Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Mohon Allah terus beri kekuatan kepada kita untuk beribadah

Ucaplah

26 July 2013 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

Apabila Ulama Mengkafirkan umat dengan Fatwa

Pada hakikatnya ilmu itu adalah milik Allah SWT, teristimewa ilmu agama atau keruhanian yang dibawa para Nabi untuk menerangi hati manusia agar dapat mengenal Allah SWT dan mengetahui cara-cara mengabdikan diri kepada-Nya. Nabi kita Sayyidina Muhammad, Rasulullah SAW adalah hamba Allah SWT yang telah dikaruniai ilmu ruhani atau agama paling sempurna, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran yang bermkasud :

Maka mereka bertemu dengan seorang hamba dari hamba-hamba Kami yang telah Kami anugerahi rahmat dari kami dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari hadhirat Kami (Al-Kahfi, 18:66)

Meskipun ilmu ruhani Islam Nabi kita itu sempurna, beliau hanya diberi tugas sebagai juru ingat manusia dengan ilmu Allah SWT tersebut, sebagaimana firman Allah SWT berikut:

Katakanlah, sesungguhnya ilmu itu hanyalah di sisi Allah dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi ingat yang menjelaskan (Al-Mulk, 67:27)

Kalau Nabi paling agung dan sempurna saja hanya diberi tugas sebagai pembawa kabar suka dan juru ingat, apalagi para pengikut beliau yang hanya sebagai pewarisnya, tentu bagian ilmu yang didapatkan sangat sedikit, sebagaimana pernyataan Allah SWT berikut:

Dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit (Bani Israil, 17:86)

Terlebih bagi generasi pengikut Islam yang hidup berabad-abad sesudah Nabi kita Muhammad SAW, tentulah ilmu mereka lebih sedikit lagi, karena ilmu-ilmu Allah tersebut akan hilang bersamaan dengan wafatnya Ulama pewaris Nabi, sebagaimana Hadits-hadits yang berisi kabar gaib tentang dicabutnya ilmu Islam tersebut. Guna lebih jelasnya masalah tersebut, marilah kita simak tiga Hadits berikut:

Sesungguhnya Allah ta’ala benar-benar tidak akan mencabut ilmu dari kalian setelah aku berikan kepada kalian, akan tetapi Dia akan mencabut para Ulama sehingga yang tertinggal orang-orang bodoh, lalu mereka ditanya, maka mereka memberikan fatwa, maka mereka itu sesat dan menyesatkan (Ath-Thabrani dalam Al-Ausat dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Ummal, Juz X/ 28741)

Sesungguhnya Allah ta’ala benar-benar tidak akan mencabut ilmu dari kalian setelah aku berikan kepada kalian, akan tetapi Dia akan mencabut para Ulama dengan ilmu mereka, sehingga yang tertinggal orang-orang bodoh, lalu mereka ditanya, maka mereka memberikan fatwa, maka mereka itu sesat dan menyesatkan (Ath-Thabrani dalam Al-Ausat dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Ummal, Juz X/ 28980)

Sesungguhnya Allah ta’ala benar-benar tidak akan mencabut ilmu, Dia akan mencabutnya dari para hamba, akan tetapi Dia akan mencabut ilmu itu dengan mencabut para Ulama sehingga Dia tidak meninggalkan seorang alim pun, maka manusia menjadikan para pemimpin yang bodoh-bodoh, lalu mereka ditanya, maka mereka memberikan fatwa tanpa ilmu, sehingga mereka itu sesat dan menyesatkan (Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Al-Bukhari, Juz Awwal Kibul-Ilmi, bab Kaifa Yaqbidhul-Ilma, hal. 30, Cet. Sulaeman Mar’I, Singkapurah, Muslim, At-Turmudzi, Ibnu Majah dari Ibnu Umar ra dan Kanzul-Ummal, Juz X/ 28981)

Berdasarkan ketiga Hadits tersebut, akan datang satu zaman yang kaum muslimin kehilangan Ulama yang berilmu, akibatnya banyak pemimpin umat yang tidak malu-malu mengeluarkan fatwa yang berisi menyesatkan orang lain tanpa ilmu Allah SWT, baik dari kitab suci Al-Quran maupun Hadits Rasulullah SAW yang menyebabkan kekisruhan yang jauh dari indikasi Islam yang penuh kedamaian dan kasih sayang. Sebaliknya malah melahirkan kezhaliman yang diwarnai kebencian dan kedengkian. Hidup dalam zaman demikian ini, seorang muslim harus bersabar dalam mempertahankan keimanannya dengan banyak mengamalkan doa Rasulullah SAW yang diajarkan kepada sahabat tercinta Ali bin Abi Thalib RA berikut:

Dari Harits berkata: Ali telah berkata kepadaku: Maukah aku ajarkan kepada engkau doa yang telah diajarkan Rasulullah SAW kepadaku? Aku berkata ya, ia berkata: Wahai Tuhanku bukalah pendengaran-pendengaran hatiku untuk mengingat-Mu dan rejekikanlah kepadaku ketaatan kepada-Mu dan ketaatan kepada rasul-Mu dan perbuatan yang berdasarkan Kitab-Mu (Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Kanzul-Ummal, Juz II/ 5051)

oleh : Leecious Junior II pada : 7/22/2013 11:32:00 PTG

23 July 2013 Posted by | Aqidah, Politik dan Dakwah, Tazkirah | , | Leave a comment

Wasiat Rasulullah SAW untuk kaum Wanita

Telah bersabda Rasulullah SAW maksudnya:

“Kebanyakan wanita itu adalah isi Neraka dan kayu apinya.” Sayidatina Aisyah bertanya, “Mengapa, wahai Rasulullah?” Jawab Rasulullah SAW: Karena kebanyakan perempuan itu tidak sabar dalam menghadapi kesusahan, kesakitan dan cobaan seperti kesakitan waktu melahirkan anak, mendidik anak-anak dan melayani suami serta melakukan kerja-kerja di rumah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Wanita, apabila ia sholat lima waktu, puasa sebulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat pada suaminya, maka masuklah ia dari mana saja pintu surga yang ia kehendaki.”

(Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, Thabrani dan Anas bin Malik)

Rasulullah SAW bersabda:

“Pertama kali urusan yang akan ditanyakan pada hari Akhirat nanti ialah mengenai sholat dan mengenai urusan suaminya (apakah ia menjalankan kewajibannya atau tidak).”

Imam Thabrani menceritakan bahwa seorang isteri tidak dianggap menjalankan kewajibannya kepada Allah sehingga ia menjalankan kewajibannya kepada suaminya. Seandainya suaminya memintanya (untuk digauli) walaupun (dia) sedang berada di belakang unta maka ia tidak boleh menolaknya.

Nabi SAW bersabda:

‘Apabila lari wanita dari rumah suaminya, tidak diterima sholatnya sehingga ia kembali dan mengulurkan tangannya kepada suaminya (meminta maaf).” (Riwayat dan Hassan)

Abdullah bin Amru bin Al Ash r.a. berkata: ‘Bersabda Rasulullah SAW: “Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita (isteri) yang solehah.” (Riwayat Muslim)

Sabda Rasulullah SAW:

“Siapa saja perempuan yang memakai bau bauan, kemudian ia keluar melihat kaum lelaki ajnabi agar mereka mencium bau harumnya maka ia adalah perempuan zina dan tiap-tiap mata yang memandang itu adalah zina.” (Riwayat Ahmad, Thabrani dan Hakim)

Sebaik-baik bagi wanita ialah tinggal di rumah, tidak keluar kecuali untuk urusan yang mustahak. Wanita yang keluar rumah akan dipesonakan oleh iblis. Sabda

Rasulullah SAW:

“Perempuan itu aurat, maka apabila ia keluar, mendongaklah syaitan memandangnya.” (Riwayat Tarmizi)

Haram bagi wanita melihat laki-laki sebagaimana laki-laki haram melihat wanita (yang halal nikah) kecuali dalam urusan menuntut ilmu dan berjual-beli.

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari, ketika Rasulullahﷺ bersama sama isteri-isterinya (Ummu Salamah dan Maimunah), datang seorang datang seorang sahabat yang buta matanya (Ibnu Maktum), Rasulullah menyuruh isteri-isterinya masuk ke dalam. Bertanya Ummu Salamah, ‘Bukankah orang itu tidak dapat melihat kami, ya Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “Bukankah kamu dapat melihatnya?” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

Rasulullah SAW bersabda:

“Perempuan yang memakai pakaian dalam keadaan berhias (bukan untuk suami dan muhramnya) adalah seumpama gelap-gulita pada han Kiamat, tidak ada nur baginya. ” (Riwayat Tarmizi)

Sabda Rasulullah SAW:

‘Dikawini wanita karena empat sebab: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka carilah yang kuat beragama niscaya kamu bertuah (beruntung).” (Riwayat Bukhari)

Rasulullah SAW bersabda:

“Salah satu tanda keberkatan wanita itu ialah cepat perkawinannya, cepat pula kehamilannya dan ringan pula maharnya (mas kawinnya).”

Nabi SAW pemah bersabda:

“Wanita yang taat akan suaminya, semua burung-burung di udara, ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan semuanya beristighfar baginya selama dia masih taat pada suaminya dan diredhainya (serta menjaga sholat dan puasanya).

Sabda Rasulullah SAW ang bermaksud:

“Wanita yang taat berkhidmat pada suaminya akan tertutup tujuh pintu Neraka dan akan terbuka pintu-pintu Surga. Masuklah dan mana saja pintu yang disukainya dengan tidak dihisab.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa saja wanita yang bermuka masam sehingga menyebabkan tersinggung hati suaminya, maka wanita itu dimurkai Allah sampai ia bermanis muka dan tersenyum mesra pada suaminya.”

Hendaklah isteri berpuas hati (redha) dengan suaminya yang telah dijodohkan oleh Allah, baik itu miskin atau kaya

Ibnu Umar berkata bahwa telah datang seorang wanita kepada Rasulullah ﷺ lalu bertanya,”Apakah hak suami atas isteri?” Jawab baginda,”Tunaikanlah hajatnya sekalipun engkau berada di alas belakang unta. Jangan berpuasa sunat melainkan seijin suami, kalau engkau berpuasa juga maka pahalanya untuk suami dan dosa untuk isteri. Jangan keluar melainkan dengan ijinnya, jika keluar juga akan dilaknat oleh malaikat Rahmat dan malaikat azab sehinggalah ia kembali ke rumahnya.”

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

“Tidak boleh seorang isteri mengerjakan puasa sunat kalau suaminya ada di rumah serta dengan tidak seijinnya dan tidak boleh memasukkan seorang laki-laki ke rumahnya dengan tidak seijin suaminya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sabda Rasulullah SAW bermaksud:

“Tidaklah putus balasan dari Allah kepada seorang isteri yang siang dan malamnya menggembirakan suaminya.”

Dari Muaz bin Jabal, bersabda Rasulullah SAW:

“Siapa saja wanita yang berdiri diatas kedua kakinya membakar roti untuk suaminya, hingga muka dan tangannya kepanasan oleh api, maka diharamkan muka dan tangannya dan api Neraka.”

Dan siapa saja wanita yang menunggu suaminya hingga pulang lalu disapukan mukanya, dihamparkan tempat duduknya atau menyediakan makan minumnya atau merenung ia pada suaminya atau memegang tangannya, membaikkan hidangan padanya, memelihara anaknya atau memanfaatkan hartanya pada suaminya karena mencari keredhaan Allah, maka disunatkan baginya akan tiap-tiap kalimah ucapannya tiap-tiap langkahnya dan setiap renungannya pada suaminya seperti memerdekakan seorang hamba. Pada hari Kiamat nanti, Allah karuniakan nur hingga tercengang wanita mukmin semuanya atas karuniaan karamah itu. Tidak ada seorang pun yang sampai ke martabat itu melainkan nabi-nabi.

Thabit Al Bananiy berkata: “Seorang wanita dari Bani Israil yang buta sebelah matanya, sangat baik khidmatnya kepada suaminya. Apabila dia menghidangkan makanan di hadapan suaminya, dipegang pelita sampai suaminya selesai makan. Pada suatu malam, pelitanya kehabisan sumbu, maka diambil rambutnya dijadikan sumbu pelita. Pada esok harinya matanya yang buta telah sembuh Allah karuniakan karamah (kemuliaan) pada perempuan itu karena memuliakan dan menghormati suaminya.”

Dan lbnu Mas’ud bersabda Rasulullah ﷺ: ‘Tiap-tiap wanita yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkannya ke dalam syurga lebih dahulu dari suaminya (sepuluh ribu tahun) karena dia memuliakan suaminya di dunia maka mendapat pakaian dan bau-bauan syurga untuk turun ke mahligai suaminya dan menghadapnya.”

Nabi SAW bersabda:

“Siapa saja wanita yang berkata kepada suaminya: Tidak pemah aku dapat dari engkau satu kebaikanpun. Maka Allah akan hapuskan amalannya selama 70 tahun walaupun ia berpuasa siang hari dan beribadah pada malam hari.”

Sabda junjungan Rasulullah SAW :

“Sebaik-baik wanita ialah wanita (isteri) yang apabila engkau memandang kepadanya ia menyenangkan engkau, jika engkau memerintah diturutinya perintah engkau (taat) dan jika engkau berpergian dijaga harta engkau dan dirinya.”

Sabda Rasulullah SAW bermaksud:

“Perempuan tidak berhak keluar dari rumahnya kecuali jika terpaksa (karena suatu urusan yang mustahak) dan dia juga tidak berhak melalui jalan lalu-lalang melainkan di tepi-tepinya.”

Syeikh Abdullah AL -fatani:

“Durhaka seorang perempuan yang keluar dan rumahnya kepada majlis zikir atau majlis ilmu yang bukan fardhu ain. Wajiblah atasnya keluar supaya belajar dia akan segala fardhu ain itu dan haram atas suaminya mencegah isteri jika dia (suami) tidak mampu mengajarnya. Jika dia ada ilmu niscaya wajiblah atasnya mengajar akan isterinya itu maka ketika itu haramlah perempuan itu keluar dari rumahnya lagi durhaka dia.”

Sabda Rasulullah SAW :

“Apabila seorang laki-laki memanggil isterinya ke tempat tidur tetapi ditolaknya, hingga marahlah suaminya, maka tidurlah wanita itu dalam laknat malaikat sampai pagi. ”

Abu Bakar As Siddiq mengatakan. aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Wanita-wanita yang menggunakan lidahnya untuk menyakiti hati suaminya, ia akan mendapat laknat dan kemurkaan Allah, laknat malaikat juga laknat manusia semuanya ”

Ibnu Umar r.a. berkata, telah bersabda Rasulullahﷺ : “Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu masing-masing akan ditanya dan suami pemimpin kepada keluarganya dan isteri pemimpin rumah tangga suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian pemimpin dan akan bertanggungjawab atas pimpinanmu. ”

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Tersebut dalam kitab Muhimmah karangan Syeikh Abdullah bin Abdul Rahim Pattani:

“Hendaklah isteri mendahulukan suaminya atas hak dirinya dan seluruh kaum kerabatnya.”

Sabda Rasulullah SAW bermaksud:

“Wanita yang tinggal di rumah bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama-samaku di dalam surga.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu.” (Riwayat Ahmad)

Rasulullah SAW bersabda:

“Wanita yang meminta suaminya menceraikannya dengan tidak ada sebab yang dibenarkan oleh syariat, haramlah baginya bau

surga.” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

Rasulullah SAW bersabda:

“Wanita yang meninggal dunia dalarn keadaan suaminya redha (tidak marah) padanya, niscaya ia masuk surga.” (Riwayat Tarmizi)

Sabda Rasulullah SAW bermaksud:

“Apabila seorang wanita mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya, Allah mencatatkan baginya setiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan baginya seribu kejahatan.”

Sabda Rasulullah SAW bermaksud:

“Apabila seorang wanita mulai sakit hendak bersalin maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah (perang sabil)”.

Nabi SAW bersabda:

“Apabila seorang wanita melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosanya seperti keadaan ibunya melahirkannya.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Perintahkanlah anak-anakmu semua yang berumur tujuh tahun untuk mengerjakan sholat. Apabila mereka telah berumur sepuluh tahun tetapi belum mengerjakan sholat hendaklah dipukul (tetapi jangan sampai luka) dan pisahkanlah tempat tidurnya.”

(Riwayat Abu Daud)

Sabda Rasulullah SAW :

“Ya Fatimah, barang siapa wanita meminyakkan rambut dan janggut suaminya, memotong kumis dan mengerat kukunya, memberi minum Allah akan dia dari sungai-sungai serta diringankan Allah baginya sakaratul maut dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman daripada taman-taman surga, dan dicatatkan Allah baginya kebebasan dari api Neraka dan selamatlah ia melintas titian Sirat”

Hal-hal yang menjadikan wanita itu durhaka kepada suaminya seperti tersebut dalam kitab Muhimmah:

a. Menghalang suami dari bersuka-suka dengan dirinya baik itu untuk jimak atau menyentuh mana saja bagian tubuhnya.

b. Keluar rumah tanpa izin suami baik itu ketika suami ada di rumah ataupun tidak ada.

c. Keluar rumah karena belajar ilmu yang bukan ilmu fardhu ain. Dibolehkan keluar untuk belajar ilmu fardhu ain jika suaminya tidak mampu mengajar.

d. Tidak mau berpindah (berhijrah) bersama suaminya.

e. Mengunci pintu, tidak mengijinkan suami masuk ke rumah ketika suami ingin masuk.

f. Bermuka masam ketika berhadapan dengan suami.

g. Minta talak.

h. Berpaling atau membelakangi suami ketika berbicara.

i. Menyakiti hati suami baik itu dengan perkataan atau perbuatan.

j. Meninggalkan tempat tidur tanpa izin.

k. Mengijinkan orang lain masuk ke dalam rumah, sedangkan orang itu tidak disukai oleh suami.

Tersebut dalam kitab Muhimmah, suatu ketika di Madinah, Rasulullah ﷺ keluar mengiringi jenazah. Baginda mendapati beberapa orang wanita dalam majelis. Baginda lalu bertanya: “Apakah kamu menyolatkan mayat?” Jawab mereka, “Tidak.” Sabda baginda, “Sebaiknya kamu sekalian tidak perlu ziarah dan tidak ada pahala bagi kamu. Tetap tinggallah di rumah dan berkhidmat kepada suami niscaya pahala sama dengan ibadah- ibadah orang laki-laki.”

Imam Ghazali rh.m berkata: “Wajib bagi wanita mengikuti perintah suaminya selagi tidak membawa maksiat.”

Ulama-ulama ada berkata, wajib bagi wanita-wanita:

a. Mengekalkan malu pada suaminya.

b. Merendahkan (menundukkan) mata ketika berpandangan.

c. Mengikut kata-kata dan suruhannya.

d. Dengar dan diam ketika suami berbicara.

e. Berdiri menyambut kedatangannya.

f. Berdiri menghantar kepergiannya,

g. Hadir bersamanya ketika masuk tidur.

h. Memakai wangi-wangian untuk suaminya.

i. Membersihkan dan menghilangkan bau mulut untuk suaminya.

j. Berhias ketika hadirnya dan tinggalkan hiasan ketika tidak adanya.

k Tidak berkhianat ketika ketidak adaan suaminya.

l. Memuliakan keluarga suaminya.

m. Memandang pemberian suami yang kecil sebagai besar dan berharga.

n. Ketahuilah, Surga dan Neraka bagi seorang wanita itu bergantung pada redha atau tidaknya suami padanya

Diceritakan di dalam kitab Muhimmah bahwa seorang Badwi menemui Rasulullah ﷺ lalu berkata,” Tidak akan aku percaya pada engkau sebelum ditunjukkan padaku suatu mukjizat.” “Apakah yang engkau kehendaki” tanya Rasulullah. “Suruh pohon kurma yang kering itu menghadap engkau,” kata Badwi itu. Maka bersabda Rasulullah, “Pergilah engkau kepada pohon yang kering itu, katakan bahwa Muhammad memanggilnya.” Arab Badwi itu pun melakukan apa yang diperintahkan. Setelah diberitahu kemudian, pohon kurma itu kelihatan bergerak gerak ke kiri dan ke kanan hingga tercabut akar-akarnya dan berjalan ia menghadap Rasulullah, lalu memberi salam. Rasulullah menjawab salamnya. Melihat peristiwa itu Arab Badwi itu terus mengucap kalimah syahadah. “Cukuplah ya Rasulullah, cukuplah,” katanya lagi. Rasulullah pun memerintahkan pohon itu kembali ke tempatnya. Arab Badwi itu berkata lagi. “Wahai Rasulullah, aku telah meminta darimu sesuatu yang tidak pernah diminta oleh orang lain. Itu pun engkau tunaikan, karena itu ijinkan aku sujud kepadamu setiap kali sujud sholat di belakangmu.” Jawab baginda, “Tidak harus seorang manusia sujud kepada manusia dan jika diharuskan, maka akan aku perintahkan semua kaum wanita sujud pada suaminya, karena membesarkan dan memuliakan hak-hak suami mereka.”

Dari Ali bin Abi Talib: Aku dengar Rasulullah SAW bersabda: “Tiga golongan dari umatku akan mengisi Neraka Jahanam selama tujuh kali umur dunia. Mereka itu adalah:

a. Orang yang gemuk tetapi kurus.

b. Orang yang berpakaian tetapi bertelanjang.

c. Orang yang alim tetapi jahil.

Adapun yang gemuk tetapi kurus itu ialah wanita yang gemuk (sehat) tubuh badannya, tetapi kurang ibadahnya. Orang yang berpakaian tetapi telanjang ialah wanita yang cukup pakaiannya tetapi tidak taat agama (yaitu berpakaian tipis atau terlalu ketat hingga terbayang bentuk tubuh badannya). Orang yang alim tetapi jahil ialah ulama yang menghalalkan yang haram karena kepentingan pribadi. ”

RasulullahSAW bersabda:

“Empat golongan wanita yang berada di surga ialah:

a. Perempuan yang menjaga dirinya dari berbuat haram lagi berbakti kepada Allah dan suaminya.

b. Perempuan yang banyak keturunannya lagi penyabar serta menerima dengan senang hati keadaan serba kurang (dalam kehidupannya) bersama suaminya.

c. Perempuan yang bersifat pemalu dan jika suaminya datang maka ia mengekang mulutnya dari perkataan yang tidak layak kepadanya.

d. Perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya dan mempunyai anak-anak yang masih kecil, lalu ia mengekang dirinya hanya untuk mengurus anak-anaknya dan mendidik mereka serta memperlakukannya dengan baik kepada mereka dan tidak bersedia menikah karena kuatir putera puterinya akan tersia-sia. (Kalau ada jaminan putera-puterinya tidak akan disia-siakan barulah ia mau menikah).

Dan empat golongan wanita yang berada dalam Neraka ialah:

a. Wanita yang jelek (kotor) mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya pergi, ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya datang ia memakinya (memarahinya),

b. Wanita yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang dia tidak mampu.

c. Wanita yang tidak menutupi dirinya dari kaum laki-laki dan keluar rumah dengan menampakkan perhiasannya dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki-laki).

d. Wanita yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan, minum dan tidur dan ia tidak sanggup berbakti kepada Allah dan tidak sanggup berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak sanggup berbakti kepada suaminya.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya, pada hari Kiamat nanti Allah jadikan lidahnya sepanjang 70 hasta kemudian diikat ke belakang tengkuknya.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Aku berdiri di atas surga, kebanyakan orang yang masuk ke masuk ke dalamnya ialah golongan miskin, manakala orang-orang kaya tertahan di luar pintu surga karena dihisab. Selain dari itu ahli Neraka diperintahkan masuk ke dalam Neraka dan aku telah berdiri di atas pintu Neraka, aku lihat kebanyakan orang yang masuk ke dalamnya ialah wanita.”

(Riwayat Imam Bukhari dan Usamah bin Lad r.a)

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Aku lihat api Neraka, tidak pemah aku melihatnya seperti hari ini, karena ada pemandangan yang dahsyat di dalamnya. Telah aku saksikan kebanyakan ahli Neraka ialah wanita.” Baginda ditanya, “Mengapa begitu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Wanita mengkufurkan suaminya dan mengkufurkan ihsannya. Jika engkau berbuat baik kepadanya seberapa banyak pun dia masih belum merasa puas hati dan cukup.” (Riwayat Imam Bukhari)

Sabda Nabi SAW: “Kebanyakan ahli Neraka adalah terdiri dari kaum wanita.” Maka menangislah mereka dan bertanya salah seorang daripada mereka, “Mengapa terjadi demikian, apakah karena mereka berzina atau membunuh anak atau kafir?” Jawab Nabi, “Tidak, mereka ini ialah mereka yang tidak bersyukur akan nikmat suaminya, sesungguhnya tiap-tiap seorang kamu adalah dalam nikmat suaminya.”

Sabda Rasulullah SAW:

“Keadaan wanita sepuluh kali ganda seorang laki-laki di dalam Neraka dan dua kali ganda seorang laki-laki di dalarn surga. ”

Suatu hari Rasulullah SAW datang melawat anaknya Fatimah ra dan didapatinya sedang menangis. Maka bertanyalah Rasulullah

SAW: “Apakah yang membuat engkau menangis, wahai Fatimah?’

Fatimah menjawab, “Wahai ayahku, aku menangis disebabkan oleh keletihan yang tidak terkira ketika mengisar tepung dan menyediakan keperluan rumah. Sekiranya ayahanda menyuruh Imam Ali membeli seorang wanita suruhan, itu akan menjadi pemberian yang besar bagiku.”

Mendengar kata-kata itu, hati Rasulullahﷺ teriris hingga berlinang air mata baginda. Lalu baginda pun duduk berhampiran alat pengisar kemudian mengambil segenggam gandum dan melafazkan (basmalah).

Ketika Rasulullah  SAW memasukkan gandum tersebut ke dalam alat pengisar maka bergeraklah alat itu dengan sendirinya sambil alat itu memuji Allah dalam bahasa yang amat indah dan suara yang amat merdu sehingga semuanya dikisar. Lalu Baginda pun berkata, “Berhentilah kamu wahai alat pengisar ” Ketika itu Allah telah menjadikan alat itu dapat berkata-kata. “Demi Allah yang mengantarmu dengan kebenaran sebagai seorang Rasul dan dengan berita sebagai orang yang diamanahkan. Aku tidak akan berhenti sebelum kau memberi jaminan dari Allah untuk menempatkan aku di dalam surga dan menjauhkan aku dari api Neraka.” Berkata Rasulullah SAW: “Kau adalah batu, namun kau takut pada api Neraka” Alat pengisar menjawab, “Wahai Rasulullah, aku telah mendengar kata-kata ini dari Al Quran: “Wahai orang yang beriman, jauhkanlah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka yang pembakarnya terdiri dari manusia dari batu-batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, tidak mendurhakai terhadap apa yang diperintahkan Allah kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Maka Rasulullah pun mendoakan untuk keselamatan batu itu. Selesai berdoa turunlah malaikat Jibril a.s dan berkata: “Wahai Muhammad, Tuhan yang untuknya segala pujian dan yang Maha Tinggi, mengirim salam dan penghormatan dan berpesan kepada engkau, beritahu batu itu berita gembira bahwa Allah telah menganugerahkan pada batu itu keselamatan dari api neraka dan meletakkannya di antara batu-batu surga di dalam mahligai Fatimah di mana ia akan bercahaya bagaikan matahari di alam ini.”

Lalu disampaikan berita itu. Baginda memandang kepada Fatimah lalu bersabda: “Wahai Fatimah, sekianya begitu kehendakAllah, pengisar ini akan bekerja setiap hari tetapi Allah ingin mencatatkan untukmu perbuatan baik dan meninggikan derajatmu karena tanggung jawabmu yang berat itu. ”

“Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan membina tujuh parit di antara dirinya dengan api Neraka, jarak di antara parit itu ialah sejauh langit dan bumi. ”

“Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang, Allah akan mencatatkan untuknya perbuatan baik sebanyak utas benang yang dibuat dan memadamkan seratus perbuatan jahat.”

“Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang menganyam benang yang dibuatnya, Allah telah menentukan satu tempat khusus untuknya di atas takhta di hari Akhirat.”

“Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang dan kemudian dibuat pakaian untuk anak-anaknya maka Allah akan mencatatkan baginya pahala sama seperti orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang tidak berpakaian.”

“Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang meminyakkan rambut anaknya, menyikatnya, mencuci pakaian-pakaian mereka dan mencuci akan diri anaknya itu, Allah akan mencatatkan untuknya pekerjaan baik sebanyak helai rambut mereka dan memadamkan sebanyak itu pula pekerjaan yang jahat dan menjadikan dinnya kelihatan berseri di mata orang-orang yang memperhatikan.” (Riwayat Abu Hurairah)

Asma binti Khanyah Fazari diriwayatkan telah berkata pada puterinya pada hari pernikahan anaknya itu: “Hai anakku, kini engkau akan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenali. Itulah suamimu. Jadilah engkau tanah bagi suamimu (taat perintahnya) dan dia akan menjadi langit bagimu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai supaya dia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan berbagai-bagai kesukaran karena itu akan memungkinkan dia meninggalkamu. Kalau dia mendekatimu, dekatilah dia dan jika dia menjauhimu maka jauhilah dia dengan baik. Peliharalah benar-benar suamimu itu akan hidungnya, pendengarannya, matanya dan lain-lain. Janganlah biarkan suamimu itu mencium sesuatu darimu melainkan yang harum, Jangan pula dia mendengar melainkan yang enak dan janganlah dia melihat melainkan yang indah saja pada dirimu.”

[Sumber: Umat Nabi]

21 July 2013 Posted by | Tazkirah | , | 1 Comment

Baca Yaasin Di Kuburan

Baca Quran di kbuburanPerkuburan Ampang (3)

Dalam bulan Ramadhan terutama sekali di hujung – hujungnya dan pada hari lebaran nanti, ramailah saudara-saudara kita mendatangi tanah – tanah perkuburan tempat persemadian insan-insan yang mereka sayangi. Bukanlah maksudnya bahawa menziarahi kubur itu hanya dihukumkan sunnat pada masa-masa tersebut sahaja. Ianya lebih kepada faktor masa yang terluang atau faktor suasana yang syahdu di hari yang mulia menghimbau ingatan kepada mereka-mereka yang telah tiada. Oleh itu, pada ketika itulah penuh segala pusara dengan para penziarah. Dalam ziarah biasanya akan dibaca surah Yaasin dan tahlil sebagai hadiah dan barakah kepada segala arwah tersebut. Jumhur ulama daripada keempat-empat mazhab Ahlus Sunnah wal Jama`ah, termasuklah mazhab asy-Syafi`iyyah dan al-Hanabilah, menghukumkan baik, mustahab, bahkan sunnat untuk membacakan al-Quran di sisi kubur. Syaikh al-Imam al-`Allaamah Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safaarini al-Hanbali rahimahullah (w. 1188H) dalam karya beliau "al-Buhur az-Zaakhirah fi `Uluum al-Akhirah" menyatakan, antara lain sebagai berikut:-

Tanbih: Pembacaan al-Quran di kubur dipandang sebagai mustahab oleh para ulama Mazhab Syafi`i dan ulama lain. Imam an-Nawawi menyatakan dalam "Syarah al-Muhadzdzab" bahawa dimustahabkan bagi penziarah kubur untuk membaca apa-apa yang mudah daripada al-Quran dan mendoakan bagi mereka. Hal ini merupakan nas atau pandangan yang datang daripada Imam asy-Syafi`i sendiri. Di tempat lain, yakni dalam karangan lain, ditambah bahawa jika dikhatamkan sekalian al-Quran itu di atas kubur tersebut, maka ianya adalah afdhal. Dan adalah imam kita, Imam Ahmad RA, pada permulaannya mengingkari amalan sedemikian, namun kemudian beliau telah menarik balik pandangannya tersebut setelah sampai hadis yang menjadi sandaran amalan ini kepada beliau.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, murid Ibnu Taimiyyah al-Harrani telah menukilkan sebuah kisah mengenai pembacaan yaasin di kubur dalam karyanya "ar-Ruh" pada halaman 18 sebagai berikut:-

Telah mengkhabarkan kepadaku oleh al-Hasan bin al-Haitsam yang berkata: "Aku telah mendengar Abu Bakar bin al-Athrusy bin Bint Abi Nashr bin al-Tammar berkata: "Ada seorang lelaki yang selalu datang menziarahi kubur ibunya pada hari Jumaat lalu membaca surah Yaasin. Pada sebahagian hari-hari yang dia datang menziarahi kubur ibunya, dia akan membaca surah Yaasin. Selepas membaca Yaasin, dia berdoa: "Ya Allah, seandainya Engkau memberi pahala atas pembacaan surah ini, maka jadikannya bagi segala penghuni perkuburan ini". Tatkala datang Jumaat berikutnya, datang seorang wanita kepada si lelaki tadi seraya berkata: "Adakah engkau si fulan anak si fulanah?" Dia menjawabnya: "Ya." Wanita tersebut berkata lagi: " Adalah anak perempuanku telah meninggal dunia dan aku telah bermimpi melihatnya duduk di tepi kuburnya, lalu aku menyapanya: "Kenapa engkau duduk di sini?" Dia menjawab: "Sesungguhnya si fulan anak si fulanah telah datang menziarahi kubur ibunya dan membaca surah Yaasin serta menjadikan pahalanya bagi segala ahli kubur, maka kami telah diberi kesenangan daripada yang sedemikian atau kami telah diampuni atau yang seumpamanya (yakni para ahli kubur tersebut mendapat kesenangan daripada hadiah pahala bacaan surah Yaasin tersebut atau mendapat keampunan atau yang seumpamanya)."

Oleh itu, janganlah kita membenci perbuatan saudara-saudara seagama yang membaca sesuatu daripada al-Quran di sisi kubur atau menghadiahkannya kepada mereka-mereka yang telah berpulang ke rahmat Allah. Rahmat Allah itu amat luas dan banyak jalan atau sebab untuk meraihnya.

 

[Sumber: PONDOK HABIB]

21 July 2013 Posted by | Fiqh, Ibadah, Tazkirah | , | Leave a comment

Telaga Sahabat Nabi SAW di China

Telaga ini dibina oleh sahabat Rasulullah Saad Bin Abi Waqqas, antara 10 orang yg dijamin syurga. Terletak di masjid Huai Sheng, GuangZhao China. Maqam Saad Abi Waqqas r.a terletak sebelah/berdekatan telaga ini.Beliau adalah penyebar Islam di Negara China..[Kiriman:Haniff Abu Talib]

20 July 2013 Posted by | Foto Story, Informasi | | Leave a comment

Panduan Puasa Ramadan

Oleh: Ustadz Abu Rasyid
MUQADDIMAH

Artinya: Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Apabila ada sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan dienmu, maka akulah tempat kembalinya (ikuti aku). (H.R Ahmad).

Artinya : Dirwayatkan dari ‘Aisyah ra : Rasulullah saw. telah bersabda : Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak (tidak diterima). Dan dalam riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. Sementara dalam riwayat lain: Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak. (HR.Ahmad. Bukhary dan Abu Dawud).

Kandungan dua hadits shahih di atas menerangkan dengan jelas dan tegas bahwa segala perbuatan, amalan-amalan yang hubungannya dengan dien/syari’at terutama dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran seolah-olah lebih baik. Diantara cara syaitan menggoda ummat Islam ialah membisikkan suatu tambahan dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan berbahaya.

Sabda Rasul saw.: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. berkhutbah kepada manusia pada waktu haji Wada’ . Maka beliau bersabda : Sesungguhnya Syaithan telah berputus asa (dalam berusaha) agar ia disembah di bumimu ini. Tetapi ia ridha apabila (bisikannya) ditaati dalam hal selain itu; yakni suatu amalan yang kamu anggap remeh dari amalan-amalan kamu, berhati-hatilah kamu sekalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu, yangjika kamu berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu: Kitab Allah dan sunnah NabiNya. ” (HR. Hakim).

Dengan demikian dapat difahami bagaimana Rasulullah saw. mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap provokasi setan untuk beramal dengan menyalahi tuntunan Nabi sekalipun hal itu nampak remeh. “Diriwayatkan dari Ghudwahaif bin Al-Harits ra: ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Setiap suatu kaum mengadakan Bid’ah, pasti saat itu diangkat (dihilangkan) sunnah semisalnya. Maka berpegang teguh kepda sunnah itu lebih baik daripada mengadakan bid’ah” (HR. Ahmad).

Jadi, ketika amalan bid’ah ditimbulkan betapapun kecilnya, maka pada saat yang sama Sunnah telah dimusnahkan. Pada akhirnya lama kelamaan yang nampak dalam dien ini hanyalah perkara bid’ah sedangkan yang Sunnah dan original telah tertutup. Pada saat itulah ummat Islam akan menjadi lemah dan dikuasai musuh.

Dalam menyambut kedatangan Ramadhan,dalam bulan yang penuh berkat ini kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh, yang mana hal tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam. Karenanya hal tersebut amat penting. Berkaitan dengan hal diatas, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menunaikan ibadah puasa ini sesempurna mungkin , benar-benar bebas dari bid’ah sesuai dengan panduan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw.

Untuk keperluan itulah dalam risalah yang sederhana ini diterangkan beberapa hal yang berkaitan dengan amaliah puasa Ramadhan, zakat fithrah, dan Shalat ‘Ied berdasarkan Nash-nash yang Shariih (jelas). Dalil – dalil dan KESIMPULAN dibuat agar mudah difahami antara hubungan amal dengan dalilnya. Dan -tak ada gading yang tak retak- kata pepatah, sudah barang tentu risalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk menuju kesempurnaannya bantuan dari pemakai amat diharapkan. Semoga risalah ini diterima oleh Allah sebagai Amal Shalih yang bermanfaat terutama di akhirat nanti. Amien.

I. MASYRU’IYAT DAN MATLAMAT PUASA RAMADHAN.

1. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa “(QS Al-Baqarah: 183).

2. “Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dengan yang bathil), karena itu barangsiapa diantara kamu menyaksikan (masuknya bulan ini), maka hendaklah ia puasa… ” (Al-Baqarah: 185).

3. ” Telah bersabda Rasulullah saw. : Islam didirikan di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah. Mendirikan Shalat Mengeluarkan Zakat puasa di bulan Ramadhan Menunaikan haji ke Ka’bah. (HR.Bukhari Muslim).

4. “Diriwayatkan dari Thalhah bin ‘ Ubaidillah ra. : bahwa sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Nabi saw. : ia berkata : Wahai Rasulullah beritakan kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah atas diriku. Beliau bersabda : puasa Ramadhan. Lalu orang itu bertanya lagi : Adakah puasa lain yang diwajibkan atas diriku ?. Beliau bersabda : tidak ada, kecuali bila engkau puasa Sunnah. “.

KESIMPULAN: Dari ayat-ayat dan hadits-hadits diatas, kita dapat mengambil pelajaran :

  1. puasa Ramadhan hukumnya Fardu ‘Ain (dalil 1, 2, 3 dan 4).
  2. puasa Ramadhan disyari’atkan bertujuan untuk menyempurnakan ketaqwaan (dalil no 1).
II. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN KEUTAMAAN BERAMAL DIDALAMNYA

1. Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk puasa, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya (tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini). (HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).

2. “Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat ‘Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. Ia berkata: maka ia menerangkan tentang puasa Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah (dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan.” (Riwayat Ahmad dan Nasai)

3. ” Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum’at sampai Shalat Jum’at berikutnya, puasa Ramadhan sampai puasa Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi.” (H.R.Muslim)

4. “Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: puasa dan Qur’an itu memintakan syafa’at seseorang hamba di hari Kiamat nanti. puasa berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa’at baginya. Dan berkata pula AL-Qur’an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari (karena membacaku), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat.” (H.R. Ahmad, Hadits Hasan).

5. “Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut ” Rayyaan”. Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang puasa? (untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu.” (HR. Bukhary Muslim).

6. Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa puasa Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang (HR.Bukhary Muslim).

KESIMPULAN: Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, diantaranya :

1. Bulan Ramadhan adalah:

  • Bulan yang penuh Barakah.
  • Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.
  • Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.
  • Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.
  • Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma’shiyat agar menahan diri. (dalil 1 & 2).

2. Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain :

  • Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.
  • Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syafaa’t.
  • Khusus bagi yang puasa disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. (dalil 3, 4, 5 dan 6).
III. CARA MENETAPKAN AWAL DAN AKHIR BULAN

1. “Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata : Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya

katakan : sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. puasa dan memerintahkan semua orang agar puasa.” (H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).(Hadits Shahih).

2. “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah puasa karena melihat ru’yah dan berbukalah (akhirilah puasa Ramadhan) dengan melihat ru’yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban selama Tiga Puluh hari. “(HR. Bukhary Muslim).

KESIMPULAN:

  • Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru’yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil (dapat dipercaya).
  • Jika bulan sabit (Hilal) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. (dalil 1 dan 2).
  • Pada dasarnya ru’yah yang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ‘ Ala Minhaajinnabiy sudah tegak (dalil 2).
  • Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru’yah yag nampak di negeri masing-masing. (ini hanya pendapat sebagian ulama).
IV. RUKUN PUASA

1. “… dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam…(AL-Baqarah :187).

2. “Adiy bin Hatim berkata : Ketika turun ayat ; artinya (…hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam…), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas benang putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui Rasulullah saw. Dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang dimaksud adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar). ” (H.R. Bukhary Muslim).

3. “Allah Ta’ala berfirman : ” Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan ketaatan untukNya ” (Al-Bayyinah :5)

4. “Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan.” (H.R Bukhary dan Muslim).

5. “Diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. : Barangsiapa yang tidak beniat (puasa Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya .” (HR. Abu Dawud) Hadits Shahih.

KESIMPULAN: Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahawa rukun puasa Ramadhan adalah sebagai berikut:

  1. Berniat sejak malam hari (dalil 3,4 dan 5).
  2. Menahan makan, minum, koitus (Jima’) dengan isteri di siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (Maghrib), (dalil 1 dan 2).
V. YANG DIWAJIBKAN PUASA RAMADHAN.

1. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian untuk puasa, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa. ” (Al-Baqarah : 183)

2. “Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata : Sesungguhnya nabi saw telah bersabda : telah diangkat pena (kewajiban syar’i/ taklif) dari tiga golongan .

– Dari orang gila sehingga dia sembuh – dari orang tidur sehingga bangun – dari anak-anak sampai ia bermimpi / dewasa.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

KESIMPULAN: Keterangan di atas mengajarkan kepada kita bahwa : yang diwajibkan puasa Ramadhan adalah: setiap orang beriman baik lelaki maupun wanita yang sudah baligh/dewasa dan sehat akal /sadar.

VI. YANG DILARANG PUASA

1. “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata : Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, kami dilarang puasa dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah mengqadha Shalat “(H.R Bukhary Muslim).

KESIMPULAN: Keterangan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh dilarang puasa sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan puasanya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha puasa yag ditinggalkannya selama dalam haidh.

VII. YANG DIBERI KELONGGARAN UNTUK TIDAK PUASA RAMADHAN

1. “(Masa yang diwajibkan kamu puasa itu ialah) bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an, menjadi pertunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan pertunjuk, dan (menjelaskan) antara yang haq dengan yang bathil. Karenanya, siapa saja dari antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadhan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia puasa di bulan itu; dan siapa saja yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia berbuka, kemudian wajiblah ia puasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadhan), dan supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat pertunjukNya, dan supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah:185.)

2. “Diriwayatkan dari Mu’adz , ia berkata : Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk puasa, maka DIA turunkan ayat (dalam surat AL-Baqarah : 183-184), maka pada saat itu barangsiapa mau puasa dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain (AL-Baqarah : 185), maka ditetapkanlah kewajiban puasa bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah (keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi oran yang sudah sangat tua dan tidak mampu puasa. ” (HR. Ahmad, Abu Dawud, AL-Baihaqi dengan sanad shahih).

3. “Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy : Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku kuat untuk puasa dalam safar, berdosakah saya ? Maka beliau bersabda: Hal itu adalah merupakan kemurahan dari Allah Ta’ala, maka barangsiapa yang menggunakannya maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk terus puasa maka tidak ada dosa baginya ” (H.R.Muslim)

4. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Kami bepergian bersama Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan puasa. Selanjutnya ia berkata : Kami berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada ditempat yang dekat dengan musuh kalian, dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, maka diantara kami ada yang masih puasa dan ada juga yang berbuka. Kemudian kami berhenti di tempat lain. Maka beliau juga bersabda: Sesungguhnya besok kamu akan bertemu musuh, berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu sekalian,maka berbukalah. Maka ini merupakan kemestian, kamipun semuanya berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami puasa .” (H.R Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).

5. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yang puasa dan diantara kami ada yang berbuka . Yang puasa tidak mencela yang berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang puasa. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu puasa, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka,maka hal ini juga baik” (HR. Ahmad dan Muslim)

6. “Dari Jabir bin Abdullah : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pergi menuju ke Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau puasa sampai ke Kurraa’il Ghamiim dan semua manusia yang menyertai beliau juga puasa. Lalu dilaporkan kepada beliau bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat , tetapi mereka tetap puasa karena mereka melihat apa yang tuan amalkan (puasa). Maka beliau meminta segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu sebagian berbuka dan sebagian lainnya tetap puasa. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih ada yang nekad untuk puasa. Maka beliaupun bersabda : mereka itu adalah durhaka.” (HR.Tirmidzy).

7. “Ucapan Ibnu Abbas : wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak puasa dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin ” (Riwayat Abu Dawud). Shahih

8. “Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya (tentang puasa Ramadhan), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka ia menjawab : Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha puasa .” (Riwayat Baihaqi) Shahih.

9. “Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi ‘Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata : Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika puasa Ramadhan. Beliau berkata : Keduanya boleh berbuka (tidak puasa) dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha puasa” (HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syaratMuslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19).

KESIMPULAN: Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas adalah : Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak puasa Ramadhan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah :

  1. Orang sakit yang masih ada harapan sembuh.
  2. Orang yang bepergian (Musafir). Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan puasa dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk puasa.

Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan puasa dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan puasa karena:

  1. Umurnya sangat tua dan lemah.
  2. Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.
  3. Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya.
  4. Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh.
  5. Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil puasa, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan. (dalil 2,7,8 dan 9).
VIII HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

1. “…dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar), kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam…” (Al-Baqarah : 187).

2. “Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda : Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum ” (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama’ah kecuali An-Nasai).

3. Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang puasa – maka tidak wajib qadha (puasanya tetap sah), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha (puasanya batal). (H.R : Abu Daud dan At-Tirmidziy)

4. Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata : Disaat kami berhaidh (datang bulan) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang puasa dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

5. Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk puasa (Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya. (H.R : Abu Daud) hadits shahih.

6. Telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

7. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan puasa (Ramadhan), maka Rasulullah saw bersabda : Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan ? Ia menjawab : Tidak. Rasulullah saw bersabda : Mampukah kamu puasa dua bulan berturut-turut ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Beliau bersabda lagi : Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya : dimana orang yang bertanya tadi ? ambilah

kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya : Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah ? Demi Allah tidak ada diantara sudut-sudutnya (Madinah) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda : Ambillah untuk memberi makan keluargamu. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

KESIMPULAN: Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas menerangkan kepada kita bahwa hal-hal yang dapat membatalkan puasa (Ramadhan) ialah sbb:

  • Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan minum di siang hari, maka tidak membatalkan puasa. (dalil : 2)
  • Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan puasa. (dalil :3)
  • Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka. (dalil : 5 dan 6)
  • Dengan sengaja menyetubuhi istri di siang hari Ramadhan, ini disamping puasanya batal ia terkena hukum yang berupa : memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.(dalil : 7)
  • Datang bulan di siang hari Ramadhan (sebelum waktu masuk Maghrib).(dalil : 4)
IX. HAL-HAL YANG BOLEH DIKERJAKAN WAKTU IBADAH PUASA

1. Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh sedang beliau sedang dalam keadaan puasa, kemudian mandi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

2. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya : Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan puasa karena haus dan karena udara panas. (H.R : Ahmad, Malik dan Abu Daud)

3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan puasa. (H.R : Al-Bukhary).

4. Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium (istrinya) sedang beliau dalam keadaan puasa dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya (tidak sampai bersetubuh) sedang beliau dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya. (H.R : Al-Jama’ah kecuali Nasa’i) hadits shahih.

5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj : Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata : Sesungguhnya suami saya mencium saya sedang dia dan saya dalam keadaan puasa, bagaimana pendapatmu ? Maka ia menjawab : Adalah Rasulullah r pernah mencium saya sedang beliau dan saya dalam keadaan puasa. (H.R : Aththahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat Muslim).

6. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah : Sesungguhnya Nabi saw bersabda : Apabila kamu beristinsyaaq (menghisap air ke hidung) keraskan kecuali kamu dalam keadaan puasa. (H.R :Ashhabus Sunan)

7. Perkataan ibnu Abbas : Tidak mengapa orang yang puasa mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya (Ahmad dan Al-Bukhary).

KESIMPULAN: Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa hal-hal tersebut di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan puasa :

  1. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari.
  2. Menta’khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh. (dalil : 1)
  3. Berbekam pada siang hari. (dalil : 3)
  4. Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari.(dalil 4 dan 5)
  5. Beristinsyak (menghirup air kedalam hidung)terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya. (dalil : 6)
  6. Disuntik di siang hari.
  7. Mencicipi makanan asal tidak ditelan.(dalil :7)
ADAB-ADAB PUASA RAMADHAN.

1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang matahari sudah terbenam, maka orang yang puasa boleh berbuka. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Manusia (ummat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk. (H.R : Abu Daud dan Al-Hakiem)

4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu puasa hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih. (H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi)

5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar : Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah. (H.R : Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan)

6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu (yang sudah terhidang). (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah. (H.R : Al-Bukhary)

8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw. bersabda : Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. (H.R : An-Nasa’i)

9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata : Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat (Shubuh). saya berkata : Berapa saat jarak antara keduanya (antara waktu sahur dan waktu Shubuh)?Ia berkata : Selama orang membaca limapuluh ayat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata : Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. (H.R : Al-Baihaqi)

11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya (makan/minum sahur)daripadanya. (H.R : Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem)

12. Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata : Shalat telah di’iqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra. beliau bertanya : Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah ? Beliau r.a menjawab : ya, lalu ia meminumnya. (H.R Ibnu Jarir)

13. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata :Adalah Rasulullah saw. orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau saw. al-qur’an dan benar-benar Rasulullah saw. lebih dermawan tentang kebajikan(cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim.(HR Al-Bukhary)

14. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata :Adalah Rasulullah saw. menggalakkan qiyamullail (shalat malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib, maka beliau bersabda : Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu. (H.R : Jama’ah)

15. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. apabila memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) beliau benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah) dan membangunkan istrinya (agar beribadah) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya). (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

16. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat malam pada sepuluh hari terakhir (di bulan Ramadhan) tidak seperti kesungguhannya dalam bulan selainnya. (H.R : Muslim)

17. Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan ? maka ia menjawab : Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka’at baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, caranya : Beliau shalat empat raka’at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka’at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka’at. (H.R : Al-Bukhary,Muslim dan lainnya)

18. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka’at yang ringan, kemudian shalat delapan raka’at, kemudian shalat witir. (H.R : Muslim)

19. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata : Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata : Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam ? Maka Rasulullah r. menjawab : Shalat malam itu dua raka’at dua raka’at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka’at. (H.R : Jama’ah)

20. Dari Aisyah ra. ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau (bermakmum di belakang), lalu beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda : Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar kepada kalian (untuk mengimami shalat) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

21. Dari Ubay bin Ka’ab t. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. shalat witir dengan membaca : Sabihisma Rabbikal A’la)dan (Qul ya ayyuhal kafirun) dan (Qulhu wallahu ahad). (H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa’i dan Ibnu Majah)

22. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali t. ia berkata : Rasulullah saw. telah mengajarkan kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam qunut witir : (artinya) Ya Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri kesehatan yang sempurna, pimpinlah aku beserta orang yang telah Engkau pimpin, Berkatilah untukku apa yang telah Engkau berikan, peliharalah aku dari apa yang

telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tiada yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau. (H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa’i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

23. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda :Barang siapa yang shalat malam menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. (H.R : Jama’ah)

24. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir. (H.R : Muslim)

25. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Dinampakkan dalam mimpi seorang laki-laki bahwa lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh, maka Rasulullah saw. bersabda : Sayapun bermimpi seperti mimpimu, (ditampakkan pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia (lailatul qadar) pada malam-malam ganjil. (H.R : Muslim)

26. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu ? Beliau bersabda : Bacalah (artinya) Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku. (H.R : At-Tirmidzi dan Ahmad)

27. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

28. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila hendak beri’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat i’tikafnya………. (H.R :Jama’ah kecuali At-Tirmidzi)

29. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila beri’tikaf , beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia (buang air, mandi dll…) (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

30. Allah ta’ala berfirman : (artinya) Janganlah kalian mencampuri mereka(istri-istri kalian) sedang kalian dalam keadaan i’tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas ketentuan Allah, maka jangan di dekati…(Al-Baqarah : 187)

31. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, ia adalah untukku

dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya puasa itu adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu puasa janganlah berbuat keji , jangan

berteriak-teriak (pertengkaran), apabila seorang memakinya sedang ia puasa maka hendaklah ia katakan : ” sesungguhnya saya sedang puasa” . Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang puasa itu lebih wangi disisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan, apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena puasanya. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

32. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat (untuk menerima) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya. (H.R: Jama’ah Kecuali Muslim) Maksudnya Allah tidak merasa perlu memberi pahala puasanya.

33. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang sering di panggil Ummu Sinan : Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji bersama kami ? Ia menjawab : Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh ayahnya si fulan (suaminya) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di pakai untuk memberi minum anak-anak kami. Nabi pun bersabda lagi : Umrah di bulan Ramadhan sama dengan mengerjakan haji atau haji bersamaku. (H.R :Muslim)

34. Rasulullah sw. bersabda : Apabila datang bulan Ramadhan kerjakanlah umrah karena umrah di dalamnya (bulan Ramadhan) setingkat dengan haji. (H.R : Muslim)

KESIMPULAN:Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengamalkan puasa Ramadhan kita perlu melaksanakan adab-adab sbb :

1. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib. (dalil: 6) Sunnah berbuka adalah sbb :

  1. Disegerakan yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan makanan yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat. (dalil: 2,3 dan 4)
  2. Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan shalat dahulu. (dalil : 6)
  3. Setelah berbuka berdo’a dengan do’a sbb : Artinya : Telah hilang rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah. (dalil: 5)

2. Makan sahur. (dalil : 7 dan 8 ) Adab-adab sahur :

  • Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh. (dalil 9 dan 10)
  • Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur karena sudah masuk waktu Shubuh. (dalil 11 dan 12) * Imsak tidak ada sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi’in.

3. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-qur’an (dalil : 13)

4. Menegakkan shalat malam / shalat Tarawih dengan berjama’ah. Dan shalat Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir(20 hb. sampai akhir Ramadhan). (dalil : 14,15 dan 16) Cara shalat Tarawih adalah :

  1. Dengan berjama’ah. (dalil : 19)
  2. Tidak lebih dari sebelas raka’at yakni salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at. (dalil : 17)
  3. Dibuka dengan dua raka’at yang ringan. (dalil : 18)
  4. Bacaan dalam witir : Raka’at pertama : Sabihisma Rabbika. Roka’t kedua : Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka’at ketiga : Qulhuwallahu ahad. (dalil : 21)
  5. Membaca do’a qunut dalam shalat witir. (dalil 22)

5. Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati lailatul qadar hendaklah lebih giat beribadah dan membaca : Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada keampunan maka ampunilah aku. (dalil : 25 dan 26)

6. Mengerjakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir. (dalil : 27)

Cara i’tikaf :

  • Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i’tikaf di masjid. (dalil 28)
  • Tidak keluar dari tempat i’tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak. (dalil : 29)
  • Tidak mencampuri istri dimasa i’tikaf. (dalil : 30)

7. Mengerjakan umrah. (dalil : 33 dan 34)

8. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran. (dalil : 31 dan 32)

___________________________________

Maraji’ (Daftar Pustaka):

  1. Al-Qur’anul Kariem
  2. Tafsir Aththabariy.
  3. Tafsir Ibnu Katsier.
  4. Irwaa-Ul Ghaliel, Nashiruddin Al-Albani.
  5. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq.
  6. Tamaamul Minnah, Nashiruddin Al-Albani.
Oleh Ustadz Abu Rasyid

20 July 2013 Posted by | Fiqh, Ibadah | , | Leave a comment

Benarkah dakwaan Rambut Nabi SAW?

Rambut Rasulullah SAW 1

Rambut Rasulullah SAW

Sungguh ramai yang mendakwa rambut ini adalah rambut Rasulullah s.a.w. Pedang ini adalah pedang Nabi s.a.w. Tapak kaki ini adalah tapak kaki Baginda s.a.w. Ada yang mencelup rambut berkenaan ke dalam air dan ia diberi minum kepada orang ramai sebagai tabaruk atau mengambil keberkatan.

Persoalan: Bolehkah bertabaruk dengan kesan-kesan Nabi s.a.w. seperti rambut dsbgnya.. Benarkah dakwaan tentang kewujudan seperti rambut Nabi s.a.w., pedangnya sebagainya? Bolehkah kita bertabaruk dengan contoh rambut yang didakwa sebagai rambut Nabi s.a.w.?

Fatwa berikut insyaallah boleh membantu kita mendapat jawapan tentang persoalan di atas.


Terjemahan oleh: zain y.s

Artikel asal: islamqa.info kendalian Syeikh Muhammad Salleh al-Munajid

Soalan: Saya pernah menghadiri ceramah di Jordan yang membentangkan tajuk mengenai Masjid al-Aqsha dan Mendokong Agama. Penceramahnya membawa kepada kami air yang dicelup dengan rambut Rasulullah s.a.w. Rambut berkenaan ada di masjid al-Jazzar, ‘Akka di Palestine.

Dia meletakkan air berkenaan di dalam botol, kemudian mencampurkannya ke dalam tangki air sehingga sejumlah besar wanita di situ dapat mengambilnya.

Soalannya; adakah dibenarkan untuk bertabaruk/mengambil berkat (barakah) dengan air ini dengan tujuan untuk berubat dan mengambil berkat.

Berikan kami fatwa, jazakallahu kull khair…

Untuk pengetahuan, air berkenaan masih lagi dalam simpanan saya dan saya tidak pernah menggunakannya.

Jawaban:

Alhamdulillah..

Para ulama telah sepakat atas bolehnya bertabaruk dengan kesan-kesan peninggalan Rasulullah s.a.w. samada rambutnya, peluhnya dan selainnya. Alasannya, ada dalil atas yang demikian itu.

، فَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ لَمَّا رَمَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ وَنَحَرَ نُسُكَهُ وَحَلَقَ نَاوَلَ الْحَالِقَ شِقَّهُ الْأَيْمَنَ فَحَلَقَهُ ثُمَّ دَعَا أَبَا طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيَّ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ ثُمَّ نَاوَلَهُ الشِّقَّ الْأَيْسَرَ فَقَالَ احْلِقْ فَحَلَقَهُ فَأَعْطَاهُ أَبَا طَلْحَةَ فَقَالَ اقْسِمْهُ بَيْنَ النَّاسِ ) رواه مسلم (1305)

Terjemahan: Dari Anas bin Malik ia berkata; Setelah Rasulullah s.a.w.melontar Jamrah, menyembelih haiwan korbannya dan setelah mencukur rambutnya, baginda meminta tukang cukur untuk mencukur kembali rambutnya yang sebelah kanan. Kemudian baginda memanggil Abu Thalhah Al Anshari dan memberikan rambut tersebut kepadanya. sesudah itu, baginda kembali meminta untuk dicukurkan rambutnya yang sebelah kiri sambil bersabda: “Cukurlah.” Maka dia pun mencukurnya, dan setelah itu, membagikannya kepada orang-orang. (HR Muslim)

وعَنْ أَنَسٍ أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ كَانَتْ تَبْسُطُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِطَعًا فَيَقِيلُ عِنْدَهَا عَلَى ذَلِكَ النِّطَعِ ، فَإِذَا نَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَتْ مِنْ عَرَقِهِ وَشَعَرِهِ فَجَمَعَتْهُ فِي قَارُورَةٍ ثُمَّ جَمَعَتْهُ فِي سُكٍّ . قَالَ [القائل هو ثمامة بن عبد الله بن أنس] : فَلَمَّا حَضَرَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ الْوَفَاةُ أَوْصَى إِلَيَّ أَنْ يُجْعَلَ فِي حَنُوطِهِ مِنْ ذَلِكَ السُّكِّ قَالَ فَجُعِلَ فِي حَنُوطِهِ . رواه البخاري (6281)

Terjemahan: Dari Anas bahwa Ummu Sulaim, bahwa dia biasa membentangkan tikar dari kulit untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu baginda istirahat siang di atas tikar tersebut.

Anas melanjutkan; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah tidur, maka Ummu Sulaim mengambil peluh dan rambutnya yang terjatuh dan meletakkannya di bekas kaca, setelah itu dia mengumpulkannya di sukk (ramuan minyak wangi), Tsumamah berkata; ‘Ketika Anas bin Malik hendak meninggal dunia, maka dia berwasiat supaya ramuan tersebut dicampurkan ke dalam hanuth (ramuan yang digunakan untuk meminyakkan mayat), akhirnya ramuan tersebut diletakkan di hanuth.” (HR al-Bukhari)

Maka riwayat ini dan riwayat selainnya menunjukkan bahawa Allah menjadikan ada keberkatan pada diri Rasulullah s.a.w. dan apa yang terpisah darinya samada rambut, peluh dan sebagainya yang boleh ditabaruk serta diharap daripadanya manfaat di dunia dan di akhirat. Dan pemberi kebaikan ini adalah Allah Tabaraka Wa Taala.

Namun sekarang, dakwaan bahawa ini adalah sebahagian dari rambut Nabi s.a.w. atau bekas-bekas (barangan seperti pedang dsbgnya) adalah dakwaan yang tidak disandarkan kepadanya dalil.

Secara amnya, apa yang dikatakan dalam hal ini adalah satu bentuk cakap-cakap temberang dan khurafat. Seperti kata mereka: Ini adalah sehelai rambut milik Nabi s.a.w., kerana jika diletakkan di bawah sinaran matahari tidak ada bayang-bayang. Kata-kata seperti ini tak sepatutnya dihiraukan.

Syeikh al-Albani rhm berkata: Kami tahu bahawa terdapat bekas-bekas peninggalan s.a.w. yang terdiri dari baju atau rambut atau selainnya, telahpun hilang lenyap. Tidak mungkin kepada sesiapapun untuk membuktikan atau memastikan tentang kewujudannya secara pasti dan penuh keyakinan. (Kitab al-Tawassul, hal. 147)

Oleh itu, tidak dibenarkan bertabaruk dengan air ditanyakan itu sehingga ia benar-benar pasti dan yakin bahawa rambut yang diletakkan pada air berkenaan adalah rambut Nabi s.a.w. Namun sayang, di sana sudah tiada lagi jalan untuk membuktikannya.

Kita hendaklah berhati-hati dengan kaki temberang dan khurafat serta penyeru bid’ah. Dan juga hendaklah menimba ilmu dari mereka yang diketahui benar-benar berpengetahuan tentang al-Sunnah, pembela dan penyebarnya.

Amat menakjubkan bagaimana ceramah tentang “mendokong agama” bertukar menjadi satu galakan agar mempercayai perkara-perkara yang tidak pasti dan tidak berasas.

Alangkah baiknya jika penceramah berkenaan menyeru manusia agar mempelajari al-Sunnah serta berpegang teguh dengannya. Kerana disitulah punca kejayaan.


Kesimpulan Fatwa:

  • Para ulama sepakat: Boleh bertabaruk dengan kesan peninggalan Nabi s.a.w. seperti rambut, peluh dan sebagainya
  • Kesan-kesan Nabi s.a.w. yang didakwa oleh pelbagai pihak sekarang hanyalah temberang dan penipuan. Kerana ia samasekali tidak dapat dibuktikan kebenarannya, malah mustahil untuk dibuktikan.
  • Persoalannya di sini ialah bukan masalah boleh atau tidak bertabaruk dengan kesan peninggalan Nabi s.a.w., tetapi yang jadi masalahnya ialah apakah benar kesan-kesan peninggalan itu BENAR-BENAR milik Nabi s.a.w.

Teks asal Fatwa:

لقد حضرت محاضرة في الأردن و قد كان الموضوع عن المسجد الأقصى و نصرة الدين و قد كانت المحاضِرة قد أحضرت لنا ماء مغموس بشعرة الحبيب محمد صلى الله عليه وسلم , وهذه الشعرة موجودة في مسجد الجزار في عكا في فلسطين.وقد وضع الماء داخل قارورة ثم خلطوها بخزان الماء حتى يستفيد منه أكبر عدد من النسوة و قد أخذت الماء مثلهن ..والسؤال هل يجوز التبرك بهذا الماء بهدف الشفاء وأخذ البركة أفتونا جزاك الله كل خير مع العلم أن الماء ما زال عندي ولم أستخدمه بعد.

الحمد لله

اتفق العلماء على جواز التبرك بآثار الرسول صلى الله عليه وسلم ، من شعر وعرق وغيره ؛ لقيام الأدلة على ذلك ، فَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ لَمَّا رَمَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ وَنَحَرَ نُسُكَهُ وَحَلَقَ نَاوَلَ الْحَالِقَ شِقَّهُ الْأَيْمَنَ فَحَلَقَهُ ثُمَّ دَعَا أَبَا طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيَّ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ ثُمَّ نَاوَلَهُ الشِّقَّ الْأَيْسَرَ فَقَالَ احْلِقْ فَحَلَقَهُ فَأَعْطَاهُ أَبَا طَلْحَةَ فَقَالَ اقْسِمْهُ بَيْنَ النَّاسِ ) رواه مسلم (1305).

وعَنْ أَنَسٍ أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ كَانَتْ تَبْسُطُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِطَعًا فَيَقِيلُ عِنْدَهَا عَلَى ذَلِكَ النِّطَعِ ، فَإِذَا نَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَتْ مِنْ عَرَقِهِ وَشَعَرِهِ فَجَمَعَتْهُ فِي قَارُورَةٍ ثُمَّ جَمَعَتْهُ فِي سُكٍّ . قَالَ [القائل هو ثمامة بن عبد الله بن أنس] : فَلَمَّا حَضَرَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ الْوَفَاةُ أَوْصَى إِلَيَّ أَنْ يُجْعَلَ فِي حَنُوطِهِ مِنْ ذَلِكَ السُّكِّ قَالَ فَجُعِلَ فِي حَنُوطِهِ . رواه البخاري (6281)

والنطع : بساط من جلد .

والسُّك : نوع من الطيب يركب من المسك وغيره.

فهذا وغيره يدل على أن ذات الرسول صلى الله عليه وسلم وما انفصل عنها من شعر وعرق ونحوه قد جعل الله فيه من البركة ما يتبرك بها ويرجى بسببها الفائدة في الدنيا والآخرة ، والواهب لهذا الخير هو الله تبارك وتعالى.

لكن الزعم الآن بأن هذا من شعر النبي صلى الله عليه وسلم أو آثاره ، زعم لا يسنده دليل . وعامة ما يقال في هذا الباب هو نوع من الدجل والخرافة ، كقولهم : إن هذه شعرة للنبي صلى الله عليه وسلم لأنها إذا وضعت تحت الشمس لم يكن لها ظل !! ومثل هذا الكلام لا ينبغي أن يلتفت إليه.

قال الشيخ الألباني رحمه الله : ” ونحن نعلم أن آثاره صلى الله عليه وسلم من ثياب أو شعر أو فضلات ، قد فقدت ، وليس بإمكان أحد إثبات وجود شيء منها على وجه القطع واليقين ” التوسل ص 147

وعليه فلا يجوز التبرك بالماء المسئول عنه ، حتى يعلم جزما أن ما وضع فيه هو من شعر النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا سبيل لإثبات ذلك . وينبغي الحذر من أهل الدجل والخرافة ، ومروجي البدع ، كما ينبغي تلقي العلم والدعوة على يد المعروفين بالسنة الذابين عنها والناشرين لها ، وليتأمل العاقل كيف يتحول الحديث عن نصرة الدين إلى تعليق الناس بالأمور غير الثابتة ! وكان الأجدى بالمحاضِرة أن تدعو الناس إلى تعلم السنة والتمسك بها ؛ لأن ذلك من أسباب النصر .

رزقنا الله وإياكم حسن الاتباع .

والله أعلم .

19 July 2013 Posted by | Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

Peninggalan atsar atsar Peribadi Rasulullah SAW

Baginda S.A.W banyak meninggalkan atsar-atsar peribadi seperti pakaian, perkakas rumah dan lain-lain. Ahli sejarah Islam ada yang menghitung dan mengira jumlah atsar-atsar peninggalan Baginda S.A.W. Bahkan ada yang menyebut nama-namanya sekali, seperti serban Baginda S.A.W “As sahab” ,Gunting Baginda S.A.W “Al Jamek”, Tongkat kecil Baginda S.A.W “Al Mamsyuq”, tempayan Baginda S.A.W “An-Nasi`ah”, dan pedang Baginda S.A.W “Zulfakar”. Kesan-kesan peninggalan Baginda S.A.W ini telah disimpan secara turun temurun oleh ahli kerabat Baginda S.A.W dan juga Para Sahabat yang mewarisinya.

Temasuklah yang memiliki bagi menjaga kesan-kesan tersebut dengan penuh kehormatan adalah Para Kalifah Umawiyyah dan Abbasiyyah. Pemerintah kerajaan Abbassiyyah telah menjadikannya sebagai salah satu daripada Lambang kenegaraan, iaitu dengan meletakkan “Al Burdah” Baginda S.A.W di bahu dan tongkat “Al Qadhib” di pegang ditangan. Ini dilakukan oleh khalifah-khalifah tersebut samaada mereka duduk atau berdiri. Selain daripda khalifah Umawiyyah dan Abbasiyyah, orang ramai juga ada yang memiliki atsar peninggalan Baginda S.A.W dan kesan-kesan yang mulia tersebut berpindah daripada satu generasi kepada satu generasi seperti yang terdapat Turki, Pakistan, India dan Mesir. Kewujudan Atsar Baginda S.A.W seperti pakaian, serban dan rambut yang berada ditangan-tangan orang tertentu dipelbagai tempat itu adalah tidak menghairankan, kerana setiap satu dari jenis atsar tersebut banyak jumlahnya. Misalnya rambut Baginda S.A.W, setelah dicukur, Baginda S.A.W memerintahkan Abu Thalhah supaya membahagi-bahagikan kepada orang ramai. Hal ini jelas menunjukkan bahawa rambut Baginda S.A.W boleh saja terdapat dikalangan orang ramai, dan setiap daripada mereka sudah tentu akan memelihara dengan baik bahkan mewariskannya kepada anak cucu atau menghadiahkannya kepada orang lain. Bagi tujuan menghormati, bertabaruk dengan kesan yang mulia ini, pihak berkuasa di Negeri Islam , ada yang mengambil inisatif dengan menghimpun dan meletakkannya di dalam bangunan yang tertentu. Misalnya pemerintah negeri Panjab (Pakistan) telah menghimpun dan menempatkannya di bangunan Badshahhi, Lahore . Pemerintah Mesir pula menghimpun dan meletakkannya pula di dalam bangunan Masjid Al-Husain, setelah atsar yang mulia ini berpindah daripada bangunan yang diperuntukkan baginya termasuklah sebuah bangunan khas yang dibangunkan oleh Sultan Al Ghawri, sebelum berada ditempatnya sekarang iaitu Masjid Al -Husain.

Ali Mubarak menceritakan mengenai perkara ini seperti berikut: “Sultan Ghawri telah menitahkan supaya dibangunankan sebuah Kubah besar bertentangan dengan sekolah yang dibinakannya dipasar Al Jammalin dan Al Khasybiah yang ditandatangani oleh Putera Bek Khazandar dan Nazir Al Hisab nya.Kubah (dom) ini amat besar ,unik dan cantik .Baginya terdapat pegawai khas yang dilantik oleh Sultan untuk menguruskan nya dengan gaji sebagai menghormati kewujudan Mushaf Uthmani ,atsar-atsar Nabawi dan Mushaf-mushaf lain yang ada didalamnya”.5

Atsar-atsar yang ada diMesir itu tersimpan dalam Kubah Al Gawri selama lebih daripada tiga abad ,iaitu sehingga tahun 1275H . Pada tahun 1275 H dipindahkan ke Masjid Zainab ,dan dari Masjid Zainab dipindahkan ke bangunan Qal’ah dalam satu upacara besar-besaran sehingga tahun 1304 H . Dari bangunan ini dipindahkan lagi kebangunan Al Awqaf pada tahun 1304 H, kemudian ke bangunan ‘Abidin dan dipindahkan kemudiannya ke tempatnya sekarang di Masjid Al Husain .

Muhammad Al Bablawi ,seorang ahli sejarah Mesir menggambarkan peristiwa pada saat atsar-atsar tersebut dipindahkan ketempatnya sekarang (Masjid Al Husain), bagaimana sambutan dan penghormatan umat Islam yang sungguh luar biasa.

“Apabila turun titah Al Marhum Taufiq Basya agar atsar-atsar Nabi dipindahkan ke Masjid Al Husain , lalu disiapkan almari besar disebelah Timur dinding masjid arah kiblat. Apabila almari besar tersebut siap, Baginda S.A.W mengarahkan supaya dibuat aturcara perarakan besar-besaran yang akan diikuti oleh orang-orang kenamaan dan pegawai-pegawai kanan kerajaan .

Perarakan membawa atsar-atsar Nabi S.A.W ini berlaku pada hari khamis 25 jamadil awwal 1305 ,bermula dari bangunan ‘Abidin sehingga ke Masjid Al Husain. Perarakkan besar yang belum pernah berlaku sepertinya di bumi Mesir”.6 Disebutkan pada hari perarakan itu orang-ramai daripada segenap peringkat , awal-awal pagi lagi sudah datang berpusu-pusu memenuhi jalan-jalan yang akan dilalui oleh pembawa-pembawa atsar tersebut. Bagi yang tidak berupaya untuk sama-sama berararak akan membuka jendela-jendela rumah untuk menyaksikan perarakkan. Para pembesar negara yang turut mengiringi perarakkan atsar –atsar tersebut termasuklah Mukhtar Basya, Husain Kamil, Mahmud Basya, Mansur Basya, Nawbar Basya, Konsul Negara Iran, Para Ulamak dan orang-orang kenamaan ,Ahli perniagaan dan pegawai-pegawai kerajaan. Apabila perarakkan sampai di medan ‘Abidin atsar-atsar tersebut disambut oleh pasukan perarakan yang dianggotai pasukan bersenjata berkuda. Ketika inilah tembakan meriam dari pasukan Qal’ah dilepaskan .

Selepas itu terus diarak ke Masjid Al Husain. Jumlah kehadiran diperarakan tersebut dicatitkan lebih dari tiga puloh ribu orang.Mereka melakukan ini adalah sebagai menghormati serta mengambil tabarruk daripadanya.7 Begitulah penghormatan yang berlaku, sehingga kini masih terdapat pengunjung-pengunjung bertumpu ke Masjid Al Husain di Kaherah setiap hari terutamanya dimusim perayaan seperti Maulid Sayyidina Husain R.Anhu .

Diceritakan ,didalam masjid Al Husain , selain menyimpan atsar-atsar Nabi S.A.W, sehelai pakaian Baginda S.A.W, Mikhallah (tempat dan alat bercelak) , sebatang tongkat pendek dan dua helai janggut Baginda S.A.W, turut juga tersimpan atsar Sayyidina Uthman bin ‘Affan dan Sayyidina Ali R.Anhuma, iaitu Mushaf Uthman dan Mushaf Ali yang ditulis dengan khat Khufi.

[Oleh:Haniff Abu Talib]

18 July 2013 Posted by | Informasi, Renungan & Teladan | | Leave a comment

Wajib betulkan niat dalam menuntut Ilmu

pr0059

Pada mereka yang dahagakan Ilmu, berhati hatilah apabila mencarinya.Seandai berniat mencari Ilmu ini untuk berlumba lumba dan mendapat kemegahan dan terkemuka di kalangan kawan kawan dan untuk menarik perhatian orang ramai terhadap diri mu dan menghimpunkan akan kekayaan dunia, maka sebenarnya engkau telah berusaha menghancurkan agama mu dan membinasakan diri mu sendiri dan menjual akhirat mu untuk mendapat harta dunia, maka penjualan mu adalah rugi dan perniagaan mu porak peranda dan guru yang mengajar mu di kira menolong mu dalam membuat maksiat dan ia juga akan merasakan kerugian.Ketika ini guru yang mengajar mu laksana seorang yang menjual pedang kepada perompak seperti sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: "

“ Siapa yang menolong orang lain melakukan sesuatu maksiat walaupun dengan hanya setengah kalimat maka orang itu di kira berkongsi di dalam melakukan  maksiat tersebut.”

Dan jikalau niat mu dalam mencari ilmu itu untuk mencari keredhaan Allah dan mencari hidayah, bukan semata mata untuk pandai bercakap maka hendaklah engkau bergembira,  kerana para malaikat telah mengembangkan sayapnya apabila engkau berjalan dan ikan di dalam  laut semuanya meminta ampun bagi mu apabila engkau berjalan.

Tetapi sebelum itu hendaklah engkau ketahui bahawa hidayah itu adalah buah daripada ilmu dan bagi hidayah itu ada “bidayah”  (permulaan) dan ada pula “nidayah”  (kesudahan)  dan ada “zahir” dan ada pula “batinya”,dan engkau tidak akan sanpai kepada “nihayatul hidayah” dan engkau tidak akan dapat menyelami “batin hidayah” kecuali setelah engkau selesai daripada menyempurnakan segala urusan yang berkenaan dengan “zahir hidayah” itu.

 

(Pesanan Imam Al Ghazali dalam Muqaddimah Kitab nya Bidayatul Hidayah)

17 July 2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

Pembahagian manusia dalam menuntut Ilmu

Dan ketahui lah bahawa manusia didalam menuntut ilmu ini terbahagi kepada tiga keadaan:

Pertama: Orang yang mencari ilmu untuk menjadikannya sebagai bekalan ke negeri akhirat maka dia tidak berniat dengan mencari ilmu kecuali hanya mendapat keredhaan Allah dan negeri Akhirat.Maka orang ini termasuk di dalam golonga orang yang beruntung.

Kedua: Orang yang mencari ilmu untuk mendapatkan keuntungan yang segera (dunia) dan mendapatkan kemuliaan, pangkat dan harta benda, sedangkan dia sendiri menyedari hal ini dan merasakan didalam hatinya  akan kejahatan kejahatan yang sedang  dialaminya dan kehinaan maksudnya.Maka orang ini berada dalam golongan orang yang berbahaya .Jikalau dia mati sebelum sempat bertaubat, maka dibimbangi ia akan mati dalam keadaan su-ul khatimah  kemudian urusannya terserahlah kepada kehendak Allah ( kalau mahu di maafkan atau diseksa).Tetapi kalau dia mendapat taufiq sebelum matinya lalu dia bertaubat dan sempat mengamalkan ilmu yang telah dituntutnya dan sempat pula membuat pembetulan terhadap apa yang tercedera dan tercuai, maka bolehlah dia dikumpulkannya bersama golongan yang beruntung,kerana orang yang bertaubat daripada dosanya sama seperti orang yang tidak berdosa.

Ketiga: Orang yang telah dikuasai oleh syaitan maka ia menjadikan ilmu yang di tuntutnya sebagai alat untuk menghimpun harta benda dan bermegah megah dengan kedudukkan  dan merasa bangga dengan ramai pengikutnya. Dia menggunakan ilmu yang dituntut untuk mencapai segala hajatnya dan untuk mengaut keuntungan dunia.Walaupun demikian, dia masih terpedaya lagi dengan sangkaanya bahawa dia mempunyai kedudukkan yang tinggi di sisi Allah kerana dia masih lagi pada zahirnya menyerupai ulama.Dia bercakap seperti percakapan ulama dan berpakaian seperti pakaian ulama, pada hal zahir dan batinya penuh dengan tamak dan haloba dalam menghimpun kekayaan dunia.Orang seperti ini termasuk dalam golongan orang yang binasa,jahil dan tertipu dengan helah syaitan dan sangat tipis harapan untuk ia bertaubat kepada Allah kerana dia telah menyangka bahawa dirinya termasuk didalam golongan orang yang baik, pada hal ia telah lupa akan firman Allah Taala yang bermaksud: “ Wahai orang yang beriman, kenapa kamu memperkatakan barang yang tidak kamu amalkan?” (Surah Al Shaf – 2).

[Petikan Muqadimah Kitab Bidayatul Hidayah Imam Al Ghazali r.a)

16 July 2013 Posted by | Ibadah, Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

Nabi SAW lebih membimbangi Ulama Su’ lebih dari Dajjal

Rasulullah SAW  bersabda maksudnya:
” Selain daripada Dajjal ada satu perkara yang sangat aku bimbangkan lebih daripada Dajjal? Lalu ada orang yang bertanya: Apakah itu wahai Rasulullah? Nabi SAW menjawab: Mereka ialah Ulama Su’ yakni ulama yang jahat”. (HR Ahmad daripada Abu Zhar RA dengan sanad yang jaid.Lohat Takhrij Al’Iraqi Alal Ihya 1/95).

Dajjal itu tujuannya sudah jelas untuk menyesatkan manusia tetapi ulama Su’ ini walaupun lidahnya pandai memalingkan orang lain daripada cinta dunia, namun amal dan perbuatan mereka adalah mengajak orang lain membuat kejahatan kerana amalan sesorang itu lebih berkesan daripada percakapannya.Dan orang ramai lebih mudah tertarik dengan perbuatan ulama Su’ daripada perkataan mereka.Maka apa yang dapat dirosakkan oleh ulama Su’ ini dengan perbuatan mereka adalah lebih banyak daripada apa yang dapat di baikkan oleh lidah mereka .Orang yang jahil sebenarnya belum berani menghimpun dunia banyak banyak kecuali setelah mereka melihat keberanian ulama Su’ ini.Maka ilmu yang ada pada mereka menjadi sebab keberanian orang ramai membuat berbagai bagai maksiat.Maka inilah yang sangat dibimbang oleh Nabi SAW.

Namun demikian, nafsu ammarah ulama Su’ ini selalu membisikkan di telinga mereka bermacam macam angan angan dan membisikkan kepadanya bahawa dia telah banyak menabur jasa di kalangan manusia sehingga dia layak untuk menerima bermacam macam anugerah daripada Allah.Nafsunya juga menghayalkan kepadanya bahawa dia adalah lebih baik daripada hamba hamba Allah yang lain.

(Petikan Muqadimah Kitab Bidayatul Hidayah Imam Al Ghazali r.a)

16 July 2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

Pesanan Imam Al Ghazali RH tentang kepentingan Ilmu Tasauf dan apakah langkah permulaan yang mesti di lalui?

pp0403

………………Dan aku teruslah bermujahadah lebih kurang sepuluh tahun lamanya, maka telah terserlah dihadapanku dicelah celah masa khalwatku (masa aku mengasingkan diri dari orang ramai) rahsia rahsia yang tidak terhingga banyaknya.Dan sesuatu yang dapat aku perkatakan disini supaya dapat diambil manfaat oleh orang ramai ialah:

Sesungguhnya aku telah mengetahui dengan sepenuh keyakinan bahawasanya golongan sufi (ahli ahli tasauf), merekalah yang sebenarnya orang yang mengikuti jalan Allah swt. secara khusus dan cara hidup mereka sebaik baik cara hidup, manakala jalan yang mereka lalui adalah jalan yang paling benar dan akhlak mereka yang paling bersih.Bahkan, seandainya di himpunkan akal orang yang cerdik pandai,hikmah para Hukama (ahli ahli hikmat) dan kepakaran para Ulama yang mendalami rahsia rahsia syari’at dengan tujuan untuk merubahkan sedikit dari cara hidup ataupun akhlak mereka dan menggantikan dengan satu cara hidup atau akhlak yang lebih baik daripadanya ,sudah pasti mereka tidak akan menemuinya.Ini di sebabkan kerana segala pergerakan ahli sufi itu dan begitu juga diam mereka, sama ada zahir atau batin adalah bersumber dari pancaran cahaya kenabian.Dan sudah pasti bahawa tidak ada selain dari pancaran cahaya kenabian itu sebarang nur yang dapat dijadikan panduan bagi kehidupan di atas muka bumi ini”.

[Di petik dari Kitab Bidayatul Hidayah (Permulaan Jalan Hidayah) yang menukil dari Kitab Al Munqiz Minad Dhalal (Penyelamat dari Kesesatan)]

16 July 2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

Bergerak yang bagaimana yang membatalkan solat

Sembahyang lah kamu sebelum kamu di sembahyangkan

Tidak semua jenis pergerakan membatalkan solat, namun yang pasti adalah mengurangkan pergerakan yang tidak berkaitan dengan solat adalah cara terbaik bagi menyempurnakannya. Pun begitu, bagaimanakah erti bergerak yang membatalkan solat di dalam mazhab Syafie? Tulisan ini menjelaskan dengan ringkas.

Tamakninah adalah salah satu rukun dalam solat menurut beberapa mazhab dan mazhab Syafie adalah antara yang berijtihad menyatakan solat boleh batal jika bergerak besar berturut-turut melebihi tiga kali gerakan. Ini berdasarkan dalil perlunya tamakninah. Tiada dalil khusus berkenaan hal ini kecuali dalil umum iaitu keperluan untuk menyempurnakan tamakninah yang disebut oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam kpeada seorang lelaki yang disuruh ulangi solatnya kerana tidak betul:

Maksudnya: “ ulangi solatmu dan solatlah sessunghuhnya engkau belum menyempurnakan solatmu……kemudian hendaklah kamu rukuk dan sehingga berhenti sekejap (tamakninah) dalam keadaan rukuk itu, dan kemudian bangun dan berdiri tegak dan kemudian sujud sehingga berhenti sekejap (tamakninah) dalam keadaan sujud.”

(Riwayat al-Bukhari)

Tamakninah adalah rukun menurut tiga mazhab dan wajib dalam mazhab Hanafi. Hasil dari itu, penyempurnaan tamakninah dilihat tidak mampu disempurnakan kecuali dengan menahan diri dan pergerakn besar menurut mazhab Syafie.

Imam An-Nawawi menjelaskan penentuan sesuatu pergerakan itu ‘Besar’ atau ‘Kecil’ mempunyai empat bentuk pandangan dalam mazhab seperti berikut:-

  1. KECIL : adalah yang tidak sampai tempoh pergerakan itu satu raka’at. BESAR: Jika melebihi, pastinya itu dikira besar dan membatalkan solat.
  2. KECIL : Setiap pergerakan yang tidak memerlukan dua belah tangan, seperti mengangkat serban, menyentuh untuk lantikan imam di hadapan, memegang kepala atau telinga, itu semua dianggap kecil. BESAR: Jika pergerakan itu memerlukan dua belah tangan seperti mengikat serban, memakai seluar atau kain, itu semua dikira besar.
  3. KECIL : pergerakan yang tidak membuat orang yang melihat bersangka si pelakunya di luar solat. BESAR : pergerakan yang menyebabkan orang melihat bersangka pelakunya di luar solat.
  4. KECIL : kembali kepada penentuan adat dan uruf setempat yang pada adatnya masyarakat anggapnya kecil. BESAR : juga berdasarkan adat. Imam An-Nawawi menyebut pandangan yang keempat ini yang paling sahih dan pandangan ulama Syafie yang teramai. Kata beliau Ertinya : ini yang paling sahih dan merupakan pendapat teramai.[1]

Kemudian, Imam An-Nawawi jug menyimpulkan jika dua kali pergerakan besar ia masih tidak membatalkan solat, jika tidak berturut-turut, itu juga tidak membatalkan solat.

KESIMPULAN

Kesimpulannya, saya cenderung kepada menyarankan agar memastikan tidak bergerak banyak sama ada besar atau kecil adalah sifat solat sempurna. Namun jika pergerakan kerana dharurat yang diterima oleh Islam seperti mengelak bahaya, mengelak api dan sepertinya ia tidak membatalkan solat. Majoriti mazhab lain seperti Hanbali dan Hanafi tidak ada kaedah yang menyatakan pergerakan banyak akan membatalkan solat dan fatwa dan ijtihad mereka tentunya tidak boleh diketepikan begitu sahaja, hasilnya saya suka menasihatkan agar mengelakkan khilaf, dan jika berlaku pegerakan yang banyak berturut-turut dan masih ada waktu untuk mengulangi solat, sebaiknya solat dianggap batal dan diulangi.

Sekian

 

 

 

Dr. Zaharuddin Abd Rahman

www.zaharuddin.net

10 July 2013 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Ada bezanya di antara Penceramah dan Pendakwah?

    Syeikh Sa’id Hawwa di dalam bukunya ‘Jundullah Thaqafatan Wa Akhlaqan’ telah menyebutkan tanggungjawab yang dipikul oleh setiap individu Muslim ;

  1. Membina individu yang beridentiti Islam.

  2. Menegakkan hukum Islam di seluruh pelusuk benua.

  3. Menyatukan kuasa politik bagi umat Islam.

  4. Mengembalikan sistem khilafah bagi umat Islam.

  5. Memastikan syariat Allah dilestarikan di seluruh dunia.

    1. Itulah tugas yang maha berat bagi pendakwah. Namun terkadang wujud kekeliruan istilah antara pendakwah dan penceramah. Seorang tokoh tarbiyyah Ikhwan Muslimin, Syeikh Al Bahi Al Khauly telah menegaskan tentang perbezaan dua gelaran tersebut di awal karya beliau yang berjudul –Tazkirah ad Du’at – :

      “Sesungguhnya pendakwah tidak sama seperti penceramah. Jika penceramah, tugasnya hanya berceramah. Manakala pendakwah, individu yang optimis dengan pemikirannya. Tugasnya menyampaikan risalah dakwah dengan penulisan, ucapan, perbualan biasa, segala kerja yang dibuat serta segala apa medium yang dirasakan bermanfaat untuk dakwah.”

      Penceramah hanya akan beraksi apabila diberi peluang di pentas ceramah. Populariti dan pengikut merupakan bonus baginya. Apa yang disebut belum tentu menggambarkan hakikat keadaannya yang sebenar.

      Sebaliknya aksi pendakwah tidak terhad. Mana-mana peluang yang sempat dicapai akan digunakan dengan sebaiknya untuk menyampaikan risalah Islam. Mereka sangat takut dengan sanjungan, bimbang populariti tersebut akan memesongkan misi dakwahnya. Apa yang disebut, itulah yang terbit dari hatinya. Kesungguhan dan kejujuran pendakwah tiada tandingan. Kesungguhan tersebut pernah ditatah dari kisah Imam Hasan al Banna berdakwah sambil bersosial di kedai kopi. Usaha tersebut berterusan sehingga melewati pintu arena panggung.

      Banyak lagi sifat bagi pendakwah yang disebutkan oleh Syeikh Al Bahi Al Khauly. Jika diamati kriteria yang telah tersenarai di dalam buku tersebut, sehingga membuatkan penulis amat malu untuk mengaku bahawa diri ini sebagai pendakwah.

      Kerap kali kita mencari idea bombastik dan rumit yang mengujakan untuk disampaikan kepada sasaran dakwah. Moga-moga dengan isi dan gaya penyampaian yang mengujakan itu mampu memukau pendengar-pendengar. Kesungguhan tersebut jika tidak dikawal boleh mengakibatkan kita terlupa bahawa kita belum pun melaksanakan apa yang diucapkan. Terkadang kita menganggap bahawa dakwah seperti menyediakan pentas persembahan yang membenarkan kita melakonkan pelbagai gaya tanpa pantauan amanah terhadap agama dan diri sendiri.

      Itulah beza antara pendakwah dan penceramah. Penceramah bebas mengucapkan 1001 mutiara kata walaupun amalan dirinya jauh menyimpang dari apa yang diucapnya. Manakala bagi pendakwah, mereka perlu memastikan dirinya benar-benar layak untuk menyampaikan sesuatu mesej Islami merujuk kepada tanggungjawab dirinya sebagai hamba Allah. Firman Allah Taala :

      “Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan sedang kamu melupakan diri kamu sendiri padahal kamu membaca al Kitab. Tidakkah kamu berakal.”  (Al Baqarah:44)

      “Amat besar kemurkaan Allah apabila kamu berkata perkara yang kamu tidak buat.” (As Saff:3)

      Mesej dakwah yang membekas adalah apabila ia keluar dari individu yang bercakap melalui hatinya. Hanya hati yang jujur dengan misi dakwah, layak mengetuk hati orang lain. Itulah resepi kejayaan tokoh-tokoh pendidik umat mengetuk hati-hati manusia agar menerima kebenaran.

      Syeikh Al Bahi Al Khauly turut menegaskan, “Apa yang penting hubungan antara juru da’wah dan sasaran da’wah adalah dengan ruh mereka. Bukan dengan seni bicara dan kelancaran tutur kata.”

      Bagi pendakwah, cukuplah jika diberi peluang berkata dari lubuk hatinya tentang kebenaran. Walaupun isinya versi ulangan atau tidak dilihat begitu ‘akademik’, ia dirasakan mencukupi sesedap rasa dengan apa yang perlu diterima oleh sasaran dakwah.

      Oleh kerana itu Syeikh Al Bahi Al Khauly berterus-terang mengungkapkan, “Saya tidak kesal jika karya ini tidak disajikan dengan tutur kata yang indah berseni. Bahkan saya sangat redha dengan cara tersebut. Bukanlah karya ini ditujukan kepada penceramah-penceramah atau mereka yang ingin belajar seni pidato. Sebaliknya karya ini dedikasi kepada para pendakwah yang jujur menyeru manusia kembali kepada Allah.”

      Justeru, tidak hairanlah sejarah Para Sahabat terdahulu hanya membaca beberapa potong ayat Al Quran dan tidak akan menyambung bacaannya melainkan mesej di dalam ayat tersebut telah dilaksanakan. Mereka sangat memelihara akhlak ‘cakap serupa bikin’. Sehingga ada riwayat yang dinaqalkan daripada Ibnu Umar bahawa ayahnya, Umar Al Khattab R.A mendalami dan mengamalkan Surah Al Baqarah selama 12 tahun.

      Berikutan itu, Umar kerap bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai RasulAllah, adakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al Baqarah, jika belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya”.

      Begitu jugalah yang berlaku kepada Ibn Umar, beliau turut berusaha menjadi seorang yang faqih (faham) setiap petikan ayat di dalam Surah Al Baqarah selama 8 tahun.

      Terdapat hadith riwayat Imam Bukhari yang menceritakan perihal penceramah yang ‘cakap tidak serupa bikin’, mafhumnya, “Dicampak seseorang ke dalam api neraka pada hari kiamat. Maka dia diikat seperti ikatan keldai. Dia berpusing-pusing seperti keldai mengikut arah ikatan tersebut. Lantas ahli neraka yang lain mengerumuninya lalu bertanya: Mengapa kamu jadi begini? Bukankah dahulu kamu yang menyeru kami perkara kebaikan dan melarang kami dari perkara kemungkaran? Lalu dijawab: Memang aku yang menyeru kalian agar berbuat perkara kebaikan tapi aku tidak melaksanakannya, dan aku melarang kalian dari melakukan perkara kemungkaran tapi aku yang melaksanakannya.”

      Berdasarkan pengamatan penulis tentang buku – Tazkirah ad Du’at – penulis boleh menyimpulkan bahawa Syeikh Al Bahi Al Khauly sedikit kecewa dengan keghairahan sesetengah golongan yang bersungguh ingin menjadi penceramah sehingga lupa matlamat asal, iaitu tanggungjawab menyeru ke jalan Allah. Mereka yang menggalas tanggungjawab sebagai penceramah hendaklah benar-benar memfokuskan penglibatannya sebagai peluang untuknya menyeru kepada Islam, bukannya menagih populariti agar ia tidak dilihat sebagai pencemaran terhadap kemuliaan dakwah Islamiyyah.

      Apa yang ingin disampaikan di sini adalah agar kita semua menjadi pendakwah yang terarah meneruskan perjuangan Baginda Nabi saw. Jalan dakwah Baginda bukanlah jalan yang mudah, jalan yang dihemburkan dengan bunga-bunga pujian, jalan yang dibentangkan dengan permaidani merah, tetapi jalan Baginda penuh dengan liku dan tarbiyah dari Allah Taala.

      [Penulis: Ustaz Abdul Mu’izz bin Muhammad mendapat pendidikan di Universiti Al Azhar, Fakulti Syariah Islamiyah di Kaherah. Anak muda bersemangat waja ini berasal dari Kajang dan kini memangku jawatan sebagai Ketua Akademi Tarbiyah Pemuda Parti Islam SeMalaysia (PAS) Kawasan Klang. Beliau banyak menulis buku-buku ilmiah antaranya berjudul "Khilaf : Prinsip dan Disiplin"].

      6 July 2013 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | , | Leave a comment

      Anda pengemar Sushi dan Sake?

       

      Kita di fahamkan bahawa Sushi adalah sejenis makanan Jepun yang bersumber dari hasilan laut .Tetapi satu perkara yang mungkin ramai umat Islam tidak tahu ialah di antara bahan yang perlu untuk membuat nya ialah sejenis arak tradisional masyarakat Jepun yang di panggil Sake.

      Maka dalam Islam boleh lah kita kategorikan Sushi sebagai makanan yang SUBHAH.Mungkin ianya halal dan mungkin haram.

      Rasulullah SAW bersabda maksudnya: “….sesiapa menjaga dirinya daripada segala yang subhah itu, maka sesungguhnya ia memelihara agama dan kehormatan dirinya.Dan sesiapa terjatuh dalam perkara subhah, kemungkinan ia terjatuh ke dalam yang haram seperti seorang pengembala yang mengembala di sekeliling kawasan larangan, maka di khuatiri binatang binatang ternakannya akan masuk (dan makan rumput) di dalam kawasan larangan itu.Ketahuilah! Sesungguhnya bagi setiap raja ada kawasan larangan dan kawasan larangan Allah ialah segala yang diharamkan olehnya.” (HR Bukhari & Muslim).

      Justeru, bagi peminat jika ingin juga makan Sushi carilah restoran yang ada sijil HALAL JAKIM supaya dengan itu bukan sahaja kita dapat menjamah makanan kegemaran kita itu.Lebih jauh daripada itu kita dapat mengelakkan dari memakan makanan yang subhah atau haram.

      4 July 2013 Posted by | Informasi | , | Leave a comment

      Kalimat “AMIN”

      Dalam Kitab al-Qaulu Tam fi Ahkam al- Makmum wal-Imam karangan Ibnu Imad menyebut bahawasanya bagi kalimat “AMIIN” selepas al Fatihah ada beberapa makna, di antaranya:-

      1. Ya Allah, perkenankan doa kami!
      2. Jangan lah Engkau hampakan kami
      3. Kami datang kepada Mu kerana tujuan berdoa kepada Mu, dan kami berharap kepada Mu janganlah hampakan harapan kami.
      4. Satu nama daripada nama nama Allah kerana apabila seseorang yang bersolat berkata  “Amin”  maka seolah olah dia berkata, “Ya Allah kurniakanlah hidayah kepada kami!”
      5. Materi (pengikat) bagi doa dan dicapkan diatasnya seperti mana dicapkan diatas sesuatu supaya memeliharanya.Seolah olah orang yang berdoa itu mengecapkan doanya dengan cap “AMIN” supaya terpelihara amalannya daripada syaitan.
      6. Satu perbendaharaan yang dikurniakan kepada orang yang mengucapkannya.
      7. Satu isim (nama) yang diminta turun bersamanya Rahmat.

      [Sumber: Q & A Bil 08 Okt 2012]

      4 July 2013 Posted by | Informasi | Leave a comment

      Sifat Redha

         

        1) Sifat redha adalah daripada sifat makrifah dan mahabbah kepada Allah s.w.t.

        2) Pengertian redha ialah menerima dengan rasa senang dengan apa yang diberikan oleh Allah s.w.t. baik berupa peraturan ( hukum ) mahupun qada’ atau sesuatu ketentuan daripada Allah s.w.t.

        3) Redha terhadap Allah s.w.t terbahagi kepada dua :

      • Redha menerima peraturan ( hukum ) Allah s.w.t. yang dibebankan kepada manusia.

      • Redha menerima ketentuan Allah s.w.t. tentang nasib yang mengenai diri.

        • Redha Menerima hukum Allah s.w.t. :

          Redha menerima hukum-hukum Allah s.w.t. adalah merupakan manifestasi daripada kesempurnaan iman, kemuliaan taqwa dan kepatuhan kepada Allah s.w.t. kerana menerima peraturan-peraturan itu dengan segala senang hati dan tidak merasa terpaksa atau dipaksa.

          Merasa tunduk dan patuh dengan segala kelapangan dada bahkan dengan gembira dan senang menerima syariat yang digariskan oleh Allah s.w.t. dan Rasulnya adalah memancar dari mahabbah kerana cinta kepada Allah s.w.t. dan inilah tanda keimanan yang murni serta tulus ikhlas kepadaNya.

          Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :

          " Tetapi tidak ! Demi Tuhanmu, mereka tidak dipandang beriman hingga mereka menjadikanmu ( Muhammad ) hakim dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak merasa sempit dalam hati mereka tentang apa yang engkau putuskan serta mereka menyerah dengan bersungguh – sungguh ". ( Surah An-Nisaa’ : Ayat 65 )

          Dan firman Allah s.w.t yang bermaksud :

          " Dan alangkah baiknya jika mereka redha dengan apa yang Allah dan Rasulnya berikan kepada mereka sambil mereka berkata : ‘ Cukuplah Allah bagi kami , Ia dan Rasulnya akan berikan pada kami kurnianya ,Sesungguhnya pada Allah kami menuju ".

          ( Surah At Taubah : Ayat 59 )

          Pada dasarnya segala perintah-perintah Allah s.w.t. baik yang wajib mahupun yang Sunnah ,hendaklah dikerjakan dengan senang hati dan redha. Demikian juga dengan larangan-larangan Allah s.w.t. hendaklah dijauhi dengan lapang dada .

          Itulah sifat redha dengan hukum-hukum Allah s.w.t. Redha itu bertentangan dengan sifat dan sikap orang-orang munafik atau kafir yang benci dan sempit dadanya menerima hukum-hukum Allah s.w.t.

          Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :

          " Yang demikian itu kerana sesungguhnya mereka ( yang munafik ) berkata kepada orang-orang yang di benci terhadap apa-apa yang diturunkan oleh Allah s.w.t. ‘Kami akan tuntut kamu dalam sebahagian urusan kamu ‘,Tetapi Allah mengetahui rahsia mereka ". ( Surah Muhammad : Ayat 26 )

          Andaikata mereka ikut beribadah, bersedekah atau mengerjakan sembahyang maka ibadah itu mereka melakukannya dengan tidak redha dan bersifat pura-pura. Demikianlah gambaran perbandingan antara hati yang penuh redha dan yang tidak redha menerima hukum Allah s.w.t. , yang mana hati yang redha itu adalah buah daripada kemurnian iman dan yang tidak redha itu adalah gejala nifaq.

          Redha Dengan Qada’ :

          Redha dengan qada’ iaitu merasa menerima ketentuan nasib yang telah ditentukan Allah s.w.t baik berupa nikmat mahupun berupa musibah ( malapetaka ). Didalam hadis diungkapkan bahawa di antara orang yang pertama memasuki syurga ialah mereka yang suka memuji Allah s.w.t. . iaitu mereka memuji Allah ( bertahmid ) baik dalam keadaan yang susah mahupun di dalam keadaan senang.

          Diberitakan Rasulullah s.a.w. apabila memperolehi kegembiraan Baginda berkata :

          " Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya menjadi sempurnalah kebaikan ".

          Dan apabila kedatangan perkara yang tidak menyenangkan , Baginda mengucapkan :

          " Segala puji bagi Allah atas segala perkara ".

          Perintah redha menerima ketentuan nasib daripada Allah s.w.t. dijelaskan didalam hadis Baginda yang lain yang bermaksud :

          " Dan jika sesuatu kesusahan mengenaimu janganlah engkau berkata : jika aku telah berbuat begini dan begitu, begini dan begitulah jadinya. Melainkan hendakalah kamu katakan : Allah telah mentaqdirkan dan apa yang ia suka , ia perbuat ! " Kerana sesungguhnya perkataan : andaikata… itu memberi peluang pada syaitan " . (Riwayat Muslim)

          Sikap redha dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah s.w.t. Ketika mendapat kesenangan atau sesuatu yang tidak menyenangkan bersandar kepada dua pengertian :

          Pertama : Bertitik tolak dari pengertian bahawa sesungguhnya Allah s.w.t. memastikan terjadinya hal itu sebagai yang layak bagi Dirinya kerana bagi Dialah sebaik-baik Pencipta. Dialah Yang Maha Bijaksana atas segala sesuatu.

          Kedua : Bersandar kepada pengertian bahawa ketentuan dan pilihan Allah s.w.t. itulah yang paling baik , dibandingkan dengan pilihan dan kehendak peribadi yang berkaitan dengan diri sendiri.

          Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :

          " Demi Allah yang jiwaku ditangannya !Tidaklah Allah memutuskan sesuatu ketentuan bagi seorang mukmin melainkan mengandungi kebaikan baginya. Dan tiadalah kebaikan itu kecuali bagi mukmin . Jika ia memperolehi kegembiraan dia berterima kasih bererti kebaikan baginya , dan jika ia ditimpa kesulitan dia bersabar bererti kebaikan baginya ".

          ( Riwayat Muslim )

          [Sumber: JAKIM]

          4 July 2013 Posted by | Tasauf | , | Leave a comment

          Khauf

           

          1. Khauf bererti takut akan Allah s.w.t., iaitu rasa gementar dan rasa gerun akan kekuatan dan kebesaran Allah s.w.t. serta takutkan kemurkaanNya dengan mengerjakan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya.

          2. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : "Dan kepada Akulah ( Allah ) sahaja hendaklah kamu merasa gerun dan takut bukan kepada sesuatu yang lain".

          ( Surah Al-Baqarah – Ayat 40 )

          3. Seseorang itu tidak akan merasai takut kepada Allah s.w.t. jika tidak mengenalNya. Mengenal Allah s.w.t. ialah dengan mengetahui akan sifat-sifat ketuhanan dan sifat -sifat kesempurnaan bagi zatNya.

          4. Seseorang itu juga hendaklah mengetahui segala perkara yang disuruh dan segala perkara yang ditegah oleh agama.

          5. Dengan mengenal Allah s.w.t. dan mengetahui segala perintah dan laranganNya, maka seseorang itu akan dapat merasai takut kepada Allah s.w.t.

          6. Rasa takut dan gerun kepada Allah s.w.t. akan menghindarkan seseorang itu daripada melakukan perkara yang ditegah oleh Allah s.w.t. dan seterusnya patuh dan tekun mengerjakan perkara yang disuruhnya dengan hati yang khusyuk dan ikhlas.

           

          [Rujukan: JAKIM]

          4 July 2013 Posted by | Tasauf | | Leave a comment

          Pengertian Ilmu Tasawwuf (Tasauf)

          Ilmu tasauf ialah ilmu yang menyuluh perjalanan seseorang mukmin di dalam membersihkan hati dengan sifat-sifat mahmudah atau sifat-sifat yang mulia dan menghindari atau menjauhkan diri daripada sifat-sifat mazmumah iaitu yang keji dan tercela .

          2. Ilmu tasawwuf bertujuan mendidik nafsu dan akal supaya sentiasa berada di dalam landasan dan peraturan hukum syariat Islam yang sebenar sehingga mencapai taraf nafsu mutmainnah .

          3. Syarat-syarat untuk mencapai taraf nafsu mutmainah:

          a) Banyak bersabar .

          b) Banyak menderita yang di alami oleh jiwa .

          4. Imam Al-Ghazali r.a. telah menggariskan sepuluh sifat Mahmudah / terpuji di dalam kitab Arbain Fi Usuluddin iaitu :

          1) Taubat .

          2) Khauf ( Takut )

          3) Zuhud

          4) Sabar.

          5) Syukur.

          6) Ikhlas.

          7) Tawakkal.

          8) Mahabbah ( Kasih Sayang )

          9) Redha.

          10) Zikrul Maut ( Mengingati Mati )

          5. Dan Imam Al-Ghazali juga telah menggariskan sepuluh sifat Mazmumah / tercela / sifat keji di dalam kitab tersebut iaitu :

          1) Banyak Makan

          2) Banyak bercakap.

          3) Marah.

          4) Hasad.

          5) Bakhil.

          6) Cintakan kemegahan.

          7) Cintakan dunia .

          8) Bangga Diri.

          9) Ujub ( Hairan Diri ).

          10) Riya’ ( Menunjuk-nunjuk ).

          [Rujukan: JAKIM]

          4 July 2013 Posted by | Tasauf | Leave a comment

             

          %d bloggers like this: