Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Terdesak membela rakan kafir dalam isu Kalimah ALLAH sesama Islam jadi tegang

>

Nampaknya sehingga ke hari ini isu penggunaan kalimah Allah masih belum reda. Bezanya, perkembangan mutakhir menyaksikan wujudnya ketegangan bukan di antara penganut Islam dan Kristian, tetapi di kalangan sesama Islam sendiri. 
Sesetengah pihak begitu ekstrem berpegang kepada pendapat masing-masing.Orang Islam di kalangan Ulama, pemimpin politik, dan rakyat semuanya bertelagah di antara satu sama lain.Masing masing menuduh pendapat dan pandangan orang lain tidak betul,sehingga ikatan ukhuwah sesama Islam yang sedia longgar terus menjadi bertambah longgar dan semakin terurai kerananya. 
Perkembangan ini amat menyedihkan, di mana isu kalimah Allah kini telah bertukar menjadi satu ‘tragedi’ buat umat Islam di Malaysia.Sedangkan masyarakat kristian tenang dan terus bersatu dan bekerja menyebarkan dakwah mereka.
Pemimpin pemimpin politik biasalah, walaupun tidak mahir dalam bidang agama,memang tidak ketinggalan mengambil kesempatan mempengaruhi pemikiran rakyat melalui isu ini bertujuan untuk menjatuhkan lawan masing masing.  Tindakkan mereka telah memesongkan pemikiran rakyat jauh dari kebenaran demi untuk keuntungan dan kepentingan politik mereka.
                                                                                                             
Pemimpin pemimpin politik sentiasa macam kena rasuk, rasa diri pakar 
dalam segala bidang termasuk bidang agama?

29 January 2010 Posted by | Aqidah, Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Video | 4 Comments

Jawapan Professor Al-Attas mengenai penggunaan kalimah Allah oleh bukan Islam

>

Prof Syed Muhammad Naquib al Attas
 

On December 13, 2009, during the Worldview of Islam Seminar organized by the Assembly of Muslim Intellectuals or Himpunan Keilmuan Muda (HAKIM), there was a question being posted to Professor Al-Attas regarding the polemical usage of the word “Allah” by the non-Muslims.

Below is the transcript of his brief-but-yet- concise enlightening remarks. As a word of caution, though, one must not only rely on this brief transcript alone to understand the whole spectrum of Prof. Al-Attas’ view about this theological matter. Further thorough elucidation of his thought can be found in numerous works of this great Muslim scholar of this age, such as Prolegomena to the Metaphysics of Islam, Islam and Secularism, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu and A Commentary on Hujjat al-Siddiq of Nur al-Din al-Raniri

Question: The using of kalimah “Allah” by other people in this country Answers by Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas:

Well I have been talking about this long time ago. I remember about this in ISTAC, when we first established ourselves (late 80’s and early 90’s), I think the Arcbishop of Penang was asking this question. And I have answered that.

And then we had a meeting with the Archbishop of Kuala Lumpur and about all the representatives of Christianity, including the ministers, we had a meeting at ISTAC.
And I said, “Why you want to use the word ‘Allah’ for yourself?” They said “we going to pray in Bahasa Malaysia”

That’s the way they put it. So my answers to them, “Why you have to change praying into Bahasa Malaysia. You have been praying in English all the time. Why suddenly change into Bahasa Malaysia?”

Ok, so they said they want to change so that it more patriotic. Then in that case I’m saying that “why don’t you use Tuhan while praying in Bahasa Malaysia? Because you are talking about God isn’t it?…God is not just a name…”Allah” is a name of this Being whom you called God… and in fact a Being whom even higher than what you called to be God”

And then I said, ” …and “Allah” is not from Bahasa Malaysia. It is not a national language. It belongs to the language of Muslim all over the world. Therefore your argument using this for the word “Allah” does not fit into your idea of God. Because “Allah” does not have a son, It is not
one of three (Trinity), that is why out of respect to Allah we can’t allow you to use this.

But when we Muslim, when we write in English we say God, or when we talk to people we say God but we mean “Allah”…but they cannot say when they speak about God it means “Allah” as they don’t mean it.

So in this particular respect, we have to be clear about this, not was-was (hesitate).. .whomever responsible in our governing, they have to be clear about this and to explain to others.

We agree you want to use God, then use Tuhan as we also use that…but we understand in the Malay language that Tuhan is not a translation of Allah..that is why we say “tiada Tuhan melainkan Allah” not “tiada Tuhan melainkan Tuhan”. We don’t say “there is not God but God”..at least the ulama’ among the Muslim Malays, we understand what is the meaning of that
(word “Allah”).

So “Allah” cannot be translated as no language has translated Allah. The Arabs themselves they only use that after Islam..although the word existed (before)..the Christians Arab they also did not use Allah (in theological, epistemological and ontological sense in the same manner as the
Muslim)..if they say that it is just a language..they talking about language..because they say “Allah” like the Muslim when they (melatah)…

So it appears they want to do that in order to confuse the Muslim into thinking that all the same..that is why I say one of the problems about religion is the nature of God..about who Allah is..that is why in Arkanul Iman (The Pillars of Faith), the first thing is “amana billah”.

“Who is this Allah?” and that need to be explain at higher institution in a proper way… So we have answer the question. It is not proper to allow them using this, since they asking us and there is no point bringing this to court since this is not a matter of court to decide it whether they have the freedom to use it or not. It is up to the Muslims.

But then if they used it and said “in Indonesia they have use it, why can’t we?”…but it is because of the Muslims..if Muslims don’t care they will go on and use it..and in Indonesia they are using not only that, other things they even call it “choir” as “selawat”. Choir is not a “selawat”, as “selawat” is for Prophet..it’s not singing hymn..

And they also talk about…in Indonesia they are also confuse..Muslims.that is why this thing happen. Sometimes the language when you come across English words like “Prophet of Doom” in Indonesia they said “Nabi celaka”. How can there be “Nabi celaka”? What is meant by the “Prophet of Doom” is…even the word Prophet in English does not mean “Nabi” only…it means “yang meramalkan malapetaka”..that what it means…so the “Prophet of Doom” means “yang meramalkan malapetaka”, not “Nabi celaka”.

They (the Muslims in Indonesia) seem not to bother about this. What we can say is that ultimately well they say “God is not Allah”…well if you want to use the word God, we are saying we also use the word God, we refer to Allah as we know and we are not saying that your God ultimately will not refer to Allah. You can’t run away from Allah.

You can only escape Him and so in the Qur’an (surah An-Naas) says: “Qul aAAoothu birabbi annas, Maliki annas, Ilahi annas”. He (Allah) is saying ” I am the real Ilah (God) of naas (mankind)”, although mankind (non-Muslim)does not interpret it that way.

28 January 2010 Posted by | Articles in English, Berita dan Isu Semasa | Leave a comment

>KALIMAH ALLAH : BUKAN BERMAKNA ‘GOD’ SEMATA-MATA

>

Umum mengetahui, sensitiviti umat Islam amat tersentuh apabila kalimah Allah seakan dipermainkan. Kalimah Allah yang termaktub berulang kali di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah itu sesuatu yang tidak pernah dipertikaikan oleh umat Islam. Ia digelar sebagai ism al-zat iaitu kata nama yang melambangkan secara langsung zat Allah SWT yang Maha Agung.

Ibn Qayyim al-Jauziyyah mengatakan bahawa nama Allah itu bersifat menyeluruh. Oleh itu dengan nama tersebut disandarkan seluruh nama-nama-Nya (al-Asma’ al-Husna) yang lain. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam surah al-A‘raf ayat 180: “Dan bagi Allah, nama-nama yang Maha Baik”.

Bagaimanapun, tidak dinafikan sesetengah agama juga mendakwa kalimah Allah sebagai panggilan kepada nama tuhan mereka. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru dan mengejutkan di dalam agama Islam. Malah al-Qur’an sendiri pernah merakamkan konflik ini sebagai iktibar dan pengajaran buat umat Islam dan bukan Islam.

Sebagai contoh, ketika surah al-Ikhlas diturunkan, ia membicarakan soal konflik tentang siapakah sebenarnya Allah yang dituturkan oleh agama-agama lain itu. Adakah ia tepat dan benar dengan konsep “Allah” sebagaimana yang digelar dan dipanggil oleh mereka?

Imam Ibn Kathir menukilkan kata-kata ‘Ikrimah tentang perihal turunnya ayat ini. Berkata ‘Ikrimah: “Ketika orang Yahudi mengatakan: Kami menyembah ‘Uzair anak Allah. Orang Nasrani mengatakan: Kami menyembah al-Masih anak Allah. Majusi pula mengatakan: Kami menyembah matahari dan bulan. Orang musyrikin pula mengatakan: Kami menyembah berhala. Lalu Allah SWT menurunkan ke atas Rasulullah SAW surah al-Ikhlas yang bermaksud: Katakanlah wahai Muhammad bahawa Allah itu Esa, Allah itu tempat bergantung segala makhluk-Nya, Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan dan Allah itu tiada bagi-Nya sekutu”.

Tidak mengira apa jua agama, sekiranya mereka tidak mengerti dan mengenal siapa itu Allah? Apakah makna sebenar di sebalik nama itu? Jika itu semua tidak diketahui dan dimengerti, maka mereka sekali-kali tidak layak untuk menggunakan kalimah Allah.

Bagi membincangkan lebih lanjut isu ini, penulis bentangkan di sini hujjah-hujjah yang menjelaskan apakah sebenarnya hakikat kalimah Allah SWT menurut pemikiran dan aqidah Islam. Apakah signifikannya Allah SWT menjadikan kalimah tersebut sebagai merujuk kepada zat-Nya Yang Maha Agung?

Kalimah Allah menurut satu pendapat yang lemah ialah kata nama yang kaku (jamid). Iaitu bukan berbentuk kata terbitan yang berasal daripada kata dasar tertentu. Ini kerana sesuatu kata terbitan mesti mempunyai akar perkataannya yang tertentu. Sedangkan nama Allah SWT itu bersifat sediakala (qadim). Qadim pula
ialah sesuatu yang tidak mempunyai unsur asas atau asal. Ia menyerupai kesemua kata-kata nama khas yang tidak mempunyai asal tertentu serta tidak mempunyai sebarang maksud di sebalik penamaannya.

Bagaimanapun pendapat yang benar, kata nama Allah itu ialah kata terbitan yang mempunyai kata dasar tertentu. Namun para ulama berbeza pandangan tentang asal kalimah Allah tersebut. Pendapat yang tepat ia berasal daripada kalimah alahaya’lahu- uluhatan-ilahatan-ilahiyyatan .Ia membawa maksud ‘abada-‘ibadatan iaitu menyembah dan penyembahan. Daripada timbangan (wazan) ini lahirnya kalimah ilah yang bermaksud ma’luh iaitu “yang disembah” (ma‘bud).

Berasaskan pendapat ini, Ibn ‘Abbas r.a. pernah berkata: “Allah yang memiliki (sifat) ketuhanan (al-ilahiyyah) dan kehambaan (al-‘ubudiyyah) ke atas seluruh makhluk-Nya”.

Di kalangan ahli nahu Arab termasyhur juga berpandangan sedemikian. Misalnya al- Kisa’i dan al-Farra’ mengatakan kalimah Allah itu berasal daripada kata al-ilah.Kemudian mereka membuang huruf hamzah dan menggabungkan (idgham) huruf lam yang pertama ke dalam huruf lam yang kedua. Kemudian terbentuk satu lam yang disabdukan (tasydid) dan dibaca dengan tebal dan berat.

Ibn Qayyim al-Jauziyyah pula berkata: “Yang benar, kalimah Allah ialah kata yang mempunyai asal, di mana asal katanya ialah al-ilah. Ini sebagaimana pendapat ahli bahasa terkenal Sibawaih dan majoriti sahabatnya kecuali beberapa orang yang berpendapat meragukan (tanpa sebarang asas). Lafaz Allah mencakup seluruh
makna al-Asma’ al-Husna dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi.

Orang yang mengatakan bahawa ia adalah kata terbitan, mereka mahu menunjukkan kalimah Allah itu mengandungi makna sifat bagi Allah SWT. Iaitu alilahiyyah (ketuhanan) sebagaimana al-Asma’ al-Husna yang lainnya seperti al-Basir (Maha Melihat), al-Sami‘ (Maha Mendengar), al-Qadir (Maha Berkuasa), al-‘Alim (Maha Mengetahui) dan sebagainya.

Tidak diragukan lagi bahawa nama-nama ini merupakan terbitan daripada kata dasarnya sedangkan nama-nama tersebut kekal bersifat qadim. Maksud nama-nama tersebut ialah kata terbitan, iaitu dari segi lafaz dan maknanya yang bertemu dengan kata-kata dasarnya. Bukan bererti nama atau sifat itu lahir seumpama lahirnya cabang daripada asal. Penamaan ahli nahu terhadap kata dasar dan kata terbitan itu dengan asal dan cabang bukan bermaksud salah satu daripada keduanya lahir daripada yang lain, tetapi ia memberi makna salah satu daripada keduanya mengandungi yang lain malah terdapat penambahan”.

Abu Ja’far ibn Jarir pula mengatakan: “Lafaz Allah itu berasal daripada kata al-ilah. Kemudian hamzahnya yang merupakan fa’ al-ism (iaitu sebutan dalam ilmu saraf bagi hamzah yang ada pada kata ilah, kerana wazan atau timbangan kata ilah adalah fi‘alun) digugurkan atau dibuang. Kemudian huruf lam yang merupakan ‘ain al-ism bertemu dengan lam tambahan yang barisnya mati, lalu masing-masing digabungkan kepada yang lain.

Maka kedua-duanya menjadi satu lam yang disabdukan. Manakala takwilan (tafsiran) kalimah Allah pula ianya berasaskan apa yang diriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas r.a. bahawa “Dia lah (Allah) yang mempertuhankan-Nya segala sesuatu (ya’lahuhu kullu syai’in), dan yang disembahi oleh seluruh makhluk (ya‘buduhu kullu khalqin)”.

Diriwayatkan juga sebuah hadith daripada Abu Sa‘id secara marfu‘: “Bahawa Isa diserahkan oleh ibunya kepada seorang pengajar agar dapat mengajarnya menulis. Lalu si pengajar berkata kepadanya: Tulislah dengan nama Allah. Isa berkata: Tahukah kamu siapa itu Allah? Allah ialah Tuhan bagi segala yang dipertuhankan”.

Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam menerangkan keistimewaan nama Allah menyebut: “Nama yang mulia ini memiliki sepuluh karakteristik lafaz…tentang karateristik maknawinya, makhluk Allah yang paling berilmu, iaitu Rasulullah SAW bersabda: Aku tidak dapat memuji Engkau sepenuh dan sesempurna yang semestinya. Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu (selesai sabda).

Ibn Qayyim kemudiannya menjelaskan lagi bahawa penamaan Allah itu menunjukkan bahawa Dia (Allah) adalah sebagai Yang dipertuhankan dan disembah. Dipertuhankan oleh semua makhluk dengan penuh kecintaan, pengagungan, ketundukan dan berlindung kepada-Nya dalam semua hajat dan musibah yang menimpa.

Inilah sebenarnya maksud di sebalik kalimah Allah SWT. Ia bukanlah satu kalimah yang sekadar menjadi sebutan atau seruan atau panggilan bagi tuhan semata-mata.

Sebaliknya ia merupakan nama yang melambangkan aqidah atau agama bagi orang yang menggunakannya. Oleh itu penggunaannya amat wajar dipantau dan dipelihara oleh  pihak berkuasa demi memastikan tiada sesiapa yang terkeliru dengan nama Yang Maha Agung itu.

Sumber: JAKIM

27 January 2010 Posted by | Berita dan Isu Semasa | Leave a comment

>"ALLAH": BUKAN BAHASA BIBLE

>

Isu berkenaan tuntutan pihak Kristian terhadap kerajaan Malaysia untuk membenarkan mereka menggunakan kalimah Allah bagi tujuan penerbitan bahan bercetak mereka masih lagi hangat diperkatakan. (Rujuk The Sun,Ruangan Herald The Catholic Weekly )

Pihak yang menuntut mendakwa bahawa kalimah Allah ialah terjemahan dari bahasa Inggeris yang mengunakan kalimah God di dalam bible Versi English mereka.

Sekiranya tuntutan ini dipenuhi kita akan melihat di dalam bible Kristiana ayat-ayat berbunyi seperti berikut:-

“Engkau adalah Messias anak Allah yang hidup “ ( Matius 16 : 16 )

“..Kerana ia telah berkata :Aku adalah anak Allah.” ( Matius 27 : 43 )

“ Kasih kurnia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, bapa kita dan dari Tuhan Yesus ( Jesus )

Kristus. (Galatia 1 : 3 )

Serta banyak lagi ayat-ayat lain yang tidak perlu diperincikan di sini.

Jelasnya, dalam menangani isu ini, kita perlu merujuk kembali kepada fakta sebenar. Iaitu, apakah bahasa asal penulisan kitab Taurat dan Holy Bible?

Berdasarkan fakta, bahasa asal kitab Taurat adalah bahasa Hebrew manakala bahasa yang digunakan bagi penulisan kitab Holy Bible ialah bahasa Greek. Kalimah tuhan dalam bahasa Hebrew ialah El, Eloh, Elohim dan juga Yahweh. Ini dapat diperhatikan menerusi Perjanjian Baru, di dalam The Gospel of St. Matthew bab 27 : 46 yang menyebut : Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli,Eli, lama sabakhtani?”Ertinya: Allah-Ku, Allah-Ku,mengapa Engkau meninggalkan Aku ?”

Manakala di dalam bahasa Greek pula perkataan yang membawa maksud tuhan ialah Theos. Orang-orang Rom yang menyembah Tuhan yang disepakati oleh mereka sebagai Tuhan yang sebenar memanggil Tuhan ini
sebagai Hotheos. Manakala sekiranya ada di kalangan mereka yang menyembah Tuhan palsu, mereka akan memanggil Tuhan tersebut sebagai Tontheos.

Perhatikan! Bagi kedua-dua bahasa yang dijadikan penulisan bagi kedua-dua kitab suci ini, tidak terdapat satu pun yang menyebut kalimah Allah Sesetengah sarjana Kristian menyatakan bahawa alasan yang paling kukuh bagi mereka untuk dibenarkan penggunaan kalimah Allah ialah berdasarkan penggunan kalimah Allah di dalam kitab Bible versi Arabic.

Sememangnya diakui kalimah Allah digunapakai di dalam Bible berbahasa Arab. Bible versi bahasa Arab tidak dikenali sebagai Holy Bible tetapi Alkitab Al-Muqaddas. Begitu juga Bible berbahasa Melayu yang
menggunakan nama yang sama? Di dalam terjemahan Bible bahasa Melayu mereka menamakannya sebagai Al-kitab berita baik.*

Perlu dinyatakan bahawa kalimah Allah wujud di dalam Bible bahasa Arab adalah kerana sesetengah Kristian Arab (seperti Syria, Mesir dan lain-lain) yang wujud sebelum kedatangan Islam meyakini konsep Unity (Keesaan Allah). Ia berbeza sama sekali dengan konsep Trinity (tiga dalam satu) sepertimana doktrin kebanyakan Kristian pada hari ini termasuk mereka yang terlibat dengan tuntutan isu kalimah Allah ini.

Maka hujah yang dijadikan sandaran sebagai alasan untuk membenarkan mereka menggunakan kalimah Allah ini adalah tidak masuk akal kerana golongan Kristian Trinity sendiri mengkafirkan golongan Kristian Unity.

Terdapat juga sarjana mereka yang menyatakan bahawa kekeliruan tidak akan sekali-kali timbul jika penggunaan kalimah ini dibenarkan kerana kalimah Allah yang hendak digunakan tersebut adalah merujuk kepada penterjemahan dari kalimah God dalam Bible bahasa Inggeris sedangkan kalimah Tuhan adalah terjemahan dari kalimah Lord.

Pandangan mereka ini juga mengelirukan malah bertentangan dengan apa yang dinyatakan dalam Bible mereka. Persoalannya, apakah perbezaan antara Allah dan Tuhan dalam agama Kristian?

Sekiranya mereka mendakwa bahawa Tuhan adalah merujuk kepada Nabi Isa sedangkan Allah adalah merujuk kepada Tuhan Bapa di dalam syurga maka mereka perlu mengetahui bahawa ayat yang akan dinyatakan di bawah ini membuktikan bahawa kalimah Tuhan dan Allah adalah dua perkataan  yang merujuk hanya kepada Allah sahaja! Perhatikan di dalam The Gospel Of St. Mark 12:29 menyebut :
Jawab Jesus : “Hukum yang terutama ialah : Dengarlah wahai Bani Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan Yang Esa”

Saya bertanya kepada orang-orang Kristian, siapakah Tuhan Yang Esa yang dimaksudkan di dalam ayat di atas? Adakah Nabi Isa? Tidak! Lafaz Tuhan yang dimaksudkan di atas adalah merujuk kepada Allah semata-mata.

Sekali lagi bertentangan dengan apa yang telah dinyatakan oleh sarjana ereka bahawa kalimah Lord (Tuhan) di dalam Bible adalah merujuk kepada Nabi Isa!

Sekiranya mereka berhujah dengan menyatakan bahawa dalil yang paling jelas menunjukkan kalimah Tuhan adalah merujuk kepada Nabi Isa sedangkan kalimah Allah adalah merujuk kepada Tuhan Bapa, iaitu seperti
dinyatakan di dalam The Gospel Of St.Matius 16:22 yang menyebut :

Tetapi Petrus menarik Jesus ke samping dan menegur Dia, katanya :“Tuhan, (Jesus) semoga Allah (Tuhan Bapa) menjauhkan hal itu”.

Maka mereka perlu menyelesaikan dahulu percanggahan di antara kedua ayat yang telah dinyatakan tadi. Sama ada Tuhan itu adalah Nabi Isa sahaja ataupun Tuhan juga adalah Allah!

Di samping itu, kita juga tidak lupa untuk menyeru agar mereka memerhatikan kata-kata Jesus sendiri terhadap keesaan Allah. Perhatikan The Gospel Of St.John 20:17 yang menyebut :
Kata Jesus kepadanya: Janganlah engkau memegang aku, sebab aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka bahawa sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu,AllahKu dan Allahmu.”

Dalam The Gospel Of St. Matthew 22:37 :menyebut : Jawab Jesus kepadanya: “ Kasihilah Tuhan Allahmu denganegenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap akal budimu.

Dalam erti kata lain Nabi Isa bukannya Allah ataupun Tuhan Yang Maha Berkuasa kerana Nabi Isa sendiri menyatakan bahawa Tuhan yang sebenar ialah Allah!

Kesimpulannya, larangan terhadap penggunaan kalimah Allah yang diwartakan menerusi keputusan kabinet yang bersidang pada 16 Mei 1986 adalah amat wajar. Empat perkataan dikhususkan hanya buat umat Islam dan sama sekali tidak dibenarkan penggunaannya oleh Non Muslim iaitu Allah, Solat, Kaabah dan Baitullah. Sesetengah negeri pula contohnya selangor, telah menambah lagi beberapa perkataan yang dianggap mengelirukan sekiranya digunakan oleh Non Muslim.

Jelaslah di sini kewajaran kerajaan Malaysia melarang penggunaan kalimah Allah digunakan oleh Non Muslim yang bertujuan untuk mengelakkan kekeliruan di kalangan masyarakat apabila terminologi yang tidak tepat digunakan oleh mereka yang mempunyai kepentingan tertentu.

Sumber: JAKIM

27 January 2010 Posted by | Berita dan Isu Semasa | Leave a comment

>Pejuang Islam gagal tunjuk ciri Islam

>Nik Aziz terkejut pemimpin Pas gagal tunjuk ciri Islam

Oleh Khairul Anuar Abdul Samad

KOTA BHARU: Mursyidul Am Pas, Datuk Nik Aziz Nik Mat, terkejut dengan sikap sebilangan pemimpin parti itu di Kelantan yang gagal menunjukkan ciri keislaman seperti yang dilaungkan parti.

Beliau berkata, dalam satu pertemuan dengan pemimpin Pas baru-baru ini, beliau ada mengedarkan borang mengandungi soalan mengenai kekerapan mereka dalam mengerjakan solat secara berjemaah, dhuha dan tahajjud.

“Dalam pertemuan dengan pemimpin Pas peringkat pertengahan itu, saya beri borang yang mengandungi soalan berikut iaitu kalau sembahyang jemaah, berapa kali dalam sehari; dhuha berapa kali dalam seminggu dan tahajjud berapa kali dalam sebulan.

“Jawapan yang diterima amat memeranjatkan, tidak sedap nyawa (sesak nafas), keadaannya seolah-olah menunjukkan ia tidak ada sebarang perubahan yang berlaku (dalam mengembangkan syiar Islam) di kalangan pemimpin Pas itu.

“Dalam lebih 200 orang terbabit dalam soal selidik itu, yang sembahyang jemaah ialah antara 14 atau 15 orang saja berbuat demikian; sembahyang dhuha jumlahnya rendah dan sembahyang tahajjud, lagi rendah,” katanya.

Beliau yang juga Menteri Besar berkata demikian ketika merasmikan majlis penyampaian amanat dan angkat sumpah pelantikan penghulu negeri Kelantan 2010/2011, di Balai Islam, dekat sini, hari ini.

Hadir sama Timbalannya yang juga Pengerusi Jawatankuasa Penasihat Penghulu Kelantan, Datuk Ahmad Yakob. Dalam majlis itu seramai 758 penghulu dilantik bagi sesi 2010 hingga 2011 membabitkan 14 kawasan parlimen negeri ini.

Nik Aziz berkata, sebagai pemimpin masyarakat serta membawa perjuangan Islam, mereka seharusnya menunjukkan tauladan kepada masyarakat dengan memimpin umat Islam di kawasan mereka, khususnya dalam mengerjakan solat.

“Apabila didapati pemimpin yang memperjuang Islam tidak dapat melaksanakan tugas bercirikan Islam, ia sudah tentu memberi pandangan buruk kepada pihak terbabit selain parti,” katanya.

26 January 2010 Posted by | Politik dan Dakwah | 10 Comments

>KEPUTUSAN MAJLIS FATWA KEBANGSAAN BERKAITAN PENGGUNAAN KALIMAH ALLAH

>1. Perkataan Allah yang digunakan oleh umat Islam adalah merujuk kepada Allah Yang Maha Esa dan lafaz Allah yang telah digunakan oleh orang-orang Kristian adalah merujuk kepada ‘Tuhan Bapa’ iaitu salah satu oknum daripada akidah triniti. Ia berbeza sama sekali dengan apa yang dimaksudkan oleh Reverend Datuk Murphy Pakiam, Archbishop of Kuala Lumpur bahawa perkataan Allah telah lama digunakan oleh orang-orang Kristian sejak sebelum kedatangan Rasulullah s.a.w. Selain daripada itu, lafaz Allah juga tidak pernah disebut di dalam teks bahasa Greek yang merupakan bahasa asal penulisan Bible. Ini adalah kerana perkataan Tuhan di dalam bahasa Greek adalah ‘Theos’ bukannya Allah.

2. Perkataan Allah juga tidak pernah terdapat di dalam bahasa asal Perjanjian Lama yang dikenali sebagai Taurat dan Perjanjian Baru yang dikenali sebagai Bible. Ini adalah kerana Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Hebrew manakala Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Greek. Perkataan Hebrew yang membawa maksud Tuhan ialah El, Eloh, Elohim dan juga Yhwh.

3. Kalimah Allah Lafz al-Jalalah adalah khusus dan mutlak untuk agama Islam dan mafhumnya berbeza dengan mafhum Allah yang digunakan oleh agama lain seperti Kristian.

4. Perintah mahkamah yang dipohon oleh Catholic Herald Weekly untuk mengisytiharkan bahawa larangan penggunaan kalimah Allah yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri adalah bercanggah dengan Perlembagaan Persekutuan dan bukan eksklusif kepada agama Islam boleh memberi kesan yang besar kepada kedudukan agama Islam sekiranya orang Islam sendiri tidak peka dan perhatian yang sewajarnya tidak diberikan oleh pihak berkuasa agama di negara ini.

5. Walaupun dari segi sejarah kalimah Allah telah digunakan sejak sebelum kedatangan Islam lagi, namun penggunaannya adalah berbeza dan perlu dilihat dari segi substancenya. Kalimah Allah yang digunakan oleh Kristian adalah bersifat Taslis dan syirik, sedangkan bagi Islam ia bersifat tauhid.

6. Kalimah Allah merupakan lafaz suci yang perlu dijaga dan berkait dengan akidah. Umat Islam perlu peka dan bertanggungjawab dalam isu ini. Sikap membenarkan sesiapa sahaja menggunakan kalimah tersebut semata-mata untuk menunjukkan bahawa Islam meraikan agama lain hanya akan mendatangkan mudharat yang lebih besar kepada agama dan umat Islam.

7. Umat Islam perlu tegas dalam menjaga kesucian dan identiti agama kerana bersikap terlalu terbuka sehingga membenarkan perkara-perkara yang menjadi hak Islam disalahgunakan oleh agama lain adalah amat merbahaya kerana matlamat utama Kristian menggunakan kalimah Allah adalah untuk mengelirukan umat Islam dan menyatakan bahawa semua agama adalah sama.

8. Kalimah Allah sebenarnya tidak ada di dalam Bible, yang digunakan ialah perkataan God. Tetapi di dalam Bible yang diterjemahkan ke bahasa Melayu, perkataan God diterjemahkan sebagai Allah.

9. Isu penggunaan kalimah Allah oleh agama bukan Islam ini melibatkan isu berkaitan Siasah Syar’iyyah dan Kerajaan wajib menjaga kesucian agama dan umat Islam. Fatwa perlu dikeluarkan oleh Jawatankuasa Fatwa Negeri supaya kesucian agama dan akidah umat Islam dapat dipertahankan.

10.Pertimbangan Jawatankuasa dalam melarang penggunaan kalimah Allah oleh agama bukan Islam bukan hanya dilihat dari aspek keselamatan, tetapi faktor utama adalah berasaskan kepada akidah dan kesucian agama Islam.

11.Dalam keadaan di mana agama dan umat Islam dihimpit dengan pelbagai gerakan yang cuba menghakis kedaulatan Islam sebagai agama rasmi negara, umat Islam perlu bersatu dan menunjukkan ketegasan dalam menjaga maruah agama.

12.Larangan terhadap penggunaan kalimah Allah ini telah diputuskan oleh Jemaah Menteri pada 16 Mei 1986 yang memutuskan empat (4) perkataan khusus iaitu Allah, Solat, Kaabah dan Baitullah tidak dibenarkan penggunaannya oleh bukan Islam. Pada masa ini terdapat 10 buah negeri telah memperuntukan larangan penggunaan kalimah Allah dalam Jadual kepada Enakmen Kawalan Dan Sekatan Pengembangan Agama Bukan Islam Kepada Orang Islam kecuali Sabah, Sarawak, Pulau Pinang dan Wilayah Persekutuan yang masih dalam proses menggubal Enakmen ini.
 
KEPUTUSAN :

1. Setelah meneliti keterangan, hujah-hujah dan pandangan yang dikemukakan, Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa Lafaz Allah merupakan kalimah suci yang khusus bagi agama dan umat Islam dan ia tidak boleh digunakan atau disamakan dengan agama-agama bukan Islam yang lain.

2. Oleh itu, wajib bagi umat Islam menjaganya dengan cara yang terbaik dan sekiranya terdapat unsur-unsur penghinaan atau penyalahgunaan terhadap kalimah tersebut, maka ia perlu disekat mengikut peruntukan undang-undang yang telah termaktub dalam Perlembagaan Persekutuan.
 
(Bil. Muzakarah : Kali Ke-82
Tarikh : 5 Hingga 7 Mei 2008
Tempat : Holiday Villa Hotel & Suites, Alor Star, Kedah)

18 January 2010 Posted by | Fatwa | 1 Comment

>ISU KALIMAH ALLAH – NAK KE MALAYSIA KITA JADI MACAM NI?

>Penggunaan nama Allah oleh non muslim di Indonesia.
Kiriman: Fadzil@yahoo.com

Just nak kongsi pengalaman sepanjang lebih 5 tahun tinggal dan belajar di Indonesia. Saya tidak berniat memburukkan Indonesia.. They have my respect, dan saya tahu orang2 Indonesia tidak seburuk yang disangkakan di sini… (orang Indonesia baik dan ramah, pintar dan rajin.. that’s a fact!)

Pengalaman ini saya kongsi supaya orang ramai boleh tahu dan membayangkan implikasinya jika penggunaan nama Allah oleh non-muslim dibiarkan. Di satu sisi memang agak lucu, tapi di sisi lain terdapat keseriusan di dalamnya

Aku ingat satu hari aku bukak TV perdana dia pastu tengok satu program.. Aku ingat ceramah agama lah.. dia punya penceramah punya semangat berkobar2.. “Kita semua sudah berdosa! Allah Maha Kuasa! Allah Maha Penyayang! Kembalilah kita semua ke jalan Allah! (aku dalam hati, Alhamdulillah. . bagus!) pastu tak pasal2 dia sambung “Kembalilah ke Yesus Kristus dan Bunda Maryam!” aku langsung tergolek…. astaghfirullah! ceramah Kristian rupanya..

Satu lagi kenangan aku kat Indonesia, kalo baca surat khabar sana nanti ada slot obituaries: “Telah Kembali ke Rahmat Allah, Sdr. XXX pada XXX Semoga ruh beliau dicucuri rahmat Allah” Bila tengok balik nama yang mati Eduardus, Kristus, Paulus, etc. (nama org Kristian) pastu ada salib diikuti tulisan kecik “ash to ash, dust to dust, fade to black”… tergolek lagi aku.. wakakaka…

Satu lagi cerita aku kat Indonesia, satu hari aku ‘bermusafir’ lah ke daerah Jawa Barat naik motor, pastu nak berhentilah solat.. aku toleh ke kiri kanan jalan cari masjid.. Pastu aku nampak ada signboard kalimah Allah (dlm arab!) pastu ada banner “Ayuh kerjakan kewajipan kita kepada Allah dan agamanya!” aku pun pergilah dekat.. tup2 aik, awat lain macam tempat ni, siap ada patung jesus kena salib??!! Tergolek lagi aku.. lah.. gereja Kristian rupenye..

Satu lagi kat sana nak beli buku-buku agama kena hati-hati.. Aku dulu pernah ‘usha’ buku kat kedai buku.. Ada satu buku aku tak ingat persis tapi tajuk buku dia lebih kurang camni: “Memantapkan Iman Anda Kepada Allah” bila bukak2 browsing per helai aku start confuse, amacam lain macam aje ayat2 dan hadis dia.. Aku tengok balik lah.. ayat2 kutipan dari Bible.. tergolek aku lagi… lah, buku dakwah Kristian rupanya..

risau gak klu jadi camni kat mesia

di tengah tengah bandar Bandung juga terdapat sebuah geraja yg dinamakan “Rumah Allah”…mcm mcm lagi isu akan timbul lepas ni selagi Malaysia mengamalkan demokrasi-sekular .

18 January 2010 Posted by | Politik dan Dakwah | 7 Comments

>ISTILAH "ALLAH" DI PERJUANGKAN, KENAPA HUKUM NYA DI PINGGIRKAN?

>

Setahu saya ,sejak dari dulu hingga sekarang pihak Kristian di Malaysia tidak pernah menggunakan perkataan ‘Allah’ sebagai Tuhan, baik di dalam kitab mahupun penulisan atau ceramah rasmi mereka, tetapi mereka menggunakan perkataan ‘God’.

Pengakuan seorang Hajah di dalam rancangan “Pendapat Rakyat” di radio Ikim.fm baru baru ini menguatkan lagi kenyataan saya di atas.Hajah ini mengaku dia adalah seorang bekas penganut agama kristian katolik tulen di Sabah.Dia memeluk agama Islam sejak 40 tahun yang lalu.Kehendak Tuhan, dia dapat hidayah dan taufiq Islam ketika berada dalam upacara agama di dalam gereja tempat dia selalu “sembahyang”.Menurut kata nya lagi dalam apa jua upacara agama yang dia pernah hadiri, di gereja atau di mana mana memang tidak pernah paderi sebut kalimah  “Allah” sebagai Tuhan melainkan kalimah “God”.Kitab Bible atau Injil sudah habis di baca namun tidak ada satu kalimah “Allah” pun tercatit di dalam nya.Maka dia menasihati umat Islam di Malaysia agar berhati hati dengan agenda pihak kristian bermati mati mahu menggunakan kalimah “Allah”.

Lantas apakah agenda mereka kali ini sebenarnya? Tidak mustahil bahawa ini merupakan usaha terbaru mereka untuk mendakwahkan agama Kristian di kalangan orang Islam. ‘God’ diterjemah kepada ‘Allah’ supaya mudah difahami oleh anak-anak muda yang pastinya akan menolak sekiranya Nabi Isa dikatakan sebagai Tuhan. Hakikatnya, apa yang perlu disedari dan diperangi adalah keseluruhan dakyah Kristian itu sendiri, bukannya terperangkap dengan isu istilah yang mereka gunakan. Kita perlu bertanya kepada pihak yang bertanggungjawab apakah langkah yang mereka laksanakan untuk memantapkan dan menjaga akidah umat Islam? Dan juga kita perlu tanya soalan yang sama terhadap diri sendiri dan keluarga yang kita pimpin? Apakah jalan yang kita tempuh apabila kita melihat para pendakwah Kristian giat menarik anak-anak muda ke agama Kristian? Apa pula tindakan kita dan pemerintah ke atas kes-kes murtad yang semakin bertambah?

Kita memang yakin bahawa golongan Kristian dan Yahudi tidak akan henti-henti cuba menyesatkan umat Islam. Allah telah pun mengingatkan kita tentang perangai dua golongan kaum kafir ini. Ratusan tahun lamanya mereka berjuang melalui serangan missionari dan juga orientalis untuk menjatuhkan Islam dari dalam. Setelah ratusan tahun berusaha, mereka akhirnya berjaya melemahkan dan menghancurkan umat Islam. Sistem Khilafah Islam pun berjaya mereka runtuhkan. Sejak itu hingga kini, usaha mereka masih tetap berterusan. Namun perlu diingat bahawa usaha jahat mereka sering mencapai kejayaan kerana lemahnya akidah umat Islam itu sendiri, dan kelemahan pemerintah dalam memertabatkan Islam 

Sekiranya akidah umat Islam itu lemah, tetapi jika sistem yang berjalan adalah sistem Islam, maka sistem ini akan dengan sendirinya menjaga akidah umat melalui penerapan hukum Islam yang syumul.

Tetapi, dengan penerapan sistem sekular yang memisahkan agama dari kehidupan, maka para pemerintah dan penyokongnya lah yang telah mempermudahkan laluan puak  ini untuk menyebarkan dakyah sesat mereka ke atas umat Islam. Apa tidaknya, mereka (pemerintah) telah ‘menyediakan’ satu sistem demokrasi yang diambil dari Barat, mereka juga menyediakan mahkamah sekular dengan undang-undang sekular, malah kadang-kadang hakim sekular atau jika hakim itu beragama Islam sekalipun, ‘kepala’nya di penuhi atau di “mind set” dengan pemikiran dan hukum sekular kufur.

Semua ini telah mempermudahkan apa sahaja agenda jahat musuh ke atas umat Islam.

Rujukan: HTM

10 January 2010 Posted by | Politik dan Dakwah | 5 Comments

Isu Kalimah ALLAH, mengapa salahkan musuh?

 

Seminggu dua minggu ini di akhbar Arus Perdana, stesyen T.V tempatan malah berlebih lagi di internet hampir kebanyakan blogger politik pasti membincangkan berita sensasi berkaitan penggunaan kalimah ‘Allah’ oleh penganut Kristian di Malaysia.

Ada di kalangan ulama kita yang menyokong dan ada di kalangan ulama yang menentang. Ustaz Harun Din , Ustaz Zaharuddin dan juga Ustaz Zamihan menentang penggunaan kalimah ‘Allah’ oleh penganut Kristian di Malaysia. Manakala Ustaz Asri Zanul Abidin mantan Mufti Negeri Perlis serta beberapa orang ustaz-ustaz aliran Salafi Wahabi pula menyokong penggunaan kalimah ‘Allah’. Masyarakat awam jadi keliru, rata-rata memperkatakannya di masjid dan surau juga tidak ketinggalan di kuliah-kuliah di setiap masjid dan surau pasti isu ini disentuh oleh penceramah-penceramah agama. Malah di warung-warung kopi juga tidak ketinggalan memperkatakannya. Yang jelas orang awam menjadi keliru. Yang mana satu yang benar dan yang mana satu yang tepat?

Karkun-karkun yang biasanya tidak menyentuh persoalan politik semasa namun turut juga terheret memperkatakan isu yang sensitif ini. Yang menyedihkan ada di kalangan penulis blog politik Tanah Air turut mengutuk ulama yang tidak sefaham dengan pandangan mereka. Sebagai contoh ada di kalangan ustaz juga salah seorang penulis blog mengutuk Ustaz Harun Din dengan digelar sebagai ‘Ulama Kepala Lutut’. Ini amat menyedihkan gara-gara kalimat ‘Allah’, ulama telah dihina sebegitu rupa. Ringkasnya kita bertengkar dan bergaduh sesama Islam sedang pihak Kristian ke hulu ke hilir memikirkan bagaimana dakyah mereka boleh sampai kesasaran masyarakat Melayu Islam di Malaysia.

Di dalam kesibukan kita bercakaran sesama sendiri, mereka masuk kelorong-lorong sekitar taman-taman perumahan melihat bagaimana strategi mereka terhasil. Beberapa hari yang lalu sekumpulan beberapa orang asing yang berwajah ‘Mat Salih’ beserta beberapa orang lelaki dan perempuan tempatan (Cina dan India) dengan pakaian seperti ‘Nun’ masuk ke taman perumahan sekitar Senawang ,Seremban berjalan ke lorong-lorong yang tidak diketahui maksudnya. Namun gelagat mereka mencurigakan penduduk setempat. Apakah ini sebahagian daripada perancangan strategi mereka?

Ini lah yang menyedihkan. Kita masih lagi sibuk berdemontrasi dan berceragah namun disebaliknya pihak musuh memasang strategi tersembunyi. Di dalam situasi kemerosotan iman di kalangan masyarakat kita dengan berbagai kejadian trajis yang saban waktu terpapar di akhbar tempatan. Remaja-remaja yang telah runtuh akhlak dan moral dengan berbagai maksiat, dari tangkapan khalwat malam Tahun Baharu di hotel-hotel baget sampailah kepada amalan zikir ‘Black Metal’. Namun kita masih lagi mencari penyelesaian dengan demontrasi jalanan serta bergeseran sesama sendiri memberi hujah demi hujah membenarkan kalimah Allah digunapakai oleh penganut Kristian di Malaysia.

Kita berteriak agar Islam jangan dihina dengan penggunaan kalimat ‘Allah’ namun amalan asas agama masih lagi tercicir di dalam masyarakat kita. Kehadiran untuk Solat Suboh di masjid dan surau masih lagi boleh dikira dengan jari. Amalan bangun untuk Solat Malam dalam masyarakat hampir-hampir hilang. Yang bangun hanya beberapa kerat sahaja untuk menadah tangan di waktu Sahur dengan diiringi tangisan memohon keampunan kepada Allah atas kelalaian umat.

Penulis tidak bermaksud menghina dan mengondem mereka-mereka yang berdemontrasi namun itulah hakikatnya apa yang sedang berlaku di dalam masyarakat kita. Kelemahan kitalah yang menyebabkan musuh mengambil kesempatan atas ruang-ruang yang ada.

Bila British datang menakluki India suatu masa dulu, ribuan masjid telah di roboh dari Selatan India sehinggalah ke Utara India. Sepanjang perjalanan dari kawasan Selatan India pasti kita akan melihat dengan jelas kesan-kesan masjid yang diroboh. Menurut penduduk setempat sejumlah 2 ribu masjid telah diroboh oleh British di Selatan India, yang berbaki sekitar 2 ratus sahaja. Namun ketika itu masyarakat setempat memperkemaskan amalan masjid mereka sehingga menyebabkan ribuan kaum Hindu memeluk agama Islam. Ini terbukti apabila penulis sendiri pernah berada di sana pada tahun 1992. Ketika itu sekitar 9 buah kampong Hindu yang penduduknya telah memeluk agama Islam. Ianya satu kejutan buat pemerintah India ketika itu.

Ketika seorang Superintendent British di Delhi mengistiharkan bahawa Al-Qur’an di dalam simpanan masjdi-masjid di Delhi dibakar, Jutaan naskah Al-Qur’an yang berjaya dikumpulkan dan dibakar dikawasan awam di Delhi yang mana mendatangkan kemarahan Masyarakat Islam ketika itu. Namun tidak ada tindakan demontrasi oleh mereka di jalan-jalan. Apa yang ada, mereka memperkemaskan madrasah ‘Hafizul Quran’ seluruh India. Ketika acara pembakaran Al-Qur’an dilakukan oleh Superintendent British berkenaan, datang seorang Maulana yang telah tua beserta cucunya yang berumur sekitar 6/7 tahun mencabar Superintendent British berkenaan dengan katanya, “Tuan! Kamu boleh membakar jutaan naskah Al-Qur’an, namun tuan boleh lihat sekarang ini.” Ketika itu beliau meminta cucunya membaca beberapa lembaran Al-Qur’an melalui hafalan dan cucunya membaca dengan begitu lancar sekali sehingga memberi kesan pada mereka yang berada di situ.Lanjutnya beliau terus mencabar Superintendent British berkenaan dengan katanya, “ Tuan boleh membakar jutaan Al-Qur’an namun tuan tidak akan boleh membakar Al-Qur’an yang berada di dalam dada anak-anak kami.”

Lihat di sisi kita sekarang ini, apakah tindakkan yang kita ambil sekarang ini jalan terbaik memelihara kehurmatan kalimah ‘Allah’? adakah dengan demontrasi dan pembakaran 3 buah gereja satu jalan terbaik bagi meninggikan kalimah ‘Allah’? Namun dalam waktu yang sama kalimah ‘Allah’ itu hilang dari dada orang-orang Islam sekarang ini. Kehebatan kalimah itu pun telah lama hilang di hati kita.

Firman Allah swt, “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman adalah mereka-mereka yang apabila disebutkan KALIMAT ALLAH gemetar hati-hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambah (kuat) iman mereka. Dan hanya kepada tuhan mereka, mereka bertawakal.” (Al-Anfal : 2)

Inilah sifat yang ada kepada sahabat Nabi saw ketika ayat ini diturun. Miski pun ketika itu masyarakat Arab Jahiliah mengakui Allah sebagai pencipta mereka, alam dan sebagainya. Ringkasnya mereka menggunakan kalimat ‘Allah’ ini di dalam perbualan mereka malah jika mereka bersumpah atas perkara yang berat dan hebat pasti mereka akan bersumpah dengan menggunakan kalimat ‘Allah’. Ini terbukti sebagaimana kata-kata Ubai bin Khalaf ketika bersumpah di hadapan pembesar Quraish. Semua ini tidak merubah amalan, akidah dan pegangan sahabat terhadap Islam. Malah Islam mendatangi hati-hati pemusuh Islam sehingga mereka berduyun-duyun memeluk agama Islam.

Saudara-saudaraku semua renunglah sejenak. Marilah kita kembali semula kepada amalan awal umat ini di dalam membentuk generasi Islam yang utuh. Kembali kepada amalan DAKWAH sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi saw dan sahabat rhum.

Wallahu’alam

Sumber: Al Alostari

10 January 2010 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Renungan & Teladan | | Leave a comment

>TIDAK TAKUT TUHAN PUNCA SEGALA MASAALAH

>Orang menilai “masaalah” berbeza beza.Kadang kadang masaalah di katakan bukan masaalah dan bukan masaalah di katakan masaalah.Masaalah yang paling besar sebenarnya ialah masaalah tidak takut Tuhan.Tetapi malangnya zaman ini tidak ada orang menyebut masaalah tidak takutkan Tuhan ini satu masaalah.
Bila orang tidak kenal dan tidak takut Tuhan, yang bukan masaalah menjadi masaalah.Contohnya menjadi pandai bukan masaalah.Tidak ada siapa akan berkata pandai ini satu masaalah.Tetapi hari ini pandai itu sudah jadi masaalah.Ia menjadi masaalah kerana orang pandai itu tidak takut tuhan.Bila pandai tetapi tidak takut Tuhan, datang lah sifat sombong hingga menjadi masaalah.Datang rasa ego hingga menjadi masaalah.Menipu dan memutar belit hingga menjadi masaalah.Menjadi pemimpin bukan masaalah.Semua orang suka adanya pemimpin.Samada rakyat suka pemimpin, yang punya diri pun suka jadi pemimpin.Jadi pemimpin bukan masaalah.Tetapi pemimpin yang tidak takut Tuhan, itu masaalah.Bila dia ada kuasa mula lah sombong, ada kepenting diri,rasuah,menjadi zalim, menindas,untuk mempertahankan kedudukan nya dia mencantas musuhnya dengan umpatan,fitnah dan ada yang sanggup membunuh..
Manusia menilaikan masaalah yang remeh temeh dikatakan masaalah besar.Contohnya kemiskinan.Bagi Tuhan miskin itu bukan masaalah. Tuhan tidak kata miskin tiu berdosa dan masok neraka.Manusia bertungkus lumus hendak mencapai kemiskinan sifar. Mana ada kemiskinan sifar dalam Islam.Allah jadikan semua berpasang pasang. Jadi kalau ada kaya tentu ada miskin.Jadi tidak boleh ada miskin sifar. itu karut.Dan begitu juga tidak boleh ada semua orang kaya dalam masyarakat 100%.Orang miskin yang redha dengan Allah dan masyarakat yang menjalankan tanggung jawab terhadap orang miskin tidak jadi masaalah.Kerosakan sosial akibat orang miskin hanya kecil sahaja. Tetapi kerosakan yang di buat orang cerdik pandai (termasok ulama) dan pemimpin mengakibatkan negara menjadi huru hara, dan lingkup.itu masaalah.
Jadi macam macam masaalah yang sedang berlaku sekarang saperti krisis politik, krisis antara pemimpin pemimpin,krisis ekonomi,krisis pendidikan, krisis sosial dan berbagai bagai krisis yang melanda negara kita ada lah kerana masaalah yang paling besar yang tidak di pandang langsung untuk di tangani ia itu masaalah tidak takut Tuhan.


Siapa kah sepatutnya yang bertanggung jawab menangani masaalah tidak takut Tuhan ini yang sudah jadi tsunami besar yang melanda manusia sejagat?



Tidak takut Tuhan sudah jadi Tsunami yg melanda manusia sejagat

8 January 2010 Posted by | Tazkirah | 2 Comments

Seorang pemimpin itu di ikuti kerana beberapa sebab.

SESEORANG PEMIMPIN ITU DI IKUTI KERANA BEBERAPA SEBAB:

1.KERANA KEBENARANNYA
2. KERANA KUASANYA
3. KERANA ADA SESUATU YANG ORANG HARAPKAN DARINYA
4. KERANA ORANG FANATIK DENGANNYA
5. KERANA KEJAHILAN ORANG YANG MENGIKUTINYA
6. KERANA ORANG TERHUTANG BUDI KEPADANYA.

7 January 2010 Posted by | Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | | Leave a comment

>JUARA RAKYAT HANYA RETORIK PEMERINTAH SEKULAR

>Hendak menjadi juara di hati rakyat? Bagaimana jika rakyat menginkan perkara-perkara yang berbau maksiat? Misalnya, rakyat menginkan kilang arak agar diperbesarkan, dan jualannya juga diperluas. Adakah PEMERINTAH akan menuruti permintaan tersebut demi menambat hati rakyat? Atau bagaimana jika rakyat menginginkan pelbagai perkara maksiat lainnya, lalu dipenuhi oleh pemerintah ? Dahsyat bukan? Kemaksiatan bakal bermaharajalela, dan masyarakat akan semakin jauh dari rahmat Allah SWT.

Memang beginilah lumrah yang terjadi di kalangan para pemimpin di kalangan umat Islam yang berfikir dalam kerangka idealisma sekular. Dan tidak jarang ini berlaku kepada para politikus yang kononnya memperjuangkan Islam. Ini bukanlah perkara yang retorik dan tidak berpijak kepada fakta. Ini kerana, sesebuah parti politik yang berjuang di dalam Sistem Demokrasi akan bertungkus lumus secara bersungguh-sungguh agar hati rakyat ditawan (walau pada hakikatnya banyak kehendak rakyat yang tidak dipenuhi), dan seterusnya memilih dan mengundi mereka di dalam pilihanraya, yang akan menjadikan mereka berkuasa di dalam sistem pemerintahan. Tidak kira dengan jalan apa pun, segala cara dan taktik akan digunakan dengan semaksima mungkin untuk mencapai tujuan ini. Di sisi lain, mereka akan cuba memburuk-burukkan parti lawan, agar pengaruh lawan berkurang, sekaligus kemenangan akan berpihak kepada mereka. Parti sekular dengan semangat asabiyyahnya, parti Islam dengan penggadaian maruahnya. Inilah yang berlaku di seluruh dunia, saban hari dan saban tahun. Sampai bilakah rakyat umumnya, dan umat Islam khususnya akan dipertontonkan dengan pertelingkahan, perebutan kuasa dan penggadaian agama Islam yang suci ini?

Jika kita telusuri sirah Rasulullah SAW, baginda tidak pernah cuba untuk menjadi juara di atas kehendak masyarakat ketika itu, baik ketika sebelum berdirinya Negara Islam (di Makkah), atau setelah berdirinya Negara Islam (di Madinah). Majoriti masyarakat Makkah menolak Islam, dan pemuka-pemuka Quraisy menawarkan harta, takhta dan wanita kepada Rasulullah, namun ditolak mentah-mentah oleh Nabi kerana ia bertentangan dengan kehendak Islam. Begitu juga ketika Saidina Umar dan beberapa orang sahabat lain yang tidak bersetuju dengan Perjanjian Hudaibiyah, kerana menganggap ia berat sebelah, tetapi Rasulullah tetap meneruskan perjanjian tersebut. Hasilnya, syiar Islam semakin berkembang ketika itu. Beginilah sikap yang perlu dicontohi dan diteladani oleh kita sebagai orang-orang yang beriman. Kita harus bersungguh-sungguh menjadi ’Juara Syariat’ dan bukannya ’Juara Rakyat’.

”… dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. dan (ingatlah), Allah jualah yang mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya” [TMQ Al-Baqarah (2):216].

Sumber : HT

4 January 2010 Posted by | Politik dan Dakwah | 5 Comments

   

%d bloggers like this: