kepada akhlak yang mulia. Kita memohon kepada Allah semoga kita mendapat kesempurnaan Taufiq. Ya Allah yang Maha Memberi Petunjuk kepada kebaikan dan membantu hambaNya ke arah kebaikan, berilah petunjuk kebaikan kepada kami dan bantu kami ke arahnya. Subhanallohi walhamdulillahi wa la ilaha illalloh wallohu akbar, berilah petunjuk kepada kami terhadap nasihat ini untuk senantiasa kembali kepadaMu, dan turunkanlah kepada kami pemberianMu serta lindungilah ahli kalimah la ilaha illalloh baik di Timur maupun di Barat dan hilangkanlah kegelisahan ahli la ilaha illalloh baik di Timur maupun di Barat. Amin…

(Disarikan dari majelis kuliah yang disampaikan oleh Sayyidil Habib Ali Zainal ‘Abidin bin ‘Abdurrahman al-Jufri Yaman).

18 May 2015 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Jom Dakwah Bersama Ulama

Sewaktu Di Brisbane Australia, Habib Ali Al Hamid mengungkapkan Sebuah Kata Hikmah yang Penuh dengan Tawadha’nya yang boleh sama ² kita Ambil Iktibar pada diri kita.

Katanya dalam Muqadimah penyampaiannya ” Pertama yang saya nak sampaikan adalah, saya datang sini untuk belajar, bila orang menganggap saya datang sini untuk menasihat, hakikatnya saya beri nasihat adalah untuk diri saya sendiri, bila saya lihat orang menghormati saya, hakikatnya saya melihat diri saya semakin hina, sebetulnya saya lebih banyak belajar daripada apa yang saya lihat berbandingkan apa yang semua dapat apa yang saya sampaikan. Orang yang dimuliakan itu adalah pembantu kepada orang yang dimuliakan, dan itu adalah realiti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ, semakin disanjung semakin berkhidmat kepada yang menyanjung. Dalam Al Quran Allah perintahkan, rendahkan sayap kamu kepada orang Beriman. Baginda musafir dengan Para As Sahabah, lalu tiba waktu makan, satu sahabat mengatakan saya mahu sembelih kambing, satu Sahabat lain mengatakan, saya mahu memasak dan satu sahabat lain kata, saya mahu menyediakan peralatan. Kata Baginda saya mahu turun untuk mencari kayu bakar. Kata sahabat, biar kami sediakan semuanya. Jawab Baginda, Saya tidak mahu lain dari yang Lain. Dalam Sirah Baginda, Baginda yang membangunkan masjid, Baginda juga turun ke Parit Khandaq untuk menggali Tanah dengan 2 ketul Batu di ikat diperutnya. Sayyidina Jabir ketika melihat Nabi angkat cangkul dan ternampak 2 batu di perut Baginda. Lalu Jabir pelawa Rasulullah utk makan dan diberikan makanan utk kesemua Sahabat. Ini perjuangan Rasulullah yang turun Padang sendiri untuk membantu Sahabat. ”

Wallahualam

Dari: Pencinta Rasulullah SalallahuAlayhi Wassalam

18 May 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Gambaran Hari Kiamat

Gambaran Hari Kiamat

– Selepas Malaikat Israfil meniup sangkakala (bentuknya seperti tanduk besar) yang memekakkan telinga, seluruh makhluk mati kecuali Izrail & beberapa malaikat yang lain. Selepas itu, Izrail pun mencabut nyawa malaikat yang tinggal dan akhirnya nyawanya sendiri.

– Selepas semua makhluk mati, Tuhan pun berfirman mafhumnya “Kepunyaan siapakah kerajaan hari ini?” Tiada siapa yang menjawab. Lalu Dia sendiri menjawab dengan keagunganNya “Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” Ini menunjukkan kebesaran & keagunganNya sebagai Tuhan yg Maha Kuasa lagi Maha Kekal Hidup, tidak mati.

– Selepas 40 tahun, Malaikat Israfil a.s. dihidupkan, seterusnya meniup sangkakala untuk kali ke-2, lantas seluruh makhluk hidup semula di atas bumi putih, berupa padang Mahsyar (umpama padang Arafah) yang rata tidak berbukit atau bulat seperti bumi.

– Sekelian manusia hidup melalui benih anak Adam yg disebut “Ajbuz Zanbi” yang berada di hujung tulang belakang mereka. Hiduplah manusia umpama anak pokok yang kembang membesar dari biji benih.

– Semua manusia dan jin dibangkitkan dalam keadaan telanjang dan hina. Mereka tidak rasa malu kerana pada ketika itu hati mereka sangat takut dan bimbang tentang nasib & masa depan yang akan mereka hadapi kelak.

– Lalu datanglah api yang berterbangan dengan bunyi seperti guruh yang menghalau manusia, jin dan binatang ke tempat perhimpunan besar. Bergeraklah mereka menggunakan tunggangan (bagi yang banyak amal), berjalan kaki (bagi yang kurang amalan) dan berjalan dengan muka (bagi yang banyak dosa). Ketika itu, ibu akan lupakan anak, suami akan lupakan isteri, setiap manusia sibuk memikirkan nasib mereka.

– Setelah semua makhluk dikumpulkan, matahari dan bulan dihapuskan cahayanya, lalu mereka tinggal dalam kegelapan tanpa cahaya. Berlakulah huru-hara yang amat dahsyat.

– Tiba-tiba langit yang tebal pecah dengan bunyi yang dahsyat, lalu turunlah malaikat sambil bertasbih kepada Allah SWT. Seluruh makhluk terkejut melihat saiz malaikat yang besar dan suaranya yang menakutkan.

– Kemudian matahari muncul semula dengan kepanasan yang berganda. Hingga dirasakan seakan-akan matahari berada sejengkal dari atas kepala mereka. Ulama berkata jika matahari naik di bumi seperti keadaannya naik dihari Kiamat nescaya seluruh bumi terbakar, bukit-bukau hancur dan sungai menjadi kering. Lalu mereka rasai kepanasan dan bermandikan peluh sehingga peluh mereka menjadi lautan. Timbul atau tenggelam mereka bergantung pada amalan masing-masing. Keadaan mereka berlanjutan sehingga 1000 tahun.

– Terdapat satu telaga kepunyaan Nabi Muhammad SAW bernama Al-Kausar yang mengandungi air yang hanya dapat diminum oleh orang mukmin sahaja. Orang bukan mukmin akan dihalau oleh malaikat yang menjaganya. Jika diminum airnya tidak akan haus selama-lamanya. Kolam ini berbentuk segi empat tepat sebesar satu bulan perjalanan. Bau air kolam ini lebih harum dari kasturi, warnanya lebih putih dari susu dan rasanya lebih sejuk dari embun. Ia mempunyai saluran yang mengalir dari syurga.

– Semua makhluk berada bawah cahaya matahari yang terik kecuali 7 golongan yang mendapat teduhan dari Arasy. Mereka ialah:

ⅰ- Pemimpin yang adil.
ⅱ- Orang muda yang taat kepada perintah Allah.
ⅲ- Lelaki yang terikat hatinya dengan masjid.
ⅳ- Dua orang yang bertemu kerana Allah dan berpisah kerana Allah.
ⅴ- Lelaki yang diajak oleh wanita berzina, tetapi dia menolak dengan berkata “Aku takut pada Allah”.
ⅵ- Lelaki yg bersedekah dengan bersembunyi (tidak diketahui orang ramai).
ⅶ- Lelaki yang suka bersendirian mengingati Allah lalu mengalir air matanya kerana takutkan Allah.

– Oleh kerana tersangat lama menunggu di padang mahsyar, semua manusia tidak tahu berbuat apa melainkan mereka yang beriman, kemudian mereka terdengar suara “pergilah berjumpa dengan para Nabi”. Maka mereka pun pergi mencari para Nabi. Pertama sekali kumpulan manusia ini berjumpa dengan Nabi Adam tetapi usaha mereka gagal kerana Nabi Adam a.s menyatakan beliau juga ada melakukan kesalahan dengan Allah SWT. Maka kumpulan besar itu kemudiannya berjumpa Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. (semuanya memberikan sebab seperti Nabi Adam a.s.) dan akhirnya mereka berjumpa Rasullullah SAW. Jarak masa antara satu nabi dengan yang lain adalah 1000 tahun perjalanan.

– Lalu berdoalah baginda Nabi Muhammad SAW ke hadrat Allah SWT. Lalu diperkenankan doa baginda.

– Selepas itu, terdengar bunyi pukulan gendang yang kuat hingga menakutkan hati semua makhluk kerana mereka sangka azab akan turun. Lalu terbelah langit, turunlah arasy Tuhan yang dipikul oleh 8 orang malaikat yang sangat besar (besarnya sejarak perjalanan 20 ribu tahun) sambil bertasbih dengan suara yang amat kuat sehingga ‘Arasy itu tiba dibumi.

– ‘Arasy ialah jisim nurani yang amat besar berbentuk kubah (bumbung bulat) yang mempunyai 4 batang tiang yang sentiasa dipikul oleh 4 orang malaikat yang besar dan gagah. Dalam bahasa mudah ia seumpama istana yang mempunyai seribu bilik yang menempatkan jutaan malaikat di dalamnya. Ia dilingkungi embun yang menghijab cahayanya yang sangat kuat.

– Kursi iaitu jisim nurani yang terletak di hadapan Arasy yang dipikul oleh 4 orang malaikat yang sangat besar. Saiz kursi lebih kecil dari ‘Arasy umpama cincin ditengah padang . Dalam bahasa mudah ia umpama singgahsana yang terletak dihadapan istana.

– Seluruh makhluk pun menundukkan kepala kerana takut. Lalu dimulakan timbangan amal. Ketika itu berterbanganlah kitab amalan masing-masing turun dari bawah Arasy menuju ke leher pemiliknya tanpa silap dan tergantunglah ia sehingga mereka dipanggil untuk dihisab. Kitab amalan ini telah ditulis oleh malaikat Hafazhah / Raqib & ‘Atid / Kiraman Katibin.

– Manusia beratur dalam saf mengikut Nabi dan pemimpin masing- masing. Orang kafir & munafik beratur bersama pemimpin mereka yang zalim. Setiap pengikut ada tanda mereka tersendiri untuk dibezakan.

– Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Nabi Muhammad SAW, dan amalan yang pertama kali dihisab adalah solat. Sedangkan hukum yang pertama kali diputuskan adalah perkara pertumpahan darah.

– Apabila tiba giliran seseorang hendak dihisab amalannya, malaikat akan mencabut kitab mereka lalu diserahkan, lalu pemiliknya mengambil dengan tangan kanan bagi orang mukmin dan dengan tangan kiri jika orang bukan mukmin.

– Semua makhluk akan dihisab amalan mereka menggunakan satu Neraca Timbangan. Saiznya amat besar, mempunyai satu tiang yang mempunyai lidah dan 2 daun. Daun yang bercahaya untuk menimbang pahala dan yang gelap untuk menimbang dosa.

– Acara ini disaksikan oleh Nabi Muhammad SAW dan para imam 4 mazhab untuk menyaksikan pengikut masing-masing dihisab.

– Perkara pertama yang diminta ialah Islam. Jika dia bukan Islam, maka seluruh amalan baiknya tidak ditimbang bahkan amalan buruk tetap akan ditimbang.

– Ketika dihisab, mulut manusia akan dipateri, tangan akan berkata- kata, kaki akan menjadi saksi. Tiada dolak-dalih dan hujah tipuan. Semua akan di adili oleh Allah Ta’ala dengan Maha Bijaksana.

– Setelah amalan ditimbang, mahkamah Mahsyar dibuka kepada orang ramai untuk menuntut hak masing-masing dari makhluk yang sedang dibicara sehinggalah seluruh makhluk berpuas hati dan dibenarkannya menyeberangi titian sirat.

– Syafaat Nabi Muhammad SAW di akhirat :

ⅰ- Meringankan penderitaan makhluk di Padang Mahsyar dengan mempercepatkan hisab.
ⅱ- Memasukkan manusia ke dalam syurga tanpa hisab.
ⅲ- Mengeluarkan manusia yang mempunyai iman sebesar zarah dari neraka.

(Semua syafaat ini tertakluk kepada keizinan Allah SWT.)

Para nabi dan rasul serta golongan khawas juga diberikan izin oleh Tuhan untuk memberi syafaat kepada para pengikut mereka. Mereka ini berjumlah 70 000. Setiap seorang dari mereka akan mensyafaatkan 70 000 orang yang lain.

Setelah berjaya dihisab, manusia akan mula berjalan menuju syurga melintasi jambatan sirat. Siratul Mustaqim ialah jambatan (titian) yang terbentang dibawahnya neraka. Lebar jambatan ini adalah seperti sehelai rambut yang dibelah tujuh dan ia lebih tajam dari mata pedang. Bagi orang mukmin ia akan dilebarkan dan dimudahkan menyeberanginya.

Fudhail bin Iyadh berkata perjalanan di Sirat memakan masa 15000 tahun. 5000 tahun menaik, 5000 tahun mendatar dan 5000 tahun menurun. Ada makhluk yang melintasinya seperti kilat, seperti angin, menunggang binatang korban dan berjalan kaki. Ada yang tidak dapat melepasinya disebabkan api neraka sentiasa menarik kaki mereka, lalu mereka jatuh ke dalamnya.

Para malaikat berdiri di kanan dan kiri sirat mengawasi setiap makhluk yang lalu. Setiap 1000 orang yang meniti sirat, hanya seorang sahaja yang Berjaya melepasinya. 999 orang akan terjatuh ke dalam neraka.

Rujukan: Kitab Aqidatun Najin karangan Syeikh Zainal Abidin Muhammad Al- Fathani. Pustaka Nasional Singapura 2004.

Jika sekiranya kalian ingin mengumpul saham akhirat, sampaikanlah ilmu ini kepada sahabat² yang lain. Sepertimana sabda Rasulullah SAW: ❝ Sampaikanlah pesananku walaupun satu ayat. ❞ Sesungguhnya apabila matinya seseorang anak Adam itu, hanya 3 perkara yang akan dibawanya bersama :

① Sedekah/amal jariahnya.

② Doa anak²nya yang soleh.

③ Ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain.

18 May 2015 Posted by | Informasi, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

Solahuddin al-Ayyubi –Tokoh Pembebasan Palestin

 

salahuddin al ayyubi 2

 

Adakah Solahuddin al-Ayyubi berbangsa Palestin? Jawapannya bukan. Adakah Solahuddin berbangsa Arab? Jawapannya juga bukan. Kenapakah Solahuddin yang bukan berbangsa Palestin dan bukan orang Arab ini telah berhabis-habisan sehingga seluruh usianya digunakan untuk pembebasan Masjid al-Aqsa dan Palestin? Ini adalah satu soalan cepu emas yang perlu dijawab oleh kita semua.

Solahuddin al-Ayubi atau nama sebenarnya Solahuddin Yusuf bin Ayyub telah dilahirkan pada tahun 1137M atau 532 Hijrah di kota Tikrit, yang terletak di antara Mosul dan Baghdad dan berhampiran dengan Sungai Tigris.

kurdistan

 

Asal usul beliau adalah dari suku bangsa Kurdish dan ayahnya adalah seorang gabenor. Semasa kecilnya Solahuddin mendapat pendidikan ilmu ketenteraan daripada bapa saudaranya Asaduddin Shirkukh yang merupakan seorang panglima perang. Beliau dibesarkan sama seperti anak-anak Kurdish biasa.

Pendidikannya juga seperti orang lain, belajar ilmu sains di samping seni peperangan dan mempertahankan diri. Tiada seorang pun yang menyangka suatu hari nanti dia akan membebaskan kembali Masjid al-Aqsa dan Palestin dari tentera Salib. Walau bagaimanapun Allah telah mentakdirkannya untuk menjadi pemimpin besar pada zamannya dan Allah telah menyediakan dan memudahkan jalan-jalannya ke arah itu.

Kerjayanya seorang pejuang

Kerjayanya bermula sebagai tentera berkuda Nuruddin Zanki, Sultan Aleppo, kemudian dia diperintahkan untuk pergi ke Mesir. Pada masa itu Mesir diperintah oleh kerajaan Fatimiyah yang berfahaman Syiah. Pada mulanya Salahudin berasa berat hati hendak berangkat ke Mesir kerana lebih sayangkan Aleppo. Apabila Salahudin sampai di Mesir keadaan beliau tiba-tiba berubah. Dia yakin Allah telah memberi tanggung jawab kepadanya untuk membebaskan Masjid al-Aqsa dan Palestin dari penjajahan Salib. Dia menjadi seorang yang zuhud dan tidak tergoda dengan kesenangan dunia.

Solahuddin bertambah warak dan menjalani hidup yang lebih berdisiplin. Dia mengenepikan corak hidup senang dan memilih corak hidup sederhana yang menjadi contoh kepada tenteranya. Dia menumpukan seluruh tenaganya untuk membina kekuatan Islam bagi menawan semula Baitul Maqdis. Pernah beliau ditanya akan kenapa beliau sentiasa kelihatan serius dan tidak pernah ketawa. Namun beliau menjawab, “Bagaimana mungkin untuk aku ketawa sedangkan Masjid al-Aqsa masih berada di bawah jajahan musuh”.

Sehubungan dengan itu Salahudin telah menyerahkan dirinya untuk jalan jihad. Pemikiran Solahuddin sentiasa tertumpu kepada perjuangan di jalan Allah. Semangat beliau yang sentiasa berkobar-kobar untuk berjihad menentang tentera Salib telah menyebabkan jihad menjadi tajuk perbincangan yang paling digemarinya. Dia sentiasa meluangkan seluruh tenaganya untuk memperkuat pasukan tenteranya, mencari mujahid-mujahid dan senjata untuk tujuan berjihad. Jika ada sesiapa yang bercakap kepadanya berkenaan jihad dia akan memberikan sepenuh perhatian. Sehubungan dengan ini dia lebih banyak di dalam khemah perang daripada duduk di istana bersama sanak keluarga. Siapa sahaja yang menggalakkannya berjihad akan mendapat kepercayaannya.

Sultan Solahuddin

 

Dalam medan peperangan dia begitu tangkas bergerak bagaikan seorang ibu yang kehilangan anak. Dia akan bergerak pantas dari satu penjuru ke penjuru yang lain dalam usaha menaikkan semangat tenteranya supaya benar-benar berjihad di jalan Allah. Dia sanggup pergi ke pelosok tanah air dengan mata yang berlinang mengajak umat Islam supaya bangkit membela Islam. Dia lebih gemar berpuasa sekalipun di medan peperangan.

kingdom-of-heaven-

Kemenangan peperangan Hittin telah membuka jalan mudah kepada Solahuddin untuk menawan Baitul Maqdis. Hajat Solahuddin yang terbesar iaitu untuk menawan kembali Baitul Maqdis akhirnya tercapai pada hari Jumaat, 15 Oktober 1187 atau 27 Rajab 583H , iaitu pada hari Isra’ dan Mi’raj. Solahuddin dan tenteranya berjaya memasuki Baitul Maqdis dan umat Islam kembali memiliki Masjid al-Aqsa setelah 88 tahun ianya dijajah musuh.

Ini adalah hari kemenangan atas kemenangan. Orang ramai dan pemimpin-pemimpin umat Islam datang untuk merayakan kemenangan ini. Laungan takbir, tahmid dan tasbih telah bergema ke angkasa.

Kehebatan peribadi pejuang

Sifat penyayang dan belas kasihan Solahuddin semasa peperangan ini sangat jauh berbeda daripada kekejaman tentera Salib. Solahuddin tidak membalas dendam setelah menang ke atas salib bahkan telah menunjukkan ketinggian akhlaknya ketika orang-orang Kristian menyerah kalah. Orang-orang Kristian sebenarnya sangat beruntung apabila tidak seorang pun dari pihak mereka yang telah dibunuh apabila Solahuddin dan tenteranya menang. Malah Solehudin telah membenarkan penganut semua agama (Islam atau Kristian atau Yahudi) untuk bersembahyang di tempat-tempat suci masing-masing di bandar tersebut.

Walaupun berbeza kepercayaan, Solahuddin al-Ayubbi juga amat dihormati di kalangan pembesar dan pemimpin Kristian terutamanya Raja Richard. Raja Richard pernah memuji Salahuddin sebagai seorang putera agung dan merupakan pemimpin paling hebat di dalam  dunia Islam. Selepas perjanjian damai ditandatangani di antara pihak salib dan Islam, Richard dan Solahuddin telah bertukar-tukar hadiah di antara satu sama lain sebagai lambang kehormatan walaupun kedua-dua pemimpin ini tidak pernah bersua muka.

Baitul MaqdisSebaliknya pula tindak-tanduk tentera Salib ketika mereka menawan Baitul Maqdis kali pertama pada tahun 1099, sebagaimana yang ditulis oleh Ibnu Khaldun menyatakan bahawa, “Ketika tentera Salib mengganas selama seminggu di Baitul Maqdis, mereka melakukan rompakan, pemerkosaan dan membakar rumah-rumah penduduk. Apabila dihitung jumlah mayat-mayat di sekitar masjid, di dalam rumah dan di sepanjang jalan, jumlahnya tidak kurang daripada 70 ribu orang umat Islam yang tidak berdosa”.

Di dalam setiap peperangan Solahuddin sentiasa berbincang dalam majlis yang membuat keputusan-keputusan ketenteraan. Semua yang terlibat mempunyai sumbangan yang penting dalam membuat sebarang keputusan. Walau apa pun perbincangan dan perdebatan dalam majlis itu, mereka akan  memberikan ketaatan mereka kepada Solahuddin.

Perhubungan dengan Allah

Solahuddin adalah seorang yang wara’ dan sentiasa melakukan solat berjemaah. Bahkan ketika sakitnya pun dia memaksa dirinya berdiri di belakang imam. Bahkan sentiasa mengerjakan sembahyang Tahajjud. Solahuddin tidak pernah membayar zakat harta kerana tidak mempunyai harta yang cukup nisab. Dia sangat murah hati dan akan menyedekahkah apa yang ada padanya kepada fakir miskin dan kepada yang memerlukan hinggakan ketika wafatnya dia tidak meninggalkan harta.

Catatan-catatan dari lembaran sejarah juga menyaksikan bahawa Solahuddin sangat teringin untuk ke Mekah bagi menunaikan fardhu haji tetapi dia tidak pernah berkesempatan untuk berbuat demikian disebabkan kesibukan beliau berjihad untuk membebaskan Masjid al-Aqsa dan juga kerana kesempitan kewangan.

Dia sangat gemar mendengar bacaan Quran. Di medan peperangan dia kerap kali duduk mendengar bacaan al-Quran oleh tentera-tentera yang dilawatinya sehingga 3 atau 4 juzuk semalam. Dia mendengar dengan sepenuh hati sehingga berlinangan air mata yang membasahi dagu dan janggutnya.

Salahuddin sangat yakin dan percaya kepada pertolongan Allah swt. Dia sentiasa meletakkan segala harapannya kepada Allah terutama ketika dalam kesusahan. Pada satu ketika dia berada di Baitul Maqdis di dalam keadaan yang sangat sukar dan seolah-olah tidak dapat bertahan lagi daripada kepungan tentera bersekutu Kristian. Walaupun keadaan sangat terdesak, beliau enggan untuk meninggalkan kota suci itu. Di sepanjang malam, beliau bersolat sambil menangis sehinggakan air matanya membasahi janggutnya dan menitik ke tempat sembahyang. Kemudian, perbalahan sesama sendiri berlaku di antara tentera-tentera musuh yang menghasilkan berita yang baik bagi tentera Solahuddin beberapa hari selepasnya. Akhirnya tentera salib membuka khemah-khemah mereka dan berangkat dari bandar suci tersebut.

Solahuddin tidak pernah gentar dengan ramainya tentera Salib yang datang untuk menentangnya. Dalam peperangan Hittin, angkatan tentera Salib berjumlah sehingga 63 ribu orang, tetapi Solahuddin menghadapinya dengan tentera yang hanya seramai 12 ribu orang. Berkat kesungguhan perjuangan mereka dan dengan pertolongan Allah, mereka telah menang.

Solahuddin memiliki asas pengetahuan agama yang kukuh. Di samping Quran dia juga banyak menghafal syair-syair Arab. Beliau juga adalah seorang yang berpengetahuan tinggi dan gemar untuk mendalami lagi bidang-bidang akidah, ilmu hadith, syariah, usul fiqh dan juga tafsir Quran.

Solahuddin kembali ke rahmatullah pada usia 55 tahun pada hari Rabu, 27 Safar, 589 Hijrah atau 1193 Masihi. Dia tidak meninggalkan harta kecuali 1 dinar dan 47 dirham. Beliau juga tidak meninggalkan harta dan rumah atau tanah. Bahkan betapa sedikitnya harta yang ditinggalkan sehingga ianya tidak cukup untuk belanja pengkebumiannya, hinggakan kain kafan beliau itu pun diberikan oleh salah seorang menterinya.

Begitulah kehebatan tokoh pembebasan Al Aqsa dan bumi Palestin yang bernama Solahuddin al-Ayyubi.

Jerusalem

 

Bagaimana pula dengan kita? Tidakkah kita juga turut merindui suasana manis meraikan kemenangan membebaskan bumi tercinta ini?

Salam perjuangan

Sumber: Dr Z

17 May 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Foto Story, Renungan & Teladan | , , | Leave a comment

Cara mengenal Logo Halal JAKIM

image

16 May 2015 Posted by | Informasi | Leave a comment

Kurangkan bergaul dengan mereka yang Ghulu’ .

Kurangkan bergaul dengan mereka yang Ghulu’ .

Jangan Campur!

Kurangkan bercampur dengan mereka yang ghulu’ (ekstrim) dalam menghukum manusia.

Diriwayatkan daripada Imam Al-Syafi’ie rahimahullah bahawa beliau berpesan dengan berkata :

“Barangsiapa yang suka Allah membukakan hatiya dan memberikannya rezeki hikmah maka hendaklah dia berkhalwat (kurang bercampur dengan manusia tanpa keperluan), sedikit makan, dan tidak bercampur dengan orang-orang yang bodoh serta sebahagian ahli ilmu yang tidak memiliki sifat al-Insof dan adab.
[Mukadimah al-Majmuk Syarah al-Muhazzab, An-Nawawi]

# Maksud memiliki sifat Al-Insof ialah memiliki keadilan dan sifat pertengahan dalam perhubungan dengan manusia tanpa menyeleweng dan melampau hasil daripada ketaqwaan kepada Allah SWT.

Orang yang insof ialah mereka yang adil, tidak menzalimi dan tidak pula melampau dalam menilai dan menghukum manusia.

# Ilmu tanpa adab adalah tidak berguna sebagaimana kata Imam Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah :

“Hampir-hampir adab itu menjadi dua pertiga daripada ilmu.”
[Sifatus Sofwah, Ibn Jauzi]

Masalah kita sekarang bukan kerana ilmu lagi kerana yang suka bergaduh dan mencela manusia bukanlah orang yang jahil tetapi masalah kita pada hari ini ialah masalah adab seperti mana yang pernah disebutkan oleh sebahagian ulama salaf dengan berkata :

Kami lebih berhajat kepada banyaknya adab daripada keperluan kami kepada banyaknya hadith.

15 May 2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Bersangka baik

Bersangka baik

Berikut adalah tips dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani untuk sentiasa bersangka baik sesama insan…

– Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahawa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu
“Mungkin kedudukannya di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku”.

– Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah (dalam hatimu)
“Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepadaNya. Tentu anak ini jauh lebih baikdariku”

– Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah (dalam hatimu)
“Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”

– Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah (dalam hatimu)
“Orang ini memperoleh kurnia yang tidak akan kuperolehi, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yangtidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”

– Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah (dalam hatimu) “Orang ini bermaksiat kepada Allah kerana dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepadaNya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.”

– Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah (dalam hatimu)
“Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, mungkin di akhir usianya dia memeluk Islam dan beramal soleh.

Dan mungkin boleh jadi di akhir usia diriku kufur dan berbuat buruk.Pendek kata, konsep sangka baik ialah tidak memandang diri lebih baik, lebih bagus, lebih afdhal dan lebih tinggi dari sesiapa pun kerana kita tidak mengetahui benar-benar dari Lauh Mahfuz adakah kita akan meninggal dengan husnul khatimah (pengakhiran baik) atau su’ul khatimah (pengakhiran buruk).

Tidak rugi kita bersangka baik terhadap insan daripada kita bersangka buruk yang boleh mendatangkan dosa.

Jika ternampak sesuatu yang boleh membawa kita bersangka buruk kepada manusia lain maka carilah 70 alasan untuk kita terkeluar dari sangkaan buruk tersebut agar kita dapat bersangka baik dengannya.

Seseorang yang bersangka baik, dia tetap benar disisi Allah walau sangkaannya itu tersalah namun seseorang yang bersangka buruk akan tetap salah disisi Allah walau sangkaannya itu tepat dan benar.

Satu-satunya yang kita boleh bersangka buruk ialah nafsu kita sendiri. Carilah aib dan kekurangan diri sendiri, jika kita sibuk dengan keaiban kita masing-masing nescaya kita tidak akan ada masa untuk mengintai dan memperkatakan keaiban orang lain.

Semoga kita diberi sifat mata lebah yang sentiasa melihat dan mencari kebaikan bunga di mana-mana dan bukan bagaikan mata lalat yang sentiasa memandang dan mencari kotoran dan najis diserata tempat

Subhanallah……

Ingatan untuk diri sendiri dan sahabat yg tak rasa diri terlalu suci d mataMu ya Allah.

Sumber

14 May 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

WABAK AKHIR ZAMAN, HILANGNYA KEYAKINAN TERHADAP

WABAK AKHIR ZAMAN, HILANGNYA KEYAKINAN TERHADAP SYARIAT ALLAH
oleh Tuan Guru Hj Abdul Hadi Awang.

Satu perkara yang mendukacitakan berlaku di tengah-tengah masyarakat Islam mutakhir ini ialah hilangnya keyakinan terhadap hukum Allah. Adalah satu perkara yang tidak munasabah dan haram berlaku di kalangan umat Islam bahawa orang-orang yang mengaku Islam, tidak yakin kepada hukum Allah, kerana ia bermakna juga tidak yakin kepada Allah dan tidak yakin kepada Rasulullah s.a.w sebagai pembawa dasar perundangan Ilahi.

Tidak terkumpul di dalam hati orang yang beriman dengan keraguan dan syak terhadap ajaran Islam kerana kesangsian kepada ajaran Islam dan tidak yakin kepada hukum itu adalah perkara yang boleh merosakkan dan membatalkan iman. Firman Allah dalam ayat 65 surah an-Nisa’ maksudnya:

“Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad)! Mereka tidak disifatkan beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim dalam mana-mana perselisihan yang timbul di antara mereka, kemudian mereka pula tidak merasa di hati mereka sesuatu keberatan daripada apa yang telah engkau hukumkan, dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya.”

Di tengah-tengah masyarakat Islam hari ini terkeluar kata-kata dan tulisan-tulisan yang berani mencabar hukum Allah, ada yang berani mengatakan hukum Allah itu sudah lapuk, hukum “hudud” yang ada dalam al-Quran itu tidak lebih daripada hukum yang diamalkan oleh kabilah-kabilah Arab pada zaman dahulu yang dipanjangkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Mereka tidak menyedari bahawa kedatangan Rasulullah s.a.w ialah untuk menentang hukum-hukum kabilah yang zalim, mengapa mereka mengatakan al-Quran itu ajaran yang diamalkan oleh kabilah-kabilah Arab? Ini adalah satu tuduhan jahat terhadap al-Quran al-Karim dan hukum Islam.

Dan apa yang mendukacitakan, umat Islam yang begitu ramai di dalam negara ini tidak terasa apa-apa orang menghina Islam dan mengejek hukum Islam di hadapan mereka.
Di manakah kasih mereka terhadap Islam sehingga tidak ada perasaan cemburu sedikitpun di dalam hati mereka terhadap Allah?

Mereka akan melenting sekiranya harta dan kepunyaan mereka daripada harta benda dunia diganggu-gugat, tetapi mereka tidak melenting sekiranya agama mereka diberikan kedudukan yang tidak selayaknya. Beginilah rendahnya maruah umat Islam hari ini.

Di manakah letaknya kemanisan iman yang dinyatakan oleh Rasulullah s.a.w. yang bermaksud,“Tiga perkara yang sesiapa ada padanya, maka dia mempunyai kemanisan iman.

Pertama bahawa Allah dan Rasul-Nya terlebih kasih kepadanya daripada yang lain.

Kedua dia tidak kasih kepada seseorang melainkan kerana Allah.

Ketiga dia benci kalau dicampak di dalam kekufuran sebagaimana dia benci kalau dicampak ke dalam api neraka.”

Di mana kemanisan iman? Di mana ketiga-tiga perkara ini di dalam hati umat Islam hari ini? Adakah di dalam hati mereka perasaan kasih kepada Allah dan kasih kepada Rasulullah s.a.w? Sekiranya mereka kasih kepada Allah dan cinta Rasulullah, sudah tentu mereka kasih kepada hukum Allah dan kasih kepada ajaran yang ditinggalkan oleh baginda Rasulullah s.a.w.

Ke manakah perginya kasih mereka kerana Allah? Di mana perginya cinta Rasul? Kasih mereka tidak lain kerana kemahsyuran dan penghormatan dunia semata-mata.

Ke manakah perginya benci mereka kepada kekufuran? Bahkan mereka berlumba-lumba untuk menuju kepada kekufuran sekiranya kekufuran itu mengenyangkan mereka dan menambahkan keseronokan di dalam hidup mereka.

Adakah mereka tidak sedar dalam perkara seperti ini, Allah telah mewajibkan kepada Nabi Muhammad s.a.w dan kepada umat Islam supaya menegakkan hukum Allah di atas muka bumi ini.
Allah berfirman menerusi ayat 105 daripada surah an-Nisa’ maksudnya:
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab (al-Quran) dengan membawa kebenaran, supaya engkau menghukum di antara manusia menurut apa yang Allah telah tunjukkan kepadamu (melalui wahyu-Nya); dan janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang khianat.”

Manusia hari ini terlalu suka menjadi penolong dan penyokong kepada orang-orang yang khianat kepada hukum Allah. Di manakah kasih mereka kepada Allah dan kepada Rasulullah s.a.w?
Dan Allah menamakan hukum yang lain selain daripada hukum-Nya adalah jahiliyah sebagaimana yang disebut dalam ayat 50 surah al-Maidah maksudnya:
“Sesudah itu, patutkah mereka berkehendak lagi kepada hukum-hukum jahiliyah? padahal – kepada orang-orang yang penuh keyakinan – tidak ada sesiapa yang boleh membuat hukum yang lebih baik daripada Allah.”

Orang-orang yang yakin ialah orang-orang yang yakin kepada Allah dan Rasulullah s.a.w, iaitu yakin kepada Islam mestilah yakin juga kepada hukum Allah dan tidak yakin kepada yang lain daripada hukum Islam.

Allah juga menamakan hukum yang lain daripada Islam sebagai jahiliyah atau hukum yang menurut hawa nafsu. Dan yakin kepada hukum yang lain bermakna tidak yakin kepada Allah.

Allah menjanjikan kelebihan, kurniaan, pahala dan syurga serta kebahagiaan di dunia dan di akhirat kepada siapa yang beriman dan beramal salih. Di antaranya mereka yang menegakkan hukum Allah.

Sementara syaitan pula menjanjikan kemiskinan, kepapaan, kesusahan dan kemunduran kepada siapa yang beramal dengan hukum Allah. Yang mana kamu lebih percaya? Kamu percaya kepada janji Allah atau kepada janji syaitan?

Tepuklah dada kamu dan tanyalah iman yang ada di dalam hati kamu itu. Sekiranya kamu bertanya iman yang sebenar, sudah tentu iman yang sebenar akan menerima hukum Allah.

Biodata Penulis
Y.A.B Dato’ Seri Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang merupakan Presiden Parti Islam SeMalaysia (PAS). Beliau pernah memangku jawatan sebagai Menteri Besar Terengganu. Pernah melanjutkan pelajaran ke Universiti Islam Madinah tahun 1969-1973, kemudian melanjutkan pelajaran ke Universiti Al-Azhar ke peringkat M.A (Siasah Syariyyah). Semasa di Timur Tengah, beliau aktif bersama Gerakan Ikhwanul Muslimin bersama Dr. Said Hawa, Profesor Muhamad Al Wakeel serta Dr. Abdul Satar Al Qudsi.

Sumber: Tarbawi

11 May 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

Memahami Tasawwuf

Kenyataan Mufti Wilayah Persekutuan

Amatlah perlu kita memahami hakikat tasawwuf sebenar dan juga tareqat supaya apa yang kita amalkan benar-benar mengikut yang diredhai Allah SWT.

Syeikh Dahlan al-Qadiri dalam kitabnya Siraj al-Talibin telah menyebut bahawa hukum belajar tasawwuf adalah wajib aini bagi setiap mukallaf. Ini kerana sebagaimana wajib mengislahkan yang zahir, begitu juga wajib mengislahkan yang batin.

Benarlah kata Imam Malik
Siapa yang bertasawwuf tanpa faqih dia mungkin membawa kafir zindiq.
Siapa yang mempelajajari feqah tanpa tasawwuf, dia boleh membawa fasiq.
Siapa yang menghimpunkan kedua-duanya nescaya dia yang sebenarnya tahqiq.

Tatkala kita ingin mendekatkan diri kepada Allah samada melalui ilmu atau penghayatan amalan maka hendaklah ia benar-benar mengikut apa yang disyariatkan oleh Allah.

Syeikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berkata dan mewasiatkan kepada anaknya: “Terbanglah kamu ketika kamu menuju kepada Allah dengan dua sayap iaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul.” Hal ini amat penting kerana sehebat mana manusia sekalipun, jika rujukannya bukan lagi Kitabullah dan Sunnah Rasul maka mudahlah terbelit dengan godaan syaitan.

Justeru, amat wajar kita melakukan sesuatu benar-benar dengan kefahaman dan sebaliknya tanpa ilmu, seseorang itu mudah terpedaya dan tergelincir daripada hakikat Islam yang sebenar. Bacalah kitab-kitab tasawwuf seperti Minhaj al-Abidin oleh Imam al-Ghazali, Mukhtasar Minhaj al-Qasidin oleh Ibn Qudamah al-Maqdisi dan lain-lain ulama sufi yang muktabar.

Kenyataan Mufti WP

10 May 2015 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Suuzon (Bersangka buruk).

Suuzon.

Islam itu indah, perkara prasangka pun telah di tetapkan dalam Islam. Suuzon atau Su’udzon yang membawa maksud berprasangka negatif, menyangka buruk atau menaruh curiga terhadap seseorang yang belum terbukti orang tersebut melakukan kesalahan.

Islam sangat melarang umatnya bersangka buruk sesama muslim kerana sangkaan negatif, buruk dan jahat akan mengundang malapetaka kepada seseorang itu. Setiap syak wasangka hendaklah berdasarkan bukti yang kukuh dan bukan sekadar dengar cakap, tuduhan melulu, mengikut tuduhan orang, dan fitnah semata-mata.

Firman Allah maksudnya:
“Dan orang-orang yang mengganggu dan menyakiti orang-orang mukmin lelaki dan perempuan yang beriman, dengan perkataan atau perbuatan yang tidak tepat atau sesuatu kesalahan yang tidak dilakukannya, maka sesungguhnya mereka telah memikul kesalahan menuduh secara dusta dan berbuat dosa yang amat nyata.”

(Surah Al-Ahzab, 33; Ayat 58)

Sebahagian dari prasangka adalah dosa. Sesiapa yang mempunyai sifat buruk sangka kepada sesama Islam, maka ia wajib bertaubat dan beristiqfar kepada Allah. Orang yang berburuk sangka adalah melakukan perbuatan jahat dan berdosa besar; Dan setiap perbuatan jahat, Allah akan mencampakkannya ke dalam neraka Allah.

Firman Allah bermaksud:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak berprasangka; Sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang mengumpat sebahagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.”

(Surah Al-Hujurat, 49; Ayat 12)

Orang yang bersikap ‘suuzon’ (bersangka buruk) juga sama dosanya seperti memakan daging saudaranya yang telah mati. Jauhilah sifat penyakit hati ini, kerana ia juga dapat merugikannya juga. Kembalilah ke jalan Allah dengan sebenar taubat dan tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut.

Perkara buruk ini telah menjadi darah daging umat Islam sekarang ini terutama Melayu Islam yang sentiasa iri hati dan bersangka buruk terhadap saudara Islamnya. Dengan menuduh orang melakukan perbuatan mungkar tanpa mempunyai bukti yang kukuh. Malah orang yang bersangka buruk itulah yang diagungkan sebagai orang yang hebat dan bijak. Inilah petanda akhir zaman kerana umat Islam tidak lagi berbangga dengan kerja-kerja amalnya dan mereka merasa besar dan gah dengan dosa yang dilakukan oleh mereka. Jika perkara ini tidak ditegah, maka ia juga akan merugikan semua pihak dan mengundang bala Allah yang datang tidak mengira darjat, iman dan bangsa.

Akibat Bersangka Buruk:

Bersangka buruk boleh membawa banyak kesan negetif dan masalah. Antaranya adalah:

Mengakibatkan manusia dan ummah berpecah-belah antara satu sama lain yang akan merugikan masyarakat dan Negara bak kata pepatah ‘Kerana pulut santan binasa, kerana mulut badan binasa.’
Merosakkan jiwa dan meninggalkan kesan noda dan titik-titik hitam pada hati, Titik hitam ini hanya melekat pada hati yang kotor. Jika hati sudah penuh dengan titik hitam, maka proses pembersihannya juga menjadi sukar.
Sentiasa berasa sakit hati dan kecewa atas kejayaan yang dicapai orang lain.
Jika hati seseorang itu penuh dengan sangka buruk, ia akan menimbulkan perasaan benci, geram dan segala dendam, sudah pasti apabila terlihat sahaja muka saudaranya itu, biarpun sangkaannya itu belum terbukti benar.
Memburukkan hubungan persahabatan dan persaudaraan. Apabila hati bersangka buruk terhadap seseorang, maka sudah pasti hatinya bertambah keruh dan menjarakkan lagi hubungan silaturahim sesama manusia.
Menyebabkan penyesalan dalam hubungan manusia sesama manusia kerana menuduh manusia lain tanpa bukti kukuh.

Firman Allah bermaksud:
“Wahai orang-orang Yang beriman! jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum Dengan perkara yang tidak diingini Dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) – sehingga menjadikan kamu menyesali apa Yang kamu telah lakukan.”
(Surah Al-Hujurat, 49; Ayat 6)

Mengubah Sikap Bersangka Buruk:

Bagi mengatasi masalah ini tak lain dan tak bukan hanyalah dengan mengubah corak fikiran kita dalam menghadapi sesuatu. Kita menyangka baik terhadap orang lain, jika sangkaan itu salah maka kita tetap dapat pahala kebaikan, tetapi sebaliknya kalau kita suudzon terhadap orang lain, sekiranya sangkaan buruk itu betul kita tetap berdosa, apalagi kalau sampai sangkaan itu salah. bertolak dari sikap suudzon ini juga kita sering terjerumus ke dalam kancah mengumpat atau mengata keburukan orang lain.

Berikut adalah tips mengelakkan suudzon (buruk sangka):

1. Sentiasa memberi penghargaan pada orang lain

2. Sentiasa mahu belajar dari orang lain

3. Perbanyak ilmu; Ilmu agama, social, dsb.

4. Banyak bergaul dengan pelbagai peringkat orang

5. Terbuka, tidak suka menyembunyikan sesuatu / masalah

6. Berusahalah sentiasa mengamalkan sikap berfikiran positif

7. Yakinlah bahawa kita mampu menjadi lebih baik dari orang lain

8. Perbanyak kegiatan kemasyarakatan, jangan suka membuang masa dan perbuatan sia-sia.

9. Khusnudzon; baik sangka pada orang lain dan kepada Allah سبحانه وتعالى.

10. Mensyukuri apa yang kita terima selama ini sebagai anugerah dari Allah سبحانه وتعالى.

11. Jangan sesekali bersikap suudzon dan berfikiran negatif kepada sesuatu yang belum kita tahu kebenarannya.

12. Jangan menelan mentah mentah cerita yang kita terima dari orang lain.

13. Selidiki dulu apakah berita yang kita terima itu benar atau tidak sebelum kita menyebarluaskannya kepada orang lain.

14. Milikilah prinsip bahawa sifat iri hati dan dengki terhadap kemajuaan / kejayaan orang lain adalah merugikan diri, keluarga, komuniti dan Negara kita sendiri.

Sangka Buruk Yang Harus:

Umat Islam juga perlu bersangka buruk terhadap beberapa perkara. Contohnya soal keselamatan diri, seperti yang ditanyakan di atas, ternampak orang yang tak dikenali berkeliaran di persekitaran perumah pada waktu malam. Ini bukan kita menuduh, tetapi kita mengambil sikap berjaga-jaga dari berlakunya musibah-musibah yang tak diingini. Perbuatan sangka buruk seperti ini diharuskan, kerana ia menjaga keselamatan diri dan harta kita.

Bersangka buruk terhadap prestasi pelajaran anak-anak, kerana mereka tidak membaca buku dan hanya main game dan menonton TV sahaja. Hasil dari sangka buruk tersebut, kita menghantar anak menghadiri kelas tusyen, kelas tambahan atau kem motivasi untuk meningkatkan prestasi anak tersebut. Maka di sini merupakan sangka buruk yang menguntungkan semua pihak.

Bersangka buruk terhadap pokok besar yang condong ke arah rumah kita, maka dengan sangka buruk tersebut kita mengupah orang untuk memotong pokok tersebut untuk menjaga keselamat rumah dan nyawa keluarga kita. Maka bersangka buruk seperti ini juga diharuskan. Pendek kata, bersangka buruk yang menguntungkan semua pihak tanpa mengorbankan pihak-pihak yang tertentu atau sebagai langkah keselamatan, adalah diharuskan untuk kepentingan semua pihak.

Kesimpulannya:

Setiap Muslim tidak boleh bersikap suudzon (berprasangka negatif) kepada saudaranya kerana dengan suudzon, kita menutup pintu hati, tidak mahu menerima dan menolak terus apa yang dikatakan saudara kita yang lain.

Bersangka baiklah (husnuzon) kepada semua orang, kerana sangka baik itu meguntungkan semua pihak dan perbuatan tersebut adalah perbuatan ‘mahmudah’ (terpuji). Jangan sesekali bersangka jahat kepada orang, terutamanya saudara sesama Islam, kerana ia merugikan semua pihak dan dosanya juga besar. Jika ada orang yang mempunyai sifat ini, segeralah beristiqfar kepada Allah kerana Allah sentiasa terbuka menerima taubat hambanya.

Wallahu A’lam

Sumber:https://shafiqolbu.wordpress.com/2013/04/30/suuzon-bersangka-buruk/

9 May 2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

ALLAH ADAKAN DISETIAP NEGERI (TIDAK KIRA SIAPA YG

Firman Allah Taala maksudnya:

“Dan demikianlah Kami adakan disetiap dalam tiap2 negeri orang besar yang jahat supaya mereka melakukan tipu daya dinegeri itu. Padahal tiadalah mereka memperdayakan selain daripada dirinya sendiri ( kerana merekalah yang akan menerima akibat yang buruk), sedang mereka tidak menyedarinya.”

(Surah An-An’am 6/ Ayat 123)
——————————-

Mengikut Tafsir Al-Maraghiy,
Sesungguhnya sunnah Allah Swt kepada umat manusia telah ditetapkan, bahwa setiap kota besar dari suatu bangsa atau umat, samada dikalangan mereka telah diutuskan rasul atau tidak, terdapat para pemimpin jahat yang melakukan tipu daya keatas rasul atau orang2 yang salih.

Demikianlah halnya berlaku pada setiap generasi umat manusia, apalagi pada masa sekarang yang penuh dengan kerakusan dan ketamakan untuk naik menjadi pemimpin atau pembesar negara.

Yang adanya untuk mendaki tangga naik keatas itu dari awal lagi telah menggunakan pelbagai cara penipuan dan tipu helah bagi memastikan seseorang pemimpin itu dapat naik keatas menjadi pemimpin utama disebuah negara.

Yang dimaksudkan pemimpin jahat iaitu orang yang melawan seruan kearah kebaikan dan memusuhi para ulama’ pewaris nabi2 dan juga memusuhi mereka yang melakukan kerja2 amar maaruf dan mencegah kemungkaran.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir pula,

Ibnu Abi Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ayat ” penjahat2 yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu” yakni Allah menjadikan orang2 yang paling jahat diantara mereka sebagai penguasa, lalu mereka berbuat durjana dinegeri tersebut. Jika mereka melakukan demikian , maka Allah akan binasakan mereka dengan azab.

Hakikat dalam masyarakat dulu dan kini;

Ramai para pemimpin utama Quraisy di Makkah dulu memiliki sifat2 begini , diantaranya Abu Jahal, Abu Lahab, Utbah, Abu Suffian dan lainnya.

Orang2 yang memiliki sifat yang sama dizaman mutakhir ini adalah meneruskan kerja2 keji yang pernah dilakukan oleh pembesar Quraisy itu.

Allah Swt menegaskan para pemimpin yang melakukan kerja tipu daya ini, sesungguhnya mereka menipu diri mereka sendiri.
Sunnatullah telah menunjukkan bahwa setiap kerja jahat itu akan terkena balik pada diri si pelakunya sendiri.

Allah Swt telah memberikan jaminan bahwa perjuangan menegakkan yang hak itu akhirnya dapat mengalahkan perjuangan yang batil.

Ayat diatas memberikan motivasi kepada Rasulullah Saw dan para sahabat Ra untuk bersabar dalam perjuangan Islam
menghadapi puak kuffar di Makkah dan Madinah .

Ayat ini sudah pasti memperingatkan setiap pendukung risalah Islam dan juga kerja2 dakwah bahwa setiap kerja2 kebaikan itu
akan penerima penentangan dari para pemimpin yang ada kerana mereka itu akan berusaha bermatian untuk mengekalkan kuasa yang mereka ada.

Kita renung sejenak kepada sejarah bumi Masir , apa yang telah dilakukan oleh Gamal Abdul Nasir, Anwar Sadat, Hosni Mubarak dan juga Al-Sisi. Berapa ramai para pemimpin Islam telah dianiaya .

Banyak lagi pemimpin2 dunia umat Islam yang telah mencatatkan sejarah hitam dinegara masing2.

Akhir sekali, berwaspada terhadap para pemimpin yang diberi gelaran “orang2 besar yang jahat” ini kerana sekiranya kita membantu para pemimpin yang jahat dan zalim itu dikhuatiri diri kita sendiri akan terkena percikan api neraka , seperti yang disebutkan dalam surah Hud 11/ayat 113 yang bermaksud:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang2 zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sesungguhnya kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah…”

Ingatlah, ini amaran keras daripada Allah Swt sendiri dalam Al-Quran !

Rujukan

Tafsir Ahmad Mustaffa Al-Maraghiy – Jilid 4

Sahih Tafsir Ibnu Katsir -Jilid 3

(Sumber)

9 May 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Siapa Thoghut?

SIAPA PENYEMBAH THOGHUT?

Mereka adalah orang yg mengagungkan sesorang individu,kumpulan atau golongan berlebih lebihan sehingga tidak nampak langsung keburukannya. Pada masa yg sama mereka membenci pihak lain berlebih lebihan sehingga tidak nampak sedikit pun kebaikanya.MATA HATI MEREKA BUTA.

Mereka lupa hakikat bahawa tiada manusia yang benar benar sempurna sepenuhnya. atau tiada manusia yg dijadikan Allah tidak berguna & sia sia.

“Mereka lupa bahawa tiada apapun yg Allah ciptakan di dunia ini dengan sia sia” (Maksud Al Quran) .

Sumber

7 May 2015 Posted by | Politik dan Dakwah | Leave a comment

Mengislamkan Demokrasi?

Terlibat dengan sistem demokrasi samalah dengan mendokong dan menyuburkan nya.

Demokrasi sebagai suatu sistem kehidupan yang menjadikan akal manusia sebagai sumber hukumnya dalam menentukan baik dan buruknya sesuatu perkara telah menyerlahkan kebusukannya.

Dengan apa yang berlaku di sekeliling masyayakat yg mengamalkan sistem demokrasi serta bukti-bukti lain yang dipaparkan setiap hari, maka sudah sampai masanya umat Islam terutamanya para pemimpin mereka sedar akan ketidakmampuan sistem ini diguna pakai dalam mengatur urusan kehidupan manusia.

Umat Islam perlu sedar bahawa demokrasi adalah sistem yang digunakan oleh Barat untuk terus menjajah dan merosakkan dunia Islam. Untuk itu, apakah umat Islam masih lagi menaruh harapan kepada sistem toghut ini?

Apakah Islam tidak mempunyai sistem kehidupannya yang tersendiri sehinggakan umat Islam terpaksa menumpang dan mengemis kepada sistem demokrasi yang rosak ini?

Kebergantungkan umat Islam kepada sistem kufur ini menjadinlebih parah lagi apabila adanya para ulama di kalangan umat Islam termasuklah juga dari parti-parti Islam yang mengiktiraf sistem ini.

Mereka sanggup mengeluarkan fatwa yang pada hakikatnya ia hanyalah “auta” bagi menghalalkan sistem kufur ini.

Syura disamakan dengan suara majoriti dan Parlimen serta bermacam-macam lagi justifikasi yang dilakukan untuk mengIslamkan demokrasi.

Bukankah tindakan ini seumpama cuba menghalalkan babi dengan menyembelihnya dengan ucapan lafaz Bismillah, lalu babi itu pun menjadi halal?!

Justeru, umat Islam perlu sedar akan kekeliruan pemikiran-pemikiran yang mengatakan bahawa demokrasi itu ada di dalam Islam atau demokrasi boleh di Islamkan. Sampai bilakah umat Islam akan terus ditipu oleh demokrasi?

Sumber :

7 May 2015 Posted by | Politik dan Dakwah | Leave a comment

Orang Yang mencintai Allah

Dalam kitab Al-Futuhat Al Makkiyyah ada menceritakan kriteria orang yang dicintai Allah didalam Al Qur’an : . .

Pertama
Orang yang hanya menjadikan Allah sebagai pelindung – .

Kedua
Orang yang mencintai Allah dan berusaha meniru sifat-sifatnya (keindahannya), misal menjadi lebih sabar, lebih penyayang, Lebih pemaaf dsb. – . .

Ketiga
Orang yang senantiasa kembali kepada Allah, bertaubat. Dalam pengertian setiap kali tersungkur dalam maksiat, dengan segera dia bertaubat. – . .

Keempat
Orang yang selalu menyucikan diri lahir dan batin. .

Kelima
Orang yang selalu bersyukur atas nikmat dan kehendak Allah. Bagi para wali musibah dan karunia adalah sama-sama nikmat, kerana keduanya datang dan berasal dari Allah. . .

Keenam
Orang yang selalu berbuat baik dan memperbaiki, yang disebut Muhsin. . .

Ketujuh
Orang yang selalu menghadirkan Allah dalam hatinya, pada setiap detak jantung dan hembusan nafasnya.
Para wali Allah adalah Ahlullah atau. Yakni hamba-hamba yang mendapatkan bimbingan dan penjagaan Allah, sekaligus tugas tertentu dari Allah.

Wallahualam

Dari: Pencinta Rasulullah

26 April 2015 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

KUBUR PARA WALI DAN ORANG SOLEH

Kubur Tok syeikh Paloh

Kubur To Syeikh Paloh

 

Syeikh Daud al Fatoni Rodiyallahu Anhu berkata: Perbuatan menulis nama si mati sama ada kepingan batu atau pada batu nisannya dan dipacakkan di bahagian kepalanya adalah MAKRUH. TETAPI jika bertujuan supaya dikenali dan memudahkan orang menziarahi kuburnya maka hukumnya adalah SUNAT sekadar keperluan.

LEBIH2 LAGI bagi KUBUR PARA WALI dan ORANG2 SOLEH kerana orang tidak akan mengetahui kuburnya setelah lama masanya melainkan dengan cara demikian.

Adapun perbuatan MEMBINA SESUATU DI ATASNYA atau MELETAKKAN KOTAK KURUNGAN DI SEKELILINGNYA atau MEMBUAT TEMBOK DARIPADA BATU MARMAR dan SEUMPAMANYA( bertujuan untuk mencantikannya dan juga sebagai perhiasan),maka hukumnya seperti biinaan dan MAKRUH dilakukan jika tanah itu miliknya

TETAPI jika sekiranya tanah itu bukan miliknya bahkan tanah wakaf yang diwakafkan,maka hukumnya adalah HARAM jika si mati itu bukan daripada GOLONGAN SOLEH ,PARA AULIYA’ dan PARA ULAMAK.

(Rujukan kitab Furu’ al Masail Syeikh Daud al-Fatoni bab Hukum mengebumikan jenazah)

# Perkara ni adalah khilafiyyah,maka orang yang berbeza pandangan sepatutnya meraikan dan tidak membidaah sesatkan orang yang membuatnya,dok senyap2 sudah

 

Sumber: Mukasyafatul Qulub

22 April 2015 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Zikir sambil ‘goyang badan’ tidak dilarang

PUTRAJAYA – Pengerusi Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan (JFK), Prof Emeritus Tan Sri Abd Shukor Husin berkata secara asasnya tiada larangan terhadap perbuatan melakukan zikir sambil ‘menggoyangkan badan’.

Menurutnya, untuk mengatakan perbuatan ini haram atas dasar Rasulullah tidak pernah melakukannya, ia adalah tidak tepat kerana pada asasnya perkara harus kekal harus melainkan ia bertentangan dengan prinsip dan semangat al-Quran dan Sunnah.

"Sesuatu yang tidak dibuat oleh Nabi tidak semestinya haram berdasarkan  kaedah tarku al-shay’ la yaqtadi tahrimuhu iaitu sekiranya (Rasulullah) meninggalkan sesuatu tidak semestinya bererti membawa hukum pengharamannya’. Juga berdasarkan kaedah fiqh al-umur bi maqasidiha (setiap perkara adalah berdasarkan matlamatnya).

"Walaubagaimanapun perbuatan zikir yang dilakukan haruslah tidak keterlaluan sehingga menghilangkan matlamat zikir itu sendiri iaitu untuk mengingati ALLAH. Ia juga hendaklah tidak melibatkan perkara-perkara yang haram dan maksiat seperti percampuran bebas lelaki dan wanita, pembukaan aurat, iringan nyanyian dan muzik yang keterlaluan sehingga merosakkan amalan zikir tersebut dan lari dari batas syariah Islam," katanya ketika sidang media khas Majlis Muzakarah Fatwa Kebangsaan di Ibu Pejabat Jakim Putrajaya, hari ini.

Mengulas lanjut, Abd Shukor berkata, perkara penting yang harus diambil perhatian dalam isu ini ialah perkara yang dilakukan tidak seharusnya melampaui batas.

"Apa sahaja dalam agama yang bersifat melampaui batas adalah ditolak. Oleh yang demikian kita melihat ramai ulama yang membezakan pergerakan dalam zikir antara yang bersifat fitrah dengan sesuatu yang dibuat-buat atau secara berlebihan.

"Sesuatu yang dibuat-buat atau berlebih-lebihan adalah tertolak kerana ia bertentangan dengan semangat zikir iaitu untuk mengingati ALLAH," katanya.

Dalam isu berkaitan, Abd Shukor berkata, JFK tidak pernah menarik balik pengharaman ke atas tariqat Naqsyabandiah Al-Aliyah pimpinan Syeikh Nazim yang diputuskan pada 3 April 2000.  

Ujarnya, jawatankuasa tersebut mendapati tariqat itu bertentangan dengan fahaman akidah Ahli Sunnah wal-Jamaah dan menyeleweng dari ajaran Islam.

Abd Shukor juga berkata, jawatankuasa itu tidak menemui fakta sahih untuk mengaitkan kumpulan Habib, yang terkenal dengan program qasidah dan zikir dengan tariqat itu walaupun tokoh qasidah terkenal dari Indonesia, Habib Syech Abdul Qadir Assegaf yang terkenal dengan lagu Ya Hanana, dikatakan pernah bergambar bersama Syeikh Nazim, kata Abd Shukor.

"Sejak akhir-akhir ini telah dikalutkan dengan isu tariqat Naqsyabandiah Al-Aliyah Syeikh Nazim Al-Haqqani dalam pelbagai media sosial dan cuba dikaitkan dengan kumpulan Habib," kata beliau.

 

image

  • Prof Emeritus Tan Sri Abd Shukor Husin (tengah) bercakap pada sidang media di Putrajaya, hari ini. – Foto Sinar Harian

Sumber: Sinar Harian

20 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Antara kelebihan Bulan Rejab

1. Jawapan dari Ustaz Salman Maskuri :

Daripada Usama bin Zaid ra, beliau berkata:

ولم يكن يصوم من الشهور ما يصوم من شعبان قلت ولم أرك تصوم من الشهور ما تصوم من شعبان؟
ذاك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين عز وجل فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم
"Rasulullah saw tidak pernah berpuasa sebanyak yang baginda puasa dibulan sya’ban." Aku bertanya kepada baginda " Kenapa aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dibulan-bulan yang lain sepertimana engkau berpuasa dibulan sya’ban." Baginda saw menjawab: Itulah bulan yang ramai manusia lalai iaitu diantara bulan rejab dan bulan ramadan. Ia juga bulan yang diangkatkan amalan kepada Allah swt. Aku suka diangkat amalanku dalam keadaan aku berpuasa." (Hadis Ahmad dan Nasaie – sanad yang hasan)

Disini Nabi menyebut dua kelebihan bulan rejab:-

– Bulan yang disunatkan beramal terutamanya puasa kerana bulan yang mana manusia biasa lalai dalam bulan ini.

– Bulan yang diangkat amalan kepada Allah swt.

2. Daripada Uthman bin Hakim al ansari beliau (Uthman) pernah menanyakan Sa’id bin Jubair tentang puasa Rejab (pada bulan Rejab) dan kami ketika itu berada pada bulan rejab. Sa’id menjawab :

"Aku mendengar Ibn Abbas berkata. "Adalah Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam berpuasa (Rejab) sehingga kami menyangka baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam tidak berbuka (terus menerus berpuasa) dan Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam berbuka sehingga tidak nampak berpuasa"

Riwayat Muslim. Lihat sahih Muslim Beirut : dar Ihya’ Thuras al Arabi t.th 2/811

Imam Nawawi menyatakan :

"Apa yang zahir dari ucapan Sa’id bin Juba’ir menjadi bukti bahawa tiada tegahan untuk berpuasa padanya (Rejab) kerana (semata) bulan berkenaan. Bahkan kedudukannya sama mengikut baki bulan Islam yang lain. dan tidak ada larangan (yang thabit) untuk melakukan ibadat puasa di Bulan Rejab, tidak pula disunatkan kerana bulannya. Tetapi apa yang disunatkan ialah kerana kesunahan puasa tersebut.

(Lihat Syarh an Nawawi ala Shahih Muslim, Beirut: Dar Ihya’ Thurathal arabi, 1392H, 8/38)

al Imam al hafiz, Syaikh Ibn Rajab al Hanbali menyebutkan di dalam Latho’if al Ma’arif

"Dan adapun puasa (puasa Rejab) , maka tidak ada suatu khabar yang shahih tentang fadhilat puasa Rejab secara khusus dari Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan tidak juga dari para sahabat baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi diriwayatkan dari Abi Qilabah, dia berkata : "Di dalam syurga ada mahligai untuk sesiapa yang berpuasa Rejab". Imam al Baihaqi berkata : "Abi Qilabah adalah dari Kibar Tabi’ien (Tabi’ien terkemuka), dia tidak akan berkata seperti itu melainkan diambil daripada seseorang (iaitu para sahabat) yang perkataannya di ambil pula dari RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam.

Sesungguhnya telah warid tentang puasa pada bulan-bulan Haram (termasuk Rejab) keseluruhannya dari hadith Mujibah al Bahiliyyah dari bapanya dan bapa saudaranya, sesungguhnya Nabi berkata kepadanya :
"Puasalah pada bulan-bulan Haram, dan tinggalkanlah." Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam mengucapkannya sebanyak tiga kali. Hadith ini ditakhrijkan oleh Abu Daud dan selainnya. Ibnu Majah mentakhrijkannya dengan lafaz di sisinya: "Puasalah pada bulan-bulan Haram". Sesungguhnya setengah daripada para Salaf berpuasa sepenuh-penuh bulan-bulan Haram di antara mereka Ibn Umar, al Hasan al Bashri dan Abu Ishaq as Subaili. Sufyan At Thauri berkata: Bulan-bulan Haram, aku menyukai untuk berpuasa dalamnya"

Rujuk Latho’if al Ma’arif fi ma li Mawasim al ‘Am min al Wazha’if, al Imam al Hafiz Zain Ad Din bin Rejab al Hanbali, ta’liq Muhammad al Iskandarani, Beirut: Dar al Kitab Al Arabi
Cetakan Kedua, 1416H/1996M, ms. 120.

3. Jawapan Ustaz Syed Abdul Kadir al Joofre :

Berkata Imam asy-Syafi’ie dalam kitabnya al-Umm:

"Telah sampai pada kami bahawa dikatakan: Sesungguhnya doa dikabulkan pada lima malam iaitu: pada malam Jumaat, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya ‘Aidil Fitri, malam pertama di bulan Rejab dan malam nishfu Sya’baan."

4. Jawapan Ustaz Subki, Mudir Tahfiz Repek :

Ada hadith sahih yang menyatakan sunat berpuasa Bulan Rejab sebagaimana yang disebutkan oleh Imam asy Syaukani dalam kitabnya Nailu Authar. Hadith tersebut ialah suatu hari Usamah bertanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : "Mengapa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam banyak berpuasa pada bulan Sya’ban." Jawab baginda : "Kerana Bulan Sya’ban merupakan bulan yang para sahabat aku terlupa untuk berpuasa padanya kerana mereka sentiasa menitikberatkan berpuasa bulan Rejab dan Ramadhan." Kata Imam asy Syaukani berdasarkan hadis sohih yang mengandungi dialog ini menunjukkan sunat berpuasa dalam bulan Rejab.

Hadis ini memberikan gambaran para sahabat telah biasa berpuasa dalam bulan Rejab sebelum Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa dalam bulan Sya’ban lagi dan Baginda memperakui tindakan sahabat banyak berpuasa dan sentiasa berpuasa dalam bulan Rejab. Wallahua’lam.

5. Kyai Idrus Ramli :

PUASA REJAB ADALAH SUNNAH

Madzhab Hanafi

Dalam al-Fatawa al-Hindiyyah (1/202) disebutkan:

في الفتاوي الهندية 1/202 : ( المرغوبات من الصيام أنواع ) أولها صوم المحرم والثاني صوم رجب والثالث صوم شعبان وصوم عاشوراء ) اه

“Macam-macam puasa yang disunnahkan adalah banyak macamnya. Pertama, puasa bulan Muharram, kedua puasa bulan Rajab, ketiga, puasa bulan Sya’ban dan hari Asyura.”

Madzhab Maliki

Dalam kitab Syarh al-Kharsyi ‘ala Mukhtashar Khalil (2/241), ketika menjelaskan puasa yang disunnahkan, al-Kharsyi berkata:
(والمحرم ورجب وشعبان ) يعني : أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم , ورجب وهو الشهر الفرد عن الأشهر الحرم ) اه وفي الحاشية عليه : ( قوله : ورجب ) , بل يندب صوم بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذو القعدة فالحجة ) اه
“Muharram, Rajab dan Sya’ban. Yakni, disunnahkan berpuasa pada bulan Muharram – bulan haram pertama -, dan Rajab – bulan haram yang menyendiri.” Dalam catatan pinggirnya: “Maksud perkataan pengaram, bulan Rajab, bahkan disunnahkan berpuasa pada semua bulan-bulan haram yang empat, yang paling utama bulan Muharram, lalu Rajab, lalu Dzul Qa’dah, lalu Dzul Hijjah.”
Pernyataan serupa bisa dilihat pula dalam kitab al-Fawakih al-Dawani (2/272), Kifayah al-Thalib al-Rabbani (2/407), Syarh al-Dardir ‘ala Khalil (1/513) dan al-Taj wa al-Iklil (3/220).

Madzhab Syafi’i

Imam al-Nawawi berkata dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (6/439),

قال الإمام النووي في المجموع 6/439 : ( قال أصحابنا : ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم , وهي ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب , وأفضلها المحرم , قال الروياني في البحر : أفضلها رجب , وهذا غلط ; لحديث أبي هريرة الذي سنذكره إن شاء الله تعالى { أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ) اه

“Teman-teman kami (para ulama madzhab Syafi’i) berkata: “Di antara puasa yang disunnahkan adalah puasa bulan-bulan haram, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, dan yang paling utama adalah Muharram. Al-Ruyani berkata dalam al-Bahr: “Yang paling utama adalah bulan Rajab”. Pendapat al-Ruyani ini keliru, karena hadits Abu Hurairah yang akan kami sebutkan berikut ini insya Allah (“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharram.”)”.

Pernyataan serupa dapat dilihat pula dalam Asna al-Mathalib (1/433), Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah (2/53), Mughni al-Muhtaj (2/187), Nihayah al-Muhtaj (3/211) dan lain-lain.

Madzhab Hanbali

Ibnu Qudamah al-Maqdisi berkata dalam kitab al-Mughni (3/53):
قال ابن قدامة في المغني 3/53 frown emoticon فصل : ويكره إفراد رجب بالصوم . قال أحمد : وإن صامه رجل , أفطر فيه يوما أو أياما , بقدر ما لا يصومه كله … قال أحمد : من كان يصوم السنة صامه , وإلا فلا يصومه متواليا , يفطر فيه ولا يشبهه برمضان ) اه

“Pasal. Dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab dengan ibadah puasa. Ahmad bin Hanbal berkata: “Apabila seseorang berpuasa Rajab, maka berbukalah dalam satu hari atau beberapa hari, sekiranya tidak berpuasa penuh satu bulan.” Ahmad bin Hanbal juga berkata: “Orang yang berpuasa satu tahun penuh, maka berpuasalah pula di bulan Rajab. Kalau tidak berpuasa penuh, maka janganlah berpuasa Rajab terus menerus, ia berbuka di dalamnya dan jangan menyerupakannya dengan bulan Ramadhan.”

Ibnu Muflih berkata dalam kitab al-Furu’ (3/118):

وفي الفروع لابن مفلح 3/118 : ( فصل : يكره إفراد رجب بالصوم نقل حنبل : يكره , ورواه عن عمر وابنه وأبي بكرة , قال أحمد : يروى فيه عن عمر أنه كان يضرب على صومه , وابن عباس قال : يصومه إلا يوما أو أياما … وتزول الكراهة بالفطر أو بصوم شهر آخر من السنة , قال صاحب المحرر : وإن لم يله .

“Pasal. Dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa. Hanbal mengutip: “Makruh, dan meriwayatkan dari Umar, Ibnu Umar dan Abu Bakrah.” Ahmad berkata: “Memuku seseorang karena berpuasa Rajab”. Ibnu Abbas berkata: “Sunnah berpuasa Rajab, kecuali satu hari atau beberapa hari yang tidak berpuasa.” Kemakruhan puasa Rajab bisa hilang dengan berbuka (satu hari atau beberapa hari), atau dengan berpuasa pada bulan yang lain dalam tahun yang sama. Pengarang al-Muharrar berkata: “Meskipun bulan tersebut tidak bergandengan.”

http://www.idrusramli.com/…/puasa-rajab-tidak-bidah-tetapi…/

Oleh: Ustaz Zamihan Al Ghari

20 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

BULAN REJAB: KEMULIAAN DICEMARI KEPALSUAN

Bulan Rejab merupakan salah satu daripada ‘al-Ashur al-Hurum’ (bulan-bulan haram) selain bulan Muharram, Zulkaedah dan Zulhijjah. Bulan-bulan haram merupakan bulan mulia sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Taubah ayat 36, yang bermaksud, "Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi (hukum) Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa Dia menciptakan langit dan bumi. Antaranya empat bulan haram (yang dihormati). Ketetapan yang demikian itu ialah agama yang betul lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar laranganNya)…." Abu Bakrah melaporkan, Nabi Muhammad saw bersabda, "Sesungguhnya masa itu beredar sebagaimana hari Allah mencipta langit dan bumi iaitu setahun itu ada dua belas bulan. Antaranya ada empat bulan haram (yang dihormati) iaitu tiga bulan berturut-turut: Zulkaedah, Zulhijjah, dan Muharram. Seterusnya Rejab iaitu antara bulan Jamadilakhir dan Sya’ban." (Hadis sahih direkodkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan, maksud Rejab ialah agung (Lata’if al-ma’arif, hlm. 117). Oleh sebab itu, bulan Rejab adalah bulan yang agung dan mulia. Antara keistimewaan bulan Rejab ialah berlakunya peristiwa Isra’ dan Mikraj yang menurut majoriti ulama’ ia berlaku pada 27 Rejab.

Namun isu yang timbul ialah kemuliaan bulan Rejab sebagai salah satu bulan haram telah dicemari dengan pengagungan yang bersumberkan kepada laporan/hadis palsu yang direka-reka yang diistilahkan dalam ilmu hadis sebagai hadis maudhuk.

Mengagungkan bulan Rejab bukanlah satu persoalan yang baru. Ia telah pun wujud pada zaman Jahiliyyah; sebelum kedatangan Islam. Masyarakat Arab Jahiliyah begitu mengagungkan bulan Rejab sehingga mereka menjadikannya sebagai perayaan. Antara amalan popular yang dilakukan oleh sebahagian orang Islam di Malaysia apabila datangnya bulan Rejab ialah mereka berusaha bersungguh-sungguh untuk melakukan puasa sunat Rejab dan menghidupkan malam dengan sembahyang sunat Rejab.

Umat Islam di Malaysia khususnya dan dunia umumnya; kini dan dahulu, telah disajikan dengan pelbagai janji manis jika melakukan sesuatu amalan khusus di bulan Rejab. Satu kebenaran yang perlu dijelaskan kepada umat Islam ialah tiada amalan khusus dalam bulan Rejab yang dilaporkan daripada Rasulullah SAW dari hadis sahih. Amalan tertentu seperti solat sunat Rejab, puasa Rejab dan umrah di bulan Rejab adalah sebahagian kecilnya bersandarkan kepada hadis lemah (daif) dan kebanyakkannya adalah hadis palsu (maudhuk).

Isu mencemarkan bulan Rejab dengan janji-janji daripada sumber yang palsu ini sudahpun wujud sekian lama. Antara ulama terdahulu yang membongkar usaha golongan pemalsu hadis yang membuat pembohongan terhadap Nabi Muhammad saw berkaitan kelebihan bulan Rejab dan amalan khusus padanya, antaranya ialah Imam ahli hadis Abu al-Khattab ‘Umar bin Hasan ibn Dihyah (w. 633H) yang mengarang buku yang bertajuk ‘Ada’ ma wajab min bayan wad’ al-wadda’in fi Rajab (Melaksanakan apa yang wajib dengan menerangkan pemalsuan yang dilakukan oleh pembohong berkaitan Rejab)’ dan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852H) yang mengarang risalah yang bertajuk ‘Tabyin al-‘ajab bi ma warada fi fadhl Rajab (Menjelaskan perkara yang pelik berkaitan dengan apa yang disampaikan tentang kelebihan Rejab)’.

‘Ata; seorang ulama tabi’in menjelaskan, Nabi Muhammad saw melarang daripada berpuasa penuh sebulan bulan Rejab agar ia tidak dijadikan sebagai perayaan sebagaimana yang dilakukan oleh orang Arab Jahiliyyah (Ibnu Rajab, Lata’if al-ma’arif, hlm. 11). Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan, "Larangan daripada berpuasa sebulan penuh pada bulan Rejab adalah berkaitan dengan individu yang melakukannya kerana terpengaruh dengan amalan orang Arab jahiliyyah yang begitu mengagungkan bulan Rejab.

Tetapi jika seseorang itu berpuasa sunat sama seperti bulan lain tanpa menganggap puasa bulan Rejab adalah lebih utama daripada bulan lain, tidak mengkhususkan puasa hari tertentu bulan Rejab bagi mendapat ganjaran tertentu, maka amalan itu tidak menjadi kesalahan. Begitu juga dengan individu yang menghidupkan malam bulan Rejab dengan beribadah sebagaimana dia beribadah pada malam bulan lain. Tetapi jika seseorang beribadah sunat hanya pada bulan Rejab sahaja dengan anggapan ia khusus untuk bulan Rejab, maka ia adalah amalan yang dilarang." (Tabyin al-‘ajab, hlm. 49).

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan tujuan beliau mengarang risalah yang bertajuk ‘Tabyin al-‘ajab bi ma warada fi fadhl Rajab’ : "Telah berulang-ulang soalan yang dikemukakan tentang kelebihan bulan Rejab, tentang berpuasa dan solat sunat padanya. Serta untuk menjelaskan yang mana hadis yang sahih dan yang palsu." Kesimpulan daripada analisa yang dilakukan oleh Imam Ibnu Hajar ialah, "Langsung tidak terdapat hadis sahih yang boleh dijadikan hujah tentang kelebihan bulan Rejab, puasa sunat khusus Rejab, juga solat sunat qiyamullail khusus Rejab…namun begitu terdapat sebahagian ulama yang membenarkan menerima hadis yang menjelaskan tentang kelebihan bulan Rejab walaupun hadis itu daif, tetapi tidak boleh diterima jika ia hadis mauduk."

Antara kelebihan bulan Rejab dan amalan khusus padanya yang bersumberkan laporan/hadis palsu ialah:

i. Hendaklah kamu memuliakan bulan Rejab nescaya Allah muliakan kamu dengan seribu kemuliaan di hari Qiamat Laporan ini palsu kerana ia direka oleh seorang pelapor hadis yang dilabel oleh ulama hadis sebagai seorang pembohong iaitu Abu al-Barakat Hibatullah ibn al-Mubarak al-Saqati.

ii. Bulan Rejab Bulan Allah, Bulan Syaaban bulanku, dan bulan Ramadhan bulan umatku. Laporan ini palsu kerana ia direka oleh seorang pelapor hadis yang dilabel oleh ulama hadis sebagai seorang pembohong iaitu Abu Bakar Muhammad bin Hasan al-Naqqash. Dalam rantaian pelapor hadis ini juga terdapat individu yang tidak dikenali seperti al-Kassa’i.

iii. Kelebihan bulan Rejab dari segala bulan seperti kelebihan Quran atas segala zikir. Laporan ini palsu kerana ia direka oleh seorang pelapor hadis yang dilabel oleh ulama hadis sebagai seorang pembohong iaitu Abu al-Barakat Hibatullah ibn al-Mubarak al-Saqati.

iv. Sesiapa berpuasa tiga hari pada bulan Rejab, Allah menuliskan untuknya pahala berpuasa sebulan. Sesiapa yang berpuasa tujuh hari ditutup baginya tujuh pintu neraka. Sesiapa berpuasa lapan hari, Allah membuka baginya lapan pintu syurga. Sesiapa berpuasa setengah bulan Rejab, Allah menuliskan untuknya memperoleh keredaanNya, sesiapa yang ditulis baginya keredaanNya, orang itu tidak akan diazab. Sesiapa yang berpuasa sebulan Rejab, Allah akan menghisab orang itu di padang Mahsyar dengan hisab yang mudah. Laporan ini palsu kerana ia direka oleh seorang pelapor hadis yang dilabel oleh ulama hadis sebagai seorang pembohong iaitu Aban bin Abi ‘Iyash. Laporan-laporan lain yang menjelaskan kelebihan berpuasa mengikut bilangan hari di bulan Rejab juga laporan palsu, antaranya direka oleh Uthman bin Matar, Harun bin ‘Antarah, dan Farrat bin al-Sa’ib.

v. Sesiapa sembahyang maghrib pada hari pertama bulan Rejab, kemudian selepas itu dia bersembahyang sunat 20 rakaat dengan sepuluh kali salam, setiap rakaat dibaca surah al-Fatihah dan selepas itu membaca surah al-Ikhlas sekali, adakah kamu tahu pahalanya? Laporan ini palsu kerana ia direka oleh seorang pelapor hadis yang dilabel oleh ulama hadis sebagai seorang pembohong iaitu al-Husayn bin Ibrahim. Terdapat laporan palsu lain yang direka menjelaskan kelebihan tertentu jika bersembahyang sunat dengan bilangan rakaat tertentu dengan bacaan tertentu pada bulan Rejab. Antara individu lain yang bertanggungjawab membuat laporan palsu tersebut ialah Ali bin Abdullah bin Jahdam, Aban bin Abi ‘Iyash. Sembahyang tersebut juga diistilahkan sebagai sembahyang sunat Ragha’ib.

vii. Bersedekah pada bulun Rejab dijauhkan Allah daripada api neraka. Laporan ini palsu kerana ia direka oleh seorang pelapor hadis yang dilabel oleh ulama hadis sebagai seorang pereka hadis iaitu Aban bin Abi ‘Iyash.

HARAM MENYEBAR HADIS PALSU

Al-Mughirah bin Syu’bah melaporkan, Nabi Muhammad saw bersabda, "Sesungguhnya pembohongan yang dilakukan ke atasku adalah tidak sama dengan pembohongan yang dilakukan ke atas orang lain. Sesiapa yang membuat pembohongan terhadapku dengan sengaja, maka bersedialah dia dengan tempat duduknya di dalam api neraka." (Hadis sahih direkod oleh Imam al-Bukhari).

Syeikh Abu Asma’ Ibrahim bin Ismail Ali ‘Asr menjelaskan dalam pendahuluannya kepada suntingan karya Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani yang bertajuk ‘Tabyin al-‘ajab bi ma warada fi fadhl Rajab’, ramai dalam kalangan pendakwah, penceramah, guru agama, khatib yang tidak sensitif terhadap hadis maudhuk, sehingga mereka menyampaikannya kepada masyarakat tanpa berusaha mengenalpasti status sesuatu hadis. Perkara merbahaya ini boleh menceburkan mereka dan anggota masyarakat yang menyebarkan hadis palsu dalam ancaman Nabi, "Sesiapa yang berdusta terhadapku, maka bersedialah tempatnya di dalam api neraka". Walaupun mereka tidak berniat untuk melakukan pendustaan terhadap Rasulullah, tetapi dengan tindakan mereka menyebarkan hadis palsu sedangkan mereka sudah dijelaskan kepalsuan hadis itu, mereka telah terjebak dalam melakukan pendustaan terhadap Rasulullah saw.

Abu Hurairah melaporkan, Nabi Muhammad saw bersabda, "Cukuplah seseorang itu sudah dianggap berdosa dengan dia menyebarkan segala berita yang didengar tanpa disiasat terlebih dahulu." (Hadis sahih direkod oleh Imam Muslim).

Umat Islam tidak perlu disajikan dengan pahala dan fadhilat untuk melakukan amalan khusus hanya di bulan Rejab sahaja, sedangkan ia bersumberkan laporan/hadis palsu yang merupakan pembohongan terhadap Nabi Muhammad saw. Adalah amat baik kita dapat melazimi diri dengan melaksanakan amal ibadah secara berterusan yang bersumberkan dalil yang benar daripada al-Quran dan hadis sahih; tentang kelebihan menghidupkan malam dengan solat sunat seperti tahajud dan witir, puasa sunat isnin khamis, puasa sunat hari ke 13, 14, dan 15 setiap bulan, puasa sunat selang sehari seperti cara puasa Nabi Daud.

Marilah sama-sama kita memelihara kemuliaan bulan haram seperti bulan Rejab ini daripada dicemari dengan hadis palsu.

Wallahu a’lam.

 

Oleh:
Dr.Arieff Salleh bin Rosman,
Felo Fatwa

Negeri/Group: Pengurusan Fatwa

Sumber: http://www.e-fatwa.gov.my/artikel/bulan-rejab-kemuliaan-dicemari-kepalsuan

19 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

PENJELASAN BERHUBUNG HUKUM ZIKIR MENARI

Mukadimah
Isu ini hangat diperkatakan oleh semua pihak. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Facebook kami, kami mahu membincangkannya secara khusus seperti yang telah dijanjikan. Bersama dengan isu ini, banyak tajuk berkaitan yang lain dan kami tidaklah membincangkannya kecuali tajuk ini sahaja supaya ia lebih terfokus dan sampai kepada sasaran. Justeru, Bayan Linnas pada kali ini kami namakan dengan Penjelasan Berhubung Hukum Zikir Menari.
Pada masa ini, isu ini begitu hangat diperbahaskan.

Maka, kami kemukakan di sini pelbagai pandangan dan hujahan berdasarkan nas atau fatwa yang dikemukakan. Semoga pencerahan ini memberi kefahaman yang baik kepada kita. Amin.

Definisi Zikir
Pelbagai maksud dan definisi dapat diberikan kepada pengertian zikir. Dari segi bahasa zikir bermaksud mengingati. Semantara dari segi istilah pula zikir merupakan mengingati Allah s.w.t. bilamana dan di mana sahaja berada dengan cara-cara yang dibolehkan oleh syarak seperti menerusi ucapan perbuatan atau dengan hati.

Selain itu, zikir juga dapat diertikan sebagai sebahagian daripada rangkaian iman yang diperintahkan agar kita melakukannya setiap saat. Mengingati Allah mendorongkan seseorang melakukan suruhan-Nya dan meninggalkan laranganNya. Mengingati Allah adalah usaha yang berkesan untuk mempertingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah

Zikir terbahagi kepada dua samada qalbi (dalam hati) atau lisani (iaitu pada lafaz lidah).

Zikir orang-orang soleh adalah dengan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil sementara zikir orang yang berpaling daripada Allah iaitu dengan nyanyian yang melalaikan, ghibah (mengumpat orang lain), namimah (mengadu domba), dan kekejian. Seorang penyair menggambar golongan ini dengan menyatakan:

Definisi Menari
Definisi menari dalam Kamus Dewan menari bermaksud melakukan tari (gerakan badan serta tangan dan kaki berirama) mengikut rentak muzik manakala berdansa bermaksud menari cara Barat. Ini bermakna menari lebih luas konsepnya dan contoh-contoh ayat boleh dilihat dalam kamus, buku, majalah dan artikel yang berkaitan.

Hukum Gerakan Dalam Zikir
Sebelum dibincangkan tajuk utama iaitu zikir dalam keadaan menari, suka dinyatakan bahawa zikir dalam keadaan bergerak adalah perkara yang dibolehkan kerana ia menyebabkan badan menjadi lebih bersemangat untuk melaksanakan ibadat zikir. Mereka berdalilkan kepada nas al-Qur’an dan hadith antaranya:

Firman Allah SWT
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ
Maksudnya: “…(Iaitu) orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring…”
(Surah Ali Imran: 191)

Al-Maghari berkata: “Sepanjang menjalani kehidupan, mereka tidak pernah lupa kepada Allah SWT malahan mereka sering mengingati Allah SWT dengan hati yang terang dan menyedari sepenuhnya bahawa Allah SWT sentiasa mengawasi dirinya.”

Adapun dari segi hadith Ummu al-Mukminin Aisyah RAnha pernah melaporkan bahawa Rasulullah SAW berzikrullah (berzikir kepada Allah) dalam semua keadaan. Sedang berjalan, menaiki kenderaan, di atas kenderaan, berbaring, duduk dan bermacam lagi pernah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.

Hukum Zikir Dalam Keadaan Menari
Setelah melihat kepada isu yang begitu hangat ini, kami mendapati terdapat dua pandangan dengan masing-masing berhujah. Secara ringkasnya seperti berikut.

Pertama: Haram
Antaranya firman Allah SWT:
Antara hujah golongan ini adalah Rasulullah SAW tidak melakukannya begitu juga secara umumnya para Sahabat tidak melakukannya kecuali sebahagian kecil sahaja di kalangan mereka.
اللَّـهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّـهِ
Maksudnya: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar kerananya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allâh…”
(Surah al-Zumar: 23)

Ayat ini juga membantah tarian-tarian atas nama ibadah kerana ia telah menjelaskan keadaan orang Mukmin saat mendengar zikir yang disyariatkan. Keadaan orang Mukmin yang mengenal Allah SWT, yang takut kepada hukuman-Nya, ketika mendengarkan firman-Nya, janji dan ancaman-Nya, hati mereka melunak, air mata bertitisan, bergementar kulit, tampak khusyuk dan penuh ketenangan.

Seterusnya mereka bersandarkan kepada ijma’ ulama’ yang melarang serta menganggap perbuatan tarian seperti itu adalah bid’ah yang ditegah. Antara tokoh yang tegas dengan pendapat ini adalah:
• Imam Abu Bakar al-Turtusi
• Imam Taqiyuddin al-Subki
• Imam Ibn Hajar al-Haitami
• Imam al-Qurtubi
• Imam Ibn Kathir
• Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Hanafi dan lain-lain lagi.

Antara kaedah yang masyhur digunakan ialah:
الأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ الْحَظَرُ أَوِ التَّوَقُّفُ
Maksudnya: Asal pada ibadat adalah haram atau tawaqquf

Maksud tawaqquf adalah terhenti kepada dalil. Jika terdapat dalil hukumnya dibolehkan. Sebaliknya jika tiada dalil, hukumnya adalah haram. Kaedah ini telah digunakan oleh ramai tokoh ulama’ antaranya :

• al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari
• Imam al-Zurqani dalam mensyarahkan kitab al-Muwatta’
• Imam Ibn Muflih dalam al-Adab al-Syar’iyyah
• Imam al-Syaukani dalam Nail al-Authar dan ramai lagi.

Antara tokoh ulama’ terdahulu yang memfatwakan ketidakharusan berzikir dalam keadaan menari ialah:

• Imam Ibn Qudamah al-Maqdisi ketika ditanya dalam isu ini beliau menyatakan: “Sesungguhnya pelaku perbuatan ini bersalah, kehormatan dirinya jatuh. Orang-orang yang mengamalkan perbuatan ini secara berterusan kesaksiannya ditolak disisi syara’, perkataannya tidak diterima, rentetan daripada ini, tidak diterima periwayatannya dalam hadis Rasulullah SAW, tidak diterima juga kesaksiannya dalam melihat anak bulan Ramadhan, dan tidak diterima berita-berita agama yang dibawa. Manakala keyakinan bahawa dirinya cinta pada Allah, sesungguhnya kecintaan dan ketaatan tersebut mungkin terjadi selain dari amalan ini, dan mungkin dia mempunyai hubungan dan amalan yang baik dengan Allah selain daripada situasi yang disebutkan ini.

Sedangkan amalan ini merupakan satu maksiat dan permainan senda gurau, yang dikeji oleh Allah dan Rasul-Nya, dibenci pula oleh ahli ilmu dan mereka menamakan berbuatan ini sebagai bid’ah dan melarang dari berlakunya. Tidak boleh bertaqarrub dengan Allah dengan melakukan maksiat kepada-Nya, tidak boleh juga ketaatan kepada Allah terjadi dengan melakukan larangan-Nya. Barangsiapa yang menjadikan wasilah kepada Allah dengan maksiat dia patut dipulau dan dijauhkan, dan barangsiapa menjadikan permainan dan persendaan sebagai agama, mereka adalah seperti orang yang berusaha menyebarkan kerosakan diatas muka bumi, dan orang-orang yang ingin sampai kepada Allah bukan dengan cara Rasulullah SAW dan sunnahnya, maka dia sangat jauh untuk mencapai apa yang diidamkannya". (sebahagian fatwa yang mengutuk penggunaan seruling, tarian dan pendengaran muzik oleh Imam Ibnu Qudamah. Rujuk http://majles.alukah.net/t36981/)

• Sultan al-Ulama’ Izzuddin Abd al-Salam melalui kitabnya Qawa’id al-Ahkam fi Masalih al-Anam 2/349-350 antara lain menyebut: " …Manakala tarian dan tepukan : ianya adalah keringanan (akal) dan kebodohan menyerupai gerakan perempuan, tidak ada yang melakukan demikian itu kecuali orang yang cacat akalnya, atau berpura-pura lagi pembohong, bagaimana dia boleh menari mengikuti dengan irama nyanyian daripada orang yang telah hilang jiwanya, dan telah tiada hatinya! Sedangkan Rasulullah SAW telah pun bersabda : (Sebaik-baik kurun adalah kurunku, kemudian kurun yang selepasnya, kemudian yang selepasnya).

Tidak pernah seorang pun yang boleh diikuti amalan mereka melakukan sebarang perbuatan demikian, sesungguhnya demikian itu hanyalah penguasaan syaitan keatas suatu kaum yang menyangka lenggokan mereka ketika mendengar(nyanyian yang dianggap zikir) adalah bentuk pergantungan dengan Allah Azza wa Jalla. Sesungguhnya mereka telah tertipu dengan apa yang mereka kata, dan menipu dalam apa yang mereka dakwa. Mereka mendakwa bahawa mereka mendapat dua kelazatan ketika mendengar apa yang didendangkan,

Pertama. kelazatan ma’rifah dan keadaan bergantung pada Allah. Kedua, kelazatan suara, lenggokan nada, kata-kata yang tersusun yang membawa kepada kelazatan nafsu yang bukan dari agama dan tiada kaitan dengannya. Tatkala makin besar dua kelazatan ini yang mereka rasa, mereka tersilap dan menyangka bahawa terkumpulnya kelazatan itu berlaku dengan ilmu ma’rifat dan keadaan, akan tetapi tidak begitu, bahkan yang sering berlaku hanyalah kelazatan nafsu semata yang tiada kaitan dengan agama.

Sebahagian ulama mengharamkan tepukan tangan, kerana hadis Rasulullah SAW (Sesungguhnya tepukan hanya untuk perempuan) dan Rasulullah melaknat perempuan yang menyerupai lelaki, begitu juga lelaki yang menyerupai perempuan. Barangsiapa yang merasai kehebatan Allah, dan menyedari kebesarannya, tidak dapat dibayangkan akan timbul dari dirinya tarian dan tepukan, dan tidak timbul tarian dan tepukan kecuali dari orang yang dungu lagi jahil, tidak akan berlaku pada yang berakal dan mulia. Bukti kejahilan pelaku kedua perbuatan ini ialah bahawasanya syari’at tidak mengajarkannya tidak dari Al-Quran, juga tidak dari Al-Sunnah, juga tidak dilakukan walau seorang dari nabi-nabi, dan tidak diendahkan oleh pengikut-pengikut para nabi, bahkan ianya hanya dilakukan oleh golongan jahil lagi bodoh yang terkeliru hakikat sesuatu dengan nafsu mereka.

Sesungguhnya Allah telah berfirman: ("…Dan kami telah turunkan padamu sebuah kitab yang menerangkan segala perkara…). Ulama salaf terdahulu telah pergi, begitu juga dengan golongan terhormat dari golongan khalaf kemudian, tiada sebarang perkara yang mengelirukan mereka. Barangsiapa yang melakukan yang demikian, dan yakin bahawa itu merupakan suatu tujuan dirinya, demikian itu bukanlah suatu yang mendekatkan dirinya pada tuhannya, dan sekiranya dia meyakini bahawa demikian itu tidak dilakukan kecuali ingin bertaqarrub dengan Allah, sangat kejinya apa yang telah dilakukan, kerana dia menyangka perbuatan ini sebahagian dari ketaatan, sedangkan ianya hanya suatu bentuk kebodohan"

Kedua: Harus
Mereka berhujahkan kepada umum ayat dan beberapa dalil daripada hadith antaranya firman Allah SWT:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ
Maksudnya: “…(Iaitu) orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring…”
(Surah Ali Imran: 191)

Imam al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani menyatakan bahawa sebagaimana yang diceritakan daripada Ibn Umar RA dan Urwah bin al-Zubair RA serta jamaah daripada sahabat RA, mereka telah keluar untuk menyambut hari raya di musolla dan berzikir kepada Allah. Tatkala dibacakan ayat di atas, mereka bangun berzikir dalam keadaan berdiri sebagai tabarruk muwaffiqh ayat tersebut.

Firman Allah SWT:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ
Maksudnya: “Kemudian apabila kamu telah selesai mengerjakan sembahyang, maka hendaklah kamu menyebut dan mengingati Allah semasa kamu berdiri atau duduk, dan semasa kamu berbaring.”
(Surah Al-Nisa’: 103)

Imam al-Qurtubi dalam al-Jami’ al-Ahkam menyebut: Dalam ayat di atas, Allah menyatakan anak Adam melakukan urusan mereka dalam tiga keadaan. Ianya seolah-olah membataskan mengikuti masa.

Antara hadith yang digunakan oleh golongan ini adalah

Daripada Aisyah RA berkata:
جَاءَ حَبَشٌ يَزْفِنُونَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَدَعَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَضَعْتُ رَأْسِي عَلَى مَنْكِبِهِ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَى لَعِبِهِمْ، حَتَّى كُنْتُ أَنَا الَّتِي أَنْصَرِفُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهِمْ
Maksudnya: “Telah datang orang Habsyah menari pada hari raya di masjid. Lalu Nabi SAW memanggilku dan aku meletakkan kepalaku di atas bahu Baginda. Aku menonton tarian mereka sehingga aku mengalihkan pandanganku daripada mereka.”
Riwayat Muslim (892)

Daripada Saidina Ali RA berkata:
زرت النبي صلى الله عليه وسلم مع جعفر وزيد بن حارثة ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم لزيد : ( أنت مولاي ) فبدأ زيد يحجل ويقفز على رجل واحدة حول النبي صلى الله عليه وسلم ، ثم قال لجعفر : ( أما أنت فتشبهني في خَلقي وخُلقي ) فحجل جعفر كذلك ، ثم قال لي : ( أنت مني وأنا منك ) فحجل خلف جعفر
Maksudnya: “Aku telah menziarahi Nabi SAW bersama Ja’far dan Zaid bin Harithah. Maka bersabda Nabi SAW kepada Zaid: ‘Awak adalah bekas hambaku.” Zaid kemudiannya merasa amat suka dan menggerakkan badan kerana kegirangan atas sebelah kaki di hadapan Nabi SAW. Kemudian Nabi berkata kepada Ja’afar: ‘Awak pula sama sepertiku dari segi rupa bentuk dan akhlak.’ Maka Ja’far menggerakkan badan kerana kegirangan kemudian Rasulullah SAW berkata kepadaku pula: ‘Awak daripadaku dan aku daripadamu.’. Lantas Saidina Ali menggerakkan badan kerana kegirangan di belakang Ja’far.”
Riwayat Ahmad (2/213)

Al-Allamah al-Kattani menafsirkan perkataan (حجل) dengan menari dalam keadaan tertentu. Sama seperti pendapat Ibn Hajar al-Asqalani.

Selain itu, diriwayatkan oleh Abu Naim, daripada al-Fudhail bin ‘Iyadh RH berkata:
كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا ذكروا الله تعالى تمايلوا يمينا وشـمالا كما يتـمايل الشـجر في يوم الريح العاصف إلى إمام ثم إلى وراء.
Maksudnya: “Bahawa sahabat Rasulullah SAW ketika berzikir bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri seperti mana pokok bergoyang ditiup angin kencang ke hadapan kemudian ke belakang.” (al-Tartib al-Idariyah, Abd al-Hayy al-Kattani, 2/134)

Adapun pendapat ulama’ yang mengharuskannya pula antaranya ialah

• Al-Allamah Ahmad Zaini Dahlan tatkala disebut hadith dan nas berkenaan dengan Ja’far, mengambil hukum bahawa Rasulullah tidak mengingkari perbuatannya dan atas dasar inilah ia dijadikan sumber hujah bagi golongan sufi menari ketika merasai keseronokan dalam majlis zikir.
• Syeikh ‘Attiyyah Saqar dalam kitabnya yang terkenal Fatawa min Ahsanil Kalam menyebut:
وقد قال المحققون ان الكذر كأية عبادة لا يقبل الا اذا كان خالصا لوجه الله لا رياء فيه ولا سمعة
Sungguh telah berkata oleh segala ulama’ Muhaqqiq akan bahawasa zikir itu seperti ayat ibadat, tak diterima melainkan apabila ia ialah bersih semata – mata kerana Zat Allah, tiada jenis riak padanya dan tiada sum’ah.
وكذلك اذا صحب الذكر أصوات صاخبة أو حركات خاصة تذهب الخشوع كان عبادة ظاهرية جوفاء خالية من الروح ومثل ذلك اذا كانت المجالس تؤذي الغير كالمرضى المحتاجين الى الراحة أو المشتغلين بمذاكرة علم أو عبادة أخرى اهـــ
Demikian itu juga apabila bersama zikir ini suara-suara yang bingit atau gerakan-gerakan yang tertentu yang menghilangkan akan khusyuk nescaya adalah ia ialah ibadat zahir serta sunyi daripada ruh ibadat, dan seumpama demikian itu ialah apabila majlis-majlis ini ialah menyakiti orang lain seperti orang-orang sakit yang mmerlukan rehat atau orang-orang yang sibuk dgn muzakarah ilmu atau ibadat yg lain.

• Syeikh Mutawalli al-Sya’rawi menyatakan di dalam Majalah al-Tasawwuf al-Islami:
إذا لم تجد فيه نصاً فالأمر على الإباحة لأن النهى على التحريم افعل ولا تفعل فهو على مطلق الإباحة وإذا كان التمايل صناعيا كان نفاقا وإذا كان التمايل طبيعيا كان وجداً لا سيطرة للإنسان عليه والذكر راحة نفسية وعلى كل حال فالذاكرون وإن تمايلوا فهم خير من الذين يتمايلون فى حانات الرقص
Apabila tak dijumpai satu nas pun pada masalah ini maka perkara ini adalah harus kerana larangan atas mengharamkan itu ialah sighah if’al dan la taf’al, maka ia semata – mata harus, dan apabila condong badan (bergerak) badan dibuat-buat nescaya adalah ia nifaq dan apabila condong tubuh itu dengan semulajadi, maka ia adalah rasa batin, tidak boleh dibuat-buat perasaan tersebut, dan zikir itu ialah kerehatan diri dan pada setiap kelakuan. Maka orang yang berzikir itu sekalipun bergerak badan mereka itu, lebih baik daripada mereka yang bergerak yakni bergerak – gerak mereka dalam tarian di kedai arak.

Tarjih
Selepas meneliti beberapa hujah dari dua aliran yang mengharamkan dan yang membenarkannya, kami berpendapat:

i. Pengharaman zikir dalam keadaan menari adalah lebih kuat kerana kaedah yang digunakan amat jelas.

ii. Hadith yang digunakan untuk mengharuskan zikir dalam keadaan menari lebih bersifat menggambarkan berita gembira yang diperolehi daripada Rasulullah SAW, bukannya mereka berzikir semasa itu. Ini adalah dua keadaan yang berbeza.

iii. Begitu juga perlakuan itu adalah hanya beberapa orang sahabat sahaja, bukan keseluruhan dan ia tidak ada kena mengena dengan zikir.

iv. Seterusnya mereka menggunakan perkataan tamayul yang memberi maksud menggoyangkan atau melenggokkan sedikit badan. Ia bukanlah seperti menari.

v. Kami juga berpendapat, maksud gerakan yang diharuskan itu hanya gerakan yang kecil atau sedikit seperti kepala dihayun ke hadapan dan ke belakang atau ke kiri dan ke kanan sepertimana yang dilakukan oleh seseorang ketika asyik berzikir. Maka, ini tidak menjadi masalah.

vi. Hujah yang mengharuskan itu telah dijawab oleh ramai ulama seperti nas-nas yang dikemukakan lebih bersifat umum dan bukan dimaksudkan secara khusus berdasarkan wajah istidlal yang digunakan.

vii. Begitu juga kedudukan hadith seperti hadith Saidina Ali. Terdapat padanya dua illah.

• Hani’ bin Hani’ dianggap jahalah dari segi halnya tau keadaannya.
• Tadlis Ibn Ishaq al-Sabi’i.

Justeru hadith ini dianggap lemah oleh kebanyakan ulama’ hadith.

viii. Fatwa Sultan al-Ulama’ Izzuddin Abd al-Salam dan Ibn Qudamah al-Maqdisi begitu kukuh untuk menjadi penguat dan sandaran pengharaman zikir dalam keadaan menari.

Kenyataan JAKIM
Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) menegaskan supaya orang Islam tidak meniru amalan berzikir ke atas Nabi Muhammad SAW sambil menari kerana perbuatan itu disifatkan sebagai ajaran yang menyeleweng.

Ketua Pengarah Jakim, Datuk Othman Mustapha berkata, pihaknya telah mengeluarkan larangan tersebut dalam laman web e-fatwa menerusi keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Agama Islam Kali Ke-48 pada 3 April 2000.

“Beberapa tahun lalu budaya berzikir sambil menari ini tersebar di Malaysia dan ketika itu Jakim telah pun mengeluarkan larangan kepada umat Islam supaya tidak terpengaruh atau mengikut cara tersebut.

“Bagaimanapun kejadian yang sama berlaku lagi, justeru Jakim menegaskan sekali lagi bahawa budaya berzikir sambil menari itu merupakan ajaran yang menyeleweng dan bertentangan dengan budaya ma­syarakat Islam di negara ini,” katanya.

Kenyataan Mufti Wilayah Persekutuan
Dalam isu seperti ini, amatlah perlu kita memahami hakikat tasawwuf sebenar dan juga tareqat supaya apa yang kita amalkan benar-benar mengikut yang diredhai Allah SWT.

Syeikh Dahlan al-Qadiri dalam kitabnya Siraj al-Talibin telah menyebut bahawa hukum belajar tasawwuf adalah wajib aini bagi setiap mukallaf. Ini kerana sebagaimana wajib mengislahkan yang zahir, begitu juga wajib mengislahkan yang batin. Benarlah kata Imam Malik

Siapa yang bertasawwuf tanpa faqih dia mungkin membawa kafir zindiq.
Siapa yang mempelajajari feqah tanpa tasawwuf, dia boleh membawa fasiq.
Siapa yang menghimpunkan kedua-duanya nescaya dia yang sebenarnya tahqiq.

Tatkala kita ingin mendekatkan diri kepada Allah samada melalui ilmu atau penghayatan amalan maka hendaklah ia benar-benar mengikut apa yang disyariatkan oleh Allah.

Syeikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berkata dan mewasiatkan kepada anaknya: “Terbanglah kamu ketika kamu menuju kepada Allah dengan dua sayap iaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul.” Hal ini amat penting kerana sehebat mana manusia sekalipun, jika rujukannya bukan lagi Kitabullah dan Sunnah Rasul maka mudahlah terbelit dengan godaan syaitan.

Justeru, amat wajar kita melakukan sesuatu benar-benar dengan kefahaman dan sebaliknya tanpa ilmu, seseorang itu mudah terpedaya dan tergelincir daripada hakikat Islam yang sebenar. Bacalah kitab-kitab tasawwuf seperti Minhaj al-Abidin oleh Imam al-Ghazali, Mukhtasar Minhaj al-Qasidin oleh Ibn Qudamah al-Maqdisi dan lain-lain ulama sufi yang muktabar.

Sekali lagi kami tegaskan hukum zikir dalam bentuk tarian tidak dibolehkan sama sekali. Walaubagaimanapun, jika bentuk goyangan sebahagian kepala atau badan dalam keadaan sedar, waras, tidak dibuat-buat, disamping menjaga adab tatasusila dan tidak berlebihan, maka adalah diharuskan.

Kami menjawab persoalan berkaitan tasawwuf ini begitu banyak melalui buku kami, A – Z Tentang Tasawwuf dan juga kitab Ahasin al-Kalim Syarah al-Hikam. Semoga dengan sedikit pencerahan ini menjadikan kita benar-benar memahami akan hakikat Islam yang sebenar untuk kita amali yang akhirnya menuju kepada Allah SWT mengikut yang diredhai-Nya. Semoga kita semua menjadi hamba-hamba-Nya yang bernaung di bawah kehidupan Islam yang sebenar dan merasai kemanisan dalam hati ketika beramal. Amin.

Penutup
Alhamdulillah, selesailah sudah Bayan Linnas Siri ke-17 berkenaan dengan hukum zikir dalam keadaan menari. Dengan menekuni kedua-dua pendapat dan hujah, alangkah baik kita melandasi bahtera kehidupan kita terutamanya pengamalan ibadat ‘ala basirah dan mengikut hadyun nabawi kerana sudah barang tentu mendapat keselamatan di dunia dan akhirat. Pada saat yang sama juga hendaklah kita melazimi dan membanyakkan zikir sebagaimana galakan Islam itu sendiri melalui nas al-Qur’an dan hadith supaya kita berzikir dengan sebanyak-banyaknya.

Syariat Islam tidak menyebut secara jelas dan terang tentang kebolehan tarian ketika berzikir, baik dalam al-Qur’ann maupun Hadith. Hal itu juga belum pernah dilakukan oleh mana-mana Rasul dan Nabi pun dan begitu juga mereka yang mengikut jejak langkah Rasulullah di kalangan sahabat. Atas asas inilah alangkah baiknya kita berpada dengan berzikir bersungguh-sungguh sepertimana yang dilakukan di kalangan khalayak masyarakat kita ketika ini dengan menjaga adab dan tatasusilanya.

Tarian zikir yang dilakukan oleh sebahagian manusia penuh dengan keadaan yang kurang baik. Sementelahan lagi, ia membawa kepada tasyabbuh (penyerupaan) kepada penganut agama lain atau wanita dan kanak-kanak yang kecil begitu juga mencampur adukkan antara maksiat dan ibadat. Lebih dibimbangi lagi, sudah ada unsur muzik yang dimasukkan sama yang banyak melalaikan hati ketika berzikir.

Akhir kalam, saya berdoa kepada Allah mudah-mudahan Allah menunjukkan kita kepada jalan keredhaan-Nya dan selamat daripada sebarang maksiat. Amin.

Akhukum Fillah,
DATUK DR. ZULKIFLI MOHAMAD AL-BAKRI
Muft Wilayah Persekutuan.
19 April 2015 bersamaan 29 Jamadil Akhir 1436H

19 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | 1 Comment

"Musuh2 Tasawuf dan Tarikat"

Sejak kebelakangan ini, telah wujud segolongan puak di Malaysia yg begitu galak memperlekeh, mencaci dan menghina tawasuf serta tarikat tanpa mereka membezakan terlebih dahulu tarikat muktabar atau pun tidak, habis semua dipukul sama rata! Pelbagai tohmahan demi tohmahan dilontarkan kpd tokoh2 ulama sufi muktabar serta wali2 Allah Taala. Golongan ini merasakan diri mereka begitu hebat berbanding para ulama yg telah disebutkan oleh Rasulullah S.A.W. sebagai pewaris para nabi. Walaupun ilmu agama dan amalan yg dimiliki mereka tidaklah seberapa jika hendak dibandingkan dgn para ulama, namun mereka dgn megah mendabik dada utk mengatakan mereka begitu arif serta faham semuanya mengenai Islam. Amat menyedihkan lagi, golongan ini terdiri dari kalangan org Islam sendiri yg mengaku memahami, mendalami dan memperjuangkan Islam, tetapi hakikatnya merekalah perosak umat Islam.

Musuh2 tasawuf cuba sedaya upaya utk menyerang dan menfitnah tasawuf Islam dgn pelbagai pendustaan dan rekaan cerita semata2. Mereka juga akan melontarkan pelbagai tohmahan dan penyelewengan mungkin disebabkan oleh perasaan hasad dengki mereka ataupun mungkin juga disebabkan kejahilan diri mereka sendiri terhadap agama Islam. Lebih menyedihkan lagi ada di antara musuh2 tasawuf ini terdiri dari kalangan orang2 Islam sendiri sedangkan mereka semua sudah sedia maklum mengenai hakikat kebenaran tasawuf ini sepertimana yg terkandung di dlm sebuah al-Hadis S.A.W. mengenai Ihsan.

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Bahawa kamu menyembah Allah seakan2 kamu melihatNya dan jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.

(Riwayat Muslim).

Berkata al-Muhaddith Syeikh Muhammad Siddiq al-Ghumari:

Sesungguhnya Ihsan sebagaimana dlm hadis tersebut adalah ibarat dari tiga rukun yg disebutkan. Barangsiapa tidak menyempurnakan rukun Ihsan yg mana ia merupakan tarikat (jalan) maka tanpa ragu2 lagi bahawa agamanya tidak sempurna kerana dia meninggalkan satu rukun dari rukun2nya. Tujuan atau kemuncak matlamat yg diseru dan diisyaratkan oleh tarikat ialah maqam Ihsan setelah memperbetukan Islam dan Iman.

(Kitab: Intishar Li Thariqi as-Sufiyyah).

Berkata Syeikh al-Islam Zakaria al-Ansori:

Tasawuf ialah suatu ilmu yg diketahui dengannya keadaan penyucian jiwa dan pembersihan akhlak serta mengimarahkan zahir dan batin bertujuan utk mencapai kebahagiaan yg abadi.

(Kitab: Ala Hamisy Risalah al-Qusyairi).

Berkata Imam Junaid:

Tasawuf ialah menggunakan semua akhlak ketinggian yg terpuji dan meninggalkan semua tingkahlaku yg rendah lagi dikeji.

(Kitab: Nusrah al-Nabawiyyah).

Berkata Syeikh Abdul Kadir Isa di dlm kitabnya Haqaiq An al-Tasawuf mengenai musuf2 tasawuf sepertimana berikut (penulis hanya mengambil secara ringkas sahaja:

Di antara musuh2 tasawuf terdiri dari kalangan orentalis lagi zindiq serta para pengikutnya dan konco2nya. Mereka telah disusun atur dan dilatih oleh golongan kafir yg jahat bagi mencela Islam. Mereka cuba memusnahkan pokok pangkal Islam dgn menimbulkan pelbagai keraguan serta menyebarkan fahaman2 utk memecahkan umat Islam. Mereka mempelajari Islam secara mendalam tetapi bertujuan utk menyeleweng dan memusnahkan Islam. Mereka juga sentiasa memiliki sifat talam 2 muka. Mereka juga mendakwa tasawuf diambil daripada Yahudi, Nasrani dan Buddha. Bermacam2 tohmahan dilemparkan terhadap tokoh2 ulama tasawuf. Apa yg lebih mendukacitakan, terdapat segelintir org Islam menggunapakai pandangan dan pendapat dari musuh2 Islam ini utk mencela tasawuf secara total. Inikah yg dikatakan pejuang Islam yg sebenarnya? Kadang2 mereka ini berselindung di sebalik sebagai seorang pengkaji/sarjana ilmuan Islam, akan tetapi merekalah di antara para perosak agama Islam dari dalam.

Di antara musuh2 tasawuf juga ialah mereka yg jahil dgn hakikat tasawuf Islam itu sendiri. Mereka tidak mempelajari dari tokoh2 ulama sufi secara jujur dan amanah serta tidak juga mengambil manfaat dari ulama2 tasawuf yg ikhlas menyampaikan ilmu pengetahuan. Mereka cuba mengkaji sendiri kitab2 tasawuf sedangkan mereka tiada asas dan tak memahami maksud sebenar serta mereka juga tidak tahu tentang penyelewengan terhadap kitab2 tersebut oleh musuh2 tasawuf Islam. Maka akan timbullah pandangan negatif dan berburuk sangka terhadap tasawuf ini.

Antaranya ialah mereka yg mencedok ilmu pengetahuan dari orientalis. Mereka hanya menggunapakai pandangan dan sangkaan salah dari para orientalis semata2. Mereka tidak dapat membezakan di antara tasawuf Islam yg sebenarnya dgn tasawuf yg telah dicemari di sebabkan mereka tiada ilmu dan asas yg bertepatan.

Inilah di antara musuh2 tasawuf serta tarikat yg bertindak menyerang tasawuf dari sebelah luar ataupun dari sebelah dlm Islam. Mereka bersungguh2 menabur fitnah selagimana mereka diberikan nyawa yg sementara ini dari Allah Taala. Mungkin juga mereka lupa bahawa mereka akan diperhitungkan oleh Allah Taala di akhirat kelak. Bersedialah!

18 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

HATI-HATI DENGAN ORANG-ORANG YANG BOLEH MENDATANGKAN PERASAAN WAS-WAS PADA DIRI KITA

HATI-HATI DENGAN ORANG-ORANG YANG BOLEH MENDATANGKAN PERASAAN WAS-WAS PADA DIRI KITA TERUTAMA SEKALI DARIPADA APA YANG KITA LIHAT BERLAKU DI MEDIA SOSIAL SEKARANG INI YANG MENGATAKAN PELBAGAI ANDAIAN,TOMAHAN,HUJJAH DAN SEBAGAINYA YANG AKHIRNYA AKAN MENGAKIBATKAN HATI KITA DAN AMAL KITA TURUT "BERPENYAKIT" SEPERTI MEREKA.

CARA PALING BAIK ADALAH DENGAN KITA SENTIASA MENJAGA ADAB DAN AKHLAK KITA DENGAN KITA TIDAK MELAWAN KEMBALI DENGAN MENGHENTAM SANA SINI KOMEN DENGAN AYAT DAN BAHASA YANG KURANG SOPAN APATAH LAGI MEMPERLI DAN MENGHINA MEREKA KERANA ITU MENUNJUKKAN KITA DENGAN MEREKA TIADA BEZANYA!!

SEBALIKNYA KITA SEMAKIN BERSEMANGAT UNTUK MENUNTUT ILMU MELAKUKAN AMAL SOLEH UNTUK MENDEKATKAN HUBUNGAN KITA KEPADA ALLAH TA’ALA BUKANNYA MEROSAKKAN AMAL IBADAH KITA DENGAN APA YANG SEDANG BERLAKU

Antara sifat orang munafik adalah suka mendatangkan perasaan ragu-ragu sebab itu kita dalam beramal jangan ragu-ragu.Hari ini kita nak beramal pun orang bagi ragu-ragu pada kita.

Pesan Al-Habib Najmuddin yang sering kali menasihatkan kepada para jemaah Sawa’Assabil dan secara umumnya kepada semua iaitu "Kita pada hari ini kena banyak baca Surah An-Nas."Sebab apa?Sebab hari ini lagi dahsyat was-was yang diturunkan kepada kita.

Allazii Yuwas Wisu Fii Suduurin Naas(Yang membisik(Kejahatan) ke dalam dada manusia).Siapa yang mewas-waskan?Minal Jinnati Wann Naas.Iaitu yang mewas-waskan kepada manusia iaitu jin dan manusia.Tapi manusia lebih banyak mewas-waskan kepada kita.

Zikir diwas-waskan.Selawat diwas-waskan.Majlis diwas-waskan.Sebenarnya orang-orang yang nak jauhkan kita daripada amal soleh.Dia betul-betul tak perlu dengan hujjah yang kuat dan sebagainya.Tak perlu!!!Dia hanya memberikan kepada kita WAS-WAS sahaja."Eh macam ini betul ke?"Dia hanya perlu memberikan WAS-WAS sahaja.

Dia tak datang majlis talim(majlis ilmu).Dia tak pergi merujuk kepada rujukan yang betul yakni Para Ulama,ahli Ilmu.Dia hanya cuba memberikan WAS-WASKAN kepada kita(Tengok apa yang berlaku di FB,Whatsapp dan sebagainya)

Kita yang asalnya buat AMAL SOLEH akhirnya kita akan tak buat.Nampak!!!Sebab itu kita kena betul-betul YAKIN dengan AMAL SOLEH yang kita lakukan yang mana ianya adalah BENAR,TAK ADA MASALAH.

Dalam hal-hal yang hari ini cuba ditimbulkan kembali sedangkan ianya dah selesai dah semuanya sejak daripada Para Salafussoleh dahulu.Selesai dah semua masalah dahulu apa-apa perbincangan dah selesai.Akan tetapi hari ini dinaikkan semula kerana tahu pada zaman sekarang ini ORANG-ORANG MALAS DAN JAHIL.

Maka mereka gunakan KEJAHILANNYA dan KEMALASAN orang-orang ini untuk memburuk-burukkan dan juga menghalang,membangkang ataupun mematikan sama sekali daripada kebaikan-kebaikan,gerakan-gerakan untuk membawa kepada KEBAIKAN.

Kita kena berhati-hati betul khususnya pada zaman ini.Yang akhirnya,akibatnya pergi kepada apa?PEPERANGAN,PERMUSUHAN.
Sebab apa?Selalunya disifatkan kepada orang-orang yang dilabelkan dengan label-label sepeerti kafir,syirik,murtad dan sebagainya maka ia akan pergi kepada HALAL DARAH boleh bunuh.Berlakunya PEPERANGAN yang ASALNYA adalah disebabkan oleh PERSELISIHAN-PERSELISIHAN yang digempar-gempurkan.

Pesan Al-Habib Najmuddin Othman Al-Khered Hafidzohullah "Berhati-hatilah.BENTENGKAN diri kita dengan kita sentiasa ISTIQOMAH MENUNTUT ILMU kerana dengan ILMU maka kita dapat membezakan yang mana yang HAQ dan yang mana yang BATIL.Dengan ILMU juga dapat mengeluarkan seseorang itu daripada KEJAHILAN dan KEGELAPAN kepada CAHAYA yang akhirnya akan menyelamatkan diri kita sendiri khusus dengan fitnah-fitnah yang sedang berlaku di zaman ini.

 

‪#‎Mutiara‬ [AL-HABIB NAJMUDDIN OTHMAN AL-KHERED HAFIDZOHULLAH]

17 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Siapa itu para Habaib?

Para "Habaib" (seorang: Habib) atau "Sayyid" atau "Syed" merupakan gelaran yang dinisbahkan kepada keturunan Baginda SAW (Ahlul Bait). Mereka ini amat teliti dalam menjaga silsilah nasab keturunan. Ada yang menyimpan silsilah mereka masih dalam bentuk asal kulit-kulit unta dll. Guru kami YM Tan Sri Prof.Dr.Syed Muhammad Naquib al-Attas (hafizahullah) menyimpan silsilah keturunan beliau hingga ke Junjungan Mulia SAW. Begitu juga dengan Habib Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid.

Kemuliaan Ahlul Bait tidak perlu diulas panjang memadai dinyatakan bahawa mendoakan kepada mereka (aali Muhammad) dimasukkan dalam bacaan Tahiyyat Akhir solat kita. Itulah kemuliaan mereka hingga hari kiamat. Mungkin ada segelintir di kalangan mereka yang tersasar menjadi Syiah dan sebagainya, namun itu bukanlah hujah untuk menuduh kononnya dengan memuliakan para Habaib "selangkah menjadi Syiah" kerana manhaj Ahlul Sunnah wal Jamaah turut memuliakan para Ahlul Bait, namun tidaklah sampai sepertimana kemuliaan melampau yang ditunjukkan oleh puak Syiah.

Bagi mereka yang mengkaji sejarah Nusantara Melayu ini pasti akan merasa terhutang budi kepada para Habaib kerana asbab merekalah risalah Islam tersebar hingga ke Nusantara ini. Nama-nama seperti Sheikh Abdullah Arif, Sheikh Burhanudin, keluarga Ahmad bin Isa al-Muhajir dll dari Hadramawt merupakan nama-nama yang banyak berjasa membawa Islam ke Alam Melayu ini. Bacalah monograf "Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago" atau "Historical Fact and Fiction" oleh YM Prof. Naquib al-Attas yang telah menekuni manuskrip-manuskrip awal kedatangan Islam ke Alam Melayu untuk memahami bagaimana proses Islamisasi di Nusantara Melayu ini bermula oleh para Habaib Hadhrami.

Pada ketika para Habaib datang ke Nusantara Melayu ini seawal kurun ke 10Hijrah/16Masehi, penduduk di nusantara ini sebahagiannya beragama Hindu, ada juga Buddha dan Animisme. Bayangkan apa agama kita hari ini tanpa kehadiran mereka? Sungguh amat kita terhutang budi kepada mereka yang merantau jauh membawa Islam. Mereka bukan pedagang biasa sepertimana yang sebahagian kita sering disogokkan, tetapi Prof. Naquib mengatakan mereka adalah "para daie yang mempunyai misi" menyebarkan dakwah Islam ke seluruh alam. Dan itulah juga peranan Habaib hingga ke hari ini — Dakwah!

Ribuan yang telah memeluk Islam di tangan Habib Umar bin Hafiz, Habib Ali al-Jifri dan para Habaib yang lain.

Habaib tidak maksum. Namun sungguh amat celupar dan biadap golongan yang mentohmah keturunan Habaib dengan pelbagai tohmahan hanya kerana ada segelintir daripada mereka yang menyeleweng atau mengikuti Syiah.

Moga-moga Allah SWT menempatkan kita bersama Baginda SAW dan para Ahlul Baitnya dalam Syurga Firdausnya.

((المرء مع من أحب))

YM Tan Sri Prof.Dr.Syed Muhammad Naquib al-Attas (hafizahullah)

YM Tan Sri Prof.Dr.Syed Muhammad Naquib al-Attas (hafizahullah)

17 April 2015 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Hukum berzikir dalam keadaan menari

Jawapan dari ustaz Mustafa Kamal..

Ustaz,Bagaimanakah hukum orang yg berzikir dalam keadaan menari,apakah bidaah atau sesat,

Pertama, Terlebih dahulu jauhkan diri menyesatkan atau membidaah orang lain,kerana mengikut kaedah sesuatu perkara itu asalnya harus sehingga ada dalil pengharamannya.

Kedua : perkara ini adalah perkara zauqiyyah yang hanya diketahui atau dirasai oleh orang yang mengalaminya,seperti sedapnya makanan hanya diketahui oleh orang yang merasainya.

Ketiga:Apabila kita tidak mengetahui hukumnya maka rujuklah pada orang yang lebih alim, lebih-lebih lagi ia dilakukan oleh wali Allah atau orang yang ada thiqah.

Di antara dalil-dalil mengenai zikir sambil menari.

1- Sahabat nabi s.a.w. pernah menari-menari di hadapan baginda sejurus selepas nabi memujinya.Lantaran rasa kasih dan gembiranya pada Allah dan Rasulnya,dan ianya tidak diingkari oleh baginda s.a.w.

2- Berkata Syeikh Abdul Qadir Isa dalam kitabnya Haqaiq Tasawuf ada menyatakan " bergerak-gerak dalam berzikir ( menggerak-gerakkan seperti menari ) adalah perkara baik bahkan boleh mencergaskan tubuh dan ianya tidak diingkari oleh ulama sufi.Ia berdalilkan apa yg keluar dari Imam Ahmad dalam musnadnya dan juga Hafiz Al Maqdisi dengan rijal sohihnya.

" Daripada Anas r.a. berkata " Orang-orang Habsyah menari-menari di hadapan baginda s.a.w, mereka melaung-laungkan dengan kata-kata " Muhammad hamba yang soleh"

3- Saidina Ali Karramallahuwajhah ada menyifatkan sahabat yang berzikir dengan katanya " Mereka mencondongkan tubuhnya sebagaimana condongnya pohon yang ditiup angin kuat. Ini mungkin yang sebagaimana dilakukan oleh pengamal tarekat Naqsabandi Haqqani yang mursyidnya Syeikh Nazim, Syeikh Hisham Kabbani dan seumpamanya.Maka batallah dakwaan yang mengatakan bidaah dan sesat.

4- Syeikh Abdul Ghani An Nablusi r.a. menyatakan dalam risalah beliau sunat menggoncangkan tubuh ketika berzikir berdalilkan hadis Saidina Ali Karramallahuwajhah.

4- Imam Junaid rahimahullah pernah ditanya : "Sesungguhnya kaum sufi bertawajud dan bertamayyul"Jawab Syeikh Junaid " Biarkan mereka bergembira dengan Allah,Sesungguhnya mereka adalah suatu kaum yang jiwa terputus dengan segala-galanya,andainya kamu mengetahui atau mengecapi sebagaimana yang mereka kecapi nescaya kamu akan membiarkan ( menguzurkan ) mereka.

5- Kenyataan Syeikh Junaid di sokong oleh Al Allamah An Nihrir Ibnu Kamal Basyar dengan jawapan sama dengan Syeikh Junaid.

6- Berkata Ibnu Abidin dalam Hasyiahnya " Tanpa diragui bahawa tawajud ialah memaksa diri menzahirkan wajd tanpa adanya wajd yang haqiqi,apabila niat betul,tidak mengapa sebagaimana kata2nya dalam hasyiah

" Tidak mengapa dalam tawajud kiranya engkau benar-benar kesempitan,juga tidak mengapa bertamayul kiranya engkau menghilangkan dukacita" .Maka perbuatan tawajud dan bertamayyul itu boleh dikatakan ada pada majlis yang pernah dibawa oleh Syeikh Nazim Haqqani dari Tarekat Naqsabandi Haqqani antaranya dan tarekat-tarekat lain.

7- Berkata Syeikh Abdul Qadir Isa " Jika memaksa diri atau buat-buat tawajjud itu harus di sisi syarak dan diakui oleh fuqaha’ maka wajd yg sebenar adalah lebih layak.

8- Banyak lagi dalil-dalilnya yang ada dalam kitab-kita sufi, perbuatan ahli sufi lebih difahami dikalangan ahli sufi,sedangkan mereka adalah golongan yang menyucikan diri mereka dengan mencontohi baginda s.a.w.

9- Boleh juga cuba rujuk kitab Al Bidayah Wa An Nihayah karangan Imam Hafiz Al Mufassir Ismail Ibnu Kathir Ad Dimasyqi Jilid 8 ms 6,Al Hilyah jilid 1 ms 6. Risalah Ibnu Abidin Risalah ke 7 dan banyak lagi.

10- Kesimpulannya,Amalan berzikir dengan cara menggerakkan tubuh atau menari bukanlah perkara bidaah atau sesat,ianya ada dalil-dalil, walau bagaimanapun tujuannya melakukan ibadat kepada Allah, pergerakan dalam zikir umpama menari adalah cara menyihatkan tubuh dan meniru ahli wajd adalah perkara yang dibenarkan.

‪#‎Sekadar‬ pengkongsian ilmu bukan bertujuan untuk berhujah atau berdebat. Ya Allah tambahkanlah ilmu kami.

Sumber:

17 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Pintalah kepada Allah

KITA masih membicarakan maksud sebenar sabda Rasulullah SAW: "Apabila kamu meminta maka pintalah kepada Allah". Yang zahirnya seperti melarang kita meminta pertolongan selain daripada Allah.

Sebenarnya hadis ini tidak mengandungi pegangan atau dalil putus bagi menegah daripada memohon syafaat atau bertawassul. Sesiapa yang memahami dari sudut zahir hadis ini bahawa kita ditegah daripada meminta dan bertawassul kepada selain Allah secara mutlak, maka sesungguhnya dia telah tersilap jalan.

Ini kerana mereka yang menjadikan para nabi dan orang soleh sebagai wasilah mereka kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan daripada-Nya atau menolak kemudaratan. Mereka tidaklah meminta melainkan kepada Allah yang Esa agar memudahkan apa yang diminta atau menjauhkannya daripada apa yang dikehendakinya dalam keadaan bertawassul kepada-Nya melalui orang yang diizinkan bertawassul dengan mereka.

Dalam hal ini, dia hanya mengambil sebab musabab yang ditentukan Allah bagi seseorang hamba mencapai hajatnya daripada Allah. Orang yang mengambil atau menggunakan sebab yang sememangnya diperintahkan oleh Allah untuk diikuti bagi mencapai keinginannya, bukanlah meminta kepada sebab tersebut tetapi meminta kepada Pencipta sebab tersebut (Allah).

Maka seseorang yang berkata: "Wahai Rasulullah! Aku mahu tuan mengembalikan mataku semula, atau menghapuskan bala bencana daripadaku, atau menyembuhkan penyakitku," bermaksud meminta perkara-perkara tersebut daripada Allah dengan perantaraan syafaat Rasul-Nya.

Orang tersebut seolah-olah berkata: "Doakanlah untukku supaya terhasil hajat ini, syafaatkanlah untukku dalam perkara ini".

Kedua-dua bentuk ayat di atas tidak ada bezanya, cuma ayat yang kedua lebih jelas maksudnya daripada ayat yang pertama. Sebagai contoh bagi kedua jenis permohonan tersebut ataupun yang lebih jelas ialah perkataan orang yang bertawassul: "Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan nabi-Mu supaya memudahkan manfaat ini, atau menolak kejahatan ini".

Maka orang yang bertawassul dengan semua jenis tawassul tersebut tidaklah meminta ditunaikan hajat mereka kecuali kepada Allah SWT.

Dengan ini, kita dapat fahami bahawa menegakkan hujah melarang bertawassul dengan sabda nabi SAW: "Apabila kamu meminta, pintalah kepada Allah," adalah suatu kesilapan yang besar. Ia membatas hadis ini kepada makna zahir yang rosak atau tidak betul, iaitu tidak sah seseorang itu meminta kepada selain Allah dalam apa keadaan sekalipun.

Justeru, sesiapa yang memahami hadis ini dengan makna tersebut, maka dia telah benar-benar tersalah. Sebagai menjelaskan kesalahan tersebut, cukuplah dengan berdalilkan hadis ini juga yang merupakan jawapan kepada soalan Ibnu Abbas r.a perawi hadis selepas Rasulullah SAW merangsangnya supaya bertanya: "Wahai anak muda! Mahukah aku ajarkan kamu beberapa kalimah yang akan membuatkan Allah memberikan manfaat kepada kamu dengannya".

Apakah tarikan untuk bertanya yang lebih indah daripada ini? Ibnu Abbas r.a menjawab: "Ya". Maka Rasulullah SAW menjawab dengan hadis ini.

Jika kita mengikut sangkaan yang salah ini, maka tidak boleh orang yang jahil bertanya kepada orang alim, tidak boleh orang yang ditimpa kemusnahan meminta tolong kepada orang yang dapat menyelamatkannya daripada kesusahannya.

Orang yang berhutang tidak boleh meminta orang yang dapat melunaskan hutangnya melangsaikan hutangnya dan orang yang memerlukan pinjaman meminta pinjaman. Bahkan juga, tidak boleh manusia meminta syafaat kepada para nabi pada hari kiamat.

Begitu juga, tidak boleh Nabi Isa a.s menyuruh mereka meminta syafaat kepada Penghulu para Rasul, Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya dalil yang mereka sangkakan bersifat umum akan membawa kepada penafian apa yang kami sebutkan di atas dan hal-hal seumpamanya.

Maka sekiranya mereka berkata: Sesungguhnya yang dilarang adalah memohon kepada para Nabi a.s dan orang soleh daripada ahli kubur yang berada di alam barzakh kerana mereka tidak mempunyai kuasa.

Sangkaan atau pemahaman keliru seperti ini juga telah dijawab secara panjang lebar dalam perbahasan yang lepas. Secara ringkasnya kami katakan: "Sesungguhnya mereka itu hidup, dapat mendengar dan berkuasa untuk memberi syafaat dan mendoakan.

Kehidupan mereka yang berupa kehidupan barzakhiyyah itu sesuai dengan kedudukan mereka; yang dengannya mereka boleh dimanfaatkan untuk berdoa dan memohon keampunan

Sumber: Mukasyafatul Qulub

16 April 2015 Posted by | Aqidah, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Sikap Seorang Muslim Terhadap Perselisihan

 

Oleh

Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Hikmah Allâh Azza wa Jalla menetapkan adanya perbedaan dan perselisihan diantara manusia. Diantara penyebabnya adalah adanya perbedaan ilmu, kecerdasan, sifat, pengalaman, lingkungan, dan lain-lainnya. Oleh karena itu perselisihan merupakan takdir Allâh Subhanahu wa Ta’alayang pasti terjadi. Karena perselisihan sudah terjadi dan pasti akan terus terjadi, maka sangat penting bagi kita memahami beberapa hal yang berkait dengan masalah ini, sehingga kita bisa menyikapinya dengan benar. Semoga tulisan singkat ini bisa menambah wawasan kita seputar masalah yang besar ini.

APA HIKMAH ADANYA PERSELISIHAN?

Semua takdir Allâh Azza wa Jalla pasti mengandung hikmah, karena Allâh Azza wa Jalla adalah al-Hakîm (Yang Maha Bijaksana). Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan kepada kita tentang hikmah penciptaan dalam beberapa ayat al-Qur’ân, diantaranya adalah:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Maha suci Allâh yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [al-Mulk/67: 1-2]

Juga firman-Nya yang artinya, "Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya." [Hûd/11: 7]

Juga firman-Nya, "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang lebih baik perbuatannya. [al-Kahfi/18: 7]

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa diantara hikmah Allâh Azza wa Jalla menciptakan makhluk ini adalah sebagai ujian bagi manusia, agar tampak siapakah di antara mereka yang lebih baik perbuatannya. Termasuk adanya perselisihan bahkan perpecahan diantara manusia atau bahkan di antara kaum muslimin, adalah sebagai ujian siapa di antara mereka yang paling baik perbuatannya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu agar Allâh Azza wa Jalla menguji kamu. Karena Dia telah menciptakan apa saja yang ada di langit dan di bumi dengan disertai perintah-Nya dan laranganNya, lalu Dia akan melihat siapa diantara kamu yang paling baik perbuatannya. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, ‘Yang paling ikhlas dan paling shawab (benar)’. Beliau ditanya, ‘Hai Abu ‘Ali, apakah (yang dimaksud dengan) ‘yang paling ikhlas dan paling shawab (benar)?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya amalan itu jika ikhlas, tetapi tidak benar, tidak akan diterima. Dan jika benar, tetapi tidak ikhlas, tidak akan diterima. Amal akan diterima jika ikhlas dan benar. Ikhlas maksudnya amalan itu untuk wajah Allâh dan benar maksudnya amalan itu mengikuti syari’at dan sunnah”. [Taisîr Karîmir Rahmân, surat Hûd, ayat ke-7]

MACAM-MACAM PERSELISIHAN DAN HUKUM ORANG YANG BERSELISIH

Perselisihan itu banyak jenisnya. Oleh karena itu merupakan kesalahan ketika seseorang mengatakan bahwa semua perselisihan itu buruk dan tercela. Juga ketika seseorang mengatakan bahwa semua perselisihan itu boleh, bahkan merupakan rahmat. Yang benar adalah mensikapi perselisihan itu sesuai dengan sebab-sebab perselisihan itu. Ada beberapa bentuk perselisihan di antara manusia sebagai berikut :

1. Bentuk atau jenis perselisihan yang terpenting dan terbesar adalah perselisihan (perbedaan) antara iman dengan kekafiran, antara ketaatan dengan kemaksiatan, antara al-haq dengan al-batil. Perselisihan jenis ini, salah satunya terpuji, sedangkan yang satu lagi tercela. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ

Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. [at-Taghâbun/64: 2]

Juga firman-Nya:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ ۚ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allâh berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allâh meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allâh menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. [al-Baqarah/2: 253]

Perselisihan ini terjadi dengan kehendak dan takdir Allâh Azza wa Jalla , dan Allâh memiliki hikmah yang sempurna dalam semua takdirnya. Dan dari sebab perselisihan ini muncul sikap saling membenci, memisahkan diri, bahkan saling memerangi. Walaupun orang-orang beriman dilarang berbuat zhalim kepada siapapun. Karena perselisihan yang disebabkan iman dan kekafiran ini adalah perselisihan pokok. Perselisihan ini akan terus berlangsung, perselisihan antara al-haq dengan al-batil, antara wali-wali Allâh dengan musuh-musuh-Nya, antara hizbullah (golongan Allâh) dengan hizbusy syaithan (golongan setan).

Kebenaran yang ada dari perselisihan jenis ini jelas berada di pihak para Rasul dan pengikut mereka. Maka barangsiapa ingin selamat, bahagia, dan ingin sukses, hendaklah dia bergabung dengan pihak ini. Barangsiapa berada di pihak yang lain, maka dia telah menentang Allâh dan Rasul-Nya. Allah berfirman :

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allâh dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allâh dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allâh Amat keras siksaan-Nya. [al-Anfâl/8: 13)]

Perbedaan yang jelas ini juga berdampak pada kondisi akhir masing-masing golongan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍكُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِإِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang-orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), "Rasailah azab yang membakar ini". Sesungguhnya Allâh memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. [Al-Hajj/22: 19-23]

Dan perlu diketahui bahwa mayoritas manusia berada dalam golongan setan, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman. [al-Mukmin/40: 59]

Juga firman-Nya, yang artinya, "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh). [al-An’âm/6: 116]

2. Di antara bentuk perselisihan atau perbedaan yang ada di kalangan manusia adalah perselisihan di antara agama-agama kafir. Dalam perselisihan jenis ini, semua pelakunya tercela, semuanya berada di dalam kesesatan, walaupun dengan derajat kesesatan yang berbeda-beda.

Allâh berfirman, yang artinya, "Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar".

(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allâh, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," Padahal mereka (sama-sama) membaca al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allâh akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. [al-Baqarah/2: 111-113]

3. Diantara bentuk perselisihan atau perbedaan adalah perselisihan diantara umat Islam. Penyebabnya adalah perbedaan dalam berpegang kepada al-Qur’an dan As-Sunnah. Banyak kaum Muslim tidak berpegang kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah dengan benar, sehingga terjerumus dalam berbagai kesesatan. Mereka menjalankan agama dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Sebagian mereka memiliki keyakinan yang tidak ada dalilnya dari wahyu Allâh Azza wa Jalla , sehingga muncul berbagai firqah (golongan) di kalangan umat ini. Mereka membuat atau mengikuti berbagai bid’ah (perkara baru di dalam agama), lalu menganggapnya sebagai agama. Mereka berselisih satu sama lain, dan masing-masing golongan berbangga dengan perkara yang ada padanya.

Perselisihan antar golongan di kalangan umat Islam ini juga berbahaya, karena hal itu akan melemahkan mereka dan menghilangkan kewibawaan mereka. Bahkan golongan-golongan yang menyimpang dari Ahlus Sunnah, dari jalan yang telah ditempuh oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, mereka diancam dengan neraka, sebagaimana disebutkan di dalam hadits al-firqatun-najiyah sebagai berikut :

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

Dari Auf bin Malik Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Orang-orang Yahudi telah bercerai-berai menjadi 71 kelompok, satu di dalam sorga, 70 di dalam neraka. Orang-orang Nashoro telah bercerai-berai menjadi 72 kelompok, 71 di dalam neraka, satu di dalam sorga. Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad di tanganNya, umatku benar-benar akan bercerai-berai menjadi 73 kelompok, satu di dalam sorga, 72 di dalam neraka”. Beliau ditanya: “Wahai Rasûlullâh! siapa mereka itu?”, beliau menjawab, “al-Jama’ah”. [HR.Ibnu Majah no: 3992; Ibnu Abi Ashim, no: 63; Al-Lalikai 1/101. Hadits ini berderajat Hasan. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no: 3226]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh umatku akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa Bani Israil, persis seperti sepasang sandal. Sehingga jika diantara mereka ada yang menzinahi ibunya terang-terangan, dikalangan umatku benar-benar ada yang akan melakukannya. Dan sesungguhnya Bani Isra’il telah bercerai-berai menjadi 72 agama, dan umatku akan bercerai-berai menjadi 73 agama, semuanya di dalam neraka kecuali satu agama”. Para sahabat bertanya: “Siapa yang satu itu wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Apa yang saya dan para sahabatku berada di atasnya”. [Hadits Shahih Lighairihi riwayat Tirmidzi, al-Hâkim, dan lainnya. Dishahihkan oleh Imam Ibnul Qayyim dan asy-Syathibi, dihasankan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi dan Syaikh al-Albani. Syeikh Salim al-Hilali menulis kitab khusus membela hadits ini dalam sebuah kitab yang bernama “Daf’ul Irtiyab ‘An Haditsi Maa Ana ‘Alaihi Wal Ash-hab]

Perselisihan di kalangan umat Islam ini dari satu sisi menyerupai perselisihan antara kaum Mukminin dengan orang-orang kafir, karena perselisihan antara Ahlus Sunnah dengan semua ahli bid’ah adalah perselisihan tadhad (kontradiksi). Ahlus Sunnah di tengah-tengah ahli bid’ah adalah seperti umat Islam di tengah-tengah orang-orang kafir. Meski jumlah mereka sedikit, namun kebenaran selalu berada di pihak Ahlus Sunnah, yaitu orang-orang yang berpegang dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sedangkan ahli bid’ah tetap dalam penyimpangan mereka. Penyimpangan mereka bervariasi, semakin jauh dari Sunnah, maka kesesatan mereka juga semakin besar. Semakin dekat kepada Sunnah, kesesatan mereka semakin sedikit.

Perselisihan di antara umat Islam ini benar-benar terjadi, bahkan telah dijelaskan oleh al-Qur’ân dan as-Sunnah. Karena Allâh Azza wa Jalla telah memberitakan bahwa umat-umat zaman dahulu telah berpecah-belah, sebagaimana firman-Nya :

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

Dan mereka (ahli Kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka. [asy-Syûra/42:14]

Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa sebagian umat ini pasti akan mengikuti perilaku umat-umat zaman dahulu, termasuk perbuatan mereka yang berselisih dan berpecah belah.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ؟

Dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamu benar-benar akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga seandainya mereka melewati lobang dhob (satu jenis kadal pasir), kamu benar-benar juga akan melewatinya”. Kami (para sahabat) bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah anda maksudkan orang-orang Yahudi dan Nashoro?” Beliau menjawab: “Siapakah selain mereka?” [HR. Bukhari, no: 3456; Muslim, no: 2669]

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh mengatakan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghendaki bahwa umatnya tidaklah meninggalkan sesuatupun yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashoro kecuali umat ini melakukan semuanya. Mereka tidak akan meninggalkan sesuatupun darinya. Oleh karena itulah Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Orang yang rusak di antara ulama kita, maka padanya terdapat perserupaan dengan Yahudi. Dan orang yang rusak di antara ahli ibadah kita, maka padanya terdapat perserupaan dengan dan Nashoro”. Alangkah banyaknya dua kelompok ini. Akan tetapi di antara rohmat Alloh dan nikmatNya, tidak menjadikan umat ini tidak akan bersatu di atas kesesatan”.[Fathul Majid, hal: 240, penerbit: Dar Ibni Hazm]

Di antara contoh hal ini adalah penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits sebagai berikut:

عَنْ عَرْفَجَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهِيَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ (وفي رواية: فَاقْتُلُوهُ )

Dari ‘Arfajah, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda, “Akan terjadi musibah demi musibah. Maka barangsiapa ingin mencerai-beraikan umat ini, saat mereka bersatu, maka pukullah dia dengan pedang, siapapun dia”. (Dalam riwayat lain, “maka bunuhlah dia”. [HR. Muslim, kitab: Imaâah, no: 1852]

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat perintah memerangi orang yang memberontak terhadap imam, atau ingin mencerai-beraikan kaum Muslimin atau perbuatan sejenis lainnya. Dia dilarang dari hal itu, jika dia tidak berhenti, maka dia diperangi. Jika kejahatannya tidak tertolak kecuali dengan membunuhnya, maka dia dibunuh, dan kematiannya sia-sia. Maka sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Maka pukullah dia dengan pedang”, pada riwayat lain, “Maka bunuhlah dia”, maksudnya, jika tidak tertolak kecuali dengan itu”. [Shahih Muslim, Syarh Nawawi 12/241-142]

4. Ada juga perselisihan di antara Ahlus Sunnah, namun perselisihan ini bukan dalam masalah-masalah pokok dalam aqidah, tidak sebagaimana perselisihan antar sesama ahli bid’ah, atau perselisihan ahli bid’ah dengan Ahlus Sunnah. Perselisihan sesama Ahlus Sunnah ini ada dua jenis :

a). Perselisihan Tanawwu’ (perselisihan variasi), yaitu jenis perselisihan yang kedua pihak yang berselisih berada dalam kebenaran dan terpuji. Namun mereka akan berdosa jika berbuat zhalim terhadap pihak lain, atau mengingkari kebenaran yang ada di pihak lain. Contoh, kejadian yang dikisahkan dalam hadits di bawah ini :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَجُلاً قَرَأَ آيَةً سَمِعْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلاَفَهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَأَتَيْتُ بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كِلاَكُمَا مُحْسِنٌ قَالَ شُعْبَةُ أَظُنُّهُ قَالَ لاَ تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

Dari Abdullah (bin Mas’ud), dia berkata, “Aku mendengar seorang laki-laki membaca sebuah ayat, yang (bacaan)nya menyelisihi yang telah aku dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka aku pegang tangannya, dan aku bawa kepada Rasûlullâh n , lalu beliau bersabda, “Kamu berdua telah berbuat sebaik-baiknya.” Syu’bah berkata: Aku sangka dia mengatakan: “Janganlah kamu berselisih, karena orang-orang sebelum kamu telah berselisih, lalu mereka binasa”. [HR. Bukhari no: 2410]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perselisihan yang di dalamnya orang-orang yang berselisih menolak kebenaran yang ada pada pihak lain. Karena dua orang yang membaca (al-Qur’an) itu telah benar bacaan. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan alasan (larangan) tersebut adalah kebinasaan orang-orang sebelum kita akibat perselisihan”.

Syaikhul Islam rahimahullah juga bmengatakan: “Ketahuilah, bahwa mayoritas perselisihan antara umat, yang melahirkan hawa-nafsu, engkau dapati termasuk jenis ini, yaitu: setiap orang dari orang-orang yang berselisih itu benar, atau sebagiannya benar, tetapi dia keliru karena telah menafikan kebenaran yang ada pada orang lain.” [Iqtidhâ’ Shirâthil Mustaqîm]

b). Perselisihan Tadhâd (perselisihan kontradiksi), perselisihan ini ada dua jenis:

• Perselisihan kontradiksi dalam suatu masalah dan terdapat dalil tegas yang menunjukkan kebenaran satu pendapat dari pendapat-pendapat yang ada.

Dalam hal ini, pendapat yang benar adalah pendapat yang sesuai dengan dalil, yang lain salah. Namun jika orang-orang yang berselisih ini berijtihad, yakni berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran, dengan disertai keikhlasan, maka mereka semua terpuji dan mendapatkan pahala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

Jika seorang hakim menghukumi, dia telah berijtihad, lalu ketetapannya sesuai dengan kebenaran, maka dia mendapatkan dua pahala. Dan jika dia menghukumi, dia telah berijtihad, lalu dia melekukan kesalahan, maka dia mendapatkan satu pahala. [HR. Bukhâri, no. 7352; Muslim, no.1716]

• Perselisihan kontradiksi dalam suatu masalah dan tidak terdapat dalil tegas yang menunjukkan kebenaran salah satu dari dua pendapat yang berselisih.

Maka dalam masalah ini, kedua pendapat itu boleh diikuti dan semua pihak yang telah berijtihad terpuji dan mendapatkan pahala, wallahu a’lam bishh shawwab.

Contoh hal ini adalah sebuah peristiwa yang dikisahkan oleh sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu anhu sebagai berikut :

قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لَنَا لَمَّا رَجَعَ مِنَ الأَحْزَابِ « لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاَّ فِى بَنِى قُرَيْظَةَ » . فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمُ الْعَصْرَ فِى الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ نُصَلِّى حَتَّى نَأْتِيَهَا ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّى لَمْ يُرَدْ مِنَّا ذَلِكَ . فَذُكِرَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Ketika kami telah kembali dari perang Ahzâb, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, “Janganlah seseorang melakukan shalat Ashar kecuali di kampung Bani Quraizhah!”. Sebagian mereka (sahabat) mendapati waktu shalat Ashar di jalan, maka sebagian mereka berkata, “Kita tidak akan melakukan shalat Ashar sampai mendatanginya”. Sebagian yang lain berkata, “Kita melakukan shalat Ashar (sekarang), tidak dikehendaki dari kita hal itu (yakni shalat Ashar di kampung Bani Quraizhah walaupun habis waktunya-pen)”. Hal itu disampaikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliau tidak menyalahkan seorangpun dari mereka. sampai mendatanginya”. [HR. Bukhâri, no. 946 dan 4119]

SOLUSI PERSELISIHAN

Kewajiban seorang Muslim adalah berpegang teguh denan al-Qur’ân dan as-Sunnah, dan bersikap adil dalam hukum dan perkataan. Bersikap adil dalam menghukumi antara orang Muslim dengan orang kafir, antara Ahlus Sunnah dengan ahlul bid’ah, antara orang yang taat dengan orang yang bermaksiat, dengan menerima kebenaran dari orang yang membawanya, jika telah nyata kebenarannya.

Tidak boleh fanatik kepada pendapat pribadinya, atau pendapat gurunya, atau pendapat siapapun yang menyelisihi al-Qur’ân dan as-Sunnah.

Dan kewajiban semua orang Muslim untuk mengembalikan permasalahan yang diperselisihkan kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allâh dan ta’atilah Rasul-Nya, dan ulil amri (ulama dan umaro’) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur’ân) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian." [an-Nisâ’/4:59]

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla perintahkan manusia agar mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’alamengulangi kata kerja (yakni: ta’atilah !) dalam rangka memberitahukan bahwa mentaati Rasul-Nya wajib secara otonomi, dengan tanpa meninjau ulang perintah beliau dengan al-Qur’an. Jika beliau memerintah, maka wajib ditaati secara mutlak, baik perintah beliau itu ada dalam al-Qur’ân atau tidak ada. Karena sesungguhnya beliau n diberi al-Kitab dan yang semisalnya.” [I’lâmul Muwaqqi’in 2/46), penerbit: Darul Hadits, Kairo, th: 1422 H / 2002 H]

Beliau rahimahullah juga berkata, “Kemudian Allâh memerintahkan orang-orang yang beriman agar mengembalikan apa yang mereka perselisihkan kepada kepada Allâh dan Rasul-Nya, jika mereka orang-orang yang beriman. Dan Allâh Azza wa Jalla memberitakan kepada mereka, bahwa itu lebih utama bagi mereka di dunia ini, dan lebih baik akibatnya di akhirnya. Ini memuat beberapa perkara :

a). Orang-orang yang beriman terkadang berselisih pada sebagian hukum. Perselisihan ini tidak menyebabkan mereka keluar dari iman, selama mereka mengembalikan apa yang mereka perselisihkan itu kepada Allâh (al-Qur’an) dan Rasul-Nya, sebagaimana yang disyaratkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa (jika) sebuah hukum ditetapkan dengan sebuah syarat (tertentu), maka hukum itu akan hilang seiring dengan hilangnya syarat.

b). Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, "Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu," mencakup seluruh masalah agama yang diperselisihkan oleh kaum Muslimin, baik yang kecil maupun yang besar, yang tampak jelas maupun yang masih samar.

c). Seluruh kaum Muslimin sepakat bahwa mengembalikan kepada Allâh maksdunya adalah mengembalikan kepada kitab-Nya; mengembalikan kepada Rasul-Nya (maksudnya) adalah mengembalikan kepada diri beliau di saat hidup beliau, dan kepada Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafat beliau.

d). Allâh Azza wa Jalla menjadikan keharusan mengembalikan seluruh perkara yang diperselisihkan kepada Allâh dan Rasul-Nya sebagai kewajiban dan konsekwensi iman. Jika ini tidak ada, maka iman hilang. [Diringkas dari I’lamul Muwaqqi’in 2/47-48), penerbit: Darul Hadits, Kairo, th: 1422 H / 2002 H]

Oleh karena itu, seorang Mukmin harus menerima dengan sepenuh hati, jika datang kepadanya dalil dari al-Qur’ân, atau hadits shahih dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan pemahaman yang benar, pemahaman para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Kesimpulannya, orang-orang yang berselisih wajib mengembalikan semua permasalahan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika ia tidak mampu mengembalikan kepada keduanya, karena tidak memiliki ilmu tentang nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, maka kewajibannya adalah bertanya kepada para ahli ilmu. Oleh karena itu, menghormati para ulama itu wajib, sesuai dengan kedudukan mereka sebagai pewaris Nabi, tidak bersikap ghuluw (melewati batas).

Inilah sedikit tulisan berkaitan dengan masalah ini, semoga Allâh selalu memberikan bimbingan kepada kita di atas jalan yang Dia cintai dan ridhai, menganugerahkan keikhlasan niat dan kebenaran amalan, sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa dan Maha Kuasa mengabulkannya.

Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhamad, keluarganya, dan para sahabatnya, al-hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Catatan :

Makalah ini banyak mengambil manfaat dari muhadharah (ceramah) syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barraak dengan judul Mauqiful Muslim minal Khilaf (Sikap Seorang Muslim Terhadap Perselisihan)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XV/1432/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

15 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Wahhabi dikenali pada MANHAJ dan METHOLOGI yang mereka bawa

Kalaupun di sana ada satu dua pandangan mereka yang bercanggah dengan pengasas mereka Muhammad Ibn Abd Wahhab mereka masih dikira sebagai Al-Wahhabiyyah.

Contohnya mudah. Para Imam di dalam mazhab As-Syafie masih dikira As-Syafiiyyah iaitu pengikut kepada mazhab As-Syafie walaupun pandangan berbeza kerana mereka menggunakan methodologi dan manhaj yang ditetapkan oleh Imam As-Syafie.

Justeru, tidak kira Ustaz itu kelulusan Mesir atau Jordan atau India atau Pakistan atau Syiria atau Pondok sekalipun atau di mana sahaja akan dilihat dan dinilai berdasarkan manhaj yang mereka bawa.

Jika bersamaan dengan manhaj wahabi maka mereka disebut sebagai wahhabi walaupun mereka tidak mengaku.

Manhaj Muhammad Ibnu Wahhab seperti berikut ;

1) Membidaahkan dengan makna sesat perkara khilafiyyah seperti tahlil arwah, bacaan qunut subuh, talqin dll.

2) Mengsyirikkan dengan maksud terkeluar daripada Islam di atas perkara yang diharuskan oleh syariat seperti tawassul, istighasas dll.

3) Tidak terikat kepada mana-mana mazhab dan mengambil pandangan mazhab sesuka hati mereka sehingga mengambil hukum yang terkeluar daripada ijmak dan jumhur Para Ulama’ mazahib. Kadang-kadang mereka mengambil qaul yang syaz di dalam perbahasan fiqh.

4) Mencerca dan menyesatkan ahli sufi secara menyeluruh. Bahkan mereka menganggap ilmu tasawwuf dan tarekat bukan daripada ajaran agama.

5) Merendah-rendahkan kedudukan ahlul beit Nabi SAW yang secara jelas bertentangan dengan Quran dan Hadith yang sahih.

6) Mereka meninggalkan pengajian bersanad riwayah dan dirayah di dalam semua ilmu.

7) Menolak terus hadith dhaif dan menganggap setaraf dengan hadith mauduk sedangkan sepakat para ulama hadith dhaif ada nilai di dalam agama kita selama ia tidak bersangatan dhaif.

8) Keras ke atas umat Islam dan sangat lembut dengan orang kafir. Ini bercanggah dengan firman Allah di dalam surah Al-Fath : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka".

9) Beranggapan bawa orang Islam yang melakukan bidaah pada perkara khilafiyyah lebih teruk dan lebih berat daripada orang kafir musyrik. Ini berdasarkan kaedah tauhid 3 yang mereka pegang. Bercanggah prinsip Islam di mana orang kafir itu tetap tidak akan mendapat apa-apa kebaikan kepada walaupun mereka melakukan kebaikan kerana kekufuran mereka kepada Allah. Dalilnya ialah firman Allah :

“Sesiapa yang mencari selain daripada Islam sebagai Din, maka sama sekali tidak diterima daripadanya, di akhirat kelak termasuk ke dalam golongan orang yang rugi.”- Surah Ali ‘Imran: ayat 85.

Oleh: Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari

8 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Antara tanda-tanda kiamat dan peristiwa akhir zaman

– Seorang hamba sahaya perempuan dikahwini tuannya.

– Orang-orang miskin dan pekerjaannya mengembala kambing tiba-tiba menjadi para pemimpin manusia banyak.

– Para pengembala yang sama, bermegah-megahan dengan gedung-gedung besar dan tinggi-tinggi. Berlumba-lumba membina bangunan tinggi;- Daripada Abu Hurairah r.a. ia berkata; suatu ketika Rasulullah s.a.w. nampak di tengah-tengah orang ramai. Lalu baginda didatangi oleh seseorang yang menanyakan kepadanya: “Wahai Rasulullah s.a.w. bilakah terjadinya kiamat?” Nabi s.a.w. menjawab dengan bersabda: “Tidaklah orang yang ditanya mengenai masalah itu lebih mengetahui daripada yang bertanya. Akan tetapi aku akan memberitahukan kepadamu tentang tanda-tandanya. Iaitu, jika seorang ammah (hamba perempuan) melahirkan majikannya, itulah yang termasuk di antara tanda-tandanya. Juga apabila orang-orang yang tidak beralas kaki dan tidak berpakaian menjadi pemimpin masyarakat, maka itu juga di antara tanda-tandanya. Demikian pula apabila para pengembala domba berlumba-lumba meninggikan bangunan, maka itulah salah satu tandanya di antara tanda-tanda yang lima, yang mana tidak mengetahui yang sesungguhnya selain Allah SWT.” Kemudian baginda membacakan ayat berikut ini: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sahajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan, serta mengetahui apa yang ada di dalam rahim”;- (Riwayat Ibn Majah).

Perhiasan Rumah Sama Dengan Perhiasan Pakaian;- Rasulullah s.a.w bersabda: Hari Kiamat tidak akan tiba, sehingga manusia membangun rumah dan melukisnya sebagai lukisan pakaian;- (Riwayat Bukhari)

Kebanggaan Masyarakat Dengan Membina Masjid;- Daripada Anas bin Malik r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Tidak akan tiba hari kiamat, sehingga manusia bermegah-megah dan berlebih-lebihan dalam urusan masjid;- (Riwayat Abu Dawud).

Masjid Menjadi Tempat Urusan Dunia Sahaja;- Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Akan datang kepada manusia suatu masa, percakapan mereka dalam masjid hanyalah mengenai urusan dunia semata. Allah tidak memerlukan mereka. Dan janganlah kamu duduk bersama mereka (pada waktu dalam masjid);- (Riwayat Hakim).

Ahli Ibadah Yang Bodoh Dan Qari Yang Fasik;- Daripada Anas r.a. ia berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Kelak, di akhir zaman, akan ada ahli ibadah yang bodoh dan para qari yang fasik;- (Riwayat Ibnu ‘Adi).

Golongan yang menjadikan lidahnya sebagai alat untuk mencari makan;- Daripada Sa’ad bin Abi Waqash r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak akan terjadi kiamat, sebelum muncul suatu golongan yang mencari makan melalui lidah-lidah mereka, seperti sapi yang makan dengan lidah-lidahnya;- (Riwayat Ahmad).

Melimpahnya Harta Benda Dan Luasnya Perniagaan Serta Banyak Media Massa;- Dari Umar bin Tsa’lab r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Sebahagian dari tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat, adalah tersebarnya (melimpahnya) harta benda dan luasnya perniagaan. Dan pena-pena akan bermunculan yang menunjukkan banyaknya bacaan dan tulisan;- (Riwayat An-Nasae’i).

Ramai Orang Muda Menyebut Dalil Agama;-Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Akan muncul di akhir zaman nanti, suatu kaum yang terdiri dari orang-orang muda yang masih mentah fikirannya (cetek faham agamanya). Mereka banyak mengucapkan perkataan Khairil Bariyah (firman Allah dan hadis Rasul), tetapi iman mereka masih lemah. Pada hakikatnya mereka telah keluar agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Di mana sahaja kamu dapat menemuinya, maka hapuskanlah mereka itu, siapa yang dapat menghapus mereka, kelak akan mendapat pahala di hari kiamat. “;-(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan dapat dilihat juga sekarang banyak orang2 bukan Islam yang menggunakan hujjah2 dari AlQuran dan AlHadith yang mana mereka membuat komentar menurut kefahaman mereka sendiri sedangkan mereka tidak faham dengan Islam.

Al-Quran Sebagai Alat Propaganda;- Ali bin Thalib r.a. berkata bahawa beliau mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Kelak akan muncul di antara umatku suatu kaum yang membaca Al-Quran bukan seperti lazimnya kamu membaca, dan sembahyangmu jauh berbeza dengan cara mereka bersembahyang. Mereka membaca Al-Quran dengan mengira bahawa Al-Quran itu sebagai alat propaganda mereka, padahal Al-Quran itu berisi peringatan yang harus mereka junjung. Bacaan mereka itu tidak melebihi kerongkongnya (tidak sampai meresap ke dalam hati). Mereka itu sebenarnya keluar dari Islam, bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya;- (Riwayat Muslim)

Menunjuk-Nunjuk Ketika Berdoa;- Dari Saad r.a. bahawa Nabi s.a.w. bersabda: ” Kelak akan terdapat kaum yang berlebih-lebih (menunjuk-nunjuk) dalam berdoa “;- (Riwayat Ahmad).

Merasa Rendah Dalam Ibadah;- Dari Abu Sa’id Al-Kudri r.a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Akan muncul di antara kamu suatu kaum, kamu merasa rendah dalam melakukan solat dibanding dengan mereka, amal perbuatanmu jika dibandingkan dengan perbuatan mereka dan puasa-mu jika dibanding dengan puasa mereka. Mereka membaca Al-Quran tetapi tidak sampai melalui tenggoroknya. Mereka sebenarnya keluar dari agama bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, jika di hujung panah dilihat, tidak ada bekas apa-apanya juga di kayunya tidak ada apa-apanya juga di bulunya tidak terdapat apa-apa, tetapi berlumba-lumba dalam senarnya;- (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Imam Yang Melambatkan Waktu Solat;- Dari Ibnu Ame r.a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya nanti selepas peninggalanku akan terjadi; para imam mengakhirkan solat dari waktunya. Oleh kerana itu hendaklah kamu mengerjakan solat tepat pada waktunya. Jika kamu datang bersama mereka untuk mengerjakan solat, maka bersolatlah kamu;- (Riwayat Thabrani).

Al-Quran Hanya Tinggal Tulisannya Sahaja;- Dari Ali r.a bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Hampir datang suatu zaman, di mana agama Islam hanya tinggal namanya sahaja, dan dari Al-Quran hanya tinggal huruf dan tulisannya sahaja. Masjid-masjid indah dan megah, tetapi sunyi daripada petunjuk. Ulama mereka adalah yang paling jahat di antaranya yang ada di bawah langit. Dari mereka (ulama) itu akan muncul berbagai-bagai fitnah dan fitnah itu akan kembali ke lingkungan mereka sendiri (umat Islam);- (Riwayat Baihaqi).

Kaum Yang Meminum Ayat-Ayat Al-Quran;- Dari Uqbah bin Amir r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Kelak akan muncul suatu kaum dari umatku. Mereka meminum Al-Quran seperti meminum susu;- (Riwayat Thabran.).

Ulat-ulat Qurra’;- Dari Abu Umamah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Kelak pada akhir zaman akan ada ulat-ulat qurra’ (ahli baca Al-Quran). Barangsiapa yang berada pada masa itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari mereka;- (Riwayat Abu Nu’aim).

Serbuan Musuh Islam Terhadap Kaum Muslimin;-Daripada Tsauban r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda; “Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa dan seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang hendak makan mengerumuni talam hidangan mereka”. Maka salah seorang sahabat bertanya “Apakah dari kerana kami sedikit pada hari itu?” Nabi s.a.w. menjawab, “Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa gerun terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan mencampakkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahan’.”

Seorang sahabat bertanya, “Apakah wahan itu hai Rasulullah?” Nabi kita menjawab, “Cinta pada dunia dan takut pada mati”;- (Riwayat Abu Daud )

Orang Mukmin Lebih Hina Daripada Haiwan;- Dari Anas r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Akan datang atas manusia suatu masa, di mana keadaan orang mukmin pada masa itu lebih hina daripada domba” ;- (Riwayat Ibnu Asakir).

Ulama Yang Merugikan Umat Dan Agama;- Abdullah bin Abbas r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya akan terdapat (akan ada) orang-orang dari umatku yang pandai (amat faham dan ahli) tentang urusan agama dan membaca Al-Quran, mereka berkata:“Kami datang kepada para Raja (pemimpin), biar kami memperolehi keduniaan mereka dan kami tidak akan mencampurkan mereka dengan agama kami.” Tidak terjadi hal yang demikian itu, seperti (umpamanya) tidak akan dapat dipungut dari pohon yang berduri melainkan duri. Demikian pula, tidak akan dapat diambil manfaat dari mendekatkan diri kepada mereka itu melainkan beberapa kesalahan belaka;- (Riwayat Ibnu Majah).

Menggadaikan Agama Kerana Dunia;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Akan timbul di akhir zaman orang-orang yang mencari keuntungan dunia dengan menjual agama. Mereka menunjukkan kepada orang lain pakaian yang dibuat daripada kulit kambing (berpura-pura zuhud dari dunia) untuk mendapat simpati orang ramai, dan percakapan mereka lebih manis daripada gula. Padahal hati mereka adalah hati serigala (mempunyai tujuan-tujuan yang jahat). Allah s.w.t. berfirman kepada mereka: “Apakah kamu tertipu dengan kelembutan Ku?, Ataukah kamu terlampau berani berbohong kepada Ku?. Demi kebesaran Ku, Aku bersumpah akan menurunkan suatu fitnah yang akan terjadi di kalangan mereka sendiri, sehingga orang yang alim ( cendikiawan ) pun akan menjadi bingung (dengan sebab fitnah itu)”;- (Riwayat Tirmidzi).

Empat Macam Golongan Mengerjakan Ibadat Haji:- Dari Anas bin Malik r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: “Kelak apabila akhir zaman terdapat empat macam golongan mengerjakan ibadat haji iaitu: 1) Para pemimpin mengerjakan ibadat haji hanya untuk ‘makan angin’, 2) Terdapat orang kaya pergi haji hanya untuk berniaga, 3) Ramai fakir miskin pergi haji dengan tujuan untuk mengemis, 4) Ahli qira’at (pembaca Al-Quran) mengerjakan ibadat haji hanya untuk mencari nama dan kemegahan.”

Penduduk Mekkah Akan Meninggalkan Kota Mekkah;- Umar r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Kelak penduduk Mekkah akan keluar meninggalkan Mekkah; kemudian yang meninggalkan itu tidak akan kembali lagi kecuali hanya sebahagian kecil sahaja. Kemudian yang sedikit itu menjadikan kota itu penuh bangunan. Kemudian mereka keluar lagi dari kota itu dan tidak kembali selamanya “;- (Riwayat Ahmad).

Daripada Abu Umamah r.a. bahawa Nabi s.a.w. bersabda: Kelak akan ada orang-orang dari Umatku (Islam) memakan berbagai macam makanan dan memakai berbagai pakaian, banyak berbicara tanpa difikirkan dahulu apa sebetulnya yang dibicarakan itu, maka itulah seburuk-buruk manusia dari sebahagian Umatku (Islam);- (Riwayat Thabrani dan Abu Nu’aim).

Menyalahgunakan Takdir;- Dari Jabir r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: ‘”Kelak pada akhir zaman ada suatu golongan yang berbuat maksiat kalau ditanya mereka berkata’ Allahlah yang mentakdirkan perbuatan itu kami lakukan.’ Orang yang menentang pendapat mereka pada zaman itu bagaikan orang yang menghunus pedangnya dalam jihad fisabilillah.”’

– Ilmu agama sudah tidak dianggap penting lagi.

– Ilmu agama sudah tidak lagi difahami dan tidak dipelajari para manusia.

Ilmu Agama Akan Beransur-ansur Hilang;-Daripada Abdullah bin Amr bin ‘ash r.a. berkata: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda;- “Bahawasanya Allah s.w.t. tidak mencabut (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) manusia. Tetapi Allah s.w.t. menghilangkan ilmu itu dengan mematikan alim ulama. Maka apabila sudah ditiadakan alim ulama, orang ramai akan memilih orang-orang yang jahil sebagai pemimpin mereka. Maka apabila pemimpin yang jahil itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan orang lain.” ;- (Riwayat Muslim)

Umat Islam Mengikuti Langkah-Langkah Yahudi Dan Nasrani;- Daripada Abu Sa’id Al-Khudri ra. berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kamu akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu akan mengikuti mereka.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nasrani yang kau maksudkan?” Nabi s.a.w. menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka”;- (Riwayat Muslim).

Terlepasnya Islam Satu Demi Satu;- Dari Umamah Al-Bahili dari Nabi s.a.w. bersabda: “Sungguh akan terlepas pegangan Islam satu demi satu. Setiap terlepas salah satu pegangan, maka orang-orang akan berebutan untuk bergantung kepada yang lain. Adapun yang pertama kali terlepas itu adalah persoalan hukum, sedangkan yang terakhir adalah perkara solat.”;- (Riwayat Ahmad).

Penyakit Umat-umat Dahulu;- Daripada Abu Hurairah r.a. katanya: Aku mendengar RasuIullah s.a.w. bersabda: “Umat ku akan ditimpa penyakit-penyakit yang pernah menimpa umat-umat dahulu”. Sahabat bertanya, “Apakah penyakit-penyakit umat-umat terdahulu itu?” Nabi s.a.w. menjawab, “Penyakit-penyakit itu ialah (1) terlalu banyak seronok, (2) terlalu mewah, (3) menghimpun harta sebanyak mungkin, (4) tipu menipu dalam merebut harta benda dunia, (5) saling memarahi, (6) hasut menghasut sehingga jadi zalim menzalimi”;- (Riwayat Hakim).

Sifat Amanah Akan Hilang Sedikit Demi Sedikit;- Daripada Huzaifah bin AI-Yaman r.a. katanya, “Rasulullah s.a.w. pernah memberitahu kami dua 2 buah hadis (mengenai dua kejadian yang akan berlaku). Yang pertama sudah saya lihat sedang yang kedua saya menanti-nantikannya. Rasulullah saw. memberitahu bahawasanya amanat itu turun ke dalam lubuk hati orang-orang yang tertentu. Kemudian turunlah al-Quran. Maka orang-orang itu lalu mengetahuinya melalui panduan al-Quran dan mengetahuinya melalui panduan as-Sunnah. Selanjutnya Rasulullah saw. menceritakan kepada kami tentang hilangnya amanah, Ialu beliau bersabda, “Seseorang itu tidur sekali tidur, lalu diambillah amanah itu dari dalam hatinya, kemudian tertinggallah bekasnya seperti bekas yang ringan sahaja. Kemudian ia tertidur pula, lalu diambillah amanah itu dari dalam hatinya, maka tinggallah bekasnya seperti lepuh di tangan (menggelembung di tangan dari bekas bekerja berat seperti menggunakan kapak atau cangkul). Jadi seperti bara api yang kau gillingkan dengan kaki mu, kemudian menggelembunglah ia dan engkau melihat ia meninggi, padahal tidak ada apa-apa”. Ketika Rasulullah saw. menceritakan hadis ini beliau mengambil sebiji batu kecil (batu kerikil) Ialu menggilingkannya dengan kakinya.”Kemudian berpagi-pagi (jadiIah) orang ramai berjual beli, maka hampir sahaja tiada ada seorang juga pun yang suka menunaikan amanah, sampai dikatakan orang bahawasanya di kalangan Bani Fulan (di kampung yang tertentu) itu ada seorang yang sangat baik memegang amanah, sangat terpercaya dan orang ramai mengatakan, “Alangkah tekunnya dalam bekerja, alangkah indahnya pekerjaannya, alangkah pula cerdik otaknya. Padahal di dalam hatinya sudah tiada lagi keimanan sekali pun hanya seberat timbangan biji sawi.” “Maka sesungguhnya telah sampai masanya saya pun tidak mempedulikan manakah di antara kamu semua yang saya hendak bermubaya’ah (berjual beli). Jikalau ia seorang Islam, maka agamanya lah yang akan mengembalikan kepada ku (maksudnya agamanya lah yang dapat menahannya dari khianat). Dan jikalau ia seorang Nasrani atau Yahudi, maka pihak yang bertugaslah yang akan menggembalikannya kepada ku (maksudnya jika dia seorang Nasrani atau Yahudi maka orang yang memegang kekuasaan / pemerintahlah yang dapat membantu aku untuk mendapatkan semua hak-hak ku daripadanya.) Ada pun pada hari ini maka saya tidak pernah berjual beli dengan kamu semua kecuali dengan Fulan dan Fulan (orang-orang tertentu sahaja)”;- (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Tahun-tahun yang penuh tipu muslihat;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh muslihat, di mana akan dibenarkan padanya orang yang berdusta, dan akan didustakan orang yang benar. Akan dipercaya orang yang berkhianat, dan akan dituduh berkhianat orang yang terpercaya. Serta akan bertutur padanya Ruwaibidhah. Maka ada yang menanyakan: Apa itu Ruwaibidhah? Dijawab baginda s.a.w. : Iaitu, orang yang bodoh dan hina ditugaskan menangani kepentingan umum;- (Riwayat Ibn Majah)

– Lahirnya para Dajjal ( tukang dusta ) yang jumlahnya hampir 30 orang semuanya mengaku sebagai utusan Allah (Yang didewa-dewakan)

– Adanya 2 golongan besar sama berbunuhan, dengan semboyan sama-sama akan menegakkan agama Islam.

Dajjal Sang Pendusta;- Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak akan terjadi Hari Kiamat sebelum dimunculkan para dajjal sang pendusta, yang jumlahnya hampir mendekati tiga puluhan, di mana masing-masing mengaku; bahawa dirinya adalah Rasul Allah.”;- (Riwayat Muslim).

Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi s.a.w. bersabda, : “Akan keluar dajjal dan khazzab di kalangan umatku. Mereka akan berkata sesuatu yang baru di mana kamu dan bapa-bapa kamu belum pernah mendengarnya. Awasilah mereka dan jagalah diri kamu daripada disesatkan oleh mereka.””;- [Musnad Ahmad, 20/349].

Abu Hurairah r.a. berkata, “Nabi s.a.w. bersabda, : “Qiamat tidak akan tiba sehingga muncul 30 dajjal, semua mengaku sebagai utusan Allah, harta bertambah, berlaku huru-hara dan al-Harj berleluasa.” Seorang sahabat bertanya, “Apakah harj?” Baginda bersabda, “ Bunuh-membunuh.””;- [Musnad Ahmad, 2/457].

Abu Hurairah r.a. berkata, “Nabi s.a.w. bersabda, :“Qiamat tidak akan tiba selagi belum muncul 30 dajjal, semua berbohong mengenai Allah dan RasulNya.””;- [Musnad Ahmad, 2/450].

Ibn Umar r.a. berkata, “Daku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, :“Di kalangan umat ku akan ada 70 Penyeru, yang mengajak manusia kepada neraka jahannam. Daku boleh beritahu nama mereka dan kaum mereka jika daku mahu.”

Golongan Pendusta Di Bidang Hadith;- Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kelak akan ada di antara generasi akhir dari umatku orang-orang yang meriwayatkan kepada kamu hadis yang belum pernah – juga bapa-bapa kamu – mendengarnya. Untuk itu, hindarilah mereka.”;- (Riwayat Muslim).

Orang yang mewarnakan rambutnya dengan warna hitam;- Daripada Ibn Abbas r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda; Akan ada di akhir zaman nanti orang-orang yang mengecat rambut mereka dengan warna hitam, seperti tembolok burung merpati, dan mereka tidak akan mencium baunya syurga;- (Riwayat Abu Dawud)

Lelaki menyerupai wanita dan wanita menyerupai lelaki;- Rasulullah s.a.w. bersabda: Di antara tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat adalah laki-laki menyerupai wanita dan wanita menyerupai laki-laki;- (Riwayat Abu Nu’aim).

Mendidik anjing lebih baik dari mendidik anak;- Daripada Abu Dzar r.a berkata, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila zaman (Kiamat) semakin hampir, mendidik anjing lebih baik daripada mendidik anak, tidak ada rasa hormat kepada yang lebih tua, dan tidak ada rasa kasih sayang kepada yang lebih kecil, anak-anak zina semakin ramai, sehingga laki-laki menyantap perempuan di jalanan, mereka tidak ubahnya seperti kambing yang berhati serigala;- (Riwayat Thabrani dan Hakim).

Orang Yang Baik Berkurangan Sedang Yang Jahat Bertambah Banyak;- Daripada Aisyah r.a. berkata, aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak akan berlaku hari qiamat sehingga anak seseorang menjadi punca kemarahan (bagi ibu bapanya) dan hujan akan menjadi panas (hujan akan berkurang dan cuaca akan menjadi panas) dan akan bertambah ramai orang yang tercela dan akan berkurangan orang yang baik dan anak-anak menjadi berani melawan orang-orang tua dan orang yang jahat berani melawan orang-orang baik”;- (Riwayat Thabrani).

Ulama Tidak Dipedulikan;- Daripada Sahl bin Saad as-Saaidi r.a. berkata: Rasulullah s.a.w bersabda; ‘Ya Allah! Jangan kau temukan aku dan mudah-mudahan kamu (sahabat) tidak bertemu dengan suatu masa di mana para ulama sudah tidak diikut lagi, dan orang yang penyantun sudah tidak disegani lagi. Hati mereka seperti hati orang Ajam (pada fasiqnya), lidah mereka seperti lidah orang Arab (pada fasihnya).”;- (Riwayat Ahmad).

– Ilmu agama dicabut ( banyaknya A’lim Ulama’ yang meninggal dunia ).

Ketiadaan Imam Untuk Sembahyang Berjemaah;- Daripada Salamah binti al-Hurr r.a. berkata: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Lagi akan datang suatu zaman, orang ramai berdiri tegak beberapa masa. Mereka tidak dapat memulakan sembahyang berjamaah kerana tidak mendapatkan orang yang boleh menjadi imam”;- (Riwayat Ibnu Majah).

Zaman Kekeliruan;- Anas ibn Malik berkata, “Nabi s.a.w. bersabda: “Zaman Dajjal adalah zaman kekeliruan. Manusia akan percaya pendusta dan tidak percaya orang yang berkata benar. Manusia tidak percaya orang yang amanah dan mempercayai orang yang khianat. Dan Ruwaibidhah akan diberi perhatian.” Sahabat bertanya “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Sabda Baginda, “Orang-orang yang menentang Allah yang diberi penghargaan untuk berucap kepada masyarakat.”;- [Musnad Ahmad, 3/220].

Akibat Berhenti Menyeru Kebaikan Dan Mencegah Kemungkaran;- Anas ibn Malik r.a. berkata, “Ditanya kepada Nabi s.a.w, “Ya Rasulullah, (apa akibat) apabila kami berhenti menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran?” Nabi s.a.w. bersabda: “Apa yang telah berlaku kepada Bani Israel, akan berlaku kepada kamu. Apabila zina berleluasa di kalangan pemimpin kamu, ilmu pada urusan orang yang terendah di kalangan kamu dan kuasa dimiliki oleh orang yang rosak di kalangan kamu.””;- [Riwayat Ibnu Majah, juga Kitab al-Fitan (Hadith 4015), 2/1331; Musnad Ahmad 3/187.].

Manusia Yang Berhati Syaitan;- Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kelak akan datang di akhir zaman segolongan manusia, di mana wajah-wajah mereka adalah wajah manusia, namun hati mereka adalah hati syaitan; seperti serigala-serigala yang buas, tidak ada sedikit pun di hati mereka belas kasihan. Mereka gemar menumpahkan darah dan tidak pernah berhenti dari melakukan kekejian. Apabila kamu mengikuti mereka, maka mereka akan memperdaya kamu. Akan tetapi apabila kamu menghindar dari mereka, maka mereka akan mencela kamu. Apabila berbicara dengan kamu, maka mereka akan membohongi kamu. Dan apabila kamu memberinya kepercayaan, maka mereka akan mengkhianati kepercayaan yang kamu berikan. Anak kecil mereka bodoh, pemuda mereka licik, sementara yang tua tidak menyuruh berbuat baik dan melarang yang mungkar. Mereka itu sentiasa membanggakan diri dalam kehinaan. Dan meminta apa yang ada pada mereka bererti kesusahan. Orang yang sopan-santun di tengah mereka adalah sesat, dan orang yang menyuruh kepada perbuatan ma’ruf malah menjadi tertuduh, orang beriman di kalangan mereka adalah lemah, sedangkan orang fasik menjadi mulia. Sunnah di tengah mereka menjadi bidaah, sedangkan bidaah itu sendiri adalah sunnah. Maka ketika itulah mereka dikuasai oleh orang-orang paling jahat di antara mereka. Sedangkan orang pilihan apabila ia menyeru, pasti tidak akan dihiraukan.”;- (Riwayat Thabrani).

Hilangnya Amanat Dan Munculnya Orang-Orang Gemuk;- Dari Zahdam bin Mudlorrib r.a. mendengar Imron bin Khushoin berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Sesungguhnya sebaik-baik kamu adalah yang hidup pada masaku, kemudian orang-orang yang hidup selepas mereka, kemudian orang-orang yang hidup selepas mereka.” Imron berkata: “Aku tidak mengerti; Apakah Rasulullah s.a.w. berkata tentang peristiwa-peristiwa selepas zamannya, dua kali atau tiga kali (generasi)?” Kemudian sabda Rasulullah: “ Sesudah mereka ada suatu kaum yang berhak menjadi saksi tapi diminta kesaksiannya (tidak dijadikan sebagai saksi), mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya, mereka bernazar (berjanji) tidak menepatinya. Dan kalau sudah terjadi demikian muncullah orang-orang gemuk di antara mereka” ;- (Riwayat Muslim).

Dilema Antara Berbuat Maksiat Dan Meninggalkannya;- Abu Hurairah r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Kelak akan datang atas umatku; suatu masa di mana seseorang dihadapkan pada dua pilihan antara kelemahan dan kemaksiatan (kejahatan, kecabulan, pengkhianatan dan sebagainya). Barangsiapa mendapati (berada) pada masa itu, hendaklah ia memilih kelemahan dan meninggalkan kecabulan (penyelewengan) “;- (Riwayat Hakim).

Orang yang rosak akhlak;- Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi s.a.w. bersabda: “Dunia ini tidak akan Qiamat selagi orang yang paling seronok ialah orang yang rosak akhlak anak kepada orang yang rosak akhlak.”;- [Riwayat Ahmad, Musnad, 2/358.].

Golongan Anti Hadith;- Daripada Miqdam bin Ma’dikariba r.a. berkata: Bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda, “Hampir tiba suatu masa di mana seorang lelaki yang sedang duduk bersandar di atas katilnya, lalu disampaikan orang kepadanya sebuah hadis daripada hadisku maka ia berkata : “Pegangan kami dan kamu hanyalah kitabullah (al-Quran) sahaja. Apa yang dihalalkan oleh al-Quran kami halalkan. Dan apa yang ia haramkan kami haramkan”. Kemudian Nabi s.a.w. melanjutkan sabdanya: “Padahal apa yang diharamkan oleh Rasulullah s.a.w. samalah hukumnya dengan apa yang diharamkan oleh Allah s.w.t.”;- (Riwayat Abu Daud)

Munculnya Golongan Yang Engkar Pada As-sunnah;- Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Akan datang suatu kaum yang mematikan (menolak untuk menggunakan dasar) as-sunnah dan menyangkal tentang agama. Maka atas merekalah laknat Allah, laknat orang-orang yang melaknat, laknat Malaikat serta laknat semua manusia;- (Riwayat Ad Dailami).

Pemimpin Yang Diktator;- Dari Abu Hurairah r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:“Sesungguhnya di kalangan kamu nanti akan tertanam kemahuan besar kedudukan (politik) dalam kerajaan. Sesungguhnya yang demikian itu akan menjadikan kamu menyesal dan susah pada Hari Kiamat; Sebaik-baik ibu adalah yang mahu menyusui anak (ertinya sebaik-baik pemimpin adalah yang memperhatikan kepentingan rakyat), dan seburuk-buruk ibu adalah ibu yang tidak mahu menyusui anaknya (ertinya seburuk-buruk pemimpin adalah pemimpin yang tidak memerhatikan kepentingan rakyat);- (Riwayat Bukhari dan Nasae’i).

Pemimpin Yang Menipu Rakyat;- Ka’ab bin Ujrah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Akan datang di kemudian hari nanti, setelah aku tiada; beberapa pemimpin yang berdusta dan berbuat aniaya. Maka barang siapa yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu (mendukung) tindakan mereka yang aniaya itu, maka ia bukan termasuk umatku, dan bukanlah aku daripadanya. Dan ia tidak akan dapat sampai datang ke telaga (yang ada di syurga);- (Riwayat Tirmidzi, Nasae’i dan Hakim).

Iman Yang Semakin Lemah;- Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dahulukanlah amal soleh di mana pada waktu itu akan terjadi huru-hara dahsyat bagaikan malam yang gelap gelita, seseorang pada pagi harinya beriman lalu pada petang harinya menjadi kafir, atau petang harinya kafir, lalu pagi harinya menjadi mukmin. Ia menjual agamanya dengan keduniaan” ;- (Riwayat Muslim).

Abu Umamah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kelak akan terjadi suatu fitnah, yang keadaan mukmin sedang petang harinya menjadi kafir, kecuali orang yang Allah dihidupkan dengan ilmu yang manfaat” ;- (Riwayat Ahmad dan Thabrani).

Pemimpin Yang Menyembunyikan Hak Rakyat;- Dari Ubadah bin Shamit r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Sesudahku nanti ada pemimpin-pemimpin yang menguasai urusanmu. Mereka mengetahui urusanmu, sedangkan kamu sendiri tidak mengetahuinya. Mereka menyembunyikan atasmu sesuatu yang menjadi hakmu sedang kamu mengetahuinya. Barangsiapa yang menemui kejadian seperti itu, maka janganlah mentaati orang yang berbuat durhaka kepada Allah Azza Wa jalla;- (Riwayat Thabrani dan Hakim).

Pemimpin Yang Membuat Kerosakan;- Ibnu Mas’ud r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Nanti kamu sekalian akan dikuasai para pemimpin yang selalu membuat kerosakan, dan Allah tidak akan memberikan perbaikan/pertolongan kepada mereka. Barangsiapa di antara mereka taat kepada Allah, maka bagi mereka akan mendapat pahala dan kamu harus bersyukur. Dan barangsiapa di antara mereka yang membuat maksiat kepada Allah, maka mereka akan mendapat dosa dan kamu harus bersikap sabar;- (Riwayat Thabrani).

Ramai Pemimpin Tetapi Tidak Dapat Menjamin Ketenteraman;- Dari Abdurrahman Al-Anshari r.a bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Sebahagian dari tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat adalah banyaknya bacaan (ramai yang pandai membaca) dan sedikit di antara mereka yang mengerti agama, banyak umara’ (pemimpin) tetapi ketenteraman berkurang;- (Riwayat Thabrani).

Pemimpin Yang Diingkari Rakyat;- Dari Ibnu Abbas r.a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Kelak akan ada pemimpin yang kamu mengenalnya, tetapi kamu mengingkari (perbuatan)nya. Barangsiapa yang menentang mereka (tidak mengikuti dan tidak mendukung perbuatannya), mereka akan selamat. Barangsiapa yang menjauhi mereka, ia akan aman sentosa, barangsiapa yang bergaul (mendukung) dengannya, maka ia akan binasa;- (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani).

Dari Ummi Salmah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Nanti akan ada penguasa; Kamu sekalian mengenalnya, tetapi kamu mengingkarinya. Barangsiapa yang membencinya, maka ia akan bebas; barangsiapa yang mengingkarinya dia akan selamat, tetapi mereka ada juga pengikutnya;- (Riwayat Muslim dan abu Daud).

Umat Islam akan tertimpa penyakit orang kafir;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Umatku (Islam) nanti akan ditimpa penyakit masyarakat; iaitu: berupa kejahatan, kebencian, kesombongan, bermegah-megahan, perselisihan dalam hal dunia, saling benci-membenci dan saling hasut-menghasut, sehingga terjadilah kerosakan (kehancuran perpaduan umat)” – (Riwayat Hakim).

Daripada Anas bin Malik r.a. berkata Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya sebahagian tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah hilangnya kemanfaatan ilmu, makin ketara kebodohan, diminumnya khamar (arak), meluasnya perzinaan dengan terang-terangan, banyaknya wanita dan sedikitnya lelaki sehingga lima puluh wanita mempunyai satu pelindung lelaki;- (Riwayat Bukhari).

Zaman Di Mana Halal Dan Haram Dianggap Sama Oleh Manusia;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu masa, di mana kala itu seseorang tidak lagi mempedulikan dari mana ia memperolehi hartanya, apakah dari yang halal atau haram” – (Riwayat An Nasa’i).

– Tersebarnya perzinaan kerana memperolehi izin rasmi untuk mendirikan tempat pelacuran/perzinaan dari setiap pemerintah yang bersangkutan.

-) Segala minuman keras seperti khamr (arak) sama diminum dengan berleluasa dan bebas, peminumnya sudah tidak lagi mengenal dosa, bahkan sebagai kebanggaan.

Dikatakan manusia halalnya riba, arak, perzinaan, pakaian dari sutera dan kecapi-kecapi (alat-alat muzik);- Sabda Rasulullah s.a.w: “Nanti pada akhir zaman akan terjadi gempa bumi dan penyakit kolera dan perubahan-perubahan ini terjadi apabila muzik-muzik, biduanita-biduanita telah maharajalela dalam kehidupan umat manusia dan minuman keras (arak) telah dihalalkan” – (Riwayat Thabrani).

Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya nanti akan benar-benar terjadi; akan ada suatu kaum dari Umatku (Islam) yang mengatakan halalnya perzinaan, pakaian sutera, arak dan kecapi-kecapi (alat-alat muzik).” (Riwayat Thabrani)

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sungguh akan ada beberapa orang dari umatku yang meminum khomr (arak), mereka namakan dengan nama lain. Kepala mereka itu dilalaikan dengan bunyi-bunyian (muzik) serta nyanyian, lalu Allah tenggelamkan mereka ke dalam bumi dan akan menjadikan mereka itu seperti kera dan babi” – (Riwayat Ibnu Majah).

Rasulullah s.a.w bersabda: “Kelak pada akhir zaman akan ada dari umat ini suatu kaum yang tingkah lakunya akan jadi seperti kera dan babi. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Tidakkah mereka bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah?” Rasulullah menjawab: “Betul, mereka juga berpuasa, sembahyang dan haji.” Mereka bertanya lagi: “Lalu mengapa keadaan mereka menjadi begitu?” Rasulullah menjawab: “Mereka mengadakan nyanyian-nyanyian, menabuh gendang disertai para biduanita dan penari, lalu pada malam harinya mereka mengadakan pesta minum-minuman dan bermain-main maka pada pagi harinya mereka berubah menjadi tingkah lakunya seperti kera dan babi. Dan sungguh akan ada seorang yang pergi berbelanja ke kedai atas suruhan temannya, setelah ia kembali kepadanya, lalu ia berubah tingkah lakunya seperti menjadi kera dan babi” – (Riwayat Ibnu Abi Dunia).

Ditimpa tanah runtuh dan berbagai bala bencana;- Dilaporkan dari Abu Hurairah r.a. bahawa Nabi s.a.w. bersabda: “Demi Dia yang mengutuskan daku dengan kebenaran, bumi ini tidak akan hancur sehingga penghuninya ditimpa tanah runtuh, ditimpa hujan batu dan berubah menjadi binatang.” Orang bertanya, “Bilakah terjadi demikian wahai Rasulullah?” Sabda Baginda, “Apabila kamu melihat wanita menunggang di atas pelana, penyanyi berleluasa, saksi-saksi memberi keterangan palsu menjadi kebiasaan dan lelaki meniduri lelaki dan wanita meniduri wanita.” – [al-Haithami, Kitab al-Fitan].

Dua Golongan Yang Akan Menjadi Penghuni Neraka;-Daripada Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada dua golongan yang akan menjadi penghuni Neraka yang belum lagi aku melihat mereka. Pertama, golongan (penguasa) yang mempunyai cemeti-cemeti bagaikan ekor lembu yang digunakan untuk memukul orang. Kedua, perempuan yang berpakaian tetapi bertelanjang, berlenggang lenggok waktu berjalan, menghayun-hayunkan bahu. Kepala mereka (sanggul di atas kepala mereka) bagaikan bonggol (goh) unta yang senget. Kedua-dua golongan ini tidak akan masuk syurga dan tidak akan dapat mencium bau wanginya. Sesungguhnya bau wangi syurga itu sudah tercium dari perjalanan yang sangat jauh daripadanya”;- (Riwayat Muslim).

– Jumlah orang lelaki lebih sedikit kerana sedikitnya bayi lelaki yang lahir, dan ramai kaum lelaki yang sama, mati/meninggal dunia.

Daripada Abdillah ia berkata, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Mendekati hari kiamat kelak, hanya akan diberikan salam kepada orang-orang tertentu. Juga akan marak kegiatan perdagangan, sehingga isteri-isteri pun ikut terlibat membantu suaminya dalam berdagang. Dan juga akan terjadi pemutusan hubungan persaudaraan” – (Riwayat Ahmad).

Perdagangan, perniagaan, terputusnya persaudaraan, saksi palsu, tersebar luasnya tulisan-tulisan;- Thariq ibn Shibab berkata, “Kami sedang duduk bersama Abdullah ibn Mas’ud apabila datang seorang lelaki memberitahu waktu solat sudah tiba. Maka kami pun bangun dan menuju ke masjid. Selesai solat, tampil seorang lelaki kepada Abdullah ibn Mas’ud dan berkata, “As-salamu’alaika wahai Abu Abdur Rahman.” Jawab beliau, “Allah dan RasulNya telah berkata benar.” Semasa pulang kami bertanya sesama sendiri, “Kamu dengarkah apa jawapan beliau? Siapakah yang akan tanya beliau mengenainya?” Daku berkata, “Biar saya yang tanya beliau, lalu daku pun bertanya beliau sebaik sahaja beliau keluar. Beliau meriwayatkan dari Baginda s.a.w, : “Sebelum Qiamat tiba, terdapat satu ucapan khusus untuk orang kenamaan; perdagangan tersebar luas sehingga wanita akan turut suaminya dalam perniagaan; perhubungan keluarga akan putus; saksi palsu berleluasa sedang saksi benar akan sukar ditemui dan tulisan tersebar luas.” – [Riwayat Ahmad, Musnad, 1/407].

Bahaya Kemewahan;- Daripada Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Bahawasanya kami sedang duduk bersama Rasulullah s.a.w. di dalam masjid. Tiba-tiba datang Mus’ab bin Umair r.a. dan tiada di atas badannya kecuali hanya sehelai selendang yang bertampung dengan kulit. Tatkala Rasulullah s.a.w.melihat kepadanya baginda menangis dan menitiskan air mata kerana mengenangkan kemewahan Mus’ab ketika berada di Mekkah dahulu (kerana sangat dimanjakan oleh ibunya) dan kerana memandang nasib Mus’ab sekarang (ketika berada di Madinah sebagai seorang Muhajirin yang terpaksa meninggalkan segala harta benda dan kekayaan di Mekkah). Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Bagaimanakah keadaan kamu pada suatu saat nanti, pergi di waktu pagi dengan satu pakaian, dan pergi di waktu petang dengan pakaian yang lain pula. Dan bila diangkatkan satu hidangan diletakkan pula satu hidangan yang lain. Dan kamu menutupi (menghias) rumah kamu sepertimana kamu memasang kelambu Ka’bah?”. Maka jawab sahabat, “Wahai Rasulullah, tentunya di waktu itu kami lebih baik daripada di hari ini. Kami akan memberikan penumpuan kepada masalah ibadat sahaja dan tidak usah mencari rezeki”. Lalu Nabi s.a.w. bersabda, “Tidak! Keadaan kamu di hari ini adalah lebih baik daripada keadaan kamu di hari itu”;- (Riwayat Tirmidzi).

Penyelewengan, Maksiat dan Penghindarannya;- Dari Anas r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Akan datang atas manusia, suatu masa, yang mereka tidak sanggup lagi mencari penghasilan kecuali dengan jalan maksiat (antara lain penyelewengan), sehingga orang berani berdusta dan bersumpah, maka apabila masa itu sudah terjadi (timbul), hendaklah kamu lari menghindari perbuatan itu.” Baginda ditanya: “Ya, rasulullah! Ke tempat mana kita akan lari menghindar?” Baginda menjawab: “Kepada Allah: Kepada Kitab-Nya dan kepada sunnah Nabi-Nya”;- (Riwayat Ad Dailami).

Orang sudah tidak mempedulikan halal dan haram – “Akan datang suatu masa kepada manusia, di mana orang tidak lagi mempedulikan apa yang diperolehnya apakah itu usaha yang halal atau yang haram”;- (Riwayat Nasae’i).

Dalam riwayat lain Rasulullah s.a.w bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu zaman, yang tidak peduli lagi seseorang di zaman itu dari mana harta diambil, (apakah yang diambilnya itu halal atau haram)”;- (Riwayat Nasae’i).

Maraknya Rasuah;- Mu’az bin Jabal berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Ambillah pemberian, selama itu berbentuk sebuah pemberian. Sedangkan jika telah menjadi bentuk suap, maka dalam agama, janganlah kamu mengambilnya. Tidaklah keengganan kamu meninggalkannya lalu mencegah kamu dari kemiskinan dan keperluan hidup. Ingat, lingkaran Islam selalu berputar, maka berputarlah bersama Al-Quran ke mana pun ia mengarah. Ingat, Al-Quran dengan penguasa akan berbeza arah. Maka dari itu, janganlah kamu memisahkan diri dari Al-Quran. Ingat, kelak akan berkuasa atas kamu pemimpin-pemimpin yang akan memutuskan untuk diri mereka sesuatu yang tidak diputuskan untuk kamu. Jika kamu membangkang kepada mereka, maka sudah tentu mereka akan membunuh kamu. Akan tetapi, apabila kamu mematuhinya, maka mereka pasti akan menyesatkan kamu. Para sahabat bertanya: “Apa yang harus kami lakukan pada waktu seperti itu wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Lakukanlah seperti yang dilakukan oleh para pengikut Isa bin Maryam, di mana mereka menyebar dengan membawa gergaji, lalu memikul kayu. Kerana, mati dalam ketaatan kepada Allah jauh lebih baik daripada hidup dalam keadaan bermaksiat kepadaNya”;- (Riwayat Tabrani).

Maraknya praktik riba;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: Sungguh akan datang kepada manusia suatu masa, di mana tidak tersisa dari mereka seorang pun kecuali menjadi pemakan riba. Dan barangsiapa yang tidak mahu memakannya, maka pasti ia akan terkena oleh debunya;- (Riwayat Ibnu Majah)

Rasulullah s.a.w bersabda: Akan datang suatu masa, di mana manusia menganggap halal riba dengan nama jual beli;- (Riwayat Ibnul Qayyim).

– Meluapnya jumlah kaum wanita melebihi kaum lelaki dengan perbandingan 50 berbanding seorang lelaki.

– Banyak terjadi gempa bumi.

Keluarnya Sumber kekayaan dan perang di Timur Tengah (Iraq).

Munculnya Galian-galian Bumi;- Daripada Ibnu Omar r.a. berkata: “Pada suatu masa dibawa ke hadapan Rasulullah s.a.w. sepotong emas. Dan emas itu adalah emas zakat yang pertama sekali dikutip. Emas itu telah dibawa oleh Bani Sulaim dari tempat tambang (galian) mereka. Maka sahabat berkata: “Hai RasuIullah! Emas ini adalah hasil dari galian kita”. Lalu Nabi s.a.w. menjawab, “Nanti kamu akan dapati banyak galian-galian, dan yang akan menguruskannya adalah orang-orang yang jahat”;- (Riwayat Baihaqi).

Rakus Terhadap Hal Dunia;- Sabda Rasulullah s.a.w.: (Jika) Hari Kiamat telah hampir terjadi; tidak bertambah manusia kecuali loba (rakus akan harta benda), dan mereka tidak bertambah dekat kepada Allah, kecuali akan menambah jauh dari Allah ( dari ajaran agama);- (Riwayat Thabrani)

Rasulullah s.a.w. bersabda: Apabila akhir zaman, adalah kekuatan agama manusia terletak pada dinar dan dirham (harta);- (Riwayat Turmidzi)

Ramai Orang Kaya Tinggal Di Lereng Gunung;- Rasulullah s.a.w bersabda: Sungguh akan ada beberapa kaum yang bertempat tinggal di dekat (lereng) gunung, lalu orang-orang fakir datang kepada mereka untuk sesuatu keperluannya, kemudian mereka berkata: “Kembalilah kepada kami esok.” Kemudian Allah menyatukan gunung itu atas mereka;- (Riwayat Bukhari).

Peperangan Di Kawasan Sungai Furat (Iraq) Kerana Merebut Kekayaan;-Daripada Abu Hurairah r.a. berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: ‘Tidak terjadi hari qiamat sehingga Sungai Furat (Sungai Euphrates iaitu sebuah sungai yang ada di lraq) menjadi surut airnya sehingga ternampak sebuah gunung daripada emas. Ramai orang yang berperang untuk merebutkannya. Maka terbunuh 99 daripada 100 orang yang berperang. Dan masing-masing yang terlibat berkata: “Mudah-mudahan akulah orang yang terselamat itu”. Di dalam riwayat lain ada disebutkan; “Sudah dekat suatu masa di mana sungai Furat akan menjadi surut airnya lalu ternampak perbendaharaan daripada emas, maka barangsiapa yang hadir di situ janganlah ia mengambil sesuatu pun daripada harta itu”;- (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Tentera Yang Kejam;- Dari Abu Umamah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Kelak pada akhir zaman akan ada angkatan tentera sejak pagi-pagi dalam kemurkaan Allah, dan waktu petang juga dalam kemurkaan Allah. Oleh kerana itu waspadalah kamu sekalian! Jangan sampai kamu sekalian dijadikan perisai buat mereka;- (Riwayat Thabrani).

– Zaman sudah dekat-mendekati.

Masa berlalu bagaikan kobaran api;- Daripada Anas bin Malik r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Tidak terjadi kiamat, hingga waktu terasa saling berdekatan. Satu tahun seperti satu bulan dan satu bulan laksana satu minggu. Satu minggu bagaikan satu hari, dan satu hari ibarat satu jam, serta satu jam laksana kobaran api (cepat sekali berlalu);- (Riwayat Tirmidzi).

– Banyak terjadi perkara fitnah-memfitnah.

Fitnah bagaikan malam yang gelap-gelita;- Daripada Anas bin Malik r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Mendekati hari kiamat akan terdapat berbagai macam fitnah laksana bahagian malam yang gelap-gelita. Kala itu seseorang menjadi Mukmin di pagi hari, berbalik menjadi kafir memasuki petang hari. Dan menjadi Mukmin di petang hari, berbalik menjadi kafir memasuki pagi hari. Orang-orang pun akan menjual agamanya dengan harta benda duniawi;- (Riwayat Tirmidzi).

– Banyaknya haraj, yakni bunuh-membunuh (Pembunuhan bermaharajalela dalam masyarakat kesan dari jahiliyah moden).

Pembunuhan demi pembunuhan;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Tidak akan terjadi kiamat, hingga munculnya banyak kekacauan. Lalu para sahabat bertanya: Apa yang dimaksud ‘harj’ (kekacauan) itu, wahai Rasulullah? Nabi s.a.w. menjawab: Pembunuhan demi pembunuhan;- (Riwayat Muslim).

– Banyaknya harta bagi setiap orang, sehingga menjadi bingung untuk membelanjakannya.

– Ramai orang yang bermegahan dalam gedung-gedung besar dan banyaknya pasar.

Rasulullah bersabda : “Kiamat hampir saja akan berdiri apabila sudah banyak perbuatan bohong, masa (waktu) akan terasa cepat dan pasar-pasar akan berdekatan (kerana saling banyaknya)” (sahih Ibnu Hibban).

Binatang buas dan benda-benda padat berbicara;- Daripada Abu Said al Khudri r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Demi Dzat yang telah menciptakan diriku dengan kekuasaan-Nya, tidak akan terjadi Hari Kiamat sebelum binatang-binatang buas berbicara dengan manusia. Sebelum seseorang diajak berbicara oleh hujung serta tali-tali seliparnya. Dan pahanya akan mengkhabarkan kepadanya tentang apa yang dilakukan oleh isterinya sesudahnya;- (Riwayat Tirmidzi)

Bagaikan Menggenggam Bara Api;- Daripada Anas bin Malik r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Akan datang kepada manusia suatu masa di mana orang yang berpegang kepada agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api;- (Riwayat Tirmidzi)

Punca Kebinasaan Seseorang;-Daripada Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Selagi akan datang suatu masa di mana orang yang beriman tidak akan dapat menyelamatkan imannya, kecuali bila ia lari membawanya dari suatu puncak bukit ke puncak bukit yang lain dan dari suatu lubang kepada lubang yang lain. Maka apabila zaman itu telah terjadi, segala pencarian (pendapatan kehidupan) tidak dapat dicapai kecuali dengan perkara yang membabitkan kemurkaan Allah s.w.t. Maka apabila ini telah terjadi, kebinasaan seseorang adalah berpunca dari menepati kehendak isterinya dan anak-anaknya. Kalau ia tidak mempunyai isteri dan anak, maka kebinasaannya adalah berpunca dari menepati kehendak kedua orang tuanya. Dan jikalau orang tuanya sudah tiada lagi, maka kebinasaannya adalah berpunca dari menepati kehendak kaum kerabatnya (adik beradiknya sendiri) atau dari menepati kehendak jirannya”. Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah s.a.w., apakah maksud perkataan engkau itu ? (kebinasaan seseorang dari kerana isterinya, atau anaknya, atau orang tuanya, atau keluarganya, atau jirannya?)”. Nabi s.a.w. menjawab, “Mereka akan mencelanya dan mengaibkannya dengan kesempitan kehidupannya. Maka dari kerana itu ia terpaksa melayan kehendak mereka dengan menceburkan dirinya di jurang-jurang kebinasaan yang akan menghancurkan dirinya”;- (Riwayat Baihaqi)

Bencana Yang Akan Menimpa Umat Islam Di Akhir Zaman;- Abdullah ibn Umar berkata, Rasulullah s.a.w. telah menghampiri kami lalu bersabda: “Wahai Muhajirin, kamu akan ditimpa 5 bencana; semoga Allah tidak mengizinkan kamu hidup untuk menyaksikannya: (1) Apabila zina berleluasa, ketahuilah bahawa ia tidak berlaku tanpa ditimpa penyakit-penyakit baru yang tidak pernah diketahui/dialami oleh manusia sebelumnya. (2) Apabila manusia menipu dalam timbangan, ia tidak berlaku tanpa ditimpa kemarau dan kebuluran ke atas orang ramai serta ditindas oleh pemerintah mereka. (3) Apabila manusia tidak memberi zakat, ketahuilah bahawa hujan akan tertahan ke atas mereka. (4) Apabila manusia memutuskan perjanjian mereka dengan Allah dan RasulNya, ketahuilah bahawa Allah akan menghantar musuh kepada mereka untuk merampas kepunyaan mereka. (5) Apabila pemerintah mereka tidak memerintah mengikut Kitabullah, ketahuilah bahawa Allah SWT akan pecah-belahkan mereka dan menjadikan mereka berbalahan sesama mereka.”;- (Riwayat Ibn Majah, Kitab al-Fitan (Hadith 4019), 2/ 1332).

Tanda-tanda akhir / besar kiamat (alamat kubra)

Daripada Huzaifah bin Asid Al-Ghifari ra. berkata: “Datang kepada kami Rasulullah saw. dan kami pada waktu itu sedang berbincang-bincang. Lalu beliau bersabda: “Apa yang kamu perbincangkan?”. Kami menjawab: “Kami sedang berbincang tentang hari qiamat”. Lalu Nabi saw. bersabda: “Tidak akan terjadi hari qiamat sehingga kamu melihat sebelumnya sepuluh macam tanda-tandanya”. Kemudian beliau menyebutkannya: “Asap, Dajjal, binatang, terbit matahari dari tempat tenggelamnya, turunnya Isa bin Maryam alaihissalam, Ya’juj dan Ma’juj, tiga kali gempa bumi, sekali di timur, sekali di barat dan yang ketiga di Semenanjung Arab yang akhir sekali adalah api yang keluar dari arah negeri Yaman yang akan menghalau manusia kepada Padang Mahsyar mereka”. Hadith Riwayat Muslim

Keterangan hadith di atas

Sepuluh tanda-tanda qiamat yang disebutkan Rasulullah saw. dalam hadis ini adalah tanda-tanda qiamat yang besar-besar, akan terjadi di saat hampir tibanya hari qiamat. Sepuluh tanda itu ialah:

1 – Dukhan (asap) yang akan keluar dan mengakibatkan penyakit yang seperti selsema di kalangan orang-orang yang beriman dan akan mematikan semua orang kafir dan menyebabkan kepala mereka menjadi hitam seperti kepala kambing yang disalai atas bara api.

2 – Dajjal yang akan membawa fitnah besar yang akan meragut keimanan, hinggakan ramai orang yang akan terpedaya dengan seruannya. Dia akan keluarl dari arah pertengahan antara Laut Syam dan Laut Yaman di Timur Tengah, mengaku sebagai Nabi Isa a.s, tuhan orang Kristian dan Bani Israel.

Nabi s.a.w. bersabda: “Dajjal akan muncul di suatu tempat di timur bernama Khurasan. Pengikutnya adalah manusia yang berwajah seperti perisai yang telah dipalu tukul.”;- [Riwayat Tirmidzi, Abwab al-Fitan, 2338, 6/495.]

3 – Turunnya Nabi Isa alaihissalam ke permukaan bumi ini. Beliau akan mendukung pemerintahan Imam Mahadi yang berdaulat pada masa itu dan beliau akan mematahkan segala salib yang dibuat oleb orang-orang Kristian dan beliau juga yang akan membunuh Dajjal. Ianya juga sebagai bukti besar Islam bahawa Dajjal adalah bukannya Nabi Isa a.s yang diwar-warkan sebagai tuhan Kristian dan Yahudi.

Turunnya Nabi Isa dari langit;- Abu Hurairah r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda; Demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya, sungguh amat dekat saat turunnya Isa putera Maryam di kalangan kamu sekelian yang bertindak sebagai seorang hakim yang adil. Ia akan memecahkan semua kayu palang salib, membunuh babi, melenyapkan pajak gadai dan pada waktu itu harta melimpah ruah, sehingga seorang pun tidak ada yang mahu menerima harta yang disedekahkan kepadanya, hingga satu sujud lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya. Kemudian Abu Hurairah berkata: ” Bacalah, jikalau engkau semua menginginkannya:” Tidak ada sama sekali dari golongan ahli kitab, melainkan mereka hanya beriman kepada Isa a.s. sebelum mangkat baginda iaitu setelah turunnya ke bumi dan sebelum tibanya hari kiamat. Pada hari kiamat Isa a.s. akan menjadi saksi atas semua orang.

Isa a.s. mencari Dajjal;- Daripada Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi berkata, “Saya mendengar Abdullah bin Amr berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Dajjal itu akan keluar dari kalangan umatku, kemudian ia menetap selama empat puluh. Yang meriwayatkan hadis ini berkata: “Saya tidak mengerti apakah yang dimaksudkan itu empat puluh hari atau empat puluh bulan atau empat puluh tahun…” Selanjutnya baginda bersabda: “Allah mengutus Isa mencari Dajjal itu kemudian membinasakannya. Setelah itu manusia menetap seperti biasa selama tujuh 7 tahun. Tidak ada pertengkaran antara dua 2 orang (pada waktu itu umat manusia hidup dalam kerukunan;- (Riwayat Muslim).

Perang melawan Yahudi;- Daripada Abu Hurairah r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Hari Kiamat tidak akan tiba, sehingga (Kaum Muslimin) memerangi Kaum Yahudi, sehingga batu tempat orang Yahudi bersembunyi itu pun berkata: “Hai, Orang Islam! Ini ada orang Yahudi, bunuhlah!”;- Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim.

Umat Islam Memusnahkan Orang-Orang Yahudi;-Daripada Abu Hurairah r.a. berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: ”Tidaklah akan berlaku qiamat, sehingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi sehingga kaum Yahudi itu bersembunyi di sebalik batu dan pohon kayu, lalu batu dan pohon kayu itu berkata: “Hai orang Islam, inilah orang Yahudi ada di belakang saya. Kemarilah! Dan bunuhlah ia! “, kecuali pohon gharqad (semacam pohon yang berduri), kerana sesungguhnya pohon itu adalah dari pohon Yahudi (oleh sebab itulah ia melindunginya)”;- Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim.

Nabi Isa a.s kemudiannya akan wafat di madinah.

4 – Keluarnya bangsa Ya’juj dan Ma’juj yang akan membuat kerosakan dipermukaan bumi ini, iaitu apabila mereka berjaya menghancurkan dinding yang dibuat dari besi bercampur tembaga yang telah didirikan oleh Zul Qarnain bersama dengan pembantu-pembantunya pada zaman dahulu.

Telah diriwayatkan bahawa, Rasulullah s.a.w telah masuk ke rumahnya dengan rasa ketakutan sambil berkata: ”Laa Ilaaha Ilallah, celaka bangsa Arab dari bahaya yang telah dekat, ini telah terbuka dinding Yakjuj Makjuj sebesar ini sambil melingkarkan jari telunjuk dengan ibu jarinya.

Zainab bin Jahsy bertanya: “Ya Rasulullah! Dapatkah kami binasa, padahal masih ramai solihin di antara kami?” Jawab Rasulullah s.a.w.: “Ya,! Jika telah banyak kejahatan.”;- Riwayat Muttafaq Alaihi.

Tirai dinding Yakjuj Makjuj;- Abu Hurairah r.a. berkata, bahawa Nabi s.a.w bersabda: ”Allah telah membuka tirai dinding Yakjuj Makjuj sebesar ini; sambil melengkungkan jari telunjuk dengan ibu jari” – Hadith riwayat Muttafaq Alaihi

Hancurnya Yakjuj Makjuj dan seluruh isi alam menjadi sesuci salju dan melimpah ruahnya sumber rezeki dan kekayaan berkat doa Nabi Isa a.s.

Rasulullah s.a.w bersabda:- ”Maka hilanglah segala permusuhan dan benci-membenci di kalangan manusia dan hilanglah segala bisa dari keseluruhan binatang yang berbisa sehingga anak kecil memasukkan tangannya ke dalam mulut ular, maka ular itu tidak menggigitnya dan tidak ada apa-apa kemudharatan. Anak kecil boleh bermain dengan singa, bahkan serigala yang biasanya menerkam kambing akan terbalik seakan-akan menjadi anjing pemeliharanya. Bumi ini akan dipenuhi dengan keamanan dan keselamatan seperti mana dipenuhkan sesuatu bejana dengan air. Pendapat akan menjadi satu ( tiada perselisihan antara ummat) dan tidak disembah kecuali hanya Allah dan segala peperangan akan berhenti dan orang Quraisy kembali memegang tampuk kepimpinan (maksudnya kepimpinan Imam Mahdi)” – Hadith Riwayat Ibnu Majjah.

Daripada Nawas bin Sam’an r.a. (dalam hadis yang panjang) berkata, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda;-”Maka dikirim oleh Allah, Yakjuj dan Makjuj; mereka mengalir dari tempat-tempat yang tinggi. Barisan depan mereka melalui Danau Tibris, lalu mereka minum air Danau itu sampai habis. Kemudian barisan terakhir lewat pula di situ, lalu mereka mengusapkan: “Sesungguhnya di sini dahulunya pernah ada air.” Nabi Isa a.s. dan rakan-rakannya terkepung (sehingga kekurangan makanan), sehingga seekor kepala sapi (kepala lembu) bagi masing-masing mereka, lebih berharga dari seratus dinar bagi setiap orang di hari itu. Maka berdoalah Isa a.s. dan rakan-rakannya (supaya Yakjuj Makjuj binasa). Lalu Allah mengirim penyakit hidung pada kenderaan Yakjuj Makjuj, maka di waktu pagi mereka semuanya mati sekaligus. Kemudian Nabi Isa a.s. dan rakan-rakannya turun dari bukit dan didapatinya tidak ada tempat terluang agak sejengkal, melainkan telah dipenuhi oleh bangkai busuk. Maka berdoalah Nabi Isa dan rakan-rakannya kepada Allah (supaya bangkai busuk itu hilang), lalu dikirim oleh Allah burung-burung sebesar unta, maka diangkutnya bangkai-bangkai itu dan dilemparkannya ke tempat yang dikehendaki Allah, kemudian Allah menurunkan hujan lebat, yang tidak membiarkan sebuah rumah pun yang dibuat dari tanah liat dan bulu unta, lalu dibasuhnya bumi sehingga bersih seperti kaca. Sesudah itu kepada bumi diperintahkan; “Tumbuhkanlah buah-buahanmu dan kembalikanlah keberkatanmu!” Maka di masa itu, sekumpulan orang kenyang kerana memakan buah delima dan mereka dapat berteduh di bawah kulitnya. Rezeki mereka beroleh berkat, sehingga seekor unta bunting cukup mengenyangkan sekumpulan orang. Dalam keadaan demikian, ketika itu Allah mengirimkan angin melalui ketiak mereka. Maka diambilnya nyawa setiap orang beriman dan setiap orang Islam. Maka tinggallah orang-orang jahat, bercampur-baur seperti himar (tidak tahu malu). Maka di kala itu terjadilah kiamat” – Hadith Riwayat Muslim.

Daripada Abu Hurairah r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:- “Sesungguhnya, Allah swt akan mengutus angin (yang lembut) yang datang dari negeri Yaman. Angin itu lebih lembut dari sutera. Ia tidak melalui seseorang yang beriman, walaupun imannya hanya ada sebesar biji sawi kecuali ia akan mematikannya”;- Hadith Riwayat Muslim.

5 – Binatang yang dipanggil ‘Dabbah’ akan keluar berhampiran Bukit Shafa di Mekah yang akan bercakap bahawa manusia tidak beriman lagi kepada Allah S.w.t. Ia muncul di waktu dhuha dan akan berbicara kepada setiap manusia.

Binatang yang keluar sebagai tanda akan datangnya hari kiamat itu akan keluar dengan membawa cincin Nabi Sulaiman dan tongkat Nabi Musa a.s. Kemudian memberi semacam tanda kepada wajah orang mukmin dengan menggunakan tongkatnya dan memberi cap pada hidung orang kafir, dengan menggunakan cincin itu, sehingga orang-orang yang ahli tamu sama berkumpul yang satu mengucapkan “Hai orang mukmin!” dan yang lain mengucapkan “Hai orang kafir!”;- (Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim).

Binatang itu akan keluar lalu memberi tanda kepada orang ramai di hidungnya. Orang-orang berkumpul ramai sekali, sehingga ada orang yang membeli binatang tersebut, pembeli itu ditanya: “Dari siapakah engkau membeli binatang ini?” Jawabnya: “Dari orang yang dicap hidungnya.”;- (Riwayat Ahmad)

Dabbah ini juga akan menjadi guru kepada manusia kerana waktu itu manusia sudah tidak mendengar dan mempercayai firman2 Allah dan juga alim ulamak. Lihatlah betapa manusia waktu itu sudah buntu dan akhirnya Allah utuskan binatang untuk menjadi guru manusia. Diumpamakan seperti kisah Habil dan Habil, yang mana Allah utuskan burung gagak untuk memberi pelajaran tentang cara-cara menanam mayat manusia.

6 – Matahari akan terbit dari tempat tenggelamnya iaitu dari arah Barat. Maka pada saat itu Allah S.w.t. tidak lagi menerima iman orang kafir dan tidak menerima taubat daripada orang yang berdosa. Bermakna PINTU TAUBAT sudah tertutup. Ini kerana IMAN adalah KEYAKINAN, sedangkan apabila matahari sudah keluar dari barat itu bermakna sudah SAH akan kiamat. Maka iman di ketika itu hanyalah IMAN dalam terpaksa, maka IMAN sebegitu tidak lagi diterima oleh Allah S.w.t, na’uzubillah.

Contohnya sama seperti Firaun yang mengakui Allah itu Tuhan apabila nyawanya sudah sampai tenggorok iaitu ketika ajalnya sudah hampir (sakaratul maut) ketika dia tenggelam dalam laut Merah ketika mengejar Nabi Musa a.s dan kaum Bani Israel. Maka IMAN ketika itu sudah tidak diterima lagi kerana dia telah SAH akan mati.

Abu Hurairah r.a. berkata, “Nabi s.a.w. bersabda, : “Qiamat tidak akan tiba sehingga matahari terbit dari Barat. Manusia akan menyaksikannya, sesiapa yang berada waktu itu akan mempercayainya tetapi itulah masanya dimana “…tidaklah bermanfaat Iman seseorang bagi dirinya yang belum beriman sebelum itu.” ;- [Riwayat Bukhari, Kitab al-Tafsir, 6/73].

Tidak akan terjadi Hari Kiamat, sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya (Maghrib / Barat). Apabila matahari terbit dari tempat terbenamnya, manusia semuanya beriman. Maka di waktu itu, iman seseorang tidak berguna bagi dirinya yang tadinya belum pernah beriman, juga bagi mereka yang belum pernah berbuat baik dalam berimannya;- (Riwayat Muslim).

Begitulah sistem alam ini akan menjadi tidak seimbang dan semakin kacau-bilau apabila hampir kepada kebinasaannya, sama lah seperti manusia yang menghampiri saat2 kematiannya, akan berlaku lah ketidak-seimbangan dan kacau bilau dalam sistem tubuhnya.

7 – Gempa bumi di Timur.

8 – Gempa bumi di Barat.

9 – Gempa bumi di Semenanjung Arab.

10 – Api besar yang akan menghalau manusia menuju ke Padang Mahsyar. Api itu akan bermula dari arah negeri Yaman.

Keluarnya api dari Hijjaz menghalau manusia pada masa itu dari arah selatan Yaman ke utara negeri Syam, maka ketika itu Malaikat Israfil akan meniup sangkakala, tiupan yang pertama yang mengejutkan ke semua orang yang berada pada hari itu. Di hari itu orang ramai tidak sempat berurusan dengan urusan masing-masing. Mereka akan dikejutkan dengan tiupan yang keras sekali, yang menderu di udara sehingga semua orang akan tercengang ke langit mendengarkannya.

Mengikut pendapat Imam Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fathul Bari beliau mengatakan: “Apa yang dapat dirajihkan (pendapat yang terpilih) dari himpunan hadis-hadis Rasulullah Saw. bahawa keluarnya Dajal adalah yang mendahului segala petanda-petanda besar yang mengakibatkan perubahan besar yang berlaku dipermukaan bumi ini. Keadaan itu akan disudahi dengan kematian Nabi Isa alaihissalam (setelah beliau turun dari langit). Kemudian terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya adalah permulaan tanda-tanda qiamat yang besar yang akan merosakkan sistem alam cakerawala yang mana kejadian ini akan disudahi dengan terjadinya peristiwa qiamat yang dahsyat itu. Barangkali keluarnya binatang yang disebutkan itu adalah terjadi di hari yang matahari pada waktu itu terbit dari tempat tenggelamnya”.

Beberapa kejadian lain

Rosaknya Kaabah ( Baitullah ).

Rosaknya Kaabah;- Abu Hurairah r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Akan ada orang yang merobohkan Kaabah, iaitu seorang yang berbetis kecil dari Habsyah (Ethiopia);- (Riwayat Muttafaq Alaih).

Kaabah diruntuhkan;-Daripada Abdullah bin Amr bin ‘Ash r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:- “Ka’bah akan dihancurkan oleh orang Habsyah (orang Negro) yang bergelar “Dzus-Suwaiqatain” (orang yang kedua-dua betisnya kecil) dan ia akan merampas segala perhiasannya dan melucutkan kelambunya. Seakan-akan terbayang di hadapan mataku keadaan seorang yang botak, bengkok sedikit sendi-sendinya. Ia memukul-mukul Ka’bah itu dengan besi penyeduk dan kapak besar”;- (H. Riwayat Imam Ahmad).

Lenyapnya Al-Quran dari Mushaf dan hati (Al-Quran diangkat)

Al-Quran Akan Hilang Dan Ilmu Akan Diangkat;-Daripada Huzaifah bin al-Yaman r.a. berkata, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: ”Islam akan luntur (lusuh) seperti lusuhnya corak (warna-warni) pakaian (bila ia telah lama dipakai), sehingga (sampai suatu masa nanti) orang sudah tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan puasa, dan apa yang dimaksudkan dengan sembahyang dan apa yang dimaksudkan dengan nusuk (ibadat) dan apa yang dimaksudkan dengan sedekah. Dan al-Quran akan dihilangkan kesemuanya pada suatu malam sahaja, maka (pada esok harinya) tidak tinggal dipermukaan bumi daripadanya walau pun hanya satu ayat. Maka yang tinggal hanya beberapa kelompok daripada manusia, di antaranya orang-orang tua, laki-laki dan perempuan. Mereka hanya mampu berkata, “Kami sempat menemui nenek moyang kami memperkatakan kalimat “La ilaha illallah”, lalu kami pun mengatakannya juga”. Maka berkata Shilah (perawi hadis daripada Huzaifah), “Apa yang dapat dibuat oleh La ilaha illallah (apa gunanya La ilaha illallah) terhadap mereka, sedangkan mereka sudah tidak memahami apa yang dimaksudkan dengan sembahyang, puasa, nusuk, dan sedekah”? Maka Huzaifah memalingkan muka daripadanya (Shilah yang bertanya). Kemudian Shilah mengulangi pertanyaan itu tiga kali. Maka Huzaifah memalingkan mukanya pada setiap kali pertanyaan Shilah itu. Kemudian Shilah bertanya lagi sehingga akhirnya Huzaifah menjawab, “Kalimat itu dapat menyelamatkan mereka daripada api neraka” (Huzaifah memperkatakan jawapan itu tiga kali)”- Hadith Riwayat Ibnu Majah.

Mengenai Manusia Yang Hidup Di Ambang Qiamat;- Abdullah ibn Mas’ud r.a. berkata, “Daku telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Kefasihan boleh memukau; manusia yang akan merasai qiamat semasa hidup ialah manusia yang terjahat dan mereka yang menjadikan kubur sebagai masjid.” ;- [Riwayat Ahmad, Musnad, 3/268].

Peristiwa-peristiwa Di Ambang Qiamat;- Telah diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., Nabi s.a.w. bersabda, : “Halilintar serta petir akan sering berlaku menjelang Qiamat sehingga seorang akan bertanya kepada orang ramai, “Ada sesiapa di antara kamu yang dipanah petir pagi tadi?” Maka disahut, “Si fulan dan fulan telah kena panah.”” ;- [Riwayat Ahmad, Musnad, 3/64,65].

Abu Hurairah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda, : “Qiamat tidak berlaku sehingga datang hujan lebat yang merosakkan sekelian tempat kediaman kecuali khemah-khemah.” ;- [Riwayat Ahmad, Musnad, 2/262].

Sabda Rasulullah s.a.w;- “Tidak terjadi kiamat itu sehingga orang bersetubuh (berzina) seperti bersetubuh keldai di tengah jalan.”- (H.Riwayat Ibnu Hibban).

Abu Hurairah r.a. berkata bahawa beliau dengar Rasulullah s.a.w. bersabda,: “Qiamat tidak akan berlaku sehingga punggung wanita-wanita Dhaus mengelilingi Zul-Khalasah.”;- [Riwayat Bukhari, Kitab al-Fitan, 8/182].

*** Dhaus ialah suatu kaum di Yaman. Zul-Khalasah ialah rumah berhala di zaman Jahiliyyah. Mereka percaya sesiapa menyembah atau mengelilinginya akan disucikan (khallasa). Hadith ini bererti kaum itu akan murtad dan kembali menyembah berhala sehingga wanita mereka menyembah dan mengelilinginya dengan menggoyang-goyangkan tubuh mereka.

Jika keadaan sudah jadi seperti ini, maka kiamat bila-bila masa boleh terjadi. Kiamat diumpamakan seperti:- “Seperti perempuan yang mengandung yang sudah cukup bulan. Keluarganya tidak tahu bilakah mereka akan dikejutkan dengan kelahiran anak yang dalam kandungannya, sama ada di waktu malam atau siang”;- (H.Riwayat Ahmad).

“Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang.Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya,dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.

Adapun orang yang melampaui batas,dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).

(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, bilakah terjadinya.Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)?

Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)

Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu petang atau pagi hari.” Surah An Naazi’aat : Ayat 34 – 46

 

Rujukan :

1 – AlQuran

2 – Ceramah Tanda Besar Kiamat oleh Tuan Guru Nik Abdul Aziz Nik Mat

3 – http://www.geocities.com/saifullah_islam77/dekatnya_kiamat.html

4 – 40 hadith tentang peristiwa akhir zaman – Abu Ali al Banjari An Nadwi

(Di petik dari: http://mohdherman.blogspot.com/2014/01/antara-tanda-tanda-kiamat-dan-peristiwa.html)

5 April 2015 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Renungan & Teladan | | Leave a comment

Rahsia Orang Melayu

Oleh: Syababul Islam

orang melayu adalah bangsa yang menerima islam secara baik,

orang melayu boleh sebut bahasa Arab dengan Fasih,

orang melayu menggunakan bahasa Arab dalam percakapan walaupun ia tidak sedar seperti sabar,kubur,sihat,mati,mayat,dan lain2 lagi,kenapa? sebab kita berasal dari bangsa Arab yang hilang dalam peperangan kerajaan Sargon lama sezaman nabi Ibrahim,dan keturunan nenek kita lari ke semenanjung emas selepas dibadai ombak kapal di hanyut,kalau dari darat,india,burma ,dan siam ,baru sampai ke semenanjung emas ,tetapi kita asal dari belayar,bukan datang dari darat.

Saidina Ali Karamahwajhah telah berkata ketika nazak selepas ditikam ibnu Muljan semasa waktu subuh,katanya pergilah wahai saudaraku leparkan belanti ku ke sungai Furat kerana bansa Arab tiada ada kesatuan sehingga kiamat melainkan ada satu kaum yang hilang akan kembali pada satu bendera mereka berada di timur,sebab itu Muauwiyah telah menghantar utusan ketanah melayu dan jawa,untuk melihat apa agamanya,dan begitu juga para pendakwah dari seluruh arab,yaman,gujrat,datang ke semenanjung Emas dan Jawa.

BANI JAWI @ BANGSA JAWI / MELAYU

Tanah Jawi – ialah gelaran kepada Tanah Melayu

Orang Jawi – ialah gelaran orang Arab kepada orang Melayu

Tulisan Jawi – ialah tulisan yang digunakan oleh orang Melayu

Masuk Jawi – berkhatan iaitu salah satu amalan yang diajar Nabi Ibrahim dan menjadi amalan orang jawi zaman berzaman.

Ketahuilah sesungguhnya terdapat satu kajian bahawa bangsa Melayu adalah berasal dari keturunan Nabi Ibrahim dari isteri ketiga yang bernama Siti Qaturah@Keturah. Sebelum meninggal dunia Nabi Ibrahim AS telah mewasiatkan kepada anak-anaknya untuk mencari sekeping tanah semenanjung di hujung dunia. Kerana di sana nanti akan lahir dari keturunan ini satu Raja akhir zaman bernama al Mahdi.

Diceritakan juga al Mahdi akan pulang semula ke tanah asal bersama kaumnya dan akan memusnahkan bangsa Yahudi. Wasiat ini dilaksanakan oleh anak-anak Nabi Ibrahim dan kisah ini dicatit dalam kitab-kitab Yahudi. Sejarah berlalu zaman berzaman. Kisah ini juga diceritakan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat. 60 para sahabat mengembara ke Timur mencari Bani Jawi.

Akhirnya Bani Jawi menerima Islam tanpa peperangan. Bani Jawi terkenal dengan akhlak dan kelemah lembutan mereka kerana mereka berdarah bangsawan dan kesatria perang yang dihormati. Jawi atau Jiwi ikut bahasa sanskrit Ji=satu & Wi=Tuhan. yakni maksud nya bangsa yg percaya kpda 1 Tuhan (mentauhidkan Tuhan). Dimanakah negara dihujung dunia ini yang masih beramal dengan mempercayai adanya Tuhan yang satu??

Wahai Bani Jawi, wahai keturunan kaum yang hilang. Rahsia bangsa misteri ini masih terpelihara di dalam Kotak Tabut rahsia sejak beribu-ribu tahun. Tiada siapa yang tahu dari mana asalnya bangsa ini. Bagaimana bangsa ini boleh wujud di tanah paling selatan benua Asia, ’di penghujung dunia.’ Wallahualam

5 April 2015 Posted by | Informasi | | Leave a comment

Wahabi cuba berhujjah dengan akal dan cuba menampakkan mereka memahami kaedah berhukum

Wahabi cuba berhujjah dengan akal dan cuba menampakkan mereka memahami kaedah berhukum. Jika sebelum ini mereka menolak akal di dalam berdalil tapi akhir-akhir ini kelihatan mereka “pintar” sekali menggunakan akal untuk mematahkan hujjah aliran yang menentang mereka. Boleh jadi kerana dalil-dalil yang mereka bawakan tidak cukup untuk mematahkan hujjah-hujah yang konkrit daripada ahli sunnah wal jamaah.

Ahli sunnah mengatakan mengikut kaedah para ulama’ : “Sesuatu yang tidak dilarang oleh Nabi SAW maka hukumnya harus. Tiada suruhan dan tiada tegahan padanya".

Sebagai contoh Sheikh ‘Atiyyah Saqar pernah ditanya apakah hukum menyelangi 2 rakaat solat terawih dengan solawat.

Sheikh menjawab : Tiada larangan dan tiada suruhan padanya maka ia dihukumkan HARUS akan tetapi jika dilihat pada hokum solawat itu sunat di dalam agama, maka perbuatan berselawat selepas 2 rakaat tarawih itu sunat.

Wahabi mengatakan jika tiada larangan menunjukkan kepada boleh dilakukan maka bolehlah solat zohor 5 rakaat sebab Nabi SAW tidak melarang.

Saya menjawab :

1) Perlu dibezakan di antara suruhan dan larangan yang sudah ada dalil yang jelas dan suruhan dan larangan yang tiada dalil yang jelas.

Adapun yang dimaksudkan oleh kita ahli sunnah ialah sesuatu perkara yang tiada dalil jelas suruh dan tegah. Jika ada dalil yang jelas sudah tentu ia tidak dikira lagi sebagai perkara khilafiyyah (diperselisihkan oleh para ulama).

Adapun solat zohor 4 rakaat sudah terdapat dalil yang jelas maka tidak boleh bahkan haram lagi bidaah jika kita menambah rakaat atau menguranginya.

2) Perlu difahami perkara yang sepakat dan perkara yang tidak disepakati oleh para ulama. Adapun perkara yang telah sepakat seperti solat wajib 5 waktu sehari semalam, zohor 4 rakaat, puasa pada bulan ramadhan, haji dan lain-lain usul syariat tidak boleh diubah dan direka-reka dan terkeluar daripada kaedah yang disebut tadi.

SALAH bahkan tersangat jauh mantik wahabi, jika mengkiaskan antara perkara yang sepakat dengan perkara yang tidak sepakat seperti tahlil, qunut subuh, talqin, bacaan Yassin pada malam jumaat dan lain-lain permasalahan.

Maka hujjah ahli sunnah yang mengatakan harus dilakukan kerana tidak ada larangan Nabi SAW masih valid (terpakai) kepada semua perkara ibadah dan muamalat. Adapun hujjah wahabi yang mengatakan kalau tidak dilarang maka boleh menyalahi perkara yang sudah ada dalil jelas dan kesepakatan ke atasnya TERTOLAK.

Di sinilah lahirnya kaedah yang disebut oleh para ulama di dalam memahami BIDAAH seperti pandangan Sultanul Ulama’ Sheikh Izuddin Abdissalam yang mengatakan bidaah terbahagi kepada 5:

i) Bidaah Wajib : Mempelajari Ilmu Tatabahasa (Nahu) untuk memahami al-Quran dan al-Hadith

ii) Bidaah Haram : mengikuti fahaman qadariyyah, jabariyyah

iii) Bidaah Sunat : Mendirikan sekolah dan tempat pengajian

iv) Bidaah Makruh : Menghiasi masjid dengan ukir-ukiran

v) Bidaah Harus : Bersalaman setelah solat Subuh dan Asar dan membuat kelapangan dalam urusan makan, minum, pakaian dan tempat tinggal.

Contoh yang disebut adalah contoh yang disebut oleh Sheikh Izuddin Abdissalam sendiri. Maka kiaskanlah.

Maka apabila bidaah itu dipadukan dengan 5 hukum takhlifi maka jelaslah kefahaman kita terhadap sesuatu hukum di dalam agama kita samada ia hal berkaitan dengan dunia ataupun ibadah.

Sekurang-kurang bidaah yang dilakukan oleh umat Islam dengan berkumpul pada malam jumaat untuk membaca Yassin, berkumpul untuk bertahlil, menyambut maulidurrasul dan lain-lain yang seumpamanya dihukumkan HARUS pada asalnya.

Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari

Sarjana Muda Akidah dan Falsafah

Universiti Al-Azhar Mesir

5 April 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

ISU YAQAZAH – PARA ULAMAK MUKTABAR AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH VS ‘MAULANA’ ASRI YUSOF

Jawapan Untuk Ustaz Asri Yusof yang Menyesatkan Umat Islam

Kami dapat isi seminar Habib – antara kecuaian Ulama dan kebingungan ummah, asri yusof seboleh-bolehnya cuba mengadakan kempen anti habaib Ahlus Sunnah Wal Jama’ah kepada umat Islam.

Antaranya menafikan yaqazah (bertemu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan berjaga). Dakwan Asri Yusof ulamak dulu tak pernah jumpa Nabi dalam jaga. Dan katanya habaib suka kepada hadith dhoief.

Islam tetap tertegak dengan hujjah, melalui al Quran dan hadith serta syarahnya melalui alim ulamak yang alim kedua-dua sumber, Ijmak, Qiyas dan sumber lain yang telah dipersetujui oleh para ulamak. Bukan dengan cakap kosong, tunjuk youtube, dan peserta/pengikut yang jahil pula akan mengangguk-angguk, setuju, mengiyakan. Sewajarnya sifat jujur dan adil perlu ada dalam diri seorang alim yang mendapat gelaran ‘maulana’ , alim hadith dalam membentangkan sesuatu isu apatah lagi sekiranya ia ada perbahasan di kalangan para ulamak muktabar mengenainya. Bukan syok sendiri untuk mengelabui kebenaran.

Dalil Hadith SAHIH

Antara dalilnya adalah zahir hadis berikut yang menunjukkan seseorang yang soleh boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w., tetapi dengan syarat mestilah pernah bertemu dahulu secara mimpi (ru’ya) dengan baginda s.a.w. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

« من رآني في المنام فسيراني في اليقظة، ولا يتمثل الشيطان بي» “Sesiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka dia akan melihatku secara yaqazah (di dalam keadaan jaga), kerana syaitan tidak boleh menyerupaiku”. [Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad. Lafaznya dari al-Bukhari]

Antara ulama yang mengatakan atau mengiktiraf kemungkinan boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. ialah:

1. Imam Ibn Abi Jamrah al-Maliki dalam Bahjah al-Nufus.

2. Al-‘Allamah Ahmad al-Nafrawi al-Maliki dalam Syarh Risalah Ibn Abi Zayd.

3. al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari.

4. al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti dalam Tanwir al-Halak fi Imkan Ru’yah an-Nabi wa al-Malak.

5. Imam al-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim.

6. Imam al-Ghazali dalam al-Munqiz min al-Dhalal.

7. Imam Syihabuddin al-Qarafi,

8. Imam ‘Afif al-Din al-Yafi‘i al-Syafi‘i dalam (

روض الرياحين). 9. Al-‘Allamah Ibn al-Haj al-Maliki dalam al-Madkhal.

10. Al-Qadhi Ibnu al-‘Arabi al-Maliki dalam kitabnya (

قانون التأويل). 11. Imam Ibn ‘Ata’illah al-Sakandari (w. 709H) dalam kitab Lata’if al-Minan.

12. Al-Qadhi Syaraf al-Din al-Barizi dalam (توثيق عرى الإيمان).

13. Imam Tajuddin al-Subki.

14. Imam al-Qurtubi dalam (التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة).

15. Al-‘Allamah Ibn Battal al-Maliki

16. Al-‘Allamah Ibn al-Tin

17. Imam ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam dalam al-Qawa’id al-Kubra. 18. Al-‘Allamah Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Syama’il.

19. Al-Qadhi Ibn al-Munayyir.

20. Imam Ibn Daqiq al-‘Id.

21. Imam ‘Abd al-Wahhab al-Sya‘rani dalam beberapa kitabnya. 22. Imam Ibn Hajar al-Haytami al-Makki dalam al-Fatawa al-Hadithiyyah.

23. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ra’uf al-Munawi dalam Faydh al-Qadir.

24. Syeikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdullah al-‘Idrus (w. 1038H) dalam kitabnya al-Nurus Safir ‘an Akhbaril Qarnil ‘Asyir.

25. Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi dalam al-Mufhim.

26. Imam al-Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah.

27. Imam al-Baqillani.

28. Al-‘Allamah Sadruddin al-Qunawi dalam Syarh al-Arba‘in.

29. Al-‘Allamah Burhanuddin al-Biqa’i dalam al-Hawi.

30. Al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki.

31. Al-‘Allamah al-Maziri.

32. Al-‘Allamah Nuruddin al-Iji.

33. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ghani al-Nabulsi dalam Syarh Salawat al-Jaylani.

34. Syeikh Ahmad ibn ‘Ajibah al-Hasani (w. 1224H) dalam al-Futuhat al-Ilahiyyah.

35. Al-‘Allamah Syeikh Ibn ‘Allan al-Siddiqi.

36. Al-‘Allamah Najmuddin al-Ghazi dalam kitabnya al-Kawakib al-Sa’irah.

37. Imam Syah Waliy Allah al-Dihlawi dalam al-Durr al-Thamin.

38. Al-‘Allamah al-Alusi dalam tafsir Ruh al-Ma’ani.

39. Sayyid ‘Abdul Rahman al-‘Idrus dalam kitab Syarh Salawat al-Badawi.

40. Syeikh ‘Ali al-Ajhuri al-Maliki dalam al-Nur al-Wahhaj.

41. Syeikh Muhammad al-Khalili dalam al-Fatawa.

42. Syeikh ‘Abdullah Sirajuddin al-Halabi dalam al-Solat ‘ala al-Nabiy.

43. Al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani dalam Sa‘adah al-Darayn, Syawahidul Haq dan Jami‘ Karamatil Auliya’.

44. Syeikh Badi‘ al-Zaman Sa‘id al-Nursi.

45. Syeikh Ibrahim al-Bajuri dalam Syarh al-Syama’il.

46. Syeikh Muhammad Hasanain Makhluf.

47. Syeikh Abu al-Qasim Muhammad al-Hafnawi dalam Ta’rif al-Khalaf.

48. Al-‘Allamah Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, Syeikhul Azhar.

49. Al-‘Allamah Sayyid ‘Abdullah al-Siddiq al-Ghumari dalam kitabnya Fadha’ilun Nabi SAW.

50. Al-‘Allamah Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah.

51. Al-‘Allamah Dr. Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buti.

52. Al-Allamah Dr. ‘Ali Jum‘ah, Mufti Mesir dalam al-Bayan.

53. Dr. ‘Umar ‘Abdullah Kamil,

54. Dr. Mahmud al-Zayn.

55. Datuk Seri Maharaja Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz, Mufti Brunei.

Sila rujuk, kitab al-Durr al-Thamin fi Mubasysyarat al-Nabi al-Amin SAW susunan Imam al-Mujaddid Syah Wali Allah al-Dihlawi yang menghimpunkan 40 peristiwa bertemu Rasulullah s.a.w. secara mimpi dan jaga.

Bahkan ramai dari kalangan alim ulama tariqat-tariqat sufi ini adalah pemelihara-pemilhara sunnah baginda s.a.w. baik sunnah yang zahir mahupun sunnah yang batin. Berapa banyak rahmat dan manfaat rohani yang tersebar di seluruh dunia sama ada kita sedari ataupun tidak, disebabkan usaha-usaha mereka.

Kata al-‘Allamah Ibn Al-Haj dalam kitab al-Madkhal (3/194):

“Sebahagian orang mendakwa melihat Nabi s.a.w. secara yaqazah, sedangkan ia merupakan satu perbahasan yang sempit (sukar) untuk diperbahaskan. Amat sedikitlah dari kalangan mereka yang mengalaminya, kecuali terhadap mereka yang amat mulia di zaman ini. Walau bagaimanapun, kami tidak mengingkari sesiapa yang mengaku pernah mengalaminya, dari kalangan orang-orang yang mulia yang dipelihara oleh Allah s.w.t. zahir dan batin mereka.” Wallahu a’lam.

Antara alim ulamak/orang soleh yang pernah mengalami yaqazah :

Antara mereka ialah; Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani, Syeikh Abu al-Hasan al-Syazili, Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi, Syeikhul-Akbar Muhyiddin Ibn al-‘Arabi, Syeikh Khalifah bin Musa, Syeikh Abu al-‘Abbas al Mursi (w. 686H), Syeikh Abu ‘Abdillah al-Qurasyi, Syeikh Kamaluddin al-Adfawi, Syeikh ‘Ali al-Wafa’i, Syeikh ‘Abd al-Rahim al-Qinawi, Syeikh Abu Madyan al-Maghribi, al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti, Syeikh ‘Ali al-Khawwas, Syeikh Ibrahim al-Matbuli, Imam Abu al-‘Abbas al-Qastallani, Syeikh Abu al-Su‘ud ibn Abi al-‘Asya’ir, Syeikh Ibrahim al-Dusuqi, Sayyid Nuruddin al-Iji, Syeikh Ahmad al-Zawawi, Syeikh Mahmud al-Kurdi, Syeikh Ahmad bin Thabit al-Maghribi, Imam al-Sya‘rani, Syeikh Abu al-Mawahib al-Syazili, Syeikh Nuruddin al-Syuni, al-Habib ‘Umar bin ‘Abdul Rahman al-‘Attas (penyusun Ratibul ‘Attas), Sayyidi ‘Abd al-‘Aziz al-Dabbagh, Syeikh Muhammad bin Abi al-Hasan al-Bakri, Sayyidi Ahmad bin Idris, Syeikh Ahmad al-Tijani dan lain-lain.

Sumber :

Mukhlis: Siri 1: http://mukhlis101.multiply.com/journal/item/112 Siri 2: http://mukhlis101.multiply.com/journal/item/111 Siri 3: http://mukhlis101.multiply.com/journal/item/110 – Rawd al-Rayyahin, http://cb.rayaheen.net – Multaqa al-Nukhbah, http://www.nokhbah.net – Masalah Berjumpa Rasulullah Ketika Jaga Selepas Wafatnya (terjemahan) oleh Husain Hasan Toma‘i. – Sa‘adah al-Darayn oleh al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani. – Fatwa Mufti Brunei, download : yaqazah-fatwa-mufti-brunei. – al-Muqizah fi Ru’yah al-Rasul SAW fil Yaqazah oleh Syeikh Hisyam bin ‘Abd al-Karim al-Alusi, download: http://www.almijhar.org/book/almokza.pdf – Tariqah al-Ahmadiah al-Idrisiah, http://www.ahmadiah-idrisiah.com/article-Yaqazah-pandangan-…

Rujuk :

1. http://sawanih.blogspot.com/2012/07/blog-post.html

2. http://sawanih.blogspot.com/…/jawapan-ringkas-terhadap-tuli…

Sekian ramai alim ulamak yang pakar hadith dan feqah mengiktiraf berlakunya yaqazah dan yang pernah mengalaminya tetapi asri yusuf mengatakan ia tidak pernah berlaku ? Kebiadapan ilmuwan ini walaupun ada ilmu tetapi berbohong dan menipu dengan mempergunakan ilmu hadithnya. Sekiranya mengikut ilmu jarh wa at ta’dil. Thiqahnya tiada. Bayangkan jika ada hadith yang diriwayatkannya hanya jatuh pada dhoief dan maudhuk.

Wallahua’lam bissowab.

5 April 2015 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | | Leave a comment

Amalan Zikir

Amalan Zikir; "Ulama terdahulu amalan mereka Masya Allah. Hebat-Hebat.

Imam Ahmad Bin Hanbal 300 rakaat, Imam Junaid 400 rakaat, Imam Ali Zaenal Abidin 1000 rakaat. Kita ini usahkan solat sunat, bersedekah untuk tenaga dan juga ilmu kita mundar-mandir menuntut ilmu pun tidak mahu. Ada sesetengah imam, zikir setelah solat dimasjid itu ditinggalkan."

"Kita jangan tinggalkan zikir selesai solat. Solat kita itu pon belum tentu sempurnanya. Diterima atau tidak. Zikir dulu. Hendaklah seseorang itu sama ada imam atau makmum setelah selesai dari solatnya subuh, maghrib tidak mengubah posisi kedudukannya terlebih dahulu setelah selesai memberi salam dan kekal duduk dalam keadaan tawarruk yakni duduk tahiyyat akhir dan membaca;"

"Yang pertama, Istighfar 3 kali
استغفرالله العزيم,الذي لااله الا هو الحي القيوم واتوب اليه."

"Yang kedua, Lailahaillallah sebanyak 10 kali
لااله الا الله, وهده لا شريك له, له الملك واله الحمد,يهيي ويميت, وهو علي كل شيئ قدير."

"Dan yang ketiga, Doa perlindungan dari api neraka sebanyak 7 kali
اللهم اجرنا من النار."

 

"Setelah usai membaca 3 perkara diatas, bolehlah mengubah posisi untuk bersila dan sebagainya. Jika menjadi imam, hendaklah dia memusing ke arah makmum. Kemudian setelah itu, membaca ‘Allahumma antas salam, waminkassalam, sehinggalah habis, membaca Al-Fatihah dan ayat kursi, tasbih Fatimah ( subhanallah 33x, alhamdulillah 33x, allahuakbar 33x ) dan diikuti penutupnya dengan doa."

"Jangan kita sesekali tinggalkan amalan membaca ayat kursi selepas habis solat fardu kerana fadhilatnya sangat besar. Menurut riwayat hadis, tiada apa yang dapat menghalang seseorang yang membacanya untuk memasuki syurga kecuali mati. Ayat kursi ini diibaratkan ayat kursi sebagai ‘kad touch and go’ untuk kita masuk kedalam syurga Allah سبحانه وتعالى."

Daripada TG Sheikh Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki.

Wallahualam

30 March 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | | Leave a comment

Mengahwini perempuan yang mengandung anak luar nikah

Kahwind peremupuan mengandung

 

Persidangan Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-3 yang bersidang pada 21-22 Jan 1971 telah membincangkan Mengahwini Perempuan Yang Sedang Mengandung Anak Luar Nikah. Persidangan telah memutuskan bahawa perempuan yang sedang mengandung anak luar nikah harus dinikahkan tetapi anaknya tidak boleh dinasabkan kepada lelaki itu, tidak dapat pesaka daripadanya, tidak menjadi mahram kepadanya dan lelaki itu tidak boleh menjadi walinya.

30 March 2015 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Ibadah, Muamalat (Keluarga), Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

ADAB-ADAB MUFTI

1. Al hafiz al Khatib al Baghdadi meriwayatkan dalam kitabnya "Al Faqih wa al Mutafaqqih" dari Imam Syafi’i radiyallahu ‘anhu berkata "

Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berfatwa mengenai agama Allah, kecuali seorang yang arif dengan Kitab Allah (al Quran), nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih, ta’wil dan tanzil, makkiyyah dan madaniyyahnya; apa yang dimaksudkan dengan satu-satu ayat; dalam masalah apa ia diturunkan.

Selain itu, dia juga mesti menguasai hadith Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam; nasikh dan mansukhnya; Pengetahuannya mengenai hadith Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam mesti setaraf pengetahuannya mengenai al Quran. Dia mesti juga menguasai Bahasa Arab; arif akan seluk beluk syair, dan disiplin ilmu yang lain yang diperlukan untuk memahami al Quran.

Disamping itu, dia juga MESTI MENAHAN DIRI DARIPADA (SERONOK) BERCAKAP. Dia dituntut juga untuk memahami perbezaan pendapat di kalangan para ulamak, selain harus memliki kemampuan atau kepakaran dalam mengambil ketentuan hukum (istinbath).

Jika semua syarat-syarat ini telah dimilikinya, maka barulah boleh baginya bercakap dan berfatwa tentang halal dan haram. Namun jika belum sampai pada darjat ini, dia hanya boleh membincangkan tentang ilmu pengetahuan, tetapi TIDAK dibenarkan untuk berfatwa"

2. Al-Qodhi ‘Iyadh r.h.l. meriwayatkan, Ibn Wahab r.h.l. juga pernah berkata:

"Andai Allah s.w.t. tidak menyelamatkan saya dari kesesatan melalui Imam Malik dan Al-Laith r.h.l., nescaya saya akan sesat."
Beliau ditanya: "Mengapa begitu?" Beliau menjawab: " Saya telah menghafal banyak hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam), sehingga timbul pelbagai persoalan. Kemudian, saya pergi ke Imam Malik dan Al-Laith untuk bertanya mengenainya, maka mereka berkata kepada saya: "Hadis ini kamu amalkan dan ambil ia sebagai hujah, dan hadis yang ini pula kamu tinggalkan (tidak perlu menggunakannya)."

3. Sufian bin ‘Uyainah pernah berkata:

"Hadis itu menyesatkan kecuali kepada Al-Fuqoha’ (ulama’ ahli Fiqh). Kadangkala, suatu hadis itu tidak boleh dipegang secara zahir sahaja, malah ada ta’wilannya. Kadangkala, sesuatu Hadis itu pula ada maksud yang tersembunyi. Ada juga Hadis yang perlu ditinggalkan dengan sebab-sebab tertentu, yang mana, semua itu hanya diketahui oleh orang yang mahir dan berilmu luas khususnya dalam Fiqh (kefahaman)."

4. Ibn Rusyd r.h.l. pernah ditanya tentang kata-kata: "

Hadis itu menyesatkan kecuali bagi ahli Fiqh". Beliau ditanya lagi: "Bukankah seorang ahli Fiqh itu juga perlu tahu mengenai Hadis terlebih dahulu.?!" Beliau menjawab: "Kata-kata itu bukanlah dari Rasulullah (sallallahu’alaihi wasallam), ia merupakan kata-kata Ibn ‘Uyainah r.h.l. dan ahli-ahli Fiqh yang lain.

Maksud kata-kata itu tepat, kerana kadangkala, sesuatu hadis itu diriwayatkan dalam sesuatu keadaaan yang khusus, tetapi maknanya umum, begitu juga sebaliknya. Ada juga Hadis yang Nasikh dan Hadis yang Mansukh (tidak digunakan lagi). Kadangkala pula, ada hadis yang secara zahirnya seolah-olah menyerupakan Allah dengan makhluk (Tasybih). Ada juga hadis yang maksudnya hanya diketahui oleh para ahli Fiqh sahaja.

Barangsiapa yang hanya mengumpul hadis tetapi tidak memahaminya tidak dapat membezakan antara hadis yang maksudnya umum atau khusus. Oleh kerana itu, ahli Fiqh (Faqih) itu bukanlah orang yang sekadar mengetahui tentang Hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam) sahaja, bahkan memahaminya secara mendalam.

Jika seseorang itu tdak mampu memahami secara mendalam dalam masalah hadis mahupun Fiqh, maka dia bukanlah seorang ahli Fiqh (Faqih), walaupun dia mengumpul banyak Hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam). Inilah sebenarnya maksud kata-kata Sufian bin ‘Uyainah.

5. Kewarakan Salafussoleh Yang Pakar Takut Untuk Berfatwa

Dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu, mereka berdua berkata, "Barangsiapa yang berfatwa pada setiap masalah yang ditanyakan kepadanya, maka ia adalah orang gila"

Mus’ab berkata : "Imam Malik pernah ditanya tentang satu soalan,kemudian beliau menjawab : "Saya tidak tahu". Kemudian si penanya, salah seorang berpangkat berkata : "Itu soalan yang remeh dan mudah, yang aku kehendaki adalah untuk memberitahu Amir (Khalifah) bahawa engkau telah memberikan jawapannya".

Lalu Imam Malik menjadi marah seraya bertanya : "Soalan remeh dan mudah katamu.. ? Ilmu pengetahuan (agama) tidak ada yang remeh, apakah kamu tidak mendengar firman Allah Ta’ala yang bermaksud "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan (wahyu) yang berat". (Al Muzammil :5). Semua ilmu pengetahuan berat, tidak ada yang remeh, apatah lagi jika soalan yang ditanya orang".

Salah seorang murid Imam Malik berkata : "Perkataan yang paling banyak diucapkan oleh Imam Malik ialah : "Tiada daya dan upaya, melainkan dengan (pertolongan) Allah Subahanahu Wa Ta’ala".

Sumber rujukan :

1. Al Qadhi ‘Iyadh "Tartib Al-Madarik"
2. Imam ibn Abi Zaid Al-Qairawani, "Al-Jami’" m/s 118
3. Abu ‘Abbas Al-Wansyarishi "Al-Mi’yar Al-Mu’rab" jilid 12 m/s 314

Wallahua’lam bissowab.

Oleh: Ustaz Zamihan Al-Ghari

28 March 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Kisah Allah Menciptakan Jibrail A.S

Telah bersabda Rasulullah S.A.W bahawa,

“Sesungguhnya Allah telah menciptakan malaikat Jibrail dengan bentuk yang sangat elok. Jibrail mempunyai 124,000 sayap dan di antara sayap-sayap itu terdapat dua sayap yang berwarna hijau seperti sayap burung merak, sayap itu antara timur dan barat. Jika Jibrail menebarkan hanya satu daripada beberapa sayap yang dimilikinya, maka ia sudah cukup untuk menutup dunia ini”.

Setelah memandang dirinya yang tampak begitu indah dan sempurna, maka malaikat Jibrail pun berkata kepada Allah,

“Wahai Rabbku, apakah Engkau menciptakan makhluk lain yang lebih baik daripada aku?”

Kemudian Allah pun menjawab pertanyaan malaikat Jibrail,

“Tidak”.

Mendengar jawapan Allah, maka malaikat Jibrail pun berdiri dan melakukan solat dua rakaat untuk bersyukur kepada Allah. Pada setiap rakaat solat yang dikerjakan oleh malaikat Jibrail, dia menghabiskan masa selama 20,000 tahun lamanya.

Setelah malaikat Jibrail selesai melaksanakan solatnya, kemudian Allah pun berfirman kepadanya,

“Wahai Jibrail, kamu telah menyembah Aku dengan ibadah yang bersungguh-sungguh dan tidak ada seorang pun yang menyembahKu seperti ibadah yang kamu lakukan, akan tetapi di akhir zaman nanti akan datang seorang nabi yang mulia, yang paling Aku cintai bernama Muhammad. Dia mempunyai umat yang lemah dan sentiasa berdosa.

Seandainya mereka mengerjakan solat dua rakaat walau hanya sebentar dan dalam keadaan lupa serta serba kurang, dengan pikiran yang melayang-layang dan dosa mereka pun besar, maka demi kemuliaanKu dan ketinggianKu, sesungguhnya solat mereka itu lebih Aku sukai daripada solatmu. Hal tersebut kerana mereka telah mengerjakan solat itu atas perintahKu sedangkan solat kamu bukan atas perintahKu”.

Setelah mendengar hal tersebut, Jibrail pun kembali bertanya kepada Allah,

“Ya Rabbku, apakah yang Engkau berikan kepada mereka sebagai ganjaran atas ibadah mereka kepadaMu?”

Maka Allah berfirman yang ertinya,

“Ya Jibrail, akan Aku berikan syurga Ma’waa sebagai tempat tinggal mereka”.

Malaikat Jibril kemudian meminta izin kepada Allah untuk melihat syurga Ma’waa tersebut.

Setelah Allah memberikan izin kepadanya, maka malaikat Jibrail pun mengembangkan sayapnya dan terbang menuju syurga Ma’waa. Satu hayunan sayap malaikat Jibrail adalah sama dengan jarak perjalanan selama 3000 tahun. Maka terbanglah malaikat Jibrail selama beberapa lama perjalanan, malaikat Jibrail akhirnya kepenatan dan turun untuk singgah dan berteduh di bawah sebuah pohon. Di sana ia bersujud kepada Allah lalu berkata,

“Ya Rabbku, apakah aku telah menempuh setengah atau sepertiga atau seperempat dari perjalanan menuju ke syurga Ma’waa?”

Maka Allah pun berfirman,

“Wahai Jibrail, meskipun kamu mampu terbang selama 3000 tahun dan meskipun Aku memberikan kekuatan kepadamu seperti kekuatan yang engkau miliki, lalu kamu terbang seperti yang telah kamu lakukan, nescaya kamu tidak akan sampai kepada sepersepuluh dari beberapa puluhan yang telah kuberikan kepada umat Muhammad terhadap imbalan solat dua rakaat yang mereka kerjakan”.

Sabda Rasulullah,

“Sebelah kanan sayap Jibrail terdapat gambar syurga berserta dengan segala isinya termasuk bidadari-bidadari, istana, pelayan dan sebagainya manakala sayapnya yang sebelah kiri terdapat gambar neraka dan segala isinya yang terdiri daripada beberapa macam ular yang cukup bisa, kala jengking dan neraka yang bertingkat-tingkat serta penjaganya yang terdiri daripada malaikat yang garang dan ganas yakni malaikat Zabaniyah“.

Kata Rasulullah lagi,

“Apabila telah sampai ajal seseorang itu, maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang kecil pada badan manusia kemudian mereka akan menarik rohnya dari kedua telapak kaki hingga lutut dan mereka pun keluar. Setelah itu datang lagi sekumpulan malaikat masuk menarik roh dari lutut ke perut. Begitulah seterusnya dari perut ke dada dan dada ke kerongkongnya. Itu saat nazak seseorang”.

“Kalau orang yang nazak itu orang beriman, maka malaikat Jibrail akan menebarkan sayapnya yang sebelah kanan sehingga orang itu dapat melihat kedudukannya di syurga sehingga terlupa orang-orang di sekelilingnya. Jika orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail akan menebarkan sayap sebelah kiri untuk menunjukkan tempatnya di neraka sehinnga ia menjadi sangat takut serta lupa kepada keluarganya”, kata Rasulullah.

Kita sebagai umat Islam mesti mengakui kebenaran ini dan ia adalah sama seperti kita beriman kepada perkara ghaib. Tidaklah mustahil bagi Allah untuk menciptakan segala sesuatu kerana Dia maha pencipta. Cukuplah sekadar kita melihat langit yang tidak bertiang, bukankah ia perkara mustahil bagi manusia untuk membuatnya?

Rujukan: Himpunan kisah-kisah teladan

Sumber: http://www.syahirul.com/

27 March 2015 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

Timbul Isu Hudud – Akibat Tidak Faham Qaedah

Assalamu’alaikum semua.. Pagi ini Al-Faqir nk kongsi bersama tentang Isu Hudud Kanun Jenayah Syariah .

Sebenarnya Ummat ISLAM yang bertempik melalak nak kan Hukum Hudud ALLOH di lakasanakan itu, Mereka sebenarnya hanya ada kesedaran sahaja , Hakikat sebenarnya mereka JAHIL tentang Hukum ALLOH. Belajar kitab Fiqh pun tak lepas, kalau belajar pun tak sampai Bab Jinayah hanya sekadar Bab Rubu’ Ibadat sahaja , itu pun bukan menadah kitab tapi menyandar di dinding2 Masjid sambil dgr Ustaz2 mengajar (Penuh Takabur cara jadi Mustima’an pun) . Yang ada nya hanyalah mendengar huraian Hukum Hudud itu di ceramah2 pentas2 Politik yg penceramahnya menerangkan Hukum Hudud dgn tidak lengkap, Sekadar membuat Isu Politik untuk menghentam pihak lawan yg tidak laksanakan Hukum Hudud, Supaya penyokong dan pendokong kita "lembut lidah" kata kat Gu Lawan kita " Tolak ISLAM", "TOLAK HUKUM ALLOH", "NEGARA MALAYSIA BUKAN DAULAH ISLAM SBB TAK BUAT HUDUD" dan mcm2 lah lagi . Ini lah budaya yg berlaku telah berkurun lamanya di Negara kita. Dosa mereka yg berceramah seperti itu sangatlah besar kerana "Khianat pada Ilmu" .

Setelah kita belajar dengan sehabis-habis "Lumat" dan Mengkaji (Tasawwurkan) semampu2 kita , Akhirnya dapatlah kita Faham seperti berikut:

1. Hukum Hudud ialah Hukum ALLOH yg WAJIB FARDHU KIFAYAH di atas Ummat ISLAM melaksanakannya tetapi di Wakilkan perlaksaanya di atas Kerajaan ISLAM. Dan WAJIB kita beriman dan yakin dengan Hukum Hudud tersebut, Jika Ingkar hukum nya Kafir (Bukan Hudud je, Ingkar Kewajiban Solat2 dan Lain2 pun sama lah)

2. Wajibnya Hukum Hudud itu bukanlah seperti Wajib ‘Aini Solat yg kita sedia maklum jika Solat di tinggalkan ianya Wajib di Qodho dan tidak ada 1 Qaedah Fiqh pun yg menggugurkan keWajipan Solat walaupun ianya Wajib Muwassa’ (Wajib yg di perluaskan)

3. Hukum Hudud ini di gugurkan/di tangguhkan dahulu jika ianya tidak mencapai maslahat UMMAT bahkan membawa keMUDHORATan kerana Sabda Jaddina Muhammad S.A.W :

النبي صلى الله عليه وسلم يقول: ادرؤوا الحدود بالشبهات

Tinggalkan Hudud dengan sebab adanya Syubhat

Qaedah Fiqhiyah :

الحدود تسقط بشبهات

Hudud itu gugur perlaksaannya dengan sebab ada Syubhat dan bagai-bagai syubhat yang di sebut oleh para Ulamak di dalam Kitab-Kitab Qowa’id Fiqhiyyah.

Maka Syubahat itu mestilah kita Tasawwurkan , apa dia Syubahatnya berlaku di dalam dunia UMMAT ISLAM sekarang ini , Usahkan Malaysia yg warganegra berbilang bangsa dan agama , Mesir yg 95% arab ISLAM da berapa sahaja peratus kristian sampai sekarang tidak lagi menjalankan Hukum Hudud. Sedang Al-Azhar As-Syarif dan Alim Ulamak besar2 bnyk di sini. Soalannya kenapa?? Jawapannya ……… ( Panjang sangat kena buat ceramah khas atau wacana khas atau debat khas kalau nak bahas dan nak jawab bab ini. Saya berani sahut cabaran kalau ada yg nak anjur)

Anda boleh Rujuk Fatwa Syaikhuna Syaikh Nuruddin Ali Goma’ah (Bekas Mufti Mesir Tahun ini dan Murid Al-Musnid Dunya Syaikh Yasin Al-Fadani ) di Blog saya di sini :

http://ustazsyedfaiz.blogspot.com/2013/02/hukum-hududpolitik-kepartian-dan.html?spref=fb

Baca betul-betul sampai habis. InsyaALLOH Faham.

4.Hukum Hudud di Laksanakan apabila dengan perlaksana’annya akan mencapai Maslahat-maslahat berikut

Maqosid Syar’iyyah ( Kulliyat yang 5 atau Kulliyat yang 6) serta menjaminkan ke"IZZAH"an ISLAM dan selepas KeADILAN dalam Pemerintahan di sempurnakan ( KeAdilan dari sudut pendidikan aqidah, syri’ah dan akhlaq , keAdilan dari sudut ekonomi,pembangunan,sosial dan sebagainya ) sebagai contoh :

Hukum Zina di sabit dengan 3 cara :

1) Iqror si penzina

2) Mengkemukan 4 orang saksi yg cukup syaratnya tidak fasiq.

3) Qorinah

Maka Jika si penzina itu mengaku , itu sudah jelas akan hukumnya. Adapun bila di tuduh berzina , Maka si penuduh itu hendaklah mengkemukan 4 saksi , Jika gagal mengkemukan 4 org saksi , Maka hendaklah di bawa "Qorinah" untuk mengelak daripada berlakunya Hukum Qazaf . Maka "Qorinah" itu termasuklah DNA,GAMBAR, VIDEO, Bekas Air Mani dan sebagainya. Maka 4 Mazhab Ittifaq bahawa "Qorinah" ini terpakai dan WAJIB di siasat sehabis2nya termasuk seperti Ujian PoliGraf dan sebagainya. Akan tetapi bila memutuskan Hukum berdasar "Qorinah" Maka hukuman itu tidak masuk di bawah "Hudud" kerana tidak ada 4 org saksi , Hanya masuk ia di dalam "Hukuman Ta’zir" . Barulah Hukum itu mencapai keAdilan. Persoalannya kenapa orang tidak menerangkan dgn Jelas bab ini???!!! hanya berhenti setakat " Tak ada 4 org Saksi segera kena Qozaf 80 sebatan". Fuyoooo bermaharaja lela laaa Perogol.

Contoh lagi di Zaman Jaddina Sayyiduna Muhammad S.A.W , ada seorang Sohabat Nabi yg bernama AbduLLOH yg di panggil "Himaroh" kerana beliau suka buat lawak jenaka dan Baginda S.A.W ketawa dgnnya. 1hari beliau di tangkap kerana minum arak lalu Baginda S.A.W suruh laksankan Hukum Hudud yakni dengan memukul (Kaifiyyat memukul dalam ISLAM tidaklah sebagaimna memukul mcm WWF , ) Bahkan di riwayat dalam hadis tersebut para sahabat berkata : di antara kami ada yg memukul nya dengan tangan sahaja dan ada dengan baju sahaja. Tiba2 dalam hal memukul tersebut ada salahseorang sahabat melaknat AbduLLOH : ALLOHummal’anhu. Seraya Baginda S.A.W memarahinya :

لا تلعن فاءني أعلم انه حب الله ورسرله

Begitu juga hadis yg menceritakan berlakunya Hukuman Had Rejam Penzina Yg pernah merasai persetubuhan yg halal. Ketika berlakunya penrejaman tersebut seorang sahabat terperecik darah penzina itu, Lalu melaknat. Seraya Baginda memarahinya dengan mengatakan benda yg sama.

Ini menunjukan Jaddina Sayyiduna Muhammad S.A.W suruh berlaku "Adil" yakni Hudud itu di laksanakan tetapi mulut Ummat mesti di didik dengan Akhlaq , kerana sabda Baginda S.A.W :

سباب المسلم فسوق

Mencela orang ISLAM itu Fasiq. Bahkan seberat2 Fasiq di dalam ISLAM ialah mencela sesama ISLAM kerana ALLOH Ta’ala berfirman :

وَلاَ تَنَابَزُوا بِالأَلْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الفُسُوقُ

Jangan kamu mengelar denga cerca’an , Sejahat2 Nama Fasiq perbuatan itu.

Maka sekarang pemimpin2 ISLAM masih lagi tidak berjaya mendidik Akhlaq Ummah, pengikut dan pendokong masing-masing . Lihat sahaja di Page Tuan Guru Babo Hj Abdullah Sa’amah An-Najmiah , Berapa ramai yg jaga tangan dan mulut mereka . Maka selagi pendidikan Akhlaq ini tidak dapat di tangani . Sesuatu UMMAH itu tidak duduk di dalam ke Adilan.

Mudoh2 kecek gak , Kito ni xrejam lagi org zina tapi duk menympoh seranoh parop doh sedangkan Baginda S.A.W ajar ialah rejam tapi melaknat,menyumpoh seranoh tu di tegah, jangan buat.

Bahkan Sayyiduna Nabi S.A.W di dalam riwayat hadis hadis bab hukum hudud ini, Baginda banyak kali mengelak dari menjatuhkan Hukuman Hudud bila mengaku/Iqror oleh si penjenayah itu di hadapan Baginda S.A.W . Bahkan dalam Hadis2 itu ada meriwayatkan bila tertangkapnya orang melakukan Jinayah itu dan di bawa kehadapan baginda S.A.W dan di laksanakn hukuman Hudud itu keatas pesalah tersebut, Sahabat RodhiyaLLOhu’anhum berkata :

كأنك تكره يا رسول الله؟؟

Seolah2 engkau benci kami tangkap ini ya RosulaLLOH?? Lalu baginda besabda : "Kalaulah kamu semua tidak bawa kehadapan aku, Nescaya pintu Taubat bagiNYA masih terbuka,Tetapi bila ianya di bawa ke sini (Keraja’an ISLAM) maka hukuman mesti di jalankan.

Begitulah baginda S.A.W mengajar kita supaya menutup ‘aib diri kita juga. Kerana Sabda Baginda lebih kurang mafhumnya "Dosa yg di buat secara sembunyi2 itu lebih mudah bagi ALLOH utk mengampunkan nya jika seorang itu bertaubat nasuha berbanding jika seorng itu menceritakan dosa yg di buat itu kepada org ramai kerana ketika dia melakukan dosa di malam hari ALLOH telah menutup ‘aibnya jika dia sendiri yg tidak membuka ‘aib itu". Begitulah yg terjadi bila seorang sahabat ada pergi mengubati pesakit perempuan di hujung Kota Madinah lalu balik berjumpa baginda dan menceritakan yg dia telah bercumbu2 dgn perempuan itu :

ففعلت كل شيء الا زنا

Lalu Sayyiduna Umar Al-Faruq R.A berkata :

قد سترك الله لو سترت نفسك

Sesungguhnya telah menutup ‘aib engkau oleh ALLOH , buat apa kamu mari duk nok cerito kat kami??.

Pendeknya di sini menegaskan Isu Hudud ini bukan Isu Parti Politik atau Kerajaan . Bahkan ianya Isu Ummat ISLAM sejagat.JANGAN lagi menuduh dan menunding kesalahan kepihak yg lain. SATU DOSA BESAR BILA MEMPOLITIK KEPARTIANKAN ISU HUDUD INI Bahkan sepatutnya dan Sayugianya Ummat ISLAM Wajib mencari, mengkaji, mempelajari daripada mana puncanya Hukum ini tidak dapat di laksana di seluruh Negara ISLAM .. Hatta Negara Saudi yang melaksnakannya pun tidak melaksana dengan cukup syaratnya . Antranya mereka melarang daripada merakam kannya sedangkan Hukum Hudud ini :

فليشهد عذابهما

Mesti di persaksikan di persembahkan ke khalayak ramai. Inilah yg sy kata tadi supaya tidak timbul pencemaran ke"Izzah"an ISLAM itu.

Jadi kita sebagai UMMAT ISLAM jom sama-sama kita pakat belajaq,kaji apa punca yg sebenarnya. Adakah di sebabkan dengan runtuhnya sistem Khilafah Islamiyyah ?? Lalu penjajah Kuffar menanamkan benih2 Syubhat di dalam negara ummat ISLAM sehingga Keraja’an kita tidak mampu utk melaksnaknnya?? kerana Orang Kafir pun bijak dan kaji tentang ISLAM

الحدود تسقط بشبهات

Hudud itu gugur dengan sbb adanya syubhat.

Sebab itulah asas kerajaan ISLAM itu ialah "KEADILAN" bukan Parti KeAdilan. Sayyiduna Umar R.A masyhur bukan kerana berjaya memotong tangan pencuri,merejam org berzina dan sebagainya tetapi kerana ADILnya Sayyiduna Umar R.A. sehingga beliau mengungkapkan :

لو تعثرت بغلة في عراق لحاسبني الله يوم القيامة لماذ يا عمر لم تصلح هذا طريق فيها؟؟

kalu tergelincir seekor kaki baghol di hujung iroq nescaya di hisab oleh ALLOH di hari Qiamat " Heei Umar, Bakpo mu tidok baiki jalan sehingga baghal tu sakit kakinya kerna tergelekcoh?? .

Maka Tujuan ISLAM itu ialah "ADIL" dari segi Aqidahnya, Fekahnya, Akhlaqnya dan ekonomi, sosial dan pembangunannya. Bukan semata-mata menghukum . Adapun pemimpin2 kita sekarang kebanyakannya melaung sahja nak ke’Adilan tapi dia sendiri tak praktik pun keadilan itu dalam diri mereka. Contohnya tidak boleh di kritik dan di nasihati kononya mereka Pemimpin lagi Ulamak lagi … Fuyooooo sedangkan Sayyiduna Abu Bakar As-Siddiq R.A ketika beliau di lantik menjadi Khalifah beliau berkhutbah :

ياءيها الناس ,قد وليت عليكم ولست بخيركم ان أحسنت فأعينوني وان أسأت فقوموني

Heei Manusio, Sesungguhnyo aku di lantik jadi khalifoh di atas kamu padahal aku bukan terbaik di kalangan kamu ,Jika aku berbuat baik maka tolonglah aku di atas taqwaLLOH dan jika akau buat benda tidok baik maka perbetulkan aku. Sayiduna Umar R.A pernah di tegur oleh permpuan tua, Sayyiduna Mua’awiyyah R.A pernah di tegur dgn Mata Pedang . Mereka bersikap adil. Kita baru tegur dan nasihat sikit jee pun dah di pulau, di hentam di tuduh macam2… Duk Mano "ADIL" weeeii??

sedangkan ALLOH Ta’ala berfirman :

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Jangan di sebabkan kamu benci dengan 1 puok itu dengan kamu tidak berlaku ADIL terhadap mereka. Buat buat ADIL lah kerana ianya sedekat2 TaqwaLLOH.

Alah ko gu lawan suruh buat adil, bila kita nok nasihat di pulau di hino tidak di beri tempat. Mano gaak yg kita duk laung2 semangat keAdilan tu??

Sejarah mengajar kita , Lihat sahja di Sudan bila menangnya Parti ISLAM dan cuba melaksanakn Hudud dan ternyata ianya gagal. Begitu juga di tanah air kita contohnya negeri ku sendiri .. Ianya SUDAH BOLEH di laksankan , tiada sekatan apa2 di peringkat Pusat atau perlembaga’an .. Tetapi belum juga di Laksanakan . Sila Rujuk Blog Dewan Ulamak Pas Pusat : http://ulamak.pas.org.my/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=323%3Ahudud-boleh-dilaksanakan-di-kelantan&catid=17&Itemid=19

Tapi kalu Bab Aqidah,Solat,Thoharoh, Tutup Aurat, Munakahat, Mu’amalat dan sebaginya pun Ummat masih lagi Jahil Tukil apatahlagi bab Jinayah. Hanya sekadar laungan membuta tuli sahaja lah tanpa di sertakan dengan ILMU ISLAM , ISLAM itu bukan dengan munasabah aqal boleh fikir sendiri tapi dengan Belajar Tafaqquh Kata Jaddina Sayyiduna Ali A.S wa KarromaLLOHuwajhah :

ديننا بنيان علي نقول لا مناسبة علي العقول

Dan Sabda Baginda S.A.W :

العلم بتعلم والفقه بتفقه

Qadhi iyyad berkata:

ﻋﻠﻴﻚ ﺑﻄﺮﻳﻖ ﺍﻟﻬﺪﻯ ﻭﺇﻥ ﻗﻞ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻮﻥ،

ﻭﺍﺟﺘﻨﺐ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﺮﺩﻯ ﻭﺇﻥ ﻛﺜﺮ

ﺍﻟﻬﺎﻟﻜﻮﻥ

hendaklah kamu berada di jalan petunjuk (belajar itu sebab bagi petunjuk) walaupun sikit bilangan org yg melalui jalan itu. Jauhkan diri dari jalan kerosakan, walaupun sedikit bilangan pelaku kerosakan itu.

Dan Aku tetap di jalan belajar, mengkaji dan terus mengkaji . Biarlah golongan Talaqqi dan Tafaquh ini tak ramai mcm golongan yg semangat ISLAM pun.

Nasihat ini di tuju khas buat Sharifah Fatimah Benyahya Fatin Nadiah Al’AydrusFahim Al’Aydrus Shafiena Fiesha Nabilla Sham dan Sahabat dan Sohabiah ku di FB , yg jadi kawan atau yg melanggang FB ku dan Seluruh UMMAT ISLAM kerana aku mencintai UMMAT ISLAM yg damai, Adil, tenteram, Salim Aqidah Syari’at dan Akhlaqnya.

Tidak payah nak berdebat2 dalam komen FB ini ya, Kalau nak debat ke wacana ke apa, Jangan lupa anjurkan bila sy balik Malaysia.. Hahahaha InsyaALLOH sy mau je. Yang tak maunya komen bukan main ganas dalam FB , Bila balik habuk batang hidung pun tak nampak.

Daripada Si Jahil lagi FaqiruIlaLLOH As-Sayyid Faez Al ‘Aydrus السيد احمد فائزالعيدروس Ustaz Syed Faiz Al-Idrus .

 

Sumber: http://ustazsyedfaiz.blogspot.com/2013/05/isu-hudud-akibat-tidak-faham-qaedah.html

26 March 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | 1 Comment

TAWASUL DENGAN ORANG YANG TELAH MENINGGAL

(Diringkas dari Buku Kajian Tawassul, LBM NU Sby)

Tawassul inilah yang selalu diperselisihkan umat Islam. Diantara ulama yang memperbolehkan adalah Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Nawawi, Imam Subki, al-Qasthalani (ahli hadis), al-Hakim, al-Hafidz al-Baihaqi, al-Hafidz al-Thabrani, al-Hafidz al-Haitsami, Ibnu Hajar al-Haitami, al-Karmani, al-Jazari, Ibnu al-Hajj, al-Sumhudi dan masih banyak lagi ulama lain yang memperbolehkannya.

Namun ada pula sebagian kecil golongan yang melarangnya, seperti kelompok Wahhabi dan yang sepaham dengannya. Sedangkan Ibnu Taimiyah yang tergolong ulama besar dari kalangan Wahhabi tidak sepenuhnya melarang tawassul dengan Rasulullah e atau dengan yang lain. Menurutnya, jika tawassul kepada Nabi Muhammad e dimaksudkan sebagai bentuk rasa keimanan dan kecintaan kepadanya maka diperbolehkan. Berikut petikannya:

وَإِذَا حُمِّلَ عَلَى هٰذَا الْمَعْنَى لِكَلَامِ مَنْ تَوَسَّلَ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ مَمَاتِهِ مِنَ السَّلَفِ كَمَا نُقِلَ عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَعَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ وَغَيْرِهِ كَانَ هَذَا حَسَناً وَحِيْنَئِذٍ فَلاَ يَكُوْنُ فِي الْمَسْأَلَةِ نِزَاعٌ )قاعدة جليلة في التوسل والوسيلة ۲/۱۱۹(

“Jika ucapan orang-orang dari kalangan ulama salaf yang bertawassul kepada Rasullah e setelah beliau wafat diarahkan pada pengertian ini (tawassul karena iman dan cinta pada Rasulullah) seperti yang dikutip dari sebagian sahabat, Tabiin, Imam Ahmad dan sebagainya, maka hukumnya bagus dan tidak ada pertentangan”. (al-Tawassul wa al-Wasilah II/119)

Berikut ini adalah dalil-dalil hadits tentang tawassul dengan orang-orang yang telah wafat:

a. Riwayat al-Thabrani

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al Kabir dan al-Ausath pada redaksi hadits yang sangat panjang dari Anas, bahwa ketika Fatimah binti Asad bin Hasyim (Ibu Sayyidina Ali) wafat, maka Rasulullah e turut menggali makam untuknya dan Rasul masuk ke dalam liang lahadnya sembari merebahkan diri di dalam liang tersebut dan beliau berdoa:

أَللهُ الَّذِيْ يُحْيِىْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوْتُ اِغْفِرْ لِأُمِّيْ فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ وَلَقِّنْهَا حُجَّتَهَا وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مَدْخَلَهَا بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَالْأَنْبِيَاءِ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِيْ فَإِنَّكَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ )رواه الطبراني وابو نعيم فى حلية الأولياء عن انس(

“Allah yang menghidupkan dan mematikan. Allah maha hidup, tidak akan mati. Ampunilah ibuku, Fatimah binti Asad, tuntunlah hujjahnya dan lapangkan kuburnya, dengan haq Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku. Sesungguhnya Engkau dzat yang paling mengasihi”. (HR al-Thabrani dan Abu Nuaim dari Anas)

Ahli hadits al-Hafidz al-Haitsami mengomentari hadits tersebut:

رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ فِي الْكَبِيْرِ وَالْاَوْسَطِ وَفِيْهَ رَوْحُ بْنُ صَلاَحٍ وَثَّقَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ وَفِيْهِ ضُعْفٌ، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ رِجَالُ الصَّحِيْحِ )مجمع الزوائد ومنبع الفوائد ۹/۲۱۰(

“Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir dan al-Ausath, salah satu perawinya adalah Rauh bin Shalah, ia dinilai terpercaya oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim, tetapi ia dlaif, sedangkan yang lain adalah perawi-perawi sahih”. (Majma’ al-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid, IX/210)

Sayid Muhammad bin Alawy al-Maliki berkata:

وَاخْتَلَفَ بَعْضُهُمْ فِى رَوْحِ بْنِ صَلاَحٍ اَحَدِ رُوَاتِهِ وَلَكِنَّ ابْنَ حِبَّانَ ذَكَرَهُ فِى الثِّقَاتِ وَقَالَ الْحَاكِمُ ثِقَةٌ مَأْمُوْنٌ وَقَالَ الْهَيْثَمِىُّ فِى مَجْمَعِ الزَّوَائِدِ وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيْحِ. وَرَوَاهُ كَذَلِكَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنُ اَبِي شَيْبَةَ عَنْ جَابِرٍ وَاَخْرَجَهُ الدَّيْلَمِيُّ وَاَبُوْ نُعَيْمٍ فَطُرُقُهُ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا بِقُوَّةٍ وَتَحْقِيْقٍ . قَالَ الشَّيْخُ الْحَافِظُ الْغُمَّارِى فِى اتِّحَافِ اْلاَذْكِيَاءِ ص ۲۰، وَرَوْحٌ هٰذَا ضُعْفُهُ خَفِيْفٌ عِنْدَ مَنْ ضَعَّفَهُ كَمَا يُسْتَفَادُ مِنْ عِبَارَاتِهِمْ وَلِهَذَا عَبَّرً الْهَيْثَمِى بِمَا يُفِيْدُ خِفَّةَ الضُّعْفِ كَمَا لاَ يَخْفَى عَلَى مَنْ مَارَسَ كُتُبَ الْفَنِّ فَالْحَدِيْثُ لاَ يَقِلُّ عَنْ رُتْبَةِ الْحَسَنِ بَلْ عَلَى شَرْطِ ابْنِ حِبَّانَ )كلمة فى التوسل ۱۱(

“Sebagian ulama berbeda pendapat mengenai salah satu perawinya, Rauh bin Shalah, namun Ibnu Hibban menggolongkannya sebagai orang-orang terpercaya dalam kitab al-Tsiqat, dan al-Hakim berkata: “Ia terpercaya dan amanah. Al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid: “Perawinya adalah perawi-perawi sahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abdi al-Barr dari Ibnu Abbas, Ibnu Abi Syaibah dari Jabir, dan ditakhrij oleh al-Dailami dan Abu Nuaim. Maka, jalur-jalur riwayat hadis ini saling menguatkan antara satu dan lainnya. Al-Hafidz al-Ghummari berkata dalam Ittihaf al-Adzkiya’ hal. 20: “Perawi Rauh ini tingkat kedlaifannya rendah bagi ulama yang menilainya dlaif, hal ini diketahui dari redaksi penilaian mereka tentang Rauh. Oleh karena-nya, al-Haitsami menilai dengan redaksi yang ringan (فيه ضعف) sebagaimana diketahui oleh orang-orang yang mempelajari ilmu ini (al-Jarh wa al-Ta’dil). Dengan demikian, hadis ini tidak kurang dari status hadis Hasan bahkan sesuai kriteria kesahihan Ibnu Hibban”. (Kalimat fi al-Tawassul, 20)

b. Riwayat Ibnu Hibban

عَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيْقَ t أَنْ يَقُوْلَ اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِمُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ وَإِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِكَ وَمُوْسٰى نَجِيِّكَ وَعِيْسٰى كَلِمَتِكَ وَرُوْحِكَ وَبِتَوْرَاةِ مُوْسٰى وَإِنْجِيْلِ عِيْسٰى وَزَبُوْرِ دَاوُدَ وَفُرْقَانِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ ….. الْحَدِيْثَ

“Rasulullah e mengajarkan doa kepada Abu Bakar al-Shiddiq: Ya Allah. Saya meminta kepada-Mu dengan Muhammad Nabi-Mu, Ibrahim kekasih-Mu, Musa yang Engkau selamatkan, Isa kalimat dan yang Engkau tiupkan ruh-Mu, dan dengan Taurat Musa, Injil Isa, Zabur Dawud dan al-Quran Muhammad. Semoga Allah memberi shalawat dan salam kepada semuanya….”.

Hadits ini dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’, dan al-Hafidz Zainuddin al-Iraqi mengo-mentari status hadis di atas:

فِي الدُّعَاءِ لِحِفْظِ الْقُرْآنِ رَوَاهُ أَبُوْ الشَّيْخِ ابْنُ حِبَّانَ فِي كِتَابِ الثَّوَابِ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ هَارُوْنَ بْنِ عَبْثَرَةَ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ إِنِّيْ أَتَعَلَّمُ الْقُرْآنَ وَيَنْفَلِتُ مِنِّيْ فَذَكَرَهُ وَعَبْدُ الْمَلِكِ وَأَبُوْهُ ضَعِيْفَانِ وَهُوَ مُنْقَطِعٌ بَيْنَ هَارُوْنَ وَأَبِيْ بَكْرٍ )تخريج أحاديث الإحياء ۳/۳۹(

“Hadits tersebut adalah doa untuk menghafal Al Quran, diriwayatkan oleh Abu Syaikh Ibnu Hibban dalam kitab al-Tsawab dari Abdul Malik bin Harun bin ‘Abtsarah, dari bapaknya bahwa Abu Bakar datang kepada Nabi untuk mempelajari Al Quran…. Abdul Malik dan bapaknya adalah dlaif, dan hadis ini terputus antara Harun dan Abu Bakar" (Takhrij Ahadits al-Ihya’, III/39)

Kendatipun hadits ini dla’if, namun tetap diperbolehkan untuk diamalkan. Sebab beberapa hadits sahih menjelaskan tentang tawassul, sehingga hadis ini masuk ke dalam koridor tersebut. Karena diantara syarat mengamalkan hadits dla’if adalah tidak bertentangan dengan dalil Al Quran maupun hadits sahih, sebagaimana telah diketahui dalam ilmu hadis.

Dengan demikian, bertawassul dengan orang yang telah wafat diperbolehkan, karena Rasulullah e dalam dua hadits di atas bertawassul dengan para nabi sebelum beliau yang kesemuanya telah wafat kecuali Nabi Isa u.

Rasulullah e Mengajarkan Tawassul

Ternyata tawassul tidak hanya diperbolehkan saja, namun pernah diajarkan oleh Rasulullah yang berarti menunjukkan makna sunnah. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut ini:

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ t أَنَّ رَجُلاً ضَرِيْرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ عَلِّمْنِيْ دُعَاءً أَدْعُوْ بِهِ يَرُدُّ اللهُ عَلَيَّ بَصَرِيْ، فَقَالَ لَهُ قُلِ اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ قَدْ تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلٰى رَبِّيْ أَللّٰهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ وَشَفِّعْنِيْ فِيْ نَفْسِيْ فَدَعَا بِهٰذَا الدُّعَاءِ فَقَامَ وَقَدْ أَبْصَرَ

“Dari Utsman bin Hunaif: “Suatu hari seorang yang buta datang kepada Rasulullah e berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkan saya sebuah doa yang akan saya baca agar Allah mengembalikan penglihatan saya”. Rasulullah berkata: “Bacalah doa (artinya): “Ya Allah sesungguhnya aku meminta-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta Tuhanmu melaluimu agar dibukakan mataku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku syafaat. Kemudian ia berdoa dengan doa tersebut, ia berdiri dan telah bisa melihat”. (HR. Hakim dalam al-Mustadrak).

Beliau mengatakan bahwa hadits ini adalah shahih dari segi sanad walaupun Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkan dalam kitabnya. Imam Dzahabi mengatakatan bahwa hadits ini adalah shahih, demikian juga Imam Turmudzi dalam kitab Sunannya bab Daa’wat mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan shahih gharib.

Dalam riwayat Turmudzi disebutkan bahwa Utsman berkata: “Demi Allah kami belum lagi bubar dan belum juga lama pembicaraan kami, orang itu telah datang kembali dengan segar bugar”.

Dan Imam Mundziri dalam kitabnya at-Targhib Wa at-Tarhib, 1/438, mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Nasai, Ibnu Majah dan Imam Khuzaimah dalam kitab shahihnya).

Ada dua hal yang dapat diambil kesimpulan dari hadits ini, bahwa:

1. Doa tersebut memang benar-benar dibaca oleh orang yang buta, bukan didoakan oleh Rasulullah e. Sementara Nasiruddin al-Albani (ulama Wahhabi) berpendapat bahwa orang buta tadi sembuh karena didoakan oleh Rasulullah. Pendapat ini sama sekali tidak ada dasarnya dan bertentangan dengan riwayat al-Hakim diatas. Hal ini dikarenakan setelah al-Albani tidak mampu melemahkan hadits ini secara sanad, lantas al-Albani dan kelompoknya berupaya untuk mengaburkan makna teks hadits tersebut dengan menyatakan bahwa doa itu dibacakan oleh Rasulullah. Hali itu dilakukan karena ia telah terlanjur melarang tawassul, sehingga ia memalingkan makna hadits di atas dengan berdasarkan nafsunya.

2. Rasulullah mengajarkan doa bertawassul dengan menyebut nama beliau di atas tidak hanya berlaku bagi orang buta tersebut dan di masa Rasul hidup saja, sebab Rasulullah tidak membatasinya. Dan seandainya tawassul setelah Rasulullah wafat dilarang, maka sudah pasti Rasulullah akan melarangnya dan menyatakan bahwa doa ini hanya boleh dibaca oleh orang buta tersebut ketika Rasul masih hidup, sebagaimana dalam masalah penyembelihan hewan qurban yang hanya dikhususkan kepada Abu Burdah saja, yaitu sabda Rasulullah e:

ضَحِّ بِالْجَذَعِ مِنَ الْمَعْزِ وَلَنْ تَجْزِئَ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ )رواه البخارى ومسلم عن أبى سعيد الخذرى(

“Sembelihlah kambing usia satu tahun itu, dan hal itu tidak berlaku lagi bagi orang lain selain kamu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abi Sa’id al-Khudri)

Shahabat Mengajarkan Tawassul

1. Utsman bin Hunaif

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ t أَنَّ رَجُلاً كَانَ يَخْتَلِفُ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ t فِيْ حَاجَتِهِ وَكَانَ عُثْمَانُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِ وَلَا يَنْظُرُ فِيْ حَاجَتِهِ فَلَقِيَ ابْنَ حُنَيْفٍ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَيْهِ فَقَالَ لَهُ عُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ ائْتِ الْمِيْضَأَةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ ائْتِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَيَقْضِيْ لِيْ حَاجَتِيْ وَتَذْكُرُ حَاجَتَكَ حَتَّى أَرْوَحَ مَعَكَ، فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ فَصَنَعَ مَا قَالَ لَهُ ثُمَّ أَتَى بَابَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ t فَجَاءَهُ الْبَوَّابُ حَتَّى أَخَذَ بِيَدِهِ فَأَدْخَلَهُ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَأَجْلَسَهُ مَعَهُ عَلَى الطِّنْفِسَةِ فَقَالَ حَاجَتُكَ فَذَكَرَ حَاجَتَهُ وَقَضَاهَا لَهُ )رواه الطبرانى فى المعجم الكبير والبيهقى في دلائل النبوة(

“Diriwayatkan dari Utsman bin Hunaif (perawi hadis yang menyaksikan orang buta bertawassul kepada Rasulullah) bahwa ada seorang laki-laki datang kepada (Khalifah) Utsman bin Affan untuk memenuhi hajatnya, namun sayidina Utsman tidak menoleh ke arahnya dan tidak memperhatikan kebutuhannya. Kemudian ia bertemu dengan Utsman bin Hunaif (perawi) dan mengadu kepadanya. Utsman bin Hunaif berkata: Ambillah air wudlu’ kemudian masuklah ke masjid, salatlah dua rakaat dan bacalah: “Ya Allah sesungguhnya aku meminta-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui nabi-Mu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta Tuhanmu melaluimu agar hajatku dikabukan. Sebutlah apa kebutuhanmu”. Lalu lelaki tadi melakukan apa yang dikatakan oleh Utsman bin Hunaif dan ia memasuki pintu (Khalifah) Utsman bin Affan. Maka para penjaga memegang tangannya dan dibawa masuk ke hadapan Utsman bin Affan dan diletakkan di tempat duduk. Utsman bin Affan berkata: Apa hajatmu? Lelaki tersebut menyampaikan hajatnya, dan Utsman bin Affan memutuskan permasalahannya”. (HR. Al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah)

Ulama Ahli hadits al-Hafidz al-Haitsami berkata:

وَقَدْ قَالَ الطَّبْرَانِيُّ عَقِبَهُ وَالْحَدِيْثُ صَحِيْحٌ بَعْدَ ذِكْرِ طُرُقِهِ الَّتِيْ رَوٰى بِهَا )مجمع الزوائد ومنبع الفوائد ۲/۵۶۵(

“Dan sungguh al-Thabrani berkata (setelah al-Thabrani menyebut semua jalur riwayatnya): Riwayat ini sahih”. (Majma’ al-Zawaid, II/565)

Perawi hadits ini, Utsman bin Hunaif, telah mengajarkan tawassul kepada orang lain setelah Rasulullah e wafat. Dan kalaulah tawassul kepada Rasulullah dilarang atau bahkan dihukumi syirik maka tidak mungkin seorang sahabat akan mengajarkan hal-hal yang menyimpang dari ajaran Rasulullah e, karena ia hidup di kurun waktu terbaik, yaitu sebagai sahabat Nabi.

Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki berkata:

هَذِهِ الْقِصَّةُ صَحَّحَهَا الْحَافِظُ الطَّبْرَانِيُّ وَالْحَافِظُ اَبُوْ عَبْدِ اللهِ الْمَقْدِسِيِّ وَنَقَلَ ذَلِكَ التَّصْحِيْحَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ وَالْحَافِظُ نُوْرُ الدِّيْنِ الْهَيْثَمِيُّ )كلمة فى التوسل ۷(

“Kisah ini disahihkan oleh al-Hafidz al-Thabrani dan al-Hafidz Abu Abdillah al-Maqdisi, dikutip oleh al-Hafidz al-Mundziri dan al-Hafidz Nuruddin al-Haitsami”. (Kalimat fi al-Tawassul, 7)

Ibnu Taimiyah mengutip doa tawassul seperti diatas dan ia mengatakan bahwa ulama salaf membacanya, yaitu:

رَوَى ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا فِيْ كِتَابِ مُجَابِي الدُّعَاءِ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُوْ هَاشِمٍ سَمِعْتُ كَثِيْرَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ كَثِيْرِ بْنِ رِفَاعَةَ يَقُوْلُ جَاءَ رَجُلٌ إلَى عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيْدِ بْنِ أَبْجَرَ فَجَسَّ بَطْنَهُ فَقَالَ بِكَ دَاءٌ لَا يَبْرَأُ. قَالَ مَا هُوَ؟ قَالَ الدُّبَيْلَةُ. قَالَ فَتَحَوَّلَ الرَّجُلُ فَقَالَ اللهَ اللهَ اللهَ رَبِّيْ لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا اللّٰهُمَّ إنِّيْ أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ صلى الله عليه وسلم تَسْلِيْمًا يَا مُحَمَّدُ إنِّيْ أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ وَرَبِّيْ يَرْحَمُنِيْ مِمَّا بِيْ. قَالَ فَجَسَّ بَطْنَهُ فَقَالَ قَدْ بَرِئَتْ مَا بِكَ عِلَّةٌ. قُلْتُ فَهَذَا الدُّعَاءُ وَنَحْوُهُ قَدْ رُوِيَ أَنَّهُ دَعَا بِهِ السَّلَفُ وَنُقِلَ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِيْ مَنْسَكِ الْمَرْوَذِيِّ التَّوَسُّلُ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي الدُّعَاءِ وَنَهَى عَنْهُ آخَرُوْنَ )مجموع الفتاوى ۱/۲۶۴ وقاعدة جليلة في التوسل والوسيلة ۲/۱۹۹(

“Ibnu Abi al-Dunya meriwayatkan dari Katsir bin Muhammad, Ada seorang laki-laki datang ke Abdul Malik bin Said bin Abjar. Abdul Malik memegang perutnya dan berkata: “Kamu mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan”. Lelaki itu bertanya: “Penyakit apa?” Ia menjawab: “Penyakit dubailah (semacam tumor dalam perut)”. Kemudian laki-laki tersebut berpaling dan berdoa: “Allah Allah Allah.. Tuhanku, tiada suatu apapun yang yang menyekutuinya. Ya Allah, saya menghadap kepadaMu dengan nabiMu Muhammad Nabi yang rahmah Saw. Wahai Muhammad saya menghadap pada Tuhanmu denganmu (agar) Tuhanku menyembuhkan penyakitku”. Lalu Abdul Malik memegang lagi perutnya dan ia berkata: “Penyakitmu telah sembuh”. Saya (Ibnu Taimiyah) berkata: “Doa semacam ini diriwayatkan telah dibaca oleh ulama salaf, dan diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal dalam al-Mansak al-Marwadzi bahwa beliau bertawassul dengan Rasulullah dalam doanya. Namun ulama yang lain melarang tawassul”. (Majmu’ al-Fatawa, I/264, dan al-Tawassul wa al-Wasilah, II/199)

2. Bilal bin Haris al-Muzani

وَرَوَى اِبْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ مِنْ رِوَايَةِ أَبِيْ صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ مَالِك الدَّارِيِّ – وَكَانَ خَازِنَ عُمَرَ – قَالَ أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِيْ زَمَنِ عُمَرَ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا فَأَتَى الرَّجُلَ فِيْ الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهُ اِئْتِ عُمَرَ … الْحَدِيْثَ. وَقَدْ رَوَى سَيْفٌ فِي الْفُتُوْحِ أَنَّ الَّذِيْ رَأَى الْمَنَامَ الْمَذْكُورَ هُوَ بِلَالُ بْنُ الْحَارِثِ الْمُزَنِيُّ أَحَدُ الصَّحَابَةِ )ابن حجر فتح الباري ۳/۴۴۱ وابن عساكر تاريخ دمشق ۵۶/۴۸۹(

“Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan hadis dengan sanad yang sahih dari Abi Shaleh Samman, dari Malik al-Dari (Bendahara Umar), ia berkata: Telah terjadi musim kemarau di masa Umar, kemudia ada seorang laki-laki (Bilal bin Haris al-Muzani) ke makam Rasulullah Saw, ia berkata: Ya Rasullah, mintakanlah hujan untuk umatmu, sebab mereka akan binasa. Kemudian Rasulullah datang kepada lelaki tadi dalam mimpinya, beliau berkata: Datangilah Umar…. Saif meriwayatkan dalam kitab al-Futuh lelaki tersebut adalah Bilal bin Haris al-Muzani salah satu Sahabat Rasulullah”. (Ibnu Hajar, Fathul Bari, III/441, dan Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyqi, 56/489)

Bentuk tawassul dalam riwayat ini adalah seruan memanggil nama Rasulullah dan meminta pertolongan kepada beliau. Sementara menurut al-Albani dan aliran Wahhabi, menyeru kepada orang yang telah meninggal dihukumi syirik. Padahal umat Islam senantiasa berseru kepada Rasulullah e setiap kali melakukan tachiyat dalam salat:

السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ )أخرجه ابن ماجه ۹۰۲ والنسائي ۲/۲۴۳ قال الدارقطني والبيهقي إسناده صحيح(

“Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah atas dirimu wahai Nabi. Dan semoga keselamatan atas kami serta para hamba yang salih”.

3. Aisyah Istri Rasulullah e

حَدَّثَنَا أَبُوْ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَالِكٍ النُّكْرِي حَدَّثَنَا أَوْسُ بْنُ عَبْدِ اللهِ قُحِطَ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ قَحْطاً شَدِيْداً، فَشَكَوْا إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ انْظُرُوْا قَبْرَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَاجْعَلُوْا مِنْهُ كِوًى إِلَى السَّمَاءِ حَتَّى لَا يَكُوْنَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ. قَالَ فَفَعَلُوْا فَمُطِرْنَا مَطَراً حَتَّى نَبَتَ الْعُشْبُ وَسَمِنَتِ الْإِبِلُ حَتَّى تَفَتَّقَتْ مِنَ الشَّحْمِ فَسُمِّىَ عَامَ الْفَتْقِ )رواه الدارمي(

“Dari Aus bin Abdullah: “Suatu hari kota Madinah mengalami kemarau panjang, lalu datanglah penduduk Madinah ke Aisyah (janda Rasulullah e) mengadu tentang kesulitan tersebut, lalu Aisyah berkata: “Lihatlah kubur Nabi Muhammad e lalu bukalah sehingga tidak ada lagi atap yang menutupinya dan langit terlihat langsung”, lantas mereka pun melakukan itu kemudian turunlah hujan lebat sehingga rumput-rumput tumbuh dan onta pun gemuk, maka disebutlah itu tahun gemuk”. (HR. Imam Darimi)

Kitab Musnad as-Shahabah menjelas-kan status atsar di atas sebagai berikut:

قَالَ الشَّيْخُ حُسَيْنٌ أَسَدٌ رِجَالُهُ ثِقَاتٌ وَهُوَ مَوْقُوْفٌ عَلَى عَائِشَةَ )مسند الصحابة في الكتب التسعة ۱۳/۷۶(

“Syaikh Husain berkata: “Perawinya adalah orang-orang terpercaya”. Riwayat tersebut bersumber dari Aisyah”. (Musnad al-Shahabat, XIII/76)

Sayid Muhammad bin Alawy mentakhrij riwayat diatas:

اَمَّا اَبُوْ النُّعْمَانِ فَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ الْمُلَقَّبُ بِعَارِمٍ شَيْخُ الْبُخَارِيِّ، قَالَ الْحَافِظُ فِى التَّقْرِيْبِ ثِقَةٌ ثَبْتٌ تَغَيَّرَ فِىْ اَخِرِ عُمْرِهِ وَهَذَا لَا يَضُرُّهُ وَلَا يَقْدَحُ فِىْ رِوَايَتِهِ لِاَنَّ الْبُخَارِيَ رَوٰى لَهُ فِى صَحِيْحِهِ اَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ حَدِيْثٍ. وَاَمَّا سَعِيْدُ بْنُ زَيْدٍ فَهُوَ صَدُوْقٌ لَهُ اَوْهَامٌ وَكَذٰلِكَ حَالُ عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ النُّكْرِيِّ كَمَا قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ عَنْهُمَا فِى التَّقْرِيْبِ وَقَدْ قَرَّرَ الْعُلَمَاءُ بِأَنَّ هٰذِهِ الصِّيْغَةَ وَهِيَ صَدُوْقٌ يُهِمُّ مِنْ صِيَغِ التَّوْثِيْقِ لَا مِنْ صِيَغِ التَّضْعِيْفِ كَمَا فِى تَدْرِيْبِ الرَّاوِي. وَاَمَّا اَبُوْ الْجَوْزَاءِ فَهُوَ اَوْسُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الرِّبْعِيِّ وَهُوَ ثِقَةٌ مِنْ رِجَالِ الصَّحِيْحَيْنِ. فَهُوَ سَنَدٌ لَا بَأْسَ بِهِ بَلْ هُوَ جَيِّدٌ عِنْدِيْ )كلمة فى التوسل ۱۳(

“Abu Nu’man adalah Muhammad bin Fadl yang bergelar Arim adalah guru al-Bukhari, al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya dalam kitab Taqrib sebagai orang terpercaya dan kokoh namun ada perubahan dalam akhir umurnya. Tetapi hal ini tidak mempengaruhi riwayatnya karena al-Bukhari telah mengutip dalam kitab Sahihnya lebih dari 100 hadis. Adapun Said bin Zaid dan Amr bin Malik al-Nukri dinilai oleh al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya dalam kitab Taqrib sebagai orang yang sangat jujur namun memiliki praduga-praduga. Redaksi seperti ini adalah bentuk penilaian positif bukan penilaian melemahkan, sebagaimana dalam kitab Tadrib al-Rawi (Jalaluddin al-Suyuthi). Sedangkan Abu al-Jauza’ adalah Aus bin Abdillah al-Rib’i, ia adalah orang terpercaya dan perawi hadis al-Bukhari dan Muslim. Dengan demikian, sanad riwayat ini tidak lemah justru sanad yang bagus bagi saya”. (Kalimat fi al-Tawassul, 13)

Tawassul Kepada Rasulullah e Sebelum Lahir

Imam Hakim an-Naisabur meriwayatkan dari Umar berkata, bahwa Nabi bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمُ الْخَطِيْئَةَ قَالَ يَا رَبِّىْ إِنِّىْ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِىْ، فَقَالَ اللهُ: يَا آدَمُ كَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أَخْلُقْهُ؟ قَالَ: يَا رَبِّى لِأَنَّكَ لَمَّا خَلَقْتَنِىْ بِيَدِكَ وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأْسِىْ فَرَأَيْتُ عَلَى قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوْبًا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ فَعَلِمْتُ أَنَّكَ لَمْ تُضِفْ إِلَى اسْمِكَ إِلَّا أَحَبَّ الْخَلْقِ إِلَيْكَ، فَقَالَ اللهُ: صَدَقْتَ يَا آدَمُ إِنَّهُ لَأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَيَّ اُدْعُنِى بِحَقِّهِ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ وَلَوْلَا مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ (أخرجه الحاكم فى المستدرك وصححه ۲/۶۱۵)

“Rasulullah e bersabda: “Ketika Adam melakukan kesalahan, lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku memintaMu melalui Muhammad agar Kau ampuni diriku”. Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, darimana engkau tahu Muhammad padahal belum Aku ciptakan?” Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, ketika Engkau ciptakan diriku dengan kekuasaan-Mu dan Engkau hembuskan ke dalamku sebagian dari ruh-Mu, maka aku angkat kepalaku dan aku melihat di atas tiang-tiang Arash tertulis kalimat “Laa ilaaha illallaah muhamadur rasulullah” maka aku mengerti bahwa Engkau tidak akan mencantumkan sesuatu dengan nama-Mu kecuali nama mahluk yang paling Engkau cintai”. Allah menjawab: “Benar Adam, sesungguhnya ia adalah mahluk yang paling Aku cintai, bredoalah dengan melaluinya maka Aku telah mengampunimu, dan andaikan tidak ada Muhammad maka tidaklah Aku menciptakanmu”. (HR. Hakim dan ia berkata bahwa hadits ini adalah shahih dari segi sanadnya)

Demikian juga pernyataan Imam Baihaqi dalam kitabnya Dalail An-Nubuwwah, Imam al-Qasthalany dalam kitabnya Al-Mawahib, 2/392, Imam Zarqani dalam kitab Syarkhu Al-Mawahib Laduniyyah, 1/62, Imam Subuki dalam kitabnya Shifa As-Saqam, dan Imam Suyuti dalam kitabnya Khasais An-Nubuwah, mereka semua mengatakan bahwa hadits ini adalah shahih.

Tawassul Kepada Rasulullah e Sebelum Menjadi Rasul

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dari sahabat Ibnu Abbas dinyatakan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَتْ يَهُوْدُ خَيْبَرَ تُقَاتِلُ غَطَفَانَ فَكُلَّمَا الْتَقَوْا هَزَمَتْ يَهُوْدُ خَيْبَرَ فَعَاذَتِ الْيَهُوْدُ بِهٰذَا الدُّعَاءِ اللّٰهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِيْ وَعَدْتَنَا أَنْ تُخْرِجَهُ لَنَا فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ أَلَّا نَصَرْتَنَا عَلَيْهِمْ، قَالَ: فَكَانُوْا إِذَا الْتَقَوْا دَعَوْا بِهٰذَا الدُّعَاءِ فَهَزَمُوْا غَطَفَانَ فَلَمَّا بُعِثَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم كَفَرُوْا بِهِ فَأَنْزَلَ اللهُ وَقَدْ كَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ بِكَ يَا مُحَمَّدُ عَلَى الْكَافِرِيْنَ )رواه الحاكم وقال وهو غريب(

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Yahudi Khaibar berperang dengan Kabilah Ghathafan. Setiap bertemu dalam peperang-an, orang Yahudi selalu lari dan meminta pertolongan dengan berdoa: “Kami meminta kepada-Mu dengan Haq (kedudukan) Muhammad seorang Nabi yang Ummi, yang Engkau janjikan kepada kami untuk diutus di akhir zaman, hendaklah Engkau menolong kami”. Maka setiap berperang, Yahudi Khaibar selalu berdoa dengan doa ini sehingga berhasil memukul mundur pasukan Ghathafan. Dan ketika Rasulullah diutus, mereka kufur terhadapnya. Kemudian Allah menurunkan ayat 89 surat al-Baqarah tersebut”. (HR. Hakim, dia mengatakan hadits ini asing)

Kendatipun al-Hakim menyebutkan bahwa riwayat ini adalah ghorib (asing) yang tergolong hadis perorangan (الأحد), namun banyak ahli tafsir yang menjadikannya sebagai asbab al-nuzul (sebab turun) dari ayat di atas seperti al-Razi dalam tafsir kabir Mafatih al-Ghaib, al-Zamakhsyari dalam al-Kasyaf dan sebagainya. Bahkan Abu Abdurrahman Muqbil, setelah mengutip riwayat ini dari Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam, berkata:

وَهُوَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ فَإِنَّ ابْنَ إِسْحَاقَ إِذَا صَرَّحَ بِالتَّحْدِيْثِ فَحَدِيْثُهُ حَسَنٌ كَمَا ذَكَرَهُ الْحَافِظُ الذَّهَبِيُّ فِي الْمِيْزَانِ.

“Hadits ini adalah hadits Hasan. Sebab apabila Ibnu Ishaq menjelaskan tentang hadits, maka haditsnya berstatus Hasan, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidz al-Dzahabi dalam kitab al-Mizan”. (Al-Shahih al-Musnad min Asbab al-Nuzul, I/22)

Berikut ini adalah pernyataan al-Razi dan Zamakhsyari tentang ayat di atas:

أَمَّا قَوْلُهُ تَعَالٰى (وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْا) فَفِي سَبَبِ النُّزُوْلِ وُجُوْهٌ أَحَدُهَا أَنَّ الْيَهُوْدَ مِنْ قَبْلِ مَبْعَثِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَنُزُوْلِ الْقُرْآنِ كَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ أَيْ يَسْأَلُوْنَ الْفَتْحَ وَالنُّصْرَةَ وَكَانُوْا يَقُوْلُوْنَ اللّٰهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا وَانْصُرْنَا بِالنَّبِيِّ الْأُمِّيِّ )تفسير الرازي مفاتيح الغيب ۳/۱۶۴(

“Sebab turunnya ayat ini (al-Baqarah 89) ada banyak versi, salah satunya bahwa Yahudi sebelum diutusnya Nabi Muhammad dan turunnya Al Quran, senantiasa meminta kemenangan dan pertolongan. Mereka berkata: “Ya Allah. Berilah kami kemenangan dan pertolongan dengan Nabi yang Ummi (Muhammad)”. (Tafsir al-Razi, III/164)

(يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوْا) يَسْتَنْصِرُوْنَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ إِذَا قَاتَلُوْهُمْ قَالُوْا اللّٰهُمَّ انْصُرْنَا بِالنَّبِيِّ الْمَبْعُوْثِ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ الَّذِيْ نَجِدُ نَعْتَهُ وَصِفَتَهُ فِي التَّوْرَاةِ )تفسير الكشاف للزمخشري ۱/۱۶۴(

“Yahudi meminta pertolongan dalam menghadapi kaum musyrikin. Saat berperang Yahudi berdoa: “Ya Allah. Tolonglah kami dengan seorang Nabi yang akan diutus di akhir zaman yang telah kami temukan ciri-ciri dan sifatnya dalam Taurat”. (Tafsir al-Kasyaf, I/164)

Tawassul Kepada Rasulullah e Setelah Wafat

Walaupun Rasulullah e wafat, umat Islam meyakini bahwa Rasulullah tetap bisa mendoakan kepada umatnya. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits:

قَالَ صلى الله عليه وسلم حَيَاتِي خَيْرٌ وَمَمَاتِيْ خَيْرٌ لَكُمْ فَإِذَا أَنَا مُتُّ كَانَتْ وَفَاتِيْ خَيْرًا لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَيَّ أَعْمَالُكُمْ فَإِنْ رَأَيْتُ خَيْرًا حَمِدْتُ اللهَ تَعَالٰى وَإِنْ رَأَيْتُ شَرًّا اِسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ )رواه ابن سعد عن بكر بن عبد الله مرسلا(

“Hidupku lebih baik dan matiku juga lebih baik bagi kalian. Jika aku wafat maka kematianku lebih baik bagi kalian. Amal-amal kalian diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat amal baik, maka aku memuji kepada Allah. Dan jika aku melihat aml buruk, maka aku mintakan ampunan bagimu kepada Allah”. (HR. Ibnu Sa’d dari Bakar bin Abdullah secara mursal)

Terkait penilaian hadits ini al-Munawi berkata:

وَرَوَاهُ الْبَزَّارُ مِنْ حَدِيْثِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ الْهَيْثَمِي وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيْحِ )فيض القدير شرح الجامع الصغير ۳/۵۳۲(

“Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bazzar dari Ibnu Mas’ud. Al-Haitsami berkata: “Perawinya adalah perawi-perawi yang sahih”. (Faidl al-Qadir Syarah al-Jami’ al-Shaghir, III/532)

Oleh karena itu, banyak para sahabat yang mengajarkan tawassul kepada Rasulullah e setelah beliau wafat, seperti Utsman bin Hunaif, Bilal bin Haris al-Muzani, Aisyah dan lain-lain. Bahkan penjelasan bahwa orang-orang tertentu (masih hidup) meskipun telah wafat, dijelaskan langsung oleh Allah dalam al-Quran:

وَلَا تَقُوْلُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبيْلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ )البقرة: ۱۵۴(

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. (Al-Baqarah:154)

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ ﴿أل عمران ۱۶۹﴾

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki”. (Ali Imran 169)

Rasulullah e Sebagai Wasilah

Kisah ini berdasarkan riwayat hadits yang sangat panjang. Ringkasnya, ada seorang paranormal bernama Sawad bin Qarib, selama beberapa malam ia bermimpi masuk agama Islam, yang pada akhirnya ia datang ke Rasulullah e dan melantunkan beberapa syair yang diantaranya adalah sebagai berikut:

فَأَشْهَدُ أَنَّ اللهَ لَا رَبَّ غَيْرَهُ % وَأَنَّكَ مَأْمُوْنٌ عَلَى كُلِّ غَالِبٍ

وَأَنَّكَ أَدْنَى الْمُرْسَلِيْنَ وَسِيْلَةً %إِلَى اللهِ يَا ابْنَ الْأَكْرَمِيْنَ الْأَطَائِبِ

وَكُنْ لِيْ شَفِيْعًا يَوْمَ لَا ذُوْ شَفَاعَةٍ % سِوَاكَ بِمُغْنٍ عَنْ سَوَادِ بْنِ قَارِبٍ

“Maka, aku bersaksi bahwa Allah, tiada tuhan selain Ia. Dan sesungguhnya engkau orang terpercaya atas segala kemenangan. Dan seseungguhnya engkau (Muhammad) adalah wasilah yang terdekat kepada Allah. Wahai putra orang-orang mulia nan baik. Jadilah engkau sebagai penolong bagiku saat tiada yang dapat memiliki pertolongan. Selain engkau tiada dibutuhkan oleh Sawad bin Qarib”.

فَفَرِحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابُهُ بِإِسْلَامِيْ فَرْحًا شَدِيْدًا حَتَّى رُئِيَ فِي وُجُوْهِهِمْ، قَالَ: فَوَثَبَ عُمَرُ فَالْتَزَمَهُ وَقَالَ قَدْ كُنْتُ أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَ هَذَا مِنْكَ

“Sawad bin Qarib berkata: “Rasulullah dan para sahabat sangat senang dengan keislaman saya. Kemudian Umar melompat dan merangkulnya. Umar berkata: “Sungguh aku senang mendengar ini darimu”.

Kisah di atas dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir (7/299)/(4/168 Isa al-Halabi Mesir), al-Mustadrak (15/227), al-Kabir Thabrani/ Ahadits Thiwal (1/75), Dalail Nubuwah li al-Baihaqi (1/132), Dalail Nubuwah Abu Nuaim (1/74), Funun Ajaib Abi Said Naqqasy (1/84), Sirah Nabawiyah Ibnu Katsir (1/346), Mu’jam Abi Ya’la Al Mushili (1/348), Uyunul Atsar Ibn Sayydinnas (1/102), Subulul Huda War Rasyad Shalihi Syami (2/209), Al Wafi bil Wafiyat Abu Fayyadl (5/175), Al Isti’ab fi Ma’rifat Ashhab (1/104), Tafsir Adlwa’ al Bayan Al Hafidz Zuhair bin Harb Nasa’i/Ta’liq Al Albani (3/445) Tafsir Nukat Wa Uyun (4/336).

Rasulullah dan para sahabat tidak mengingkari bahwa Rasulullah adalah wasilah yang paling utama. Kalau hal ini salah maka sudah pasti Rasulullah dan para sahabat akan mengatakan salah. Sehingga hadits ini disebut taqrir (ketetapan) karena disetujui dan diakui oleh Rasulullah sendiri. Dan seandainya status wasilah Rasulullah hanya berlaku ketika beliau masih hidup, maka sudah pasti Rasulullah akan berkata semisal: “Ingat, aku hanya sebagai wasilah ketika aku masih hidup saja! Atau: Jika bertawassul tidak boleh dengan dzat saya, tapi dengan doa saya!” Tetapi nyatanya Rasulullah mengakuinya dan tidak memberi batasan. Karenanya dalam kaidah Ushul fiqh dikatakan:

اِنَّ الْبَيَانَ لاَ يُؤَخَّرُ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ

“Penjelasan tentang hukum tidak boleh ditunda di saat penjelasan itu dibutuhkan”. (Al-Talkhish fi Ushul al-Fiqh, II/208)

Lalu dari mana pihak yang anti tawassul melarang Rasulullah dijadikan sebagai wasilah setelah beliau wafat, padahal beliau sendiri tidak pernah menyatakan demikian?

Sumber: Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah – KTB (PISS-KTB)

22 March 2015 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | | Leave a comment

BEZA ULAMA DAN ORANG YANG JAHIL DALAM MEMAHAMI AL QURAN

Saya ingin berkongsi sedikit perbincangan yang wujud dalam kelas selepas Subuh bersama Fadhilatus Syaikh Hafizahullah agar kita dapat menilai pihak yang mengutuk dan pihak yang dikutuk.

Seorang pelajar bertanya kepada Fadhilatus Syaikh ; "Apakah cara yang benar untuk memahami agama ini dan memahami Al-Qur’an dan Hadith?"

Fadhilatus Syaikh menjawab :

"Baik,sebutkan kepadaku apa yang engkau faham dari ayat

[وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الأَلْوَاحَ]

pada perkataan "wa alqa al-alwah"?

(Ayat yang menceritakan tentang Nabi Musa Alaihis Salam pulang dari bermunajat lalu melihat kaum Baginda menyembah berhala)

Pelajar itu menjawab : "Ayat ini bermakna Nabi Musa AlaihisSalam telah melempar lembaran wahyu yang dipegangnya akibat terlalu marah dengan perlakuan kaum Baginda"

Mendengar jawapan dari pelajar tersebut,Fadhilatus Syaikh menerangkan secara panjang lebar :

"Apabila engkau mentafsirkan perkataan أَلْقَى dengan makna melempar atau menghempas,ketika itu engkau telah melakukan kesalahan yang amat besar dalam memahami kalaamullah.

Lembaran wahyu itu mengandungi kandungan Taurat.

Taurat adalah kitab suci.

Kefahaman engkau bahawa Saidina Musa melempar dan mencampakkan kitab suci akibat terlalu marah mengandungi kesalahan yang amat besar.

Pertamanya ia bercanggah dengan perkara pokok dalam agama iaitu Para Nabi adalah Maksum.

Maksum bererti terpelihara dari melakukan sebarang perkara terlarang dalam syariat,walaupun hanya sekadar khilaf aula.

Perbuatan melemparkan lembaran suci adalah haram hukumnya.

Bagaimana engkau boleh faham bahawa Saidina Musa melemparkan lembaran wahyu yang suci itu?

Kemudiannya,engkau cuba pula untuk merasionalkan kefahaman engkau itu dengan berkata perbuatan itu dilakukan kerana Saidina Musa terlampau marah ketika itu.

Kefahaman ini lebih berat kerana engkau mengatakan bahawa Saidina Musa dapat ditewaskan oleh perasaan marah,sehingga melakukan perkara yang dilarang syarak,sedangkan kita dapat lihat orang-orang soleh biasa mampu mengawal marah mereka. Kefahaman sebegini amat-amat bercanggah dengan persoalan maksumnya para Nabi.

Oleh itu,cara yang benar untuk memahami ayat ini dengan betul adalah dengan kita mestilah menghimpunkan terlebih dahulu kesemua ayat dan hadith yang menyebut lafaz أَلْقَى lalu kita teliti penggunaannya.

Kita perlu lihat apakah makna lafaz ini dalam penggunaan bahasa Arab yang fasih.

Apabila kita melihat kamus-kamus utama bahasa arab,kita akan mendapati perkataan أَلْقَى membawa makna "meletakkan sesuatu dalam keadaan tenang".

Apabila kita menghimpunkan ayat Al-Qur’an yang menyebut perkataan أَلْقَى sebagai contoh ayat yang menyebutkan tentang Ibu Saidina Musa ingin menyelamatkan anaknya yang baru dilahirkan dari buruan Firaun :

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ .

Adakah lafaz "فَأَلْقِيهِ" di sini bermaksud "lempar dan campaklah anakmu itu ke sungai"?

Tentu sekali tidak dapat digambarkan bahawa seorang ibu yang penyayang yang ingin memastikan keselamatan anaknya akan melempar dan mencampakkan anaknya ke dalam sungai itu.

Pastinya makna yang tepat bagi lafaz itu adalah "letakkanlah anakmu itu dengan baik di sungai.."

Kemudian Fadhilatus Syaikh menghimpun dan menyebutkan ayat-ayat lain satu persatu (sekitar 10 ayat dan hadith) yang mengandungi perkataan الإلقاء untuk menjelaskan maksud sebenar dari perkataan tersebut yang mana akhirnya membuatkan kami semua yang hadir dapat faham makna sebenar bagi lafaz أَلْقَى yang disebut dalam kisah Nabi Musa setelah pulang dari bermunajat dengan Allah tersebut.

Fadhilatus Syaikh menegaskan lagi bahawa adalah menjadi satu kesalahan yang besar apabila kita cuba mentafsir dan memahami ayat Al-Qur’an dengan berpandukan penggunaan semasa di zaman kita bagi lafaz tertentu dengan mengabaikan makna asal dalam penggunaan bahasa arab.

Sebagai contoh perkataan أَلْقَى tersebut yang biasanya diguna pada zaman kita dengan makna يرمي yakni melempar dan menghempas,sedangkan makna asalnya berlainan dengan penggunaan hari ini.

Akhirnya,Fadhilatus Syaikh menekankan 4 syarat utama dalam memahami sebarang Ayat Al-Qur’an,Hadith atau sebarang perbahasan dalam persoalan agama:

1. Mestilah menghimpunkan segala ayat dan hadith yang berkaitan dengan tajuk perbincangan.

2. Mestilah berkemampuan untuk menyusun atur dan menggabungjalinkan segala dalil yang telah dihimpunkan tadi.

3. Mestilah memastikan ketepatan dalam mengeluarkan makna dari lafaz-lafaz ayat dan hadith tersebut dengan mengikuti disiplin istinbat yang betul (lughah arabiah dan usul fiqh)

4. Kefahaman yang telah dikeluarkan tadi ditimbang dan disemak pula dengan perkara teras dan pokok dalam agama juga maqasid syariah.

HafizaAllahu Syaikhana As-Syaikh Usamah As-Sayyid Mahmud Al-Azhari yang telah mendidik dan menunjukkan buat kami akan jalan dan cara faham untuk mendalami agama dengan benar.

Bukan sekadar dakwaan dan semangat yang jauh dari panduan Ilmu.

Oleh : Ustaz Muhammad Noorazam bin Bahador

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10153125808547458&set=a.130931747457.106611.591167457&type=1

Kami Tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia

22 March 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | , | Leave a comment

BEZA ULAMA DAN ORANG YANG JAHIL DALAM MEMAHAMI AL QURAN

Saya ingin berkongsi sedikit perbincangan yang wujud dalam kelas selepas Subuh bersama Fadhilatus Syaikh Hafizahullah agar kita dapat menilai pihak yang mengutuk dan pihak yang dikutuk.

Seorang pelajar bertanya kepada Fadhilatus Syaikh ; "Apakah cara yang benar untuk memahami agama ini dan memahami Al-Qur’an dan Hadith?"

Fadhilatus Syaikh menjawab :

"Baik,sebutkan kepadaku apa yang engkau faham dari ayat

[وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الأَلْوَاحَ]

pada perkataan "wa alqa al-alwah"?

(Ayat yang menceritakan tentang Nabi Musa Alaihis Salam pulang dari bermunajat lalu melihat kaum Baginda menyembah berhala)

Pelajar itu menjawab : "Ayat ini bermakna Nabi Musa AlaihisSalam telah melempar lembaran wahyu yang dipegangnya akibat terlalu marah dengan perlakuan kaum Baginda"

Mendengar jawapan dari pelajar tersebut,Fadhilatus Syaikh menerangkan secara panjang lebar :

"Apabila engkau mentafsirkan perkataan أَلْقَى dengan makna melempar atau menghempas,ketika itu engkau telah melakukan kesalahan yang amat besar dalam memahami kalaamullah.

Lembaran wahyu itu mengandungi kandungan Taurat.

Taurat adalah kitab suci.

Kefahaman engkau bahawa Saidina Musa melempar dan mencampakkan kitab suci akibat terlalu marah mengandungi kesalahan yang amat besar.

Pertamanya ia bercanggah dengan perkara pokok dalam agama iaitu Para Nabi adalah Maksum.

Maksum bererti terpelihara dari melakukan sebarang perkara terlarang dalam syariat,walaupun hanya sekadar khilaf aula.

Perbuatan melemparkan lembaran suci adalah haram hukumnya.

Bagaimana engkau boleh faham bahawa Saidina Musa melemparkan lembaran wahyu yang suci itu?

Kemudiannya,engkau cuba pula untuk merasionalkan kefahaman engkau itu dengan berkata perbuatan itu dilakukan kerana Saidina Musa terlampau marah ketika itu.

Kefahaman ini lebih berat kerana engkau mengatakan bahawa Saidina Musa dapat ditewaskan oleh perasaan marah,sehingga melakukan perkara yang dilarang syarak,sedangkan kita dapat lihat orang-orang soleh biasa mampu mengawal marah mereka. Kefahaman sebegini amat-amat bercanggah dengan persoalan maksumnya para Nabi.

Oleh itu,cara yang benar untuk memahami ayat ini dengan betul adalah dengan kita mestilah menghimpunkan terlebih dahulu kesemua ayat dan hadith yang menyebut lafaz أَلْقَى lalu kita teliti penggunaannya.

Kita perlu lihat apakah makna lafaz ini dalam penggunaan bahasa Arab yang fasih.

Apabila kita melihat kamus-kamus utama bahasa arab,kita akan mendapati perkataan أَلْقَى membawa makna "meletakkan sesuatu dalam keadaan tenang".

Apabila kita menghimpunkan ayat Al-Qur’an yang menyebut perkataan أَلْقَى sebagai contoh ayat yang menyebutkan tentang Ibu Saidina Musa ingin menyelamatkan anaknya yang baru dilahirkan dari buruan Firaun :

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ .

Adakah lafaz "فَأَلْقِيهِ" di sini bermaksud "lempar dan campaklah anakmu itu ke sungai"?

Tentu sekali tidak dapat digambarkan bahawa seorang ibu yang penyayang yang ingin memastikan keselamatan anaknya akan melempar dan mencampakkan anaknya ke dalam sungai itu.

Pastinya makna yang tepat bagi lafaz itu adalah "letakkanlah anakmu itu dengan baik di sungai.."

Kemudian Fadhilatus Syaikh menghimpun dan menyebutkan ayat-ayat lain satu persatu (sekitar 10 ayat dan hadith) yang mengandungi perkataan الإلقاء untuk menjelaskan maksud sebenar dari perkataan tersebut yang mana akhirnya membuatkan kami semua yang hadir dapat faham makna sebenar bagi lafaz أَلْقَى yang disebut dalam kisah Nabi Musa setelah pulang dari bermunajat dengan Allah tersebut.

Fadhilatus Syaikh menegaskan lagi bahawa adalah menjadi satu kesalahan yang besar apabila kita cuba mentafsir dan memahami ayat Al-Qur’an dengan berpandukan penggunaan semasa di zaman kita bagi lafaz tertentu dengan mengabaikan makna asal dalam penggunaan bahasa arab.

Sebagai contoh perkataan أَلْقَى tersebut yang biasanya diguna pada zaman kita dengan makna يرمي yakni melempar dan menghempas,sedangkan makna asalnya berlainan dengan penggunaan hari ini.

Akhirnya,Fadhilatus Syaikh menekankan 4 syarat utama dalam memahami sebarang Ayat Al-Qur’an,Hadith atau sebarang perbahasan dalam persoalan agama:

1. Mestilah menghimpunkan segala ayat dan hadith yang berkaitan dengan tajuk perbincangan.

2. Mestilah berkemampuan untuk menyusun atur dan menggabungjalinkan segala dalil yang telah dihimpunkan tadi.

3. Mestilah memastikan ketepatan dalam mengeluarkan makna dari lafaz-lafaz ayat dan hadith tersebut dengan mengikuti disiplin istinbat yang betul (lughah arabiah dan usul fiqh)

4. Kefahaman yang telah dikeluarkan tadi ditimbang dan disemak pula dengan perkara teras dan pokok dalam agama juga maqasid syariah.

HafizaAllahu Syaikhana As-Syaikh Usamah As-Sayyid Mahmud Al-Azhari yang telah mendidik dan menunjukkan buat kami akan jalan dan cara faham untuk mendalami agama dengan benar.

Bukan sekadar dakwaan dan semangat yang jauh dari panduan Ilmu.

 

Oleh : Ustaz Muhammad Noorazam bin Bahador

 

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10153125808547458&set=a.130931747457.106611.591167457&type=1

Kami Tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia

22 March 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Tarekat Tasawuf menurut Imam Ghazali

Imam Al-Ghazali menjelaskan tentang ilmu dan amalan tarekat Tasawuf merupakan ilmu rasa yang dicapai dengan cara merasa (berterusan berzikir mengingati Allah) dan ber‘uzlah sahaja. Katanya:

“Ilmu dan amalan tarekat Tasawuf adalah ilmu rasa (zawq) yang hanya dapat dicapai dengan cara merasa (berterusan berzikir mengingati Allah) dan jalan ‘uzlah sahaja. Ianya tidak akan dapat dicapai dengan jalan mendengar dan ta’lim (belajar) seperti ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu tauhid, ilmu tafsir dan lain-lain.”

Amalan tarekat Tasawuf merupakan jalan tarbiyah keimanan menerusi berzikir mengingati Allah dan bermujahadah memerangi nafsu dengan bersungguh-sungguh di dalam suasana ber‘uzlah dalam tempoh tertentu. Riadah atau latihan kerohanian yang berat ini dipimpin oleh pembimbing rohani atau shaikh mursyid melalui kesungguhan dan kegigihan usaha menentang kehendak-kehendak nafsu jahat, sifat-sifat tercela serta akhlak yang rendah dan hina supaya terhias diri kita dengan sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang mulia.

1. Definisi Ilmu dan Amalan Tarekat Tasawuf

Definisi ilmu Tasawuf mengikut Kamus Dewan (Edisi Keempat: 2007) adalah menuntut atau mengamalkan ilmu ‘uzlah (bersuluk) iaitu ajaran atau jalan untuk mengenal Tuhan dengan benar-benar dan mendekatkan diri dengan Tuhan.

Tarekat Tasawuf didefinisikan oleh para tokoh Tasawuf sebagai jalan mujahadah dari aspek pencapaian kesempurnaan hati melalui berbagai-bagai halangan dan mengharungi berbagai-bagai tingkatan di jalan Allah itu.

Wallahualam

'Tarekat Tasawuf menurut Imam Ghazali

Imam Al-Ghazali menjelaskan tentang ilmu dan amalan tarekat Tasawuf merupakan ilmu rasa yang dicapai dengan cara merasa (berterusan berzikir mengingati Allah) dan ber‘uzlah sahaja. Katanya:
“Ilmu dan amalan tarekat Tasawuf adalah ilmu rasa (zawq) yang hanya dapat dicapai dengan cara merasa (berterusan berzikir mengingati Allah) dan jalan ‘uzlah sahaja. Ianya tidak akan dapat dicapai dengan jalan mendengar dan ta’lim (belajar) seperti ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu tauhid, ilmu tafsir dan lain-lain.”

Amalan tarekat Tasawuf merupakan jalan tarbiyah keimanan menerusi berzikir mengingati Allah dan bermujahadah memerangi nafsu dengan bersungguh-sungguh di dalam suasana ber‘uzlah dalam tempoh tertentu. Riadah atau latihan kerohanian yang berat ini dipimpin oleh pembimbing rohani atau shaikh mursyid melalui kesungguhan dan kegigihan usaha menentang kehendak-kehendak nafsu jahat, sifat-sifat tercela serta akhlak yang rendah dan hina supaya terhias diri kita dengan sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang mulia.

1. Definisi Ilmu dan Amalan Tarekat Tasawuf
Definisi ilmu Tasawuf mengikut Kamus Dewan (Edisi Keempat: 2007) adalah menuntut atau mengamalkan ilmu ‘uzlah (bersuluk) iaitu ajaran atau jalan untuk mengenal Tuhan dengan benar-benar dan mendekatkan diri dengan Tuhan.

Tarekat Tasawuf didefinisikan oleh para tokoh Tasawuf sebagai jalan mujahadah dari aspek pencapaian kesempurnaan hati melalui berbagai-bagai halangan dan mengharungi berbagai-bagai tingkatan di jalan Allah itu.

Wallahualam'

12 March 2015 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | | Leave a comment

SIAPA WAHABI?

PENGENALAN

Fahaman Wahabi ini terlalu kerap ditimbulkan oleh pelbagai pihak samaada dari golongan muda ataupun golongan tua. Sejak sekian lama juga saya sering kali ditanyakan isu-isu berkaitan fahaman Wahabi. Pelbagai persoalan diajukan kepada saya samada melalui Email dan YM ataupun melalui PM di iLuvislam. Di antara mereka ini ada yang meminta saya untuk menyediakan sedikit sebanyak info dan maklumat berkaitan dengan fahaman Wahabi ini. Di samping itu, saya juga tidak terlepas dari menerima kritikan dan cemuhan dari golongan Wahabi setiap kali saya berhujjah dan berbincang dengan mereka.

Artikel ini juga saya sediakan secara ringkas dan ia masih memerlukan beberapa penerangan dan penjelasan lebih lanjut lagi. Ini bukanlah suatu tuduhan melulu tanpa periksa namun inilah cerita sebenarnya. Bagi mengukuhkan lagi kepercayaan peribadi, pembaca bolehlah menyemak sendiri kitab-kitab yang telah dikarang oleh para ulama muktabar bagi membincangkan fahaman Wahabi ini.

Antara cara-cara mudah mengenali mereka samada berfahaman Wahabi ataupun tidak ataupun terkena sedikit tempias dari fahaman Wahabi adalah:

Dari Sudut AQIDAH:

01. Gemar membahagikan-bahagikan tauhid kepada tiga bahagian iaitu Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan al-Asma Wa al-Sifat lantas menyamakan umat Islam kini dengan musyrikin Mekah.

02. Menyesatkan manhaj Asyairah dan Maturidiyah yang merupakan dua komponen utama dalam Ahli Sunnah Wal Jamaah.

03. Kritikal terhadap sisitem pengajian Sifat 20.

04. Gemar membahaskan ayat-ayat mutasyabihat dan membahaskan perihal istiwa Allah Taala, tangan Allah Taala, di mana Allah Taala dan lain-lain ayat mutasyabihat lagi lantas memahami ayat-ayat itu dengan zahir ayat dan mencerca mereka yang mantakwil ayat-ayat ini. Akhirnya mereka secara tidak sedar termasuk di dalam golongan Mujassimah dan Musyabbihat.

05. Sering meletakkan isu-isu fiqh dalam bab aqidah, seperti tawasul dan istighatsah lantas mensyirikkan dan mengkafirkan amalan-amalan yang tidak sehaluan dengan mereka. Juga mensyirikkan amalan yang tidak dipersetujui contohnya mambaca salawat syifa dan tafrijiah dll.

06. Mudah melafazkan kalimah syirik dan kufur terhadap amalan yang mereka tidak persetujui (Khawarij Moden).

07. Amat kritikal terhadap tasawuf serta tarikat dan mengatakan bahawa tasawuf dan tarikat diambil daripada ajaran falsafah Yunan, agama Buddha dan dll.

Dari Sudut FIQH:

01. Kritikal terhadap mazhab-mazhab fiqh dan menganggap sesiapa yang berpegang kepada satu mazhab adalah taksub dan jumud. Mereka akan menyarankan mengikut fiqh campuran atas corak pemahaman mereka dan menamakannya sebagai Fiqh Sunnah.

02. Membahagikan manusia kepada tiga golongan iaitu mujtahid, muttabi dan muqallid dan mencerca golongan muqallid. Bagi mereka hanya menyeru kepada mengikut seorang alim atau imam itu hanyalah dengan dalil walaupun pada hakikatnya mereka tidak memahami dalil tersebut.

03. Gemar membangkitkan isu-isu furuk yang sudah lama diperbahaskan oleh para ulama terdahulu seperti isu tahlil, talqin, qunut subuh, zikir berjamaah, zikir dengan bilangan tertentu, lafaz niat solat, ziarah makam para nabi dan ulama, sambutan maulidur rasul dll.

04. Perkataan bidaah sentiasa diulang-ulang pada perbuatan yang mereka tidak setuju. Bidaah di dalam agama bagi mereka hanyalah sesat dan akan menjerumuskan pembuatnya ke dalam neraka. Kata-kata Imam Syatibi pada pembahagian bidaah akan mereka ulang-ulangi. Menurut fahaman mereka pembahagian ulama lain pada bidaah hanyalah bidaah dari sudut bahasa.

05. Wahabi secara umumnya mengaitkan amalan-amalan tertentu kononnya sebagai rekaan dengan hawa nafsu atau kejahilan para ulama terdahulu manakala Wahabi di Malaysia cuba mengaitkan amalan yang mereka tidak persetujui hanyalah rekaan para ulama Nusantara.

06. Hanya berpegang kepada suatu pendapat dalam hukum hakam fiqh jika mempunyai dalil yang zahir dan amat gemar meminta dalil dari al-Quran dan al-Hadis seolah-olah mereka dapat membuat perbandingan sendiri kuat lemahnya sesuatu pendapat berdasarka dalil yang dijumpai.

Dari Sudut MANHAJ:

01. Berlebih-lebihan pada mengkritik mereka yang tidak sehaluan dengan mereka baik ulama terdahulu mahupun sekarang.

02. Menganggap bahawa hanya mereka sahajalah yang benar dan merekalah sahajalah pembawa manhaj salaf yang sebenar.

03. Bersikap keras kepala dan enggan menerima kebenaran walaupun dibentangkan beribu-ribu hujjah. Bagi golongan Wahabi dalil mereka yang menentang mereka semuanya lemah atau telah dijawab.

04. Amat gemar berdebat walau di kalangan masyarakat awam.

05. Terlalu fanatik kepada fahaman dan tokoh-tokoh yang mereka diiktiraf mereka seperti Muhammad Abdul Wahab, Abdul Aziz bin Baz, Nasir al-Albani, Muhammad Soleh al-Utsaimin, Soleh Fauzan dll.

06. Mudah mengatakan bahawa ulama terdahulu sebagai silap ataupun sesat dll.

07. Mendakwa mereka mengikut manhaj salafi pada urusan aqidah dan fiqh walaupun hakikatnya mereka amat jauh sekali dan tidak memahaminya.

08. Cuba untuk menyatukan semua pihak atas fahaman mereka lantas menyebabkan perpecahan umat.

09. Sebahagian mereka juga bersikap lemah lembut pada kuffar dan berkeras pada umat Islam.

10. Menyesatkan dan memfasiqkan sesiapa yang bercanggah dengan mereka serta melebelkan dengan pelbagai gelaran.

11. Seolah-olah menyamatarafkan hadis dhoif dengan hadis maudhuk lantas mendakwa mereka hanya mengikut hadis yang sahih selain kritikal terhadap penerimaan riwayat dan taasub dengan penerimaan atau penolakan Nasir al-Albani semata-mata.

12. Membuat khianat ilmiah samada pada penulisan atau pada pantahqiqan kitab-kitab lama terutamanya.

PENUTUP

Hampir keseluruhan artikel ini saya ambil dari kertas kerja yang pernah disediakan dan dibentang sendiri oleh sahabat saya iaitu Ustaz Syed Abdul Kadir bin Syed Hussin Aljoofre. Cuma beberapa perkara sahaja saya buang dan tambah agar lebih natural untuk dibaca. Semoga penulisan ini menjawab pelbagai persoalan mengenai fahaman Wahabi ini dan ia boleh membawa manfaat kepada umat Islam sejagat. Saya doakan agar semua pihak mendapat hidayah dari Allah Taala. Aminnn.

Sumber : https://www.facebook.com/notes/-koleksi-soal-jawab-agama-/soal-jawab-aqidah-bahaya-fahaman-wahabi-dan-penjelasan-mengenainya/124676194228532

1. Dr Said Ramadhan al Buthi, Alla mazhabiyyatu Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu Asy Syariiata Al Islamiyyah

2. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur

3. Dr Muhammad Adil Azizah Al Kayalli, Golongan Yang Selamat Adalah Seluruh Umat Islam, Al Firqah An Najiah Hia Al Ummatul Islamiyyah Kulluha

3.Http://Buluh.Iluvislam.Com

Bacaan Tambahan :

1. Perpaduan Umat Islam Hendaklah Dijaga

2. Hukum Bertaqlid

3. Hukum Menuduh Musyrik Dan Kafir Sesama Umat Islam Tanpa Hak

2 March 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | 1 Comment

Bahaya Fahaman Wahabi Dan Penjelasan Mengenainya

Soalan : Apakah itu fahaman Wahhabi ? Benarkah Wahhabi adalah suatu misteri dan ia dilihat sebagai satu label ‘ejekan’ ? Bolehkah kita menuduh orang lain yang tidak berqunut, tidak membaca doa selepas solat sebagai Wahhabi ? Adakah wahhabi sahaja mengikut al Quran dan Sunnah manakala umat Islam yang lain mengikut mazhab tidak mengikut al Quran dan Sunnah ?

Jawapan :

1. Wahhabi bukanlah suatu yang misteri kerana ramai ulamak yang membahaskan mengenainya. Sekiranya ia adalah suatu yang misteri maka tidak timbullah apa yang dinamakan ‘fahaman wahhabi tersebut’.

Wahhabi adalah istilah ilmiah merujuk kepada suatu golongan yang mengikut kerangka umum pemikiran “Muhammad Abdul Wahab” lalu mengaku mengikut “manhaj Salaf” melalui kaca mata Ibn Taimiyyah, Muhammad Abdul Wahab dan beberapa orang lain yang sefahaman dengannya.

Sheikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buti menjelaskan tentang “Wahabi”:

“Pada masa kini, mazhab Wahabi yang dinisbahkan kepada empunyanya iaitu Sheikh Muhammad bin Abdil Wahab (1703-1792 M) berkembang di Najd dan seterusnya berkembang di negara-negara dalam Jazirah Arab berdasarkan beberapa faktor yang sangat diketahui tetapi tidak perlu disebutkan dan dijelaskan di sini”

. [As-Salafiyyah: 367]

Menisbahkan sesuatu kelompok kepada mana-mana pelopornya (samada menisbahkan kepada namanya, atau nama ayahnya, atau nama moyangnya dan sebagainya) adalah suatu tradisi ilmiah yang biasa digunakan oleh para ulama’. Para ulama’ yang mengikut mazhab Imam Ahmad bin Hanbal dinisbahkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal tetapi melalui nama ayahnya iaitu Hanbali. Begitulah sebagainya.

Golongan yang mengikut “kerangka umum” pemikiran Muhammad Abdul Wahab dikenali sebagai Wahabi sebagai nisbah ilmiah yang diakui dalam tradisi keilmuan Islam. Ianya malah digunakan sendiri oleh orang2 yang terlibat dengan fahaman ini. Dinukilkan satu atau dua perkataan mereka sebagai contoh:

Dalam buku الشيخ محمد بن عبد الوهاب عقيدته السلفية ودعوته الإسلامية ada menyebut secara jelas mereka mengaku diri mereka (para pengikut pemikiran Muhammad Abdul Wahab) sebagai Wahhabiyyah. Buku itu ditulis oleh Sheikh Ahmad bin Hajr Abu Thomi. Antara perkataan beliau:

استطاع هؤلاء المسلمون الوهابيون أن يقيموا الدولة الإسلامية على أساس من المبادئ الوهابية

.

Maksudnya: “Golongan Muslimun Wahhabiyyun mampu mendirikan suatu kerajaan Islam atas asas daripada asas-asas Wahhabiyyah”.

[m/s: 105]

Lihat tokoh wahabi sendiri mengaku sebagai wahabi…

Begitu juga:

Sheikh Ben Baz juga berkata:

الوهابية منسوبة إلى الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمه الله المتوفى سنة 1206 هـ ، وهو الذي قام

بالدعوة إلى الله سبحانه في نجد

Maksudnya: “Wahhabiyyah adalah nisbah kepada Sheikh Imam Muhammad bin Abdil Wahab r.a. yang wafat pada 1206 Hijrah yang mana dia mendirikan dakwah menuju Allah di Najd (dengan pemikirannya)”.

[Majmu Fatawa wa Maqalat siri ke-9]

Dr. Muhammad Ahmad Ismail juga ada mengarang satu buku berjudul “Khawatir Haul Al-Wahhabiyyah dan menggunakan istilah wahabi tanpa merasa dirinya diejek bahkan dia sendiri (yang mengikut fahaman wahabi ini) mengakuinya.

Antara tajuk2 dalam buku ini:-

الوهابية جددت ” منهاج النبوة ”

Maksudnya: “Al-Wahhabiyyah memperbahrui Manhaj Nabawi”.

Boleh dapatkan buku ini secara online:

http://saaid.net/book/10/3279.rar

Jadi, tuduhan bahawa istilah wahabi adalah istilah ejekan oleh golongan yang menolak kumpulan ini adalah tidak tepat bahkan hanyalah suatu dakwaan yang tidak berasas serta menyalahi realiti sebenar. Dalam lapangan ilmiah, istilah wahabi ini bukan sahaja diterima penggunaannya oleh sebahagian besar ahli ilmu bahkan termasuklah dari kalangan pengikut fahaman ini sendiri.

2. Umat Islam yang mengikut mazhab samada Syafie, Maliki, Hanafi mahupun Hambali adalah mengikut al Quran dan Sunnah. Kerana mereka berpandukan kepada pemahaman ustaz dan ustazah/ulamak yang memahami al Quran dan sunnah melalui panduan yang sudah diberikan oleh Ulamak salafussoleh. Sesuai dengan firman Allah yang bererti :

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui” –

(Surah an Nahl:43)

Mazhab Hanafi yang diasaskan oleh Imam abu Hanifah (lahir pada 80 Hiijrah dan wafat pada 150 Hijrah), Mazhab Maliki diasaskan oleh Imam Malik Bin Anas RadiyaLlahu ‘anhu (Lahir pada 39 Hijrah dan wafat pada 179 Hijrah), Mazhab Syafie diasaskan oleh Imam Muhammad Bin Idris As Syafie (lahir pada 150 Hijrah dan wafat pada 204 Hijrah) dan Mazhab Hanbali diasaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (lahir pada 164 Hirah dan wafat pada 241 Hijrah). Ini menunjukkan mereka yang mengikut mazhab juga termasuk di kalangan mereka yang menuruti jalan salafussoleh sebagaimana yang dinyatakan oleh RasuluLlah sebagai zaman yang terbaik.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Daripada Abdullah bin Mas’ud r.a. daripada Nabi s.a.w. sabdanya: “Sebaik-baik manusia adalah kurunku kemudian orang-orang yang mengiringi mereka kemudian orang-orang yang mengiringi mereka”.

(Sahih al-Bukhari)

3. Kita tidak boleh menuduh sembarangan bahawa orang yang tidak berqunut, membaca doa beramai-ramai selepas solat, tidak kenduri arwah sebagai wahhabi. Di dalam Mazhab Syafie membaca doa qunut adalah sunat ab’adh. Tetapi sekiranya terlupa atau tertinggal solatnya tetaplah sah, namun disunatkan untuk sujud sahwi. Ada juga di kalangan umat Islam yang tidak sempat untuk berdoa secara beramai-ramai selepas solat kerana kekangan waktu, maka mereka berdoa dan berzikir bersendirian. Begitu juga ada umat Islam yang tidak berkemampuan untuk mengadakan kenduri bagi si mayyit atau tidak bersetuju untuk mengadakan kenduri arwah. Oleh itu, berhati-hatilah dalam melabel seseorang itu sebagai wahhabi.
Di nukil dari kertas kerja Ustaz Syed Abdul Kadir bin Syed Hussin Aljoofre.

Sumber: https://www.facebook.com/notes/-koleksi-soal-jawab-agama-/soal-jawab-aqidah-bahaya-fahaman-wahabi-dan-penjelasan-mengenainya/124676194228532

1. Dr Said Ramadhan al Buthi, Alla mazhabiyyatu Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu Asy Syariiata Al Islamiyyah
2. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur
3. Dr Muhammad Adil Azizah Al Kayalli, Golongan Yang Selamat Adalah Seluruh Umat Islam, Al Firqah An Najiah Hia Al Ummatul Islamiyyah Kulluha
3.Http://Buluh.Iluvislam.Com

Bacaan Tambahan :
1. Perpaduan Umat Islam Hendaklah Dijaga
2. Hukum Bertaqlid
3. Hukum Menuduh Musyrik Dan Kafir Sesama Umat Islam Tanpa Hak

Namun begitu untuk mengetahui ciri-ciri wahhabi hasil dari kajian penyelidikan yang telah dibuat bolehlah dirujuk di https://fitrahislami.wordpress.com/2015/03/02/siapa-wahabi/

2 March 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Panduan Memilih GURU

Berkata Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani, “Jika anda berguru kepada seseorang demi untuk sampai kepada Allah, maka ikutilah saranan ini : Hendaklah anda berwudhuk dengan sempurna, mindamu penuh khusyuk dan matamu jangan memandang selain dari tempat wudhuk saja. Sesudah itu, anda terus pergi bersolat. Anda buka pintu solat itu dengan wudhuk tadi, kemudian anda buka pintu istana Allah pula dengan solatmu. Apabila sudah selesai solat, tanyalah Allah menerusi bisikan hatimu – Siapa yang patut saya ambil sebagai pembimbingku, atau guruku? Siapa yang benar-benar dapat menyampaikan ajaran-Mu kepadaku? Siapakah orang pilihan-Mu? Siapakah Khalifah-Mu? Siapakah Wakil-Mu?

Allah Maha Pemurah, nanti pertanyaanmu yang serius itu akan dijawab-Nya. Tanpa ragu lagi, bahawa Dia akan mendatangkan ilham ke dalam hatimu. Dia akan memberikan petunjuk ke dalam dirimu, iaitu petunjuk yang paling batin sekali, yakni sirr. Allah akan memberikan tanda-tanda atau isyarat yang jelas. Pintu cahaya-Nya akan dibukakan buatmu, lalu cahaya itu akan mendorongmu ke jalan yang benar. Ingatlah, siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh mencari pasti akan mendapat.

Firman Allah Ta’ala :

“Dan orang-orang yang bermujahadah (pada perjalanan) menuju Kami, nanti Kami akan menunjuki mereka jalan-jalan (yang menyampaikan mereka) kepada Kami.”

[Al-Ankabut : 69]

Keputusannya terletak pada dirimu sendiri, pada hatimu yang diberikan cahaya kelak. Anda sendiri yang memutuskan nanti, bukan orang yang anda hendak berguru kepadanya. Apabila hatimu telah bulat tertumpu kepada orang itu, maka mulakanlah berguru kepadanya. Dialah yang menjadi pilihan Tuhan untukmu. Jangan ambil peduli tentang miskin atau kayanya, tentang susur galur keturunannya, tentang rupa dan perawakannya, tentang cara dan kaedahnya, tentang kata-kata dan bicaranya. Apa yang terpenting ialah batinnya, hatinya bukan zahir dan bentuknya.

Di majlisnya, jangan anda tergesa-gesa bercakap dan menarik perhatiannya kepadamu. Perhatikan khidmat yang berfaedah yang dikerjakannya terhadap Tuhan. Dia adalah pengajar dan pembimbing, bukan hanya untuk dirinya sendiri, malah juga untuk orang lain. Dia hanya penyampai bukti-bukti ketuhanan. Anda hendaklah bersedia menerima apa yang Allah hendak menyampaikan melalui orang atau pembimbing itu. Tumpukan perhatianmu kepadanya. Jangan sekali-kali melanggar perintahnya, atau melampaui batas yang ditentukannya. Hendaklah anda mendengar kata bicaranya dengan penuh khusyuk dan tekun. Jangan sampai anda merasa syak dan sangka buruk terhadap arahannya, terhadap kata-katanya, terhadap perlakuannya, kerana semua itu timbul dan muncul daripada kerohaniannya. Anggaplah ia lebih bijaksana dari orang lain, dan biarkan dia membimbingmu menuju Allah dalam keadaan tenang dan tenteram, asalkan matlamatnya mestilah Allah semata, dan bukan ghairullah.

Wallahualam.

Sumber: Jom Dakwah Bersama Ulama

1 March 2015 Posted by | Informasi | Leave a comment

Ilmu

Ilmu itu:

1. Malakah (Kemampuan)

2. Al-Mudrakah (Pengetahuan)

3. Masail (Permasalahan)

Bermula dari mengkaji permasalahan, insya Allah nanti akan sampai pada taraf al-malakah (bakat).

– Syekh Usamah Sayyid Azhary

Sumber: Suara Al Azhar.

1 March 2015 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

Mengapa kita mengikuti empat madzhab yang ada?

Sebab:

1. Mudawanah (Tertulis)

2. Mudalalah (Memiliki dalil)

3. Makhdumah (digunakan)

4. Mutadawilah (Tersebar)

5. Ijma umat bahwa empat madzhab merupakan madzab Ahli sunnah waljamaah

-Syekh Hisyam Kamil

'Mengapa kita mengikuti empat madzhab yang ada? sebab:
1. Mudawanah (Tertulis)
2. Mudalalah (Memiliki dalil)
3. Makhdumah (digunakan)
4. Mutadawilah (Tersebar)
5. Ijma umat bahwa empat madzhab merupakan madzab Ahli sunnah waljamaah

-Syekh Hisyam Kamil'

1 March 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Tazkirah | | Leave a comment

ADAB

Al-Imam al-Kisaie rahimahullah menceritakan bahawa satu hari beliau menjadi imam di dalam solat dan Khalifah Harun al-Rasyid rahimahullah menjadi makmum di dalam solat tersebut.

Bacaannya sangat mengkagumkan dan sememangnya beliau seorang imam di dalam ilmu al-Quran.

Tiba-tiba al-Imam al-Kisaie tersilap bacaannya yang beliau ungkapkan bahawa kesilapan itu kanak-kanak pun tidak akan melakukannya.

Beliau tertukar daripada ayat { لعلهم يرجعون } kepada { لعلهم يرجعين}.

Setelah selesai menunaikan solat , Khalifah Harun al-Rasyid bertanya dengan penuh adab kepada al-Imam al-Kisaie :

" Bacaan yang kamu baca wahai Imam diambil daripada riwayat mana atau daripada bahasa kaum mana wahai Imam? "

Maka jawab al-Imam al-Kisaie :

" Kuda yang handal juga kadang-kadang tersungkur wahai Khalifah"

Betapa mulianya akhlak orang-orang terdahulu kepada para ulama mereka , Khalifah tidak mengatakan " Kamu Silap" tetapi bertanya dengan penuh adab.

Zaman sekarang, ilmu kurang tetapi kritiknya lebih daripada ahli ilmu. Allahu Allah..

Jauhnya kita dengan zaman tersebut.Semoga Allah mengurniakan kita adab seperti para salaf terdahulu.. Amin ya Rabb.

Wallahualam.

 

(Sumber: Jom Dakwah Bersama Ulama)

1 March 2015 Posted by | Ibadah, Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

Dialog Wahhabi Dengan Bekas Mufti Selangor – Almarhum Datuk Ishak Baharom

Diceritakan oleh Haji Ibrahim bin Haji Mohamad dalam buku : Liku-liku Jalan Ketuhanan, Tinjauan Dan Pengamalan Mengenai Permasalahan Tariqah Di Malaysia.

Saya teringat bagaimana Datuk Ishak Baharom, bekas Mufti Selangor menceritakan kepada saya ketika menjadi mufti dahulu. Beliau memanggil satu tokoh dari kalangan ‘Kaum Muda’ yang amat popular kerana tokoh itu menentang pembacaan Yasin beramai-ramai di masjid pada malam Nisfu Sya’ban.

DIB (Datuk Ishak Baharom) : "Adakah salah seseorang membaca al quran pada malam nisfu sya’ban ?

Wahhabi menjawab : Tidak

DIB : Adakah salah kalau ia membaca di masjid ?

Wahhabi : Tidak.

DIB : Adakah salah kalau ia merasa tidak seronok dan mengantuk membaca seorang diri lalu ia mengajak orang ramai membaca bersamanya agar lebih bersemangat ?

Wahhabi : Tidak

DIB : Adakah salah kalau mereka membawa makanan dan makan selepas majlis tersebut kerana ia budaya orang Melayu ?

Wahhabi : Tidak.

DIB : Adakah salah berdoa di malam Nisfu Sya’ban ?

Wahabi : Tidak.

DIB : Habis tu… Kenapa bising-bising sana sini mengatakan mereka salah ? Sepatutnya apa-apa perkara pun kita bawa berbincang dahulu kerana agama tidak menentang amalan tradisi yang membawa kebaikan. Kalau tak dapat pahala membaca Yasin pun, tak makbul doa pun. Mereka tetap mendapat pahala bertemu, berhimpun di masjid, menjamu orang makan.

Kalau kumpulan kamu tidak mahu melakukannya biarlah, tetapi jangan dilarang orang lain yang mahu melakukan kebaikan.

Tokoh itu senyap agak lama sebelum meminta izin untuk keluar.

526949_543691195696026_451019524_n

1 March 2015 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Jangan tertipu dengan pemilik PhD Hadith yang suka berbohong. Sebab Sunnah Rasulullah melarang penipuan.

Soalan yang sama, jawapannya nampak macam sama, tapi berbeza wo. Jom baca..

QUNUT DAN WAHABI

[SOALAN 1] :

Seseorang bertanya saya (Dr.MAZA & aDmin.PL): "apakah betul takrifan bahawa seseorang yang tidak baca qunut subuh itu wahabi?".

[Jawapan Dr.MAZA] :

Saya berkata: "apakah saudara bersetuju menyatakan selain dari mazhab Syafii semuanya wahabi? Kalau begitu dunia ini kebanyakan wahabi terutama kaum muslimin di India, Pakistan, China dan lain-lain yang bermazhab Hanafi. Demikian Mekah, Madinah, Saudi, Qatar dan lain-lain yang bermazhab Hanbali mereka juga tidak qunut. Apakah semua mereka sesat? Apakah imam-imam Masjidil Haram dan Masjid Nabi sesat? Apakah umat Islam selama ini solat di belakang di belakang orang sesat?

[Jawapan aDmin.PL] :

Saya berkata: "apakah saudara bersetuju bahawa Negeri Perlis telah membuat undang-undang rasmi TIDAK MEMBENARKAN Imam-imam Masjid di Perlis membaca qunut subuh? Juga tidak membenarkan mengadakan wirid secara jamai’e selepas solat fardu? Juga melarang mengadakan majlis tahlil kematian? Apakah anda tidak tahu bahawa Wahhabi sangat suka melarang umat Islam melakukan amal ibadah seperti yg tersebut itu? Tahukah anda bahawa larangan tersebut mirip betul dgn mana-mana negara yg dikuasai Wahhabi di dunia ini? Tahukah anda bahawa larangan mereka itu hanya berdasarkan sangkaan mereka bahawa ianya bukan drpd sunnah malah dianggap bida’ah dan sesat? Apakah semua mereka yg mengamalkan amalan tersebut sesat? Kalau begitu dalam dunia ini kebanyakannya ahli bidaah dan sesat terutama kaum muslimin di India, Pakistan, China, Indonesia, Brunei, Malaysia, Selatan Thai dan lain-lain yang bermazhab Hanafi, Maliki, dan Syafie. Demikian juga di Mekah, Madinah, Saudi, Qatar dan lain-lain yang bermazhab Hanbali kerana ada juga sebahagian rakyat muslim mereka yg membaca qunut subuh, baca saiyidina dan lain-lain. Apakah umat Islam selama ini solat di belakang imam yg membaca qunut boleh dianggap tidak sunnah dan sesat?"

[SOALAN 2]

Kata dia lagi: "Tapi wahabi marah orang qunut. Sedangkan itu masalah khilaf sahaja".

[Jawapan Dr.MAZA]

Saya jawab : ‘tolong beri contoh orang qunut kena marah. Apa yang saya nampak dalam surat khabar orang yang tak qunut yang kena marah dengan orang qunut dan dituduh sesat lagi. Kalau masalah khilaf kenapa tuduh sesat’.

[Jawapan aDmin.PL]

Saya jawab: “Kita ada banyak contoh dalam masalah ni. Bukan setakat kena marah, malah contoh yg paling kronik, kita boleh baca dalam surat khabar yg terbaru ini (http://www.bharian.com.my/node/36503 ). Hanya kerana suaminya mengamalkan bacaan qunut dan amalan tahlil, dia tergamak menganggap suaminya itu sebagai najis, sesat dan terkeluar drpd Islam. Dalam masalah khilaf pun, mereka yg berfahaman songsang ni sanggup menghukum orang yg tidak sealiran dengan mereka sebagai najis dan sesat.”

[SOALAN 3] :

"Habis tu, wahabi itu apa?" Tanya dia lagi.

[Jawapan Dr.MAZA] :

Jawab saya: "Wahabi ialah orang yang suka tuduh orang lain wahabi".

[Jawapan aDmin.PL] :

Jawab saya: "Wahabi ialah orang yang takkan pernah mengaku dia tu Wahhabi, dan sangat cepat melenting menafikan kononnya dia bukan wahhabi walaupun orang tak pernah tuduh kat dia".

____________________

NOTA : Admin sengaja memberi jawapan dengan jawapan yg tidak ilmiah, sesuai dengan jawapan yg diberikan oleh Dr.MAZA. Barulah nampak macam Sarjana.. wink emoticon

Oh ya, jangan lupa baca ini juga naa..

https://www.facebook.com/pondok.ledang.5/posts/430086207166458?pnref=sto

1 March 2015 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Apakah hukumnya solat dibelakang Imam di Mekah dan Madinah jika berfahaman wahhabi

1. Bukan semua Imam di Mekah adalah Wahhabi. Kita perlu bersangka baik pada mereka.

2. Jika mereka adalah wahhabi, maka hukumnya sah kerana solat dibelakang ahli bidaah hukumnya sah. Sama juga solat dibelakang khawarij dan muktazilah.

Adakah Ahli Sunnah Wal Jamaah Mengharamkan solat di belakang Imam Wahhabi

1. tidak, ASWJ tidak mengharamkannya. Di Malaysia wahhabi paling benci Ustaz Rasyiq Alwi kerana beliau sangat tegas dan sangat agresif serta keras melawan wahhabi, tetapi beliau juga tidak mengharamkan solat dibelakang Imam Wahhabi. Rujuk:

http://abu-syafiq.blogspot.com/…/hukum-solat-di-belakang-im…

Jadi siapa yang mengharamkan solat di belakang Imam Wahhabi

1.Tokoh Wahhabi Soleh Al Fauzan yg merupakan seorg Ahli Majlis Tertinggi Ulama Saudi mengFATWAkan bhw HARAM solat sebagai makmun di belakang Imam Mekah Syeikh ‘Adil Al Kalbaniy. Rujuk surat khabar Ar Roi Al Kuwaitiah tanggal 16 Julai 2010 Jumaat Bil 11337.

2. Sebenarnya yang mengharamkan solat di belakang Imam Wahhabi di Mekah adalah tokoh Wahhabi sendiri. Rujuk:

http://abu-syafiq.blogspot.com/…/fatwa-wahhabi-haramtidak-s…

1 March 2015 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | 1 Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers

%d bloggers like this: