Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Fitnah Akhir zaman

1) "Terdapat manusia yang tersenyum meminum madu sedangkan ianya racun. Ada yang kesedihan tertelan pahitnya racun, padahal ia sedang menikmati manisnya madu. Manusia kini berupaya mencipta berlian daripada kaca, dan melemparkan berlian yang disangkanya kaca".

2) "Ummat hari ini kebanyakannya telah ditarik nikmat furqaniyah iaitu kemampuan dalam membezakan antara hak dan batil, antara benar dan salah, antara baik dan buruk, sehingga para ulama pun tidak terkecuali, melainkan hamba-hamba Allah yang mendapat peliharaan Allah Azza wa Jalla.. Maka perbanyakkanlah bertaubat dan beristighfar, banyakkanlah membaca al-quran dan berselawat, dan banyakkanlah berdoa untuk diri sendiri dan untuk ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contohilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sentiasa mendoakan ummatnya sehingga Allah Ta’ala mengurniakan para Sahabat yang menjadi khairul ummah (sebaik-baik ummat), cahaya ilmu dan amal mereka menerangi ummah, kasih sayang mereka sering tercurah, mereka tenang menghadapi fitnah, mereka unggul menghidupkan sunnah, serta mereka mendapat husnul khatimah..".

 

(Kata kata TG Syeikh Ibrahim Ibn Masran Al-Banjari hafizahullah)

Advertisements

27 May 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | , | Leave a comment

Fitnah Akhir Zaman


Sumber: Pencinta Majlis Rasulullah

"Sesungguhnya dizaman ini, banyak fitnah yang boleh merosakkan generasi yang hidup diakhir zaman ini. Sebahagian daripada fitnah ini yang boleh mempengaruhi akal mereka. Diantara fitnah itu juga yang mempengaruhi kesannya didlm hati dan jiwa." "Zaman ini zaman fitnah. Nilailah mengikut hati kamu, siapa diantara mereka yang bercakap dengan hawa nafsu dan siapa diantara mereka yang bercakap dengan agama dan ilmu".

"Ada juga fitnah yang boleh membawa kesan kepada tubuh badan. Barangsiapa yang diselamatkan oleh Allah سبحانه وتعالى daripada fitnah tadi, maka orang itu selamat didunia dan juga diakhirat. Dan siapa yang tergelincir kepada fitnah tersebut maka nasib orang itu adalah ada digenggaman Allah سبحانه وتعالى".

"Bilamana Allah berkehendak Allah akan maafkan, bilamana Allah berkehendak Allah akan menghukumnya. Moga-moga Allah سبحانه وتعالى mengampunkan kita dan memaafkan kita semua.

Kita duduk disini adalah ingin megekspresikan rasa cinta dan kasih kita kepada nabi kita dan tiadalah perbuatan yg sedemikian itu dikatakan bida’ah ataupun perkara yang syirik ataupun perkara yang bercanggah dengan agama."

"Kemusyrikkan atau kesyirikkan ada pada kaum yahudi. Kemusyrikkan ada kepada penyembah-penyembah berhala. Adapun umat Nabi Muhammad ﷺ, maka tiada mungkin akan syirik kepada Allah سبحانه وتعالى melainkan setelah turunnya Nabi Isa a.s".

"Setelahnya turun Nabi Isa nanti diakhir zaman akan berlaku kesyirikkan dengan sebenar-benarnya. Kerana Allah سبحانه وتعالى telah menjamin umat ini daripda Rasulullah sampai kepada Nabi Isa a.s. untuk tidak berlaku perkara yang syirik akan tetapi diantara dua nabi ini berlaku perkara-perkara yang melampaui batas".

"Perkara-perkara yang berlaku daripada kejadian yang melampaui batas boleh untuk diselesaikan dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Oleh kerana itu, saya menyeru kepada penuntut ilmu, pelajar-pelajar dan juga mahasiswa-mahasiswaagar supaya mereka mengambil bahagian daripada ilmu ini agar supaya mereka mengetahui siapakah yang betul dan siapakah yg salah.

"Zaman ini zaman fitnah. Nilailah mengikut hati kamu, siapa diantara mereka yang bercakap dengan hawa nafsu dan siapa diantara mereka yang bercakap dengan agama dan ilmu."

"Jadilah kamu antara orang-orang yang baik. Yang bermanfaat untuk orang lain. Orang yang mengajak manusia kepada kedamaian dan keselamatan. Dan bukanlah menjadi orang yang mengajak manusia kepada perpecahan, peperangan dan pembunuhan."

Daripada Sayyidil Habib Abu Bakar Al-Adni Bin Ali Al-Mashur.

27 May 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Renungan & Teladan, Tazkirah | , | Leave a comment

FITNAH KEMUNAFIKAN

Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)

Agama Islam adalah agama yang mengajari keindahan. Saat Nabi Muhammad SAW merintis persatuan dan kebersamaan di dalam komunitas kaum muslimin. Beliau menawarkan kepada orang-orang di luar Islam untuk hidup dengan tenang bersama kaum muslimin. Maka dibuatlah perjanjian dan kesepakatan untuk hidup berdampingan dengan agama yang berbeda beda.

Bagi Nabi Muhammad SAW hal ini tidak menghawatirkan kaum muslimin sebab keberadaan mereka sangat bisa dikenali dengan simbol-simbol keagamaan mereka dan pengakuan mereka dari semula yang berbeda dengan kaum muslimin. Dan di saat terjadi pengkhianatan dari orang-orang di luar Islam tersebut akan dengan mudah Rasulullah SAW membuat suatu peringatan atau teguran kepada mereka.

Akan tetapi akan menjadi rumit permasalahannya jika hal itu telah ada campur tangan orang-orang yang seolah mengikuti Rasulullah SAW akan tetapi mereka lebih dekat dengan orang di luar Islam. Mereka itu adalah orang-orang munafik yang secara dzohir sholat bersama Rasulullah SAW di siang hari akan tetapi jika malam tiba mereka berkumpul dengan orang-orang kafir.

Ada pertanda yang amat jelas pada orang orang munafik tersebut, yaitu di saat umat Islam terlukai dan dibohongi mereka seolah–olah tidak tahu atau bahkan malah memancing di air keruh, Sehingga keberadaannya benar-benar bagai duri di dalam daging bagi muslimin.

Untuk memperkuat fitnah yang dihembuskan mereka akan membungkus kejahatan dengan berbagai sampul indah beraroma Islam namun di dalamnya adalah segala kebusukan. Diantara yang di jadikan pembungkus fitnah saat itu adalah masjid. Orang-orang munafik membangun masjid dengan tujuan memecah belah umat Islam. Dan pembangunan masjid ini dibantu oleh orang-orang diluar Islam (Yahudi saat itu) yang sangat dendam dengan kaum muslimin. Mereka dengan sangat mudah membantu orang-orang munafik untuk membangun masjid. Dan benar, dari masjid ini tersebar fitnah diantara kaum muslimin. Hal itu sangat difahami oleh orang-orang pilihan seperti Rasulullah SAW dan para shahabat setia beliau. Maka dengan tegas Rasulullah SAW memerintahkan agar menghancurkan masjid yang dibangun oleh orang munafik bersama orang yahudi ini. Itulah masjid Dhiror, masjid yang penuh fitnah yang membahayakan.

Yang terjadi di zaman Rasulullah SAW ini akan terus terulang-ulang hingga ahli iman masuk surga dan orang munafik dan orang kafir masuk neraka. Dan di zaman ini pun tidak lepas dari orang-orang beriman yang senantiasa memperjuangkan agama Allah menghadapi orang–orang kafir . Begitu juga ada ahli fitnah yang berkedok Islam namun sepak terjangnya selalu merugikan kaum musliman.

Ada sekelompok orang yang mereka itu keluar dari agama Islam karena mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Dan nabi palsu tersebut mengatakan dengan tegas bahwa yang tidak beriman kepadanya adalah tergolong orang kafir dan belum bisa disebut sebagai orang Islam.

Di saat seperti ini orang-orang pilihan Allah akan segera faham akan kekafiran ini. Maka terlihat di wajah mereka kasih sayang kepada kaum muslimin. Tidak rela jika ada kaum muslimin yang terjerumus dalam akidah kafir ini. Maka mereka terus berusaha untuk menghentikan kekafiran agar tidak menjangkit kaum muslimin.

Akan tetapi di saat itu juga muncul orang-orang munafik yang di saat kaum muslimin dianiaya dii beberapa wilayah Indonesia mereka tidak tergerak untuk menolong mereka. Akan tetapi di saat ada gerakan dari ahli Iman untuk menghentikan kebohongan orang kafir yang berkedok Islam itu, orang-orang munafik ini bangkit membela kebathilan dan menentang bahkan dengan terang–terangan mengadakan permusuhan kepada kaum muslimin demi membela kekafiran. Tidak beda ciri-ciri orang munafik ini dengan apa yang ada di zaman Rasulullah SAW, yaitu membuat proyek fitnah yang berkedok Islam, hanya bentuknya saja yang berbeda. Jika di zaman Rasulullah SAW mereka membuat masjid fitnah, kalau di zaman ini mereka membuat kelompok dan jaringan Islam yang penuh dengan fitnah. Dan yang membiayai pun tidak beda dengan apa yang ada di zaman Rasulullah SAW yaitu musuh-musuh Islam. Muatan jaringan dan perkumpulan ini adalah memfitnah dan merendahkan Islam yang dikemas dengan kajian-kajian keislaman. Dan bisa disaksikan, setiap yang bergabung dengan perkumpulan ini akan lebih senang membela orang di luar Islam daripada membela orang Islam. Semoga Allah menjaga Iman kita semua.

Wallahu a’lam bishshowab.

3 February 2015 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | , | Leave a comment

Peringatan Kepada Golongan Pencaci Dan Pembuat Fitnah

Sedikit tazkirah ataupun peringatan kepada masyarakat Islam di zaman yang kita hidup; di saat kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah dan pancaroba ini. Kita lihat hari ini, tersebarnya fitnah yang begitu dasyat di kalangan kita. Ada orang yang menyebarkan tulisan-tulisan, membuat tuduhan kepada orang (secara) sembarangan. Ada orang yang menyebarkan melalui alat-alat media, melalui youtube, video, dalam TV, dalam radio. Kita kena ingat, bahawa jiwa seorang Muslim, seorang yang beriman kepada Allah swt itu, bukanlah jiwa yang dibiarkan begitu sahaja. (Jiwa orang Muslim itu adalah) jiwa yang mempunyai harga yang begitu mahal.

Darah kamu, harta kamu, kehormatan kamu, haram atas diri kamu. Hari ini kita lihat, kehormatan diri manusia telah menjadi mainan, (hanya) kerana perbezaan ideologi, perbezaan pandangan, samada pandangan politik, pandangan pemikiran mazhab, pandangan yang tidak serupa dengan kita sahajalah senang, terus akan dijatuhkan hukuman yang begitu dasyat. Bahkan sanggup mengatakan seseorang ini ahli neraka, orang ini ahli sesat, yang begitu mudah sekali kita lemparkan tuduhan-tuduhan. Kadang-kadang yang menjadi mangsa ini, bukan orang-orang yang biasa. Samada orang politik sesama mereka, itu kita anggap orang biasa. Tapi, tuduhan ini dilemparkan ke atas para pendakwah, bahkan orang yang boleh dianggap sebagai alim ulama’, orang yang wara’ (yang) kita lihat pada zahirnya, (kita) tuduh bermacam-macam, (kemudian tuduhan ini) disebar melalui video, melalui internet. Gambar-gambar yang telah diedit, (di)masuk(kan ke dalam internet).

Kamu kena ingat, Allah swt telah menyebut dalam Al-Quran Al-Karim dalam surah An-Nur ayat 15:

(Maksudnya: Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.)

Ingatlah, ketika kamu menerima berita itu dari mulut ke mulut, kita dengar berita orang buat, kita tengok dalam youtube, orang ini jahat, scandal – tidak kira, skandal seks ke, skandal balak ke, skandal apa benda lah – ataupun pendakwah ini dituduh membawa ajaran sesat contohnya, kerana perkara-perkara yang tertentu, وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم kamu juga kata dengan lidah kamu, dengan mulut kamu. Samada mulut kita yang kita bercakap ataupun tangan yang kita tulis tulisan kita. مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٌ۬ Sedangkan kamu tidak mempunyai ilmu, maklumat yang tepat tentang peristiwa yang ada itu, وَتَحۡسَبُونَهُ ۥ هَيِّنً۬ا kamu ingat main-main sahaja, suka-suka sahaja. Like dalam facebook, gelak-gelak, suka-suka sahaja, buat ceramah masuk kampung dan bandar mencerca orang (dan) sebagainya, وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ۬ perbuatan ini merupakan perbuatan yang sangat besar di sisi Allah azza wa jalla.

Nabi saw dalam hadis yang panjang, tentang yang menyebut tentang peristiwa muflis,

 (Maksudnya: Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud: “Tahukah kamu siapakah orang yang muflis?” Sahabat-sahabat Baginda menjawab: “Orang yang muflis di antara kami ya Rasulullah ialah orang yang tidak mempunyai wang dinar dan dirham (ringgit) dan tiada harta benda.” Nabi s.a.w seterusnya bersabda: “Sebenarnya orang yang muflis daripada kalangan umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat membawa solat, puasa dan zakat, sedangkan datangnya itu dengan kesalahan memaki hamun orang, dan menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu dan juga memukul orang; maka akan diambil daripada amalan kebajikannya serta diberi kepada orang ini dan orang itu. Kemudian apabila habis amalan kebajikannya sebelum habis dibayar kesalahan-kesalahan yang ditanggungnya, akan diambil pula daripada kesalahan-kesalahan orang yang dianiaya serta ditimpakan ke atasnya. Kemudian, ia dihumban ke dalam neraka.”)

Nabi saw (ber)kata di antara sahabat, “Siapa di antara kamu orang muflis?” أتدرون من المفلس Nabi kata, “Kamu tahu apa itu muflis?” Sahabat kata “Muflis ini orang yang tiada harta, yang hutang banyak, duit untuk bayar takde, itu muflis”. Nabi kata, إن المفلس من أمتي orang muflis dalam kalangan umat aku ini يأتي يوم القيامة mereka datang pada hari kiamat bawa amalan dia, solat ada, puasa ada, zakat ada, tapi, mulut dia juga telah maki orang perli orang telah ambil harta orang telah memukul orang, apa jadi (kepada orang sebegini)? Maka akan diambil kebajikannya diberi kepada orang yang difitnahnya tadi, orang yang dia zalim tadi. Kalau habis pahala orang tadi, akan diambil dosa dan dicampak ke atas kepala. ثم طرح في النار kemudian akan dicampak ke dalam neraka.

Ini pesanan oleh Nabi yang begitu besar kepada kita. Kerana itulah, saya memberi peringatan, (dan saya memberi) tazkirah ini kepada semua muslimin dan muslimat. Tidak kira apa jenis kita ini, blogger ke, baru-baru nak belajar menulis ke, ahli-ahli facebook ke, wartawan ke, pembaca berita tak kira tv apa, semua kamu ingat, apa yang kamu kata, apa yang kamu tulis, kamu ingat main-main, “saya cuma baca skrip”, وَتَحۡسَبُونَهُ ۥ هَيِّنً۬ا kamu ingat benda itu main-main, وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ۬ tapi, ia besar di sisi Allah.

Kamu nak jadi orang muflis di akhirat? Dengan permainan-permainan alat-alat moden yang ada hari ini, duk reka cerita, ambil gambar orang, potong sana potong sini, akhir sekali keluar fitnah.

Kamu ingat orang (yang) kena fitnah ini boleh tidur malam? Kamu ingat orang (yang) kena fitnah berdiam diri begitu sahaja? لا (tidak)

Orang (yang kena) fitnah, orang yang kena zalim, doa orang yang kena zalim ini mustajab.

Allah swt sebut لأنصرنّك ولو بعد حين (ertinya) “Aku akan memberi pertolongan, walaupun selepas beberapa ketika”. Hari ini kita lihat, tidak kira orang hidup ataupun orang mati, semua tak selamat. Orang mati pun tidak selamat. Apabila ada tokoh ulama mati, semua orang mengeluarkan kenyataan, statement yang begitu dasyat. Tulis macam-macam kepada orang ini.

Kita kena ingat, kita boleh keluarkan pandangan mereka yang bercanggah daripada kebenaran tapi jangan mencerca mereka.

Dalam hadis Nabi saw berkata, لا تسبوا الأموات (ertinya) jangan kamu maki orang yang telah mati, فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا (ertinya) mereka telah pergi bawa apa yang mereka bawa. (Hadis riwayat Bukhari daripada Aisyah)

Kalau dia bawa yang tak baik, dia berjumpalah dengan malaikat dalam kubur. Tak payah kamu yang jatuh hukum, biarkan mereka dengan amalan mereka. Kita tak payah jadi hakim, biarlah Allah azza wa jalla.

Banyak hadis-hadis nabi yang mengarahkan kepada kita supaya jaga lidah. Nabi kita sendiri saw kata,

(“إن اللعانين لا يكونون شفعاء ولا شهداء يوم القيامة” Dikeluarkan oleh Imam Muslim.)

إن اللعانين orang yang suka melaknat orang, mencelaka orang لا يكونون شفعاء ولا شهداء يوم القيامة orang ini tidak boleh jadi saksi dan tidak boleh bagi syafaat pada hari kiamat.

Dan hadis lain lagi, Nabi saw berkata, ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذيء orang mukmin bukan suka membuat tuduhan kepada orang.

Hari ini, kita tengok penceramah-penceramah, masuk kampung-kampung dengan serban mereka, membuat tuduhan, maki orang, pagi sampai gelap, sekali-sekali boleh masuk dalam TV, buat cercaan kepada orang, subhanallahil ‘azim. Kita boleh berbeza pandangan, kadang-kadang tuduhan yang dia tuduh bukan tuduhan yang besar. Benda yang masih dalam skop yang boleh berikhtilaf dalam kalangan ulama. Ulama-ulama besar boleh ikhtilaf dalam masalah ini, tapi, kita ulama kecil, kadang-kadang tidak ulama pun, tapi orang angkat sebagai ulama sebab boleh digunakan orang ini, maka kita bercakap lebih daripada para ulama. Mujtahidun pun tidak bercakap lebih daripada itu.

Nabi kata (seperti hadis di atas), (adalah) bukan mukmin orang yang الطعان (iaitu) orang yang suka membuat tuduhan, ولا اللعان bukan juga orang yang suka melaknat orang, ولا الفاحش orang yang suka bercakap keji, cakap kotor, apa lagi hari ini duduk menyebarkan kekotoran, tunjuk video lucah sana-sini, tulis dalam surat khabar, sampai budak-budak pun pening, dia kata, “Apa cerita orang Malaysia ini?” Itu fitnah yang berlaku. Itu hadis At-Tirmidzi, ولا البذيء orang bercakap yang tidak baik.

Dalam hadis lain, Nabi saw berkata,

لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم سباباً ولا فحّاشاً ولا لعّاناً

Nabi sendiri bukanlah seorang yang suka melaknat, bukan orang yang suka memaki, mencerca orang, tidak (Nabi bukan begitu).

Jadi, kita belajarlah, banyak hadis yang mengatakan; dalam hadis Abu Daud mengatakan,

يا معشر المسلمين wahai orang beriman, ataupun dalam riwayat (lain) يا معشر من آمن بلسانه wahai orang beriman dengan lidah dia, tapi tidak masuk dalam hati dia. (يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ)

لا تتبعوا عورات المسلمين jangan sekali-kali mencari keaiban orang. Sesiapa yang suka mencari keaiban orang, duk memburukkan orang, duk menjatuhkan orang, يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ Allah akan mendedahkan keaibannya walau dalam rumahnya sendiri.

Kita tengok hari ini macam mana, orang yang buat perbuatan-perbuatan seperti ini. Cuba kembali kepada sejarah. Kita lihat. Bila dia duduk sebelah ini, dia duduk kafirkan orang sebelah sini. Orang itu kafir, murtad, pergi ke jirat, hari ini dia duduk sebelah ini, dia kafirkan orang sebelah ini pula. Orang ini, mulut dia, kalau tak sebut kafir, tidak boleh duduk, boleh jadi tidak boleh makan puak-puak ini. Kita pula duk angkat, “Inilah tokoh pejuang, tokoh (lain-lain)” pejuang apa? Pejuang maki orang? Pejuang kutuk orang? Ini bukan pejuang, ini peruntuh agama. Duduk di mana-mana pun ghuluw. Nabi kata إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ, (lafaz penuh adalah إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ؛ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ) “Aku beri peringatan kepada kamu, jangan melampau dalam agama. Binasanya orang dulu-dulu, kerana melampau dalam agama.” kononnya nak membela Islam, tapi, kita meruntuhkan Islam dengan adab kita, dengan akhlak kita, dengan sikap kita.

Hari ini hendak mendakwa kalimah Allah swt, kononnya orang yang menyokong kalimah Allah swt ini kafir harbi, kafir harbi. Apakah kalimah Allah swt yang kamu hendak sokong? Sekadar tulisan? Kalau hendak sokong sungguh, ini perjuangan Islam.

من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله

Nabi kata, sesiapa yang berjuang menegakkan kalimah Allah, untuk meninggikan agama Allah, فهو في سبيل الله inilah barulah orang (yang bersikap) pejuang. Kalau setakat tulisan, itu bukan pejuang namanya. Dengan adab-adab dan akhlak yang kamu tunjuk, ini bukan pejuang kalimah, tapi orang yang nak meruntuhkan agama, sebenarnya. (Hadis sahih Muslim)

Maka, berhati-hatilah. Mana-mana golongan yang melampau, melampau dalam membuat tuduhan kepada orang, samada mengkafirkan orang, menyesatkan orang, mengata itu mengata ini, semua ini kita perhatikan, tengok gelagat mereka, tengok tingkah laku mereka, apa perjuangan yang dia hendak sebenarnya.

Tidak kira, pejuang Melayu, pejuang Arab, sama sahaja. Nabi saw kata Nabi kita larang daripada perjuangan bangsa, Nabi sebut دعوها فإنها منتنة orang ini dikira orang yang busuk, orang yang menyeru kepada perkauman. (Hadis riwayat Bukhari)

Jadi, alhamdulillah, dalam Islam, banyak adab yang mengajar kepada kita. Yang pertama, jaga lidah. ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد Tidak ada satu lafaz, tidak ada perkataan yang kita tulis, tidak ada tuduhan yang dibuat, semuanya ada rakib atid, ada malaikat yang menulis amalan dan semuanya akan dikira di hadapan Allah azza wa jalla. (Surah Qaf ayat 18)

Pernah seorang datang menemui syeikh Abdullah ibnu Al-Mubarak. Dia duduk (men)cerca seseorang di hadapan Syeikh Ibnu Al-Mubarak. Syeikh (Ibnu Al-Mubarak) itu pun (ber)kata, “Hei saudara, kamu pernah pergi berperang melawan Rom?” Lelaki ini kata “Tidak”. (Syeikh Ibnu Al-Mubarak kata), “kamu pernah pergi berperang melawan Parsi?” Dia kata “Tidak”. Syeikh Ibnu Al-Mubarak kata, “Subhanallah, orang kafir (iaitu) Rom dan Parsi selamat daripada kamu, tapi saudara kamu orang Islam tidak selamat daripada kamu.”

Hati-hatilah kita para jemaah, daripada menjadi orang yang tidak selamat (seperti yang disebut dalam hadis) المسلم من سلم الناس من لسانه ويده. (Maksudnya:) Orang Islam itu, (adalah) orang yang orang Islam lain selamat daripada lisannya dan tangannya. (Petikan hadis riwayat Ahmad, disahihkan oleh Syeikh Arnaut) Kalau kita menjadi orang Islam yang mencerca, memaki orang, maka kita belum lagi benar-benar seorang Islam.

Semoga tazkirah saya ini, memberi kesedaran kepada diri saya sendiri, supaya bersikap adil dalam menangani masalah dalam umat ini. Dan para pendengar bersikap adillah kita dalam membuat penilaian. Jangan melampau dalam perkara ini, kerana binasa umat dahulu kerana melampau, dan binasa umat ini juga kerana melampau. Janganlah kita mendedahkan keaiban orang , janganlah sampai Allah mendedahkan keaiban kita walaupun dalam rumahnya.

[ Di petik dari syarah Ustaz Dr Abdul Basit Abdul Rahman –http://www.youtube.com/watch?v=Gz70T-V_r2U]

Assalamualaikum wbth.

Perkongsian dari Sebar IslamBlogspot

6 December 2013 Posted by | Ibadah, Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

Mulut berbisa bawa sengketa

 

Mulut merupakan anggota badan yang amat istimewa sekali. Atas keistimewaan itu banyak pepatah, bidalan, perumpamaan dan peribadi terbit daripadanya. Antaranya, bila seseorang itu banyak sangat bercakap yang bukan-bukan, akan dipanggil mulut becok.

Bila terlalu banyak menggunakan perkataan yang manis-manis dan menggembirakan orang lain dipanggil mulut manis. Begitu juga jika seseorang itu terlalu banyak sangat mengomel, mencaci, mencela dan tidak memberikan kredit kepada orang lain berdasarkan pertimbangan rasional dia dipanggil “mulut berus”, atau disindir dengan kata-kata “jaga sikit mulut tu”, “mulut tidak insuran tau!”

Seperti juga lain-lain aktiviti anggota badan, selain menggunakan mulut untuk makan, mulut juga dikatakan alat utama untuk mengeluarkan suara dari tenggorokan. Suara yang keluar itu bergantung kepada lidah, kedudukan gigi dan jika suara terlalu perlahan, seseorang itu akan memerhatikan gerak bibir, yang merupakan pintu kepada mulut. Bibir yang manis, ditambah dengan gincu yang merah, bentuk yang tertentu bukan sahaja menjadikan seseorang itu menawan, malah dianggap seksi.

Dengan menggunakan mulut dan bermuarakan sepasang bibir mungil, kata-kata yang keluar daripada menyebabkan hati seseorang itu boleh jadi cair atau pun geram tak keruan. Kerana itulah Islam sentiasa mengingatkan setiap penganutnya agar menjaga keharmonian tutur kata, membanyakkan senyuman, bercakap dengan benar dan tidak terlalu menghabiskan masa menghiasi bibir dengan gincu yang menggairahkan.

Kata-kata merupakan himpunan bunyi yang berstruktur untuk menyampaikan sesuatu perkara melalui perantaraan bahasa. Berdasarkan sejarah peradaban manusia, bahasa merupakan satu alat yang paling berkesan dan terbaik pernah dilahirkan oleh manusia sepanjang kehidupannya. Melalui penggunaan kata-katalah manusia dapat memahami, berhubung dan seterusnya hidup bermasyarakat. Melalui bahasa juga manusia mampu merungkaikan keharmonian dan perseteruan antara mereka sehingga membangkitkan rasa marah dan dendam.

Dalam Islam kata-kata kotor, makian serta ucapan menghina merupakan satu perkara yang sangat tercela dan dilarang. Sesungguhnya segala sumber kata-kata kotor atau nista itu timbul daripada watak yang rendah dan jiwa yang hina. Kerana itu ada pendapat mengatakan “Bahasa Jiwa Bangsa” dan kerana itulah Rasulullah s.a.w mengingatkan kita bahawa:

“Jauhilah olehmu semua kata-kata kotor sebab Allah tidak suka kepada kata kotor atau yang menyebabkan timbulnya kata kotor dari orang lain.”

Kata-kata kotor, nista,umpatan dan kejian menyebabkan manusia berkonflik, bergaduh dan seterusnya bersengketa sehingga berlakunya pembunuhan, pertumpahan darah dan lenyap sama sekali. Mungkin kita boleh jadikan teladan, bagaimana masyarakat Islam terus membenci Presiden George W. Bush apabila beliau menyifatkan Iran dan Iraq sebagai “paksi kejahatan.” Seluruh masyarakat Islam, sama ada secara langsung atau tidak langsung mengutuk pemberian gelaran itu terhadap negara-negara Islam.

Kita mungkin teringat dengan hukuman yang pernah diberikan oleh Ayatollah Khomeini apabila Salman Rushdie (melalui novelnya yang kontroversi, Satanic Verses ) melukiskan perwatakan Nabi Muhamad s.a.w sebagai karikatur dan mempersendakan baginda. Mungkin juga kita tidak lupa dengan kata-kata pedih yang pernah dikeluarkan oleh pemimpin tertentu bagi menggambarkan watak yang tidak disukainya.

Di Indonesia, Kipanjikusmin pernah dikritik hebat apabila menggambarkan Nabi Muhammad s.a.w menaiki sputnik (menggantikan borak semasa peristiwa Israk dan Mikraj) melalui cerpennya, Langit Makin Mendung. Di Malaysia, ada penyajak pernah menerima kecaman setelah mengungkapkan “Tuhan Telah Mati” melalui sajaknya. Ahli Parlimen Belanda menghadapi tentangan hampir seluruh umat Islam apabila menyiarkan filem dokumentari “Fitna” dan sebagainya.

Mungkin kerana marah atau ada sesuatu yang terguris di hati, mereka telah lupa bahawa Rasulullah s.a.w pernah memberikan peringatan bahawa:

“Seorang mukmin bukanlah tukang mencela, tukang melaknat orang, tukang berkata kotor dan berkata rendah.” “Syurga itu diharamkan bagi setiap orang yang berkata kotor untuk memasukinya.”

Dalam membuat sesuatu tuduhan, berkata-kata kita seharusnya menjadikan perilaku dan tutur kata Rasulullah s.a.w sebagai contoh yang terbaik. Baginda, tidak pernah mengeluarkan kata-kata kesat, walaupun berhadapan dengan musuhnya.

Sebaliknya baginda membalas dengan senyuman dan menasihati secara berhemah dan tidak menyakiti atau melukai perasaan orang lain. Anas bin Malik r.a pernah merakamkan bahawa:

“Tidak pernah Rasulullah SAW melakukan perbuatan keji, tidak pula kotor lidah (suka mengutuk) dan tidak pula mancaci maki. Ketika seseorang mencela Baginda sebagai seorang yang kotor (berdebu) kerana banyak (sujud), Baginda hanya mengatakan “apa yang dia miliki.”

Rasulullah s.a.w adalah seorang yang benar-benar memelihara lisannya. Sekalipun terhadap orang-orang kafir yang menentang dakwahnya. Baginda tidak mudah mengeluarkan kata-kata laknat atau menyakitkan hati.

Abu Hurairah r.a berkata bahawa ia menemui seorang lelaki yang ketagihan arak. Lalu dihadapkan lelaki itu kepada Nabi Muhammad s.a.w agar dihukum. Di antara para sahabatnya ada mengatakan: “Saya memukul dengan tangan”, “saya memukul dengan kasut” dan “saya memukul dengan baju.”

Ketika lelaki itu berpaling (ke arah sahabat), seorang sahabat menyatakan semoga Allah s.w.t menghinamu! Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w yang bermaksud:

“Janganlah kamu meminta bantuan syaitan dalam menghadapinya.”

Daripada Abu Darda r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Aku memohon kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, doakanlah (kecelakaan) bagi orang-orang musyrik. Rasulullah menjawab: Sesungguhnya aku diutus bukan untuk melaknat (mengutuk), tetapi aku diutus untuk memberi rahmat.”

Begitulah citra peribadi Rasulullah s.a.w dengan akhlak yang luhur telah memberikan contoh kepada manusia agar selalu menghindari sebarang tindakan secara melulu dan selalu sabar dalam menghadapi setiap rintangan atau masalah.

Dalam konteks ini jelas sekali sikap berlebih-lebihan dalam beragama yang menjadi pegangan sesetengah orang bukanlah dari ajaran Islam. Ini kerana Islam lebih mendahulukan sikap pertengahan atau kesederhanaan dalam setiap aspek kehidupan.

Bukan sekadar itu sahaja, bahkan Islam mengingatkan setiap umatnya agar tidak terjerumus pada dua kesesatan iaitu berlebih-lebihan atau sikap lalai. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus (iaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka dan bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (Surah al-Fatihah: 6-7)

Di dalam masyarakat Islam tidak ada tempat bagi kaum muslimin untuk meremehkan nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh Islam. Masyarakat Islam menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang luhur dalam kehidupan umat manusia. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Tahukah kamu siapa yang disebut orang bankrap itu.”

Para sahabat menjawab: “Orang yang tiada lagi mempunyai wang dan harta.” Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Orang yang bankrap adalah yang datang pada hari kiamat amalan solat, puasa dan zakat, tetapi bersamaan itu juga ia telah mencaci maki, menuduh, memakan harta tidak halal, mengalirkan darah (tanpa hak) dan memukul ini dan itu. Maka amalan baiknya dilimpahkan kepada orang yang berhak menerimanya (yang ia caci) dan jika amalan baiknya habis pada hal belum dapat menutup kesalahannya maka kesalahan (orang yang dicaci itu) dilimpahkan kepadanya, kemudian ia ditempatkan ke dalam neraka.”

Sudah sepatutnya seorang muslim itu memelihara lisan atau lidahnya dari mencaci maki, walaupun dengan alasan yang kuat. Lebih utama memadamkan api kemarahan itu agar tidak terjadi permusuhan yang menyeret kepada perbuatan dosa.

Daripada Ali bin Abi Talib r.a, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Yang berbuat keji dan menyiarkan kekejiaan itu berada dalam keadaan sama-sama berdosa.”

Firman Allah yang berbunyi:

“Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap pencaci dan pengkeji.” (al-Humazah:1)

Dalam ayat ini, Allah s.w.t mengutuk perbuatan jahat iaitu menyebarkan fitnah, bercakap ataupun mengisyaratkan perkara yang jahat sama ada terhadap seorang lelaki atau perempuan dengan kata-kata ataupun secara isyarat, atau perangai, atau secara mengajuk-ajuk, ataupun sindiran atau caci maki.

“Sesungguhnya Allah s.w.t itu pemalu, penutup (cela), menyukai malu dan tertutup, maka apabila salah seorang kamu mandi maka hendaklah ia ditutup.”

Demikian juga firman Allah s.w.t yang bermaksud:

“Serulah ke jalan Tuhanmu (Wahai Muhammad) dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik. “bukanlah tergolong daripada orang mukmin yang suka mencela, mengutuk dan mengeji. Dan bukan pula mereka yang berlidah kotor.” (an-Nahl:25)

Daripada ayat-ayat al-Quran serta beberapa hadis yang tersebut jelaslah membuktikan bahawa Islam melarang umatnya mencarut dan emaki hamun sesama Muslim.

Ini kerana kerja-kerja mencarut adalah kegiatan dan perbuatan syaitan. Bagi mereka yang masih tegar dengan pengucapan negatif bagi mewajarkan kenyataan berbaur fitnah, nista dan cela bersandarkan pendapat bahawa Islam tidak melarang umatnya mencarut adalah satu usaha pemesongan dan bertentangan dengan budaya Islam. Mohon perlindungan Allah s.w.t daripada sifat yang buruk.

Seperti kata peribahasa: kerana santan, pulut binasa; kerana mulut, badan binasa. Maka adalah wajar untuk kita menjaga kata-kata setiap masa, kerana ia akan menjauhkan diri kita daripada sengketa dan berbuat salah.

Melakukan kesalahan dan menimbulkan sengketa adalah berdosa, berbuat dan mengumpul dosa itu merupakan kemenangan bagi syaitan yang menyebabkan kita kan terjerumus ke lembah kehinaan, ke dalam neraka kita akan ditempatkan. Inginkah kita untuk ke sana?

[Sumber: YADIM]

28 May 2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , | Leave a comment

   

%d bloggers like this: