Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

10 RAHASIA SOLAT SUBUH BERJEMAAH, YANG TIDAK DIKETAHUI BANYAK ORANG

➡Shalat Subuh berjamaah memiliki banyak keutamaan yang luar biasa, berikut ini sebagian keutamaan yang terdapat di dalamnya:

1. Mendapatkan berkah dari Allah Ta’ala.
➡Shalat Subuh berjamaah berpeluang mendapatkan berkah dari Allah Ta’ala. Sebab, aktivitas yang dilaksanakan pada waktu pagi, terlebih aktivitas wajib dan dilaksanakan berjamaah seperti shalat Subuh, telah didoakan agar mendapatkan berkah. Yang mendoakannya adalah Rasulullah shallallahualaihiwasallam:

اللهمَّ باركْ لأمتي في بكورِها

Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah)

2. Mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.
➡Kondisi pada waktu subuh umumnya masih gelap, walau dengan penerangan listrik yang ada. Namun, dengan kondisi seperti itulah justru terdapat ganjaran yang besar dari Allah Ta’ala bagi manusia-manusia yang menuju masjid buat melaksanakan shalat dengan cahaya yang sempurna di hari Kiamat kelak, dalam hadits disebutkan:

عن بريدة الأسلمي رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم قال :بشِّرِ المشَّائين في الظُّلَم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة

➡Dari Buraidah al-Aslami radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

3. Mendapatkan ganjaran shalat malam sepenuh waktunya.
➡Bisakah kita melakukan shalat malam atau tahajud sepenuh malam? Tentu sangat sulit dengan beragam aktivitas siang hari yang juga harus kita kerjakan. Namun demikian, pahala melakukan shalat malam sepenuh waktu malam ternyata bisa kita dapatkan dengan melakukan shalat Subuh secara berjamaah, dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebutkan:

مَن صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلَّى الليلَ كلَّه

➡“Barang siapa yang melakukan shalat Isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barang siapa yang melakukan shalat Subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu.”(HR. Muslim, dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu)

4. Berada dalam jaminan AllahTa’ala.
➡Artinya, orang yang melaksanakan shalat Subuh dengan sempurna, antara lain dengan melaksanakannya berjamaah, maka dia berada dalam jaminan dan perlindungan Allah Azzawajalla., dengan begitu, siapa yang berada dalam perlindungan Allah, orang itu tidak boleh disakiti, orang yang berani mencelakakannya terancam dengan azab yang pedih, sebab dia telah melanggar perlindungan yang Allah berikan kepada orang tadi, dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَن صلَّى الصبح، فهو في ذمة الله، فلا يَطلُبَنَّكم الله من ذمَّته بشيء؛ فإن من يطلُبهُ من ذمته بشيء يدركه، ثم يَكُبه على وجهه في نار جهنم

➡“Barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian sesuatu apa pun pada jaminan-Nya. Karena barangsiapa yang Dia tuntut pada jaminan-Nya, pasti Dia akan mendapatkannya. Kemudian dia akan ditelungkupkan pada wajahnya di dalam Neraka.” (HR. Muslim, dari Jundubibn Abdillah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu)

5. Dibebaskan dari sifat orang munafik.
➡Siapakah dari kita yang bisa menjamin bahwa dirinya telah suci dari penyakit kemunafikan? Bukankah dahulu para tokoh Salaf, yang notabene keimanannya lebih baik daripada kita, senantiasa takut dan khawatir terjangkiti sifat kemunafikan? Lantas, tidakkah kita seharusnya lebih layak untuk khawatir terhadap kondisi kita dewasa ini? Apalagi hidup dalam dunia dengan godaan yang demikian banyak menerpa.

➡Shalat Subuh secara berjamaah adalah salah satu upaya yang bisa kita tempuh agar bisa terhindar dari terjangkit penyakit kemunafikan itu, disebutkan dalam hadits:

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما، لأتَوهما ولو حبوًا، ولقد هممتُ أن آمُرَ المؤذِّن فيُقيم، ثم آخُذَ شُعلاً من النار، فأحرِّقَ على من لا يخرج إلى الصلاة بعد

➡“Tidak ada Shalat yang lebih berat (dilaksanakan) bagi orang munafik daripada shalat Subuh dan Isya. Seandainya mereka tahu (keutamaan) yang terdapat di dalamnya, niscaya mereka akan melakukannya kendati dengan merangkak. Sungguh aku telah hendak memerintahkan kepada petugas azan untuk iqamat (Shalat) kemudian aku mengambil bara api dan membakar (rumah) orang yang belum tidak keluar melaksanakan Shalat (di masjid).” (HR. Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah)

6. Jamaah shalat Subuh dipersaksikan oleh malaikat.
➡Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يتعاقبون فيكم ملائكةٌ بالليل وملائكةٌ بالنهار، ويجتمعون ف ي صلاة الفجر وصلاة العصر، ثم يعرُجُ الذين باتوا فيكم، فيسألهم ربُّهم – وهو أعلم بهم: كيف تركتم عبادي؟ فيقولون: تركناهم وهم يصلُّون، وأتيناهم وهم يصلون.

➡“­Malaikat bergantian melihat kalian pada siang dan malam. Para malaikat itu bertemu di shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian yang bermalam dengan kalian naik (ke langit) dan ditanya oleh Rabb mereka, dan Dia lebih tahu keadaan hamba-hambanya, Bagaimana kondisi hamba-hambaku ketika kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat.” (HR. Bukhari-Muslim)

7. Berpeluang mendapatkan pahala haji atau umrah bila berzikir hingga terbitnya matahari.
➡Bisa dibayangkan betapa besar ganjaran pahala yang didapatkan bila memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya.

➡Dasar dari hal ini adalah keterangan dari Anasibn Malik Radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang bersabda:

مَن صلى الغداة في جماعة، ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس، ثم صلى ركعتين، كانت له كأجر حجة وعمرة تامة، تامة، تامة

➡“Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah kemudian dia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lantas shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi)

8. Kesempatan untuk melaksanakan shalat sunah Subuh.
➡Kesempatan lain yang bisa didapatkan dengan mengupayakan shalat Subuh secara berjamaah adalah shalat sunah Subuh dua rakaat. Shalat sunat Subuh dua rakaat ini punya kelebihan tersendiri yang disebutkan dalam hadits.

ركعتا الفجر خيرٌ من الدنيا وما فيها

➡“Dua rakaat (shalat sunah fajar) Subuh lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim dari Ummul MukmininAisyah Radhiallahu ‘anha)

9. Keselamatan dari siksa Neraka.
➡Keselamatan dari siksa Neraka berarti berita gembira tentang masuk Surga. Ganjaran ini tentunya berlaku bagi yang melaksanakan shalat Subuh secara sempurna (berjamaah). Mari perhatikan Hadits berikut:

عن عُمارة بن رويبة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (لن يلج النارَ أحدٌ صلى قبل طلوع الشمس وقبل غروبها) رواه مسلم

➡Dari Umarah Radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak akan masuk Neraka seorang yang shalat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan terbenamnya matahari (Ashar).”(HR. Muslim)

10. Kemenangan dengan melihat Allah Ta’ala pada hari Kiamat nanti.
➡Tentunya hal ini merupakan ganjaran terbesar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya.

عن جرير بن عبد الله البجلي رضي الله عنه قال: كنا جلوسًا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ نظر إلى القمر ليلة البدر، فقال: (أمَا إنكم سترَون ربَّكم كما ترَون هذا القمر، لا تُضَامُّون في رؤيته، فإن استطعتم ألا تُغلبوا على صلاةٍ قبل طلوع الشمس وقبل غروبها، فافعلوا) رواه البخاري ومسلم

➡Dari Jarir Bin Abdullah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami pernah duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau melihat ke bulan di malam purnama itu, Rasulullah bersabda, ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian akan melihat kepada Rabb kalian sebagaimana kalian melihat kepada bulan ini. Kalian tidak terhalangi melihatnya. Bila kalian mampu untuk tidak meninggalkan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah!” (HR. Bukhari-Muslim)

➡Semoga motivasi ini memicu kita untuk senantiasa bisa menjaga shalat Subuh dan shalat 5 waktu secara berjamaah, bahkan menularkannya kepada saudara-saudara kita lainnya.

Aamiin….

Sumber:FB Ustaz Yunan A Samad

22/08/2019 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

Pengiklanan Arak Yang Mengelirukan

1. Telah tersebar satu gambar pengiklanan arak yang diletakkan disebuah kedai serbaneka. Ia kelihatan mengelirukan apabila arak tersebut ditempatkan berdekatan dengan minuman halal yang lain. Lebih membimbangkan, ayat pengiklanan tersebut seakan mengelirukan apabila ditulis dengan tagline NOW YOU CAN (sekarang kamu boleh!) dan ZERO ALCOHOL.

2. Sekalipun mungkin ayat NOW YOU CAN ini ditujukan kepada non-Muslim, ia masih boleh memberikan penafsiran yang salah kepada Muslim yang menyangkakan minuman tersebut bukan arak kerana kenyataan ZERO ALCOHOL (0.0% kandungan alkohol).

3. Dalam sejarah Islam, Khalifah Umar Abdul Aziz dilihat tegas dalam menangani isu arak ini. Beliau pernah mengarahkan orang kafir supaya tidak menzahirkan aktiviti arak mereka. al-Imam al-Bayhaqi ketika menghuraikan tentang syarat-syarat ahli zimmah (non-Muslim) yang tinggal bersama Muslim menyebutkan:

كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: أَلَّا يُظْهِرُوا الْخَمْرَ

“Umar Abdul Aziz pernah menulis surat supaya arak (bagi non Muslim) seharusnya tidak dizahirkan” (tidak diheboh, didedah dan berlaku secara tertutup). (al-Bayhaqi, Ma’rifa al-Sunan wa al-Athar, 13/383).

4. Bahkan, Umar Abdul Aziz dikatakan cuba menyekat kemasukan dan kebebasan aktiviti import/eksport penjualan arak. Perkara ini direkodkan oleh al-Imam Ibn Abi Syaibah yang menyebutkan:

عَنْ مُثَنَّى بْنِ سَعِيدٍ، قَالَ: شَهِدْتُ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ كَتَبَ إِلَى عَامِلِهِ بِوَاسِطٍ: «أَنْ لَا تَحْمِلُوا الْخَمْرَ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَى قَرْيَةٍ…

“Muthanna ibn Sa’d berkata: Aku menyaksikan Umar Abdul Aziz menulis kepada Gabenornya bahawa: Jangan dibawa arak dari satu kampung ke satu kampung yang lain.” (Ibn Abi Syaibah, al-Musannaf, 5:100)

5. Menurut al-Imam Malik pula, Umar Abdul Aziz dikatakan pernah mengarahkan supaya tempat-tempat perahan arak milik Muslim seharusnya dihapuskan. Kata al-Imam Malik:

قال مالك: أفبلغك أن عمر بن عبد العزيز كتب في كسر معاصير الخمر؟ قال: نعم. قيل: معاصير المسلمين وأهل الذمة. قال: لا أرى ذلك إلا في التي للمسلمين.

“Kata Malik: Apakah tidak sampai kepada kamu bahawa Umar Abdul Aziz pernah menulis (arahan) supaya dipecahkan (dirobohkan) tempat-tempat memerah arak? Dia (perawi) berkata: Ya! (lalu beliau ditanya): Tempat perahan milik Muslim atau milik non Muslim? Malik menjawab: Milik Muslim sahaja.

6. Lihatlah betapa tegasnya Umar Abdul Aziz dalam berurusan dengan perkara yang melibatkan arak. Muslim langsung tidak dibenarkan terlibat dengan urusan arak. Non-Muslim pula tidak dibenarkan untuk menzahirkan aktiviti arak mereka. Aktiviti ekonomi yang melibatkan arak diperketatkan. Kilang penghasil arak pula dipantau.

Moga Allah membantu Muslim dalam menangani isu arak.

Olih Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

15/07/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Matikan Telefon Bimbit Ketika Solat

1. Tidak mengapa seseorang itu mematikan telefonnya ketika solat dengan syarat dia menjaga pergerakkannya. Ini kerana ringtone telefon amat mengganggu jemaah lain untuk khusyuk.

Rasulullah pernah menegur sahabat yang membaca al-Quran di dalam masjid dengan suara yang kuat kerana dikhuatiri mengganggu jemaah lain. Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Daud yang menyebutkan:

اعتكف رسول الله صلى الله عليه وسلم في المسجد فسمعهم يجهرون بالقراءة فكشف الستر وقال : ألا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة – أو قال في الصلاة

“Suatu hari Rasulullah beriktikaf di dalam masjid dan Baginda mendengar ada sahabat yeng menguatkan bacaan (al-Quran) mereka. Rasulullah lalu menyelak tabir Baginda dan berkata:

Bukankah kamu semua sedang bermunajat kepada Allah? Janganlah ada sebahagian kamu menyakiti (mengganggu) yang lain. Jangan pula kamu tinggikan suara kamu di dalam bacaan (al-Quran kamu) (sebahagian riwayat menyatakan meninggikan suara ketika solat kamu).” (HR Abu Daud).

2. Bayangkan, andai sekiranya perbuatan meninggikan suara ketika membaca al-Quran pun dilarang oleh Rasulullah kerana mengganggu ibadah jemaah yang lain, apatah lagi ringtone dengan lagu yang merosakkan tumpuan orang lain dalam solat mereka.

3. Bagaimana pula pergerakan yang diharuskan ketika dalam solat untuk mematikan telefon? Seseorang itu diharuskan untuk melakukan pergerakan kecil atas tujuan yang dibenarkan oleh syarak. Beberapa hadith menunjukkan Rasulullah melakukan pergerakan kecil dalam solat atas keperluan yang diharuskan oleh syarak.

4. Sebagai contoh Baginda pernah mendokong cucu Baginda yang bernama Umamah ketika Nabi sedang solat. Perkara ini direkodkan di dalam Sahih al-Bukhari yang menyebutkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

“Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah mendirikan solat sambil mendokong cucu Baginda bernama Umamah binti Zainab. Ketika Baginda ingin sujud, Baginda meletakkan Zainab dan ketika Baginda bangun, Baginda mengambil dan mendokongnya semula.” (HR al-Bukhari)

5. Rasulullah juga dilihat pernah memindahkan orang di dalam solat. Perkara ini diceritakan oleh Abdullah ibn Abbas yang menyebutkan:

قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَ بِرَأْسِي، فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ

“Rasulullah pernah mendirikan solat pada satu malam lalu aku solat bersamanya. Aku berdiri disebelah kiri Rasulullah. Rasulullah lalu memegang kepalaku dan menarikku ke sebelah kanan Baginda.” (HR al-Bukhari)

6. Rasulullah pernah membuka pintu ketika mendirikan solat sunat. Perkara ini diceritakan oleh Aisyah yang menyebutkan:

اسْتَفْتَحْتُ الْبَابَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي تَطَوُّعًا وَالْبَابُ عَلَى الْقِبْلَةِ فَمَشَى عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ يَسَارِهِ، فَفَتَحَ الْبَابَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُصَلَّاهُ

“Aku cuba membuka pintu ketika Rasulullah sedang mendirikan solat sunat. Dan ketika itu pintu tersebut berada di arah Kiblat. Maka Rasulullah bergerak ke kanan atau ke kiri, lalu Baginda membuka pintu tersebut. Kemudian kembali ke tempat solatnya lalu meneruskan solat Baginda.” (HR al-Nasa’i)

7. Jika diperhatikan hadith di atas, pergerakan yang dilakukan oleh Rasulullah ketika solat tidak membatalkan solat Baginda. Menurut Mazhab Syafie, terdapat beberapa syarat yang mesti dijaga oleh seseorang bagi mengelakkan solatnya terbatal. Antaranya adalah tidak melakukan pergerakan yang banyak dan berturut-turut. Dan pergerakan tersebut diharuskan oleh syarak.

Sekiranya seseorang itu boleh menjaga segala keperluan ini, maka pergerakan kecilnya untuk mematikan telefon adalah sesuatu yang harus. Membiarkan telefon berbunyi sehingga mengganggu jemaah lain adalah lebih dilarang.

Semoga Allah membimbing kita.

Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

Masuk Neraka Kerana Kucing
==============
1. Dahulu lagi Rasulullah berpesan, ada seorang wanita yang masuk ke neraka kerana menyeksa kucing. Hari ini kita menyaksikan sendiri bagaimana perlakuan tersebut dirakamkan. Tindakan seorang lelaki yang menjerut dan menggantung kucing tersebut sehingga mati adalah insiden yang sangat sadis.

2. Hadith tersebut disampaikan kepada kita melalui bentuk penceritaan. Sabda Rasulullah:

دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا ، فَلَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا ، وَلَا هِيَ أَرْسَلَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ ، حَتَّى مَاتَتْ هَزْلً

“Seorang wanita masuk ke neraka kerana seekor kucing yang diikatnya, dia tidak memberinya makan, tidak juga dia membebaskan kucing tersebut untuk mencari makan dibumi ini, sehinggalah kucing tersebut mati kelaparan.

3. Hadith ini mengingatkan kepada kita bagaimana satu perkara yang dianggap remeh oleh seseorang boleh mengheret dirinya ke neraka. Dengan sebab itu kita digesa untuk menjauhi segala kezaliman sekalipun dengan yang haiwan.

4. Hadith ini turut menggambarkan kepada kita manusia boleh menjadi lebih kejam dari binatang. Rasulullah menggunakan contoh seorang perempuan yang sifat semulajadinya sepatutnya lembut dan penyayang. Namun, ia boleh jadi keras dan zalim sekiranya tidak dipandu dengan syarak.

Moga Allah membimbing kita.

Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

14/06/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

TAK ADA DALIL TAK BOLEH BERAMAL?

Ada orang kata; Wajib tahu dalil baru boleh beramal, kalau takde dalil ertinya taqlid pada ulamak, ulamak bukan nabi sebab kita beramal mesti pastikan benda tu datang dari nabi. Benarkah kata mereka kita beramal kena bersumberkan al-Quran dan Hadith sahaja?

Tapi dalam masa yg sama mereka menuduh ikut ulamak-ulamak mazhab sebagai salah seolah-olah ulamak-ulamak mazhab tu mereka-reka hukum.

Baiklah. Mari kita tanya mereka 1001 soalan mengenai dalil amalan-amalan kita selama ini.

Soalan ke 1001:
Apa dalil (al-Quran atau al-Hadith) solat subuh 2 rakaat?

Apa dalil (al-Quran atau al-Hadith) waktu subuh masuk dengan terbit fajar sadiq?

Apa dalil (al-Quran atau al-Hadith) waktu subuh habis dengan terbit matahari?

Terbit sebahagian matahari ke atau terbit seluruh bulatan matahari dan nyatakan dalilnya (al-Quran atau al-Hadith)?

Apa dalil (al-Quran atau al-Hadith) boleh ikut taqwim waktu solat dan jam nak tahu subuh dah masuk ke tidak, bukan ke sepatutnya kena tengok fajar sadiq kat kaki langit?

Sila kemukakan dalil Quran dan Hadith sahaja…

Apa hukum orang yang solat fardhu subuh tapi tak tahu semua dalil Quran dan Hadith yang berkaitan tapi tahu melalui ulama je yang tak maksum? Tidak sahkah solat yg didirikannya?

(Sumber: FB Ustaz Yunan A Samad)

08/06/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

APA Bahayanya Bila Hanya Belajar Hadis?

Dikatakan oleh almarhum Tuan Guru Hj Yahya Mat Saman rahimahullahu taala ( Tuan Guru Pakya Telok ) kepada anak muridnya, Syeikh Abdul Raof Nurin hafizahullahu taala, pernah berpesan oleh Waliyullah Tok Kenali rahimahullahu taala,

” Tidak boleh mengaji ilmu hadis terlebih dahulu sebelum 10 tahun mengaji ilmu2 lain. Lepastu baru mengaji ilmu hadis ”

Tuan guru alfaqir, pernah menerangkan perkara yg sama berdasarkan kalam almarhum tuan guru atas pesanan Waliyullah Tok Kenali…

“Apabila seseorang mengaji tentang hadis dan tafsir semata2 ( tanpa disulam ilmu fardhu ain iaitu tauhid,fekah,tasawuf ) mereka akan mudah merasa diri mereka alim..

Dan barangsiapa yg mengaji tafsir dan hadis semata2 hukumnya haram selagi mana tak lepas lagi ilmu fardhu ain keatas dirinya..bahkan seandainya dia seorg asatizah yg mengajar dan dlm kalangan pelajarnya ada yg masih belum lepas fardhu keatas dirinya pelajar dan belajar dgnnya, maka tidak menjadi pahala padanya asatizah malah akan menjadi dosa.”

Kebanyakkan org kita yg menjalani proses berhijrah, mereka tersilap langkah dengan menjadikan terjemahan hadis dan al quran sebagai panduan mereka, sehingga mereka menafsir dgn menggunakan aqal bahkan memahami secara literal semata² tanpa merujuk kepada apa yg ulama’ bicara serta tafsirkan.

Sedangkan, memperlajari ilmu hadis serta tafsir ini adalah sekadar fardhu kifayah, bahkan yg terlebih wajib itu adalah ilmu fardhu ain yakni ilmu tauhid, ilmu feqah, dan ilmu tasauf.

Memahami hadis bukan sekadar dgn memahami terjemahan, tetapi dgn perbahasan ulama, sekurang²nya mesti khatam Sunan Sittah..

Jadi tak hairanlah, ramai org sekarang yg kembali kepada agama, suka benar membicarakan hadis dan al quran, tapi tersasar jauh dari landasan kehendak atau murod hadis tersebut.

*kalau kita tengok di dlm kitab Pelita Penuntut karangan almarhum Al alim Syeikh Daud Al fathoni rahimahullahu taala, jua memberitahu, haram bagi barangsiapa yg mengaji tafsir dan hadis tanpa dipelajari ilmu fardhu ain terlebih dahulu.

Olih: FB Ustaz Yunan A Samad

08/06/2019 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Tanda Amalan Diterima Allah

1. Benar, tiada siapa yang mengetahui samada amalan mereka diterima Allah atau tidak. Namun sebahagian sarjana Muslim memberikan pandangan bahawa terdapat tanda-tanda amalan seseorang itu diterima. Antaranya ialah:

2. Pertama: Dia tidak kembali kepada maksiat. Ini adalah tanda yang paling utama. Seharusnya amalan seseorang menjauhkan diri mereka dari maksiat. Amalan tersebut menjadi sebati dalam dirinya, membentuk darah dagingnya sehingga menjadikan dirinya membenci maksiat.

al-Imam Ibn al-Qayyim berpesan di dalam kitab Madarij al-Salikin:

أما إذا تذكَّر الذنبَ ففرح وتلذَّذ فلم يُقبل، ولو مكث على ذلك أربعين سنة

“Adapun sekiranya seseorang itu (setelah melakukan ibadah) masih merasa seronok dengan dosa, ketahuilah bahawa ia adalah (tanda-tanda) amalan tidak diterima sekalipun dia melakukan amal kebajikan selama 40 tahun.” (Ibn al-Qayyim, Madarij al-Salikin)

Dengan sebab itu al-Imam al-Hasan al-Basri menegaskan:

فإذا قبل اللهُ العبدَ فإنه يُوفِّقه إلى الطاعة، ويَصْرفه عن المعصية

“Sekiranya Allah menerima amalan seseorang, maka dia akan membimbingnya untuk melakukan ketaatan yang seterusnya dan memalingkan hambaNya dari maksiat.”

3. Kedua: Amal kebaikannya seharusnya menghasilkan kebaikan yang lain. Dalam perihal ini al-Imam al-Hasan al-Basri berkata:

إنَّ مِن جزاءِ الحسَنةِ الحسَنة بَعْدَها، ومِن عقوبةِ السيئةِ السيئةُ بعدها

“Salah satu pulangan amal soleh adalah, ia menghasilkan amal soleh yang lain. Dan sekiranya dia melakukan kejahatan, kejahatan tersebut akan menghasilkan kejahatan yang seterusnya.

Malah al-Hasan mengingatkan kita bahawa: “Sekiranya kebaikanmu tidak memberikan pertambahan (amal), maka di situ pasti ada kekurangan (kesempurnaan amalan tersebut).

4. Ketiga, Istiqamah dengan Amal Soleh. al-Imam Ibn Kathir menyebut: Sesungguhnya telah menjadi fitrah manusia di mana Allah akan mencabut nyawa seseorang itu dengan amal yang dilakukan secara konsisten. Sekiranya seseorang konsisten melakukan kebaikan, maka dia akan mati dalam kebaikan. Sekiranya seseorang konsisten dengan kemungkaran, maka dibimbangi dia akan mati dengan perbuatan yang telah biasa dia lakukan.

Dengan sebab itu al-Bukhari merekodkan satu insiden yang menarik. Seorang sahabat telah meninggal ketika menunaikan haji. Ketika meninggal, dia masih berpakaian ihram. Lalu Rasulullah meminta para sahabat mengkafankan beliau dengan pakaian ibadah tersebut. Sabda Rasulullah:

كفِّنوه بثوبيه؛ فإنه يُبعَث يوم القيامة ملبِّيًا

Kafankan beliau dengan pakaiannya, sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyyah (lafaz talbiah Haji yang memuji Allah).

Moga Allah menganugerahkan kita pengakhiran yang baik.

Ustaz Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

06/06/2019 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Bagaimana Istiqamah Selepas Ramadan?

1. Ramadan telah pun pergi meninggalkan kita. Apakah kita akan meninggalkan semua amalan ibadah yang telah kita lakukan sepanjang Ramadan ini? Kekuatan berpuasa 30 hari, tarawih 8 rakaat dan bacaan Quran yang banyak seharusnya diteruskan.

2. Beberapa hadith ini seharusnya menjadi pemangkin kepada kita untuk konsisten dalam melakukan amal ibadah seusai Ramadan.

Antaranya adalah:

3. Bagi bacaan al-Quran, Rasulullahﷺ mengingatkan kita bahawa kedudukan seseorang di akhirat kelak adalah bergantung kepada akhir ayat yang dibaca. Lagi banyak di baca, lagi tinggi kedudukan kita. Justeru, bacaan al-Quran mesti diteruskan setelah Ramadan. Sabda Rasulullahﷺ:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ : اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ ، كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا ، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا ) .

Sabda Rasulullahﷺ: ” Di akhirat kelak, ahli al-Quran akan dikatakan kepada mereka: “Bacalah (al-Qur`an) dan naiklah (ke syurga) serta tartilkanlah (bacaanmu) sebagaimana engkau membacanya secara tartil sewaktu di dunia. Sesungguhnya kedudukan dan tempat tinggalmu (di syurga) adalah berdasarkan akhir ayat yang engkau baca”.(HR. Tirmizi dan Abu Daud)

Hadith ini menggambarkan bahawa lagi banyak kita baca, lagi tinggi kedudukan kita di akhirat kelak. Teruskan konsisten membaca al-Quran selepas Ramadan.

4. Bagi amalan puasa pula, Rasulullahﷺ konsisten berpuasa 3 hari setelah Ramadan. 3 hari ini hanyalah 10% sahaja daripada jumlah puasa Ramadan kita sebanyak 30 hari. Perkara ini diceritakan oleh Aisyah dalam sebuah hadith:

عن مُعَاذَةُ الْعَدَوِيَّةُ، أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ؟ “، قَالَتْ: “نَعَمْ”، فَقُلْتُ لَهَا: “مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ “، قَالَتْ: لَمْ يَكُنْ يُبَالِي مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ

Maksudnya: Muazah pernah bertanya kepada Aisyah: Apakah Rasulullah berpuasa tiga hari pada setiap bulan? Aisyah menjawab: “Ya.” Muazah kemudian bertanya: Rasulullah berpuasa pada hari apa (berkenaan 3 hari tadi)? Aisyah menjawab: Baginda tidak kisah dari hari apa pun.”

Ini bermakna, Bagindaﷺ akan meneruskan amalan berpuasa ini sebanyak 3 hari setiap bulan, tidak kira hari apa pun. Yang penting konsisten meneruskan amalan berpuasa yang telah kita lakukan sepanjang bulan ini.

5. Manakala bagi amalan solat tarawih pula, kita boleh terus konsisten melakukannya dengan Solat Sunat Witir setelah Isya’. Saidina Abu Hurairah menceritakan bahawa Rasulullahﷺ berpesan kepada beliau tentang tiga amalan yang tidak pernah beliau tinggalkan sepanjang beliau hidup iaitu: (1) Solat Witir, (2) Puasa tiga hari setiap bulan dan (3) Solat Duha (HR al-Bukhari). Kata Abu Hurairah:

فعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: ” أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ: صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

Maksudnya: Kekasih aku (Rasulullahﷺ) berpesan kepada aku tiga perkara (yang tidak aku tinggalkan sehingga aku mati) iaitu: Puasa tiga hari sebulan, Solat Duha dan Solat Witir sebelum tidur.

6. Salin hadith di atas, dan tampal ditempat yang mudah dilihat. Mudah-mudahan ia sentiasa menjadi peringatan buat kita untuk konsisten dan istiqamah melakukan amalan yang telah kita lakukan di dalam bulan Ramadan.

Moga Allah membimbing kita untuk istiqamah setelah Ramadan.

Ustaz Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://telegram.me/drahmadsanusiazmi

06/06/2019 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Mujahadah 10 malam terakhir

Baginda رسول الله ﷺ apabila masuk 10 terakhir Ramadhan, pertamanya baginda رسول الله ﷺ akan menghidupkan malamnya lebih daripada malam-malam sebelumnya.
.
Kedua, baginda رسول الله ﷺ akan membangunkan ahli keluarganya. Yakni, tidak dibiarkan tidur kerana ingin berkongsi kebaikan dan keberkatan malam-malam Ramadhan bersama ahli keluarganya. Ini menunjukkan perhatian dan ihsan seseorang kepada ahli keluarganya.
.
Tunjukkanlah ihsan yang akan mendapatkan ihsan daripada اللّه . Jangan ibadah sorang-sorang. Jangan masuk syurga sorang-sorang. Ajaklah keluarga masuk syurga bersama-sama.
.
Bagaimana? Dengan ketika dalam dunia ini, bersama-sama solat berjamaah, bersama-sama bertadarus Al-Quran. Jom kita hidupkan malam khususnya di malam-malam Ramadhan. Baginda رسول الله ﷺ membangkitkan semua ahli-ahli keluarganya.
.
Ketiga, baginda رسول الله ﷺ mengetatkan kain pelikatnya sebagai simbol untuk tidak menghampiri kepada ahli keluarganya. Hanya semata-mata ingin menjadikan malam-malam terakhir Ramadhan maksimum dengan ibadah kepada اللّه . Demikianlah kebiasaan رسول الله ﷺ pada 10 terakhir bulan Ramadhan.
.
Diantara amalan yang dilakukan baginda رسول الله ﷺ pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan adalah beriktikaf. Sehingga diletakkan satu sudut khusus yang diletakkan kain untuk tidak dinampak sementara baginda رسول الله ﷺ berada di masjid itu untuk beriktikaf selama 10 hari di akhir bulan Ramadhan Al-Mubarak.
.
Dalam riwayat lain baginda رسول الله ﷺ jika beriktikaf, akan bersama dengan ahli keluarganya. Isteri-isteri baginda رسول الله ﷺ juga diajak beriktikaf bersama-sama dengan baginda رسول الله ﷺ . Dalam hal ini, iktikaf mesti di masjid mengikut mazhab kita Imam Syafie.
.
Termasuk juga kepada kaum wanita. Bilamana beriktikaf adalah di masjid sepertimana baginda رسول الله ﷺ mengajak isteri-isterinya beriktikaf di masjid. Kalau iktikaf boleh di rumah, maka isteri رسول الله ﷺ tidak perlu diajak pergi ke masjid. Tapi dalam hal ini, baginda رسول الله ﷺ mengajak isteri-isterinya pergi ke masjid. Ertinya iktikaf adalah di masjid.
.
Berlaku berbeza pandangan waktu untuk melakukan iktikaf di masjid. Secara general, bila-bila masa sahaja melakukan iktikaf akan mendapatkan fadhilat iktikaf. Tetapi iktikaf di bulan Ramadhan seharusnya adalah digalakkan bermula daripada terbenamnya matahari atau dalam riwayat yang lain, bermula daripada terbitnya waktu fajar. Maka seboleh mungkin seseorang untuk mengambil bahagian beriktikaf.
.
Jika tidak boleh iktikaf selama 10 hari, ambil lah sebahagian masa untuk kita lapangkan beriktikaf di rumah اللّه demi meneladani baginda رسول الله ﷺ .
.
Semoga اللّه menganugerahkan kita malam Lailatul Qadr, diangkat darjat kita disisi اللّه , diberikan syafaat oleh اللّه melalui Al-Quran dan puasa. Dan moga-moga اللّه menjadikan Al-Quran sinarkan hati dan jiwa kita. Semoga perjalanan kita dibimbimbingi dengan Al-Quran.
.
Aminn ya robb! اللهم امين
——————————
Taman Syurga (TV Al-Hijrah),
Habib Ali Zainal Abidin Al Hamid
.
Silakan share, niat dakwah.

26/05/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah | Leave a comment

MAJLIS TAHLIL VS MA’TAM (BERKUMPUL DI RUMAH SI MATI)

Olih Ustaz Engku Ahmad Fadzil –

SOALAN:
Assalamualaikum ustaz. Saya pelajar madrasah di kelantan. Saya ada beberapa syubhah yang memerlukan penjelasanHukum meratap(نياحة) kerana si mayat adalah haram. Jadi berdasarkan kaedah yang saya dapat, “sesuatu yang membawa kpd haram,maka ia haram”. Jadi mengapakah ulama menyimpulkan sekadar makruh bertahlil sedangkan klu mengikut qaedah di atas,maka tahlil itu turut haram kerana ulama syafi’iah membilangkan tahlil(berkumpul2) utk si mayat itu ialah نياحة?? Adakah qaedah2 lain yg ulama guna pakai dlm masalah ini??

JAWAPAN: Wa’alaikumussalaam wa rahmatulLaah.

1st, tahlil dan berkumpul di rumah si mati DUA (2) perkara yang berbeza.

1- Bertahlil,seorang diri beramai-ramai, di rumah si mati, atau di rumah orang lain termasuk di dalam zikir atau Ijtima lil zikri, maka secara syarak dituntut dengan tuntutan sunat boleh dikatakan dengan kesepakatan ulama-ulama Ahlis Sunnah wal Jamaah.

2- Berkumpul di rumah si mati asal hukumnya adalah harus kerana tiada larangan khusus di dalam syara’.

Hukum ini BOLEH BERUBAH-UBAH.
Kalau untuk membantu meringankan beban keluarga si mati, MAKA sunat.

Kalau untuk meratapi kematian, MAKA haram.

Kalau untuk memenuhi jemputan keluarga si mati baik untuk melakukan zikir, bacaan Al-Quran dsb, atau untuk bersilatur rahmi, berbual, menghilangkan dukacita dan menguatkan kesabaran, MAKA sunat.

Adakalanya berkumpul di rumah keluarga si mati (terutamanya dlm budaya orang-orang Arab) BOLEH membawa kepada meratap, maka makruh kerana ia BOLEH (berpotensi) membawa kepada yang haram… TETAPI kalau dari segi kebiasaannya MEMANG akan berlaku yang haram, maka HARAM kerana bagi wasilah hukum tujuan.
Masalah pada kumpulan yang mengharamkan majlis tahlil sekarang adalah kerana salah faham menganggap setiap yang tiada dalil khusus (walaupun sebenarnya sudah terpayung di bawah dalil2 umum) adalah bid’ah yang sesat tanpa mengambil kira realiti dan asas hukum. Itu punca jadi keliru.

SOALAN:
Yang saya faham apa yg ustaz tulis,BOLEH berlaku نياحة bermakna x yakin akan berlaku نياحة. Klu x yakin,maka makruh. X smpai tangga haram. Tapi klu yakin,maka haram. Itu yg saya faham.☺️
جزاكم الله خيرا
JAWAPAN:
Ya, kerana hukum fiqh umumnya terbina atas ghalabatuz zhonn (berat sangkaan) dan hukum beredar mengikut ‘illah (asas hukum), ada atau tiada hukum berdasarkan ada atau tiada ‘illah.

Wallaahu ta’aala a’lam.
هدانا الله وإياكم إلى الحق والصواب

24/04/2019 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Hukum Pakai Telekung Berwarna & Berfesyen.

Sebenarnya tidak menjadi kesalahan dalam menggunakan telekung berwarna-warni dan penuh kerawang. Di antara syarat sah solat adalah menutup aurat dan Islam tidak pula menetapkan warna tertentu dalam penggunaan pakaian solat dan Islam juga tidak menetapkan jenis atau bentuk pakaian tertentu untuk digunakan dalam solat.

Haram Jika Mahu Menunjuk-Nunjuk

Penggunaan telekung adalah sebahagian daripada adat resam berpakaian kepada sebilangan besar masyarakat kita di tanah Melayu ini. Samalah juga dengan penggunaan kain pelikat oleh lelaki dalam solat.

Pada asalnya telekung adalah berwarna putih dan tidak begitu banyak bunga hiasan atau kerawang tetapi hari ini terdapat banyak fesyen dan corak kerawang berwarna-warni.

Hukum asalnya adalah harus menggunakan telekung tidak kira apa jua warnanya tetapi apabila dikira ia akan mengganggu tumpuan orang lain dengan keunikan corak dan kerawang yang banyak serta warna yang amat menarik perhatian orang lain maka saya rasa ada yang perlu ditegur di sini.

Apakah tujuan si pemakai telekung tersebut? Kalau ia hanya pakaian solat semata-mata tanpa ada niat lain maka harus tetapi boleh menjadi haram jika disertai oleh niat lain iaitu riak dan menunjuk-nunjuk maka hukumnya adalah haram kerana pemakainya sudah tidak ikhlas dan riak adalah sifat mazmumah yang perlu dihindari.

Kalau pemakainya ikhlas dan tidak ada tujuan lain dalam hatinya tetapi boleh mengganggu orang lain maka sebaik-baiknya hendaklah dia memakai pakaian lain yang sesuai.

Dalam solat berjemaah kita hendaklah memakai pakaian yang sesuai dan berhati-hati dalam memilih pakaian walaupun tiada niat lain tetapi kita telah menarik perhatian orang lain maka dalam Islam itu sudah dianggap berhias yang boleh meresahkan orang lain.

Kepada wanita yang memakai telekung yang boleh dianggap terlalu menarik dan boleh mengganggu tumpuan orang lain maka seeloknya hanya memakai telekung tersebut di rumah sahaja supaya tidak menimbulkan fitnah. Kadang-kadang si pemakai tiada niat dan tidak ada tujuan tidak baik tetapi pandangan dan fikiran orang lain yang suka menimbulkan kontroversi ataupun fitnah maka inilah peluang mereka menabur fitnah dan sangkaan-sangkaan buruk kepada si pemakai itu.

Oleh: Ustaz Azhar Tuarno

SUMBER Wanista.com

01/04/2019 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Hukum Solat Tanpa Bersihkan Solekan.

SOALAN

Apakah hukumnya bersolat dalam keadaan bersolek?

JAWAPAN

Alat solek yang dibuat daripada bahan halal adalah harus digunakan manakala alat-alat solek yang dibuat daripada bahan-bahan tidak halal atau tidak suci maka hukumnya adalah najis dan tidak boleh dibawa di dalam solat.

Memakai alat solek dalam solat setakat yang dibenarkan oleh syarak adalah harus. Pemakai alat solekan hendaklah membasuh muka terlebih dahulu kerana ditakuti alat-alat solek itu tadi akan menghalang air daripada terkena kulit muka atau pewarna rambut yang menghalang air sampai kepada rambut ataupun pengilat kuku yang menghalang air sampai ke kuku.

Apa saja yang menghalang air sampai kepada anggota wuduk akan mengakibatkan wuduk tidak sah. Apabila wuduk tidak sah maka solat pun tidak sah. Kepada wanita ataupun mungkin lelaki yang ingin menggunakan alat solek hendaklah memastikan bahawa alat solek yang digunakan dibuat daripada bahan-bahan suci atau tidak najis.

Ini kerana produk-produk kecantikan pada hari ini ada yang menggunakan bahan-bahan najis dalam penghasilannya. Jadi bahan-bahan itu tidak boleh dibawa ke dalam solat. Misalnya ia diperbuat daripada bahan-bahan haiwan ataupun apa saja yang tidak halal.

Wanita yang hendak menggunakan alat solek hendaklah membersihkan terlebih dahulu muka mereka daripada alat solek. Jika solekan penuh di muka, dikhuatiri air wuduk tidak sampai ke muka.

Sebahagian wanita suka kepada solekan melampau. Ini terlalu menarik perhatian orang lelaki dan solekan yang melampau ini adalah diharamkan dalam Islam.

Pastikan Bahan Halal & Suci

Kalau hendak bersolat maka sebenarnya tidak perlu bersolek, yang diperlukan adalah wuduk yang sempurna, pakaian yang sesuai dan sah dari segi syarak dan hati yang khusyuk bukannya solekan.

Sepatutnya sebelum menggunakan sesuatu produk itu kita hendaklah teliti terlebih dahulu bahan-bahannya, adakah ia diperbuat daripada bahan-bahan halal atau sebaliknya.

Perkara ini perlu diberikan perhatian sewajarnya kerana ia adalah penting sama ada kita boleh menggunakannya atau tidak. Kalau ia diperbuat daripada bahan-bahan suci dan halal tidak mengapa tetapi jika bahan-bahan najis yang haram apalagi bahan-bahan kimia yang boleh membawa kemudaratan maka ia adalah najis dan ia tidak boleh dibawa ke dalam solat.

Menggunakan bahan-bahan yang boleh membawa kemudaratan adalah diharamkan kerana Islam melarang umatnya mencampakkan mereka ke dalam lembah kemudaratan.

Oleh: Ustaz Azhar Tuarno

SUMBER Wanista.com

01/04/2019 Posted by | Fiqh, Ibadah | Leave a comment

Maksud Dua Marhalah Dalam Jamak & Qasar.

Soalan:

Apakah yang dimaksudkan 2 marhalah di dalam solat Qasar?

Jawapan:

Firman Allah Taala:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ
“Dan jika kamu bermusafir di muka bumi ini, maka tidak berdosa ke atas kamu untuk memendekkan solat (solat empat rakaat dijadikan kepada dua rakaat)”. (Surah An-Nisa’:101)

Nas di atas ini menunjukkan dalil dibolehkan solat qasar ( iatu solat empat rakaat dipendekkan kepada 2 rakaat) hal keadaan alkhauf ( ketakutan) seperti berperang bukan keadaan aman. Namun terdapat Hadis Sohihah dan Ijmak membolehkan solat Qasar hal keadaan aman.

Ya’la bin Umaiyah r.a. telah berkata kepada Sayyidina Umar r.a: “Mengapa kita mengerjakan solat secara Qasar sedangkan kita di dalam keadaan yang aman?” Lalu Sayyidina Umar r.a. menjawab: “Aku telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w., Baginda s.a.w. bersabda, solat Qasar itu sebagai satu sedekah (pemberian) yang Allah s.w.t sedekahkan dengannya ke atas kamu maka hendaklah kamu menerimanya atau ambillah sedekah itu. (Hadis Riwayat Imam Muslim 686)

Ulama telah bersepakat pada pensyariatan solat Qasar.

(Rujukan Kitab fiqh Mazahib Arbaa’ Juzuk 1 hlmn 362-363)

Solat Qasar ialah solat empat rakaat (zohor, asar dan isyak) dipendekkan kepada dua rakaat dengan syarat-syarat yang tertentu.

Hukum Safar ada lima:

Wajib : Seperti perjalanan untuk menggugurkan yang kewajipan fardhu haji dan umrah, menuntut ilmu yang wajib dan lain-lain.
Sunat : Seperti menziarahi Nabi dan menyambung silaturrahim
Harus : Seperti perjalanan dengan tujuan untuk berniaga.
Makruh : Seperti perjalanan berniaga kain kafan atau menjual alat muzik dan permainan yang tidak diharamkan.
Haram : Seperti bermusafir tanpa keizinan suami

(Rujukan Kitab At-Taqrirat As-Sadidah hlmn 313)

BACA: Doa Untuk Anak dan Keluarga

Marhalah bermaksud perhentian rehat bagi satu perjalanan seharian. Dua Marhalah ialah ukuran perjalanan yang dibolehkan seseorang itu melaksanakan solat Qasar dan Jamak.

Maksud ukuran 2 marhalah itu ialah:

“Jauh perjalanan sekira-kira dua hari perjalanan atau dua malam atau sehari dan semalam perjalanan unta yang membawa barang-barang dagangan ( barat-barat dagangan yangberat di atasnya).” (Rujukan Kitab Matlak Al-Badrain hlmn 92)

“Perjalanan selama dua hari (dua siang) atau dua malam atau sehari semalam dengan unta yang membawa barang dagangan yang berat.” (Rujukan Idaman Penuntut 1/90)

“Perjalanan dua hari atau dua malam atau sehari semalam jika menunggang unta.” (Rujukan Zain ATH-Tholib 1/209)

Manakala jika dirujuk pada Kamus Dewan Bahasa Edisi Keempat hlmn 999, marhalah bermaksud ukuran jarak yang lebih kurang 28 batu atau 45.06 km.

Adapun dua marhalah mengikut ukuran zaman sekarang adalah antara 85km – 90km atau bersamaan 56 batu.

Secara amnya, ukuran 1 marhalah = 2 barid = 24 mil hasyimi (8 farsakh). 1 mil = 1000 depa. Satu depa = empat hasta. Satu hasta = 46.656 cm. Ini bermakna satu depa = 186.624cm (46.656 x 4). Maka 1 mil = 6000 ribu hasta bersamaan 186.624cm (1866.24 meter atau 1.866km) atau 24 jari melintang. Oleh itu, satu marhalah = 24 mil = 44789.76 meter atau bersamaan 44.790km. maka dua marhalah = 89580 meter ( lebih kurang 89 atau 90km).

Adapun menurut Almarhum Syeikh Wahbah az-Zuhaili, dua marhalah itu bersamaan 88.704 km. (Rujukan kitab al-Wajiz 1/266).

Syeikh Muhammad ‘Ali as-Shabuni menganggarkan 84 km. (Rujukan Kitab Al-Fiqh Al-Syarie al-Muyassar hlmn 131)

Menurut Syeikh Hasan bin Ahmad bin Muhammad al-Kaff, dua marhalah itu bersamaan lebih kurang 82 km dan lebih. (Rujukan Kitab Taqrirat As-Sadidah hlmn 315).

BACA: Pernikahan Wanita Mengandung Anak Luar Nikah
Kesimpulannya, jarak dua marhalah di dalam ukuran sekarang disebutkan oleh para ulama di dalam kitab merupakan anggaran. Berkenaan dengan ukuran ini lebih kepada Taqribi (anggaran), bukannya Tahdidi (ketepatan), maka seseorang diharuskan solat Qasar jika sudah mencapai dua marhalah (seperti mana yang telah dijelaskan di atas).

Semoga pencerahan ini memberikan kefahaman dan penghayatan bersama.

Sumber: http://www.ohmedia.my

01/04/2019 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Isu qadha solat timbul lagi

Isu qadha solat timbul lagi baru-baru ni disebabkan seorang pensyarah muda yang popular di sebuah IPTA yang memegang gelaran doktor falsafah dalam bidang hadith mengatakan solat yang ditinggalkan dengan sengaja tidak perlu diqadha. Tambahan pula beliau mempunyai pengikut yang ramai di FB.

Daripada pembentangan beliau tentang hukum qadha’ solat, dapatlah diketahui bahawa beliau mengambil pendapat daripada Ibn Taimiyah, Ibn Rajab, Ibn Hazm, al-Hassan al-Basri dan al-Humaidi.

Sedangkan jumhur ulamak mengatakan wajib qadha’ solat yang ditinggalkan dengan sengaja.

Alhamdulillah telah bangkit seorang tokoh menjawab pandangan doktor muda tersebut. Tokoh yang dimaksudkan ialah Ustaz Ahmad Lutfi, beliau merupakan seorang tenaga pengajar di Madrasah Miftahul Ulum Sri Petaling dan merupakan pakar fiqh mazhab Syafi’e.

Berikut saya himpunkan jawapan Ustaz Ahmad Lutfi yang beliau kongsi di laman FB Tok Kenali Kitab Arab mengikut kronologi timeline. Dipersilakan untuk membaca satu persatu. Jawapan yang kemas dan padu!

Ibnu Hazam, Ibnu Taymiyah, Imam Hasan basri vs Dr Rozaimi

Hukum konsisten

Imam Humaidi dan Imam Hasan Basri

Imam Humaidi

Imam Humaidi dan qada

Catatan Ustaz Ahmad Lutfi

Ijmak dan qada solat

Pendapat Ibnu Taymiyah…

Terakhir bahagian 1

Terakhir bahagian 2

Terakhir benar 3

via: Ahmad Ibrahim,
National University of Singapore.
@usrah_solat_MSO

Ibnu Hazam, Ibnu Taymiyah, Imam Hasan basri vs Dr Rozaimi

1. Setelah meneliti hujah Ibnu Hazam di dalam kitabnya al-Muhalla bahawa tidak boleh qada solat maka sebenarnya mazhab Ibnu Hazam yang didukung oleh Dr Rozaimi lebih ‘ekstrim’ dan ‘menyusahkan’ umat

2. Setelah meniliti lagi saya mendapati sebenarnya Dr. Rozaimi mencipta mazhab sendiri

3. Ibnu Hazam, Imam Hasan Basri dan seumpamanya mengatakan orang yang telah meninggalkan solat dengan sengaja maka oleh kerana besarnya dosa dia meninggalkan solat maka dia tiada peluang untuk cover atau bayar balik dengan jalan qada

4. Ibnu Hazam berkata,” Orang yang meninggalkan solat dia tidak akan boleh menggantikannya buat selama-lamanya” (al-Muhalla)

5. Imam Hasan Basri juga bercakap sedemikian

6. Sambung Ibnu Hazam orang yang tinggalkan solat dengan sengaja dia perlu solat sunat sebanyak-banyaknya (mungkin akan jadi lebih banyak dari rakaat solat qada’) semoga timbangannya menjadi berat dan Allah maafkan kesalahannya

7. Bagi Ibnu Hazam tinggal satu solat contohnya Subuh maka tidak boleh qada dan tidak sah bahkan perlu banyakkan solat sunat (sudah tentu akan jadi lebih dari dua rakaat)

8. Maka kalau orang yang mahu bertaubat akan lebih berkata (saya ahli neraka) mengikut bahasa Dr. Rozaimi

9. Justeru itu isu sekarang ialah Dr Rozaimi bukan sahaja berbeza dengan majoriti bahkan dengan Hasan Basri, Ibnu Hazam dan Mentor Ibnu Taymiyah

10. Sekiranya diterangkan pendapat Ibnu Taymiyah dengan menyatakan illahnya maka sebenarnya orang ramai pasti akan mengharapkan pendapat jumhur kerana disana lebih luas rahmatnya

Sumber: Pustaka Tok Kenali Kitab Arab
@usrah_solat_MSO

29/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Baiki Cara Solat kita … [ 10 Kesilapan Biasa Sering Dilakukan Khas Buat Perempuan].

Image result for Solat muslimah

Baru saja lepas mendengar ceramah Ustazah Hjh Siti Khadijah Din,sebentar tadi. Rasa terlalu bernilai ilmu yg dicurahkan beliau, rugi kalau tak dikongsi bersama. Topik adalah mengenai adab2 solat. Setelah mengikuti kuliah beliau (2 minggu sekali) selama beberapa bulan yg lepas, baru kini timbul kesedaran betapa solat yg saya dirikan terlalu rendah kualitinya. Bagaimana bisa solat berkenaan diterima Allah…umur dah lanjut macam ni pun solat masih di peringkat mediocre, itu pun kalau boleh di kategorikan begitu.

Secara ringkasnya, sebelum memulakan solat, penceramah mencadangkan kita mengambil 2 minit untuk “menyediakan diri ” sebelum menghadap Yg Esa;

Dua perkara yg elok dilakukan sebelum berniat utk solat…sewaktu kita berdiri tegak sebelum lafaz niat:

Minit Pertama –
Membangkitkan rasa KEHAMBAAN dlm diri kita. Kenangkan kembali dosa2 kita, betapa kerdil dan hinanya kita, seolah2 tak layak untuk diberi peluang menghadap yang Esa. Pendek kata, kutuk diri sendiri dan menyesal lah.

Minit Kedua –
Membangkitkan rasa BERTUHAN. Betapa kita diciptakan oleh yg Esa utk beribadat kepadaNya. Kenangkan betapa bersyukurnya kita dijadikan sbg seorg Islam, mempunyai Tuhan yg begitu menyayangi hamba2Nya yg hina ini lebih daripada seorg ibu menyayangi anaknya.

Setelah dilakukan kedua2 perkara ni, barulah kita niat solat dan mengangkat takbir. Berniatlah dlm keadaan berdiri tegak, bukan sambil membetul2kan kain sembahyang, telekung dan sebagainya. Fokus.
Setelah bertakbir, penceramah menunjukkan pula cara2 solat yg betul,
penuh adab dan sopan, sesuai dgn keperibadian kita sebagai wanita dan selayak2nya adab untuk menghadap Tuhan.

1) Mengangkat takbir – ada 3 cara mengangkat takbir

i. Dgn meletakkan kedua2 ibu jari di bawah cuping telinga

ii. Dgn meletakkan kedua2 jari telunjuk di bawah cuping telinga

iii. Mengangkat kedua2 tangan sehingga ke paras dada (bukan telinga).

Perlu diingatkan, kedua2 lengan hendaklah dirapatkan ke badan.
Menurut penceramah, syaitan2 yg berupa kambing hitam
gemar bergayut2 dicelah lengan (bawah ketiak) utk mengganggu solat kita,
oleh itu sekiranya kedua2 lengan dirapatkan, tiada ruang utk mereka.

2) Qiyyam – cara qiyyam yg betul ialah memposisikan tgn kiri ke atas sikit
dari pusat (bukan menutup pusat) sambil ibu jari dihalakan ke atas, seolah2
menyentuh ulu hati. Tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri agak2
selesa. Pastikan kedua2 lengan adalah rapat mendekati badan.

3) Rukuk – peralihan dari posisi qiyyam kepada rukuk dilakukan dgn penuh tertib dan sopan. Kedua2 tangan melurut peha dgn perlahan dan berhenti di atas lutut.Pastikan badan kita di dlm posisi sudut tepat (90 darjah). Siku jugadirapatkan ke badan dan sudut tepat.

4) ‘Iktidal – tegakkan badan semasa membaca “Sami Allahuliman hamidah..”; dan mengangkat tangan posisi takbir ketika membaca “…rabbanaa lakal hamdu”

5) Sujud – sujud dari segi istilah ialah “penyerahan diri yang tertinggi”.
Tertib sujud ialah dengan meletakkan kedua2 lutut ke lantai, baru diikuti tapak tangan dan seterusnya dahi. Kedua2 tangan dirapatkan di bhgn bawah sedikit dari ibu jari, di mana ada sedikit ruang terbuka di antara kedua2 tangan dan di situlah dahi diletakkan. Jgn sujud terlalu jauh ke hadapan kerana dikhuatiri akan melebihi lebih dari anggota sujud yg 7 iaitu dahi, kedua tapak tangan, kedua lutut and kedua belah kaki (setakat jari shj). Ibu jari kaki dilentur sedikit agar menghala ke kiblat.

6) Duduk antara 2 sujud – ada 2 cara :

i. Papan punggung diletakkan di atas kedua2 kaki

ii. Papan punggung lebih diberatkan atas kaki kiri ,dan kaki kanan dilentur agar ibu jari menghadap kiblat.

7) Bangun selepas sujud – duduk sebentar sebelum bangun, bukan dlm keadaan bangun menungging. Sekiranya menghadapi kesulitan utk bangun, gunalah tgn kanan utk membantu kita bangun atau kedua2 tangan.

8) Tahiyyat – mengangkat telunjuk pada ketika menyebut “…illallahh. ..”;
(semasa membaca “laa ilaa ha ILLALLAH”). Jari telunjuk itu jangan diturunkan sehingga memberi salam.

9) Salam – tidak perlu ditundukkan muka sebelum memberi salam. Menoleh sejauh mungkin sehingga 180 darjah ke belakang kerana malaikat ramai di sekeliling kita. Begitu juga ketika menoleh ke kiri. Tidak salah jika bahu dialihkan sedikit bagi membolehkan kita menoleh sehingga 180 darjah. Semasa menolehke kanan, alihkan sedikit bahu kiri dan sebaliknya.

10) Berdoa sesudah solat – seelok2 duduk ialah dgn melapikkan papan punggung dgn kedua2 kaki. Tgn diangkat separas dada dan berdoalah dlm keadaan tunduk sedikit kerana sekiranya kita berdoa dgn tgn yg tinggi dan mendongak ke langit, itu melambangkan sifat bongkak. Ingatlah, kita sedang menghadap yg Esa.

Seterusnya sebelum selesai ceramah, Ustazah sempat mengingatkan
para hadirin bahawa kain yg digunakan utk solat juga perlu menepati ciri2 yg tertentu. Antaranya:-

1) Tidak jarang.

Rata2 kain telekung masa kini adalah jarang. Sekiranya kita memakai kain yg jarang dan dapat dilihat tengkuk dan warna kulit, maka solat kita
tidak sah. Seelok2nya carilah kain telekung yg tidak jarang (antara caranya ialah dgn menggunakan lapis kain ataupun, pakailah anak telekung atau tudung labuh di dalam dan pastikan sewaktu di rumah, apabila kita solat cuma dgn berbaju sleeveless di dlm telekung, pastikan bahu dan tangan tidak kelihatan warna kulit jika diamati dari luar telekung.

2) Kadang2 sewaktu musafir, ada muslimah yg malas membawa kain solat, sekadar membawa telekung sahaja (tak payah org lain, saya pun begini). Apabila tiba waktu solat, cuma kain di badan sahaja digunakan dan bagi menutupi kaki, kita memakai stokin. Cara ini memang tidak salah, tapi pastikan stokin yg dipakai tidak jarang.

Ingatlah sewaktu kita sujud, kain stokin itu akan menegang (stretch) dan manalah tahu, terdedah aurat kita ketika itu lalu tidak sahlah solat. Sebaik2nya pakai stokin yg tebal (Ustazah mencadangkan stokin yg lazim dipakai ketika bersukan) ataupun jika tiada, pakai 2 lapis.

3) Ada kain telekung yg indah bersulam dan berkerawang.

Ada yg berlubang2 sehingga di belakang telekung. Adakalanya, bagi mereka
yg rambut panjang, jika tidak ditutup betul2 dgn serkup/anak telekung,
rambut2 ini akan terkeluar2 di celah2 kerawang telekung. Oleh itu, berhati2lah.

Sama2lah kita berusaha memperbaiki solat kita kerana ia adalah tiang
agama. Pertama sekali yg akan dihisab di akhirat kelak ialah solat
kita. Solat yg baik akan melahirkan peribadi yg baik. Saya akui, terasa
agak berat.

Pengalaman saya, oleh kerana telekung saya agak jarang, saya kini
memakai tudung labuh di dlm telekung setiap kali solat sambil berazam
utk membeli telekung yg lebih baik kualitinya. Walaupun kadang2 terasa panas ketika solat saya gagahkan juga. Yg penting, saya mencuba seboleh2nya untuk mendapatkan solat yg diterima Allah, walaupun dari segi khusyuk solat, saya masih merangkak. Yg penting, kita kena ingat,inilah sebahagian persediaan kita utk akhirat, jadi biarlah berbaloi.

Jangan pula nanti kita dihisab pula kerana solat yg tak sempurna. Biar susah sekarang, jgn susah di alam baqa’.

Sekian saja yg dapat saya kongsi bersama. Sekira2 ada salah dan silap, harap dimaafkan. Segala yg baik itu datang dari Allah s.w.t. dan yg buruk itu dari saya.

Wassalam.

Dari Abdullah bin ‘Amr r.a., Rasulullah S.A.W. bersabda, Sampaikanlah pesanKu
biarpun satu ayat.

Sumber: E

17/03/2019 Posted by | Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Kedudukan Kanak-kanak Dalam Saf

Soalan :

Sekarang ni di masjid/surau timbul isu berkaitan kedudukan anak-anak dalam saf ketika solat berjemaah.

Boleh bantu beri pandangan?

Jawapan Oleh Ustaz Mohd Khafidz

بسم الله وبه نستعين

1. Asalnya masyarakat telah pun sedia mengikut apa yang telah diajarkan oleh para ulama kita mazhab Syafii, mengikut sepertimana yang telah dihuraikan dalam kitab-kitab besar fiqh Syafii. Namun, lama kelamaan apabila setengah kita makin jauh dari mendalami ilmu & mempelajari kitab-kitab besar mazhab Syafii ini, kita mula keliru apabila ada golongan yang datang kemudian gemar mengatakan “ini sunnah”, “ini bidaah”. Sedangkan di dalam kitab2 itu telah pun diterangkan secara terperinci hukum hakamnya, mana yang sah, mana yang batal, mana yang sunnah, mana yang makruh, mana yang harus, mana yang afdhal/terlebih sempurna, mana yang syarat dan bukan syarat dan sebagainya.

2. Perbincangan dalam kitab-kitab fiqh sebenarnya lebih harmoni dan halus, tidak sekadar “ini sunnah”, “ini bidaah”. Golongan tersebut sebenarnya keliru & mengelirukan. Lebih merumitkan apabila mereka mengambil fatwa itu daripada ulama negara lain yang boleh menerima pandangan itu menurut usul mazhab mereka barangkali, lalu dibawa ke negara kita yang sudah sedia ada ulamanya yang mengikut usul mazhab sendiri. Barangkali tidak ada apa-apa jika fatwa yang datang dari luar itu sekadar diamal oleh pembawanya, namun yang meresahkan ialah apabila si pembawa itu kurang ilmu lalu menyalah-nyalahkan pandangan mazhab tempatan yang sudah sedia lama diamalkan. Golongan keliru ini hanya tahu menghukum “ini sunnah”, “ini bidaah”.

3. Dalam mazhab Syafii, sunnah kedudukan saf yang sempurna ketika solat berjemaah ialah sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam an-Nawawi (w. 676H) dalam al-Minhaj: “Hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Pernyataan ini umum dan jika ada masalah-masalah yang datang kemudian perlulah dihuraikan sesuai mengikut situasinya. (Dalam setengah kitab seperti Asna al-Matalib oleh Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari (w. 926H) dinyatakan; yang berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian khunsa, kemudian perempuan)

4. Semua ulama yang mensyarahkan kata-kata tersebut tidak pun menafikannya dengan mengatakan “kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan orang dewasa” dan sebagainya. Boleh rujuk seperti Tuhfah al-Muhtaj oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Hasyiah Qalyubi (w. 1069H) & Umairah (w. 957H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan lain-lain.

.5. Dalil mereka adalah hadis sahih:

لِيَلِيَنِّي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ. (أخرجه مسلم وأبو داود والنسائي في الكبرى وابن ماجه)

“Hendaklah berdiri di belakangku dari kalangan kamu orang-orang yang matang/baligh dan faham/berakal, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka”.

6. Bahkan ada diriwayatkan hadis dengan sanad hasan yang menyebut secara jelas susunan saf tersebut iaitu:

عَن أبي مَالك الْأَشْعَرِيّ قَالَ: أَلَا أُحَدِّثُكُمْ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَصَفَّ الرِّجَالَ وَصَفَّ خَلْفَهُمُ الْغِلْمَانَ، ثُمَّ صَلَّى بِهِمْ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَاد حسن، قاله النووي في خلاصة الأحكام)

Daripada Abu Malik al-Asya‘ri RA katanya: “Mahukah aku khabarkan kamu tentang solat Nabi SAW, iaitu baginda mendirikan solat dan menyusun saf kaum lelaki dan menyusun di belakang mereka saf kanak-kanak, kemudian baru baginda mengimami mereka”. Dalam versi lain:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلِيهِ فِي الصَّلَاةِ الرِّجَالُ، ثُمَّ الصِّبْيَانُ، ثُمَّ النِّسَاءُ. (رَوَاه الْبَيْهَقِيُّ في السنن الكبرى وضَعَّفَهُ)

“Telah berdiri di belakang Rasulullah SAW di dalam solat, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Sanad hadis ini daif, namun dikuatkan dengan hadis-hadis di atas.

7. Hadis-hadis ini tidaklah menunjukkan hukum wajib dan hanya menunjukkan kesempurnaan serta yang afdhal. Jika ada kanak-kanak yang berdiri di dalam saf orang dewasa dan tidak bermain-main, tidaklah perlu dihalang dan ditegah.

8. Kata Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari dalam Asna al-Matalib:

“Kata al-Azra‘i: Dikemudiankan saf kanak-kamak daripada kaum lelaki adalah jika sudah tidak muat saf kaum lelaki. Jika tidak (yakni masih ada ruang), dipenuhkan saf itu dengan kanak-kanak, tiada masalah. Semuanya ini adalah mustahab, bukannya syarat. Sekiranya mereka menyalahi (susunan ini), sah solat mereka itu berserta makruh.” Katanya lagi: “Dan jangan ditukarkan kanak2 yang hadir dahulu untuk kaum lelaki yang hadir kemudian…”.

Ini kerana mereka lebih berhak berdiri di situ, walaupun pada saf pertama, sepertimana yang disebut dlm al-Minhaj al-Qawim, Mughni al-Muhtaj dan lain-lain.

9. Disebut dalam I’anah at-Talibin oleh Syekh Abu Bakr Syata (w. 1310H):

“Disunatkan jika ada berbagai-bagai peringkat makmum, hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, walaupun hamba sahaya, kemudian sesudahnya – jika telah penuh saf mereka – kanak-kanak, kemudian sesudah mereka– walaupun tidak penuh saf mereka – kaum perempuan”. Kata beliau lagi: “Apabila susunan tersebut disalahi, ianya makruh”.

Rujuk juga perinciannya di dalam Tuhfah al-Muhtaj & al-Minhaj al-Qawim oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan laun-lain.

10. Pandangan yang mengatakan kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan org dewasa dengan erti kata diselang selikan atau setiap kanak-kanak mesti berdiri di sebelah bapanya adalah pandangan yang janggal dan mengelirukan. Lebih parah lagi didakwa itu adalah sunnah dan selainnya adalah bidaah! Kita tidak tahu ada ulama-ulamak muktabar terdahulu yang mengeluarkan fatwa sedemikian.

Wallahu a’lam.

Sumber :

17/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

KEMUNCULAN PENDAKWAH PENDAKWA SESAT AKHIR ZAMAN YG MENYAMAKAN ALLAH DGN MAKHLUK

Hadis Nabi.
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada baginda tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”
Aku bertanya : “Wahai RASULULLAH!!, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejahatan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?”
Baginda berkata : “Ya”
Aku bertanya : “Dan apakah setelah keburukan ini akan datang kebaikan?”
Baginda menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”.
Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?”
Baginda menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan menolaknyanya”
Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejahatan lagi ?”
Baginda menjawab :”Ya, (akan muncul) para dai-dai (para pendakwah) yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka mereka pun akan menjerumuskan ke dalam neraka”
Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka kepada kami ?”
Baginda menjawab : “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita”
Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini”
Baginda menjawab : “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”
Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak ada imam dan jama’ah kaum muslimin?”
Baginda menjawab :”Tinggalkan semua kelompok-kelompok itu, walaupun kau menggigit akar pohon sehinggalah ajal mendatangimu”.

Antara ajaran pendakwah songsang di akhir zaman adalah:

1- Menyebar ajaran Allah Duduk dan berada di atas langit & arasy.

2- Menyebar ajaran Tasybih dan Tajsim seperti menganggap Allah beranggota muka, tgn, jari jemari, kaki dan lain2 anggota.

3- Mengharmkan sambutan Maulid Nabi.

4- Mengharamkan tawasul dan ambil berkat Rasulullah.

5- Tidak menggalakkan bacaan Yasin Malam Jumaat, tahlil arwah.

6- Menganggap kewujudan Allah mengikut kewujudan makhluk.

7-Menganggap Allah perlu kepada kita.

8- Menolak kehormatan ulamak dan majlis ilmu atas alasan sudah memiliki ilmu laduni.

9- Mendakwa ‘Allah zat yg sgt sunyi, Allah adalah harta karun dan kanzun yg ternilai.
Tapi bila di teliti semula hakikatnya mereka yg sunyi, sunyi dari ulamak, sbb tu mereka tolak dan hina semua ulamak, mereka berguru dgn khayalan, syaitan telah mengkhayalkan bagi mereka, walau pun mereka diberi peluang berceramah dI depan masyarakat.

10- Membezakan ilmu hakikat dgn syariat dgn dakwaan yg pelik, dan lain2.

HATI-HATILAH DARI INSAN YG MENYEBAR AJARAN-AJARAN SEBEGINI.

Semoga Allah melindungi Umat Islam.

Sumber:
USTAZ AHMAD FAIDZURRAHIM

https://m.facebook.com/photo.php?fbid=373225880178094&id=100024720556788&set=a.115299885970696&source=57

05/03/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Ada orang kata Jubah, Serban Dan Ridak Bukan Sunnah Rasulullah SAW

Ado orang kato – Sorban ni bukan sunnah Nabi SAW sobab Abu lahab, Abu Jahal dan Abu-abu yang lain dizaman jahiliyah pun pakai sorban.

Mereka juga kata, jubbah, sorban rida bukan sunnah Nabi SAW, itu budaya Arab. Pakaian, kena ikut MAJORITI penduduk. Kalau penduduk tak pakai jubbah dan serban, maka pakai macam penduduklah. Jika penduduk pakai bikini, maka kena pakai bikini ge agaknya ? Hehehe

[SOAL JAWAB : SERBAN NABI] SOALAN: ADAKAH DALIL SAHIH TENTANG SERBAN, BUKANKAH ITU HANYALAH PAKAIAN ORANG ARAB?

JAWAPAN:

Dijawab oleh Al-Allamah Al-Muhaddith Al-Habib Munzir Al-Musawa sebagaimana berikut,

1. dari Amr bin Umayyah ra dari ayahnya berkata : Kulihat Rasulullah saw mengusap surbannya dan kedua khuffnya (Shahih Bukhari Bab Wudhu, Al Mash alalKhuffain).

2. dari Ibnul Mughirah ra, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw mengusap kedua khuffnya, dan depan wajahnya, dan atas surbannya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

3. para sahabat sujud diatas Surban dan kopyahnya dan kedua tangan mereka disembunyikan dikain lengan bajunya (menyentuh bumi namun kedua telapak tangan mereka beralaskan bajunya krn bumi sangat panas untuk disentuh). saat cuaca sangat panas. (Shahih Bukhari Bab Shalat).

4. Rasulullah saw membasuh surbannya (tanpa membukanya saat wudhu) lalu mengusap kedua khuff nya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

TAMBAHAN:

1. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Jabir dikemukakan: “Nabi saw memasuki kota Makkah pada waktu Fathu Makkah beliau mengenakan serban (‘imamah) hitam.” (HR. At-Tarmidzi. Hadits ini diriwayatan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadits ini pun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir ra.)

2. ‘Amr bin Huraits berkata: “Aku melihat serban hitam di atas kepala Rasulullah saw.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar, dari Sufyan, dari Musawir al-Waraq, dari Ja’far bin ‘Amr bin Huraits, yang bersumber dari bapaknya.)

3. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Umar ra. dikemukakan : “Apabila Nabi memakai sorban, maka dilepaskannya ujung serbannya di antara kedua bahunya.” Kemudian Nafi’ berkata : “Ibnu ‘Umar juga berbuat begitu.” ‘Ubaidullah berkata: “Kulihat al-Qasim bin Muhammad dan Salim, keduanya juga berbuat demikian.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al Hamdzani, dari Yahya bin Muhammad al-Madini, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Nafi’, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar.)

4. Ibnu ‘Abbas ra. mengemukakan: “Sesungguhnya Nabi Muhammad berpidato di hadapan ummat. Waktu itu beliau mengenakan serban, dan serbannya terkena minyak rambut.” (HR. At-Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Yusuf bin ‘Isa, dari Waki’, dari Abu Sulaiman, yaitu ‘Abdurrahman bin Ghasail, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas)

KOMEN: “Barangsiapa yg tak menyukai sunnahku maka ia bukan dari golonganku” (Shahih Bukhari).

Di atas itu SEMUA dari Rasulullah SAW yang SAHIH.

Nak Tanya, Serban ni SUNNAH atau BIDA’AH ?

(Kadang-kadang pelik, hadis dhaif mati2 dia orang marah. Tapi hadis SAHIH mereka TAK AMAL pun)

Sumber: http://as-suhaime.blogspot.com/2014/06/wahabi-kata-jubah-serban-dan-ridak.html?m=1

17/02/2019 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

PAKAI SERBAN ITU ADAT ARAB JAHILIYAH?

(Bicara Hadith Bersama Ustaz Mohd Khafidz Soroni)

Imam Bukhari Rh.a dalam sahihnya Bukhari telah memasukkan satu bab iaitu باب العمامة lalu dibawah bab Beliau memasukkan hadis لا يلبس المحرم القميص ولا العمامة ولا السراول الى أخر الحديث
عمائم adalah lafaz jamak kpd عمامة
Memakai imamah (serban) banyak sekali dinukilkan daripada Baginda SAW dan jemaah Para Sahabah R.Anhum Ajmain.
Juga dalam Sahih Bukhari dlm Kitabul Wudhuk diriwayatkan dari tariq Jaafar Bin Amar r.a :
رايت النبي صلى الله عليه و سلم يمسح على عمامته و خفيه….
Aku melihat Baginda SAW menyapu ke atas serban dan kedua khuf Baginda SAW….

Demikian juga riwayat Sahih Muslim dari tariq Mughirah Bin Syu’bah r.a :
توضأ النبي صلى الله عليه و سلم و مسح على الخفين و العمامة…
Telah berwudhuk Nabi SAW dan telah menyapu ke atas kedua khuf dan serban Baginda SAW…

Maka dari hadis-hadis ini telah sabitlah bahawa memakai serban adalah di antara sunnah Baginda SAW dan mereka yang memakainya akan mendapat pahala sunnah dan yang paling penting akan mendapat Muhabbat dan Cinta Allah Rabbul Izzah sepertimana janji Allah dalam firmanNya :
قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفرلكم زنوبكم و الله غفور الرحيم
Katakanlah wahai Muhammad SAW sekiranya kamu mencintai Allah maka hendaklah kamu ittiba’akan daku. Nescaya Allah akan mula mencintai diri kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu. (Al-Imran)..

Banyak sekali hadis-hadis yang mentaghribkan supaya istiqamah memakai serban, antaranya Imam Tabrani menukilkan di dalam Mu’jam Kabirnya dan Imam Baihaqi rh.a di dalam Syu’bul Iman akan satu hadis marfu’ dari Nabi SAW :
أعتموا تذدادو الحلما……
Pakailah kamu akan serban kerana sesungguhnya dengan memakainya akan menambahkan sifat hilm….
Walaupun hadis ini dinilai dhaif oleh Imam Bukhari rh.a , namun Imam Hakim rh.a telah mentashihkannya dan pula hadis ini mempunyai banyak syawahidnya yang menjadikan hadis ini paling kurang Hadis Hasan Lighairihi….

Antaranya hadis yang dinukilkan oleh Imam Abu Daud rh.a dalam Sunannya dari tariq Rukanah r.a…..:
سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول فرق ما بيننا و بين المشركين العمائم على القلانس
Aku mendengar Baginda SAW bersabda:
Perbezaan di antara kita dengan golongan Musyrikin adalah kita memakai serban di atas kopiah ( sedangkan Musyrikin mereka memakai serban tanpa kopiah)…(Abu Daud/ Bab Fil Ama’im/Hadis no 4078)

Imam Abu Daud tidak memberi komentar apa2 tentang hadis ini yang memberi maksud hadis ini Solih (sohih) menurut pendapatnya…

Begitu pentingnya nilai memakai serban sehingga dijadikan Baginda SAW pengukur untuk membezakan cara dan kaifiat kita memakai serban dengan cara Musyrikin..
Nah! Mana perginya mereka yg mengatakan memakai serban ini adalah sunnah orang arab?? Mereka tidak memerhatikan bagaimana hadis lain mensyarahkan bahawa walaupun orang2 Arab terdahulu memakai serban namun kaifiat memakai serban adalah amat berbeza dengan kita orang2 Islam..

Pertamanya saya tidak berani untuk mengatakan memakai serban ini hanyalah adat orng2 Arab. Ini kerana terdapat satu asar ketika mana seseorang telah bertanya Ibnu Umar r.a (Pencinta Sunnah Baginda SAW yg hakiki)…
يا ابا عبد الرحمان : هل العمامة السنة؟ قال نعم…
Wahai Abu Abdul Rahman (kuniah bg Ibnu Umar) adakah memakai serban itu satu sunnah? Beliau menjawab: ya! (Umdatul Qari Syarah Sahih Bukhari Juzu’ 18/ Kitabul Libas/ Babul Ama’im)

Baiklah (ala sabil-taslim) sekiranya kita mengalah bahawa memakai serban ini hanyalah adat orang-orang Arab. Namun adat yang mana telah dijadikan amalan oleh Baginda SAW, secara automatiknya ia akan menjadi sunnah walaupun ianya tidak digelar sunnah ibadah tapi ianya dipanggil sunnah adiyah ataupun sunnah jibliyyah…

Namun yang kita tuntut adalah Cinta dan Muhabbat Allah dan janji kurnia cinta dan muhabbat llah ada di dalam itiiba’ Baginda SAW yg sepurna damada dalam ittiba’ sunnah ibaadah mahupun sunnah aadah…

Wallhu A’lam.!!

Oleh Maulana Wan Aswadi, Miftahul Ulum Hulu Langat

17/02/2019 Posted by | Bicara Ulama, Fad hail Amal, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Cara Membaca Yassin Pada Orang Sakit Tenat

Foto Hiasan

Masyarakat Melayu telah lama buat salah dalam ‘membantu’ seseorang menghadapi saat sakaratul maut.

Telah menjadi kebiasaan orang Melayu Islam di Malaysia, kita akan mengelilingi orang yang tengah sakit tenat dan nazak dengan masing-masing membaca surah Yaasin, dengan bacaan yang tersendiri dan bermacam-macam ragam (ada yang baca dengan tartil, tetapi ada juga yang baca dengan laju macam nak lumba F1).

Perbuatan sebegini sebenarnya mungkin akan menjadikan orang yang tengah nazak merasa lebih kelam kabut (kerana menurut apa yang kita faham dari ustaz2 sebelum datangnya kematian, kita akan ‘disibukkan’ dengan segala macam gambaran perbuatan kita di dunia).

Kaedah yang sepatutnya diamalkan ialah seperti yang di ajar para alim ulama:

* Lantik seorang yang bacaan al-qurannya paling baik (dari segi tajwid dan fasohah) untuk membaca surah Yaasin, yang lain-lain bolehlah bersama-sama buat semakan bacaan.

* Sebaik-baiknya orang yang dilantik itu adalah ANAK ataupun SAUDARA TERDEKAT yang mempunyai perasaan kasih pada orang yang sedang tenat/nazak.

* Merenung wajah orang tengah nazak tersebut sebelum surah Yasin dibacakan. Ini adalah untuk menimbulkan rasa belas kasihan dan mudah-mudahan berkat daripada surah yang dibaca itu, boleh membantu memudahkan pencabutan nyawa si pesakit tersebut.

* Membaca 3 hingga 4 ayat Surah Yaasin, berhenti, dan menolong (menuntun) beliau untuk mengucap “Laa ila ha illallah”.

* Kemudian menyambung semula bacaan, baca 3 hingga 4 ayat, berhenti lagi, dan menolong beliau mengucap “Laa ila haillallah” lagi.

* Diteruskan sehinggalah beliau menghembuskan nafas yang terakhir.

Semoga ini dapat meningkatkan lagi ilmu pengetahuan kita dalam ‘membantu’ saudara mara atau mak ayah kita dalam menghadapi saat-saat getir sakaratulmaut.

Dan semoga kita mendapat segala rahmat serta hidayahNYA dalam membuat amal kebajikan dengan cara yang betul dan bukannya semata-mata melalui ikut-ikutan/adat.

Sumber: http://kerdipanrohani.blogspot.com/2010/02/cara-membaca-yassin-pada-orang-sakit.html?m=1

14/02/2019 Posted by | Fad hail Amal, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Panduan Solat Hajat Yang Betul Dan Lengkap

Solat Hajat merupakan solat sunat yang didirikan untuk memohon hajat atau ketika berada dalam permasalahan dan kesukaran. Ia dilakukan bagi mengharapkan pertolongan daripada Allah SWT dan memohon sesuatu perkara atau menolak sesuatu yang tidak diingini agar apa yang dihajati itu dikabulkan. Walau bagaimana pun ia hendaklah disertai dengan keazaman dan usaha yang gigih di samping bertawakal kepada Allah Yang Maha Pencipta.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesiapa yang mempunyai hajat kepada Allah SWT atau kepada seorang manusia, maka hendaklah ia berwuduk dengan sebaik-baiknya kemudian dia bersolat dua raka’at.” (Riwayat At-Tarmizi)

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad shahih dari Abu Darda’ bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Sesiapa berwudhuk dan menyempurnakannya, kemudian solat dua raka’at dengan sempurna, nescaya Allah memberikan apa saja yang dimintanya, sama ada cepat ataupun lambat.”

Solat Hajat ini mempunyai kelainan kerana pada sujud yang terakhir, mukmim yang melakukan solat hajat itu perlu memuji-muji Allah SWT disertakan dengan niat apa yang dihajati atau hendak dicapai. Sesudah melakukan solat hajat, perlu berdoa sekali lagi agar permintaan mudah dimakbulkan.

Solat hajat boleh didirikan secara bersendirian atau berjemaah, sama ada pada waktu siang maupun malam hari. Lebih afdal Solat Hajat bersendirian sewaktu suasana sunyi selepas tengah malam (selepas 2/3 malam, iaitu 1/3 malam terakhir) kerana ianya lebih berkesan, lebih khusyuk dan amat hening suasananya.

Solat Hajat dilakukan dengan pelbagai cara dan ia boleh didirikan sehingga 12 rakaat dan paling minima adalah 2 rakaat. Solat Hajat ini mempunyai kelainan kerana pada sujud yang terakhir, mukmim yang melakukan solat hajat itu perlu memuji-muji Allah dan disertakan dengan niat hajat yang hendak dicapai. Sesudah melakukan solat hajat, perlu berdoa sekali lagi agar permintaan mudah di makburkan.

FADHILAT SOLAT HAJAT

Berasa tenang setelah bebanan disampaikan kepada Allah SWT.
Menjadi lebih bersifat ikhlas menerima ketentuan Allah.
Permohonan dimakbulkan Allah SWT.

PANDUAN SOLAT HAJAT

Sekiranya dilakukan selepas terjaga dari tidur pada sebelah malam, sebelum melakukan Solat Sunat Hajat, hendaklah bersugi dan mandi terlebih dahulu kemudian berwuduk bagi membersihkan diri dan menyegarkan diri. Pakailah pakaian yang bersih dan afdalnya berwarna putih.

Alhakim berkata,“Sesiapa yang melaksanakan solat sunat hajat, hendaklah ia mandi pada malam Jumaat dan memakai pakaian yang bersih dan solatlah di waktu sahur dengan niat mohon dipenuhi hajatnya.”

Sebaiknya dirikanlah Solat Sunat Wuduk dan Tahajjud terlebih dahulu sebelum melakukan Solat Sunat Hajat.

CARA MELAKUKAN SOLAT HAJAT

Dirikanlah Solat Sunat Hajat sebagaimana solat-solat biasa yang lain dengan mematuhi 13 rukun yang telah disyariatkan itu. Perbezaannya cuma pada perkara-perkara berikut:

1. Lafaz dan niat:

“U-shol-lii sun-na-tal haa-ja-ti rok-’a-tai-ni lil-laa-hi ta-’aa-laa.”

Daku Solat Sunat Hajat dua raka’at, kerana Allah Ta’ala.

2. Bacaan selepas Al-Fatihah

Rakaat pertama: Surah Al-Kafirun atau Ayat Al-Kursi (satu kali atau 11 kali)

“ALLaahu la ilaaha illa huwal hayyul Qayyum, la ta ‘khudzuhu sinatun walaa naumun lahu maa fissamaawaati wama fil ardhi, man dzal ladziiyasy fa ‘u ‘indahu illaa biidznih, ya ‘lamu maa baina aydiihim wa maa khalfahum, walaayuhiithuuna bisyai-in min’ilmihi illaa bimaa syaa-a, wasi’a kursiyuhus samaawaati wal ardhi, walaa yauuduhu hifzuhumaa wa huwal’aliyuul ‘azhiim.”

“Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tertidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat (pertolongan) di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kerajaan Allah (IlmuNya dan KekuasaanNya) meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi (darjat kemuliaanNya), lagi Maha Besar (kekuasaanNya).” [Surah Al Baqarah 255 (Ayatul Kursiy)]

Rakaat kedua: Surah Al-Ikhlas (sekali atau 11 kali)

“Qul huwallaahu ahad, Allaahush shamad, Lam yalid walam yualad, Wa lam yakun lahu kufuwan ahad.”

“Katakanlah : Allah itu Esa! Allah tempat meminta. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

*Sesungguhnya sebahagian daripada doa yang tidak ditolak ialah bersolat, di mana ia membaca pada setiap rakaat ‘Surah Al-Fatihah’, ‘ayat Al-Kursi’ dan ‘Qulhu wallaahu Ahad’

3. Membaca Tasbih

a. Sebaik sahaja selesai solat (sesudah memberi salam), terus sujud sekali lagi dan bacalah tasbih ini 41 kali:

“Laa-i-la-ha il-la an-ta sub-haa-na-ka in-ni kun-tu mi-naz-zhoo li-min.”

Tiada Tuhan melainkan Dikau (Allah)! Maha Suci Dikau! Sesungguhnya daku ini dari golongan orang yang aniaya.

b. Atau Tasbih berikut 1 kali:

4. Wirid Selepas Solat Hajat

Sesudah selesai menunaikan solat sunat Hajat, wiridkanlah kalimat-kalimat berikut:

a. Istighfar (10 / 100 kali)

“As-tagh-fi-rul-laah, Rab-bi min kul-li zan-bi wa-a-tuu-bu i-laih.”

Daku memohon ampun kepada Allah, Tuhanku, daripada segala dosa dan daku bertaubat kepada-Nya.

b. Zikir

“Laa-i-la-ha il-lal-laah, Mu-ham-mad-da ro-suu-lul-laah.”

Tiada Tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.

c. Selawat (10 / 100 kali)

“Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihii Sayyidinaa Muhammadin.”

Ya Allah! Sejahterakanlah ke atas penghulu kami Nabi Muhamad SAW dan ke atas ahli keluarga penghulu kami Muhamad SAW.

5. Doa Solat Hajat

Teruslah memohon hajat yang dikehendaki sewaktu masih bersujud. Kemudian duduk semula dan bacalah doa berikut:

Sumber: shafiqolbu

08/11/2018 Posted by | Fad hail Amal, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Tidak tunai tanggungjawab selaku isteri

Saya mempunyai beberapa soalan berkaitan tanggungjawab isteri.

Pertama, apakah hukumnya jika seorang isteri tidak menjalankan tanggungjawab sepenuhnya seperti menjaga makan, minum dan pakaian suami?

Kedua, apakah hukumnya jika isteri suka mengeluarkan kata-kata kesat terhadap suami?

Ketiga, apakah hukumnya jika suami memberikan nafkah zahir seperti wang sekadar mencukupi kepada isteri kerana selebihnya digunakan untuk membayar hutang?

Keempat, apakah hukum suami membiarkan isteri yang nusyuz tanpa mendapat sebarang layanan bertahun-tahun lamanya, dan hanya memberi nasihat tetapi tidak diendahkan isteri?

Terakhir, apakah hukum isteri yang nusyuz? Adakah layak baginya menerima hak suami seperti wang dan sebagainya?

SHAMSUL, Batu Gajah, Perak

Tanggungjawab dalam rumah tangga terbahagi kepada tiga iaitu tanggungjawab suami, tanggungjawab isteri dan tanggungjawab bersama.

Namun, tanggungjawab yang paling besar ialah terhadap ketua keluarga yang dinamakan suami atau bapa.

Tanggungjawab ini saudara boleh rujuk dalam kitab, majlis ilmu atau sumber maklumat lain.

Di sini dibawakan dua maksud daripada al-Quran, firman Allah SWT: “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah SWT telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan kerana mereka (lelaki) telah menafkahkan sebahagian daripada harta mereka.

“Sebab itu maka wanita soleh ialah yang taat kepada Allah SWT lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh kerana Allah SWT memelihara (mereka).

“Wanita yang kamu khuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka.

“Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (surah an-Nisa, ayat 34)

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah daripada harta yang diberikan Allah SWT kepadanya.

“Allah SWT tidak memikulkan beban pada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah SWT berikan kepadanya. Allah SWT kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (surah al-Thalaq, ayat 7)

Sebelum pergi jauh mempertikaikan tanggungjawab isteri, adakah suami telah melaksanakan tanggungjawabnya seperti mengajar, membimbing dan memberikan pendidikan agama?

Sebelum suruh menjaga makan minum dan pakaian, sudahkan suami menyediakan kelengkapan dapur dan keperluan makan minum? Wallahualam.

Isteri yang mengeluarkan kata kesat terhadap suami adalah berdosa dan boleh dihukum nusyuz, namun kenapa perkataan demikian dikeluarkan? Wallahualam.

Nafkah secara zahirnya tidak boleh dipertikaikan, ia rezeki daripada Allah SWT selepas berusaha sebaik-baiknya.

Isteri seharusnya memahami dan menerima seadanya. Inilah dikatakan perkongsian rumah tangga.

Sudah pasti isteri seperti ini memahami agama dan bertanggungjawab.

Sabarlah dan didiklah isteri dengan meletak harapan untuk berubah. Didik mereka memahami agama dan adab berumah tangga.

Mintalah nasihat daripada mereka yang berpengalaman dalam rumah tangga.

Jangan suami terlalu banyak menghukum, carilah puncanya masalah dan selesaikan. Penting bagi suami mengadu kepada Allah SWT dalam doa dan munajat supaya mendapat jalan penyelesaiannya. Akhirnya hanya pada Allah SWT tempat mengadu.

Oleh Ustaz Haslin Baharin

Artikel ini disiarkan pada : Ahad, 15 Februari 2015 @ 1:42 AM

2018 © Harian Metro.
New Straits Times Press (M) Bhd.

27/10/2018 Posted by | Fiqh, Ibadah, Muamalat (Keluarga), Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Hukum berdehem dalam Solat.

27/10/2018 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Menyertai Polisi Insurans Konvensional: Halal Atau Haram?

Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia (MJFK) telahpun memutuskan hukum berkaitan dengannya dalam beberapa siri persidangan yang membahaskan status insurans konvensional. Secara umumnya semua jenis insurans konvensional sama ada insurans nyawa, insurans am serta memperomosikannya juga adalah haram

By: Abdul Muhaimin Mahmood

Mencari sesuatu yang halal untuk dimakan atau digunakan dalam kehidupan seharian adalah merupakan suatu kewajipan yang difardukan oleh Allah SWT ke atas setiap Muslim, kerana mengambil yang halal itu dapat menambah cahaya iman dan membuat termakbulnya doa dan diterima amal ibadah, sebagaimana memakan yang haram boleh menghalang doa dan ibadat dari diterima oleh Allah SWT. [1] Rasulullah SAW bersabda;

وعن أنس بن مالك عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : ] طَلبُ الحَلالِ وَاجِبٌ على كلِ مُسلِم.[ [2] رواه الطبراني في الأوسط وإسناده حسن

Maksudnya: Anas bin Malik meriwayatkan dari Rasulullah SAW, bersabda; “Mencari yang halal adalah suatu kewajipan ke atas setiap Muslim”. Diriwayatkan oleh al-Thabarani dengan sanad yang baik (hasan).

Merujuk kepada persoalan hukum insurans konvensional, Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia (MJFK) telahpun memutuskan hukum berkaitan dengannya dalam beberapa siri persidangan yang membahaskan status insurans konvensional.

Secara umumnya semua jenis insurans konvensional sama ada insurans nyawa, insurans am serta memperomosikannya juga adalah haram. Berikut dilampirkan keputusan-keputusan muzakarah berhubung insurans konvensional:

Hukum insurans nyawa.

Persidangan Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-16 yang bersidang pada 15-16 Feb 1979 telah membincangkan mengenai insurans. Persidangan telah memutuskan bahawa insuran nyawa sebagaimana yang dikendalikan oleh kebanyakan syarikat insuran yang ada pada hari ini adalah haram dan sebagai suatu muamalah yang fasad kerana aqadnya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam iaitu:

Mengandungi gharar (ketidak-tentuan)
Mengandungi unsur judi.
Mengandungi muamalah riba.[3]
Hukum insurans am

Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-80 yang bersidang pada 1 – 3 Februari 2008 telah membincangkan Kajian Hukum Insurans Am. Muzakarah telah memutuskan bahawa hukum ke atas Insurans Am adalah tidak diharuskan oleh Islam.[4]

Hukum mempromosikan produk insurans konvensional.

Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-89 yang bersidang pada 14 – 16 Disember 2009 telah membincangkan Hukum Mempromosikan Produk Insurans Konvensional Menurut Perspektif Syariah.

Muzakarah berpandangan bahawa sistem takaful berlandaskan syariah sedang pesat berkembang dan memerlukan sokongan umat Islam dalam usaha untuk memartabatkan sistem muamalat Islam. Sehubungan itu, Muzakarah memutuskan bahawa orang Islam adalah dilarang mempromosikan produk insurans konvensional yang jelas berasaskan sistem riba.

Walau bagaimanapun, pendapatan atau komisyen yang diterima dalam proses transisi dari sistem konvensional kepada takaful adalah dimaafkan.[5]

Selain dari status hukum isurans nyawa, insurans am dan hukum mempromosikan produk tersebut, muzakarah turut membincangkan tentang status pampasan polisi insurans konvensional selepas kematian pembeli polisi, pada muzakarah kali Ke-94 yang bersidang pada 20 -22 April 2011..

Muzakarah telah memutuskan seperti berikut:

Setelah meneliti keterangan, hujah-hujah dan pandangan yang dikemukakan, Muzakarah berpandangan bahawa insurans konvensional adalah suatu muamalah yang tidak patuh syariah kerana mempunyai elemen-elemen yang bercanggah dengan prinsip teras Islam.
Sehubungan itu, Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa pampasan polisi insurans konvensional yang diterima oleh ahli waris adalah dikira sebagai harta tidak patuh syariah.
Dalam hal ini, jumlah bayaran pokok pembeli polisi ketika hayat sahaja dikategorikan sebagai harta peninggalan si mati yang perlu diagihkan secara sistem faraid. Manakala baki pampasan polisi insurans konvensional tersebut tidak boleh diwarisi oleh ahli waris secara sistem faraid serta wajib dilupuskan dengan diserahkan sama ada kepada pihak Baitulmal Majlis Agama Islam Negeri-Negeri atau didermakan untuk tujuan kebajikan termasuklah kepada golongan fakir dan miskin.
Jika terdapat ahli waris pembeli polisi, contohnya isteri atau anak-anak pembeli polisi dikategorikan sebagai golongan fakir dan miskin, maka hukumnya adalah harus bagi ahli waris tersebut untuk mengambil wang pampasan polisi insurans konvensional tersebut dengan jumlah sekadar keperluan sebagai fakir dan miskin setelah disahkan oleh pihak berkuasa atau Jawatankuasa Kariah kawasan berkenaan. Baki wang pampasan polisi tersebut perlulah dilupuskan mengikut cara yang telah dinyatakan dalam perkara (c) di atas.
Berdasarkan keputusan-keputusan yang disebutkan di atas, jelas menerangkan tentang status hukum bagi insurans konvensional. Justeru, umat Islam sewajarnya meninggalkan produk-produk konvensional yang telah diharamkan oleh Allah SWT.

Sebagai alternatif kepada produk-produk konvensional tersebut, umat Islam hendaklah mengambil produk-produk takaful yang patuh syariah yang menawarkan pelbagai jenis perlindungan secara Islam.

Dewasa ini tiada lagi alasan darurat yang mendesak umat Islam untuk tidak mengambil dan menggunakan produk-produk perlindungan berasaskan takaful yang patuh syariah. Bahkan menjadi kewajipan pada mereka untuk mendokong produk-produk berasaskan takaful, sebagai menggantikan produk-produk konvensional yang diharamkan dalam Islam.

Sekarang ini pengguna boleh memilih syarikat-syarikat pengendali takaful patuh syariah, yang telah diberikan lesen oleh Bank Negara Malaysia (BNM). Buat masa ini terdapat 12 syarikat pengendali takaful yang patuh syariah di Malaysia sebagimana dipaparkan dalam web BNM[6].

Syarikat-syarikat tersebut ialah:

AIA AFG Takaful Bhd
AmFamily Takaful Berhad
CIMB Aviva Takaful Berhad
Etiqa Takaful Berhad
Great Eastern Takaful Sdn Bhd
Hong Leong MSIG Takaful Berhad
HSBC Amanah Takaful (Malaysia) Sdn Bhd
ING PUBLIC Takaful Ehsan Berhad
Prudential BSN Takaful Berhad
Syarikat Takaful Malaysia Berhad
Takaful Ikhlas Sdn. Bhd.
MAA Takaful Berhad.

KESIMPULAN

Islam mewajibkan umat Islam mencari sesuatu halal dalam segenap perkara. Sehubungan itu, menjadi kewajipan kepada umat Islam untuk meninggalkan produk-produk perlindungan insurans konvensional kerana ia adalah produk yang tidak diharuskan dalam Islam.

Justeru, umat Islam di negara sewajarnya memastikan mereka hanya menggunakan produk-produk perlindungan takaful yang berteraskan Islam yang patuh syariah.

[1] Ibnu Kathir, Ismail bin Kathir, Mukhtasar tafsir Ibnu Kathir, Tahqiq, Hani al-Haj, Maktabah al-Taufiqiyyah, t.th, jld. 1, hlm. 203. al-Ghazali, Halal dan haram dalam Islam, Jasmin Interprise, 1998, hlm. 1.

[2] Al-Thabarani, Mucjam al-ausat, no. hadis, 8610, jld. 8, hlm. 270. Lihat, al-Haithami, Nur al-Din cAli bin Abi Bakr, Majmac al-zawaid wa manbac al-fawaid, Bab talab al-halal wa al-bahs anhu, Dar al-Fikr, Bayrut, 1412H., no. hadis. 18099, Jld. 10, hlm. 520.

[3] http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-kebangsaan/insurans-0 (15 September 2011)

[4] http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-kebangsaan/kajian-hukum-insurans-am (15 September 2011)

[5] http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-kebangsaan/hukum-mempromosikan-produk-in… (15 September 2011).

[6] http://www.bnm.gov.my/index.php?ch=13&cat=insurance&type=TKF&lang=bm (dilayari 19 April 2012)

17/10/2018 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Informasi, Muamalat (Harta), Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

DALIL-DALIL SYAR’I TENTANG HARAMNYA ROKOK (Beserta Jawaban untuk Para Ustaz2 Pembela Rokok)

Muqaddimah

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad Dary Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Agama adalah nasihat”, Kami berkata: “Untuk Siapa ya Rasulullah?” Beliau bersabda: Untuk Allah, untuk KitabNya, untuk RasulNya, untuk para imam kaum muslimin, dan orang-orang umum dari mereka.” (HR. Muslim. Lihat Imam an Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Fi An Nashihah, hal. 72, hadits no. 181. Maktabatul Iman, Manshurah,Tanpa tahun. lihat Juga Arbain an Nawawiyah, hadits no. 7, Lihat juga Imam Ibnu Hajar al Asqalany, Bulughul Maram, Bab At targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287, hadits. No. 1339. Darul Kutub al Islamiyah. 1425H/2004M)

Inilah nasihatku untuk diriku sendiri, dan saudaraku kaum muslimin, juga para da’i, atau imam mesjid, yang masih terbelenggu dengan candu rokok ….. untuk mereka yang mencari ketenangan dengan merokok, padahal seorang mu’min mencari ketenangan melalui dzikir dan shalat … untuk mereka yang tengah mencari kejelasan dan kebenaran …. Untuk merekalah risalah ini dipersembahkan …

Rokok, siapa yang tidak kenal dengan benda satu ini. Ia telah menyatu dalam kehidupan sebagian manusia. Baik orang awam, atau kaum intelek, miskin atau kaya, pedesaan atau kota , pria bahkan wanita, priyai atau kiayi. Kehidupan mereka seperti dikendalikan oleh rokok. Mereka sanggup untuk tidak makan berjam-jam, tetapi ‘pusing’ jika berjam-jam tidak merokok. Mengaku tidak ada uang untuk bayar sekolah, tetapi koq selalu ada uang untuk membeli rokok. Sungguh mengherankan!

Tulisan ini diturunkan dalam rangka menyelamatkan umat manusia, khususnya umat Islam, dari bahaya rokok, serta bahaya para propagandis (pembela)nya dengan ketidakpahaman mereka tentang nash-nash syar’i (teks-teks agama) dan qawaidusy syar’iyyah (kaidah-kaidah syariat). Atau karena hawa nafsu, mereka memutuskan hukum agama karena perasaan dan kebiasaannya sendiri, bukan karena dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah, serta aqwal (pandangan) para ulama Ahlus Sunnah yang mu’tabar (yang bisa dijadikan rujukan). Lantaran mereka, umat terus terombang ambing dalam kebiasaan yang salah ini, dan meneladani perilaku yang salah, lantaran menemukan sebagian para da’i hobi dengan rokok. Padahal para da’i adalah pelita, lalu, bagaimana jika pelita itu tidak mampu menerangi dirinya sendiri? Wallahul Musta’an!

Mereka beralasan ‘tidak saya temukan dalam Al Qur’an dan Al Hadits yang mengharamkan rokok.’ Sungguh, ini adalah perkataan yang mengandung racun berbahaya bagi orang awam, sekaligus menunjukkan keawaman pengucapnya, atau kemalasannya untuk menelusuri dalil. Sebab banyak hal yang diharamkan dalam Islam tanpa harus tertera secara manthuq (tekstual/jelas tertulis) dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Kata-kata ‘rokok’ jelas tidak ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah secara tekstual, sebab bukan bahasa Arab, nampaknya anak kecil juga tahu itu. Nampaknya, orang yang mengucapkan ini tidak paham fiqih, bahwa keharaman dalam Al Qur’an bisa secara lafaz (teks tegas mengharamkan) atau keharaman karena makna/pengertian/maksud. Nah, secara lafaz memang tidak ada tentang haramnya rokok, tetapi secara makna/pengertian/maksud, jelas sangat banyak dalilnya. Orang yang mengucapkan kalimat seperti ini ada beberapa kemungkinan, pertama, ia benar-benar tidak tahu alias awam dengan urusan syariat, jika demikian maka ucapan “tidak saya temukan …dst” itu bisa dimaklumi. Kedua, ia telah mengetahui adanya ayat atau hadits yang secara makna mengharamkan apa pun yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain termasuk rokok, tetapi ia memahaminya sesuai selera dan hawa nafsunya sendiri, tidak merujuk kepada pandangan para Imam dan Ulama yang mendalam. Ketiga, ia sudah mengetahui dalilnya tetapi ia sembunyikan dari umat, atau ia pura-pura tidak tahu, maka ini adalah sikap dusta dan kitmanul haq (menyembunyikan kebenaran) yang dikecam dalam agama.

Sejak zaman sahabat, umat telah ijma’ (sepakat) bahwa Anjing adalah haram dimakan, namun adakah ayat atau hadits secara jelas yang menyatakan Anjing haram di makan? Tidak ada! Tetapi kenapa Islam mengharamkan? Karena kita memiliki qawaid al fiqhiyyah fi at tahrim (kaidah-kaidah fiqih dalam mengharamkan), maqashid syari’ah (esensi syariat) yang mafhum secara tersirat, serta qarinah (korelasi/petunjuk isyarat) tentang haramnya sesuatu walau tidak secara jelas disebut nama barangnya atau perbuatannya. Nah, kaidah-kaidah inilah yang nampaknya luput dari mereka dalam perkara rokok ini.

Dikhawatiri dari pandangan sebagian da’i yang terlalu tekstual dan kaku ini, nanti-nanti ada umat yang mengatakan bahwa memonopoli barang dagangan adalah halal, karena tidak ada ayat atau hadits secara terang tentang ‘monopoli’, Joget ala ngebor Inul juga halal, karena tidak ada ayat atau hadits yang membahas tentang goyangnya Inul! Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Ada lagi yang berkata, “Bukankah para kiayi juga merokok? Bukankah mereka ahli agama?”

Jawaban kami: Hanya Rasulullah yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan), sedangkan selainnya (walau ulama atau kiayi) bisa saja salah. Kebenaran bukan dilihat dari orangnya, tapi lihatlah dari perilakunya, sejauh mana kesesuaian dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Kami amat meyakini dan berbaik sangka, para kiayi yang merokok pun sebenarnya membenci apa yang telah jadi kebiasaan mereka, hanya saja karena sudah candu, mereka sulit meninggalkannya. Akhirnya, tidak sedikit di antara mereka yang mencari-cari alasan untuk membenarkan rokok. Sungguh, Ahlus Sunnah adalah orang yang berani beramal setelah adanya dalil, bukan beramal dulu, baru cari-cari dalil dan alasan.

Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Perkataan seluruh manusia bisa diterima atau ditolak, hanya perkataan penghuni kubur ini (yakni Rasulullah) yang wajib diterima (tidak boleh ditolak).”

Imam Hasan al Banna Rahimahullah berkata: “Setiap manusia bisa diambil atau ditinggalkan perkataan mereka, begitu pula apa-apa yang datang dari para salafus shalih sebelum kita yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, kecuali hanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang perkatannya wajib diterima tidak boleh ditolak, pen) ….. “ (Al imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, hal.306. Maktabah at Taufiqiyah, Kairo. Tanpa tahun)

Memang keteladanan hanya ada pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaih wa Sallam.

Dan untuk para da’i hati-hatilah, sebab Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan Ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An Nahl (16): 116)

Dari Abdullah bin Amr bin al Ash Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallah ‘ Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara begitu saja dalam diri manusia, tetapi dicabutnya ilmu melalui wafatnya para ulama. Sehingga orang berilmu tidak tersisa, lalu manusia menjadikan orang bodoh menangani urusan mereka. Mereka ditanya lalu menjawab dengan tanpa ilmu. Akhirnya, mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari, lihat Syaikh Fuad Abdul Baqi, Al lu’Lu’ wal Marjan, Kitabul ‘ilmi, hal. 457, hadits no. 1712. Darul Fikri, Beirut . 1423H/2002M)

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah diambilnya ilmu (agama) dari kalangan ashaghir.” (HR. Abdullah bin al Mubarak, dalam kitab Az Zuhd, dengan sanad hasan)

Siapakah Ashaghir? Berkata Abdullah bin al Mubarak Rahimahullah, yaitu orang yang Qillatul ‘ilmi (sedikit ilmunya). Ya, sedikit ilmunya tetapi banyak gayanya! Lidahnya menjulur melebihi pengetahuannya.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat nanti adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian. Dan sesungguhnya yang paling saya benci dan paling jauh dariku adalah yang banyak omongnya (ats tsartsarun), bermulut besar (al mutasyaddiqun), dan al mutafaihiqun.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kami telah tahu ats tsartsarun dan al mutasyaddiqun, tetapi apakah al mutafaihiqun? Rasulullah menjawab: “Yaitu al Mutakabbirun (orang yang merasa besar, sok berilmu). (HR. Imam At Tirmidzi, ia berkata: hadits ini ‘hasan’. Imam an Nawawi, Riyadhush Shalihin, Bab Husn al Khuluq, hal. 187, hadits no. 629. Maktabatul Iman, Al Manshurah)

Berikut ini akan kami paparkan adillatusy syar’iyyah (dalil-dalil syara’) dari Al Qur’an dan As Sunnah tentang haramnya rokok, yang tidak ada keraguan di dalamnya, berserta kaidah-kaidah fiqhiyyah yang telah disepakati para ulama mujtahidin, dan kami paparkan pula pandangan ulama dunia tentang rokok. Wallahul Musta’an!

1.Dalil dari Al Qur’an

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dan Janganlah kalian menjerumuskan diri kalian dengan tangan kalian sendiri ke dalam jurang kerusakan.” (QS. Al Baqarah (2): 195)

“Dan Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri ..” (QS. An Nisa (4): 29)

Perhatikan dua ayat ini, tidak syak (ragu) lagi, merokok merupakan tindakan merusak diri si pelakunya, bahkan tindakan bunuh diri. Para pakar kesehatan telah menetapkan adanya 3000 racun berbahaya, dan 200 diantaranya amat berbahaya, bahkan lebih bahaya dari Ganja (Canabis Sativa). Mereka menetapkan bahwa sekali hisapan rokok dapat mengurangi umur hingga beberapa menit. Wallahu A’lam bis Shawab. Pastinya, umur manusia urusan Allah Ta’ala, namun penelitian para pakar ini adalah pandangan ilmiah empirik yang tidak bisa dianggap remeh. Al Ustadz Muhamad Abdul Ghafar al Hasyimi menyebutkan dalam bukunya Mashaibud Dukhan (Bencana Rokok) bahwa rokok bisa melahirkan 99 macam penyakit. Lancet, sebuah majalah kesehatan di Inggris menyatakan bahwa merokok itu adalah penyakit itu sendiri, bukan kebiasaan. Perilaku ini merupakan bencana yang dialami kebanyakan anggota keluarga, juga bisa menurunkan kehormatan seseorang. Jumlah yang mati karena rokok berlipat ganda. Majalah ini menyimpulkan, asap rokok lebih bahaya dari asap mobil.

Perhatikan dua ayat di atas, ia menggunakan sighat lin nahyi wa lin nafyi (bentuk kata untuk pengingkaran/larangan) yang bermakna jauhilah perbuatan merusak diri atau mengarah pada bunuh diri. Dalam kaidah Ushul Fiqh disebutkan al Ashlu fi an Nahyi lil Haram (hukum asli dari sebuah larangan adalah haram). Seperti kalimat wa laa taqrabuz zinaa .. (jangan kalian dekati zina) artinya mendekati saja haram apa lagi melakukannya. Maksudnya, ada dua yang diharamkan dalam ayat ini yakni 1. Berzina, dan 2. perilaku atau sarana menuju perzinahan. Ini Sesuai kaidah Ushul Fiqh, ‘ Ma ada ilal haram fa huwa haram’ (Sesuatu yang membawa kepada yang haram, maka hal itu juga haram).

Begitu pula ayat ‘Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri’, artinya, yang haram yaitu 1. Bunuh diri, dan 2. Perilaku atau sarana apapun yang bisa mematikan diri sendiri.

Imam Asy Syaukani berkata dalam Kitab tafsirnya, Fat-hul Qadir, tentang maksud ayat An Nisa 29 di atas:

Artinya: “Maksud firmanNya ‘Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri’ adalah Wahai muslimun, janganlah kalian saling membunuh satu sama lain, kecuali karena ada sebab yang ditetapkan oleh syariat. Atau, janganlah bunuh diri kalian dengan perbuatan keji dan maksiat, atau yang dimaksud ayat ini adalah larangan membunuh diri sendiri secara hakiki (sebenarnya). Tidak terlarang membawa maksud ayat ini kepada makna-makna yang lebih umum. Dalilnya adalah Amr bin al Ash berhujjah (berdalil) dengan ayat tersebut, ketika ia tidak mandi wajib (mandi junub) dengan air dingin pada saat perang Dzatul Salasil. Namun, Nabi Shaliallahu ‘Alaihi wa Sallam mendiamkan (tanda setuju) hujjah (alasan) yang yang dipakai olenya. Ini ada dalam Musnad Ahmad, Sunan Abu daud, dan lain-lain.” Demikian dari Imam Asy Syaukani Rahimahullah. (Lihat juga Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Jilid 1, hal. 480. Toha Putera Semarang, dengan naskah berbahasa Arab yang disesuaikan dengan naskah dari Darul Kutub Al Mishriyah)

Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman:

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. Al Isra’ (17): 27)

Tidak ragu pula, hobi merokok merokok tindakan tabdzir (pemborosan) dan penyia-nyiaan terhadap harta. Mereka tidak mendapatkan apa-apa dari rokok kecuali ketenangan sesaat, bahaya penyakit yang mengancam jiwa, dan terbuangnya uang secara sia-sia. Bahkan, Allah Ta’ala menyebut mereka sebagai saudara-suadara syaitan.

Berkata Imam Asy Syaukany tentang tafsir ayat ini:

“… Bahwa orang yang berbuat mubadzir (pemboros) diumpamakan seperti syaitan, dan setiap yang diumpamakan dengan syaitan maka baginya dihukumi sebagai syaitan, dan setiap syaitan adalah ingkar (terhadap Allah, pen), maka orang yang mubadzir adalah orang yang ingkar.” (Imam Asy Syaukany, dalam Fat-hul Qadir-nya)

Sebagian ulama –seperti Imam Asy Syaukany ini- ada yang mengatakan bahwa berlebihan dalam berinfak juga termasuk tabdzir (pemborosan)[1], maka apalagi berlebihan dalam merokok! Berpikirlah wahai manusia!

Maka, haramnya rokok adalah muwafaqah bil maqashid asy Syari’ah (sesuai dengan tujuan syariat) yang menghendaki terjaganya lima hal asasi (mendasar), yaitu agama, nyawa, harta, akal, dan keturunan. Imam al Qarafi al Maliki menambahkan menjadi enam, yaitu kehormatan.

Allah Ta’ala juga menyebut tentang ciri-ciri orang yang beriman yakni orang yang:

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya” (QS.Al Mu’minun (23): 8)

Kesehatan adalah anugerah dari Allah yang harus dijaga, itu adalah amanah dari Allah Ta’ala yang tidak boleh dikhianati. Dalam hadits disebutkan, “Laa Imanan liman laa amanata lahu (tidak ada iman bagi orang yang tidak menjaga amanah). Seharusnya, seorang muslim yang baik berhati-hati dengan perkara amanah ini, sebab akan menjatuhkannya dalam kategori kemunafikan. Wal ‘Iyadzubillah!

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata tentang ayat ini: “Yaitu jika diberi amanah ia tidak mengkhianatinya, bahkan ia menunaikannya kepada pihak yang memberinya.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Jilid 3, hal. 239)

Itulah orang yang beriman, ia menjaga amanah. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak menjaga amanah?

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tanda orang munafik ada tiga: jika bicara ia dusta, jika janji ia ingkar, jika diberi amanah ia khianat.” (HR. Bukhari dan Muslim, Lihat Imam an Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab al Amr bi Ada’I al Amanah, hal. 77, hadits no. 199, dan juga Bab al Wafa’ bil ‘Ahdi wa Injaz bil Wa’di, hal. 201, hadits no. 687. Maktabatul Iman, Manshurah. Lihat juga kitabnya Syaikh Fuad Abdul Baqi, Al Lu’Lu’ wal Marjan, Bab Bayan Khishal al Munafiq, hadits no. 38. Darul Fikr, Beirut . Lihat juga Imam Ibnu Hajar al Asqalany, Bulughul Maram, Bab at Tarhib min Masawi al Akhlaq, hal. 279, hadits no. 1296. Cet. 1, Darul Kutub al islamiyah. 1425H/2004M)

Demikianlah dalil-dalil Al Qur’anul Karim yang amat tegas dan jelas tentang larangan merusak diri sendiri dan berbuat mubadzir, mengkhianati amanah kesehatan, yang semua itu telah dilakoni oleh aktifitas merokok. Bagian ini telah kami paparkan juga beberapa hadits, dan pandangan para ulama terdahulu kita. Alhamdulillah …

2. Dalil-dalil dari As Sunnah Al Muthahharah

Selain beberapa hadits di atas, ada lagi beberapa hadits lain yang memperkuat larangan merokok bagi seorang muslim. Kami hanya akan menggunakan hadits-hadits yang maqbul (bisa diterima periwayatannya) yaitu yang shahih atau hasan, ada pun hadits yang mardud (tertolak/tidak boleh digunakan khususnya dalam masalah aqidah dan hukum) yaitu hadits dhaif, tidak akan kami gunakan. Nas’alullaha as salamah wal ‘afiyah …

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa SallamI bersabda:

“Di antara baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Imam At Tirmidzi, ia berkata ‘hasan’. Bulughul Maram, Bab Az Zuhd wal Wara’, hal. 277, hadits no. 1287. Darul Kutub al Islamiyah)

Ya, tanda baiknya kualitas Islam seseorang adalah ia meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat. Rokok tidak membawa manfaat apa-apa, kecuali ancaman bagi kesehatan dan jiwa dan pemborosan. Ada pun ketenangan dan konsentrasi setelah merokok, itu hanyalah sugesti. Hendaknya bagi seorang muslim yang sadar dan faham agama merenungi hadits yang mulia ini.

Dari Abu Shirmah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang memudharatkan (merusak) seorang muslim yang lain, maka Allah akan memudharatkannya, barang siapa yang menyulitkan orang lain maka Allah akan menyulitkan orang itu.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, ia menghasankan. Bulughul Maram, hal. 282, hadits no. 1311)

Ada istilah perokok pasif yaitu orang yang tidak merokok namun tanpa disengaja (baik ia sudah menghindar atau belum) ia menghirup juga asap rokok. Bahkan menurut penelitian, perokok pasif mendapatkan dampak yang lebih berbahaya, sebab selain ia mendapatkan racun dari asap rokok, juga mendapat racun dari udara yang ditiupkan si perokok yang telah bercampur dengan asapnya. Inilah mudharat (kerusakan) yang telah dibuat oleh para perokok aktif kepada orang lain. Jelas Rasulullah amat melarangnya, bahkan ia mendoakan agar Allah Ta’ala membalas perbuatan rusak orang tersebut.

Berkata Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya, Al Muhalla, ”Maka barangsiapa yang menimbulkan mudharat pada dirinya sendiri dan pada orang lain berarti ia tidak berbuat baik, dan barangsiapa yng tidak berbuat baik berarti menentang perintah Allah untuk berbuat baik dalam segala sesuatu.” (Al Muhalla, Jilid 7, hal. 504-505)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ‘Alaihis Shalatu was Salami bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia telah menjadi bagian kaum itu.” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Ibnu Hibban menshahihkannya. Bulughul Maram, hal 277, hadits no. 1283. Hadits ini juga dishahihkan para Ahli Hadits seperti Syaikh Syu’aib al Arnauth, Syaikh al Albany, dan Syaikh Ahmad Syakir Rahimahumullah)

Dalam sejarahnya, rokok pertama kali dilakukan oleh suku Indian ketika sedang ritual penyembahan dewa-dewa mereka. Kami yakin perokok saat ini tidak bermaksud seperti suku Indian tersebut, namun perilaku yang nampak dari mereka merupakan bentuk tasyabbuh bil kuffar (penyerupaan dengan orang kafir) yang sangat diharamkan Islam. Dan perlu diketahui, bahwa Fiqih Islam menilai seseorang dari yang terlihat (nampak), adapun hati atau maksud orangnya, kita serahkan kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra’ (17): 36)

Demikian, kami cukupkan dulu dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebenarnya seluruh keterangan di atas –kami kira- sudah mencukupi, namun ada baiknya kami tambahkan beberapa hal untuk lebih meyakinkan lagi.

3. Qawaid al Fiqhiyyah (Kaidah-kaidah fiqih)

Dalam fiqih ada kaidah-kaidah yang biasa digunakan para Ulama mujtahid (ahli ijtihad) untuk membantu menyimpulkan dan memutuskan sebuah hukum, baik untuk keputusan haram atau halalnya sesuatu benda atau perbuatan.

Dalam menentukan haramnya rokok ini ada beberapa kaidah yang menguatkan, di antaranya:

Ma ada ilal haram fa huwa haram atau Al Washilah ilal haram fa hiya haram (Sesuatu atau sarana yang membawa kepada keharaman, maka hukumnya haram). Merusak diri sendiri dengan perbuatan yang bisa mengancam kesehatan dan jiwa, jelas diharamkan dalam syariat, tanpa ragu lagi. Maka, merokok atau perilaku apa saja yang bisa merusak diri dan mengancam jiwa, baik cepat atau lambat, adalah haram, karena perilaku tersebut merupakan sarananya.

Laa Dharara wa Laa Dhirar (janganlah kalian rusak (melakukan dharar) atau merusak orang lain). Sebenarnya kaidah ini adalah bunyi hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah. Merokok selain merusak diri sendiri, juga merusak kesehatan orang lain di sekitarnya (perokok pasif). Keduanya (yakni merusak diri sendiri dan merusak orang lain) sama-sama dilarang oleh syariat. Ada pun bagi pelakunya ia mengalami dharar mali (kerusakan pada harta, karena ia menyia-nyiakannya), dharar jasady (kerusakan tubuh, karena membahayakan kesehatan bahkan jiwa), dharar nafsi (merusak kepribadian-citra diri). Jika berbahaya bagi kesehatan saja sudah cukup untuk mengharamkan, apalagi jika sudah termasuk menghamburkan uang dan menurunkan harga diri. Tentu lebih kuat lagi pengharamannya.

Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (Menghindari kerusakan, harus didahulukan dibanding mengambil manfaat). Kita tahu, para perokok –katanya- merasa tenang dan konsentrasi ketika merokok. Baik, taruhlah itu manfaat yang ada, namun ternyata dan terbukti bahwa mudharatnya sangat jauh lebih besar, maka menurut kaidah ini walau rokok punya manfaat, ia tetap wajib ditinggalkan, dalam rangka menghindari kerusakan yang ditimbulkannya. Faktanya, manfaatnya tidak ada, hanya sugesti dan mitos.

4. Alasan Mereka dan Bantahannya

Mereka beralasan bahwa “hukum asal segala sesuatu (urusan dunia) adalah mubah (boleh) kecuali ada dalil syariat yang mengharamkannya. Nah, kami tidak menemukan dalil pengharamannya.”

Alasan ini sudah terjawab secara tuntas dan rinci dari uraian di atas. Telah kami paparkan beberapa ayat, beberapa hadits, yang mengarah pada haramnya rokok (atau apa saja yang termasuk membahayakan kesehatan dan jiwa, dan mubadzir), beserta pandangan para Imam umat Islam. Ucapan “kami tidak menemukan dalil pengharamannya” bukan berarti tidak ada dalilnya. Sebab, tidak menemukan bukan berarti tidak ada. Hal ini, tergantung kejelian, kemauan, dan –yang paling penting- kesadaran manusianya. Memang, masalah ilmu dan kebenaran, bukan tempatnya bagi orang malas dan pengekor hawa nafsu dan emosi.

Mereka beralasan bahwa, “Kami pusing jika tidak merokok, jika merokok, kami kembali tenang dan konsentrasi.”

Alasan ini tidak layak keluar dari mulut orang Islam yang baik, apalagi da’i. Ucapan ini justru telah membuka kedok, bahwa orang tersebut telah ketergantungan dengan rokok, yang justru memperkuat keharamannya. Bahkan menurut Prof. Dr. Quraisy Syihab, rokok telah menjadi berhala bagi orang ini, sehingga ia tidak layak menjadi imam shalat. Itu menurut Prof. Dr. Quraisy Syihab. Bagi kami, ia masih boleh menjadi imam shalat, sebab Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhu pernah shalat menjadi makmum di belakang ahli maksiat, yaitu seorang gubernur zhalim di Madinah, Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafy.

Ya, ajaib memang. Jika, memang mengaku muslim (tidak usahlah mu’min kalau masih berat), seharusnya ia berdzikir kepada Allah Ta’ala supaya pikiran tenang, hati khusyu’ dan konsentrasi, bukan dengan merokok! Karena hanya dengan mengingat Allah Ta’ala hati menjadi tenang. Wallahul Musta’an!

Allah Ta’ala berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du (13): 28)

Alasan lainnya adalah, “Bagi kami merokok adalah makruh saja, makruh’kan tidak berdosa.”

Jawaban ini hanya keluar dari orang yang wahnun fid din (lemah dalam beragama), tidak wara’, mempermainkan fiqih, dan mutasahil (menggampang-gampangkan). Jika benar itu makruh, maka tahukah Anda apa itu makruh? Ia diambil dari kata karaha (membenci), makruh artinya sesuatu yang dibenci, siapa yang membenci? Allah Ta’ala! Muslim yang baik, yang mengaku Allah Ta’ala adalah kekasihnya, ia akan meninggalkan hal yang dibenci kekasihnya. Kekasih model apa yang hobi melakukan sesuatu yang dibenci olah sang kekasih?

Dahulu, kami pun sekadar memakruhkan rokok, sebagaimana pendapat Imam Hasan al Banna dan Syaikh Said Hawwa Rahimahumallah. Namun, apa yang kami yakini itu, dan apa yang difatwakan oleh dua ulama ini adalah pandangan lama ketika sains belum berkembang, penemuan tentang bahaya rokok tidak separah seperti yang terkuak sekarang. Kami yakin, jika dua ulama ini berumur panjang dan diberi kesempatan untuk melihat perkembangan bahaya rokok, niscaya mereka akan merubah pendapatnya. Sebab mereka berdua adalah ulama yang terkenal open mind (pikiran terbuka), tidak jumud (statis/diam di tempat), mereka selalu terus mencari kebenaran.

Sesungguhnya, perubahan pendapat atau ijtihad yang disebabkan perubahan kondisi, tempat, dan peristiwa, dalam sejarah khazanah fiqih Islam bukanlah hal yang aneh.[2] Imam Ahlus Sunnah, Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu ketika masih tinggal di Baghdad ia memiliki Qaul Qadim (pendapat lama), namun ketika ia hijrah ke Mesir dan wafat di sana, lantaran perubahan kondisi, tempat, dan juga kematangan usia dan ilmu, ia merubahnya menjadi Qaul Jadid (pendapat baru). Contoh lain sangat banyak dan bukan di sini tempatnya.

Yang pasti, kami telah merevisi apa yang kami yakini dahulu. Sebab para ahli telah menegaskan betapa bahayanya rokok bagi penghisapnya dan orang di sekitarnya, cepat atau lambat. Dahulu dengan keterbatasan pengetahuan yang ada, para pakar mengatakan bahaya rokok hanya ini dan itu. Namun sekarang ketika ilmu pengetahuan sudah maju, rahasia yang dahulu tertutup menjadi terbuka, racun yang dahulunya tersembunyi sekarang diketahui. Maka, tidak ragu lagi, bahwa saat ini kurang tepat jika rokok dihukumi makruh, melainkan haram. Masalahnya, adakah kesadaran dalam diri kita untuk merubah kebiasaan yang sudah mentradisi?

Sungguh, bersegera menuju kebenaran adalah lebih utama dari pada berlama-lama dalam kesalahan.

5. Pandangan Ulama Dunia Tentang Rokok

Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Ali Asy Syaikh berkata, “Saya pernah ditanya tentang hukum tembakau yang sering dihisap oleh orang yang belum paham tentang haramnya rokok. Maka kami jawab, bahwa kami kalangan para ulama dan syaikhSyaikh kita yang dahulu, para ahli ilmu, para imam da’wah, ahli Najd (daerah antara Makkah dan Madinah), dahulu sampai sekarang menghukumi bahwa rokok itu haram, berdasarkan dalil yang shahih, dan akal yang waras, serta penelitian para dokter yang masyhur.” Lalu Syaikh menyebut dalil-dalil tersebut, beliau juga mengatakan bahwa haramnya rokok telah difatwakan oleh para ulama dari kalangan madzhab yang empat.

Syaikh Abdurrahman bin Sa’di (Ulama tafsir terkenal) berkata, “Perokok, penjualnya, dan orang yang membantunya, semuanya haram. Tidak halal bagi umat islam memperolehnya, baik untuk dihisap atau untuk dijual. Barangsiapa yang memperolehnya, hendaknya ia bertaubat dengan taubat nasuha dari semua dosa. Sebab rokok ini masuk kepada dalil keumuman nash (teks Al Qur’an) yang menunjukkan haram baik lafazh atau makna..dst.”

Syaikh Musthafa al Hamami dalam An Nahdhatu al Ishlahiyah bekata tentang keanehan para perokok, “Tembakau dan rokok adalah perkara yang hampir sama. Keduanya memiliki daya tarik dan pengaruh yang kuat bagi para pecandunya, sehingga begitu menakjubkan, seolah-olah tidak ada daya tarik yang melebihi rokok. Kita saksikan bersama, betapa gelisahnya para penghisap rokok jika dia ingin merokok, sedangkan ia tidak punya uang. Maka ia akan mencari temannya yang merokok untuk mengemis walau satu batang. Hal ini kami ceritakan, karena kami melihatnya sendiri. Yang lucu, pengemis rokok itu orang yang berkedudukan tinggi, tetapi karena kuatnya dorongan untuk merokok membuat dirinya menjual harga dirinya untuk mengemis rokok walau satu batang!”

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Fauzan hafizhahullah dalam Al I’lam bi Naqdi Kitab al Halal wal Haram, berkata setelah ia menjelaskan haramnya rokok, “Begitulah intisari nasihat dari dokter tentang bahaya rokok, yang kami ketengahkan setelah fatwa para ulama tentang bahaya rokok. Apakah pantas bagi mereka yang sudah memahami berbagai macam fatwa ulama ini dan pandangan para dokter ahli, mereka masih ragu tentang haramnya rokok dan enggan meninggalkannya? Tidaklah yang demikian itu melainkan suatu ketakabburan tanpa alasan.”

Syaikh Yusuf al Qaradhawy hafizhahullah berkata dalam Al Halal wal Haram fil Islam, “Kami mengatakan bahwa rokok, selama hal itu telah dinyatakan membahayakan, maka hukumnya haram. Lebih-lebih jika dokter spesialis sudah menetapkan hal itu kepada orang tertentu.

Sekali pun tidak jelas bahayanya terhadap kesehatan, tetapi yang jelas hal itu termasuk membuang uang untuk yang tidak bermanfaat, baik untuk agama atau urusan dunia. Dalam hadits dengan tegas Rasulullah melarang membuang-buang harta. Keharamannya lebih kuat lagi, jika ternyata sebenarnya ia amat memerlukan uang itu untuk dirinya atau keluarganya.” Inilah fatwa Syaikh al Qaradhawy saat kitabnya ini baru dibuat yakni tahun 1960-an. Dalam Hadyu al Islam Fatawa Mu’ashirah jilid 1, tahun 1988, Darul Ma’rifah Ia lebih panjang lagi menjelaskan tentang haramnya rokok setelah ia membandingkan seluruh alasan yang membolehkan, memakruhkan, dan mengharamkan. Dengan dalil yang ada, serta maksud dalil tersebut, beserta keterangn para dokter, Ia semakin mantap tentang haramnya rokok.

Di bawah ini akan kami sebutkan para ulama dunia (juga dalam negeri) yang mengharamkan rokok selain yang telah kami sebut di atas. Mereka adalah:

– Syaikh Abul A’la al Maududi (Pakistan)

– Syaikh Said Ramadhan al Buthy (Terakhir ia menetap di Swedia, dideportasi)

– Syaikh Sayyid Quthb (Mesir, pengarang Tafsir Fi Zhilalil Qur’an)

– Syaikh Muhammad Quthb (Adik Sayyid Quthb, tinggal di Mekkah)

– Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan (Mesir)

– Syaikh Mahmud Syaltut (Mufti Mesir, ia sebenarnya seorang perokok, dengan kesadaran ia fatwakan bahwa rokok haram)

– Syaikh Musthafa al Maraghi (Rektor al Azhar, Mesir)

– Syaikh Abdul Halim Mahmud (Rektor al Azhar, mufti Mesir)

– Syaikh Ahmad Syakir (Ahli Hadits Mesir)

– Syaikh Musthafa as Siba’i (Siria)

– Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah (Ahli Fiqih, Mesir)

– Syaikh Fathi Yakan (Libanon)

– Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi (Anggota Komisi tetap fatwa Saudi Arabia)

– Syaikh Musthafa az Zarqa’ (Ahli Fiqih, Siria)

– Syaikh Muhammad nashirudin al Albany (Ahli Hadits, Jordania)

– Syaikh Abdullah ‘Azzam (Palestina)

– Syaikh al Hajj Amin Husaini (mufti Palestina)

– Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah (Ahli hadits, Siria)

– Syaikh Salman al Audah (Saudi Arabia)

– Syaikh Safar al Hawaly (Saudi Arabia)

– Syaikh ‘Aidh al Qarny (Saudi Arabia)

– Syaikh Umar Sulaiman Asyqar (Ahli tafsir, Kuwait)

– Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq (Kuwait)

– Syaikh Abdul Majid Az Zindani (Rektor Universitas Al Iman di Shan’a, Yaman)

– Syaikh Abdul Karim Zaidan (Ahli Fiqih, Irak)

– Syaikh Ali Al Khafif (Ahli Fiqih,Mesir)

– Syaikh Mutawalli asy Sya’rawi (Ahli Tafsir, Mesir)

– Syaikh Jad al haq (Rektor Al Azhar, Mesir)

– Syaikh Manna’ Khalil Qattan (Ketua Mahkamah Tinggi, Saudi Arabia)

– Syaikh Ali Ash Shabuni (Ahli Tafsir, Saudi Arabia)

– Syaikh Abdul Aziz bin Baz (Mufti Saudi Arabia, ketua Lembaga Ulama Besar)

– Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin (Saudi Arabia, anggota lembaga Ulama Besar)

– Syaikh Bakr Abu Zaid (Anggota lembaga Ulama Besar Saudi Arabia)

– Syaikh Abdurrahman al Jibrin (Idem)

– Syaikh Hammud al ‘Uqla

– Syaikh Hammud at Tuwaijiri (Saudi Arabia)

– Syaikh Ibrahim Jarullah (Saudi Arabia)

– Syaikh Yahya an Najmi

– Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’I (Yaman)

– Syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkhaly (Saudi Arabia)

– Syaikh Zaid bin Hadi al Madkhaly (Saudi Arabia)

– Syaikh Falih al Harby (Saudi Arabia)

– Syaikh Ibrahim ar Ruhaily (Yaman)

– Syaikh Salim Ied al Hilaly

– Syaikh Shalih al Munajjid

– Syaikh Ibrahim Syaqrah

– Syaikh Ali Hasan al Halaby

– Syaikh Ubaid al Jabiri

Demikianlah tulisan ini, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menambah wawasan Ilmiah Islamiah, serta pertimbangan yang penting untuk siapa saja yang menghendaki kebaikan dunia dan akhirat.

Al faqir Ila Rahmati Rabbihi

Sumber : Ust.Farid Nu’man
26 March 2010

16/10/2018 Posted by | Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

SOLAT ISYRAQ & DHUHA

Terdapat 2 pendapat ulama Mazhab Syafi’i berkaitan solat Isyraq, iaitu;

1) Menurut Syeikh Zakariya al-Ansari (Asna al-Matalib 1/418), Syeikh Ibn Hajar al-Haitami di dalam Fatawa Kubra 1/188 dan Syarh ‘Ubab (al-I’ab), dan Syeikh Ramli (Nihayah al-Muhtaj 2/116), solat Isyraq adalah solat Dhuha (2 solat yang sama) berdasarkan perkataan Ibn Abbas yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak;

“َأَنَّ صَلاَةَ الإِشْرَاقِ هِيَ صَلَاةُ الأَوَّبِيْن”

“Sesungguhnya solat Isyraq adalah solat Dhuha.”

2) Menurut Imam al-Muzajjad (‘Ubab 1/263), Imam al-Ghazali (Bidayah al-Hidayah 107), Syeikh Ibn Hajar al-Haitami di dalam Tuhfah 2/237 dan al-Imdad, dan Ibn Ziyad di dalam fatwanya (Ghayah Talkhis al-Murad 94), solat Isyraq bukan solat Dhuha (2 solat yang berlainan) seperti yang disebutkan di dalam Surah Sad ayat 18 berdasarkan hadis Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh al-Tirmizi (586). Nabi sollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barangsiapa solat Subuh berjemaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah sehingga naik matahari dan mengerjakan solat dua rakaat (Solat Sunat Isyraq), maka adalah baginya pahala seperti pahala Haji dan Umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.”
Justeru, berdasarkan pendapat ini, solat Isyraq memadai dilakukan dengan dua rakaat sahaja dan ia tidak dikaitkan dengan bilangan rakaat tertentu seperti solat Dhuha (Hasyiah I’anah al-Talibin 1/408).

Waktu Isyraq adalah merujuk kepada serakan cahaya matahari dengan kelihatan bulatan penuh matahari. Masuknya waktu solat Isyraq adalah ketika berakhirnya waktu makruh (tahrim), iaitu dengan masuknya waktu Dhuha (Asna al-Matalib 418/1, Tuhfah al-Muhtaj 238/2, Hasyiah I’anah al-Talibin 405-406/1).

Disebutkan oleh Syeikh Abd Samad al-Falimbani;
“Maka apabila terbit matahari sekira-kira segalah, maka hendaklah engkau sembahyang dua rakaat dinamakan dia sembahyang sunat Isyraq…”(Hidayah al-Salikin 20).
Walaubagaimanapun, menurut Syeikh Ibn Hajar di dalam Syarh al-Syamail dan Ibn Mufaddhal al-Wasiti al-Yamani, masuk waktu solat Isyraq adalah dengan terbit matahari (طلوع الشمس) sekalipun ia belum naik lagi (Umdah al-Mufti 178/1).

Terdapat tiga perkataan ulama berkaitan luputnya (berakhirnya) waktu solat Isyraq, iaitu;

1) Waktunya luput dengan berlalunya waktu syuruq dan naiknya matahari (Hasyiah I’anah al-Talibin 1/408).

2) Menurut al-Syarwani (237/2), ia diqiaskan dengan solat Dhuha ataupun ia luput dengan lamanya perceraian (berlalu waktu) mengikut ‘uruf.

3) Disebutkan pula di dalam Kitab Fath al-‘Allam (38/2), waktu solat Isyraq luput dengan tingginya hari siang (matahari).

Namun begitu, waktunya tidak berpanjangan sehingga gelincir matahari seperti solat Dhuha (Hasyiah I’anah al-Talibin 1/408, Fath al-‘Allam 38/2).

Maklumat tambahan berkaitan permulaan waktu solat Dhuha.

Menurut Imam al-Nawawi di dalam kitab al-Raudhah, waktu Dhuha bermula daripada terbit matahari. Terbit matahari (طلوع الشمس) merujuk kepada terbitnya matahari di ufuq timur atau disebut sebagai waktu Syuruq (شروق).

Manakala menurut Imam al-Rafi’ei dan Imam al-Nawawi dalam kitab al-Tahqiq dan al-Majmuk pula, waktu Dhuha bermula daripada naik matahari sekadar rumh (tombak) atau anggaran segalah (Asna al-Matalib 415/1, Tuhfah al-Muhtaj 232/2, Nihayah al-Muhtaj 118/2).

Sehubungan itu, Dhuha bererti; terang benderang hasil daripada terbitnya matahari. Maka ia berpandukan nilai cahaya matahari dengan anggaran segalah atau kadar panjang lembing dari penglihatan mata menuju ke kedudukan matahari yang baru terbit di ufuq kaki langit timur, iaitu dengan kadar ukuran 8 hasta. Manakala 8 hasta dengan nilai darjah adalah 7 darjah. Oleh itu, setiap 1 darjah = 4 minit, maka 7 darjah = 28 minit. Justeru, 28 minit daripada waktu terbit matahari di semua tempat adalah awal waktu Dhuha mengikut kiraan ahli falak terkini. Walaubagaimanapun, menurut ahli falak terdahulu seperti Abu Yahya al-Habbak al-Tilimsani di dalam Kitab Nail al-Matlub fi al-‘Amal bi Rub’ al-Juyub, awal waktu Dhuha adalah 20 minit setelah berlalu waktu Syuruq. Adapun, mengikut Hasan al-Kaf pula, jarak waktu di antara terbit matahari sehingga matahari naik sekadar rumh (tombak) atau anggaran segalah adalah menyamai 16 minit (al-Taqrirat al-Sadidah 192).

Waktu Dhuha berpanjangan sehinggalah gelincir matahari.

Namun, waktu yang terpilih untuk melaksanakannya adalah setelah berlalunya seperempat waktu siang iaitu mengikut kiraan falak kira-kira 40@48 minit selepas Syuruq. Hal ini adalah berdasarkan hadis riwayat Muslim (748);

خرج النبي صلى الله عليه وسلم على أهل قباء وهم يصلون الضحى فقال: “صَلاَةُ الأَوَّبِيْنَ إِذَا رَمِضَتِ الْفِصَالُ.”

Nabi sollallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Quba’ dan mendapati penduduk di situ sedang bersolat Dhuha lalu baginda bersabda; “Solat Awwabin adalah tatkala anak unta mula berasa bahang panas matahari.”
Rakaat Solat Dhuha

Sekurang-kurang rakaat solat Dhuha adalah 2 rakaat dan sekurang-kurang sempurna adalah 4 rakaat, kemudian 6 rakaat. Sebanyak-banyak bilangan rakaat Dhuha di sisi Imam al-Rafi’ei, Imam al-Nawawi di dalam Minhaj al-Talibin, al-Raudhah, Syeikh al-Islam Zakaria al-Ansari dan Ibn Hajar adalah 12 rakaat. Manakala di sisi Imam al-Nawawi di dalam al-Tahqiq, al-Majmuk, Syeikh Shihab al-Ramli, Syeikh Syams al-Ramli dan al-Khatib al-Syirbini pula, sebanyak-banyak bilangan rakaat Dhuha adalah 8 rakaat sahaja. Oleh itu, sekiranya solat berkenaan dilaksanakan dengan niat solat Dhuha melebihi bilangan tersebut (8 atau 12), maka hukumnya adalah haram dan tidak sah (Asna al-Matalib 415/1, Tuhfah al-Muhtaj 232/2, Nihayah al-Muhtaj 117/2, Mughni al-Muhtaj 340/1, Hasyiah I’anah al-Talibin 406-407/1, al-Manhal al-Naddhakh 101).

Sehubungan itu, harus melakukan solat Dhuha lebih daripada 2 rakaat dengan satu salam walaupun dengan melakukan keseluruhannya (8 atau 12 rakaat) dengan satu salam, sama ada dengan satu tasyahhud pada rakaat terakhirnya sahaja atau bertasyahhud (awal) pada setiap bilangan rakaat yang genap. Walaubagaimanapun, sunat dilakukan dengan setiap dua rakaat satu salam (Hasyiah al-Qalyubi 214/1, Sabil al-Muhtadin 14/2, Busyra al-Karim 255, Fath al-‘Allam 45/2).
اليسع
Wallahu a’lam

Sumber: Ustaz Alyasak Berhan

12/10/2018 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

PERBEZAAN MASJID DAN SURAU

PANDUAN HUKUM : PERBEZAAN MASJID DAN SURAU

1) Masjid adalah sebuah kawasan atau bangunan yang diwakafkan sebagai masjid, bukan untuk yang lainnya seperti madrasah atau ribat.

2) Musolla, surau dan langgar yang digunakan untuk solat lima waktu (walaupun telah dibenarkan untuk didirikan solat Jumaat) tidaklah secara serta merta dihukumkan sebagai masjid selagimana ia tidak diwakafkan sebagai masjid.

3) Justeru, tidak dianjurkan untuk melakukan solat tahiyyat masjid, iktikaf dan tidak haram bagi orang yang berjunub atau wanita yang haid untuk duduk di dalam binaan selain masjid seperti surau, musolla, langgar dan sebagainya.

Rujukan;

1. Asna al-Matalib :

(فرع) لو ( قال جعلت هذا المكان مسجدا صار ) به ( مسجدا ولو لم يقل لله ) ولم يأت بشيء من الألفاظ المتقدمة لإشعاره بالمقصود واشتهاره فيه ( ووقفته للصلاة كناية) في وقفه مسجدا فيحتاج إلى نية جعله مسجدا وأما كونه وقفا بذلك فصريح لا يحتاج إلى نية ( لا ) إن بنى بناء ولو على هيئة المسجد وقال ( أذنت في الصلاة فيه ) فلا يصير بذلك مسجدا ، وإن صلى فيه ونوى جعله مسجدا قال في الكفاية تبعا للماوردي إلا أن يكون البناء بموات فيصير مسجدا بالبناء والنية لأن الفعل مع النية يغني عن القول أي فيما بنى في موات قال السبكي الموات لم يدخل في ملك من أحياه مسجدا ، وإنما احتيج للفظ لإخراج ما كان في ملكه عنه وصار للبناء حكم المسجد تبعا قال الإسنوي وقياس ذلك إجراؤه في غير المسجد أيضا من المدارس والربط وغيرهما وكلام الرافعي في إحياء الموات يدل له انتهى والظاهر أنه لو قال أذنت في الإعتكاف فيه صار بذلك مسجدا لأن الإعتكاف لا يصح إلا في مسجد بخلاف الصلاة
“Kalau seseorang berkata; ‘saya jadikan tempat ini sebagai masjid’, maka tempat tersebut akan menjadi masjid dengan ucapannya itu walaupun dia tidak berkata ‘kerana Allah’ serta dia tidak mengucapkan sighah-sighah wakaf yang terdahulu, kerana ungkapannya itu telah menunjukkan tujuan perwakafannya dan telah terkenal (lafaz tersebut) dalam perwakafan. Manakala perkataan ‘saya wakafkan tempat ini untuk solat’, adalah merupakan lafaz kinayah dalam perwakafan untuk menjadikannya sebagai masjid. Maka untuk keabsahannya sebagai masjid masih memerlukan niat menjadikannya sebagai masjid. Sementara untuk status perwakafannya sebagai tempat solat, ucapan tersebut merupakan sighah soreh yang tidak memerlukan niat lagi. Tidak juga menjadikan ia sebagai masjid apabila dia mendirikan sebuah bangunan, meskipun berbentuk bangunan masjid. Begitu juga andainya dia berkata ‘saya izinkan solat di tempat ini’ maka dengan perkataan tersebut, tempat yang dimaksudkan itu tidak menjadi masjid walaupun dia solat di tempat itu dan meniatkannya menjadi masjid. Di dalam al-Kifayah yang mengikut pendapat al-Mawardi, Ibn Rif’ah berkata; “kecuali bangunan itu dia dirikan di tanah mawat (tanah yang tiada pemilik dan tidak dimanfaatkan oleh sesiapa), maka tempat tersebut akan menjadi masjid dengan sebab pembinaan dan niat menjadikannya sebagai masjid tanpa memerlukan ucapan sighah wakaf dalam bangunan di tanah mawat tersebut”. Al-Subki menyatakan; “tanah mawat tersebut tidak boleh dimiliki oleh orang yang membukanya sebagai masjid. Sementara ucapan sighah wakaf hanya diperlukan untuk mengeluarkan tempat tersebut daripada pemilikannya dan tanah mawat tersebut akan dihukumkan sebagai masjid kerana mengikut pembangunannya”. Al-Isnawi berpendapat, qiasnya ketentuan tersebut juga berlaku dalam pembangunan selain masjid, iaitu madrasah, ribat dan seumpamanya. Pendapat al-Rifa’ie dalam bab ihya’ al-mawat juga menunjukkan sedemikian. Jelasnya, apabila seseorang berkata; ‘saya izinkan iktikaf di tempat ini’, maka tempat yang dimaksudkan akan menjadi masjid kerana iktikaf hanya sah dilakukan di masjid.”

2. Tuhfah al-Muhtaj :

والأصح وإن نازع فيه الأسنوى وغيره أن قوله جعلت البقعة مسجدا من غير نية صريح فحينئد تصير به مسجدا وإن لم يأت بلفظ مما مر لأن المسجد لا يكون إلا وقفا.
“Menurut pendapat yang asah, meskipun ditentang oleh al-Asnawi dan lainnya bahawa sesungguhnya perkataan seseorang; “aku jadikan tempat ini sebagai masjid” tanpa niat itu dikirakan sebagai lafaz soreh (wakaf). Maka ketika itu (tempat itu) akan menjadi masjid meskipun tidak didatangkan dengan lafaz-lafaz yang telah lalu (dinyatakan), KERANA ia tidak berstatus masjid melainkan perwakafan (tiada masjid yang bukan wakaf).”

3. Nihayah al-Muhtaj :

والأصح وإن نازع فيه الأسنوى أن قوله جعلت البقعة مسجدا من غير نية صريح حينئد تصير به مسجدا وإن لم يأت بشيء مما مر لأن المسجد لا يكون إلا وقفا.
“Menurut pendapat yang asah, meskipun ditentang oleh al-Asnawi, bahawa sesungguhnya perkataan seseorang; “aku jadikan tempat ini sebagai masjid” tanpa niat itu dikirakan sebagai lafaz soreh (wakaf). Ketika itu (tempat itu) akan menjadi masjid meskipun tidak didatangkan dengan sesuatu (lafaz) yang telah lalu (dinyatakan), KERANA ia tidak berstatus masjid melainkan perwakafan (tiada masjid yang bukan wakaf).”

4. Mughni al-Muhtaj :

والأصح أن قوله جعلت هذه البقعة مسجدا وإن لم يكن لله تصير به أي بمجرد هذا اللفظ مسجدا لأن المسجد لا يكون إلا وقفا فأغنى لفظه عن لفظ الوقف ونحوه.
“Menurut pendapat yang asah, bahawa sesungguhnya perkataan seseorang; “aku jadikan tempat ini sebagai masjid” walaupun tanpa ‘kerana Allah’, nescaya jadilah (tempat tersebut) dengan semata-mata lafaz ini sebagai masjid KERANA ia tidak berstatus masjid melainkan perwakafan (tiada masjid yang bukan wakaf). Maka lafaznya tidak memerlukan kepada lafaz ‘wakaf’ dan seumpamanya.”

5. Hasyiah al-Bujairimi :

قوله: (في المسجد) وهو ما وقفه الواقف مسجدا لا رباطا ولا مدرسة كما أفتى به ابن عبد السلام
“Katanya: (di dalam masjid). Masjid itu adalah sesuatu yang diwakafkan oleh pewakaf sebagai masjid, bukan ribat, bukan madrasah sebagaimana yang telah difatwakan oleh Ibnu ‘Abd al-Salam.”

6. Hasyiah al-Syarqawi :

فى المسجد وهو ما وقفه الواقف مسجدا لا رباطا ولا مدرسة
“Di dalam masjid; ia adalah suatu tempat yang telah diwakafkan oleh pewakaf sebagai masjid bukan sebagai pondok atau madrasah.”

7. Hasyiah al-Syarwani :

وخرج بالمسجد مصلى العيد وما بنى فى أرض مستأجرة على صورة المسجد وأذن بانيه فى الصلاة فيه
“Bukan termasuk masjid adalah; tempat solat hari raya dan sesuatu yang dibangunkan di atas tanah persewaan dengan model bangunan masjid dan pendirinya mengizinkan untuk dibuat solat di situ.”

8. Hasyiah I’anah al-Talibin :

ووقفته للصّلاة أى إذا قال الواقف وقفت هذا المكان للصّلاة فهو صريح فى مطلق الوقفيّة وكناية فى خصوص المسجديّة فلا بدّ من نيّتها فإن نوى المسجديّة صار مسجدا وإلاّ صار وقفا على الصّلاة فقط ولم يكن مسجدا كالمدرسة
“Dan saya wakafkan tempat ini untuk solat; ertinya ketika orang yang berwakaf mengatakan ‘saya mewakafkan tempat ini untuk solat’, maka itu adalah perkataan yang soreh (jelas) untuk wakaf secara umum. Ia dikirakan kinayah untuk mengkhususkannya sebagai masjid, maka perlu ada niat sebagai masjid. Jika orang yang berwakaf itu berniat sebagai masjid, maka ia akan menjadi masjid dan jika tidak diniatkan menjadi masjid, maka ia hanya menjadi perwakafan untuk solat sahaja, bukan masjid sepertimana madrasah.”

9. Bughyah al-Mustarsyidin :

فلو رأينا محلا مهيّأ للصّلاة ولم يتواتر بين الناس أنّه مسجد لم يجب التزام أحكام المسجديّة فيه
“Jika kita melihat tempat yang diperuntukkan untuk solat, dan manusia tidak menganggap yang demikian itu sebagai masjid, maka ia tidak boleh ditetapkan sebagai hukum masjid.”

10. ‘Umdah al-Mufti wa al-Mustafti :

ولا تصير الأرض مسجدا إلا إذا كانت ملكه وقال ‘ جعلت هذه البقعة مسجدا’…وإذا بنى الشخص في ملكه صورة مسجد فلا تصير البقعة مسجدا إلا إذا وقفها مسجدا أو قال ‘جعلت هذه مسجدا’ كما في المنهاج. فلا تصير البقعة مسجدا بمجرد البناء إلا إذا كانت مواتا وعمر فيها صورة مسجد، فإنها تصير مسجدا من غير لفظ كما في التحفة وقد سبق.
“Sesuatu bumi itu tidak akan menjadi masjid melainkan apabila bumi itu telah dimilikinya dan dia telah berkata; ‘aku jadikan kawasan ini sebagai masjid….’Dan apabila seseorang membina model bangunan masjid di dalam tanah miliknya, maka kawasan itu tidaklah terus menjadi masjid melainkan apabila dia mewakafkannya sebagai masjid atau dia berkata ‘aku jadikan ia sebagai masjid’ sepertimana yang disebutkan di dalam kitab al-Minhaj. Justeru, sesuatu kawasan itu tidak akan menjadi masjid dengan semata-mata binaan melainkan apabila kawasan itu merupakan mawat (tanah yang tiada pemilik dan tidak dimanfaatkan oleh sesiapa) serta dia telah membina model bangunan masjid, maka ia akan menjadi masjid tanpa lafaz sepertimana disebutkan dalam Tuhfah -yang telah lalu.”

11. Al-Manhal al-Naddhakh fi Ikhtilaf al-Asyyakh :

مسألة: لو بني بناء على هيئة مسجد وقال ‘أذنت في الإعتكاف فيه’ لم يصر بمجرد ذلك مسجدا عند م ر. وقالا يصير مسجدا به لأن الإعتكاف لا يصح إلا في المسجد
Permasalahan : “Sekiranya dia mendirikan sebuah bangunan berbentuk bangunan masjid dan dia berkata; ‘saya izinkan iktikaf di tempat ini’, (maka tempat yang dimaksudkan itu) tidak akan menjadi masjid dengan semata-mata perkataan tersebut menurut Syeikh al-Ramli. Manakala menurut Ibn Hajar dan Khatib al-Syirbini (begitu juga Syeikh Zakaria al-Ansari di dalam Asna al-Matalib), ia akan menjadi masjid dengan semata-mata perkataan tersebut kerana iktikaf tidak sah dilakukan melainkan di masjid.”

12. Nihayah al-Zain :

ومثل الإعتكاف صلاة التحية فلو قال أذنت في صلاة التحية في هذا المحل صار مسجدا لأنها لا تكون إلا في المسجد ولو بنى البقعة على هيئة المسجد لا يكون البناء كناية وإن أذن في الصلاة فيه إلا في موات فيصير مسجدا بمجرد البناء مع النية…الخ
“Dan sepertimana iktikaf, adalah solat tahiyyat masjid. Maka apabila seseorang berkata; ‘saya izinkan solat tahiyyat di tempat ini’, maka tempat tersebut menjadi masjid kerana solat tahiyyat hanya sah dilakukan di masjid. Sekiranya seseorang mendirikan bangunan berbentuk bangunan masjid, maka pembangunan yang dilakukannya tidak menjadi kinayah dalam perwakafan masjid meskipun dia mengizinkan untuk bersolat di dalamnya kecuali tanah mawat (tanah yang tiada pemilik dan tidak dimanfaatkan oleh sesiapa). Maka jadilah ia (tanah mawat) itu masjid dengan semata-mata pembangunan tersebut beserta niat menjadikan ia masjid.”

13. Himpunan Fatwa, Dato’ Hj Abu Hasan b. Hj Sail, Mufti N. Sembilan ke-2 m/s 14;

Soalan:
Balai raya yang dibenar mendirikan sembahyang Jumaat, adakah dikehendaki seorang itu mengerjakan tahiyyat masjid apabila memasukinya?

Jawapan:
Tiada tahiyyat masjid di tempat yang dibolehkan mendirikan sembahyang Jumaat. Sembahyang tahiyyat hanya dibuat di masjid sahaja.

14. Himpunan Fatwa Negeri Kedah m/s 138 jil. 1;

Soalan;
Cara bagaimanakah boleh diithbatkan (ditetapkan) sesebuah bangunan itu menjadi masjid dan thabit padanya hukum-hukum masjid?

Jawapan;
Thabit sesebuah bangunan itu menjadi masjid dengan mana-mana satu cara seperti di bawah ini;
1) Soreh lafaz wakaf untuk dijadikan masjid.
2) Lafaz kinayah wakaf untuk didirikan sembahyang dengan niat untuk dijadikan wakaf masjid.
3) Dibina masjid di dalam tempat yang belum diteroka (أرض الموات) dengan hanya niat sahaja.
4) Kutipan umpama derma bagi tujuan membina masjid.

15. Himpunan Fatwa Negeri Kedah m/s 149 jil. 1;

Soalan;
Adakah harus surau, musolla dan madrasah dinaikkan taraf sebagai masjid?

Jawapan;
Difahamkan dari nas Tuhfah al-Muhtaj juzuk 6 hal. 251- bahawa setiap wakaf adalah menurut lafaz wakif (pewakaf) dan niatnya. Di dalam masalah surau, musolla dan madrasah yang biasanya digunakan untuk belajar umumi dan bersembahyang jemaah semuanya tertakluk kepada lafaz niat wakif (pewakaf) dan tertakluk kepada syarat wakif (pewakaf) itu. Jika diwakafkan untuk sembahyang padanya, ia adalah kinayah bagi masjid dan bangunan itu tidak akan menjadi masjid kecuali diniatkan sebagai masjid. Jika tidak, maka ia adalah wakaf untuk tempat bersembahyang sahaja…

16. Keputusan Mesyuarat Jawatankuasa Syariah Negeri Perak;

Hukum Iktikaf Di Dalam Surau Yang Mendirikan Solat Jumaat

Tarikh Keputusan: 3 Mar, 2005

Keputusan:
Mesyuarat Jawatankuasa Syariah yang bersidang pada hari ini 22 Muharram 1425 bersamaan 3 Mac 2005 buat kali ke 165 bersetuju bahawa tidak sah iktikaf dan tidak boleh solat tahiyyatul masjid di dalam surau diri Jumaat.

Status Penwartaan: Tidak Diwartakan

Nombor Rujukan: 165
(http://www.e-fatwa.gov.my/…/hukum-iktikaf-di-dalam-surau-ya…)

17. Fatwa Negara Brunei Darus Salam :

“Oleh itu, tidak disunatkan sembahyang sunat Tahiyyatul Masjid dan i‘tikaf itu di dalam balai ibadat atau surau. Ini kerana memang jelas nama balai ibadat atau surau itu bukan dimaksudkan sebagai masjid walaupun didirikan di dalamnya sembahyang berjemaah lima waktu, sembahyang Jumaat serta sembahyang sunat yang lain seperti Tarawih, ‘Idil Fitri, ‘Idil Adhha dan lain-lain.

SEMBAHYANG TAHIYYATUL MASJID DAN I‘TIKAF
اليسع برهان
Wallahu a’lam

Sumber: Alyasak Berhan

12/10/2018 Posted by | Fatwa, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

HUKUM MELAWAT TEMPAT IBADAH NON MUSLIM SEPERTI GEREJA DAN KUIL

Diantara tempat lawatan dan pelancongan ialah tempat ibadah orang kafir . oleh itu kita kena mengetahui Hukum menziarahi tempat ibadah orang kafir

PARA ULAMA BERSELISIH PENDAPAT DALA M PERKARA INI. ADA 3 PENDAPAT:-

PERTAMA: Mazhab Maliki dan mazhab Hambali mengharuskan menziarahi tempat ibadah orang kafir ini. (kitab Jawahirur iklil dan Kasyaful qina’)

KEDUA; Mazhab Syafie menyatakan harus sekiranya tiada patung dalam tempat tersebut. (mughnil Muhtaj)

KETIGA: Mazhab hambali yg mengharamkan masuk dalam tempat ini kerana ini adalah tempat syaitan (Raddul Mukhtar)

HUJJAH DARI PARA SAHABAT YG MENGHARUSKAN MASUK

1. Abu Musa al-Asyari solat di gereja di Damsyik Syiria (kitab ibnu abi syaibah)
2. Perjanjian yg dilakukan oleh Umar ra dgn orang2 Nasrani yg panggil “ Syurut2 alumariah” iaitu:-

“وأن لا نمنع كنائسنا أن ينزلها أحد من المسلمين في ليل ولا نهار, وأن نوسع أبوابها للمارة وابن السبيل, وأن نُنزِل من مر بنا من المسلمين ثلاثة أيام ونطعمهم” (البيهقي 18717

“Tidak dihalang mana2 orang islam untuk memasukinya pada waktu siang atau malam, hendaklah diluaskan pintunya untuk orang lalu lalang dan orang yang bermusafir dan menjadi tuan rumah kepada orang yang singgah selama 3 hari serta memberi makan kepadanya.”

3. Masuknya sebahagian isteri Nabi saw ke gereja di habsyah tanpa ditegah oleh Rasulullah saw:-

, وكانت أم سلمة وأم حبيبة رضي الله عنهما أتتا أرض الحبشة فذكرتا من حسنها وتصاوير فيها, فرفع النبي صلى الله عليه وسلم رأسه فقال: “أولئك إذا مات منهم الرجل الصالح بنوا على قبره مسجدًا، ثم صوروا فيه تلك الصورة, أولئك شرار الخلق عند الله” (البخاري 1341)

Ummu salamah dan Ummu Habibah pergi ke bumi Habsyah dan mereka menceritakan kecantikannya dan patung2 disana. Kemudian Nabi saw mengangkat kepala dan berkata “Mereka itu ialah orang2 yang apabila matinya lelaki soleh akan dibina masjid diatas quburnya kemudian mereka membina patung lelaki soleh tadi. Mereka adalah seburuk-buruk manusia disisi Allah.

Ada sejarah Umar yg menolak untuk masuk ke gereja kerana terdapat patung seperti disebut dalam kitab Musannaf Abdur Razzak:

“لما قدم عمر الشام صنع له رجل من عظماء النصارى طعامًا ودعاه، فقال عمر: إنا لا ندخل كنائسكم من الصور التي فيها. يعني التماثيل” (عبد الرزاق 1610)

Apabila Umar ra sampai ke Syam , seorang lelaki dari kalanagan pembesar Nasrani menyediakan makanan dan memanggil Umar ra. Umar menjawab “ Kami tidak masuk gereja yang ada patung.”

Athar ini ditafsirkan bahawa Umar menolak atas kapasiti sebagai pemimpin dan ditakuti menimbul fitnah. Tafsiran ini dikuatkan apa yg disebut oleh Ibnu Quddamah dalam kitabnya:

“…..وروى ابن عائد في فتوح الشام أن النصارى صنعوا لعمر رضي الله عنه حين قدم الشام طعامًا فدعوه فقال: أين هو؟ قالوا: في الكنيسة, فأبى أن يذهب وقال لعلي: امض بالناس فليتغدوا, فذهب علي رضي الله عنه بالناس فدخل الكنيسة وتغدى هو المسلمون وجعل علي ينظر إلى الصور وقال: ما على أمير المؤمنين لو دخل فأكل” (المغني 8/113).
Ibnu Ai’d telah meriwayatkan dalam pembukaan kota Syam , bahawa orang2 kristian menghidangkan Umar yg baru tiba. Umar ra bertanya “ Dimana jamuan?”
Mereka berkata “ Di gereja.” Lalu Umar berkata kpd Ali ra “ Pergilah engkau dgn orang lain untuk makan tengahari.” Ali pun pergi bersama orang lain dan mereka makan tenghari di gereja tersebut. Ketika itu Ali ra melihat patung2 dan berkata “Kenapa kalau Umar masuk dan makan”

KEADAAN YANG DIHARAMKAN PERGI:-

1. Semasa ada perayaan mereka. Umar menyebut dalam sanad yg sahih:

“لا تدخلوا عليهم في كنائسهم يوم عيدهم، فإن السخطة تنزل عليهم” (عبد الرزاق 1609).

“Jangan kamu masuk dalam gereja2 semesa perayaan mereka. Sesungguhnya kemurkaan akan kpd mereka ketika itu.”

2. melakukan syiar atau cara ibadah mereka seperti sujud dan sebagainya.

3. Jika ditakuti timbulnya fitnah disebalik ziarah tersebut seperti tohmahan .

4. Tiada keiizinan dari mereka untuk masuk.

5. merosakkan atau menghina tempat tersebut.

KESIMPULAN : HARUS MASUK SEKIRANYA BEBAS DARI KELIMA-LIMA PERKARA DIATAS.

Sumber

02/10/2018 Posted by | Aqidah, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Musuh-Musuh Tasawuf dan Tarikat”

PENGENALAN

Pada pengamatan dan pemerhatian penulis, sejak kebelakangan ini, telah wujud segolongan puak di Malaysia yang begitu galak memperlekeh, mencaci dan menghina tawasuf serta tarikat. Pelbagai tohmahan demi tohmahan dilontarkan kepada tokoh-tokoh ulama sufi muktabar serta wali-wali Allah Taala. Golongan ini merasakan diri mereka begitu hebat berbanding para ulama yang telah disebutkan oleh Rasulullah S.A.W. sebagai pewaris para nabi. Walaupun ilmu agama dan amalan yang dimiliki mereka tidaklah seberapa jika hendak dibandingkan dengan para ulama, namun mereka dengan megah mendabit dada untuk mengatakan mereka begitu arif serta faham semuanya mengenai Islam. Amat menyedihkan lagi, golongan ini terdiri daripada kalangan orang Islam sendiri yang mengaku memahami, mendalami dan memperjuangkan Islam, tetapi hakikatnya merekalah perosak umat Islam.

Mungkin mereka terlupa tentang firman Allah Taala di dalam sebuah hadis qudsi seperti berikut:

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Baghawi: Daripada Anas bin Malik R.A., daripada Rasulullah S.A.W., daripada Jibril A.S., daripada Allah Taala berfirman (hadis qudsi) bermaksud:

Barangsiapa yang menghina kekasihKu maka sesungguhnya dia telah mengajakKu berperang, sesungguhnya Aku akan murka demi kekasih-kekasihKu seperti marahnya sesekor singa yang garang…

(Riwayat Ibnu Abi ad-Dunya, Abu Nuaim).

Hadis qudsi ini ada juga diriwayatkan dengan lafaz yang berbeza dari riwayat ini oleh al-Bukhari, Ahmad, at-Tabrani, Abu Yala dan sebagainya lagi).

SIAPAKAH MUSUH-MUSUH TASAWUF DAN TARIKAT?

Musuh-musuh tasawuf cuba sedaya upaya untuk menyerang dan menfitnah tasawuf Islam dengan pelbagai pendustaan dan rekaan cerita semata-mata. Mereka juga akan melontarkan berbagai-bagai tohmahan dan penyelewengan mungkin disebabkan oleh perasaan hasad dengki mereka ataupun mungkin juga disebabkan kejahilan diri mereka sendiri terhadap agama Islam. Lebih menyedihkan lagi ada di antara musuh-musuh tasawuf ini terdiri dari kalangan orang-orang Islam sendiri sedangkan mereka semua sudah sedia maklum mengenai hakikat kebenaran tasawuf ini sepertimana yang terkandung di dalam sebuah al-Hadis S.A.W. mengenai Ihsan.

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Bahawa kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihatNya dan jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.

(Riwayat Muslim).

Berkata al-Muhaddith Syeikh Muhammad Siddiq al-Ghumari:

Sesungguhnya Ihsan sebagaimana dalam hadis tersebut adalah ibarat dari tiga rukun yang disebutkan. Barangsiapa tidak menyempurnakan rukun Ihsan yang mana ia merupakan tarikat (jalan) maka tanpa ragu-ragu lagi bahawa agamanya tidak sempurna kerana dia meninggalkan satu rukun dari rukun-rukunnya. Tujuan atau kemuncak matlamat yang diseru dan diisyaratkan oleh tarikat ialah maqam Ihsan setelah memperbetukan Islam dan Iman.

(Kitab: Intishar Li Thariqi as-Sufiyyah).

Berkata Syeikh al-Islam Zakaria al-Ansori:

Tasawuf ialah suatu ilmu yang diketahui dengannya keadaan penyucian jiwa dan pembersihan akhlak serta mengimarahkan zahir dan batin bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang abadi.

(Kitab: Ala Hamisy Risalah al-Qusyairi).

Berkata Imam Junaid:

Tasawuf ialah menggunakan semua akhlak ketinggian yang terpuji dan meninggalkan semua tingkahlaku yang rendah lagi di keji.

(Kitab: Nusrah al-Nabawiyyah).

Berkata Syeikh Abdul Kadir Isa di dalam kitabnya Haqaiq An al-Tasawuf mengenai musuf-musuf tasawuf sepertimana berikut (penulis hanya mengambil secara ringkas sahaja):

Di antara musuh-musuh tasawuf terdiri dari kalangan orentalis lagi zindiq serta para pengikutnya dan konco-konconya. Mereka telah disusun atur dan dilatih oleh golongan kafir yang jahat bagi mencela Islam. Mereka cuba memusnahkan pokok pangkal Islam dengan menimbulkan pelbagai keraguan serta menyebarkan fahaman-fahaman untuk memecahkan umat Islam. Mereka mempelajari Islam secara mendalam tetapi bertujuan untuk menyeleweng dan memusnahkan Islam. Mereka juga sentiasa memiliki sifat talam dua muka. Mereka juga mendakwa tasawuf diambil daripada Yahudi, Nasrani dan Buddha. Bermacam-macam tohmahan dilemparkan terhadap tokoh-tokoh ulama tasawuf. Apa yang lebih mendukacitakan, terdapat segelintir orang Islam menggunapakai pandangan dan pendapat dari musuh-musuh Islam ini untuk mencela tasawuf secara total. Inikah yang dikatakan pejuang Islam yang sebenarnya? Kadang-kadang mereka ini berselindung di sebalik sebagai seorang pengkaji atau sarjana ilmuan Islam, akan tetapi merekalah di antara para perosak agama Islam dari dalam.

Di antara musuh-musuh tasawuf juga ialah mereka yang jahil dengan hakikat tasawuf Islam itu sendiri. Mereka tidak mempelajari daripada tokoh-tokoh ulama sufi secara jujur dan amanah serta tidak juga mengambil manfaat daripada ulama-ulama tasawuf yang ikhlas menyampaikan ilmu pengetahuan. Mereka cuba mengkaji sendiri kitab-kitab tasawuf sedangkan mereka tidak mempunyai asas dan tidak memahami maksud sebenar serta mereka juga tidak mengetahui tentang penyelewengan terhadap kitab-kitab tersebut oleh musuh-musuh tasawuf Islam. Maka akan timbullah pandangan negatif dan berburuk sangka terhadap tasawuf ini. Kita boleh bahagikan mereka ini kepada beberapa golongan:

Golongan pertama:

Fikrah tentang tasawuf yang ada pada mereka diambil melalui amalan suluk sesetengah golongan yang menyelinap masuk serta menyeleweng yang terdiri daripada musuh-musuh tasawuf. Mereka tidak membezakan di antara tasawuf yang hakiki lagi suci dengan sesetengah perkara jelek dan keji yang datang menyelinap yang tiada hubungkait dengan Islam.

Golongan kedua:

Mereka merupakan golongan yang terpedaya dengan apa yang mereka dapati daripada kitab-kitab tokoh-tokoh sufi yang terdiri daripada pelbagai permasalahan yang diselinap masuk. Mereka mengambilnya sebagai suatu hakikat sabit tanpa sebarang kepastian terlebih dahulu. Mungkin juga mereka mengambil kata-kata sabit yang terdapat dalam kitab-kitab ahli sufi lalu memahaminya tanpa mengikut apa yang dikehendaki oleh kitab tersebut. Mereka mengikut fahaman cetek yang dimiliki, ilmu yang terhad serta keinginan yang tersendiri tanpa merujuk terlebih dahulu kepada ahli sufi yang jelas kefahamannya tentang syariat dan akidah. Mereka mentakwilkan kalam-kalam para ulama sufi mengikut hawa nafsu tanpa bertanya terlebih dahulu kepada ahlinya yang lebih memahami. Mereka ini seumpama mengambil ayat-ayat al-Quran al-Karim yang mempunyai kesamaran (mutasyabihat) lalu mentakwilkannya sesuka hati tanpa melihat kepada ayat-ayat yang jelas (muhkamat) dan tidak juga bertanya terlebih dahulu kepada para ulama yang lebih mengetahui sepertimana yang telah dijelaskan oleh Allah Taala di dalam al-Quran al-Karim (Surah al-Imran: Ayat 7). Sedangkan ada sebilangan dari kalangan mereka yang begitu mengecam pentakwilan (bukan menurut hawa nafsu) oleh para ulama muktabar bukan?

Golongan ketiga:

Mereka merupakan golongan yang tertipu. Mereka mencedok ilmu pengetahuan daripada orientalis. Mereka hanya menggunapakai pandangan dan sangkaan salah dari para orientalis semata-mata. Mereka tidak dapat membezakan di antara tasawuf Islam yang sebenarnya dengan tasawuf yang telah dicemari di sebabkan mereka tiada ilmu dan asas yang bertepatan.

Inilah di antara musuh-musuh tasawuf serta tarikat yang bertindak menyerang tasawuf dari sebelah luar ataupun dari sebelah dalam Islam. Mereka bersungguh-sungguh menabur fitnah selagimana mereka di berikan nyawa yang sementara ini dari Allah Taala. Mungkin juga mereka lupa bahawa mereka akan diperhitungkan oleh Allah Taala di akhirat kelak. Bersedialah!

TARIKAT TASAWUF SESAT?

Maksud tarikat secara umumnya ialah suatu jalan (tarikat) yang dilalui seseorang Islam itu untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala. Di sini kita tidak menafikan bahawa wujud segelintir tarikat yang sesat dan tidak mengikut syariat Islam yang sebenar. Namun untuk menghukum kesemua tarikat tasawuf adalah salah dan sesat secara pukul rata, dakwaan ini tidaklah boleh diterima akal sama sekali. Ulama-ulama muktabar Islam juga turut memperakui kebenaran tarikat tasawuf ini dan ada di antara mereka merupakan pengamal tarikat di antaranya Imam Hanafi (Sila rujuk kitab ad-Dur al-Mukhtar). Ini merupakan bukti yang kukuh lagi kuat untuk menyatakan bahawa tarikat adalah dibenarkan dan bertepatan dengan Islam. Mana mungkin para ulama muktabar yang begitu memahami dan mendalami Islam mengamalkan tarikat tasawuf jika ia sesuatu yang sesat dan bidaah bukan?

Berkata Imam Shafie:

Disukai bagiku daripada duniamu tiga perkara: Meninggal perkara yang membebankan diri dan bergaul sesama makhluk dengan lemah lembut serta mengikut jalan ahli tasawuf.

(Kitab: Kasfu al-Khafa Wa Mazilu al-Albas).

Adapun ahli tasawuf yang sebenarnya tidaklah terlepas dari melakukan syariat Islam bahkan merekalah golongan yang perlu memperbanyakkan lagi amalan-amalan baik dengan berlipat-lipat kali ganda. Ini kerana tasawuf dan tarikat itu sendiri terikat dengan al-Quran al-Karim dan al-Hadis S.A.W. sepertimana yang diterangkan oleh Imam Junaid:

Mazhab kami terikat dengan usul al-Quran al-Karim dan as-Sunnah S.A.W.

(Kitab: al-Tabaqat as-Sufiyyah).

Bagi pengamal tarikat tasawuf Islam yang telah lama mahupun kepada yang baru berjinak-jinak dengan tarikat, mungkin kata-kata dari Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ini boleh dijadikan pedoman serta panduan:

Sesungguhnya meninggalkan ibadah fardhu adalah zindiq,

Melakukan yang haram atau yang ditegah adalah maksiat,

Perkara fardhu tidak akan gugur daripada seseorang individu walau dalam apa jua keadaan sekalipun.

(Kitab: al-Fathu ar-Rabbani).

Di sini penulis ingin katakan bahawa tarikat tasawuf bukanlah suatu yang sesat dan bidaah di sisi Islam sepertimana yang didakwa oleh sesetengah pihak, bahkan tasawuf adalah sebahagian daripada Islam melalui pengiktirafannya mengenai Ihsan di dalam hadis Jibril A.S. Adapun adalah perosak tasawuf tarikat yang sesat itu sebenarnya bukanlah dinamakan tarikat tasawuf bahkan mereka ini. Mereka mendakwa sebagai pengamal tasawuf, akan tetapi mereka menyeleweng dari landasan yang telah ditetapkan oleh Islam. Inilah di antara masalah-masalah yang terpaksa di hadapi oleh para pengamal tarikat tasawuf sehinggakan ia memberi peluang kepada musuh-musuh tasawuf untuk melancarkan serangan jahat terhadap Islam secara umumnya dan tasawuf secara khususnya.

Namun ada sesetengah pengamal tarikat tasawuf yang terlalu taksub sehingga mengatakan semua pihak yang mendakwa diri sebagai tarikat adalah betul dan tidak salah sama sekali. Mereka ini terus menyalahkan dan memaki-hamun sesiapa sahaja (di manakah akhlak sebagai seorang pengamal tasawuf?) yang mendakwa sesuatu tarikat itu tidak bertepatan dengan Islam walaupun orang yang berkata itu adalah para ulama sufi sendiri. Sedangkan kita semua juga mengetahui bahawa wujud segelintir tarikat yang menyalahi syariat Islam sepertimana yang telah saya jelaskan di atas. Sikap ketaasuban mereka yang terlalu melampau ini juga boleh membuka ruang bagi musuh-musuh tasawuf dan tarikat merendah-rendahkan Islam dan mengucar-kacir masyarat Islam itu sendiri.

SUFI ATAU PENDAKWA SUFI?

Pada hari ini kelihatan tasawuf dikecam dan diburukkan dengan begitu hebat oleh segelintir golongan yang mempunyai niat busuk lagi keji. Ada di kalangan mereka bertopengkan tasawuf serta menisbahkan diri kepada tasawuf. Ada juga di kalangan mereka yang menabur fitnah yang berterusan kepada pengamal tasawuf dengan tohmaham-tohmahan yang tidak bertepatan. Mereka memburuk-burukkan tasawuf dengan berbagai-bagai cara di antaranya melalui kata-kata atau ucapan-ucapan umum, perbuatan, perjalanan hidup, penulisan dan sebagainya lagi sedangkan mereka ini tiada kaitan langsung dengan tasawuf. Ini menyebabkan masyarakat memandang serong terhadap pengamal tasawuf di sebabkan fitnah yang disebarkan oleh mereka yang konon-kononnya memahami agama Islam. Adakah tindakan mereka itu melambangkan mereka benar-benar memahami Islam?

Pertolongan Allah Taala sentiasa datang untuk membantu hamba-hambaNya yang benar. Allah Taala menzahirkan penyelewengan pendakwa kesufian yang menyeleweng ini untuk membezakan dengan ahli sufi yang sebenarnya. Di antaranya muncul para ulama muktabar terdiri daripada kalangan imam-imam yang diketahui keilmuan dan kealiman mereka itu dan mereka juga ialah tokoh-tokoh sufi yang begitu masyhur serta diperakui kehebatannya. Mereka memberi perakuan dan pengiktirafan terhadap tasawuf ini bahkan mereka juga di antara pengamal tasawuf yang diikuti oleh umat Islam. Mereka bangkit berdakwah dan menyampaikan kebenaran dan menagkis segala kebatilan yang datang dari musuh-musuh tasawuf.

Berkata Syeikh Abdul Kadir Isa:

Di sana terdapat perbezaan yang begitu ketara di antara tasawuf dan sufi.

Golongan yang mendakwa tasawuf dengan segala penyelewengan dan percanggahan bukanlah merupakan gambaran kepada tasawuf. Ia sebagaimana seorang muslim dengan segala perbuatannya yang mungkar bukanlah merupakan gambaran kepada Islam dan agama anutannya.

(Kitab: Haqaiq An al-Tasawuf).

Golongan yang baik ataupun jahat sentiasa ada di dalam semua golongan sehingga hari kiamat. Bukan semua ahli sufi itu sama tarafnya. Ada di kalangan mereka yang soleh dan ada di kalangan mereka yang lebih soleh. Ada yang hebat dan ada yang lebih hebat. Begitu jugalah umat dari generasi salaf yang ada di antara mereka yang baik lagi soleh dan ada di antara mereka yang jahat dan tidak soleh. Semua ini adalah ketentuan dari Allah Taala sebagai ujian dan dugaan kepada hambaNya yang beriman lagi bertakwa.

Wallahu alam.semuga penerangan dan sedikit kupasan bab ini.memberikan manfaat KPD kita semua.

Aaminn…….

Sumber: Group Whatsapp BMW Idealis 28 Sep 2018

28/09/2018 Posted by | Ibadah, Tasauf, wahabi | Leave a comment

Asal usul bacaan Tahiyat dlm Solat.

ADAKAH ANDA TAHU LATAR BELAKANG ATTA’HIYYAAT Serta Mengapa Kita Baca Dalam Solat Kita?

ATTA’HIYYAAT adalah doa yang sangat penting; kita mengulanginya di dalam solat harian kita. Apabila saya mendapat tahu akan kepentingan ini, amat tersentuh hati saya.

ATTA’HIYYAAT sebenarnya adalah sebahagian daripada perbualan antara Pencipta kita Allah SWT dan yang kita kasihi Nabi Muhammad SAW semasa perjalanan Isra’ Mi’raj. Ketika Nabi Muhammad SAW bertemu Allah SWT, dia tidak berkata ‘Assalamualaikum’. Apakah yang seseorang akan berkata apabila dia bertemu Allah? Kita tidak boleh mengucapkan selamat sejahtera kerana semua sumber kesejahteraan adalah melalui Dia.

Jadi Nabi Muhammad SAW berkata: “Attahiyyaatul Mubaaraka TusSolawaatut toyibaatulillah” (Segala pujian, segala doa dan ibadah hanyalah untuk Allah)

Allah jawab:
“Assalamu Alaika Ayyuhannabiyyu ‘Warahmatullahi Wabarokaatuh” (Salam sejahtera ke atas kamu, Wahai Nabi dan Allah memberi rahmat dan keberkatan).

Untuk ini, Nabi Muhammad SAW menjawab:
“Assalamu ‘Alaina Wa’ala’Ibadillahis So’lihin” (Selamat sejahtera kepada kami dan kepada semua hamba yang baik kepada Allah)
Nota * Nabi Muhammad SAW mengata “kami” dalam jawapan … (dan pada semua hamba yang baik kepada Allah)

Dan mendengar perbualan ini antara Allah dan Rasul-Nya, para malaikat berkata:

“Ash’had’u’an La ilahaillallah Wa Ash’hadu Anna Muhammadun Abd’uhu Wa Rasuuluh” (Aku bersaksi bahawa tiada siapa yang berhak disembah melainkan Allah Dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya).

SubhanAllah!
Saya kini memahami kepentingan perbualan ini dalam doa harian kita dan bagaimana Solat telah ditetapkan kepada kita.

Wallahua’lam…

(Kisah ni ada disebutkan dalam Tafsir al-Samarqandi (tafsir surah al-Baqarah ayat 285) dan tafsir al-Tha’labi (tafsir surah al-Isra’ ayat 1)

Sumber: Madrasah Sunni Online

24/09/2018 Posted by | Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

FAHAMAN LIBERAL PEROSAK AKIDAH

Isi Khutbah Jumaat di Selangor hari ini 21hb Sept 2018.

1. Liberalisme adalah satu fahaman yang menuntut kebebasan berfikir tanpa batasan dan menolak prinsip kebenaran agama Islam serta mengambil jalan mudah dalam beragama.

2. Pejuang fahaman liberal juga mendakwa bahawa agama Islam mengikat, jumud, membataskan kemajuan malah cuba menakut-nakutkan masyarakat dengan menafikan pelaksanaan undang-undang Islam yang didakwa sebagai tidak mengikut perlembagaan.

3. Islam dianggap tidak adil, zalim, dan tidak sesuai dilaksanakan dalam kepelbagaian kaum dan agama sedangkan agama Islam adalah agama yang syumul, yang diturunkan oleh Allah SWT yang Maha Mengetahui.

4. Fahaman liberal membawa kepada fahaman semua agama adalah sama.

5. Golongan liberalisme dan pluralisme menolak wujudnya kebenaran Islam dan menyatakan semua agama adalah sama yang menganjurkan kepada kebaikan.

6. Mereka mendakwa bahawa jika orang bukan Islam diberikan kebebasan untuk menukar agama, maka orang Islam pun hendaklah diberikan kebebasan untuk murtad.

7. Fahaman liberal memperjuangkan fahaman sekular. Agama dianggap adalah urusan peribadi dan agama hanya dihadkan dalam ruang lingkup upacara agama semata-mata.

8. Golongan sekular mendakwa agama bertentangan dengan sains, sepertimana wahyu bertentangan dengan akal.

9. Begitu juga mereka mengatakan bahawa arak itu hak individu untuk meminumnya dan khalwat pula adalah hak peribadi yang tidak boleh diganggu.

10. Fahaman liberal berpaksikan logik akal semata-mata.

11. Golongan ini hanya menggunakan logik akal untuk menilai sesuatu kebaikan dan keburukan lantas menolak al-Quran dan al-Sunnah sebagai sumber hukum.

12. Mereka percaya bahawa orang yang melakukan perbuatan jahat tidak salah asalkan niat mereka baik. Umat Islam hendaklah berpegang teguh dengan ajaran Islam sesuai dengan pegangan akidah Ahli Sunah Wal-Jamaah dalam aspek akidah, syariat dan akhlak.

13. Umat Islam hendaklah memastikan agar tidak terpedaya dengan pemikiran liberal yang boleh merosakkan iman dan akidah. Umat Islam hendaklah merujuk kepada al-Quran dan al-Sunnah, dan sumber-sumber hukum yang muktabar serta tidak hanya membuat tafsir secara logik akal semata-mata.

Khutbah Jumaat 21 Sept 2018

21/09/2018 Posted by | Ibadah, Informasi, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Wanita Haid Masuk Ke Dalam Masjid/Surau

FATWA-FATWA BERKAITAN WANITA HAID MASUK MASJID / SURAU

1. FATWA NEGERI SELANGOR
Kategori : Sosial/Syariah
Tajuk : Fatwa Tentang Hukum Wanita Haid Dan Nifas Masuk Ke Dalam Masjid

Fatwa :
(1) Wanita yang sedang haid dan nifas adalah tidak dibenarkan duduk diam di dalam masjid walaupun dengan tujuan pembelajaran semata-mata.

(2) Hukum wanita haid dan nifas yang masuk ke dalam masjid adalah dibenarkan untuk sekadar melintasi atau melalui sekali lalu tanpa berulang-alik untuk keluar melalui pintu yang dimasukinya.

Rujukan Pewartaan : Sel. P.U. 28
Tarikh Pewartaan : 30 Ogos 2001

2. FATWA NEGERI SELANGOR
KEPUTUSAN JAWATANKUASA PERUNDING HUKUM SYARA’ (FATWA) NEGERI SELANGOR DARUL EHSAN MENGENAI PEREMPUAN HAID DAN NIFAS MENGGUNAKAN MASJID UNTUK PEMBELAJARAN DAN HUKUM KANAK-KANAK DI DALAM MASJID

PERBINCANGAN DAN KEPUTUSAN
Ahli Jawatankuasa Perunding Hukum Syara’ (Fatwa) Negeri Selangor dalam persidangannya yang bertarikh 29 April 1999 telah membincangkan perkara di atas dan keputusannya adalah seperti berikut :

“ Jawatankuasa Fatwa kali 1/99 yang bersidang pada 29 April 1999 sebulat suara memutuskan perempuan haid dan nifas menggunakan masjid semata-mata untuk tujuan pembelajaran sahaja adalah diharuskan kerana ia mempunyai hajat iaitu untuk menuntut ilmu. Manakala membawa masuk kanak-kanak yang belum mumayyiz ke dalam masjid adalah tidak harus. Ini kerana dikhuatiri kanak-kanak tersebut akan menyebabkan kotoran pada masjid ”.

DALIL-DALILNYA:

Berkaitan dengan perempuan haid atau nifas, ulama’ Islam mengemukakan pelbagai pandangan. Antaranya:

Sabda Rasulullah s.a.w
Maksudnya : Aku tidak menghalalkan bagi orang haid atau junub memasuki masjid.

Golongan ulama’ Syafii dan Hanbali mengharuskan bagi rang yang haid dan nifas lalu dalam masjid jika diyakini tidak mencemarkan masjid kerana masjid haram dicemari oleh najis dan kotoran lain.

Juga kerana terdapat riwayat daripada Aisyah yang mengatakan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda kepadaku Maksudnya :

Berikan aku sejadah (tikar) daripada masjid. Maka aku menjawab, “Aku sekarang sedang haid”. Lantas Nabi bersabda, “Sesungguhnya haid engkau bukan terletak pada tangan engkau”.

SUMBER: Ahli Jawatankuasa Perunding Hukum Syara’ (Fatwa) Negeri Selangor

3. FATWA NEGERI PERAK
Bolehkah wanita yang tidak suci (haid) memasuki mana- mana bahagian surau didirikan jumaat?

JAWAPAN:
Berkaitan juga dengan perkara di atas wanita yang tidak `suci` boleh memasuki mana-mana bahagian surau berkenaan.

BANK KEMUSYKILAN
Bahagian Istinbat,
Jabatan Mufti Negeri Perak.

4. FATWA NEGERI PULAU PINANG
Soalan:
i) Apakah yang dimaksudkan dan ditak’rifkan dengan surau dari segi hukum syarak?
ii) Adakah sama dengan taraf masjid dari segi disunatkan sembahyang tahiyyatul-masjid (تحية المسجد) ketika memasukinya, disunatkan i’tiqaf di dalamnya dan di larang wanita yang sedang dalam keadaan haid berada di dalamnya ?

Jawapan:
i) Surau adalah tempat melakukan ‘ibadat sembahyang yang tidak didirikan sembahyang Jumaat di dalamnya.

ii) Tidak ada sembahyang sunat tahiyyatul-masjid di surau dan tidak ada i’tiqaf di dalamnya dan tidak dilarang wanita-wanita yang sedang di dalam keadaan haid berada di dalamnya. Nas dari kitab إعانة الطالبينI juzuk 2, m/s 259. وأعلم أن الجامع وهو ما تقام فيه الجمعة. Bermaksud: “Dan ketahuilah bahawa yang di namakan masjid itu, ialah tempat yang didirikan padanya sembahyang Jumaat.

Negara asal : Malaysia
Negeri : Pulau Pinang
Badan yang mengisu fatwa : Jabatan Hal Ehwal Ugama Pulau Pinang
Penulis/Ulama : Dato’ Haji Hassan Bin Haji Ahmad ( Mufti Kerajaan Negeri Pulau Pinang)
Tarikh Diisu : Nov. 1986

5. FATWA AL-LAJNAH AD-DAIMAH LIL IFTA’

Tidak boleh seorang wanita yang sedang haidh masuk kedalam masjid kecuali hanya untuk berjalan melewati masjid jika hal itu diperlukan, sebagaimana halnya orang yang sedang junub berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. [An-Nisaa : 43]
[Fatawa Al-Lajnah Ad-Dai’mah Lil Ifta, 5/398]

Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, hal. 62-63 penerjemah Amir Hamzah Fakhrudin

SOAL JAWAB BERKAITAN WANITA HAID MASUK MASJID / SURAU

SOALAN PERTAMA

Assalamu’alaikum wbt…
Saya inginkan penjelasan tuan mufti tentang wanita yang sedang haid, samada dia boleh (dibenarkan) masuk ke dalam masjid/surau atau tidak. Jika boleh, apakah hujahnya…dan dari mana sumber yg mengatakan bahawa dia boleh masuk ke dalam masjid.

JAWAPAN SOALAN PERTAMA

Alhamdulillah. Salawat dan salam ke atas Rasulullah SAW.
Mazhab Syafi’e mengharuskan wanita haid dan nifas melalui atau melewati di dalam masjid jika tidak dikhuatirkan akan jatuh darahnya di lantai masjid itu. Tidak dibolehkan berulang-alik dalam masjid atau duduk / berhenti lama di dalamnya

Sila rujuk surah an-nisa’ ayat 43 (wanita haid termasuk dalam hukum yang sama dengan orang junub).

Terdapat hadis daripada Aisyah r.anha beliau berkata, :Rasulullah saw. telah berkata kepadaku “Tolong ambilkan untukku tikar dari masjid” Saya berkata “saya sedang haid”, baginda menjawab “Apakah haidmu itu berada ditanganmu?” (HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan keharusan wanita haid berjalan melalui masjid.

Sekian, wassalam.
Tarikh kemaskini 20-01-2000
Jabatan Mufti Negeri Melaka

SOALAN KEDUA

Apakah hukum bagi seseorang wanita masuk surau jika wanita tersebut dalam keadaan haid.

JAWAPAN SOLAN KEDUA

Harus bagi wanita dalam haid masuk surau tetapi tidak boleh masuk dan duduk di tempat orang sedang solat..WASSALAM

Nombor Rujukan : PANEL SJAI 290208
Tarikh Selesai : 29/02/2008 08:22 AM
Panel Kemusykilan Agama, JAKIM

SOALAN KETIGA

Assalamualaikum..
1)apa hukum org dlm haid masuk surau?..yg saya tahu kalau masuk masjid haram..

JAWAPAN SOALAN KETIGA :

Harus bagi wanita haidh masuk surau dan ia wajib menjaga supaya tidak mengotori surau tersebut.

Nombor Rujukan : PANEL SJAI 250908
Tarikh Selesai : 25/09/2008 04:17 PM
Panel Kemusykilan Agama, JAKIM

SOALAN KEEMPAT

Salam ustaz…saya agak keliru dgn hukum wanita sedang haid masuk masjid serta menziarahi kubur?boleh ustaz perjelaskan beserta dalilnya.

JAWAPAN SOALAN KEEMPAT
Majoriti mazhab mengharamkan wanita haid masuk dan duduk dlm masjid, namun mazhab Hanbali dan beberapa ulama kontemporari berpandangan harus utk tujuan menuntut ilmu. Ziarahi kubur adalah harus bagi lelaki dan wanita.

USTAZ ZAHARUDDIN ABDUL RAHMAN (www.zaharuddin.net)

WALLAHUA’LAM..

DISEDIAKAN OLEH:
IBNU MUSLIM (4 Rabiul Akhir 1430/ 31 MAC 2009)
IBNU MUSLIM di 3/31/2009 09:50:00 PG

24/08/2018 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Zikir Saidatina Fatimah RA: Meredakan Keletihan Wanita Dalam Menguruskan Rumahtangga.

Zikir Saidatina Fatimah RA: Meredakan Keletihan Wanita Dalam Menguruskan Rumahtangga. Rugi Kalau Tak Amal

Seorang isteri sangat sibuk dengan tugas sehariannya. Walaupun mereka tidak bekerja, tugas-tugas mereka di rumah kadang kala melebih 15 jam sehari. Jika isteri itu bekerja, tugasnya semakin bertambah.

Daripada bangun tidur sehinggalah hendak melelapkan mata, penuh dengan tugas.
Tidak hairan jika ramai para isteri yang mengeluh penat dan stres dek kerana tugas yang terlalu banyak dan tidak menang tangan untuk melaksanakannya terutama bila sudah bergelar ibu.
Sangat meletihkan apabila balik ke rumah, terpaksa kemaskan dalam rumah selepas seharian bekerja.
Sesekali seseorang wanita khasnya surirumah perlu juga berehat untuk meredakan kepenatan ini.

Antaranya adalah pergi bercuti bercuti dan sesekali pergi ke spa untuk rawatan tubuh.
Selain itu, sebenarnya dalam Islam sendiri telah tersedia penawar untuk menghilangkan kepenatan melalui amalan Zikir atau Tasbih Fatimah yang diajarkan oleh Rasululullah SAW kepada puterinya Saidatina Fatimah R.A.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ada menceritakan, pada satu hari puteri Saidatina Fatimah R.A mengadu kepada suaminya iaitu Saidina Ali bin Abu Talib R.A bahawa tangannya berasa sakit dan keletihan kerana terlalu banyak kerja rumah yang perlu beliau lakukan.

Kemudian Saidatina Fatimah R.A pergi menemui ayahandanya baginda Rasulullah SAW untuk meminta seorang pembantu. Walau bagaimanapun pada masa itu Saidanita Fatimah tidak dapat menemui Rasulullah SAW dan hanya bertemu dengan Saidatina Aisyah R.A.

Lalu Saidatina Fatimah R.A meninggalkan permintaannya itu kepada Saidatina Aisyah R.A untuk disampaikan kepada Ayahandanya. Apabila Rasulullah SAW tiba di rumah, Saidatina Aisyah R.A pun memberitahu baginda tentang hajat puterinya.

Lalu baginda pergi menemui puteri serta menantunya yang ketika itu telah beradu di tempat tidur mereka. Keduanya mahu bangun ingin menghampiri baginda tetapi baginda meminta mereka supaya tidak bergerak dari situ.
Rasulullah SAW bersabda:
“Mahukah kamu berdua aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kamu berdua minta? Ketika kalian berbaring hendak tidur, maka bacalah Takbir (Allahu Akbar) 34 kali, Tasbih (Subhanallah) 33 kali dan Tahmid (Alhamdulillah) 33 kali.

Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.”
(HR. Muslim, no: 4906)

Oleh itu marilah kaum muslimat sekelian kita amalkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW itu. Ini kerana anda semua tentu berasa penat setelah melakukan tugas-tugas harian. Sebelum melelapkan mata sama-samalah kita amalkan Zikir/Tasbih Fatimah setiap malam.
ZIKIR ATAU TASBIH FATIMAH
• Baca Allahu Akbar sebanyak 34 kali
• Baca Subhanallah sebanyak 33 kali
• Baca Alhamdulillah sebanyak 33 kali

Didik hati kita juga supaya melakukan semua tanggungjawab dengan seikhlas hari supaya kita tidak merasakan ia sebagai bebanan yang sangat memenatkan.

(Ustaz Yunan A Samad)

24/08/2018 Posted by | Fad hail Amal, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

10 Doa Mustajab Selepas Tahiyat Akhir Dan Sebelum Memberi Salam.

10 Doa Mustajab Selepas Tahiyat Akhir Dan Sebelum Memberi Salam.

Rugilah Jika Kita Rajin Solat Tapi Tidak Mengamalkannya
Rugilah Jika Kita Rajin Solat Tapi Tidak Mengamalkannya. Ini 10 Doa Mustajab Selepas Tahiyat Akhir Dan Sebelum Memberi Salam.

Dari Ibn Masud Nabi SAW bersabda maksudnya : “Kemudian (selepas tasyahhud akhir) hendaklah memilih daripada doa-doa yang paling dikaguminya”. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ada beberapa doa yang boleh dibaca selepas tahiyyat akhir sebelum memberi salam dalam solat. Ini berdasarkan beberapa hadis sahih yang diriwayatkan oleh perawi hadis yang juga merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW.

Berikut adalah doa-doa tersebut :

1) Doa Mohon Perlindungan Daripada Azab Neraka., Azab Kubur, Fitnah Kehidupan Dan Kematian Dan Fitnah Dajjal.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ،

وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّال

Maksudnya, “Ya Allah! Aku berlindung denganMu daripada azab neraka jahanam, daripada azab kubur, daripada fitnah kehidupan dan kematian, dan daripada kejahatan fitnah dajjal.” (Hadis Riwayat Muslim)

2) Doa Ini Sangat Baik Diamalkan Jika Kita Ada Masaalah Hutang.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

Maksudnya, “Ya Allah! Aku berlindung denganMu daripada azab kubur, aku berlindung denganMu daripada fitnah Dajjal, aku berlindung denganMu daripada fitnah kehidupan dan kematian. Ya Allah! Aku berlindung denganMu daripada dosa dan hutang.” (Hadis Riwayat Bukhari)

3) Doa Yang Ini Amat Baik Untuk Melupuskan Sifat Mazmumah Yang Ada Pada Diri Kita.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ.

Maksudnya, “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari bakhil, aku berlindung kepadaMu dari penakut, aku berlindung kepadaMu dari dikembalikan ke usia yang terhina, dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah dunia dan siksa kubur. (Hadis Riwayat Bukhari)

4) Doa Mohon Diampunkan Dosa Yang Terdahulu.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي, أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ, لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْت

Maksudnya: “Ya Allah, ampunilah bagiku dosa-dosa yang terdahulu, yang terkemudian, yang aku rahsiakan, yang aku nyatakan, yang aku melampau, dan yang Engkau lebih mengetahui daripadaku tentangnya. Engkaulah yang mendahulukan dan mengemudiankan sesuatu, tiada illah sebenar melainkan Engkau.” (Hadis Riwayat Muslim no. 1762).

5) Doa Mohon Ampun Kerana Menzalimi Diri Sendiri.

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْماً كَثِيراً وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ. فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Maksudnya: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak. Tiada sesiapa yang dapat mengampunkan dosa-dosa melainkan Engkau, maka ampunilah bagiku dengan keampunan dariapda-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau maha pengampun lagi maha penyayang.” (Hadis Riwayat Bukhari no. 6181 dan Muslim no. 6819).

6) Doa Yang Amat Baik Untuk Memohon Allah Jadikan Kita Hambanya Yang Bersyukur Dan Sentiasa Mengingatinya.

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

Maksudnya, “Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk mengingati-Mu, bersyukur kepadaMu dan ibadah yang baik untukMu” (Hadis Riwayat Abu Daud dan Nasaie)

7) Doa Ini Untuk Memohon Allah Mudahkan Urusan Hisab / Perbicaraan Kita Di Mahkamah Allah Di Akhirat Nanti.

اللهم حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرَا

Maksudnya, “Ya Allah! Hitunglah aku dengan perhitungan yang mudah.” (Hadis Riwayat Ahmad)

8) Doa Ini Adalah Doa Taubat. Sesuai Sangat Dibaca Selepas Membaca Tahiyyat Akhir Dalam Solat Taubat.

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِي إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Maksudnya, “Ya Allah! Sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri. Tiada yang dapat mengampunkan dosa-dosa kecuali Engkau, maka ampunilah diriku dengan keampunan yang Engkau miliki. Rahmatilah aku. Sesungguhnya Maha Pengampun dan Penyayang.(Hadis Riwayat Bukhari)

9) Doa Mohon Ampun Dosa

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا اللَّهُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Maksudnya, “Ya Allah! Aku memohon kepada Mu. Ya Allah Yang Maha Esa Yang… Yang Tidak Melahirkan dan Tidak Dilahirkan, dan tidak ada yang setara dengannya, Engkau ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Penyayang (Hadis Riwayat Abu Daud)

10) Doa Memohon Dimasukkan Ke Syurga Dan Diselamatkan Dari Neraka

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Maksudnya, “Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu, agar dimasukkan ke Syurga dan aku berlindung kepada-Mu dari Neraka.” (Hadis Riwayat Abu Daud)

#Semoga perkongsian ini menjadi asbab kita semua mendapat redha dan rahmat Allah SWT dan terlepas dari siksa kubur, siksa mahsyar semasa hisab dan siksa neraka.

Sumber: Blog Kisah kini

23/08/2018 Posted by | Fad hail Amal, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Kesilapan Meletak Jari Kaki Ketika Sujud Dalam Solat. Ramai Yang Masih Tak Tahu.

Kesilapan Meletak Jari Kaki Ketika Sujud Dalam Solat. Ramai Yang Masih Tak Tahu.

Perasan atau tidak ketika sujud dalam solat ada bermacam cara meletak atau menyusun jari kaki kita di lantai. Ada yang letak di hujung kuku, ada yang bersilang dan bermacam-macam lagi.Pada kali ini jom kita tengok bagaimana kedudukan sebenar jari kaki kita ketika sujud.

Kedudukan yang betul ialah dengan melipat hujung jari kaki sehingga perut jari kaki itu dirasa menyentuh ke bumi. Sekurang-kurangnya ialah dengan satu jari kaki yang betul kedudukannya( pada kedua-dua belah kaki). Jika jari kaki tidak dillipat, tidak diletakkan dengan betul, solat kita boleh menjadi batal kerana ia merupakan anggota wajib yang 7. Justeru bagi mereka yang boleh meletakkan jari kaki dengan betul, hendaklah melakukannya dan bagi mereka yang mungkin sudah berusia dan sukar melipat jari kaki, lakukanlah sekadar kemampuan.

Soalan: Kalau macam ini cara sebenarnya jadi selama ini tak sah lah solat saya?

Jawapan: Menurut Imam al-Nawawi Jika seseorang itu sengaja (tanpa uzur) tidak meletakkan perut hujung tapak jari kaki ketika sujud, maka tidak sah solatnya. Tetapi jika dia melakukan perbuatan tersebut disebabkan kejahilan dirinya atau keuzuran, maka solatnya diterima.

Sumber:Blog Islam Indah

23/08/2018 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Perbezaan Surau dan Masjid.

Pelajar-pelajar Smaasza selalu bertanya pada saya beberapa benda tentang surau ini; bolehkah wanita yang haid duduk belajar dalam surau ini? Bolehkah iktikaf di sini? Bolehkjikalauah solat sunat tahyatul masjid di sini? Sebenarnya jawapan untuk semua persoalan ini kembali kepada tempat itu; adakah ia ‘masjid’ mengikut Islam atau bukan.

Bagi menjawab dengan jelas, saya kongsikan jawapan Ustaz Syed Abdul Qadir al-Jofrey dalam soal jawab hukum hakam masjid di dalam Majalah QA.

Surau Smaasza Batu Buruk

Q Mana ruang masjid yang tidak boleh diduduki wanita?

A Ia berbalik kepada hukum binaan masjid. Masjid yang kita fahami jika mengikut kepada apa yang digazetkan sebagai masjid ialah dari pagar sampai ke pagar. Semuanya tanah masjid. Jika di dalam tanah masjid dibuat carwash, adakah wanita yang berhadas besar tidak boleh cuci kereta di situ? Ataupun wanita tersebut ingin masuk ke dalam bilik air masjid.

Itu semua tidak dikira sebagai masjid walaupun duduk di dalam tanah kepunyaan masjid. Apa yang dikira sebagai masjid yang mana wanita berhadas besar dilarang duduk ialah ruang solat yang diwaqafkan untuk solat. Adapun ruang masjid yang diwaqafkan untuk pelbagai guna, maka itu tidak mengapa. Contohnya, dewan kuliah, perpuastakaan dan balkoni masjid. Walaupun ia di bawah bumbung yang sama dengan masjid, ia tetap tidak ada masalah.

Ia sama seperti yang dilakukan di Masjid al-Azhar, Mesir. Masjidnya besar tetapi ruang solat utamanya tidak besar mana. Ia mempunyai ruang terbuka di tengah-tengah. Di sebelah tepi terdapat banyak bilik. Setiap bilik (ruwaq) tersebut diadakan pengajian-pengajian agama. Ia dibuat lebih seribu tahun yang lepas.
Maka para ulama mengatakan boleh orang yang berhadas besar duduk di dalam bilik pengajian di masjid. Itulah juga sebabnya ulama membina bilik sebegitu di dalam masjid. Agar orang yang berhadas besar khususnya wanita yang berhaid dan nifas boleh datang pengajian.

Q Wanita yang masuk ke masjid, adakah wajib menutup aurat?

A Kewajipan menutup aurat itu di mana-mana sahaja, bukan hanya di dalam masjid. Contohnya aurat seorang wanita yang berada di dalam masjid. Jika dia membuka tudung yang dipakainya kemudian memakai telekung solat, rambutnya akan terlihat oleh wanita lain di situ. Dia tidak berdosa selagi mana tidak dilihat oleh bukan mahram.

Q Bagaimana pula dengan wanita bukan Islam yang masuk ke dalam masjid?

A Orang bukan Islam, kita tidak boleh paksa mereka memakai tudung. Jadi, apabila mereka masuk ke dalam masjid sekalipun, kita tidak bpleh mengatakan wajib bagi mereka menutup aurat.
Adapun inisiatif yang dilakukan oleh sesetengah masjid seperti Masjid Negara dan Masjid Shah Alam dengan memberikan jubah kepada pelancong, adalah bertujuan untuk menghormati masjid sebagai tempat orang Islam. Selain itu, ia untuk menjaga mata orang-orang yang beribadah di dalam masjid tersebut.

Q Adakah orang bukan Islam boleh masuk ke ruang solat yang utama?

A Boleh. Tidak ada masalah. Perkara ini sememangnya menjadi khilaf di kalangan ulama tetapi ulama mazhab asy-Syafi’i mengatakan harus. Di Selangor contohnya, kita mengamalkan mazhab asy-Syafi’i sepertimana yang disebut di dalam perlembagaan negeri. Maka jika betul kita mengamalkan mazhab asy-Syafi’i, tidak seharusnya kita menolak perkara seperti ini apatah lagi menjadikan perkara ini suatu isu yang besar dengan mengatakan sebaliknya.

Q Bagaimana pula jikalau orang bukan Islam berhadas besar? Lagipun bukankah kita sudah sedia maklum bahawa mereka tidak pernah mandi wajib?

A Benar mereka tidak pernah mandi wajib. Jika orang bukan Islam mandi wajib sekalipun, ia tidak sah. Dalam Islam, mandi wajib bagi bukan Islam hanya sah dalam satu keadaan iaitu:
· Mandi wajib wanita bukan Islam (ahli kitab) yang berkahwin dengan lelaki Islam. Dia wajib mandi wajib setelah suci dari haid dan nifas untuk menghalalkan hubungannya dengan suaminya.
Ulama yang membahaskan perihal keharusan orang bukan Islam masuk ke masjid ini sememangnya sudah tahu bahawa orang bukan Islam tidak pernah mandi wajib. Mereka sedia maklum kerana masalah suci atau tidak itu hanya bagi orang Islam kerana orang Islam yang boleh menyucikan diri. Namun ia bukan persoalan utama kerana bagi orang bukan Islam, najis yang utama bukan hadas besar tetapi najis yang berbentuk maknawi iaitu kekufuran mereka.

Q Apa dalil yang menyatakan wanita bukan Islam boleh masuk masjid?

A Pada zaman Nabi SAW, berlaku peristiwa orang bukan Islam masuk masjid dan Nabi SAW membiarkannya. Bukan setakat biarkan, Nabi SAW juga ada mengikat tawanan bukan Islam di dalam masjid. Tiada disebutkan dalam mana-mana sumber, Nabi SAW bertanya sama ada mereka suci atau tidak.

Tambahan:
Nabi SAW telah menghantar pasukan tentera berkuda dan menawan Tsumamah bin Utsal yang merupakan kepimpinan Bani Hanifah dari Yamamah. Beliau dibawa ke Madinah dan diikat di tiang masjid Nabi SAW. Apabila Nabi SAW datang ke masjid dan melihatnya, Baginda bertanya, “Apa yang ada engkau dapati wahai Tsumamah?”
Jawabnya, “Bersamaku kebaikan, wahai Muhammad! Jika engkau membunuhku, engkau membunuh orang yang punyai darah (berhak dibunuh atau mungkin beliau meminta simpati), jika engkau memberi kurnia, engkau memberikan kurnia kepada orang yang berterima kasih. Jika engkau mahu harta, engkau boleh minta seberapa banyak yang engkau mahu.”
Lalu Nabi SAW meninggalkannya. Keesokannya Nabi SAW bertanya lagi, “Apa yang engkau dapati Wahai Tsumamah?”
Jawabnya, “Seperti yang aku katakan, jika engkau memberi kurnia, engkau memberi kurnia kepada orang yang berterima kasih.”
Nabi meninggalkannya. Keesokannya lagi Nabi SAW bertanya lagi, “Apa yang engkau dapati wahai Tsumamah?”
Jawabnya: “Seperti yang aku katakan kepadamu.”
Lalu Nabi SAW memerintahkan, “Bebaskan Tsumamah.”
Tsumamah pun keluar pergi ke mata air berdekatan masjid, beliau mandi, kemudian masuk semula ke masjid dan mengucapkan, “Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu Rasulullah.”
Beliau juga berkata: “Wahai Muhammad! Demi Allah, duhulu tiada atas muka bumi yang lebih aku benci daripada engkau, sekarang berubah engkau telah menjadi orang yang paling aku sayangi. Demi Allah, dahulu tiada agama yang lebih aku benci dari agamamu, sekarang berubah agamamu menjadi agama yang paling aku sayangi. Demi Allah, tiada dahulu negara yang lebih aku benci dari negaramu, sekarang berubah negaramu menjadi negara yang paling aku sayangi..” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Q Bukankah ini satu ketidakadilan dan kekurangan bagi wanita Islam kerana tidak dapat beribadah di dalam masjid ketika berhadas besar?

A Kita akan berkata sedemikian jika mengikut logik akal fikiran. Kita sebenarnya beruntung kerana kita ini beragama Islam. Jika seorang wanita yang suka datang ke masjid, tiba-tiba uzur syar’i dan tidak datang ke masjid, maka dia tetap mendapat pahala juga (kerana taat perintah Allah yang tidak mengizinkan mereka duduk di dalam masjid).
Apa-apapun sebaik-baiknya pihak masjid menyediakan satu ruang untuk wanita yang uzur agar boleh duduk di dalam masjid.

Nur
Mudah Yang Payah

Cuba AJK-AJK masjid duduk di tepi pintu masjid dan buat statistik, berapa ramai orang yang melangkah dengan kaki kanan berbanding kaki kiri? Jika lebih ramai orang melangkah dengan kaki kiri berbanding kaki kanan, maka AJK masjid perlu melakukan sesuatu. Contohnya, buat peringatan di luar seperti petanda ‘Langkah Kanan La, Wei!’.

Perkara sebegini walaupun nampak kecil tetapi akan menjentik hati orang yang membacanya. Bukankah Nabi SAW pernah menyebut, “Jangan memperlekehkan sesuatu perbuatan baik walaupun engkau sekadar memberikan senyuman pada wajah kawan kamu.”

Di akhirat nanti, boleh jadi benda-benda kecil sebeginilah yang kita cari untuk memberatkan amalan kita di dalam timbangan Allah.

Q Bagaimana nak bezakan doa masuk masjid dengan doa keluar masjid? Saya selalu tertukar kerana hampir sama bunyinya.

A Beza kedua-dua ini hanya pada penghujungnya. Ketika masuk disebut ‘rahmatik’ (rahmat-Mu) dan ketika keluar disebut ‘fadhlik’ (kelebihan-Mu). Untuk memudahkan kita menghafalnya, kita perlu ingat ketika masuk ke dalam masjid, rahmat Allah SWT (rahmatik) mencurah-curah banyaknya. Jadi kita meminta Allah merahmati kita ketika masuk. Apabila keluar masjid, banyak kurniaan dan kelebihan Allah SWT (fadhlik), jadi kita memohon agar Allah berkenan memberikannya kepada kita.

Q Ada yang mengatakan tidak boleh iktikaf dan solat Tahiyatul Masjid di surau kerana ia bukannya masjid. Adakah ia benar?

A Kita perlu melihat terlebih dahulu sama ada surau itu diwakafkan untuk solat atau tidak. Jika ia memang wakaf untuk solat dan bukan milik persendirian atau pemaju, maka itu dipanggil sebagai masjid mengikut Islam walaupun kita menggelarnya surau. Kita boleh iktikaf dan solat sunat Tahiyatul Masjid di situ.
Kalau ia milik pemaju, dan pemaju boleh merobohkannya bila-bila masa seperti surau di pusat membeli belah, hotel atau pejabat, maka ia tidak boleh dikira sebagai masjid. Jika ia bukan masjid menurut Islam, maka sudah tentu tidak boleh berniat kedua-duanya.

Q Berapa lama perlu berada di masjid untuk dikira sebagai iktikaf?

A Iktikaf dalam mazhab Syafi’i dikira walaupun berada di dalam masjid untuk beberapa saat (lahzah). Dengan syarat dia berniat di dalam hati untuk beriktikaf. Iktikaf juga diterima walaupun tiada wuduk.

Q Saya agak keliru dengan istilah masjid jamek, masjid, dan musolla. Boleh ustaz perincikan?

A Masjid jamek ialah masjid yang dilakukan solat Jumaat dan juga biasanya ada pelbagai perkara di dalamnya. Jamek ertinya menghimpunkan. Pada zaman Nabi SAW, solat Jumaat hanya dilakukan di satu masjid iaitu Masjid Nabawi dan masjid itulah yang dipanggil sebagai jamek.
Kalau sesebuah masjid itu tiada solat Jumaat sekalipun, ia masih lagi dipanggil sebagai masjid. Bukan syarat ada solat Jumaat baru dinamakan masjid.
Musolla pula ialah tempat solat. di tempat lapang. Musolla boleh jadi di suatu kawasan yang lapang, padang atau di stadium. Pada zaman Nabi SAW, Baginda menunaikan solat di musolla dalam beberapa situasi seperti solat sunat dua hari raya dan solat sunat istisqa’.

Q Bolehkah jika tidak ditunaikan solat sunat Tahiyatul Masjid?

A Ia adalah sunat dan dikerjakan sebanyak dua rakaat. Orang yang tidak menunaikan Tahiyatul Masjid ibaratnya seperti memasuki rumah seseorang, orang tidak mempersilakan kita duduk, kita duduk terlebih dahulu. Orang itu dikira tidak beradab serta tidak tahu malu.
Jika seseorang itu malas atau tidak berwuduk untuk solat tahyatul masjid, dia boleh berada di masjid dan dianjurkan membaca sebanyak tiga atau empat kali:

Subhanallah wal Hamdulillah wala Ilaha illallah walllahu akbar
Ulama menamakannya dengan ‘al-baqiyatus solihat’.

Jika seseorang itu telah berwuduk tetapi dia duduk dengan sengaja (tidak mahu solat), maka dia tidak boleh lagi solat Tahiyatul Masjid kerana memang telah berniat tidak mahu solat. Berbeza pula dengan seseorang yang duduk kerana terlupa, dibolehkan untuk bangun kembali menunaikan solat tahiyyatul masjid walaupun jarak masanya sudah agak lama.

Q Bolehkah solat Tahiyatul Masjid ketika khatib sedang berkhutbah?

A Boleh. Nabi SAW ketika sedang berkhutbah melihat seorang Sahabat masuk masjid. Nabi bertanyanya adakah dia telah solat sunat? Dia mengatakan bahawa dia belum solat lalu Nabi SAW bersabda,”Apabila seorang daripada kamu masuk ke dalam masjid, dan imam sedang berkhutbah pada hari Jumaat maka jangan dia duduk sehingga dia solat dua rakaat dan bersegera pada solat tersebut.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Maksud ‘bersegera’ tersebut ialah buat yang wajib sahaja.

Peringatan:
Ada sesetengah masyarakat kita yang mengatakan mendengar khutbah itu lebih utama dengan menggunakan kaedah bahawa khutbah itu wajib dan solat itu hanya sunat. Jadi, mendengar khutbah lebih afdhal daripada solat sunat. Sebenarnya, kaedah ini adalah umum dan ia ternafi apabila wujud suruhan yang jelas daripada Nabi SAW seperti di dalam hadis di atas.
Tetapi perlu diingat, orang yang disunatkan solat Tahiyatul Masjid ialah mereka yang berada di masjid. Jika kita terlewat datang solat Jumaat contohnya dan solat di kawasan parking, maka kita perlu terus duduk dan mendengar khutbah.

Q Bagaimana pula jikalau memasuki masjid ketika bilal hampir-hampir iqamat sedangkan waktu itu hanya sempat untuk solat sunat Qabliah sahaja?

A Boleh digabungkan terus niat solat sunat Tahiyatul Masjid sekali dengan niat solat sunat Qabliah. Solat Tahyatul Masjid juga boleh disekalikan dengan solat sunat Wuduk, Dhuha, dan Tarawih. Contohnya, kita sudah solat Isyak di rumah, kemudian kita solat Tarawih di masjid. Maka boleh diniatkan sekali solat Tahiyyatul Masjid dengan Tarawih tadi.
Bahkan para ulama sebut, solat sunat Tahiyyatul masjid boleh disekalikan dengan apa jua jenis solat termasuk solat fardu.

Q Apa masjid yang tidak disunatkan solat Tahiyatul Masjid?

A Masjidil Haram. Ini kerana tawaf qudum (tawaf selamat datang) itu sudah dikira sebagai tahiyyatul masjid.

Q Apa hukum berniaga di dalam masjid?

A Nabi SAW sebut, “Apabila kamu melihat seseorang berjual beli di dalam masjid, maka katakanlah kepadanya ‘moga-moga Alllah tidak menguntungkan perniagaan kamu’.” (Riwayat Abu Daud, ad-Darimi dan Ibnu Hibban)
Perlu ingat, Nabi SAW menyuruh kita berdoa agar tidak untung, bukan kita mendoakan agar dia bankrap terus. Namun para ulama masih lagi berselisih pendapat dalam masalah mendoakan ini sama ada secara terang-terangan atau secara diam-diam. Ada yang berpendapat terang-terangan kerana ia dikira sebagai amalan nahi mungkar (cegah kemungkaran).
Sebahagian ulama kata kita cegah diam-diam dengan mendoakan di dalam hati supaya tidak untung. Mudah-mudah dia sedar bahawa berniaga di masjid memang tidak menguntungkan lalu dia pergi berniaga di tempat lain.
Contoh berniaga di dalam masjid ini ialah seperti kita membuat jualan di depan masjid tentang barangan sedangkan orang lain hendak membuat ibadah. Adapun jika meletakkan flyer di luar masjid ia tidak termasuk dalam berniaga di dalam masjid.

Q Bolehkah membuat pengumuman mencari barang yang hilang di dalam masjid?

A Di dalam hadis disebutkan, “Jikalau kamu melihat orang mencari-cari barang yang hilang, maka katakannya ‘moga-moga Alllah Taala tidak mengembalikan barangmu yang hilang’.” (Riwayat Muslim) Ini kerana ia akan mengganggu jemaah lain yang sedang beribadah.

Q Bolehkah wanita duduk satu saf dengan lelaki seperti sesetengah masjid yang mana tempat solat wanita di sebelah kiri masjid?

A Boleh yang pentingnya jangan depan daripada imam. Adapun jika sebaris itu tiada masalah. Yang afdhalnya wanita berada di belakang dan itulah yang terbaik. Selepas saf lelaki dewasa, saf budak lelaki, saf budak perempuan kemudian terakhirnya saf perempuan.

Q Apa hikmah lelaki duduk depan dan wanita berada di belakang?

A Tentu sekali ada satu sebab yang sangat logik mengapa Allah SWT menetapkan sedemikian. Ada yang mengatakan ini sati diskriminasi terhadap wanita, ini tidak berlaku. Hakikatnya wanita jika memandang lelaki ia berbeza dengan lelaki memandang wanita.
Orang lelaki lebih cepat tertarik jika memandang wanita tetapi orang perempuan sebaliknya. Itu juga hikmah mengapa aurat wanita lebih banyak daripada lelaki. Allah SWT menciptakan wanita dan lelaki sebegitu dan pasti Allah Taala lebih tahu apa yang diciptakan-Nya.

Q Bolehkah hukum hudud dilaksanakan di dalam masjid?

A Tidak boleh. Ada ulama yang mengatakan haram dan sebahagian yang lain mengatakan makruh melakukan hudud di dalam masjid. Antara alasannya supaya menghormati kemuliaan masjid supaya tiada darah dan sebagainya. Buatlah di luar masjid, di tempat yang lapang dan ramai orang boleh hadir.

Sumber: Majalah Q&A

terbitan Galeri Ilmu Sdn. Bhd

23/08/2018 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Jawapan kepada artikel Dr Zaharuddin “semasa bayar zakat tidak ikut mazhab syafie, kenapa tidak marah?”

Jawapan Ustaz Uthman Daud :

Mengeluarkan Zakat Fitrah Dengan Wang

Keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-57, bertarikh 10 Jun 2003.
Kategori: Zakat

Tajuk: Penentuan Zakat Fitrah Seluruh Malaysia

Keputusan:
a) Harga zakat fitrah bagi negeri-negeri di Semenanjung Malaysia adalah berdasarkan harga setempat yang ditetapkan oleh BERNAS bagi beras Super Tempatan Gred A mengikut timbangan satu gantang Bagdhdad bersamaan 2.60kg.
b) Harga zakat fitrah bagi negeri-negeri Sabah dan Sarawak adalah berdasarkan harga setempat yang ditetapkan oleh BERNAS, masing-masing bagi beras Vietnam White Rice bagi negeri Sabah dan Thai White Rice bagi negeri Sarawak mengikut timbangan satu gantang Baghdad iaitu bersamaan 2.70kg

Oleh: Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-57
Tarikh Keputusan: 10 Jun 2003
Tarikh Muzakarah: 10 Jun 2003 hingga 10 Jun 2003

Fatwa ini menunjukkan bahwa pihak pemerintah Malaysia yang mazhab rasminya adalah Mazhab Syafie telah menerimapakai pendapat bahwa membayar zakat fitrah dengan nilaian wang adalah dibolehkan.

Di dalam kitab Mustika Hadits, Jilid Ketiga terbitan JAKIM, dinyatakan: Tersebut di dalam kitab al-Itsaarah (الايثارة), karangan Shohibul Fadhilah Dato’ Haji Mahmud Ghazali bin ‘Abdullah, Mantan Mufti Negeri Selangor [menjadi mufti sekitar tahun 1968 – 1973, beliau kemudiannya kembali ke Perak dan menjadi Mufti Perak dari tahun 1977 – 1981], terbitan Majlis Agama Islam Selangor:

Berdasarkan hadits yang lalu, zakat fitrah WAJIB dikeluarkan dari jenis makanan utama [asasi] penduduk sesebuah negeri, dan ini menjadi pegangan dalam mazhab Syafie (kecuali adanya dharurat, atau diperintahkan oleh pihak yang berkuasa, maka diHARUSkan membayarnya dengan wang sebagai ganti makanan – beras), seperti yang sedang di’amalkan oleh jabatan-jabatan agama Islam di Malaysia, kerana memudahkan urusan pemungutan zakat fitrah dan pembahagiannya [pengagihannya]. Masalah ini dihuraikan di dalam kitab al-Itsaarah [Al-Ithaarah Pada Huraian Hukum-hukum Zakat dan Fitrah] seperti berikut:

Berfitrah dengan wang:
(a) Membayar fitrah dengan wang adalah TIDAK SAH mengikut MAZHAB SYAFIE jika diniatkan wang menjadi zakat fitrah seperti diniatkan “Wang ini fitrah yang wajib atasku, bagi diriku dan orang-orang tanggunganku”. Tetapi HARUS digantikan makanan dengan wang dan hendaklah diniatkan seperti berikut: “Wang ini ialah ganti beras fitrah yang wajib atasku, bagiku dan (orang-orang) tanggunganku – pada tahun ini”.

(b) Berfitrah dengan wang sebagai ganti beras (makanan) adalah HARUS dalam mazhab Syafie tetapi LEBIH AFDHAL dengan makanan. Di dalam mazhab Hanafi pula lebih afdhal dengan harga daripada makanan.

Didalam mazhab kita Syafie yang mengharuskan ialah;

KERANA DHARURAT
Kerana diperintahkan oleh raja (pemerintah) [menurut kitab al-Itharah, bahwa keterangan mazhab Syafie tersebut ada dinyatakan dalam kitab Majmu’ Syarah al-Muhazzab 5/431 dan keterangan mengenai mazhab Hanafi yang mengatakan: Tiap-tiap benda yang harus disedekahkan maka haruslah dikeluarkan menjadi bayaran ganti zakat – ada disebutkan dalam kitab al-Majmu’ (5:429). Dalam kitab al-Itharah juga ada menyebutkan keterangan kitab al-Majmu’ (5:429) bahawa dalil pihak yang mengharuskan zakat fitrah dengan harganya ialah hadits yang disebut oleh Imam Bukhari رحمه الله dengan tegas sebagai ulasan, bahawa Sayyidina Muadz رضي الله عنه, semasa diutuskan oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم ke negeri Yaman sebagai pemungut zakat, ia telah meminta mereka membayar zakat dengan kain keluaran negeri itu sebagai ganti gandum (kerana cara yang demikian katanya bukan sahaja memberi kemudahan kepada pembayar-pembayar zakat bahkan orang-orang miskin yang berhak menerima zakat di Madinah juga memerlukan pakaian].

Pemerintah menghukumkan berfitrah dengan wang itu kerana beberapa sebab yang bertujuan baik, di antaranya:

Asnaf yang 8 terutama faqir dan miskin lebih suka menerima wang daripada beras
Menyimpan wang lebih selamat, sedang beras selain daripada menyusahkan pihak pemerintah, pejabat agamadan memerlukan upah mengangkutnya – akan rosak jika disimpan lama.

Fadhilatus Syaikh Dr. ‘Ali Jumaah, Mufti Mesir, ketika ditanya mengenai membayar zakat dengan menggunakan wang, maka beliau mengatakan ianya dibolehkan. Hal ini tersebut di dalam kitab beliau bertajuk al-Bayan al-Qawwim li Tashih Ba’dhi al-Mafaahim [pertanyaan 27] dan al-Bayan Lima Yashghal al-Azhan [pertanyaan 71].
Pertanyaan: Apakah boleh mengeluarkan (membayar) zakat fitrah dengan menggunakan wang?

Jawaban: Boleh mengeluarkan (membayar) zakat fitrah dengan menggunakan wang. Ini adalah pendapat segolongan para ‘ulama yang memandang sebagaimana itu adalah pendapat segolongan tabi’in, antara lainnya:

Imam Hasan al-Basri رضي الله عنه; diriwayatkan darinya, bahawa beliau berkata:لا بأس أن تعطي الدراهم في صدقة الفطر “Tidak mengapa memberikan wang-wang dirham di dalam membayar zakat fitrah.” (Diriwayat oleh Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Abi Syaibah)
Imam Abu Ishaq As-Subai’e, meriwayatkan dari Zuhair, bahawa beliau berkata, Aku mendengar Imam Abu Ishaq berkata, “Aku berjumpa dengan mereka, dan mereka memberikan wang-wang dirham pada membayar zakat fitrah dengan senilai makanan.”

Sayyidina ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz رضي الله عنه; meriwayatkan dari Waqi’ dari Qurrah, bahawa beliau berkata, “Telah sampai kepada kami surat dari Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz رضي الله عنه tentang zakat fitrah, satu sha’ (Satu Sha’ mengikut nilaian lama menyamai 5 1/3 rithil (الرطل) ‘Iraqi iaitu gantang Baghdad atau dikenali sebagai 1 gantang Baghdad disini – abu zahrah) ke atas setiap orang atau nilainya adalah setengah dirham.” (‘Abdurrazaq, Mushannaf ‘Abdurrazaq, vol. 2, hlm. 316 (5778))
Dan, ini juga adalah mazhab ats-Tsauri, Imam Abu Hanifah dan Imam Abu Yusuf.
Dan juga pendapat dari para ‘ulama Mazhab Hanafi. Pendapat inilah yang diamalkan dan difatwakan di kalangan mereka pada setiap jenis zakat, kaffarah, nazar-nazar, cukai, dan lain-lainnya. [Bada’i’ ash-Shana’i’ oleh al-Kasaani, 2/979 dan 980, cetakan Zakaria ‘Ali Yusuf; dan al-Mabsuuth oleh as-Sarkhasi, 3/113 dan 114] Ini juga adalah pendapat al-Imam an-Naashir dan al-MuayyadbilLah, dari kalangan para imam ahlul bait mazhab az-Zaidiyyah. [al-Bahr az-Zakhkhar al-Jami’ li Madzahib ‘Ulama al-Amshar oleh Ahmad ibn Yahya ibnal-Murtadha, 3/202 dan 203].

Dan, pendapat ini yang dikemukakan oleh Ishaq bin Rahawiyah dan Abu Tsaur kecuali mereka berdua mengaitkannya dengan keadaan darurat, sebagaimana pendapat para ‘ulama ahlul bait yang lainnya. [as-Sail al-Jarrar ‘ala Hadaaiq al-Azhaar oleh Asy-Syaukani, 2/ 86] Saya maksudkan boleh mengeluarkan nilai pada keadaan dharurat. Dan mereka menjadikannya (membayar zakat fitrah dengan wang) termasuk di dalam keadaan darurat, kerana Imam menuntut harta sebagai ganti apa yang telah ditegaskan di dalam nash.

Ini juga merupakan pendapat sekumpulan ‘ulama dari mazhab Maliki seperti Ibnu Habiib, Ashbagh, Ibnu Abi Haazim, Ibnu Dinaar, dan Ibnu Wahab, berdasarkan pengambilan dari mereka yang berpendapat secara muthlak di dalam membolehkan mengeluarkan nilai-nilai (harga) dalam zakat; mencakupi zakat harta dan zakat individu-individu (zakat fitrah). Dan itu adalah berbeza-beza (yakni, tidak secara muthlak) dengan pendapat yang mereka ambilkan daripada Ibnu Qasim dan Asyhab, bahawa mereka berdua membolehkan mengeluarkan nilai harga pada zakat kecuali pada zakat fitrah dan kaffarat sumpah.

Dan atas dasar ini jugalah, kami melihat bahawa terdapat segolongan besar para imam, kalangan para tabi’in, dan para ahli feqah umat ini yang berpendapat bahawa tidak mengapa dan boleh mengeluarkan nilai harga zakat fitrah di dalam bentuk wang. Padahal ketika masa itu, sistem barter (pertukaran barang) masih lagi berlaku, dalam erti deklarasi setiap barang layak sebagai media pertukaran, khususnya biji-bijian. Jadi, sistem barter itu menjual gandum (al-qumh) dengan gandum (sya’ir), menjual bijian (zarrah) dengan gandum (al-qumh), dan seterusnya. Adapun, pada masa sekarang ini, media-media pertukaran sudahpun terhimpun pada mata wang sahaja, sehinggakan kami berpandangan bahawa pendapat inilah yang lebih tepat dan lebih kuat. Bahkan, kami mengira bahawa orang yang berbeza pendapat dengan pendapat ini dari kalangan para ‘alim ‘ulama masa lalu, seandainya mereka menemui (berada pada) masa kita sekarang, nescaya akan berpendapat sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah رضي الله عنه. Jelaslah di sini bagi kita, hal ini dari feqah mereka dan kekuatan pandangan mereka.
Mengeluarkan zakat fitrah di dalam bentuk wang adalah lebih utama, kerana memberikan kemudahan bagi orang yang faqir untuk membeli apa sahaja yang ia inginkan pada hariraya kelak. Sebab, kadang-kadang dia tidaklah memerlukan beras, tetapi lebih memerlukan kepada pakaian-pakaian, daging atau selain itu. Dengan memberikan beras kepadanya, membuatkannya terpaksa berjalan jauh sekeliling untuk mendapatkan orang yang ingin membelikan beras tersebut. Kadang-kadang dia harus menjualkan beras itu dengan harga yang lebih murah daripada apa yang diperolehinya, iaitu dengan harga yang sedikit daripada harga beras yang sebenar yang diperolehinya. Ini semuanya di dalam keadaan mudah dan banyaknya beras yang beredar di sekitar pasar-pasar. Adapun, pada keadaan yang sulit (susah) dan jarangnya beras di pasar-pasar, maka membayar dengan benda adalah lebih utama daripada nilai harga kerana menjaga kemaslahatan orang faqir. Prinsip dasar yang menjadi alasan disyariatkannya zakat fitrah adalah kemaslahatan orang faqir dan mencukupkan keperluannya pada hari di mana seluruh kaum muslimin bergembira pada saat itu.

Al-‘Allamah Ahmad bin Shiddiq al-Ghummari telahpun mengarang sebuah kitab tentang masalah ini, dan memberikannya judul “Tahqiq Al-‘Amal fi Ikhraj Zakat Al-Fithri bi Al-Mal.” Beliau merajihkan di dalam kitab tersebut pendapat ‘ulama dari Mazhab Hanafi dengan dalil-dalil yang banyak dan tinjauan dari berbagai pendapat yang berbeza-beza hinggalah mencapai kepada 32 pendapat. Oleh kerana itu, kami berpandangan bahawa, pendapat mereka yang menyatakan untuk mengeluarkan nilai harga zakatnya adalah kuat dan rajih. Dan itulah yang lebih utama pada masa sekarang ini. Dan Alllah Ta’ala Maha Tinggi dan lagi Maha Mengetahui.
Pendapat yang mengharuskan pembayaran zakat fitrah dengan matawang ini juga disetujui oleh ramai ulama kontemporari seperti Dr. Yusuf Qardhawi (di dalam kitabnya Fiqh Zakat), Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili di dalam Fatawa al-Mu’ashirahnya, Dr. Musthafa al-Khin dan Dr. Musthafa al-Bugha yang menjelaskan dalam kitab mereka al-Fiqh al-Manhaji. Di dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji di sebutkan:

Di dalam mazhab Syafie, bahawa ianya tidak memadai jika dikeluarkan dengan nilaian, bahkan mesti dikeluarkan makanan asasi bagi sesebuah negeri itu sendiri. Walaubagaimanapun, tidak mengapa mengikut [bertaklid] mazhab Abu Hanifah رضي الله عنه dalam masalah ini pada zaman sekarang, iaitu harus mengeluarkan zakat fitrah dengan nilaian. Ini kerana pada hari ini mengeluarkan dengan nilaian lebih memberi manfaat kepada orang faqir daripada makanan asasi dan lebih dekat untuk mencapai matlamat yang diharapkan.

Pun begitu …… bagi mereka yang masih berpegang pendapat yang di dalam mazhab Syafie yang mengatakan bahawa zakat fitrah hanya sah dengan bahan makanan, maka jalan keluarnya adalah dimana penerima zakat seperti orang faqir atau orang miskin atau amil menyediakan beras sebanyak 1 gantang Baghdad, dan pembayar pula membeli beras tersebut dari mereka dan seterusnya digunakan beras tersebut untuk membayar zakat fitrah. Keadah ini masih terdapat di berapa kawasan ambo di Kedah. Nak mudah lagi bayar zakat fitrah dengan beras terus kepada mereka yang layak menerima zakat tersebut.

Sekian. Segala salah dan silap mohon dimaafkan dan diperbetulkan.

Oleh Ustaz Abu Zahrah Abdullah Thohir al-Qedahi
Taman Seri Gombak
Sahur, 20 Ramadhan 1430H

Rujukan:
1. e-Fatwa JAKIM
2. Mustika Hadits, Jilid 3 (Edisi Jawi) oleh Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad Basmieh; Terbitan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia, Kuala Lumpur
3. Al-Bayan Lima Yashghal al-Azhan oleh Syaikh Dr. ‘Ali Jumaah, Mufti Mesir.
4. Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Mazhab al-Imam asy-Syafie, Jilid 1; Terbitan Dar al-Qalam, Dimasyq.

12/08/2018 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Ada Sebab Selepas Berlaku Kematian, Isteri TIDAK BOLEH Menghantar Jenazah Suami Ke Kubur

Menghantar jenazah ke kubur merupakan kelaziman, sebagai salah satu tanda memberi penghormatan terakhir.Namun buat wanita yang bergelar isteri, rupanya perkara tersebut adalah tidak boleh dilakukan.
Baca perkongsian nota yang diperoleh daripada kelas Dhuha Muslimat bersama Habib Ali Zaenal Abidin Bin Abu Bakar Al-Hamid ketika ceramah di Masjid Darul Ehsan, Taman Tun Abdul Razak Ampang.

Habib membahaskan tafsir ayat surah Al-Baqarah ayat 234-237. Ayat 234 ada kaitan dengan soalan yang ditanyakan disebabkan banyak berlaku kesilapan dalam hal ini diakhir zaman ini.

Bolehkah wanita menghantar jenazah suaminya ke kubur?

Jawapannya:
TIDAK BOLEH !!
Khususnya bagi isteri yang suaminya yang meninggal, kerana iddahnya telah bermula, dan isteri tidak boleh keluar meninggalkan rumah suami kecuali darurat. Darurat ini bukan mengikut persepsi kita, tapi mengikut apa yang ditetapkan oleh syarak.Antara sebab yang dibenarkan utk meninggalkan rumah suami adalah jika keselamatannya terancam. Sebab-sebab seperti ingin menziarahi kubur, atau menghadiri majlis ilmu tidaklah termasuk sebab yang darurat.
Ibadah mesti mengikut cara yang diatur oleh Allah, bukannya mengikut hawa nafsu. Jadi, kalau ingin suami yang meninggal mendapat redha Allah Ta’ala, isteri tidak boleh keluar daripada rumah suaminya selama 4 bulan 10 hari. Yang beri suami dan yang tidak izinkan keluar ialah Allah SWT, jadi kita kena patuhi arahan Allah dan bukan dengar apa masyarakat kata.

■Ambil iktibar daripada kisah Ummu Salamah yang pada asalnya ingin menunjukkan cara ratapan luar biasa ketika suaminya meninggal. Tetapi setelah dilarang oleh Nabi SAW, dia akur dan menurut apa yang diajar Rasulullah SAW, dan akhirnya dia diberi ganjaran oleh Allah diperisterikan oleh lelaki terbaik, iaitu baginda RasuluLlah SAW sendiri. Iktibarnya – bila mana mendahulukan Allah, pasti ada ganjaran tidak kira sama ada akan diberikan ketika di dunia ataupun disimpan untuk akhirat.

■Isteri tidak perlu merasa bersalah dengan tanggapan masyarakat yang mungkin mengatakan –“Isterinya tak hantar suaminya ke kuburlah.” Dan isteri juga tidak perlu rasa bersalah dan membuat helah seperti isteri ikut tapi duduk dalam kereta saja, atau duduk jauh sikit daripada tempat dikebumikan. Perasaan bersalah itu perlu diambil kira berdasarkan hukum Allah, dan bukan hukum budaya masyarakat. Jangan takut apa orang cakap.

■Pada zaman Rasulullah SAW sudah ada golongan wanita yang hendak ikut ke kubur, lalu Nabi SAW bertanya kepada mereka, “Kamu hendak pergi kubur, adakah kamu pikul jenazah itu? Jawab mereka, “Tidak.” Baginda Rasulullah SAW bertanya lagi, “Adakah kamu akan masuk ke dalam kubur untuk menguburkan jenazah?” Jawab mereka, “Tidak.” Lalu Rasulullah SAW berkata, “Kamu balik kamu dapat ganjaran, lebih baik daripada kamu ikut dan kamu dapat dosa.”

Ini bukan menunjukkan yang agama ini tiada perasaan kepada kaum wanita. Hari ini orang akan mengatakan seorang isteri tidak penuhi hak suami jika isteri tidak hantar jenazah ke kubur. Lama-kelamaan orang akan kata tidak penuhi hak suami jika tidak semua ahli keluarga hadir di kubur. Generasi akan datang pula akan kata tidak penuhi hak suami jika tidak masuk dalam kubur. Perubahan demi perubahan akan berlaku jika ianya dicipta mengikut akal fikiran manusia atau budaya tempatan yang sumbernya tidak tetap. Tapi jika ikut hukum Allah, ia sama saja tidak kira di mana berada – Malaysia, Indonesia atau Yaman dll.

■Jika ada yang kata, “Eh awak tak penuhi hak suami awaklah.
Jawab padanya, “Eh, Allah yang suruh saya tak ikut.” Oleh itu, pastikan apa yang kita buat itu adalah sesuai mengikut apa yang Allah Ta’ala suruh.

■Jika ikut cakap orang kita dapat dosa, tapi ikut cakap Nabi SAW, yang tidak pernah bercakap kecuali ianya wahyu daripada Allah Ta’ala, kita akan dapat pahala. Maka, rugi jika seseorang itu ikut cakap orang ! Di akhirat nanti bukan kawan itu yang akan membela kita di hadapan Allah, bahkan dia akan menjauh daripada kita.

■Jika isteri ingin melihat suami buat kali terakhir atau ingin solatkan, bawa jenazah pulang ke rumah sebelum dikebumikan. Siapa kata jenazah tidak boleh dibawa pulang ke rumah jika telah dimandi (dan disolatkan) di masjid?

■Jika ingin solatkan, baca Quran atau apa saja – buat di rumah agar isteri tidak perlu keluar. Kalau boleh mandikan di rumah lebih baik, tapi kalau tidak boleh, bawa ke masjid, dan kemudian bawa balik ke rumah. Nak buat tahlil di masjid boleh, tapi isteri buat di rumah saja.

■Isteri tidak boleh keluar menunggu suami dimandikan di masjid atau seumpamanya, kerana *iddah bermula setelah suami meninggal.*

■Perempuan, kalau hendak pergi ke kubur, pergi pada hari selain daripada hari pengkembumian. Kecuali, jika satu kampung. itu tiada lelaki, semuanya perempuan. Maka, dalam hal ini – perempuan yang bawa jenazah, yang gali kubur, yang kebumikan, yang uruskan semuanya.

■Perempuan bukan dilarang pergi ke kubur, tapi risau berlaku perkara yang tidak sesuai dengan syarak jika ikut bersama lelaki yang menguruskan jenazah. Kita pun lihat sendiri banyak berlaku, perempuan ahli keluarga duduk di hadapan kubur, dan sekelilingnya semuanya lelaki. Batasan antara lelaki dan perempuan tidak lagi diperhatikan. Tambahan pula kalau perempuannya tidak menjaga cara berpakaian yang sopan dan menurut syarak.

■Biarkan orang lelaki siap menguruskan. Esok pagi-pagi, baru anak dan ahli keluarga pergi untuk bacakan Yasin ke… dan akan dapat baca dalam keadaan tenang dan tidak bercampur dengan lelaki.

■Ambil iktibar daripada kisah anak perempuan Nabi Syuaib, yang ketika ingin mengambil air daripada perigi. Walaupun memerlukan, mereka tidak beratur bersama lelaki, tetapi mereka tunggu jauh daripada perigi sehingga lelaki selesai, baru mereka akan ambil air. Sama juga kalau hendak ziarah kubur, tunggu orang lelaki selesai dulu, pergi keesokan harinya.

■Terdapat banyak perbahasan ulama dalam kes isteri yang kematian suami dan perlu keluar bekerja, kerana memang sukar mendapatkan cuti selama 4 bulan 10 hari. Dalam keadaan darurat, seseorang dibenarkan melakukan sesuatu yang haram sekalipun.

Dalam hal ini, kalau isteri bekerja, perlu dilihat adakah pekerjaan itu keperluan darurat atau tidak. Kalau dengan dia tidak bekerja, tapi keperluan asasnya dapat dipenuhi, maka itu bukan darurat yang membolehkan dia untuk keluar bekerja. Tapi, kalau dengan dia tidak bekerja, dia tidak boleh makan atau anak-anaknya tiada yang menanggung, atau keluarga suaminya tidak mampu menanggungnya, dia ada sebab yang menyebabkan dia tidak boleh berhenti kerja, tapi sebab dan daruratnya itu perlu diambil kira oleh syarak dan bukan oleh diri sendiri.

Jadi, dalam hal ini, dia boleh keluar bekerja tetapi tetap tidak boleh meninggalkan tuntutan lain seperti berhias, dan melakukan hanya yang diperlukan sahaja dan keluar dari rumah pergi kerja, dan kemudian pulang ke rumah, dan tidak pula singgah di tempat-tempat yang tidak berkaitan. Kalau nak pergi kedai, cuma untuk keperluan beli makanan dan minuman sahaja.

Wallahu’alam bissawab.

Sumber: Suhaidah Abd Wahab | Jul 31, 2018 | Suami Isteri |
Mingguan Wanita

09/08/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

🕌 Berlumba-lumbalah untuk mendapatkan saf yang awal.

Dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,maksudnya:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا

“Sebaik-baik saf (solat) bagi lelaki adalah yang paling awal (depan), dan yang paling buruknya adalah yang paling akhir (belakang).”

[Shahih Muslim, no. 132. Abu Dawud, no. 678. At-Tirmidzi, no. 224]

Kata Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (Wafat: 728H):
فَمَنْ جَاءَ أَوَّلَ النَّاسِ وَصَفَّ فِي غَيْرِ الْأَوَّلِ فَقَدْ خَالَفَ الشَّرِيعَةَ وَإِذَا ضَمَّ إلَى ذَلِكَ إسَاءَةَ الصَّلَاةِ أَوْ فُضُولَ الْكَلَامِ أَوْ مَكْرُوهَهُ أَوْ مُحَرَّمَهُ وَنَحْوَ ذَلِكَ: مِمَّا يُصَانُ الْمَسْجِدُ عَنْهُ فَقَدْ تَرَكَ تَعْظِيمَ الشَّرَائِعِ وَخَرَجَ عَنْ الْحُدُودِ الْمَشْرُوعَةِ مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ

“Maka siapa yang datang ke masjid lebih awal berbanding yang lainnya tetapi dia tidak memilih saf yang pertama, bererti dia telah menyalahi syari’at. Jika keadaan itu ditambah lagi dengan buruknya solat, berlebihan dalam berbicara (berbual-bual), atau mengucapkan perkataan-perkataan yang dibenci atau diharamkan, juga hal-hal lain yang perlu dihindarkan dari masjid, maka dia dianggap sebagai orang yang tidak menghormati syari’at dan telah keluar dari batas-batas ketaatan kepada Allah yang telah disyari’atkan.”

[Majmu’ Al-Fatawa, 22/262]
___________
📲 Sertai Channel, http://telegram.me/ilmusunnah

04/06/2018 Posted by | Fiqh, Hadis, Ibadah, Uncategorized | Leave a comment

Menjawab Pertuduhan Abu Hadif “Salafi”: Ibn Hajar Al-Haitami dan Selawat Di Sela Taraweh.

1. ARG mendapati terdapat trend dikalangan salafi wahabi di Malaysia baru-baru ini gemar mencedok qaul dari kitab-kitab mazhab syafie semata-mata untuk menyesatkan amalan penganut mazhab syafie di Malaysia sedangkan mereka sendiri tidak belajar secara tuntas kitab-kitab mazhab syafie.

2. Tindakan mereka ini kerap mencetuskan kekeliruan dikalangan masyarakat awam kerana apabila seseorang itu tidak terlatih dalam memahami ibarat-ibarat dalam kitab mazhab syafie risiko untuk silap faham amatlah tinggi. Apatah lagi jika segelintir dikalangan mereka menipu dengan tidak jujur menaqalkan ibarat-ibarat kitab tersebut. Jadi ada 3 kemungkinan terhadap penulisan ini, pertama Abu Hadif “Salafi” tersilap, kedua, Abu Hadif “Salafi” berbohong di Bulan Ramadan yang mulia ini.

3. Pihak ARG tidak mahu membuat kesimpulan tentang penulisan Abu Hadif “Salafi” ini kerana ARG akan membiarkan para pembaca menilai sendiri dikategori mana penulisan beliau, adakah beliau tersilap atau beliau berbohong dalam menulis. terserah pembaca selepas membaca analisis ARG ini.

4. Abu Hadif “Salafi” dalam penulisan beliau seolah-olah membuat kesimpulan Imam Ibn Hajar Al-Haitami menyesatkan Selawat Disela Taraweh dengan membawakan Kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra.

5. Setelah pihak ARG menyemak kembali kitab tersebut, kami mendapati bahawa beliau tidak menterjemahkan secara lengkap fatwa Imam Ibn Hajar tersebut. Ini adalah ucapan lengkap Imam Ibn Hajar dan terjemahannya.

Imam Ibn Hajar al-Haitami ketika menjawab amaliyyah selawat di sela-sela taraweh, berfatwa:

الفتاوى الفقهية الكبرى – (ج 1 / ص 186(
وَسُئِلَ فَسَّحَ اللَّهُ في مُدَّتِهِ هل تُسَنُّ الصَّلَاةُ عليه صلى اللَّهُ عليه وسلم بين تَسْلِيمَاتِ التَّرَاوِيحِ أو هِيَ بِدْعَةٌ يُنْهَى عنها فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ الصَّلَاةُ في هذا الْمَحَلِّ بِخُصُوصِهِ لم نَرَ شيئا في السُّنَّةِ وَلَا في كَلَامِ أَصْحَابِنَا فَهِيَ بِدْعَةٌ يُنْهَى عنها من يَأْتِي بها بِقَصْدِ كَوْنِهَا سُنَّةً في هذا الْمَحَلِّ بِخُصُوصِهِ دُونَ من يَأْتِي بها لَا بهذا الْقَصْدِ كَأَنْ يَقْصِدَ أنها في كل وَقْتٍ سُنَّةٌ من حَيْثُ الْعُمُومُ بَلْ جاء في أَحَادِيثَ ما يُؤَيِّدُ الْخُصُوصَ إلَّا أَنَّهُ غَيْرُ كَافٍ في الدَّلَالَةِ لِذَلِكَ

“Imam Ibn Hajar ditanya pada masa itu, apakah sunat membaca selawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antara salam tarawih atau itu bid’ah yang dilarang? Beliau menjawab: “Selawat di tempat ini secara khusus, aku tidak melihat dalilnya dari sunnah dan juga ucapan dari ashhab kami (Syafi’iyyah). Itu adalah bid’ah yang pelakunya di larang apabila dengan maksud sebagai sunnah pada tempat tersebut secara khusus. *DAN TIDAK DILARANG ORANG YANG MELAKUKANNYA BILA TIDAK DENGAN TUJUAN SEPERTI ITU,* seperti bermaksud bahawa selawat tersebut sunnah dalam setiap waktu secara umum, bahkan datang dalam beberapa hadits yang menguatkan secara khusus, hanya sahaja tidak cukup dalam dalil”.

Amat jelas sekali bahawa Imam Ibn Hajar tidak melarang seseorang yang mahu berselawat di sela taraweh jika seseorang itu tidak menganggap ia adalah dari perbuatan Nabi.

6. Pembaca boleh menilai sendiri tulisan beliau. Wallahualam.

Disediakan Oleh:

Unit Penyelidikan
Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group (ARG Johor)

Facebook: http://www.facebook.com/aswjresearchgroup

29/05/2018 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | | Leave a comment

Benarkah Bulan Ramadhan Dibahagi Kepada Tiga Fasa Iaitu Awalnya Rahmat, Pertengahannya Keampunan dan Terakhir Pembebasan Dari Neraka ?

(Bicara Hadith Bersama Ustaz Mohd Khafidz Soroni)

Benarkah Bulan Ramadhan Dibahagi Kepada Tiga Fasa Iaitu Awalnya Rahmat, Pertengahannya Keampunan dan Terakhir Pembebasan Dari Neraka ?

Jawapan :

Dalam satu bulan (Qamariyah) sebanyak 29 hingga 30 hari. Apabila dikelompokkan maka ia akan menjadi tiga iaitu 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari ketiga iaitu terakhir.

Nabi SallaLlahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan ketiga-tiga fasa tersebut kerana memang dalam satu bulan bila dikelompokkan kepada 10 hari. 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari terakhir. Nabi SallaLlahu ‘alaihi wasallam menganjurkan pada fasa yang ketiga iaitu 10 hari terakhir agar lebih meningkatkan ibadah pada malam harinya. Kerana di antara malam-malam ganjil akan turun malam yang lebih baik dari 1000 bulan yang dikenali sebagai Lailatul Qadar.

Pada fasa yang ketiga iaitu 10 hari terakhir Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam memperbanyakkan ibadah sunnah dan i’tikaf, juga membangunkan ahli keluarganya.

Aishah RadiyaLlahu ‘anha berkata : Bahawa sesungguhnya RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam apabila telah masuk (fasa ketiga Bulan Ramadhan) sepuluh hari terakhir beliau bangun dan solat sepanjang malam dan membangunkan keluarganya serta tidak mencampuri isterinya (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim) . Nailul Authar IV/270 dan Mukhtasor Sahih Bukhari hal 383.

Dan dalam riwayat Ahmad dan Muslim dari Aisyah RadiyaLlahu ‘anha : “Adalah Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam bersemangat memperbanyakkan ibadah pada sepuluh hari terakhir berbeza dengan sebelumnya. (Nailul Author Juz IV/270)

Hadith tersebut sudah jelas, bahawa RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam menyebutkan fasa-fasa tersebut. Kalau hadith tersebut menyebutkan ada fasa terakhir iaitu fasa ketiga, bererti ada fasa pertama dan fasa kedua. Hadith berikut ini juga menegaskan adanya tiga fasa tersebut dan justeru itu 10 hari (fasa) pertama disebut rahmat, fasa kedua iaitu 10 hari kedua Maghfirah dan fasa ketiga iaitu 10 hari terakhir disebut itqun minannaar (pembebasan dari neraka).

Diceritakan dari Salman RadiyaLlahu ‘anhu, ia berkata :

Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam memberikan khutbah kepada kami pada akhir hari bulan Sya’ban, baginda bersabda : “Wahai manusia, telah hampir datang bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, bulan yang didalamnya terdapat malam yang lebih baik dari ibadah seribu bulan. Bulan yang dijadikan oleh Allah, puasa pada siang harinya suatu kewajipan dan solat pada malamnya (selain solat fardhu) sebagai solat sunnah. Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan amal kebaikan, pahalanya laksana orang yang melakukan kewajipan pada selain bulan Ramadhan. Barangsiapa yang melakukan kewajipan di bulan tersebut, pahalanya laksana pahala orang yang melaksanakan tujuh puluh kewajipan di lain bulan suci Ramadhan. Ia adalah bulan sabar, bagi orang yang bersabar tidak lain balasannya syurga, dan merupakan bulan toleransi, dan bulan ditambahkannya rezeki bagi orang Mukmin, orang yang memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari neraka dan baginya pahala seperti pahala orang yang diberinya berbuka puasa tanpa dikurangi sedikitpun pahalanya.

Mereka bertanya : “Wahai RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam, tidaklah semua kami ini mampu memberikan makanan untuk berbuka puasa bagi orang lain ? Maka RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Allah akan memberikan pahala tersebut bagi orang yang memberikan makanan bagi orang yang berpuasa sekalipun hanya dengan satu biji kurma atau seteguk minuman air putih atau sepotong susu kering. Dan adalah Bulan Ramadhan awwalnya (10 hari pertama) rahmat, pertengahannya (10 hari kedua) keampunan dan akhirnya (10 hari terakhir) pembebasan dari neraka.

Barangsiapa meringankan hamba sahayanya pada bulan itu Allah mengampuni dosanya dan dibebaskan dari neraka. Maka perbanyakkanlah di Bulan Ramadhan 4 hal. Dua hal kamu mendapat redha Tuhanmu dan dua hal kamu tidak akan merasa puas dengannya. Adapun dua hal yang membuatkan kamu diredhai Allah adalah : Mengucapkan dan bersaksi bahawa tiada tuhan selain Allah, dan kamu mohon keampunan kepada-Nya. Adapun dua hal yang kamu tidak akan merasa puas dengannya adalah : Kamu minta syurga kepada-Nya dan minta perlindungan dari api neraka.

Dan barangsiapa yang memberi minum orang yang berbuka puasa, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku, sekali minum sahaja tidak akan haus selamanya sehingga masuk ke syurga “. Hadith riwayat Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya, kemudian berkata jika sahih hadith ini, dan diriwayatkan dari jalan al Baihaqi, dan diriwayatkan Abu Asy Syaikh Ibnu Hibban dalam at Tsawwab dengan ringkas (at Targhib wa at Tarhib II/94) dan Al Feqh Al Islamiy Wa Adillatuh (2/572)

Sumber Rujukan : Drs. KH. M. Sufyan Raji Abdullah LC. Menyikapi Masalah-masalah yang dianggap Bid’ah, Cet Pertama 2010, Pustaka Al Riyadl, Jakarta

27/05/2018 Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Apa maksud Waktu Imsak?

Perbezaan Waktu Imsak & Subuh – Ramadan Bulan Puasa Sahur Waktu Berbuka

Soalan: Kenapakah waktu Imsak dan Subuh adalah 2 waktu yang berlainan padahal puasa dikatakan menahan lapar dan dahaga serta perkara yg membatalkan puasa daripada terbit fajar hingga terbenam matahari. Bukankah terbit fajar bermakna masuk waktu subuh ?

Segala puji bagi Allah SWT dan salawat serta salam ke atas Nabi Muhammad SAW.

Jawapan: Sebagaimana yang dimaklumi, puasa bermaksud menahan diri daripada makan dan minum serta perkara-perkara yang membatalkannya bermula daripada terbit fajar sadiq (masuk waktu subuh) hingga terbenam matahari (masuk waktu solat maghrib) disertai dengan niat dan syarat-syarat yang tertentu.

Dalil waktu bermulanya puasa adalah sebagaimana firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 187 yang bermaksud:

Dihalalkan bagi kamu, pada malam hari puasa, bercampur (bersetubuh) dengan isteri-isteri kamu. Isteri-isteri kamu itu adalah sebagai pakaian bagi kamu dan kamu pula sebagai pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahawasanya kamu mengkhianati diri sendiri, lalu Ia menerima taubat kamu dan memaafkan kamu. Maka sekarang setubuhilah isteri-isteri kamu dan carilah apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kamu….

….dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) dari benang hitam kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (maghrib); dan janganlah kamu setubuhi isteri-isteri kamu ketika kamu sedang beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah kamu menghampirinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat hukumNya kepada sekalian manusia supaya mereka bertaqwa. – (Al-Baqarah 2:187)

Berdasarkan kepada dalil tersebut maka jelaslah bahawa waktu puasa itu bermula apabila masuknya waktu Subuh. Hal ini telah pun disepakati oleh Ijma’ Ulama’.

Adapun waktu imsak yang diamalkan bermula kira-kira 10 minit sebelum masuknya waktu subuh atau kira-kira tempoh membaca 50 ayat al-Qur’an yang sederhana panjang.

Imsak adalah perkataan bahasa Arab yang bermaksud menahan daripada sesuatu.

Waktu imsak ini adalah sebaik-baik waktu bagi seseorang itu berhenti makan/minum ketika bersahur bagi membolehkannya bersiap-siap untuk menantikan masuknya waktu subuh dan juga sebagai waktu ihtiati (berjaga-jaga/berwaspada) agar tidak tergopoh-gapah bersahur hingga masuknya waktu subuh.

Bersahur ketika hampir waktu imsak ini juga adalah lebih afdhal kerana ia amalan Rasulullah SAW sebagaimana maksud hadis daripada Zaid bin Thabit iaitu:

“kami sahur bersama Rasulullah SAW kemudian kami berdiri solat. Saya bertanya “berapa lama jarak antara kedua-duanya itu?”, baginda bersabda “50 ayat al-Qur’an” (HR Bukhari).

Jadi jelaslah apa itu waktu imsak dan waktu bermulanya puasa (subuh). Kesimpulannya, mereka yang makan/minum selepas waktu imsak tidaklah membatalkan puasanya selagi mana tidak sampai masuknya waktu subuh tetapi bersahur ketika hampir waktu imsak (tidak terlalu cepat atau lambat) adalah yang digalakkan kerana ia sunnah Rasulullah SAW dan merupakan adab bersahur yang sangat baik. – Sumber: Ana Murabbiy

Beberapa Kekeliruan Mengenai Bermula Waktu Imsak – Jabatan Penerangan Agama – Brunei

1. Kekeliruan mengenai hadits bersahur setelah kedengaran azan

Dalam usaha kita untuk mendalami hukum-hakam berhubung dengan puasa, pada masa kini telah diperkenalkan perkhidmatan sistem teknologi informasi dan komunikasi yang berfungsi sebagai tempat penyebaran maklumat-maklumat. Namun sejauhmana setiap perkongsian maklumat tersebut memberikan fakta yang tepat, shahih dan benar?

Antara maklumat yang pernah disebarluaskan ketika dulu melalui perkhidmatan aplikasi moden ini, ialah satu perkongsian tazkirah mengenai sebuah hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a Rasulullah SAW telah bersabda:

Maksudnya: “Jika salah seorang daripada kamu mendengar azan, sedangkan terdapat bejana (tempat menyimpan makanan atau minuman) pada tangannya maka janganlah diletakkan bejana itu sehingga dia menyelesaikan hajatnya (makan atau minum) dari bejana itu.” – (Hadits riwayat Abu Daud)

Sebilangan orang berpendapat bahawa hadits ini menjelaskan tentang keadaan seseorang yang sedang bersahur yang tiba-tiba mendengar laungan azan subuh, sedangkan pada ketika itu dia belum selesai menghabiskan makanan atau minuman pada bekas atau gelas yang berada di tangannya, maka tidaklah perlu dia meletakkannya sehingga dia menghabiskan baki makanan atau minumannya itu.

Menurut fahaman mereka juga, perkara ini apabila dilakukan tidak akan membatalkan puasa seseorang itu.

Persoalannya adakah benar seperti apa yang mereka fahami? Sejauhmana tazkirah ini dapat menyampaikan ilmu dan maklumat yang benar-benar tepat? Jika ia tidak dihuraikan dengan lebih jelas maka ia akan menimbulkan kekeliruan.

Penjelasan mengenai hadits di atas, menurut Imam an-Nawawi Rahimahullah bahawa azan yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah laungan azan pertama sebelum fajar dan ia bukan azan subuh.
Ini bertepatan dengan hadits yang diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

Maksudnya: “Sesungguhnya Bilal melaungkan azan pada waktu malam, maka makanlah dan minumlah kamu sehingga Ibn Ummi Maktum mengumandangkan azan.” – (muttafaq ‘alaih)

Hadits ini menunjukkan bahawa harus melaungkan azan sebanyak dua kali, azan pertama sebelum terbit fajar (masih malam) dan azan kedua setelah masuk waktu subuh. Imam an-Nawawi menyebutkan dalam kitab Syarah Muslim, menurut ulama bahawa Bilal Radhiallahu ‘anhu melaungkan azan sebelum fajar dan beliau berdoa dan sebagainya sementara menanti terbitnya fajar.

Apabila fajar sudah hampir terbit, beliau akan mengkhabarkan Ibn Ummi Maktum Radhiallahu ‘anhu, kemudian Ibn Ummi Maktum Radhiallahu ‘anhu akan bersiap-siap dengan bersuci dan sebagainya lalu mengumandangkan azan subuh di awal masuknya waktu terbit fajar.

Hikmah melaungkan azan pertama sebelum terbit fajar itu antaranya bertujuan supaya orang ramai bersiap sedia sebelum menunaikan sembahyang subuh seperti bersuci daripada junub, berwudhu, mandi dan termasuk juga untuk bersahur bagi orang yang hendak berpuasa.

Hadits ini juga menunjukkan bahawa orang yang hendak berpuasa harus makan, minum, jima’ dan sebagainya selagi fajar shadiq belum terbit.

Oleh itu, jelaslah bahawa tanggapan segelintir orang mengenai keharusan makan dan minum walaupun setelah azan subuh berkumandang adalah tidak tepat. Ini kerana hadits yang disebutkan di atas menunjukkan bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh makan dan minum selagi fajar shadiq belum terbit.

2. Kekeliruan waktu imsak yang tercatat dalam kalendar

Di Negara Brunei Darussalam telah disediakan waktu-waktu sembahyang, imsak dan syuruk sepanjang tahun yang pada kebiasaannya dicetak dalam kalendar. Apa yang menjadi kekeliruan segelintir masyarakat adalah waktu imsak yang tercatat dalam kalendar tersebut, waktunya bermula sepuluh minit lebih awal daripada waktu subuh.

Menurut mereka, jika masuk waktu imsak yang tercatat dalam kalendar tersebut, maka bermulalah waktu berpuasa dan batal puasa jika masih meneruskan bersahur.

Sebagaimana yang dijelaskan sebelum ini, waktu imsak bagi orang yang hendak berpuasa bermula dari terbit fajar shadiq iaitu setelah masuk waktu subuh. Malahan sunat melambat-lambatkan sahur sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu dzar Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Umatku sentiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan bersahur” – (Hadits riwayat Imam Ahmad)

Hukum sunat melambatkan sahur itu tertakluk apabila tidak timbul keraguan pada waktu terbitnya fajar. Jika ada keraguan pada waktu terbitnya fajar maka tidak sunat melambat-lambatkan sahur bahkan afdhal untuk tidak melambatkannya sehingga ke akhir waktu. Ini kerana meninggalkan perkara yang diragukan itu adalah disuruh syara’ sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hasan bin ‘Ali, apa yang beliau hafal daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sabdanya:

Maksudnya: “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” – (Hadits riwayat at-Tirmidzi)

Jika dilihat kembali mengenai puasa, antara perkara sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang disukai ialah melambatkan bersahur kerana sesiapa yang mengakhirkan atau melambatkan sahur pada akhir malam iaitu hampir terbit fajar akan mendapat ganjaran pahala sunat bersahur itu.

Adapun waktu afdhal melambatkan sahur itu kira-kira kadar membaca lima puluh ayat sebelum terbit fajar. Zaid bin Tsabit Radhiallahu ‘anhu telah meriwayatkan:

Maksudnya: “Kami bersahur bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Baginda mendirikan sembahyang, lalu ditanyakan kepada Baginda: “Berapakah jarak antara azan dan sahur?” Baginda bersabda: “Kira-kira lima puluh ayat.” – (Hadits riwayat al-Bukhari)

Walau bagaimanapun waktu imsak yang tercatat dalam kalendar (sepuluh minit lebih awal daripada waktu subuh) itu, adalah bertujuan antara lain sebagai langkah berhati-hati agar orang yang berpuasa bersiap sedia untuk menempuh waktu berpuasa seperti membersihkan makanan yang terselit di celah-celah gigi dan seumpamanya.

Demikianlah penjelasan mengenai waktu imsak bagi menghuraikan kekeliruan segelintar masyarakat.

Apa yang penting, kita hendaklah berhati-hati dan tidak sewenang-wenangnya mengambil maklumat, pengajaran, ilmu lebih-lebih lagi yang menyangkut perkara hukum tanpa menyelidiki keshahihan sumber dan huraiannya.

Kita hendaklah merujuk atau bertanya kepada orang yang benar-benar tahu mengenainya agar kita lebih terarah ke jalan yang benar sebagaimana firman Allah Ta’ala: Tafsirnya: “Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan (mengenai kitab-kitab Allah) jika benar kamu tidak mengetahui.” – (Surah an-Nahl: 42)

Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengetahui.

Rujukan sumber: Pelita Brunei

AnaGhaib

22/05/2018 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

PERSOALAN TADARUS & KHATAM AL-QURAN

Bacaan al-Quran secara tadarus dinamakan sebagai (قراءة الإدارة). Ia merujuk kepada kaedah membaca al-Quran beramai-ramai secara bergilir-gilir iaitu seseorang membaca al-Quran di dalam sesuatu kumpulan dan disemak oleh ahli kumpulan yang lain untuk diperbaiki bacaan dan penguasaan tajwid secara amali kemudian dia memberhentikan bacaan. Seterusnya bacaan tersebut disambung pula oleh ahli kumpulan yang lainnya sehinggalah akhir majlis. Bacaan al-Quran secara bertadarus sepertimana yang disebutkan di atas hukumnya adalah harus sepertimana yang dipilih oleh Imam Malik, Imam al-Nawawi dan Ibn Taimiyyah. Manakala menurut pendapat yang muktamad di dalam Mazhab Hanbali, hukumnya adalah makruh (فيض الرحمن: 460-461). Bahkan, bacaan al-Quran secara berkumpulan ini bersesuaian dengan hadis riwayat Muslim (no. 2700 & 2699), sabda Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam;

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فَيْمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum duduk berzikir kepada Allah Taala, melainkan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat dan akan dilimpahi rahmat serta akan diturunkan ke atas mereka ketenangan dan Allah akan menyebut (memuji) mereka di hadapan para malaikatNya.”

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tiada berhimpun satu kaum di mana-mana masjid Allah sedang mereka membaca kitab Allah (al-Quran) dan bertadarus sesama mereka melainkan akan diturunkan ke atas mereka ketenangan, akan dilimpahi rahmat dan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat serta Allah akan menyebut (memuji) mereka di hadapan para malaikatNya.”

Justeru, khatam al-Quran secara bertadarus ini hanya sesuai diistilahkan sebagai khatam secara kumpulan@jamaah. Namun dari segi pengistilahan sebenar, cara itu tidaklah dikirakan sebagai khatam secara individu. Hal ini kerana khatam yang sebenar adalah apabila seseorang membaca al-Quran secara tertib (susunan) mushaf bermula daripada Surah al-Fatihah sehingga Surah al-Nas (معجم علوم القرءان: 137). Malah kelebihan mengkhatamkan al-Quran secara individu juga berbeza berbanding mengkhatamkan al-Quran secara berkumpulan.

Namun demikian, tidaklah salah menggalakkan umat Islam agar membaca al-Quran sekalipun hanya beberapa helaian dalam khatam secara kumpulan@jamaah ini kerana masing-masing akan memperolehi ganjaran berdasarkan kadar ayat yang dibacakan. Bahkan, tadarus sebegini juga merupakan peluang terbaik untuk pembaca al-Quran dapat saling menegur serta memperbaiki kesalahan masing-masing, dan bukan sekadar membaca untuk khatam semata-mata.

Hal ini juga hampir sama dengan aktiviti mengedarkan juzuk-juzuk al-Quran kepada orang-orang yang hadir dalam sesuatu majlis perhimpunan. Di mana setiap orang daripada mereka akan membaca satu hizb daripada al-Quran misalnya. Perbuatan seperti ini juga tidaklah dikira setiap orang dari mereka telah mengkhatamkan al-Quran. Namun setiap ahli kumpulan akan mendapat pahala berdasarkan bacaan yang telah dilakukannya. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim (1/472), sabda Nabi sollallahu alaihi wa sallam;
أجرُك على قَدْرِ نصَبِك
“Ganjaranmu adalah berdasarkan kepada kadar keletihanmu.”
Disebutkan dalam kaedah fiqh;

مَا كَانَ أَكْثَرَ فِعْلًا ، كَانَ أَكْثَرَ فَضْلًا (قاعدة التاسعة العشر,الأشباه والنظائر: 143)
“Apa yang lebih banyak perbuatan maka lebih banyak kelebihan.”
اليسع

Wallahua’lam.
Ustaz Alyasak Berhan

Blogger Tolib al-‘Ilm

19/05/2018 Posted by | Fad hail Amal, Ibadah | Leave a comment

DOA MALAIKAT JIBRIL MENJELANG RAMADHAN: SAHIHKAH?

Hadis ini sahih tak?

Doa Jibrail menjelang ramadhan:-
“Ya Allah, abaikan puasa umat Muhammad jika sebelum masuk ramadhan dia tidak melakukan 3 hal ini:

1.Tidak minta maaf kepada kedua orang tua.
2.Tidak bermaafan dengan sahabat sahabatnya.
3.Tidak bermaafan dengan orang sekitarnya.” maka, Rasullullah pun mengaminkannya sebanyak 3kali.

Dengan ini, saya ingin memohon maaf jika ada salah dan silap yang telah dilakukan sebelum sebelum ini. Minta maaf kalau ada terkasar bahasa, menyinggung atau mengguris hati. Mohon ampun dan maaf sekali lagi dari saya dan keluarga.

Jawapan:

Ia hadis palsu. Tiada asal padanya. Berdosa besar sesiapa yang mereka-rekanya dan menyebarkannya.

Imam Muslim dalam Muqadimah Sahih Muslim membawakan beberapa hadis yang mengajar kita untuk berhati-hati dalam menyebarkan sesuatu.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَكْذِبُوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ يَكْذِبْ عَلَىَّ يَلِجِ النَّارَ

Janganlah berdusta menggunakan diri ku, sesungguhnya sesiapa yang berdusta menggunakan diri ku nescaya akan masuk neraka [hadis no:2]

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Sesiapa yang dengan sengaja berdusta menggunakan diri ku, maka dia menempah tempat duduk dalam neraka [hadis no: 4]

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila dia menyampaikan setiap apa yang dia dengar [hadis no: 7]

Terdapat banyak lagi riwayat yang disebutkan oleh Imam Muslim dalam Muqadimah Sahihnya. Ini hanyalah sebahagian kecil sahaja.

Hadis-hadis melarang berdusta atas nama nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam atau mereka-reka hadis adalah mutawatir. Ia merupakan dosa besar.

Kita tidak perlukan hadis palsu ini. Cukuplah dengan hadis yang sahih atau hasan. Antaranya ialah hadis yang benar seperti di bawah:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، ” أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقَى الْمِنْبَرَ ، فَلَمَّا رَقَى الدَّرَجَةَ الأُولَى ، قَالَ : آمِينَ ، ثُمَّ رَقَى الثَّانِيَةَ ، فَقَالَ : آمِينَ ، ثُمَّ رَقَى الثَّالِثَةَ ، فَقَالَ : آمِينَ ، فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، سَمِعْنَاكَ تَقُولُ : آمِينَ ثَلاثَ مَرَّاتٍ ؟ قَالَ : لَمَّا رَقِيتُ الدَّرَجَةَ الأُولَى جَاءَنِي جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ ، فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، ثُمَّ قَالَ : شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلاهُ الْجَنَّةَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، ثُمَّ قَالَ : شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ” .

Jabir bin ‘Abdullah berkata Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam menaiki mimbar, ketika baginda menaiki anak tangga yang pertama, baginda menyebut “Amin”, kemudian apabila menaiki anak tangga yang kedua, baginda menyebut “Amin”, kemudian apabila menaiki anak tangga ketiga, baginda menyebut “Amin”.

Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah. Kami mendengar engkau menyebut Amin sebanyak tiga kali. Baginda menjawab: Ketika aku menaiki anak tangga yang pertama, Jibril datang kepada ku dan berkata: Celaka sungguh seorang manusia yang bertemu dengan Ramadhan, tetapi keluar daripadanya tanpa diampuni dosanya. Lalu aku pun menyebut Amin.

Kemudian Jibril berkata: Celakalah manusia yang ibu bapanya masih hidup atau salah seorang daripada mereka masih hidup, tetapi hal itu tidak memasukkannya ke dalam syurga. Aku pun menyebut Amin.

Kemudian Jibril berkata: Celakalah manusia yang engkau (iaitu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam) di sebut di sisinya, tetapi dia tidak berselawat ke atas engkau. Aku pun menyebut Amin.

[Al-Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, hadis no: 640. Shaikh al-Albani berkata ia Sahih Lighairihi dalam Sahih al-Adab al-Mufrad]

Dari FB Dr Abu Anas Madani

17/05/2018 Posted by | Hadis, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Syarat-syarat Sah Jemaah di Dalam Bangunan Selain Masjid.

PANDUAN HUKUM: Ringkasan Syarat-syarat Sah Jemaah di Dalam Bangunan Selain Masjid.

Berikut adalah keterangan ringkas berkaitan syarat-syarat sah jemaah di dalam bangunan selain masjid:

a. Mengetahui perpindahan (pergerakan) imamnya berdasarkan ijmak ulama.

b. Disyaratkan tiada halangan yang boleh menghalang makmum untuk pergi kepada imamnya dengan berjalan biasa tanpa berbelok-belok (berkelok-kelok/berliku-liku) sehingga berpaling dari kiblat (membelakangi kiblat).

Sehubungan itu, jika terdapat halangan yang boleh menghalang makmum untuk pergi kepada imamnya sekalipun ia tidak menghalang pandangan makmum tersebut seperti jendela, jaring-jaring, cermin dan seumpamanya, maka ia tetap tidak sah kerana di antara jemaah tersebut terdapat halangan yang menghalang untuk dilalui oleh makmum. Ia seumpama hukum dinding.

c. Disyaratkan tiada halangan yang boleh menghalang pandangan makmum kepada imam/makmum yang terakhir. Halangan tersebut termasuklah dinding, tirai atau tabir tebal yang dilabuhkan sehingga ia boleh menghalang pandangan makmum dan pintu yang tertutup sekalipun ia tidak dikunci serta boleh dilalui oleh makmum. Hal ini adalah kerana ia boleh menghalang pandangan makmum kepada imam/makmum yang terakhir.

Namun, menurut Syeikh Ahmad al-Fatani, jika tirai atau tabir tersebut jarang (nipis) sekira-kira ia tidak menghalang pandangan makmum kepada imam/makmum yang terakhir, maka sayugia dihukumkan sah qudwah (mengikut imam) tersebut. Ini kerana, ia tidak menghalang makmum untuk pergi kepada imamnya dengan berjalan biasa, tidak menghalang pandangan makmum kepada imam/makmum yang terakhir dan tidak menghalang mereka daripada sempurna berhimpun di sesuatu tempat.

d. Disyaratkan juga pandangan tersebut adalah dari tempat yang boleh dilalui oleh makmum.

e. Disyaratkan jarak mereka tidak terlalu jauh menurut majoriti ulama. Ditetapkan oleh Imam Syafi’i, jarak tersebut hendaklah tidak melebihi 3 ratus hasta (150 meter).
اليسع
Wallahu a‘lam.

Rujukan;

– Al-Majmuk
– Hasyiah I‘anah al-Talibin
– Bughyah al-Mustarsyidin
– Fath al-‘Allam
– Al-Fatawa al-Fataniyyah
– Al-Taqrirat al-Sadidah

Ustaz Alyasak bin Berhan
Blogger Tolib al-‘Ilm

15/05/2018 Posted by | Fiqh, Ibadah | Leave a comment

Ragu Kentut, Apa Perlu Dituruti?

Kadang kita mendapati hal seperti ini ketika shalat, apakah kentut ataukah tidak? Perut terasa sesuatu, padahal itu masih ragu-ragu, bukan yakin. Apakah ragu-ragu atau was-was seperti ini perlu dituruti?

Ada hadits yang bisa diambil pelajaran pagi ini sebagai berikut.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا, فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ: أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ, أَمْ لَا? فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ اَلْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا, أَوْ يَجِدَ رِيحًا – أَخْرَجَهُ مُسْلِم

_Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mendapati ada terasa sesuatu di perutnya, lalu ia ragu-ragu apakah keluar sesuatu ataukah tidak, maka janganlah ia keluar dari masjid hingga ia mendengar suara atau mendapati bau.” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 362)._

Dalam shahih Bukhari-Muslim disebutkan hadits dari ‘Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia pernah mengadukan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai seseorang yang biasa merasakan sesuatu dalam shalatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

_“Janganlah berpaling hingga ia mendengar suara atau mendapati bau.” (HR. Bukhari no. 177 dan Muslim no. 361)._

*Berpegang dengan Keadaan Suci*

Pelajaran pertama yang bisa kita gali bahwa orang yang dalam keadaan suci jika ia ragu apakah ia berhadats ataukah tidak dan itu masih dalam taraf ragu-ragu, maka ia tidak diharuskan untuk wudhu. Yang dalam keadaan ragu-ragu seperti ini tetap shalat hingga dia yakin telah datang hadats, bisa jadi dengan mendengar suara kentut atau mencium baunya.

*Jauhkan Was-Was*

Hadits di atas menunjukkan bahwa setiap muslim mesti menghilangkan was-was pada dirinya. Jangan ia perhatikan was-was tersebut karena hal itu hanya mempersulit diri. Diri seseorang hanya merasa payah karena terus menuruti was-was.

Kaedah Fikih: Yakin Tidak Bisa Mengalahkan Yang Ragu

Dari hadits di atas, dapat diambil suatu kaedah yang biasa disebutkan oleh para ulama,

اليقين لا يزول بالشك

_“Yang yakin tidak bisa dihilangkan dengan ragu-ragu.”_

Imam Al Qorofi dalam kitab Al Furuq mengatakan, “Kaedah ini telah disepakati oleh para ulama. Maksudnya adalah setiap ragu-ragu dijadikan seperti sesuatu yang tidak ada yang dipastikan tidak adanya.”

_Abu Daud berkata, “Aku pernah mendengar Imam Ahmad ditanya oleh seseorang yang ragu mengenai wudhunya. Imam Ahmad lantas berkata, jika ia berwuhdhu, maka ia tetap dianggap dalam kondisi berwudhu sampai ia yakin berhadats. Jika ia berhadats, maka ia tetap dianggap dalam kondisi berhadats sampai ia berwudhu.” Lihat Masail Al Imam Ahmad, hal. 12._

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

كُلُّ احْتِمَالٍ لَا يَسْتَنِدُ إلَى أَمَارَةٍ شَرْعِيَّةٍ لَمْ يُلْتَفَتْ إلَيْهِ

_“Setiap yang masih mengandung sangkaan (keraguan) yang tidak ada patokan syar’i sebagai pegangan, maka tidak perlu diperhatikan.” (Majmu’ Al Fatawa, 21: 56)_

Pelajaran Penting: Kentut Membatalkan Wudhu

Hadits yang kita kaji kali ini menunjukkan bahwa kentut itu membatalkan wudhu, baik jika hanya keluar saja atau bau saja. Dan orang yang kentut mesti mengulangi wudhunya dari awal. Jika kentut membatalkan wudhu, maka shalat pun batal karenanya karena setiap pembatal wudhu menjadi pembatal shalat.

(Ustaz Muhammad Abduh tuasikal, MSc)

Sumber: muslim.or.id

14/05/2018 Posted by | Fiqh, Ibadah, Uncategorized | Leave a comment

Jawapan Kepada Wahhabi Yang Membidaahkan Tarannum…

Jawapan Kepada Wahhabi Yang Membidaahkan Tarannum…

Tarannum adalah berasal daripada perkataan Arab iaitu tarannama, yatarannamu tarannum yang membawa maksud berdendang atau menyanyi. Dr Ruuhi al-Balbaki, pakar bahasa Arab pula menyatakan bahawa kata akar bagi perkataan tarannum ini ialah rannama, yurannimu, tarnim yang membawa maksud “intonation, modulation, recital, chanting, singing and humming” iaitu yang merangkumi maksud intonasi, nyanyian dan bacaan yang baik.

Tarannum adalah suatu ilmu atau kaedah suara yang dipelbagaikan mengikut proses Nada, Rentak dan Irama tertentu.

Nada adalah tingkatan atau tekanan bunyi suara.
Rentak adalah pergerakan yang menghidupkan bunyi suara.
Irama adalah alunan atau bentuk bunyi.

Tarannum adalah suatu istilah yang diguna pakai oleh Rasulullah SAW. Sabda Baginda yang bermaksud:
“Apa yang diizinkan Allah atas sesuatu itu ialah apa yang diizinkan kepada nabinya yang selalu mengelokkan lagu (tarannum) bacaan al-Quran”. ( Riwayat Bukhari)

Rasulullah s.a.w. menerima al-Quran pada tahun 610 masihi. Baginda memerintahkan umatnya membaca al-Quran dengan suara yang elok serta diperindahkan lagi (tazyin / tarannum). Kemudian terdapat beberapa orang sahabat yang masyhur sebagai qari-qari yang baik antaranya Abdullah bin Mas’ud RA, Abu Musa Asy’ari dan ramai lagi.

Kemudian pada zaman tabiin muncul pula qari-qari seperti Alqamah bin Qis di Kufah (Tahun 62 hijrah). Abdullah b Saib di Mekah (70 hijrah) dan lain-lain. Begitulah sejarah pembacaan al-Quran bertarannum yang terus berkembang sehingga ke hari ini.

Oleh kerana tarannum sesuatu yang bersifat seni pendengaran (sima’i), maka Jumhur qurra bersepakat bahawa tidak diketahui secara sanadnya bagaimanakah bacaan berlagu Rasulullah s.a.w. itu. Ketika zaman keagungan Islam dahulu, cabang-cabang ilmu Islam begitu pesat berkembang serta mempunyai berbagai aliran (mazhab). Seiring dengan itu, ilmu tarannum juga membangun serta mempunyai berbagai aliran yang popular antaranya: Misri (Mesir),Hijazi (Mekah dan Madinah), Iraqi, Kurdi (sempadan Iraq dan Turki), ‘Ajami (Iran) dan lain-lain.

Kini aliran yang paling popular dan diterima di seluruh dunia ialah aliran Misri. Qari-qari Mesir yang muktabar telah mengambil dan mengubah suai tarannum-tarannum atau lebih mereka sebutkan sebagai ilmu maqamat itu dari aliran-aliran di atas mengikut budaya mereka serta meng’arab’kannya untuk bacaan al-Quran.

Perbandingan Aliran Hijazi dan Misri.

Aliran Hijazi
• Padang pasir, Bukit bukau, Suhu tinggi, lalu irama dan rentaknya lincah dan nada suaranya tinggi kehangatan.

Aliran Misri
• Lembah nil, Subur menghijau, Suhu sederhana,lalu irama dan rentaknya lembut dan suaranya sederhana kemanisan.
Asal Ilham Tarannum

Manusia yang berjiwa seni selalulah mendapat idea-idea dari persekitarannya. Sejak zaman silam, pengaruh bunyi geseran kayu, bunyi tiupan angin, bunyi kicauan burung, bunyi air mengalir dan lain-lain telah mencetuskan idea untuk membuat lagu ataupun di dalam bahasa arab disebut At-Tarannum, Al-Ghina, ataupun ilmu Al-Maqamat.

Hukum Umum Bertarannum
Berdasarkan kaedah fiqhiyyah serta pandangan alim-ulama, bolehlah kita fahami bahawa hukum bertarannum adalah seperti berikut:

1. Fardhu (kifayah) : jika hanya dengan berlagu dapat mengajak masyarakat ingin mendekati Al-Quran.
2. Sunat : jika dengan berlagu boleh membantu kesempurnaan hati.
3. Harus : untuk mengambil keseronokan mendengar alunan yang indah.
4. Makruh : jika dengan berlagu tiada langsung kebaikan keagamaan diperolehi.
5. Haram : jika mahu menunjuk-nunjuk kepada orang yang mendengar atau riyak atau ujub. Atau jika merosakkan hukum-hukum tajwid, meniru-niru lagu keagamaan lain, meniru-niru lagu penyanyi-penyanyi yang hanya melekakan dan lain-lain.
Sabda Rasulullah s.a.w.:yang bermaksudnya:
“Bacalah al-Quran itu dengan gaya lagu dan suara yang berlahjah Arab dan jangan sekali-kali menbaca dengan lagu dan suara yang berlahjah keYahudian atau keNasranian. Demikian juga lagu-lagu ahli fasik/penyanyi (Biduan dan Biduanita). Maka sesungguhnya sepeninggalanku nanti, akan muncul satu golongan yang sengaja membaca al-Quran dengan lagu-lagu yang dipopularkan sebagai nyanyian penghibur, pendeta dan perintih yang tiada melampaui khalkum mereka, hati mereka sudah terfitnah, apa lagi hati mereka yang mengkaguminya”.( Riwayat al-Tabrani dan Baihaqi).
Kata Ibnu Kathir: “Bahawasanya (berlagu) yang dikehendaki mengikut hukum syarak hanyalah mengelokkan suara yang menimbulkan rasa penghayatan (tadabbur), kefahaman, kekhusyukan, kerendahan hati serta memandu kearah ketaatan kepada Allah SWT.”

Falsafah Tarannum
Suatu usaha bernilai tinggi bagi menghubungi rasa hati pembaca dan pendengar kepada keagungan Allah Tuhan Pencipta.

PEMBAHAGIAN ILMU TARANNUM
زينوا القرأن بأصواتكم
-ابو داوود
“Hendaklah kamu menghiasi bacaan (mencantikkan) bacaan al-Quran dengan suara-suara kamu (dengan mempelbagaikan suara kamu)”.

Tarannum adalah perhiasan kepada bacaan al-Quran. Tarannum sangat berkait rapat dengan suara kerana dari suara yang elok dan tersusun lahirnya tarannum.

Tarannum secara umumnya terbahagi kepada dua kategori:

a) Tarannum bit Tahqiq – Tarannum yang dibaca dengan kadar tahqiq menurut kaedah ilmu tajwid. Biasanya kategori ini diamalkan oleh Qari-qari mesir muktabar seperti Syeikh Abdul Basit Abdul Samad dan lain-lain. Kategori ini digunapakai di dalam Majlis Tilawah Al-Quran Peringkat Kebangsaan dan Antarabangsa.

b) Tarannum bit Tadwir – Tarannum yang dibaca dengan kadar Tadwir menurut kaedah ilmu tajwid. Biasanya kategori ini diamalkan oleh oleh Imam-imam Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah seperti Fadhilatud Duktur Abdur Rahman bin Abdul Aziz Al-sudais dan lain-lain.

ASAS ALIRAN TARANNUM
Aliran tarannum Hijazi popular di dunia Islam sebelum tahun 1940-an. Lagu-lagu asas mereka boleh diketahui dengan kata-kata “Bihumurin jasad”
1. Banjakah.
2. Husaini.
3. Mayyah.
4. Rakbi.
5. Jiharkah.
6. Sikah.
7. Dukah.

Selain itu terdapat pula lagu-lagu cabang seperti Ruma, Ushshak. Sun’ani, Yaman Hijaz, Hirab dan lain-lain.

Asas Tarannum Aliran Misri
Selepas tahun 1940-an hingga ke hari ini, aliran tarannum Misri pulalah yang popular. Tarannum asas aliran Misri ialah:
1. Bayyati.
2. Soba.
3. Hijaz.
4. Nahawand.
5. Rast.
6. Sikah.
7. Jiharkah.

Selain itu, terdapat pula tarannum-tarannum seperti Husaini, Huzam, Farahfaza, Shad, Nawa Athar, Rahat El Arwah dan lain-lain yang kini dianggap sebagai lagu-lagu cabang (furu).

Terdapat tarannum-tarannum mempunyai nama yang sama di dalam aliran Hijazi dan aliran Misri, malah terdapat juga tarannum Misri yang diberi nama Hijaz. Ini menunjukkan keterbukaan dan keilmuan qari-qari Mesir dalam mengambil, mengubahsuai dan memperbaharui kearah mencantikkan lagi tarannum-tarannum sesuai dengan suasana, peredaran zaman dan citarasa terkini, tetapi tidaklah sampai menghilangkan identiti asal dan yang paling utama, keutuhan tarannum bil Quran yang berlahjah arab.

Untuk bertarannum, para Qari haruslah mengenali beberapa kompenan penting untuk meng’arab’kan bacaan mereka .
2.3.1 Harkat (suatu alunan irama yang mengandungi beberapa qit’ah dan satu mahattah).
2.3.2 Qit’ah (suatu alunan irama pendek tanpa mahattah).
2.3.3 Burdah asli dan sina’i (bunga-bunga suara yang terjadi dengan sendirinya dan yang digubah).
2.3.4 Mahattah (suatu bentuk atau gaya penghujung harkat yang sempurna).
2.3.5 Salalim su’ud dan nuzul (suara menaik dan menurun – mengikut ilmu peringkat-peringkat suara)
2.3.6 Ihtilal al-lahn (kemahiran mencondongkan suara).
2.3.7 Wuslah al-mumathalah (kemahiran menggabungkan alunan beberapa tarannum yang sesuai di dalam satu harkat).

FALSAFAH TARANNUM BIL-QURAN

Melagukan bacaan al-Quran adalah satu usaha ke arah pencapaian amalan membaca al-Quran yang bernilai tinggi bagi menhubungkan rasa hati pembaca dengan pendengar kepada keagungan Allah S.W.T. Bertarannum tanpa memahami falsafahnya adalah satu penyelewengan. Antara Falsafah tarannum ialah:
1. Untuk menghormati status al-Quran sebagai wahyu yang paling agung. Sabda Rasulullah S.A.W: yang bermaksud:
“diturunkan al-Quran itu dengan penuh kebesaran dan kehormatan”. (Riwayat Muslim)
2. Untuk menambahkan kekusyukan dan keinsafan kepada pembaca dan pendengar terhadap ayat-ayat al-Quran sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud:
“Mereka segera menundukkan muka sambil menangis sedangkan al-quran itu boleh menambahkan kesyukuran dan keinsafan”. (Surah al-Isra’:ayat 109)
3. Untuk mendapat rahmat Allah SWT. Firman Allah Ta’ala bermaksud:
“Dan apabila al-Quran di baca hendaklah kamu mendengarnya dan diam (untuk memerhati dan dengar bacaannya) semoga kamu beroleh rahmat Allah Ta’ala”. (Surah al-A’raf:ayat 204).
4. Untuk menambah keunikan seni bacaan al-Quran itu, seperti sabda Rasulullah SAW:yang bermaksud:
“ Perelokkan bacaan al-Quran itu dengan keelokan suara kamu. Sesungguhnya dengan suara yang elok sahaja mampu menambahkan keindahan seni al-Quran”.

(Ustaz Yunan A Samad)

11/04/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized, wahabi | Leave a comment

CARA MENCUCI KEMALUAN DENGAN BETUL

Sememangnya, kita biasanya akan mencuci kemaluan dengan bersih tetapi bersih berkemungkinan bukan bermakna cara kita itu betul.

Apakah cara yang betul…???

Penting untuk kita pastikan diri kita benar-benar bersih terutamanya di bahagian sulit. Selain untuk menjaga kesihatan ia juga penting untuk memastikan demi amal ibadah kita seharian di terima oleh Allah SWT. ~ Asasnya adalah bersuci.

Ingatlah bahwa ::
“SEMPURNAnya SOLAT/IBADAH adalah dari kesempurnaan WUDHU’ ~ SEMPURNAnya WUDHU’ adalah dari kesempurnaan BERSUCI”.

Maka bersucilah dengan sempurna dan betul demi kesempurnaan Wudhu’ dan Solat kita.
Kenapa penting untuk kita bersihkan kemaluan kita dengan betul?

Ramai orang merasakan diri mereka cukup bagus dengan banyak amal ibadah, bersedekah dan lain-lain tetapi masih tidak terlepas dari azab barzakh dan api neraka.

Saidina Abu Bakar RA pernah sewaktu hendak solatkan mayat seorang lelaki tetapi tiba-tiba tersentak dengan suatu benda bergerak-gerak dari dalam kain kafan lelaki itu. Lalu disuruhnya orang membukanya. Alangkah terkejutnya beliau apabila terlihat seekor ular sedang melilit batang dan kepala zakar (kemaluan) mayat lelaki itu.

Saidina Abu Bakar RA mencabut pedangnya lalu menghampiri ular tadi untuk membunuhnya. Tetapi ular itu tiba-tiba berkata-kata, katanya, :: ”Apakah salah ku kerana aku diutus oleh Allah SWT untuk menjalankan tugas yang diperintahkan-NYA..!!!”

Apabila diselidiki amalan lelaki itu semasa hayatnya, jelas dia merupakan seorang yang mengambil ringan dalam hal menyucikan kemaluannya setelah selesai membuang air kecil.

Jadi… Bagaimana kita nak bersihkan kemaluan dengan cara yang betul?

Lelaki dan Wanita berbeza caranya.
Bukan basuh sekadar dengan simbahan air dan asalkan agak bersih saja.

Bukan sekadar memercikkan air ke kemaluan saja.

Atau bukan sekadar mengelap dengan tisu atau kain saja.

Ada caranya… ::

KAUM LELAKI :
Selepas membuang air kecil, disunatkan berdehem-dehem (batuk-batuk kecil) dua atau tiga kali supaya air kencing betul-betul sudah habis keluar tanpa tersisa didalam bahagian batang dan hujung zakar.

Selepas itu urutlah kemaluan dari pangkal ke hujung (kepala zakar) beberapa kali sehingga tiada lagi sisa air kencing yang berada dalam saluran dan disekeliling zakar. Kemudian basuhlah dengan air sebersih-bersihnya. (Termasuk bahagian hujung muncung mulut zakar). Tidak hanya memercikkan atau menyimbahkan air pada kemaluan semata-mata. Bilaslah zakar dengan sempurna.

KAUM WANITA :
Apabila membasuh kemaluannya, pastikan dicuci disekeliling bahagian dalam bibir kemaluan dengan menjolok sedikit dengan jari tengah (tangan kiri) dan dipusing-pusingkan semasa dilalukan air bersih. Bukan dengan hanya menyimbahkan air semata-mata. Jika dengan melalukan air sahaja ia tidak membersihkan bahagian dalam bibir kemaluan wanita yang berbibir-bibir itu.

PENTING SANGAT (LELAKI dan WANITA) :
Begitu juga semasa membasuh dubur selepas membuang air besar (berak) sangat penting perlu kembangkan dubur lalu masukan satu jari tengah (tangan kiri) sedikit kedalam dubur dan pusing-pusingkan beberapa kali (korek saki-baki najis) supaya keluar dari dinding dubur sambil jirus dengan air (gunakan getah paip) hingga terasa najis benar-benar telah hilang dan bersih.

Betul atau tidak cara kita selama ini…???

Kalau ada yang tak betul tu…Jangan ambil mudah je… Jom sama-sama kita betulkan supaya diri kita benar-benar bersih (bersuci) dengan cara yang betul.

(Petikan dan catatan dari kuliah Ustaz Ahmad Dusuki)

05/04/2018 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

ADAT RENJIS AIR MAWAR

Soalan :
Kebiasaan berlaku pada setengah majlis perkahwinan dimana pengantin meletakkan dua tapak tangannya di atas paha kemudian ibu bapa pengantin atau sanak saudaranya merenjis air mawar ke atasnya. Apakah hukumnya di sisi agama Islam perbuatan merenjis air mawar kepada pengantin seperti ini?

Jawapan:
Hukumnya bergantung kepada niat dan tujuan. Jika ia bertujuan mewangikan suasana maka tidaklah menjadi kesalahan bahkan sunat hukumnya memakai wangian pada tubuh, mewangikan rumah dan masjid, mewangikan majlis samada pada hari-hari perayaan, hari perkahwinan atau hari-hari biasa.
Dan cara mewangikan itu pula ada berbagai-bagai cara. Ada yang direnjis, ada yang dilumur, ada yang disapu, ada yang dibakar hingga mengeluarkan bau wangi dan menggunakan penyembur.
Ada beberapa hadith dan atsar yang menjadi dalil bahawa berwangi-wangi ini dianjurkan olih syarak. Antaranya :
Daripada Aisyah r.a. katanya :
كُنْتُ أُطَيِّبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يُحْرِمَ، وَيَوْمَ النَّحْرِ
Artinya : “Aku pernah meletak wangian pada Nabi saw sebelum baginda melakukan ihram dan pada hari raya.” (Hadith Muslim)
Berkata Imam Baghowi :
وَأَنْ يَلْبَسَ أَحْسَنَ مَا يَجِدُ وَيَتَطَيَّبَ
Artinya : “Dan sunat bahawa memakai pakaian cantik (pada hari-hari besar) yang dia miliki dan memakai wangian.” (Kitab Syarah Sunnah)
Berkata Imam Malik :
سَمِعْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ يَسْتَحِبُّونَ الطِّيبَ وَالزِّينَةَ فِي كُلِّ عِيدٍ
Artinya : “Yang aku telah dengar ulama mengalakkan berwangi-wangian dan berhias cantik pada setiap hari perayaan.” (Kitab Mughni Ibnu Qudamah)
Maka terjawab sudah bahawa merenjis air mawar yang sememangnya berbau wangi kepada pengantin sebagaimana dalam soalan adalah harus dan masuk dalam perintah agama mewangikan diri dan majlis.

Wallahua’lam

https://www.facebook.com/Ustaz.Azhar.Idrus.Original

03/04/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Hukum Menambah “Sayidina” kepada nama Rasulullah SAW dalam tasyahud, berdoa dan memuji Rasulullah SAW. mengucapkan Sayidina kepadaku didalam solat”.

Soalan.
Bolehkah menambah “Sayidina” kepada nama Rasulullah SAW dalam tasyahud, berdoa dan memuji baginda?

Jawapan.
Sebutan “Sayidina” yang bermaksud “penghulu kami” atau “ketua kami”, termasuk amalan yang yang sangat mulia dan dianjurkan termasuk didalam tasyahud awal dan tasyahud akhir kerana ia merupakan salah satu bentuk penghormatan dan sanjungan serta adab kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalil.
a) Hadis
Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda :
Aku adalah sayyid (penghulu) anak Adam pada hari kiamat. yang pertama bangkit dari kubur ,yang pertama memberi syafaat dan yang pertama diberi hak untuk memberikan syafaat.
(162 Riwayat Muslim)

Keterangan.
Hadis ini menunjukkan bahawa Nabi menjadi sayyid (ketua) di akhirat. Walau bagaimanapun ,ia tidaklah bererti baginda menjadi sayyid hanya di akhirat, malah baginda juga menjadi sayyid didunia dan di akhirat.

b) Pendapat Ulama.
Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyebutkan di dalam Hasyiahnya, 1/156 :
Yang lebih utama adalah mengucapkan Sayidina (sebelum nama Nabi SAW) kerana hal yang lebih utama adalah bersopan santun (kepada baginda) ,berbeza bagi mereka yang berpendapat bahawa meninggalkan menyebut Sayidina lebih baik berdasarkan atas hadis, sedangkan hadis (janganlah menyebut Sayidina dalam solat) adalah batal.

Perbincangan Hadis yang melarang menambah “Sayidina”.
*Hadis itu ialah:
“Janganlah kamu mengucapkan Sayidina kepadaku didalam solat”.

Komentar.
*Hadis ini adalah hadis maudhu’ yang tidak ada asalnya. Ia dinaskan oleh al-Hafiz as-Sakhawi didalam Al-Maqasid al-Hasanah.
*Dalam kitab Al-Hawi ,apabila ditanya mengenai hadis tersebut ,Imam Jalaluddin as-Suyuthi menjawab tegas : tidak pernah ada (hadis tersebut) itu batil.
*Imam Jalaluddin al-Mahalli ,Imam Syamsuddin ar-Ramli ,Imam Ibnu Hajar al-Haytami ,Imam al-Qari ,para Fuqaha mazhab Syafi’i dan mazhab Maliki dan lain-lainnya semuanya mengatakan : hadis ini tidak benar.
*Lihat al-Maqasid al-Hasanah no 1292. Lihat juga Intibih! Dinuka fi Khathor (Agamamu dalam bahaya) m,s 121.

(Sumber kitab Kekeliruan Ummat Inilah Jawapannya).

-Ustaz Muhadir Haji Joll.

03/04/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

Tahlil – Sandaran & Hujah

1. Majlis Tahlilan adalah suatu majlis yang dilakukan oleh keluarga si mati untuk bersedekah makanan bagi pihak si mati kepada kaum muslimin yang mana pada masa yang sama hadirin membacakan al-Quran, zikir dan selawat lalu diakhiri dengan doa agar pahala amalan tersebut sampai kepada si mati.

2. Menurut jumhur ulama, amalan sedemikian dibolehkan dan digalakkan seperti mana yang dinyatakan oleh Imam Nawawi, Imam Rafie, Imam Suyuthi, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dan lain-lain.

3. Masyarakat melayu kita seringkali dilihat mengadakan majlis tahlilan dalam tempoh yang tertentu seperti 3 hari, 7 hari dan 40 hari.

4. Persoalannya daripada manakah datangnya kebiasaan ini?

5. Sudah tentu tidak ada seorang pun yang menganggap hukumnya wajib melainkan bagi mereka yang jahil. Usaha ini adalah ikhtiar keluarga bagi pihak si mati sahaja seperti mana hadis Nabi shalallahu alaihi wasallam:

ما على أحدكم إذا أراد أن يتصدق بصدقة تطوعا أن يجعلها لوالديه فيكون لوالديه أجرها وله مثل أجورهما من غير ينقص من أجورهما شيء
“Apa yang ada pada kalian, apabila disedekahkan dengan sedekah yang sunat, yang mana pahalanya dihadiahkan untuk kedua ibu bapanya, maka bagi kedua ibu bapanya pahala tersebut dan baginya juga mendapat pahala sama seperti yang diterima oleh kedua ibu bapanya tanpa berkurang sedikit pun.” (HR Ath-Thabarani dan Ibnu Hibban)

6. Berdasarkan pengajian dan penelitian saya, kebiasaan ini datang daripada beberapa hadis dan athar yang mana menjadi sandaran kepada amalan tersebut.

7. Sandaran bagi 3 hari:

حين طعن عمر أمر صهيبا أن يصلي بالناس ثلاثا وأمر بأن يجعل للناس طعاما
“Apabila Sayyidina Umar ditikam, beliau menyuruh Sayyidina Shuhaib untuk mengerjakan solat sunat bersama orang ramai selama 3 hari dan beliau memerintahkan agar disediakan makanan kepada orang ramai” (Diriwayatkan oleh Amirul Mukminin Fil Hadis Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Matalib Al-Aliyyah)

8. Sandaran bagi 7 hari dan 40 hari:

رجلان مؤمن و منافق فأما المؤمن فيفتن سبعا وأما المنافق فيفتن أربعين صباحا
“Orang mukmin dan munafiq kedua-duanya diuji di dalam kubur. Bagi orang mukmin akan diuji selama 7 hari. Manakala bagi munafiq pula diuji selama 40 hari.” (HR Ahmad)

Oleh yang demikian, kata Imam Suyuthi:

ان سنة الإطعام سبعة أيام بلغني أنها مستمرة إلى الآن بمكة والمدينة
“Sesungguhnya sunat bersedekah memberi makanan selama 7 hari telah sampai kepada ku, ia berterusan hingga sekarang di Mekah dan Madinah.” (Al-Hawi lil Fatawi, hal. 194)

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami juga menyatakan hal yang sama di dalam kitab beliau Al-Fatawa Al-Fiqhiah Al-Kubra.

9. Hal ini dapat dikukuhkan dengan kenyataan Imam Ibnu Asakir yang menaqalkan kata-kata Imam Nasrullah ibn Muhammad A-Qawiy Al-Masyisyi:

توفي الفقيه نصر بن إبراهيم في يوم الثلاثاء التاسع من المحرم سنة تسعين وأربع مائة بدمشق وأقمنا على قبره سبع ليال نقرأ كل ليلة عشرين ختمة
“Telah meninggal Imam Al-Faqih Nasr ibnu Ibrahim pada hari Selasa 9 Muharam tahun 490H di Damsyiq. Kami telah melaksanakan di kuburnya selama 7 malam, membacakan al-Quran pada setiap malam 20 kali khatam.” (Tabyin Kazb Al-Muftari, hal.287)

10. Oleh yang demikian, tidak hairanlah para ulama kita tidak melarang mempraktikkan amalan yang mulia ini. Bahkan kata al-Muhadith Maulana Abdul Haq bin Saifuddin Al-Dehlawi:

والمستحب ان يتصدق عن الميت بعد ذهابه من الدنيا الى سبعة أيام والتصدق الى سبعة أيام ينتفع بلا خلاف بين أهل العلم
“Dan digalakkan untuk bersedekah bagi pihak si mati selepas kematiannya selama 7 hari. Dan sedekah selama 7 hari itu memberi manfaat kepada si mati tanpa khilaf dalam kalangan ulama” (Asy’ah Al-Lima’at, juz.1, hal.634)

(Dinuqil daripada buku Majlis Tahlilan Polemik Sepanjang Zaman pada hal.196-202)

Disediakan oleh: Hafiz Al-Za’farani (HAZA)
http://www.wasap.my/601132944090/

(https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1813213428751182&id=100001876275514)

31/03/2018 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

Rahsia Bertasbih Menggunakan Tasbih Kayu.

Rahsia Bertasbih Menggunakan Tasbih Kayu
Oleh: Syeikh Dr Ali Jumuah
Mantan Mufti Mesir
استحسن المشايخ أن يذكر الذاكر الذكر مع الكون ؛ لأن عقيدة المسلم أن ذلك الكون الذي حولنا يذكر ربنا ذكر حال،
Para Masyāyikh (syaikh-syaikh) menganggap baik (menggalakkan) agar berzikir si penzikir akan zikir beserta (dengan menggunakan) Al-Kaun (Alam/Makhluq) ; kerana ‘aqīdah Muslim, sesungguhnya Al-Kaun yang wujud disekililing kita itu berzikir (mengingati) Tuhan kita (Allāh) secara Zikir Ḥāl.
وأهل الله قد سمعوا الأشياء تُسبّح ذكر مقال،
Sesungguhnya (ada dikalangan) Para Ahlullāh (wali-wali Allāh) mereka telah mendengar alam/mahkhlūq itu berzikir secara maqāl (zikir dalam bentuk sebutan/lafaz).
سمعوها ويُميّزون تسبيح الخشب عن تسبيح الرخام عن تسبيح السجاد عن تسبيح الحديد.
Mereka telah mendengar alam/makhlūq itu (berzikir), dan mereka (telah dapat) membezakan (diantara) zikir tasbih kayu berbanding zikir tasbih batu marmar, berbanding zikir tasbih makhlūq yang hidup melata, berbanding zikir tasbīh besi.
ويدعون الله سبحانه وتعالى أن يغلق عنهم هذا، لأن تداخل ذلك التسبيح يتعبهم ويشغلهم،
Mereka memohon kepada Allāh Subḥānahu Wa Ta’ālā agar menutup (menghijab) daripada mereka (kurniaan karāmah dapat mendengar alam bertasbīḥ) ini, kerana banyaknya zikir itu (yang mereka dengari) memenatkan dan menyibukkan (jiwa) mereka.
فإذا انكشف لهم هذا فإنهم لا يُحبون أن يستديم، بل يدعوا الله سبحانه وتعالى بأن يُغلق عليهم ذلك الكشف الذي لا يستفيدون منه شيئًا إلا اليقين.
Kerana apabila telah tersingkap bagi mereka (segala kurniaan) ini, mereka tidak suka ianya berterusan, bahkan mereka memohon kepada Allāh Subḥānahu Wa Ta’ālā agar ditutup ke atas mereka kasyaf (singkapan) itu yang mereka tidak mendapat manfaat daripadanya sesuatu pun kecuali “Yaqīn”.
وصلوا إلى اليقين فلا حاجة لهم إذن في استمرار هذا السماع لأنه يشغل قلبهم عن الله سبحانه وتعالى.
(Apabila) mereka telah sampai kepada (darjat) “Yaqīn”, maka tidak berhajat (lagi) bagi mereka keizinan di dalam berterusan pendengaran (perkara ghaib) ini, kerana ianya menyibukkan hati mereka daripada Allāh Subḥānahu Wa Ta’ālā.
ولذلك تراهم يحبون أن يُسبِحوا بسبح من خلق الله مباشرةً من الزيتون، من الأبنوس، من اليُسر، من الكوك.
Oleh yang demikian, kamu akan melihat mereka suka bertasbih dengan menggunakan Tasbih (yang diperbuat) daripada makhlūq Allāh yang asli (bukan daripada bahan campuran) daripada Zaitūn, Abanūs, Yusr, dan Kūk (Koka).
والكوك نبات يخرج في أمريكا اللاتينية، وفي بعض الدول الحارة.
Koka adalah tumbuhan yang hidup di Amerika Latin (Amerika Selatan) dan pada sebahagian negara (beriklim) panas.
فيصنعون منه سبحًا وهكذا كانوا يحبون أن يذكروا بتلك الأخشاب والأحجار والثمار، الدوم، البأس.
Maka mereka membuat Tasbih daripada kayu itu, dan sedemikian mereka suka berzikir dengan (menggunakan) kayu-kayu, batu-batu, buah-buah, dan pohon itu.
لأنهم يتعاملون مع الكون والكون يذكر.
Kerana mereka (ingin) saling bermu’āmalah (berinteraksi) bersama Al-Kaun, dan Al-Kaun itu berzikir (mengingati Allāh).
الآن نرى بعضهم يأتي بالعداد الأوتوماتيكي ويجلس وكأنه في مباراة الكرة يذكر الله، في الصورة لا بأس.
Pada hari ini kita melihat sebahagian daripada mereka (orang ramai) (berzikir) dengan menggunakan pembilang automatik dan dia duduk (berzikir), dan seolah-olah dia (sedang) di dalam perlawanan bola berzikir kepada Allāh, pada gambaran zahir ianya (berzikir menggunakan alatan moden itu) tidak mengapa (harus).
أما في المعنى فقد ضيّع على نفسه أن يتسق مع الكون في ذكره لله، فهذه السُبحة تذكر الله معه.
Adapun pada makna (hakikatnya), sesungguhnya dia telah menghilangkan ke atas dirinya ikatan bersama makhluk di dalam zikirnya kepada Allāh, kerana Tasbih ini berzikir mengingati Allāh bersamanya.
وشاهدنا من أولياء الله الصالحين من يرى الذكر عليها. وكأن كل ذكر له لون، له إشعاع يعرف به أحدهم درجة أخيه، ويعرف مكانه، ويعرف من أين أتى.
Kita meyaksikan (ada) diantara Wali-Wali Allāh Yang Ṣāliḥ (dapat) melihat zikir itu ke atas Al-Kaun. Seumpama setiap zikir itu ada baginya warna, ada baginya aura yang mana diketahui dengannya seseorang daripada mereka itu akan darjat saudaranya, diketahui akan maqāmnya, dan diketahui dari mana dia datang.
العلامة الأستاذ الدكتور علي جمعة حفظه الله ورعاه.
Al-‘Allāmah Al-Ustādz Ad-Duktūr ‘Alī Jumu’ah حفظه الله .
(Mufti Negara Mesir)

24/03/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah | Leave a comment

MENGAPA KITA BERMAZHAB?

(Pengasuh Majelis Ilmu Dan Dzikir AR-RAUDHAH, Solo)

Soalan:
Kenapa kebanyakan umat Islam bermadzhab Syafie, Maliki, Hanafi atau Hambali, bukankah yang benar adalah yang mengikuti al Quran dan Sunnah (Hadith)? Kenapa tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?

Jawaban :
Satu pertanyaan yang menarik, mengapa kita harus bermadzhab? Mengapa kita tidak terus kembali kepada al Quran dan Sunnah saja?

Ayat “Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?” Seakan-akan menghakimi bahwa orang yang bermadzhab itu tidak kembali kepada al Quran dan Sunnah.

Penggunaan ayat “Mengapa kita tidak kembali kepada al Quran dan Sunnah saja” itu telah menyebabkan sebahagian orang memandang rendah dan remeh terhadap ijtihad dan keilmuan para ulama, terutama ulama terdahulu yang sangat terkenal kesolehan dan keluasan ilmunya.

Dengan menggunakan soalan “Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?” menunjukkan sekelompok orang sebenarnya sedang berusaha mengajak orang ramai, pendengar dan pembaca tulisannya untuk mengikuti cara dia berfikir, metodenya dalam memahami al Quran dan Sunnah serta menganggap bahwa dirinyalah yang paling alim dan benar, karena dia telah berpegang kepada AlQur’an dan Sunnah, bukan fatwa atau pendapat para ulama.

Hal semacam ini tentunya sangat berbahaya.

Sebenarnya sungguh aneh jika seseorang menyatakan agar kita tidak bermadzhab dan seharusnya kembali kepada al Quran dan Sunnah. Mengapa aneh? Cuba kita perhatikan. Apakah dengan mengikuti mana-mana madzhab bererti kita tidak mengikuti al Quran dan Sunnah?

Madzhab mana yang tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah? Justru para ulama yg mengemukakan madzhab tersebut adalah orang-orang yang sangat faham tentang al Quran dan Sunnah. Kita cabar dan sila jawab, hasil ijtihad yang mana dalam suatu madzhab, yang tidak kembali kepada al Qura dan Al Hadith?

Ternyata semua hasil ijtihad keempat madzhab yang terkemuka di dalam Islam semuanya bersumber kepada al Quran dan Hadith. Ertinya dengan bermadzhab kita sebenarnya sedang kembali kepada al Qur’an dan Hadith dengan cara yang benar, iaitu mengikuti ulama yang terkenal keluasan ilmu dan kesolehannya.

Akhir-akhir ini memang muncul sekelompok orang yang sangat fanatik dengan golongannya dan secara terancang berusaha mengajak umat Islam meninggalkan madzhab. Mereka seringkali berkata, “Kembalilah kepada al Quran dan Sunnah”.

Ajakan ini sepintas lalu nampak seperti benar, akan tetapi mempunyai racun yg sangat berbisa kerana secara tidak langsung mereka menggunakan ayat (propaganda) di atas untuk menjauhkan umat Islam dari meyakini pendapat para ulama muktabar yg terdahulu. Dalam masa yg sama mereka sedang memaksa agar kita semua hanya mengikuti pendapat guru mereka sahaja.

Kemudian perhatikan dengan lebih cermat lagi, apakah mereka yang menyatakan kembali kepada al Qur’an dan Sunnah itu adalah benar-benar kembali kepada al Quran dan Sunnah?
Sudah tentu tidak samasekali kerana mereka tidak lebih dari menyampaikan pendapat guru-guru mereka sahaja.

Pendeknya, mereka sendiri sedang membuat madzhab baru sesuai dengan pendapat guru-guru mereka yg masih hingusan.

Cuba bayangkan, andai saja setiap orang kembali kepada al Quran dan Sunnah secara langsung, tanpa bertanya kepada ulamak muktabar yg pakar dibidangnya, apa yang akan terjadi? Yang terjadi adalah setiap orang akan bebas menafsirkan al Quran dan Sunnah menurut akalnya sendiri dan cara fikirnya sendiri. Ini sangatlah berbahaya. Mereka seperti berjalan dalam kegelapan malam tanpa cahaya.

Oleh karena itu, kita wajar sekali bermadzhab, agar kita tidak salah memahami al Quran dan Sunnah. Kita sedar, tingkat keilmuan para ilmuan yang ada di masa ini tidaklah dapat menyamai tahap keilmuan dengan para ulama terdahulu, begitu juga dengan tingkat ibadah dan kesolehan mereka.

Jadi, siapakah ulamak yg menjadi pilihan anda?

(Oleh: Ustaz Novel Bin Muhammad Alaydrus)

(Petikan dari FB Ustaz Yunan A Samad)

23/03/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

MENJAWAB FITNAH MAZA – MUFTI PERLIS -MENGENAI ISU ZAKAT)

TERUK SANGATKAH PENTADBIRAN ZAKAT DI MALAYSIA INI?

Pengkajian saya berkenaan dengan zakat dan pentadbiran zakat di Malaysia sudah agak lama. Bermula dengan penulisan thesis master saya di Fakulti Darul Ulum, Universiti Kaherah, Mesir pada tahun 1998 (Alhamdulillah, saya mendapat pangkat mumtaz ma’a tawsiyat bi al-tab’ untuk thesis ini). Sejak itu pengkajian saya berkenaan dengan zakat berterusan, walaupun area kajian saya telah juga merangkumi bidang lain, termasuklah usul fiqh, qawa’id fiqhiyyah, perbankan dan kewangan Islam. Saya juga menyelia thesis para pelajar Ph D. Ramai yang dah siap, dan adalagi yang belum. Sekarang ini, saya masih ada satu lagi research berkenaan dengan zakat (ERGS bersama beberapa rakan-rakan) bertajuk: “Modelling Regulation of Zakat Administration in Malaysia: A Triangulation Study” yang masih tertangguh lantaran kesibukan yang pelbagai. Hakikatnya, kepada sesiapa yang melakukan penyelidikan berkenaan dengan zakat akan melihat berlaku perubahan yang amat ketara kepada pentadbiran zakat di Malaysia, sama ada dari sudut kutipan mahupun agihan. Bahkan, kepada mereka yang mengkritik keterlaluan, termasuk juga daripada agamawan, pada haikatnya, maklumat yang mereka ada adalah maklumat yang amat outdated dan tidak dikemaskinikan.
Umpamanya:

1-Isu ketelusan pengagihan dalam pengagihan. Kononnya tiada ketelusan. Pada hakikatnya laporan kewangan kebanyakan pusat zakat / majlis agama, boleh didapati dan di dalam dimuatkan detail berkenaan dengan kutipan dan bentuk pengagihan. Perlu di ingat bahawa pengagihan zakat di Malaysia dibahagikan kepada tiga bahagian, sama ada tamlik fardi, tamlik jama’i ataupun tamlik muassasi. Kena jelas perkara ini. Jagan main tuduh sahaja bahawa tiada ketelusan di dalam pengagihan dan kemudian memberikan persepsi yang buruk berkenaan dengan pengagihan zakat. Saya berharap para agamawan yang terlalu mengkritik dengan terlalu keras, bahkan kadang-kadang sehingga menampakkan seolah2 pusat zakat/ majlis agama menyalahgunakan duit zakat, termasuklah para mufti, bacalah laporan kewangan. Kalau tak pandai nak baca, minta tolong orang yang pandai untuk tolong bacakan. Jangan buat kritikan, sehingga orang yang tahu merasakan agamawan ini pada hakikatnya main tembak sahaja semata-mata nak cari populariti.
Saya tak nafikan, masih banyak perkara yang perlu dibaiki. Itu perkara biasa dalam kehidupan. Perubahan adalah sifat manusia, dan kita mahu semua perubahan ke arah yang lebih baik.

2-Isu cadangan agar pusat zakat / majlis agama mencari asnaf bukan hanya sekadar menunggu orang datang, seperti menubuhkan skuad asnaf dan sebagainya. Inipun bukan perkara baru. Banyak negeri dah adapun. Bahkan dalam pebagai bentuk agar kita dapat reach (sampai) kepada asnaf. Jadi ini bukanlah suatu cadangan baru. Betul, beberapa penambbaikan amatlah perlu, tetapi janganlah buat gambran seolah-olah pusat zakat / majlis agama ni hanya duduk kat office, tunggu asnaf datang aje.

3-Payah nak bagi zakat, kadangkala banyak investigasi dan soal jawab yang dibuat kepada asnaf. Agamawan yang komen sebegini, sebenarnya mungkin tak pernahpun berhadapan dengan asnaf dan segala potential tipu muslihat dalam hal ini. Perlu diingat, duit yang kita nak beri pada asnaf ni duit zakat, bukan duit kita. Kadangkala (bahkan banyak juga situasi ini), mereka yang minta duit zakat ni, tak layakpun terima zakat. Mereka hanya berlakon apabila nak terima zakat. Jadi investigasi amatlah perlu, agar kita tak beri zakat kepada orang yang tak layak. Pengalaman peribadi mengajar saya perkara ini. Saya harap sangat agar agamawan sebegini, agar faham hakikat dan realiti. Bukan hanya sekadar buat komen daripada bilik pejabat beraircond mereka semata-mata.

4-Pemberian zakat kepada asnaf fi sabilillah, hanya kepada mereka yang belajar agama, tidak kepada mereka yang belajar bidang-bidang lain seperti medic, engineering, economic dan lain-lain. Ehmmmm. Nampak sangat orang yang komen sebegini tak
mengikuti perkembangan dan tak tahu apa yang berlaku.
Hakikatnya, pemberian zakat di ba

19/03/2018 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Ibadah, Muamalat (Harta), Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

HURAIAN ILMIAH HUKUM PUASA REJAB : SUNNAH/ BID’AH?

HURAIAN ILMIAH HUKUM PUASA REJAB : SUNNAH/ BID’AH?
Oleh: Buya Yahya
(Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)

بسم الله الرحمن الرحيمالحمد لله رب العلمين. وبه نستعين على أمور الدنيا والدين. وصلى الله على سيدنا محمد وآله صحبه وسلم أجمعين. قال الله تعالى : إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم وقاتلوا المشركين كافة كما يقاتلونكم كافة واعلموا أن الله مع المتقين. الأية . وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى ‏ ‏محمد ‏وشر الأمور ‏ ‏محدثاتها ‏ ‏وكل بدعة ضلالة . أما بعد

PENDAHULUAN
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam membahas masalah puasa Rejab.

Pertama : Tidak ada riwayat yang benar dari Rosulullah SAW yang melarang puasa Rejab.

Kedua : Banyak riwayat-riwayat tentang keutamaan puasa Rejab yang tidak benar dan palsu.Dan di dalam masyarakat kita terdapat 2 kutub ekstrim.

Pertama: Adalah sekelompok kecil kaum muslimin yang menyuarakan dengan lantang bahwa puasa bulan Rejab adalah bid’ah.
Kedua: Sekelompok orang yang biasa melakukan atau menyeru puasa Rejab akan tetapi tidak menyedari telah membawa riwayat-riwayat tidak benar dan palsu.
Maka dalam risalah kecil ini kami ingin mencuba menghadirkan riwayat yang benar sekaligus pemahaman para ulama 4 madzhab tentang puasa di bulan Rejab.Sebenarnya masalah puasa rejab sudah dibahas tuntas oleh ulama-ulama terdahulu dengan jelas dan gamblang.

Akan tetapi kerana adanya kelompok kecil hamba-hamba Alloh yang biasa MENUDUH BID’AH ORANG LAIN menyuarakan dengan lantang bahwa amalan puasa di bulan Rejab adalah sesuatu yang bid’ah.
Dengan Risalah kecil ini mari kita lihat hujjah para ulama tentang puasa bulan Rejab dan mari kita juga lihat perbedaan para ulama di dalam menyikapi hukum puasa di bulan Rejab. Yang jelas bulan Rejab adalah termasuk bulan Haram yang 4 (Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rejab) dan bulan haram ini dimuliakan oleh Allah SWT sehingga tidak diperkenankan untuk berperang di dalamnya dan masih banyak keutamaan di dalam bulan-bulan haram tersebut khususnya bulan Rejab.
Dan di sini kami hanya akan membahas masalah puasa Rejab, untuk masalah yang lainnya seperti hukum merayakan Isro’ Mi’roj dan sholat malam di bulan rojab akan kami hadirkan pada risalah yang berbeda.Tidak kami pungkiri adanya hadits-hadits dho’if atau palsu (Maudhu’) yang sering dikemukakan oleh sebagian pendukung puasa Rejab.
Maka dari itu wajib bagi kami untuk menjelaskan agar jangan sampai ada yang membawa hadits-hadits palsu biarpun untuk kebaikan seperti memacu orang untuk beribadah hukumnya adalah HARAM dan DOSA BESAR sebagaimana ancaman Rosulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim :مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّءْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِArtinya : “Barang siapa sengaja berbohong atas namaku maka hendaknya mempersiapkan diri untuk menempati neraka”.
Dan perlu diketahui bahwa dengan banyaknya hadits-hadits palsu tentang keutamaan puasa Rejab itu bukan berarti tidak ada hadits yang benar yang membicarakan tentang keutamaannya bulan Rojab.
DALIL-DALIL TENTANG PUASA REJAB:
1. Dalil Tentang Puasa Rejab Secara Umum adalah untuk memperbanyak puasa kecuali di hari-hari yang diharamkan yang 5. Dan bulan Rejab adalah bukan termasuk hari-hari yang diharamkan. Dan juga anjuran-anjuran memperbanyak di hari-hari seperti puasa hari senin, puasa hari khamis, puasa hari-hari putih, puasa Daud dan lain-lain yang itu semua bisa dilakukan dan tetap dianjurkan walaupun di bulan Rejab.
Berikut ini adalah riwayat-riwayat tentang keutamaan puasa.
Hadits Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori No.5472:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ أَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامُ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ“
Semua amal anak adam (pahalanya) untuknya kecuali puasa maka aku langsung yang membalasnya”
Hadits Yang diriwayatkan oleh Imam Muslim No.1942:
لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Bau mulutnya orang yang berpuasa itu lebih wangi dari misik menurut Allah kelak di hari qiamat”
Yang dimaksud Allah akan membalasnya sendiri adalah pahala puasa tak terbatas hitungan tidak seperti pahala ibadah sholat jama’ah dengan 27 derajat. Atau ibadah lain yang satu kebaikan dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan.
Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori No.1063 dan Imam Muslim No.1969 :
إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَ يُفْطِرُ يَوْمًا
“Sesungguhnya paling utamanya puasa adalah puasa saudaraku Nabi Daud, beliau sehari puasa dan sehari buka”
2. Dalil-dalil Puasa Rejab Secara Khusus ialah Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim
أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ حَكِيْمٍ اْلأَنْصَارِيِّ قَالَ: ” سَأَلْتُ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبَ ؟ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِيْ رَجَبَ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يَصُوْمُ”
“Sesungguhnya Sayyidina Ustman Ibn Hakim Al-Anshori, berkata : “Aku bertanya kepada Sa’id Ibn Jubair tentang puasa di bulan Rejab dan ketika itu kami memang di bulan Rejab”, maka Sa’id menjawab: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata : “Nabi Muhammad SAW berpuasa (di bulan Rejab) hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka di bulan Rejab, dan beliau juga pernah berbuka di bulan Rojab, hingga kami katakan beliau tidak berpuasa di bulan Rejab.”
Dari riwayat tersebut di atas bisa dipahami bahwa Nabi SAW pernah berpuasa di bulan Rejab dengan utuh, dan Nabi pun pernah tidak berpuasa dengan utuh.
Ertinya di saat Nabi SAW meninggalkan puasa di bulan Rejab itu menunjukan bahwa puasa di bulan Rejab bukanlah sesuatu yang wajib. Begitulah yang difahami para ulama tentang amalan Nabi SAW, jika Nabi melakukan satu amalan kemudian Nabi meninggalkannya itu menunjukan amalan itu bukan suatu yang wajib, dan hukum mengamalkannya adalah sunnah.
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah
عَنْ مُجِيْبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيْهَا أَوْ عَمِّهَا أَنَّهُ : أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالَتُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَمَا تَعْرِفُنِيْ. قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيِّ الَّذِيْ جِئْتُكَ عَامَ اْلأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلاَّ بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ. ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِيْ فَإِنَّ بِيْ قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِيْ قَالَ صُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِيْ قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلاَثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا. رواه أبو داود
2/322“Dari Mujibah Al-Bahiliah dari ayahnya atau pamannya sesungguhnya ia (ayah atau paman) datang kepada Rosulullah SAW kemudian berpisah dan kemudian datang lagi kepada Rosulullah setelah setahun dalam keadaan tubuh yang berubah (kurus), dia berkata : Yaa Rosulullah apakah engkau tidak mengenalku? Rosulullah SAW menjawab : Siapa Engkau? Dia pun berkata : Aku Al-Bahili yang pernah menemuimu setahun yang lalu. Rosulullah SAW bertanya : Apa yang membuatmu berubah sedangkan dulu keadaanmu baik-baik saja (segar-bugar), Ia menjawab : Aku tidak makan kecuali pada malam hari (yakni berpuasa) semenjak berpisah denganmu, maka Rosulullah SAW bersabda : Mengapa engkau menyiksa dirimu, berpuasalah di bulan sabar dan sehari di setiap bulan, lalu ia berkata : Tambah lagi (yaa Rosulullah) sesungguhnya aku masih kuat. Rosulullah SAW berkata : Berpuasalah 2 hari (setiap bulan), dia pun berkata : Tambah lagi ya Rosulullah. Rosulullah SAW berkata : berpuasalah 3 hari (setiap bulan), ia pun berkata: Tambah lagi (Yaa Rosulullah), Rosulullah SAW bersabda : Jika engkau menghendaki berpuasalah engkau di bulan-bulan haram (Rojab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharrom) dan jika engkau menghendaki maka tinggalkanlah, beliau mengatakan hal itu tiga kali sambil menggenggam 3 jarinya kemudian membukanya.”
Imam nawawi menjelaskan hadits tersebut.
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ” إنما أمره بالترك ; لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث . فأما من لم يشق عليه فصوم جميعها فضيلة . المجموع 6/439 “
Sabda Rosulullah SAW :
صم من الحرم واترك
“Berpuasalah di bulan haram kemudian tinggalkanlah”
Sesungguhnya Nabi SAW memerintahkan berbuka kepada orang tersebut karena dipandang puasa terus-menerus akan memberatkannya dan menjadikan fisiknya berubah.
Adapun bagi orang yang tidak merasa berat untuk melakukan puasa, maka berpuasa dibulan Rojab seutuhnya adalah sebuah keutamaan. “Majmu’ Syarh Muhadzdzab juz 6 hal. 439
Hadits riwayat Usamah Bin Zaid
قال قلت : يا رسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر غفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم. رواه النسائي 4/201
“Aku berkata kepada Rosulullah : Yaa Rosulullah aku tidak pernah melihatmu berpuasa sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban. Rosulullah SAW menjawab : Bulan sya’ban itu adalah bulan yang dilalaikan di antara bulan Rojab dan Ramadhan, dan bulan sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah SWT dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaaan aku berpuasa”. HR. Imam An-Nasa’I Juz 4 Hal. 201.
Imam Syaukani menjelaskan
ظاهر قوله في حديث أسامة : إن شعبان شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان أنه يستحب صوم رجب ; لأن الظاهر أن المراد أنهم يغفلون عن تعظيم شعبان بالصوم كما يعظمون رمضان ورجبا به . نيل الأوطار 4/291
Secara tersurat yang bisa dipahami dari hadits yang diriwayatkan oleh Usamah, Rosulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia di antara Rejab dan Ramadhan” ini menunjukkan bahwa puasa Rejab adalah sunnah sebab bisa difahami dengan jelas dari sabda Nabi SAW bahwa mereka lalai dari mengagungkan sya’ban dengan berpuasa karena mereka sibuk mengagungkan ramadhan dan Rojab dengan berpuasa”. Naylul Author juz 4 hal 291
KOMENTAR PARA ULAMA TENTANG PUASA REJAB
Dalam menyikapi tentang puasa dibulan Rejab pendapat ulama terbagi menjadi 2, akan tetapi 2 pendapat ini tidak sekeras yang kita temukan di lapangan pada saat ini yaitu dengan membi’dahkan dan memfasiqkan para pelaku puasa Rejab.
Jumhur Ulama dari Madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan riwayat dari Imam Ahmad Bin Hanbal mereka mengatakan bahwasannya disunnahkan puasa di bulan Rejab semuanya dan juga ada riwayat lain dari Imam Ahmad Bin Hanbal bahwasannya makruh mengkhususkan melakukan puasa sebulan penuh di bulan Rejab.
Akan tetapi di dalam Madzhab Imam Ahmad Bin Hanbal dijelaskan bahwasannya kemakruhan ini akan hilang dengan 4 hal :
1) Dibolong (berbuka) 1 hari di bulan Rejab, atau
2) Disambung dengan puasa di bulan sebelum Rejab, atau
3) Disambung dengan puasa di bulan setelah Rejab
4) Dengan puasa di hari apapun di selain bulan rejab.
Mungkin ada yang mendengar dari salah satu stasiun radio atau selebaran yang dibagi-bagi yang mengatakan bahwasannya “Puasa Rejab adalah Bid’ah Dholalah” dengan membawa Riwayat dari Nabi SAW yang melarang puasa Rojab atau riwayat dari Sayyidina Umar Bin Khottob yang mengatakan “Kami akan memukul orang yang melakukan puasa di bulan Rojab”.
Padahal riwayat tersebut adalah tidak benar dan palsu dan sungguh sangat aneh orang yang membid’ahkan puasa bulan Rejab dengan tuduhan riwayat puasa Rejab adalah hadits-haditsnya palsu akan tetapi mereka sendiri tidak sadar bahwa justru riwayat yang melarang puasa bulan Rejab adalah palsu.
Secara singkat para ulama empat madzhab tidak ada yang mengatakan puasa bulan rejab adalah bid’ah. Bahkan mereka sepakat kalau puasa bulan rojab adalah sunnah termasuk dalam madzhab Imam Ahmad bin Hambal.
Berikut ini uraian ulama empat tentang puasa rejab:
1. Pendapat Ulama’ Madzhab Hanafi·
Disebutkan dalam Fatawa Al-Hindiyah Juz 1 Hal. 202 :
)المرغوبات من الصيام أنواع ( أولها صوم المحرم والثاني صوم رجب والثالث صوم شعبان وصوم عاشوراء ). اهـ
“Puasa yang disunnakahkan itu bermacam-macam: Puasa Muharrom, Puasa Rejab, Puasa Sya’ban, Puasa ‘Asyuro’ (tgl. 10 Muharrom)”
2. Pendapat dari Ulama’ Madzhab Maliki·
Disebutkan dalam Syarh Al-Khorsyi ‘Ala Kholil Juz 2 Hal. 241:
أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم , ورجب وهو الشهر الفرد عن الأشهر الحرم ). اهـ
“Sesungguhnya disunnahkan puasa di bulan Muharrom dan puasa di bulan Rejab.”
· Disebutkan dalam Hasyiah dari Syarh Al-Khorsyi ‘Ala Kholil :
بل يندب صوم بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذو القعدة فالحجة ). اهـ
“Disunnahkan puasa di bulan-bulan haram yang 4, paling utamanya adalah puasa di bulan Muharrom kemudian Rejab, Duzl Qo’dah dan Dzul Hijjah”.
· Disebutkan dalam Muqoddimah Ibnu Abi Zaid serta syarah Lil Fawaakih Al-Dawani juz 2 hal. 272 :
التنفل بالصوم مرغب فيه وكذلك , صوم يوم عاشوراء ورجب وشعبان ويوم عرفة والتروية وصوم يوم عرفة لغير الحاج أفضل منه للحاج. اهـ
“Melakukan puasa disunnahkan begitu juga puasa dihari ‘Asyuro’, bulan Rejab, bulan Sya’ban, Hari ‘Arafah dan Tarwiyah sedangkan puasa di hari ‘Arafah itu lebih utama bagi orang yang tidak haji”.
· Disebutkan dalam Syarh Ad-Dardir, syarah Muhtashor Kholil juz 1 hal. 513 :
وندب صوم المحرم ورجب وشعبان وكذا بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذوالقعدة والحجة). اهـ
“Dan disunnahkan puasa Muharrom, Rejab, Sya’ban begitu juga bulan-bulan haram lainnya yang 4 dan paling utamanya adalah puasa Muharrom kemudian Rojab, Duzl Qo’dah dan Dzul Hijjah”.
· Disebutkan dalam At-Taj Wa Al-Iklil juz 3 hal. 220 :
والمحرم ورجب وشعبان لو قال والمحرم وشعبان لوافق المنصوص . نقل ابن يونس : خص الله الأشهر الحرم وفضّلها وهي : المحرم ورجب وذو القعدة وذو الحجة . اهـ
“Dan disunnahkan Puasa Muharrom, Rejab dan Sya’ban, andaikan beliau berkata “Puasa Muharrom dan Sya’ban disunnahkan maka akan mencocoki Nashnya”. Dinukil dari Ibnu Yunus bahwasannya “Allah SWT mengkhususkan bulan-bulan haram dan mengutamakannya yaitu : Muharrom dan Rojab, Dzul Qo’dah dan Dzul Hijjah.”
3. Pendapat dari Ulama’ Madzhab Syafi’i
· Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Al-Majmu’ (Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab) juz 6 hal. 439 :
قال أصحابنا : ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم , وهي ذوالقعدة وذوالحجة والمحرم ورجب , وأفضلها المحرم. اهـ
“Berkata Ulama’ kami : Dan dari puasa yang disunnahkan adalah puasa bulan-bulan haram yaitu Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rojab sedangkan yang paling utama adalah Muharrom”.
· Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshori menyebutkan dalam Asna Al-Mathollib juz 1 hal. 433 :)
وأفضل الأشهر للصوم( بعد رمضان الأشهر( الحرم ( ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب )وأفضلها المحرم( لخبر مسلم * أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ( ثم اقيها) وظاهره استواء البقية والظاهر تقديم رجب خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ). اهـ
““Paling utamanya bulan-bulan untuk puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan-bulan Haram yaitu Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rojab sedangkan paling Utamanya adalah Muharrom berdasarkan riwayat dari Imam Muslim “Paling utamanya puasa setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharrom kemudian bulan haram yang lainnya. Secara dhohir keutamaan diantara bulan haram yang lainnya itu sama (selain Muharrom). Dan secara dhohir mendahulukan keutamaan Rojab agar keluar dari Khilafnya ulama yang mengunggulkannya melebihi bulan-bulan Haram”
Imam Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fatawa-nya juz 2 hal. 53 :
… وأما استمرار هذا الفقيه على نهي الناس عن صوم رجب فهو جهل منه وجزاف على هذه لشريعة المطهرة فإن لم يرجع عن ذلك وإلا وجب على حكام الشريعة المطهرة زجره وتعزيره التعزير البليغ المانع له ولأمثاله من المجازفة في دين الله تعالى ويوافقه إفتاء العز بن عبد السلام إنه سئل عما نقل عن بعض المحدثين من منع صوم رجب وتعظيم حرمته وهل يصح نذر صوم جميعه فقال في جوابه : نذر صومه صحيح لازم يتقرب إلى الله تعالى بمثله والذي نهى عن صومه جاهل بمأخذ أحكام الشرع وكيف يكون منهيا عنه مع أن العلماء الذين دونوا الشريعة لم يذكر أحد منهم اندراجه فيما يكره صومه بل يكون صومه قربة إلى الله تعالى. اهـ
““Orang yang melarang puasa Rojab maka itu adalah kebodohan dan ketidak tahuan terhadap hukum syariat. Apabila ia tidak menarik ucapannya itu maka wajib bagi hakim atau penegak hukum untuk menghukumnya dengan hukuman yang keras yang dapat mencegahnya dan mencegah orang semisalnya yang merusak agama Allah SWT. Sependapat dengan ini ‘Izzuddin Abdusssalam, sesungguhnya beliau ditanya dari apa yang dinukil dari sebagian Ahli Hadits tentang larangan puasa Rojab dan pengharamannya, dan apakah sah orang yang bernadzar puasa Rojab sebulan penuh maka beliau menjawab “Nadzar puasa Rojab itu sah dan bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun larangan puasa Rojab itu adalah pendapat orang yang bodoh akan pengambilan hukum-hukum syariat. Bagaimana bisa dilarang sedangkan para Ulama’ yang dekat dengan syariat tidak ada yang menyebutkan tentang dimakruhkannya puasa Rojab bahkan dikatakan puasa Rojab adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT (sunnah)”.· Disebutkan dalam Mughni Al-Muhtaj juz 2 hal. 187 :
أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم , وأفضلها المحرم لخبر مسلم* أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ثم رجب , خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ثم باقيها ثم شعبان ). اهـ
““Paling utamanya bulan-bulan untuk melakukan puasa setelah Ramadhan adalan bulan-bulan haram, sedangkan paling utamanya adalah Muharrom berdasarkan Hadits riwayat Imam Muslim “Paling utamanya puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah Muharrom” kemudian Rojab agar keluar dari Khilaf tentang keutamaan Rojab terhadap bulan-bulan haram lainnya kemudian Sya’ban”.
· Disebutkan dalam Nihayah Al-Muhtaj juz 3 hal. 211 :
اعلم أن أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم وأفضلها المحرم ثم رجب خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ثم باقيها وظاهره الاستواء ثم شعبان (. اهـ
““Ketahuilah sesungguhnya paling utamanya bulan-bulan untuk melakukan puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan-bulan Haram. Sedangkan paling utamanya adalah Muharrom kemudian Rojab agar keluar dari Khilaf tentang keutamaannya atas bulan-bulan Haram yang lainnya, yang jelas keutamaannya sama dengan bulan-bulan haram yang lainnya kemudian Sya’ban”.
Pendapat dari Ulama’ Madzhab Hanbali
· Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Al-Mughni juz 3 hal. 53 :
فصل : ويكره إفراد رجب بالصوم . قال أحمد : وإن صامه رجل , أفطر فيه يوما أو أياما , بقدر ما لا يصومه كله … قال أحمد : من كان يصوم السنة صامه , وإلا فلا يصومه متواليا , يفطر فيه ولا يشبهه برمضان ). اهـ
““Fasal : Dan dimakruhkan mengkhususkan Rojab dengan puasa, Imam Ahmad berkata “Apabila seseorang berpuasa bulan Rojab maka berbukalah sehari atau beberapa hari sekiranya ia tidak puasa sebulan penuh, Imam Ahmad berkata “Barangsiapa terbiasa puasa setahun maka boleh berpuasa sebulan penuh kalau tidak biasa puasa setahun janganlah berpuasa terus-menerus dan jika ingin puasa rojab sebulan penuh hendaknya ia berbuka di bulan Rojab (biarpun sehari) agar tidak menyerupai Ramadhan”.
Dari keterangan tersebut sangat jelas bahwa Imam Ahmad tidak membidahkan puasa rojab.· Disebutkan dalam Al-Furu’ Karya Ibn Muflih juz 3 hal. 118 :
فصل : يكره إفراد رجب بالصوم نقل ابن حنبل : يكره , ورواه عن عمر وابنه وأبي بكرة , قال أحمد : يروى فيه عن عمر أنه كان يضرب على صومه , وابن عباس قال : يصومه إلا يوما أو أياما. وتزول الكراهة بالفطر أو بصوم شهر آخر من السنة . اهـ
““Fasal : Dimakruhkan mengkhususkan Rojab dengan berpuasa berdasarkan apa yang dinukil dari Imam Ahmad Bin Hanbal dan diriwayatkan oleh Umar dan puteranya dan Abi bakrah. Imam Ahmad berkata “Diriwayatkan dari Sayyidina Umar Ra sesungguhnya beliau memukul orang yang berpuasa Rojab, dan berkata Ibnu Abbas “Hendaknya berpuasa Rojab dengan berbuka sehari atau beberapa hari”. Dan kemakruhan puasa bulan rojab akan hilang dengan berbuka (walaupun sehari) atau dengan berpuasa di bulan lain selain bulan rojab.
KESIMPULAN
Dari penjelasan dari ulama empat madzhab sangat jelas bahwa puasa bulan rojab adalah sunnah hanya menurut madzhab Imam Ahmad saja yang makruh. Dan ternyata kemakruhan puasa Rojab menurut madzhab Imam Hanbali itu pun jika dilakukan sebulan penuh. Adapun kalau berbuka satu hari saja atau di sambung dengan sehari sebelumnya atau sesudahnya. Atau dengan melakukan puasa di dselain bulan rojab maka kemakruhannya akan hilang . Dan mereka tidak mengatakan puasa rojab bid’ah sebagaimana yang marak akhir-akhir ini disuarakan oleh kelompok orang dengan menyebar selebaran, siaran radio atau internet.
_Wallohu a ‘lam bishshowab._

19/03/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Salah Faham Terhadap Keistimewaan Rejab.

Oleh: Ustaz Zamihan Mat Zin al-Ghari

Pen Pengarah Institut Latihan Islam Malaysia (ILIM), JAKIM

Pendahuluan
Rejab semakin melabuhkan tirainya. Namun, kita masih berperang mencari hakikatnya.
Antara benar dan salah.. sahih dan palsu menjadi pertikaian. Zaman kita kekadang yang benar dianggap salah. Dan yang salah dianggap benar. Amat kejam sekali. Zaman ini persis wanita yang mengandung. Lihatlah apa yang berlaku padanya dalam sekelip mata. Lebih-lebih lagi apabila penguasaan ilmu dan iman semakin tidak dipedulikan manusia.

Sehinggakan ada pihak yang menggelarkan diri mereka sebagai sarjana cuba menakut-nakutkan umat Islam dari melakukan amalan di bulan rejab. Alasannya, hadis yang berkaitan dengan kelebihan bulan rejab adalah palsu. Sedangkan kepalsuan yang didakwa hanya berdasarkan kepada pendapat satu riwayat hadis dan pandangan seorang ulamak sahaja. Iaitu Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Soalnya, apakah pandangan ini mewakili dunia kesarjanaan Islam keseluruhannya?

Ada pula yang sengaja mendatangkan dalil-dalil yang berat sebelah bagi mengikis keistimewaan bulan rejab. Bahkan melarang umat Islam melakukan amalan mendekatkan diri kepada Allah dengan tuduhan hadis berkenaan semuanya palsu, taksub pahala dan sebagainya. Ayuh, bukalah sedikit ufuk minda kita untuk menemui hakikatnya.

Bandingkan definisi, tafsiran dan keistimewaan rejab yang dikemukakan ini dengan dakwaan golongan yang menentangnya. Penulis menghidangkan hakikat Rejab dan keistimewaanaya menerusi kitab al-Ghunyah li thalib Thariq al-Haq karangan Syeikh Abd Qader al-Jaylani. Beliau merupakan Sultan para Wali dan terkenal sebagai seorang ulamak yang menghimpunkan ilmu zahir dan batin. Beliau juga terkenal dengan pakar hadis di zamannya. Keilmuan dan keimaman beliau turut diperakui sendiri oleh Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim al-Jauziyah dan seluruh cendikiawan Islam.

Pendekatan
Dalam memahami selok-belok rejab kita perlu cermat membuat penilaian terhadap sumber-sumber yang berkaitan dengannya. Tegasnya, Al-Qur’an, al-Hadis, pandangan ulamak muktabar dan fatwa berkaitan perlu dipersembahkan secara jujur dan telus. Ia boleh membantu kita dalam memahami kes berkaitan dan memberi justifikasi yang jelas dalam pelaksanaan. Paling tuntas, kita tidak mencemuh dan menuduh mereka yang ikhlas melakukan kebaikan.

Apabila kita meneliti kepelbagaian sumber yang ada ditangan para ulamak, didapati rejab ada keistimewaannya yang tersendiri. Maka tidak hairanlah intisari (matan) hadis “Rejab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan ramadhan bulan umatku..” disokong oleh ramai para ulamak muktabar.

Antaranya, Imam Hibbatullah bin Mubarak. Beliau meriwayatkan keistimewaan rejab berdasarkan sanad-sanadnya yang jelas sebagaimana yang direkodkan oleh Syeikh Abd Qader al-Jaylani di dalam al-Ghunyah. Oleh, amat baik jika diperhatikan siapa beliau dan bagaimana qualiti sanad-sanad yang diriwayatkannya.

Tambahan pula, matan hadis : “Rejab bulan Allah, Sya’aban bulanku, ramadhan bulan umatku…” tidak bertentangan dengan nas al-Qur’an. Sebaliknya selari dengan perisytiharan Allah SWT pada surah al-Taubah ayat 36 tentang empat bulan haram yang dimaksudkan : Rejab, Zulqaedah, Zulhijjah dan Muharam.

Imam al-Qurtubi di dalam tafsirnya menyifatkan Nabi SAW sendiri pernah menegaskan bahawa rejab itu adalah bulan Allah. Iaitu bulan Ahlullah. Dan dikatakan penduduk (mukmin) Tanah Haram itu Ahlullah kerana Allah yang memelihara dan memberi kekuatan kepada mereka.” (al-Qurtubi, Jami’ Ahkam al-Qur’an, hlm 326 juz 6)

Imam Abu Daud pula membawa intisari hadis yang menampakkan kesaksian yang jelas tentang lafaz “Sya’ban bulanku”. Buktinya beliau meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Qais dari Aisyah berbunyi : “Bulan yang paling disukai Rasulullah SAW ialah berpuasa di bulan Sya’aban. Kemudian Baginda menyambung puasanya hingga ke Ramadhan.”(Sulaiman bin al-Asy’at al-Sijistani, Sunan Abu Daud, t.th, Dar al-Fikr : Beirut , hlm 323 juz 2)

Imam al-Thabrani pula meriwayatkan dari Anas bin Malik RA bahawa apabila tibanya bulan rejab, Baginda mendoakan : “Ya Allah, berkatilah hidup kami di bulan rejab dan Sya’aban dan sampaikan (hayat) kami kepada bulan ramadhan.”(al-Thabrani, Mu’jam al-Ausath, 1415H, Dar al-Haramain : Qaherah, hlm 189 juz 4, no hadis : 3939)

Hadis ini turut dipersetujui Imam Ahmad di dalam Musnadnya m/s 259 juz 1, hadis bernombor 2346.

Imam al-Thabrani juga meriwayatakan dari Abu Hurairah RA bahawa Nabi SAW tidak menyempurnakan puasa sebulan selepas berlalunya ramadhan kecuali pada rejab dan Sya’ban.” (ibid, hlm 161 juz 9 no hadis : 9422)

Jika sanad yang dibicarakan oleh Ibn Qayyim itu bermasalah dengan periwayatan Ibn Jahdam. Ianya tidak menggugurkan nilai keistimewaan rejab sama sekali. Ini kerana masih terdapat beberapa sanad yang lain menjelaskan kelebihan bulan rejab.

Al-Hafiz al-Haitsami di dalam Majma’ al-Zawa’id turut meriwayatkan tentang kelebihan bulan rejab. Walaupun dengan sanad-sanad yang dhaif, namun ia sudah memadai untuk menepati spesifikasi kelebihan untuk beramal dan meningkatkan hemah diri. Hal ini jelas sebagaimana yang diakui oleh para fuqaha’ dan ahli hadis menerusi kenyataan Imam al-Nawawi di dalam kitab al-Arba’ien.

Lebih kukuh, Imam Muslim meriwayatkan dari Uthman bin Hakim al-Ansari beliau (Uthman) pernah menanyakan Said bin Jubayr RA tentang puasa rejab (pada bulan rejab). Said menjawab : “Aku mendengar Ibn Abbas RA mengatakan : “Rasulullah SAW berpuasa rejab sehingga kami menyangka Baginda tidak berbuka (terus-menerus berpuasa) dan Baginda berbuka sehingga tidak nampak berpuasa.”(Muslim bin Hajjaj, Sahih Muslim,t.th, Dar Ihya Thuras al-Arabi : Beirut , hlm 811 juz 2)

Imam al-Nawawi mengatakan : “Apa yang zahir dari ucapan Sa’id bin Jubayr itu menjadi bukti bahawa tiada tegahan untuk berpuasa padanya (rejab) kerana (semata) bulan berkenaan. Bahkan kedudukannya sama mengikut baki bulan Islam yang lain. Dan tidak ada larangan (yang tsabit) untuk melakukan ibadat puasa di bulan rejab, tidak pula disunatkan kerana bulannya. Tetapi apa yang disunatkan ialah kerana kesunahan puasa tersebut.”(al-Nawawi, Syarh al-Nawawi ala Sahih Muslim, 1392, Dar Ihya’ Thuras al-Arabi : Beirut , hlm 38 juz 8)

Imam Abu Thayyib al-Azhim juga mengatakan : “Di dalam Sunan Abi Daud direkodkan bahawa Nabi SAW menggalakkan kita untuk berpuasa di bulan-bulan yang haram. Dan rejab adalah salah satu darinya.”( Abu Thayyib al-‘Azhim, Aun al-Ma’bud bi Syarh Sunan Abi Daud, 1415H, Cetakan Kedua, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Beirut , hlm 60 juz 7)

Al-Hakim pula meriwayatkan dari Nubaisyah RA : “Seorang lelaki menanyakan Nabi SAW, wahai Rasulullah! Kami memberi persembahan (kepada berhala) di zaman jahiliyah. Maka apa pula yang harus dilakukan di bulan rejab ini. Baginda menjawab : “Sembelihlah binatang ternakan kerana Allah di mana-mana bulan sekalipun. Lakukanlah kebaikan kerana Allah dan berilah makanan.” Imam Al-Hakim mengatakan : “Isnad hadis ini adalah sahih tetapi tidak dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim menerusi kitab Sahih mereka berdua.”(Abu Abdillah al-Hakim, al-Mustadrak ala Sahihain, 1990, Cetakan pertama, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Beirut, hlm 263 juz 4)

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam al-Syafi’ie berbunyi : “Telah samapai kepada kami bahawa al-Syafi’ie mengatakan : “Sesungguhnya doa itu mustajab pada lima malam : malam jumaat, malam aidil adha, malam adil fitri, malam pertama bulan rejab dan malam nisfu Sya’ban.”(al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, 1994, Maktabah Dar al-Baz : Makkah al-Mukarramah, hlm 319 juz 3)

Di dalam Syuab al-Iman, Imam al-Baihaqi meriwayatkan lagi tentang keistimewaan bulan rejab. Hadis itu berbunyi : Allah telah memilih bulan rejab. Rejab adalah bulan Allah. Barangsiapa yang memuliakan bulan Allah sesungguhnya dia telah memuliakan perintah Allah. Barangsiapa yang memuliakan perintah Allah sesungguhnya dia akan dimasukkan ke syurga al-Naim..”(al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, 1410H, Cetakan pertama, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Beirut , hlm 374 juz 3, no hadis 3814). Lihat juga hadis bernombor 3812 sebagai sokongan terhadap keistimewaan bulan rejab pada malam harinya.

Adapun hadis yang menunjukkan Nabi SAW melarang umatnya berpuasa di bulan rejab bukanlah satu larangan yang bersifat mutlak. Bahkan bertentangan dengan anjuran berpuasa sunat dalam Islam. Tambahan pula, hadis tersebut diriwayatkan oleh Daud bin ‘Atha al-Madani. Beliau merupakan perawi hadis yang dhaif. Para ulamak bersepakat mendhaifkan periwayatannya termasuk Imam Ibn Jauziy menerusi kitabnya al-‘Ilal al-Mutanahiyah (Ahmad bin Abu Bakar al-Kinani, Misbah al-Zujajah, 1403H, Dar al-‘Arbiah : Beirut , hlm 78 juz 2)

Imam al-Zahabi memperakui hadis berkenaan pauasa rejab sebagai hadis yang marfuk. Hadis itu berbunyi : “Barangsiapa yang berpuasa satu hari dalam bulan rejab Allah SWT akan menulis baginya pahala puasa bagaikan setahun. Dan barangsiapa yang berpuasa dua hari dalam bulan rejab Allah SWT akan menulis baginya pahala puasa bagaikan dua tahun.” (al-Zahabi, Mizal al-I’tidal Fi Naqd al-Rijal, 1995, Cetakan Pertama, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Beirut , hlm 417 juz 4)

Selain itu, al-Zahabi juga membawakan sanad yang mursal daripada Uthman bin Mathar, daripada Abd Ghafur bin Abd Aziz dari ayahnya tentang kelebihan berpuasa sehari dalam bulan rejab. (Ibid, hlm 70 juz 5 no hadis : 5570)

Tetapi beliau juga membawakan hadis palsu tentang puasa rejab yang berbunyi : “Barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan rejab Allah kurniakan pahala baginya bagaikan berpuasa seribu tahun.” Imam al-Zahabi mengatakan : “Aku tidak mengetahui siapa (sebenarnya) yang mereka cipta hadis ini.” (ibid, hlm 197 juz 5 no hadis : 5973)

Imam Ibn Hajar al-Asaqalani juga membentangkan pertikaian ulamak terhadap hadis kelebihan tentang puasa rejab yang bersumberkan riwayat Abd Malik bin Harun bin ‘Antarah. Katanya : “Darulquthni memandang Abd Malik dan ayahnya (Harun) sebagai dhaif. Begitu juga dengan Imam Ahmad. Tetapi Yahya (Ibn Ma’in) menghukumnya sebagai pendusta. Abu Hatim menghukumnya sebagai matruk (ditinggalkan) hadisnya. Ibn Hibban menganggap dia sebagai pereka hadis…”(Ibn Hajar al-Asqalani, Lisan al-Mizan, 1986, Cetakan ke-3, Muassasah al-A’lami : Beirut, hlm 71-72 juz 4 no ind: 213)

Imam al-Munawi ketika membawakan hadis kelebihan puasa rejab yang panjang menasihati kita dengan katanya : “Hadis-hadis ini terhadis apa yang ditemukan oleh Ibn Hajar al-Asqalani, al-Sakhawi dan saya sendiri. Kebanyakkan dhaif. Barangsiapa yang ingin menghentikan perbincangannya dia boleh menilai pandangan ulamak (yang berkaitan dengannya). Barangsiapa yang ingin meneliti periwayatannya (telusurilah) rujuklah kepada pengarang yang berkaitan.” (al-Munawi, Fayd al-Qader, 1356H, Cetakan Pertama, Maktabah al-Tijariyah al-Kubra : Mesir, hlm 90 juz 4)

Perawi yang dipertikaikan
Adapun berkenaan dengan Ibn Jahdham, pengkritik periwatannya tidak memperincikan siapa sebenarnya Ibn Jahdam yang dimaksudkan Ibn Qayyim al-Jauziyah. Kitab-kitab biografi mencatatkan kepada kita beberapa nama Ibn Jahdham. Antaranya : Muhammad bin Jahdham, Jahdham bin Abdullah, Abu Muadz Jahdham bin Abd Rahman, Ubaidillah bin Jahdham dan Abu Hassan Ali bin Abdullah bin al-Hassan al-Hamazani.

Penjelasan Perawi
Imam Ibn Hibban meriwayatkan lima hadis dari Muhammad bin Jahdham yang dimaksudkan penulis.( Ibn Hibban, Sahih Ibn Hibban, hlm 443 juz 2, hlm 582 juz 4, hlm 194 juz 7, hlm 96 juz 8, hlm 193 juz 11)

Manakala al-Hakim meriwayatkan empat hadis di dalam kitab Mustadraknya daripada Muhammad bin Jahdham dan satu hadis lagi bersumberkan Jahdham bin Abdullah al-Qaisiy. (al-Hakim, al-Mustadrak ala sahihain, hlm 573 juz 4)

Imam Abu Daud meriwayatkan satu hadis dari Muhammad bin Jahdham berkenaan dengan zakat fitrah. Kenyataan boleh dirujuk paha hadis yang bernombor 1612 melalui Sunannya. (Abu Daud, Sunan Abu Daud, t.th, Dar al-Fikr : Beirut , hlm 112 juz 2)

Imam al-Tirmidzi meriwayatkan pula meriwayatkan dua hadis dari Jahdham bin Abdullah menerusi Sunannya. Perhatikanlah hadis bernombor 1563 dan 3235 di dalam Sunannya (al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, t.thn, Dar Ihya’ Thuras al-Arabiy : Beirut , hlm 132 juz 4 dan hlm 368 juz 5)

Imam al-Baihaqi turut meriwayatkan hadis daripada Jahdham bin Abdullah bin Badr menerusi Sunan al-Kubra. Rujuklah hadis bernombor 12327 sebagai pemerincian. (al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, 1994, Maktabah Dar al-Baz, hlm 265 juz 6)

Selain itu, Muhammad bin Jahdham dan Jahdam bin Abdullah juga merupakan perawi yang disenaraikan dalam rangkaian sanad-sanad Imam Ibn Majah, Imam AbdRazzaq, Imam Abu Ja’far al-Thahawi, Imam Ahmad, al-Thabrani dan lain-lain.

Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan Muhammad bin Jahdham merupakan orang suruhan Ibn Umar yang tsiqah. Dan beliau perawi al-Bukhari tetang zakat fitrah.(Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, 1379, Dar al-Makrifah : Beirut , hlm 368 juz 3)

Manakala, di dalam kitab al-Kuna wa al-Asma, pengarangnya membawakan biografi Abu Muadz Jahdham bin Abd Rahman. Beliau seorang perawi yang meriwayatkan dari Ikrimah. Dan Muhammad bin Yazid dan Ubbad bin Awwam mengambil hadis darinya.(Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi, al-Kuna wa al-Asma, 1404H, Matbaah Jamiah Islamiyah Madinah al-Munawwarah, hlm 775 juz 1)

Di dalam kitab al-Muntaqa fi sard al-Kuna diperjelaskan pula tentang Ubaidillah bin Jahdham yang meriwayatkan dari Qadhi Syuraih. Periwayatannya diambil pula oleh Jarir bin Hazm.(al-Zahabi, al-Muntaqa fi sard al-Kuna, 1408H, Matbaah Jamiah Islamiyah Madinah al-Munawwarah, hlm 153 juz 1)

Manakala ada seorang lagi Ibn Jahdham yang diperkatakan. Iaitu Abu Hassan Ali bin Abdullah bin al-Hassan al-Hamazani. Beliau merupakan salah seorang Syeikh Imam al-Kabir Syeikh Sufiyyah di Makkah al-Mukarramah. Demikian menurut terjemahan biodata yang dibuat oleh Imam al-Zahabi menerusi kitab Siyar A’lam al-Nubalak, hlm 275 juz 17.

Meriwayatkan daripada beliau ialah Abi Hassan bin Salamat al-Qaththan, Ahmad bin Uthman al-Adami, Ali bin Abi al-Aqab dan Khalq. Dia bukanlah seorang yang tsiqah. Bahkan ditohmah dengan pelbagai musibah. Ibn Khairun mengatakan : “Dikatakan bahawa beliau mendustakan hadis. Khabar tentangnya telah kusebutkan di dalam kita al-Tarikh wa al-Mizan”. Beliau meninggal dunia tahun 441H.”(al-Zahabi, Siyar A’lam al-Nubalak, 1413H, Muassasah al-Risalah : Beirut , cetakan ke-9, hlm 275 juz 17)

Ibn Jauziy al-Hanbali (bukan Ibn Qayyim al-Jauziyyah) ketika mengulas hadis berkenaan solat al-Raghaib (periwayatan) Ibn Jahdham mengatakan : “Hadis ini direka-reka dan mereka (ulamak hadis) menuduh Ibn Jahdham melakukannya dan menisbahkan beliau dengan berdusta.”(al-Zahabi, Mizan I’tidal fi Naqd al-Rijal, hlm 162 juz 8)

Pendapat ini berbeza dengan pendapat Imam Abd al-Karim al-Qazwini. Di dalam Tadwin fi Akhbar al-Qazwin beliau mencatatkan : “al-Kayya Syarwiyyah di dalam Tabaqat Ahli Hamadan mengatakan bahawa Abu Hassan Ibn Jahdham merupakan seorang yang tsiqah. Beliau seorang yang dikenali dengan ilmu hadis dan meninggal dunia 407H.” (Abd al-Karim al-Qazwini, al-Tadwin fi Akhbar Akhbar al-Qazwin, 1987, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah: Beirut, hlm 370 juz 3)

Al-Ajlouni pula pernah menyebut satu riwayat dari Ibn Jahdham ini. Di dalam kitab Kasyf al-Khafa’ li Muzil al-Ilbas beliau memuatkan satu riwayat dari Abu Hassan Ali bin Abdullah bin al-Hassan (Ibn Jahdham) daripada Abi Muhammad al-Hariri berkenaan dengan hikmah Ilahiyyah. Imam al-Ajlouni tidak menarafkan periwayatan Ibn Jahdham ini. Keterangan boleh dirujuk kepada hadis bernombor 3124.

Dari biodata perawi ini boleh dibuat beberapa kesimpulan.
1) Sekadar menyebut nama seorang perawi (Ibn Jahdham) belum cukup untuk membuktikan hadis tersebut adalah palsu. Ini kerana nama Ibn Jahdham terdiri dari beberapa orang perawi yang tsiqah dan meriwayatkan hadis dari kitad-kitab sahih mahupun sunan.

2) Perawi yang dipertikaikan perlu diperincikan dengan tepat. Perawi yang dikritiki ialah Abu al-Hassan Ali bin Abdullah Ibn Jahdham. Beliau merupakan seorang tokoh sufi. Mengaitkan tokoh sufi dengan amalan memalsukan hadis adalah contoh sarjana liberal yang tidak bertanggungjawab.Perlu diketahui bahawa Fudhail Bin ‘Iyadh pernah meriwayatkan dari beliau.

3) Walaupun kedudukan beliau dipertikaikan. Sebahagian ulamak hadis mengatakan beliau tidak tsiqah. Tetapi beliau ditsiqahi dikalangan ulamak Qazwin. Sebahagian ulamak pula mentadh’ifkan periwatannya. Sebahagian lagi menuduhnya sebagai pemalsu hadis. Justeru, beliau bukanlah seorang perawi yang dimuktamadkan sebagai pemalsu hadis. Dan tidak sepatutnya tuduhan itu menjadi satu penarafan terhadap periwayatan beliau tanpa merai beberapa pandangan yang lain terhadapnya.

Tambahan pula, kedudukan beliau sebagai Imam al-Kabir Syeikh al-Sufi di Makkah menjustifikasikan kepada kita satu kepercayaan identiti beliau. Ternyata beliau seorang yang dihormati lagi disegani.

Justeru, kita perlu melihat kepada kedua-dua sudut antara tajrih dan ta’dil terhadapnya. Bagi saya, tajrih beliau hanyalah berkisar kepada tohmahan semata-mata. Mungkin ada tangan-tangan yang tidak senang hati dengan aliran kesufiannya. Mungkin juga faktor politik atau environment semasa yang mewarnai tajrih keatasnya.

Manakala keadilan beliau itu jelas. Walaupun riwayatnya tidak cukup kuat mencapai taraf sahih, namun tidak semua periwatannya bertentangan dgn riwayat yang sahih. Ataupun kita boleh menerima periwayatan yang dhaif jika ada kesaksian dan sokongannya.

Kesimpulan
Berdasarkan kepada keterangan di atas, jelaslah kepada kita bahawa rejab mempunyai pengertian dalam kelasnya yang tersendiri. Sumber-sumber hukum melalui Al-Qur’an, al-Hadis dan keterangan para ulamak Salaf pula memberitahu kita bahawa di sana terdapat hadis-hadis yang sahih, hasan, mursal, marfuk, dhaif, dhaif jiddan, wahin (amat lemah) dan palsu seputar rejab.

Oleh itu, setiap isu dan dalil harus difahami secara menyeluruh lagi mendalam agar kita tidak tersasar dari landasan yang benar.

Dalil-dalil yang jelas, terang lagi bersuluh sepatutnya diamalkan. Manakala dalil-dalil yang lemah boleh dijadikan bahan sokongan dan penambahbaikan dalam sesuatu amalan. Manakala dalil-dalil yang palsu seharusnya ditinggalkan. Bahkan perlu diperjelaskan kekurangan dan kesannya terhadap mutu periwayatan, penghujahan dan amalan.

Terbukti juga kepada kita bahawa satu sanad dan satu pendapat belum baligh untuk dijadikan asas pemutusan sesuatu hukum. Apatah lagi untuk digunakan sebagai anjakan bagi memberi was-was atau menakut-nakutkan umat Islam melakukan amalan tambahan bagi mendekatkan diri kepada Allah. Walhal, kita sendiri tidak berganjak kemana-mana dengan penghujahan dan kefahaman kita.

Justeru, disamping penguasaan ilmu, kita perlu warak dalam mencari pendekatan dan membuat penilaian terhadap sesuatu perkara. Ini penting supaya kredibiliti kita terpelihara. Dalam masa yang sama mampu memberi input membina untuk Islam dan umatnya.

Sempena sepertiga rejab yang mulia. Renunglah, setakat mana ilmu kita? Berapa banyak yang diamalkannya. Dan dimana pula keikhlasannya. Kalau kita tidak mampu melakukan kebaikan, kita perlu berusaha memahaminya. Jangan sesekali cuba menghalang kebaikan. Barangsiapa cuba menghalang mereka yang ikhlas melakukan kebaikan, memperbaiki amalan dan melatih diri menuju Allah, Allah juga akan menghalang perjalanan hidupnya.

Alangkah manisnya apabila kita dapat menyatukan ibadat solat, puasa, zikir, tasbih, tahlil, tahmid, qiyam, bersedekah dan lain-lain kebaikan di bulan rejab. Semoga amalan rejab ini menjadi pemangkin untuk mereka yang benar-benar dahagakan kebesaran dan keagungan Allah. Pencarian hakikat rejab sebenarnya bermula dan berakhir dengan kesucian hati kita. Sucikan suapan, pakaian dan perbuatan kita. Insya Allah sinar keagungan rejab mampu menjadi milik kita secara hakikatnya.

(Kertas konsep ini dibentang dalam program Diskusi Ilmiyyah pada 8hb Ogos 2007, jam 8-9mlm anjuran Surau al-Amin, Presint 8, Putrajaya).

Sumber: http://al-ghari.blogspot.com/2007/12/salah-faham-terhadap-keistimewaan-rejab.html

19/03/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Fatwa & Irsyad Hukum Mengenai Sembahyang: SURAH AL-FATIHAH

SURAH AL-FATIHAH :
Persoalan Hukum Membacanya

(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

Kesempurnaan membaca surah al-Fatihah dalam sembahyang sangatlah dituntut kerana ianya adalah salah satu daripada rukun yang wajib dalam sembahyang.
Surah ini sangat mulia sehingga dikatakan bahawa seluruh ilmu-ilmu al-Qur’an, iaitu tauhid, ibadah, nasihat serta peringatan terkandung dalam surah yang pendek ini. Antara kemuliaannya lagi ialah Allah Subhanahu wa Ta‘ala membahagikan surah ini kepada dua bahagian; satu bahagian untukNya dan satu bahagian lagi untuk hambaNya, begitu juga ibadah sembahyang tidak akan diterima tanpanya.

Memandangkan surah al-Fatihah ini mudah dihafal dan dibaca, adakalanya faktor inilah yang mengakibatkan sebilangan orang memandang ringan akan kesempurnaannya lalu membacanya tanpa berguru atau didengarkan kepada orang yang dapat memimpinnya sebagai bacaan yang betul.

Kerana pentingnya perkara ini, kita akan cuba mengupas mengenai pembacaan surah al-Fatihah dalam sembahyang sebagai panduan untuk kita semua.

Hukum Membaca Surah Al-Fatihah Dalam Sembahyang

Ulama mazhab asy-Syafi‘e berpendapat bahawa membaca surah al-Fatihah pada setiap rakaat hukumnya adalah wajib ke atas orang yang bersembahyang sama ada imam, munfarid (orang yang sembahyang sendiri) mahupun makmum menurut pendapat yang paling shahih, sama ada dalam sembahyang sirriyah (sembahyang yang bacaannya dibaca secara perlahan) mahupun sembahyang jahriyyah (sembahyang yang bacaannya dibaca secara nyaring).

Adapun bagi orang yang masbuk pula, hukumnya tetap wajib baginya membaca al-Fatihah sekadar apa yang sempat dibacanya sebelum imam rukuk. Akan tetapi jika imam sudah rukuk, maka tidaklah perlu baginya untuk membaca surah al-Fatihah lagi, kerana bacaan surah al-Fatihah tersebut ditanggung oleh imam dan dikira baginya rakaat tersebut sebagai satu rakaat, dengan syarat makmum yang masbuk itu mestilah sempat thuma’ninah bersama imam ketika rukuk.

Bacaan surah al-Fatihah bagi makmum juga ditanggung oleh imam jika sekiranya makmum itu tidak mempunyai kesempatan membacanya ataupun tidak mempunyai masa yang cukup untuk menghabiskannya semasa qiyam imam (sebelum imam rukuk), sama ada kerana bacaan atau pergerakannya yang lambat, misalnya ketika bangun dari sujud, imam sudahpun rukuk kembali kerana pergerakan makmum yang lambat, ataupun terlupa bahawa dia sedang bersembahyang atau ragu-ragu adakah dia sudah membacanya ataupun belum sedangkan imam sudahpun rukuk. Maka dalam keuzuran-keuzuran seperti ini, bacaan surah al-Fatihah tersebut ditanggung oleh imam walaupun ianya berlaku pada setiap rakaat dalam sembahyang.

Tuntutan wajib membaca surah al-Fatihah itu dilaksanakan sama ada dengan cara hafalan ataupun ditalkinkan kepadanya (dibacakan kepadanya ketika dia bersembahyang, kemudian dia ikut membacanya) ataupun membacanya dengan cara melihat mushaf, jika dia pandai membaca. Dalam hal ini, mengadakan mushaf itu pula hukumnya adalah wajib, sama ada dengan cara membeli, menyewa ataupun meminjamnya, dan wajib pula mengadakan lampu, jika tempat dia bersembahyang itu gelap. Tujuannya ialah untuk membolehkannya membaca mushaf tersebut. Jika dia enggan melaksanakan perkara-perkara ini, sedangkan dia sebenarnya mampu, maka wajib ke atasnya mengulang semula semua sembahyang yang dikerjakannya sepanjang keengganannya melakukan perkara-perkara di atas.

Tegasnya, surah al-Fatihah tetap wajib dibaca dengan apa jua cara sekalipun, sedaya upaya yang termampu. Begitu juga usaha-usaha yang membolehkan ianya dilaksanakan, seperti mempelajarinya, mendapatkan mushaf mahupun menyediakan lampu adalah wajib jika ada kemampuan untuk melakukannya.

Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari ‘Ubadah Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لمَ ْيَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.
(رواه البخاري ومسلم)

Maksudnya: Tidak sah sembahyang bagi sesiapa yang tidak membaca Fatihah al-Kitab (surah al-Fatihah).
(Hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

Bacaan Surah Al-Fatihah Yang Sempurna

Secara umumnya, bacaan surah al-Fatihah yang sempurna itu ialah dengan membacanya mengikut bacaan yang disepakati oleh ahli-ahli al-Qur’an, seperti wajib mad, idgham dan hukum-hukum tajwid yang lain.

Imam al-Baijuri ada menyebutkan secara ringkas sebelas syarat yang perlu dijaga ketika membaca surah al-Fatihah dalam sembahyang, iaitu:

1. Bacaan yang dapat didengar dengan jelas oleh telinganya sendiri (bagi yang sihat pendengaran).
2. Membaca dengan tertib (tersusun mengikut susunan ayat-ayatnya).
3. Membaca secara berterusan (muwalah), iaitu bacaan yang tidak terputus-putus kecuali pada kadar untuk bernafas.
4. Menjaga segala hurufnya, termasuk sabdunya yang empat belas. Tiga daripadanya terdapat pada Basmalah(بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ).
5. Tidak melakukan kesilapan dalam bacaan yang boleh menukar makna.
6. Tidak membacanya dengan bacaan yang ganjil (syadz) yang merubah makna.
7. Tidak menukar perkataan-perkataannya.
8. Membaca setiap ayatnya termasuk Basmalahnya, kerana ianya adalah sebahagian daripada surah al-Fatihah.
9. Membacanya dalam bahasanya yang asal iaitu bahasa Arab dan tidak menterjemahkannya ke dalam bahasa lain, kerana jika diterjemahkan akan hilanglah mukjizat al-Qur‘an itu.
10. Khusus bagi orang yang tidak mampu membaca surah al-Fatihah, hendaklah membaca penggantinya dari surah-surah lain juga dalam bahasa Arab. Lainlah halnya jika gantiannya itu terdiri daripada zikir ataupun doa, kerana ianya boleh diterjemahkan jika tidak mampu membacanya dalam bahasa Arab.
11. Membacanya dalam keadaan qiyam (berdiri). Jika tidak mampu berdiri, maka hendaklah dibaca dalam keadaan duduk, berbaring dan sebagainya.

Kaedah Bacaan Yang Disunatkan (Afdhal)

Ada beberapa kaedah bacaan yang disunatkan menurut ulama, iaitu:-

1. Sunat waqaf pada setiap ayat, termasuk juga dalam hal ini pada ayat Basmalah sebagaimana menurut pendapat muktamad dalam kitab Fath al-Mu‘in.

Imam al-Bujairimi berkata: Pendapat yang muktamad ialah sunat waqaf pada Basmalah kerana ianya adalah satu ayat yang sempurna, dan setiap ayat yang sempurna itu disunatkan waqaf padanya.

Ini berdasarkan hadits shahih, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca dengan cara waqaf seayat demi seayat.

Ummu Salamah Radhiallahu ’anha meriwayatkan ketika menjelaskan cara bacaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata:

كَانَ يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةًً.
(رواه الإمام أحمد)

Maksudnya: Sesungguhnya Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam memutus-mutuskan (mewaqaf) bacaannya (surah al-Fatihah) seayat demi seayat.
(Hadits riwayat Imam Ahmad)

2. Tidak waqaf pada ayat أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ)). Syeikh Ramli berkata dalam Kitab an-Nihayah: Adalah sunat untuk menyambungnya dengan ayat selepasnya kerana ayat tersebut bukanlah tempat waqaf dan bukan pula penghujung ayat.

Bagaimanapun, tidaklah merosakkan sembahyang jika waqaf dilakukan menurut Imam asy-Syabramallisi. Jika waqaf juga pada ayat أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ)), maka adalah lebih baik menyambungnya sahaja dengan ayat selepasnya.

3. Membaca secara tartil dan tidak terburu-buru sehingga merosakkan bacaan. Ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

Tafsirnya: Janganlah engkau (wahai Muhammad) – kerana hendakkan cepat menghafaz al-Qur‘an yang diturunkan kepadamu – menggerakkan lidahmu membacanya (sebelum selesai dibacakan kepadamu oleh Jibril ‘alaihissalam).
Surah al-Qiamaah : Ayat : 16))

Sebab turunnya ayat ini, menurut Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma, ialah kerana sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Malaikat Jibril menurunkan wahyu kepada Baginda, Baginda membacanya dengan cepat sehingga memberatkan dirinya sendiri.

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala lagi:

Tafsirnya: Dan al-Qur’an itu Kami bahagi-bahagikan supaya engkau membacakannya kepada manusia dengan lambat tenang; dan Kami menurunkannya beransur-ansur.
(Surah al-Israa’: Ayat:106)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdul Rahman bin Syibl al-Anshari Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

اِقْرَؤُواْ الْقُرْاَنَ وَلاَ تَغْلُواْ فِيهِ.
(رواه أحمد)

Maksudnya: Bacalah oleh kamu al-Qur’an, dan janganlah berlebih-lebih padanya (membaca pantas).
(Hadits riwayat Imam Ahmad)

Membaca surah al-Fatihah dengan tergopoh-gapah dan tidak membacanya seayat demi seayat atau membacanya tanpa berhenti langsung, khususnya semasa sembahyang Tarawih di bulan Ramadhan tidak memenuhi tuntutan sunnah yang diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Membaca dengan tenang seayat demi seayat mengikut kaedah bacaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini pada hakikatnya, akan lebih mendatangkan kekhusyukkan, di samping memudahkan kita untuk merenung, menghayati serta memahami maksud ayatnya satu persatu, ataupun sekurang-kurangnya, jika tidak memahami maksud ayatnya, sebagai adab dan tanda hormat kita terhadap Kalamullah. Ini tidak syak lagi akan menimbulkan rasa kemanisan ibadah terhadap Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Imam Ghazali berkata: Ketahuilah bahawa sesungguhnya bacaan secara tartil itu disunatkan bukanlah semata-mata untuk merenung maksud ayatnya sahaja, bahkan orang-orang bukan Arab yang tidak memahami makna ayat al-Qur’an pun disunatkan supaya membacanya secara tartil dan tenang, kerana ini lebih menunjukkan rasa sopan dan hormat terhadap al-Qur’an, dan akan mendatangkan kesan yang lebih mendalam di dalam jiwa daripada membacanya secara tergopoh-gapah dan tergesa-gesa.

4. Mengindah dan memerdukan suara.

Diriwayatkan daripada al-Bara’ bin ‘Aazib Radhiallahu ‘anhu, beliau telah berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ.
(رواه النسائي وإبن ماجه وأحمد)

Maksudnya: Hiasilah al-Qur‘an dengan (kemerduan) suara-suara kamu.
(Hadits riwayat Imam an-Nasa’ie, Ibnu Majah dan Ahmad)

Permasalahan Tertib Dalam Bacaan Surah Al-Fatihah

1. Wajib membaca surah al-Fatihah itu secara tertib yakni tersusun mengikut susunan bacaan yang sabit dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kerana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca dengan tertib dan tersusun. Maka cara Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam itu wajib diikut berdasarkan sabda Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam:

صَلُّواْ كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى.
(رواه البيهقى وإبن حبان)

Maksudnya: Sembahyanglah kamu sepertimana kamu melihat (cara) aku bersembahyang.
(Hadits riwayat Imam al-Baihaqi dan Ibnu Hibban)

Jika dengan senghaja membaca dengan tidak mengikut tertib seperti mendahulukan ayat yang kemudian ataupun sebaliknya, maka batallah bacaan surah al-Fatihahnya itu, kerana membaca ayat-ayatnya bukan pada tempatnya yang betul. Sembahyangnya tidak batal jika dia isti’naf (membaca semula dari awal) surah al-Fatihah tersebut.

Adapun jika ianya tidak disenghajakan, sebagai misal jika mendahulukan membaca (مَالِكِ يَوْمِ الدِِّينِ) dari (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ), maka cukup baginya sekadar menyambung ayat tersebut (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) dengan ayat selepasnya, iaitu (مَالِكِ يَوْمِ الدِِّينِ) tanpa perlu membaca semula dari awal surah. Sementara ayat (مَالِكِ يَوْمِ الدِِّينِ) yang didahulukannya itu tadi tidak dikira. Bagaimanapun, jika sudah jauh jarak waktu kesalahan tersebut berlaku, maka diwajibkan isti’naf.

Adapun jika sekiranya bacaannya itu membawa kepada perubahan makna, maka batallah sembahyangnya jika dilakukannya secara senghaja dan dia mengetahui hukum larangan melakukannya. Jika tidak disenghajakan dan dia tidak tahu hukumnya, maka dalam hal ini bacaannya menjadi batal dan wajib isti’naf, akan tetapi tidaklah membatalkan sembahyangnya.

2. Orang yang sudah membaca separuh daripada surah al-Fatihah, lalu dia merasa syak adakah dia sudah membaca Basmalah ataupun belum? Lalu diteruskannya juga bacaannya itu tanpa mengulangi Basmalah, kemudian dia teringat setelah selesai membaca surah al-Fatihah itu bahawa dia sudahpun membaca Basmalah, maka dalam hal ini mengikut pendapat yang awjah (paling tepat) menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami, wajib membaca semula surah al-Fatihah dari mula hingga akhir, termasuklah Basmalah.

3. Jika berlaku syak kemungkinan tertinggal suatu huruf ataupun lebih setelah habis membaca keseluruhan surah al-Fatihah dan sebelum rukuk, maka keraguan tersebut tidak dikira kerana dia dianggap sudah membacanya dengan sempurna dan ianya dimaafkan. Berlainan halnya jika dia ragu-ragu bahawa adakah dia sudah membaca surah al-Fatihah ataupun belum? Jika ini berlaku, wajib atasnya isti’naf.

4. Jika berlaku syak tertinggal sebahagian ayat dari surah al-Fatihah setelah ianya selesai dibaca, maka keraguan itu tidak dikira kerana sudah dikira telah membacanya dengan sempurna.

Adapun jika sekiranya keraguan itu berlaku sebelum selesai membaca surah al-Fatihah, wajib baginya isti’naf jika keraguannya itu lama. Jika keraguannya itu tidak lama, maka cukuplah baginya sekadar membaca kembali ayat yang diragukannya itu tadi dan kemudian menyambung kembali bacaannya dari ayat tersebut sehingga selesai.

Bagaimanapun, jika dia ragu-ragu kemungkinan ada tertinggal suatu ayat dari surah al-Fatihah, dan dia sendiri tidak pasti ayat yang mana satu yang berkemungkinan tertinggal itu, maka wajib ke atasnya isti’naf.

5. Apabila orang yang membaca surah al-Fatihah dalam keadaan khayal, lalai atau kurang tumpuan, misalnya membacanya sedangkan ketika itu dia sedang berangan ataupun memikirkan perkara yang lain, kemudian tersedar kembali apabila sampai pada ayat (صِرَاطَ الَّذِينَ), lalu dia tidak yakin dalam waktu terdekat akan kesempurnaan bacaannya ketika lalai itu (keraguannya itu lama), maka wajib atasnya isti’naf. Adapun jika dia masih yakin akan kesempurnaan bacaannya (ketika lalainya itu) dalam masa terdekat, maka bolehlah dia meneruskan sahaja bacaannya.

Permasalahan Muwalah (Berturut-Turut) Dalam Bacaan Surah Al-Fatihah

Wajib muwalah dalam bacaan kerana mengikut bacaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, berdasarkan sabda Baginda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّي.
(رواه البيهقى وإبن حبان)

Maksudnya: Sembahyanglah kamu sepertimana kamu melihat (cara) aku bersembahyang.
(Hadits riwayat Imam al-Baihaqi dan Ibnu Hibban)

Maksud muwalah ialah membaca secara berturut-turut antara satu kalimah dengan kalimah yang lain, dan tidak memisahkan antara keduanya kecuali dalam kadar mengambil nafas.

Adapun perkara-perkara yang boleh memutuskan muwalah itu ialah:-

1. Senghaja diam dalam satu kadar masa yang lama ketika membaca surah al-Fatihah sehingga dapat dirasakan bahawa dia ingin memutuskan bacaannya, atau dapat dirasakan bahawa dia dengan rela hatinya enggan meneruskan bacaannya, maka putuslah muwalah dan batallah bacaannya, dan wajib atasnya isti’naf (mengulanginya).

Adapun jika sekiranya dia berniat untuk memutuskan bacaannya, maka putuslah muwalah walaupun dia hanya berhenti sekejap sahaja mengikut pendapat yang paling shahih dan masyhur dalam mazhab Imam asy-Syafi‘e.
Akan tetapi, jika dia berniat untuk memutuskan bacaannya sedangkan dia tidak melakukannya (tidak juga memutuskan bacaannya), maka tidak terputus muwalah tersebut.

Berlainan halnya jika orang yang diam lama kerana keuzuran, misalnya tidak tahu hukum, terlalai, gagap, banyak bersin, batuk, menguap ataupun diam kerana mengingati ayat yang terlupa; perkara-perkara seumpama ini tidak memutuskan muwalah.

2. Membaca tasbih, tahlil mahupun zikir-zikir yang lain atau membaca ayat-ayat dari surah yang lain sama ada banyak mahupun sedikit ketika membaca surah al-Fatihah. Perkara-perkara sedemikian tidak disuruh kerana boleh memutuskan muwalah.

Umpamanya juga menyahut seruan azan ketika membaca surah al-Fatihah, mengaminkan bacaan surah al-Fatihah yang dibaca oleh bukan imamnya, ataupun mengucapkan “Alhamdulillah” ketika bersin, kerana perkara ini walaupun sunat dilakukan di luar sembahyang, ianya tidak sekali-kali diharuskan dalam sembahyang. Akan tetapi jika ianya tidak disenghajakan, misalnya kerana terlupa ataupun terlalai maka tidak terputus muwalah sebagaimana tersebut di dalam kitab Mughni al-Muhtaj.

Adapun perkara-perkara yang disuruh seperti mengaminkan bacaan imam, atau sujud tilawah kerana bacaan imam, atau membetulkan bacaan imam yang terhenti bacaannya kerana terlupa, sama ada surah al-Fatihah atau surah-surah yang lain, atau membaca doa memohon rahmat ketika imam membaca ayat-ayat rahmat dan membaca doa memohon perlindungan ketika dibacakan ayat-ayat azab (dalam bahasa Arab), maka menurut pendapat yang ashah (paling shahih), tidaklah memutuskan muwalah bacaan surah al-Fatihah itu. Walau bagaimanapun, mengikut pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami, adalah disunatkan isti’naf sebagai mengambil kira pendapat sebahagian ulama mazhab asy-Syafi‘e yang mengatakan bahawa perkara-perkara tersebut termasuk juga dalam perkara-perkara yang memutuskan muwalah. Yang demikian itu sebagai jalan keluar untuk mengelakkan dari perselisihan pendapat.

3. Membetulkan bacaan imam yang terlupa ataupun salah bacaannya sedangkan imam tersebut belum lagi berhenti membaca, yakni masih lagi mengulang-ulang bacaannya untuk mengingati ayat tersebut.

Akan tetapi, mengikut Imam asy-Syarqawi, boleh membetulkan bacaan imam yang masih lagi mengulang-ulang bacaannya jika telah sempit waktu (waktu sembahyang hampir habis).

Perlu diingat juga di sini bahawa untuk membetulkan bacaan imam, selain disyaratkan supaya memastikan imam sudah berhenti membaca, disyaratkan juga ketika membetulkan itu supaya berniat qiraah (membaca al-Qur’an) semata-mata, ataupun berniat qiraah dan membetulkan bacaan imam. Jika diniatkan untuk membetulkan bacaan imam semata-mata tanpa niat qiraah maka ianya akan menyebabkan sembahyang makmum tersebut menjadi batal sepertimana pendapat muktamad dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj.

Permasalahan Ta’min Selepas Bacaan Surah Al-Fatihah

1. Ta’min ialah mengucapkan آمين)) setelah selesai membaca surah al-Fatihah. Hukumnya adalah sunat ke atas setiap orang yang bersembahyang setelah selesai membaca surah al-Fatihah sama ada imam, makmum, munfarid, lelaki, perempuan, kanak-kanak, orang yang bersembahyang dengan cara berdiri, orang yang bersembahyang dengan cara duduk, orang yang sembahyang dengan cara berbaring, orang yang bersembahyang fardhu, orang yang bersembahyang sunat, dalam sembahyang jahriyyah mahupun dalam sembahyang sirriyyah tanpa perselisihan pendapat antara ulama mazhab asy-Syafi‘e. Ta’min juga sunat ke atas orang yang telah selesai membaca surah al-Fatihah di luar sembahyang. Bagaimanapun, menurut Imam al-Wahidi, tuntutannya dalam sembahyang adalah lebih utama.

Ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

إِذَا قَالَ الإِمَامُ )غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ( فَقُولُواْ: آمِين. فَمَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
(رواه البخاري)

Maksudnya: Apabila imam membaca (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ)
maka katakanlah: “Amin”. Maka sesiapa yang bertepatan ta’minnya dengan ta’min Malaikat, diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu.
(Hadits riwayat Imam Bukhari)

2. Setelah selesai membaca surah al-Fatihah, sunat diam sekejap (dalam kadar kira-kira membaca Subhanallah) sebelum berta’min. Tujuannya supaya membezakan surah al-Fatihah dengan perkataan “Amin”, kerana ianya bukanlah sebahagian daripada surah tersebut.

3. Jika sembahyang yang dikerjakan itu ialah sembahyang jahriyyah, maka bacaan ta’min pun dibaca secara jahr sebagaimana bacaan surah al-Fatihahnya dibaca secara jahr. Begitu juga sebaliknya bagi sembahyang sirriyyah, bacaan ta’min akan dibaca secara sirr, sama ada bagi imam ataupun makmum.

4. Makmum sunat menta’minkan bacaan surah al-Fatihah imam dalam sembahyang jahriyyah sungguhpun imam itu sendiri tidak menta’minkannya, sama ada dia senghaja meninggalkannya ataupun terlupa, supaya imam itu terdengar lalu turut menta’minkannya.

5. Sunat ta’min makmum serentak dengan ta’min imam, supaya ta’min mereka itu bersamaan (satu masa yang sama) dan bertepatan dengan ta’min malaikat, kerana para malaikat ketika itu turut sama berta’min bersama imam.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُواْ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
(رواه البخاري)

Maksudnya: Apabila imam berta’min, maka berta’minlah kamu, kerana sesungguhnya para malaikat turut sama berta’min bersama ta’min imam itu. Maka sesiapa yang bertepatan (masa) ta’minnya itu dengan ta’min para malaikat, nescaya akan diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu.
(Hadits riwayat Imam Bukhari)

6. Jika makmum membaca surah al-Fatihah bersama-sama imam, misalnya kerana makmum tersebut tahu bahawa imam tidak akan membaca surah selepas membaca surah al-Fatihah, atau hanya akan membaca surah yang pendek dan khuatir tidak akan sempat menghabiskan surah al-Fatihah, maka jika makmum tersebut lebih dulu selesai membaca surah al-Fatihah, mengikut pendapat yang terpilih dalam mazhab asy-Syafi‘e hendaklah dia menta’minkan bacaan surah al-Fatihahnya terlebih dahulu kemudian berta’min sekali lagi setelah imam selesai membaca surah al-Fatihah.

Imam as-Sarkhasi di dalam kitab al-Amali menyebutkan: Jika seorang makmum itu berta’min bersama imam, kemudian makmum itu membaca surah al-Fatihah, maka hendaklah makmum tersebut menta’minkan lagi bacaan surah al-Fatihahnya sendiri. Dan jika makmum itu membaca surah al-Fatihah bersama imam dan habis membaca bersama-samanya, maka adalah memadai baginya untuk berta’min sekali sahaja.

7. Sunat bagi imam supaya diam sebentar (saktah lathifah) setelah ta’min ketika sembahyang jahriyyah dalam kadar kira-kira memberi peluang kepada makmum untuk menghabiskan bacaan surah al-Fatihah mereka. Diam di sini bukanlah bermaksud diam semata-mata, akan tetapi disunatkan bagi imam pada waktu tersebut untuk membaca zikir, doa ataupun membaca ayat-ayat al-Qur’an secara sirr. Tersebut di dalam kitab Mughni al-Muhtaj dan Fath al-Mu‘in, adalah lebih awla (lebih utama) bagi imam ketika saktah lathifah itu supaya membaca ayat-ayat al-Qur’an (secara sirr).

8. Untuk menta’minkan bacaan imam dalam sembahyang jahriyyah, makmum disyaratkan supaya dapat mendengar bacaan surah al-Fatihah imam dengan bunyi suara yang jelas, iaitu sekira-kira dapat makmum itu membezakan huruf-huruf yang dibacakan oleh imam, bukannya semata-mata mengikut ta’min imam. Dan memadai bagi makmum dalam hal ini untuk mendengar imam membaca (وَلاَ الضَّالِّينَ) sahaja, tidak disyaratkan mendengar keseluruhan bacaan surah al-Fatihah imam.

9. Ta’min akan dikira luput jika dengan senghaja diam melebihi dari kadar yang disunatkan selepas (وَلاَ الضَّالِّينَ), iaitu dalam kadar kira-kira dirasakan putus nisbah (hubungan) ta’min dengan surah al-Fatihah.

Ta’min juga luput sekiranya orang yang bersembahyang itu rukuk, atau membaca sesuatu yang lain selepas (وَلاَ الضَّالِّينَ) walaupun secara tidak senghaja sungguhpun sedikit.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengecualikan dalam hal ini jika orang itu membaca (رَبِّ اغْفِرْلِي) selepas (وَلاَ الضَّالِّينَ) sebelum ta’min, kerana pernah dikhabarkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca (رَبِّ اغْفِرْلِي) setelah (وَلاَ الضَّالِّينَ), dan sebelum ta’min.

Kesalahan-Kesalahan Pada Huruf Dan Baris Surah al-Fatihah

Imam as-Sayyid Muhammad Abdullah al-Jurdani, iaitu pengarang kitab Fath al-‘Allam ada menyebutkan permasalahan ini dalam kitabnya, beliau berkata:

· Jika menggugurkan satu huruf dari surah al-Fatihah, misalnya membaca (إِيَّاكَ نَعْبُدُ إِيَّاكَ نَسْتَعِينَ) dengan menggugurkan huruf (و)
· Atau menghilangkan sabdu, misalnya membaca (إِياَكَ)
· Atau menukarkan dengan huruf yang lain, misalnya menggantikan (الَّذِينَ) dengan (الَّدِينَ)
· Atau menggantikan (اَلَْحَمْدُ لِلَّهِ) dengan (اَلْهَمْدُ لِلَّهِ)
· Atau membaca (الضَّالِّينَ) dengan (الظَّالِّينَ)
· Atau membaca (أَنْعَمْتَ) dengan (أَنْأَمْتَ)
· Atau membaca (الْمُسْتَقِيمَ) dengan (الْمُسْتَئِيمَ) atau (الْمُسْتَقِينَ)
· Atau membaca (نَسْتَعِينَ) dengan (نَثْتَعِينَ) – maka batallah sembahyangnya jika orang tersebut senghaja dan mengetahui akan hukumnya.

Adapun jika ianya tidak disenghajakan, maka batallah bacaannya pada kalimah tersebut, dan wajiblah ke atasnya sebelum rukuk untuk membetulkan bacaannya itu tadi, kemudian menyempurnakannnya jika belum lama waktu kesalahan itu berlaku. Jika sudah lama, maka wajib atasnya isti’naf (mengulangi semula bacaannya dari awal surah al-Fatihah).

Jika dia senghaja rukuk sedangkan dia tahu hukumnya bahawa dia wajib memperbetulkan bacaannya sebelum rukuk, maka batallah sembahyangnya. Adapun jika dia tidak senghaja rukuk misalnya kerana terlupa ataupun tidak tahu hukumnya, maka rakaatnya itu tadi tidak dikira.

Jika menukar baris sehingga tertukar makna kalimah tersebut, misalnya membaca (إِيَّاكِ) atau (أَنْعَمْتُ) atau (أَنْعَمْتِ), maka batallah sembahyangnya jika disenghajakan dan tahu akan hukumnya.

Adapun jika tidak disenghajakan, maka batallah bacaannya pada kalimah tersebut, maka wajib atasnya mengulangi bacaan tersebut sebelum rukuk selama mana jarak masanya masih lagi hampir. Jika jaraknya sudah jauh, maka wajib atasnya isti’naf. Jika senghaja tidak mahu memperbetulkannya sebelum rukuk sedangkan dia tahu hukum memperbetulkan bacaannya itu wajib sebelum rukuk, maka batallah sembahyangnya sepertimana permasalahan di atas.

Dalam masalah melakukan kesalahan dalam bacaan yang membawa kepada perubahan makna ini, menurut pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami, adalah disunatkan sujud sahwi jika ianya tidak disenghajakan. Ini kerana setiap kesalahan yang jika disenghajakan boleh membatalkan sembahyang, tetapi dilakukan secara tidak senghaja, maka adalah disunatkan untuk melakukan sujud sahwi.

Manakala jika perubahan baris itu tidak membawa kepada perubahan makna, misalnya membaca (لِلَّهُ) atau (نَعْبِدُ) maka tidaklah sekali-kali ianya membatalkan sembahyang, akan tetapi haram hukumnya jika disenghajakan dan tahu akan hukumnya.

Semua permasalahan ini adalah bagi mereka yang pada asalnya mampu membaca dengan betul.

Adapun bagi mereka yang tidak berkemampuan untuk membacanya dengan betul dan tidak pula mampu mempelajarinya, maka sembahyang mereka tetap sah dan tidak menjadi haram bagi mereka membaca sedemikian rupa.

Hukum Jika Tidak Pandai Membaca Surah al-Fatihah

Telahpun disentuh di awal-awal lagi bahawa surah al-Fatihah wajib dibaca sama ada melalui hafalan, mahupun ditalkinkan kepadanya ataupun dengan cara melihat mushaf, dan wajib mengadakan mushaf itu sama ada dengan cara membeli, menyewa ataupun meminjamnya, dan wajib pula menyediakan lampu jika tempat dia bersembahyang itu gelap bagi membolehkannya membaca mushaf tersebut.
Pendek kata surah al-Fatihah tetap wajib dibaca dengan apa jua cara sekalipun, disertai juga segala usaha yang membolehkannya membaca surah al-Fatihah itu dengan seberapa mampu yang boleh. Bagaimanapun, bagi mereka yang tidak berkemampuan untuk melakukan perkara-perkara di atas, Islam telah memberikan kelonggaran ke atas mereka ini untuk menggantikan surah al-Fatihah itu dengan bacaan-bacaan lain.

Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

Tafsirnya: Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Dia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran.
(Surah al-Baqarah: Ayat: 185)

Dalam hal ini, para ulama telahpun menyebutkan beberapa permasalahan yang berkaitan dengannya seperti berikut:-

1. Jika orang tersebut boleh membaca ayat-ayat al-Qur’an yang lain selain surah al-Fatihah, maka bolehlah ia dijadikan sebagai pengganti surah al-Fatihah. Dengan syarat ianya mestilah sekurang-kurangnya tujuh ayat ataupun lebih baik lapan ayat menurut Imam asy-Syafi’e sepertimana yang telah dinukilkan daripadanya oleh Imam al-Mawardi. Dan huruf-hurufnya pula mestilah tidak kurang daripada huruf-huruf surah al-Fatihah, iaitu tidak kurang dari seratus lima puluh enam huruf.

Tidak disyaratkan setiap huruf pada ayatnya menyerupai jumlah setiap huruf pada ayat-ayat surah al-Fatihah, bahkan adalah memadai sebagai syarat bahawa ianya adalah sekurang-kurangnya tujuh ayat dan huruf-hurufnya secara keseluruhannya tidak kurang dari huruf-huruf surah al-Fatihah dengan mengambil perhatian bahawa setiap huruf yang bersabdu dalam surah al-Fatihah itu dikirakan sebagai dua huruf.

Ayat-ayat pengganti dari al-Qur’an ini, menurut Imam an-Nawawi, boleh dibaca sama ada secara tersusun dalam satu surah, ataupun dibaca bercerai-cerai dari satu ataupun beberapa buah surah yang berlainan, sama ada makna ayat-ayat tersebut ada kaitan antara satu dengan yang lain ataupun tidak, sungguhpun orang itu hafal secara tersusun dalam satu surah.

Walau bagaimanapun, Imam Ibnu Hajar al-Haitami berpendapat, jika ianya dibaca secara bercerai-cerai dengan tidak tersusun makna, orang itu mestilah berniat dengan niat qiraah (membaca al-Qur’an) ketika membaca ayat yang bercerai-cerai itu kerana bacaan yang seumpama itu tidak dinamakan al-Qur’an jika dilafazkan semata-mata tanpa niat qiraah.

2. Jika langsung tidak boleh membaca mana-mana ayat daripada al-Qur’an, maka bolehlah orang itu menggantikannya dengan tujuh macam zikir sebagai ganti tujuh ayat surah al-Fatihah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ahmad:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: إِنِّي لاَ أَسْتَطِيعُ أَنْ آخَذُ مِنَ القُرْآنِ شَيْئًا ، فَعَلِّمْنِي مَا يُجْزِئُنِي مِنهُ ، قَالَ: قُلْ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
(رواه أبو داود وأحمد)

Maksudnya: Telah datang seseorang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: Sesungguhnya aku tidak mampu mempelajari sesuatupun daripada al-Qur’an, maka ajarkanlah aku (bacaan) apa yang memadai bagiku (selain) daripada al-Qur’an.

Lalu Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: Bacalah:

(سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ
إِلاَّ بِاللَّه الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ ).

(Maha suci Allah, dan segala puji hanya bagi Allah, dan tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar, dan tiada daya serta tiada kekuatan kecuali dengan (keupayaan dan kekuatan) Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar).
(Hadits riwayat Imam Abu Daud dan Ahmad)

Dalam hadits di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada orang tersebut lima macam zikir, dan ditambahkan lagi oleh ulama sebagai mencukupi syarat tujuh macam zikir itu dengan dua macam zikir lagi, iaitu:-
(مَا شَاءَ اللهُ كَانَ)1.
Maksudnya: Segala apa yang dikehendaki Allah pasti berlaku.
(وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ)2.
Maksudnya: Dan segala apa yang tidak dikehendakiNya, tidak akan berlaku.

Walau bagaimanapun, menurut pendapat yang ashah (paling shahih), tidaklah ditentukan mana-mana zikir untuk dibaca sebagai badal (ganti) surah al-Fatihah itu. Adalah memadai sebagai syarat dengan memilih mana-mana tujuh macam zikir dan mengulanginya atau menambahnya dengan zikir-zikir lain sehingga huruf-hurufnya mencukupi kadar huruf surah al-Fatihah.

Selain zikir, boleh juga surah al-Fatihah tersebut digantikan dengan doa. Imam Nawawi berpendapat bahawa doa tersebut mestilah (wajib) doa-doa ukhrawi (yang berkaitan dengan urusan akhirat), misalnya memohon syurga, keampunan, keredhaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan sebagainya dalam bahasa Arab sehingga huruf-hurufnya mencukupi kadar huruf-huruf surah al-Fatihah. Jika tidak pandai membacanya dalam bahasa Arab, maka bolehlah diterjemahkan doa tersebut ke mana-mana bahasa yang dikuasainya.

Jika orang tersebut tidak juga pandai membaca terjemahan doa ukhrawi, maka bolehlah membaca doa-doa duniawi (yang berkaitan dengan urusan keduniaan), misalnya memohon keselamatan dan sebagainya dalam bahasa Arab. Jika tidak pandai membacanya dalam bahasa Arab, maka bolehlah ianya dibaca dalam mana-mana bahasa yang dikuasainya sehingga huruf-hurufnya mencukupi kadar huruf-huruf surah al-Fatihah.
Selain dibolehkan memilih antara zikir ataupun doa ini, dibolehkan juga untuk mencampurkan keduanya sepertimana yang dinukilkan dalam kitab Tuhfah al-Habib karangan Syeikh Sulaiman al-Bujairimi.

3. Sungguhpun ada keringanan untuk membaca terjemahan badal dari zikir dan doa dalam sembahyang jika tidak pandai membacanya dalam bahasa Arab, perlu diingat di sini bahawa al-Qur’an tidak boleh sekali-kali diterjemahkan ke dalam bahasa lain dalam sembahyang. Ini kerana turunnya al-Qur’an itu dalam bahasa Arab serta keindahan lafaz ayat serta susunannya adalah merupakan satu mukjizat. Maka menterjemahkannya ke dalam bahasa lain akan merosakkan keindahannya dan secara langsung akan mencacatkan, bahkan akan menghilangkan nilai kemukjizatannya itu.

Kerana itulah terjemahan al-Qur’an itu menurut Imam Khatib asy-Syarbini, tidak lagi dinamakan al-Qur’an berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam surah Yusuf: ayat:2:

Tafsirnya: Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab itu sebagai Qur’an yang dibaca dengan bahasa Arab.
(Surah Yusuf : Ayat:2)

4. Tidak disyaratkan untuk berniat ketika membaca badal dari zikir mahupun doa ini, akan tetapi jika ingin berniat juga maka tidak dibolehkan berniat selain daripada meniatkan bahawa badal tersebut adalah sebagai pengganti bacaan surah al-Fatihah semata-mata.

5. Sekiranya orang tersebut mampu membaca sebahagian ayat surah al- Fatihah, maka tidak memadai baginya mengulang-ulang ayat dari surah al-Fatihah yang dia tahu itu selagi mana dia tahu membaca badal lain, sama ada dari al-Qur’an, zikir mahupun doa.

Akan tetapi, diberikan kepadanya keringanan untuk mengulangi ayat dari surah al-Fatihah yang diketahuinya itu sehingga huruf-hurufnya mencukupi kadar keseluruhan huruf-huruf surah al-Fatihah jika sekiranya orang tersebut langsung tidak pandai membaca mana-mana badal dari al-Qur’an, zikir dan doa.

6. Orang yang mampu membaca sebahagian surah al-Fatihah dan mampu membaca badal dari al-Qur’an, zikir ataupun doa, maka wajib baginya membaca ayat surah al-Fatihah tersebut di tempatnya, yakni wajib membacanya secara tertib mengikut tertib susunan ayatnya.

Jika ayat surah al-Fatihah yang diketahuinya itu adalah ayat keempat, maka wajib baginya membaca badal sebagai ganti separuh pertama (ayat satu hingga tiga) surah al-Fatihah dahulu, kemudian barulah membaca ayat surah al-Fatihah yang diketahuinya itu (ayat keempat) dan kemudian membaca pula badal bagi separuh terakhir surah al-Fatihah tersebut (ayat lima hingga tujuh).

Begitu juga halnya jika surah al-Fatihah yang mampu dibacanya itu bercerai-cerai. Wajib baginya membaca ayat-ayat surah al-Fatihah yang diketahuinya itu mengikut tertib susunan ayatnya, dan wajib pula membaca badalnya tepat pada ayat surah al-Fatihah yang dia tidak tahu membaca itu.

7. Jika sekiranya langsung tidak pandai membaca surah al-Fatihah, dan tidak tahu pula membaca mana-mana badal dari al-Qur’an, zikir mahupun doa, dan tidak juga pandai membaca terjemahan zikir dan doa serta tidak berkemampuan untuk belajar, maka wajib atasnya qiyam (berdiri) sahaja dalam kadar bacaan surah al-Fatihah, iaitu kira-kira kadar bacaan yang sederhana.

Ini kerana bacaan surah al-Fatihah dan berdiri ketika membacanya itu kedua-duanya wajib, maka jika tidak mampu mengerjakan satu daripada keduanya (membaca surah al-Fatihah) tidak akan menggugurkan kewajiban yang satu lagi iaitu berdiri.

Penutup

Kesungguhan dalam membaca surah al-Fatihah dalam sembahyang itu adalah satu perkara yang sangat penting dan wajib dijaga kerana sebarang kesilapan yang berlaku tidak syak lagi akan menjejaskan kesempurnaan sembahyang.

Janganlah kerana surah ini lancar di mulut ianya dibaca secara tidak berperaturan dengan tidak menyebutkan setiap hurufnya daripada makhrajnya yang betul, tidak memelihara tajwidnya, bahkan ada yang menghabiskannya hanya dengan satu nafas seolah-olah tiada penghayatan dan tiada rasa hormat terhadap al-Qur’an.

Wajiblah ke atas kita memelihara kemuliaan al-Qur’an ini, dengan membacanya sepertimana Nabi junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wasallam membacanya. Iaitu dengan tartil, penuh penghayatan, memelihara tajwid serta peraturan-peraturannya seperti muwalah, tertib dan sebagainya, di samping berusaha belajar dan memperbaiki bacaan jika tidak mampu membacanya dengan baik dan sempurna.

Mudahan-mudahan dengan maklumat mengenai permasalahan membaca surah al-Fatihah dalam sembahyang ini akan dapat menambahkan ilmu kita mengenai sembahyang dan sekaligus membantu kita untuk menyempurnakannya sepertimana yang dituntut oleh syara‘ dan meningkatkan lagi kualiti peribadatan kita terhadap Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

(Rujukan: http://fatwairsyadbrunei.blogspot.my/2015/05/surah-al-fatihah.html?m=1)

16/03/2018 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Uncategorized | 1 Comment

FADHILAT SANDAL RASULULLAH SAW

sandal-nabi-muhammad-saw_20151011_182507

FADHILAT SANDAL RASULULLAH SAW

Maulana Zakaria Kandahlawi(rah) dan Maulana Asyraf Ali Thanwi(rah) merupakan dua nama ulama besar dari aliran Deobandi. Setiap pelajar yang berkelulusan dari Darul Uloom Deoband atau dari mana-mana madrasah yang beraliran Deobandi pasti mempunyai sanad keilmuan yang akan melalui kedua-dua tokoh ulama berkaliber tinggi ini.

Kedua-dua mereka telah menyebut dalam kitab mereka mengenai fadhilat gambar dan lakaran sandal/capal Rasulullah SAW. Syaikhul Hadis Maulana Zakaria al-Kandahlawi dalam kitabnya yang mensyarahkan kitab “Syamail at-Tirmidzi” menyatakan:-“ Gambar lakaran sandal/capal dan kelebihan serta keberkatannya telah diberikan dengan begitu terperinci di dalam kitab “Zadus Sa`id” karangan Maulana Asyraf ‘Ali Thanwi (rahmatullah ‘alaihi). Khasiatnya tidak putus-putus. Beliau menyatakan bahawa beliau sendiri(Maulana Zakaria) telah mengalaminya beberapa kali. Beliau berkata dengan menyimpan sebuah gambar lakaran capal ini seseorang itu akan diberkati dengan ziarah bertemu Rasulullah, akan dilepasi daripada ancaman kuku besi penzalim, mencapai keberhasilan pekerjaannya dan berjaya di dalam segala cita-cita melalui tawassul capal ini. ”

Selain Maulana Zakaria dan Maulana Asyraf, seorang alim ahlus sunnah tersohor berasal dari bumi Palestin, bernama Syeikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani telah mengungkapkan kemuliaan sepatu Rasulullah dalam bentuk puisi dalam kitabnya “Jawahirul Bihar” , ianya adalah seperti berikut;

*Alas kaki Nabi Muhammad berada di atas kepala alam semesta dan seluruh makhluq berada di bawah bayang-bayangnya.

*Ketika di bukit Tursina, Nabi Musa as diperintah supaya menanggalkan (alas kakinya), tetapi Nabi Muhammad saw. biarpun berada pada jarak yang lebih dekat , tidak diminta supaya ditanggalkan sandalnya

*Lambang yang meniru Sandal asli Sang Rasul saw. yang paling Mulia itu membuatkan bintang-bintang berangan-angan
menjadi tanah untuk dipijak olehnya.

*Madu-madunya, tujuh petala langit semuanya cemburu, dan mahkota-mahkota raja semuanya merasa hasad padanya

*Lambang sandal al-Mustafa saw itu tiada tolok bandingnya, ia adalah kerehatan bagi rohku dan celak (ubat) bagi mataku

*Sangatlah mulia lambang sandal yang Agung ini! Kerananya, semua kepala berharap, alangkah baiknya jikalau dapat menjadi kaki (Baginda saw.)

*Apabila aku melihat ALLAH mula memerangi manusia (kerana maksiat mereka), aku menjadikan alas kaki tuannya sebagai perisai

*Aku berlindung daripadaNYA (Kemarahan ALLAH) dengan keagungan lambang alas kaki Baginda , sebagai tembok yang kukuh dimana aku berasa aman dibawah perlindungannya

*Aku berkhidmat pada lambang Sandal al-Mustafa saw. , supaya dapat aku hidup di dunia dan akhirat dibawah bayang-bayangnya

*Berbahagianya Ibnu Mas`ud ra. kerana khidmatnya pada sandal Baginda (yang sebenarnya), dan aku, adalah si dia yang berbahagia kerana khidmatku pada lambangnya

*Sesungguhnya, bukanlah pada lambang itu hatiku merindu, tetapi pada Baginda saw. yang memakai Sandal itu…

*Kita direndahkan oleh cinta kerana memuliakan sandal ini, dan bilamana kita merendahkan diri dihadapannya, kita akan diangkat dan dimuliakan

*Maka letakkanlah ia di rak-rak teratas, kerana secara zahir ia adalah Sandal, namun pada hakikatnya ia adalah Mahkota.

Dan di antara kelebihannya yang telah terbukti manfaat dan keberkatannya ialah apa yang dikisahkan oleh seorang syaikh yang soleh, Abu Ja’far Ahmad bin Abdul Majid:- “Aku telah membuat mitsal ni`al(lakaran sandal) ini untuk seorang muridku, maka dia telah berjumpa denganku pada suatu hari dan berkata:- “Kelmarin aku telah melihat keberkatan ni`al ini yang ajaib. Isteriku telah ditimpa sakit yang berat sehingga hampir-hampir binasa, maka aku letakkan mitsal ni`al tersebut pada tempat sakitnya dan berdoa “ALLAHUMMA ARINI BARAKATA SOHIBI HAZAN-NA’LI” ( Ya Allah, tunjukkanlah aku keberkatan tuan empunya ni`al ini, yakni Junjungan Nabi s.a.w.), lalu dia disembuhkan Allah pada waktu itu juga.

Keharusan bertawassul dengan lakaran sandal Rasulullah SAW juga disebutkan oleh Maulan Zakaria Kandahlawi dalam kitabnya Syarah Syamail Tirmizi.

Antara kelebihannya yang lain juga dicatatkan oleh Imam al-Qustulani dalam kitabnya “al-Mawaahibul Laduniyyah” juz ke-2 mukasurat 174.

Telah berkata Abu Ishaq:-”Telah berkata Abul Qasim bin Muhammad:-”Di antara yang telah mujarrab keberkatannya ialah sesiapa yang membawanya bersama dengan niat untuk mengambil berkat, jadilah dia selamat daripada kejahatan penjahat, memperolehi kemenangan ke atas musuh dan mendapat penjagaan daripada syaitan yang jahat serta dipelihara daripada kedengkian orang-orang yang hasad. Dan jika dibawa oleh orang perempuan hamil yang sedang sakit hendak bersalin pada sebelah kanannya, nescaya dipermudahkan urusannya tersebut dengan pertolongan dan kekuatan Allah.”

Beberapa ulama lainnya juga telah mengarang berbagai kitab mengenai lakaran sandal atau ni`al al-Mustafa s.a.w. ini. Antaranya ialah Imam Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya“Timsalu Na’l an-Nabiy“, Imam Ibnu Muqri dalam kitabnya “Qurratul Aynayn fi Tahqiq Amr an-Na’layn“, Imam Abul Abbas al-Maqqari dalam kitabnya “Fathul Muta`al fi Madhin-Ni`al” dan ramai lagi yang lain.

Ulama membuat lakaran atau imej sandal Rasulullah s.a.w. demi kecintaan kepada Nabi junjungan besar s.a.w. sehingga merasakan sandal di telapak kaki Junjungan s.a.w. lebih mulia dan lebih bertuah daripada diri mereka. Hal ini amat payah untuk difahami oleh orang-orang yang tidak mengenal cinta dan orang yang tidak pernah mengecap fana-ur-rasul.

Bukankah kecintaan itu menuntut untuk mencintai apa sahaja yang mempunyai kaitan dengan yang dicintainya. Perhatian diberikan hatta ke sandal Kekasih s.a.w. bukan kerana sandal tetapi kerana yang tuan empunyanya. Tulusnya cinta pada kekasih telah menyebabkan keberkatannya terzahir pada diri pencinta.

Jika sandal Rasulullah saw itu tiada apa-apa kaitan dengan agama, maka sudah tentu para sahabat Rasulullah saw tidak perlu bersusah payah meriwayatkan hadis-hadis berkenaan rupa bentuk sandal yang dipakai oleh Rasulullah seperti mana yang telah dihimpunkan hadis-hadisnya oleh Imam Tirmizi dalam Syamail-nya yang menerangkan mengenai rupa dan bentuk sandal Rasulullah secara terperinci.

Jika ada yang mengatakan “bukankah bukti cinta Rasulullah SAW itu dengan mengikuti sunnahnya?’.Demikian memang benar, tetapi manusia harus diberi ruang dan peluang untuk dipupuk perasaan cinta terhadap Rasululah sebagai asas kekuatan dan motivasi untuk beristiqamah dengan sunnah Rasulullah SAW.

Semoga kita ditumpahkan perasaan cinta yang mendalam terhadap Rasululah SAW serta apa dan siapa saja yang berkaitan dengan baginda SAW. Amiin.

Ustaz Iqbal Zain

14/03/2018 Posted by | Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

DALIL TABARRUK

DALIL TABARRUK
(Para Sahabat Bertabarruk Dengan Segalanya Yang Berkaitan Rasulullah SAW)

Daripada ‘Amir ibn Abdullah ibn Zubair mengisahkan ayahnya pernah menceritakan kepadanya bahawa dia pernah datang kepada nabi ketika baginda sedang dibekam.
Setelah selesai dibekam, Baginda SAW bersabda: “Wahai Abdullah (ibn Zubair)! Pergilah kamu dengan membawa darah ini dan buanglah ia di tempat yang tidak seorang pun dapat melihat kamu.”

Setelah meninggalkan Rasulullah SAW, dia mengambil darah itu, lalu meminumnya. Apabila kembali semula, Rasulullah SAW bertanya: “Apakah yang telah kamu lakukan dengan darah itu?” Dia menjawab: “Aku telah sorokkannya di tempat yang sangat tersorok, yang aku tahu ia sememangnya tersembunyi daripada orang ramai.”
Baginda SAW bersabda: “Boleh jadi engkau telah meminumnya?” Dia menjawab: “Ya”.
Nabi SAW bersabda: “Kenapa kamu minum darah itu? Celakalah manusia daripada kamu dan terselamatlah kamu daripada manusia.” (riwayat Al-Hakim, al-Bazzar, Al-Isobah dan oleh Al-Haithami dalam Majma’)

Abu Musa mengatakan bahawa Abu ‘Asim berkata: “Mereka (para sahabat) berpendapat bahawa kekuatan yang terdapat pada Abdullah ibn Zubair itu disebabkan keberkatan darah tersebut.”

Dalam riwayat Imam al Dar Qutni daripada hadis Asma’ binti Abu Bakar juga seperti itu. Dalam hadis tersebut dinyatakan: “Dan kamu tidak akan disentuh api neraka”.
Dalam kitab al Jauhar al-Maknun fi Zikr al-Qaba’il wa al-Butun disebutkan, bahawa setelah Abdullah ibn Zubair meminum darah Rasulullah SAW, meruap bau wangi kasturi daripada mulut Ibnu Zubair dan bau itu kekal di mulutnya sehingga dia disalib (syahid). (Dalam Al-Mawahib, al-Quatallani, 1:284)

Imam Tabrani meriwayatkan daripada Safinah r.a katanya: Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW berbekam. Setelah itu, baginda bersabda: “Ambillah darah ini dan tanamlah ia daripada (dilihat) oleh binatang, burung dan manusia”. Lalu, aku pun menyembunyikannya dan meminumnya. Kemudian, aku memberitahu hal itu kepada Rasulullah SAW, maka baginda pun ketawa. (Al-Haitami dalam Majma’ mengatakan bahawa rijal Al-Tabrani adalah thiqah. 8:270)

Dalam Sunan Sa’id ibn Mansur melalui jalan ‘Amru ibn Sa’ib disebut: “Telah sampai berita kepadanya bahawa Malik ibn Sinan r.a, bapa Abu Sa’id al Khudri, tatkala muka Nabi Muhammad SAW luka dalam peperangan Uhud, dia menghisap darah baginda SAW sampai bersih dan nampak putih bekas lukanya.”
Nabi SAW bersabda: “Muntahkan darah itu!” Malik r.a menjawab: “Aku tidak akan memuntahkannya selama-lamanya.” Bahkan, dia menelannya.
Nabi SAW bersabda: “Barang siapa ingin melihat seorang dari ahli syurga, maka lihatlah kepada orang ini.” Ternyata, dia gugur syahid dalam peperangan Uhud.

Imam Tabrani juga meriwayatkan hadis seperti itu. Antara lain, disebutkan bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Sesiapa yang mencampurkan darahku dengan darahnya, nescaya tidak akan disentuh api neraka”. (Al-Haithami mengukuhkan hadis ini dalam Majma’nya, 8:270)

Berkata al-Hafiz Ibnu Hajar: “Telah meriwayatkan Abdul Razzaq daripada Ibnu Juraij, beliau berkata: Aku diberitahu bahawa nabi pernah buang air kecil ke dalam sebuah bekas yang diperbuat daripada tembikar. Kemudian, baginda meletakkannya di bawah katilnya.”

Apabila baginda hendak mengambilnya kembali, ternyata bekas itu tidak mengandungi apa-apa. Rasulullah SAW bertanya kepada seorang perempuan yang bernama Barakah, pembantu Ummu Habibah yang datang bersamanya dari Habsyah: “Di manakah air kencing di dalam bekas itu?” Dia menjawab: “Aku telah meminumnya.”
Rasulullah SAW bersabda: “Semoga engkau beroleh kesihatan, wahai Ummu Yusuf!” Dia memang digelar dengan gelaran Ummu Yusuf. Selepas peristiwa itu, dia tidak pernah sakit, kecuali sakit yang mengakibatkan kematiannya. (Ibnu Hajar, al-Talkhis al Habir fi Takhrij Ahadith al-Syarh al-Kabir, (2: 32))

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Nasaei secara ringkas. Berkata al Hafiz al-Suyuti: “Ibnu Abdil Bar telah menyempurnakan penulisan hadis ini di dalam al-Isti’ab.” Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW bertanya Barakah tentang air kencing yang terdapat di dalam bekas tersebut. Lalu Barakah berkata: “Aku telah meminumnya, wahai Rasulullah!” Seperti yang disebut oleh hadis. (Al-Suyuti, Sharh Sunan Al-Nasaei, 1:32).

Dalam Bukhari dan Muslim: Para sahabat berebut mendapatkan sisa air wudhu’ Nabi sall-Allahu álayhi wasallam untuk digunakan membasuh muka mereka.Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab sahihnya akan perlakuan para sahabat dalam bertabarruk dengan air bekas wuduk Junjungan Nabi SAW. Demikian dahsyat dan bersungguh-sungguhnya mereka bertabarruk dengannya sehingga Imam al-Bukhari meriwayatkan yang mereka seolah-olah hampir saling berbunuh-bunuhan kerana berebut-rebut mendapatkan bekas jatuhan air wuduk dan air ludah baginda SAW.
Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim berkata: “riwayat-riwayat ini merupakan bukti/hujjah untuk mencari barokah dari bekas-bekas para wali” (fihi al-tabarruk bi atsar al-salihin).

Anas berkata: “Nabi sall-Allahu álayhi wasallam tinggal bersama kami, dan begitu beliau tidur, ibuku mulai mengumpulkan air peluhnya dalam suatu botol kecil. Nabi sall-Allahu álayhi wasallam terbangun dan bertanya, “Wahai Ummu Sulaim, apa yang kau lakukan?” Dia (Umm Sulaim) menjawab, “Ini adalah air peluhmu yang akan kami campur dalam minyak wangi kami dan itu akan menjadikannya minyak wangi terbaik.” (Hadits Riwayat Muslim, Ahmad). Perbuatan tersebut tidak dilarang oleh Rasulullah SAW.

Ibnu al-Sakan meriwayatkan lewat Safwan ibn Hubayra dari ayah Safwan: Sabit al-Bunani berkata: Anas ibn Malik berkata kepadaku (di tempat tidurnya saat menjelang wafatnya): “Ini adalah sehelai rambut Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam. Aku ingin kau menempatkannya di bawah lidahku.” Thabit melanjutkan: Aku menaruhnya di bawah lidahnya, dan dia (Anas) dikubur dengan rambut itu berada di bawah lidahnya.”
Ibnu Sirin (seorang tabi’in) berkata: “Sehelai rambut Nabi sall-Allahu álayhi wasallam yang kumiliki lebih berharga daripada perak dan emas dan apa pun yang ada di atas bumi maupun di dalam bumi.” (riwayat Bukhari,Baihaqi dalam Sunan Kubra, dan Ahmad)

Hafiz al-’Ayni berkata dalam ‘Umdat al-Qari, Vol. 18, hlm. 79: “Ummu Salamah memiliki beberapa helai rambut Nabi dalam sebuah botol perak. Jika orang jatuh sakit, mereka akan pergi dan mendapat barokah lewat rambut-rambut itu dan mereka akan sembuh dengan sarana barokah itu. Jika seseorang terkena penyakit mata atau penyakit apa saja, dia akan mengirim isterinya ke Ummu Salamah dengan sebuah bekas air, dan dia (Ummu Salamah) akan mencelupkan rambut itu ke dalam air, dan orang yang sakit itu meminum air tersebut dan dia akan sembuh, setelah itu mereka mengembalikan rambut tersebut ke dalam jiljal.”

Ustaz Iqbal Zain

14/03/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Sekilas 30 – Kenapa Manhaj Wahabi Ditentang?

Aduhai, secara peribadi, kasihan saya melihat ratusan soalan yang diajukan pada saya mengenai, peningnya mereka melihat perbalahan mengenai wahabi ini.

Secara ringkas, saya ingin membahaskan mengenai wahabi dan manhajnya (caranya). Harap artikel ini dibaca hingga ke penghujung.

1. Manhaj Wahabi adalah satu manhaj yang menggunakan al-Quran dan Hadis semata-mata.

2. Doktrin ini nampaknya bagus tetapi ia akan mengetepikan pandangan ulama-ulama muktabar. Sebab itu akhirnya, doktrin ini akan menolak mazhab.

3. Menolak mazhab bagi orang betul-betul berilmu yang faham ayat hukum dan hadis hukum, tahu menggunakannya akan menyebabkan seseorang itu terselamat dari tafsiran yang salah.

4. Jika seseorang itu orang awam, yang baru berjinak-jinak dengan agama, akan mendedahkannya tersalah di dalam tafsiran sesuatu hukum. Kadang-kala, baca ayat hukum pun dari buku-buku terjemahan.

5. Jika dia menolak tafsiran hukum dari Imam-Imam besar seperti Imam al-Syafie, dan dia pula berminat dengan tafsiran hukum ustaz barunya ini, akhirnya, dia akan kurang berminat dengan pandangan ulama muktabar, dan akan menggunakan pandangan ustaz itu sendiri.

6. Ia akan mewujudkan mazhab baru apabila, ustaz baru itu sebagai pegangan mazhabnya. Doktrin ini akan menolak tafsiran dari ulama muktabar dan akan memakai tafsiran sendiri atau tafsiran ustaz itu sendiri di dalam sesuatu hukum.

7. Kenapa tok-tok guru kita sangat menentang doktrin ini.
8. Ini kerana, jika manhaj ini dibuat di dalam membahaskan ilmu fekah, hukum hakam, tidak mengapa. Tetapi, apabila manhaj ini dipakai untuk membahaskan soal akidah, ia sangat merbahaya.

9. Ia akan mendedahkan orang awam mentafsir mengenai ketuhanan dengan sendiri.

10. Kadang-kala, ia menjadikan pentafsir itu menjisimkan Allah.

11. Kita berbalik dengan perbahasan wahabi ini. Untuk mengetahui sejarah dan sebagainya, pembaca boleh menelusuri blog-blog yang ada. Saya hanya mahu membahaskan satu sudut yang jarang dibahaskan iaitu manhaj (cara) wahabi di dalam mengeluarkan hukum.

12. Manhaj semata-mata memakai al-Quran dan hadis ini yang didoktirnkan. Tetapi, tidak semua orang yang menggunakan kaedah ini adalah orang wahabi. Ada beberapa golongan orang di dalam hal ini.
1. Peminat manhaj (cara) wahabi. Dia bukan wahabi, tetapi peminat manhaj (cara).

Biasanya, ada tiga jenis golongan.
i. Golongan pertama ialah seseroang yang apabila dia belajar agama sampai satu tahap yang tinggi dan sudah faham perjalanan bagaimana sesuatu hukum itu dikeluarkan maka dia akan berminat dengan manhaj (cara) ini. Kebiasaannya, orang yang menjadi peminat manhaj wahabi ialah orang yang bukan dari aliran syariah (hukum hakam). Biasanya dari aliran-aliran lain (Bahasa Arab/ Usuluddin). Tetapi saya tidak menafikan, ada juga sesetengah golongan syariah yang meminati manhaj ini, tetapi bilangannya tidak seramai dari bidang lainnya.
ii. Orang awam yang baru ingin memahami Islam dan berguru dengan cara ini. Ia akan menjadi orang ikut-ikut juga. Orang macam ini, di mana pun, sama. Dia akan mengikut guru yang mengajarnya. Kebetulan, jika guru yang mengajarnya itu berhemah, maka dia akan menjadi orang berhemah. Jika guru itu jenis yang suka memperlecehkan orang lain, maka dia pasti akan terikut dengan cara ini.
iii. golongan ketiga adalah golonga yang kecewa dengan ustaz-ustaz lama ini, yang membawa pendekatan kudus, tidak boleh ditegur, suka marah-marah dan sebagainya. Kita tidak nafikan terdapat kelemahan ustaz-ustaz lama yang kadang-kala pandangannya itu ada kepentingan dan sebagainya. Apabila golongan ketiga ini bertemu dengan ustaz yang boleh membidas, dia tidak jumpa pula ustaz yang betul-betul membimbingnya, maka dia akan menjadi peminat manhaj ini. Biasanya golongan ini terdiri dari orang terpelajar yang bukan dari aliran agama. Ustaz lama pula tidak membuka ruang untuk bertanya, jadi, perasaan ingin tahu itu meluap-luap dan apabila bertemu dengan peminat manhaj wahabi ini, dia akan berminat.

Golongan pertama boleh terselamat dari kesesatan kerana ia faham dan telah tahu banyak hukum hakam ini. Tetapi golongan kedua dan ketiga, boleh terdedah dengan kesalahan di dalam mentafsir al-Quran dan Hadis. Ini kerana, kaedah yang dibawa ialah, rujuk pada al-Quran dan hadis semata-mata.

Golongan kedua dan ketiga, jika tidak belajar secara sistematik, akan menjadi orang yang tidak berpegang dengan mazhab muktabar, tetapi nanti akan menjadi orang yang berpegang dengan mazhab ustaz yang menjadi rujukannya itu. Ustaz itu yang akan menjadi rujukan hukum baginya.

2. Pemegang Wahabi.
Kenapa ulama-ulama kita ada sampai ada yang berfatwa mengatakan wahabi bukan dari ahli sunnah wal Jemaah. Ia terjadi apabila doktrin tidak berminat dengan tafsiran ulama muktabar dibawa kepada bab akidah.
Bagi manhaj Wahabi yang hanya menggunakan al-Quran dah hadis, apabila membahaskan ayat-ayat mengenai zat Allah, ia akan menjadikan seseorang itu sampai tahap menjisimkan Allah.

Mengatakan Allah itu ada tangan seperti tangan kita, Allah itu duduk seperti duduk kita.

Ia yang membezakannya dengan akidah Ahli Sunnah. Ahli Sunnah tidak menjisimkan Allah. Kerana di dalam Ahli Sunnah, ada pengajian yang menekankan bahawa Allah tidak sama dengan makhluk.
**(bagi kita yang kurang mahir dalam bahasa Arab, boleh rujuk buku I’tikad Ahlisunnah Wal-Jamaah oleh K.H Sirajuddin Abbas)

Di dalam bab akidah, ahli Sunnah telah menggariskan beberapa dasar. Antaranya ialah Allah itu tidak akan sama dengan makhluk
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat (surah al-Syura ayat 11)

Jadi, peperangan yang sebenar antara wahabi dengan ahli sunnah bukan sebab qunut atau talkin. Itu hanya bab hukum hakam. Ia apabila sudah mula membahaskan bab akidah.

Kenapa Kategori Pertama (Peminat Wahabi) Juga Ditentang Di Malaysia?
Kerana, rakyat di Malaysia tidak ramai yang mengetahui apa itu wahabi. Jadi, jika manhaj wahabi disebarkan, ditakuti, bermula dengan hukum hakam, ia akan mula membahaskan bab akidah.
Ini kerana, peminat wahabi akan mendoktrinkan agar kita berpegang dengan al-Quran dan hadis semata-mata. Tidak perlu memakai pandangan ulama dalam mazhab dan sebagainya. Persoalannya, jika seorang itu tidak faham apa makna hadis itu, tafsiran siapa yang akan dipakai?

Sudah tentu dia akan merujuk kepada tafisiran sendiri atau ustaznya itu sahaja.

Maka, oleh kerana tafsiran ustaz itu sendiri yang dipakai, ia akan mendedahkan kepada bahaya. Jika ustaz itu memang ilmunya tinggi, tidak menjadi masalah, tetapi, jika ustaz yang mendoktrinkan manhaj (cara) wahabi ini, ilmunya tidak berapa tinggi, ia akan mendedahkan kepadanya kesilapan tafsiran hukum yang kemudian akan diikuti oleh muridnya.

Apa jalan keluarnya ?

Jalan keluarnya, belajar agama perlu berguru dengan manhaj (cara) yang betul. Kita belajar agama bukan untuk tunjuk kita alim. Kita belajar kerana nak menghampirkan diri pada Allah. Bergurulah. Jangan ketepikan tafsiran ulama muktabar di dalam sesuatu hukum.

Belajar dengan manhaj (cara) ahli Sunnah iaitu, hukum itu dikeluarkan dengan melihat kepada al-Quran, hadis, Ijmak ulama dan kias.

Selepas itu, kaedah lain seperti masalih al-Mursalah (melihat kebaikan), sad al-Zara’ik (menghalang keburukan) dan sebagainya.

Jika semata-mata al-Quran dan hadis, ditakuti terdedah dengan kesilapan di dalam mentafsir sesebuah hukum.

Di dalam al-Quran Allah menyatakan bahawa :-
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (surah an-Nisa ayat 59)

Imam al-Qurtubi ketika menafsirkan ayat ini menyatakan bahawa:-
Dan tidak ada selain ulama’ yang tahu bagaimana untuk balik pada al-Kitab dan al-Sunnah, maka berdasarkan perkara ini, bertanya sesuatu persoalan pada ulama’ itu hukumnya wajib.

Harapan saya

Saya mengharapkan, semua orang di Malaysia ini akan semakin matang di dalam pengajian agama. Tahu al-Quran dan hadis dengan manhaj (cara) yang betul.
Bagi para ustaz, ajar orang ramai juga merujuk kepada kitab-kitab. Buka orang awam untuk perbahasan ilmu.

Bagi ustaz yang gemar pada perbincangan, jaga adab di dalam berbincang dan adab di dalam berselisah pendapat. Jangan pula kita mengatakan, kita sahaja betul dan orang lain salah. Selagi mana ada dalil dan hujjah kita perlu berlapang dada dengan perselisihan ini.

Jangan sampai perselisihan dengan emosi menyebabkan masyarakat lagi huru hara.

Bagi masyarakat, perbalahan antara ulama di Malaysia sekarang ini adalah ibarat perbalahan ibu bapa. Jika kita tidak boleh mengikuti dengan baik, bersabar dan tenang.
Ketika tengah panas, semua akan saling salah menyalahkan. Doakan yang terbaik untuk semua. Yang penting, akhirnya, biar semua kembali kepada Allah dengan mencari keredhaannya.
Semoga Allah terus memelihara kita semua dari perkara yang mengundang kemurkaannya, amin…

Ustaz Yunan A Samad

08/02/2018 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab), wahabi | Leave a comment

Sembahyang Sunat Selepas Isyak .

Sembahyang Sunat Selepas Isyak
Allah maha kaya, walaupun kita melakukan ibadat yang sedikit, tetapi Allah memberi bonus yang banyak. Solat Sunat 4 rakaat lepas isya’ diberi pahala seperti pahala sembahyang pada malam lailatulqadar.

Sembahyang 4 rakaat ini dilakukan secara 2-2 rakaat iaitu 2 salam. 2 rakaat solah sunat lepas fardhu isya’ dan 2 lagi rakaat selepas sembahyang witir. Biasanya nabi melakukan 2 rakaat secara berdiri dan 2 lagi secara duduk (walaupun tiada keuzuran). Semasa solat sunat sambil duduk, kadang-kadang nabi bangun berdiri apabila hendak rukuk.

Adapun pada 2 rakaat sesudah solat Witir, beliau biasanya membaca surah Zalzalah dan Surah A-Kafiruun. (HR Ahmad, Ibnu Nashr, Thahawi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dengan sanad hasan shahih).

Ummu Salamah ra menerangkan, “Bahawasanya Nabi pernah mengerjakan 2 rakaat lagi sesudah witir.”[HR at-Turmudzi dan disahihkan oleh ad Daruthny]

Dalam riwayat Ahmad dan Ibn Majah terdapat perkataan, “sedang Nabi mengerjakan sembahyang itu sambil duduk.”

Dari Aisyah ra, “Bahawa Rasulullah saw menguc ap salam sampai kita dapat mendengarnya, lalu bersembahyang 2 rakaat lagi sehabis bersalam tadi sambil duduk.”[HR Muslim]

Sembahyang sunat 4 rakaat selepas fardhu Isyak diberi pahala sama seperti pahala malam Lailatul Qadar:

Kata Anas r.a (Rasulullah saw bersabda) solah sunat 4 rakaat selepas fardhu Isya, seakan telah disamakan dengan malam Lailatul Qadar, demikian juga dari Siti Aisyah r.a yang dikeluarkan oleh Al Baihaqi (Khazinatul Asrar 1/27)

Malam Lailatul Qadar, adalah malam yang berkedudukan tinggi. Solah sunat 4 rakaat selepas fardhu Isya’ berkedudukan tinggi, seperti malam Lailatul Qadar, tetapi mungkin ia tidak sama dengan mereka yang mendapat penjelmaan malam Lailatul Qadar, kerana ia lebih besar.

Di sini terdapat 2 perkara (1) malam Lailatul Qadar, dan (2) mereka yang mendapat malam Lailatul Qadar.

Dari Abi Umamah r.a sabda Rasulullah saw, sesiapa mengerjakan solah Isya’ berjemaah, ia telah dapat (pahala) sebahagian dari Lailatul Qadar (Jame’ Saghir 2/616)

(Nota Kuliah Tuan Guru Maulana Syed Noor Muhammad Syed)

(Sumber: Nasbun Nurain)

07/02/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | 1 Comment

Jabatan Kemajuan Islam Malaysia – Garis Panduan Ber`Iddah Bagi Wanita Yang Bercerai Atau Kematian Suami

Garis Panduan Ber`Iddah Bagi Wanita Yang Bercerai Atau Kematian Suami
TUJUAN

Garis Panduan Ber`iddah Bagi Wanita Yang Bercerai atau Kematian Suami disediakan sebagai panduan dan rujukan kepada masyarakat Islam di Malaysia khususnya dalam kalangan wanita berkaitan batas hukum dan adab semasa berada dalam tempoh `iddah menurut tuntutan syarak.

PENDAHULUAN

2. Islam sebagai satu cara hidup yang lengkap telah menyusun secara terperinci perkara-perkara yang berkaitan dengan nikah, cerai dan rujuk sebagai satu panduan hukum yang wajib dipatuhi oleh umat Islam.Bagi isu yang melibatkan perceraian, terdapat beberapa aspek yang perlu diberi perhatian seperti nafkah `iddah, mut`ah, hak penjagaan anak dan pembahagian harta sepencarian. Selain daripada itu, satu lagi perkara penting bagi seorang isteri yang diceraikan ialah tempoh `iddah yang wajib ditempuh oleh mereka.

3. Dalam perkara ini, `iddah turut tidak terkecuali bagi seorang wanita yang kematian suami dan Islam menetapkan bahawa mereka wajib menempuh tempoh `iddah tertentu dan berkabung atas kematian tersebut.

4. Dengan berlakunya peredaran masa dan zaman, wanita Islam yang berada dalam tempoh `iddah sering berhadapan dengan pelbagai persoalan yang memerlukan penjelasan terperinci khususnya dalam hal yang melibatkan batas hukum dan adab bagi seorang wanita ber`iddah atau berkabung. Tambahan pula, dengan tuntutan kerjaya, kemajuan teknologi maklumat dan komunikasi hari ini, ia turut memberi impak dan cabaran terhadap cara dan gaya hidup masyarakat. Dibimbangi, sekiranya tidak dibimbing dan dipandu dengan sebaiknya, masyarakat Islam khususnya dalam kalangan wanita tidak dapat memahami dan menghayati konsep `iddah dan berkabung yang sebenar seperti yang dituntut oleh Islam, bahkan menganggapnya sebagai perkara remeh dan menyusahkan.

KANDUNGAN GARIS PANDUAN

5. Garis panduan ini memberi penjelasan mengenai batas hukum yang perlu dipatuhi oleh seorang wanita yang sedang berada dalam tempoh `iddah supaya kehidupan mereka sepanjang tempoh tersebut selari dengan tuntutan Islam dan mengelakkan berlakunya sebarang fitnah serta tohmahan yang tidak diingini. Garis panduan ini mengandungi perkara-perkara seperti yang berikut:

a. Tafsiran.

b. Hukum `iddah dan berkabung.

c. Dalil-dalil pensyariatan `iddah.

d. Dalil-dalil pensyariatan berkabung.

e. Hikmah `iddah.

f. Jenis dan tempoh `iddah.

g. Batasan hukum semasa dalam tempoh `iddah talak raj`ie.

h. Batasan hukum semasa dalam tempoh `iddah talak ba’in.

i. Batasan hukum semasa dalam tempoh `iddah kematian suami.

j. Kesimpulan.

Tafsiran

Tafsiran bagi beberapa istilah yang berkaitan dengan garis panduan ini ialah seperti yang berikut:

i. Ajnabi
Tidak mempunyai hubungan kerabat. Orang asing.

ii. Berkabung (Ihdad)
Meninggalkan perhiasan dan seumpamanya bagi wanita yang sedang ber`iddah kerana kematian suami.

iii. Fasakh
Pembubaran perkahwinandengan kuasa pihak pemerintah.

iv. `Iddah
Tempoh tertentu yang ditetapkan ke atas seorang wanita selepas diceraikan atau selepas kematian suami.

v. Istihadhah
Darah yang mengalir daripada faraj wanita dan ia bukan darah haid atau nifas.

vi. Mut`ah
Pemberian sagu hati oleh suami kepada isteri yang diceraikan.

vii. Rujuk
Suami kembali semula kepada isteri yang diceraikan bukan secara talak ba’in, tanpa memerlukan kepada akad baharu.

viii. Suami Hilang (Mafqud)
Terputus hubungan dengan suami dan tidak diketahui sama ada masih hidup atau mati.
ix. Talak Raj`ie
Talak yang memberi hak kepada suami untuk kembali rujuk kepada isterinya selagi dalam tempoh `iddah.

x. Talak Ba’in
Talak yang tidak memberi hak kepada suami untuk kembali rujuk kepada isteri yang diceraikan kecuali dengan mahar dan akad yang baharu. Talak ba’in terbahagi kepada dua iaitu ba’in baynunah sughra dan ba’in baynunah kubra.
Ba’in baynunah sughraialah perceraian yang berlaku sebelum berlaku persetubuhan sama ada secara talak satu atau dua.
Ba’in baynunah kubraialah perceraian secara talak tiga dan suami tidak boleh kembali rujuk kepada isteri yang diceraikan kecuali selepas isteri tersebut berkahwin dengan lelaki lain.

Hukum `Iddah dan Berkabung

i. Hukum `iddah menurut syarak adalah wajib ke atas wanita yang bercerai atau kematian suami.

ii. Hukum berkabung menurut syarak adalah wajib ke atas wanita yang kematian suami.

Dalil-Dalil Pensyariatan `Iddah

Terdapat beberapa dalil daripada al-Quran dan al-Sunnah yang mensyariatkan kewajipan `iddah. Antara dalil-dalil tersebut ialah:

i. Firman Allah SWT dalam Surah al-Baqarah ayat 228 yang bermaksud:

Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu dengan menahan diri mereka (dari berkahwin) selama tiga kali suci (dari haid). Dan tidaklah halal bagi mereka menyembunyikan (tidak memberitahu tentang) anak yang dijadikan oleh Allah dalam kandungan rahim mereka, jika betul mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suami mereka berhak mengambil kembali (rujuk akan) isteri-isteri itu dalam masa `iddah mereka jika suami-suami bertujuan hendak berdamai. Dan isteri-isteri itu mempunyai hak yang sama seperti kewajipan yang ditanggung oleh mereka (terhadap suami) dengan cara yang sepatutnya (dan tidak dilarang oleh syarak); dan suami mempunyai satu darjat kelebihan atas isterinya. Dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

ii. Dalam Surah al-Talaq ayat 1, Allah SWT berfirman yang bermaksud:

Wahai Nabi! Apabila kamu (engkau dan umatmu) hendak menceraikan isteri-isteri (kamu), maka ceraikanlah mereka pada masa mereka dapat memulakan `iddahnya, dan hitunglah masa `iddah itu (dengan betul), serta bertakwalah kepada Allah, Tuhan kamu. Janganlah kamu mengeluarkan mereka dari rumah-rumah kediamannya (sehingga selesai `iddahnya), dan janganlah pula (dibenarkan) mereka keluar (dari situ), kecuali (jika) mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan itulah aturan-aturan hukum Allah (maka janganlah kamu melanggarnya); dan sesiapa yang melanggar aturan-aturan hukum Allah maka sesungguhnya ia telah berlaku zalim kepada dirinya. (Patuhilah hukum-hukum itu, kerana) engkau tidak mengetahui boleh jadi Allah akan mengadakan sesudah itu sesuatu perkara (yang lain).

iii. Firman Allah SWT dalam Surah al-Talaq ayat 4 yang bermaksud:

Dan perempuan-perempuan dari kalangan kamu yang putus asa dari kedatangan haid, jika kamu menaruh syak (terhadap tempoh `iddah mereka) maka `iddahnya ialah tiga bulan; dan (demikian) juga `iddah perempuan-perempuan yang tidak berhaid. Dan perempuan-perempuan mengandung, tempoh `iddahnya ialah hingga mereka melahirkan anak yang dikandungnya. Dan (ingatlah) sesiapa yang bertakwa kepada Allah, nescaya Allah memudahkan baginya segala urusannya.

iv. Hadith Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, daripada Aisyah r.a., katanya yang bermaksud:

Rasululah SAW telah memerintahkan Barirah untuk ber`iddah dengan tiga kali haid.

Dalil-Dalil Pensyariatan Berkabung

Terdapat beberapa dalil daripada hadith Nabi SAW yang mensyariatkan kewajipan berkabung. Antara dalil-dalil tersebut ialah:

i. Sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh al-Bukhari bermaksud:

Tidak halal bagi perempuan yang beriman dengan Allah dan hari akhirat berkabung lebih daripada tiga hari, kecuali berkabung kerana kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari.

ii. Hadith Nabi SAW yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, daripada Ummu `Atiyyah r.a., katanya yang bermaksud:

Kami dilarang berkabung atas kematian seseorang melebihi tiga hari kecuali berkabung atas kematian suami selama empat bulan sepuluh hari. Kami dilarang bercelak mata, dilarang memakai wangi-wangian dan memakai pakaian berwarna-warni…

iii. Sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh al-Nasa’ie bermaksud:

Tidak halal bagi perempuan yang beriman dengan Allah dan hari akhirat berkabung kerana kematian lebih daripada tiga hari, kecuali berkabung kerana kematian suami, mereka tidak boleh bercelak mata, tidak boleh berinai dan memakai pakaian berwarna-warni.

Hikmah `Iddah

Terdapat beberapa hikmah pensyariatan `iddah kepada wanita Islam. Antara hikmah tersebut ialah:

i. Untuk memastikan kekosongan rahim daripada benih suami terdahulu. Ia bertujuan untuk mengelakkan percampuran benih antara suami dahulu dengan suami yang baharu dikahwininya.

ii. Bagi `iddah talak raj`ie, ia sebagai ruang kepada suami dan isteri untuk berfikir dan menilai semula segala tindakan dan kesilapan yang telah dilakukan termasuk kesan daripada perceraian yang berlaku. Di samping itu, ia juga dapat memberi peluang kepada suami untuk kembali rujuk kepadaisterinya.

iii. Bagi perempuan yang kematian suami, tempoh `iddah juga sebagai tempoh berkabung bagi menghormati dan mengingati nikmat perkahwinan terdahulu. Ia juga sebagai tanda menjaga hak suami dan tanda menzahirkan kesetiaan isteri kepada suaminya. Selain itu, berkabung juga sebagai lambang pengabdian diri terhadap perintah Allah SWT.

Jenis dan Tempoh `Iddah

Secara keseluruhannya, sebab wajib `iddah terbahagi kepada dua bahagian iaitu `iddah disebabkan perceraian semasa hidup dan `iddah dengan sebab kematian suami. Setiap bahagian `iddah tersebut mempunyai pengiraan tersendiri yang akan menentukan tempoh `iddah yang perlu ditempoh sama ada panjang atau pendek. Pengiraan `iddah terbahagi kepada tiga iaitu:

i. `Iddah dengan kiraan suci (quru’);
ii. `Iddah dengan kiraan bulan; dan
iii. `Iddah dengan kelahiran atau keguguran kandungan.

Perincian berhubung jenis dan tempoh `iddah adalah seperti dalam Jadual 1.

Jadual 1: Jenis dan Tempoh `Iddah
BIL

JENIS `IDDAH
ADA HAID / TIADA HAID/
SEDANG MENGANDUNG
TEMPOH `IDDAH[1]
KETERANGAN
i.
Bercerai talak raj`ie/ba’in
Ada haid
Tiga kali suci
a. Jika ditalaq semasa dalam keadaan suci, `iddahnya tamat apabila datang haid yang ketiga.
b. Jika ditalaq semasa dalam keadaan haid, `iddahnya tamat apabila datang haid yang keempat.
c. Jika ditalaq semasa dalam keadaan nifas, hendaklah menunggu sehingga tiga kali suci selepas nifas. `Iddah tamat apabila datang haid yang keempat.
ii.
Bercerai talak raj`ie/ba’in
Tiada haid (sama ada kerana penyakit, telah dibuang rahim, telah putus haid, belum pernah haid atau lain-lain)
Tiga bulan

iii.
Bercerai talak raj`ie/ba’in
Sedang mengandung
Sehingga bersalin atau kandungan gugur
Selesai `iddah apabila melahirkan anak sama ada hidup atau mati, atau gugur kandungan yang telah membentuk janin yang sempurna atau hanya berbentuk segumpal daging yang menurut pakar perubatan itulah kandungan yang sebenar.
iv.
Bercerai talak raj`ie/ba’in dan belum pernah disetubuhi

Ada haid atau tiada haid
Tiada `iddah

v.
Bercerai talak raj`ie/ba’in dan menghidap istihadhah
a. Haid tidak menentu tetapi masih dapat mengetahui kebiasaan perjalanan darah haidnya.

b. Haid tidak menentu dan tidak mengetahui kebiasaan perjalanan haidnya atau tidak dapat membezakan antara darah haid dan istihadhah.
Tiga kali suci

Tiga bulan

vi.
Berlaku kematian suami semasa berada dalam tempoh `iddah talak raj`ie dan tidak mengandung
Ada haid atau tiada haid
Empat bulan sepuluh hari
Kiraan `iddah baru bermula pada tarikh atau hari kematian suami walaupun sebelum itu `iddah isteri sama ada dengan tiga kali suci atau tiga bulan telah hampir tamat.

vii.
Berlaku kematian suami semasa berada dalam tempoh `iddah talak ba’in dan tidak mengandung
Ada haid atau tiada haid
Tiga kali suci atau tiga bulan
Kekal `iddah talak ba’in sama ada dengan kiraan tiga kali suci atau tiga bulan dan `iddah tidak bertukar kepada `iddah kematian suami.
viii.
Kematian suami sama ada telah disetubuhi atau belum disetubuhi dan tidak mengandung
Ada haid atau tiada haid

Empat bulan sepuluh hari
Wanita yang kematian suami bukan sahaja wajib ber`iddah, tetapi juga wajib berkabung.

ix.
Kematian suami
Sedang mengandung
Sehingga melahirkan anak atau kandungan gugur
Selesai `iddah apabila melahirkan anak sama ada hidup atau mati, atau gugur kandungan yang telah membentuk janin yang sempurna atau hanya berbentuk segumpal daging yang menurut pakar perubatan itulah kandungan yang sebenar.
x.
Suami hilang
Ada haid, tiada haid atau sedang mengandung
Isteri wajib menunggu selama empat tahun. Selepas tempoh tersebut, isteri wajib pula ber`iddah dengan `iddah kematian suami selama empat bulan sepuluh hari.
Bagi kes suami hilang, isteri boleh mengemukakan permohonan kepada Mahkamah Syariah bagi mendapatkan pengesahan kematian suami atau membuat tuntutan fasakh.

Batasan Hukum Semasa Dalam Tempoh `Iddah Talak Raj`ie

Wanita yang sedang menjalani `iddah talak raj`ie mempunyai batas hukum yang perlu dipatuhi sepanjang berada dalam tempoh tersebut. Ini kerana hubungan atau pertalian perkahwinan antara suami isteri yang bercerai secara talak raj`ie masih wujud. Antara perkara-perkara yang perlu dipatuhi ialah:

i. Haram menerima pinangan lelaki ajnabi.

ii. Haram berkahwin dengan lelaki ajnabi. Jika perkahwinan dilangsungkan semasa dalam tempoh tersebut, pernikahan itu adalah tidak sah dan pasangan tersebut wajib dipisahkan.

iii. Tidak dibenarkan keluar rumah kecuali dengan keizinan suami.

iv. Tidak dibenarkan berpindah atau tinggal di rumah lain yang bukan menjadi kebiasaannya tinggal semasa masih dalam ikatan perkahwinan. Dalam hal ini, suami dilarang menghalau keluar isteri yang diceraikan, bahkan mereka wajib menanggung seluruh nafkahnya termasuk nafkah tempat tinggal. Ini berdasarkan firman Allah SWT dalam Surah al-Talak ayat 1 yang bermaksud:

…Janganlah kamu mengeluarkan mereka dari rumah-rumah kediamannya (sehingga selesai `iddahnya), dan janganlah pula (dibenarkan) mereka keluar (dari situ), kecuali (jika) mereka melakukan perbuatan keji yang nyata…

Namun, mereka dibolehkan keluar dan meninggalkan rumah tersebut sekiranya terdapat bahaya dan kemudaratan yang boleh mengancam keselamatan nyawa dan harta benda.

v. Tidak boleh berkabung. Bahkan mereka dituntut untuk bersolek dan berhias kepada suaminya sebagai dorongan bagi membangkitkan keinginannya untuk rujuk semula.

Batasan Hukum Semasa Dalam Tempoh `Iddah Talak Ba’in

Bagi wanita yang sedang menjalani `iddah talak ba’in, mereka juga mempunyai batas hukum tertentu sepanjang berada dalam tempoh tersebut. Antara perkara-perkara yang perlu dipatuhi oleh mereka ialah:

i. Haram menerima pinangan lelaki ajnabi.

ii. Haram berkahwin dengan lelaki ajnabi. Jika perkahwinan dilangsungkan semasa dalam tempoh tersebut, pernikahan itu adalah tidak sah dan pasangan tersebut wajib dipisahkan.

iii. Tidak dibenarkan keluar rumah kecuali dalam had dan batas yang diperlukan sahaja. Antara keperluan penting yang membolehkan keluar rumah ialah untuk bekerja, mendapatkan rawatan perubatan dan keperluan-keperluan lain yang penting dan mendesak, dengan syarat mereka dapat menjaga peraturan dan adab-adab seperti yang disyariatkan Islam. Termasuk dalam larangan keluar rumah juga ialah keluar untuk bermusafir walaupun untuk menunaikan ibadat fardu haji. Justeru dalam hal ini, keluar rumah tanpa keperluan yang penting dan mendesak adalah tidak dibenarkan sama sekali.

iv. Tidak dibenarkan berpindah atau tinggal di rumah lain yang bukan menjadi kebiasaannya tinggal semasa masih dalam ikatan perkahwinan. Ini kerana, sepanjang tempoh `iddah dengan talak ba’in, bekas suami masih berkewajipan menyediakan tempat tinggalnya dandilarang daripada menghalau keluar isteri yang diceraikan. Namun, sekiranya terdapat bahaya dan kemudaratan yang boleh mengancam keselamatan nyawa dan harta benda seperti banjir, tanah runtuh, gempa bumi dan sebagainya, mereka dibolehkan keluar dan meninggalkan rumah tersebut sehinggalah bahaya atau kemudaratan tersebut hilang atau dapat diatasi.

v. Disunatkan berkabung dan meninggalkan amalan berhias kerana dibimbangi dengan berhias itu boleh mendorong kepada maksiatdan kerosakan serta membawa kepada fitnah.

Batasan Hukum Semasa Dalam Tempoh `Iddah Kematian Suami

i. Bagi wanita yang ber`iddah kerana kematian suami,Islam telah menggariskan cara-cara tertentu sepanjangmereka berada dalam tempoh tersebut. Antara perkara-perkara yang mesti dipatuhi oleh mereka ialah:

a) Haram menerima pinangan lelaki ajnabi.

b) Haram berkahwin dengan lelaki ajnabi. Jika perkahwinan dilangsungkan juga semasa dalam tempoh tersebut, pernikahan itu adalah tidak sah dan pasangan tersebut wajib dipisahkan.

c) Tidak dibenarkan keluar rumah termasuk untuk bermusafir, kecuali dalam had dan batas yang diperlukan sahaja. Antara keperluan penting yang membolehkan keluar rumah ialah untuk bekerja, mendapatkan rawatan perubatan, membeli barang-barang keperluan asasi (sekiranya tidak ada ahli keluarga atau orang lain yang amanah boleh melakukannya) dan keperluan-keperluan lain yang penting dan mendesak, dengan syarat mereka dapat menjaga peraturan dan adab-adab seperti yang disyariatkan Islam. Keharusan untuk keluar rumah ini juga hanya tertakluk pada waktu siang dan tidak pada waktu malam. Namun, pengecualian diberikan kepada individu yang tidak mempunyai pilihan dan perlu bekerja pada waktu malam seperti doktor, jururawatdan sebagainya. Bagi larangan bermusafir, ia termasuk larangan untuk menunaikan ibadat fardu haji dan umrah.

d) Berpindah atau tinggal di rumah lain yang bukan menjadi kebiasaannya tinggal sepanjang tempoh perkahwinan. Namun, sekiranya terdapat bahaya dan kemudaratan yang boleh mengancam keselamatan nyawa dan harta benda seperti banjir, tanah runtuh, gempa bumi dan sebagainya, mereka dibolehkan keluar dan meninggalkan rumah tersebut sehinggalah bahaya atau kemudaratan tersebut hilang atau dapat diatasi.

e) Wajib berkabung sepanjang tempoh `iddah. Oleh itu, sepanjang dalam tempoh tersebut, mereka wajib meninggalkan semua perkara yang mempunyai unsur-unsur berhias sama ada pada pakaian atau tubuh badan. Termasuk dalam larangan berhias ini ialah:

i) Memakai pakaian berwarna terang atau berwarna-warni yang boleh menarik perhatian orang yang memandang;

ii) Memakai barang-barang kemas walaupun sebentuk cincin, gelang, rantai dan barang-barang perhiasan lain yang diperbuat daripada emas, perak dan permata;

iii) Memakai wangi-wangian pada anggota badan, rambut dan pakaian; dan

iv) Bersolek, memakai celak, berinai dan memakai minyak rambut serta perbuatan-perbuatan lain yang dianggap sebagai berhias pada pandangan masyarakat setempat.

ii. Perintah berkabung ini hanya dikhususkan kepada suruhan meninggalkan hiasan tubuh badan dan pakaian sahaja, tidak termasuk hiasan tempat tinggal, bilik tidur dan sebagainya.

iii. Justeru, walaupun wanita berkabung dilarang daripada berhias, ini tidak bermakna mereka perlu mengabaikan aspek kebersihan dan kesihatan diri serta ahli keluarga. Malah, mereka wajib menjaga kebersihandan kekemasan diri, pakaian dan tempat tinggal sepanjang tempoh `iddah dan berkabung itu.

KESIMPULAN

Islam bukan hanya menjaga dan memelihara kebajikan dan hak-hak wanita semasa mereka masih berada dalam tempoh perkahwinan, malah berterusan sehingga terbubarnya perkahwinan tersebut sama ada kerana perceraian hidup mahupun perceraian mati. Sudah pasti terdapat hikmah yang besar disebaliksetiap perkara yang disyariatkan oleh Islam yang mungkin tidak mampu dijangkau oleh akal manusia. Begitu juga dengan pensyariatan `iddah dan berkabung oleh Allah SWT ke atas kaum wanita. Justeru, sebagai hamba-Nya yang beriman, kita wajib patuh dan taat serta mengambil berat terhadap tuntutan tersebut tanpa sebarang persoalan atau menghadapinya dengan perasaan dan jiwa yang berkeluh-kesah. Bahkan kepatuhan kepada perintah Allah SWT itu merupakan satu tanda pengabdian diri dan kepatuhan hamba-Nya terhadap Pencipta Yang Maha Agung.

Dalam era wanita Malaysia yang berkerjaya, peranan ahli keluarga dan anggota masyarakat juga tidak kurang pentingnya. Mereka perlu sentiasa dididik dan diberi kesedaran supaya dapat menghayati dan menghormati situasi wanita yang sedang ber`iddah dan berkabung serta membantu mereka agar dapat menjalani tempoh tersebut mengikut landasan syarak. Ini penting kerana dengan pemahaman yang jelas berhubung hal ini, perkara-perkara yang ditegah oleh Islam dapat dihindari seterusnya mengelakkan berlakunya fitnah, tohmahan dan unsur-unsur yang kurang menyenangkan terhadap wanita yang sedang ber`iddah dan berkabung.

PENUTUP

Garis panduan ini diharap dapat memberikan panduan kepada masyarakat Islam khususnya dalam kalangan wanita Islam yang sedang menjalani tempoh `iddah dan berkabung supaya dapat melalui detik-detik tersebut dengan lebih mudah dan tenang. Ia juga diharap dapat membantu masyarakat untuk lebih memahami dan menghayati konsep `iddah dan berkabung menurut tuntutan Islam yang sebenar.

RUJUKAN

TERJEMAHAN AL-QURAN

Abdullah Basmeih. 2001. Tafsir Pimpinan Ar-Rahman Kepada Pengertian al-Qur’an. Cet. 12. Kuala Lumpur: Darul Fikir.

KAMUS

Muhammad Rawas QalÑah Ji.2006. MuÑjam Lughah al-Fuqaha’.Cet. 1. Beirut: Dar al-Nafa’is.

BAHASA ARAB

`Abd al-Karim Zaidan. 2000. Al-Mufassal fi Ahkam al-Mar’ah wa al-Bait al-Muslim fi al-Shari`ah al-Islamiyyah. Juz. 9. Beirut: Mu’assasah al-Risalah.

Ibn al-Jauzi, Imam Jalal al-Din Abi al-Farj. 1998. Ahkam al-Nisa’. Beirut: Dar al-Ma‘rifah.

Saleh bin ÑAbd al-ÑAziz bin Muhammad bin Ibrahim. 2000.MawsuÑah al-Hadith al-Sharif al-Kutub al-Sittah. Cet. 3. Arab Saudi: Dar al-Salam.

Wahbah al-Zuhaily. 1997.Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. Juz. 9. Beirut: Dar al-Fikr.

Wazarah al-Awqaf wa al-Syu’un al-Islamiyyah.1993. Al-Mawsu‘ah al-Fiqhiyyah.Juz. 2. Kuwait: Wazarah al-Awqaf wa al-Syu`un al-Islamiyyah.

__________________________________________. Al-Mawsu‘ah al-Fiqhiyyah.Juz. 29. Kuwait: Wazarah al-Awqaf wa al-Syu`un al-Islamiyyah.

AKTA

Akta Undang-Undang Keluarga Islam (Wilayah-Wilayah Persekutuan) 1984 (Akta 303). 2005. Petaling Jaya: International Book Services.

[1]Bagi `iddah dengan kiraan bulan, pengiraannya adalah berdasarkan kalendar hijrah dan bukannya mengikut kalendar masihi.

Kemaskini Terakhir: 02 Disember 2015
Hits: 168891

07/02/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Hukum menyebut zikir Allah….Allah….Allah

Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya berdzikir dengan lafazh ( الله ) saja adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dan lainnya dari sahabat Anas –semoga Allah meridlainya- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

” لا تقوم الساعة حتى لا يقال في الأرض : الله ، الله ” رواه مسلم وغيره

Maknanya: “Tidak akan tiba kiamat hingga tidak ada yan mengucapkan di atas bumi (kalimat) Allah, Allah” (H.R. Muslim dan lainnya)

Dalam salah satu riwayat Muslim dinyatakan:

“لا تقوم الساعة على أحد يقول : الله ، الله “.

Maknanya: “Kiamat tidak akan dirasakan oleh orang yang mengucapkan (kalimat) Allah, Allah”.

Allah ta’ala berfirman:

قل الله ثم ذرهم في خوضهم يلعبون سورة الأنعام : 91

Maknanya: “Katakanlah : Allah , kemudian biarkanlah mereka bermain dalam kesesatannya” (Q.S. al An’am: 91)
Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa orang yang menyebut nama Allah secara tersendiri akan memperoleh pahala.

Ulama salaf dan mutaqqimun yang mengharuskan zikir Allah Allah atau menyebut Allah Allah; antaranya:

1. Abu al-Husain an-Nuri (295H)
2. Az-Zubaidi (Pengarang “al-Jam’u baina as-Sahihain”)
3. Abu Hamid al-Ghazali
4. Fakhruddin ar-Razi
5. Ibn Rajab al-Hanbali
6. Ibn ‘Abidin
7. Zakaria al-Ansari
8. al-Manawi
9. ar-Ramli
10. Ibn Hajar al-Haithami

Dalil mereka ialah zahir ayat-ayat Al-Quran yang menyuruh berzikrullah serta hadith-hadith yang menyebut Allah Allah.

Antara ayat-ayat zahir tersebut ialah:

– الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم
– والذاكرين الله كثيرا والذاكرات
– واذكر ربك كثيرا وسبح بالعشي والإبكار
– اذكروا الله ذكرا كثيرا وسبحوه بكرة وأصيلا

dan ayat-ayat yang menyuruh menyebut nama Allah:

– واذكر اسم ربك وتبتل إليه تبتيلا
– واذكر اسم ربك بكرة وأصيلا
– ومن أظلم ممن منع مساجد الله أن يذكر فيها اسمه
– في بيوت أذن الله أن ترفع ويذكر فيها اسمه
– ويذكروا اسم الله في أيام معلومات

ayat-ayat ini berulang-ulang menunjukkan ta’kid kepada suruhan menyebut nama Allah. Doa dan zikir yang tidak hanya menyebut nama Allah tetapi dgn tambahan lain seperti tasbih, tahmid, takbir… telahpun disuruh dalam ayat-ayat yang lain.

Jika Allah SWT bertujuan untuk menyuruh bertasbih atau bertakbir, lafaznya jelas: bertasbihlah kamu kepada Allah atau bertakbirlah kamu kepada Allah.

Juga seperti: bacalah dgn menyebut nama Tuhanmu, atau bertasbihlah dgn menyebut Tuhanmu…tetapi disini khas “sebutlah nama Tuhanmu” tanpa dikaitkan dengan zikir-zikir yang lain. Wallahu a3lam.

Ayat-ayat ini dikuatkan dengan hadith-hadith Nabi serta perbuatan Bilal r.a yang menyebut Ahad Ahad dan dalam riwayat lain Bilal menyebut: Allah Allah.

Antara hadith-hadith ini:

1-حديث أنس رضي الله عنه :
ففي صحيح مسلم 1/131 : ( عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا تقوم الساعة حتى لا يقال في الأرض : ( الله الله ) اه
وفي لفظ لمسلم 1/131 : ( لا تقوم الساعة على أحد يقول : ( الله الله ) اه
قال الإمام النووي في شرح مسلم 2/178 : ( قوله صلى الله عليه وسلم على أحد يقول ( الله الله ) هو برفع اسم الله تعالى وقد يغلط فيه بعض الناس فلا يرفعه
واعلم أن الروايات كلها متفقة على تكرير اسم الله تعالى في الروايتين وهكذا هو في جميع الأصول قال القاضي عياض رحمه الله : وفى رواية بن أبى جعفر يقول : لا إله إلا الله , والله سبحانه وتعالى أعلم ) اه
وقال ملا علي القاري في مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح 5/226 : ( أي لا يُذكَرُ الله فلا يبقى حكمة في بقاء الناس، ومن هذا يُعرَفُ أن بقاء العالم ببركة العلماء العاملين والعُبَّاد الصالحين وعموم المؤمنين، وهو المراد بما قال الطيبي رحمه الله: معنى حتى لا يُقالَ الله، الله حتى لا يُذكَرَ اسمُ الله ولا يُعبَد ) اه

في مستدرك الحاكم 4/548 : ( عن سعد بن حذيفة قال : رفع إلى حذيفة عيوب سعيد بن العاص فقال ما أدري أي الأمرين أردتم تناول سلطان قوم ليس لكم أو أردتم رد هذه الفتنة فإنها مرسلة من الله ترتعي في الأرض حتى تطأ خطامها ليس أحد رادها ولا أحد مانعها وليس أحد متروك يقول : ( الله الله ) إلا قتل ) اه
قال الحاكم : هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه , وقال الذهبي في التلخيص : صحيح
وهذا وإن كان موقوفا فله حكم الرفع لأنه لا يقال من قبيل الرأي وحذيفة رضي الله عنه راوية أحاديث الفتن

في الجواب الكافي لابن القيم ص 31 : ( روى ابن أبي الدنيا عن ابن عمر رضي الله تعالى عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : والذي نفسي بيده لا تقوم الساعة حتى يبعث الله أمراء كذبه, ووزراء فجرة, و أعوانا خونة, وعرفاء ظلمة, وقراء فسقة سيماهم سيما الرهبان , وقلوبهم أنتن من الجيف, أهواؤهم مختلفة فيتيح الله لهم فتنة غبراء مظلمة فيتهاوكون فيها
والذي نفس محمد بيده لينقضن الإسلام عروة عروة حتى لا يقال : ( الله الله ) اه

في مستدرك الحاكم 4/596 : ( عن محمد بن الحنفية قال : كنا عند علي رضي الله عنه فسأله رجل عن المهدي فقال علي رضي الله عنه هيهات ثم عقد بيده سبعا فقال ذاك يخرج في آخر الزمان إذا قال الرجل : ( الله الله ) قتل … ) اه
قال الحاكم : هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه , قال الذهبي في التلخيص : على شرط البخاري ومسلم

في مستدرك الحاكم 4/539 : ( عن عبد الله رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : لا تقوم الساعة حتى لا يقال في الأرض : ( الله الله ) اه
قال الحاكم : هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه , قال الذهبي في التلخيص : على شرط البخاري ومسلم

في الفتن لأبي عمرو الداني 4/827: ( عن ابن عباس قال : لا تقوم الساعة وواحد يقول : ( الله الله ) اه

ففي مصنف عبد الرزاق 11/234 وشعب البيهقي 2/238 وتاريخ ابن عساكر 10 /443 والاستيعاب لابن عبد البر 1/181 : ( عن معمر عن عطاء الخراساني قال : كنت عند سعيد بن المسيب فذكر بلالا رضي الله تعالى عنه فقال: كان شحيحا على دينه و كان يعذب في الله عز وجل ، و كان يعذب على دينه فإذا أراد المشركون أن يقاربهم قال : ( الله الله ) اه
وفي مصنف ابن أبي شيبة 6/396 ومسند أحمد 1/404 وسنن ابن ماجه 1/53 وصحيح ابن حبان 15/558 ومستدرك الحاكم في 3/320 : ( عن ابن مسعود قال : … فما منهم من أحد إلا وقد واتاهم على ما أرادوا إلا بلالا فإنه هانت عليه نفسه في الله وهان على قومه فأخذوه فأعطوه الولدان فجعلوا يطوفون به في شعاب مكة وهو يقول : ( أحد أحد ) اه
قال الحاكم: صحيح الإسناد ولم يخرجاه وقال الذهبي في التلخيص : صحيح وقال البوصيري في مصباح الزجاجة 1/23 : هذا إسناد رجاله ثقات

في سيرة ابن هشام 3/182: ( وكان شعار أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم يوم بدر: أحد أحد ) اه
2-حديث حذيفة رضي الله عنه : 3-حديث ابن عمر رضي الله عنه : 4-حديث علي رضي الله عنه : 5-حديث ابن مسعود رضي الله عنه : 6-حديث ابن عباس رضي الله عنه : 7-قصة بلال رضي الله عنه : 8- شعار الصحابة في غزوة بدر :
Ringkasan dan mafhum dari 8 Hadith di atas:

1. Hadith Anas r.a mafhumnya: Di bumi terdapat orang yg menyebut “Allah Allah”, kemudian apabila tiada lagi orang yg menyebut “Allah Allah” maka di saat itulah berlakunya kiamat. (H.R Muslim)

2. Hadith Huzaifah: menceritakan fitnah yg akan berlaku sehingga siapa yg menyebut Allah Allah akan dibunuh. (H.R Hakim dan disahihkannya)

3. Hadith Ibn Umar r.a: Islam akan hilang sehingga tiada siapa lagi yg menyebut Allah Allah. (H.R Ibn Abi Dunya)

4. Hadith Ali r.a: di akhir zaman siapa yg menyebut Allah Allah akan dibunuh. (H.R Hakim disahihkannya)

5. Hadith Ibn Mas’ud r.a: “Tidak akan berlaku Kiamat sehingga tiada siapa di bumi yang menyebut: Allahu Allah”. (H.R Hakim disahihkannya)

6. Hadith Ibn Abbas r.a: Tidak akan berlaku kiamat jika masih ada seorang yang masih menyebut Allah Allah. (Ad-Dani dalam Fitan)

7. Hadith Bilal r.a menyebut Allah Allah ketika disiksa. (H.R Abd Razak, Baihaqi, Ibn ‘Asakir, Ibn Abd Bar) dan riwayat Bilal r.a menyebut Ahad Ahad (H.R Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hibban, al-Hakim disahihkannya)

8. Syiar para sahabat pada peperangan Uhud adalah laungan: Ahad Ahad. (Sirah Ibn Hisyam)

Selain hadith-hadith ini, terdapat juga hadith-hadith yang Nabi SAW menyebut Allah Allah.

– اللَّهُ اللَّهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
– الله الله فيما ملكت أيمانكم أشبعوا بطونهم واكسوا ظهورهم وألينوا القول لهم
– الله الله في قبط مصر فأنكم ستظهرون عليهم ويكونون لكم عدة وأعوانا في سبيل الله

Sumber
IbnuNafis

11/01/2018 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

SOLAT ATAS KERUSI

SOLAT DUDUK ATAS KERUSI

SOALAN:
Ustaz, kebelakangan ini kita lihat ramai orang datang ke masjid/surau dgn berjalan kaki……ada yg naik motor…..ada yg bertongkat……boleh berdiri lama pula sementara menunggu iqamah……

Persoalannya…..ramai di antara mereka ini di lihat solat di atas kerusi……sedangkan mereka yg bertongkat solat seperti biasa aje……apa hukumnya ustaz, sah kah solat mereka….

JAWAPAN:
Kita tidak boleh jatuh hukum bersandarkan kpd zahir perbuatan seseorang……sudah tentu ada rukhsah yg mereka sendiri tahu yg membolehkan mereka solat duduk atas kerusi…..

Namun berdiri dalam solat fardhu merupakan rukun solat. Walau bagaimanapun, bagi pesakit yang tidak boleh berdiri dibolehkan solat dalam keadaan duduk. Duduk bersila adalah lebih utama.(bukan duduk atas kerusi) Walau bagaimanapun boleh sahaja solat duduk dalam bentuk-bentuk yang lain seperti duduk di atas kerusi

BAGI YG PERLU SOLAT DUDUK ATAS KERUSI PASTIKAN CARANYA BETUL SEPERTI KETERANGAN BERIKUT:

1.Kedudukan bagi makmum yang menggunakan kerusi hendaklah di bahagian paling kiri atau kanan saf solat.

2.Jika keuzurannya adalah tidak boleh duduk di atas lantai, atau ruku’ atau sujud namun masih mampu berdiri, maka hendaklah berdiri selari dengan orang bersebelahannya dalam saf solat.

3.Jika keuzurannya adalah tidak boleh berdiri dan terpaksa menunaikan keseluruhan solat dalam keadaan duduk, maka kaki kerusi belakang hendaklah sama dengan kaki orang yang berdiri.

4.Kelurusan saf bagi orang yang terpaksa menunaikan keseluruhan solat dalam keadaan duduk dikira ketika jemaah lain dalam keadaan duduk.

CARA SOLAT DUDUK ATAS KERUSI adalah seperti berikut:

1.Hendaklah bertakbiratul ihram dalam keadaan berdiri sekiranya mampu, kerana qiyam adalah sebahagian daripada rukun solat. HaI ini adalah bagi kes ketidakmampuan untuk ruku’, sujud atau berdiri lama. Manakala bagi kes ketidakmampuan untuk berdiri maka diharuskan bertakbiratul ihram dalam keadaan duduk.

2.Hendaklah terus berdiri ketika membaca al-Fatihah dan surah sekiranya mampu. Walau bagaimanapun, diharuskan duduk apabila tidak mampu atau terus duduk jika langsung tidak mampu.

3.Hendaklah berdiri dengan bertumpukan (i’timad) kedua-dua belah kaki jika mampu atau salah satu daripadanya jika tidak mampu, dan tidak berdiri sambil bersandar kepada sesuatu dengan merehatkan kedua-dua kaki atau salah satu daripadanya.

3.Tidak menggerakkan kerusi ke hadapan atau ke belakang ketika melakukan isyarat tunduk untuk ruku’ dan sujud.

3.Tidak menyandarkan belakang badan ke kerusi tanpa sebarang hajat atau keuzuran. Hal ini kerana ia menyalahi tatacara solat, dan keizinan duduk hanya sekadar untuk menampung keuzuran berdiri.

4.Hendaklah membezakan secara konsisten keadaan tunduk untuk ruku’ dan tunduk untuk sujud. Kedudukan isyarat tunduk untuk sujud hendaklah lebih rendah daripada isyarat tunduk untuk ruku’.

5.Tidak sujud di atas sesuatu yang berada di hadapannya seperti yang dilakukan oleh sesetengah penumpang kapal terbang yang menjadikan meja makan sebagai tempat sujud.

6.Sekiranya keuzuran adalah untuk ruku’ atau sujud, maka hendaklah solat dalam keadaan berdiri dan apabila tiba masa untuk ruku’ atau sujud, barulah diizinkan duduk dan melakukan isyarat tunduk tanda ruku’ dan sujud mengikut kemampuan.

7.Hendaklah meletakkan tangan di atas kedua-dua lututnya ketika tunduk tanda ruku’ dan meletakkannya di tempat lain selain lutut ketika tunduk tanda sujud supaya ada perbezaan antara isyarat ruku’ dan sujud. Sebagai contoh, kedua-dua belah tangan boleh dilepaskan sahaja di kiri atau kanan peha ketika tunduk tanda sujud, atau diletakkan di atas kedua-dua belah paha kanan dan kiri, atau diletakkan pada kerusi jika ada.

8.Tidak digalakkan menjadi imam kepada ma’mum yang solat dalam keadaan sempurna tanpa duduk di atas kerusi atau lantai. Walau bagaimanapun, tiada halangan menjadi imam sekiranya semua makmum daripada kalangan mereka yang uzur atau solat dalam keadaan duduk. Begitu juga sekiranya imam berkenaan merupakan imam bertugas dan keuzurannya adalah sementara dan boleh sembuh. Manakala makmum pula tetap wajib berdiri sekiranya mampu.

9.Jika keuzurannya sementara dan boleh hilang, maka hendaklah solat dalam keadaan berdiri apabila hilang keuzuran tersebut. Sebagai contoh sekiranya sedang solat dalam keadaan duduk, tiba-tiba rasa sakit atau uzur yang menghalangnya berdiri hilang, maka ketika itu wajib ke atasnya berdiri dan begitulah sebaliknya.

(Rujukan: Jabatan Mufti JAIN)

02/11/2017 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Dosa Orang Yang Mendahului Pergerakan Imam Ketika Solat

Ramai di antara kita yang tidak ambil endah akan hal ini. Berkejar-kejar atau “rushing” dalam solat amatlah tidak wajar bagi seorang hamba yang sedang mengadap Rabbnya. Hal ini telah menjadi “trend” muslim kota yang sibuk dengan hal duniawi, bahkan memberi kesan pada kewajipan ukhrawi.
Berapa ramai diantara kita yang melakukan pergerakan solat sedangkan Imam baru ucap ‘الله‘? Dan ini adalah perbuatan yang salah bagi makmum dalam solat berjemaah. Seharusnya makmum melakukan pergerakan solat setelah mendengar ucapan ‘اكبر‘ dari Imam.
Ancaman yang berat terhadap mereka yang mendahului pergerakan Imam ketika solat seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam sahihnya:
حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ أَوْ لَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ
Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muhammad bin Ziyad, “Aku mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidakkah salah seoranag dari kalian takut, atau apakah salah seorang dari kalian tidak takut, jika ia mengangkat kepalanya sebelum Imam, Allah akan menjadikan kepalanya seperti kepala keldai, atau Allah akan menjadikan rupanya seperti bentuk keldai?”
(Sahih al-Bukhari > Kitab Adzan > Bab: Dosa orang yang mengangkat kepalanya dari sujud sebelum imam)
Semoga kita bermanfaat.
Sumber: Page Jalan-Jalan Cari Ilmu

14/10/2017 Posted by | Fiqh, Ibadah, Uncategorized | Leave a comment

​HIMPUNAN HADIS DAN ATSAR SAHIH TENTANG SUNNAH BERZIKIR DAN MEMBACA AL-QURAN KEPADA SI MATI YANG DILAKUKAN OLEH RASULULLAH SAW, SAHABAT, TABIIN DAN TABI’ TABIIN SERTA IMAM SYAFI’I

HIMPUNAN HADIS DAN ATSAR SAHIH TENTANG SUNNAH BERZIKIR DAN MEMBACA AL-QURAN KEPADA SI MATI YANG DILAKUKAN OLEH RASULULLAH SAW, SAHABAT, TABIIN DAN TABI’ TABIIN SERTA IMAM SYAFI’I
KOMPILASI JAWAPAN HUKUM KENDURI TAHLIL ARWAH
Kalau Ada Orang Berkata Majlis Kenduri Arwah Itu Haram Maka Paste Sahaja Jawapan-Jawapan Ini
DALIL SAHIH RASULULLAH SAW BERZIKIR KEPADA KEPADA SI MATI
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1246091832138447&id=990303737717259
DALIL SAHIH IBNU UMAR MEMINTA DIBACAKAN SURAH AL-BAQARAH UNTUK SI MATI
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1249547855126178&substory_index=0&id=990303737717259
DALIL SAHIH TABIIN JABIR BIN ZAID MEMBACA AL-QURAN KEPADA SI MATI
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1246267325454231&substory_index=0&id=990303737717259
DALIL SAHIH IMAM SYAFIE (TABI’ TABIIN) MENYUKAI DIBACAKAN AL-QURAN KEPADA SI MATI
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1246248725456091&substory_index=0&id=990303737717259
DALIL SAHIH IBNU TAIMIYYAH MENGATAKAN SAMPAI PAHALA KEPADA SI MATI
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1255260714554892&substory_index=0&id=990303737717259
DALIL SAHIH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB (PENGASAS WAHABI) MENGATAKAN SAMPAI PAHALA BACAAN KEPADA SI MATI
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1255268344554129&substory_index=0&id=990303737717259
KALAM IMAM SYAFIE MENYUKAI BACAAN AL-QURAN KEPADA SI MATI DAN LEMAHNYA QAUL MASYHUR YANG MENGATAKAN TIDAK SAMPAI PAHALA
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1257399024341061&substory_index=0&id=990303737717259
MOHON SEBARKAN !

11/10/2017 Posted by | Aqidah, Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Fiqh, Hadis, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

SEMPURNAKAH SOLAT KITA?

Dalam 13 rukun solat itu terdapat 3 rukun khusus.
Ramai yang SOLAT tetapi ramai juga yang solat ikut-ikutan dan tidak berapa faham cara solat yang sebenar yang boleh menjejaskan sah solat kita.

Rukun solat ada 13

1. Niat
2. Berdiri dengan betul
3. Takbiratul ihram
4. Membaca Al Fatihah
5. Rukuk
6. I’tidal
7. Sujud
8. Duduk antara 2 sujud
9. Bacaan tahiyat akhir
10. Duduk tahiyat akhir
11. Selawat dalam tahiyat akhir
12. Salam
13. Tertib


Dalam 13 rukun itu dipecahkan kepada 3 bahagian

*I. Rukun Qalbi* iaitu rukun ke atas pekerjaan hati
*2. Rukun Fi’il* iaitu rukun ke atas perbuatan atau gerak kerja
*3. Rukun Qauli* iaitu rukun ke atas ucapan atau kata-kata di mulut.

Majoritinya ramai dari kita faham dan lulus 2 rukun pertama iaitu *Rukun Qalbi dan Rukun Fi’il* dan ramai yang melanggar *Rukun Qauli* terutamanya ke atas mereka yang menjadi makmum dalam solat.

*Kesalahan Rukun Qauli Yang Selalu Di Langgar Dalam Solat*
Ramai dari kita tidak kira samada ketika bersolat sendirian mahupun ketika berjemaah kita selalu *membaca bacaan-bacaan solat di dalam hati*

Kita ingat dengan bersolat begitu kita rasa kita sah tapi kita khuatir ianya tidak sah.
Ada juga yang seperti membaca di bibir tetapi rupa-rupanya hanya *bunyi angin yang keluar dari mulut yang tidak mengeluarkan bunyi bacaan* (Hanya bunyi angin sahaja).


*5 Rukun Qauli yang selalu kita langgar di dalam solat*

*1. Tidak takbir ‘Allahu Akbar’ dengan menyebut atau melafaz jelas di bibir*
*2. Tidak membaca Al Fatihah secara lafaz*
*3. Tidak membaca Tahiyat Akhir secara lafaz*
*4. Tidak membaca selawat secara lafaz di rakaat terakhir*
*5. Tidak memberikan salam ‘Assalamualaikum Warahmatullah’ dengan secara lafaz*


*Apa Maksud “Menyebut Dan Melafaz” ?

Dalam Rukun Qauli kita perlu menyebut atau melafaz bacaan yang perlu kita sebut dan lafazkan sehingga terdengar pada telinga kita sendiri.

Cukup sekadar untuk telinga kita sendiri dan tidak wajib ke atas semua bacaan solat tetapi pada *5 tempat*
*1. Semasa Takbiratul Ihram*
*2. Semasa membaca Al Fatihah*
*3. Semasa Tahiyat Akhir*
*4. Semasa membaca selawat pada rakaat terakhir*
*5. Semasa lafaz salam*

Oleh itu, perbaiki segera 5 Rukun Qauli ini untuk menjadikan solat kita sah dan sempurna

Jika solat yang selama ini kita lakukan tidak sempurna atau tidak sah, perlulah kita segera:
1. Taubat mohon keampunan dari Allah dan jangan di ulagi lagi kesalahan yang sama
2) Tuntut ilmu, belajar, ulangkaji, jangan melenting apabila di tegur, perbaiki diri dan kesilapan lalu..

*Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Pengampun*

Carilah ilmu yang sebenar dan beramal dengannya agar tidak rugi di dunia apatah lagi di akhirat nanti.

Ustaz Yunan A Samad

*Sebarkan kebaikan*
*Kongsikan kebahagiaan*

10/10/2017 Posted by | Fiqh, Ibadah | Leave a comment

“MEMBONGKAR IDENTITI WAHABI- USTAZ WADI ANNUAR AYUB” on YouTube

23/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah, Video | Leave a comment

“Berlapang dada lah atas perkara khilaf- Ustaz Shamsuri” on YouTube

23/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Video | Leave a comment

AMALAN PADA AWAL MUHARRAM

(Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan).

Disebut dalam kitab Majmu’ah Musammah, Syeikh Ahmad bin Muhammad Said bin Jamaluddin al-Linggi
(Faedah): Setengah daripada mujarobat yang sohihah bahawasa barangsiapa menulis ia akan Basmalah بسم الله pada awal Muharram 113 kali tiada mencapailah oleh orang yang menanggung itu surat akan sesuatu yang dibencikan padanya dan pada ahli rumahnya selama umurnya dan barangsiapa menyurat ia akan lafaz الرحمن al-Rahman 50 kali dan masuk ia dengan itu surat atas raja yang zalim atau hakim yang zalim amanlah ia daripada bahaya mereka itu[1].
Begitu juga disebut dalam Hasyiah al-Syeikh Muhammad al-Syanawaaniy Ala Mukhtasar Ibn Abi Jamrah,
(فائدة): قال سيدي ابن عراق فى كتاب الصراط المستقيم فى خوّاص بسم الله الرحمن الرحيم: إن من كتب فى ورقة فى أوّل يوم من المحرّم البسملة مائة وثلاث عشرة مرة وحملت لم ينل حاملها مكروه هو وأهل بيته مدة عمره، ومن كتب الرحمن خمسين مرة ودخل بها على سلطان جائر أو حاكم ظالم أمن من شره.
Yang bermaksud, (Pada Faedah): Berkata Sidi Ibn Iraq dalam kitab al-Sirat al-Mustaqim pada membicarakan khususiyat بسم الله الرحمن الرحيم: Sesungguhnya sesiapa yang menulis pada kertas pada awal Muharram perkataan al-Basmalah 113 kali, tidak dimudharatkan orang yang membawanya serta ahli keluarganya selama tempoh hidupnya dan sesiapa menulis الرحمن al-Rahman 50 kali dan membawanya ketika bertemu raja dan hakim yang zalim maka dia diamankan daripada keburukan mereka.[2]
… dan setengah daripada khasiat firman Allah Taala[3],
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (97) أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (98) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (99)
Maka apakah penduduk kota-kota itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk kota-kota itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalah naik ketika mereka sedang bermain-main? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.( Surah Al-A’raf 97-99)
Bahawasanya adalah ia bagi menghalaukan binatang-binatang yang melata-lata lagi yang menyakiti seperti lipan dan kala dan ular daripada rumah, apabila menghendaki engkau akan demikian itu maka surat olehmu akan itu ayat pada awal hari daripada bulan Muharram pada kertas dan basuh olehmu akan dia dengan air dan renjis itu air pada tepi-tepi rumah atau pada tepi kampung rumah maka bahawasanya teramanlah engkau daripada bahaya sekalian itu dengan izin Allah Taala.
[1] Majmu’ah Musammah, Syeikh Ahmad bin Muhammad Said bin Jamaluddin al-Linggi, hlmn 45
[2] Hasyiah al-Syeikh Muhammad al-Syanawaaniy Ala Mukhtasar Ibn Abi Jamrah, Dar Fikr, 2000, hlmn 10
[3] Majmu’ah Musammah, Syeikh Ahmad bin Muhammad Said bin Jamaluddin al-Linggi, hlmn 45

http://www.muftins.gov.my/index.php/arkib2/tareqat-tasauwuf/163-himpunan-doa-dan-zikir/822-amalan-pada-awal-muharram

23/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

“Wahabi Malaysia Lebih Keras ! | Ustaz Muhammad Fawwaz” 

22/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

​CARA MELAKSANAKAN SUJUD SYUKUR

as salam ustaz, sy nak tanya mcmmana nak buat sujud syukur? Dan berapa rakaat? Bila masa yg sesuai?
Jawapan kami;
Cara Melaksanakan Sujud Syukur
Sujud syukur boleh dilaksanakan dengan memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Rukun sujud tilawah dan sujud syukur di luar solat adalah;
1) Niat

2) Takbiratul ihram

3) Sujud SEKALI 

4) Tomakninah semasa sujud

5) Duduk

6) Salam

7) Tertib

(Al-Taqrirat al-Sadidah).
Justeru, sujud syukur tidak mempunyai rakaat tertentu.  
Manakala syarat-syarat sujud syukur pula adalah sepertimana syarat melakukan sujud tilawah (melainkan sujud syukur tidak harus dilakukan di dalam solat). Manakala syarat-syarat sujud tilawah adalah sama seperti syarat-syarat melakukan solat (Minhaj al-Talibin). 
Sujud syukur hanya dilakukan di luar solat. Ia tidak harus dilakukan di di dalam solat. Sehubungan itu, terdapat 4 sebab yang dianjurkan untuk melakukan sujud syukur iaitu;
1) Datangnya nikmat secara mendadak
2) Terhindar daripada bahaya
3) Melihat orang kena musibah (sebagai tanda syukur tidak ditimpa musibah tersebut)
4) Melihat orang fasiq secara terang-terangan (sebagai tanda syukur terhindar daripada melakukan maksiat tersebut) (Al-Taqrirat al-Sadidah).
Oleh itu, sujud syukur dilakukan sejurus selepas salah satu sebab di atas berlaku. Waktunya luput jika jarak tempoh antara sujud itu dan sebabnya terlalu lama atau dengan berpaling daripada melakukannya walaupun tempohnya singkat (Hasyiah al-Bujairimi). 

اليسع

Wallahu a’lam.
Koleksi Q&A Ustaz Alyasak

https://t.me/Q_A_Us_Alyasak_channel

20/09/2017 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Rahsia & Kelebihan Umur Lanjut

Demi Masa! (1) Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian; (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan mereka pula berpesan-pesan (ingat-mengingatkan) tentang kebenaran serta berpesan-pesan (ingat-mengingatkan) dengan sabar.(3) – (Al ‘Asr [103 ] : 1-3)

“Dan (hendaklah diingat bahawa) sesiapa yang Kami panjangkan umurnya, Kami balikkan kembali kejadiannya (kepada keadaan serba lemah; hakikat ini memang jelas) maka mengapa mereka tidak mahu memikirkannya?” (Yasiin [ 36 ] : 68)

Pesan Ustaz; Umur Tua bukan satu perkara yang remeh, sebab itulah kita harus ambil perhatian yang serius.
Ustaz membuka kuliah tafsirnya dengan membaca surah Al ‘Asr [103 ] ayat 1-3; dan surah Yasiin [ 36 ] ayat 68 .

Ini adalah berkaitan dengan umur yakni masa yang Allah berikan kepada kita manusia yang ditugaskan melaksanakan tugas kekhalifahan atau tugas ibadah di muka bumi. Allah memberi peringatan tentang kritikalnya masa sehingga Allah bersumpah dengannya. Betapa Allah nak ingatkan kita supaya menggunakan masa (umur) yang Allah beri, tepat seperti yang Allah tetapkan. Sekiranya kita tidak menggunakan sebaik-baiknya masa, umur, peluang, kesempatan dan apa jua istilahnya kita benar-benar rugi.

Umur dikira bermula sejak lahir hingga satu masa yang ditetapkan atau dimulai dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian, ada pendek dan ada yang panjang. Rugi atau tidaknya seseorang itu di dunia dan akhirat adalah bergantung kepada bijak atau tidak dia memanfaatkan umurnya (mengurus masa).

Allah telah mengingatkan kita dalam surah Al-An’aam [ 6 ] ayat 2 bahawa jangka umur kita bukan untuk kekal tetapi untuk binasa.

Dialah yang menciptakan kamu daripada tanah, kemudian Dia telah menetapkan ajal (kematian kamu) dan ajal yang tertentu di sisiNya (iaitu masa yang telah ditetapkan untuk dibangkitkan kamu semula pada hari kiamat); dalam pada itu, kamu masih ragu-ragu (tentang hari pembalasan). – (Al-An’aam [ 6 ] : 2)

Apa yang penting di sini bukanlah panjang atau pendeknya umur kita tetapi adalah perhatian yang harus kita beri kepada setiap peringkat/tahapan umur agar kesemuanya dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Secara umum umur dibahagikan kepada tiga tahapan, iaitu kanak-kanak, remaja dan tua. Namun ada seorang pakar psikologi telah membahagikan umur kepada 10 tahapan seperti berikut:

Tahapan Pertama: Masa Kanak-kanak (Sejak dilahirkan hingga 7 tahun).

Pada tahapan ini perkembangan jasmani dan rohani 100% adalah mengikut sunnatullah (ketentuan Ilahi). Sebab itulah tidak hukuman atas apa jua kesalahan yang dilakukan dan tidak ada ganjaran atas apa jua kebaikan yang dilakukannya.

Tahapan Kedua: Zaman Remaja (8 hingga 14 tahun).

Pada masa ini muncul semangat berlumba-lumba dalam semua hal. Ia mula ingin menonjol (ingin berbeza) daripada orang lain, maka di sinilah perlunya hubungan luar biasa daripada kedua ibu bapa dan masyarakat di sekelilingnya. Mereka perlu diberi nasihat dan bimbingan yang lebih.

Tahapan Ketiga: ‘aqil baligh (15 hingga 21 tahun).

Telah mula sempurna rohani dan jasmaninya. Pada peringkat remaja ini mereka telah mula berangan-angan dan bercita-cita tetapi banyak pula yang memiliki sifat cacat rohani. Di sinilah bermulanya seseorang itu menjadi ‘egois’, suka membangkang dan menentang serta sukar diarah. Mereka rasa mereka mampu berdikari. Gejala sosial mula pada peringkat ini. Maka di sinilah mereka perlu diberi pengawasan dan kawalan yang sewajarnya kerana mereka mula suka melanggar peraturan.

Tahapan Ke empat: Dewasa (21 hingga 26 tahun).

Pada peringkat ini mereka seharusnya sudah boleh dianggap dewasa dan matang, namun di sinilah mereka sering didorong nafsu libido yang sangat kuat. Waktu inilah yang amat tepat segera mencarikan pasangan hidup (ideal untuk bina rumah tangga) supaya nafsu tersalur dengan baik bagi pertumbuhan jasmani dan rohani yang baik. Rasulullah saw berkahwin ketika berumur 25 tahun.

Tahapan Ke Lima: Dewasa Sempurna (27 hingga 35 tahun).

Ketika ini pertumbuhan jasmani dan rohani terkuat. Akal dan fikiran sudah terbuka, jelas, tegas dan tidak ragu dalam merencana diri dan keluarga.

Tahapan Ke Enam: Pertengahan Umur (36 hingga 40 tahun)

Tahap ini sudahpun pertengahan perjalanan hidup. Pada masa ini hati mantap dan tetap. Kematangannya amat nyata. Waktu inilah kebanyakan Nabi dan Rasul di angkat menjadi Nabi atau Rasul. Ini adalah waktu sepatutnya dijadikan kayu ukur atau penanda aras sama ada kita berjaya di dunia atau di akhirat.

Tahapan Ke Tujuh: Umur Setengah Tua (41 hingga 50 tahun).

Pesan Ustaz pada peringkat umur ini janganlah kita merasa masih muda. Ramai yang enggan dipanggil tua pada tahapan umur ini serta agak rasa bosan dengan hidup jika tidak ada apa-apa yang mencabar. Ada yang kurang selera makan. Pada peringkat ini ada yang cenderung kepada agama dan mempunyai kesedaran tentang kematian dan dengan itu dia banyak bertaubat. Walaupun boleh dikatakan agak sudah terlambat, namun belum dikira sebagai terlalu terlambat.

Tahapan Ke Lapan : Menurun (51 hingga 65 tahun).

Ibarat roket atau bunga api, masa mula-mula dilepaskan meluncur laju tapi bila tak mampu lagi naik dia akan mulai menurun. Boleh diertikan seperti tidak ada ‘pick-up’ dan agak kurang bermaya dalam semua aspek. Kekuatan fizikal dan mental juga menurun. Penyakit-penyakit mula ketara dan banyak penyakit-penyakit yang kronik. Umur 60 tahun adalah satu tanda aras kritikal.

Tahapan Ke Sembilan : Masa Tua (65 hingga 75 tahun).

Pada tahapan ini penuh dengan cubaan kerana pelbagai penyakit menyapa, perlu pertolongan pihak ketiga. Bagi yang tidak tabah akan menderita.

Tahapan Ke Sepuluh : Umur Sangat Tua/Tua Bangka (75 hingga Seterusnya).

Sungguh lebih hebat penderitaan orang ini. Ada yang menjadi pikun. Jika sebelumnya tidak ada pengisian rohani, maka ketika ini hidupnya akan lebih menderita. Rohani dan jasmani juga terkesan. Daya ketahanan amat rendah.

Pesan Ustaz; perkara ini bukan satu perkara yang remeh, sebab itulah kita harus ambil perhatian yang serius.

Sehubungan dengan fakta di atas, Rasulullah saw menyuruh kita memberi tumpuan khusus kepada umur 40 dan 60 tahun.

Umur 40 tahun adalah umur amat matang, mudah megerti dan memahami fakta-fakta kehidupan. Boleh berfikir dan bertindak secara rasional. Umur ini adalah seperti umur ‘tanda aras/kayu pengukur’ bagi menentukan nasib seseorang di akhirat nanti. Jika pada umur ini seseorang itu masih rakus berbuat maksiat dan tidak langsung rasa bersalah apabila meninggalkan perintah dan melanggar segala larangan Allah swt maka pasti dia menempah tempat di Neraka. Ini kerana pada ketika berumur 40 tahun seharusnya sudah tahu berfikir, faham bahawa perbuatan maksiat itu salah.

Allah memberi perhatian khusus tentang angka 40 ini:

“Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung susah payah dan telah melahirkannya dengan menanggung susah payah. Sedang tempoh mengandungnya berserta dengan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa tiga puluh bulan. Setelah dia besar sampai ke peringkat dewasa yang sempurna kekuatannya dan sampai ke peringkat umur empat puluh tahun, berdoalah dia dengan berkata: Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmatmu yang engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku tetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redhai; dan jadikanlah sifat-sifat kebaikan meresap masuk ke dalam jiwa zuriat keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadamu dan sesungguhnya aku dari orang-orang Islam (yang tunduk patuh kepadamu/berserah diri).” (Al-Ahqaf [ 46 ] : 15)

Ayat ini menyatakan umur 40, iaitu umur yang matang. Ini kemuncak umur keIslamannya. Syaratnya dia mulai daripada sejak dia baligh lagi. Banyak hadis dibacakan oleh Ustaz dan dikisahkan bahawa ramai Ulama’ yang mencapai umur empatpuluhan sudah bersungguh-sungguh dalam beribadah. Sudah mula melipat tempat tidurnya, iaitu mengurangi tidurnya.

Dalam ayat ini juga Allah berpesan supaya;

1) berbakti kepada kedua ibu-bapa (ada ayat lain dalam surah al-Isra’ dan Luqman) kerana jika dia sudah 40 tahun pasti ibu-bapanya sudah melepasi 60 tahun, umur yang memerlukan banyak bantuan.

2) Mensyukuri nikmat iaitu dengan beramal soleh yang diredhaiNya (menjadikan semua nikmat yang Allah berikan kepada kita untuk beramal soleh)

3) Bertaubat dan berserah diri, maksudnya tidak mahu lagi buat maksiat dan menyedari kita adalah hak Allah dan akan kembali kepadaNya. Maknanya apabila sudah mencapai umur 40 tahun sudah tidak ada dosa, sudah capai puncak keIslaman dan berjaya mendidik putera dan puterinya.

Biasanya kita ni jika disebutkan 40 tahun, merasakan masih muda ada pula yang kata “Life is begin at 40′. Semua ni tidak betul sebab sepatutnya inilah masa penanda aras menentukan sama ada kita ke syurga atau neraka.

“Jika sampai umur 40 tahun dan tidak ambil tahu langsung tentang asal kejadiannya, dan kewajibannya dan tidak mahu bertaubat, maka Syaitan akan mengusap dahinya dan gembira dia kerana orang ini tidak ada gunanya di dunia dan di akhirat”.

Berkaitan umur 60 tahun pula hadis daripada Abu Hurairah melaporkan Nabi saw sebagai berkata : “Kebanyakan umur umatku adalah 60-70 tahun. Sedikit daripada mereka yang lebih daripada itu”.

Daripada Qatadah; Orang yang dipanjangkan umurnya ialah orang yang mencapai 60 tahun dan orang yang pendek umurnya ialah orang yang meninggal sebelum 60 tahun.

Jadi menurut agama; orang yang dipanjangkan umurnya ialah orang yang mencapai 60 tahun dan lebih. Maka umur 60 tahun ini juga perlu diberi perhatian yang berat. Jangan bangga jika mencapai umur begini masih boleh makan apa sahaja tak perlu pantang sebab umur ini adalah umur batas akhir ibarat jika sudah ada di medan perang tetapi masih belum bersedia dengan peralatan tandanya akan kalah (tiada alasan kenapa tak siap, kenapa tak bawa pedang dan sebagainya sebab masa tu sepatutnya alat dah sedia lengkap).

Oleh kerana itu , amat keterlaluan jika orang-orang yang sudah berusia lebih daripada 60 tahun masih juga melakukan maksiat. Sabda Rasulullah saw, “Allah swt tidak akan menerima dalih/alasan seseorang sesudah Dia memanjangkan usianya hingga 60 tahun”. (HR Al-Bukhari).

Umur ini sepatutnya telah banyak beramal soleh. Tiada lagi tolak ansur yang dibenarkan dalam perbicaraan di akhirat nanti. Umur 60 adalah umur ibarat di medan perang, iaitu jaya atau gagal. Apa jua alasan Allah tidak akan terima. Mengapa demikian?. Lihat surah Fathir [35 ] ayat 11 yang bermaksud:

“Dan Allah menciptakan kamu daripada tanah, kemudian daripada (setitis) air benih, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (lelaki dan perempuan) dan tiada mengandung seseorang perempuan (juga seekor betina) dan tidak pula satu-satunya melahirkan (anak yang dikandungnya) melainkan dengan keadaan yang diketahui Allah dan tidak diberikan seseorang berumur panjang (dipanjangkan umurnya), juga tidak dijadikan seseorang pendek umurnya, melainkan ada kadarnya di dalam Kitab Ilahi. Sesungguhnya yang demikian itu mudah sahaja kepada Allah”. (Fatir [35] : 11)

Para mufassir menyatakan bahawa 60 tahun adalah umur yang dipanjangkan berdasarkan hadis dan ayat di atas dan juga ayat (Yasiin [ 36 ] : 68) di bawah.

“Dan (hendaklah diingat bahawa) sesiapa yang Kami panjangkan umurnya, Kami balikkan kembali kejadiannya (kepada keadaan serba lemah; hakikat ini memang jelas) maka mengapa mereka tidak mahu memikirkannya?” (Yasiin [ 36 ] : 68)

Apabila sampai umur 60, tiada lagi peluang. Jika tidak taubat, maka Nerakalah tempatnya.Tidak guna lagi meminta tolong. Dalam surah yang sama Fathir [ 35 ] ayat 37 Allah berfirman yang bermaksud:

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami nescaya kami akan mengerjakan amal yang soleh yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan.’ Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mahu berfikir dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun”. (Fathir [ 35 ] : 37)

Dalam ayat di atas, di neraka nanti ada yang mohon kepada Alah untuk dikeluarkan daripada neraka dan kembalikan ke dunia supaya mereka dapat buat amal soleh. Lalu Allah akan menyindir keras, bukankan Aku dah panjangkan umur kamu dan aku beri peringatan.

Pemberi peringatan yang dimaksudkan di sini ialah penuaan seperti uban dan pelbagai penyakit yang bertandang, kekuatan fisikal menurun, mata dah kabur, gigi banyak yang gugur, lututpun kendur dan lain-lain lagi.

Umur 60 tahun sudah dekat dengan ajal kematian. Pada umur ini seharusnya kita “mengintai-intai kematian”, iaitu perjumpaan manusia dengan Penciptanya. Umur 60 tahun dikira mengikut pusingan bulan dan bukan pusingan matahari, iaitu umur tahun qamariah yakni apabila kita berumur 58 bermakna kita sudah berumur 60 tahun ikut kiraan qamariah.

Ada dalam hadis; tanda tua dan hampirnya ajal ialah uban di kepala. Kata ustaz, ada hadis Nabi saw melarang kita mencabut uban kerana itu adalah “cahaya Iman” bagi mereka yang beramal soleh. Sebab itu jangan dicabut uban. Uban ini akan menjadi saksi pengabdian kita. Jika nak mewarnakannya boleh tetapi dengan sayarat bukan dengan warna hitam.

Sebagai kesimpulan ustaz mengingatkan supaya kita jangan mengambil mudah tentang umur. Ini bukan remeh kerana Allah dah bersumpah dengannya. Kita juga hendaklah berilmu dan beramal dengannya, ada ilmu tetapi tidak beramal bukanlah segala-galanya. Ibadat pula bukan kuantiti tetapi kualiti.

Rasulullah saw bersabda, “Tak akan berganjak kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara, iaitu tentang umurnya, dihabiskan untuk apa; tentang masa mudanya, dipergunakan untuk apa; tentang hartanya, dari mana diperolehinya dan untuk apa dibelanjakan; dan tentang ilmunya, apakah sudah diamalkan”. (HR At-Tarmidzi).

Usia lanjut juga merupakan sebuah keistimewaan. Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah saw menyampaikan firman Allah SWT, “Demi kemuliaan-Ku, keagungan-Ku, dan keperluan hamba-Ku kepada-Ku, sesungguhnya Aku merasa malu menyiksa hamba-Ku, baik laki-laki mahupun perempuan, yang telah beruban kerana tua dalam keadaan muslim”. Dalam hadits lain beliau bersabda, “Sebaik-baik di antara kalian ialah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya”. (HR At-Tarmidzi).

Sekian, mudah2an memberi manfaat.

Nota Kuliah Maghrib,Masjid Al Aman,Lembah Jaya,Ampang Selangor.Pada Isnin 11hb September 2017

Sumber Teks yg sama dgn isi kuliah.

18/09/2017 Posted by | Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah, Uncategorized | Leave a comment

​MENJAWAB TOHMAHAN GOLONGAN  YANG ANTI BERMAZHAB

Golongan Wahhabi sering menimbulkan syak keraguan bagi yang ingin bermazhab khasnya mazhab al-Shafie di Malaysia ini dengan menyatakan ia adalah seolah-olah bertentangan dengan mazhab para sahabat r.a.
Mereka sering mewar-warkan bahawa kita perlu ikut al-Quran dan al-Sunnah sahaja. Pernyataan mereka ini seolah2 mereka sahajalah yang ingin mengikut al-Quran dan al-Sunnah. 
Pernyataan mereka ini juga bermaksud bahawa mengikut mazhab itu bererti tidak mengikut al-Quran dan al-Sunnah? Bahkan, lebih jauh lagi, mereka kata tak perlu ikut mazhab, tapi ikut dalil, sedangkan mereka pun orang awam yang sedang bercakap dengan orang awam.
Apabila seseorang berkata bahawa dia bermazhab al-Shafie, maka mereka cuba mengenengahkan soalan yang menimbulkan syak seperti:
“Kalau anda bermazhab al-Shafie, Saidina Umar al-Khattab r.a. itu bermazhab apa?”
Mereka berlagak seolah-olah merekalah yang mempertahankan Saidina Umar al-Khattab r.a., padahal dalam bab solat tarawih 20 rakaat mereka tidak pula mempertahankan mazhab Umar al-Khattab r.a.? Maka umat Islam masyarakat awam perlu berwaspada dengan sikap berpura-pura ini.

ANTARA ALASAN WAHHABI  ANTI MAZHAB
1. Rasulullah saw tidak pernah menyuruh kita untuk bermadzhab bahkan menyuruh kita mengikuti sunnahnya.
2. al-Qur`an dan Sunnah sudah cukup menjadi dalil dan hukum sehingga tidak di perlukan lagi Madzhab-madzhab.
3. Mazhab-mazhab itu adalah bidaah kerana tidak ada pada zaman Rasul.
4. Seluruh ulama Mazhab seperti Imam Syafi`i melarang orang-orang mengikuti mereka dalam hukum.
5. Bermazhab dengan mazhab tertentu bererti telah menolak sunnah Nabi Muhammad SAW.
6. Pada Zaman sekarang sudah semestinya kita berijtihad kerana dihadapan kita telah banyak kitab-kitab hadits, Fiqih, ulumul Hadits dan lain-lain, kesemuanya itu mudah didapati.
7.  Para Ulama Mazhab adalah manusia biasa, bukan seorang nabi yang maksum dari kesalahan, semestinya kita berpegang kepada yang tidak maksum yaitu hadits-hadits Rasulullah.
8. Setiap hadits yang shahih wajib diamalkan, tidak boleh menyalahinya dengan mengikuti pendapat ulama madzhab.


HAKIKAT SEBENAR BERMAZHAB

Mengikut mazhab yang empat pada hakikatnya mengikut mazhab para sahabat dan tabien kerana ulama’ mazhab empat merupakan pendokong mazhab para sahabat dan tabien yang mengikut sunnnah Rasulullah SAW.
Mazhab ini dibenarkan oleh ulama-ulama untuk diikuti kerana beberapa sebab :
1 – Mazhab ini disebarkan turun-temurun dengan secara mutawatir.
2 – Mazhab ini di turunkan dengan sanad yang Sahih dan dapat dipegang .
3 – Mazhab ini telah dibukukan sehingga aman dari penipuan dan perubahan .
4 – Mazhab ini berdasarkan al-Quran dan al-Hadits, selainnya para empat madzhab berbeza pendapat dalam menentukan dasar-dasar sumber dan pegangan .
5 – Ijmaknya ulama Ahlus Sunnah dalam mengamalkan empat mazhab tersebut.

KEFAHAMAN DAN HUJAH KENAPA PERLU BERMAZHAB?
Sejauh manakah masyarakat awam pada hari ini khususnya di Malaysia, mampu mengamalkan taqlid kepada mazhab.
Pandangan  Syeikh Hasnain Muhammad Makhluf menyimpulkan ia menjadi alasan mengapa popular di kalangan ulama ungkapan “al-‘ami la mazhaba lahu” bermakna “orang awam tiada mazhab baginya”. 
Lalu beliau menukilkan pendapat dari kitab al-Bahr di dalam bab ‘Qadha’ al-Fawait’ yang menyebut, “…dan sekiranya seorang awam tiada baginya mazhab tertentu, maka mazhabnya ialah fatwa muftinya,malah jika dia tidak meminta fatwa sesiapa pun tetapi sesuai amalannya itu dengan mana-mana mazhab mujtahid, ia sudah memadai”.
Kenyataan di atas jelas menunjukkan bukan mudah untuk seseorang mengakui
dirinya bermazhab. Sekurang-kurangnya seorang penganut mazhab itu mengetahui hukum-hakam furu‘ yang difatwakan menurut mazhab anutannya.

Namun di peringkat orang awam, ramai di kalangan mereka sendiri tidak mampu untuk menguasai perkara ini. Kebanyakan awam hanya sekadar bertanya kepada mana mana guru yang dipercayainya setiap kali bertembung dengan masalah-masalah furu‘ tertentu di dalam kehidupannya.

Perbahasan ini sengaja dibentangkan di sini supaya golongan anti mazhab memahami dan akur bahawa mengikuti mazhab bukanlah mudah seperti yang disangka. Ia bukan taqlid membabi buta. Ia juga bukan bererti sengaja membelakangkan al-Qur’an dan al-Sunnah kerana mendewakan imam dan mazhab.

Sebaliknya ia adalah soal kemampuan dan keupayaan seseorang awam. Sekiranya soal bermazhab sendiri tidak mampu ditunaikan sepenuhnya oleh seorang awam, bagaimana mungkin golongan ini dibebankan pula dengan perintah supaya mengambil hukum secara langsung daripada al-Qur’an dan al-Sunnah? Mampukah mereka?
Oleh itu mengajak masyarakat untuk meninggalkan mazhab atas alasan kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah adalah suatu usaha yang jahil malah sia-sia. Mazhab seharusnya difahami sebagai sebuah disiplin ilmu (manhaj) untuk kita memahami al-Qur’an dan al-Sunnah. 

Di Malaysia, kita berpegang kepada mazhab Syafi’e khususnya dalam bab ibadat dan munakahat atau disebut juga fardhu ’ain.
Namun dalam bidang-bidang lain seperti mu’amalat, jinayat, kehakiman dan perundangan serta isu-isu kontemporari, jelas menunjukkan kerajaan dan umat Islam tidak terikat hanya kepada mazhab Syafi’i. 
Oleh itu tuduhan bahawa umat Islam di Malaysia mewajibkan berpegang kepada satu mazhab dalam kesemua masalah adalah tidak benar.
Berpegang kepada mazhab Syafi’e dalam bab fardhu ’ain sepertimana yang diamalkan sekarang bukanlah bermakna kita menolak pandangan mazhab-mazhab lain. Pendirian ini dipegang hanyalah berdasarkan ketidakmampuan seseorang untuk beramal dalam ibadatnya. Sememangnya hukum asal berpegang kepada mazhab itu tidak wajib.
Namun bagi selain mujtahid, beramal dengan fatwa mujtahid (mazhab) adalah wajib memandangkan tiada lagi jalan lain untuk mengetahui hukum syara‘ melainkan dengan mengikuti mazhab.
Dalam hal yang sama, seseorang awam itu juga tidak mampu untuk melakukan tarjih iaitu menilai pendapat atau dalil yang terkuat antara mazhab. Ketidakmampuan itu memerlukannya untuk berpegang kepada mazhab yang dianutinya sahaja.
Setiap individu atau negara dikatakan bermazhab dengan sesuatu mazhab tertentu kerana ia menerima pakai atau bertaqlid kepada mazhab tersebut. Oleh itu bermazhab adalah membawa maksud bertaqlid kepada mazhab yang dipegangi. 
Perkataan bermazhab (mazhabiyyah) sebagaimana yang ditakrifkan oleh Said Ramdhan al Buti ialah membawa maksud seseorang awam atau orang yang tidak sampai ke tahap mujtahid berpegang atau mengikut (taqlid) mana-mana aliran Imam Mujtahid samada dia berpegang dengan seorang mujtahid sahaja atau bepindah-pindah antara satu mujtahid ke mujtahid yang lain dalam ikutannya itu. 
Dalam pengajian usul fiqh kedudukan bertaqlid yang boleh dikategorikan kepada tiga pandangan: 
(1) Tidak harus bertaqlid sama sekali. Wajib ke atas setiap mukallaf berijtihad sendiri mengenai urusan agamanya dan beramal berasaskan ijtihadnya.Pandangan golongan Zahiri dan Muktazilah.
(2) Bertaqlid adalah wajib ke atas semua mukallaf selepas zaman imam-imam mujtahidin.Pandangan Hasyawiyyah.
(3) IJTIHAD adalah tidak dilarang manakala TAQLID adalah haram ke atas para mujtahid. Manakala orang awam yang tidak berkeahlian berijtihad sekalipun seorang yang alim adalah WAJIB BERTAQLID. 
Pandangan ini merupakan pandangan JUMHUR ULAMAK dan inilah pandangan yang ditarjihkan oleh kebanyakan ulama semasa.
Bertaqlid bagi orang awam bukanlah suatu yang diluar prinsip syara’ tetapi suatu keperluan baginya yang selaras dengan kehendak syara’ . Sebagai seorang Muslim tidak semuanya mampu memahami tentang agama. 
Malah ia perlu berpandukan kepada para ulama untuk memahami nas-nas syara’. Justeru itulah manusia diwajibkan bermazhab sebagai beramal dengan ayat Al Quran yang menyuruh umat Islam bertanya kepada ahli al zikr (orang yang tahu) sekiranya mereka tidak mengetahui.
Keharusan bertaqlid mestilah dalam kerangka yang telah disepakati oleh para ulama.Dalam persoalan taqlid, tidak ada nas syara’ yang menyuruh supaya berpegang kepada mazhab secara berterusan sebagaimana juga tidak ada nas syara’ yang melarang berpindah mazhab. 
Dalam konteks ini syeikh al Buti menegaskan ketiadaan nas yang menyuruh beriltizam dengan mazhab tertentu bukan pula bererti haram beriltizam dengan mazhab kerana tidak wajib bukannya bermaksud haram.


Berkata Syeikh Prof Dr Yusof al-Qardhawi:

Ada golongan yang memerangi konsep bermazhab, memerangi mazhab fiqh dengan melarang walaupun daripada golongan awam untuk bertaqlid. Pada masa yang sama mereka bertaqlid dengan pandangan guru mereka maka jadilah mazhab yang kelima.

Namun Islam tidak pernah menutup terus pintu ijtihad bagi sesiapa sahaja yang telah mencapai tahap ulama mujtahid dengan syarat-syarat yang amat ketat. 


JAWAPAN  KEPADA GOLONGAN YG TIDAK MAHU BERMAZHAB/ANTI MAZHAB

Syeikh al-Allamah Ali Jumaah hafizahullah ada menyebutkan beberapa tohmahan yang diberikan oleh golongan yang tidak mahu bermazhab.Antaranya ialah:
TOHMAHAN PERTAMA
Dalil yang wajib kita ikuti ialah al-Quran dan Sunnah bukannya pendapat para ulama mazhab.


JAWAPAN

Apa yang disebutkan oleh golongan sebegini juga sebenarnya sudah menyalahi maksud sebenar dalil. Dalil bukanlah hanya semata-mata al-Quran dan Sunnah.
Ijma’, Qiyas, Istihsan, Uruf, dan lain-lain juga merupakan dalil yang digunakan oleh para ulama.Golongan yang memahami bahawa dalil hanyalah al-Quran dan Sunnah sebenarnya telah menyempitkan kefahaman tentang dalil itu sendiri. Al-Quran dan Sunnah adalah sumber pengambilan hukum yang dilakukan oleh seseorang mujtahid tersebut.
Pendapat para ulama mazhab pula bukanlah menyalahi dan membelakangi al-Quran dan Sunnah itu sendiri, malah pendapat yang dikeluarkan oleh mereka merupakan hasil àà kefahaman mereka tentang sesuatu ayat dan hadis tersebut. 
Berpegang dengan pendapat para ulama mazhab bukanlah bermaksud meninggalkan kalam Allah dan RasulNya, bahkan jika kita berpegang dengan pendapat para ulama mazhab maka secara langsung kita telah berpegang dengan al-Quran dan Sunnah. Ini kerana para ulama mazhab lebih mengetahui tentang syarat pengambilan hukum dan sebagainya berbanding kita.


TOHMAHAN KEDUA

Kami melihat seseorang yang bertaqlid kepada seorang imam tersebut tidak akan meninggalkan mazhabnya walaupun dia menjumpai sebuah hadis yang bercanggah dengan pendapat imam tersebut. Ini seolah-olah mendahului pendapat imam lebih daripada Allah dan RasulNya.


JAWAPAN

Al-Imam Kairanawi rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya فو ائد في علوم الفقه :
“Pendapat sebegini keluar berdasarkan sangkaan yang salah dan pegangan yang batil iaitu mengatakan bahawa pendapat imam didahulukan berbanding kalam Allah dan RasulNya.
Bilamana kita melihat berlakunya perbezaan di antara zahir kalam Allah dan RasulNya dengan pendapat Ulama Mazhab , dua perkara pokok yang penting perlu diperhatikan:

Pertama
: Kita mengetahui tentang maksud sebenar kalam Allah dan RasulNya.

Kedua
: Kita mengetahui bahawa Kalam Allah dan RasulNya bertentang dengan pendapat Imam Mazhab.
Jika kita memerhatikan kedua-dua perkara di atas dengan teliti maka kita menyedari bahawa kedua-dua perkara tersebut tidak terdapat pada seorang Muqallid(orang yang mengikut mazhab dan tidak sampai kepada tahap mujtahid).
Ini kerana ilmu sebegini memerlukan kepada pencarian dalil. Muqallid hakikatnya tidak mampu untuk melakukan sedemikian. Jika hakikatnya sedemikian, bagaimana mungkin seorang muqallid tersebut boleh menghukumkan bahawa Imamnya telah menyalahi hukum yang diletakkan Allah dan RasulNya?.
Kesimpulannya seorang muqallid tersebut tidak meninggalkan pendapat imamnya yang bersalahan dengan zahir Hadis dan sebagainya bukanlah kerana dia (muqallid) mengatakan bahawa pendapat Imam tersebut lebih benar daripada Kalam Allah dan RasulNya kerana dia sendiri tidak pasti adakah benar-benar Imam tersebut menyalahi Allah dan RasulNya.


TOHMAHAN KETIGA

Mengikut pendapat para ulama mazhab sendiri sebenarnya telah menyalahi apa yang ditunjukkan oleh mereka(Imam-imam mazhab).

Mereka sendiri melarang mengikut pendapat mereka.
Lebih-lebih lagi jika pendapat mereka bersalahan dengan hadis sahih.Jelas di sebut oleh para ulama Mazhab: إذا صح الحديث فهو مذهبي maksudnya: (Jika sah sesebuah hadis tersebut maka itulah mazhabku)


JAWAPAN

Dakwaan yang mengatakan bahawa para ulama mazhab melarang untuk mengikut mazhab adalah satu dakwaan yang ternyata salah dan sesat. Tiada seorang ulama mazhab pun mengatakan sedemikian. Kalau mereka benar-benar mengatakan demikian, maka mengikut kepada pendapat Para Imam (supaya tidak bertaqlid dengan mereka) juga hakikatnya adalah taqlid itu sendiri( dalam keadaan tidak sedar).
Kamu mengatakan tidak boleh mengikut pendapat Imam Mazhab,tiba-tiba kamu mengikut juga salah satu pendapat mereka (iaitu supaya tidak bertaqlid) maka hakikatnya kamu juga bertaqlid.Bagaimana boleh dilarang taqlid sedangkan kamu sendiri bertaqlid dalam keadaan kamu tidak sedar?
Ini jelas berlaku pertentangan di dalam pendapat kamu sendiri.(Sekejap mengatakan tidak boleh taqlid kemudian dalam masa yang sama kamu juga bertaqlid dengan pendapat Imam tersebut).


KESIMPULAN

1. Amalan bermazhab adalah keperluan dan tidak boleh diganggu gugat dengan aliran tidak bermazhab kerana ianya akan menimbulkan byk masalah.Mengatakan ijtihad itu wajib dan taqlid itu haram. Masyarakat yang harmoni pada suatu ketika dahulu menjadi riuh rendah dan kacau-bilau pada hari ini dengan isu-isu mereka yang celaru.
2. Bermazhab adalah harus bahkan wajib bagi orang awam atau umat islam mengikuti salah satu empat mazhab yang muktabar iaitu Mazhab Syafi’i,  Maliki, Hanafi dan Hambali. 
3. Jangan pula menganggap bahawa bila seseorang mengikut salah satu daripada empat mazhab tadi, maka dia tidak mengikut Al Quran dan Hadis. Kerana keempat-empat Imam Mazhab tersebut telah pun mengikut Al Quran dan Hadis. Mereka mengistinbatkan hukum atau mengeluarkan hukum daripada Al Quran dan Hadis. Ini memberi erti mereka mengikut Al Quran dan Hadis.
4.Perawi-perawi Hadis seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tarmizi dan lain-lain lagi, walaupun mereka mengumpulkan dan menilai Hadis tetapi dari segi kefahaman atau dalam mengeluarkan hukum, mereka juga bersandar dengan Imam-Imam Mazhab.Umpamanya Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Tarmizi adalah bermazhab Syafi’i.
5. Sudah menjadi Sunnatullah, orang yang jahil tentang ilmu Islam lebih ramai daripada orang alim. Dalam keadaan ini, apakah patut dipaksa semua orang awam mengkaji dan menggali sendiri Al Quran dan Hadis? Minta mereka berijtihad sendiri tanpa bersandar dengan mana-mana ulama mujtahidin. 
Sampai bila pun mereka tidak akan dapat beramal dengan ajaran Islam. Tidak mungkin orang awam seperti kita hendak diajak berijtihad sedangkan ulama yang ada sekarang pun tidak boleh berijtihad.
6. Rasulullah SAW ada bersabda:

Berselisih faham di kalangan umatku itu adalah rahmat. (Riwayat Al Baihaqi)
Hadis ini membuktikan bermazhab itu dibenarkan. Ertinya timbulnya mazhab itu oleh kerana adanya ulama-ulama yang mampu berijtihad. Maka terjadilah berlainan pendapat. Berselisih faham di sini adalah berselisih faham tentang furu’iyah (soal-soal feqah) bukan usuliyah (soal aqidah atau dasar). 
Berselisih faham dalam soal hukum-hukum furu’iyah hingga menimbulkan bermacam-macam aliran mazhab feqah adalah mendatangkan rahmat. Orang awam macam kita ini boleh mengikut sesiapa saja yang kita sukai, di mana kita rasa sesuai. Maknanya, ada alternatif untuk orang awam.
7. Kalaulah kita hendak menyuruh semua manusia ini sama ada yang alimnya mahupun yang awamnya supaya tidak bermazhab iaitu setiap orang diminta berijtihad mengeluarkan hukum-hukum daripada Al Quran dan Hadis, jangan bersandar dengan mana-mana imam, maka pasti ramai yang sesat.Oleh itu lebih selamat kita mengikut mana-mana mazhab yang muktabar itu.
8. Orang-orang yang mengajak untuk tidak bermazhab ini adalah ulama-ulama mutaakhirin.Bermula daripada Ibnu Taimiyah yang hidup lebih kurang 700 tahun yang lalu. Dia bukan ulama yang berada sekitar 300 tahun selepas Rasulullah SAW. Kemudian fahamannya disambung oleh muridnya yang bemama Ibnu Qayyim, Al Jauzi hinggalah ulama di kurun kedua puluh ini seperti Muhamad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Rashid Redha,dll lagi. 
Mereka ini hidup di luar daripada lingkungan 300 tahun selepas Rasulullah SAW

Sedangkan ulama-ulama mazhab yang disebutkan tadi, hidup dalam lingkungan 300 tahun selepas Rasulullah. Ertinya mereka dari kalangan salafussoleh. Ulama yang mengajak “jangan bermazhab” ini ialah ulama Mutaakhirin. Fahaman mereka menjadi bertambah popular terutamanya apabila  munculnya gerakan Muhammad Abdul Wahab
9. Walaupun ada orang yang menganjurkan tidak perlu ikut mazhab, cukup hanya ikut Al Quran dan Hadis sahaja, tetapi pada hakikatnya semua orang bermazhab, sama ada dia mengaku atau tidak. Kerana golongan yang tidak mahu bermazhab itu bukan semuanya ulama. Maka mereka terpaksa bersandar dengan mana-mana ulama yang juga menolak mazhab. Maka ulama tempat mereka bersandar itulah sebenarnya imam mazhab mereka.
10. Berpegang dengan nas yang maksum yang diwahyukan dari Allah Taala tetapi kefahaman anda terhadap nas tersebut bukanlah wahyu apatah lagi maksum, kalian hanya berpendapat berdasarkan zahir nas sahaja.
Mendakwa boleh berijtihad oleh seseorang yang tidak berkelayakkan merupakan seburuk-buruk perkara dan kerosakkan yang paling merbahaya mengancam syariat Islam pada masa kini.

Oleh Ustaz Yunan A Samad

18/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Usia tua – Ada peringatan, ada kelebihan

Usia tua – Ada peringatan, ada kelebihan
Oleh ZUARIDA MOHYIN

DEMI masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh, dan berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan kesabaran. (al-`Asr: 1-3)

Ini adalah satu daripada banyak ayat yang berkait rapat bagaimana seharusnya manusia memanfaatkan usia dan masa yang diamanahkan oleh Allah s.w.t. dan tidak ada pengecualiannya kepada setiap hamba-Nya di muka bumi ini.

Apatah lagi, dirasakan masa semakin cepat berlalu dan pergi tanpa menunggu. Maka rugilah mereka yang tidak menghargai salah satu nikmat anugerah Ilahi ini. Lebih-lebih lagi bagi mereka yang sudah di `ambang senja’.

Ikuti wawancara bersama Pensyarah di Jabatan Bahasa Al-Quran, Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), Petaling Jaya, Zahazan Mohamed mengenai sebuah hadis yang bermaksud: Sesiapa yang berusia 40 tahun, amalan kebajikannya belum mengatasi amalan kejahatannya, maka bersedialah ia ke neraka Allah. (Riwayat Tabrani)

Di samping itu, beliau turut membincangkan apakah seharusnya dilakukan oleh seseorang yang Allah panjangkan usianya agar dapat memanfaatkan umurnya ke arah yang baik.

Selain itu, menjawab persoalan sama ada seseorang itu boleh berubah sekiranya usianya sudah melebihi 40 tahun serta kelebihan atau bonus atau diskaun yang Allah berikan kepada mereka yang sudah lanjut usia.

Soalan: Orang Barat mengatakan kehidupan bermula pada usia 40 tahun. Sementara dalam Islam, penentu kepada kebaikan atau sebaliknya ialah pada usia 40 tahun. Manakala dari sudut psikologi pula, usia 40 tahun merupakan fasa kedua remaja. Bagaimana pandangan Ustaz tentang usia 40 tahun sebagai titik permulaan untuk berubah?

Jawapan: Dalam kehidupan ini Allah s.w.t. menjadikan sesuatu itu mengikut peringkat-peringkatnya, bagaimana sebatang pokok daripada benih kemudian membesar dan sehinggalah menjadi pohon yang tegap dan besar. Itulah lumrah kehidupan yang mana makhluk diciptakan oleh Allah juga menerusi beberapa peringkat.

Firman Allah s.w.t. dalam surah ar-Rum ayat 54 bermaksud: Dialah yang menciptakan kamu daripada keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.

Menurut tafsiran al-Qurtubi, ayat ini menjelaskan secara khusus mengenai dua perkara utama. Pertama, masa dan usia adalah milik mutlak Allah.

Kedua, falsafah membayangkan bahawa manusia ini tidak statik, mahu tidak mahu, akan mengalami perubahan dalam kehidupan, daripada bayi menjadi kanak-kanak, remaja, dewasa, tua dan mati.

Lantaran itu, Nabi Muhammad s.a.w. sentiasa berdoa dan berpesan kepada umatnya agar sentiasa meminta perlindungan daripada Allah s.w.t. mengenai beberapa perkara.

Pertama, meminta perlindungan daripada sifat pengecut atau takut tidak bertempat. Kedua, dilindungi daripada rasa sedih, risau, bimbang kerana ia menjadi komponen kepada kemerosotan pencapaian manusia, dan ketiga, memohon perlindungan daripada sampai ke usia nyanyuk. Jadi nyanyuk ini merupakan satu peringkat penghabisan usia manusia.

Imam Abu Hamid Mohammad bin Mohammad al-Ghazali ada menulis sebuah buku bertajuk Ayyuhal Walad yang bermaksud, Wahai Anak. Buku kecil ini hakikatnya mempunyai banyak anekdot-anekdot yang indah dan episod hebat mengenai pengalaman Imam al-Ghazali.

Kehebatan al-Ghazali ialah kerana beliau adalah seorang tokoh yang berjaya mengkombinasikan teori dengan amali sebagaimana yang dibuktikan dalam bukunya, Ensiklopedia Tasawuf.

Imam al-Ghazali mengatakan, tanda-tanda Allah s.w.t. melupakan kita ialah apabila kita sibuk kepada perkara yang tidak mendatangkan sebarang pulangan kepada kita.

Sebenarnya, kata-kata Imam Ghazali ini ada kebenarannya kerana ia berpandukan kepada hadis yang disebutkan pada awal mukadimah. Menariknya hadis ini jika dibincangkan dari sudut perbahasan para ulama hadis, yang disebut oleh Imam Tirmizi di dalam kitabnya, Nawadir al-Usul.

Amalan

Imam Tirmizi membahaskan hadis ini dari sudut perspektif usia 40 tahun. Ujarnya, hadis ini adalah hadis yang daif atau lemah. Pun begitu, ia boleh dijadikan amalan tetapi tidak boleh dijadikan hujahan.

Apabila kita membandingkan atau membuat satu kajian berdasarkan kepada pengalaman, hadis ini ada logiknya. Mungkin ulama hadis mengatakan hadis ini daif, tetapi maknanya sahih atau dari sudut praktikal, amalannya tidak bercanggah de-ngan akidah dan dalam banyak hal, membuktikan ia betul.

Kenapa betul? Pertama, Nabi Muhammad sebelum menerima wahyu, hidup dalam keadaan tidak beragama tetapi menerima hidayahnya pada usia 40 tahun. Di sini, menjadi satu contoh yang baik untuk direnung bersama dan perkara ini tidak berlaku secara kebetulan kerana Allah s.w.t. tidak melakukan sesuatu perkara melainkan ada hikmah dan falsafah tertentu di sebaliknya.

Selain itu, sekiranya dilihat dari segi putaran hidup manusia, boleh dikatakan pada usia 40 tahun menjadi detik penentu tentang hala tuju masa hadapan. Kalau sebelum ini kehidupannya sentiasa happy go lucky tetapi pada saat usia mencecah 40 tahun, pastinya sudah terdetik di dalam fikiran dan hatinya untuk membina keteguhan dalam banyak hal kehidupan. Contohnya, pendidikan anak-anak, pengumpulan harta dan sebagainya.

Yang menariknya lagi, sebuah kajian yang sempat saya temui berdasarkan analisis penagih dadah, menunjukkan 70 peratus penagih yang berusia di bawah 35 tahun, mampu diubah menjadi warga yang produktif. Tetapi, apabila usia meningkat 36-45 tahun, hanya 30 peratus yang boleh berubah. Manakala bakinya akan kekal atau bertambah teruk. Fakta ini berdasarkan satu kajian saintifik semasa, analisis, statistik menunjukkan ada kebenarannya.

Jadi berbalik kepada hadis tadi yang dianggap hadis yang lemah, tetapi maknanya sahih dan berdasarkan kepada pengalaman manusia hebat iaitu Nabi Muhammad s.a.w. juga menunjukkan kebenarannya.

Bahkan, jika kita lihat kepada tokoh-tokoh Islam selepas Baginda seperti Fakhrul Razi, merupakan seorang yang lara, hidup dalam kelalaian tetapi pada usia 40 tahun, beliau tersedar dan kesedarannya berlaku apabila beliau melihat bagaimana berhadapan dengan kematian, dan yang memeranjatkan pada usia tersebut beliau berubah dan bertukar menjadi seorang yang alim dalam ilmu tafsir.

Kedua, titik tolak perubahan yang berlaku kepada hidup seseorang itu boleh berlaku walaupun pada usia 40 tahun tetapi tidak mustahil selepas itu tidak mahu berubah, maka ia akan terus lalai dan menghabiskan usia kehidupan dengan perkara yang tidak bermanfaat kepada diri juga kepada orang sekeliling.

Malah di Barat juga, mereka mengkaji seperti di dalam buku The Magic of Thinking Big yang ditulis oleh Dr. David Schaward, ahli psikologi dan profesor di sebuah universiti. Buku beliau ini terjual lebih 10 juta cetakan. Ia membahaskan tentang pro-ses kejayaan manusia sewal usia 20 tahun. Tetapi dari sudut kajian, menerusi beberapa orang tokoh korporat, didapati mereka berjaya dan kukuh kedudukannya adalah pada usia 40 tahun.

Kajian-kajian kemanusiaan ini secara tidak langsung menyumbang kepada pembuktian terhadap kebenaran apa yang disebut di dalam hadis tadi. Bertepatan juga dengan satu teori dalam masyarakat Barat iaitu Life begins at 40 atau permulaan hidup berlaku pada usia 40 tahun.

Selain itu, orang Barat juga menganggap kecantikan seorang perempuan juga bukan pada usia 20an tetapi kecantikannya sampai pada usia 40 tahun. Kenapa? Ini kerana kecantikan tersebut dilihat dari segi holistik atau menyeluruh, iaitu bukan sahaja dari segi penampilan fizikal tetapi ia merangkumi sikap, misi dalam hidup, kejayaan mendidik anak-anak dan banyak lagi.

Oleh itu mengikut Barat pada usia 40 tahun inilah tahap atau klimaks kecantikan seseorang wanita kerana ia datang secara pakej atau sempurna.

Bahkan, budaya kerja di Perancis dan Eropah, di mana mereka sedang mencari satu penyelesaian kepada masalah kerja yang semakin menekan dan membebankan. Di antaranya, mencadangkan empat hari bekerja dan tiga hari rehat. Alasannya, hari pertama cuti untuk tujuan servis kenderaan, hari kedua untuk menguruskan rumah dan ketiga untuk keluarga.

Perubahan

Cetusan idea ini sebenarnya menjadi modal kepada satu pertubuhan hak asasi manusia yang dianggotai oleh mereka yang berusia lebih 40 tahun.

Hakikatnya tidak ada sesiapa yang menolak idea ini, malah ia telah dibentangkan di Parlimen Perancis. Ini membuktikan usia 40 tahun adalah usia yang matang fikiran, tindakan dan perubahan yang membawa natijah yang baik.

Maka dalam hal ini dapat digarapkan kebenaran dan ketelusan isu yang dibincangkan. Pertama, sejarah pelantikan Baginda Rasulullah s.a.w., kejayaan tokoh Islam, kajian-kajian moden berasaskan analisis, statistik dan negara maju juga mengakuinya.

Bagaimanakah pula sekiranya peningkatan usia ini tidak membawa perubahan yang baik, malah kecenderu- ngan seseorang itu kepada perkara maksiat atau berunsur negatif semakin menjadi-jadi. Adakah ini petanda atau penentu sikap ini berkekalan atau ada `cahaya’ yang tidak diketahui manusia?

Jika pada usia tersebut tidak menjadi satu titik tolak ke arah perubahan yang baik, maka dibimbangi selepas itu memang sukar hendak berubah.

Walau bagaimanapun, kita sewajarnya melihat hal ini dari sudut optimistik. Sebenarnya jika perkara ini dilihat dari sudut Islam, ia lebih kepada hidayah Allah s.w.t. Hidayah ini tidak terbatas dan diterima oleh orang tertentu sahaja, ia adalah milik Allah.

Apabila menyentuh perubahan manusia sama ada ia perlu berlaku atau tidak perlu berlaku, bila ia berlaku, hakikatnya ia di luar pengetahuan akal manusia.

Pun begitu, kaedah yang dipakai tadi iaitu berasaskan pengalaman semasa, kajian menunjukkan kepentingan berlaku pada usia tersebut tetapi ini juga tidak menafikan kebarangkalian seseorang untuk berubah menjadi baik selepas usia 40 tahun atau hampir dengan kematian.

Ini dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. bermaksud: Manusia dihimpunkan di dalam rahim ibunya selama 40 hari sebagai setitis mani, 40 hari segumpal darah, 40 hari sebagai seketul daging, 40 hari berikutnya ditentukan jantina, amalan, rezeki, syurga atau neraka. Dan di hujung hadis tersebut, Baginda bersabda: Kamu kena ingat, ada di antara kamu yang beramal di dalam hidupnya sebagai seorang ahli syurga sehingga orang melabelnya ahli syurga. Tiba-tiba pada penghujung hidupnya, dia telah melakukan satu perkara yang Allah murka kepada-Nya menyebabkan ia mati dalam kemurkaan Allah. Dan ada juga di kala-ngan kamu yang berlaku sebaliknya. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ini adalah hadis yang sangat menakutkan. Jadi pengajaran yang dapat diambil daripada hadis ini, ialah bahawa kehidupan kita ditentukan oleh husnul khatimah. Di antara doa yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi dan perlu kita amalkan iaitu, Wahai Tuhan yang membolak balikkan hati manusia, tetapkanlah hatiku dalam ketaatan kepada-Mu.

Jelaslah di sini bahawa perubahan pada usia 40 tahun itu penting dan kita kena sentiasa mengawasi usia kita dan waktu yang diamanahkan kepada Allah kepada kita.

Bagi saya, perubahan boleh berlaku dengan syarat: Pertama, perubahan berlaku sebagai hidayah daripada Allah. Kedua, perubahan boleh berlaku dengan sebab kita membudayakan ilmu di dalam hidup kita dan ia boleh berlaku dengan pelbagai cara sejajar dengan kecanggihan. Ketiga, perubahan ini penting dengan sebab pergaulan kita. Keempat, kita kena sentiasa mengamalkan apa yang kita tahu, walaupun ia kecil.

Maka dalam soal melakukan perubahan ini, janganlah kita suka bertangguh-tangguh kerana banyak kerugiannya. Ini dibuktikan dan diperkukuhkan lagi dengan surah Ali Imran ayat 133 bermaksud: Dan bersegeralah kamu kepada keampunan Tuhanmu dan kepada syurga yang bidangnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

Mengapa Islam amat menitikberatkan soal usia dan apakah kepentingan usia dalam Islam?

Rasulullah s.a.w. bersabda: Dua nikmat yang manusia sering lalai dan alpa ialah kesihatan dan waktu atau usia yang Allah berikan. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Imam al-Qurtubi bercerita di dalam bukunya, Tazkirah Tentang Kematian dan Perkara Berkaitan Akhirat, sebuah kisah yang berlaku di Mesir mengenai seorang Muazin yang sanggup murtad kerana ingin berkahwin dengan seorang perempuan beragama Kristian yang dilihatnya sewaktu hendak melaungkan azan. Tetapi hidupnya berakhir dengan kematian sebelum sempat bersama wanita tersebut.

Kesan daripadanya, jelas Imam al- Qurtubi, bagaimana usianya di sisi Allah yang sudah pastinya menjadi ahli Neraka kerana sanggup murtad hanya kerana hendak berkahwin dengan wanita Kristian tersebut.

Pengajaran daripada kisah ini, ialah manusia tidak mengetahui penghujung usianya dan hanya Allah s.w.t. Maha Mengetahui. Jadi, menjadi satu perkara yang penting, supaya umur yang diberikan dan diamanahkan oleh Allah sentiasa dimanipulasikan untuk mendatangkan pahala kepada kita.

Usahawan

Contohnya, tidak salah kita menjadi seorang usahawan yang kaya raya tetapi biarlah sumbernya dari tempat yang halal dan disalurkan kepada perkara yang mendatangkan kebaikan kepada diri dan orang lain. Sejarah Islam juga mencatatkan nama-nama seperti Abdul Rahman bin Auf, Osman bin Affan, para sahabat yang kaya dan kekayaan tersebut digunakan untuk membantu umat Islam.

Jadi di dalam kehidupan ini, kita mesti menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk mengajar orang menjadi baik tidak kira dalam apa bidang kepakaran kita sekalipun. Contohnya penulis, doktor, kontraktor, imam, guru dan sebagainya.

Pendeknya, setiap detik adalah kehidupan sebagaimana yang diakui oleh Barat, iaitu masa itu emas, manakala Hassan al Banna mengatakan masa itu kehidupan. Ini menunjukkan kepada kita, tiada satupun yang akan dapat menilai masa. Setiap saat yang kita lakukan walaupun kecil berkemungkinan membawa kebaikan pada hujung usia kelak.

Bagaimana pula tentang diskaun-diskaun yang Allah beri selepas kita meningkat usia lanjut seperti 60 hingga 70 tahun ke atas?

Sekiranya seseorang itu beriltizam dengan perkara-perkara sunat de-ngan syarat perkara yang wajib tidak ditinggalkan, maka perkara sunat ini dianggap sebagai kelebihan atau bonus.

Apabila perkara sunat sentiasa menyokong perkara wajib dan hal ini diperkukuhkan dengan sebuah hadis sahih bermaksud: Aku sentiasa sayang kepada hamba-hamba-Ku yang mana mereka ini sentiasa melakukan perkara-perkara nafilah (sunat). Apabila Aku mencintainya kerana dia melakukan perkara sunat, maka Aku akan jadi teli-nganya yang dengannya dia mendengar dan Aku menjadi matanya yang dengannya dia melihat dan Aku menjadi tangannya yang dengannya dia mengambil dan Aku menjadi kakinya yang dengannya dia melangkah.

Hadis ini yang dibincangkan oleh para ulama, contohnya, Imam Nawawi mengatakan bahawa semua anggota yang Allah berikan kepada kita berada di dalam kawalan Allah s.w.t. atau ia adalah gambaran bagaimana Allah menyayangi mereka yang melakukan ibadah sunat.

Menurut al-Butrusi dalam tafsirnya, Ruh al Bayan bahawa perkara-perkara sunat ini apabila dibuat secara istiqamah (konsisten) pada waktu kita sihat, nanti pada waktu kita tidak sihat atau sampai pada usia yang kita tidak ingat atau nyanyuk, Allah s.w.t. menganggapnya masih berjalan lagi walaupun kita sudah tidak larat melaksanakannya, sama ada akibat usia tua ataupun sakit terlantar.

Yang pastinya, perkara baik ini ja-ngan ditangguh-tangguh melakukannya walaupun kecil mana sekalipun dan ia mestilah dilakukan secara konsisten, berterusan dan mengikut kemampuan.

Sabda Rasulullah: Sebaik-baik benda yang dibuat oleh manusia ialah yang konsisten, berterusan walaupun sedikit. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Firman Allah dalam Surah al-Fussilat ayat 30: Sesungguhnya orang-orang yang menegaskan keyakinannya dengan berkata: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap teguh di atas jalan yang betul, akan turunlah malaikat kepada mereka dari semasa ke semasa (dengan memberi ilham): Janganlah kamu bimbang (daripada berlakunya kejadian yang tidak baik terhadap kamu) dan janganlah kamu berdukacita, dan terimalah berita gembira bahawa kamu akan beroleh syurga yang telah dijanjikan kepada kamu.

Selain itu, Imam al-Qurtubi menjelaskan, umur 10 hingga 25 tahun, Allah beri pelbagai nikmat, umur 25 hingga 40 tahun, Allah mula mengurniakan pelbagai tanggungjawab, umur 51 sampai usia 63 tahun, Allah mula meringankan beban dan Allah pun mula menarik nikmat sedikit demi sedikit, dan pada usia 64 hingga 70 tahun, Allah melihat mereka de-ngan penuh kasih sayang, dan pada usia 71 ke atas Allah memberi bonus serta kelebihan. Di sinilah cantiknya Islam.

Apakah ada kaitannya antara uban dengan usia yang semakin tua?

Ada satu pendapat walaupun ia tidak mempunyai sanad yang kuat tetapi turut dibincangkan oleh Imam al-Qurtubi di dalam buku tazkirahnya, diceritakan kisah Nabi Ibrahim sewaktu menjalankan perintah Allah s.w.t. untuk memisahkan dua orang isterinya, Hajar (isteri kedua) ditinggalkan bersama anaknya Ismail di tengah-tengah padang pasir di Mekah dan kemudian kembali kepada Sarah (isteri pertama). Sebaik sampai kepada Sarah, isterinya itu menjadi takut dan diberitahu bahawa wajah Ibrahim sudah berubah iaitu rambutnya sudah berwarna putih dan kulitnya sudah berkedut.

Maka Sarah menyuruh Ibrahim membuang rambut putih tersebut tetapi ditolak Ibrahim dengan alasan ia adalah ciptaan Allah. Kemudian datang Jibril memberi penghargaan kepada Ibrahim kerana berjaya menghadapi ujian-ujian Allah de-ngan begitu baik.

Nabi Ibrahim adalah orang pertama yang memperoleh uban di kepala. Selain itu Jibril berkata, uban itu menandakan Allah ingat kepada Ibrahim atau dengan maksud lain kata Imam al-Qurtubi, ia adalah tanda hampir dengan kematian dan sebenarnya uban ini dilihat oleh Allah bercahaya dari langit.

Bagaimana sepatutnya mengharungi kelanjutan usia de-ngan cara paling terbaik?

Sabda Rasulullah s.a.w. bermaksud: Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun dan hanya segelintir sahaja yang melepasi umur itu. (Riwayat Imam Ahmad)

Hadis ini wajar dijadikan renungan kita semua, bahawa menjangkau ke usia tersebut, persediaan yang cukup perlu dilakukan.

Persiapan yang paling baik ialah ketakwaan kepada Allah. Malah hakikatnya, persiapan ini tidak terbatas kepada mereka yang semakin meningkat usia tetapi kepada semua manusia tidak kira usia.

Realitinya dalam kehidupan hari ini, kaki-kaki masjid biasanya terdiri daripada mereka yang sudah pencen atau warga emas tetapi alhamdulillah senario kini agak berbeza, iaitu pe-ngunjung masjid terdiri daripada pelbagai usia.

Ini secara tidak langsung, mampu mengingatkan mereka yang sudah lanjut usia supaya sentiasa menghadirkan diri ke tempat atau majlis yang baik kerana ia sekali gus, mendorong kepada perkara yang baik.

Hakikatnya, Islam tidak menghalang umatnya mengumpul harta atau berseronok tetapi dalam apa juga hal Allah suka kepada yang pertengahan atau bersederhana.

Tambah pula, taubat yang tidak diterima Allah ialah taubat apabila nyawa berada di tenggorok. Firman Allah bermaksud: Dan Kami bawakan Bani Israel ke seberang Laut Merah, lalu dikejar oleh Firaun dan tenteranya, de-ngan tujuan melakukan kezaliman dan pencerobohan, sehingga apabila Firaun hampir tenggelam berkatalah ia (pada saat yang genting itu): Aku percaya, bahawa tiada Tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan aku adalah orang-orang yang berserah diri (menurut perintah). (Yunus: 90)

Sumber : http://ww1.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2005&dt=0916&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm

16/09/2017 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah | Leave a comment

PANDUAN MENCARI KEBENARAN DAN HIDAYAH ALLAH…

Masing-masing kata mereka yang benar. Syiah kata mereka yang benar. Wahhabi kata mereka yang benar. Kita pula kata kita yang benar.

Bagaimana nak tahu yang mana satu yang benar ?
وَالَّذِىْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ, لَتَفْتَرِقُ اُمَّتِى عَلىَ ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. فَوَاحِدَةً فى الْجَنَّةُ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِى النَّارِ. قِيْلَ: مَنْ هُمْ يَارَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ: اَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ
(رواه الطبرانى)
Rasulullah SAW bersumpah: “Demi zat yang menguasai jiwa Muhammad, sungguh umatku bakal terpecah menjadi 73 golongan. Maka yang satu golongan masuk syurga, sedangkan yang 72 golongan masuk neraka. Sahabat bertanya: Siapakah golongan (yang masuk Syurga) itu ya Rasulullah? Baginda menjawab: Ahlus sunnah Wal jamaah” (HR. al-Tabrani)

Ulasan Ishaq ibn Rahawaih, seorang ulama Salaf yang terkemuka: “Al-Jama’ah itu adalah para ulama yang berpegang pada atsar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan jalannya. Sesiapa bersama mereka dan mengikuti mereka, maka merekalah Al-Jama’ah”. (Hilyatul-Auliyaa’ 9/239).
Imam Asy Syathibi menyimpulkan:
قال الشاطبي : ” وحاصله أن الجماعة راجعة إلى الاجتماع على الإمام الموافق لكتاب الله والسنة ، وذلك ظاهر في أن الاجتماع على غير سنة خارج عن الجماعة المذكورة في الأحاديث المذكورة ؛
“Kesimpulannya, Al Jama’ah adalah bersatunya umat pada imam yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah.” (Al I’tisham 2/260-265, dinukil dari Fatwa Lajnah Ad Daimah 76/276)
Al-Jama’ah atau Ahlus Sunnah Waljamaah adalah para ulama yang benar dan orang yang bersama dan mengikuti mereka.
Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Kitab Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata para ulama, bahwa Al-Jama’ah atau Ahlus Sunnah Waljamaah adalah As-sawadul a’zham (majoriti)”.
As-sawadul a’zham adalah “majoriti ulama dan orang yang bersama mereka”.Asya`irah dan Al-Maturidiyyah telah diikuti oleh “majoriti ulama dan orang yang bersama mereka”

Berkata As-Sheikh Muhammad Amin yang terkenal dengan gelaran Ibnu Abidin di dalam kitab terkenal beliau yang berjudul Rad Al-Muhtar `Ala Ad-Duraril Mukhtar: “Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah Asya`irah (pengikut Abu al-Hasan Al-Asya`ri) dan Al-Maturidiyyah (pengikut Abu Mansur Al-Maturidi)”. Perkara yang sama juga disebut oleh al-Hafiz Murtadha az-Zabidi di dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin.

Al-Syeikh Prof Dr. Ali Juma`ah, mufti Mesir, menjelaskan tentang mazhab Ahlus Sunnah Wal Jama`ah di dalam kitabnya al-Bayan lima Yashghul al-Azham, mengatakan: “Mazhab Ahlus Sunnah Wal Jama`ah – al-Asya`irah dan al-Maturidiyyah- adalah mazhab yang jelas pada keseluruhan bab-bab tauhid, namun banyak orang-orang yang mengingkarinya ialah orang-orang yang jahil terhadap mazhab tersebut yang sebenar pada masalah iman kepada Allah.”

Kebenaran al-Asya`irah Dan Al-Maturidiyyah Disokong Oleh Al-Quran Dan Hadith
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ) المائدة :54
Mafhumnya : “Wahai orang-orang yang beriman, sesiapa yang murtad daripada agamanya (Islam) maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang mana Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang yang beriman dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah kurniaan Allah diberikan kepada sesiapa yang dikehendakiNya dan Allah maha luas pemberiannya lagi Maha Mengetahui”. ( Al-Maidah:54 ).

Al-Hafiz Ibn `Asakir di dalam kitabnya (تبيين الكذب المفتري) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan bahawasanya tatkala turun ayat ini, Rasulullah mengisyaratkan kepada Abu Musa Al-Asy`ari dengan bersabda:
هم قوم هذا
Mafhumnya : “Mereka (yang dimaksudkan di dalam ayat tadi ) adalah kaum ini”. Berkata Imam al-Qusyairi :
“Pengikut Abu al-Hasan al-Asy`ari adalah termasuk kaumnya kerana setiap tempat yang disandarkan perkataan kaum oleh nabi ia membawa maksud pengikut. Perkara ini disebut oleh Imam al-Qurtubiy di dalam kitab tafsirnya.(rujuk kitab tersebut jilid 6 halaman 220).

Berkata al-Hafiz al-Baihaqi :
“Perkara ini adalah kerana wujudnya kelebihan yang mulia dan martabat yang tinggi bagi imam Abu al-Hasan al-Asy`ari semoga Allah meredhainya. Dia adalah daripada kaum Abu Musa dan anak-anaknya dianugerahkan ilmu pengetahuan, diberikan kefahaman secara khusus dikalangan mereka dengan menguatkan sunnah, membasmi bid`ah dengan mengeluarkan hujah dan membantah penyelewengan. Perkara ini disebut oleh al-Hafiz Ibn `Asakir di dalam kitab (تبيين الكذب المفتري).

Imam Bukhari, seorang yang berstatus amir al-mukminin dalam bidang hadith menyebutkan di dalam sahihnya pada bab ((باب قدوم الأشعريين وأهل اليمن)). Baginda bersabda kepada Abu Musa :
هم مني وأنا منهم
Mafhumnya : “mereka sebahagian daripadaku, aku pula sebahagian daripada mereka”.


Senarai Ulama Yang Berpegang Dengan aliran Asya`irah

Menurut ulama al-muhaqqiqun majoriti umat Islam bermula daripada salaf dan khalaf sama ada dalam apa jua bidang pun, baik akidah, fiqh, al-Quran, tafsir, hadith, tasauf, bahasa arab, nahu, sorof, adab dan lain-lainnya kesemuanya dalam hal keyakinan dan akidah selari dengan akidah al-Asya`irah dan al-Maturidiyah.

Di antara golongan al-huffaz yang merupakan pemuka para muhaddithin dan berpegang dengan akidah ini :
1. Al-Hafidz Abu Bakar Al-Ismaily, tuan punya kitab (المستخرخ على البخاري). Beliau merupakan seorang pakar hadith yang paling masyhur pada zamannya.

2. Al-Hafiz al-`Alim Abu Bakar Al-Baihaqi, juga seorang pakar hadith yang paling masyhur pada zamannya.

3. Al-Hafiz yang disifatkan sebagai sebaik-baik muhaddithin di Negara Syam pada zamannya iaitu al-Hafiz Ibn `Asakir.

4. Amir al-Mukminin dalam bidang hadith, Ahmad Ibn Hajar al-`Asqalani.
Ramai ulama muktabar yang mengikut manhaj ini :

1. Imam Abu Hassan al-Baahili
2. Abu Bakar ibn Furak
3. Abu Bakar al-Baqillani
4. Abu Ishaq al-Isfarayiini
5. Al-Hafiz Abu Nu`aim al-Asbahani
6. Qadhi Abdul Wahab al-Maliki
7. As-Syeikh Abu Muhammad al-Juwaini serta anaknya Abu al-Ma`ali. Kedua-duanya dikenali sebagai Imam al-Haramain.
8. Abu Mansur at-Tamimi al-Baghdadi.
9. Al-Hafiz ad-Darulquthni.
10. Al-Hafiz al-Khatib al-Baghdadi.
11. Al-Ustaz Abu Al-Qasim al-Qusyairi serta anaknya Abu Nasr.
12. Asy-Syeikh Abu Ishaq as-Syirozi,
13. Nasru al-Maqdisi
14. Al-Farawi
15. Abu al-Wafa` bin `Aqil al-Hanbali
16. Qadhi ad-Daamighani al-Hanafi
17. Abu-al-Walid al-Baaji al-Maliki
18. Al-Imam as-Sayid Ahmad ar-Rifa`ie
19. Al-Hafiz Abu Qasim Ibnu `Asakir
20. Ibnu as-Sam`ani
21. Al-Qadhi `Iyadh al-Maliki
22. Al-Hafiz as-Salafi
23. Al-Hafiz an-Nawawi
24. Imam Fakhruddin ar-Razi
25. `Izzuddin bin Abdussalam
26. Abu Amru bin al-hajib al-Maliki
27. Al-Hafiz Ibn Daqiq al-`ed
28. `Ala ad-Deen al-Baaji
29. Al-Hafiz al-Mujtahid Qadi al-Qudhat al-Imam Taqiyuddin As-Subki dan anaknya Tajudeen al-Subki.
30. Al-Hafiz al-`Alai
31. Al-Hafiz Zainuddin al-`iraqi serta anaknya al-Hafiz Waliyuddin al-Iraqi
32. Al-Hafidz al-Lughawi Murtadha Az-Zabidi al-Hanafi
33. As-Syeikh Zakaria al-Ansari
34. As-Syeikh Bahauddin Ar-Rawwasi As-Sufi
35. Mufti Mekah Ahmad Bin Zaini Dahlan
36. Musnid al-Hindi Waliullah ad-Dahlawi
37. Mufti Mesir As-Syeikh Muhammad `illaish Al-Maliki
38. Sheikh Jamik Al-Azhar Abdullah As-Syarqawi,
39. Seorang ulama sanad hadith yang terkenal ; As-Syeikh Abu Al-Mahasin Al-Qawuqji,
40. As-Syeikh al-Husain al-Jisr at-Tarabulusi
41. As-Syeikh `Abdul Latif Fathul Allah, mufti Beirut
42. As-Syeikh `Abdul Baasith al-Fakhuri, mufti Beirut
43. As-Syeikh al-Muhaddith Muhammad Bin Darwish al-Hut al-Beiruti dan anaknya `Abdul Rahman, Ketua al-Asyraf di Beirut.
44. As-Syeikh Mushthofa Naja, Mufti Beirut
45. Al-Qadhi yang dihormati ibn Farhun al-Maliki
46. Abu Fath as-Syahristani
47. Al-Imam Abu Bakar Asy-Syasyi al-Qaffal
48. Abu `Ali Ad-Daqqaq An-Naisaburi
49. Al-Hakim An-Naisaburi, Tuan punya kitab Mustadrak.
50. As-Syeikh Abu Manshur al-Hudhudi,
51. As-Syeikh Abu `Abdullah as-Sanusi,
52. As-Syeikh Muhammmad bin `Alan as-Shadiqi as-Syafi`e.
53. Al-`Allamah `Alawi bin Tahir al-Hadhrami al-Haddad.
54. Al-`Allamah al-Muhaqqiq al-Habib bin Husain bin `Abdullah Balfaqih, dan semua ulama Hadramaut dari keturunan `Alawi, al-Saqqaf, al-Juneid, dan al-`Idrus.
55. Al-Hafiz al-Faqih al-Allamah al-Arif Billah al-Syiekh Abdullah al-Harari al-Habasyi.
56. Sheikh Sirojiddin Abbas Al-Indunisi
57. Musnid Syeikh Yasin al-Fadani
58. Dan ramai lagi..

Ulama telah membuat ketetapan bahawa golongan al-Asya`irah dan al-Maturidiyyah ialah yang dikatakan sebagai Al-Jama’ah atau Ahlus Sunnah Wal Jama`ah atau As-sawadul a’zham atau “golongan yang bersama dan mengikuti para ulama yang berpegang pada atsar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan jalannya” atau “pilihan majoriti ulama” atau “golongan yang selamat”.

Buatlah pilihan yang tepat. Hidayah itu anugerah ALLAH.

Wallahu A’lam.

(FB Ustaz Yunan A Samad)

14/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

AZAN MASA NAK UPSR

SOALAN (melalui WhatsApp):

Ustaz Abu Syafiq. Kami guru tahun 6 disebuah sekolah rendah tanah air. Sebelum peperiksaan Ujian Penilaian Sekolah Rendah kami menyusun supaya pelajar berdoa dan azan dikumandangkan sebelum calon UPSR memasuki dewan peperiksaan kali pertama. Benarkah perbuatan kami ini syirik dan bidaah sesat?

JAWAPAN:

1- Pertama. Saya (Abu Syafiq) ucap dan doakan kejayaaan untuk semua pelajar UPSR.
Berkaitan dengan perbuatan di beberapa buah sekolah sebelum bermula peperiksaan yang besar kebiasaanya akan wujud perbuatan berdoa beramai-ramai dan kekadang itu ada yang melaungkan azan.

Perlu diketahui bahawa Azan itu bukan hanya dilakukan untuk mendirikan solat fardhu walaupun itulah yang masyhurnya. Malah pada keadaan yang lain juga ia harus dilakukan. Cuma hukum pada setiap perbuatan melaungkan Azan itu berbeza-beza.

Contohnya. Hukum melaungkan azan untuk solat 5 waktu adalah Sunnah Muakkad atau Fardhu Kifayah. Bila ibu melahirkan anak disunatkan azan pada telinga kanan bayi yang baru dilahirkan dan digalakkan atau diharuskan azan pada keadaan-keadaan lain yang tiada larangan seperti Azan ketika bersedih, sakit kepala, dirasuk syaitan dan lain-lain.

Semua adalah lafaz azan yang sama namun penetapan jenis hukumnya berbeza. Ia memang ada dalam Islam. Begitu juga berdoa ia juga sangat luas dan banyak keadaan diharuskan berdoa beramai-ramai.

2- Berkata para ulama Syafie’yyah:

“ DISUNATKAN azan pada selain untuk solat seperti azan ditelinga bayi, azan pada orang yang berada dalam kekecewaan kesedihan, pening kepala, sedang marah, azan kepada orang yang buruk kelakuan akhlaknya ataupun kepada binatang yang liar, azan ketika pertempuran tentera, ketika berlaku kebakaran dan ketika dirasuk syaitan”. (www.facebook.com/AbuSyafiq1 ) rujuk Kitab Tuhfatul Muhtaj Bisyarhil Minhaj oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy Asy-Syafie pada J1 MS 461 juga melalui Hawasyinya oleh Imam Syarwaniy Asy-Syafie.

Begitu juga ulama Hanafi mempersetujui hal tersebut sepertimana yang dinyatakan oleh Imam Ibnu ‘Abidin dalam Raddul Mukhtar ‘Ala Durril Mukhtar Syarah Tanwir Absar J2 MS 50.

Imam Nawawi dalam Al-Azkar juga ada menyebut bahawa digalakkan melaungkan azan pabila syaitan hadir menakutkan manusia.

3- Maka jelas perbuatan melaungkan azan pada keadaan tertentu yang tidak dilarang ianya adalah diharuskan. Tidak haram melakukan amalan berdoa beramai-ramai dan solat hajat berjemaah atau azan sempena sesuatu perkara yang besar. Selagi tidak menganggap ianya adalah wajib syarie dalam islam dan masih berpegang dengan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah Al-Asyairah Al-Maturidiyah maka harus dilakukan selagi tidak ada percanggahan kerana berdoa dan zikir atau azan ianya sangat luas perbincangannya tidak sempit pada ketika solat atau dimasjid sahaja.

Manakala perbuatan suka membid’ahkan amalan yang harus merupakan sikap jahil lagi jumud terbit dari ajaran sesat Wahhabi dan Syiah yang sering membawa perbalahan dalam Islam dan merosakkan kesatuan ummah.

-Ustaz Abu Syafiq

12/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

HUKUM ADZAN DILUAR WAKTU SOLAT

PERTANYAAN :
SandalKayu HilangSatu
Assalamu’alaikum….
TITIPAN:
Dalam kitab2 fiqih disebutkan: sunnah hukumnya ADZAN untuk orang yg akan bepergian. Contoh: berangkat haji.

Pertanyaan: adakah dalil haditsnya???

JAWABAN :
Masaji Antoro
Wa’alaikumsalam
Meskipun secara nash tidak tertemukan dalil dalam hal ini, kalangan Syafi’iyyah mensunahkan mengumandangkan adzan pada beberapa kondisi diantaranya saat melepas kepergian seseorang.

Hal ini karena tidak ada diantara para imam madzhab empat yang menentang keberadaannya.
قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُودِ ، وَالْمَهْمُومِ ، وَالْمَصْرُوعِ ، وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ ، أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ قِيلَ وَعِنْدَ إنْزَالِ الْمَيِّتِ لِقَبْرِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّنْيَا لَكِنْ رَدَدْته فِي شَرْحِ الْعُبَابِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ ، وَهُوَ ، وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ
( قَوْلُهُ : خَلْفَ الْمُسَافِرِ ) يَنْبَغِي أَنَّ مَحَلَّ ذَلِكَ مَا لَمْ يَكُنْ سَفَرَ مَعْصِيَةٍ فَإِنْ كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يُسَنَّ ع ش
Terkadang adzan disunahkan dikerjakan bukan untuk waktunya shalat seperti adzan untuk orang yang sedang ditimpa kesusahan, ketakutan, sedang marah, orang atau hewan yang jelek perangainya, saat perang berkecamuk, kebakaran, menurut sebagian pendapat saat mayat diturunkan dalam kuburan dengan mengqiyaskan diberlakukannya adzan saat ia terlahir didunia namun aku menolak yang demikian dalam Syarh al-‘Ubaab, dan saat terdapat gangguan jin dan adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian.
(Keterangan bagi seseorang yang hendak bepergian) semestinya letak kesunahannya bukan pada bepergian yang maksiat bila bepergiannya demikian maka tidak disunahkan.
Tuhfah al-Muhtaaj V/51
وزاد ابن حجر في التحفة الأذان والإقامة خلف المسافر
Imam Ibn Hajar menambahkan dalam kitab at-Tuhfah adzan dzn iqamah juga dikerjakan bagi seseorang yang hendak bepergian
Hasyiyah ar-Rodd al-Mukhtaar I/413
ويسن الأذان والإقامة أيضاً خلف المسافر، ويسن الأذان في أذن دابة شرسة وفي أذن من ساء خلقه وفي أذن المصروع اهــــ ق ل
Dan disunahkan juga adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian, ditelinga binatang yang jelek perangainya, orang yang jelek akhlaknya dan ditelinga orang yang ketakutan.
Tuhfah al-Habiib I/893
وَيُسَنُّ الْأَذَانُ وَالْإِقَامَةُ أَيْضًا خَلْفَ الْمُسَافِرِ, وَيُسَنُّ الْأَذَانُ فِي أُذُنِ دَابَّةٍ شَرِسَةٍ وَفِي أُذُنِ مَنْ سَاءَ خَلْقُهُ وَفِي أُذُنِ الْمَصْرُوعِ. ا هـ. ق ل.
Dan disunahkan juga adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian, ditelinga binatang yang jelek perangainya, orang yang jelek akhlaknya dan ditelinga orang yang ketakutan.
Hasyiyah al-Bujairomi V/65
الأذان لغير الصلاة.
هذا ويندب الأذان لأمور غير الصلاة:
منها الأذان في أذُن المولود اليمنى عند ولادته، كما تندب الإقامة في اليسرى لأنه صلّى الله عليه وسلم ْذَّن في أذ ُن الحسن حين ولدته فاطمة (2) .
ومنها الأذان وقت الحريق ووقت الحرب، وخلف المسافر.

ADZAN DILAIN WAKTU SHALAT
Dan disunahkan adzan diselain shalat dibeberapa kondisi :

Diantaranya ditelinga kanan bayi saat baru dilahirkan sebagaimana disunahkan iqamah ditelinga kirinya karena baginda Nabi SAW mengadzani telinga Hasan saat ia dilahirkan Fathimah,
Diantaranya saat kebakaran, saat perang, dan bagi seseorang yang hendak bepergian.
Al-Fiqh al-Islaam I/635
=======================
الأذان لغير الصلاة :
51 – شرع الأذان أصلا للإعلام بالصلاة إلا أنه قد يسن الأذان لغير الصلاة تبركا واستئناسا أو إزالة لهم طارئ والذين توسعوا في ذكر ذلك هم فقهاء الشافعية فقالوا : يسن الأذان في أذن المولود حين يولد ، وفي أذن المهموم فإنه يزيل الهم ، وخلف المسافر ، ووقت الحريق ، وعند مزدحم الجيش ، وعند تغول الغيلان وعند الضلال في السفر ، وللمصروع ، والغضبان ، ومن ساء خلقه من إنسان أو بهيمة ، وعند إنزال الميت القبر قياسا على أول خروجه إلى الدنيا .
وقد رويت في ذلك بعض الأحاديث منها ما روى أبو رافع : رأيت النبي صلى الله عليه وسلم أذن في أذن الحسن حين ولدته فاطمة (1) ، كذلك روي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من ولد له مولود فأذن في أذنه اليمنى وأقام في اليسرى لم تضره أم الصبيان (2) . وروى أبو هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إن الشيطان إذا نودي بالصلاة أدبر (3) . . ” إلخ .
وقد ذكر الحنابلة مسألة الأذان في أذن المولود فقط ونقل الحنفية ما ذكره الشافعي ولم يستبعدوه ، قال ابن عابدين : لأن ما صح فيه الخبر بلا معارض مذهب للمجتهد وإن لم ينص عليه

ADZAN DILAIN WAKTU SHALAT
Pada dasarnya adzan hanya disyariatkan untuk tanda akan shalat hanya saja terkadang disunahkan juga untuk selain shalat dengan tujuan mencari keberkahan, sebagai pelipur atau menghilangkan hal-hal yang tidak disukai.

Ulama yang menilai adzan dapat dipergunakan semacam ini adalah kalangan Syafi’iyyah, mereka berpendapat “Disunahkan adzan ditelingan bayi saat ia dilahirkan, ditelinga orang yang kesusahan sebab dapat menghilangkan kegelisahannya, bagi seseorang yang hendak bepergian, saat kebakaran, saat perang berkecamuk, saat terdapat gangguan jin, saat tersesat dalam perjalanan, untuk orang yang ketakutan, marah, orang atau hewan yang jelek perangainya dan saat mayat diturunkan dalam kuburan dengan mengqiyaskan diberlakukannya adzan saat ia terlahir didunia.

Dan telah teriwayatkan hadits-hadits mengenai hal tersebut, diantaranya hadits riwayat Abu Rofi’
“Aku melihat baginda Nabi SAW adzan ditelingan Hasan saat ia dilahirkan oleh Fathimah” (HR. At-Tirmidzi)

Juga hadits bahwa Nabi SAW bersabda “Barangsiapa terlahirkan anak untuknya, kemudian ia adzan ditelinga kanannya dan iqamah ditelinga kirinya maka tidak akan membahayakan bagi anaknya gangguan Ummu as-Shibyaan/Jin wanita yang suka mengganggu anak kecil.” (HR. Abu Ya’la dan al-Baehaqi).

Abu Hurairah ra juga meriwayatkan sebuah hadits bahwa nabi SAW bersabda “Sesungguhnya syetan saat dikumandangkan seruan shalat akan menyingkir….. dst” (HR. Mutafaq ‘Alaih).
Kalangan Hanabilah memberlakukan adzan diselain shalat hanya untuk anak yang baru dilahirkan sedang kalangan Hanafiyah juga menukil keterangan Imam Syafi’i mengenai hal tersebut dan mereka juga tidak menentangnya.
Ibn ‘Aabidiin berkata “Karena keautentikan khabar yang tidak terdapat pertentangan berarti menjadi aliran keyakinan bagi para mujtahid meskipun tidak terdapati dalil nash tentangnya”.
Al-Mausuu’ah al-Foqhiyyah II/372
وفي حاشية البحر للخير الرَّمْلي : رأيت في كتب الشَّافعية أنه قد يسن الأذان لغير الصلاة، كما في أذن المولود، والمهموم، والمصروع، والغضبان، ومن ساء خلقه من إنسان أو بهيمة، وعند مزدحم الجيش، وعند الحريق، قيل وعند إنزال الميت القبر قياساً على أول خروجه للدنيا، لكن رده ابن حجر في شرح العباب، وعند تغوّل الغيلان، أي عند تمرد الجن لخبر صحيح فيه. أقول؛ ولا بعد فيه عندنا ا هـ: أي لأن ما صح فيه الخبر بلا معارض فهو مذهب للمجتهد وإن لم ينص عليه، لما قدمناه في الخطبة عن الحافظ ابن عبد البرّ ، والعارف الشعراني عن كل من الأئمة الأربعة أنه قال: إذا صح الحديث فهو مذهبي، على أنه في فضائل الأعمال يجوز العمل بالحديث الضعيف كما مر أول كتاب الطهارة، هذا، وزاد ابن حجر في التحفة الأذان والإقامة خلف المسافر. قال المدني : أقول: وزاد في شرعة الإسلام لمن ضل الطريق في أرض قفر: أي خالية من الناس. وقال المنلا علي في شرح المشكاة: قالوا: يسن للمهموم أن يأمر غيره أن يؤذن في أذنه فإنه يزيل الهم، كذا عن عليّ رضي الله عنه، ونقل الأحاديث الواردة في ذلك فراجعه ا هـ.
Dalam Hasyiyah al-Bahr Li al-khair ar-Ramly tersirat :
“Aku melihat dibeberapa kitab syafi’iyyah tertulis, sesungguhnya adzan terkadang diunahkan diselain shalat seperti adzan ditelingan anak, ditelingan orang yang kesusahan, ketakukan, marah, orang atau hewan yang jelek perangainya, saat perang berkecamuk, kebakaran, menurut sebagian pendapat saat mayat diturunkan dalam kuburan dengan mengqiyaskan diberlakukannya adzan saat ia terlahir didunia namun aku menolak yang demikian dalam Syarh al-‘Ubaab, dan saat terdapat gangguan jin dan adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian”.

Aku (Imam Romly) berkata : “Yang demikian bagi kami tidaklah asing, karena keautentikan khabar yang tidak terdapat pertentangan berarti menjadi aliran keyakinan bagi para mujtahid meskipun tidak terdapati dalil nash tentangnya, sebagaimana khutbah pembukaan kitab yang kami ambil dari al-Hafidh Ibn Abdil Bar dan al-‘Arif as-Sya’roni dari masing Imam Madzhab empat menyatakan “Bila sebuah hadits dinyatakan shahih berarti menjadi madzhab kami, hanya saja dalam hal keutamaan-keutamaan amal diperbolehkan amal dengan bersandar pada hadits dhaif seperti urauan kami di bab THOHARAH”.

Ibn Hajar dalam at-Tuhfah menambahkan “Dan sunah adzan serta iqamah dibelakang orang yang bepergian”.
al-Madani berkata “Dan dalam Kitab Syar’ah al-Islam terdapat tambahan, dan bagi orang yang tersesat jalan didaerah terpencil”.
al-Manlaa ‘Ali dalam Syarh al-Misykaat berkata “Ulama berfatwa, bagi orang yang sedang kesusahan disunahkan memerintahkan untuk mengumandangkan adzan ditelinganya karena yang demikian dapat menghilangkan rasa sedihnya, demikian yang diambil dari sahabat Ali ra.
Hasyiyah ar-Rodd al-Mukhtaar I/413
===================
MANFAAT DAN TATA CARA ADZAN DISELAIN SHALAT
وَمِمَّا جُرِّبَ أَنَّ الْأَذَانَ فِي أُذُنِ الْمَحْزُونِ يَصْرِفُ حُزْنَهُ, وَإِذَا أُذِّنَ خَلْفَ الْمُسَافِرِ رَجَعَ, وَإِذَا أُذِّنَ فِي أُذُنِ مَنْ خُلُقُهُ سَيِّئٌ حَسُنَ خُلُقُهُ, وَمِمَّا جُرِّبَ لِحَرْقِ الْجِنِّ أَوْ يُؤَذِّنُ فِي أُذُنِ الْمَصْرُوعِ سَبْعًا, وَيَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ سَبْعًا, وَيَقْرَأُ الْمُعَوِّذَتَيْنِ وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ, وَآخِرَ الْحَشْرِ وَالصَّافَّاتِ, وَإِذَا قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ سَبْعًا عَلَى مَاءٍ, وَرَشَّهُ عَلَى وَجْهِ الْمَصْرُوعِ فَإِنَّهُ يُفِيقُ
Termasuk yang dapat dicoba dijalankan :
Adzan ditelinga orang yang kesusahan menghilangkan kesedihannya
Adzan dibelakang orang yang bepergian ia akan kembali

Adzan ditelinga orang yang tabiatnya akan membaik akhlaknya

Juga dapat dicoba untuk membakar JIN atau orang yang ketakukan sebanyak tujuh kali, membaca al-Fatihah 7X, surat al-Mu’awwidzatain 7X, Ayat Kursi dan Was Samaa-i Wat Thooriq, akhir surat al-Hasyr dan as-Shooffaat..

Bila ayat kursi dibaca 7X pada air kemudian dipercikkan diwajah orang yang ketakutan, Insya Allah ia akan segera sadar.
Mathoolib Ulin Nuha III/11
ومن فضائل الأذان أنه لو أذن خلف المسافر فإنه يكون في أمان إلى أن يرجع. وإن أذن في أذن الصبي وأقيم في أذنه الأخرى إذا ولد فإنه أمان من أم الصبيان وإذا وقع هذا المرض أيضاً وكذا إذا وقع حريق أو هجم سيل أو برد أو خاف من شيء كما في «الأسرار المحمدية» والأذان إشارة إلى الدعوة إلى الله حقيقة والداعي هو الوارث المحمدي يدعو أهل الغفلة والحجاب إلى مقام القرب ومحل الخطاب فمن كان أصم عن استماع الحق استهزأ بالداعي ودعوته لكمال جهالته وضلالته ومن كان ممن ألقى السمع وهو شهيد يقبل إلى دعوة الله العزيز الحميد وينجذب إلى حضرة العزة ويدرك لذات شهود الجمال ويغتنم مغانم أسرار الوصال
Diantara keutamaan adzan adalah, sesungguhnya bila dikumandangkan dibelakang orang yang bepergian sesungguhnya ia akan aman hingga kembali pulang, bila dikumandangkan ditelinga bayi dan diiqamahkan ditelinga lainnya saat dilahirkan maka ia akan aman dari gangguan Ummi Syibyaan, begitu juga saat terdapat orang sakit, kebakaran, bercucuran keringat dingin, atau takut akan sesuatu seperti keterangan yang diambil dari kitab al-Asraar al-Muhammadiyyah.

Adzan hakikatnya adalah ajakan pada Allah, yang menyeru adalah pewaris ajaran Muhammad, mengajak orang-orang yang lalai, tertutup untuk mendekat dan merapat pada hadratillah.

Barangsiapa yang tuli mendengarkan kebenaran maka ia akan mentertawakan seruan dan penyerunya sebab kebodohan dan kesesatannya sudah dalam tahapan yang sempurna. Tapi barangsiapa yang dapat tersentuh pendengarannya dan ia bersaksi maka ia akan menerima ajakan Allah, merapat kehadhirat-Nya, menemukan kelezatan kesaksian kesempurnaan serta meraih rahasia-rahasia wushul (sampai) dihadhirat Allah.
Ruuh al-Bayaan II/361

Wallaahu A’lamu Bis Showaab
Link Asal >>

http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/475019485854198/?comment_id=475550055801141&offset=0&total_comments=18

12/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

GURU YANG BERSANAD

Kata Syeikh Muhammad Fuad Kamaludin Al-Maliki
“Talaqqi adalah sunnah. Dan pada hari ini, talaqqi telah mula tidak diamalkan.”
“Ilmu diambil dari guru ke guru.”
“Antara beza ilmu Islam dengan ilmu orang kafir ialah talaqqi. Bukan melalui kajian dan penyelidikan.”
“Talaqqi adalah warisan. Pada hari ini, cara ini telah diubah oleh orang-orang yang mengagungkan orang Barat.”
“Para Sahabat mengambil ilmu dari lidah RasuluLlah ﷺ, diambil dari Jibril alaihissallam dan diambil dari Allah Azza Wa Jalla.”
“Pembacaan dan penyelidikan adalah cabang dari talaqqi.”
“Apa itu talaqqi? Ambil ilmu dari guru yang ada sanadnya terus sampai kepada Nabi ﷺ.”
“Kata ulama, sesungguhnya ilmu itu datang dengan cara bertalaqqi.”
“Kata ulama juga, kalau nak faham agama, kena ada guru yang boleh membimbing dan membetulkan kesalahan kita.”
Yang ini paling membuatkan hati al-faqir terkesan. “Kalaulah Al-Qur’an (mushaf) boleh membimbing kita, kitab hadis boleh membimbing kita, maka RasuluLlah ﷺ tidak akan risau dengan kematian para ulama. Kerana ilmu diambil dari ulama. Bukan dari kitab. Kitab hanya wasilah sahaja.”
Kata Sheikh Muhammad Fuad al-Maliki lagi; “Ramai orang jadi sesat sebab dia tiada guru. Cara hendak tahu seseorang itu sesat, tengok dari segi keilmuan dia. Orang yang sesat tidak mahu belajar, menjauhkan diri dari ilmu. Kalau tidak sesat pada hari ini, maka satu hari nanti, dia pasti akan sesat kerana meninggalkan majlis ilmu.
Golongan yang kedua pula ialah, mengambil ilmu tetapi tidak secara sunnah, tanpa talaqqi dan bimbingan seorang guru, tarbiyyah dari seorang sheikh, maka mereka ini akan mengelirukan umat. Kata ulama juga, barangsiapa yang belajar tanpa Sheikh (seorang guru), maka syaitan akan menjadi Sheikhnya (gurunya).”
“Cuba berikan saya nama ulama yang mana dia menjadi ulama tanpa bimbingan dari ulama yang mengajarnya. Boleh atau tidak seorang doktor menjadi doktor tanpa dibimbing oleh seorang doktor yang menjadi guru yang mengajarkannya?

INGAT : Ulama’ itu pewaris Nabi ﷺ.

*ZAITON HASHIM*
Sungai Buloh

(Di petik dari FB Ustaz Yunan Abdul Samad)

09/09/2017 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

KENAPA KITA HARUS BERMADZHAB DAN TAQLID PADA ULAMA

Mazhab secara bahasa artinya adalah tempat untuk pergi. Berasal dari kata zahaba – yazhabu – zihaaban . Mahzab adalah isim makan dan isim zaman dari akar kata tersebut.
Sedangkan secara istilah, mazhab adalah sebuah metodologi ilmiah dalam mengambil kesimpulan hukum dari kitabullah dan Sunnah Nabawiyah. Mazhab yang kita maksudnya di sini adalah mazhab fiqih.
Adapula yang memberikan pengertian mazhab fiqih adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkannya memilih sejumlah hukum dalam kawasan ilmu furu’.

Nashiruddan al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah serta orang-orang yang sefaham dengannya melontarkan kritik kepada orang-orang yang bertaqlid dan menyatakan bahwa taqlid dalam agama adalah haram. Mereka juga mengkategorikan pemikiran madzhab Abu Hanifah, madzhab asy-Syafi’i dan madzhab-madzhab lain yang berbeda-beda dalam mencetuskan hukum setara dengan ta’addud asy-syari’ah (syariat yang berbilangan) yang terlarang dalam agama. (Lihat Silsilah Ahadits adh-Dha‘ifah ketika membahas hadits Ikhtilaf Ummah. )

Mereka juga tidak segan-segan lagi mengatakan bahwa madzhab empat adalah bid’ah yang di munculkan dalam agama dan hasil pemikiran madzhab bukan termasuk dari bagian agama. Bahkan ada juga yang mengatakan dengan lebih ekstrim bahwa kitab para imam-imam (kitab salaf) adalah kitab yang menjadi tembok penghalang kuat untuk memahami al-Qur’an maupun Sunnah dan menjadikan penyebab mundur dan bodohnya umat.
Namun yang aneh dan lucu, justru mereka kerap kali mengutip pendapat-pendapat ulama yang bertaqlid seperti: Izzuddin bin Abdis Salam, Ibnu Shalah, al-Bulqini, as-Subki, Ibnu Daqiq al-Id, al-Iraqi, Ibnu Hazm, Syah Waliyullah ad-Dihlawi, Qadhi Husain, Ibnu Hajar al-Haitami, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, adz-Dzahabi, an-Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, as-Suyuthi, al-Khathib al-Baghdadi, an-Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Ibnu Rusyd, al-Bukhari dan lain-lain. Padahal diri mereka berkeyakinan bahwa ulama-ulama di atas adalah orang yang salah memilih jalan karena telah bertaqlid dan menghalalkannya. Lalu jika begitu, sebandingkah seorang al-Albani dengan ulama-ulama di atas yang mau bertaqlid dan melegalkannya sehingga dia mengharamkan taqlid? Apakah ulama-ulama di atas juga akan masuk neraka karena melakukan dosa bertaqlid? Apakah ulama-ulama di atas juga bodoh tentang al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah menurut mereka? Sebuah pertanyaan yang tidak butuh jawaban, akan tetapi difikirkan dan direnungkan dengan fikiran jernih serta jauh dari syahwat dan sikap fanatik yang berlebihan.

Jika di amati dengan seksama, orang-orang yang menolak taqlid sebenarnya juga sering bertaqlid. Mereka mengambil hadits dari Shahih al-Bukhari dan Muslim misalnya serta mengatakan bahwa haditsnya shahih karena telah di teliti dan di kritisi oleh ahli hadits terkenal yaitu al-Bukhari dan Muslim. Bukankah hal tersebut juga bagian dari bertaqlid dalam bidang hadits? Bukankah juga, al-Bukhari adalah salah satu ulama pengikut madzhab (asy-Syafi’i)? Kenapa mereka ingkar sebagian dan percaya sebagian? Lalu ketika mereka mengikuti pemikiran Nashiruddin al-Albani, al-Utsaimin, Ibnu baz dan lain-lain dengan sangat fanatik dan sangat berlebihan, di namakan apa?
Menurut orang-orang yang anti taqlid bahwa orang Islam harus berijtihad dan mengambil hukum langsung dari al-Qur’an dan Sunnah tanpa bertaqlid sama sekali kepada siapapun. Pemahaman seperti ini muncul akibat dari kebodohan mereka memahami dalil al-Qur’an dan Sunnah serta lupa dengan sejarah Islam terdahulu (zaman Shahabat). Mereka juga tidak pernah berfikir bahwa mewajibkan umat Islam berijtihad sendiri sama dengan menghancurkan agama dari dalam, karena hal itu, tentu akan membuka pintu masuk memahami hukum dengan ngawur bagi orang yang tidak ahlinya (tidak memenuhi kriteria mujtahid).
Yang sangat lucu di zaman sekarang, terutama di Indonesia, banyak orang yang membaca dan mengetahui isi al-Qur’an dan Hadits hanya dari terjemah-terjemah, lalu mereka dengan lantang menentang hasil ijtihad ulama (mujtahid) dan ulama-ulama salaf terdahulu dan bahkan mengatakan juga, mereka semua sesat dan ahli neraka. Bukankan hal itu malah akan menjadi lelucon yang tidak lucu? Lagi-lagi bodoh menjadi faktor penyebab ingkar mereka.
Sedangakan menurut ulama, seseorang dapat menjadi seorang mujtahid (punya kapasitas memahami hukum dari teks al-Qur’an maupun Hadits secara langsung) harus memenuhi kriteria berikut: handal dibidang satu persatu (mufradat) lafazh bahasa Arab, mampu membedakan kata musytarak (sekutuan) dari yang tidak, mengetahui detail huruf jer (kalimah huruf dalam disiplin ilmu Nahwu), mengetahui ma’na-ma’na huruf istifham (kata tanya) dan huruf syarat, handal di bidang isi kandungan al-Qur’an, asbab nuzul (latar belakang di turunkannya ayat), nasikh mansukh (hukum atau lafazh al-Qur’an yang dirubah atau di ganti), muhkam dan mutasyabih, umum dan khusus, muthlak dan muqayyad, fahwa al-Khithab, khithab at-Taklif dan mafhum muwafaqah serta mafhum mukhalafah. Serta juga handal di bidang hadits Rasulallah baik di bidang dirayah (mushthalah hadits atau kritik perawi hadits) dan riwayat, tanggap fikir terhadap bentuk mashlahah umum dan lain-lain. Jika kriteria-kriteria di atas tidak terpenuhi, maka kewajibannya adalah bertaqlid mengikuti mujtahid.

Kami tidak pernah mengatakan bahwa pintu gerbang ijtihad telah tertutup, karena kesempatan menjadi mujtahid tetap terbuka sampai hari kiyamat. Namun secara realita, siapakah sekarang ini ulama yang mampu masuk derajat mujtahid seperti asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Malik, Ahmad bin Hanbal dan lain-lain. Adakah doktor-doktor syari’at zaman sekarang yang dapat di sejajarkan dengan ulama-ulama pengikut madzhab seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar dan lain-lain? Jika tidak ada yang dapat di sejajar dengan mereka, lalu kenapa tiba-tiba mereka mendakwahkan diri berijtihad?

ketetapan wajib bertaqlid bagi orang yang belum sampai derajat mujtahid adalah berdasar:
1. Dalil Al-Qur’an Q.S. an-Nahl: 43:

فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Bertanyalah kalian semua kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”

Dan sudah menjadi ijma’ ulama bahwa ayat tersebut memerintahkan bagi orang yang tidak mengetahui hukum dan dalilnya untuk ittiba’ (mengikuti) orang yang tahu. Dan mayoritas ulama ushul fiqh berpendapat bahwa ayat tersebut adalah dalil pokok pertama tentang kewajiban orang awam (orang yang belum mempunyai kapasitas istinbath [menggali hukum]) untuk mengikuti orang alim yang mujtahid.

senada dengan ayat diatas didalam Qur`an surat At-Taubah ayat 122;

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.( 122)

2. Ijma’
Maksudnya, sudah menjadi kesepakatan dan tanpa ada khilaf, bahwa shahabat-shahabat Rasulallah berbeda-beda taraf tingkatan keilmuannya, dan tidak semua adalah ahli fatwa (mujtahid) seperti yang disampaikan Ibnu Khaldun. Dan sudah nyata bahwa agama diambil dari semua sahabat, tapi mereka ada yang memiliki kapasitas ijtihad dan itu relatif sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah semua sahabat. Di antaranya juga ada mustafti atau muqallid (sahabat yang tidak mempunyai kapasitas ijtihad atau istinbath) dan shahabat golongan ini jumlahnya sangat banyak.
Setiap shahabat yang ahli ijtihad seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Ustman, Ali, ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar dan lain-lain saat memberi fatwa pasti menyampaikan dalil fatwanya.

3. Dalil akal
Orang yang bukan ahli ijtihad apabila menemui suatu masalah fiqhiyyah, pilihannya hanya ada dua, yaitu: antara berfikir dan berijtihad sendiri sembari mencari dalil yang dapat menjawabnya atau bertaqlid mengikuti pendapat mujtahid.
Jika memilih yang awal, maka itu sangat tidak mungkin karena dia harus menggunakan semua waktunya untuk mencari, berfikir dan berijtihad dengan dalil yang ada untuk menjawab masalahnya dan mempelajari perangkat-perangkat ijtihad yang akan memakan waktu lama sehingga pekerjaan dan profesi ma’isyah pastinya akan terbengkalai. Klimaksnya dunia ini rusak. Maka tidak salah kalau Dr. al-Buthi memberi judul salah satu kitabnya dengan “Tidak bermadzhab adalah bid’ah yang paling berbahaya yang dapat menghancurkan agama”.
Dan pilihan terakhirlah yang harus ditempuh, yaitu taqlid. (Allamadzhabiyah hlm. 70-73, Takhrij Ahadits al-Luma’ hlm. 348. )

Kesimpulannya dalam hal taqlid ini adalah:

1. Wajib bagi orang yang tidak mampu ber-istinbath dari Al-Qur’an dan Hadits.
2. Haram bagi orang yang mampu dan syaratnya tentu sangat ketat, sehingga mulai sekitar tahun 300 hijriah sudah tidak ada ulama yang memenuhi kriteria atau syarat mujtahid. Mereka adalah Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Sufyan ats-Tsauri, Dawud azh-Zhahiri dan lain-lain.
Lalu menjawab perkataan empat imam madzhab yang melarang orang lain bertaqlid kepada mereka adalah sebagaimana yang diterangkan ulama-ulama, bahwa larangan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mampu berijtihad dari Al-Qur’an dan Hadits, dan bukan bagi yang tidak mampu, karena bagi mereka wajib bertaqlid agar tidak tersesat dalam menjalankan agama. (Al-Mizan al-Kubra 1/62. )

Begitu juga menjawab Ibnu Hazm dalam Ihkam al-Ahkam yang mengharamkan taqlid, karena haram yang dimaksudkan menurut beliau adalah untuk orang yang ahli ijtihad sebagaimana disampaikan al-Buthi ketika menjawab musykil dalam kitab Hujjah Allah al-Balighah [1/157-155] karya Waliyullah ad-Dihlawi yang menukil pendapat Ibnu Hazm tentang keharaman taqlid. ( Al-la Madzhabiyyah hlm. 133 dan ‘Iqdul Jid fi Ahkam al-Ijtihad wa at-Taqlid hlm. 22. )

Dalam keyakinan orang-orang yang bermadzhab, antara taqlid dan ittiba’ (mengikuti pendapat ulama) adalah sama. Dan itu tidak pernah ditemukan bahasa atau istilah yang membedakannya. Namun, menurut orang-orang yang anti taqlid, meyakini adanya perbedaan antara dua bahasa tersebut sehingga jika mereka mengikuti pendapat ulama, seperti mengikuti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, Nashiruddin al-Albani dan lain-lain maka menurut mereka, itu adalah bagian dari ittiba’ dan bukan taqlid. Karena menurut pehaman mereka, taqlid adalah mengikuti imam madzhab yang akan selalu diikuti, meski imam madzhab tersebut salah atau bisa di sebut taqlid buta. Sedangkan ittiba’ tidaklah demikian. Sebuah statemen dangkal dan tidak berdasar sama sekali.
Mengenai masalah perbedaan dua kata diatas, pernah terjadi dialog antara Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi dengan seseorang tamu yang datang kepada belaiau. Tamu tersebut berkeyakinan seperti di atas bahwa ada perbedaan antara taqlid dan ittiba’. Kemudian Dr. al-Buthi menantang tamu tersebut untuk membuktikan apa perbedaan antara dua kata tersebut, apakah secara bahasa atau ishtilah dengan di persilahkan mengambil referensi dari kitab lughat ata kamus bahasa Arab. Namun, tamu tersebut tidak mampu membuktikan pernyataannya tersebut.
Sama seperti apa yang di lakukan oleh Dr. Al-Buthi, kami juga menantang orang-orang yang mengharamkan taqlid lalu mereka juga mengambil pendapat Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, Nashiruddin al-Albani dan lain-lain dalam tulisan dan pidato-pidato mereka, apakah hal itu termasuk taqlid atau ittiba’? Jika mereka mengatakan bukan taqlid, maka klaim tersebut perlu di buktikan secara ilmiyyah bukan asal bicara untuk membodohi umat.
Lebih jelasnya lihat kitab al-Lamadzhabiyyah, sebuah karya apik yang menolak kebathilan orang-orang yang anti-madzhab dengan argumen-arguman yang kuat. Termasuk di dalamnya terdapat catatan perdebatan yang terjadi antara Nashiruddin al-Albani dengan Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi.

Sekilas tentang 4 Mazhab

1. Mazhab Hanafi
Pendiri mazhab Hanafi ialah: Nu’man bin Tsabit bin Zautha.Diahirkan pada masa sahabat, yaitu pada tahun 80 H = 699 M. Beliau wafat pada tahun 150 H bertepatan dengan lahirnya Imam Syafi’i R.A. Beliau lebih dikenal dengan sebutan: Abu Hanifah An Nu’man.
Abu Hanifah adalah seorang mujtahid yang ahli ibadah. Dalam bidang fiqh beliau belajar kepada Hammad bin Abu Sulaiman pada awal abad kedua hijriah dan banyak belajar pada ulama-ulama Ttabi’in, seperti Atha bin Abi Rabah dan Nafi’ Maula Ibnu Umar.
Mazhab Hanafi adalah sebagai nisbah dari nama imamnya, Abu Hanifah. Jadi mazhab Hanafi adalah nama dari kumpulan-kumpulan pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya serta pendapat-pendapat yang berasal dari para pengganti mereka sebagai perincian dan perluasan pemikiran yang telah digariskan oleh mereka yang kesemuanya adalah hasil dari pada cara dan metode ijtihad ulama-ulama Irak (Ahlu Ra’yi). Maka disebut juga mazhab Ahlur Ra’yi masa Tsabi’it Tabi’in.
Dasar-dasar Mazhab Hanafi
Abu Hanifah dalam menetapkan hukum fiqh terdiri dari tujuh pokok, yaitu: Al-Kitab, As Sunnah, Perkataan para Sahabat, Al-Qiyas, Al-Istihsan, Ijma’ dan Uruf.
Murid-murid Abu Hanifah adalah sebagai berikut:
a. Abu Yusuf bin Ibrahim Al-Anshari (113-183 H)
b. Zufar bin Hujail bin Qais al-Kufi (110-158 H)
c. Muhammad bin Hasn bin Farqad as Syaibani (132-189 H)
d. Hasan bin Ziyad Al-Lu’lu Al-Kufi Maulana Al-Anshari (….-204 H).
Daerah-daerah Penganut Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi mulai tumbuh di Kufah (Irak), kemudian tersebar ke negara-negara Islam bagian Timur. Dan sekarang ini mazhab Hanafi merupakan mazhab resmi di Mesir, Turki, Syiria dan Libanon.
Dan mazhab ini dianut sebagian besar penduduk Afganistan, Pakistan, Turkistan, Muslimin India dan Tiongkok.

2. Mazhab Maliki
Mazhab Maliki adalah merupakan kumpulan pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Malik dan para penerusnya di masa sesudah beliau meninggal dunia.
Nama lengkap dari pendiri mazhab ini ialah: Malik bin Anas bin Abu Amir. Lahir pada tahun 93 M = 712 M di Madinah. Selanjutnya dalam kalangan umat Islam beliau lebih dikenal dengan sebutan Imam Malik. Imam Malik terkenal dengan imam dalam bidang hadis Rasulullah SAW.
Imam Malik belajar pada ulama-ulama Madinah. Yang menjadi guru pertamanya ialah Abdur Rahman bin Hurmuz. Beliau juga belajar kepada Nafi’ Maula Ibnu Umar dan Ibnu Syihab Az Zuhri.
Adapun yang menjadi gurunya dalam bidang fiqh ialah Rabi’ah bin Abdur Rahman. Imam Malik adalah imam (tokoh) negeri Hijaz, bahkan tokohnya semua bidang fiqh dan hadits.
Dasar-dasar Mazhab Maliki
Dasar-dasar mazhab Maliki diperinci dan diperjelas sampai tujuh belas pokok (dasar) yaitu:

• Nashshul Kitab
• Dzaahirul Kitab (umum)
• Dalilul Kitab (mafhum mukhalafah)
• Mafhum muwafaqah
• Tanbihul Kitab, terhadap illat
• Nash-nash Sunnah
• Dzahirus Sunnah
• Dalilus Sunnah
• Mafhum Sunnah
• Tanbihus Sunnah
• Ijma’
• Qiyas
• Amalu Ahlil Madinah
• Qaul Shahabi
• Istihsan
• Muraa’atul Khilaaf
• Saddud Dzaraa’i.
Sahabat-sahabat Imam Maliki dan Pengembangan Mazhabnya
Di antara ulama-ulama Mesir yang berkunjung ke Madinah dan belajar pada Imam Malik ialah:
1. Abu Muhammad Abdullah bin Wahab bin Muslim.
2. Abu Abdillah Abdur Rahman bin Qasim al-Utaqy.
3. Asyhab bin Abdul Aziz al-Qaisi.
4. Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Hakam.
5. Asbagh bin Farj al-Umawi.
6. Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam.
7. Muhammad bin Ibrahim bin Ziyad al-Iskandari.

Adapun ulama-ulama yang mengembangkan mazhab Maliki di Afrika dan Andalus ialah:
1. Abu Abdillah Ziyad bin Abdur Rahman al-Qurthubi.
2. Isa bin Dinar al-Andalusi.
3. Yahya bin Yahya bin Katsir Al-Laitsi.
4. Abdul Malik bin Habib bin Sulaiman As Sulami.
5. Abdul Hasan Ali bin Ziyad At Tunisi.
6. Asad bin Furat.
7. Abdus Salam bin Said At Tanukhi.

Sedang Fuqaha-fuqaha Malikiyah yang terkenal sesudah generasi tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Abdul Walid al-Baji
2. Abdul Hasan Al-Lakhami
3. Ibnu Rusyd Al-Kabir
4. Ibnu Rusyd Al-Hafiz
5. Ibnu ‘Arabi
6. Ibnul Qasim bin Jizzi
Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Maliki.
Awal mulanya tersebar di daerah Madinah, kemudian tersebar sampai saat ini di Marokko, Aljazair, Tunisi, Libia, Bahrain, dan Kuwait.

3.Mazhab Syafi’i.

Mazhab ini dibangun oleh Al-Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i seorang keturunan Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdi Manaf. Beliau lahir di Gaza (Palestina) tahun 150 H bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah yang menjadi Mazhab yang pertama.
Guru Imam Syafi’i yang pertama ialah Muslim bin Khalid, seorang Mufti di Mekah. Imam Syafi’i sanggup hafal Al-Qur-an pada usia tujuh tahun. Setelah beliau hafal Al-Qur-an barulah mempelajari bahasa dan syi’ir; kemudian beliau mempelajari hadits dan fiqh.
Mazhab Syafi’i terdiri dari dua macam; berdasarkan atas masa dan tempat beliau mukim. Yang pertama ialah Qaul Qadim; yaitu mazhab yang dibentuk sewaktu hidupdi Irak. Dan yang kedua ialah Qul Jadid; yaitu mazhab yang dibentuk sewaktu beliau hidup di Mesir pindah dari Irak.
Keistimewaan Imam Syafi’i dibanding dengan Imam Mujtahidin yaitu bahwa beliau merupakan peletak batu pertama ilmu Ushul Fiqh dengan kitabnya Ar Risaalah. Dan kitabnya dalam bidang fiqh yang menjadi induk dari mazhabnya ialah: Al-Um.

Dasar-dasar Mazhab Syafi’i:

Dasar-dasar atau sumber hukum yang dipakai Imam Syafi’i dalam mengistinbat hukum sysra’ adalah:
1. Al-Kitab.
2. Sunnah Mutawatirah.
3. Al-Ijma’.
4. Khabar Ahad.
5. Al-Qiyas.
6. Al-Istishab.

Ulama-ulama yang terkemudian yang mengikuti dan turut menyebarkan Mazhab Syafi’i, antara lain :

* Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari
* Imam Bukhari
* Imam Muslim
* Imam Nasa’i
* Imam Baihaqi
* Imam Turmudzi
* Imam Ibnu Majah
* Imam Tabari
* Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani
* Imam Abu Daud
* Imam Nawawi
* Imam as-Suyuti
* Imam Ibnu Katsir
* Imam adz-Dzahabi
* Imam al-Hakim
Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Syafi’i
Mazhab Syafi’i sampai sekarang dianut oleh umat Islam di : Libia, Mesir, Indonesia, Pilipina, Malaysia, Somalia, Arabia Selatan, Palestina, Yordania, Libanon, Siria, Irak, Hijaz, Pakistan, India, Jazirah Indo China, Sunni-Rusia dan Yaman.
4. Mazhab Hambali.
Pendiri Mazhab Hambali ialah: Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal Azzdahili Assyaibani. Beliau lahir di Bagdad pada tahun 164 H. dan wafat tahun 241 H.
Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang banyak berkunjung ke berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan, antara lain: Siria, Hijaz, Yaman, Kufah dan Basrsh. Dan beliau dapat menghimpun sejumlah 40.000 hadis dalam kitab Musnadnya.
Dasar-dasar Mazhabnya.
Adapun dasar-dasar mazhabnya dalam mengistinbatkan hukum adalah:
1. Nash Al-Qur-an atau nash hadits.
2. Fatwa sebagian Sahabat.
3. Pendapat sebagian Sahabat.
4. Hadits Mursal atau Hadits Doif.
5. Qiyas.
Dalam menjelaskan dasar-dasar fatwa Ahmad bin Hanbal ini di dalam kitabnya I’laamul Muwaaqi’in.
Pengembang-pengembang Mazhabnya
Adapun ulama-ulama yang mengembangkan mazhab Ahmad bin Hanbal adalah sebagai berikut:
1. Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani yang terkenal dengan nama Al-Atsram; dia telah mengarang Assunan Fil Fiqhi ‘Alaa Mazhabi Ahamd.
2. Ahmad bin Muhammad bin Hajjaj al-Marwazi yang mengarang kitab As Sunan Bisyawaahidil Hadis.
3. Ishaq bin Ibrahim yang terkenal dengan nama Ibnu Ruhawaih al-Marwazi dan termasuk ashab Ahmad terbesar yang mengarang kitab As Sunan Fil Fiqhi.
Ada beberapa ulama yang mengikuti jejak langkah Imam Ahmad yang menyebarkan mazhab Hambali, di antaranya:
1. Muwaquddin Ibnu Qudaamah al-Maqdisi yang mengarang kitab Al-Mughni.
2. Syamsuddin Ibnu Qudaamah al-Maqdisi pengarang Assyarhul Kabiir.
3. Syaikhul Islam Taqiuddin Ahmad Ibnu Taimiyah pengarang kitab terkenal Al-Fataawa.
4. Ibnul Qaiyim al-Jauziyah pengarang kitab I’laamul Muwaaqi’in dan Atturuqul Hukmiyyah fis Siyaasatis Syar’iyyah.Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qaiyim adalah dua tokoh yang membela dan mengembangkan mazhab Hambali.
Daerah yang Menganut Mazhab Hambali.
Awal perkembangannya, mazhab Hambali berkembang di Bagdad, Irak dan Mesir dalam waktu yang sangat lama. Pada abad XII mazhab Hambali berkembang terutama pada masa pemerintahan Raja Abdul Aziz As Su’udi.
Dan masa sekarang ini menjadi mazhab resmi pemerintahan Saudi Arabia dan mempunyai penganut terbesar di seluruh Jazirah Arab, Palestina, Siria dan Irak.

والله أعلم بالصواب

Semoga Allah senantiasa memberi hidayah kepada kita. —

(Sumber: http://www.piss-ktb.com/2012/03/f0070-kenapa-kita-harus-bermadzhab-dan.html)

08/09/2017 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

SIAPA TAKSUB MAZHAB?

 
1) Sebuah tajuk yang dah lama saya fikirkan. Dari tajuk ini, datang subtopik dengan pelbagai bentuk seperti:
i. Bila kita register mazhab Syafie? (rora)
ii. Janganlah kita jumud dengan mazhab. (maza)

2) Hal ini kita akan bincang satu persatu.Sebelum kita memahami tajuk ini lebih lanjut, kita perlu mengetahui takrif ‘Taksub’:
شعور داخلي يجعل الإنسان يتشدد فيرى نفسه دائما على حق ويرى الآخر على باطل بلا حجة أو برهان.
“Perasaan dalaman yang menjadikan manusia tasyadud (keras), dan menganggap dirinya sentiasa betul manakala orang lain salah tanpa hujjah dan bukti.”

3) Contoh taksub berdasarkan takrif di atas:
i) Menganggap pandangan peha bukan aurat adalah mazhab Maliki walaupun telah dibuktikan ijmak ulama menganggap peha adalah aurat termasuk qaul muktamad mazhab Maliki.
ii) Menganggap pandangan anak zina boleh dibinkan kepada bapa zina adalah mazhab Hanafi walaupun telah dibuktikan ijmak ulama menganggap perbuatan tersebut haram termasuk qaul muktamad mazhab Hanafi.

4) Dua contoh di atas adalah bukti yang jelas tentang ketaksuban yang telah berlaku.

5) Adapun bagi golongan yang beriltizam dengan mazhab Syafie, kemudian tiba-tiba datang suatu pihak mengatakan dalil qunut adalah lemah, tidak menjaharkan basmallah adalah pandangan yang lemah, anjing termasuk mughalazhah adalah ijtihad yang tersalah. Mereka yang ikut mazhab Syafie tidak taksub.

6) Oleh kerana muncul golongan ini, maka bangkitlah para ilmuan bermazhab Syafie mengemukakan dalil bagi mazhab Syafie, kaedah istidlal dan penghujjahan ulama bagi menyokong mazhab Syafie. Mereka bukan menganggap diri mereka benar tanpa hujjah dan dalil. Oleh itu, tidak layak digelar mereka taksub.

7) Mereka ini bukan taksub mazhab kerana mereka memperjuangkan pandangan dengan dalil dan hujjah yang benar. Bahkan, mereka tidak pernah menyalahkan orang lain atau mazhab lain, sangat berbeza dengan dua contoh taksub di atas.

8) Keadaan ini adalah sama seperti mana orang Perlis tidak zikir selepas solat, tidak qunut dan tidak jahar basmallah mereka tidak menganggap mereka taksub kepada mazhab Perlis. Mereka anggap itu adalah pelarasan bagi sesebuah negeri.

9) Maka di sini isunya sama, iaitu pengikut mazhab Syafie tidaklah taksub mazhab tetapi mereka hanya membela diri dengan hujjah apabila mazhab mereka dipertikaikan.

10) Kita juga sedia maklum sejak merdeka, Malaysia telah buat PELARASAN mazhab di Malaysia ialah Mazhab Syafie. Hal ini berlaku sebelum Perlis membuat pelarasan mazhab Perlis di negeri mereka. Maka, jika kita tidak suka dilabel Wahhabi, jangan masuk ke negeri orang kemudian tolak pandangan mazhab Syafie. Sebab di Perlis juga tak suka orang gelar kamu taksub Maza atau taksub Wahhabi.

Disediakan oleh: Hafiz Al Za’farani (HAZA)

01/09/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

HUKUM SOLAT JUMAAT JIKA RAYA BERLAKU PADA HARI JUMAAT

SUMBER:
Laman Web Rasmi Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِينَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
‘Idul Fitri adalah merupakan hari kemenangan kepada seluruh umat Islam yang telah berjaya menyempurnakan ibadah puasa dan melepasi halangan-halangan nafsu pada bulan Ramadhan.

Terkadang ‘Idul Fitri atau ‘Idul Adha disambut pada hari Jumaat, justeru ramai umat Islam merasakan tidak perlu lagi bersolat Jumaat dengan alasan telah mendirikan solat sunat ’Id.


Pengertian Solat Jumaat dan Solat Sunat ’Id

Solat Jumaat ialah solat secara berjemaah pada hari Jumaat setelah masuknya waktu Zohor menggantikan solat Zohor yang didahului dengan dua khutbah beserta rukun-rukun dan syarat-syarat tertentu. Dalil kefardhuan solat Jumaat telah disebutkan oleh Allah SWT di dalam kitabNya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّـهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ.
Maksudnya: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diserukan azan untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jumaat, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang Jumaat) dan tinggalkanlah berjual-beli (pada saat itu), yang demikian adalah baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat yang sebenarnya).[1]

Sementara solat sunat ‘Id pula ialah solat sunat yang dilakukan pada pagi hari raya dengan rukun-rukun dan syarat-syarat tertentu.

Perbezaan antara solat Jumaat dengan solat sunat ‘Id ialah pada masa khutbahnya dibaca. Solat Jumaat, khutbah dibaca sebelum solat sementara bagi solat sunat ‘Id pula, khutbah dibaca sesudah solat sunat ‘Id dilakukan.


Cara Menunaikan Solat Sunat ‘Id.

Secara umumnya, cara solat sunat ‘Idul Fitri/Adha adalah sama seperti menunaikan solat fardhu Jumaat kecuali pada dua perkara:
Niat
أُصَلِّى سُنَّةَ عِيدِ الفِطْرِ/ عِيدِ الأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا/مَأْمُومًا لِلهِ تَعَالَى
Yang bermaksud, Sahaja aku solat sunat ‘Idul Fitri/‘Idul Adha dua rakaat menjadi/mengikut imam kerana Allah Taala.

Takbir tujuh kali selepas takbiratul ihram pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua selepas takbir al-Intiqalat.


Permasalahan Hukum Sekiranya Hari Raya Jatuh Pada Hari Jumaat: Haruskah Kita Meninggalkan Solat Jumaat?

Mengikut Imam Syafi‘e r.a, kewajipan mendirikan Jumaat itu umum bagi semua hari, yakni kefardhuan untuk melakukan solat Jumaat itu tidak akan gugur walaupun pada hari tersebut umat Islam telah mendirikan solat sunat ‘Id.

Menurut Imam Syafi‘e r.a ahli Qura atau ahli Badwi diberi keringanan (الرخصة) untuk tidak mendirikan solat Jumaat. Manakala ahli Baladkewajipan itu sama sekali tidak gugur. Hal ini berdasarkan sabda nabi SAW,
قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ
Maksudnya: “Telah berhimpun pada hari ini dua hari raya, barangsiapa yang ingin maka ia (solat sunat hari raya) adalah cukup baginya daripada (solat) Jumaat, adapun kami, menghimpunkan (lakukan kedua-duanya).”[2]

Ditegaskan lagi dengan athar daripada saidina Uthman r.a,
مَنْ أَحَبَّ مِنْ أَهْلِ العَالِيَةِ أَنْ يَنْتَظرَ الجُمُعَة فَلْيَنْتَظرْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَلْيَرْجِعْ.
Yang bermaksud, “Mana-mana ahli ‘Aliah (pendalaman) yang mahu menunggu solat Jumaat maka bolehlah mereka menunggunya, tetapi sesiapa di kalangan mereka yang mahu pulang, maka pulanglah.

Mengikut Imam Abu Hanifah dan Imam Malik pula, setiap mukallafitu dituntut untuk melaksanakan kedua-duanya, iaitu solat Jumaat dan solat sunat ‘Id. Maka antara kedua solat itu tidak boleh menjadi pengganti antara satu dengan yang lain.


Pengertian Ahli Balad, Ahli Qura atau Ahli Badwi


Ahli Balad

Ahli Balad ditakrifkan sebagai penduduk sebuah penempatan yang mana padanya terdapat segala kemudahan mendirikan solat Jumaat seperti masjid. Selain itu, mereka juga mudah untuk mendengar seruan azan bagi menandakan telah masuknya waktu solat Jumaat.


Ahli Qura atau ahli Badwi

Ahli Qura atau ahli Badwi pula ditakrifkan sebagai kaum atau penduduk yang tinggal di pendalaman atau tempat terpencil yang tidak terdapat kemudahan untuk mendirikan solat Jumaat atau solat ‘Id secara berjemaah dan juga tidak terdengar seruan bagi menandakan waktu solat.

Alasan Mengapa Diberikan Rukhsah dan Keringanan Kepada Ahli Qura atau Ahli Badwi pada meninggalkan Fardhu Jumaat
Mengikut Imam Syafi‘e, keringanan (الرخصة) untuk tidak mendirikan solat Jumaat hanya diberikan kepada Ahli Qura atauahli Badwi kerana terdapatnya kesusahan dan kepayahan (المشقة ) untuk datang semula ke masjid setelah menunaikan solat ‘Id disebabkan tidak terdapatnya kemudahan untuk mereka berulang-alik antara tempat tinggal dengan masjid.Kesusahan (المشقة ) dan halangan untuk menunaikan solat Jumaat itu adalah sebab kepada gugurnya kewajipan menunaikan solat Jumaat.Sekiranya mereka (Ahli Qura) keluar dari masjid sebelum tergelincir matahari, maka mereka diizinkan untuk meninggalkan solat Jmaat.Tetapi jika sebaliknya, mereka wajib menunaikan solat Jumaat sebelum pulang ke rumah.Rukhsah dan keringanan untuk meninggalkan solat Jumaat ini bukan disebabkan oleh jatuhnya Hari Raya itu pada hari Jumaat, tetapi sebaliknya, keringanan (الرخصة) itu disebabkan oleh kesusahan dan halangan untuk menunaikan Jumaat yang dihadapi oleh Ahli Qura atau ahli Badwi yang mana mereka tinggal jauh daripada masjid dan tidak mempunyai kemudahan asas yang mencukupi pada ketika itu untuk menunaikan solat Jumaat.


Kesimpulan

Realiti masyarakat Negeri Sembilan hari ini, tidak boleh disamakan dengan Ahli Qura atau ahli Badwi yang mana mereka terpaksa mengharungi kesusahan dan kepayahan bagi menunaikan solat sunat ‘Id dan solat Jumaat pada hari yang sama sebagaimana yang telah dinyatakan. Ini kerana di Negeri Sembilan pada hari ini terdapat banyak kemudahan dan infrastuktur yang telah disediakan seperti jalan raya, pengangkutan, masjid di setiap kampung dan juga terdapat media elektronik sebagai alat perantara untuk memberitahu telah masuknya waktu solat fardhu. Maka tidak terdapat kepayahan dan kesusahan serta alasan bagi umat Islam di Malaysia umumnya dan di Negeri Sembilan khususnya daripada meninggalkan solat Jumaat.


Rujukan

Bughyah al-Mustarsyidin, Syiekh Abd. Rahman Ba ‘Alawi.‘Aun al-Ma‘bud Syarh Sunan Abi Daud, Abi al-Tayyib Mohd. Al-Haq al-‘Azim.Al-Mufassal fi Ahkam al-Mar’ah, Dr. Abd. Karim Zaidan.Ahsan al-Kalam, ‘Atiah Saqar.Bidayah al-Mujtahid, Abi al-Walid Mohd. bin Ahmad.


Takbir Raya

Sunat bertakbir pada hari raya Aidil Fitri dan bagi mereka yang tidak mengerjakan ibadah Haji apabila matahari terbenam pada malam Aidil Adha hinggalah imam mula bersolat hari raya.

Takbir adalah bertujuan untuk membesarkan dan mengagungkan Allah sebagai tanda kesyukuran kita kepada Nya. Ianya adalah cara yang dianjurkan oleh Islam untuk menzahirkan kesyukuran dan kegembiraan kita di atas ibadah wajib dan sunat yang kita lakukan pada Aidil Fitri dan Aidil Adha serta hari Tasyriq. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surah al-Baqarah 185,
وَلِتُكْمِلُوا العِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Yang bermaksud, …dan juga supaya kamu cukup bilangan puasa (sebulan Ramadhan) dan supaya kamu membesarkan Allah kerana mendapat petunjukNya dan supaya kamu bersyukur.[3]
Dan hadith Nabi saw,
أَنَّ النَّـبِيَّ (ص) ضَحَّى بِكِبَـشَيْنِ أَمْـلَـحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّـرَ
Yang bermaksud, Nabi saw menyembelih dua ekor kibasy yang bertanduk besar sebagai qurban dengan tangannya sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir…

Ianya dilafazkan dengan suara yang nyaring sama ada di rumah, di jalan-jalan dan di tempat-tempat awam.

Takbir dilafaz dan dilaungkan pada empat keadaan:Sebelum solat hari raya. Iaitu setelah terbenam matahari pada malam hari raya hinggalah sebelum imam menunaikan solat hari raya.

Dalam solat hari raya. Di mana pada rakaat pertama kita akan melakukan 7 kali takbir dan diselangi dengan tasbih dan pada rakaat kedua 5 kali takbir dan diselangi dengan tasbih.

Dalam khutbah. Iaitu pada khutbah pertama khatib akan bertakbir 9 kali takbir dan pada khutbah kedua sebanyak 7 kali takbir.


Selepas solat (bagi Aidil Adha).

Semasa Aidil Adha semua orang Islam sama ada yang mengerjakan haji atau pun tidak, sunat bertakbir selepas setiap solat fardhu atau solat sunat. Ini bermula dari solat subuh hari Arafah (subuh 9 Zulhijjah) hinggalah selepas solat Asar hari Tasyriq yang terakhir.

Adapun semasa hari Aidil Fitri tidak sunat bertakbir selepas bersolat malah sunatnya terputus apabila imam memulakan solat sunat hari raya.

Justeru, marilah kita bersama-sama bertakbir pada malam dan pada hari raya, mengagungkan Allah sebagai tanda kesyukuran dan kegembiraan daripada kita berkaraoke dan menyampaikan salam hari raya dengan lagu-lagu.
والله أعلم
Lafaz Takbir Hari Raya
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،
لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الحَمْدُ 3x

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالحَمْدُ لِلهَ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً،
لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُونَ،
لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ،
لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الحَمْدُ
Rujukan:
[1] Al-Jumu‘ah 009.

[2] Riwayat Abu Daud (1073) dan Ibn Majah

[3] Al-Baqarah 185

Hubungi Kami :
JMKNNS
Aras 15, Menara MAINS,
Jalan Taman Bunga,
70100 Seremban,
Negeri Sembilan Darul Khusus.
Tel : 06-7652426
Fax : 06-7652427

30/08/2017 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Puasa Arafah

Puasa Hari Arafah ialah puasa pada hari ke 9 Zulhijjah yang disunatkan bagi mereka yang tidak melakukan ibadah haji. Mereka boleh memanfaatkan kemuliaan hari Arafah dengan berpuasa sunat, berzikir dan melakukan amalan-amalan sunat lain.
Berpuasa Sunat Arafah dapat menghasilkan ganjaran pahala yang sangat besar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Berpuasa pada Hari Arafah dinilai di sisi Allah sebagai penghapus dosa bagi setahun yang sebelumnya dan yang selepasnya.” (Hadis riwayat Muslim).

Daripada Abu Qatadah al-Anshari r.a.; Rasulullah SAW ditanya tentang berpuasa di hari Arafah. Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (Hadith Riwayat Imam Muslim)

Rasulullah SAW juga bersabda: “Orang yang berpuasa pada Hari Arafah (9 Zulhijjah), Allah akan menuliskan baginya puasa 60 tahun dan Allah menuliskannya sebagai orang yang taat.”

Niat Puasa Hari Arafah;

*نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ يَوْمِ الْعَرْفَةَ سُنَّةً لِلِّهِ تَعَالَى*

Daku berniat puasa hari Arafah, sunat kerana Allah Ta’ala.

Rasulullah SAW. bersabda lagi: “Tiada hari yang paling ramai Allah SWT melepaskan hamba-Nya dari api neraka melainkan pada Hari Arafah. Dan sesungguhnya Allah Azzawajalla menghampiri (hamba-hamba-Nya) dan berbangga dengan mereka di kalangan para malaikat serta bertanya; Apa yang dikehendaki oleh mereka?”

Manakala bagi mereka yang melakukan ibadah hajipula adalah disunatkan untuk tidak berpuasa pada hari Arafah dan adalah menyalahi perkara yang utama jika mereka berpuasa juga pada hari itu.

Diriwayatkan dari Ummu al-Fadhl binti al-Harith:“Ramai di kalangan sahabat Rasulullah SAW yang ragu-ragu tentang berpuasa pada hari Arafah sedangkan kami berada di sana bersama Rasulullah SAW, lalu aku membawa kepada Baginda satu bekas yang berisi susu sewaktu Baginda berada di Arafah lantas Baginda meminumnya.” (Hadith Riwayat Imam Muslim)

Juga daripada hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: “Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada Hari Arafah bagi mereka yang berada di Arafah.” (Hadith Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’ie; at-Thabrani dari Aisyah r.ha.).
Sumber : FB PZS

29/08/2017 Posted by | Ibadah, Informasi, Tazkirah, Uncategorized | Leave a comment

Hukum Taqbil

Berikut pernyataan Ulama – ulama mu’tabar mengenai Hukum Taqbil (cium/kecup) tangan orang shalih:

1. Imam an-Nawawi Rahimahullah. Beliau berkata:
“Disunatkan mencium (mengecup) tangan orang shalih, orang zahid,