Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Menjelang Kiamat, Angin Lembut Dari Yaman Datang Untuk Mencabut Nyawa Orang Mukmin

Menjelang Kiamat, Angin Lembut Dari Yaman Beringsut Datang Untuk Mencabut Nyawa Orang Mukmin

kiamat

Menjelang Kiamat, Angin Lembut Dari Yaman Beringsut Datang Kemudian Ka’bah Akan Dihancurkan Lelaki Ini, Semua peristiwa tersebut akan terjadi kelak menjelang hari kiamat, dimana matahari akan terbit dari arah Barat dan disusul dengan munculnya binatang melata dari perut bumi. Munculnya matahari dari arah barat menjadi satu peringatan telah tertutupnya seluruh amal baik manusia, setelah itu muncullah binatang melata dari perut bumi yang disusul dengan berkelebatnya angin lembut yang datang dari Yaman.

Munculnya angin lembut itu bukan lain untuk mencabut nyawa orang mukmin yang masih hidup, sebagaimana sabda Rasulullah, “ Sesungguhnya Allah akan mengirim suatu angin dari arah Yaman yang lebih lembut dari sutera. Maka tidak seorang pun yang akan dia sisakan dari orang – orang yang masih ada iman di hatinya walaupun seberat biji sawi kecuali akan dia cabut rohnya.” (HR Muslim)

Angin lembut tersebut bertiup sebelum hari kiamat, yakni setelah matinya bangsa Ya’juj dan Ma’juj dimana kaum Muslimin akan hidup dalam kesejehteraan dan kemakmuran. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Nawas bin Sam’an mengenai kisah Dajjal, “Tatkala mereka hidup dalam keadaan demikian itu, Allah mengirim sebuah angin yang lembut yang mengambil mereka dan mencabut nyawa setiap orang mukmin dan muslim, sehingga yang tinggal hidup hanyalah orang – orang yang kafir. Mereka saling bermusuhan di antara satu sama lain sebagaimana keledai saling bermusuhan di antara sesama mereka. Pada mereka itulah kiamat akan terjadi.” (HR Muslim)

Setelah peristiwa datangnya angin lembut dari Yaman yang mengangkat roh orang – orang yang masih memiliki keimanan di hatinya meskipun itu hanya seberat ukuran biji sawi, maka tak ada lagi manusia yang mukmin di muka bumi ini kecuali hanyalah orang – orang kafir dan jahat yang tak lagi sudi menyebut nama Allah.

Maka tak ayal bila di kemudian hari tiada seorangpun yang dapat merawat Ka’bah ataupun menjadikannya tempat beribadah, hingga datanglah seorang lelaki botak dari Habasyah yang bernama Dzu-Suwaiqatain yang menghancurkan Ka’bah, merusak perhiasannya, melepas kiswahnya serta mengambil batunya satu persatu menggunakan sekop dan cangkul. Dan setelah pembinasaan Ka’bah itu, Baitullah tidak pernah tersisa lagi ataupun dimakmurkan oleh orang – orang yang beribadah untuk selama – lamanya hingga hari kiamat itu tiba.

Setelah Ka’bah hancur, maka kerusakan itupun merambah ke kota Madinah. Peristiwa tersebut terjadi menjelang terjadinya guncangan dahsyat yang menimpa tiga wilayah timur, barat dan Jazirah Arab. Dekat dengan meruaknya api besar dari lembah Aden Yaman yang menggiring manusia menuju mahsyar. Kota Madinah saat itu menjadi tak berpenghuni, bahkan dikatakan seluruh binatang buas termasuk anjing dan srigala turut masuk ke dalam masjid Nabawi dan kencing di tiang masjid dan mimbarnya.

Sementara mengenai munculnya api besar dari Yaman yang menggiring manusia. Rasulullah bersabda, “Dan orang yang paling akhir dikumpulkan oleh api menuju mahsyar adalah dua orang pengembala dari Muzayanah yang hendak ke Madinah dengan berteriak – teriak mencari kambingnya, kemudian ia menjumpai kambingnya yang ternyata sudah menjadi liar.” (HR Bukhari).
Hadits tersebut memuat gambaran mengenai peristiwa meninggalnya orang – orang mukmin di akhir zaman karena angin lembut, maka kondisi kota Madinah yang semula bising akan hiruk – pikuk aktivitas manusia mendadak menjadi kosong tak berpenghuni kecuali hanyalah tinggal kota mati yang ditinggali para binatang buas, bahkan tanaman dan pepohonan menjadi tumbuh sangat liat tak terurus. Hingga suatu ketika tersiar berita akan munculnya api dari hadhramaut yang menggiring manusia hingga mereka berlarian tunggang – langgang menyelamatkan dirinya dari api ganas yang terus menjalar menghabisi negeri – negeri itu.

Rasulullah mengisahkan tentang keadaan mereka tatkala itu dalam hadits Abu Hurairah :
“Manusia akan digiring dalam tiga keadaan: dalam keadaan berharap dan cemas, dua orang berkendara di atas satu unta, tiga orang di atas satu unta, bahkan sepuluh orang di atas satu unta, sedangkan orang-orang yang tersisa akan digiring oleh api, api itu menyertai mereka ketika mereka tidur malam, menyertai mereka ketika tidur siang” para rawi berkata: “dan menyertai mereka di pagi hari, juga menyertai mereka di sore hari.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa manusia akan dikumpulkan dalam tiga keadaan :

Kelompok pertama akan dikumpulkan dalam keadaan berharap dan cemas.

Kelompok kedua akan berkendara di atas unta, satu unta ketika itu akan dinaiki beramai-ramai, ada yang dikendarai dua orang, tiga orang, bahkan sepuluh orang.

Lalu bisakah hal itu terjadi?

Yakni berkendaranya banyak orang di atas satu unta?

Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mereka bergantian menaiki unta tersebut. Sebagian yang lain mengatakan bahwa pada saat itu Allah memberikan kekuatan pada unta – unta sehingga mampu melakukan hal itu. Namun tampaknya yang dimaksud bahwa hal ini menunjukkan sedikitnya kendaraan yang bisa ditunggangi saat itu sehingga mereka terpaksa mengendarai satu unta bersama – sama. (Syarh Kitabul Fitan wa Asyrathus Sa’ah min Shahih Muslim)

Kelompok ketiga akan digiring oleh api. Api tersebut tidak meninggalkan mereka sama sekali sampai tiba di padang mahsyar.

Semua manusia yang dikumpulkan pada saat itu adalah orang-orang yang paling buruk, karena kiamat tidaklah terjadi kecuali pada seburuk-buruk manusia. Rasulullah bersabda, “Tidaklah terjadi hari kiamat kecuali pada manusia-manusia paling buruk, mereka lebih buruk dari orang-orang jahiliyah, tidaklah mereka berdoa kepada Allah dengan sesuatu kecuali Allah tolak doa mereka” (HR. Muslim)

Demikian sekelumit huru – hara yang kelak akan terjadi menjelang datangnya hari kiamat. Adapun berbagai peristiwa besar lain yang masih begitu banyak termasuk munculnya Imam Mahdi, perang melawan penguasa Arab yang murtad, penaklukan Persi dan pembersihan ideologi Syiah dari Iran, penaklukan dan kekalahan Israel, penaklukan Baitul Maqdis dan pembebasan Masjidil Aqsa, terbunuhnya Dajjal dengan pedang Isa Al Masih, datangnya Ya’juj Ma’juj, dan rangkaian peristiwa lain yang tak kalah dahsyat.

Sebagaimana manusia yang beriman, tentunya kita tidak pernah tahu menahu akan kapan datangnya hari kiamat itu, sebab Allah memang sengaja merahasiakannya supaya masing – masing dari kita larut dalam mempersiapkan bekal menuju kehidupannya yang hakiki, hal inilah yang patutnya menjadikan diri kita lebih mawas diri dan berhati – hati dalam bertindak selama hidup. Bisa saja kita tidak ikut merasakan ataupun turut meyaksikan huru – hara yang kelak akan terjadi menjelang datangnya hari kiamat itu.

Namun sejatinya suatu keniscayaan yang barangkali sudah tentu akan menimpa diri kita adalah kiamat Sughro, yakni kematian. Bila barangkali kita telah melalui segenap umur kita dengan banyak dosa, maka sepatutnya pada waktu sekarang ini kita khusyu’ dan larut dalam taubat sebab di hari esok kita belum tentu masih ada di dunia ini.

Wallahu a’lam.

Sumber

28/12/2019 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

Fitnah serta melagakan-lagakan orang adalah ‘penyakit’ yang cukup berat kerana ia termasuk dalam kategori dosa besar.

Ijmak ulama mengatakan penyakit itu haram berdasarkan dalil di dalam al-Quran yang bermaksud: “Dan janganlah engkau (berkisar daripada pendirianmu yang benar dan jangan) menurut kemahuan orang yang selalu bersumpah, lagi yang hina (pendadapatnya dan amalannya), pindah percakapan orang kerana untuk merosakkan orang. Yang suka mencaci, lagi yang suka menyebarkan fitnah hasutan (untuk memecah-belahkan orang ramai).” (Surah al-Qalam, ayat 10-11)

Kita perlu ingat, untuk bertaubat dengan melakukan dosa itu bukannya satu perkara mudah. Mampukah kita berjumpa dan memohon maaf kepada setiap orang yang diumpat atau difitnah itu?

Sehubungan itu, wajib bagi setiap Muslim meneliti kesahihan setiap berita diterima supaya ia tidak menjadi bahan fitnah serta tidak bersekongkol melakukan dosa besar itu.

Firman Allah bermaksud: “Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.” (Surah al-Hujurat, ayat 6)

Apabila mengumpat atau menyebarkan fitnah sudah menjadi amalan, dibimbangi si pelakunya akan merasakan satu kepuasan apabila dapat bercerita perihal dan aib orang lain.

Di dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Ghazali menjelaskan, membocorkan rahsia orang lain serta menjejaskan kehormatan diri orang itu dengan cara membuka rahsianya dianggap perbuatan mengadu-domba dan fitnah.

Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)? Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya?

“Rasulullah bersabda: Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya bererti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya bererti kamu memfitnahnya.” (Hadis riwayat Abu Hurairah)

Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud: “Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain.” (Surah al-Hujurat, ayat 12)

Rahsia mengenai seseorang itu pada mulanya tersembunyi, tetapi ada pula yang mendedahkannya.

Sebaiknya, setiap orang perlu diam terhadap apa yang dilihatnya kecuali perkara yang dapat menguntungkan golongan Muslimin atau untuk menolak dosa dan maksiat yang dilakukan orang berkenaan.

Selain itu, Imam al-Ghazali di dalam kitab lain turut menyenaraikan enam adab yang perlu dilakukan ketika menerima berita fitnah.

Pertama, jangan mudah percaya kerana pemfitnah itu hanya menghilangkan kebenaran.

Kedua, melarang dan menasihati keburukan perilaku orang membawa berita fitnah itu supaya berhenti memfitnah kerana perbuatannya itu mengundang dosa besar selain tidak mahu bersekongkol dengannya.

Ketiga, membenci perbuatan pembawa fitnah itu kerana Allah SWT.

Keempat, jangan berprasangka buruk (suudzon) kepada orang diberitakan itu.

Kelima, jangan ikut menyebarkan fitnah serta menjadi pengintip dengan membuka rahsia orang lain.

Keenam, jangan setuju dengan fitnah yang terlarang itu dan jangan menceritakannya.

Pada zaman sekarang semakin bertambah ‘alat’ yang boleh menyebabkan fitnah semakin menjadi parah. Penggunaan laman sosial contohnya, ia boleh memberikan pahala atau dosa sekiranya digunakan sebaiknya atau disalah guna.

Kewujudan pelbagai laman sosial menjadi medium penyebaran apa saja maklumat sama ada ia benar atau salah. Barangkali ada yang berkata dia tidak bersalah dan hanya menyampaikan berita.

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Cukuplah pembohongan seseorang itu apabila dia menyampaikan semua yang dia dengar.” (Hadis riwayat Muslim)

Hadis berkenaan menunjukkan bagaimana dosa itu bukan di atas bahu orang yang mencipta berita palsu, tetapi dosa juga merangkumi orang menyampaikan semua berita yang dia dengar sama ada benar atau palsu.

Golongan yang menyampaikan berita palsu dikira sebagai pembohong kerana bersubahat.

Penulis wartawan Harian Metro

Artikel ini disiarkan pada : Rabu, 8 Ogos 2018 @ 2:47 PM

28/12/2019 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

MELURUSKAN FAHAMAN MUFTI WILAYAH BERKAITAN ISU SUMPAH

Olih : Ustaz Dr Zamihan AL- Ghari

Setelah saya meneliti kenyataan amatur Mufti Wilayah tentang isu sumpah laknat mantan PM maka saya dapati fahaman Mufti Wilayah Persekutuan perlu diluruskan:

1. Dia mengesyorkan JAWI supaya menguatkuasakan larangan bersumpah di masjid sedangkan tidak ada sebarang Akta Pentadbiran Islam WPKL untuk melarang seseorg bersumpah di masjid. Dia jelas mahu melarang terhadap sesuatu perbuatan yang harus. Sedangkan pemimpin politik non muslim memasuki masjid dlm keadaan tidak menutup aurat di masjid WPKL tidak pula dilarang. Mufti tidak wajar memutuskan hukum dengan memilih bulu.

2. Amalan bersumpah di masjid merupakan amalan sunnah yang diharuskan. Jumhur ulama termasuk Imam Syafiie menganjurkan kita bersumpah di maqam Ibrahim, Minbar Masjid Nabi SAW atau bersumpah di dalam mana-mana masjid jika kes berkenaan berlaku di luar Makkah dan Madinah samada ia dibicarakan melalui mahkamah ataupun tidak. (Mukhtasar al-Muzani, Bab Tempat Bersumpah, Jld 8, hlm 417).

3. Mufti Wilayah juga mendakwa tiada sumpah laknat di dalam Islam. Kemudian dia u-turn dgn mendakwa sumpah laknat hanya melibatkan Li’an sahaja. Kenyataannya jelas kontradik dan boleh mengelirukan umat Islam. Mufti sepatutnya memberi pencerahan, menasihati dan memandu manusia ke jalan Allah. Bukannya mengeluarkan kenyataan simplistik, berbaur politik dan backup politician yang dipercayai terlibat dgn video semburit.

4. Ketahuilah bahawa dalam Islam terdapat sumpah atas nama Allah, sumpah Li’an (sumpah laknat menafikan kandungan isteri) dan sumpah laknat mubahalah bagi mempertahankan kebenaran. Sumpah dalam kitab-kitab Feqh disebut dengan Bab al-Ayman Wan Nuzur (Bab Sumpah & Nazar). Boleh rujuk surah Ali Imran ayat 77 dan hadis-hadis Nabi SAW, kisah Para sahabat RA berkaitan dgn Ayman dan Halaf (sumpah) dan seumpamanya.

5. Dalam kes DSN, beliau layak bersumpah laknat disebabkan pihak pendakwa terlebih dahulu membuat akuan sumpah terhadapnya dengan tuduhan beliau menghamilkan seorang wanita Mongolia.

Selain itu, ada juga akuan sumpah dari subjek utama pembunuhan wanita Mongolia bahawa DSN tidak terlibat dalam kes pembunuhan berkenaan. Sebenarnya kes ini telah selesai diperingkat mahkamah. Tetapi kini, banduan gantung mandatori itu kembali u-turn membuat dakwaan bahawa DSN mengarahkan kes pembunuhan berkenaan.

Jadi, demi melepaskan diri dari fitnah dan tuduhan jahat, maka DSN berhak bersumpah laknat bagi membersihkan tuduhan jenayah atas dirinya jika dia berada di pihak benar. Alhamdulillah, sumpah laknat berkenaan berlangsung pada hari Jumaat di Masjid Kg Baru dan di saksikan sejumlah umat Islam. So, perbuatan DSN sebenarnya telah bertepatan dengan hukum syarak dan pendapat Ulama muktabar. Walaupun ia tidak memberi impak kepada perundangan civil/syariah namun kita boleh melihat prinsip berani kerana benar dan takut kerana Allah berlaku di depan mata kita.

Alhamdulillah. Kaedah hukum syarak menjelaskan: “Orang yang mendakwa (wajib) mengemukakan bukti dan orang yang didakwa (jika tiada saksi dan bukti) maka dia hendaklah bersumpah. – hadis sahih.

So,bersabarlah untuk melihat hasilnya dalam ketentuan Allah SWT. Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

6. Selain itu, Mufti Wilayah juga mendakwa mubahalah (sumpah laknat nekad) tiada dlm perundangan Islam. Bahkan dia secara konfiden mendakwa mubahalah hanyalah sumpah untuk menegakkan hujah dlm sesuatu perdebatan. Kenyataan ini amat dangkal. Ini kerana mubahalah bukan sekadar sumpah laknat antara Islam dgn bukan Islam sahaja. Sebaliknya ia turut merangkumi sumpah laknat antara golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah vs golongan sesat yang mengaku menjadi Tuhan, Nabi atau Rasul. Kes Ulama India vs mubahalah dgn Mirza Ghulam Ahmad Qadyani boleh dirujuk. Pengasas Ajaran kufur Qadyani itu mati beberapa bulan selepas mubahalah dgn mayatnya bergelumang dgn tahi.

Di Malaysia, kes Ayah Pin dan Haji Kahar yang mengaku Nabi pun boleh dibawa ber mubahalah sebenarnya. Saya sendiri pernah ber mubahalah dgn seorang wanita yang mendakwa dia sebagai Nabi Isa. Akhirnya wanita itu mati dgn kanser tahap 4 secara tiba-tiba. Tetapi semua ini tiada dlm Akta Pentadbiran Islam Negeri termasuk Wilayah.

Namun begitu, tidak beerti mubahalah tiada dlm perundangan Islam. Cukup bahaya apabila anda tidak tahu sesuatu perkara.. anda katakan: amalan ini tidak ada dalam Islam. Anda cuba menjadikan seolah-olah Islam itu sempit dan jumud. Allahu Allah!

7. Mufti sepatutnya membuat kajian atau homework terhadap sesuatu isu terlebih dahulu sebelum membuat kenyataan berkaitan tokoh politik. Hal ini penting supaya beliau tidak dikecam netizen, tidak memutuskan hukum secara salah, tidak menjatuhkan kredibiliti Mufti dan merosakkan reputasi dirinya. Bahkan posisi Mufti amat penting tidak dilihat sebagai alat politik.

8. Saya sendiri telah bermuzakarah secara bersemuka dengan Mufti Wilayah tentang isu akidah, pemikiran Islam, hadis dan hukum-hakam serta masalah kandungan buku-buku yang ditulis atas nama beliau.

Demi Allah, beliau tidak mampu menjawab hujah saya. Bahkan beliau hanya mampu meminta pegawai-pegawai beliau memberi respon ilmiah seperti melepaskan batuk ditangga sahaja. Akhirnya, tauliah saya turut disekat beliau tanpa sebarang alasan.

Malah resolusi muzakarah pun masih belum dapat ditepati beliau walaupun sudah hampir 2 tahun berlalu.

(Petikan dari: FB Dr. Zamihan al-Ghari )

27/12/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | | Comments Off on MELURUSKAN FAHAMAN MUFTI WILAYAH BERKAITAN ISU SUMPAH

Gila Kuasa Adalah Satu Penyakit

1. Dua orang lelaki pernah bertemu Rasulullah lalu meminta daripada Baginda diberikan kuasa sebagai pemimpin. Rasulullah menegur mereka dengan berkata:

إِنَّا لاَ نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ، وَلاَ مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ

“Kami tidak memberikan urusan kepimpinan ini kepada siapa yang memintanya, kami juga tidak berikan kepimpinan buat mereka yang terlalu bersungguh mendapatkannya.” (HR al-Bukhari)

2. Seorang tokoh sufi yang terkenal pernah berpesan bahawa sifat gilakan kuasa ini akan merosakkan peribadi seseorang. Sifat gilakan kuasa menyebabkan seseorang akan menjadi hasad dengki bahkan suka mencari keaiban manusia lain. Kata Fudail ibn Iyyad:

ما من أحد أحب الرئاسة إلا حسد وبغى ، وتتبع عيوب الناس ، وكره أن يُذكر أحد بخير

“Tidak ada seorang lelaki yang gilakan kuasa kepimpinan melainkan dia akan terjebak dengan hasad dan kejahatan, suka mencari keaiban manusia dan dia benci untuk menyebut kebaikan orang lain.”

3. Malah Abu Daud al-Sijistani melihat sifat ini sebagai salah satu daripada penyakit atau menggelarkannya sebagai syahwat yang tersembunyi. Beliau pernah ditanya tentang nafsu atau syahwat yang tersembunyi ini:

قيل لأبي داود السجستاني: ما الشهوة الخفية؟ قال: حب الرئاسة.

“Abu Daud pernah ditanya berkenaan dengan apa yang dimaksudkan dengan nafsu syahwat yang tersembunyai ini? Lalu dia berkata: (mereka yang) cintakan kuasa.

4. Atas dasar itu al-Imam Abu Ayyub al-Sakhtiyani berpesan bahawa mereka yang cintakan kemasyhuran dan kepimpinan ini adalah mereka yang sukar dipercayai. Kata beliau:

ما صدق عبد قط فأحب الشهرة

“Tiada yang benar langsung buat si hamba yang mencintai kemasyhuran.”

5. Berhati-hatilah dengan mereka yang terkena penyakit ini. Kecintaan terhadap kuasa akan mengaburi mereka dari kebaikan. Adalah dibimbangi kepentingan diri sendiri lebih mereka utamakan dari kesusahan rakyat. Amat sukar mencari pemimpin yang bangkit mengutamakan rakyat dari diri sendiri.

Semoga Allah membimbing kita

Olih : Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

26/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

SEJARAH ASAL-USUL NEGERI SEMBILAN DARUL KHUSUS MULAI ZAMAN RASULULLAH SAMPAI SEKARANG

Diriwayatkan Oleh:
_*Asy-Syaikh Al-Habib Prof.Dr. Shohibul Faroji Azmatkhan*_

*A. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN RASULULLAH*

Berdasarkan Kitab Tarikh Melayu yang ditulis pada tahun 1899 oleh Al-Imam Al-Habib Abdur Razzaq bin Musthafa Al-Husaini, dikatakan bahwa:

_”Agama Islam masuk ke Negeri Sembilan Darul Khusus Malaysia sudah ada sejak zaman Rasulullah yaitu sekitar tahun 629 Masehi. Pada saat itu Rasulullah memerintahkan sembilan para sahabat untuk mendakwahkan Agama Islam di Timur Jazirah Arab, yaitu di Tanah Melayu sekarang ini.”_

Sembilan Sahabat Nabi Muhammad yang diperintahkan berdakwah ke Tanah Melayu adalah:
1. Asy-Sumaisi (Sahabat Nabi), berdakwah ke Tanah Melayu, menemukan dan menamakan pertama kali daerah JELEBU. Sekitar tahun 629 Masehi.

2. Ikrimah bin Abu Jahal (Sahabat Nabi), setelah masuk Islam, turut berdakwah sampai ke Tanah Melayu dan menemukan dataran Johol, sekitar tahun 632 Masehi.

3. Anas bin Malik (Sahabat Nabi), melakukan ekspedisi dakwah ke tanah melayu, dan menemukan serta menamakan daerah JOHOR DARUN NA’IM. Pada tahun 630 Masehi.

4. Jabir bin Abdullah (Sahabat Nabi), berdakwah Islam di tanah Melayu, menemukan dan menamakan pertama kali KEDAH DARUL AMNI, tahun 631 Masehi.

5. Abdullah bin Umar bin Khattab (Sahabat Nabi), berdakwah ke Tanah Melayu, menemukan dan menamakan KELANTAN DARUN NA’IM.

6. Abu Said Al-Khudri (Sahabat Nabi), mendakwahkan Islam di Tanah Melayu, menemukan dan menemakan TERANGGANU DARUL IMAN, pada tahun 631 Masehi.

7. Arqam bin Abi Arqam (Sahabat Nabi), melakukan dakwah Islam sampai ke Tanah Melayu, menemukan dan menamakan PAHANG DARUL MAKMUR, pada tahun 630 Masehi.

8. Abu Ya’la Syaddad bin Aus (Sahabat Nabi), berdakwah di Tanah Melayu, menemukan dan menamakan SELANGOR DARUL IHSAN. Pada tahun 630 Masehi.

9. Imam Ali bin Abi Thalib, melakukan dakwah Islam di Tanah Melayu, menemukan dan menamakan NEGERI PERLIS INDRA KAYANGAN, selepas Beliau menemukan Tanah GARUT di Jawa Barat Indonesia. Pada tahun 630 Masehi.

10. NEGERI SEMBILAN DARUL KHUSUS, ditemukan tahun 633 karena sembilan sahabat Nabi bertemu di Negeri ini. Lalu mengembangkan dakwah, dan akhirnya kembali ke Madinah.

_(Referensi Kitab Tarikh Melayu, Karya Al-Imam Abdur Razzaq bin Musthafa Al-Husaini, page 117, tahun 1899)_

*B. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN WALISONGO*

Dalam Kitab Kisah Perjalanan Haji Walisongo, yang ditulis Al-Imam Nawawi Al-Bantani, dikisahkan Pada zaman Walisongo, sembilan wali saat pulang dari Ibadah Haji, pada tahun 1413 Masehi, singgah di sebuah Negeri di Tanah Melayu, dan negeri itu diberi nama *Negeri Sembilan Darul Khusus*.

Negeri Sembilan Darul Khusus masyhur disebut Negeri Walisongo, dan dinegeri ini Dzurriyyah Walisongo mulai banyak berdakwah.

Beberapa tahun singgah di Negeri Sembilan, Walisongo kembali ke Tanah Jawa (Indonesia).

_(Referensi : Kitab Kisah Perjalanan Haji Walisongo, Karya Imam Nawawi Al-Bantani, Page 72, ditulis tahun 1890 Masehi)_

*C. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN MELAYU KUNO*

Setelah kedatangan Walisongo ke Negeri Sembilan Darul Khusus, lalu banyak hijrah dan merantau orang-orang Minangkabau dari Pulau Sumatera melalui Melaka dan sampai ke Rembau.

Orang-orang Minangkabau ini adalah para Dzurriyyah Sunan Giri dan juga murid atau santri Sunan Giri.

Di Negeri Sembilan ini para Dzurriyyah Sunan Giri menikah dengan penduduk Negeri Sembilan yang sudah lama hidup di Negeri ini. Saat itu Negeri Sembilan masih hutan yang sangat lebat. Sedikit sekali penduduknya, sehingga Ulama di Negeri ini mewajibkan POLIGAMI untuk memperbanyak keturunan atau dzurriyyah, agar Islam berkembang pesat dan Dzurriyyah nya banyak.

Ulama yang terkenal di Negeri Sembilan pada masa Kesultanan Johor, adalah Sayyid Mujtaba bin Makki, Berdasarkan salah satu catatan sejarah Negeri Sembilan yang ditulisnya, bahwa Negeri Sembilan pada awalnya dikatakan terdiri dari Sembilan Negeri yaitu:
1. Sungai Ujong,
2. Rembau,
3. Johol,
4. Jelebu,
5. Naning,
6. Kelang (kini Klang),
7. Hulu Pahang,
8. Jelai dan
9. Hulu Muar.

*D. SEJARAH NEGERI SEMBILAN ZAMAN SEKARANG*

Negeri Sembilan termasuk salah satu negara bagian yang menjadi negara Federasi Malaysia. Sebelah selatan berbatasan dengan Melaka dan Johor, sebelah timur berbatasan dengan Pahang, sebelah utara berbatasan dengan Selangor dan sebelah barat berbatasan dengan Selat Melaka.

Penduduk bangsa Melayu yang kira-kira seperempat juta itu sebahagian besar masih mempunyai hubungan dengan adat Minangkabau. Karena banyak murid Walisongo dari Minangkabau yang menetap di Negeri Sembilan.

Pantun mereka berbunyi :

_Leguh legah bunyi pedati._
_Pedati orang pergi ke Padang._
_Genta kerbau berbunyi juga._
_Biar sepiring dapat pagi._
_Walau sepinggan dapat petang._
_Pagaruyung teringat juga_

Negeri Sembilan merupakan sebuah kerajaan tetapi pemerintahannya berdasarkan Konstitusi yang disana dikatakan Perlembagaan Negeri. Badan Legislatifnya bernama “Dewan Perhimpunan/Perundingan Negeri yang mempunyai anggota 24 orang. Anggota-anggota ini dipilih oleh rakyat dalam Pemilihan Umum yang disini dikatakan : Pilihan raya.

Pelaksanaan pemerintahan dilaksanakan oleh Menteri Besar yang didampingi oleh 8 orang anggotanya yang bernama : “Anggota Majelis Musyawarah Kerajaan Negeri”.

Gelaran raja ialah Duli Yang Mahamulia Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan.

Pemerintahan Negeri Sembilan terbagi atas 6 daerah, yaitu:
1. Seremban,
2. Kuala Pilah,
3. Port Dickson,
4. Jelebu,
5. Tampin dan
6. Rembau.

Ibukota Negeri Sembilan adalah Seremban.

Istana raja terdapat di ibukota Seremban ini bernama Istana Seri Menanti. Tetapi arsitekturnya tidak lagi dengan cara Minang melainkan sudah berkomposisi antara arsitektur Minang dan Melayu.

Ada 12 suku di Negeri Sembilan yaitu:
1. Tanah Datar
2. Batuhampar
3. Seri Lemak Pahang
4. Seri Lemak Minangkabau
5. Mungka
6. Payakumbuh
7. Seri Malanggang
8. Tigo Batu
9. Biduanda
10. Tigo Nenek
11. Anak Aceh
12. Batu Belang

*REFERENSI:*

_Al-Imam Abdur Razzaq bin Musthafa Al-Husaini, Kitab Tarikh Melayu, page 117, tahun 1899)_

_Imam Nawawi Al-Bantani, Kitab Kisah Perjalanan Haji Walisongo, Page 72, ditulis tahun 1890 Masehi)_

22/12/2019 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | 2 Comments

Qasidah dan Syair memuji Rasulullah SAW – Dibolehkan atau Dilarang?

1- Kita sedia maklum bagaimana orang-orang Arab sejak zaman Jahiliyah lagi tak dapat dipisahkan dengan bentuk kesenian dan kesusasteraan mereka seperti Syair dan Qasidah. Ini jelas apabila kita mempelajari sejarah Arab bahkan dalam Sirah Nabawiyyah juga ada disebutkan tentang perkara ini.

2- Malah di dalam Al-Quran sendiri berulang perkataan ‘Syair’ dan sebuah surah dinamakan dengan as-Syu’ara yang bermaksud ‘para penyair’. Bermula dari ayat 224 di dalam surah tersebut kita dapati Allah SWT menyebut bahawa terdapat penyair yang beriman dan beramal soleh dan ada juga penyair yang tidak beriman dan berdusta.

3- Maka jelas bahawa terdapat perbezaan di antara penyair dan syairnya yang diterima oleh Islam dengan penyair dan syairnya yang tidak diiktiraf di dalam Islam.

4- Kita dapati para sahabat bersyair dan melantunkan qasidah di hadapan Baginda SAW dan Baginda akan mendengar, terkadang tersenyum dan terkadang memuji syair yang baik. Manakala Baginda akan membetulkan kalau ada syair yang salah dan tidak tepat.

5- Zaman berzaman juga kita dapati para ulama begitu kreatif dan hebat dalam mengarang syair-syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW. Ia bukanlah satu perkara yang pelik kerana syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW telah pun ada pada zaman Baginda SAW sendiri.

6- Kitab-kitab Hadith dan Sirah sendiri mengumpulkan pelbagai syair pujian terhadap Baginda SAW dikarang dan dideklamasikan oleh para Sahabat seperti Sayyiduna Hassan Bin Thabit RA, Abdullah Bin Rawahah RA, Abu Bakr as-Siddiq RA, Umar Bin al-Khattab RA, Ka’ab Bin Malik RA, Ka’ab Bin Zuhair RA, al-Abbas Bin Abd. Muttolib dan lain-lain.

7- Syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW ini dibacakan di hadapan Baginda SAW dan Baginda SAW tidak memarahi atau melarang. Bagaimanakah pula kita pada hari ni tidak suka atau melarang bacaannya?

8- Oleh itu para ulama zaman berzaman mengambil contoh perbuatan para Sahabat RA dengan memuji Rasulullah SAW dalam bentuk syair dan qasidah. Syair dan qasidah ini dibukukan dan dibacakan malah disebarkan kepada masyarakat.

9- Ada pihak yang kita dapati mempunyai ‘alahan’ dan tidak suka syair dan qasidah memuji Rasulullah SAW. Ada pula yang melarang dengan membawa dalil daripada sebuah Hadith Sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari RH:
لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم
Maksudnya:
‘Jangan berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

10- Sedangkan maksud Hadith di atas adalah – jangan memuji Rasulullah SAW dengan pujian yang salah iaitu mengangkat Baginda sehingga mencapai tahap ketuhanan seperti yang kita lihat di dalam terjemahan Hadith di atas iaitu potongan ‘sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

11- Seeloknya kita pelajari maksud syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW dan menghayati bagaimana para ulama memilih perkataan yang indah dan berirama untuk memuji manusia yang paling indah – Rasulullah SAW.

Adlan Abd Aziz
Timbalan Pengerusi ISLAMI Kebangsaan
*Tirmidhi Centre*
@

22/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Madah dan Sajak, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah, wahabi | , , | Leave a comment

Mana lebih utama, Malam Lailatul Qadar dengan Malam Kelahiran Baginda Nabi SAW?

Tumpang tanya,… mana lebih utama malam lailatul qadar dengan mlm kelahiran baginda nabi. Mohon pencerahan dan klu ada mohon rujukannya….

Jawapan kami;

Menurut ulama Mazhab Syafi’i, hari (siang) yang paling afdal ialah hari Arafah.

Diriwayatkan daripada Jabir radhiallahu anhu, Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam bersabda:

أفضلُ الأيام يومُ عرفة

”Sebaik-baik hari ialah hari Arafah.”(Riwayat Ibn Hibban).

Diriwayatkan lagi daripada Jabir radhiallahu anhu, Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يوْمٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يوْمِ عَرَفَةَ …

”Tiada hari yang paling baik di sisi Allah melainkan hari Arafah…”(Riwayat Ibnu Hibban, Abu Ya’la).

Kemudian diikuti hari Jumaat, kemudian hari Aidul Adha dan kemudian hari Aidul Fitri.

Adapun malam yang paling afdal pula ialah malam Nabi sollallahu alaihi wa sallam dilahirkan. Hal ini kerana pada malam tersebut telah lahirnya seorang insan mulia yang telah memberikan manfaat yang umum dan kebajikan yang agung ke seluruh alam.

Kemudian diikuti malam Lailatul Qadr, kemudian malam Jumaat dan kemudian malam Nabi sollallahu alaihi wa sallam diisrakkan. Justeru, inilah turutan malam yang paling afdal bagi nisbah umat Nabi sollallahu alaihi wa sallam.

Manakala, malam yang paling afdal bagi nisbah Nabi sollallahu alaihi wa sallam pula ialah malam baginda diisrakkan. Hal ini kerana, pada malam tersebut baginda telah bertemu Tuhannya dengan mata kepalanya sendiri mengikut pendapat yang sahih.

Sehubungan dengan itu, malam lebih afdal berbanding dengan hari siang.

Manakala menurut Imam Ahmad bin Hanbal pula, hari yang paling afdal secara mutlak ialah hari Jumaat. Malah, ia lebih afdal berbanding hari Afarah dan malam hari Afarah juga lebih afdal secara mutlak berbanding malam Lailatul Qadr.
اليسع
Wallahu a’lam.

Rujukan

– Hasyiah al-Bujairimi
– Hasyiah al-Jamal
– Hasyiah al-Syarqawi
– Hasyiah al-Baijuri
– Hasyiah al-Syarwani
– Fath al-‘Allam
– Nihayah al-Zain

Sumber : Koleksi Q&A Ustaz Alyasak
https://t.me/Q_A_Us_Alyasak_channel

20/12/2019 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Kenali riba dan bersama menjauhinya

Olih Ustaz Zaharuddin-

Riba adalah ziyadah atau increment atau excess pada perkara tertentu lebih menjurus kepada terlebih pada sesuatu iaitu

1) Di dalam hutang

Cth: Beri RM1000, minta bayar balik dalam RM1100, maka RM100 adalah riba samada rasa tertindas atau tidak rasa tertindas

2) Bayaran secara bertangguh

Cth: Perlu bayar RM2000 dalam masa 5 bulan, si penghutang tidak membayar dalam jangkamasa tersebut, lalu si penghutang beri tangguh dengan dikenakan syarat dari RM2000 menjadi RM2050 kerana kelewatan membayar. RM50 itu adalah riba

3) Riba dalam pertukaran barang dengan barang, terdapat 6 jenis barang

Cth: Tukar emas lama iaitu 2g dengan emas baru 3g. Jika ada pertambahan/pengurangan maka ia adalah riba

4) Bayar emas dalam waktu yang bertangguh

Ulama iaitu Umar Al-Khatab menyarankan untuk kita berusaha bersungguh-sungguh untuk memahami riba.

Umar Al-Khatab: “Aku berharap Nabi Muhammad s.a.w tidak meninggalkan kita dalam keadaan kita tidak didedahkan secara terperinci berkenaan dengan 3 perkara iaitu perwarisan harta cucu oleh datuknya, kalalah (harta si mati yang tidak meninggalkan waris atau mempunyai waris) dan jenis-jenis riba. (Riwayat Al-Bukhari)

Imam Ibn Kathir (ulama yang sohor): “ Bab riba adalah bab yang susah untuk difahami”

Imam Abu Hamid Al-Ghazali: “Bab riba adalah bab yang sukar untuk diajari”

Pengajian bab riba adalah tanda keimanan dan ketakwaan yang tinggi kerana kesukarannya untuk memahami, untuk pelajari dan untuk menjauhinya (ada disebut dalam Surah Al-Baqarah)

Di dalam pengajaran riba ada pandangan ekstrem, tasahul (ringan/mudah) dan wasati (seimbang dan equilibirilium). Namun pandangan wasati yang dilebihkan kerana lebih tepat dan mantap pada sesuatu zaman untuk mengelak kesukaran kepada masyarakat.

Cth pandangan wasati: Tidak riba jika penjual menaikkan harga sesuatu barang

Riba dalam bentuk pinjaman

Dalam bahasa arab 2 jenis pinjaman iaitu

  • Qar, pinjaman dengan bayaran dalam bentuk yang sama. Cth: Duit seringit dengan duit seringit, beras (long grain) dengan beras (long grain yang sama)
  • I’arah, pinjaman dengan bayaran dalam bentuk yang berbeza, Cth: iPad2 (umur 2 tahun) dengan iPad2 (1 tahun)

Persepakatan ulama silam, pinjaman dalam bentuk Qar atau I’arah jika disyaratkan pembayarannya samada di dalam bentuk berlainan seperti hadiah, melebihi daripada pinjaman permulaannya adalah haram dan RIBA.

Cth dalam konteks semasa,

    • Pinjaman wang dengan bank konvensional untuk membeli kereta iaitu RM100K, 10 % bayar deposit dan 90% lagi dari ‘loan’ bank konvensional. Bank kovensional beri pinjam RM100k yang perlu dibayar dalam jangkamasa 5 tahun dengan pertambahan interest iaitu 4%. Maka 4% itu adalah RIBA. Ada yang menggunakan hujah inflasi bagi menerima interest 4% dengan mengatakan harga RM1 pada tahun 2000 adalah berlainan dengan harga RM1 dalam tahun 2012. HUJAH INFLASI TIDAK DITERIMA DI DALAM ISLAM

      PEMBELIAN KERETA DENGAN PINJAMAN DARIPADA BANK KOVENSIONAL ADALAH RIBA.

      Sesiapa yang mengambil atau memberi RIBA adalah mengisytiharkan perang dengan ALLAH S.A.W dan RASULLAH S.W.T

      Rasullah bersabda, dosa sesiapa yang terlibat dengan RIBA, walaupun sebanyak 1 dirham (RM20) bersamaan dengan berzina sebanyak 36 kali. Akibat dosa begini iaitu riba yang tidak disedari antara punca penyebab solat kurang khusyuk, doa tidak diterima, tidak mahu nasihat dsb.

      Rasullah juga bersabda, riba boleh datang dalam 72 pintu, yang paling ringan dosanya umpama seorang lelaki berzina dengan ibunya dan untuk perempuan, umpama berzina dengan bapanya.

      • Pinjaman untuk rumah yang dibuat dengan bank konvensional selain riba terdapat juga GHARAR (penambahan yang tidak tahu berapa nilainya)

        Cth: pinjaman RM200k dengan interest 4% dan pertambahan BLR-2.0%. BLR itu adalah gharar dimana nilainya mengikut ekonomi Malaysia yang tidak diketahui dinilainya.

        Maka, dosa meminjam duit dengan bank konvensional untuk membeli rumah adalah LEBIH BERDOSA berbanding dengan beli kereta kerana adanya GHARAR.

        • Kad kredit dengan bank kovensional. Pembelian barang dengan kad kredit konvensional ada tempoh untuk membayarnya (Cth:20 hari). Jika tidak membayarnya akan dikenakan RIBA. Jika membayarnya dalam tempoh tersebut juga adalah RIBA kerana kita menyokong urusniaga dengan bank konvensional iaitu si penjual (merchant) akan memberi sebanyak 2-3% kepada pengeluar kad konvensional.

          SOALAN 1: Pinjaman dengan kad kredit konvensional iaitu sebanyak RM3000 dengan 0% interest selama 3 bulan. Selepas 3 bulan, interest akan dikenakan adalah 6.5%. Adakah 6.5% adalah riba?

          SOALAN 2: Pembiayaian dengan Bank Islam ada dinamakan keuntungan dengan akad adakah bersamaan dengan pinjaman dengan bank konvensional yang ada perjanjian?

          SOALAN 3: Dalam perjanjian pinjaman konvensional jika kita menanda tangani adalah mengiyakan pinjaman tersebut adakah riba?

          JAWAPAN: Kad kredit konvensional yang menawarkan pinjaman yang dikenakan 6.5% selepas 3 bulan adalah RIBA. Maka perlulah selesaikan secepat mungkin jika sudah melakukannya samada masih dalam tempoh atau melebihi tempoh pembayaran kerana kita sudah menyokong urusniaga bank konvensional tersebut.

          Rasullah bersabda, akan dilaknati orang yang MEMBERI, MENERIMA, menjadi SAKSI dan PENULIS perjanjian urusniaga RIBA

          Pembiayaian dengan bank Islam yang mempunyai akad yang ada kontrak dan rukun dan juga apa yang dijualnya adalah berbeza dengan bank konvensional . Si penerima akad tersebut perlu melihat dengan teliti dokumen tersebut sebelum mengiyakan dan menandatangani perjanjian.

          Di dalam Fiqh Islam keredhaan dengan sesuatu pada permulaan adalah juga redha pada pengakhirannya. Maka menandatangi perjanjian pinjaman konvensional yang dimana akan dikenakan riba pada masa akan datang, maka pada ketika itu kita terlibat dengan riba.

          SOALAN 4: Apa beza BFR (Islamic housing loan) dengan BLR (Conventional housing loan)?

          SOALAN 5: Status Amanah Saham Bank Rakyat?

          SOALAN 6: Bagaimana kita hendak menghapuskan dosa lepas kerana melakukan riba?

          SOALAN 7: Status pinjaman perumahan dengan menggunakan ‘goverment loan’ ada kaitan dengan riba atau tidak?

          SOALAN 8: Pembelian kereta dengan CIMB Islamik dengan akad adakah terlibat dengan riba?

          SOALAN 9: Pembelian rumah dengan pinjaman daripada bank konvensional, hendak membeli dengan cash tidak mampu, maka bagaimana dengan pinjaman tersebut dan alternative untuk mengelaknya?

          JAWAPAN: Beza antara BFR (Base Financing Rate) dengan BLR (Base Lending Rate). BLR adalah kadar benchmark untuk kadar pinjaman bank konvensional atau kos pinjaman duit. Bank –bank islam tiada pinjaman, hanya ada pembiayaan. Bank-bank islam menggunakan duit yang didapatkan daripada orang ramai untuk membeli asset dan menjual asset kepada pelanggan mereka. Kebanyakkan orang tidak mengetahui mengenai asset yang dibeli kerana tidak membaca kontrak. Walaubagaimanapun kadar BFR dan BLR adalah sama tetapi BFR adalah halal

          Perumpamaan BFR adalah: Membuka kedai daging halal lembu Australia di tempat yang tiada kedai daging halal, si penjual daging halal akan meninjau harga daging semasa dan menjual daging dengan harga yang sama dengan daging di kedai daging tidak halal.

          Dividen saham Bank Rakyat adalah patuh syariah dan halal

          Maksud dalam surah Al-Baqarah ayat 277-278:

          Maka apabila datang peringatan tentang dosa-dosa riba, yang terlibat dengan riba hendaklah dengan SEGERA BERHENTI.

          Ada 4 perkara hendak hapuskan dosa jahil tentang riba.

          • Berhenti dengan segera melakukan perkara RIBA
          • Minta taubat
          • Banyakkan sedekah
          • Perbanyakkan bercerita dan ajari tentang riba dan dosa riba kepada orang lain bagi menunjukkan kita bersungguh-sungguh memerangi riba dan menutup kesalahan kita ketika melakukan riba

          Pinjaman perumahan bagi kakitangan kerajaan telah ada 2 bentuk iaitu konvensional dan islamik. Orang Islam MESTI mengambil yang islamik. Status pinjaman yang telah dibuat boleh dirujuk pada kontrak pinjaman perumahan. Kontrak islamik dinyatakan tentang BBA (al-Bai’ Bithaman Ajil), jika tiada minta untuk ditukar

          Status pembelian kereta dengan CIMB Islamik adalah halal

          Perumahan tidak perlu beli dengan cash. Islam membenarkan pembelian secara bertangguh tetapi hendaklah dituliskan hutang tersebut bagi mengelakkan kelupaan. Maka pembelian rumah boleh dibeli dengan bayaran bertangguh dimana rumah tersebut dibeli melalui bank, bank akan melakukan transaksi pembelian dengan pemaju dan menjual semula kepada kita dan kita membayar secara bertangguh. Hanya bank-bank islamik sahaja melakukan transaksi begini. Dengan itu cara selamat mengelak riba adalah melakukan pembiayaan rumah atau refinancing dengan bank-bank islamik.

          SOALAN 10: Mengadai emas di kedai pajak yang mengenakan bayaran pajakan 1-2%. Jika tidak membayar dalam tempoh tertentu maka emas itu akan diambil oleh kedai pajak. Adakah perkara itu terlibat dengan riba?

          JAWAPAN: Gadai emas perlu dipastikan samada Ar-Rahnu atau kedai pajak biasa. Jika kedai pajak biasa, ada RIBA. Jika Ar-Rahnu maka ia adalah patuh syariah.

          SOALAN 11: 2 tahun selepas penyerahan rumah dikenakan bayaran lewat. Bolehkah pemaju kenakan denda tersebut dan adakah ianya riba? Bolehkah ditukar term kerpada denda lewat bayar?

          JAWAPAN: Term tidak boleh diubah sendiri kerana berkaitan dengan kontrak dengan penjual. DI dalam akta pembangunan perumahan mungkin terdapat klosa-klosa yang mengenakan denda apabila lewat bayar. Maka orang yang membuat akta tersebut dipertanggungjawabkan. Orang ramai yang dikenakan rukhsah atas pembayaran tersbut, namun haruslah berusaha sedaya-upaya untuk membayar sebelum tempoh itu tamat untuk mengelak riba

          SOALAN 12: Kenapa bayaran pembiayaian bank –bank Islam lebih mahal berbanding dengan bank-bank konvensional

          JAWAPAN: Sebenarnya pembayaran pembiayaian bank-bank islamik adalah murah. Anggapan mahal itu adalah kerana orang ramai tidak mengetahui cara mengiranya. Boleh rujuk di zaharudin.net.

          SOALAN 13: Bolehkan duit dividen KWSP digunakan untuk membayar income tax?

          JAWAPAN: Perjelasan dari sudut akademik, wang perlaburan KWSP adalah bercampur iaitu halal dan haram. KWSP mengatakan tidak banyak perlaburan halal dapat dilakukan sedangkan duit di dalam simpanan KWSP orang ramai adalah banyak. Maka duit KWSP dilaburkan di tempat patuh syariah dan yang haram. Jika tidak duit itu akan dorman atau beku jika tidak dilaburkan. Maka dividen yang didapati daripada KWSP adalah bercampur iaitu 30% dari sumber halal dan 70% adalah dari sumber haram. Maka 30% dividen bolehlah diambil dan 70% bolehlah didermakan untuk kegunaan umum. Oleh sebab bayaran income tax adalah berbentuk personal maka dividen KWSP tidak boleh digunakan kerana sebahagian besarnya adalah dari sumber yang meragukan. Apa sahaja duit yang HARAM tidak boleh digunakan untuk peribadi tetapi hendaklah disalurkan kepada kegunaan awam dan fakir miskin.

          SOALAN 14: Adakah pertandingan memancing yang menawarkan hadiah yang lumayan tetapi dikenakan yuran penyertaan adalah riba?

          JAWAPAN: Jika pertandingan memancing mengenakan yuran penyertaan sebanyak RM50 bagi satu peserta. Pemenang hadiah adalah datang dari duit hasil kutipan yuran penyertaan sahaja maka ianya adalah JUDI. Jika hadiah datang dari penajaan sahaja tanpa melibatkan wang penyertaan maka ianya HARUS kerana wang penyertaan digunakan untuk pendaftaran dan hadiah yang diberikan adalah datang dari sponsor, dan pertandingan itu tidak melibatkan zero sum game and game of luck.

          SOALAN 15: Pinjaman dengan bank islamik tetapi yang menguruskan pinjaman tersebut adalah orang bukan Islam dan tidak berlaku akad tetapi semua perjanjian telah ditandatangani. Bagaimana dengan status perjanjian tersebut?

          SOALAN 16: Membeli rumah tetapi rumah atas nama isteri. Siapakah perlu membayar rumah tersebut samada suami atau isteri?

          SOALAN 17: Bagaimana denifinisi keberkatan dalam hasil pendapatan. Adakah berkat itu diukur dengan banyaknya rezeki yang didapati?

          JAWAPAN: Tiada pinjaman dalam bank-bank Islam tetapi hanya terdapat PEMBIAYAAN. Pembiayaan islamik tersebut diuruskan oleh orang bukan Islam adalah SAH. TIADA syarat sah jual beli yang mensyaratkan hanya beli dengan orang Islam.

          Cth: Pengurusan masjid boleh meminta orang bukan Islam menjual kuih kepada orang Islam asalkan kuih dan cara penjualan adalah halal.

          Rasullah s.a.w bersabda “ Tidak boleh kamu bersyarikat atau menjadikan partner kamu adalah orang bukan Islam kecuali urusan jual-beli adalah mengikut cara Islam, bermakna orang Islam boleh mengambil pekerja bukan Islam dan pakaiannya adalah seksi. Pihak pengurusan boleh secara beransur-ansur menyuruh orang bukan Islam berpakaian lebih sopan.

          Jika rumah atas nama isteri itu dibeli oleh isteri maka si pembayar adalah antara si suami dan si isteri tetapi tanggungjawab menyediakan penginapan adalah di atas bahu si suami maka suami lebih layak membayar kecuali jika si isteri secara ihsan bersetuju membayar dan rumah itu atas nama si isteri. Maka rumah itu adalah hak si isteri, jika si isteri meninggal, si suami tidak mempunyai hak harta pusaka atas rumah tersebut.

          Defini keberkatan dalam rezeki tidak semestinya banyak. Berkat itu tidak terletak pada numbers tetapi ianya terletak pada hati seseorang dimana berkat itu apabilamerasakan kecukupannya walaupun sedikit dan apabila banyak rezekinya, orang tersebut lebih suka memberinya. Jika orang yang berharta tetapi bakhil dan tidak mengeluarkan zakat maka rezeki itu adalah tidak berkat.

          Rasullah s.a.w bersabda, harta yang baik adalah berada pada tangan orang yang baik dimana orang tersebut suka bersedekah dan membayar zakat.

          Contoh terbaik untuk melihat keberkatan adalah daripada Rasullah s.a.w, ketika baginda mendapat apa sahaja barang akan bersedekah barang tersebut. Ada hadis mengatakan, ketika rasullah s.a.w wafat, baginda tidak meninggalkan wang dan harta tetapi meninggalkan ilmu.

          Keberkatan dalam perniagaan boleh dilihat semakin banyak keuntungan yang didapati semakin taat dan amanah orang tersebut/ pekerja di dalam syarikat tersebut seperti yang berlaku kepada Nabi Muhammad s.a.w dimana baginda sangat amanah dalam urusniaga dan semakin ramai pelanggan kerana akhlak baginda. Jika perniaagaan untung tetapi pekerja semakin banyak menipu, pecah amanah maka ianya tidak berkat.

          KESIMPULAN: Tiada alasan untuk tidak tinggalkan riba. Rasullah s.a.w bersabda, “ sesiapa yang meninggalkan perkara syubhah maka dia sudah berjaya menjaga maruah dan menegakkan agamanya dan sesiapa yang terlibat dengan syubhah maka dia akan jatuh dalam perkara haram.

          11/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Muamalat (Harta), Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

          Isu berkaitan kedudukan anak-anak dalam saf ketika solat berjemaah.

          Image result for saf kanak kanak
          Soalan :

          Sekarang ni di masjid-masjid timbul isu berkaitan kedudukan anak-anak dalam saf ketika solat berjemaah.

          Boleh bantu beri pandangan?

          Jawapan :

          Oleh Dr. Ustaz Mohd Khafidz Soroni(Hadith).

          بسم الله وبه نستعين

          1. Asalnya masyarakat telah pun sedia mengikut apa yang telah diajarkan oleh para ulama kita mazhab Syafii, mengikut sepertimana yang telah dihuraikan dalam kitab-kitab besar fiqh Syafii. Namun, lama kelamaan apabila setengah kita makin jauh dari mendalami ilmu & mempelajari kitab-kitab besar mazhab Syafii ini, kita mula keliru apabila ada golongan yang datang kemudian gemar mengatakan “ini sunnah”, “ini bidaah”. Sedangkan di dalam kitab2 itu telah pun diterangkan secara terperinci hukum hakamnya, mana yang sah, mana yang batal, mana yang sunnah, mana yang makruh, mana yang harus, mana yang afdhal/terlebih sempurna, mana yang syarat dan bukan syarat dan sebagainya.

          2. Perbincangan dalam kitab-kitab fiqh sebenarnya lebih harmoni dan halus, tidak sekadar “ini sunnah”, “ini bidaah”. Golongan tersebut sebenarnya keliru & mengelirukan. Lebih merumitkan apabila mereka mengambil fatwa itu daripada ulama negara lain yang boleh menerima pandangan itu menurut usul mazhab mereka barangkali, lalu dibawa ke negara kita yang sudah sedia ada ulamanya yang mengikut usul mazhab sendiri. Barangkali tidak ada apa-apa jika fatwa yang datang dari luar itu sekadar diamal oleh pembawanya, namun yang meresahkan ialah apabila si pembawa itu kurang ilmu lalu menyalah-nyalahkan pandangan mazhab tempatan yang sudah sedia lama diamalkan. Golongan keliru ini hanya tahu menghukum “ini sunnah”, “ini bidaah”.

          3. Dalam mazhab Syafii, sunnah kedudukan saf yang sempurna ketika solat berjemaah ialah sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam an-Nawawi (w. 676H) dalam al-Minhaj: “Hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Pernyataan ini umum dan jika ada masalah-masalah yang datang kemudian perlulah dihuraikan sesuai mengikut situasinya. (Dalam setengah kitab seperti Asna al-Matalib oleh Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari (w. 926H) dinyatakan; yang berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian khunsa, kemudian perempuan)

          4. Semua ulama yang mensyarahkan kata-kata tersebut tidak pun menafikannya dengan mengatakan “kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan orang dewasa” dan sebagainya. Boleh rujuk seperti Tuhfah al-Muhtaj oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Hasyiah Qalyubi (w. 1069H) & Umairah (w. 957H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan lain-lain.

          .5. Dalil mereka adalah hadis sahih:

          لِيَلِيَنِّي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ. (أخرجه مسلم وأبو داود والنسائي في الكبرى وابن ماجه)

          “Hendaklah berdiri di belakangku dari kalangan kamu orang-orang yang matang/baligh dan faham/berakal, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka”.

          6. Bahkan ada diriwayatkan hadis dengan sanad hasan yang menyebut secara jelas susunan saf tersebut iaitu:

          عَن أبي مَالك الْأَشْعَرِيّ قَالَ: أَلَا أُحَدِّثُكُمْ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَصَفَّ الرِّجَالَ وَصَفَّ خَلْفَهُمُ الْغِلْمَانَ، ثُمَّ صَلَّى بِهِمْ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَاد حسن، قاله النووي في خلاصة الأحكام)

          Daripada Abu Malik al-Asya‘ri RA katanya: “Mahukah aku khabarkan kamu tentang solat Nabi SAW, iaitu baginda mendirikan solat dan menyusun saf kaum lelaki dan menyusun di belakang mereka saf kanak-kanak, kemudian baru baginda mengimami mereka”. Dalam versi lain:

          كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلِيهِ فِي الصَّلَاةِ الرِّجَالُ، ثُمَّ الصِّبْيَانُ، ثُمَّ النِّسَاءُ. (رَوَاه الْبَيْهَقِيُّ في السنن الكبرى وضَعَّفَهُ)

          “Telah berdiri di belakang Rasulullah SAW di dalam solat, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Sanad hadis ini daif, namun dikuatkan dengan hadis-hadis di atas.

          7. Hadis-hadis ini tidaklah menunjukkan hukum wajib dan hanya menunjukkan kesempurnaan serta yang afdhal. Jika ada kanak-kanak yang berdiri di dalam saf orang dewasa dan tidak bermain-main, tidaklah perlu dihalang dan ditegah.

          8. Kata Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari dalam Asna al-Matalib:

          “Kata al-Azra‘i: Dikemudiankan saf kanak-kamak daripada kaum lelaki adalah jika sudah tidak muat saf kaum lelaki. Jika tidak (yakni masih ada ruang), dipenuhkan saf itu dengan kanak-kanak, tiada masalah. Semuanya ini adalah mustahab, bukannya syarat. Sekiranya mereka menyalahi (susunan ini), sah solat mereka itu berserta makruh.” Katanya lagi: “Dan jangan ditukarkan kanak2 yang hadir dahulu untuk kaum lelaki yang hadir kemudian…”.

          Ini kerana mereka lebih berhak berdiri di situ, walaupun pada saf pertama, sepertimana yang disebut dlm al-Minhaj al-Qawim, Mughni al-Muhtaj dan lain-lain.

          9. Disebut dalam I’anah at-Talibin oleh Syekh Abu Bakr Syata (w. 1310H):

          “Disunatkan jika ada berbagai-bagai peringkat makmum, hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, walaupun hamba sahaya, kemudian sesudahnya – jika telah penuh saf mereka – kanak-kanak, kemudian sesudah mereka– walaupun tidak penuh saf mereka – kaum perempuan”. Kata beliau lagi: “Apabila susunan tersebut disalahi, ianya makruh”.

          Rujuk juga perinciannya di dalam Tuhfah al-Muhtaj & al-Minhaj al-Qawim oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan laun-lain.

          10. Pandangan yang mengatakan kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan org dewasa dengan erti kata diselang selikan atau setiap kanak-kanak mesti berdiri di sebelah bapanya adalah pandangan yang janggal dan mengelirukan. Lebih parah lagi didakwa itu adalah sunnah dan selainnya adalah bidaah! Kita tidak tahu ada ulama-ulamak muktabar terdahulu yang mengeluarkan fatwa sedemikian.

          Wallahu a’lam.

          Sumber :

          https://www.facebook.com/…/a.558069754360…/600968816737095/…

          09/12/2019 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          Salah satu syarat sah berjemaah ialah makmum tidak menyalahi imam pada sunat yang jadi buruk dan jahat apabila ia menyalahinya.

          Ada 4 perkara dalam bab ini.

          1. Sujud Tilawah. Tidak boleh sekali-kali menyalahi imam dalam sujud tilawah. Kalau imam sujud wajib sujud. Kalau imam tinggal, wajib juga tinggalkan.

          2. Sujud Sahwi. Dalam sujud sahwi, wajib mengikut imam jika imam buat. Tetapi jika imam meninggalkannya, boleh bagi makmum sujud sahwi selepas imam memberi salam.

          3. Tahiyyat awal. Wajib ikut imam jika imam tinggalkan tahiyyat awal. Tapi jika imam buat tahiyyat awal, boleh makmum terus bangun tunggu imam dalam qiam. Namum yang afdhal bagi makmum ketika mana imam meninggalkan tahiyyat awal, ia niat mufaraqah dan membaca tahiyyat awal kemudian ia teruskan solat sendiri.

          4. Qunut. Qunut adalah perkara yang paling ringan sekali. Boleh makmum tinggalkan qunut walaupun imam membacanya. Begitulah sebaliknya, boleh makmum membaca qunut walaupun imam meninggalkannya. Dengan syarat tidak terlalu panjang sehingga tertinggal daripada imam 2 rukun.

          Inilah antara empat perkara yang perlu difahami oleh orang yang ingin menunaikan solat berjamaah.

          Disediakan oleh:
          Panel Asatizah ARGKL Selangor

          06/12/2019 Posted by | Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

          Isu Abu Pengganas Chin Peng – “I SAY “GET LOST”!

          Peguam kekadang kalau bercakap memang bahasanya tajam. Tapi ini suatu analisis yang baik menyingkap motif di belakang isu Al-Malaun Abu Chin Peng Al-Kumnisi

          Tuan Hasnal Rezua Merican – Page menulis

          Fahami dan teliti misi sebenar timbulnya elemen berkait komunisme mutakhir ini; daripada kembalinya abu mayat Chin Peng kepada perhimpunan di Kajang semalam.

          Ia bukannya tentang menghidupkan semula ideologi komunis!

          Masyarakat Cina di Malaysia adalah penganut Kapitalisme. Tangan-tangan hitam yang dilihat mendalangi isu ini adalah parti politik yang juga ‘bapak segala kapitalis’ iaitu DAP. Mustahil mereka menganut Komunisme secara falsafah, yang akan memaksa mereka menyerahkan sebahagian besar harta-benda mereka kepada Negara, yang kemudian akan mengagihkannya kepada golongan yang berhak termasuk orang Melayu, India, Bumiputera Sabah/Sarawak serta Orang Asli.

          Apa yang mereka sebenarnya mahukan adalah pengikhtirafan!

          Mereka mahu diikhtiraf sebagai pejuang yang turut memerdekakan Tanah Melayu daripada belenggu penjajah.

          Mereka mahu diikhtiraf sebagai penentang kolonialisme dan imperialisme.

          Mereka mahu sejarah negara yang merakamkan mereka sebagai pengganas dipadamkan.

          Mereka mahu sejarah ditulis semula supaya mereka boleh duduk sama tinggi dan berdiri sama rendah dengan para penentang penjajah daripada era pra dan pasca Perang Dunia ke-2.

          Mereka mahu nama-nama mereka tersisip di dalam koleksi arkib sebaris dengan pemimpin-pemimpin Perikatan, pemimpin-pemimpin nasionalis kiri, pemimpin gerakan Islam Kaum Tua dan Kaum Muda.

          Mereka mahu peranan kaum Cina di dalam episod memerdekakan tanahair diwakili oleh PKM/MPAJA yang aktif/agresif dan bukannya MCA yang pasif/submisif.

          Mereka mahu jadi Hero Malaya!

          Jangan terpedaya dengan versi perjuangan Parti Komunis Malaya yang cuba mereka dakyahkan…

          PKM bukan anti-penjajah. Ianyanya ditubuhkan pada tahun 1930 untuk mengindoktrinasi fahaman Komunisme di kalangan rakyat Tanah Melayu;

          Apabila tercetus Perang Dunia Kedua, PKM mengimport Perang China-Jepun ke bumi Tanah Melayu dan menubuhkan MPAJA untuk menentang Jepun. Tindakan ini adalah di atas semangat Nasionalisme China, bukannya anti-penjajahan;

          PKM dan MPAJA dipersenjatakan oleh Tentera British untuk menentang Jepun sebelum British meninggalkan Tanah Melayu. Mana mungkin gerakan anti-penjajahan dipersenjatakan oleh penjajah! Mereka melawan Jepun demi China, namun tidur sebantal dengan British;

          Apabila Jepun tewas Perang Dunia Ke-2 setelah pengeboman ke atas Hiroshima dan Nagasaki, untuk tempoh selama 12 hari, PKM menghalakan senjata mereka ke arah warga tempatan. Ramai orang Melayu dan Cina terbunuh. Pertembungan besar-besaran berlaku di Negeri Perak, Batu Pahat dan Kuala Pilah. Perjuangan kemerdekaan apakah ini?;

          Sekembalinya British ke Tanah Melayu, dalam tempoh setahun British memperkenalkan Malayan Union. Ini membangkitkan perjuangan nasionalisme Melayu pada skala besar dan tersusun. British terpaksa memulakan dasar bekerjasama dengan UMNO;

          Pada tahun 1948 PKM melancarkan gerakan militan secara gerila terhadap British kerana merundingkan ‘self-rule Government’ dengan UMNO, yang dilihat sebagai ejen-Imperialis. PKM mahu memerdekakan Tanah Melayu untuk ditadbir secara langsung oleh Peking dan Moscow. Apalah ertinya kemerdekaan seumpama itu?;

          Pada tahun 1952, rakyat pelbagai kaum memberi mandat besar kepada Parti Perikatan untuk memenangi Pilihanraya Munisipal Kuala Lumpur. Ini adalah langkah awal ke arah kemerdekaan. Meskipun mandat rakyat begitu jelas, PKM masih meneruskan gerakan militan secara gerila melalui arahan langsung yang diterima dari Peking dan Moscow;

          Pada tahun 1955, rakyat pelbagai kaum sekali lagi memberi mandat besar kepada Parti Perikatan untuk membentuk ‘self-rule Government’ yang pertama. Kemerdekaan sudah dijanjikan, namun PKM meneruskan gerakan militan mereka demi arahan Peking dan Moscow;

          Meskipun gagal mendapat sokongan rakyat, PKM berkeras dengan arahan asing yang diterimanya. Persekutuan Tanah Melayu tetap MERDEKA ‘with or without’ persetujuan PKM. Setelah Merdeka sehinggalah tahun 1992, PKM meneruskan gerakan militan secara gerila. Bezanya serangan-serangan hendap ini adalah terhadap Angkatan Tentera Tanah Melayu dan Angkatan Tentera Malaysia.

          Mana mungkin kita mengakas tinta sejarah yang merakamkan mereka sebagai pengganas, petualang, pengkhianat yang bersifat anti-Nasional, dengan menjernihkan peranan mereka sebagai pejuang Kemerdekaan.

          I say ‘get lost’

          (Petikan dari FB Ustaz Engku Ahmad Fadzil – The Original Page)

          06/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | | Leave a comment

          *Qasidah dan Syair memuji Rasulullah SAW – Dibolehkan atau Dilarang?

          1- Kita sedia maklum bagaimana orang-orang Arab sejak zaman Jahiliyah lagi tak dapat dipisahkan dengan bentuk kesenian dan kesusasteraan mereka seperti Syair dan Qasidah. Ini jelas apabila kita mempelajari sejarah Arab bahkan dalam Sirah Nabawiyyah juga ada disebutkan tentang perkara ini.

          2- Malah di dalam Al-Quran sendiri berulang perkataan ‘Syair’ dan sebuah surah dinamakan dengan as-Syu’ara yang bermaksud ‘para penyair’. Bermula dari ayat 224 di dalam surah tersebut kita dapati Allah SWT menyebut bahawa terdapat penyair yang beriman dan beramal soleh dan ada juga penyair yang tidak beriman dan berdusta.

          3- Maka jelas bahawa terdapat perbezaan di antara penyair dan syairnya yang diterima oleh Islam dengan penyair dan syairnya yang tidak diiktiraf di dalam Islam.

          4- Kita dapati para sahabat bersyair dan melantunkan qasidah di hadapan Baginda SAW dan Baginda akan mendengar, terkadang tersenyum dan terkadang memuji syair yang baik. Manakala Baginda akan membetulkan kalau ada syair yang salah dan tidak tepat.

          5- Zaman berzaman juga kita dapati para ulama begitu kreatif dan hebat dalam mengarang syair-syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW. Ia bukanlah satu perkara yang pelik kerana syair dan qasidah yang memuji Rasulullah SAW telah pun ada pada zaman Baginda SAW sendiri.

          6- Kitab-kitab Hadith dan Sirah sendiri mengumpulkan pelbagai syair pujian terhadap Baginda SAW dikarang dan dideklamasikan oleh para Sahabat seperti Sayyiduna Hassan Bin Thabit RA, Abdullah Bin Rawahah RA, Abu Bakr as-Siddiq RA, Umar Bin al-Khattab RA, Ka’ab Bin Malik RA, Ka’ab Bin Zuhair RA, al-Abbas Bin Abd. Muttolib dan lain-lain.

          7- Syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW ini dibacakan di hadapan Baginda SAW dan Baginda SAW tidak memarahi atau melarang. Bagaimanakah pula kita pada hari ni tidak suka atau melarang bacaannya?

          8- Oleh itu para ulama zaman berzaman mengambil contoh perbuatan para Sahabat RA dengan memuji Rasulullah SAW dalam bentuk syair dan qasidah. Syair dan qasidah ini dibukukan dan dibacakan malah disebarkan kepada masyarakat.

          9- Ada pihak yang kita dapati mempunyai ‘alahan’ dan tidak suka syair dan qasidah memuji Rasulullah SAW. Ada pula yang melarang dengan membawa dalil daripada sebuah Hadith Sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari RH:
          لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم
          Maksudnya:
          ‘Jangan berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

          10- Sedangkan maksud Hadith di atas adalah – jangan memuji Rasulullah SAW dengan pujian yang salah iaitu mengangkat Baginda sehingga mencapai tahap ketuhanan seperti yang kita lihat di dalam terjemahan Hadith di atas iaitu potongan ‘sebagaimana orang-orang Kristian memuji berlebihan kepada Isa Bin Maryam AS’.

          11- Seeloknya kita pelajari maksud syair dan qasidah yang memuji Baginda SAW dan menghayati bagaimana para ulama memilih perkataan yang indah dan berirama untuk memuji manusia yang paling indah – Rasulullah SAW.

          Ustaz Adlan Abd Aziz
          Timbalan Pengerusi ISLAMI Kebangsaan

          Tirmidhi Centre

          03/12/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

          Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi juga mempertahankan Asya`irah sebagai salah satu dari kumpulan Ahlis Sunnah Wal Jamaah.

          Ulama terdahulu juga telah menjelaskan kedudukan Asya`irah sebagai Ahlis Sunnah.

          Imam Al-Zahabi di dalam kitabnya Siyar Al-A`lam berkata, “Abu Musa Al-Asy’ari berada di atas pegangan akidah Ahlis Sunnah Wal Jamaah.”

          Demikian juga pendapat ulama lain seperti Qadhi `Iyadh di dalam kitab Tartib Al-Madarik, Imam Ibn `Asakir dan Al-Subki. Mereka bahkan berpendapat imam Abu Hasan Al-Asy`ari termasuk dari kalangan Salaf dan imam Ahli Hadis.

          Golongan yang selesa dengan aliran Asya’irah pula tidak boleh menolak aliran Salaf (bukan salaf versi wahhabi) sebagai Ahlis Sunnah kerana mereka juga mengamalkan Islam berpandukan nas Al-Quran, Hadis dan fahaman para sahabat Nabi s.a.w. yang memang diakui semua sebagai sumber agama.

          Imam Ibn Al-Jauzi, seorang tokoh ulama beraliran Asya`irah menyebut di dalam kitabnya Talbis Iblis bahawa yang dinamakan sebagai Ahlis Sunnah itu adalah mereka yang mengikuti kebenaran dan ahli bid`ah pula yang mengikuti kesesatan. Selanjutnya beliau menukil kata-kata Ali Al-Madini yang mengakui golongan Ahli Hadis sebagai Ahlis Sunnah.

          salaf-khalaf Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, sebagai contoh, seorang yang mendukung dan berpegang dengan mazhab Asya`irah juga mengakui mazhab Salaf (Ori) sebagai Ahlis Sunnah dan berpegang bahawa pendapat mereka dalam soal ayat-ayat mutasyabihat lebih selamat.

          Seorang ulama Al-Azhar kontemporari bernama Muhammad bin Abdul Malik Al-Zughbi turut menjelaskan bahawa tiada masalah atau pertikaian antara umat Islam terdahulu di kurun-kurun yang pertama Islam mengenai sifat-sifat Allah.

          Tercetusnya masalah dalam lingkungan Ahli Sunnah pada awal kurun ketiga hijrah dan ia berkisar hanya pada perkara-perkara ijtihad dalam pentakwilan sifat-sifat Allah.

          Kesimpulan dasarnya di sisi semua ulama mengenai pegangan Ahlis Sunnah ialah fahaman yang kembali kepada sumber asal iaitu Al-Quran dan Sunnah serta amalan para sahabat dan tabi`in dan mereka juga tidak berselisih mengenai fakta bahawa akidah yang dipegang dan diamalkan umat Islam pada kurun pertama Islam adalah benar kerana bersumber pada Al-Quran dan Sunnah.

          Walaupun istilah Ahlis Sunnah belum digunapakai pada ketika itu, tetapi tiada khilaf dari kalangan ulama yang datang kemudian untuk menerima pendapat yang dipegang oleh mereka di zaman itu mengenai tidak mentakwil sifat-sifat Allah sebagai pendapat yang sah Ahlis Sunnah.

          Bahkan pendapat ini mendahului pendapat Asya`irah dalam Ahlis Sunnah seperti yang dinyatakan Oleh para ulama.

          Matlamat utama bagi semua adalah melahirkan anak-anak murid yang baik akhlaknya, cerdas pemikirannya dan bersikap profesional dalam menguruskan diri dan sekitaran apabila melangkah ke medan kehidupan.

          Para ulama Salaf dan Asya`irah dari dahulu hingga sekarang telah bersepakat mengenai tanzih (mensucikan Allah dari segala persamaan dengan makhluk dan segala sifat-sifat kekurangan).

          Malah terdapat banyak persamaan dalam persoalan akidah antara aliran Salaf dan Asya’irah, iaitu;

          A . kedua-dua pihak jelas mensucikan Allah taala daripada menyerupai makhluk.

          B . kedua-dua pihak meyakini bahawa maksud sebenar ayat mutasyabihat bukanlah maksud zahirnya yang menyerupai makhluk.

          C . kedua-dua pihak mengetahui lafaz yang digunakan dalam ayat-ayat itu adalah lafaz yang difahami oleh manusia dan dapat dirasai oleh pancaindera.

          Walaupun bahasa Arab luas, tetapi ia tidak merangkumi semua hakikat ilmu. Hakikat Allah s.w.t tidak mampu diterangkan oleh keterbatasan bahasa itu. Bahasa adalah sesuatu yang terhad kerana ia difahami dari sudut makna lafaz sahaja. Menentukan makna hanya dari sudut lafaz sahaja tidak memberi erti yang tepat.

          D . Kedua-dua sepakat pada keharusan takwil. Perselisihan hanya pada keperluan menentukan makna takwil yang diperlukan bagi menjaga akidah masyarakat umum daripada menyamakan Allah taala dengan makhluk.

          Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata, “Perselisihan seperti itu tidak perlu dirumitkan dan diperbesarkan.”

          Dalam isu menghuraikan maksud sifat Allah yang tertentu, ada yang membiarkannya tanpa takwilan apa-apa, iaitu menyerahkan maksudnya secara total kepada Allah.

          Mereka itulah golongan yang menuruti aliran Salaf.

          Ada pula yang mentakwil untuk memberi kefahaman betul kepada masyarakat awam tentang sifat Allah yang tidak sama dengan makhluk.

          Imam Ibn Kathir merupakan contoh terbaik dalam hal ini.
          Adakalanya beliau menggunakan kaedah takwil dan adakalanya tidak.

          Sebagai contoh, ketika mentafsirkan ayat istiwa’, beliau berkata, “Manusia mempunyai pelbagai pandangan tentang perkara ini.

          Saya (Ibn Kathir) mengikut pandangan Salaf dalam ayat ini, antaranya seperti Imam Malik, Al-Auza`i, Al-Thauri, Al-Laith bin Sa`ad, Al-Syafi`i, Ahmad, Ishak bin Rahawaih dan yang lain dari kalangan para imam dahulu dan sekarang.

          Mereka mengambil pandangan bagi membiarkan nas itu sebagaimana zahir,tanpa tafsir,tanpa terjemah dan tanpa membicarakannya,cukup dengan bacaan Qiraatnya tanpa disebut bagaimana dan tidak menyerupakan dengan sifat makhluk, serta tidak menafikan nas-nas itu.”

          Tetapi pada ayat-ayat sifat yang lain, beliau mengambil kaedah pentakwilan pada ayat-ayat mengenai sifat tangan.

          Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata bahawa kaedah takwil juga digunakan oleh golongan Salaf jikalau takwilan itu hampir kepada nas Al-Quran dan tidak terkeluar jauh dari maksud yang sebenar.

          Ini dilakukan oleh imam Ibn Kathir seperti contoh di atas dan juga imam Al-Baihaqi, Al-Nawawi, Ibn Hajar dan ramai lagi.

          Syeikh Muhammad Al-Hasan Al-Syinqiti, seorang alim dari Mauritania berkata,…

          “Harus berlaku kesilapan pada golongan Asya`irah, Maturidiah, Hanbali,.. dan mereka semua tidak boleh dikafirkan oleh kesilapan-kesilapan tersebut.”

          Walau apa pun, pelbagai bentuk tasawwur yang wujud di dunia Melayu seperti akidah ijtihad Ibn Taimiyah, Salafi Wahabi ataupun dinamika Afghani, Salafi Abduh, Haraki al-Banna, namun sikap kita harus waspada atas kepelbagaian tasawwur dan ittijah di atas.

          Rujukan:

          Yusuf Al-Qaradhawi. 2014. Merungkai pertelingkahan isu akidah antara salaf dan khalaf. PTS Islamika Sdn. Bhd. Selangor.
          DLL.

          Sumber: FB Zarief Shah Al HaQQy

          01/12/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

             

          %d bloggers like this: