Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Menutup Aib Diri Sendiri dan Orang Lain

Diantara akhlak yang mulia, budi pekerti yang agung, dan sifat yang terpuji, yang apabila seseorang berakhlak dengannya menjadikan ia dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni sifat menutup aib orang lain. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha Menutup dan Dia suka menutup aib hamba-hambaNya. Rasullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menutup aib seseorang di dunia, niscaya Allah akan menutup aibnya di hari Kiamat”.

Ada salah seorang yang menceritakan kepada saya (yakni Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf) sebuah kisah yang sangat menakjubkan. Dikisahkan ada seorang laki-laki yang berasal dari kota Madinah Al-Munawaroh telah bermimpi bertemu Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dan ketahuilah mimpi bertemu Rasulullah adalah haq (benar). Dalam mimpi tersebut, Rasulullah berkata kepadanya, “Berilah kabar gembira kepada Fulan bin Fulan yang tinggal di kota Makkah bahwa dia akan bersamaku insya Allah”. Maka laki-laki ini pun pergi ke Makkah untuk menemui Fulan bin Fulan sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah dalam mimpi tersebut.

Setelah sampai di Makkah, dia bertanya-tanya tentang si Fulan ini. Ketika ditanyakan tentang si Fulan, tidak ada seorang pun yang mau menunjukannya kecuali yang ia temukan justru apabila nama Fulan ini disebut maka mereka orang-orang penduduk Makkah tidak memperdulikannya. Hingga pada suatu hari, ia pun berhasil menemukan sosok si Fulan setelah bersusah payah mencarinya. Barulah ia tahu bahwa si Fulan ini ternyata seorang yang paling jahat dan paling buruk akhlaknya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia tidak membaguskan shalatnya dan senantiasa melakukan maksiat. Saat berjumpa dengannya, dia pun bertanya kepada si Fulan:

Wahai Fulan, apakah amalan sholeh yang Engkau lakukan sepanjang hidupmu yang Engkau rasa Allah menerimanya?”.

Si Fulan menjawab, “Sepanjang hidupku tidak ada amal sholeh yang telah aku lakukan yang aku berharap dengannya”.

Dia bertanya lagi, “Tidak, coba ingat-ingat adakah perkara baik yang pernah Engkau lakukan?”.

Mungkin ada sesuatu perkara yang baik semasa aku menikah. Pada waktu malam pertama, istriku berkata: ‘Tutuplah aibku niscaya Allah akan menutup aibmu karena aku sedang mengandung (hamil) anak di luar nikah’. Maka aku merahasiakan perkara ini dengan penuh kesabaran dan tidak memberitahu siapapun hingga ia melahirkan bayi itu. Selepas kelahiran bayi itu, aku mengambilnya dan aku pergi ke tempat Sa’i dan meletakannya di atas Bukit Shofa. Lantas terdengar jeritan, ‘Ada bayi kecil di sini!’. Maka ramailah orang-orang berdatangan dan berkumpul kemudian mencari-cari keluarga si bayi ini. Dan aku hanya sekedar memperhatikan sampai pembicaraan reda. Kemudian aku pun datang dan berkata, ‘Aku akan membesarkan bayi ini sampai keluarganya menuntutnya’. Lalu aku mengambil bayi itu pulang kepada ibunya dan mengasuhnya sampai sekarang. Tidak ada seorang pun yang tahu akan hal ini kecuali Engkau sekarang. Tidak ada siapapun yang mengetahui tentang ini kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala”, jawab Fulan.

Maka laki-laki itu pun berkata, “Subhanalloh, amal inilah yang telah membawa Engkau ke tahapan seperti ini. Aku telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam memberi kabar gembira kepadamu bahwa Engkau akan bersamanya kelak”.

Si Fulan pun terkesan mendengar berita tersebut lalu menangis dan ini menjadi sebab taubat baginya dan penerimaan Allah terhadapnya.

Sungguh kisah ini memberikan makna dan pelajaran yang sangat penting. Wahai saudaraku, manusia pada hari ini jika melihat keburukan yang kecil pada seseorang, mereka tidak tahu bagaimana menutupinya. Saat ini manusia lemah dalam menutup keburukan orang lain. Di dalam saluran dan program televisi, internet, dan lain sebagainya, niscaya engkau mendapatkan manusia sekarang begitu suka membuka aib orang lain. Bahkan mereka tidak suka menutup aib orang lain. Maka lihatlah dirimu sendiri duhai saudaraku, yang suka membuka aib orang lain, maka ketahuilah sifat ini sifat yang buruk dan dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jika menemukan pada dirimu suka menutup aib orang lain, maka ketahuilah itu adalah sifat yang terpuji dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu merupakan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung, “Sesungguhnya Allah Maha Menutup dan Dia suka menutup aib hambaNya”. Bahkan setiap manusia perlu melindungi dirinya jika ia melihat aib pada diri seseorang, dengan tidak menyebut aibnya.

Sebagian ulama menyebutkan bahwa menutup aib ini mempunyai beberapa tingkatan. Setinggi-tinggi tingkatan tersebut adalah jika dia melihat aib pada diri orang lain maka ia menutup aib itu dari dirinya sendiri. Ada seorang pemuda yang aku kenal telah menceritakan kepadaku. Bahwa dia telah melakukan segala maksiat, dan kita berlindung kepada Allah dari padanya. Namun, Allah memuliakannya dengan taubat. Semasa musim haji, selepas hari Arafah di Mina, dia meminta kepadaku untuk dipertemukan dengan seorang Guruku (Syaikh), maka aku pun mengatur pertemuan tersebut. Ketika berjumpa dengan Syaikh tersebut, dia mulai menceritakan segala keburukannya, “Wahai Tuan, aku telah melakukan perkara yang buruk”. Lalu Syaikh itu diam kemudian berkata, “Wahai Fulan, Allah telah menutup aibmu maka janganlah Engkau membukanya kepadaku. Akan tetapi kita baru pulang dari Arafah, insya Allah kita berperasangka baik bahwa Allah telah mengampuni dosamu, maka janganlah menyebut segala dosa dan maksiatmu. Mulailah hidupmu dengan permulaan yang baru”.

Aku merasa kagum dengan kejadian ini dan aku mengambil iktibar dari sebaik-baik pelajaran Syaikh kepada pemuda tersebut. Bahwa Syaikh ini tidak suka membuka aib saudara muslim yang lain. Sayangnya perkara yang banyak disukai oleh kebanyakan orang justru mengetahui aib orang lain dan menyebarluaskannya, lalu ia menyangka ini perkara yang baik. Oleh karena itu, akhlak ini, akhlak menutup aib orang lain, merupakan akhlak yang agung dan kita perlu berusaha ke arahnya (meneladaninya). Kita berdoa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan kita akhlak ini, sehingga menutup aib kita di akhirat. Kita sangat ingin agar Allah menutup aib kita karena jika Allah membuka aib kita niscaraya tidak ada seorang pun yang mau duduk bersandingan dan bersalaman dengan kita di dunia ini. Maka sebagaimana engkau ingin aibmu ditutupi, tutuplah aib hamba Allah niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup aibmu.

Kisah Akhlak Islam: Menutup Aib Diri Sendiri dan Orang Lain

(Disarikan dari kajian yang disampaikan oleh Sayyidil Habib Muhammad bin Abdurrahman Asseggaf, Pendiri Program Fattabi’ouni dan Pemilik Al Irtsuna Nabawi TV, Jeddah, Negeri Hijaz).

Sumber: Pejuang Ahlussunnah in Mengenal Islam.

21/05/2015 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | , | Leave a comment

Bahaya memandai mandai dalam urusan agama

Bahaya sebenarnya memandai-mandai dalam perkara agama yang melibatkan hukum hakam.

Sebab RasuluLlah sendiri telah bersabda yang bererti :

Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ramailah sekarang ini yang berlagak seperti mujtahid. Bila berkata terus keluarkan hadith (itupun belum tentu ia menguasai bahasa Arab untuk tahu tentang hadith). Asal ada isu terus keluarkan hukum dari hadith.

Bolehkah jadi ulamak dengan hafal dan baca 10, 100 hadith sahaja?

Salah seorang ulama yang sezaman dengan Imam Ahmad pernah ditanya orang :

"Jika seseorang sudah dapat menghafal seratus ribu hadith, dapatkah ia dikatakan sebagai faqih…? "Tidak…!", jawabnya. "Dua ratus ribu hadith..?" "Tidak..!.. katanya. "Tiga ratus ribu hadith..?" "Tidak..! Jawabnya. "Empat ratus ribu hadith..? "Juga tidak..!, tetapi begini (iaitu lima ratus ribu) katanya sambil mengisyaratkan dengan sebelah telapak tangannya.

Banyaknya perlu dihafaz hadith. 500,000 hadith dihafaz baru dikatakan sebagai faqeh. Itupun ulamak amat berhati-hati apabila mengeluarkan hukum walaupun sudah hebat dalam ilmunya. Contohnya :

Imam Malik pernah berkata :

Jika seseorang diminta untuk berfatwa, sebelum memberikan jawapan ia wajib meletakkan dirinya antara Syurga dan Neraka, serta memikirkan nasibnya di Akhirat nanti, kemudian baru boleh ia memberikan jawapan (mengeluarkan fatwanya)".

Ibn al Qasim berkata :

"Aku pernah mendengar Imam Malik berkata : "Saya sedang memikirkan (jawapan) bagi suatu kemusykilan sejak beberapa puluh tahun dulu, tetapi hingga saat ini belum juga sampai kepada pendapat yang pasti".

Ibn Abi Layla pernah berkata :

"Saya menemui seramai seratus dua puluh orang Ansar dari sahabat Rasul sallaLLahu ‘alaihi wasallam, jika seorang di antara mereka diajukan pertanyaan (diminta berfatwa), ia akan mengalihkannya kepada yang kedua, dan orang yang kedua akan mengalihkannya kepada orang ketiga dan seterusnya. Sehingga pertanyaan tadi kembali kepada orang yang pertama. Jika salah seorang daripada mereka diminta untuk berfatwa atau ditanya tentang sesuatu masalah, ia akan memohon sahabat yang lain menjawabnya.

Prof Dr Yusuf al Qardhawi, Al Fatwa Bayna Al Indibat al Tasayyub, Fatwa & Antara Ketelitian & Kecerobohan, 1996, Thinker’s Library, Selangor.

Hebat betul ulamak dan para sahabat zaman dahulu, mereka amat warak (berhati-hati) sebab takut untuk mengeluarkan hukum. Takut berdusta atas ALlah dan RasulNya. Ini halal dan ini haram hak siapa untuk berkata? Sedangkan ALlah sendiri mengingatkan kita dalam firmanNya :

"Dan jangan kamu berani mengatakan terhadap apa yang dikatakan oleh lidah-lidah kamu dengan dusta; bahwa ini halal dan ini haram, supaya kamu berbuat dusta atas (nama) Allah, sesungguhnya orang-orang yang berani berbuat dusta atas (nama) Allah tidak akan dapat bahagia." (an-Nahl: 116)

Berbalik pada persoalan mengenai kalam Imam Syafie yang selalu digunakan oleh golongan tertentu untuk membenarkan tindakannya. Sebenarnya kalam Imam Syafie ini perlu difahami melalui ulamak yang mengikut mazhab syafie juga. Sebab mereka lebih arif dan mendalami apa pengertian sebenar kalam Imam Syafie yang dimaksudkan.

Imam Syafie ada menyatakan :

Apabila hadith itu sahih maka itulah mazhabku

Penjelasan :

Apa yang telah diucapkan oleh Imam Asy Syafie bahawa bila hadith itu sahih maka itulah mazhabnya. Ini bukan bererti bahawa kalau melihat suatu hadith sahih seseorang itu boleh menyatakan bahawa itu adalah mazhab syafie dan boleh diamalkan menurut zahirnya.

Apa yang tersebut di atas hanya ditujukan bagi orang yang sudah mencapai darjat ijtihad dalam mazhab Syafie sebagaimana telah kami terangkan sifat-sifatnya atau yang mendekati sifat tersebut.

Adapun syaratnya ialah ia harus mempunyai sangkaan yang kuat bahawa Imam Syafie rahimahuLLah belum pernah menemukan hadith tersebut atau tidak mengetahui kalau hadith itu sahih.

Untuk mengetahui hal ini, ia harus menelaah semua kitab Imam Asy Syafie dan kitab-kitab para ulama pengikutnya. Sudah tentu syarat ini sangat sulit dan jarang dapat dipenuhi. Adapun diisyaratkan demikian kerena Imam Syafie RahimahuLLah sendiri sering meninggalkan (tidak mengamalkan) hadith-hadith yang telah dilihat dan diketahuinya dan menurut pendapatnya bahawa hadith tersebut cacat dalam riwayatnya. atau maknanya sudah dinasakh, ditakhsis, ditakwil atau sebab lainnya.

Al Majmu’ Syarah Al Muhazzab, Jilid I, hlm 64.

Sekarang sudah jelas bukan? Perkataan Imam Syafie itu ditujukan untuk individu yang mencapai taraf mujtahid. Hendak jadi mujtahid bukan calang-calang orang boleh memiliki taraf ini. Perlu mengikut disiplinnya. Sebagaimana nak jadi seorang doktor bedah, perlu ada mengikuti kursus-kursusnya, kena tahu tentang biologi, atonomi dalam badan, perkara yang berkaitan dengan saraf. Bolehkah siapa sahaja mengklaim dirinya sebagai doktor bedah? Dan kemudian terus melakukan pembedahan ke atas pesakit? Apa akan terjadi pada pesakit tersebut? Contohnya : pesakit A perlu dibedah pada tulang belakang, tetapi ‘doktor bedah palsu’ ini membedah pesakit dan mengeluarkan jantungnya. Jawabnya – tamatlah riwayat pesakit itu atas kejahilan ‘doktor bedah palsu’ terbabit. Kerosakan demi kerosakanlah yang dibawanya.

Itu baru contoh doktor bedah. Bagaimana pula perihal hukum hakam agama yang diserahkan kepada bukan ahlinya? Jawapannya sudah ada diberikan di dalam hadith di atas pada permulaan bicara.

 

Ditulis oleh : IbnuNafis

13/05/2013 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

   

%d bloggers like this: