Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

ORANG MUNAFIK LEBIH BERBAHAYA DARI ORANG KAFIR

Pertanyaan.

Orang kafir ingkar kepada Allah, sedangkan orang munafik per­caya adanya Allah. Tapi mengapa umat Islam sepakat bahawa orang munafik lebih berbahaya terhadap Islam dibanding orang kafir?

Jawab:

Orang kafir akan terang-terangan memusuhi Islam. Me­reka tidak lagi sembunyi, dalam melawan secara berhadapan.. Orang munafik, mengaku Islam, tetapi secara diam-diam ia memusuhi Islam dan Ulama-Ulama yang menyampaikan Islam. Orang munafik ada dua pedang. Pedang yang satu dipergunakan membela agama, sedang yang satu lagi di­pakai untuk menikam umat Islam. Pedang yang pertama pasif, sedang pedang kedua aktif. Dia akan aktif jika punya kesem­patan untuk “menggunting dalam lipatan” atau menikam dari belakang.

Allah SWT dalam menghadapi orang beriman cukup mem­beri pegangan dua ayat saja. Menghadapi permasalahan orang kafir dengan dua ayat juga. Tetapi dalam menghadapi orang munafik disediakan tiga belas ayat di dalam Surah al-Baqarah.

Lapangan nifak luas sekali. Di bidang politik, agama, kewartawanan, pemikir, pegawai, pengusaha, seniman, olahraga dan di mana-mana tercium bau munafik. Apabila agama dan dakwah digu­nakan sebagai jembatan untuk memperoleh kedudukan dan mencari harta, di situlah terdapat kemunafikan.

Sumber: Anda Bertanya Islam Menjawab Karya Prof. Dr. Asy Syeikh Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi

29 May 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

FITNAH KEMUNAFIKAN

Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)

Agama Islam adalah agama yang mengajari keindahan. Saat Nabi Muhammad SAW merintis persatuan dan kebersamaan di dalam komunitas kaum muslimin. Beliau menawarkan kepada orang-orang di luar Islam untuk hidup dengan tenang bersama kaum muslimin. Maka dibuatlah perjanjian dan kesepakatan untuk hidup berdampingan dengan agama yang berbeda beda.

Bagi Nabi Muhammad SAW hal ini tidak menghawatirkan kaum muslimin sebab keberadaan mereka sangat bisa dikenali dengan simbol-simbol keagamaan mereka dan pengakuan mereka dari semula yang berbeda dengan kaum muslimin. Dan di saat terjadi pengkhianatan dari orang-orang di luar Islam tersebut akan dengan mudah Rasulullah SAW membuat suatu peringatan atau teguran kepada mereka.

Akan tetapi akan menjadi rumit permasalahannya jika hal itu telah ada campur tangan orang-orang yang seolah mengikuti Rasulullah SAW akan tetapi mereka lebih dekat dengan orang di luar Islam. Mereka itu adalah orang-orang munafik yang secara dzohir sholat bersama Rasulullah SAW di siang hari akan tetapi jika malam tiba mereka berkumpul dengan orang-orang kafir.

Ada pertanda yang amat jelas pada orang orang munafik tersebut, yaitu di saat umat Islam terlukai dan dibohongi mereka seolah–olah tidak tahu atau bahkan malah memancing di air keruh, Sehingga keberadaannya benar-benar bagai duri di dalam daging bagi muslimin.

Untuk memperkuat fitnah yang dihembuskan mereka akan membungkus kejahatan dengan berbagai sampul indah beraroma Islam namun di dalamnya adalah segala kebusukan. Diantara yang di jadikan pembungkus fitnah saat itu adalah masjid. Orang-orang munafik membangun masjid dengan tujuan memecah belah umat Islam. Dan pembangunan masjid ini dibantu oleh orang-orang diluar Islam (Yahudi saat itu) yang sangat dendam dengan kaum muslimin. Mereka dengan sangat mudah membantu orang-orang munafik untuk membangun masjid. Dan benar, dari masjid ini tersebar fitnah diantara kaum muslimin. Hal itu sangat difahami oleh orang-orang pilihan seperti Rasulullah SAW dan para shahabat setia beliau. Maka dengan tegas Rasulullah SAW memerintahkan agar menghancurkan masjid yang dibangun oleh orang munafik bersama orang yahudi ini. Itulah masjid Dhiror, masjid yang penuh fitnah yang membahayakan.

Yang terjadi di zaman Rasulullah SAW ini akan terus terulang-ulang hingga ahli iman masuk surga dan orang munafik dan orang kafir masuk neraka. Dan di zaman ini pun tidak lepas dari orang-orang beriman yang senantiasa memperjuangkan agama Allah menghadapi orang–orang kafir . Begitu juga ada ahli fitnah yang berkedok Islam namun sepak terjangnya selalu merugikan kaum musliman.

Ada sekelompok orang yang mereka itu keluar dari agama Islam karena mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Dan nabi palsu tersebut mengatakan dengan tegas bahwa yang tidak beriman kepadanya adalah tergolong orang kafir dan belum bisa disebut sebagai orang Islam.

Di saat seperti ini orang-orang pilihan Allah akan segera faham akan kekafiran ini. Maka terlihat di wajah mereka kasih sayang kepada kaum muslimin. Tidak rela jika ada kaum muslimin yang terjerumus dalam akidah kafir ini. Maka mereka terus berusaha untuk menghentikan kekafiran agar tidak menjangkit kaum muslimin.

Akan tetapi di saat itu juga muncul orang-orang munafik yang di saat kaum muslimin dianiaya dii beberapa wilayah Indonesia mereka tidak tergerak untuk menolong mereka. Akan tetapi di saat ada gerakan dari ahli Iman untuk menghentikan kebohongan orang kafir yang berkedok Islam itu, orang-orang munafik ini bangkit membela kebathilan dan menentang bahkan dengan terang–terangan mengadakan permusuhan kepada kaum muslimin demi membela kekafiran. Tidak beda ciri-ciri orang munafik ini dengan apa yang ada di zaman Rasulullah SAW, yaitu membuat proyek fitnah yang berkedok Islam, hanya bentuknya saja yang berbeda. Jika di zaman Rasulullah SAW mereka membuat masjid fitnah, kalau di zaman ini mereka membuat kelompok dan jaringan Islam yang penuh dengan fitnah. Dan yang membiayai pun tidak beda dengan apa yang ada di zaman Rasulullah SAW yaitu musuh-musuh Islam. Muatan jaringan dan perkumpulan ini adalah memfitnah dan merendahkan Islam yang dikemas dengan kajian-kajian keislaman. Dan bisa disaksikan, setiap yang bergabung dengan perkumpulan ini akan lebih senang membela orang di luar Islam daripada membela orang Islam. Semoga Allah menjaga Iman kita semua.

Wallahu a’lam bishshowab.

3 February 2015 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | , | Leave a comment

Jangan cepat melabel buruk dan tuduhan berat kepada seseorang

Cari salah orang aje
Masyarakat kita perlu dididik agar TIDAK CEPAT menuduh seseorang yang berbeza dengannya dengan tuduhan yang berat seperti Kafir, Liberal, Syirik, Bid’ah, Wahhabi, Ahbash, Khawarij, Sesat, Mujassim, Munafiq, Hina Islam, Persenda hukum, cabar Allah swt, Hina Nabi s.a.w dan yang sepertinya TANPA punyai bukti jelas.

Malah jika ada bukti pun, masih sangat perlu meneliti konteks percakapan, perbuatan dan tulisan itu.

Bukan itu sahaja, malah perlu juga meneliti faktor kesilapan tidak sengaja seperti salah cetak, tersalah tulis, tersalah catat, media tersalah quote dan mungkin hasil kurang ilmu & kefahaman dan bukan sengaja ingin berniat jahat.

Kebodohan itu tidak aib jika mereka sanggup belajar TETAPI si bijak yang mencerca si bodoh itulah sangat aib.

Masyarakat yang mudah melabel dan menuduh dengan tuduhan berat pasti akan sentiasa hidup dalam stress. Hari ini kita boleh menuduh seseorang dan bergembira dengan ‘label buruk’ itu, kelak nanti pasti ‘label buruk’ yang lain pula menimpa kita..tatkala itu akan dirasakan pedihnya.

Sukar dibayangkan bagaimana seorang yang mengaku ilmuwan atau pendakwah ke arah Islam, kebenaran dna kebaikan tetapi sangat mudah membuat gelaran membenci, mengutuk, menghina. bagiaman mereka nak menarik mad’u kepada mereka dengan sifat itu???

Banyak sungguh dalil dalam hal ini, cuma tidak mahu memanjangkan status ini. Lihatlah ayat Al-Hujurat ayat 11. dan juga hadis nabi

Sahabat-sahabat yang dikasihi, Rasulullah bersabda :

ادرؤوا الحدود عن المسلمين ما استطعتم فإن كان له مخرج فخلوا سبيله , فإن الإمام أن يخطئ في العفو خير من أن يخطئ في العقوبة

Ertinya : Tolaklah (wahai hakim) pensabitan hukum hudud dari muslimin selagi kamu mampu, sekiranya di sana terdapat jalan keluar maka bebaskanlah dia, kerana sesungguhnya seorang pemimpin yang tersilap dalam memberikan kemaafan (tidak jatuh hukuman), LEBIH BAIK dari yang tersilap (dalam mengenakan hukuman kepada yang tidak bersalah)” (Riwayat Ibn Majah, kitab al-Hudud, no 5004, At-Tirmizi, kitab al-Hudud, no 1424)

Bayangkan tindakan Umar al-Khattab :

أتي عمر رضي الله عنه بامرأة قد حملت فادّعت أنها أكرهت فخلى سبيلها

Ertinya : Pernah dibawakan kepada Umar Al-Khattab seorang wanita yang mengandung tanpa nikah, wanita tersebut mendakwa ia dipaksa (dirogol) maka Umar terus membebaskan wanita terbabit (dari hukuman hudud) ( Riwayat Al-Baihaqi, 8/235)

Imam Ibn Qudamah pula menjelaskan terdapat yang mentakwilkan wanita tersebut hamil bukan disebabkan zina dan persetubuhan tetapi adalah disebabkan dimasukkan mani lelaki tersebut ke dalam kemaluannya. (Al-Mughni, 1/193)

Semuanya ini sepatutnya memberikan kefahaman kepada para ustaz/ah, ilmuan dan ramai agar jangan tergesa-gesa melabel, men‘cop’ dan menganggap seseorang yang berbeza pendapat dengannya.

Dr Zaharuddin Abd Rahman
Presiden MURSHID

23 October 2014 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | , , , , , , , | Leave a comment

Munafik – Bercakap bohong, mungkir janji…

 

ISTILAH munafik, pastinya bukanlah sesuatu yang baru di dalam masyarakat Islam. Banyak terdapat ayat-ayat al-Quran dan hadis yang berkaitan dengan bahayanya sifat munafik ini.

Firman Allah s.w.t.: Di antara orang-orang Badwi yang ada di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka melampau dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami seksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (at-Taubah: 101)

Namun, masih kurang di kalangan umat Islam khususnya, yang berusaha menghayati, memahami serta prihatin terhadap ancaman yang berpunca daripada ciri-ciri golongan munafik ini.

Menurut Timbalan Dekan (Hal Ehwal Pelajar), Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Prof. Datuk Dr. Mohammed Yusoff Hussain, munafik atau nifaq adalah perkataan yang berasal daripada bahasa Arab.

“Dari segi bahasa, munafik membawa maksud berpura-pura. Manakala dari segi istilahnya, nifaq atau munafik ini bermakna golongan yang berpura-pura menjadi Islam atau bergelar Muslim tetapi sebenarnya tindakan, perkataan dan perbuatan mereka adalah bertujuan meruntuhkan Islam,” terang bekas Mufti Wilayah Persekutuan ini secara ringkas akan pengertian munafik sebagai pembuka bicara, petang itu.

Tambah Mohammed Yusoff, pada zaman Rasulullah s.a.w., golongan munafik ini mendapat sokongan dari luar seperti kaum Musyrikin.

Menyedari tindakan dari luar tidak berkesan, maka taktik untuk merosakkan perpaduan umat Islam melalui jalan dalam digunakan, iaitu berpura-pura seperti seorang Muslim tetapi dalam masa yang sama menikam dari belakang.

“Golongan munafik ini begitu licik sehinggakan keakraban yang wujud antara mereka dengan orang Islam yang tulen, menyebabkan orang-orang Islam yang berpegang di jalan yang benar, menganggap golongan munafik ini sebagai sebahagian daripada mereka.

Mengaburi

“Ini dibuktikan melalui kisah kesungguhan golongan munafik ini mendirikan sebuah masjid baru bagi mengaburi penglihatan umat Islam pada masa itu,” katanya antara salah satu langkah awal cara golongan munafik ini mempengaruhi dan memperoleh kepercayaan umat Islam, sebelum meneruskan misi meracuni pemikiran mereka.

Malah jelas beliau, golongan munafik ini semakin terserlah pada zaman Abu Bakar apabila mereka ingkar membayar zakat.

“Satu contoh kemunafikan yang paling terang berlaku pada zaman pemerintahan para sahabat, Abdullah bin Saba’ iaitu seorang munafik yang terkenal.

“Abdullah memfitnah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib hanya kerana dia tidak menerima kepimpinan dua sahabat Nabi,” kata tokoh agama yang berpengalaman ini.

Yang pastinya, ujar Mohammed Yusoff, matlamat golongan sebegini ialah untuk menggoncangkan keyakinan umat Islam, orang yang baru memeluk agama Islam dan mereka yang masih belum kukuh keyakinannya kepada agama Islam.

Tambah beliau lagi, pada zaman pemerintahan Rasulullah s.a.w., baginda tidak menguar-uarkan kemunafikan golongan ini kerana tidak mahu menimbulkan suasana huru-hara dari segi hubungan kemanusiaan.

“Ini menunjukkan kepada kita bahawa bukan mudah untuk menghadapi golongan munafik, dan Nabi sendiripun tidak dapat menghadapinya secara terang-terangan kerana dibimbangi tindakan baginda dieksploitasi oleh golongan munafik sehingga boleh menjatuhkan imej Rasulullah s.a.w. sendiri kerana dituduh tidak mempercayai atau berprasangka buruk terhadap para sahabat,” terang Mohammed Yusoff yang ditemui di pejabatnya, baru-baru ini.

Malah akui beliau, golongan munafik ini lebih sukar dihadapi daripada musuh yang sebenar. Golongan ini diumpamakan seperti musuh di dalam selimut.

Subversif

Jelas beliau lagi, golongan munafik ini dalam istilah moden boleh disebut golongan subversif ataupun merosakkan dari dalam.

Menjelaskan sifat munafik yang telah disebutkan oleh Rasulullah s.a.w.: Sesiapa yang mempunyai tiga perkara ini, maka dia adalah seorang munafik walaupun dia berpuasa, sembahyang, menunaikan haji, umrah dan mengatakan dirinya seorang Muslim.

Para sahabat bertanya, “Apakah tiga perkara ini?” Jawab baginda: Iaitu apabila bercakap dia berbohong, apabila berjanji dia tidak menepati janjinya dan apabila diberi amanah dia mengkhianatinya. (Riwayat Muslim)

Namun pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Mohammed Yusoff menjelaskan, hadis kedua ini memberikan tambahan kepada tanda-tanda orang munafik iaitu: Empat sifat, sesiapa yang bersifat dengannya bererti dia seorang munafik yang nyata, dan siapa yang mempunyai salah satu daripada sifat-sifat itu bererti dia mempunyai satu sifat munafik sehingga dia meninggalkan sifat itu.

Sifat tersebut ialah: Apabila bercakap dia berdusta, apabila berjanji dia memungkiri janjinya, apabila diberi amanah dia mengkhianatinya dan apabila berbalah (bertengkar) dia melampaui batas.

Namun, tegas beliau, ini adalah ciri-ciri yang umum. Hakikatnya, di dalam dunia yang moden ini ciri-ciri tersebut hanya menjadi panduan.

Antara ciri-ciri lain yang boleh dikategorikan dalam persoalan munafik, jelas Muhammad Yusoff ialah:

1. Mereka yang bercakap tentang Islam tetapi menyimpan niat buruk untuk menghancurkan Islam.

Mereka mendabik dada mengakui mereka memperjuangkan Islam tetapi apa yang dilakukan itu sebaliknya meruntuhkan Islam.

2.Bercakap perkara yang menimbulkan keraguan umat Islam terhadap ajaran Islam.

3.Golongan yang bertindak mengadu domba umat Islam berpandukan kepada tafsiran-tafsiran tentang ajaran Islam. Bagi yang berkeyakinan mereka akan berbalahan antara satu sama lain.

Contohnya, mengatakan bahawa sesuatu ajaran Islam itu hanya untuk satu golongan sahaja, sedangkan ia adalah ajaran Islam yang universal.

4.Bercakap tentang Islam tetapi sebenarnya meniru argumentasi musuh Islam yang jelas.

Misalnya bercakap tentang Islam tetapi menggunakan pandangan orientalis. Sedangkan kita ketahui bahawa golongan Orientalis adalah musuh Islam.

Golongan ini memang menolak pandangan ulama, pejabat agama kerana menganggap golongan ini kolot dan banyak lagi pandangan negatif.

“Ini boleh dikategorikan semi-munafik kerana membelakangkan mereka yang pakar dalam sesuatu bidang itu.

“Contohnya, sekiranya kita hendak membina rumah, tentunya kita meminta pandangan daripada pakar yang berkaitan bukannya meminta pandangan daripada orang agama,” seloroh beliau.

Terang Mohammed Yusoff lagi, apa yang berlaku dalam masyarakat kini ialah golongan yang kononnya mengembangkan Islam dan mengubah pemikiran rakyat tetapi tidak berpunca daripada kitab yang muktabar dan tidak berdasarkan hadis.

Konteks

Kalaupun berdasarkan al-Quran dan hadis, tetapi tidak melihat dua sumber ini dalam konteksnya atau secara menyeluruh atau daripada sudut pandangan golongan lain.

“Di dalam pekerjaan misalnya, kita telah diamanahkan memegang sesuatu tugas tidak kiralah jawatan besar mahupun kecil, di sisi Allah s.w.t. adalah sama. Di dunia, besar jawatan dan tugas imbuhannya dilihat pada sumber pendapatan.

“Allah tidak melihat pada gaji tetapi Allah melihat apabila seseorang itu menerima amanah tidak kira kecil atau besar, ia mestilah ditunaikan.

“Gaji bukan ukuran Allah tetapi sifat amanah seseorang hamba, itulah yang utama di sisi Allah,” terang beliau.

Senario sekarang ulas Mohammed Yusoff, ramai di kalangan umat Islam yang tidak takut diri memiliki ciri-ciri munafik.

“Ini kerana, dosa dan pahala itu boleh dikompromi. Contohnya rasuah, waktu mula-mula berkerja, dia sanggup melafazkan aku janji yang dikira amanah yang terpikul di bahu tetapi apabila bekerja kita sanggup melakukan pembohongan, mencuri masa kerja dan pelbagai lagi.

“Dari segi istilah, ini sudah dikira munafik. Lebih-lebih lagi, kesalahan tersebut dilakukan secara terang-terangan seperti penipuan, rasuah, menggelapkan duit syarikat dan banyak lagi,” katanya sifat munafik ini, mampu merosakkan institusi kekeluargaan, masyarakat, sekali gus melumpuhkan sistem pemerintahan sesebuah negara itu.

(Oleh ZUARIDA MOHYIN)

Artikel Penuh: http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2005&dt=0624&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm#ixzz32PaKdN2u

22 May 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

Meninggalkan perintah Fasiq dan Munafiq

Munafiq Alim

Seorang wanita datang kepada Hasan al-Basri ra seraya berkata, “Sesungguhnya aku punya anak gadis yang telah meninggal. Aku ingin agar bermimpi berjumpa dengannya. Ajarkan aku sesuatu padaku agar aku dapat bermimpi berjumpa dengannya.” Kemudian Hasan mengajarinya sesuatu. Maka wanita itu lalu bermimpi melihat anak gadisnya memakai pakaian aspal. Di lehernya ada rantai membelenggu. Serta kakinya pun diikat. Kemudian dengan rasa sedih dia menceritakan hal itu kepada Hasan. Setelah selang beberapa lama, Hasan bermimpi bertemu gadis itu di Syurga.

Di kepalanya memakai mahkota. Gadis itu bertanya, “Wahai Hasan, akulah anak gadis wanita yang datang kepadamu, dan mengatakan demikian..Apakah engkau tidak mengenaliku?” Lalu Hasan berkata, “Apa yang menyebabkanmu berubah seperti apa yang aku lihat ini?” Gadis itu berkata, “Ada seorang lelaki melalui kami. Dia membaca selawat kepada Nabi SAW sekali. Sedang dalam kubur ada lima ratus lima puluh orang sedang diseksa.

Kemudian ada suara berkata, “Wahai angkatlah mereka seksaan berkat selawat lelaki itu!” Berkat selawat kepada Nabi SAW sekali saja, mereka diampuni. Maka bagaimana dengan seseorang yang membaca selawat sejak lima puluh tahun, apakah tidak mendapatkan syafaar Nabi di hari Kiamat?”

Firman Allah:

Ertinya: “Orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, sesetengahnya serupa dengan yang lain. Mereka menyuruh yang mungkar dan melarang memperbuat yang makhruf, mereka menggenggam tangannya (bakhil). Mereka melupakan Allah dan Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu ialah orang-orang yang fasik. Allah telah menjanjikan Neraka Jahanam untuk orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan dan orang-orang kafir serta kekal di dalamnya. Itu cukup (untuk balasannya), Allah mengutuki mereka, dan untuk mereka seksaan yang abadi.”

Maka Rasulullah segera bertanya lagi, “Mengapa engkau tidak menceritakan penduduk pintu ketujuh?” Lalu Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, janganlah engkau bertanya kepadaku tentang itu.” “Ceritakanlah kepadaku.” desak Nabi. Kemudian Jibril berkata: “Di situlah tempat orang-orang sombong dari umatmu yang mati sebelum bertaubat.”

Kredit: Khilafah

20 April 2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

   

%d bloggers like this: