Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Menjaga tepi kain orang

Jaga tepi kain orang

Ajaran Islam telah menetapkan bahawa aktiviti amar makruf (menyuruh melakukan kebaikan dan nahi mungkar (mencegah melakukan kejahatan) adalah suatu tuntutan atau agenda tertinggi dalam Islam. Berdasarkan keperluan yang amat penting inilah maka Allah s.w.t mengutus Rasul-rasul-Nya di atas muka bumi ini. Andai kata aktiviti amar makruf dan nahi mungkar ini dilengah-lengahkan atau tidak dipedulikan, maka akan menyaksikan budaya jahiliah bermaharajalela, persekitaran kediaman dan tempat kerja tidak selamat serta masyarakat semakin rosak.

Kadangkala terdapat di kalangan kita tidak mengambil kisah, tidak mengambil berat, dan tidak mengambil peduli perbuatan jenayah atau gejala sosial yang berlaku di persekitaran kita. Malah kita pernah mendengar laporan media bagaimana kanak-kanak kecil dibelasah hingga mati di tepi padang bola sepak tanpa mendapat pertolongan dan bantuan daripada mereka yang berada di situ.

Persoalan besar timbul ialah mengapa terdapat di kalangan kita tidak mempedulikan dan melengah-lengahkan melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar itu. Adakah kerana nilai hidup yang berpegang kuat dengan pepatah Melayu “ jangan jaga tepi kain orang”, atau mangsa bukan keluarga kita, maka menyebabkan kita tidak mempedulikan, tidak mengambil tahu apa yang berlaku di sekeliling kita sehingga ada pembuangan bayi, kanak-kanak di dera, pembantu rumah dizalimi, warga emas diabaikan atau jiran  di rompak pun kita tidak mempedulikannya.

Allah s.w.t berfirman yang bermaksud: “Dan hendaklah kamu bertolong-tolongan untuk membuat kebajikan dan bertakwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa (maksiat) dan pencerobohan. Dan bertakwalah kepada Allah, kerana sesungguhnya Allah Maha Berat azab seksa-Nya (bagi sesiapa yang melanggar perintahNya).” (al-Maidah: 2)

Pada prinsipnya Pepatah  Melayu “jangan jaga tepi kain orang” bercanggah dengan tatacara hidup Islam yang sebenar kerana umat Islam itu  bersaudara, saling bantu-membantu, faham-memahami antara satu sama lain.

Rasulullah s.a.w telah memberi peringatan keras kepada umatnya dalam sabda baginda yang bermaksud: “Tidak beriman seseorang itu sehinggalah ia mengasihi saudaranya seperti mana ia mengasihi dirinya.” (Riwayat Muslim)

Berdasarkan peringatan Rasulullah ini, marilah kita melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar dalam masyarakat dan kehidupan berjiran kerana akan meningkatkan prestasi keimanan dan ketakwaan kita. Selain daripada itu, “ amalan menjaga tepi kain orang” sebenarnya mampu meningkatkan persaudaraan dan semangat kejiranan.

Amalan ini memberi peluang  mengenali lebih dekat siapa  jiran tetangga, masalah hidup jiran dan dapat mengenal pasti orang-orang yang mencurigakan yang bergerak di sekitar kita.

Dalam keadaan  beginilah maka amalan jaga tepi kain orang diguna pakai. Bagaimanapun, amalan menjaga tepi kain orang yang bertujuan memfitnah adalah bercanggah dengan prinsip amar makruf dan nahi munkar.

Justeru, umat Islam sekalian janganlah mudah cepat marah apabila anak-anak kita ditegur atau dimarahi orang lain kerana teguran itu mungkin untuk membimbing dan mendidiknya. Kita mungkin tidak nampak  tingkah laku apa yang dilakukan anak itu. Jadi tidak salah jika orang lain melihat dan menegur misalnya anak bermain di tepi longkang, anak merayau-rayau di tepi jalan, menagih dadah, mencuri dan sebagainya.

Usaha kita membina semangat hidup bermasyarakat tidak akan terlaksana sekiranya kita sendiri belum menjadi insan yang  prihatin terlebih dahulu. Marilah sama-sama kita menjadi masyarakat yang prihatin dengan merasa bertanggungjawab di atas suasana yang berlaku ini dengan mengawasi pergerakan anak-anak kita dan apa yang berlaku di sekitar kita.

Seluruh umat Islam dan rakyat Malaysia diseru untuk sama-sama memikul bebanan ini. Marilah sama-sama menggerakkan aktiviti dakwah dengan memperbaiki fenomena yang berlaku dalam masyarakat kita hari ini.

Dengan izin Allah s.w.t kita akan mampu menjadi umat yang terbaik. Oleh kerana itu, maka sewajarnyalah kita memohon perlindungan Allah Taala agar pekerjaan amar makruf  dan nahi mungkar ini tidak terlepas daripada tanggungjawab umat Islam.

 

[Sumber: ummatanwasatan.net]

31 May 2013 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Subhanallah, Pohon Kurma Menangis

 

pohon kurma ilustrasi

Pada suatu Jumat, warga Madinah digemparkan dengan suara tangis yang amat pilu dan tak ujung henti. Suara yang seperti rengekan bayi itu berasal dari Masjid Nabawi. Para sahabat Rasul yang berada di masjid pun kebingungan, siapa gerangan yang menangis. Saat itu, mereka tengah berkumpul untuk menjalankan shalat Jumat.

Tangisan terdengar sesaat ketika Rasulullah memberikan khutbah. Mendengarnya, Rasulullah pun turun dari mimbar menunda khutbahnya. Sang Nabiyullah kemudian mendekati sebuah pohon kurma. Beliau mengelusnya, kemudian memeluknya. Maka, berhentilah suara tangisan itu. Ternyata, si pohon kurma itulah yang menangis. Hampir saja pohon itu terbelah karena jerit tangisnya.

Sejak Masjid Nabawi berdiri, pohon kurma itu telah di sana. Tak hanya menjadi tonggak, pohon kurma tersebut selalu menjadi sandaran Nabi acapkali beliau memberikan khutbah. Si pohon selalu menanti hari Jumat karena pada hari itu ia akan mendampingi Nabi memberikan nasihat kepada kaum Muslimin. Sejak Jumat pertama masjid berdiri, ia selalu setia dan bahagia menemani Nabi Muhammad. Hingga hari Jumat itulah ia menangis.

Beberapa hari sebelum Jumat yang pilu bagi si pohon, seorang wanita tua Anshar mendatangi Rasulullah. Ia memiliki putra seorang tukang kayu dan ia menawarkan sebuah mimbar untuk Rasul. “Wahai Rasulullah, maukah kami buatkan mimbar untuk Anda?” ujarnya. Rasulullah pun menjawab, “Silakan jika kalian ingin melakukannya,” ujar beliau.

Maka, pada Jumat keesokan hari, mimbar Rasul telah siap digunakan. Mimbar itu pun diletakkan di dalam masjid. Saat Rasul menaiki mimbar, menangislah si pohon karena ia tak lagi menjadi “teman” Rasul dalam khutbah Jumat seperti biasa. “Pohon ini menangis karena tak lagi mendengar nasihat yang biasa disampaikan di sampingnya,” ujar Rasul setelah memeluk pohon tersebut.

Setelah dipeluk Nabiyullah, si pohon bahagia. Ia tak lagi menangis dan dirundung kesedihan. Meski tak lagi mendampingi Nabi, mendapat pelukan dari Nabi cukup mengobati rasa sedihnya. Rasulullah pun berkata kepada para sahabat, “Kalau tidak aku peluk dia, sungguh dia akan terus menangis hingga hari kiamat,” sabda Nabi.

Kisah pohon kurma yang menangis ini sangat populer dalam kisah Islami. Banyak rawi yang meriwayatkan hadis tersebut, sehingga tak perlu lagi dipertanyakan kesahihannya. Para sahabat banyak meriwayatkannya, baik Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Jabir, Ibnu Umar, dan lain sebagainya. Kisah ini menunjukkan betapa seluruh makhluk, bahkan pohon sekalipun, mencintai Rasulullah. Maka, sangat mengherankan jika manusia yang berakal dan mengetahui keluhuran akhlah beliau kemudian tak jatuh cinta kepada sang Nabi.

Batu yang berlari

Kisah mengenai hidupnya benda mati juga terjadi pada masa kenabian Musa. Jika Rasulullah berinteraksi dengan pohon, Musa pun memiliki pengalaman dengan sebuah batu. Kisah ini terjadi di masa Israiliyat.

Dahulu kala, Bani Israil biasa mandi di sungai tanpa pakaian. Mereka tak malu meski saling melihat satu sama lain. Tapi, kebiasaan itu tak disukai Nabiyullah Musa. Setiap kali mandi, Musa selalu menyendiri dan enggan mandi bersama.

Bukan Bani Israil jika tak memiliki sifat membangkang. Sikap mulia Nabi Musa tersebut justru dipertanyakan mereka. Meski Musa merupakan nabi yang patut diyakini dan dihormati, Bani Israil justru mencelanya. Mereka menyebarkan gosip bahwa Musa memiliki cacat badan hingga enggan mandi bersama. Nabi Musa yang terbiasa sabar menghadapi umatnya pun hanya diam membisu. Ia enggan meladeni gosip murahan Bani Israil. Tapi, Allah enggan membiarkan utusan-Nya dicela.

Suatu hari, ketika Musa mandi dia meletakkan bajunya di atas sebuah batu. Tapi, tiba-tiba atas perintah Allah batu tersebut lari dengan kencang. Musa pun segera mengejar benda mati itu. “Wahai batu! Bajuku!” ujar Musa. Saat mengejar batu tersebut, Bani Israil melihatnya. Maka, nyatalah bahwa gosip itu tak benar. “Demi Allah tak ada cacat pada Musa,” ujar mereka. Setelah Allah menampakkannya, batu tersebut pun berhenti. Nabi Musa segera mengambil baju dan mengenakannya. Nabiiyullah pun marah kepada sang batu dan dia pun memukulnya.

Kisah batu tersebut dikabarkan oleh Rasulullah dalam hadits riwayat Bukhari dari sahabat Abu Hurairah. Dari dua kisah di atas dapat dipetik hikmah untuk menghormati dan menaati utusan Allah. Mencintai utusan Allah merupakan bagian dari keimanan.

Rasulullah pernah bersabda, “Terdapat tiga hal yang apabila dimiliki seseorang tentu dia merasakan manisnya iman, Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada yang selain keduanya, dia tidaklah mencintai seseorang melainkan karena Allah, serta dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api.” (Hadis riwayat Bukhari Muslim dari Anas bin Malik).

[Sumber: ummatanwasatan.net]

28 May 2013 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Mulut berbisa bawa sengketa

 

Mulut merupakan anggota badan yang amat istimewa sekali. Atas keistimewaan itu banyak pepatah, bidalan, perumpamaan dan peribadi terbit daripadanya. Antaranya, bila seseorang itu banyak sangat bercakap yang bukan-bukan, akan dipanggil mulut becok.

Bila terlalu banyak menggunakan perkataan yang manis-manis dan menggembirakan orang lain dipanggil mulut manis. Begitu juga jika seseorang itu terlalu banyak sangat mengomel, mencaci, mencela dan tidak memberikan kredit kepada orang lain berdasarkan pertimbangan rasional dia dipanggil “mulut berus”, atau disindir dengan kata-kata “jaga sikit mulut tu”, “mulut tidak insuran tau!”

Seperti juga lain-lain aktiviti anggota badan, selain menggunakan mulut untuk makan, mulut juga dikatakan alat utama untuk mengeluarkan suara dari tenggorokan. Suara yang keluar itu bergantung kepada lidah, kedudukan gigi dan jika suara terlalu perlahan, seseorang itu akan memerhatikan gerak bibir, yang merupakan pintu kepada mulut. Bibir yang manis, ditambah dengan gincu yang merah, bentuk yang tertentu bukan sahaja menjadikan seseorang itu menawan, malah dianggap seksi.

Dengan menggunakan mulut dan bermuarakan sepasang bibir mungil, kata-kata yang keluar daripada menyebabkan hati seseorang itu boleh jadi cair atau pun geram tak keruan. Kerana itulah Islam sentiasa mengingatkan setiap penganutnya agar menjaga keharmonian tutur kata, membanyakkan senyuman, bercakap dengan benar dan tidak terlalu menghabiskan masa menghiasi bibir dengan gincu yang menggairahkan.

Kata-kata merupakan himpunan bunyi yang berstruktur untuk menyampaikan sesuatu perkara melalui perantaraan bahasa. Berdasarkan sejarah peradaban manusia, bahasa merupakan satu alat yang paling berkesan dan terbaik pernah dilahirkan oleh manusia sepanjang kehidupannya. Melalui penggunaan kata-katalah manusia dapat memahami, berhubung dan seterusnya hidup bermasyarakat. Melalui bahasa juga manusia mampu merungkaikan keharmonian dan perseteruan antara mereka sehingga membangkitkan rasa marah dan dendam.

Dalam Islam kata-kata kotor, makian serta ucapan menghina merupakan satu perkara yang sangat tercela dan dilarang. Sesungguhnya segala sumber kata-kata kotor atau nista itu timbul daripada watak yang rendah dan jiwa yang hina. Kerana itu ada pendapat mengatakan “Bahasa Jiwa Bangsa” dan kerana itulah Rasulullah s.a.w mengingatkan kita bahawa:

“Jauhilah olehmu semua kata-kata kotor sebab Allah tidak suka kepada kata kotor atau yang menyebabkan timbulnya kata kotor dari orang lain.”

Kata-kata kotor, nista,umpatan dan kejian menyebabkan manusia berkonflik, bergaduh dan seterusnya bersengketa sehingga berlakunya pembunuhan, pertumpahan darah dan lenyap sama sekali. Mungkin kita boleh jadikan teladan, bagaimana masyarakat Islam terus membenci Presiden George W. Bush apabila beliau menyifatkan Iran dan Iraq sebagai “paksi kejahatan.” Seluruh masyarakat Islam, sama ada secara langsung atau tidak langsung mengutuk pemberian gelaran itu terhadap negara-negara Islam.

Kita mungkin teringat dengan hukuman yang pernah diberikan oleh Ayatollah Khomeini apabila Salman Rushdie (melalui novelnya yang kontroversi, Satanic Verses ) melukiskan perwatakan Nabi Muhamad s.a.w sebagai karikatur dan mempersendakan baginda. Mungkin juga kita tidak lupa dengan kata-kata pedih yang pernah dikeluarkan oleh pemimpin tertentu bagi menggambarkan watak yang tidak disukainya.

Di Indonesia, Kipanjikusmin pernah dikritik hebat apabila menggambarkan Nabi Muhammad s.a.w menaiki sputnik (menggantikan borak semasa peristiwa Israk dan Mikraj) melalui cerpennya, Langit Makin Mendung. Di Malaysia, ada penyajak pernah menerima kecaman setelah mengungkapkan “Tuhan Telah Mati” melalui sajaknya. Ahli Parlimen Belanda menghadapi tentangan hampir seluruh umat Islam apabila menyiarkan filem dokumentari “Fitna” dan sebagainya.

Mungkin kerana marah atau ada sesuatu yang terguris di hati, mereka telah lupa bahawa Rasulullah s.a.w pernah memberikan peringatan bahawa:

“Seorang mukmin bukanlah tukang mencela, tukang melaknat orang, tukang berkata kotor dan berkata rendah.” “Syurga itu diharamkan bagi setiap orang yang berkata kotor untuk memasukinya.”

Dalam membuat sesuatu tuduhan, berkata-kata kita seharusnya menjadikan perilaku dan tutur kata Rasulullah s.a.w sebagai contoh yang terbaik. Baginda, tidak pernah mengeluarkan kata-kata kesat, walaupun berhadapan dengan musuhnya.

Sebaliknya baginda membalas dengan senyuman dan menasihati secara berhemah dan tidak menyakiti atau melukai perasaan orang lain. Anas bin Malik r.a pernah merakamkan bahawa:

“Tidak pernah Rasulullah SAW melakukan perbuatan keji, tidak pula kotor lidah (suka mengutuk) dan tidak pula mancaci maki. Ketika seseorang mencela Baginda sebagai seorang yang kotor (berdebu) kerana banyak (sujud), Baginda hanya mengatakan “apa yang dia miliki.”

Rasulullah s.a.w adalah seorang yang benar-benar memelihara lisannya. Sekalipun terhadap orang-orang kafir yang menentang dakwahnya. Baginda tidak mudah mengeluarkan kata-kata laknat atau menyakitkan hati.

Abu Hurairah r.a berkata bahawa ia menemui seorang lelaki yang ketagihan arak. Lalu dihadapkan lelaki itu kepada Nabi Muhammad s.a.w agar dihukum. Di antara para sahabatnya ada mengatakan: “Saya memukul dengan tangan”, “saya memukul dengan kasut” dan “saya memukul dengan baju.”

Ketika lelaki itu berpaling (ke arah sahabat), seorang sahabat menyatakan semoga Allah s.w.t menghinamu! Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w yang bermaksud:

“Janganlah kamu meminta bantuan syaitan dalam menghadapinya.”

Daripada Abu Darda r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Aku memohon kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, doakanlah (kecelakaan) bagi orang-orang musyrik. Rasulullah menjawab: Sesungguhnya aku diutus bukan untuk melaknat (mengutuk), tetapi aku diutus untuk memberi rahmat.”

Begitulah citra peribadi Rasulullah s.a.w dengan akhlak yang luhur telah memberikan contoh kepada manusia agar selalu menghindari sebarang tindakan secara melulu dan selalu sabar dalam menghadapi setiap rintangan atau masalah.

Dalam konteks ini jelas sekali sikap berlebih-lebihan dalam beragama yang menjadi pegangan sesetengah orang bukanlah dari ajaran Islam. Ini kerana Islam lebih mendahulukan sikap pertengahan atau kesederhanaan dalam setiap aspek kehidupan.

Bukan sekadar itu sahaja, bahkan Islam mengingatkan setiap umatnya agar tidak terjerumus pada dua kesesatan iaitu berlebih-lebihan atau sikap lalai. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus (iaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka dan bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (Surah al-Fatihah: 6-7)

Di dalam masyarakat Islam tidak ada tempat bagi kaum muslimin untuk meremehkan nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh Islam. Masyarakat Islam menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang luhur dalam kehidupan umat manusia. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Tahukah kamu siapa yang disebut orang bankrap itu.”

Para sahabat menjawab: “Orang yang tiada lagi mempunyai wang dan harta.” Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Orang yang bankrap adalah yang datang pada hari kiamat amalan solat, puasa dan zakat, tetapi bersamaan itu juga ia telah mencaci maki, menuduh, memakan harta tidak halal, mengalirkan darah (tanpa hak) dan memukul ini dan itu. Maka amalan baiknya dilimpahkan kepada orang yang berhak menerimanya (yang ia caci) dan jika amalan baiknya habis pada hal belum dapat menutup kesalahannya maka kesalahan (orang yang dicaci itu) dilimpahkan kepadanya, kemudian ia ditempatkan ke dalam neraka.”

Sudah sepatutnya seorang muslim itu memelihara lisan atau lidahnya dari mencaci maki, walaupun dengan alasan yang kuat. Lebih utama memadamkan api kemarahan itu agar tidak terjadi permusuhan yang menyeret kepada perbuatan dosa.

Daripada Ali bin Abi Talib r.a, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Yang berbuat keji dan menyiarkan kekejiaan itu berada dalam keadaan sama-sama berdosa.”

Firman Allah yang berbunyi:

“Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap pencaci dan pengkeji.” (al-Humazah:1)

Dalam ayat ini, Allah s.w.t mengutuk perbuatan jahat iaitu menyebarkan fitnah, bercakap ataupun mengisyaratkan perkara yang jahat sama ada terhadap seorang lelaki atau perempuan dengan kata-kata ataupun secara isyarat, atau perangai, atau secara mengajuk-ajuk, ataupun sindiran atau caci maki.

“Sesungguhnya Allah s.w.t itu pemalu, penutup (cela), menyukai malu dan tertutup, maka apabila salah seorang kamu mandi maka hendaklah ia ditutup.”

Demikian juga firman Allah s.w.t yang bermaksud:

“Serulah ke jalan Tuhanmu (Wahai Muhammad) dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik. “bukanlah tergolong daripada orang mukmin yang suka mencela, mengutuk dan mengeji. Dan bukan pula mereka yang berlidah kotor.” (an-Nahl:25)

Daripada ayat-ayat al-Quran serta beberapa hadis yang tersebut jelaslah membuktikan bahawa Islam melarang umatnya mencarut dan emaki hamun sesama Muslim.

Ini kerana kerja-kerja mencarut adalah kegiatan dan perbuatan syaitan. Bagi mereka yang masih tegar dengan pengucapan negatif bagi mewajarkan kenyataan berbaur fitnah, nista dan cela bersandarkan pendapat bahawa Islam tidak melarang umatnya mencarut adalah satu usaha pemesongan dan bertentangan dengan budaya Islam. Mohon perlindungan Allah s.w.t daripada sifat yang buruk.

Seperti kata peribahasa: kerana santan, pulut binasa; kerana mulut, badan binasa. Maka adalah wajar untuk kita menjaga kata-kata setiap masa, kerana ia akan menjauhkan diri kita daripada sengketa dan berbuat salah.

Melakukan kesalahan dan menimbulkan sengketa adalah berdosa, berbuat dan mengumpul dosa itu merupakan kemenangan bagi syaitan yang menyebabkan kita kan terjerumus ke lembah kehinaan, ke dalam neraka kita akan ditempatkan. Inginkah kita untuk ke sana?

[Sumber: YADIM]

28 May 2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , | Leave a comment

Sifat Jahil dan Taksub

Kejahilan bukan sahaja akan melahirkan sikap taksub, malah lebih daripada itu ia mempunyai implikasi buruk terhadap kehidupan. Ia boleh menyebabkan kebinasaan kepada seseorang individu, masyarakat, agama dan negara. Di samping merendahkan martabat insan, kejahilan tidak mengenal nilai-nilai kerjasama, timbang rasa, kecintaan dan keadilan. Kerana sikap jahil dan taksub itulah, maka perpecahan terus berlaku di kalangan kita umat Islam. Perbuatan ini ternyata bertentangan dengan syariat Islam.

Sudah menjadi lumrah dan nasib yang tersurat bahawa setiap agama akan bertembung dengan ancaman hawa nafsu yang bergelora serta pemikiran yang menyesatkan. Agama tidak akan aman sama sekali daripada sikap pelampau dan ketaksuban. Bahkan setiap umat dalam menegakkan seruan syariat yang benar sentiasa berhadapan dengan golongan ini. Dari segi prinsipnya mereka memiliki kepercayaan serta pegangan atas nama agama yang di luar batasan ajaran agama Islam sebenar.

Demikianlah hakikatnya orang yang jahil perasaannya beku dan lemah otaknya. Justeru itu mudah menjadi taksub dan akibat ketaksuban ini ia tidak lagi boleh berfikir secara normal dan ia akan bertindak mengikut hawa nafsu bukan berlandaskan akal atau ilmu syariat.

Kejahilan dan ketaksuban menjadikan diri mereka tidak dapat membezakan di antara kebenaran dan kebatilan. Hati mereka telah buta daripada keimanan dan ketakwaan. Sebagaimana kata-kata hukama: “Buta hati kerana jahil lebih berbahaya daripada buta mata. Bukan sedikit mereka celik mata tetapi buta hati kerana jahil. Golongan ini makin diberi peringatan atau nasihat makin bertambah bebal dan jahil. Lebih berbahaya lagi apabila ditambah pula dengan penyakit kesombongan”. Sebagaimana kata Saidina Ali B. Abi Talib r.a : “Tiada musuh yang lebih Aku takuti daripada kejahilan. Setiap manusia menjadi musuh selama ia jahil.”

Kesimpulannya, jelaslah bahawa kejahilan adalah pokok segala kecelakaan dan punca segala bahaya. Orang yang jahil tergolong dalam maksud hadis Nabi yang bermaksud: “Dunia itu terlaknat, segala isinya terlaknat, kecuali zikrullah (berzikir kepada Allah), sesesorang yang berilmu dan seorang yang mencari ilmu. Seorang yang jahil itu tidak akan terkeluar dari kegelapan kejahilan melainkan dengan nur dan cahaya ilmu pengetahuan. Ia merangkumi ilmu-ilmu untuk keperluan dan kesempurnaan tanggungjawab diri terhadap Allah, ilmu untuk mempertingkatkan kualiti hidup diri, keluarga, dan masyarakat. Wallahu a’lam..

[Sumber: Jalan Sufi]

15 May 2013 Posted by | Tasauf | , | Leave a comment

Bahaya memandai mandai dalam urusan agama

Bahaya sebenarnya memandai-mandai dalam perkara agama yang melibatkan hukum hakam.

Sebab RasuluLlah sendiri telah bersabda yang bererti :

Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ramailah sekarang ini yang berlagak seperti mujtahid. Bila berkata terus keluarkan hadith (itupun belum tentu ia menguasai bahasa Arab untuk tahu tentang hadith). Asal ada isu terus keluarkan hukum dari hadith.

Bolehkah jadi ulamak dengan hafal dan baca 10, 100 hadith sahaja?

Salah seorang ulama yang sezaman dengan Imam Ahmad pernah ditanya orang :

"Jika seseorang sudah dapat menghafal seratus ribu hadith, dapatkah ia dikatakan sebagai faqih…? "Tidak…!", jawabnya. "Dua ratus ribu hadith..?" "Tidak..!.. katanya. "Tiga ratus ribu hadith..?" "Tidak..! Jawabnya. "Empat ratus ribu hadith..? "Juga tidak..!, tetapi begini (iaitu lima ratus ribu) katanya sambil mengisyaratkan dengan sebelah telapak tangannya.

Banyaknya perlu dihafaz hadith. 500,000 hadith dihafaz baru dikatakan sebagai faqeh. Itupun ulamak amat berhati-hati apabila mengeluarkan hukum walaupun sudah hebat dalam ilmunya. Contohnya :

Imam Malik pernah berkata :

Jika seseorang diminta untuk berfatwa, sebelum memberikan jawapan ia wajib meletakkan dirinya antara Syurga dan Neraka, serta memikirkan nasibnya di Akhirat nanti, kemudian baru boleh ia memberikan jawapan (mengeluarkan fatwanya)".

Ibn al Qasim berkata :

"Aku pernah mendengar Imam Malik berkata : "Saya sedang memikirkan (jawapan) bagi suatu kemusykilan sejak beberapa puluh tahun dulu, tetapi hingga saat ini belum juga sampai kepada pendapat yang pasti".

Ibn Abi Layla pernah berkata :

"Saya menemui seramai seratus dua puluh orang Ansar dari sahabat Rasul sallaLLahu ‘alaihi wasallam, jika seorang di antara mereka diajukan pertanyaan (diminta berfatwa), ia akan mengalihkannya kepada yang kedua, dan orang yang kedua akan mengalihkannya kepada orang ketiga dan seterusnya. Sehingga pertanyaan tadi kembali kepada orang yang pertama. Jika salah seorang daripada mereka diminta untuk berfatwa atau ditanya tentang sesuatu masalah, ia akan memohon sahabat yang lain menjawabnya.

Prof Dr Yusuf al Qardhawi, Al Fatwa Bayna Al Indibat al Tasayyub, Fatwa & Antara Ketelitian & Kecerobohan, 1996, Thinker’s Library, Selangor.

Hebat betul ulamak dan para sahabat zaman dahulu, mereka amat warak (berhati-hati) sebab takut untuk mengeluarkan hukum. Takut berdusta atas ALlah dan RasulNya. Ini halal dan ini haram hak siapa untuk berkata? Sedangkan ALlah sendiri mengingatkan kita dalam firmanNya :

"Dan jangan kamu berani mengatakan terhadap apa yang dikatakan oleh lidah-lidah kamu dengan dusta; bahwa ini halal dan ini haram, supaya kamu berbuat dusta atas (nama) Allah, sesungguhnya orang-orang yang berani berbuat dusta atas (nama) Allah tidak akan dapat bahagia." (an-Nahl: 116)

Berbalik pada persoalan mengenai kalam Imam Syafie yang selalu digunakan oleh golongan tertentu untuk membenarkan tindakannya. Sebenarnya kalam Imam Syafie ini perlu difahami melalui ulamak yang mengikut mazhab syafie juga. Sebab mereka lebih arif dan mendalami apa pengertian sebenar kalam Imam Syafie yang dimaksudkan.

Imam Syafie ada menyatakan :

Apabila hadith itu sahih maka itulah mazhabku

Penjelasan :

Apa yang telah diucapkan oleh Imam Asy Syafie bahawa bila hadith itu sahih maka itulah mazhabnya. Ini bukan bererti bahawa kalau melihat suatu hadith sahih seseorang itu boleh menyatakan bahawa itu adalah mazhab syafie dan boleh diamalkan menurut zahirnya.

Apa yang tersebut di atas hanya ditujukan bagi orang yang sudah mencapai darjat ijtihad dalam mazhab Syafie sebagaimana telah kami terangkan sifat-sifatnya atau yang mendekati sifat tersebut.

Adapun syaratnya ialah ia harus mempunyai sangkaan yang kuat bahawa Imam Syafie rahimahuLLah belum pernah menemukan hadith tersebut atau tidak mengetahui kalau hadith itu sahih.

Untuk mengetahui hal ini, ia harus menelaah semua kitab Imam Asy Syafie dan kitab-kitab para ulama pengikutnya. Sudah tentu syarat ini sangat sulit dan jarang dapat dipenuhi. Adapun diisyaratkan demikian kerena Imam Syafie RahimahuLLah sendiri sering meninggalkan (tidak mengamalkan) hadith-hadith yang telah dilihat dan diketahuinya dan menurut pendapatnya bahawa hadith tersebut cacat dalam riwayatnya. atau maknanya sudah dinasakh, ditakhsis, ditakwil atau sebab lainnya.

Al Majmu’ Syarah Al Muhazzab, Jilid I, hlm 64.

Sekarang sudah jelas bukan? Perkataan Imam Syafie itu ditujukan untuk individu yang mencapai taraf mujtahid. Hendak jadi mujtahid bukan calang-calang orang boleh memiliki taraf ini. Perlu mengikut disiplinnya. Sebagaimana nak jadi seorang doktor bedah, perlu ada mengikuti kursus-kursusnya, kena tahu tentang biologi, atonomi dalam badan, perkara yang berkaitan dengan saraf. Bolehkah siapa sahaja mengklaim dirinya sebagai doktor bedah? Dan kemudian terus melakukan pembedahan ke atas pesakit? Apa akan terjadi pada pesakit tersebut? Contohnya : pesakit A perlu dibedah pada tulang belakang, tetapi ‘doktor bedah palsu’ ini membedah pesakit dan mengeluarkan jantungnya. Jawabnya – tamatlah riwayat pesakit itu atas kejahilan ‘doktor bedah palsu’ terbabit. Kerosakan demi kerosakanlah yang dibawanya.

Itu baru contoh doktor bedah. Bagaimana pula perihal hukum hakam agama yang diserahkan kepada bukan ahlinya? Jawapannya sudah ada diberikan di dalam hadith di atas pada permulaan bicara.

 

Ditulis oleh : IbnuNafis

13 May 2013 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

   

%d bloggers like this: