Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

MAKANAN AKAN MELAKNAT ORANG YANG TIDAK SOLAT

Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani rahimahullah menuturkan di dalam kitabnya Qul Hadzihi Sabili : Bahawa orang yang meninggalkan solat tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Malah ketika sakit, ia tidak akan dijenguk, ketika meninggal jenazahnya ia tidak akan diiringi oleh para malaikat, juga setiap makanan melaknatnya.

قَالَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒِ : تَارِكُ الصَّلاَةِ إِذَا رُفِعَتِ اللُّقْمَةُ إِلَى فِيهِ قَالَتْ لَهُ: لَعَنَكَ اللهُ يَا عَدُوَّ الله ُتَأْكُلُ رِزْقَ اللهِ وَلاَ تُؤَدِّي فَرَائِضَهُ.

Sebahagian ‘Ulama Salaf berkata: “Orang yang meninggalkan solat apabila mengangkat sesuap makanan, makanan tersebut berkata, semoga Allah melaknatmu wahai musuh Allah, karena kamu memakan rezeki dari Allah dan kamu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya.”

-Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani,
(kitab Qul Hadzihi Sabili)

09/07/2020 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

BERKAITAN HIDANGAN ATAU JAMUAN MAKAN DITEMPAT KEMATIAN.

Wahai Rasulullah SAW…..sesungguhnya ibuku telah sedang aku tidak ada di tempat, apakah jika aku bersedekah untuknya bermanfaat baginya?.

Rasulullah saw. menjawab: Ya.

Saad berkata:

saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya” (HR Bukhari).

Huraian dari hidangan makanan ditempat ahli mayit.

Ada dua pendapat di kalangan ulama berkaitan dengan hukum menghidangkan makanan dari pihak keluarga si mayit kepada para jamaah tahlilan maupun orang-orang yang datang bertakziyah padanya.

a. Pendapat yang berkata makruh.

Hal ini berdasarkan pada dua hadis,..

Pertama, hadis Jarir bin Abdullah al-Bajali yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibn Majah dengan sanad yang shahih. Jarir bin Abdullah berkata,..

👉”Kami menganggap berkumpul pada keluarga mayit dan disediakan makanan dari pihak keluarga mayit bagi mereka (yang berkumpul) termasuk niyahah (ratapan).”

Berdasarkan hadis ini, para ulama mazhab Hanafi berpendapat makruh memberikan makanan pada hari pertama, kedua, ketiga dan setelah tujuh hari kepada pentakziyah sebagaimana ditegaskan oleh al-Imam Ibn Abidin dalam Hasyiyah Radd al-Muhtar juz 2 hlm. 240.

Kedua, Hadis riwayat al-Tirmidzi, al-Hakim dan lain-lainnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

👉”Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far, karena mereka sekarang sibuk dengan kematian Ja’far.”

Para ulama berpendapat, bahwa yang disunnatkan sebenarnya adalah tetangga keluarga mayit atau kerabat-kerabat mereka yang jauh membuatkan makanan bagi keluarga mayit yang sedang berduka, yang cukup untuk keperluan mereka dalam waktu selama sehari semalam.

Pendapat ini diikuti oleh majoriti fuqaha, dan majoriti ulama mazahib al-arba’ah.
Dan ini juga merupakan praktek umat islam dinusantara,..saat ada tetangga meninggal, maka para tetangga takziyah dengan membawa beras, uang serta membantu memasak untuk keluarga musibah dan memasak bagi yang bertakziah yang mana makanan itu berasal dari tetangga2 sekitar dan sama sekali tidak mengambil harta dari keluarga musibah.

b. Ulama yang lain berpendapat bolehnya menghidangkan makanan dari pihak keluarga mayit bagi para jamaah tahlilan maupun para pentakziyah,walaupun pada masa-masa tiga hari hari pertama meninggalnya si mayit.
Hal ini berdasarkan pada beberapa dalil antara lain:

Pertama, Ahmad bin Mani’ meriwayatkan dalam Musnad-nya dari jalur al-Ahnaf bin Qais yang berkata:

👉”Setelah Khalifah Umar bin al-Khaththab ditikam, maka beliau meberitahukan agar Shuhaib yang bertindak sebagai imam shalat selama tiga hari dan memerintahkan menyediakan makanan untuk orang-orang yang datang bertakziyah.”

Menurut al-Hafiz Ibn Hajar, sanad hadis ini bernilai hasan. (Lihat al-Hafiz Ibn Hajar, al-Mathalib al-‘Aliyah fi Zawaid al-Masanid al-Tsamaniyah, juz 1, hlm. 199, hadits no. 709).

Kedua, al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam kitab al-Zuhd dari al-Imam Thawus (ulama salaf dari generasi tabi’in), yang berkata:

👉”Sesungguhnya orang-orang yang meninggal dunia itu diuji oleh di dalam kubur mereka selama tujuh hari. Mereka (para generasi salaf) menganjurkan mengeluarkan sedekah makanan untuk mereka selama tujuh hari tersebut.”

Menurut al-Hafiz Ibn Hajar, sanad hadis ini kuat (shahih). (Lihat, al-Hafiz Ibn Hajar, al-Mathalib al-‘Aliyah, juz 1, hlm. 199, hadis no. 710).

Ketiga, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada sebuah jenazah, maka aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berada diatas kubur berpesan kepada penggali kubur :

👉“perluaskanlah olehmu dari bagian kakinya, dan juga luaskanlah pada bagian kepalanya”, Maka tatkala telah kembali dari kubur, seorang wanita (istri mayyit, red) mengundang (mengajak) Rasulullah, maka Rasulullah datang seraya didatangkan (hidangan) makanan yang diletakkan dihadapan Rasulullah, kemudian diletakkan juga pada sebuah perkumpulan (qaum/sahabat), kemudian dimakanlah oleh mereka.

Maka ayah-ayah kami melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam makan dengan suapan, dan bersabda:

👉“aku mendapati daging kambing yang diambil tanpa izin pemiliknya”.

Kemudian wanita itu berkata : “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengutus ke Baqi’ untuk membeli kambing untukku, namun tidak menemukannya, maka aku mengutus kepada tetanggaku untuk membeli kambingnya kemudian agar di kirim kepadaku, namun ia tidak ada, maka aku mengutus kepada isterinya (untuk membelinya) dan ia kirim kambing itu kepadaku, maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

👉“berikanlah makanan ini untuk tawanan”.

(Sunan Abi Daud no. 3332 ; As-Sunanul Kubrra lil-Baihaqi no. 10825 ; hadits ini shahih ; Misykaatul Mafatih (5942) At-Tabrizi dan Mirqatul Mafatih syarh Misykah al-Mashabih (5942) karangan al-Mulla ‘Alial-Qari, hadis tersebut derajat shahih.

Lebih jauh lagi, didalam kitab tersebut disebutkan dengan lafaz berikut,…

(استقبله داعي امرأته) ، أي: زوجة المتوفى.

“Rasulullah menerima ajakan wanitanya, yakni istri dari yang wafat”.).

Semoga bermanfaat,…dan sila share untuk semua.

Disediakan oleh : Ustaz Dr Zaaref Al HaQQy.

07/07/2020 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

ORANG AWAM BERTANYA DALIL?

1- ORANG AWAM bermaksud dia tidak dalam kalangan penuntut ilmu agama yang menekuni dan mendalami.

2- Apabila dia bertanya seorang guru, adakah perlu dia bertanya sumber di MANA DALIL?

3- Jawapannya TIDAK perlu, walaupun bertanya bukanlah suatu kesalahan.

4- Tanggungjawab awam ialah bertanya kepada ahli zikr sekiranya tidak mengetahui seperti firman Allah (فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون) surah an Nahl:43

5- Begitulah yang berlaku sejak generasi sahabat , tabiin, imam-imam mazhab dan seterusnya.

6- FUQAHA’ di kalangan sahabat tidaklah ramai. Kata Imam ibn Qayyim hanya sekitar 130 orang sahabat yang di ketahui fatwa mereka dari kalangan sahabat sedangkan jumlah sahabat adalah melebihi 120 ribu orang.

7- Yang paling unggul dikalangan mereka pula, hanya sekitar 10 orang sahaja.

8- Apabila seorang sahabat bertanya hukum, tiada mereka bertanya apakah DALILNYA?

9- Perkara ini banyak terdapat dalam kitab2 hadis seperti musannaf Ibn Abi Syaibah dan musannaf abd Razzaq.

10- Begitu juga banyak fatwa-fatwa Imam mazhab dalam kitab mereka.

11- Tidak perlu secara mutlaq seorang mufti berfatwa dengan membawa dalil, untuk membezakan fatwa dan tasnif. Mereka berhujjah bahawa ulama setiap zaman dari kalangan sahabat dan selepas mereka berfatwa kepada orang awam . Mereka beramal dengannya tanpa diterangkan dalil. Situasi ini tersebar tanpa diingkari para ulama zaman berzaman dan ia adalah ijmak. (Syaikh San’aani, Ijabah al Sail Syarh Bughyah al Amal 407)

12- Kata alQadi abul Qasim asSaimariy, “pendetailan, sekiranya yang bertanya adalah faqih, maka hendaklah disebutkan dalilnya, sekiranya orang awam, maka tidaklah perlu(Allamah alQasimi,al Fatwa fil islama 98). Begitu juga disebutkan oleh alHafiz Khatib alBaghdadi. (alFaqih wal Mutafaqqih 2/406)

Oleh: Ustaz Dr Muhammad Lukman Ibrahim

06/07/2020 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

“Tauhid terbagi menjadi tiga, Rububiyah, Uluhiyah dan al Asma’ wa as Shifat”…???

Kopy paster dari page pondok jiran seberang….bagus untuk dipelajari.

Apa Kamu Nak Jawab Wahhabi Setelah Fakta Ini??

Apabila Wahhabi berkata:
“Tauhid terbagi menjadi tiga, Rububiyah, Uluhiyah dan al Asma’ wa as Shifat”

Maka katakanlah:

✔️Ini adalah bid’ah dlolalah (bid’ah sesat) dari Ibnu Taimiyah pada abad ke 7 hijriyah yang diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an Najdi at Tamimi.

👍Tidak ada Nash dari al Qur’an dan hadits yang secara eksplisit menjelaskan adanya pembagian tauhid tersebut.

👍Tidak ada juga para sahabat, tabi’in dan para ulama salaf yang membagi tauhid seperti yang kalian lakukan, bahkan al Imam Ahmad bin Hanbal Radliyallahu ‘anhu yang kalian klaim sebagai panutan kalian (padahal beliau terbebas dari Aqidah rusak kalian) juga tidak pernah ditemukan menjelaskan pembagian tauhid ini.

✔️Pembagian tauhid ini tergolong sebagai bid’ah sesat karena bertentangan dengan syara’. Penjelasannya sebagai berikut:

☑️ Dengan konsep tauhid Rububiyah kalian mengatakan bahwa orang-orang kafir itu bertauhid Rububiyah, karena itu para Nabi diutus oleh Allah untuk menyeru pada tauhid Uluhiyah.

👍Pernyataan ini bertentangan dengan al Qur’an, hadits dan akal.

1⃣Dalam Al Qur’an, Allah ta’ala berfirman:

مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِیُقَرِّبُونَاۤ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰۤ

[Surat Az-Zumar 3].

“Tidaklah kami beribadah kepada mereka (berhala-berhala) kecuali agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.

👆Ayat ini secara jelas menegaskan bahwa orang-orang kafir tidak bertauhid Rububiyah, karena ketika menyembah berhala, mereka meyakini bahwa berhala itu bisa menciptakan hidayah dan pendekatan diri mereka kepada Allah.

Dalam ayat yang menceritakan tentang Fir’aun yang mengaku sebagai Rabb, Fir’aun berkata:

انا ربكم الاعلى

“Aku adalah Tuhan kalian yang maha tinggi”(an Naziat: 24)

👆Ayat ini menunjukkan bahwa Fir’aun tidak bertauhid Rububiyah sebagaimana kalian klaim.

Fir’aun juga mengaku sebagai Ilaah:

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡمَلَأُ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرِی

[Surat Al-Qashash 38]
“Dan Fir’aun berkata, Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui bagi kalian ilaah selain aku”.

👆Ayat ini menunjukkan bahwa Fir’aun tidak bertauhid Uluhiyah.

♦️Dua ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada beda antara tauhid Rububiyah dan Uluhiyah. Karena di satu ayat Fir’aun mengaku sebagai Rabb dan di satu ayat Fir’aun mengaku sebagai ilaah.

2⃣Dalam hadits tentang pertanyaan kubur oleh dua malaikat, Munkar dan Nakir. Pertanyaan keduanya adalah:
من ربك؟
– Seandainya Tauhid Rububiyah itu beda dengan tauhid Uluhiyah dan bahwa tauhid Rububiyyah tanpa tauhid Uluhiyah tidak cukup untuk menjadikan seseorang beriman maka pertanyaannya pasti berbunyi:

من إلهك؟

atau kedua-duanya,..

من ربك ومن إلهك؟

3⃣Secara akal tidak mungkin orang yang meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta dan pengatur alam semesta itu menyembah selain-Nya, yang dia ketahui bukan pencipta dan bukan pengatur alam semesta ini.

☑️Dengan konsep tauhid Uluhiyah, kalian mengatakan bahwa orang yang melakukan tawassul, tabarruk dan Istighotsah dengan nabi dan para wali itu musyrik (beribadah kepada Nabi dan wali).

👍Ini adalah tuduhan syirik terhadap Nabi yang telah mengajarkan tawassul pada seorang sahabat buta, tuduhan syirik terhadap para sahabat seperti sahabat Umar ibn al Khaththab, Abu Ayyub al Anshori, Bilal Ibnu Harits al Muzani, Bilal bin Robah, Abdullah bin Umar dan para sahabat lainnya yang telah mempraktikkan tawassul dengan nabi dan para wali. Ini juga tuduhan syirik terhadap para ulama salaf dan mayoritas umat Islam yang senantiasa melakukan tawassul dengan nabi dan para wali.

👍Dalam tawassul tidak ada unsur ibadah kepada selain Allah, karena tawassul itu berdo’a kepada Allah dengan keagungan seorang Nabi atau Wali, bukan berdo’a kepada Nabi atau wali.

♦️Tidak ada seorang muslim-pun ketika bertawassul yang meyakini bahwa Nabi atau Wali itu adalah pencipta manfaat atau madlorrot, tetapi penyebutan nama mereka dalam doa kepada Allah adalah sebab syar’i dari dikabulkannya do’a seseorang.

☑️ Konsep tauhid al Asma’ wa as Shifat adalah cara kalian untuk menyembunyikan Aqidah tasybih dan tajsim.

Kalian mengatakan: “kami tidak mensifati Allah kecuali dengan sifat yang Allah sifatkan pada Dzat-Nya”.

Dengan konsep ini kalian juga mengkafirkan majoriti umat Islam yang mentakwil ayat-ayat sifat mutasyabihat yang makna zahirnya mengindikasikan bahwa Allah serupa dengan makhluk.

👍Dengan dalih pernyataan itu kalian mensifati Allah dengan duduk (julus), bersemayam (istiqrar), padahal Allah tidak pernah mensifati Dzat-Nya dengan sifat itu. *”Teori dan prakteknya berbeda”*

(Petikan dari FB Zaref Shah Al HaQQy)

04/07/2020 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Anjing bukan Najis?

Salam ustaz,..saye pernah terbaca fiqih seorang wahhabi kata Anjing bukan Najis,..betul ker,..?

Wasalam,…persoalan ini memang banyak mempersoalkan,..Namun mereka selalu mengutip pandangan segelitir ulama dan tak nak melihat jumhur.

Melalui isu ini dapat ditekuni bahawasanya terdapat perbezaan hukum di antara ulama’ empat mazhab mu’tabar. Namun di Malaysia konsep pemahaman agama Islam yang berorentasikan Mazhab Syafie telah zaman-berzaman dipraktikkan dan merupakan budaya masyarakat setempat yang perlu diraikan. Maka kami akan kemukakan jawapan menerusi Mazhab Syafie.

Anjing adalah termasuk sebagai najis mughallazah iaitu najis berat. Sama ada yang digunakan untuk berburu atau tidak, yang kecil atau yang besar. Ini berdasarkan hadis daripada Abu Hurairah R.A. Kata beliau :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي دَارَ قَوْمٍ مِنَ الأَنْصَارِ وَدُونَهُمْ دَارٌ ، قَالَ : فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ ، فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، سُبْحَانَ اللهِ تَأْتِي دَارَ فُلاَنٍ ، وَلاَ تَأْتِي دَارَنَا ، فقَالَ : فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لأَنَّ فِي دَارِكُمْ كَلْبًا ، قَالُوا : فَإِنَّ فِي دَارِهِمْ سِنُّوْرًا ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ السِّنُّوْرَ سَبُعٌ

Maksudnya :” Nabi SAW pernah masuk ke rumah seorang Ansar dan Nabi juga pernah tidak masuk ke rumah seorang Ansar yang lain. Abu Hurairah berkata : Perbuatan tersebut menyebabkan mereka terasa. Mereka berkata : Wahai Rasulullah, Maha Suci Allah, engkau masuk ke rumah fulan dan tidak masuk ke rumah kami. Nabi SAW bersabda : Ini kerana di dalam rumah kamu ada anjing. Mereka berkata : Di dalam rumah mereka terdapat sinnur (sejenis kucing yang disebut juga felidae). Maka Nabi SAW menjawab : Sesungguhnya sinnur itu adalah haiwan liar.”

(Hadis riwayat Imam Ahmad, No. 8324 di dalam Musnad).

Merujuk kepada Mazhab Syafie, setiap inci bagi seekor anjing itu adalah dikira sebagai najis. Sepertimana yang dikatakan oleh Imam al-Nawawi;

واعلم أنه لا فرق عندنا بين ولوغ الكلب وغيره من أجزائه فإذا أصاب بوله أو روثه أو دمه أو عرقه أو شعره أو لعابه أو عضو من أعضائه شيئا طاهرا في حال رطوبة أحدهما وجب غسله سبع مرات إحداهن بالتراب

Maksudnya; “Ketahuilah, tidak ada perbezaan di kalangan kami antara jilatan anjing dengan selainnya; daripada anggota-anggota anjing. Apabila terkena kencingnya, najisnya, darahnya, peluhnya, bulunya, air liurnya atau mana-mana anggota dari anggota badannya yang bersih ketika ia sedang berada pada keadaan apa sekalipun, maka wajib membasuhnya dengan tujuh kali basuhan dan salah satu daripadanya adalah tanah.

(Rujuk Al Minhaj bi Sharh Sahih Muslim, m/s 185)

Menyentuh anjing secara sengaja kerana menajiskan diri tanpa tujuan atau hajat adalah haram di sisi Islam. Sepertimana yang dinyatakan oleh Imam al-Bujairimi dan Sheikh Ibnu Hajar al-Haithami:

التضمخ بالنجاسة إنما يحرم

Maksudnya: Menyentuh najis secara sengaja ia adalah Haram.

(Rujuk Hasyiah Bujairami ala Syarah Manhaj al-Tullab, m/s 105 dan Hawasyi Tuhfah al-Manhaj bi Syarah al-Manhaj, m/s 174).

Kesimpulan di dalam isu ini, kami berpendapat menyentuh anjing atau mengusap kepalanya dengan tujuan lakonan dalam filem adalah tidak dibenarkan kerana dilakukan dengan sengaja tanpa sebab yang diizinkan oleh syara’. Jika menyentuhnya membawa kepada dosa dan sewajibnya menyamak tangan selepas sesi pengambaran dengan 7 kali basuhan air mutlak dan salah satu daripadanya air yang bercampur tanah.

Namun begitu, terdapat rukhsah bagi mereka yang membela atau memegang anjing yang didahulukan hajat dan keperluan selari dengan kehendak syara’. Ini berdasarkan dalil daripada hadis Nabi SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَمْسَكَ كَلْبًا، فَإِنَّهُ يَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطٌ، إِلَّا كَلْبَ حَرْثٍ أَوْ مَاشِيَةٍ

Maksudnya; “barangsiapa yang membela anjing, maka sesungguhnya mengurangi pada setiap hari dari amalannya satu qirat, kecuali anjing untuk pengawasan atau anjing menjaga binatang ternakan”.

(Hadis riwayat Bukhari, No. 2322)

Dari hadis tersebut, ia merupakan keizinan bagi mereka yang mahu membela anjing dengan disertakan hajat dan tujuan iaitu sebagai haiwan pemburu; atau pemandu jalan untuk orang buta sekiranya amat memerlukan dan tiada orang lain yang dapat membantu; atau tujuan keselamatan pihak berkuasa seperti Polis dan Kastam dan juga untuk mengawal keselamatan di sekitar rumah; atau sebagai haiwan penjaga untuk menjaga haiwan ternakan.

WallahuA’lam.

(Oleh Ustaz Zaref Shah Al HaQQy)

28/06/2020 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | | Leave a comment

Usuluddin ialah ilmu yg membicarakan mengenai aqidah.

Usuluddin ialah ilmu yg membicarakan mengenai aqidah.

Sekiranya ianya dibicarakan di Malaysia, perlulah menjurus ke arah perbahasan mengenai aliran Asha’irah wal Maturidiyyah yg diterima pakai sejak dahulu hingga kini.

Tidak perlu mempromosikan pegangan atau pemikiran yg di luar daripada aliran ini seperti mempromosikan fikrah Ibn Taymiyyah dan seangkatan dgnnya kerana boleh mengundang perbalahan yg berpanjangan di dalam negara.

Perbincangan aqidah berdasarkan aliran ASWJ boleh diusahakan dgn pelbagai peringkat, bermula pada peringkat permulaan, peringkat pertengahan dan peringkat tertinggi.

Kesemua peringkat ini hendaklah menuju ke arah pemantapan pemahaman terhadap perbahasan aqidah berdasarkan aliran Asha’irah wal Maturidiyyah.

Sekiranya ini dilakukan, maka ia bertepatan dengan tafsiran ASWJ menurut perundangan negara yg berkaitan dgn hal ehwal agama.

Wallahua’lam.

(Ustaz Dr Mohd Murshidi Mohd Noor)

27/06/2020 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

Cantik susunan bahasanya…

Kita diberi rezeki bangun berqiyamulail, maka bersyukurlah, tapi jangan dipandang rendah orang yang tidur, kerana dia mungkin tidur dengan air mata taubat dan penyesalan.

Kita diberi rezeki gagah berpuasa sunat, maka bersyukurlah, tapi jangan pandang rendah insan yang belum mampu istiqomah berpuasa sunat, siapa tahu pahala sedekah secara sembunyinya diangkat ke langit.

Kita diberi rezeki mampu khatam Al-Quran sebulan sekali, maka bersyukurlah, namun jangan diejek- ejek, disindir insan yang masih merangkak- rangkak dengan muqaddamnya. Siapa tahu Allah lebih mencintainya yang istiqomah belajar mengaji dengan segala kepayahannya.

Kita diberi rezeki dengan harta dunia dan mampu bersedekah jariah, maka bersyukurlah, namun jangan dihina si miskin yang tidak mampu memberi kerana kekurangannya. Mana tahu mulutnya tidak berhenti berzikir menjadi pahala sedekahnya.

Kita direzekikan lahir dari keluarga yang alim. Kecil- kecil sudah mantap imannya, sudah sempurna menutup auratnya, sudah sempurna solat, bacaan Al-Quran dan hadisnya. Maka bersyukurlah, tetapi jangan dihina anak- anak yang lahir dalam keluarga yang porak- peranda. Kita tidak tahu pahala yang diberi Allah atas payah jerihnya mereka mencari agama.

Bersyukurlah andai kita diberi rezeki beramal ibadah, namun ibadah itu hancur sama sekali saat kita berasa aman dengannya dan meremehkan orang lain.

Ingatlah sejarah Iblis Laknatullah yang hebat ibadahnya namun terhumban keluar kerana satu titik…… SOMBONG!

26/06/2020 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

HATI-HATI DI SEBALIK SLOGAN “KEMBALI KEPADA AL-QUR’AN DAN AS SUNNAH…”

Kaum Wahabi Salafi sangat terkenal dengan slogan “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”.

Mereka mengajak umat untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah. Kita muslimin semua tahu kenapa demikian? Kerana, sebagai muslim kita sememangnya sangat meyakini 100% tentunya bahwa al-Qur’an dan Sunnah merupakan sumber ajaran Islam yang utama yang diwariskan oleh Rasulullah Saw. Namun begitu di sebalik slogan yg dilihat halus mulus ini ada racun yang tersembunyi tetapi dapat dikesan oleh mereka yg teliti dan mengkaji:

1. Prinsip “Kembali kepada al- Qur’an dan Sunnah” adalah benar secara teori, dan sangat ideal bagi setiap orang Islam.

Tetapi yang harus diperhatikan adalah, apa yang benar secara teori belum tentu benar secara praktis, menimbang kapasiti dan kapabiliti (kemampuan) tiap orang dalam memahami al-Qur’an & Sunnah sangat berbeza-beza.

Maka hendaklah dipastikan, kesimpulan kefahaman terhadap al-Qur’an atau Sunnah yang dihasilkan oleh seorang ‘alim yang menguasai Bahasa Arab dan segala ilmu yang menyangkut peringkat penafsiran atau ijtihad, akan jauh berbeza dengan kesimpulan kefahaman yang dihasilkan oleh orang awam yang hanya merujuk buku-buku “TERJEMAH” al-Qur’an atau Sunnah.

2. Al-Qur’an dan Sunnah sudah dibahas dan dikaji oleh para ulama terdahulu yang memiliki keahlian yang sangat mampu dan pakar untuk melakukan hal itu.

`Ulama mazhab yang empat, para mufassiriin (ulama tafsir), muhadditsiin (ulama hadis), fuqahaa’ (ulama fiqih), ulama aqidah ahus-sunnah wal- Jama’ah, dan mutashawwifiin (ulama tasawuf/ akhlaq). Hasilnya, telah ditulis beribu-ribu jilid kitab dalam rangka menjelaskan kandungan al-Qur’an dan Sunnah secara tersusun dan terperinci, sebagai wujud kasih sayang mereka terhadap umat yang hidup dikemudian hari. Karya-karya besar itu merupakan pemahaman para ulama yang disebut di dalam al-Qur’an sebagai “ahludz- dzikr”, yang kemudian disampaikan kepada umat Islam secara turun-temurun dari generasi ke generasi secara berantai sampai saat ini.

Adalah sebuah kesilapan besar jika upaya orang sekarang dalam memahami Islam dengan cara “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” dilakukan tanpa merujuk pemahaman para ulama tersebut.

Itulah yang dibudayakan oleh sebagian kaum Salafi Wahabi. Dan yang menjadi punca penyimpangan faham Salafi Wahabi sesungguhnya, adalah kerana mereka memutus mata rantai amanah keilmuan majorit ulama dengan membatasi keabsahan sumber rujukan agama hanya sampai pada ulama salaf (yang hidup sampai abad ke-3 Hijriah), hal ini seperti yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah (hidup di abadke-8 H.) dan para pengikutnya.

Bayangkan, berapa banyak ulama yang dicampakkan dan berapa banyak kitab-kitab yang dianggap sampah yang ada di antara abad ke-3 hingga abad ke-8 hijriyah.

Lebih parahnya lagi, dengan rantai yang terputus jauh, Ibnu Taimiyah dan kaum Wahabi pengikutnya seolah memproklamirkan diri sebagai pembawa ajaran ulama salaf yang murni, padahal yang mereka sampaikan hanyalah pemahaman mereka sendiri setelah merujuk langsung pendapat-pendapat ulama salaf.

Bukankah yang lebih mengerti tentang pendapat ulama salaf adalah murid-murid mereka sendiri? Dan bukankah para murid ulama salaf itu kemudian menyampaikannya kepada murid- murid mereka lagi, dan hal itu terus berlanjut secara turun temurun dari generasi ke generasi baik lisan mahupun tulisan?

Bijaksanakah Ibnu Taimiyah dan pengikutnya ketika pemahaman agama dari ulama salaf yang sudah terpelihara dari abad ke abad itu tiba di hadapan mereka di abad mana mereka hidup? Lalu mereka campakkan sebagai tanda tidak percaya, dan mereka lebih memilih untuk memahaminya langsung dari para ulama salaf tersebut?

Sungguh, ini bukan saja tidak bijaksana, tetapi juga kesilapan besar, bila tidak ingin disebut kebodohan.

Jadi kaum Wahabi bukan cuma mengagungkan motto “kembali kepada al- Qur’an dan Sunnah” secara langsung, tetapi juga “kembali kepada pendapat para ulama salaf” secara langsung dengan cara dan pemahaman sendiri.

Mereka bagaikan orang yang ingin menghitung buah di atas pohon yang rendang tanpa memanjat, dan bagaikan orang yang mengamati matahari atau bulan dari bayangannya di permukaan air.

3. Para ulama telah menghidangkan penjelasan tentang al-Qur’an dan Sunnah di dalam kitab-kitab mereka kepada umat sebagai sebuah “hasil jadi”.

Para ulama itu bukan saja telah memberi kemudahan kepada umat untuk dapat memahami agama dengan baik tanpa proses pengkajian atau penelitan yang rumit, tetapi juga telah menyediakan jalan keselamatan bagi umat agar terhindar dari pemahaman yang keliru terhadap al-Qur’an dan Sunnah yang sangat mungkin terjadi jika mereka lakukan pengkajian tanpa bekal yang mumpuni seperti yang dimiliki para ulama tersebut.

Boleh dibilang, kemampuan yang dimiliki para ulama itu tak mungkin lagi bisa dicapai oleh orang setelahnya, terlebih di zaman ini, menimbang masa hidup mereka yang masih dekat dengan masa hidup Rasulullah Saw & para sahabat yang tidak mungkin terulang, belum lagi keunggulan hafalan, penguasaan berbagai bidang ilmu, lingkungan yang shaleh, wara’ (kehati-hatian) , keikhlasan, keberkahan, dan lain sebagainya.

Pendek kata, para ulama seakan- akan telah menghidangkan “makanan siap saji” yang siap disantap oleh umat tanpa bersusah payah meracik atau memasaknya terlebih dahulu, sebab para ulama tahu bahwa kemampuan meracik atau memasak itu tidak dimiliki setiap orang.

Saat kaum Salafi & Wahabi mengajak umat untuk tidak menikmati hidangan para ulama, dan mengalihkan mereka untuk langsung merujuk kepada al- Qur’an dan Sunnah dengan dalih pemurnian agama dari pencemaran “pendapat” manusia (ulama) yang tidak memiliki otoritas untuk menetapkan syari’at, berarti sama saja dengan menyuruh orang lapar untuk membuang hidangan yang siap disantapnya, lalu menyuruhnya menanam padi.

Seandainya tidak demikian, mereka mengelabui umat dengan cara menyembunyikan figur ulama majoriti yang mereka anggap telah “mencemarkan agama”, lalu menampilkan dan mempromosikan segelintir sosok ulama Salafi Wahabi beserta karya-karya mereka serta mengarahkan umat agar hanya mengambil pemahaman al-Qur’an dan Sunnah dari mereka saja dengan slogan “pemurnian agama”.

Sesungguhnya, “pencemaran” yang dilakukan para ulama yang shaleh dan ikhlas itu adalah upaya yang luar biasa untuk melindungi umat dari kesesatan, sedangkan “pemurnian” yang dilakukan oleh kaum Salafi Wahabi adalah penodaan terhadap ijtihad para ulama dan pencemaran terhadap al-Qur’an dan Sunnah.

Dan pencemaran terbesar yang dilakukan oleh kaum Salafi Wahabi terhadap al-Qur’an dan Sunnah adalah saat mereka mengharamkan begitu banyak perkara yang tidak diharamkan oleh al-Qur’an dan Sunnah; saat mereka menyebutkan secara terperinci amalan-amalan yang mereka vonis sebagai bid’ah sesat atas nama Allah dan Rasulullah Saw., padahal Allah tidak pernah menyebutkannya di dalam al-Qur’an dan Rasulullah Saw. tidak pernah menyatakannya di dalam Sunnah (hadis)nya.

Dari huraian di atas, nyatalah bahwa orang yang “kembali kepada al- Qur’an dan Sunnah” itu belum tentu dapat dianggap benar, dan bahwa para ulama yang telah menulis ribuan jilid kitab tidak mengutarakan pendapat menurut hawa nafsu mereka.

*Amat ironi bila karya-karya para ulama yang jelas-jelas lebih mengerti tentang al-Qur’an dan Sunnah itu dituduh oleh kaum Salafi Wahabi sebagai kumpulan pendapat manusia yang tidak berdasar pada dalil, sementara kaum Salafi Wahabi sendiri yang jelas-jelas hanya memahami dalil secara harfiyah (tekstual) dengan sombongnya menyatakan diri sebagai orang yang paling sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah.

26/06/2020 Posted by | Bicara Ulama, wahabi | | Leave a comment

ISU DOA BERBUKA PUASA

Ada org cuba menimbulkan keraguan kpd org ramai mengenai doa ketika berbuka puasa dgn mengatakan bersumber daripada hadith palsu dsb. Di sini saya cuba bawakan sumber rujukan para ulama mengenai doa ketika berbuka puasa.

Imam al-Nawawi di dalam karyanya al-Adhkar ada membawakan lima hadith berkaitan dengan doa berbuka puasa:

1) ذَهَبَ الظَّمأُ، وابْتَلَّتِ العُرُوقُ، وَثَبَتَ الأجْرُ إِنْ شاءَ اللَّهُ تَعالى

2) اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ

3) الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أعانَنِي فَصَمْتُ، وَرَزَقَنِي فأفْطَرْتُ

4) اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنا، وَعلى رِزْقِكَ أَفْطَرْنا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إنَّكَ أنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ

5) اللَّهُمَّ إني أسألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْء أنْ تَغْفِرَ لي

Berdasarkan doa yang ma’thur daripada hadith-hadith Nabi صلى الله عليه وسلم yang dihimpunkan oleh Imam al-Nawawi ini, maka jika kita merujuk kepada karya-karya ulama yang membicarakan mengenai doa ketika berbuka puasa, maka didapati para ulama menghimpunkan kesemua doa di atas dalam satu doa.

Misalnya di dalam karya Ghayah al-Muna Sharh Safinah al-Naja disebutkan doa ketika berbuka puasa seperti berikut:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ، وبك آمنت، ولك أسلمت، وعليك توكلت، ورحمتك رجوت، وإليك أنبت، ذَهَبَ الظَّمأُ، وابْتَلَّتِ العُرُوقُ، وَثَبَتَ الأجْرُ إِنْ شاءَ اللَّهُ تَعالى، يا واسع الفضل اغفرلي، الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أعانَنِي فَصَمْتُ، وَرَزَقَنِي فأفْطَرْتُ، اللهم وفقنا للصيام، وبلغنا فيه القيام، وأعنا عليه والناس نيام، وأدخلنا الجنة بسلام.

Ini bermakna, tidak timbul isu: “hadith palsu, tiada asal”, “hadith daif”, “amalkan hadith sahih sahaja” dan sebagainya kerana para ulama menghimpunkan doa-doa ini adalah daripada pelbagai sumber untuk diamalkan, bukannya satu sumber sahaja.

Selain itu, para ulama menitikberatkan ttg doa ketika berbuka puasa dgn menghimpunkan kepelbagaian sumber hadith memandangkan doa orang yang berpuasa adalah mustajab doa berdasarkan hadith Nabi صلى الله عليه وسلم:

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ
Maksudnya: Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa itu, doanya tidak ditolak ketika ia berbuka.

Oleh yang demikian, elok kita memperbanyakkan berdoa ketika berbuka puasa bukannya menimbulkan keraguan kpd org ramai utk beramal, dan tidak salah kita membaca doa yang masyhur dibaca oleh orang ramai ketika berbuka puasa walaupun ringkas iaitu:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ برحمتك يا أرحم الراحمين

kerana ianya termasuk sebahagian doa panjang yang dikumpulkan oleh para ulama mengenai doa ketika berbuka puasa.

Mengenai perkataan tambahan: “وَبِكَ آمَنْتُ” yang tidak terdapat di dalam mana-mana riwayat mengenai doa berbuka puasa, maka dijawab oleh ulama antaranya al-Mutawali dengan beliau mengatakan bahawa disunatkan menambah perkataan tersebut dalam doa iaitu:

وَبِك آمَنْتُ وَعَلَيْك تَوَكَّلْتُ وَلِرَحْمَتِك رَجَوْتُ وَإِلَيْك أَنَبْتُ

[Sumber: Tuhfah al-Muhtaj Fi Sharh al-Minhaj, j. 3, h. 425]

Berdasarkan penerangan di atas, tiada salah kita membaca doa masyhur yang ringkas yang dibaca oleh orang ramai ketika berbuka puasa. Namun, seeloknya kita membaca doa yang lengkap yg diajarkan oleh para ulama.

Justeru, hindari diri anda daripada golongan yang suka menyalahkan amalan masyarakat Nusantara dengan mengatakan doa ini datang daripada: “hadith palsu”, “hadith daif”, “mari amalkan hadith sahih sahaja” dan sebagainya kerana hal ini boleh menimbulkan keraguan dlm diri org ramai utk beribadah.

Wallahua‘alam.

Ustaz Mohd Murshidi Mohd Noor

23/06/2020 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah | , | Leave a comment

*ISU ZIKIR ISM MUFRAD (MENYEBUT ALLAH, ALLAH BERULANG2 KALI)*

(1) Jumpa photoshot ini. (Btw… Siapa tahu HFA tu apa/siapa?)

(2) Jelas daripada apa yang disimpulkan dapat dilihat bagaimana kekeliruan2 dan sangkaan2 tiba2 diangkat seolah-olah itulah hakikat kebenaran sehinggakan tuntutan yang thabit daripada Al-Quran dan As-Sunnah pula dituduh bid’ah yang sesat!!! 🤦🏻‍♂️

(3)Dakwaan kononnya “bila dipersoalkan baru DICARI dalil2nya” jelas tidak kena dengan realiti.

(4) Dalil2 menyebut (zikir) Allah banyak2 dan berulang2 kali telah ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Bila dipersoalkan oleh orang-orang yang keliru tentang asas zikir (menyebut) Allah itu, maka DIPERJELASKAN dalil2nya, bukan BARU DICARI!

(5) Masalah dengan sebahagian ummat Islam sekarang adalah merasakan seolah-olah dalil itu hanya Sunnah fi’liyyah (perbuatan RasuulilLaah S.A.W) sahaja, padahal Al-Quran, As-Sunnah – termasuk qawliah (perkataan2 RasuulilLaah S.A.W) dan taqriiriyyah (pengiktirafan2 daripada RasuulilLaah S.A.W) -, ijmak dan Qiyaas dan lain-lain adalah dalil2 muktabar di dalam penetapan hukum.

_________///_________

* Ada 10 siri penerangan oleh Maulana Lutfi Muharam HafizhohulLaah yang lebih dari memadai sebenarnya bagi orang yang benar-benar jujur mencari kebenaran dan ikhlas berlapang dada meraikan sudut pandangan berbeza.

👇🏼👇🏼👇🏼

*Himpunan link status ilmiah dari Maulana Ahmad Lutfi Abu Faqeh tentang “Masaalah zikir ALLAH secara tunggal”. (isu zikir Allah Allah)*

1- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 1

2- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 2

3- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 3

4- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 4

5- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 5

6- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 6

7- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 7

8- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 8

9- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 9

10- Masaalah zikir ALLAH secara tunggal Siri 10 (Akhir)

(FB Ustaz Engku Ahmad Fadzil)

22/06/2020 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | | Leave a comment

ISU Zikir ALLAH.

Ada orang bertanya, kenapa kita zikir nama Allah sahaja, kan Allah itu daripada dua perkataan al dan ilah maka Allah bermakna Tuhan itu, takkan kita zikir Tuhan itu 100 kali, apa manfaatnya?

Sebenarnya para ulama’ telah bersepakat bahawa Allah adalah lafzul jalalah dan ismu’Llah al-a’zham, nama Tuhan yang paling agung. Oleh itu Allah bukan bermakna Tuhan, tetapi ia adalah nama khas bagi Tuhan yang sebenar. Tuhan dlm bahasa Arab adalah ilah/ rabb. Jadi tak betul pandangan orang yang menyangka bahawa Allah itu nama umum yang bermaksud Tuhan. Ia adalah nama khusus dan nama ini diberikan oleh Allah sendiri, bukan dicipta oleh manusia.

Oleh kerana itu terjemahan bagi la ilaha illa’Llah bukan “tiada tuhan melainkan tuhan”, tetapi “tiada tuhan melainkan Allah”. Allah disitu adalah nama bagi Tuhan yang sebenar. Jika diterjemahkan kepada tiada Tuhan melainkan Tuhan maka ini terjemahan yang keliru dan tiada maknanya.

Maka jelaslah bahawa zikir nama Allah besar manfaatnya, ia mengingatkan kita kepadaNya, supaya kita tidak leka dengan yang lain, mendekatkan kita kepada Tuhan sebenar yang kita sentiasa mengabdikan diri padaNya, bukan tuhan-tuhan yang lain.

Ustaz Dr Khalif Muammar

21/06/2020 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Kenapa Rasulullah Beristighfar?

1. Sheikh al-Dahlawi menyebutkan bahawa terdapat sarjana Muslim yang berasa hairan mengapa Rasulullah sering beristighfar sedangkan Baginda telah diampunkan dosanya. Kata Sheikh al-Dahlawi:

*ولقد تحير العلماء في بيان معنى هذا الحديث وتأويله*

“Sesungguhnya (sebahagian) ulama merasa hairan ketika membahaskan hadith ini (hadith istighfar Rasulullah).” Ini kerana kita semua sedia maklum bahawa Rasulullah telah dikurniakan keampunan buat Baginda, bahkan Baginda adalah maksum. Lalu untuk apa lagi istighfar tersebut?

2. Menurut riwayat Sahih Muslim, Rasulullah dikatakan tenggelam dalam kekhusyukkan beristighfar. Sabda Baginda Nabi:

*إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِئَةَ مَرَّةٍ*

“Sesungguhnya hatiku tenggelam dalam keseronokan beristighfar. Dan sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah setiap hari seratus kali.” (HR Muslim)

3. Timbul persoalan di sini, mengapa Rasulullah yang maksum ini khusyuk dan tenggelam jiwanya dalam memohon keampunan buat Allah sedangkan Baginda adalah maksum.

Menurut al-Imam al-Nawawi, Baginda beristighfar bukan buat dirinya akan tetapi untuk umatnya iaitu kita! Kata al-Imam al-Nawawi:

*هُوَ هَمُّهُ بِسَبَبِ أُمَّتِهِ وَمَا اطَّلَعَ عَلَيْهِ مِنْ أَحْوَالِهَا بَعْدَهُ فَيَسْتَغْفِرُ لَهُمْ*

“Ia adalah disebabkan kerana keperihatian Nabi terhadap umatnya, Baginda memerhati hal ehwal yang akan menimpa umatnya lalu Baginda beristighfar buat mereka. (al-Nawawi, Sharh Muslim).

4. Bayangkan, Rasulullah sendiri memohon istighfar buat kita kerana dosa dan kesilapan yang kita lakukan. Tidak malukah kita kepada Rasulullah yang memohon istighfar buat umatnya sedangkan kita sendiri jarang beristighfar?

5. Menurut al-Qadi Iyyad pula, Baginda mengucapkan istighfar setiap masa kerana bimbang terdapat terdapat masa yang hatinya leka dari mengingati Allah.

*كَانَ شَأْنُهُ الدَّوَامَ عَلَيْهِ فَإِذَا فتَرَ عَنْهُ أَوْ غَفَلَ عَدَّ ذَلِكَ ذَنْبًا وَاسْتَغْفَرَ مِنْهُ*

“Sesungguhnya hati Rasulullah itu sentiasa berada dalam keadaan zikir (mengingati Allah), namun apabila Baginda teralpa atau terleka seketika, maka Baginda segera beristighfar kerana leka dari berzikir kepada Allah.” (Sharh Muslim)

6. MashAllah! Begitu tinggi iman seorang Nabi. Tidak ada masa bagi hatinya untuk alpa dari mengingati Allah. Sekiranya terleka seketika, Baginda segera memohon keampunan dari Allah.

7. Malah al-Nawawi menegaskan bahawa istighfar Rasulullah itu adalah manifestasi pengabdian Baginda kepada Allah, iaitu menundukkan seluruh jiwa dan raganya hanya kerana Allah sebagai tanda hamba yang bersyukur.

8. Andai Rasulullah sendiri beristighfar untuk kita setiap hari, malulah kita jika kita sendiri tidak beristighfar setiap hari. Malah sekiranya Rasulullah sendiri beristighfar untuk menzahirkan sifat kehambaan dan syukur kepada Allah, maka kita lebih perlu untuk menzahirkan rasa syukur kepada Allah.

Semoga Allah membimbing kita.

Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

20/06/2020 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Apabila Wahhabi berkata : _”Kami tidak bermadzhab, kami mengikuti Rasulullah secara langsung sebagaimana para ulama salaf”_

Maka katakan :

*Kalian sedang mengigau, tidak mengetahui apa yang kalian katakan. Bagaimana kalian bisa mengikuti Rasulullah secara langsung?!*
✔️Apakah kalian pernah bertemu dengan Rasulullah secara langsung?!, jawabannya pasti tidak.

Jika mereka berkata: “Kami mengikuti Rasulullah dengan memahami sunnah-sunnahnya secara langsung”

Maka katakan :
✔️Apakah anda menguasai bahasa Arab dengan segala alatnya (Nahwu, shorof, balaghoh dan lainya)?
✔️Apakah kamu hafal al Qur’an dan ratusan ribu hadits dg sanadnya?
✔️Apakah kamu paham asbabun nuzul dan asbabul wurud?
✔️Apakah kamu paham an Nasikh wal Mansukh, al Am wal Khosh, al muhkam wal mutasyabih, al muthlaq wal muqayyad, al mujmal wal mubayyan dan seterusnya?
Jawabannya pasti juga tidak.

Jika mereka berkata :
“Kami memahaminya dengan membaca terjemahan al Qur’an dan hadits”.

Maka katakan :
Itu namanya taqlid (mengikuti pemahaman) penerjemah. Apakah menurut kalian para penerjemah itu lebih luas ilmunya dari imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Syafi’i dan imam Ahmad?! Sehingga kalian rela meninggalkan para imam madzhab dan beralih taqlid pada para penerjemah al Qur’an dan hadits.

Apabila mereka berkata :
“Kami mengikuti para ulama dan ustadz-ustadz sunnah”.

Maka katakan :
Itulah yang disebut taqlid, tadi kalian katakan mengikuti Rasulullah secara langsung dan sekarang kalian katakan ikut ‘ulama sunnah’?! Ini kontradiksi…!!
✔️Perlu kalian ketahui! al Hafidz an Nawawi, al Hafidz Ibnu Hajar al Asqolani, al Hafidz al Bayhaqi, al Imam Al Ghozali dan jutaan ulama lainnya, meskipun dari segi keilmuan mereka jauh lebih tinggi dari kalian tetapi mereka juga bermadzhab.
Aneh.. jika orang-orang seperti kalian tidak mau bermadzhab.
✔️Perkataan kalian bahwa para ulama Salaf tidak ada yang taqlid juga tidak benar, apabila kalian pernah membaca kitab-kitab mushtholahul hadits seperti Tadrib ar Rowi pastilah kalian tahu bahwa para sahabat yang telah mencapai derajat Mufti atau Mujtahid itu hanya ada 200 sahabat (menurut pendapat yang kuat), artinya ratusan ribu sahabat lainya bertaqlid kepada yang dua ratus tersebut.

Sumber

18/06/2020 Posted by | wahabi | Leave a comment

TAKUT MASUK RUMAH YANG DAH LAMA DITINGGALKAN ATAU DAH LAMA TAK DIDIAMI

Oleh : Ustaz Wan Asrul AL- Kalantani

Ramai yang risau untuk berkunjung ke hotel, homestay dan resort untuk percutian setelah selesai Musim PKP, ALASAN?

Takut ada gangguan jin kata mereka. Rumah atau kediaman yang lama tidak diduduki akan didiami oleh jin, kata mereka lagi. Heboh khabarini. Betulkah?

No.1:

Jangan takut dengan semua itu, takut pada ALLAH. Jangan bimbang, tiada mudharat, dengan izin ALLAH Azza Wa Jalla.

No.2:

Ummar atau Awamir sejenis golongan jin yang akan masuk mendiami rumah manusia selepas 3 hari tiada manusia di dalam rumah. Tempat tinggal mereka sebenar di mana? Mereka ini tinggal di atas bumbung rumah manusia. Eh kenapa pula? Memang itu fitrah. Bayangkan mereka pun tinggal dalam rumah seperti manusia, tentunya haru biru jadinya, adil ALLAH letakkan kedudukan, supaya tidak berebut manusia dan jin. Jadi, selepas 3 hari, tiada manusia menghuni kediaman tersebut, Awamir akan masuk, untuk makluman Awamir jenis jin kebudak-budakan, sifat mereka suka bermain, itu sahaja, tidak lebih dari itu. Sebab itu mereka akan masuk ke dalam rumah manusia yang tiada penghuni. Samalah budak-budak alam manusia pun, begitu juga keadaannya. Dan mereka ini takut pada manusia, terutamanya manusia Soleh, sudah tentu.

No.3:

Jika ada kediaman yang sudah lama tidak didiami, kaedahnya mudah sahaja. Ketuk pintu isyarat kehadiran kita, ucapkan kalimat :

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
“Selamat sejahtera atasmu wahai NABI dan rahmat ALLAH dan keberkatanNYA.
Selamat sejahtera atas kita dan juga hamba-hamba ALLAH yang baik-baik.”

Kemudian ucapkan Salam :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Rumah tiada orang pun kena bagi salam juga kah? Yes of course. Merujuk Surah An Nur ayat 61 :

فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّـهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
“Maka apabila kamu masuk ke mana-mana rumah, hendaklah kamu memberi salam kepada (sesiapa yang seperti) kamu dengan memohon kepada ALLAH cara hidup yang berkat lagi baik.”

Jadi, jangan kepelikan sangat ya.

Jika hendak tambah, boleh tambah dengan doa Masuk Rumah :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَوْلِجِ وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ
بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا، وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا، وَعَلَى رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا
Ya ALLAH, aku memohon sebaik-baik tempat masuk dan sebaik-baik tempat keluar.
Dengan nama ALLAH, kami masuk (ke rumah), dengan nama ALLAH, kami keluar (darinya) dan kepada RABB kami, kami bertawakkal.

No.4:,

Melangkah masuk ke dalam rumah dengan yaqin pertolongan ALLAH Azza Wa Jalla ada bersama kita. Sudah tentu langkah masuk dengan kaki kanan ya.

Usah kaget mencari ustaz atau paranormal hendak menghalau kononnya jin dalam rumah.

Kalian lakukan seperti kaedah di atas, selesai cerita. InsyaALLAH lancar segalanya.

Semoga bermanfaat. Wassalam..

12/06/2020 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , , , | Leave a comment

8 PERKARA YANG MENCARIK ADAT

Diterangkan di dalam kitab Aqidatul Najin Fi Ilmu Usul Ad Din bahawa perkara luar biasa (mencarik adat) merangkumi 8 perkara:

[1] Mukjizat : berlaku kepada rasul selepas kerasulan
[2] Irhas إرهاس : Berlaku kepada rasul sebelum kerasulan
[3] Karamah : Berlaku pada wali allah
[4] Ma’unah : Berlaku di kalangan orang awam untuk terlepas dari kesusahan. Maunah beerti pertolongan Allah kepada seseorang supaya menjadi kuat beribadah dan taat kepada TuhanNya

[Peringatan] Empat perkara luar biasa di atas adalah yang benar, tidak perlu belajar.

[5] Sihir : berlaku dikalangan mereka yang mengamalkan sihir
[6] Istidraj إستدرج : Terdapat dikalangan orang kafir dan orang muslim yang fasiq melalui tipu daya. Erti istidraj ialah kerja yang disangka baik tetapi membawa tuannya ke neraka.
[7] Sya’wadzah شعوذة : Permainan silap mata yang merupakan satu sihir
[8] Ihanah إهانة : Lahir dari orang dusta

[Peringatan] Empat perkara luar biasa terakhir adalah yang batil, diperolehi dengan belajar.
(rujuk : Aqidatul Najin Fi Ilmi Usul Addin : m/s 76)

#Sumber

12/06/2020 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Bid‘ah Mengikut Imam Shafi’e:

Sumbangan besar Imâm al-Shâfi`î (ra) dalam ilmu Usul al-Fiqh ialah pembahagian beliau terhadap makna ‘perkara baharu’ (al-bid‘ah) dan ‘perkara baharu yang diadakan’ (al-muhdathât) iaitu samada ‘baik’ atau ‘buruk bergantung kepada samada perkara itu selari dengan Shari‘at.

Ini diriwayatkan secara Sahih dari dua muridnya yang terkenal pada zaman akhir kehidupan beliau iaitu, pakar hadith Mesir, Harmala ibn Yahyâ al-Tujaybî dan al-Rabî` ibn Sulaymân al-Murâdî:

Harmala menyebut, “Aku mendengar Imam al-Shâfi’e(ra) berkata:

“Bid‘ah itu dua jenis (al-bid‘atu bid`atân)”
“Bid‘ah yang dipuji (bid‘ah mahmûdah) dan bid‘ah yang dikeji (bid‘ah mazmûmah).

Apa yang selari dengan Sunnah itu dipuji (mahmûdah) dan apa yang bertentangan itu dikeji (mazmûmah).”

Beliau menggunakan dalil dari kenyataan Saidina ‘Umar ibn al-Khattâb (ra) kepada jemaah yang mengerjakan Sembahyang Terawih di bulan Ramadân dengan katanya:
“Alangkah cantiknya bid‘ah ini!”
Al-Rabî` juga meriwayatkan kenyataan yang sama bahawa Imam Al-Shâfi`î berkata kepada kami:

‘Perkara baharu yang diada-adakan itu dua jenis (al-muhdathâtu min al-umûri darbân):

Pertama, perkara baharu yang bercanggah dengan al-Qur’ān atau Sunnah atau athar Sahabat atau ijmâ’ para ulamā’, maka bid‘ah itu adalah sesat (fahâdhihi al- bid‘atu dalâlah).

Kedua, ialah perkara baharu yang diadakan dari segala kebaikan (mâ uhditha min al-khayr) yang tidak bertentangan dengan mana-mana pun di atas, dan ini bukan bid‘ah yang dikeji (wahâdhihi muhdathatun ghayru madhmûmah).

Umar (ra) berkata terhadap sembahyang Terawih berjemaah di bulan Ramadhan:

“Alangkah cantiknya bid‘ah ini!”

bermaksud bahawa ‘perkara baharu’ yang diada- adakan yang belum ada sebelum ini, tetapi ianya tidak bercanggah dengan perkara di atas (Al-Qur’ān, Sunnah, athār Sahabat dan Ijmā’).’”

Oleh itu, Imam al-Shâfie telah meletakkan suatu kriteria asas, yang perlu digunakan dalam menjatuhkan hukum terhadap sesuatu ‘perkara baharu’.

Sehubungan dengan itu Imâm al-Haytamî, Qâdî Abû Bakr Ibn al-`Arabî, dan Imâm al-Laknawî seterusnya menyambung:

“Bid‘ah dari segi Shari‘atnya ialah apa jua perkara baharu yang diadakan yang bertentangan dengan hukum yang diturunkan Allah, samada berdasarkan dalil-dalil yang nyata atau pun dalil-dalil umum”.

“Hanya Bid‘ah yang menyalahi Sunnah sahaja yang dikeji”.

“Bid‘ah ialah semua perkara yang tidak wujud dalam tiga kurun pertama Islam dan di mana ianya tidak mempunyai asas bersumberkan empat sumber hukum Islam”.

Kesimpulannya, ianya tidak memadai bagi sesuatu perkara itu dikira ‘bid‘ah’ (dan sesat) hanya semata-mata kerana ianya ‘perkara baharu’; tetapi ianya perlulah juga di masa yang sama bertentangan dengan Islam.

Al-Bayhaqî mengulas kenyataan al-Rabî :

Begitu juga dalam hal perdebatan aqidah (kalâm) dengan pereka bid‘ah, apabila mereka ini mula mendedahkan perbuatan bid‘ah (penter: dalam aqidah) mereka kepada masyarakat awam.

Walaupun kaedah kalām merupakan ‘perkara baharu’ namun ianya dipuji (mahmudah) kerana ianya bertujuan untuk mendedahkan kepalsuan pereka bid‘ah itu, seperti mana yang kita sebutkan sebelum ini.

Rasulullah dan begitu juga para Sahabat ditanya soalan berhubung dengan Qada’ dan Qadar, yang jawapannya sepertimana telah sampai kepada kita hari ini.

Namun pada masa itu, para Sahabat sudah berpuas hati dengan jawapan yang diberikan oleh Rasulullah .

Namun sebaliknya di zaman kita ini pereka bid‘ah tidak lagi berpuas hati dengan jawapan yang sampai kepada kita (daripada Rasulullah dan para Sahabat), dan mereka tidak lagi menerimanya.

Oleh itu bagi menangkis serangan mereka, yang mereka sebarkan kepada umum, perlu bagi kita berhujah menggunakan kaedah pembuktian yang diterimapakai oleh mereka sendiri.

Dan sesungguhnya kejayaan itu datangnya dari Allâh jua.

Ini merupakan pembelaan Imâm al-Bayhaqî secara terang-terang terhadap keperluan kalâm dan sifatnya yang selari dengan tuntutan Sunnah demi mempertahankan (Islam) dari pereka bid‘ah.

Pendirian yang hampir sama juga boleh dilihat di kalangan para Imam besar seperti Ibn `Asâkir, Ibn al-Salâh, al-Nawawî, Ibn al-Subkî, Ibn `Abidîn dan lain-lain.

Olih: Ustaz Zaref Shah Al HaQQy

09/06/2020 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

SAMPAH HATI

Seorang lelaki yang berbeza fahaman dengan seorang Guru mengeluarkan kecaman dan kata-kata kasar, meluapkan kebenciannya kepada Sang Guru.

Sang Guru hanya diam, mendengarkannya dengan sabar, tenang dan tidak berkata apa pun.

Setelah lelaki tersebut pergi, si murid yg melihat peristiwa itu dengan penasaran bertanya, _”mengapa Guru diam sahaja tidak membalas makian lelaki tersebut?”

Beberapa saat kemudian, maka Sang Guru bertanya kepada si murid,

“Jika seseorang memberimu sesuatu, tapi kamu tidak mahu menerimanya, lalu menjadi milik siapa kah pemberian itu?”

“Tentu sahaja menjadi milik si pemberi” jawab si murid.

“Begitu pula dengan kata-kata kasar itu”, balas Sang Guru.

“Kerana aku tidak mahu menerima kata-kata itu, maka kata-kata tadi akan kembali menjadi miliknya. Dia harus menyimpannya sendiri. Dia tidak menyedari, kerana nanti dia harus menanggung akibatnya di dunia atau pun akhirat; kerana energi negatif yang muncul dari fikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan hanya akan membuahkan penderitaan hidup”.

Kemudian, lanjut Sang Guru, ” Sama seperti orang yg ingin mengotori langit dengan meludahnya. Ludah itu hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri. Demikian halnya, jika di luar sana ada orang yg marah-marah kepada mu… biarkan sahaja… kerana mereka sedang membuang SAMPAH HATI mereka. Jika engkau diam sahaja, maka sampah itu akan kembali kepada diri mereka sendiri, tetapi kalau engkau membalasnya, bererti engkau menerima sampah itu.”

“Hari ini begitu banyak orang di jalanan yang hidup dengan membawa sampah di hatinya (sampah kekesalan, sampah amarah, sampah kebencian, Egois dan lainnya)… Maka jadilah kita orang yang BIJAK”

Sang Guru melanjutkan nasihatnya :

“Jika engkau tak mungkin memberi, janganlah mengambil”

“Jika engkau terlalu sukar untuk mengasihi, janganlah membenci”

“Jika engkau tak dapat menghibur orang lain, janganlah membuatnya sedih”

“Jika engkau tak mampu memuji, janganlah merendahkan”

“Jika engkau tak dapat menghargai, janganlah menghina”

“Jika engkau tak suka bersahabat, janganlah bermusuhan”

Dari FB Ustaz Yunan A Samad

09/06/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

KENAPA KITAB AL-UMM TIDAK DIBUAT RUJUKAN PENGAJIAN??

Pagi ni, saya ada dapat satu video menerusi YouTube, seorg maulahum yg membicarakan mengenai rujukan kpd al-Umm, kenapa tidak dijadikan sumber pengajian? Persoalan yg sangat menarik, maka saya berikan serba sedikit pandangan seperti berikut:

1) Jika maulahum nak rujuk terus kpd kitab al-Umm, ya, seeloknya maulahum perlu juga membuat mukhtasar terhadap kitab ini agar memudahkan masyarakat memahami karya al-Umm sebagaimana yg dilakukan oleh Imam al-Muzani, murid kepada Imam al-Shafi’i. Perlu diingat, setelah karya mukhtasar oleh al-Muzani dilakukan, maka terhasil pula karya-karya yg mensyarahkannya, ada pula karya2 yg meringkaskan karya-karya syarah itu, disusuli lagi dgn karya-karya hasyiah dsb sehinggalah umat Islam dapat memahami fiqh al-Shafi’i dgn sebaiknya. Persoalannya, maulahum mampu ke nak melakukan demikian walaupun dimulai dgn karya mukhtasar terlebih dahulu? Dah faham ke kesemua istilah yg terdapat di dalam karya al-Umm? Mampu dan faham la kot noo. Sebab tu la dia minta kita terus rujuk karya ini. Kalau kita, kita jawab, kita tak mampu. Jadi, nak menanti la satu karya mukhtasar oleh maulahum pula..😁😁

2) Golongan wahhabiyah hanya merujuk karya al-Umm ketika membicarakan mengenai permasalahan khilaf yg seringkali digunakan oleh mereka utk permasalahan tertentu sahaja, sedangkan al-Umm adalah karya fiqh yg merangkumi semua permasalahan agama. Biasanya, golongan wahhabiyah hanya merujuk karya al-Umm utk isu talqin, bacaan al-Quran adakah sampai kepada si mati, dan zikir secara berjemaah selepas solat sahaja. Sepatutnya mereka perlu merujuk kesemua karya al-Umm itu dari mula sehingga habis. Kenapa tidak merujuk semua? Agaknya, mereka sendiri pun tidak menguasai karya ini dengan baik, sbb itulah mereka tidak merujuk semua permasalahan agama menerusi karya ini. Jadi, adakah masih nak menyahut cabaran utk menghasilkan karya mukhtasar kpd al-Umm? Tanya saja. Bukanlah nak memperkecilkan sesiapa..😁😁

3) Maulahum kata, ulama Nusantara tidak ajar kitab al-Umm sbb ditakuti akan terdedah dalil-dalil yg di mana org awam akan persoalkan dalil2 itu. Jadi, nak elak daripada ditanya dalil-dalil, akan digunakan kitab kecil sahaja sbb tiada dalil. Mudah sikit nak ajar masyarakat tanpa dalil. Kita jawab begini: di dalam permasalahan fiqh, ada tingkatan pembelajarannya. Ada tingkatan permulaan, pertengahan, tingkatan yg tinggi, tingkatan hafazan trhdp mutun mazhab, seterusnya mujtahid dalam mazhab dsb. Org awam yg nak belajar fiqh, baru sampai ke tingkatan mana? Dah sampai ke tingkatan tinggi ka? Dah bersedia utk berbahas ka? Sudah tentu mereka baru peringkat permulaan. Apa faedahnya mereka diajar kitab yg tinggi2? Jika didedahkan kpd dalil pun, mereka tidaklah mengusai dalil-dalil itu. Mereka fahamkah utk istinbat dalil2? Sbb itulah para ulama mengajar kitab-kitab yg ringan utk memudahkan org awam faham fiqh dan beramal dgnnya, bukan takut org awam tanya itu ini, mana dalil dsb. Fiqh adalah utk diamalkam, bukan utk diperdebatkan. Jika dah sampai ke peringkat tinggi pun, mereka tidaklah diajar utk berdebat dgn org, tetapi diajar utk menyelesaikan isu-isu baru pada zaman kini yg tidak disebutkan dgn jelas dlm kitab2 lama, utk disesuaikan dgn kaedah-kaedah dlm mazhab Shafi’i.

Saya rasa, cukuplah sekadar ini perbicaraan mengenai isu di atas. Moga-moga kita mendapat kefahaman yg mendalam terhadap agama, bukannya mendabik dada seakan-akan diri itu terlalu alim berbanding para ulama nusantara.

Wallahua’lam.

Kredit : Dr Murshidi Mohd Noor

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213024412964276&id=1810990976

08/06/2020 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

Kemuktabaran Faham Ulama Syafii Terhadap Hadis Bidaah

Oleh : Dr Mohd Khafidz Soroni (KUIS)

Oleh kerana mazhab Imam as-Syafii didokong oleh ramai ulama hadis, maka ia menjadi antara mazhab fiqah muktabar ASWJ yang tersebar luas dan dipegang oleh ramai umat Islam di dunia. Nusantara merupakan antara wilayah dalam dunia Islam yang dipengaruhi oleh mazhab Syafii. Sejak sekian abad lamanya, umat Islam Nusantara beramal dengan mazhab Syafii. Para ulama Nusantara juga secara konsisten mempraktikkan kaedah dan usul mazhab Syafii ini. Ini termasuklah kefahaman mereka terhadap konsep bidaah.

Namun, dalam era mutakhir, kefahaman ulama Syafii terhadap konsep bidaah ini mula ‘dikacau’ dan ‘diganggu gugat’ oleh aliran mazhab lain yang dibawa masuk ke Nusantara. Hal ini sewajarnya tidak berlaku jika cara yang digunakan adalah dalam batasan adab berkhilaf pendapat.

Ibaratnya seperti orang luar yang datang masuk ke sebuah kampung, maka tidak sewajarnya dia terus berbuat sesuka hati, menyuruh itu, mengubah ini dan menegur perbuatan orang kampung yang menurut kaca matanya salah dan silap. Orang seperti ini sudah tentu akan dicap oleh mereka sebagai biadap. Apatah lagi jika dia memang jahil tentang tata cara, aturan dan pendekatan yang dipraktikkan oleh penduduk kampung tersebut.

Hadis Tentang Bidaah

Hadis al-‘Irbadh bin Sariyah RA tentang bidaah bukanlah hadis yang tersembunyi bagi para ulama Syafii. Mereka juga bukan jahil tentang pengertian dan maksudnya. Namun, pendekatan mereka dalam memahaminya yang perlu difaham dan dihadam. Kemunculan istilah ‘as-sunnah’ dan ‘al-bidaah’ dalam hadis al-‘Irbadh menjadikan hadis ini cukup penting sehingga Imam an-Nawawi mengkelaskannya dalam kitab al-Arba‘in beliau antara 42 buah hadis yang disebut sebagai (قواعد الدين) “kaedah-kaedah atau dasar-dasar agama”. Matannya:

عن العـرباض بن سارية رضي الله عنه، قال: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ فَقَالَ: أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. وفي رواية: وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ. (رواه أحمد [17144] وأبو داود [4607] والترمذي [2676] وقال: حديث حسن صحيح، وابن ماجه وابن حبان والحاكم وقال: حديث صحيح ليس له علة)

Terjemahan:

Daripada al-‘Irbadh bin Sariyah RA katanya: Pernah suatu hari Rasulullah SAW bersolat dengan kami, kemudian baginda menghadap kepada kami, lalu menyampaikan peringatan yang mendalam kepada kami yang menyebabkan air mata tergenang dan hati-hati menjadi takut, maka (setelah selesai) seseorang bertanya: ‘Ya Rasulullah, seolah-olah ini adalah peringatan untuk mengucap selamat tinggal, maka apakah yang tuan ingin pesan/wasiat kepada kami?’ Lalu Baginda SAW bersabda: ‘Aku berwasiat kepada kamu sekelian supaya bertaqwa kepada Allah, supaya mendengar dan taat, walaupun ia seorang hamba abdi Habasyi (yang diangkat menjadi ketua kamu sekelian). Maka sesungguhnya sesiapa dari kalangan kamu yang hidup sesudahku, ia akan melihat berlaku perselisihan yang banyak, maka hendaklah kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafa’ al-Rasyidin yang mendapat hidayat (daripada Allah), peganglah dan gigitlah ia dengan gigi geraham kamu. Dan hendaklah kamu sekalian berwaspada/berjaga-jaga daripada (mengadakan) perkara-perkara baru (dalam urusan agama), maka sesungguhnya setiap yang baru itu adalah bidaah, dan setiap bidaah itu adalah sesat’. Dalam satu riwayat: ‘Dan hendaklah kamu sekalian berwaspada daripada perkara-perkara baru, maka sesungguhnya ia adalah sesat’. (HR Ahmad, Abu Dawud, al-Tirmidhi, katanya: Hadith hasan sahih, Ibn Majah, Ibn Hibban dan al-Hakim).

Laras bahasa (siyaq) hadis jelas menunjukkan ianya berkait dengan “kaedah-kaedah atau dasar-dasar agama” sepertimana kata Imam an-Nawawi. Dengan erti kata lain, hadis ini menegaskan bahawa umat Islam wajib mengikuti syariat Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam supaya mereka tergolong sebagai Ahli Sunnah serta memperingatkan mereka agar tidak menyimpang dari syariat baginda SAW yg pastinya menjadikan mereka tergolong sebagai Ahli Bidaah.

Faham Ulama Syafii

al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari turut mengkelaskan hadis ini sebagai kaedah syarak yang umum (قاعدة شرعية كلية). Kata beliau (13/254):

وأما قوله في حديث العرباض: “فإن كل بدعة ضلالة”، بعد قوله: “وإياكم ومحدثات الأمور”، فإنه يدل على أن المحدث يسمى بدعة. وقوله: “كل بدعة ضلالة” قاعدة شرعية كلية بمنطوقها ومفهومها. أما منطوقها فكأن يقال: حكم كذا بدعة وكل بدعة ضلالة، فلا تكون من الشرع لأن الشرع كله هدى. فان ثبت أن الحكم المذكور بدعة صحت المقدمتان وأنتجتا المطلوب، والمراد بقوله: “كل بدعة ضلالة” ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام.

Terjemahan: “Adapun sabdanya dalam hadis al-‘Irbadh: “Maka sesungguhnya setiap bidaah itu adalah sesat” selepas sabdanya: “Dan hendaklah kamu sekalian berwaspada daripada (mengadakan) perkara-perkara baru”, maka ia menunjukkan bahawa perkara baru itu dinamakan bidaah. Dan sabdanya: “Setiap bidaah itu adalah sesat” adalah satu kaedah syarak yang umum dari aspek laras bahasanya dan juga konsepnya. Adapun aspek laras bahasanya, maka seolah-olah dikatakan: Hukum ini adalah bidaah dan setiap bidaah itu adalah sesat, maka ianya bukan daripada syarak kerana syarak itu kesemuanya adalah petunjuk belaka. Maka, jika sabit hukum berkenaan sebagai bidaah, maka sahlah dua mukadimah tadi dan menghasilkan apa (hukum) yang dikehendaki. Dan maksud sabdanya: “Setiap bidaah itu adalah sesat” ialah apa yang diada-adakan, sedangkan tidak ada sebarang dalil baginya daripada syarak, sama ada melalui dalil khas mahupun am”.

Jelasnya, hadis tersebut adalah termasuk kaedah-kaedah umum dalam syarak (القواعد الشرعية الكلية), namun ia tidak termasuk dalam kaedah-kaedah fiqah (القواعد الفقهية). Justeru itu, Imam Taj ad-Din as-Subki (w. 771H) mahupun Imam as-Suyuti (w. 911H) tidak memasukkannya sebagai kaedah-kaedah fiqah di dalam kitab mereka, al-Asybah wa al-Naza’ir. Perkara ini jelas disepakati oleh semua ulama fiqah, khususnya ulama mazhab Syafii.

Justeru, perkara baru yang dianggap bidaah ialah perkara baru yang terkeluar daripada syariat. Adapun perkara baru yang didapati tidak terkeluar daripada syariat, maka ia tidak dianggap sebagai bidaah yang dimaksudkan di dalam hadis tersebut. Kerana itu Imam as-Syafi‘i (w. 204H) membahagikan bidaah kepada dua bahagian, iaitu bidaah yang dipuji (baik) dan bidaah yang dikeji (buruk). Pembahagian ini bukan sebab beliau jahil tentang hadis larangan melakukan bidaah, tetapi kerana keluasan ilmu, ketajaman akal dan kejituan pengamatan beliau terhadap apa yang dimaksudkan oleh baginda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam.

al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath al-Bari menukilkan (13/253):

قَالَ الشَّافِعِيُّ: “الْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ مَحْمُودَةٌ وَمَذْمُومَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُودٌ، وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُومٌ”، أَخْرَجَهُ أَبُو نُعَيْمٍ بِمَعْنَاهُ مِنْ طَرِيقِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْجُنَيْدِ عَنِ الشَّافِعِيِّ. وَجَاءَ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَيْضًا مَا أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي مَنَاقِبِهِ قَالَ: “الْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ مَا أُحْدِثُ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلَالِ، وَمَا أُحْدِثُ مِنَ الْخَيْرِ لَا يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُومَةٍ”. اهـ

Maksudnya:

Kata Imam al-Syafi’i: “Bidaah ada dua bahagian; (bidaah) yg dipuji dan (bidaah) yg dikeji. Maka, apa yang menepati sunnah, maka ia adalah yg dipuji dan apa yang menyalahinya, maka ia adalah yg dikeji”. Abu Nu’aim mengeluarkannya dgn makna yang serupa daripada jalur Ibrahim bin al-Junaid daripada al-Syafi’i. Juga diriwayatkan daripada al-Syafi’i yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam kitab Manaqibnya, kata beliau: “Perkara2 yang baharu ada dua jenis; (Pertama) apa yang direka-reka yang menyalahi al-Quran atau sunnah atau athar atau ijmak, maka ini adalah bidaah yang sesat. (Kedua) apa yang direka-reka daripada kebaikan yang tidak menyalahi sedikit pun daripada yg tersebut, maka ini adalah perkara baharu yg tidak dikeji”.

Jelasnya, sesuatu kebaikan atau amalan yang tidak menyalahi al-Quran, sunnah, athar atau ijmak menurut Imam al-Syafi’i adalah harus dilakukan. Perlu diketahui, Imam al-Syafi‘i adalah antara tokoh besar dari kalangan Atba‘ at-Tabi‘in yg sempat melihat cara dan kebiasaan hidup secara amali generasi Salaf yg awal. Maka, sudah tentu beliau memahami bagaimana para ulama Salaf berinteraksi dgn perkara2 baharu dan isu2 bidaah.

Lihat misalnya antara yg dilakukan oleh para sahabat RA:

Bilal RA memulakan solat sunat wuduk setiap kali beliau berwuduk, apabila amalan tsb diketahui oleh Nabi SAW kemudiannya, baginda tidak pula menegurnya agar tidak berbuat begitu lagi. Ada seorg sahabat Nabi SAW yg setiap kali beliau mengimami solat, beliau akan membaca Surah al-Ikhlas pd setiap rakaatnya. Perbuatannya ini tidak dilarang oleh Nabi SAW. Seorg sahabat Nabi SAW pernah mengucapkan ketika beliau bangkit dari rukuk: (ربنا لك الحمد حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه).Khubaib bin ‘Adi RA tlh bersolat sunat dua rakaat sebelum beliau dibunuh. Imam al-Bukhari meriwayatkan: (فكان خبيب هو من سن الركعتين لكل امرئ مسلم قتل صبراً) “Maka, Khubaib merupakan org yg memulakan sunat dua rakaat bagi setiap org muslim yg dibunuh dlm keadaan sabar”.Mu‘awiyah bin Mu‘awiyah al-Muzani RA sentiasa melazimi bacaan Surah al-Ikhlas dlm apa jua keadaan, sama ada berdiri, duduk, berkenderaan atau berjalan kaki hingga jenazahnya tlh disaksikan oleh 70,000 malaikat.Dan pelbagai lagi. (lihat secara luas dlm kitab as-Sunnah wa al-Bidaah oleh as-Sayyid ‘Abdullah Mahfuz al-Haddad Ba‘alawi)

Kalaulah para ulama memahami hadis bidaah itu sptmn zahirnya, nescaya ilmu fiqah tidak akan wujud sbgmn yg kita lihat sekarang. Sbb itu, antaranya Imam an-Nawawi (w. 676H) memahami hadis tsb sbg ‘am makhsus (umum yang dikhususkan). Kata beliau dlm al-Majmu‘ (4/518):

قوله صلي الله عليه وسلم: “كل بدعة ضلالة”، هذا من العام المخصوص لان البدعة كل ما عمل علي غير مثال سبق. قال العلماء: وهى خمسة اقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة. وقد ذكرت أمثلتها واضحة في تهذيب الاسماء واللغات، ومن البدع الواجبة تعلم أدلة الكلام للرد علي مبتدع أو ملحد تعرض، وهو فرض كفاية، ومن البدع المندوبات بناء المدارس والربط وتصنيف العلم ونحو ذلك. اهـ بتصرف يسير

Maksudnya:

“Sabdanya SAW: ‘Setiap yg bidaah itu sesat’. Ini adalah drpd perkara umum yang dikhususkan krn bidaah ialah setiap perkara yg diamalkan yg tidak menurut contoh yg terdahulu. Kata para ulama: Ia ada lima bahagian, iaitu wajib, sunat, haram, makruh dan harus. Aku tlh menyebutkan contoh2nya secara jelas di dlm kitab Tahzib al-Asma’ wa al-Lughat. Antara bidaah yg wajib ialah mempelajari dalil2 kalam utk menolak ahli bidaah atau ateis yg mencabar, dan ianya adalah fardhu kifayah… dan antara bidaah yg sunat pula ialah membina sekolah dan balai, menyusun ilmu dan seumpamanya”.

Oleh krn kata-kata Imam an-Nawawi dlm kitab Tahzib al-Asma’ wa al-Lughat itu lbh terperinci, maka saya bawakan perkataan beliau itu sepenuhnya spt berikut, kata beliau (3/22):

“Bidaah dari segi syarak ialah mengadakan sesuatu yg tidak pernah ada di zaman Rasulullah SAW, dan ianya trbahagi kpd baik dan buruk. Kata Syeikh Imam yg disepakati keimaman, kehebatan dan penguasaannya dlm pelbagai jenis ilmu serta kebijaksanaannya Abu Muhammad ‘Abd al-‘Aziz ibn ‘Abd as-Salam (w. 660H) رحمه الله ورضي عنه di akhir kitab al-Qawa‘id: Bidaah itu trbahagi kpd wajib, haram, sunat, makruh dan harus.

Katanya lagi: Kaedah dlm hal demikian ialah membentangkan bidaah itu kepada kaedah-kaedah syariat. Maka, jika ia termasuk dlm kaedah-kaedah wajib, maka wajiblah ia, atau dlm kaedah-kaedah haram, maka haramlah, atau sunat, maka sunatlah, atau makruh, maka makruhlah, atau harus, maka haruslah.

Contoh-contoh bagi bidaah yg wajib, antaranya: (Pertama) menyibukkan diri dgn ilmu nahu yg dpt difahami melaluinya kalam Allah Taala dan kalam Rasulullah SAW, dan yg demikian itu adalah wajib, krn memelihara syariat itu adalah wajib serta tidak dapat dipenuhi pemeliharaannya melainkan dgn cara yg demikian. Sesuatu yg tidak sempurna perkara yg wajib itu melainkan dgnnya, maka ia adalah wajib (ما لا يتم الواجب إلا به، فهو واجب). Kedua, menjaga kalimah gharib (janggal) al-Quran dan sunnah dari aspek bahasa. Ketiga, membukukan ilmu usul ad-din dan usul al-fiqh. Keempat, perbincangan ttg al-jarh wa al-taadil dan membezakan hadis yg sahih drpd hadis yg lemah. Sesungguhnya kaedah2 syariat menunjukkan bhw menjaga syariat itu adalah fardhu kifayah pd perkara yg merupakan tambahan ke atas perkara yg fardhu ain, dan yg demikian itu semua tidak dpt dipenuhi melainkan dengan apa yg tlh kami sebutkan. Contoh-contoh bagi bidaah yg haram, antaranya: mazhab2 Qadariyyah, Jabariyyah, Murji’ah dan Mujassimah. Manakala menolak hujah-hujah mrk pula adalah trmasuk bidaah yg wajib.Contoh-contoh bagi bidaah yg sunat, antaranya: membina balai-balai dan sekolah-sekolah serta semua perkara kebajikan yg tidak pernah ada di zaman yg awal. Antaranya lagi: solat tarawih (20 rakaat scara berjemaah dgn satu imam), perbicaraan ttg perkara2 tasawuf yg halus serta perdebatan ilmiah. Antaranya lagi: mengadakan forum2 utk menyatakan dalil jika tujuannya itu adalah demi redha Allah Taala.Contoh-contoh bagi bidaah yg makruh, antaranya seperti: mempercantikkan masjid dan memperhiasi mushaf al-Quran.Contoh-contoh bagi bidaah yg harus, antaranya: bersalaman selepas solat Subuh dan Asar. Antaranya lagi: memperluaskan pd perkara-perkara yg sedap dari aspek makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal, memakai selendang dan meluaskan lengan baju.

Boleh jadi terdapat perbezaan pendapat pada sesetengah perkara yang tersebut, iaitu seperti sebahagian ulama menjadikannya termasuk antara bidaah yang makruh, manakala sebahagian yang lain pula menjadikannya termasuk antara sunnah yang diamalkan di zaman Rasulullah SAW dan zaman seterusnya, iaitu sepertimana bacaan isti‘azah dalam solat dan bacaan basmalah. Demikianlah akhir kata-kata beliau (yakni Imam Ibn ‘Abd as-Salam).

al-Baihaqi tlh meriwayatkan dengan sanadnya dlm kitab ‘Manaqib as-Syafi‘i’ drpd Imam as-Syafi‘i رضي الله عنه kata beliau: “Perkara-perkara yang baharu itu ada dua jenis; Pertama, apa yang diada-adakan yang menyalahi al-Quran atau sunnah atau athar atau ijmak, maka ini adalah bidaah yang sesat. Kedua, apa yang diada-adakan daripada perkara kebaikan yang tidak ada khilaf pdnya bagi seorg pun dari kalangan para ulama, maka ini adalah perkara baharu yang tidak dikeji”.

Kata ‘Umar رضي الله عنه mengenai solat qiyam di bulan Ramadhan (tarawih): (نعمت البدعة هذه) “Sebaik-baik bidaah yg ini”, yakni ianya perkara baru yg belum pernah ada, dan apabila berlaku, ianya tidak pun mengandungi sebarang penolakan terhadap perkara yg telah lalu. Demikian akhir kalam as-Syafi‘i رضي الله تعالى عنه. (tamat nukilan Imam an-Nawawi)

Kata-kata Imam Ibn ‘Abd as-Salam itu juga dinukilkan dan diperakukan oleh al-Hafiz Ibn Hajar di dlm kitabnya Fath al-Bari (13/254). Kata beliau juga di bahagian lain (4/253):

والبدعة أصلها ما أحدث على غير مثال سابق، وتطلق في الشرع في مقابل السنة، فتكون مذمومة، والتحقيق أنها أن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة وأن كانت مما تندرج تحت مستقبح في الشرع فهي مستقبحة، وإلا فهي من قسم المباح، وقد تنقسم إلى الأحكام الخمسة.

Maksudnya:

“Bidaah itu asalnya ialah apa yang diada-adakan yang tidak menurut contoh yang terdahulu. Dan ia diungkapkan dari segi syarak sebagai lawan kepada sunnah, maka ianya adalah dikeji. Secara tahkik, sesungguhnya ia jika termasuk antara perkara yang tergolong di bawah perkara yang dipandang baik dari segi syarak, maka ia adalah baik, dan jika ia termasuk antara perkara yang tergolong di bawah perkara yang dilihat buruk dari segi syarak, maka ia adalah buruk. Jika tidak pula, maka ia adalah daripada bahagian harus. Ia juga terbahagi kepada hukum-hakam yang lima”.

Penutup

Ringkasnya, sesuatu perkara yang baru menurut ulama Syafii adalah tertakluk kepada hukum hakam fiqah yang lima. Manakala sesuatu kebaikan atau amalan yang tidak menyalahi al-Quran, sunnah, athar mahupun ijmak ulama menurut mereka adalah dibolehkan dan tidak salah untuk dilaksanakan. Demikianlah kefahaman ulama Syafii terhadap konsep bidaah dan hadis yang berkaitan dengannya. Kefahaman ini jelas merupakan kefahaman yang muktabar yang diterima oleh semua para ulama.

Apa yang lucu, ada seorang Arab yang kononnya mahir dengan bahasa Arab menyatakan bahawa kefahaman terhadap hadis bidaah seperti itu adalah salah dan silap, sambil membebel tentang amalan-amalan khilafiyyah yang diamalkan oleh orang Melayu. Apakah kefahaman bahasa Arabnya itu lebih muktabar daripada kefahaman Imam as-Syafi‘i, Imam al-Baihaqi, Imam Ibn ‘Abd as-Salam, Imam an-Nawawi, al-Hafiz Ibn Hajar dan lain-lainnya رحمهم الله تعالى??? Memang agak lucu, bak kata pepatah: ‘Bagai anjing menyalak bukit, bukit takkan runtuh’.

https://sawanih.blogspot.com/2020/06/kemuktabaran-faham-ulama-syafii.html?m=1

04/06/2020 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Ahli Hadis Silam dan Moden: Antara Langit dan Bumi

Oleh : Dr Mohd Khafidz Soroni KUIS

1. Terdapat sebuah kelompok Islam kini yang mendakwa mengikut mazhab ahli hadis dan tidak mahu mengikut mana-mana mazhab fiqah muktabar yang sedia ada. Antara alasan mudahnya, ahli hadis silam tidak mengikut mana-mana mazhab fiqah. Mereka juga mahir tentang fiqah, bukan sekadar hadis semata-mata. Dakwa mereka, sesiapa yang mengatakan ahli hadis silam tidak pandai ilmu fiqh adalah tersilap kerana mereka bukan sahaja menukilkan hadis dan menilainya, bahkan mereka juga mementingkan aspek fiqah pada hadis. Misalnya, tajuk-tajuk bab (تراجم الأبواب) dalam Sahih al-Bukhari membuktikan betapa tajamnya pemahaman Imam al-Bukhari (w. 256H) dalam bab fiqah.

2. Hakikatnya, mendatangkan nama al-Bukhari sebagai contoh tidak memberikan isyarat tipikal bahawa kesemua ahli hadis itu adalah sama seperti beliau. Imam al-Bukhari hanyalah salah seorg daripada sebilangan tokoh yang menguasai hadis dan fiqah sekaligus daripada sekian puluhan ribu ahli hadis di zaman itu. Benar, jasa ahli hadis dalam disiplin pengajian Islam memang cukup besar dalam memelihara warisan hadis Nabi SAW. Namun, tidak kesemua mereka mahir dalam aspek istinbat hukum yang lebih dikuasai oleh ahli fiqah.

3. Kelompok tersebut sebenarnya skadar memberikan contoh Imam al-Bukhari atau beberapa imam hadis lain bagi mengharuskan kumpulan mereka tidak mengikut mana-mana mazhab fiqah muktabar yang ada. Walhal perbezaan antara mereka dengan imam-imam hadis itu adalah cukup besar dan jauh ketara, bagaikan langit dengan bumi.

4. Ahli hadis silam hidup dalam persekitaran ilmu yang cukup hebat dan mantap. Ini kerana mereka hidup dalam tempoh yang tidak begitu jauh dari zaman para sahabat radiyaLlahu ‘anhum dan para tabiin radiyaLlahu ‘anhum. Justeru, warisan ilmu daripada mereka, termasuk hadis dan fiqah sudah terjasad dalam persekitaran hidup pada masa itu. Di samping, ada di kalangan mereka yang mencapai tahap ilmu yang lebih tinggi, iaitu sebagai mujtahid. Misalnya:

i. Di Makkah; Imam Sufyan bin ‘Uyainah (198).
ii. Di Madinah; Imam Sa‘id bin al-Musayyib (94), Imam Rabi‘ah ar-Ra’y (136), Imam Malik bin Anas (179).
iii. Di Mesir; Imam al-Laith bin Sa’ad (175), Imam as-Syafi’i (204).
iv. Di Basrah; Imam al-Hasan al-Basri (110).
v. Di Kufah; Imam Ibrahim an-Nakha‘i (96), Imam as-Sya‘bi (103), Imam Ibn Syubrumah (144), Imam Ibn Abi Laila (148), Imam Abu Hanifah (150), Imam Sufyan at-Thauri (161), Imam Syuraik al-Qadhi (177).
vi. Di Baghdad; Imam ‘Abdul Rahman bin Mahdi (198), Imam Abu Thaur (240), Imam Ahmad bin Hanbal (241), Imam Dawud az-Zahiri (270), Imam Ibnu Jarir at-Tabari (310).
vii. Di Naisabur; Imam Ishaq bin Rahawaih (238).
viii. Di Syam; Imam al-Auza‘i (157).
ix. Di Khurasan; Imam Ibn al-Mubarak (181).
x. Di Andalus; Baqi bin Makhlad (276).

5. Dalam persekitaran ilmu sebegitu, maka tidak hairan jika ada yang mengatakan Imam al-Bukhari dan beberapa imam hadis lain juga mencapai tahap mujtahid. Bahkan, dikatakan terdapat lebih 70 mujtahid kesemuanya di dalam tempoh itu. Namun, apabila masuk kurun ke-4 Hijrah dan seterusnya, maka lama kelamaan hanya tinggal empat mazhab fiqah yang muktabar sahaja, iaitu Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali, yang secara konsisten diwarisi dan dikhidmati oleh para ulama Islam. Manakala yang lain-lain terhenti atau pupus di pertengahan jalan kerana tidak diwarisi dan dikhidmati sebagaimana empat buah mazhab tersebut, termasuklah mazhab Imam al-Bukhari.

6. Justeru, selama berabad-abad kemudiannya, disiplin empat mazhab fiqah muktabar Ahli Sunnah Wal Jama’ah ini dipraktiskan oleh majoriti masyarakat Islam di seluruh dunia kecuali mazhab Imami di Iran, Zaidi di Yaman dan Ibadhi di Oman. Dalam persekitaran ilmu yang diwarisi sedemikian, tiba-tiba muncul dalam era mutakhir ini satu kelompok yang mendakwa mereka kononnya mengikut mazhab ahli hadis silam yang tersebut dan tidak mahu mengikut mana-mana mazhab fiqah muktabar yang telah sedia diwarisi secara sistematik, tersusun, berdisiplin, lengkap, berkaedah dan bersambung sanad itu.

7. Pada fikiran anda, adakah sama antara kedua-dua golongan tersebut, antara ‘ahli hadis’ yang mengikut dan ahli hadis yang diikut?? Adakah sama antara institusi mazhab yang merumuskan petunjuk hadis, baik wajib atau sunat, haram atau makruh, sah atau batal, sempurna atau tidak, harus atau tidak; dengan kelompok anti mazhab yang melihat petunjuk hadis hanya dalam skop sunnah dan bidaah saja, atau sbenarnya mereka hanya menumpang mazhab Hanbali melalui acuan Ibn Taimiyyah, sama ada mereka sedar atau tidak??

8. Sebagaimana ahli hadis dan ahli fiqah silam memerlukan antara satu sama lain, sepertimana kata seorang tokoh hadis, Imam al-A‘masy (w. 148H):

أنتم يا معشر الفقهاء الأطباء ونحن الصيادلة
“Kamu sekalian, wahai para fuqaha’ adalah doktor dan kami pula adalah ahli farmasi” (lihat: Thiqat Ibn Hibban).

Disebabkan doktor mahir merawat pesakit, tetapi mereka tidak memiliki ubat-ubatan. Manakala ahli farmasi pula memiliki ubat-ubatan, tetapi mereka tidak mahir merawat pesakit. Maka saya berpendapat, kondisi mereka pada masa sekarang masih tetap sama, di mana ahli hadis lebih mengetahui jalan-jalan riwayat hadis, namun ahli fiqah pula lebih mengetahui jalan-jalan amali bagi hadis, selain kaedah beramal yang betul dengan hukum hakam syarak. Jelasnya kedua-dua bidang ilmu ini masih saling perlu memerlukan dan lengkap melengkapi. Bukannya dengan hadis saja, sudah cukup segala-galanya, walaupun mengakibatkan suasana caca merba sepertimana yang kita lihat pada masa sekarang.

Wallahu a‘lam.

Dr. Mohd Khafidz Soroni

03/06/2020 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | Leave a comment

Covid19 – SOP Pembukaan Pasaraya & SOP Pembukaan Masjid-Masjid

ARG (Ahli Sunnah Wal Jemaah Research Group) mempunyai pengalaman dalam bekerjasama rapat dengan masjid-masjid dengan menganjurkan pelbagai program sejak 6 tahun kebelakangan ini. ARG mempunyai pengalaman berurusan secara rapat dan aktif dengan pengurusan masjid-masjid Di Johor, N9, Melaka, Pahang, Selangor & Kuala Lumpur. Dari pengalaman dan pemerhatian sedia ada, SOP pembukaan masjid mesti diteliti secara praktikal.

Ramai yang mula mempersoalkan kenapa masih banyak masjid-masjid masih tidak dibuka sama seperti pasaraya. Membandingkan pasaraya dan masjid masih dalam daerah logik yang masih boleh diterima kerana ia adalah sekitar membandingkan risiko jangkitan. namun begitu, logik ini juga mesti digunakan ketika membandingkan kemampuan pentadbiran, kewangan, fasiliti dan sumber manusia sesebuah pasaraya dan masjid dalam memenuhi SOP yang digariskan oleh KKM dan Ulil Amri. Berapa banyak masjid yang mempunyai kualiti kekuatan kewangan, pekerja, fasiliti dan pentadbiran seperti pasaraya?

Secara Umumnya Sesuatu Pasaraya Mempunyai SOP:-

1. CCTV bagi pemantauan
2. Staf fulltimer guard utk kawal pintu masuk, mempunyai jadual giliran staf utk rekod suhu dan mengawal jumlah yg masuk agar tidak terlalu ramai.
3. Staff fultimer cleaner utk sanitize troli, escalator, tandas dll SEPANJANG masa beroperasi.
4. Ada banyak label jarak sosial distancing dan label2 lain yg berkaitan.

4 SOP diatas adalah untuk pasaraya dan pastinya SOP untuk masjid terdapat tambahan lain cthnya perlu bawa sejadah sendiri, masa maksimum seseorang berada dalam ruang solat dan lain-lain berkaitan.

Jadi secara umumnya, jika sesebuah Masjid mahu buka aktiviti pada umum sepanjang masa, sekurang-kurangnya perlu patuh pada 4 SOP yg dipatuhi oleh pasaraya dan ditambah beberapa SOP lain mengikut kesesuaian masjid. Begitulah secara teorinya, bagaimana pula secara praktikal?

Realiti Masjid Di Malaysia

Masjid di Malaysia ini beragam bentuk pengurusannya, ada Masjid Kerajaan, Kariah & Institusi. Masjid kariah pula ada masjid bandar, pinggiran bandar, taman, kampung dan lain-lain.

Setiap masjid mempunyai barisan ajk yg berlainan dan kemampuan kewangan yang berlainan antara satu sama lain. Ada masjid yang ditadbir oleh ajk-ajk masjid yg memang berminat dan berkebolehan. Ada juga masjid yang ditadbir oleh ajk masjid yang terpaksa jadi ajk kerana takda orang mahu uruskan. Kebiasaannya ia berlaku di masjid-masjid yg kurang kemampuan kewangan dan kurang kariah.

Mampukah Masjid-Masjid Mempersiapkan Diri Mereka Seperti Mana Pasaraya?

Kemungkinan besar, masih sangat banyak masjid sukar untuk memenuhi SOP sepertimana 4 SOP pasaraya yg dicatitkan diatas. Ada pelbagai kemungkinan

– Masjid yang ditadbir oleh ajk yang bagus tetap sukar (bukan mustahil) untuk laksanakan SOP setaraf di pasaraya jika kemampuan kewangan dan tenaga kerja yg konsisten (fulltimer) yang tidak cukup. Sukarelawan semata-mata adalah tidak mencukupi untuk kelancaran sesuatu SOP.

– Masjid yang mempunyai kewangan yang cukup belum tentu mampu laksanakan jika ditadbir oleh ajk yg tidak mahir.

– masjid yg tidak mempunyai kemampuan kewangan, sumber tenaga konsisten pastilah hampir mustahil dapat melaksanakan SOP sama seperti di pasaraya.

– masih sangat banyak masjid yang tidak memasang cctv dan lain-lain teknologi bagi memudahkan pihak berkuasa memantau kelancaran pelaksanaan SOP.

Solusi?

Ulil Amri melihat sesuatu maslahah keseluruhan kerana Ulil Amri terlibat secara praktikal dari masjid yang kaya raya hingga ke masjid yang tidak mampu bayar bil elektrik. Maksudnya, ulil amri dapat melihat, merasa dan menjangkakan cabaran yang lebih tepat berbanding orang awam yang circlenya tidak seluas circle ulil amri.

Oleh kerana kepelbagaian ragam pentadbiran dan kemampuan masjid ini, ia bukan satu perkara yg mudah untuk Ulil Amri memutuskan satu SOP yang selaras untuk semua masjid digunapakai secara pukul rata. Ini adalah cadangannya:-

1. Ulil Amri perlu mengenalpasti mana masjid yang boleh dan mampu melaksanakan SOP yg digariskan sama seperti pasaraya untuk dibuat sebagai pilot test terlebih dahulu. Mungkin beberapa masjid sahaja untuk melihat apa cabarannya. Mana-mana masjid yang merasakan mereka mampu meyakinkan ulil amri bahawa mereka mampu mengendalikan SOP masjid setaraf dgn SOP pasaraya, mereka boleh memohon dan meyakinkan ulil amri masing-masing.

2. Masjid boleh membuat 1 kertas kerja khas implikasi kewangan untuk mempersiapkan masjid patuh SOP mungkin implikasi selama 3 bulan dan buktikan masjid mampu untuk menanggungnya.

3. Lancarkan tabung khas untuk kariah menyumbang persiapan kewangan masjid untuk membuka masjid yg patuh SOP.

Jika sesebuah masjid diberi kebenaran untuk dibuka penuh, kemudian ternyata tidak mematuhi SOP yang digariskan, masjid tersebut perlu ditutup spt mana pasaraya yang ditutup kerana melanggari SOP. Persoalannya, adakah akan terjadi fitnah nanti? Mungkin ya dan mungkin tidak.

Pasaraya jika melanggar SOP akan didenda, dipaksa tutup dan sesetengah kes boleh dibawa ke muka pengadilan jika berdegil. Bagaimana dengan masjid? Siapa yg akan kena denda? Siapa yg akan bertanggung jawab sepenuhnya jika masjid gagal? Ini juga mesti diperhalusi.

Disediakan Oleh:

Unit Penyelidikan
Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group (ARG)

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3247037435327144&id=785701311460781

02/06/2020 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | 1 Comment

SOLAT BERJAMAAH YG DIJARAKKAN SEMETER UTK MENGELAK PENYEBARAN COVID-19

Solat secara berjamaah yg dilakukan pada masa kini adalah berlainan dgn cara biasa dilaksanakan iaitu dgn menjarakkan antara org yg berada dlm saf solat, lebih kurang semeter dgn tujuan utk mengelak penyebaran wabak pandemik COVID-19 yg masih belum reda.Saf jamaah dgn jarak sedemikian dgn tujuan utk mengelak penyebaran wabak pandemik antara ahli jamaah setelah dinasihati oleh pihak berautoriti seperti KKM, hukumnya adalah harus di dalam Islam. Oleh yg demikian, tidak timbul isu “solat berjamaah yg berjarak tidak ikut sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم” kerana sifat saf solat sedemikian bukanlah diada-adakan, tetapi meraikan situasi semasa yg amat bahaya dgn penyebaran wabak penyakit yg memudaratkan.Tidak dinafikan bahawa dalam keadaan biasa, solat secara berjamaah amat dituntut utk dirapatkan saf antara ahli jamaah, jgn bagi ada ruang antara individu yg berada di dlm saf dsb dan ini merupakan sebesar-besar tuntutan agama. Walaubagaimanapun, tuntutan ini hanyalah berbentuk istihbab (sunat) sahaja yg tidak wajib menurut pandangan ulama dlm empat mazhab.Oleh yg demikian, meninggalkan perkara sunat disebabkan hajah (keperluan) iaitu meninggalkan perbuatan merapatkan saf kerana ditakuti penyebaran wabak pandemik COVID-19, merupakan hal yg tidak dapat dielakkan lagi buat masa kini. Di dalam karya ulama, terdapat permasalahan mengenai hukum makruh individu yg solat berjamaah yg safnya dipisahkan dgn tiang. Justeru, menjarakkan individu dlm saf solat berjamaah ketika wabak pandemik COVID-19 ini, adalah seakan-akan permasalahan individu yg solat secara berjamaah yg kedudukan safnya terpisah antara tiang-tiang masjid. Hukumnya makruh kerana kedudukan safnnya yg terputus disebabkan tiang masjid. Namun begitu, terdapat sedikit perbezaan dgn situasi solat berjamaah yg dijarakkan dlm saf pada masa kini kerana keperluan disebabkan wabak pandemik COVID-19, hukum makruh itu telah bertukar menjadi harus kerana hajah (keperluan).Hukum ‘al-hajah’ di dalam Islam, apabila ianya memang wujud, maka dibolehkan utk meninggalkan perkara yg wajib sekalipun, termasuk dlm hal-hal yang ada kaitan dgn solat, apatah lagi perkara merapatkan saf di dalam solat secara berjamaah hanyalah mustahab (sunat) sahaja, lagi-lagilah dibolehkan dlm situasi hajah utk mengelak penyebaran wabak pandemik COVID-19.Berdasarkan perbincangan di atas, solat berjamaah yg mana kedudukan safnya dijarakkan antara individu, dlm situasi biasa, sah solat tersebut walaupun tanpa keperluan. Apatah lagi, solat berjamaah yg dijarakkan safnya disebabkan wabak pandemik yg melanda kini, lebih-lebih lagilah dibolehkan dan sah. Oleh yg demikian, tidak timbul isu “solat berjemaah yg dijarakkan buat masa ini tidak ikut sunnah” kerana menerusi ajaran Nabi صلى الله عليه وسلم sendiri, ketika umat Islam menghadapi situasi getir yg di luar kebiasaan dan termasuk dlm kategori hajah, maka perkara yg wajib dibenarkan utk ditinggalkan, apatah lagi perkara yg sunat.Itulah keluasan “sunnah” yg diajarkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم kepada umatnya dlm meraikan pelbagai situasi dan zaman.Wallahua’lam.Ustaz Dr Mohd Murshidi Mohd Noor

25/05/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Ada orang menyindir apa kah tarikat Imam Shafie.Imam Ahmad,Imam Hanafi…….

Adakah orang yang menyindir ini faham apa itu tarikat?
Pengertian tarikat:
Tarikat diambil dari perkatan arab membawa maksud jalan. Kalau disebut tarikat Al-Fikr membawa maksud jalan berfikir. Jika disebut tarikat Az-Zikr membawa maksud jalan berzikir dan lain-lain. Dalam Al-Quran biasanya tarikat digunakan untuk jalan yang diikuti oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang diajarkan kepada baginda oleh Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Ini merangkumi soal jalan baginda beribadat, berakidah, bermuamalah, mengadakan hubungan antarabangsa, mendirikan negara, melayan tetamu, menyiapkan bala tentera dalam peperangan, menguruskan keluarga dan lain-lain.

Dari segi istilah, tarikat ditakrifkan oleh Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabau seorang ulama dari Indonesia yang pernah menjadi khatib di Makkah Al-Mukkaramah sebagai jalan yang ditempuhi oleh nabi SAW, para sahabat, ulama dan para ahli sufi generasi awal dahulu. Jalan ini mesti diikuti oleh umat Islam.

Menurut Syeikh Al-Jurjani tarikat ialah jalan khusus menuju kepada Allah yang melibatkan pengharungan beberapa halangan dan penempuhan beberapa tingkatan rohani dalam berbagai maqam.

Syeikh Al-Kandahlawi pula mendefinisikan tarikat itu sebagai sejalan dengan makna ihsan yang terdapat dalam sebuah hadis yang sahih iaitu seorang itu beribadat kepada Allah seolah-olah ia melihat Allah, Jika ia tidak melihat Allah, Allah melihatnya. Bagaimanpun tarikat tasauf sekarang lebih tertumpu kepada teknik berzikir untuk membersihkan jiwa kerana itu timbullah istilah tarikat Qadiriyah, Naqsyabandiyyah dan sebagainya.

Setiap muslim wajib melalui tarikat untuk menuju kepada Allah tetapi bukan melalui tarikat yang ada sekarang ini, sebaliknya tarikat dalam ertikata jalan yang dibawa oleh junjungan besar Nabi Muhammad SAW dan diikuti oleh para sahabatnya. Tarikat ini merangkumi soal akidah, ibadat dan akhlak. Kerana itu mereka hendaklah menuntut ilmu dari para ulama yang dipercayai keimuannya, tidak melakukan bid’ah dan sentiasa menunaikan amalan yang wajib di samping berterusan melakukan amalan yang sunat. Selain itu ia juga perlu tegas dalam menentang perkara mungkar. Ulama seperti inilah menurut Ibn Al-Qayyim yang layak dijadikan guru.

Tidak mahu bertarikat dengan erti kata tidak mengikuti salah satu dari tarikat zikir yang disertai oleh sesetengah masyarakat sekarang seperti Tarikat Ahmadiyyah dan sebagainya tidaklah menjadi kesalahan, tetapi tidak bertarikat dalam ertikata tidak mengikut cara nabi berakidah, beribadah dan berakhlak adalah haram dan berdosa malah terkeluar dari islam.

Membenci tarikat Zikir adalah sesuatu yang tidak wajar kerana zikir kepada Allah adalah perkara yang boleh menggilapkan hati dan mendekatkan diri seseorang kepadaNya.

Walau bagaimanapun jangan difahami istilah zikir itu sekadar zikir lisan sahaja, malah zikir dalam ertikata yang sebenarnya merangkumi zikir hati, lisan dan anggota. Ini merangkumi berjihad fi sabilillah, mendirikan solat, mengeluarkan zakat menunaikan fardu haji di Baitullah, berbuat baik kepada jiran tetangga, menziarahi orang sakit, menolong orang yang dalam kesusahan, menziarahi kubur, beriktikaf, menuntut ilmu, mengulangkaji ilmu, mengadakan majlis perbincangan ilmu dan lain-lain.

Bagimanapun jika seseorang itu membenci teknik zikir yang dilakukan dalam sesuatu tarikat itu kerana ia bercanggah dengan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah sesuatu yang baik, kerana itu bererti ia tidak meredai sunnah Rasulullah SAW dicemari oleh tangan-tangan manusia yang tidak berilmu.

25/05/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Taqlid

Di kampung alfaqir di Sg Petani, ada satu madrasah India muslim, kat situ depa tempatkan seorang imam yg mmg depa khas import datang dari negara india,secara maklum tuan imam ni bermazhab hanafi.. mula² dia datang dulu, nak cakap bahasa melayu pun xpandai..

dan menjadi kebiasaan, beliau menjadi imam solat 5 waktu dan ahli jemaah beliau adalah dari kalangan masyarakat india muslim yg bermazhab hanafi sahaja

namun, bila datang ramadhan, beliau seringkali berasa gusar, kerana ahli jemaah yg hadir ada juga dari kalangan masyarakat melayu yg bermazhab syafie untuk join solat tarawikh.

pernah sekali alfaqir dtg surau madrasah tu untuk solat isyak, beliau menolak untuk menjadi imam, dan menyuruh alfaqir untuk menjadi imam, kerana imam jemputan untuk solat tarawikh belum sampai, memandangkan masa tu ramai ahli jemaah dari kalangan melayu yg bermazhab syafie..seusai tarawikh alfaqir ada bertanya kepada beliau,

” kenapa ustaz menolak jadi imam?”

dijawap beliau, ” sy hanafi, malaysia syafie, kena ikut syafie, sekarang sy masih belajar syafie, makmum ramai syafie, follow uruf ”

Subhanallah. tersentak dlm hati alfaqir.

imam ni betul² berpegang pada disiplin taqlid mazhab, selagi mana dia belum mahir dlm bab syarat sah wuduk, syarat sah solat,atau apa sahaja fiqh dlm mazhab syafie, beliau xkan sesekali menjadi imam demi menjaga ahli jemaah yg bermazhab syafie..

malah berpegang, menjadi kewajipan beliau untuk belajar dgn uruf mazhab setempat.

tp lain pula bg org kita sekarang ni, lagi bermudah² dalam bab taqlid mazhab,

rasa nak pegang anjing,taqlid mazhab maliki,
rasa xmau baca alfatihah ketika jadi makmum, taqlid mazhab hanafi,
rasa malas nak baca qunut subuh, taqlid mazhab hanbali.

kerja dok tukar mazhab saja,macam tukaq baju dlm fitting room, last² carca merba..

ada dinaqalkan di dalam kitab Sulam Sibyan karangan almarhum Tuan Guru Tok Ayah Chik Kodiang rahimahullahu taala,

sesungguhnya perlakuan menukar mazhab mengikut nafsu dan keinginan bg mencari kelonggaran, itu dinamakan talfiq, dan dihukumkan HARAM kepada mereka yg tidak mengetahui @ mempelajari fiqh empat mazhab secara tahqiq.

Sumber

23/05/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Renungan & Teladan, Tazkirah | , | Leave a comment

SOLAT BERJAMAAH YG DIJARAKKAN SEMETER UTK MENGELAK PENYEBARAN COVID-19

Solat secara berjamaah yg dilakukan pada masa kini adalah berlainan dgn cara biasa dilaksanakan iaitu dgn menjarakkan antara org yg berada dlm saf solat, lebih kurang semeter dgn tujuan utk mengelak penyebaran wabak pandemik COVID-19 yg masih belum reda.

Saf jamaah dgn jarak sedemikian dgn tujuan utk mengelak penyebaran wabak pandemik antara ahli jamaah setelah dinasihati oleh pihak berautoriti seperti KKM, hukumnya adalah harus di dalam Islam. Oleh yg demikian, tidak timbul isu “solat berjamaah yg berjarak tidak ikut sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم” kerana sifat saf solat sedemikian bukanlah diada-adakan, tetapi meraikan situasi semasa yg amat bahaya dgn penyebaran wabak penyakit yg memudaratkan.

Tidak dinafikan bahawa dalam keadaan biasa, solat secara berjamaah amat dituntut utk dirapatkan saf antara ahli jamaah, jgn bagi ada ruang antara individu yg berada di dlm saf dsb dan ini merupakan sebesar-besar tuntutan agama. Walaubagaimanapun, tuntutan ini hanyalah berbentuk istihbab (sunat) sahaja yg tidak wajib menurut pandangan ulama dlm empat mazhab.

Oleh yg demikian, meninggalkan perkara sunat disebabkan hajah (keperluan) iaitu meninggalkan perbuatan merapatkan saf kerana ditakuti penyebaran wabak pandemik COVID-19, merupakan hal yg tidak dapat dielakkan lagi buat masa kini. Di dalam karya ulama, terdapat permasalahan mengenai hukum makruh individu yg solat berjamaah yg safnya dipisahkan dgn tiang. Justeru, menjarakkan individu dlm saf solat berjamaah ketika wabak pandemik COVID-19 ini, adalah seakan-akan permasalahan individu yg solat secara berjamaah yg kedudukan safnya terpisah antara tiang-tiang masjid. Hukumnya makruh kerana kedudukan safnnya yg terputus disebabkan tiang masjid. Namun begitu, terdapat sedikit perbezaan dgn situasi solat berjamaah yg dijarakkan dlm saf pada masa kini kerana keperluan disebabkan wabak pandemik COVID-19, hukum makruh itu telah bertukar menjadi harus kerana hajah (keperluan).

Hukum ‘al-hajah’ di dalam Islam, apabila ianya memang wujud, maka dibolehkan utk meninggalkan perkara yg wajib sekalipun, termasuk dlm hal-hal yang ada kaitan dgn solat, apatah lagi perkara merapatkan saf di dalam solat secara berjamaah hanyalah mustahab (sunat) sahaja, lagi-lagilah dibolehkan dlm situasi hajah utk mengelak penyebaran wabak pandemik COVID-19.

Berdasarkan perbincangan di atas, solat berjamaah yg mana kedudukan safnya dijarakkan antara individu, dlm situasi biasa, sah solat tersebut walaupun tanpa keperluan. Apatah lagi, solat berjamaah yg dijarakkan safnya disebabkan wabak pandemik yg melanda kini, lebih-lebih lagilah dibolehkan dan sah. Oleh yg demikian, tidak timbul isu “solat berjemaah yg dijarakkan buat masa ini tidak ikut sunnah” kerana menerusi ajaran Nabi صلى الله عليه وسلم sendiri, ketika umat Islam menghadapi situasi getir yg di luar kebiasaan dan termasuk dlm kategori hajah, maka perkara yg wajib dibenarkan utk ditinggalkan, apatah lagi perkara yg sunat.

Itulah keluasan “sunnah” yg diajarkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم kepada umatnya dlm meraikan pelbagai situasi dan zaman.

Wallahua’lam.

Sumber: FB Ustaz Zaref Shah Al HaQQy

23/05/2020 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

KHUTBAH SETELAH SOLAT SUNAT HARI RAYA

Tidak lama lagi kita akan menyambut hari raya Aidilfitri. Sambutan tersebut bakal dilaksanakan dgn sederhana memandangkan ramai yg tidak dapat balik kampung berhari raya. Selain itu, solat sunat hari raya pada kali ini dilakukan di rumah masing-masing kerana wabak pandemik COVID-19 yg belum pulih sepenuhnya.

Ramailah nanti imam2 interim utk solat sunat hari raya pada tahun ini. Utk menjadi imam, mungkin tiada masalah bagi kebanyakan org, tetapi utk berkhutbah mungkin agak kekok sedikit oleh sesetengah individu. Apa2 pun teks khutbah hari raya telah pun disediakan oleh pihak2 tertentu. Imam interim ini hanya perlu membaca teks khutbah itu sahaja.

Di sini saya ingin berbicara ttg status khutbah hari raya apabila kita melaksanakan solat sunat hari raya di rumah. Saya dapati terdapat dua pandangan mengenainya.

Pertama mengatakan bahawa khutbah itu tidaklah disyaratkan, tetapi disunatkan apabila dilakukan solat sunat hari raya secara berjamaah bersama ahli keluarga. Pandangan pertama ini adalah berdasarkan mazhab al-Shafi’i [Mughni al-Muhtaj: 1/589]. Hal ini adalah bagi mengikuti sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم dan para Khulafa’ al-Rashidin yg mana setiap kali mereka mengerjakan solat sunat hari raya, maka akan diikuti setelah itu oleh dua khutbah. Bagi mazhab al-Shafi’i, tiada beza antara solat sunat secara berjemaah yg dilakukan oleh mereka yg bermukim atau bermusafir, ianya tetap disunatkan berkhutbah setelah mengerjakan solat sunat hari raya.

Pandangan kedua, khutbah setelah solat sunat hari raya yg dilakukan di rumah walaupun secara berjamaah adalah tidak disyariatkan. Hal ini kerana dilihat kepada tujuan asal solat sunat hari raya diadakan iaitu bertujuan menghimpunkan org ramai di satu tempat seperti masjid, musalla atau tanah lapang, lalu dgn sebab perhimpunan itu diadakan khutbah setelahnya yg disampaikan oleh imam solat sbg wakil ulil amri. Jika di rumah, maka maksud asal perhimpunan itu sudah tiada lagi dan dengan sendirinya tidak sesuai diadakan khutbah setelahnya.

Berdasarkan pandangan kedua ini, sebab diadakan khutbah itu adalah kerana perhimpunan org ramai di satu tempat yg memang dikhaskan utk berhimpun. Jadi, apabila solat sunat itu dikerjakan di rumah yg bukan tempat perhimpunan org ramai, hanya sekadar ahli keluarga sahaja, maka tidak disyariatkan atau tidak disunatkan utk berkhutbah setelah solat sunat hari raya. Berdasarkan riwayat daripada Anas bin Malik, satu ketika beliau terluput dari solat sunat hari raya bersama imam, maka beliau menghimpunkan ahli keluarganya utk solat sunat hari raya bersama-sama di rumah. Berdasarkan riwayat ini, tidak disebutkan pula beliau mengadakan khutbah setelah solat sunat itu dikerjakan. Pandangan kedua ini dipegang oleh mazhab Hanbali dan Maliki serta Imam al-Bukhari di dalam karya sahihnya.

Berdasarkan dua pandangan yg berbeza ini maka kita di Malaysia yg mengamalkan mazhab Shafi’i, bagi situasi solat sunat hari raya yg diadakan di rumah kerana halangan ke masjid disebabkan wabak COVID-19, sekiranya dilakukan secara berjamaah bersama ahli keluarga, maka disunatkan utk berkhutbah setelah itu. Walau bagaimanapun tanpa khutbah, solat tetap sah kerana khutbah bukanlah syarat sahnya solat. Oleh yg demikian, apabila ianya sunat, maka elok kita mengamalkannya daripada mengabaikannya di pagi hari raya nanti. Namun, jika tidak confident utk berkhutbah atau kerana sbb2 yg lain, maka tidak mengapa tidak melaksanakannya.

Selamat berpuasa dan Selamat Hari Raya Aidilfitri buat umat Islam di Malaysia.

Wallahua’lam

Sumber: FB Ustaz Dr Murshidi Mohd Noor

22/05/2020 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Hukum Sedekah Al-Fatihah Kepada Nabi S.a.w -Bahagian 1

Ibnu Hassan Al-Qusyasyi

Tuntutan: “Pada Menyatakan Hukum ‘Harus’ Menghadiahkan Pahala Bacaan Surah Al-Fatihah Dan Seumpamanya ke atas Junjungan Besar Nabi Muhammad s.a.w. Serta Mengucapkan Lafaznya (al-Fatihah), Bertujuan Untuk Menambah Kemuliaan Baginda.”**

Terjemahan Oleh: Mohammad Taha Hj. Hassan

(Soalan )10. (Imam Ibnu Hajar al-Haitami) ditanya: Berkenaan seorang lelaki yang mengucapkan ‘al-Fatihah’ bertujuan untuk menambahkan kemuliaan nabi Muhammad s.a.w. (bersedekah membaca al-Fatihah). Kemudian bangun seorang lelaki daripada kalangan ahli ilmu (setelah mendengar ucapan itu), lantas berkata kepada lelaki tersebut: “Kamu telah kafir! Jangan ulangi kata-katamu ini, (ucapan sedekah al-Fatihah). Sekali lagi ia boleh mengkafirkan kamu!!”

Adakah (benar) perkara tersebut? Adakah harus untuk mengatakan kepada seseorang yang menlafazkan ucapan (sedekah) al-Fatihah tersebut sewenang-wenangnya boleh mengatakan “Kamu telah kafir” atau “Kamu kafir”? Apakah balasan (hukuman) yang mesti dikenakan ke atas orang yang melemparkan ungkapan ‘kafir’ tersebut? Pada masa yang sama, sangkaan beliau adalah merupakan daripada kalangan ahli ilmu?

Maka saya (Imam Ibnu Hajar al-Haitami) menjawab – Semoga Allah meluaskan kedudukan (kekalan dan kewujudan) nabi Muhammad s.a.w. serta memanfaatkan ilmu dan keberkatannya – Bukanlah lelaki yang mengatakan sedemikian rupa (lafaz kafir) kepada lelaki yang mengungkapkan ‘al-Fatihah’ (hingga seterusnya) adalah merupakan ciri seorang daripada kalangan ahli ilmu, bahkan kata-kata dan keingkarannya menunjukkan bahawa itu adalah kejahilan dan keterlampauan dirinya. Sesungguhnya beliau tidak memahami apa yang dikatakan dan tidak pula mengetahui apakah kesan (akibat) yang akan dikenakan ke atas dirinya tentang perkara tersebut berdasarkan ketetapan ulama terhadap kejahilan dan kefasikan dirinya. Ketetapan ulama ke atas dirinya (orang yang mengatakan kafir) adalah di sebabkan sikap ‘At-Tahawwur’ (terlalu cepat memutuskan hukum tanpa dalil yang lengkap dan fahaman yang benar). Bagaimana beliau mengkafirkan seorang muslim, di mana tiada seorang pun yang mengkafirkannya? Bahkan kedapatan pendapat daripada sekumpulan ulama Mutaqaddimin (terdahulu) dan Mutaakhirin (terkemudian) yang menyatakan hukum ‘Istihsan’ (perkara yang dilihat baik) pada perkara tersebut (sedekah al-Fatihah). Seperti mana akan saya jelaskan pada anda berkenaan kalam mereka (tentang perkara ini).

Oleh yang demikian, sekiranya beliau (orang yang berkata kafir) itu bertujuan mengkafirkan atas nama agamanya (Islam) dengan ungkapan kafir (kafir secara sengaja), maka beliau juga turut kafir, dan hendaklah dipancung lehernya jika beliau tidak bertaubat. Kerana beliau menamakan Islam itu kafir. Sekiranya beliau tidak bermaksud untuk mengkafirkannya atas nama Islam, ‘haram’ ke atasnya terhadap keingkaran yang dilakukan. Di samping beliau berhak mendapat hukuman dan ‘Ta’dib al-Baligh’ (tindakan tata tertib dan adab disiplin yang ketat) serta ‘wajib’ ke atas hakim Syariah al-Mutahharah untuk melaksana –Semoga Allah memberi petunjuk dan membawanya ke jalan kebaikan- hukuman dan ta’zir ke atasnya, berdasarkan kesesuaian terhadap keterlampauannya yang buruk serta ‘Tahawwurat’ yang dahsyat ini.

Telah sampai (khabar) kepada saya (Imam Ibnu Hajar al-Haitami) bahawa sesungguhnya lelaki tersebut dihukum (balasan) dengan (lontaran yang sama oleh hakim syariah) iaitu hukuman ‘kafir’. Dan beliau diminta untuk bertaubat serta disuruh untuk melafazkan 2 kalimah syahadah (untuk memperbaharui Islamnya). Dan ini adalah kesilapan daripada dirinya sendiri di sebabkan keterlampauan melakukan dosa, kefasikan dan berkelakuan buruk terhadap Allah s.w.t dan nabi Muhammad s.a.w serta syariatnya yang agung, di mana berlaku sesuatu pada syariat Allah s.w.t satu perkara yang tidak pernah berlaku sebelumnya (iaitu isu mengkafirkan orang Islam yang lain tanpa sebab).

Sekiranya dakwaan kafirnya itu selamat (betul) sekalipun, adalah menjadi suatu kewajipan padanya untuk mengenal (mengajar) kepada orang awam (yang tidak mengetahui) terhadap perkara tersebut. Sekiranya (mereka) taat pada ajaran tersebut, maka ia adalah satu perkara yang jelas. Dan sekiranya bertentangan dengannya (perkara yang dilakukan oleh orang awam), maka larangilah ia. Dan ada pun apabila berlaku keadaan secara tiba-tiba terkeluar daripada (mulut) orang awam tersebut, satu kalimah yang tidak difahami seorang pun melainkan ia bertujuan untuk memuliakan dan memberi penghormatan untuk kedudukan nabi Muhammad s.a.w yang tinggi (terpuji), dalam masa yang sama seseorang telah mengkafirkannya (orang awam) atau mengungkapkan kalimah seumpamanya (seperti musyrik), di sebabkan hanya kalimah yang keluar daripada mulut orang awam tersebut, maka ia menunjukkan kejahilan dan kebodohan orang (si pendakwa) tersebut. Sesungguhnya beliau tidak mengetahui syarat Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar serta sebab yang membawa kepada kekufuran manusia dan perkara yang tidak mengkufurkannya. Cukuplah, anda sebagai saksi terhadap apa yang berlaku tentang permasalahan yang banyak diperkatakan oleh ulama mengenainya (masalah sedekah al-Fatihah), di samping ketidakcukupan (terhimpun) ilmu lelaki ini (orang yang mendakwa kafir). Dan tiada penyelesaian pada lelaki tersebut terhadap perkara yang difahaminya. Oleh yang demikian, beliau hendaklah merujuk perkara yang tidak diketahui kepada ahlinya yang mengetahui (ulama) untuk mereka menerangkan kepadanya berkaitan hukum dan kalam ulama tentang perkara tersebut. Bukanlah perkara ini satu cipta reka dari ulama Mutaakhirin, bahkan ia ada dinyatakan oleh ulama agung daripada kalangan Mutaqaddimin seperti imam al-Hulaimi dan sahabatnya imam al-Baihaqi. Cukuplah bagi anda untuk kedua orang imam yang hebat ini serta pengikutnya daripada kalangan ulama Mutaakhirin, iaitu seorang penyunting mazhab (yang terkenal) imam Abu Zakaria Nawawi Rahimahullah Ta’ala, di dalam kitabnya ‘Raudhah’ dan ‘Minhaj’.

Beliau (imam Nawawi) berkata di dalam kedua-dua kitabnya;

( صلى الله عليه وسلم وزاده فضلا وشرفا لديه )

Bermaksud: “Allah berselawat dan memberi salam ke atas junjungan besar nabi Muhammad s.a.w., dan ditambahkan penghormatan serta kemuliaan di sisinya (Allah s.w.t)”.

Cukuplah untuk anda dengan 2 kitab ini, seolah-olah orang yang mengingkari tidak pernah membaca isi yang terkandung di dalam kitab al-Feqh (mana-mana mazhab yang muktabar) dan tidak pula al-Minhaj (mazhab khas imam Syafie). Inilah keadaan orang yang mengkafirkan orang lain, bagaimana beliau begitu mudah (cepat) dengan mengingkari perkara ini serta memutuskan sesuatu hukum tanpa dalil yang lengkap dan fahaman yang benar?! Jika anda mengetahui (merujuk) tentang penjelasan imam Nawawi mengenainya (sedekah al-Fatihah) di dalam kedua kitab ini (Raudhah dan Minhaj), yang mana keduanya adalah merupakan (sandaran & rujukan kitab) bagi penghulu mazhab (mazhab imam Syafie), nescaya anda mengetahui kebatilan dakwaan pengingkaran terhadap orang yang jahil ini.

Sesungguhnya sangkaan beliau mengenai ‘penambahan kemuliaan’ untuk nabi Muhammad s.a.w itu adalah merupakan kedudukan asal baginda yang kurang (rendah), hanyalah tanggapan yang batil dan tiada dalil mengenainya. Sebagaimana (kenyataan ini) telah dijelaskan oleh 2 tokoh imam yang hebat, iaitu imam Hulaimi dan imam al-Baihaqi terhadap penyelewengan dan kebatilannya. Ibarat (contoh) yang pertama seperti yang terkandung di dalam kitab Syua’b al-Iman: Apabila kita berkata:

“للهم صل على محمدا”

Maka, sesungguhnya kita (sebenarnya) menginginkan: “Ya Allah! Kurniakan keagungan nabi Muhammad s.a.w di dunia dengan mengangkat sebutan (namanya), menzahirkan agamanya (Islam), mengekalkan syariatnya. Dan di akhirat pula dengan mendapat syafaat baginda nabi untuk umatnya, diberikan ganjaran dan pahala, mendahulukan kemuliaannya daripada umat-umat yang terdahulu dan yang terkemudian dengan kedudukan yang terpuji serta kebersamaannya dengan kumpulan al-Muqarrabin yang menyaksikan (kewujudan dan kesaan Allah s.w.t).”

Berkata imam al-Hulaimi: “Dan inilah perkara-perkara yang telah Allah s.w.t wajibkan (memberikan kelebihan) untuk nabinya Muhammad s.a.w (hak untuk baginda), dan setiap sesuatu dari kelebihan tersebut memiliki darjat dan kemuliaan. Sesungguhnya harus hukumnya jika salah seorang daripada umatnya berselawat, kemudian memohon kepada Allah s.w.t untuk memperkenankan doanya dengan (susunan ayat pujian) bagi menambahkan kemuliaan nabi pada setiap perkara (keadaan) yang kita namakan sebagai kedudukan dan darjat (yang mulia). Dan inilah tujuan maksud selawat yang sebenar, iaitu menunaikan hak nabi s.a.w dan mendekatkan diri dengan ucapan selawat kepada Allah s.w.t. Seterusnya, kenyataan yang menunjukkan di atas ucapan kita;

“اللهم صلى على محمد صلاة منا عليه”

Sesungguhnya kita tidak memiliki untuk sampai ke tahap hakikat selawat Allah s.w.t ke atas junjungan nabi terhadap apa yang diagungkan oleh Allah s.w.t untuk kemuliaan darjat serta kedudukan baginda di sisinya. Itu semua tertakluk di bawah kekuasaan Allah s.w.t. Maka, benarlah bahawa selawat kita untuk nabi s.a.w adalah ‘doa’ untuk baginda serta pengharapan daripada Allah s.w.t untuk pujian padanya.” – selesai kalam al-Hulaimi di dalam kitabnya Syua’b.-

Perhatikan kata-kata imam al-Hulaimi:

“وإجزال أجره ومثوبته”

Bermaksud: “Limpahkan ganjaran dan pahalanya.”

Dan ungkapannya:

“أن يزاد النبي صلى الله عليه وسلم”

Bermaksud: “(Untuk) ditambahkan ( kedudukan) nabi s.a.w.…”, hingga ke akhirnya.

Anda akan dapati secara jelas (terhadap ungkapan imam al-Hulaimi), bahawa sesungguhnya penambahan kedudukan (kemuliaan) nabi Muhammad s.a.w dapat diterima dari segi perkara ‘pahala’ dan selainnya, berikutan (hasil) dari perkara-perkara yang boleh menambahkan kemuliaan dan kebesaran baginda s.a.w. Perkara ini dikuatkan lagi, bahawa sesungguhnya baginda nabi s.a.w adalah makhluk yang paling sempurna dan paling baik di kalangan mereka sehingga tidak dapat dibilang dan dikira ciri-ciri pujian kesempurnaannya yang tinggi. Bahkan kedudukan baginda sentiasa bertambah terhadap pujian tersebut dan tiada had ke penghujungnya. Kedudukan demi kedudukan yang mulia hasil dari (doa dan pujian tersebut), ia tidak dimaklumkan (diketahui) ke atas diri orang tersebut (lelaki yang bersedekah al-Fatihah) dan yang mengetahui keadaan tersebut hanyalah Allah s.w.t. Oleh yang demikian, sifat kesempurnaan baginda nabi s.a.w bersama keagungan Allah s.w.t tidak melarang (lelaki tersebut) untuk menyampaikan hajatnya bagi menambahkan lagi lebih banyak, ketinggian serta (keadaan) berterusan pujian kepada nabi atas kurniaan (kelebihan) Allah s.w.t daripada sifat pemurah dan kemuliaannya. Sesungguhnya tiada penghujung bagi kekayaan Allah s.w.t yang luas dan tidak pula (kurang) kepada sifat kesempurnaan nabi Muhammad s.w.t terhadap kurniaan yang telah dianugerahkan pada perkara tersebut (pujian).

Dan ibarat imam al-Baihaqi pada tafsirnya:

“السلام عليك أيها النبي”

Dan berkemungkinan ia bermaksud: السلامة “Al-Salamah” (yakni keselamatan); iaitu Allah s.w.t berkehendakkan ke atasmu (nabi Muhammad s.a.w) سلام Salam (keselamatan/kesejahteraan). Seterusnya, kalimah السلام ‘al-Salam’ seperti terdapat pada (susunan) kalimah المقام ‘al-Maqam’. Dan المقامة “Al-Maqamah” bermaksud: “Allah menyelamatkan kamu daripada celaan (kecaman) dan kekurangan.”

Maka, apabila anda mengatakan;

“اللهم سلِّم على محمد”

Sesungguhnya anda berkehendakkan: “Ya Allah, tuliskan (takdir di Luh Mahfuz) untuk nabi Muhammad s.a.w terhadap dakwah, umat serta sebutannya, ‘SELAMAT’ dari setiap kekurangan. Maka, ‘tambahkan’ kemuliaan seruan dakwahnya (tauhid, syariat dan agama) pada hari-hari yang berlalu, keberkatan untuk umatnya serta ditinggikan sebutan (nama dan darjatnya),” –selesai-

20/05/2020 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

BEBERAPA ASAS DAN Q & A MENGENAI METHOD SIFAT 20 (20 ATTRIBUTES)

Terdapat beberapa persoalan lazim mengenai method sifat 20, dan juga tersebar beberapa persoalan mengenai apakah bentuk asas aqidah yang perlu diajarkan kepada anak² kita sedari kecil, tulisan kecil ini (dengan sedikit penambah baikkan) adalah sedikit sumbangan saya mengenainya, asalnya ditulis pada 14شعبان 1438, kira² tiga tahun yang lalu, semoga manfa’at..

اللهم إنى أسالك علما نا فعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا

“Wahai Allah, Sesungguhnya aku memohon daripada-Mu Ilmu yang bermanfa’at, rezeki yang baik dan amalan yang diterima”

(رواه ابن ماجه)

1. Bila disebut sifat 20, maka kita perlu tahu bahawa ia adalah huraian sifat Allah سبحانه وتعالى secara tafsil (detail), adapun sifat-sifat lain semisal الرحمن dan الرحيم, merupakan Sifat² atau Nama² Allah سبحانه وتعالى yang diketahui dgn jalan ijmal (ringkas) dan mestilah disikapi berlandaskan konsep sifat 20 ini juga (akan diterangkan kemudian), jadi tidak timbul persoalan “takkan sifat Allah سبحانه وتعالى ada 20 sahaja?

2. Kesemua Sifat² ini samada diketahui dgn Jalan Tafsil mahupun Ijmal merupakan Sifat² Kamalat (kesempurnaan bagi Allah سبحانه وتعالى), kita lihat nanti bagaimana Ia menjadi Sifat² Yang Sempurna bagi Allah سبحانه وتعالى sepertimana Firman-Nya..

فسبح باسم ربك العظيم..

3. Kerana itulah ia hanya berpaksikan kepada Sifat² dari Nas² yang Muhkamat (terang dan jelas maksudnya) dan bukan kepada Nas² yang samar-samar atau Mutasyabihat..

هو الذي أنزل عليك الكتب منه ءايت محكمة هن ام الكتب وأخر متشبهت…

4. Urutan Sifat 20 ini saling memperkuat antara satu sama lain, samada ia dibahaskan dari sudut Aqli mahupun Naqli, dan yang pastinya dalil Aqli tidak diambil secara membuta tuli dan sembrono kerana ia mestilah selari dan tidak bertentangan dengan dalil Naqli..

5. Contohnya jika anak² kita tanya bagaimana Sifat Allah سبحانه وتعالى yang Maha Mendengar itu, saya akan tanya dia dengar tak apa yang saya bisikkan di dalam hati?, atau dia tahu tak apa niat saya, maka mereka akan tahu adalah tidak masuk akal untuk dia tahu hal² sebegitu, hal ini tidak bertentangan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى semisal..

قل اللهم فا طر السموت والأرض علم الغيب والشهادة..

“Ucapkanlah (Wahai Muhammad) : Wahai Tuhan yang Menciptakan langit dan bumi! Yang Mengetahui perkara² yang ghaib dan yang nyata…”

(سورة الزمر : ٤٦)

ان الله سميع عليم..

“Sesungguhnya Allah Amat Mendengar lagi Amat Mengetahui”

(سورة البقرة : ١٨١)

Seterusnya kita akan lihat bagaimana Sifat² ini wajib difahami melalui Sifat 20..

5.1. Apabila disebut Allah سبحانه وتعالى Maha Mendengar, wajib difahami bahawa Ia adalah Sifat yang قائم بذاته (Qadim berdiri pada Zat Allah سبحانه وتعالى) – keadaan Wujudnya sama seperti wujudnya Allah سبحانه وتعالى, sedangkan Wujud Allah سبحانه وتعالى itu Tiada dikeranakan dengan suatu kerana dan bukanlah ia dari tiada kepada ada (لم يلد و لم يولد)

5.2. Sifat Maha Mendengar itu Wajib Tiada bagi-Nya Permulaan (هو الاول والاخير) dan Tiada juga bagi-Nya Kesudahan (ويبقى وجه ريك ذو الجلال والإكرام) – iaitu tidak didahului dengan tiada (قدم) dan tidak pula binasa (بقاء)

5.3. Sifat Maha Mendengar Allah سبحانه وتعالى itu wajib ia bersalah²an dengan segala yang baharu, ia tidak memerlukan alat dan medium pendengaran sepertimana manusia dan sedia ada Mendengar sebelum makhluk diciptakan (مخالفته تعلى للحوادث) dan (قيا مه بنفسه)

5.4. Sifat Maha Mendengar Allah سبحانه وتعالى adalah وحدة iaitu Tunggal dan tidak berbilang², tiada satupun yang sama dengan Sifat-Nya ini secara mutlak walhal pendengaran lain berhajat kepada Anugerah-Nya – وحدنيه

Kesemua ini dirangkum melalui kaedah penistidlalan Imam Abu Hasan Al-Asy’ari رحمه الله didalam ayat وكل شيء احصيناه فى امام مبين yang menetapkan kemustahilan bagi Allah سبحانه وتعالى itu berjuzuk² atau berbilang² (وحدنيه) dan Mustahil juga bagi Zat dan Sifat²-Nya itu berpenghujung (لا نهاية), yang menerangkan Sifat قدم dan بقاء

Ia juga seperti maksud yang pernah di tulis oleh Imam At-Tohawi رحمه الله didalam kitabnya العقيدة الطحاوية didalam sebuah matan yang berbunyi..

هو حميد قبل وجود الحا مدين…

Bermaksud Sifat “Maha Terpuji” Allah سبحانه وتعالى itu Wujud sebelum wujudnya segala pujian² makhluk kepada-Nya, begitulah difahami kesemua Sifat² Allah سبحانه وتعالى yang lain yang قائم بذاته أو بنفسه seperti الرحمن الرحيم, dengan cara inilah sahaja pujian² terhadap Allah سبحانه وتعالى itu dapat diletakkan ditempat yang wajar dan dengan KeAgungan-Nya yang sempurna sepertimana didalam maksud ayat فسبح بسم ربك العظيم..

6. Ayat-ayat yang samar maksudnya dari Nas² yang mutasyabihat mestilah di rujuk-silang kepada Nas² yang bersifat muhkamat seperti perintah Allah سبحانه وتعالى dalam ayat 7 didalam سورة آل عمران , menterjemah dan mentafsirkan maksud ayat-ayat tersebut tanpa sandaran dari ayat-ayat yang Muhkamat semisal ليس كمثله شيء dan ولم يكن له كفوا أحد boleh mencondongkan keyaqinan manusia ke arah kesesatan..

فا ما الذين فى قلو بهم زيغ فيتبعون ما تشبه منه ابتغاء الفتنة وابتغاء تاءويله

“Adapun orang² yang ada didalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa yang samar² daripada Al Quran untuk mencari fitnah dan mencari² takwilnya”

7. Usah bersikap skeptik kepada istilah² atau terma², sebaliknya lihatlah kepada dalil-dalilnya, sebagai cth ada yang mempertikaikan dari mana datangnya kalimah القدم yang bermaksud Sedia Ada, sedangkan Dalil Naqli kepada Sifat tersebut ada didalam ayat 3 سورة الحديد…

8. Keadaan dan bentuk dalil yang saling memperkuat diantara satu sama lain ini menyebabkan penyusunan qaedah sifat 20 ini menjadi utuh dan jazam disisi umat islam, yang bergerak atas Dalil² Aqli dan Naqli dari Al Quran dan hadith² Nabi صلى الله عليه وسلم

9. Anak-anak kecil yang belum tahu membaca Al Quran pun sudah boleh mula mengenal Tuhan dengan dalil-dalil Aqli, bukankah kita sebagai ibu ayah selalu mengatakan bahawa setiap musibah yang berlaku keatas mereka itu sebagai tanda kasih sayang Allah سبحانه وتعالى?

Kerana itulah lafaz taukid didalam ayat إن الله معنا (SESUNGGUHNYA Allah سبحانه وتعالى bersama² kita) dan didalam ayat وإذا سألك عبادي عنى فإنى قريب (Dan apabila hamba²ku bertanya kepadamu tentang Aku, SESUNGGUHNYA Aku sentiasa hampir kepada mereka) itulah yang perlu diajarkan kepada anak² kita..

9.1. Apabila mereka lelah dan penat (demotivate) didalam beribadah, katakan kepadanya bahawa Allah سبحانه وتعالى dekat dan amat menyayanginya walaupun pada hakikatnya mereka belumpun di taklif dengan apa jua hukum sekalipun

9.2. Apabila mereka ditimpa dengan musibah yang berat dan seakan² tidak tertanggung katakan kepadanya Allah سبحانه وتعالى amat dekat dan memberikan ujian² tersebut dengan hikmah disebalik, inilah yang selalu saya ingatkan kepada Afi atas kehilangan kedua ibu ayahnya diusianya yang masih kecil..

9.3. Walhal tidak salah sama sekali mengajarkan antara intipati syahadah ini kepada para muallaf agar mereka sentiasa menyaqini Allah سبحانه وتعالى sentiasa Dekat dan bersama² mereka, bukankah ucapan² seperti ini yang sering dilafazkan untuk merasakan diri berTuhan? itulah yang diisyaratkan dari kalam Nabi صلى الله عليه وسلم terhadap sahabatnya Sayyidina Abu Bakar رضي الله عنه ketika diuji…

10. Kemudian apabila usia mereka menginjak dewasa, sudah menjadi hal yang utama diketahui dan dihafal sekelian dalil-dalil naqli kepada sifat 20 ini apabila seseorang itu sudah pandai membaca Al Quran untuk memperteguhkan keyaqinannya..

11. Memberikan hanya dalil Aqli semisal bukti kewujudan Allah سبحانه وتعالى adalah dengan adanya alam ini dan kemudian diyaqini dengan jazam, sudah cukup melepaskan aqidah anak² kita dari taqlid, apabila dia meningkat remaja, diketahui pula sekelian dalil² naqlinya, dan apabila mereka diuji katakanlah Allah سبحانه وتعالى itu sentiasa dekat dan bersama² mereka, maka lama kelamaan keyaqinannya akan bertambah sehinggalah nanti dia pergi menemui Ilahi dalam keadaan hati yang redha, bersih dari sebarang syirik dan keraguan sepertimana maksud ayat² semisal..

الا من اتى الله بقلب سليم

“Kecuali (harta benda dan anak-pinak) orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera (dari syirik dan munafiq)”

(سورة الشعراء : ٨٩)

ارجعى إلى ربك راضية مرضية

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan engkau berpuas hati (dengan segala nikmat yang diberikan), lagi di Redhai (disisi Tuhanmu)!”

(سورة الفجر : ٢٨)

Inilah sebenarnya yang kita semua harapkan, hati yang redha itu hasil dari Iktiqad yang Jazam serta teguh, anggaplah nukilan ini sebagai isyarat kepada betapa itulah bentuk keprihatinan kita sebagai ibu atau ayah kepada anak-anak kita sendiri..

والله أعلم بالصواب…

Ustaz Muhammad Al Amin Muhamad

19/05/2020 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Ibadah | , | Leave a comment

NAK PAKAI IMAM SYAFIE ATAU NAK PAKAI HADIS NABI SAW ?

“Nak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi? Imam Syafie dengan Nabi siapa lagi mulia?”

“Hadis dah lengkap kenapa nak pakai mazhab lagi?”

Ini adalah antara ayat ayat yang keluar dari mulut orang yang kononnya bukan Muqallid dan bukan Mujtahid tetapi disebabkan mahu nampak sedikit gah. Diciptakan satu istilah baru “Muttabeq” namanya

Satu permasaalahan apabila ditanya kamu bermazhab apa? Saya bermazhab Al Quran dan Hadis sepertimana Sahabat nabi tak memerlukan kepada Imam Mujtahid seperti itu jugalah saya.

Sebenarnya, walaupun dicipta istilah “Muttabeq” sekalipun ia masih lagi dihukumkan “Muqallid” kerana selagi seseorang itu tidak mencapai martabat “Mujtahid Mutlak” wajib atasnya untuk mengikut Imam imam mazhab yang empat.

Wajib juga atas kita mengakui bahawa Rasulullah adalah makhluk yang paling mulia. Mana sama martabat Imam Syafie dengan Rasulullah. Tetapi Imam Syafie adalah seorang Mujtahid Mutlak. Sehinggakan ada ulama menyebut seorang Mujtahid Mutlak adalah orang tidak ada satupun Hadis Rasulullah atas muka bumi ini tidak ada didalam dadanya melainkan semuanya telah dia hafal. Ini adalah tahap keilmuaan seorang Mujtahid Mutlak. Ikut mazhab itu adalah mengikut Nabi.

Mazhab adalah rumusan kefahaman Al Quran dan Hadis yang telah disiapkan oleh Ulama. Mereka adalah insan yang lengkap serba serbi ilmu. Bersangat sangatan Alimnya. Mereka tahu bagaimana hendak proses Al Quran dan Hadis sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Kita orang awam. Tak ada perkakasan.

Satu contoh misalan. Tayar kereta kita pancit. Adakah kita perlu pergi ke Kebun Getah, ambik getah skrap untuk buat tayar? Dengan perkakasan tak ada, rasanya ini satu kerja gila. Paling mudah adalah dengan beli sahaja Tayar dikedai Tayar. Walaupun orang yang ada 100 ekar ladang getah. Masih lagi beli tayar dikedai, tidak diprosesnya getah skrap untuk dibuat tayar sendiri.

Al Quran dan Hadis adalah bahan mentah. Kita orang awam tak ada perkakasan ilmu yang lengkap seperti Para Imam Mujtahid. Adakah kita mahu membuat kerja gila dengan memproses Al Quran dan Hadis mengikut Keterbatasan ilmu yang kita ada? Ini adalah punca kesesatan. Menggunakan Al Quran dan Hadis yang mentah sebagai “Buffet” aci main petik, petik, petik, ayat mana yang sesuai dengan Nafsu ambik jadikan hujjah dan ayat mana tak kena dengan nafsu cari ayat Al Quran lain atau Hadis lain untuk mengiyakan perbuatannya. Ini punca kesesatan. Nauzubillahiminzalikh.

Para sahabat dahulu tidak mempunyai mujtahid mutlak kerana segala permasalahan hukum hakam terus ditanyakan kepada Rasulullah.

Kaedah kita, Mazhab yang dah dirumuskan itulah adalah merupakan rumusan kefahaman Al Quran dan Hadis. Pesan Tok Guru, “Ikut mazhab itu ikut nabi la” tidak perlu menunjuk handal kononnya pakai mazhab yang menggunakan hadis shoheh sahaja. Antara kamu dengan Imam Syafie siapa lebih alim Hadis? Siapa lebih banyak menghafal hadis? Kamu atau Imam Syafie?

Jadilah seperti salah seorang pakar hadis malaysia Tuan Guru Wan Izzuddin atau lebih mesra dengan panggilan Pak Anjang Izzuddin. Pengalaman admin dan rakan rakan mengziarahi beliau di pondoknya Gajah Mati, tidak ada langsung kalam kalamnya yang kontradik dengan ulama ulama melayu yang lain. Walaupun bergelar seorang Muhaddith dan Musnid.

-Admin QF Nuuri-
(( Fitrah Islami ))

17/05/2020 Posted by | Hadis, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

PKP – Mengapa Solat Jumaat 12 Orang Sahaja?

1. Beberapa masjid di beberapa buah negeri telah mula mendirikan semula perlaksanaan solat jumaat di kawasan yang terpilih. Kebanyakan Jabatan Agama Negeri meletakkan syarat minimum jemaah yang perlu hadir adalah 4 orang, manakala maksimum jemaah pula adalah 12 orang. Ada yang bertanya, mengapa 4 atau 12 orang sahaja dan bukan 40 orang?

2. Inilah keindahan Islam. Pengurusan ibadah itu tidak bersifat terlalu rigid sehingga menyusahkan . Dalam beberapa situasi ada kelonggaran yang dibolehkan. Pada hakikatnya, pandangan yang membenarkan solat jumaat 4 orang atau 12 orang ini diambil dari pendapat mazhab yang lain.

3. Di sisi Mazhab al-Syafi’i, jumlah minimum dalam melaksanakan solat jumaat mestilah dihadiri seramai 40 orang. Ini adalah bersandarkan kepada hadis Saidina Ka’ab bin Malik. Ka’ab dikatakan sentiasa memuji Saidina Sa’d bin Zurarah ketika azan dikumandangkan.

Lalu beliau ditanya: “Mengapa engkau selalu memuji Sa’d bin Zurarah ketika mendengar azan?” Ka’ab lalu menjelaskan bahawa: Sa’ad bin Zurarah lah orang pertama yang mengumpulkan kami untuk mendirikan solat jumaat. Lalu beliau ditanya:

كم أنتم يومئذ ؟ قال : أربعون

“Berapa ramaikah bilangan kamu ketika itu? Ka’ab lalu menjawab: 40 orang.” (HR Abu Daud)

4. Daripada hadis Ka’ab bin Malik inilah terbinanya hujah dari mazhab Syafi’i yang meletakkan syarat minima bagi perlaksaaan solat jumaat adalah 40 orang.

5. Namun, Mazhab Maliki menggunakan penghujahan yang berbeza. Mereka menggunapakai hadis Jabir bin Abdullah yang menggambarkan bahawa memadai untuk mendirikan solat jumaat dengan 12 orang sahaja.

Hadis Jabir ini menceritakan bagaimana ketika Rasulullah sedang menyampaikan khutbah, tiba-tiba datang kafilah dagangan dari luar ke Madinah yang menyebabkan ramai sahabat meninggalkan Nabi yang sedang berkhutbah. Kata Jabir:

فالتفتوا إليها حتى ما بقي مع النبي صلى الله عليه وسلم إلا اثنا عشر رجلاً

“Lalu mereka (jemaah solat) berpaling (untuk pergi) ke kafilah dagangan tersebut sehinggakan yang tinggal bersama dengan Rasulullah hanyalah 12 orang sahaja. (HR al-Bukhari)

6. Manakala Mazhab Hanafi dan sebahagain riwayat dari Mazhab Hanbali pula mengharuskan bilangan minimum solat jumaat adalah 4 orang. Ini berdasarkan ayat al-Quran yang memerintahkan kita menunaikan solat jumaat yang menyebutkan:

يا أيها الذين آمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر اللَّه وذروا البيع

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diserukan azan (bang) untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jumaat, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang jumaat)” (Surah al-Jumu’ah: 9)

Mereka menyatakan bahawa perkataan “fas’au” (iaitu segeralah pergi ke masjid untuk mendirikan solat jumaat) itu menggunakan lafaz jamak (plural). Mereka menafsirkan bahaw 3 orang sudah memadai untuk menggambarkan lafaz jamak dengan tidak termasuk imam (jika termasuk imam 4 orang).

7. Begitulah perbezaan pendapat dalam penghujahan bilangan minimum bagi perlaksanaan solat jumaat. Di Malaysia, Jabatan Agama Negeri terkadang mengharuskan penggunaan mazhab lain dalam beberapa isu yang tertentu. Ini semua adalah atas kebijaksaan mereka dalam mengendalikan urusan ibadah bagi memudahkan urusan umat Islam.

Semoga Allah membimbing kita.

Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

16/05/2020 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Ibadah | Leave a comment

PERBEZAAN ANTARA FARDU AIN DAN FARDU KIFAYAH: SOLAT JUMAAT DLM MASA COVID-19

Kedua-dua perkara ini iaitu fardu ain dan fardu kifayah wajib dilaksanakan oleh setiap mukallaf.

Perbezaan antara kedua-duanya ialah fardu ain wajib dilakukan oleh setiap muslim yg mukallaf. Seseorang yg melakukan fardu ain maka ia sudah terlepas daripada kewajipan utk menunaikannya, tetapi org lain yg masih belum melaksanakannya, maka masih tidak terlepas daripada kewajipan tersebut. Justeru dlm hal ini, tidak mungkin sama sekali hukum fardu ain itu berpindah kepada hukum fardu kifayah. Selamanya tidak akan berpindah hukum antara kedua-duanya kerana masing-masing bertanggungjawab utk melaksanakannya.

Adapun fardu kifayah, apabila ada sebahagian masyarakat telah melaksanakannya, maka gugur hukum wajib ke atas org lain utk menunaikannya. Sekiranya tiada siapa yg melaksanakan kewajipan fardu kifayah itu, maka kesemua org yg berada di sesuatu kawasan akan berdosa kesemuanya. Fardu kifayah boleh berpindah kpd fardu ain dlm hal2 tertentu seperti dlm kes amar ma’ruf nahi mungkar iaitu apabila seseorang ternampak kemungkaran berlaku di hadapannya tetapi orang lain tidak nampak, maka wajib ain ke atasnya mengubah kemungkaran itu walaupun hukum asalnya adalah fardu kifayah.

Berdasarkan perbezaan dua perkara ini maka timbul persoalan mengenai solat Jumaat pada masa COVID-19. Bagaimana kita hendak mengaitkan kedua-dua ini dgn isu solat Jumaat yg didirikan pada masa COVID-19? Adakah hukum fardu ain solat Jumaat telah berpindah kepada hukum fardu kifayah? Di atas, kita telah nyatakan bahawa hukum fardu ain selama-lamanya tidak boleh berpindah kpd hukum fardu kifayah. Namun begitu, ada segelintir yg berpandangan bahawa hukum solat Jumaat pada masa COVID-19 ini telah pun berpindah menjadi fardu kifayah. Kenyataan sebegini agak mengelirukan kerana tiada mana-mana ulama pun yg menyebutkan demikian.

Berdasarkan permasalahan di atas timbul persoalan, adakah ketika COVID-19 ini, hukum org yg tidak mengerjakan solat Jumaat dikira berdosa, sehingga perlu ada sekumpulan org lain menggalas tanggungjawab itu utk mendirikan solat Jumaat? Jika begitu keadaannya, adakah apabila ada sekumpulan org lain menunaikan solat Jumaat pada masa COVID-19 ini, maka gugur dosa org lain yg tidak solat Jumaat kerana dianggap berdosa tidak melaksanakannya? Selain itu, tidakkah ulama kontemporari telah pun berfatwa bahawa solat Jumaat ketika COVID-19 ini gugur kewajipannya sebab ada keuzuran, kerana virus ini sangat merbahaya apabila org ramai berkumpul dlm sekala yg ramai seperti kes solat Jumaat? Jika beginilah fatwa yg dikeluarkan, tidakkah jika tidak dilaksanakan solat Jumaat ketika COVID-19 ini, tidak berdosa walaupun dlm tempoh yg lama?

Bagi meraikan situasi kini yg mana solat Jumaat telah pun dibenarkan dilaksanakan dgn mematuhi SOP yg ditetapkan, mungkin lebih elok kita jawab begini, sebenarnya hukum fardu ain solat Jumaat tidaklah berpindah kpd fardu kifayah dlm situasi apa pun termasuklah kes COVID-19 ini. Kewajipan solat Jumaat bagi setiap muslim hukumnya tetap fardu ain, cuma dlm situasi kini, gugur kewajipannya disebabkan wabak COVID-19 yg melanda dunia, sifatnya yg sangat merbahaya dan boleh mengancam nyawa manusia. Oleh itu, kewajipan solat Jumaat gugur disebabkan hal tersebut, lalu diganti dgn solat Zohor.

Adapun ulil amri membenarkan sekumpulan org mendirikan solat Jumaat dlm bilangan tertentu, maka hal ini kerana mengambil kira permintaan org ramai agar solat Jumaat tetap dilaksanakan walaupun dlm jumlah yg minima kerana solat Jumaat merupakan salah satu syiar Islam yg tidak patut diabaikan. Hal ini kerana daripada tidak dikerjakan langsung solat Jumaat, maka lebih afdal dikerjakan juga walaupun dlm bilangan jemaah yg minima. Apabila cukup bilangan minima, maka telah cukup syarat utk mendirikan solat Jumaat bagi tertegaknya syiar Islam itu walaupun dalam keadaan yg tidak sempurna.

Cumanya hukum sebilangan orang yg mengerjakan solat Jumaat itu adakah dikira sbg fardu ain ke atas mereka atau terdapat hukum lain, tidak dijelaskan oleh mana-mana fatwa di Malaysia. Apa yg pasti, mereka yg tidak diarahkan utk solat Jumaat pada masa tempoh COVID-19 ini sememangnya tidak menanggung apa2 dosa kerana terdapat keuzuran. Tidak berdosa itu bukan disebabkan adanya kumpulan org yg mendirikan solat Jumaat, maka gugur dosa org lain, tetapi mmg hukum asalnya tidak berdosa disbbkan uzur syar’i.

Akhir kalam, kita perlu memahami isu ini dgn sebaiknya agar perlaksanaan ibadah kita dilakukan dgn sebaiknya, dan memperolehi rahmat serta reda-Nya. Tingkatkan amal ibadah kita pada sepuluh hari dan malam terakhir Ramadan ini agar kita memperoleh maghfirah-Nya.

Wallahua’lam.

Sumber:FB Ustaz Dr Mohd Murshidi Mohd Noor

15/05/2020 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

GOLONGAN YG MENGGUGAT IMSAK

Semua sepakat, bahwa yang namanya adalah menahan makan dan minum atau perkara yang membatalkan puasa mulai dari fajar shadiq sampai maghrib, bukan dari “waktu imsak” sampai maghrib.
Tradisi masyarakat Islam pada umumnya, ketika masuk “waktu imsak”, mereka membunyikan tanda atau lewat pembesar suara masjid atau mushalla, bahwa waktu imsak sudah tiba.

Tanda “waktu imsak” didasarkan pada Hadits Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit :
ﺗَﺴَﺤَّﺮْﻧَﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻡَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻗُﻠْﺖُ ﻛَﻢْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﺄَﺫَﺍﻥِ ﻭَﺍﻟﺴَّﺤُﻮﺭِ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺪْﺭُ ﺧَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺁﻳَﺔً
“Kami sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau menjalankan shalat”. Aku (Anas bin Malik) bertanya (kepada Zaid bin Tsabit): “Berapa kadar antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab: “Kadar 50 ayat”. (HR. Bukhari)

Dalam sebuah riwayat shahih yang lain disebutkan, bahwa Qatadah bertanya kepada Anas ketika bercerita tentang Zaid bin Tsabit yang sahur bersama Rasulullah:
“Berapa kadar antara selesainya keduanya dari makan sahur dan masuk mengerjakan shalat ? Anas menjawab : “Seperti kadarnya seorang laki-laki membaca 50 ayat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para Ulama membuat perkiraan, pembacaan 50 ayat tenggang waktu antara sahur dengan adzan shubuh adalah antara 10 sampai 15 menit.
Tradisi pemberitahuan “waktu imsak” tersebut kini digugat dan dihukum bid’ah sesat oleh Wahhabi ngaku sebagai salafi. Menurut mereka, antara waktu sahur dengan waktu shalat shubuh tidak ada sela waktu yang disebut imsak. Alasan mereka adalah karena tidak ada dalil tentang “waktu imsak” itu sendiri. Dan masih menurut mereka, hadits shahih senggang waktu 50 ayat yang sudah disebutkan di atas salah difahami oleh kaum muslimin yang meyakini adanya “waktu imsak”.

Betul bahwa waktu sahur berakhir ketika masuk fajar shadiq. Tetapi masalahnya, “waktu imsak” yang merupakan waktu dimana kita disunatkan tidak lagi makan dan minum adalah waktu ihtiyath atau waktu berhati-hati. Silakan saja setelah “waktu imsak” masih makan dan minum, karena “waktu imsak” tersebut bukan sebuah larangan makan dan minum seperti yang disangkakan sebahagian masyarakat kita yang awam. Tetapi mengingkari adanya waktu sela “waktu imsak” adalah sama dengan menyelisihi pemahaman para ulama dari Hadits Nabi di atas. Dan kedua hadits shahih yang telah disebutkan merupakan hujjah yang kuat.

Kaum Wahhabi menolak kesunatan memberi jeda waktu kadar 50 ayat sebelum shubuh yang disebut “waktu imsak”, berdasarkan atas tafsiran Abdullah bin Bassam dalam kitabnya, Taisir al-Allam syarah Umdah al-Hukkam (I/293) :
“Anas berkata: “Aku bertanya kepada Zaid: “Berapa kadar antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab: “Kadar 50 ayat”. Tafsir kata yang gharib: “Adzan yang dikehendaki Nabi adalah iqamah. Yang memperjelasnya adalah hadits dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Anas dari Zaid. Ia berkata: “Kami sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kami menjalankan shalat”. Aku (Anas) bertanya: “Berapa jarak antara keduanya?” Zaid menjawab: “Kadar 50 ayat”

Dari keterangan tsb, mereka mengambil kesimpulan, bahwa jarak antara sahur dengan iqamah shalat adalah berdekatan sekali dengan waktu shubuh. Mereka dengan tegas mengatakan, Rasulullah dan juga para shahabat melakukan makan sahur saat mendekati adzan shubuh atau bahkan (selesai) mendekati iqamah. Menurut mereka, tidak ada masa senggang antara adzan shubuh dengan sahur 50 ayat seperti yang dipahami dari lahiriyah teks hadits.
Jadi, masalah yang dijadikan polemik adalah apakah kadar 50 ayat dalam hadits Nabi di atas dimulai dari sahur sampai adzan shubuh (adzan fajar shadiq) atau sampai iqamah (mengerjakan shalat) ? Wahabi dengan sangat jelas memilih pendapat yang kedua.

Mari kita kaji lebih lanjut merujuk komentar-komentar ulama-ulama ahlussunnah yang kredibel dibidangnya. Apakah yang mereka katakan sama dengan yang dikatakan kaum Wahabi ?
👤 Imam Ibnu Daqiq al-Id dalam Ihkam al-Ahkam syarah Umdah al-Ahkam (I/269) berkata:
“Ini adalah dalil tentang kesunatan mengakhirkan sahur dan mendekatkan ke fajar. Yang zhahir, yang dikehendaki dengan adzan di sini adalah adzan kedua”.
Imam Nawawi dalam Syarah Muslim (VII/208) berkata : “Dalam hadits ini terdapat anjuran mengakhirkan sahur sampai sebelum sedikit fajar”.
Artinya ,,, terdapat anjuran sebelum fajar tiba kita tidak lagi melakukan sahur. Itulah “waktu imsak”.

👤 Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (II/54) : “Berapa kadar antara adzan dan sahur ? Maksudnya adalah adzan Ibnu Ummi Maktum, karena Bilal mengumandangkan adzan sebelum fajar, dan yang lain (Ibnu Ummi Maktum) mengumandangkan adzan ketika sudah muncul fajar”.

👤 Imam ad-Dusuqi al-Maliki dalam Hasyiyah-nya (V/ ,,, ) : “Maka telah datang riwayat, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan sahur sekira antara selesai sahur dengan fajar adalah kadar orang membaca 50 ayat”

👤 Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari dalam Asnal Mathalib (V/324) : “Yang sunnah, antara sahur dengan fajar adalah kadar 50 ayat”.

Jadi jelas, bahwa jarak waktu antara sahur dengan mengerjakan shalat sebagaimana dalam hadits Bukhari dan Muslim adalah antara sahur dengan adzan kedua sebagaimana dikatakan oleh banyak ulama.

Kemudian Wahhabi mencoba menguatkan pendapatnya, yakni tentang tidak adanya ruang sama sekali antara sahur dengan adzan shubuh, meskipun hanya bersifat sunat, dengan beberapa riwayat. Dan berikut ini kutipan riwayat-riwayat tersebut beserta paparan jawabannya:

● HADITS PERTAMA
“Ketika salah satu kalian mendengar adzan sementara wadah (minuman) masih ada ditangannya, maka janganlah diletakkan sampai ia menyelesaikan hajat darinya (meminumnya)” (HR. Ahmad dll.)
★ Bantahan : Entah bagaimana cara mereka memahami hadits shahih riwayat Ahmad ini ? Apakah mereka memahami, bahwa setelah adzan shubuh kita masih diperbolehkan makan dan minum sebagaimana lahiriyyah hadits tersebut ?

Lebih jelasnya, al-Hafizh al-Munawi dalam Faidh al-Qadir (I/474) yang menjelaskan isi maksud hadits tersebut. Dan satu yang dapat dipastikan, penjelasan ini akan berbeda dengan yang dipahami kaum Wahhabi.
Al-Munawi berkata : “Sabda Nabi (Hingga ia menyelesaikan hajatnya) dengan minum darinya secukupnya, selama tidak nyata munculnya fajar atau menyangka sudah dekat dengan fajar. Apa yang disebutkan, bahwa yang dimaksudkan panggilan adalah adzan shubuh adalah yang dipedomani Imam ar-Rafi’i. Ia berkata : “Rasulullah mengkehendaki adzannya Bilal yang pertama, dengan dalil hadits: “Sesungguhnya Bilal adzan ketika masih waktu malam, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan”. Menurut sebagian pendapat, panggilan yang dimaksudkan adalah adzan Maghrib. Maka, ketika orang puasa mendengar adzan sementara wadah makanan masih ada ditangannya, janganlah ia meletakkan tetapi segera berbuka dalam rangka menjaga kesunatan menyegerakan berbuka. Dan ini yang dipedomani Imam ath-Thayyibi”

Menjadi jelas, bahwa adzan yang dimaksudkan dalam hadits adalah adzan Bilal yang pertama yang berarti belum masuk waktu shubuh.

● HADITS KEDUA
“Shalat sudah dilaksanakan sedangkan wadah minuman masih di tangan Umar. Lalu Umar bertanya: “Aku (Umar) bertanya: “Aku boleh meminumnya wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab: “Benar boleh”. Maka Umar pun meminumnya”. (HR. Abu Ya’la al-Maushili)
★ Bantahan : sungguh pemahaman sangat aneh jika hadits ini dijadikan pendukung menghukum bid’ahnya sesatnya waktu Imsak. Hadits ini membicarakan tentang, jika shalat akan segera dikerjakan sementara ia masih memegang cangkir minuman, maka ia diperbolehkan minum terlebih dahulu sebelum shalat. Dan hujjah atas pernyataan ini adalah Imam al-Bushiri dalam Ittifah al-Khairah (II/180) yang memberi judul hadits ini: “Bab mendahulukan makan dan minum sebelum shalat”.

Bahkan jika difahami seperti pemahaman wahhabi, seharusnya setelah adzan dan setelah iqamah shubuh masih boleh makan. Buktinya Umar bin Khaththab diperintahkan minum padahal shalat sudah hendak dikerjakan. Sungguh pemahaman yang jauh dari ilmu.

● HADITS KETIGA
Abu Zubair bertanya kepada Jabir tentang seseorang yang bermaksud puasa sementara ia masih memegang gelas untuk minum, tetapi ia mendengar adzan? Jabir menjawab : Kami menceritakan, bahwa Rasulullah bersabda: “Hendaknya ia minum!”. (HR. Ahmad)
★ Bantahan : Imam Mulla Ali al-Qari menukil hadits ini dalam masalah ketika makan malam (asya’) sudah siap, sementara shalat sudah hendak dikerjakan. Maka, baiknya ia makan sekedarnya terlebih dahulu sebelum ia mengerjakan shalat. Dan sungguh aneh bin ajaib jika hadits diatas dijadikan dasar dalam mendukung pernyataan bid’ahnya bahwa tidak ada jeda “waktu imsak” yang sunat itu.
Hadits ini pun kalau dipahami secara tekstyal menurut pemahaman kaum Wahhabi, seharusnya makan dan minum diperbolehkan meskipun sudah masuk waktu shubuh. Tetapi paham seperti ini adalah paham yang jauh melenceng dari pengertian puasa itu sendiri.

● HADITS KEEMPAT
Hadits Bilal : “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi tahukan waktu shalat, sementara beliau berkehendak puasa, maka beliau minum dan memberikan kepadaku, baru kemudian keluar untuk shalat” (HR. Ahmad dll).
★ Bantahan : Hadits ini menunjukkan tentang sunatnya mengakhirkan sahur, bukan sahur ketika waktu shubuh sudah masuk. Terbukti al-Bushiri memasukkan hadits ini dalam anjuran menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.

Jika hadits ini dipahami secara literal seperti cara pikir wahhabi, maka artinya menjadi bahwa Rasulullah masih makan sahur padahal waktu shubuh sudah masuk. Dan ini adalah pemahaman amat sangat sangat keliru !!!

●HADITS KELIMA
Hadits Anas bin Malik : Sesungguhnya Rasulullah berkata: “Lihatlah siapa yang berada dalam masjid, undanglah dia !”. Ternyata ada Abu Bakar dan Umar , maka aku undang mereka berdua. Kemudian mereka makan dan kemudian keluar. Lalu Rasulullah shalat shubuh bersama mereka” (HR. Bazzar)
★Bantahan : Hadits “hasan” ini tidak menunjukkan jika Rasulullah dan sahabat Abu Bakar dan Umar berpuasa, tetapi anjuran makan bersama-sama sebagaimana al-Bushiri dalam Ittihaf al-Khairah (IV/279) yang memasukkannya dalam bab “Makan bersama-sama”.

● HADITS KEENAM
Hadits Abdullah bin Umar yang berkata : Alqamah bin Alatsah disamping Rasulullah . Kemudian datanglah Bilal yang mengumandangkan adzan shalat. Lalu Rasulullah berkata: “Tunggulah wahai Bilal !, Alqamah sedang sahur dan dia baru mulai makan sahur” (HR. Abu Dawud Thayalisi).
★ Bantahan : Bukankah Bilal adalah shahabat Rasulullah yang ditugaskan mengumandangkan adzan pertama shubuh yang berarti sebelum adzan shubuh yang kedua (fajar shadiq) yang dikumandangkan Ibnu Ummi Maktum ? Hadits tersebut sama sekali tidak terkait dengan yang didakwakan wahhabi.

Dalam sebuah hadits Nabi disebutkan : Sesungguhnya Bilal adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, kar3na adzan Bilal yang masih belum masuk waktu shubuh maka sahurnya Alqamah juga sebelum shubuh.
——————
Sekali lagi,,, tanda imsakiyyah 50 ayat di atas hanya bersifat sunat untuk berhati-hati dalam memulai puasanya.

Sumber: Fb Ustaz Zarief Shah Al HaQQy

12/05/2020 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

TAQRIB SALAF-KHALAF??

Ada satu kumpulan di Malaysia ni berusaha utk taqrib Salaf-Khalaf di Malaysia. Tetapi saya kurang pasti kumpulan ini dah mempengaruhi ramai org atau belum buat masa kini. Apa pun saya dikhabarkan, mereka ini cuba bergerak berdasarkan platform politik.

Cuma saya nk tanya begini, kumpulan ini yg nk taqrib tu faham ke apa maksud Salaf? Apa definisi Salaf yg mereka pegang? Jika dari sudut zaman, generasi Salaf telah berlalu. Jika dari sudut manhaj pula, adakah ulama Khalaf tidak meneruskan manhaj generasi Salaf, lalu meninggalkan manhaj Salaf itu? Sudah tentu tidak kerana ulama Khalaf adalah penerus kepada pegangan dan pemahaman ilmu yg dibawa oleh generasi Salaf. Jika mereka dapat jawab dgn ilmiah pengertian ‘Salaf’ dgn merujuk kpd karya-karya yg dikarang oleh ulama ASWJ, maka saya pasti mereka akan dapat jawapannya. Jika mereka berkeras juga dgn definisi ‘Salaf’ yg difahami oleh mereka tanpa merujuk karya ulama ASWJ, apa guna mereka nk laksanakan usaha taqrib tersebut sedangkan definisi ‘Salaf’ pun mereka tak lepas. Definisi yg lebih dipengaruhi oleh definisi yg dilakukan oleh puak Wahhabiyah yg memusuhi ulama khalaf.

Itu baru definisi, belum aspek yg lain. Sekarang ni, cuba perhatikan pula apa usaha yg dilakukan oleh ulama kita sejak dahulu kala utk menyatukan ummah. Aliran mazhab dlm aqidah dan fiqah adalah pelbagai maka masyarakat tidak dibiarkan menganut pelbagai mazhab yg bukan ASWJ yg boleh membawa kpd perpecahan yg teruk. Masyarakat tidak akan aman apabila ada sahaja di kalangan mereka golongan Syiah, Khawarij, Liberal, Wahhabiyah yg cuba menyusup di dlm masyarakat kerana golongan minoriti ini sentiasa membawa pandangan-pandangan yg ganjil yg boleh menyebabkan kekacauan dan keresahan dlm masyarakat. Maka dikuatkuasakan undang-undang di Tanah Melayu dari sudut agama utk tujuan penyatuan ummah bahawa dari aspek aqidah aliran yg diterima pakai hanyalah Asha’irah wal Maturidiyyah, dari aspek fiqh adalah fiqh mazhab Shafi’i di samping tiga mazhab muktabar, dan tasawuf berasaskan pembawaan Al-Ghazali dan Junayd Al-Baghdadi. Tiga tunjang utama ini yg dapat menyatukan masyarakat Melayu kerana tidak akan berlaku khilaf yg besar apabila tiga tunjang dasar inj dipegang. Jika ada khilaf pun, bab2 furu’ sahaja.

Berlainan sekiranya diterima segala aliran yg masuk ke Malaysia tanpa tapisan sama sekali maka akan menyebabkan masyarakat akan berpecah dgn teruk kerana perkara khilaf yg berlaku tidak lagi soal furu’ malahan melibatkan soal usul. Khilaf ini tidak akan berkesudahan kerana golongan minoriti ini sentiasa hendak menegakkan benang yg basah walaupun berada di pihak yg salah. Justeru, apa makna usaha anda utk taqrib yg anda fikir khilaf furu’ itu kerana anda memberikan definisi yg salah terhadap perkataan ‘Salaf’ itu sendiri sehingga merebak kepada isu-isu lain yg lebih besar. Ini kerana anda sendiri tidak berhati-hati dlm soal ilmu, tetapi hendak membawa satu soal yg anda anggap bedar sedangkan hal terbabit merupakan bibit halus utk memecah belahkan masyarakat ke dalam suasana yg lebih teruk tetapi anda sulam usaha anda itu dgn “taqrib Salaf-Khalaf” sedangkan anda sedang membuka pintu perpecahan yg sebenarnya telah ditutup oleh para ulama kita sejak dahulu lagi.

Justeru, usaha yg patut anda utamakan, kembalikan masyarakat keseluruhannya kepada ASWJ aliran Asha’irah wal Maturidiyyah, fiqh bermazhab dan bertasawwuf yg muktabar. Inilah kunci penyatuan ummah yg telah pun disepakati oleh para ulama kita di alam Melayu. Jgn cuba nk bawa satu fikrah baru yg anda sendiri pun tidak pasti kesannya kpd masyarakat. Ketika ulama kita selesaikan isu ini, anda pun masih di alam roh, tidak wujud lagi pun di dunia. Apabila anda dilahirkan di dunia, anda cuba pula nk bawa benda lain lalu membelakangkan usaha yg telah dilakukan oleh para ulama kita di alam Melayu.

Wallahua’lam.

(Dari: FB Ustaz Dr Mohd Murshidi Mohd Noor)

09/05/2020 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

QAWL MUKTAMAD BAHARU DLM MAZHAB SHAFI’I??

Sekadar coretan ringkas daripada saya yg daif ini mengenai pandangan yg mengatakan telah wujud qawl muktamad baharu dlm mazhab Shafi’i.

Pada pandangan saya, untuk mewujudkan qawl muktamad baru dlm mazhab Shafi’i, bukannya datang daripada mana2 ajk fatwa, kerana proses mewujudkan qawl muktamad itu mestilah datang daripada org yg selevel imam mujtahidin juga seperti Imam Nawawi, Imam Rafi’i, Imam Ibn Hajar al-Haitami, Imam al-Ramli dan seumpama mereka.

Pernah dahulu kala, dunia pernah memiliki ulama yg tersangat hebat dan alim dlm mazhab Shafi’i iaitu Sheikh Yasin al-Fadani yg jika diikutkan berdasarkan pemerhatian kita, beliau sudah tentu berkemampuan utk tarjih semula mazhab atau mewujudkan qawl muktamad mazhab Shafi’i yg baru, kerana menguasai kesemua karya-karya mazhab Shafi’i, tetapi beliau tidak lakukan demikian dan hanya bertaklid kpd mazhab al-Shafi’i sahaja.

Ini bermakna pada hemat saya, zaman utk mewujudkan qawl muktamad dlm mazhab sudah pun berlalu. Kita yg berfatwa pada zaman kini hanya merujuk kpd qawl muktamad yg telah sedia ada yg mana di Malaysia kita mengutamakan qawl muktamad dlm mazhab Shafi’i. Jika menghadapi situasi yg sukar seperti berlaku bertembungan antara maslahah, mafsadah, uzur syar’i, siyasah syar’iyyah dan sebagainya yg keadaannya berlawanan dgn kepentingan awam, maka akan dirujuk pula kepada qawl muktamad dlm tiga mazhab muktabar selain mazhab Shafi’i.

Justeru, jika ada yg beranggapan telah ada qawl muktamad baru dlm mazhab atau pun ianya diistilahkan sebagai ‘keputusan akhir jawatankuasa fatwa’, maka saya berpandangan hal yg seperti itu hanyalah sekadar melakukan ijtihad kini yg meraikan situasi semasa, bukannya qawl muktamad baru dlm mazhab. Selain itu, ketidak wajaran mengadakan qawl muktamad baru dlm mazhab kerana qawl muktamad itu telah pun dibukukan dan telah pun menjadi bahan sejarah. Oleh itu, tidak sesuai utk diadakan qawl muktamad yg baharu.

Jika nak bagi ada pun qawl muktamad baru itu, maka perlu cukup syarat, tetapi syaratnya amat ketat yg mustahil utk dipenuhi oleh ilmuwan yg ada pada zaman kini. Sehubungan dgn itu, jika hendak dikatakan juga adanya pandangan muktamad baru, kemungkinan org zaman kini perlu berfikir ke arah mewujudkan mazhab baharu sebagai mazhab kelima yg mempunyai pandangan muktamadnya yg tersendiri, mazhab yg ada ciri tersendiri yg tidak sama dgn empat mazhab yg ada. Tindakan sebegini lebih mudah difahami oleh org ramai berbanding dakwaan ttg adanya qawl muktamad yg baharu. Tetapi, sudah tentu akan menerima kritikan yg hebat kerana kemustahilan utk mewujudkan mazhab kelima.

Akhir kalam, jika hendak mewujudkan juga la qawl muktamad yg baru dlm mazhab Shafi’i, maka saya berpandangan kita perlulah berusaha melahirkan semula ulama mujtahidin mazhab Shafi’i yg setaraf Imam Nawawi, Imam Rafi’i, Imam Ibn Hajar al-Haitami, Imam al-Ramli, Sheikh Zakariyya al-Ansari, Sheikh Yasiin al-Fadani, maka barulah sesuai utk adanya qawl muktamad baru dlm mazhab. Tidak cukup sekadar jk fatwa berhimpun utk melakukan keputusan baru yg bertentangan dgn qawl muktamad yg sedia ada, lalu keputusan itu dikatakan pula qawl muktamad baharu dlm mazhab Shafi’i, maka saya berpandangan adalah tidak wajar dakwaan sedemikian.

Semoga bermanfaat coretan yg ringkas ini.

Wallahua’lam.

Olih: Ustaz Dr Mohd Murshidi Mohd Noor

08/05/2020 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Proses Fatwa

Saya tidaklah terlibat dgn mana2 ajk fatwa, tetapi berdasarkan apa yg saya dengar ttg beberapa proses fatwa berdasarkan pengalaman guru saya.

Justeru, bagi mereka yg terlibat dgn fatwa, saya berpandangan perlu mengikuti proses-proses berikut agar fatwa yg dikeluarkan adalah sesuatu yg berkualiti dan berwibawa. (Saya tidak tujukan kpd badan fatwa yg ada kini, tetapi ditujukan kpd mereka yg bakal terlibat dgn fatwa).

Oleh itu, apabila mereka menghadapi isu-isu yg baru, yg tidak pernah disebutkan dlm kitab2 lama, maka mereka perlulah melalui langkah-langkah seperti berikut:

1) Buka semula segala kitab dalam mazhab Shafi’i berkaitan perbincangan yg hampir sama dgn permasalahan yg baru muncul itu.

2) Jika ada kesamaan dgn permasalahan yg baru, maka boleh terus berfatwa berdasarkan apa yg terkandung di dalam kitab mazhab Shafi’i.

3) Jika tiada kesamaan dgn kemunculan benda-benda baharu disebabkan berbeza zaman, maka perlu dirujuk kepada kaedah-kaedah fiqh yg seringkali digunakan dalam mazhab Shafi’i utk merungkai permasalahan yg baru tersebut.

4) Jika permasalahan yg dihadapi begitu sukar dipraktikkan dlm mazhab Shafi’i kerana bertembung dgn maslahah, mafsadah dsb maka boleh dirujuk kpd tiga mazhab muktabar selain mazhab Shafi’i.

5) Apabila telah mendapat keputusan utk berfatwa bagi isu baru, maka bertawakkallah kpd Allah, serahkan diri bulat2 kepadaNya agar Dia memberi petunjuk dan kelapangan hati dlm berfatwa serta mengamalkan keputusan yg diambil.

Step2 sebegini merupakan perkara basic bagi mereka yg terlibat dgn fatwa. Jika tidak mengikuti step2 ini, maka fatwa yg dikeluarkan tampak agak tergesa-gesa, terlalu mengikut rentak negara luar yg berlainan situasi dgn negara kita dan sebagainya. Hal ini boleh diperhatikan mengenai isu semasa kini seperti nikah online, hukum ujian saringan COVID-19 melalui pengambilan swab bagi mereka yg berpuasa adakah batal atau tidak dan seumpamanya.

Fatwa bukanlah satu perkara yg dikejar-kejar atau menunjuk-nunjuk siapa lebih cepat, tetapi lebih kepada ketelitian dalam usaha utk mentaati syariat Allah سبحانه وتعالى.

Wallahua’lam.

Olih:FB Ustaz Dr Mohd Murshidi Mohd Noor

07/05/2020 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa | Leave a comment

SAYA SALAFI (BAHAGIAN 2)

(BAHAGIAN 1)

Alasan : Ilmu agama ini mudah sahaja. Baca pun boleh faham. Youtube ada, medsos ada.

Penemuan : ilmu agama ada tahap. untuk asas, kenali agama secara umum boleh baca. Youtube medsos dan lain2. Tapi kalau hanya berhenti disitu. Ia akan merosakkannya khusus bagi orang yang ada “KASIH” kepada Agama. Ia perlu belajar. Contohnya cara ambil wuduk yang betul bukan hanya boleh dibaca dan tengok youtube.

Tahap lebih tinggi mendalami mengetahui dalil. Yang ini mesti mengadap guru dan ada ilmu alat (ilmu membantu memahami nas Quran Hadis). Kalau yang ini ambil di youtube memang binasa.

SANGAT BERBEZA ORANG YANG ADA ASAS ILMU YANG KUKUH MENDENGAR ILMU DIMEDSOS BERBANDING ORANG TIADA ASAS

Alasan : Kita amal hadis shahih sahaja.

Penemuan : BUKAN ASAL SHAHIH BOLEH AMAL. Ia ada banyak syarat lain. Seperti mansukh hadis. Ada beberapa kitab besar berkenaan musykil hadis yang zahir bertentangan antara hadis dan bagaimana ulama merungkainya.

Dalam hadis Baginda saw minum berdiri. Sedang di tempat lain Baginda larang pula. KEDUA2 HADIS SHAHIH. Inilah yang dihuraikan oleh ulama. Kalau dibiarkan kepada ummat buat keputusan sendiri. Binasalah.

Alasan : hadis daif kita kene tolak

penemuan : MAJORITI muhaddithin menerima hadis daif dengan syarat2nya. Khususnya dalam bab dalam fada’il amal ( kelebihan beramal). Bahkan hadis daif yang banyak turuq boleh terangkat kepada hadis hasan lighairih.

Memang ada ulama hadis yang menolak terus hadis daif. Kalau ada yang mengatakan Imam Bukhari menolak hadis daif maka jawabnya beliau juga menulis kitab al-adabul mufrad dan tarikh albukhari yang didalamnya banyak sekali hadis daif terkumpul.

Alasan : Imam syafie pun kata, kalau jumpa hadis shahih, itu juga mazhabku. Jadi semua hadis shahih adalah pegangan mazhab syafie.

Penemuan : SEPARUH BETUL. Maksud imam syafie ialah ditujukan kepada orang yang mujtahid sepertinya BUKAN ORANG AWAM.

Boleh jadi imam Syafie tertinggal, tak jumpa atau tersalah nilai hadis tersebut. Namun kata Imam Nawawi , untuk kata begitu dia perlu baca SEMUA kitab syafie dan muridnya, barulah boleh buat keputusan SYAFIE TAK TAHU. Pernah kita buat???

Alasan : Muhaddith tentu faham semua hadis. Kalau tidak tentu tak dapat gelaran tu.

Penemuan : TIDAK MESTI BEGITU. Yang memahami adalah Muhaddith yang FAQIH. Ada muhaddith yang mengumpul hadis dan mengetahui semua shahih, hasan dan daif namun tidak FAQIH.

kata imam ibn Wahab (125-197h) murid imam Malik : setiap ahli hadis yang tiada guru FAQIH akan sesat. sekiranya Allah tidak menyelamatkanku dengan Malik dan Laith bin sa’ad(94-175h), sesatlah aku.

SEBAB ITU MAJORITI MUHADDITHIN ADALAH BERMAZHAB!!

FB Ustaz Dr Muhammad Lukman Ibrahim

24/04/2020 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Informasi | Leave a comment

Fatwa Darul Ifta’ Mesir Berkenaan Hukum Bernikah Secara Online:

Darul Al-Ifta Mesir mengesahkan kesahihan fatwa yang dikeluarkan oleh badan berkenaan bahawa pernikahan online yang dijalankan melalui video conference adalah tidak sah. Ianya adalah kerana pernikahan secara online mengandungi banyak kecacatan yang boleh merosakkan akad tersebut, terutamanya yang bersangkutan dengan makna keredhaan yg sebenar sebagai mana yg di tunjukkan oleh syarak.

Apatahlagi Yang menyentuh aspek kehadiran saksi dan penyaksian mereka terhadap proses perjalanan majlis akad tersebut.

Dar Al-Ifta Mesir juga menjelaskan dalam salah satu dari fatwa terbarunya bahawa memastikan bahawa sesuatu akad nikah itu menjadi sah maka pihak pengantin hendaklah mematuhi beberapa syarat yg wajib dipatuhi dan di penuhi.

1) Upacara akad nikah pada asalnya perlu dijalankan dalam keadaan biasa, seperti hadirnya keluarga kedua pengantin atau setidaknya wakil dari pihak kedua mempelai.

2) Memberlakukan sighah akad dengan cara menghadirkan dua orang saksi dalam satu majlis.

Berdasarkan kepada Sabda Nabi saw:
لا نكاح الا بولي وشاهدي عدل، وما كان من نكاح على غير ذلك فهو باطل.

“Tiada pernikahan melainkan dengan kehadiran seorang wali dan dua orang saksi. Dan apa jua bentuk pernikahan yang berlaku dengan cara selain dari itu maka pernikahan tersebut adalah batil”.

Dan pihak Darul Ifta’ menambah lagi bahawa proses pendengaran Para saksi terhadap Sighah akad menerusi peralatan modern (gadget) seperti telefon bimbit dan aplikasi perbualan secara online melalui internet maka ianya tidak boleh diterima pakai kerana suara seseorang boleh bercampur baur dan ini tidak memadai dalam akad nikah.

Kerana kaedah fiqhiyyah mengatakan bahawa:

يحتاط في الفروج ما لا يحتاط الأموال

Di utamakan sikap berhati-hati dalam urusan menghalalkan kemaluan (urusan munakahat) melebihi sifat kehati-hatian dalam urusan harta benda (muamalat).

Fatwa tersebut menegaskan bahawa tokoh-tokoh penting dalam mazhab Syafie mensyaratkan (dalam Qaul yang muktamad) berkenaan dua orang saksi nikah bahawa keduanya baik penglihatan, celik dan tidak cukup sekadar elok pendengaran semata mata.

Hal ini diakui oleh Imam Nawawi sendiri dalam kitabnya Minhajul Tolibin dimana beliau mengatakan bahawa:

Dan tidak sah ia (akad nikah) melainkan dilakukan dihadapan dua orang saksi.

Dan syarat bagi kedua orang yang akan menjadi saksi bahawa mereka berdua mestilah:

1) Merdeka
2) Lelaki
3) Adil
4) Mendengar
5) Melihat

Dan Syeikh Khatib As Syarbini dalam komentar beliau terhadap makna “melihat” mengatakan:

Kedua syarat terakhir tersebut diletakkan oleh Imam An Nawawi kerana sebuah keterangan akad tidak akan jelas maknanya melainkan dengan melihat dan mendengar (secara serentak).

Fatwa tersebut juga menegaskan bahawa pernikahan tersebut tidak boleh dianggap sah hanya dengan berpandukan gambar dan suara video semata mata.

(Apa jua kebarangkalian yang ada) samaada melalui telefon bimbit atau aplikasi mudah alih jalur lebar (internet) bahkan jika cukup padanya syarat yg ditetapkan oleh tokoh-tokoh syafiiyyah berkenaan sekalipun. Kerana pemberlakuan syarat yg ditetapkan oleh tokoh berkenaan itu berlaku atas asas yg tidak pasti (zonniyyah) dan bukan secara pasti (qath’iyyah).

Kerana dalam proses akad dengan aplikasi tersebut boleh di pengaruhi unsur penipuan atau penyelewengan melalui aplikasi yg berlainan yg boleh mengubah bunyi suara, gambar video.

Tambahan pula kaedah fiqhiyyah menyebutkan bahawa dalam urusan melibatkan faraj (perkahwinan) perlu lebih berhati-hati melebihi akad yg lain.

Maka sebagai mufti kami tidak boleh menghalalkan suatu pernikahan Yang bersandarkan kepada suatu yg zanni. Dan demikian itu kerana ingin menutup jalan kefasadan (saddu Az Zara’i) dan apa jua kesan negatif yang akan terzahir hasil dari keputusan tersebut.

Pihak Dar Al-Ifta memberi amaran kepada sekelian pemuda pemudi agar tidak menerima galakan tersebut (nikah online) yang secara jelas bercanggah dengan syariat. Juga bimbang mengenai kesan buruk yang akan menimpa mereka dalam bentuk penyesalan di kemudian hari.

Hingga mengheret mereka (pemuda pemudi) ke dalam kancah kedurhakaan dan keganasan rumahtangga kesan dari kesilapan menjalani perkahwinan dalam keadaan tidak patuh kepada ajaran syariat, juga kesan buruk dari pernikahan yang tidak di redhai oleh Allah dan RasulNya saw.

Sekian.

Penterjemah: Al Faqeer Cik Wan Hilmy Wan Mohamed

21/04/2020 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

SENARAI KITAB ULAMA ASWJ YANG MENOLAK FAHAMAN WAHHABI

1. Fasl al-Khitab fi Radd ‘ala Muhammad ibn Abdil Wahhab oleh Syaikh Sulaiman ibn Abdil Wahhab. Inilah merupakan kitab yang pertama yang menolak fahaman Wahhabi yang ditulis oleh saudara kandung pengasas fahaman Wahhabi.

2. As-Sowa’qul Ilahiyyah fi Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Syaikh Sulaiman ibn ‘Abdul Wahhab al-Najdi

3. Fitnah al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (kitab ini telah diterjemahkan ke bahasa Melayu oleh Ustaz Muhammad Fuad bin Kamaluddin ar-Rembawi)

4. Ad-Durarus Saniyah fi al-Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (kitab ini telah diterjemahkan ke bahasa Melayu, maaflah ambo lupa tajuknya)

5. Khulasatul Kalam fi Bayani ‘Umara` al-Balad al-Haram karangan al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

6. Saif al-Jabbar oleh Syaikh Fadhlur Rasul

7. Al-Aqwal al-Mardiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-Syaikh al-Faqih ‘Atha’ al-Kasam al-Dimashqi al-Hanafi

8. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Sholeh al-Kuwaisy al-Tunisi

9. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Abu Hafs Umar al-Mahjub

10. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Muhammad Sholeh al-Zamzami al-Syafie

11. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Ibrahim ibn Abdul Qadir al-Tarabulasi al-Riyahi al-Tunisi

12. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Mufti Madinah Zubir di Bashrah – Syaikh Abdul Muhsin al-Asyniqiri al-Hanbali

13. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Mufti Fez – Syaikh al-Makhdum al-Mahdi

14. Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Qadhi Jamaa’ah di Maghribi – Syaikh Ibn Kiran

15. Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh Syaikhul Islam Tunisia- Syaikh Ismail al-Tamimi al-Maliki

16. Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh Syaikh Ahmad al-Misri al-Ahsa’i

17. Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh al-‘Allamah Barakat al-Syafie al-Ahmadi al-Makki

18. Ar-Radd ‘ala Muhmmaad ibn Abdil Wahhab karangan Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi asy-Syafie.

19. At-Taudhih ‘ala Tauhid al-Khallaq fi Jawab Ahli al-Iraq ‘ala Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab karangan Syaikh ‘Abdullah Affendi al-Rawi

20. Al-Haqiqah al-Islamiyah fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Abdul Ghani ibn Sholeh Hamadah.

21. Ad-Dalil Kafi fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabi oleh Syaikh Misbah ibn Muhamad Syabqalu al-Beiruti

22. Radd Muhtar ‘ala Durr al-Mukhtar oleh Ibn ‘Abidin al-Hanafi al-Dimasyqi

23. Al-Haq al-Mubin fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyin oleh Syaikh Ahmad Sa’id al-Faruqi al-Sirhindi al-Naqsyabandi

24. Al-Haqaiq al-Islamiyah fi Radd ‘ala Maza’im al-Wahhabiyyah bi Adillah al-Kitab wa al-Sunnah al-Nabawiyyah oleh Syaikh Malik ibn Syaikh Mahmud.

25. Ar-Rudud ‘ala Muhammad ibn Abdul Wahhab oleh al-Muhaddits Sholeh al-Fullani al-Maghribi.

26. Ar-Radd ‘ala Muhammad ibn Abdul Wahhab oleh Syaikh Abdullah al-Qudumi al-Hanbali al-Nablusi

27. Risalah fi Musyajarah baina Ahl Makkah wa Ahl Nadj fil ‘Aqidah oleh Syaikh Muhammad ibn Nasir al-Hazimi al-Yamani

28. Sa’adah ad-Darain fi ar-Radd ‘ala Firqatain – al-Wahhabiyyah wa Muqallidah al-Zhahiriyyah oleh Syaikh Ibrahim ibn Utsman ibn Muhammad al-Samhudi al-Manshuri al-Misri

29. Al-Saif al-Batir li ‘Unuq al-Munkir ‘ala al-Akabir oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Quthubul Irsyad al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi al-Haddad.

30. As-Suyuf al-Masyriqiyyah li Qat’ie A’naaq al-Qailin bi Jihah wa al-Jismiyah oleh Syaikh ‘Ali ibn Muhammad al-Maili al-Jamali al-Tunisi al-Maghribi al-Maliki

31. Raudh al-Majal fi al-Radd ‘ala Ahl al-Dholal oleh Syaikh Abdurrahman al-Hindi al-Delhi al-Hanafi

32. Sidq al-Khabar fi Khawarij al-Qarn al-Tsani Asyara fi Itsbathi ‘an al-Wahhabiyyah min al-Khawarij oleh Syaikh al-Syarif ‘Abdullah ibn Hassan Basya ibn Fadhi Basya al-‘Alawi al-Husaini al-Hijazi

33. Al-Minhah al-Wahbiyyah fi Raddi al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Daud bin Sulaiman al-Baghdadi an-Naqsyabandi al-Khalidi

34. Al-Haqaaiq al-Islamiyyah fi ar-Raddi ‘ala al-Mazaa’im al-Wahhabiyyah bi Adillah al-Ktab wa as-Sunnah an-Nabawiyyah oleh al-Hajj Malek Bih ibn Asy-Syaikh Mahmud, Mudir Madrasah al-‘Irfan, Kutbali, Mali

35. Misbah al-Anam wa Jala-uz-Zhalam fi Raddi Syubah al-Bid’i an-Najdi Allati Adhalla biha al-‘Awwam oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Quthubul Irsyad al-Habib ‘Abdullah bin ‘alwi al-Haddad.

36. An-Nuqul as-Syar’iyyah fi Raddi ‘alal Wahhabiyyah oleh Hasan ibn ‘Umar ibn Ma’ruf as-Shatti al-Hanbali

37. Nasiha li Ikhwanina Ulama Najd oleh as-Sayyid Yusuf ibn Sayyid Hasyim ar-Rifaie

38. Tahakkum al-Muqallidin bi Mudda`i Tajdid ad-Din karangan Syaikh Muhammad bin ‘Abdur Rahman bin ‘Afaliq al-Hanbali,

39. Saiful Jihad li Mudda`i al-Ijtihad karangan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Lathif asy-Syafi`i

40. Tarikh al-Wahhabiyyah oleh Ayyub Sabri Pasha (meninggal dunia tahun 1308H/1890M). Faydul Wahhab fi Bayan Ahl al-Haq wa Man Dhalla ‘an ash-Shawab karangan Syaikh ‘Abdur Rabbih bin Sulaiman asy-Syafi`i

41. As-Sarim al-Hindi fi ‘Unuqin-Najdi karangan Syaikh ‘Atha` al-Makki;

42. As-Sarim al-Hindi fi Ibanat Tariqat asy-Syaikh an-Najdi karangan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Isa bin Muhammad as-San`ani

43. Al-Basha`ir li Munkiri at-Tawassul ka Amtsal Muhammad ibn Abdul Wahhab karangan Syaikh Hamd-Allah ad-Dajwi

44. Risalah Irsyadul Jaawiyyin ila Sabilil ‘Ulama-il-‘Aamiliin karangan Tuan Guru Haji ‘Abdul Qadir bin Haji Wangah bin ‘Abdul Lathif bin ‘Utsman al-Fathoni

45. Sinar Matahari Buat Penyuluh Kesilapan Abu Bakar al-Asy’ari karangan Syaikh Abdul Qadir bin ‘Abdul Muthalib al-Mandili

46. Tajrid Saif al-Jihad li Mudda’I al-Ijtihad karangan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Lathif asy-Syafie.

47. Al-Mazhab atau Tiada Haram Bermazhab karangan Syaikh Abdul Qadir bin ‘Abdul Muthalib al-Mandili

48. Kitab Senjata Syari’at karangan Ustaz Abu Zahidah bin Haji Sulaiman dan Abu Qani’ah Haji Harun bin Muhammad as-Shamadi al-Kalantani.

49. Al-Fajr ash-Shodiq fi al-Radd ‘ala al-Maariq karangan Syaikh Jamil Affendi Shodiqi az-Zuhawi.

50. Al-Ushul al-Arba’ah fi Tardid al-Wahhabiyyah/ Al-‘Aqaid as-Shohihah fi Tardid al-Wahhabiyyah karangan Muhammad Hasan, Shohib al-Sirhindi al-Mujaddidi.

51. Al-Awraq al-Baghdadiyyah fi al-Jawabat an-Najdiyyah karangan Syaikh Ibrahim ar-Rawi al-Baghdadi.

52. Al-Bara’ah min al-Ikhtilaf fi ar-Radd ‘ala Ahli asy-Syiqaq wa an-Nifaq wa ar-Radd ‘ala Firqah al-Wahhabiyyah al-Dhallah karangan Syaikh Zainul ‘Abidin as-Sudani.

53. Al-Barahin as-Sati’ah karangan Syaikh Salamah al-‘Azzami

54. Risalah fi Ta’yid Madzhab as-Sufiyyah wa ar-Radd ‘ala al-Mu’taridhin ‘Alaihim karangan Syaikh Salamah al-‘Azzami

55. Risalah fi Jawaz at-Tawassul fi ar-Radd ‘ala Muhammad ibn ‘Abdil Wahhab karangan al-‘Allamah Syaikh Mahdi al-Wazaani, Mufti Fez, Maghribi.

56. Risalah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah karangan Syaikh Qasim Abi al-Fadhl al-Mahjub al-Maliki

57. Al-Risalah ar-Raddiyyah ‘ala at-Tho’ifah al-Wahhabiyyah karangan Syaikh Muhammad ‘Atholah yang dikenali sebagai Ato ar-Rumi

58. ’Iqd Nafis fi Radd Syubhat al-Wahhabi al-Ta’is karangan Syaikh Ismail Abi al-Fida` at-Tamimi at-Tunisi. Beliau adalah seorang yang faqih dan ahli sejarah.

59. Al-Madarij as-Saniyyah fi Radd al-Wahhabiyyah karangan Maulana Aamir al-Qadiri, guru di Darul Ulum al-Qadiriyyah, Karachi, Pakistan

Dan banyak lagi.

Catitan Oleh;
Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari
Universiti Al-Azhar Mesir

16/04/2020 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Hadith2 Tasawwuf

Kita tidak ingin memaksa golongan Wahhabi untuk menerima hadith2 Tasawwuf yang saya sebutkan sebelum ini, mereka telah menolak ilmu Tasawwuf dan menganggapnya bid’ah. Jika mereka tidak mahu menerima hadith da’if sekalipun dan hanya menerima hadith sahih sahaja itu urusan mereka.

Kita cuma meminta mereka menghormati pegangan majoriti umat Islam di negara ini yang menerima Tasawwuf dan karya2 Sufi seperti Imam al-Ghazali. Kita mahukan kehidupan beragama yg aman damai, tanpa tuduhan2 sesat dan menyeleweng sesama Islam. Cukuplah perbalahan yang ditimbulkan selama ini yg muncul akibat tuduhan2 liar bahawa kitab2 ulama’ Sufi ini mengandungi banyak hadith da’if dan palsu dan tidak boleh dijadikan sandaran dalam beragama.

Saya terpaksa menulis artikel sebelum ini kerana ramai sahabat yang bertanya, benarkah hadith2 di atas perlu ditolak kerana dianggap sama dgn hadith palsu. Mereka diajar sejak kecil melalui kitab seperti Ihya Ulumuddin bahawa ia adalah hadith Nabi, tiba2 dimomokkan bahawa hadith-hadith tersebut adalah palsu. Mereka ingin tahu manakah yang betul Imam al-Ghazali atau al-Albani?? Jika saudara ikhlas mencari kebenaran jalan terbentang luas, tetapi jika taassub dan fanatisme menjadi ikutan maka gajah di depan mata pun tidak akan kelihatan.

Umat Islam itu bersaudara. Ketika timbul pertikaian, apa yang perlu dilakukan adalah kita teliti dan kaji hujah yang dikemukakan. Jangan ikut emosi dan rasa kebencian. Saya menulis kerana saya sayang, ada amanah di bahu saya untuk menjelaskan persoalan yang timbul kerana memberi kesan yang besar terhadap kesejahteraan beragama. Antara tuntutan amar ma’ruf nahi munkar adalah memperbetulkan kesilapan dan kekeliruan pemikiran masyarakat.

Saya tahu akan mendapat kecaman yang hebat daripada pengikut fanatik Wahhabi, saya rela menghadapinya kerana ia adalah sebahagian daripada beban dan ujian yang perlu dipikul para pendakwah dan ilmuwan sebenar, ilmuwan dan pendakwah tidak boleh hanya berbicara untuk mendapatkan sanjungan dan populariti.

FB Dr Khalif Muammar

15/04/2020 Posted by | Hadis, Tasauf | , | Leave a comment

MAZHAB SYAFI’IYYAH

Dasar-dasar Mazhab Asy-Syafi’i.

Dasar-dasar atau sumber hukum yang dipakai Imam Asy-Syafi’i dalam mengistinbat hukum syara’ adalah:

1. Al-Kitab.
2. Sunnah Mutawatirah.
3. Al-Ijma’.
4. Khabar Ahad.
5. Al-Qiyas.
6. Al-Istishab.

Ulama-ulama yang terkemudian yang mengikuti dan turut menyebarkan Mazhab Asy-Syafi’i, antaranya,..

* Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari
* Imam Bukhari
* Imam Muslim
* Imam Nasa’i
* Imam Baihaqi
* Imam Turmudzi
* Imam Ibnu Majah
* Imam Tabari
* Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani
* Imam Abu Daud
* Imam Nawawi
* Imam as-Suyuti
* Imam Ibnu Katsir
* Imam adz-Dzahabi
* Imam al-Hakim.

Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Asy-Syafi’i sampai sekarang dianut oleh umat Islam di :

Libia, Mesir, Indonesia, Pilipina, Malaysia, Somalia, Arabia Selatan, Palestina, Yordania, Libanon, Siria, Irak, Hijaz, Pakistan, India, Jazirah Indo China, Sunni-Rusia dan Yaman.

Ustaz Zaref Shah Al HaQQy

10/04/2020 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Tazkirah, Uncategorized | Leave a comment

Bagaimana Tata cara bersuci dan solat bagi Tenaga Kesihatan yang menggunakan Alat Pelindung Diri (PPE)?

Persoalan yang muncul saat ini adalah ketika seorang tenaga kesehatan (nakes) dalam penanganan covid-19 diwajibkan untuk mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) yang berupa pakaian lengkap, yang aturannya tidak dapat ditanggalkan setiap saat kecuali pada saat tertentu, di mana terkadang nakes yang mengenakannya melewati dua waktu sholat dan terkadang ia dalam keadaan hadats dan belum waktunya dapat melepaskan pakaian tersebut. Kondisi ini bertmbah sulit karena jumlah APD sangat terbatas, dan hanya bisa dikenakan satu kali. Maka dalam kondisi seperti ini, bagaimana cara bersuci dan sholatnya dalam kondisi seperti ini?, maka jawabannya dapat disimpulkan dalam beberapa poin berikut ini:

Kesimpulan:
1. Kondisi darurat adalah jika APD tidak dikenakan maka akan mengancam keselamatan jiwanya dimana ia rentan tertular virus.
2. Sebelum menggunakan APD, maka seharusnya tenaga kesehatannya telah bersuci baik dari hadats kecil dengan berwudhu atau hadats besar dengan mandi.
3. Jika dalam kondisi suci, belum ada yang membatalkan wudhunya maka nakes dapat sholat langsung sebagaimana biasanya.
4. Jika wudhunya batal, dan ia masih harus berada dalam kondisi mengenakan APD sementara dikhawatirkan waktu sholat selesai, maka dalam kondisi seperti ini ia sholat sesuai keadaannya meskipun dalam keadaan terhalang bersuci.
5. Jika dalam kondisi tertentu, dengan sebab tugas nakes tidak dapat melaksanakan sholat pada waktunya atau tidak dapat menjamak sholatnya maka dalam kondisi ini ia segera melaksanakan sholat pada saat yang memungkinkan.

Penjelasan Detail :

1. Kondisi yang digambarkan adalah kondisi yang dapat dikategorikan darurat atau minimal mendekati darurat, di mana kondisi yang ada mengharuskan nakes untuk berada dalam pakaian tersebut dalam waktu yang relatif lama dan jika APD tidak dikenakan maka akan mengancam keselamatan jiwanya dimana ia rentan tertular virus covid-19. Maka dalil dan kaidah yang digunakan adalah sebagai berikut:

Firman Allah Ta’ala:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian”. (QS. at-Taghaabun: 16)

Hadits:

فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apabila aku perintahkan kalian satu perkara, maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian”. (HR. Bukhari No. 7288 & Muslim No. 1337)

Kaidah:
المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التّيسيرَ
“Kesulitan mendatangkan kemudahan” (al-Mantsur fi al-Qawaid al-Fiqhiyyah 3/ 19)

Kaidah:
دَرْءُ المَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ علَى جَلْبِ المَصَالِحِ
“Menolak mudharat lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan”. (al-Qawaid al Fiqhiyyah wa Tathbiquha fi al Madzahib al-Arba’ah 1/ 238).

2. Sebelum menggunakan APD, maka seharusnya tenaga kesehatannya telah bersuci baik dari hadats kecil dengan berwudhu atau hadats besar dengan mandi. Dan semaksimal mungkin setelah mengenakan APD, ia berusaha untuk terus menjaga kondisi suci ini semampu mungkin.

3. Jika dalam kondisi suci, belum ada yang membatalkan wudhunya maka nakes dapat sholat sebagaimana biasanya pada waktunya dengan mengenakan APD. Namun jika tidak mungkin melaksanakan setiap sholat pada waktunya, maka dalam kondisi ini ia dapat menjamak 2 sholat ( sholat Dhuhur dan Ashar serta sholat Magrib dan Isya) masing-masing sesuai dengan bilangan rakaatnya (tidak diqashar). Berdasarkan hadits Ibnu Abbas –Radhiyallahu’anhuma- :

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ، وَلَا مَطَرٍ”، فَقِيلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ: مَا أَرَادَ إِلَى ذَلِكَ؟ قَالَ: “أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ”

“Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menjamak sholat Dhuhur dan Ashar begitujuga Sholat Magrib dan Isya’ tanpa ada rasa takut dan tanpa ada hujan”. Ibnu Abbas ditanya, apa yang beliau inginkan dengan hal ini?, beliau berkata: “Beliau tidak ingin memberatkan ummatnya”. (HR. Ahmad No. 3323 Abu Daud No. 1211, at-Tirmidziy No. 187, dan haditsnya disahihkan oleh al-Albaniy).

4. Jika wudhunya batal, dan ia masih harus berada dalam kondisi mengenakan APD sementara dikhawatirkan waktu sholat selesai, maka dalam kondisi seperti ini ia sholat sesuai keadaannya meskipun dalam keadaan terhalang bersuci. Dan menurut pendapat yang kuat ia tidak perlu mengqadha (mengganti) sholat tersebut. Keadaan ini dapat diqiyaskan dengan kondisi orang yang tidak mampu berwudhu dan bertayammum (Faaqidu at-thahurain). Berkata Ibnu Qudamah -Rahimahullah- dalam masalah ini:

وإن عدم بكل حال صلى على حسب حاله. وهذا قول الشافعي

“Jika ia dalam semua kondisi tidak mendapatkan apa-apa maka ia sholat sesuai dengan keadaannya. Dan ini pendapat Imam Syafi’i.” (al-Mughni 1/ 184).
Berkata al-Hajjawiy –Rahimahullah-:

ومن عدم الماء والتراب أو لم يمكنه استعمالهما لمانع كمن به قروح لا يستطيع معها مس البشرة بوضوء ولا تيمم صلى على حسب
حاله وجوبا ولا إعادة.

“Barang siapa tidak mendapatkan air atau debu atau ia tidak mampu menggunakan keduanya karena adanya halangan, seperti seseorang yang memiliki luka bernanah yang kulitnya tidak dapat tersentuh dengan wudhu dan tayammum maka ia wajib melaksanakan sholat sesuai keadaannya dan ia tidak perlu mengulangi sholatnya”. (al-Iqnaa’ 1/ 54).

5. Jika dalam kondisi tertentu, dengan sebab tugas nakes tidak dapat melaksanakan sholat pada waktunya atau tidak dapat menjamak sholatnya maka dalam kondisi ini ia segera melaksanakan sholat pada saat yang memungkinkan dan menyesuaikan dengan keadaan meskipun waktu pelaksanaanya telah berlalu. Kondisi yang seperti ini berdasarkan apa yang dialami oleh Rasulullah –Shallallahu’alaihi wasallam- beserta para sahabat pada perang Ahzab/Khandaq, yang terpaksa menunda pelaksanaan sholat ashar sampai setelah terbenam matahari karena kesibukan berperang, (silahkan dilihat riwayat al-Bukhari No. 4533 & Muslim No. 27). Berkata Syeikh Ibn Baz –Rahimahullah-:a

الواجب على المسلم أن يصلي الصلاة في وقتها، وألا يشغل عنها بشيء، اللهم إلا من شيء ضروري الذي لا حيلة فيه
كإنقاذ غريق، إنقاذ من حريق، ومن هجوم عدو، هذا لا بأس به بأن تؤخر الصلاة ولو خرج وقتها، أما الأمور العادية
التي لا خطر فيها فلا يجوز تأخير الصلاة من أجلها، فقد ثبت عن الرسول – صلى الله عليه وسلم – لما حصر
أهل مكة المدينة يوم الأحزاب أخر صلاة الظهر والعصر إلى ما بعد المغرب.

“Kewajiban bagi seorang muslim untuk melaksanakan sholat pada waktunya, dan jangan sedikitpun disibukkan dengan hal yang lain untuk melaksanakan sholat, kecuali sesuatu yang darurat yang tidak mungkin dihindarkan, seperti: tindakan penyelamatan orang yang tenggelam, atau korban kebakaran, serangan musuh, maka dalam keadaan ini tidak mengapa ia mengakhirkan sholat meskipun waktunya telah keluar. Adapun dalam kondisi normal yang tidak berbahaya, maka tidak boleh menunda sholat. Hal ini berdasarkan apa yang sahih dari Rasulullah –Shallallahu’alaihi wasallam- ketika pasukan kota Mekkah menegepung kota Madinah dalam perang Ahzab, beliau menunda pelaksanaan sholat Dhuhur dan Ashar setelah masuk waktu Maghrib”. (Fatawa Nuur ‘ala ad-Darb 7/ 94).

Oleh Ust. Ahmad Hanafi, Lc., M.A., Ph.D.

10/04/2020 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Jika Tak Malu Buatlah Sesuka Hati Mu

عن أبي مسعود البدري رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى : إذا لم تستحي ، فاصنع ما شئت. رواه البخاري .

Artinya: “Dari Abu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu adalah: ‘Jika engkau tidak malu, perbuatlah sesukamu’.” (HR. Bukhari no. 3483)

Penjelasan:

Sabda beliau: “Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu”
Menunjukkan bahwa ungkapan yang akan beliau sebutkan setelahnya, diwarisi dari para nab-nabi terdahulu, dan bahwasanya orang-orang senantiasa menyebarkan dan mewarisinya dari zaman ke zaman. Ini juga menunjukkan bahwa kenabian pada masa dulu datang membawa ajaran yang terkandung dalam ungkapan ini, lalu tersebar luas dikalangan manusia, hingga sampai pada zaman generasi pertama umat ini (para sahabat).

Sabda beliau: ‘Jika engkau tidak malu, perbuatlah sesukamu’
Makna ungkapan ini ada dalam dua pendapat:

Pendapat Pertama: Ungkapan “Perbuatlah sesukamu” tidaklah bermaksud sebagai kata perintah, namun bermaksud sebagai celaan dan larangan dari berbuat sesukanya. Ulama yang berpendapat seperti ini, berbeda dalam dua pendapat lagi:

1.Ungkapan ini bermaksud “ancaman”, artinya “Apabila engkau tidak lagi memiliki rasa malu, maka perbuatlah sesukamu, karena Allah pasti akan membalas perbuatanmu tersebut dengan yang setimpal”. Ini sama persis dengan firman Allah ta’ala:

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS Fushilat : 40)

Juga firman-Nya:

فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ

Artinya: “Maka sembahlah selain Dia sesukamu!” (QS Az-Zumar: 15).

Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh sekelompok ulama, semisal Abu Al-‘Abbas Tsa’lab rahimahullah.

2.Ungkapan ini adalah suatu perintah, namun bermaksud sebagai “kabar dan penjelasan”, artinya; “Barangsiapa yang tidak lagi memiliki rasa malu, ia akan berbuat sesukanya, sebab yang menghalanginya untuk berbuat keburukan adalah rasa malu, barangsiapa yang tidak lagi memiliki rasa malu, pasti akan terjerumus dalam setiap amalan keji dan mungkar”.
Kedua ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallaam, Ibnu Qutaibah, Muhammad bin Nashr Al-Marwazi, dan selain mereka. Abu Daud juga meriwayatkan bahwa Imam Ahmad rahimahullah berpendapat seperti pendapat ini.

Pendapat Kedua: Ungkapan ini merupakan perintah untuk berbuat sesukanya sesuai makna kontekstual/lahir dari redaksi hadis ini, artinya: “Apabila yang ingin anda lakukan adalah perbuatan yang tidak membuat malu dari Allah, atau dari manusia (bukan maksiat), maka lakukanlah sekehendakmu”.

Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah menjadikan rasa malu sebagai bagian dari keimanan, sebagaimana dalam Shahihain dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam melewati seseorang sedang mencela saudaranya yang pemalu, seraya berkata padanya: “Sungguh engkau betul-betul pemalu, -atau ia berkata-: “Rasa malumu telah merugikan dirimu”. Lantas Rasulullahpun menimpalinya: “Biarkan saja dia, sesungguhnya rasa malu itu bagian dari keimanan”.

Juga dalam Shahihain dari sahabat ‘Imran bin Husahin, dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

الحياء لا يأتي إلا بخير -وفي رواية لمسلم-: الحياء خير كله

Artinya: “Rasa malu itu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan” –dalam riwayat Muslim: “Rasa malu itu semuanya baik” .

Ketahuilah, bahwasanya rasa malu itu ada dua macam:
Pertama: Rasa malu yang bersumber dari tabiat dan fitrah sejak lahir, tanpa ada usaha untuk menumbuhkannya dalam diri. Ini merupakan diantara akhlak paling mulia yang dikaruniakan Allah kepada seorang hamba.
Kedua: Rasa malu yang didapatkan lewat usaha dan latihan, yang merupakan pengaruh positif dari mengenal Allah, keagungan-Nya, serta dari mengenal kedekatan-Nya dari makhluk-Nya. Ini merupakan salah satu bagian derajat keimanan yang paling tinggi, bahkan ia juga merupakan salah satu bagian tertinggi dari derajat ihsan. Rasa malu dari Allah ta’ala ini, kadang bersumber dari pengetahuan akan banyaknya nikmat dan karunia-Nya, dan dari adanya perasaan lalai dan kurang dalam mensyukuri nikmat tersebut.

Apabila kedua sifat malu yang bersumber dari usaha dan sifat tabiat ini hilang dari seorang hamba, maka tidak ada sesuatupun yang bisa menghalanginya dari melakukan perbuatan buruk, sehingga seakan-akan ia tidak lagi memiliki keimanan, Wallaahu a’lam.

Disadur dan diterjemahkan dari Kitab “Mukhtashar Jaami’ Al-‘Uluum Wa Al-Hikam” (Ringkasan: Syaikh Muhammad Al-Muhanna,,, Diedit: Syaikh Muhaddits Abdul’Aziz Al-Tharifi).


1.HR Bukhari (24) dan Muslim (36).
2.HR Bukhari (6117) dan Muslim (33).

Sumber: https://belajarislam.com/tuntunan/hadits/hadist-jika-engkau-tak-malu-perbuatlah-sesukamu/.

09/04/2020 Posted by | Hadis, Tazkirah, Uncategorized | , | Leave a comment

Hebatnya Imam Al-Ghazali

Kehebatan imam Al-Ghazali yang mana beliau menggunakan kaedah ‘thoriqoh mukasyafah’ didalam mengenal hadis dhoif dan maudhu’ kerana tercium wangian disetiap hadis lalu beliau menyakini bahawa hadis itu bole diguna pakai..

Sebab itulah di dalam kitab ihya ulumuddin dimasukkan sebahagian hadis yg dhoif oleh imam ghazali..ramai ulama menolak kitab al ihya disebabkan sebahagian dhoifnya,tapi qobul disisi rasulnya..

Guru kami Alfadhil Ustaz Nazrul ketika membahaskan kitab wasail al wusul ila syamail arrasul bercerita kepada kami

“Bahawa seorang ulama pernah bermimpi bertemu nabi muhammad s.a.w di masjidil haram dan nabi ketika itu bersama dengan para aimmatul kibar(ulama2 besar)

Lalu beliau melihat nabi memanggil muhammad bin idris assyafie(imam syafie) lalu nabi menyuruh imam syafie membacakan hasil karya fiqh beliau

Setelah selesai,nabi memanggil Nu’man bin tsabit(imam abu hanifah)dan menyuruh untuk membaca hasil karyanya..

Kemudian nabi memanggil ahmad bin muhammad bin hanbal(imam ahmad) dan menyuruh untuk membaca hasil karyanya

Setelah selesai nabi memanggil malik bin anas(imam malik) dan menyuruh untuk membaca hasil karya imam malik

Setelah selesai nabi mencari abu hamid Al-ghazali lalu imam ghazali menyahut seruan nabi berkata “saya di sini ya rasul” ternyata imam ghazali berada di belakang majlis

Nabi memanggil nya untuk duduk dihadapan lalu menyuruh membacakan kitab al ihya ulumuddin hasil karangan imam ghazali

Imam ghazali pun membacanya sehingga selesai,dan ulama yang bermimpi itu melihat nabi mengangguk dan tersenyum ketika dibacakan kitab al ihya

Para ulama mengatakan bahawa tandanya nabi redha dengan kitab ihya ulumuddin”

SubhanAllah…

Begitulah syeikh al azhar syeikh usamah al azhari pernah berkata dan sya mendengarnya sendiri di masjid al azhar dulu

” من لم يقرأ الإحياء فليس من الأحياء”

“Sesiapa yang tidak membaca kitab al ihya,maka dia bukanlah dari kalangan orang yang hidup yakni hatinya”

Bisirril fatihah ila hadratin nabi s.a.w

Wallahu taala A’lam

Sumber: FB Ustaz Zaref Al HaQQy

09/04/2020 Posted by | Bersama Tokoh | | Leave a comment

Golongan Menjaja Hadis Dhaif

Dewasa ini ramai golongan yang menjaja bahawa ada golongan yang menjaja Hadis Dhaif. Mereka menyenaraikan hadis dhaif itu sebagai hadis Maudhu’ lalu berkata hadis dhaif itu adalah seringan-ringan hadis maudhuk. Mereka dengan bangganya menyatakan orang yang mengamalkan hadis dhaif itu sebagai penyebar hadis palsu lalu memberi ancaman dengan Hadis Mutawatir “Barangsiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, hendaklah dia menempah tempat di neraka”

Sedangkan Ulamak Hadis mengklasifasikan Hadis kepada Maqbul dan Ghair Maqbul. Lalu Ulamak menyenaraikan Hadis Dhaif itu dalam senarai hadis yang maqbul (boleh diterima pakai di dalam Fadhail Amal, Targih wa Tarhib). Dhaifnya Hadis itu bukanlah disebabkan Zati hadis yang dhaif, Akan tetapi dhaif hanya disebabkan perawi hadis itu diantara sekalian perawi yang yang mungkin mempunyai kecacatan dari segi dhobit dan sebagainya maka dengan sebab itu Ulamak menghukumnya sebagai Dhaif. Di sini saya tampilkan sedikit kaedah mensahih dan mendhaifkan hadis yang masyhur di kalangan Ulamak….

KAEDAH MENTASHIH DAN MENTADH’IFKAN HADIS

Sebenarnya terdapat bidang yang khusus bagi mentashih dan mentadh’ifkan hadis iaitu Ilmu Usul Hadis dan Ilmu Jarh Wa Ta’dil.Walau bagaimana pun di sini disebutkan beberapa kaedah yang diguna pakai Ulamak untuk menentukan status hadis samada sahih ataupun dhaif.

KAEDAH PERTAMA
Setengah orang berpendapat bahawa hadis sahih hanya terkandung di dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim dan sesetengah orang pula berpendapat sebarang hadis yang tidak terdapat di dalam Sahihain (Bukhari dan Muslim) maka secara lazimnya adalah dhaif dan sama sekali tidak dapat di bandingkan dengan hadis sahihain. Sedangkan pandangan ini adalah sama sekali salah. Sedangkan neraca untuk mengukur samada hadis itu sahih atau tidak ianya bukan diukur samada hadis itu terkandung di dalam sahihain ataupun tidak malah ianya diukur berdasarkan sanadnya. Imam Bukhari Rh.a sendiri menyatakan bahawa aku tidak merangkumkan keseluruhan hadis sahih di dalam kitabku. Oleh itu besar kemungkinan terdapat hadis-hadis yang tidak terkandung di dalam sahihain akan tetapi dari segi kedudukannya adalah lebih tinggi daripada sesetengah hadis sahihain. Contohnya Maulana Abdul Rasyid Nu’maani Rh.a menukilkan setengah riwayat Ibnu Majah di dalam kitabnya “ Ma Tamassa Ilaihil Hajat” yang mana Muhaddisin telah membuat keputusan bahawa sanadnya lebih afdhal daripada sanad Bukhari. Oleh itu hadis yang terkandung di dalam “Bukhari” apa yang di sebut Kitab yang terafdhal selepas Kitabullah adalah berdasarkan Umum hadis dan bukannya beriktibarkan setiap hadis secara berasingan.

KAEDAH YANG KEDUA
Kerja mentashih dan mentadh’ifkan hadis ini merupakan satu kerja yang amat halus dan mereka yang layak untuk menjalankan kerja ini hanyalah mereka yang telah mencapai Kedudukan Ijtihad di dalam bidang Hadis. Hafiz Ibnu Solah Rh.a telah menzahirkan pandangan beliau di dalam “ Muqaddimah” nya bahawa selepas berlalunya 500 Hijrah adalah tidak berhak lagi bagi seseorang pun untuk menentukan sesuatu hadis sebagai sahih atau dhaif dengan penilaian semula. Akan tetapi pendapat beliau telah ditolak oleh Jumhur Ulamak kerana yang haknya untuk menentukan status hadis samada sahih atau dhaif sebenarnya tidak diukur berdasarkan sesuatu zaman yang khas malah ianya dinilai oleh mereka yang pakar dalam bidang hadis dan yang mempunyai Ilmu serta kefahaman yang mendalam yang membolehkan mereka menilai sesuatu hadis itu samada sahih ataupun dhaif. Oleh itu ramai Ulamak yang menceburkan diri dalam bidang ini walaupun selepas 500 Hijrah dan dan dalam masa yang sama ianya mendapat pengiktirafan Umat. Contohnya Hafiz Zahabi Rh.a, Hafiz Ibnu Hajar Rh.a, Allamah Aini Rh.a, Hafiz Sakhawi Rh.a dan Hafiz Iraqi Rh.a. Pada Zaman akhir ini secara ghalibnya ulamak yang mendapat kedudukan ini adalah Allamah Anuar Syah Kasymiri Rh.a.

KAEDAH KETIGA
Kadang-kadang kita dapati dalam satu hadis ulamak berikhtilaf mengenai seorang perawi yang sama. Sebahagian ulamak mentadh’ifkannya dan sebahagian lagi mentausiqkannya (melabelnya sebagai thiqah). Persoalannya pada waktu ini qaul siapakah yang perlu diktibarkan?
Bagi menjawab persoalan ini Maulana Abdul Hay Al Laknowy Rh.a telah membahaskannya secara terperinci di dalam kitabnya “ Al Ajwibah Al Fadhilah” (m/s 161 sehingga m/s 180) yang mana secara kesimpulannya terdapat tiga tarikah untuk mentarjihkan aqwal itu:-

TARIKAH PERTAMA
Jika sekiranya terdapat dua ulamak yang mana salah seorangnya Mutasaahil (bermudah-mudah) di dalam mentashihkan suatu hadis manakala seorang lagi terlalu Muhtaat (berhati-hati) maka pada waktu ini qaul ulamak yang kedua akan diiktibarkan. Contohnya satu hadis telah di tashihkan oleh Hakim Rh.a manakala hadis yang sama telah ditadh’ifkan oleh Hafiz Zahabi Rh.a, maka pada waktu ini qaul Hafiz Zahabi Rh.a akan diiktibarkan.

TARIKAH KEDUA
Sekiranya terdapat dua Muhaddisin yang mana salah seorangnya Mutasyaddid (Keras) dan seorang lagi Mu’tadil (pertengahan) maka pada waktu ini qaul kedua akan diiktibarkan. Contohnya Ibnul Jauzi Rh.a adalah seorang yang mutasyaddid manakala Hafiz Ibnu Hajar Rh.a dan Hafiz Zahabi Rh.a adalah keduanya Mu’tadil. Maka apabila bertembung keduanya, waktu itu qaul kedua Hazrat itu akan diutamakan.
Maulana Abdul Hay Al Lakhnowy Rh.a telah munukilkan dari Hafiz Ibnu Hajar Rh.a bahawa di antara Aimmah Jarh wa Ta’dil mengikut zaman tertentu mempunyai empat Tabqah (generasi). Di dalam tabqah ini Hafiz Ibnu Hajar Rh.a menyatakan diantara Aimmah ini siapa mutasyaddid dan siapa pula mu’tadil.

TABQAH PERTAMA
Syu’bah Rh.a dan Sufyan Thauri Rh.a diantara keduanya Syu’bah adalah lebih mutasyaddid.
TABQAH KEDUA
Yahya Bin Said Qattan Rh.a dan Abdul Rahman Bin Mahdi Rh.a, diantara keduanya Yahya adalah mutasyaddid.
TABQAH KETIGA
Yahya Bin Main Rh.a dan Ali Ibnul Madini Rh.a, di antara keduanya Yahya Bin Main adalah mutasyaddid.
TABQAH KEEMPAT
Ibnu Abi Hatim Rh.a dan Imam Bukhari Rh.a, diantara keduanya Ibnu Abi Hatim adalah mutasyaddid. Oleh itu di mana Hazrat-hazrat ini berselisih di dalam menentukan status seorang perawi, maka qaul mutasyaddid akan ditinggalkan.
Maulana Lakhnowy Rh.a berkata selepas tabqah ini yang dianggap mutasyaddid adalah Allamah Ibnul Jauzi Rh.a, Allamah Juzqani Rh.a, Hafiz Saghani Rh.a, Sahibus Safrus Saadah dan Abul Fattah Azdi Rh.a serta Allamah Ibnu Taimiyyah Rh.a juga dianggap mutasyaddid. Manakala Hafiz Ibnu Hajar Rh.a, Hafiz Zahabi Rh.a, Hafiz Iraqi Rh.a dikira sebagai mu’tadil.

TARIKAH KETIGA
Dengan merenungkan dalil-dalil daripada kedua-dua belah pihak dan dalil yang mana didapati kuat maka qaul itu akan diambil kira. Akan tetapi bukan semua ulamak yang dapat kedudukan ini bagi mengukur dalil kedua belah pihak. Hanya mereka yang mempunyai Kedalaman ilmu di dalam Ilmu Hadis sahaja yang dapat membuat kerja ini. Tarikah ketiga inilah diguna pakai apabila berlaku pertembungan diantara dua muhaddisin yang mu’tadil yakni jika seseorang yang dapat menilai dan mempunyai kebolehan di dalam mengukur kekuatan dalil diantara dua belah pihak, maka dia boleh mentarjihkan salah satu dari dua dalil tersebut.

KAEDAH KEEMPAT.
Proses mentashih dan mentadh’ifkan hadis adalah merupakan satu urusan ijtihadi sepertimana yang telah dijelaskan oleh Muhakkik Ibnu Hummam Rh.a. Oleh itu kemungkinan besar boleh saja berlaku perselisihan di antara para mujtahidin dan di kala berselisih, tidak seorang mujtahid pun boleh dipersalahkan kerana mereka menilai hadis mengikut kepakaran dan ijtihad yang ada pada mereka. Apabila seorang mujtahid mengambil suatu hadis sebagai dalil, bermakna hadis itu disisi beliau adalah boleh dijadikan dalil. Oleh itu kita tidak boleh menjadikan pendapat dari mujtahid yang pertama untuk untuk menyalahkan pendapat dari mujtahid yang kedua bahawa dalilnya tidak boleh dijadikan hujjah. Ini kerana Qaul seorang mujtahid tidak boleh dijadikan hujjah untuk berkhilaf dengan mujtahid yang lain.

KAEDAH KELIMA
Kadang-kadang mutaqaddimin ulamak seperti Imam Abu Hanifah Rh.a misalnya telah sampai kepada beliau satu hadis dengan sanad yang sahih. Akan tetapi dalam hadis yang sama dan sanad yang sama telah datang perawi yang dhaif selepas zaman beliau. Maka ulamak selepas beliau telah melabel hadis tersebut sebagai dhaif. Maka secara zahirnya ulamak selepas zaman beliau tidak boleh menjadikan tadh’if ini sebagai hujjah untuk mengkritik Imam Abu Hanifah Rh.a. Oleh sebab itu tidak semestinya hadis yang dianggap dhaif pada zaman Imam Bukhari Rh.a hadis tersebut juga dhaif pada awal zaman iaitu zaman Imam Abu Hanifah Rh.a.

KAEDAH KEENAM
Hafiz Ibnu Solah Rh.a telah menerangkan di dalam Muqaddimahnya, apabila kita melabelkan sesuatu hadis itu sebagai sahih, maka ianya tidak bermaksud bahawa hadis itu juga sahih pada nafsul amar (hakikatnya). Malah ianya membawa maksud hadis itu telah melepasi syarat yang telah ditetapkan oleh ulamak hadis untuk diklasifikasikan sebagai sahih. Oleh itu secara ghalib zhon (sangkaan yang kuat) juga bahawa hadis tersebut juga sahih pada hakikatnya. Ini kerana untuk menetapkan sesuatu hadis sebagai sahih pada nafsul amar dengan yakin hanyalah dengan kaedah tawatur. Oleh itu pada hadis sahih juga ada kemungkinan terdapat kesilapan dan kesalahan pada nafsul amar kerana kesilapan dan kelupaan mungkin boleh berlaku walaupun pada seorang yang tsiqah ataupun telah berlaku kecelaruan pada seorang perawi. Oleh itu jika sekiranya telah terbukti melalui dalil-dalil yang lain yang lebih kuat bahawa telah berlaku kecelaruan perawi di dalam satu hadis yang sahih maka hadis sahih itu juga akan ditinggalkan. Misalnya terdapat hadis sahih yang lain bercanggah dengan hadis itu atau hadis itu berselisih dengan mana-mana ayat di dalam Quranul Karim .

Begitu juga bilamana kita mengatakan suatu hadis itu sebagai dhaif, maka ianya tidak semestinya juga dhaif atau bersifat dusta pada nafsul amar. Malah ianya membawa maksud hadis itu tidak melepasi syarat yang telah disepakati ulamak hadis untuk menjadikannya sebagai sahih atau hasan sehingga kita layak untuk beriktimad padanya dengan menjadikannya sebagai asas kepada syariat. Ini kerana adalah berkemungkinan besar bahawa seorang perawi yang dhaif menukilkan perkara yang benar disebabkan seorang perawi yang dhaif itu tidak semestinya sentiasa membuat kesilapan. Akan tetapi adalah tidak harus untuk kita beramal hanya bersandarkan kemungkinan ini selagi mana ianya tidak sabitkan dengan dalil-dalil yang kuat. Oleh itu kadang-kadang kita kita jumpai seorang mujtahid yang mempunyai dalil yang kuat dan dengan berasaskan itu beliau mengutamakan hadis yang berkemungkinan dhaif itu sehingga terpaksa meninggalkan hadis yang sahih. Maka pada waktu itu kita tidak boleh menggelarkan mujtahid itu sebagai seorang yang suka mengamalkan hadis dhaif atau seorang yang meninggalkan hadis sahih. Misal dibawah akan menjelaskan lebih lanjut lagi mengenai masalah ini :-
Imam Tirmizi Rh.a telah menulis di dalam “Kitabul Ilal” bahawa dalam kitabku terdapat dua hadis sahih yang mana tidak diguna pakai oleh mana-mana faqeh. Satunya adalah sebuah hadis riwayat Ibnu Abbas r.a:
“Telah menjamakkan Rasulullah saw di antara zohor dan asar dan diantara maghrib dan isyak di Madinah tanpa sebarang (asbab) ketakutan, ataupun sebab hujan.” (Tirmizi Bab Ma Jaa Fil Jam’ak bainas solatain)
Sedangkan hadis ini dari segi sanadnya adalah layak untuk dijadikan dalil.
Hadis yang kedua adalah hadis Amir Muawwiyah r.a.:-

Sabda Nabi saw,” barangsiapa yang meminum khamar, maka hendak merotannya, dan sekiranya dia mengulanginya pada kali keempat, maka hendaklah ia dibunuh.”
Kedua-dua zahir hadis ini telah ditinggalkan pengamalannya secara ijmak ulamak. Ini kerana terdapat dalil lain yang lebih kuat yang menyebabkan ulamak meninggalkan hadis tersebut. Akan tetapi tidak seorangpun dianggap peninggal Sunnah semata-mata meninggalkan hadis ini.

Akan tetapi sebaliknya Ulamak terkadang-kadang mengamalkan hadis dhaif disebabkan dalil-dalil lain yang lebih kuat. Oleh itu dalam bab yang sama Imam Tirmizi Rh.a telah munukilkan riwayat daripada Amar Bin Syuaib Rh.a:

“Dari Amar Bin Syuaib dar ayahnya dari datuknya bahawasanya Rasulullah saw telah menyerahkan anak perempuan Baginda saw Zainab r.anha kepada Abul As Bin Rabi’ dengan mahar yang baru dan dengan nikah yang baru”.
Kemudiannya Imam Tirmizi Rh.a menulis dibawah hadis ini bahawa hadis ini terdapat kritikan ulamak pada sanadnya dan pengamalan adalah keatas hadis ini di sisi Ahli Ilmu. Kemudian berkata ianya adalah qaul Malik Bin Anas dan Auza’ei dan Syafei dan Ahmad dan Ishaq. Maka adakah kita boleh menggelarkan kepada kesemua para Imam Hadis ini sebagai “Pengamal Hadis Dhaif”? Sudah tentu mereka mempunyai dalil-dalil lain yang lebih kuat untuk dijadikan sokongan kepada hadis dhaif ini.

KAEDAH KETUJUH
Sekiranya terdapat mana-mana hadis dhaif yang( muayyad bit ta’amul) yakni amalan Para Sahabat dan Tabien terbukti berdasarkan hadis itu, maka hadis itu adalah layak untuk dijadikan dalil walaupun ianya dhaif (sepertimana yang dijelaskan oleh Imam Al-jassas dalam “Ahkamul Quran” dan ramai di kalangan Muhaddisin dan Usuliyyin). Contohnya hadis “Talak bagi hamba perempuan adalah dua talak dan iddahnya dua haidh” adalah dhaif. Akan tetapi disebabkan (ta’amul), hadis ini adalah layak untuk dijadikan dalil. Oleh itu, Imam Tirmizi menulis di bawah hadis ini : “Hadis ini gharib dan kita tidak mengetahuinya sebagai marfu’ melainkan dari hadis Mazahir Bin Aslam dan Ahli Ilmu di kalangan Sahabat NAbi saw mengamalkan hadis ini. (Tirmizi Jilid 1, Abwabut Talak). Begitu juga dengan hadis “Tiada wasiat bagi waris” dan dan hadis “ Pembunuh tidak boleh mewarisi” kedua-duanya terdapat sanad yang dhaif, akan tetapi disebabkan mendapat penerimaan ulamak menyebabkan ianya layak dijadikan dalil.

KAEDAH KELAPAN
Sekiranya terdapat dua hadis yang layak dijadikan dalil bertembung di antara keduanya, maka sebahagian Fuqaha dan Muhaddisin secara mutlaknya mereka mentarjih (mengutamakan) hadis yang mempunyai sanad yang paling kuat dan menganggapnya sebagai “Asahhu Ma Fil Bab” yang paling sahih di dalam bab demikian. Akan tetapi di sisi Imam Abu HAnifah Rh.a, beliau akan mengutamakan hadis-hadis yang paling menepati Al-Quran dan Usul Syariat samada dari segi sanad ianya kuat ataupun tidak.

(MAULANA TAQI UTHMANI HAFIZAHULLAHU TAALA MUQADDIMAH DARS TIRMIZI)
ABU LAIBAH
MIFTAHUL ULOOM HULU LANGAT

(Sumber asal :https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1003203843042508&id=100000587054606)

09/04/2020 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Uncategorized | | Leave a comment

Mazhab Rojak

Hari ni ada org mempersoalkan kpd saya ttg mazhab rojak sbb saya ada membincangkannya dlm Berita Harian tempoh hari.

Saya kata, utk org awam, elok pegang satu mazhab bagi kemas. Jgn campur aduk mazhab. Nanti keliru. Jgn berpegang kpd mazhab rojak.

Dia kata lagi dlm nada yg tidak puas hati: “salah ka org awam nk pegang mazhab cara rojak?”

Saya pun dah malas nk jawab soalan itu, nanti panjang pula perbincangan, sedangkan ulama dah habis berbincang permasalahan tersebut.

Cuma saya nk kongsi sedikit di sini kenapa tidak sesuai mazhab rojak;

Ok, cuba tengok situasi ini:

👇🏼👇🏼👇🏼

# sentuh isteri tak batal air wuduk

# lelaki pakai seluar pendek sah solat

# sentuh anjing dlm keadaan lembap tak perlu basuh tujuh kali

# solat fardu secara berjemaah dia kata sunat (mazhab Shafi’i kata fardu kifayah)

# Al-Fatihah tak baca pun tak pa dlm solat

# Sentuh dan baca Al-Quran dlm keadaan hadas besar tidak mengapa

# sentuh mushaf al-Quran ketika hadas kecil tidak mengapa

# wanita haid boleh berada lama di dalam masjid

# dan banyak lagi permasalahan yg lain

👆🏼👆🏼👆🏼

Cuba perhatikan amalan di atas, apakah mazhab yg org itu pegang? Manakah mazhab yg mengatakan sah amalannya itu? Tidakkah agama ini akan menjadi sesuatu yg dipermainkan dgn sesuka hati oleh sesiapa sahaja?

Bagi anda yg menyokong mazhab rojak, setujukah anda bahawa umat Islam mengamalkan semua perkara di atas dgn cara campur aduk dgn alasan “apa masalahnya mazhab rojak?”

Org yg tidak berpuas hati akan berkata lagi, “tidakkah di perbankan fatwanya dah jadi rojak?”

Kita jawab begini: Berlainan dgn ahli-ahli fatwa yg dilantik, mereka berijtihad utk permasalahan semasa yg kadangkala perlu bertaklid kpd mazhab selain mazhab Shafi’i apabila bertembung antara maslahah, mafsadah, masyaqqah dsb.

Hal ini tidak boleh dianggap sbg mazhab rojak kerana mereka merujuk kepada usul, kaedah usul, maqasid dsb yg turut diterima dlm mazhab Shafi’i ketika menghadapi situasi tertentu.

Moga bermanfaat sedikit penerangan ini.

Wallahua’lam.

Sumber: FB Ustaz Murshidi Mohd Noor

05/04/2020 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Siapa Layak Menetapkan Hadis Sahih atau Dhaif?

Salam Ustaz,…Apakah kita orang awam boleh untuk menentukan (menetapkan) sesebuah status hadith itu sahih atau dhaif,..karena pada masakini ramai yang menjadi muhaddisin tanpa ilmu dan kepakarannya,…seperti orang yang mengaku diri kelulusan PhD hadith,..?.

Jawapan:

Wasalam,…sebenarnya pertanyaan ini sungguh berat untuk saye menjawab,..
dengan beberapa kekurangan pada diri saya,…namun saye cube menjelaskan menurut kemampuan yang saye pelajari,…Alhamdulillah.

1 . Yang boleh menetapkan status sebuah hadith bukanlah kita yang awam ini, melainkan para ulama hadith. Mereka saja yang mempunyai kapasiti, legelity, autoriti dan tools untuk melakukannya. Dan buat kita, cukuplah kita membaca karya-karya agung mereka melalui kitab-kitab hasil naqd (kritik) mereka.

Menetapkan status suatu hadith dikenal dengan istilah al-hukmu ‘alal hadith. Upaya ini adalah bagian dari kerja besar para ulama hadith (muhadditsin). Mereka punya sekian banyak kriteria dalam menentukan derajat suatu hadith.

Secara umum, studi ini dilakukan pada dua sisi. Yaitu sisi para perawinya dan juga sisi matan hadithnya, atau isi materinya. Jadi yang dinilai bukan hanya salah satunya saja, melainkan keduanya.

2 . Keshahihan suatu hadith akan dinilai pertama kali dari masalah siapa yang meriwayatkannya. Dan yang dinilai bukan hanya perawi pada urutan paling akhir saja. Akan tetapi mulai dari level pertama yaitu para shahabat, kemudian level kedua yaitu para tabi’in, kemudian level ketiga yaitu para tabi’it-tabi’in dan seterusnya hingga kepada perawi paling akhir atau paling bawah.
Nama para perawi paling akhir itu adalah yang sering kita dengar sebagai hadith yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah, At-Tirmiziy, Abu Daud dan lainnya. Akan tetapi, yang dijadikan ukuran bukan semata-mata para perawi di level paling bawah atau paling akhir saja.

Melainkan keadaan para perawi dari level paling atas hingga paling bawah dijadikan objek penelitian. Khususnya pada level di bawah para shahabat. Sebab para ulama sepakat bahwa para shahabat itu seluruhnya orang yang ‘adil dan tsiqah. Sehingga yang dinilai hanya dari level tabi’in ke bawah saja.

3 . Satu persatu biografi para perawi hadith itu diteliti dengan cermat. Penelitian dipusatkan (tumpuan) pada dua kriteria. Yaitu kriteria al-‘adalah dan kriteria adh-dhabth.

a. Kriteria al-‘adalah

Kriteria pertama adalah masalah ‘adalah. Maksudnya sisi nilai ketaqwaan, keIslaman, akhlaq, ke-wara’-an, kezuhudan dan kualiti pengamalan ajaran Islam. Kriteria ini penting sekali, sebab ternyata kebanyakan hadith palsu itu lahir dari mereka yang kualiti pengamalan keIslamannya kurang.

Misalnya mereka yang sengaja mengarang atau memalsukan hadith demi menjilat penguasa. Atau demi kepentingan politik dan kedudukan. Atau untuk sekadar mengejar kemasyhuran.

Orang-orang yang bermasalah dari segi al-‘adalah ini akan dicatat dan dicacat oleh sejarah. Mereka akan dimasukkan ke dalam daftar black-list bila ketahuan pernah melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan aqidah, akhlaq dan etika Islam.

Bahkan para ulama sampai melahirkan disiplin imu khusus yang disebut ilmu al-jarhu wa at-ta’dil.

Ilmu ini mengkhususkan diri pada database catatan hitam seseorang yang memiliki cacat atau kelemahan. Orang-orang yang dianggap cacat mendapatkan julukan khas dalam ilmu ini. Misalnya si fulan adalah akzabun nass (manusia paling pendusta), fulan kazzab (pendusta), si fulan matruk (haditsnya ditinggalkan) dan sebagainya.

b. Krieria adh-dhabth

Kriteria adh-dhabth adalah penilaian dari sisi kemampuan seorang perawi dalam menjaga originaliti hadith yang diriwayatkanya. Misalnya, adakah dia mampu menghafal dengan baik hadith yang dimilikinya. Atau mempunyai catatan yang rapi dan teratur. Sebab boleh jadi seorang perawi memiliki hafalan yang banyak, akan tetapi tidak dhabith atau tidak teratur, bahkan boleh jadi acak-acakan bercampur baur antara rangkaian perawi suatu hadith dengan rangkaian perawi hadith lainnya.

Biasanya dari sisi adh-dhabth ini para perawi memang orang yang shaleh. Tetapi kalau hafalan atau database periwayatan haditsnya bercampur baur, maka dia dikatakan tidak dhaabith. Cacat ini membuatnya menempati posisi lemah dalam daftar para perawi hadith.

Hadith yang diriwayatkan lewat dirinya boleh saja dinilai dha’if atau lemah.

4 . Keperluan pada Ensiklopedi Hadith Lengkap.

Untuk mendapatkan kumpulan hadith yang shahih, kita boleh membuka kitab yang disusun oleh para ulama. Di antara yang terkenal adalah kitab Ash-Shahih yang disusun oleh Al-Imam Al-Buhkari dan kitab Ash-Shahih yang disusun oleh Imam Muslim. Akan tetapi bukan bermakna semua hadith menjadi tidak shahih bila tidak terdapat di dalam kedua kitab ini.

Sesungguhnya, kedua kitab ini hanya menghimpun sebagian kecil dari hadith-hadith yang shahih. Di luar kedua kitab ini, masih banyak lagi hadith yang shahih lainnya.

5 . Keberadaan kedua kitab itu meski sudah banyak bermanfaat, namun masih diperlukan kerja keras para ulama untuk mengumpulkan semua hadith yang ada di muka bumi, lalu satu per satu diteliti para perawinya. Dan seluruhnya disusun di dalam suatu data simpanan.

Sehingga setiap kali kita menemukan suatu hadith, kita boleh lakukan searching, lalu tampil matan-nya beserta para perawinya dengan lengkap mulai dari tingkat shahabat hingga level terakhir, sekaligus juga catatan rekord tiap perawi itu secara legkap sebagaimana yang sudah ditulis oleh para ulama.

6 . Yang sudah ada sekarang ini baru program sebatas hadith-hadith yang ada di dalam 9 kitab saja, yang dikenal dengan kutubus-sittah.

Program ini sudah lumayan membantu, karena boleh dikemas dalam satu keping CD saja. Bahkan Kementerian Agama, Wakaf, Dakwah dan Irsyad Saudi Arabia membuka situs yang memuat data simpanan kesembian kitab hadits ini, sehingga boleh diakses oleh siapa saja dan dari mana saja di seluruh dunia secara gratis.

7 . Sayangnya, hadith-hadith yang ada di program ini masih terbatas pada 9 kitab hadith saja, meski sudah dilengkapi dengan kitab-kitab penjelasnya (syarah). Padahal ada begitu banyak hadith yang belum tercantum di dalam kutubus-sittah.

Lagi pula program itu pun belum dilengkapi dengan al-hukmu ‘alal hadith. Baru sekadar membuat data simpan hadith yang terdapat di 9 kitab itu.

Dan meski setiap hadith itu sudah dilengkapi nama-nama perawinya, namun belum ada hasil penelitian atas status para perawi itu,…Jadi hadith-hadith itu masih boleh dikatakan mentah.

8 . Projek ini cukup besar untuk dikerjakan oleh per-orangan. Harus ada kumpulan team yang terdiri dari ribuan ulama hadith dengan spesifikasi ekspert. Mereka harus bekerja full-time untuk jumlah jam kerja yang juga besar. Tentu saja masalah yang paling besar adalah anggaran.

Sampai hari ini, sudah ada beberapa lembaga yang merintisnya membuka jalan. Para ulama di Al-Azhar Mesir, para ulama di Kuwait, para ulama di Saudi dan di beberapa tempat lain, masing-masing sudah mulai mengerjakan……Sayangnya hasilnya belum juga nampak.

Berkemungkinan karena mereka bekerja sendiri-sendiri dan tidak melakukan sinergi. Padahal kalau semua potensi itu disatukan dalam sebuah managemen profesial, insyaa Allah kita boleh menyumbangkan sesuatu yang berharga di abad 15 hijriyah ini.

Hitung-hitung sebagai hamper untuk kebangkitan Islam yang sudah sejak lama didengung-dengungkan itu. Sebuah warisan pekerjaan dari generasi lampau untuk kita demi mencapai masterpiece.

Mohon maaf atas kekurangan,…semoga bermanfaat dan terjawab hendaknya.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh?

Sumber: Ustaz Zaref Shah Al HaQQy

04/04/2020 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | | Leave a comment

Fardu Ain Dan Fardu Kifayah

Sekarang ni timbul persoalan di kalangan sebahagian masyarakat mengenai ibadah yg tidak dapat dilaksanakan dlm tempoh PKP ini sedangkan pasaraya, dan tempat2 tertentu boleh sahaja org berkumpul.

Antara ibadah yg ketara kini ialah solat Jumaat yg ditangguhkan pelaksanaannya. Dari sudut hukum, solat Jumaat adalah fardu ain, manakala solat secara berjemaah adalah fardu kifayah.

Dlm hal ini, ulil amri mengarahkan agar solat Jumaat ditangguhkan, bermakna ibadah ini tidak dapat dilaksanakan. Jika ada cadangan utk laksanakan solat Jumaat di rumah pun tidak sesuai sbb tidak cukup syarat sah solat Jumaat. Oleh itu, digantikan dgn solat Zohor sahaja. Walaubagaimanapun, solat fardu secara berjemaah masih boleh dikerjakan oleh ajk masjid dgn bilangan jamaah yg dihadkan.

Ada org bertanya, bagaimana dgn umat Islam di negara luar yg dilihat mengerjakan solat Jumaat dgn mematuhi peraturan jarak dan lain-lain perkara utk keselamatan diri, tidakkah sesuai juga dilaksanakan dlm negara kita? Kita jawab begini, mereka mengerjakan juga solat Jumaat sbb ulil amri mereka masih membenarkannya, maka mereka boleh mengerjakannya dgn mematuhi langkah-langkah keselamatan.

Jika ulil amri kita mengambil tindakan yg sama, kemungkinan hal seperti itu akan dilakukan juga di negara kita, tetapi memandangkan mafsadah lebih besar yg dilihat oleh ulil amri kita yg mungkin bakal dihadapi oleh umat Islam di Malaysia dgn solat Jumaat, maka ulil amri mengekalkan arahan utk menangguhkan solat Jumaat. Maka, dgn itu umat Islam di Malaysia hanya mengerjakan solat Zohor sahaja di tempat masing-masing utk mengelakkan pengumpulan berskala besar berlaku.

Ada org kata, kerjakanlah juga solat Jumaat di mana2 walaupun bilangan kecil bertaklid kpd mazhab lain, maka akan menghindari umat Islam daripada dosa. Bagi saya, pandangan ini adalah salah kerana solat Jumaat bukanlah fardu kifayah, tetapi ianya adalah fardu ain ke atas org lelaki. Apabila berlaku situasi uzur syar’i yg menyebkan kefarduan ini tidak dapat dilaksanakan, maka umat Islam tidak dikira berdosa sbb bukan dgn kesengajaan mereka utk meninggalkan solat Jumaat, tetapi kerana uzur syar’i.

Berlainan dgn fardu kifayah iaitu solat secara berjemaah, masih boleh dikerjakan di Malaysia. Namun begitu, bilangan jamaahnya dihadkan kepada lima org sahaja (jika tidak silap) yg melibatkan ajk masjid. Org selain ajk masjid tidak dibenarkan.

Di atas, kita hanya sentuh tentang ibadah fardu yg tidak sempurna utk dilaksanakan, sekarang timbul persoalan di kalangan masyarakat bagaimana pula dgn tempat-tempat seperti pasaraya yg masih ramai org, tetapi dikenakan peraturan jarak dsb utk menjaga keselamatan diri, tidakkah sesuai juga dilaksanakan utk solat Jumaat?

Kita perlu faham bahawa pembelian makanan di pasaraya adalah satu keperluan bagi sesebuah keluarga, maka ketua keluarga atau wakil hanya dibenarkan utk pergi ke tempat tersebut, bukannya semua org dlm satu keluarga itu pergi. Hanya dibenarkan seorang sahaja. Disebabkan tempat pun tidak banyak yg dibenarkan utk beroperasi, maka pada sesuatu masa dilihat ramai pergi ke tempat itu seakan-akan berkumpul, tetapi tetap diarahkan agar menjaga keselamatan diri.

Dlm hal ini org akan kata, tidakkah org skrg lebih mementingkan perut berbanding kerohanian? Pasaraya boleh berkumpul, di masjid tak boleh pula berkumpul. Jika difikirkan, seakan-akan betul cakap sebegini. Namun, itulah realiti umat Islam zaman kini. Umat Islam zaman kini tidak sama dgn umat Islam zaman salaf al-salih yg mana mereka tidak memenuhi keperluan perut pun tidak mengapa asalkan kenyang rohani.

Zaman kita kini yg mana umat Islam rata-ratanya tidaklah sama dari sudut kerohanian dgn zaman para sahabat dan salaf salih, maka tidak sesuai disamakan situasi kini dgn umat Islam pada zaman dahulu kala yg mantap dari sudut ilmu dan rohani. Sbb itulah fatwa dikeluarkan pada zaman kini adalah meraikan tahap pendidikan, keilmuan dan umat Islam yg berada di mana-mana pun termasuk Malaysia.

Walaubagaimanapun, dlm masa yg sama, umat Islam perlu sentiasa diajar agar meningkatkan ilmu agama, kerohanian diri, hidup secara berjamaah, mementingkan org lain dsb. Jika masyarakat keseluruhannya telah tinggi ilmu agama dan kerohanian, maka sesuai dikenakan fatwa yg lebih ketat dan berbentuk ‘azimah ke atas mereka, yg bersesuaian dgn keadaan mereka. Saya teringat hadith Nabi صلى الله عليه وسلم yg mengarahkan para imam solat meraikan makmum di belakangnya dgn tidak memanjangkan bacaan dlm solat. Menurut ulasan para ulama, jika para makmum kesemuanya bersetuju dan bersedia utk solat dlm tempoh yg lama dgn bacaan yg panjang, maka imam solat dibenarkan utk solat dgn bacaan yg panjang.

Itulah kefleksibelan Islam, prinsip yg tetap tetapi cara perlaksanaannya yg boleh disesuaikan dgn tempat, budaya dsb.

Moga kita semua diberikan kefahaman yg mendalam terhadap agama, serta tidak mengabaikan sama sekali hal2 yg berkaitan dgn fardu ain mahupun fardu kifayah.

Just Stay At Home.

Wallahua’lam.

Olih: Zaref Shah Al HaQQy

30/03/2020 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Alam adalah makhluk, yang mengikuti arahan Tuhan.

Seluruh alam ini adalah makhluk Allah, ia berjalan seiringan dengan arahan-Nya.

Barangsiapa yang mahu agar alam ini mesra dengannya, dia seharusnya mesra dengan arahan-Nya.

Keterikatan antara penciptaan (al-khalq) dan tuntutan (al-amr) adalah ibarat keterikatan simbiosis antara makhluk dengan makhluk yang lain.

Mengabaikan satu pihak, akan mengakibatkan kerosakan di pihak yang lain, seterusnya memusnahkan sebuah rantaian ekosistem kewujudan.

Apabila rantaian kewujudan tidak seimbang, suatu campur tangan ilahi (divine intervention) akan berlaku bagi membawa alam ini menuju keseimbangan semula.

Manusia tanpa iman tidak akan faham perkara ini, kerana mereka hanya melihat satu perkara di sudut kecil daripada alam realiti, tidak memahami bahawa alam ini sedang mengikuti arahan di luar dimensi realiti.

Dalam meneliti masalah ini, manusia harus melihat bahawa apa yang berlaku bukan semuanya hanya seperti yang dilihat dan diujikaji secara saintifik. Kita harus faham, ada peraturan (sunnatullah) di luar sana yang sedang mengawal dan mengurus kita, yang lebih mengetahui apa-apa yang kita lalui, dan hadapi, diatur dengan ilmu Tuhan, sejak azali lagi.

“Ketahuilah, bagi-Nya segala penciptaan dan segala arahan” – Surah Al-A’raaf

Wallahua’lam bissawab.

~ Ustaz Syamil Esa, MUIS

(Dari Channel Telegram Dr Zainur Rashid)

29/03/2020 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

DUDUK DI RUMAH KETIKA WABAK MELANDA DAPAT PAHALA SYAHID

سألتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عن الطاعونِ، فأخبَرَني رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أنَّه كان عَذابًا يَبعَثُه اللهُ على مَن يَشاءُ، فجعَلَه رَحمةً للمُؤمِنينَ، فليس مِن رَجُلٍ يَقَعَ الطاعونُ فيَمكُثُ في بَيتِه صابِرًا مُحتَسِبًا يَعلَمُ أنَّه لا يُصيبُه إلَّا ما كَتَبَ اللهُ له إلَّا كان له مِثلُ أجْرِ الشَّهيدِ.

Daripada Aisyah RA, aku telah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang wabak taun, maka Rasulullah SAW memberitahu kepadaku:

“Sesungguhnya ia adalah azab yang Allah jadikan kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya, Dia juga menjadikannya rahmat buat orang-orang mukmin.

Maka mana-mana lelaki yang berada dalam suasana wabak taun, lalu dia kekal berada di dalam rumahnya dengan penuh kesabaran dan mengharap ganjaran Allah, dengan dia mengetahui bahawa tiada musibah akan menimpanya kecuali apa yang telah ditentukan oleh Allah, nescaya dia akan mendapat pahala seperti orang mati syahid.” (HR AHMAD)

Menurut Syeikh Syuaib Arnaout, hadis ini isnadnya sahih mengikut syarat al-Bukhari

Berkata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari:

اقتضى منطوقه أن من اتصف بالصفات المذكورة يحصل له أجر الشهيد وإن لم يمت

“Ungkapan Nabi tersebut memberi makna sesiapa yang bersifat dengan sifat-sifat yang disebutkan itu, dia akan memperolehi ganjaran syahid walaupun dia tidak mati (kerana wabak tersebut).”

Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

28/03/2020 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | | Leave a comment

*TIDAK MELAKSANAKAN SOLAT JUMAAT DAN JEMAAH DISEBABKAN VIRUS CORONA*

(Penulis : Dr Zein bin Muhammad Al-aydarus, dosen ilmu hadist di Universitas Hadramaut.)

Diterjemahkan oleh: Abbas Rahbini Mawardi

Bagaimana Hukum tidak melaksanakan shalat jumat dan jama’ah di masjid disebabkan oleh virus corona, terlebih di hadramaut ada ajakan untuk tidak melaksanakan nya meskipun diketahui tidak terpapar virus corona?

Jawab :

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Kami meminta kepada Allah belas kasihan dan pertolongan semoga Allah menjaga kaum muslimin dari segala wabah dan penyakit baik penyakit dzahir maupun penyakit batin.

Para pakar Ulama Fiqh telah menjelaskan, bahwa diantara salah satu udzur Shalat Jumat dan shalat jama’ah adalah karena faktor adanya penyakit yang menimpa kepada orang islam.

Ulama Mutaqaddimin memperjelas, yaitu penyakit menular, seperti tha’un, lepra, kusta, dan sejenisnya. Para ahli medis kedokteran masa kini telahpun mengatakan, bahwa corona adalah jenis dari penyakit menular.

Lebih lanjut Ulama’ fiqh menjelaskan bahwa, adanya kekhawatiran tertimpa mudharat kepada dirinya atau kepada orang lain maka itu sudah dianggap Udzur yang masuk pada bagian dari Udzur-udzur shalat jumat dan shalat jama’ah.

Berkata Al-allamah zakaria Al-anshari As-syafi’i -rahimahullah-

adanya kekhawatiran terhadap yang dijaganya, baik itu nyawa atau harta atau hak nya, atau pihak-pihak yang wajib dilindunginya.

_[Fathul wahhab syarah minhajut-thullab 109/1]._

_hal senada juga dijelaskan dalam kitab [syarah Al-mahalli ‘ala al-minhaj 258/1]_

_Al-allamah ibn hajar Al-haitami -rahimahullah- pernah ditanya ._

_Al-qadhi iyadh telah menukil dari beberapa ulama’ bahwa Penderita penyakit lepra dan kusta dicegah hadir ke masjid dan shalat jumat, dan juga dicegah berbaur atau berkumpul dengan orang lain, apakah pencegahan tersebut berhukum wajib? Atau sunnah??_

_Dan apakah penderita penyakit tersebut dikatagorikan sebagai udzur yang menggugurkan kewajiban haji dan umrah, sebab Umrah dan haji itu memerlukan masuk kedalam masjid dan juga mesti berbaur dengan orang lain._

_Atau apakah dibedakan antara shalat jumat dengan ibadah haji dan umrah, mengingat ibadah haji dan umrah tidak perlu dilakukan berkali-kali, berbeda dengan shalat jumat. Dan apakah haji tathawwu’ dianggap seperti haji fardhu atau tidak?._

_Maka Al-imam Ibn hajar Radhiyallahu menjawab:_

_Berkata Al-qadhi, berkata sebagian Ulama’ . Semestinya apabila salah seorang sudah diketahui menderita penyakit ain, maka dia diasingkan , supaya terhindar dan terjaga darinya, dan semestinya bagi pihak penguasa mencegah agar tak berbaur atau tak berkumpul dengan orang lain, perintahkan untuk berkurung dirumahnya dan cukupi kebutuhan nya jika dia orang tak punya. Sebab mudharatnya itu lebih berbahaya daripada penderita penyakit kusta. Yang mana penderita kusta ini dicegah oleh sayyidina Umar ibn khattab radhiyallahi anhu dan juga oleh Ulama’ setelahnya agar tidak berkumpul atau tak berbaur dengan orang lain,_

_Berkata Al-imam Nawawi dalam kitab Syarah Muslim, pendapat ini adalah pendapat yang sohih dan lebih spesifik, dan tak dikatahui pendapat dari Ulama’ lain yang menentangnya_

_Maka dengan ini diketahui bahwa faktor dicegahnya penderita penyakit lepra atau kusta itu karena dikhawatiri mudharatnya kepada orang lain. Dalam kondisi seperti ini mencegah nya mempunyai kekuatan hukum wajib._

_Dan terhadap pemilik penyakit pandangan ain lebih diwajibkan lagi untuk dicegah agar tak berbaur dengan orang lain menurut pendapat yang muktamad, sebagaimana diketahui dari pendapat Ulama’._

_Inti poin dari pencegahan itu adalah agar terhindar dari berbaur dengan orang banyak. Pencegahan itu bukan terhadap masuk masjid, baik itu menghadiri shalat Jumat atau shalat berjemaah, (melainkan lebih kepada agar tak berbaur dan berkumpul dengan orang lain) selagi tidak berbaur atau berkumpul dengan orang banyak maka itu boleh-boleh saja._

_Dengan demikian maka hal-hal diatas tidak dianggap sebagai udzur dari melakukan Ibadah haji atau ibadah umr

ah, baik itu yang sunnah maupun yang wajib bahkan yang kifayah sekalipun, sebab ibadah haji dan umrah masih bisa memungkinkan untuk dilakukan dengan tidak berbaur dengan orang lain. Dan adapun hal itu tidak memungkinkan (tak bisa menghindari dari berbaur dengan orang lain)_

_Maka dijawab, Sesungguhnya kewajiban melaksanakan ibadah an-nusuk (haji dan umrah) lebih dimu’akkadkan daripada kewajiban shalat Jumat, oleh itu maka tidak mengharuskan untuk dikatagorikan sebagai Udzur, maka tak perlu ditanggapi keterangan yang disandarkan kepada kitab Syarah Al-‘ubab, bahwa angin yang buruk dianggap sebagai udzur meskipun tidak mengakibatkan berbaur dengan orang lain, wallahu A’lam bis sowab_

_(Al-fatawa Kubra Al-fiqhiyyah 212/1)_

Telah disebutkan didalam kitab at-tuhfah oleh Ibn Hajar. Bahwa penderita penyakit Lepra dan kusta dicegah berbaur dengan orang lain, dan diberi nafkah untuk mencukupi kebutuhan nya dari harta simpanan Baitul maal.

Adapun penyakit yang mudah disembuhkan maka tidak dikatagorikan sebagai Udzur, maka ada kewajiban untuk menghadiri shalat jumat, dan sunnah berusaha untuk penyembuhan.

dengan ini diketahui bahwa syarat gugurnya kewajiban shalat jumat dan berjama’ah adalah apabila tidak ada unsur kesengajaan untuk menggugurkan kewajiban, sebagaimana yang telah dijelaskan didepan, Meskipun sulit untuk disembuhkan, -apabila disengaja agar tidak menghadiri shalat jumat, maka itu tidak dianggapnya sebagai Udzur-

[Tuhfatul Minhaj bi syarhi Al-minhaj 276/6].

Keterangan serupa juga ada di kitab Nihayatul muhtaj ‘ila syarhi Al-minhaj, dari Al-allamah Ar-ramli, (160/2)

Berkata Al-allamah Zakaria Al-anshori -rahimahullah-

tidak memberi komentar dalam kasus lepra dan kusta, namun Al-imam Az-zarkasyi berkata, pendapat yang lebih kuat lepra dan kusta adalah udzur, karena mudharatnya melebihi daripada makan bawang putih.

Beliau berkata, Al-imam Qadhi iyadh telah menukil dari para Ulama’ bahwa penderita penyakit lepra dan kusta dilarang datang ke masjid, juga shalat jum’at dan juga dilarang berbaur dengan orang banyak.

[Asnaa Al-mathalib 215/1]

Sebagaimana shalat berjemaah maka shalat jum’at juga termasuk,

Berkata Al-imam Nawawi -rahimahullah- :

tidak wajib shalat jumat bagi orang yang pada dirinya terdapat udzur-udzur yang meringankan untuk tidak melaksanakan shalat berjama’ah . Berkata Al-imam Ibn hajar, sebagai penjabaran dari apa yang telah dikatakan oleh Imam Nawawi, udzur-udzur jama’ah tersebut adalah apabila datang pada hari jumat, tidak seperti angin kencang yang datang diwaktu malam. (Tidak datang saat waktu shalat jum’at)

Kemudian beberapa Ulama mempermasalahkan, lapar sebagai Udzur, sampai-sampai meninggalkan shalat jum’at, bagaimana status hukum fardhu ain disamakan dengan status hukum sunnah, atau fardhu kifayah? Berkata Al-imam As-subki, Namun sumber mereka adalah perkataan Ibn Abbas -radhiyallahu anhuma- “Jum’at seperti shalat jama’ah” maka dijawab:

sebagaimana yang saya isyaratkan tadi, yaitu mengelakkan qias shalat jum’at kepada Shalat jama’ah, akan tetapi telah sohih secara nash bahwa diantara udzur-udzur Jum’at adalah sakit, maka setiap sesuatu yang serupa yang penderitaan nya sama atau penderitaan nya melebihi, maka itu juga dianggap sebagai katagori udzur jama’ah, maka dengan ini menjadi jelas apa yang mereka katakan adalah benar, dan menjadi terang bahwa perkataan Ibn Abbas -radhiyallahu anhuma- adalah sebagai panguat dari apa yang mereka uraikan bukan sebagai dalil dari apa yang mereka sebutkan.

(Tuhfatul muhtaj, bisyarhi Al-minhaj 99/2) juga lihat pada kitab (nihayatul muhtaj, ‘ila syarhi Al-minhaj 286/2)

*KESIMPULAN*

_Bahwa pakar Ulama’ fiqh telah menjabarkan secara jelas bahwa , Penyakit jika sudah nyata menimpa pada sebuah negara atau menimpa seseorang, serta sudah disahkan oleh tenaga medis atau dokter, maka seseorang tersebut, atau penduduk sebuah negara tersebut dicegah untuk melaksanakan shalat berjemaah dimasjid, baik itu shalat jama’ah jum’at maupun shalat jama’ah lain nya, untuk menyelamatkan nyawa orang-orang islam, oleh karena itu maka mereka melaksanakan

shalat berjama’ah dirumah masing-masing, sebab menyelamatkan nyawa adalah tujuan paling penting dari agama,_

Allah berfirman :

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

_dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan_.

Juga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

_Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu._

Adapun menutup masjid-masjid, dan mecegah orang untuk melaksanakan shalat jama’ah dan shalat jumat , tanpa adanya ketertimpa’an penyakit menular seperti covid-19 corona virus, dan tanpa ada pengesahan dari pihak kesehatan di negera ini, terlebih di negeri yaman-hadramaut- maka tidak boleh secara syara’ melarang kaum muslimin untuk melaksanakan shalat di masjid-masjid Allah. Sebab

الحكم يدور مع العلة وجوداً وعدماً

_Hukum itu berputar bersama Ilatnya, ada dan tidak adanya illat itu._

Selagi penyakit itu tidak menimpa kepada salah seorang dari kita, maka tidak ada alasan udzur yang diringankan oleh syariat untuk meninggalkan shalat jama’ah atau shalat jum’at. Dan tidak boleh membangun pencegahan didasari oleh perkira’an atau persangka’an semata. Karena

إن درء المفاسد أولى من جلب المصالح إذا تحققت المفسدة من الاجتماع

_Mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan, jika kerusakan itu sudah nyata-nyata ada dalam kumpulan masyarakat_.

perkir’an atau ragu-ragu atas adanya kerusakan, maka tidak boleh dijadikan sebuah sandaran atau patokan, sementara kemaslahatan shalat berjamaah dan shalat jum’at itu sudah nyata-nyata adanya.

Saya khawatir, orang yang mencegah atau mengosongkan tempat ibadah dari shalat jama’ah dan shalat jum’at tanpa adanya unsur yang memenuhi syarat pencegahan seperti diatas, akan masuk pada golongan orang dzalim dan menghalang-galangi menegakkan shalat dan dzikir di rumah-rumah Allah, Allag subhanahu wa ta’la berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ [سورة البقرة : 114]

_Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat (Al-baqarah :114)_

Dan terhadap para jama’ah shalat harus berhati-hati dan waspada dalam segala hal dari saluran infeksi, terutama pasien yang sistem kekebalan tubuhnya lemah, seperti pasien asma dan diabetes dan sejenisnya, yang rentan terkena dampak bahaya nya, bagi mereka dianggap ada Udzur dalam meninggalkan shalat Berjama’ah dan Shalat Jum’at,
Dengan perlunya mengambil tindakan pencegahan yang ketat di gerai-gerai negari, memeriksa mereka yang datang ke negeri itu, dan menempatkan mereka dalam isolasi yang tepat sampai menjadi jelas bahwa mereka tidak memiliki penyakit ini.

Penulis : Dr Zein bin Muhammad Al-aydarus, dosen di Universitas Hadramaut, imam khatib di masjid jami’ Ar-raudlah Makla._

Sumber: Group Telegram Sahabat Aswaja.

27 rajab 1441 H
22/03/2020 M

27/03/2020 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Adakah Wajib Qadha’ Solat Zuhur Sekiranya Haid Datang Pada Waktu Asar?

Image result for datang haid awal

Soalan:

Assalamualaikum Tuan. Adakah perlu jika kita datang haid pada waktu asar (dah solat zuhur) adakah kita perlu qadha asar & zuhur sekali? Yang saya faham kalau yang perlu kita qadha jika kita check darah haid keeping pada waktu asar, lebih baik qadha zuhur sekali kerana ada kemungkinan darah sudah kering pada waktu zuhur. Tweet nih dah viral.. Mohon tuan beri penjelasan… Jazakallahu khoiran kathiro.

Jawapan:

Waalaikumussalam wbt,

Alhamdulillah, segala puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah swt. Selawat dan salam kami ucapkan ke atas junjungan besar Nabi Muhammad saw, para isteri dan keluarga baginda, para sahabat, seterusnya golongan yang mengikuti jejak langkah baginda sehingga hari kiamat.

Kami merasakan empunya twit tersebut telah terkeliru. Sebenarnya, wajib bagi wanita yang berhenti haidnya pada waktu Asar atau Isyak untuk menunaikan solat fardhu tersebut serta mengqadhakan solat fardhu yang sebelumnya yakni solat Zuhur atau Maghrib, jika mereka sempat berada dalam waktu kedua itu sekadar takbiratul ihram, bukannya bagi wanita yang baru datang haid.

Kata Imam al-Nawawi Rahimahullah: “Yang sahih di sisi kami (mazhab al-Syafie) bahawa mereka yang uzur wajib untuk melaksanakan solat Zuhur jika dia sempat melaksanakan apa yang wajib dengannya dalam solat Asar (apabila hilang uzurnya). Inilah pendapat Abdurrahman bin Auf, Ibn Abbas, ahli fiqh Madinah yang tujuh, Ahmad, dan selain mereka. Manakala kata al-Hasan, Qatadah, Hammad, al-Thauri, Abu Hanifah dan Malik, tidak wajib ke atas orang itu.)”

Rujuk al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (3/66)

Ini kerana waktu Asar adalah waktu uzur bagi solat Zuhur dan waktu Isyak adalah waktu uzur bagi solat Maghrib. Waktu uzur di sini boleh diertikan sebagai ‘waktu kecemasan’ yakni waktu yang dibenarkan penangguhan solat

fardu ke waktu solat fardu yang lain disebabkan suatu keuzuran dan kepayahan seperti musafir.  Dalam konteks haid dalam soalan di atas, wajib qadha waktu pertama bukan hanya bersifat afdhal (lebih baik) tetapi wajib kerana waktu kedua adalah waktu uzur bagi solat pertama.

Buktinya seperti kata Imam al-Syirazi Rahimahullah dalam kitab al-Muhazzab: “Dalilnya ialah bahawa waktu Asar bersama waktu Zuhur, dan waktu Isyak bersama waktu Maghrib adalah hak orang yang uzur yakni musafir. Maka, mereka yang berada dalam kategori uzur (seperti wanita berhaid apabila suci, orang gila apabila sedar dan lain-lain), waktu kedua itu adalah waktu solat pertama di sisi mereka.”

Kata Imam al-Nawawi Rahimahullah  menghuraikan: “Sekiranya solat (kedua) yang sempat itu adalah Subuh, Zuhur, atau Maghrib maka tidak wajib solat melainkan solat itu sendiri. Sekiranya solat Asar dan Isyak, maka wajib melaksanakan solat Zuhur dengan Asar, dan solat Isyak dengan Maghrib

tanpa khilaf (dalam mazhab al-Syafie).” Pendapat yang azhar (tepat) bahawa waktu solat yang sempat itu ialah seseorang itu berada dalam suatu waktu solat tidak kurang masanya daripada kadar takbiratul ihram, manakala pendapat lain ialah satu rakaat. Rujuk al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (3/65)

Adapun dalam kes di atas, jika seorang wanita itu bermula haidnya pada waktu Asar, sedangkan dia sudah menunaikan solat fardu Zuhur, maka dia hanya wajib untuk menunaikan solat fardhu Asar, atau mengqadhanya selepas suci jika dia tidak sempat solat sebelum datangnya haid. Begitu juga jika dia sudah melaksanakan solat Asar, kemudian datang haid pada waktu Asar juga, maka dia tidak perlu mengqadha solat Zuhur dan Asar kerana dia sudah selesai melaksanakan kedua-duanya. Tidak menjadi syarat sah suatu solat itu mesti sah juga solat fardu selepasnya, atau datang penghalang (seperti haid dan gila) pada waktunya sedangkan solat-solat fardu itu sudah pun dilaksanakan.

Untuk memudahkan faham, kami nyatakan dengan contoh. Fatimah datang haid pada 1 haribulan Mac jam 6.00 petang sedangkan dia masih belum menunaikan solat fardu Asar. Maka, apabila Fatimah suci kelak, dia wajib mengqadha’ solat fardhu Asar yang dia luputkan pada 1 haribulan itu. Fatimah tidak wajib mengqadha’kan solat fardhu Zuhur yang sudah selesai dia tunaikan pada hari itu. Pada 7 haribulan Mac, jam 6.00 petang, Fatimah sudah suci daripada haid dan mandi wajib. Maka dia wajib untuk mengqadhakan solat fardhu Asar bagi 1 haribulan yang lalu dan solat fardhu Zuhur pada hari ini, dan menunaikan solat fardhu Asar pada waktunya.

Wallahua’lam.

Sumber: 

11/03/2020 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi ?

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi ?

Jika majoriti Ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah sebesar Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaani dan Imam Nawawi, Imam Hadith Ahl al-Sunnah Wal Jamaah pun ditolak akidah meraka kerana berfahaman ‘asyaairah. Apalagi kami yang kecil-kecil ini.

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?

Jika kalian menolak bermazhab bahkan mengsyirikkan bermazhab sedangkan telah dipraktik oleh umat Islam seluruh dunia bermula selepas zaman salaf sehingga ke hari ini hatta para ulama’ mujtahid yang bersar-besar juga bermazhab dengan salah satu mazhab Imam yang empat.

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?

Jika kalian hanya menjadikan kemaksuman kepada tokoh-tokoh kalian sahaja sehingga pantang dikritik akan terus melenting sedangkan yang mengkritik Imam Ibn Taimiyyah adalah sebesar Imam al-Hâfizh al-Mujtahid Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 756 H) menulis sebanyak 7 buah kita mengkritik Imam Ibn Taimiyyah dan ramai lagi yang sezaman dan selepas. Ulama yang mengkritik Muhammad Ibn Abdul Wahhab adalah sebesar Mufti al-Haramain (Mekah dan Madinah) pada zaman terakhir Khilafah Uthmaniyyah yang masyhur dengan kitab mukhtasar jiddan syarah matan al-ajrumiyyah dan syarah al-Fiyyah iaitu Syeikhul Islam Sheikh Ahmad Zaini Dahlan.

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?

Jika kalian mendhaifkan ijtihad ulama’ sebesar Imam al-Syafie, al-Ghazali, al-Nawawi, Ibn Hajar, Syeikh Izuddin Abdissalam, Imam Ramli, Imam Rafi’e, Imam al-Subki dan ramai lagi yang menjadi tunjang dan rujukan kepada umat Islam yang berakidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?

Jika kalian tidak pernah berlapang dada dengan perbezaan pandangan sekalipun di dalam masalah khilafiyyah ijtihadiyyah fiqhiyyah yang mana para ulama’ muktabar pun berselisih pandangan. Apakah kalian mengira pandangan ulama’ mujtahid dibatalkan dengan pandangan kalian yang bukan mujtahid? Jika di zaman para sahabat dan para salaf sudah ada perbezaan di dalam memahami Al-Quran dan Al-Hadith bagaimana kalian menyangka hanya kefahaman kalian sahaja yang benar dan menepati sunnah?

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?

Jika kalian menolak pengajian tasawwuf dan tarekat secara total sedangkan ilmu dan praktik tasawwuf sinonim dengan ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah sebesar Imam Hasan al-Basri, Sheikh Junaid al-Baghdadi, Sheikh Abdul Qadir al-Jilani, Hujat al-Islam Imam al-Ghazali dan ramai lagi.

Bagaimana kalian tidak digelar Wahhabi?

Jika kalian merasakan hanya kalian sahaja yang benar-benar Islam dan berada di atas Sunnah Rasulullah SAW dan selain kalian bid’ah sesat dan syirik. Berapa ramai para ulama’ dan umat Islam yang kalian ingin sesatkan bermula selepas salaf sehingga ke hari ini kerana tidak menepati ideologi dan aliran kalian?

Jika kalian mengaku kalian Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah maka siapa lagi Imam-Imam Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah yang kalian ikuti jika yang besar-besar sebagai panutan umat Islam ditolak akidah dan perjalanan mereka? Jamaah Islam manakah yang kalian ikuti kerana majoriti umat Islam berakidah al-‘Asyairaah Wa al-Maaturidyyah dan bermazhab dengan salah satu daripada mazhab yang empat yang telah diterima secara talaqqi bi al-Qabul daripada satu generasi kepada satu genarasi berantaian daripada Rasulullah SAW sehingga kepada kita pada hari ini.

Jika kalian tidak ingin digelar Wahhabi, maka kembalilah kepada manhaj Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah mengikuti majoriti para ulama’ yang besar-besar. Selama kalian menyisih daripada perjalanan mereka, maka selama itu kalian akan digelar dengan al-Wahhabiyyah bertepatan dengan manhaj yang diasaskan oleh Muhammad ibn Abdul Wahhab.

Tulisan asal,
– [ Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari ]
BA (Hons) Usuluddin Akidah dan Falsafah
Universiti Al-Azhar Mesir .

Wallahu a’lam .

04/03/2020 Posted by | Bicara Ulama, wahabi | | Leave a comment

Muslim Akan Menjadi Seperti Sampah

Dalam beberapa buah hadith, Rasulullah mengingatkan kepada kita tentang beberapa perkara yang dilakukan oleh umat terdahulu yang telah membinasakan mereka. Antaranya ialah:

1. Bertelagah dengan pemimpin mereka sendiri. Apabila pemimpin mereka menyatakan sesuatu kebenaran, mereka sendiri membantah malah bertelagah dengan kebenaran tersebut. Sabda Rasulullah:

فإنَّما أَهْلَكَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ، كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ، وَاخْتِلَافُهُمْ علَى أَنْبِيَائِهِمْ

“Sesungguhnya telah binasalah umat sebelum kamu kerana banyak mempersoalkan (mengajukan soalan kepada Nabi mereka) dan mereka berbantah (bercanggah) dengan arahan Nabi (iaitu pemimpin mereka ketika itu). (HR Muslim)

2. Yang membinasakan ummah ini juga adalah apabila pemimpin mereka sendiri mengutamakan kroni mereka. Bahkan tidak berlaku adil kepada rakyat. Perkara ini dijelaskan oleh Rasulullah yang bersabda:

إنَّما أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أنَّهُمْ كَانُوا إذَا سَرَقَ فِيهِمِ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وإذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عليه الحَدَّ

“Sesungguhnya telah binasa umat sebelum kamu kerana apabila yang mencuri itu orang yang mulia (orang yang mempunyai kedudukan), kamu tidak kenakan hukuman ke atas mereka, tetapi apabila rakyat yang lemah melakukan kesalahan, kamu hukum mereka.”

Hadith ini mengingatkan kepada kita bagaimana sekirany pemimpin itu tidak adil, bahkan menyelamatkan kroni mereka sahaja, maka ia akan menjadi punca kebinasaan ummah ini.

3. Sifat tamak pemimpin yang mengutamakan kepentingan diri juga akan membinasakan ummah ini. Sabda Rasulullah:

إياكم والشحَّ فإنه أهلك من كان قبلكم أمرهم بالكذبِ فكذبوا وأمرهم بالظلمِ فظلمُوا

“Jauhilah sifat kedekut, kerana sesungguhnya umat terdahulu telah binasa kerana sifat ini membawa mereka menipu, lalu mereka menipu. Sifat ini membimbing mereka untuk melakukan kezaliman, lalu mereka bersifat zalim.”

Pemimpin yang tamak dan kedekut untuk memberikan sumbangan buat Islam akan membinasakan ummah ini.

4. Sifat pemimpin Muslim yang cintakan dunia juga akan menyebabkan ummah ini menjadi lemah seperti sampah. Mereka ditendang ke sana ke mari, dihina oleh orang kafir kerana sikap cintakan dunia. Sabda Rasulullah:

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

“Hampir saja para kaum (orang kafir) akan mengerumuni kamu dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kerana bilangan kita sedikit?”
Rasulullah berkata: Bahkan kamu ketika itu sangat ramai! Akan tetapi kalian seumpama sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud)

Semoga Allah membimbing kita

Ustaz Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

28/02/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

ADAB IBUBAPA DENGAN GURU

Keberkahan Ilmu yang hilang

Ada seorang yang busuk hatinya ingin memfitnah Syekh Abdul Qadir.
lalu ia berupaya mencari jalan untuk memfitnahnya.
Maka ia membuat lubang di dinding rumah Syekh Abdul Qadir dan mengintipnya.
Kebetulan ketika ia mengintip Syekh Abdul Qadir,
ia melihat Syekh Abdul Qadir sedang makan dengan muridnya.
Syekh Abdul Qadir suka makan ayam
dan setiap kali beliau makan ayam dan makanan yang lain beliau makan makanan itu separuhnya saja.
Sisa makanan tersebut diberikan kepada muridnya.

Maka orang tadi pergi kepada bapak dari murid Syekh Abdul Qadir tadi.
Bapak punya anak yg namanya ini?
Jawab si bapak: ya ada.
Apakah benar anak bapak belajar dengan Syekh Abdul Qadir?
Jawab si bapak, ya.

Bapak tahu, anak Bapak diperlakukan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani seperti seorang hamba sahaya dan kucing saja.
Syekh Abdul Qadir beri sisa makanan pada anak bapak.
Maka si bapak tidak puas hati lalu ke rumah Syekh Abdul Qadir.

Wahai Tuan Syeikh, saya menghantar anak saya kepada tuan syeikh bukan untuk jadi pembantu atau dilakukan seperti kucing.

Saya antar kepada Tuan Syeikh, supaya anak saya jadi alim ulama.

Syeikh Abdul Qadir hanya jawab ringkas saja.

Kalau begitu ambillah anakmu

Maka si bapak tadi mengambil anaknya untuk pulang.

Ketika keluar dari rumah Syeikh menuju jalan pulang. bapak tadi bertanya pada anaknya beberapa hal mengenai ilmu hukum syariat, ternyata semua soalnya dijawab dengan betul.
Maka bapak tadi berubah fikiran untuk kembalikan anaknya kepada Tuan Syeikh Abdul Qadir.
Wahai Tuan Syeikh terimalah anak saya untuk belajar dengan tuan kembali.
Tuan didiklah anak saya, ternyata anak saya bukan seorang pembantu dan juga diperlakukan seperti kucing.
Saya melihat ilmu anak saya sangat luar biasa bila bersamamu.

Maka jawab Tuan Syeikh Abdul Qadir,
Bukan aku tidak mau menerimanya kembali, tapi ALLAH sudah menutup pintu hatinya untuk menerima ilmu..

ALLAH sudah menutup futuhnya (keterbukaannya) untuk mendapat ilmu disebabkan seorang AYAH yang tidak beradab kepada GURU, maka anak yang menjadi korban

😭😭😭

Begitulah adab dalam menuntut ilmu. Anak, Ibu, ayah dan siapa pun perlu menjaga adab kepada guru.

Kisah di atas menceritakan seorang ayah yang tidak punya adab kepada guru.

Bagaimana kalau diri kita sendiri yang tidak punya adab, memaki dan mencela gurunya?

Kata ulama, “Satu perasangka buruk saja kepada gurumu, maka Allah haramkan seluruh KEBERKAHAN yang ada pada gurumu kepadamu.

Sama-sama kita ibubapa yang sayang kepada anak2 ambil iktibar daripada kisah yang dihikayatkan ini

Semoga manfaat.

(FB Ustaz Engku Ahmad Fadzil)

26/02/2020 Posted by | Tazkirah | | Comments Off on ADAB IBUBAPA DENGAN GURU

Hukumnya membaca laa ilaaha illallaah ketika di perjalanan menuju kuburan.

Ustaz,…Bagaimanakah hukumnya membaca laa ilaaha illallaah ketika di perjalanan menuju pemakaman mayyit apakah sunnah atau mubah ?.

Jawapan,….”Mengiringi Jenazah Membaca Kalimat Tahlil”,…Sebenarnya perbuatan ini telah berlangsung sejak lama.

Perbuatan ini tidak dilarang di dalam Islam karena mengandung kebaikan berdzikir pada Allah SWT.

Perbuatan seperti ini juga jauh lebih baik daripada berbicara yang tidak berguna terutama soal duniawi.
Apalagi keadaannya dalam suasana berkabung.

Bacaan dzikir yang paling sesuai dengan keadaan saat itu adalah bacaan tahlil La Ilaha Illa Allah sebagaimana disampaikan Al Hafidz Az Zaila’iy :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: لَمْ يَكُنْ يُسْمَعُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ يَمْشِي خَلْفَ الْجِنَازَةِ، إلَّا قَوْلُ: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، مُبْدِيًا، وَرَاجِعًا.

Dari Ibnu Umar mengatakan, “Tidak ada kata yang didengar dari Rasulullah SAW saat beliau berjalan di belakang jenazah kecuali La Ilaha Illa Allah, dengan jelas dan diulang-ulang”.

Memang hadits ini tidak menunjukkan secara jelas apakah Rasulullah SAW membaca tahlil dengan suara lirih atau seru. Namun melihat bahwa para Sahabat mendengar apa yangbeliau baca maka tentu saja beliau membacanya dengan seru, bukan berbisik.

Sumber,..Nasb ar Rayah fi Takhrij Ahadits Al Hidayah, juz 2, hal. 212

Tradisi seperti itu sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, dan amalan tersebut tidak dilarang oleh agama, sebab selain mengandung nilai-nilai kebaikan dengan berdzikir kepada Allah Swt perbuatan itu tentu jauh lebih baik dari pada berbicara masalah duniawi dalam suasana berkabung, sebagaimana dijelaskan oleh syekh Muhammad Bin A’lan al-Siddiqi dalam kitabnya al-Futukhat al-Rabbaniyah;

وَقَدْ جَرَّتْ اَلْعَادَةُ فِىْ بَلَدِناَ زَبِيْدٍ بِالْجَهْرِ باِلذِّكْرِ اَماَمَ الْجَناَزَةِ بِمَحْضَرٍ مِنَ اْلعُلَمَاءِ وَاْلفُقَهَاءِ وَالصُّلَحَاءِ وَقَدْ عَمَّتْ اَلْبَلْوَى بِمَا شَاهِدْناَهُ مِنْ اِشْتِغَالٍ غاَلِبٍ الْمُشَيِّعِيْنَ بِالْحَدِيْثِ اَلدُّنْيَوِيِّ وَرُبَّمَا اَدَاهُمْ ذَلِكَ اِلَى الْغِيْبَةِ اَوْ غَيْرِهَا مِنَ اْلكَلاَمِ اَلْمُحَرَّمَةِ فَالَّذِيْ اِخْتَارَهُ اِنَّ شُغْلَ اِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ اَلْمُؤَدِّيْ اِلَى تَرْكِ اْلكَلاَمِ وَتَقْلِيْلِهِ اَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِى اْلكَلاَمِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَاباً بِأَخَّفِ الْمَفْسَدَتَيْنِ . كَماَ هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ وَسَوَاءٌ اَلذِّكْرُ وَالتَّهْلِيْلُ وَغَيْرُهَا مِنْ اَنْوَاعِ الذِّكْرِ وَاللهُ اَعْلَمُ (الفتوحات الربانية على اذكر النواوية ج 4 ص 183)

Telah menjadi tradisi di daerah kami Zabid untuk mengeraskan dzikir di hadapan jenazah (ketika menghantar ke kuburan).

Dan itu dilakukan di hadapan para ulama’, ahli fiqih dan orang-orang saleh.
Dan sudah menjadi kebiasaan buruk yang telah kita ketahui, bahwa ketika menghantarkan jenazah, orang-orang sibuk dengan perbincangan masalah-masalah duniawi, dan tidak jarang perbincangan itu menjerumuskan mereka ke dalam ghibah atau perkataan lain yang diharamkan.

Adapun hal yang terbaik adalah mendengarkan dzikir yang menyebabkan mereka tidak berbicara mengenai hal-hal yang tidak baik,berdzikir adalah lebih utama dari pada membiarkan mereka bebas membicarakan masalah-masalah duniawi.

Ini sesuai dengan prinsip memilih yang lebih kecil mafsadahnya, yang merupakan salah satu kaidah syar’iyah.
Tidak ada bedanya apakah yang dibaca itu dzikir, tahlil ataupun yang lainnya.(Al-Futuhat al-Rabbaniyah ‘ala Adzkari al-Nabawiyah juz IV, hal. 183).

Dan lebih jelas lagi di terangkan dalam kitab Tanwirul Qulub, bahwa disunnahkan melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, membaca dzikir atau membaca shalawat kepada nabi Muhammad Saw., dan dilarang gaduh atau berbincang-bincang tentang perkara yang tidak berguna:

وَيُسَنُّ الْمَشْيُ اَمَامَهَا وَقُرْبَهَا وَاْلاِسْرَاعُ بِهَا وَالتَّفَكُّرُ فِى الْمَوْتِ وَماَبَعْدَهُ . وَكُرِهَ اللُّغَطُ وَالْحَدِيْثُ فِيْ اُمُوْرِ الدُّنْيَا وَرَفْعِ الصَّوْتِ اِلاَّ بِالْقُرْأَنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلاَتِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلاَ بَأْْسَ بِهِ اْلاَنَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ. ( تنوير القلوب ص 213 )

Para pengantar jenazah yang berjalan kaki disunnahkan berjalan di depan keranda atau di dekatnya sambil berjalan cepat dan berfikir tentang dan sesudah mati.
Tetapi tidak disunnahkan bagi para pengantar jenazah untuk gaduh, bercakap-cakap urusan dunia, apalagi dengan suara keras, kecuali melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, membaca dzikir, atau shalawat kepada nabi karena hal ini menambah syi’ar bagi si mayit.(Tanwir al-Qulub halaman 213).

Sedangkan Dzikir yang paling baik dibaca adalah kalimat La Ilaha Ilallah. Di dalam kitab Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal disebutkan:

عن ابن عمر رضي الله عنه, قَالَ لَمْ نَكُنْ نَسْمَعُ مِنْ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَهُوَ يَمْشِي خَلْفَ الْجَنَازَةِ, إِلَّا قَوْلُ: لَا إِلَهَ إِلَّا الله, مُبْدِيًّا, وَرَاجِعًا. أخرجه ابن عدى في الكامل. (نصب الراية في تخريج أحاديث الهداية, 2/ 212)

Dari Ibn Umar RA ia berkata, “Kami Tidak pernah terdengar dari Rasulullah SAW ketika beliau mengantarkan jenazah kecuali ucapan: La Ilaaha Illallah, pada waktu berangkat dan pulangnya” (Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal, juz II, hal. 572).

Hadits ini tidak memberikan penjelasan apakah Nabi Muhammad SAW membaca kalimat tahlil itu pelan atau dikeraskan.

Namun kalau sahabat mendengar dzikir yang beliau baca, sudah tentu Nabi Muhammad SAW melafazkannya dengan keras, bukan sekedar berbisik.

Dapat disimpulkan bahwa membaca dzikir ketika mengiringi jenazah merupakan perbuatan yang dianjurkan.
Dan yang lebih utama diucapkan adalah bacaan La Ilaha Ilallah.

Wallahu A’lam.

Sumber: FB Zaref Shah Sl HaQQy

21/02/2020 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Muzakarah pengajian Maulana Hussein.

1. Mengenai Imam Ibnu Jauzi.

-Beliau adalah pengarang kitab (الموضوعات). Iaitu kitab yang di dalamnya menghimpunkan hadis2 palsu. Sebenarnya Imam Ibnu Jauzi ini beliau adalah seorang ulama yang mahir di dalam ilmu hadis. Sekalipun demikian, beliau termasuk di kalangan ulama2 yang tersangat syadid ( من المتشددين) terhadap hadis2 Nabi S.A.W.

Sehinggakan hadis2 yang pada hakikatnya adalah hadis hasan dan dhaif pun turut dikatogerikan maudhu’ di sisi beliau. Maka dengan yang demikian itulah datang pula selepas daripada itu ulama yang bersederhana (من المعتدلين) terhadap hadis2 nabi iaitu Imam Ibnu Hajar dan Syeikh Zakaria al-Anshori yang meneliti dan menjawab terhadap kitab tersebut dengan mengatakan bukan semua hadis2 didalam kitab tersebut adalah maudhu’ kesemuanya, bahkan ada sebahagiannya hasan, dhaif dan seumpamanya.

Ibnu al-Iraq juga mengkaji hadis2 yang telah di dikatogerikan sebagai palsu oleh Imam Ibnu al-Jauzi ini di dalam kitabnya itu. Ternyata di dalamnya ada hadis2 hasan, dhaif dan sebagainya. Maka beliau meneliti hadis2 maudhu di dalam kitab itu, sekiranya hadis itu disepakati oleh Muhaddisin sebagai maudu’. (Yakni bukanlah hanya maudhu’ dari sebelah pihak Imam Ibnu al-Jauzi sahaja) barulah beliau akan mengatakan hadis ini adalah hadis maudhu’.

Kata Maulana: Imam Ibnu Jauzi ini bermazhab Hanbali, dan aqidahnya adalah aqidah Ahli Sunnah Waljamaah (iaitu bukanlah aqidah mujassimah). Dan di dalam dunia ini mazhab yang paling sikit pengikutnya adalah mazhab hanbali, yang hanya boleh kita mendapatinya di pendalaman benua2 afrika sahaja. Berbanding dgn mazhab2 lain seperti mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafie yang begitu ramai pengikutnya. Dahulu mazhab hanbali masih ramai pengikutnya, tetapi setelah zaman-berzaman datang sebahagian ulama hambali itu ada yang berfahaman mujassimah, maka ketika itulah semakin berkurang pengikut mazhab hanbali.

Kata Maulana lagi:

Imam Ibnu al-Jauzi ini sekalipun beliau seorang yang sangat syadid di dalam hadis 2 nabi ini. Tetapi beliau beraqidah Ahli Sunnah Waljamaah (bukanlah beraqidah mujassimah). Puak2 wahabi ini suka ikut Imam Ibnu Jauzi di dalam hadis, tetapi tidak mahu ikut pula di dalam aqidah. Mereka ini mengambil sebahagian dan meninggalkan sebahagian lainnya. Sekiranya mereka benar2 nak ikut Imam Ibnu al-Jauzi ini, ikutlah kesemua sekali. Tambah2 di dalam bab aqidah, bukan hanya di dalam hadis. KERANA HAKIKATNYA AQIDAH ITU ADALAH LEBIH PENTING DARIPADA PENGAJIAN HADIS. Mereka ini sebenarnya hanya mengikuti hawa nafsu. Sekiranya 99 peratus hadis jadi maudhu’ maka mereka akan lebih seronok.

2. Tentang perawi hadis.

-Di zaman ini ada sebahagian golongan manusia yang menganggap diri mereka adalah ahli hadis tetapi mereka tidak mahu untuk menerima perawi yang berfahaman salah seperti fahaman syiah, murjiah dan sebagainya. Contoh yang boleh diberikan adalah seperti seorang perawi yang bernama Muhammad bin Ishak.

Ada sebahagian orang menganggapnya berfahaman syiah, maka mereka isytiharkan supaya tidak boleh menerima hadis yg diriwayatkan oleh beliau. SEBENARNYA APA YANG DISEBUTKAN ITU ADALAH BETUL, CUMA PENJELASAN YANG SEDEMIKIAN RUPA TIDAK LENGKAP DAN AKAN MENIMBULKAN MASAALAH.

Ada seorang perawi yang bernama Abu Muawiyah, beliau ini disifatkan oleh sebahagian Muhaddisin dengan mardud, tidak siqah,bukan Ahli Sunnah, dan ada pula yang menyifatkannya dengan ketua bagi golongan Murjiah (رإيس المرجأة). Tetapi di dalam Saheh Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari juga dengan bangganya meriwayatkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Muawiyah ini. Dengan sanadnya yang berbunyi (عن ابي معاوية عن هشام عن عروة).

Begitulah juga di dalam Saheh Muslim. Imam Muslim pun banyak meriwayatkan hadis2 daripada beliau. Begitulah juga para perawi yang disebutan dengan gelaran (متكلم فيه أو مختلف فيه ). Maka bukan mudah2 untuk kita menolak mereka. Contohnya ada seorang perawi yang dibincang/dipertikaikan dari sudut hafalannya seperti seorang perawi yang bernama Abdullah bin Muhammad bin Aqil.

Beliau ini termasuk perawi yang digelarkan padanya dengan المتكلم فيه. Walaupun beliau siqah, tetapi hafalannya ada sedikit masaalah. Sekalipun demikian, jumhur Muhaddisin termasuk Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim tetap menerima riwayat daripadanya dan perawi yang seangkatan dengannya.

Buktinya di dalam Saheh al-Bukhari ada 480 orang perawi, dan 80 orang daripadanya adalah perawi yang dikatogerikan sebagai (المتكلم فيه). Begitulah juga di dalam Saheh Mulim ada 620 orang perawi, dan 160 orang dari kalangan mereka adalah para perawi (المتكلم فيه).

Maka dengan itu janganlah mudah2 kita menolak hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang kurang ingatan dan sebagainya. Maka inilah manhaj yang diajarkan Muhaddisin kepada kita.Adakah kita ingin mengatakan bahawa Imam2 Hadis ini telah melakukan perkara yang salah? Lalu kita mahu disingkirkan sahaja?

Kata Maulana:

Sekiranya kita mahu mengambil kaedah daripada Muhaddisin. Hendaklah mengambil kesemuanya. Janganlah kita mengambil sebahagian dan menolak sebahagian yang lainnya seperti mengatakan hadis2 dhaif tidak boleh diamalkan. Kerana itulah sekiranya perawi itu salah dari sudut aqidah sekalipun, seperti berfahaman syiah dan sebagainya, tetap juga kita tidak boleh sewenangnya2 menolak mereka. Kerana itu para Muhaddisin mengajarkan bahawa kita boleh menerima hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang dikatogerikan sebagai golongan yang sering melakukan perkara bid’ah dan bermasaalah pada aqidah ini dengan 4 Syarat.

Pertama:

Aqidah perawi tersebut tidak sampai kepada tahap syirik dan kufur. Maka Muhammad bin Ishak misalnya walaupun beliau dikatakan cenderung kepada fahaman syiah, tetapi beliau tidaklah sampai menafikan kenabian Nabi Muhammad S.A.W seperti sebahagian puak2 syiah yang mengatakan bahawa Malaikat Jibril sebenarnya silap menghantarkan wahyu kepada Nabi Muhammad, sepatutnya dihantarkan kepada Sayidina Ali.

Maka golongan Syiah yang berpegang dengan pegangan seperti ini tidak syak lagi mereka terkeluar daripada islam kerana menafikan nubuwwah Nabi S.A.W. Adapun perawi yang berfahaman murjiah seperti Abu Muawiyah. Yang mereka menganggap bahawa siapa sahaja yang mengucapkan لا إله إلا الله akan masuk ke dalam syurga sekalipun tidak melakukan apa2 amalan. Seperti mana seseorang itu tidak akan masuk ke dalam syurga kerana ada sedikit kekufuran di dalam hatinya. Maka begitulah juga seseorang itu akan masuk ke dalam syurga dengan hanya mengucapkan لا إله إلا الله .

Di sisi Ahli Sunnah golongan murjiah ini tidaklah sampai kepada tahap syirik dan kufur. Tetapi mereka ini layak disifatkan dengan golongan yang mentafsirkan hadis Nabi secara salah.

Kesimpulannya sekalipun mereka ini bermasaalah dari sudut aqidah, tetapi tidaklah aqidah mereka sampai kepada tahap kufur dan syirik. Maka riwayat daripada mereka diterima oleh Imam2 hadis.

Kedua:

Mestilah perawi tersebut siqah (الثقة). Yakni menjauhkan diri dari dosa2 kecil dan kefasikkan.

Ketiga:

Tidak ada unsur2 di dalam meriwayatkan hadis tersebut untuk menarik kepada fahamannya.

Keempat:

Hadis tersebut mestilah tidak bercanggah dengan aqidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah.

Apabila ada keempat2 syarat ini berulah para Muhaddisin menerima riwayat hadis yang diriwayatkan oleh mereka. Kerana itulah sekalipun perawi yang bernama Abu Muawiyah itu digelarkan sebagai mardud, tidak siqah, bukan Ahli Sunnah hatta sebahagian Muhaddisin menggelarkannya dengan gelaran (رإيس المرجأة). Tetap juga Imam al-Bukhari dan Imam Muslin dan lain2nya menerima riwayat daripadanya. Jawapannya kerana beliau adalah seorang perawi yang menepati 4 syarat di atas.

Pesan Maulana:

Inilah pandangan yang diajarkan oleh para Ulama yang hidup di zaman sebaik2 kurun (خير القرون). Adapun pandangan mereka yang hidup pada seburuk2 kurun (شر القرون) ini mereka menolak semua hadis yang diriwayatkan oleh para perawi yang lemah ingatan.

Maka Hendaklah kita memilih sama ada nak kita nak ikut sebaik2 kurun ataupun seburuk2 kurun. JANGALAH KITA MENUNJUKKAN BAHAWA KITA LEBIH PANDAI DARIPADA IMAM AL-BUKHARI.

Maulana pesan:

Bilamana orang dah mula pertikai Kitab Hadis Saheh Al-Bukhari dan Muslim, maka dia akan membawa kepada HILANGNYA KEPERCAYAAN KEPADA HADIS NABI. Maka yang demikian itu sedikit demi sedikit aka membawa kepada KELUAR DARIPADA ISLAM. نعوذ بالله من ذلك

3. Tentang kitab2 hadis seperti Sunan al-Tirmizi dan sebagainya.

-Ada sebahagian manusia yang suka mempertikai. Dia berani mempertikaikan Imam al-Tirmizi dengan mengatakan bahawa Imam al-Tirmizi ini tidak pandai mengumpulkan hadis2. Kerana kata mereka beliau bukan sahaja mengumpulkan hadis2 sebaliknya mencampur adukkan sekali dengan pandangan ulama2 besar dan sebagainya.

Maka jawab Maulana:

Kalaulah apa yang dilakukan oleh Imam al-Tirmizi itu tidak betul sudah tentu beliau akan ditegur oleh Imam al-Bukhari, iaitu guru beliau sendiri. Sebenarnya di dalam Shaheh Al-Bukhari pun Imam Al-Bukhari juga memasukkan pandangan2 para tabiein seperti Imam Hasan Al-Basri dan sebagainya di samping beliau mengumpulkan hadis2 di dalam kitab beliau.

Tujuan sebenar Imam al-Tirmizi membukukan kitab (سنن الترمذي) ini adalah untuk menjelaskan mazhab2 (بيان المذاهب). Bukanlah semata2 menghimpunkan hadis sahaja. Kerana itulah beliau memasukkan di dalam kitab beliau pandangan ulama2 muktabar, khususnya Imam2 mazhab.

-Adapun Imam al-Bukhari pula menghimpunkan hadis2 di dalam صحيح البخاري tujuannya adalah untuk mengijtihad hukum. Bukanlah semata2 nak himpunkan. Kerana itulah kita dapati di dalam Saheh Al-Bukhari ini terhadap hadis yang pendek2. Adapun hadis yang pendek2 yang dimasukkan di dalam Saheh Al-Bukhari ini dinamakan sebagai تقطيع.

-Adapun Imam Muslim membukukan Kitab (صحيح مسلم) ini adalah tujuannya ingin mengumpulkan hadis 2 yang sama di dalam sanad yang pelbagai.

-Adapun Imam Abu Daud membukukan kitab سنن أبي داود ini tujuannya adalah untuk menghimpunkan hadis2 yang menjadi dalil bagi Imam2 Mazhab. Tidak kiralah hadis itu dhaif hasan dan sebagainya.

-Adapun Imam al-Nasaie pula membukukan kitab سنن النسائي ini tujuannnya adalah بيان العلة.

Begitulah seterusnya. Setiap Ulama hadis ini ada manhaj dan tujuannya di dalam membukukan sesebuah kitab. Janganlah kita jangan memandai2 di dalam mempertikai para Ulama ini. Ukurlah diri kita ini betapa jauhnya daripada mereka.

Al-Faqir Amidi Syeikh Muhd Zainul Asri
Kompleks Wadi Muhammady,
Mujamma Darul Hadis,
Kuala Nerang, Kedah.
30/10/16.

Website :
http://www.darulhadis.edu.my

21/02/2020 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Politik dan Dakwah | Comments Off on Muzakarah pengajian Maulana Hussein.

TOKOH YANG MENJADI IDOLA KAUM MUJASIMAH/MUSYABIHAH.

Akidah Utsman bin Sa’id ad-Darimi (w. 280 H.) adalah salah satu diantara yang paling direkomendasikan untuk diikuti oleh Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim al-Jauziyah.

Sementara dalam pandangan Ad-Dzahabi ad-Darimi dianggap sangat berlebihan dalam berakidah (keluar dari barisan jumhur ulama Ahlussunnah).

Selain dia kerap membawakan hadits-hadits sangat lemah dalam kitab akidahnya, dia juga ghuluw dalam sifat; menetapkan sifat yang tidak ditetapkan Allah.

Berikut ini adalah hasil bacaan Syaikh Dr. Shuhaib Syaqqar dalam kitabnya, at-Tajsim fil Fikr al-Islami terhadap dua kitab akidah karangan ad-Darimi:

  1. Arsy mengeluarkan bunyi suara karena beban beratnya Allah yang berada di atasnya.
  2. Allah setiap malam turun ke surga ‘adn dan itulah tempat Dia bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada’.
  3. Allah turun dari arsy-nya ke kursi dan kemudian naik lagi dari kursi ke arsy-Nya.
  4. Menetapkan sifat harakat (bergerak-gerak) bagi Allah.
    Karena menurutnya, yang hidup pasti bergerak dan Allah adalah dzat yang hidup.
  5. Menetapkan had (batas ujung/sisi) bagi Allah. Jadi Allah memiliki sisi dari bawah atau samping.
  6. Allah menyentuh Adam dengan tangan-Nya.
  7. Allah duduk di atas arsy dan yang tersisa dari luas arsy tinggal 4 jari.
  8. Allah mampu bersemayam (istiqrar) di atas nyamuk.
  9. Jika Allah sedang murka, maka malaikat pembawa arsy merasa berat (menanggung beban).
  10. Yang berada di puncak menara lebih dekat kepada Allah secara fisik (hissi) daripada yang berada dibawah (lihat screenshot).

Ikutilah akidah ulama-ulama Islam majoriti yang tidak mengundang kontroversi dan perdebatan!!!

Sumber: Zaref Shah Al HaQQy

12/02/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, wahabi | Leave a comment

KAMILIN JAMILIN VS IMAM ASY SYAFIE

Benarkah Imam Asy Syafie membenci ilmu Kalam ?

Diceritakan daripada ar Rabi’ bin Sulaiman, Imam Asy Syafie berkata “Seseorang yang berjumpa Allah (mati) sambil membawa semua dosa selain syirik, lebih baik daripada orang yang tertimpa ilmu kalam”

(Manaqib Asy Syafie 1/453)

Penjelasan :

Menurut al Baihaqi, celaan Imam Asy Syafie kepada ilmu kalam dan ahlinya ditujukan KHUSUS KHAS kepada orang-orang tertentu iaitu Hafs al Fard, Ibrahim bin ‘Ulayyah dan tokoh-tokoh bid’ah yang lainnya. Adapun ilmu kalam yang menjadi pegangan Ahli Sunnah Wal Jama’ah dan tokoh-tokohnya, maka pegangan mereka itu terkeluar daripada celaan tersebut.

Berkata Imam al Baihaqi

” Beliau maksudkan kalam ahli bid’ah yang meninggalkan alKitab dan As Sunnah dan menjadikan akal sebagai pegangan lalu meluruskan al Quran sesuai dengan kehendak akal mereka. Apabila disampaikan sunnah yang bertentangan dengan pendapat mereka, mereka berpaling daripadanya menuduh para perawinya. Adapun ahli sunnah, maka mazhab mereka terbangun di atas al Kitab dan As Sunnah. Mereka berpegang dengan akal sekadar menolak anggapan bahawa mazhab mereka tidak rasional”

(Manaqib As Syafie 1/463)

Ilmu kalam menurut Imam Asy Syafie, Imam Abu Hanifah, Imam Malik serta salafussoleh yang lain

Imam Asy Syafie menguasai Ilmu Kalam ?

Al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi berkata dalam kitabnya Manaqib al-Syafi’i.

وقرأت في كتاب أبي نعيم الأصبهاني حكاية عن الصاحب بن عباد أنه ذكر في كتابه بإسناده عن إسحاق أنه قال: قال لي أبي: كلَّم الشافعي يوماً بعض الفقهاء فدقق عليه وحقق، وطالب وضيق، فقلت له: يا أبا عبد الله: هذا لأهل الكلام لا لأهل الحلال والحرام، فقال: أحكمنا ذاك قبل هذا” اهـ.

Aku membaca sebuah hikayat dalam kitabnya Abu Nu’aim dari al-Shahib bin ‘Abbad, bahwa ia menyebutkan dalam kitabnya dengan sanadnya, dari Ishaq, bahwa ia berkata: “Ayahku berkata kepadaku: “Suatu hari Imam al-Syafi’i berbicara kepada sebagian ulama fuqaha, lalu beliau berbicara dengan cara yang rinci, mendalam, menuntut dan mempersempit bahasan. Lalu aku berkata: “Wahai Abu Abdillah: “Cara Anda menjelaskan ini metodologi ahli kalam, bukan ahli halal dan haram (fuqaha)”. Lalu beliau berkata: “Aku menguasai itu (ilmu kalam), sebelum menguasai ini (ilmu fiqih).”

(Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, juz 1 hlm 457).

Riwayat al-Imam al-Baihaqi dalam Manaqib al-Syafi’i sebagai berikut:

وقال الربيع بن سليمان: “حضرت الشافعي وحدَّثني أبو شعيب إلا أني أعلم أنه حضر عبد الله بن عبد الحكم ويوسف بن عمرو بن يزيد وحفص الفرد وكان الشافعي يسميه المنفرد، فسأل حفص عبد الله بن عبد الحكم فقال: ما تقول في القرءان، فأبى أن يجيبه فسأل يوسف بن عمرو،فلم يجبه وكلاهما أشار إلى الشافعي، فسأل الشافعي فاحتجَّ عليه الشافعي، فطالت فيه المناظرة فقام الشافعي بالحجة عليه بأن القرءان كلام الله غير مخلوق، وكفَّر حفصاً الفرد، قال الربيع: فلقيت حفصاً الفرد في المسجد بعدُ فقال: أراد الشافعي قتلي ” اهـ.

Al-Rabi’ bin Sulaiman berkata: “Aku menghadiri Imam al-Syafi’i, dan Abu Syu’aib bercerita kepadaku, hanya saja aku mengetahui bahwasanya telah hadir Abdullah bin Abdul Hakam, Yusuf bin Amr bin Yazid dan Hafsh al-Fard. Al-Syafi’i menamakannya al-Munfarid (yang suka nyeleneh). Lalu Hafsh bertanya kepada Abdullah bin Abdul Hakam: “Bagaimana pendapatmu tentang al-Qur’an?” Abdullah tidak mau menjawabnya. Lalu Hafsh bertanya kepada Yusuf bin Amr. Yusuf juga tidak menjawabnya. Lalu keduanya mengisyaratkan kepada al-Syafi’i. Lalu Hafsh bertanya kepada al-Syafi’i, lalu al-Syafi’i mematahkan hujjahnya Hafsh. Lalu perdebatan menjadi panjang. Akhirnya al-Syafi’i memenangkan hujjah kepada Hafsh bahwa al-Qur’an itu firman Allah dan bukan makhluq, dan ia mengkafirkan Hafsh.” Al-Rabi’ berkata: “Lalu aku bertemu Hafsh sesudah itu di Masjid. Ia berkata: “Al-Syafi’i hendak membunuhku.”

(Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, juz 1 hlm 455).

Riwayat di atas yang menceritakan perdebatan Imam al-Syafi’i dan akhirnya mengalahkan Hafsh al-Fard menjadi bukti bahwa beliau menguasai ilmu kalam. Perdebatan dengan ahli kalam hanya bisa dilakukan dengan teori ilmu kalam yang sama. Hal ini sebagai bukti bahwa Imam al-Syafi’i menguasai ilmu kalam. Sedangkan ilmu kalam yang beliau cela adalah ilmu kalam versi Hafsh al-Fard, Mu’tazilah dan ahli bid’ah.

Imam Malik memuji ulamak yang ahli dalam ilmu kalam

Al-Imam al-Baihaqi meriwayatkan:

قَالَ ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ أَنَّهُ دَخَلَ يَوْمًا عَلىَ عَبْدِ اللهِ بْنِ يَزِيْدَ بْنِ هُرْمُزٍ فَذَكَرَ قِصَّةً ـ ثُمَّ قَالَ : وَ كَانَ ـ يَعْنِي ابْنَ هُرْمُزٍ ـ بَصِيْرَا بِالْكَلاَمِ وَ كَانَ يَرُدُّ عَلىَ أَهْلِ اْلأَهْوَاءِ وَ كَانَ مِنْ أَعْلَمِ النَّاسِ بِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنْ هَذَا اْلأَهْوَاءِ

Ibnu Wahab berkata: “Malik bercerita kepada kami, bahwa pada suatu hari ia mendatangi Abdullah bin Yazid bin Hurmuz, lalu ia menyebutkan suatu kisah, kemudian Malik berkata: “Ibnu Hurmuz seorang ulama yang ahli dalam ilmu kalam. Ia membantah kelompok ahli bid’ah. Ia termasuk ulama yang paling menguasai masalah-masalah yang diperselisihkan oleh mereka terkait ajaran-ajaran bid’ah tersebut.”

(Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, juz 1 hlm 96).

Dalam pernyataan di atas jelas sekali, Imam Malik radhiyallahu ‘anhu memuji gurunya, Abdullah bin Yazid bin Hurmuz karena keahliannya dalam bidang ilmu kalam dan perjuangannya dalam membantah ajaran-ajaran ahli bid’ah. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu kalam itu ada yang tercela dan ada yang terpuji. Ilmu kalam yang dicela oleh ulama salaf adalah ilmu kalam yang ditekuni oleh kaum ahli bid’ah untuk membela ajaran bid’ah mereka, seperti kaum Mu’tazilah, Qadariyah, Syiah dan semacamnya. Ilmu kalam yang terpuji adalah ilmu kalam yang ditekuni oleh ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah untuk membela ajaran al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’.

Imam Abu Hanifah pakar ilmu kalam :

Al-Salmasi juga memuji al-Imam Abu Hanifah sebagai pakar ilmu kalam. Ia berkata:

فصل: في ذكر أبي حنيفة رضي الله عنه أما أبو حنيفة فله في الدين المراتب الشريفة والمناصب المنيفة، … سيد الفقهاء في عصره، وراس العلماء في مصره، … سبق الكافة منهم إلى تقرير القياس والكلام

Bagian tentang Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu. Adapun Abu Hanifah, maka ia memiliki martabat yang mulia dan pangkat yang luhur dalam agama. Penghulu para fuqaha pada masanya, pemimpin para ulama di kotanya. Ia mendahului mereka semua dalam menetapkan Qiyas dan ilmu Kalam.

(Al-Salmasi, Manazil al-Aimmah al-Arba’ah, hlm 161).

P/S : Kita nak ikut siapa yang selamat ? Kamilin Jamilin atau ulamak salafussoleh ? Jauhi virus palatau.

Sumber: Kami tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia.

12/02/2020 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

Menjawab golongan yang mendakwa Ilmu Qalam merosakkan….

Kalau bukan kerana ilmu kalam, seni hadith pun tidak wujud. Ilmu mustholah dan qawaid hadith itu dibina di atas manhaj mutakallimin.

Kalau bukan kerana qawaaid ‘aqliyyah para mutakallimin, bagaimana ditentukan hadith sahih atau tidak sahih dan segala mustholatnya selepas wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم

Benarlah manusia akan bermusuh dengan apa yang dia tidak tahu.

Kalian melaung-laungkan amanah ilmu dan kesarjanaan tetapi mengapa kalian bercakap bidang selain daripada bidang pengajian kalian di universiti?

Apakah dengan menguasai bidang hadith (so called) menjadi tiket untuk kita bercakap semua bidang ilmu?

Firman Allah ;

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah engkau mengikut apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya; sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati, semua anggota-anggota itu tetap akan ditanya tentang apa yang dilakukannya.

Kata ulama ;

نصف العلم أخطر من الجهل

Ilmu yang setengah (tidak menguasai sebenar-benar ilmu) itu lebih berbahaya daripada kejahilan.

Orang jahil itu tidak akan menyesatkan manusia dengan fatwa dan pandangannya tetapi orang yang setengah alim itu akan menyesatkan dirinya dan orang lain dengan fatwa dan pandangannya.

Semoga Allah memelihara kita dari kesesatan orang setengah alim dan menunjukkan kita kepada alim yang sebenar.

Apa yang dilarang berkaitan dengan ilmu kalam itu berlebih-lebihan sepertimana huraian para ulama kita. Berlebih-lebihan inilah yang menyesatkan sebahagian ahli falsafah Islam dan firaq islamiah seperti muktazilah, jahmiyyah dan lain-lain.

Tambahan lagi berlebih-lebihan di dalam perbahasan ilmu kalam itu tidak termasuk di dalam ilmu fardhu ‘ain. Sayugia bagi orang awam itu mendalami qadar fadhu ‘ain sahaja dan memberikan keutamaan kepada ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu penyuciaan jiwa.

Apakah kita menyalahkan pisau dan menafikan kebaikan dan kepentingan pisau ketikamana ada orang menggunakan pisau untuk membunuh orang?

Wallahu A’laam.

Olih Ustaz Mohd Al Amin bin Daud Al Azhari

11/02/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Comments Off on Menjawab golongan yang mendakwa Ilmu Qalam merosakkan….

SIAPAKAH PENGIKUT ULAMA’ SALAF SEBENARNYA

1) Imam Hanafi lahir: 80 H
2) Imam Maliki lahir: 93 H
3) Imam Syafie lahir: 150 H
4) Imam Hanbali lahir:164 H
5) Imam Asy’ari lahir: 240 H

Mereka ini semua Ulama’ Salafus Sholeh atau dikenali dengan nama Ulama’ SALAF

Apa itu SALAF?
Salaf ialah nama “zaman” yaitu merujuk kepada golongan Ulama’ yang hidup antara kurun zaman kerosulan NABI MUHAMMAD SAW hingga 300 HIJRAH. Tiga kurun pertama itu bisa diartikan 3 Abad pertama (0-300 H)

1). Golongan generasi pertama dari 300 tahun hijrah tu disebut “Sahabat Nabi” karena mereka pernah bertemu NABI SAW

2). Golongan generasi kedua pula disebut “Tabi’in” yaitu golongan yang pernah bertemu Sahabat NABI meski tidak pernah bertemu NABI

3). Golongan generasi ketiga disebut sebagai “Tabi’ tabi’in” yaitu golongan yang tak pernah bertemu NABI dan sahabat tapi bertemu dengan tabi’in

Jadi Imam Abu Hanifah (pencetus mazhab Hanafi) merupakan murid Sahabat NABI maka beliau seorang TABI’IN.

Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanbali (Ahmad bin Hanbal), Imam Asy’ari pula berguru dengan tabi’in maka mereka adalah golongan TABI’IT TABI’IN

Jadi kesemua Imam² yang mulia ini merupakan golongan SALAF YANG SEBENARNYA dan pengikut madzhab mereka-lah yang paling layak digelar sebagai “Salafi” atau “Salafiyah” karena “salafi” maksudnya “pengikut golongan SALAF”.

Jadi beruntung-lah kita di Nusantara yang sebagian besar masih berpegang kepada MADZHAB Syafi’i yang merupakan MADZHAB SALAF yang SEBENARNYA dan tdk lari dari paham NABI DAN SAHABAT.

SEMENTARA ULAMA’ RUJUKAN WAHABI YANG MENGAKU SEBAGAI SALAFI ADALAH SBB :

1) Ibnu Taimiyyah lahir: 661 H (lahir 361 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)
2) Nashiruddin Al-Albani lahir: 1333 H (wafat tahun 1420 H atau 1999 Masehi,lahir 1033 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)

3) Muhammad Abdul Wahhab (pendiri gerakan Wahabi): 1115 H (lahir 815 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)
4) Bin baz lahir: 1330 H (wafat tahun 1420 H atau 1999 Masehi, sama dengan Albani, lahir 1030 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF)

5) Al-Utsaimin lahir: 1928 Masehi (wafat tahun 2001), beliau lahir entah berapa ribu tahun setelah zaman SALAF

Mereka ini semua hidup di AKHIR ZAMAN kecuali Ibnu Taimiyyah yang hidup di pertengahan zaman antara zaman salaf dan zaman dajjal (akhir zaman)

Saat ISLAM diserang oleh tentara Mongol
Tak ada sorang-pun Imam rujukan mereka yang mereka ikuti hidup di zaman SALAF
Mereka ini (Ulama’ rujukan wahabi) semua sangat jauh dari zaman salaf tapi aneh apabila pengikut sekte Wahabi membanggakan diri sebagai “Salafi”

(pengikut Golongan Salaf) dan menyebut sebagai SALAFI WAHABI.

Sedangkan rujukan mereka adalah dari kalangan yang datang dari golongan Ulama’² akhir zaman
Mereka menuding ajaran Sifat 20 Imam Asy’ari yang lahir tahun 240 H sebagai bid’ah yang sesat.

Padahal ajaran Tauhid Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat yang mereka ajarkan juga bid’ah dan diajarkan pada masa Khalaf, oleh orang yang lahir tahun 1115 H


Ini jelas membodohi AQIDAH ummat ISLAM

Semoga bermanfa’at .

Sumber: FB Muhammad Umar Al Fateh

08/02/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

Rasulullah Mengusir MakNyah Dari Ruang Wanita

  1. Tahukah anda bahawa Rasulullah ﷺ pernah mengusir seorang mukhannath (lelaki berperwatakan wanita/maknyah) daripada duduk dalam ruang bersama wanita? Hadith ini tidaklah secara spesifik menceritakan tentang situasi dalam masjid, namun keberadaan seorang mukhannath bersama kaum wanita pernah menjadi perhatian Rasulullah.
  2. Hadith ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari yang menceritakan bagaimana seorang mukhannath (lelaki berperwatakan wanita) duduk di dalam rumah Ummu Salamah, isteri Rasulullah ﷺ. Mukhannath ini dikatakan mendedahkan rahsia perihal sosok tubuh wanita Taif kepada Abdullah ibn Abi Umayyah (saudara kepada Ummu Salamah). Beliau menceritakan perihal wanita Taif (anak-anak perempuan Ghaylan) yang mempunyai tubuh yang gebu.
  3. Mendengar perbualan ini Rasulullah ﷺ melarang mukhannath ini dari duduk bersama dengan wanita Muslimah. Ini kerana mukhannath tersebut akan mengetahui aurat dan sosok tubuh wanita Muslimah sehingga boleh mendedahkannya kepada orang awam. Dengan itu Rasulullah ﷺ menegaskan:

لاَ يَدْخُلَنَّ هَؤُلاَءِ عَلَيْكُنَّ

“(Wahai para wanita)Jangan biarkan mereka ini (mukhannath) masuk bersama dengan kamu (para wanita)!”

  1. Menurut al-Imam al-Syawkani (Nayl al-Autar, Dar al-Hadith, 1993, 2654), Rasulullah mengusir mukhannath ini adalah disebabkan kerana tiga sebab utama iaitu:

(a) أنه كان يظن أنه من غير أولي الإربة ثم لما وقع منه ذلك الكلام زال الظن

Pada asalnya mereka (para sahabat) menyangkakan bahawa mukhannath yang masuk ke rumah isteri Rasulullah tersebut adalah golongan yang tidak mempunyai nafsu terhadap wanita. Namun setelah mendengar perbualannya tentang perempuan Taif (anak-anak Ghaylan), telah nyata, mukhannath ini mempunyai nafsu atau tahu kehendak nafsu lelaki terhadap wanita, maka Rasulullah mengusirnya. Sekiranya ada dikalangan maknyah yang solat ditempat wanita, bagaimana kita boleh pastikan mereka tidak mendedahkan aurat wanita Muslimah yang lain?

(b) وصفه النساء ومحاسنهن وعوراتهن بحضرة الرجال

Mukhannath tadi telah menceritakan sifat-sifat kecantikan wanita serta aurat mereka ketika beradanya orang lelaki bersama mereka. Ini adalah satu kebimbangan besar. Mukhannath yang duduk bersama Muslimah boleh mengetahui aurat mereka dan mendedahkannya kepada orang lain. Bahkan pada hari ini boleh ambil gambar atau video. Atas dasar itu Rasulullah mengusirnya dari bersama dengan wanita Muslimah.

(c) أنه ظهر له منه أنه كان يطلع النساء وأجسامهن وعوراتهن

Mukhannath tadi terdedah kepada perbuatan meneliti atau melihat tubuh wanita Muslimah dan aurat mereka. Bimbang akan keadaan ini maka Rasulullah mengarahkan kepada isteri Baginda:

لاَ يَدْخُلَنَّ هَؤُلاَءِ عَلَيْكُنَّ

“Jangan biarkan mereka ini (mukhannath) masuk bersama dengan kamu (wanita)!”

  1. Sebagai Muslim, kita menunaikan Umrah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semakin hampir kita dengan Allah, semakin jauh kita dari melakukan perkara yang dilarang. Semakin dekat kita dengan Allah, semakin benci kita untuk melakukan perkara yang ditegah oleh Rasulullah.

Mari bersama doakan hidayah buat kita semua.

Oleh: Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://drsanusiazmi.com/rasulullah-mengusir-maknyah-dari-ruang-wanita/

03/02/2020 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Tazkirah | , | Leave a comment

Hikmah Orang Sakit.


1. Sakit itu zikrullah.

Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma ALLAH di banding ketika dalam sehatnya.

2. Sakit itu istighfar.
Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun.

3. Sakit itu tauhid.
Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?

4. Sakit itu muhasabah.
Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi,menghitung-hitung bekal kembali.

5. Sakit itu jihad.
Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah,diwajibkan terus berikhtiar,berjuang demi kesembuhannya.

6. Bahkan sakit itu ilmu.
Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.

7. Sakit itu nasihat.
Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri,yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar, Allah cinta dan sayang keduanya.

8. Sakit itu silaturrahim.
Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk,penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah.

9. Sakit itu penggugur dosa.
Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya.

10. Sakit itu mustajab doa.
Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh yang sakit.

11. Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan setan.
Diajak maksiat tak mampu tak mau dosa,lalu malah disesali kemudian diampuni.

12. Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis,satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.

13. Sakit meningkatkan kualitas ibadah, rukuk-sujud lebih khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama.

14. Sakit itu memperbaiki akhlak, kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.

15. Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati.

Ustaz Salim A Fillah

Quran Wali Studio
Indonesia.

30/01/2020 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

SAHKAH SOLAT ORANG LELAKI APABILA BERSEBELAHAN DENGAN SAF ORANG PEREMPUAN TETAPI DI PISAHKAN DENGAN PENGHADANG ATAU TABIR.

Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan.

Soalan :

Pada bulan Ramadan yang lepas, surau kami menjadi penuh dengan kehadiran jemaah semasa solat isyak dan tarawih. Sehinggakan kedudukan saf di antara lelaki menjadi bersebelahan dengan saf orang perempuan. Namun terdapat tirai penghadang di antara kedua saf tersebut. Adakah sah solat dalam keadaan begini ?

Jawapan :

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah S.W.T. Selawat dan salam Kami panjatkan ke atas junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W, para isteri dan keluarga baginda, para sahabat, seterusnya golongan yang mengikuti jejak langkah baginda sehingga hari kiamat.

Para fuqaha membahagikan isu solat orang lelaki bersebelahan dengan orang perempuan ini kepada beberapa keadaan yang berikut:

Keadaan Pertama: Solat orang lelaki bersebelahan dengan orang perempuan dengan imam yang sama.

Dalam kes ini, para fuqaha berpendapat bahawa solat tersebut adalah sah bagi kedua-dua lelaki dan perempuan namun hukumnya adalah makruh. Ini kerana, yang sunnahnya adalah orang perempuan solat di belakang orang lelaki. Manakala bagi Imam Abu Hanifah, kedudukan tersebut menyebabkan solat orang lelaki itu terbatal sekiranya tidak ada penghadang di antara keduanya. Namun, sekiranya terdapat pembatas, maka Imam Abu Hanifah berpendapat selari dengan jumhur fuqaha yang menyatakan ianya tidak merosakkan solat.

Keadaan Kedua: Solat orang lelaki bersebelahan dengan orang perempuan namun solat secara berasingan.

Ini bermaksud, solat yang dilakukan ini dilakukan secara sendiri-sendiri tanpa mengikut imam. Akan tetapi, ia berlaku secara bersebelahan di antara lelaki dan perempuan. Sebagai contoh, dalam satu ruangan yang mana seorang lelaki dan perempuan yang selesai berjamaah, kemudian keduanya berdiri menunaikan solat sunat secara bersendirian namun dilakukan bersebelahan. Adakah batal solat salah seorang dari keduanya. Berikut kami kongsikan beberapa pendapat fuqahaberkenaan isu ini:

Kata Imam Al-Nawawi Rahimahullah: Apabila seorang lelaki mengerjakan solat dan di sebelahnya terdapat seorang perempuan, maka tidak batal solatnya dan solat perempuan tersebut. Sama ada dia seorang imam ataupun makmum. Inilah mazhab kita (Al-Syafi’eyyah) dan inilah juga pendapat Imam Malik dan kebanyakan ulama. Dan Imam Abu Hanifah berkata: Sekiranya perempuan tersebut bukan dalam keadaan sedang bersolat, atau dia di dalam solat yang tidak bercampur (solat bersendirian) dengan solat lelaki tersebut, maka sah solat lelaki itu dan sah juga solat wanita tersebut. Sekiranya wanita itu menyertai solat lelaki tersebut (solat bersama), dan dia berdiri di sebelah lelaki, maka batallah solat orang yang berada di sebelah perempuan tersebut. Namun solat perempuan itu tidak batal dan begitu juga solat orang yang berikutnya kerana di antara keduanya terdapat penghadang.  Rujuk Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, Al-Nawawi (3/231).

Imam Al-Nawawi juga berhujah dengan menggunakan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah A’isyah R.anha beliau berkata:

وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي، وَإِنِّي عَلَى السَّرِيرِ ـ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ ـ مُضْطَجِعَةً 

Maksudnya: Demi Allah sesungguhnya aku telah melihat Nabi S.A.W sedang menunaikan solat, dan aku berada di atas katil – di antara baginda dan kiblat – dalam keadaan aku berbaring.

Riwayat Al-Bukhari (514)

Kata Imam Al-Nawawi: Sekiranya solat tidak terbatal dalam keadaan A’isyah tidak melakukan ibadah maka sekiranya dia sedang beribadah maka itu adalah lebih utama (tidak batal). Rujuk Al-Majmu’, Al-Nawawi (3/252).

Kenyataan Imam Al-Nawawi ini menjelaskan perbezaan pendapat berkenaan isu orang perempuan berada di hadapan orang lelaki semasa solat. Di dalam kes ini, A’isyah yang sedang berbaring berada di hadapan Nabi S.A.W yang sedang solat. Justeru, ini menunjukkan bahawa solat Nabi S.A.W tidak terbatal dengan keberadaan A’isyah di hadapan baginda. Maka, demikianlah juga seorang lelaki yang sedang solat dan di sebelahnya juga terdapat seorang perempuan yang sedang bersolat. Qiyas digunakan bahawa sekiranya perempuan yang tidak melakukan ibadah tidak membatalkan solat orang lelaki, adalah lebih utama jika dia sedang solat maka turut tidak membatalkan solat orang lelaki.

Kesimpulan

Setelah kami mengemukakan beberapa hujah dan pandangan para fuqaha di atas, kami cenderung kepada pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahawa solat seorang lelaki bersebelahan dengan orang perempuan dengan terdapatnya tirai penghadang adalah tidak membatalkan solat. Bahkan Imam Abu Hanifah juga bersetuju dengan pandangan ini. Lebih-lebih lagi melihat kepada keadaan surau yang sempit dengan kehadiran jemaah yang begitu ramai hadir untuk menunaikan solat tarawih pada bulan Ramadan. Semoga Allah S.W.T memberikan kita kefahaman yang jelas dalam beragama. Ameen.

Sumber:
Mufti Wilayah Persekutuan
https://muftiwp.gov.my/ms/artikel/al-kafi-li-al-fatawi/765-al-kafi-641-sahkah-solat-orang-lelaki-apabila-bersebelahan-dengan-saf-orang-perempuan

28/01/2020 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Comments Off on SAHKAH SOLAT ORANG LELAKI APABILA BERSEBELAHAN DENGAN SAF ORANG PEREMPUAN TETAPI DI PISAHKAN DENGAN PENGHADANG ATAU TABIR.

Tangisan Rasulullah Membasahi Tanah

  1. Saidina al-Bara’ menceritakan bahawa beliau pernah menguruskan jenazah bersama Rasulullah. Rasulullah duduk ditepi kubur dan menangis bersungguh sehingga air matanya membasahi tanah. Lalu Baginda berpesan kepada para sahabat:

يا إخواني لمثل هذا فأعدوا

“Wahai saudara-sadaraku, beginilah kita nanti (iaitu akan dikebumikan ke dalam tanah), maka lakukanlah persediaan.” (HR Ibn Majah)

  1. Atas dasar itu Allah sentiasa mengingatkan kita agar jangan terlalu leka dengan kehidupan dunia sehingga gagal mempersiapkan diri untuk akhirat. Firman Allah:

يَا أَيٌّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعدَ اللَّهِ حَقُّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدٌّنيَا

“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar, janganlah kamu terpedaya dengan kehidupan dunia.”

  1. Seorang lelaki Ansar pernah bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling bijak. Rasulullah lantas menjawab:

أكثرهم ذكراً للموت وأشدهم استعدادا له، أولئك هم الأكياس ذهبوا بشرف الدنيا وكرامة الآخرة

“Mereka yang paling banyak mengingati mati dan bersedia untuk kehidupan setelah kematian, mereka itulah orang yang paling bijak. Mereka memperoleh kemuliaan didunia dan akhirat.” (HR Ibn Majah)

  1. Dengan sebab itu Sheikh Abu Ali al-Daqqaq berpesan, bahawa mengingati mati akan menghidupkan jiwa manusia bahkan memberikan tiga kelebihan. Kata beliau:

من أكثر من ذكر الموت أكرم بثلاثة أشياء: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة

“Barangsiapa yang banyak memperingati mati akan dimuliakan dengan tiga perkara iaitu: (1) dia akan menyegerakan taubat, (2) mengingati mati menenangkan jiwa dan (3) akan menggalakkan manusia untuk lebih beribadah.

  1. Andai seorang itu sentiasa mengingati mati, adakah ada masa buat dirinya untuk memikirkan maksiat. Adakah dia sedar bahawa Malaikat Maut boleh datang dalam keadaan dia melakukan dosa? Dengan sebab itu Saidina Ali pernah berkata:

الناس نيامٌ، فإذا ماتوا انتبهوا

“Manusia semuanya seakan tidur, mereka hanya akan sedar ketika kematian sampai kepada mereka.” (Abu Nu’aim, Hilyah)

Dr. Ahmad Sanusi Azmi

23/01/2020 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

” Buya Hamka : Saya Qunut Subuh dan Ikut Maulid Setelah Baca 1000 Kitab “…

Sewaktu baru pulang dari Timur Tengah, Prof. DR. Buya Hamka, seorang tokoh dan seorang pembesar ormas Muhammadiyyah, menyatakan bahwa Maulidan haram dan bid’ah tidak ada petunjuk dari Nabi Saw., orang berdiri membaca shalawat saat Asyraqalan (Mahallul Qiyam) adalah bid’ah dan itu berlebih-lebihan tidak ada petunjuk dari Nabi SAW

Begitu juga sewaktu muda Buya Hamka juga dengan tegas menyatakan bahwa Qunut dalam sholat subuh termasuk bid’ah tidak ada tuntunanya dari Rasulullah Saw sehingga Buya Hamka tidak pernah melakukan Qunut dalam sholat subuhnya.

Tetapi ketika Buya Hamka sudah tua, beliau berkenan menghadiri acara Maulid Nabi Saw saat ada yang mengundangnya. Orang-orang sedang asyik membaca Maulid al-Barzanji dan bershalawat saat Mahallul Qiyam, Buya Hamka pun turut serta asyik dan khusyuk mengikutinya.

Begitu juga ketika menginjak usia tua beliau tiba tiba membaca doa Qunut dalam sholat subuhnya.

Lantas para muridnya bertanya: “Buya Hamka, dulu sewaktu Anda masih muda begitu keras menentang acara-acara seperti itu termasuk membaca Qunut dalam sholat subuh namun setelah tua kok berubah?”

Dijawab oleh Buya Hamka: “Iya, dulu sewaktu saya muda kitabnya baru satu. Namun setelah saya mempelajari banyak kitab, saya sadar ternyata ilmu Islam itu sangat luas dulu saya baru baca satu kitab namun sekarang saya sudah baca seribu kitab

Diceritakan oleh KH. Zuhrul Anam mendengar dari gurunya, Prof. DR. As-Sayyid Al-Habib Muhammad bin Alwi al- Maliki Al-Hasani, dari gurunya Al-Imam Asy-Syaikh Said Al-Yamani beliau mengatakan:

اذازاد نظر الرجل واتسع فكره
قل انكاره على الناس “

Jikalau seseorang bertambah ilmunya dan luas cakrawala pemikiran serta sudut pandangnya, maka ia akan sedikit menyalahkan orang lain”

Maka semakin gemar menyalahkan orang lain menunjukkan semakin bodoh dan semakin dangkal ilmunya, semakin tinggi ilmu seseorang maka akan semakin tawadhu ( rendah hati ), carilah guru yang tidak pernah menyalahkan orang lain dan tidak mudah mengkafirkan siapapun.

Hal ini sama seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk, itulah peribahasa yang sering kita dengar. Yang memiliki arti, orang berilmu yang semakin banyak ilmunya semakin merendahkan dirinya. Tanaman padi jika berisi semakin lama akan semakin besar. Jika semakin besar otomatis beban biji juga semakin berat.

Jika sudah semakin berat, maka mau tidak mau seuntai biji padi akan semakin kelihatan merunduk (melengkung) kearah depan bawah. Karena batang padi sangat pendek, strukturnya berupa batang yang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang. Jadi tidak sebanding dengan beban berat biji padi yang semakin lama semakin membesar. Berbeda dengan biji padi yang kosong tidak berisi, walaupun kelihatan bijinya berbuah banyak karena tidak berisi maka seuntai biji padi tersebut akan tetap berdiri tegak lurus .

Wallahu a’lam .
AL-FATIHAH .

Ustadz Mohd Fadhil Mohd Sayuti .

21/01/2020 Posted by | Bersama Tokoh | | Leave a comment

Kekeliruan Liberal Tentang Hukum Murtad

  1. Kumpulan bekas penjawat awam kanan, G25 mengkritik undang-undang murtad, dengan mengatakan bahawa keputusan seorang Muslim untuk keluar agamanya adalah perkara antara individu itu dengan Tuhan. Menurut laporan FreeMalaysiaToday, mereka menyatakan bahawa tiada hukuman yang diperuntukkan di dalam al-Quran.
  2. Ini adalah kekeliruan yang jelas oleh golongan yang berfikiran liberal yang memperjuangkan hak kebebasan individu. Hukuman murtad ini telah termaktub di dalam al-Quran dan hadith. Sarjana Muslim berhujah dengan ayat 74 dari Surah al-Taubah yang menjelaskan bahawa mereka yang kafir akan dikenakan azab di dunia. Menurut al-Imam Ibn Kathir, “azab di dunia” yang dimaksudkan ini adalah (mereka yang murtad) akan dihukum bunuh di dunia. Al-Imam al-Tabari dan al-Qurtubi turut memberikan makna yang sama seperti ini.
  3. Di dalam hadith pula, hukuman terhadap murtad sangat jelas. Rasulullah bersabda:

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

“Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah dia.” (HR al-Bukhari)

  1. Hukuman ini pernah dilaksanakan secara praktikal di zaman Rasulullah. Rasulullah mengutuskan Abu Musa al-Asy’ari dan Muaz bin Jabal sebagai pemerintah di Yaman. Apabila Muaz tiba di Yaman, dia diadukan tentang seorang Yahudi yang murtad. Mendengar perkara ini, Muaz lantas berkata:

لا أجلس حتى يقتل، قضاء الله ورسوله ـ ثلاث مرات ـ فأمر به فقتل

“Aku tidak akan duduk sehinggalah dia dibunuh atas hukuman yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul. Maka lelaki tersebut diperintahkan agar dibunuh. (HR al-Bukhari).

  1. al-Imam al-Darqutni pula meriwayatkan kisah di mana seorang perempuan telah murtad di zaman Rasulullah. Perkara ini diceritakan oleh Jabir ibn Abdullah. Kata beliau:

أنَّ امرأة يُقال لها أُم مروان ارتدت فأمر النبي صلى الله عليه وسلَّم بأنْ يُعرَض عليها الإسلام فإنْ تابت وإلا قتلت، فأبت أنْ تُسلِم فقتلت

“Seorang wanita dikatakan Namanya Ummu Marwan telah murtad di zaman Rasulullah. Maka Rasulullah mengarahkan agar diajak (dan diterangkan kepadanya) tentang Islam. Sekiranya dia bertaubat (maka akan dilepaskan) dan sekiranya tidak maka dia akan dibunuh. (Apabila diajak kembali kepada Islam), perempuan tersebut engkar lalu dia dibunuh. (HR al-Darqutni dan al-Bayhaqi).

  1. Hukuman bunuh ke atas murtad ini adalah hukum yang ditentukan di dalam al-Quran dan hadith. Rasulullah, para sahabat serta pemerintah Islam di zamannya turut mengamalkan perundangan yang sama.
  2. Mempertikaikan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul adalah refleksi kepada keimanan kita terhadap Allah dan Rasul ini.

Semoga Allah membimbing kita semua.

Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

16/01/2020 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | | Leave a comment

Nak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi? Imam Syafie dengan Nabi siapa lagi mulia?”

*SOAL JAWAB MELALUI WHATSAPP PAGI INI*

Moga2 ada manfaat… 👇🏼👇🏼👇🏼

[16/01, 8:47 am] MC 8690 *** “Nak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi? Imam Syafie dengan Nabi siapa lagi mulia?”

“Hadis dah lengkap kenapa nak pakai mazhab lagi?”

Ini adalah antara ayat ayat yang keluar dari mulut orang yang kononnya bukan Muqallid dan bukan Mujtahid tetapi disebabkan mahu nampak sedikit gah. Diciptakan satu istilah baru “Muttabeq” namanya

Satu permasaalahan apabila ditanya kamu bermazhab apa? Saya bermazhab Al Quran dan Hadis sepertimana Sahabat nabi tak memerlukan kepada Imam Mujtahid seperti itu jugalah saya.

Sebenarnya, walaupun dicipta istilah “Muttabeq” sekalipun ia masih lagi dihukumkan “Muqallid” kerana selagi seseorang itu tidak mencapai martabat “Mujtahid Mutlak” wajib atasnya untuk mengikut Imam imam mazhab yang empat.

Wajib juga atas kita mengakui bahawa Rasulullah adalah makhluk yang paling mulia. Mana sama martabat Imam Syafie dengan Rasulullah. Tetapi Imam Syafie adalah seorang Mujtahid Mutlak. Sehinggakan ada ulama menyebut seorang Mujtahid Mutlak adalah orang tidak ada satupun Hadis Rasulullah atas muka bumi ini tidak ada didalam dadanya melainkan semuanya telah dia hafal. Ini adalah tahap keilmuaan seorang Mujtahid Mutlak. Ikut mazhab itu adalah mengikut Nabi.

Mazhab adalah rumusan kefahaman Al Quran dan Hadis yang telah disiapkan oleh Ulama. Mereka adalah insan yang lengkap serba serbi ilmu. Bersangat sangatan Alimnya. Mereka tahu bagaimana hendak proses Al Quran dan Hadis sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Kita orang awam. Tak ada perkakasan.

Satu contoh misalan. Tayar kereta kita pancit. Adakah kita perlu pergi ke Kebun Getah, ambik getah skrap untuk buat tayar? Dengan perkakasan tak ada, rasanya ini satu kerja gila. Paling mudah adalah dengan beli sahaja Tayar dikedai Tayar. Walaupun orang yang ada 100 ekar ladang getah. Masih lagi beli tayar dikedai, tidak diprosesnya getah skrap untuk dibuat tayar sendiri.

Al Quran dan Hadis adalah bahan mentah. Kita orang awam tak ada perkakasan ilmu yang lengkap seperti Para Imam Mujtahid. Adakah kita mahu membuat kerja gila dengan memproses Al Quran dan Hadis mengikut Keterbatasan ilmu yang kita ada? Ini adalah punca kesesatan. Menggunakan Al Quran dan Hadis yang mentah sebagai “Buffet” aci main petik, petik, petik, ayat mana yang sesuai dengan Nafsu ambik jadikan hujjah dan ayat mana tak kena dengan nafsu cari ayat Al Quran lain atau Hadis lain untuk mengiyakan perbuatannya. Ini punca kesesatan. Nauzubillahiminzalikh.

Para sahabat dahulu tidak mempunyai mujtahid mutlak kerana segala permasalahan hukum hakam terus ditanyakan kepada Rasulullah.

Kaedah kita, Mazhab yang dah dirumuskan itulah adalah merupakan rumusan kefahaman Al Quran dan Hadis. Pesan Tok Guru, “Ikut mazhab itu ikut nabi la” tidak perlu menunjuk handal kononnya pakai mazhab yang menggunakan hadis shoheh sahaja. Antara kamu dengan Imam Syafie siapa lebih alim Hadis? Siapa lebih banyak menghafal hadis? Kamu atau Imam Syafie?

Jadilah seperti salah seorang pakar hadis malaysia Tuan Guru Wan Izzuddin atau lebih mesra dengan panggilan Pak Anjang Izzuddin. Pengalaman admin dan rakan rakan mengziarahi beliau di pondoknya Gajah Mati, tidak ada langsung kalam kalamnya yang kontradik dengan ulama ulama melayu yang lain. Walaupun bergelar seorang Muhaddith dan Musnid.

-Admin QF Nuuri-

[16/01, 8:48 am] MC 8690 *** Salam Ustaz,
Muttabeq ni apa?

[16/01, 9:20 am] ENGKU AHMAD FADZIL ALI: متبعNak pakai Imam Syafie atau nak pakai Hadis Nabi? Imam Syafie dengan Nabi siapa lagi mulia?”
Adalah اسم فاعل kata nama pembuat bagi perbuatan اتبع، يتبع yang bererti “mengikut”.

Jadi muttabi’ ertinya 👇🏼
“Orang yang mengikut”.

Kononnya ia adalah satu kedudukan antara “muqallid” (orang yang ikut fatwa ulama tanpa tahu dalil) dan “mujtahid” (ulama yang mampu berinteraksi dengan dalil2 menggunakan kaedah2 bagi mengeluarkan hukum).

Jadi kononnya oleh kerana muttabi’ tahu dalil2 yang digunakan oleh mujtahid dalam berfatwa maka mereka tak perlu bertaqlid kepada fatwa mujtahid tetapi boleh memilih mana fatwa yang kuat dalil2nya untuk diikuti.

Ini sangkaan yang keliru dan bathil kerana yang boleh menilai kekuatan dalil adalah para mujtahid.

Oleh itu orang-orang yang kononnya muttabi’ ini sebenarnya masih lagi tahap muqallid kerana mereka sebenarnya tidak memenuhi syarat2 mujtahid. Sekadar tahu dalil2 ulama tidak menjadikan seseorang itu mujtahid. Oleh kerana mereka muqallid, wajib mereka bertaqlid kepada fatwa2 ulama-ulama yang mujtahid dan bukan berlagak pandai kononnya menimbang antara pandangan2 ulama mana yang kuat dalil2nya, padahal mereka BUKAN ahli dalil, hanya sekadar tahu sebahagian dalil2 ulama.

Wallaahu ta’aala a’lam.

USTAZ ENGKU AHMAD FADZIL

16/01/2020 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

Seumpama genggam bara api Memperjuang kehidupan beragama, pegang ajaran Islam

1. RASULULLAH pernah berpesan kepada para sahabat, bahawa akan tiba satu masa nanti, orang yang berpegang teguh dengan agama Islam ini berada dalam keadaan yang sukar sehingga mereka disifatkan sebagai menggenggam bara api. Sabda Rasulullah:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan datang satu zaman, mereka yang bersabar (dalam berpegang kepada Agama) adalah seumpama mereka yang menggenggam bara api.” (HR al-Tirmizi)

2. Bahkan di dalam hadith yang lain, Rasulullah menjelaskan bahawa Islam akan dilihat asing, mereka yang berpegang teguh pada ajaran Islam semakin sedikit dan dilihat aneh. Sabda Rasulullah:
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيباً، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً، فَطُوبى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam bermula sebagai asing (sesuatu yang dianggap asing dan ganjil). Dan ia akan kembali sebagaimana permulaannya, dianggap asing dan ganjil. Maka, beruntunglah orang-orang yang ganjil” (HR Muslim)

3. Ketika menghuraikan hadith ini, al-Imam al-Nawawi menjelaskan bahawa, mereka yang benar-benar berpegang kepada ajaran Islam akan dilihat asing dan semakin sedikit seperti permulaannnya dahulu. Bahkan mereka dianggap aneh dan pelik, tidak selari dengan perkembangan semasa, malah dilihat kolot atau ekstremis.

4. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang dimaksudkan dengan asing tersebut? Lalu Rasulullah menjawab:
الذين يصلحون حين فساد الناس
(Yang dilihat asing tersebut adalah) mereka yang cuba melakukan Islah (pembaikan) ketika mana rosaknya manusia. (HR Tabrani)

5. Hari ini kerosakan dalam agama banyak yang berlaku. Sebahagian muslim melihat tidak mengapa dengan ‘dosa peribadi’, mengambil ringan isu LGBT, merasakan tidak mengapa dengan arak, bahkan menolak hukuman murtad yang dianggap keras atau mundur.
6. Manakala mereka yang bersungguh berpegang dengan sunnah dan mempertahankan Islam untuk memperbaiki masyarakat pula yang dianggap pelik, kolot, tidak progresif bahkan bercanggah dengan kemajuan.
7. Begitulah sunnah dalam memperjuangkan kehidupan beragama, berpegang dengan ajaran Islam.

Semoga Allah menyatukan hati-hati umat Islam dalam berhadapan dengan golongan liberal yang merosakkan agama.

Semoga Allah membimbing kita.

Oleh: Nurul Atikah

(Sumber: Penafian: Artikel ini adalah pandangan peribadi penulis dan tidak mewakili pendirian rasmi Media Isma Sdn Bhd atau Portal Islam dan Melayu Ismaweb.net.)

14/01/2020 Posted by | Politik dan Dakwah | , | Leave a comment

Teguran Rasulullah Buat Ahli Masjid

Foto Hiasan

1. Dalam sebuah hadith, Rasulullah pernah berpesan bahawa akan datang satu masa nanti, manusia kelihatan solat di masjid tetapi mereka sebenarnya tidak beriman. Sabda Rasulullah:

يأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَجْتَمِعُونَ وَيُصَلُّونَ فِي الْمَسَاجِدِ وَلَيْسَ فِيهِمْ مُؤْمِنٌ

“Akan datang pada manusia satu zaman (dimana) mereka berkumpul dan menunaikan solat di masjid, tetapi tidak ada dikalangan mereka pun yang beriman.” (HR al-Hakim)

2. Hadith ini mengingatkan kepada kita bahawa mereka yang datang ke masjid ini seharusnya memberikan fokus kepada urusan keimanan dan meninggalkan dunia. Jangan ada yang ke masjid, tetapi hati masih terpaut pada dosa dan dunia. Rasulullah pernah bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَجْلِسَ النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ لَيْسَ فِيهِمْ مُؤْمِنٌ حَدِيثُهُمُ الدُّنْيَا

“Tidak akan datangnya hari kiamat sehinggalah manusia duduk di dalam masjid dan tiada dikalangan mereka pun yang beriman bahkan bicara mereka hanyalah berkenaan dengan dunia sahaja.” (HR al-Hakim, Ibn Abi Syaibah)

3. Hati yang terpaut dengan dosa akan mengikis keimanan di dalam jiwa. Atas sebab itu Rasulullah menegaskan bahawa mereka yang melakukan dosa seolah-olah mereka itu tidak beriman. Sabda Rasulullah:

لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah seorang yang berzina itu dia berzina dalam keadaan dia beriman. Dan tidaklah seorang yang minum arak itu, ketika dia minum arak dia berada dalam keadaan beriman.” (HR al-Bukhari)

4. Menurut al-Imam Ibn Hajar, hadith ini menafikan keimanan seseorang ketika mereka sedang melakukan dosa. Iaitu ketika seseorang melakukan dosa atau hati berpaut pada dosa, keimanan mereka berada dalam tahap yang sangat rendah, atau barangkali tiada.

5. Atas sebab itu Rasulullah mengingatkan kepada kita agar membersihkan jiwa ketika datang ke masjid. Datang ke masjid dengan aqidah yang benar, bukan terpesong atau terkeliru dengan pemikiran liberal yang merosakkan seperti hari ini. Berikan tumpuan terhadap perkara keimanan dan urusan yang utama buat umat Islam.

Semoga Allah membimbing kita

Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

14/01/2020 Posted by | Tazkirah | , | Leave a comment

Jual Beli Air hukum nya Haram

Ramai yang tahu bahawa benda atau barangan haram, haram dijual beli. Tetapi ramai yang tidak tahu, jual beli air juga adalah haram. Jadi, sesiapa yang menjual air maka dia menerima pendapatan haram.

Seperti juga menjual barangan curi, adalah hasilnya dia mendapat pendapatan haram. Biawak adalah haram, maka sesiapa yang menangkap biawak dan menjual biawak itu, maka dia mendapat hasil haram.

Walau bagaimanapun, jika semua benda dan barangan haram itu ditukar kepada menjual perkhidmatan, maka hasilnya adalah halal. Contoh, seorang petani menangkap ular, dia matikan dan samak, kemudian kulitnya dijual kepada pengusaha kasut atau bag. Maka ketika itu dia menjual perkhidmatan.
Begitu juga dengan air, dia salurkan air, dan dibersihkan air itu dan kemudian dibotolkan, kemudian dijual. Maka ketika itu dia dikatakan menjual perkhidmatan. Hasilnya adalah halal.

Belajarlah fiqah nanti menjadi kaya ilmu.

FB Ustaz Ahmad Baei

11/01/2020 Posted by | Fiqh, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | | Leave a comment

Menjawab Anggapan “Semua Agama Adalah Sama”

Tidak sedikit orang berkata “Semua agama sama”. Dewasa ini ucapan seperti ini kerap kali disebut dikalangan masyarakat samada dari kalangan bukan Islam atau di kalangan muslim sendiri.

Fahaman sebegini sebenarnya adalah fahaman yang baru dan ia tidak berlaku pada zaman dahulu. Ia muncul dari dua kelompok iaitu golongan apatisme dan juga golongan pluralis liberalisme.

Golongan apatisme adalah golongan yang tidak (atau malas?) berfikir tentang agama dan mereka hanya fokus kepada hal keduniaannya sahaja dan mereka bukanlah orang yang berlatar belakang memahami kerangka agama. Kebanyakkan dari kalangan mereka hanya bercakap berdasarkan andaian mereka sahaja. Jika ditanya kepada mereka adakah mereka sudah membaca kesemua kitab agama dan memahami semua agama sehingga mencapai konklusi bahawa semua agama adalah sama? Sudah tentu tidak, melainkan ia adalah ucapan dari andaian dan sikap yang malas berfikir tentang ketuhanan.

Manakala golongan pluralisme pula mereka membawa metod hak kebebasan melangkaui agama. Mereka meletakkan elemen simpati (hak kebebasan dan pembelaan kepada manusia) yang Tuhan tidak akan menghukum manusia di atas perbezaan itu. Bagi mereka terjadinya agama-agama di dunia ini juga merupakan kehendak Tuhan dan tidak salah untuk mereka beragama kerana kesemuanya akan menuju kepada Tuhan yang sama kerana semuanya adalah ciptaan Tuhan.

Ternyata fahaman ini tidak memahami realiti kronologi agama itu sendiri. Sememangnya Tuhan menurunkan agama tetapi hanya terdapat satu-satunya agama yang Tuhan redhai. Fahamkah kita bagaimana sikap orang mengubah-ubah ajaran agama Tuhan itu sehingga menjadi sebuah ajaran yang jauh menyimpang dari ajaran asal? Adakah bila terdapat seorang penipu yang terkenal mendakwa dirinya adalah seorang rasul dan dia membawa agama. Tergamakkah ingin mengatakan bahawa agama yang dia bawa itu juga diredhai oleh Tuhan walau sudah jelas dia adalah menipu? Sudah tentu tidak.

Islam Satu-Satunya Agama Dijamin Tuhan

Al Quran adalah kitab wahyu dari Tuhan yang bebas dari penyelewengan. Seluruh dunia membaca versi al Quran yang sama. Ia adalah wahyu yang terakhir membimbing manusia akhir zaman. Tidak ada satu pun kitab agama sebelum al Quran yang memiliki ayat jaminan bahawa ia adalah satu-satunya agama diredhai oleh Tuhan kecuali di dalam al Quran.

Allah berfirman yang bermaksud:

“Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.” (Surah Ali Imran: 19)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Surah Ali Imran: 85)

Adalah pelik jika seorang muslim boleh mengungkap kata-kata bahawa semua agama adalah sama. Malah jika diperhatikan di dalam al Quran, Allah menceritakan keadaan ahli kitab dikalangan Yahudi dan Kristian serta orang-orang yang menyembah berhala, setelah dibentangkan bukti dan kebenaran dihadapan mereka dan jika mereka menolak, mereka akan dibalas dimasukkan ke dalam neraka:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik itu akan ditempatkan di dalam neraka Jahannam, kekallah mereka di dalamnya. Mereka itulah sejahat-jahat makhluk.” (Surah al Bayyinah: 6)

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud:

“Demi zat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya. Tiada seorang-pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi mahupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka”. (Hadits Riwayat Muslim no.153 dalam kitabul Iman)

Lebih Teruk Dari Arab Jahiliyyah

Jika dilihat di dalam sejarah, ungkapan “semua agama adalah sama” ini tidak pernah diungkap oleh orang-orang terdahulu. Jika mahu dibandingkan dengan sikap orang arab Jahiliyyah pun tidak mengungkap perkataan itu kerana mereka tahu terdapat perbezaan diantara agama mereka dengan agama yang dibawa oleh nabi Muhammad.

Jika tidak mereka tidak akan menentang dakwah nabi Muhammad. Malah antara tawaran yang mereka berikan kepada Nabi Muhammad dengan harapan untuk ‘meredakan’ usaha dakwah nabi adalah dengan dibahagikan selang sehari bertukar-tukar tuhan untuk disembah. Contoh pada hari ini, mereka menyuruh nabi Muhammad bersama mereka untuk menyembah tuhan mereka manakala keesokan hari pula mereka semua akan menyembah Allah dan begitu bergilir kepada hari berikutnya.

Hasil dari itu turunlah surah al Kafiruun yang menerangkan bahawa masing-masing tidak menyembah tuhan yang sama dan masing-masing tidak beribadat dengan cara yang sama, agamamu untukmu dan agamaku untukku.

Ini menunjukkan sejahil orang arab jahiliyyah juga memahami bahawa terdapat perbezaan diantara agama yang mereka anut dengan agama yang dibawa oleh nabi Muhammad. Akan tetapi pada hari ini begitu boros sekali ungkapan ini kerap disebut oleh orang muslim yang sudah jelas kepada mereka tentang ajaran al Quran yang memisahkan diantara kebenaran dan kebatilan.

Kesimpulan

Perkataan “semua agama sama” adalah kalimah yang tidak patut menjadi ucapan dikalangan masyarakat yang beragama. Kerana jika diambil sikap sebegitu hakikatnya ia adalah sikap seorang tidak beragama langsung.

Ada beza diantara perkataan “Semua agama menganjurkan berbuat baik” dengan “Semua agama membawa ke syurga”. Jika perkataan pertama itu ia boleh dibincangkan lagi akan tetapi jika perkataan “Semua agama menyembah Tuhan yang sama, atau semua agama menuju ke syurga” itu adalah ucapan seseorang yang tidak memahami agama langsung. Jika seseorang itu beragama dan percaya kepada keimanan ajarannya pasti tidak akan terkeluar perkataan ini kerana realitinya tidak sebegitu.

Malah hal ini juga pasti diakui oleh penganut agama lain mengikut kepercayaan mereka bahawa agama mereka juga tidak sama dengan agama lain. Malah dengan wujudnya perbezaan itu tidak semestinya tidak boleh bertoleransi. Ia adalah soal keimanan yang masing-masing memiliki keyakinan dan hujah. Maka persembahkanlah hujah itu jika kita berada di pihak yang benar seperti dianjurkan oleh al Quran:

Katakanlah “Bawalah kemari keterangan-keterangan yang (membuktikan kebenaran) apa yang kamu katakan itu, jika betul kamu orang-orang yang benar”. (Surah al Baqarah: 111)

Sumber: R & D Team Multiracial Reverted Muslims

April 21, 2019

11/01/2020 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Amalan Penghindar Azab Kubur

AGAMA sering mengingatkan kita agar mencari ilmu sebagai persediaan untuk menyiapkan diri menghadapi saat kita berseorangan di alam barzakh nanti. Rasulullah SAW mengajar kita untuk melakukan beberapa amalan sewaktu hidup di dunia ini yang dapat menghindarkan diri kita daripada terkena azab kubur.

Perkara pertama ialah sentiasa berbuat baik kepada kedua ibu bapa kita dan ia merupakan amalan terbaik untuk mengelakkan diri daripada azab kubur. Malah berbuat baik kepada ibu dan bapa mertua juga merupakan sebahagian daripada tuntutan amalan ini. Rasulullah SAW juga menyebut: “Keredhaan Allah dibawah keredhaan kedua ibu bapa kamu, kermurkaan Allah dibawah kemurkaan kedua ibu bapa kamu.” Beruntunglah mereka yang mengambil kesempatan untuk berbuat baik kepada kedua ibu bapa selagi mereka masih ada.

Amalan kedua ialah membiasakan diri di dalam keadaan sentiasa berwuduk. Kesucian yang ada pada diri seseorang bukan hanya pada zahirnya sahaja, tetapi juga dalam keadaan berwuduk. Amalan ini sering dilakukan oleh Bilal bin Rabah RA, sebagaimana yang terdapat di dalam hadis Rasulullah SAW: “ Aku berjalan di dalam syurga sewaktu peristiwa israk dan mikraj, aku kedengaran telapak kaki yang mengikuti di belakang ku. Kala mana aku berjalan di belakang ku ini, setelah kedengaran bunyi telapak kaki itu, aku bertanya kepada Jibril siapakah yang berjalan di belakang ku ini?. Malaikat Jibril AS menjawab itulah Bilal bin Rabah.” Lalu apabila Rasulullah SAW turun selepas peristiwa israk dan mikraj, Baginda bertanya kepada Bilal, “Amalan apakah yang kamu kerjakan sehinggakan ketika di dalam syurga apabila berjalan kemana-mana sekalipun, kedengaran bunyi tapak kakimu?”. Bilal menjawab tiada amalan yang terbaik dilakukannya. Baginda meminta agar Bilal benar-benar meneliti pekara yang dilakukannya, lalu Bilal memberitahu bahawa dia sentiasa berwuduk dan sentiasa memperbaharui wuduknya sekiranya terbatal, dan selepas itu melakukan solat sunat dua rakaat. Kemudian Rasululullah menyatakan bahawa amalan itulah yang menyebabkan telapak kaki Bilal kedengaran di mana-mana di dalam syurga Allah.

Selain itu, Ustaz Ahmad Dusuki Abd. Rani di dalam slot Mau’izati yang ke udara setiap Khamis jam 5.15 petang di IKIMfm berkongsi amalan ketiga yang perlu dijaga untuk mengelakkan diri daripada azab kubur ialah memperbanyakkan zikir kepada Allah SWT, dan ia juga akan menyebabkan hati kita berada di dalam keadaan tenang. Zikir merupakan nyawa kepada diri selepas berada di dalam kubur nanti. Abu Hurairah RA sentiasa berzikir dan tidak akan tidur selagi beliau tidak menghabiskan zikir Subhanallah, Alhamdulillah, wa La ila haillallah wallahu akbar sebanyak 17,000 kali sehari. Zikir merupakan pelindung kepada diri di dalam menjalani kehidupan seharian seperti zikir sebelum makan, ketika memulakan perjalanan, untuk menjaga ahli keluarga dan sebagainya yang telah disusun oleh para alim ulama’, malah ia merupakan pelindung daripada azab kubur.

Amalan keempat yang perlu dilakukan untuk menghindarkan diri daripada azab kubur ialah dengan memelihara solat dan ia merupakan soalan pertama yang akan ditanya ketika berada di hadapan Allah pada hari akhirat kelak. Rasulullah SAW menyebut: “Sesiapa yang mendirikan solat, dia sudah mendirikan agama pada jasadnya. Mereka yang meninggalkan solat, dia sudah menghancurkan agama yang ada pada dirinya.” Simbol kehambaan diri kita kepada Allah SWT ialah melalui ibadah solat dan orang yang dapat sujud kepada Allah merupakan satu nikmat yang sangat besar kepada dirinya.

Selain itu puasa wajib dan puasa sunat merupakan amalan kelima yang dapat mengelakkan diri seseorang daripada diazab di dalam kubur kerana kita akan disoal berdasarkan apa yang telah kita makan ketika hidup di dunia. Puasa juga akan menjadikan kekenyangan kepada diri ketika berada di alam kubur. Oleh itu adalah digalakkan agar umat Islam mengamalkan puasa pada hari 13, 14 dan 15 mengikut kalendar Islam setiap bulan, puasa setiap hari Isnin dan Khamis atau jika berkemampuan, diajar berpuasa sebagaimana yang diamalkan oleh Nabi Daud AS iaitu selang sehari.

Amalan keenam ialah menyegerakan mandi janabah (mandi wajib), jangan sesekali melewatkan atau menangguhkan untuk melakukannya. Kerana dengan menangguhkannya akan melewatkan diri daripada menunaikan ibadah kepada Allah SWT, dengan segera melakukannya akan membuka peluang kepada kita untuk berada di dalam keadaan yang suci dan dekat kepada Allah. Amalan ketujuh yang dapat menghindarkan azab kubur ialah dengan melaksanakan ibadah haji dan umrah. Ketika melihat orang yang pulang daripada menunaikan ibadah haji, Rasulullah SAW bersabda: “Haji yang mabrur tiada balasan kecuali syurga Allah SWT”. Di dalam hadis lain, Baginda menyebut: “Setiap kali kamu pulang daripada melaksanakan ibadah haji atau umrah, seolah-olah seperti kamu baru lahir daripada kandungan ibumu”.

Seterusnya, amalan kelapan ialah menyambungkan silaturrahim dan jangan sesekali memutuskan pertalian ini dengan bermasam muka sesama kita dan membiarkannya berlarutan selama lebih daripada tiga hari, tiga malam. Rasulullah SAW mengingatkan sesiapa yang meninggal dunia di dalam keadaan dia memutuskan silaturrahim, dia tidak akan masuk ke dalam syurga Allah. Bahkan Baginda berpesan sekiranya ingin memarahi seseorang sekalipun janganlah lebih daripada tiga hari tiga malam. Sesungguhnya setiap daripada orang mukmin itu bersaudara di antara satu sama lain.

Amalan kesembilan yang dapat menghindarkan diri daripada diazab ialah dengan melakukan sedekah. Jadikan hidup kita di dunia dalam keadaan suka menginfaqkan harta dan menggunakan peluang rezeki yang dikurniakan kepada kita ke jalan Allah. Lebih hampir seseorang dengan kematian, seharusnya lebih banyak harta yang disedekahkan. Seterusnya, amalan kesepuluh yang perlu dilakukan ialah amal makruf nahi mungkar iaitu mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan dan mencegah orang daripada melakukan kemungkaran. Ibnu Abbas menyebut: “Ada tiga amalan yang mesti diikuti dengan setiap satu amalan itu. Jika tidak dilakukan satu daripada amalan itu, maka ia tidak akan dipandang dan tidak diterima disisi Allah. Iaitu taat kepada perintah Allah dan pada masa yang sama taat kepada kedua ibu bapa dan kedua ialah amal makruf mesti disertai dengan nahi mungkar, dan ketiga kamu diajar supaya mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat.”

Rencana ini telah disiarkan dalam segmen Agama akhbar Berita Harian edisi 17 Disember 2015

03/01/2020 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

Menjelang Kiamat, Angin Lembut Dari Yaman Datang Untuk Mencabut Nyawa Orang Mukmin

Menjelang Kiamat, Angin Lembut Dari Yaman Beringsut Datang Untuk Mencabut Nyawa Orang Mukmin

kiamat

Menjelang Kiamat, Angin Lembut Dari Yaman Beringsut Datang Kemudian Ka’bah Akan Dihancurkan Lelaki Ini, Semua peristiwa tersebut akan terjadi kelak menjelang hari kiamat, dimana matahari akan terbit dari arah Barat dan disusul dengan munculnya binatang melata dari perut bumi. Munculnya matahari dari arah barat menjadi satu peringatan telah tertutupnya seluruh amal baik manusia, setelah itu muncullah binatang melata dari perut bumi yang disusul dengan berkelebatnya angin lembut yang datang dari Yaman.

Munculnya angin lembut itu bukan lain untuk mencabut nyawa orang mukmin yang masih hidup, sebagaimana sabda Rasulullah, “ Sesungguhnya Allah akan mengirim suatu angin dari arah Yaman yang lebih lembut dari sutera. Maka tidak seorang pun yang akan dia sisakan dari orang – orang yang masih ada iman di hatinya walaupun seberat biji sawi kecuali akan dia cabut rohnya.” (HR Muslim)

Angin lembut tersebut bertiup sebelum hari kiamat, yakni setelah matinya bangsa Ya’juj dan Ma’juj dimana kaum Muslimin akan hidup dalam kesejehteraan dan kemakmuran. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Nawas bin Sam’an mengenai kisah Dajjal, “Tatkala mereka hidup dalam keadaan demikian itu, Allah mengirim sebuah angin yang lembut yang mengambil mereka dan mencabut nyawa setiap orang mukmin dan muslim, sehingga yang tinggal hidup hanyalah orang – orang yang kafir. Mereka saling bermusuhan di antara satu sama lain sebagaimana keledai saling bermusuhan di antara sesama mereka. Pada mereka itulah kiamat akan terjadi.” (HR Muslim)

Setelah peristiwa datangnya angin lembut dari Yaman yang mengangkat roh orang – orang yang masih memiliki keimanan di hatinya meskipun itu hanya seberat ukuran biji sawi, maka tak ada lagi manusia yang mukmin di muka bumi ini kecuali hanyalah orang – orang kafir dan jahat yang tak lagi sudi menyebut nama Allah.

Maka tak ayal bila di kemudian hari tiada seorangpun yang dapat merawat Ka’bah ataupun menjadikannya tempat beribadah, hingga datanglah seorang lelaki botak dari Habasyah yang bernama Dzu-Suwaiqatain yang menghancurkan Ka’bah, merusak perhiasannya, melepas kiswahnya serta mengambil batunya satu persatu menggunakan sekop dan cangkul. Dan setelah pembinasaan Ka’bah itu, Baitullah tidak pernah tersisa lagi ataupun dimakmurkan oleh orang – orang yang beribadah untuk selama – lamanya hingga hari kiamat itu tiba.

Setelah Ka’bah hancur, maka kerusakan itupun merambah ke kota Madinah. Peristiwa tersebut terjadi menjelang terjadinya guncangan dahsyat yang menimpa tiga wilayah timur, barat dan Jazirah Arab. Dekat dengan meruaknya api besar dari lembah Aden Yaman yang menggiring manusia menuju mahsyar. Kota Madinah saat itu menjadi tak berpenghuni, bahkan dikatakan seluruh binatang buas termasuk anjing dan srigala turut masuk ke dalam masjid Nabawi dan kencing di tiang masjid dan mimbarnya.

Sementara mengenai munculnya api besar dari Yaman yang menggiring manusia. Rasulullah bersabda, “Dan orang yang paling akhir dikumpulkan oleh api menuju mahsyar adalah dua orang pengembala dari Muzayanah yang hendak ke Madinah dengan berteriak – teriak mencari kambingnya, kemudian ia menjumpai kambingnya yang ternyata sudah menjadi liar.” (HR Bukhari).
Hadits tersebut memuat gambaran mengenai peristiwa meninggalnya orang – orang mukmin di akhir zaman karena angin lembut, maka kondisi kota Madinah yang semula bising akan hiruk – pikuk aktivitas manusia mendadak menjadi kosong tak berpenghuni kecuali hanyalah tinggal kota mati yang ditinggali para binatang buas, bahkan tanaman dan pepohonan menjadi tumbuh sangat liat tak terurus. Hingga suatu ketika tersiar berita akan munculnya api dari hadhramaut yang menggiring manusia hingga mereka berlarian tunggang – langgang menyelamatkan dirinya dari api ganas yang terus menjalar menghabisi negeri – negeri itu.

Rasulullah mengisahkan tentang keadaan mereka tatkala itu dalam hadits Abu Hurairah :
“Manusia akan digiring dalam tiga keadaan: dalam keadaan berharap dan cemas, dua orang berkendara di atas satu unta, tiga orang di atas satu unta, bahkan sepuluh orang di atas satu unta, sedangkan orang-orang yang tersisa akan digiring oleh api, api itu menyertai mereka ketika mereka tidur malam, menyertai mereka ketika tidur siang” para rawi berkata: “dan menyertai mereka di pagi hari, juga menyertai mereka di sore hari.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa manusia akan dikumpulkan dalam tiga keadaan :

Kelompok pertama akan dikumpulkan dalam keadaan berharap dan cemas.

Kelompok kedua akan berkendara di atas unta, satu unta ketika itu akan dinaiki beramai-ramai, ada yang dikendarai dua orang, tiga orang, bahkan sepuluh orang.

Lalu bisakah hal itu terjadi?

Yakni berkendaranya banyak orang di atas satu unta?

Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mereka bergantian menaiki unta tersebut. Sebagian yang lain mengatakan bahwa pada saat itu Allah memberikan kekuatan pada unta – unta sehingga mampu melakukan hal itu. Namun tampaknya yang dimaksud bahwa hal ini menunjukkan sedikitnya kendaraan yang bisa ditunggangi saat itu sehingga mereka terpaksa mengendarai satu unta bersama – sama. (Syarh Kitabul Fitan wa Asyrathus Sa’ah min Shahih Muslim)

Kelompok ketiga akan digiring oleh api. Api tersebut tidak meninggalkan mereka sama sekali sampai tiba di padang mahsyar.

Semua manusia yang dikumpulkan pada saat itu adalah orang-orang yang paling buruk, karena kiamat tidaklah terjadi kecuali pada seburuk-buruk manusia. Rasulullah bersabda, “Tidaklah terjadi hari kiamat kecuali pada manusia-manusia paling buruk, mereka lebih buruk dari orang-orang jahiliyah, tidaklah mereka berdoa kepada Allah dengan sesuatu kecuali Allah tolak doa mereka” (HR. Muslim)

Demikian sekelumit huru – hara yang kelak akan terjadi menjelang datangnya hari kiamat. Adapun berbagai peristiwa besar lain yang masih begitu banyak termasuk munculnya Imam Mahdi, perang melawan penguasa Arab yang murtad, penaklukan Persi dan pembersihan ideologi Syiah dari Iran, penaklukan dan kekalahan Israel, penaklukan Baitul Maqdis dan pembebasan Masjidil Aqsa, terbunuhnya Dajjal dengan pedang Isa Al Masih, datangnya Ya’juj Ma’juj, dan rangkaian peristiwa lain yang tak kalah dahsyat.

Sebagaimana manusia yang beriman, tentunya kita tidak pernah tahu menahu akan kapan datangnya hari kiamat itu, sebab Allah memang sengaja merahasiakannya supaya masing – masing dari kita larut dalam mempersiapkan bekal menuju kehidupannya yang hakiki, hal inilah yang patutnya menjadikan diri kita lebih mawas diri dan berhati – hati dalam bertindak selama hidup. Bisa saja kita tidak ikut merasakan ataupun turut meyaksikan huru – hara yang kelak akan terjadi menjelang datangnya hari kiamat itu.

Namun sejatinya suatu keniscayaan yang barangkali sudah tentu akan menimpa diri kita adalah kiamat Sughro, yakni kematian. Bila barangkali kita telah melalui segenap umur kita dengan banyak dosa, maka sepatutnya pada waktu sekarang ini kita khusyu’ dan larut dalam taubat sebab di hari esok kita belum tentu masih ada di dunia ini.

Wallahu a’lam.

Sumber

28/12/2019 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

Fitnah serta melagakan-lagakan orang adalah ‘penyakit’ yang cukup berat kerana ia termasuk dalam kategori dosa besar.

Ijmak ulama mengatakan penyakit itu haram berdasarkan dalil di dalam al-Quran yang bermaksud: “Dan janganlah engkau (berkisar daripada pendirianmu yang benar dan jangan) menurut kemahuan orang yang selalu bersumpah, lagi yang hina (pendadapatnya dan amalannya), pindah percakapan orang kerana untuk merosakkan orang. Yang suka mencaci, lagi yang suka menyebarkan fitnah hasutan (untuk memecah-belahkan orang ramai).” (Surah al-Qalam, ayat 10-11)

Kita perlu ingat, untuk bertaubat dengan melakukan dosa itu bukannya satu perkara mudah. Mampukah kita berjumpa dan memohon maaf kepada setiap orang yang diumpat atau difitnah itu?

Sehubungan itu, wajib bagi setiap Muslim meneliti kesahihan setiap berita diterima supaya ia tidak menjadi bahan fitnah serta tidak bersekongkol melakukan dosa besar itu.

Firman Allah bermaksud: “Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.” (Surah al-Hujurat, ayat 6)

Apabila mengumpat atau menyebarkan fitnah sudah menjadi amalan, dibimbangi si pelakunya akan merasakan satu kepuasan apabila dapat bercerita perihal dan aib orang lain.

Di dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Ghazali menjelaskan, membocorkan rahsia orang lain serta menjejaskan kehormatan diri orang itu dengan cara membuka rahsianya dianggap perbuatan mengadu-domba dan fitnah.

Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)? Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya?

“Rasulullah bersabda: Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya bererti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya bererti kamu memfitnahnya.” (Hadis riwayat Abu Hurairah)

Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud: “Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain.” (Surah al-Hujurat, ayat 12)

Rahsia mengenai seseorang itu pada mulanya tersembunyi, tetapi ada pula yang mendedahkannya.

Sebaiknya, setiap orang perlu diam terhadap apa yang dilihatnya kecuali perkara yang dapat menguntungkan golongan Muslimin atau untuk menolak dosa dan maksiat yang dilakukan orang berkenaan.

Selain itu, Imam al-Ghazali di dalam kitab lain turut menyenaraikan enam adab yang perlu dilakukan ketika menerima berita fitnah.

Pertama, jangan mudah percaya kerana pemfitnah itu hanya menghilangkan kebenaran.

Kedua, melarang dan menasihati keburukan perilaku orang membawa berita fitnah itu supaya berhenti memfitnah kerana perbuatannya itu mengundang dosa besar selain tidak mahu bersekongkol dengannya.

Ketiga, membenci perbuatan pembawa fitnah itu kerana Allah SWT.

Keempat, jangan berprasangka buruk (suudzon) kepada orang diberitakan itu.

Kelima, jangan ikut menyebarkan fitnah serta menjadi pengintip dengan membuka rahsia orang lain.

Keenam, jangan setuju dengan fitnah yang terlarang itu dan jangan menceritakannya.

Pada zaman sekarang semakin bertambah ‘alat’ yang boleh menyebabkan fitnah semakin menjadi parah. Penggunaan laman sosial contohnya, ia boleh memberikan pahala atau dosa sekiranya digunakan sebaiknya atau disalah guna.

Kewujudan pelbagai laman sosial menjadi medium penyebaran apa saja maklumat sama ada ia benar atau salah. Barangkali ada yang berkata dia tidak bersalah dan hanya menyampaikan berita.

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Cukuplah pembohongan seseorang itu apabila dia menyampaikan semua yang dia dengar.” (Hadis riwayat Muslim)

Hadis berkenaan menunjukkan bagaimana dosa itu bukan di atas bahu orang yang mencipta berita palsu, tetapi dosa juga merangkumi orang menyampaikan semua berita yang dia dengar sama ada benar atau palsu.

Golongan yang menyampaikan berita palsu dikira sebagai pembohong kerana bersubahat.

Penulis wartawan Harian Metro

Artikel ini disiarkan pada : Rabu, 8 Ogos 2018 @ 2:47 PM

28/12/2019 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

MELURUSKAN FAHAMAN MUFTI WILAYAH BERKAITAN ISU SUMPAH

Olih : Ustaz Dr Zamihan AL- Ghari

Setelah saya meneliti kenyataan amatur Mufti Wilayah tentang isu sumpah laknat mantan PM maka saya dapati fahaman Mufti Wilayah Persekutuan perlu diluruskan:

1. Dia mengesyorkan JAWI supaya menguatkuasakan larangan bersumpah di masjid sedangkan tidak ada sebarang Akta Pentadbiran Islam WPKL untuk melarang seseorg bersumpah di masjid. Dia jelas mahu melarang terhadap sesuatu perbuatan yang harus. Sedangkan pemimpin politik non muslim memasuki masjid dlm keadaan tidak menutup aurat di masjid WPKL tidak pula dilarang. Mufti tidak wajar memutuskan hukum dengan memilih bulu.

2. Amalan bersumpah di masjid merupakan amalan sunnah yang diharuskan. Jumhur ulama termasuk Imam Syafiie menganjurkan kita bersumpah di maqam Ibrahim, Minbar Masjid Nabi SAW atau bersumpah di dalam mana-mana masjid jika kes berkenaan berlaku di luar Makkah dan Madinah samada ia dibicarakan melalui mahkamah ataupun tidak. (Mukhtasar al-Muzani, Bab Tempat Bersumpah, Jld 8, hlm 417).

3. Mufti Wilayah juga mendakwa tiada sumpah laknat di dalam Islam. Kemudian dia u-turn dgn mendakwa sumpah laknat hanya melibatkan Li’an sahaja. Kenyataannya jelas kontradik dan boleh mengelirukan umat Islam. Mufti sepatutnya memberi pencerahan, menasihati dan memandu manusia ke jalan Allah. Bukannya mengeluarkan kenyataan simplistik, berbaur politik dan backup politician yang dipercayai terlibat dgn video semburit.

4. Ketahuilah bahawa dalam Islam terdapat sumpah atas nama Allah, sumpah Li’an (sumpah laknat menafikan kandungan isteri) dan sumpah laknat mubahalah bagi mempertahankan kebenaran. Sumpah dalam kitab-kitab Feqh disebut dengan Bab al-Ayman Wan Nuzur (Bab Sumpah & Nazar). Boleh rujuk surah Ali Imran ayat 77 dan hadis-hadis Nabi SAW, kisah Para sahabat RA berkaitan dgn Ayman dan Halaf (sumpah) dan seumpamanya.

5. Dalam kes DSN, beliau layak bersumpah laknat disebabkan pihak pendakwa terlebih dahulu membuat akuan sumpah terhadapnya dengan tuduhan beliau menghamilkan seorang wanita Mongolia.

Selain itu, ada juga akuan sumpah dari subjek utama pembunuhan wanita Mongolia bahawa DSN tidak terlibat dalam kes pembunuhan berkenaan. Sebenarnya kes ini telah selesai diperingkat mahkamah. Tetapi kini, banduan gantung mandatori itu kembali u-turn membuat dakwaan bahawa DSN mengarahkan kes pembunuhan berkenaan.

Jadi, demi melepaskan diri dari fitnah dan tuduhan jahat, maka DSN berhak bersumpah laknat bagi membersihkan tuduhan jenayah atas dirinya jika dia berada di pihak benar. Alhamdulillah, sumpah laknat berkenaan berlangsung pada hari Jumaat di Masjid Kg Baru dan di saksikan sejumlah umat Islam. So, perbuatan DSN sebenarnya telah bertepatan dengan hukum syarak dan pendapat Ulama muktabar. Walaupun ia tidak memberi impak kepada perundangan civil/syariah namun kita boleh melihat prinsip berani kerana benar dan takut kerana Allah berlaku di depan mata kita.

Alhamdulillah. Kaedah hukum syarak menjelaskan: “Orang yang mendakwa (wajib) mengemukakan bukti dan orang yang didakwa (jika tiada saksi dan bukti) maka dia hendaklah bersumpah. – hadis sahih.

So,bersabarlah untuk melihat hasilnya dalam ketentuan Allah SWT. Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

6. Selain itu, Mufti Wilayah juga mendakwa mubahalah (sumpah laknat nekad) tiada dlm perundangan Islam. Bahkan dia secara konfiden mendakwa mubahalah hanyalah sumpah untuk menegakkan hujah dlm sesuatu perdebatan. Kenyataan ini amat dangkal. Ini kerana mubahalah bukan sekadar sumpah laknat antara Islam dgn bukan Islam sahaja. Sebaliknya ia turut merangkumi sumpah laknat antara golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah vs golongan sesat yang mengaku menjadi Tuhan, Nabi atau Rasul. Kes Ulama India vs mubahalah dgn Mirza Ghulam Ahmad Qadyani boleh dirujuk. Pengasas Ajaran kufur Qadyani itu mati beberapa bulan selepas mubahalah dgn mayatnya bergelumang dgn tahi.

Di Malaysia, kes Ayah Pin dan Haji Kahar yang mengaku Nabi pun boleh dibawa ber mubahalah sebenarnya. Saya sendiri pernah ber mubahalah dgn seorang wanita yang mendakwa dia sebagai Nabi Isa. Akhirnya wanita itu mati dgn kanser tahap 4 secara tiba-tiba. Tetapi semua ini tiada dlm Akta Pentadbiran Islam Negeri termasuk Wilayah.

Namun begitu, tidak beerti mubahalah tiada dlm perundangan Islam. Cukup bahaya apabila anda tidak tahu sesuatu perkara.. anda katakan: amalan ini tidak ada dalam Islam. Anda cuba menjadikan seolah-olah Islam itu sempit dan jumud. Allahu Allah!

7. Mufti sepatutnya membuat kajian atau homework terhadap sesuatu isu terlebih dahulu sebelum membuat kenyataan berkaitan tokoh politik. Hal ini penting supaya beliau tidak dikecam netizen, tidak memutuskan hukum secara salah, tidak menjatuhkan kredibiliti Mufti dan merosakkan reputasi dirinya. Bahkan posisi Mufti amat penting tidak dilihat sebagai alat politik.

8. Saya sendiri telah bermuzakarah secara bersemuka dengan Mufti Wilayah tentang isu akidah, pemikiran Islam, hadis dan hukum-hakam serta masalah kandungan buku-buku yang ditulis atas nama beliau.

Demi Allah, beliau tidak mampu menjawab hujah saya. Bahkan beliau hanya mampu meminta pegawai-pegawai beliau memberi respon ilmiah seperti melepaskan batuk ditangga sahaja. Akhirnya, tauliah saya turut disekat beliau tanpa sebarang alasan.

Malah resolusi muzakarah pun masih belum dapat ditepati beliau walaupun sudah hampir 2 tahun berlalu.

(Petikan dari: FB Dr. Zamihan al-Ghari )

27/12/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | | Comments Off on MELURUSKAN FAHAMAN MUFTI WILAYAH BERKAITAN ISU SUMPAH

Gila Kuasa Adalah Satu Penyakit

1. Dua orang lelaki pernah bertemu Rasulullah lalu meminta daripada Baginda diberikan kuasa sebagai pemimpin. Rasulullah menegur mereka dengan berkata:

إِنَّا لاَ نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ، وَلاَ مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ

“Kami tidak memberikan urusan kepimpinan ini kepada siapa yang memintanya, kami juga tidak berikan kepimpinan buat mereka yang terlalu bersungguh mendapatkannya.” (HR al-Bukhari)

2. Seorang tokoh sufi yang terkenal pernah berpesan bahawa sifat gilakan kuasa ini akan merosakkan peribadi seseorang. Sifat gilakan kuasa menyebabkan seseorang akan menjadi hasad dengki bahkan suka mencari keaiban manusia lain. Kata Fudail ibn Iyyad:

ما من أحد أحب الرئاسة إلا حسد وبغى ، وتتبع عيوب الناس ، وكره أن يُذكر أحد بخير

“Tidak ada seorang lelaki yang gilakan kuasa kepimpinan melainkan dia akan terjebak dengan hasad dan kejahatan, suka mencari keaiban manusia dan dia benci untuk menyebut kebaikan orang lain.”

3. Malah Abu Daud al-Sijistani melihat sifat ini sebagai salah satu daripada penyakit atau menggelarkannya sebagai syahwat yang tersembunyi. Beliau pernah ditanya tentang nafsu atau syahwat yang tersembunyi ini:

قيل لأبي داود السجستاني: ما الشهوة الخفية؟ قال: حب الرئاسة.

“Abu Daud pernah ditanya berkenaan dengan apa yang dimaksudkan dengan nafsu syahwat yang tersembunyai ini? Lalu dia berkata: (mereka yang) cintakan kuasa.

4. Atas dasar itu al-Imam Abu Ayyub al-Sakhtiyani berpesan bahawa mereka yang cintakan kemasyhuran dan kepimpinan ini adalah mereka yang sukar dipercayai. Kata beliau:

ما صدق عبد قط فأحب الشهرة

“Tiada yang benar langsung buat si hamba yang mencintai kemasyhuran.”

5. Berhati-hatilah dengan mereka yang terkena penyakit ini. Kecintaan terhadap kuasa akan mengaburi mereka dari kebaikan. Adalah dibimbangi kepentingan diri sendiri lebih mereka utamakan dari kesusahan rakyat. Amat sukar mencari pemimpin yang bangkit mengutamakan rakyat dari diri sendiri.

Semoga Allah membimbing kita

Olih : Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

26/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

SEJARAH ASAL-USUL NEGERI SEMBILAN DARUL KHUSUS MULAI ZAMAN RASULULLAH SAMPAI SEKARANG

Diriwayatkan Oleh:
_*Asy-Syaikh Al-Habib Prof.Dr. Shohibul Faroji Azmatkhan*_

*A. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN RASULULLAH*

Berdasarkan Kitab Tarikh Melayu yang ditulis pada tahun 1899 oleh Al-Imam Al-Habib Abdur Razzaq bin Musthafa Al-Husaini, dikatakan bahwa:

_”Agama Islam masuk ke Negeri Sembilan Darul Khusus Malaysia sudah ada sejak zaman Rasulullah yaitu sekitar tahun 629 Masehi. Pada saat itu Rasulullah memerintahkan sembilan para sahabat untuk mendakwahkan Agama Islam di Timur Jazirah Arab, yaitu di Tanah Melayu sekarang ini.”_

Sembilan Sahabat Nabi Muhammad yang diperintahkan berdakwah ke Tanah Melayu adalah:
1. Asy-Sumaisi (Sahabat Nabi), berdakwah ke Tanah Melayu, menemukan dan menamakan pertama kali daerah JELEBU. Sekitar tahun 629 Masehi.

2. Ikrimah bin Abu Jahal (Sahabat Nabi), setelah masuk Islam, turut berdakwah sampai ke Tanah Melayu dan menemukan dataran Johol, sekitar tahun 632 Masehi.

3. Anas bin Malik (Sahabat Nabi), melakukan ekspedisi dakwah ke tanah melayu, dan menemukan serta menamakan daerah JOHOR DARUN NA’IM. Pada tahun 630 Masehi.

4. Jabir bin Abdullah (Sahabat Nabi), berdakwah Islam di tanah Melayu, menemukan dan menamakan pertama kali KEDAH DARUL AMNI, tahun 631 Masehi.

5. Abdullah bin Umar bin Khattab (Sahabat Nabi), berdakwah ke Tanah Melayu, menemukan dan menamakan KELANTAN DARUN NA’IM.

6. Abu Said Al-Khudri (Sahabat Nabi), mendakwahkan Islam di Tanah Melayu, menemukan dan menemakan TERANGGANU DARUL IMAN, pada tahun 631 Masehi.

7. Arqam bin Abi Arqam (Sahabat Nabi), melakukan dakwah Islam sampai ke Tanah Melayu, menemukan dan menamakan PAHANG DARUL MAKMUR, pada tahun 630 Masehi.

8. Abu Ya’la Syaddad bin Aus (Sahabat Nabi), berdakwah di Tanah Melayu, menemukan dan menamakan SELANGOR DARUL IHSAN. Pada tahun 630 Masehi.

9. Imam Ali bin Abi Thalib, melakukan dakwah Islam di Tanah Melayu, menemukan dan menamakan NEGERI PERLIS INDRA KAYANGAN, selepas Beliau menemukan Tanah GARUT di Jawa Barat Indonesia. Pada tahun 630 Masehi.

10. NEGERI SEMBILAN DARUL KHUSUS, ditemukan tahun 633 karena sembilan sahabat Nabi bertemu di Negeri ini. Lalu mengembangkan dakwah, dan akhirnya kembali ke Madinah.

_(Referensi Kitab Tarikh Melayu, Karya Al-Imam Abdur Razzaq bin Musthafa Al-Husaini, page 117, tahun 1899)_

*B. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN WALISONGO*

Dalam Kitab Kisah Perjalanan Haji Walisongo, yang ditulis Al-Imam Nawawi Al-Bantani, dikisahkan Pada zaman Walisongo, sembilan wali saat pulang dari Ibadah Haji, pada tahun 1413 Masehi, singgah di sebuah Negeri di Tanah Melayu, dan negeri itu diberi nama *Negeri Sembilan Darul Khusus*.

Negeri Sembilan Darul Khusus masyhur disebut Negeri Walisongo, dan dinegeri ini Dzurriyyah Walisongo mulai banyak berdakwah.

Beberapa tahun singgah di Negeri Sembilan, Walisongo kembali ke Tanah Jawa (Indonesia).

_(Referensi : Kitab Kisah Perjalanan Haji Walisongo, Karya Imam Nawawi Al-Bantani, Page 72, ditulis tahun 1890 Masehi)_

*C. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN MELAYU KUNO*

Setelah kedatangan Walisongo ke Negeri Sembilan Darul Khusus, lalu banyak hijrah dan merantau orang-orang Minangkabau dari Pulau Sumatera melalui Melaka dan sampai ke Rembau.

Orang-orang Minangkabau ini adalah para Dzurriyyah Sunan Giri dan juga murid atau santri Sunan Giri.

Di Negeri Sembilan ini para Dzurriyyah Sunan Giri menikah dengan penduduk Negeri Sembilan yang sudah lama hidup di Negeri ini. Saat itu Negeri Sembilan masih hutan yang sangat lebat. Sedikit sekali penduduknya, sehingga Ulama di Negeri ini mewajibkan POLIGAMI untuk memperbanyak keturunan atau dzurriyyah, agar Islam berkembang pesat dan Dzurriyyah nya banyak.

Ulama yang terkenal di Negeri Sembilan pada masa Kesultanan Johor, adalah Sayyid Mujtaba bin Makki, Berdasarkan salah satu catatan sejarah Negeri Sembilan yang ditulisnya, bahwa Negeri Sembilan pada awalnya dikatakan terdiri dari Sembilan Negeri yaitu:
1. Sungai Ujong,
2. Rembau,
3. Johol,
4. Jelebu,
5. Naning,
6. Kelang (kini Klang),
7. Hulu Pahang,
8. Jelai dan
9. Hulu Muar.

*D. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN SEKARANG*

Negeri Sembilan termasuk salah satu negara bagian yang menjadi negara Federasi Malaysia. Sebelah selatan berbatasan dengan Melaka dan Johor, sebelah timur berbatasan dengan Pahang, sebelah utara berbatasan dengan Selangor dan sebelah barat berbatasan dengan Selat Melaka.

Penduduk bangsa Melayu yang kira-kira seperempat juta itu sebahagian besar masih mempunyai hubungan dengan adat Minangkabau. Karena banyak murid Walisongo dari Minangkabau yang menetap di Negeri Sembilan.

Pantun mereka berbunyi :

_Leguh legah bunyi pedati._
_Pedati orang pergi ke Padang._
_Genta kerbau berbunyi juga._
_Biar sepiring dapat pagi._
_Walau sepinggan dapat petang._
_Pagaruyung teringat juga_

Negeri Sembilan merupakan sebuah kerajaan tetapi pemerintahannya berdasarkan Konstitusi yang disana dikatakan Perlembagaan Negeri. Badan Legislatifnya bernama “Dewan Perhimpunan/Perundingan Negeri yang mempunyai anggota 24 orang. Anggota-anggota ini dipilih oleh rakyat dalam Pemilihan Umum yang disini dikatakan : Pilihan raya.

Pelaksanaan pemerintahan dilaksanakan oleh Menteri Besar yang didampingi oleh 8 orang anggotanya yang bernama : “Anggota Majelis Musyawarah Kerajaan Negeri”.

Gelaran raja ialah Duli Yang Mahamulia Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan.

Pemerintahan Negeri Sembilan terbagi atas 6 daerah, yaitu:
1. Seremban,
2. Kuala Pilah,
3. Port Dickson,
4. Jelebu,
5. Tampin dan
6. Rembau.

Ibukota Negeri Sembilan adalah Seremban.

Istana raja terdapat di ibukota Seremban ini bernama Istana Seri Menanti. Tetapi arsitekturnya tidak lagi dengan cara Minang melainkan sudah berkomposisi antara arsitektur Minang dan Melayu.

Ada 12 suku di Negeri Sembilan yaitu:
1. Tanah Datar
2. Batuhampar
3. Seri Lemak Pahang
4. Seri Lemak Minangkabau
5. Mungka
6. Payakumbuh
7. Seri Malanggang
8. Tigo Batu
9. Biduanda
10. Tigo Nenek
11. Anak Aceh
12. Batu Belang

*REFERENSI:*

_Al-Imam Abdur Razzaq bin Musthafa Al-Husaini, Kitab Tarikh Melayu, page 117, tahun 1899)_

_Imam Nawawi Al-Bantani, Kitab Kisah Perjalanan Haji Walisongo, Page 72, ditulis tahun 1890 Masehi)_

22/12/2019 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | 3 Comments

Qasidah dan Syair memuji Rasulullah SAW – Dibolehkan atau Dilarang?

1- Kita sedia maklum bagaimana orang-orang Arab sejak zaman Jahiliyah lagi tak dapat dipisahkan dengan bentuk kesenian dan kesusasteraan mereka seperti Syair dan Qasidah. Ini jelas apabila kita mempelajari sejarah Arab bahkan dalam Sirah Nabawiyyah juga ada disebutkan tentang perkara ini.

2- Malah di dalam Al-Quran sendiri berulang perkataan ‘Syair’ dan sebuah surah dinamakan dengan as-Syu’ara yang bermaksud ‘para penyair’. Bermula dari ayat 224 di dalam surah tersebut kita dapati Allah SWT menyebut bahawa terdapat penyair yang beriman dan beramal soleh dan ada juga penyair yang tidak beriman dan berdusta.

3- Maka jelas bahawa terdapat perbezaan di antara penyair dan syairnya yang diterima oleh Islam dengan penyair dan syairnya yang tidak diiktiraf di dalam Islam.

4- Kita dapati para sahabat bersyair dan melantunkan qasidah di hadapan Baginda SAW dan Baginda akan mendengar, terkadang tersenyum dan terkadang memuji syair yang baik. Manakala Baginda akan membetulkan kalau ada syair yang salah dan tidak tepat.

5- Zaman berzaman juga kita dapati para ulama begitu kreatif dan hebat dalam mengarang syair-syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW. Ia bukanlah satu perkara yang pelik kerana syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW telah pun ada pada zaman Baginda SAW sendiri.

6- Kitab-kitab Hadith dan Sirah sendiri mengumpulkan pelbagai syair pujian terhadap Baginda SAW dikarang dan dideklamasikan oleh para Sahabat seperti Sayyiduna Hassan Bin Thabit RA, Abdullah Bin Rawahah RA, Abu Bakr as-Siddiq RA, Umar Bin al-Khattab RA, Ka’ab Bin Malik RA, Ka’ab Bin Zuhair RA, al-Abbas Bin Abd. Muttolib dan lain-lain.

7- Syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW ini dibacakan di hadapan Baginda SAW dan Baginda SAW tidak memarahi atau melarang. Bagaimanakah pula kita pada hari ni tidak suka atau melarang bacaannya?

8- Oleh itu para ulama zaman berzaman mengambil contoh perbuatan para Sahabat RA dengan memuji Rasulullah SAW dalam bentuk syair dan qasidah. Syair dan qasidah ini dibukukan dan dibacakan malah disebarkan kepada masyarakat.

9- Ada pihak yang kita dapati mempunyai ‘alahan’ dan tidak suka syair dan qasidah memuji Rasulullah SAW. Ada pula yang melarang dengan membawa dalil daripada sebuah Hadith Sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari RH:
لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم
Maksudnya:
‘Jangan berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

10- Sedangkan maksud Hadith di atas adalah – jangan memuji Rasulullah SAW dengan pujian yang salah iaitu mengangkat Baginda sehingga mencapai tahap ketuhanan seperti yang kita lihat di dalam terjemahan Hadith di atas iaitu potongan ‘sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

11- Seeloknya kita pelajari maksud syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW dan menghayati bagaimana para ulama memilih perkataan yang indah dan berirama untuk memuji manusia yang paling indah – Rasulullah SAW.

Adlan Abd Aziz
Timbalan Pengerusi ISLAMI Kebangsaan
*Tirmidhi Centre*
@

22/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Madah dan Sajak, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah, wahabi | , , | Leave a comment

Mana lebih utama, Malam Lailatul Qadar dengan Malam Kelahiran Baginda Nabi SAW?

Tumpang tanya,… mana lebih utama malam lailatul qadar dengan mlm kelahiran baginda nabi. Mohon pencerahan dan klu ada mohon rujukannya….

Jawapan kami;

Menurut ulama Mazhab Syafi’i, hari (siang) yang paling afdal ialah hari Arafah.

Diriwayatkan daripada Jabir radhiallahu anhu, Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam bersabda:

أفضلُ الأيام يومُ عرفة

”Sebaik-baik hari ialah hari Arafah.”(Riwayat Ibn Hibban).

Diriwayatkan lagi daripada Jabir radhiallahu anhu, Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يوْمٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يوْمِ عَرَفَةَ …

”Tiada hari yang paling baik di sisi Allah melainkan hari Arafah…”(Riwayat Ibnu Hibban, Abu Ya’la).

Kemudian diikuti hari Jumaat, kemudian hari Aidul Adha dan kemudian hari Aidul Fitri.

Adapun malam yang paling afdal pula ialah malam Nabi sollallahu alaihi wa sallam dilahirkan. Hal ini kerana pada malam tersebut telah lahirnya seorang insan mulia yang telah memberikan manfaat yang umum dan kebajikan yang agung ke seluruh alam.

Kemudian diikuti malam Lailatul Qadr, kemudian malam Jumaat dan kemudian malam Nabi sollallahu alaihi wa sallam diisrakkan. Justeru, inilah turutan malam yang paling afdal bagi nisbah umat Nabi sollallahu alaihi wa sallam.

Manakala, malam yang paling afdal bagi nisbah Nabi sollallahu alaihi wa sallam pula ialah malam baginda diisrakkan. Hal ini kerana, pada malam tersebut baginda telah bertemu Tuhannya dengan mata kepalanya sendiri mengikut pendapat yang sahih.

Sehubungan dengan itu, malam lebih afdal berbanding dengan hari siang.

Manakala menurut Imam Ahmad bin Hanbal pula, hari yang paling afdal secara mutlak ialah hari Jumaat. Malah, ia lebih afdal berbanding hari Afarah dan malam hari Afarah juga lebih afdal secara mutlak berbanding malam Lailatul Qadr.
اليسع
Wallahu a’lam.

Rujukan

– Hasyiah al-Bujairimi
– Hasyiah al-Jamal
– Hasyiah al-Syarqawi
– Hasyiah al-Baijuri
– Hasyiah al-Syarwani
– Fath al-‘Allam
– Nihayah al-Zain

Sumber : Koleksi Q&A Ustaz Alyasak
https://t.me/Q_A_Us_Alyasak_channel

20/12/2019 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Kenali riba dan bersama menjauhinya

Olih Ustaz Zaharuddin-

Riba adalah ziyadah atau increment atau excess pada perkara tertentu lebih menjurus kepada terlebih pada sesuatu iaitu

1) Di dalam hutang

Cth: Beri RM1000, minta bayar balik dalam RM1100, maka RM100 adalah riba samada rasa tertindas atau tidak rasa tertindas

2) Bayaran secara bertangguh

Cth: Perlu bayar RM2000 dalam masa 5 bulan, si penghutang tidak membayar dalam jangkamasa tersebut, lalu si penghutang beri tangguh dengan dikenakan syarat dari RM2000 menjadi RM2050 kerana kelewatan membayar. RM50 itu adalah riba

3) Riba dalam pertukaran barang dengan barang, terdapat 6 jenis barang

Cth: Tukar emas lama iaitu 2g dengan emas baru 3g. Jika ada pertambahan/pengurangan maka ia adalah riba

4) Bayar emas dalam waktu yang bertangguh

Ulama iaitu Umar Al-Khatab menyarankan untuk kita berusaha bersungguh-sungguh untuk memahami riba.

Umar Al-Khatab: “Aku berharap Nabi Muhammad s.a.w tidak meninggalkan kita dalam keadaan kita tidak didedahkan secara terperinci berkenaan dengan 3 perkara iaitu perwarisan harta cucu oleh datuknya, kalalah (harta si mati yang tidak meninggalkan waris atau mempunyai waris) dan jenis-jenis riba. (Riwayat Al-Bukhari)

Imam Ibn Kathir (ulama yang sohor): “ Bab riba adalah bab yang susah untuk difahami”

Imam Abu Hamid Al-Ghazali: “Bab riba adalah bab yang sukar untuk diajari”

Pengajian bab riba adalah tanda keimanan dan ketakwaan yang tinggi kerana kesukarannya untuk memahami, untuk pelajari dan untuk menjauhinya (ada disebut dalam Surah Al-Baqarah)

Di dalam pengajaran riba ada pandangan ekstrem, tasahul (ringan/mudah) dan wasati (seimbang dan equilibirilium). Namun pandangan wasati yang dilebihkan kerana lebih tepat dan mantap pada sesuatu zaman untuk mengelak kesukaran kepada masyarakat.

Cth pandangan wasati: Tidak riba jika penjual menaikkan harga sesuatu barang

Riba dalam bentuk pinjaman

Dalam bahasa arab 2 jenis pinjaman iaitu

  • Qar, pinjaman dengan bayaran dalam bentuk yang sama. Cth: Duit seringit dengan duit seringit, beras (long grain) dengan beras (long grain yang sama)
  • I’arah, pinjaman dengan bayaran dalam bentuk yang berbeza, Cth: iPad2 (umur 2 tahun) dengan iPad2 (1 tahun)

Persepakatan ulama silam, pinjaman dalam bentuk Qar atau I’arah jika disyaratkan pembayarannya samada di dalam bentuk berlainan seperti hadiah, melebihi daripada pinjaman permulaannya adalah haram dan RIBA.

Cth dalam konteks semasa,

    • Pinjaman wang dengan bank konvensional untuk membeli kereta iaitu RM100K, 10 % bayar deposit dan 90% lagi dari ‘loan’ bank konvensional. Bank kovensional beri pinjam RM100k yang perlu dibayar dalam jangkamasa 5 tahun dengan pertambahan interest iaitu 4%. Maka 4% itu adalah RIBA. Ada yang menggunakan hujah inflasi bagi menerima interest 4% dengan mengatakan harga RM1 pada tahun 2000 adalah berlainan dengan harga RM1 dalam tahun 2012. HUJAH INFLASI TIDAK DITERIMA DI DALAM ISLAM

      PEMBELIAN KERETA DENGAN PINJAMAN DARIPADA BANK KOVENSIONAL ADALAH RIBA.

      Sesiapa yang mengambil atau memberi RIBA adalah mengisytiharkan perang dengan ALLAH S.A.W dan RASULLAH S.W.T

      Rasullah bersabda, dosa sesiapa yang terlibat dengan RIBA, walaupun sebanyak 1 dirham (RM20) bersamaan dengan berzina sebanyak 36 kali. Akibat dosa begini iaitu riba yang tidak disedari antara punca penyebab solat kurang khusyuk, doa tidak diterima, tidak mahu nasihat dsb.

      Rasullah juga bersabda, riba boleh datang dalam 72 pintu, yang paling ringan dosanya umpama seorang lelaki berzina dengan ibunya dan untuk perempuan, umpama berzina dengan bapanya.

      • Pinjaman untuk rumah yang dibuat dengan bank konvensional selain riba terdapat juga GHARAR (penambahan yang tidak tahu berapa nilainya)

        Cth: pinjaman RM200k dengan interest 4% dan pertambahan BLR-2.0%. BLR itu adalah gharar dimana nilainya mengikut ekonomi Malaysia yang tidak diketahui dinilainya.

        Maka, dosa meminjam duit dengan bank konvensional untuk membeli rumah adalah LEBIH BERDOSA berbanding dengan beli kereta kerana adanya GHARAR.

        • Kad kredit dengan bank kovensional. Pembelian barang dengan kad kredit konvensional ada tempoh untuk membayarnya (Cth:20 hari). Jika tidak membayarnya akan dikenakan RIBA. Jika membayarnya dalam tempoh tersebut juga adalah RIBA kerana kita menyokong urusniaga dengan bank konvensional iaitu si penjual (merchant) akan memberi sebanyak 2-3% kepada pengeluar kad konvensional.

          SOALAN 1: Pinjaman dengan kad kredit konvensional iaitu sebanyak RM3000 dengan 0% interest selama 3 bulan. Selepas 3 bulan, interest akan dikenakan adalah 6.5%. Adakah 6.5% adalah riba?

          SOALAN 2: Pembiayaian dengan Bank Islam ada dinamakan keuntungan dengan akad adakah bersamaan dengan pinjaman dengan bank konvensional yang ada perjanjian?

          SOALAN 3: Dalam perjanjian pinjaman konvensional jika kita menanda tangani adalah mengiyakan pinjaman tersebut adakah riba?

          JAWAPAN: Kad kredit konvensional yang menawarkan pinjaman yang dikenakan 6.5% selepas 3 bulan adalah RIBA. Maka perlulah selesaikan secepat mungkin jika sudah melakukannya samada masih dalam tempoh atau melebihi tempoh pembayaran kerana kita sudah menyokong urusniaga bank konvensional tersebut.

          Rasullah bersabda, akan dilaknati orang yang MEMBERI, MENERIMA, menjadi SAKSI dan PENULIS perjanjian urusniaga RIBA

          Pembiayaian dengan bank Islam yang mempunyai akad yang ada kontrak dan rukun dan juga apa yang dijualnya adalah berbeza dengan bank konvensional . Si penerima akad tersebut perlu melihat dengan teliti dokumen tersebut sebelum mengiyakan dan menandatangani perjanjian.

          Di dalam Fiqh Islam keredhaan dengan sesuatu pada permulaan adalah juga redha pada pengakhirannya. Maka menandatangi perjanjian pinjaman konvensional yang dimana akan dikenakan riba pada masa akan datang, maka pada ketika itu kita terlibat dengan riba.

          SOALAN 4: Apa beza BFR (Islamic housing loan) dengan BLR (Conventional housing loan)?

          SOALAN 5: Status Amanah Saham Bank Rakyat?

          SOALAN 6: Bagaimana kita hendak menghapuskan dosa lepas kerana melakukan riba?

          SOALAN 7: Status pinjaman perumahan dengan menggunakan ‘goverment loan’ ada kaitan dengan riba atau tidak?

          SOALAN 8: Pembelian kereta dengan CIMB Islamik dengan akad adakah terlibat dengan riba?

          SOALAN 9: Pembelian rumah dengan pinjaman daripada bank konvensional, hendak membeli dengan cash tidak mampu, maka bagaimana dengan pinjaman tersebut dan alternative untuk mengelaknya?

          JAWAPAN: Beza antara BFR (Base Financing Rate) dengan BLR (Base Lending Rate). BLR adalah kadar benchmark untuk kadar pinjaman bank konvensional atau kos pinjaman duit. Bank –bank islam tiada pinjaman, hanya ada pembiayaan. Bank-bank islam menggunakan duit yang didapatkan daripada orang ramai untuk membeli asset dan menjual asset kepada pelanggan mereka. Kebanyakkan orang tidak mengetahui mengenai asset yang dibeli kerana tidak membaca kontrak. Walaubagaimanapun kadar BFR dan BLR adalah sama tetapi BFR adalah halal

          Perumpamaan BFR adalah: Membuka kedai daging halal lembu Australia di tempat yang tiada kedai daging halal, si penjual daging halal akan meninjau harga daging semasa dan menjual daging dengan harga yang sama dengan daging di kedai daging tidak halal.

          Dividen saham Bank Rakyat adalah patuh syariah dan halal

          Maksud dalam surah Al-Baqarah ayat 277-278:

          Maka apabila datang peringatan tentang dosa-dosa riba, yang terlibat dengan riba hendaklah dengan SEGERA BERHENTI.

          Ada 4 perkara hendak hapuskan dosa jahil tentang riba.

          • Berhenti dengan segera melakukan perkara RIBA
          • Minta taubat
          • Banyakkan sedekah
          • Perbanyakkan bercerita dan ajari tentang riba dan dosa riba kepada orang lain bagi menunjukkan kita bersungguh-sungguh memerangi riba dan menutup kesalahan kita ketika melakukan riba

          Pinjaman perumahan bagi kakitangan kerajaan telah ada 2 bentuk iaitu konvensional dan islamik. Orang Islam MESTI mengambil yang islamik. Status pinjaman yang telah dibuat boleh dirujuk pada kontrak pinjaman perumahan. Kontrak islamik dinyatakan tentang BBA (al-Bai’ Bithaman Ajil), jika tiada minta untuk ditukar

          Status pembelian kereta dengan CIMB Islamik adalah halal

          Perumahan tidak perlu beli dengan cash. Islam membenarkan pembelian secara bertangguh tetapi hendaklah dituliskan hutang tersebut bagi mengelakkan kelupaan. Maka pembelian rumah boleh dibeli dengan bayaran bertangguh dimana rumah tersebut dibeli melalui bank, bank akan melakukan transaksi pembelian dengan pemaju dan menjual semula kepada kita dan kita membayar secara bertangguh. Hanya bank-bank islamik sahaja melakukan transaksi begini. Dengan itu cara selamat mengelak riba adalah melakukan pembiayaan rumah atau refinancing dengan bank-bank islamik.

          SOALAN 10: Mengadai emas di kedai pajak yang mengenakan bayaran pajakan 1-2%. Jika tidak membayar dalam tempoh tertentu maka emas itu akan diambil oleh kedai pajak. Adakah perkara itu terlibat dengan riba?

          JAWAPAN: Gadai emas perlu dipastikan samada Ar-Rahnu atau kedai pajak biasa. Jika kedai pajak biasa, ada RIBA. Jika Ar-Rahnu maka ia adalah patuh syariah.

          SOALAN 11: 2 tahun selepas penyerahan rumah dikenakan bayaran lewat. Bolehkah pemaju kenakan denda tersebut dan adakah ianya riba? Bolehkah ditukar term kerpada denda lewat bayar?

          JAWAPAN: Term tidak boleh diubah sendiri kerana berkaitan dengan kontrak dengan penjual. DI dalam akta pembangunan perumahan mungkin terdapat klosa-klosa yang mengenakan denda apabila lewat bayar. Maka orang yang membuat akta tersebut dipertanggungjawabkan. Orang ramai yang dikenakan rukhsah atas pembayaran tersbut, namun haruslah berusaha sedaya-upaya untuk membayar sebelum tempoh itu tamat untuk mengelak riba

          SOALAN 12: Kenapa bayaran pembiayaian bank –bank Islam lebih mahal berbanding dengan bank-bank konvensional

          JAWAPAN: Sebenarnya pembayaran pembiayaian bank-bank islamik adalah murah. Anggapan mahal itu adalah kerana orang ramai tidak mengetahui cara mengiranya. Boleh rujuk di zaharudin.net.

          SOALAN 13: Bolehkan duit dividen KWSP digunakan untuk membayar income tax?

          JAWAPAN: Perjelasan dari sudut akademik, wang perlaburan KWSP adalah bercampur iaitu halal dan haram. KWSP mengatakan tidak banyak perlaburan halal dapat dilakukan sedangkan duit di dalam simpanan KWSP orang ramai adalah banyak. Maka duit KWSP dilaburkan di tempat patuh syariah dan yang haram. Jika tidak duit itu akan dorman atau beku jika tidak dilaburkan. Maka dividen yang didapati daripada KWSP adalah bercampur iaitu 30% dari sumber halal dan 70% adalah dari sumber haram. Maka 30% dividen bolehlah diambil dan 70% bolehlah didermakan untuk kegunaan umum. Oleh sebab bayaran income tax adalah berbentuk personal maka dividen KWSP tidak boleh digunakan kerana sebahagian besarnya adalah dari sumber yang meragukan. Apa sahaja duit yang HARAM tidak boleh digunakan untuk peribadi tetapi hendaklah disalurkan kepada kegunaan awam dan fakir miskin.

          SOALAN 14: Adakah pertandingan memancing yang menawarkan hadiah yang lumayan tetapi dikenakan yuran penyertaan adalah riba?

          JAWAPAN: Jika pertandingan memancing mengenakan yuran penyertaan sebanyak RM50 bagi satu peserta. Pemenang hadiah adalah datang dari duit hasil kutipan yuran penyertaan sahaja maka ianya adalah JUDI. Jika hadiah datang dari penajaan sahaja tanpa melibatkan wang penyertaan maka ianya HARUS kerana wang penyertaan digunakan untuk pendaftaran dan hadiah yang diberikan adalah datang dari sponsor, dan pertandingan itu tidak melibatkan zero sum game and game of luck.

          SOALAN 15: Pinjaman dengan bank islamik tetapi yang menguruskan pinjaman tersebut adalah orang bukan Islam dan tidak berlaku akad tetapi semua perjanjian telah ditandatangani. Bagaimana dengan status perjanjian tersebut?

          SOALAN 16: Membeli rumah tetapi rumah atas nama isteri. Siapakah perlu membayar rumah tersebut samada suami atau isteri?

          SOALAN 17: Bagaimana denifinisi keberkatan dalam hasil pendapatan. Adakah berkat itu diukur dengan banyaknya rezeki yang didapati?

          JAWAPAN: Tiada pinjaman dalam bank-bank Islam tetapi hanya terdapat PEMBIAYAAN. Pembiayaan islamik tersebut diuruskan oleh orang bukan Islam adalah SAH. TIADA syarat sah jual beli yang mensyaratkan hanya beli dengan orang Islam.

          Cth: Pengurusan masjid boleh meminta orang bukan Islam menjual kuih kepada orang Islam asalkan kuih dan cara penjualan adalah halal.

          Rasullah s.a.w bersabda “ Tidak boleh kamu bersyarikat atau menjadikan partner kamu adalah orang bukan Islam kecuali urusan jual-beli adalah mengikut cara Islam, bermakna orang Islam boleh mengambil pekerja bukan Islam dan pakaiannya adalah seksi. Pihak pengurusan boleh secara beransur-ansur menyuruh orang bukan Islam berpakaian lebih sopan.

          Jika rumah atas nama isteri itu dibeli oleh isteri maka si pembayar adalah antara si suami dan si isteri tetapi tanggungjawab menyediakan penginapan adalah di atas bahu si suami maka suami lebih layak membayar kecuali jika si isteri secara ihsan bersetuju membayar dan rumah itu atas nama si isteri. Maka rumah itu adalah hak si isteri, jika si isteri meninggal, si suami tidak mempunyai hak harta pusaka atas rumah tersebut.

          Defini keberkatan dalam rezeki tidak semestinya banyak. Berkat itu tidak terletak pada numbers tetapi ianya terletak pada hati seseorang dimana berkat itu apabilamerasakan kecukupannya walaupun sedikit dan apabila banyak rezekinya, orang tersebut lebih suka memberinya. Jika orang yang berharta tetapi bakhil dan tidak mengeluarkan zakat maka rezeki itu adalah tidak berkat.

          Rasullah s.a.w bersabda, harta yang baik adalah berada pada tangan orang yang baik dimana orang tersebut suka bersedekah dan membayar zakat.

          Contoh terbaik untuk melihat keberkatan adalah daripada Rasullah s.a.w, ketika baginda mendapat apa sahaja barang akan bersedekah barang tersebut. Ada hadis mengatakan, ketika rasullah s.a.w wafat, baginda tidak meninggalkan wang dan harta tetapi meninggalkan ilmu.

          Keberkatan dalam perniagaan boleh dilihat semakin banyak keuntungan yang didapati semakin taat dan amanah orang tersebut/ pekerja di dalam syarikat tersebut seperti yang berlaku kepada Nabi Muhammad s.a.w dimana baginda sangat amanah dalam urusniaga dan semakin ramai pelanggan kerana akhlak baginda. Jika perniaagaan untung tetapi pekerja semakin banyak menipu, pecah amanah maka ianya tidak berkat.

          KESIMPULAN: Tiada alasan untuk tidak tinggalkan riba. Rasullah s.a.w bersabda, “ sesiapa yang meninggalkan perkara syubhah maka dia sudah berjaya menjaga maruah dan menegakkan agamanya dan sesiapa yang terlibat dengan syubhah maka dia akan jatuh dalam perkara haram.

          11/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Muamalat (Harta), Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Isu berkaitan kedudukan anak-anak dalam saf ketika solat berjemaah.

          Image result for saf kanak kanak
          Soalan :

          Sekarang ni di masjid-masjid timbul isu berkaitan kedudukan anak-anak dalam saf ketika solat berjemaah.

          Boleh bantu beri pandangan?

          Jawapan :

          Oleh Dr. Ustaz Mohd Khafidz Soroni(Hadith).

          بسم الله وبه نستعين

          1. Asalnya masyarakat telah pun sedia mengikut apa yang telah diajarkan oleh para ulama kita mazhab Syafii, mengikut sepertimana yang telah dihuraikan dalam kitab-kitab besar fiqh Syafii. Namun, lama kelamaan apabila setengah kita makin jauh dari mendalami ilmu & mempelajari kitab-kitab besar mazhab Syafii ini, kita mula keliru apabila ada golongan yang datang kemudian gemar mengatakan “ini sunnah”, “ini bidaah”. Sedangkan di dalam kitab2 itu telah pun diterangkan secara terperinci hukum hakamnya, mana yang sah, mana yang batal, mana yang sunnah, mana yang makruh, mana yang harus, mana yang afdhal/terlebih sempurna, mana yang syarat dan bukan syarat dan sebagainya.

          2. Perbincangan dalam kitab-kitab fiqh sebenarnya lebih harmoni dan halus, tidak sekadar “ini sunnah”, “ini bidaah”. Golongan tersebut sebenarnya keliru & mengelirukan. Lebih merumitkan apabila mereka mengambil fatwa itu daripada ulama negara lain yang boleh menerima pandangan itu menurut usul mazhab mereka barangkali, lalu dibawa ke negara kita yang sudah sedia ada ulamanya yang mengikut usul mazhab sendiri. Barangkali tidak ada apa-apa jika fatwa yang datang dari luar itu sekadar diamal oleh pembawanya, namun yang meresahkan ialah apabila si pembawa itu kurang ilmu lalu menyalah-nyalahkan pandangan mazhab tempatan yang sudah sedia lama diamalkan. Golongan keliru ini hanya tahu menghukum “ini sunnah”, “ini bidaah”.

          3. Dalam mazhab Syafii, sunnah kedudukan saf yang sempurna ketika solat berjemaah ialah sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam an-Nawawi (w. 676H) dalam al-Minhaj: “Hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Pernyataan ini umum dan jika ada masalah-masalah yang datang kemudian perlulah dihuraikan sesuai mengikut situasinya. (Dalam setengah kitab seperti Asna al-Matalib oleh Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari (w. 926H) dinyatakan; yang berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian khunsa, kemudian perempuan)

          4. Semua ulama yang mensyarahkan kata-kata tersebut tidak pun menafikannya dengan mengatakan “kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan orang dewasa” dan sebagainya. Boleh rujuk seperti Tuhfah al-Muhtaj oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Hasyiah Qalyubi (w. 1069H) & Umairah (w. 957H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan lain-lain.

          .5. Dalil mereka adalah hadis sahih:

          لِيَلِيَنِّي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ. (أخرجه مسلم وأبو داود والنسائي في الكبرى وابن ماجه)

          “Hendaklah berdiri di belakangku dari kalangan kamu orang-orang yang matang/baligh dan faham/berakal, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka”.

          6. Bahkan ada diriwayatkan hadis dengan sanad hasan yang menyebut secara jelas susunan saf tersebut iaitu:

          عَن أبي مَالك الْأَشْعَرِيّ قَالَ: أَلَا أُحَدِّثُكُمْ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَصَفَّ الرِّجَالَ وَصَفَّ خَلْفَهُمُ الْغِلْمَانَ، ثُمَّ صَلَّى بِهِمْ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَاد حسن، قاله النووي في خلاصة الأحكام)

          Daripada Abu Malik al-Asya‘ri RA katanya: “Mahukah aku khabarkan kamu tentang solat Nabi SAW, iaitu baginda mendirikan solat dan menyusun saf kaum lelaki dan menyusun di belakang mereka saf kanak-kanak, kemudian baru baginda mengimami mereka”. Dalam versi lain:

          كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلِيهِ فِي الصَّلَاةِ الرِّجَالُ، ثُمَّ الصِّبْيَانُ، ثُمَّ النِّسَاءُ. (رَوَاه الْبَيْهَقِيُّ في السنن الكبرى وضَعَّفَهُ)

          “Telah berdiri di belakang Rasulullah SAW di dalam solat, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Sanad hadis ini daif, namun dikuatkan dengan hadis-hadis di atas.

          7. Hadis-hadis ini tidaklah menunjukkan hukum wajib dan hanya menunjukkan kesempurnaan serta yang afdhal. Jika ada kanak-kanak yang berdiri di dalam saf orang dewasa dan tidak bermain-main, tidaklah perlu dihalang dan ditegah.

          8. Kata Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari dalam Asna al-Matalib:

          “Kata al-Azra‘i: Dikemudiankan saf kanak-kamak daripada kaum lelaki adalah jika sudah tidak muat saf kaum lelaki. Jika tidak (yakni masih ada ruang), dipenuhkan saf itu dengan kanak-kanak, tiada masalah. Semuanya ini adalah mustahab, bukannya syarat. Sekiranya mereka menyalahi (susunan ini), sah solat mereka itu berserta makruh.” Katanya lagi: “Dan jangan ditukarkan kanak2 yang hadir dahulu untuk kaum lelaki yang hadir kemudian…”.

          Ini kerana mereka lebih berhak berdiri di situ, walaupun pada saf pertama, sepertimana yang disebut dlm al-Minhaj al-Qawim, Mughni al-Muhtaj dan lain-lain.

          9. Disebut dalam I’anah at-Talibin oleh Syekh Abu Bakr Syata (w. 1310H):

          “Disunatkan jika ada berbagai-bagai peringkat makmum, hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, walaupun hamba sahaya, kemudian sesudahnya – jika telah penuh saf mereka – kanak-kanak, kemudian sesudah mereka– walaupun tidak penuh saf mereka – kaum perempuan”. Kata beliau lagi: “Apabila susunan tersebut disalahi, ianya makruh”.

          Rujuk juga perinciannya di dalam Tuhfah al-Muhtaj & al-Minhaj al-Qawim oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan laun-lain.

          10. Pandangan yang mengatakan kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan org dewasa dengan erti kata diselang selikan atau setiap kanak-kanak mesti berdiri di sebelah bapanya adalah pandangan yang janggal dan mengelirukan. Lebih parah lagi didakwa itu adalah sunnah dan selainnya adalah bidaah! Kita tidak tahu ada ulama-ulamak muktabar terdahulu yang mengeluarkan fatwa sedemikian.

          Wallahu a’lam.

          Sumber :

          https://www.facebook.com/…/a.558069754360…/600968816737095/…

          09/12/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          Salah satu syarat sah berjemaah ialah makmum tidak menyalahi imam pada sunat yang jadi buruk dan jahat apabila ia menyalahinya.

          Ada 4 perkara dalam bab ini.

          1. Sujud Tilawah. Tidak boleh sekali-kali menyalahi imam dalam sujud tilawah. Kalau imam sujud wajib sujud. Kalau imam tinggal, wajib juga tinggalkan.

          2. Sujud Sahwi. Dalam sujud sahwi, wajib mengikut imam jika imam buat. Tetapi jika imam meninggalkannya, boleh bagi makmum sujud sahwi selepas imam memberi salam.

          3. Tahiyyat awal. Wajib ikut imam jika imam tinggalkan tahiyyat awal. Tapi jika imam buat tahiyyat awal, boleh makmum terus bangun tunggu imam dalam qiam. Namum yang afdhal bagi makmum ketika mana imam meninggalkan tahiyyat awal, ia niat mufaraqah dan membaca tahiyyat awal kemudian ia teruskan solat sendiri.

          4. Qunut. Qunut adalah perkara yang paling ringan sekali. Boleh makmum tinggalkan qunut walaupun imam membacanya. Begitulah sebaliknya, boleh makmum membaca qunut walaupun imam meninggalkannya. Dengan syarat tidak terlalu panjang sehingga tertinggal daripada imam 2 rukun.

          Inilah antara empat perkara yang perlu difahami oleh orang yang ingin menunaikan solat berjamaah.

          Disediakan oleh:
          Panel Asatizah ARGKL Selangor

          06/12/2019 Posted by | Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

          Isu Abu Pengganas Chin Peng – “I SAY “GET LOST”!

          Peguam kekadang kalau bercakap memang bahasanya tajam. Tapi ini suatu analisis yang baik menyingkap motif di belakang isu Al-Malaun Abu Chin Peng Al-Kumnisi

          Tuan Hasnal Rezua Merican – Page menulis

          Fahami dan teliti misi sebenar timbulnya elemen berkait komunisme mutakhir ini; daripada kembalinya abu mayat Chin Peng kepada perhimpunan di Kajang semalam.

          Ia bukannya tentang menghidupkan semula ideologi komunis!

          Masyarakat Cina di Malaysia adalah penganut Kapitalisme. Tangan-tangan hitam yang dilihat mendalangi isu ini adalah parti politik yang juga ‘bapak segala kapitalis’ iaitu DAP. Mustahil mereka menganut Komunisme secara falsafah, yang akan memaksa mereka menyerahkan sebahagian besar harta-benda mereka kepada Negara, yang kemudian akan mengagihkannya kepada golongan yang berhak termasuk orang Melayu, India, Bumiputera Sabah/Sarawak serta Orang Asli.

          Apa yang mereka sebenarnya mahukan adalah pengikhtirafan!

          Mereka mahu diikhtiraf sebagai pejuang yang turut memerdekakan Tanah Melayu daripada belenggu penjajah.

          Mereka mahu diikhtiraf sebagai penentang kolonialisme dan imperialisme.

          Mereka mahu sejarah negara yang merakamkan mereka sebagai pengganas dipadamkan.

          Mereka mahu sejarah ditulis semula supaya mereka boleh duduk sama tinggi dan berdiri sama rendah dengan para penentang penjajah daripada era pra dan pasca Perang Dunia ke-2.

          Mereka mahu nama-nama mereka tersisip di dalam koleksi arkib sebaris dengan pemimpin-pemimpin Perikatan, pemimpin-pemimpin nasionalis kiri, pemimpin gerakan Islam Kaum Tua dan Kaum Muda.

          Mereka mahu peranan kaum Cina di dalam episod memerdekakan tanahair diwakili oleh PKM/MPAJA yang aktif/agresif dan bukannya MCA yang pasif/submisif.

          Mereka mahu jadi Hero Malaya!

          Jangan terpedaya dengan versi perjuangan Parti Komunis Malaya yang cuba mereka dakyahkan…

          PKM bukan anti-penjajah. Ianyanya ditubuhkan pada tahun 1930 untuk mengindoktrinasi fahaman Komunisme di kalangan rakyat Tanah Melayu;

          Apabila tercetus Perang Dunia Kedua, PKM mengimport Perang China-Jepun ke bumi Tanah Melayu dan menubuhkan MPAJA untuk menentang Jepun. Tindakan ini adalah di atas semangat Nasionalisme China, bukannya anti-penjajahan;

          PKM dan MPAJA dipersenjatakan oleh Tentera British untuk menentang Jepun sebelum British meninggalkan Tanah Melayu. Mana mungkin gerakan anti-penjajahan dipersenjatakan oleh penjajah! Mereka melawan Jepun demi China, namun tidur sebantal dengan British;

          Apabila Jepun tewas Perang Dunia Ke-2 setelah pengeboman ke atas Hiroshima dan Nagasaki, untuk tempoh selama 12 hari, PKM menghalakan senjata mereka ke arah warga tempatan. Ramai orang Melayu dan Cina terbunuh. Pertembungan besar-besaran berlaku di Negeri Perak, Batu Pahat dan Kuala Pilah. Perjuangan kemerdekaan apakah ini?;

          Sekembalinya British ke Tanah Melayu, dalam tempoh setahun British memperkenalkan Malayan Union. Ini membangkitkan perjuangan nasionalisme Melayu pada skala besar dan tersusun. British terpaksa memulakan dasar bekerjasama dengan UMNO;

          Pada tahun 1948 PKM melancarkan gerakan militan secara gerila terhadap British kerana merundingkan ‘self-rule Government’ dengan UMNO, yang dilihat sebagai ejen-Imperialis. PKM mahu memerdekakan Tanah Melayu untuk ditadbir secara langsung oleh Peking dan Moscow. Apalah ertinya kemerdekaan seumpama itu?;

          Pada tahun 1952, rakyat pelbagai kaum memberi mandat besar kepada Parti Perikatan untuk memenangi Pilihanraya Munisipal Kuala Lumpur. Ini adalah langkah awal ke arah kemerdekaan. Meskipun mandat rakyat begitu jelas, PKM masih meneruskan gerakan militan secara gerila melalui arahan langsung yang diterima dari Peking dan Moscow;

          Pada tahun 1955, rakyat pelbagai kaum sekali lagi memberi mandat besar kepada Parti Perikatan untuk membentuk ‘self-rule Government’ yang pertama. Kemerdekaan sudah dijanjikan, namun PKM meneruskan gerakan militan mereka demi arahan Peking dan Moscow;

          Meskipun gagal mendapat sokongan rakyat, PKM berkeras dengan arahan asing yang diterimanya. Persekutuan Tanah Melayu tetap MERDEKA ‘with or without’ persetujuan PKM. Setelah Merdeka sehinggalah tahun 1992, PKM meneruskan gerakan militan secara gerila. Bezanya serangan-serangan hendap ini adalah terhadap Angkatan Tentera Tanah Melayu dan Angkatan Tentera Malaysia.

          Mana mungkin kita mengakas tinta sejarah yang merakamkan mereka sebagai pengganas, petualang, pengkhianat yang bersifat anti-Nasional, dengan menjernihkan peranan mereka sebagai pejuang Kemerdekaan.

          I say ‘get lost’

          (Petikan dari FB Ustaz Engku Ahmad Fadzil – The Original Page)

          06/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | | Leave a comment

          *Qasidah dan Syair memuji Rasulullah SAW – Dibolehkan atau Dilarang?

          1- Kita sedia maklum bagaimana orang-orang Arab sejak zaman Jahiliyah lagi tak dapat dipisahkan dengan bentuk kesenian dan kesusasteraan mereka seperti Syair dan Qasidah. Ini jelas apabila kita mempelajari sejarah Arab bahkan dalam Sirah Nabawiyyah juga ada disebutkan tentang perkara ini.

          2- Malah di dalam Al-Quran sendiri berulang perkataan ‘Syair’ dan sebuah surah dinamakan dengan as-Syu’ara yang bermaksud ‘para penyair’. Bermula dari ayat 224 di dalam surah tersebut kita dapati Allah SWT menyebut bahawa terdapat penyair yang beriman dan beramal soleh dan ada juga penyair yang tidak beriman dan berdusta.

          3- Maka jelas bahawa terdapat perbezaan di antara penyair dan syairnya yang diterima oleh Islam dengan penyair dan syairnya yang tidak diiktiraf di dalam Islam.

          4- Kita dapati para sahabat bersyair dan melantunkan qasidah di hadapan Baginda SAW dan Baginda akan mendengar, terkadang tersenyum dan terkadang memuji syair yang baik. Manakala Baginda akan membetulkan kalau ada syair yang salah dan tidak tepat.

          5- Zaman berzaman juga kita dapati para ulama begitu kreatif dan hebat dalam mengarang syair-syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW. Ia bukanlah satu perkara yang pelik kerana syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW telah pun ada pada zaman Baginda SAW sendiri.

          6- Kitab-kitab Hadith dan Sirah sendiri mengumpulkan pelbagai syair pujian terhadap Baginda SAW dikarang dan dideklamasikan oleh para Sahabat seperti Sayyiduna Hassan Bin Thabit RA, Abdullah Bin Rawahah RA, Abu Bakr as-Siddiq RA, Umar Bin al-Khattab RA, Ka’ab Bin Malik RA, Ka’ab Bin Zuhair RA, al-Abbas Bin Abd. Muttolib dan lain-lain.

          7- Syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW ini dibacakan di hadapan Baginda SAW dan Baginda SAW tidak memarahi atau melarang. Bagaimanakah pula kita pada hari ni tidak suka atau melarang bacaannya?

          8- Oleh itu para ulama zaman berzaman mengambil contoh perbuatan para Sahabat RA dengan memuji Rasulullah SAW dalam bentuk syair dan qasidah. Syair dan qasidah ini dibukukan dan dibacakan malah disebarkan kepada masyarakat.

          9- Ada pihak yang kita dapati mempunyai ‘alahan’ dan tidak suka syair dan qasidah memuji Rasulullah SAW. Ada pula yang melarang dengan membawa dalil daripada sebuah Hadith Sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari RH:
          لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم
          Maksudnya:
          ‘Jangan berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

          10- Sedangkan maksud Hadith di atas adalah – jangan memuji Rasulullah SAW dengan pujian yang salah iaitu mengangkat Baginda sehingga mencapai tahap ketuhanan seperti yang kita lihat di dalam terjemahan Hadith di atas iaitu potongan ‘sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

          11- Seeloknya kita pelajari maksud syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW dan menghayati bagaimana para ulama memilih perkataan yang indah dan berirama untuk memuji manusia yang paling indah – Rasulullah SAW.

          Ustaz Adlan Abd Aziz
          Timbalan Pengerusi ISLAMI Kebangsaan

          Tirmidhi Centre

          03/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi juga mempertahankan Asya`irah sebagai salah satu dari kumpulan Ahlis Sunnah Wal Jamaah.

          Ulama terdahulu juga telah menjelaskan kedudukan Asya`irah sebagai Ahlis Sunnah.

          Imam Al-Zahabi di dalam kitabnya Siyar Al-A`lam berkata, “Abu Musa Al-Asy’ari berada di atas pegangan akidah Ahlis Sunnah Wal Jamaah.”

          Demikian juga pendapat ulama lain seperti Qadhi `Iyadh di dalam kitab Tartib Al-Madarik, Imam Ibn `Asakir dan Al-Subki. Mereka bahkan berpendapat imam Abu Hasan Al-Asy`ari termasuk dari kalangan Salaf dan imam Ahli Hadis.

          Golongan yang selesa dengan aliran Asya’irah pula tidak boleh menolak aliran Salaf (bukan salaf versi wahhabi) sebagai Ahlis Sunnah kerana mereka juga mengamalkan Islam berpandukan nas Al-Quran, Hadis dan fahaman para sahabat Nabi s.a.w. yang memang diakui semua sebagai sumber agama.

          Imam Ibn Al-Jauzi, seorang tokoh ulama beraliran Asya`irah menyebut di dalam kitabnya Talbis Iblis bahawa yang dinamakan sebagai Ahlis Sunnah itu adalah mereka yang mengikuti kebenaran dan ahli bid`ah pula yang mengikuti kesesatan. Selanjutnya beliau menukil kata-kata Ali Al-Madini yang mengakui golongan Ahli Hadis sebagai Ahlis Sunnah.

          salaf-khalaf Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, sebagai contoh, seorang yang mendukung dan berpegang dengan mazhab Asya`irah juga mengakui mazhab Salaf (Ori) sebagai Ahlis Sunnah dan berpegang bahawa pendapat mereka dalam soal ayat-ayat mutasyabihat lebih selamat.

          Seorang ulama Al-Azhar kontemporari bernama Muhammad bin Abdul Malik Al-Zughbi turut menjelaskan bahawa tiada masalah atau pertikaian antara umat Islam terdahulu di kurun-kurun yang pertama Islam mengenai sifat-sifat Allah.

          Tercetusnya masalah dalam lingkungan Ahli Sunnah pada awal kurun ketiga hijrah dan ia berkisar hanya pada perkara-perkara ijtihad dalam pentakwilan sifat-sifat Allah.

          Kesimpulan dasarnya di sisi semua ulama mengenai pegangan Ahlis Sunnah ialah fahaman yang kembali kepada sumber asal iaitu Al-Quran dan Sunnah serta amalan para sahabat dan tabi`in dan mereka juga tidak berselisih mengenai fakta bahawa akidah yang dipegang dan diamalkan umat Islam pada kurun pertama Islam adalah benar kerana bersumber pada Al-Quran dan Sunnah.

          Walaupun istilah Ahlis Sunnah belum digunapakai pada ketika itu, tetapi tiada khilaf dari kalangan ulama yang datang kemudian untuk menerima pendapat yang dipegang oleh mereka di zaman itu mengenai tidak mentakwil sifat-sifat Allah sebagai pendapat yang sah Ahlis Sunnah.

          Bahkan pendapat ini mendahului pendapat Asya`irah dalam Ahlis Sunnah seperti yang dinyatakan Oleh para ulama.

          Matlamat utama bagi semua adalah melahirkan anak-anak murid yang baik akhlaknya, cerdas pemikirannya dan bersikap profesional dalam menguruskan diri dan sekitaran apabila melangkah ke medan kehidupan.

          Para ulama Salaf dan Asya`irah dari dahulu hingga sekarang telah bersepakat mengenai tanzih (mensucikan Allah dari segala persamaan dengan makhluk dan segala sifat-sifat kekurangan).

          Malah terdapat banyak persamaan dalam persoalan akidah antara aliran Salaf dan Asya’irah, iaitu;

          A . kedua-dua pihak jelas mensucikan Allah taala daripada menyerupai makhluk.

          B . kedua-dua pihak meyakini bahawa maksud sebenar ayat mutasyabihat bukanlah maksud zahirnya yang menyerupai makhluk.

          C . kedua-dua pihak mengetahui lafaz yang digunakan dalam ayat-ayat itu adalah lafaz yang difahami oleh manusia dan dapat dirasai oleh pancaindera.

          Walaupun bahasa Arab luas, tetapi ia tidak merangkumi semua hakikat ilmu. Hakikat Allah s.w.t tidak mampu diterangkan oleh keterbatasan bahasa itu. Bahasa adalah sesuatu yang terhad kerana ia difahami dari sudut makna lafaz sahaja. Menentukan makna hanya dari sudut lafaz sahaja tidak memberi erti yang tepat.

          D . Kedua-dua sepakat pada keharusan takwil. Perselisihan hanya pada keperluan menentukan makna takwil yang diperlukan bagi menjaga akidah masyarakat umum daripada menyamakan Allah taala dengan makhluk.

          Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata, “Perselisihan seperti itu tidak perlu dirumitkan dan diperbesarkan.”

          Dalam isu menghuraikan maksud sifat Allah yang tertentu, ada yang membiarkannya tanpa takwilan apa-apa, iaitu menyerahkan maksudnya secara total kepada Allah.

          Mereka itulah golongan yang menuruti aliran Salaf.

          Ada pula yang mentakwil untuk memberi kefahaman betul kepada masyarakat awam tentang sifat Allah yang tidak sama dengan makhluk.

          Imam Ibn Kathir merupakan contoh terbaik dalam hal ini.
          Adakalanya beliau menggunakan kaedah takwil dan adakalanya tidak.

          Sebagai contoh, ketika mentafsirkan ayat istiwa’, beliau berkata, “Manusia mempunyai pelbagai pandangan tentang perkara ini.

          Saya (Ibn Kathir) mengikut pandangan Salaf dalam ayat ini, antaranya seperti Imam Malik, Al-Auza`i, Al-Thauri, Al-Laith bin Sa`ad, Al-Syafi`i, Ahmad, Ishak bin Rahawaih dan yang lain dari kalangan para imam dahulu dan sekarang.

          Mereka mengambil pandangan bagi membiarkan nas itu sebagaimana zahir,tanpa tafsir,tanpa terjemah dan tanpa membicarakannya,cukup dengan bacaan Qiraatnya tanpa disebut bagaimana dan tidak menyerupakan dengan sifat makhluk, serta tidak menafikan nas-nas itu.”

          Tetapi pada ayat-ayat sifat yang lain, beliau mengambil kaedah pentakwilan pada ayat-ayat mengenai sifat tangan.

          Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata bahawa kaedah takwil juga digunakan oleh golongan Salaf jikalau takwilan itu hampir kepada nas Al-Quran dan tidak terkeluar jauh dari maksud yang sebenar.

          Ini dilakukan oleh imam Ibn Kathir seperti contoh di atas dan juga imam Al-Baihaqi, Al-Nawawi, Ibn Hajar dan ramai lagi.

          Syeikh Muhammad Al-Hasan Al-Syinqiti, seorang alim dari Mauritania berkata,…

          “Harus berlaku kesilapan pada golongan Asya`irah, Maturidiah, Hanbali,.. dan mereka semua tidak boleh dikafirkan oleh kesilapan-kesilapan tersebut.”

          Walau apa pun, pelbagai bentuk tasawwur yang wujud di dunia Melayu seperti akidah ijtihad Ibn Taimiyah, Salafi Wahabi ataupun dinamika Afghani, Salafi Abduh, Haraki al-Banna, namun sikap kita harus waspada atas kepelbagaian tasawwur dan ittijah di atas.

          Rujukan:

          Yusuf Al-Qaradhawi. 2014. Merungkai pertelingkahan isu akidah antara salaf dan khalaf. PTS Islamika Sdn. Bhd. Selangor.
          DLL.

          Sumber: FB Zarief Shah Al HaQQy

          01/12/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          SELAWAT SYIFA’ ADALAH SYIRIK ? INI JAWAPANNYA

          Penganut wahhabi memang amat mudah menghukum kafir dan syirik tanpa hak terhadap ulamak dan umat Islam. Mereka sahaja yang benar dan yang tidak mengikut ajaran mereka yang kononnya berdasarkan al Quran dan hadis pasti akan dituduh syirik, kafir, ahli bid’ah sesat masuk neraka.

          Siapakah penganut Wahhabi yang menyatakan amalan ini SYIRIK dan BERCANGGAH AQIDAH ISLAM ?

          1. Azwira Aziz – Pensyarah di Universiti Kebangsaan Malaysia dan pernah menjadi Ajk Fatwa Perlis

          2. Masri Ramli – penganut wahhabi di UIAM (pelik bila ada ustazah terkenal pun jadikan penganut wahhabi takfiri ni sebagai rujukan )

          3. Asri Zainal Abidin – Muftin Wahhabi Perlis dan memfatwakannya Buletin Jabatan Mufti Negeri Perlis, Suara al-Sunnah, Bil. 1 April 2007

          4. Nawawi Subandi – wahhabi tegar dan merupakan anak murid Rasul Dahri serta rakan Fathul Bari, Fadhlan Othman dalam UMNO.

          Siapakah antara Ulamak Islam yang mengamalkan Selawat Syifa’ ?

          1. Almarhum Dr Wahbah Az Zuhaili – Ulamak Islam terkenal Syria yang menyusun Tafsir al Munir, kitab feqh terkenal Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu

          2. Almarhum Sayyid Muhammad Alawi al Maliki – Ulamak Makkah al Mukarramah

          Selain itu

          3. Almarhum Tuan Guru Dr Haron Din diamalkan dan diajarkan kepada perawat Islam Darussyifa’

          4. Almarhum Tuan Guru Nik Abdul Aziz – dijadikan wirid setiap pagi Jumaat dan diajarkan kepada umat Islam.

          Dan ramai lagi

          Antara jawapan dan penjelasan mengenai selawat syifa’ melalui sandaran al Quran, hadis serta berdasarkan ilmu nahu sorof :

          1. Dr Khafidz Soroni
          https://sawanih.blogspot.com/2010/12/selawat-syifa-kekeliruan-berterusan.html?m=1

          2. Almarhum Tuan Guru Dr Haron Din
          http://sabilurrosyad.blogspot.com/2011/05/penjelasan-tentang-selawat-syifa.html?m=1

          3. al-’Allamah Sayyid Muhammad ’Alawi al-Maliki yang disajikan dalam buku wiridnya, Syawariq al-Anwar min Ad’iyah al-Sadah al-Akhyar, hlm. 95.

          4. Ustaz Azhar Idrus

          Contoh selawat yang disusun oleh para salafussoleh :
          https://jomfaham.blogspot.com/2014/01/contoh-selawat-selawat-yang-direka-oleh.html?m=1

          Apakah bahayanya ajaran Wahhabi yang mudah mensyirikkan dan mengkafirkan ulamak dan umat Islam ?

          Hadith RasuluLLah yang terdapat dalam Sahih Bukhari no 5752 yang bererti :

          “Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya dengan Wahai Kafir, maka kekafiran itu kembali kepada salah satunya ”

          Begitulah juga sesiapa yang menuduh seorang Muslim dengan tuduhan syirik maka orang yang menuduh itu sendiri akan jatuh ke dalam kesyirikan tersebut sebagaimana yang telah diterangkan dalam hadith dari Huzaifah bin Yaman di mana RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bererti :

          Sesungguhnya perkara yang aku khuatirkan ke atas kamu semua adalah seseorang yang telah membaca al Quran sehingga apabila telah nampak kepandaiannya dalam al Quran dan dia telah menjadi pendokong Islam, tiba-tiba sahaja dia merubahnya kepada sesuatu yang dikehendaki oleh ALlah, maka iapun terlepas dari al Quran dan melemparkannya ke belakang serta mengancam tetangganya dengan pedang sambil melemparinya dengan tuduhan syirik. Aku bertanya : Wahai Nabi ALlah mana di antara keduanya yang lebih patut di anggap melakukan kesyirikan? Orang yang dituduh ataukah yang melemparkan tuduhan? Nabi menjawab : Yang melemparkan tuduhan.

          (Hadith dikeluarkan oleh Ibnu Hibban pada hadith no 81 dan Ibnu Kathir dalam tafsirnya jilid II/266, dia berkata : Isnad Hadith ini bagus. Begitu juga ditakhrij oleh Al Bazzar dalam Musnadnya dengan pernyataan yang sama, At Thabroni dalam Al Kabir dan As Saghir dengan pernyataan yang sama dan Ibnu Abi Ashim dalam kitab As Sunnah).

          Dalam sahih Bukhari pada hadith nombor 2227 disebutkan bahawa Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam telah bersabda yang bererti :

          “Barangsiapa yang melaknat seorang Mukmin maka itu seperti membunuhnya dan barangsiapa yang menuduh seorang Mukmin dengan kekafiran maka itu seperti membunuhnya.”

          P/S : Lihatlah siapa yang telah disyirikkan oleh wahhabi. Kepada umat Islam berhati-hatilah dan jauhilah ajaran sesat Wahhabi dan yang bercanggah dengan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah seperti syiah, mujassimah, karamiyyah, liberal, anti hadis etc.

          Sebar-sebarkan.

          30/11/2019 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, wahabi | , | Leave a comment

          KENALI JIN MUSUH SEBENAR MANUSIA

          Hidup didunia ini banyak cabaran dan dugaan yang harus kita tempuhi malah kita tidak mengetahui bahawa di sekeliling kita mempunyai musuh yang ingin merosakkan dan menghapuskan kita. Sesungguhnya banyak hadis dan ayat Al-Quran yang menceritakan tentang alam kehidupan makhluk bernama jin atau makhluk halus yang hanya dapat dilihat mengunakan mata halus.

          Jin dicipta daripada api yang sangat panas iaitu sel,atom atau nukleus-nukleus api. Selepas itu ia dimasukkan roh atau nyawa padanya,maka jadilah makhluk ini hidup seperti dikehendaki oleh Allah SWT malah jin jugak boleh menzahirkan diri dalam pelbagai bentuk dan rupa yang disukai mengikut tahap dan kemampuan masing-masing kecuali menyerupai wajah Nabi Muhammad SAW.

          Raja-raja jin di alam atas langit (beragama islam)

          1: Jibriyaail

          2: Mikiyaail

          3: Samsamaail

          4: Ruqiyaail

          5: Kasfiyaail

          6: Sarfiyaail

          7: Ainyaail

          Raja-raja jin di alam atas langit (Kafir)

          1: Akhmar

          2: Burkhan

          3: Syamhurisah

          4: Mazhab

          5: Marrah

          6: Maimon

          7: Zubaiah

          Terdapat empat kerajaan besar golongan kerajaan jin ifrit di seluruh alam ini.

          Mereka ini pernah bekerja dibawah pemerintahan Nabi sulaiman sebagai menteri.

          Mereka juga adalah jin ifrit paling jahat sekali antara semua bangsa jin.

          1: Munalig

          2: Hadlabajan

          3: Sughal

          4: Thamrit

          Raja-raja dari anak-anak iblis

          Terdapat lima kerajaan besar yang diperintah oleh anak-anak iblis berserta dengan tugas-tugas mereka.

          1: Dassim

          Tugas jin ini merasuk manusia supaya bercerai-berai antara suami isteri,adik-beradik,sahabat handai dan jiran tetangga.Dassim juga bertanggungjawab memutuskan silaturahim,kekeluargaan,jemaah dan seumpamanya.

          2: Mabsuut

          Jin ini tugasnya merasuk dan menghasut manusia supaya memfitnah,mengadu domba,dengki khianat dan seumpamanya.

          3: Thubar

          Tugasnya merasuk manusia yang ditimpa masalah,musibah dan bala bencana supaya berputus asa dari rahmat Allah.Seleps dirasuk mereka menyumpah-nyumpah dan memaki hamun kepada Allah kerana ditimpa musibah itu.

          4: Zalanbur

          Tugas jin ini merasuk dan menghasut manusia supaya bertengkar,bergaduh,bermusuhan,dan membunuh.Orang yang dirasuk selalu mendapat gelaran atau nama panggilan kerana terkenal dengan sifat panas barannya.

          5: Al-Anwar

          Jin ini ditugaskan untuk merasuk dan menghasut manusia suapaya berbuat perbuatan keji yang akan meruntuhkan nama baiknya sendiri seperti berjudi,tikam nombor ekor,gejala sosial,onani,berzina, lesbian,liwat dan sebagainya.Mereka yang terlibat pada mulanya cuma hanya mencuba dan berjinak-jinak tetapi sekali mencuba membawa ketagihan dan akhirnya menjadi hobi.Paling keji perlakuan homeseksual atau liwat

          Mereka yang mencuba sekali akan terus kekal sampai ke mati.

          Amat sukar sekali seseorang manusia itu untuk membuang tabiat keji itu walaupon pelbagai cara digunakan.Mereka yang terlibat terus dengan kerja keji dan maksiat besar ini mendapat kutukan Allah seperti apa yang berlaku terhadap kaum Nabi Lut.

          AZAZIL

          Azazil adalah ketua dan raja agung seluruh kerajaan iblis sementara maharaja tertinggi kesemua jin ialah Thothamghiyam Yaal.

          Malaikat yang ditugaskan menjaga dan memantau kesemua kerajaan dan seluruh jin ialah malaikat Maithotorun atau kutubul Jalalah.

          Maka dengan ini lengkaplah keseluruhan kerajaan jin atau disebut juga dengan nama paling popular alam iblis. Sekarang anda telah mengetahui dengan lengkap Alam iblis yang menjadi musuh kamu yang paling nyata.Biarpun Alam Iblis ini tidak dapat dilihat melalui mata kasar tetapi ketajaman naluri dan pandangan ‘basrah’ manusia mampu melihat segala kegiatan jahat mereka yang sentiasa mahu menghancurkan setiap jiwa daripada umat islam.

          Sumber

          30/11/2019 Posted by | Informasi | | Leave a comment

          T A L F I Q

          Ada wahhabi yg kata apa yg kita buat sekarang ni pun dah tak pure mazhab syafie pun.Contohnya dalam masalah zakat kita dah tak ikut mazhab syafie.Boleh pulak?

          Jawabnya adalah seperti berikut:
          Ada dua puluh kaedah fiqh yg telah diijmakkan oleh kesemua mazhab .Salah satunya ialah kaedah yg berbunyi:
          المشقة تجلب التيسير
          Kesukaran dapat menarik kemudahan.
          Kaedah berasal dari firman Allah
          يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر
          Allah menghendakki kemudahan utk kamu dan Dia tidak menghendakki kesukaran utk kamu.

          Bagaimana kaedah ini dapat diterapkan dalam bab zakat.

          Berdasarkan kepada fatwa Imam Al Syafie zakat fitrah hendaklah dengan makanan yang mengenyangkan.Sebagai pengikut mazhab Syafie inilah asalnyanyg wajib.Tapi oleh kerana pada zaman sekarang ada kesukaran dalam melaksanakan fatwa itu maka ketika itu boleh berpindah kepada fatwa ulama yg paling hampir yaitu mengeluarkan zakat dengan matawang berdasarkan adanya kesukaran dan sesuai dengan kaedah tadi al masyaqqah tajlibu al taisir.Setiap kesukaran dapat menarik kemudahan.Adakah kita terleluar dari mazhab syafie?Jawab nya tidak dengan tiga alasan:
          1)Kita masih lagi menganggap fatwa imam Syafie itulah yg sahih dan kuat dan yang lain itu dhaif
          2)Satu satu nya alasan kita meninggalkan fatwa beliau dalam bab itu bukan kerana fatwanya dhaif tapi kerana dharurat dan hajat yg mendesak
          3)Perbuatan kita meninggalkan fatwa beliau dalam masalah kesukaran itu adalah berdasarkan kepada kaedah di atas yg telah ijmak oleh semua mazhab termasuk imam syafie sendiri.

          Jadi perbuatan kita itu tidak boleh dianggap talfiq.

          Yang dianggap talfiq apabila kita meninggalkan fatwa mazhab asal kita dengan menganggap fatwa mazhab asal kita itu lemah.Sedangkan dalam dua puluh kaedah fiqh seperti yg dibiincangkan dan diawpakati oleh ulama ulama usul dari semua mazhab tidak ada satu kaedah pun yg mengatakan ahlu taqlid boleh meninggalkan fatwa mazhab asalnya dengan alasan fatwa mazhab asalnya lemah.Macam mana dia boleh tahu fatwa mazhab asalnya adalah lemah sedangkan dia hanya seorang pentaqlid?Sebab itu agama jadi rosak.Paha bukan aurat laa..Pegang anjing tak najislah, daging buaya halal lah sebab setiap orang dengan sesuka hati nya mengkuatkan dan melemahkan pandangan yg mereka sukai sesuai hawa nafsu masing masing!

          Sumber: FB Ustaz Ilham Othmany

          29/11/2019 Posted by | Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

          Lagi Kritikan Liberal Terhadap JAKIM?

          Beliau juga pernah mencadangkan subjek Agama tidak di ajar di waktu Sekolah.

          1. Kalau sebelum ini Siti Kasim, Sisters in Islam dan kumpulan G25 yang banyak menghentam JAKIM, terkini terdapat ahli akademik pula menzahirkan kritikan yang sama. Semalam seorang pensyarah UKM mempersoalkan sejauh mana JAKIM menyumbang ke arah menggalakkan kemajuan Islam di negara ini.

          2. Beliau merujuk serbuan oleh Jabatan Agama Islam Selangor yang menahan 23 individu di sebuah pusat Syiah di Gombak pada September lalu. Bagi beliau, operasi tersebut melanggar hak asasi manusia. Malah, menurut beliau lagi JAKIM telah merosakkan masyarakat dan berpandangan bahawa masyarakat akan menjadi semakin extremis 20 atau 30 tahun lagi.

          3. Istilah-istilah yang digunakan oleh pensyarah ini seakan senada dengan seruan pendokong Liberal yang menyifatkan Muslim sebagai ekstremis, sempit dan mencabul kebebasan hak asasi kemanusiaan. Dalam Islam tiada hak kebebasan yang mutlak. Muslim tidak boleh sewenangnya melakukan dosa yang merosakkan diri dan aqidah mereka.

          4. Tindakan Jabatan Agama yang melakukan operasi bagi mencegah kerosakan aqidah umat Islam adalah selaras dengan konsep Amar Makruf dan Nahi Mungkar. Atas sebab itu sebahagian sarjana Muslim mengharuskan operasi siasatan bagi mencegah dosa yang merosakkan individu Muslim. Al-Imam Ibn Hajar menegaskan bahawa: “Benar, seseorang tidak boleh melakukan tajassus (intipan) terhadap Muslim yang lain. Namun sekiranya sesuatu aduan telah dibuat dari orang yang dipercayai (thiqah), maka ia adalah sesuatu yang diharuskan bagi mencegah kemungkaran.” (Fath al-Bari, 10/482)

          5. Pandangan yang hampir sama dinukilkan oleh al-Imam Nawawi yang menyatakan pandangan al-Imam al-Haramain dan al-Mawardi berhubung keharusan melakukan operasi siasatan bagi mencegah perlakuan jenayah zina (Syarh al-Nawawi, 2/26). Ini bererti tindakan Jabatan Agama mencegah kemungkaran dan kerosakan aqidah adalah sesuatu yang mempunyai asas dalam Islam. Tidak seperti gesaan liberal yang menuntut kebebasan mutlak individu.

          6. Operasi Jabatan Agama tersebut adalah jelas termasuk dalam kempen mencegah kemungkaran yang dituntut dalam Islam. Dalam al-Quran, Allah menyifatkan Bani Israel sebagai bangsa yang dilaknat kerana mereka tidak mencegah kemungkaran. Firman Allah:

          كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

          “Mereka sentiasa tidak mencegah (sesama sendiri) perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Demi sesungguhnya amatlah buruknya apa yang mereka telah lakukan.” Surah al-Maidah: 79.

          6. Di dalam Surah al-Taubah pula, Allah menyifatkan antara sifat orang munafiq itu adalah mereka yang tidak mencegah kemungkaran. Firman Allah:

          الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ

          Orang-orang munafik lelaki dan perempuan, setengahnya adalah sama dengan setengahnya yang lain; mereka masing-masing menyuruh dengan perbuatan yang jahat, dan melarang dari perbuatan yang baik. Surah al-Taubah:67.

          7. Bahkan Rasulullah mengingatkan bahawa mereka yang tidak mencegah kemungkaran sedangkan dia mampu, maka akan dibimbangi akan ditimpa azab dari Allah. Sabda Rasulullah:

          ((ما من قومٍ يُعْمَل فيهم المعاصي، ثم يقدرون على أن يغيِّروا ثم لايغيروا؛ إلا ويوشك الله أن يعمَّهم بعقابٍ))

          “Tiada satu kaum yang melakukan maksiat, sedangkan ada dikalangan mereka yang mampu mencegahnya, melainkan akan dibimbangi keseluruhan mereka akan ditimpa azab ke atas kesemuanya” (HR Abu Daud)

          8. Semoga Allah menyelamatkan kita dari pemikiran Liberal yang mengelirukan manusia tentang Islam. Semoga Allah membimbing kita.

          Dr. Ahmad Sanusi Azmi
          https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

          Rujukan:
          https://www.freemalaysiatoday.com/category/bahasa/2019/11/25/ahli-akademik-gesa-rundingan-terbuka-fungsi-jakim/

          28/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

          BUKTI KUKUH JENAYAH AKADEMIK; WAHHABI MENGUBAH ISI KANDUNGAN KITAB ULAMAK SALAF!

          Kaum Wahabi yang mendakwa dirinya Salafi dan menghalalkan segala cara untuk mempromosikan ajaran mereka termasuk dengan cara menghapus isi kandungan dari kitab para ulama salaf yang mengkritik mereka atau menyalahkan doktrin Wahhabi.

          Berikut daftar kitab yang dirubah, dihapus, disunting dan dipalsukan oleh kaum Wahhabi.

          1. Dalam kitab ad-Durar asSaniyyah, jilid 1, hal 228, diperintahkan untuk memusnahkan atau menghilangkan, sebahagian isi kandungan Kitab-Kitab karya Ulama, jika tidak sesuai dengan aqidah Wahabi.

          2. Kitab Riyadhus Sholihin, karya Imam Nawawi, memuat judul Doa Ziarah Kubur Nabi, dirubah menjadi Ziarah Masjid Nabi, kerana Wahabi Anti Ziarah Kubur.

          3. Perkataan Imam AsSubki, yang dinukilkan Imam Abul ‘Izz, dalam Syarah Aqidah Thohawiyah, dari kitab Mu’id An-Ni’am, hal 62, dirubah habis-habisan. Yang semula disebut Asy’ari sebagai isi Aqidah Thohawiyah, dihilangkan sama sekali. Yang semula disebut sebahagian Hanbali ikut tajsim dihilangkan juga.

          4. Kitab Aqidah AsSalaf Ashhabul Hadis, karya Syeikh Islam Abu Usman Ismail Ash-Shobuni, hal 6, aslinya tertulis Ziarah Kubur Nabi tapi diubah jadi Ziarah Masjid Nabi.

          5. Kitab Hasyiyah AsSowi ‘ala Tafsir al-Jalalain, karya Syeikh Ahmad bin Muhammad asSowi al-Maliki, hal 78, aslinya tertulis, bahwa wahabi adalah Jelmaan Khawarij, yang telah merusak penafsiran al-Qur’an dan asSunnah, dan suka membunuh kaum muslimin, tapi dihapus semuanya.

          6. Kitab Tafsir al-Kasysyaf, karya Imam az-Zamakhsyari, dalam tafsir Surat al-Qiyaamah, ayat 22-23, penafsiran si pengarang yang Mu’tazilah, diubah habis jadi penafsiran Wahabi.

          7. Kitab al-Ibanah, karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari, yang terang-terangan menolak TAJSIM dan TASYBIH, dirubah habis-habisan menjadi mendukung TAJSIM dan TASYBIH.

          8. Kitab al-Fawaid al-Muntakhobat, karya Ibnu Jami az-Zubairi, di hal 207 menyatakan, bahwa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah THOGHUT BESAR, tapi dihapus sama sekali.

          9. Semua cetakan kitab Diwan Imam Asy-Syafi’, di hal 47, ada bait berbunyi FAQIIHAN WA SHUFIYYAN FAKUN LAISA WAHIDAN, artinya Jadilah Ahli Fiqih dan Shufi sekaligus, jangan hanya salah satunya. Tapi dalam cetakan WAHABI, termasuk versi elektronik (e-book) dengan alamat http://www.almeshkat.net, bait tersebut dibuang karena Wahabi MUSUH SHUFI.

          10. Kitab Shahih Bukhari dipalsukan juga. Imam Ibnu Hajar al-Asqolani, dalam Fathul Bari, menjelaskan adanya Pasal al-Ma’rifah, dan Bab al-Mazholim dalam Shahih Bukhari, tapi dalam Shahih Bukhari, cetakan Wahabi saat ini, Pasal dan Bab itu hilang.

          11. Kitab Shahih Muslim dipalsukan juga. Hadits Fadhoil Maryam, Asiyah, Khadijah dan Fathimah, dihapus dari Shahih Muslim yang dicetak, padahal Mustadrok al-Hakim mencatat itu. Lucunya, Shahih Muslim, cetakan Masykul, jilid 7 hal 133, ada Bab Fadhoil Khadijah, tapi isinya tentang Fadhoil Maryam, Asiyah dan Aisyah.

          12. Wahabi mengaku cinta Imam Ahmad, tapi Kitab Musnad Imam Ahmad diperkosa juga. Dalam Musnad Imam Ahmad, aslinya ada Hadits tentang Rasulullah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor, serta mempersaudarakan dirinya dengan Ali. Tapi kini oleh Wahabi, Hadis tersebut dibuang, tidak ada dalam Musnad cetakan mereka.

          13. Kitab ash-Showa’iq al-Muhriqoh, karya Ibnu Hajar al-Haitami, tidak luput dari kejahatan Wahabi. Sejumlah Hadis tentang Ali dan Ahlul Bait Nabi, dipalsukan dengan dihapus sebagian dan diubah.

          14. Dalam kitab Hasyiah Ibnu ‘Abidin, yang bermadzhab Hanafi, ada PASAL KHUSUS tentang Wali, Abdal dan orang-orang Sholeh, serta Karomah. Tapi kini oleh Wahabi, satu pasal full DIMUSNAHKAN.

          15. Ucapan Syeikh as-Sakhawi tentang Imam al-A’la al-Bukhari yang menyatakan bahwa Sang Imam SANGAT TAKUT dekat dengan Penguasa, dirubah jadi SANGAT DEKAT dengan Penguasa.

          16. Kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, jilid ke-10, tentang ILMU SULUK dan TASHAWWUF, pernah cukup lama tidak diterbitkan oleh Wahabi. Baru setelah diprotes banyak pihak, akhirnya disisipin lagi jilid tersebut.

          17. Kitab Nihayatul Qoul al-Mufid, karya Syeikh Muhammad Makki Nashr al-Juraisi, yang menulis bahwa dirinya Madzhab Syafi’i dengan THORIQOH SYADZALI, tapi dibuang Thoriqohnya.

          18. Dalam kitab al-Mughni, karya Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali, ada BAB ISTIGHOTSAH, tapi dalam cetakan ulang Wahabi, dibuang sama sekali.

          19. Kitab Tarikh al-Ya’qubi, jilid 2 hal 37, aslinya menyebut “Nash” buat Ali di Ghadir Khum. Tapi dalam cetakan Wahabi, kata Nash dan Ghadir Khum dilenyapkan.

          20. As-Syeikh al-Muhaddits Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari, dalam kitabnya, al-Burhan al-Jaliy, mencatat PEMALSUAN WAHABI terhadap Kitab Ahwal al-Qubur, karya Ibnu Rajab al-Hanbali, dan Kitab Tafsir al-Bahr al-Muhith, karya Abu Hayyan, serta sebuah kitab lainnya yang berjudul Iqtidho Ash-Shiroth Al-Mustaqim.

          Sumber: FB Ustaz Abdul Jalil Ibn Umar

          27/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          Ketahui 33 Niat Penting Ketika Membaca Al-Quran

          Ramai dalam kalangan saudara muslim kita ketika membaca Al-Quran berniat semata-mata untuk pahala dan masing-masing kurang mengetahui tentang kelebihan besar Al-Quran, iaitu seseorang akan mendapat apa saja yang dia niatkan ketika dia membaca Al-Quran. Ini sebagaimana yang disabdakan oleh Sayyidina Rasulullah SAW :
          “Sesungguhnya setiap amal yang dilakukan itu diukur atas niatnya dan seseorang akan mendapat (hasil amalnya) apa yang dia niatkan.”
          فالقرءان منهج حياة والنية تجارة العلماء فمن هذا المبدأ والمنطلق أردت أن أذكر نفسي وإخواني ببعض النوايا عند القراءة ومنها
          Al-Quran itu adalah panduan cara hidup, sehingga niatnya itu adalah perniagaan para ulama untuk mendapatkan keuntungan.
          Dari dua prinsip ini, saya ingin mengingatkan diri saya dan saudara sekalian dengan beberapa dari niat-niat ketika membaca Al-Quran, antaranya :
          #1 – Tujuan Belajar Dan Beramal
          (اقرأ القرآن لأجل العلم والعمل به)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan belajar dan beramal dengannya.
          #2 – Tujuan Memohon Hidayah
          (اقرأ القرآن بقصد الهداية من الله)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan memohon hidayah dari Allah SWT.
          #3 – Tujuan Bermunajat
          (اقرأ القرآن بقصد مناجاة الله تعالى)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan untuk bermunajat kepada Allah.
          #4 – Tujuan Menyembuhkan Penyakit
          (اقرأ القرآن بقصد الإستشفاء به من الأمراض الظاهرة والباطنة)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan menyembuhkan penyakit zhohir dan batin.
          #5 – Tujuan Meminta Dikeluarkan Daripada Kegelapan Kepada Cahaya
          (اقرأ القرآن بقصد أن يخرجنى الله من الظلمات إلي النور)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan meminta kepada Allah SWT untuk mengeluarkan saya dari kegelapan (maksiat) kepada cahaya (iman).
          #6 – Niat Untuk Ubat Bagi Hati Yang Keras
          (اقرأ القرآن لأنه علاج لقسوة القلب فيه طمأنينة القلب وحياة القلب وعمارة القلب)
          Saya niat membaca Al-Quran ini karena ia merupakan ubat bagi hati yang keras, dengan Al-Quran ini hati menjadi tenang, hidup dan makmur (dengan iman).
          #7 – Tujuan Untuk Menikmati Hidangan
          (اقرأ القرآن بقصد أن القرآن مأدبة الله تعالى)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan (untuk menikmati) jamuan atau hidangan dari Allah Taala.
          #8 – Tujuan Supaya Tidak Termasuk Dalam Golongan Yang Lalai
          (اقرأ القرآن حتى لا أكتب من الغافلين وأكون من الذاكرين)
          Saya niat membaca Al-Quran ini supaya saya tidak ditulis termasuk dari golongan orang yang lalai; bahkan saya ingin ditulis sebagai golongan orang yang mengingat Allah.
          #9 – Tujuan Untuk Menambah Keyakinan
          (اقرأ القرآن بقصد زيادة اليقين والإيمان بالله)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan untuk menambahkan keyakinan dan keimanan kepada Allah.
          #10 – Niat Mentaati Perintah Allah
          (اقرأ القرآن بقصد الإمتثال لأمر الله تعالي بالترتيل)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan mentaati perintah Allah SWT yang memerintahkan untuk membaca Al-Quran dengan tartil.
          #11 – Niat Untuk Mendapat Pahala Dan Kebaikan
          (اقرأ القرآن للثواب حتى يكون لى بكل حرف ١٠ حسنات والله يضاعف لمن يشاء)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan mendapat pahala sehingga dituliskan 10 ganjaran kebaikan bagi saya atas setiap satu huruf yang saya baca, sesungguhnya Allah melipatgandakan ganjaran bagi orang yang Dia kehendaki.
          #12 – Niat Untuk Mendapat Syafaat
          (اقرأ القرآن حتى أن أنال شفاعة القرآن الكريم يوم القيامة)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan untuk mendapat syafaat Al-Quran pada hari kiamat kelak.
          #13 – Tujuan Untuk Mengikut Wasiat Nabi
          (اقرأ القرآن بقصد إتباع وصية النبى ﷺ)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan mengikuti wasiat Nabi SAW.
          #14 – Tujuan Supaya Allah Mengangkat Darjat Diri Dan Umat Islam
          (اقرأ القرآن حتى يرفعنى الله به ويرفع به الأمة)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan semoga Allah SWT mengangkat derajat saya dengan Al-Quran dan mengangkat darjat umat ini dengan Al-Quran.
          #15 – Tujuan Supaya Allah Mengangkat Darjat Di Syurga
          (اقرأ القرآن حتى أرتقي في درجات الجنة وألبس تاج الوقار ويكسي والداى بحلتين لا يقوم لهما الدنيا)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan untuk dinaikkan kedudukan saya di syurga dan dapat dipakaikan mahkota kemuliaan, dan untuk ibu bapa saya semoga dipakaikan juga dengan perhiasan yang tidak diberikan ketika di dunia.
          #16 – Niat Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah
          (اقرأ القرآن بقصد التقرب إلي الله بكلامه)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui kalamNya.
          #17 – Niat Agar Dimasukkan Dalam Golongan Ahlillah
          (اقرأ القرآن حتى أكون من أهل الله وخاصته)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan agar dimasukkan kedalam golongan ahlillah dan daripada golongan orang-orang yang khusus.
          #18 – Niat Agar Dimasukkan Dalam Golongan Ahli Yang Mahir Membaca Al-Quran
          (اقرأ القرآن بقصد أن الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan (agar termasuk dalam golongan) orang yang mahir membaca Al-Quran akan bersama para Malaikat yang mulia lagi taat.
          #19 – Niat Agar Diselamatkan Daripada Ahli Neraka
          (اقرأ القرآن بقصد النجاة من النار ومن عذاب الله)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan agar diselamatkan daripada neraka dan azab Allah.
          #20 – Niat Agar Hati Rasa Kebersamaan Dengan Allah
          (اقرأ القرآن حتى أكون في معية الله تعالي)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan agar hati saya dapat merasakan kebersamaan dengan Allah SWT.
          #21 – Niat Supaya Tidak Mensia-siakan Umur
          (اقرأ القرآن حتى لا أرد إل أرذل العمر)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan agar tidak menghinakan atau mensia-siakan umur.
          #22 – Niat Agar Al-Quran Menjadi Saksi Kebaikan
          (اقرأ القرآن حتى يكون حجة لى لا علىّ)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan agar ia menjadi saksi kebaikan bagi saya dan tidak pula menjadi saksi keburukan ke atas saya.
          #23 – Niat Memandang Mushaf Ialah Satu Kebaikan
          (اقرأ القرآن بقصد أن النظر في المصحف عبادة)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan untuk melihat kepada mushaf yang mana perbuatan itu adalah satu ibadah.
          #24 – Niat Agar Allah Mengurniakan Sakinah
          (اقرأ القرآن حتى تنزل علىّ السكينة وتغشانى الرحمة ويذكرنى الله فيمن عنده)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan agar diturunkan sakinah(ketenangan) ke atas saya, dan diliputi rahmat buat diri saya, dan disebut nama saya oleh Allah SWT kepada makhluk di sisiNya.
          #25 – Tujan Mendapat Kebaikan
          (اقرأ القرآن بقصد الحصول على الخيرية والفضل عند الله)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan mendapat kebaikan dan kelebihan di sisi Allah.
          #26 – Niat Supaya Aroma Mulut Menjadi Harum
          (اقرأ القرآن حتى يكون ريحي طيب)
          Saya niat membaca Al-Quran agar aroma (bau mulut) saya menjadi harum (dengan lantunan Quran).
          #27 – Niat Agar Tidak Tersesat Di Dunia
          (اقرأ القرآن حتى لا أضل في الدنيا ولا أشقي في الآخرة)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan agar saya tidak tersesat di dunia dan tidak ditimpa celaka di akhirat.
          #28 – Niat Agar Terhindar Dari Kesedihan, Kerisauan Dan Kegusaran
          (اقرأ القرآن لأن الله يجلى به الأحزان ويذهب به الهموم والغموم)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan agar Allah menghindarkan diri saya dengan sebab membaca Al-Quran dari segala kesedihan, serta menghilangkan kerisauan dan kegusaran.
          #29 – Niat Agar Al-Quran Menjadi Teman Di Alam Kubur
          (اقرأ القرآن ليكون أنيسي في قبري ونور لي علي الصراط وهادياً لي في الدنيا وسائقاً لي إلى الجنة)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan agar ia menjadi teman saya di dalam kubur dan cahaya bagi saya ketika melintasi titian Sirath, dan petunjuk saya ketika di dunia, dan pemandu saya untuk ke syurga.
          #30 – Tujuan Agar Allah Mentarbiah Saya
          (اقرأ القرآن ليربينى الله ويؤدبنى بالأخلاق التي تحلى بها الرسول ﷺ)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan agar Allah mentarbiah saya, dan mengajar adab kepada saya dengan akhlak yang dihiaskan akannya kepada Rasulullah SAW
          #31 – Tujuan Agar Dapat Menyibukkan Diri Dengan Yang Haq
          (اقرأ القرآن لأشغل نفسي بالحق حتى لا تشغلني بالباطل)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan menyibukkan diri saya dengan Al-Haq, sehingga tidak mampu kebatilan yang menyibukkan saya.
          #32 – Niat Mujahadah Melawan Nafsu
          (اقرأ القرآن لمجاهدة النفس والشيطان والهوى)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan untuk mujahadah melawan nafsu, syaitan dan keinginan kepada selain Allah.
          #33 – Niat Agar Allah Memisahkan Diri Dengan Al-Kafirin
          (اقرأ القرآن ليجعل الله بينى وبين الكافرين حجاباً مستوراً يوم القيامة)
          Saya niat membaca Al-Quran ini dengan tujuan memohon agar Allah memisahkan saya dengan para kafirin di akhirat kelak.
          (فهيا لنكون من أهل القرآن، وهذه هي التجارة مع الله المضمونة الرابحة والتي يعطى الله عليها من فضله الكريم وعطائه الذي لا ينفد)

          Maka marilah kita menjadi ahlil Quran, yang telah dijamin keuntungannya, yang mana keuntungan itu Allah SWT kurniakan atas sifat pemurahNya dan sesungguhnya segala pemberianNya itu tidak akan habis.

          OLEH USTAZ IQBAL ZAIN
          14 AUG 2017

          25/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

          SAMBUTAN MAULID NABI ADALAH MERAIKAN KEMATIAN NABI SALLALAHU ‘ALAIHI WASALLAM ? -DAKWA HUSSEIN YEE HUSSEIN YEE VS ULAMAK MUKTABAR ASWJ

          Dalam satu youtube kuliah Hussein Yee kononnya umat Islam seluruh dunia yang menyambut maulidul Rasul adalah meraikan kewafatan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam.

          Rujuk : https://youtu.be/sB8tZnsbKCg
          Minit : 0.18 hingga 0:22

          Jawapan untuk dakwaan Hussein Yee :

          1. Nama pun Maulid – kelahiran. Maka bila disebut Maulid Nabi ia adalah satu dari syiar Islam memperingati kelahiran junjungan besar Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan ramai ulamak muktabar yang membenarkannya serta umat Islam seluruh dunia menyambutnya. Ironinya dalam video minit 0:27 di atas saudara Hussein Yee lebih mendengar hinaan Yahudi dari jawapan dan pandangan Ulamak ISLAM.

          2. Mengenai tarikh kelahiran Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, sememangnya ada perbahasan dan umat Islam seluruh dunia mengambil tarikh 12 Rabi’ul Awwal sebagai tarikh kelahiran junjungan besar Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagaimana penjelasan dari Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan :

          Masyarakat mulai memperkatakan tentang tarikh sebenar Maulid Nabi dan sesetengahnya berkata bahawa tarikh 12 Rabiul Awwal yang disambut oleh majoriti umat Islam itu palsu malah tidak tepat.

          Adakah benar kenyataan itu?

          Mari kita lihat perbahasan dibawah ini.

          Hari Lahir Nabi

          Para Ulama’ dah ilmuwan bersepakat bahawa Rasulullah saw dilahirkan pada Hari Isnin sebagaimana dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

          Berkenaan Tahun Kelahiran Rasulullah saw pula telah dijelaskan dalam banyak hadis diantaranya:

          وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيْلِ. رواه البزار والطبراني في الكبير ورجاله موثقون (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد . محقق – ج 1 / ص 242)

          “Ibnu Abbas berkata: Rasulullah dilahirkan di tahun gajah” Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan At-Thobroni dan para perawinya adalah dipercayai.

          Dalam riwayat lain juga ditegaskan bahawa Qais bin Makhzamah memiliki persamaan tahun kelahiran dengan Rasulullah di tahun Gajah (Hadis Riwayat Imam Ahmad dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth)

          Tarikh Kelahiran Nabi

          Imam Nawawi berkata:

          وَاخْتَلَفُوا فِي يَوْم الْوِلَادَة هَلْ هُوَ ثَانِي الشَّهْر ، أَمْ ثَامِنه ، أَمْ عَاشِره ، أَمْ ثَانِي عَشَره ؟ (شرح النووي على مسلم – ج 8 / ص 66)

          “Ulama berbeza pendapat tentang hari kelahirannya, adakah hari 2 bulan Rabiul Awal, ke 8, ke 10 ataukah ke 12 ? (Syarah Sahih Muslim 8/66)

          Dalil-Dalil Yang Kuat Rasulullah saw Lahir Pada 12 Rabiul Awal

          – Hadis Riwayat Imam Baihaqi:

          عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ قَالَ : وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً مَضَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ قَالَ الْبَيْهَقِي رَحِمَهُ اللهُ : وَرَوَيْنَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ثُمَّ عَنْ قَيْسِ بْنِ مَخْزَمَةَ ثُمَّ عَنْ قبُاَثَ بْنِ أَشِيْمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ عَامَ الْفِيْلِ وَكَانَ الزُّهْرِي وَمَنْ تَابَعَهُ يَقُوْلُوْنَ وُلِدَ بَعْدَهُ وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ (شعب الإيمان – ج 2 / ص 134)

          Muhammad bin Ishaq berkata: “Rasulullah dilahirkan pada 12 malam bulan Rabiul Awal”. Al-Baihaqi berkata: “Kami meriwayatkan dari Ibnu Abbas kemudian dari Qais bin Makhzamah kemudian dari Qubats bin Asyim bahawa Nabi dilahirkan pada tahun Gajah. Al-Zuhri dan yang mengikutinya mengatakan bahawa dilahirkan sesudah tahun Gajah. Pendapat pertama lebih sahih (Hadis Riwayat Imam Baihaqi dalam Syuab al-Iman)

          – Riwayat Ibnu Abi Syaibah

          قَالَ أَبُوْ بَكْرِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ : حَدَّثَنَا عُثْمَانُ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ مَيْنَاءَ عَنْ جَابِرٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَا : وُلِدَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيْلِ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ وَفِيْهِ بُعِثَ وَفِيْهِ عُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ وَفِيْهِ هَاجَرَ وَفِيْهِ مَاتَ فِيْهِ انْقِطَاعٌ وَقَدِ اخْتَارَهُ الْحَافِظُ عَبْدُ الْغَنِى بْنُ سُرُوْرٍ الْمَقْدِسِي فِي سِيْرَتِهِ (سيرة ابن كثير – ج 2 / ص 93)

          “Jabir dan Ibnu Abbas berkata: “Nabi dilahirkan pada tahun Gajah, hari Isnin 12 Rabiul Awal. Di hari Isnin beliau diangkat menjadi Nabi, melakukan Mi’raj ke langit, berhijrah ke Madinah dan hari Isnin beliau wafat”

          Sanadnya terputus dan dipilih oleh al-Hafiz Abd al-Ghani bin Surur al-Maqdisi dalam kitab sejarahnya” (Sirah Ibni Katsir, 2/93). Riwayat ini juga dapat dilihat dalam al-Bidayah wa Nihayah Ibnu Katsir.

          – Ahli Hadis al-Munawi

          (تنبيه) الْأَصَحُّ أَنَّهُ وُلِدَ بِمَكَّةَ بِالشُّعَبِ بِعِيْدِ فَجْرِ الْاِثْنَيْنِ ثَانِيَ عَشَرَ رَبِيْعَ الْأَوَّلِ عَامَ الْفِيْلِ (فيض القدير – ج 3 / ص 768)

          “Pendapat yang lebih sahih bahawa Nabi dilahirkan di Kabilah Quraisy pada fajar hari Isnin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah” (Faidh al-Qadir 3/768)

          – Syaikh Abdullah al-Faqih

          وَأَكْثَرُ أَهْلِ السِّيَرِ عَلَى أَنَّهُ وُلِدَ يَوْمَ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ عَامَ الْفِيْلِ، بَعْدَ الْحَادِثَةِ بِخَمْسِيْنَ يَوْماً (فتاوى الشبكة الإسلامية – ج 44 / ص 50)

          “Kebanyakan ahli sejarah bahawa Nabi dilahirkan pada 12 Rabiul Awal, tahun Gajah, setelah 50 hari dari peristiwa tersebut” (Fatawa al-Syabkah al-Islamiyah, 44/50)

          فَالْمَشْهُوْرُ فِي كُتُبِ السِّيْرَةِ النَّبَوِيَّةِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ فِي الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ عَامَ الْفِيْلِ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ (فتاوى الشبكة الإسلامية – ج 126 / ص 120)

          “Pendapat yang masyhur dalam kitab-kitab sejarah kenabian bahawa Nabi dilahirkan pada 12 Rabiul Awal, tahun Gajah” (Fatawa al-Syabkah al-Islamiyah, 126/120)

          Marilah semua umat Islam kita bersama-sama menyambut Sambutan Maulidur Rasul tanpa ragu-ragu atau bimbang dengan persoalan-persoalan yang sudah lama dibahaskan oleh para Ulama’ terdahulu dan semoga kita tergolong dalam golongan yang mencintai Rasulullah saw.

          3. Antara ulamak yang membenarkan Maulid Nabi :

          – Al-Imam Abul Khaththab Ibnu Dihyah (W 633 H) “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir
          – al-Imam Abu Syamah (W 665 H) guru kepada Imam an nawawi.
          – al Imam Ibnu Jauzi (ulamak hadis)- Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/27
          – al-Hafidz al-Iraqi (725-808 H), guru al-Hafidz Ibnu Hajar. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maurid al-Hani fi al-Maulid as-Sani “
          – alhafiz Ibnu Hajar al-Asqolani – Al-Hawi lil Fatawi : 229
          – al-Imam al-Hafidz as-Sayuthi (849-911 H). –
          Al-Hawi lil Fatawa, as-Suyuthi : 1/18
          – al-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami (W 975 H) – Al-Fatawa al-Hadtisiyyah : 202

          Semua ini adalah kibar ulamak yang pakar dalam hadis, aqidah dah feqh !

          4. Umat Islam di Negara China pun dah lama sambut Maulidul Rasul

          5. Wahai Hussein Yee – dakwah beribu masuk Islam bukan lesen untuk kamu berbohong dan menghasut untuk benci sambutan Maulidul Rasul. Di Malaysia, Yang Dipertuan Agong, seluruh negeri (kecuali Perlis) menyambut Maulidul Rasul. Kita hendak ikut Hussein Yee atau Ulamak Muktabar Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?

          Sumber

          24/11/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | , | Leave a comment

          Tolak WAHABI Antara muzakarah/debat terkenal di Malaysia

          1. Almarhum Dr Aziz Hanafi VS MAZA
          – tiada perubahan dan hasil positif. MAZA tetap jadi wahhabi dan liberal

          2. Almarhum Dr Uthman el Muhammady VS MAZA , Dr Fauzi Deraman – penghinaan terhadap mazhab asy syafie – tiada hasil positif

          3. Ustaz Abu Syafiq VS Fadhlan Othman, Hafiz Firdaus – masa ni terbongkar, hafiz firdaus mengaku tak tau bahasa arab dan jadi pakar rujuk agama majalah wanita, Karangkraf. AJAIB !

          4. Ustaz Engku Ahmad Fadzil VS Rozaimi Ramlee – rora dan khairil anwar buat forum pasca muzakarah dan mengumpat bersama penyokongnya.

          5. Ustaz Abu Syafiq VS Salman Ali – tiada perubahan positif. Salman Ali terkenal dengan al makan al adami

          6. MAZA, Amin Idris VS Kerusi – permainan Shahidan Kassim (satu-satunya menteri bencana alam yang mengaku dirinya wahhabi baik) main ubah tempat, dan guna kuasa politik tukarkan Ust Zamihan hingga tidak dapat hadir. Maka MAZA dan amin idris berdebat dengan kerusi.

          7. Cabaran Ust Zamihan berdebat dengan MAZA di hadapan mufti dan para ulamak – MAZA tak berani sahut sebab hanya berani buat di negeri Perlis dan di hadapan penyokongnya sahaja.

          8. Team ARG VS Mashadi Masyuti – nampak MM banyak tak jawab hujjah, masih lagi melalut di pos dindingnya sebab tidak berpuas hati.

          9. Team ARG tawar debat dengan Rozaimi (dia bagi alasan jadual penuh)

          Bila Sheikh Nuruddin menerima debat dengan bersyarat ada pula tulisan celupar penganut wahhabi yang menuduh ia sebagai pertaruhan.

          Itu bukan pertaruhan, sebab sehingga kini perdebatan dengan wahhabi memang tiada sudahnya. Bahkan wahhabi tetap tegar dengan kebatilan di hadapan penyokong sendiri. Tiada impak atau kesan positif yang dilihat. Wahhabi tetap meneruskan pengkafiran, pensyirikan, pembid’ahan liar terhadap majoriti ulamak dan umat Islam !

          10. Tawaran muzakarah ARG dan ‘Maulana’ Fakhrurazi (sedang menunggu setuju terima daripada ‘maulana’ fakhrurazi)

          (Sumber:telegram@junction_bot)

          15/11/2019 Posted by | Informasi, wahabi | , | Leave a comment

          Adakah Mati Kemalangan Jalan Raya Syahid?

          Mematuhi peraturan lalu lintas suatu ibadat

          ULAMA memberikan pelbagai pandangan mengenai orang yang terbunuh di jalan raya. Pada dasarnya ia bergantung kepada sebab berlakunya kejadian itu. Adakah ia disebabkan oleh kecuaian pemandu atau menjadi mangsa kecuaian orang lain. Di sini boleh dibahagikan masalah ini mengikut perspektif Islam.

          Pertama, terbunuh dalam kemalangan jalan raya disebabkan kecuaian sendiri seperti memandu laju melebihi had yang dibenarkan dan dalam keadaan yang membahayakan atau memandu dalam keadaan mabuk.

          Kebanyakan ulama berpendapat perbuatan demikian mengundang bahaya yang boleh dikategorikan sebagai mencampakkan diri ke arah kebinasaan sebagaimana firman Allah bermaksud: “Janganlah kamu korbankan dirimu dengan tanganmu ke arah kebinasaan.” (Surah al-Baqarah, ayat 195)

          Rasulullah bersabda seperti diriwayatkan Thabir Dhuhak, maksudnya: “Sesiapa yang membunuh diri sendiri dengan sesuatu benda, nescaya Allah azabkannya dalam neraka jahanam nanti dengan benda itu.”

          Mengikut Sahih Muslim, Abu Hurairah menceritakan bahawa Rasulullah bersabda bermaksud: “Sesiapa yang membunuh diri dengan besi, maka dengan besi itulah dia menikam dirinya dalam neraka jahanam selama-lamanya, sesiapa yang meminum racun sehingga mati nescaya dia akan meminum racun dalam neraka jahanam, sesia-pa yang terjun bukit dan mati, nescaya dia akan terjun di dalam neraka kekal selama-lamanya.”

          Berdasarkan keterangan ini menunjukkan bahawa orang yang terkorban di jalan raya disebabkan kecuaian dirinya ketika memandu adalah berdosa dan ada ulama yang menganggap orang yang mati sedemikian adalah boleh dihukum membunuh diri dan berdosa besar kepada Allah.

          Berpandukan hadis di atas, Rasulullah yang menyebut sesiapa membunuh diri dengan besi, Allah akan azabkannya di akhirat kelak dengan besi itu.

          Malah di Arab Saudi pernah dikeluarkan fatwa mengatakan bahawa orang yang terkorban dalam kemalangan jalan raya disebabkan kecuaiannya adalah dianggap membunuh diri dan berdosa besar.

          Oleh itu, pemerintah dan pihak berkuasa Arab Saudi mengingatkan remaja bahawa mereka akan masuk neraka sekiranya terkorban di jalan raya disebabkan kecuaian mereka sendiri ketika memandu kenderaan.

          Kedua, sekiranya seseorang pemandu yang cuai itu hanya cedera parah atau cedera ringan, sedangkan orang yang menjadi mangsa langgar, mati di dalam kemalangan itu adalah termasuk dalam hukum membunuh dan berdosa besar.

          Perkara ini dijelaskan Rasulullah dalam hadisnya: “Jauhilah kamu tujuh perkara yang membinasakan. Sahabat bertanya: Apa dia ya Rasulullah? Sabda Rasulullah: ialah syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan benar, memakan harta anak yatim, makan riba, lari dari medan peperangan dan menuduh perempuan yang baik dengan zina.”

          Kerana itu terbunuh di jalan raya akibat kecuaian orang lain seperti menjadi mangsa pemandu mabuk atau mangsa langgar lari, kebanyakan ulama mengklasifikasikan mati sedemikian adalah mati syahid dunia selain mati kerana wabak penyakit, mati terbakar, mati sakit dalam perut, mati lemas dan mati tertimbus.

          Ulama juga mengkiaskan bahawa mati terbunuh dalam kemalangan jalan raya, di kilang industri dan jatuh kapal terbang dan seumpamanya adalah termasuk dalam mati syahid.

          Perlu dijelaskan di sini bahawa mati syahid dunia akibat kemalangan jalan raya ini bukanlah merangsangkan lagi individu atau masyarakat untuk berkorban di jalan raya dengan harapan boleh masuk syurga dan terlepas daripada azab kubur dan azab neraka.

          Anggapan sebegini adalah salah kerana dimaksudkan mati syahid di sini ialah keadaan mati itu ngeri dan menderita sebelum menghembuskan nafas dan kerana itulah dinamakan syahid dunia, tetapi bukan syahid dunia dan akhirat seperti gugurnya pejuang Islam di medan perang untuk menegakkan kalimah Allah.

          Tetapi orang yang mati syahid dunia ini bergantung kepada amalan masing-masing ketika hidupnya iaitu adakah mereka beriman dan melakukan amalan soleh sepanjang hayatnya. Janji dan pembalasan Allah adalah bergantung kepada keimanan dan amalan seseorang.

          Jadi jelaslah bahawa keadaan mati seseorang itu bergantung ketika apa yang dilakukan ketika hidup sama ada baik atau sebaliknya. Oleh itu, sebagai seorang Islam hendaklah melaksanakan segala suruhan Allah dan menjauhi segala laranganNya.

          Di antara suruhan Allah ialah berdisiplin di jalan raya, mematuhi segala peraturan lalu lintas yang digubal khas untuk menjamin keselamatan pengguna jalan raya, menghormati dan bertolak ansur serta sentiasa ingat kepada Allah kerana memandu itu adalah ibadat.

          Setiap gerakan tangan, mata dan pemikiran kita mendapat pahala daripada Allah selama mana hati kita sentiasa ingat kepada Allah.
          Sumber

          Sumber

          14/11/2019 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

          Ada Apa Dengan Wahhabi

          Ulasan Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu AlBanjari AlMakki

          “Kita bukannya nak menghalang atau membantah golongan wahhabi dalam isu furu’. Sebab apa-apa pendapat mereka tu, memang ada ulama dalam pelbagai mazhab memberi pendapat sedemikian rupa. Contohnya isu qunut subuh, memang dalam mazhab lain tidak menyatakan bacaan qunut itu adalah sunat pun. Contoh lainnya, tahlil, memang ada ulama menyatakan perbuatan ini tidak dianjurkan para salafussoleh.

          Tapi kedua-dua contoh tadi masih ada ramai ulama yang mengatakan boleh. Masalahnya dengan wahhabi ini, mereka tidak meraikan khilaf ini, mereka memaksa orang lain untuk ikut pendapat yang mereka pegang. Apabila kits ikut pendapat yang berbeza dari pendapat wahhabi pegang, wahhabi tuduh kita bidaah, sesat, dan kafir. Sikap extreme inilah yang kita nak halang dan bantah. Kita bukan bantah pendapat dia. Itu dia nak pegang pendapat apa, dia punya pasal lah.

          Kamu tak mau baca qunut masa subuh, suka hati kamulah. Kamu tak mau bertahlil, suka hati kamulah. Kedua-duanya bukan wajib pun. Tapi jangan lah kamu nak mengkafirkan, membidaahkan, menyatakan sesat kepada kami yang melakukan perbuatan yang diharuskan dalam masalah khilaf..!! Kalau kami yang membaca qunut subuh ini bidaah dan sesat, apa kalian berani mengatakan sedemikian kepada Imam Syafie? Imam Nawawi? Imam Ibnu Hajar? Saya cabar kamu wahai wahhabi-wahhabi di Malaysia..!!

          Kalau kamu tidak melakukan pembidaahan dan pengkafiran kepada kami, kami pun tak mau kacau kamu. Kami langsung membiarkan kamu dengan pegangan kamu dan cara amalan kamu. Tapi kalian mengkafirkan kami, menyesatkan kami, membidaahkan kami, kamu ambil ilmu Imam Nawawi separuh dan buang separuh, sedangkan kamu ambil ilmu Syeikh Albani seluruhnya, sedangkan beza antara Imam Nawawi dan Syeikh Albani seluas langit dan bumi, maka kami tak akan membiarkan daulah Wahhabiyyah tertegak di atas muka bumi Malaysia ini.

          – Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu AlBanjari AlMakki

          12/11/2019 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, wahabi | | Leave a comment

          Hukum Sambut Maulidurrasul

          “ALLAH SWT berselawat ke atas Muhammad,” sering kita lafazkan sama ada dalam bentuk selawat mahupun qasidah yang mengandungi ucapan itu, sekali gus menunjukkan betapa agungnya cinta Allah SWT terhadap pesuruh-Nya itu.

          Martabat Rasulullah SAW di sisi Allah SWT amatlah tinggi sehingga Baginda digelar kekasih Allah tetapi sejauh mana kita menghayati dan menjiwai cinta terhadap Junjungan Nabi Muhammad SAW?

          Oleh itu, antara tanda dalam memuliakan Rasulullah SAW ialah menganjurkan Maulidur Rasul yang menjadi pengisian kerohanian amat baik kerana sekurang-kurangnya mampu mengingatkan setiap umat Islam supaya menjadikan Baginda sebagai panduan mengisi keperluan duniawi dan mengejar akhirat.

          Selain selawat dan puji-pujian ke atas Nabi Muhammad SAW, majlis Maulidur Rasul memberikan ilmu dan maklumat berguna kepada masyarakat apabila diisi dengan tausiyah atau ucapan oleh alim ulama serta pendakwah mengenai sirah dan sunnah termasuk doa untuk meraih keberkatan dan dilimpahi rahmat Allah SWT.

          Pendakwah bebas, Habib Nael Ben Taher, berkata tujuan utama menyambut Maulidur Rasul adalah menyemai dan menyuburkan rasa bersyukur kepada Allah SWT terhadap nikmat pengutusan Nabi Muhammad SAW kepada kita.

          “Jika ada pihak yang mengatakan sambutan Maulidur Rasul sekadar budaya, maka sesungguhnya ia sebaik-baik adat dan budaya. Sehingga saat ini, begitu banyak negara yang menyambut Maulidur Rasul sejak turun-temurun di seluruh dunia seperti Indonesia, India dan Mesir.

          “Tujuannya adalah untuk menggerakkan semangat dan menyemai cinta serta rindu yang sejati kepada Rasulullah SAW. Ini kerana jika kita sentiasa ingat kepada Rasulullah SAW, kemuliaan itu akan kembali kepada kita sendiri kerana Baginda sebenarnya sudah dimuliakan, dicintai dan dirindui Allah SWT,” katanya kepada Ibrah di sini.

          Beliau yang juga Pembimbing Majlis Rasulullah SAW Malaysia berkata, orang pertama menyambut Maulidur Rasul adalah Baginda sendiri. Ini kerana ada orang bertanya kepada Nabi SAW mengenai kelebihan puasa Isnin, Baginda bersabda: Hari Isnin adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutuskan menjadi rasul dan hari al-Quran diturunkan kepadaku.” (HR Muslim)

          “Menurut ulama, Rasulullah SAW yang mengikatkan hari kelahirannya sendiri dengan kesyukuran kepada Allah SWT, iaitu dengan melaksanakan ibadat puasa. Justeru kita perlu mengagungkan hari kelahirannya kerana Baginda sendiri bersyukur dan menyambut dengan ibadat yang mulia,” katanya.

          Habib Nael berkata, Imam Ibnu Kathir menerusi kitabnya Al-Bidayah Wa An-Nihayah menjelaskan antara sambutan terawal Maulidur Rasul dibuat oleh Raja al-Muzaffar yang menganjurkannya pada Rabiulawal dengan membuat perhimpunan secara besar-besaran.

          “Beliau membelanjakan sebanyak 300,000 dinar setiap tahun untuk menyambut Maulidur Rasul di Ibril yang terletak berdekatan Syam, bermula 604 Hijrah hingga dihadiri rakyat yang datang dari segenap tempat.

          “Raja al-Muzaffar dikatakan seorang alim, adil dan sanggup mengeluarkan hartanya dengan begitu banyak demi menyambut Maulidur Rasul kerana baginda mengetahui keagungan Nabi Muhammad SAW dan jasa terhadap umatnya yang kalau dikeluarkan seluruh harta dunia sekalipun tidak akan mampu membalas jasa itu,” katanya.

          Susulan itu, kata Habib Nael, Maulidur Rasul disambut pada setiap zaman dan kawasan sehingga ulama menulis dan menghasilkan pelbagai kitab Maulid yang terkemuka.

          Antaranya Maulid Ad-Daiba’i, Maulid Dhiya Ulami’ dan Maulid Simtut Durar yang mengandungi ayat al-Quran, hadis, sirah, syair dan doa munajat serta selawat kepada Rasulullah SAW.

          Mengulas tanggapan sesetengah pihak yang melabel majlis Maulidur Rasul menyimpang daripada syariat Islam. Habib Nael berkata, majlis sedemikian tidak terkeluar sama sekali daripada ajaran Rasulullah SAW.

          “Dalam majlis ini, ada bacaan al-Quran, hadis Nabi, zikir, berselawat, bacaan sirah Nabi dan tausiyah daripada ulama mengenai Rasulullah SAW serta peringatan selain berdoa.

          “Bukankah semua ini perkara mulia dianjurkan Rasulullah SAW. Selagi majlis itu tidak bercampur dengan perkara yang diharamkan dalam islam, maka ia dibolehkan serta mendapat pahala atas segala kebaikan yang kita lakukan seperti yang ditegaskan Imam Ibnu Hajar, Imam Suyuti dan Ibnu Taimiyyah.

          “Sekiranya majlis seumpama itu mengandungi perkara diharamkan, maka sudah tentu hukumnya adalah haram,” katanya.

          Bagi pencinta Rasulullah SAW, Habib Nael berkata, mengingati Maulidur Rasul adalah wajib berdasarkan firman Allah SWT yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi. Wahai orang beriman, berselawatlah k