Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Kisah Bidadari Syurga

Di kota Suffah tinggallah seorang pemuda bernama Zahid. Ia hidup pada zaman Rasulullah SAW. Setiap hari ia tinggal di Masjid Madinah. Zahid memang bukan pemuda tampan. Di usianya yang ke-35, ia belum juga menikah.

Suatu hari, ketika Zahid sedang mengasah pedangnya, tiba-tiba Rasulullah datang dan mengucapkan salam kepadanya.

Zahid terkejut dan menjawabnya dengan gugup. “Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau tampak sendiri saja”, sapa Rasulullah SAW.

“Allah bersamaku, wahai Rasulullah”, jawab Zahid.

“Maksudku, mengapa selama ini engkau masih bujang..? apakah tak ada dalam benakmu keinginan untuk menikah..?”, tanya beliau lagi.

Zahid menjawab, “Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, apalagi wajahku sangat tak memenuhi syarat, siapa wanita yang mau denganku..?”.

“Mudah saja kalau kau mau..!” kata Rasulullah menimpali.

Zahid hanya termangu. Tak lama kemudian Rasulullah memerintahkan pembantunya untuk membuat surat lamaran untuk melamar wanita bernama Zulfah binti Said. Ia anak bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan cantik jelita. Surat itupun diberikan kepada Zahid untuk kemudian diserahkan kepada Said. Setiba di sana ternyata Said tengah menerima tamu. Maka usai mengucapkan salam, Zahid menyerahkan surat tersebut tanpa masuk ke dalam rumah.

“Said saudaraku, aku membawa surat untukmu dari Rasulullah yang mulia”, kata Zahid.

Said menjawab, “Ini adalah kehormatan buatku”.

Surat itu dibuka dan dibacanya.

Alangkah terkejutnya Said usai membaca surat tersebut. Tak heran karena dalam tradisi bangsa Arab selama ini, perkawinan yang biasanya terjadi adalah seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan pula. Orang yang kaya harus kawin dengan si kaya juga. Itulah yang dinamakan “sekufu” (sederajad).

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah..?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihatku berbohong..?”

Dalam suasana demikian, Zulfah datang dan bertanya, “Ayah.. mengapa engkau tampak tegang menghadapi tamu ini..? Apa tak lebih baik bila ia disuruh masuk..?”

“Anakku, Ia adalah seorang pemuda yang sedang melamarmu. Dia akan menjadikan engkau istrinya”, kata Said kepada anaknya.

Di saat itulah Zulfah melihat ayahnya, ia pun menangis sejadi-jadinya. “Ayah banyak pemuda yang lebih tampan dan kaya raya, semuanya menginginkan aku. Aku tak mau, Ayah..!” jawab Zulfah merasa terhina.

Said pun berkata kepada Zahid, “Saudaraku, engkau tahu sendiri anakku merasa keberatan. Bukannya aku hendak menghalanginya. Maka sampaikanlah kepada Rasulullah SAW bila lamaranmu di tolak”.

Mendengar nama Rasulullah SAW disebut sang ayah, Zulfah berhenti menangis dan bertanya, “Mengapa ayah membawa-bawa nama Rasulullah SAW..?”

Said menjawab, “Lelaki yang datang melamarmu ini adalah karena perintah Rasulullah.”

Serta merta Zulfah mengucap istigfar berulang kali dan menyesali kelancangan perbuatannya itu. Terus, wanita muda itu berkata kepada sang ayah, “Mengapa ayah tidak mengatakannya sejak tadi bila yang melamarkan lelaki itu adalah Rasulullah SAW. Kalau begitu keadaanya, nikahkan saja aku dengannya. Karena aku teringat firman Allah : ‘Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil Allah dan Rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.’ (An-Nur : 51).”

Hati Zahid bagai melambung entah ke mana. Ada semburat suka cita yang tergambar dalam rona wajahnya. Bahagia, itu yang pasti ia rasakan saat itu. Setiba di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid..?” tanya Rasulullah.

“Alhamdulillah diterima, wahai Rasulullah,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan..?” tanya Rasulullah lagi.

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Rasulullah.. aku tidak memiliki apa-apa.”

Rasulullah pun menyuruhnya pergi ke rumah Abu Bakar, Utsman dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan sejumlah uang yang cukup, Zahid pergi ke pasar untuk belanja persiapan pernikahan. Bersamaan dengan itu Rasulullah menyeru umat Islam untuk berperang menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, ia melihat kaum muslimin telah bersiap dengan persenjataanya. Zahid bertanya, “Ada apa ini..?”
Shahabat menjawab, “Zahid.., hari ini orang kafir akan menghancurkan kita. Apakah engkau tidak mengetahuinya..?”
Zahid pun beristigfar beberapa kali sambil berkata, “Wah, kalau begitu aku lebih baik menjual perlengkapan perkawinan ini dan aku akan membeli kuda terbaik.”

“Tetapi Zahid, malam nanti adalah bulan madumu. Apakah engkau akan pergi juga..?” kata para shahabat menasehati.

“Tidak mungkin aku berdiam diri..!” jawab Zahid tegas.

Lalu Zahid membaca ayat, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah : 24).

Akhirnya Zahid melangkah ke medan pertempuran sampai ia gugur.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.” Lalu Rasulullah membacakan surat Ali Imran ayat 169 – 170.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) telah mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Para Shahabat pun meneteskan air mata. Bagaimana dengan Zulfah..?

Mendengar kabar kematian Zahid, ia tulus berucap, “Ya.. Allah.. alangkah bahagianya calon suamiku itu. Andai aku tak dapat mendampinginya di dunia, izinkanlah aku mendampinginya di akhirat kelak.” Demikian pintanya, sebuah ekspresi cinta sejati dari dunia hingga akhirat. Cinta yang bersemi oleh ketaatan kepada titah Rasulullah SAW, meski semula hati berontak.

(Dikutip dari buku “Ayat-Ayat Pedang – Kisah Kisah Pembangun Semangat Juang” Oleh : Layla TM)

Sumber: KIsah Islami

20 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Membeli Matawang Asing Ketika Nilai Ringgit Jatuh

image

Membeli Matawang Asing Ketika Nilai Ringgit Jatuh

Q&A BERSAMA PAKAR MUAMALAT PROF MADYA DR AZMAN (UIA)

Membeli Matawang Asing Ketika Nilai Ringgit Jatuh

Salam. Tuan, saya mohon penjelasan. Halal or haram jika ada seorang ni dia pergi ke money changer dan tukar duit malaysia ke duit singapura. Lepas berlalu tempoh masa nilai wang malaysia ni jatuh. Dia pun tukar balik duit singapura ke duit Malaysia sebab nilai dia dah meningkat. Boleh ker? Adakah ini trglng dln forex jugak? Jika haram, apakah faktor pengharamannya?

Jawapan

Menukar duit atau membeli matawang asing adalah harus. Ia dipanggil al-sarf. Dahulunya dinar ditukar dengan dirham. Pada zaman Rasulullah harga 1 dinar sama dengan 8 atau 10 atau 12 dirham. Bahkan ada banyak riwayat berkenaan pertukaran dirham dan dinar beserta pembayaran dalam dirham bagi jualan tangguh bayaran yang mana harganya dipersetujui dalam dinar. Begitulah disebaliknya, sesuatu dijual dengan dirham secara tangguh, dilunaskan dengan dinar sebagaiman yang disebut dengan jelas oleh Abdullah bin Omar.”Daku menjual unta dengan dirham (perak) dan menerima bayaran (credit/ansuran) di dalam dinar dan adakalanya daku menjual unta dengan harga dinar (emas), dan menerima bayaran dengan dirham. Aku bertanya Rasulullah SAW berkenaan dengan transaksi tersebut. Baginda menjawab, tidak mengapa asalkan ia dilunaskan berdasarkan harga matawang pada hari bayaran tersebut.”

Berbalik kepada persoalan di atas, sekiranya seseorang membeli USD kerana takut RM jatuh atau kerana apa apa tujuan, maka ia adalah harus dengan syarat pertukaran berlaku secara tunai dan pertukaran dibuat dalam majlis aqad tanpa sebarang penagguhan serahan mana mana matawang yang ditukarkan/dibeli. Tetapi dia juga perlu sedar tidak semestinya USD sentiasa naik, dengan itu ia bukannya menjamin keuntungan. Harga matawang sentiasa berubah rubah. Peniaga matawang juga sentiasa berdepan dengan risiko naik turun matawang yang diniagakan.

Wallahua’lam

Oleh Pakar Muamalat Prof Madya Dr Azman UIA Rujukan http://drazman.net/2015/10/tukar-duit/

20 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Muamalat (Harta), Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Mari semak Mandi Wajib Kita – Adakah selama ini menepati syarat sah?

image

Bagaimana hendak Mandi wajib yang betul dengan guna shower.

Bagi memastikan mandi wajib itu sah, maka perlu dipenuhi dua rukun iaitu berniat mandi hadas dan meratakan air ke seluruh badan. Jika seseorang mandi dengan menyempurnakan dua rukun tersebut, sahlah mandi wajibnya. Pertama, dia berniat di dalam hati ketika mandi itu bahawa mandi yang dilakukannya itu adalah bertujuan untuk menghilangkan hadas (bukan mandi biasa). Kedua, dia meratakan air ke seluruh badannya termasuk celah-celah rambut dan kawasan-kawasan yang berlipat di badan. Cara bagaimana dia mandi (sama ada dengan menyelam atau menjirus atau berdiri di bawah shower atau air terjun) tidaklah menjadi syarat asalkan air merata ke seluruh badan (dari hujung rambut hingga ke hujung kaki).

Bagi memastikan air merata pada bahagian kemaluan hadapan dan belakang, maka antara caranya ialah mencangkung sambil menyampaikan air ke bahagian yang sukar air sampai. Begitu juga, tidak disyaratkan bilangan jirusan tertentu. Jika dengan sekali jirusan sudah dapat meratakan air ke seluruh badan, memadai dengannya. Jika tidak, perlulah diulangi jirusan hingga diyakini air telah sampai ke serata badan. Namun, makruh mandi dengan terlalu banyak air hingga menimbulkan pembaziran.

Namun, bagi menyempurnakan pahala mandi wajib, maka digalakkan melakukan juga perbuatan-perbuatan yang disunatkan semasa mandi. Menurut mazhab Syafi’i, antara perbuatan yang disunatkan ketika mandi wajib ialah:

1. Membaca Bismillah.
2. Dimulai dengan membasuh kedua tangan.
3. Menggunakan tangan kiri ketika membasuh kemaluan dan ketika menghilangkan najis di badan jika ada.
4. Mengambil wuduk sebelum mula mandi.
5. Mandi dari atas ke bawah; yakni dari kepala turun ke kaki.
6. Menggosok celah-celah rambut dengan air, kemudian menjirus air ke kepala dengan tiga kali cebukan air.
7. Mandi dari sebelah kanan, kemudian baru kiri, yakni menjirus badan sebelah kanan dahulu, baru sebelah kiri.
8. Mengulangi mandi sebanyak tiga-tiga kali bagi setiap anggota.
9. Menggosok-gosok badan dengan tangan ketika mandi.
10. Menyelati celah-celah jari tangan dan kaki (jika dikhuatiri air tidak sampai tanpa diselati, wajiblah melakukannya).
11. Membaca doa apabila selesai mandi sebagaimana doa selepas mengambil wuduk.

Wallahua’lam

Rujukan:http://www.e-fatwa.gov.my/blog/Mandi-wajib-guinea-shower

20 October 2015 Posted by | Fiqh, Ibadah | Leave a comment

Ujian Musibah Tanda Hamba Dikasihi

Daripada Anas RA katanya, telah bersabda Rasulullah SAW,
“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang hambanya, disegerakan bagi hamba itu balasan sewaktu di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki dengan hambanya keburukan ditangguh pembalasan itu supaya disempurnakannya di hari kiamat. Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya besarnya pahala itu bergantung pada besarnya ujian, sesungguhnya Allah itu apabila dia mengasihi sesuatu kaum dia menguji mereka dengan kesusahan. Sesiapa yang reda dengan kesusahan itu akan mendapat keredhaan Allah dan siapa yang tidak redha maka dia akan menerima kemurkaan Allah.”
(At-Tirmizi)

Huraian Hadith:
Orang beriman akan diuji menurut tahap keimanan dan kedudukan mereka di sisi Allah.

Bersabar menghadapi bala atau penyakit akan menghapuskan dosa.
Di antara tanda-tanda seseorang itu disayangi Allah ialah bala ujian yang ditimpakan ke atasnya.

Oleh itu kita wajib bersabar atas kesusahan yang menimpa kita agar tidak ditimpa bala dua kali, yang keduanya ialah kerugian luput pahala.
Seseorang yang sabar menghadapi kesusahan hidup adalah sebagai tanda bahawa dia dikasihi Allah. Orang yang tidak dikasihi Allah dilambatkan balasannya iaitu sampai ke hari kiamat.
Seseorang yang bersabar menghadapi kesusahan akan diberi ganjaran yang setimpal dengan kesusahan yang dihadapi itu.

Seseorang yang ingin menjadi hamba yang dikasihi Allah dia hendaklah bersedia menerima ujian yang diturunkan Allah kepadanya, sebaliknya seseorang yang tidak redha menerima ujian Allah dia akan dibenci Allah.

Sumber Jakim

20 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Ucapan Datuk Seri Anwar Ibrahim bertajuk “Religion and Pluralism in a Divided World” di London School of Economic (LSE) pada 18 Mac 2010.

12 Dalil Ucapan Anwar Bercanggah Akidah Islam

Sekurang-kurang 12 Dalil ucapan Datuk Seri Anwar Ibrahim bertajuk “Religion and Pluralisme in a Divided World”(Agama dan Pluralisme Dalam Dua Dunia), pada 18 Mac 2010, di London School of Economic (LSE) perlu dinilai semula kerana dibimbangi bercanggah dengan akidah Islam.

Demikian penegasan yang dibuat oleh Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady, Felo Amat Utama, International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) dalam kertas kerjanya “Pluralisme Agama dan Anwar : Beberapa persoalan dilihat dari pandangan arus perdana Islam” yang diedarkan kepada semua peserta Wacana Sehari anjuran bersama Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), Jabatan Agama Islam Selangor(JAIS), Pertubuhan Muafakat Sejahtera Masyarakat Malaysia ( MUAFAKAT), Majlis permuafakatan Badan Amal Islam Wilayah Persekutuan, Allied Coordinating Committee of Islamic NGO (ACCIN) dan Yayasan Dakwah Islamiyah Malaysia (YADIM) di di Masjid Wilayah Kuala Lumpur.

Setiap peserta dibekalkan kompilasi ucapan Datuk Seri Anwar Ibrahim di LSE, London (18 Mac 2010) dalam dwi-bahasa,tekd asal dalam Bahasa Inggeris dan teks ucapan yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu. Manakala untuk menjawab teks ucapan Anwar itu, turut dilampirkan bersama kertas kerja Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady.
“Kompilasi ringkas ini adalah bagi menunjukkan satu contoh penyebaran luas fahaman Pluralisme Agama serta menjawab fahaman salah mereka yang mengusung idea yang ingin menyamaratakan semua agama”, ditulis dimuka depan kompilasi bertajuk “Menyanggah Pluralisme Agama Menyelamatkan Umat Islam Di Malaysia” itu.

12 Dalil kesalahan-kesalahan Anwar yang dikupas oleh Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady adalah seperti berikut :

1. Persoalan Ekslusif Agama (Religious Exclusivism) – hanya satu agama sahaja yang benar, manakala agama lain adalah salah.

Anwar Ibrahim : Golongan-golongan agama tertentu yang menganggap hanya satu ajaran asasi tertentu (fundamental doctrines) sahaja yang membawa ke jalan keselamatan/syurga (salvation) adalah pandangan yang silap dan tertutup. Agama-agama lain juga benar. Maka Pluralisme Agama adalah jalan penyelesaian terbaik untuk mengelakkan perpecahan tersebut.

Uthman El-Muhammady : Pluralisme yang mengajar penganutnya tentang tidak ada kebenaran mutlak dan tidak ada ajaran asasi yang menjamin keselamatan/kebahagian/syurga, tidak boleh diterima, malah ditolak dalam agama Islam. Sekiranya diterima anjuran Pluralisme itu maka tiada ertinya firman-firman Al Quran yang menyebut bahawa ia datang membawa al-haq (kebenaran) dan dengan itu kebatilan akan hilang.

2. Persoalan Pendapat Ahli Sufi Jelaluddin al-Rumi

Anwar Ibrahim : Pluralisme Agama dianjurkan sejak dari abad ke-13 lagi. Buktinya kata-kata oleh penyair sufi, Jelaluddin al-Rumi yang menyebut; “Lampu-lampunya berlainan, tetapi Cahaya itu sama, ia datang dari seberang sana; kalau anda terus menerus melihat pada lampu, kamu tersesat; kerana dari sana timbul rupa lahir pada bilangan dan kemajmukan”(The lamps are different but the Light is the same, it comes from Beyond; If thou keep looking at the lamp, thou art lost; for thence arises the appearance of number and plurality).

Uthman El-Muhammady : Pandangan ini tidak benar kerana Jelaluddin al-Rumi adalah seorang Muslim, Sunni, bermazhab Hanafi yang bersyair dalam konteks kerangka Islam dan bukannya di luar konteks Islam. Bukannya antara agama Islam dengan agama-agama lain. Tentang simbolik ‘cahaya’ dan ‘lampu’ itu perlu dilihat dari segi amalannya sebagai seorang sufi yang bersyair dalam kerangka Islam. Ia berbicara tentang manusia yang perlu ‘menyeberangi’ sebelah sana bentuk rupa dalam syariat, menuju ke alam hakikat. Namun begitu, mesti berpegang kepada syariat dan bukan meninggalkannya.

3. Persoalan Konsep Agama Adalah Universal
Anwar Ibrahim : Semua agama mempunyai pertanyaan yang sama iaitu dari mana datangnya manusia? Apa matlamat hidupnya? Apa yang berlaku bila ia meninggal dunia? yang bermaksud persamaan universal (universal concepts) antara semua agama untuk mencari kebenaran, keadilan dan sifat keunggulan.
Uthman El-Muhammady : Konsep ini berlawanan dengan anjuran Al Quran. Kebenaran Islam adalah satu. Yang benar adalah apa yang Allah utuskan kepada Nabi dan Rasul terakhir, Nabi Muhammad SAW.

4. Persoalan Pendapat Dante, Penyair Kristian abad ke-14
Anwar Ibrahim – Dante, penyair Kristian di Itali pada abad ke-14 menganjurkan untuk mencapai kebahagian di dunia dan akhirat bukan semata-mata dengan ‘Kuasa’ tetapi juga dengan ‘Akal’. Visi Dante ini sama dan boleh dihubungan dengan visi tokoh-tokoh Islam termasuk al Farabi dan Ibn Rush :

Uthman El-Muhammady : Dante tidak menganjurkan pluralisme agama. Beliau hanya menerima agamanya (Kristian) dan menolak agama lain. Dalam epik puisi ‘The Divine Comedy’, karya Dante, beliau meletakkan Nabi Muhammad SAW dan Saidina Ali rd ke dalam neraka. Dalam ajaran Islam, setelah turunnya al Quran maka mansuhlah semua sistem kepercayaan lain, dan ajaran Quran adalah universal. Dalam Islam, ‘Akal’ semata-mata bukan penentu kepada kesejahteraan tetapi juga bergantung kepada kepercayaan ‘Wahyu’ dan ‘Syariat’. Sebab itu al Farabi dan Ibn Rush tidak bergantung kepada ‘Akal’ tetapi beriman kepada ‘Wahyu’ Al Quran dan Syariat Nabi Muhammad SAW.

5. Persoalan Konsep Kebebasan Beragama VS Pluralisme Agama
Anwar Ibrahim : Pada hari ini wujud kebebasan beragama (freedom of religion) tetapi mengenepikan Pluralisme Agama (Religious Pluralism) yang sepatutnya kedua-duanya diperteguhkan sebagai konsep kebebasan di negara-negara yang mengamalkan demokrasi. Memihak kepada satu agama dan mengenepikan agama-agama lain adalah bertentangan dengan semangat Pluralisme Agama. Perkara ini lebih ketara di Timur Tengah dan Asia Tenggara.

Uthman El-Muhammady : Jika negara-negara Islam, adalah wajar kerajaannya berpihak kepada Islam dan memelihara syariat-syariatnya. Dalam Islam, kerajaan tidak boleh menganggap bahawa tidak ada kebenaran yang mutlak, kerana kebenaran itu tetap ada, dan negara itu mesti berpegang kepada kebenaran tersebut. Sebab itu, al-Mawardi di Baghdad pada zamannya memastikan pihak kerajaan memperbetulkan kesilapan-kesilapan orang ramai apabila berlaku penyelewengan akidah ajaran Islam. Tetapi pihak kerajaan tidak boleh menganiayai pihak yang bukan Islam, mereka tetap diberi hak untuk mengamalkan agama mereka.

6. Persoalan Firman Allah, ‘Tidak Ada Paksaan Dalam Agama’
Anwar Ibrahim : Al Quran sendiri menganjurkan Pluralisme Agama seperti dalam firman ‘tidak ada paksaan dalam agama’, maka mestilah perbuatan memaksakan kepercayaan seseorang ke atas orang lain bukan bersifat Islamik. Jika ayat ini ditolak maka kenyataan Al Quran itu tidak mempunyai apa-apa erti.

Uthman El-Muhammady :Tidak ada paksaan dalam agama’ (2:256) dalam Islam bermaksud bahawa umat Islam tidak boleh memaksa bukan Islam supaya memeluk Islam. Ia terletak pada pilihannya. Tetapi apabila seseorang itu sudah Islam maka ia tertakluk kepada undang-undang Islam, termasuk berkenaan larangan murtad daripada agama Islam. Kita tidak menafsir kebebasan beragama itu bermakna kebebasan untuk murtad bagi orang Islam.

Maka umat Islam tidak seharusnya mengikuti falsafah lain tentang kebebasan manusia dan agama apabila falsafah itu sendiri bercanggah dengan Quran. Dalam Islam ‘freedom of conscience’ (kebebasan jiwa) bukannya kebebasan ala Barat tetapi harus tunduk dengan akidah dan syarak Islam.

7. Persoalan Konsep Menuju Kepada Yang Satu

Anwar Ibrahim : Guru Granth Sahib, Kitab Agama Sikh memberitahu kepada semua manusia bahawa seseorang yang mampu melihat semua jalan-jalan kerohanian (spiritual paths) akan membawa kepada Yang Satu dan akan menjadi bebas merdeka tetapi orang yang menyatakan kepalsuan akan turun ke dalam api neraka dan terbakar di dalamnya. Orang yang berbahagia ialah orang yang disucikan dan mereka akan berterusan tenggelam dalam nikmat Kebenaran.

Uthman El-Muhammady : Dalam Islam konsep ‘Menuju Kepada Yang Satu’ perlu dilihat dalam konteks Quran. Tentang sistem kepercayaan lain yang menyebut semua jalan membawa kepada Yang Satu, kalau Yang Satu itu membawa kepada kekaburan, itu akan mengundang masalah. Penyembahan Berhala bukan Yang Satu, Penyembahan Tuhan yang bukan secara tauhid juga bukannya Yang Satu, begitu juga kepercayaan tentang sesuatu kuasa ghaib yang kabur, mengatasi yang lain, juga bukan Yang Satu dalam Al Quran.

8. Persoalan Semua Kepercayaan Agama Adalah Sama

Anwar Ibrahim : Apa juga agamanya, sama ada Islam, Kristian, Sikh, Hindu serta yang lain, saya percaya bahawa kebenaran-kebenaran yang paling tinggi (higher truths) akan mengatasi amalan- amalan semata-mata (mere practice) dan semua ibadatnya berpusat kepada kebenaran yang satu itu (singular truth): bahawa dari Allah kita datang dan kepada Allah kita kembali.

Uthman El-Muhammady : kebenaran-kebenaran yang tertinggi (higher truths) yang mengatasi amalan-amalan semata-mata (mere practice) dan semua ibadatnya berpusat kepada kebenaran yang satu itu (singular truth) juga perlu dilihat dalam konteks Al Quran. Apabila diturunnya Al Quran, maka terputuslah kebenaran agama-agama lain (‘muhaiminan ‘alaih). Menurut Islam tidak ada yang benar, melainkan ajaran al-Quran.

9. Persoalan Perintah- Perintah Eksklusif (Exclusivist Claims)
Anwar Ibrahim : Hari ini, terdapat pemimpin-pemimpin agama-agama dunia tertentu yang terus menerus membuat Perintah-Perintah Eksklusif (exclusivist claims) tentang mereka memiliki kebenaran yang kekal abadi berbanding dengan penerimaan perkara-perkara yang disepakati bersama (commonality) yang mampu menghubungkan semua manusia. Kalaulah kita menerima hakikat bahawa memang terdapat kepelbagaian, maka Pluralisme Agama adalah jawapannya kerana mampu menyatukan. Itulah jalannya untuk membawa keluar daripada kegelapan kepada cahaya, daripada perang kepada damai, daripada kebencian dan kejahatan kepada kasih-sayang dan kebaikan.

Uthman El-Muhammady : Adalah janggal sekiranya umat Islam menerima Bible dan kitab-kitab lain selain Al Quran sebagai ‘wahyu’. Teori John Hick yang mengatakan hanya Pluralisme Agama yang membawa kebahagian dan syurga tidak akan mempengaruhi umat Islam yang setia dengan wahyu Al Quran.

10. Persoalan Konsep Kebebasan
Anwar Ibrahim : kaum muslimin masih lagi berterusan berprejudis; menolak nilai kebebasan bersuara (free speech), kebebasan media (free press), demokrasi, dan kebebasan hati naluri (freedom of conscience). Mereka memandang budaya Pluralisme Agama sebagai satu bentuk konspirasi teragung oleh ‘pihak lain’, terutamanya Kristian, untuk mengembangkan ajarannya dan menjadikan muslimin memeluk agama Kristian. Pluralisme juga dilihat sebagai jerat untuk menyeluduk masuk demokrasi ala Barat melalui pintu belakang.

Tetapi sebenarnya ini merupakan suatu penyelewengan apabila dilihat menurut perlaksanaan hukum Islam. Di luar daripada kepentingan polisi awam, memang tidak ada kewajipan agama untuk orang Islam mengenakan undang-undang dan nilai-nilai umat Islam ke atas seluruh masyarakat.
Dari segi ideologi, sikap beku dalam pemikiran (rigidity) masih berupa penghalang kepada kemajuan dan islah. Muslimin hendaklah membebaskan diri daripada amalan-amalan lama menggunakan klise dan menjaja-jajanya (cliche-mongering) serta mengenakan label-label kepada orang, dan bergerak melewati kepentingan-kepentingan kelompok yang sempit. Penemuan semula garapan terhadap pluralisme yang asal dalam Islam sangat-sangat diperlukan.

Uthman El-Muhammady : Tentang pengamatan demikian ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan. Antaranya ialah nilai-nilai kebebasan bersuara, kebebasan media dan yang sepertinya tentang demokrasi dan kebebasan hati naluri (freedom of conscience), pada muslimin adalah perkara-perkara yang mesti tunduk kepada orientasi Syara’: Kalau kebebasan itu tidak bertentangan dengan Syara’, maka kebebasan itu dialu-alukan, tetapi sekiranya kebebasan itu bertentangan dengan Syara’ maka ia perlu dijauhi.
Sudah tentu bagi Muslimin, Syara’ mengatasi bahan pemikiran para pemikir semata-mata. Kalau diletakkan pemikiran-pemikiran dari para pemikir mengatasi Syara’ dan ijma’, itu adalah malapetaka intelektual dan rohaniah. Pihak yang berbicara tentang nilai kebebasan manusia sejagat perlu juga menghormati manusia beragama dalam mengamalkan agamanya dan bukannyahendak membatalkan amalan pihak lain dan mempromosikan haknya semata-mata. Itu pun bercanggah dengan nilai hak-hak asasi manusia.

11. Persoalan Syariat Islam
Anwar Ibrahim : Syariat itu bukannya hanya tertulis di atas batu, dan ia mengalami evolusi (perubahan) secara dinamik. Demi untuk mempertahankan moderat, maka unsur utama dalam metodologi Islam mesti dipandang dalam perspektif yang menyeluruh (holistic) yang akan menjadi lebih menarik, mengikut kaedah yang bersifat universal dan kekal abadi.
Dikatakan bahawa pluralisme dalam dunia yang terbahagi-bahagi ini akan menambah lagi perpecahan kepuakan yang membawa pula kepada suara yang diulang-ulang tentang ‘pertembungan tamadun’ yang telah dan masih meletihkan yang seperti ianya sama dengan pukulan ‘gendang purba’ itu. Bagaimanapun, sebagaimana yang dinyatakan oleh Eliot: Sejarah boleh berupa sebagai perhambaan, sejarah boleh pula berupa sebagai kebebasan.

Oleh itu, kita mesti membebas diri kita daripada penipuan konsep tentang pertembungan tamadun dan menumpukan semula perhatian kita kepada pertembungan yang menggelegak (bahaya) dalam umat Islam itu sendiri. Kita boleh melihat suatu pertembungan yang lebih merbahaya dan membimbangkan yang berlaku dalam tamadun yang sama(Islam), antara yang lama dan baharu (the old and the new), yang lemah dan kuat (the weak and the strong), moderat (liberal) dan fundamentalist (the moderates and the fundamentalists), dan antara modernis dan traditionalis (the modernists and the traditionalists).

Turki dan Indonesia dengan terang sedang merintis jalan demokrasi bagi umat Islam untuk ikutan mereka. Kemasukan Turki ke dalam Kesatuan Eropah yang segera akan berlaku juga berupa suatu kenyataan yang jelas tentang tahap demokrasi liberal dapat dicapai, walaupun, sayangnya, hambatan-hambatan yang dibentangkan di hadapannya oleh setengah negara-negara ahli itu sangat nyata memberi isyarat tentang Islamophobia yang ada. Di Asia Tenggara, Indonesia sudahpun mencapai garis penyudah [dalam amalan demokrasinya] manakala jiran-jirannya yang muslimin dalam negara masing-masing masih lagi terlekat dalam tahap permulaan jalannya.

Uthman El-Muhammady : Kita perlu melihat kenyataan ini dalam suluhan ajaran Islam tentang ada bahagian-bahagian Syara’ yang kekal dan ada yang berubah-ubah, dan bukan semuanya berubah-ubah. Akidah Ahli Sunnah tidak berubah; perincian-perincian Syara’ berkenaan dengan perkara-perkara baru yang tidak ada dalam nas secara terang-nyata dari fatwa-fatwa zaman berzaman boleh berubah. Tetapi kalau perubahan itu melibatkan seperti menghalalkan persetubuhan haram, judi, zina, menghalalkan yang haram dalam ijma’, kerana terpengaruh dengan ‘penemuan-penemuan’ para pemikir, ini tidak dibolehkan.

12. Persoalan Jihad

Anwar Ibrahim : Hari ini jihad dilaungkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengesahkan perbuatan-perbuatan keganasan dalam pelbagai bentuk dan rupanya, tetapi akhirnya menjadi kabur antara garis jihad dan keganasan. Mujurlah adanya pentadbiran Obama, maka kita telah melihat sesetengah perubahan berbanding polisi Bush yang mengamalkan sifat percanggahan dan memilih bulu, dalam memerangi keganasan, dengan memberi sokongan kepada para autokrat (penguasa kuku besi) di dunia Islam di satu pihaknya, dan menjadi jaguh kebebasan dan demokrasi di satu pihak lain pula. Walaupun selepas lebih setahun semenjak pentadbirannya (Obama) itu, kita masih lagi menanti untuk melihat perubahan-perubahan yang penting (substantive) dalam isi (substance) polisi luar negara Amerika dalam hubungan dengan Dunia Islam.

Uthman El-Muhammady : Kalau dalam suasana semasa ada penafsiran jihad yang tersasul dalam setengah umat Islam (kerana faktor-faktor sejarah yang mendesak dan tidak patut diremehkan) itu tidak boleh dijadikan dalil untuk penafsiran yang menyeluruh mewakili arus perdana umat Islam. Bagaimanapun, ini juga perlu dilihat dalam konteks pihak-pihak lepas, mahupun sekarang, memanipulasikan maklumat untuk kepentingan hegemoninya.

Agenda Pluralisme : Gagal Jawab Surat Amaran JAKIM, Anwar Tarik Balik Ucapan di Blog

Lampiran :
1. Ucapan Datuk Seri Anwar Ibrahim bertajuk “Religion and Pluralism in a Divided World” di London School of Economic (LSE) pada 18 Mac 2010. Versi English [Klik di sini] ; Versi Melayu [Klik di sini]; Audio [Klik di sini]
2. Rencana Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady bertajuk  “Pluralisme Agama Dan Anwar: Beberapa Persoalan Dilihat Dari Pandangan Arus Perdana Islam”
Sayu tidak terkira hati kita mengingatkan bahawa asalnya tokoh dakwah Islam yang berfikiran kebangsaan, menjadi aktivis dakwah, penerajunya, gerakan Islam (dengan pemikiran dipengaruhi Maududi, Hassan al-Banna, Syed Qutb dan yang sepertinya), akhirnya menjadi pendokong aliran John Hick dengan aliran pluralisme agama dengan implikasi-implikasi rohaniah terakhirnya. Allahumma sallimna wa’I-Muslimin. Amin.
Pluralisme yang ditakrifkan sebagai kenyataan pluralisme (‘sheer fact of pluralism’) (seperti dalam laman web projek pluralisme Universiti Harvard, antara lainnya) [1] sebagai keberadaan pelbagai agama dalam sesebuah negara atau masyarakat – dalam erti ini pluralisme diamalkan dalam Islam walaupun di Madinah di zaman Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam dan kemudiannya seperti di Andalusia dan kerajaan Othmaniah Turki.
Demikian pula pluralisme agama dalam erti adanya ruang awam di mana para penganut pelbagai agama bertemu dan berhubung serta mengadakan interaksi untuk saling memahami antara satu sama lain, itu juga sesuatu yang diterima dalam Islam, kerana kelainan umat manusia dalam kelompok-kelompok dan bangsa wujud untuk saling kenal mengenali antara sesama mereka sebagai bani Adam [2]; ini juga diterima dalam Islam semenjak zaman Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam, dan ia harmonis dengan ajaran Islam.
Tetapi pluralisme dalam erti kenisbian dalam kebenaran hakiki dan mutlak, yang mengajarkan tidak ada kebenaran mutlak yang boleh dicapai, dan tidak ada ajaran asasi yang menjamin keselamatan dan kebahagiaan, itu tidak diterima, bahkan ditolak dalam agama Islam. Kalau tidak ada erti kenyataan Qur’an yang menyebut bahawa ia datang membawa al-haq, kebenaran, dan dengan itu kebatilan hilang, kerana kebatilan memang mesti hilang [3].
Agama Islam datang dalam pusingan nubuwwah terakhir dalam sejarah umat manusia, yang selepas daripadanya tidak ada lagi nubuwwah dan kerasulan [4]; dan ia datang sebagai saksi atas sekalian ajaran di dunia, dan Nabi Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam datang sebagai saksi atas umat ini [5]. Peranan sebagai saksi atas umat manusia tentang kebenaran tidak mungkin terjadi pada orang yang mempunyai pegangan tentang ‘kebenaran yang pelbagai’ (multiple truths).
Pluralisme agama dalam erti yang dibentangkan dalam gagasan Prof Hick yang meninggalkan sikap eksklusif Khatolik, dan yang sepertinya, menganggap semua agama-agama membawa kepada ‘salvation’, menunjukkan pemikirnya tidak ada keyakinan terhadap agamanya dalam erti yang sebenarnya. Ia timbul daripada pengalaman peradaban dan budaya serta perkembangan pemikiran keagamaan Barat yang pahit dalam sejarahnya.
Tidak masuk akal sejahtera bagi orang Islam yang berimamkan Quran boleh mengikut aliran yang kemuflisan dari segi rohani dan penaakulan berasaskan tauhid seperti ini. Islam mengajarkan semua pengikut autentik para nabi selamat, pengikut Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam selamat, ahli fatrah yang tidak ada nabi pada zamannya, zaman antara dua nabi, selamat [6], mereka yang ‘tidak sampai seru’ selamat [7].
Orang yang berkepercayaan seperti John Hick dan yang sepertinya ini mungkin akan menjadi ‘lukewarm’ dalam keyakinannya, tidak lagi ia ‘minal-muqinin’ [8] dari kalangan orang-orang yang yakin; mungkin akhirnya ia menjadi agnostic, dijauhkan Allah, walaupun tidak disuarakannya.
Pegangan seperti ini membawa kita kepada perkara-perkara yang menjadi persoalan dalam kalangan mereka yang terpengaruh dengan aliran ini ialah seperti berikut:
1. Dalam menyebut tentang sikap eksklusif dalam agama yang membawa kepada pertelingkahan, disebut oleh setengah pihak sikap eksklusif itu ada dalam Islam Syiah-Sunni-dan dalam agama Kristian yang ada pecahan-pecahannya.
Dalam Islam wacana Sunni adalah arus perdana, sebagaimana yang ternyata dalam ijma’ selepas daripada Quran dan Sunnah; maka manusia perlu menggunakannya sebagai neraca, untuk membezakan apa yang boleh diterima dan apa yang tidak dari segi intelektual dan rohaniah, bukan yang lain, kalau pihak yang bukan Islam, mereka dengan agama mereka, tetapi perlu ada toleransi dan sikap hidup bersama dengana aman, kecuali berlaku pengkhianatan.
Tentang menyebut golongan Sufi seolah-olah lain daripada Ahli Sunnah itu tidak sepatutnya berlaku, sebab, sebagaimana yang dinyatakan dalam ‘al-Farqu bainal-Firaq’ antara lainnya [9] golongan Sufi adalah sebahagian yang tidak terpisah daripada Ahli Sunnah wal-Jamaah. Dengan itu maka tidak boleh mereka itu dianggap sebagai terpisah daripada epistemologi Sunni, bahkan ia intinya.
2. Ada di kalangan mereka yang terpengaruh dengan pluralisme dengan menyebut bait-bait Jalaluddin Rumi untuk ‘mengesahkan’ aliran pluralisme agama itu. Antaranya bait yang seperti di bawah:

Lampu-lampunya berlainan, tetapi cahaya itu sama, ia datang dari seberang sana; kalau anda terus menerus melihat pada lampu, kamu tersesat; kerana dari sana timbul rupa lahir pada bilangan dan kemajmukan.

Ini boleh difahami sebenarnya bila diingatkan bahawa Rumi adalah seorang Sunni yang berpegang kepada Mazhab Hanafi, dan ia taat kepada syariat. Ia ada menyebut perkara-perkara yang tidak disetujuinya berkenaan dengan Musyrikin, Kristian dan Yahudi. Bahkan suatu masa bila ia ditanya berkenaan dengan Jesus sebagai Tuhan, ia dengan keheranan bertanya, adakah munasabah orang kurus sedemikian yang tingginya beberapa meter yang dikejar-kejar orang untuk dibunuh ke sana ke mari, ia Tuhan Pencipta sekalian alam?
Kalau ia tokoh pluralisme sebagaimana yang disangka oleh mereka yang terpengaruh dengan aliran itu ia tidak demikian.

Adapun baitnya yang menyebut tentang cahaya dan lampu itu perlu dilihat dari segi ajarannya sebagai sufi, ini bukan kenyataannya tentang falsafahnya, ini bicara tentang manusia yang perlu ‘menyeberangi’ sebelah sana bentuk rupa dalam syariat, pergi kepada hakikat, tetapi mesti berpegang kepada syariat, bukan meninggalkannya, dan menganggap ‘semua benar.’ Ertinya ia berpartisipasi dalam syariat tetapi merealisasi ‘penyaksian rohaniah’ tentang kebenaran dalam agama. Ia bukannya mengatakan ‘ya’ kepada semua sistem kepercayaan.
Ertinya ia orang yang mencapai ma’rifat kepada Allah sebenarnya dan menyedari hakikat agama yang sebenar, ia bukan semata-mata terbatas kepada mazhab-mazhab seperti dalam Ahli Sunnah ada mazhab yang empat itu, tetapi di samping menerima mazhab itu dan beramal dengannya ia mencapai musyahadah secara rohaniah dan ‘menyaksikan’ perkara sebenar agama dengan penyaksian batin sendirinya. Itulah cahaya itu; ia bukan bererti bahawa pegangannya ialah semua seistem kepercayaan membawa kepada kebenaran dan kepada syurga.

3. Berkenaan dengan adanya soalan-soalan yang kelihatan ada persamaan antara manusia seperti dari mana datangnya manusia? Apa matlamat hidupnya? Apa yang berlaku bila ia meninggal dunia? Jalan kerohanian membawa kita kepada satu pencarian sarwajagat tentang kebenaran dan usaha untuk mencapai keadilan dan sifat keunggulan, ini semua bukan bererti bahawa semua agama membawa kepada ‘salvation’ dalam erti yang diajarkan oleh Quran; kebenaran Islam adalah satu. Yang benar adalah apa yang datang terakhir sebagai ajaran sarwajagat untuk semua manusia (kaffatan linnas). Kalau tidak sejarah anbia dan sejarah Nabi Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam tidak ada erti apa-apa.

4. Tentang ada pendapat Dante yang menulis di zamannya dalam Monarchia yang menyatakan tujuan terakhir hidup ini ada dua – kebahagiaan dalam dunia ini dan juga kebahagiaan dalam akhirat dengan berada dalam limpahan nur melihat Wajah Tuhan. Mencapai dua matlamat agung ini berlaku dengan menghadapi kesukaran yang besar.

Kejayaan itu boleh tercapai:
‘hanya bila gelombang-gelombang kerakusan yang menggoda itu ditenangkan dan umat manusia berehat santai dalam ketenangan dan keamanan’

Kenyataan itu benar dari segi jiwa manusia perlu ditundukkan supaya ia menyerah kepada kebenaran dan ia berpegang kepada sifat-sifat unggul, itulah yang membawa kepada kedamaian manusia dan hilangnya konflik. Tetapi ini bukan hujah untuk pluralisme agama dalam erti Hick, yakni bahawa semuanya membawa jalan ke syurga, dan tidak ada sistem kepercayaan yang dimansuhkan kebenarannya bila datang Quran.
Pada umat Quran dengan datangnya Quran berlakulah pemansuhan semua sistem kepercayaan, dan ajaran Quran adalah sarwajagat. Lagi pula kalau ini difahami sebagai hakikat bahawa manusia menjadi sejahtera bila ia tunduk kepada otaritas ilmu dan akal, maka bukannya ini membawanya ‘bertemu’ dengan Ibn Rushd dan al-Farabi, sebab kedua-duanya tunduk kepada Shariat Muhammad s.a.w dan Quran, tetapi Dante, walaupun selepas Quran datang, ia tidak tunduk kepadanya. Ertinya ia bukan berpegang kepada pluralisme agama dalam maman seperti Hick itu.

Bahkan dalam ‘Purgatio’ dalam ‘Divine Comedy’ nya Dante meletakkan Nabi Muhammad dan Saidina Ali rd dalam neraka [10]. Dijauhkan Allah. La haula wa la quwwata illa billah.

5. Kalaulah dikatakan sekarang keadaannya ialah bahawa kebebasan beragama yang tanpanya tidak ada pluralisme agama, adalah suatu kebebasan yang tertanam teguh sebagai kebebasan dalam perlembagaan dalam negara-negara demokrasi yang terkenal dan teguh kedudukannya, itu bukan bermakna bahawa di negeri-negeri Islam Muslimin dan kerajaannya tidak boleh memihak kepada Islam. Ini kerana dalam Islam kewajipan kerajaan Islam ialah melaksanakan ajaran Islam sampai sebaik-baiknya dan apa yang menggangu kejayaannya secara tidak patut mesti diselesaikan.
Dalam Islam kerajaan tidak boleh memilih untuk menganggap bahawa tidak ada kebenaran yang mutlak, kebenaran itu mesti ada, dan negara itu mesti berpegang kepada kebenaran itu.

Sebab itu al-Mawardi di Baghdad pada zamannya memastikan pihak berotoriti Islam memperbetulkan kesilapan-kesilapan orang ramai bila berlaku penyelewengan daripada ajaran Islam yang benar (kecuali orang yang berkenaan bukan Muslimin) [11]. Tetapi pihak berkuasa Muslimin tidak boleh menganiayai pihak yang bukan Islam, mereka ini diberi hak untuk mengamalkan agama mereka.

6. Tentang pendapat yang menyatakan bahawa kebebasan beragama yang terkandung dalam ayat yang bermaksud ‘Tidak ada paksaan dalam agama’ (2:256) itu dalam Islam memaksudkan bahawa kita tidak boleh memaksa orang supaya memeluk Islam, itu terletak pada pilihannya; tetapi bila ia sudah Islam tertakluk kepada undang-undang Islam, termasuk berkenaan larangan murtad daripada agama ini. Kita tidak menafsirkan kebebasan beragama itu kebebasan untuk murtad bagi orang Islam. Tidak ada pendirian itu dalam sejarah dan ilmu Islam.

Kalau hendak disebutkan perbandingan kita tidak memaksa orang untuk menjadi warganegara kita, tetapi bila ia menjadi warganegara ia tertakluk kepada undang-undang negara, ia tidak boleh berontak menentang negara itu. Dan tidak ada ‘pemberontakan’ yang melebihi ‘pemberontakan’ melawan Tuhan. Dijauhkan Allah.

Maka kita tidak seharusnya mengikut falsafah lain tentang kebebasan manusia dan agama bila falsafah itu bercanggah dengan Quran, walaupun ianya dianggap sebagai antarabangsa dan sebagainya. Demikian pula dengan kebebasan dhamir, freedom of conscience, kita memandangnya dalam konteks ajaran Syara’, kita tidak membuka ruang untuk kebebasan dhamir berjalan bila ia bercanggah dengan akidah dan aturan Syarak. Sangkaan bahawa kebebasan dhamir berjalan tanpa disiplin tidak ada dalam ajaran Islam. Kalau itu ada dalam ajaran lain itu pilihan pihak lain, bukan pilihan umat ini.

7. Berkenaan dengan orang lain yang mempunyai kepercayaan yang selain daripada Islam, kita tidak disuruh memilih untuk ‘menyerang’nya, bahkan kita dilarang ‘memaki’ apa yang menjadi pujaannya selain daripada Allah, walaupun yang secara kelihatan lembut dan berbudi, kalau tidak ia akan memaki Allah pula dalam perseteruan dan kejahilannya [12].

Kita diajarkan untuk menyeru manusia dengan hikmah kebijaksanaan (bukan putar belit), bila pihaknya sesuai digunakan kaedah itu, kemudian dengan nasihat yang baik, dan akhirnya kalau perlu berhujah, sebab pihak yang berkenaan itu degil, kita disuruh berhujah dengan ‘cara yang paling cantik’ [13].

Kita hidup dengan aman damai dan tidak mengganggunya, kecuali ia mengganggu kententeraman orang ramai. Dan kita lakukan demikian bukan untuk menjayakan pluralisme agama dalam erti John Hick tetapi dalam erti ‘bagi kamu agama kamu bagiku agamaku’ dalam surah al-Kaafirun, dan dalam erti yang diajarkan dalam Perlembagaan Madinah, sebagaimana yang tercatit dalam ‘Sirah ibn Ishaq’ yang di dalamnya orang Yahudi mengamalkan agama mereka dan orang Kristian mengamalkan agama mereka, tetapi mereka adalah ‘umat yang satu lain daripada manusia lain’ (dalam erti entiti siasah dan bernegara).

8. Adapun berkenaan dengan ayat tentang kejadian manusia berkaum-kaum dan bersuku-suku untuk kenal mengenali antara satu sama lain (bukan untuk bermusuh), itu memang benar, dan dihujungnya dinyatakan dengan terang dan tegas bahawa yang paling mulia di kalangan manusia ialah mereka yang paling bertaqwa (dalam erti paling menjaga suruhan dan larangan Allah) [14].

Ayat ini tidak boleh digunakan untuk memberi keabsahan kepada teori Hick tentang pluralisme agama dalam erti semuanya membawa kepada ‘salvation’.

9. Tentang adanya kenyataan dalam kitab agama lain yang menyatakan bahawa orang yang mampu melihat bahawa semua jalan membawa kepada Yang Satu, itupun perlu dilihat dalam konteks Quran sebagai ‘muhaiminan ’alaih [15] dalam erti ia menjaga erti-erti asasi dalam ajaran agama dan ‘membenarkan [kebenaran] yang terdahulu daripadanya [di kalangan anbia])’. Jalan yang dimaksudkan itu, kalau dalam Islam ialah jalan-jalan rohani yang sahih dalam ajaran para imam dan benar, bukan ‘jalan pemikiran’ para ‘pemikir’ dalam erti Barat yang tidak mempercayai wahyu dan nubuwwah serta tauhid, apa lagi kalau dalam pascamodenisme.

Tentang sistem kepercayaan lain yang menyebut semua jalan membawa kepada Yang Satu, kalau Yang Satu itu ialah kebenaran tauhid dalam Islam, maka itu tidak menjadi masalah; tetapi kalau semua sistem kepercayaan difahami membawa kepada Yang Satu yang kabur, itu menjadi masalah.

Penyembahan Berhala bukan Yang Satu, Penyembahan Tuhan yang bukan secara tauhid bukannya Yang Satu; kepercayaan tentang sesuatu kuasa ghaib yang kabur, mengatasi yang lain, bukan Yang Satu dalam Quran.

Pokoknya bergantung kepada kedudukan Quran sebagai ‘muhaiminan ‘alaih’ yang berupa pengawal kebenaran dalam erti-erti pengajaran agama, sebagaimana yang dihuraikan oleh teks-teks arus perdananya.

10. Tentang pandangan yang mengatakan bahawa apa juga agamanya, sama ada ia itu Islam, Kristian, Sikh, Hindu dan banyak lagi yang lain, dipercayai ialah bahawa kebenaran-kebenaran yang lebih tinggi (higher truths) yang mengatasi amalan-amalan semata (mere practice) dan ibadat semuanya terpusat atas kebenaran yang satu itu (singular truth): bahawa dari Allah kita datang dan kepada Allah kita kembali, ini juga perlu dilihat dalam rangka Quran sebagai ‘muhaiminan ‘alaih’.

Bila ini diambil sebagai neraca maka yang diambil kira bukan sahaja ‘kebenaran yang satu (secara tauhid yang sebenar)’ tetapi juga bentuk-bentuk amalan yang dilakukan, adakah ia sesuai dengan ajaran Quran atau tidak. Kalau tidak, maka kedudukannya adalah memang demikian.

Keringanan boleh berlaku bila itu adalah natijah daripada tidak sampai dakwah secara benar, atau tidak terdedahnya pihak yang berkenaan daripada kebenaran yang sebenar, atau orangnya berada dalam zaman fatrah yang tidak ada Rasul yang membawa kebenaran. Ajaran tentang semua ini kekal hingga ke akhir zaman. Tidak ada pemikiran falsafah dan penemuan akademik yang membatalkannya, bagaimana juga cerdik dan pintar orangnya. Selamat dan berbahagialah mereka yang tunduk kepada dan menerima kebenaran serta mengamalkannya, lebih-lebih lagilah merealisasinya dengan tahkiknya.

Amin.

11. Tentang pandangan yang menyatakan bahawa ada pemimpin-pemimpin tertentu agama-agama dunia yang terus menerus membuat dakwaan yang eksklusif (exclusivist claims) tentang mereka memiliki kebenaran yang kekal abadi dan tidak sangat menerima perkara-perkara yang sama (commonality) yang menghubungkan manusia semua dalam pelbagai agama, dan bahawa kalaulah diterima dasar persatuan dalam kepelbagaian, maka pluralisme agama menjadi satu tenaga penyatuan, bukan sebab bagi perpecahan, dan dinyatakan bahawa itu jalannya untuk menarik kita keluar daripada kegelapan kepada cahaya, daripada perang kepada damai, daripada kebencian dan kejahatan kepada kasih-sayang dan kebaikan, ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan secara serius.

Pertamanya, kalau dilihat dari segi Islam pengakuan itu dibuat oleh Muslimin daripada pengakuan Tuhan sendiri yang menyatakan bahawa Islam ini kebenaran sediakala yang ada dalam ajaran semua anbia dalam sejarah manusia, dan kedatangan Islam adalah untuk membenarkan kebenaran yang sediakala itu; kemudian ia datang untuk membuat pembetulan terhadap unsur-unsur yang terubah dalam ajaran agama-agama, dengan itu ia membuat koreksi. Maka Muslimin membuat kenyataan itu atas perintah Tuhan dalam wahyuNya.
Adalah janggal tidak terkira lagi kalau ada orang yang menerima Bible atau sebagainya sebagai ‘wahyu’ tetapi dalam masa yang sama menafikan yang demikian dalam hubungan dengan Quran, walhal Quran datang dalam suluhan sejarah yang terang benderang (in the full day light of history). Dalam erti ini pengakuan Muslimin adalah pengakuan yang setia dengan agama para anbia, tidak dipengaruhi oleh andaian-andaian (zann yang disebut dalam Quran) para pemikir, bagaimana bijak dan pintar mereka itu sekalipun. Maka pengakuan ini mesti dibuat dan dipertahankan; dan teori John Hick tentang pluralisme agama yang menjamin syurga untuk semua tidak mempengaruhi Muslimin yang setia dengan wahyu Qurannya.
Dan keduanya Muslimin terus menerus menegaskan bahawa keadaan damai ialah bila manusia berakhlak mulia dan tidak berkhianat dalam akhlaknya, serta tidak mengamalkan nilai ganda (double standard), untuk diri lain untuk orang lain, lain. Dan manusia boleh aman kalau mereka mengamalkan apa yang disuruh oleh Nabi s.a.w. Sebab itu baginda menunjukkan jalan itu antaranya dalam Perlembagaan Madinah. Tetapi bila pihak yang satu lagi belot, maka berlakulah apa yang telah berlaku itu. Allahumma sallimna wal-Muslimin.

12. Pengamatan yang menyebutkan bagaimana masih ada pula pendapat yang menyebut tentang Muslimin bahawa masih berterusan adanya masalah mereka yang menolak nilai kebebasan bersuara, kebebasan media, demokrasi dan kemerdekaan dhamir (freedom of conscience). Mereka memandang budaya pluralisme agama sebagai satu bahagian daripada konspirasi agung oleh ‘pihak lain’, terutamanya Kristian, untuk mengembangkan ajarannya dan menjadikan Muslimin memeluk agama Kristian. Pluralisme juga adalah jerat bagi menyeludup masuk demokrasi ala Barat melalui pintu belakang.
Tentang pengamatan demikian ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan. Antaranya ialah nilai-nilai kebebasan bersuara, kebebasan media dan yang sepertinya tentang demokrasi dan kebebasan dhamir, itu semua pada Muslimin adalah perkara-perkara yang mesti tunduk kepada otaritas Syara’: Kalau kebebasan bersuara itu sesuai dengan Syara’, tidak membawa kepada yang terlarang, kebebasan dhamir, demikian seterusnya, kalau tidak bercanggah dengan Syara’, bahkan lebih-lebih lagi menjayakan Syara’, maka sudah tentu itu tidak ditentang.
Sudah tentu bagi Muslimin Syara’ mengatasi bahan pemikiran para pemikir semata; lainlah kalau petkara yang demikian datang daripada mujadid yang diakui dalam Ahli Sunnah. Kalau diletakkan pemikiran-pemikiran dari para pemikir mengatasi Syara’ dan ijma’, itu adalah malapetaka intelektual dan rohaniah, dijauhkan Allah.

Soalnya bukan menolak seratus peratus dan menerima seratus peratus; apa yang baik diambil apa yang tidak baik tidak diambil. Pihak yang berbicara tentang kebebasan manusia sejagat perlu menghormati manusia beragama mengamalkan agamanya dan bukannya hendak membatalkan amalan pihak lain dan mempromosikan haknya semata. Itu bercanggah dengan hak asasi manusia.

13. Berhubungan dengan kemungkinan adanya persamaan antara amalan ‘mantra’ dan ‘Lords Prayer’ dan apa juga, maka bagi Muslimin itu perlu dilihat dalam rangka Quran sebagai penjaga atas erti-erti ajaran suci dalam sejarah manusia, tuntutan Syara’ dan Ijma’. Kalau ada persamaan itu, maka masih kelihatan ada peninggalan-peninggalan tentang persamaan itu. Tetapi kebenaran dengan kepenuhan, kedalaman serta kesempurnaannya ada pada wahyu terakhir dalam sejarah umat manusia. Selamatlah mereka yang menerimanya beramal dengannya.
Mereka yang lain daripadanya bertanggungjawab atas perbuatan mereka, apa jua alasan-alasan yang dikemukakan untuk mempertahankannya. Dalam bermuamalah dengan para pemeluk sistem kepercayaan lain, Muslimin mesti mengamalkan akhlak yang mulia dan menghormati pihak lain itu, dan jangan sekali-kali menunjukkan penghinaan terhadap pihak lain dengan apa cara sekalipun.

14. Tentang pendapat yang menyebut Syariat bukan tertulis ‘pada batu’ dan ia mengalami evolusi yang dinamis (the Shari’ah was never cast in stone and evolves continuously through this dynamic process), maka kita perlu melihat kenyataan ini dalam suluhan ajaran Islam tentang ada bahagian-bahagian Syara’ yang kekal dan ada yang berubah-ubah, dan bukan semuanya berubah-ubah. Akidah Ahli Sunnah tidak berubah; perincian-perincian Syara’ berkenaan dengan perkara-perkara baru yang tidak ada dalam nas secara terang-nyata dari fatwa-fatwa zaman demi zaman boleh berubah. Kalau ini difahami demikian maka tidak ada masalah.

Tetapi kalau itu melibatkan perubahan-perubahan seperti menghalalkan persetubuhan haram, judi, zina, menghalalkan yang haram dalam ijma’, kerana terpengaruh dengan ‘penemuan-penemuan’ para pemikir, ini tidak dibolehkan. Kalau itu membawa kepada pendirian bahawa posisi Quran terinjak kerana pemikiran orang-orang seperti John Hick dan yang sepertinya, itu tidak dibolehkan.

15. Kalau dalam suasana semasa ada penafsiran jihad yang tersasul dalam setengah kalangan (kerana faktor-faktor sejarah yang mendesak dan tidak patut diremehkan) itu tidak boleh menjadi dalil bagi sesiapa melihatnya sebagai penafsiran yang menyeluruh mewakili arus perdana umat. Bagaimanapun ini juga perlu dilihat dalam konteks pihak-pihak, yang dalam sejarah, juga sekarang, memanipulasikan maklumat untuk kepentingan hegemoninya.

16. Akhirnya kita mesti kembali kepada wacana arus perdana umat khaira ummatin ukhrijat linnas, yang hakikatnya, tidak ada wacana yang mengatasi kebenarannya, apa pun yang dikatakan oleh pihak postmodernis, Islam Liberalis, pluralis agama, pihak perennalists dan sesiapa pun yang seperti mereka. Tetapi kita kena mengetahui perbezaan-perbezaan, persamaan-persamaan, beradab, berdisiplin, menghormati orang lain dan dalam batasan-batasan yang wajar.
Dari Allah kita datang kepadaNya kita kembali. Wallahu a’lam. Selawat dan salam kepada baginda, ahli keluarganya dan para sahabatnya dan semua mereka yang mengikutnya dalam ihsan hingga ke hari penghabisan. Segala puji-pujian tertentu bagi Tuhan Pentadbir sekalian alam.

Antara sumber-sumber rujukan mengenai tajuk ini ialah:

1. Abdul Rashid Moten, “Religious Pluralism in Democratic Societies: Challenges and Prospects for Southeast Asia, Europe, and the United States in the New Millenmium.” Contemporary Southeast Asia. Journal Volume: 29, Issue: 1. 2007. pp 204 ff, 2007 Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS).
2. Brad Stetson, Pluralism and Particularity in Religious Belief. Praeger Publisher. Westport, CT. 1994.
3. Jeannine Hill Fletcher, Article Religious Pluralism in an Era of Globalization: The Making of Modern Religious Identity.” Journal: Theological Studies. Volume: 69. Issue: 2, 2008. pp. 394 ff.
4. J. Gordon Melton, Article: “Religious Pluralism : Probelems and Prospects” Journal: Brigham Young University Law Review. Volume: 2001 Issue: 2, 2001.
5. Jung H. Lee, Article: “Problems of Religious Pluralism: in a Zen Critique of John Hick’s Ontological Monomorphism” Journal: Philosophy East & West. Volume: 48 Issue: 3. Publication Year: 1998.p. 453+.
6. Lucas Swaine, The Liberal Conscience: Politics and Principle in a World of Religious Pluralism. Columbia University Press. New York. 2004.
7. Micheal Jinkins – Christianity, Tolerance and Pluralism: A Theological Engagement with Isaiah Berlin’s Social Theory. Routledge. New York. 2004.
8. Peter G. Danchin – editor, Elizabeth A. Cole – editor, Protecting the Human Rights of Religious Minorities in Eastern Europe. Columbia University Press. New York. 2002.
9. Richard E. Wentz, The Culture of Religious Pluralism, Westview Press, 1998.
10. Richard Hughes Seager edit with the assistance of Foreword by Ronald R. Kidd Diana L. Eck, The Dawn of Religious Pluralism Voices from the World’s Parliament of Religions, 1983, published in Association with The Council for a Parliament of the World’s Religions.
11. S. Wesley Ariarajah, “Kenneth Cracknell, in Good and Generous Faith: Christian Response to Religious Pluralism.” Journal The Ecumenical Review. Volume: 58 Issue: 3 – 4. 2006.pp 400 ff.
12. William C. Allen, “Stephen Kaplan, Different Paths, Different Summits: A Model for Religious Pluralism,” Journal of Ecumenical Studies. Volume: 41 Issue: 1, 2004. p 102.
13. Harvard Pluralism Project:
http://www.pluralism.org/articles/eck_1993_challenge_of_pluralism?from=articles_index
14. Khalif Muammar, Atas Nama kebenaran, Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, edisi kedua, ATMA, UKM, Bangi, 2009.
Nota akhir:
[1] http://www.pluralism.org
[2] Al-Hujurat:13
[3] Bani Isra’il:81
[4] Al-Ahzab:40

18 October 2015 Posted by | Aqidah, Berita dan Isu Semasa, Politik dan Dakwah | Leave a comment

Banyak ulama, banyak pendapat ulama ini menyusahkan

Catitan daripada Daurah hadits Kitab Sunan Tirmidzi bersama Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi di Pondok Ledang, Bandar Baru Uda, Johor Bahru semalam (6 September 2014)..

Telah hadir seorang hamba Allah kepada Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi dan berkata ia, “banyak pendapat ulama ni, menyusahkan dih..banyak mazhab ni, menyusahkan dih..”

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi menjawab, “kenapa kamu tak salahkan Allah (Subhanahu wata’ala) terus? atau pun tak salahkan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) terus?”

Terkejut dia mendengar jawapan itu, dan berkata, “kenapa kata gitu?”

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi menjawab, “para Imam Mazhab, para ulama ni bukan suka-suka nak berbeza pendapat, tetapi mereka hanya menyatakan sesuatu hukum di perintah oleh Allah Subhanahu wata’ala daripada ayat al-Quran..

Ada ayat al-Quran itu, Allah Subhanahu wata’ala datangi ia dengan kalimah bahasa arab yang apabila di terjemahkan keluar lebih daripada satu makna, seperti ;

firman Allah Subhanahu waTa’ala :

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوَءٍ

“Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu dengan menahan diri mereka (iaitu dalam iddah) selama tiga qurru.”

Daripada kalimah ثَلاَثَةَ قُرُوَءٍ ini, Imam Syafie dan Imam Hanafi telah berbeza dalam menafsirkannya, Imam Syafie menafsirkannya dengan makna “3 kali suci”, manakala Imam Hanafi menafsirkanya dengan makna “3 kali haid”..

Apabila di tafsirkanya berbeza, maka hukumnya berbeza..

3 kali suci maknanya ;

haid datang : tak kira,
suci dari haid : 1 qurru,
haid datang : tak kira,
suci dari haid : 2 qurru,
haid datang : tak kira,
suci dari haid : 3 qurru,

Ini pendapat Imam Syafie dalam menafsirkan ia dengan makna 3 kali suci, barulah seseorang wanita itu habis iddahnya..

Ada pun Imam Hanafi pula ;

haid datang : 1 qurru,
suci dari haid : tak kira,
haid datang : 2 qurru,
suci dari haid : tak kira,
haid datang : 3 qurru.

Apabila makna ini berbeza bagi Imam Syafie dan Imam Hanafi, maka daripada makna berbeza ini keluar daripadanya 8 hukum hanya berkisah tentang ini sahaja..

Maka kamu nak salah kat siapa sekarang ini? kamu nak salahkan Imam Syafie dan Imam Hanafi yang menafsir berbeza ke? kenapa tak salahkan Allah yang datangkan ayat al-Quran dengan kalimah bahasa Arab yang memberi makna lebih daripada satu? kalau Allah datangkan ayat al-Quran dengan maknanya satu sahaja, jelas maknanya, maka tak berbezalah pendapat banyak ni, jadi kenapa tak salahkan Allah??”

Terdiam pucat lelaki itu..

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi menyambung, “kamu salahkan para Imam Mazhab kerana banyak pendapat tentang sesuatu hukum, kamu katakan mereka menyusahkan, kenapa kamu tak salahkan juga Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam)?

Ada perbuatan yang Rasulullah buat, tetapi kemudian Rasulullah larang..ada perbuatan yang Rasulullah larang, tetapi kemudian Rasulullah buat..ada perbuatan yang para sahabat buat dan Rasulullah tak pernah lakukannya, tetapi Rasulullah tak larang dan tak suruh..dan lain-lain lagi..

Jadi daripada perbuatan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) dan para sahabat ini, maka para Imam Mazhab, para ulama yang ada ilmunya, mereka berbeza pendapat di dalam memahaminya dan menyatakan sesuatu hukum tentangnya..

Lalu kamu nak salah kat siapa sekarang ni? kat Imam Mazhab? kat ulama?

Kenapa tak salahkan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) yang buat perbuatan berbeza beza? kenapa Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) tak buat satu perbuatan sahaja untuk sesuatu ibadat? kan senang, tetapi kenapa Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) buat begitu? kenapa tak salahkan baginda Nabi?”

Bertambah terdiam pucat lelaki itu..

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi menyambung lagi, “para Imam Mazhab, para ulama yang ahlinya ini, mereka ini dah memudahkan kita, mereka telah berusaha siang dan malam mengkaji ayat al-Quran dan hadits bagi menyatakan sesuatu hukum, menyusun sesuatu ibadat itu..untuk siapa? untuk kita, sepatutnya kita mengucapkan terima kasih kepada mereka..tetapi kita pula marah kepada mereka, kita pula salahkan mereka..”

Terdiam seketika lelaki itu, dan berkata, “ya, saya salah dalam hal ini..”

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi berkata lagi, “sepatutnya kamu tak boleh cakap macam tu, kamu tak faham pendapat ulama berbeza itu kerana kamu tak berusaha belajar tentangnya, kalau kamu belajar tentangnya, baru lah kamu faham betapa adanya pendapat mereka ini memudahkan kehidupan kita, perbezaan pendapat itu nampak zahirnya seperti rumit dan menyusahkan, tetapi jika kita mempelajarinya dengan betul betul, kita akan dapati perbezaan pendapat itu lagi memudahkan kita, ada gunanya dan ada hikmahnya..”

Wallahua’lam..

Oleh Nazri Radzi

16 October 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Ciri-ciri dosa yang tidak diampuni Allah SWT

Disaat kita hidup aman cukup makan tidur selesa, pernahkah kita berfikir tentang dosa kita? Dosa besar dan kecil. Kita meminta diampunkan dosa kepada Allah, namun terdapat dosa yang tidak akan diampun oleh Allah. Mari baca 6 dosa yang tidak diampun ini.

1- Makan harta anak yatim secara haram.
( untuk menghapuskan dosa tersebut pemakan harta anak yatim mesti membayar kembali harta yang telah digunakan serta memohon maaf kepada anak yatim tersebut . Jika anat yatim tersebut memaafkan perbuatannya, barulah boleh bertaubat kepada Allah SWT. Seandainya anak yatim tersebut tidak memaafkan perbuatannya maka dosanya tidak terhapus).

2- Menuduh wanita solehah berzina.
( Orang yang menuduh wanita solehah hendaklah memohon maaf kepada wanita tersebut, jika wanita solehah tersebut memaafkan, maka terhapuslah dosa tersebut dan bolehlah penuduh bertaubat kepada Allah SWT. sekiranya wanita solehah tidak memaafkannya maka dosa tidak terhapus dan tidak boleh bertaubat kepada Allah SWT ).

3- Lari dari medan Jihad yang memperjuangkan kalimah Allah SWT.
( Mereka yang lari dari medan jihad adalah mereka yang dayus dan tidak layak memasuki Syurga, cuba kaji dalam sejarah Islam hukuman mereka yang lari dari medan Jihad sehingga Rasulullah SAW terpaksa menunggu Arahan Allah SWT untuk memaafkan kesalahan tersebut ).

4- Melakukan sihir.
( Mereka belayar sihir dan pengamal sihir adalah mereka yang Syirik kepada Allah SWT, memang tidak layak bertaubat kepada Allah SWT melainkan mengucap kembali kalimah Syahadah dan mesti menyerah kepada kerajaan Islam untuk melaksanakan hukuman yang sewajarnya ).

5- Bersyirik kepada Allah SWT atau menyamakan kedudukan Allah SWT dengan makhluk.
( Dosa syirik atau menyamakan Allah SWT dengan makhluk samada melalui niat,percakapan dan perbuatan yang disedari atau tidak disedari maka dosa ini tidak boleh bertaubat kecuali dengan mengucap kembali kedua Kalimah Syahadah dan pemerintah Islam mesti melaksanakan hukuman hudud barulah Allah SWT rela menerima kembali amal ibadat seseorang hamba yang telah menduakan Allah SWT atau menyamakan Allah SWT atau menyengutukan Allah SWT).

6- Membunuh Para Nabi yang diutuskan oleh Allah SWT.
( Mereka yang membunuh Para Nabi hendaklah dihukum bunuh dan terserah kepada Allah SWT untuk mengazab mereka. Rasulullah SAW pernah mengutuskan utusan untuk membuuh mereka yang menghina atau mengejek Allah SWT dan Rasulullah SAW semasa penubuhan Negara Islam Madinah).

Kitab Tanbihul Ghafilin , Jilid 1 & 2. M/S : 532

8 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Menyapu Muka

Sunat menyapu dahi dan muka setelah selesai solat berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Saidina Anas bin Malik , katanya:

“Adalah Rasulullah ﷺ apabila selesai daripada solat, baginda menyapu dahinya dengan tangan kanan sambil mengucapkan: “Aku naik saksi bahawasanya tiada tuhan yang disembah selain Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih. Ya Allah, hilangkanlah daripadaku segala kegundahan dan kedukaan.”

Hadis ini diriwayatkan para ulamak di dalam kitab-kitab mereka antaranya;

1. Ibnu ‘Ady di dalam kitab Al-Kamil fi Dhu’afa’, 7/199

2. Ibnu Al-Qaisrani di dalam kitab Dzakhirat al-Huffadz, 3/1757

3. At-Tabarny di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Awshat, 3/66

4. Ibn Rejab Al-Hanbali dalam kitab Fath Al-Bari, 5/202

5. Abu Nu’aim dalam kitab Hilyah Al-Auliya’, 2/342

6. Al-Haitsami dalam kitab Majma’ Az-Zawa’id, 10/113

7. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Nata’ij Al-Afkar, 2/301

8. Ibn ‘Allan dalam kitab Futuhat Al-Rabbaniyah, 3/57

Dan banyak lagi, termasuk dalam kitab ‘Amal Al-Yaum Wa Al-Laylah karangan Ibnu Sunni, Al-Azkar karangan Imam Nawawi, dalam dinaqalkan oleh para ulamak mazhab Syafi’e di dalam kitab-kitab mereka sebagai amalan.

Adapun kenapa ianya tidak terdapat dalam kitab-kitab muktamad mazhab Syafi’e kerana hadis yang diriwayatkan oleh Saidina Anas bin Malik ini termasuk dalam kategori hadis Dha’if. Berkenaan hadis Dhai’f dan hukum beramal dengannya boleh rujuk tulisan berikut https://www.facebook.com/notes/dhiya-zaid/hadith-dhaif/832481713458980

8 October 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

KEBAHAGIAAN itu bukanlah terletak pada banyaknya harta

KEBAHAGIAAN itu bukanlah terletak pada banyaknya harta wang ringgit, bukan pada besarnya rumah kediaman, bukan pada hebatnya kenderaan yang dimiliki, bukan pada tingginya jawatan kau perolehi ataupun bukan pada apa jua yang kau idam-idamkan, angan-angankan, harap-harapkan, cita-citakan di dalam dunia yang fana ini..

TETAPI KEBAHAGIAAN hakiki itu terletak pada jiwa nurani yang sentiasa berusaha mendekatkan diri pekerti kepada Allah Subhanahu Wa Taala, bila diri dekat dengan Allah s.w.t jiwa akan rasa tenang bila diri semakin jauh dengan Allah s.w.t (kerna angkara dosa/maksiat) hati mula rasa gundah-gulana dan hilang punca dan arah…
Marilah kita dekatkan diri dengan Allah s.w.t sentiasa…Kasih sayang Allah s.w.t sentiasa melangit luas tiada sempadan buat kita semua…Hanya kepada Allah s.w.t tempat kita mengadu dan meminta apa jua pertolongan…

7 Indikator kebahagian di dunia ini :
1. Hati yang selalu bersyukur
2. Pasangan hidup yang soleh/solehah
3. Anak-anak yang soleh, cerdik dan hebat
4. Lingkungan hidup yang kondusif untuk iman kita
5. Memiliki harta yang halal
6. Semangat untuk memahami/mendalami agama Islam
7. Dikurnia umur yang berkat

We love Allah..We love Rasulullah…

‪Bahagian Dakwah JAKIM

7 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Tasawwuf, Tariqah & Sufi

Akhir-akhir ini sering kita mendengar tomahan-tomahan daripada beberapa pihak yang cuba mengaitkan tasawwuf, tariqah dan sufi sebagai sebahagian daripada ajaran fahaman syiah tanpa mengemukakan bukti-bukti yang nyata.

Ingin penulis menukil kata-kata Tuan Guru Syeikh Nuruddin al Banjari hafizahullah :
(Hanya segelintir sahaja yang mampu meneliti secara adil. Bahkan sikap keterlaluan mereka, telah sanggup menjadikan tasawwuf sebahagian sifat yang tercela dan dicaci. Dengan sebabnya boleh menggugurkan sifat-sifat tercela dan dicaci. Dengan sebabnya boleh menggugurkan kelayakan seseorang untuk menjadi saksi dan menghilangkan sifat ‘adalah (tidak fasiq). Sehingga dik “Apabila dipersoalkan, kenapa? Maka dijawabnya : “Kerana beliau seorang sufi.”

Apa yang pelik dan menghairankan ialah apabila kita perhatikan terdapat segelintir golongan yang mencela tasawwuf, jelas menentang, malah bermusuhan terhadap pengamalnya dan juga yang sering mengingkarinya, mereka ini telah melakukan perkara yang dilakukan oleh ahli Tasawwuf. Setelah itu tanpa segan silu telah memetik ungkapan kata-kata tokoh-tokoh sufi di dalam ucapan dan khutbah mereka di atas mimbar Jumaat serta halakah pengajian. Ada yang penuh bangga dan angkuh berucap : “Berkata al Fudhail bin Iyadh, berkata al-Junaid, berkata Hasaan al-Basri, berkata Sahl al-Tustari, berkata al-Muhasibi dan berkata Bishru al-Hafi.

Kesemua mereka itu merupakan imam-imam, paksi, tiang, tonggak dan binaan tasawuf. Kitab-kitab tasawuf dipenuhi dengan ucapan-uacapan, kisah-kisah, moral dan kesempurnaan mereka. Saya tidak pasti adakah dia tidak mengetahui atau sengaja berpura-pura tidak tahu, buta atau sengaja memejamkan mata?)

Perbezaan Tariqah dengan Tasawwuf

Walaupun kedua-dua istilah, tariqah dan tasawwuf itu sama pengertian atau maksudnya, namun jika diteliti secara terperinci, maka kita akan dapati masih ada juga sedikit perbezaan antara kedua-duanya.

Misalnya, apabila kita mahu menjelaskan sesuatu aliran dhikr, maka biasanya kita akan menyebut : Tariqah Ahmadiyah atau Tariqah Qadiriyyah atau Tariqah Naqsyabandiyyah atau sebagainya lagi. Kita tidak pernah mendengar orang menyebut atau melihat orang menuliskan : Tasawwuf Ahmadiyyah atau Tasawwuf Qadariyyah atau Tasawwuf Naqsyabandiyyah atau sebagainya lagi. Apa yang pernah kita dengar dan temui dalam tulisan-tulisan ialah : Tasawwuf Salafi, Tasawwuf Falsafi atau seumpamanya lagi. Keadaan ini membuktikan adanya perbezaan sedikit antara tariqah dengan tasawwuf.

Definisi tariqah oleh Maulana Zakariyya al Kandahlawi rahimahullah di dalam kitabnya al-Syari’ah wa al-Tariqah menjelaskan bahawa tariqah itu ialah jalan yang boleh menyampaikan seseorang mukmin ke darjat ihsan itu ialah tasawwuf, maka amat nyatalah bagi kita bahawa tariqah itu ialah jalan mujahadahnya, sedangkan tasawwuf itu pula adalah natijahnya atau hasil mujahadah itu sendiri.

Jadi, dengan mempelajari ilmu tasawwuf kita dapat mengenal penyakit-penyakit mazmumah dan mengubati penyakit-penyakit tersebut dengan ubatnya iaitu sifat-sifat mahmudah. Penyakit-penyakit ini tidak dapat dihukum dengan hukum Feqah kerana penyakit ini tempatnya di hati manakala hukum Feqah itu bersifat fi’liyah (perbuatan/perlakuan) seharian kita baik dalam bab ibadat mahupun muamalat.

Golongan sufi.

Siapakah golongan sufi yang sering disalahfahami oleh golongan yang menolak ajaran tasawuf ini?

Dipetik dari kitab al Ghunyah Lithalibi Thariq al-Haq karangan Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah :
Istilah sufi sendiri menurut asal-usulnya berasal dari kata “al-mushafah” yang bermaksud hamba yang dibersihkan oleh Allah. Kerana itulah sufi didefinisikan sebagai orang yang bersih (suci) dari jebakan-jebakan nafsu, terhindar dari cela-cela diri, menempuh jalan terpuji, istiqamah menjalani kenyataan hakiki (haqaiq) dan tak merasakan ketenteraman hati dengan seorang pun dari kalangan makhluk (khalaiq). Ada juga yang mendefinisikan tasawwuf dengan “berkata dan berlaku benar dengan Allah dan berbudi baik dengan makhluk”.

Manakala orang awam seperti kita yang menempuh jalan salik (jalan yang pernah ditempuh oleh para sufi) disebut sebagai “Mutashawwif iaitu orang yang berusaha menjadi sufi. Kesimpulannya, para sufi itu terdiri dari golongan wali-wali Allah.

Apa kaitannya Tasawwuf, Tariqah dan Sufi dengan ajaran Syiah?

Ini adalah satu dakwaan yang pelik kerana Ajaran Syiah itu salah satu daripada pecahan-pecahan firqah yang disebut dalam sebuah hadith Baginda salallahu alaihi wasallam yang bermaksud :
“Demi Tuhan yang memgang jiwa Muhammad ditanganNya, akan berfirqah umatKu sebanyak 73 golongan, yang satu masuk syurga dan yang lain masuk neraka.”
Bertanya para sahabat : “ Siapakah golongan yang tidak masuk neraka itu ya Rasulullah?”
Nabi menjawab : “Ahlussunnah wal Jamaah”
(Hadith Riwayat Imam Thabrani)

Setelah dikaji oleh para ulama Usuluddin, pembahagian 73 itu ialah seperti berikut secara ijma’ :
Syiah 22 aliran
Khawarij 20 aliran
Muktazilah 20 aliran
Murjiah 5 aliran
Najariah 3 aliran
Jabariah 1 aliran
Musyabihah 1 aliran
Ahlussunnah wal Jamaah 1 aliran.

Kita semua sedia maklum bahawa semua tokoh-tokoh sufi adalah berfahaman Ahlussunah wal Jamaah. Erti Ahlussunnah ialah penganut Sunnah Nabi dan erti wal Jamaah ialah penganut i’tiqad sebagai i’tiqad Jamaah sahabat-sahabat Nabi. I’tiqad Nabi dan para sahabat telah lama termaktub dalam Al Quran dan dalam Sunnah Rasul secara terpisah-pisah, belum tersusun secara rapi dan teratur, kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh ulama Usuluddin yang besar iaitu, Syeikh Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari (260-324H) kemudian orang menamakan kaum pegangan ahlussunnah wal Jamaah sebagai Asya’irah.

Di dalam kitab “Ihtihaf Sadatul Muttaqin” karangan Imam Muhammad bin Muhammad al Husni az Zabidi, iaitu kitab syarah dari kitab “Ihya Ulumuddin” karangan Imam Ghazali yang bermaksud ;
“Apabila disebut kaum Ahlussunnah wal Jamaah, maka maksudnya ialah golongan yang mengikut fahaman Asyari dan fahaman Abu Mansur al Maturidi.”

Ciri-ciri ringkas fahaman Syiah

1. Mengatakan Sayyidina Ali radiyallahuanhu adalah khalifah yang sepatutnya dilantik selepas kewafatan Rasulullah salallhu alaihi wasslam dengan bersandarkan hadith “Ghadir Khum.”

2. Menggantikan nama ‘khalifah’ kepada ‘Imam’.. Ahlussunnah wal jamaah merujuk Imam untuk para ulama muktabar.

3. Pengertian ‘Ahli Bait’ bagi kaum SYIAH ialah Siti Fatimah, saidina Ali, saidina Hasan & Husein, menantu dan cucu cucu Nabi. Isteri-isteri Nabi s.a.w menurut mereka bukan Ahli Bait (keluarga baginda s.a.w).

4. Orang berfahaman SYIAH percaya kepada silsilah 12 Imam dan imam yang ke-12 ialah Imam Mahdi. Menurut kepercayaan mereka, Imam yang ke 12 tidak wafat tapi melainkan lenyap bersembunyi di suatu tempat persembunyian di sebuah rumah di kota Samara’ (Iraq). Hingga kini mereka yang di Samara’ berkumpul tiap malam di rumah tersebut di depan lubang yang ada dalam rumah itu dan memanggil-memanggil agar Imam itu keluar.

5. Pandangan sebahagian kaum SYIAH terhadap Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar & Sayyidina Uthman radiyallahu anhu adalah perompak/perampas terkutuk bahkan ada yang mengkafirkan mereka. Nauzubillah. Walaupun SYIAH aliran Zaidiyyah tidak mengutuk mereka, fahaman tersebut tergelincir daripada aqidah yang haq (benar).

6. Persoalan Imam yang lenyap adalah perkara pokok dalam fahaman SYIAH. Fahaman Imamah percaya, bahawa Imam yang ke-12 telah lenyap dan akan muncul kembali. Syiah Ismailiyah pula berkeyakinan Imamnya yang ke-7 yakni Ismail Bib Jaafar Shadiq telah lenyap & akan lahir pada akhir zaman. Manakala Syiah lain beranggapan yang imam yang ke-5 akan muncul pada akhir zaman.

7. Antara aliran-aliran Syiah ada terdapat Sabaiyah yakni aliran Abdullah bin Saba’. Dia pernah mengatakan bahawa dalam kitab Taurat, setiap Nabi mempunyai Washi (semacam putera mahkota) dan Sayyidina Ali ialah putera mahkota dari Nabi Muhammad s.a.w.

Menurut dia lagi, Sayyidina Ali diangkat ke langit ketika terbunuh dan yang terbunuh itu bukan Saiyyidina Ali. Akan tetapi hanyalah orang yang menyerupai beliau sebagaimana cerita Nabi Isa a.s. Manakala kononnya suara-suara guruh adalah suara Sayyidina Ali yang marah dengan tindak tanduk Sayyidina Muawiyah. Mereka akan mengucap ‘Assalamualaikum ya Amirul Mukminin’ apabila mendengar bunyi guruh.

8. Sebahgian daripada mereka percaya bahawa ruh Imam-imam itu turun-menurun dari Imam Ali hingga ke imam ke-12 sehingga roh menjadi sangat suci.

9. Fahaman Syiah Beri’tiqad (percaya / berpegang) dengan at-Taqiyah, yakni menyembunyikan

10. Tidak menerima Ijma’ kerana bagi mereka membenarkan ijma bermaksud mendengar pendapat orang diluar faham Syiah. Fahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah menerima qias & ijma’ sebagai sumber hukum selepas al-Quran & Sunnah.

11. Nikah Muta’ah adalah halal menurut fahaman Syiah. Menurut para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, pernikahan muta’ah adalah tidak sah. Maka bagaimana mereka mengaku mereka adalah Ahlul Bait (keluarga baginda Nabi Muhammad s.aw) sedangkan nasab mereka putus kerana pernikahan yang tidak sah?

Inilah fahaman syiah yang perlu diketahui serba sedikit secara ringkas agar kita menjauhi fahaman ini.

Keterangan yang keliru : Fahaman ini bukan diasaskan oleh Sayyidina Ali radiyallahu anhu. Selain daripada itu, ada orientalis menerangkan bahawa fahaman syiah itu iallah fahaman yang mencintai saiyidina Ali atau golongan yang mencintai ahlul bait Rasulullah. Ia satu keterangan yang sangat keliru kerana Ahlus sunnah wal Jamaah dan seluruh umat islam mencintai ahlul bait khususnya sayidina Ali radiyallahu anhu.

Kesimpulannya, tuduhan mengaitkan tasawwuf, tariqah dan sufi dengan ajaran syiah merupakan satu tuduhan yang bersifat terburu-buru tanpa meneliti dengan adil yakni bertanya atau merujuk terlebih dahulu kepada ahlinya sendiri. Ajaran ini sudah ada semenjak dari zaman Rasulullah salallahu alaihi wasallam, tinggal lagi ia tidak diberi nama tasawwuf sebagaimana ilmu-ilmu yang lain seperti feqah, usulluddin, ilmu tajwid, ilmu nahu dan banyak lagi untuk dinyatakan. Wallahua’lam ,

Oleh ,

Ust Uthman Daud
— with Ahyarrudin Yusof

7 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

MILIK AYAH & IBU…RAMAI YANG TAK TAHU…

Terdapat sebuah pertanyaan di suatu Majlis Taklim pada sesi tanya jawab pengajian.

Penanya: Wahai Syeikh, Ibuku tinggal menumpang bersamaku dirumahku dan terjadi masalah antara Beliau dengan isteriku.

Syeikh: Ulangi pertanyaanmu..!!

Penanya: Ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku.

Syeikh: Cuba ulangi pertanyaanmu..!!

Penanya: Ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku.

Syeikh: Ulangi lagi pertanyaanmu..!!

Penanya: Ibuku tinggal menumpang bersamaku.

Syeikh: Ulangi sekali lagi pertanyaanmu..!!

Penanya: Wahai Syeikh, tolong biarkan aku menyelesaikan dulu pertanyaanku, jangan anda potong.

Syeikh: Pertanyaanmu salah, yang benar engkaulah yang hidup menumpang pada ibumu, meski rumah itu milikmu dan atas namamu..

Penanya: Iya Syeikh, kalau demikian selesai sudah permasalahannya..

Syeikh: Jangan derhaka wahai anak, jangan derhaka wahai menantu..!!
Kamu dengan seluruh hartamu adalah milik ibumu.

RasululLah SAW bersabda: “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayah Ibumu” [HR. Ibnu Majah no. 2291]

1. Setitik air mata ibu jatuh, 10 kebajikan anak hilang, ibu-ibu jangan jatuh air mata dan anak jangan bagi ibu jatuh air mata. Biarlah Ibu menangis kerana Anak Berjaya dan bukan sedih kerana Angkara Anak.

2. Kalau balik tengah malam, buka lampu tengok dan tatap muka Ibu/anak, sebab wajah orang tidur akan menampakkan segalanya

ADA 3 MATA YG TIDAK DIJILAT API NERAKA..

» Melihat kaabah sehingga menitis air mata.
» Membaca Al-Qur’an sehingga menitis air mata.
» Memandang wajah Ibu yang sedang tidur /sedar hingga berlinangan air mata.

Orang yang kita kena tengok dan selalu pandang dalam hidup, tengok masa tidur.

» Anak
» Ibu
» Suami /Isteri

1. Adalah menjadi satu dosa jika kita mengguna jari telunjuk untuk menunjukkan sesuatu pada Ibu/bapa.

2. Barang siapa yang tidak mendoakan ibu/bapa selepas sembahyang buat ibu yang sudah meninggal maka dikira dia anak derhaka walaupun pada waktu ibu/bapanya hidup dia tak pernah menderhaka. Maksudnya jika ibu/bapa masih hidup atau telah tiada, selepas setiap solat kita mesti mendoakannya.

3. Doa orang yang masih hidup makbul untuk orang yang hidup dan mati. Jadi doakanlah Ibu/bapa kita yang telah tiada.

4. Ketika melalui kubur, perlahankan kenderaan (jika sedang menaiki kenderaan) dan beri salam, mereka akan doakan kita “berkatilah si pulan ini” dan jika tak bagi salam, mereka akan kata “celakahlah orang ini” Jadi, jangan lupa bagi salam.

5. Tanda-tanda siksa Allah atas muka bumi ini antara lain simpan harta sampai mati tak pernah keluarkan zakat.

6. Sesiapa yang bersedekah selalu, takkan miskin orang itu selamanya.

7. Jika mak ayah kita sudah meninggal dan semasa hayatnya kita ada peruntukkan wang untuk dia, bila mak kita dah takde teruskan memberi peruntukkan itu sebagai sedekah.
“Ya Allah, aku sedekahkan bagi pihak ibu/bapaku, semoga pahala sedekah ni sampai kepada ibu/bapaku”.
Itu yang yang buat ibu/bapa kita bahagia di sana.

8. Kalau kita susah nak bersedekah, bayangkan wajah Ibu/bapa kita baru kita ringan tangan nak bersedekah.

9. Allah panjangkan usia Ibu/bapa supaya mereka sakit dan nyanyuk untuk beri syurga pada anak2nya. Jagalah mereka dengan baik In shaa Allah, syurga balasannya. Jadi kalau tahu ibu/bapa sakit, berebutlah menjaga ibu/bapa kita. Besar sangat pahalanya.

10. Allah kalau boleh tak nak kita masuk neraka jadi Allah takkan matikan seseorang dalam keadaan kotor dan berdosa jadi dia bagi kita sakit/malu/miskin untuk mmbersihkan kita sebelum dia mengambil kita.
Ya Allah jadikan hari-hari kami penuh dengan bakti kami kepada orangtua kami dan berkatilah kehidupan kami..Aamiin Ya Rabbal A’lamiin.

7 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Letakkan ADAB lebih ke hadapan daripada ILMU

Ulama Muda Utara
Usrah Asar

Letakkan ADAB lebih ke hadapan daripada ILMU.. Begitulah pesanan Guru Kami.. Semua orang ada guru masing-masing.. Walaupun para guru kita ada yang berbeza pandangan dan berbeza pendapat, tapi antara mereka tidak ada langsung pertelagahan kerana mereka meletakkan ADAB dihadapan mendahului ILMU.. Namun, anak murid di bawah ini yang langsung tidak ada sikap tasammuh yakni berlapang dada bertikam lidah siang dan malam semata-mata nak tunjuk guru mereka sahaja yang betul, dan guru orang lain yang salah.. Isu khilafiah ini sudah berabad lamanya telah diselesaikan dan dihuraikan dengan panjang dan mendalam oleh para ‘alim ulama’ terdahulu.. Jadi mengapakah kita nak kata pandangan ulama’ terdahulu salah dan menyimpang manakala pendapat guru kita sahaja yang betul.. Jangan sesekali ada sikap tercela ini yakni sikap ‘ASOBIYYAH bererti beranggapan bahawa guru kepada orang lain yang salah manakala guru kita sahaja yang betul semuanya..

Sebab itu kena mengaji ADAB dahulu sebelum mengaji ILMU.. ILMU tanpa ADAB ibarat burung yang bercita-cita untuk terbang tinggi namun langsung takdak bulu pelepah.. Maka, lebih baik berdiam daripada bercakap tentang perkara yang kita tak tahu menahu.. Tak perlu untuk turut serta berdebat tentang hal yang memang bukan bidang kita seolah-olah kita lagi hebat daripada Mufti.. Tengoklah para ‘alim ulama’ kita, mereka menghormati antara satu sama lain walaupun ada yang berbeza pandangan dan pendapat.. Apa salahnya kita sebagai anak murid, mencontohi sikap mereka.. Para Guru kita sangat² menjaga diri mereka daripada fitnah, tetapi adakala anak² muridnya sendirilah yang menyebabkan fitnah menimpa kepada Guru mereka.. Ambik paham bab nie.. Pesanan khas untuk diri sendiri yang cukup² jahil takdak ilmu, takdak adab, lagho & hina dina..

Al-Faqir Ilallah, Abu Fadhil Ridhauddin
21 Zulhijjah 1436 H

5 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

KISAH SAYYID AHMAD SIDDIQ AL-GHUMARI BERSAMA KAUM WAHABI

Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani adalah ulama ahli hadits yang terakhir menyandang gelar al-hafizh (gelar kesarjanaan tertinggi dalam bidang ilmu hadits).

Ia memiliki kisah perdebatan yang sangat menarik dengan kaum Wahhabi. Dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar, sebuah autobiografi yang melaporkan perjalanan hidupnya, beliau mencatat kisah berikut ini.

“Pada tahun 1356 H ketika saya menunaikan ibadah haji, saya berkumpul dengan tiga orang ulama Wahhabi di rumah Syaikh Abdullah al-Shani’ di Mekkah yang juga ulama Wahhabi dari Najd.

Dalam pembicaraan itu, mereka menampilkan seolah-olah mereka ahli hadits, amaliahnya sesuai dengan hadits dan anti taklid. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan ketinggian tempat Allah subhanahu wa ta‘ala dan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai dengan ideologi Wahhabi.

Mereka menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara literal (zhahir) mengarah pada pengertian bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai keyakinan mereka.

Akhirnya saya (al-Ghumari) berkata kepada mereka: “Apakah ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi termasuk bahagian dari al-Qur’an?”

Wahhabi menjawab: “Ya.”

Saya berkata: “Apakah meyakini apa yang menjadi maksud ayat-ayat tersebut dihukumi wajib?”

Wahhabi menjawab: “Ya.”

Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ). (الحديد : ٤)
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”
(QS. al-Hadid : 4).

Apakah ini termasuk al-Qur’an?”

Wahhabi tersebut menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”

Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:
مَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ وَهُوَ رَابِعُهُمْ. (المجادلة : ٧).
“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya….” (QS. al-Mujadilah : 7).

Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?”

Wahhabi itu menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”

Saya berkata: “(Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit). Mengapa Anda menganggap ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi yang menurut asumsi Anda menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat yang saya sebutkan yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit?
Padahal kesemuanya juga dari Allah subhanahu wa ta‘ala?”

Wahhabi itu menjawab: “Imam Ahmad mengatakan demikian.”

Saya berkata kepada mereka: “Mengapa kalian taklid kepada Ahmad dan tidak mengikuti dalil?”

Tiga ulama Wahhabi itu pun terbungkam. Tak satu kalimat pun keluar dari mulut mereka. Sebenarnya saya menunggu jawaban mereka, bahwa ayat-ayat yang saya sebutkan tadi harus dita’wil, sementara ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit tidak boleh dita’wil.

Seandainya mereka menjawab demikian, tentu saja saya akan bertanya kepada mereka, siapa yang mewajibkan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan dan melarang menta’wil ayat-ayat yang kalian sebutkan tadi?

Seandainya mereka mengklaim adanya ijma’ ulama yang mengharuskan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan tadi, tentu saja saya akan menceritakan kepada mereka informasi beberapa ulama seperti al-Hafizh Ibn Hajar tentang ijma’ ulama salaf untuk tidak menta’wil semua ayat-ayat sifat dalam al-Qur’an, bahkan yang wajib harus mengikuti pendekatan tafwidh (menyerahkan pengertiannya kepada Allah subhanahu wa ta‘ala).”

Demikian kisah al-Imam al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dengan tiga ulama terhebat kaum Wahhabi.

GAmbar: Sayyid Ahmad Siddiq al-Ghumari

4 October 2015 Posted by | Aqidah, Bersama Tokoh | Leave a comment

JAWAPAN ISU BACAAN LAIN SELAIN AZAN DI SPEAKER- SIRI 1

Oleh : Ustaz Mohd Khafidz Bin Soroni

Isu Pembesar Suara

Isunya adalah tentang bacaan-bacaan – selain azan – yang menggunakan pembesar suara sehingga mengganggu orang ramai, yang kononnya telah mengelirukan orang bukan Islam sehingga mereka menyangka ia azan. Objektif penulisnya barangkali ialah untuk menjaga hati orang bukan Islam dan agar agama Islam tidak dipandang serong oleh mereka. Namun huraian, penghujahan dan konklusi yang diketengahkan olehnya memerlukan kepada sedikit penilaian semula.Alat pembesar suara sudah tentu tidak wujud pada zaman Nabi SAW, namun apa yang ditinggalkan oleh baginda kepada kita ialah hukum mengangkat dan merendahkan suara, yang akan dibincangkan dalam artikel ini.

Antara ‘penyakit’ sesetengah ahli ilmu ialah terburu-buru dalam mengeluarkan hukum atau fatwa tanpa melihat terlebih dahulu dengan teliti dan mendalam terhadap masalah yang dibahaskan.Hanya mengguna pakai sebuah dalil sahaja tanpa melihat dalil-dalil yang lain atau meninggalkan dalil-dalil yang lain, maka terus diputuskan hukum atau fatwa darinya. Kebelakangan, perkara sebegini semakin kerap berlaku baik di kaca tv, radio, akhbar, internet, masjid, dan lain-lain.

Dalil-Dalil Larangan dan Ulasannya

Saya tidak akan mengupas atau mengulas satu persatu isi kandungan artikel tersebut kerana ia akan mengambil ruang yang panjang. Apa yang akan kita bincangkan di sini ialah dari sudut pendalilan yang diguna pakai iaitu tentang kadar suara dalam melaksanakan ibadah, seumpama solat, membaca al-Quran, zikir, doa, azan dan sebagainya.

Antara hujah yang dibangkitkan oleh mereka yang melarang dari mengangkat suara dalam beribadah ialah hadis sahih riwayat Abu Dawud dalam Sunannya (no. 1135):

Dari Abu Sa’id al-Khudri katanya: “Pernah Nabi Muhammad SAW beriktikaf dalam masjid, lalu baginda mendengar mereka mengangkat suara bacaan (al-Quran atau solat) lalu baginda mengangkat tirai dan bersabda: “Ketahui sesungguhnya setiap kamu bermunajat kepada Tuhannya, jangan sebahagian kamu menyakiti sebahagian yang lain. Jangan sebahagian kamu mengangkat suara melebihi sebahagian yang lain dalam bacaan, atau sabdanya: dalam solat”. Dalam riwayat Musnad Ahmad dan Musannaf ‘Abd al-Razzaq ditambah: “Sedangkan ketika itu baginda berada di qubbah (tempat ibadah) baginda, lalu baginda pun menyingkap tirai-tirai…”.

Hadis ini perlu diteliti dari pelbagai aspek. Selain tekstual hadis perlu juga dilihat dari sudut kontekstual hadis. Perlu juga ditinjau dengan membuat komparatif dengan nas-nas lain, serta situasi ‘urf. Demikian kaedah yang perlu dipraktikkan bagi mengeluarkan sebuah hukum atau fatwa, tidak semata-mata berpegang kepada sebuah teks yang terhad. Adakalanya teks yang terhad hanya mampu menghasilkan pedoman dan panduan semata-mata, tetapi belum dapat membentuk sebuah hukum yang releven dan fatwa yang autentik.

Tanda-tanda pada zahir hadis tersebut seperti sedang beriktikaf, bermunajat, dan kadar suara yang mengganggu menunjukkan bahawa situasi pada masa itu ialah waktu malam yang bersuasana sunyi dan hening. Penulis berpendapat, agak jauh untuk dikatakan hadis tersebut diucapkan pada waktu siang kerana suasananya agak berlainan dan kadar suara biasanya tidak begitu mengganggu. Siang adalah masa berkerja dan malam adalah masa beristirehat, maka amat sesuailah pada masa itu dielakkan sebarang gangguan dan amat tepatlah teguran Nabi SAW kepada para sahabatnya itu. Justeru menggunakan hadis ini bagi mengeluarkan hukum umum tanpa ada sebarang pengecualian atau perbezaan perlulah diteliti semula.

Realiti yang berlaku pasa masa kini, penggunaan pembesar suara biasanya selesai pada atau selepas waktu isyak, atau lebih sedikit jika ada penceramah yang melanjutkan celotehnya, dan bermula semula pada waktu pagi sebelum atau pada waktu fajar.Justeru, tidak berlaku sebarang gangguan pembesar suara antara waktu isyak sehingga subuh. Bagaimana situasi sedemikian dapat dikiaskan dengan hadis di atas yang barangkali ditujukan pada waktu dua pertiga malam, atau separuh malam ataupun sepertiga malam.

Manakala hadis yang berbunyi:

Dari Abu Musa al-Asy’ari RA katanya: Ketika Rasulullah SAW memerangi Khaybar, atau katanya: Ketika Rasulullah SAW menuju kepadanya, orang-orang telah melihat sebuah wadi, lalu mereka mengangkat suara mereka bertakbir; Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha illa Allah… Maka sabda Rasulullah SAW: Kasihanilah diri kamu sekalian, sesungguhnya kamu tidak menyeru yang tuli mahupun yang ghaib, sesungguhnya kamu menyeru Yang Maha Mendengar lagi Dekat, dan Dia bersama kamu sekalian…”.

Zahir hadis ini menunjukkan bahawa teguran tersebut adalah disebabkan kadar suara yang berlebih-lebihan dan melampaui had dalam mengeras dan meninggikannya. Nabi SAW sentiasa membimbing umatnya kepada sikap bersederhana, maka amat wajar baginda memberi teguran tersebut.

Kata Imam al-Nawawi: Maknanya ialah kasihanilah diri kamu dan rendahkanlah suara kamu. Perbuatan mengangkat suara biasanya dilakukan orang kerana jauhnya orang yang diajak bicara agar ia mendengarnya, sedangkan kamu menyeru Allah Taala dan Dia bukanlah pekak mahupun ghaib, bahkan Dia Maha Mendengar lagi Dekat, dan Dia bersama kamu dengan ilmu dan liputan pengetahuan-Nya. Maka pada hadis ini terdapat galakan agar merendahkan suara ketika berzikir jika keperluan tidak mendesak untuk mengangkatnya. Sekiranya suara direndahkan, itu lebih beradab dalam memuliakan dan mengagungkan-Nya. Manakala jika keperluan perlu untuk mengangkatnya, barulah diangkat sebagaimana yang terdapat dalam hadis-hadis (seperti talbiah dan sebagainya).

Dalam hadis yang lain:

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir katanya: Sabda Rasulullah SAW: “Orang yang membaca kuat dengan al-Quran seperti orang yang berterang-terangan dalam bersedekah. Dan orang yang membaca perlahan dengan al-Quran pula seperti orang yang bersembunyi-sembunyi dalam bersedekah”.

Makna hadis ini menunjukkan kepada keutamaan (keafdalan) dalam membaca al-Quran dan bukannya menunjukkan kepada larangan meninggikan suara. Sedangkan Nabi SAW pernah memerintahkan Abu Bakar al-Siddiq RA agar meninggikan suara:

Dari Abu Qatadah RA bahawa Nabi SAW bersabda kepada Abu Bakar RA: Aku telah melintasi kamu ketika kamu sedang membaca, dan kamu merendahkan suara. Jawab beliau: Sesungguhnya aku hanya memperdengarkan kepada Siapa yang aku bermunajat kepada-Nya. Balas baginda: Angkatlah sedikit (suaramu). Dan baginda juga bersabda kepada ‘Umar RA: Aku telah melintasi kamu ketika kamu sedang membaca, dan kamu mengangkatkan suara. Jawab beliau: Sesungguhnya aku ingin membangkitkan orang yang mengantuk dan mengusir syaitan. Balas baginda: Rendahkan sedikit (suaramu). Dalam riwayat lain: “Wahai Abu Bakar, angkatlah suaramu sedikit, dan baginda bersabda kepada ‘Umar: Rendahkanlah suaramu sedikit”.

Di sini, Nabi SAW menyuruh mengangkat suara jika ianya terlalu perlahan atau tidak dapat dimanfaatkan oleh orang lain, dan melarang mengangkatkan suara jika ianya melebihi had, atau kerana ia dapat menimbulkan sifat riyak dan ujub yang ditegah oleh syarak. Secara mafhumnya, baginda mengajarkan bahawa bersederhana itulah yang lebih utama.

Selain hadis Abu Bakar RA tersebut terdapat beberapa hadis lain yang membenarkan mengangkat suara seperti;

Dari Abu Hurairah RA katanya: Sabda Rasulullah SAW: Allah tidak mengizinkan (meredhai) bagi sesuatu, apa yang telah diizinkan kepada Nabi agar berlagu dengan al-Quran, serta mengangkat suara dengannya”.

Kata Imam al-Nawawi dalam kitab al-Azkar berkenaan dalil-dalil yang zahirnya saling bercanggahan ini: Pengharmonian antara kedua-duanya ialah bahawa suara perlahan itu lebih jauh dari sifat riyak, dan ianya adalah afdal bagi orang yang takutkan demikian. Jika tidak takut riyak pula, maka suara kuat itu lebih afdal dengan syarat tidak menyakiti orang lain seperti orang yang bersolat, tidur dan sebagainya. Maksudnya suara perlahan itu lebih afdal jika takutkan riyak atau menyakiti orang yang bersolat atau tidur dengan suara kuatnya. Suara kuat pula afdal dalam hal yang selain itu kerana amalan tersebut lebih besar, dan manfaatnya dapat dikongsi oleh orang lain sama ada dengan mendengar (dan banyak dalil menunjukkan ianya sebagai ibadah), belajar, mengikut, insaf atau ianya sebagai syiar agama. Ia juga dapat mengetuk hati si-pembaca, menumpukan perhatiannya untuk berfikir dan memfokuskan pendengarannya sendiri. Ia juga dapat menghalang rasa mengantuk, menambah rasa cergas, membangunkan orang lain yang tidur dan lalai serta menyegarkannya. Maka bila hadir salah satu niat-niat ini, maka suara kuat itu adalah lebih afdal.

Ada diriwayatkan oleh al-Daylami dalam Musnad al-Firdaus dari Ibn ‘Umar secara marfu’:
Maksudnya: “Cara sembunyi itu lebih afdal dari cara terang-terangan, dan cara terang-terangan pula lebih afdal bagi orang yang mahu agar dicontohi”.

Maka kesimpulannya, tinggi atau rendah suara itu semua adalah bergantung kepada situasi, suasana, tuntutan dan juga keadaan. Selain perlu menitikberatkan kesederhanaan dalam semua aspek.

Sila rujuk dengan lebih lanjut tentang mengangkat suara dalam ibadah kepada kitab Sibahah al-Fikr fi al-Jahr bi al-Zikr oleh Imam ‘Abd al-Hayy al-Laknawi (w. 1304H), tahkik Syeikh ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah, dan kitab Natijah al-Fikr fi al-Jahr bi al-Zikr oleh Imam al-Suyuti (w. 911H). Namun menurut Syeikh Abu Ghuddah, kitab Imam al-Laknawi lebih detail dan lengkap perbahasannya.

Menangani Isu Sebenar

Isu sebenarnya bukan masalah penyalahgunaan pembesar suara, atau benarkan hanya azan sahaja di pembesar suara, tetapi adalah masalah kefahaman orang (terutama AJK masjid/surau) terhadap situasi yang mereka duduki. Kita ada pelbagai situasi, ada masjid yang jauh dari kawasan perumahan dan ada yang dekat, malah sebahagiannya berhimpit-himpit dengan rumah orang atau kedai.Ada masjid yang berdekatan dengan pusat maksiat. Ada masjid yang berdekatan dengan hospital. Ada masjid yang berada di kawasan yang majoritinya bukan Islam. Ada masjid bandar, dan ada masjid kampung. Ada masjid yang penduduk sekitarnya bersatu hati, dan ada masjid yang penduduk sekitarnya berbalah sesama sendiri. Suasana bandar yang sibuk pastinya berbeza dengan suasana kampung yang lebih tenang.

Peralatan pembesar suara juga perlu diambil kira. Ada pembesar suara yang mahal dan mengeluarkan suara yang enak dan merdu. Ada pembesar suara yang murah dan mengeluarkan suara yang ‘serak’ dan berdesing sekali-sekala. Begitu juga hal dengan tugas bilal, ada bilal yang bersuara merdu dan sedap didengar, dan ada bilal yang bersuara kurang lemak merdu. Ada bilal yang melaungkan (atau memasang kaset) bacaan al-Quran atau zikir setiap lima waktu sebelum azan, dan ada bilal yang melaungkan (atau memasang kaset) bacaan al-Quran atau zikir pada waktu tertentu sahaja sebelum azan seperti waktu subuh dan maghrib misalnya. Dan sebagainya lagi.

Bayangkan sekiranya masjid tersebut terletak di kawasan yang majoritinya bukan Islam, atau sangat berhampiran dengan hospital, dan alat pembesar suaranya pula sering ‘terbatuk-batuk’, dipasang pula alunan bacaan al-Quran atau zikir setiap lima waktu sebelum azan dan bilalnya pula bersuara ‘serak-serak basah’. Apakah agaknya reaksi dan pendapat anda, jika dibandingkan dengan masjid yang terletak di kampung yang penduduknya sekitarnya bersatu hati dan sudah biasa dengan alunan bacaan al-Quran atau zikir pada waktu sebelum subuh dan maghrib, manakala bilalnya pula bersuara lemak merdu. Apakah sama situasinya?

Bagaimana pula sekiranya masjid tersebut berhampiran dengan pusat maksiat yang pengunjungnya tidak pernah menjejakkan kaki ke masjid. Apakah tidak rugi jika semua ceramah-ceramah yang dijalankan di masjid itu hanya untuk orang di dalam masjid sahaja dan suara tidak keluar melebihi pintunya? Semuanya ini perlu diambil kira, bukannya mengeluarkan hukum secara pukul rata.

Iktibar Dengan Situasi

Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya dari Ghudhaif bin al-Harith, beliau pernah bertanya kepada ‘A’isyah RA antaranya:
Adakah puan pernah melihat Rasulullah SAW mengangkat suara dengan al-Quran ataupun memperlahankannya? Jawab beliau: Adakalanya baginda mengangkat suara dengannya dan adakalanya baginda memperlahankannya. Aku berkata: Allahu akbar, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dalam urusan (agama) ini keluasan.

Kata al-‘Allamah Badr al-Din al-‘Aini (w. 855H) mengulas hadis di atas:

Sabit pilihan bagi si-pembaca (al-Quran atau zikir) sama ada antara mengangkat suara dengannya dan juga memperlahankannya. Diperkatakan, mengangkat suara lebih afdal. Juga diperkatakan, memperlahankan suara lebih afdal. Namun yang benar ialah; ianya terikat menurut iktibar dari segi masa si-pembaca, kedudukannya dan juga situasinya. Maka hendaklah dipelihara mengangkat suara dan memperlahankan suara berdasarkan iktibar tersebut.

Kata-kata Ghudhaif bin al-Harith RA: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dalam urusan (agama) ini keluasan”, wajar direnung dan diambil iktibar. Perbezaan ‘urf dan situasi kerana peredaran zaman perlu juga diambil kira. Apa yang penting, bukan hukum menggunakan pembesar suara yang sudah menjadi ‘urf pada masa kini, tetapi adalah kefahaman orang (terutama AJK masjid/surau serta para pengunjung masjid/surau juga) terhadap situasi yang mereka duduki. Dan perbincangan ini secara umum meliputi situasi dalam dan juga luar masjid. Persoalannya, bagaimanakah harus mereka mengendalikannya? Jika penulis artikel tersebut menyemak semula masalah ini dan memikirkan semua faktor-faktor yang dijelaskan, pasti dia akan memperbetulkan semula kenyataannya atau menambah apa-apa kenyataan yang wajar dan lebih diterima. Mengeluarkan sesuatu kenyataan atau hukum secara terburu-buru bukanlah suatu tindakan yang bijak.

Sumber : http://sawanih.blogspot.com/…/01/kadar-suara-dalam-ibadah.h…

3 October 2015 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Politik dan Dakwah | Leave a comment

Hukum Menggunakan Telefon Bimbit Ketika Khutbah Jumaat

Dalam era perkembangan sains dan teknologi zaman ini, berbagai-bagai peralatan baru dan canggih muncul bagaikan cendawan. Salah satu daripada peralatan tersebut, yang dimiliki oleh kebanyakan orang pada masa kini ialah telefon bimbit.

Tidak dinafikan bahawa tuntutan keperluan hidup di zaman yang serba canggih dan moden ini menjadikan penggunaan telefon bimbit seakan-akan satu kemestian kerana kewujudannya banyak membantu mempermudahkan tugas dan pekerjaan. Di samping itu, ia juga mampu mempermudahkan perhubungan sesama kaum keluarga, sanak-saudara, rakan-taulan dan sebagainya. Selain aplikasi-aplikasi perhubungan, terdapat juga berbagai jenis dan bentuk aplikasi yang lain seperti aplikasi-aplikasi peringatan waktu sembahyang, penunjuk arah qiblat, maklumat, berita, permainan game dan sebagainya yang boleh diakses dengan beberapa petikan jari sahaja.

Penggunaan telefon bimbit ini tidaklah menjadi kesalahan selama mana kemudahannnya tidak digunakan ke arah sesuatu yang menyalahi hukum Syara’. Namun apa yang merungsingkan, keghairahan terhadap penggunaan telefon bimbit ini ada kalanya boleh menyebabkan sebilangan orang lalai dan terlalu asyik sehingga mereka sentiasa membawa dan menggunakannya tanpa mengira kesesuaian masa dan tempat. Bahkan ada kalanya ketika sembahyang pun telefon bimbit ini akan dibawa bersama tanpa mematikan (switch off) atau menutup bunyinya terlebih dahulu. Maka akan kedengaranlah bunyi-bunyi nada dering dan sebagainya yang pastinya akan mengganggu kekhusyukan pemiliknya dan kekhusyukan jemaah yang lain jika bersembahyang jemaah. Bukti yang paling nyata dapat dilihat dengan jelas ketika perhimpunan Sembahyang Fardhu Jumaat. Ketika khatib sedang membacakan khutbah Jumaat, akan kelihatan segelintir jemaah tanpa rasa segan silu menggunakan telefon bimbit untuk menghantar pesanan ringkas (sms), berkomunikasi melalui halaman rangkaian sosial, melayari halaman internet, bermain game dan sebagainya. Apakah pandangan Syara’ mengenai perkara ini?

Tuntutan Diam Ketika Khatib Membaca Khutbah Jumaat

Khutbah merupakan salah satu daripada lima syarat sah Sembahyang Fardhu Jumaat. Ia adalah wasilah terbaik untuk menyampaikan dan menerima nasihat, peringatan serta mesej-mesej ukhrawi dan duniawi kepada masyarakat Islam. Ini kerana pada hari Jumaat, kaum muslimin duduk berhimpun dan sembahyang bergandingan di antara satu dengan yang lain, tanpa mengira bangsa, pangkat ataupun rupa.

Sunat bagi orang yang menghadiri Sembahyang Fardhu Jumaat menghadapkan muka ke arah imam (ke arah qiblat) kerana menurut Imam Khatib Asy-Syarbini Rahimahullah, ini adalah adab, dan selain itu ianya sekaligus membolehkan mereka tetap menghadap qiblat. Perbuatan ini juga sekaligus lebih mempermudahkan seseorang itu untuk menumpukan sepenuh
perhatian terhadap khutbah Jumaat yang disampaikan oleh khatib.

Disunatkan juga bagi jemaah untuk diam dan mendengar khutbah Jumaat dan makruh bagi mereka berkata-kata sepertimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam telah bersabda:

Maksudnya: “Jika engkau mengatakan kepada sahabatmu “dengarkanlah (khutbah)” padahal imam pada waktu itu sedang berkhutbah, maka sesungguhnya engkau benar-benar telah berkata sia-sia.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Maksud “sia-sia” di sini ialah bertentangan dengan sunnah, adab, dan mengakibatkan rugi pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat walaupun sembahyangnya masih dikira sah.

Dapatlah difahami daripada hadits ini bahawa apa pun jenis katakata mahupun perbualan adalah dilarang sama sekali ketika khutbah Jumaat sedang dibacakan atau disampaikan. Ini kerana jika kata-kata seorang jemaah yang menyuruh seorang jemaah yang lain supaya diam dan mendengar khutbah itu pun sudah dikategorikan sebagai sia-sia, sedangkan perbuatan itu merupakan satu suruhan ke arah kebaikan, maka apatah lagi kata-kata biasa atau perbualan kosong semata-mata.

Akan tetapi tidak makruh ke atas orang yang mendengar khutbah Jumaat itu berkata-kata jika terdapat darurat, misalnya kerana hendak menyelamatkan orang buta yang hampir terjatuh ke dalam parit atau ternampak binatang berbisa seperti kala jengking atau ular menghampiri seseorang. Maka dalam hal seperti ini, tidaklah dilarang orang yang mendengar khutbah Jumaat itu berkata-kata, bahkan wajib baginya melakukan demikian. Akan tetapi lebih baik (sunat) baginya untuk menggunakan isyarat sahaja jika dia mampu mengelakkan daripada berkata-kata.

Menurut Imam An-Nawawi Rahimahullah, bagi mereka yang dapat mendengar khutbah, diam mendengarkan khutbah Jumaat itu adalah lebih utama daripada membaca al-Qur’an, berzikir dan sebagainya. Ini kerana terdapat qaul (pendapat) yang mengatakan bahawa diam untuk mendengar khutbah Jumaat itu adalah wajib.

Adapun bagi orang yang tidak dapat mendengar khutbah pula, misalnya kerana duduk jauh daripada imam ataupun suara imam tidak dapat didengar, maka adalah lebih utama baginya pada ketika itu membaca al-Qur’an terutamanya Surah Al-Kahfi, bersalawat, bertasbih, berzikir dan sebagainya dengan suara yang perlahan supaya tidak mengganggu jemaah-jemaah yang lain.

Hukum Menggunakan Telefon Bimbit Ketika Khutbah Jumaat

Adapun perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khatib membaca khutbah Jumaat boleh diqiyaskan kepada maksud sebuah hadits sahih yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

Maksudnya: “Sesiapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian dia (pergi ke masjid) untuk menunaikan Sembahyang Fardhu Jumaat, lalu mendengar dan tidak bercakap (ketika khutbah disampaikan), maka diampuni dosa-dosanya yang ada di antara hari Jumaat itu dan hari Jumaat berikutnya dan ditambah tiga hari lagi. Dan sesiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu (ketika khutbah), maka dia telah berbuat sia-sia”. (Hadits riwayat Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan jelas telah menegaskan bahawa barangsiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu ketika khutbah Jumaat itu telah melakukan suatu perbuatan yang sia-sia. Maksud “sia-sia” dalam hadits ini sepertimana yang telah diterangkan sebelum ini ialah bertentangan dengan sunnah, adab dan mengakibatkan rugi pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat walaupun sembahyangnya masih dikira sah.

Menurut ulama, larangan dalam hadits tersebut tidak hanya terbatas terhadap bermain dengan anak batu sahaja, bahkan larangan tersebut menyeluruh terhadap semua perbuatan yang boleh menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat.

Jika dinilai dan diteliti, perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khutbah dibacakan ini adalah lebih buruk lagi daripada perbuatan bermain dengan anak batu kerana perbuatan seperti bermain game, melayari halaman internet, berkomunikasi melalui halaman rangkaian sosial dan sebagainya itu adalah sangat jelas lebih menghilangkan kekhusyukan dan menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat.

Jadi sangat jelas di sini bahawa perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khatib membaca khutbah Jumaat adalah suatu perbuatan yang bertentangan dengan sunnah dan adab yang menuntut kita supaya diam dan meninggalkan segala perbuatan yang boleh menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat. Oleh itu, perbuatan ini sayugianya ditinggalkan kerana ianya mengakibatkan kerugian yang sangat besar, iaitu kehilangan pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat.

Perhimpunan Sembahyang Fardhu Jumaat itu bukannya lama, tidak ada kerugian apa-apa jika telefon bimbit ditutup seketika atau langsung tidak perlu di bawa ke dalam masjid. Tinggalkanlah buat seketika segala perkara dan urusan duniawi yang kurang penting apatah lagi yang sia-sia. Hadirkanlah hati dan seluruh anggota tubuh badan zahir dan batin, dan isikan seluruh jiwa raga dengan perisian rasa khusyu’, taat, taqwa dan penghambaan yang mutlak terhadap Allah Subhanahu wa Ta’aala untuk mendengarkan khutbah dan seterusnya mendirikan Sembahyang Fardhu Jumaat.

Sumber: Mufti Brunei
Di petik dari Blog Islamituindah

 

2 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Aurat Lelaki Yang Jarang Dibincangkan

Aurat lelaki seperti yang dinyatakan sebelum ini agak longgar kerana selain waktu bersendiri dan bersama isteri, aurat lelaki hanya antara pusat dan lutut sahaja. Maknanya kalau seseorang itu hendak melakukan solat, auratnya ialah cukup antara pusat dengan lutut, begitu juga kalau dia berada di khalayak ramai.

Berdasarkan itu, ramailah orang lelaki mengambil mudah dengan menyatakan harus kita berada dalam sesuatu majlis dengan hanya memakai seluar pendek sampai ke paras lutut. Sebab itulah barangkali kita sering melihat orang lelaki suka memakai seluar pendek ketika membasuh kereta di luar rumah.

Benar, jika mengikut hukum asal tidak salah memakai seluar pendek yang sampai ke paras lutut kerana itulah sahaja aurat bagi lelaki. Tetapi jangan lupa bahawa hukum itu perlu juga mengambil kira waktu berjalan dan duduk. Apakah ketika itu aurat lelaki tersebut masih terpelihara?

Bayangkan seorang lelaki yang hanya memakai kain sarung yang menutup pusatnya dan lutut. Solatnya sah kerana aurat bagi lelaki dalam solat ialah antara pusat dengan lutut. Tetapi bagaimana kalau dia rukuk, sujud, dan duduk antara dua sujud? Tidaklah lututnya ternampak? Sahkah solatnya ketika itu? Jawapannya ialah tidak sah.

Bagaimanapun pula kalau dia membasuh kereta dengan pakaian yang sama, sesekali dia akan tunduk juga. Adakah ketika itu tidak terbuka auratnya iaitu lutut? Kalaupun dia memakai seluar pendek yang labuh hingga ke paras lutut, waktu dia mencangkung akan ternampak lututnya. Tidak berdosakah dia ketika itu? Jawabnya tentu berdosa. Ya, kalau dalam solat tidak sah maka pada ketika waktu lain dia berdosa.

Bagi masyarakat kampung pula, mereka suka pakai kain pelakat yang digulung sampai ke paras lutut. Malah kadang-kadang ternampak pusatnya sewaktu terlondeh. Waktu berborak dengan kawan-kawan di serambi pasti tersingkap juga auratnya.

Bagaimana kalau dia melakukan solat dengan kain itu walaupun dilabuhkan di bawa lutut? Waktu rukuk dan sujud setidak-tidaknya akan ternampak pahanya oleh orang yang di belakangnya. Sahkah solatnya?

Begitu juga kalau si ayah memakai kain pelakat di dalam rumah bersama anak-anak, lalu pada waktu duduk terselak bahagian lututnya. Agaknya berdosa atau tidak ketika itu? Jawapannya sudah tentu berdosa kerana aurat ketika bersama mahram ialah antara pusat dengan lutut.

Kalau berdasarkan keterangan di atas adalah haram hukumnya, bagaimana keadaannya anak-anak muda yang suka memakai seluar pendek di dalam rumah, bersukan, main bola dan sebagainya? Seluar pendek yang dipakai mereka adalah di atas lutut, maka dalam keadaan itu dia bukan sahaja mendedahkan lututnya malah mendedahkan pahanya.

Nampaknya lelaki secara berleluasa mendedahkan aurat mereka tatkala bersukan. Apakah atas alasan bersukan aurat boleh didedahkan? Ya, kalau berhadapan dengan Allah sewaktu bersolat pun salah, betapa ketika berhadapan dengan orang ramai. Pada zaman ini, bukan sahaja orang yang dalam stadium yang melihatnya tetapi seluruh dunia melihatnya. Bayangkan berapa besar dosanya ketika itu.

Pakaian sukan tajaan Barat memang begitu. Hal ini kerana dalam teori sains, mereka yang memakai pakaian longgar dan menutup tubuh boleh melambatkan pergerakan. Tetapi teori itu ternyata tidak tepat apabila pelari pecut wanita Islam (dari Bahrain-kalau tak salah penulis) dapat mengalahkan pelari lain yang hanya sekadar memakai cawat dalam sukan bertaraf dunia baru-baru ini.

Selain itu, kalau benarlah teori itu, mengapa perlu pakaian itu diperkenalkan kepada pemain boling. Sukan itu tidak memerlukan pergerakan pantas.

Barat menipu kita dan kita hanya menurut sahaja tanpa mahu membantah. Kita akur dengan peraturan itu demi sukan padahal kita belum berani berbincang secara serius untuk mohon pengecualian bagi atlet Muslim.

Bayangkan sudah berapa lama umat Islam melakukan dosa mendedahkan aurat dalam bidang sukan. Jika dalam hal ini kita sudah berdosa dengan Allah, bagaimana usaha kita untuk membentuk perpaduan melalui sukan seperti yang sering diuar-uarkan. Mahukah Allah merestuinya?

Pada pandangan penulis, cara berpakaian dalam sukan itulah yang menjadi sebab mengapa kurang penyertaan orang Islam dalam sukan. Sebenarnya mereka masih berminat untuk bersukan tetapi mereka tiada pilihan untuk bersukan. Akhirnya sukan dikuasai oleh orang bukan Islam.

Dalam hal ini, alangkah baiknya bagi Negara Malaysia menjadi model menganjurkan sukan yang mempunyai konsep pakaian sukan Islam. Jika mereka berjaya, pasti dunia akan melihat dan lambat laun mereka akan mencontohinya.

– Artikel iluvislam.com

Ustaz Ahmad Baei Jaafar

2 October 2015 Posted by | Ibadah | Leave a comment

Lafaz Takbir Dua Hari Raya

image

23 September 2015 Posted by | Informasi | Leave a comment

Dua Ancaman Melengahkan Taubat

MANUSIA dilahirkan dalam keadaan fitrah tetapi kerana perbuatannya sendiri yang berlawanan dengan acuan ajaran Islam atau perintah Allah, maka terpalit dosa.

Kita sebagai manusia biasa harus menerima hakikat kita tidak pernah terlepas daripada kesalahan serta kekhilafan yang dipengaruhi oleh suasana lingkungan, bisikan syaitan dan kehendak nafsu. Disebabkan itu, apabila melakukan kesalahan, kita perlu segera bertaubat.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Setiap Bani Adam itu bersalah dan berdosa, dan sebaik-baik orang yang bersalah ialah mereka yang bertaubat.”

Bagi hati yang dipenuhi keinsafan, sudah tentu tidak mahu berterusan berada dalam dosa, sepanjang waktu berusaha mencari jalan membersihkan diri dengan bertaubat supaya dapat beralih daripada kegelapan kepada cahaya hidayah.

Bertaubat adalah suruhan Allah dan amalan rutin Rasulullah SAW yang wajib dilaksanakan segera tanpa berlengah. Malangnya suruhan ini dipandang sepi dengan alasan ‘masa masih panjang lagi.’

Alasan itu sangat dangkal dan jahil kerana taubat bukan khusus untuk golongan tua kerana kematian tidak mengira usia. Persoalannya apakah kita boleh hidup sampai tua? Kita sedia maklum orang yang sengaja melambat-lambatkan memohon ampun dan bertaubat akan berdepan dua bahaya besar.

Pertama, hatinya penuh dengan karat akibat perbuatan maksiat atau keingkaran dilakukan tanpa henti kepada Allah sehingga menjadi sangat susah untuk mengikis dan menghapuskannya.

Kedua, maut atau penyakit datang sebelum sempat ia membersihkan karat di hati, ia menemui Allah SWT dalam keadaan hatinya penuh kekotoran dosa dan pasti menyeretnya kepada suasana hidup tidak selamat di akhirat nanti.

Oleh itu, apabila menyedari telah melakukan dosa, maka segeralah minta ampun daripada Allah SWT dengan bertaubat. Orang yang bertaubat atas dasar kerelaan, keinsafan, ikhlas hati dan bersungguh-sungguh hendaklah yakin Allah SWT pasti menerima taubatnya.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Barang siapa yang bertaubat sesudah melakukan kejahatan, memilih jalan lurus, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya dan Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Surah AI-Maidah, ayat 39)

Ni’mat Shidqi dalam bukunya Pembalasan: Syurga atau Neraka berkata, ayat 82 surah Toha meletakkan syarat mengenai taubat iaitu memilih jalan yang benar, mengerjakan amalan soleh untuk menebus kesalahan lalu, meninggalkan kejahatan dan menukar sikap dari buruk kepada baik.

Sebelum penyesalan menjadi tidak berguna dan tangisan menjadi sia-sia, kita hendaklah bersikap positif iaitu segera bertaubat dan terus giat melakukan kebaikan secara berterusan.

Sumber: IslamItuIndah.My

23 September 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

HANG TUAH IS NOT CHINESE

[ENGLISH TRANSLATED AND EDITED ARTICLE] HANG TUAH IS NOT CHINESE

Whenever we speak about Hang Tuah, many history blind fools will claim that this famous Malay warrior is Chinese. In fact, they brought up points and information to “further prove” that Hang Tuah is Chinese. Thus, we write this article to rebut these ridiculous points and give you REAL facts about Hang Tuah.

1) Question/points: ‘Hang’ is not a common name used by the Malays. Only Hang Tuah and the five brothers are known in local history to be the only people to use the name ‘Hang’. The Malays don’t have any family name or surname. So, Hang Tuah’s real name is Hang Too Ah, Hang Jebat’s real name is Hang Jee Fat/Hang Jew Fat, Hang Lekir’s real name is Hang Liew Kier and Hang Lekiu’s real name is Hang Lee Kiew. So this proves that ‘Hang’ is a Chinese family name/surname.

Answer: Whoever wrote this, or agreed to whatever this guy just said, I don’t think you have ever mixed or socialised with any Malay people. Here, let me teach you something that you don’t know about names in the Malay culture.
In some states, there are many Malays who share the same first name.

In Kelantan, it is common for the Malays to have the name ‘Nik’ or ‘Wan’ as their first name. ‘Daeng’ on the other hand is a common first name used by the Malay Bugis. ‘Raden’ is a common first name used by the Javanese. ‘Meor’ is a common first name used by the Malays in Perak. While the Malays who have mixed Malay-Arab or descendants of the Prophet’s (pbuh) family would commonly use ‘Sharif’ or ‘Sayyid/Syed’ as the first name for a boy and ‘Syarifah’ for girls.

Back to the ridiculous claim that ‘Hang’ is a Chinese surname and is not used by the Malays, let me give you this trick question: Alright the claim twisted Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekir and Hang Lekiu’s name, but what about Hang Kasturi? When we ask them this question, they suddenly shut their mouths. Why? What’s the matter? You can’t find or make up words to change Hang Kasturi’s name into a Chinese name?

The truth is, these people who make claims that Hang Tuah and the five brothers are Chinese have literally never read any history books. These names are purely of Malay origin and not Chinese. ‘Tuah’ means ‘Luck’ , ‘Jebat’ means ‘Body odour/Body smell’ , ‘Kasturi’ is known to many as ‘perfume’ , ‘Lekir’ is a type of ‘ubi’, while ‘Lekiu’ is from the old classic Malay language which literally means ‘sticky’.

These blind history fools, would try to further prove Hang Tuah is Chinese by claiming that Hang Tuah came to Malacca from China with Hang Li Po’s envoy. The truth is, the story and origin of Hang Tuah dates back older than the event of Hang Li Po’s arrival to Malacca.

Other than that, some Malay families use the same first name as a family surname. For example, the most common names used as first names in the Malay society is ‘Tun’, ‘Wan’ , ‘Nik’, ‘Long’, ‘Che’ and many more.

Back to the claim that ‘Hang’ is a Chinese family surname and not used in Malay society, the Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu/The Malay Annals) says otherwise:

“Adapun ‘Perhangan’ ke bawah duli Sultan Mansur Syah yang setelah sudah pilihan delapan orang, iaitu Hang Jebat, dan Hang Kasturi, dan Hang Iskandar, dan Hang Hassan, Hang Hussin; dan tua-tuanya Tun Bija Sura, menjadi Sembilan dengan Hang Tuah.

Sekaliannya berkasih-kasihan, muafakat, sama berilmu, tetapi kepada barang main tewas semuanya oleh Hang Tuah. Demikianlah diceritakan oleh yang empunya ceritera”.
-Sulalatus Salatin versi A.Samad Ahmad dan Shellbear.

With the sentence given above, it is proven that ‘Hang’ was a common and classical name used during the era of the Sultanate of Malacca.

It is known to us that Hang Tuah and the five brothers were highly ranked warriors who were given the duty to protect Malacca and were often called to the palace. Sultan Mansur Syah had given the name ‘Hang’ to the 9 individuals including Hang Tuah.

Besides these 9 individuals, there were many other famous warriors and ministers during that era who used the name ‘Hang’ such as Hang Ali, Hang Iskandar, Hang Hassan and Hang Husin. In fact, after the fall of the Sultanate of Malacca, the name ‘Hang’ was used by a famous warrior; he was none other than Laksamana Hang Nadim.

The claim of Hang Tuah’s real name as ‘Hang Too Ah’ is ridiculous. We have given you proof straight from Sulalatus Salatin which is our main source to rebut this claim.

2) Question/point: There are no records proving that Hang Tuah existed before the arrival of Hang Li Po. This proves that Hang Tuah came with Hang Li Po’s envoy.

Answer: Seriously? Do you really think so? Have you ever heard of Hikayat
Hang Tuah? Sulalatus Salatin? Ever heard of the story of the young Hang Tuah saving the Bendahara from an ‘amok’ mob? No? What about the story of young Hang Tuah and his friends who fought pirates that were chasing after them?

The story of Hang Tuah saving the Bendahara Tun Perak from the ‘amok’ mob and the story of how the Bendahara brought Hang Tuah and the five brothers to face the Sultan is older than the arrival of Hang Li Po. This further proves the existence of Hang Tuah even before the arrival of Hang Li Po.

3) Question/point: Okay, you got me. But explain to me: How did Princess Hang Li Po get ‘Hang’ in her first name?

Answer: Oh it’s simple. The name ‘Hang’ was bestowed on the princess by the Sultan of Malacca. Also fun fact! The Princess’s surname is Li (Lee). ‘Li’ is common and respected surname used by Chinese families. So won’t it be awkward if people claim that ‘Hang’ is a surname as well? I mean think about it! How could someone have 2 different surnames at once? You can’t use both ‘Hang’ and ‘Li’ at the same time on one person.

4) Question/point: Okay! Okay! So Hang Tuah isn’t Chinese. Now prove to me that he’s real!

Answer: Hang Tuah’s name has been mentioned in as many as 7 Chapters in the Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu/ The Malay Annals). If Hang Tuah is indeed a legend, then why would the writer write 7 Chapters about Hang Tuah’s history?

Hikayat Hang Tuah has been recognized as a UNESCO World Heritage in terms of literature. If you deny the existence of Hang Tuah, it is just the same as denying the existence of Malacca. This is because the main source which tells the history of Hang Tuah is Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu/ The Malay Annals). In fact, the name Hang Tuah has been mentioned as many as 170 times in the texts of Sejarah Melayu.

Other than that, ever heard of the Keris ‘Taming Sari’? This keris was the same keris that Hang Tuah took as trophy after fighting a Majapahit warrior. If Hang Tuah didn’t exist, how did the keris get into the hands of the Sultanate of Perak?

Extra info by translator: There is actually a whole book discussing about Hang Tuah and the misunderstanding of his history. This article is pretty much a “skim through”. You can read up ‘Membongkar Rahsia Dunia Melayu’ by Srikandi and Al-Semantani Ibnu Rusydi (pg 192-207) to understand and read up more about the misunderstanding of Hang Tuah’s name and history. Other than that, I just want to apologise if I have any grammatical mistakes in this article. If I do, I will quickly fix it.

Original article written by: -HE- , Srikandi, and Al-Semantani Ibnu Rusydi.
Translated and edited by: -OF-

Sources:
1) Membongkar Rahsia Dunia Melayu (pg 192 -207) by Srikandi, Al-Semantani Ibnu Rusydi
2) Hikayat Hang Tuah
3) Mohd Yusoff Hashim (2008) “Hang Tuah Wira Melayu”, Institut Kajian Sejarah dan Patriotisme Malaysia.
4) Sulalatus Salatin versi A.Samad Ahmad dan Shellbear
5) Concept of a Hero in Malay Society by Shaharuddin Maaruf

The picture given is not mine and does not belong to any of the admins of the Patriots. The picture is purely used for decoration. You can find the original artist in the link below.

Credit to artist: http://zamzami.deviantart.com/

22 September 2015 Posted by | Informasi | Leave a comment

Tabiat Wanita yg menjurus ke Neraka

image

Sebagai peringatan untuk para wanita dipaparkan suatu peristiwa di suatu Eid, di mana seorang wakil telah dilantik dari kaum wanita untuk bertemu dengan Rasulullah SAW untuk meminta baginda SAW memberi ucapan khusus untuk kaum wanita.

Baginda bersetuju dan menyuruh mereka berkumpul di Baabun Nisaa’.

Setelah kaum wanita berkumpul, Bilal pergi memanggil Rasulullah SAW. Baginda pun pergi ke sana , dan memberi salam dan memberi tazkirah seperti berikut:

“Assalamu’alaikum, wahai kumpulan/kaum wanita. Wahai kaum wanita, Aku lihat kamu ini lebih banyak di neraka”.

Seorang wanita lalu bangun bertanya, “Apakah yang menyebabkan yang demikian? Adakah sebab kami ini kufur?’
Rasulullah SAW menjawab, “Tidak. Bukan begitu. Tetapi ada dua tabiat kamu yang tidak elok yang boleh menjerumuskan kamu ke dalam neraka:

1.Kamu banyak mengutuk/menyumpah.
2.Kamu suka kufurkan ( nafikan) kebaikan suami

Kemudian baginda SAW mengingatkan kumpulan wanita supaya:
Banyak beristighfar dan bersedekah

Keterangan:
Yang dimaksudkan dengan mengutuk/menyumpah ialah seperti contoh di bawah:

Contoh 1 – Katakan kita lama menunggu bas. Tetapi bas masih tak kunjung tiba, akibat geram dan marah kita mungkin berkata, “Driver bas ni dah mampus agaknya.” Perkataan mampus itu termasuk dalam erti kata menyumpah. Lisan wanita memang terlalu cepat menyumpah. Kadang-kadang pakaian, perkakas rumah, hatta suami pun kena sumpah.

Contoh 2 – Tengah memasak gas habis. Kita mungkin berkata “Celaka punya gas. Masa ni jugak nak habis.” Yang dimaksudkan kufur di sini bukan kufur I’tiqad tetapi bererti tidak mengiktiraf Kebaikan di sini bermaksud tanggungjawab yang telah ditunaikan oleh suami.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah pernah ditanya oleh seorang suami yang kurang faham apa yang dimaksudkan dengan ‘kufurkan kebaikan suami’.

Rasulullah SAW berkata,”Tidakkah pernah engkau jumpa, seorang isteri, jika seumur hidup engkau, engkau berbuat baik kepadanya, tetapi di suatu ketika, disebabkan dia tidak mendapat sesuatu yang dia kehendaki, maka dia akan berkata ,”Awak ini, saya tak nampak satu pun kebaikan awak”

(Dalam masyarakat kita kata-kata di atas mungkin boleh dikaitkan dengan perkataan seperti berikut:
”Selama hidup dengan awak, apa yang saya dapat?”.Tak guna sesen pun’).

Rasulullah SAW sambung lagi ,
’Mana-mana isteri yang berkata, “Awak ini, saya tak nampak satu pun kebaikan awak”, maka akan gugur pahala-pahala amalannya.’

Saranan Rasulullah SAW yang seterusnya ialah menyuruh kaum wanita banyak beristighfar dan bersedekah, kerana ia dapat menyelamatkan kita dari dua perkara yang boleh menjerumuskan kita ke dalam api neraka seperti yang disebutkan tadi.

Sumber: Islam itu Indah

22 September 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

WALI SONGO UTUSAN KHALIFAH

image

Boleh dikatakan tak akan ada Islam di Indonesia tanpa peranan khilafah.

Orang sering mengatakan bahwa Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa disebarkan oleh Walisongo. Tapi tak banyak orang tahu, siapa sebenarnya Walisongo itu? Dari mana mereka berasal? Tidak mungkin to mereka tiba-tiba ada, seolah turun dari langit?

Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.

Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 6 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang.

Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.

Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem).
Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak khilafah. Itu sama artinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para ulama yang diutus oleh para khalifah.

Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1H), jauh sebelum penjajah datang. Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku (Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di Kalimantan.
Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu.

Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik dalam kesultanan-kesultanan tersebut.

PERIODE DAKWAH WALI SONGO
Kita sudah mengetahui bahwa mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.

Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati).

Mulai tahun 1463M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang); dan Raden Qasim Dua (Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit.
Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu.

Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard Lewis menyebutkan bahwa pada tahun 1563M, penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka.

Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung.
Namun, sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis.

Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki.
Hubungan ini nampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan diantaranya Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu. Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M ) dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M, sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah.
Hasil misi ke Mekah ini sangat sukses, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten sejak awal memang meganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari Syarif mekah.

Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajari cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922).
Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.

Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang Turki beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. Tahun 1567, Sultan Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatera, meski armada itu lalu dialihkan ke Yaman. Bahkan Snouck Hourgroye menyatakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.” Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki.

Di istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili yang pada halaman depannya tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam”. Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki.

Pada masa itu, yang disebut-sebut Sultan Turki tidak lain adalah Khalifah, pemimpin Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu, Snouck Hurgrounye sebagaimana dikutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah air, melihat stambol (Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah) masih senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang mukmin yang kekuasaannya mungkin agaknya untuk sementara berkurang oleh adanya kekuasaan orang-orang kafir, tetapi masih dan tetap [dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia. Mereka juga berpikir bahwa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani.

Dengan demikian, keterkaitan Nusantara sebagai bagian dari Khilafah, baik saat Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah.

Dengan mengacu pada format sistem kehilafahan saat itu, Syarif Mekkah adalah Gubernur (wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi, wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata penganugerahan gelar melainkan pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan artinya penguasa. Karenanya, penganugerahan gelar sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam.

Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah Utsmaniyah di Turki.

KESIMPULAN
Jumlah dai yang diutus ini tidak hanya sembilan (Songo). Bahkan ada 6 angkatan yang dikirimkan, masing-masing jumlanya sekitar sembilan orang. (Versi lain mengatakan 7 bahkan 10 angkatan karena dilanjutkan oleh anak / keturunannya)

Para Wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki. Beliau ini ahli politik & irigasi, wafat di Gresik.

– Maulana Malik Ibrahim ini menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.
– Seangkatan dengan beliau ada 2 wali dari Palestina yg berdakwah di Banten; salah satunya Maulana Hasanudin, beliau kakek Sultan Ageng Tirtayasa.
– Juga Sultan Aliyudin, beliau dari Palestina dan tinggal di Banten. Jadi masyarakat Banten punya hubungan darah & ideologi dg Palestina.
– Juga Syaikh Ja’far Shadiq & Syarif Hidayatullah; dikenal disini sebagai Sunan Kudus & Sunan Gunung Jati; mereka berdua dari Palestina.
– Maka jangan heran, Sunan Kudus mendirikan Kota dengan nama Kudus, mengambil nama Al-Quds (Jerusalem) & Masjid al-Aqsha di dalamnya.
(Sumber Muhammad Jazir, seorang budayawan & sejarawan Jawa , Pak Muhammad Jazir ini juga penasehat Sultan Hamengkubuwono X).
Adapun menurut Berita yang tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi.
Sultan Muhammad I itu membentuk tim beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa dimulai pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki.
Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.
Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina
8. Maulana ‘Aliyuddin, asal Palestina
9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.
Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Syamsul Arifin, berbagai sumber

SELAMATKAN GENERASI MUSLIM DARI PEMBODOHAN DAN KEBOHONGAN SEJARAH !!!

Awal Masuk Islam di Indonesia
Sebelum kita mengenal beberapa teori tentang penyebaran Islam di Nusantara, perlu di perhatikan bahwa Politik Luar Negeri Negara Khilafah terdiri dari dua; Da’wah dan Jihad.

Awalnya negeri yang di targetkan akan di beri da’wah, ketika menerima maka tidak ada perang di sana. Namun, ketika menolak, maka akan terjadi Jihad dan Futuhat (Pembebasan). Dua hal ini adalah politik Luar Negeri, dimana di setiap perkembangan akan di sampaikan kepada Khalifah.
Itu pula yang terjadi di Indonesia. Jika penyebaran Islam di lakukan oleh pedagang semata, bukan Da’i atau utusan, maka apakah akan ada laporan kepada Khalifah? Lalu, apakah penyebaran lewat jalur perdagangan merupakan Politik Luar Negeri? Apakah penyebaran Islam dengan jalur perdagangan hanya propaganda untuk menutupi bahwa Nusantara pernah menjadi fokus Da’wah Islam dan menjadi bagian dari Khilafah?

Dari teori Islamisasi oleh Arab dan China, Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam Indonesia, mengaitkan dua teori Islamisasi tersebut. Islam datang ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Penyebarannya pun bukan dilakukan oleh para pedagang dari Persia atau India, melainkan dari Arab. Sumber versi ini banyak ditemukan dalam literatur-literatur China yang terkenal, seperti buku sejarah tentang China yang berjudul Chiu Thang Shu.

Menurut buku ini, orang-orang Ta Shih, sebutan bagi orang-orang Arab, pernah mengadakan kunjungan diplomatik ke China pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama menerima delegasi dari Tan Mi Mo Ni’, sebutan untuk Amirul Mukminin. Selanjutnya, buku itu menyebutkan, bahwa delegasi Tan Mi Mo Ni’ itu merupakan utusan yang dikirim oleh khalifah yang ketiga. Ini berarti bahwa Amirul Mukminin yang dimaksud adalah Khalifah Utsman bin Affan.

Pada masa berikutnya, delegasi-delegasi muslim yang dikirim ke China semakin bertambah. Pada masa Khilafah Umayyah saja, terdapat sebanyak 17 delegasi yang datang ke China. Kemudian pada masa Dinasti Abbasiyah, ada sekitar 18 delegasi yang pernah dikirim ke China.

Bahkan pada pertengahan abad ke-7 Masehi, sudah terdapat perkampungan-perkampungan muslim di daerah Kanton dan Kanfu. Sumber tentang versi ini juga dapat diperoleh dari catatan-catatan para peziarah Budha-China yang sedang berkunjung ke India. Mereka biasanya menumpang kapal orang-orang Arab yang kerap melakukan kunjungan ke China sejak abad ketujuh. Tentu saja, untuk sampai ke daerah tujuan, kapal-kapal itu melewati jalur pelayaran Nusantara.
Beberapa catatan lain menyebutkan, delegasi-delegasi yang dikirim China itu sempat mengunjungi Zabaj atau Sribuza, sebutan lain dari Sriwijaya. Mereka umumnya mengenal kebudayaan Budha Sriwijaya yang sangat dikenal pada masa itu. Kunjungan ini dikisahkan oleh Ibnu Abd al-Rabbih, ia menyebutkan bahwa sejak tahun 100 hijriah atau 718 Masehi, sudah terjalin hubungan diplomatik yang cukup baik antara Raja Sriwijaya, Sri Indravarman dengan Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz.

Lebih jauh, dalam literatur China itu disebutkan bahwa perjalanan para delegasi itu tidak hanya terbatas di Sumatera saja, tetapi sampai pula ke daerah-daerah di Pulau Jawa. Pada tahun 674-675 Masehi, orang-orang Ta Shi (Arab) yang dikirim ke China itu meneruskan perjalanan ke Pulau Jawa. Menurut sumber ini, mereka berkunjung untuk mengadakan pengamatan terhadap Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga, yang terkenal sangat adil itu.

Pada periode berikutnya, proses Islamisasi di Jawa dilanjutkan oleh Wali Songo. Mereka adalah para muballig yang paling berjasa dalam mengislamkan masyarakat Jawa. Dalam Babad Tanah Djawi disebutkan, para Wali Songo itu masing-masing memiliki tugas untuk menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Jawa melalui tiga wilayah penting. Wilayah pertama adalah, Surabaya, Gresik, dan Lamongan di Jawa Timur.

Wilayah kedua adalah, Demak, Kudus, dan Muria di Jawa Tengah. Dan wilayah ketiga adalah, Cirebon di Jawa Barat. Dalam berdakwah, para Wali Songo itu menggunakan jalur-jalur tradisi yang sudah dikenal oleh orang-orang Indonesia kuno. Yakni melekatkan nilai-nilai Islam pada praktik dan kebiasaan tradisi setempat. Dengan demikian, tampak bahwa ajaran Islam sangat luwes, mudah dan memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa.

Selain berdakwah dengan tradisi, para Wali Songo itu juga mendirikan pesantren-pesantren, yang digunakan sebagai tempat untuk menelaah ajaran-ajaran Islam, sekaligus sebagai tempat pengaderan para santri. Pesantren Ampel Denta dan Giri Kedanton, adalah dua lembaga pendidikan yang paling penting di masa itu. Bahkan dalam pesantren Giri di Gresik, Jawa Timur itu, Sunan Giri telah berhasil mendidik ribuan santri yang kemudian dikirim ke beberapa daerah di Nusa Tenggara dan wilayah Indonesia Timur lainnya.
Penjajah Belanda Menghapuskan Jejak Khilafah

Pada masa penjajahan, Belanda berupaya menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekular melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama.

Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara.

Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial.

Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.

Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye.
Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar.
Demikianlah, syariah Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekular. Hukum-hukum sekular ini terus berlangsung hingga sekarang. Walhasil, tidak salah jika dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari penjajah; sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda

21 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Mahir Ilmu Hadith Semata-mata Tidak Cukup Untuk Berfatwa!

Oleh Raja Ahmad Mukhlis.

Keinginan umat Islam kini untuk kembali kepada Islam merupakan suatu khabar gembira buat kita. Ia sesuatu yang jelas berlaku di setiap tempat walaupun kebanyakan daripada mereka mendapat tentangan yang hebat.

Kebangkitan Islam dapat dilihat dari pelbagai sudut, terutamanya dalam sudut pengurusan negara Islam, harta, penubuhan syarikat-syarikat Islam, pertubuhan-pertubuhan Islam, penerbitan buku-buku yang membincangkan tentang pengharaman sistem riba dan sebagainya, di kebanyakkan tempat (terutamanya di negara-negara Islam).

Suatu khabar gembira yang lebih bernilai ialah, kebangkitan Islam dari sudut ilmiah; iaitu perbincangan mengenai “Seruan untuk kembali kepada sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam”. Begitu banyak sekali buku-buku yang diterbitkan mengenai hadith-hadith Rasulullah yang terkenal mahu pun yang tidak terkenal. Kebanyakan daripada buku-buku tersebut, tidak disyarah dan diperjelaskan oleh para ulama fiqh, secara terperinci mengenainya.

Oleh yang demikian hal ini menyebabkan sebahagian pembaca yang tidak mempunyai bekalan ilmu fiqh yang mantap, atau pun yang tidak belajar dari mana-mana ulama terlebih dahulu, akan terkeliru dan seterusnya pemahamannya akan bercanggah dengan maksud sebenar hadith-hadith yang dibacanya itu.

Kemungkinan besar juga si pembaca tersebut akan terdorong untuk mengamalkan seluruh hadith-hadith yang dinilai sebagai sahih oleh segolongan ahli hadith (tanpa menilai adakah ia digunakan atau pun tidak oleh para ulama).

Kemungkinan juga si pembaca yang cetek ilmu tersebut akan berkata kepada dirinya: “Kami beramal dengan hadith ini untuk satu ketika, dan satu ketika yang lain, ditinggalkan hadith ini (tidak beramal dengan hadith tersebut)”. Si pembaca yang kurang ilmunya itu tidak bertanya terlebih dahulu kepada ulama-ulama yang khusus dalam bidang syariah yang masih hidup, mahu pun membaca ulasan-ulasan pada buku-buku karangan para ulama muktabar yang telah tiada, mengenai hadith-hadith yang dibacanya seperti Fathul Bari karangan Imam Ibn Hajar al-Asqalani, Syar Sahih Muslim oleh Imam an-Nawawi dan sebagainya.

Dia juga tidak mempelajari tentang ilmu al-Arjah (hadith-hadith yang paling kuat untuk digunakan dalam berhujah pada masalah syariat), tidak mengetahui yang mana hadith yang diriwayatkan terlebih dahulu dan yang mana yang diriwayatkan kemudian, yang mana hadith yang khusus dan yang mana hadith yang diriwayatkan khas untuk keadaaan tertentu; yang mana ilmu-ilmu tersebut amat penting dalam memahami dan mengkaji maksud sebenar sesuatu hadith.

Ada kalanya para pembaca buku-buku hadith yang masih kurang ilmunya, apabila telah jelas sesuatu hadith, dia menyangka bahawa Rasulullah kadang-kadang terlupa apa yang pernah Baginda sabdakan, kemudian menukar perkataan Baginda yang berlainan dengan kata-kata Baginda sebelum itu; walaupun pada hakikatnya Baginda seorang yang ma’shum (tidak berdosa dan melakukan kesalahan). Allah juga pernah berfirman: “Kami akan bacakan (beri wahyu) kepadamu (Hai Muhammad), maka janganlah Kamu melupainya”.

Maka para penuntut ilmu yang ingin mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah melalui hadith-hadith Baginda yang diriwayatkan oleh para ulama hadith dalam kitab-kitabnya, perlu juga merujuk kepada kitab-kitab fiqh yang dikarang oleh ulama-ulama fiqh. Ini kerana di dalamnya terdapat adunan-adunan daripada hadith-hadith Rasulullah dalam bentuk praktikal yang dikenali sebagai ilmu fiqh.

Seperti yang dapat dilihat dari kaca mata sejarah, sebahagian ulama-ulama hadith yang agung di zaman salaf, amat menghormati dan memuliakan para ulama fiqh yang turut mahir dalam bidang hadith; yang Allah pelihara mereka daripada bercanggah dengan hadith Nabi. Bahkan, mereka turut mempelajari makna-makna hadith yang mereka riwayatkan daripada ulama-ulama fiqh yang muktabar.

Abdullah bin Mubarak (seorang ulama hadith dari Khurasan) pernah berkata:

Jika Allah tidak membantu saya dengan perantaraan Abu Hanifah dan Sufian (dua ulama’ fiqh), nescaya aku sama sahaja seperti orang awam (yang tidak memahami hadith-hadith Nabi (sallallahu ‘alaihi wasallam). [1]

Sufian bin ‘Uyainah pula pernah berkata:

Orang yang pertama membantu saya dalam memahami hadith dan menjadikan saya seorang ahli hadith ialah Imam Abu Hanifah (seorang ulama’ fiqh). [2]

Abdullah bin Wahab (seorang ahli hadith juga sahabat Imam Malik) pernah berkata:

Saya telah berjumpa dengan 360 orang ulama; (bagi saya) tanpa Imam Malik dan Imam Laith (ulama-ulama fiqh), nescaya saya akan sesat dalam ilmu. [3]

Beliau juga diriwayatkan pernah berkata:

Kami mengikuti empat orang ini dalam ilmu, dua di Mesir dan dua orang lagi di Madinah. Imam al-Laith bin Sa’ad dan Amr bin al-Harith di Mesir, dan dua orang lagi di Madinah ialah Imam Malik dan al-Majishun. Jika tidak kerana mereka, nescaya kami akan sesat.

Imam al-Kauthari berkata di dalam kitab al-Intiqa’ karangan Ibn Abdil Bar, telah berkata Abdullah bin Wahab (dari sanad Ibn ‘Asakir):

Jika tiada Imam Malik bin Anas dan Imam al-Laith Sa’ad, nescaya saya akan binasa. Dahulu saya menyangka setiap yang datang dari Rasulullah (iaitu as-sunnah dan al-hadith), perlu diamalkan.

Maksud kesesatan dalam perkataan beliau ialah: percanggahan dengan maksud hadith Nabi. Kemudian Imam al-Kauthari mengulas:

Kesesatan yang dimaksudkan seperti mana berlaku pada kebanyakan manusia yang jauh dari ilmu fiqh dan tidak dapat membezakan tentang hadith yang diamalkan dan selainnya. [4]

al-Qodhi ‘Iyadh pula meriwayatkan bahawa Ibn Wahab juga pernah berkata:

“Andai Allah tidak menyelamatkan saya dari kesesatan melalui Imam Malik dan al-Laith, nescaya saya akan sesat.”

Beliau ditanya: “Mengapa begitu?”

Beliau menjawab: “Saya telah menghafal banyak hadith-hadith Nabi, sehingga timbul pelbagai persoalan. Kemudian saya pergi ke Imam Malik dan al-Laith untuk bertanya mengenainya. Maka mereka berkata kepada saya: Hadith ini kamu amalkan dan ambil ia sebagai hujah dan hadith yang ini pula kamu tinggalkan (tidak perlu menggunakannya)“. [5]

Sufian bin ‘Uyainah pernah berkata:

Hadith itu menyesatkan kecuali kepada al-Fuqoha’ (ulama Fiqh). Kadang-kala suatu hadith itu tidak boleh dipegang secara zahir sahaja, malah ada ta’wilannya. Kadang-kala, sesuatu hadith itu pula ada maksud yang tersembunyi. Ada juga hadith yang perlu ditinggalkan dengan sebab-sebab tertentu, yang mana, semua itu hanya diketahui oleh orang yang mahir dan berilmu luas khususnya dalam fiqh (kefahaman). [6]

Ibn Rusyd pernah ditanya tentang kata-kata: “Hadith itu menyesatkan kecuali bagi ahli Fiqh”. Beliau ditanya lagi: “Bukankah seorang ahli Fiqh itu juga perlu tahu mengenai hadith terlebih dahulu?” 

Beliau menjawab:

Kata-kata itu bukanlah dari Rasulullah, ia merupakan kata-kata Ibn ‘Uyainah dan ahli-ahli fiqh yang lain. Maksud kata-kata itu tepat, kerana kadang-kala sesuatu hadith itu diriwayatkan dalam sesuatu keadaaan yang khusus, tetapi maknanya umum, begitu juga sebaliknya. Ada juga hadith yang nasikh dan hadith yang mansukh (tidak digunakan lagi).

Kadang-kala pula ada hadith yang secara zahirnya seolah-olah menyerupakan Allah dengan makhluk (tasybih). Ada juga hadith yang maksudnya hanya diketahui oleh para ahli fiqh sahaja. Barang siapa yang hanya mengumpul hadith tetapi tidak memahaminya, maka dia tidak dapat membezakan di antara hadith-hadith yang membawa maksud umum dan khusus.

Oleh kerana itu ahli fiqh bukanlah orang yang sekadar mengetahui tentang hadith-hadith Nabi sahaja, bahkan memahaminya secara mendalam. Jika seseorang itu tidak mampu memahami secara mendalam dalam masalah hadith mahu pun fiqh, maka dia bukanlah seorang ahli fiqh (faqih), walaupun dia mengumpul banyak hadith-hadith Nabi.

Inilah sebenarnya maksud kata-kata Sufian bin ‘Uyainah. [7]

Abdullah bin Mubarak pernah berkata mengenai fiqh Imam Abu Hanifah:

Jangan kamu katakan fiqh ini (mazhab Imam Abu Hanifah) merupakan pendapat beliau, tetapi katakanlah, ia (mazhab Abu Hanifah) merupakan tafsiran bagi hadith Nabisallallahu ‘alaihi wasallam. [8]

Sebahagian orang hanya membaca matan-matan hadith Nabi sahaja, tanpa menghiraukan ulasan-ulasan para ahli fiqh yang bergiat secara khusus dalam mengkaji hadith-hadith tersebut. Mereka berfatwa dan mengemukakan hadith-hadith yang diragui kesahihannya di sisi imam-imam terdahulu yang alim, dalam masalah hukum dan percakapan mereka.

Kadang-kala mereka turut menolak ulasan-ulasan para ulama yang alim, mengenai kedudukan sesebuah hadith Nabi dan bersangka-buruk pula kepada mereka. Ada di kalangan mereka pula, yang melemparkan tohmahan ke atas para ulama muktabar tersebut serta pengikut-pengikut mereka dan mengatakan bahawa mereka (iaitu ulama-ulama terdahulu dan para pengikutnya) jahil tentang hadith Nabi. Alangkah buruknya tohmahan mereka itu!

Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata (seperti yang diriwayatkan oleh anaknya Soleh):

Seseorang yang ingin memberi fatwa perlulah terlebih dahulu memahami keseluruhan al-Qur’an, mengetahui sanad-sanad hadith Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan mengetahui sunnah-sunnah. [9]

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata:

Saya pernah bertanya kepada ayah saya (Ahmad bin Hanbal), tentang seorang pemuda yang memiliki banyak kitab-kitab mengenai hadith Nabi dan himpunan kata-kata para sahabat dan para tabi’in, tetapi tidak mengetahui tentang kedudukan sesuatu hadith tersebut sama ada sahih atau sebaliknya, adakah dia boleh beramal sesuka hatinya?

Atau pun adakah dia layak memilih hadith mana yang dia mahu gunakan, dan memberi fatwa atau beramal dengannya?

Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “Tidak! Sehinggalah dia bertanya kepada ulama mengenai hadith mana yang boleh digunakan. Kemudian barulah dia boleh beramal dengannya (hadith yang disahkan kesahihannya oleh ulama yang ditanya mengenainya).” [10]

Imam as-Syafi’e pernah menegaskan:

Seseorang tidak boleh memberi fatwa dalam agama Allah kecuali dia mengetahui keseluruhan al-Qur’an dan ilmu-ilmunya seperti nasikh dan mansukh, ayat muhkamdan mutasyabihta’wil dan tanzil, ayat makkiyah atau madaniyyah.

Dia juga perlu mengetahui tentang hadith-hadith Nabi berserta ilmu-ilmunya (‘ulumul hadith) seperti nasikh dan mansukh, dan lain-lain.

Setelah itu dia juga perlu menguasai bahasa Arab, sya’ir-sya’ir Arab, dan sastera-sasteranya (kerana al-Qur’an dan hadith adalah di dalam bahasa Arab dan mengandungi elemen sastera).

Setelah itu dia juga perlu mengetahui perbezaan bahasa Arab di kalangan setiap ahli masyarakat Arab. Jika dia sudah menguasai keseluruhan perkara-perkara tersebut, barulah dia layak memberi fatwa mengenai halal dan haram. Jika tidak, dia tidak layak berfatwa. [11]

Khalaf bin Umar telah berkata:

Saya mendengar Malik bin Anas berkata: “Saya tidak pernah duduk untuk memberi fatwa sehinggalah saya bertanya terlebih dahulu kepada orang yang lebih alim dari saya tentang kelayakan saya untuk berfatwa.

Saya pernah bertanya terlebih dahulu kepada Rabi’ah dan Yahya bin Sa’id, sedangkan mereka menyuruh saya untuk berfatwa. Maka, saya menegaskan: “Wahai Aba Adullah, adakah tidak mengapa untuk saya berfatwa sedangkan kamu ada di sini?”

Beliau menjawab: “Saya tidak layak berfatwa. Tidak layak bagi seseorang itu, menganggap dirinya layak untuk sesuatu perkara, sehinggalah dia bertanya kepada seseorang yang lebih mengetahui darinya.” [12]

Maka jelaslah dengan berdasarkan kepada kata-kata para ulama salaf yang dinukilkan oleh Sheikh Habib al-Kairanawi ini, ia mampu menolak pendapat sesetengah golongan yang mewajibkan setiap orang untuk melakukan ijtihad. Kemungkinan, mereka tersalah faham terhadap perkataan-perkataan sesetengah ulama dalam hasil karangan mereka, padahal kefahaman yang salah itu adalah amat bercanggah dengan kefahaman jumhur ulama.

Kemudian golongan tersebut memperjuangkan kefahaman yang salah ini, dan mengajak seluruh umat Islam mengikuti pendapat tersebut (walaupun pada hakikatnya ia amat bercanggah dengan kefahaman yang sebenar). Akhirnya terjadilah kekacauan dan pertelingkahan di kalangan umat Islam disebabkan oleh perjuangan terhadap fahaman yang salah ini (yang mewajibkan setiap orang berijtihad). Na’uzubillah min zalik.

Salah faham ini sebenarnya membawa kepada perpecahan di kalangan para penuntut ilmu dan akhirnya membawa kepada permusuhan dan saling menjauhi antara satu sama lain. Hal ini akan menyebabkan terputusnya tali persaudaraan yang Allah perintahkan ke atas kita untuk menjaganya dengan baik.

Kita perlu mempelajari ilmu dari ahlinya yang muktabar, bukan sekadar membaca buku-buku ilmiah tanpa dibimbing oleh seorang guru yang alim. Ini kerana barang siapa yang tiada guru yang membimbingnya dalam mendalami samudera ilmu Islam dalam kitab-kitab, maka syaitanlah yang akan menjadi pembimbingnya. Bahkan para ulama muktabar turut menyeru agar ilmu agama dipelajari oleh kaedah isnad, di mana kefahaman tentang Islam diambil dari para ulama yang jelas sanad ilmunya bersambung kepada Rasulullah.

Nas-nas di dalam al-Quran dan as-Sunnah bagaikan bahan mentah bagi syariat Islam. Ia perlulah diadun dengan acuan ilmu-ilmu Islam yang lain seperti ilmu asbabun nuzul, asbabul wurud, ilmu rijal, ulumul Quran, ulumul hadithusul Fiqh dan sebagainya.

Sheikhuna as-Syarif, al-Habib Yusuf al-Hasani pernah menyebut bahawa:

Sesiapa yang tidak menguasai ilmu-ilmu tersebut, namun cuba mengamalkan hadith-hadith yang dibacanya tanpa bimbingan guru-guru yang alim, maka dia bagaikan mengambil daging mentah dari peti sejuk dan memakannya begitu sahaja. Bukankah ia memudaratkan diri sendiri?

Jika kita di kalangan orang awam (bukan ahli ilmu), maka bertanyalah kepada orang yang lebih alim dan janganlah berijtihad sendiri terhadap nas-nas. Allah telah berfirman:

فسئلوا
أهل
الذكر
ان
كنتم
لا
تعلمون

Maksudnya: Bertanyalah kepada yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui (akan sesuatu perkara).

Wallahu’alam.

Nota Kaki

[1] Kitab “Tibyiidh As-Shohafiyyah” m/s 16

[2] Kitab “Jawahir Al-Mudhiyah” jilid 1 m/s 31

[3] Ibn Hibban, muqoddimah Kitab “Al-Majruhin”

[4] Ktab “Al-Intiqa’ fi Fadhail Al-A’immah Ath-Thalathah Al-Fuqoha'” m/s 27-28

[5] Kitab “Tartib Al-Madarik” jilid 2 m/s 427

[6] Imam ibn Abi Zaid Al-Qairawani, “Al-Jami'” m/s 118

[7] Abu ‘Abbas Al-Wansyarishi “Al-Mi’yar Al-Mu’rab” jilid 12 m/s 314

[8] Kitab “Manaqib Al-Muaffaq Al-Makki” m/s 234

[9] Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah, “I’lamul Muaqi’iin”, jilid 2 m/s 252

[10] Al-Faqih Shiekh Habib Ahmad Al-Kairanawi m/s 5, dipetik dari “I’lamul Muaqi’iin”

[11] Ibid m/s 6 dipetik dari kitab “Al-Faqih wal Mutafaqqih” karangan Al-Khatib Al-Baghdadi.

[12] Ibid m/s 6, dipetik dari kitab “Tazyiin Al-Mamalik” karangan Imam As-Suyuti m/s 7-8


Nota dari Admin: Beberapa ejaan, format dan struktur ayat sebenar bagi artikel ini telah diubah bagi memudahkan lagi pembacaan. Namun ia tidaklah mempengaruhi maksudnya yang sebenar. Harap maklum.

Sumber: Pro Tajdid Blog Spot

19 September 2015 Posted by | Bicara Ulama | Leave a comment

Ada PhD bahkan mahir hadith bukanlah lesen untuk memandai-mandai mengeluarkan hukum.

Imam As-Syafi’e r.h.l. pernah menegaskan:

“Seseorang tidak boleh memberi fatwa dalam agama Allah kecuali dia mengetahui keseluruhan Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya seperti nasikh dan mansukh, ayat muhkam dan mutasyabih, ta’wil dan tanzil, ayat makkiyah atau madaniyyah. Dia juga perlu mengetahui tentang hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam), serta ilmu-limunya (‘ulumul hadis) seperti nasikh dan mansukh, dan lain-lain. Setelah itu, dia juga pelu menguasai Bahasa Arab, Sya’ir-sya’ir Arab, dan sastera-sasteranya (kerana Al-Qur’an dan Hadis dalam Bahasa Arab dan mengandungi kesasteraannya. Setelah itu, dia juga pelu mengetahui perbezaan Bahasa Arab di kalagan setiap ahli masyarakat Arab. Jika dia sudah menguasai keseluruhan pekara-perkara tersebut, barulah dia layak memberi fatwa mengenai halal dan haram. Jika tidak, dia tidak layak untuk memberi fatwa.”[11]
[11] Ibid m/s 6 dipetik dari kitab “Al-Faqih wal Mutafaqqih” karangan Al-Khatib Al-Baghdadi.

Orang yang berakal pun takkan berani tandatangan surat bedah jika yang membedah itu bukan doktor pakar bedah. Inikan pula soal urusan hukum hakam agama.

Sumber: Tahu Faham Dan Amal

19 September 2015 Posted by | Informasi | Leave a comment

15 Soal Jawab Orang Kafir Yang Persoalkan Kebenaran Islam

Sewaktu Nabi Muhammad saw wafat, telah sempurna Islam itu. Maka, semua persoalan dan keraguan tentang Islam, pasti akan ada jawapannya. Hanya ilmudi dada sebagai penentu, jawapan apa yang perlu diberi bagi membidas kembali persoalan dan keraguan yang sengaja ditimbulkan oleh orang bukan Islam pada orang Islam. Ada di antara mereka yang bertanya bukan kerana hendak tahu, tapi kerana hendak membuatkan orang Islam yang ilmu hanya ala kadar berasa was-was dengan Islam dan akhirnya orang Islam akan berasa was-was dengan agama yang dianutinya. Nauzubillah.

Soalan-soalan yang dinyatakan di bawah, sebenarnya memang benar-benar pernah ditanya oleh orang bukan Islam secara spontan pada orang Islam. Jadi jawapan yang disampaikan di bawah ini diharap dapat membantu membidas persoalan tersebut.

1) Nama Nabi Isa as disebut 25 kali dalam Al-Quran, tetapi berapa kali nama Nabi Muhammad saw disebut dalam Al-Quran?

Nama Nabi Muhammad saw hanya disebut 5 kali sahaja di dalam Al-Quran. Manakala nama Nabi Isa as disebut 25 kali. Mengapa? Kerana Al-Quran diwahyukan pada Nabi Muhammad saw, sebab itu nama Nabi Muhammad saw jarang disebut. Al-Quran diturunkan bukan semata-mata untuk memaparkan kisah Nabi Muhammad saw tapi adalah sebagai panduan perjalanan hidup umat Islam.

2) Nama Nabi Isa lebih banya disebut daripada nama Nabi Muhammad saw dalam Al-Quran. Tentu sahaja Nabi Isa lebih hebatkan?

Dalam Bible, nama syaitan lebih banyak daripada nama Nabi Isa. Jadi, adakah syaitan lebih hebat daripada Nabi Isa? Sebenarnya Allah tidak bezakan tentang kehebatan Nabi dan RasulNya. Walaubagaimanapun, Allah lebih Maha Mengetahui.

3) Dalam Islam percaya yang Nabi Isa as diangkat ke langit, sedangkan Nabi Muhammad saw wafat. Jadi, bila Nabi Isa as dibawa ke langit, tentu sahaja Nabi Isa itu Tuhan kan?

Dalam banyak-banyak kaum, hanya kaum Nasrani sahaja yang telah salah anggap tentang nabi yang diutuskan kepadanya sebagai Tuhan (Nabi Isa). Sedangkan, dalam Bible juga ada menyatakan bahawa Jesus (Nabi Isa) berkata “Siapa yang taat pada Allah akan masuk Syurga, siapa yang menganggap Jesus sebagai tuhan akan masuk neraka”. (Kitab Injil yang menjadi rujukan pengganut Kristian sekarang ini sebenarnya telah dimanipulasi isi kandungannya)

4) Dalam Islam, Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir. Tapi, di akhir zaman nanti Nabi Isa as akan turun. Kenapa tidak dikatakan Nabi Isa as yang terakhir?

Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir berdasarkan tahun kelahirannya. Contohnya, jika anak bongsu meninggal dunia, sedangkan anak sulung masih hidup, anak sulung tetap kekal pangkatnya sebagai yang sulung.

5) Nabi Isa as disembah sebagai anak Tuhan kerana dianggap mulia sebab lahir tanpa bapa.

Antara ibu dan anak, mana yang lagi mulia? Tentu ibu kan? Jadi, kenapa orang Kristian tidak menyembah Mariam saja? Bukankah Mariam itu ibu, tentu lagi mulia. Nabi Adam merupakan manusia pertama juga lahir tanpa bapa, malah tanpa ibu juga. Jadi, kenapa tidak disembah Adam saja?

Firman Allah swt : “Sesungguhnya perbandingan (kejadian) Nabi Isa di sisi Allah adalah sama seperti (kejadian) Nabi Adam. Allah telah menciptakan Adam dari tanah lalu berfirman kepadanya: “Jadilah engkau!” maka menjadilah ia. -Surah Al-Imran, ayat-59.

6) Jika membaca tafsir, Allah berfirman sekejap guna ‘Aku’, sekejap guna ‘Kami’. Kenapa? Bukankah maksud ‘Kami’ itu mewakili ‘Tuhan + Mariam + Anak Tuhan (Isa)’?

Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab. ‘Aku’ kata jamaknya ‘Kami’ yang menggambarkan tentang ‘Allah dan keagunganNya’ . Bukankah Queen Elizebeth ketika bertitah, beliau guna ‘We’ bukan ‘I’?

7) Orang Sikh Punjabi bertanya, kenapa Islam perlu potong rambut? Bukankah rambut itu anugerah tuhan yang perlu disimpan?

Kita jawab dengan soalan ini, kuku juga anugerah tuhan, kenapa orang Sikh Punjabi potong kuku?

8) Sami Buddha vegetarian bertanya, kenapa Islam disuruh membunuh binatang untuk dimakan? Bukankah itu zalim kerana membunuh hidupan bernyawa?

Sains telah membuktikan bahawa sayur dan pokok turut mempunyai nyawa. Malah, apabila kita basuh tangan pun, ada banyak nyawa kuman yang kita bunuh. Itu tidak kejam? Apabila kita membunuh (sembelih) seekor lembu, sebenarnya kita telah menyelamatkan banyak nyawa manusia daripada mati kelaparan.

9) Sami Buddha menjawab “Bunuh sayur dosa kecil sebab sayur kurang deria. Bunuh binatang dosa besar”

Habis tu, adakah kita cuma berdosa kecil jika membunuh orang yang pekak, buta, dan bisu hanya kerana dia tidak ada deria?

10) Sami Buddha menjawab lagi “Jika kita bunuh sayur, sayur akan tumbuh balik”

Jadi, makanlah ekor cicak kerana ekor cicak akan tumbuh semula selepas putus.

11) Sami Buddha berkata lagi, “Makan binatang akan dapat banyak penyakit”

Sebenarnya, penyakit datang kerana kita banyak makan. Bukan kerana makan binatang. Allah suruh makan secara sederhana. Nabi juga suruh berhenti makan sebelum kenyang. Lagipun, Allah dah beri gigi taring dan gigi kacip untuk manusia makan binatang dan sayuran. Bukankah tembakau dan ganja itu juga berasal dari tumbuhan? Lagi besar penyakitnya. Lembu yang ragut rumput hari-hari pun boleh jadi lembu gila. Sebenarnya, tak kesah pun kalau kita tak nak makan daging, tapi jangan lah cakap haram apa yang telah Allah halalkan.

12) Kan babi itu ciptaan Allah, kenapa Islam tak makan babi?

Sebab bukan semua ciptaan Allah adalah untuk dimakan. Jika begitu, batu dan kayu juga ciptaan Allah. Manusia juga ciptaan Allah. Nak jadi kanibal?

13) Islam cakap Hindu sembah berhala tetapi Islam hari-hari sembah Kaabah.

Islam bukan sembah Kaabah. Tapi Kaabah itu adalah Kiblat untuk satukan umat. Dalam Islam dah sebut, siapa sembah Kaabah akan masuk neraka kerana Islam sembah Allah, kaabah cuma kiblat. Ada bezanya. Bukti, orang yg sembah berhala tidak akan pijak berhala, tapi orang Islam pijak Kaabah untuk melaungkan azan. Orang Hindu tak akan pijak gambar berhala tapi orang Islam hari-hari pijak gambar Kaabah di sejadah. Jika ada sepanduk gambar Kaabah direntangkan di KLCC sekalipun, orang Islam tetap solat menghadap Kaabah di Mekah kerana itu kiblat kita untuk sembah Allah. Bukan sembah Kaabah!

14) Kenapa perlu ikut Nabi Muhammad saw? Nabi dan Rasul sebelum baginda itu sesatkah?

Nabi sebelum Nabi Muhammad saw diutus untuk kaum dan zaman tertentu sahaja. Sedangkan Nabi Muhammad saw diutus untuk semua kaum dan sepanjang zaman.

15) Apa bukti Allah wujud? Mana Allah? Tak nampak pun.

(Tampar beliau!) Kemudian cakap, sakit itu wujud dan boleh dirasa, tapi adakah kita nampak sakit itu? Begitu juga dengan kewujudan Allah. Allah itu wujud dan kita boleh rasa nikmat pemberian-Nya, tapi kita tak boleh nampak Allah.

Sumber: Islam itu Indah

19 September 2015 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

Senarai Ulamak, asatizah, ilmuwan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Malaysia.

Di antaranya ialah :

1. Maulana Aswadi (hadith) 
2. Maulana Abdullah Amir (hadith) 
3. Maulana Hussein Abdul Qadir (hadith) 
4. Sheikh Wan Izzuddin (hadith) 
5. Baba Li Sepanjang (aqidah, feqh)
6. Sheikh Husni Ginting (aqidah, sirah, hadith) 
7. Maulana Hasnul Hizam (hadith) 
8. Tuan Guru Hj Salleh Pondok Sik Kedah (aqidah, feqh) 
9. Sheikh Fahmi Zamzam (aqidah, feqh, tasawuf) 
10. Sheikh Nuruddin al Banjari (feqh, tasawwuf)
11. Dato’ Wan Zahidi – Mantan Mufti Wilayah Persekutuan (Aqidah, feqh)
12. Dato Haji Mohd Salleh Hj Ahmad – (Aqidah, feqh)
13. Ustaz Jahid Sidek (aqidah, feqh, tasawuf) 
14. Syed Muhammad Naquib al-Attas (aqidah, falsafah, pemikir Islam)
15. Syeikh Muhammad Fuad bin Kamaluddin Al-Maliki (aqidah, tasawuf,hadis)
16. Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni (hadith)
17. Ustaz Syed Abdul Kadir Al Joofre (feqh)
18. Ustaz Nazrul Nasir (aqidah, feqh, tasawuf)
19. Ustaz Rashidi Abdul Wahab (aqidah, feqh)
20. Ustaz Khalif Muammar (aqidah, falsafah)
21. Ustaz Nik Roskiman (aqidah, tasawwuf)
22. Ustaz Wan Suhaimi Wan Abdullah (Aqidah, falsafah) 
23. Habib Ali Zaenal Abidin (sirah, tasawwuf)
24. Ustaz Muhadir bin Hj Joll (aqidah, feqh) 
25. Ustaz Asmadi Mohamed Naim (aqidah, feqh) 
26. Syeikh Hj Abdul Raof Bin Nurin (aqidah, feqh, tasawuf)
27. Ustaz Raja Ahmad Mukhlis (aqidah, tasawwuf, tafsir, hadith)
28. Ustaz Ellyeen Aminen (aqidah)
29. Ustaz Al-Amin Daud (aqidah) 
30. Ustaz Abdul Rahman ar Raniri (hadith) 
31. Ustaz Hairul Nizam Mat Hussain (feqh)
32. Ustaz Nik Nazimuddin – mudir madrasah khairuummah (feqh)
33. Ustaz Muhammad Subki Abd Rahman – mudir pondok repek pasir mas (feqh)
34. Ustaz Mazrisyam (feqh) 
35. Ustaz zamihan al Ghari (aqidah, feqh) 
36. Ustaz Engku Ahmad Fadzil (feqh) 
37. Ustaz Basir Mohamed al Azhari (aqidah, feqh) 
38. Ustaz Abdullaah Jalil (feqh) 
39. Ustaz Abu Zahrah Abdullah Tohir (aqidah, feqh) 
40. Ustaz Umar Mohammad Noor (hadis)
41. Ustaz Ayman al Akiti (aqidah, feqh)
42. Ustaz Afifi al Akiti (aqidah, feqh, falsafah)
43. Ustaz Fauzi Hamat (aqidah) 
44. Ustaz Luqman Hakim – madrasah rahmaniah pondok lubuk tapah (feqh)
45. Ustaz Hafiz Mansor (aqidah, feqh)
46. Ustaz Ibrahim Masran – pondok ledang (Aqidah, feqh, tasawuf)
47. Ustaz Wan Haslan Khairuddin (Aqidah, dakwah)
48. Ustaz Mohammad Elias Al Malakawi – madrasah Khairuummah (aqidah, feqh)
49. Ustaz Shahul Hamid (dakwah) 
50. Ustaz Faiz al idrus (dakwah)

Dan ramai lagi

Para ulamak,asatizah,ilmuwan agama ini ada di kalangannya yang mempunyai master, PhD, bergelar profesor dalam bidang masing-masing malah diiktiraf pula oleh ulamak di luar negara namun masih tetap melazimi majlis ilmu dan bertalaqqi dengan alim ulamak Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Barakallahufikum.

18 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT.

 

Ini kerana Allah ta’ala tidak memerlukan kepada makhluk-makhlukNya,azali dan abadinya Allah Tidak memerlukan kepada selainNya.
Maka Allah tidak memerlukan kepada tempat untuk diduduki dan tidak merlukan kepada benda untuk diliputiNya dan Dia tidak memerlukan kepada arah. Cukup sebagai dalil pada mensucikan Allah dari bertempat atau berarah itu dengan firman Allah ta’ala yang bermaksud:

” Tiada sesuatupun yang menyerupai Allah”.

Sekiranya Allah bertempat maka sudah pasti bagiNya persamaan dan berukuran tinggi lebar, dalam, dan sesuatu yang sedimikian pastinya adalah makhluk dan memerlukan kepada yang lain menetapkan ukuran panjangnya, lebarnya, dalamnya. Demikian tadi dalil ‘Allah Wujud Tanpa Bertempat’ dari Al-Quran.

Manakala dalil dari hadith Nabi pula adalah apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan selainya dengan sanad yang sohih bahawa Rasulullah (selawat dan salam keatasnya) bersabda yang bermaksud:

“Allah telah sedia wujud (azali) dan selain Allah tiada sesuatupun yang sedia wujud (azali)”.

Makna hadith Nabi tadi adalah Allah telah sedia ada pada azal lagi, tidak ada bersama Allah selainNya, air belum ada lagi, udara belum ada lagi, bumi belum wujud lagi, langit belum wujud lagi, kursi belum ada lagi, arasy belum ada lagi, manusia belum wujud lagi, jin belum wujud lagi, malaikat belum ada lagi, masa belum ada lagi, tempat belum wujud lagi dan arah juga belum wujud lagi.

Manakala Allah telah sedia wujud tanpa tempat sebelum tempat dicipta dan Allah tidak sama sekali memerlukan kepada tempat. Inilah yang dinyatakan dari Hadith Nabi tadi. Saidina Ali (semoga Allah meredhoinya) berkata:

” Allah telah sedia ada tidak bertempat dan Allah sekarang juga atas sediakalaNya tanpa bertempat”.
Diriwayatkan oleh Imam Abu Mansour Al-Baghdady dalam kitabnya Al-farqu Bainal Firaq.

Dari segi akal, sebagaimana diterima akan kewujudan Allah ta’ala itu tanpa tempat dan tanpa arah sebelum adanya tempat dan arah maka benarlah kewujudan Allah itu setelah mencipta tempat Dia tidak bertempat dan tidak memerlukan arah. 
Dalil ini semua, bukanlah menafikan kewujudanNya sepertimana yang dituduh oleh ajaran yang menjisimkan dan menyamakan Allah dengan makhluk pada zaman ini iaitu ajaran Wahhabiyah.

Kita mengangkat tangan ke langit ketika berdoa bukanlah kerana Allah berada dilangit akan tetapi kita mengangkat tangan ke langit kerana langit merupakan kiblat bagi doa, tempat terkumpulnya banyak rahmat dan berkat. Sepertimana kita menghadap ke arah ka’bah ketika solat tidaklah bererti Allah itu berada di ka’bah akan tetapi kerana ka’bah itu kiblat bagi solat. Inilah yang telah dinyatakan oleh para ulama Islam.

Saidina Ali (semoga Allah meredhoinya) turut menjelaskan: 
” Akan kembali satu kaum dari umat ini ketika hampir hari kiamat kelak mereka menjadi kafir, lantas sesorang lelaki bertanya: ‘ Wahai amirul mu’minin! Kekufuran mereka itu disebabkan apa? kerana mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama atau mengingkari sesuatu dalam agama?’ Saidina Ali menjawab: Kekufuran mereka kerana mengingkari sesuatu dalam agama iaitu mereka mengingkari Pencipta mereka dengan menyifatkan Pencipta itu berjisim dan beranggota”. Diriwakan oleh Ibnu Al-Mu’allim Al-Qurasyi dalam kitabnya berjudul Najmul Muhtady Wa Rojmul Mu’tady.
Berkata Imam Zainul Abidin (semoga Allah meredhoinya): ” Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”. Diriwayat oleh Al-Hafiz Az-Zabidy.

Imam Abu Hanifah menyatakan dalam kitabnya Fiqhul Absat: ” Allah ta’ala telah sedia ada tanpa tempat, Allah telah sedia wujud sebelum mencipta makhluk, dimana sesuatu tempat itu pun belum wujud lagi, makhluk belum ada lagi sesuatu benda pun belum ada lagi, dan Allah lah yang mencipta setiap sesuatu.

Dinyatakan dengan sanad yang sohih oleh Imam Baihaqi dari Abdullah bin Wahb berkata: 
” Ketika kami bersama dengan Imam Malik, datang seseorang lelaki lantas bertanya: ‘Wahai Abu Abdillah Imam Malik! ‘Ar-Rahman ‘Alal Arasyi Istawa’ bagaimana bentuk istiwa Allah? maka Imam Malik kelihatan merah mukanya kemudian beliau mengangkat wajahnya lantas berkata: ‘Ar-Rahman ‘Alal Arasyi Istawa’ ianya sepertimana yang telah disifatkanNya dan tidak boleh ditanya bentukNya kerana bentuk itu bagi Allah adalah tertolak dan aku tidak dapati engkau melainkan seorang pembuat bid’ah! maka keluarkan dia dari sini”. 
Manakala riwayat yang berbunyi ‘dan bentuk bagi Allah itu adalah dijahili’ ianya riwayat yang tidak sohih.

Imam kita Imam Syafie (semoga Allah meredhoinya) telah berkata: ” Barangsiapa mempercayai Allah itu duduk di atas Arasy maka dia telah kafir”. Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mu’allim Al-Qurasyi dalam kitabnya Najmul Muhtady Wa Rojmul Mu’tadi.

Berkata juga Imam Ahmad bin Hambal (semoga Allah meredhoinya) : ” Barangsipa yang mengatakan Allah itu jisim tidak seperti jisim-jisim maka dia juga jatuh kafir”.Diriwayat oleh Al-Hafiz Badruddin Az-Zarkasyi dalam kitabnya Tasynif Al-Masami’.

Berkata Imam Ahli Sunnah Wal jamaah Imam Abu Hasan Al-Asy’ary dalam kitabnya berjudul An-Nawadir: ” Barangsiapa yang mempercayai Allah itu jisim maka dia tidak mengenali Tuhannya dan sesungguhnya dia mengkufuri Allah”. 
Maka jelaslah dari kenyataan Imam Al-Asy’ary tadi bahawa kitabnya yang berjudul Al-Ibanah pada hari ini telah ditokok tambah.

Berkata Imam Abu Ja’far At-Tohawi yang mana beliau ini merupakan ulama As-Salaf As-Soleh: ” Maha suci Allah dari mempunyai ukuran, penghujung, sendi, anggota dan benda-benda kecil dan Allah tidak diliputi dengan mana-amana arah enam sepertimana makhlukNya”.
Beliau berkata lagi: ” Barangsiapa yang menyifatkan Allah dengan sifat-sifat makhluk maka dia jatuh kafir”.
Antara sifat makhluk adalah bergerak,duduk diam, turun, naik, bersemayam, duduk, berukuran, bercantum,berpisah,berubah, berada di tempat,berarah, berkata-kata dengan huruf, suara, bahasa dan lain-lain.

Telah dinukilkan oleh Imam Al-Qorofy dan Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitamy dan selainya menukilkan kenyataan bahawa: ” Imam Syafie, Imam Malik Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah (semoga Allah meredhoi mereka) berkata bahawa jatuh hukum kufur bagi sesiapa yang berkata Allah itu ber-arah dan berjisim dan benarlah penghukuman Imam-imam tadi”.

Wahai seluruh orang-orang muslim.
Kami mengakhiri penjelasan ini dengan ungkapan kaedah yang dinyatakan oleh Imam Ahmad Bin Hambal (semoga Allah meredhoinya): ” Segala yang terbayang dibenak fikiranmu maka ketahuilah bahawa Allah tidak sedemikian” . Dan ini merupaka kaedah yang telah disepakati disisi seluruh ulama Islam.

Berkata Imam kita Abu Bakar (semoga Allah meredhoinya): “Merasai diri itu lemah dari membayangi zat Tuhan maka itulah tauhid mengenal Tuhan dan memcari-cari serta membayangkan zat Tuhan itu pula adalah kufur dan syirik”.

Alhamdulillah kita berada dalam akidah yang benar ini, memohon kepada Allah ta’ala agar mematikan kita diatas pegangan ini. Amin ya Arhamar Rohimin Wa akhiru da’wana ‘anil hamdulillahi robbil ‘alamin.

(PONDOK HABIB shared Rahmat Rahman‘s photo).

18 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

TRAGEDI 3 MAC YANG PERLU DIKETAHUI OLEH SETIAP MUSLIM DAN MELAYU

Alhamdulillah,pada hari ini genap 3 Mac,kita masih lagi dapat menghirup udara segar kurniaan Allah dan boleh menjalankan aktiviti seperti biasa.Tiada apa-apa yang teruk berlaku pada Malaysia buat sementara ini.Sesungguhnya,admin serius merasakan umat Islam yang tinggal di Malaysia ini adalah antara umat Islam paling bertuah sekali di dunia ini berbanding umat Islam lain di kawasan lain di dunia ini.

Tentu anda tertanya tanya apa yang istimewanya 3hb Mac ini?

Mestilah ada istimewanya…..

Sebenarnya kalau kita selak lembaran sejarah,ada dua peristiwa besar dan penting yang telah berlaku pada hari ini,yakni pada 3 Mac.Dua peristiwa ini yang berlaku satu di negara jiran kita iatu di Indonesia,manakala satu lagi di Turki,bagi admin,merupakan peristiwa yang sangat memberi kesan kepada admin sendiri,sepanjang admin membuka lembaran dan helaian sejarah umat Islam dan Melayu.

Peristiwa ini,bagi admin sangat menyentuh hati admin dan sangat banyak pengajaran yang boleh kita ambil dari kedua dua peristiwa ini.Admin akan ceritakan semula peristiwa peristiwa ini untuk dijadikan iktibar dan pengajaran berguna kepada umat Islam,terutamanya bangsa Melayu masa kini.

Orang Melayu yang beragama Islam mesti ambil pengajaran dari kedua dua peristiwa ini kerana keamanan yang berlaku di negara kita boleh ditarik balik bila bila masa sahaja.Pihak luar yang berniat jahat kepada kita boleh sahaja memasukkan jarumnya dan mula campur tangan dalam hal ehwal negara kita bila bila masa sahaja,seterusnya menimbulkan kekeacauan dan perpecahan masyarakat di negara kita.

Tanpa melengahkan masa lagi,admin memulakan penceritaan mengenai kedua dua peristiwa ini secara ringkas.

Peristiwa 1:

KEJATUHAN INSITUSI KHALIFAH ISLAM,3 MAC 1924

Tarikh 3 Mac 1924 bersamaan 28 Rejab 1342 Hijrah.

Tarikh ini menyimpan satu sejarah hitam bagi umat Islam keseluruhannya,apabila umat Islam pada tarikh itu kehilangan tonggak yang memayungi mereka selama 1300 tahun lamanya,iatu sistem Khilafah Islam.

Khalifah terakhir umat Islam,Khalifah Abdulmecid II bersama keluarga dihalau keluar dari istananya oleh Dewan Perhimpunan Republik Turki di bawah pimpinan Ghazi Mustafa Kemal Ataturk.

Akibat dasar sekularisme yang dibawa oleh Mustafa Kemal untuk memajukan Turki ketika itu,jawatan Khalifah dan Syeikhul Islam dihapuskan dan peranan menjaga hal ehwal agama Islam di Turki ketika itu diuruskan oleh jabatan lain.

Khalifah Abdulmecid II akhirnya mangkat di Paris,Perancis pada 23 August 1944 dan baginda mangkat apabila bandaraya itu bebas dari penjajahan tentera Nazi Jerman,yang menguasai sebahagian besar Eropah ketika zaman Perang Dunia Kedua,termasuk Perancis.Baginda dimakamkan di Jannatul Baqi di Madinah.

Sebenarnya sebelum itupun,kuasa khalifah semakin lemah berikutan pengaruh dari Barat dan dasar pemodenan oleh khalifah khalifah Uthmaniah terdahulu.Ini disebabkan oleh kelemahan kepimpinan khalifah khalifah terdahulu dan pengaruh sekularisma Barat mula menular di sekitar wilayah Turki oleh gerakan Pemuda Turki.

Disebabkan kerajaan Uthmaniah terlibat dalam Perang Dunia Pertama dan kalah dalam peperangan itu,wilayah Uthmaniah dikecilkan sehingga ke hari ini.Peranan Kaum Pemuda Turki yang membawa reformasi Barat ke Turki juga akhirnya melemahkan kuasa pemerintah Uthmaniah.

Dewan Perhimpunan Kebangsaan Turki pada tahun 1922 telah menghapuskan jawatan Sultan Uthmaniah dalam pentadbiran Turki.Sultan terakhir,Sultan Mehmed VI Wahiduddin diusir dari istananya,berlayar ke Malta dengan menaiki kapal HMS MALAYA dan hidup dalam buangan di sana.

Turki diistiharkan sebagai republlik oleh Mustafa Kemal Ataturk pada tahun 1923.

Walaubagaimanapun,jawatan Khalifah Islam masih dikekalkan oleh pihak Republik Turki dan melantik Abdulmecid II sebagai Khalifah Islam.Namun khalifah hanya berperanan sebagai ketua keluarga Uthmaniah dan simbol penyatuan umat Islam,tidak lebih dari itu.

Setelah setahun Mustafa Kemal menunggu peluang,akhirnya beliau kemudiannya mengistiharkan penghapusan jawatan Khalifah dan Syeikhul Islam pada tarikh 3 Mac 1924,sekaligus berakhirnya insitusi khalifah yang menaungi umat Islam sejak kewafatan Rasulullah s.a.w,selama 1300 tahun lamanya.

Peristiwa 2:

PEMBUNUHAN BESAR BESARAN RAJA RAJA MELAYU DI SUMATERA TIMUR,3 MAC 1946.

Tarikh 3 Mac 1946 bersamaan 27 Rabiulawwal 1365 Hijrah.

Berpuluh puluh tahun kemudian di wilayah Sumatera Timur di Indonesia,berlaku satu peristiwa penumpahan darah beramai ramai akibat hasutan sesetengah pihak,yang akhirnya mengorbankan sultan-sultan Melayu yang menguasai wilayah Sumatera Timur,para kerabat diraja,bangsawan dan orang Melayu di sana.

Semuanya berlaku akibat hasutan dari Parti Komunis Indonesia didalangi oleh Karim Marah Sutan dan Luat Siregar,kepada pekerja pekerja etnik Jawa yang bekerja di ladang ladang dan estet estet milik pemerintah Melayu di kawasan itu.
Ada yang mengaitkan peristiwa ini dengan persengketaan antara etnik peribumi di Sumatera,iatu Melayu Sumatera,Batak dan Simalungun dengan etnik etnik imigran yang bekerja sebagai pekerja kepada pemerintah Melayu seperti Jawa,Madura,Sunda dan lain lain lagi.

Kesultanan dan kerajaan Melayu yang menjadi mangsa peristiwa ialah seperti berikut;

Kesultanan Deli Darul Maimon

Kesultanan Serdang Darul Arif

Kesultanan Asahan

Kesultanan Langkat Darul Aman

Kerajaan Panai

Kerajaan Tanah Karo dan Simalungun

Pada malam itu,pemberontak yang rata ratanya telah dipengaruhi oleh dakyah komunis telah menyerang istana sultan sultan Melayu.Istana Sultan Asahan diserang dan ramai kerabat bangsawan dan orang Melayu di luar istana dibunuh ketika berlawan dengan pemberontak terbabit.Sultan Asahan sempat melarikan diri ke belakang istananya.

Istana Kesultanan Deli turut dilanggar kumpulan pemberontak namun Sultan Deli selamat dengan bantuan tentera sepahi Inggerisnya.Namun,seperti biasa,banyak orang awam terbunuh.

Raja Kerajaan Panai turut dipenggal kepalanya bersama anggoota keluarganya.

Tetapi tiada yang lebih menyayat hati berbanding apa yang menimpa Sultan Langkat dan kerajaanya.Istananya diceroboh masuk,dirompak segala barangannya.Sebahagian besar kerabat bangsawan dibunuh dan dipenggal kepalanya dengan kejam,termasuklah seorang pujangga ulung Melayu,Tengku Amir Hamzah turut terkorban.

Tengku Mahkota Sultan masih hilang sehingga kini,dan yang lebih perit lagi,puteri-puteri Sultan dirogol oleh pemberontak di hadapan mata baginda Sultan sendiri!

Kesultanan Langkat merupakan mangsa keadaan paling teruk sepanjang berlakunya Revolusi Sosial itu.Banyak nyawa yang tidak berdosa menjadi mangsa.

Namun,apa yang emnariknya selepas kejadian tersebut,kebanyakan rakyat tempatan seboleh mungkin menyembunyikan identiti ‘Melayu’ mereka bagi mengelakkan diserang oleh para ‘Nasionalis Indonesia’. Malahan, sebahagian kaum Batak Karo dan Simalungun yang telah memeluk Islam dan mengamalkan cara hidup Melayu, kembali memakai nama asal Batak mereka dan mengelakkan dilihat sebagai Melayu.

Kini, etnik Melayu hanya menjadi kaum minoriti yang tidak berkuasa di negerinya sendiri di dalam Propinsi Sumatera Utara. Para waris Raja-raja Melayu pada hari ini cuba menghidupkan kembali warisan dan takhta Kerajaan mereka yang hilang, namun hanya atas dasar melestarikan kebudayaan tempatan semata-mata, iaitu bagi mengelakkan salah faham daripada Pemerintah Indonesia.

DARI DUA PERISTIWA INI,KITA DAPAT BANYAK PENGAJARAN

1.Perlunya orang Melayu dan masyarakat Islam di Malaysia menjaga insitusi diraja dengan sebaiknya.Raja dan sultan,selain menjadi ketua agama Islam,ianya juga merupakan simbol penyatuan dan pertahanan warisan kebudayaan Bangsa Melayu.Mungkin ada yang melihat tiada untungnya memelihara raja raja yang dianggap pembazir duit rakyat dan berhala semata mata,namun di sini,kita ingin membicarakan mengenai insitusi kesultanan.Diulangi INSITUSI bukannya peribadi raja tersebut.

2.Perlunya rakyat menasihati pemerintah.Pemerintah adalah orang yang telah dipertanggungjawabkan untuk menjaga kemaslahatan rakyat.Amanah menjadi seorang pemimpin ini semestinyalah berat.Pemimpin juga tidak lepas dari kesilapan kerana mereka juga manusia.jadi,di sinilah pentingnya rakyat untuk menegur peribadi pemerintah sekiranya pemerintah melakukan kesilapan atau terpesong dari amanahnya.Dalam Islam,menjatuhkan pemimpin hanya kerana rasa tidak puas hati terhadap mereka adalah dilarang sama sekali.

3.Sentiasa berwaspada terhadap tangan tangan asing.Keharmonian negara kita ini bila bila masa sahaja boleh dicabut begitu sahaja.banyak pihak yang cemburu dan dengki akan limpahan rahmat ke atas tanah air kita,menunggu masa untuk mencucukkan jarum-jarumnya di sini.Jadi,adalah perlu sesekali sekala bagi seorang rakyat Malaysia memerhatikan ancaman ancaman yang akan datang di Malaysia ini,samada terang terangan mahupun sembunyi.

Sekian sahajalah penjelasan dan cerita ringkas dari admin.Sebarang kesilapan mohon diperbetulakn

Wallahualam

Gambar 1 menunjukkan Khalifah Abdul Mecid II (berjambang) sedang bergambar dengan pengawalnya di Istanbul,tiga hari sebelum 3hb Mac,di mana jawatan khalifah dihapuskan dan baginda dihalau keluar dari bumi Turki.

Gambar 2 menunjukkan Sultan dan pemerintah Melayu di Sumatera Timur,yang menjadi mangsa dalam tragedi Revolusi Sosial itu.Kiri sekali ialah gambar Raja Panai(yang dipenggal kepalanya),Sultan Asahan,Sultan Serdang dan Sultan Langkat.Semoga Allah mencucuri rahmat dan meletakkan mereka ke dalam golongan yang diredhai olehNya.

Sumber:The Patriot

 

18 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Tangisan Rasulullah SAW Akan Nasib Kaum Wanita

Postingan artikel ini bukan untuk memojokan kaum wanita atau menakut-nakuti tapi semata mata untuk saling mengingati. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.

Syaidina Ali ra suatu ketika melihat Rasulullah saw menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu dia bertanya mengapa Rasulullah saw menangis. Beliau menjawab; “Pada malam aku di-isra’- kan, aku melihat perempuan-perempuan sedang disiksa dengan berbagai siksaan didalam neraka. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena menyaksikan mereka disiksa dengan sangat berat dan mengerikan. Putri Rasulullah saw kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. “Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.
Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.
Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan gada dari api neraka,” kata Nabi saw.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?

Rasulullah menjawab, “Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.”

Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.

Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang lain yang bukan muhrim dan dia bersolek supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Betapa wanita itu digambarkan sebagai tiang negara, rusak tiang, maka rusak pula negara, akhlak dan moral.

Meski demikian, laki-laki yang bermaksiat kepada Allah juga tidak sedikit yang masuk neraka. Ayah-ayah yang membiarkan anak perempuanya tidak memakai kerudung dan mengumbar aurat didepan orang lain.

Surga dan Neraka adalah soal pilihan. Tergantung bagaimana manusia menjalani hidupnya dialam jagad raya. kalau mau selamat, maka patuhlah kepada Al-Qur’an dan hadist, balasanya adalah surga dengan segala kenikmatan didalamnya. Kalau mau celaka dengan mendurhakai Al Qur’an dan hadist, maka Allah sudah menyediakan penjara yang sangat mengerikan, yaitu neraka dengan api dan siksaan yang sangat pedih dan tidak terbayangkan oleh manusia sebelumnya.

( Hadist – Hadist )

Dalam sebuah hadist yang diwirayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda:

“Neraka diperlihatkan kepadaku. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita..” (HR Ahmad)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) Syaithan akan mengikutinya (menghiasainya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaanya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allah Azza wa Jalla) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”. [HR Ibnu Khuzaimah (no. 1685), Ibnu Hibban (no. 5599) dan at-Thabrani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 2890), dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban]

Tabarruj akan membawa laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan ada di akhir umatku (nanti) wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, di atas kepala mereka (ada perhiasan) seperti punuk unta, laknatlah mereka karena (memang) mereka itu terlaknat (dijauhkan dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala)” [HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamush shagiir” (hal. 232) dinyatakan shahih sanadnya dalam kitab “ilbaabul mar-atil muslimah” (hal. 125).

( Ayat Al – Quran )

Allah Azza wa Jalla berfirman,maksudnya:

“Dan janganlah kalian (para wanita) bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” (QS. al-Ahzaab:33)

Allah Jalaa Jalaaluh berfirman,maksudnya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. al-Ahzaab: 59)

Allah Jalaa Jalaaluh berfirman,bermaksud:

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh Syaitan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu (Adam dan Hawa) dari Surga, dia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya” (QS. al a’raf : 27)

 

Kiriman: Abdul Rahim

 

Top of Form

12 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

4 (EMPAT) MALAIKAT YANG MENDATANGI ORANG SAKIT

Kalau kita tahu sebenarnya tak ada alasan untuk sedih dan mengeluh ketika kita sakit, karena sebenarnya sakit itu adalah kasih sayang Allah SWT pada kita, sewajarnya kita mengeluh ketika sakit karena kita tak tahu rahasianya. Adalah ternyata  sakit itu harus disyukuri karena itu adalah bukti kasih sayang Allah pada kita, hal ini disebabkan oleh karena  Allah SWT  mengutus 4 (empat) malaikat untuk selalu menjaga kita dalam keadaan sakit.

Rasulullah saw bersabda:
“ Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”

Sabda Rasulullah saw tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al-Bahili dan dalam hadist yang lain Rasulullah saw bersabda :
“ Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 (empat) malaikat untuk datang padanya.”
Allah SWT memerintahkan :

1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya.
3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah SWT memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba mukmin, namun untuk malaikat ke 4, Allah SWT tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin, maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah SWT seraya berkata :

“ Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan? ”
Allah SWT menjawab: “ Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”

Dengan hal demikian, maka kelak si sakit itu akan berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia fana ini dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah saw :

“ Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

Subhanallaah … Subhanallaah … Subhanallaah !!

“ Tiada seorang mukmin yang ditimpa oleh lelah atau penyakit atau risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan di jadikan penebus dosanya oleh Allah. ”
(HR Bukhari-Muslim)

“ Jika sakit seorang hamba hingga tiga hari, maka keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya.”
(HR Ath-Thabarani)

“ Penyakit panas itu menjaga tiap mukmin dari neraka dan panas semalam cukup dapat menebus dosa setahun.”
(HR Al-Qadha’i)

10 September 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

10 PENYAKIT PENGAMAL TAREKAT (Yang Tersasar)

Terdapat berbagai penyakit batin yang sukar disedari oleh pengamal tarekat yang boleh membinasakan perjalanan zahir dan batin mereka kepada Allah. Antaranya ialah:

1. TERASA ADA AMALAN

Maksudnya seseorang itu merasakan bahawa dirinya itu telah banyak berbuat amal soleh; banyak sembahyang, puasa, zikir, banyak sedekah dan sebagainya lagi. Jika ada rasa demikianmaka rosaklah perjalanan keruhaniannya. Rasa yang demikian itu bukan sahaja akan menimbulkan sifat riak, ujub dan sebagainya tetapi ianya boleh menyebabkan syirik atau menyengutukan Allah. Oleh kerana itu seseorang salik itu dikehendaki merasa-rasakan secara bersungguh-sungguh bahawa segala amalnya yang soleh itu adalah kurnia Allah semata-mata, hal Allah semata-mata, dari Allah semata-mata.

Setelah rasa begitu dapat dihayati sebenar-benarnya, maka InsyaAllah ia akan dikurniakan oleh Allah Tauhid Af’al atau tauhid pada perbuatan Allah, di mana seorang itu pada peringkat tersebut dapat melihat keesaan perbuatan Allah semata-mata akan tercapailah ketiga-tiga syarat bagi penerimaan amal iaitu ikhlas, fana’ (amalan diri dalam perbuatan Allah) dan benar-benar berasa bahawa tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah semata-mata.Kesimpulannya: Bila terasa ada amal maka Tauhid Af’al tidak akan tercapai.

2. PANJANG ANGAN-ANGAN NAFSU KEDUNIAANNYA

Khalifah Ali (r.a.) pernah menyebutkan bahawa panjang angan-angan nafsu keduniaan itu adalah punca segala kesalahan atau dosa. Orang yang panjang angan-angan nafsu keduniaannya itu sentiasa lena dihayun oleh berbagai jenis angan-angannya itu. Pada setiap saat hatinya berkata-kata: “Aku akan buat ini, buat itu. Kalau aku buat ini akan jadi begini dan kalau aku buat yang lain akan jadi begitu…”

Tegasnya ia akan dilamun oleh berbagai fikiran dan rancangannya sendiri yang tidak akan ada titik perhentiannya sama sekali. Hal demikian adalah mengambarkan bahawa orang tersebut jahil terhadap Tauhid, sebab orang yang jahil Tauhid menurut Ibn Ata’illah hatinya sentiasa berkata: “Apakah yang akan aku buat”.

Orang yang benar Tauhidnya pula menurut beliau, hatinya sentiasa berkata:”Apakah yang Allah akan buat terhadap dirinya itu”. Di samping itu orang yang panjang angan-angan keduniaan itu hatinya akan menjadi gelap disebabkan berbagai gambaran kebendaan sentiasa memenuhi ruang di hatinya sehingga Allah tidak akan mendapat ruang di hati lagi, pada hal hati itu untuk Allah. Nabi bersabda, ertinya: “Hati itu rumah Allah” Maksudnya hati itulah tempat yang dipilih dan dibersihkan oleh Allah dan dimuliakan sebagai jalan perhubungan antara Allah dengan hambaNya. Oleh itu hati itu tidak boleh dimasuki sesuatu yang lain dari Allah.

Samalah keadaan hati itu seperti Kaabah, kerana Kaabah itu adalah dikatakan sebagai Rumah Allah. Kalau Kaabah itu mesti bersih dari perkara-perkara yang boleh menjatuhkan kesuciannya, maka begitu jugalah dengan hati, ia mesti bersih dari sesuatu yang mengotori ruang hati serta mengelapkannya.

Dari angan-angan keduniaan itu maka akan timbullah berbagai sifat tercela seperti tamak, hasad dengki, gemar kemasyhuran dan sebagainya. Perlu diingatkan bahawa sebahagian daripada angan-angan keduniaan itu ialah angan-angan seorang itu mengenai akhirat, tetapi cita-cita dan angan-angan itu telah dikotori oleh berbagai kehendak nafsunya.

Ramai orang terjerat di dalam perangkap ini tidak dapat menyedari dirinya itu sendiri. Misalnya, seorang itu membanyakkan usahanya berzikir siang dan malam, tetapi hati kecilnya terlintas bahawa dengan berbuat demikan maka ia akan cepat menjadi wali atau menjadi seorang Syeikh atau lekas fana’ dan sebagainya.

Sepatutnya ia bercita-cita supaya dapat ma’rifatullah dan keredhaanNya. Demikian juga seorang salik yang berhenti dari kerja mencari rezeki atau berhenti dari belajar Ilmu Islam kerana didorong supaya cepat naik maqam atau cepat mencapai matlamat perjalanannya; kononnya jika ia menumpukan zikir dan beramal ibadat sahaja maka cepatlah sampai kepada matlamat yang dituju. Sebenarnya hal demikian itu masih dipenuhi nafsu keduniaan yang pada zahirnya macam cita-cita akhirat.

3. HATI BERKATA ATAU TERLINTAS BAHAWA DIRINYA TELAH MENCAPAI TARAF WALI

Sifat demikian adalah berlawanan dengan kehendak Allah, kerana Allah melarang seseorang itu dari perbuatan mengaku diri sendiri itu suci dan bersih. Allah berfirman, maksudnya :”Maka janganlah kamu mengaku bahawa diri kamu itu suci. Dialah (Allah) yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa”.

Nabi bersabda yang bermaksud: “Tanda kecelakaan (masuk neraka) itu empat perkara: (Pertama), Lupakan dosa-dosa yang dilakukan, pada hal dosa-dosa itu masih utuh di sisi Allah. (Kedua), Ingatkan berbagai kebaikan yang dilakukan, pada hal ia tidak tahu samada kebaikan itu diterima atau ditolak oleh Allah. (Ketiga), Memandang orang yang di atas mengenai hal keduniaan. (Keempat), Memandang orang yang di bawah (lebih rendah) mengenai hal-hal agama. maka Allah berfirman (kepada orang ini): “Aku mahukan orang ini, tetapi ia tidak mahukan Aku, maka Aku pun tinggalkan sahaja”

Sebenarnya, bila seseorang itu tinggi darjatnya di sisi Allah, maka ia akan terasa rendah; bila ruhaninya bersih, maka ia terasa kotor dan banyak dosa; bila telah menjadi wali, maka terasa dirinya masih jauh dari kecintaan Allah. Sebaliknya, orang yang masih bergelumang dengan dosa itu biasanya merasakan dirinya sudah bersih, sudah menjadi wali Allah. Oleh yang demikian seseorang itu yang terasa telah menjadi wali itu telah tersimpang jauh dari arah perjalanannya yang sebenar. Ia tidak akan sampai ke matlamat yang dituju dan ia tetap jatuh tersungkur yang sukar untuk bangun semula.

4. SUKA DAN SENANG HATI BILA DIKERUMUNI OLEH ORANG RAMAI.

Bila ramai orang berada di sekelilingnya, kerana menyokong dan menyukainya maka ia berasa seronok, suka dan senang hati. Sebaliknya, bila orang ramai menjauhkan diri daripadanya maka ia berasa susah hati. Sifat demikian boleh merosakkan keruhanian seseorang salik, kerana pada hakikatnya ia masih memandang makhluk dan tidak memandang Allah. Di samping itu, sifat demikian itu menunjukkan bahawa ia masih sukakan kemasyhuran, kemuliaan, keagungan dan sifat-sifat lain yang seumpamanya.

Semua sifat tersebut adalah pakaian Allah bukan pakaian makhluk atau manusia. Ibrahim bin Adham berkata: “Seseorang yang tidak meninggalkan kemuliaan kepada kehinaan, ia tidak akan sampai ke darjat orang yang solihin”. Seorang murid Syeikh Abu Yazid Al-Bustami pernah mengadu kepadanya bahawa ia telah beramal di bawah pimpinan Syeikh Abu Yazid selama 30 tahun, tetapi ia terasa tidak mendapat apa-apa perubahan, masih tetap di tahap dahulu juga, maka apakah yang menyebabkan jadi begitu? Syeikh Abu Yazid Al-Bustami menjelaskan bahawa jika muridnya itu beramal selama 1,000 tahun lagi pun, tetap tidak akan berubah keadaan dirinya itu, kecuali ia membuang semua sifat berasa mulia dan tinggi di mata masyarakat itu.

Seorang itu dikehendaki menjadi hamba Allah, bukan hamba manusia. Bila seseorang itu suka kepada manusia, maka ia jadi hamba manusia, bukan hamba Allah. Seorang hamba Allah hanya sibuk dengan Allah, senang dengan Allah, cinta hanya terhadap Allah, harapannya hanya pada Allah dan tidak kepada yang lain.

5. BERASA PUAS HATI DENGAN BERBAGAI BAYANGAN MIMPI

Sifat tersebut akan mendorongkannya untuk berpegang terhadap berbagai tafsiran mimpi yang dialaminya itu. Lama kelamaan ia akan disesatkan oleh syaitan menerusi tafsiran-tafsiran mimpi itu sendiri, tanpa dapat menyedari kesalahan dirinya itu sampai bila-bila. Malahan setiap ia beramal, maka ia mengharapkan untuk mendapat mimpi yang baik-baik atau yang ia anggap dapat menguntungkan dirinya.

Bagaimana akibatnya nanti bila dia itu bermimpi bahawa si pulan itu berzina, si pulan bin pulan itu mesti dibunuh dan sebagainya lagi? Tentu akan menimbulkan fitnah besar di dalam masyarakat. Ternyata orang yang berpegang terhadap mimpi itu telah hanyut dari tujuan perjalanannya yang dirumuskan dalam doa munajatnya sendiri.

6. BERASA JINAK, SERONOK TERHADAP WIRID ATAU ZIKIR YANG DILAKUKAN

Sifat ini juga dilarang, kerana ianya boleh melalaikan seseorang itu dari mengingati Allah yang sebenar. Apa yang disuruh oleh Allah ketika berzikir atau berwirid itu ialah mengingati Allah, seronok dan senang hati terhadap Allah, bukan terhadap wirid dan zikir yang dibaca itu. Jika seronok dan senang hati dengan wirid dan zikir yang dibacakan itu, maka samalah juga ia seronok mendengar lagu atau nyanyian dari penyanyi.

Sifat tersebut akan menjadi hijab, kerana seseorang akan terhenti di tahap wirid dan zikirnya itu sahaja, sedang perjalanannya yang sebenar masih jauh lagi.

Bagaimana jika seseorang itu mendapat mimpi ? Jika mimpi itu baik maka hendaklah ia bersyukur dan jika sebaliknya maka hendaklah ia berlindung dengan Allah, jalan terus, jangan dihiraukan sangat mimpi itu.

7. BERASA LAZAT DAN PUAS HATI TERHADAP NATIJAH-NATIJAH ZIKIR AL-WARIDAT

Demikian juga berbagai pemandangan ruh atau mata hati terhadap rahsia-rahsia perjalanan menuju Allah itu adalah juga termasuk di dalam makna al-waridat itu. Di kalangan ahli Tariqat di Malaysia ini, al-waridat itu di istilahkan sebagai natijah-natijah zikir. Al-Imam Al-Ghazali mengibaratkan orang yang berasa seronok dan lazat dengan al-waridat itu seperti anak-anak kecil yang menangis, lalu diberikan gula-gula atau anak -anak patung, maka iapun merasa seronok lalu diam dan berhenti dari menangis, kerana ia puas hati dengan gula-gula atau anak-anak patung itu.

Al-Imam Al-Ghazali juga mengambarkan bahawa perjalanan ruhani seseorang menuju Allah itu dapat disamakan dengan perjalanan seseorang menemui raja yang bersemayam di atas singgahsana di dalam istananya; bila seseorang yang mahu menemuinya maka keluar dari rumahnya untuk menemui raja itu, sudah tentu akan mengambil masa yang lama disebabkan perjalanannya yang jauh itu; dalam perjalanannya itu tentu ada kampung, kebun, ladang, dan berbagai pemandangan lagi; bila sampai di kawasan istana pula tentulah pemandangan lebih menarik dan indah. Jika seseorang salik itu tertarik dengan pemandangan-pemandangan itu semua dan berasa seronok, sudah tentulah ia akan terlupa tujuan asal untuk menemui raja itu.

Apa yang paling membahayakan ialah seseorang itu berasa telah sampai kepada raja yang dituju, pada hal ia masih jauh lagi dari istana atau mungkin juga ia masih berlegar-legar di halaman istana. Oleh yang demikian, maka sifat berasa lazat, seronok dengan al-waridat itu menjadi hijab hati atau ruhani yang merosakkan perjalanannya. Lebih hebat lagi bila seseorang itu telah dihantui dan dicandui oleh perasaan seronok dan lazat dengan al-waridat tersebut. Di tahap tersebut, orang tersebut akan dihanyutkan oleh al-waridat itu sendiri, sehingga bila satu masa nanti al-waridat terasa tidak ada maka hati kecilnya mula berperangsangka buruk terhadap Allah, dirinya sendiri, terhadap gurunya dan para sahabatnya.

Bagaimana mahu menerima al-waridat itu? Terimalah dengan bersyukur kepada Allah, jika ianya tidak berlawanan dengan Al-Quran dan sunnah Nabi dan jika tidak berlawanan dengan kata-kata ulama yang arif billah. Tetapi janganlah dihiraukan sangat al-waridat tersebut. Jika al-waridat tersebut berlawanan dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi atau pandangan ulama arif billah, maka hendaklah ianya kita sisihkan sahaja, jangan pandang langsung.

Di sinilah letaknya bahawa seseorang itu mesti terus menimba ilmu, tauhid, feqah dan tasauf, kerana tanpa ilmu sukar untuk menentukan al-waridat itu hak atau batil.Seorang yang tidak mahu mengerjakan sembahyang, tidak mahu menceburkan diri dalam masyarakat atau sebagainya, pada hal gurunya tidak ada mengajarkan demikian adalah berpunca dari kesilapannya sendiri iaitu terlalu berpegang terhadap al-waridat, walaupun ia jahil mengenai Al-Quran, Sunnah Nabi dan pandangan para ulama yang sebenarnya.

8. DIAM, NEGATIF TIDAK POSITIF TERHADAP JANJI-JANJI BAIK ALLAH

Allah menyuruh hamba-hambaNya untuk berbuat baik, malahan Allah menyuruh supaya para hambaNya itu berlumba-lumba untuk berbuat berbagai kebaikan. Allah berfirman, maksudnya: “Hendaklah kamu berlumba-lumba untuk membuat berbagai kebaikan”. (Surah Al-Anbia: Ayat 90)

Kebaikan yang Allah perintahkan untuk dilakukan selain daripada perkara-perkara yang difardhukan adalah terlalu banyak. Oleh itu seseorang itu, setelah menunaikan yang difardhukan, maka hendaklah ia aktif, cergas dan bersegera berbuat kebaikan itu.

Ingatlah bahawa orang yang berhenti (waqif) itu adalah orang yang masih mula berjalan, seorang salik pula adalah berjalan terus (sair) sedang seorang yang telah sampai kepada hakikat (wasil) pula adalah sentiasa terbang, bukan hanya ruhaniyahnya tetapi juga aspek zahirnya.

Contoh kita ialah Nabi Muhammad S.A.W. Tidakkah Baginda itu sentiasa aktif, cergas dalam hidupnya untuk berbuat kebaikan yang sebaik-baiknya. Sebab itulah Allah menyatakan bahawa hamba – hamba Allah yang sebenarnya itu ialah mereka yang mendengar ajaran Allah lalu melakukan yang terbaik sekali.

Maksudnya:
“Hamba-hamba Allah yang sebenar itu ialah mereka yang mendengar ajaran Allah lalu diikuti (dibuat) yang lebih dalam lagi dalam perkara- perkara yang membantu menyempurnakan amalan salik”.

9. BERPADA DENGAN BERPEGANG KEPADA SANGKAAN-SANGKAAN SAHAJA

Perjalanan ruhaniyah adalah amat sulit dan banyak liku-likunya yang mudah menyesatkan, lebih sulit dan lebih bahaya lagi jika dibandingkan dengan perjalanan di dalam hutan dara yang terlalu tebal. Oleh itu ia perlukan ilmu yang tepat dan benar sebagaimana yang ada di dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi serta yang terdapat di dalam kitab-kitab yang mu’tabar.

Jika seseorang hanya berpandu kepada sangkaan-sangkaannya sahaja, sudah tentulah ia akan sesat. Dari sudut yang lain pula dapat kita gambarkan bahawa jalan keruhanian itu seperti sebuah cermin yang bersih, tetapi ada garis pembahagi sebelah kiri dan kanan; sebelah kiri adalah iblis dan kesesatan sedang sebelah kanan adalah yang hak atau yang benar yang dikehendaki oleh Allah.

Tetapi garis pembahagi di cermin yang memisahkan kiri dan kanan itu tidak Nampak dan terlalu sukar untuk dilihat sehingga orang yang berjalan di atasnya telah jauh terseleweng ke kiri, tetapi ia masih yakin berada di sebelah kanan (Ia telah sesat, tetapi ia merasakan masih berada di dalam kebenaran).

Hanya bila kita berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah serta pandangan ulama yang arif billah sahajalah yang dapat menyedarkan diri samada kita telah sesat atau berada di dalam kebenaran Allah.Kebanyakan kesesatan dan tindakan serta tingkah laku pengamal-pengamal ilmu tasauf yang menyalahi syariat Islam adalah berpunca
dari sangkaan-sangkaan mereka sendiri seperti yang disebutkan itu.

10. MENIPU ALLAH

Perbuatan menipu Allah ini banyak berlaku di kalangan orang-orang yang jahil, terutamanya seseorang yang jahil murakkab iaitu ia jahil dan tidak mahu belajar serta tidak mahu mendengar kebenaran yang disampaikan kepadanya, malahan ia bersikap bodoh sombong dengan sifat kejahilan dirinya itu.

Contoh – contoh perbuatan menipu Allah itu ialah seperti tidak mahu sembahyang kononnya ia telah melakukan sembahyang daim (hatinya terus sembahyang tanpa putus) , berjudi itu rezeki yang Allah beri juga seperti sumber-sumber rezeki lainnya, kerana hakikat rezeki itu datangnya dari Allah belaka; berdoa itu syirik kerana bila berdoa bererti menuduh Allah tidak tahu untuk mengurus diri para makhluknya, sembahyang itu syirik kerana ada niat sengaja aku sembahayang, tidak sembahyang dosa besar, dosa besar diampunkan, tetapi syirik tidak diampunkan.

Oleh itu tidak buat sembahyang adalah lebih baik daripada melakukannya. Kata-kata si jahil seperti itu adalah merupakan kata-kata loyar buruk semata-mata. Mereka akan dimasukkan ke neraka oleh Allah dengan cara yang amat menyakitkan hatinya.

Tegasnya Allah akan berloyar buruk terhadap mereka. Misalnya, orang itu akan dimasukkan di dalam satu bekas dan bekas itu dimasukkan ke neraka; bila mereka bertanya mengapa mereka dimasukkan ke neraka, maka Allah menjawab bahawa Allah tidak membakar mereka tetapi hanya mahu membakar bekas itu sahaja!

Wallahu a’lam.

(Oleh: Tuan Guru Dr Hj Jahid Bin Hj Sidek al – Khalidi)

(Ahli Turuq Jilsah Jabatan Mufti Negeri Sembilan, Malaysia)

 

8 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

TUBUH TIDAK SIMPATI PADA DIRI SENDIRI

ADALAH lumrah sekiranya berlaku persengketaan atau perbalahan antara dua individu atau dua kumpulan individu kerana manusia tidak selamanya bersependapat atau sealiran fikiran. Akan tetapi agak sukar difahami sekiranya manusia terpaksa berkrisis atau bersengketa dengan dirinya sendiri. Tidak mungkin sesuatu perbuatan dilakukan oleh seseorang tanpa persetujuan perasaan dan fikirannya. Jika sesuatu tindakan telah dipersetujui, tidak mungkin jasad akan dipersalahkan kerana melakukannya. Oleh itu, perbalahan dengan diri sendiri tentunya tidak akan terjadi.

Walau bagaimanapun, Allah SWT akan membuktikan bahawa saat manusia terpaksa berbalah dengan diri sendiri pasti tiba. Setiap anggota tubuh manusia akan saling mendedahkan rahsia diri yang selama ini tidak pernah didedahkan atau diketahui oleh sesiapa pun.

Firman Allah SWT :
“Pada hari ini ( Hari Kiamat ), Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dilakukan oleh mereka dahulu.”  (Yaasiin : 65 )

Ayat tersebut menunjukkan bahawa pada Hari Kiamat kelak, tangan dan kaki tidak akan bersekongkol dengan mulut untuk mempertahankan sesuatu, sebaliknya akan mendedahkan segala amal yang telah dilakukan, sama ada baik atau pun buruk.

Firman-Nya lagi :
“Pada hari ( ketika ) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa-apa yang dikerjakan oleh mereka dahulu.” ( An-Nur : 24 )

Ayat ini juga menjelaskan bahawa anggota lidah, tangan dan kaki akan menjadi saksi terhadap apa-apa yang dilakukan oleh mereka dahulu. Lidah adalah anggota yang dianggap lebih tajam daripada pedang kerana ia boleh menuturkan kata-kata keji dan fitnah, merumpat, berdusta dan sebagainya.

Semua anggota tersebut akan berperanan sebagai saksi kepada diri sendiri. Sesungguhnya saksi amat penting dalam sesuatu perbicaraan. Kesahihan saksi akan mensabitkan sesuatu pertuduhan.

Firman Allah Taala lagi :
Dan mereka berkata kepada kulit mereka : “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab :”Allah yang menjadikan sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” ( Fussilat : 21 )

Ayat ini menambahkan dalil yang menunjukkan bahawa satu lagi anggota tubuh yang akan menjadi saksi ialah kulit dan manusia akan berasa hairan mengapa ia pula menjadi saksi? Akan tetapi kulit bakal menjelaskan bahawa Allah SWT yang menjadikannya boleh bertutur sebagaimana Dia mencipta mulut yang boleh bertutur.

Kulit akan menjadi saksi kerana ia juga berperanan dalam kehidupan manusia. Kulit mempunyai deria sentuhan. Di Akhirat kelak, kulit dijadikan makhluk yang boleh bertutur bagi menjadi saksi terhadap apa-apa jua kegiatan yang melibatkannya. Sekiranya kegiatan itu negetif, pasti kulit akan memecahkan tembelang yang menyebabkan diri manusia tergugat.

Abu Bakar bin Abi Syaibah meriwayatkan sebuah hadis daripada Muawiah bin Haidar al-Kurasi, katanya, Rasulullah SAW bersabda, yang bermaksud : “Manusia akan datang ke Akhirat dengan mulutnya terpasang alat pengekang ( tidak boleh bercakap ). Anggota tubuh yang mula-mula bercakap di Akhirat ialah peha dan tapak tangan.”

Lazimnya mulut yang dipasang dengan alat pengekang ialah mulut binatang ganas seperti anjing, yang dengan itu ia tidak boleh mengigit orang. Apabila mulut manusia pula dipasang dengan alat yang sama, tujuannya juga serupa, iaitu menghalang mulut daripada berkata-kata, berdalih atau berbohong.

Dalam ayat Al-Kurasi itu, Rasulullah SAW memberitahu bahawa dua anggota yang akan berkata-kata pada Hari Akhirat ialah peha dan tapak tangan. Ia akan bercakap bersama-sama anggota lain seperti dijelaskan oleh tiga ayat Al-Quran di atas. Semua anggota akan bercakap menjelaskan dan menjadi saksi terhadap amal yang dilakukan oleh mereka, sama ada amal baik atau amal

8 September 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Diam Lebih Baik

Diam lebih Baik; “Sekiranya kita tidak tahu tentang sesuatu permasalahan itu atau pertanyaan yang diajukan kepada kita maka diam itu adalah lebih baik. Kerana agar kita tidak memberikan jawapan yang salah ataupon mengelirukan orang lain. Dan juga supaya tidak menunjukkan kejahilan diri sendiri. Makanya diam itu lebih baik.”

“Dan ketahuilah dengan menperkatakan Wallahua’alam. Saya tidak tahu itu jauh lebih baik kerana itu juga adalah sebahagian daripada ilmu. Jika kita mahu bertanya suatu masalah agama yang melibatkan hukum hakam dan inginkan kepastian. Maka carilah ahlinya. Dan jangan biasakan diri kita ini untuk bertanya pada google, facebook dan sebagainya.”

“Sepertimana bila kita sakit, kita jumpa doktor. Jumpa pada ahlinya, inikan pula urusan agama. Masalah hukum hakam. Tak kanlah mau sendiri pandai pandai sendiri. Lebih cantik lagi kalau kita menghadiri pengajian, kuliah, hadir majlis ilmu.
Kita berjumpa terus dengan mereka yang merupakan ahlinya. Yang mana ilmunya itu diiktiraf oleh ulama dan mempunyai rantaian sanad ilmunya.”

“Satu kisah. Pada suatu hari, datang seorang lelaki. MashaAllah Tabarakallah yang jubahnya, imamahnya, perhiasannya,
penampilannya datang masuk ke majlis Al-Imam Abu Hanifah Rahimahullah maka dengan Imam Abu Hanifah pada saat ketika tengok orang yang berpakaian seperti Ulama tadi itu memasuki majlis pengajian beliau maka Imam Abu Hanifah yang pada mulanya duduk keadaan santai bersama dengan murid-muridnya.”

“Begitu melihat seorang yang berpakaian seperti seorang yang alim besar tadi itu masuk maka Imam Abu Hanifah duduk kemaskan pakaian, duduk hormat takzim memberikan penghormatan kepada tetamu yang baru datang tadi itu yang duduk mendengarkan penjelasan, ulasan
penerangan Imam Abu Hanifah yang pada ketika itu perbualan beliau membicarakan tentang hukum hakam yang berkenaan dengan puasa.”

“Di antaranya yang apabila matahari sudah terbenam maka dengan puasa seseorang itu sudah berakhir. Puasa itu bermula daripada terbit fajar dan akan berakhir selepas matahari tenggelam. Jadi bersahur ataupun juga tidak bersahur, makan ataupun juga tidak makan, iftar ataupun juga tidak iftar. Yang namanya puasa itu sudah tamat.”

“Jadi Imam Abu Hanifah Rahimahullah yang menjelaskan tentang hukum hakamnya puasa itu bermula daripada terbit fajar dan berakhir dengan terbenamnya matahari. Lalu orang yang berpakaian alim itu mengangkat tangan dan mengatakan “Tok Guru. Tumpang tanya.”Jawab Imam Abu Hanifah “Silakan.”

“Beliau menanyakan “Macam mana Tok Guru seandainya matahari itu tidak terbenam saat pada pukul dua belas malam?” Pada mulanya Imam Abu Hanifah yang memberikan penghormatan, takzim kepada orang tadi itu kerana merasakan orang itu lebih besar lebih alim daripada beliau yela mana tidaknya dengan penampilannya sebegitu.”

“Kemudian Imam Abu Hanifah mengatakan; “Kalau seandainya matahari tidak terbenam melainkan selepas tengah malam maka lebih elok Nukman Bin Thabit duduk santai semacam tadi daripada aku memberikan penghormatan kepada orang yang jahil tidak tahu apa-apa.”

“Kalau seandainya dia senyap saja orang tidak tahu yang orang tadi itu tidak tahu. Tentang hukum hakam. Mana mungkin matahari tidak terbenam melainkan selepas tengah malam. Dari mana datangnya malam kalau matahari itu belum tenggelam lagi.”

“Kalau seandainya kita mengatakan “Wallahu’Alam. Saya tidak tahu permasalah yang semacam itu.Saya tidak tahu maka jawapannya selesai.” Ulama mengatakan ucapan Wallahu’Alam saya tidak tahu itu adalah sebahagian daripada ilmu. Pada saat ketika saya katakan Wallahu’Alam saya tidak tahu maka orang akan mempertanyakan kepada orang yang lebih tahu daripada saya.”

“Akan tetapi seandainya kita pandai-pandai ingin cuba menjawabnya juga sedangkan kita tidak yakin, tidak pasti apatah lagi kita tidak tahu dan ternyata jawapan yang kita berikan itu salah dan silap sehingga boleh mengelirukan dan menyesatkan kepada orang lain maka itu adalah sesuatu yang amat teruk. Akan dinampak kejahilan diri peribadi kita dan ternyata kita akan mendapatkan dosa dengan begitu mudah sahaja.”

Daripada TG Sheikh Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki.

Sumber: Raudhatul Muhibbin

 

7 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

BONGKAK DAN SOMBONG

1 ) Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS Al-Baqarah : 34)

2) “Wahai Muhammad, pada hari kiamat kelak, kamu akan menyaksikan orang-orang yang ketika didunia berdusta atas nama agama Allah. Engkau saksikan wajah-wajah mereka hitam kelam. Bukankah neraka Jahanam adalah tempat tinggal bagi orang-orang yang sombong” (QS. Az-Zumar: 60)

3) “Janganlah kamu berjalan dengan sombong di muka bumi. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus ke dasar bumi dan tidak dapat menandingi ketinggian gunung [QS Al Israa’:37]

4) Wahai anakku tersayang, janganlah kamu bersikap sombong kepada manusia. Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sikap sombong, sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri [QS Luqman:18]

5) “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”(HR Muslim)

“Sombong adalah keadaan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri. Memandang dirinya lebih besar dari pada orang lain, Kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan menolak kebenaran dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan ataupun mengesakan-Nya”. (Fathul Bari’ 10/601)

6) Rasul saw bersabda :”Tidak akan masuk syurga orang yang dalam hatinya ada sifat sombong, walaupun hanya seberat biji sawi” (HR Muslim)

7) “Janganlah kamu berjalan dengan sombong di muka bumi. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus ke dasar bumi dan tidak dapat menandingi ketinggian gunung [QS Al Israa’:37] –

8) Dalam hadits dari Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

9) “Mahukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur (sombong).” (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853)

Tanyakan kepada orang yang sombong ini, siapakah di kalangan ulamak yang mengiktiraf keilmuannya, apakah disiplin ilmu yang telah dikuasainya untuk menulis buku-bukunya sebanyak 13 buah buku.

Kerana Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda tentang orang yang jahil dan berani berfatwa tanpa disiplin ilmu adalah sesat dan menyesatkan :

Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

ALLah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan.

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Imam Ali bin Abi Thalib / Muhammad bin Ibnu Sirin

إِنَّ
هَذَا
الْعِلْمَ
دِيْنٌ،
فَانْظُرُوْا
عَمَّنْ
تَأْخُذُوْنَ
دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agama kamu”.

(Lihat: Mukadimah Sahih Muslim 1/14. الكفاية. Hlm. 121. Al-Khatib al-Baghdadi).


 

 

28 August 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Apakah hukum mencium tangan para ulama dan orang soleh? Adakah ia suatu bid’ah atau ia dianjurkan oleh syarak?


Jawapan :

Mencium tangan ulama, orang-orang soleh dan pemimpin yang adil adalah sunat dan bukanlah suatu yang bid’ah selagi mana ia tidak menyebabkan mereka yang dicium tangan itu tertipu (ghurur). Sekiranya keadaan itu terjadi, dosa dibebankan kepada orang yang diciumkan tangannya dan bukannya kepada orang yang mencium, kerana yang mencium itu hanya bermaksud untuk memuliakan dan menghormatinya.

Dalil bagi masalah ini adalah seperti berikut :

1. Sebuah hadith yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Abu Daud dengan sanad yang hasan sahih daripada Safwan bin ‘Assal radiyaLLahu ‘anhu katanya : “Seorang Yahudi berkata kepada sahabatnya: “Mari kita pergi bertemu dengan nabi ini.” Lalu mereka berdua pergi menemui Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam dan bertanyakan kepadanya sembilan tanda yang nyata. Maka RasuluLlah pun menjawab : “Janganlah kamu mensyirikkan ALLah dengan sesuatu apapun, jangan kamu mencuri, jangan kamu berzina, jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan ALLah melainkan dengan haknya, jangan kamu berjalan dengan bebas kepada seorang yang mempunyai kekuasaan lalu dia membunuh kamu, jangan kamu mengamalkan sihir, jangan kamu memakan riba, jangan kamu menuduh melakukan zina kepada seorang wanita yang suci, jangan kamu berpaling tadah (berundur) dari medan peperangan, jangan kamu bekerja pada hari sabtu.”

Safwan berkata: “Lalu kedua Yahudi itu mencium tangan dan kaki baginda sallaLLahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Kami bersaksi bahawa engkau adalah seorang nabi.” Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah yang menghalang kamu daripada mengikutiku?” Salah seorangnya menjawab : “Sesungguhnya Nabi Daud ‘alaihissalam pernah berdoa kepada Tuhannya supaya sentiasa mengutuskan nabi di kalangan zuriatnya, dan kami takut sekiranya kami mengikutimu, kami akan dibunuh oleh orang-orang Yahudi.”

2. Hadith yang diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahawa Ummu Aban binti Wazei’ bin Zarei’ daripada datuknya Zarei’ radiyaLLahu ‘anhu dan beliau bersama-sama di dalam rombongan qabilah Abdul Qais katanya: “Tatkala kami tiba di Madinah, kami segera meninggalkan kenderaan-kenderaan kami, lalu kami mengucup tangan dan kaki RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam. Tetapi al Munzir al Arsyah menunggu sehingga tibanya Utbah, lalu beliau memakai kedua pakaiannya, kemudian pergi menemui Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam. Nabi bersabda kepadanya :

“Sesungguhnya pada kamu ada dua sifat yang dikasihi oleh ALLah iaitu : sabar dan lemah lembut.” Al Munzir bertanya : “Wahai RasuluLLah adakah aku yang berusaha untuk berakhlak dengan kedua-dua sifat itu atau ianya dikurniakan oleh ALlah? RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam menjawab : Ia dikurniakan oleh ALlah kepada kamu.” Lalu Munzir mengucap: “AlhamduliLlah yang telah mengurniakan kepadaku dua sifat yang dicintai ALlah dan rasul-Nya.”

Jika terdapat dakwaan mengatakan ia hanya dikhususkan kepada Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam. Maka kami akan menjawab begini : Dakwaan ini perlulah dikemukakan bersama dalil yang menyatakan mengucup tangan dan kaki hanya khusus untuk RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam tetapi tidak ada satupun dalil mengenai perkara tersebut.

Prinsip asalnya ialah setiap sesuatu yang diakui oleh RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam atau dilakukan dan diucapkan oleh baginda menjadi syariat untuk baginda dan umatnya selagimana tiada dalil yang menyatakan ia dikhususkan untuk RasuluLLah sallaLlahu ‘alaihi wasallam.

Manakala pendapat yang mengatakan sekiranya diharuskan mengucup tangan atau kaki, nescaya ia membawa kepada tunduk yang dilarang. Maka jawapannya begini : Bukan semestinya setiap bentuk tunduk itu ditegah syarak, tetapi yang ditegah ialah tunduk untuk tujuan mengagungkan dan rukuk. Bukankah apabila sesuatu barang kamu jatuh ke tanah, maka kamu menundukkan badan untuk mengambilnya? Jadi, begitulah juga menundukkan badan di sini adalah untuk mengucup tangan atau kaki, bukannya untuk menyembah atau mengagungkan.

Sumber Ambilan : Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur


 

28 August 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Bolehkah mengamalkan ilmu yang diperolehi daripada mimpi?

 

Dipetik dari kitab: “Menjawab Persoalan Makhluk Halus : Kaitannya Dengan Penyakit Dan Pengubatan – Bersama Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din“.

Mimpi adalah permainan tidur. Kebanyakan mimpi berlaku hasil daripada khayalan, imaginasi manusia tentang sesuatu hal dan gambaran yang amat diingini atau ditakutinya. Mimpi juga biasanya mainan syaitan yang ingin menyesatkan manusia melalui mimpi. Sesuatu yang berlaku dalam mimpi itu jarang sekali menggambarkan yang sah ataupun yang sebenar.

Dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Muslim daripada Ibn Abbas RA bahawa Rasulullah SAW bersabda, maksudnya:

“Tidak tinggal daripada nubuwwah (kenabian) melainkan mimpi-mimpi yang benar (al-Ru’ya al-Sadiqah).”

Mimpi-mimpi yang benar ini amat jarang berlaku. Kadangkala dilihat sebagai benar, namun apabila diteliti ia tidak benar sama sekali. Mimpi manusia biasa tidak serupa dengan mimpi Anbia dan al-Mursalin. Mimpi para Anbia dan al-Mursalin adalah benar sedangkan mimpi manusia biasa lebih banyak terdedah kepada pelbagai penipuan Iblis.

Persoalannya :
Bolehkah mengamalkan ilmu yang diperolehi daripada mimpi?

Secara umumnya Islam meletakkan saluran yang tertentu untuk menyebarkan ilmu. Firman Allah SWT dalam surah an-Nahl ayat 43, maksudnya:

“Kami tidak mengutus Rasul sebelummu wahai Muhammad, melainkan daripada kalangan oranglelaki yang kami wahyukan kepada mereka. Oleh itu bertanyalah kamu kepada orang-orang berpengetahuan agama jika kamu tidak mengetahui.”

Istilah yang digunakan dalam ayat ini adalah ahl al-Dhikr, iaitu orang yang dapat mengingatkan kamu kepada Allah SWT. Siapa lagi kalau bukan ulama yang muktabar. Salah satu tuntutan syarak ialah kita mengambil ilmu daripada ulama yang muktabar.

Dalam konteks ini, sudah ramai ulama dalam masyarakat yang boleh membantu anda melakukan ibadah. Jika anda memerlukan kepada orang yang boleh mendampingi dan menunjuk ajar ilmuperubatan sama ada perubatan alopati atau berasaskan doa dan ayat-ayat al-Quran, anda boleh mendapatkannya dengan mudah. Jangan mengambil ilmu daripada mimpi yang anda sendiri tidak pasti siapakah yang ditemui dalam mimpi itu.

Oleh yang demikian, ada dua kemungkinan sama ada arahan di dalam mimpi itu benar daripada orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT atau berkemungkinan hanya lakonan Iblis. Anda dinasihatkan jangan mengambil risiko kerana mentaati mimpi amat terdedah kepada risiko yang begitu besar, iaitu melakukan ibadah bukan kerana Allah SWT tetapi kerana syaitan.

Wallahu a’lam.

27 August 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

LARANGAN NAMIMAH (BERGOSSIP/MENYEBAR KHABAR ANGIN/MENGADU DOMBA)

image

Allah berfirman yang bermaksud:
“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa”.
(Al-Qalam: 10-12)

Di antara bahaya lisan yang tak boleh dihiraukan adalah namimah, atau dikenal dengan istilah mengadu domba. Namimah ini sama dengan rasa benci dan permusuhan. Mungkin sebahagian dari kita yang mengetahui bahaya namimah akan mengatakan, “Ah, saya tak mungkin berbuat demikian…” Namun, jika kita tidak benar-benar menjaga hati dan lisan ini, kita akan mudah tergelincir. Apalagi ketika rasa benci dan hasad dengki telah memenuhi hati. Bahkan, saat kita menjaga lisan ini dari  namimah, tanpa disedari kita terpengaruh oleh namimah  yang dilakukan seseorang.

Jangan pernah ada rasa tidak suka atau rasa dengki kita kepada seseorang yang menjadikan kita berlaku jahat dan berlaku tidak adil kepadanya, termasuk berbuat namîmah. Sebab, betapa banyak perbuatan  namimah yang terjadi kerana timbulnya rasa dengki di hati. Apalagi kepada saudara sesama Islam, hendaknya kita tidak menyimpan rasa dengki. Dengki dan mengadu domba adalah akhlak tercela yang dibenci Allah kerana boleh menimbulkan permusuhan, sedangkan Islam memerintahkan agar umatnya bersaudara dan bersatu seperti bangunan yang kukuh.

Nabi SAW bersabda:
“Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bermusuhan, dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain, dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara”.
(Hadith Riwayat Muslim)

Nabi SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

“Tidak akan masuk surga, orang yang qattat (yakni ahli namimah)”.
(Hadith Riwayat Al-Bukhari dari Hudzaifah)

Berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tak berguna, apatah lagi dari perkataan yang menyebabkan saudara kita rasa disakiti dan dizalimi. Bukankah mulut seorang mukmin tak akan berkata kecuali yang baik.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang rugi di akhirat disebabkan tidak menjaga lisan.

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku, dan kejahatan maniku.

Sumber

26 August 2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

HATI-HATI DALAM MENILAI HADIS PALSU

Oleh : Ustaz Umar Muhammad Noor

Setiap kali saya melihat sebuah hadis yang dinilai mawdhu’ [palsu] oleh ulama mutaakhirin dan kontemporari, berbagai soalan segera timbul di pikiran saya, “Apa yang menyebabkan hadis ini dinilai seperti itu?” Jika alasannya adalah seorang perawi pendusta [kadzzab] yang terdapat di dalam sanad, maka “apakah setiap hadis yang diriwayatkan seorang pendusta maka otomatik mawdhu’? Apa bukti yang menunjukkan bahawa pendusta ini tengah berdusta?”

Soalan ini tersimpan di kepala saya sejak bertahun-tahun yang lalu. Saya memang berusaha untuk selalu berhati-hati menilai sebuah hadis, samada menilainya sahih atau lemah, apalagi palsu. Sebab perkara ini bukan ringan. Penilaian kita terhadap suatu hadis sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kepercayaan dan amalan yang akan mewarnai wajah agama kita.

Khas berkenaan dengan hadis palsu ini, saya melihat orang-orang tertentu yang sangat ringan mengucapkannya. Mereka menilai sesebuah hadis dengan palsu meskipun tidak tahu apa faktor [‘illat] yang membawa kepada penilaian tersebut. Apabila ia berlindung di sebalik nama seorang pakar hadis [samada seorang ulama terdahulu atau semasa], saya perhatikan jarang sekali yang mencari pendapat ulama lain [second opinion] untuk membuka peluang perbezaan pendapat.

Sikap Ahli Hadis

Padahal, jika kita kembalikan masalah ini kepada ahli hadis, kita akan melihat sikap yang sangat matang tentang hal ini. Mereka tidak menilai palsu sebuah hadis kecuali selepas mengkajinya dari berbagai aspek. Dan status seorang perawi [meskipun ia seorang pendusta] bukan satu-satunya aspek yang menentukan sesebuah hadis mawdhu ataukah tidak?

Berkata Al-Hafiz Al-Sakhawi dalam “Fathul Mughits” 1/297:

“… demikianlah, dan sekadar tafarrud seorang pendusta, bahkan seorang pemalsu hadis, meskipun penilaian itu selepas kajian yang sangat sempurna dari seorang hafiz yang menguasai [ilmu hadis] dan peneliti yang akurat, tidak melazimkan hal tersebut [yakni hadis mawdu’]. Akan tetapi, kondisi itu mesti disokong oleh beberapa aspek lain yang akan dijelaskan nanti.”

Mengapa Al-Sakhawi berkata seperti itu? Jawabannya pernah saya jelaskan dalam artikel saya yang bertajuk “Membandingkan Metode Mutaqaddmin dan Mutaakhirin dalam Kritik Hadis”. Dalam tulisan tersebut, saya pernah menegaskan bahwa seorang perawi jujur boleh keliru, dan seorang pendusta boleh jujur. Maka tidak semua hadis yang sanadnya terdiri daripada perawi-perawi yang jujur otomotik sahih, dan sekarang saya harus menegaskan kebalikannya, iaitu tidak semua hadis yang terdapat di dalam sanadnya perawi yang pendusta mesti dinilai palsu.

Berkata Ibn Al-Jawzi di mukadimah kitabnya yang terkenal “Al-Mawdhu’at” 1/65 :

“Kadangkala sebuah sanad [terdiri dari] perawi-perawi yang kesemuanya tsiqat, akan tetapi hadisnya palsu, maqlub atau terjadi tadlis di dalamnya. Dan ini adalah kes yang paling berat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali pakar-pakar kritik.”

Terbuka untuk Khilaf

Bagi saya, menilai status hadis bukan untuk sembarang ulama, apalagi sembarang orang yang baru belajar ilmu hadis. Tugasan ini terlalu besar dan berbahaya. Untuk orang-orang seperti kita, sebaiknya kita “mentaqlid” sahaja penilaian pakar-pakar hadis yang diakui keilmuan dan kepakarannya di bidang ini.

Maka, apabila anda menemukan pakar hadis menilai palsu sesuatu hadis, maka jangan cepat-cepat memastikan hukum tersebut menjadi satu-satu hukum muktamad yang wajib diterima semua orang. Anda mesti memastikan terlebih dahulu, adakah hukum ini disepakati semua ulama, ataukah masih terjadi khilaf di dalamnya? Jika ada khilaf, maka maka jauhi kalimat “hadis palsu”. Anda boleh katakan hadis ini lemah atau munkar, tapi jangan katakan “hadis ini palsu” selama terdapat perbezaan pendapat di kalangan ahli hadis.

Berkata Al-Hafiz Abu Abdillah Al-Dzahabi dalam kitab “Al-Muqizah” hal. 36:

“Hadis mawdu adalah [hadis] yang matannya bertentangan dengan prinsip-prinsip agama dan perawinya pendusta. Seperti kitab “Arbain Al-Wad’aniah” dan naskah Ali Ridha yang didustakan atasnya. Hadis mawdu ini ada beberapa tingkatan. Antaranya, hadis yang disepakati bahawa ianya dusta. Perkara ini diketahui dengan pengakuan pembuatnya, dengan percobaan dusta daripadanya, atau lain-lain. Di antaranya juga, hadis dusta menurut kebanyakan ulama, sementara sebahagian yang lain menilainya sebagai sangat lemah atau mesti dibuang [saqith matruh]. Kami tidak berani menyebutnya sebagai mawdhu. Di antaranya juga, hadis yang dinilai lemah oleh jumhur, sementara sebahagian kecil ulama menilainya dusta.”

Jelas dari penjelasan Al-Dzahabi ini, hanya hadis yang disepakati oleh semua ahli hadis sebagai palsu sahaja yang boleh disebut mawdhu’. Sementara yang terjadi khilaf di dalamnya, maka ia boleh disebut dengan berbagai istilah lain yang menunjukkan kelemahannya, selain istilah mawdhu.

Khilaf siapa?

Namun, ucapan ini bukan membuka pintu khilaf selebar-lebarnya. Kita mesti teliti dalam melihat setiap khilaf yang terjadi di sekitar penilaian hadis ini. Tidak semua pendapat boleh dijadikan sandaran, dan tidak semua khilaf diterima sebagai khilaf. Hanya pendapat ulama yang benar-benar pakar dalam hadis sahaja yang boleh diambil kira dalam perdebatan ini. Iaitu para pakar hadis seperti Ibn Mahdi, Yahya Al-Qattan, Syu’bah, Ahmad, Ibn Al-Madini, Ibn Ma’in, Al-Bukhari, Muslim, Al-Daruqutni dan para ulama mutaqaddimin lainnya. Wallahu a’lam.

***Latarbelakang pendidikan :

Lahir di Bekasi, Indonesia. Lulusan B.A Usuluddin (Tafsir-Hadis) dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan M.A Usuluddin (Hadis) di Unversiti Omm Durman, Sudan. Menimba ilmu hadis di Damaskus Syria, sejak tahun 2002 hingga 2007.


24 August 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Apakah pendirian al Qardhawi tentang Wahhabi ?

Kadang-kala, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi ada memanggil golongan pengaku salafi ini sebagai wahabi juga sepertimana dalam satu wawancara di mana beliau berkata:

من كفر السلفية أو الوهابية من كفر الصوفية من كفر الشيعة هذا موجود فعلا

Maksudnya: “Ada orang yang mengkafirkan As-Salafiyyah atau Al-Wahhabiyyah, ada orang yang mengkafirkan Sufiyyah dan ada orang yang mengkafirkan Syiah. Ini memang berlaku secara realitinya”.

Rujukan: http://qaradawi.net/…/220-2014-01-2…/2014-01-26-18-26-08/847

Perkembangan Wahabi

Beliau menulis dalam kitabnya berjudul “Ummatuna Bain Qarnain”:

“Dan di Al-Mamlakah Al-Arabiyyah As-Saudiyyah (Republik Arab Saudi) muncul gerakan As-Salafiyyah yang mengajak kepada Tauhid yang berunsurkan tiga unsur iaitu: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Al-Asma’ wa As-Shifat. Mereka menumpukan usaha untuk membebaskan tauhid daripada khurafat (menurut mereka), syirik (menurut mereka), quburiyat (menurut mereka) dan mengingkari ta’wil. Mereka terlalu keras (tasyaddud) dalam ingkar terhadap mereka yang menta’wilkan sifat-sifat Allah yang dikhabarkan (padahal dalam bentuk zhanni ad-dilalah) dari kalangan para Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah. Mereka merujuk kepada turath Sheikhul Islam Ibn Taimiyyah dan muridnya Imam Ibn Al-Qayyim untuk menjadi rujukan dalam dakwah dan perdebatan begitu juga daripada turath Mujaddid Al-Jazirah Sheikh Muhammad Abdul Wahab.

“Bagi gerakan (pemikiran) ini juga ada pengaruhnya yang berkembang di Mesir yang dikembangkan oleh Sheikh Muhammad Hamid Al-Fiqi dan Jemaah Anshar As-Sunnah, di Syam oleh Al-Muhaddith Sheikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, di India dan Pakistan oleh jemaah Ahli Hadith (Lihat isyarat Dr. Al-Qaradhawi tentang perkembangan Wahabi/pengaku Salafi di negara-negara berikut- penulis). Kebanyakan mereka dikenali sebagai golongan Mutasyaddid (keras) dalam masalah furu’ (cabang), berpegang kepada Zahir (nas), kurang melihat Maqasid Syari’iyyah, kurang melihat perubahan masa dan tempat, sibuk dalam perkara-perkara khilaf berbanding perkara-perkara yang disepakati dan mereka dalam zaman kita ini lebih dari satu kelompok (banyak jenis).

“Antara mereka (pengaku salafi) adalah golongan Al-Jamiyyun di Madinah Munawwarah -Rabi’e Al-Madkhali dan pengikutnya- yang mana mereka mengisytiharkan perang kepada semua pihak yang berbeza (pemikiran) dengan mereka samada golongan terdahulu (ulama’ silam) mahupun golongan yang yang hidup sezaman dengan mereka. Tiada seorangpun yang sejahtera daripada serangan mereka termasuklah Imam An-Nawawi dan Al-Hafiz Ibn Hajar dan sebagainya, apatah lagi para ulama’ sezaman dengan mereka seperti Imam Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb, Al-Maududi, Al-Ghazali, Fahmi Huwaidi, Muhammad Immarah, Yusuf Al-Qaradhawi (dirinya sendiri) dan sebagainya yang tidak mengikut manhaj Imam Ibn Taimiyyah dan Imam Ibn Al-Qayyim.

“Antara mereka dikenali sebagai As-Salafiyyun Al-Judud yang mereka juga dinamakan sebagai As-Sururiyyun… Antara mereka adalah seperti Sheikh Fahd Sulaiman Al-‘Audah, Safr Al-Hawali dan Aidh Al-Qarni.

“Sebahagian mereka (pengaku salafi) sangat kagum kepada Sheikh ibn Baz rhl, Sheikh Ibn Uthaimin dan ulama’-ulama’ Saudi lalu mereka ini menganggap hanya ulama’-ulama’ tersebut sahaja rujukan utama (dalam agama) buat mereka, dan mereka tidak menerima ilmu melainkan selain daripada mereka (ulama’ Saudi).

“Sebahagian daripada mereka (pengaku salafi) mengikut Sheikh Al-Albani dan bertaqlid dengan mazhabnya. Tatkala dia (Al-Albani) mengingkari (taqlid) mazhab-mazhab yang sedia ada (mazhab imam empat) namun dalam masa yang sama mereka (pengikut Al-Albani dari kalangan pengaku Salafi) menjadikannya (pemikiran dan manhajnya) sebagai mazhab kelima… Sebahagian daripada mereka…dan sebahagian daripada mereka (maksudnya banyak lagi pecahan, sudah sampai ke Nusantara pun ada)”. [m/s: 73-74]

Wahabi Sebagai Madrasah Satu Pendapat Sahaja

Janganlah menyangka bahawa saya (Al-Qaradhawi) mengingkari ke atas mereka (pengaku salafi) pada dakwah mereka agar mengikut nas, atau ijtihad mereka dalam memahami nas, kerana ianya adalah hak setiap muslim yang sudah mencapai syarat berijtihad dan alat-alat ijtihad. Maka, tiada seseorangpun boleh menutup pintu ijtihad yang dibuka oleh Rasulullah s.a.w. kepada Ummah.

Tetapi saya mengingkari mereka (pengaku salafi aka wahabi) kebiadaban (keterlampauan) mereka terhadap manhaj ulama’ Islam, memperkecilkan fiqh yang telah diwarisi (fiqh empat mazhab), dakwaan mereka yang berjela-jela tentang merekalah satu-satunya yang benar sedangkan selain daripada mereka salah dan sesat, khayalan mereka bahawa dengan upaya mereka untuk melenyapkan khilaf dapat menyatukan manusia dalam satu pandangan iaitulah pandangan mereka”.

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata lagi:

Seorang pelajar yang ikhlas dari kalangan madrasah ini (pengaku salafi) iaitu madrasah “satu pendapat”: “Mengapa semua manusia tidak mahu bersatu terhadap suatu pendapat yang mempunyai sandaran nas?”

Maka saya menjawab: “Nas itu sendiri perlulah sahih (dari sudut sanad) dan diterima oleh seluruhnya (ulama’). Bahkan, Nas tersebut juga mestilah bersifat maknanya jelas/putus terhadap makna yang dikehendaki oleh Allah s.w.t. (shorih ad-dilalah). Bahkan, Nas tersebut hendaklah tidak bertentangan dengan nas yang lebih kuat dari kalangan nas-nas syariah samada yang cabang mahupun yang menyeluruh. Kadang-kala, berlaku di mana sesuatu nas itu sahih di sisi seseorang ulama’ dan dha’if di sisi ulama’ yang lain. Kadang-kala juga hadith itu sahih tetapi maknanya tidak jelas terhadap maksud yang disampaikan dalam nas tersebut. Boleh jadi sesuatu nas itu umum menurut seorang ulama’ dan si sisi ulama’ lain ianya bersifat khusus. Boleh jadi sesuatu nas itu mutlak di sisi seseorang ulama’ sedangkan di sisi ulama’ lain ianya bersifat muqoyyad (tergantung kepada sesuatu pergantungan). Boleh jadi juga sesuatu nas itu menunjukkan hukum wajib atau haram di sisi seseorang ulama’ sedangkan di sisi ulama’ lain, ianya menunjukkan hukum sunat/mustahab atau makruh. Sebahagian ulama’ mungkin menilai sesuatu nas itu muhkam (dihukumkan dengannya) sedangkan sebahagian ulama’ lain menilainya sebagai mansukh (tidak lagi diamalkan dengannya)…”

Rujukan: http://www.ikhwan.net/vb/showthread.php?t=22755

Antara Ciri-ciri Zhahiriyyah Al-Judud: Hanya Ikut Hadith Sahih menurut Ukuran Mereka secara Literal

Dalam satu wacana, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi pernah membincangkan tentang golongan perpegang dengan zahir hadith dan hanya guna hadith sahih sahaja.

Moderator rancangan tersebut bertanya kepada Dr. Al-Qaradhawi:

“Kamu telah menyebut tentang Maqasid Ammah bagi pensyariatan syariat Islam (Maqasid Ammah Li At-Tasyri’e), tetapi di sana ada suatu fenomena di mana boleh kita namakan sebagai ahl-hadith judud (moden), yang mana kebiasaannya mereka sekadar ingin mengamalkan hadith yang benar-benar sahih sahaja, yang tiada kecelaan (sanad)nya.”

Al-Qaradhawi menjawab:

“Mereka itulah yang kami namakan sebagai Az-Zhahiriyyah Al-Judud ia (kumpulan tersebut) hanya tertumpu kepada zahir (nas) dan kepada harfiyyah (secara literal)”.

Kepincangan Golongan Ini di Sisi Dr. Yusuf Al-Qaradhawi

Pertama: Kejumudan dan Tidak Mengutamakan Apa yang Lebih Utama

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata:

“(Antara kumpulan dalam kebangkitan Islam) Ketiga: Kumpulan atau golongan jenis Tasyaddud (keras) dan Jumud yang membekukan kefahaman Islam. Maka, saya telah namakan mereka sebagai Az-Zhahiriyyah Al-Judud. Di sana ada golongan Zhahiriyyah Qudama (silam) seperti Daud dan Ibn Hazm tetapi mereka mempunyai ilmu yang luas. Adapun mereka (Az-Zhahiriyyah Al-Judud), mereka tidak memiliki ilmu golongan Zhahiriyyah, tetapi memiliki kejumudan golongan Zhahiriyyah dan Tasyaddud (kekerasan) golongan Zhahiriyyah. Mereka lebih mengutamakan bentuk daripada intipati sesuatu, lebih sibuk mengutamakan perkara-perkara khilaf daripada perkara yang disepakati, mereka mengutamakan usaha negatif (menyalahkan, membid’ahkan meruntuhkan sesuatu tradisi) daripada usaha positif (membina, progresif, pro-akfif dan sebagainya). Mereka lebih mengutamakan membahaskan perkara-perkara sunat berbanding yang wajib…

Rujukan:

http://qaradawi.net/n…/library2/268-2014-01-26-18-46-39/2563

Kedua: Mendalami Perbahasan Hadith tanpa Kefahaman Sahih

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata:

"Madrasah Nashiyyah Harfiyyah ini, yang mana saya namakan mereka sebagai Az-Zhahiriyyah Al-Judud, kebanyakan mereka dari kalangan orang yang sibuk dengan hadith (membahaskan kedudukan hadith dan matan zahirnya) tetapi tidak menguasai kefahaman (fiqh) dan usul (asas) fiqh (kefahaman syariat), mereka tidak mengetahui sebab-sebab para ulama’ berbeza pendapat dan hujah mereka dalam istinbath (penggalian hukum), mereka hampir tidak mementingkan Maqasid Syar’iyyah dan faktor di sebalik ketentuan hukum, tidak merai maslahat, perubahan fatwa dengan perubahan masa, tempat dan keadaan”.

Sumber:

http://qaradawi.net/n…/library2/268-2014-01-26-18-46-39/2563

9 August 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

AKAUN BANK ATAS NAMA SAIDINA UTHMAN MASIH WUJUD HINGGA KINI

image

Salah seorang sahabat nabi, Khalifah Sayyidina Uthman bin Affan (عثمان بن عفان) adalah seorang ahli perniagaan yang kaya raya, baik hati, pemurah dan seorang yang dermawan. Beliau juga berjasa dalam membukukan Al-Quran. Ternyata sehingga sekarang beliau masih memiliki akaun di salah sebuah bank di Arab Saudi. Malah akaun dan bil elektriknya juga masih atas nama beliau…

Bagaimanakah cerita Khalifah ketiga yang memerintah daripada tahun 644 (umur 69-70 tahun) hingga 656 (selama 11-12 tahun) yang sehingga kini beliau mampu memiliki hotel berhampiran Masjid Nabawi?

Diriwayatkan semasa zaman Nabi Muhammad ﷺ, kota Madinah pernah mengalami zaman kemarau sehingga sukar bagi mendapatkan air bersih. Satu-satunya sumber air yang tinggal ketika itu adalah sebuah telaga bernama ‘Bi’ru Rummah’ (telaga pemanah) yang sangat besar dan dalam serta airnya tidak pernah kering. Rasanya sama seperti air dari telaga zam-zam.
Oleh kerana orang Islam (kaum Muhajirin) sudah terbiasa minum air zam-zam di Makkah. Mereka sangat berhajat kepada air itu dan sering ke telaga yang dimiliki oleh seorang Yahudi. Maka Yahudi tersebut telah bertindak menjual air dengan harga yang sangat mahal. Kaum Muslimin dan penduduk Madinah dengan tiada pilihan lain, terpaksa membeli air bersih dari orang Yahudi itu.
Prihatin atas keadaan umatnya, Rasulullah ﷺ kemudian bersabda : “Wahai Sahabatku! Sesiapa sahaja di antara kamu yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan telaga itu, lalu mendermakannya untuk umat, maka akan mendapat Syurga Allah سبحانه وتعالى.” (HR. Muslim).
.
Akhirnya perkara itu sampai ke pengetahuan Sayyidina Uthman Bin Affan RA yang kemudian mula bertindak ingin membebaskan telaga ‘Rummah’ itu. Sayyidina Uthman RA segera bertemu dengan orang Yahudi pemilik telaga dan menawar untuk membeli ‘Bi’ru Rummah’ dengan harga yang tinggi.

Namun begitu, walau sudah ditawarkan dengan harga yang tertinggi sekalipun, orang Yahudi pemilik telaga tetap menolak dan tidak mahu menjualnya kerana dia telah meraih keuntungan besar, “Seandainya telaga ini saya jual kepadamu wahai Uthman, maka aku tidak mempunyai pendapatan yang boleh aku perolehi setiap hari.” Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya.
Sayyidina Uthman bin Affan RA yang amat teringin mendapatkan balasan pahala berupa Syurga Allah سبحانه وتعالى, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini. Beliau lantas minta untuk membeli separuh sahaja daripada telaga itu.
“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari telagamu.” Sayyidina Uthman RA, melancarkan kemahiran rundingannya.
“Maksud kamu?” tanya orang Yahudi kehairanan.
Sayyidina Uthman bin Affan RA menawarkan 12,000 dirham supaya orang Yahudi tersebut bersetuju menjual setengah saja daripada telaga ‘Rummah’.
“Begini, jika engkau setuju, maka kita akan memiliki telaga ini bergilir-gilir. Satu hari telaga ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikianlah seterusnya berganti berselang hari. Bagaimana?” jelas Sayyidina Uthman RA.
Orang Yahudi itupun segera berfikir.… Yahudi sangka dia cerdik kerana Sayyidina Uthman RA memang peniaga yang termasyhur dan dikenali oleh orang Arab, tentulah perniagaannya akan lebih berkembang dan harga air boleh dinaikkan. “Aku mendapatkan wang besar daripada Uthman tanpa kehilangan telaga milikku.”
Akhirnya orang Yahudi tersebut pun bersetuju menerima tawaran Sayyidina Uthman RA tadi dan disepakati juga bahawa pada hari tersebut telaga ‘Rummah’ adalah milik Sayyidina Uthman bin Affan RA.

Sayyidina Uthman RA pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mahu mengambil air di telaga ‘Rummah’, dipersilakan mengambil air untuk keperluan mereka secara percuma kerana hari ini ‘Bi’ru Rummah’ adalah miliknya. Beliau juga mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, kerana hari esoknya telaga itu bukan lagi milik Sayyidina Uthman RA.

Keesokan hari Yahudi mendapati telaga miliknya lengang, sebab penduduk Madinah masih mempunyai simpanan air di rumah. Rupa-rupanya Allah سبحانه وتعالى takdirkan sebaliknya apabila orang tidak lagi membeli air daripada Yahudi itu kerana pada hari milik Sayyidina Uthman RA, beliau memberi air percuma kepada orang ramai termasuk kepada kaum bukan Islam… maka tiba pada hari giliran Yahudi, tiada sesiapa pun yang mahu membelinya.
Orang Yahudi itu pun berasa kerugian besar lalu dia pergi bertemu dengan Sayyidina Uthman RA dan berkata, “Wahai Uthman! Belilah setengah lagi telagaku ini dengan harga 8,000 dirham.”
Sayyidina Uthman RA pun bersetuju, lalu dibelinya dengan harga tersebut, maka dengan nilai 20,000 dirham (12,000 dirham + 8,000 dirham), ‘Bi’ru Rummah’ pun secara mutlak menjadi milik Sayyidina Uthman RA.

Kemudian datang seorang sahabat lain yang juga hartawan minta untuk membeli telaga ‘Rummah’ itu daripada Sayyidina Uthman bin Affan RA. Beliau pun bertanya hartawan tersebut, “Berapakah harga yang kamu sanggup bayar?”
Hartawan menjawab bahawa dia sanggup membayar 3 (tiga) kali ganda daripada harga yang dibeli oleh Sayyidina Uthman bin Affan RA. Tetapi Sayyidina Uthman RA tidak setuju dan bertanya lagi, “Berapa harga yang kamu sanggup?”
Hartawan menjawab, “Sembilan (9) kali ganda harga yang Tuan beli.”
Sayyidina Uthman RA masih tidak setuju. Hartawan bertanya kehairanan.. “Siapa lagikah yang sanggup membeli dengan harga yang lebih mahal daripada aku?”
Maka Sayyidina Uthman bin Affan RA menjawab, “ALLAH!”
.
Akhirnya kaum Muslimin dapat minum air telaga itu secara percuma kerana kemudian Sayyidina Uthman bin Affan RA telah mewakafkan ‘Bi’ru Rummah’. Sejak dari hari itu telaga ‘Bi’ru Rummah’ dapat dimanfaatkan oleh sesiapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya.

Dengan takdir Allah sesudah telaga itu diwakafkan untuk kaum Muslimin dan selepas beberapa tahun kemudian, tumbuhlah di sekitar telaga tersebut beberapa pokok kurma dan terus membiak. Kemudian Daulah Khalifah Uthmaniyah (empayer kerajaan Uthmaniyah Turki) memeliharanya hingga semakin berkembang biak dan seterusnya juga turut dipelihara oleh kerajaan Arab Saudi sehingga mencapai jumlah 1550 batang pokok dan berbuah dengan sangat lebat. Mereka telah menjaga ladang kurma dan hasil jualan kurma2 itu serta menyimpannya sehinggalah wujudnya kerajaan Saudi.

Ladang kurma tersebut kemudiannya dipajak kepada Kementerian Pertanian cawangan Madinah sejak 1372 dengan kontrak tahunan diperbaharui pada awal setiap tahun.

Seterusnya kerajaan Arab Saudi, melalui Kementerian Pertanian Saudi menjual hasil ladang kurma ini ke pasaran sehingga banyak wang yang terkumpul. Setengah daripada keuntungan itu diinfaqkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin. Manakala separuh lagi dibuat tabungan dan disimpan dalam bentuk akaun khas milik beliau di salah sebuah bank atas nama Uthman bin Affan, di bawah pengawasan Kementerian Wakaf Arab Saudi.
Begitulah seterusnya, sedekah Sayyidina Uthman bin Affan RA terus bercambah dan membiak membuak-buak tanpa hentinya sehingga dana terkumpul yang di bank itu mampu untuk membeli sebidang tanah dan membangunkan hotel yang cukup besar di salah satu tempat strategik berhampiran Masjid Nabawi.
Bangunan hotel itu sudah pada tahap penyelesaian dan akan disewakan sebagai hotel 5 bintang. Dianggarkan keuntungannya sekitar RM50 juta setahun. Setengahnya untuk anak-anak yatim dan fakir miskin dan setengah lagi tetap disimpan dan ditabung di bank atas nama Sayyidina Uthman bin Affan Radhiyallahu anhu.
Oleh yang demikian itu, maka Nabi ﷺ pernah bersabda,
لِکُلِّ نَبِيٍّ رَفِيْقٌ وَرَفِيْقِيْ يَعْنِيْ فِي الْجَنَّةِ عُثْمَانُ.
“Tiap-tiap Nabi mempunyai teman dan sahabatku di Jannah (syurga) adalah Uthman.” (Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi dan Ibn Majah)
.
Subhanallah,… Selepas 14 kurun sedekah Sayyidina Uthman bin Affan RA melalui wakaf telaga ‘Bi’ru Rummah’ masih berterusan. Jelaslah tidak akan rugi berniaga dengan Allah سبحانه وتعالى, malah akan sentiasa mendatangkan keuntungan berterusan…
Ini adalah salah satu bentuk sedekah jariah, yang pahalanya terus mengalir, walaupun orangnya sudah lama meninggal..
Disebutkan di dalam hadis sahih dari Abi Hurairah RA bahawasanya Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat atau anak soleh yang mendoakannya.” (Hadis Riwayat Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)
.
Inilah kelebihan sedekah dan menginfakkan harta… Oleh kerana itu, marilah sama sama kita ringankan lidah dan tangan mencerita serta menyebarkan kisah ini sebagai suatu motivasi diri dan pihak lain untuk menginfaq dan bersedekah sedikit daripada harta, pendapatan dan keupayaan yang ada dengan ikhlas kerana Allah سبحانه وتعالى… InsyaAllah antum akan dapat pahala sedekah yang berganda.
Daripada Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya selepas kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak soleh yang ditinggalkannya, mushhaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk kegunaan awam, atau sedekah yang dikeluarkannya daripada hartanya di waktu sihat dan semasa hidupnya. Semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi)

Sumber: Bahagian Falak Dan Sumber Maklumat – Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan.

6 August 2015 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | Leave a comment

SOAL JAWAB : SERBAN NABI

SOALAN: ADAKAH DALIL SAHIH TENTANG SERBAN, BUKANKAH ITU HANYALAH PAKAIAN ORANG ARAB?

JAWAPAN: Dijawab oleh Al-Allamah Al-Muhaddith Al-Habib Munzir Al-Musawa sebagaimana berikut,

1. dari Amr bin Umayyah ra dari ayahnya berkata : Kulihat Rasulullah saw mengusap surbannya dan kedua khuffnya (Shahih Bukhari Bab Wudhu, Al Mash alalKhuffain).

2. dari Ibnul Mughirah ra, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw mengusap kedua khuffnya, dan depan wajahnya, dan atas surbannya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

3. para sahabat sujud diatas Surban dan kopyahnya dan kedua tangan mereka disembunyikan dikain lengan bajunya (menyentuh bumi namun kedua telapak tangan mereka beralaskan bajunya krn bumi sangat panas untuk disentuh). saat cuaca sangat panas. (Shahih Bukhari Bab Shalat).

4. Rasulullah saw membasuh surbannya (tanpa membukanya saat wudhu) lalu mengusap kedua khuff nya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

TAMBAHAN:

1. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Jabir dikemukakan: “Nabi saw memasuki kota Makkah pada waktu Fathu Makkah beliau mengenakan serban (‘imamah) hitam.” (HR. At-Tarmidzi. Hadits ini diriwayatan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadits ini pun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir ra.)

2. ‘Amr bin Huraits berkata: “Aku melihat serban hitam di atas kepala Rasulullah saw.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar, dari Sufyan, dari Musawir al-Waraq, dari Ja’far bin ‘Amr bin Huraits, yang bersumber dari bapaknya.)

3. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Umar ra. dikemukakan : “Apabila Nabi memakai sorban, maka dilepaskannya ujung serbannya di antara kedua bahunya.” Kemudian Nafi’ berkata: “Ibnu ‘Umar juga berbuat begitu.” ‘Ubaidullah berkata: “Kulihat al-Qasim bin Muhammad dan Salim, keduanya juga berbuat demikian.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al Hamdzani, dari Yahya bin Muhammad al-Madini, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Nafi’, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar.)

4. Ibnu ‘Abbas ra. mengemukakan: “Sesungguhnya Nabi Muhammad berpidato di hadapan ummat. Waktu itu beliau mengenakan serban, dan serbannya terkena minyak rambut.” (HR. At-Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Yusuf bin ‘Isa, dari Waki’, dari Abu Sulaiman, yaitu ‘Abdurrahman bin Ghasail, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas)

KOMEN:

“Barangsiapa yg tak menyukai sunnahku maka ia bukan dari golonganku”
(Shahih Bukhari).

Oleh: Ibnu Ibrahim

6 August 2015 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

HUKUM SHISHA MENURUT PANDANGAN SYARAK

Muzakarah Khas Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia yang bersidang pada 17 Julai 2013 telah membincangkan Hukum Shisha Menurut Pandangan Syarak. Muzakarah telah membuat keputusan seperti berikut:

Setelah mendengar pembentangan dan penjelasan pakar-pakar daripada Kementerian Kesihatan Malaysia dan meneliti maklumat serta bukti-bukti perubatan dan saintifik terperinci yang dikemukakan dari dalam dan luar negara mengenai kesan dan kemudharatan besar yang dihadapi akibat daripada shisha terhadap kesihatan ummah, pembangunan ekonomi negara serta pembentukan generasi pada masa akan datang, maka Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa shisha adalah HARAM. Oleh itu, umat Islam adalah dilarang menghisap shisha atau menyediakan perkhidmatan menghisap shisha atau apa-apa aktiviti yang berkaitan dengan shisha.

Muzakarah menegaskan bahawa pengharaman Shisha ini adalah berdasarkan nas-nas syarak daripada al-Quran dan Hadith serta Kaedah Fiqhiyyah bagi memastikan lima perkara asas bagi manusia yang terkandung dalam Maqasid Syari’yyah iaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta dapat dipelihara sepertimana tuntutan syarak, kerana Shisha jelas memudharatkan kesihatan, membazir dan mensia-siakan masa dan harta serta dikategorikan sebagai satu perkara buruk atau keji, berdasarkan nas-nas berikut:
Firman Allah swt dalam Surah al-Baqarah, ayat 195 :

“Dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan”.

Firman Allah swt dalam Surah al-A’raf ayat 157;

“ Dan ia menghalalkan bagi mereka segala benda yang baik dan mengharamkan kepada mereka segala benda yang buruk”.

Sabda Rasulullah s.a.w :

“Tidak boleh mudharatkan (diri sendiri) dan memberi kemudharatan (kepada orang lain)”. (Hadith riwayat Ahmad, Malik, Ibn Majah dan al-Daraqutni)

Kaedah Usul Fiqh:

سد الذريعة – iaitu “Menutup pintu kerosakkan”
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح – iaitu “menolak kerosakan adalah didahulukan daripada mencari kemaslahatan”.

http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-kebangsaan/hukum-shisha-menurut-pandangan-syarak

5 August 2015 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Ibadah | Leave a comment

Hiburan untuk Hati

 

"Dizaman kita sekarang, ada yang mengatakan sikit sikit qasidah sikit sikit maulid. Kalau ada yang kata sikit-sikit maulid , sikit-sikit qasidah. Maulid tak perlu. Kan lebih baik ilmunya terus sahaja."

"Sebenarnya ini hiburan zahir pada hati. Tapi maaf cakap, orang di zaman kita sekarang di ajar banyak tengok hiburan di Televisyen itu walaupon ceritanya berulang-ulang kali dilihat. Tidak jemu pon melihatnya."

"Hiburan semacam itu yang memberikannya tenang. Kita dah terbiasa dengan hiburan semacam itu. Buka sahaja televisyen siarannya dua puluh empat jam. Allah سبحانه وتعالى, berfirman; Zikir itu menenangkan Hati. Tapi ada orang dengar zikir hati tak tenang-tenang. Cerita pasal maulid salah. Didalam maulid kan ada selawat ada zikir. Bukankah itu baik. Allah سبحانه وتعالى kata zikir itu buat hati kita tenang."

"Maaf cakap, kita sudah terbiasa dengan hiburan itu. Lebih rela tengok lawak-lawak gelak terbahak-bahak. Bukankah banyaknya ketawa itu mematikan hati. Ini orang yang ada sakit. Tak sedar hatinya ada penyakit."

"Cuba kalau tutup Televisyen itu seminggu. Dengar qasidah, selawat, pasti merasakan keseronokkan dan kelazatannya. Kalau orang itu sukakan seseorang pasti dia tidak jemu. Semua tentangnya pon kita suka. Begitu juga rasulullah ﷺ. Kalau kita cinta dan sayang rasulullah ﷺ, semua tentangnya kita akan suka."

"Tengok anak-anak kita? Apa yang sedang mereka puja hari ini? Apa yang mereka suka pada hari ini? Apa yang ditarik dan menarik hati mereka? Semuanya telah dirancang rapi oleh musuh Islam untuk menjauhkan Ummat Islam itu daripada Nabi Muhammad ﷺ."

"Kenalkanlah idola kita yang sebenar Nabi Muhammad. Musuh musuh islam tidak pernah lena. Baik di luar rumah bahkan ketika di dalam rumah kita untuk memperkenalkan anak-anak kita kepada orang-orang ataupun apa sahaja role model, idola berterusan dilakukan oleh orang-orang yang ingin menjauhkan Ummat Islam sendiri daripada Nabi Muhammad ﷺ."

"Kalau ada orang yang mengatakan apa guna majlis-majlis seperti ini Maulid, selawat Usaha ini Majlis Maulid hanya sedikit sebenarnya. Usaha yang kita lakukan, perjumpaan seperti ini, perkumpulan untuk membaca maulid, sejarah Nabi, bercerita tentang Rasulullah, memuji kepada Nabi ﷺ hanyalah usaha yang sedikit."

"Berbanding untuk kita membalas ataupun untuk menolak kepada usaha-usaha yang besar yang dilakukan pada hari ini untuk orang menarik anak-anak kita dan diri kita sendiri untuk melihat kepada orang-orang yang jauh daripada Allah, daripada orang-orang yang dikutuk oleh Allah."

"Tapi hari ini tiba-tiba ada orang rasa dia hebat mengatakan tiada manfaat di dalam mengajak orang mengingati kepada Nabi ﷺ.Siapa mereka yang boleh menembusi hati kita dan check hati kita sejauh mana cinta kita kepada Nabi ﷺ. Sebab itu kita nak anjurkan banyak berselawat kepada Nabi ﷺ supaya jangan kita berjauhan dengan Nabi ﷺ. Dan ubat yang paling minimum itu adalah selawat kepada Rasulullah ﷺ."

"Allah nak beritahu betapa besarnya fungsi selawat itu.Allah سبحانه وتعالى mengatakan; "Sesungguhnya Allah dan Para MalaikatNya berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ berterusan. Wahai orang-orang yang beriman yakni orang yang solat, puasa, zakat, haji dan di dalam hatinya ada iman berselawatlah kamu kepada Nabi yang mulia Nabi Muhammad ﷺ."

"Didalam maulid itu kan ada cerita perihal rasulullah ﷺ. Kan baik tu. Bila cerita kisah Sayyidina Muhammad katanya puji Nabi lebih-lebihan. Eh, apa ni puji nabi lebih-lebih. Sedangkan Para sahabat setiap masa memuji Rasulullah ﷺ di depan Rasulullah ﷺ sendiri mahupun dibelakangnya. Bukankah itu baik."

Daripada Al-Habib Najmuddin Othman Al-Khered.

Sumber: Pencinta Majlis Rasulullah

31 July 2015 Posted by | Tazkirah | , | Leave a comment

BEZA ULAMAK DAN ORANG YANG KURANG PENGETAHUAN DALAM MEMAHAMI AL QURAN

Oleh : Ustaz Muhammad Noorazam bin Bahador

Sehari dua ini,terdapat pihak yang berkongsi …melalui aplikasi whatsapp tulisan yang seakan mengutuk Fadhilatus Syaikh Usamah As-Sayyid Mahmud Al-Azhari Hafizahullah.

Saya ingin berkongsi sedikit perbincangan yang wujud dalam kelas selepas Subuh bersama Fadhilatus Syaikh Hafizahullah agar kita dapat menilai pihak yang mengutuk dan pihak yang dikutuk.

Seorang pelajar bertanya kepada Fadhilatus Syaikh ; "Apakah cara yang benar untuk memahami agama ini dan memahami Al-Qur’an dan Hadith?"

 

Fadhilatus Syaikh menjawab :

"Baik,sebutkan kepadaku apa yang engkau faham dari ayat
[وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الأَلْوَاحَ]
pada perkataan "wa alqa al-alwah"?
(Ayat yang menceritakan tentang Nabi Musa Alaihis Salam pulang dari bermunajat lalu melihat kaum Baginda menyembah berhala)

Pelajar itu menjawab : "Ayat ini bermakna Nabi Musa AlaihisSalam telah melempar lembaran wahyu yang dipegangnya akibat terlalu marah dengan perlakuan kaum Baginda"

Mendengar jawapan dari pelajar tersebut,Fadhilatus Syaikh menerangkan secara panjang lebar :

"Apabila engkau mentafsirkan perkataan أَلْقَى dengan makna melempar atau menghempas,ketika itu engkau telah melakukan kesalahan yang amat besar dalam memahami kalaamullah.

Lembaran wahyu itu mengandungi kandungan Taurat.
Taurat adalah kitab suci.
Kefahaman engkau bahawa Saidina Musa melempar dan mencampakkan kitab suci akibat terlalu marah mengandungi kesalahan yang amat besar.

Pertamanya ia bercanggah dengan perkara pokok dalam agama iaitu Para Nabi adalah Maksum.

Maksum bererti terpelihara dari melakukan sebarang perkara terlarang dalam syariat,walaupun hanya sekadar khilaf aula.

Perbuatan melemparkan lembaran suci adalah haram hukumnya.
Bagaimana engkau boleh faham bahawa Saidina Musa melemparkan lembaran wahyu yang suci itu?

Kemudiannya,engkau cuba pula untuk merasionalkan kefahaman engkau itu dengan berkata perbuatan itu dilakukan kerana Saidina Musa terlampau marah ketika itu.

Kefahaman ini lebih berat kerana engkau mengatakan bahawa Saidina Musa dapat ditewaskan oleh perasaan marah,sehingga melakukan perkara yang dilarang syarak,sedangkan kita dapat lihat orang-orang soleh biasa mampu mengawal marah mereka. Kefahaman sebegini amat-amat bercanggah dengan persoalan maksumnya para Nabi.

Oleh itu,cara yang benar untuk memahami ayat ini dengan betul adalah dengan kita mestilah menghimpunkan terlebih dahulu kesemua ayat dan hadith yang menyebut lafaz أَلْقَى lalu kita teliti penggunaannya.

Kita perlu lihat apakah makna lafaz ini dalam penggunaan bahasa Arab yang fasih.

Apabila kita melihat kamus-kamus utama bahasa arab,kita akan mendapati perkataan أَلْقَى membawa makna "meletakkan sesuatu dalam keadaan tenang".

Apabila kita menghimpunkan ayat Al-Qur’an yang menyebut perkataan أَلْقَى sebagai contoh ayat yang menyebutkan tentang Ibu Saidina Musa ingin menyelamatkan anaknya yang baru dilahirkan dari buruan Firaun :
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ .

Adakah lafaz "فَأَلْقِيهِ" di sini bermaksud "lempar dan campaklah anakmu itu ke sungai"?
Tentu sekali tidak dapat digambarkan bahawa seorang ibu yang penyayang yang ingin memastikan keselamatan anaknya akan melempar dan mencampakkan anaknya ke dalam sungai itu.
Pastinya makna yang tepat bagi lafaz itu adalah "letakkanlah anakmu itu dengan baik di sungai.."

Kemudian Fadhilatus Syaikh menghimpun dan menyebutkan ayat-ayat lain satu persatu (sekitar 10 ayat dan hadith) yang mengandungi perkataan الإلقاء untuk menjelaskan maksud sebenar dari perkataan tersebut yang mana akhirnya membuatkan kami semua yang hadir dapat faham makna sebenar bagi lafaz أَلْقَى yang disebut dalam kisah Nabi Musa setelah pulang dari bermunajat dengan Allah tersebut.

Fadhilatus Syaikh menegaskan lagi bahawa adalah menjadi satu kesalahan yang besar apabila kita cuba mentafsir dan memahami ayat Al-Qur’an dengan berpandukan penggunaan semasa di zaman kita bagi lafaz tertentu dengan mengabaikan makna asal dalam penggunaan bahasa arab.

Sebagai contoh perkataan أَلْقَى tersebut yang biasanya diguna pada zaman kita dengan makna يرمي yakni melempar dan menghempas,sedangkan makna asalnya berlainan dengan penggunaan hari ini.

Akhirnya,Fadhilatus Syaikh menekankan 4 syarat utama dalam memahami sebarang Ayat Al-Qur’an,Hadith atau sebarang perbahasan dalam persoalan agama:

1. Mestilah menghimpunkan segala ayat dan hadith yang berkaitan dengan tajuk perbincangan.
2. Mestilah berkemampuan untuk menyusun atur dan menggabungjalinkan segala dalil yang telah dihimpunkan tadi.
3. Mestilah memastikan ketepatan dalam mengeluarkan makna dari lafaz-lafaz ayat dan hadith tersebut dengan mengikuti disiplin istinbat yang betul (lughah arabiah dan usul fiqh)
4. Kefahaman yang telah dikeluarkan tadi ditimbang dan disemak pula dengan perkara teras dan pokok dalam agama juga maqasid syariah.

HafizaAllahu Syaikhana As-Syaikh Usamah As-Sayyid Mahmud Al-Azhari yang telah mendidik dan menunjukkan buat kami akan jalan dan cara faham untuk mendalami agama dengan benar.

Bukan sekadar dakwaan dan semangat yang jauh dari panduan Ilmu.

29 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Comments

ISU HAK PENJAGAAN ANAK – MAZA MELANGGAR IJMAK ULAMAK

Lihat fatwa terbaru Perlis mengenai hak penjagaan anak. : https://www.facebook.com/bongkarMAZA/posts/464528873727266

Lihat pandangan MAZA memperakui tentang kesepakatan ulamak pengislaman bapa membawa kepada pengislaman anak yang masih kecil – gambar 1&2 tahun 2009 (rujuk : http://drmaza.com/home/?p=594) :

Para sarjana fekah ramai yang berpendapat bahkan ada yang mendakwa telah IJMAK (sepakat), bahawa pengislaman bapa membawa kepada pengislaman anak yang masih kecil. Namun mereka berbeza pendapat tentang pengislaman ibu; apakah diikuti dengan pengislaman anak atau tidak.

Di kalangan sarjana fekah ada yang berpendapat agama anak berdasarkan agama yang paling mulia dan sudah pasti mereka akan memutuskan jika bertembung antara Islam dan selainnya; maka agamanya dianggap sebagai Islam.

Tambahan kami :
1. Dalil Mengikut IJMAK Ulamak :
Sabda RasuluLlah yang bererti : “Umatku tidak akan bersepakat dalam perkara salah”
(Riwayat at Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Daud dan Daruqutni)

Nabi bersabda (yang bererti ) : “Apa sahaja yang menurut pandangan orang Muslimin itu baik, maka ia juga baik di sisi ALlah. Dan apa-apa menurut pendapat orang Muslimin itu buruk, maka ia adalah buruk di sisi ALlah”. (Riwayat Ahmad : Hadith Hasan)

2. Maqasid Syariah adalah menjaga AGAMA yang termasuk di dalam perkara dhoruriyyat . Sekiranya diserahkan hak penjagaan kepada bukan Islam sudah pasti penjagaan agama tidak di anggap satu kepentingan dan semakin longgar.

Dalam hadith sahih riwayat Imam Al-Bukhari menyebutkan :
ما من مولود إلا يولد على الفطرة ، فأبواه يهودانه ، أو ينصرانه ، أو يمجسانه
Tiada daripada anak itu melainkan dilahirkan di atas fitrah (Islam), lalu kedua2 ibubapanya lah menyebabkan dia menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi

Menjadi tanggungjawab IBU BAPA untuk mencorakkan anak-anak menjadi Islam, Yahudi, Nasrani atau Majusi.

3. Tambah pula kegiatan pendakyahan orang kafir harbi semakin berleluasa di Malaysia seperti Kristian Evangelis, gerakan liberalis dan pluralis yang amat gembira sekali dengan fatwa Perlis yang melanggar IJMAK dan menguntungkan orang kafir.

Sudah banyak kes anak-anak yang dibawa lari oleh pasangan bukan Islam dan kemudian dibesarkan dalam suasana bukan Islam.

4. Mana lagi mudarat – anak-anak yang memang sudah dididik dengan ajaran Islam oleh ibu atau bapa dibanding dengan dipelihara oleh bukan Islam ? Bagaimana hendak memelihara kemuliaan Islam bila diserahkan kepada yang bukan Islam untuk menjaganya ?

5. Musibah… bila agama diserahkan kepada bukan ahlinya.

29 July 2015 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Ilmu seribu kitab

Ilmu seribu kitab

Walaupun kamu menghafaz seribu buah kitab ianya belum cukup untuk kamu mendapat kefahaman yang sebenar tentang kesucian jiwa.

Oleh kerana itu Sheikh Abu Hasan Sazali pernah berkata: “Orang yang paling ramai terhijab ialah ulamak yang hanya menumpukan ilmu di akal tetapi mengabaikan ilmu di hati.

Maha Suci Allah swt yang menghijab ulamak dengan ilmu mereka sendiri.”

Sumber: Pondok Habib

28 July 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

IMAM AL QURTHUBI BERSUMPAH DENGAN NAMA ALLAH BERJUMPA NABI S.A.W. SECARA JAGA

Oleh kerana muncul sebahagian kaum sufahaa (lemah akalnya/wahhabi-salafi) cerita ini dianggapnya khurafat dan sesat. Kami tidak akan berpanjang lebar untuk menjelaskannya secara ilmiyyah berdasarkan al-Quran dan Hadits kerana sudah terlalu banyak penulisan para asatizah ASWJ di alam maya yang boleh dibaca tentang perbahasan yaqazah.

Namun pada kami cukup dengan menampilkan bukti pengakuan dari Imam besar ahli tafsir, yang shaleh, zuhud dan wira’i, yang menjadi rujukan para ulama besar Ahlus sunnah, yaitu imam al-Qurthubi (578-656 H). Beliau dalam salah satu kitabnya BERSUMPAH dengan nama Allah pernah berjumpa kepada Nabi shallahu‘alaihi wa sallam secara sedar (bukan tidur) yang sebelumnya beliau mimpi terlebih dahulu. Berikut redaksinya dari kitab al-Mufhim karya beliau :

qurtubi yaqazah

“ Sungguh hal ini (mimpi lalu menjadi kenyataan) SERING terjadi padaku beberapa kali, di antaranya : Ketika aku sampai ke Tunis, bermaksud untuk berangkat haji, aku mendengar khabar buruk tentang negeri Mesir dari musuhnya yang telah menguasai Dimyath. Maka aku rencanakan untuk menetap sementara di Tunis hingga sampai selesai dari urusan musuh. Kemudian aku bermimpi berada di masjid Nabi dan aku duduk di sisi Mimbarnya. Dan beberapa orang memberi salam kepada Nabi shallahu ‘alaihiwa sallam. Tiba-tiba seseorang mendatangiku dan menegurku “ Berdirilah dan ucapkan salam kepada Nabi “. Maka terburu-buru aku ucapkan salam kepada Nabi dan aku terbangun dari tidurku dan sementara lisanku masih mengucapkan salam kepada Nabi. Maka Allah memberikan kemudahan kepadaku dan hilanglah rasa takutku terhadap musuh di luar sana. Kemudian aku bersafar (melakukan perjalanan) hingga sampai Iskandariyyah dengan perjalanan selama lebih kurang  30 hari dalam keadaan selamat. Dan aku mendapati Iskandariyyah dan kota-kota Mesir dalam keadaan mencengkam, susah dan banyak musibah. Aku menetap di sana sepuluh hari dan Allah telah mengalahkan pasukan musuh dan menetapkan kota aku tempati dengan tanpa gangguan sedikit pun dari musuh dengan kelembutan Allah yang Maha Pengasih dari Dzat yang Maha Pengasih. Kemudian Allah menyempurnakan anugerah kebaikan dan nikmat-Nya padaku, dan menyampaikanku setelah mengunjungi baitullah (haji) hingga makam Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dan masjidnya nabi, DAN SUNGGUH DEMI ALLAH, AKU MELIHAT NABI DALAM KEADAAN SEDAR PERSIS KEADAANNYA SEBAGAIMANA AKU MELIHATNYA DALAM MIMPIKU TANPA ADA TAMBAHAN DAN PENGURANGAN SEDIKIT PUN “.

(AL-Mufhim lima asykala min talkhish kitabMuslim, juz 6 hal. 24-25, cetakan Dar Ibn Katisr dan Dar al-Kalim ath-Thayyib,Beirut)

Sungguh benar sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ولا يتمثل الشيطان بي

” Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka dia akan melihatku di waktu terjaga, dan syaitan tak dapat menyerupaiku ” (HR. Bukhari no: 6993)

Masihkah kaum Sufahaa ul Ahlaam (wahhabi-salafi) memungkiri kisah di atas dan mengatakan Imam Qurthubi telah berdusta atau sesat? sungguh mereka tidak menyedari telah mendustakan hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam tersebut secara tidak langsung, naudzu billahi min dzaalik…

Disunting dari tulisan

Ibnu Abdillah Al-Katibiy

Kota Santri, 13-05-2013

26 July 2015 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Tahukah anda..PEDANG SALAHUDDIN AL-AYYUBI – Pedang Paling Tajam Di Dunia?

Al-Akhyar Az-Zahawi's photo.

Al-Akhyar Az-Zahawi

[BARAT SEDANG BERUSAHA MENGHURAI TEKNIK INI]

Salahuddin Al-Ayyubi -…
Pedang yang diakui paling tajam di dunia oleh pakar metalurgi. Ketajamannya mampu menembus baju zirah crusader, memotong dua pedang lawan, membelah perisai dan batu tanpa mengalami kerosakan pada matanya. Kehebatan pedang buatan Damsyik dan terkenal dengan panggilan Pedang Persia ini telah mengatasi kehebatan pedang Katana dari Jepun dan pedang Excalibur milik Raja Arthur.Pedang ini diperbuat besi baja "damarcus" dengan teknik rahsia yang disaluti CNT (Carbon Nano Tubes) yang menjadikan ianya AMAT TAJAM dan LENTUR. Seni pembuatan pedang yang terahsia ini amat dikagumi oleh puak Barat dan kajian metalurgi moden setakat hari ini juga, masih tidak berkeupayaan untuk menghasilkan pedang berteknologi tinggi (teknologi NANO) dari peradaban Islam pada kurun ke-12 ini.

Apa itu CNT?

CNT merupakan suatu rantaian atom karbon yang terikat di antara satu sama lain secara heksagonal berbentuk silinder yang mempunyai diameter sekecil 1-2 nanometer. Silinder CNT ini boleh mencapai panjang sehingga berpuluh-puluh mikron dan tertutup di bahagian hujung seolah-olah sebatang paip yang ditutup dikedua-dua hujungnya.

Pencirian yang dilakukan terhadap bahan ini juga menjelaskan bahawa CNT mempunyai kekuatan paling tinggi berbanding bahan lain. Ia juga mempunyai sifat kekonduksian elektrik melebihi kuprum dan logam. Keunikan tiub karbon nano yang lain ialah mempunyai ketahanan terhadap suhu tinggi serta mempunyai jisim yang lebih ringan dari aluminium.

Teknologi NANO.
Kehebatan Pedang Salahuddin Al-Ayyubi telah dibongkar oleh Prof Dr. Peter Paufler dari Jerman. Prof tersebut menjumpai CNT di dalam pedang tersebut bersama senjata2 yang digunakan oleh tentera-tentera Islam pada ketika itu sewaktu perang Salib. CNT ini yang menjadikan pedang tentera Islam ini sangat tajam tetapi mudah lentur. Teknologi NANO ini menggunakan besi baja "damarcus" yang juga dipanggil wootz. Bijih besi ini mengandungi sejumlah peratusan unsur Karbon. Selain besi dan karbon, unsur-unsur seperti Kromium, Mangan, Kobalt juga ditambah bagi menambahkan lagi kekuatan, ketajaman dan kelenturannya.

Salahuddin Al-Ayyubi memimpin Tentera Islam dalam perang salib kurun ke-12.

Teknik pembuatan pedang ini begitu rahsia sehinggakan hanya beberapa keluarga tukang besi di Damsyik saja yang menguasainya. Akhirnya pada kurun ke-18, teknologi pembuatan pedang ini telah pupus. Apa yang tinggal hanyalah pedang-pedang, tombak dan Pisau yang kini tersebar di pelbagai Muzium di seluruh dunia. Sekadar mengingatkan kita bahawa Teknologi Hebat Peradaban Islam ini telah hilang di telan zaman.

Wallahua’lam.

26 July 2015 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

GOLONGAN YANG MENGATAKAN ISU YAQAZAH (BERTEMU RASULULLAH SAW SECARA JAGA) ADALAH SESAT TIADA KHILAF NYA

GOLONGAN YANG MENGATAKAN ISU YAQAZAH (BERTEMU RASULULLAH SAW SECARA JAGA) ADALAH SESAT BERERTI MEREKA TELAH MENYESATKAN PULUHAN ULAMA MUKTABAR.

Isu Yaqazah, jika ada yang kata sesat dan batil tanpa melihat apa sandaran dan hujjahnya.

Maka kita akan lihat sejumlah besar ulamak muktabar Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang disesatkan.

Nama-nama Imam Ibnu Hajar al Asqolani, Imam As Suyuthi, Imam An Nawawi, Imam al Ghazali, Imam Tajuddin As Subki, Imam Izzuddin Abdissalam dan ramai lagi senarai ulamak ini adalah rujukan kita sepanjang zaman. Mereka terdiri daripada mujtahid fatwa, Ahli Hadith, Ahli Feqh Ahli Usuluddin dan sebagainya.

Siapakah Ulamak Yang Mengiktiraf Berlakunya YAQAZAH ?

Antara ulama yang mengatakan atau mengiktiraf kemungkinan boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. ialah:

1. Imam Ibn Abi Jamrah al-Maliki dalam Bahjah al-Nufus.
2. Al-‘Allamah Ahmad al-Nafrawi al-Maliki dalam Syarh Risalah Ibn Abi Zayd.
3. al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari.
4. al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti dalam Tanwir al-Halak fi Imkan Ru’yah an-Nabi wa al-Malak.
5. Imam al-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim.
6. Imam al-Ghazali dalam al-Munqiz min al-Dhalal.
7. Imam Syihabuddin al-Qarafi,
8. Imam ‘Afif al-Din al-Yafi‘i al-Syafi‘i dalam (روض الرياحين).
9. Al-‘Allamah Ibn al-Haj al-Maliki dalam al-Madkhal.
10. Al-Qadhi Ibnu al-‘Arabi al-Maliki dalam kitabnya (قانون التأويل).
11. Imam Ibn ‘Ata’illah al-Sakandari (w. 709H) dalam kitab Lata’if al-Minan.
12. Al-Qadhi Syaraf al-Din al-Barizi dalam (توثيق عرى الإيمان).
13. Imam Tajuddin al-Subki.
14. Imam al-Qurtubi dalam (التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة).
15. Al-‘Allamah Ibn Battal al-Maliki
16. Al-‘Allamah Ibn al-Tin
17. Imam ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam dalam al-Qawa’id al-Kubra.
18. Al-‘Allamah Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Syama’il.
19. Al-Qadhi Ibn al-Munayyir.
20. Imam Ibn Daqiq al-‘Id.
21. Imam ‘Abd al-Wahhab al-Sya‘rani dalam beberapa kitabnya.
22. Imam Ibn Hajar al-Haytami al-Makki dalam al-Fatawa al-Hadithiyyah.
23. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ra’uf al-Munawi dalam Faydh al-Qadir.
24. Syeikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdullah al-‘Idrus (w. 1038H) dalam kitabnya al-Nurus Safir ‘an Akhbaril Qarnil ‘Asyir.
25. Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi dalam al-Mufhim.
26. Imam al-Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah.
27. Imam al-Baqillani.
28. Al-‘Allamah Sadruddin al-Qunawi dalam Syarh al-Arba‘in.
29. Al-‘Allamah Burhanuddin al-Biqa’i dalam al-Hawi.
30. Al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki.
31. Al-‘Allamah al-Maziri.
32. Al-‘Allamah Nuruddin al-Iji.
33. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ghani al-Nabulsi dalam Syarh Salawat al-Jaylani.
34. Syeikh Ahmad ibn ‘Ajibah al-Hasani (w. 1224H) dalam al-Futuhat al-Ilahiyyah. 35. Al-‘Allamah Syeikh Ibn ‘Allan al-Siddiqi.
36. Al-‘Allamah Najmuddin al-Ghazi dalam kitabnya al-Kawakib al-Sa’irah.
37. Imam Syah Waliy Allah al-Dihlawi dalam al-Durr al-Thamin.
38. Al-‘Allamah al-Alusi dalam tafsir Ruh al-Ma’ani.
39. Sayyid ‘Abdul Rahman al-‘Idrus dalam kitab Syarh Salawat al-Badawi.
40. Syeikh ‘Ali al-Ajhuri al-Maliki dalam al-Nur al-Wahhaj.
41. Syeikh Muhammad al-Khalili dalam al-Fatawa.
42. Syeikh ‘Abdullah Sirajuddin al-Halabi dalam al-Solat ‘ala al-Nabiy.
43. Al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani dalam Sa‘adah al-Darayn, Syawahidul Haq dan Jami‘ Karamatil Auliya’.
44. Syeikh Badi‘ al-Zaman Sa‘id al-Nursi.
45. Syeikh Ibrahim al-Bajuri dalam Syarh al-Syama’il.
46. Syeikh Muhammad Hasanain Makhluf.
47. Syeikh Abu al-Qasim Muhammad al-Hafnawi dalam Ta’rif al-Khalaf.
48. Al-‘Allamah Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, Syeikhul Azhar.
49. Al-‘Allamah Sayyid ‘Abdullah al-Siddiq al-Ghumari dalam kitabnya Fadha’ilun Nabi SAW.
50. Al-‘Allamah Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah.
51. Al-‘Allamah Dr. Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buti.
52. Al-Allamah Dr. ‘Ali Jum‘ah, Mufti Mesir dalam al-Bayan.
53. Dr. ‘Umar ‘Abdullah Kamil,
54. Dr. Mahmud al-Zayn.
55. Datuk Seri Maharaja Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz, Mufti Brunei. Dan ramai lagi jika diperincikan secara detil.

Zalimnya manusia yang melakukan perbuatan ini ! Kamu memerangi para alim ulama yang menjadi rujukan umat Islam sepanjang zaman ?

Sumber: Kami Tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia

26 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Siapa saja yang sering duduk bersama 8 orang kelompok manusia, Allah… akan memberinya 8 perkara:

Telah berkata IMAM GHAZALI Rahimahullah di dalam kitab Tanbihul Ghofilin tentang:

Siapa saja yang sering duduk bersama 8 orang kelompok manusia, Allah… akan memberinya 8 perkara:

1.من جلس مع الأغنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها.

1. Barangsiapa yang duduk bersama orang-orang kaya, Allah akan menambahkan cinta kepada dunia & semangat untuk mendapatkan dunia.

2. ومن جلس مع الفقراء زاده الله الشكر والرضا بقسمة الله تعالى

2. Barangsiapa yang duduk bersama orang-orang miskin, Allah akan menambahkan perasaan syukur & redha atas pemberian Allah.

3. ومن جلس مع السلطان زاده الله الكبر وقساوة القلب

3. Barangsiapa yang duduk dengan para pemimpin/raja, Allah akan menambahkan perasaan sombong & kerasnya hati.

4. ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوه

4. Barangsiapa yang duduk dengan perempuan, Allah akan menambahkan kebodohan & syahwat.

5. ومن جلس مع الصبيان زاده الله اللهو والمزاح

5. Barangsiapa yang duduk dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahkan lalai & gurau senda.

6.ومن جلس مع الفساق زاده الله الجرأة على الذنوب والمعاصي والإقدام عليها،والتسويف في التوبة

6. Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang fasik, Allah akan menambahkan berani berbuat dosa & kemaksiatan serta mendorongkan diri untuk berbuat maksiat kemudian menunda-nunda akan taubat.

7.ومن جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة في الطاعات

7. Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang soleh, Allah akan menambahkan perasaan cinta kepada amalan-amalan ketaatan.

8. ومن جلس مع العلماء زاده العلم والورع

8. Barangsiapa yang duduk dengan para ulama’, Allah akan menambahkan ilmu & perasaan tidak cintakan dunia.

 

Coba kita renungkan, dengan siapa kita bersahabat?

Semoga bermanfaat buat kita semua..

 

Sumber: PONDOK HABIB shared Syarifah Khodijah‘s post.

26 July 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

LAGI JAWAPAN ILMIAH UNTUK ISU BERTEMU NABI S.A.W (YAQAZAH) BAGI YANG INGIN MEMAHAMI

 

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merupakan manhaj sederhana yang tidak sama dengan fahaman yang ghulluw mudah …menyesat-nyesatkan, mengkafir dan mensyirikkan saudara seIslam.

Bahkan apabila timbul suatu isu yang baharu berkaitan hukum hakam pastinya akan diperjelaskan setiap satunya dengan perincian yang jelas. Bukan terus jatuh hukum secara borong dan sembrono. Amat malang sekali dalam isu yaqazah yang ada sandaran daripada hadith sahih hukum batil dan sesat terus dijatuhkan memberikan implikasi yang besar :

1. Ia membawa kepada penafian hadith sahih yang menjadi sandaran kepada berlakunya perkara ini.

2. Ia membawa kepada penafian berlakunya karomah yang menjadi asas aqidah umat Islam.

3. Membawa kepada menyesatkan secara langsung ramai ulamak Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang mengiktiraf berlakunya yaqazah kepada para wali Allah.

Kekeliruan Tentang Bertemu Nabi SAW Secara Jaga

نحمد الله العظيم، ونصلّي ونسلّم على رسوله الكريم؛

Perkara khilaf seumpama ini, jika tidak disertai dengan nada ‘keras’, tidak perlu untuk diperpanjang-panjangkan lagi. Namun, jika sudah menggunakan nada ‘keras’ seperti; “membuka pintu kefasadan yang besar”, “membawa kecelaruan dalam amalan agama”, “memusnahkan rujukan penting umat Islam”, “perlu dibendung kerana membawa kemusnahan kepada masyarakat Islam” dan “menjauhkan mereka dari ajaran Nabi s.a.w.”, maka menurut hemat saya kekeliruan-kekeliruan seumpama ini wajar diperjelaskan. [*Saya tidak mahu menyebut siapa dan dari mana sumber kekeliruan ini kerana pada saya ia tidak perlu]

1. Kekeliruan: Seseorang tidak boleh bertemu secara sedar (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. kerana seseorang yang mati tidak lagi boleh bertemu dengan orang yang hidup secara sedar.

Jawapan: Benar, dalam hal keadaan biasa seseorang tidak boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. Tetapi, sebagai suatu karamah seseorang yang soleh boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. Hukumnya adalah harus dan mungkin, tidak mustahil.

Malah secara praktis ia memang berlaku kepada sebahagian wali-wali Allah Taala dan orang-orang yang soleh. Maka tidak harus bagi kita menuduh mereka berbohong atau berdusta dalam dakwaan berkenaan. Melainkan jika kita mempunyai bukti kukuh tentang pembohongan atau pendustaan tersebut.

Antara mereka ialah; Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani, Syeikh Abu al-Hasan al-Syazili, Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi, Syeikhul-Akbar Muhyiddin Ibn al-‘Arabi, Syeikh Khalifah bin Musa, Syeikh Abu al-‘Abbas al Mursi (w. 686H), Syeikh Abu ‘Abdillah al-Qurasyi, Syeikh Kamaluddin al-Adfawi, Syeikh ‘Ali al-Wafa’i, Syeikh ‘Abd al-Rahim al-Qinawi, Syeikh Abu Madyan al-Maghribi, al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti, Syeikh ‘Ali al-Khawwas, Syeikh Ibrahim al-Matbuli, Imam Abu al-‘Abbas al-Qastallani, Syeikh Abu al-Su‘ud ibn Abi al-‘Asya’ir, Syeikh Ibrahim al-Dusuqi, Sayyid Nuruddin al-Iji, Syeikh Ahmad al-Zawawi, Syeikh Mahmud al-Kurdi, Syeikh Ahmad bin Thabit al-Maghribi, Imam al-Sya‘rani, Syeikh Abu al-Mawahib al-Syazili, Syeikh Nuruddin al-Syuni, al-Habib ‘Umar bin ‘Abdul Rahman al-‘Attas (penyusun Ratibul ‘Attas), Sayyidi ‘Abd al-‘Aziz al-Dabbagh, Syeikh Muhammad bin Abi al-Hasan al-Bakri, Sayyidi Ahmad bin Idris, Syeikh Ahmad al-Tijani dan lain-lain.

Apa dalilnya ?

Antara dalilnya adalah zahir hadis berikut yang menunjukkan seseorang yang soleh boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w., tetapi dengan syarat mestilah pernah bertemu dahulu secara mimpi (ru’ya) dengan baginda s.a.w. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

« من رآني في المنام فسيراني في اليقظة، ولا يتمثل الشيطان بي» “Sesiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka dia akan melihatku secara yaqazah (di dalam keadaan jaga), kerana syaitan tidak boleh menyerupaiku”. [Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad. Lafaznya dari al-Bukhari]

Siapakah Ulamak Yang Mengiktiraf Berlakunya YAQAZAH ?

Antara ulama yang mengatakan atau
mengiktiraf kemungkinan boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. ialah:

1. Imam Ibn Abi Jamrah al-Maliki dalam Bahjah al-Nufus. 2. Al-‘Allamah Ahmad al-Nafrawi al-Maliki dalam Syarh Risalah Ibn Abi Zayd. 3. al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari. 4. al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti dalam Tanwir al-Halak fi Imkan Ru’yah an-Nabi wa al-Malak. 5. Imam al-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim. 6. Imam al-Ghazali dalam al-Munqiz min al-Dhalal. 7. Imam Syihabuddin al-Qarafi, 8. Imam ‘Afif al-Din al-Yafi‘i al-Syafi‘i dalam (روض الرياحين). 9. Al-‘Allamah Ibn al-Haj al-Maliki dalam al-Madkhal. 10. Al-Qadhi Ibnu al-‘Arabi al-Maliki dalam kitabnya (قانون التأويل). 11. Imam Ibn ‘Ata’illah al-Sakandari (w. 709H) dalam kitab Lata’if al-Minan. 12. Al-Qadhi Syaraf al-Din al-Barizi dalam (توثيق عرى الإيمان). 13. Imam Tajuddin al-Subki. 14. Imam al-Qurtubi dalam (التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة). 15. Al-‘Allamah Ibn Battal al-Maliki 16. Al-‘Allamah Ibn al-Tin 17. Imam ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam dalam al-Qawa’id al-Kubra. 18. Al-‘Allamah Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Syama’il. 19. Al-Qadhi Ibn al-Munayyir. 20. Imam Ibn Daqiq al-‘Id. 21. Imam ‘Abd al-Wahhab al-Sya‘rani dalam beberapa kitabnya. 22. Imam Ibn Hajar al-Haytami al-Makki dalam al-Fatawa al-Hadithiyyah. 23. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ra’uf al-Munawi dalam Faydh al-Qadir. 24. Syeikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdullah al-‘Idrus (w. 1038H) dalam kitabnya al-Nurus Safir ‘an Akhbaril Qarnil ‘Asyir. 25. Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi dalam al-Mufhim. 26. Imam al-Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah. 27. Imam al-Baqillani. 28. Al-‘Allamah Sadruddin al-Qunawi dalam Syarh al-Arba‘in. 29. Al-‘Allamah Burhanuddin al-Biqa’i dalam al-Hawi. 30. Al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki. 31. Al-‘Allamah al-Maziri. 32. Al-‘Allamah Nuruddin al-Iji. 33. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ghani al-Nabulsi dalam Syarh Salawat al-Jaylani. 34. Syeikh Ahmad ibn ‘Ajibah al-Hasani (w. 1224H) dalam al-Futuhat al-Ilahiyyah. 35. Al-‘Allamah Syeikh Ibn ‘Allan al-Siddiqi. 36. Al-‘Allamah Najmuddin al-Ghazi dalam kitabnya al-Kawakib al-Sa’irah. 37. Imam Syah Waliy Allah al-Dihlawi dalam al-Durr al-Thamin. 38. Al-‘Allamah al-Alusi dalam tafsir Ruh al-Ma’ani. 39. Sayyid ‘Abdul Rahman al-‘Idrus dalam kitab Syarh Salawat al-Badawi. 40. Syeikh ‘Ali al-Ajhuri al-Maliki dalam al-Nur al-Wahhaj. 41. Syeikh Muhammad al-Khalili dalam al-Fatawa. 42. Syeikh ‘Abdullah Sirajuddin al-Halabi dalam al-Solat ‘ala al-Nabiy. 43. Al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani dalam Sa‘adah al-Darayn, Syawahidul Haq dan Jami‘ Karamatil Auliya’. 44. Syeikh Badi‘ al-Zaman Sa‘id al-Nursi. 45. Syeikh Ibrahim al-Bajuri dalam Syarh al-Syama’il. 46. Syeikh Muhammad Hasanain Makhluf. 47. Syeikh Abu al-Qasim Muhammad al-Hafnawi dalam Ta’rif al-Khalaf. 48. Al-‘Allamah Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, Syeikhul Azhar. 49. Al-‘Allamah Sayyid ‘Abdullah al-Siddiq al-Ghumari dalam kitabnya Fadha’ilun Nabi SAW. 50. Al-‘Allamah Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah. 51. Al-‘Allamah Dr. Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buti. 52. Al-Allamah Dr. ‘Ali Jum‘ah, Mufti Mesir dalam al-Bayan. 53. Dr. ‘Umar ‘Abdullah Kamil, 54. Dr. Mahmud al-Zayn. 55. Datuk Seri Maharaja Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz, Mufti Brunei. Dan ramai lagi jika diperincikan secara detil.

2. Kekeliruan: Iktikad seperti ini membuka pintu kefasadan yang besar dan seterusnya membawa kecelaruan dalam amalan agama. Ini kerana, seseorang yang telah berjumpa Nabi s.a.w. seterusnya akan mendakwa ajaran-ajaran tambahan yang diberikan oleh baginda s.a.w. kepadanya.

Jawapan:

Belum ada orang mukmin soleh yang telah berjumpa Nabi s.a.w. mendakwa membawa ajaran-ajaran tambahan yang diberikan oleh baginda s.a.w. kepadanya, dalam erti kata, ajaran-ajaran tambahan yang tidak ada asalnya dalam al-Quran mahupun hadis. Kesemua yang dinyatakan sekiranya betul, hanyalah berbentuk petunjuk dan nasihat yang tidak lari dari ruang lingkup syarak, atau mempunyai asalnya daripada al-Quran dan hadis.

Kata al-‘Allamah al-Muhaddith Syeikh Muhammad al-Hafiz al-Tijani (w.
1398H):

“Kami tidak beriktikad bahawa di sana – selepas Rasulullah SAW – terdapat suatu syariat baru dalam apa jua bentuk sekalipun. Dan apa yang dibawa oleh baginda SAW mustahil untuk dimansuh sebahagian daripadanya, atau ditambah sesuatu terhadapnya.

Sesiapa yang mendakwa sedemikian, maka dia adalah kafir terkeluar daripada agama Islam. Sesungguhnya kami, meskipun kami berpendapat harus seorang wali itu melihat Rasulullah SAW dalam keadaan jaga, tetapi kami menganggap hukumnya adalah sama seperti hukum mimpi tidur yang benar. Tidak dapat dipegang kecuali atas apa yang menepati syariatnya SAW. Penyaksian-penyaksian para wali itu bukanlah suatu hujah, tetapi yang menjadi hujah adalah syariat Muhammad SAW. Adapun penyaksian-penyaksian tersebut, hanyalah berita-berita gembira (busyra) yang terikat dengan syariat baginda yang mulia; apa yang diterima olehnya kami juga menerimanya dan apa yang tidak diterima olehnya, maka mazhab kami adalah bersangka baik padanya.

Maka kami hukumkannya seperti hukum mimpi yang tertakwil. Kita tidak ragu lagi bahawa kebanyakan mimpi itu perlu kepada takwil/tafsir. Namun, kami memilih bersangka baik kerana seorang mukmin yang bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah SWT, dan ia sayang terhadap agamanya, serta patuh mengikutinya, kami menolak bahawa ia sengaja berdusta ke atas Rasulullah SAW. Keadaan berjaga dalam perkara ini adalah sama seperti keadaan tidur, sedang dia membaca sabdaan baginda SAW: “Sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempah tempat duduknya daripada api neraka”. – tamat kata-kata Syeikh Muhammad al-Hafiz al-Tijani

3. Kekeliruan: Dengan itu, segala hadis yang telah dikumpul oleh para ulamak yang menjadi tonggak sandaran hukum dan panduan bagi umat Islam sepanjang zaman sudah tidak lagi diperlukan. Ini kerana sudah ada sumber hadis lain yang lebih dekat kepada baginda.

Jawapan: Kekeliruan ini hanya pendapat akal dan khayalan semata-mata yang tidak berpijak kepada realiti yang berlaku dalam dunia kerohanian ahli-ahli sufi yang hak. Tiada siapa dari kalangan wali-wali Allah Taala dan orang-orang soleh ini mengatakan segala hadis yang telah dikumpul oleh para ulama yang menjadi tonggak sandaran hukum dan panduan bagi umat Islam sepanjang zaman sudah tidak lagi diperlukan kerana sudah ada sumber hadis lain yang lebih dekat kepada baginda. Pada saya, kekeliruan kerana berkhayal ini disebabkan kerana tidak cukup menelaah, membaca dan memahami.

4. Kekeliruan: Setelah situasi ini wujud maka banyaklah amalan-amalan yang boleh ditambah dan diwujudkan berdasarkan arahan langsung daripada Rasulullah kepada guru atau orang yang mencapai darjat menemui Rasul s.a.w.

Jawapan:

Sudah ratusan tahun isu bertemu secara sedar (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. ini dibincangkan oleh para ulama. Namun, hakikatnya tiada langsung akidah baru atau hukum-hakam baru yang didakwa oleh orang-orang soleh dan wali-wali Allah Taala yang pernah bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Kebanyakannya jika betul adalah berkaitan zikir, doa dan selawat. Dan kesemua itu pula tidak terkeluar dari dalil-dalil dan perintah-perintah syarak yang umum mengenainya. Bahkan menurut ramai ulama, masalah-masalah yang khusus berkaitan zikir dan doa ini pintu perbahasannya adalah lebih luas, tidak sepertimana amalan-amalan ibadah lain, selamamana ia tidak melanggar batas-batas syarak. Jika benar ada penerimaan sesuatu secara yaqazah, maka hukumnya adalah seumpama hukum apa yang diperolehi daripada kasyaf, ilham dan mimpi yang benar. Mesti ditimbang dengan neraca syarak.

Cuba perhatikan kata-kata Syeikh Muhammad al-Hafiz al-Tijani tadi: “Meskipun kami berpendapat harus seorang wali itu melihat Rasulullah SAW dalam keadaan jaga, tetapi kami menganggap hukumnya adalah sama seperti hukum mimpi tidur yang benar. Tidak dapat dipegang kecuali atas apa yang menepati syariatnya SAW”.

5. Kekeliruan: Hadis adalah tonggak kedua agama Islam, apabila tonggak ini telah berjaya dicerobohi, maka panduan umat Islam akan menjadi goyah dan berkecamuk. Percaya baha
wa seseorang boleh menerima taklimat terus dari Nabi s.a.w akan memusnahkan salah satu rujukan penting umat Islam yang diberitahu sendiri oleh Rasulullah s.a.w iaitu, kitabullah dan sunahnya.

Jawapan:

Percaya bahawa seorang wali atau orang soleh boleh menerima taklimat terus dari Nabi s.a.w tidak akan memusnahkan institusi hadis yang sudah sedia ada. Jika benar mereka bertemu secara sedar (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w., maka adalah amat MUSTAHIL baginda s.a.w. akan menyuruh kepada perkara-perkara yang akan memansuhkan atau merosakkan syariatnya sendiri. Tidak dapat diterima dek akal bahawa Nabi s.a.w. akan mengkucar-kacirkan syariat yang telah dibangunkan dengan titik peluh dan darah dagingnya sendiri. Apa yang dikhayalkan itu tidak akan berlaku selama-lamanya kerana para wali atau orang-orang soleh tersebut adalah golongan yang amat takut kepada Allah SWT, sangat cinta kepada baginda Nabi s.a.w., terlalu sayang dengan syariat baginda s.a.w., dan begitu kasih kepada umat baginda s.a.w. Apakah dapat diterima akal, mereka ini berusaha untuk merosakkan syariat baginda s.a.w.dan menyesatkan umatnya??

Seolah-olah mereka tidak pernah dengar hadis baginda Nabi s.a.w.: “Sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempah tempat duduknya daripada api neraka”. Jangan terlalu berprasangka buruk kepada ahli-ahli sufi seolah-olah mereka semua orang yang bodoh, tidak mengerti syariat dan akan menerima secara membuta tuli siapa saja yang mendakwa bertemu dengan Nabi s.a.w., walaupun dari orang yang jahil. Jika ada ahli sufi yang menyeleweng, maka sandarkan kesalahan itu kepadanya sahaja, bukan kepada semua golongan ahli sufi.

6. Kekeliruan: Para ulamak silam antaranya Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud Ahmad dan ramai lagi, berjuang hingga berjaya menjadikan sumber rujukan Islam kedua ini terpelihara dari dicampur adukkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Jika ada orang yang mengaku menerima taklimat dari baginda tetapi tidak disandarkan kepada sumber yang telah dikumpulkan oleh ulamak silam maka dakwaan itu dianggap salah dan pembohongan.

Jawapan:

Rangkap akhir di atas dapat difahami sebaliknya begini; Jika ada orang yang mengaku menerima taklimat dari baginda dan disandarkan kepada sumber yang telah dikumpulkan oleh ulamak silam maka dakwaan itu dianggap benar. Alhamdulillah, ada sedikit kemuafakatan. Cubalah belek contohnya, kitab al-Durr al-Thamin fi Mubasysyarat al-Nabi al-Amin SAW susunan Imam al-Mujaddid Syah Wali Allah al-Dihlawi yang menghimpunkan 40 peristiwa bertemu Rasulullah s.a.w. secara mimpi dan jaga. Perhati dan fahamkan, apakah ada yang tidak bersandarkan kepada syariat baginda s.a.w.?

7. Kekeliruan: Sebarang ajaran sufi yang percaya dengan asas ini perlu dibendung kerana akan membawa kemusnahan kepada masyarakat Islam dan menjauhkan mereka dari ajaran Nabi s.a.w yang walaupun dari sudut penampilan mereka mengajak kepada ibadat dan berbuat baik.

Jawapan:

Menurut pengetahuan saya setakat ini, tidak ada satu pun tariqat sufi muktabar di dunia pada hari ini yang menolak keharusan bertemu secara sedar/jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. Apakah seluruh tariqat-tariqat sufi ini dengan puluhan juta pemgamalnya perlu dibendung dan dibanteras…? Apakah kemusnahan benar-benar berlaku kepada masyarakat Islam dan mereka telah jauh dari ajaran Nabi s.a.w. disebabkan seluruh tariqat sufi di dunia pada hari ini menyatakan – sesudah sekian lama – seorang soleh harus bertemu secara sedar/jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. ??

Tidak ada orang waras yang mengatakan demikian. Bahkan ramai dari kalangan alim ulama tariqat-tariqat sufi ini adalah pemelihara-pemilhara sunnah baginda s.a.w. baik sunnah yang zahir mahupun sunnah yang batin. Berapa banyak rahmat dan manfaat rohani yang tersebar di seluruh dunia sama ada kita sedari ataupun tidak, disebabkan usaha-usaha mereka. Memang seluruh tariqat sufi di dunia pada hari ini menyatakan harus bertemu secara sedar/jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w., namun realitinya perkara tersebut tidak selalu berlaku pun kerana ia adalah suatu karamah yang dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki sahaja.

Bahkan dalam tempoh 100 tahun, barangkali hanya beberapa orang sahaja yang boleh dibilang dengan jari mendakwa demikian, atau dikatakan mengalaminya. Jika peribadi dan latar belakangnya bertunjangkan syariat, maka baru boleh diterima dakwaan itu. Jika sebaliknya, maka dakwaan tersebut adalah wajib ditolak. Perlu juga dilihat bagaimana cara mereka dapat mencapai peringkat kerohanian yang tinggi itu; Apakah zikirnya 100,000 setiap hari, atau selawatnya 50,000 setiap hari, atau tahajjudnya 500 rakaat setiap hari? Atau apakah hanya sekadar berjanggut, berjubah dan berserban besar saja, tetapi amalannya ‘kosong’??

Kata al-‘Allamah Ibn Al-Haj dalam kitab al-Madkhal (3/194):

“Sebahagian orang mendakwa melihat Nabi s.a.w. secara yaqazah, sedangkan ia merupakan satu perbahasan yang sempit (sukar) untuk diperbahaskan. Amat sedikitlah dari kalangan mereka yang mengalaminya, kecuali terhadap mereka yang amat mulia di zaman ini. Walau bagaimanapun, kami tidak mengingkari sesiapa yang mengaku pernah mengalaminya, dari kalangan orang-orang yang mulia yang dipelihara oleh Allah s.w.t. zahir dan batin mereka.” Wallahu a’lam.

Rujukan Tambahan: – Melihat Nabi s.a.w. Secara Yaqazah: Satu Jawapan oleh Raja Ahmad Mukhlis:
– Multaqa al-Nukhbah, Isu Berjumpa Rasulullah Ketika Jaga Selepas Wafatnya (terjemahan) oleh Husain Hasan Toma‘i. – Sa‘adah al-Darayn oleh al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani.

Kredit : Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni – INHAD (Institut Hadis KUIS)

PONDOK HABIB shared Ustaz Iqbal Zain‘s post.

26 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tasauf | | Leave a comment

Terlupa bayar zakat fitrah

 

Soalan:

Dalam kegembiraan membuat persiapan hari raya, saya telah terlupa menunaikan zakat fitrah. Saya hanya teringat bahawa saya masih belum menunaikan zakat fitrah, setelah masuk waktu Maghrib pada petang hari raya pertama.

Apakah yang patut saya lakukan, kerana ada pandangan menyatakan zakat fitrah wajib ditunaikan sebelum solat raya Aidilfitri didirikan. Selepas itu sudah dikira sedekah biasa? Mohon penjelasan ustaz.

Jawapan:

Zakat fitrah amat besar kesannya dalam kehidupan kita, khususnya memenuhi keperluan jiwa seseorang yang berpuasa. Ibnu Abbas menyatakan:

“Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah (dengan tujuan) untuk membersihkan orang yang berpuasa daripada ucapan yang tiada manfaatnya dan kata-kata yang kotor, serta untuk memberi makanan kepada orang miskin.” (Hadis riwayat Abu Daud)

Cuba lihat, apabila kita berpuasa, maka kita diwajibkan menahan makan dan minum selama berjam-jam. Maka kita dapat merasai sendiri betapa peritnya orang-orang fakir dan miskin menahan lapar. Maka, zakat fitrah yang difardukan adalah pelengkap kepada puasa tersebut. Ini kerana, andai kita insaf betapa deritanya para fakir miskin, maka berkongsilah sedikit harta dengan mereka agar terangkat sedikit derita. Inilah roh zakat fitrah di sisi Ramadan.

Atas dasar itulah, dalam perbahasan fiqh, zakat fitrah itu boleh dilunasi lebih awal daripada waktu wajibnya. Memanglah masa wajib zakat fitrah, adalah selepas terbenamnya matahari akhir Ramadan dan sebelum mendirikan solat aidilfitri, itulah waktu yang paling utama di sisi Allah; namun tidak pula menjadi kesalahan andai kita bertindak menyegerakannya.

Maka, dalam hal ini para fuqaha telah membahagikan waktu menunaikan zakat fitrah kepada empat fasa, iaitu fasa harus bermula satu Ramadan, fasa wajib bermula terbenamnya matahari sehingga terdirinya solat sunat aidilfitri, fasa makruh selepas mendirikan solat aidilfitri dan fasa haram selepas terbenamnya matahari satu Syawal, yakni masuknya dua Syawal (Rujuk buku Zakat Terapi Kekayaan, hal. 395).

Andai kata saudara sudah terlupa, dan hanya teringat selepas terbenamnya matahari satu Syawal, maka kala itu saudara sudahpun melewati waktunya dan pastilah hukumnya haram dan berdosa. Samalah orang yang melewatkan solat fardu sehingga melewati batas waktunya tanpa uzur, maka jelaslah berdosa orang berkenaan.

Namun, itu tidak bermakna saudara tidak wajib mengqadakannya. Dalam hal ini, saudara hendaklah dengan segera mengeluarkan zakat fitrah tersebut, walaupun sudah masuk waktu haram. Kala itu, zakat fitrah saudara sudah dianggap sebagai qada di sisi Allah SWT.
Agihan zakat dapat dilakukan dengan berkesan kepada asnaf jika bayaran zakat diserahkan kepada para amil yang dilantik.

Agihan zakat dapat dilakukan dengan berkesan kepada asnaf jika bayaran zakat diserahkan kepada para amil yang dilantik.

Inilah keindahan Islam, ibadat yang dianjurkan kepada kita adalah satu bentuk disiplin yang jika ditaati mampu membentuk keperibadian dan akhlak yang cantik di sisi manusia, apatah lagi di sisi Allah SWT. Ini kerana, setiap amalan ada batas waktunya yang tersendiri, sama ada solat, zakat, puasa dan haji. Kita wajib solat bila masuk waktunya, wajib zakat bila sampai tempoh haulnya, wajib puasa hanya pada Ramadan sahaja dan wajib haji hanya pada musim haji sahaja. Kita tidak boleh menukarkan waktunya, mengikut kalendar dan kehendak hati kita, dan inilah disiplin namanya.

Oleh itu, hendaklah saudara lebih berhati-hati pada hari muka. Jangan sampai terlepas lagi waktu berzakat ini. Bayangkan, andai saudara terlepas pesawat untuk terbang ke luar negara kerana kelalaian sendiri, sedangkan harga tiketnya ribuan ringgit, pasti sahaja saudara terasa betapa ruginya diri.

Demikianlah juga dalam hal ibadah, setiap kelalaian akan mengakibatkan kerugian. Lebih malang jika kita tidak sempat pula menggantikannya, kerana ia kelak akan menjadi hutang di sisi Allah SWT. Menurut fuqaha, hutang di akhirat hanya dapat dilunasi dengan pahala. Maka, banyak manakah pahala kita untuk melunasinya. Andai pahala sudah habis, maka apa lagi modalnya.
Maka, qadalah amalan yang terhutang di dunia, demi mengelakkan hutan akhirat yang melanda.

Wallahua’lam

Sumber: http://blog.zakatselangor.com.my/?p=4091

26 July 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Pasangan suami isteri yang dianggap berzina

 

Mari kita perhatikan apakah yang menyebabkan pasangan suami isteri dianggap berzina sekiranya berlaku perkara berikut :

Sesungguhnya, permasalahan ini berat.

Perhatikan soalan 1 – 9.

Perkahwinan seumpama ini, Hari ini memang tersangat biasa kerana keluarga biasanya memilih jalan untuk menutup malu. Bila dapat tahu anak “pregnant luar nikah”, cepat cepat dikahwinkan.

Berdasarkan kenyataan tersebut, nikah itu TIDAK SAH, maka pasangan itu kelak hidup dalam zina sampai bila-bila… Persoalan ini telah diajukan kepada seorang Imam, di mana banyak persoalan lain timbul dari persoalan pokok tersebut. Saya kongsikan bersama anda di sini kerana ianya amat penting:

pasangan akan dianggap berzina sekiranya

Soalan 1: Apakah langkah yang sewajarnya sekiranya seorang gadis belum berkahwin didapati hamil anak luar nikah?

Gadis itu tidak boleh berkahwin sehingga bayi itu dilahirkan.

Soalan 2 : Sekiranya lelaki yang bertanggungjawab itu bersedia mengahwini gadis itu, bolehkah mereka bernikah?

Tidak. Mereka tidak boleh bernikah sehingga bayi itu dilahirkan.

Soalan 3 : Adakah pernikahan itu sah sekiranya mereka berkawin? Tidak. Pernikahan itu TIDAK SAH. Seorang lelaki tidak boleh mengahwini seorang wanita hamil, walaupun lelaki itu merupakan ayah kepada bayi yang dikandung itu.

Soalan 4 : Sekiranya mereka bernikah, apakah tindakan mereka untuk memperbetulkan keadaan?

Mereka mesti berpisah. Perempuan itu mestilah menunggu sehingga melahirkan, atau sehingga sah dia tidak mengandung, barulah mereka boleh bernikah sekali lagi,secara sah.

Soalan 5 : Bagaimana sekiranya keadaan itu tidak diperbetulkan?

Maka mereka akan hidup di dalam zina kerana pernikahan itu tidak sah.

Soalan 6 : Apakah hak seorang anak luar nikah?

Kebanyakan pendapat mengatakan bahawa anak itu TIADA HAK untuk menuntut apa-apa daripada ayahnya.

Soalan 7 : Sekiranya hukum mengatakan lelaki itu bukan ayah kepada anak tersebut, adakah itu bermakna dia bukan mahram kepada anak perempuannya sendiri?

Ya. Dia tidak boleh menjadi mahram.

Soalan 8 : Sekiranya seorang lelaki Muslim Dan seorang wanita Muslim (atau bukan Muslim) ingin bernikah setelah bersekedudukan, apakah tindakan yang sewajarnya?

Mereka mesti tinggal berasingan segera Dan menunggu sehingga perempuan itu haid satu kali sebelum mereka boleh bernikah.

Soalan 9 : Sekiranya saya kenal/tahu seseorang di dalam keadaan ini, apakah saya perlu memberitahu kepadanya, atau lebih baik menjaga tepi kain sendiri?

Anda wajib memberitahu, kerana itu sebahagian tanggungjawab anda sebagai saudaranya. Mereka harus diberi peluang untuk memperbetulkan keadaan mereka, kalau tidak semua keturunan yang lahir dari pernikahan tidak sah itu adalah anak-anak yang tidak sah taraf.

Kesimpulannya: Ibu bapa, saudaramara, org2 kampung, tok2 imam, tok2 kadi Dan saksi-saksi yang tahu akan keadaan tersebut tetapi mendiamkan, membiarkan atau membenarkan pernikahan tersebut diteruskan maka mereka juga tidak terlepas daripada menanggung azab dan seksaan samada didunia atau pun diakhirat…

Tolong jangan abaikan text ini. Ini merupakan satu perkara yang serius. Jadi, fahami dan dalami betul-betul dan bincanglah dengan Imam/ustaz sekiranya perlu.

Mafhumnya: Katakanlah: ‘Sesungguhnya sembahyangku Dan ibadatku, hidupku Dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara Dan mentadbirkan sekalian alam…

Sumber adalah dari USTAZ ROSLI AL HAFIZ via SembangKencang

26 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Yaqazah Batil dan sesat?

Menjawab DR MAZA

بسم اللّه الرحمن الرحيم،

النصوص الشرعي في بيان رؤية النبي صلى اللّه عليه وسّلم في اليقظة.

Teks-Teks Syara’ pada menyatakan kebenaran Al-yaqazah pada Waliyullah akan Baginda ShallahuAlaihiwasallam dan suatu jawapan kepada Dr Maza menyangkal dakwaan beliau….

Dewasa ini, kita digembar-gemburkan dengan kepelbagaian diversiti isu agama yang pada dasarnya hanya membawa kepada kecelaruan jika dihuraikan oleh mereka yang bukan keahlian bagi sesuatu ilmu dan perbahasan tersebut seperti isu Yaqazah para Waliyullah yakni melihat baginda ShallahuAlaihiwassallam dalam keadaan sedar secara total ataupun separa sedar, justeru sesungguhnya masalah ini bukanlah merupakan masalah Tasri’iyyah yang ditokok tambah dalam agama tetapi merupakan masalah Tafdhiliyyah yang menjadi kebingungan golongan wahabiyyah pada globalisasi kini mahupun mudun dahulu kerna mereka sendiri tidak dapat membezakan terminologi Hukum Aqal dan Hukum A’dat.

Perbezaan berkenaan Hukum Aqal dan Hukum Adat sebagaimana telah disebutkan terminologi tersebut oleh Allamah Al-imam Ibrahim Al-baijuri rahimahulloh dalam Syarah Al-baijuri Ala’ Sanusiyyah dalam prinsip metodologi Ilmu Muqaddimah m/s (9/10) ;

١. ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﻌﺎﺩﻱ : ﻫﻮ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺃﻣﺮ ﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﻧﻔﻴﻪ ﻋﻨﻪ ﺑﻮﺍﺳﻄﺔ ﺍﻟﺘﻜﺮﺍﺭ مع صحّة التخلّف فيه.

1. Yalni suatu keputusan (hukum) pada kebiasaannya berlaku (atau yang pernah berlaku/adat kebiasaan). Perkara yang sudah termaktub dengan sebab sudah berulang-ulang kali terjadi serta sah menyalahi dengan keputusan disebalik adat kebiasaan tersebut seperti sifat kenyang setelah makan, maka jika tidak makan maka tiadalah sifat kenyang tersebut dan tidak terbakar Nabi Ibrahim Alaihissalam sewaktu cube dibakar oleh Raja Namrud pada adat kebiasaan api tersebut bersifat dengan membakar dan menghangus.

٢. ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﻌﻘﻠﻲ : ﻫﻮ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺃﻣﺮ ﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﻧﻔﻴﻪ ﻋﻨﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﻮﻗﻒ ﻋﻠﻰ ﻭﺿﻊ.

2. Yakni suatu keputusan (hukum) yang memutuskan penetapan dan penafian berdasarkan logikal akal fikirannya yang membetuli (memuktamadkan) perkara-perkara yang difikirkan itu tanpa terhenti keputusan akal fikirannya pada suatu perkara tersebut seperti penciptaan makhluk/alam ini mesti ade sang penciptaNya yakni Allah Taala.

Telah berkata Al-imam Haramain Al-juwaini rahimhulloh ;

فمن لم يعرفه فليس له بعاقل

Yakni barangsiapa yang tidak dapat memahami hukum aqal tersebut maka tiadalah baginya aqal yang waras.

Sehubungan itu, maka jelaslah bahwa isu permasalahan Al-yaqazah para waliyullah ini termasuk dalam perkara yang disebut oleh para ulama’ (خرق العادة المكملة للمعجزة) yakni perkara-perkara yang menjangkaui adat kebiasaan yang menyempurnakan maksud bagi Mu’kjizat para anbia’ Alaihimussolatul wassalam dan sebagaimana ittifaq/telah bersepakat ulama’ ASWJ tentang kebenaran Mu’kjizat para anbia’ dan karomat para waliyullah kerna bahwa sanya Allah Taala itu Maha Berkuasa menciptakan sesuatu perkara.

الأدلّة الشرعي :

١. روى الامام البخاري في صحيحه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ((من رآني في المنام فسيراني في اليقظة فإن الشيطان لا يتمثل بي)) كما روى هذا الحديث مسلم صـ (١/١٥٢) وأبو داود في صحيحيهما.

• عن أبي هريرة قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ” مَن رآني في المنام فسيراني في اليقظة ، ولا يتمثل الشيطان بي ” .
رواه البخاري رقم ( ٦٥٩٢ ) ومسلم رقم ( ٢٢٦٦ ) .
زاد البخاري : قال ابن سيرين إذا رآه في صورته .

(ح) وفي رواية عند أحمد رقم ( ٣٤٠٠ ) : ” فإن الشيطان لا يستطيع أن يتشبه بي ” .

1. Telah diriwayatkan oleh Al-imam Al-bukhori dalam Sahihnya, Al-imam Muslim dalam Sahihnya m/s (1/152) dan dalam Sunan Abi Daud ;

Diriwayatkan daripada Sayyidina Abu Hurairoh radhiallahuAnhu ;

Telah mendengar oleh daku daripada baginda ShallahuAlaihiwasallam ; bersabda baginda ShallahuAlaihiwasallam ;
“ Barangsiapa yang melihatku saat mimpinya, maka ia akan melihatku dalam keadaan sedarnya. Maka sesungguhnya Syaitan itu tidak dapat menyerupai akan diriku….”

Sedikit penambahan oleh Imam Bukhori rahimahulloh daripada Ibnu Sirrin dengan mafhum yang sama.

Diriwayatkan juga oleh Al-imam Ahmad Bin Hanbal rahimahulloh dalam Musnadnya dengan Lafaz Hadis sedikit berbeza pada Matan asalnya ;
” Yakni maka sesungguhnya Syaitan tidak akan mampu menyerupaiku (baginda nabi shallahuAlaihiwasallam)…

Berikut merupakan komentar/syarahan hadis riwayat Sayyidina Abu Hurairoh radhiallahuanhu berkenaan Al-yaqazah melalui kefahaman Jarh Wal Ta’adil yang sebenar daripada Al-hafiz Al-imam Ibnu Hajar Al-asyqolani rahimahulloh secara riwayat dan diroyat ;

• قال الحافظ ابن حجر :

وقد رويناه موصولاً من طريق إسماعيل بن إسحاق القاضي عن سليمان بن حرب – وهو من شيوخ البخاري – عن حماد بن زيد عن أيوب قال : كان محمَّد – يعني : ابن سيرين – إذا قصَّ عليه رجلٌ أنَّه رأى النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قال : صِف لي الذي رأيتَه ، فإن وَصف له صفةً لا يعرفها قال : لم تره ، وسنده صحيح ، ووجدتُ له ما يؤيِّده فأخرج الحاكم من طريق عاصم بن كليب حدثني أبي قال : قلتُ لابن عباس رأيتُ النَّبي صلى الله عليه وسلم في المنام ، قال : صِفه لي ، قال ذكرتُ الحسن بن علي فشبَّهتُه به ، قال : قد رأيتَه ، وسنده جيد .

” فتح الباري ” ( ١٢/٣٨٣-٣٨٤ ) .

Telah berkata Al-hafiz Ibnu Hajar dalam Syarah Fathul Barri m/s (12/383-384) ;

Telah diriwayatkan kepada kami secara bersambung daripada jelujur/jalinan sanad Qadhi Ismail Bin Ishak daripada Sulaiman Bin Harb (salah seorang guru Imam Bukhori) daripada Hammad Bin Zaid Bin Ayyub (Ibnu Sirrin) sebagai sokongan penriwayatan hadis riwayat daripada Sayyidina Abu Hurairoh tersebut ; telah berkata beliau bahwa sanya baginda nabi ShallahuAlaihiwasallam telah mengisahkan tentang seorang lelaki yang telah bermimpikan baginda shallahuAlaihiwasallam ketika tidurnya, maka sabda baginda sifatkanlah olehmu apa yang kamu lihat dalam mimpimu?, lalu beliau menceritakan kepada baginda tentang sifat-sifat baginda di mana baginda shallahuAlaihiwasallam sendiri tidak dapat mengecaminya…

Telah ditashihkan sanad hadis diriwayatkan oleh Ibnu Sirrin ini sebagai Sohih, bahkan didapati juga daripada Al-imam Al-hakim dan ditakhrijkan hadis tersebut oleh beliau sendiri rahimahulloh daripada jalinan sanad A’asim Bin Kulaib telah diriwayatkan oleh bapaku, katakanlah kepada Sayyidina Abdullah Bin Abbas radhiallahuAnhuma, bahwa sanya aku telah melihat baginda shallahuAlaihiwasallam dalam mimpiku, lalu berkata Sayyidina Ibnu Abbas sifatkalah ciri-ciri baginda kepada daku, lalu aku berkata sesungguhnya telah bersamaan wajah baginda shallahuAlahiwasallam dengan cucu baginda Sayyidina Hassan Bin Ali, lalu berkata Sayyidina Ibnu Abbas maka benarlah ape yang kamu telah lihat, ditashihkan hadis ini sebagai jayyid.

وأما من يقول إنه صلى الله عليه وسلم يأتي بكل صورة ، ويستدل على ذلك بما أخرجه ابن أبي عاصم عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” مَن رآني في المنام فقد رآني فإنِّي أُرى في كل صورة ” : فحديث ضعيف .

Adapun hadis yang dhaif melalui jalinan sanad Abi A’asim ditakhrijkan oleh anaknya daripada Sayyidina Abu Hurairoh adalah hadis berkenaan didatangi baginda ShallahuAlaihiwasallam dalam mimpi dalam apa jua bentuk dan rupa dengan mafhum sabda baginda shallahuAlaihiwasallam, ” Barangsiapa yang dapat melihatku dalam tidur, maka sesungguhnya ia telah dapat melihatku dalam apa jua bentuk dan rupa.

• قال الحافظ ابن حجر :

وفي سنده صالح مولى التوأمة ، وهو ضعيف ؛ لاختلاطه ، وهو مِن رواية مَن سمع منه بعد الاختلاط .

” فتح الباري ” صـ ( ١٢/٣٨٤ ) .

Dibuktikan lagi oleh Al-hafiz Ibnu Hajar dalam Syarah Fathul Barri m/s (12/384) ;

Yakni pada sanad Solih Mawla At-taua’matiyy adalah dhaif disebabkan wujud nye percampuran pada isnadnya.
• قال الحافظ ابن حجر :

وقوله ” لا يستطيع ” يشير إلى أن الله تعالى وإن أمكنه مِن التصور في أي صورة أراد ؛ فإنه لم يمكنه من التصور في صورة النَّبي صلى الله عليه وسلم ، وقد ذهب إلى هذا جماعة…

” فتح الباري ” صـ (١٢/٣٨٦) .

Bahkan riwayat Hadis Al-yaqazah yang ditakhrijkan oleh Al-imam Ahmad Bin Hanbal rahimahulloh sendiri pada lafz hadis ‘ لا يستطيع ‘ itu menunjukkan bahwa sanya Allah Taala berkuasa menjadikan Syaitan dalam apa sahaja rupa dan bentuk yang ia kehendaki, namun Allah Taala menegah ia berupa sebagaimana baginda shallahuAlaihiwasallam dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama’, Syarah Fathul Barri m/s (12/386).

Jelas!!!

Wujud kontradiksi pemahaman nas hadis riwayat Sayyidina Abu Hurairah berkenaan Al-yaqazah dengan apa yang didakwa oleh Maulana Asri, Siapakah Maulana Asri adakah beliau Muhaddisin Jarh Wal Ta’adil lebih ulung daripada Alhafiz Ibnu Hajar Al-asyqolani rahimahulloh???.

• وأخرج الطبراني مثله من حديث مالك بن عبد الله الخثعمي ومن حديث أبي بكرة صـ (٥/٢٤٣)، وأخرج الدارمي مثله من حديث أبي قتادة صـ (٢/٣٠١)، وأحمد صـ (٥/٣٦٠)…

Bahkan Hadis riwayat Sayyidina Abu Hurairah radhiallahuAnhu ini telah ditakhrijkan oleh Al-imam At-tabari sebagaimana riwayat Malik Bin Khas’amiyy dan riwayat Abi Bakrah m/s (5/243), juga ditakhrijkan oleh Al-iman Ad-darimi rahimahulloh melalui riwayat Abi Qatadah m/s (2/301), dan Al-imam Ahmad Bin Hanbal dalam Musnadnya m/s (5/360).

• قال العلامة ابن الأثير في كتابه (النهاية في غريب الحديث والأثر) : اليقظة قد تكرر في الحديث ذكر اليقظة والاستيقاظ وهو الانتباه من النوم. فهذا حديث صحيح صريح لا يقبل التأويل. صـ (٥/٤٨-٤٩).

Dinukilkan daripada Allamah Ibnu A’thir dalam An-nihayah Fil Gharibil Hadis Wal As’thar m/s (5/38-39) ;

Yakni Al-yaqazah yang berulang-ulang kali diucapkan dalam hadis adalah keadaan yang jaga dan sedar daripada mimpi bahkan dihukumkan hadis riwayat Sayyidina Abu Hurairah radhiallahuAnhumaa ini sebagai Sohih dan Sorih tidak berhajat kepada pentakwilan yang spesifik.

٢. سئل الفقيه العلامة ابن حجر الهيتمي في كتابه (الفتاوي الحديثة) صـ (١/٢١٢) وذكر أيضا في الحاوي صـ (٢/٢٥٨) : سئل هل ممكن رؤية النبي صلى الله عليه وسلم في اليقظة فأجاب: أنكر ذلك جماعة وجوزه آخرون وهو الحق وقد أخبربذلك جماعة من الصالحين واستدل بحديث البخاري (من رآني في المنام فسيراني في اليقظة) أي بعين رأسه…

2. Telah dinukilkan oleh Allamah Al-imam Ibnu Hajar Al-haitami rahimahulloh dalam Fatawa Al-haadisah m/s (1/212) dan juga disebut dalam Al-hawi m/s (2/258) ;

Telah diajukan persoalan berkenaan adakah mungkin dapat melihat baginda nabi shallahuAlaihiwasallam secara Yaqazah (sedar/separa sedar)?, maka dijawab oleh beliau, sesungguhnya telah menginkari kenyataan demikian oleh golongan terdahulu dikhuatiri wujud dakwaan sewenang-wenangnye oleh mereka yang tidak bertanggunjawab sebaliknya menyokong golongan As-solihin dengan kejadian demikian (Al-hawi) dan disokong kenyataan ini oleh golongan kemudian berdasarkan Hadis riwayat Sayyidina Abu Hurairah radhiallahuAnhu dan pendapat ini adalah yang sebenar.

٣. وقال صاحب رسالة (الموقظة فى رؤية الرسول صلى الله عليه وسلم فى اليقظة) : هل يمكن الاجتماع بالنبي والتلقي منه فى اليقظة ؟ نعم يمكن ذلك، فقد صرح بأن ذلك من كرامات الأولياء الغزالي والبارزي والتاج السبكي والعفيف اليافعي من الشافعية والقرطبي وابن أبي جمرة من المالكية.

3. Telah dinukilkan dalam Ar-risalah Al-mauqi’zoh Fil Ru’yatil Rasul ShallahuAlaihiwasallam Fil Yaqazoh ;

Yakni adakah mungkin dapat berjumpa dengan baginda nabi shallahuAlaihiwasallam dalam keadaan sedar?, maka telah berkata musonnif (pengarang) kitab tersebut, ya mungkin bahkan telah ditasriihkan demikian adalah salah satu daripada karamah para waliyullah yang wajib dpercayai sebagaimana dinukilkan oleh Al-imam Abu Hamid Al-ghazali, Al-imam Al-barazziy, Al-imam Tajuddin As-subki, Syeikh Afifi Al-ya’iifiyy Al-syafie, Al-imam Al-qurtubi, dan Al-hafiz Ibnu Abi Hamzah Al-maliki….

٤. ونقل عن الحافظ البغوي : قال ابن بطّال : قوله ( فسيراني في اليقظة ) يريد تصديـق تلك الرؤيا في اليقظة وصحتها وخروجها على الحق وليس المراد أنه يراه في الآخرة لأنه سيراه يوم القيامة في اليقظة فتراه جميع أمته من رآه في النوم ومن لم ير منهم…

4. Telah dinukilkan oleh Al-hafiz Al-baghawiyy rahimahulloh daripada Ibni Battal rahimahulloh telah berkata ;

Yakni dimaksudkan pada lafaz hadis riwayat Sayyidina Abu Hurairah RadhiallahuAnhu ( فسيراني في اليقظة ) adalah dikehendaki membenarkan kenyataan demikian yakni kemungkinan dapat melihat baginda shallahuAlaihiwasallam secara sedar, bahkan telah ditashihkan dan ditakrijkan hadis ini oleh sebilangan daripada ulama’, bukanlah dimaksudkan dalam hadis ini bahwa sanya kita hanya dapat melihat baginda dengan mata yang kasar ini pada hari kiamat kelak sahaja, bahkan dapat dilihat oleh kesemua ummat baginda bagi sesiapa yang menghendaki melihat baginda ketika tidur dan sebagainya….

٥. وقال ابن الحاج المالكي في (المدخل) : وقلّ من يقع له ذلك الأمر، إلاّ من كان على صفة عزيز وجودها في هذا الزمان بل عدمت غالباً، مع أننا لا ننكر من يقع له هذا من الأكابر الذين حفظهم الله تعالى في ظواهرهم وبواطنهم.

5. Telah dinukilkan daripada Ibnu Al-hajj Al-maliki dalam Al-madkhal ;

Yakni sedikit sahaja mereka yang melibatkan diri dalam perkara demikian (Yaqazah) kecuali pada diri mereka tersebut mempunyai sifat yang mulia sebagaimana salafussoleh dahulu pada zaman kini bahkan dikatakan sudah hilang golongan ini pada ghalibnya, kami tegaskan disini bahwa sanya kami tidak mengingkari karamat mereka yang tinggi maqamnya secara lahiriah dan harfiah (batiniyyah) kepada Allah Taala….

٦. قال الإمام السيوطى فى (تنوير الحلك في إمكان رؤية النبى والملك) : فقد كثر السؤال عن رؤية أرباب الأحوال للنبي صلى الله عليه وسلم في اليقظة وإن طائفة من أهل العصر ممن لا قدم لهم في العلم بالغوا في إنكار ذلك والتعجب منه وادعوا أنه مستحيل فألفت هذه الكراسة في ذلك وسميتها….

6. Telah berkata oleh Al-imam Jalaluddin As-suyuthi dalam Tanwirul Al-halk Fil Imkanil Ru’yatil Nabiyy ;

Yakni telah datang begitu banyak persoalan khusus mereka pada hari ini tiadalah keahlian bagi mereka akan ilmu menafikan dapat melihat baginda ShallahuAlaihiwasallam, bahkan ta’ajub mereka dan mengatakan bahwa sanya ini adalah perkara mustahil maka aku telah mengarang lembaran yang ringkas pada menjawab persoalan demikian….

٧. قال الإمام الشعراني رحمه الله تعالى في الطبقات الصغري في ترجمة الشيخ شهاب الدين البلقيني صـ (٦١) :

وكذلك بلغنا أنه كان يجتمع بالنبي صلى الله عليه وسلم يقظة ويحادثه ، أي بجتمع به في حالة بين النائم واليقظان كما هو مقرر في تأويل كلام القوم اهـ….

7. Telah dinukilkan oleh Al-imam As-sya’raniyy rahimahulloh dalam Thabaqat As-sughra m/s (61) ;

Yakni dan telah sampai kepada kami akan kebenaran kenyataan kemungkinan dapat berjumpa dengan baginda nabi shallahuAlaihiwasallam sama ada ketika tidur atau sedar/jaga…

٨. وقال الشيخ محمد بن علوى المالكى في كتابه (الذخائر) صـ (١٤٦) : إن رؤيا النبي صلى الله عليه وسلم ممكن لعامة أهل الأرض في ليلة واحدة، وذلك لأن الأكوان مرايا، وهو صلى الله عليه وسلم كالشمس إذا أشرقت على جميع المرآيا ظهر في كل مرآة صورتها، بحسب كبرها وصغرها، وصفائها وكدرها، ولطافتها وكثافتها… الخ .

8. Telah dinukilkan oleh Al-marhum Syeikh Dr Muhammad Al-alawi Al-maliki rahimahulloh dalam Az-zakhair m/s (146) ;

Sesungguhnya melihat baginda rasulullah ShallahuAlaihiwasallam adalah bukan perkara yang mustahil bagi kesemua penduduk bumi semalam, kerna baginda shallahuAlaihiwasallam padanya kelihatan seperti mega cahaya matahari yang gemerlapan, mezahirkan penglihatan padanya dengan rupanya, saiznya, sifatnya shallahuAlaihiwasallam…

٩. فقد إتفق علماء أهل السنة والجماعة التصديق بكرامات الأولياء ، ما يجري الله على أيديهم من خوارق العادات في أنواع العلوم والمكاشفات وأنواع القدرة والتأثيرات كالمأثور عن سائر الأمم. مجموع الفتاوي لإبن تيمية.

9. Bahkan dinukilkan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahulloh sendiri dalam Majmu’ Fatawanya ;

Yakni telah bersepakat Ulama ASWJ tentang kebenaran karamat para waliyullah, dengan ape yang dikurniakan oleh Allah Taala kepada mereka yang mejangkaui batas akal fikiran dan adat kebiasaan, dan ini adalah satu bahagian perbahasan dalam Ilmu Tasauf Mukasyafah….

Konklusinya, sudah terang lagi bersuluh wujud kontradiksi pandangan beliau (Dr Maza) dengan pandangan Ulama’-ulama yang muktabar dalam Mazhabiyyah bahkan dengan Imam pujaannya sendiri Ibnu Taimiyyah tentang kebenaran Al-yaqazah para waliyullahh akan baginda rasulullah ShallahuAlaihiwasallam…

‫#‏من_لم_يذوق_ولم_يدري‬

Wallahua’lam…
Intaha,
Ibnuqassemalkelantany/
@salafytobat93

Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group – Johor
Pertubuhan Ahli Sunnah Wal Jamaah Malaysia – Aswaja Pondok Zawiyah Rumi Sufi Jawi PU Faiz Fans Club

26 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Menggunakan Peralatan Pejabat Untuk Kegunaan Peribadi | Portal Rasmi Fatwa Malaysia

Sumber : Blog Fatwa Malaysia

ISU:

Berkenaan penggunaan barang-barang pejabatsebagai contoh mencetak beberapa dokumen peribadi dalam kuantiti yangsedikit dan penggunaan internet untuk memuat turun sebarang mediaseperti video dan audio ilmiah berkaitan agama/lain2.jadi bagaimanakah saya hendak menggantikan atau keluar dari kesalahan ini jika telah melakukannya.Perlukah saya mengganti dalam apa-apa bentuk gantian? Salahkah?

Berkenaan makanan lebihan dari kursus/mesyuarat yang diadakan di pejabat lalu dimakan oleh kakitangan pejabat yang lain.Kami juga makan makanan lebihan tersebut yang mana jika yang mengadakan mesyuarat itu adalah bahagian/seksyen lain dan mahupun yang diadakan oleh seksyen sendiri.Apakah hukum dalam hal ini?

Saya berkerja di sesebuah seksyen di pejabat kerajaan.seksyen ini dianggap sibuk dan banyak kerja. Alhamdulillah saya buat kerja dengan baik, soalnya disini sampai satu ketika kadang-kadang tiada kerja untuk dibuat disebabkan beberapa perkara yang perlu menunggu urusan dari pihak lain untuk diambil tindakan.jadi tidak ada kerja yang nak buat.adakah salah jika saya tidak membuat apa-apa kerja waktu itu.? atau perlu saya mencari kerja lain?

PENJELASAN:

Firman Allah SWT dalam surah al-Nisa’ ayat 58, yang bermaksud, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya menyerahkan segala jenis amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya)…” Abdullah bin Umar melaporkan, Nabi Muhammad saw bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang yang tidak amanah.” Hadis sahih direkod oleh al-Munziri.

Isu 1:

Menggunakan kemudahan di pejabat untuk kegunaan peribadi adalah dilarang. Ini disebabkan segala kos yang ditanggung di pejabat menggunakan dana awam, ia hanya digunakan untuk keperluan tugas. Sekiranya kegunaan pejabat telah digunakan untuk kegunaan peribadi, maka ia perlu dibayar ganti rugi. Bayaran ganti rugi boleh dibincangkan dengan Ketua Jabatan.

Isu 2:

Pembaziran merupakan perkara yang diharamkan oleh Allah SWT. Firman Allah dalam surah al-Isra’ ayat 27, yang bermaksud, “Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara Syaitan, sedang Syaitan itu pula adalah makhluk yang sangat kufur kepada Tuhannya.” Lebihan makanan dari kursus/mesyuarat yang diadakan di pejabat dilarang daripada dibuang begitu sahaja. Tidak menjadi kesalahan lebihan makanan itu dimakan oleh kakitangan lain yang tidak terlibat dalam kursus/mesyuarat tersebut. Dalam masa yang sama pihak penganjur kursus/mesyuarat wajib mengurus kewangan yang ada bagi memastikan ia tidak digunakan secara berlebihan.

Isu 3:

Bidang tugas dan peranan seseorang dalam sesuatu Jabatan adalah mengikut perjanjian antara Ketua Jabatan dan pekerjanya. Selama mana gaji yang diterima itu berdasarkan kontrak kerja yang disepakati, maka tidak menjadi kesalahan kepada pekerja menerima gaji, walaupun dalam keadaan tertentu terdapat sela waktu, pekerja tiada urusan untuk dilakukan. Namun, masa ketiadaan tugas untuk dilakukan perlu diisi untuk keperluan Jabatan mengikut tugas yang diarahkan oleh Ketua Jabatan daripada semasa ke semasa.

Wallahua’lam.

24 July 2015 Posted by | Fatwa, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Merokok Hukum dan Penyelesaiain Nya

 

Rokok Bahaya dan Haram

Sesungguhnya isu merokok adalah isu yang dipandang remeh oleh sesetengah orang tetapi sebenarnya besar kesan terhadap individu yang terbabit. Perlu dinyatakan …di sini banyak akibat yang mudarat dan tidak baik berlaku kepada perokok dan orang sekelilingnya.

Antaranya pembaziran yang ketara yang melibatkan jutaan ringgit pada setiap tahun di peringkat negara di billion dollar pada peringkat dunia. Begitu juga dengan kematian kadarnya seperti 2014 menunjukkan hampir 6 juta kepada perokok dan juga yang berada di sekelilingnya kerana terkesan akibat asap rokok. Angka tersebut bertambah dari setahun ke setahun.

Sekali lagi suka saya pertegaskan bahawa pendapat yang paling kuat dan rajih bahawa merokok hukumnya haram. Saya nukilkan pendapat Dr. Yusuf al-Qaradhawi yang mengumpul sejumlah tokoh ulama’ dalam kitabnya Min Hady al-Islam Fatawa Mu’asirah 1/693-710 antaranya:

• Ulama Mesir: Syeikhul Islam Ahmad al-Sanhuri al-Buhuti al-Hanbali dan Syeikhul Malikiyyah Ibrahim al-Laqqani.

• Ulama Maghribi: Syeikh Abu Ghaith al-Qasyasyi al-Maliki

• Ulama Syam: Syeikh Najmuddin bin Badruddin bin Mufassir al-Qur’an al-Arabi al-Ghazzi al-Amiri al-Syafie

• Ulama Yaman: Syeikh Ibrahim bin Jam’an dan muridnya Syeikh Abu Bakar bin Ahdal

• Ulama al-Haramain: al-Muhaqqiq Abdul Malik al-Ishami dan muridnya Muhammad bin Allamah dan Sayyid Umar al-Basri

• Ulama Turki: Syeikh al-A’zham Muhammad al-Khawajah, Syeikh Isa al-Sahwah al-Hanafi, Syeikh Makki bin Faruh al-Makki dan Sayyid Sa’d al-Balkhi al-Madani.

Saya mengucapkan syabas kepada KEMENTERIAN KESIHATAN MALAYSIA yang bersungguh-sungguh melaksanakan Kempen Anti-Merokok dengan pelbagai cara telah diusahakan.

Justeru, amatlah penting semua pihak menggerakkan program anti-merokok di peringkat sekolah rendah lagi sehingga ke pada orang dewasa. Alangkah baiknya kita hidup dalam tahap kesihatan yang terbaik dan selamat daripada pembaziran yang mungkin boleh dimanfaatkan harta tersebut untuk pembangunan ummah. Semoga kita semua diberi kefahaman yang mendalam untuk mengelakkan daripada terjebak dengan aktiviti merokok.

Klik di sini untuk membaca dengan lanjut http://muftiwp.gov.my/index.php…

Sumber:
Datuk Dr. Zulkifli Mohamad al-Bakri

Mufti Wilayah Persekutuan

22 July 2015 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Black Metal Perosak Akidah Islam

Setiap remaja Muslim hendaklah menjauhi dan membenci gejala yang boleh meruntuhkan akhlak atau memesongkan akidah iaitu gejala Black Metal. Gejala ini mula menular dan merosakkan akhlak dan akidah generasi muda dan remaja.

Terdapat beberapa kes tangkapan yang dilakukan oleh pihak berkuasa berkaitan dengan golongan remaja yang terbabit dengan fahaman dan gejala Black Metal yang boleh meruntuhkan akidah dan tamadun bangsa Melayu.

Fahaman Black Metal ini dikatakan mempunyai unsur seperti antisosial, anti Tuhan, antiagama serta mengajar fahaman ke arah pemberontakan, kebebasan yang melampau yang boleh merosakkan kehidupan dan keharmonian masyarakat di negara ini.

Dari hasil tangkapan pihak berkuasa, sebilangan mereka yang terlibat adalah pelajar sekolah, kalangan remaja yang tidak boleh membaca Al-Fatihah dan mengucap dua kalimah Syahadah.

Perkara ini menjadi kebimbangan kepada ibu bapa pada masa kini bahawa fahaman ini menolak agama serta mengedarkan risalah anti agama melalui pengikutnya yang ekstrem dan sanggup mendapatkan kitab ajaran sihir dari luar negara.

Kumpulan ini dikatakan cuba mengadakan pesta liar, melalui pesta muzik sebagai medan melepaskan perasaan, pesta berunsur seks, menarikan tarian ghairah yang melampau. Pihak berkuasa juga menjumpai dan merampas pelbagai produk, risalah, cakera padat dan kaset, buku ideologi dan baju-T yang ada kaitan dengan kegiatan tidak bermoral kumpulan terbabit.

Sebagai bukti pihak berkuasa juga merampas pelbagai buku mengenai ideologi kumpulan muzik `bawah tanah’ itu yang ditemui dalam beg beberapa remaja yang ditahan termasuklah The Uprising, Stop The Clock dan DURGA.

Golongan remaja ini dikatakan ingin mencari kelainan hingga sanggup meniru pelbagai kelakuan pelik. Punca remaja ini terbabit ialah disebabkan perasaan ingin tahu serta mencari keseronokan.

Kini, dalam era dunia tanpa sempadan, segala yang pelik sudah menjadi suatu kebiasaan dan menakutkan ibu bapa. Remaja dikatakan mudah terpengaruh akibat perubahan zaman yang dilalui serta kecanggihan teknologi yang semakin memuncak. Malah, keadaan ini juga memungkinkan berlaku pergolakan jiwa di kalangan mereka.

Pengaruh Black Metal ialah antara alternatif atau jalan keluar yang mereka anggap sebagi ruang untuk mengeluarkan diri mereka daripada norma biasa kehidupan manusia.

Amalan gaya hidup dengan seks bebas, meminum darah, menghalalkan arak dan paling tragis sanggup mengoyak, memijak dan membakar Al-Quran merupakan perbuatan paling hina dalam Islam.

Di Barat, tindakan berani pengikut fahaman ini membakar gereja, kitab suci dan rumah ibadat, malah sanggup membunuh rakan sendiri sebagai tanda kesetiaan kepada ajaran itu. Mesej utama ajaran ini jelas iaitu pemujaan dan amalan sihir.

Mengikut sejarah, Black Metal ialah muzik yang muncul pada awal 1980-an, pada masa era muzik Heavy Metal. Ia berkembang daripada Thrash Metal sama seperti Death Metal.

Pengasas muzik Black Metal ialah seperti Kumpulan Venom, Mercyful, Fate, Bathory, Hellhammer, Bulldozer. Celtic Frost dan Mayhem.

Nama Black Metal diilhamkan daripada tajuk album kumpulan Venom `Black Metal’yang bermaksud logam hitam. Black Metal mengukuhkan kedudukannya pada masa kini dengan dipengaruhi kumpulan muzik dari Norway seperti Darkthrone, Enslaved, Burzum, Mayhem, Immoral, Ancient dan Emperor. Muzik ini jelas menjurus kepada pemujaan syaitan dan liriknya antiagama.

Beberapa ciri kumpulan Black Metal antaranya petikan gitar menggunakan irama muzik yang keras. Lirik yang memuja syaitan unsur pemujaan dan antiagama. Nada bunyi yang tinggi dengan suara yang menjerit.

Sejarah Black Metal antaranya pemain gitar Mayhem berbangsa Norway, Oystein Arseth atau lebih dikenali Euronymous ialah anggota yang paling menonjol pada lewat 1980-an dan awal 1990-an. Mempunyai kaitan dengan pengaruh neo-nazi, beliau memasukkan elemen yang menentang Yahudi.

Pergerakan kumpulan ini dilakukan secara sembunyi bermula di bilik bawah tanah kedai muzik Aarseth. Bilik bawah tanah itu dikenali sebagai Helvete (neraka).

Majlis Fatwa Kebangsaan bagi Hal Ehwal Islam telah memutuskan ajaran Black Metal yang diasaskan kumpulan muzik berirama rock berat dari barat adalah haram dari segi agama Islam.

Pengerusi Jawatankuasa majlis itu, Datuk Dr. Shukor Husin, berkata dengan fatwa itu, pihak yang mengamalkan ajaran Black Metal kini boleh dikenakan tindakan mengikut hukum syarak..

Ajaran Black Metal menggalakkan pengikutnya memijak Al-Quran, memuja syaitan, anti-Tuhan dan mengamalkan seks bebas. Selain itu, susunan muzik dan lirik Black Metal

Banyak diilhamkan daripada ideologi antipembangunan, antiagama, perlakuan kejam dan memuja syaitan.

Ada ahli kumpulan yang dikatakan memasukkan titisan darah mereka ke dalam gelas yang dipercayai bercampur darah kambing dan kemudian diminum.

Beberapa langkah perlu diambil bagi mengelakkan pengaruh Black Metal di kalangan remaja antaranya:

* Menyucikan hati daripada pengaruh yang tidak berakhlak dan tidak bermoral dengan membersihkan diri daripada maksiat yang boleh menjerumuskan remaja ke arah pemesongan akidah.

* Mengelakkan suasana persekitaran yang boleh mempengaruhi rangsangan nafsu dan akal. Galakkan remaja dengan kegiatan berfaedah seperti kem ibadah, kursus kecemerlangan, serta motivasi diri bagi membina personaliti unggul. Selain itu libatkan diri dalam kegiatan riadah, sukan dan permainan yang boleh membentuk akal dan tubuh badan yang sihat.

* Menjauhi rakan-rakan yang terpengaruh dengan muzik barat yang mengamalkan pergaulan bebas, serta tidak mudah terpengaruh dengan ajaran rakan yang tidak dikenali.
* Selalu membaca Al-Quran dan memahami tafsirannya supaya mendekatkan diri dengan Allah. Sentiasa mengingati Allah dan tidak meninggalkan sembahyang serta menjauhi apa yang dilarang oleh Agama Islam.

· Pilihlah rakan sebaya yang mendorong ke arah kejayaan dan mengamalkan kehidupan dunia dan akhirat mengikut ajaran Islam. Dalam hal ini Imam Ghazali pernah berkata, berkawan dengan orang yang sangat mementingkan perkara keduniaan semata-mata seperti minum racun yang membinasakan.

· Ibu bapa dan guru mestilah mendidik anak dan anak muridnya ke arah kebaikan. Didikan agama penting dalam pendidikan anak-anak dan asuhan ibu bapa serta guru memainkan peranan ke arah kejayaan hidup.

Nabi Muhammad S.A.W. pernah bersabda yang bermaksud:

“ Aku tinggalkan kepada engkau dua perkara, sekiranya kamu berpegang teguh dan tidak akan tinggalkan nescaya kamu tidak akan sesat selepas aku selama-lamanya, iaitu kitab Allah (Al-Quran) dan Sunnahku (Hadis).

* Ibu bapa hendaklah sentiasa memantau rakan sebaya anak remaja mereka, di sekolah, di kawasan tempat kediaman dan di mana mereka selalu berada. Ibu bapa dan ahli masyarakat hendaklah sentiasa mengukuhkan ikatan kasih sayang dan kekeluargaan dan selalu menegur perbuatan yang mungkar dan tidak baik di depan mereka.

Kesimpulannya, renungilah kata-kata Hamka:

`Iman adalah akidah atau pokok pegangan hidup atau kepercayaan. Iman mesti diikuti dengan amal. Amal adalah buah daripada iman.’

Sumber: Majalah Cahaya keluaran JAKIM bulan April 2006.

22 July 2015 Posted by | Aqidah, Berita dan Isu Semasa, Informasi | Leave a comment

Menjaga mata dari pandangan yang Haram.

 

Nasihat Habib Umar dalam Menjaga mata dari pandangan yang Haram.

Melihat kepada aurat dan melihatnya seorang lelaki kepada perempuan atau sebaliknya dengan memperhatikan keindahannya dengan rasa syahwat adalah Haram.

Kerana ia dapat menyebabkan lemahnya Iman, dan dapat menjadikan Hati terpanah oleh Panah yang beracun dari panahnya Syaitan. Sebagaimana di khabarkan Sebaik-baik Manusia ﷺ ,

Pandangan (kepada pandangan yang Haram) adalah busur beracun dari busur iblis yang terlaknat. Berfirman Allah, Barangsiapa yang meninggalkannya kerana takut kepadaku, aku gantikan iman yang terdapat keindahan dalam hatinya.

Balasan yang besar untuk siapa yang menutup pandangannya dari yang diharamkan serta menimbulkan syahwat yang haram, seperti memandang gambar yang menimbulkan syahwat, siapa yang menahannya atas sesuatu yang tidak berharga, balasannya sesuatu yang besar.

Allah mengatakan " Aku gantikan Iman yang terdapat keindahan Didalam hatinya "

Dan apa yang didapatkan bagi mereka yang membiarkan matanya dan tidak memikirkannya dalam melihat yang Haram, suatu panah beracun yang menancap dihatinya.

Bukanlah matinya jasad apa yang dia akan dapatkan akibat perbuatan memandang yang Haram akn tetapi matinya Hati,

setelahnya ialah diharamkan atasnya pahala, rosaknya amal solleh, melemahkan Iman, rosaknya ketaatan, maka dengan pandangan tersebut boleh mengganggunya pada solatnya, membaca Al Qur’an bahkan sampai tidak beradab ketika berfikir, sehingga memikirkan yang buruk didalam beribadah kepada Allah, yang Diperhatikan Allah dirinya dan hatinya.

Maka menjdi keburukan adab yang mendatangkan hukuman serta penolakan dan penghalang untuk mendapatkan pahala.

Wa iyya dzubillahi tabaroka wa ta’ala.

Allah mengetahui pandangan khianat Mata dan yang tersembunyi dihati.

Wallahualam

via: Pencinta Rasulullah

Jom Dakwah Bersama Ulama

20 July 2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

TANDA-TANDA WALI ALLAH

1. Jika melihat mereka, akan mengingatkan kita kepada Allah swt.

Dari Amru Ibnul Jammuh, katanya:

“Ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah berfirman: “Sesungguhnya hamba-hambaKu, wali-waliKu adalah orang-orang yang Aku sayangi. Mereka selalu mengingatiKu dan Akupun mengingai mereka.”

Dari Said ra, ia berkata:

“Ketika Rasulullah saw ditanya: “Siapa wali-wali Allah?” Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”

2. Jika mereka tiada, tidak pernah orang mencarinya.

Dari Abdullah Ibnu Umar Ibnu Khattab, katanya:

10 Hadis riwayat Abu Daud dalam Sunannya dan Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I hal. 6

Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6).

“Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?” Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam petunjuk dan para pelita ilmu.”

3. Mereka bertakwa kepada Allah.

Allah swt berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhuwatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.. Dan bagi mereka diberi berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat”13

Abul Hasan As Sadzili pernah berkata: “Tanda-tanda kewalian seseorang adalah redha dengan qadha, sabar dengan cubaan, bertawakkal dan kembali kepada Allah ketika ditimpa bencana.”

4. Mereka saling menyayangi dengan sesamanya.

Dari Umar Ibnul Khattab ra berkata:

Hadis riwayat Nasa’i, Al Bazzar dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah jilid I hal. 6

Surah Yunus: 62 – 64

Hadisriwayat. Al Mafakhiril ‘Aliyah hal 104

“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sebahagian hamba Allah ada orang-orang yang tidak tergolong dalam golongan para nabi dan para syahid, tetapi kedua golongan ini ingin mendapatkan kedudukan seperti kedudukan mereka di sisi Allah.” Tanya seorang: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?” Sabda beliau: “Mereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah maupun harta di antara mereka. Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.” Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

5. Mereka selalu sabar, wara’ dan berbudi pekerti yang baik.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa”Rasulullah saw bersabda:

Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I, hal 5

“Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, iaitu: pandai mengendalikan perasaannya di saat marah, wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.”

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abu Hurairah, berjalanlah engkau seperti segolongan orang yang tidak takut ketika manusia ketakutan di hari kiamat. Mereka tidak takut siksa api neraka ketika manusia takut. Mereka menempuh perjalanan yang berat sampai mereka menempati tingkatan para nabi. Mereka suka berlapar, berpakaian sederhana dan haus, meskipun mereka mampu. Mereka lakukan semua itu demi untuk mendapatkan redha Allah. Mereka tinggalkan rezeki yang halal kerana akan amanahnya. Mereka bersahabat dengan dunia hanya dengan badan mereka, tetapi mereka tidak tertipu oleh dunia. Ibadah mereka menjadikan para malaikat dan para nabi sangat kagum. Sungguh amat beruntung mereka, alangkah senangnya jika aku dapat bertemu dengan mereka.” Kemudian Rasulullah saw menangis kerana rindu kepada mereka. Dan beliau bersabda: “Jika Allah hendak menyiksa penduduk bumi, kemudian Dia melihat mereka, maka Allah akan menjauhkan siksaNya. Wahai Abu Hurairah, hendaknya engkau menempuh jalan mereka, sebab siapapun yang menyimpang dari penjalanan mereka, maka ia akan mendapati siksa yang berat.”

6. Mereka selalu terhindar ketika ada bencana.

Dari Ibnu Umar ra, katanya:

“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang diberi makan dengan rahmatNya dan diberi hidup dalam afiyahNya, jika Allah mematikan mereka, maka mereka akan dimasukkan ke dalam syurgaNya. Segala bencana yang tiba akan lenyap secepatnya di hadapan mereka, seperti lewatnya malam hari di hadapan mereka, dan mereka tidak terkena sedikitpun oleh bencana yang datang.”

Rujukan:-

Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Al Auliya’

Hadis riwayat Abu Hu’aim dalam kitab Al Hilya

Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I hal 6

8. Hati mereka selalu terkait kepada Allah.

Imam Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakha’i: “Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya. . Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da’i kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka.”

9. Mereka senang bermunajat di akhir malam.

Imam Ghazali menyebutkan: “Allah pernah memberi ilham kepada para siddiq: “Sesungguhnya ada hamba-hambaKu yang mencintaiKu dan selalu merindukan Aku dan Akupun demikian. Mereka suka mengingatiKu dan memandangKu dan Akupun demikian. Jika engkau menempuh jalan mereka, maka Aku mencintaimu. Sebaliknya, jika engkau berpaling dari jalan mereka, maka Aku murka kepadamu. ” Tanya seorang siddiq: “Ya Allah, apa tanda-tanda mereka?” Firman Allah: “Di siang hari mereka selalu menaungi diri mereka, seperti seorang pengembala yang menaungi kambingnya dengan penuh kasih sayang, mereka merindukan terbenamnya matahari, seperti burung merindukan sarangnya. Jika malam hari telah tiba tempat tidur telah diisi oleh orang-orang yang tidur dan setiap kekasih telah bercinta dengan kekasihnya, maka mereka berdiri tegak dalam solatnya. Mereka merendahkan dahi-dahi mereka ketika bersujud, mereka bermunajat, menjerit, menangis, mengadu dan memohon kepadaKu. Mereka berdiri, duduk, ruku’, sujud untukKu. Mereka rindu dengan kasih sayangKu. Mereka Aku beri tiga kurniaan: Pertama, mereka Aku beri cahayaKu di dalam hati mereka, sehingga mereka dapat menyampaikan ajaranKu kepada manusia. Kedua, andaikata langit dan bumi dan seluruh isinya ditimbang dengan mereka, maka mereka lebih unggul dari keduanya. Ketiga, Aku hadapkan wajahKu kepada mereka. Kiranya engkau akan tahu, apa yang akan Aku berikan kepada mereka?”

Rujukan:-

Nahjul Balaghah hal 595 dan Al Hilya jilid 1 hal.. 80

Ihya’ Ulumuddin jilid IV hal 324 dan Jilid I hal 358

10. Mereka suka menangis dan mengingat Allah.

‘Iyadz ibnu Ghanam menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Malaikat memberitahu kepadaku: “Sebaik-baik umatku berada di tingkatan-tingkatan tinggi. Mereka suka tertawa secara terang, jika mendapat nikmat dan rahmat dari Allah, tetapi mereka suka menangis secara rahsia, kerana mereka takut mendapat siksa dari Allah. Mereka suka mengingat Tuhannya di waktu pagi dan petang di rumah-rumah Tuhannya. Mereka suka berdoa dengan penuh harapan dan ketakutan. Mereka suka memohon dengan tangan mereka ke atas dan ke bawah. Hati mereka selalu merindukan Allah. Mereka suka memberi perhatian kepada manusia, meskipun mereka tidak dipedulikan orang. Mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati, tidak congkak, tidak bersikap bodoh dan selalu berjalan dengan tenang. Mereka suka berpakaian sederhana. Mereka suka mengikuti nasihat dan petunjuk Al Qur’an. Mereka suka membaca Al Qur’an dan suka berkorban. Allah suka memandangi mereka dengan kasih sayangNya. Mereka suka membahagikan nikmat Allah kepada sesama mereka dan suka memikirkan negeri-negeri yang lain. Jasad mereka di bumi, tapi pandangan mereka ke atas. Kaki mereka di tanah, tetapi hati mereka di langit. Jiwa mereka di bumi, tetapi hati mereka di Arsy. Roh mereka di dunia, tetapi akal mereka di akhirat. Mereka hanya memikirkan kesenangan akhirat. Dunia dinilai sebagai kubur bagi mereka. Kubur mereka di dunia, tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat tinggi. Kemudian beliau menyebutkan firman Allah yang artinya: “Kedudukan yang setinggi itu adalah untuk orang-orang yang takut kepada hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.”

11. Jika mereka berkeinginan, maka Allah memenuhinya.

Dari Anas ibnu Malik ra berkata: “Rasul saw bersabda: “Berapa banyak manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia berkeinginan, maka Allah memenuhinya, dan Al Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara mereka.”

Ketika Barra’ memerangi kaum musyrikin, para sahabat: berkata: “Wahai Barra’, sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda: “Andaikata Barra’ berdoa, pasti akan terkabul. Oleh kerana itu, berdoalah untuk kami.” Maka Barra’ berdoa, sehingga kami diberi kemenangan.

Di medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a: “Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum Muslimin dan temukanlah aku dengan NabiMu.” Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan Barra’ gugur sebagai syahid.

Rujukan:-

Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I, hal 16

12. Keyakinan mereka dapat menggoncangkan gunung.

Abdullah ibnu Mas’ud pernah menuturkan:

“Pada suatu waktu ia pernah membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan”, pada telinga seorang yang pengsan. Maka dengan izin Allah, orang itu segera sedar, sehingga Rasuulllah saw bertanya kepadanya: “Apa yang engkau baca di telinga orang itu?” Kata Abdullah: “Aku tadi membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan” sampai akhir surah.” Maka Rasul saw bersabda: “Andaikata seseorang yakin kemujarabannya dan ia membacakannya kepada suatu gunung, pasti gunung itu akan hancur.”

– Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Al Hilya jilid I hal 7

WALLAHUALAM

20 July 2015 Posted by | Informasi, Tazkirah | | Leave a comment

Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani

SEJARAH BERDIALOG DGN WAHABI YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN.

Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani adalah ulama ahli hadits yang terakhir menyandang gelar al-hafizh (gelar kesarjanaan tertinggi dalam bidang ilmu hadits).

Ia memiliki kisah perdebatan yang sangat menarik dengan kaum Wahhabi. Dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar, sebuah autobiografi yang melaporkan perjalanan hidupnya, beliau mencatat kisah berikut ini.

“Pada tahun 1356 H ketika saya menunaikan ibadah haji, saya berkumpul dengan tiga orang ulama Wahhabi di rumah Syaikh Abdullah al-Shani’ di Mekkah yang juga ulama Wahhabi dari Najd.

Dalam pembicaraan itu, mereka menampilkan seolah-olah mereka ahli hadits, amaliahnya sesuai dengan hadits dan anti taklid. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan ketinggian tempat Allah subhanahu wa ta‘ala dan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai dengan ideologi Wahhabi.

Mereka menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara literal (zhahir) mengarah pada pengertian bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai keyakinan mereka.

Akhirnya saya (al-Ghumari) berkata kepada mereka: “Apakah ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi termasuk bahagian dari al-Qur’an?”

Wahhabi menjawab: “Ya.”

Saya berkata: “Apakah meyakini apa yang menjadi maksud ayat-ayat tersebut dihukumi wajib?”

Wahhabi menjawab: “Ya.”

Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ. (الحديد : ٤)
.
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4).

Apakah ini termasuk al-Qur’an?”

Wahhabi tersebut menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”

Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:

مَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ وَهُوَ رَابِعُهُمْ. (المجادلة : ٧).

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya….” (QS. al-Mujadilah : 7).

Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?”

Wahhabi itu menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”

Saya berkata: “(Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit). Mengapa Anda menganggap ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi yang menurut asumsi Anda menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat yang saya sebutkan yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit?

Padahal kesemuanya juga dari Allah subhanahu wa ta‘ala?”

Wahhabi itu menjawab: “Imam Ahmad mengatakan demikian.”

Saya berkata kepada mereka: “Mengapa kalian taklid kepada Ahmad dan tidak mengikuti dalil?”

Tiga ulama Wahhabi itu pun terbungkam. Tak satu kalimat pun keluar dari mulut mereka. Sebenarnya saya menunggu jawaban mereka, bahwa ayat-ayat yang saya sebutkan tadi harus dita’wil, sementara ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit tidak boleh dita’wil.

Seandainya mereka menjawab demikian, tentu saja saya akan bertanya kepada mereka, siapa yang mewajibkan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan dan melarang menta’wil ayat-ayat yang kalian sebutkan tadi?

Seandainya mereka mengklaim adanya ijma’ ulama yang mengharuskan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan tadi, tentu saja saya akan menceritakan kepada mereka informasi beberapa ulama seperti al-Hafizh Ibn Hajar tentang ijma’ ulama salaf untuk tidak menta’wil semua ayat-ayat sifat dalam al-Qur’an, bahkan yang wajib harus mengikuti pendekatan tafwidh (menyerahkan pengertiannya kepada Allah subhanahu wa ta‘ala).”

Demikian kisah al-Imam al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dengan tiga ulama terhebat kaum Wahhabi.

image

GAmbar: Sayyid Ahmad Siddiq al-Ghumari(abang-kiri) Dan Sayyid Abdullah al-Ghumari (kanan)

19 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

PERANG PARANG PANJANG

TENTERA PERANG SABIL SELEMPANG MERAH BATU PAHAT (1945)
Sumber: Yayasan Warisan Johor , (Johor mengenang sumbangsih mu)

Panglima – Kiyai Hj Salleh bin Abdul Karim.
Pesuruh Jaya Am – Kiyai Wak Joyo

a. Johor Selatan:

Ketua 1 – Kiyai Kusin
Ketua 2 – Kiyai Mashudi
Ketua 3 – Kiyai Mayor

b. Johor Timur:

Ketua 1 – Kiyai Saudi
Ketua 2 – Kiyai Maskan
Ketua 3 – Kiyai Sarbini

c. Johor Utara:

Ketua 1 – Kiyai Mustahir
Ketua 2 – Kiyai Shamsudin
Ketua 3 – Kiyai Shukur

Ketika tentera Jepun menduduki Malaya , maka tumbuh lah dua etnik penduduk Malaya ini , pemikiran dan tanggapan yang bertambah lebar jurang nya, ia itu perasaan curiga mencurigai diantara satu dengan yang lain. Jurang perbezaan ini terbit lah bibit perbezaan perselisihan fahaman yang sememang nya telah wujud, saperti perbezaan bahasa , ugama dan dan juga budaya secara umum nya.

Dari segi politik orang orang China memang susah untuk mendahului orang Melayu.
Untuk memenuhi cita cita politik orang China, maka tertubuh lah pergerakan ” Bintang tiga ” yang membawa anasir komunis. Tujuan pergerakan ini ialah untuk memerintah Malaya dengan langkah awal nya dengan menghalau tentera Jepun , dan langkah ke dua nya hendak mengalahkan orang orang Melayu supaya Malaya menjadi sebahagian daripada jajahan takluk Negara China.

Orang Melayu yang sangat kukuh semangat kebangsaan nya , tetap mahu memelihara keutuhan negara nya dan Ugama Islam. Fahaman komunis tetap menunjukan unsur unsur yang mencabar prinsip pegangan orang orang Melayu. Dari sudut yang lain pula orang orang Melayu sentiasa menganggap bahawa Malaya ketika itu bukan lah negara bagi etnik China , kerana kumpulan komunis ini di nominasi kan olih orang orang China.

Orang orang China di semenanjung ini pula telah mengikut pergolakan yang berlaku di negara China yang telah diduduki olih Jepun ketiha dalam perjalanan nya hendak menduduki Asia Tenggara, Sebagaimana orang orang China di negara nya menentang pendudukan Jepun , orang orang China juga bersedia menentang Jepun.

Tentera Jepun memandang Raayat China sebagai musuh nya, mengambil sikap bahawa orang China di Malaya juga sebagai musuh nya. Sebalik nya bagi orang orang Melayu , Jepun itu sebagai kawan yang bolih menguntung kan merika. Tanggapan yang baik itu wujud kerana orang Jepun yang berniaga di Malaya sebelum perang , mempunyai sikap yang baik dan menjual barang barang dagangan merika dengan harga yang murah. Orang orang Melayu memang bersedia menyambut kedatangan Jepun.

Penubuhan Gerakan Anti Japan Army (MPAJA) ia itu cabang daripada gerakan komunis, telah melebarkan sayap nya ke kampung kampung Melayu . Gerakan ini mudah disebut ” BIntang Tiga ” sahaja kerana logo nya merupakan tiga bintang yang diletakan dihadapan topi nya. Pemimpin pemimpin Melayu di kampung kampung terpaksa menjadi ahli gerakan tersebut. Jika tidak nyawa merika akan terancam. Yang demikian , terdapat ahli ahli itu dikalangan orang Melayu dengan mempunyai ahli jawatan kuasa masing masing. Diantara tugas yang pasti ialah memungut yuran dari setiap buah rumah untuk kepentingan gerakan itu.

Pada penghujung tahun 1945, terdapat khabar khabar angin mengatakan , orang orang China hendak membunuh ulamak dan orang alim Melayu. Sebab itu setiap malam selepas maghrib ramai orang orang alim bersembunyi dipondok pondok kebun . Keadaan saperti ini berlaku selama tiga bulan . Tiga bulan lama nya orang orang China komunis , mencari orang orang alim. Ada juga orang orang alim ini ditangkap di isi didalam guni dibawa kedalam hutan hilang ghaib entah kemana. Tindakan orang orang China komunis membunuh orang orang Melayu yang alim dan handal handal dengan tujuan hendak memudahkan merika bergerak tanpa ada halangan , yang tinggal ialah yang tidak berpelajaran.

Maka ramai lah dari sehari kesahari orang orang alim Melayu hilang entah kemana. Seorang Che’gu telah ditangkap dan dimasukan kedalam guni ditengah tengah pasar Batu Pahat. Orang orang China komunis ini berani bertindak demikian kerana merika ada senapang , sedangkan orang Melayu tiada. Yang menjadi tali barut pun orang Melayu juga, ia itu orang Melayu yang masuk ” Bintang Tiga ” diketuai olih Md Indera.

Orang orang Melayu yang diculik dan hilang telah bertambah ramai dari sehari ke sehari. Tidak ada apa apa tindak balas daripada orang Melayu. Lantaran daripada itu orang orang Melayu telah mula marah , lalu timbul lah satu pakatan , sesiapa yang hendak mencari saudara mara nya yang hilan itu dikehendaki datang didalam satu mesyuarat yang diadakan.

Kapung Parit Tabor merupakan sebuah kampun yang majoriti penduduk nya oran orang China. Habis rumah rumah kediaman orang orang Melayu bersama kepuk padi dikampung itu dibakar. Merika yang sempat melarikan diri dapat lah menyelamatkan diri. Merika yang tidak sempat terkapar menjadi mayat yang rentung. Ada diantara merika melarikan diri di kebun getah dan dipersekitaran dengan tidak makan dan minum. Orang orang Melayu di Parit Ju, Parit mantan, Parit Jawa, Parit Putuh , Separang, dan kawasan yang berhampiran, sentiasa berada didalam ketakutan disebabkan ancaman komunis. Semangat pemuda pemuda Melayu mula membara dan meluap luap apabila melihat keadaan nyawa bangsa merika sentiasa terancam. Penghulu mukim empat , Kari bin Md Saat telah melantik Ijam bin Ahmad menjadi ketua untuk melancarkan serangan balas terhadap China komunis, tetapi beberapa kali serangan dilakukan semua nya menemui kegagalan.

Kegagalan orang Melayu menentang komunis ini telah menyebabkan Penghuli Kari membuat pengumuman kepada penduduk Mukim Empat, mencabar siapakah anak Melayu yang sanggup tampil kehadapan menjadi peminpin menentang China komunis, Maka nama Salleh Keling telah dicadang kan memandangkan kebolihan nya yang luar biasa saperti membengkok kan besi dengan tangan sahaja, dan kekuatan nya yang menakjubkan. Ramai juga yang tidak menaruh keyakinan terhadap kebolihan nya kerana memandangkan latar belakang nya yang hitam. Masakan orang saperti itu bolih memimpin satu angkatan yang akan menentukan nasib masa depan orang Melayu.

Dengan hati yang tulus ikhlas , Saalleh telah menerima tawaran yang diberikan kepada nya hanya dengan berkata ” Insyallah ” sahaja. Bagi nya ini lah peluang keemasan untuk mencuba dan menggunakan segala ilmu kebatinan yang telah dipelajari nya. Dengan semangat yang membara dia sanggup memikul tanggung jawab yang begitu besar demi kepentingan bangsa dan ugama.

Salleh kemudian nya meminta Penghulu Kari mengumpulkan orang orang Melayu di Mesjid Parit Sulung. Penghulu Kari hanya dapat mengumpulkan tiga puluh lapan orang sahaja kerana sebahagian besar orang kampung masih sandsi dan tidak menaruh kepercayaan yang penuh kepada Salleh. Sebelum memulakan serangan pertama nya di Kangkar Senangar di Parit Sulung, Salleh menyuruh pengikut nya membaca surah Yasin dan ayat empat. Selepas itu beliau sendiri memakaikan pengikut pengikut nya selempang merah . Sebelum memulakan serangan beliau terlebih dahulu menerangkan pantang larang yang mesti dipatuhi olih pengikut pengikut nya. Beliau melarang mengambil harta benda musuh kecuali senjata. Satu keistimewaan yang ada pada Salleh ialah beliau dapat meramalkan peristiwa yang akan berlaku. Dalam pertempuran ini beliau meramalkan dua orang pengikut nya akan mendapat kecederaan.

Pasukan Panglima Kiyai Salleh bertolak pada waktu selepas subuh dengan bersenjatakan pedang dan parang panjang. Walau pun bilangan musuh jauh lebih ramai dan bersenjatakan senapang , angkatan Panglima Kiyai Salleh dengan mudah dapat menumpasskan pihak lawan, Yang aneh nya musuh musuh itu menembak keatas kerana pada pandangan merika Panglima Kiyai salleh dan pengikut nya tinggi saperti pokok kelapa.

Pada suatu ketika , orang orang Melayu telah mendapat tahu , bahawa orang orang China komunis akan mengambil keputusan untuk menyerang orang orang Melayu dengan menangkap pemimpin pemimpin Melayu dulu secara besar besaran pada hari sabtu. Kumpulan China komunis itu dipimpin olih Sau Kau. Sementara itu orang orang Melayu dari serata kampung Mukim Tujuh sudah pun berkumpul di Kampung Haji Taib. Ketika itu orang Melayu telah mmempunyai kekuatan. Panglima Kiyai Salleh telah mengambil keputusan untuk memulakan serangan pada hari Jumaat. Tindakan ini telah mengejutkan orang orang China komunis yang masih belum bersedia , Merika masih berada dirumah masing masing belum lagi berkumpul.

Orang orang Melayu bertindak 12 jam lebih awal daripada orang China. Orang China yang yang tinggal di Sri Mendapat , Sri Bandan , Asam Bubuk, Parit Jawa, Parit Benggali , Parit Ahmad, dan Parit Tabur habis dibunuh olih kumpulan 500 hingga 600 orang Melayu. Dalam gerakan itu orang orang China telah terkejut , orang kampung beramai ramai membawa parang panjang kerana di kampung Haji Taib orang yang mempunyai senapang hanya seorang sahaja. ” Kita ikut Nabi ” orang Melayu mulakan padari hari Jumaat dalam bulan Ramadhan.

Di satu ketika yang lain pada hari Jumaat selepas orang orang Melayu selesai menunaikan solat Jumaat , datang seorang China saperti hendak meninjau orang orang Melayu berkumpul di Mesjid. Orang China itu telah ditangkap dan diikat ditiang bangsal mesjid. Satu jam kemudian datang lagi empat orang China . Merika juga diikat ditempat yang sama. Maka orang orang Melayu mengagak , selepas ini merika tidak akan datang empat lima orang . Merika akan datang beratus orang dan bersenjata. Dimesjid itu hanya ada sepucuk senapang sahaja. Orang orang China telah berkumpul di Parit Bandan, ia itu lebih kurang empat batu dari Kampung Asam Bubuk tempat orang Melayu berkumpul. Penduduk Parit Bandan majoriti nya orang China.

Rupa rupa nya orang orang China di Parit Bandan telah berkumpul tetapi tidak ramai ia itu kira kira tiga puluh orang . Setengah nya telah melarikan diri terlebih dahulu . Olih kerana lima orang pengintip nya tidak balik , maka orang China yang tiga puluh orang itu menyerang. Orang Banjar bersenjatakan pedang, orang Jawa bersenjatakan keris . Masing masing bersenjatakan sebilah parang panjang. Orang orang Melayu berjaya membunuh semua tiga puluh orang China, dan merampas semua senapang serta peluru nya.

Peperangan ini berlarutan dari sehari kesehari yang lain. Pergi pagi balik petang mengikut susunan jadual ia itu satu pasukan disertai olih ketua dan pengikut seramai dua puluh orang . Operasi tidak bergerak serentak , sedikit sedikit lebih kurang tiga puluh orang sahaja untuk menyerang dan membakar bagi tiga buah rumah. Senjata ditangan tidak bolih dibuka dari genggaman kerana telah di gam dengan darah musuh yang membeku.

Kebanyakan anggota kumpulan itu berkaki ayam , sebab menurut petua , kalau berkaki ayam kita dan jasad mesti berpijak ketanah. Kerana kita datang nya dari tanah , ini satu cara mengukuhkan semangat juang. Semangat orang Melayu begitu tinggi kerana merika mengambil pegangan kalau mati pun dikira mati syahid. Walaupun ada yang tercedera tetapi tidak mati. Merika yang mati itu kerana tidak mengikut peraturan perang dan juga kehendak Allah.

Daripada Sri Bandan , Sri Mendapat, Asam Bubuk membawa ke Parit Khalid, Daripada Parit Benggali sampai ke Semberung , Sungai Biu , Parit Ahmad, Daripada Parit Jawa sampai ke Parit Tabur, semua orang China habis dibunuh tidak berbaki untuk dibuat benih.

Dalam satu ketika , apabila satu kumpulan besar orang Melayu hendak menyerang bandar Penggeram, pengikut pengikut nya datang dari Parit Sulung, Ayer Hitam, Sungai Balang, Lubuk dan Bagan tempat merika berkumpul. Disaat saat akhir Datok Onn telah sampai ke Bagan. Tujuan kedatangan Datok Onn ialah untuk menghalang serangan yanag akan dilancarkan olih orang orang Melayu, Beberapa orang China telah datang merayu , supaya Datok Onn dapat menyelamatkan Bandar Penggeram dari menjadi padang jarak padang terkukur, akibat serangan orang orang selempang merah.

Menurut satu sumber yang lain, Datok Onn terpaksa bertindak sedemikian kerana beliau telah diugut olih sekumpulan ” Bntang Tiga ” , kalau Datok Onn gagal menahan kemaraan tentera selempang merah , rumah Datok Onn yang telah dikepung akan dibakar bersama sama ahli keluarga nya.

Pada hari esok nya Datok Onn telah memanggil semua Datok Penghulu di Batu Pahat , ketua ketua bintang tiga dan ketua orang China di bandar Penggeram supaya berhimpun di dewan perniagaan China di Jalan Rahmat untuk membuat rundingan damai. Panglima Kiyai Salleh dan ketua bintang tiga bersama sama Penghulu dan kaum China telah berjaya bersepakat menghentihan pergaduhan sengit itu.

15 July 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Muhasabah Ramadhan–10 malam terakhir

KALAULAH DI DUNIA KITA TELAH MENDAPATKAN SEGALA-GALANYA TETAPI KITA TIDAK BERJAYA MENDAPATKAN 3 ANUGERAH DARIPADA ALLAH JALLA WA’ALA IAITU RAHMATNYA ALLAH,

MAGHFIRAHNYA/PENGAMPUNANYA ALLAH DAN JUGA PEMBEBASAN DIRI DARIPADA API NERAKA

MAKA SEGALA KEKAYAAN YANG KITA ADA,HARTA KITA,ILMU KITA

,PANGKAT KITA,JAWATAN KITA,

KEDUDUKAN KITA,KECANTIKAN KITA,KETAMPANAN KITA,KEKUATAN KITA SEMUA ITU TIDAK ADA ERTINYA KALAU KITA TIDAK BERJAYA MENDAPATKAN 3 ANUGERAH DARIPADA ALLAH JALLA WA’ALA KETIKA HIDUP KITA DI DUNIA INI

10 MALAM YANG TERAKHIR MANFAATKANLAH SEBAIK MUNGKIN UNTUK KITA MENDAPATKAN ANUGERAH DARIPADA ALLAH UNTUK MENDAPATKAN MALAM LAILATUL QADR KHUSUSKAN BAGI TUMPUAN UNTUK AKHIRAT KITA UNTUK MENDAPATKAN ANUGERAHNYA ALLAH JANGAN SAMPAI KITA MENJADI ORANG-ORANG YANG RUGI DAN MENYESAL DI KEMUDIAN HARINYA.

Kalaulah di dunia kita telah mendapatkan segala-galanya.

Duitnya,kedudukannya,hartanya,

pangkatnya,takhtanya,wanitanya,

kecantikannya,ketampanannya tapi kita tidak berhasil dan juga tidak berjaya meraih anugerah pada 10 malam yang terakhir di bulan ramadhan iaitu kebebasan diri daripada Api Neraka maka segala-galanya itu akan menjadi lenyap dan tidak ada apa-apanya.

Jadi bagaimana perumpamaan yang sederhana di 10 malam yang terakhir ini kita mampu untuk MEMINANG rahmatnya Allah,maghfirahnya Allah dan juga kebebasan diri daripada Api Neraka.Tentunya setiap orang yang mengharapkan sesuatu kalau pada saat kita MELAMARNYA,

MEMINANGNYA mesti dengan kita akan tampil dalam keadaan yang sihat dan sempurna.

Kemas,rapi,cantik,indah,bagus,sopan,santun.Itu kebiasaannya kalau tidak LAMARAN kita akan ditolak.Sesiapa pun yang DILAMAR sebelum dengan kita MELAMARNYA maka mungkin kita akan mandi,kita berpakaian kemas dan rapi,sisir rambut,

bersolek,minyak harum yang mana,sampin yang mana,baju yang mana,pakaian yang seperti apa.

Kenapa?Sebab kita akan melakukan pertemuan dengan calon Pak dan Mak Mertua.Begitu juga dengan calon isteri kita.Begitu juga sebaliknya calon suami ke apa sahaja.Bahkan masing-masing daripada calon pasangan tadi itu akan tampil dengan keadaan yang layak dengan keadaan yang sopan yang mampu untuk menunjukkan ketampanannya dan juga kebolehannya yang mampu untuk menunjukkan kejelitaan dan kecantikannya sehingga masing-masing mampu memikat dan menambat hati dan perasaan sehingga menjadi pasangan suami isteri.

Nah!!!Begitu juga kita di 10 malam yang terakhir ini.Kita ingin MELAMAR ramadhan untuk mendapatkan satu penghormatan satu kemuliaan daripada Allah Jalla Wa’Ala untuk kita mendapatkan kebebasan diri daripada Api Neraka maka bagaimana dengan bacaannya? Dengan penampilannya?Dengan ibadahnya?Dengan qiamnya?Dengan tahajuddnya?Dengan witirnya?Dan juga amalan-amalan yang seumpamanya.

Kalau kita amati dan hayati perjalanan pesawat-pesawat,

armada-armada ramadhan yang sudah kita terbangkan yang sudah terbang meninggalkan kita sejak daripada hari pertama ramadhan.Mungkin ada di antara kita yang sepanjang 5 waktu sembahyangnya tidak luput tercatat di dalam kargo-kargonya tercatat di dalam muatannya HANPHONE,

WHATSAPP,FACEBOOK,IPAD dan juga SMSNYA atau yang seumpamanya.

Ini TANGAN kita gerakkan untuk apa?Dalam berapa kali kita gerakkan di waktu takbir?Ini dengan tatapan MATA kita melihat.Dalam berapa kali melihat Al-Quran?Menatap kedua ibu dan bapa?Menatap arah kiblat?

Menatap kepada muka Para Ulama yang membawa kepada kebenihan hati dan juga ketenteraman jiwa atau menatap tulisan-tulisan yang membicarakan tentang ilmu-ilmu agama?

Rasanya secara jujur lebih banyak kita tengok HANDPHONE daripada kita melihat WAJAH KEDUA IBU DAN BAPA DAN WAJAH PARA ULAMA.

Lebih banyak kita disibukkan dengan urusan WHATSAPP dan SMSNYA.

Penuh buka kargo yang pertama mendarat ramadhan yang berpangkalan di Akhirat yang akan kita lihat bersama.

Isi dan muatannya di hari kiamat ternyata yang terisi TIDUR,SANTAI,SMS,HANDPHONE ataupun juga dengan urusan-urusan yang seumpamanya.Kita tak nak nanti sampai kita jadi kecewa di hari pembalasan yang kekecewaan kita pada saat ketika itu kita tidak boleh patah balik ke dunia untuk kita membetulkannya.

Jadi untuk 10 malam terakhir ink kita kena bagi tumpuan memang khusus untuk akhirat memang khusus untuk agama memang khusus untuk mendapatkan rahmat yang kalau pada saat ketika Allah tengok PANDANGANNYA,PENGLIHATANNYA,

PENDENGARANNYA,HATINYA,MULUTNYA,KAKINYA.Satu persatu beraksi yang sama kerana ingin mendapatkan kebebasan diri daripada Api Neraka.

Kalaulah dengan seseorang itu berasa bangga dengan teknologinya,bangga dengan kewangannya,bangga dengan kehidupannya,bangga dengan kekuatannya,bangga dengan kesejahteraannya,bangga dengan keamanan dan juga ketenteramannya

bangga dengan jawatan,pangkat dan takhtanya.

Itu semua tidak ada erti kalau dalam sepanjang hidup tidak mendapatkan 3 anugerah Allah Jalla Wa’Ala

1)Rahmat

2)Maghfirah/Pengampunan

3)Pembebasan diri daripada Api Neraka untuk mendapatkan Syurga yang abadi.

 

Oleh: Syeikh Nuruddin Marbu ALBanjari ALMakki – Restu from Syeikh

14 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

ZIARAH KUBUR DI PAGI RAYA

Ziarah kubur merupakan suatu sunnah berdasarkan hadis Nabi saw :

كنت تهيتكم عن زيارة القبور الا فزوروها
“Dulu aku pernah menegah kamu dari menziarahi perkuburan. Adapun sekarang maka kamu bolehlah menziarahinya” (Hadis).

Sunnah adalah perbuatan, perkataan atau persetujuan Nabi saw. Maka dari hadis di atas, ziarah kubur adalah sunnah dari perkataan Nabi saw. Bahkan diriwayatkan Nabi saw sering ke Tanah Perkuburan Al-Baqiek di sebelah Masjid Nabawi dan mendoakan untuk mereka.

Disegi bahasa Arab, “bid’ah” bermakna innovasi atau mencipta yang baru, samada cipta yang baik atau buruk.

Cipta buruk seperti “bid’ah” yang biasa disebut masyarakat seperti doa meminta hajat dari ahli kubur, bukan dari Allah dan sebagainya.

Cipta baik seperti Allah, Pencipta alam semesta. FirmanNya :
بديع السماوات والارض
bermaksud, “Allah bid’ah langit dan bumi” bermaksud “Allah pencipta langit dan bumi”. Bahkan salah satu nama Allah adalah Al-Badi’ (البديع) bermakna “Maha Pencipta” dan ramai Arab bernama Abdul Badiek.

Oleh kerana disegi bahasa arab “Bid’ah” boleh bermakna “cipta yang baik” atau “cipta yang buruk”, maka keluarlah 2 istilah Syarak iaitu “Bid’ah Hasanah” (Bid’ah yang baik) dan “Bid’ah Dolalah” (Bid’ah yang sesat).

Salah satu bid’ah yang baik adalah Bid’ah Iltizamiah.

BID’AH ILTIZAMIAH

Contoh nya Nabi saw menyatakan bahawa orang yang membaca surah Al-Ikhlas (قل هو الله احد . الله الصمد . لم يلد ولم يولد . ولم يكل له كفوا احد) dapat pahala menyamai membaca seluruh Al-Quran. Walaupun membaca Surah “Qulhuwallah” ini sebanyak 3x tidak mengambil masa lebih 30 saat, namun kebanyakan manusia alpa merebut ganjaran ini setiap hari.

Maka, jika seseorang takut alpa seperti kebanyak manusia lain, lalu dia mengiltizamkan dirinya membaca 3x “Qulhuwallahu ahad …” tiap hari sebelum memulakan sarapan pagi, menghidupkan enjin keretanya untuk ke pejabat atau sempena-sempena yang lain, lalu dengan taktik dan teknik seperti itu dia menjadi insan yang iltizam mendapat ganjaran dan taqarrub kepada Allah, maka ia adalah suatu yang dibolehkan. Ia adalah ciptaan baru (bid’ah) diaspek teknik dan taktik, tetapi asli dan syar’iyy diaspek isi dan content.

ZIARAH KUBUR DI PAGI RAYA

Setelah memahami dengan ringkas mengenai istilah “Bid’ah Iltizamiah” di atas, maka lebih mudah di sini untuk menyatakan bahawa ziarah kubur ibu bapa, saudara mara atau sahabat handai di pagi Raya adalah termasuk dalam Bid’ah Iltizamiah yang diharuskan.

Ia sama hukumnya dengan beriltizam membaca Surah Yaasin pada malam Jumaat, membaca ayat-ayat Al-Quran tertentu yang tetap setiap kali selepas solat-solat fardhu.

Ia samasekali bukan “Bid’ah” yang bermaksud “Bid’ah Dolalah” (bid’ah yang sesat) yang disabdakan oleh Nabi saw وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة فى النار bermaksud “Setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu tempatnya di neraka”.

SYARAT-SYARAT ILTIZAMIAH

Dari penjelasan di atas, dapat dirumuskan syarat-syarat Bid’ah Iltizamiah diharuskan Syarak adalah ada 3 iaitu :

1⃣ Isi atau content ibadat tersebut memang terdapat anjuran dari Al-Quran atau As-Sunnah yang sahih, tanpa ditokok tambah.

2⃣ Teknik atau strategi baru pada waktu atau cara perlaksanaannya tidak mengubah content atau isi ibadat tersebut.

3⃣ Iltizam yang dipakai pada dirinya tidak dipaksa kepada orang lain atau menyalahkan orang lain yang tidak melakukan seperti strategi yang dia atur untuk dirinya.

BUDAYA

Setiap kaum mempunyai budaya tersendiri dan berbeza ke arah melaksanakan tuntutan beragama demi menuju keredhaan Allah swt. Islam mengalu-alukan budaya yang positif sesuatu kaum.

Ziarah kubur di pagi Raya di Malaysia mempunyai kelebihan berbanding ziarah kubur di waktu-waktu yang lain kerana :

1⃣ Ketika itu peluang untuk ziarah kerana sedang berada di kampung, terutama anak-anak yang tempat bekerja dan tinggalnya jauh di perantauan.

2⃣ Lebih mudah ingatkan diri dan punya masa untuk ziarah kubur di kampung berbanding waktu-waktu lain seperti waktu bekerja atau bertugas.

3⃣ Ketika itu anak- anak dan cucu-cucu berkumpul bersama. Dengan menziarahi kubur bersama-sama generasi terkemudian dapat dikenalkan dan diceritakan pengajaran-pengajaran dari generasi terdahulu dilokasi yang lebih memberi impak kepada jiwa dan fikiran.

PERHATIAN

Agar ziarah kubur di pagi Raya selari dengan Syarak, beroleh keberkatan dan pengajaran, beberapa perkara perlu diraikan :

1⃣ Tidak beriktikad bahawa ziarah kubur di pagi Raya sebagai acara wajib atau rukun sambutan Hari Raya.

2⃣ Memastikan content atau isi ziarah tersebut selari dengan Syarak diantaranya :
🔻memberi salam kepada penduduk tanah perkuburan seperti :

السلام عليكم اهل الديار من المسلمين
“Salam sejahtera wahai penduduk tempat ini dari kalangan orang-orang Islam”, atau

🔻mendoa untuk kesejahteraan si mati dengan meminta dari Allah swt, bukan dari sesiapa yang hidup apatah lagi dari sesiapa yang telah mati. Hanya Allah swt yang memberi menfaat kepada seseorang.

🔻sebolehnya berdoa menghadap Kiblat, bukan menghadap kubur.

🔻memberi tazkirah tentang Mati sebagai pengajaran.

🔻mengambil kesempatan menceritakan perihal kebaikan dan kehebatan Al-Marhum/ah kepada anak cucu yang hadir untuk dijadikan pengajaran generasi seterusnya.

🔻menjelaskan hubungkait persaudaraan diantara satu kubur dengan satu kubur yang lain, untuk anak cucu memahami susur galur saudara mara agar mereka lebih kuat azam untuk menjadi agen pengerat silaturrahim antara saudara mara yang masih hidup, melalui ziarah, takaful tolong menolong, e-group dan sebagainya.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang (Islam) yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan) berkata:

“Wahai Tuhan Kami! Ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Amat Melimpah Belas kasihan dan RahmatMu” (Surah Al-Hasyr : ayat 10)

Al-Faqir ila Rabbihi,

Us. Abdul Halim Abdullah
27 Ramadan 1436H/2015M
14/7/2015

14 July 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Ziarah Kubur Waktu hari Raya

Image result for ziarah kubur hari raya

 

Menjawab Isu Ziarah Kubur Di Hari Raya yang ada golongan menyamakan ziarah umat Islam itu sama dengan yahudi dan nasrani

Jawapan :

Ziarah Kubur Waktu hari Raya

Mufti al-Azhar, Kairo, memperbolehkan ziarah seperti ini:

وَمِنْ هُنَا نَعْلَمُ أَنَّ زِيَارَةَ النَّاسِ لِلْمَقَابِرِ عَقِبَ صَلَاةِ الْعِيْدِ إِنْ كَانَتْ لِلْمَوْعِظَةِ وَتَذَكُّرِ مَنْ مَاتُوْا وَكَانُوْا مَعَهُمْ فِى الْأَعْيَادِ يُنَعَّمُوْنَ بِحَيَاتِهِمْ ، وَطَلَبِ الرَّحْمَةِ لَهُمْ بِالدُّعَاءِ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ أَبَدًا … (فتاوى الأزهر – ج 8 / ص 391)

“Dari sini kita mengetahui bahwa umat Islam melakukan ziarah kubur setelah hari raya, jika untuk menjadi pelajaran dan mengingat orang yang telah mati, yang dahulu mereka bersamanya saat hari raya dan merasa senang dengan kehidupannya, serta memintakan rahmat dan doa untuk mereka, maka hukumnya boleh, selamanya…” (Fatawa al-Azhar, 8/391)

Sebagian ulama Salaf dari Tabiin pun juga telah melakukan ziarah setelah hari raya:

عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ صَلَّيْتُ الْفَجْرَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ فِي يَوْمِ الْفِطْرِ فَإِذَا أَبُوْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ مَعْقِلٍ فَلَمَّا قَضَيْنَا الصَّلَاةَ خَرَجَا وَخَرَجْتُ مَعَهُمَا إِلَى الْجَبَانَةِ. (4) مصنف ابن أبي شيبة – (ج 2 / ص 70)

“Dari Atha’ bin Saib ia berkata: “Saya salat Subuh di masjid ini di hari raya fitri, ternyata bertemu Abu Abdirrahman dan Abdullah bin Ma’qil. Setelah kami melakukan salat, keduanya keluar, saya juga keluar bersamanya, menuju ke kuburan” (Mushannaf Ibni Abi Syaibah, 1/70)

ZIARAH KUBUR PADA WAKTU/HARI TERTENTU

1.
عن محمد بن إبراهيم قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يأتي قبور الشهداء على رأس كل حول فيقول:”السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار”، وأبو بكر وعمر وعثمان

“Muhammad bin Ibrahim berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi makam para syuhada’ setiap tahun, lalu berkata: “Salam sejahtera semoga buat kalian sebab kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Hal ini juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman.

(HR. al-Thabari dalam Tafsir-nya [20345], dan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juz 4 hlm 453).

Hadits di atas juga disebutkan oleh al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur hlm 185, dan ditentukan bahwa makam Syuhada yang diziarahi setiap oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syuhada peperangan Uhud. Hadits ini dapat dijadikan dalil, tentang tradisi haul kematian setiap tahun.

2. Atsar Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha

عن محمد بن علي قال كانت فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم تزور قبر حمزة كل جمعة

“Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin berkata: “Fathimah putrid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam Hamzah setiap hari Jum’at.”

(HR. Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf [6713]).

3. عن الحسين بن علي : أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم كانت تزور قبر عمها حمزة كل جمعة فتصلي و تبكي عنده هذا الحديث رواته عن آخرهم ثقات

“Al-Husain bin Ali berkata: “Fathimah putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah setiap hari Jum’at, lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya.”

(HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak [4319], al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra [7000]).

4. Atsar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ حَدِّثْ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلَاثَ مِرَارٍ وَلا تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا الْقُرْآنَ. رواه البخاري.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sampaikanlah hadits kepada manusia setiap hari Jum’at. Jika kamu tidak mau, maka lakukan dua kali dalam sepekan. Jika masih kurang banyak, maka tiga kali dalam sepekan. Jangan kamu buat orang-orang itu bosan kepada al-Qur’an ini.

(HR. al-Bukhari [6337]).

http://www.aswj-rg.com/…/beberapa-amalan-tradisi-menyambut-…

14 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Tiga Harta Yang Perlu Di Miliki Oleh Seorang Mukmin

1. Hati Yang Bersyukur.
2. Lisan Yang Senantiasa Berzikir.
3. Isteri Mukminah Yang Akan Menolongmu Dalam Perkara Akhirat.

Ketika Umar Ibnul Khattab radhiallahu’anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

"Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?" Baginda Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab:

"Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berzikir dan isteri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat."

(Hadis Riwayat Ibnu Majah no. 1856)

9 July 2015 Posted by | Tasauf | Leave a comment

"Tangisan Rasulullah menggoncangkan Arsy"


Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam sedang asyik berthawaf di Ka’bah, Beliau mendengar seseorang di hadapannya berthawaf, sambil berzikir “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam kemudian menirukannya membaca “Ya Karim! Ya Karim!”.

Orang itu Ialu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berdzikir lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam yang berada di belakangnya mengikut dzikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”.

Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya.

Orang itu Ialu berkata “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab badwi?

Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam tersenyum, lalu bertanya “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?"

“Belum,” jawab orang itu.

“Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.

Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam pun berkata kepadanya “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.

“Tuan ini Nabi Muhammad?!”

“Ya” jawab Nabi Shalallahu ‘Alayhi Wasallam.

Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam melihat hal itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya “Wahai orang Arab! janganlah berbuat serupa itu.

Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya. Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur, yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita”

Ketika itulah, Malaikat Jibril ‘Alayhi Sallam turun membawa berita dari langit dan berkata “Ya Muhammad! Allah mengucapkan salam kepadamu dan bersabda “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah.

Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!”.
Setelah menyampaikan berita itu, Malaikat Jibril ‘Alayhi Sallam kemudian pergi.

Maka orang Arab itu pula berkata “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu.

“Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Allah?” Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam bertanya kepadanya.

“Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya. Jika Allah memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunannya.

Jika Allah memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya’

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata Beliau meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril ‘Alayhi Sallam turun lagi seraya berkata “Ya Muhammad! Allah menyampaikan salam kepadamu, dan berfirman “Berhentilah engkau dari menangis!. Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arsy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang”.

Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di syurga nanti!”.

Betapa sukanya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya

Wallahualam

MADAD YA ALLAH, MADAD YA RASULULLAH, MADAD YA RIJALALLAH

Sumber: Jom Dakwah Bersama Ulama

9 July 2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Di mana zakat fitrah perlu dibayar ?

Antara ulama Mazhab Syafie yang menyentuh tentang ‘di mana zakat fitrah perlu dibayar‘, ialah Imam Asy-Syirazi dan Imam Nawawi r.a. Masing-masing dalam kitab al-Muhazzab dan kitab al-Majmuk.

Dalam al-Majmuk, Imam Nawawi r.a menyatakan :

إذا كان في وقت وجوب زكاة الفطر…في بلد ومالُه في آخر فأيّهما يُعتبر؟ فيه وجهان : (أحدهما) بلد المال كزكاة المال (وأصحهما) بلد ربِّ المال. ممّنْ صحّحه المصنّف في التنبيه والجرجاني في التحرير والغزالي والبغوى والرافعي وآخرون.

Terjemahan : Jika seseorang itu-sewaktu zakat fitrah wajib [ke atasnya]-[berada] di [sebuah] negeri, manakala hartanya [berada] di [negeri] lain, maka [negeri] mana satukah yang diambil kira [ketika membayar zakat fitrah]?

Terdapat dua pandangan; salah satunya : [yang diambil kira ialah] negeri [tempat di mana] harta [itu berada] sama seperti zakat harta [yang perlu dikeluarkan di tempat di mana harta itu berada].

[Pendapat] yang paling sahih [daripada kedua-dua pandangan ini] ialah [yang diambil kira ialah] negeri [tempat di mana] empunya harta [berada].

Antara mereka yang mentashihkannya (pendapat yang paling sahih), ialah pengarang (Imam Asy-Syirazi) dalam [kitabnya] at-Tanbih, al-Jurjani dalam [kitabnya] at-Tahrir, al-Ghazali, al-Baghawi, al-Rafi’e dan lain-lain.

Huraian:

Kenyataan Imam Nawawi di atas, berkaitan dengan seseorang yang mana tempatnya bekerja (بلد المال), berbeza dengan tempat zakat fitrah wajib ke atasnya.

Dalam Mazhab Syafie, zakat fitrah wajib ke atas seseorang bila bermulanya malam raya. Waktu ‘wajib zakat fitrah’ ini berakhir sebelum Maghrib hari raya pertama.

Justeru-dalam erti kata lain-kenyataan Imam Nawawi r.a di atas, berkaitan dengan seseorang yang mana tempatnya bekerja (tempat di mana hartanya berada), berbeza dengan tempatnya menyambut Hari Raya Aidil Fitri.

Dalam keadaan ini, yang diambil kira ketika mengeluarkan zakat fitrah-menurut pendapat paling sahih dalam Mazhab Syafie-ialah tempat di mana seseorang itu berada pada waktu zakat fitrah wajib ke atasnya (iaitu malam raya sehingga sebelum Maghrib Hari Raya pertama).

Justeru, seseorang yang bekerja di Kuala Lumpur, tetapi menyambut Hari Raya di Terengganu sebagai contoh, zakat fitrah hendaklah dibayar di Terengganu.

Inilah pendapat paling sahih dalam Mazhab Syafie, dan ditashihkan ramai ulama besar Mazhab Syafie seperti yang dinyatakan Imam Nawawi di atas.

Ittifaq ulama

Senada dengan pendapat yang paling sahih ini, ialah pendapat ulama besar Mazhab Hambali, Ibn Qudamah dalam kitabnya, al-Mughni. Beliau mencatatkan :

فأما زكاة الفطر فإنه يفرّقها في البلد الذي وجبتْ عليه فيه سواء كان ماله فيه أو لم يكن؛ لأنه سبب وجوب الزكاة ففرّقتْ في البلد

الذي سببها فيه

Terjemahan : Adapun zakat fitrah, ia diagihkan (dibayar) di negeri yang wajib ke atasnya [zakat fitrah], samada hartanya (sumber pendapatannya) [berada] di situ (di negeri di mana zakat fitrah wajib ke atasnya) atau tidak. Ini kerana ia (keberadaannya di negeri di mana zakat fitrah wajib ke atasnya) adalah sebab zakat fitrah wajib [ke atasnya], maka dibayar [zakat fitrah] di negeri yang [terdapat] sebab [wajibnya zakat fitrah ke atas] nya.

Sebenarnya, ulama-ulama empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafie dan Hambali) bersepakat dalam soal ini. Iaitu, zakat fitrah dikeluarkan di tempat di mana seseorang mukallaf itu berada pada malam atau Hari Raya pertama. Bukannya ditempat di mana seseorang itu bekerja, atau mencari rezeki.

Sebab mengapa zakat fitrah dibayar di tempat di mana seseorang itu berhari raya, turut dinyatakan oleh Syaikh al-Qaradhawi. Beliau menyatakan :

فيخرج المسلم زكاة فطره في البلد الذي يدركه فيه أول ليلة من شوال (ليلة العيد) ؛ لأن هذه الزكاة ليس سببها الصيام وإنما سببها الفطر ولهذا أضيفت إليه وسميت زكاة الفطر

Terjemahan : Maka [setiap] muslim [perlu] membayar zakat fitrah di negeri yang dia menemui malam pertama [bulan] Syawal (malam raya). Ini kerana, sebab zakat [fitrah] ini [menjadi wajib], bukannya puasa. Sebab [ia menjadi wajib] ialah [munculnya Hari Raya] Aidil Fitri. Dengan sebab itu, disandarkan [zakat ini] kepadanya (Hari Raya Aidil Fitri) dan dinamakan ‘zakat al-fitr’ (zakat Hari Raya Aidil Fitri).

Keliru 2 zakat :

Adapun ‘pendapat’ yang mengatakan zakat fitrah perlu dibayar di tempat seseorang mencari rezeki (jika bekerja di Kuala Lumpur, zakat fitrah hendaklah dibayar di Kuala Lumpur walaupun Hari Raya disambut di Terengganu, sebagai contoh), ia adalah pendapat yang bercanggah dengan pendapat paling sahih dalam Mazhab Syafie. Juga bertentangan dengan kesepakatan (ittifaq) para ulama mazhab empat.

Percanggahan dan pertentangan ini berlaku disebabkan kekeliruan antara zakat harta dan zakat fitrah.

Dalam zakat harta, memang zakat perlu dibayar atau dikeluarkan ditempat harta itu dijana dan diusahakan (perniagaan, penternakan atau pertanian yang dilakukan di Terengganu sebagai contoh, mesti dikeluarkan di Terengganu). Ini adalah pendapat jumhur ulama, termasuk ulama Mazhab Syafie.

Adapun dalam bab zakat fitrah, ia dikeluarkan di tempat di mana seseorang itu menyambut Hari Raya Aidilfitri, tanpa mengira lokasi sambutan Hari Raya Aidilfitri itu adalah tempatnya bekerja (seperti di bandar), atau tidak (seperti kampung kelahiran).

Wallahu a’lam.

Sumber

 

Kemusykilan Ramadan 1

Pernyataan:

Adakah haram hukum sekiranya membayar zakat jika bekerja di Kuala Lumpur tetapi membayarnya di Ipoh?

Jawapan:
Perkara tersebut adalah khilaf dikalangan fuqaha’ syafie..afdhal zakat dibayar di بلاد اازكاة iaitu tempat kita bekerja. Jika dibayar ditempat yang bukan tempat bekerja adalah SAH pada satu qaul yang lain.

لا يجوز نقل الزكاة على الأظهر عن محل المؤدى عنه فى الفطرة وعن محل المال الذى وجبت فيه الزكاة و هو الذى كان فيه عند وجوبها مع وجود مستحق فيه الى محل آخر …
Khilaf itu timbul bagi zakat fitrah jika waktu bayar itu adalah waktu sunat. Tetapi bila dah sampai waktu wajib iaitu menjelang malam raya kita hendaklah bayar di tempat kita berada.

Ustaz Mohd Mustakim Fauzi, Pegawai Pejabat Mufti WPKL

 

4 July 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Hukum Solat Jumaat Pada Hari Raya (adakah wajib atau tidak?)

 

Dalam Mazhab Syafi`e solat jumuat kekal wajib apabila jatuh hariraya pada hari Jumaat dan solat hariraya hukumnya adalah sunat bukan wajib

Ulamak mengatakan hadis-hadis yang dikemukakan adalahah sahih namun hadis itu ditujukan kepada bukan penduduk madiinah
Kebenaran dari RasuluLLah meninggalkan solat jumuat bagi orang yang telah menunaikan solat hariraya ditujukan khas kepada penduduk al `awaali iaitu penduduk kampung-kampung diluar madiinah yang sememangnya mereka tidak wajib solat jumuat.
Dalam Mazhab Syafi`e musafir yang tidak wajib solat jumuat tidak disyaratkan musafir jauh

Perkara ini boleh kita fahami daripada kata-kat Tabi`ien dibawah :
قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ
ثُمَّ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدْ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِي فَلْيَنْتَظِرْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ

Telah berkata Abu `Ubaid (Tabi`ie ) Kemudian aku berhariraya bersama Uthmaan bin `Affaan (khalifah ke 3) adalah hari itu hari jumuat, lantas beliau solat (hariraya) sebelum khutbah kemudian beliau berkhutbah maka antara kata-katanya :

"Wahai manusia sesungguhnya hari ini telah berhimpun untuk kamu 2 hariraya maka sesiapa yang mahu menunggu (solat) jumuat dari kalangan penduduk al `awaali (kampung-kampung diluar Madinah) hendaklah ia menunggu. Sesiapa yang suka kembali (kekampung dan tidak solat jumuat) maka sesungguhnya aku izinkan untuknya.
(petikan dari Sohih Bukhori)

Ya ada hadis seperti ini, dimana ulamak mengatakan kata-kata Nabi itu untuk penduduk kampung-kampung terpencil yang mana mereka memang tidak wajib solat jumuat pun. Sebaliknya orang yang wajib solat jumuat, mereka tetap wajib solat jumuat sekalipun hari itu adalah hariraya.

Penerangan mengenai perbezaan pendapat mazhab oleh Ustaz Muhammad Fuad:

Sedikit penambahan dari saya…oleh kerana melihat pekembangan ilmu Fiqh yang begitu meluas sekarang di Malaysia, terutama pandangan-pandangan dari mazhab Hanbali sudah diketengahkan di sini, maka sudah pastinya saya perlu meraikan pandangan-pandangan tersebut. OLeh itu saya kira tiada masalah juga masyarakat awam yang ingin berpegang dengan mana-mana pandangan tersebut dengan syarat berdasarkan Ilmu yang dipelajari, samada pandangan pertama tidak menggugurkan kewajipan solat Jumaat atau pandangan kedua yang tidak mewajibkan solat Jumaat. Bagaimanapun disini ada beberapa kiteria yang saya rasa tidak boleh diabaikan :

1 ) Pertama : tidak bertujuan meremeh-remehkan hukum hakam Syariah, mengambil sesuatu pandangan kerana mengikut hawa nafsu dan menjadikan Khilaf Fiqh sebagai helah/alasan untuk memilih pandangan-pandangan yang termudah sahaja. Sebagai mana Al-Alamaah Al-Tarizi dalam bab Hukum Ruksah menyatakan:

“ maka sesuatu helah ( sebagai alasan ) dan mengambil pandangan yang termudah yang dilakukan hanyalah menyebabkan kehancuran ( Aslu Syar’ie ) dasar/paksi Syariat, ataupun juga menghapuskan Maslahah Syar’ieyah ( kemaslahatan Syariah ) ”.

Imam syatibi juga menyebut dalam Al-Muafawaqat : "
Apabila seorang mukallaf menjadikan setiap permasalahan dengan bertujuan baginya mengambil pandangan yang termudah sahaja dalam sesuatu mazhab, dan setiap pandangan termudah tersebut memenuhi hawa nafsunya, maka sesungguhnya yang demikian itu mencabut Riqbatul Taqwa ( pemeliharaan taqwa dalam dirinya )".

Nasihat daripada Imam Ibnu Taimiyah dalam Iqamatul Hujah :
tidak harus menyandarkan helah ini kepada mana –mana imam. Dan sesiapa yang yang menyandarkan kepada salah seorang daripada mereka maka dia adalah jahil dengan dasar-dasar Imam Mujtahid tersebut, dan kedudukan mereka dalam Islam.
( Rujukan : Rukhsah Syar’ieyah, Dr Umar Abdullah Kamil )

2 ) Kedua : memilih pandangan Jumhur ( majoriti ) Fuqaha’ dalam sesuatu permasalahan, sebagaimana Syeikh Al-Qardhawi dan ramai lagi menyarankan supaya memilih Ijtihad Al-Jamaa’i ( Ijtihad majoriti ) kerana ia lebih selamat daripada Ijtihad Al-fardi ( ijtihad individu ), walupun begitu tidak boleh mengatakan ijtihad individu tadi adalah salah kerana adakala pandangan mujtahid tersebut lebih benar & tepat menurut ijtihadnya.

3) Ketiga : apabila berlaku perselisihan fiqh yang bersandarkan kepada dalil-dalilnya, maka lebih utama menggunakan qaedah Mura’atul Khilaf & keluar daripada khilaf adalah digalakkan. Caranya apabila bertembung dua pandangan dalam permasalahan Fiqh, maka digalakkan memilih pandangan yang lebih berat. Bab ini telah diperincikan oleh Imam izuddin Ibnu salam dalam Qawaid Ahkam bagaimana peraikan khilaf menurut kaedah gabungan antara mazhab maliki & syafie.

4 ) Keempat : Pengunaan dan pengamalan ilmu fiqh dalam ruang lingkup Syariah mestilah bersesuaian dengan kehendak semasa dan suasanan ( fiqh waqi’) seterusnya, bertepatan dengan Maqasid syariah ( objektif syariah ), maslahah dunia dan akhirat, dan kaedah-kaedah yang lain. Apabila membicara tentang hukum hakam dalam lapangan Syariah, maka tiga unsur ini tidak dapat dipisahkan dalam pengamalan dan perlaksanaan ilmu fiqh tersebut.

Anatara aspek terpenting yang bersangkut paut dalam perlaksanaan hukum hakam syariah ini adalah Maqasid syariah itu sendiri, iaitu tujuan sebenar pensyariatan yang berasaskan pentaklifan ( tanggungjawab ) setiap mukallaf. Ia selari dengan Konsep maqasid syariah yang tiga ini ( daruriyah, Hajjiyah dan Tahsiniah ) tujuannya untuk memelihara 5 asas penting ( iaitu agama, aqal, jiwa, keturunan, dan harta )

Manakala menurut objektif untuk agama ini,setiap individu mukallaf perlu melaksanakan tanggungjawab pensyariatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Ini Kerana objektif syariah bukannya menjadi sesorang mukallaf itu pemalas ( kerana wujudnya perselisihan fiqh yan membolehkan dia mengambil pendapat mana-mana yang mudah). Akan tetapi objektif syariah ini mengaplikasikan perselisihan dalam ilmu fiqh sebagai suatu kemudahan kepada mukalaf apabila wujudnya perselisihan pandangan tersebut menurut situasi dan keadaan.

Sebagaimana Dr Abdul Majid najjar (phd Aqidah & falsafah Universiti al-azhar ) menjelaskan dalam kitab beliau hal maqasid syariah :
“ia sebagai suatu elemen yang amat terpenting dalam asasiah ilmu-ilmu fiqhiyah. Dengan berpandukan objektif dan matlamat ini, ia menzahirkan hukum hakam syariah bertepatan dengan waqi’ ( reality ) sesuatu pemasalahan. Dan mewujudkan kemaslahatan dalam kehidupan manusia bagi mempraktikkan hukum hakam syariah”.

Beliau membawa penjelasan daripada Imam syatibi yang menyatakan perlunya seseorang faqih itu memahami situasi semasa dalam suatu permasalahan dan memerhati dengan mendalam keadaan mukallaf tersebut agar dapat membawa kepada kemaslahatan dan menolak berlakunya kefasadan.
Apabila menyentuh tentang maqasid Syariah ini, saya tertarik dengan jawapan saudara di atas…kerana Objektif Syariah ini berkait dengan Fiqh nawazil..melihat permasalahan berbeza situsasi, keadaan dan masa berubah dari zaman ke zaman .
Jika diukur dalam pemerhatian Syariah, pandangan-pandangan yang berbeza ini adalah benar kedua-duanya ( pandangan yang menggugurkan solat jumaat dan tidak menggugurkan solat Jumaat ) namum apabila dilihat pada konteks tujuan & matlamat Syariah ini, pentaklifan dalam perlaksanaan hukum hakam tersebut masih lagi terikat apabila ia bersesuaian dengan kemampuan seseorang individu mukallaf tersebut. Ia berbeza bagi mereka yang tidak berkemampuan. Malah ia selari dengan tujuan Syariah mempraktikkan hukum tersebut sebagai mempertingkatkan ketaqwaan bukan mengabaikan sesuatu pensyariatan kerana berhelahkan suatu kemudahan.

Sebagai kesimpulannya, saya meraikan pandangan-pandangan yang berbeza ini yang menyatakan solat jumaat tidak perlu dilakukan..tetapi pada masa yang sama saudara juga perlu melihat kiteria di atas agar kita tidak menjadikan permasalahan khilaf ini sebagai lesen " cari malas " sehingga pentaklifan Syariah ini terabai kerana kemalasan kita bukan berada di sutasi yang sebenarnya, bagaimana & cara untuk mempraktikkan & meraikan Fiqh Iktilaf di kalangan mazhab fiqh yang lain.
Bagi saya pula, bukanlah susah sangat menghadiri solat jumaat tersebut, paling kurang satu jam sahaja..tidak menyebabkan lumpuh akibat bersila terlalu lama kesan darah tidak mengalir di hujung-hujng jari.

Dan bukan terlalu susah pada zaman serba moden sekarang, start enjin kenderaan dalam masa 10minit sudah sampai ke masjid, berbanding di zaman lampau berjalan kaki berbatu-batu jauhnya sudah pasti menyukarkan berulang alik dari rumah ke masjid. Begitu juga bagi mereka yang tinggal berjauhan, dan juga bagi mereka yang sibuk menyembelih dan menguruskan haiwan korban apabila sudah menyempurnakan solat hari raya dan pelbagai lagi urusan penting unutk kemaslahatan umum. Mungkin di situ ada keperluan dan sebabnya.

Tetapi bagi mereka yang meninggalkan solat jumaat kerana hendak keinginan tidur, kerana kesibukan seharian berhari raya, kerana letih bersembang , kerana sibuk berjuadah kuih muih, kerana sibuk membawa teman wanita bersiar-siar dihari raya dan pelbagai-bagai lagi kesibukan kita adakah sama situasi di atas..? sehinggakan kita mengabaikan perkara yang lebih keutamaan daripada yang bukan utama. Maslahah dunia & akhirat lebih penting daripada kepentingan peribadi.

Walaubagaimanapun kewajipan mendirikan solat zohor bagi golongan yang kedua ini tetap tidak digugurkan hukumnya secara Ijma’.

Sekian Wallahu’lam

Oleh Ustaz Ghoni

Sumber: Kami Tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia

1 July 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

MALAM 10 TERAKHIR BULAN RAMADHAN

image (3)

Disebutkan di malam 10 terakhir bulan Ramadhan akan diberikan kepada orang yang berada di bulan Ramadhan itu yang beramal itu diberikan pelepasan daripada Api Neraka Allah dan juga diberikan ganjaran yang ianya akan sampai di Ramadhan yang akan datang.

Dan di antara malam-malam itu yang paling afdal adalah malam Lailatul Qadr yang di dalam hadis Nabi ﷺ bersabda; "Ia adalah malam yang terbaik yang mana barangsiapa yang mendapatkannya maka dia akan mendapat kebaikan seluruhannya.

Dan barangsiapa yang diharamkan daripadanya maka diharamkan akan segala-galanya". Bahkan diguna oleh Para Ulama ada pun daripada awal kamu berpuasa dan kamu qiam berdiri menghidupkan malam itu sebenarnya ianya adalah persiapan untuk kamu mendapatkan lailatul qadr iaitu dengan kamu berpuasa dan kamu bangun diwaktu malam adalah untuk mempersiapakan diri menyucikan jiwa kamu untuk kamu mendapatkan Lailatul Qadr yang ianya merupakan persiapan sehingga kamu layak untuk mendapatkannya.

Dan malam itu malam yang akan turunnya Para Malaikat iaitu pada malam Lailatul Qadr seperti yang diserukan oleh Allah sehingga diriwayatkan oleh Imam Ahmad; "Bilangan Malaikat yang turun pada malam itu adalah lebih banyak daripada bilangan batu dan kayu". Oleh itu apabila masuk 10 malam terakhir hendaklah kita menyiapkan diri untuk mendapatkannya kerana ianya adalah rahsia tidak diketahui bila ia akan berlaku.

Dan alangkah baiknya sekiranya kita menyiapkan diri kita memburu malam Lailatul Qadr bermula pada malam pertama Ramadhan lagi.
.
-Al Habib Kadzim Ja’afar As-Saggaf-

Sumber: Pencinta Majlis Rasulullah

1 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | | Leave a comment

MENJAWAB TOHMAHAN "AHLI HADIS" TERHADAP KITAB SYAIKHUL HADIS

 

 

Berikut merupakan kesimpulan daripada “Kajian 40 Hadith di dalam Kitab Fadāil al-Solah” oleh al-Allāmah al-Muhaddith al-Syeikh Muhammad Zakariyā al-Kandahlawī yang dihasilkan oleh para pelajar Ilmu Hadis di bawah bimbingan Dr. Asmadi Sakat (UKM):

Berdasarkan kepada latar belakang pengarang, beliau merupakan seorang ulama yang terkenal di dalam bidang hadis sehingga beliau digelar sebagai Ra’is al-Syeikh al-Allamah al-Muhaddith.

Maulana Muhammad Zakariya memiliki 2 manhaj dan metode penulisan iaitu manhaj penulisan untuk orang awam dan manhaj penulisan untuk alim ulama yang mana setiap daripada kedua-duanya memiliki kaedah dan caranya yang tersendiri dalam menyampaikan penulisan.

Dalam permasalahan hadith dhaif, beliau berpegang dengan pendapat jumhur muhaddith bahawa harus menyebut hadith dhaif tanpa menyebut keterangan sebab kelemahannya dengan syarat hadith tersebut tidak bersangkut atau ada kaitan dengan permasalahan aqidah, halal dan haram, hukum-hukum syariah. Juga untuk pengajaran, taghrib dan tarhib, kelebihan-kelebihan amal dan yang seumpama dengannya. Boleh beramal dengan hadith dhaif hanya dalam urusan fadāil (kelebihan-kelebihan amal), al-manāqib, al-targhib wa al-tarhīb (galakan kepada amalan dan ancaman meninggalkan amalan) sahaja dan tidak boleh beramal dengannya dalam urusan halal dan haram terutamanya urusan aqidah.

Para ulama hadith telah sebulat suara bahawa terdapat hadith yang boleh dinaik taraf martabat atau statusnya ke satu taraf yang lebih tinggi dari martabatnya yang asal dengan syarat kelemahan hadith tersebut hendaklah lemah yang sederhana.

Jenis-jenis hadith yang boleh dinaik taraf martabatnya kepada darjat yang lebih tinggi daripada darjatnya yang asal ialah al-hadith al-hasan lizatih, al-hasan li ghairih, al-mu’allaq, al-mursal, al-mu’dal, al-munqati’, almudallas, al-mursal al-khafie, hadith majhul al-hal, hadith majhul al-‘ain, hadith al-mubham hadith al-mukhtalit, hadith al-mutalaqqin.

Hadith daripada perawi yang berdusta, dituduh sebagai pendusta, fasiq, hadith al-syaz dan hadith al-ma’lul merupakan klasifikasi-klasifikasi hadith yang tidak dapat dinaik taraf kedudukannya kepada hasan li ghairih disebabkan terlalu lemah dan riwayat-riwayat yang lain tidak dapat mengangkatnya kepada kedudukan yang lebih tinggai dari kedudukannya yang asal.

Jenis-jenis hadith yang tidak boleh dinaik taraf ialah hadith mawdu’ , hadith al-matruk, hadith al-munkar, hadith al-syaz dengan jenis-jenis iaitu almudraj, al-mudtarib, al-musahhaf, al-muharraf dan al-ma’lul.

Dapatan daripada penelitian penulis, daripada 40 hadith yang terdapat di dalam Fadāil al-Solah hadith yang berstatus sahih ialah hadith 1, 3, 11, 12, 14, 18, 19, 20, 24, 25, 27 dan 32. Hadith yang berstatus hasan ialah hadith 2, 4, 6, 7, 21, 22, 23, 28 dan 31. Hadith yang berstatus hasan selepas dikuatkan dengan riwayat sokongan ialah hadith 5, 8, 9 dan 10. Hadith yang berstatus dhaif tetapi boleh digunakan dalam konteks al-tarhīb ialah hadith 13, 16, 17, 26 dan 29. Kata-kata ulama yang terdapat di dalam kitab ini yang mana sesuai bagi tujuan al-tarhīb ialah hadith 15. Hadith yang ke 30 penulis tawaqufkan penilaian terhadapnya kerana tidak menemui kitab asal bagi hadith tersebut.

Saranan Dan Cadangan

Semua pihak termasuk para ulama dan ahli agama seharusnya memberi perhatian dan mengambil berat mengenai metode hadith mutāba’at dan syawāhid sebagai riwayat sokongan yang menjadi salah satu faktor pemangkin kenaikan taraf hadith yang berstatus dhaif kepada hasan li ghairih.

Daripada penganalisaan yang telah dibuat, penulis mendapati jumhur ulama di dalam beramal dengan hadis dhaif mengenakan beberapa syarat tertentu. Lantaran itu, janganlah terlalu cepat menolak sesuatu hadis disebabkan kelemahannya kerana kadangkala apa yang dikatakan sebagai kelemahan itu hanyalah pada sanadnya sahaja sedangkan matannya sahih dan selari dengan nas al-Quran atau dibantu oleh hadis sahih yang lain atau terdapat hadis lain daripada jalan riwayat yang lain yang boleh meningkatkan kedudukan hadis tersebut.

Berdasarkan kajian penulis terhadap buku karangan Mawlana Zakariya penulis mendapati terdapat beberapa buah hadith dhaif yang terkandung di dalam buku tersebut. Namun begitu hadith dhaif yang dikemukakan oleh beliau tidak terlalu dhaif dan tidak bercanggah dengan dalil-dalil syariat. Di samping itu beliau juga telah mengemukakan dalil-dalil samada dari al-Quran atau alsunnah yang lain untuk menyokong dan mengukuhkan hadith yang utama.

Penulis juga mendapati bahawa pengarang telah mengikuti metodologi para ulama hadis yang terdahulu dalam mengukuhkan hadith. Pengunaan hadith dhaif oleh beliau dalam kitabnya tidak bercanggah dengan syarat para ulama hadith yang terdahulu. Oleh itu, dakwaan yang mengatakan bahawa kitab-kitab karangan beliau tidak boleh dipakai adalah tidak benar dan tidak berasas.

Umat Islam seharusnya mengelakkan serta menjauhkan diri daripada mengeluarkan sesuatu kenyataan yang mengelirukan sekiranya perkara tersebut berada di luar kepakaran dan pengetahuan mereka.

Cadangan penulis kepada sesiapa yang ingin membuat kajian mengenai tajuk ini hendaklah memahami manhaj dan metode yang digunapakai oleh al-Kandahlawī serta menguasai kitab-kitab sumber asli bagi menjadikan kajian tersebut lebih berkualiti dan bermutu tinggi.

Kesimpulan

Pengaplikasian metode hadith mutāba’at dan syawahid sebagai riwayat sokongan yang menjadi salah satu faktor pemangkin kenaikan taraf hadith yang berstatus dhaif kepada hasan li ghairih merupakan manhaj yang digunapakai oleh al-Kandahlawī dan ulama sebelumnya dalam bidang penulisan hadith. Cara ini dilakukan menunjukkan kealiman dan kepakaran beliau di dalam bidang hadith. Sehubungan dengan itu manhaj ini boleh digunapakai sekiranya seseorang itu benar-benar mahir dalam bidang takhrij hadith.

 

(Sumber: Daripada Kajian yang dijalankan oleh pelajar ilmu hadis Jabatan al-Quran dan as-Sunnah di bawah seliaan Dr. Asmadi Sakat)

*Kalau dah faham, harap dapat sebarkan supaya orang awam tak terkeliru dengan tohmahan liar orang yang membenci hadis Nabi.

1 July 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

MENGAPA PERLU BERMAZHAB?

Tujuan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah mewajibkan orang awam mengikut mana-mana mazhab yang empat adalah supaya perkara khilafiah tidak menimbulkan perbalahan antara umat Islam.

Mazhab-mazhab yang empat itu pun mengambil dalil daripada al-Quran, as-Sunnah, Qias dan Ijmak. Bukannya ambik daripada Youtube atau Wikipedia.

Maka, apabila setiap mazhab itu diamalkan secara sempurna di tempat masing-masing, maka secara langsung sunnah Nabi dapat dihidupkan di setiap tempat pada setiap masa.

Apa yang terjadi, sebahagian orang awam gemar menimbulkan kekeliruan dengan membangkitkan perbezaan pendapat dan merasa bahawa pendapat mereka sahaja yang betul lalu menuduh pendapat yang lain tertolak. Hanya kerana mereka menjumpai satu hadis yang menyokong ijtihad mereka.
Bahkan, sesama mereka pun bertelagah pendapat. Kononnya mereka menyeru untuk kembali kepada al Quran dan as Sunnah supaya umat Islam dapat disatukan. Tapi yang berlaku, beribu mazhab muncul akibat kemunculan fatwa-fatwa segera daripada para “mujtahi” dan “muharddisk” segera.

Hakikat yang sebenar, setiap hukum hakam dalam mazhab adalah bersumberkan nas dan dalil yang jelas, qat’ie. Hanya apabila golongan itu tidak menjumpai nas tersebut, dengan mudah menuduh fatwa mazhab itu bercanggah dengan al Quran dan Hadis. Sedangkan, jika mereka mengkaji betul-betul pasti mereka akan menjumpai nas dan dalil-dalil itu.

Inilah yang dikatakan oleh Syaikhul Hadis Maulana Zakariyya, “Semakin aku belajar hadis, semakin banyak aku menjumpai nas yang digunakan oleh para imam mazhab.”

Maulana adalah seorang muhaddisin yang berpegang dengan mazhab Hanafi. Namun, disebabkan ilmunya yang mendalam, beliau mampu mengupas dalil yang digunakan oleh Imam Malik dalam menyusun Mazhab Maliki.

Hal ini terdapat dalam kitab karangannya, “Aujazul Masalik: Syarah al Muwatto Imam Malik.”

Sayyid Muhammad Alawi al Makki al-Maliki yang merupakan anak muridnya berkata, “Sekiranya tidak ditulis di bahagian depan bahawa pengarang kitab ini bermazhab Hanafi, sudah tentu kami menyangka beliau bermazhab Maliki. Beliau mampu membawakan dalil -dalil dalam mazhab Maliki yang kami sendiri sukar menemuinya.”

Sumber: FB Muhammad Safwan

30 June 2015 Posted by | Ibadah, Informasi, Tazkirah | Leave a comment

SAAT UDZUR (HAID), APA YANG DI LAKUKAN DI MALAM LAILATUL QADR?

 

Oleh:Yai Masaji Antoro

Bagi Wanita haid masih berkesempatan mendapatkan keagungan malam lailatulQadr dengan menjalankan aneka ibadah yang tidak bertentangan dengan kondisi hadats besarnya seperti mengisi malam Lailatul Qadr dengan memperbanyak dzikir, berdoa, membangunkan keluarganya dan memberi motifasi untuk kian giat beribadah.

Dari Aisyah Ra bahwa Nabi SAW (bila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan kainnya.

(HR. Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain :

Adalah Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya. (HR. Ahmad dan Muslim)

(Keterangan menghidupkan malamnya) artinya menghabiskan seluruh malam harinya untuk menjalankan shalat, dzikir dan ibadah-ibadah lainnya.

(Keterangan membangunkan keluarganya) artinya membangunkannya untuk mengerjakan shalat dimalam hari dan bersungguh-sungguh menambahi kadar ibadah melebihi kebiasaan beliau dimalam lainnya.

Syarh an-Nawawi ala Muslim VIII/71

———

(Menghidupkan malam) artinya mengisi malamnya dengan shalat, dzikir dan membaca alQuran,

an-Nawawy berkata “menghabiskan malam harinya dengan berjaga menjalankan shalat dan lainnya”.

‘Ain al-Ma’buud IV/176

——–

“Dan tidak masalah bagi wanita Haid dan orang junub membaca doa-doa dan memegangnya, dzikir pada Allah, bertasbih, berziarah kubur, memasuki musholla ied, makan serta minum setelah terlebih dahulu berkumur dan membasuh tangan, sedang bila sebelumnya maka makruh bagi orang junub tapi tidak bagi wanita yang haid selama ia belum terkena perintah untuk mandi, keterangannya dituturkan oleh al-Halaby.”.

29 June 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

16 Nama Syaitan Dan Tugasnya

Berikut adalah 16 nama syaitan serta tugasnya untuk menyesatkan manusia terutamanya umat Islam.

1. Zalitun – Tugasnya menyuruh manusia gemar boros berbelanja tanpa had dan fikiran hanya ingat pada makan dan makanan.

2. Watin – Tugasnya mendekati orang yang sedang ditimpa musibah agar bersangka buruk kepada Allah.

3. A’awar – Tugasnya menggoda raja dan orang besar agar zalim, rasa takbur dengan jawatan, membiarkan rakyat tanpa dibela dan tidak suka mendengar nasihat ulama. Menghias perempuan agar lelaki segera tergoda dan menggoda wanita agar mendekati lelaki yang dilihat menarik.

4. Hafaf – Tugasnya mengajak manusia berbuat maksiat, suka minum khamar dan berfoya-foya.

5. Murrah – Tugasnya mendekati ahli muzik agar selalu lalai dan leka dan melekakan pula para pengikut mereka. Juga mengganggu ahli-ahli ibadat semasa sedang berwuduk agar membazir, yakni menggunakan banyak air untuk berwuduk.

6. Masud – Tugasnya menyuruh manusia supaya selalu mengumpat, fitnah dan adu domba, suka berdendam sesama manusia.

7. Dasim – Tugasnya memecahkan suami isteri agar suka bergaduh dan bercerai. Menyuruh manusia marah bukan pada tempatnya dan kepada marah yang membawa dosa. Juga menampakkan cela adik-beradik sehingga mudah bertengkar dan bermasam muka.

8. Walahan – Tugasnya menimbulkan rasa was-was dalam beribadat, khasnya ketika seseorang itu mengambil wuduk.

9. Lakhus – Tugasnya mengajak manusia agar menyembah selain daripada Allah.

10. Sabrum – Tugasnya mengajak manusia ke jalan yang jahat dan tidak sabar dengan ujian yang diterima.

11. Miswat/Maswat – Tugasnya mempercepatkan manusia untuk berbuat maksiat dan suka kepada setiap perkara maksiat, disamping melengah-lengahkan berbuat amal soleh. Ia gemar membawa berita dusta dan gosip liar.

12. Zaktabur/Zaknabur/ Zalanbur – Tugasnya menimbulkan raja ujub dan takbur dengan segala kelebihan yang ada pada dirinya.

13. Khinzab – Tugasnya mengganggu orang yang beribadat, khasnya yang bersembahyang dengan membuatkan manusia berasa was-was dengan amalan baik yang dilakukannya dan sentiasa cuba meruntuhkan keyakinan terhadap agama islam yang dianutinya.

14. Laqnis – Tugasnya mengganggu orang yang bersuci dan berwuduk sehingga jadi ragu dan tidak sempurna.

15. Abyadh – Syaitan yang paling berat godaannya, paling buruk sikapnya kerana tugasnya ialah menggoda para nabi dan rasul yang diutuskan kepada manusia.

16. Khannas – Syaitan yang menimbulkan was-was hati terhadap adanya Allah, adanya perkara-perkara sam’iyat dan melalaikan hati manusia daripada mengingati Allah sepanjang masa.

29 June 2015 Posted by | Informasi, Tazkirah | | Leave a comment

Generasi terbaik dalam Islam

Generasi terbaik dalam islam setelah wafatnya Rasulullah Muhammad SAW

1. Generasi Sahabat yaitu generasi yang hidup dan sempat berjumpa serta berguru langsung kepada Rasulullah SAW.

2. Generasi Tabi’in yaitu generasi yang hidup dan sempat berjumpa serta berguru langsung kepada Sahabat.
3. Generasi Tabiut Tabi’in yaitu generasi yang hidup dan sempat berjumpa serta berguru langsung kepada Tabi’in.

4. Generasi Ahlussunah wal jama’ah yaitu bagi siapa saja yang mengikuti Rasulullah SAW dengan mengikuti imam Abu Hasan Al Asy’ari dalam aqidah serta mengikuti salah satu dari imam mazhab yang 4 dalam fiqih.

29 June 2015 Posted by | Informasi | Leave a comment

‪KelebihanBulanRamadan‬

AMALAN SUNAT YANG DILAKUKAN MENDAPAT PAHALA SEPERTI AMALAN WAJIB DAN AMALAN WAJIB YANG DILAKUKAN MENDAPAT PAHALA SEPERTI MELAKUKAN TUJUH PULUH AMALAN WAJIB.

“Daripada Salman r.a. ia berkata: Telah berkhutbah Rasulullah ﷺ pada hari terakhir bulan Syaaban dengan sabdanya: Wahai manusia sesungguhnya telah datang kepada kamu satu bulan yang agung lagi penuh keberkatan (bulan Ramadan) iaitu bulan yang ada padanya satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, bulan yang Allah jadikan berpuasa padanya suatu kewajipan dan berqiamullail (beribadat pada malam-malamnya) sebagai amalan sunat.
Sesiapa yang mendekatkan dirinya kepada Allah pada bulan itu dengan melakukan amalan kebajikan (amalan sunat) maka ia mendapat pahala seperti melaksanakan perintah yang wajib dan sesiapa yang melakukan suatu amalan yang wajib pada bulan Ramadan maka ia mendapat pahala seperti orang yang melakukan tujuh puluh amalan fardhu.”
(Sahih Ibnu Khuzaimah)

*REBUTLAH PELUANG, JANGAN JADI ORANG YANG RUGI. MUNGKIN RAMADAN INI YANG TERAKHIR BUAT KITA…

Sumber: JAKIM

29 June 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Atheis – Ini hujah Imam Hanafi dgn Addahri..rujukan Kitab Darus Samin.

Soalan Pertama
Atheis: “Pada zaman bilakah Tuhan kamu dilahirkan?”

Pemuda tersebut tersenyum lalu menjawab: “Allah Taala tidaklah sesuatu yang dilahirkan. Jika Dia dilahirkan sudah tentu Dia punya bapa, Allah juga tidak melahirkan. Jika Dia melahirkan maka sudah tentu Dia punya anak.”

Soalan Kedua
Atheis: “Kalau begitu, bilakah pula Tuhan kamu wujud?”

Pemuda itu seraya menjawab: “Allah Taala itu wujud sebelum adanya zaman, sedangkan zaman itu sendiri adalah ciptaanNya, mana mungkin pencipta wujud selepas makhluk ciptaanNya.”

Soalan Ketiga
Atheis: “Cuba kamu berikan kepada kami sedikit gambaran tentang kewujudan Tuhan kamu yang tiada permulaan ini. Bagaimana mungkin sesuatu itu ada tanpa ada permulaannya?”

Pemuda itu menjawab: “Kamu pandai mengira?”

Kelompok Atheis itu menjawab: “Tentu sekali kami pandai mengira.”

Pemuda itu meneruskan ucapannya: “Bolehkah kamu beritahu aku apakah nombor sebelum nombor empat (4)?”
Atheis: “Nombor 3″
Pemuda: “Nombor sebelum 3?”
Atheis: “Nombor 2″
Pemuda: “Nombor sebelum 2?”
Atheis: “Nombor 1″
Pemuda: “Nombor sebelum 1?”
Atheis: “Tiada”
Pemuda itu tersenyum lalu memberikan penerangan: “Nah, kamu sendiri mengakui bahawa nombor 1 sebelumnya tiada mulanya. Nombor yang merupakan ciptaan Allah ini sendiri kamu akui bahawa tiada permulaan baginya. Apatah lagi pencipta kepada nombor itu sendiri?”

Terpinga-pinga kelompok Atheis tersebut dengan jawapan yang padat dan bernas daripada pemuda itu. Ternyata mereka silap perkiraan bila mana berhadapan dengan anak muda ini. Pada mulanya mereka merasakan bahawa anak muda ini mudah dikalahkan, namun telahan mereka ternyata menyeleweng. Mereka perlu lebih berhati-hati.

Soalan Keempat
Atheis: “Tahniah anak muda di atas jawapanmu sebentar tadi. Jangan sangka kamu berada di dalam keadaan yang selesa. Baik, tolong kamu terangkan kepada kami, pada bahagian manakah Tuhan kamu mengadap?”

Pemuda itu menjawab: “Jika aku bawa sebuah pelita yang dicucuh dengan api ke sebuah tempat yang gelap, pada arah manakah cahaya pada api tersebut mengadap?”

Kelompok Atheis menjawab: “Cahaya itu tentulah akan menerangi keseluruhan arah.”

Pemuda itu berkata: “Jika cahaya yang diciptakanNya itu pun kamu semua tidak mampu menerangkan pada arah manakah ia mengadap, inikan pula Sang Pemilik Cahaya langit dan bumi ini sendiri?”

Kesemua hadirin yang mendengar jawapan daripada pemuda itu bersorak kegembiraan. Kagum mereka dengan kepetahan anak muda itu.

Soalan Kelima
Atheis: “Bolehkah kamu terangkan kepada kami, bagaimana zat Tuhan kamu? Adakah ianya keras seperti besi? Atau jenis yang mengalir lembut seperti air? Atau ianya jenis seperti debu dan asap?”

Pemuda itu sekali lagi tersenyum. Beliau menarik nafas panjang lalu menghelanya perlahan-lahan. Lucu sekali mendengar persoalan kelompok Atheis ini. Orang ramai tertunggu-tunggu penuh debaran apakah jawapan yang akan diberikan oleh pemuda itu.

Pemuda itu menjawab: “Kamu semua tentu pernah duduk disebelah orang yang sakit hampir mati bukan?”

Atheis menjawab: “Tentu sekali.”

Pemuda itu meneruskan: “Bila mana orang sakit tadi mati, bolehkah kamu bercakap dengannya?”

Atheis menjawab: “Bagaimana mungkin kami bercakap dengan seseorang yang telah mati?”

Pemuda itu meneruskan: “Sebelum dia mati kamu boleh bercakap-cakap dengannya, namun selepas dia mati, terus jasadnya tidak bergerak dan tidak boleh bercakap lagi. Apa yang terjadi sebenarnya?”

Kelompok Atheis tertawa lalu memberikan jawapan: “Adakah soalan seperti ini kamu tanyakan kepada kami wahai anak muda? Tentu sekali seseorang yang mati itu tidak boleh bercakap dan bergerak . Ini kerana rohnya telah terpisah daripada jasadnya.”

Pemuda itu tersenyum mendengar jawapan mereka lalu berkata: “Baik, kamu mengatakan bahawa rohnya telah terpisah daripada jasadnya bukan? Bolehkah kamu sifatkan kepada aku sekarang,bagaimanakah bentuk roh tersebut. Adakah ianya keras seperti besi, atau ianya mengalir lembut seperti air atau ianya seperti asap dan debu yang berterbangan?”

Tertunduk kesemua Atheis tersebut bila mana mendengar persoalan pemuda bijak tersebut. Ternyata olokan mereka sebentar tadi kembali
tertimpa ke atas mereka.

Kelompok Atheis menjawab dengan keadaan penuh malu: “Maaf, tentu sekali kami tidak dapat mengetahui bagaimana bentuknya.”

Pemuda itu lalu meneruskan bicaranya: “Jika makhluknya seperti roh itu pun kamu tidak mampu untuk menerangkannya kepada aku, bagaimana mungkin kamu ingin menyuruh aku menerangkan bagaimana bentuk Tuhan Pemilik Roh serta sekalian alam ini?”

Soalan Keenam
Atheis: “Di manakah Tuhan kamu duduk sekarang?”

Pemuda itu kembali bertanyakan soalan kepada mereka: “Jika kamu membancuh susu, tentu sekali kamu mengetahui bahawa di dalam susu tersebut ada terdapat lemak bukan? Bolehkah kamu terangkan kepada saya, dimanakah tempatnya lemak tersebut berada?”

Kelompok Atheis menjawab: “Kami tidak dapat menerangkan kepadamu dengan tepat kedudukan lemak di dalam susu tersebut. Ini kerana lemak itu mengambil keseluruhan bahagian susu tersebut.”

Pemuda itu seraya berkata: “Kamu sendiri lemah di dalam memberikan jawapan terhadap persoalan aku sebentar tadi. Jika lemak di dalam susu pun tiada tempat yang khusus baginya, masakan pula kamu ingin mengatakan bahawa Tuhan Pemilik Arasy itu ada tempat duduk khusus bagiNya? Sungguh aku pelik dengan persoalan-persoalan kamu ini.”

Soalan Ketujuh
Atheis: “Kami pelik bagaimana jika masuk ke dalam syurga ada permulaannya (iaitu selepas dihisab oleh Allah Taala di padang Mahsyar) namun bila mana sudah berada di dalamnya maka tiada lagi pengakhirannya (maksudnya tiada kesudahannya dan akan selama-lamanya di dalam syurga)?”

Pemuda itu tersenyum lagi lalu menjawab: “Mengapa kamu pelik dengan perkara tersebut. Cuba kamu lihat pada nombor. Ianya bermula dengan nombor satu bukan? Namun bolehkah kamu terangkan kepada aku apakah nombor yang terakhir di dalam senarai nombor?”

Terkelu kelompok Atheis ini untuk memberikan jawapan. Tentu sekali nombor tiada kesudahannya. Pemuda itu tersenyum melihat kelompok Atheis ini terkebil-kebil tidak mampu memberikan jawapan.

Kemudian beliau menyambung bicaranya: “Nah, kamu sendiri tidak mampu untuk menerangkan kepadaku apakah nombor terakhir bukan? Jawapannya sudah tersedia di hadapan mata kepala kamu.”

Soalan Kelapan
Atheis: “Kami ingin bertanya lagi, bagaimana mungkin seseorang di dalam syurga menurut Nabi kamu tidak akan kencing dan berak. Sedangkan mereka juga makan dan minum? Ini adalah perkara yang tidak masuk akal.”

Pemuda itu tenang membetulkan kedudukannya. Lalu beliau menjawab: “Aku dan kamu sebelumnya pernah berada di dalam perut ibu sebelum dilahirkan bukan? Sembilan bulan di dalam perut ibu, kita juga makan daripada hasil darah ibu kita. Persoalanku, adakah kamu buang air kecil dan besar di dalam perut ibumu? Sedangkan kamu juga makan di dalamnya?”

Sekali lagi kelompok ini terdiam membisu seribu bahasa. Padat sekali jawapan anak muda ini.

Soalan Kesembilan
Ia soalan terakhir yang ditanyakan oleh kelompok Atheis tersebut kepada pemuda itu bila mana mereka telah mati kutu dan sudah terlampau malu ialah berkenaan: “Jika kamu terlalu bijak , apakah yang dilakukan oleh Tuhanmu sekarang?”

Maka pemuda itu menjawab dengan tenang: “Sebelum aku memberikan jawapan kepadamu, eloklah kiranya kita bertukar tempat. Ini kerana kamu berada pada tempat yang tinggi sedang aku berada di bawah. Jawapan hanya boleh diberikan bila mana aku berada di atas mengambil alih tempatmu.”

Kelompok Athies itu lalu bersetuju dengan cadangan pemuda tersebut, lalu mereka bertukar tempat.

Pemuda itu naik ke atas, manakala sang Atheis turun ke bawah.
Bila mana pemuda itu sudah berada di atas, terus beliau menjawab: “Kamu bertanya sebentar tadi apakah yang Tuhanku lakukan sekarang bukan? Jawapannya ialah, Tuhanku sedang meninggikan yang Haq (dengan menaikkan pemuda itu ke atas) dan menurunkan yang Batil (dengan menurunkan kelompok Atheis tersebut ke bawah).”

Akhirnya mereka mengakui bahawa tiada lagi persoalan yang ingin ditanyakan malah kesemuanya telah dipatahkan oleh pemuda itu dengan penuh hikmah.

Walau sudah hampir ribuan tahun pemuda itu meninggalkan kita, namun namanya disebut orang seolah-olah beliau masih hidup di sisi kita.

Al-Fatihah buat al-Imam al
-A’dzam Abu Hanifah Nu’man bin Thaabit r.a (Imam Hanafi) serta kepada seluruh gurunya dan kesemua muslimin dan muslimat sama ada yang masih hidup atau yang telah
wafat.

— with Luvo Petersen, Nur Ellya Shafiqa, Hidayah Hamdan, Afifah Hanani, Siti Aqilah, Azfar Hamdii, Fazli Othman Abang, Othman Mohd Said, Waleed Alma, Ahmad Fieras, Belantara Rokes, Ratna Herdianty, Azman Ahmad, Khadijah Muslimin, Bin’Azrol Rashid, Abil Hanif Ibrahim, Zul Zulkifli, Mohamad Zakuwan, Riduan Ibrahim and Azizan Nordin

29 June 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

FADHILAT MEMBERI MAKAN KEPADA ORANG YANG BERBUKA PUASA – Laman Web PMWP

FADHILAT MEMBERI MAKAN KEPADA ORANG YANG BERBUKA PUASA
DITULIS OLEH NADZIRAH PADA 24 JUN 2015. DITERBITKAN DI DALAM IRSYAD FATWA KHAS RAMADHAN
SOALAN 30 (24/06/2015 BERSAMAAN 07 RAMADAN 1436H)

Apakah fadhilat memberi makan kepada orang yang berbuka puasa?

JAWAPAN

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan kelebihan menjamu mereka yang berpuasa. Justeru, amat wajar bagi yang berkelapangan rezeki serta harta menjamu mereka yang berpuasa. Antara nas galakannya ialah:

Daripada Zaid bin Khalid, bahawasanya Rasulullah SAW bersabda:
Maksudnya: “Siapa yang member makan orang yang berpuasa maka baginya pahala seumpamanya tanpa sedikitpun kurang pahala orang berpuasa.”

(Riwayat Ahmad, al-Tarmizi dan al-Baihaqi)

Daripada Ummu Ammarah, Rasulullah SAW bersabda:
Maksudnya: “Sesungguhnya orang yang berpuasa apabila makan bersamanya orang berpuasa yang lain, maka sentiasalah para malaikat mengucap selawat ke atasnya sehingga selesai daripada makannya.”

(Riwayat Ahmad, al-Tarmizi dan al-Baihaqi)

Rasulullah SAW bersabda:
Maksudnya: “Orang yang berpuasa apabila makan di sisinya orang-orang yang berbuka puasa, nescaya para malaikat berselawat ke atasnya.”

(Riwayat al-Tarmizi dan Ibn Majah)

Berdasarkan nas hadis di atas jelas menunjukkan kelebihan bagi mereka yang member makan orang yang berpuasa, apatah lagi mereka yang amat memerlukan seperti anak-anak yatim, fakir miskin dan golongan yang berhajat.

Dinyatakan di sini sikap dan sifat tokoh ulama dalam member makan orang yang berpuasa:

Hasan al-Basri member makan saudaranya sedangkan dia berpuasa sunat dan duduk melayan mereka ketika mereka makan.

Abdullah bin al-Mubarak memberi makan kepada saudaranya ketika bermusafir dengan makanan yang lazat, sedangkan dia berpuasa.
Hammad menjamu setiap malam kepada orang ramai pada bulan puasa seramai 500 orang.

Abdullah bin Umar R.Anhuma berpuasa dan tidak berbuka kecuali bersama dengan fakir miskin.

Semoga kita sentiasa menjadi hamba Allah yang suka menjamu mereka yang berpuasa.

29 June 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Jagalah hubungan kita dengan adik beradik

Imam Ghazali dikenali sebagai pakar merawat sakit hati. Rujuklah kitab tulisannya iaitu Ihya’ Ulumiddin. Betullah selalu wujud perasaan dengki antara adik-beradik. Kita kena ubah sifat ini dan ganti dengan sifat syukur dan redha.

Ada satu cerita seorang Professor yang mempunyai 4 orang anak. 3 orang anaknya pandai dan menjadi doktor, manakala yang keempat tidak begitu pandai dan cuma bekerja sebagai kerani sahaja. Professor itu rasa begitu pelik sehingga mengatakan yang anak keempatnya itu bodoh. Ditakdirkan, Allah menguji Professor itu terkena strok.

Dalam kesemua anaknya, anak yang keempat itulah yang menjaganya sepanjang masa. Anak yang lain sibuk dengan kerjaya.

Oleh sebab itu kita tidak boleh dengki dengan kelebihan yang Allah kurniakan pada adik-beradik yang lain. Seumpama jari kita yang lima, semuanya ada fungsi tersendiri. Kurang satu akan menjadi tidak sempurna.

Nabi SAW ada bersabda yang bemaksud, “Perasaan hasad memakan pahala amalan sepertimana api memakan kayu.

Kita perlu berlapang dada dan gembira dengan kelebihan yang dimiliki adik-beradik lain. Bagi yang lebih berjaya pula, jangan sombong dan bantulah adik-beradik lain yang kekurangan.
Fikir fikirkan apa yang kita patut bantu adik beradik yang ada kekurangan jangan bagi org lain mencaci dan menghina meraka

Hukum menghina, perli orang lain adalah haram. Allah SWT melarang kita berbuat begitu. Oleh itu kita tidak boleh memperlekehkan apa yang dibuat oleh adik-beradik kita atau orang lain.

JADI nasihatkan darah daging kita supaya dia juga turut rasa dihargai org ramai
Hulurkan tangan kita bila dia perlukan…Ibubapa kita juga akan Aman disana melihat anak anak mereka….
Harta ibu bapa yang paling bernilai ialah anak-anak iaitu adik-beradik kita. Cuba perhatikan jika anak-anak sakit, ibu bapa sanggup gadaikan harta untuk menyelamatkan anak-anak.

Oleh itu janganlah kerana harta ibu bapa , adik-beradik bergaduh ,Sedangkan itu cuma harta dunia….harta yang membawa hingga ke Jannah Allah adalah silaturahim adik beradik itu…

Doa merupakan perisai orang orang beriman. Allah berfirman yang ringkasannya bermaksud, “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan makbulkan.” Jadi doakanlah untuk adik-beradik kita kepada Allah SWT. Kita bertemu Allah paling kurang 5 kali sehari. Apabila kita mendoakan seseorang, dan orang itu tidak mengetahuinya, maka malaikat juga akan mendoakan kita doa yang serupa juga.

Teruskan berdoa, semoga abang,kakak adik kita dilapangkan REZEKI kekayaan REZEKI umur yang panjang dgn kesihatan yang baik ,diberikan hidayah juga bahagia dunia dan akhirat..
Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga”. Rasulullah menjawab; “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahmi”. (HR. Bukhari)

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat.” (HR. Thabrani)

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah menyambung keluarga (silaturahmi).” (HR. Bukhari)
“Tidak masuk surga orang yang memutus keluarga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber Rakan FB
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

28 June 2015 Posted by | Tazkirah | 1 Comment

Inilah zikir bersanad.

 

1.Astaghfirullahaladzhim baca 100x

Sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud : "Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali"(Hadis Riwayat Muslim).

2.Subhanallahi wabihamdihi ,subhanallahil adzhim 100x

Rasulullah Saw bersabda : “Dua kalimat yang ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan, dan disukai oleh (Allah) Yang Maha Pengasih, yaitu kalimat subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Azhim (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung).” (HR Bukhari 7/168 dan Muslim 4/2072);

3.Laillahaillah 100x

Dari Jabir bin Abdillah ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud, “Zikir yang paling mulia ialah Lailahaillallah dan doa yang paling baik ialah Alhamdulillah.” (Riwayat Al-Imam Ibnu Majah).

4.hasbunallah wanikmal wakil 100x

Diriwayatkan bahawa ketika Nabi Ibrahim diletakkan di atas tunku api, Jibril bertanya kepada baginda –Apakah engkau memerlukan sesuatu pertolongan dariku?’Nabi Ibrahim lantas menjawab – “Aku tidak memerlukan apa-apa pertolongan darimu. Aku hanya memerlukan pertolongan dari Allah”.

“Hasbunallah wa ni’mal wakil” itulah kalimat yang dikatakan oleh Nabi Ibrahim AS ketika akan dilempar ke kobaran api. Nabi Ibrahim mempercayakan seluruh jiwa dan raganya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah berfirman “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. Allah menjadikan api yang panas itu dingin seketika. Dan Ibrahim pun tidak terbakar. Demikian halnya dengan Rasulullah dan para sahabat ketika menghadapi ancaman dari pasukan kafir, mereka juga mengucapkan “Hasbunallah wa ni’mal wakil” Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.

5.subhanaAllah walhamdulilla wallaillahaillah Allahu Akbar 100x

Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat ucapan yang paling disukai oleh Allah: (1) Subhanallah, (2) Alhamdulillah, (3) Laa ilaaha illallah, dan (4) Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai” (HR. Muslim no. 2137).

6.La Haula wala Quwwata illa billah 100x

Dalam sebuah hadis menyebut daripada Abu Zar, beliau berkata: “Aku berjalan di belakang Rasulullah SAW, lalu Baginda berkata kepadaku: “Wahai Abu Zar, mahukah aku tunjukkan kepada kamu satu perbendaharaan daripada beberapa perbendaharaan syurga? Aku berkata: Mahu ya Rasulullah. Baginda bersabda: “La Haula wala Quwwata illa billah.”

7.Allahumma sholli ala sayyidina muhammad 100x

Firman Allah Ta’ala yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah dan malaikatNya berselawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan) kepada Nabi (Muhammad s.a.w); wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya.” (Surah Al-Ahzaab 33:56)

Ini adalah perkongsian daripada Al-Fadhil Ustaz Jafri Abu Bakar Mahmoodi

 

Sumber: Jom Dakwah Bersama Ulama

27 June 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah | | Leave a comment

Hukum Memelihara Janggut

 

Apakah hukumnya, membiarkan dan memeliharakan tumbuhnya janggut?

Jawapan :

Terdapat perintah untuk membiarkan tumbuhnya janggut kerana banyak hadith Nabi s.a.w di antaranya sabda Nabi s.a.w yang bererti :

"Berbezalah daripada kaum Musyrik, bebaskanlah (biarkanlah sebagaimana adanya) janggut dan cukurlah kumis (misai)." (Hadith riwayat Bukhari, Sahih Bukari, vol 5, hlmn 2209; dan Muslim, Sahih Muslim, vol 1, hlmn 222)

Perbezaan Pendapat Ahli Feqh

Para ahli feqah berbeza pendapat di dalam memahami perintah Nabi s.a.w ini,apakah ia menunjukkan bahawa hukumnya (janggut) wajib ataupun sunat?

Jumhur Fuqaha’ (ahli feqah) berpendapat bahawa (menyimpan janggut) adalah wajib. Sementara, para ulama’ Mazhab Syafie berpendapat hukumnya (menyimpan janggut) adalah sunat.

Kebanyakan ‘ulama Mazhab Syafie yang menetapkan hukum ini (menyimpan janggut) di dalam kitab-kitab mereka. Kami kemukakan sebahagian di antaranya di sini :

1. Perkataan syeikhul Islam – Imam Zakaria al Ansari

"(Dan), Makhruh (mencabutnya) iaitu jangut pada awal pertumbuhannya, sebab mengutamakan ketampanan (kekacakan) dan keelokan paras rupa". – Sheikhul Islam Zakaria al Ansari, Asna al Muthalib, vol 1, hlmn 551.

2. Al ‘Allamah Imam ar Ramli memberikan pandangan terhadap pernyataan ini, di dalam huraiannya (Hasiyah) terhadap Kitab "Isna’ al Mutholib". Beliau menyatakan, "Pernyataan (dan makhruh mencabutnya), iaitu janggut. Dan seumpamanya, adalah mencukurnya."

3. Manakala perkataan Al Hulaimi di dalam kitabnya Al Minhaj, "Tidaklah boleh (haram) bagi seseorang mencukur jangutnya dan juga kedua-dua alisnya (bulu kening), " ini adalah pendapat yang lemah. – Al Allamah Imam ar Ramli, Hasiyah Asna Al Muthalib, vol 1, hlmn 551.

4. Ibnu Hajar al Haitami (semoga ALlah merahmati beliau) berkata, "(Masalah cabang) mereka kemukakan di sini berkenaan dengan masalah janggut, dan seumpamanya tentang beberapa perkara yang dimakhruhkan, di antaranya : mencabutnya, dan mencukurnya (janggut). Demikian juga, kedua-dua alis (bulu kening) – Ibnu Hajar al Haithami, Tuhfat al Muhtaj : Syarah al Minhaj, vol 9, hlmn 375-376. "

5. Imam Ibnu Qasim al Ubbadi r.a di dalam huraiannya (Hasiyah) terhadap Tuhfat al Muhtaj mengguatkan pernyataan ini dan berkata, "Perkataannya (diharamkan), berbeza pendapat dengan pendapat yang kuat (muktamad), Di dalam Syarah al Ubad terdapat faedah ; kedua syeikh (Imam Nawawi dan Imam Rafi’e) mengatakan makruh mencukur janggut." – Ibnu Qasim al al Ubbadi, Hasiyah Tuhfat al Muhtaf syarh al Minhaj, vol 9, hlmn 375-376

6. Al Allamah al Bujirmi,dalam huraiannya (hasiyah) terhadap Kitab Syarh al Khatib berkata :

"Sesungguhnya mencukur janggut itu adalah dimakhruhkan walaupun daripada lelaki (dewasa), bukan haram. – Al Bujirmi, Hasiyah al Bujirmi, "ala Syarh al Khatib, vol 4 hlmn 346.

Penyebutan lelaki di sini, bukanlah lawan kata dari wanita, tetapi lawan kta kepada pemuda yang masih kecil. Sebab daripada segi kacamata perbicaraan ini adalah – dimakhruhkan mencukurnya (janggut) pada awal pertumbuhannya, iaitu bagi pemuda yang masih kecil. Lalu, beliau memberikan pandangan bahawa "pada masa awal pertumbuhannya" itu bukanlah suatu ketetapan, tetapi bagi kaum lelaki yang dewasa juga dimakruhkan.

Pendapat dari Ulama dari Mazhab selain Syafieyyah

Juga terdapat pendapat yang menyatakan bahawa makhruh mencukur janggut dari para ulama’ selain para ulama’ Mazhab Syafie. Di antaranya ialah para ulama seperti al Imam Qadhi al Iyadh (semoga ALlah merahmatinya) pengarang kitab asy Syifa’, iaitu salah seorang Imam MAzhab Maliki. Beliau mengatakan bahawa "Makhruh mencabutkannya, mencukurkannya dan membakarkannya (janggut)." – Perkataan ini diambil daripada al Hafiz al Iraqi di dalam kitabnya "Tharhu at Tasyrib", vol 2, hlmn 83; dan Imam Syaukani di dalam kitabnya Nail al Authar, vol 1 hlmn 143.

Sumber : Al Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, “Penjelasan Terhadap Masalah-masalah Khilafiah”. Prof Dr Ali Jum’ah, 2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor

26 June 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Amalan Salafussoleh Mengkhatamkan Al Quran Pada Waktu Tertentu di Bulan Ramadhan

1. Diriwayatkan Sayyid al Jalil Ahmad ad Dauraqiy dengan sanadnya dari Mansur Ibn Zadan dari Ubbad at Tabi’in radiyaLLahu ‘anhu berkata :
“Bahawa sesungguhnya ia mengkhatamkan al Quran antara zohor dan Asar dan mengkhatamkan antara Maghrib dan Isya’ dan mengkhatamkan antara Maghrib dan Isya’ di bulan Ramadhan sebanyak dua kali khatam dan lebih sedikit. Beliau mengakhirkan solat Isya’ pada Bulan Ramadhan sampai lewat seperempat malam ”
(al Azkar hal 86)

2. Diriwayatkan Ibn Abu Dawud dengan sanad sahih: “Bahawa Mujahid radiyaLLahu ‘anhu mengkhatamkan al Quran pada Bulan Ramadhan antara Maghrib dan Isya’ (Al Azkar hal 86)

3. Diceritakan dari sejumlah ulama’ salaf bahawa mereka mengkhatamkan al Quran dalam satu hari satu malam. Namun yang mengkhatamkan al Quran kurang dari tiga hari, mungkin kurang menghayati maknanya dan hanya membacanya. Sesuai hadith sohih riwayat Imam Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan lainnya dari AbduLLah ibn Umar Ibnu al Ash berkata : Adalah Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak akan faham orang yang membaca al Quran kurang dari tiga hari” (Al Adzkar hal 86)

Sumber: ASWAJA

25 June 2015 Posted by | Ibadah, Renungan & Teladan | Leave a comment

Adab Ifthar (Berbuka Puasa)

Oleh: Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan

Penerangan:
Terdapat pelbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkatan ketika berbuka puasa. Namun, ramai umat Islam yang melupakan hal tersebut disebabkan terlalu ghairah dan semangat untuk berbuka puasa sehingga hal yang lebih berkat dan Sunnah dilupakan contohnya seperti membawa doa makan. Oleh yang demikian, mari kita lihat amalan yang yang mudah dan ringkas untuk diamalkan ketika berbuka puasa.

1. MENYEGERAKAN BERBUKA PUASA
“Manusia akan sentiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Bukhari & Muslim)
Ini bermaksud ketika matahari telah tenggelam dan berkumandangnya azan, maka bersegeralah berbuka.

2. BERBUKA DENGAN ROTHB, TAMR & SETEGUK AIR
Dari Anas bin Malik r.a.; “Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah). Namun kurma basah jarang dijumpai dan yang sampai ke negeri kita hanya kurma kering. Jika tiada kedua-duanya, gantikanlah dengan makanan yang manis-manis seerti buah-buhan. Kata ulama’ Syafi’iyah, ketika puasa, pernglihatan kita berkurang, kurma itu sebagi pemulihnya dan makanan manis itu sama erti dengan kurma. Jika tiada juga, berbukalah dengan seteguk air.

3. MEMBACA ‘BISMILLAH’
“Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya kami makan dan tidak berasa kenyang?” Baginda bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab. “Ya” Baginda bersabda lagi “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya. (HR. Abu Daud)

4. BERDOA KETIKA BERBUKA
“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang berpuasa, doa orang yang dizalimi.” (HR Tirmizi)
Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya doa kerana ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

5. MINUM DENGAN TIGA NAFAS
“Rasulullah s.a.w biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut baginda, baginda menyebut nama Allah Taala. Jika selesai satu nafasm baginda bertahmid (memuji) Allah Taala. Baginda melakukan seperti ini tiga kali.” (Sahih, asSilsilah asSohihah)

6. BERDOA SELEPAS MAKAN
“Barangsiapa yang makan makanan kemudian mengucapkan “Alhamdulillahillazi ath’amani haaza wa rozaqani min ghairi haulin minni wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merezekikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Tirmizi)

7. MENDOAKAN ORANG YANG MEMBERI MAKAN KEPADA ORANG BERPUASA (Hadis seperti dalam imej).

Selamat berbuka. Moga barakah pada setiap waktu dan rezeki..

25 June 2015 Posted by | Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Ramadhan & Batalkah Puasa Kita Jika…

Oleh : Dr. Zaharuddin Abd Rahman
http://www.zaharuddin.net

Ulama terbilang dunia ketika ini, Dr Yusoff Al-Qaradhawi pernah menyebut dan meluah rasa kurang setuju beliau dengan tindakan para ulama yang terlalu meluaskan perbuatan yang membatalkan puasa. Beliau lebih setuju untuk mengecilkan skop dan ruang lingkup pembatalan puasa kepada perbuatan yang benar-benar terdapat dalil tepat dari al-Quran, al-Hadith dan disepakati ulama sahaja.

Beliau berpendapat perbincangan panjang lebar oleh ulama silam, antaranya para ulama dari mazhab Hanafi dan ulama mazhab-mazhab lain menyebut sekitar 57 bentuk perbuatan yang membatalkan puasa adalah adalah tindakan yang kurang sesuai. Malah ia juga amat digemari oleh ulama masa kini sehingga terdapat yang menghabiskan masa begitu lama untuk merangka fatwa, berijtihad dan meletakkan kaedah bagi sesuatu perbuatan. Adakalanya ia adalah isu yang tidak memerlukan perhatian begitu mendalam.

Masalah ini dilihat semakin bertambah, apabila ijtihad dalam bab ini semakin bercambah hingga menyebabkan kesukaran orang kebanyakkan (awam) menjalankan ibadah ini dengan tenang kerana perincian perbuatan yang membatalkan puasa amat cabang (furu’) dan terlampau banyak. Ia menyebabkan orang awam yang terhad kemampuan, masa dan rujukan sering berada dalam kebimbangan dengan isu batal dan tidak batal puasa ini. Lebih dikesali adalah perbincangan tentang ini juga ada meninggalkan perbincangan yang lebih besar berkenaan Ramadhan. (Taysir al-Fiqh – Fiqh As-Siyam, hlm 86-87)

Sebagai contoh, antara isu terbesar yang patut diberikan fokus mendalam di waktu Ramadhan adalah :-

1) Raih Taqwa & Mendapatkan Keampunan : Sangat jelas arahan Allah dan RasulNya menegaskan keperluan kita berusaha meraih taqwa dan keampunan di dalam bulan ini. Perbincangan berkenaan kaedah, cara dan cabaran yang boleh menghalang kita mencapai target ini perlu diberikan perhatian lebih.

2) Bulan Ingatan Fungsi Al-Quran : Firman Allah yang menyebut bahawa Al-Quran diturunkan di bulan Ramadhan ini sebagai petunjuk, dan bukti kebenaran petunjuk dan pembeza di antara haq dan yang batil. Justeru perbincangan berkenaan kemestian umat Islam kembali kepada Al-Quran sebagai satu-satunya formula untuk berjaya sebagai golongan bertaqwa dan selamat dunia akhirat perlu diperhebat.

3) Amaran Terhadap Pengikis Pahala Ramadhan Yang ‘Confirmed’ : Sabda-sabda Nabi berkenaan tindakan yang boleh menghapuskan pahala puasa Ramadhan seperti bercakap kotor, nista, carut dan perbuatan jahat dan keji di waktu bulan ini. Ia perlu dipertekankan kerana ia adalah perkara yang disepakati bakal merosakkan pahala puasa seseorang walaupun ia tidak sampai membatalkan zahir puasanya.

4) Kaedah Penambah Pahala & Redha Allah di Bulan Ramadhan Yang ‘Confirmed’: Sabda-sabda Nabi yang mengandungi janji-janji dan tawaran Allah di bulan ini juga perlu diperluas kepada orang ramai agar semakin ramai yang berpotensi ke Syurga Allah sekaligus melemahkan fungsi Syaitan dan nafsu amarah yang sentiasa ingin mengajak kepada kemaksiatan.
Adapun isu perkara yang membatalkan puasa, sewajarnya ditumpukan kepada hukum yang disepakati sahaja. Justeru, larangan yang disepakati tatkala puasa adalah menahan nafsu syahwat, menanggung lapar dan dahaga serta menahan diri dari bersetubuh dengan isteri di siang hari dengan niat ikhlas ibadat kerana Allah. Inilah yang dijelaskan dari al-Quran dan as-sunnah, demikian juga menjauhi kata-kata nista, bohong, mengumpat, cercaan dan lain-lain dosa anggota demi kerana Allah. Ia disebut di dalam ayat al-Baqarah : 187 dan disokong oleh hadith-hadith yang banyak.

Merokok, keluar darah haid atau nifas dan hilang aqal adalah dipersetujui secara sepakat ulama membatalkan puasa.

Adapun yang tidak disepakati, boleh dibincangkan cuma jangan sampai ia mengambil perhatian utama kita apabila berada di dalam Ramdhan. Sebagai panduan, berikut disertakan beberapa hukum secara ringkas berkaitan puasa yang kerap ditanya oleh orang ramai :-

1) Darah keluar dari tubuh ; samada untuk berbekam, ambil darah pesakit, menderma darah, tercedera, darah dari hidung, tangan dan lain-lain.

Hukumnya : Tidak batal puasa kerana yang membatalkan adalah yang masuk ke tubuh melalui saluran terbuka hingga ke perut dan bukannya ‘yang keluar’ dari tubuh. (As-Siyam Muhdathatuhu wa hawadithuhu, Dr Muhd ‘Uqlah, hlm 215). Manakala pandangan pembatalan puasa dengan berbekam yang berdalil hadith riwayat Abu Daud dan Ibn Majah dengan sanad sohih menurut Imam An-Nawawi, ia telah dipinda (nasakh) dengan hadith dari Ibn Abbas yang menyebut Nabi SAW berbekam dalam keadaan baginda berpuasa. (Riwayat Al-Bukari, 3/43) kerana hadith dari Ibn Abbas ini berlaku tatkala Haji Wida’ dan terkemudian dari hadith yang menyebut batal kerana bekam. (Tasysir al-Fiqh, Qaradawi, hlm 90). Malah ini juga padangan majority mazhab kecuali Hanbali. ( Bidayatul Mujtahid, 1/247)

2) Memasukkan sesuatu ke dalam rongga terbuka dan dikeluarkan kembali tanpa sampai ke perut dan yang seumpamanya di bahagian kepala.

Ia seperti memasukkan alat tertentu ke dalam kemaluan wanita atau dubur ketika proses perubatan yang berkaitan, demikian juga memasukkan jari ke dalam hidung, telinga, mulut dan dubur.

Hukumnya : Tidak membatalkan puasa kecuali jika alatan itu dibiar tinggal di dalam kemaluan tadi, kerana illah @ faktor penyebab batal puasa adalah masuknya sesuatu berfizikal ke perut. Terkecuali juga, wanita atau lelaki yang memasukkan jarinya ke dubur atau kemaluannya dengan tujuan nafsu, maka ia membatalkan puasa, tetapi jika tujuan istinja’ atau membasuhnya maka hukum yang lebih kuat menurut para ulama adalah tidak batal. (As-Siyam, Dr Md ‘Uqlah, hlm 211). Ini juga dipersetujui oleh Syeikh Atiyyah Saqar yang mengatakan masuk sesuatu ke telinga dan hidung yang tidak sampai ke perut atau bahagian otak adalah tidak membatalkan puasa. (Min Ahsanil Kalam fil Fatawa). Tidak dinafikan terdapat fatwa yang mengatakan batal, justeru, nasihat saya adalah lebih baik menjauhinya kiranya tiada tujuan yang agak mendesak. Kerana menjauhi yang khilaf (perbezaan pendapat) itu lebih baik.

3) Pil elak haid untuk puasa penuh :
Hukumnya : Harus dengan syarat tidak membawa mudarat kepada pusingan haidnya, dan memerlukan nasihat doktor Islam yang berwibawa. Namun yang terbaik adalah tidak menyekat haid, dan tidak menganggu kitaran fitrah yang telah ditentukan oleh Allah swt. selain itu wanita sedang haid juga masih boleh melaksanakan pelbagai jenis ibadah.

4) Penyembur gas untuk pesakit lelah :
Hukumnya : Baru-baru ini pada bulan Julai 2007, Persidangan Majlis Fiqh Antarabangsa di Putrajaya ada membincangkan isu ini. Isu ini amat kerap dibincangkan oleh para ulama seantero dunia dan mereka berbeza pandangan apabila sebahagian menyatakannya batal dan sebahagian lain menolak.

Menurut kajian terperinci bantuan para doktor, mendapati gas semburan itu punyai jisim-jisim putih yang jelas kelihatan jika di sembur di atas kertas. Selain itu, hampir 90 % darinya akan terus masuk ke tekak dan melekat di esophagus dan terus ke perut. Ini bermakna ianya jisim-jisim gas itu masuk ke perut setiap kali semburan. Justeru sudah pasti ia membatalkan puasa. Demikian pandangan awal dari Majlis Fiqh Antarabangsa yang bersidang Julai 2007 baru-baru ini, tetapi kemudiannya mereka menarik balik keputusan mereka untuk dibincangkan lebih terperinci dalam persidangan akan datang. Namun itu adalah pandangan sebahagian ulama kontemporari yang menyakini masuknya serbuk jisim gas ke dalam perut.

Bagaimanapun para ulama masih perlu bergantung kepada makumat jelas dari para doktor bagi memberikan fatwa tepat. Sebahagian ulama seperti Syeikh At-Tantawi, Syeikh Dr Muhd ‘Uqlah, menyebut hukumnya tidak batal kerana gas itu hanya terhenti di paru-paru dan tidak masuk ke perut. Manakala, ubat lelah jenis hidu melalui hidung adalah membatalkan puasa kerana ia akan masuk ke bahagian kepala. (As-Siyam, Dr Md Uqlah, hlm 226)

Namun jelas para ulama berhati-hati dalam memberikan keputusan dalam hal ini kerana menyedari walaupun serbuk-serbuk dari inhaler tersebut boleh memasuki ruang perut, namun ia adalah satu keperluan mendesak buat pesakit athma dan tidak pula dilaksanakan secara saja-saja, bukan pula kerana nafsu lapar.

Pandangan terpilih adalah TIDAK BATAL, kerana terdapat perbezaan informasi dan data oleh para pakar perubatan berkenaan ketepatan fakta masuknya jisim ke dalam perut pada setiap kali semburan dibuat. Justeru, hukum puasa adalah kekal di atas sifat asalnya iaitu sah selagi belum terdapat bukti nyata dan diyakini terbatalnya ia.

Sebagaimana kaedah Fiqh ”
والأصل بقاء الشيء على ما هو عليه
Ertinya : Hukum asalnya, kekalnya hukum sesuatu pada sifat sebelumnya.
Justeru, jika ada sekalipun jisim yang termasuk ke dalam perut, ia bukanlah makanan yang mengenyangkan dan bukan pula dilakukan secara suka-suka serta ia tergolong dalam ubat-ubatan yang diperlukan secara mendesak. Selain itu, jisim yang termasuk ke dalam perut pula adalah tergolong di dalam kategori DIMAAFKAN sebagaimana beberapa kadar air yang tertinggal di atas lidah dan dalam hidung semasa berkumur dan berwudhu. Wallahu’alam.

5) Suntikan ke dalam tubuh melalui tangan, kaki selain rongga terbuka yang asal:

Hukumnya : Terdapat dua jenis : samada untuk berubat atau untuk menguatkan. Jika ia digunakan untuk mengurangkan demam, bius, ‘pain killer’ dan apa jua tujuan asas perubatan, ia disepakati tidak membatalkan puasa (Al-Qaradawi, hlm 100 ; ‘Uqlah , hlm 226). Demikian juga hukumnya suntikan kalsium dan sebagainya untuk kekuatan badan demi perubatan.

Berkenaan suntikan makanan, airseperti glukos dan sepertinya untuk tujuan perubatan; para ulama sekali lagi berbeza pandangan :

Pandangan majoriti adalah : Tidak membatalkan puasa kerana ia tidak masuk ke dalam tubuh melalui rongga terbuka dan ia tidak mengenyangkan serta tidak bercanggah dengan hikmah puasa. Ia adalah fatwa oleh Syeikh Dr Yusof Al-Qaradawi, Syeikh Md Bakhit, Syeikh Abd Rahman Taj, Syeikh Ahmad As-Syurbashi, Keputusan Lajnah Fatwa Azhar tahun 1948 (Taysir Al-Fiqh As-Siyam, hlm 100; Fatawa Syar’iyyah, hlm 268 ; Yasalunaka, 5/53 dll ).

Bagaimanapun, suntikan jenis makanan ini membatalkan puasa terutama jika dilakukan secara sengaja untuk melarikan diri dari ujian keletihan lapar dahaga puasa.

6) Berkumur-kumur dan air masuk ke rongga hidung semasa wudhu.
Hukumnya : Tidak membatalkan puasa, cuma jika berlebihan berkumur ulama Syafie mengatakannya terbatal. Justeru, jauhilah berlebihan di ketika puasa adalah lebih baik.

Ia berdasarkan hadith : “Sempurnakan wudhu , basuhlah celah-celah jari jemarimu, dan lebih-lebihkan menyedut air ke hidungmu kecuali tatkala kamu berpuasa ( Riwayat Abu Daud , no 142 ; At-Tirmidzi, 788 ; Al-Hakim, Sohih menurut Ibn Khuzaymah, Ibn Hibban & Al-Hakim dan dipersetujui oleh Az-Zahabi ; albani ; Sohih).

7) Melakukan Maksiat seperti tidak solat

Hukumnya : Tidak batal puasa menurut majoriti mazhab dan ulama. Akan tetapi dosa maksiat itu akan ditanggung berasingan mengikut jenis maksiat, malah mungkin bertambah besar dosanya kerana mencarik kehormatan Ramadhan. Pahala puasanya pula akan terhapus. Selain itu, ia juga mencarikkan keseluruhan tujuan berpuasa iaitu bagi melahirkan insan taqwa, beroleh keampunan dan jauh dari maksiat. (Qaradawi, hlm 104) Nabi bersabda : “Barangsiapa sempat bertemu Ramadhan dan tidak diampun dosanya, maka semakin jauh ia dengan Allah” (Riwayat Ibn Hibban)

8) Mencium lelaki dan wanita semasa berpuasa

Hukumnya : Mencium isteri atau suami tatkala berpuasa, tidak batal menurut majoriti ulama.

Ia berdasarkan beberapa dalil antaranya :-
كان رسول اللَّهِ يُقَبِّلُ وهو صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وهو صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ كان أَمْلَكَ لِإِرْبِهِ
Ertinya : “Nabi S.a.w mencium dan bermesra (dengan isterinya) dalam keadaan ia berpuasa, tetapi baginda adalah seorang yang menguasai diri dan nafsunya” (Riwayat Abu Daud, 2/311 ; Syuaib arnaout : Sohih)

Dan satu lagi adalah : –
فجاء شاب فقال أقبل يا رسول الله وأنا صائم قال لا قال فجاء شيخ فقال أقبل وأنا صائم قال نعم قال فنظر بعضنا إلى بعض فقال النبي قد علمت لم نظر بعضكم إلى بعض إن الشيخ يملك نفسه رواه أحمد والطبراني في الكبير وفيه ابن لهيعة وحديثه حسن وفيه كلام
Ertinya : Kami bersama Nabi tiba-tiba didatangi oleh seorang pemuda dan bertanya : Aku berpuasa dan aku mencium isteriku, jawab nabi : Jangan ; tiba-tiba dating seorang tua dan bertanya soalan yang sama : Jawab nabi : Ye ( tiada masalah) ; kami kami saling berpandangan antara satu sama lain, maka nabi berkata :-
“aku tahu apa mengapa kamu saling berpandangan antara satu sama lain, sesungguhnya orang tua mampu mengawal dirinya (nafsu)” (Riwayat Ahmad dan At-Tabrani, sanad terdapat Ibn Lahi’ah yang diperkatakan tentangnya, menyebabkan hadis dianggap dhoif)

Al-Qaradawi pula menambah “berapa ramai orang tua zaman sekarang yang turut tidak mampu mengawal nafsunya ” (Fiqh As-Siyam, hlm 106 )

Kesimpulannya, ia tidak membatalkan puasa dan ciuman sebegini tidak harus jika ia boleh membawa mudarat seperti menaikkan nafsu dan boleh membawa kepada persetubuhan di siang hari Ramadhan.

9) Wanita tamat haid

Wanita tamat haid pada waktu malam dan sempat niat pada waktu malamnya sebelum naik fajar subuh. Ia dikira sah walaupun belum mandi hadas. Jika ia tidak sempat berniat sebelum fajar subuh, seperti belum makan dan minum apa-apa pada pagi itu, kemudian pada jam 8 pagi haidnya kering, ia tidak dikira boleh berpuasa pada hari itu kerana tiada niat bagi puasa wajib boleh dibuat selepas terbit fajar.

Demikian juga ditegaskan oleh majoriti ulama (Al-Mughni, Ibn Quddamah, 4/201)
Dalilnya adalah :-
من لم يُجْمِعْ الصِّيَامَ قبل الْفَجْرِ فلا صِيَامَ له
Ertinya : “Barangsiapa yang tidak berniat untuk puasa sebelum fajar, tiada puasa (wajib) baginya” ( Riwayat Abu Daud, 3/108 ; Albani : Sohih )

10) Keluar air mazi

Air mazi adalah air yang keluar dari kemaluan lelaki atau perempuan kerana naik syahwat. Banyak persoalan berkenaan keluarnya air mazi semasa berpuasa, samada ia membatalkan puasa atau tidak.?

Zahir dalam mazhab Hanbali menyatakan, ia membatalkan puasa.
Bagaimanapun mazhab Hanafi, Syafie, Awzai’e, Hasan albasri, As-Sya’bi dan Imam Ahmad dalam satu pendapatnya berfatwa keluarnya air mazi tidak membatalkan puasa. Saya lebih cenderung dengan pendapat ini.

11) Keluar air mani tanpa setubuh
Mencium dan menyentuh melalui onani sehingga keluarnya mani dengan syahwat adalah membatalkan puasa dan wajib qadha, ia adalah disepakati oleh seluruh ulama.

Adapun keluarnya air mani hanya kerana berfikir lucah dan melihat dengan syahwat, ia tidaklah batal menurut sebahagian ulama termasuk mazhab Syafie, Hanafi. (Al-Mughni, 4/159)

Manakala mazhab Hanbali dan Maliki mengatakannya batal.

Walau bagaimanapun, saya lebih cenderung dengan pendapat yang mengatakannya batal kerana ia benar-benar bercanggah dengan tujuan dan maqasid puasa dalam Islam. Selain itu, ia juga adalah sama dengannya keluar mani kerana sentuhan.

Keluar air mani kerana bermimpi di siang hari Ramadhan atau kerana sakit tertentu. Sepakat ulama menyatakan ia tidak membatalkan puasa.

12) Menelan air liur dan kahak
Hukum : Ia tidak membatalkan puasa disebabkan terlalu sukarnya untukmenjaga hal seperti ini. (Al-Mughni, Ibn Quddamah, 4/159). Manakala Kahak yang selagi ia belum sampai ke anggota mulut (sebelah hadapan lidah), iaitu masih berada pada had tekak maka tidak membatalkan puasa jika ditelan. Kerana ia masih tidak keluar daripada anggota zahir. Kahak yang sudah sampai pada mulut, inilah yang menjadi khilaf adakah membatalkan puasa atau tidak. Ada pendapat yang mengatakan batal dan ada pendapat yang mengatakan tidak batal. Sebahagian ulama berpendapat HARAM menelannya dengan sengaja kerana ia adalah kotoran.Jadi, kesimpulan yang terpilih adalah kahak yang sampai ke mulut haram ditelan dan kebanyakan ulama menyatakan ia membatalkan puasa. Manakala yang berada di bahagian pangkal lidah dan tekak, jika ditelan tidak membatalkan puasa.

13 ) Mandi

Tiada masalah untuk orang berpuasa mandi, ia tidak membatalkan puasa

Dalilnya adalah hadis yang menunjukkan Nabi s.a.w mengizinkan orang yang junub mandi selepas waktu subuh, namun mandi junub adalah wajib, bagaimana pula mandi sunat atau harian yang biasa?. Jawapnya ia tidak membatalkan puasa malah sahabat besar seperti Ibn Abbas juga pernah disebutkan mandi ketika berpuasa. Anas bin Malik pula adakalanya merendam kepalanya di dalam batu dipenuhi air (seperti telaga) akibat bersangatan panas. (Rujuk Fath Al-bari). Cuma puasa hanya boleh batal apabila seseorang mandi sambil mencuri minum sebagaimana yang mungkin dilakukan oleh para remaja dan lainnya, maka ia batal kerana minum dan bukan mandi itu sendiri.

14) Berniat berbuka atau membatalkan puasa sebelum waktu.

Tindakan sebegini adalah membatalkan puasa menurut mazhab Syafie, Hanbali dan Hanafi. Cuma jika dengan segera seseorang itu kembali berniat dan membetulkan niatnya tadi, puasa tidak terbatal.

Justeru, seluruh individu berpuasa wajib menjaga niatnya agar tidak terpesong untuk membatalkannya. Imam Ibn Qudamah menolak pandangan yang mengatakan tidak batal kerana ibadah itu adalah berdasarkan niat seperti solat juga yang akan terbatal jika berniat membatalkannya. (Al-Mughni, 4/175)

15) Mengosok gigi ketika berpuasa

Persoalan ini telah saya ulas di entry yang berbeza, sila ke tajuk link ‘Gosok Gigi Ketika Puasa’

Sekian,
Ramadhan Al-Mubarak dan selamat menjalani ibadah puasa untuk semua pengunjung zaharuddin.net
Zaharuddin Abd Rahman
13 Sept 2007
01 Ramadhan 1428 H
http://www.zaharuddin.net/

24 June 2015 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Kenapa Imam Mazhab Tidak Pakai Hadits Bukhari dan Muslim?

Kenapa para Imam Mazhab seperti Imam Malik tidak memakai hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang katanya merupakan 2 kitab hadits tersahih? Untuk tahu jawabannya, kita harus paham sejarah. Paham biografi tokoh2 tsb.

Imam Malik lahir tahun 93 Hijriyah. Sementara Imam Bukhari lahir tahun 196 H dan Imam Muslim lahir tahun 204 H. Artinya Imam Malik sudah ada 103 tahun sebelum Imam Bukhari lahir. Paham?

Apakah hadits para Imam Mazhab lebih lemah dari Sahih Bukhari dan Sahih Muslim?

Justru sebaliknya. Lebih kuat karena mereka lebih awal lahir daripada Imam Hadits tsb.

Rasulullah SAW bersabda, خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ “Sebaik-baik manusia adalah pada kurunku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in).”[HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533 ]

Siapakah pengikut ulama SALAF sebenarnya? 1) Imam Hanafi lahir:80 hijrah 2) Imam Maliki lahir: 93 hijrah 3) Imam Syafie lahir:150 hijrah 4) Imam Hanbali lahir:164 hijrah

Jadi kalau ada manusia akhir zaman yang berlagak jadi ahli hadits dgn menghakimi pendapat Imam Mazhab dgn Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, ya keblinger. Hasil “ijtihad” mereka pun berbeda-beda satu sama lain…

Biar kata misalnya menurut Sahih Bukhari misalnya sholat Nabi begini2 dan beda dgn sholat Imam Mazhab, namun para Imam Mazhab seperti Imam Malik melihat langsung cara sholat puluhan ribu anak2 sahabat Nabi di Madinah. Anak2 sahabat ini belajar langsung ke Sahabat Nabi yang jadi bapak mereka. Jadi lebih kuat ketimbang 2-3 hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari 100 tahun kemudian.

Imam Bukhari dan Imam Muslim pun meski termasuk pakar hadits paling top, tetap bermazhab. Mereka mengikuti mazhab Imam Syafi’ie.

http://kabarislamia.com/2014/12/13/siapakah-ulama-salaf-dan-pengikut-salaf-sebenarnya/

Menurut Ustad Ahmad Sarwat, Lc., MA, banyak orang awam yang tersesat karena mendapatkan informasi yang sengaja disesatkan oleh kalangan tertentu yang penuh dengan rasa dengki dan benci. Menurut kelompok ini Imam Mazhab yang 4 itu kerjaannya cuma merusak agama dengan mengarang-ngarang agama dan menambah-nambahi seenaknya. Itulah fitnah kaum akhir zaman terhadap ulama salaf asli.

Padahal Imam Mazhab tsb menguasai banyak hadits. Imam Malik merupakan penyusun Kitab Hadits Al Muwaththo. Dengan jarak hanya 3 level perawi hadits ke Nabi, jelas jauh lebih murni ketimbang Sahih Bukhari yang jaraknya ke Nabi bisa 6-7 level. Begitu pula Imam Ahmad yang menguasai 750.000 hadits lebih dikenal sebagai Ahli Hadits ketimbang Imam Mazhab.

Ada tulisan bagus dari Ustad Ahmad Sarwat, Lc., MA, yaitu:

Penelitian Hadits Dilakukan Oleh Empat Imam Mazhab

http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1410544221&title=benarkah-keshahihan-shahih-hanya-sebuah-produk-ijtihad.htm

Di antaranya Ustad Ahmad menulis bahwa para imam mazhab yang empat, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, sama sekali tidak pernah menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Kenapa?

Pertama, karena mereka lahir jauh sebelum Bukhari (194-265 H) dan Muslim (204-261 H) dilahirkan. Sementara Imam Malik wafat sebelum Imam Bukhari lahir. Begitu pula saat Imam Syafi’ie wafat, Imam Bukhari baru berumur 8 tahun sementara Imam Muslim baru lahir. Tidak mungkin kan para Imam Mazhab tsb berpegang pada Kitab Hadits yang belum ada pada zamannya?

Kedua, menurut Ustad Ahmad, karena keempat imam mazhab itu merupakan pakar hadits paling top di zamannya. Tidak ada ahli hadits yang lebih baik dari mereka.

Ketiga, karena keempat imam mazhab itu hidup di zaman yang lebih dekat ke Rasulullah SAW dibanding Imam Bukhari dan Imam Muslim, maka hadits mereka lebih kuat dan lebih terjamin keasliannya ketimbang di masa-masa berikutnya.

Dalam teknologi, makin ke depan makin maju. Komputer, laptop, HP, dsb makin lama makin canggih. Tapi kalau hadits Nabi, justru makin dekat ke Nabi makin murni. Jika menjauh dari zamannya, justru makin tidak murni, begitu tulis Ustad Ahmad Sarwat.

Keempat, justru Imam Bukhari dan Muslim malah bermazhab Syafi’ie. Karena hadits yang mereka kuasai jumlahnya tidak memadai untuk menjadi Imam Mazhab. Imam Ahmad berkata untuk jadi mujtahid, selain hafal Al Qur’an juga harus menguasai minimal 500.000 hadits. Nah hadits Sahih yang dibukukan Imam Bukhari cuma 7000-an. Sementara Imam Muslim cuma 9000-an. Tidak cukup.

Ada beberapa tokoh yang anti terhadap Mazhab Fiqih yang 4 itu kemudian mengarang-ngarang sebuah nama mazhab khayalan yang tidak pernah ada dalam sejarah, yaitu mazhab “Ahli Hadits”. Seolah2 jika tidak bermazhab Ahli Hadits berarti tidak pakai hadits. Meninggalkan hadits. Seolah2 para Imam Mazhab tidak menggunakan hadits dalam mazhabnya. Padahal mazhab ahli hadits itu adalah mazhab para ulama peneliti hadits untuk mengetahui keshahihan hadits dan bukan dalam menarik kesimpulan hukum (istimbath).

Kalaulah benar pernah ada mazhab ahli hadits yang berfungsi sebagai metodologi istimbath hukum, lalu mana ushul fiqihnya? Mana kaidah-kaidah yang digunakan dalam mengistimbath hukum? Apakah cuma sekedar menggunakan sistem gugur, bila ada dua hadits, yang satu kalah shahih dengan yang lain, maka yang kalah dibuang?

Lalu bagimana kalau ada hadits sama-sama dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi isinya bertentangan dan bertabrakan tidak bisa dipertemukan?

Imam Syafi’ie membahas masalah kalau ada beberapa hadits sama-sama shahihnya tetapi matannya saling bertentangan, apa yang harus kita lakukan? Beliau menulis kaidah itu dalam kitabnya : Ikhtilaful Hadits yang fenomenal.

Cuma baru tahu suatu hadits itu shahih, pekerjaan melakukan istimbath hukum belum selesai. Meneliti keshahihan hadits baru langkah pertama dari 23 langkah dalam proses istimbath hukum, yang hanya bisa dilakukan oleh para mujtahid.

Entah orientalis mana yang datang menyesatkan, tiba-tiba muncul generasi yang awam agama dan dicuci otaknya, dengan lancang menuduh keempat imam mazhab itu sebagai bodoh dalam ilmu hadits. Hadits shahih versi Bukhari dibanding-bandingkan secara zahir dengan pendapat keempat mazhab, seolah-olah pendapat mazhab itu buatan manusia dan hadits shahih versi Bukhari itu datang dari Allah yang sudah pasti benar. Padahal cuma Al Qur’an yang dijamin kebenarannya. Hadits sahih secara sanad, belum tentu sahih secara matan. Meski banyak hadits yang mutawattir secara sanad, sedikit sekali hadits yang mutawattir secara matan. Artinya susunan kalimat atau katanya sama persis.

Orang-orang awam dengan seenaknya menyelewengkan ungkapan para imam mazhab itu dari maksud aslinya : “Bila suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku”. Kesannya, para imam mazhab itu tidak paham dengan hadits shahih, lalu menggantungkan mazhabnya kepada orang-orang yang hidup dua tiga abad sesudahnya.

Padahal para ulama mazhab itu menolak suatu pendapat, karena menurut mereka hadits yang mendasarinya itu tidak shahih. Maka pendapat itu mereka tolak sambil berkata,”Kalau hadits itu shahih, pasti saya pun akan menerima pendapat itu. Tetapi berhubung hadits itu tidak shahih menurut saya, maka saya tidak menerima pendapat itu”. Yang bicara bahwa hadits itu tidak shahih adalah profesor ahli hadits, yaitu para imam mazhab sendiri. Maka wajar kalau mereka menolaknya.

Tetapi lihat pengelabuhan dan penyesatan dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Digambarkan seolah-olah seorang Imam Asy-Syafi’i itu tokoh idiot yang tidak mampu melakukan penelitian hadits sendiri, lalu kebingungan dan menyerah menutup mukanya sambil bilang,”Saya punya mazhab tapi saya tidak tahu haditsnya shahih apa tidak, jadi kita tunggu saja nanti kalau-kalau ada orang yang ahli dalam bidang hadits. Nah, mazhab saya terserah kepada ahli hadits itu nanti ya”.

Dalam hayalan mereka, para imam mazhab berubah jadi badut pandir yang tolol dan bloon. Bisanya bikin mazhab tapi tidak tahu hadits shahih. Sekedar meneliti hadits apakah shahih atau tidak, mereka tidak tahu. Dan lebih pintar orang di zaman kita sekarang, cukup masuk perpustakaan dan tiba-tiba bisa mengalahkan imam mazhab.

Cara penyesatan dan merusak Islam dari dalam degan modus seperti ini ternyata nyaris berhasil. Coba perhatikan persepsi orang-orang awam di tengah kita. Rata-rata mereka benci dengan keempat imam mazhab, karena dikesankan sebagai orang bodoh dalam hadits dan kerjaanya cuma menambah-nambahi agama.

Parahnya, setiap ada tradisi dan budaya yang sesat masuk ke dalam tubuh umat Islam, seperti percaya dukun, tahayyul, khurafat, jimat, dan berbagai aqidah sesat, sering diidentikkan dengan ajaran mazhab. Seolah mazhab fiqih itu gudangnya kesesatan dan haram kita bertaqlid kepada ulama mazhab.

Sebaliknya, orang yang harus diikuti adalah para ahli hadits, karena mereka itulah yang menjamin keshahihan hadits.

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Baca selengkapnya di:

http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1410544221&title=benarkah-keshahihan-shahih-hanya-sebuah-produk-ijtihad.htm

Menurut Ustad Ahmad Sarwat Lc, MA, Hadits di zaman Imam Bukhari yang hidup di abad 3 Hijriyah saja sudah cukup panjang jalurnya. Bisa 6-7 level perawi hingga ke Nabi. Sementara jalur hadits Imam Malik cuma 3 level perawi. Secara logika sederhana, yang 3 level itu jelas lebih murni ketimbang yang 6 level.

Jika Imam Bukhari hidup zaman sekarang di abad 15 Hijriyah, haditsnya bisa melewati 40-50 level perawi. Sudah tidak murni lagi. Beda 3 level saja bisa kurang murni. Apalagi yang beda 50 level.

Jadi Imam Bukhari dan Imam Muslim bukan satu2nya penentu hadits Sahih. Sebelum mereka pun ada jutaan ahli hadits yang bisa jadi lebih baik seperti Imam Malik dan Imam Ahmad karena jarak mereka ke Nabi lebih dekat.

24 June 2015 Posted by | Informasi, Tazkirah | Leave a comment

4 Golongan Lelaki Yang Akan Ditarik Masuk Ke Neraka Oleh Wanita

1. Ayahnya

Jika seseorang yang bergelar ayah tidak mempedulikan anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajarkan solat, mengaji, dan sebagainya. Dia membiarkan anak perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup kalau dangan hanya memberi kemewahan dunia saja. Maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya.

Duhai lelaki yg bergelar Ayah, bagaimanakah keadaan anak perempuanmu sekarang? Apakah kau mengajar solat dan puasa kepadanya? Menutup aurat? Pengetahuan agama? Jika tidak terpenuhi, maka bersedialah untuk menjadi bahagian dari Neraka.

2. Suaminya

Apabila suami tidak mempedulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul bebas. Membiarkan isteri berhias diri untuk lelaki yang bukan mahramnya.

Jika suami membiarkan isteri yang seperti itu walaupun suami adalah orang yang alim, suami adalah solatnya yang tidak pernah tinggal, suami adalah yang puasanya tidak pernah lalai. Maka dia akan turut ditarik oleh isterinya bersama-sama ke dalam Neraka.

Duhai lelaki yang bergelar Suami, bagaimanakah keadaan isteri tercinta sekarang? Dimanakah dia? Bagaimana akhlaknya? Jika tidak kau jaga mengikuti ketetapan Islam, maka terimalah keniscayaan yang kau akan sehidup semati bersamanya hingga Neraka.

3. Adik beradik Lelakinya

Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga kehormatan wanita jatuh pada adik beradik lelakinya (kakak, pakcik). Jika mereka hanya mementingkan keluarganya saja dan adik atau anak saudara mara dibiarkan dari ajaran Islam, maka tunggulah tarikan mereka di akhirat kelak.

Duhai lelaki yg mempunyai adik beradik perempuan, jangan hanya menjaga amalmu dan melupakan amanah yang lain. Kerana kau juga akan pertanggungjawabkan diakhirat kelak.

4. Anak Lelakinya

Apabila seorang anak lelaki tidak menasihati Ibunya perihal kelakuan yang tidak dibenarkan dalam Islam. Bila ibu membuat kemungkaran, mengumpat, memfitnah, mengadu domba, maka anak itu akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Dan bersama menemani ibunya di Neraka.

Duhai anak lelaki, sayangilah ibumu, nasihatilah dia jika bersalah atau lalai. Kerana ibu juga insan biasa, tak lepas dari melakukan dosa. Selamatkanlah dia dari ancaman neraka, jika tidak, kau juga akan ditarik menjadi teman di dalamnya.

Betapa hebatnya tarikan wanita. Bukan saja di dunia, tapi juga di akhirat yang tak kalah hebat tarikannya. Maka, kaum lelaki yang bergelar ayah, suami, saudara atau anak harus memainkan peran mereka dengan baik.

Petikan dari Al Marhum Habib Munzir bin Fuad Al Musawa

via: Pencinta Rasulullah (saw)

24 June 2015 Posted by | Tazkirah | , | Leave a comment

BOLEH MAKAN SELAGI AZAN SUBUH BELUM HABIS?

“Alamak dah azan…”

“Eh tak pe… Kan ada hadith kata boleh abiskan apa yang ada kat tangan…”

Perkara ni saya dah bahas dulu lagi (dlm FB lama / FB zaman bujang). Tapi sedihnya, masih ada lagi yang beranggapan macam tu. Kenapa ye? Sedih la kalau macam ni…

Golongan yang beranggapan bahawa: kalau seseorang sedang makan sahur, kemudian terdengar suara azan, maka masih boleh selesaikan makan atau minum buat kali terakhir (seolah-olah macam ada masa kecederaan) – golongan ini berhujah dengan hadith yg dikeluarkan oleh Imam Abi Daud:

إذا سمع أحدكم النداء والإناء على يده فلا يضعه حتى يقضي حاجته منه

"Apabila seseorang di antara kamu mendengar azan sedangkan di tangannya ada bekas (gelas dan sebagainya), maka janganlah dia meletakkannya sehinggalah dia menunaikan hajatnya daripada bekas tersebut"

Berhujah dengan hadith ini untuk mengatakan bahawa: "kalau seseorang sedang makan sahur, kemudian terdengar suara azan, maka masih boleh selesaikan makan atau minum buat kali terakhir" – adalah tidak tepat, disebabkan beberapa perkara:

1) MASALAH PADA SANAD

1.1:

Imam Ibnu Abi Hatim (pakar hadith) dalam kitab ‘Ilal-nya (Rujuk Kitab Al-‘Ilal, Jilid 1, halaman 123) menyebutkan:

وَسألت أبي عَنْ حديث رَوَاهُ رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ ، عَنْ حَمَّادٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ ، وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ " . قُلْتُ لأَبِي : وَرَوَى رَوْحٌ أَيْضًا عَنْ حَمَّادٍ ، عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِي عَمَّارٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ ، وَزَادَ فِيهِ : وَكَانَ الْمُؤَذِّنُ يُؤَذِّنُ إِذَا بَزَغَ الْفَجْرُ . قَالَ أَبِي : هَذَانِ الْحَدِيثَانِ لَيْسَا بِصَحِيحَيْنِ

"Dan aku telah bertanya kepada bapaku (Imam Abu Hatim Ar-Razi – pakar hadith) tentang hadith yang diriwayatkan oleh Rouh Bin Ubadah, daripada Hammad, daripada Muhammad bin ‘Amr, daripada Abi Salamah, daripada Abu Hurairah daripada Nabi SAW, Baginda SAW bersabda:

"Apabila seseorang di antara kamu mendengar azan sedangkan di tangannya ada bekas (makanan / minuman), maka janganlah dia meletakkannya sehinggalah dia menunaikan hajatnya daripada bekas tersebut"

Aku berkata lagi kepada bapaku bahawa Rouh juga meriwayatkan daripada Hammad, daripada ‘Ammar Ibn Abi ‘Ammar, daripada Abu Hurairah, daripada Nabi SAW sama seperti hadith di atas tetapi ada penambahan lafaz: "dan adalah muazzin melaungkan azan apabila telah terbit fajar".

Kata bapaku: "kedua-dua hadith (yang kamu sebutkan tadi) TIDAK SAHIH"

1.2:

Dalam kitab Ikmal Tahzib Al-Kamal (halaman 1325, Terbitan Al-Faruoq Al-Hadithiyyah), dinukilkan bahawa Imam Nasaie berkata berkenaan hadith di atas:

حمقاء أصحاب الحديث ذكروا من حديثه حديثا منكرا عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن أبي هريرة : إذا سمع أحدكم الأذان والإناء على يده

"Orang-orang yang bodoh daripada kalangan Ahli Hadith menyebutkan salah satu daripada hadithnya (hadith Hammad) ialah HADITH MUNKAR daripada Muhammad Ibn ‘Amr daripada Abi Salamah, daripada Abu Hurairah: "Apabila seseorang di antara kamu mendengar azan sedangkan di tangannya ada bekas…"

2) MASALAH PADA MATAN

2.1: Bercanggah dengan ayat Al-Quran

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

"Dan makanlah dan minumlah SEHINGGA jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam, iaitu FAJAR" (Al-Baqarah: 187)

Apabila azan subuh dilaungkan, maknanya waktu fajar sudah masuk. Maka tidaklah dibolehkan makan atau minum sebaik sahaja muazzin memulakan azan subuh.

2.2: Bercanggah dengan hadith yang LEBIH SAHIH

إن بلالا يؤذن بليل فكلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوم

"Sesungguhnya Bilal melaungkan azan pada waktu malam (sebelum masuk waktu subuh). Maka makanlah dan minumlah SEHINGGA Ibnu Ummi Maktum melaungkan azan (iaitu azan kedua atau azan subuh)" (Bukhari dan Muslim)

Hadith ini jelas menunjukkan bahawa apabila azan subuh sudah berkumandang, maka tidak dibenarkan lagi makan dan minum. Kecualilah jika sekiranya kita menyangka muazzin itu tersalah lalu melaungkan azan sebelum masuk waktunya.

2.3: Bercanggah dengan akal yang sihat

Katakanlah ada dua surau yang berhampiran yang jarak di antara keduanya tidak sampai 1km (dalam zon waktu solat yang sama). Surau A, muazzinnya azan agak laju. Dalam masa seminit, dia sudah selesai melaungkan azan. Surau B, azannya agak perlahan. Slow and steady je. Siap bawa taranum dalam azan. Muazzin Surau B habis azan dalam masa 2 minit (sebagai contoh). Maka, ahli kariah Surau B dapat ‘masa kecederaan’ lebihlah kalau macam tu? Adilkah? Bukankah kedua-dua surau terletak dalam ZON YANG SAMA? Jarak tak jauh kan? Macam mana boleh berbeza pula masa kecederaannya?

Andaikata Surau A tukar muazzin (sebab jeles dengan Surau B). Kali ini masa kecederaannya 2 minit setengah pula. Bolehkah macam tu? Bagai mana mungkin ibadat puasa yang agung ini ‘diikat’ dengan sesuatu yang tidak tetap macam ni?

3) ANDAIKATA HADITH DI ATAS SAHIH?

Andaikata hadith tersebut sahih sekalipun, kita perlu faham bahawa hadith Abu Daud di atas menceritakan tentang azan pertama, iaitu azan Saidina Bilal. Bukannya azan subuh. Hadith Bukhari dan Muslim pada point 2.2 di atas sangat jelas menunjukkan beza antara kedua-dua azan tersebut. Manakala hadith Abu Daud tidak sebut pun azan yang mana. Maka hadith Abu Daud itu perlu ditafsirkan dengan hadith Bukhari Muslim itu yang LEBIH SOHIH DAN SORIH. Inilah yang difahami oleh para ulama yang mensyarahkan Sunan Abi Daud sebenarnya.

3.1:

Pengarang Kitab Al-Manhal Al-‘Azb Al-Maurud Syarah Sunan Abi Daud berkata:

قوله إذا سمع أحدكم النداء الخ … أي الأذان الأول للصبح وهو أذان بلال فإنه كان يؤذن قبل طلوع الفجر ليرجع القائم ويتنبّهُ النائم كما تقدم .

"(Kata-kata) : ‘apabila salah seorang di antara kamu mendengar azan…’ : iaitu AZAN PERTAMA untuk subuh, iaitu azan Bilal, kerana Bilal melaungkan azan SEBELUM terbit fajar, agar orang yang berqiamullail balik ke rumah dan orang yang tidur pula berjaga, seperti mana yang (telah dijelaskan) sebelum ini"

3.2:

Maulana Khalil Ahmad As-Saharanpuri berkata dalam Bazlul Majhud (syarah Sunan Abi Daud):

هذا يحمل على قوله " إن بلالا يؤذن بليل فكلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوم " وقال البيهقي : هذا أرجح ، فإنه محمول عند عوام أهل العلم على أنه صلى الله عليه وسلم علم أن المنادِي كان ينادي قبل طلوع الفجر

“Hadith ini (hadith yang mengatakan boleh makan semasa azan) ditakwilkan mengikut hadith: "Sesungguhnya Bilal melaungkan azan pada waktu malam (sebelum masuk waktu subuh). Maka makanlah dan minumlah SEHINGGA Ibnu Ummi Maktum melaungkan azan (iaitu azan kedua atau azan subuh)" (Bukhari dan Muslim). Dan berkata Imam Al-Baihaqi: INILAH YANG LEBIH TEPAT. Kerana kebanyakan ahli ilmu mentakwilkannya dengan mengatakan bahawa Nabi SAW (membenarkan makan kerana Baginda SAW) mengetahui bahawa muazzin (pada ketika peristiwa itu) melaungkan azan sebelum terbit fajar”.

3.3

Dalam Syarah Sunan Abi Daud yang lebih ‘senior’, iaitu Kitab Ma’alim As-Sunan, pengarangnya, Imam Khattabi mensyarahkan hadith Abu Daud di atas dengan mengatakan:

هذا على قوله أن بلالاً يؤذن بليل فكلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوم ، أو يكون معناه إن سمع الأذان وهو يشك في الصبح

“Hadith ini (difahami) mengikut hadith: "Sesungguhnya Bilal melaungkan azan pada waktu malam (sebelum masuk waktu subuh). Maka makanlah dan minumlah SEHINGGA Ibnu Ummi Maktum melaungkan azan (iaitu azan kedua atau azan subuh)" (Bukhari dan Muslim). Atau makna hadith ini (hadith yang kata boleh makan) ialah: jika seseorang itu mendengar azan dalam keadaan dia syak benarkah telah masuk waktu subuh”

4) KEEMPAT-EMPAT MAZHAB TIDAK BERKATA : BOLEH MAKAN SELAGI AZAN BELUM TAMAT

Imam Nawawi menyebutkan dalam kitabnya, Al-Majmu’ (Jilid 6, halaman 324, Cetakan Al-Muniriyyah):

هذا الذي ذكرناه من الدخول في الصوم بطلوع الفجر وتحريم الطعام والشراب والجماع به هو مذهبنا ومذهب أبي حنيفة ومالك وأحمد

“Apa yang kami sebutkan ini, iaitu masuknya (bermulanya) waktu puasa DENGAN TERBITNYA FAJAR dan diharamkan makan, minum dan jima’ ini adalah mazhab kami dan mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad rahimahumullah”

KHATIMAH

Sudah jelas bahawa apabila kedengaran suara azan subuh, maka tidak dibolehkan lagi makan, minum dan jima’ pada waktu tersebut kerana azan itu menandakan masuknya waktu subuh, kecualilah jika kita menyangka muazzin tersalah lalu melaungkan azan sebelum waktunya. Manakala hadith yang dijadikan hujah tersebut perlu difahami dengan betul, selari dengan ayat Al-Quran, hadith Bukhari Muslim dan kefahaman para ulama zaman-berzaman. Sebagai penutup, marilah kita merenung kata-kata Imam Abdullah Ibnu Wahb:

كل صاحب حديث ليس له إمام في الفقه فهو ضال

“Setiap ahli hadith yang tidak mempunyai imam dalam ilmu fiqh adalah sesat”

Wallahu a’lam.

Akhukum fi As-sunnah,

Abu Raihanah Abdur Rahman Harman Shah Raniri

23 June 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Sheikh Nuruddin memberikan sebuah kata hikmah yang sangat diperlukan kita pada hari ini.

“Mungkin saja, satu kemaksiatan yang dilakukan seseorang, yang menjadikan hatinya bersedih dan kembali kepada Allah, maka itu lebih baik dari berbuat ketaatan tetapi ada takabbur. Maksiat yang membuatkan kita jadi malu, merasa hina, segan dengan Orang lain, itu jauh lebih baik dari banyak berbuat ketaatan, yang membuatkan kita jadi ujub dan sombong .”

Daripada kata hikmah ini banyak pengajaran boleh kita ambil :

1. Jangan hina pendosa

2. Jangan rasa hebat bila berbuat ketaatan

3. Jangan rasa selamat bila lihat diri dalam ketaatan

4. Jangan putus asa dari mohon keampunan

5. Sentiasa bersangka baik

6. Sentiasa melihat aib diri sendiri

7. Sentiasa tanam sifat malu kepada Allah

8. Sentiasa memohon taufiq & hidayah kepada Allah supaya diberikan cinta kepada Ketaatan.

Pesan Sheikh lagi, kalau kita berbuat ketaatan lihat permulaannya siapa yang beri kita taufiq dan hidayah untuk berbuat ketaatan (Yakni Allah), kalau melakukan maksiat, lihat penghujungnya, apakah nasib kita di alam akhirat, azab yang kita bakal hadapi jika melakukan maksiat, dosa dan kesalahan tersebut.

 

23 June 2015 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

KEJATUHAN TOTAL EMAPAYAR OTHMANIAH & KAITANNYA DENGAN BANK DAN HUTANG

KEJATUHAN TOTAL EMAPAYAR OTHMANIAH & KAITANNYA DENGAN BANK DAN HUTANG

Sejarah jatuh bangunnya Islam ada agenda tersembunyi yang perlu kita fahami, samada untuk mengelakkan kejatuhan atau mahu membangunkannya semula.

Bedah sejarah kali ini menyorot kembali kronologi kejatuhan Empayar Othmaniah dan kaitannya dengan bank dan hutang. Bagus dibaca oleh para pegawai negara dan ibubapa. Jika tidak faham sekali, silalah diulang baca semula.

Sepanjang kurun ke 19 berlaku proses perindustrian dan elektonik di Eropah. Ianya bukan satu proses semulajadi, tetapi satu perancangan pihak tertentu untuk mengaut keuntungan. Apa yang terjadi ? Kemajuan teknologi membawa saudara kembar yang menjadi ‘protokol atau prosedur’ bersama-samanya, iaitu bon-bon, sekuriti, wang kertas dan lain-lain instrumen kewangan.

Bermula dari projek pembinaan keretapi yang memerlukan modal yang besar, cara pembayaran Islam tidak lagi boleh dipakai. Mereka mensasarkan Turki sebagai pusat pemerintahan dan Mesir sebagai pusat intelektual Islam. Cara perniagaan atau muamalat Islam mesti diketepikan. Keputusan para Ulamak dalam hal-hal perniagaan tidak diperlukan lagi.

Sebelum itu umat Islam menguasai bidang perniagaan dan perdagangan. Masyarakat Yahudi dan Nasrani membayar jizyah bagi keselamatan mereka dan dibenarkan tidak ikut serta dalam urusan ketenteraan dan keselamatan negara.

Pekara yang sebaliknya berlaku selepas tugasan penyusunan semula masyarakat diserahkan kepada Bankers Yahudi, kononnya untuk memodenkan Khilafah Othmaniah. Orang Yahudi dan Kristian menjadi TUAN (Masters) yang kaya raya sedangkan rakyat Khilafah pula menjadi miskin.

Seterusnya Sultan Mahmud II pula buat silap. Beliau membentuk Tentera Diraja bermodelkan tentera British. Tentera jihad yang bermodalkan tauhid diganti dengan tentera ‘bergaji’. Sistem demokrasi diperkenalkan. Jawatan Wazir Besar diganti dengan Perdana Menteri. Cukai dinaikkan.

Kemudian Tanzimat (reformasi) diperkenalkan pada tahun 1839 oleh Sultan Abdul Mecit. Sistem Kerajaan Tempatan digantikan dengan model Perancis. Ini menyebabkan sistem perniagaan Bazaar juga khidmat masyarakat melalui waqaf yang dipanggil ‘imaret’ dan ‘millet’ (majlis perlindungan bagi golongan minoriti) tidak lagi berfungsi .

Pendidikan dua aliran diperkenalkan, iaitu tradisional dan sekular yang bertulang belakangkan stok, bon dan lain-lain institusi kewangan moden. Penjajahan ini berlaku secara tidak sedar atas nama ‘memodenkan’ empayar Othmaniah.

Undang-undang Islam ke atas status ahlu Zhimmah dihapuskan. Reformasi Tanzimat memfokuskan kepada pemusatan pentadbiran (administrative centralization) menggantikan sistem Autonomi Amiriah tempatan.

Tiga wazir yang menjayakan tanzimat ialah Rechid, Ali dan Fuad Pasha. Mereka bersahabat baik dengan banker Yahudi bernama Camondo. Mereka menghabiskan banyak masa mereka di Paris mempelajari teknik permodenan barat. NASIHAT DARI FINANCIAL PLANNER YAHUDI diperlukan bagi memodenkan empayar.

Kebanyakan orang Yahudi di Istanbul tinggal di Galata. Isaac Camondo menubuhkan Bank Camondo pada tahun 1802. Saudaranya Abraham-Salomon Camondo menggantikannya pada tahun 1832. Kerana sumbangannya yang besar kepada agenda reformasi tanzimat beliau dianugerahkan “Nishan-I Iftihar” dan menjadi Komander Mejidiye pada tahun 1849.

Pada tahun 1842 wang kertas KAIMA diperkenalkan menggantikan Dinar dan Dirham. Ini membawa kepada penguasan banker YAHUDI ke atas kedaulatan khilafah. Secara tidak sedar, para banker ini dijemput untuk mencipta system kewangan moden berunsur riba melalui bon, kredit, saham dan pengeluaran wang kertas yang dikuasai banker Yahudi. Reformasi kewangan ini memberi mereka peluang untuk membuka bank-bank baru.

Pada tahun 1845 Kerajaan Othmaniah bersama Mm. Alleon dan Theodore Baltazzi menubuhkan Bank of Constantinople bagi tujuan memberi pinjaman kepada kerajaan.

Perang Krimea memberi peluang kepada banker Yahudi berkembang dalam empayar Othmaniah. Ini kerana kerajaan memerlukan dana untuk peperangan. Bank memberi pinjaman dengan interest.

Ottoman Bank ditubuhkan pada tahun 1856. Ia menjadi satu langkah kepada penubuhan bank pusat dengan dana dari luar dengan jumlah 500,000 Pound Sterling. Transformasi modal persendirian kepada Bank Pusat membawa kepada system kuasa berada di tangan para pemilik banker Yahudi Antarabangsa.

Keluarga Rothschilds yang terlibat dalam penubuhan Federal Reserve USA juga turut terlibat atas nama pelaburan melalui ‘Alphonse de Rothchilds’. Bapanya James Rothschilds membuka cawangan French Rothchilds Bank di Istanbul.

Kerja-kerja untuk penubuhan bank pusat akhirnya berjaya dengan tertubuhnya ‘La Bank Imperiale Ottomane’ pada tahun 1863 dengan bantuan Yahudi bernama Emil dan Isaac Pereire. Ini model yang menjadi superbank seterusnya dari Bank pusat kepada Bank Dunia dan International Monetary Fund.

Bank ini menjadi bankers bank dengan deposit, pengumpul dan pengedaran kredit. Ia akan menentukan kadar antara Bank, memberi pinjaman, mengurus jual beli, membincang pembelian komoditi, memberi dana, melibatkan diri dalam projek pelaburan dan mengeluarkan serta mencetak wang baru.

Bank Camondo hanyalah bank biasa. Ottoman bank pula ialah bank dengan dana tempatan. Seterusnya bank baru Imperial Ottoman bank menjadi Bank Pusat dengan dana antarabangsa. Satu system ‘penguasaan kewangan’ telah diletakkan batu asasnya di situ.

Bank ini akan menyerap masuk dalam setiap aktiviti masyarakat bermula dari kedai runcit lagi. Tiada aktiviti masyarakat yang terlepas dari sistem Bank. Dari aktiviti jual beli, simpanan, seterusnya dana kewangan dan pelaburan, semuanya melibatkan bank.

MEREKA BERJAYA MENJADI TUAN KEPADA DUNIA (Masters of the Worlds). Pada tahun 1858 bankers Yahudi telah meletakkan syarat pinjaman dengan ‘jaminan tranformasi sosial’ kepada Kerajaan Othmaniah. Ini menunjukkan sistem ekonomi hutang berkait rapat dengan ‘kejuruteraan sosial’.

PADA WAKTU ITU JIZYAH SUDAH BERKUBUR. Bank Yahudi bertapak, sistem politik Nasrani Kristian sudah jadi penggerak Empayar Othmaniah ! Hak menandatangani kerajaan tergadai kepada peminjam wang. Tahun itu juga, ‘undang-undang tanah baru’ menafikan hak Sultan. Seterusnya tahun 1867, ORANG ASING DIBENARKAN MEMBELI TANAH.

STRATEGI DI SEBALIK PROJEK KERETAPI

Projek keretapi menghubungkan Istanbul ke Vienna. Austria dikatakan akan menghubungkan dunia Islam dan Eropah. Oleh kerana projek ini begitu besar, begitu jugalah besarnya peranan penipuan oleh bank-bank Yahud di London, Paris dan Brussel dalam membiayai projek ini dengan bon-bon kerajaan Othmaniah.

Pada tahun 1873 berlaku ‘Crash 1873 ‘ yang membawa kepada kejatuhan nilai bon-bon tersebut. Projek ini bukan sahaja pembangunan fizikal dalam bentuk ‘konkrit bangunan’ semata-mata. Ia suatu gerakan yang mengatasi ruang lingkup sempadan nasional dan bangsa, tetapi didalangi dengan angka-angka pada dokumen kewangan yang dipanggil saham dan bon.

Pada tahun 1875 Kerajaan Othmaniah DIISTIHARKAN MUFLIS kerana tidak mampu membayar hutang. Suruhanjaya Asing dilantik mewakil pemegang saham asing. Kerajaan terpaksa mengenakan CUKAI TERHADAP RAKYAT.

Serbia memberotak. Bosnia diserahkan kepada Austria di bawah bendera Othmani. Jalan keretapi tidak siap tetapi separuh dari perniagaan laut telah jatuh ke tangan British.

Kesan mengurangkan perjalanan dari Vienna ke Istanbul dari seminggu ke 40 jam ialah KEJATUHAN KHILAFAH OTHMANIAH itu sendiri.

Sultan Abdul Hamid menjadi Khalifah pada tahun 1876. Beliau mahu kembali kepada pemerintahan asal Othmaniah sebelum reformasi tanzimat. Beliau menolak sistem hiraki barat dan mahukan sistem topkapi dan imaret diperintah oleh keluarga diraja Othmaniah semula. Beliau tidak percaya kepada pegawai-pegawai yang berkhidmat sebelumnya. Secara beransur-ansur beliau mengurangkan peranan mereka dalam kerajaan dan akhirnya beliau BERJAYA MENGURANGKAN HUTANG KERAJAAN.

Pada tahun 1896, perwakilan Zionis telah menemui beliau. Demi mendapatkan Palestin, mereka tawarkan untuk memperbaiki keadaan krisis kewangan yang dihadapi oleh kerajaan Othmaniah.

Bagaimana golongan yang tidak mempunyai tanahair sendiri boleh membuat tawaran kepada pewaris salah satu empayar terbesar dunia? Jawapannya ialah satu bentuk KUASA BARU TELAH MUNCUL. Kuasa bank telah mengatasi kuasa kerajaan atau kuasa politik. Kuasa tidak lagi dalam bentuk ketenteraan tetapi dalam bentuk jumlah nombor wang dalam bank. Politik dijadikan alat untuk mengawal masyarakat sahaja. Kuasa politik pula dijadikan alat bank untuk menjayakan projeknya.

Sultan Abdul Hamid bertegas. Beliau telah mengungkapkan kata-kata bersejarah yang ditujukan kepada Herzl melalui utusan yang dihantar untuk perundingan tersebut :

“Saya cadangkan supaya dia (Hezrl) tidak meneruskan usaha mendapatkan tanah Palestin. Saya tidak akan menjualnya walau sejengkal kerana ianya bukan milik saya, tetapi milik rakyat saya. Mereka telah membentuk dan mengekalkan Empayar ini dengan pengorbanan dan darah. Kami akan pertahankannya dengan darah kami sebelum menyerahkannya kepada sesiapapun. Puak yahudi boleh simpan sahaja wang mereka yang banyak itu. Bila Empayar ini berpecah nanti, maka mereka bolehlah ambil Palestin secara percuma. Tetapi mesti langkah mayat kami dahulu, dan saya tidak akan membenarkan ianya berlaku atas sebab apapun..”

Akhirnya Sultan Abdul Hamid digulingkan pada tahun 1908. Pada tahun itu juga, pejabat pertama zionis di buka di Palestin di bawah firma Rohschilds. Maka berakhirlah empayar Othmaniah walaupun ia masih belum secara rasmi sehingga tahun 1924. (Bersambung)

KESIMPULAN

Perhatikan bagaimana sejarah kembali berulang. Bagaimana dirancang pembangunan, berjual beli dengan hutang dalam agenda memufliskan dan menawan sebuah negara.

Bila sudah dicekik sampai lemas, Zionis akan masuk dengan skrip membebaskan hutang melalui sistem kewangan ciptaan mereka. Mangsanya adalah rakyat yang menyerahkan sepenuh kepercayaan kepada pemimpin untuk membela nasib mereka.

Pattern sejarahnya sama sahaja kerana mereka menggunakan ilmu keruruteraan sosial yang sama. Kita digula-gulakan dengan pembangunan projek mega, ditawarkan hutang dan hujungnya menggadai negara melalui bon, sukuk, emas dan hasil negara.

Semuanya terjadi kerana wang. Sistem ekonomi dan pengurusan hazanah negara melalui konsep baitulmal ciptaan Islam ditinggalkan dan diganti dengan sistem beracun ciptaan musuh Islam yang sengaja direka untuk melemahkan dan membunuh kita.

Ini bukan rekayasa seperti amalan biasa keyboard warrior. Kita sedang berhadapan dengan satu agenda besar tanpa kebanyakan dari kita sedar dan percaya. Cendiakawan kewangan kita yang sedang menasihati pemimpin negara juga tidak ‘merasa sesuatu yang pelik’ kerana ekosistem ilmu mereka juga sudah diadun dari sumber yang sama.

Kita perlukan evolusi dan revolusi yang mantap, bukan sekadar reformasi dan transformasi yang flip flop dan bersifat wal hasil balik asal.

Oleh itu, kami yakin khilaf ini akibat liciknya musuh negara, juga kerana kejahilan serta kelalaian pemimpin dan para penasihatnya. Daripada marah dan kecewa, kita sudah mula kasihan dan simpati pada kejahilan mereka. Tidak dapat kami bayangkan betapa setiap malam adalah mimpi ngeri bagi para pemimpin negara yang memikirkannya (kecuali yang jenis ‘happy go lucky’).

Adalah menjadi tanggungjawab kita untuk saling ingat mengingati dan nasihat menasihati, dengan sabar dan penuh kasih sayang. Khilaf yang telah berlaku harus kita sama-sama bantu mencari penyelesaiannya, bukan sekadar mengutuk dan menyumpah semata-mata. Jika gagal, kita semua bakal menanggung akibatnya samada suka mahupun terpaksa. Sekali terjajah, berabad kita bakal menderita.

Kisah seterusnya akan menyentuh kronologi sampingan yang menyebabkan kejatuhan empayar Othmaniah dan kejatuhan Palestine.

Bedah sejarah
WARGA PRIHATIN

Dari Whatsapp Ust Abdul Halim Abdullah.

23 June 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

KELEBIHAN PUASA DI BULAN RAMADAN | Laman Web Rasmi JAIS

KEWAJIPAN BERPUASA

Firman Allah ( Ayat Al-Baqarah ayat 183 dan 185 )

“Wahai orang-orang beriman!! Kamu diwajibkan berpuasa sebagimana yang diwajibkan ke atas orang-orang yang dahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa”.

Bagi orang-orang Islam yang beriman, bulan Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan ketibaannya oleh setiap ummat Islam, memandangkan ia bulan yang mulia dan memberi begitu banyak manfaat dan keistimewaan, faedah, fadhilat dan masa depan yang cerah bagi mereka yang tahu dan menghayatinya.

KEUTAMAAN RAMADHAN

Terdapat puluhan hadis Rasulullah saw yang menjelaskan tentang fadhilat dan keutamaan pusa di bulan Ramadhan, bukan sahaja untuk manfaat ummat Islam di akhirat kelak, malah ianya memberi faedah yang besar untuk kesihatan tubuh badan manusia di dunia ini.

ANTARA FADHILAT DAN KELEBIHAN BERPUASA DI BULAN RAMADHAN.

1. Pintu langit dibuka

2. Pintu-pintu syurga di buka

FADHILAT YANG LAIN

1. Mereka yang berpuasa akan mendapat balasan syurga

2. Orang yang berpuasa dimakbulkan permintaanya oleh Allah SWT

3. Orang yang berpuasa mendapat 2 kegembiraan iaitu semasa berbuka dan apabila bertemu dengan Allah pada hari kiamat kelak

4. Orang yang berpuasa mendapat peliharaan Allah Swt

5. Orang yang berpuasa dengan sempurna dijanjikan mahligai yang indah di syurga

6. Setiap kali sujud orang yang berpuasa, dikurniakan 1700 kebajikan, dibinakan mahligai di syurga dan 70,000 malaikat memohon keampunan baginya dari pagi hingga petang.

AMAL IBADAH DI BULAN RAMADHAN

Dalam khutbah terakhir bulan Sya’ban untuk persediaan menghadapi bulan Ramadhan, Rasulullah saw telah memberi nasihat kepada ummat Islam supaya menyempurnakan amal ibadah sepanjang bulan ramadhan, antaranya ialah:

Solat sunat Tarawih
Solat-solat sunat yang lain
Bantu membantu sesama umat islam seperti bersedekah dan seumpamanya
Memberikan hidangan berbuka puasa
Banyakkan membaca tahlil
Banyakkan beristighfar dan bertaubat, memohon keampunan kepada Allah swt
Banyakkan berdoa memohon syurga dan perlindungan dari azab neraka
Banyakkan bersabar, kerana bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran.
Tinggalkan dan jauhi dari segala perbuatan maksiat dan kemungkaran, kerana ia boleh menghapuskan ganjaran pahala ibadah kita.

Oleh itu marilah sama-sama kita berpuasa dengan seikhlas-ikhlasnya. Jangan kita hanya berpuasa, kerana ikut orang lain berpuasa atau kerana bapa kita puasa, maka kita juga kena puasa. Hayatilah kelebihan-kelebihan berpuasa, agar kita sempurna di dunia dan di akhirat.

Sumber:
Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS),
Bangunan Sultan Idris Shah,
Tingkat 1 Menara Selatan
No 2 Persiaran Masjid,
40676 Shah Alam Selangor
Tel: 03-55143400 Fax: 03-55103368
Email: info@jais.gov.my

23 June 2015 Posted by | Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Bulan Ramadhan berhenti bercerita hal orang….

Di bulan Ramadhan yang mulia ini, berusahalah untuk BERHENTI bercerita peribadi atau urusan individu ORANG LAIN. Termasuklah dari komen-komen di media sosial ini. Komen di berita-berita akhbar yang menyentuh urusan orang lain yang tiada kena mengena dengan kita.

JANGAN sampai puasa itu hanya lapar dahaga tetapi Allah swt tidak mengendahkannya.

Nabi bersabda Ertinya :
Sesiapa yang tidak meninggalkan kata-kata buruk, dan perbuatan buruk, maka tiadalah bagi Allah hajat kepada penahanan makanan dan minuman (seseorang yang berpuasa itu)”
( Riwayat Al-Bukhari)

Ibn Al-`Arabi dan al-Qaradawi masing-masing mengulas bahawa pahala puasa akan hancur dengar kesalahan-kesalahan ini, puasa tidak batal tapi pahalanya batal, hingga jadilah puasanya kosong, lagi gagal menghasilkan taqwa yang menjadi sasaran.

Umar ibn Al-Khattab berkata :
“Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari bercakap bohong, tipu dan cakap kosong”

Ust Zaharuddin.

23 June 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

KATA-KATA HIKMAH IMAM AS-SYAFIE. RH

KATA-KATA HIKMAH IMAM AS-SYAFIE. RH
.
“Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya, cinta dunia sekaligus cinta Allah, maka dia telah berdusta.”
– (Imam AsSyafie)
.
“Jika ada seorang yang ingin menjual dunia ini kepadaku dengan nilai harga sekeping roti, nescaya aku tidak akan membelinya.”
– (Imam asSyafi’e)
.
“Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung peritnya kebodohan.”
– (Imam asSyafie)
.
Berapa ramai manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kapannya sedang ditenun.
– (Imam asSyafie)
.
Orang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu, merantaulah ke negeri orang.
– (Imam asSyafie)
.
Aku tidak pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika dia berpendapat salah.
– (Imam asSyafie)
.
Jangan cintakan orang yang tidak cintakan Allah. Kalau dia boleh meninggalkan Allah, apalagi meninggalkan kamu.
– (Imam asSyafie)
.
Barangsiapa yang menginginkan Husnul Khotimah, hendaklah ia selalu bersangka baik sesama manusia.
– (Imam AsSyafie)
.
“Pentingnya menyebarkan ilmu agama.
– (Imam asSyafie)
.
Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak, Menjadi mati lalu membusuk.”
– (Imam syafie)
.
“Doa di saat tahajud adalah umpama panah yang tepat mengenai sasaran.”
– (Imam Syafie)
.
“Kamu seorang manusia yang dijadikan daripada tanah dan kamu juga akan disakiti (dihimpit) dengan tanah.” – (Imam as Syafie)
.
Perbanyakkan menyebut Allah daripada menyebut makhluk. Perbanyakkan menyebut akhirat daripada menyebut dunia.
– (Imam asSyafie)
.
Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat.”
– (Imam Syafie)
.
Seorang sufi tidak menjadi sufi jika ada pada dirinya 4 perkara: malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.
– (Imam asSyafie)
.
Sesiapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi maka ia benar-benar menasihatimu. Sesiapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu”
– (Imam asSyafie)
.
Empat perkara menguatkan badan
1. makan daging
2. memakai haruman
3. kerap mandi
4. berpakaian dari kapas
.
Empat perkara menajamkan mata:
1. duduk mengadap kiblat
2. bercelak sebelum tidur
3. memandang yang hijau
4. berpakaian bersih
– (Imam asSyafie)
.
“Dosa-dosaku kelihatan terlalu besar buatku, tapi setelah kubandingkan dgn keampunanMu Ya Allah… ternyata keampunanMu jauh lebih besar.”
– (Imam syafie)
.
“Bumi Allah amatlah luas namun suatu saat apabila takdir sudah datang, angkasa pun menjadi sempit”
– (Imam asSyafie)
.
Letakkan akhirat di hatimu, dunia di genggaman tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu.
– (Imam asSyafie)
.
Sebesar-besar aib (keburukan) pada diri sesaorang adalah orang yg asyik mencari dn mengata keburukan orang lain sedangkan keburukan itu terdapat dalam diri nya sendiri.
– (Imam asSyafie)
.
Aku mampu berhujah dgn 10 orang berilmu, tapi aku akan kalah pada seorang yg jahil kerana dia tak tahu akan landasan ilmu.
– (Imam asSyafie)

Sumber.

20 June 2015 Posted by | Bicara Ulama, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

ALLAH ADAKAN DISETIAP NEGERI (TIDAK KIRA SIAPA YG

Firman Allah Taala maksudnya:

“Dan demikianlah Kami adakan disetiap dalam tiap2 negeri orang besar yang jahat supaya mereka melakukan tipu daya dinegeri itu. Padahal tiadalah mereka memperdayakan selain daripada dirinya sendiri ( kerana merekalah yang akan menerima akibat yang buruk), sedang mereka tidak menyedarinya.”

(Surah An-An’am 6/ Ayat 123)
——————————-

Mengikut Tafsir Al-Maraghiy,
Sesungguhnya sunnah Allah Swt kepada umat manusia telah ditetapkan, bahwa setiap kota besar dari suatu bangsa atau umat, samada dikalangan mereka telah diutuskan rasul atau tidak, terdapat para pemimpin jahat yang melakukan tipu daya keatas rasul atau orang2 yang salih.

Demikianlah halnya berlaku pada setiap generasi umat manusia, apalagi pada masa sekarang yang penuh dengan kerakusan dan ketamakan untuk naik menjadi pemimpin atau pembesar negara.

Yang adanya untuk mendaki tangga naik keatas itu dari awal lagi telah menggunakan pelbagai cara penipuan dan tipu helah bagi memastikan seseorang pemimpin itu dapat naik keatas menjadi pemimpin utama disebuah negara.

Yang dimaksudkan pemimpin jahat iaitu orang yang melawan seruan kearah kebaikan dan memusuhi para ulama’ pewaris nabi2 dan juga memusuhi mereka yang melakukan kerja2 amar maaruf dan mencegah kemungkaran.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir pula,

Ibnu Abi Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ayat ” penjahat2 yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu” yakni Allah menjadikan orang2 yang paling jahat diantara mereka sebagai penguasa, lalu mereka berbuat durjana dinegeri tersebut. Jika mereka melakukan demikian , maka Allah akan binasakan mereka dengan azab.

Hakikat dalam masyarakat dulu dan kini;

Ramai para pemimpin utama Quraisy di Makkah dulu memiliki sifat2 begini , diantaranya Abu Jahal, Abu Lahab, Utbah, Abu Suffian dan lainnya.

Orang2 yang memiliki sifat yang sama dizaman mutakhir ini adalah meneruskan kerja2 keji yang pernah dilakukan oleh pembesar Quraisy itu.

Allah Swt menegaskan para pemimpin yang melakukan kerja tipu daya ini, sesungguhnya mereka menipu diri mereka sendiri.
Sunnatullah telah menunjukkan bahwa setiap kerja jahat itu akan terkena balik pada diri si pelakunya sendiri.

Allah Swt telah memberikan jaminan bahwa perjuangan menegakkan yang hak itu akhirnya dapat mengalahkan perjuangan yang batil.

Ayat diatas memberikan motivasi kepada Rasulullah Saw dan para sahabat Ra untuk bersabar dalam perjuangan Islam
menghadapi puak kuffar di Makkah dan Madinah .

Ayat ini sudah pasti memperingatkan setiap pendukung risalah Islam dan juga kerja2 dakwah bahwa setiap kerja2 kebaikan itu
akan penerima penentangan dari para pemimpin yang ada kerana mereka itu akan berusaha bermatian untuk mengekalkan kuasa yang mereka ada.

Kita renung sejenak kepada sejarah bumi Masir , apa yang telah dilakukan oleh Gamal Abdul Nasir, Anwar Sadat, Hosni Mubarak dan juga Al-Sisi. Berapa ramai para pemimpin Islam telah dianiaya .

Banyak lagi pemimpin2 dunia umat Islam yang telah mencatatkan sejarah hitam dinegara masing2.

Akhir sekali, berwaspada terhadap para pemimpin yang diberi gelaran “orang2 besar yang jahat” ini kerana sekiranya kita membantu para pemimpin yang jahat dan zalim itu dikhuatiri diri kita sendiri akan terkena percikan api neraka , seperti yang disebutkan dalam surah Hud 11/ayat 113 yang bermaksud:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang2 zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sesungguhnya kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah…”

Ingatlah, ini amaran keras daripada Allah Swt sendiri dalam Al-Quran !

Rujukan

Tafsir Ahmad Mustaffa Al-Maraghiy – Jilid 4

Sahih Tafsir Ibnu Katsir -Jilid 3

(Sumber)

20 June 2015 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

MASUK SYURGA MELALUI PINTU YANG DISUKAI

Siapakah wanita yang menjadi ahli syurga? Apakah ciri2 atau sifat2 yang menjadi kunci bagi wanita memasuki syurga? Sebuah hadith Nabi menyatakan:
Daripada Anas,Nabi ﷺ bersabda yang bermaksud:
“Apabila seorang perempuan mendirikan sembahyang lima waktu,BERPUASA SEBULAN (RAMADHAN),menjaga kehormatan dan taat kepada suami,dia akan disuruh memasuki syurga melalui MANA2 PINTU YANG DIA SUKAI (Hadith riwayat Ahmad)

Berpuasa sepanjang Bulan Ramadhan adalah kewajipan wanita yang akan MEMUDAHKANNYA untuk masuk syurga DARI ARAH PINTU MANA SAHAJA YANG DIA SUKAI.Keistimewaan ini tidak dimiliki oleh lelaki.Ini menunjukkan Allah meninggikan martabat dan darjat wanita solehah selama mereka menunaikan perintah Allah dan menjaga dari segala yang diharamkan ke atas mereka.

(Rujukan Kitab Kunci Mendapatkan Syurga di Dunia dan Akhirat,Bab 14: Masuk Syurga Melalui Pintu Yang Disukai,mukasurat 191)

19 June 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Utamakan pembetulan tajwid

Utamakan pembetulan tajwid berbanding mengejar2 untuk khatam Quran semasa tadarus
Ibnu ‘Abbas Rodiyallahu ‘Anhuma berkata: Aku lebih suka membaca surah2 yang pendek   al-Qari’ah ataupun al-Zalzalah dengan TARTIL (dengan bertajwid) daripada surah2 panjang seperti al-Baqarah atau Ali ‘Imran tetapi tidak membacanya dengan tajwid

Membaca al-Quran dengan BERTAJWID walaupun tak sempat khatam itu LEBIH BAIK daripada membaca al-Quran serta khatam tetapi tidak bertajwid

Minta kawan kita yang mahir atau guru Quran menyemak bacaan kita semasa tadarus,jangan baca sorang2 Quran tu
Kalau kita sia2kan dan tidak ambil kisah untuk memperbaiki kualiti tajwid di dalam pembacaan Quran di Bulan Ramadhan,maka KESALAHAN yang kita lakukan akan berterusan selepas Ramadhan berlalu nanti

Ust Hanif Talib

19 June 2015 Posted by | Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Amalan kesukaan Nabi Muhammad S.A.W di bulan Ramadhan | Islam Itu Indah

AMALAN KESUKAAN NABI MUHAMMAD S.A.W DI BULAN RAMADHAN

AMALAN yang menghidupkan Ramadan ialah memperbanyakkan sedekah kerana sikap bermurah hati pada Ramadan adalah dituntut. Ibn Abbas melaporkan: “Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada Ramadan ketika Jibril menemuinya lalu membacakan padanya al-Quran.” (Hadis riwayat Bukhari)
Membaca al-Quran
Disunatkan memperbanyakkan bacaan al-Quran pada bulan Ramadan kerana ia bulan al-Quran seperti firman Allah yang bermaksud: “… bulan Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia dan menjadi keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan antara yang benar dengan yang salah.” (Surah al-Baqarah, ayat 185)
Malaikat Jibril sentiasa bertadarus al-Quran dengan Nabi SAW setiap hari sepanjang Ramadan. Para salaf mendahulukan bacaan al-Quran daripada ibadah lain. Sebahagian salaf khatam al-Quran dalam masa tiga hari, sebahagiannya tujuh hari dan 10 hari pada Ramadan.
Saidina Uthman bin Affan khatam al-Quran setiap hari pada Ramadan. Imam Zuhri berkata apabila tiba Ramadan, “Sesungguhnya Ramadan itu bulan membaca al-Quran dan menyediakan makanan untuk orang berpuasa.”
Memberikan makan kepada orang yang berbuka puasa.
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sesiapa yang memberikan makan kepada orang yang berpuasa, maka baginya seperti pahala (orang yang berpuasa) dalam keadaan tidak berkurung sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa itu.” (Hadis riwayat Ahmad, Tirmizi, Ibn Majah dan ad-Darimi)
Qiamullail
Disunatkan berjaga malam secara berjemaah pada bulan Ramadan iaitu solat terawih dan waktunya di antara solat Isyak hinggalah terbitnya fajar. Nabi sangat gemar mendirikan malam pada bulan Ramadan.
Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Sesiapa menghidupkan Ramadan dengan keimanan dan pengharapan pahala daripada Allah Taala, maka akan diampunkan segala dosanya yang terdahulu.”
(Hadis riwayat Bukhari)
Solat tarawih
Solat tarawih adalah solat khusus yang hanya dilakukan pada Ramadan. Solat tarawih, walaupun dapat dilaksanakan bersendirian, umumnya dilakukan secara berjemaah di masjid. Di sesetengah tempat, sebelum solat tarawih, diadakan ceramah singkat bagi menasihati jemaah.
Mengerjakan umrah
Perkara disunatkan pada Ramadan adalah mengerjakan umrah berdasarkan sabda Baginda SAW yang bermaksud: “Umrah pada Ramadan (pahalanya) sama dengan (pahala) mengerjakan haji atau mengerjakan haji bersamaku.” (Hadis riwayat Bukhari)
Zakat fitrah
Zakat fitrah dikeluarkan khusus pada Ramadan atau paling lambat sebelum selesainya solat sunat hari raya. Setiap Individu Muslim yang berkemampuan wajib membayar zakat fitrah. Nilai zakat fitrah adalah satu gantang makanan ruji atau setara dengan 2.7 kilogram beras. Di Malaysia, nilai zakat fitrah ditentukan oleh pihak berkuasa agama negeri.
Anda mungkin juga meminati:
Panduan Puasa – Mukadimah
Bentuk peribadi Islam melalui tadarus al-Quran
Jiwa baru selepas proses madrasah Ramadan
Ukuran Waktu Berbuka Bagi Orang Musafir
Menghayati keistimewaan bulan Rejab
Linkwithin

Tags: Allah Taala, Bacaan Al Quran, Berbuka Puasa, Berpuasa, Bulan Ramadan, Bulan Ramadhan, Fajar, Gemar, Ibn Majah, Keimanan, Khatam Al Quran, Malaikat Jibril, Nabi Muhammad, Pahala, Rasulullah, Sedekah, Solat Tarawih, Solat Terawih, Surah Al Baqarah, Tirmizi

19 June 2015 Posted by | Informasi, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

Solat Tarawih 20 Rakaat Bidaah?

Akhir-akhir ini kian santer rasanya orang-orang yang meneriakkan bahwasannya Shalat Tarawih 20 rakaat itu Bid’ah, yang dilakukan Nabi SAW hanya 8 rakaat ditambah 3 rakaat sebagai Witir. Entah hal itu disuarakan di Mimbar-Mimbar, Majalah, selebaran, Radio, TV dan khususnya di Media Internet.

Sebenarnya bagi kami Ahlussunah Wal Jama’ah yang berpegangan pada salah satu Imam dari Madzhab 4 yang tak lain adalah Generasi Salaf, tak ada masalah jika ada yang melakukan Tarawih 8 rakaat bahkan 2 rakaat pun juga tak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika ada orang yang melakukan Shalat Tarawih 8 rakaat ditambah Witir 3 rakaat kemudian menganggap lebih dari itu adalah Bid’ah.

Pada dasarnya Shalat Tarawih sendiri tidak dibatasi oeh Rasulullah SAW, hanya saja ada sekelompok orang yang salah faham akan sebuah Hadits yang dianggapnya sebagai Shalat Tarawihnya Rasulullah, sedangkan yang berbeda dengan pemahamannya dianggap Salah dan Bid’ah.

Baiklah untuk memperjelas seperti apa sebenarnya Shalat Tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang kemudian dilanjutkan oleh Generasi Sahabat di bawah pimpinan Khulafa’ Ar-Rasyidin. Kemudian dilanjutkan oleh Generasi Tabi’in sampai pada masa Para Imam Madzhab, berikut ini adalah penjelasan rinci tentang hal tersebut:

Shalat Tarawih adalah termasuk Qiyamullail (menghidupkan malam dengan Ibadah) di Bulan Ramadhan, dan ini adalah termasuk Shalat Sunnah yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan Para Sahabat yang pada awalnya dilakukan sendiri-sendiri akan tetapi pada akhirnya dilakukan dengan cara berjama’ah.

Telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah r.a. beliau berkata: “Sesungguhnya Nabi SAW Shalat di Masjid kemudian diikuti orang-orang, kemudian Shalat lagi di malam berikutnya maka orang-orang yang Shalat semakin banyak. Kemudian di malam ketiganya orang-orang telah berkumpul (di Masjid) akan tetapi Rasulullah SAW tidak keluar. Ketika tiba di pagi harinya Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh aku telah melihat apa yang kalian lakukan, (sebenarnya) tiada yang menghalangiku keluar kepada kalian melainkan aku takut Shalat Tarawih diwajibkan atas kalian”. (HR. Bukhari no. 2012 dan Abu Daud no. 1373).

Ketika para Sahabat mengetahui sebab tidak keluarnya Rasulullah SAW itu karena khawatir Shalat Tarawih itu diwajibkan kepada mereka bukan karena pada Qiyamullail tersebut ada pelanggaran secara Syariat, sehingga malam berikutnya para Sahabat tetap pergi ke Masjid dan melakukan Shalat di Masjid. Sebagian mereka ada yang Shalat sendirian dan sebagian ada yang berjama’ah dan hal ini berlangsung sampai pada masa pemerintahan Sayyidina Umar r.a.
Suatu ketika Sayyidina Umar r.a. memasuki Masjid dan menemukan mereka dalam jumlah yang banyak sehingga Masjid penuh sesak oleh Para Sahabat dan Tabi’in, dan setiap orang ada yang Shalat sendirian ada pula yang berjama’ah dengan temannya.

Sayyidina Umar r.a. memandang hal ini dengan pandangan penuh wawasan terhadap keadaan mereka untuk mencarikan jalan keluar agar mereka lebih Khusyu’. Sehingga beliau memberi ketetapan dengan mengumpulkan mereka pada satu Imam yaitu Sayyidina Ubay Bin Ka’ab r.a. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sayyidina Abdurrahman Bin Abdulqori, beliau berkata:

“Suatu ketika aku keluar ke Masjid bersama Umar Bin Khattab r.a. pada suatu malam di Bulan Ramadhan, sedangkan orang-orang terpisah-pisah, ada yang Shalat sendirian ada pula yang Shalat kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Kemudian Umar berkata: “Sungguh aku memandang andai aku kumpulkan mereka pada satu Imam tentunya itu lebih baik”.
Kemudian beliau mengumpulkan mereka pada Ubay Bin Ka’ab, kemudian aku keluar bersama Umar pada malam lainnya sedangkan orang-orang Shalat dengan Imam mereka, kemudian Umar berkata: “Sebaik-baik Bid’ah adalah ini, sedangkan yang tidur terlebih dahulu kemudian bagun di akhir malam itu lebih utama, sedangkan orang-orang melakukannya di awal malam”.
(HR. Bukhari no. 2010).

Dalam hal ini apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar tidak diingkari oleh seorangpun dari Kalangan Sahabat sedangkan hal ini belum ada sebelumnya akan tetapi mereka tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar tidaklah menyalahi As-Sunnah. Nabi Muhammad SAW ketika memutuskan untuk tidak keluar di malam ketiga Ramadhan hanya karena khawatir Qiyamullail tersebut diwajibkan atas mereka. Sedangkan setelah Nabi Muhammad SAW wafat sehingga turunnya Wahyu tentang suatu Hukum itu telah terhenti, pun di sana tiada satu hal yang mencegah mereka untuk Shalat berjama’ah pada satu Imam di Masjid, terlebih dalam jama’ah itu tentunya lebih sempurna dalam hal kekhusyu’an dan lebih banyak pula pahalanya dari pada Shalat sendirian. Sedangkan Rasulullah SAW bersabda:

“Hendaknya kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnahnya Khulafa’ Ar-Rasyidin yang mendapatkan hidayah, berpegang teguhlah dengan Sunnah tersebut”. HR. Ahmad (Juz 4 hal. 126), Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no 43.
Di sisi Rasulullah SAW juga bersabda:
“Ikutilah 2 orang ini setelahku, yaitu Abu Bakar dan Umar”. HR. Ahmad (Juz 5 hal. 382), Tirmidzi no. 3662 dan Ibnu Majah no. 97

Maka dari itu Sayyidina Umar r.a. memperbanyak bilangan rakaatnya akan tetapi meringankan bacaanya dari pada memanjangkan satu rakaat akan tetapi memberatkan Makmum.

Sedangkan apa diucapkan oleh beliau tentang “Sebaik-baik Bid’ah adalah ini”, itu hanya dimaksudkan Qiyamullail di awal malam tidak seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang melakukan di pertengahan malam atau di penghujungnya. Hal ini sebagaimana telah dikatakan oleh Sayyidina Umar pada Hadits sebelumnya yaitu:

“Sedangkan yang tidur terlebih dahulu kemudian bagun di akhir malam itu lebih utama, sedangkan orang-orang melakukannya di awal malam”. Begitu juga penafsiran dari Perawi Hadits tersebut yaitu Sayyidina Abdurrahman r.a. tentang hal tersebut.

Sedangkan ada sekelompok orang dari kalangan Salaf yang melakukan Qiyamullail Ramadhan dengan bilangan 40 Rakaat ditambah 3 rakaat Shalat Witir sedangkan yang lainnya melakukan Shalat Tarawih 36 rakaat ditambah 3 rakaat Shalat Witir dan lain-lain sebagaimana yang akan kami sebutkan nanti, Insya Alah.

Adapun dalil secara terperincinya adalah sebagai berikut:

Dari Yazid Bin Ruman, beliau berkata: “Orang-orang pada masa Umar melakukan Qiyamullail di Bulan Ramadhan dengan 23 rakaat”. (HR. Malik dalam Al-Muwaththo’ hal. 106).

Dari Sayyidina Saib Bin Yazid r.a. beliau berkata: “Dahulu pada masa Uman Bin Khattab r.a. orang-orang melakukan Qiyamullail pada Bulan Ramadhan 20 rakaat dengan membaca 200 ayat, sedangkan pada masa Utsman r.a. mereka bersender pada tongkat karena lamanya berdiri”. (HR. Bayhaqi dalam As-Sunan Al-Kubra Juz 2 hal. 496 dan dishahihkan oleh Al-‘Aini dan Al-Qasthalani dalam Syarah mereka terhadap Shahih Bukhari, Begitu juga As-Subuki dalam Syarah Al-Minhaj, Al-Kamal Bin Al-Hamam dalam Syarah Al-Hidayah, Al-‘Iraqi dalam Syarah At-Taqrib dan Imam Nawawi dalam Al-Majmu’.)

Imam Al-Maruzi meriwayatkan dari Zaid Bin Wahab, beliau berkata: “Dahulu Abdullah Bin Mas’ud melakukan Shalat bersama kami pada bulan Ramadhan, kemudian beliau pulang sedangkan malam masih tersisa”, Al-A’masy berkata: “Beliau telah melakukan Shalat 20 rakaat serta 3 rakaat witir”.
Begitu juga riwayat dari Daud Bin Qais, beliau berkata:
“Aku menemukan orang-orang pada masa pemerintahan Aban Bin Utsman dan Umar Bin Abdul Aziz di Madinah melakukan Qiyamullail (Shalat Tarawih) 36 rakaat serta 3 rakaat Witir”.
Begitu juga riwayat dari Nafi’, beliau berkata:
“Tidaklah aku menemui orang-orang melainkan mereka melakukan Shalat (Tarawih) 39 rakaat dengan 3 rakaatnya sebagai Witir”.

Imam Ibnu Hajar menukil bahwa Imam Malik berkata:
“(Shalat Tarawih) bagi kami (di Madinah) adalah 39 rakaat sedangkan di Mekkah 23 rakaat dan dalam hal ini tidak ada yang dipermasalahkan”.
Imam Ibnu Hajar juga menukil dari Imam Malik
“Bahwasannya Shalat Tarawih itu 46 rakaat serta Witir 3 rakaat”.
Diriwayatkan dari Zurarah Bin Aufa sesungguhnya beliau melakukan Shalat Tarawih dengan orang-orang di Bashrah 34 rakaat disertai Witir 3 rakaat, sedangkan Sayyidina Said Bin Jubair r.a. (melakukan Shalat Tarawih) 24 rakaat.
Dari Ishaq Bin Manshur, beliau berkata:
“Aku berkata kepada Ahmad Bin Hanbal: “Berapa rakaat Shalat Tarawih dilakukan pada bulan Ramadhan?”, beliau berkata: “Sungguh telah dikatakan hal itu bermacam-macam setidaknya 40 rakaat, (soalnya) ini hanya Sunnah”.
Imam Tirmidzi berkata:
“Kebanyakan yang dikatakan bahwasannya Shalat Tarawih itu 41 rakaat disertai Witir”.

Hal ini tidak lain adalah berbedanya pendapat 4 Madzhab tentang bilangan rakaat Tarawih sebagai berikut:

Madzhab Syafi’i, Hanafi dan Hanbali menyatakan bahwasannya Shalat Tarawih itu 20 rakaat dengan 10 kali Salam. Hal ini berdasarkan riwayat yang mereka ambil dari Kalangan Sahabat r.a. bahwasannya Para Sahabat melakuan Shalat Tarawih pada masa Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali sebanyak 20 rakaat. Dan ini pula yang diambil dalam Madzhabnya Imam Daud Adz-Dzohiri.
Imam Tirmidzi berkata:
“Kebanyakan Ahli Ilmu (Ulama’) itu berdasarkan riwayat dari Sayyidina Umar, Sayyidina Ali dan yang lainnya dari Kalangan Sahabat Rasulullah SAW, dan ini adalah pendapatnya Imam Nawawi dan Ibnu Mubarak”.
Imam Syafii berkata:
“Beginilah kami menemui orang-orang di Mekkah Shalat 20 rakaat”. Fiqh As-Sunnah Juz 2 hal. 54, Imam Tirmidzi Juz 3 hal. 170

Sedangkan Imam Malik melakukan Shalat Tarawih 46 rakaat selain Witir seperti yang dinukil oleh Imam Ibnu Hajar di Fath Al-Bari, sedangkan dalam riwayat lain dari Imam Malik itu 39 rakaat dengan 36 rakaat sebagai Tarawih dan 3 rakaat sebagai Witir.

Sampai di sini bisa kita tarik benang merah pada apa yang terjadi di Generasi Salaf dan Sahabat dan para pengikut mereka bahwa bilangan rakaat dalam Shalat Tarawih itu tidak dibatasi, bahkan Syeikh Ibnu Taymiyah Al-Hanbali (rujukan utama Wahhabi) berkata:
“Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah SAW tidak menentukan bilangan tertentu dalam Shalat Tarawih, sedangkan barang siapa yang menyangka bahwa Qiyam Ramadhan (Tarawih) itu dibatasi dengan bilangan tertentu oleh Nabi SAW, tak lebih dan tak kurang, maka dia telah salah”. Disebutkan oleh Mulla Ali Al-Qari dalam Syarahnya Misykah Al-Mashabih hal. 175.
Sedangkan apa yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah berikut ini:
“Tidaklah Rasulullah SAW menambah lebih dari 11 rakaat di bulan Ramadhan dan selainnya”. HR. Bukhari no. 1096, Muslim no. 738, Abu Daud no. 1341, Nasai no. 1696, Tirmidzi 439 dan Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 1 hal. 114.

Dalam riwayat tersebut tak lain yang dimaksud adalah bilangan rakaat Shalat Witir bukan Tarawih. Sebab Sayyidah Aisyah r.a. berkata: “Di Ramadhan dan selainnya”, sedangkan di luar Ramadhan tidak ada Shalat Tarawih bedahalnya dengan Shalat Witir, di Bulan Ramadhan ada dan di luar Ramadhan juga ada.

Bahkah Imam Tirmidzi mengatakan:
“Telah diriwayatkan dari Nabi SAW bahwasannya Shalat Witir itu 13, 11, 9, 7, 5, 3 dan 1 rakaat”.
Jika di luar Ramadhan saja Rasulullah melakukan Shalat Witir 11 atau 13 rakaat, apakah masuk akal jika Rasulullah melakukan Shalat Witir di Bulan Ramadhan yang merupakan Bulan Ibadah itu hanya 3 rakaat? Hal ini jika kita mengacu pada pendapat yang mengatakan 8 rakaat sebagai Tarawih dan 3 rakaat sebagai Witir, sungguh pemahaman yang sangat jauh.
Kemudian, jika kita katakan yang dimaksud dari 11 rakaat adalah Tarawih dan Witir, yakni 8 rakaat kita jadikan Tarawih dan 3 rakaatnya adalah Witir. Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang ada pada Masa Sahabat di mana mereka melakukan Shalat Tarawih 20 rakaat sampai pada masa Imam Malik dan Imam Syafii.
Lantas, apakah masuk akal jika Sayyidah Aisyah r.a. mengetahui Tarawihnya Sahabat itu 20 rakaat kemudian beliau hanya diam saja menyaksikan mereka melakukan hal yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW?

Terus, apakah masuk akal jika semua Sahabat berkumpul untuk melakukan sesuatu yang kemudian mereka anggap sebagai Ijma’ (kesepakatan bersama) tanpa seorangpun yang mengingkarinya, kemudian hal ini dianggap menyalahi Syariat?

Sungguh demi Allah hal ini adalah pemahaman yang amat jauh sekali. Sedangkan sebagaimana diketahui adalah bahwasannya Shalat Tarawih di Masjidil Haram itu 20 rakaat tanpa seorangpun yang mengingkari bilangan ini dari Kalangan Ulama’ yang Mu’tabar (diakui keilmuannya). Semoga Allah menunjukkan kita ke jalan yang lurus.
Ibnu Abbas meriwayatkan sebagai berkata.
“Sesungguhnya Nabi SAW dahulu melakukan Shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat ditambah Witir”. HR. Ibnu Abi Syaibah Juz 2 Hal. 394

Walaupun Hadits tersebut tidak kuat akan tetapi diperkuat dengan apa yang dilakukan oleh Para Sahabat dan orang-orang setelah mereka dari Generasi Salaf dan telah bersepakat atas hal tersebut.
Dari As-Saib Bin Yazid r.a. beliau berkata:
“Sesungguhnya Umar telah mengumpulkan orang-orang di Bulan Ramadhan paga Ubay Bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari dengan (Shalat Tarawih) 21 rakaat”. (HR. Abdurrazzaq di Al-Mushonnaf no. 7730)

Diriwayatkan dari Malik Bin Anas, dari Yahya Bin Said Al-Anshari: “Sesungguhnya Umar Bin Khattab memerintah seseorang untuk Shalat dengan orang-orang (sebanyak) 20 rakaat”. Disebutkan dalam Kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah Juz 1 Hal. 799

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata setelah menukil bahwasannya Shalat Tarawih itu 20 rakaat dari Umar dan Ali, beliau berkata: “Dan hal ini seperti Ijma’ (kesepakatan bersama)”. Ibnu Abi Syaibah Juz 2 Hal. 393

Bahkan Ibnu Taymiyah (rujukan utama Wahhabi) berkata:
“Telah tetap adanya bahwasannya Ubay Bin Ka’ab mengimami Qiyam Ramadhan (Tarawih) sebanyak 20 rakaat, kemudian melakukan Witir 3 rakaat. Dari ini kebanyakan Ulama’ menganggap sebagai Sunnah karena dilakukan di tengah-tengah Muhajirin dan Anshar tanpa seorangpun yang mengingkarinya, dan inilah gambaran sebuah Ijma’ (kesepakatan bersama)”. Al-Fatawa karya Ibnu Taymiyah Juz 23 Hal. 112

Kesimpulan:
Sesungguhnya Para Sahabat telah sepakat bahwasannya Shalat Tarawih itu 20 rakaat, kemudian hal ini diikuti oleh Generasi Tabi’in tanpa seorangpun dari Generasi Salaf yang mengingkari terkecuali bilangan rakaat yang melebihi dari 20.

(Disadur dari Kitab Al-Mausu’ah Al-Yusufiyah (hal. 631-635) karya Prof. Dr. Yusuf Khaththar Muhammad. Cetakan Dar At-Taqwa tahun 1434 H/2013, Damaskus – Suriah.
Tarim, 23 Sya’ban 1436 H/10 Juni 2015
Oleh : Imam Abdullah El-Rashied,
Mahasiswa Univ. Imam Syafii, Hadramaut – Yaman.)

19 June 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Puasa adalah penebus Dosa

Ada hadith Qudsi yang menyatakan bahawasanya setiap amalan itu akan menjadikan kaffarah dosa maknanya penebus dosa kecuali PUASA kerana puasa ni untuk-KU dan AKU yang akan memberikan ganjarannya.

Menurut Ulama dan Sufyan ibn Uyainah bahawasanya seluruh amalan kita akan dijadikan sebagai penebus dosa bagi orang yang kita zalimi dan menjadi sebagai PELUNAS HUTANG KEZALIMAN kecuali ‘ibadah PUASA.

Menurut ulamak,PUASA ni tidak menjadi PELUNAS HUTANG KEZALIMAN tetapi ianya disimpan Allah dan Allah yang akan menanggung hutang kezalimannya kerana PUASANYA,serta memasukkannya ke syurga kerana PUASANYA

(Rujukan kitab Tazkirah Ramadhan Syeikh MUhammad Fuad)
**** Namun,jangan jadikan ini sebagai LESEN untuk nak buat zalim kat org time puasa ni

17 June 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Doa berbuka puasa ada yang dhaif dan ada yang sahih

Doa berbuka puasa ada yang dhaif dan ada yang sahih,Kedua2nya boleh diamalkan kerana ia doa,

Tiada masaalah.Apa masaalah berdoa dengan hadith2 dhaif?

Imam Tirmizi pun meriwayatkan hadith2 dhaif dalam Syamail Muhammadiyah contohnya hadith mengenai pedang Nabi ada dua hadith dhaif dalam Bab Pedang Rasulullah SAW,Bab Cara Bersandar Rasulullah SAW ada satu hadith dhaif,Bab Jenis Roti yang dimakan Rasulullah SAW ada satu hadith dhaif,Bab Lauk yang dimakan Rasulullah SAW ada lima hadith dhaif,Bab Wuduk Rasulullah SAW ada satu hadith dhaif,BAHKAN DALAM BAB DOA RASULULLAH SAW SEBELUM DAN SELEPAS MAKAN pun Imam Tirmizi ada menyebut DUA HADITH DHAIF

Dua HADITH DHAIF mengenai DOA RASULULLAH SAW SEBELUM DAN SELEPAS MAKAN iaitu Hadith yang ke-182 dan hadith yang ke-185:-

Abu Ayyub al-Ansari berkata:-

Pada suatu hari,kami berada di rumah Rasulullah SAW,Baginda menghidangkan makanan.Aku belum pernah merasai makanan yang lebih berkat daripada makanan ini,semasa kami mula makan.Belum pernah juga aku lihat makanan yang lebih sedikit berkatnya daripada makanan ini,apabila kami selesai makan.Kami bertanya: Ya Rasulallah.Bagaimanakah hal ini berlaku? Jawab Rasulullah SAW SEBAB KITA MENYEBUT NAMA ALLAH SEMASA KITA MAHU MAKAN.Baginda duduk dan menyambung percakapan,Sesiapa yang makan namun tidak menyebut nama Allah,syaitan makan bersama dengannya.

(Hadith ni bertaraf DHAIF,diriwayatkan dari Qutaibah daripada Ibnu Luhai’ah daripada Yazid bin Abu Habib daripada Rasyad bin Jandal al-Yafi’i daripada Hubaib bin Aus daripada Abu Ayyub al-Ansari)

Abu Sa’id al-Khudri berkata: Apabila Rasulullah SAW selesai makan,Baginda akan membaca: Segala puji untuk Allah yang memberi makan kepada kami,memberi minum kepada kami dan menjadikan kami orang Islam
(Hadith ni bertaraf DHAIF,diriwayatkan dari Mahmud bin Ghailan,daripada Abu Ahmad az-Zubairi,daripada Sufyan ath Thauri,daripada Abu Hisyam,daripada Ismail bin Rabbah daripada Rabbah bin Ubaidah yang bersumber daripada Abu Sa’id al-Khudri)

17 June 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Rahsia Kematian

Dalam kitab Rahsia Kematian oleh IMAM QURTUBI,beliau menyatakan bahawa kesemua haiwan dibangkitkan pada hari Kiamat dan mereka menerima hukuman QISAS dari Allah,haiwan yang mana menzalimi kawannya dengan menanduk atau seumpamanya maka dia akan ditanduk semula,kemudian semua haiwan menjadi TANAH.

Kerana hari itu hari PEMBALASAN.Dan Allah berfirman dalam Surah at Takwir ayat 5 yang bermaksud: Dan bila binatang2 liar dikumpulkan.

Bezanya haiwan dengan manusia,mereka menjadi TANAH setelah dijatuhkan hukuman,sedangkan manusia dibakar api neraka.

Ada juga pandangan Imam Abu Qasim al-Qusyairi yang menyatakan Malaikat bertanya kepada haiwan2,mengapa mereka dibangkitkan? Maka kata haiwan2 bahawasanya mereka menjadi SAKSI atas perbuatan anak cucu ADAM

Pendapat Sayyidina Amru bin Al-‘As yang menyatakan adanya PEMBALASAN antara haiwan dengan haiwan lain,yang pernah menanduk kena qisas balik,kemudian jadi TANAH

Ibnu ‘Umar dan Abdullah bin ‘Amru bin al-‘As menyatakan setelah haiwan itu menjadi TANAH maka TANAH itu dilemparkan pada wajah2 orang kafir

Sedangkan Sayyidina Amru bin Al-‘As menyatakan selepas haiwan itu menjadi TANAH,maka orang2 kafir berkata: Alangkah bagusnya jika aku menjadi TANAH.

17 June 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Hukum Orang Yang Tidak Qadha’ Puasa Ramadhan Sehingga Ramadhan Berikutnya

Hukum Orang Yang Tidak Qadha’ Puasa Ramadhan Sehingga Ramadhan Berikutnya

Soalan:

Saya telah meninggalkan puasa selama beberapa hari pada bulan Ramadhan disebabkan keuzuran, dan saya tidak mampu qadha’ puasa hari-hari yang ditinggalkan tersebut sehingga tiba bulan Ramadhan pada tahun berikutnya. Adakah saya dikenakan kaffarah disebabkan kelewatan qadha’ puasa tersebut? Adakah saya perlu qadha’ puasa hari-hari yang ditinggalkan secara berturut-turut atau dibolehkan secara berselang-selang hari?

Jawapan:

Jumhur ulama’ mewajibkan bayaran fidyah kepada sesiapa yang terlewat qadha’ (menggantikan) puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan sehingga tibanya bulan Ramadhan pada tahun yang berikutnya. Bayaran fidyah adalah dengan memberi makan (mengikut kadar makanan harian) kepada orang miskin yang mencukupi makan tengah hari dan makan malam sekiranya kelewatan puasa qadha’ bukanlah disebabkan apa-apa keuzuran. Ulama’ berhujah mengunakan hadis mauquf yang disandarkan kepada Abu Hurairah, yang merupakan lafaz beliau, menisbahkannya kepada Rasulullah adalah dhaif. Hadis ini diriwayatkan oleh enam orang sahabat termasuk Ibnu Abbas dan Ibnu Umar dan tidak pernah diketahui bahawa Yahya ibn Aksam menyalahi pandangan mereka.

Abu Hanifah dan yang sependapat dengan beliau menyatakan: Seseorang tidak dikenakan fidyah dan qadha’ puasa secara serentak. Hal ini disebabkan Allah telah memberikan keringanan kepada golongan pesakit dan musafir melalui firmannya, “maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” tanpa menyebut tentang fidyah. Berdasarkan ayat al Quran ini, jelaslah bukannya satu tuntutan untuk membayar fidyah bagi golongan uzur dan musafir yang meninggalkan puasa pada bulan Ramadhan. Berkenaan hadis yang memerintahkan kewajipan membayar fidyah bagi dua golongan (orang sakit dan musafir) adalah dhaif dan tidak diambil kira.

Dan berkata al-Syaukani di dalam kitabnya Nail Al-Autar (jilid 4, muka surat 318): Tiada satu pun hadis yang tsabit mengenai suruhan Nabi untuk membayar fidyah dan qadha’ puasa secara serentak bagi golongan pesakit dan musafir yang meninggalkan puasa pada bulan Ramadhan, dan kata-kata sahabat mengenai hal ini juga tidak mempunyai hujjah. Kata-kata jumhur mengenai hal ini juga tidaklah menunjukkan hukum itu benar. Hal ini berdasarkan kepada konsep tiada hukum semulajadi (البراءة الاصلية). Sesuatu taklif (ibadah) adalah tidak wajib sehingga ada dalil yang mensyariatkannya”. Justeru, dalam hal ini, tiada sebarang dalil yang menunjukkan kewajibannya

Dan berkata al- Syafie: Jika kelewatan menggantikan puasa Ramadhan berlaku disebabkan keuzuran (keuzuran syar’ie), maka tiada fidyah dikenakan. Adapun kelewatan tanpa sebarang keuzuran, maka individu wajib membayar fidyah. Pendapat ini telah mengambil jalan tengah antara dua pendapat yang telah dibincangkan. Namun hadith dhaif dan mauquf yang menyatakan pensyariatan kaffarah tidak pula membezakan antara wujudnya keuzuran atau pun tidak ada sebarang keuzuran.

Pendapat al-Syafie lebih disenangi kerana ia meraikan perbezaan pendapat dalam hal ini. Tambahan pula, puasa ganti Ramadhan merupakan perkara wajib yang boleh dilakukan secara bertangguh (واجب على التراخي) dan bukannya secara segera. Walau bagaimanapun, menyegerakan ganti puasa adalah lebih baik sekiranya mampu kerana ia merupakan hutang antara hamba dengan Allah swt. yang lebih utama untuk dilangsaikan. Telah thabit dalam sahih Muslim dan musnad Ahmad bahawa Aishah r.aha telah menggantikan puasanya yang tertinggal di sepanjang bulan Ramadhan itu pada bulan Sya’ban. Ini menunjukkan Aishah r.ha tidak menggantikan puasanya secara segera.

Tidak disyaratkan dalam menggantikan puasa Ramadhan untuk melakukannya secara terus-menerus dan berturutan. Telah diriwayatkan oleh Darul Qutni daripada Ibnu Umar r.a. bahawa nabi s.a.w. bersabda mengenai qadha puasa Ramadhan: “ان شاء فرق وان شاء تابع “ yang maksudnya, “jika mahu gantilah (puasa Ramadhan) secara berpisah-pisah, dan jika mahu gantilah (puasa Ramadhan) secara berturutan”.

Sumber : Fatwa ‘Atiyyah Saqr (Kitab ahsan al-Kalam fi al-Fatawa wa al-Ahkam, Jilid 3, muka surat 445

12 June 2015 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Comments

GANJARAN BESAR SEDEKAH RAMADAN

RAMADAN menjanjikan banyak kelebihan dan ganjaran. Antaranya amalan sunat diberi ganjaran pahala ibadat fardu, yang fardu diberi ganjaran 70 kali ganda. Demikian juga dalam bab sedekah. Bagi umat Islam yang suka bersedekah, pastinya Ramadan sentiasa ditunggu-tunggu untuk mendapat kelebihan yang dijanjikan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW juga adalah insan yang paling dermawan. Sifat pemurah Baginda adalah berlipat kali ganda dalam bulan mulia ini berbanding bulan-bulan lain.

Ketahuilah bahawa Allah SWT melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.

Ini dijelaskan menerusi firman-Nya yang bermaksud: Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik lelaki mahupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, nescaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang banyak. (al-Hadid: 18)

Seharusnya ini menjadi pemangkin kepada umat Islam untuk bersedekah terutama kepada golongan yang kurang bernasib baik. Sedekah itu pula bukan mesti banyak, sedikit pun mencukupi kerana yang penting adalah ikhlas.
Ingatlah ganjaran yang disebutkan oleh Nabi SAW yang bermaksud: “Barang siapa memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya”. (Riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi).

Oleh itu, marilah kita mengambil kesempatan Ramadan kali ini menyediakan juadah berbuka puasa kepada jiran atau pun saudara seagama. Ini boleh dilakukan secara bersendirian atau dengan mengambil giliran menyumbang wang kepada masjid atau surau menyediakan juadah berbuka puasa.

Bagi yang berkebolehan membuat kuih apa salahnya hadiahkan sepiring kepada jiran tetangga. Bagi yang tidak sempat memasak, apa kata mulai tahun ini beli lebih sedikit kuih muih atau makanan untuk disedekahkan kepada orang berbuka puasa.

Bayangkan kegembiraan orang yang berbuka puasa itu lebih-lebih lagi bagi mereka yang bermusafir dan singgah di masjid atau surau kariah kita.

Alangkah baik jika kempen derma minimum RM1 turut dipromosi kepada setiap jemaah masjid dan surau. Ini bertujuan menyuburkan budaya bersedekah dalam kalangan umat Islam terutamanya kanak-kanak.
Ingatlah setiap kebajikan yang kita lakukan walau sebesar zarah akan diperlihatkan ganjarannya di akhirat kelak. Lebih penting lagi, kita menghayati sabda Nabi SAW yang bermaksud: Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang di bawah adalah orang yang meminta. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Selain itu, keutamaan bersedekah yang lain adalah:

– Sedekah dapat menghapus dosa. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api”. (Riwayat Tirmidzi)

– Orang yang bersedekah mendapat naungan di hari akhirat. Nabi SAW dalam sabdanya menyebut antara tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di akhirat kelak ialah: “Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya”. (Riwayat Bukhari)

– Sedekah memberi keberkatan pada harta. Ia berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang bermaksud: “Harta tidak akan berkurang dengan sedekah…” (Riwayat Muslim)

Jika tidak mampu menyumbang harta, setidak-tidaknya berusahalah menyumbang tenaga dan fikiran dengan mengajak orang sekeliling melakukan kebaikan.

Sumber: Utusan Malaysia

12 June 2015 Posted by | Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Comments

Khutbah Jumaat Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (JAWI)

RAMADHAN YANG DINANTI
12 Jun 2015M/ 25 Sya’aban 1436H

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, Sesungguhnya, sama ada kita sedar atau tidak, masa berlalu begitu pantas berjalan meninggalkan kita. Bulan Sya’aban telah pun memasuki ke hari-hari terakhirnya, tidak lama lagi kita akan bertemu dengan penghulu segala bulan; Ramadhan al-Mubarak. Bulan yang memiliki pelbagai kemuliaan, dijanjikan gandaan ganjaran, dilimpahi keberkatan dan dilimpahi rahmat serta keampunan.

Ramadhan bukanlah hanya sekadar satu bulan di dalam kalendar Islam, malah ia adalah sebuah madrasah yang mampu mentarbiyah jiwa insan.

‘’Bagai Pungguk Rindukan Bulan’’ begitulah peribahasa yang selayaknya menggambarkan jiwa orang orang yang beriman menanti ketibaan Ramadhan.

Kedatangan bulan Ramadhan adalah hadiah dan nikmat yang terbesar bagi umat Islam. Manakan tidak! Bulan mulia yang bakal menjelang tiba ini Allah SWT menyediakan pelbagai tawaran mega kepada hamba-hambaNya yang beriman. Setiap detik dan saat yang berjalan tidak kira sama ada waktu pagi mahupun petang, malam ataupun siang, segala amalan yang dilakukan nilai ganjarannya bakal dilipatgandakan oleh Allah Rabbul Jalil.

Teks penuh di http://www.jawi.gov.my/my/e-khutbah

12 June 2015 Posted by | Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Siri Kajian Hadith berkenaan Ramadan

Ramadhan Datang - اتاكم رمضان

Bersempena bulan Ramadan yang mulia ini Pustaka – Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group mengambil inisiatif menjawab dan membahas hadith-hadith nabi yang dihukum pada tempat yang tidak sepatutnya oleh Wahhabi. Semoga usaha kecil ini memberi manfaat pada umat Islam.

Semoga bermanfaat dan sebarkan.

Siri Kajian Hadith: Keutamaan Memberi Makan Orang Berbuka Puasa

http://www.aswj-rg.com/…/siri-kajian-hadith-keutamaan-membe…

Siri Kajian Hadith: Kelebihan Berdoa Ketika Berbuka Puasa

http://www.aswj-rg.com/…/siri-kajian-hadith-kelebihan-berdo…

Siri Kajian Hadith: Doa Berbuka Puasa

http://www.aswj-rg.com/…/siri-kajian-hadith-doa-berbuka-pua…

Siri Kajian Hadith: Ramadan Tergantung Kerana Zakat Fitrah

http://www.aswj-rg.com/…/siri-kajian-hadith-ramadan-tergant…

Siri Kajian Hadith: Keutamaan Bulan Ramadan

http://www.aswj-rg.com/…/siri-kajian-hadith-keutamaan-bulan…

Siri Kajian Hadith: Jihad Besar (Ramadan)

http://www.aswj-rg.com/…/siri-kajian-hadith-jihad-besar-ram…

Siri Kajian Hadith: Doa Lailatul Qadar

http://www.aswj-rg.com/…/siri-kajian-hadith-doa-lailatul-qa…

[Sumber: Pertubuhan Ahli Sunnah Wal Jamaah Malaysia – Aswaja]

6 June 2015 Posted by | Ibadah, Informasi | , | Leave a comment

Koleksi Kata Mutiara Al-Habib Ali bin Aburrahman Al-Jufri

Al-Habib Ali AlJufri:

— Waspada Sifat Dasar iblis Pada Manusia —

Salah satu sifat dasar Iblis adalah “Saya lebih baik darinya”. “Kau telah menciptakan aku dari api dan telah menciptakannya dari tanah“, (Qur’an Surat al-A’raf: 12).

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Qur’an Surat al-A’raf: 12).

Ini kriteria sifat dasar iblis “Saya lebih baik darinya”, tapi kriteria sifat Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam adalah senantiasa bertambah ketakutan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertambah tawadhu’, bertambah kasih sayang, dan juga bertambah ramah terhadap sesama makhluk.

Apabila manusia itu bertambah kesholehannya, apakah dari jalan belajar atau beribadah, dengan belajar seperti membaca atau memahami masalah atau dengan beribadah seperti mengerjakan shalat malam dan berpuasa, bukti kejujuran amalannya itu tidak hanya ada pada penampilannya tapi akan terlihat jelas pada akhlaknya serta pergaulannya.

Dan bukti ketidakjujuran amalannya itu adalah tidak terlihat pada akhlaknya bahkan sebaliknya. Setiap kali dia banyak melakukan ibadah, setiap kali itu pulalah ia banyak kepura-puraannya, semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah bertambah kerut wajahnya. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah dia membatasi dirinya dari beberapa kelompok manusia.

Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah banyaknya dia menghina kelompok-kelompok masyarakat. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah dia bertambah kasar terhadap sesama keluarga terdekatnya yang kurang mentaati agama. Darimana datangnya semua hal ini? Bukanlah seperti ini sifat orang yang berkomitmen dalam beragama.

Sebabnya tidak ada hubungan diantara cara ibadah yang dilakukannya atau cara ahli ilmu dengan hakikat yang sebenarnya yakni hubungan hati dengan Allah Subhanhu wa Ta’ala. Jadi kita memerlukan pergaulan dengan orang-orang shaleh agar kita dapat melihat kejujuran hati ini, agar dapat muhasabah diri ini dengan penuh kejujuran.

Duhai orang-orang yang telah dimuliakan Allah dengan selalu pulang pergi ke masjid, apakah yang kamu dapat darinya? Pandangan macam apakah yang kamu lihat kepada mereka yang ada di luar masjid? Kamu akan keluar dari masjid setelah majelis ini usai. Kamu akan temukan di jalanan pemuda-pemuda dengan kelakuan yang buruk.

Ada yang kelakukannya meninggikan suara mengganggu orang di sekelilingnya dan tak mau peduli dengan suara-suara yang menegurnya. Bagaimanakah kamu akan melihatnya? Hah?! Adakah kamu akan melihatnya dengan pandangan belas kasihan serta kasih sayang? Tadi baru saja kamu mendengarkan nasihat-nasihat ini.

“Ya Allah sebagaimana Engkau telah dengarkan nasihat ini kepadaku serta memberi petunjuk kepadaku, maka dengarkanlah pula kepada mereka dan tunjukilah mereka”.

Apabila kamu melewati mereka, senyumlah kepada mereka dan ucapkan “Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh”. Kamu terus berjalan dengan tenang, berilah kesan di hati mereka agar mengikuti apa yang kamu lakukan itu.

Setelah kamu keluar dari majelis pengajian ini, kamu mungkin terasa diri penuh dengan kesholehan. Kamu telah banyak menelaah kitab, melakukan shalat jamaah, kemudian kamu keluar dan mendapati mereka-mereka ini. (Dengan sinisnya, kamu brerkata:) “Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. “Aku berlindung kepada Allah, eh apa ini?”.

Kamu melihat mereka dengan pandangan kehinaan. Cara ini bukannya cara berlindung dari maksiat. Bukan begini cara menjauhinya, bukanlah seperti itu caranya. Berbeda antara ilmu yang diajari oleh Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dengan ilmu yang diajari oleh iblis.

Ada suatu kisah menyebutkan. Ada seorang penuntut ilmu sedang mengalami kebingungan dan keraguan, apakah akan masuk mengikuti majelis ini atau majelis yang itu. Dia melihat 2 kumpulan majelis pengajian ilmu yang berbeda. Kedua majelis sama-sama mengajarkan al-Qur’an dan al-Hadits. Dia bingung mau memilih dan mengikuti majelis yang mana. Lantas dia pergi kepada seorang yang sholeh untuk membuat pilihan baginya, lalu orang shaleh itu berkata: “Aku akan membawa kamu pergi menuju kedua majelis tersebut”.

Mereka kemudian masuk ke kumpulan majelis yang pertama dan berdiri. Orang shaleh ini sengaja berbuat demikian karena untuk mengetahui majelis mana yang harus dia ikuti. Mereka berdua berdiri di kumpulan majelis yang pertama dan ketika itu Sang Syaikh sedang mengajar. Di saat Syaikh itu melihat mereka berdua sedang berdiri, Syaikh berkata kepada mereka: “Duduk! Kenapa kamu berdiri?”. Orang shaleh ini menjawab: “Aku tidak ingin duduk di majelis kamu ini”. Syaikh itu bertanya: “Kenapa kamu tidak ingin duduk?”. Orang shaleh itu kembali menjawab: “Dalam hatiku ada rasa tak puas hati dengan kamu”. Syaikh berkata: “Dan aku juga sangat-sangat tak puas hati dengan kamu, keluarlah syaitan, dan jangan kamu merusak majelis ini..!”. Sang Pemuda berkata: “Ayo kita keluar dari sini sebelum kena pukul”.

Kemudian mereka berdua pergi ke kumpulan selanjutnya, majelis yang kedua, juga melakukan hal yang sama dalam keadaan berdiri. Ketika dalam majelis itu Syaikh melihat mereka yang berdiri dan berkata: “Mengapa kamu berdua tidak duduk?”. Nampak perbedaan dengan Syaikh yang tadi yang berkata “Duduk..!” dengan “Mengapa kamu berdua tidak duduk?”. Orang shaleh itu menjawab: “Aku tidak ingin duduk dalam majelismu ini”. Sang Syaikh kembali berkata: “Kenapa?’. Orang shaleh itu berkata: “Aku ada rasa tidak puas hati dengan kamu”. Lantas Syaikh itu menutup wajahnya lalu menangis dan berkata: “Innalillah wa inna ilaihi roji’un, astaghfirullohi wa atubu ilaih, mungkin Allah telah membukan kepada kamu aibku yang telah disembunyikan”. Dan Syaikh itu terus menangis sambil berkata: “Astaghfirullohi wa atubu ilaih… Astaghfirullohi wa atubu ilaih… Astaghfirullohi wa atubu ilaih… ”, (memohon ampunan Allah dan bertaubat kepadaNya).

Dan orang shaleh yang berdiri itu menoleh kepada si pemuda yang bertanya kepadanya tadi: “Hai pemuda, majelis manakah yang akan kamu pilih? Di sini atau di sana?”.

Kriteria sifat orang yang shaleh itu akan tampak jelas pada akhlaknya yang shaleh pula. Jika kamu merasa harus membuat suatu pilihan. Dikatakan orang ini dalam kebenaran dan orang lain pula kata mereka dalam kebenaran, caranya lihatlah kepada akhlak mereka. Dimana ada tanda akhlak yang mulia, tandanya di situ ada agama. Dimana ada tanda akhlak yang mulia, tanda adanya juga di situ ilmu. Sekiranya di situ tidak ada akhlak yang mulia, maka di situ juga tidak ada agama dan ilmu.

Tidak mungkin beragama itu tanpa ada akhlak yang mulia. Tidak mungkin ciri sifat kesholehan itu dengan tidak disertai akhlak yang mulia. Tidak mungkin adanya ilmu itu, dengan tanpa adanya akhlak yang mulia. Maka setiap yang berilmu dan yang beragama, jika tidak terdzahir (tampak) padanya akhlak yang mulia, maka di situ ada kecacatan pada orang yang berilmu dan yang beragama. Inilah kriterianya, janganlah kita berfikir melihat kepada orang lain tetapi pandanglah kepada diri kita sendiri, untuk memperbaiki diri diantara kita dengan Allah Subhanhu wa Ta’ala.

Jadi, terjadinya kecacatan pada orang yang berilmu dan beragama mungkin karena terpisah darinya kefahaman makna kesholehan tentang akhlak pergaulan atau pun dengan sebab yang lain. Dengan sebab terpisahnya dia dari kelompok masyarakat yang memuliakan orang yang beragama dari yang lainnya, dan yang terakhir yaitu melihat kesan-kesan kesholehan pada diri kamu, yakni melihat terhadap hasil kesholehan yang lahir dalam diri kamu dan bagaimana kamu maju terhadapnya. Inilah kriteria sifat kesholehan, perhatikan dalam diri kamu, jangan kamu menilai dirimu ada sesuatu yang lebih baik dari orang lain.

Agama kita ini adalah agama yang beradab dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mencerminkan akhlak yang mulia terhadap makhlukNya. Jadi untuk itu kita muhasabah diri kita terhadap kesholehan yang kita peroleh ini, sebab jika kita muhasabah terhadap kesholehan diri ini, maka kita merasa membutuhkan kepada akhlak yang mulia.

Kita memohon kepada Allah semoga kita mendapat kesempurnaan Taufiq. Ya Allah yang Maha Memberi Petunjuk kepada kebaikan dan membantu hambaNya ke arah kebaikan, berilah petunjuk kebaikan kepada kami dan bantu kami ke arahnya. Subhanallohi walhamdulillahi wa la ilaha illalloh wallohu akbar, berilah petunjuk kepada kami terhadap nasihat ini untuk senantiasa kembali kepadaMu, dan turunkanlah kepada kami pemberianMu serta lindungilah ahli kalimah la ilaha illalloh baik di Timur maupun di Barat dan hilangkanlah kegelisahan ahli la ilaha illalloh baik di Timur maupun di Barat. Amin…

sumber : http://www.elhooda.net/

Wallahu a’lam

5 June 2015 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | | Leave a comment

Kesungguhan menuntut ilmu

11110568_994037373960506_1907003953096313891_n

Kesungguhan menuntut ilmu Pada zaman sekarang, zaman yang dipenuhi dengan berbagai peralatan canggih dan hebat, zaman komputer dan internet, begitu banyak peralatan-peralatan yang menggangu pelajar agama untuk menghasilkan ilmu, alat-alat tersebut boleh membantu pelajar untuk berjaya dan dapat bersaing dalam menjalani kehidupan ini, tetapi juga dapat menahan kecemerlangan dan keberhasilan, tidak mengherankan jika seorang pelajar sekarang dapat menghabiskan seluruh waktunya didepan vedio geme, mencampakkan masanya didepan internet, atau menghamburkan masanya dengan komputer, televisi, catur, dan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfa`at, kesalahan ini disebabkan niat yang tidak ikhlas untuk belajar, karena hanya mengejar ijazah dan syahadah, atau semangat yang sangat tipis, karena tidak memiliki jiwa untuk berkorban, hal ini membuat pelajar agama mensia-siakan waktunya tanpa membuat perkara yang berfaedah.

Sebab itulah seorang pelajar sangat memerlukan cara yang terbaik untuk memenuhi waktunya dengan ilmu dan amal, diantaranya ialah dengan mendengar atau membaca kisah-kisah ulama dalam menuntut ilmu, agar mereka tertarik dengan cerita ulama-ulama terdahulu, dan dapat mengamalnya, sehingga waktu yang ada tidak terbuang begitu saja.

Diantara kisah-kisah yang perlu kita jadikan pengajaran adalah :

1 – Kisah penuntutan ilmu Sahabat Rasulullah Abdullah Bin Abbas, : beliau adalah seorang sahabat Rasulullah yang alim dalam mentafsirkan Al-Qur`an, dan ahli dalam hadits, dimasa Rasul meninggal dunia beliau masih tergolong kanak-kanak yang baru beranjak remaja., hal ini membuat beliau bersungguh-sungguh untuk mencari ilmu dan hadits dari mulut-mulut sahabat yang ada, dan betul-betul menjaga waktunya untuk belajar, beliau berkata : Tidak kulihat orang-orang yang paling banyak ilmunya kecuali pada golongan Al-Anshor, sebab itulah aku sibuk untuk belajar dari mereka, jika aku pergi ke rumah seorang Al-Anshor untuk menuntut ilmu, aku bertanya tentang orang tersebut, mereka menjawab beliau sedang tidur, maka aku ambil selendangku, kujadikan bantalku, kemudian aku berbaring untuk menunggu beliau bangun dari tidurnya, kemudian beliau keluar dari rumah untuk shalat Zhuhur, kemudian beliau berkata kepadaku: bilakah kau sudah berada disini wahai anak paman Rasulullah SAW, aku menjawab : ” sudah lama , beliau berkata : ” kenapa kau lakukan seperti itu, kenapa tidak kau beritahu kepadaku tentang kedatangan mu ?, aku menjawab : ” aku ingin engkau keluar untuk mengajarku setelah kau selesaikan semua keperluanmu”.( Sunan Ad-Darimi ) Lihat bagaimana Ibnu Abbas menuntut ilmu, beliau bersabar menunggu gurunya sehingga terbangun dari tidur, dari cerita diatas kita dapat melihat kesungguhan Ibnu Abbas dalam menuntut ilmu, dan rasa penghoramatan beliau terhadap gurunya, padahal beliau memiliki kedudukkan yang tinggi disisi para shahabat, sebab beliau anak paman Rasul, jikalau beliau membangunkan shahabat Al-Anshari tersebut, niscaya shahabat tersebut akan terjaga dari tidur, tetapi beliau sangat menghormati gurunya, demikian juga beliau tidak langsung pulang kerumahnya, akan tetapi tetap bersabar, menunggu didepan pintu rumah shahabat tersebut untuk menanti gurunya keluar dari rumah, begitulah semestinya seorang pelajar. Imam Ibnu Abbas berkata : Aku menghinakan diri kepada guruku untuk menuntut ilmu, dan Aku muliakan guruku dan ilmu. ( Sunan Ad-Darimi ). Lihat bagaimana Ibnu Abbas memuliakan ilmu dan gurunya, demikianlah seorang murid mesti memuliakan dan menghormati gurunya agar mendapat ilmu yang bermanfa`at.

2 – kisah Imam Syafi`i dalam menuntut ilmu ; Imam Nawawi berkata: ” Imam Syafi`i tumbuh dan membesar dalam keadaan yatim, hidup dalam pemeliharaan ibunya, hidup dalam keadaan susah dan payah, semenjak kecilnya beliau telah duduk mengaji dengan para ulama, dan menulis setiap mas`alah-mas`alah diatas tulang, karena tidak memiliki duit untuk membeli kertas. Lihatlah Bagaimana rajin dan kuatnya semangat Imam Syafi`i dalam menuntut ilmu, walaupun uang tidak ada, tetapi tidak menjadi alasan untuk tidak menuntut ilmu, jika kita lihat pada diri kita sendiri, mungkin orang tua memiliki uang yang cukup, bahkan sebahagiannya konglomerat ( koprat),memiliki mobil ( kereta ) yang berkilat, rumah yang bertingkat-tingkat, badan sangat sehat, tidak pernah merasa penat, tetapi tidak mencari kesempatan yang ada untuk menuntut ilmu. Dihikayatkan ketika Imam Syafi`i datang ke kota Madinah, belajar dengan Imam Malik, pada suatu hari, ketika beliau menghadiri majlis Imam malik, ketika itu Imam Malik sedang mengimlakkan ( mendektekan ) sebanyak delapan belas hadits, sedangkan imam Syafi`i duduk dibelakang sekali, kemudian Imam Malik mengarahkan pandangannya kepada Imam Syafi`i, sebab beliau menulis dengan jarinya ke telapak tangannya, ketika semua pelajar berpulangan, Imam Malik memanggil dan menanyakkan asal usul beliau, maka beliau menceritakannya, Imam Malik bertanya; ” Aku melihat engkau mempermainkan jari ke telapak tanganmu”, berkata Imam Syafi`i ; ” Aku tidak memainkan jariku tetapi menulis hadits yang engkau imlakkan dengan jariku ke telapak tanganku, kalau guru mau, biar aku mengulangi kembali apa yang telah guru imlakkan, Imam Malik berkata : ” sebutkanlah ” , maka beliau menyebutkan seluruh hadits yang telah diimlakkan. dari cerita diatas sangat perlu sekali kita meningkatkan kerajinan untuk belajar dan dapat meninggalkan seluruh pekerjaan yang melalaikan dari belajar agama.

3- Kisah Syeikh Ahmad Damanhuri Al-Banteni dalam menuntut ilmu, beliau adalah salah seorang guru penulis, yang meninggal dunia pada tahun 1426 Hijriah, dari semenjak kecil sudah belajar ilmu agama, kemudian berangkat ke Makkah belajar dengan ulama yang berada di sana, seperti Syeikh Umar Hamdan Al-Mahrisi, Syeikh Abdullah An-Niyazi, Syeikh Alawi Bin Abbas Al-Maliki, Syeikh Hasan Masyaath, dan lain-lain. setelah itu beliau kembali ke Indonesia, setelah kurang lebih dua puluh tahun beliau berada di Indonesia, maka beliau kembali lagi ke Makkah, ketika itu beliau masih sempat melihat kembali gurunya Syeikh Hasan Masyaath, pada masa ini beliau menghabiskan waktu untuk belajar dan menghadiri majlis ilmu Syeikh Muhammad Bin Alawi Al-Maliki, padahal beliau memiliki guru yang tidak di jumpai oleh Syeikh Muhammad Bin Alawi, guru-guru beliau adalah sebahagian guru-guru Syeikh Yasin Al-Fadani , beliau memiliki sanad yang tinggi , tetapi disebabkan cintanya beliau kepada ilmu maka beliau menghadiri majlis Syeikh Muhammad, dalam kondisi kaki yang sudah tidak boleh berjalan lagi, sehingga di bawa dengan kursi dorong, beliau dapat menghadiri majis ilmu, lihat kesungguhan beliau, walaupun dalam keadaan sakit tetap menuntut ilmu, menuntut ilmu bukan disebabkan selembar kertas Syahadah.

Masih banyak lagi kisah-kisah para ulama yang sangat bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, tetapi penulis mencukupkan ini saja, mudah-mudahan dapat berguna untuk kita, agar menambah kesungguhan dalam belajar agama.

Sumber: http://allangkati.blogspot.com/2009/04/kesungguhan-menuntut-ilmu.html

3 June 2015 Posted by | Ibadah, Tazkirah | | Leave a comment

SEJARAH HITAM WAHHABI MENGKAFIR DAN KEMUDIAN MENGHALALKAN DARAH UMAT ISLAM

Mufti Mazhab Syafi’e Ahmad bin Zaini Dahlan 1304H yang merupakan tokoh ulama Mekah pada zaman Sultan Abdul Hamid menyatakan dalam kitabnya ” Ad-Durarus Saniyyah Fir Roddi ‘Alal Wahhabiyah m/s 42: ” Wahhabiyah merupakan golongan pertama yang mengkafirkan umat islam 600 tahun sebelum mereka.

Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: "Aku membawa kepada kamu semua agama yang baru dan manusia selain pengikutku adalah kafir musyrik “.

Sejarah membuktikan Wahhabi telah membunuh keturunan Rasulullah serta menyembelih kanak-kanak kecil di pangkuan ibunya ketikamana mereka mula-mula memasuki Kota Taif. (Sila rujuk Kitab Umaro’ Al-bilaadul Haram m/s 297 – 298 cetakan Ad-Dar Al-Muttahidah Lin-Nasyr).

Kenyataan Para Mufti Perihal Wahhabi. Mufti Mazhab Hambali Muhammad bin Abdullah bin Hamid An-Najdy 1225H menyatakan dalam kitabnya “As-Suhubul Wabilah ‘Ala Dhoroihil Hanabilah” m/s 276 : “Apabila ulama menjelaskan hujah kepada Muhammad bin Abdullah Wahhab dan dia tidak mampu menjawabnya serta tidak mampu membunuhnya maka dia akan menghantar seseorang untuk membunuh ulama tersebut kerana dianggap sesiapa yang tidak sependapat dengannnya adalah kafir dan halal darahnya untuk dibunuh”.

Wahhabi Menghukum Sesat Dan Membid’ahkan Para Ulama’ Islam. Wahhabi bukan sahaja mengkafirkan umat Islam dan menghalalkan darah mereka tetapi Wahhabi turut membid’ahkan dan menghukum akidah ulama’ Islam sebagai terkeluar daripada Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Demikian kenyataan Wahhabi :

1- Disisi Wahhabi Akidah Imam Nawawi Dan Ibnu Hajar Al-Asqolany Bukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Tokoh terkemuka ajaran Wahhabi iaitu Muhammad bin Soleh Al-Uthaimien menyatakan apabila ditanya mengenai Syeikh Imam Nawawi (Pengarang kitab Syarah Sohih Muslim) dan Amirul Mu’minien Fil Hadith Syeikh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany (Pengarang Fathul Bari Syarah Sohih Bukhari) lantas dia menjawab: “Mengenai pegangan Nawawi dan Ibnu Hajar dalam Asma’ Was Sifat (iaitu akidah)mereka berdua bukan dikalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”. Rujuk kitabnya Liqa’ Al-Babil Maftuh m/s 42-43 soal-jawab ke 373 cetakan Darul Watan Lin-Nasyr.

2- Wahhabi Menghukum Al-Asya’iroh Sebagai Sesat Dan Kafir. Tokoh Wahhabi Abdur Rahman bin Hasan Aal-As-Syeikh mengkafirkan golongan Al-Asya’iroh yang merupakan pegangan umat islam di Malaysia dan di negara-negara lain. Rujuk kitabnya Fathul Majid Syarh Kitab Al-Tauhid m/s 353 cetakan Maktabah Darus Salam Riyadh. Seorang lagi tokoh Wahhabi iaitu Soleh bin Fauzan Al-Fauzan turut menghukum golongan Al-Asya’iroh sebagai sesat akidah dan bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Rujuk kitabnya Min Masyahir Al-Mujaddidin Fil Islam m/s 32 cetakan Riasah ‘Ammah Lil Ifta’ Riyadh.

3- Wahhabi Mengkafirkan Umat Islam Yang Mengikut Mazhab. Dan Mengkafirkan Saidatuna Hawa ( Ibu manusia)Wahhabi bukan sahaja menghukum sesat terhadap ulama’ Islam bahkan umat islam yang mengikut mazhab pun turut dikafirkan dan dihukum sebagai musyrik dengan kenyataannya :” Mengikut mana-mana mazhab adalah syirik “. Dan Wahhabi ini berani juga mengkafirkan Ibu bani adam iaitu Saidatuna Hawa dengan kenyataannya: ” Sesungguhnya syirik itu berlaku kepada Hawa “.

Tokoh Wahhabi tersebut Muhammad Al-Qanuji antara yang hampir dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Rujuk kenyataannya dalam kitabnya Ad-Din Al-Kholis juzuk 1 m/s 140 dan 160 cetakan Darul Kutub Ilmiah

 

[Sumber: Kami Tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia]

3 June 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | | Leave a comment

Hukum Minyak Ikan Yang Diproses Tanpa Dibuang Perut Atau Najisnya

 

Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-107 yang bersidang pada 10 – 11 Februari 2015 membincangkan Hukum Minyak Ikan Yang Diproses Tanpa Dibuang Perut Atau Najisnya. Muzakarah telah membuat keputusan seperti berikut:

1. Setelah meneliti fakta-fakta, hujah-hujah dan pandangan yang dikemukakan, Muzakarah menegaskan bahawa kandungan isi perut ikan adalah antara hukum yang tidak disebut secara jelas mengenainya sama ada dalam al-Quran ataupun Sunnah Rasulullah SAW. Ibn Hajar, Ziyad, al-Ramli dan lain-lain telah bersepakat bahawa apa-apa yang ada dalam perut ikan yang kecil sama ada darah atau najis adalah suci dan boleh dimakan serta tidak dianggap najis, bahkan al-Ramli berpendapat, hukum tersebut berlaku juga kepada ikan yang besar.

2. Sekiranya ia dihukum bersih, syarak menetapkan hukum memakannya bergantung pula pada pandangan pakar perubatan yang dipercayai sama ada ia boleh memudaratkan ataupun tidak. Sekiranya mudarat maka tidak boleh dimakan kerana memberi kesan pada kesihatan, begitulah sebaliknya.

3. Sehubungan itu, berdasarkan masyaqqah yang perlu dihadapi untuk memproses ikan dalam kuantiti yang banyak sehingga terlalu sukar untuk dibuang kandungan isi perut ikan satu persatu, dan realiti semasa industri komersil pemprosesan minyak ikan pada masa ini yang perlu mematuhi standard dan piawaian yang ketat bagi memastikan ianya bersih dan selamat digunakan, serta dengan mengambilkira kepentingan, manfaat dan kegunaan minyak ikan kepada kesihatan manusia, Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa minyak ikan yang diproses secara komersial dalam kuantiti yang melibatkan beribu-ribu tan ikan tanpa dibuang perut atau najisnya adalah suci dan halal dimakan.

Rujuk : Portal e-fatwa – http://bit.ly/1HG4xKG

Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

1 June 2015 Posted by | Fatwa, Ibadah | | Leave a comment

Hadith Sahih Amaliah Malam Nisfu Sya’ban Yang diperakui Oleh Albani dan Para Ulama

Diantara keutamaan Sya’ban karena di dalamnya ada malam Nishfu Sya’ban. Banyak dari umat Islam yang di malam tersebut melakukan amalan tertentu, misalnya dzikir, membaca al-Quran dan sebagainya yang intinya adalah meminta ampunan kepada Allah. Amaliyah ini memang tidak dilakukan di awal generasi sahabat, namun Rasulullah dalam sabda-sabdanya yang masuk dalam kategori sahih telah memberi isyarat akan kemuliaan malam tersebut. Dan jika sebuah amaliyah memiliki dasar dalam Islam, maka amaliyah tersebut tidak termasuk bid’ah tercela, terlebih lagi telah diamalkan sejak generasi Tabi’in dan ulama Salaf.

 

Dalil-Dalil Hadis Nishfu Sya’ban

Hadis Pertama

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن ِالنَّبِيِّ e قَالَ يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رواه الطبراني في الكبير والأوسط قال الهيثمى ورجالهما ثقات. ورواه الدارقطنى وابنا ماجه وحبان فى صحيحه عن ابى موسى وابن ابى شيبة وعبد الرزاق عن كثير بن مرة والبزار)

“Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nishfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antar sesama umat Islam)”. (HR Thabrani fi Al Kabir no 16639, Daruquthni fi Al Nuzul 68, Ibnu Majah no 1380, Ibnu Hibban no 5757, Ibnu Abi Syaibah no 150, Al Baihaqi fi Syu’ab al Iman no 6352, dan Al Bazzar fi Al Musnad 2389. Peneliti hadis Al Haitsami menilai para perawi hadis ini sebagai orang-orang yang terpercaya. Majma’ Al Zawaid 3/395)

Ulama Wahabi, Nashiruddin al-Albani yang biasanya menilai lemah (dlaif) atau palsu (maudlu’) terhadap amaliyah yang tak sesuai dengan ajaran mereka, kali ini ia tak mampu menilai dlaif hadis tentang Nishfu Sya’ban, bahkan ia berkata tentang riwayat diatas: “Hadis ini sahih” (Baca as-Silsilat ash-Shahihah 4/86)

1563 – إِنَّ اللهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (صحيح)  اهـ السلسلة الصحيحة للالباني (4/ 86)

Hadis Kedua

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ اللهَ تَعَالَى يَدْنُوْ مِنْ خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لِمَنِ اسْتَغْفَرَ إِلاَّ الْبَغِيَّ بِفَرْجِهَا وَالْعَشَّارَ (رواه الطبراني في الكبير وابن عدي عن عثمان بن أبي العاص وقال الشيخ المناوي ورجاله ثقات اهـ التيسير بشرح الجامع الصغير 1/551)

“Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya (rahmat) Allah mendekat kepada hambanya (di malam Nishfu Sya’ban), maka mengampuni orang yang meminta ampunan, kecuali pelacur dan penarik pajak” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu ‘Adi dari Utsman bin Abi al-’Ash. Syaikh al-Munawi berkata: Perawinya terpercaya. Baca Syarah al-Jami’ ash-Shaghir 1/551)

Hadis Ketiga

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ اللهُ تَعَالَى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِكُلِّ نَفْسٍ إِلاَّ إِنْسَانًا فِي قَلْبِهِ شَحْنَاءُ أَوْ مُشْرِكًا بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ (قال الحافظ ابن حجر هذا حديث حسن أخرجه الدارقطني في كتاب السنة عن عبد الله بن سليمان على الموافقة وأخرجه ابن خزيمة في كتاب التوحيد عن أحمد بن عبد الرحمن بن وهب عن عمه اهـ الأمالي 122)

Artinya “Rasulullah Saw bersabda: (Rahmat) Allah turun di malam Nishfu Sya’ban maka Allah akan mengampuni semua orang kecuali orang yang di dalam hatinya ada kebencian kepada saudaranya dan orang yang menyekutukan Allah” (al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Hadis ini hasan. Diriwayatkan oleh Daraquthni dalam as-Sunnah dan Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid, Baca al-Amali 122)

al-Hafidz Ibnu Hajar juga meriwayatkan hadis yang hampir senada dari Katsir bin Murrah:

عَنْ كَثِيْرِ بْنِ مُرَّةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَبَّكُمْ يَطَّلِعُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لَهُمْ كُلِّهِمْ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ مُشْرِكًا أَوْ مُصَارِمًا (المطالب العالية للحافظ ابن حجر العسقلاني 3 / 424)

HADIS HADIS SAHIH / HASAN MALAM NISHFU SYA’BAN

Tidak mungkin bagi sebagian sahabat dan Tabiin yang mengetahui keutamaan malam Nishfu Sya’ban tanpa didasari hadis-hadis sahih dari Rasulullah Saw tentang keutamaan Nishfu Sya’ban, terlebih jika Wahabi membesar-besarkan amalan ini dari Israiliyat. Ini terbukti dengan banyaknya riwayat hadis sahih tentang malam tersebut, bahkan yang menilai sahih / hasan justru datang dari ulama Wahabi, Syaikh Albani:

صحيح وضعيف الجامع الصغير – (ج 2 / ص 273)

773 – إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ اطَّلَعَ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيُمْلِي لِلْكَافِرِيْنَ وَيَدَعُ أَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ حَتَّى يَدَعُوْهُ .

تخريج السيوطي ( هب ) عن أبي ثعلبة الخشني .

تحقيق الألباني ( حسن ) انظر حديث رقم : 771 في صحيح الجامع .

“(Hadis) Jika ada malam pertengahan dari bulan Sya’ban, maka Allah memperhatikan makhluk-Nya dengan penuh rahmat. Allah akan mengampuni orang yang beriman, menangguhkan orang kafir dan meninggalkan orang yang iri dengan sifat iri hatinya hingga mereka meninggalkannya”. As-Suyuthi berkata: “HR al-Baihaqi dari Abu Tsa’labah al-Khusyani”. TAHQIQ AL-ALBANI “HASAN”

صحيح وضعيف الجامع الصغير – (ج 7 / ص 147)

2700 – إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ .

تخريج السيوطي ( هـ ) عن أبي موسى .

تحقيق الألباني ( حسن ) انظر حديث رقم : 1819 في صحيح الجامع .

“(Hadis) Sesungguhnya Allah memperhatikan makhluk-Nya dengan penuh rahmat di malam Nishfu Sya’ban. Maka Allah akan mengampuni semua hamba-Nya, kecuali orang musyrik dan yang memiliki kebencian (permusuhan)”. As-Suyuthi berkata: “HR Ibnu Majah dari Abu Musa”. TAHQIQ AL-ALBANI “HASAN”

صحيح وضعيف الجامع الصغير – (ج 7 / ص 226)

2779 – إِنَّ اللهَ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيُمْلِي لِلْكَافِرِيْنَ وَيَدَعُ أَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ حَتَّى يَدَعُوْهُ .

تخريج السيوطي ( طب ) عن أبي ثعلبة .

تحقيق الألباني ( حسن ) انظر حديث رقم : 1898 في صحيح الجامع .

“(Hadis) Sesungguhnya Allah memperhatikan hamba-hamba-Nya dengan penuh rahmat di malam Nishfu Sya’ban. Allah akan mengampuni orang yang beriman, menangguhkan orang kafir dan meninggalkan orang yang iri dengan sifat iri hatinya hingga mereka meninggalkannya”. As-Suyuthi berkata: “HR al-Thabrani dari Abu Tsa’labah al-Khusyani”. TAHQIQ AL-ALBANI “HASAN”

صحيح وضعيف الجامع الصغير – (ج 16 / ص 364)

7717 – فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَغْفِرُ اللهُ لِأَهْلِ الْأَرْضِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ .

تخريج السيوطي ( هب ) عن كثير بن مرة الحضرمي مرسلا .

تحقيق الألباني ( صحيح ) انظر حديث رقم : 4268 في صحيح الجامع .

“(Hadis) Pada malam pertengahan dari bulan Sya’ban, Allah akan mengampuni penduduk bumi, kecuali orang musyrik dan orang yang memiliki kebencian (permusuhan)”. As-Suyuthi berkata: “HR al-Baihaqi dari Abu Katsir bin Murrah al-Hadlrami, secara mursal”. TAHQIQ AL-ALBANI “SAHIH”

Pernyataan lain dari Syaikh al-Albani dapat dilihat di kitab-kitab berikut:

-          صحيح الترغيب والترهيب – (ج 1 / ص 248)

1026 – ( حَسَنٌ صَحِيْحٌ )

وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال يطلع الله إلى جميع خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن  (رواه الطبراني وابن حبان في صحيحه)

-          صحيح الترغيب والترهيب – (ج 3 / ص 33)

2767 – ( حَسَنٌ صَحِيْحٌ )

وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال يطلع الله إلى جميع خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن (رواه الطبراني في الأوسط وابن حبان في صحيحه والبيهقي)

-          صحيح الترغيب والترهيب – (ج 3 / ص 34)

2770 – ( صَحِيْحٌ لِغَيْرِهِ )

وعن مكحول عن كثير بن مرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال في ليلة النصف من شعبان يغفر الله عز وجل لأهل الأرض إلا مشرك أو مشاحن (رواه البيهقي وقال هذا مرسل جيد)

-          صحيح الترغيب والترهيب – (ج 3 / ص 34)

2771 – ( صَحِيْحٌ لِغَيْرِهِ )

قال الحافظ ورواه الطبراني والبيهقي أيضا عن مكحول عن أبي ثعلبة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال يطلع الله إلى عباده ليلة النصف من شعبان فيغفر للمؤمنين ويمهل الكافرين ويدع أهل الحقد بحقدهم حتى يدعوه (قال البيهقي وهو أيضا بين مكحول وأبي ثعلبة مرسل جيد قال الحافظ ويأتي في باب الحسد حديث أنس الطويل إن شاء الله تعالى)

HADIS HADIS SAHIH DIATAS TIDAK DITAMPILKAN OLEH WAHABI, MEREKA BANYAK MENYAMPAIKAN HADIS DLAIF ATAU PALSU!!!

Sahabat Telah Mengenal Keagungan Nishfu Sya’ban

Beberapa ulama, misalnya al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa amaliyah Malam Nishfu Sya’ban pertama kali dilakukan oleh kalangan Tabiin di Syam, seperti Luqman bin Amir, Makhul dan sebagainya (Lathaif al-Ma’arif). Namun sebenarnya kalangan sahabat sudah mengetahui keagungan malam Nishfu Sya’ban, sebagaimana riwayat berikut:

قَالَ الْوَاقِدِي: وَكَانَ فِي هَذِهِ السَّرِيَّةِ مَعَ عَبْدِ اللهِ بْنِ جَعْفَرٍ وَاثِلَةُ بْنُ الْأَسْقَعِ وَكَانَ خُرُوْجُهُمْ مِنْ أَرْضِ الشَّامِ وَهِيَ دِمَشْقَ إِلَى دَيْرِ أَبِي الْقُدْسِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَكَانَ الْقَمَرُ زَائِدَ النُّوْرِ. وَقَالَ وَأَنَا إِلَى جَانِبِ عَبْدِ اللهِ بْنِ جَعْفَرٍ. فَقَالَ لِي: يَا ابْنَ اْلأَسْقَعِ مَا أَحْسَنَ قَمَرَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَأَنْوَرَهُ، فَقُلْتُ: يَا ابْنَ عَمِّ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَهِيَ لَيْلَةٌ مُبَارَكَةٌ عَظِيْمَةٌ، وَفِي هَذِهِ تُكْتَبُ الْأَرْزَاقُ وَالْآجَالُ وَتُغْفَرُ فِيْهَا الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَاتُ وَكُنْتُ أَرَدْتُ أَنْ أَقُوْمَهَا. فَقُلْتُ: إِنَّ سَيْرَنَا فِي سُبُلِ اللهِ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِهَا وَاللهُ جَزِيْلُ الْعَطَاءِ. فَقَالَ: صَدَقْتَ (فتوح الشام – ج 1 / ص 73)

Al-Waqidi berkata: “Di dalam pasukan ini bersama Abdullah bin Ja’far (bin Abdul Mutallib) ada Watsilah bin Asqa’. Kedatangan mereka ke Syam, yakni Damaskus ke daerah Abi Quds, adalah di malam Nishfu Sya’ban. Rembulan makin bersinar. Watsilah berkata: Saya berada di dekat Abdullah bin Ja’far. Ia berkata kepada saya: “Wahai putra Asqa’, betapa indahnya dan bersinarnya rembulan malam ini”. Saya berkata: “Wahai sepupu Rasulullah Saw. Ini adalah malam Nishfu Sya’ban, malam yang diberkahi nan agung. Di malam inilah rezeki dan ajal akan dicatat. Di malam ini pula dosa dan kejelekan akan diampuni. Saya ingin beribadah di malam ini”. Saya berkata: “Perjalanan kita di jalan Allah (perang) lebih baih dari pada beribadah di malamnya. Allah maha agung pemberiannya”. Abdullah bin Ja’far berkata: “Kamu benar” (al-Waqidi dalam Futuh asy-Syam 1/74)

Secara jelas dalam riwayat ini para sahabat sudah punya rencana untuk melakukan amaliyah di malam Nishfu Sya’ban. Namun karena para sahabat harus berperang untuk penaklukan negeri Syam, maka mereka mendahulukan Jihad. Kendati para sahabat belum melakukannya, namun melakukan amaliyah ini bukan kategori bid’ah. Sama seperti sunah ‘azm (rencana kuat) dari Rasulullah untuk berpuasa pada hari Tasua’ (9 Muharram), namun Nabi Saw wafat terlebih dahulu: “Sungguh jika aku masih hidup sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada hari kesembilan” (HR Muslim)

Apakah hanya 2 sahabat saja? Ternyata yang tergabung dalam pasukan tersebut terdiri dari beberapa sahabat besar:

وَكَانَ عَلَى الْخَيْلِ خَمْسُمِائَةِ فَارِسٍ مِنْهُمْ رِجَالٌ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ، وَكَانَ مِنْ جُمْلَةٍ مِنْ سِيَرِهِ مَعَ عَبْدِ اللهِ أَبُوْ ذَرٍّ الْغِفَارِي وَعَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِيْ أَوْفَى وَعَامِرُ بْنُ رَبِيْعَةَ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ أَنِيْسٍ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ ثَعْلَبَةَ وَعُقْبَةُ بْنُ عَبْدِ اللهِ السُّلَمِي وَوَاثِلَةُ بْنُ الْأَسْقَعِ وَسَهْلُ بْنُ سَعْدٍ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ بِشْرٍ وَالسَّائِبُ بْنُ يَزِيْدَ (فتوح الشام – ج 1 / ص 72)

“Pasukan berkuda terdiri dari 500 orang, diantaranya adalah para sahabat yang mengikuti perang Badar. Diantara yang menyertai perjalanan Abdullah bin Ja’far adalah Abu Dzar al-Ghifari, Abdullah bin Abi Aufa, Amir bin Rabiah, Abdullah bin Anis, Abdullah bin Tsa’labah, Uqbah bin Abdillah as-Sulami, Watsilah bin Asqa’, Sahal bin Sa’d, Abdullah bin Bisyr dan Saib bin Yazid” (Futuh asy-Syam 1/72)

Amaliah Penduduk Makkah di Malam Nishfu Sya’ban

Penduduk Makkah antusias menyambut malam Nishfu Sya’ban. Al-Fakihani berkata:

ذِكْرُ عَمَلِ أَهْلِ مَكَّةَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَاجْتِهَادِهِمْ فِيْهَا لِفَضْلِهَا . وَأَهْلُ مَكَّةَ فِيْمَا مَضَى إِلَى الْيَوْمِ إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، خَرَجَ عَامَّةُ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَلُّوْا وَطَافُوْا وَأَحْيَوْا لَيْلَتَهُمْ حَتَّى الصَّبَاحِ بِالْقِرَاءَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يَخْتُمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ وَيَصِلُوْا ، وَمَنْ صَلَّى مِنْهُمْ تِلْكَ اللَّيْلَةِ مِائَةَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِـ الْحَمْدِ ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ وَأَخَذُوْا مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فَشَرِبُوْهُ وَاغْتَسَلُوْا بِهِ وَخَبَؤُوْهُ عِنْدَهُمْ لِلْمَرْضَى ، يَبْتَغُوْنَ بِذَلِكَ الْبَرَكَةَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ ، وَيُرْوَى فِيْهِ أَحَادِيْثُ كَثِيْرَةٌ (أخبار مكة للفاكهي – ج 5 / ص 23)

“(Bab tentang amaliah penduduk Makkah di malam Nishfu Sya’ban dan kesungguhan mereka di malam tersebut karena keutamaannya). Penduduk Makkah, dari dulu hingga sekarang, jika bertemu dengan malam Nishfu Sya’ban maka kebanyakan orang laki-laki dan perempuan mendatangi Masjidil Haram, mereka salat, tawaf, beribadah di malam harinya hingga pagi dengan membaca al-Quran di Masjidil Haram, hingga mengkhatamkan al-Quran keseluruhannya dan melanjutkan. Orang-orang diantara mereka yang melakukan salat di malam tersebut 100 rakaat, diawali dengan Hamdalah setiap rakaatnya, al-Ikhlas 100 kali, mereka juga mengambil air zamzam lalu meminumnya, menyiramkannya, dan diberikan kepada orang sakit dari mereka, adalah karena mengharap berkah di malam tersebut. Telah diriwayatkan beberapa hadis yang banyak tentang malam Nishfu Sya’ban” (Syaikh al-Fakihani, Akhbar Makkah 5/23)

(Catatan) Ulama Syafiiyah menegaskan bahwa salat 100 rakaat di malam Nishfu Sya’ban adalah bid’ah yang buruk, hadisnya adalah hadis palsu (Ianat ath-Thalibin)

Nishfu Sya’ban Menurut Para Ulama

Sahabat Abdullah bin Umar Ra

عَنِ ابْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ خَمْسُ لَيَالِيَ لاَ يُرَدُّ فِيْهِنَّ الدُّعَاءُ لَيْلَةُ الْجُمْعَةِ وَأَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَتَا الْعِيْدِ (أخرجه البيهقي في شعب الإيمان رقم 3711  وفي فضائل الأوقات رقم 149 وعبد الرزاق رقم 7927)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Ada 5 malam yang doa tidak akan ditolak. Yaitu doa malam Jumat, malam pertama bulan Rajab, Malam Nishfu Sya’ban dan malam dua hari raya” (al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 3811 dan dalam Fadlail al-Auqat No 149, dan Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf No 7928)

Imam asy-Syafi’I (150-204 H / 767-820 M)

قَالَ الْبَيْهَقِي قَالَ الشَّافِعِي وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ فِي لَيْلَةِ الْجُمْعَةِ وَلَيْلَةِ اْلأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ (أخرجه البيهقي في السنن الكبرى رقم 6087 وفي معرفة السنن والآثار رقم 1958 وذكره الحافظ ابن حجر في تلخيص الحبير رقم 675)

Ahli hadis al-Baihaqi mengutip dari Imam Syafi’i: ” Telah sampai kepada kami bahwa doa dikabulkan dalam lima malam, yaitu awal malam bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, dua malam hari raya dan malam Jumat” (as-Sunan al-Kubra No 6087, Ma’rifat as-Sunan wa al-Atsar No 1958, dan dikutip oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Talkhis al-Habir No 675)

Ulama Syafi’iyah

قَالَ الشَّافِعِي وَاَنَا اَسْتَحِبُّ كُلَّ مَا حُكِيَتْ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي مِنْ غَيْرِ اَنْ تَكُوْنَ فَرْضًا هَذَا آخِرُ كَلاَمِ الشَّافِعِي وَاسْتَحَبَّ الشَّافِعِي وَاْلاَصْحَابُ اْلاِحْيَاءَ الْمَذْكُوْرَ (المجموع للنووي 5 / 43)

“asy-Syafii berkata: Saya menganjurkan semua yang diriwayatkan tentang ibadah di malam-malam tersebut (termasuk malam Nishfu Sya’ban), tanpa menjadikannya sebagai sesuatu yang wajib. asy-Syafii dan ulama Syafi’iyah menganjurkan ibadah dengan cara yang telah disebutkan” (Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ 5/43)

Ahli Hadis al-Hafidz al-Iraqi (725-806 H / 1325-1404 M)

قَالَ الزَّيْنُ الْعِرَاقِي مَزِيَّةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مَعَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ أَنَّهُ ذُكِرَ مَعَ النُّزُوْلِ فِيْهَا وَصْفٌ آخَرُ لَمْ يُذْكَرْ فِي نُزُوْلِ كُلِّ لَيْلَةٍ وَهُوَ قَوْلُهُ فَيَغْفِرُ ِلأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ وَلَيْسَ ذَا فِي نُزُوْلِ كُلِّ لَيْلَةٍ وَلأَنَّ النُّزُوْلَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مُؤَقَّتٌ بِشَرْطِ اللَّيْلِ أَوْ ثُلُثِهِ وَفِيْهَا مِنَ الْغُرُوْبِ (فيض القدير للمناوي 2/ 402)

“Zainuddin al-Iraqi berkata: Keistimewaan malam Nishfu Sya’ban dimana setiap malam (rahmat) Allah turun ke langit terendah, adalah karena memiliki karakteristik tersendiri yang tidak ada dalam setiap malam, yaitu ‘Allah akan memberi ampunan’. Juga karena di setiap malam ditentukan waktunya setelah lewat tengah malam atau sepertiga akhir, sementara dalam Nishfu Sya’ban dimulai setelah terbenam matahari” (Faidl al-Qadir, Syaikh al-Munawi, 2/402)

Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami (909-973 H / 1504-1567 M)

وَالْحَاصِلُ أَنَّ لِهَذِهِ اللَّيْلَةِ فَضْلاً وَأَنَّهُ يَقَعُ فِيْهَا مَغْفِرَةٌ مَخْصُوْصَةٌ وَاسْتِجَابَةٌ مَخْصُوْصَةٌ وَمِنْ ثَمَّ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِيْهَا (الفتاوى الفقهية الكبرى لابن حجر الهيتمي 2/ 80)

“Kesimpulannya, bahwa Malam Nishfu Sya’ban ini memiliki keutamaan. Di dalamnya terdapat ampunan khusus dan terkabulnya doa secara khusus. Oleh karenanya as-Syafi’i berkata: Doa dikabulkan di Malam Nishfu Sya’ban” (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah 2/80)

Syaikh Ibnu Taimiyah (661-728 H / 1263-1328 M. Ideolog Utama aliran Wahabi)

وَمِنْ هَذَا الْبَابِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقَدْ رُوِىَ فِي فَضْلِهَا مِنَ اْلأَحَادِيْثِ الْمَرْفُوْعَةِ وَاْلآثَارِ مَا يَقْتَضِي أَنَّهَا لَيْلَةٌ مُفَضَّلَةٌ وَأَنَّ مِنَ السَّلَفِ مَنْ كَانَ يَخُصُّهَا بِالصَّلاَةِ فِيْهَا وَصَوْمُ شَهْرِ شَعْبَانَ قَدْ جَاءَتْ فِيْهِ أَحَادِيْثُ صَحِيْحَةٌ وَمِنَ الْعُلَمَاءِ مِنَ السَّلَفِ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ وَغَيْرِهِمْ مِنَ الْخَلَفِ مَنْ أَنْكَرَ فَضْلَهَا وَطَعَنَ فِي اْلأَحَادِيْثِ الْوَارِدَةِ فِيْهَا كَحَدِيْثِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ فِيْهَا ِلأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ بَنِي كَلْبٍ وَقَالَ لاَ فَرْقَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ غَيْرِهَا لَكِنِ الَّذِي عَلَيْهِ كَثِيْرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَوْ أَكْثَرُهُمْ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ عَلَى تَفْضِيْلِهَا وَعَلَيْهِ يَدُلُّ نَصُّ أَحْمَدَ لِتَعَدُّدِ اْلأَحَادِيْثِ الْوَارِدَةِ فِيْهَا وَمَا يُصَدِّقُ ذَلِكَ مِنَ اْلآثَارِ السَّلَفِيَّةِ وَقَدْ رُوِِىَ بَعْضُ فَضَائِلِهَا فِي الْمَسَانِيْدِ وَالسُّنَنِ وَإِنْ كَانَ قَدْ وُضِعَ فِيْهَا أَشْيَاءٌ أُخَرُ (اقتضاء الصراط 302)

“Keutamaan malam Nishfu Sya’ban diriwayatkan dari hadis-hadis marfu’ dan atsar (amaliyah sahabat dan tabi’in), yang menunjukkan bahwa malam tersebut memang utama. Dan sebagian ulama Salaf ada yang secara khusus melakukan salat sunah (mutlak) di malam tersebut … Kebanyakan ulama atau kebanyakan ulama dari kalangan kami mengatakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Ini sesuai dengan penjelasan Imam Ahmad karena banyaknya hadis yang menjelaskan tentang malam Nishfu Sya’ban dan yang mendukungnya dari riwayat ulama Salaf. Sebab riwayat Malam Nishfu Sya’ban terdapat dalam kitab-kitab Musnad dan Sunan, meskipun di dalamnya juga ada sebagian hadis-hadis palsu”  (Iqtidla’ ash-Shirat al-Mustaqim 302)

وَسُئِلَ عَنْ صَلاَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ ؟ (الْجَوَابُ) فَأَجَابَ: إذَا صَلَّى اْلإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِيْ جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنْ السَّلَفِ فَهُوَ أَحْسَنُ. وَأَمَّا اْلاِجْتِمَاعُ فِي الْمَسَاجِدِ عَلَى صَلاَةٍ مُقَدَّرَةٍ كَاْلاِجْتِمَاعِ عَلَى مِائَةِ رَكْعَةٍ بِقِرَاءَةِ أَلْفٍ: {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} دَائِمًا. فَهَذَا بِدْعَةٌ لَمْ يَسْتَحِبَّهَا أَحَدٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ. وَاللهُ أَعْلَمُ  (مجموع فتاوى ابن تيمية ج 2 ص 469)

“Ibnu Taimiyah ditanya soal shalat pada malam nishfu Sya’ban. Ia menjawab: Apabila seseorang shalat sunah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti salat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú’ Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469)

Syaikh al-Mubarakfuri (1361-1427 H / 1942-2006 M)

وَهَذِهِ اْلأَحَادِيْثُ كُلُّهَا تَدُلُّ عَلَى عَظِيْمِ خَطَرِ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ وَجَلاَلَةِ شَأْنِهَا وَقَدْرِهَا وَأَنَّهَا لَيْسَتْ كَاللَّيَالِي اْلأُخَرِ فَلاَ يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهَا بَلْ يُسْتَحَبُّ إِحْيَاءُهَا بِالْعِبَادَةِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالْفِكْرِ (مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح 4/ 341)

“Hadis-hadis ini secara keseluruhan menunjukkan keagungan Malam Nishfu Sya’ban, dan malam tersebut tidak sama dengan malam-malam yang lain. Dan dianjurkan untuk tidak melupakannya, bahkan dianjurkan untuk menghidupinya dengan ibadah, doa, dzikir dan tafakkur” (Syaikh al-Mubarakfuri dalam Syarah Misykat al-Mashabih 4/341)

Membaca Yasin di Malam Nishfu Sya’ban

وَأَمَّا قِرَاءَةُ سُوْرَةِ يس لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُعَاءِ الْمَشْهُوْرِ فَمِنْ تَرْتِيْبِ بَعْضِ أهْلِ الصَّلاَحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ قِيْلَ هُوَ الْبُوْنِى وَلاَ بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ (أسنى المطالب فى أحاديث مختلفة المراتب ص 234)

“Adapun pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban setelah Maghrib merupakan hasil ijtihad  sebagian ulama, konon ia adalah Syeikh Al Buni, dan hal itu bukanlah suatu hal yang buruk”. (Syaikh Muhammad bin Darwisy, Asná al-Mathálib, 234)

Berdasarkan hadis-hadis sahih diatas dan ijtihad para ulama hadis dan fikih menunjukkan bahwa amaliyah di malam Nishfu Sya’ban memiliki dasar yang kuat dan bukan perbuatan bid’ah yang sesat, karena telah diamalkan sejak generasi ulama salaf. Jika Tarawih di Madinah 39 rakaat yang baru dirintis di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah tidak ada yang menghukumi bid’ah bahkan menjadi acuan sah ijtihad ulama Malikiyah, lalu bagaimana bisa amaliyah malam Nishfu Sya’ban dituduh bid’ah yang sesat? Wallahu A’lam

Ditulis Oleh Ustaz Ma’ruf Khozin

Sumber: ASWJ Research Group

1476762_10201216862329647_2027166840_n

31 May 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Hidup Kita Cuma Dalam 3 hari

1. Semalam – Sudah menjadi sejarah
2. Hari Ini – Apa yang sedang kita lakukan
3. Esok – Hari yang belum pasti 

Hisablah hari pertama semoga hari yang kedua kita lebih baik dari hari yang pertama.? Jangan mengharap hari yang ketiga kerana mungkin ajal kita pada hari yang kedua. 

HIDUP KITA CUMA DALAM 2 NAFAS : 
1. Nafas Naik
2. Nafas Turun 

Hargailah Nafas yang naik kerana udara yang disedut adalah pemberian Allah secara percuma dan carilah keredhaanNya dalam menggunakannya. 

Bertaubatlah dalam Nafas yang kedua kerana mungkin itu nafas yang terakhir keluar dari tubuh bersama Nyawa dan Roh untuk meninggalkan dunia yang fana ini. 

HIDUP KITA CUMA ADA 2 PILIHAN : 
1. Hidup dalam keredhaan Allah
2. Hidup dalam kemurkaan Allah 

HIDUP KITA YANG ABADI CUMA ADA 2 TEMPAT : 
1. Kekal didalam neraka
2. Kekal didalam syurga

Sumber

31 May 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Hidup KitaCua

Hidup Kita
Hidup Kita Cuma Dalam 3 Hari

1. Semalam – Sudah menjadi sejarah
2. Hari Ini – Apa yang sedang kita lakukan
3. Esok – Hari yang belum pasti 

Hisablah hari pertama semoga hari yang kedua kita lebih baik dari hari yang pertama.? Jangan mengharap hari yang ketiga kerana mungkin ajal kita pada hari yang kedua. 

HIDUP KITA CUMA DALAM 2 NAFAS : 
1. Nafas Naik
2. Nafas Turun 

Hargailah Nafas yang naik kerana udara yang disedut adalah pemberian Allah secara percuma dan carilah keredhaanNya dalam menggunakannya. 

Bertaubatlah dalam Nafas yang kedua kerana mungkin itu nafas yang terakhir keluar dari tubuh bersama Nyawa dan Roh untuk meninggalkan dunia yang fana ini. 

HIDUP KITA CUMA ADA 2 PILIHAN : 
1. Hidup dalam keredhaan Allah
2. Hidup dalam kemurkaan Allah 

HIDUP KITA YANG ABADI CUMA ADA 2 TEMPAT : 
1. Kekal didalam neraka
2. Kekal didalam syurga

Semoga bermanfaat
Barakallohu fiikum 🌻:)

31 May 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Golongan Menjual akhirat

 

Golongan Menjual akhirat; "Diakhir zaman, akan muncul golongan-golongan yang zahirnya memperjuangkan Islam, membawa panji Islam, membuat bangunan-bangunan nampak seperti memperjuangkan Islam tapi menyimpan hati yang busuk didalamnya."

"Mereka memerangi Ummat Islam, menghantar matlumat kepada Musuh-musuh Islam, dan membawa perbalahan dan bergaduh sesama islam. Diakhir zaman, ilmu-ilmu dan akal manusia akan dicabut oleh Allah ﷻ."

"Bukan dicabut itu dikatakan waras atau tidak tetapi mereka tidak menggunakan akal, bukan dikatakan mereka tidak beramal ataupun gila tetapi tidak digunakan dan diisi dengan ilmu."

"Dikatakan akal-akal orang waktu itu akan diambil dan dicabut oleh Allah ﷻ, maknanya ramai ulama meninggal dunia sehingga tersisa org yg mempunyai akal tetapi tidak diisi dengan ilmu tanpa mengenali haq dan batil, makruf dan yg mungkar dan yg mana jihad dan yg mana pembunuhan sesama orang islam."

"Apa yg menyebabkan mereka buta? kerana tidak mempunyai ilmu. Perumpaannya seperti orang yang berjalan diwaktu malam. Nabi bersabda; "Akan datang suatu zaman nanti fitnah umpama malam yang mengelapkan. Yang dikatakan gelap itu adalah gelapnya fitnah sehingga orang tidak dapat membezakan yg mana betul dan yg mana salah."

"Diantara tanda dekatnya hari kiamat di akhir zaman. Adalah seseorang itu, akan menjual agamanya dengan sedikit nilai keduniaan. Menjual agama ini adalah mendahulukan keduniaan walaupun terpaksa korbankan perkara yang dilarang atau yg diperintah dalam agama. Kata Al Imam al-Busiri; "Barangsiapa yang menjual akhirat dengan duniaanya, jual beli itu adalah jual beli yang sangat merugikan."

"Diakhir hayat Rasulullah ﷺ, Beliau kurang tersenyum kerana termimpi akan adanya khinzir-khinzir yang menaiki Mimbar-mimbar. Ini adalah simbol kepada Ulama’ Su. Yang akan ramai jumlahnya di akhir Zaman ini. Ini yang menjadi penyelaras kepada ramainya pengikut Ad-dajjal."

"Kerana orang Alim kalau tergelincir mulutnya satu kalam sahaja akan tergelincir semuanya. Yakni semua pengikutnya akan tergelincir. Dan berapa ramai yang berpegang kepada satu pandangan daripada orang ‘Alim yang didakwa alim yang pada akhirnya berlaku sedemikian."

"Dengan tergelincirnya orang alim akan berlakunya pembunuhan, penodaan kehormatan, pentengkaran, pengkafiran, permusuhan kepada seseorang dan sebagainya. Zaman kita ini diakhir zaman, terdapat ramai yang akan terpedaya kepada fitnah Ini. "

Daripada Sayyidil Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid

Ya Allah… Jadikan lah kami dari golongan yang sedikit… Aameen

 

Sumber: PONDOK HABIB shared Saiful Omar‘s post.

31 May 2015 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

JAUHI SIFAT DENGKI

Dengki

 

Ustaz Iqbal Zain

‘Ali ibn Abu Thalib r.a. mengatakan, “Orang yang memiliki sifat dengki, tidak akan boleh beristirahat dengan tenang.” Ahli hikmah juga mengatakan, “Berhati-hatilah kalian dengan sikap dengki. Kerana kedengkian adalah faktor utama yang menyebabkan munculnya kemaksiatan kepada Allah di kerajaan langit dan dosa pertama yang terjadi di muka bumi.

Adapun kemaksiatan pertama yang terjadi di kerajaan langit adalah dari hal pembangkangan Iblis yang diperintahkan untuk sujud kepada Adam. Iblis berhelah, “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”( Q.S. al-A‘râf [7]: 12)

Dengan sikap ini, Iblis telah merasa iri hati dan dengki, sehingga ia kemudiannya mendapatkan laknat Allah Swt. Adapun dosa pertama yang terjadi di muka bumi adalah pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil ibn Adam terhadap saudaranya, Habil, yang didasari oleh rasa dengki. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah, “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.’”( Q.S. al-Mâidah [5]: 27)

Muhammad ibn Sirin menegaskan, “Saya tidak pernah merasa dengki terhadap siapa pun atas sesuatu yang bersifat keduniaan. Jika orang itu termasuk calon penduduk syurga, maka tidak ada alasan bagiku untuk bersikap dengki kepadanya, kerana ia pasti akan masuk ke syurga. Sedangkan jika orang itu termasuk calon penghuni neraka, maka tidak ada alasan bagiku untuk bersikap dengki kepadanya, kerana ia pasti akan kembali ke neraka.”

Seorang dengki yang bergabung di dalam satu majlis ilmu, dia hanya akan mendapatkan penghinaan dan kehinaan. Dia tidak akan mendapatkan naungan dari para malaikat, kecuali laknat dan kebencian. Juga akan dianggap sebagai orang yang memalukan dan memberatkan. Dia akan merasakan panasnya terpanggang di dalam api neraka. Di setiap kesepian, ia hanya akan merasakan kebutaan dan akan merasakan sekarat mati yang memilukan dan menyakitkan.

Abu Hurairah r.a. menuturkan bahawa Rasulullah saw. bersabda, “Waspadalah kalian dari sifat dengki. Kerana sifat dengki dapat menghapuskan pahala kebaikan-kebaikan, sebagaimana api dapat menghabiskan kayu bakar.”(HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

31 May 2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment