Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Hukum Mendoakan Orang Bukan Islam

Nota Editor: Artikel ini asalnya telah dikongsikan oleh Ustaz Abu Basyer di Facebook.

Terdapat empat keadaan adakah boleh kita mendoakan kepada orang bukan Islam?

Perkara-perkara tersebut adalah seperti berikut :

PERTAMA: Mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah.

Para Ulama telah sepakat (Ijma’) akan bolehnya hal ini, diantara dalilnya adalah hadits berikut:

Abu Hurairah -radliallahu anhu- mengatakan: (Suatu hari) At-Thufail dan para sahabatnya datang, mereka mengatakan: “ya Rasulullah, Kabilah Daus benar-benar telah kufur dan menolak (dakwah Islam), maka doakanlah keburukan untuk mereka! Maka ada yg mengatakan: “Mampuslah kabilah Daus”. Lalu baginda mengatakan: “Ya Allah, berikanlah hidayah kepada Kabilah Daus, dan datangkanlah mereka (kepadaku). (HR. Bukhari 2937 dan Muslim 2524, dg redaksi dari Imam Muslim)

Hadits berikut juga menunjukkan bolehnya mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah:
Abu Musa -radliallahu anhu- mengatakan: “Dahulu Kaum Yahudi biasa berpura-pura bersin di dekat Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam-, mereka berharap baginda mahu mengucapkan doa untuk mereka “yarhamukallah (semoga Allah merahmati kalian)”, maka baginda mengatakan doa: “yahdikumullah wa yushlihabalakum (semoga Allah memberi hidayah kepada kalian, dan memperbaiki keadaan kalian)” (HR. Tirmidzi 2739 , dan yg lainnya, dishohihkan oleh Syeikh Albani)
KEDUA: Mendoakan kebaikan dalam perkara dunia.

Hal ini dibolehkan kerana adanya contoh dari Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam-… lihatlah dalam hadis di atas, baginda mendoakan kepada Kaum Yahudi:

“Semoga Allah memberi kalian hidayah, dan memperbaiki keadaan kalian”

Ada juga ikrar (persetujuan) Rasulullah –Shallallahu Alaihi Wasallam– dalam hal ini:

Abu Said al-Khudri mengatakan: (Suatu saat) Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- menugaskan kami dalam Sariyyah (pasukan kecil), lalu kami singgah di suatu kaum, dan kami meminta mereka agar menjamu kami tapi mereka menolaknya. Lalu pemimpin mereka terkena sengatan haiwan, maka mereka mendatangi kami, dan mengatakan: “Adakah diantara kalian yg boleh meruqyah sakit kerana sengatan Kalajengking?”. Maka ku jawab: “Ya, aku boleh, tapi aku tidak akan meruqyahnya kecuali kalian memberi kami kambing”. Mereka mengatakan: “Kami akan memberikan 30 kambing kepada kalian”. Maka kami menerima tawaran itu, dan aku bacakan kepada (pemimpin)nya surat Alhamdulilah sebanyak 7 kali, maka ia pun sembuh, dan kami terima imbalan (30) kambing.

Abu Sa’id mengatakan: Lalu ada sesuatu yg mengganjal di hati kami (dari langkah ini), maka kami mengatakan: “Jangan tergesa-gesa (dengan upah kambing ini), sampai kalian mendatangi Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam-.
Abu sa’id mengatakan: Maka ketika kami mendatangi baginda, aku menyebutkan apa yg telah kulakukan. Baginda mengatakan: “Dari mana kau tahu, bahawa (Alfatihah) itu Ruqyah?, ambillah kambingnya dan berilah aku bagian darinya”. (HR. Tirmidzi [2063] dengan redaksi ini, kisah ini juga diriwayatkan di dalam shahih Bukhari [2276] dan shahih Muslim [2201]).

Hadits ini menjelaskan bolehnya kita me-ruqyah orang kafir agar sakitnya sembuh, dan ini merupakan bentuk dari tindakan mendoakan kebaikan untuk mereka dalam urusan dunia. Tidak salah kita mendoakan kesembuhan mereka jika mereka sakit.

Diantara dalil dalam masalah ini adalah dibolehkannya kita menjawab salamnya orang kafir, walaupun bolehnya hanya seringkas “wa’alaikum“, sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu Alaihi Wasallam-:

“Jika seorang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah dengan ucapan: “Wa’alaikum“. (HR. Bukhari [5788], dan Muslim [4024]).

Ada juga contoh dari salah seorang Sahabat Nabi dalam masalah ini:

Uqbah bin Amir al-Juhani -radhiallahu anhu- menceritakan: bahawa dia pernah berpapasan dengan seseorang yang gayanya seperti muslim, lalu orang tersebut memberi salam kepadanya, maka ia pun menjawabnya dengan ucapan: “wa’alaika wa rahmatullah wabarakatuh”… Maka pelayannya mengatakan padanya: Dia itu seorang Nasrani!… Lalu Uqbah pun beranjak dan mengikutinya hingga ia mendapatkannya, maka ia mengatakan: “Sesungguhnya rahmat dan berkah Allah itu untuk Kaum Mukminin, akan tetapi semoga Allah memanjangkan umurmu, dan memperbanyak harta dan anakmu” (HR. Bukhori dalam kitabnya Adabul Mufrod 1/430, dan dihasankan oleh Syeikh Albani)

Banyak ulama yg memberi batasan: bahwa orang kafir yg didoakan kebaikan, harus bukan dalam kategori kafir harbi (yakni kafir yg memerangi Kaum Muslimin)… Dan ini sangatlah tepat… Syeikh Albani -rahimahullah- mengatakan:

Akan tetapi, orang yg mendoakan kebaikan harus memperhatikan, bahawa orang kafir tersebut bukanlah musuh (perang) bagi Kaum Muslimin. (Ta’liq Kitab Adab Mufrod 1/430).

KETIGA: Mendoakan agar dosa mereka diampuni, setelah mereka mati dalam keadaan kafir.

Para ulama telah sepakat (Ijma’) bahawa hal ini diharamkan:

Imam Nawawi -rahimahullah- mengatakan: “Adapun menyolati orang kafir, dan mendoakan agar diampuni dosanya, maka ini merupakan perbuatan haram, berdasarkan nas al-Quran dan Ijma’. (al-Majmu’ 5/120).

Ibnu Taimiyah -rahimahullah- juga mengatakan: Sesungguhnya memintakan maghfiroh untuk orang-orang kafir tidak dibolehkan, berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’. (Majmu’ul Fatawa 12/489)

Dan dalil paling tegas dalam masalah ini adalah firman Allah Ta’ala:

Maksudnya, “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim.” (Surah at-Taubah ayat 113)

KEEMPAT: Mendoakan agar diampuni dosanya ketika mereka masih hidup.

Hal ini dibolehkan dengan Dalil hadits berikut:

Abdullah bin Mas’ud mengatakan: “Seakan-akan aku sekarang melihat Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam- bercerita tentang seorang Nabi, yang dipukul oleh kaumnya hingga bercucur darah, dan ia mengusap darah tersebut dari wajahnya, tetapi ia tetap mengatakan: “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka itu tidak tahu”. (HR. Bukhori 3477).

Memang Hadis ini tidak tegas mengatakan bahawa Nabi yang mendoakan ampunan tersebut adalah Nabi Muhammad –Shallallahu Alaihi Wasallam-… Namun ada riwayat lain yg tegas mengatakan bahawa doa tersebut juga diucapkan oleh Nabi kita Muhammad –Shallallahu Alaihi Wasallam– kepada kaumnya yg masih kafir:

Sahal bin sa’ad mengatakan: Aku telah menyaksikan Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam- saat gigi serinya patah, wajahnya terluka, dan helm perang di kepalanya pecah… sungguh aku juga tahu siapa yg mencuci darah dari wajahnya, siapa yang mendatangkan air kepadanya, dan apa yang ditempatkan dilukanya hingga darahnya mampet… Adalah Fatimah puteri Muhammad utusan Allah yang mencuci darah dari wajah, dan Ali -radliallahu anhu- yang mendatangkan air dalam perisai… maka ketika Fatimah mencuci darah dari wajah ayahnya, dia membakar tikar, sehingga ketika telah menjadi abu, ia mengambil abu itu, lalu menaruhnya di wajah baginda, hingga darahnya mampet… ketika itu baginda mengatakan: “Telah memuncak kemurkaan Allah atas kaum yang melukai wajah Rasulullah”… lalu baginda diam sebentar, dan mengatakan: “Ya Allah ampunilah kaumku, kerana sesungguhnya mereka itu tidak tahu”. (HR. Tobaroni, dan Syeikh Albani dalam Silsilah Shohihah [7/531] mengatakan: Sanadnya Hasan atau Shohih).

Diantara dalil dalam masalah ini adalah Mafhum Mukholafah dari firman Allah berikut:

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapanya, tidak lain hanyalah kerana suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapanya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahawa bapanya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (Surah at-Taubah ayat 113-114)

Ayat ini mengaitkan “larangan memintakan ampun untuk Kaum Musyrikin”, dengan keadaan “sesudah jelas bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka”. Sehingga sebelum jelas menjadi penghuni neraka, boleh di mintakan ampun… Dan telah shohih dari Ibnu Abbas, bahawa maksud dari firman Allah yg ertinya: “Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapanya itu adalah musuh Allah” adalah “setelah mati dalam keadaan kufur”. Sehingga sebelum kematiannya, masih boleh dimintakan ampun.

Berikut Atsar dari Ibnu Abbas tersebut:

Sa’id bin Jubair mengatakan: Ada salah seorang ayah meninggal, dan dia seorang Yahudi, sehingga putranya (yang muslim) tidak mengikuti (jenazah)nya, lalu hal itu diceritakan kepada Ibnu Abbas, maka beliau mengatakan: “Tidak sepatutnya ia melakukannya, (alangkah baiknya) apabila ia memandikannya, mengikuti (jenazah)nya, dan memintakan ampun baginya ketika masih hidup… kemudian Ibnu Abbas membaca ayat (yg artinya): “Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapanya itu adalah musuh Allah, ia pun berlepas diri darinya”, maksudnya: “ketika ia mati dalam keadaan kafir”. (Mushonnaf Abdurrozzaq 6/39).

Dan kesimpulan bolehnya memintakan ampun bagi orang-orang kafir selama masih hidup ini, juga banyak dinyatakan oleh para ulama, diantaranya:

Imam At-Thobari –rohimahulloh-, beliau mengatakan dalam tafsirnya:

Sekelompok ulama’ telah menafsiri firman Allah (yg ertinya): Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya)… -hingga akhir ayat-; bahawa larangan dari Allah untuk memintakan ampun bagi kaum musyrikin adalah setelah matinya mereka (dalam keadaan kafir), kerana firman-Nya (yg ertinya): “sesudah jelas bagi mereka, bahawasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim”. Mereka mengatakan: “alasannya, kerana tidak ada yg boleh memastikan (bahawa dia ahli neraka), kecuali setelah ia mati dalam kekafirannya, adapun saat ia masih hidup, maka tidak ada yang boleh mengetahui hal itu, sehingga dibolehkan bagi Kaum Mukminin untuk memintakan ampun bagi mereka. (Tafsir Thobari 12/26)

Dan inilah pendapat yg dipilih oleh beliau dalam tafsirnya. (lihat Tafsir Thobari 12/28)

Imam Al-Qurtubi juga mengatakan dalam tafsirnya:

Banyak ulama mengatakan: “Tidak mengapa bagi seorang (muslim) mendoakan kedua orang tuanya yg kafir, dan memintakan ampun bagi keduanya selama mereka masih hidup. Adapun orang yg sudah meninggal, maka telah terputus harapan (untuk diampuni dosanya). Ibnu Abbas mengatakan: “Dahulu orang-orang memintakan ampun untuk orang-orang mati mereka, lalu turunlah ayat, maka mereka berhenti dari memintakan ampun. Namun mereka tidak dilarang untuk memintakan ampun bagi orang-orang yg masih hidup hingga mereka meninggal”. (Tafsir Qurtubi 10/400)

Inilah pendapat paling kuat dalam masalah ini, kerana bersandarkan dalil dari Al-Qur’an, Hadits, dan Perkataan Shahabat… Kerana banyak dari kalangan ulama, memilih pendapat ini… Namun ada dua hal yg perlu digaris bawahi di sini:

– Bahwa yg lebih afdhol adalah mendoakan orang yg kafir agar diberikan hidayah masuk Islam… Kerana inilah yang sering dilakukan oleh Nabi –Shallallahu Alaihi Wasallam-, dan inilah yg telah disepakati bolehnya oleh para ulama.
– Ampunan yg sempurna tidak akan diberikan kepada orang kafir, selama dia masih kafir… Sehingga erti dari doa meminta ampunan untuk mereka adalah: ampunan dari sebagian dosa selain kesyirikan dan kekafirannya, atau ampunan untuk semua dosanya dengan jalan diberi hidayah dahulu untuk masuk Islam.

Sekian… wallahu Ta’ala a’lam…

Sumber : Islam Itu Indah
.

5 January 2016 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Hukum Memakan Makanan Terubahsuai Genetik (Genetic Modified Food)

Oleh Bahagian Pengurusan Fatwa Jabatan Kemajuan Islam Malaysia

image

Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-95 yang bersidang pada 16-18 Jun 2011 telah membincangkan mengenai Hukum Memakan Makanan Terubahsuai Genetik (Genetic Modified Food). Muzakarah telah membuat keputusan seperti berikut:

1. Setelah mendengar taklimat dan penjelasan daripada Y. Bhg. Prof. Dato’ Dr. Yaakob Che Man, Pengarah Institut Penyelidikan Produk Halal (IPPH) Universiti Putra Malaysia serta meneliti hujah-hujah dan pandangan yang dikemukakan, Muzakarah mengambil perhatian bahawa makanan terubahsuai secara genetik melibatkan pemindahan gen-gen yang halal dan juga tidak halal, dari haiwan dan juga tanaman bagi memberikan ciri-ciri yang dikehendaki sebagai makanan atau ubat-ubatan.

2. Dalam hal ini Muzakarah berpandangan bahawa Islam menghendaki umatnya supaya memilih makanan yang baik (toyyib) iaitu halal,suci dan tidak memberi mudharat kepada jiwa dan akal manusia dan proses penghasilannya juga tidak memberi mudharat kepada manusia dan alam sekitar.

3. Sehubungan itu, Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa dalam penghasilan Makanan Terubahsuai Genetik (GM Food), penggunaan bahan-bahan yang diharamkan dan memudaratkan manusia serta alam sekitar adalah dilarang. Manakala penggunaan haiwan ternakan yang halal dibolehkan sekiranya haiwan tersebut disembelih mengikut kaedah syarak.

17 December 2015 Posted by | Fatwa | Leave a comment

Hukum Memakan Daging/Isi Belangkas dan Telurnya


Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-93 yang bersidang pada 21 Februari 2011 telah membincangkan Hukum Memakan Daging/Isi Belangkas dan Telurnya. Muzakarah telah memutuskan seperti berikut:

1. Setelah meneliti keterangan, hujah-hujah dan pandangan yang dikemukakan, Muzakarah berpandangan bahawa tiada nas qati’e yang mengharamkan manusia memakan belangkas. Pakar Haiwan Hidupan Air menyatakan bahawa belangkas adalah haiwan yang hidup di laut dalam dan hanya naik ke pantai untuk bertelur. Ia adalah sejenis haiwan satu alam yang hidup di laut masin dan sedikit di paya air tawar dan ia tidak boleh kekal hidup di darat kerana bernafas menggunakan insang.

2. Sehubungan itu, selaras dengan pandangan Jumhur Ulama’ yang menyatakan bahawa haiwan yang tinggal di dalam laut semata-mata dan tidak boleh hidup tanpa air adalah halal dimakan, maka Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa hukum memakan daging/isi dan telur belangkas adalah diharuskan (HALAL).

Rujuk : http://www.e-fatwa.gov.my/…/hukum-memakan-dagingisi-belangk…

15 December 2015 Posted by | Fatwa, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

HUKUM BERDOA KETIKA SUJUD YANG TERAKHIR

Soalan:

Assalamualaikum Tuan Mufti yang dihormati,

Saya ingin bertanya tentang permasalah berkaitan dengan doa ketika sujud terakhir dalam solat. Ini kerana terdapat khilaf berkaitan permasalahan INI. Adakah perlaksanaannya dibenarkan atau pun sebaliknya? Semoga tuan yang lebih arif membantu saya dalam permasalahan ini.

Terima kasih.

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jawapan:

Hukumnya ialah berdoa disunatkan dalam semua sujud dan tidak hanya khusus dalam sujud terakhir. Daripada Abu Hurairah, bahawa Rasulullah SAW bersabda:

أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد ، فأكثروا الدعاء

Maksudnya: “Keadaan yang paling dekat seseorang hamba dengan Tuhan-nya ialah ketika dia bersujud. Maka perbanyakkanlah berdoa (pada waktu sujud).”

Riwayat Muslim dan al-Nasaie.

Dibolehkan untuk memperbanyakkan doa sama ada secara lisan ataupun dalam hati. Terdapat khilaf untuk menggunakan bahasa selain Arab untuk berdoa secara lisan. Yang terpilih ialah berdoa menggunakan bahasa Arab secara lisan. Adapun menggunakan bahasa Melayu contohnya, maka cukuplah di dalam hati. Tetapi yang paling afdal, ikutilah sunnah Rasulullah SAW.

Wallahuaʿlam

Pautan ke laman web PMWP: http://goo.gl/J1sSvc

11 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

HIMPUNAN SOAL JAWAB BERKAITAN ZAKAT

ZAKAT

1)Siapakan yang sepatutnya membayar zakat fitrah bagi seorang anak perempuan yang sudah berkerja dan mampu untuk membayarnya sendiri. Adakah bapanya berhak membayarnya?
Berkenaan dgn Zakat fitrah, wajib ke atas kepala keluarga mengeluarkan zakat fitrah terhadap dirinya dan tanggungannya. Adapun jika perempuan itu sudah berdikari dan mampu (mendapat pendapatan sendiri), maka dia hendaklah mengeluarkan sendiri zakat fitrah dan zakat harta untuk dirinya sendiri.

2)Bolehkah kita memberi zakat di kalangan ahli keluarga? Contohnya kepada nenek atau pun kepada adik sendiri yang yatim?
Ia kembali kepada definasi zakat dan nafkah. Keluarga terdekat dibantu melalui nafkah, manakala kaum muslimin yg tidak ada hubungan nafkah dibantu melalui zakat. Maka nenek dan adik kandung hendaklah diberi nafkah atau bantuan peribadi bukannya zakat. (Ijma’) (alMughny, 2/540-541)

3)Bolehkah diterangkan serba sedikit berkaitan zakat pendapatan dan kadar pendapatan yang wajib dizakat?
Zakat al Mal al Mustafad (zakat gaji dan upah) adalah zakat yg baru diperkenalkan dan dibahaskan secara serius di abad kita dan akhirnya barulah ia mula diterima oleh umat Islam. Antara tokoh mujtahid yg secara serius mengemukan kewajipan zakat ini ialah Prof Qardhawi (Fiqh Zakat) dan syaikh Muhammad Abu Zahrah. Malaysia memperkenalkan zakat gaji pada pindaan Akta Cukai Pendapatan 1967 Seksen 6A (3).
Kadar minimum gaji itu tidak ada, tapi jika gaji itu melebihi nisab 20 gm emas atau 20 dinar, maka ia dikenakan zakat 2.5%. Dalilnya: HR Ahmad, Abu Daud, Baihaqee, disahkan menurut syarat Bukhari dan hasan menurut Hafidz) “jika milikmu sudah sampai 20 dinar dan cukup satu tahun, maka zakatnya setengah dinar”. 20 dinar itu menyamai 85gm emas dan jika satu gm emas bernilai semasa RM 36.00, maka kadar minima zakat ialah pendapatan melebihi RM 3060.

4)Salah satu orang yg berhak menerima zakat ialah Sabilillah. Apakah pengertiaan sebnar fisabilillah ini?
Definasi fi sabiliLlah termasuk pentafsiran dari dalil2 yg tidak qat’iy (putus). Jika anda mendapat penerangan dari fuqaha’ yg membuka kitab2 lama/klasikal, fi sabiliLlah bermaksud urusan pebiayaan perang. War atau perang adalah urusan biasa di zaman silam dan kekerapan perang menuntut bajet yg besar.
Di zaman moden, bila perang sudah berkurangan, fuqaha’ kontemporer membuat definasi yg lebih luas tentang fi sabiliLlah kerana perang zaman moden ini ialah perang maklumat, propaganda, sibaran, penyibaran Islam secara aman di negara2 bukan Islam. Tetapi di sana-sini, masih ada mujahidin Islam yg masih berperang misalnya di Chechnya, Kasymir, Palestine yg memerlukan dana zakat fi sabiliLlah. Definasi fi sabiliLlah yg lebih luas merangkumi maslahat dan kebajikan umat Islam definasi yg di pelopori oleh Imam Rashid Ridha (Tafsir alManar 10, 504) dan Siddiq Hasan Khan (Fathul Bayan, 4/151)

5)Apakah dibolehkan terus mengagihkan zakat untuk asnaf fi sabiliLlah tanpa melalui Badan Khas Zakat (PPZ) yg mentadbir zakat?
Madzhab Syafi’iy dan Hanbali mengharuskan anda mengagihkan sendiri tapi jika ditegah oleh Pihak Berwajib, maka anda hendaklah akur dan menyerahkan kepada Badan Zakat kerana mereka lebih khusus dalam urusan takmir zakat (Mughny, 2/642), Majmu’ (6/161)
Jika anda ingin mengagihkan sendiri zakat anda pada mesjid sebagai asnaf fi sabiliLlah, ia tidak memerlukan akad kerana tiada dalil yg menyuruh berbuat demikian kecuali dalam jualbeli.

6)Bagi wang KWSP/Takaful/Insurans, yang mana ada masa dan tempoh tertentu bagi kita mengeluarkannya.
Zakat bagi skim Takaful atau Simpanan TH sudah dikeluarkan zakat. Manakala KWSP bukanlah skim simpanan syari’ah, maka zakat simpanan tidak dikeluarkan (bagi pihak anda) dan menjadi tanggungjawab pencarum mengeluarkan zakat bila simpanan dikeluarkan. Begitu juga skim insuran2 konvensional juga perlu dikeluarkan zakat bila dikeluarkan atas modal dan bukannya atas kadar faedahnya. Bagi pengeluaran KWSP, terjadi khilaf apakah dikenakan zakat bila wang itu dikeluarkan? atau perlu menunggu genap Haul? Qardhawi (FZ) berpendapat ia dikenakan zakat bila dikeluarkan kerana ia tidak memerlukan haul.

7)Sekiranya saya masih ada berhutang dengan mana2 institusi kewangan mahupun mana2 individu yang mana kalau dikira kan duit dari sumber di atas terlalu cukup untuk melangsaikan hutang tersebut. Jadi yang mana perlu diutamakan terlebih dahulu? Bayar hutang atau keluarkan zakat terlebih dahulu?
Apakah orang yg menanggung hutang dikecualikan dari zakat. Tidak menurut Syafi’iyah dan Dikecualikan menurut Hanafiah dan Fatwa Rumah Fatwa Mesir (Syaykh Hasan Makhluf)Qardhawi (FZ) berpendapat ia dilihat pada jenis hutang, apakah ia hutang berjadual (spt loan kereta atau rumah) yg dibayar untuk tempoh yg stabil misalnya 7 hingga 15 tahun, maka orang seperti ini tidak dikecualikan dari membayar zakat. Maksud hutang yg mendesak ialah jika tidak dilangsai, si fulan itu akan diisytihar muflis.

11 December 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Wanita Lebih Afdhal Solat Di Rumah? — MyIbrah.com

image

Soalan:

Betulkah wanita di galakkan sembahyang di rumah berbanding di masjid atau surau untuk mengelakkan fitnah? Apakah sebabnya?
Bagaimana wanita yang solat di rumah mendapat pahala jamaah kalau hanya solat di rumah seorangan?

Jawapan:

Lebih afdhal bagi wanita solat di rumah berbanding solat di masjid.
Makruh bagi perempuan yang mempunyai rupa paras yang menarik untuk hadir berjemaah bersama-sama orang lelaki di masjid kerana dikhuatiri boleh berlakunya fitnah.
Isteri boleh juga mendapatkan fadhilat solat jemaah dengan berjemaah bersama-sama suami atau seumpamanya di rumah.
Suami juga boleh mendapat keutamaan solat berjemaah dengan melaksanakannya bersama isteri atau keluarga yang lain. Bahkan pelaksanaan solat berjemaah bersama keluarga di rumahnya lebih afdhal.
Kehadiran wanita ke masjid untuk berjemaah tertakluk juga dengan syarat dan keadaan tertentu antaranya; hendaklah dengan keizinan suami dan menjaga batas-batas yang telah ditentukan oleh syarak seperti memelihara aurat, tidak memakai wangian dan berpakaian secara sederhana.
اليسع
Rujukan:
Al-Majmuk

Hasyiah al-Baijuri
USRAH SOLAT DAN QA AGAMA

11 December 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Zaman di mana Hiburan melalui Qasidah dan Maulidur Rasul di katakan sesat

Maulidur Rasul; “Dizaman kita sekarang, ada yang mengatakan sikit sikit qasidah sikit sikit maulid. Kalau ada yang kata sikit-sikit maulid , sikit-sikit qasidah. Maulid tak perlu. Kan lebih baik ilmunya terus sahaja.”

“Sebenarnya ini hiburan zahir pada hati. Tapi maaf cakap, orang di zaman kita sekarang di ajar banyak tengok hiburan di Televisyen itu walaupon ceritanya berulang-ulang kali dilihat. Tidak jemu pon melihatnya.”

“Hiburan semacam itu yang memberikannya tenang. Kita dah terbiasa dengan hiburan semacam itu. Buka sahaja televisyen siarannya dua puluh empat jam. Allah سبحانه وتعالى, berfirman; Zikir itu menenangkan Hati. Tapi ada orang dengar zikir hati tak tenang-tenang. Cerita pasal maulid salah. Didalam maulid kan ada selawat ada zikir. Bukankah itu baik. Allah سبحانه وتعالى kata zikir itu buat hati kita tenang.”

“Maaf cakap, kita sudah terbiasa dengan hiburan itu. Lebih rela tengok lawak-lawak gelak terbahak-bahak. Bukankah banyaknya ketawa itu mematikan hati. Ini orang yang ada sakit. Tak sedar hatinya ada penyakit.”

“Cuba kalau tutup Televisyen itu seminggu. Dengar qasidah, selawat, pasti merasakan keseronokkan dan kelazatannya. Kalau orang itu sukakan seseorang pasti dia tidak jemu. Semua tentangnya pon kita suka.

Begitu juga rasulullah ﷺ. Kalau kita cinta dan sayang rasulullah ﷺ, semua tentangnya kita akan suka.”

“Tengok anak-anak kita? Apa yang sedang mereka puja hari ini? Apa yang mereka suka pada hari ini? Apa yang ditarik dan menarik hati mereka? Semuanya telah dirancang rapi oleh musuh Islam untuk menjauhkan Ummat Islam itu daripada Nabi Muhammad ﷺ.”

“Kenalkanlah idola kita yang sebenar Nabi Muhammad. Musuh musuh islam tidak pernah lena. Baik di luar rumah bahkan ketika di dalam rumah kita untuk memperkenalkan anak-anak kita kepada orang-orang ataupun apa sahaja role model, idola berterusan dilakukan oleh orang-orang yang ingin menjauhkan Ummat Islam sendiri daripada Nabi Muhammad ﷺ.”

“Kalau ada orang yang mengatakan apa guna majlis-majlis seperti ini Maulid, selawat Usaha ini Majlis Maulid hanya sedikit sebenarnya. Usaha yang kita lakukan, perjumpaan seperti ini, perkumpulan untuk membaca maulid, sejarah Nabi, bercerita tentang Rasulullah, memuji kepada Nabi ﷺ hanyalah usaha yang sedikit.”

“Berbanding untuk kita membalas ataupun untuk menolak kepada usaha-usaha yang besar yang dilakukan pada hari ini untuk orang menarik anak-anak kita dan diri kita sendiri untuk melihat kepada orang-orang yang jauh daripada Allah, daripada orang-orang yang dikutuk oleh Allah.”

“Tapi hari ini tiba-tiba ada orang rasa dia hebat mengatakan tiada manfaat di dalam mengajak orang mengingati kepada Nabi ﷺ.Siapa mereka yang boleh menembusi hati kita dan check hati kita sejauh mana cinta kita kepada Nabi ﷺ. Sebab itu kita nak anjurkan banyak berselawat kepada Nabi ﷺ supaya jangan kita berjauhan dengan Nabi ﷺ. Dan ubat yang paling minimum itu adalah selawat kepada Rasulullah ﷺ.”

“Allah nak beritahu betapa besarnya fungsi selawat itu.Allah سبحانه وتعالى mengatakan; “Sesungguhnya Allah dan Para MalaikatNya berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ berterusan. Wahai orang-orang yang beriman yakni orang yang solat, puasa, zakat, haji dan di dalam hatinya ada iman berselawatlah kamu kepada Nabi yang mulia Nabi Muhammad ﷺ.”

“Didalam maulid itu kan ada cerita perihal rasulullah ﷺ. Kan baik tu. Bila cerita kisah Sayyidina Muhammad katanya puji Nabi lebih-lebihan. Eh, apa ni puji nabi lebih-lebih. Sedangkan Para sahabat setiap masa memuji Rasulullah ﷺ di depan Rasulullah ﷺ sendiri mahupun dibelakangnya. Bukankah itu baik.”

Daripada Al-Habib Najmuddin Othman Al-Khered.

Wallahualam

via: Raudhatul Muhhibin

Sumber: Jom Dakwah Bersama Ulama


10 December 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

MUTIARA KALAM TUAN GURU SYEIKH NURUDDIN TENTANG HABAIB.

Dakwah Para Habaib; “Berhati-hatilah kita ini, dengan menjaga lisan kita baik-baik. Jangan berkata sesuatu yang kita sendiri tidak tahu sohihnya, kebenarannya akan sesuatu perkara. Jagalah tangan kita ini daripada mudah menaip nak komen satu permasalahan sehingga berani memfitnah, memerli, mencaci, menghina ulama.”

“Janganlah kita mempersoalkan memgenai nasab keturunan seseorang. Kita mengatakan mereka sesat. Apatah lagi kita mempersoalkan kesohihan nasab para habaib daripada keturunan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam yang mulia. Apatah lagi melabel atau menyesatkan para ulama dan juga ulama daripada para habaib.”

“Kalau kita ada masalah mengenai hukum hakam. Kalau kita ada masalah dan tidak puas hati pada seseorang, maka kita akan jumpa dengan orang-orang yang berkenaan. Kita tanya hakikat sebenarnya. Apa pencerahannya. Mereka ini betul atau tidak. Jangan kita mengambil sikap baling batu sembunyi tangan.”

“Dan bagi orang awam, janganlah kita percaya bulat-bulat dengan apa yang kita baca. Apa yang kita dengar. Apa yang kita lihat. Khususnya didalam media sosial karena belum tentu seratus peratus kebenarannya. Dan kita takut, disebabkan kejahilan kita. Disebabkan sikap malas kita untuk menuntut ilmu, maka diri kita mudah ditipu orang. Makanya kita mendapat saham dosa juga tanpa disedari.”

“Apakah kira-kiranya kita tidak tahu sejarah?Apakah kita tidak pernah membaca perjalanan hidup agama? Ataupun dengan dakwah sejak zaman Sayyiduna Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sampai pada kita sekarang ini? Cuba kita renung sejenak yang pasti Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bukan daripada keturunan orang Melayu.”

“Baginda Nabi bukan diutus oleh Allah pada orang-orang Nusantara. Baginda Nabi selama dua puluh tiga tahun, Nabi kita tidak pernah menjejakkan kaki ke Malaysia ke Indonesia ke Thailand ke Brunei maka kalau seperti itu hakikatnya melalui siapa Islam sampai ke negara kita? Melalui siapa dakwah sampai ke tempat tinggal kita?Melalui siapa dengan kita dapat mengenal Allah? Melalui siapa kita tahu hukum hakam?”

“Yang sehingga mereka yang selalu memerli dan memperli baik tentang nasab tentang kehidupan keilmuan seorang Alim tentang nasab daripada Para Habaib yang mana ada juga di antara mereka yang perli memperli itu menimpa ilmu pengetahuan daripada mereka yakni Para Habaib. Kenapa kita mengutuk, memperli, menyalahkan orang-orang yang hakikatnya mereka Para Habaib itu adalah Guru-Guru kita.”

“Jadi secara pasti kalaulah orang-orang melayu kebanyakan bermazhabkan dengan Mazhab Imam Syafie Rahimahullah. Imam Syafie bukan daripada Nusantara bukan berasal daripada tempat kita tapi Imam Syafie Rahimahullah berasal daripada Yaman. Dilahirkan di Palestin. Di bawa ke Mekah. Perjalanan dakwah beliau daripada Mekah ke Madinah ke Baghdad ke Mesir kembali ke Baghdad. Kemudian akhir sekali patah kembali ke Mesir duduk di Mesir sampai beliau wafat di sana.”

“Jadi kira-kira sejak lebih seribu dua ratus tahun yang lalu tapi kenapa ramai pengikut-pengikut Imam Syafie ramai di Nusantara? Tidak terhitung ramainya jumlahnya di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Itu melalui siapa? Bererti ada orang yang datang ke negara kita pada ketika itu. Sedikit sangat bahkan boleh dikatakan tidak ada bangsa kita yang datang ke Tarim Yaman yang datang ke Mesir yang datang ke Negara Arab,Timur Tengah.”

“Justeru yang pertama sekali datang ke negara kita itu adalah di kalangan Para Habaib itu disebutkan Para Salaf. Kenapa dipermasalahkan keberadaan mereka sedangkan mereka Para Habaib itulah yang berjasa untuk membawa Agama untuk membawa Islam ke negara kita.”

“Jadi kenapa ada orang yang menghidupkan kembali budaya orang jahiliah mempertikaikan tentang nasab keturunan seseorang. Kira-kiranya agaknya kalau berbicara tentang hakikat. Siapa kira-kira yang sesat? Apakah kalian yang pada saat ketika ini memperkatakan tuduhan yang semacam itu?”

“Atau juga yang diperkatakan yang dituduh oleh kalian yang sejak keberadaan di sini itu sejak daripada beberapa abad yang lalu. Tak akan dengan Syeikh Daud Al-Fathoni, tak akan dengan Tok Kenali tak akan dengan Syeikh Arsyad Al-Banjari tak akan dengan sejumlah Ulama-Ulama hebat Al-Quran di dalam dada mereka, Al-Quran dalam kehidupan mereka, sunnah-sunnah Nabi dalam perilaku mereka tidak tahu.”

“Kita sekarang ini setakat dimulut saja. Sunnah-sunnah Nabi dimulut,
kita bercakap tentang sunnah, beramal tentang sunnah, kembali kepada Al-Quran dan Hadith tetapi kepala kita tidak menunjukkan kita beramal dengan Al-Quran dan Hadith, pakaian kita tidak menunjukkan kita beramal dengan Al-Quran dan Hadith, perilaku kita akhlak kita tidak menunjukkan kita beramal dengan Al-Quran dan Hadith.”

“Mereka Para Habaib sampai perkara yang paling kecil apa pun mereka amalkan. Dengan pakaiannya tahu bagaimana secara sunnah, makan minumnya mereka tahu bagaimana secara sunnah, duduknya mereka tahu bagaimana secara sunnah, pergaulannya mereka tahu bagaimana secara sunnah dan perhiasannya mereka tahu secara sunnah sampai kepada cincinnya pun di mana Nabi kita meletakkan cincin, di mana Nabi kita memakainya di situ mereka memakainya, jubah-jubah mereka.”

“Itu siwak kita tengok Para Habaib. Minta maaf cakap mana Mantan Mufti kah atau juga Mufti yang masih bertugaskah mana ada yang kita lihat keluarkan siwak. Dia baca apa yang saya baca dia tahu tidakkah yang disunnahkan sebelum sembahyang itu adalah bersiwak.”

“Nabi kita bersabda; “Kalau bukan kerana akan menyusahkan Ummat akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada tiap kali wudhuk dan juga tiap kali sembahyang.” Kita masih belum mampu untuk mengamalkannya padahal tak sesusah mana tapi mereka Para Habaib mengamalkannya.”

“Sesuatu yang pelik bin ajaib bin aneh kalau kita mengakui keilmuan mereka dalam bidang hal seumpama pemakaian, makan minum, kehidupan rumahtangga dan juga perkara-perkara yang ada hubung kaitnya dengan serbannya dengan bersedekah dengan safar dengan adab-adab di waktu tidur, adab di waktu bangun, adab di waktu masuk masjid yang mengerti segala hal tentang sunnah sunnahnya Baginda Rasulullah .”

“Akan tetapi kita katakan mereka tidak mengerti tentang akidah, tidak mengerti tentang ideologi, tidak mengerti daripada hakikat daripada sifat Asma’Wa Sifat. Itu sesuatu perkara yang pelik sesuatu perkara yang ajaib. Itu ada lagi perkara yang mereka tidak puas hati mempertanya dan mempersoalkan tentang betul atau tidak yang Para Habaib itu dengan alasan itu syiah-syiah iran itu dikatakan ramai di kalangan Para Habaib. Dengan menfitnah para habaib.”

“Kita tidak mengatakan benda yang sama sebab, yang datang ke negara kita di antaranya Habib Umar Ben Hafidz di antaranya yang baru-baru ini Habib Abu Bakar Al-Adni Bin Ali Al-Masyhur. Kata mereka itu syiah. Masya Allah Tabarakallah, sebenarnya kita tahu atau tidak sebenarnya akidah syiah itu seperti apa? Menuduh orang pula itu daripada kumpulan syiah.”

“Untuk pengetahuan kita yang perlu kita ketahui yang paling sederhana yang merupakan perkara asas yang walaupun sesiapa saja yang pernah membaca tentang syiah yang pernah tahu tentang aliran syiah. Di antara pegangan dan ideologi keyakinan syiah mereka adalah orang yang paling membenci Saidina Abu Bakar r.a. dan Saidina Umar r.a.”

“Jadi yang dituduh tadi itu yang dikatakan syiah justeru bernama Umar bernama Abu Bakar. Pelik! Kalau memang syiah memang tak nak bagi nama anak dengan nama Umar dan dengan nama Abu Bakar. Yang kalian katakan syiah tadi itu bukankah bernama Habib Umar dan Habib Abu Bakar. Kalian yang katakan itu syiah ternyata betul-betul orang yang buta sejarah yang tak tahu tentang akidah yang sebenarnya. Lebih tepat lagi buta hati.”

“Kita ingin lebih dewasa apa lagi kalau kita tergolong daripada kumpulan orang yang berpendidikan agama. Jangan sesekali kita menghabiskan waktu hanya untuk memperli untuk mencerca untuk mencaci untuk memfitnah dan seumpamanya.”

“Kalau seandainya ada permasalah berkenaan dengan hukum hakam dengan masalah-masalah yang kita tidak berpuas hati maka kita jumpa dengan orang berkenaan. Kita tanyakan hakikat sebenarnya seperti apa. Bukannya buat andaian kita komen tulis dekat facebook. Bukannya buat andaian kita buat keputusan muktamad. Itu tidak betul!”

“Orang yang sebarkan berita tidak betul adalah orang fasiq. Sepatutnya kita mendapatkan bimbingan, pengajaran, penjelasan daripada mereka, pencerahan daripada mereka, fatwa daripada mereka. Kalau kita tidak yakin, kalau kita tidak pasti, kalau tidak tahu,kalau tidak pernah menyemak, kalau tidak pernah bergaul, kalau tidak pernah duduk sekali, kalau tidak pernah bertalaqqi.”

“Jangan sampai kita sebarkan benda-benda yang kita tidak pasti kebenarannya. Kalau di zaman dahulu itu hanya setakat di dalam kitab-kitab yang ditulis yang kalau dengan kitab itu hanyut dan larut maka dengan maklumat yang ditulis itu akan lenyap dan hilang tapi kalau seperti di zaman kita sekarang ini.”

“Sepatah kata dalam facebook sepatah kata dalam youtube itu akan abadi mungkin sampai kepada hari kiamat tersimpan abadi di dalamnya. Kalau kita tidak berpuas hati duduklah bertanya tapi jangan sampai lempar batu sembunyi tangan. Kalau kita tak tahu sangat maka, diam itu lebih baik jangan sampai kita ini maaf cakap jangan sampai nampak kebodohan diri kita sendiri.”

Tuan Guru Sheikh Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki hafizahullah.

Sumber: Mohd Hanif

10 December 2015 Posted by | Bicara Ulama | Leave a comment

Kesepakatan Para Ulama Atas Kebolehan Perayaan Maulid Nabi | Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group

Para pengingkar Maulid Nabi hanyalah bagaikan setetes air dibandingkan luapan samudera. Karena praktek peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mendapat legalitas dari Syare’at dan rekomendasi dari jumhur ulama Ahlu sunnah baik mutaqaddimin atau pun mutakhkhirin, baik kalangan rajanya, penguasa adil, orang shalih maupun awamnya. Sejak dahulu hingga sekarang mereka sepakat atas kebolehannya Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejak dahulu hingga sekarang para pelaku Maulid Nabi tidak pernah bekurang malah semakin bertambah jumlahnya. Berikut nama-nama ulama besar Ahlus sunnah yang melegalkan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum wahabi yang membid’ah-bid’ahkan para pelaku maulid bahkan menyesat-nyesatkannya bahkan ada yang sampai memmusyik-musyrikkannya, maka sama saja mereka membid’ahkan, menyesatkan dan memusyrikkan para ulama berikut ini, naudzu billahi min dzaalik..

1. Syaikh Umar al-Mulla dari Maushul (W 570 H). Seorang syaikh yang sholih lagi zuhud, setiap tahunnya menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri para ulama, fuqaha, umara, dan shulthan Nuruddin Zanki, seorang raja yang adil dan berakidahkan Ahlus sunnah. Abu Syamah (guru imam Nawawi) berkata tentang dua tokoh besar di atas :

قال العماد: وكان بالموصل رجل صالح يعرف بعمر الملاَّ، سمى بذلك لأنه كان يملأ تنانير الجص بأجرة يتقوَّت بها، وكل ما عليه من قميص ورداء، وكسوة وكساء، قد ملكه سواه واستعاره، فلا يملك ثوبه ولا إزاره. وكن له شئ فوهبه لأحد مريديه، وهو يتجر لنفسه فيه، فإذا جاءه ضيف قراه ذلك المريد. وكان ذا معرفة بأحكام القرآن والأحاديث النبوية.كان العلماء والفقهاء، والملوك والأمراء، يزورونه في زاويته، ويتبركون بهمته، ويتيمنَّون ببركته. وله كل سنة دعوة يحتفل بها في أيام مولد رسول الله صلى الله عليه وسلم يحضره فيها صاحب الموصل، ويحضر الشعراء وينشدون مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم في المحفل. وكان نور الدين من أخص محبيه يستشيرونه في حضوره، ويكاتبه في مصالح أموره

“ al-‘Ammad mengatakan , “ Di Mosol ada seorang yang shalih yang dikenal dengan sebutan Umar al-Mulla, disebut dengan al-Mulla sebab konon beliau suka memenuhi (mala-a) ongkos para pembuat dapur api sebagai biaya makan sehari-harinya, dan semua apa yang ia miliki berupa gamis, selendang, pakaian, selimut, sudah dimiliki dan dipinjam oleh orang lain, maka beliau sama sekali tidak pakaian dan sarungnya. Jika beliau memiliki sesuatu, maka beliau memberikannya kepada salah satu muridnya, dan beliau menyewa sesuatu itu untuknya, maka jika ada tamu yang datang, murid itulah yang menjamunya. Beliau seorang yang memiliki pengetahuan tentang hokum-hukum al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Para ulama, ahli fiqih, raja dan penguasa sering menziarahi beliau di padepokannya, mengambil berkah dengan sifat kesemangatannya, mengharap keberkahan dengannya. Dan beliau setiap tahunnya mengadakan peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri juga oleh raja Mosol. Para penyair pun juga datang menyenandungkan pujian-pujian kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di perayaan tersebut. Shulthan Nuruddin adalah salah seorang pecintanya yang merasa senang dan bahagia dengan menghadiri perayaan maulid tersebut dan selalu berkorespondesi dalam kemaslahatan setiap urusannya “.[1]

Adz-Dzahabi mengatakan :

وكان ذلك تحت إمرة الملك العادل السُّنِّيِّ نور الدين محمود زنْكِي الذي أجمع المؤرخون على ديانته وحسن سيرته، وهو الذي أباد الفاطميين بمصر واستأصلهم وقهر الدولة الرافضية بها وأظهر السنة وبني المدارس بحلب وحمص ودمشق وبعلبك وبنى المساجد والجوامع ودار الحديث

“ Beliau (syaikh Umar) di bawah kekuasaan raja yang adil yang sunni yaitu Nuruddin Mahmud Zanki, yang para sejarawan telah ijma’ (konsesus/sepakat) atas kebaikan agama dan kehidupannya. Beliaulah yang telah memusnahkan dinasti Fathimiyyun di Mesir sampai ke akar-akarnya, menghancurkan kekuasaan Rafidhah. Menampakkan (menzahirkan) sunnah, membangun madrasah-madrasah di Halb, Hamsh, Damasqus dan Ba’labak, juga membangun masjid-masjid Jami’ dan pesantren hadits “[2]

2. Al-Imam Abul Khaththab Ibnu Dihyah (W 633 H). Beliau telah mengarang sebuah kitab Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau namakan “ at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “ dan dihadiahkan kepada seorang raja adil, shalih, Ahlsus sunnah yakni al-Mudzaffar.

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :

وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه وقد صنف الشيخ أبو الخطاب ابن دحية له مجلدا في المولد النبوي سماه التنوير في مولد البشير النذير فأجازه على ذلك بألف دينار

“ Dan raja konon mengadakan acara Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabiul Awwal, dan merayakannya dengan perayaan yang meriah, dan beliau adalah seorang raja yang cerdas, pemberani, perkasa, berakal, alim dan adil –semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya- syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah telah mengarang kitab berjilid-jilid tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dinamakannya “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “, lalu diberikan balasan atas usaha itu oleh raja sebesar seribu dinar.”[3]

3. al-Imam Abu Syamah (W 665 H), guru al-Imam al-Hafidz an-Nawawi. Beliau mengatakan :

ومن احسن ما ابتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق لمولده صلى الله عليه وآله وسلم من الصدقات، والمعروف، وإظهار الزينة والسرور, فإن ذلك مشعر بمحبته صلى الله عليه وآله وسلم وتعظيمه في قلب فاعل ذلك وشكرا لله تعالى على ما من به من إيجاد رسوله الذي أرسله رحمة للعالمين

“ Di antara bid’ah hasanah yang paling baik di zaman kita sekarang ini adalah apa yang dilakukan setiap tahunnya di hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan bersedekah dan berbuat baik serta menampakkan perhiasan dan kebahagiaan. Karena hal itu merupakan menysiarkan kecintaan kepada Nabi shallahu ‘alahi wa sallam dan penganggungan di hati orang yang melakukannya. Sebagai rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas anugerah-Nya berupa mewujudkannya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam “[4]

4. al-Hafidz Ibnul Jauzi (W 597 H). Beliau mengatakan tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

إنه أمان في ذلك العام، وبشرى عاجلة بنيل البغية والمرام

“ Sesungguhnya mauled (hari kelahiran) Nabi adalah sebuah keamanan di tahun itu dan kaar gembira yang segera dengan tercapainya cita-cita dan taujuan “[5]

5. al-Imam al-Allamah Shadruddin Mauhub bin Umar al-Jazri (W 665 H). Beliau mengatakan tentang hokum peringatan Maulid Nabi :

هذه بدعة لا بأس بها، ولا تكره البدع إلا إذا راغمت السنة، وأما إذا لم تراغمها فلا تكره، ويثاب الإنسان بحسب قصده

“ Ini adalah bid’ah yang tidak mengapa, dan bid’ah tidaklah makruh kecuali jika dibenci sunnah, adapun jika sunnah tidak membencinya maka tidaklah makruh dan manusia akan diberi pahala (atas bid’ah mauled tersebut) tergantung tujuan dan niatnya “.

6. Syaikh Abul Abbas bin Ahmad al-Maghribi (W 633 H). Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan tentangnya :

كان زاهدًا إمامًا مفنّنًا مُفْتِيًّا ألَّفَ كتاب المولد وجوّده

“ Beliau seorang yang zuhud, imam, menguasai semua fan ilmu, sorang mufti dan mengarang kitab maulid dan memperbagusnya “[6]

7. Syaikh Abul Qasim bin Abul Abbas al-Maghribi. Az-Zarkali mengatakan tentangnya :

كان فقيها فاضلا, له نظم أكمل الدر المنظم , في مولد النبي المعظّم من تأليف أبيه أبى العباس بن أحمد

“ Beliau seorang ahli fiqih yang utama, memiliki nadzham (bait) yang bernama “ Akmal ad-Durr al-Munadzdzam fi Maulid an-Nabi al-Mu’adzdzam “ dari tulisan ayahnya Abul Abbas bin Ahmad “[7]

8. al-Hafidz Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi (777-842 H). Beliau mengarang kitab Maulid dengan berjilid-jilid sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyfu adz-Dzunun : 319. Di antaranya : Jami’ al-Aatsar fi Maulid an-Nabi al-Mukhtar dan al-Lafdz ar-Raiq fi Maulid Khairul Khalaiq dan Maurid ash-Shadi fi Maulid al-Hadi.

9. al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Abbad (W 805 H).

وسئل الولي العارف بالطريقة والحقيقة أبو عبد الله بن عباد رحمه الله ونفع به عما يقع في مولد النبي صلى الله عليه وسلم من وقود الشمع وغير ذلك لأجل الفرح والسرور بمولده عليه السلام.

فأجاب: الذي يظهر أنه عيد من أعياد المسلمين، وموسمٌ من مواسمهم، وكل ما يقتضيه الفرح والسرور بذلك المولد المبارك، من إيقاد الشمع وإمتاع البصر، وتنزه السمع والنظر، والتزين بما حسن من الثياب، وركوب فاره الدواب؛ أمر مباح لا ينكر قياساً على غيره من أوقات الفرح، والحكم بأن هذه الأشياء لا تسلم من بدعة في هذا الوقت الذي ظهر فيه سر الوجود، وارتفع فيه علم العهود، وتقشع بسببه ظلام الكفر والجحود، يُنْكَر على قائله، لأنه مَقْتٌ وجحود.

“ seorang wali yang arif dengan thariqah dan haqiqah Abu Abdillah bin Abbad rahimahullah ditanya mengenai apa yang terjadi pada peringatan Maulid Nabi dari menyalakan lilin dan selainnya dengan maksud berbahagia dengan hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau menjawab :

“ Yang tampak adalah bahwa Maulid Nabi termasuk ‘id dari hari raya muslimin dan satu musim dai musim-musimnya. Dan semua yang mengahruskan kebahagiaan dengan malid Nabi yang berkah itu semisal menyalakan lilin, mempercanti pendengaran dan penglihatan, berhias dengan pakaian indah, dan kendaraan bagus adalah perkarah mubah yang tidak boleh diingkari karena mengkiyaskan dengan lainnya dari waktu-waktu kebahagiaan. Menghukumi bahwa semua perbuatan ini tidak selamat dari bid’ah di waktu ini, yang telah tampak rahasia wujud, terangkat ilmu ‘uhud, tercerai berai dengan sebabnya segala gelapnya kekufuran dan kedzaliman, maka itu diingkari bagi pengucapnya, karena itu adalah kebencian dan pengingkaran.[8]

10. Syaikh Islam Sirajuddin al-Balqini (724 – 805 H). AL-Maqrizi mengatakan :

فلما كانت أيام الظاهر برقوق عمل المولد النبويّ بهذا الحوض في أوّل ليلة جمعة من شهر ربيع الأول في كلّ عام فإذا كان وقت ذلك ضربت خيمة عظيمة بهذا الحوض وجلس السلطان وعن يمينه شيخ الإسلام سراج الدين عمر بن رسلان بن نصر البلقيني ويليه الشيخ المعتقد إبراهيم برهان الدين بن محمد بن بهادر بن أحمد بن رفاعة المغربيّ ويليه ولد شيخ الإسلام ومن دونه وعن يسار السلطان الشيخ أبو عبد الله محمد بن سلامة التوزريّ المغربيّ ويليه قضاة القضاة الأربعة وشيوخ العلم ويجلس الأمراء على بعد من السلطان فإذا فرغ القراء من قراءة القرآن الكريم قام المنشدون واحدًا بعد واحد وهم يزيدون على عشرين منشدًا فيدفع لكل واحد منهم صرّة فيها أربعمائة درهم فضة ومن كلّ أمير من أمراء الدولة شقة حرير فإذا انقضت صلاة المغرب مدّت أسمطة الأطعمة الفائقة فأكلت وحمل ما فيها ثم مدّت أسمطة الحلوى السكرية من الجواراشات والعقائد ونحوها فتُؤكل وتخطفها الفقهاء ثم يكون تكميل إنشاد المنشدين ووعظهم إلى نحو ثلث الليل فإذا فرغ المنشدون قام القضاة وانصرفوا وأقيم السماع بقية الليل واستمرّ ذلك مدّة أيامه ثم أيام ابنه الملك الناصر فرج

“ Maka ketika sudah pada hari-hari yang tampak dengan ruquq, diadakanlah perayaan Maulid Nabi di telaga ini pada setiap malam Jum’at bulan Rabiul Awwal di setiap tahunnya. Kemduian Shulthan duduk, dan di sebelah kanannya duduklah syaikh Islam Sirajuddin Umar bin Ruslan bin Nashr al-Balqini, di dekat beliau ada syaikh al-Mu’taqad Ibrahim Burhanuddin bin Muhammad bin Bahadir bin Ahmad bin Rifa’ah al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada putra syaikh Islam dan orang-orang selainnya, dan di sebelah kirinya ada syaikh Abu Abdillah bin Muhammad bin Sallamah at-Tuzari al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada para qadhi dari kalangan empat madzhab, dan para syaikh ilmu, juga para penguasa yang duduk sedikit jauh dari shulthan. Jika telah selesai membaca al-Quran, maka beridrilah para nasyid satu persatu membawakan sebuah nasyidah, mereka lebih dari 20 orang nasyid, masing-masing diberikan sekantong uang yang di dalamnya berisi 4000 ribu dirham perak. Dan bagi setiap amir daulah diberikan kaen sutra. Dan jika telah selesai sholat maghrib, maka dihidangkanlah hidangan makanan yang mewah yang dimakan oleh semuanya dan dibawa pulang. Kemduian dibeberkan juga hidangan manisan yang juga dimakan semuanya dan para ulama ahli fiqih. Kemduian disempurnakan dengan nasyid pada munsyid dan nasehat mereka sampai sepertiga malam. Dan jika para munsyid selasai, maka berdirilah para qadhi dan mereka kembali pulang. Dan diperdengarkan sebuah senandung pujian di sisa malam tersebut. Hal ini terus berlangsung di masanya dan masa-masa anaknya yaitu an-Nahsir Faraj “.[9]

11. al-Hafidz al-Iraqi (725-808 H), guru al-Hafidz Ibnu Hajar. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maurid al-Hani fi al-Maulid as-Sani “. Beliau mengtakan :

إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وآله وسلم في هذا الشهر الشريف ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجبة

“ Sesungguhnya membuat resepsi dan memberikan makanan itu dianjurkan di setiap waktu, lalu bagaimana jika terkumpul dengan kebahagiaan dan kesenangan dengan tampaknya cahaya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di bulan mulia ini. Status kebid’ahannya tidak mengharuskannya menjadi makruh, berpa banyak yang bid’ah itu mustahab (dianjurkan) bahkan kadang menjadi wajib “.[10]

12. Syaikh Islam, al-Hafidz, ahli hadits dunia, imam para pensyarah hadits yaitu Ibnu Hajar al-Atsqalani. Beliau mengatakan :

أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كانت بدعة حسنة

“ Asal / dasar perbuatan Maulid adalah bid’ah yang tidak dinaqal dari ulama salaf yang salih dari tiga kurun, akan tetapi demikian itu mengandung banyak kebaikan dan juga keburukannya. Barangsiapa yang menjaga dalam melakukannya semua kebaikan dan mejauhi keburukannya maka menjadi bid’ah hasanah “[11]

13. al-Imam al-Allamah, syaikh al-Qurra wal muhadditsin, Qadhil Qudhah, Syamsuddin Muhamamd Abul Khoir bin Muhammad bin al-Jazri ( W 833 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang berjudul “ ‘Arfu at-Tarif bil Maulid asy-Syarif “.

قال ابن الجزري : فإذا كان هذا أبولهب الكافر الذي زل القرآن بذمه ، جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي ( ص ) به ، فما حال المسلم الموحّد من أمته عليه السلام ، الذي يسر بمولده ، ويبذل ما تصل اليه قدرته في محبته ؟ لعمري ، إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله العميم جنات النعيم

“ Ibnul Jazri mengatakan, “ Jika Abu Lahab yang kafir ini yang al-Quran telah mencacinya, diringankan di dalam neraka sebab kebahagiaannya dengan kelahiran Nabi, maka bagaimana dengan keadaan Muslim yang mengesakan Allah dari umarnya ini ? yang berbagaia dengan kelahiran Nabi, mengerahkan dengan segenap kemampuannya di dalam mencintainya, sungguh balasan dari Allah adalah memasukannya ke dalam surge-Nya yang penuh kenikmatan “[12]

14. al-Imam al-Hafidz as-Sayuthi (849-911 H). Beliau pernah ditanya tentang hokum memperingati Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

سئل عن عمل المولد النبوى في شهر ربيع الأول ،ما حكمه من حيث الشرع

هل هو محمود أو مذموم وهل يثاب فاعله أو لا؟

والجواب : عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدإ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك

من البدع الحسنة التي عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف

“Suatu ketika beliau ditanya tentang peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan pada bula Rabiul awwal. Bagaimana hukumnya dalam perspektif syara’, dan apakah termasuk kebaikan atau keburukan, serta apakah orang yang memperingatinya akan mendapatkan pahala?

Jawabannya, menurutku (as-Suyuthi) pada dasarnya amal Maulid itu adalah berkumpulnya manusia, membaca apa yang dirasa mudah dari al-Qur’an, riwayat hadis-hadis tentang permulaan perintah Nabi serta hal-hal yang terjadi dalam kelahiran Nabi, kemudian disajikan beberapa hidangan bagi mereka selanjutnya mereka pulang setelah menikmatinya tanpa ada tambahan-tambahan lain, hal tersebut termasuk bid’ah yang baik (bid’ah hasanah) yang diberi pahala bagi orang yang merayakannya. Karena bertujuan untuk mengagungkan kedudukan Nabi dan menampakkan rasa suka cita atas kelahiran yang mulia Nabi Muhammad Saw”.[13]

15. Al-Imam al-Hafidz asy-Syakhawi (831-902 H). Beliau menulis sebuah kitab Maulid berjudul al-Fakhr al-Ulwi fi al-Maulid an-Nabawi. Beliau juga mengatakan :

عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة، وإنما حدث بعد، ثم لا زال أهل الإسلام في سائر الأقطار والمدن الكبار يحتفلون في شهر مولده صلى الله عليه وسلم بعمل الولائم البديعة، المشتملة على الأمور البهجة الرفيعة، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات، ويظهرون السرور ويزيدون في المبرات، ويعتنون بقراءة مولده الكريم، ويظهر عليهم من بركاته كل فضل عميم

“ Praktek Maulid yang mulia tidak ada nukilannya dari seorang salaf pun di kurun-kurun utama. Sesungguhnya itu terjadinya setelahnya. Kemudian terus dilangsungkan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, baik desa maupun kota di dalam merayakan maulid di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan resepsi yang megah yang terdiri dari perkara-perkara mewah. Mereka bersedekah di malam-malamnya dengan berbagai macam sedekah, menampakkan kebahagiaan dan meningkatkan kebaikan, memperhatikan dengan membaca kelahiran Nabi Mulia, dan nampaklah atas mereka keberkaharan Nabi yang menyeluruh “.[14]

16. Al-Allamah syaikh Muhamamd bin Umar al-Hadhrami ( W 930 H). Beliau mengatakan :

فحقيقٌ بيومٍ كانَ فيه وجودُ المصطفى صلى الله عليه وسلم أَنْ يُتَّخذَ عيدًا، وخَليقٌ بوقتٍ أَسفرتْ فيه غُرَّتُهُ أن يُعقَد طالِعًا سعيدًا، فاتَّقوا اللهَ عبادَ الله، واحذروا عواقبَ الذُّنوب، وتقرَّبوا إلى الله تعالى بتعظيمِ شأن هذا النَّبيِّ المحبوب، واعرِفوا حُرمتَهُ عندَ علاّم الغيوب، “ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“ Sungguh layak satu hari dimana Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan untuk dijadikan ‘id. Dan pantas munculnya waktu keberuntungan. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai hamba Allah, berhati-hatilah dari kesudahan dosa, bertaqarrublah kepada Allah dengan pengagungan kepada Nabi yang tercinta ini. Kenalilah kehormatannya di sisi Allah yang Maha Gaib “ Demikian itu barangsiapa yang mengagungkan kehormatan Allah maka itu termasuk tanda taqwa dalam hati “.[15]

17. al-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami (W 975 H). beliau mengatakan :

والحاصل أن البدعة الحسنة متفق على ندبها وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك أي بدعة حسنة

“ Kesimpulannya bahwa bid’ah hasanah sepakat atas kanjurannya, dan amalan Maulid serta berkumpulnya manusia untuknya demikiannya juga dinilai bid’ah hasanah “[16]

18. al-Imam asy-Syihab Ahmad al-Qasthalani (). Beliau mengatakan :

ولازال أهل الاسلام يحتفلون بشهر مولده عليه السلام ، ويعملون الولائم ، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات ، ويظهرون السرر ويزيدون في المبرّات ويعتنون بقراءة مولده الكريم ، ويظهر عليهم من بركاته كلّ فضل عميم

“ Kemudian terus dilangsungkan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, baik desa maupun kota di dalam merayakan maulid di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan resepsi yang megah yang terdiri dari perkara-perkara mewah. Mereka bersedekah di malam-malamnya dengan berbagai macam sedekah, menampakkan kebahagiaan dan meningkatkan kebaikan, memperhatikan dengan membaca kelahiran Nabi Mulia, dan nampaklah atas mereka keberkaharan Nabi yang menyeluruh “.[17]

19. al-Imam az-Zarqani. Beliau menukilkan ucapan al-Hafidz al-Iraqi :

إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وآله وسلم في هذا الشهر الشريف ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجبة

“ Sesungguhnya membuat resepsi dan memberikan makanan itu dianjurkan di setiap waktu, lalu bagaimana jika terkumpul dengan kebahagiaan dan kesenangan dengan tampaknya cahaya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di bulan mulia ini. Status kebid’ahannya tidak mengharuskannya menjadi makruh, berpa banyak yang bid’ah itu mustahab (dianjurkan) bahkan kadang menjadi wajib “.[18]

20. al-Imam al-Hafidz Wajihuddin bin Ali bin ad-Diba’ asy-Syaibani (866-944 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang cukup tekenal yaitu Maulid ad-Diba’i

21. al-Hafidz Mulla Ali al-Qari (W 1014 H). Asy-Syaukani mengatakan tentangnya :

أحد مشاهير الأعلام ومشاهير أولي الحفظ والإفهام وقد صنف في مولد الرسول{ صلى الله عليه وآله وسلم }كتابا قال صاحب اكشف الظنون اسمه (المورد الروي في المولد النبوي

“ Salah satu ulama termasyhur, memiliki hafalan dan pemahaman kuat, beliau telah menulis sebuah karya tulis tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dikatakan oleh shahi Kasyf dz-dzunun dengan sebutan “ al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid –an-Nabawi “[19]

22. al-Imam Ibnu Abidin al-Hanafi. Seorang ulama yang ucapannya dipegang dalam Madzhab Hanafi. Beliau mengtakan ketika menysarah kitab Maulid Ibnu Hajar :

اعلم أن من البدع المحمودة عمل المولد الشريف من الشهر الذي ولد فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم

“ Ketahuilah, sesungguhnya termasuk bid’ah terpuji adalah praktek Maulid Nabi yang mulia di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “.

23. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Beliuu mengatakan :

والاستماع إلى صوت حسن في احتفالات المولد النبوي أو أية مناسبة دينية أخرى في تاريخنا لهو مما يدخل الطمأنينة إلى القلوب ويعطي السامع نوراً من النبي – صلى الله عليه وسلم – إلى قلبه ويسقيه مزيداً من العين المحمدية

“ Mendengarkan suara indah di dalam peringatan-peringatan Maulid Nabi atau ayat yang sesuai agama yang bersifat ukhrawi di dalam sejerah kami adalah termasuk menumbuhkan ketenangan dalam hati, dan akan memberikan cahaya dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam kepada pendengarnya ke hatinya dan mencurahkan tambahan dari sumber Muhammadiyyahnya “[20]

24. al-Imam al-Hafidz al-Munawi. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ Maulid al-Munawi “, silakan lihat kitab al-Barahin al-Jaliyyah halaman 36.

25. al-Imam Muhammad ‘Alyasy al-Maliki. Beliau memiliki kitab berjudul “ al-Qaul al-Munji fi Maulid al-Barzanji “.

26. Ibnul Hajj. Beliau mengatakan :

فكان يجب أن نزداد يوم الاثنين الثاني عشر في ربيع الأول من العبادات والخير شكرا للمولى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وأعظمها ميلاد المصطفى صلى الله عليه وآله وسلم

“ Maka suatu hal yang wajib bagi kita di hari senin 12 Rabul Awwal lebih meningkatkan berbagai macam ibadah dan kebaikan sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah menganugerahi nikmat-nikmat agung ini, dan yang paling agungnya adalah kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “.[21]

27. al-Imam al-Khathib asy-Syarbini. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maulid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi “.

28. al-Imam Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri. Beliau memiliki kitab maulid berjudul “ Tuhfah al-Basyar fi Maulid Ibnu Hajar “

.

29. al-Hafidz asy-Syarif al-Kattani. Beliau memiliki kitab maulid berjudul “ al-Yumnu wa al-Is’ad bi Maulid Khairil Ibad “.

Dan masih banyak lagi ratusan ulama lainnya yang tidak kami sebutkan di sini misalnya, syaikh Musthofa bin Muhammad al-Afifi, syiakh Ibrahim bin Jama’ah al-Hamawi, Abu Bakar bin Muhammad al-Habasyi yang wafat tahun 930 Hijriyyah, syaikh al-Barzanji, syaikh Ibnu Udzari, syaikh al-Marakisyi, syaikh Abdushsomad bin at-Tihami, syaikh Abdul Qadir bin Muhammad, syaikh Muhammad al-Hajuji, syaikh Ahmad ash-Shanhaji, al-Imam Marzuqi, al-Imam an-Nahrawi, syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan dan lainnya.

[1] Ar-Roudhatain fii Akhbar ad-Daulatain, Abu Syamah, pada fashal (bab) : Hawadits (peristiwa) tahun 566 H.

[2] Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi : 20 / 532

[3] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir : 13/ 136

[4] Al-Baits ‘ala inkaril bida’ wal-Hawadits : 23

[5] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/27

[6] Tabshir al-Muntabih : 1/253

[7] Al-A’lam : 5 / 223

[8] Al-Mi’yar al-Mu’rib wa al-Jami’ al-Mughrib ‘an Fatawa ahli Afriqiyyah wal Maghrib : 11/278

[9] Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar : 3 / 167

[10] Syarh al-Mawahib al-Laduniyyah :

[11] Al-Hawi lil Fatawi : 229

[12] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/27

[13] Al-Hawi lil Fatawa, as-Suyuthi : 1/189

[14] Al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, Mulla Ali al-Qari : 12, bisa juga lihat di as-Sirah al-Halabiyyah : 1/83

[15] Hadaiq al-Anwar wa Mathali’ al-Asrar fi sirati an-Nabi al-Mukhtar : 53

[16] Al-Fatawa al-Hadtisiyyah : 202

[17] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/148

[18] Syarh al-Mawahib al-Laduniyyah :

[19] Al-Badr ath-Thali’ :

[20] Madarij as-Salikin : 498

[21] Al-Madkhal : 1/361

Sumber: ASWJ Research Group

10 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Sejarah Awal Mula Perayaan Maulid Nabi | Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group

Sejarah Awal Mula Perayaan Maulid Nabi sekaligus menjawab tuduhan meteka yang mengingkarinya.

Para pengingkar maulid Nabi yakni wahabi-salafi di bulan mulia ini yakni Rabiul Awwal, mereka seperti cacing kepanasan yang ditaburi garam. Mereka teriak susah karenanya banyaknya kaum muslimin yang melakukan perayaan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Saya jadi teringat ucapan Ibn Mukhlid dalam tafsirnya berikut ini :

أن إبليس رن أربع رنات: رنة حين لعن، ورنة حين أهبط الى الأرض، ورنة حين ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم، ورنة حين أنزلت فاتحة الكتاب

“ Sesungguhnya Iblis berteriak sambil menangis pada empat kejadian : pertama ketika ia dilaknat oleh Allah, Kedua ketika ia diusir ke bumi, ketiga ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan dan keempat ketika surat al-Fatehah diturunkan “.[1]

Dan wahabi-salafi, tanpa sadar mereka telah mengikuti sunnah Iblis dengan teriak susah ketika tiba hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam ini.

Kali ini kami akan menulis bantahan ilmiyyah atas dusta wahabi-salafi yang menuduh bahwa Maulid pertama kali diadakan oleh Syi’ah Fathimiyyun. Kami juga akan membongkar kecurangan mereka dengan menggunting ucapan syaikh al-Maqrizi terhadap teks yang menampilkan keagungan perayaan Maulid Nabi yang diselerenggarakan para raja yang adil dan para ulama besar dari kalangan empat madzhab. Tidak sedikit artikel wahabi yang mengcopy paste dusta tersebut termasuk syaikh al-Fauzan dalam fatwanya. Berikut salah satu artikel dusta wahabi di : http://artikelassunnah.blogspot.com/2012/01/ternyata-maulid-nabi-berasal-dari-syiah.html

Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau.

Perlu diketahui pula bahwa -menurut pakar sejarah yang terpercaya-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini.

Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146)

Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.

Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al Maulid, hal. 20)

Jawaban kami :

Pernyataan di atas tidak benar sama sekali. Dan jauh dari fakta kebenarannya…

Pertama : Memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi sudah ada sejak masa Nabi shallahhu ‘alaihi wa sallam sendiri. Yakni dari segi mengagungkan hari di mana Nabi dilahirkan dengan melakukan suatu ibadah yaitu berpuasa.

Ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab :

ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت اوانزل علي فيه

“ Hari itu hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku “ (HR. Muslim)

Ini merupakan dalil nyata bolehnya memperingati hari kelahiran (maulid) beliau yang saat itu dirayakan oleh Nabi dengan salah satu macam ibadah yaitu berpuasa. Dan ini merupakan fakta bahwa beliaulah pertama kali yang mengangungkan hari kelahirannya sendiri dengan berpuasa. Maka mengagungkan hari di mana beliau dilahirkan merupakan sebuah sunnah yang telah Nabi contohkan sendiri. Ini asal dan esensi dari acara maulid Nabi.

Kedua : Merayakan, mengagungkan dan memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi dengan berbagai cara dan program sudah sejak lama diikuti oleh para ulama dan raja-raja yang shalih. Kita kupas sejarahnya di sini :

1. Ibnu Jubair seorang Rohalah[2] (lahir pada tahun 540 H) mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Rihal :

يفتح هذا المكان المبارك أي منزل النبي صلى الله عليه وسلم ويدخله جميع الرجال للتبرّك به في كل يوم اثنين من شهر ربيع الأول ففي هذا اليوم وذاك الشهر ولد النبي صلى الله عليه وسلم

“ Tempat yang penuh berkah ini dibuka yakni rumah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, dan semua laki-laki memasukinya untuk mengambil berkah dengannya di setiap hari senin dari bulan Rabi’ul Awwal. Di hari dan bulan inilah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan “[3]

Dari sini sudah jelas bahwa saat itu perayaan maulid Nabi merupakan sudah menjadi tradisi kaum muslimin di Makkah sebelum kedatangan Ibnu Jubair di Makkah dan Madinah dengan acara yang berbeda yaitu membuka rumah Nabi untuk umum agar mendapat berkah dengannya. Ibnu Jubair masuk ke kota Makkah tanggal 16 Syawwal tahun 579 Hijriyyah. Menetap di sana selama delapan bulan dan meninggalkan kota Makkah hari Kamis tanggal 22 bulan Dzul Hijjah tahun 579 H, dengan menuju ke kota Madinah al-Munawwarah dan menetap selama 5 hari saja.

2. Syaikh Umar al-Mulla seorang syaikh yang shalih yang wafat pada tahun 570 H, dan shulthan Nuruddin Zanki seorang pentakluk pasukan salib. Kita simak penuturan syaikh Abu Syamah (guru imam Nawawi) tentang dua tokoh besar di atas :

قال العماد: وكان بالموصل رجل صالح يعرف بعمر الملاَّ، سمى بذلك لأنه كان يملأ تنانير الجص بأجرة يتقوَّت بها، وكل ما عليه من قميص ورداء، وكسوة وكساء، قد ملكه سواه واستعاره، فلا يملك ثوبه ولا إزاره. وكن له شئ فوهبه لأحد مريديه، وهو يتجر لنفسه فيه، فإذا جاءه ضيف قراه ذلك المريد. وكان ذا معرفة بأحكام القرآن والأحاديث النبوية.كان العلماء والفقهاء، والملوك والأمراء، يزورونه في زاويته، ويتبركون بهمته، ويتيمنَّون ببركته. وله كل سنة دعوة يحتفل بها في أيام مولد رسول الله صلى الله عليه وسلم يحضره فيها صاحب الموصل، ويحضر الشعراء وينشدون مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم في المحفل. وكان نور الدين من أخص محبيه يستشيرونه في حضوره، ويكاتبه في مصالح أموره

“ al-‘Ammad mengatakan , “ Di Mosol ada seorang yang shalih yang dikenal dengan sebutan Umar al-Mulla, disebut dengan al-Mulla sebab konon beliau suka memenuhi (mala-a) ongkos para pembuat dapur api sebagai biaya makan sehari-harinya, dan semua apa yang ia miliki berupa gamis, selendang, pakaian, selimut, sudah dimiliki dan dipinjam oleh orang lain, maka beliau sama sekali tidak pakaian dan sarungnya. Jika beliau memiliki sesuatu, maka beliau memberikannya kepada salah satu muridnya, dan beliau menyewa sesuatu itu untuknya, maka jika ada tamu yang datang, murid itulah yang menjamunya. Beliau seorang yang memiliki pengetahuan tentang hokum-hukum al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Para ulama, ahli fiqih, raja dan penguasa sering menziarahi beliau di padepokannya, mengambil berkah dengan sifat kesemangatannya, mengharap keberkahan dengannya. Dan beliau setiap tahunnya mengadakan peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri juga oleh raja Mosol. Para penyair pun juga datang menyenandungkan pujian-pujian kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di perayaan tersebut. Shulthan Nuruddin adalah salah seorang pecintanya yang merasa senang dan bahagia dengan menghadiri perayaan maulid tersebut dan selalu berkorespondesi dalam kemaslahatan setiap urusannya “.[4]

Ini juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tarikh pada bab Hawadits 566 H. al-Hafidz adz-Dzahabi mengatakan tentang syaikh Umar ash-Shalih ini : “

وقد كتب الشيخ الزاهد عمر الملاّ الموصلي كتاباً إلى ابن الصابوني هذا يطلب منه الدعاء

“ Dan sungguh telah menulis syaikh yang zuhud yaitu Umar al-Mulla al-Mushili sebuah tulisan kepada Ibnu ash-Shabuni, “ Ini orang meminta ddoa darinya “.[5]

Adz-Dzahabi dalam kitab lainnya juga mengatakan :

وكان ذلك تحت إمرة الملك العادل السُّنِّيِّ نور الدين محمود زنْكِي الذي أجمع المؤرخون على ديانته وحسن سيرته، وهو الذي أباد الفاطميين بمصر واستأصلهم وقهر الدولة الرافضية بها وأظهر السنة وبني المدارس بحلب وحمص ودمشق وبعلبك وبنى المساجد والجوامع ودار الحديث

“ Beliau (syaikh Umar) di bawah kekuasaan raja yang adil yang sunni yaitu Nuruddin Mahmud Zanki, yang para sejarawan telah ijma’ (konsesus/sepakat) atas kebaikan agama dan kehidupannya. Beliaulah yang telah memusnahkan dinasti Fathimiyyun di Mesir sampai ke akar-akarnya, menghancurkan kekuasaan Rafidhah. Menampakkan (menzahirkan) sunnah, membangun madrasah-madrasah di Halb, Hamsh, Damasqus dan Ba’labak, juga membangun masjid-masjid Jami’ dan pesantren hadits “[6]

Al-Hafidz Ibnu Katsir menceritakan sosok raja Nuruddin Zanki sebagai berikut :

أنّه كان يقوم في أحكامه بالمَعدلَةِ الحسنة وإتّباع الشرع المطهّر وأنّه أظهر ببلاده السنّة وأمات البدعة وأنّه كان كثير المطالعة للكتب الدينية متّبعًا للآثار النبوية صحيح الاعتقاد قمع المناكير وأهلها ورفع العلم والشرع

“ Beliau adalah seorang raja yang menegakkan hokum-hukumnya dengan keadilan yang baik dan mengikuti syare’at yang suci. Beliau menampakkan sunnah dan mematikan bid’ah di negerinya. Beliau seorang yang banyak belajar kitab-kitab agama, pengikut sunnah-sunnah Nabi, akidahnya sahih, pemusnah kemungkaran dan pelakuknya, pengangkat ilmu dan syare’at “.[7]

Ibnu Atsir juga mengatakan :

طالعت سِيَرَ الملوك المتقدمين فلم أر فيها بعد الخلفاء الراشدين وعمر بن عبد العزيز أحسن من سيرته, قال: وكان يعظم الشريعة ويقف عند أحكامها

“ Aku telah mengkaji sejarah-sejarah kehidupan para raja terdahulu, maka aku tidak melihat setelah khalifah rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz yang lebih baik dari sejarah kehidupannya (Nurruddin Zanki). Beliau pengangung syare’at dan tegak di dalam hokum-hukumnya “.[8]

Pertanyaan buat para pengingkar Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

Jika seandainya Maulid Nabi itu bid’ah dholalah yang sesat dan pelakunya disebut mubtadi’ (pelaku bid’ah) dan terancam masuk neraka, apakah anda akan mengatakan bahwa syaikh Umar al-Mulla dan raja yang adil Nuruddin Zanki adalah orang-orang pelaku bid’ah dan terancam masuk neraka ?? padahal para ulama sejarawan sepakat (ijma’) bahwa syaikh Umar adalah orang shalih dan zuhud, raja Nuruddin adalah raja yang adil, berakidah sahih, pecinta sunnah bahkan menampakkanya dan juga pemusnah bid’ah di negerinnya, sebagaimana telah saya buktikan faktanya di atas…

Bagaimana mungkin para ulama sejarawan di atas, mengatakan penzahir (penampak) sunnah Nabi dan pemusnah bid’ah jika ternyata pengamal Maulid Nabi yang kalian anggap bid’ah sesat ?? ini bukti bahwa Maulid Nabi bukanlah bid’ah. Renungkanlah hal ini wahai para pengingkar Maulid Nabi…

3. Kemudian berlanjut perayaan tersebut yang dilakukan oleh seorang raja shaleh yaitu raja al-Mudzaffar penguasa Irbil, seorang raja orang yang pertama kali merayakan peringatan maulid Nabi dengan program yang teratur dan tertib dan meriah. Beliau seorang yang berakidahkan Ahlus sunnah wal jama’ah.

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :

ابن زين الدين علي بن تبكتكين أحد الاجواد والسادات الكبراء والملوك الامجاد له آثار حسنة…. وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه وقد صنف الشيخ أبو الخطاب ابن دحية له مجلدا في المولد النبوي سماه التنوير في مولد البشير النذير فأجازه على ذلك بألف دينار وقد طالت مدته في الملك في زمان الدولة الصلاحية وقد كان محاصر عكا وإلى هذه السنة محمود السيرة والسريرة قال السبط حكى بعض من حضر سماط المظفر في بعض الموالد كان يمد في ذلك السماط خمسة آلاف راس مشوى وعشرة آلاف دجاجة ومائة ألف زبدية وثلاثين ألف صحن حلوى

“ Beliau adalah putra Zainuddin Ali bin Tabkitkabin salah seorang tokoh besar dan pemimpin yang agung. Beliau memiliki sejarah hidup yang baik. Beliau yang memakmurkan masjid al-Mudzhaffari….dan beliau konon mengadakan acara Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabiul Awwal, dan merayakannya dengan perayaan yang meriah, dan beliau adalah seorang raja yang cerdas, pemberani, perkasa, berakal, alim dan adil –semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya- syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah telah mengarang kitab berjilid-jilid tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dinamakannya “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “, lalu diberikan balasan atas usaha itu oleh raja sebesar seribu dinar. Masa kerajaannya begitu panjang di zaman Daulah shalahiyyah. Beliau pernah mengepung negeri ‘Ukaa. Di tahun ini beliau baik kehidupannya lahir dan bathin. As-Sibth mengatakan, “ Seorang yang menghadiri kegiatan raja al-Mudzaffar pada beberapa acara maulidnya mengatakan, “ Beliau pada perayaan maulidnya itu menyediakan 5000 kepala kambing yang dipanggang, 10.000 ayam panggang, 100.000 mangkok besar (yang berisi buah-buahan), dam 30.000 piring berisi manisan “.[9]

Adz-Dzahabi juga mengatakan tentang sifat-sifat beliau :

وَكَانَ مُتَوَاضِعاً، خَيِّراً، سُنِّيّاً، يُحبّ الفُقَهَاء وَالمُحَدِّثِيْنَ، وَرُبَّمَا أَعْطَى الشُّعَرَاء، وَمَا نُقِلَ أَنَّهُ انْهَزَم فِي حرب

“ Beliau adalah orang yang rendah hati, sangat baik, seorang yang berakidahkan Ahlus sunnah, pecinta para ahli fiqih dan hadits, terkadang suka memberi hadiah kepada para penyair, dan tidak dinukilkan bahwa beliau kalah dalam pertempuran “[10]

Pertanyaan buat para pengingkar Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

Adakah para ulama sejarawan di atas menyebutkan raja Mudzaffar adalah seorang pelaku bid’ah dholalah karena melakukan perayaan Maulid Nabi ?? justru mereka menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja adil, rendah hati, pemberani dan berakidahkan Ahlus sunnah. Renungkanlah hal ini wahai wahabi…

Ketiga : Seandainya Fathimiiyun juga membuat perayaan Maulid Nabi sebagaimana para pendahulu kami, maka hal ini bukanlah suatu keburukan karena kami hanya menolak kebathilan para pelaku bid’ah dholalah, bukan menolak kebenaran mereka yang sesuai dengan Ahlus sunnah.

Keempat : Wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan mengunting teks (nash) dari al-Maqrizi. Mereka tidak menampilkan redaksi atau teks berikutnya yang dinyatakan oleh al-Maqrizi dalam kitabnya tersebut. Lebih lanjutnya beliau menceritkan bahwasanya para khalifah muslimin, mengadakan perayaan maulid yang dihadiri oleh para qadhi dari kalangan empat madzhab dan para ulama yang masyhur, berikut redaksinya yang disembunyikan dan tidak berani ditampilkan wahabi :

فلما كانت أيام الظاهر برقوق عمل المولد النبويّ بهذا الحوض في أوّل ليلة جمعة من شهر ربيع الأول في كلّ عام فإذا كان وقت ذلك ضربت خيمة عظيمة بهذا الحوض وجلس السلطان وعن يمينه شيخ الإسلام سراج الدين عمر بن رسلان بن نصر البلقيني ويليه الشيخ المعتقد إبراهيم برهان الدين بن محمد بن بهادر بن أحمد بن رفاعة المغربيّ ويليه ولد شيخ الإسلام ومن دونه وعن يسار السلطان الشيخ أبو عبد الله محمد بن سلامة التوزريّ المغربيّ ويليه قضاة القضاة الأربعة وشيوخ العلم ويجلس الأمراء على بعد من السلطان فإذا فرغ القراء من قراءة القرآن الكريم قام المنشدون واحدًا بعد واحد وهم يزيدون على عشرين منشدًا فيدفع لكل واحد منهم صرّة فيها أربعمائة درهم فضة ومن كلّ أمير من أمراء الدولة شقة حرير فإذا انقضت صلاة المغرب مدّت أسمطة الأطعمة الفائقة فأكلت وحمل ما فيها ثم مدّت أسمطة الحلوى السكرية من الجواراشات والعقائد ونحوها فتُؤكل وتخطفها الفقهاء ثم يكون تكميل إنشاد المنشدين ووعظهم إلى نحو ثلث الليل فإذا فرغ المنشدون قام القضاة وانصرفوا وأقيم السماع بقية الليل واستمرّ ذلك مدّة أيامه ثم أيام ابنه الملك الناصر فرج

“ Maka ketika sudah pada hari-hari yang tampak dengan ruquq, diadakanlah perayaan Maulid Nabi di telaga ini pada setiap malam Jum’at bulan Rabiul Awwal di setiap tahunnya. Kemduian Shulthan duduk, dan di sebelah kanannya duduklah syaikh Islam Sirajuddin Umar bin Ruslan bin Nashr al-Balqini, di dekat beliau ada syaikh al-Mu’taqad Ibrahim Burhanuddin bin Muhammad bin Bahadir bin Ahmad bin Rifa’ah al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada putra syaikh Islam dan orang-orang selainnya, dan di sebelah kirinya ada syaikh Abu Abdillah bin Muhammad bin Sallamah at-Tuzari al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada para qadhi dari kalangan empat madzhab, dan para syaikh ilmu, juga para penguasa yang duduk sedikit jauh dari shulthan. Jika telah selesai membaca al-Quran, maka beridrilah para nasyid satu persatu membawakan sebuah nasyidah, mereka lebih dari 20 orang nasyid, masing-masing diberikan sekantong uang yang di dalamnya berisi 4000 ribu dirham perak. Dan bagi setiap amir daulah diberikan kaen sutra. Dan jika telah selesai sholat maghrib, maka dihidangkanlah hidangan makanan yang mewah yang dimakan oleh semuanya dan dibawa pulang. Kemduian dibeberkan juga hidangan manisan yang juga dimakan semuanya dan para ulama ahli fiqih. Kemduian disempurnakan dengan nasyid pada munsyid dan nasehat mereka sampai sepertiga malam. Dan jika para munsyid selasai, maka berdirilah para qadhi dan mereka kembali pulang. Dan diperdengarkan sebuah senandung pujian di sisa malam tersebut. Hal ini terus berlangsung di masanya dan masa-masa anaknya yaitu an-Nahsir Faraj “.[11]

Kisah yang sama ini juga diceritakan oleh seorang ulama pakar sejarah yaitu syaikh Jamaluddin Abul Mahasin bin Yusufi bin Taghribardi dalam kitab Tarikhnya “ an-Nujum az-Zahirah fii Muluk Mesir wal Qahirah “ pada juz 12 halaman 72.

Hal yang serupa juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar secara ringkas dalam kitabnya Anba al-Ghumar sebagai berikut :

وعمل المولد السلطاني المولد النبوي الشريف على العادة في اليوم الخامس عشر، فحضره البلقيني والتفهني وهما معزولان، وجلس القضاة المسفزون على اليمين وجلسنا على اليسار والمشايخ دونهم، واتفق أن السلطان كان صائما، فلما مد السماط جلس على العادة مع الناس إلى إن فرغوا، فلما دخل وقت المغرب صلوا ثم أحضرت سفرة لطيفة، فاكل هو ومن كان صائما من القضاة وغيرهم

“ Dan perayaan maulid shulthan yaitu Maulid Nabi yang Mulia seprti biasanya (tradisi) pada hari kelima belas, dihadiri oleh syaikh al-Balqini dan at-Tifhani, keduanya mantan qadhi. Para qadhi lainnya duduk di sebalah kanan beliau, dan kami serta para masyaikh duduk di sebelah kiri. Disepakati bahwa shulthan saat itu dalam keadaan puasa, maka ketika dibentangkanlah seprei makanan, beliau duduk seperti biasanya bersama prang-orang sampai selesai. Maka ketika masuk waktu maghrib, mereka sholat kemudian dihidangkanlah hidangan makanan yang lembut, maka beliau makan bersama orang-orang yang berpuasa dari para qadhi dan lainnya “[12]

Dengan ini jelas lah sudah bahwa wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan tidak menampilkan redaksi (teks) selanjutnya yang membicarakan perhatian para raja dan ulama besar terhadap perayaan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam saat itu. Ini merupakan tadlis, talbis dan penipuan besar di hadapan public…naudzu billah min dzaalik.

Kesimpulannya :

1. Perayaan Maulid Nabi, esensinya telah dicontohkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yaitu saat beliau mengangungkan dan memperingati hari kelahiran beliau dengan melakukan satu ibadah sunnah yaitu puasa. Maka pada hakekatnya perayaan Maulid Nabi adalah sunnah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Perayaan Maulid Nabi yang dilanjutkan dengan para raja yang adil dan para ulama yang terkenal adalah dalam rangka menghidupkan sunnah Nabi yaitu memperingati hari kelahiran Nabi, namun dengan metode dan cara yang berbeda yang berlandaskan syare’at seperti membaca al-Quran, bersholawat dan bersedekah. Metode ini sama sekali tidak bertentangan dengan syare’at Nabi.

3. Tuduhan wahabi bahwa yang melakukan Maulid pertama kali adalah dari Syi’ah Fathimiyyun adalah dusta belaka dan bertentangan dengan fakta kebenarannya.

4. Wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan menggunting dan tidak menampilkan teks al-Maqrizi yang menceritakan perhatian para raja adil dan ulama terkenal dari kalangan empat madzhab terhadap Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

Shofiyyah an-Nuuriyyah & Ibnu Abdillah Al-Katibiy

Kota Santri, 6 Rabiul Awwal 1435 H / 08-Januari-2014

[1] Ini disebutkan oleh syaikh Ibnu Muflih dari Ibn Mukhlid yang mengisahkan kisah ini dari Hasan al-Bashri. Bisa juga dilihat di kitab Syarh kitab Tauhid di : http://islamport.com/w/aqd/Web/1762/961.htm

[2] Seorang penjelaja tempat-tempat dan daerah-daerah jauh.

[3] Rihal, Ibnu Jubair : 114-115

[4] Ar-Roudhatain fii Akhbar ad-Daulatain, Abu Syamah, pada fashal (bab) : Hawadits (peristiwa) tahun 566 H.

[5] Tarikh al-Islam, adz-Dzahabi : 41 / 130

[6] Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi : 20 / 532

[7] Tarikh Ibnu Katsir : 12 / 278

[8] Tarikh Ibnu Atsir : 9 / 125

[9] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir : 13/ 136

[10] Siyar A’lam an-Nubala : 22 / 336

[11] Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar : 3 / 167

[12] Anba al-Ghumar : 2 / 562

10 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Sedekah dan Doa untuk Ahli Kubur


Kehidupan kita di dunia ini hanya sekejap sahaja. Kita dihantar oleh Allah untuk menjadi Khalifahnya, untuk beriman dan bertakwa kepadanya, namun, alangkah malunya untuk menghadapi Allah sekiranya kita tidak menunaikan amanah dan tanggungjawab yang telah diberikan kepada kita.

Kali ini saya ingin berkongsi dengan anda semua mengenai tanggungjawab kita terhadap orang yang telah meninggalkan kita di alam dunia ini. Artikel ini dipetik dari kitab Manâzilul âkhirah karya Syeikh Abbas Al-Qumi. Semoga ianya menjadi panduan keinsafan untuk kita semua. Insya Allah.

Alam Barzakh adalah satu perjalanan Akhirat ketiga yang menakutkan. Tentang alam Barzakh banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadis, tersurat dan tersirat. Di dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman:

وَمِنْ وَرائِهِمْ بَرْزَخٌ إلى يَوْمِ يُبْعَثُون

“Dan di belakang mereka ada Barzakh sampai hari kiamat.” (Al-Mukminun: 100).

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Demi Allah, yang kutakutkan atasmu adalah alam Barzakh.” Sahabatnya bertanya: Apakah Barzakh itu? Beliau menjawab: “Alam kubur sejak kematian hingga hari kiamat.” (Al-Bihar 6: 267)

Panggilan Sedih Penghuni Kubur

Di dalam kitabnya Lubb al-Lubab Ar-Rawandi mengatakan:

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa orang-orang yang telah meninggal, mereka datang setiap Jumaat pada bulan Ramadhan. Mereka berdiri dan masing-masing mereka memanggil dengan suara sedih dan menangis:

“Wahai keluargaku, wahai anak-anakku, wahai kerabatku, sayangi aku dengan sesuatu semoga Allah menyangimu. Ingatlah kami, jangan lupakan kami dengan doa. Sayangi kami dan keterasingan kami. Kami telah diabadikan di penjara yang sempit, kesedihan dan penderitaan yang lama masanya. Maka sayangi kami, jangan bakhil kepada kami dengan doa dan sedekah untuk kami. Semoga Allah menyayangi kita sebelum kalian seperti kami.

Alangkah sedihnya kami! Kami sebenarnya mampu sebagaimana kalian mampu.
Wahai hamba-hamba Allah, dengarlah bicara kami, jangan lupakan kami, kerana kalian pasti akan mengetahui dan merasakan besok. Infakkan apa yang kalian miliki. Dahulu kami juga miliki, tetapi kami tidak menginfakkan di jalan ketaatan kepada Allah, kami menahannya di jalan kebenaran, sehingga kurnia itu menjadi malapetaka bagi kami dan bermanfaat bagi orang lain. Sayangi kami walaupun dengan satu dirham, sepotong roti atau segelas minuman.”

Kemudian mereka memanggil: “Cepatlah kalian menangisi diri kalian, menangisi segala yang tidak bermanfaat bagi kalian sebagaimana kami menangisi diri kami dan segala yang tidak bermanfaat bagi kami. Bersungguh-sungguhlah kalian sebelum kalian seperti kami.”

(Mustadrak Al-Wasail 2: 162, bab 39, hadis ke 697)

Pentingnya Sedekah dan Doa untuk Ahli Kubur

Dalam kitab Jami’ul Akhbar disebutkan, sebagian sahabat berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Berikan hadiah untuk keluargamu yang telah meninggal.” Kami bertanya: Ya Rasulallah, apa hadiah untuk orang-orang yang telah meninggal? Rasulullah saw menjawab: “Sedekah dan doa.” Selanjutnya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap hari Jum’at arwah orang-orang yang beriman datang ke langit dunia vertikal dengan rumah mereka. Masing-masing mereka memanggil dengan suara yang sedih sambil menangis: Wahai keluargaku, wahai anak-anakku, wahai ayahku, wahai ibuku, wahai keluargaku, sayangi kami semoga Allah menyayangi kalian dengan apa yang telah dihadiahkan kepada kami. Celakalah kami, hisab (perhitungan) dibebankan pada kami, sementara yang memanfaatkan orang lain.

Mereka memanggil keluarganya: “Sayangi kami walaupun dengan satu dirham, atau sepotong roti atau sehelai pakaian. Semoga Allah memberi pakaian dari pakaian surga.”

Kemudian Nabi saw menangis, dan kami pun ikut menangis bersama Nabi saw, sehingga Nabi tidak mampu bercakap kerana banyaknya menangis. Kemudian beliau bersabda:
“Mereka adalah saudara-saudara kalian dalam agama. Mereka telah dihancurkan oleh tanah sesudah mereka memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan di dunia. Mereka memanggil dengan kata-kata celaka dan penyelasan atas diri mereka. Mereka berkata: Celakalah kami, sekiranya apa yang kami miliki kami infakkan dalam ketaatan dan keredhaan Allah, nescaya kami tidak menyusahkan kalian. Kemudian mereka kembali dengan sedih dan menyesal. Kerana itu, segeralah kamu bersedekah untuk keluarga kalian yang telah meninggal.” (Jami’ul Akhbar: 169)

Dalam hadis yang lain disebutkan:
“Tidaklah kamu bersedekah untuk orang yang telah meninggal, kecuali malaikat  mengambilnya di puncak cahaya yang sinarnya memancar sampai ke tujuh langit, kemudian ia berdiri di tepi liang kuburnya seraya memanggil: Assalamu’alaikum wahai penghuni kubur, keluargamu memberikan hadiah ini untukmu, lalu penghuni kubur itu mengambilnya dan membawanya ke kuburnya, sehingga menjadi luaslah tempat pembaringannya.” Kemudian Imam (sa) berkata: “Ingatlah, barangsiapa yang menyayangi orang yang telah meninggal dengan sedekah, ia memiliki pahala di sisi Allah sama dengan pahala orang yang berperang di perang uhud; dan pada hari kiamat nanti ia akan mendapat naungan arasy Allah, hari tidak ada naungan kecuali naungan arasy. Dengan sedekah orang yang hidup, yang meninggal dapat diselamatkan.” (Jami’ul Akhbar: 169)

Dalam kitabnya Zadul Ma’ad Allamah Al-Majlisi berkata: Hendaknya yang hidup tidak melupakan orang-orang yang telah meninggal, kerana mereka sangat terbatas untuk memperoleh amal yang baik. Mereka mengharap dan mengintip kebaikan dari anak-anaknya, kerabat, dan saudara-saudaranya yang beriman. Khususnya doa-doa mereka dalam solat-soat malam mereka, sesudah solat-solat fardhu, dan doa-doa mereka di kuburan-kuburan suci. Hendaknya seorang anak mendoakan ayah dan ibunya lebih banyak daripada terhadap orang lain, dan beramal kebajikan untuk mereka.

Dalam suatu hadis dikatakan: “Sungguh ada seorang hamba yang tercatat sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya ketika mereka masih hidup, kemudian keduanya meninggal, tetapi ia tidak melaksanakan apa yang mereka tinggalkan dalam agamanya dan tidak memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah azza wa jalla mencatatnya sebagai anak yang durhaka. Ada juga seorang hamba yang tercatat sebagai anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya dan tidak berbakti kepada mereka ketika mereka masih hidup, tetapi setelah mereka meninggal ia melaksanakan apa yang mereka ditinggalkan dalam agamanya, dan memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah azza wa jalla mencatatnya sebagai anak yang berbakti.” (Al-Kafi 2: 163, hadis ke 21)

Di antara kebaikan yang terpenting bagi kedua orang tua dan seluruh kerabat yang telah meninggal adalah menunaikan perintah agama yang mereka tinggalkan saat hidupnya, melepaskan mereka dari hak-hak Allah dan mahluk-Nya, mengqadha’ apa yang mereka tinggalkan, haji dan seluruh ibadahnya, dengan cara membayar atau bersedekah.

Dalam riwayat yang shahih dikatakan bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) melakukan shalat untuk anak-anaknya setiap malam dua rakaat, dan untuk kedua orang tuanya setiap hari dua rakaat; pada rakaat yang pertama setelah Fatihah membaca surat Al-Qadar, dan rakaat kedua surat Al-Kautsat. (Al-Bihar 82: 63)

Umar bin Yazid berkata bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) melakukan shalat untuk puteranya setiap malam dua rakaat, dan untuk orang tuanya setiap siang hari dua rakaat.” Kemudian aku bertanya kepadanya: Mengapa shalat untuk anak dilakukan di malam hari? Beliau menjawab: Karena permadani untuk anakku. (At-Tahdzib 1: 467, hadis ke 178)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:

“Sesungguhnya seorang mayat yang berada dalam himpitan kubur, kemudian Allah meluaskan kuburnya dan memberikan kurnia kepadanya. Lalu dikatakan kepadanya: Kamu diringankan dari himpitan kubur kerana solat Fulan saudaramu untukmu. Kemudian ditanyakan kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bolehkah solat dua rakaat itu untuk dua orang? Beliau menjawab: Boleh.

Selanjutnya beliau berkata: “Sesungguhnya seorang mayyit, ia merasakan bahagia akibat kasih sayang yang dihadiahkan kepadanya dan permohonan ampunan untuknya, sebagaimana orang yang hidup bahagia dengan hadiah yang diberikan kepadanya. (Al-Faqih 1: 117, hadis ke 554)

Rasulullah saw bersabda:

يدخل على الميت في قبره الصلاة والصوم والحجّ والصدقة والبر والدعاء ويكتب أجره للذي يفعله وللميت

“Masuklah pada mayyit di kuburnya shalat, puasa, haji, sedekah, kebajikan, dan doa; dan pahalanya dicatat untuk orang yang melakukan dan juga untuk mayyit. (A-Faqih 1: 117, hadis ke 557)

Rasulullah saw juga bersabda:

مَنْ عمل مِنَ المسلمين عن ميت عملا صالحاً اضعف له أجره ونفع الله به الميت

“Barangsiapa dari kalangan muslimin yang melakukan amal soleh untuk orang yang telah meninggal, Allah melipatgandakan pahala baginya dan dengannya memberi manfaat pada orang yang telah meninggal.” (Al-Faqih 1: 117, hadis ke 556)

Dalam suatu riwayat dikatakan: Jika seseorang bersedekah dengan diniatkan untuk orang yang telah meninggal, Allah memerintahkan kepada malaikat Jibril agar datang membawa seribu malaikat ke kuburnya, dan masing-masing malaikat membawa tempat makanan dan berkata: “Salam atasmu wahai kekasih Allah, ini hadiah dari Fulan bin Fulan untukmu.”

“Kemudian bercahayalah kuburnya, dan Allah memberikan kepadanya seribu kota di surga, mengawinkannya dengan seribu bidadari, memberinya seribu pakaian yang baru, dan menunaikan baginya seribu keinginan.” (Al-Bihar 82: 63, hadis ke 7)

Sumber: http://ahmadhumaizi.com/agama/sedekah-dan-doa-untuk-ahli-kubur/

9 December 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Haji dan Umrah: Layakkah aku menjadi Tetamu Allah?

 

 

 


 

Musim cuti sekolah selain sinonim dengan majlis perkahwinan dan kenduri untuk meraikan pasangan yang telah diijab-kabulkan, ianya juga dikaitkan dengan program Umrah dan Ziarah bagi mereka yang berkemampuan untuk mengunjungi Makkah al-Mukarramah. Malah program umrah dan ziarah ini menjadi agenda tahunan bagi mereka yang telah mendapat nikmat melalui kunjungan ke Tanah Suci dan ibadah yang dilakukan di sana. Pelbagai tujuan dan gelagat manusia yang tersingkap disebalik keghairahan untuk mengunjungi Kota Suci ini. Ada yang pergi kerana ingin melancong dan melihat dengan lebih dekat disamping merasai sendiri kemuliaan Tanah Haram sebagaimana yang sering menjadi buah mulut para jemaah yang telah pernah mengunjunginya. Ada juga yang berazam untuk mengambil pengalaman pertama sebelum dijemput untuk menunaikan ibadah haji yang difardhukan.

 Walaupun kunjungan kita ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah Umrah yang sunat, namun harus difahami ibadah umrah juga adalah ibadah yang penting untuk dihayati, dipelajari manasiknya (cara perlaksanaannya) dan dimurnikan tujuan serta niat untuk melaksanakannya. Janganlah pula keghairahan itu nanti menjadi penyebabkan kepada kita terjebak dalam maksiat yang berganda disebabkan kejahilan yang kita bawa apabila melangkahkan kaki ke sana.

Kategori Tetamu Allah

Saudaraku, fahamilah bahawa ibadah umrah juga adalah ibadah utama bagi yang mampu dan telah terpanggil untuk menunaikannya. Daripada Abu Hurairah RA bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Orang-orang yang menunaikan haji dan umrah adalah tetamu Allah. Apabila mereka memohon kepadanya, pasti diperkenankan. Dan apabila mereka memohon keampunan kepadaNya, pasti diampunkan.” (Riwayat Nasa’i, ibnu Hibban dan Hakim).

Orang-orang yang menunaikan haji dan umrah adalah para tetamu Allah. Manakala kedudukan dan tahap kesempurnaan jemputannya pula dapat ditentukan berdasarkan kepada ciri-ciri keutamaan dan keadaan persiapan seseorang jemaah sebelum terpilih dan dipilih untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Secara umumnya para tetamu Allah tergolong kepada tiga kategori;

  1. Tetamu yang dijemput dengan rahmat dan keredhaanNya
  2. Tetamu yang diterima dalam keadaan kemurkaanNya.
  3. Tetamu yang diterima tetapi tidak jelas kedudukannya.

Ketiga-tiga golongan ini termasuk dalam jaminan Allah SWT, iaitu doa dan taubat mereka akan dikabulkan Allah SWT jika mereka memohon bersungguh-sungguh kepada-Nya serta memenuhi segala syaratnya. Namun terdapat perbezaan dari segi layanan Allah SWT kepada mereka setelah mana mereka tersenarai dalam jemputan-Nya itu.

a.      Tetamu yang dijemput dengan rahmat dan keredhaanNya

Golongan pertama ialah tetamu yang dijemput dengan rahmat dan keredhaanNya adalah dikalangan mereka yang telah membuat persiapan seawal niat dan azam untuk menunaikan haji serta umrah lagi. Antara persiapan yang telah mereka persiapkan;

  1. Membersihkan jiwa batiniah melalui taubat yang bersungguh-sungguh disamping memperbanyakkan doa-doa khusus supaya dijemput sebagai tetamu-Nya.
  2. Mempersiapkan diri dengan ilmu amali ibadah haji dan umrah seawal mungkin agar jelas difahami dengan rasa penuh keyakinan di dalam hati pada perlaksanaan dan penghayatan serta hikmahnya.
  3. Memberi tumpuan dan meningkatkan kualiti ibadah fardu seperti solat, zakat serta puasa malah diperkemaskan dan ditunaikan berserta amalan sunat dengan sebaik mungkin.
  4. Hubungan sesama manusia diperbaiki, jika ada dosa dan pernah membuat kejahatan kepada sesama insan maka ia akan bersegera memohon kemaafan kepada mereka.
  5. Dilangsaikan segala hutang yang mampu dijelaskan disamping membuat perancangan dengan teliti agar tidak membebankan mereka yang ditinggalkan.
  6. Mempersiapkan semua keperluan yang patut bagi meringankan segala bebanan dan tanggungjawab yang bakal ditinggalkan dengan secara yang halal. Mereka ikhlas melakukan yang demikian demi mencari redhanya Tuhan.

Keikhlasan mereka itu adalah antara penyebab kepada segala urusan mereka dipermudahkan Allah SWT. Malah sepanjang menunaikan ibadah haji dan umrah juga akan berada dalam ketenangan dan dilimpahi bantuan daripada Allah SWT. Mereka ini telah benar-benar menghayati dan mempraktikkan suruhan Allah SWT sebagai bekalan menuju kepada keredhaan-Nya, sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan hendaklah kamu membawa bekal dengan secukupnya, kerana sebaik-baik bekal itu ialah Takwa (memelihara diri), dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal (yang dapat memikir dan memahaminya).”(Surah al-Baqarah: 197)

 

Bekalan takwa mereka ialah pemeliharan diri daripada sifat-sifat mazmumah yakni sifat-sifat keji, memiliki ilmu serta praktikal ibadah yang sempurna. Disamping itu juga, mereka mempunyai kefahaman dalam ertikata yang sebenarnya dalam meningkatkan penghayatan pada ibadah dengan belajar untuk memperbaiki diri dalam setiap praktik amalan haji dan umrah. Memperelokkan hubungan mereka dengan Allah SWT melalui penyempurnaan iman dan kecintaan yang hakiki kepada Ilahi, serta menyantuni manusia dalam semua keadaan sebagai pelengkap keindahan akhlak dan adab melalui hablum minannas, hubungan mereka semasa manusia.

 

b.     Tetamu yang diterima dalam keadaan kemurkaanNya.

Manakala golongan kedua iaitu tetamu yang diterima dalam keadaan kemurkaan Allah SWTialah mereka yang sebaliknya.  Ada yang pergi ke Makkah dengan niat hanya untuk berziarah atau melancong dan mengalami sendiri pengalaman sebagaimana yang digembar-gemburkan oleh kebanyakkan orang yang telah menziarahinya.

Ada juga yang dalam keadaan terpaksa mengerjakan ibadah haji kerana mengikut suami, ibu bapa, keluarga, majikan, kelab atau jemaah tertentu. Ada juga yang merasai kewajipan itu pada dirinya lantas ia berusaha melayakkan dirinya, namun pelbagai niat dan persepsi yang dilahirkan hanya sekadar ‘melepaskan batuk di tangga sahaja’ tanpa membuat persiapan yang menyeluruh merangkumi niat, bekalan ilmu, iman dan amalan. Kebanyakkannya benar-benar berharap mendapat yang terbaik tetapi tidak menepati syarat. Tidak kurang juga yang hanya tangkap muat, asal terlaksana ibadah haji dan umrah sudah dianggap memadai.

Satu ketika seorang sahabat Nabi SAW, Abdullah Bin Umar RA apabila melihat rombongan haji sedang melewati satu jalan, beliau berkata: “Pada hari ini, para jemaah haji menjadi semakin berkurangan dan pengembara-pengembara semakin bertambah ramai.”

Ungkapan beliau itu bermaksud, para kekasih Allah SWT yang sebenar semakin sedikit. Iaitu mereka yang pergi menunaikan ibadah haji kerana Allah SWT disamping untuk mengambil faedah dan tarbiah daripadanya semakin berkurangan. Sementara dikalangan mereka yang tidak ikhlas telah bertambah dengan hebatnya. Justeru ia menyeru ke arah kesederhanaan dan menjauhkan segala kemewahan dan keseronokan.

Mana tidaknya, jemaah haji sekarang ini lebih didedahkan kepada segala kemudahan yang tersedia bermula dari bimbingan ibadah haji sehinggalah kepada pakej-pakej yang ditawarkan. Malah persekitaran dan aktiviti di tanah suci juga telah menampakkan kemewahan dan bersifat keduniaan. Perkara ini sedikit sebanyak akan mempengaruhi sikap dan tindakan dalam persiapan dan keadaan sebagai tetamu Allah.

Inilah cabaran terbesar di zaman kita ini. Justeru, para jemaah haji hendaklah menunjukkan tanda keghairahan cinta kepada Allah SWT, dan bukannya tanda cinta kepada kemewahan, kesenangan atau kecantikan yang bersifat keduniaan. Membuktikan bahawa pemergiannya untuk menunaikan ibadah haji itu semata-mata mencari keredhaan Allah SWT agar tidak tergolong dalam salah satu daripada golongan yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Akan datang kepada manusia suatu masa, umatku melakukan haji kerana empat perkara: Orang kaya melaksanakan ibadah haji kerana melancong. Orang pertengahan menunaikan haji kerana berniaga. Orang miskin menunaikan haji kerana meminta-minta. Orang qari dan para ilmuaan menunaikan haji kerana riya’ dan nama.”  (Riwayat al-Dailamy)

Ujian adalah kifarah        

Namun sifat pengampunnya Allah SWT masih memberi ruang dan peluang untuk para hamba-Nya bertaubat dan menginsafi diri. Walaupun hadirnya mereka mengundang kemurkaan Allah SWT disebabkan sikap yang ada pada diri mereka iaitu memberi keutamaan kepada nafsu dan bukannya untuk menyatakan ketaatan kepada Allah SWT. Tetapi Maha Pengasihnya Allah SWT masih membuka tawaran keampunan untuk hamba-hamba-Nya bertaubat dan menginsafi diri.

Justeru kepayahan, kesakitan, tekanan yang wujud semasa, sebelum atau selepas menunaikan haji dan umrah adalah kifarat serta ujian Allah SWT untuk para hamba-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadis sahih daripada Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudri, bahawa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Tidaklah seorang mukmin dilanda kecemasan, kelelahan dan kesedihan, melainkan Allah SWT akan menghapuskan segala kesalahannya.”(Riwayat Muslim)

 

 Inilah hakikatnya komunikasi tanpa suara antara Tuhan dengan para hamba-Nya. Ujian terkecil malah yang terbesar adalah takdir Allah SWT. Ia mempunyai maksud tertentu untuk dibuat penilaian. Bagi para tetamu Allah khususnya, ia adalah sebagai ingatan atau kifarat daripada dosa moga hamba-Nya itu akan segera bertaubat, menyedari segala kesilapan sama ada dengan Allah SWT ataupun sesama manusia. Ujian juga bermaksud qisas (pembalasan) ke atas dosa-dosa kita. Setiap perbuatan dosa mesti dihukum, sama ada di dunia ataupun di akhirat, kecuali jika kita telah bertaubat bersungguh-sungguh sehingga Allah SWT mengampuni dosa-dosa tersebut.

Ujian sebenarnya melatih kita untuk mengubah ketrampilan diri bagi mendapat sifat-sifat terpuji. Sabar, redha, tawakal, baik sangka, mengakui diri sebagai sebagai hamba yang lemah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, harapkan pertolongan Allah SWT, merasai dunia hanya nikmat sementara dan sebagainya. Semuanya ini tidak dapat kita bezakan melainkan melalui ujian yang disediakan Allah SWT mengikut tahap keimanan kita bagi mencetuskan segala sifatmahmudah dalam diri.

Natijahnya apabila mampu membuat diri terasa berdosa ianya juga adalah hasilan dari sifat terpuji yang telah kita miliki. Kadang-kala Allah SWT dedahkan dosa yang dilakukan hingga ramai orang tahu. Bukannya untuk menghina tetapi untuk memberi ingatan agar kita segera bertaubat dan tidak meneruskan dosa itu sampai bila-bila.

Banyak kisah pengalaman dari para jemaah haji atau umrah yang bertemu dengan pelbagai keadaan manusia yang dibukakan keaibannya oleh Allah SWT.  Mungkin itulah dia kifarat yang kadang-kala sehingga mencederakan perlaksanaan ibadah haji dan umrahnya. Bagaimana pula status haji atau umrahnya itu? Hanya Allah SWT sahaja yang mengetahuinya. Kita hanya mampu bersangka baik dan menilai dari lahiriah perbuatannya sahaja. Bila sah pada syarak maka sahlah hajinya. Terpulanglah kepada Allah SWT untuk menentukan nilai penerimaannya berdasarkan keikhlasan yang telah ditunjukkan sepanjang proses perlaksanaan ibadah tersebut.

Bagi mereka yang dikasihi Allah SWT, di dunia lagi Allah SWT hukum, tidak di akhirat, dengan didatangkan kesusahan, penderitaan, kesakitan dan sebagainya. Sekiranya kita boleh sabar dan redha, tentulah ada ganjaran pahala untuk kita. Sebaliknya kalau kita tidak boleh bersabar dan tidak redha malah merungut-rungut, mengeluh dan memberontak, ianya hanya akan menambah dosa pada diri kita. Begitulah Allah Yang Maha Pengasih kepada para hambaNya, tidak mahu menghukum kita di akhirat kerana penderitaan di akhirat yakni di neraka berpuluh-puluh kali ganda lebih dahsyat daripada penderitaan di dunia.

Ujian juga adalah untuk menilai sejauhmana keyakinan kita kepada Allah SWT. Semakin diuji sepatutnya semakin bertambah iman, dan semakin hampir kita dengan Allah SWT. Firman Allah yang bermaksud;

“Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, pada hal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang bersabar.”

(Surah ali-Imran: 142)

Namun begitu, kegagalan dalam menghayati hikmah ini menyebabkan kita bertambah jauh dengan Allah SWT; mengeluh dan menyesali takdir Allah SWT. Apatah lagi ianya akan menjauhkan kita untuk mengapai kesempurnaan haji dan umrah yang mabrur lagi bertadabbur.

c.      Tetamu yang diterima tetapi tidak jelas kedudukannya.

Seterusnya golongan ketiga iaitu tetamu yang diterima tetapi tidak jelas kedudukannya.Mereka dalam kategori ini pergi menunaikan haji dan umrah hanyalah sekadar kebetulan. Sekadar memenuhi kehendak semasa ataupun dalam keadaan terpaksa apabila sering disapa orang, rakan-rakan atau sanak saudara yang telah pergi menunaikannya. Seolah-olahnya hanya sebagai menyahut cabaran.

Suatu ketika saya pernah ditanya berkenaan dengan adanya dikalangan jemaah haji yang datang ke Makkah untuk menunaikan haji dan umrah sedangkan sebelum itu dia telah banyak melakukan dosa. Malah setelah pulang dari menunaikan haji pun ia masih lagi meneruskan amalan-amalan dosa yang pernah dilakukannya malah lebih hebat lagi. Bila ditanya, dia seolah-olah mempermain-mainkan saja teguran tersebut.

Ada antara mereka yang menjawab dengan angkuh; “Kau tengok aku. Aku nampak Kaabah, tak terasa panas, tak pernah sesat macam orang yang aku selalu dengar kisah-kisah aneh di Makkah tu. Itu menunjukkan aku okeylah. Tuhan merestui aku. Kalau aku jahat tentu aku ditimpa macam-macam insiden malang seperti yang diceritakan dalam kisah-kisah aneh tu. Ini tidak. Aku okey, okey saja..'”

Tidak mustahil, ada juga jemaah haji setelah pulang ke tanah air dengan keadaan selamba berterusan membuat dosa seperti membeli nombor ekor atau ramalan (loteri), mendedahkan aurat, menipu, rasuah, khianat dan sebagainya. Inilah sebuah realiti yang berlaku dikalangan para jemaah yang tidak memahami tujuan kefarduan ibadah haji dan umrah yang terdapat padanya latihan, hikmah serta pengajaran.

Perlu diingat, kisah-kisah misteri atau bala kesusahan bukanlah satu kemestian berlaku kepada setiap orang yang berdosa atau yang tidak betul niat dan tujuannya. Ia hanyalah tarbiah Allah SWT untuk mendidik para tetamu-Nya yang datang serta memiliki keazaman dan niat mengabdikan diri kepadaNya. Kadang-kala ianya bermanfaat sebagai pengajaran supaya hamba-hamba-Nya yang ikhlas itu sedar dan ingat untuk kembali bertaubat.

Namun hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala tujuan yang tersirat di dalam hati-hati manusia, ikhlas ataupun tidak. Boleh jadi Allah SWT akan membiarkan orang yang penuh dengan dosa dan leka akan terus lalai dengan kehidupannya. Na’uzubillahi min zalik. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah (Allah) Ar-Rahman melanjutkan baginya satu tempoh yang tertentu, hingga apabila mereka melihat apa yang dijanjikan kepada mereka, – sama ada azab sengsara dunia ataupun azab kiamat.”(Surah Maryam: 75)

Kesan dari pengabaian kepada dosa mengakibatkan akalnya sudah tidak mampu lagi membezakan antara ibadah dan adat. Biasanya apabila akal tidak berfungsi dengan sempurna sebagaimana sepatutnya, ingatan serta nasihat sudah tidak berguna lagi. Akal pada saat itu telah diseliputi nafsu yang akan membinasakan dirinya sendiri.  Keadaan beginilah yang seharusnya kita takuti dan berusaha menjauhinya. Bila dosa sudah dianggap nikmat serta mengaburi pandangan mata hati maka Allah SWT akan membiarkan kita terus leka dengan kehidupan di dunia ini tanpa hidayah-Nya.

Tanpa mengenali baik dan buruk yang terdapat dalam diri, akan menyebabkan kita hanyut dalam khayalan sendiri tanpa petunjuk dan bimbingan daripada Ilahi. Inilah pentingnya “Tazkiyatul Nafs” yakni membersihkan hati dan jiwa dari sifat-sifat keji dan dari segala penyakit serta keaiban yang akan menyebabkan kita buta dari mengenali Allah SWT dan perkara-perkara kebaikan dalam kehidupan.

Justeru jika tidak dibendung dan diperbaiki, mereka yang termasuk dalam golongan ketiga ini mungkin akan menjadikan amalan haji atau umrah ini hanya sekadar kebanggaan untuk ditunjuk-tunjuk bahawa mereka juga bertaubat serta beribadah. Namun hakikat sebaliknya, taubat mereka hanyalah kepura-puraan, tagis mereka hanyalah kemunafikan lantas mereka pulang ke tanah air dalam keadaan angkuh dengan Allah SWT dan riak sesama manusia.

Mereka kekal menjadi manusia yang derhaka kepada Allah SWT. Ibadah haji dan umrah dapat dilaksanakan dengan sempurna tetapi kewajipan menutup aurat masih diabaikan, segala perintah dan hukum Allah SWT masih dipertikai, malah segala perkara yang merupakan ibadah masih dicuai. Sesungguhnya mereka ini adalah insan malang yang tersungkur di hadapan pintu syurga.  “Ya Allah selamatkanlah kami dari keadaan ini.”

Sesungguhnya tidak ada ibadah yang paling buruk melebihi ibadahnya seorang yang fasiq(pelaku dosa besar dan dosa kecil yang terus menerus) tanpa taubat sebelumnya. Adakah kita berharap rahmat dan redha-Nya sedangkan kita tidak menjauhi larangan-Nya? Ketahuilah, bahawa syarat daripada ibadah yang diterima Allah SWT semestinya diawali dengan taubatan nasuha, taubat yang bersungguh-sungguh lahir dari hati yang penuh penyesalan, berhenti daripada segala kelakuan yang jahat, tinggalkan segala bentuk maksiat, sedangkan perkara itu semua merupakan penghalang kepada ibadah kita.

 

Kesimpulan

Saudaraku, layakkah bagi kita melakukan perjalanan panjang menuju Baitullah al-Haram untuk memenuhi panggilan-Nya sedangkan kita masih dalam keadaan zalim pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita? Tidakkah kita malu sebagai pelaku maksiat mendatangi Baitullah al-Haram hanya untuk diusir dan ditolak amalan serta doa? Maka jika kita ingin diterima atas panggilan ibadah haji atau umrah, bersihkanlah diri dari noda dan dosa, serta penuhilah perintah dan jauhi larangan-Nya sebelum keberangkatan kita menuju tanah yang Allah SWT muliakan.

Dengan membuang semua perkara yang dapat menghalangi ibadah haji dan umrah kita, bererti kita telah mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan-Nya, maka bersiaplah sebagaimana persiapan orang yang akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Tinggalkan wasiat kepada keluarga, anak dan isteri, kerana seorang musafir sangat dekat dengan musibah kecuali bagi orang yang mendapat perlindungan Allah SWT sahaja.

 
Sumber:
Mohamad Zaki Hilmi

9 December 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Nabi Sedih Umat Cuai Solat


Ketahuilah bahawa bencana dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib adalah berpunca daripada kurangnya perhatian masyarakat terhadap mengerjakan ibadah solat lima waktu, solat Jumaat, solat jemaah dan solat sunat yang lainnya.

Pada hal semua itu adalah ibadah yang dengannya Allah SWT meninggikan darjat dan menghapuskan dosa maksiat seseorang. Ibadah solat adalah cara ibadah seluruh penghuni langit dan bumi.

Cuai kerana urusan dunia

Rasulullah SAW bersabda bermaksud:

 

“Langit merintih dan memang ia patut merintih, kerana pada setiap tempat untuk berpijak terdapat malaikat yang bersujud atau berdiri (solat) kepada Allah Azzawajalla.” (Riwayat Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Orang yang meninggalkan ibadah solat kerana cuai oleh urusan dunia akan malang nasibnya, berat seksaannya, rugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya. Firman Allah SWT bermaksud: “Sesungguhnya solat itu adalah kewajipan yang ditentukan waktunya bagi orang yang beriman.”(An-Nisa : 103)

 

Abu Hurairah RA meriwayatkan: “Selepas Isyak aku bersama Umar bin Khattab ra pergi ke rumah Abu Bakar as-Siddiq untuk suatu keperluan. Sewaktu melalui pintu rumah Rasulullah SAW, kami mendengar suara rintihan. Kami pun berhenti sejenak. Kami dengar beliau menangis dan meratap: “Ah…andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap solat. Ah…aku sungguh menyesali umatku.”

Rasulullah menangis
“Wahai Abu Hurairah, mari kita ketuk pintu ini,” kata Umar dan kemudian mengetuk pintu. “Siapa?” tanya Aisyah. “Aku bersama Abu Hurairah.” Kami meminta izin untuk masuk dan beliau mengizinkannya. Setelah masuk, kami lihat Rasulullah SAW sedang bersujud dan menangis sedih, beliau berkata dalam sujudnya: “Wahai Tuhanku, Engkau adalah pengawalku bagi umatku, maka perlakukanlah mereka sesuai dengan sifat-sifat-Mu dan jangan perlakukan mereka sesuai perbuatan mereka.”

“Ya Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Apa gerangan yang terjadi, mengapa engkau begitu sedih?”

“Wahai Umar, dalam perjalananku ke rumah Aisyah selepas mengerjakan solat di masjid, Jibril mendatangiku dan berkata: “Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Benar mengucapkan salam kepadamu, kemudian ia berkata, bacalah.” “Apa yang harus kubaca?” “Bacalah firman Allah yang bermaksud: “Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang buruk) yang mensia-siakan solat dan menurutkan hawa nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam : 59).

“Wahai Jibril, apakah sepeninggalanku nanti umatku akan mencuaikan solat?”
“Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia daripada umatmu yang mencuaikan solat, mengakhirkan solat (hingga keluar dari waktunya), dan menurutkan hawa nafsu. Bagi mereka satu dinar lebih berharga daripada solat.” (Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar).

Abu Darda’ berkata: “Hamba Allah yang terbaik adalah yang memperhatikan matahari, bulan dan awan untuk berzikir kepada Allah, yakni untuk mengerjakan solat.” Diriwatkan pula bahawa amal yang pertama kali diperhatikan oleh Allah ialah solat. Jika solat seseorang cacat, maka semua amalnya akan ditolak.

Perintah ahli keluarga bersolat

Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu untuk solat, kerana Allah akan memberimu rezeki dari arah yang tidak pernah kamu duga.”

“Barang siapa meninggalkan solat dengan sengaja, maka ia telah kafir.” (Riwayat al-Bazzar dari Abu Darda’). Sabda Rasulullah SAW lagi bermaksud: “Barang siapa bertemu Allah sedang ia mencuaikan solat, maka Allah sama sekali tidak akan mempedulikannya.” (Riwayat Tabarani).

 
 

Sumber: http://epondok.wordpress.com/

9 December 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Penjelasan tentang sambutan Maulidur Rasul

Oleh: Raudhatul Muhibbin

Maulidur Rasul; “Orang yang bikin maulid nabi, memang itu tak ada dizaman Nabi, adakah yg tak ada dizaman Nabi, lalu dibuat selepas zaman Nabi dikatakan salah, atau bidaah disebabkan dengan dalil Nabi tak buat? Maka orang yang buat apa Nabi tak buat maka ianya bidaah?”

“Kita kena sepakat dahulu dengan dalilnya sebelum menghukum sesuatu dengan dalilnya.

Perkara yang ditinggalkan Nabi adalah tak bermaksud larangan. Apa yang Nabi tak buat, atau yang Nabi tinggalkan tak bererti dilarang untuk kita membuatnya. Contoh, Nabi solat tarawikh lalu Nabi tinggalkan. Lalu Nabi tak buat lagi sampai akhir hayat Nabi. Adakah dilarang solat tarawikh?”

“Rasulullah ﷺ melihat sahabat untuk makan dhob, lalu Nabi tak makan. Nabi tinggalkan, Adakah dhob bermakna tak boleh dimakan? Kata Nabi; “Apa yang aku perintahkan, tunaikan mengikut apa yang kamu mampu. Apa yang aku larang maka tinggalkan.”

“Yang Nabi tak buat, Nabi tak kata apa-apa pun. Berapa banyak dizaman sahabat apa yang tak dibuat Nabi, tapi dibuat oleh sahabat.

Al-Quran dibukukan dizaman Saidina Abu Bakar r.a, tak dibuat dizaman Rasulullah ﷺ, Al-Quran hurufnya dibariskan dizaman Uthman tak dibuat dizaman Rasulullah.”

“Maulid Nabi ﷺ, dibuat pertama kalinya pada Abad kelima, ketika itu sudah ada ramai kaum muslimin yang jauh daripada agama. Maka datang seseorang ulama yang nak tarik kembali ummat islam kepada Islam. Imam As-Suyuthi rah, menulis sebuah kitab dalil khas tentang maulid.”
“Nak menilai Maulid itu bukan dilihat dari namanya, tapi yang penting contentnya yakni pengisian didalamnya itu yang menjadi penilaiannya. Zaman kita sekarang, kalau golongan Si Fulan yang berda dalam gembira, kita sakit hati. Kerana hati kita problem. Hati gelap. Tak ada kasih sayang. Di zaman kita sekarang, nak bergembira dengan perkara-perkara yang baik, tak boleh. Bid’ah!”

“Suka-suka membidahkan orang. Lebih teruk lagi mengkafirkan orang. Nabi susah payah dakwah orang lain masuk islam, kamu senang-senang mengkafirkan orang lain. Tak boleh. Ini adalah bercanggah dengan Agama.
Nak bergembira dengan perkara yang baik, tak dibolehkan. Kaum Muslimin gembira dengan kemenangan mengalahkan Kaum Romawi. Disambut kemenangannya.”

“Kita ini mendapatkan hidayah kerana Rasulullah ﷺ. Kita mendapat ini Islam, perjuangan Rasulullah ﷺ. Tak boleh kita gembira di Hari Kelahiran Rasulullah ﷺ? Kita bergembira dengan Hari Kelahiran Rasulullah ﷺ 12 Rabi’ul Awwal nak menyebut Maulid Nabi ﷺ saja, bid’ah!?”

“Timbangan apa yang kamu gunakan? Timbangan neraca yang rosak, tak boleh nak menimbang sesuatu tepat pada tempatnya. Dalam masalah kegembiraan itu bukan Dzat gembiranya, akan tetapi motif kegembiraan itu apa sebabnya dan kedua cara apa yang kita gunakan untuk gembira?”

“Dua perkara penting, yang pertama Motif atau Sebab. Yang kedua, Bentuk kegembiraan itu bagaimana kita lakukannya? Kalau sebab kegembiraan anak kita berjaya,dapat 9A, atau baru balik daripada luar negara belajar, kita nak buat apa namanya? Kenduri kesyukuran.”

“Kalau kita buat satu Doa Keselamatan dengan tari-menari yang dilarang oleh Agama, dengan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah سبحانه وتعالى.ini gembira bukan pada tempatnya. Memang bercanggah dalam Syarak. Walaupun nak bergembira dengan anak balik berjaya adalah perkara yang menjadi kebanggaan dan kegembiraan khususnya pada ahli keluarga, silakan bergembira.”

“Gembira kita itu kerana sebagai simbol atau tanda ingin mensyukuri nikmat Allah سبحانه وتعالى.. Tapi cara mengungkapkan kegembiraan mesti ditimbang dengan Syarak.
Kita nak meraikan Maulid Nabi Muhammad ﷺ, baik atau tak baik? kita nak mengingati Sejarah, Sirah, Akhlak, Budi Pekerti RasuluLlah ﷺ. Didalamnya ada ilmu. Baik atau tak baik? Maka tak ada seorang pun akan berkata tak baik.”
“Kemudian cara kita nak mengungkapkannya macam mana?
Kita duduk didalam Masjid, kita Iqtikaf didalam Masjid, kita Selawat kepada Rasululllah ﷺ, kita berzikir kepada Allah سبحانه وتعالى. Ada penceramah yang berceramah menyampaikan ilmu. Baik atau tak baik?”

“Fadhilat iqtikaf dapat, silatuhrahmi dapat, kemudian dia dapat ilmu, dapat Selawat, Zikir pun dapat. Pahala pon dapat. Makanya, baik atau tak baik? Kita kalau tak nak buat baik, jangan dihalang orang lain nak buat baik. Jangan dihalang orang yang nak melakukan perkara yang baik. Kelak, kita akan ditanya oleh Allah سبحانه وتعالى kenapa halang orang nak buat baik?”

Daripada Sayyidil Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid.

8 December 2015 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

KOMEN SAYA PASAL JUAL AIR JAMPI

Oleh: Ustaz Abu Syafiq

image

1- Air Jampi atau sebenarnya air yang dibacakan padanya ayat2 Al-Quran, Ruqyah Syariyyah dan doa2 yang tiada syirik khurafat adalah air yang mempunyai kelebihan dari air biasa.
Air zam-zam sendiri yang terbit ditanah berkat ada kelebihan dan disebut baginda Nabi bagi sesiapa yang meminumnya lalu berdoa maka permintaannya insya Allah akan dimakbulkan Allah berdasarkan hadith “Air zam-zam itu dengan apa tujuan ia diminum” (Riwayat Al-Hakim dalam Mustadrak) iaitu mintalah pada Allah ketika kamu hendak meminum air zam-zam maka permintaan kamu insya Allah akan dimaqbulkan.

Berkata Imam An-Nawawi berkata dalam Tahzib al-Asma:
“Para ulama sangat mengalakkan apabila seseorang ingin meminum air zam-zam maka dibaca hadith Nabi tadi kemudian mohonlah pada Allah agar dengan aku meminum air ini maka semoga Allah ampun dosaku dan menyembuhkan sakitku”.

Majlis Fatwa Kebangsaan sendiri mengharuskan perniagan air zam-zam dan boleh dijual-beli sehingga mendapat keuntungan disitu dengan fadhilat-fadhilat yang wujud padanya.

2- Mengambil keuntungan atau bayaran dengan membaca ayat-ayat Ruqyah Syariyyah dan ayat Quran adalah dibolehkan bahkan dalam Sohih Al-Bukhari dan Sohih Muslim terdapat banyak dalil hadith pada hal ini.

Kisah yang masyhur apabila sekumpulan Sahabat Nabi bermusafir lalu mereka berehat di satu tempat kemudian meminta untuk bertamu di mana-mana rumah kawasan persinggahan mereka itu namun dilarang. Ketika mereka berehat tiba2 ketua kampung tersebut terkena patukan ular atau pengsen jatuh sakit. Orang diperkampungan tersebut telah berusaha namun dia tetap tidak sedar lantas dikatakan kepada mereka yang berubat agar bertanyakan kepada jemaah sahabat tadi manalah tahu mereka ada apa-apa yang boleh menyembuhkan. Salah seorang Sahabat Nabi berkata aku boleh meRuqyah tetapi jika kamu semua hendak saya lakukan maka kami kenakan keuntungan dan upah iaitu seekor kambing untuk kami. Mereka bersetuju dan Sahabat Nabi tadi pun membaca Ruqyah didalamnya surah Al-Fatihah lantas dengan izin Allah ketua kampung tersebut terus sedar sihat bahkan cergas kemudian diberikan kepada para Sahabat Nabi tadi kambing yang dijanjikan. Tetapi pada mulanya mereka tertanya bolehkan menerima upah begini sehinggalah mereka bertemu Rasulullah dan bertanya lantas Rasulullah shollahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Kamu pun tahu ia (AL-Fatihah) itu adalah Ruqyah? Bahagi2kan keuntungan iaitu kambing tadi antara kamu dan berikan juga kepadaku sedikit”.

Lihat bagaimana keuntungan yang disyaratkan dari bacaan utk orang sakit tadi diharuskan dalam Islam. Bahkan makan dari keuntungan daripada bacaan terssebut adalah diharuskan kerana Nabi sendiri mengambil darinya. Cuma yang terbaik bacaan ayat Quran dan Ruqyah itu hendaklah dengan tujuan semoga Allah menyembuhkan bukan semata-mata demi keuntungan dunia sahaja.

Para ulama juga mengharuskan mengambil upah keuntungan dari baca2 tersebut.
Al-Baghawiy dalam ٍSyarah Sunnah berkata:
“Dalam hadith tersebut merupakan dalil keharusan mengambil upah keuntungan pada perkara mengajar Quran dan harusnya mensyaratkan dapat upah darinya dan demikian pandangan ‘Ato dan Al-Hakam dan ini yang dsebut oleh Imam Malik dan Imam Syafie juga Abu Thaur. Berkata Al-Hakam: aku tidak mendengar seorangpun dikalangan para Fuqoho yang tidak menyukai perkara ini. Dan padanya ada dali keharusan Ruqyah dengan Al-Quran dan zikrullah dan keharusan mengambil upah keatasnya”.

3- Sangat pelik dengan dalil keharusan hal ini yang dibolehkan oleh ulama ..masih ada lagi yang mempertikaikan hukum menjual air bacaan Quran dan Ruqyah hanya kerana atas dasar menjual agama katanya.
Namun pelik Mashaf Al-Quran yg dalamnya ada seluruh Al-Quran dari huruf Ba hingga Mim mereka menjualnya dengan harga keuntungan atau waqaf yang wujud keuntungan utk keadaan2 dan kumpulan2 tertentu. Mereka juga menjual cd2 bacaan Al-Quran Ia dibolehkan pula oleh mereka yang menafikan perjualan air ayat Quran.

Saya bukanlah orang yang menjual atau buat biznes air2 ini secara langsung walaupun pernah membaca pada air dan diberikan kpd org yg memintanya dan saya juga tidak meminta upah darinya. Saya sendiri juga tidak pernah mengambil untung biznes sebegini. Maka mempertahankan hukum ini bukan atas dasar biznes atau menyokong perniagaan air2 jampi begini walaupun ia harus dibolehkan oleh ulama.

Cuma nasihat saya bagi yang mencari air2 jampi ini carilah ambillah dari Ahli Sunnah Wal Jamaah yg thiqah yg tidak berharap keuntungan dunia semata-mata yg takut kepada Allah… BUKAN Syiah ataupun Wahhabi.

Imam Ahmad dalam kitab Matolib Ulil Nuha ditanya berkaitan seseorang yang menjual kertas ayat2 Ta’awwuz iaitu ayat2 Ruqyah menyelamatkan diri dari gangguan jin dan manusia maka beliau menjawab HARUS dan ia lebih aku sukai daripada dia meminta-minta duit dari orang.

8 December 2015 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

FATWA BRUNEI : Wahhabi BUKAN ahli Sunnah Wal Jama’ah.

Negara Brunei Darus Salam yang melaksanakan Hudud jelas menyatakan dlm penjelesan Ahli Sunnah Wal Jama’ah itu berdasarkan kenyataan m. Mufti Brunei Pehin Datu Seri Maharaja Dato Seri Utama Dr. Ustaz Awang Haji Ismail Bin Omar Abdul Aziz bahawa:

1- Wahhabi satu ajaran menyimpang dan Wahhabiyah itu BUKAN ahli Sunnah Wal Jama’ah. Apabila disebut Ahli Sunnah Wal Jama’ah maka Wahhabi BUKAN daripadanya.

2- Wahhabi adalah ajaran sesat Musyabbihah yang menyamakan Allah dengan makhluk.

Berhati2 bhw apabila dimaksudkan Ahl Sunnah Wal Jama’ah itu wahhabi bukan daripadanya krn mereka menyamakan Allah dgn binatang.
akidah islam ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT.

say no to wahhabi&syiah!

8 December 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Pohon SAHABI

image

Bagi yg belum tahu.
Pohon Sahabi yang menjadi saksi bisu pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Biarawan Kristen bernama Bahira. Telah ditemukan kembali oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dan otoritas pemerintah Yordania. ketika memeriksa arsip negara di Royal Archives.

Mereka menemukan referensi dari teks-teks kuno yang menyebutkan bahwa Pohon Sahabi Berada di wilayah padang pasir diutara Yordania.
Setelah 1400 tahun berlalu, pohon ini ditemukan masih hidup dan tetap tumbuh kokoh di tengah ganasnya gurun Yordania
*
bersama beberapa ulama terkenal termasuk Syekh Ahmad Hassoun, Mufti Besar Suriah, Pangeran Ghazi. Mengadakan pengamatan dan ternyata benar pohon tua itulah yang disebutkan dalam catatan biarawan Bahira.
Kini Pohon tersebut dilestarikan oleh pemerintah Yordania dan dipantau secara rutin keberadaannya.
*
Keberadaan pohon ini memang cukup unik dan dinilai tidak cocok tumbuh dilingkungan sekitarnya.
Pasalnya lingkungan sekitar pohon itu, merupakan tanah kering dan sangat gersang, sementara pohon Sahabi menjadi satu-satunya pohon yang tumbuh subur dengan daun yang rimbun.
*
Kondisi ini menentang kegersangan dan ketiadaan warna dari lingkungan di sekitar pohon. Meskipun kekuatan matahari ditengah gurun sangat terik, namun akan terasa teduh ketika berada di bawah pohon ini.
*
Tiga manuskrip kuno yang ditulis oleh Ibn Hisham, Ibn Sa’d al-Baghdadi, dan Muhammad Ibn Jarir al-Tabari menceritakan tentang kisah Bahira yang bertemu dengan bocah kecil calon rasul terakhir.
*
Saat itu Muhammad baru berusia 9 atau 12 tahun. Ia menyertai pamannya Abu Thalib dalam perjalanan untuk berdagang ke Suriah.
*
Pada suatu hari, Biarawan Bahira mendapat firasat, kalau ia akan bertemu dengan sang nabi terakhir.. tiba tiba ia melihat rombongan kafilah pedagang Arab, dan melihat pemuda kecil yang memiliki ciri-ciri sesuai yang digambarkan dalam kitabnya.
*
kemudian Bahira mengundang kafilah tersebut dalam sebuah perjamuan.
Semua anggota kafilah menghadiri kecuali anak yang Ia tunggu-tunggu. Ternyata. Muhammad kecil sedang menunggu di bawah pohon untuk menjaga unta-unta.
*
Bahira keluar mencarinya dan ia sangat takjub menyaksikan cabang2 pohon Sahabi merunduk melindungi sang pemuda dari terik Matahari. Dan segumpal awan pun ikut memayungi ke manapun IA pergi.
Bahira pun meminta agar bocah kecil tersebut diajak serta berteduh dan bersantap dalam perjamuan.
Dia pun segera meneliti dan menanyai pemuda kecil ini. dan menyimpulkan bahwa Dia adalah utusan terakhir yang dijelaskan dalam Alkitab.
Bahira pun meyakinkan paman anak itu yakni Abu Thalib untuk kembali ke Makkah, karena orang-orang Yahudi tengah mencari Muhammad SAW untuk membunuhnya .
*
Setelah berselang 1400 tahun kemudian, pohon yang pernah meneduhi Muhammad itu masih berdiri tegak, menjadi satu-satunya pohon yang berhasil hidup di tengah padang pasir gersang.
Pohon ini secara ajaib diawetkan oleh Allah untuk waktu yang panjang. Namun siapapun masih bisa menyentuh dan berlindung di bawah cabangnya yang senantiasa rimbun.
*

Oleh: Madad Maulana Husein > AHBABUL MUSTHOFA (para pecinta sayyidina Muhammad saw)

8 December 2015 Posted by | Informasi, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

KITA APABILA SAKIT AKAN MENGELOH. TETAPI TAHUKAH ANDA HIKMAHNYA DISEBALIK SAKIT ITU?

Apabila Allah SWT memberi kita sakit, ia adalah sesuai dengan daya tahan kita sebagai hamba-Nya, dan antara hikmahnya :

1) Sakit itu Zikrullah.
Mereka yang diuji dengan sakit lebih sering menyebut nama Allah berbanding di waktu sihatnya.

2) Sakit itu Istighfar.
Kita akan mudah teringat akan dosa kita ketika sakit sehingga mudah bibir untuk beristighfar memohon ampun.

3) Sakit itu Muhasabah.
Orang yang sakit akan lebih banyak waktu utk merenung diri dalam sepi dan menghitung bekal untuk dibawa apabila kembali ke rahmatullah.

4) Sakit itu Jihad.
Orang yang sakit tidak boleh menyerah kalah, diwajibkan untuk berikhtiar sedaya upaya agar cepat sembuh.

5) Sakit itu Ilmu.
Sakit akan membuat kita mencari ilmu spt belajar tentang khasiat herba, menghafal ayat syifa’, ruqiyyah dll sbg penawar dan pendinding dari sakit. Pengalamannya pula lebih menyediakan kita untuk mencorak hidup yg boleh mengelakkan berulangnya penyakit itu. Dan, berkongsi pengalaman ini dengan orang lain.

6) Sakit itu Nasihat.
Mereka yang sakit selalu suka menasihati yang sihat agar mjaga diri. Yang sihat pula menasihati yang sakit agar bersabar.

7) Sakit itu Silaturrahim
Ahli keluarga, sahabat dan jamaah yang jarang berjumpa akan datang menziarahi, penuh senyum, rindu mesra dan dengan buah tangan lagi.

8) Sakit itu Gugur Dosa.
Anggota badan yg sakit akan mendapat penyucian daripada dosa yg telah dilakukan.

9) Sakit itu Mustajab Doa.
Orang yang sakit mustajab doanya. Imam As-Suyuthi mengelilingi kota mencari orang yang sakit agar dapat mendoakannya.

10) Sakit itu Menyusahkan Syaitan.
Orang yang sakit apabila diajak maksiat tak mahu dan tak mampu, malah disesalinya.

11) Sakit itu sedikit tertawa dan banyak menangis.
Satu sikap keinsafan yang di sukai oleh Anbiya’ dan makhluk di langit.

12) Sakit meningkatkan kualiti ibadah.
Solat orang sakit lebih khusyuk terutama dalam rukuk dan sujudnya apabila ia banyak bertasbih dan beristghfar, berdoa n meminta ampun agar sakitnya segera sembuh.

13) Sakit itu memperbaiki akhlak.
Kesombongan terkikis. Sifat tamak dipaksa tunduk. Peribadi akan menjadi santun, lembut dan tawadhu’.
14) Sakit mengingatkan kita akan Mati
Membuatkan kita sentiasa beringat untuk lebih beramal dan beribadat.
Ayuh Zikir, Fikir, Syukur & Sabar.

Semoga kita mendapat rahmat dan keampunan daripada Allah s.w.t.

(Bahagian Dakwah, JAKIM)

8 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Memilih Sahabat



Apabila kita ingin bersahabat,

janganlah kerana kelebihannya kerana mungkin dengan 1 kelemahan, kita mungkin akan menjauhinya

Andai kita ingin berteman,

janganlah kerana kebaikkannya kerana mungkin dengan 1 keburukkan, kita mungkin akan membencinya.

 

Andai kita inginkan seorang teman,

janganlah kerana sifat cerianya kerana andai dia tidak pandai menceriakan, kita mungkin akan menyalahkannya.

 

Andai kita inginkan sahabat yang 1, janganlah kerana ilmunya kerana apabila dia buntu, kita mungkin akan memfitnahnya.

 

Andai kita ingin bersahabat, terimalah dia seadanya, kerana dia sahabat, yang hanya manusia biasa, jangan diharapkan terlalu sempurna, kerana kita sendiri pun tidak tahu apakah diri kita sudah cukup sempurna mengikut kehendak Allah SWT yang sebenar-benarnya.

 

*Bersederhanalah dalam persahabatan InsyaAllah kita tidak akan melihat kelemahan itu sebagai 1 kelemahan.

Sumber: Bahagian Dakwah, JAKIM


 

2 December 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Kisah Rasulullah SAW bersama Pemuda Ahli Syruga


3 Amalan Seorang Pemuda Hingga Di Sebut Ahli Syurga? Bagaimanakah Dengan Hanya 3 Amalan Beliau Digelar Ahli Syurga?? ikuti Kisah Ini

“Di salah satu sudut Masjid Nabawi terdapat satu ruang yang kini digunakan sebagai ruang khadimat.

Dahulu di tempat itulah Rasulullah SAW Sentiasa berkumpul bermusyawarah bersama para Shahabatnya radhiallaahu ‘anhum. Di sana Beliau Rasulullah SAW memberi taushiyyah, bermudzakarah, dan ta’lim. Suatu ketika, saat Rasulullah SAW memberikan taushiyyahnya, tiba-tiba Beliau SAW berucap,

“Sebentar lagi akan datang seorang pemuda ahli surga.”

Para Shahabat r.hum pun saling Memandang Antara satu Sama Lain , di sana ada Abu Bakar Ash Shiddiqradhiallaahu ‘anhu, Utsman bin Affanradhiallaahu ‘anhu, Umar bin Khattabradhiallaahu ‘anhu, dan beberapa Shahabat lainnya.

Tak lama kemudian, datanglah seorang pemuda yang Kelihatan Sangat sederhana. Pakaiannya sederhana, penampilannya sederhana, wajahnya masih basah dengan air wudhu.

Di tangan kirinya Memegang sandalnya yang sederhana Juga. Di kesempatan lain, ketika Rasulullah SAW berkumpul dengan para Shahabatnya, Beliau Rasulullah SAW pun berucap,

“Sebentar lagi kalian akan melihat seorang pemuda ahli surga.”

Dan pemuda sederhana itu datang lagi, dengan keadaan yang masih tetap sama, sederhana. Para Sahabat yang berkumpul pun Mula hairan , siapa dengan pemuda sederhana itu? Bahkan Hingga kali Ketiga Rasulullah SAW mengatakan hal yang sama.

Bahwa pemuda sederhana itu adalah seorang ahli surga. Seorang Shahabat, Mu’adz bin Jabbalradhiallaahu ‘anhupun berasa penasaran. Amalan apa yang dimiliki Pemuda Itu sampai Rasul menyebutnya pemuda ahli surga?

Maka Mu’adzradhiallaahu’anhu berusaha mencari Jawapan. Ia berdalih sedang Bertengkar dengan ayahnya dan meminta izin untuk menginap beberapa malam di kediaman si pemuda tersebut. Si pemuda pun mengizinkan. Dan mulai saat itu Mu’adz mengamati setiap amalan pemuda tersebut.

Malam pertama, ketika Mu’adz bangun untuk tahajud, pemuda tersebut masih terlelap hingga datang waktu subuh. pada Waktu shubuh, mereka bertilawah. Diamatinya bacaan pemuda tersebut yang masih Tidak Lancar, dan tidak begitu fasih. Ketika masuk waktu dhuha, Mu’adz bergegas menunaikan solat dhuha, sementara pemuda itu tidak.

Keesokkannya, Mu’adz kembali mengamati amalan pemuda tersebut. Malam tanpa tahajjud, bacaan tilawah Tidak Lancar dan tidak begitu fasih, serta di pagi harinya tidak solat dhuha. Begitu pun di hari ketiga, amalan pemuda itu masih tetap sama. Bahkan di hari itu Mu’adz shaum sunnah, sedangkan pemuda itu tidak shaum sunnah.

Mu’adz pun semakin Hairan dengan ucapan Rasulullah SAW. Tidak ada yang istimewa dari amalan pemuda itu, tetapi Beliau SAW menyebutnya sebagai pemuda ahli surga. Hingga Mu’adz pun langsung mengungkapkan Kehairanannya pada pemuda itu.

“Wahai Saudaraku, sesungguhnya Rasulullah SAW menyebut-nyebut engkau sebagai pemuda ahli surga.

Tetapi setelah aku amati, tidak ada amalan istimewa yang engkau amalkan. Engkau tidak tahajjud, bacaanmu pun tidak begitu fasih, pagi hari pun kau lalui tanpa solat dhuha, bahkan shaum sunnah pun tidak. Lalu amal apa yang engkau miliki sehingga Rasul SAW menyebutmu sebagai ahli surga?”

“Saudaraku, aku memang belum mampu tahajjud.

Bacaanku pun tidak fasih. Aku juga belum mampu s0lat dhuha. Dan aku pun belum mampu untuk shaum sunnah. Tetapi ketahuilah, sudah beberapa minggu ini aku berusaha untuk menjaga tiga amalan yang baru mampu aku amalkan.”

“Amalan apakah itu???”

“Pertama, aku berusaha untuk tidak menyakiti orang lain. Sekecil apapun, aku berusaha untuk tidak menyinggung perasaan orang lain. Baik itu kepada ibu bapakku, isteri dan anak-anakku, kerabatku, tetanggaku, dan semua orang yang hidup di sekelilingku.

Aku tak ingin mereka tersakiti atau bahkan tersinggung oleh ucapan dan perbuatanku.”

kisah Pemuda Ahli Syurga

“Subhanallah…kemudian apa??”

“Yang kedua, aku berusaha untuk tidak marah dan memaafkan. Kerana yang aku tahu bahwa Rasullullah tidak suka marah dan mudah memaafkan.”

“Subhanallah…lalu kemudian??”

“Dan yang terakhir, aku berusaha untuk menjaga tali silaturrahim. Menjalin hubungan baik dengan siapapun. Dan menyambungkan kembali tali silaturrahim yang Sudah terputus.”

“Demi Allah…engkau benar-benar ahli surga.

Ketiga amalan yang engkau sebut itulah amalan yang paling sulit aku amalkan.”

~Wallahu a’lam Semoga Memberi Pengajaran Kepada Kita Semua!!

2 December 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Berkirim Salam Kepada Junjungan SAW

Telah sampai kepada ese akan perkataan seorang ustaz yang menyalahkan perbuatan sebahagian umat berkirim salam kepada Junjungan Nabi SAW melalui jemaah haji / umrah.

Menurut beliau perbuatan tersebut adalah satu amalan yang salah dan menyeleweng, yang tiada sandaran sama sekali daripada para ulama yang muktabar. Allahu … Allah, alangkah baik jika sekiranya kita sebelum mengeluarkan pendapat dan/atau fatwa sedemikian, mentelaah dahulu kitab – kitab turats para ulama. Mungkin juga beliau hanya menelan bulat – bulat fatwa ulama Nejd yang menyalahkan amalan tersebut, tanpa mengambil kira pandangan dan fatwa para ulama lain.

Sebenarnya, tiada kesalahan untuk seseorang menyampaikan salam atau berkirim salam kepada Junjungan Nabi SAW melalui orang lain yang menziarahi makam baginda di kota suci Madinah al-Munawwarah.

Qadhi Iyadh al-Yahshubi rahimahullah dalam kitab beliau yang masyhur, “asy-Syifaa` bi ta’riifi huquuqil Musthafa” pada juzuk ke-2 halaman 85 menyatakan:-
“Daripada Yazid bin Abi Sa`id al-Mahriy yang berkata: “Aku telah datang mengadap Khalifah ‘Umar bin `Abdul `Aziz, ketika hendak pulang, beliau berkata kepadaku: “Aku mempunyai satu hajat daripadamu, apabila engkau datang ke Madinah dan menziarahi kubur Nabi SAW maka ucapkanlah kepada baginda salam daripadaku.” Dalam riwayat daripada orang lain dinyatakan bahawa Khalifah `Umar mengutus salamnya kepada Nabi SAW melalui surat yang baginda hantar dari Syam.”

Oleh itu, tidaklah menjadi sesuatu yang pelik jika amalan berkirim salam kepada Junjungan Nabi SAW ini dibenarkan oleh para ulama kita.

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab “al-Idhah fi manaasikil hajj wal `umrah” pada halaman 453 menyatakan:-
“Kemudian, jika seseorang berpesan kepadanya (yakni berpesan kepada si penziarah) untuk menyampaikan salam kepada Junjungan Rasulullah SAW, maka disampaikannya dengan mengucapkan: “as-Salamu ‘Alaika, ya RasulAllah min fulanibni fulan” (Salam kesejahteraan atasmu wahai Utusan Allah daripada si fulan anak si fulan ) atau “Fulanubnu fulan yusallim ‘alaika, ya RasulAllah” (Si fulan anak si fulan mengucap salam kepadamu, wahai Utusan Allah) atau dengan ucapan lain yang seumpamanya.”

Menurut Syaikh `Abdul Fattaah bin Husain bin Ismail bin Muhammad Thayyib Rawah al-Makki (1334H – 1425H) rahimahullah dalam “al-Ifshaah ‘ala masaail al-Iidhaah”, hukum menyampaikan kiriman salam yang dipesankan seseorang kepada Junjungan Nabi SAW adalah sunnat sahaja kerana tujuan berkirim salam tersebut adalah semata-mata untuk bertabarruk dengan Junjungan Nabi SAW.

Maulana Zakaria al-Kandahlawi rahimahullah dalam karya beliau yang diterjemahkan dengan jodol “Fadhilat Haji” pada halaman 204 – 205 menyebut:-
” ……., mungkin seorang lain yang telah menyuruh kamu untuk menyampaikan salamnya kepada Rasulullah SAW. Dengan demikian sampaikan salam secara demikian: (Salam ke atasmu ya Rasulullah, daripada orang ini bin orang ini yang memohon syafaatmu dengan Allah bagi pihaknya)

Jika ini menjadi satu kesukaran untuk diucapkan di dalam bahasa Arab, maka lakukanlah di dalam bahasa Urdu atau di dalam bahasamu sendiri. Imam Zurqani (Zarqani) rahmatullah `alaihi berkata: “Jikalau seorang telah meminta kamu menyampaikan salam dan kamu telah menerimanya dan berjanji untuk melakukannya, maka ianya menjadi wajib untuk menyampaikan perutusannya kerana ia adalah seumpama memegang amanah yang diterimai oleh seseorang. Ithaaf menyatakan bahawa daripada kalangan orang – orang dahulu telah menjadi adat sejak beberapa kurun untuk mengutuskan salam mereka kepada Rasulullah SAW melalui perantaraan orang lain.

Sebenarnya setengah pemerintah – pemerintah pernah menghantar satu utusan khas yang bertugas menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW seperti Umar bin Abdul Aziz RA pernah lakukan.”

Oleh itu, memfatwakan bahawa amalan berkirim salam kepada Junjungan Nabi SAW melalui seseorang sebagai salah dan menyeleweng adalah fatwa yang gegabah.

Ini adalah kerana rata-rata ulama kita, Ahlus Sunnah wal Jamaah, membenarkannya. Di sisi sebahagian ulama, adalah menjadi kewajipan kepada orang yang dipesan untuk menyampaikan kiriman salam tersebut kepada Junjungan Nabi SAW, manakala sebahagian yang lain hanya menghukumkannya sebagai sunnat sahaja untuk disampaikan kepada Junjungan Nabi SAW.

Maka, kita boleh, bahkan digalakkan untuk mengucapkan sholawat dan salam ke atas Junjungan Nabi SAW di mana jua kita berada. Ucapan sholawat dan salam kita akan diberi ganjaran pahala daripada Allah SWT dan akan disampaikan kepada Junjungan Nabi SAW oleh Allah SWT melalui para malaikatNya, sebagaimana yang dinyatakan dalam beberapa hadits, antaranya hadits yang diriwayat oleh Imam Ahmad RA daripada Sayyidina Ibnu Mas`ud RA bahawa Junjungan Nabi SAW bersabda:-
إِنَّ لِلَّهِ مَلائِكَةً سَيَّاحِينِ فِي الأَرْضِ ، يُبَلِّغُونِي عَنْ أُمَّتِي السَّلامَ
“Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang ditugaskan berjalan ke serata pelusuk bumi untuk menyampaikan kepadaku salam umatku.”

Dan tiada juga halangan untuk kita mengutuskan salam kita kepada Junjungan Nabi SAW melalui para penziarah yang sejenis dengan kita, iaitu sama-sama keturunan Nabi Adam `alaihis salam, bahkan ianya juga dianjurkan sebagai sarana untuk kita bertabarruk dengan Junjungan Nabi SAW.

Namun bagi sesiapa yang tidak mahu beramal dengan amalan berkirim salam ini, maka tidak juga menjadi kesalahan, apa yang menjadi kesalahan ialah sikap suka menyalahkan amalan orang lain tanpa usul periksa.

Moga Allah sentiasa memberikan kita taufik dan hidayahNya agar kita tetap atas jalan orang – orang mukmin.

Sumber: Bharus Shofa

1 December 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Nabi haramkan cabut bulu di muka untuk cantik



 

KAUM wanita amat mengambil berat mengenai kecantikan, terutamanya kecantikan wajah kerana wajah yang pertama dipandang orang apabila berjumpa.

Oleh itu, ramai di kalangan wanita sanggup membelanjakan wang yang banyak untuk mencantikkan wajah. Antara cara dianggap boleh mencantikkan wajah dan rupa paras ialah dengan membentuk bulu kening atau alis mata dengan mencabut dan mencukur sebahagian atau kesemuanya sekali.

Kemudian bulu kening akan dibentuk semula dengan alat solekan seperti celak dan pensil alis sehingga kelihatan lebih cantik dan menarik.Amalan itu bukanlah perkara baru dalam dunia persolekan wanita tetapi sudah diamalkan wanita di zaman jahiliyyah sebelum kedatangan Islam dan berterusan hingga hari ini.

 

 

Malah dengan kebanjiran pelbagai jenis alat solek di pasaran serta kepakaran yang ada, bulu kening atau alis yang sesuai dengan raut wajah seseorang boleh dibentuk dengan mudah.Walau bagaimanapun, wanita hari ini perlu memastikan apa yang dilakukan tidak bercanggah dengan ajaran Islam, termasuk bidang persolekan.Merujuk kepada teks syarak berkaitan persoalan ini, terdapat dua hadis yang menegur secara langsung perbuatan mencukur bulu kening.

Daripada Abdullah bin Masud, daripada Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu kening atau bulu muka (al-Namisah) atau meminta orang lain mencukur atau mencabut bulu keningnya (al-Mutanammisah), wanita yang mengasah gigi supaya kelihatan cantik. Perbuatan itu telah mengubah ciptaan Allah. (riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Daud)

Ibn Hajar pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu di muka dengan alat pencabut.

Perkara ini membabitkan satu riwayat tabf berkaitan dengan riwayat Imam Al-Tabari, bahawa isteri Abu Ishaq pergi ke rumah Aisyah Ummul-Mukminin, puteri Rasulullah saw.Pada waktu itu rupa parasnya sangat jelita.

Beliau lalu bertanya kepada Aisyah mengenai hukum seorang wanita yang membuang bulu-bulu yang terdapat di dahinya untuk tujuan menambat hati suaminya.Aisyah menjawab: “Hapuskanlah kejelekan yang ada pada dirimu sedaya yang kamu mampu.”Hadis kedua diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud yang menerangkan bahawa Rasulullah saw bersabda:”Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu kening atau bulu muka (al-Namisah) atau meminta orang lain mencukur atau mencabut bulu keningnya (al-Mutanammisah), wanita yang mengasah gigi supaya kelihatan cantik.

Perbuatan itu telah mengubah ciptaan Allah.”Mengenai hadis pertama, Imam Nawawi berpendapat bahawa jawapan Aisyah kepada wanita itu membawa erti bahawa wanita boleh bersolek untuk suami, boleh merawat muka untuk menghilangkan kejelekan seperti jerawat, jeragat dan bintik-bintik.Namun demikian, beliau tidak boleh mencabut atau mencukur bulu-bulu di muka, termasuklah bulu kening untuk membentuk alis mata yang cantikMengenai hadis kedua pula, ulama menjelaskan pengertian al-Namisah.

Ibn al-Athir berpendapat ia bermaksud wanita-wanita yang mencabut bulu-bulu yang terdapat pada kawasan muka dengan tidak menggunakan alat pencabut.Ibn Hajar pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu di muka dengan alat pencabut.Abu Daud pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu kening atau mencukurnya dengan pisau pencukur sehingga kelihatan halus.

Keterangan di atas menunjukkan perkataan al-Namisah merangkumi semua pengertian iaitu mencabut bulu-bulu di muka untuk kelihatan cantik dan berseri.Majoriti fuqaha berpendapat, mencabut atau mencukur bulu kening sehingga kelihatan halus adalah diharamkan sama ada kepada lelaki atau wanita kerana perbuatan itu termasuk dalam istilah mengubah ciptaan Allah sebagaimana dijelaskan dalam hadis kedua.

Namun demikian, bagi wanita yang mempunyai terlalu panjang atau terlalu lebat sehingga kelihatan jelik, bolehlah mencabutnya sekadar membolehkan kelihatan halus kerana ia tidak dianggap mengubah ciptaan Allah.Kesimpulannya, berhias untuk suami adalah diharuskan tetapi membentuk bulu kening dengan mencabut atau mencukurnya sehingga menjadi alis yang cantik adalah tidak dibenarkan. Menghilangkan sebarang tanda yang menjelekkan pandangan di badan, termasuk muka seperti jerawat, jeragat dan bintik hitam, adalah dibenarkan sama ada wanita bersuami atau tidak.

Dalam keghairahan wanita mencantikkan wajah untuk menambat hati suami atau sebagainya, jangan sampai terkeluar daripada sempadan yang digariskan oleh syarak kerana kecantikan bercanggah dengan syarak akan menggadaikan diri sendiri.

Sumber: Islam itu Indah

30 November 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Nabi haramkan cabut bulu di muka untuk cantik



 

KAUM wanita amat mengambil berat mengenai kecantikan, terutamanya kecantikan wajah kerana wajah yang pertama dipandang orang apabila berjumpa.

Oleh itu, ramai di kalangan wanita sanggup membelanjakan wang yang banyak untuk mencantikkan wajah. Antara cara dianggap boleh mencantikkan wajah dan rupa paras ialah dengan membentuk bulu kening atau alis mata dengan mencabut dan mencukur sebahagian atau kesemuanya sekali.

Kemudian bulu kening akan dibentuk semula dengan alat solekan seperti celak dan pensil alis sehingga kelihatan lebih cantik dan menarik.Amalan itu bukanlah perkara baru dalam dunia persolekan wanita tetapi sudah diamalkan wanita di zaman jahiliyyah sebelum kedatangan Islam dan berterusan hingga hari ini.

 

 

Malah dengan kebanjiran pelbagai jenis alat solek di pasaran serta kepakaran yang ada, bulu kening atau alis yang sesuai dengan raut wajah seseorang boleh dibentuk dengan mudah.Walau bagaimanapun, wanita hari ini perlu memastikan apa yang dilakukan tidak bercanggah dengan ajaran Islam, termasuk bidang persolekan.Merujuk kepada teks syarak berkaitan persoalan ini, terdapat dua hadis yang menegur secara langsung perbuatan mencukur bulu kening.

Daripada Abdullah bin Masud, daripada Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu kening atau bulu muka (al-Namisah) atau meminta orang lain mencukur atau mencabut bulu keningnya (al-Mutanammisah), wanita yang mengasah gigi supaya kelihatan cantik. Perbuatan itu telah mengubah ciptaan Allah. (riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Daud)

Ibn Hajar pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu di muka dengan alat pencabut.

Perkara ini membabitkan satu riwayat tabf berkaitan dengan riwayat Imam Al-Tabari, bahawa isteri Abu Ishaq pergi ke rumah Aisyah Ummul-Mukminin, puteri Rasulullah saw.Pada waktu itu rupa parasnya sangat jelita.

Beliau lalu bertanya kepada Aisyah mengenai hukum seorang wanita yang membuang bulu-bulu yang terdapat di dahinya untuk tujuan menambat hati suaminya.Aisyah menjawab: “Hapuskanlah kejelekan yang ada pada dirimu sedaya yang kamu mampu.”Hadis kedua diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud yang menerangkan bahawa Rasulullah saw bersabda:”Allah melaknat wanita-wanita yang mencabut bulu kening atau bulu muka (al-Namisah) atau meminta orang lain mencukur atau mencabut bulu keningnya (al-Mutanammisah), wanita yang mengasah gigi supaya kelihatan cantik.

Perbuatan itu telah mengubah ciptaan Allah.”Mengenai hadis pertama, Imam Nawawi berpendapat bahawa jawapan Aisyah kepada wanita itu membawa erti bahawa wanita boleh bersolek untuk suami, boleh merawat muka untuk menghilangkan kejelekan seperti jerawat, jeragat dan bintik-bintik.Namun demikian, beliau tidak boleh mencabut atau mencukur bulu-bulu di muka, termasuklah bulu kening untuk membentuk alis mata yang cantikMengenai hadis kedua pula, ulama menjelaskan pengertian al-Namisah.

Ibn al-Athir berpendapat ia bermaksud wanita-wanita yang mencabut bulu-bulu yang terdapat pada kawasan muka dengan tidak menggunakan alat pencabut.Ibn Hajar pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu di muka dengan alat pencabut.Abu Daud pula berpendapat, ia bermaksud wanita yang mencabut bulu-bulu kening atau mencukurnya dengan pisau pencukur sehingga kelihatan halus.

Keterangan di atas menunjukkan perkataan al-Namisah merangkumi semua pengertian iaitu mencabut bulu-bulu di muka untuk kelihatan cantik dan berseri.Majoriti fuqaha berpendapat, mencabut atau mencukur bulu kening sehingga kelihatan halus adalah diharamkan sama ada kepada lelaki atau wanita kerana perbuatan itu termasuk dalam istilah mengubah ciptaan Allah sebagaimana dijelaskan dalam hadis kedua.

Namun demikian, bagi wanita yang mempunyai terlalu panjang atau terlalu lebat sehingga kelihatan jelik, bolehlah mencabutnya sekadar membolehkan kelihatan halus kerana ia tidak dianggap mengubah ciptaan Allah.Kesimpulannya, berhias untuk suami adalah diharuskan tetapi membentuk bulu kening dengan mencabut atau mencukurnya sehingga menjadi alis yang cantik adalah tidak dibenarkan. Menghilangkan sebarang tanda yang menjelekkan pandangan di badan, termasuk muka seperti jerawat, jeragat dan bintik hitam, adalah dibenarkan sama ada wanita bersuami atau tidak.

Dalam keghairahan wanita mencantikkan wajah untuk menambat hati suami atau sebagainya, jangan sampai terkeluar daripada sempadan yang digariskan oleh syarak kerana kecantikan bercanggah dengan syarak akan menggadaikan diri sendiri.

Sumber: Islam itu Indah

30 November 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Apakah Hukum Membaca Al-Quran Dengan Tujuan Memenangkan Masjid Al-Aqsa – Laman Web PMWP

(DITULIS OLEH UMAR MUKHTAR BIN MOHD NOOR PADA 06 NOVEMBER 2015. DITERBITKAN DI DALAM IRSYAD FATWA)

Soalan:

Adakah harus membaca Al-Quran dengan tujuan memenangkan Masjid al-Aqsa?

Jawapan:

Sebelum berbicara lebih jauh, suka ingin kami nyatakan bahawa hukum menziarahi Masjid al-Aqsa pada masa kini telah kami bincangkan pada artikel Bayan Linnas siri ke-15[1] dan suka juga di sini ingin kami kemukakan beberapa kelebihan Masjid al-Aqsa agar menjadi pedoman buat kita semua. Antara kelebihan-kelebihan Masjid al-Aqsa yang warid di dalam Al-Quran dan hadis ialah:

Kiblat pertama umat Islam sebelum diperintahkan untuk menghadap Kaabah.
Tempat berlakunya peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Solat di dalam Masjid al-Aqsa lima ratus (500) kali lebih afdhal berbanding solat di tempat lain kecuali di Masjid al-Haram dan Masjid al-Nabawi.

Berkenaan apa yang terjadi sekarang ini iaitu Masjid al-Aqsa dikuasai oleh rejim Zionis, ianya amat menyedihkan kerana jika dinilai melalui sejarah ketamadunan manusia dan hakikat sebenar, umat Islam sebenarnya yang layak untuk memiliki Masjid al-Aqsa.

Mengenai persoalan di atas, iaitu hukum membaca Al-Quran sebagai salah satu daripada niat untuk mendapat hajat bagi memenangkan Masjid al-Aqsa, dalam isu ini kami berpendapat ianya termasuk dalam bentuk tawassul yang dibenarkan.

Tawassul dari segi segi bahasa bermaksud mendekatkan diri. Manakala dari segi istilah, ia bermaksud menjadikan sesuatu amalan sebagai perantara atau penyebab untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pendapat yang lain mengatakan bahawa tawassul itu adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan meminta doa daripada orang soleh yang masih hidup, dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT dan juga dengan amal soleh yang dikerjakan. Ketiga-tiga bentuk tawassul ini adalah yang dibenarkan oleh syara’ tanpa khilaf. [Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah. Wizarah al-Awqaf wa al-Syu’un al-Islamiyyah al-Kuwait, 14/149-150]

Berbalik kepada isu yang dibincangkan, dalam isu ini terdapat dua (2) jenis tawassul yang dibenarkan iaitu:

Pertama: Bertawassul dengan amal soleh dan hal ini berbetulan dengan sabda Nabi SAW dari Ibn Umar R.Anhuma diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari[2] Rahimahullah di dalam sahihnya yang mana mengisahkan tiga orang yang terperangkap di dalam gua dan kemudian setiap dari mereka bertawassul dengan amal soleh masing-masing dan akhirnya Allah SWT menyelamatkan mereka.

Di dalam hadis tersebut diceritakan bagaimana pemuda pertama bertawassul dengan amal solehnya iaitu mentaati kedua orang tuanya. Pemuda kedua pula bertawassul dengan amal solehnya yang mana dia dahulu pernah hampir melakukan zina kemudian ditinggalkannya kerana takut akan azab Allah SWT. Manakala pemuda ketiga pula bertawassul dengan amalan solehnya dengan mengatakan beliau seorang yang amanah. Memegang amanah yang diberikan kepadanya dan mengembalikan kepada pemiliknya. Mereka bertawassul dengan amal soleh mereka masing-masing dan sedikit demi sedikit batu yang menutup pintu gua tempat mereka terperangkap terbuka.

Ini menunjukkan keberkesanan tawassul dengan amal soleh, yakni dengan menjadikan amal soleh sebagai perantara di dalam doa kita dan kesannya dapat dilihat dengan cepat. Di dalam konteks ini, kita menjadikan amal soleh kita membaca Al-Quran sebagai perantara dalam doa untuk menunaikan hajat kita.

Justeru apa yang boleh dilakukan di sini setelah membaca Al-Quran, hendaklah kita berdoa kepada Allah SWT dengan perantaraan amal soleh bacaan kita tadi semoga Allah SWT memenangkan Masjid al-Aqsa. Mudah-mudahan dikabulkan, InsyaAllah.

Kedua: Ayat Al-Quran itu sendiri menjadi kalamullah dan kita memohon mewakili nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT yang terdapat di dalam Al-Quran. Maka ia diizinkan oleh Islam lebih-lebih lagi kalam-Nya itu bersifat mukjizat. Ianya berdasarkan firman Allah SWT:
وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ

Maksudnya: “Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu,”

(Al-A’raaf: 180)

Justeru, perbuatan seperti ini tidaklah menyalahi syara’ kerana padanya terdapat ciri-ciri tawassul yang dibenarkan (masyru’). Wallahu a’lam.

Saya tertarik dengan pendapat yang telah dikeluarkan oleh Fadhilah al-Syeikh Dr. Solah Abd al-Fattah al-Khalidi Hafizahullah apabila ditanyakan adakah harus membaca al-Quran bertujuan memenangkan Masjid al-Aqsa. Syeikh berkata:

“Membaca Al-Quran adalah adalah ibadat kepada Allah. Maka tiadalah halangan bagi pembaca Al-Quran berniat ibadat dallam bacaan ini untuk memenangkan al-Aqsa. Ini dengan makna mendekatkan diri kepada Allah dengan bacaan ini. Seterusnya bertawassul dengannya mengharapkan daripada Allah kemenangan bagi Masjid al-Aqsa. Seperti yang dimaklumi bahawa harus tawassul kepada Allah dengan amal yang soleh. Jadilah bacaan dengan niat ini gambaran daripada gambaran yang baru dalam bentuk menolong Masjid al-Aqsa dan juga medatangkan dengan cara-cara yang baru.”

Semoga dengan pencerahan ini menjadikan kita lebih cakna ,mengasihi dan mencintai Masjid al-Aqsa dan mengambil peduli apa yang berlaku terhadapnya. Semoga suatu hari nanti, Masjid al-Aqsa akan bebas dari cengkaman Yahudi Zionis dan kita semua dapat solat di dalamnya dengan penuh rasa ketenangan. Ameen.

Akhukum fillah,

S.S Datuk Dr. Zulkifli Bin Mohamad Al-Bakri
Mufti Wilayah Persekutuan
6 November 2015 bersamaan 24 Muharram 1437H.

[1] http://muftiwp.gov.my/index.php?option=com_content&view=article&id=223

[2] Ianya merupakan hadis yang sangat panjang. Kami hanya menukilkan isi penting daripada hadis tersebut untuk perbincangan kita kali ini. Adapun hadis ini al-Imam al-Bukhari meriwayatkannya di dalam Kitab al-Riqaq, Bab Qissatu Ashab al-Ghar wa al-Tawassul bi Solih al-A’mal, No. Hadis: 2743.

30 November 2015 Posted by | Fatwa, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

TIDAK RASA DIRI BERDOSA ADALAH SATU DOSA


Sifat orang muslim ialah dia sentiasa rasa berdosa,suka di tegur dan di tunjuk kelemahan diri.Kalau satu hari tidak ada orang menegur dia merasa amat gelisah dan kecewa.

Hari ini sifat seperti ini tidak ada pada mereka yang mengaku memperjuangkan Islam.Bahkan mereka mempunyai sifat yang berlawanan.Rasa diri maksum dan tidak pernah bersalah dan berdosa.Yang sentiasa bersalah hanya musuh dia dan orang lain.

Mungkin ini sebabnya selama ini perjuangan mereka tidak dapat bantuan Allah……….selalu di hina dan di cerca dan umat Islam ramai yang lari daripadanya…….itu pun masih arrogant….mereka kata perjuangan Nabi SAW pun selalu di hina dan di cerca…….

Jangan cari alasan lah, jika tidak ada sifat rasa diri berdosa jangan lah nak samakan dengan perjuangan Nabi SAW……..Wallahu aqlam.



 

29 November 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Ulama hadis dan ulama fiqh adalah pembimbing ummah

Nabi Muhammad SAW tidak sebutpun bahawa sesuatu hadis itu bertaraf sahih, hasan, daif atau palsu. Yang menentukan hadis sahih, hasan dan daif, adalah ijtihad ulama… Jadi itu adalah jasa ulama-ulama hadis.

Bila kita ikut ulama fiqh, ulama fiqh mesti pakar tentang hadis, sebab itu Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafie dan Imam Ahmad adalah juga pakar-pakar hadis Nabi SAW. Jadi, ulama fiqh dan imam-imam mazhab, adalah juga ulama hadis, dan mereka memberi sumbangan bukan setakat menentukan hadis-hadis sahih, hasan atau daif melalui ijtihad taraf hadis, bahkan mereka melakukan lebih usaha iaitu dengan menyertakan kefahaman yg tepat terhadap Quran dan sunnah melalui fiqh Quran dan Sunnah.

Sebab itu, di kalangan pendokong-pendokong mazhab terdapat ribuan ulama hadis, contohnya dalam mazhab Syafie terdapat Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar al-asqalani, Al-Haithami dan lain-lain. Mereka juga adalah ulama hadis, namun melangkah lebih kehadapan membicarakan kefahaman hadis-hadis Nabi SAW, lantas digolongkan juga mereka sebagai ulama fiqh.

Benarlah kata-kata Sykh Zakaria al-Kandahlawi yang mengajar Sahih Bukhari semenjak umur 20 tahun sehingga umurnya 80 tahun mengatakan: “Semakin lama aku mensyarahkan Hadis-hadis Sunan Sittah, aku semakin yakin kebenaran imam-imam mazhab”.

Kata-kata yg sama saya pernah baca drpd pentahqiq Ahmad Syukri yg menyatakan semakin lama aku semakin cenderung kepada pandangan Imam Syafie.

Jadi, jika anda melihat-melihat imam-imam tu sesat bila anda baru bermula belajar Quran dan hadis, anda sebenarnya bermasalah, atau guru anda bermasalah!

Allahu al-musta’an.

 

Oleh : Prof Dr Asmadi Mohamed Naim


 

25 November 2015 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

KITA IBARAT PINGGAN…

Andaikan 3 individu berbeza meminjam sebiji pinggan daripada kita…

Selang beberapa tempoh masa:
Individu pertama memulangkan pinggan tersebut dalam keadaan bersih cantik tanpa sebarang kecacatan kerana telah dibersihkan dengan baik setelah digunakan. Lalu kita pun terus meletakkannya di atas rak pinggan mangkuk seperti keadaan asalnya.

Individu kedua pula memulangkan pinggan tersebut dalam keadaannya yang masih kotor, tidak berbasuh. Pinggan tersebut tempatnya adalah dalam sinki dan akan dibasuh sehingga bersih, kemudian barulah ianya diletakkan di tempat yg sepatutnya.

Individu ketiga pula memulangkan pinggan tersebut dalam keadaan pecah bersepai. Tidak boleh dibezakan lagi bentuknya antara pinggan mahupun serpihan kaca. Tiada nilainya lagi. Kita tiada pilihan lain selain menghumbankannya ke dalam tong sampah yang hina.

Begitulah jua halnya dengan Allah Taala. Jika Kita kembali kepadaNya dalam keadaan bersih, elok, tanpa kekotoran dosa, maka Allah akan terus meletakkan kita di tempat di mana kita berasal, yang baik dan tempat yang selayaknya bagi kita, iaitu Allah redha kita berada dalam syurgaNya.

Namun jika kita kembali ke hadratNya dalam keadaan kotor dengan dosa, Allah akan ‘basuh’ kita sebersih-bersihnya di dalam api neraka sebelum memasukkan kita ke dalam syurga.

Tetapi jika kita kembali kepadaNya dalam keadaan yang rosak imannya, sehingga tidak dapat dibezakan antara iman dengan kufur, maka Allah tidak akan teragak-agak untuk menghumbankan kita ke dalam neraka jahannam yang hina buat selama-lamanya, ibarat pinggan yang pecah; tiada nilai lagi.

Semoga bermanfaat

Kredit : Ust Zamri Zainuldin
Bahagian Dakwah Jakim

23 November 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Garis Panduan Solat Dalam Keadaan Duduk:

Garis Panduan Solat Dalam Keadaan Duduk Seperti Berikut:

1. Solat adalah ibadah asas dalam Islam dan dipertanggungjawabkan kepada setiap mukallaf dalam apa jua keadaan termasuk ketika sakit. Cara perlaksanaannya ketika sakit hendaklah dilakukan mengikut kemampuan masing-masing.
Hadis Rasulullah s.a.w:
صَلِّ قَا ئِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
Maksudnya: Solatlah berdiri, jika kamu tidak mampu hendaklah duduk, dan jika kamu tidak mampu berbaring di sebelah tepi.
H.R al-Bukhari : 1066.

2. Berdiri dalam solat fardhu adalah merupakan rukun solat. Walau bagaimanapun bagi pesakit yang tidak boleh berdiri dibolehkan solat dalam keadaan duduk. Duduk bersila adalah lebih utama. Walau bagaimanapun boleh sahaja solat duduk dalam bentuk-bentuk yang lain. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA, dia berkata:
رَأَيْتُ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مُتَرَبِّعًا
Maksudnya: Saya pernah melihat Nabi s.a.w solat dengan duduk bersila.
(Hadis riwayat imam al-Nasa’I dalam Sunannya, kitab Qiyam al-Lail wa Thathawwu’ al-Nahaar, bab كيف صلاة القاعد no:1661).

3. Kebelakangan ini muncul persoalan berkenaan solat secara duduk di atas kerusi bagi mereka yang uzur. Hal ini amat perlu ditangani dengan baik untuk memelihara kesempurnaan ibadah yang menjadi tiang agama.

A. Kedudukan kerusi adalah seperti berikut:

1. Kedudukan bagi ma’mum yang menggunakan kerusi hendaklah di bahagian paling kiri atau kanan saf solat.

2. Jika keuzurannya adalah untuk duduk di atas lantai, atau ruku’ atau sujud namun masih mampu berdiri, maka hendaklah berdiri selari dengan orang bersebelahannya dalam saf solat.

3. Jika keuzurannya adalah untuk berdiri dan terpaksa menunaikan keseluruhan solat dalam keadaan duduk, maka kaki kerusi belakang hendaklah sama dengan orang kaki orang yang berdiri.

4. Kelurusan saf bagi orang yang terpaksa menunaikan keseluruhan solat dalam keadaan duduk dikira ketika jemaah lain dalam keadaan duduk.

B. Beberapa perkara perlu diberi perhatian oleh orang yang mengerjakan solat dalam keadaan menggunakan rukhsah seperti berikut:

1. Hendaklah bertakbiratul ihram dalam keadaan berdiri sekiranya mampu, kerana qiyam adalah sebahagian dari rukun solat. Ini adalah bagi kes ketidakmampuan untuk ruku’, sujud atau berdiri panjang. Manakala bagi kes ketidakmampuan untuk berdiri maka diharuskan bertakbiratul ihram dalam keadaan duduk.

2. Hendaklah terus berdiri ketika membaca al-Fatihah dan surah sekiranya mampu. Walau bagaimanapun, diharuskan duduk apabila tidak mampu atau terus duduk jika langsung tidak mampu.

3. Hendaklah duduk dalam keadaan kedua-dua belah kaki jika mampu atau salah satu daripadanya jika tidak mampu bertekan (i’timad) dan tidak menyandarkan belakang dengan merehatkan kedua-dua kaki atau salah satu daripadanya.

4. Tidak menggerakkan kerusi ketika melakukan isyarat tunduk untuk ruku’ dan sujud.

5. Tidak menyandarkan belakang kepada kerusi tanpa sebarang hajat atau keuzuran. Hal ini kerana ia menyalahi tatacara solat dan keizinan untuk duduk hanya sekadar untuk menampung keuzuran berdiri.

6. Hendaklah membezakan secara konsisten keadaan tunduk untuk ruku’ dan tunduk untuk sujud. Kedududkan isyarat tunduk untuk sujud hendaklah lebih rendah daripada isyarat tunduk untuk rukuk.

7. Tidak sujud di atas sesuatu yang berada di hadapannya seperti yang dilakukan oleh sesetengah penumpang kapal terbang yang menjadikan meja makan sebagai tempat sujud.

8. Sekiranya keuzuran adalah untuk ruku’ atau sujud, maka hendaklah solat dalam keadaan berdiri dan apabila tiba masa untuk ruku’ atau sujud, barulah diizinkan untuk duduk dan melakukan isyarat tunduk tanda ruku’ dan sujud mengikut kemampuan.

9. Hendaklah meletakkan tangan di atas kedua lututnya ketika tunduk tanda ruku’ dan meletakkannya di tempat lain selain lutut ketika tunduk tanda sujud supaya ada perbezaan antara isyarat ruku’ dan sujud. Sebagai contoh, kedua-dua tangan boleh dilepaskan sahaja di sebelah kiri dan kanan ketika tunduk tanda sujud, atau boleh diletakkan di sebelah kedua belah paha kanan dan kiri, atau boleh juga diletakkan pada hujung pemegang kerusi jika ada.

10. Tidak digalakkan menjadi imam kepada ma’mum yang solat dalam keadaan sempurna tanpa duduk di atas kerusi atau lantai. Walau bagaimanapun, sekiranya semua makmum dari kalangan mereka yang uzur atau solat dalam keadaan duduk, maka diharuskan. Sekiranya beliau merupakan imam bertugas dan keuzurannya adalah sementara dan boleh sembuh maka diharuskan untuk mengimamkan solat. Manakala makmum pula tetap wajib berdiri sekiranya mampu.

11. Jika keuzurannya sementara dan boleh hilang, maka hendaklah solat dalam keadaan berdiri apabila hilang keuzuran tersebut. Sebagai contoh sekiranya sedang beliau solat dalam keadaan duduk, tiba-tiba rasa sakit atau uzur yang menghalangnya berdiri hilang, maka ketika itu wajib ke atasnya berdiri dan begitulah sebaliknya.

Sumber: Bahagian Fatwa – Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan

20 November 2015 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

2 GOLONGAN MANUSIA YANG PERLU DIHINDARI DI ZAMAN MEDIA SOSIAL

Dalam zaman fitnah media sosial hari ni, ada dua golongan manusia. Pertama mereka yang akan cuba manipulasi kenyataan kita samaada diluar konteks ataupun mentohmah sesuatu yang tidak kita perkatakan

Kedua ialah mereka yang terus percaya tanpa tapisan dan menyambung lidah fitnah dengan berkongsi menyebarkannya sehingga dibaca oleh ratusan malah ribuan orang.

Kedua2 golongan ini termasuk dalam golongan yang disebut Nabi SAW sebagai orang yang MUFLIS di akhirat kerana segala pahala amal ibadahnya berpindah kepada orang yang ditohmah dan dianiayainya dan segala dosa2 orang itu berpindah kepadanya. Inilah juga yang disebut DOSA JARIAH iaitu dosa2 yang terus hidup walaupun jasad sudah mati.

Moga2 kita dijauhkan dan dipelihara daripada tergolong dalam kedua2 kategori manusia ini. Namun bagi yang jadi mangsa sabar dan ucaplah Alhamdulillah atas pahala2 yg bakal terkumpul dan dosa2 yang terhapus, serta tidak perlu melatah hingga terjebak pula dalam perlakuan dosa yang merugikan pula.

DR ASYRAF WAJDI
Bahagian Dakwah Jakim

19 November 2015 Posted by | Bicara Ulama | Leave a comment

PEMAHAMAN BID’AH PADA SYARA’

Bid’ah pada bahasa daripada perkataan بدع iaitu الاختراع على غير مثال سابق “mencipta tanpa contoh sebelumnya”

Ini berdasarkan firman Allah ;
بديع السموات والأرض
“(Dialah) Allah pencipta langit dan bumi”

Nama Allah بديع berasal dari kalimah yang sama dengan perkataan bid’ah. Ayat quran tadi menjadi dalil bahawa bid’ah ialah sesuatu yang tidak ada contoh sebelumnya kerana Allah menciptakan langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Jika ada contoh sebelumnya maka bukan lagi termasuk di dalam makna bid’ah.

Pada istilah ada beberapa makna ;

Berkata Imam Syatibi : Bid’ah ialah suatu jalan pada agama yang dicipta menyerupai syariat bermaksud untuk beramal dengannya seperti maksud jalan syariat.

Dinaqalkan daripada Ibnul Qayyim di dalam kitab إعلام الموقعين daripada Imam Syafie dan diriwayatkan juga daripada Rabie’ : Sesungguhnya Imam Syafie menjadikan bid’ah iaitu apa yang bercanggah dengan Al-Quran dan As-Sunnah atau athar sebahagian sahabat. Kitab Haasyiah Al-Muwaafaqat bagi Imam As-Syatibi juz 4 m/s 78.

Imam Baihaqi menyatakan di dalam kitab manaqib As-Syafie dengan katanya : Perkara yang baru itu terbahagi kepada dua :

1) Daripada apa yang menyalahi Al-Quran atau As-Sunnah atau ijmak maka ini bid’ah yang sesat.
2) Apa yang direka-reka daripada kebaikan tidak ada percanggahan bagi satu daripada ini (Al-Quran atau As-Sunnah atau athar atau ijmak) ini dikira perkara baru yang tidak tercela.

Sesungguhnya telah berkata Umar Bin Al-Khottob رضي الله عنه pada qiam Ramadhan نعمت البدعة هذه “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” iaitu mendirikan solat terawih berjemaah dengan satu Imam yang mana tidak pernah ada di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم – Kitab Al-Haawi bagi Imam As-Suyuthi juzuk 1 m/s 192-193.

Berkata Ibnu ‘Athir : Bid’ah iaitu jika bercanggah dengan perintah Allah dan Rasul maka ia pada kedudukan tercela dan ingkar dan jika menepati di bawah umum apa yang disunatkan dan diperintahkan oleh Allah dan Rasul maka ia adalah pada kedudukan terpuji walaupun tidak ada contoh seperti mulia dan pemurah dan perbuatan yang baik maka ini daripada perbuatan terpuji yang tidak ada orang melakukan sebelumnya dengan syarat yang demikian itu tidak bertentangan dengan syara’ kerana Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menjadikan pahala bagi yang demikian tadi dengan sabdanya : من سن سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها “Sesiapa yang mencipta satu sunnah yang baik adalah baginya pahalanya dan pahala orang yang melakukannya”. – Jami’ Al-Usul Juzuk 1 m/s 280-281.

Menaqalkan oleh Imam As-Suyuthi di dalam kitabnya Al-Haawi daripada Imam Nawawi berkata pada kitab beliau tahzib al-asma’ wal lughat seperti berikut : Bid’ah pada syara’ iaitu mengadakan sesuatu yang tidak ada pada zaman Nabi صلى الله عليه وسلم terbahagi kepada baik dan buruk.

Dinaqalkan daripada Imam ‘Izuddin bin Abdissalam berkata di dalam kitab al-Qawaa’id : Bid’ah terbahagi kepada wajib, haram, sunat, makruh dan harus. Kemudian beliau berkata cara untuk menentukan ialah dengan membentangkan bida’ah di atas kaedah-kaedah syara’ maka jika masuk pada kaedah wajib maka wajib atau pada kaedah haram maka haram atau pada kaedah sunat maka sunat atau kaedah makruh maka makruh atau kaedah harus maka harus. Kemudian beliau menyatakan contoh bagi setiap bahagian. – Al-Haawi bagi Imam As-Suyuthi juzuk 1 m/s 192-193.

Menaqalkan oleh Imam As-Syaukaani daripada Ibnu Hajar katanya di dalam kitab Al-Fathi : Bid’ah asalnya apa yang direka-reka tanpa contoh sebelumnya dan disebut pada syara’ di atas perkara yang bercanggah dengan sunnah maka ia tercela. Sebenarnya sekiranya ia terbit daripada jalan orang yang memperelokkan syariat maka ia baik dan jika ia terbit daripada jalan orang yang memperburukkan pada syara’ maka ia buruk kecuali pada hukum mubah (harus) maka ini terbahagi kepada 5 hukum seperti yang dinyatakan oleh Imam ‘Izuddin bin Abdissalam. – Nailul Author juzuk 3 m/s 60.

Maka dengan pandangan-pandangan para ulama di atas, dapat difahami bid’ah pada syara’ seperti berikut ;

1. Bid’ah terbahagi kepada dua iaitu baik dan buruk.
2. Bid’ah baik yang tidak bercanggah dengan Al-Quran, As-Sunnah, Ijmak dan Qias.
3. Penentuan bid’ah hendaklah dilakukan berdasarkan kaedah hukum syara’ iaitu wajib, haram, sunat, makruh dan harus.
4. Perbuatan Saidina Umar Al-Khottob di dalam masalah qiam Ramadhan adalah bukti para sahabat memahami bidaah terbahagi kepada dua sesuai dengan perkataan beliau “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.
5. Hadith “Setiap bid’ah adalah sesat” bersifat umum yang tidak boleh difahami secara zahir tanpa mengkhusukan dengan dalil-dalil yang lain daripada Al-Quran, As-Sunnah, Ijmak dan Qias.

Oleh Al-Haqir ila Rabbi,
Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari

16 November 2015 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Fitnah – Selidik Dulu Sebelum Tuduh

Cari-salah-orang-aje.jpg

Aspek komunikasi dan penyebaran maklumat bukan saja dilihat berlaku secara lisan, malah boleh disebarkan dengan cepat dan pantas secara maya (virtual) melalui internet atau khidmat pesanan ringkas (SMS).

Penciptaan alat komunikasi secara maya ini mempunyai banyak faedah jika digunakan dengan betul dan baik. Namun, ia menuntut suatu disiplin, tatacara dan tanggungjawab pengguna supaya kemajuan tidak disalahgunakan untuk menyebar perkara tidak benar atau palsu.

Tidak dinafikan peralatan canggih itu hari ini turut disalah guna bagi menyebar pelbagai maklumat palsu, sesat dan fitnah secara bebas tanpa ada rasa tanggungjawab. Tambahan pula, sukar sekali untuk mengesan pihak melakukannya.

Dilihat kesannya terhadap masyarakat, sama ada melalui perhubungan secara lisan atau saluran teknologi maklumat (IT), kedua-duanya sama tahapnya. Jika secara lisan maklumat boleh dimanipulasi dan dikelirukan, begitulah juga melalui IT.

Untuk menilai kesahihan berita yang disebarkan, al-Quran sudah meletakkan garis panduan. Antaranya firman Allah SWT yang bermaksud: “Wahai orang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidiklah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menampakkan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.” (Surah al-Hujurat, ayat 6)

Allah SWT sudah memberi peringatan dan mengajar semua umat Islam supaya meneliti dan menyelidik terlebih dulu berita yang disampaikan oleh orang fasik kepada mereka. Tidak kira sama ada berita itu disampaikan secara lisan atau melalui internet.

Seseorang mukmin dilarang tergesa-gesa mempercayai sesuatu berita disebarkan atau jangan terlalu cepat pula menafikannya sebelum membuat penelitian serta penyelidikan terhadap kebenaran berita itu. Ini semata-mata untuk mengelak daripada melakukan kesalahan di atas kesamaran.

Sebab penurunan ayat itu ada hubung kait dengan berita dibawa oleh al-Walid bin ‘Uqbah bin Abu Mu’it. Ahmad bin Hanbal, meriwayatkan bersumberkan daripada al-Harith bin Dirar al-Khuza’iy, yang berkata, “Aku bertemu Rasulullah SAW, Baginda mengajakku supaya memeluk agama Islam. Aku menerima ajakan (dakwah) Rasulullah SAW itu dengan memeluk agama Islam. Kemudian Rasulullah SAW mengajakku supaya mengeluarkan zakat, dan aku menerima ajakan itu. Aku berkata lagi: Aku perlu pulang kepada kaumku terlebih dulu, untuk mengajak mereka supaya sama-sama memeluk Islam dan mengeluarkan zakat. Sesiapa yang menerima ajakanku itu, aku akan memungut zakat daripadanya. Wahai Rasulullah SAW apabila sudah cukup tempoh, maka hantarlah utusan untuk mengambil zakat yang telah dipungut itu.”

Apabila al-Harith selesai memungut zakat dan tempoh ditetapkan sudah tiba, maka Rasulullah SAW mengutuskan al-Walid bin ‘Uqbah bin Abu Mu’it kepada kaum Bani Mustaliq untuk memungut zakat daripada mereka.

Dalam perjalanan menuju perkampungan Bani Mustaliq itu, al-Walid merasa takut dan gentar. Lalu al-Walid bergegas pulang sebelum sempat sampai ke perkampungan Bani Mustaliq dan membawa berita palsu kepada Rasulullah SAW bahawa al-Harith enggan menyerahkan hasil kutipan zakat itu, malah mengambil tindakan untuk membunuhnya.

Kemudian Rasulullah SAW mengutuskan utusannya kepada al-Harith untuk memastikan kebenaran berita yang disampaikan oleh al-Walid. Dalam perjalanan, utusan Rasulullah SAW itu bertemu dengan al-Harith dan rombongannya yang sedang menuju kepada Rasulullah SAW Dalam pertemuan itu, al-Harith bertanya kepada utusan itu, “Kepada siapakah kamu semua diutuskan. Mereka menjawab: Kepadamu. Al-Harith bertanya lagi: Mengapa kamu diutuskan kepadaku? Mereka menjawab: Sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengutuskan al-Walid bin `Uqbah kepadamu untuk mengambil hasil kutipan zakat. Dia berkata bahawa kamu enggan menyerahkan zakat, bahkan bertindak akan membunuhnya. Lantas al-Harith berkata: Tidak! demi Allah yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, aku tidak melihat al-Walid pun dan dia tidak datang kepadaku.”

Apabila al-Harith dan rombongannya tiba di hadapan Rasulullah SAW, Baginda SAW bersabda yang bermaksud: “Kamu enggan menyerahkan hasil kutipan zakat dan cuba membunuh utusanku. Maka al-Harith berkata: Tidak! Demi Allah yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak berbuat demikian. Maka turunlah ayat 6, surah al-Hujurat).” (Ibn Kathir)

Baginda SAW bersabda yang bermaksud: “Menyelidiki dengan tenang adalah daripada Allah dan tergopoh-gapah (itu) adalah daripada syaitan.” (Al-Tabariy).

Oleh: Mohd Shukri Hanapi

Sumber: Bahagian Dakwah JAKIM

16 November 2015 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

Hukum Makan Masakan Orang Yang Tidak Solat

image

Soalan:
Bolehkah kita makan masakan orang Islam yang tak solat?

Jawapan:
Rasulullah pernah terima undangan Yahudi di Madinah dan pernah makan masakan mereka , jika di kira Yahudi itu adalah orang kafir tetapi baginda tetap memakannya kerana baginda sudah pasti makanan tersebut halal. Jika nak di kira orang kafir lebih teruk daripada orang Islam yang tak solat. Maka cuba semak balik hadis atau kisah makanan orang yang tak solat itu lebih teruk daripada anjing hitam samada ianya sahih atau palsu.

Secara umumnya memakan makanan yang diberikan oleh orang bukan Islam adalah dibolehkan (halal) jika makanan tersebut tidak terdiri daripada makanan yang diharamkan, seperti mengandungi khinzir, arak atau bangkai (binatang yang haram dimakan atau binatang yang boleh dimakan tetapi tidak disembelih secara syarie) dan sebagainya. Oleh itu, kita boleh menerima bahkan memakan makanan tersebut jika pada zahirnya ia adalah makanan yang bukan dibuat daripada atau kandungannya mengandungi elemen yang haram sebagaimana disebutkan, walaupun makanan itu dibuat atau dimasak atau disediakan oleh mereka sendiri.

Imam Ahmad meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW pernah dijemput oleh seorang Yahudi ke suatu jamuan yang disediakannya, iaitu makanan yang terdiri daripada roti yang diperbuat daripada bijirin barli dan bubur yang sudah berubah baunya, dan baginda SAW menerima undangan tersebut.

TIDAK ada larangan kepada orang Islam memakan makanan yang dimasak oleh orang kafir, dan orang fasik (kerana tak solat), selama-mana ia tidak melibatkan makanan yang HARAM di makan (seperti khinzir (babi)) atau minuman yang diharamkan (seperti arak, wine, dsb), dan juga binatang yang disembelih bukan dari kalangan orang Islam atau Ahli Kitab.

Begitu jugalah menggunakan pinggan, gelas dsb, yang di basuh oleh orang-orang kafir, melainkan mereka menggunakan bahan-bahan pencuci yang mengandungi benda yang haram.

Orang Kafir Najis

Firman Allah S.W.T.

“Wahai orang yang beriman sesungguhnya orang Musyrikun itu adalah najis…..” [Surah al-Taubah ayat 28]

Kenajisan kaum Musyrikin bukanlah najis hissiyah, dan apa yang dijelaskan di dalam al-Quran didalam ayat di atas bermaksud ketidaksucian kaum musyrikin terhadap AQIDAH mereka yang mensyirikkan Allah SWT.

Berkata Syeikh Dr Yusuf al-Qaradawi :

“Kenajisan orang musyrikin adalah Najis Ma’nawiyah, Al-Qaradhawi memetik kata Imam Shaukani rh bahawa apa yang dimaksudkan adalah najis tersebut bukanlah najis hissiyah, bahkan ia adalah najis hukum. Ini bermaksud bahawa aqidah orang-orang kafir ini yang najis, dan bukanlah fizikal badan mereka.

Malah kata al-Qaradhawi di dalam riwayat Sahih bahawa Nabi SAW dan para sahabat pernah minum dan mengambil wuduk dari bijana orang Musyrikin. Baginda juga makan makanan hidangan orang kafir.

Kesimpulannya, anda boleh makan makanan yang dimasak oleh orang kafir selagimana kandungan makanan tersebut halal dimakan. Sentuhan orang kafir BUKAN najis. Yang berbeza dengan kita hanyalah aqidah mereka sahaja. Jika makanan dan masakkan orang kafir di bolehkan maka masakan orang islam yang fasik kerana tak solat adalah di bolehkan.

Boleh makan tetapi jika ada kedai makan yang penjualnya muslim yang menutup aurat dan suaminya nampak warak kita utamakanlah kedai makan seperti ini kerana kita mengutamakan orang yang lebih bertakwa.

Artikel Berkaitan

Anda Teruja Nak Letupkan Jualan Anda Melalui Facebook? Stay Tune Bersama Kami Di Sini!
RM300 Sebulan Dengan Facebook 300
Pakej Lengkap Video Bun, Pau Dan Pizza Style Hotel

16 November 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Semua ingin jadi hero keluar fatwa

Banyak isu-isu fiqh yg berleluasa akhir zaman ni, tapi yang hendak jadi heronya adalah orang jahil. Tidak ada autoriti untuk berijtihad. Tapi main fatwa ikut sedap mulut. Main kias ikut sedap mulut.
Ingat mudah kah keluarkan fatwa tentang sesuatu hukum terhadap sesuatu perkara baru yang tiada asalnya sebelum ini?

Ini main fatwa main sebut haram, halal, semudah mengunyah popcorn. Mujtahid bila berijtihad mereka buat ‘juhd’. Juhd ini kata akar bagi ijtihad. Maknanya secara lughoh ialah bersungguh-sungguh meneliti dalil qathie dari AlQuran, Assunnah, Ijmak, Qias, kemudian menggunakan Adillat Ahkam yg lain macam Istihsan, Masolih Mursalah dan lain-lain bergantung kepada Usul Mazhab masing-masing.

Syarat mujtahid pulak bukannya degree/master/phd. Syarat mujtahid ni banyak. Ini degree dalam bidang ekonomi, engineering pun sibuk nak ijtihad. Semudah merendam maggi dalam mug.

Ingat!
قال الرسول صلى الله عليه وسلم:
من أفتى بغير علم فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين
Sabda Rasul:
((Barangsiapa berfatwa tanpa ilmu maka ke atasnya laknat Allah, para malaikat dan manusia keseluruhannya)

* tidak perlu kita jadi jagoan dalam isu isu semasa dengan mengeluarkan pendapat mengenai hukum semata-mata hendak dapat like dan share yang tinggi dalam media sosial.

* tidak berbaloi fatwa tapi kena laknat dengan Allah, Malaikat dan manusia

* kena pulak, main fatwa sedap mulut, baca AlQuran pun makhraj dan tajwid tunggang terbalik. Malulah sikit!

13 November 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | Leave a comment

USTAZ DR HJ ZAMIHAN BIN MAT ZIN AL-GHARI YANG SAYA KENALI.

image

Ustaz Dr Haji Zamihan al-Ghari seorang yang amat tegas dalam membicarakan bab akidah dan hukum-hakam agama.Secara jujur saya katakan, pengalaman saya bersamanya dalam beberapa detik yang lalu telah membuatkan saya mengenali beliau.Di atas ketegasannya itulah belia|u sering dijemput oleh beberapa Jabatan Mufti Negeri / Jabatan Agama Negeri/ Jabatan Kerajaan, NGO, Masjid-Masjid dan Surau-Surau untuk membentangkan tentang penyelewengan akidah yang dilakukan oleh golongan yang tersasar dari manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah.Di atas ketegasannya itu juga yang memiliki suara yang lantang bila berbicara, beliau sering menjadi sasaran tohmahan, fitnah oleh golongan yang tidak senang apabila pembongkaran secara terbuka dilakukan oleh beliau terutamanya dari golongan Wahabi, Syiah, Pluralisme agama dan lain-lainnya.

Ustaz Dr Haji Zamihan al-Ghari bukan sahaja tegas dengan pihak yang menentangnya kerana pembongkaran yang dilakukannya tetapi beliau juga tegas terhadap mereka yang rapat dengannya.Saya sendiri juga pernah ditegur jika berbuat kesalahan dan beliau juga jika berbuat sesuatu kesilapan, akan meminta maaf jika ada yang menegurnya.

Di atas kepakarannya dan ketegasannya, beliau pernah berdebat dengan seorang ketua Syiah di Kedah selama 3 jam, begitu juga beliaulah yang telah berhujah dengan Haji Kahar di Kemensah yang mengaku menjadi Rasul Melayu satu ketika dulu. Beliau jugalah yang telah pergi ke rumah Kasim Ahmad yang mengingkari dan menolak Hadith-Hadith Nabi Shallallahu alaihi wassalam.

Di sebalik ketegasannya yang dianggap kasar oleh sesetengah pihak yang tidak mengenalinya secara dekat, beliau merupakan seorang yang lembut hati dan pemurah.Ramai di antara sahabat-sahabat beliau yang dibantu terutama sekali bagi anak-anak mereka yang nak melanjutkan pelajaran.Sahabat-sahabatnya yang susah akibat kereta rosak dan sebagainya juga akan dibantu oleh beliau. Beliau bukan sahaja membantu mereka yang dikenali tetapi beliau juga cepat menghulurkan bantuan kepada sesiapa sahaja walaupun tidak dikenali.

Pernah satu hari ketika saya bersamanya berada di Jabatan Mufti Negeri Johor selepas beliau menyampaikan taklimat, datang seorang muaalaf yang ingin mengadu belum lagi mendapat bantuan zakat. secara spontan, Ustaz Dr Hj Zamihan mengambil sampul yang diberikan kepadanya selepas menyampaikan taklimat, lalu kesemuanya diserahkan kepada muaalaf tersebut.

Begitu juga pernah seseorang menghantar sms kepadanya, memohon bantuan dan nombor talipon di dapati dari buku tulisan Ustaz Dr Hj Zamihan, lalu dia meminta saya memasukkan duit RM500 ke akaun orang tersebut sebagai bantuan

Tulisan saya ini bukanlah nak membela Ustaz Dr Haji Zamihan, malah beliau juga tidak pernah meminta saya menulis sebegini, apatah lagi sekarang sudah lama juga saya tidak bertemu dengannya tetapi bagi mereka yang belum mengenalinya secara peribadi, tidak akan faham kenapa beliau begitu tegas membela perjuangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Ketegasannya itulah yang menyebabkan ramai yang dulunya tidak tahu apa itu Wahabi, apa itu Syiah, sudah mula membuka mata tentang bahayanya pemikiran kedua-duanya.

Di atas ketegasannya itulah, golongan Wahabi dan Syiah tidak senang duduk dengan pembongakarannya secara terbuka, baik melalui ceramah ataupun penulisan, membuat berbagai-bagai fitnah terhadap beliau.Malah Ustaz Dr Haji Zamihan al-Ghari pernah disaman oleh golongan yang tidak lagi berupaya mengemukakan hujah tetapi semuanya dengan pertolongan Allah, yang bathil akan tetap lenyap dan haq tetap ditegakkan.

Ketahuilah bahawa beliau melakukan semua ini hanya dengan satu tujuan iaitu ingin menyelamatkan akidah umat Islam dari tipu muslihat golongan Wahabi dan Syiah yang semakin tersebar kini.

Akhirkata, saya tidaklah taksub dengan beliau dan saya tahu, akan datang komen-komen yang negatif nanti yang akan membantai saya selepas ini.

Semua yang saya lakukan adalah untuk menyatakan sesuatu yang haq dan saya juga tidak dibayar untuk tulisan ini.Saya berserah kepada Allah Yang Maha Kuasa dan berdoa agar negara kita akan selamat daripada akidah yang bathil yang dibawa oleh fahaman-fahaman yang bertentangan dengan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang dibawa oleh majoriti Ulama Muktabar.

Semoga Allah memberkati perjuangan Ustaz Dr Haji Zamihan al-Ghari bersama-sama temannya yang lain dan dipelihara oleh Allah dengan kekuasaanNya.

Ustaz Mohd Hanif
Juma’at @ 1 Safar 1437H.

13 November 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Informasi, Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | Leave a comment

Hukum Menanam Gigi Palsu

implant2

Soalan:

Assalamualaikum, saya mendapat soalan dari pelajar mengenai menanam gigi palsu. Apakah hukumnya menanam gigi palsu yang kekal? Perlukah mencabutnya?

Jawapan:

Berkata Syeikh Soleh Munajid :

تَركِيبُ أَسنَانٍ صِنَاعِيةٍ مَكَانَ الأَسنَانِ المَنزُوعَةِ لِمَرَضٍ أَو تَلَفٍ أَمرٌ مُبَاح لَا حَرَج فِي فِعلِهِ ، وَلَا نَعلَمُ أَحَدًاً مِن أَهلِ العِلمِ يَمنَعُهُ ، وَلَا فَرقَ بَينَ أَن تثبت الأَسنَان فَي الفَمِّ أَو لَا تثبت ، وَيَفعَلُ المَرِيضُ الأَصلَحُ لَه بِمَشُورَة طَبِيبٍ مُختِص .

“Memasang gigi buatan sebagai pengganti gigi yang dicabut karena sakit atau karena rosak, adalah sesuatu yang dibolehkan tidak apa-apa untuk dilakukan. Kami tidak mengetahui seorangpun dari ulama yang melarangnya. Kebolehan ini berlaku secara umum, tidak dibezakan apakah gigi itu dipasang kekal atau tidak, yang penting bagi pesakit memilih yang sesuai dengan keadaannya setelah meminta pendapat kepada doktor spesialis.”

Ulasan Lanjut:

Penggunaan gigi palsu sama ada yang kekal atau tidak hukumnya harus selama mana tujuan pemakaiannya untuk kemudahan makan dan kesihatan. Adapun tegahan mengasah gigi dan menjarangkan gigi pula adalah kerana perbuatan itu mengubah ciptaan Allah dan hanya bertujuan untuk kecantikan. Disebutkan dalam sebuah hadis :

( لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ تَعَالَى ) رواه البخاري (5931) ومسلم (2125) .

“Allah melaknat perempuan yang mentato dan minta ditato, dan yang mengikir gigi dan yang minta dikikir giginya dan yang menjarangkan giginya UNTUK TUJUAN KECANTIKAN, yang mengubah ciptaan Allah.” (Riwayat Al-Bukhari)

Imam Ibn Hajar Al-Asqolani ketika mensyarahkan hadis ini berkata :

فْهَم مِنْهُ أَنَّ الْمَذْمُومَة مَنْ فَعَلَتْ ذَلِكَ لِأَجْلِ الْحُسْن فَلَوْ اِحْتَاجَتْ إِلَى ذَلِكَ لِمُدَاوَاةٍ مِثْلًا جَازَ

Difahami dari hadis, tindakan itu tercela dan haram bagi sesiapa yang melakukannya untuk kecantikan, namun sekiranya ia memerlukan disebabkan oleh perubatan contohnya, ia adalah diharuskan.
Kita maklum memakai gigi palsu adalah satu keperluan memandangkan gigi sentiasa digunakan untuk mengunyah makanan agar mudah dihadam. Ia sangat mempengaruhi kesihatan seseorang dan kualiti hidup seseorang.

Memakai gigi palsu tidak dianggap mengubah ciptaan ALLAH kerana pada asalnya gigi tersebut wujud. Kemudian rosak. Memakainya pula satu keperluan kesihatan. Pernah seorang sahabat menggantikan hidung yang terpotong dengan emas.

عَنْ عَرْفَجَةَ بْنِ أَسْعَدَ قَالَ أُصِيبَ أَنْفِي يَوْمَ الْكُلَابِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَاتَّخَذْتُ أَنْفًا مِنْ وَرِقٍ فَأَنْتَنَ عَلَيَّ فَأَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَّخِذَ أَنْفًا مِنْ ذَهَبٍ

Dari Arfajah bin As’ad ia berkata: “Ketika terjadi perang Al Kulab pada masa Jahilliyah hidungku terluka, lalu aku menggantikan hidungku dari perak, tetapi justeru hidungku menjadi busuk. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar aku membuat hidung dari emas.”(HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan hadis ini Hasan)

Hadis ini walaupun membincangkan masalah menggantikan hidung dengan emas dan perak dalam keadaan darurat atau keperluan, tetapi boleh dijadikan dalil dalam menggantikan gigi dengan perak, emas dan sebagainya , jika memang diperlukan, kerana kedua-duanya adalah anggota tubuh.

Akhukum Mohd Hazri al-Bindany
Pembimbing Majlis Ta’lim Darul Muhajirin

Sumber: MyIbrah.com

13 November 2015 Posted by | Fiqh, Ibadah | Leave a comment

Balasan Syurga Untuk Mukmin Yang Menjawab Azan

Nota Editor: Artikel ini asalnya telah dikongsikan oleh Ustaz Abu Basyer di Facebook.

Balasan Syurga Untuk Mukmin Yang Menjawab Azan Dengan Hati Yang Ikhlas Dan Akan Mendapat Syafaat Nabi SAW Jika Di Iringi Dengan Doa Selepas Azan.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian mendengar seruan (untuk solat), maka sahutlah (kalimat demi kalimat) sebagaimana yang dikumandangkan oleh muazin.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dari Umar bin Khataab ra. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila muazin mengumandangkan (kalimat azan) ‘Allahu akbar, Allahu akbar’ maka salah seorang dari kalian menyahut dengan ‘Allahu akbar, Allahu akbar.’ Kemudian ia mengumandangkan ‘Asyhadu allaa illaaha lllallaah’ disahut dengan ‘Asyhadu allaa illaaha lllallaah’. Kemudian ia mengumandangkan ‘Ash-hadu anna Muhammadan Rasuul Allaah’ disahut dengan ‘Ash-hadu anna Muhammadan Rasuul Allaah’. Kemudian ia mengumandangkan ‘Hayya ‘ala’l-salaah’ dan disahut dengan ‘Laa hawla wa laa quwwata illa Billaah’. Kemudian ia mengumandangkan ‘Hayya ‘ala’l-falaah’ disahut dengan ‘Laa hawla wa laa quwwata illa Billaah’ Kemudian dikumandangkan ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar’ disahut dengan ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar’ Kemudian ia kumandangkan ‘Laa ilaaha ill-Allaah’ disahut dengan ‘Laa ilaaha ill-Allaah’, Semuanya diucapkan dengan seikhlas hati, nescaya ia masuk syurga.” (Hadis Sahih Riwayat Muslim)

Selepas azan dikumandangkan, kita disunatkan membaca doa.

Dalilnya:

Nabi SAW bersabda maksudnya, “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian berselawatlah kepadaku, kerana barang siapa berselawat kepadaku satu kali nescaya Allah berselawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian memohonlah al-Wasilah (kedudukan tertinggi) kepada Allah untukku, kerana itu adalah kedudukan di syurga yang tidak layak kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap aku adalah hamba tersebut, barang siapa memohon al-Wasilah untukku nescaya dia (berhak) mendapatkan syafaat” (Hadis Sahih Riwayat Muslim no. 2/327)

DOA SETELAH AZAN

اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ،إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ
Allaahumma rabba haadzihid da’watid taammah, wasshalaatil qaa imah, Aati Muhammadanil wassilah .Wal fadhilata Wab’atshu maqaamam’mahmuudalladzii wa’adtah .innaka laa tukhliful mii-aad .”

Ertinya :”Ya Allah, Tuhan Pemilik panggilan yang sempurna (azan) ini dan solat (wajib) yang didirikan. Berilah Al-Wasilah (derajat di syurga, yang tidak akan diberikan selain kepada Nabi dan fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkan baginda sehingga boleh menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji”

WAKTU ANTARA AZAN – IQAMAH MUSTAJAB

Dari Anas ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Doa antara azan dengan iqamah, tidak akan tertolak” (Hadis Riwayat Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Sunni dan lain-lain)

Tirmidzi mengatakan hadis ini hasan sahih. Menurut riwayat Tirmidzi ada tambahannya: “…….Mereka bertanya, “Apakah yang kami baca (ketika itu) wahai Rasulullah?” Baginda menjawab, “Mohonlah kepada Allah keselamatan (keafiatan) di dunia dan di akhirat.”.

Sumber: Blog Islam itu Indah

12 November 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

SOLAT SELEPAS HAID – KESILAPAN WANITA.

image (2)

SOLAT SELEPAS HAID : PERKARA YG DIPANDANG RINGAN..

Pengetahuan Islam kepada sesiapa yang bernama wa nita ISLAM!!!
Kebanyakkan perempuan/wanita/ muslimah (wanita Islam) tak berapa perasan ATAU lebih malang lagi jika memang tak tahu menahu akan perkara ini… Ilmu Fekah, khususnya BAB HAID yang berkaitan dengan diri wanita itu sendiri amat kurang dikuasai atau difahami secara menyeluruh oleh kebanyakkan wanita Islam…kenapa hal ini boleh terjadi?? Amat susah untuk mencari seorang guru/ustazah/ …yang betul-betul pakar dalam bab ‘Orang-orang Perempuan ini’ kecuali terpaksa@mesti dirujuk kepada lelaki/ustaz- ustaz yang bernama LELAKI jugak…(saya rasa ramai yang bersetuju dengan pandangan saya )

Contohnya yang paling simple ; bila ditanya kepada kebanyakkan wanita Islam ; “adakah wajib bagi seorang wanita Islam menqhada’kan solat mereka yang ditinggalkan ketika haid?” pastinya kita akan mendengar jawapan daripada kebanyakkan mereka mengatakan: “alaa…itu soalan mudah jee..bila ‘datang period’ maka solat tuu tak perlu qadha, yang perlu qadha hanya puasa jee..itulah yang kami belajar sejak mula-mula ‘bergelar wanita’ dulu”

Jika dibuat pantauan nescaya jawapan seperti di ataslah yang akan kita jumpa… Sebenarnya TAK SEBEGITU MUDAH bagi seorang muslimah nak meninggalkan solat mereka walaupun dirinya didatangi haid!!! sekalipun. Hal ini boleh dirujuk di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karangan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yang mashur.

Kitab yang padanya ada ilmu yang berkaitan Tasauf dan padanya juga perbahasan Fekah yang luas, inilah bukti kehebatan ulama’ terdahulu..

Dalam BAB TIGA :

” Fi adab Mua’sharah Wama Yujzi Fi Dawamun Nikah…” perkara YANG KETUJUH disebut dengan jelas dalam kitab tersebut : PERKARA YANG BERKAITAN DENGAN HAID: Penjelasan (bayan) terhadap solat yang perlu diqadha bagi perempuan yang didatangi haid :

1. Jika perempuan dalam keadaan haid mendapati darah haid itu berhenti (dengan melihatnya) sebelum masuknya
waktu Maghrib, kira-kira sempat dia solat asar sebanyak satu rakaat, maka baginya wajib qadha solat zohor dan asar.

2. Jika perempuan mendapati darah haidnya kering sebelum masuknya waktu subuh, kira-kira sempat baginya solat Isya’ sebanyak satu rakaat, maka wajib baginya qadha solat maghrib dan Isya’. ” Dan hal ini (qadha solat yang ditinggalkan semasa haid) adalah sekurang-kurang perkara yang wajib diketahui oleh setiap wanita Islam” (Imam Al-Ghazali)

HURAIAN MASALAH :

1. Kenapa perlu diqadha solat Asar dan Zohor?

– Kerana perempuan itu hanya menyedari keringnya haid masih dalam waktu Asar, maka baginya wajib solat asar (selepas mandi hadas)

2. Kenapa pula solat Zohor juga perlu diqadha sama?

– Kerana di dalam hukum menjama’ (menghimpun solat bagi orang musafir) solat Asar boleh dijama’ dan diqosarkan bersama solat Zohor.

– Kerana kecuaian wanita itu sendiri (dari melihat haidnya kering atau tidak), boleh jadi haidnya sudah kering dalam waktu Zohor lagi, langkah Ihtiyat ( menjaga hukum) maka perempuan itu juga perlu mengqhada solat Zohor.

3. Dalam perkara solat subuh pun sama : -perempuan itu hanya menyedari darah haidnya kering, sebelum masuk waktu subuh, kira-kira sempat solat Isyak satu rakaat (selepas mandi hadas) maka wajib baginya solat Isya’ sebab darahnya kering masih dalam waktu Isya’.

-Solat Isya’ juga boleh dijama’ (bagi musafir) dengan solat Maghrib, maka baginya juga perlu diqadha solat maghrib.

-Di atas kecuainnya (tidak betul-betul melihat darahnya kering atau tidak dalam setiap waktu solat) maka boleh jadi darahnya sudah kering dalam waktu maghrib lagi (sebab proses keringnya darah itu berlaku secara perlahan-lahan, mungkin perempuan itu hanya menyedarinya dalam waktu subuh, hakikatnya proses pengeringan itu sudah lama berlaku)

-maka langkah ihtiyat (menjaga hukum) maka adalah bagi perempuan itu perlu di qadha juga solat maghribnya.

Sila rujuk : Kitab Ihya’ Ulumuddin (Jilid ke 2) cetakan Darul Nahwan Nil / Darul Haram Lil Turath, Kaherah.

Diharapkan tulisan ini memberi kesedaran ke
pada seluruh yang bergelar Muslimah untuk lebih mendalami diri mereka dengan ilmu ‘Fiqhul Nisa’ ini yang berkaitan dengan diri mereka sendiri!!!

TOLONG SEBARKAN KEPADA ORANG LAIN DEMI SAHAM AKHIRAT ANDA !!!

Sumber.

12 November 2015 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Amalan istimewa di hari Juma’at…

1. Membaca surah al-Kahfi pada malam Juma’at. Bila tidak sempat membacanya di malam hari, boleh membacanya di siang hari. (HR. Ad-Darimi, An-Nasa’i, Al Hakim)

2. Membaca surah Al-Sajdah dan surah Al-Insan secara sempurna pada dua rakaat solat Subuh. (HR. Bukhari dan Muslim dan yang lainnya)

3. Memperbanyakkan selawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. (HR. Abu Dawud)

4. Orang lelaki wajib melaksanakan solat Juma’at. (Lihat: Syarh al-Mumti’: 5/7-24)

5. Dianjurkan mandi sunat. (HR. Muslim)

6. Memakai wangi-wangian, bersiwak atau menggosok gigi, serta mengenakan pakaian yang paling baik. (HR. Ahmad)

7. Berangkat lebih awal menuju ke masjid. (HR. Muttafaqun ‘alaih)

8. Saat menunggu kedatangan khatib/imam, dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan solat, selawat, zikir mahupun membaca Al-Qur’an.

9. Dianjurkan mendekatkan diri ke arah khatib untuk mendengarkan khutbah. (HR. Abu Dawud)

10. Dianjurkan juga menghadapkan wajah ke arah khatib saat khutbah sedang berlangsung. (HR. Abdurrazzaq dan Al-Baihaqi)

11. Wajib mendengarkan khutbah dengan baik. Bagi siapa yang sibuk sendiri dengan bermain batu kerikil atau berbicara pada saat khutbah sedang berlangsung, maka Juma’atnya sia-sia. (Muttafaqun ‘Alaih)

12. Saat masuk ke masjid, disunnahkan mengerjakan solat dua rakaat terlebih dahulu sebelum duduk mendengarkan khutbah. Hal ini berlaku sekalipun khutbah sedang berlangsung. (HR. Muslim)

13. Setelah menunaikan solat Juma’at disunnahkan mengerjakan solat sunnah dua rakaat atau empat rakaat dengan dua kali salam. (HR.Muslim)

14. Berdoa di penghujung hari Juma’at. (Muttafaqun ‘Alaih)

Semoga bermanfaat…
Wallahu Taala a’lam.

Sumber.

12 November 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

10 Dalil Kenapa Lelaki Diperintahkan Solat Berjemaah Di Masjid

10 Dalil Kenapa Lelaki Diperintahkan Solat Berjemaah Di Masjid

1. Allah SWT yang langsung memerintahkan dalam al-Quran agar solat berjemaah.
Allah SWT berfirman,

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah solat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (Surah Al-Baqarah ayat 43)
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

، فلا بد لقوله { مع الراكعين } من فائدة أخرى وليست إلا فعلها مع جماعة المصلين والمعية تفيد ذلك

“Makna firman Allah “Rukuklah beserta orang-orang yang rukuk, faedahnya iaitu tidaklah dilakukan kecuali bersama jemaah yang solat dan bersama-sama.”[Ash-Shalatu wa hukmu tarikiha hal. 139-141]

2. Ketika perang berkecamuk, tetap diperintahkan solat berjemaah. Maka apalagi suasana aman dan tenteram. Dan ini perintah langsung dari Allah SWT dalam al-Quran

Allah SWT berfirman,

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةُُ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلِيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan solat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (solat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang solat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum solat, lalu solatlah mereka denganmu.” (Surah An-Nisa’ ayat 102)

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,

ففي أمر الله بإقامة الجماعة في حال الخوف : دليل على أن ذلك في حال الأمن أوجب .

“Pada perintah Allah SWT untuk tetap menegakkan solat jemaah ketika takut (perang) adalah dalil bahawa solat berjemaah ketika keadaan aman lebih wajib lagi.”[Al- Ausath 4/135]

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan,

وفي هذا دليل على أن الجماعة فرض على الأعيان إذ لم يسقطها سبحانه عن الطائفة الثانية بفعل الأولى، ولو كانت الجماعة سنة لكان أولى الأعذار بسقوطها عذر الخوف، ولو كانت فرض كفاية لسقطت بفعل الطائفة الأولى …وأنه لم يرخص لهم في تركها حال الخوف

“Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahawa solat berjemaah hukumnya fardhu ain bukan hanya sunat atau fardhu kifayah, Seandainya hukumnya sunat tentu keadaan takut dari musuh adalah uzur yang utama. Juga bukan fardhu kifayah kerana Allah menggugurkan kewajiban berjemaah atas rombongan kedua dengan telah berjemaahnya rombongan pertama… dan Allah tidak memberi keringanan bagi mereka untuk meninggalkan solat berjemaah dalam keadaan ketakutan (perang).“[Kitab Solah hal. 138, Ibnu Qayyim]

3. Orang buta yang tidak ada penuntut ke masjid tetap di perintahkan solat berjemaah ke masjid jika mendengar azan, maka bagaimana yang matanya sihat?

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata,

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ
“Seorang buta pernah menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berujar, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk solat di rumah, maka baginda pun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, baginda kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan solat (azan)?” Laki-laki itu menjawab, “Ia.” Baginda bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jemaah solat).”

[HR. Muslim no. 653]

Dalam hadis yang lain iaitu, Ibnu Ummi Maktum (ia buta matanya). Dia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَسْمَعُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ ».

“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan azan hayya ‘alash solah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan azan tersebut”.”[HR. Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan bahawa hadits ini sahih]

4. Wajib solat berjemaah di masjid jika mendengar azan

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada solat baginya, kecuali bila ada uzur.” [HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Misykat al-Mashabih: 1077 dan Irwa’ al-Ghalil no. 551]

5. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan ancaman kepada laki-laki yang tidak solat berjemaah di masjid dengan membakar rumah mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Solat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah solat Isya dan solat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, nescaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga solat didirikan, kemudian ku suruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri solat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” [HR. Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651]

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,

وفي اهتمامه بأن يحرق على قوم تخلفوا عن الصلاة بيوتهم أبين البيان على وجوب فرض الجماعة

“Keinginan baginda (membakar rumah) orang yang tidak ikut solat berjemaah di masjid merupakan dalil yang sangat jelas akan wajib ainnya solat berjemaah di masjid”[Al-Ausath 4/134]

6. Tidak solat berjemaah di masjid di anggap “munafik” oleh para sahabat.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ
“Menurut pendapat kami (para sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir solat jemaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan si saff (barisan) solat yang ada.” [HR. Muslim no. 654]

7. Solat berjemaah mendapat pahala lebih banyak.

Dalam satu riwayat 27 kali lebih banyak daripada solat bersendirian.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Solat berjemaah itu lebih utama daripada solat sendirian dengan 27 derajat.” [HR. Bukhari]

8. Keutamaan solat berjemaah yang banyak.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

“Barang siapa solat Isya dengan berjemaah, pahalanya seperti solat setengah malam. Barang siapa solat Isya dan Subuh dengan berjemaah, pahalanya seperti solat semalam penuh.” [Fathul Bari 2/154—157]

9. Tidak solat berjemaah akan dikuasai oleh syaitan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan solat berjemaah di lingkungan mereka, melainkan syaitan telah menguasai mereka. Kerana itu tetaplah kalian (solat) berjemaah, kerana sesungguhnya serigala itu hanya akan menerkam kambing yang sendirian (jauh dari kawan-kawannya).” [HR. Abu Daud no. 547, An-Nasai no. 838, dan sanadnya dinyatakan hasan oleh An-Nawawi]

10. Amal yang pertama kali dihisab adalah solat, jika baik maka seluruh amal baik dan sebaliknya, apakah kita pilih solat yang sekadarnya saja atau meraih pahala tinggi dengan solat berjemaah?

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah solatnya. Rabb kita Jalla Wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui, “Periksalah solat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan solat sunat?” Jikalau terdapat solat sunatnya, Allah berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada solat wajib hamba-Ku itu dengan solat sunatnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” [HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413 dishahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2571]

Khusus bagi yang mengaku mazhab Syafi’i (majoriti di Malaysia , Indonesia, Singapura dan Brunei), maka Imam Syafi’i mewajibkan solat berjemaah dan tidak memberi keringanan (rukshah).

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

وأما الجماعة فلا ارخص في تركها إلا من عذر

“Adapun solat jemaah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada uzur.”[Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha hal. 107]

12 November 2015 Posted by | Ibadah | Leave a comment

DR ASMADI MOHD NAIM MENYANGGAH DR. MAZA

Sanggahan ini dibuat atas artikel DR MAZA yang bertajuk : Islam Antara Nas Dan Pendapat Tokoh.

Sila klik : http://drmaza.com/home/?p=710

Dijawab oleh Dr Asmadi Mohamed Naim

Biografi Dr Asmadi:

Berasal dari Kelantan tetapi dibesarkan di Kuantan, Pahang sehingga ke peringkat Menengah kerana mengikuti keluarga yang berkhidmat dengan kerajaan. Memulakan pengajian Islam secara rasmi pada tahun 1998 di sebuah madrasah di Sungai Ular, Kuantan. Menyambung pelajaran di Jordan untuk mempelajari Bahasa Arab pada tahun 1989-1990. Menamatkan pengajian Thanawi Empat di Pakistan dari 1990-1993 dan kemudian melangkah semula ke Jordan (1993-1997) untuk menamatkan pengajian B. Shariah sehinggalah saya menamatkan pengajian MIRKH (1998-99)dan PhD di UIAM pada dari 2000 hingga 2004. Saya mempunyai seorang isteri dan 6 orang cahaya mata. Untuk mengetahui lebih lanjut sila ke homepage saya di

http://staf.uum.edu.my/asmadi

Sanggahan terhadap artikel DR MAZA :

KOMEN TERHADAP ARTIKEL ‘ISLAM: ANTARA NAS DAN PENDAPAT TOKOH’

Oleh: Dr Asmadi Mohamed Naim

Saya membaca tulisan Dr Asri bertajuk: Islam: Antara Nas Dan Pendapat Tokoh. Pada saya Dr. Asri mengulas perbahasan kitab-kitab ulama tanpa mengetahui susur galur dan sebab musabab kenapa perbahasan sedemikian muncul. Ini dikeranakan latarbelakangnya pengajian ijazah pertama Bahasa Arab Jordan yang tiada subjek Syariah kecuali terlalu sedikit (seumpama pelajar sastera Melayu di Malaysia, tidak seperti Kuliah Bahasa Arab di al-Azhar), kemudiannya dia terus terjun dalam pengajian hadith di peringkat Masters (secara penyelidikian dan bukan berguru) dan hanya PhDnya sahaja ada 8 kursus yang perlu dilalui secara berguru. Hubungannya dengan ulama-ulama adalah terlalu sedikit berbanding pembacaan.

Untuk mengkritik kitab-kitab turath, dia memilih satu huraian kitab yang ditulis oleh ulama yang tidak terkenal di kalangan ulama mutaakhirin. Dia tahu dia tidak akan berjumpa perkara sedemikian dalam kitab mutaqaddimun mazhab. Dia tahu, dia sukar untuk mengkritik syarahan Imam al-Shafie, al-Mawardi, al-Nawawi dalam aliran mazhab Shafie. Demikian sukar juga dikutuk pandangan Abu Yusuf, Muhammad dan Zufar dalam mazhab Hanafi. Sukar juga di’pandir’kan pandangan pemuka mazhab Malik seperti Ibn Rusyd al-Jad dan Ibn Rusyd al-Hafid dan al-Dasuqi sebagaimana sukar mempertikai Ibn al-Qudamah, al-Maqdisi dalam mazhab Hanbali.

Sesiapa yang mempelajari ‘madkhal al-fiqh’ (Pengantar al-Fiqh) sepatutnya menyedari adanya budaya ‘araaitiyyun’ (kalau sekiranya… araaita) di kalangan ulama untuk membahaskan kemungkinan-kemungkinan berlakunya sesuatu peristiwa. Sekira sangkaan baik ada pada pelajar, ia akan merasakan bagaimana hebatnya seseorang imam itu berusaha mengembangkan perbahasan dalam sesuatu perkara. Itu ijtihad mereka dan sumbangan mereka. Kebiasaan guru-guru Shariah menerimanya sebagai satu usaha ulama-ulama silam memperhalusi setiap perbahasan dan bersangka baik dengan ulama-ulama ini.

Tugas pelajar-pelajar Shari’ah kemudiannya menyaring dan memahami perbahasan tersebut untuk disampaikan kepada masyarakat awam. Bahkan daripada contoh-contoh yang diberi, akan terbentuk kaedah mengeluarkan hukum di kalangan pelajar Shari’ah. Bukan semua orang layak menjadi mujtahid.

Sekali lagi ‘isu kecil’ berus gigi diperbesarkan utk menunjukkan dan membuktikan kebodohan ulama silam. Bukankah ada pandangan ulama silam yang tetap membenarkan bersugi selepas zohor?

Pada saya, ulasan negatif terhadap ulama-ulama tersebut menunjukkan ‘kepandiran’ orang yang memperkecilkan ulama-ulama silam tersebut. Kalau dia melalui pengajian rasmi Shari’ah di University of Jordan yang saya sama universiti dengannya (dan hampir sama tahun pengajian), dia akan berjumpa dengan ramai pensyarah-pensyarah yang menyindir pelajar-pelajar supaya menjaga adab dengan ulama. Bahkan ada yang menyebut: [box title=TitleBox]’Hum rijal wa nahnu zukur’ iaitu ‘mereka lelaki (yang sebenar) dan kita lelaki (biasa)'[/box] sebagai sindiran kepada mereka yang merasakan setaraf atau lebih hebat dari ulama-ulama silam tersebut walaupun baru setahun dua di Kuliah Shari’ah. Bahkan pengajian saya dengan tokoh-tokoh Salafi Jordan seperti Prof. Dr Umar al-‘Ashqar (yang digelar Salafi Tulen Jordan), Prof. Yasir al-Shimali dan lain-lain menunjukkan bagaimana mereka menghormati pandangan Imam-Imam mazhab tersebut dan anak-anak muridnya. Tidak pernah keluar dari mulut Prof. Umar perkataan ‘banyak contoh-contoh bodoh yang dibentangkan oleh ulama Fiqh!’

Demikian juga, malang bagi Dr. Asri apabila semua ‘busuk’ yang dia lihat pada ulama silam. Takut-takut ‘bahtera perubahan’ menjadi ‘bahtera fitnah’… Pada saya ini sudah menjadi ‘keterlanjuran dan fitnah melampau’ Dr Asri terhadap ulama! Yang di sebaliknya dia menyeru:
Quote
‘Jangan ikut ulama, tapi ikutlah aku kerana aku bukan Pak Pandir dan akulah paling benar’.

Manakala ulasannya dalam Hashiah al-Bajuri, dia tidak menyatakan mukasurat. Saya lebih cenderung dia tersilap menterjemahkan. Terjemahan asal ialah memasukkan ‘keseluruhan kemaluan’. Kalau benarpun terjemahannya, ia di bawah konsep bahasa Arab yang di sebut ‘lanjutan contoh’ bukan sebagai ‘contoh utama’. Jadi, dia seharusnya lebih memahami perbahasan ulama-ulama fiqh dan seharusnya cuba bersangka baik kepada ulama-ulama tersebut sebagaimana dia boleh bersangka baik kepada Albani walaupun banyak ‘tanaqudhat’ (pandangan yang saling berlawanan samada dalam kitab yang sama atau kitab berbeza).

Wallahu a’lam.

Allahu musta’an.

image
Dr Asri Zainal Abidin

12 November 2015 Posted by | Politik dan Dakwah | Leave a comment

JANGAN MENZALIMI SESAMA MANUSIA

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sudah kami katakan sebelumnya, bahwa kekuatan MUHAMMAD dalam memegang teguh keadilan itu, bukanlah semata-mata karena berbangga-banggaan dengan kerendahan hati atau hanya bersenang-senang dengan kelezatan berbuat adil. Tidak! MUHAMMAD memegang teguh keadilan, karena penghargaannya terhadap keadilan itu sendiri.

Karena kesadarannya akan hakekat dan kedudukannya di tengah masyarakat sebagai bagian dari masyarakat, sebagai seorang yang sama dengan mereka. Maka sudah menjadi kewajiban beliau dan juga menjadi kewajiban semua orang untuk berlaku adil. Setiap penyimpangan dari neraca itu akan merusak dan mendatangkan bencana terhadap seluruh kehidupan. Beliau memegang teguh pada keadilan lebih dari siapapun. Karena beliau memang diciptakan untuk keadilan dan untuk itu pulalah beliau diutus.

MUHAMMAD punya pandangan yang unik tentang keadilan. Beliau tidak hanya menjadikan keadilan sebagai keutamaan manusia belaka. Malah keadilan itu diletakkannya di tempat yang tertinggi. Bahkan keadilan telah menjadi watak dan Akhlak Allah SWT. Dan merupakan metode yang telah diwajibkan bagi diri-NYA sendiri.
Dalam sebuah HADITS QUDSI Allah SWT berfirman:
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya telah AKU haramkan atas diri-KU perbuatan zhalim dan Aku jadikan ia diharamkan di antara kamu; maka janganlah kalian saling berbuat zhalim.” [1]

Maka jika MUHAMMAD mengetengahkan Tuhan-nya Yang Maha Kuasa melaksanakan kehendak-Nya, bahkan telah mengharamkan kezaliman pada diri-Nya, tentulah Dia memandang kezaliman itu suatu dosa yang tiada taranya di antara dosa-dosa umat manusia.

Sehubungan dengan itu, beliau saw banyak mengeluarkan ancaman dan peringatan keras terhadap kezaliman.

Beliau Saw bersabda:
“Jauhilah kezaliman, sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.

“Waspadalah terhadap do’a orang yang dizalimi. Sesungguhnya antara dia dengan Allah tidak ada tabir penyekat.” (HR. Mashabih Assunnah)

“Do’anya seorang yang dizalimi terkabul meskipun dia orang jahat dan kejahatannya menimpa dirinya sendiri.” (HR. Ahmad)

“Do’a orang yang teraniaya diangkat Allah menembus awan dan dibukakan pintu langit baginya, seraya Allah berfirman padanya; “Demi Keagungan-KU, Aku akan membelamu sampai kapan pun.”
“Waspadalah terhadap do’a orang yang teraniaya, karena do’anya naik ke langit seperti bunga api.”

Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi):
“Dengan keperkasaan dan keagungan-KU, AKU akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam waktu yang akan datang. AKU akan membalas terhadap orang yang melihat seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak menolongnya.” (HR. Ahmad)

Oleh sebab itu, maka WASPADALAH..! Janganlah sekali-kali berbuat zalim.

Menurut junjungan kita MUHAMMAD saw;
“kezaliman akan memakan keutamaan (kebaikan) si zalim seperti halnya api memakan sekam.”

MUHAMMAD Saw senantiasa melarang ummat manusia agar tidak berbuat zhalim antar sesama mereka sebab perbuatan zhalim diharamkan dan akibatnya amat fatal baik di dunia mau pun di akhirat. Dan karena Hari Kiamat itu merupakan suatu hari pengadilan semesta untuk menetapkan pahala dan dosa umat manusia seluruhnya, maka Rasulullah saw senantiasa menampilkan potret si zalim dengan segala keburukannya.
Pada hakekatnya, setiap orang akan mengalami kiamatnya sendiri-sendiri. Dan hukum qishash itu senantiasa terlaksana. Hari qishash itu tergantung dari Anda, dan itulah yang akan menampilkan kiamat Anda. Janganlah ada yang mencoba-coba berkata: “Mana mungkin ada Hari Kiamat?” Padahal orang itu sangat dekat dengan hari kiamatnya sendiri.

MUHAMMAD Saw bersabda, memperingatkan si zalim akan hari pembalasan:
“Waspadalah sungguh-sungguh terhadap kezaliman itu. Karena orang yang datang dengan kebaikan-kebaikannya di Hari Kiamat, dan ia mengira bahwa kebaikan-kebaikannya itu akan menyelamatkannya. Tiba-tiba tidak putus-putus datang pengaduan dari orang lain, yang mengadukan: “Ya Allah! Hamba-Mu itu telah melakukan kezaliman padaku.” Maka firman Allah: “Hapuskan (kurangkan) bagian pahala dari kebaikannya itu”. Dan begitulah seterusnya sampai tidak tersisa kebaikannya itu walau sedikit pun. Dan apabila sdh tidak tersisa lagi amal kebaikannya, maka dosa-dosa orang yang pernah dizaliminya, akan dibebankan pada dirinya.”

Tindakan qishash bagi kezaliman itu pasti terjadi dan secara tiba-tiba datangnya. Tentang hal ini Beliau saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menangguhkan (mengulur-ulur) azabnya terhadap orang zalim dan bila Dia mengazab-nya tidak akan luput (tidak akan di lepaskan lagi).” (HR. Muslim)

Kemudian Rasulullah membacakan doa dalam surat Hud ayat 102: Allah Ta’ala berfirman,
“Dan begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS Huud:102)

MUHAMMAD saw mengingatkan kepada kita semua tentang betapa buruknya perbuatan zalim itu, namun Beliau saw juga selalu mengingatkan kita tentang betapa luasnya kekuasaan dan ampunan Allah terhadap para hamba-Nya. Karena itu, bila sedang lupa hingga tergelincir kedalam perbuatan maksiat (menzalimi diri sendiri), maka hendaklah seorang Mukmin bersegera dalam melaksanakan taubat kepada Allah serta meminta maaf kepada saudara kita yang terzalimi, dan tidak menunda-nunda taubat, sebab kita tidak pernah mengetahui kapan ajal menjemput sehingga kita mati sebelum sempat bertaubat hingga menyebabkan kita memperoleh murka-Nya.

Beliau selalu memberikan harapan kepada kita agar senantiasa bersangka’an baik terhadap Allah, dan hendaknya tidak berputus asa dari mengharap rahmat-Nya serta meyakini sepenuhnya bahwa Dia pasti mengampuni sebesar apa pun dosa-dosa hamba-Nya. selama ia tidak berbuat syirik terhadap-Nya.

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri.” (QS Yuunus:44)

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt berfirman:
“ Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya ia hanyalah perbuatan-perbuatan kalian yang aku perhitungkan bagi kalian, kemudian AKU cukupkan buat kalian; barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya sendiri.” (HR.Muslim)

[Makna kata “Perbuatan zhalim”: Kezhaliman artinya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, yaitu melampaui batas; dan Makna “Aku cukupkan buat kalian”: adalah AKU membalas kalian berdasarkan perbuatan kalian baik kecil mau pun besar, yaitu di akhirat kelak.]

Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan Aku sekali-kali tidak menzhalimi hamba-hamba-Ku.” (QS Qaaf:29).
Sikap zalim dan bakhil (kikir) adalah akar dari kegelapan hati dan yang dapat menyebabkan pelakunya mendapatkan siksa yang pedih.

Maka dengan kasih sayangnya, MUHAMMAD berupaya untuk menghilangkan kezaliman dari hati manusia dengan peringatan yang tegas, agar kita tidak terjerumus dan mengalami kesengsaraan di hari kiamat kelak.

Rasulullah SAW bersabda,
“Takutlah kamu akan berbuat zalim! Karena perbuatan zalim itu menyebabkan kegelapan di hari Kiamat.” (HR.al-Bukhary dan Muslim)
“Jauhilah kekikiran, sesungguhnya kekikiran telah membinasakan (umat-umat) sebelum kamu, mereka saling membunuh dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan.” (HR. Bukhari)

Dalam sabdanya yang lain:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengulur-ulur bagi pelaku kezhaliman hingga bila Dia menyiksanya, Dia tidak akan membuatnya lolos (dapat menghindar lagi).” (HR.al-Bukhary)

“Barangsiapa menzalimi orang lain terhadap sejengkal lahan maka kelak dia akan dililit dengan tujuh petala bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

MUHAMMAD SAW sangat menentang segala bentuk kezaliman, dan karenanya, beliau senantiasa memperingatkan umatnya tentang balasan Allah terhadap orang-orang yang berbuat zalim dengan sabdanya dalam hadits-hadits berikut ini:

“Barangsiapa berjalan bersama seorang yang zalim untuk membantunya dan dia mengetahui bahwa orang itu zalim maka dia telah ke luar dari agama Islam”. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

“Kebaikan yang paling cepat mendapat ganjaran ialah kebajikan dan menyambung hubungan kekeluargaan, dan kejahatan yang paling cepat mendapat hukuman ialah kezaliman dan pemutusan hubungan kekeluargaan.” (HR. Ibnu Majah)

“Bila orang-orang melihat seorang yang zalim tapi mereka tidak mencegahnya dikhawatirkan Allah akan menimpakan hukuman terhadap mereka semua.” (HR. Abu Dawud)

Betapa indahnya hadis diatas.., yang merupakan sebagian kecil dari ribuan untaian kata-kata penuh hikmah, yang keluar dari lisan seorang insan suci nan mulia. seorang hamba dan utusan Allah, yang nota bene adalah seorang yang ummi (seorang yang tidak bisa membaca dan menulis), akan tetapi untaian mutiara hikmah yang telah disabdakannya. yang seluruhnya terhimpun dalam kitab-kitab hadits shahih yang menjadi rujukan ke-dua bagi ummat Islam (setelah al-Qur’an), sungguh telah melampaui kata-kata mutiara dari semua ahli hikmah yang pernah ada di muka bumi ini.

Subhanallah..

CATATAN KAKI
[1] Naskah hadits (Qudsi) selengkapnya:
“Wahai para hamba-KU, sesungguhnya telah AKU haramkan atas diri-KU perbuatan zhalim dan AKU jadikan ia diharamkan di antara kamu; maka janganlah kalian saling berbuat zhalim.
“Wahai para hamba-Ku, setiap kalian adalah sesat kecuali orang yang telah AKU beri petunjuk; maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya AKU beri kalian petunjuk.”
”Wahai para hamba-Ku, setiap kalian itu adalah lapar kecuali orang yang telah AKU beri makan; maka mintalah makan kepada-KU, niscaya AKU beri kalian makan.”
”Wahai para hamba-Ku, setiap kalian adalah telanjang kecuali orang yang telah AKU beri pakaian; maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya AKU beri kalian pakaian.”
”Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat kesalahan di malam dan siang hari sedangkan AKU mengampuni semua dosa; maka minta ampunlah kepada-Ku, niscaya AKU ampuni kalian.”
”Wahai para hamba-Ku sesungguhnya kalian tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada-KU sehingga kalian bisa membahayakan-KU dan tidak akan mampu menyampaikan manfa’at kepada-KU sehingga kalian bisa memberi manfa’at pada-KU.”
“Wahai para hamba-Ku, andaikata hati generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian sama seperti hati orang paling taqwa di antara kamu (mereka semua adalah ahli kebajikan dan takwa), maka ketaatanmu itu tidaklah menambah sesuatu pun dari Kekuasaan-KU.”
”Wahai para hamba-Ku, andaikata hati generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian sama seperti hati orang paling fajir (bejad) di antara kalian (mereka semua ahli maksiat dan bejad), maka semua itu, tidaklah mengurangi sesuatu pun dari kekuasaan-Ku.”
”Wahai para hamba-Ku, andaikata generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian berada di bumi yang satu (satu lokasi), lalu meminta kepada-Ku, lantas AKU kabulkan permintaan masing-masing mereka, maka hal itu tidaklah mengurangi apa yang ada di sisi-KU kecuali sebagaimana jarum bila dimasukkan ke dalam lautan.”
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya ia hanyalah perbuatan-perbuatan kalian yang aku perhitungkan bagi kalian kemudian AKU cukupkan buat kalian; barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji ALLAH dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya sendiri.”
(HR.Muslim)

Pesan-Pesan Hadits
Hadits ini merupakan hadits Qudsi, yaitu Hadits yang diriwayatkan Rasulullah SAW dari Rabb-nya.

Perbedaan antara Hadits Qudsi dan Al-Qur’an di antaranya adalah:
Bahwa al-Qur`an al-Kariim adalah mukjizat mulai dari lafazhnya hingga maknanya sedangkan Hadits Qudsi tidak memiliki kemukjizatan apa pun – Bahwa shalat tidak sah kecuali dengan al-Qur`an al-Kariim sedangkan Hadits Qudsi tidak sah untuk shalat – Bahwa al-Qur`an al-Kariim tidak boleh diriwayatkan dengan makna sementara Hadits Qudsi boleh.

Hadits tersebut menjelaskan bahwa Allah Ta’ala Maha Suci dari semua sifat kekurangan dan cela, di antaranya berbuat zhalim, di mana Dia berfirman, “Sesungguhnya telah Aku haramkan atas diri-Ku perbuatan zhalim.”

Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.
Amin.

**
Dipetik dari buku berjudul NABI MUHAMMAD JUGA MANUSIA (dengan penambahan seperlunya) karya: Khalid Muhammad Khalid.

6 November 2015 Posted by | Ibadah, Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

“HUKUM MENGUCAPKAN DAN MENJAWAB SALAM

PENGERTIAN SALAM

Ulama berbeda pendapat akan makna salam dalam kaliamat ‘Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu’. Berkata sebagian ulama bahwasanya salam adalah salah satu nama dari nama-nama Allah sehingga kalimat ‘Assalaamu ‘alaik’ berarti Allah bersamamu atau dengan kata lain engkau dalam penjagaan Allah. Sebagian lagi berpendapat bahwa makna salam adalah keselamatan sehingga maknanya ‘Keselamatan selalu menyertaimu’. Yang benar, keduanya adalah benar sehingga maknanya semoga Allah bersamamu sehingga keselamatan selalu menyertaimu.

KEWAJIBAN MENJAWAB SALAM

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Apabila salah seorang kalian sampai di suatu majlis hendaklah memberikan salam. Dan apabila hendak keluar, hendaklah memberikan salam. Dan tidaklah (salam) yang pertama lebih berhak daripada (salam) yang kedua.” (HR. Abu Daud dan al-Tirmidzi serta yang lainnya Hasan shahih).” Maknanya, kedua-duanya adalah benar dan sunnah.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata, aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Hak muslim atas muslim lainnya ada enam: apabila engkau bertemu dengannya maka ucapkan salam, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, . . . .” (HR. Muslim)

1.jika ada yang mengucapkan salam kepada kita ketika kita sedang bersendirian, maka kita wajib menjawabnya karena menjawab salam ketika itu hukumnya adalah fardu ‘ain.

2.jika salam diucapkan pada suatu rombongan atau kelompok, maka hukum menjawabnya adalah fardu kifayah.

3.Jika salah seorang dari kelompok tersebut telah menjawab salam yang diucapkan kepada mereka, maka sudah cukup,tidak perlu ramai ramai menjawab…..

4. jika hukum memulai salam adalah sunnah (dianjurkan) namun untuk kelompok hukumnya sunnah kifayah,

5.jika sudah ada yang mengucapkan maka sudah cukup.Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sudah mencukupi untuk suatu rombongan jika melewati seseorang, salah satu darinya mengucapkan salam.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

BAGAIMANA SALAM DGN LAWAN JENIS

Nah untuk yang ini.kebanyakan..org tak paham bagimana sebenarnya etika salam dgn lawan jenis.ketika ia menyampaikan salam..dan ketika ada yg tak jawab..malah sewot..

1. Tidak benar bila salam kepada kepada lawan jenis hukumnya haram secara mutlak bahkan hal itu disyari’atkan apabila aman dari fitnah berdasarkan hadits-hadits berikut yang akan kami bagi menjadi dua:

A. Salam wanita kepada laki-laki.

Dalil pertama:

Dari Ummu Hani’ berkata: “Saya pernah datang kepada Nabi pada tahun fathu (Mekkah) sedang beliau ketika itu sedang mandi. Dan putrinya, Fathimah menutupinya dengan pakaian lalu saya ucapkan salam padanya. Rasulullah bertanya: “Siapa ya?” Jawabku: “Saya Ummu Hani’ binti Abi Thalib”. Nabi bersabda: “Selamat datang wahai Ummu Hani”. (HR. Bukhari no. 6158 dan Muslim no. 336).

Dalam hadits ini Ummu Hani’ mengucapkan salam kepada Nabi padahal dia tidak termasuk mahramnya.

Dalil kedua:

Dari Hasan Al-Bashri berkata: “Dahulu para wanita (sahabat) mengucapkan salam kepada kaum laki-laki”. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 1046 dengan sanad hasan).

B. Salam laki-laki kepada wanita.

Dalil pertama:

Dari Abu Hazim dari Sahl berkata: “Kami sangat gembira bila tiba hari Jum’at”. Saya bertanya kepada Sahl: “Mengapa demikian?” Jawabnya: “Ada seorang nenek tua yang pergi ke budha’ah -sebuah kebun di Madinah- untuk mengambil ubi dan memasaknya di sebuah periuk dan juga membuat adonan dari biji gandum. Apabila kami selesai shalat Jum’at, kami pergi dan mengucapkan salam padanya lalu dia akan menyuguhkan (makanan tersebut) untuk kami. Itulah sebabnya kami sangat gembira. Tidaklah kami tidur siang dan makan siang kecuali setelah jum’at”.
(HR. Bukhari no. 6248 dan Muslim no. 859).

Dalil kedua:

Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: “Wahai Aisyah, Tadi Jibril mengirimkan salam kepadamu”. Aku (Aisyah) menjawab: “Dan baginya salam dan kerahmatan Allah, engkau (Rasulullah) dapat melihat apa yang tak dapat kami lihat”. (HR. Bukhari no. 6249 dan Muslim no. 2447).

Dalil ketiga:

Dari Asma’ binti Yazid Al-Anshariyyah berkata: “Rasulullah pernah melewati kami -para wanita- dan beliau mengucapkan salam kepada kami”.
(Shahih. Diriwayatkan Abu Daud (5204), Ibnu Majah (3701), Darimi (2/277) dan Ahmad (6/452).

Dalil keempat:

Dari Kuraib, maula Ibnu Abbas bercerita bahwa Abdullah bin Abbas, Abdur Rahman bin Azhar dan Miswar bin Makhramah pernah mengutusnya kepada Aisyah, istri Nabi. Mereka mengatakan: Sampaikan salam kami semua kepadanya dan tanyakan padanya tentang shalat dua rakaat setelah Ashar…(HR. Muslim no. 834).

Dalil-dalil di atas secara jelas menunjukkan bolehnya salam kepada lawan jenis. Imam Bukhari membuat bab dalam Shahihnya “Bab salam kaum laki-laki kepada wanita dan salamnya kaum wanita kepada laki-laki”.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari juz 11 hal.33-34:

“Imam Bukhari mengisyaratkan dengan bab ini untuk membantah riwayat Abdur Razaq dari Ma’mar dari Yahya bin Abi Katsir, beliau berkata: “Telah sampai khabar kepadaku bahwasanya dibenci kaum laki-laki salam kepada wanita dan wanita salam kepada pria”. Tetapi atsar ini sanadnya maqthu’ atau mu’dhal (jenis hadits lemah). Maksud bolehnya di sini apabila aman dari fitnah.

Al-Hulaimi berkata: “Barangsiapa yang yakin terhadap dirinya selamat dari fitnah, hendaknya dia mengucapkan salam dan bila tidak maka diam lebih utama”.

Al-Muhallab juga berkata: Salamnya kaum laki-laki kepada wanita atau sebaliknya hukumnya boleh apabila aman dari fitnah”. (Lihat pula Syu’abul Iman (6/461) oleh Imam Baihaqi).

Kesimpulannya: boleh salam kepada wanita berdasarkan keumuman dalil yang menganjurkan penyebaran salam dengan selalu menjaga kaidah:

“Membendung kerusakan lebih utama daripada mendapatkan kemaslahatan”.

1. Mengucapkannya Dengan Sempurna
sangat dianjurkan bagi kita untuk mengucapkan salam dengan sempurna, yaitu dengan mengucapkan, “Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.”Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Imran bin Hushain radiallau ‘anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan , ‘Assalaamu’alaikum’. Maka dijawab oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia duduk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sepuluh’. Kemudian datang lagi orang yang kedua, memberi salam, ‘Assalaamu’alaikum wa Rahmatullaah.’ Setelah dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia pun duduk, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Dua puluh’. Kemudian datang orang ketiga dan mengucapkan salam: ‘Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh’. Maka dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia pun duduk dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tiga puluh’.”
(Hadits Riwayat Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 986, Abu Dawud no. 5195, dan At-Tirmidzi no. 2689 dan beliau meng-hasankannya).

2. Memulai Salam Terlebih Dahulu
memulai mengucapkan salam kepada orang lain adalah sangat dianjurkan. Hendaknya yang lebih muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua, yang lewat memberi salam kepada yang sedang duduk, dan yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak, serta yang berkendaraan mengucapkan salam kepada yang berjalan. Hal tersebut sejalan dengan hadist dari Abu Hurairah. Pengucapan salam yang berkendaraan kepada yang berjalan adalah sebagai bentuk syukur dan salah satu keutamaannya adalah agar menghilangkan kesombongan.Dalam hadits tersebut, bukan berarti bahwa apabila orang-orang yang diutamakan untuk memulai salam tidak melakukannya, kemudian gugurlah ucapan salam atas orang yang lebih kecil, atau yang tidak berkendaraan, dan semisalnya. Akan tetapi Islam tetap menganjurkan kaum muslimin mengucapkan salam kepada yang lainnya walaupun orang yang lebih dewasa kepada yang lebih muda atau pejalan kaki kepada orang yang berkendaraan, sebagaiman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Yang lebih baik dari keduanya adalah yang memulai salam.” (HR. Bukhori: 6065, Muslim: 2559)

Salah satu upaya menyebarkan salam diantar kaum muslimin adalah mengucapkan salam kepada setiap muslim, walaupun kita tidak mengenalnya.Hal ini didasari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dari ‘Abdullah bin Amr bin Ash radiallahu ‘anhuma, ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Islam bagaimana yang bagus?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Engkau memberi makan ( kepada orang yang membutuhkan), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhori: 2636, Muslim: 39)

3. Mengulangi Salam Tatkala Berjumpa Lagi Walaupun Berselang Sesaat

Bagi seseorang yang telah mengucapkan salam kepada saudaranya, kemudian berpisah, lalu bertemu lagi walaupun perpisahan itu hanya sesaat, maka dianjurkan mengulang salamnya. Bahkan seandainya terpisah oleh suatu pohon lalu berjumpa lagi, maka dianjurkan mengucapkan salam, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Apabila di antara kalian berjumpa dengan saudaranya, maka hendaklah mengucapkan salam kepadanya. Apabila terhalang oleh pohon, dinding, atau batu (besar), kemudian dia berjumpa lagi, maka hendaklah dia mengucapkan salam (lagi).” (HR. Abu Dawud: 4200.)

4. Tidak Mengganggu Orang yang Tidur Dengan Salamnya

Dari Miqdad bin Aswad radiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Kami mengangkat jatah minuman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (karena beliau belum datang), kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam datang di malam hari, maka beliau mengucapkan salam dengan ucapan yang tidak sampai mengganggu/ membangunkan orang tidur dan dapat didengar orang yang tidak tidur, kemudian beliau masuk masjid dan sholat lalu datang (kepada kami) lalu beliau minum (minuman kami).” (HR. Timidzi: 2719 )

5. Tidak Memulai Ucapan Salam Kepada Orang Yahudi dan Nasrani

Dari Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian mengucapkan salam lebih dahulu kepada Yahudi dan Nashrani, dan bila kalian bertemu mereka pada suatu jalan maka desaklah mereka ke sisi jalan yang sempit.”Hadits ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mulia dan unggul dari yang lainnya. Jika mereka mengucapkan salam kepada kita, maka balaslah salamnya dengan ucapan ‘Wa ‘alaikum’.

6. Berusaha Membalas Salam Dengan yang Lebih Baik atau Semisalnya

Maksudnya, tidak layak kita membalas salam orang lain dengan salam yang lebih sedikit. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya:“Apabila kalian diberi salam/penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” (QS. An-Nisa’: 86)

Kebiasaan Para Sahabat Berjabat Tangan

Adalah kebiasaan para sahabat jika mereka berjumpa maka saling berjabat tangan antar satu dengan yang lain. Maka apabila kita bertemu dengan seorang teman, cukupkanlah dengan berjabat tangan disertai dengan ucapan salam (Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh) tanpa berpelukan kecuali ketika menyambut kedatangannya dari bepergian, karena memeluknya pada saat tersebut sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik radiallahu ‘anhu, ia berkata:“Apabila sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saling berjumpa, maka mereka saling berjabat tangan dan apabila mereka datang dari bepergian, mereka saling berpelukan.”
(HR. At-Tabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath no. 97 dan Imam Al-Haitsami berkata dalam kitab Majma’uz Zawaa’id VIII/ 36, “Para perawinya adalah para perawi tsiqah.”)

hendaklah adab-adab di atas kita jaga. Kita berusaha untuk menanamkannya pada diri kita, memupuknya, memeliharanya serta mengajak orang lain kepadanya. Semoga Allah, Dzat yang membalas kebaikan sebesar dzarrah dengan kebaikan dan membalas keburukan sebesar dzarrah dengan keburukan memberikan kita keistiqamahan untuk senantiasa berjalan di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wa Allahu A’lam.

Sumber: http://www.facebook.com/von.edison.alouisci

6 November 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

KITAB-KITAB ASWJ YANG DIUBAH WAHHABI

Oleh: Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari

Ini berdasarkan kajian di pesantren NU. Tulisan di dalam bahasa indonesia. Semoga bermanfaat.

1.) Bila dalam kitab al-Ibanah karya Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari terdapat tulisan yang secara eksplisit maupun implisit mendukung tajsim dan tasybih maka dipastikan kitab tersebut palsu!

2.) Bila dalam kitab Sahih Bukhari, Pasal al-Ma’rifah dan Bab al-Madhalim tidak ada / hilang, maka dapat dipastikan kitab tersebut palsu karena Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan adanya pasal tersebut!

3.) Bila Pasal Ziarah Kubur Nabi saw. di dalam kitab Riyadus Shalihin berubah menjadi Pasal Ziarah Masjid Nabi saw. maka kitab tersebut palsu!

4.) Di dalam kitab Diwan asy-Syafi’i halaman 47 ada bait yang berbunyi, “Faqihan wa Shuufiyyan Fakun Laisa Waahidan” yang artinya “Jadilah Ahli Fiqih dan Sufi sekaligus, jangan hanya salah satunya,” bila bait ini hilang maka kitab tersebut palsu!

5.) Bila hadits tentang Fadhail/keutamaan Maryam, Asiyah, Khadijah dan Fatimah hilang/tidak ada dalam kitab Sahih Muslim maka kitab ini palsu karena kitab Mustadrak al-Hakim mencatat itu!

6.) Bila hadits tentang Nabi saw. yang mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, serta mempersaudarakan dirinya dengan Sayidina Ali tidak ada di dalam kitab Musnad Imam Ahmad, maka Musnad tersebut palsu!

7.) Bila Pasal khusus tentang wali abdal, shalihin dan karomah, tidak ada di dalam kitab Hasyiyah Ibnu ‘Abidin yang bermadzhab Hanafi, maka kitab tersebut palsu!

8.) Bila tulisan bahwa Wahabi adalah jelmaan Khawarij yang telah merusak penafsiran Al-Qur’an dan As-Sunnah, suka membunuh kaum muslimin…(dan seterusnya ) dalam kitab Hasyiyah ash-Shawi ala Tafsir Jalalain karya Syech Ahmad bin Muhammad ash-Shawi al-Maliki halaman 78 tidak ada maka kitab tersebut palsu!

9.) Di dalam kitab al-Fawaid al-Muntakhabat karya Ibnu Jami Aziz Zubairi halaman 207 menyatakan bahwa Syech Muhammad bin Abdul Wahab adalah thaghut besar (pembangkang besar), bila tulisan ini tidak ada maka kitab tersebut palsu!

10.) Bila Bab Istighatsah pada kitab al-Mughni karya Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali tidak ada, maka kitab tersebut palsu!

Dan masih banyak lagi kitab-kitab kuning ala pesantren khususnya di kalangan NU dan Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipalsukan atau dihilangkan keterangan-keterangan yang sebenarnya atau asli oleh kelompok Wahabi.

Kelompok Wahabi yang merupakan bagian dari kaum Khawarij, sejak zaman dahulu sudah membelot dan membangkang dari dakwah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin. Mereka tidak segan-segan memvonis kelompok lainnya sebagai ahli bid’ah, musyrik dan kafir. Bahkan mereka tidak segan bila harus membunuh ulama dan penganut Ahlussunnah wal Jama’ah. Seperti peristiwa yang menimpa Almarhum As-Syeikh Nawawi al-Bantani dan keluarganya yang dibunuh oleh kelompok Wahabi di Arab Saudi.

4 November 2015 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | Leave a comment

Kelebihan Solat di Masjid

BILA SOLAT DI MASJID,
In Sya Allah kita akan perolehi:

image

1. Pahala sahut seruan azan
2. Pahala melangkah ke masjid
3. Pahala masuk masjid.
4. Pahala melangkah kaki kanan kedalam masjid
5. Pahala doa masuk masjid
6. Pahala solat tahiyyatul masjid
7. Pahala i’tikaf
8. Pahala solat berjamaah
9. Pahala takbiratul ihram bersama imam
10. Pahala amin bersama imam
11. Pahala rapatkan sof,
12. Pahala luruskan sof
13. Pahala dengar tilawah quran
14. Pahala hubung silaturrahim
15. Pahala duduk dalam majlis zikir
16. Pahala duduk dalam majlis ilmu
17. Pahala jadi makmum
19. Pahala membersihkan masjid
20. Pahala menuntut ilmu
21. Pahala nasihat menasihati
22. Pahala sedekah ditabung masjid
23. Pahala mempelajari bacaan Quran yang betul melalui bacaan imam.
24. Pahala mengingatkan imam jika beliau lupa
25. Pahala menghidupkan sunnah rasulullah saw
26. Pahala menghidupkan syiar agama Islam
27. Pahala doa keluar masjid dan dengan langkah kiri..

Daripada darjat2 ini, berapa yg tidak boleh dicapai jika solat berjamaah dirumah?

Oleh itu marilah kita berjemaah di masjid/surau sedapat yg mungkin.

Wallahu’alam..

2 November 2015 Posted by | Tazkirah | 1 Comment

Siapa yang di katakan Salafus Soleh

Catitan ilmu supaya kita lebih faham erti terminologi yg dipakai:-

1) Imam Hanafi lahir: 80 hijrah
2) Imam Maliki lahir: 93 hijrah
3) Imam Syafie lahir: 150 hijrah
4) Imam Hanbali lahir: 164 hijrah
5) Imam Asy’ari lahir: 240 hijrah

Mereka ini semua ulama Salafus Soleh @ dikenali dgn nama ulama SALAF…

Apa itu SALAF?
Salaf ialah nama “zaman” iaitu merujuk kpd golongan ulama yg hidup antara kurun zaman kerasulan Nabi Muhammad hingga 300 HIJRAH.

1) Golongan generasi pertama dr 300 tahun hijrah tu disebut “Sahabat Nabi” kerana mereka pernah bertemu Nabi.

2) Golongan generasi kedua pula disebut “Tabi’in” iaitu golongan yg pernah bertemu Sahabat Nabi tp tak pernah bertemu Nabi.

3) Golongan generasi ketiga disebut sbg “Tabi’ tabi’in” iaitu golongan yg tak pernah bertemu Nabi & Sahabat tp bertemu dgn Tabi’in.

Jd Imam Abu Hanifah (pengasas mazhab Hanafi) merupakan murid Sahabat Nabi maka beliau seorg TABI’IN.

Imam Malik,
Imam Syafie,
Imam Hanbali,
Imam Asy’ari pula berguru dgn Tabi’in maka mereka adalah golongan TABI’ TABI’IN.

Jd kesemua imam2 yg mulia ini merupakan golongan SALAF YG SEBENAR & pengikut mazhab mereka lah yg paling layak digelar sbg “Salafi” kerana “salafi” bermaksud “pengikut golongan SALAF”.

Jd beruntung lah kita di Malaysia (nusantara) yg masih berpegang kpd mazhab Syafie yg merupakan mazhab SALAF yg SEBENAR & tidak lari dr kefahaman NABI & SAHABAT…

Rujukan Wahhabi pulak:

1) Ibnu Taimiyyah lahir:
661 Hijrah (lahir 361 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF)

2) Albani lahir:
1333 Hijrah (mati tahun 1420 hijrah @ 1999 Masihi,
lahir 1033 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF)

3) Muhammad Abd Wahhab (pengasas gerakan Wahhabi):
1115 Hijrah (lahir 815 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF)

4) Bin/Ibnu Baz lahir:
1330 Hijrah (mati tahun 1420 hijrah @ 1999 Masihi,
sama dgn Albani,
lahir 1030 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF)

5) Ustaimin lahir:
1928 Masihi (mati tahun 2001,
lebih kurang 12 tahun lepas dia mati,
lahir entah berapa ribu tahun selepas zaman SALAF.

Mereka ini semua hidup di AKHIR ZAMAN kecuali Ibnu Taimiyyah yg hidup di pertengahan zaman antara zaman salaf & zaman dajjal (akhir zaman)…

tak de sorg pun imam rujukan mereka yg mereka taksub buta hidup di zaman SALAF….

Mereka ini semua TERAMAT LAH JAUH DARI ZAMAN SALAF tp SANGAT2 ANEH apabila puak2 Wahhabi menggelarkan diri sebagai “Salafi” (pengikut golongan Salaf).
Sedangkan rujukan mereka
semuanya merupakan manusia2 yg hidup di AKHIR ZAMAN?

Oleh: Ustaz Mohd Al-Amin Bin Daud Al-Azhari

30 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Antara tanda kita sayang kepada Nabi Muhammad ﷺ:

1. Mencintai Allah SWT dan hari Akhirat (harap dan takut)
2. Berzikir dan mengingati Allah SWT sebanyak-banyak siang dan malam serta menunaikan solat lima waktu
3. Berselawat kepada Rasulullah ﷺ sekurang-kurangnya 10 kali pagi dan 10 kali petang
4. Mengikut ajaran Rasulullah ﷺ dengan sepenuh hati, membaca hadith dan sirah Baginda ﷺ
5. Beramal dengan sunnah Rasulullah ﷺ meliputi akidah, syariah dan muamalah yang dibawanya.
6. Berdakwah kepada ummah, mengajak kepada perkara kebaikan dan mencegah kemungkaran
7. Menjadikan Rasulullah ﷺ manusia yang dicintai melebihi kecintaan kepada harta dan kehidupan dunia.
8. Menziarahi makam Rasulullah ﷺ di Madinah.

Perbanyakkan selawat ke atas junjungan besar Nabi Muhammad ﷺ.

26 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali

Kumpulan Nasehat Imam Al-Ghazali – Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali mengajukan 6 pertanyaan.

Pertanyaan Pertama,”Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman,dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “MATI”. Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)

Pertanyaan kedua, “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”.. Murid-muridnya ada yang menjawab bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Pertanyaan yang ke tiga, “Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, lautan dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “NAFSU” (Al A’Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan ke empat, “Apa yang paling berat di dunia ini?”. Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban itu benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini.Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT,sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang ke lima, “Apa yang paling ringan di dunia ini?”.
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.

Lantas pertanyaan ke enam, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang… Benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling tajam adalah “LIDAH MANUSIA”. Karena melalui lidah, Manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Itulah enam pertanyaan dari murid Imam Al-Ghazali, yang admin kutip dari situs http://lingkaranqalbu.blogspot.com/2013/08/kumpulan-nasihat-imam-al-ghazali.html.

Nah jika diatas adalah 6 nasehat dari Imam Al-Ghazali, berikut ini dalah kata bijak dari beliau yang sangat memotivasikan kita semua untuk beribadah kepada Allah, berikut ini :

Terimalah alasan yang benar, sekalipun dari pihak lawan

Jangan segan segan kembali kepada yang benar, manakala terlanjur salah dalam memberikan keterangan.

Berikan contoh dan teladan yang baik kepada murid dengan melaksanakan perintah agama dan meninggalkan larangan agama, agar demikian apa yang engkau katakana mudah diterima dan diamalkan oleh murid.

Dengarkan dan perhatikan segala yang dikatakan oleh ibu bapakmu, selama masih dalam batas batas agama.

Selalulah berusaha mencari keredhaan orang tuamu.

Bersikaplah sopan santun, ramah tamah dan merendah diri terhadap orang tuamu.

Bila mencari teman untuk mencapai kebahagian akhirat, perhatikanlah benar benar urusan agamanya. Dan bila mencari teman untuk keperluan duniawi, maka perhatikanlah ia tentang kebaikan budi pekertinya.

Sabar dan tabahlah dalaml menghadpi segala persoalan.

Besikaplah lemah lembut dan sopan santun dengan menundukan kepala.

Janganlah sombong terhadap sesama mahluk, kecuali terhadap mereka yang zalim.

Bersikap tawadduklah dalam segala bidang pergaulan.

Janganlah suka bergurau dan bercanda
Bersikap lemah lembut terhadap murid dan hendaklah dapat menyesuaikan diri atau mengukur kemampuan murid.
Hendaklah sabar dan teliti dalam mendidik muridnya yang kurang cerdas.

Jangan berkeberatan menjawab, “aku kurang mengerti,” jika memang belum mampu menjawab sesuatu masalah.

Pusatkanlah perhatian kepada murid yang sedang bertanya, dan memahami benar isi pertanyaanya.

Cepat cepatlah memenuhi panggilan agama.

Jauhilah larangan larangan agama.
Janganlah menentang terhadap takdir Allah SWT.

Berpikirlah selalu tentang nikmat nikmat dan keagunga-Nya.Menangkanlah yang hak dan gugurkanlah yang batil.
Rendahkanlah hatimu kepada Allah SWT.

Sesalilah segala perbuatan yang tercela dan merasa malulah dihadapan Allah SWT.

Hindarilah segala tipu daya yang tidak terpuji dalam mencari nafkah, dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT selalu melimpahkan segala usaha kebaikan apapun sertailah dengan tawakkal kepadanya.

Hendaklah seseorang menerima masalah masalah yang dikemukakan oleh muridnya.

Belum pernah saya berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada jiwa saya sendiri, yang kadang-kadang membantu saya dan kadang-kadang menentang
saya. (Imam Al Ghazali)

Barangsiapa yang memilih harta dan anak – anaknya daripada apa yang ada di sisi Allah, niscaya ia rugi dan tertipu dengan kerugian yang amat besar. (Imam Al Ghazali)

Barangsiapa yang menghabiskan waktu berjam – jam lamanya untuk mengumpulkan harta kerana ditakutkan miskin, maka dialah sebenarnya orang yang miskin. (Imam Al Ghazali)

Barangsiapa yang meyombongkan diri kepada salah seorang daripada hamba – hamba Allah, sesungguhnya ia telah bertengkar dengan Allah pada haknya.
(Imam Al Ghazali)

Berani adalah sifat mulia kerana berada di antara pengecut dan membuta tuli. (Imam Al Ghazali)

Pemurah itu juga suatu kemuliaan kerana berada di antara bakhil dan boros. (Imam Al Ghazali)

Bersungguh – sungguhlah engkau dalam menuntut ilmu, jauhilah kemalasan dan kebosanan kerana jika tidak demikian engkau akan berada dalam bahaya kesesatan. (Imam Al Ghazali)

Cinta merupakan sumber kebahagiaan dan cinta terhadap Allah harus dipelihara dan dipupuk, suburkan dengan shalat serta ibadah yang lainnya.(Imam Al Ghazali)

Ciri yang membedakan manusia dan hewan adalah ilmu. Manusia adalah manusia mulia yang mana ia menjadi mulia kerana ilmu, tanpa ilmu mustahil ada kekuatan. (Imam Al Ghazali)

Hadapi kawan atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan kegembiraan, kerelaan penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan menampakkan sikap angkuh dan sombong. (Imam Al Ghazali)

Ilmu itu kehidupan hati daripada kebutaan, sinar penglihatan daripada kezaliman dan tenaga badan daripada kelemahan. (Imam Al Ghazali)

Yang paling besar di bumi ini bukan gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni neraka. (Imam Al Ghazali)

Kita tidak akan sanggup mengekang amarah dan hawa nafsu secara keseluruhan hingga tidak meninggalkan bekas apapun dalam diri kita. Namun jika mencoba untuk mengendalikan keduanya dengan cara latihan dan kesungguhan yang kuat, tentu kita akan bisa. (Imam Al Ghazali)
Sifat utama pemimpin ialah beradab dan mulia hati.
(Imam Al Ghazali)

Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan kehendak yang berlebih-lebihan. (Imam Al Ghazali)

Kalau besar yang dituntut dan mulia yang dicari,maka payah melaluinya, panjang jalannya dan banyak rintangannya. (Imam Al Ghazali)

Jadikan kematian itu hanya pada badan kerana tempat tinggalmu ialah liang kubur dan penghuni kubur sentiasa menanti kedatanganmu setiap masa. (Imam Al Ghazali)

Pelajari ilmu syariat untuk menunaikan segala perintah Allah SWT dan juga ilmu akhirat yang dapat menjamin keselamatanmu di akhirat nanti.(Imam Al Ghazali)

Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad. (Imam Al Ghazali)

Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati dan bahkan merambah ke segala hal.
(Imam Al Ghazali)

Ilmu adalah cahaya. Demikian kata imam syafi’I dalam syairnya. Karena ilmu begitu penting, Rasulullah saw memerintahkan, “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahad.” Namun, ilmu saja tidak cukup. Ilmu harus dimanfaatkan, dengan mengajarkan dan –yang terpenting- mengamalkannya. Imam Al-Ghazali, penulis kitab Ihya Ulumuddin, pernah mengirim surat kepada salah seorang muridnya. Melalui surat itu, Al-Ghazali ingin menyampaikan tentang pentingnya memadukan antara ilmu dan amal. Berikut petikannya.

Anakku…
Nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya. Karena, ia keluar dari mulut yang tidak biasa merasakan pahitnya nasihat. Sesunggunya siapa yang menerima ilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka pertanggungjawabann ya akan lebih besar. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Orang yang paling berat azabnya pada hari kiamat kelak adalah orang berilmu (‘alim; ulama) yang tidak memanfaatkan ilmunya.”

Anakku…
Janganlah engkau termasuk orang yang bangkrut dalam beramal, dan kosong dari ketaatan yang sungguh-sungguh. Yakinlah, ilmu semata tak akan bermanfaat-tanpa mengamalkannya. Sebagaimana halnya orang yang memiliki sepuluh pedang Hindi; saat ia berada di padang pasir tiba-tiba seekor macan besar nan menakutkan menyerangnya, apakah pedang-pedang tersebut dapat membelanya dari serangan macan jika ia tidak menggunakannya? ! Begitulah perumpamaan ilmu dan amal. Ilmu tak ada guna tanpa amal.

Anakku…
Sekalipun engkau belajar selama 100 tahun dan mengumpulkan 1000 kitab, kamu tidak akan mendapatkan rahmat Allah tanpa beramal.
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39)

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 110)

Anakku…
Selama tidak beramal, engkau pun tidak akan mendapatkan pahala. Ali Karramallahu wajhahu berkata, “Siapa yang mengira dirinya akan sampai pada tujuan tanpa sungguh-sungguh, ia hanyalah berangan-angan. Angan-angan adalah barang dagangan milik orang-orang bodoh.

Al-Hasan Al-Basri rahimahullah berkata, “Meminta surga tanpa berbuat amal termasuk perbuatan dosa.”
Dalam sebuah khabar, Allah SWT berfirman, “Sungguh tak punya malu orang yang meminta surga tanpa berbuat amal.”

Rasulullah saw bersabda, “Orang cerdas ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya dan berbuat untuk setelah kematian. Dan orang bodoh ialah siapa yang memperturut hawa nafsunya dan selalu berangan-angan akan mendapatkan ampunan Allah.”

Begadang mata untuk kepentingan selain Wajah-Mu adalah sia-sia Dan tangis mereka utk sesuatu yg hilang selain-Mu adalah kebatilan, dan hiduplah sesukamu karna toh kamu akan mati juga.

Cintailah orang sesukamu sebab kamu toh akan berpisah dgnnya, dan berbuatlah sesukamu karna sesungguhnya kamu akan menuai ganjarannya.

Anakku, apa pun yang kamu peroleh dari mengkaji ilmu kalam, debat, kedokteran, administrasi, syair, astrologi, arud, nahwu & sharf, jgn sampai kau sia-siakan umur untuk selain Sang Pemilik Keagungan.

Aku pernah menilik dalam kitab Injil sebuah ungkapan Isa a.s: Sejak mayat diletakkan di atas peti jenazah hingga diletakkan di bibir kubur, Allah melontarkan 40 pertanyaan dengan segala Keagungan-Nya. Demi Allah, pertanyaan pertama yang dia ajukan adalah: Hamba-Ku, telah Kusucikan pandangan makhluk bertahun-tahun, tetapi mengapa tak kau sucikan pandangan-Ku sesaat pun, padahal setiap hari Aku melihat ke kedalaman hatimu.

Mengapa kau berbuat demi selain-Ku, padahal engkau bergelimang dgn kebaikan-Ku, ataukah engkau telah tuli & tak mendengar!

Nak, ilmu tanpa amal adalah kegilaan, & amal tanpa ilmu adalah kesia2an. _Imam Al-Ghazali dlm Ayyuhal-Walad

inShare
RELATED POSTS :

Dahsyatnya Istighfar 100x Sehari, Cobain Deh
Khasiat dan Fadilah istigfar – Saya punya kenalan seorang ustad yang sukses menjadi penolong banya… Read More…
Kumpulan Nasehat Imam Al-Ghazali
Kumpulan Nasehat Imam Al-Ghazali – Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. La… Read More…

26 October 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Madah dan Sajak, Mutiara Kata, Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

Lelaki Dayus Menurut Islam — MyIbrah.com

Bukan mudah menjadi suami kerana tanggungjawab yang digalas oleh suami adalah sangat besar terutama dalam bab tanggungjawab mereka terhadap isteri mereka dan anak-anak perempuan mereka. Bagi memudahkan kefahaman, tulisan ringkas ini akan fokus kepada isu lelaki dayus yang dimaksudkan oleh Nabi s.a.w tidak akan masuk syurga.

Nabi s.a.w bersabda:

ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة: العاق لوالديه، والمترجلة، والديوث. رواه أحمد والنسائي

Ertinya: Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat (bermakna tiada bantuan dari dikenakan azab) mereka di hari kiamat: Si penderhaka kepada ibu bapa, si perempuan yang menyerupai lelaki dan si lelaki dayus. (H.R. Ahmad dan An-Nasaie; Albani mengesahkannya Sahih : Ghayatul Maram, no. 278)

Dalam sebuah hadith lain pula:

ثلاثةٌ قد حَرّمَ اللهُ – تَبَارَكَ وَتَعَالَى – عليهم الجنةَ : مُدْمِنُ الخمر ، والعاقّ ، والدّيّوثُ الذي يُقِرُّ في أَهْلِهِ الخُبْثَ . رواه أحمد والنسائي .

Ertinya: Tiga yang telah Allah haramkan baginya syurga: Orang yang ketagih arak, si penderhaka kepada ibu bapa dan si dayus yang membiarkan maksiat dilakukan oleh ahli keluarganya. (H.R. Ahmad)

Malah banyak lagi hadith-hadith yang membawa makna yang hampir dengan dua hadith ini. Secara ringkasnya, apakah dan siapakah lelaki dayus?

Erti Dayus

Dayus telah disebutkan dalam beberapa riwayat athar dan hadith yang lain iaitu:

1. Sabda Nabi s.a.w:

وعن عمار بن ياسر عن رسول الله قال ثلاثة لا يدخلون الجنة أبدا الديوث والرجلة من النساء والمدمن الخمر قالوا يا رسول الله أما المدمن الخمر فقد عرفناه فما الديوث قال الذي لا يبالي من دخل على أهله

Ertinya: Dari Ammar bin Yasir berkata, ia mendengar dari Rasulullah s.a.w bersabda: Tiga yang tidak memasuki syurga sampai bila-bila iaitu si dayus, si wanita yang menyerupai lelaki dan orang yang ketagih arak. Lalu sahabat berkata: Wahai Rasulullah, kami telah faham erti orang yang ketagih arak, tetapi apakah itu dayus? Bersabda Nabi s.a.w: Iaitu orang yang tidak memperdulikan siapa yang masuk bertemu dengan ahlinya (isteri dan anak-anaknya). (H.R. At-Thabrani; Majma az-Zawaid, 4/327 dan rawinya adalah thiqat)

Dari hadith di atas, kita dapat memahami bahawa maksud lelaki dayus adalah si suami atau bapa yang langsung tiada perasaan risau dan ambil endah dengan siapa isteri dan anaknya bersama, bertemu, malah sebahagiannya membiarkan sahaja isterinya dan anak perempuannya dipegang dan dipeluk oleh sebarangan lelaki lain.

2. Pernah juga diriwayatkan dalam hadith lain, soalan yang sama dari sahabat tentang siapakah dayus, lalu jawab Nabi:-

قالوا يا رسول الله وما الديوث قال من يقر السوء في أهله

Ertinya: Apakah dayus itu wahai Rasulullah? Jawab Nabi: Iaitu seseorang (lelaki) yang membiarkan kejahatan (zina, buka aurat, bergaul bebas) dilakukan oleh ahlinya (isteri dan keluarganya)

Penerangan Ulama Tentang Lelaki Dayus

Jika kita melihat tafsiran oleh para ulama berkenaan istilah dayus, ia adalah seperti berikut:

هو الذي لا يغار على أهله

Ertinya: Seseorang yang tidak ada perasaan cemburu (kerana iman) terhadap ahlinya (isteri dan anak-anaknya) (An-Nihayah,2/147 ; Lisan al-Arab, 2/150)

Imam Al-‘Aini pula berkata: Cemburu lawannya dayus. (Umdatul Qari, 18/228)

Berkata pula An-Nuhas:

قال النحاس هو أن يحمي الرجل زوجته وغيرها من قرابته ويمنع أن يدخل عليهن أو يراهن غير ذي محرم

Ertinya: Cemburu (iaitu lawan kepada dayus) adalah seorang lelaki itu melindungi isterinya dan kaum kerabatnya dari ditemui dan dilihat (auratnya) oleh lelaki bukan mahram. (Tuhfatul Ahwazi, 9/357)

Disebut dalam kitab Faidhul Qadir:

فكأن الديوث ذلل حتى رأى المنكر بأهله فلا يغيره

Ertinya: Seolah-olah takrif dayus itu membawa erti kehinaan (kepada si lelaki) sehingga apabila ia melihat kemungkaran (dilakukan) oleh isteri dan ahli keluarganya ia tidak mengubahnya. (Faidhul Qadir, 3/327)

Imam Az-Zahabi pula berkata:

فمن كان يظن بأهله الفاحشة ويتغافل لمحبته فيها فهو دون من يعرس عليها ولا خير فيمن لا غيرة فيه

Ertinya: Dayus adalah sesiapa yang menyangka (atau mendapat tanda) bahawa isterinya melakukan perkara keji (seperti zina) maka ia mengabaikannya kerana cintanya kepada isterinya, maka tiada kebaikan untuknya dan tanda tiada kecemburuan (yang diperlukan oleh Islam) dalam dirinya. (Al-Kabair, 1/62)

Imam Ibn Qayyim pula berkata:

قال ابن القيم وذكر الديوث في هذا وما قبله يدل على أن أصل الدين الغيرة من لا غيرة له لا دين له فالغيرة تحمي القلب فتحمى له الجوارح فترفع السوء والفواحش وعدمها يميت القلب فتموت الجوارح فلا يبقى عندها دفع البتة

Ertinya: Sesungguhnya asal dalam agama adalah perlunya rasa ambil berat (protective) atau kecemburuan (terhadap ahli keluarga), dan barangsiapa yang tiada perasaan ini maka itulah tanda tiada agama dalam dirinya, kerana perasaan cemburu ini menjaga hati dan menjaga anggota sehingga terjauh dari kejahatan dan perkara keji, tanpanya hati akan mati maka matilah juga sensitiviti anggota (terhadap perkara haram), sehingga menyebabkan tiadanya kekuatan untuk menolak kejahatan dan menghindarkannya sama sekali.

Dayus Adalah Dosa Besar

Ulama’ Islam juga bersetuju untuk mengkategorikan dayus ini dalam bab dosa besar, sehingga disebutkan dalam satu athar:

لَعَنَ اللَّهُ الدَّيُّوثَ ( وَاللَّعْنُ مِنْ عَلَامَاتِ الْكَبِيرَةِ فَلِهَذَا وَجَبَ الْفِرَاقُ وَحَرُمَتْ الْعِشْرَةُ)

Ertinya: Allah telah melaknat lelaki dayus (laknat bermakna ia adalah dosa besar dan kerana itu wajiblah dipisahkan suami itu dari isterinya dan diharamkan bergaul dengannya) (Matalib uli nuha, 5/320)

Walaupun ia bukanlah satu fatwa yang terpakai secara meluas, tetapi ia cukup untuk menunjukkan betapa tegasnya sebahagian ulama dalam hal kedayusan lelaki ini. Petikan ini pula menunjukkan lebih dahsyatnya takrifan para ulama tentang erti dayus dan istilah yang hampir dengannya :

والقواد عند العامة السمسار في الزنى

Ertinya: Al-Qawwad (salah satu istilah yang disama ertikan dengan dayus) di sisi umum ulama adalah broker kepada zina. (Manar as-sabil, 2/340 , rawdhatul tolibin, 8/186)

Imam Az-Zahabi menerangkan lagi berkenaan perihal dayus dengan katanya:

الديوث وهو الذي يعلم بالفاحشة في أهله ويسكت ولا يغار وورد أيضا أن من وضع يده على امرأة لا تحل له بشهوة

Ertinya: Dayus, iaitu lelaki yang mengetahui perkara keji dilakukan oleh ahlinya dan ia sekadar senyap dan tiada rasa cemburu (atau ingin bertindak), dan termasuk juga ertinya adalah sesiapa yang meletakkan tangannya kepada seorang wanita yang tidak halal baginya dengan syahwat. (Al-kabair, 1/45)

Cemburu Dituntut Islam & Jangan Marah

Ada isteri yang menyalahkan suami kerana terlalu cemburu, benar cemburu buta memang menyusahkan, memang dalam hal suami yang bertanya isteri itu dan ini menyiasat, saya nasihatkan agar isteri janganlah memarahi suami anda yang melakukan tindakan demikian dan jangan juga merasakan kecil hati sambil membuat kesimpulan bahawa suami tidak percaya kepada diri anda. Kerap berlaku, suami akan segera disalah erti sebagai ‘tidak mempunyai kepercayaan’ kepada isteri.

Sebenarnya, kita perlu memahami bahawa ia adalah satu tuntutan dalam Islam dan menunjukkan anda sedang memiliki suami yang bertanggungjawab dan sedang subur imannya.

Selain itu, bergembiralah sang suami yang memperolehi isteri solehah kerana suami tidak lagi sukar untuk mengelakkan dirinya dari terjerumus dalam lembah kedayusan. Ini kerana tanpa sebarang campur tangan dan nasihat dari sang suami, isteri sudah pandai menjaga aurat, maruah dan dirinya.

Nabi s.a.w bersabda:

من سعادة ابن آدم المرأة الصالحة

Ertinya: Dari tanda kebahagian anak Adam adalah memperolehi wanita solehah (isteri dan anak). (H.R. Ahmad, no. 1445, 1/168)

Memang amat beruntung, malangnya tidak mudah memperolehi isteri solehah di zaman kehancuran ini, sebagaimana sukarnya mencari suami yang tidak dayus. Sejak dulu, agak banyak juga email dari pelbagai golongan muda menyebut tentang keterlanjuran mereka secara ‘ringan’ dan ‘berat’, mereka ingin mengetahui cara bertaubat.

‘Ringan-ringan’ Sebelum Kahwin

Jika seorang bapa mengetahui ‘ringan-ringan’ anak dan membiarkannya, ia dayus. Ingin ditegaskan, seorang wanita dan lelaki yang telah ‘ringan-ringan’ atau ‘terlanjur’ sebelum kahwin di ketika bercinta, tanpa taubat yang sangat serius, rumahtangga mereka pasti goyah. Kemungkinan besar apabila telah berumahtangga, si suami atau isteri ini akan terjebak juga dengan ‘ringan-ringan’ dengan orang lain pula.

Hanya dengan taubat nasuha dapat menghalangkan aktiviti mungkar itu dari melepasi alam rumahtangga mereka. Seterusnya, ia akan merebak pula kepada anak-anak mereka, ini kerana benih ‘ringan-ringan’ dan ‘terlanjur’ ini akan terus merebak kepada zuriat mereka. Awas!!

Dalam hal ini, semua suami dan ayah perlu bertindak bagi mengelakkan diri mereka jatuh dalam dayus. Jagalah zuriat anda. Suami juga patut sekali sekala menyemak handphone isteri, beg isteri dan lain-lain untuk memastikan tiada yang diragui. Mungkin ada isteri yang curang ini dapat menyembunyikan dosanya, tetapi sepandai-pandai tupai melompat akhirnya akan tertangkap jua.

Pasti akan ada wanita yang kata, “Habis, kami ini tak payah check suami kami ke ustaz?” Jawabnya, perlu juga, cuma topic sekarang ni sedang menceritakan tanggungjawab suami. Maka perlulah fokus kepada tugas suami dulu.

Cemburu seorang suami dan ayah adalah wajib bagi mereka demi menjaga maruah dan kehormatan isteri dan anak-anaknya.

Diriwayatkan bagaimana satu peristiwa di zaman Nabi:

قَالَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ : لَوْ رَأَيْتُ رَجُلاً مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسّيْفِ غَيْرُ مُصْفِحٍ عَنْهُ ، فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه على آله وسلم فَقَالَ : أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ ؟ فَوَ الله لأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ ، وَالله أَغْيَرُ مِنّي ، مِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ الله حَرّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن.

Ertinya: Berkata Ubadah bin Somit r.a: Jika aku nampak ada lelaki yang sibuk bersama isteriku, nescaya akan ku pukulnya dengan pedangku, maka disampaikan kepada Nabi akan kata-kata Sa’ad tadi, lalu Nabi s.a.w bersabda : Adakah kamu kagum dengan sifat cemburu (untuk agama) yang dipunyai oleh Sa’ad? Demi Allah, aku lebih kuat cemburu (ambil endah dan benci demi agama) berbandingnya, malah Allah lebih cemburu dariku, kerana kecemburuan Allah itulah maka diharamkan setiap perkara keji yang ternyata dan tersembunyi. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Lihat betapa Allah dan RasulNya inginkan para suami dan ayah mempunyai sifat protective kepada ahli keluarga dari melakukan sebarang perkara keji dan mungkar, khasnya zina.

Bila Lelaki menjadi Dayus?

Secara mudahnya cuba kita lihat betapa ramainya lelaki akan menjadi DAYUS apabila:

1. Membiarkan kecantikan aurat, bentuk tubuh isterinya dinikmati oleh lelaki lain sepanjang waktu pejabat (jika bekerja) atau di luar rumah.

2. Membiarkan isterinya balik lewat dari kerja yang tidak diketahui bersama dengan lelaki apa dan siapa, serta apa yang dibuatnya di pejabat dan siapa yang menghantar.

3. Membiarkan aurat isterinya dan anak perempuannya dewasanya terlihat (terselak kain) semasa menaiki motor atau apa jua kenderaan sepanjang yang menyebabkan aurat terlihat.

4. Membiarkan anak perempuannya ber’dating’ dengan tunangnya atau teman lelaki bukan mahramnya.

5. Membiarkan anak perempuan berdua-duaan dengan pasangannya di rumah kononnya ibu bapa ‘sporting’ yang memahami.

6. Menyuruh, mengarahkan dan berbangga dengan anak perempuan dan isteri memakai pakaian yang seksi di luar rumah.

7. Membiarkan anak perempuannya memasuki akademi fantasia, mentor, gang starz dan lain-lain yang sepertinya sehingga mempamerkan kecantikan kepada jutaan manusia bukan mahram.

8. Membiarkan isterinya atau anaknya menjadi pelakon dan berpelukan dengan lelaki lain, kononnya atas dasar seni dan lakonan semata-mata. Adakah semasa berlakon nafsu seorang lelaki di hilangkan? Tidak sama sekali.

9. Membiarkan isteri kerja dan keluar rumah tanpa menutup aurat dengan sempurna.

10. Membiarkan isteri disentuh anggota tubuhnya oleh lelaki lain tanpa sebab yang diiktiraf oleh Islam seperti menyelematkannya dari lemas dan yang sepertinya.

11. Membiarkan isterinya bersalin dengan dibidani oleh doktor lelaki tanpa terdesak dan keperluan yang tiada pilihan.

12. Membawa isteri dan anak perempuan untuk dirawati oleh doktor lelaki sedangkan wujudnya klinik dan hospital yang mempunyai doktor wanita.

13. Membiarkan isteri pergi kerja menumpang dengan teman lelaki sepejabat tanpa sebarang cemburu.

14. Membiarkan isteri kerap berdua-duan dengan pemandu kereta lelaki tanpa sebarang pemerhatian.

Terlalu banyak lagi jika ingin coretkan di sini. Kedayusan ini hanya akan sabit kepada lelaki jika semua maksiat yang dilakukan oleh isteri atau anaknya secara terbuka dan diketahui olehnya, adapun jika berlaku secara sulit, suami tidaklah bertanggungjawab dan tidak sabit ‘dayus’ kepada dirinya.

Mungkin kita akan berkata dalam hati: “Jika demikian, ramainya lelaki dayus di kelilingku.”

Lebih penting adalah kita melihat, adakah kita sendiri tergolong dalam salah satu yang disebut tadi. Awas wahai lelaki beriman, jangan kita termasuk dalam golongan yang berdosa besar ini. Wahai para isteri dan anak-anak perempuan, jika anda sayangkan suami dan bapa anda, janganlah anda memasukkan mereka dalam kategori dayus yang tiada ruang untuk ke syurga Allah s.w.t. Sayangilah dirimu dan keluargamu. Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Akhirnya, wahai para suami dan ayah, pertahankan agama isteri dan keluargamu walau terpaksa bermatian kerananya. Nabi s.a.w bersabda:

من قتل دون أهله فهو شهيد

Ertinya: Barangsiapa yang mati dibunuh kerana mempertahankan ahli keluarganya, maka ia adalah mati syahid. (H.R. Ahmad; sahih menurut Syeikh Syuaib Arnout)

Sumber: http://www.zaharuddin.net/

Anda mungkin juga meminati:
Mendidik Isteri Cara Rasulullah S.A.W
Jelaskan Mana Halal dan Haram Kepada Anak
6 Sikap Isteri
Linkwithin

24 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

~ TERAPI IMAN ~

Allah panjangkan umur kita sehingga sekarang…
Allah kekalkan iman kita sehingga sekarang…
Allah berikan petunjuk, hidayah dan taufiq-Nya hingga sekarang..
Allah lanjutkan pemberian rezeki-Nya hingga sekarang…
Allah anugerahkan kesihatan kepada kita sehingga sekarang…
Dan banyak lagi nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan-Nya kepada kita selama ini.

Kemudian Allah tanya kita berkali-kali dalam surah al-Rahman..
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan. (Surah al-Rahman: 13)

*Semoga kita tak termasuk dalam golongan hamba Allah yang kufur nikmat.

Bahagian Dakwah, JAKIM

24 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

HATI-HATI PENIPUAN WAHHABI KONONNYA IMAM SHAFIE WAHHABI

Oleh Ustaz Dr Zamihan Al-Ghari

HATI-HATI PENIPUAN WAHHABI

image

Tersebar artikel kononnya Imam Asy Syafie mengikut sebagaimana ajaran Wahhabi tulisan Hairi Nonchi

1. Apabila kita lihat isi artikel ternyata bukan semuanya adalah dari ijtihad Imam asy Syafie. Ini namanya PENIPU ATAS NAMA IMAM ASY SYAFIE. Ingat tanda-tanda munafiq ?

2. Antara ciri-ciri wahhabi yang utama adalah 3 T iaitu Tasyrik (mengkafirkan), Tabdi’ (membid’ah sesatkan) dan Takfir (mengkafirkan) ulamak dan umat Islam tanpa hak serta membawa aqidah mengimaginasikan Allah.

3. DOA QUNUT SUBUH – Imam Taqiyuddin as-Subki asy-Syafie dan Syeikh Abu Hasan al-Karajji asy-Syafie tidak pernah menyatakan doa qunut subuh adalah bid’ah sesat. Saidina Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Talib, Ibnu Abbas, Barra’ bin Azib Imam As Syafie, Ibnu Abi Laila, Hasan bin Soleh, Abu Ishaq Al Ghazali, Abu Bakar bin Muhammad, Hakam bin Utaibah, Hammad, Ahli HIjjaz, Al Auza’ie kebanyakan Ahli Syam malah menurut Imam An Nawawi dalam Majmu’. Ia adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ulama salaf dan generasi selepas daripada mereka bahawa doa qunut disunatkan pada solat Subuh setiap hari. Rujuk Al-Majmu’ syarah Muhazzab jilid 3 hlm.50. Imam Asy Syafie sendiri menyatakan :

“Tak ada qunut dlm sembahyang lima waktu kecuali sembahyang subuh. Kecuali jika terjadi bencana maka boleh qunut pada semua sembahyang jika imam menyukai”

Al-Um jilid 1 hlm.205.

4. SOLAT SUNAT QOBLIYAH SEBELUM SOLAT JUMAAH – Melemahkan pandangan bukan bermakna membid’ahkan, mengkafirkan atau mensyirikkan Solat Sunat Qabliyah 2 Rakaat Sebelum Solat Jumaat seperti Wahhabi,

5. AZAN DUA KALI SEBELUM SOLAT JUMAAT – Imam Asy Syafie tidak pernah membid’ahkan dua kali azan sebelum Solat Jumaat. Beliau menerangkan.Dan yang mana di antara yang kedua itu yang terjadi pada masa RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam lebih saya sukai

(Umm Juz I, halaman 195).

Lihat bagaimana Imam Syafie mengggunakan af’al tafdhil. Lebih mengutamakan, melebihkan. Tiada pun sebut larangan. TETAPI al albani membid’ahkan lihat kitabnya al-Ajwibah al-Nafi’ah.

6. KENDURI ARWAH – Makruh dalam mazhab asy Syafie bukan bermakna berdosa. Ertinya tuntutan supaya meninggalkan dengan tidak pasti, apabila dibuat tidak berdosa dan apabila ditinggalkan pula mendapat pahala. Di dalam kenduri arwah terdapat sunnah yang dihidupkan seperti memberi makan jiran tetangga, membaca al Quran, berselawat, bertahlil dan sebagainya. Dan ini bukanlah bentuk ratapan. Imam Asy Syafie serta ulamak yang disebutkan tidak menyatakan ia sebagai bid’ah sesat. Maka hujjah wahhabi tertolak sama sekali.

7. Imam Asy Syafie adalah mujtahid mutlaq. Tiada satupun ulamak wahhabi yang bertaraf mujtahid mutlak. Bahkan pengikut wahhabi bertaqlid buta dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, Al Albani, Sheikh Bin Baz, Sholeh Uthaimin, Soleh Fauzan dan sebagainya. Bukankah dalam artikel tersebut ramai nama ulamak muktabar seperti Imam An Nawawi, Imam Ibnu Hajar al Asqolani, Imam Izzuddin Abdis Salam adalah pengikut Imam Asy Syafie ? Ulamak hebat pun bertaqlid inikan pula orang awam yang jahil. Tetapi wahhabi selalu perasan diri mereka seperti mujtahid mutlaq.

8. ZAKAT FITRAH GUNA WANG – Imam Asy Syafie tidak membid’ahkan bayar zakat fitrah guna wang. Dalam mazhab Asy Syafie ia diharuskan kerana darurat atau perintah raja. Lihat kitab al-Itharah, bahwa keterangan mazhab Syafie tersebut ada dinyatakan dalam kitab Majmu’ Syarah al-Muhazzab 5/431, kitab al-Majmu’ (5:429)

9. LAFAZ SAYYIDINA – Imam Asy Syafie tidak membid’ahkan. Imam Ar Ramli iaitu antara Mufti Muqallid dalam Mazhab Asy Syafie mengatakan lafaz sayyidina dalam solat diutamakan. Rujuk – Ar Ramli, Tuhfat al Muhtaj, vol 2, hlm 86. Ibnu Qasim al ‘Ubbadi menyatakan ia diutamakan – Hasyiyah Tuhfah 1 hlm 368. Syeikh Syihabuddin al Qaliyubi – pengarang dan pensyarah kitab Minhaj Imam An Nawawi menyatakan ia memuliakan dan menghormati nabi (Qaliyubi 1, hlm 167). Imam Abu Bakar Syatta menyatakan ia diutamakan – I’anatut Tholibin 1, hlm 169.Turut dibolehkan oleh Imam Izzuddin Abdissalam dan Asy Syarqowy.

10. Imam Asy Syafie tidak membid’ahkan bacaan Surah Yaasin malam Jumaat.

11. BERDOA DAN BERZIKIR BERJEMAAH LEPAS SOLAT- Imam Asy Syafie tidak menyatakan berdoa dan berzikir beramai-ramai lepas solat berjemaah adalah bid’ah sesat sebagaimana wahhabi. Bahkan Imam Asy Syafie menyatakan berdoa dan zikir secara senyap atau keras adalah hasan/baik. Beliau memilih untuk zikir secara senyap. Lihat Kitab al-‘Umm: Jilid 1, Hal. 241, 242. Imam An Nawawi dan Imam Ibnu Hajar al Asqolani menyatakan doa dan zikir keras beramai-ramai lepas solat jemaah adalah mazhab jumhur ulama sama ada ulama hadith, fuqaha` atau ulama usul fiqh. Rujuk kitab Syarh Sahih Muslim: Jilid 4-6, hal. 237 dan Fath al-Bari (Bab al-Zikr Ba’d al-Solah, Jilid 2, hal. 260

12. LAFAZ NIAT SEBELUM SOLAT – Imam asy Syafie dan ulamak yang disebutkan tidak membid’ahkan. Ulamak dalam mazhab Asy Syafie seperti al-‘Allamah al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami mensunnahkan lafaz niat sebelum solat didalam Kitab Tuhfatul Muhtaj (II/12), Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz didalam Fathul Mu’in Hal. 1, Imam An Nawawi dalam Minhaj At tholibin, Imam Ramli dalam Nihayatul Muhtaj, kerana Imam Asy Syafie membenarkan penggunaan qiyas dalam mengeluarkan hukum rujuk kitab beliau Ar-Risalah. Wahhabi pula jahil dalam mazhab Asy Syafie memandai-mandai berbicara tentang mazhab Asy Syafie.

13. SAMPAI PAHALA BACAAN PADA SIMATI – Wahhabi membid’ah sesat bacaan al Quran kepada simati dan menuduh umat Islam ke kubur sebagai penyembah kubur ! . Dalam mazhab Asy Syafie ia adalah khilaf. Imam An Nawawi di dalam kitabnya Al-Adzkar – doa untuk orang yang sudah mati dan pahala kepada mereka adalah sampai. Imam An Nawawi adalah mujtahid fatwa dalam Mazhab Asy Syafie menganjurkan supaya berdoa supaya pahala bacaan al Quran sampai kepada simati. Imam al Qurtubi menyatakan harus – Tazkirah al Qurtubi. Pendapat muktamad dalam mazhab Asy Syafie menyatakan sampai – lihat kitab Al-Bujairimi Minhaj

14. MENGAPUR DAN MEMBANGUNKAN KUBUR – Ulamak Mazhab Asy Syafie yang lebih mengetahui pandangan Imam Asy Syafie mensyarahkan pandangan beliau. Ia dilihat pada pemilikan tanah kubur oleh mayat berkenaan samada milik sendiri, disabilkan. Ibnu Hajar al Haitami menyatakan sesetengah ulamak asy syafie mengharuskan binaan kubur orang soleh di tanah yang bukan disabilkan ( Tuhfahnya, bab jenazah (jilid 3, m/s 226) Beliau menyatakan tiada makruh jika takut dibongkari (oleh pencuri kain kapan atau dibongkari untuk ditanam jenazah lain sebelum hancur jasadnya), digali binatang buas atau diruntuhi air banjir yang deras.” (kitab Tuhfah bagi Ibnu Hajar Haitami ketika mensyarahkan matan Minhaj Imam Nawawi (bab jenazah). Sila rujuk perincian permasalah ini di – http://khairuummah77.wordpress.com/2009/05/30/penjelasan-kekeliruan/

15. AQIDAH IMAM ASY SYAFIE – Imam Asy Syafie rahimahuLlah (204) berkata :

Allah wujud tidak bertempat, Dia menciptakan tempat dan Dia tetap dengan sifat-sifat keabadianNya seperti mana sebelum Dia menciptakan makhluk. Tidak layak bagi Allah berubah sifatNya atau zatNya (Ittihaf Saadah Al Muttaqin : 2/24), (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

Imam Asy Syafie rahimahuLlah berkata : Aku beriman (dengan nusus mutasyabihat) tanpa tasybih. Aku percaya tanpa tamsil. Aku menegah diriku dari cuba memahaminya. Aku menahan diriku dari mendalaminya dengan seboleh-bolehnya. (Daf’u Syubhah man Syabbaha oleh Imam Taqiyuddin ad Dimasyqi al Hisni (829 H) m/s 147)

Imam Asy Syafie misalnya pernah mentakwil ‘wajah Allah’ yang terdapat dalam ayat, “Ke mana pun kamu menghadap, maka di situlah wajah Allah. (Surah al Baqarah ayat 115). Beliau berkata, maksudnya, wallahua’lam, maka di situlah arah, iaitu kiblat, yang telah Allah arahkan agar kamu menghadap kepadaNya. (Al Asma’ wa As Sifat, jilid ke 2, hal-35)

16. Imam Asy Syafie pun tidak membahagikan dan belajar tauhid 3 (Uluhiyyah, Rububiyyah, Asma’ wa As Sifat) yang dicanangkan Wahhabi. Sifat 20 disusun oleh ulamak dalam asya’iroh memudahkan umat Islam mempelajarinya untuk tahu, memahami, mengamalkan dan menghayati dalam kehidupan. Ia tidak bertentangan dengan aqidah Imam Asy Syafie serta salafussoleh. Bahkan Sifat Mukholafatuhu Ta’ala Lil Hawadith, Qiyamuhu Ta’ala bi nafsihi amat bertepatan dengan aqidah Imam Asy Syafie yang menolak mujassimah dan musyabbihah.

17. MENYAPU MUKA LEPAS SOLAT – Mujtahid Fatwa dalam Mazhab Asy Syafie iaitu Imam An Nawawi menyatakan di dalam Kitab al-Azkar:

وروينا في كتاب ابن السني ، عن أنس رضي الله عنه ، قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قضى صلاته مسح جبهته بيده اليمنى ، ثم قال : أشهد أن لا إله إلا الله الرحمن الرحيم ، اللهم أذهب عني الهم والحزن
Dan aku meriwayatkan di dalam kitab Ibn al-Sinni dari Anas RA. berkata: Adanya Rasulullah SAW ketika selesai solatnya, beliau mengusap dahinya dengan tangannya yang kanan lalu berdoa: “Aku bersaksi bahawasanya tidak ada tuhan kecuali Dia Zat Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, YA Allah, hilangkanlah dariku kesusahan dan kesedihan” (al-Azkar, 69).

Wallahua’lam bissowab.

Kredit – Kami Tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia

24 October 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

BAGAIMANA NABI MAKAN?

[Sedikit perkongsian pengajian Syamail Muhammadi, Maulana Hussin, Masjid UKM]

1. Sahabat pada mulanya tak makan ayam, sebab mereka lihat ayam makan najis. Tapi, apabila mereka lihat Nabi makan ayam, mereka pun makan.

2. Nabi suka memulakan santapannya dengan buah labu.

3. Nabi tak pernah makan atas meja, kata Sayidina Anas.

4. Nabi makan roti yang dibuat daripada barli (roti tu kasar dan keras berbanding roti daripada tepung halus)… Kuahnya pula ada buah labu.

[Maulana Hussin bergurau, “Nabi tak makan roti yang halus. Siapa makan roti halus, bidaah. ;-)]

5. Para Sahabat, seperti Anas bin Malik mula menyukai makan buah labu setelah mengetahui Nabi suka makan labu.

6. Ummu Salamah r.ha hidangkan kepada Nabi rusuk kambing yang dipanggang. Kemudian Nabi tidak memperbaharui wuduknya walaupun sebelum itu, apabila baginda makan makanan yang disentuh api, Baginda selalu berwuduk. Tapi akhir-akhir hayat baginda, jika makan makanan sebegitu, baginda tidak lagi berwuduk. Ulama suruh kita pegang amalan yang terkemudian kerana dikira amalan yang terdahulu dikira mansukh.

[Lihat nota selit]

7. Sahabat-sahabat pernah makan di dalam masjid. Ini menunjukkan boleh makan di dalam masjid asalkan tidak mengotorkan dan niat iktikaf.

8. Nabi suka makan kambing terutama di bahagian lengan kerana bahagian itu cepat masak dan memandangkan ia cepat boleh dimakan.

9. “Daging yang paling baik ialah di bahagian belakang.” Hadis.

[Ulama rumus, kedua-duanya digemari oleh Nabi]

10. Nabi suka makanan lebihan yang dimakan oleh orang lain. Kebiasaannya, Baginda akan beri sahabat makan dulu. Yang lebih daripada tu baru Baginda makan.

[Nota selit bagi point no 6, 8 dan 9]

Cara Ahli Fekah Mengeluarkan Hukum Dari Hadis.

[Jika terjumpa hadis yang bercanggah, mula-mula himpun kedua-dua hadis. Jika dua-dua tak boleh himpun, baru tarjih. Ulama kata ada Jika tarjih pun tak boleh, baru ‘nasikh’ dan ‘mansukh’.]

Contohnya, Nabi balik rumah tapi tiada makanan. Lalu, Baginda berpuasa pada hari itu.

[Nabi pun hidup dalam kesusahan tapi Baginda tidak pernah merungut dengan kehidupannya. Isteri Baginda pula tidak berleter mengenai kesusahan mereka]

Imam Abu Hanifah melarang orang yang berpuasa sunat membatalkan puasanya, sama seperti sengaja membatalkan solat sunat yang sedang didirikan. Namun, di sisi Imam Syafii, orang yangberpuasa sunat, boleh berbuka jika tidak mampu meneruskan puasa atau terdapat apa-apa kekangan.

Masing-masing ada dalil.

(Tulisan Khairy Tajudin Novelis)

24 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Solat Duduk Atas Kerusi

Soalan:

Ustaz, untuk makluman saya solat menggunakan kerusi oleh kerana saya tidak boleh duduk antara sujud. Bolehkah saya solat duduk di atas kerusi sepanjang waktu solat. Bagaimana dengan solat terawih dan solat sunat yang lain. Sekiranya kita berhenti solat seperti di tempat minyak petronas tidak disediakan kerusi, bagaimanakah cara saya hendak solat. Terima kasih.

Jawapan:

Bismillah.

1. Seorang yang dalam keuzuran diberi kelonggaran oleh Syarak (yakni Allah dan Rasul) untuk melakukan ibadat mengikut kemampuannya. Firman Allah (bermaksud);

“Bertakwalah kamu kepada Allah sedaya mampu kamu” (surah at-Taghabun, ayat 16).

Nabi saw bersabda;

“Bila aku menyuruh kamu melakukan sesuatu, lakukannya mengikut yang mampu kamu lakukan” (ٍٍSoheh al-Bukhari; 7288).

Khusus tentang solat Nabi saw bersabda;

“Solatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu berdiri, solatlah sambil duduk. Jika tidak mampu duduk, solatlah dengan mengiring di atas rusuk kamu” (Soheh al-Bukhari; 1117).

2. Jika setengah rukun solat mampu dilakukan seperti biasa dan setengah lagi tidak mampu dilakukan seperti biasa, maka yang mampu wajib dilakukan seperti biasa dan yang tidak mampu barulah dilakukan mengikut yang terdaya. Ini kerana para ulamak menegaskan dalam kaedah mereka; “Yang mudah dilakukan tidak akan gugur dengan kerana ada yang susah dilakukan”(1). Oleh itu, jika saudara mampu berdiri dan rukuk seperti biasa, wajiblah saudara memulaikan solat dengan berdiri dan ketika hendak sujud barulah saudara duduk di atas kursi dan melakukan sujud dan duduk antara dua sujud di atas kursi mengikut kemampuan saudara. Jika perpindahan dari berdiri kepada duduk itu menyulitkan saudara atau menyakitkan, gugurlah kewajipan berdiri itu dan saudara boleh terus duduk. Begitu juga, jika tidak menemui kerusi untuk duduk, saudara boleh solat dengan duduk di atas lantai sama ada dengan terus duduk (jika tidak mampu berdiri dari awal) atau duduk ketika hendak sujud dan duduk antara dua sujud sahaja, yakni; lakukan apa yangmampu dilakukan.

3. Itu adalah bagi solat fardhu. Adapun solat sunat, harus dilakukan sambil duduk dari awal sekalipun mampu berdiri, namun pahalanya separuh dari solat sambil berdiri jika ia sengaja duduk. Adapun orang yang duduk kerana keuzuran, pahalanya sama seperti orang yang solat berdiri. Sabda Nabi saw;

“Apabila seorang itu sakit atau bermusafir, akan ditulis pahala untuknya sebagaimana amalannya ketika sihat dan ketika dalam negeri” (Soheh al-Bukhari; 2996. Musnad Ahmad; 19679).

Wallahu a’lam.

Nota;

(1) Lihat; al-Asybah wa an-Nazair, Imam as-Suyuti, halaman 159. Mengulas kaedah ini, Imam as-Suyuti berkata; di antara cabang kaedah ini ialah; jika seseorang itu ketika solat dia tidak mampu rukuk dan asujud (seperti biasa), namun masih mampu berdiri, wajiblah dia (memulai solat dengan) berdiri. Hukum ini tidak ada khilaf di kalangan kami (yakni ulamak-ulamak mazhab Syafiie).

Sumber: http://ilmudanulamak.blogspot.com/

24 October 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Membeli Matawang Asing Ketika Nilai Ringgit Jatuh

image

Membeli Matawang Asing Ketika Nilai Ringgit Jatuh

Q&A BERSAMA PAKAR MUAMALAT PROF MADYA DR AZMAN (UIA)

Membeli Matawang Asing Ketika Nilai Ringgit Jatuh

Salam. Tuan, saya mohon penjelasan. Halal or haram jika ada seorang ni dia pergi ke money changer dan tukar duit malaysia ke duit singapura. Lepas berlalu tempoh masa nilai wang malaysia ni jatuh. Dia pun tukar balik duit singapura ke duit Malaysia sebab nilai dia dah meningkat. Boleh ker? Adakah ini trglng dln forex jugak? Jika haram, apakah faktor pengharamannya?

Jawapan

Menukar duit atau membeli matawang asing adalah harus. Ia dipanggil al-sarf. Dahulunya dinar ditukar dengan dirham. Pada zaman Rasulullah harga 1 dinar sama dengan 8 atau 10 atau 12 dirham. Bahkan ada banyak riwayat berkenaan pertukaran dirham dan dinar beserta pembayaran dalam dirham bagi jualan tangguh bayaran yang mana harganya dipersetujui dalam dinar. Begitulah disebaliknya, sesuatu dijual dengan dirham secara tangguh, dilunaskan dengan dinar sebagaiman yang disebut dengan jelas oleh Abdullah bin Omar.”Daku menjual unta dengan dirham (perak) dan menerima bayaran (credit/ansuran) di dalam dinar dan adakalanya daku menjual unta dengan harga dinar (emas), dan menerima bayaran dengan dirham. Aku bertanya Rasulullah SAW berkenaan dengan transaksi tersebut. Baginda menjawab, tidak mengapa asalkan ia dilunaskan berdasarkan harga matawang pada hari bayaran tersebut.”

Berbalik kepada persoalan di atas, sekiranya seseorang membeli USD kerana takut RM jatuh atau kerana apa apa tujuan, maka ia adalah harus dengan syarat pertukaran berlaku secara tunai dan pertukaran dibuat dalam majlis aqad tanpa sebarang penagguhan serahan mana mana matawang yang ditukarkan/dibeli. Tetapi dia juga perlu sedar tidak semestinya USD sentiasa naik, dengan itu ia bukannya menjamin keuntungan. Harga matawang sentiasa berubah rubah. Peniaga matawang juga sentiasa berdepan dengan risiko naik turun matawang yang diniagakan.

Wallahua’lam

Oleh Pakar Muamalat Prof Madya Dr Azman UIA Rujukan http://drazman.net/2015/10/tukar-duit/

24 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Muamalat (Harta), Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

CIRI-CIRI KHAS MUFTI ULAMA DAN ASATIZAH WAHABI

image

Orang awam wajib tahu dan lari daripada fahamannya.

1. Fatwa para ulama Wahabi Salafi berkisar pada (a) bid’ah; (b) syirik; (c) kufur; (d) syiah (e) al-Ahbash kepada kelompok Islam atau muslim lain yang tidak searah dengan mereka. Kita akan sering menemukan salah satu dari 5 kata itu dalam setiap fatwa mereka.
.
2. Dalam memberi fatwa, tokoh utama ulama Wahabi Salafi akan langsung berijtihad sendiri dengan mengutip ayat dan hadits yang mendukung. Atau, kalau mengutip fatwa ulama, mereka akan cenderung mengutip fatwa dari IBNU TAIMIYAH ATAU IBNUL QAYYIM. Selanjutnya, mereka akan membuat fatwa sendiri yang kemudian akan menjadi dalil para pengikut Wahabi. Dengan kata lain, pengikut Wahabi hanya mau bertaklid pada ulama Wahabi.
.
3. Tokoh atau ulama Wahabi Salafi level kedua ke bawah akan cenderung menjadikan fatwa tokoh Salafi level pertama sebagai salah satu rujukan utama. Atau kalau tidak, akan memberi fatwa yang segaris dengan ulama Wahabi level pertama.
.
4. Kalangan ulama atau tokoh Wahabi Salafi tidak suka atau sangat jarang mengutip pendapat ULAMA SALAF SEPERTI ULAMA MAZHAB YANG EMPAT dan yang lain kecuali MAZHAB HANBALI yang merupakan tempat rujukan asal mereka dalam bidang fiqh walaupun tidak mereka akui secara jelas. Hanya pendapat IBNU TAIMIYAH dan IBNU QAYYIM yang sering dikutip untuk pendapat ulama di atasnya MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB terutama dalam bidang yang menyangkut aqidah.
.
5. Di mata ulama Wahabi, perayaan keislaman yang boleh dilakukan hanyalah hari raya idul fitri dan idul adha. Sedangkan perayaan yang lain seperti maulid Nabi Muhammad, peringatan Isra’ Mi’raj dan perayaan tahun baru Islam dianggap haram dan bid’ah.
.
6. Gerakan-gerakan atau organisasi Islam yang di luar Wahabi Salafi atau yang tidak segaris dengan manhaj (aturan standar ideologi) Wahabi akan mendapat label syirik, kufur atau bid’ah.
.
7. Semua lulusan universiti Arab Saudi dan afiliasinya adalah kader Wahabi Salafi. Melainkan terbukti sebaliknya.
.
8. Pengikut/aktivis Wahabi Salafi tidak mau taklid (mengikuti pendapat) ulama salaf (klasik) dan khalaf (kontemporer), tapi dengan senang hati taklid kepada pendapat dan fatwa ulama-ulama Wahabi Salafi atau fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ (اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء والدعوة والإرشاد) dan lembaga serta ulama-ulama yang menjadi anggota Hai’ah Kibaril Ulama (هيئة كبار العلماء) yang nama lengkapnya adalah Ar-Riasah al-Ammah lil Buhuts wal Ifta’ (الرئاسة العامة للبحوث العلمية والإفتاء).
.
9. Pengikut/aktivis sangat menghormati ulama-ulama mereka dan selalu menyebut para ulama Wahabi dengan awalan Syeikh dan kadang diakhiri dengan rahimahu-Llah atau hafidzahulLah. Seperti, Syeikh Utsaimn, Syeikh Bin Baz, dll. Tapi, menyebut ulama-ulama lain cukup dengan memanggil namanya saja.
.
10. Ulama Wahabi Salafi utama (kecuali Nashiruddin Albani yang asli Albania) majoriti berasal dari Arab Saudi dan bertempat tinggal di Arab Saudi. Oleh karena itu, mereka umumnya memakai baju tradisional khas Arab Saudi iaitu (a) gamis/jubah warna putih (b) surban merah (c) surban putih (d) maslah yaitu jubah luar tanpa kancing warna hitam atau coklat yang biasa dipakai raja. Lihat baju luar yang dipakai Abdul Wahab dan Al-Utsaimin.
.
Oleh karena itu, ketika kita membaca buku, kitab atau layari  internet, tidak sukar mengenali pada fatwa ulama non-Wahabi, mana fatwa yang berasal dari Wahabi Salafi dan mana tulisan sebuah website atau blog yang penulisnya adalah pengikut Wahabi.
.
SAYANGNYA, TIDAK SEDIKIT DARI KALANGAN AWAM yang terkadang tidak sedar bahwa fatwa agama dalam buku atau website internet yang mereka baca berasal dari fatwa Wahabi Salafi.

Semoga dengan informasi ini, para pencari informasi keagamaan akan semakin tercerahkan.

Intinya, cara termudah mengetahui apakah seorang ulama, ustaz atau tokoh agama atau orang awam biasa itu berfaham Wahabi Salafi adalah dari (a) latar belakang pendidikannya; (b) buku atau kitab yang dikutip; dan (c) cara memanggil ulama Wahabi dan ulama non-Wahabi (lihat poin 9).
.
Sekian wassalam.

23 October 2015 Posted by | Fiqh, Informasi, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | 1 Comment

JALAN KITA BUKAN JALAN MELAKNAT, MENUDUH DAN MENCACI-MAKI

(“Taushiyyah Al-Habib Umar bin Hafidz yang Meruntuhkan Hati”)

Di hadapan kita ada qudwah (teladan), Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang mukmin tidak melaknat, menuduh dan berkata keji.” “Aku tidak diutus sebagai pelaknat ataupun berteriak-teriak di pasar.”

Baginda Saw. bukan pencaci, bukan pula pelaknat. Begitu juga dengan pengikut baginda dari kalangan ulama, tidak ada diantara mereka pelaknat yang suka melaknat orang. Bukan juga pencaci, yang mencaci bahkan terhadap orang awam. Apatah lagi terhadap para ulama, terlebih lagi para sahabat Nabi Saw. dan tabi’in. Mereka (para sahabat dan tabi’in) adalah sumurnya penghargaan, asas kehormatan.

Metode (dakwah) yang baik dan benar tidak ada caci maki sama sekali. Nabi Saw. tidak diutus untuk mencaci dan memaki. Tidak pula seorang wali Allah bertugas untuk mencaci atau memaki. Tidak pula berdiri hakikat ilmu dengan caci maki sama sekali!

Tidaklah berdiri suatu madzhab dengan caci maki kecuali madzhab iblis dan madzhab pengikut iblis, pada setiap waktu dan masa. Merekalah yang terbiasa meneruskan tradisi caci maki terhadap manusia, melaknat manusia, memancing emosi dan menanam kebencian di antara umat Islam.

Adapun para Nabi, para ulama dan para wali, mereka menebar kasih, menyebar persaudaraan, menyebarkan akhlaq, menyebarkan kesucian hati, menyebarkan sikap menghargai, selalu menetapkan batasan, mengekang hawa nafsu, bersifat sabar dan menahan amarah. Inilah jalan yang ditempuh para nabi, para wali, para ulama dan orang-orang shaleh

23 October 2015 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

Hukum Memakai Pendakap Gigi

image

Memakai kawat gigi (Pendakap gigi)

Jika memakai pendakap gigi niatnya nak cantik maka haram kerana di anggap merubah ciptaan Allah SWT. Tetapi jika tujuannya merawat gigi yang jongang maka di haruskan. Memulihkan gigi yang cacat kerana merawat sesuatu yang rosak adalah di galakkan di dalam Islam.

Pendakap gigi jika untuk merawat gigi supaya normal (tujuan kesihatan) maka ulama mengatakan diharuskan. Nabi SAW bersabda :

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

Maksudnya,“Allah melaknat wanita yang membuat tattoo dan wanita yang telah memakainya, wanita yang mencabut bulu diwajahnya dan wanita yang telah melakukannya, dan wanita yang meluaskan jarak diantara gigi mereka atau orang lain bagi tujuan kecantikan, menukar apa yang Allah telah ciptakan” – (Shahih Muslim NO. 3966).

Imam Al-Nawawi rh didalam memberi komentar terhadap hadith diatas menjelaskan :-

( المتفلجات للحسن ) فمعناه يفعلن ذلك طلبا للحسن , وفيه إشارة إلى أن الحرام هو المفعول لطلب الحسن , أما لو احتاجت إليه لعلاج أو عيب في السن ونحوه فلا بأس والله أعلم .

“Meluaskan jarak gigi – maknanya sesuatu yang dilakukan keatas gigi bagi menjadi seseorang itu kelihatan cantik, dan ini menunjukkan bahawa ia adalah HARAM, iaitu apabila dilakukan bagi tujuan kecantikan, akan tetapi bagi merawat masalah yang berlaku kepada gigi, maka tidak ada salah melakukan, Dan ALLAH yang lebih tahu sebaiknya.”

Braces atau pendakap gigi ini adalah bertujuan membetulan kedudukan gigi atau merawat gigi, dan ia bukan dari larangan yang dinyatakan didalam hadis diatas yang dikategorikan sebagai mengubah ciptaan Allah.

Menurut Dr Rafa’at Fawzi Abdul Muttalib, Prof Universiti Dar al-Ulum, Braces yang membetulkan kerosakan gigi adalah dibenarkan.

Syeikh Faizal al-Moulawi, Naib Pengerusi Majlis Fatwa Eropah berkata :

تقويم الأسنان لأسباب صحية جائز شرعاً، بل قد يكون مطلوباً أيضاً

“Braces atau pendakap gigi bagi tujuan KESIHATAN adalah dibenarkan menurut syara’, bahkan ia juga diperlukan”

Pendakap gigi jonggang diharuskan untuk merawat tetapi jika nak tambah cantik dengan memakai pendakap gigi itu lebih kepada merubah ciptaan Tuhan sama seperti menjarangkan gigi untuk kecantikan (ianya dilarang)

Sumber: Islam itu Indah

23 October 2015 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

KEUTAMAAN ASYURA

(Oleh :Jabatan Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan).

PANDUAN HUKUM : Bubur Asyura’

KEUTAMAAN ASYURA

Tersebut di dalam kitab Mukasyafah al-Qulub hal.263 susunan Imam al-Ghazali disebutkan:

“Dan telah datang athar yang banyak pada keutamaan hari Asyura’, antaranya (adalah kerana – pada hari tersebut):

Diterima taubat Nabi Adam عليه السلام; diciptakan Nabi Adam; Adam عليه السلام dimasukkan ke dalam syurga; ‘arasy, kursi, langit, bumi, matahari, bulan dan bintang-bintang diciptakan; Nabi Ibrahim عليه السلام dilahirkan dan diselamatkan daripada api Raja Namrud; selamatnya Nabi Musa عليه السلام dan pengikutnya dari (dikejar fir’aun); tenggelamnya fir’aun dan tenteranya; Nabi ‘Isa عليه السلام dilahirkan dan diangkatkan ke langit; Nabi Idris عليه السلام diangkat ke tempat yang tinggi; berlabuhnya bahtera Nabi Nuh عليه السلام di atas bukit Judi; dikurniakan kepada Nabi Sulaiman عليه السلام sebuah kerajaan yang besar; dikeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan; dikembalikan penglihatan Nabi Ya’kub (yang kabur sebelumnya); dikeluarkan Nabi Yusuf عليه السلام dari telaga; disembuhkan penyakit Nabi Ayyub عليه السلام dan hujan yang pertama diturunkan dari langit ke bumi.

Manakala di dalam Kitab Hasyiah I’anah al-Tolibin karangan Sayyid Bakri al-Syato hal.417/2, antara peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Asyura’ adalah ;

“Nabi Adam عليه السلام bertaubat kepada Allah dan taubat baginda diterima; Nabi Idris عليه السلام diangkat oleh Allah ke tempat yang tinggi; Nabi Nuh عليه السلام diselamatkan Allah keluar dari perahunya; Nabi Ibrahim عليه السلام diselamatkan Allah dari api Raja Namrud; Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa عليه السلام; Nabi Yusuf عليه السلام dibebaskan dari penjara; Penglihatan Nabi Yaakub عليه السلام yang kabur dipulihkan Allah kembali; Nabi Ayyub عليه السلام disembuhkan Allah dari penyakitnya; Nabi Yunus عليه السلام selamat keluar dari perut ikan Nun; Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah; Nabi Sulaiman عليه السلام dikurniakan kerajaan yang besar; Hari pertama Allah menciptakan alam; Hari pertama Allah menurunkan rahmat ke bumi; Hari pertama Allah menurunkan hujan dari langit; Allah menjadikan ‘arasy; Allah menjadikan Luh Mahfuz; Allah menjadikan qalam; Allah menjadikan malaikat Jibril عليه السلام; Nabi Isa عليه السلام diangkat ke langit ………”

ASAL-USUL BUBUR ‘ASYURA’ MASYARAKAT MELAYU

Salah satu tradisi yang diadakan di kampung-kampung setiapkali menjelang bulan Muharram adalah membuat bubur Asyura’. Adapun mengenai tradisi ini ada disebut di dalam kitab Risalah al-Musalsal al-Amiriyyah yang dicetak bersama-sama syarahannya pada halaman 26;

“Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebahagian orang daripada memasak bubur (pada hari Asyura) adalah merupakan suatu perkara bidaah. Asal-usulnya adalah bersandarkan kepada apa yang berlaku kepada Nabi Nuh عليه السلام tatkala baginda keluar dari kapal pada hari ‘Asyura’, orang-orang yang bersama baginda telah mengadu kelaparan. Lalu dikumpulkan saki baki bekalan mereka yang terdiri daripada pelbagai bijiran-bijiran seperti beras, kacang dal dan sebagainya. Setelah itu mereka pun memasak bijiran-bijiran tersebut di dalam periuk lalu mereka pun makan sehingga ia menyenyangkan mereka. Oleh itu, ia adalah merupakan makanan yang pertama dimasak di atas muka bumi selepas berlakunya taufan. Maka berdasarkan peristiwa ini, manusia telah menjadikan ianya sebagai suatu anjuran pada hari tersebut (Asyura’). Hal ini TIDAK MENGAPA dilakukan terutamanya perbuatan memberi makan kepada orang-orang faqir dan miskin adalah merupakan sebahagian tausi’ah (meluaskan belanja) bagi mereka yang mampu dan tidak mampu. Maka perluaskankanlah akhlaknya bersama kaum kerabat dan keluarga serta maafkanlah orang-orang yang menzaliminya kerana terdapat athar berkaitan hal tersebut.”

Hal ini juga telah disebutkan di dalam Kitab Jam’u al-Fawaid wa Jawahir al-Qalaid yang dikarang oleh al-‘Allamah Syeikh Daud bin ‘Abdullah al-Fatani pada halaman 132:

“(Dan kata) Syeikh Ajhuri dan aku lihat bagi orang yang lain nasnya bahawasanya (Nabi) Nuh (عليه السلام) tatkala turunnya dari safinah (bahtera) dan orang yang sertanya mengadu kepadanya dengan lapar dan telah habis segala bekal mereka itu. Maka menyuruh akan mereka itu bahawa mendatangkan dengan barang yang lebih daripada bekal mereka itu. Maka mendatangkan ini dengan segenggam gandum, dan ini dengan kacang ‘adas dan ini dengan kacang ful (pol) dan ini dengan setapak tangan kacang himmasun (kacang kuda) hingga sampai tujuh biji-bijian bagi jenisnya dan adalah ia pada hari Asyura’, maka mengucap Nabi Nuh عليه السلام dengan bismillah dan dimasakkan dia, maka sekaliannya dan kenyang mereka itu dengan berkat Sayyiduna Nuh عليه السلام . Firman Allah Taala:

قيل يا نوح اهبط بسلام منا وبركات عليك وعلى أمم ممن معك وأمم سنمتعهم

(Maksudnya) Dikatakan: Hai Nuh, turunlah olehmu dengan sejahtera daripada kami dan berkat atasmu dan atas umam (umat-umat) sertamu dan umam (umat-umat) yang kami sukakan mereka itu. (Surah Hud: 48)

(Dan) adalah demikian ini pertama-tama makanan yang dimasakkan di atas muka bumi kemudian daripada taufan. Maka mengambil segala manusia akan dia sunat pada hari Asyura’ dan adalah padanya itu pahala yang amat besar bagi orang yang mengerjakan yang demikian itu dan memberi makan segala fuqara (orang-orang yang faqir) dan masakin (orang-orang yang miskin), maka dinamakan bubur Asyura’. Dan jika bidaah sekalipun, (maka ia) bidaah hasanah dengan qasad itu.”

Disebutkan dalam kitab:

1. Hasyiah I’anah al-Tolibin (al-Sayyid al-Bakri hal.417/2)

2. Nihayah al-Zain (Syeikh Nawawi Banten hal.192)

2. Nuzhatul Majalis (Syeikh Abdul Rahman al-Usfuri hal.172)

3. Jam’ul Fawaid ( Syeikh Daud al-Fatani hal.132);

“Bahawasanya tatkala bahtera Nabi Nuh alaihissalam berlabuh di bukit Judi pada hari Asyura’, maka berkatalah baginda kepada umatnya :

“Himpunkan apa yang kamu miliki daripada makanan yang lebih. Maka dibawalah satu genggam daripada kacang Baqila’ iaitu kacang ful dan satu genggam kacang Adas dan Ba’ruz dan tepung dan kacang Hinthoh sehingga menjadi tujuh jenis biji bijian yang dimasak”

Maka berkata Nabi Nuh alaihissalam; “Masaklah sekaliannya kerana kamu sudah mendapat kesenangan sekarang.”

Maka berdasarkan kisah inilah sebahagian kaum muslimin menjadikan makanan mereka itu daripada biji bijian yang dinamakan BUBUR ASYURA’ (bubur yang dimasak sempena hari kesepuluh dalam bulan Muharam). Itulah masakan yang pertama dimasak di atas permukaan bumi setelah berlakunya banjir besar dan taufan yang melanda bumi.

Syeikh Ibn Hajar al-‘Asqolani bersyair dengan katanya;

في يوم عاشوراء سبع تهرس بر أرز ثم ماش عدس

وحمص ولوبيا والفول هذا هو الصحيح والمنقول

“Pada Hari Asyura’ terdapat tujuh yang dimakan iaitu Gandum (tepung), Beras, kemudian Kacang Mash (kacang kuda) dan Kacang Adas (kacang dal).

Dan Kacang Himmas (kacang putih) dan Kacang Lubia ( sejenis kacang panjang) dan kacang Ful. Inilah kata-kata yang sohih dan manqul (yang dinukil daripada kata-kata ulamak).”

Daripada apa yang dibahaskan di atas, maka difahami bahawa sejarah BUBUR ASYURA’ ini diambil daripada peristiwa arahan dan perintah Nabi Nuh as kepada umatnya ketika dahulu.

Oleh itu, adakah salah bagi kita mengambil apa yang dilaksanakan oleh umat terdahulu dan apa yang diarahkan oleh Nabi Nuh alaihissalam kepada umatnya untuk kita pula laksanakannya?

Perkara ini bukanlah termasuk dalam hukum hakam yang ada nasakhnya dalam Syariat Islam. Ianya hanya sekadar kisah dan peristiwa yang perlu diambil iktibar dan dihayati oleh umat manusia dan seterusnya beriman dan menghampirkan diri kepada Allah Taala dengan sebenar-benar taqwa.

Andai arahan tadi merupakan suatu perintah, maka kita mengatakan ia merupakan al-Syar’u Man Qablana iaitu perkara syariat yang berlaku pada zaman dan umat terdahulu yang tidak dinasakhkan untuk menjadikan iktibar dan panduan hidup berterusan umat akan datang.

Maka BUBUR ASYURA’ merupakan salah satu daripada perkara yang disebutkan sebagai al-Syar’u Man Qablana yang boleh kita amalkan dalam kehidupan kita dan ia tidaklah di anggap sebagai suatu BIDAAH atau perkara yang bertentangan dengan kehendak syariat.

Tanggapan sebahagian orang yang mengatakan perkara ini BIDAAH dan adat semata-mata adalah tidak benar. Adat juga boleh menjadi ibadah andai perkara seperti memasak BUBUR ASYURA’ ini kita jadikan sebagai amalan untuk mengingati dan menghayati peristiwa yang berlaku di zaman Nabi Nuh alaihissalam. Kerana kelalaian dan lupa dengan tuntutan beragama, dan disebabkan menuruti kehendak nafsu yang rakus, maka Allah tenggelamkan mereka sehingga tiada suatu pun yang tinggal dan disimpan untuk dimakan melainkan sedikit sahaja.

Maka tidak salah kita adakan Majlis Memasak BUBUR ASYURA’ dengan penghayatan tersebut dan bertujuan untuk memberi makan kepada keluarga, faqir miskin yang sangat memerlukan dan menjamu orang yang berbuka puasa dan sebagainya. Ia akan dihitung sebagai Ibadah yang mulia di sisi Allah Taala Insya Allah.

Hal ini juga bertepatan dengan riwayat Imam al-Tabarani dan Imam al-Baihaqi yang telah meriwayatkan daripada Sayyidina Abu Sa`id al-Khudri, Sayyidina Abu Hurairah, Sayyidina Jabir dan Sayyidina Ibn Mas`ud r.’anhum bahawa Junjungan solallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Sesiapa yang memberi keluasan / kelapangan (keluasan rezeki) kepada keluarganya pada hari Asyura`, maka Allah akan meluaskan rezekinya sepanjang tahun tersebut.”

Berhubung hadis ini, para muhaddisin berbeza pendapat berkaitan statusnya, ada yang mensabitkannya dan ada yang mendhaifkan. Imam al-Suyuti dalam “al-Durar al-Muntathirah” halaman 186 menyatakan hadis ini sebagai thabit dan sahih.

Imam Ibn Rejab menulis dalam “Latoif al-Ma’arif” halaman 113, bahawa Imam Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Kami telah mengamalkan hadis ini selama 50 atau 60 tahun, maka tidak kami lihat melainkan kebaikan.”
اليسع
والله أعلم

Status Hadis Meluaskan Belanja Kaum Keluarga Pada Hari ‘Asyura’ (Ditakhrij oleh Dr Hafidz Soroni):

حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- : « من وسع على عياله فى يوم عاشوراء وسع الله عليه فى سنته كلها » وفي رواية: من وسَّعَ على عياله في النفقة يومَ عاشوراء ، وسَّعَ الله عليه سائر سَنَتِهِ. قال سفيان: إنا قد جربناه، فوجدناه كذلك.

Terjemahan hadis Rasulullah sollallahu alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang meluaskan (belanja) kaum keluarganya pada hari Asyura’, maka Allah akan melapangkannya pada tahun tersebut seluruhnya”. Dalam satu riwayat: “Barangsiapa yang meluaskan nafkah kaum keluarganya pada hari Asyura’, maka Allah akan melapangkannya sepanjang tahun tersebut”.

Kata Sufyan: Sesungguhnya kami telah mengujinya, lalu kami dapati ianya benar.

Hadis ini berdasarkan kajian, didapati telah diriwayatkan oleh lima orang sahabat Nabi sollallahu alaihi wa sallam, iaitu:

1. Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu anhu: iaitu riwayat Ibn Abi al-Dunya dalam al-’Iyal (no. 385), al-Hakim al-Tirmizi (3/14), al-Tabarani dalam al-Awsat (no. 9302), dan al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman (no. 3794). Dalam sanadnya ada Muhammad bin Isma’il al-Ja’fari yang munkar al-hadith (al-Haythami, 3/189).
2. Ibn Mas’ud radhiallahu anhu: iaitu riwayat Ibn ’Adi (5/211), al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman (no. 3792), dan Ibn Hibban dalam al-Du’afa’ (3/97), serta al-Tabarani dalam al-Kabir (no. 10,007) dengan lafaz:
(من وسع على عياله يوم عاشوراء لم يزل فى سعة سائر سنته)
dan dalam sanadnya ada al-Haysam bin al-Syaddakh yang sangat daif (al-Haythami, 3/189).

3. Jabir radhiallahu anhu : iaitu riwayat al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman (no. 3791), kata beliau: Isnadnya dhaif. Juga diriwayatkan dalam al-Istizkar oleh Ibn ’Abd al-Barr dengan lafaz:
(من وسع على نفسه وأهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته)
dan al-Hafiz Ahmad al-Ghumari menyatakan bahawa perawi-perawi sanadnya adalah perawi-perawi al-Sahih.

4. Abu Hurairah radhiallahu anhu : iaitu riwayat Ibn ’Adi dan al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman (no. 3795).

5. Ibn ’Umar radhiallahu anhu : iaitu riwayat al-Daraqutni dalam al-Afrad dan al-Khatib al-Baghdadi dalam Ruwat Malik.

Dr. Muhammad Abu al-Laith al-Khairabadi dalam kitabnya al-Marwiyyat fi Fadl Laylah al-Nisf min Sya’ban wa al-Tawsi’ah ’ala al-’Iyal Yaum ’Asyura’ fi Mizan al-Naqd al-Hadithi (hlm. 115) merumuskan bahawa hadis ini berdasarkan jalan-jalan riwayatnya adalah hasan li-ghairih. Hukum beliau ini bersepakatan dengan ramai ulama hadis yang tidak menolak hadith ini seperti al-‘Iraqi, al-Sakhawi, al-’Ajluni, al-Suyuti, al-Munawi, Ibn ‘Arraq dan lain-lain. Sebelum Dr. Abu al-Laith, al-Hafiz al-‘Allamah Sayyid Ahmad al-Ghumari رحمه الله sebenarnya telahpun membincangkan takhrij hadis ini secara detail dan menghukumnya sebagai sahih di dalam risalah beliau:
(هدية الصغراء بتصحيح حديث التوسعة يوم عاشوراء)

Wallahu a’lam.

Ustaz Alyasak Berhan

23 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Timeline Photos

image

Dari meja Mufti Wilayah Persekutuan

KEMAS KINI :
ROKOK ELEKTRONIK BOLEH MENYEBAB KANSER.

Pautan ke laman web PMWP : http://goo.gl/cspkgi

Rokok elektronik, yang menjadi kegilaan ramai, didapati mengandungi bahan pengawet yang boleh membawa kepada kanser, kata Timbalan Menteri Kesihatan Datuk Seri Dr Hilmi Yahya.

Beliau berkata antara bahan pengawet itu ialah nikotin dan propylene glycol, dan apabila dipanaskan (dalam cecair) melebihi lima volt, kombinasi bahan cecair itu akan bersifat seperti bahan pengawet.

“Ramai pengguna menghisap lebih daripada lima volt untuk mendapatkan asap yang banyak.

“Bahan pengawet itu boleh meningkatkan kemungkinan kepada kanser,” katanya ketika menggulung perbahasan Rang Undang-Undang Profesion Kesihatan Bersekutu 2015 di Dewan Rakyat hari ini.

Sumber :
BERNAMA : http://www.bernama.com/bernama/v8/bm/ge/newsgeneral.php?id=1181415

21 October 2015 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Sebab-sebab Malaikat Rahmat Tak Masuk Rumah

Soalan:
Bolehkan ustaz jelaskan apakah perkara-perkara yang menyebabkan malaikat rahmat tak masuk rumah kita?

Jawapan:
Antara Sebab KENAPA Malaikat Rahmat tidak memasuki rumah anda

Rumah orang yang memutuskan hubungan Silatul Rahim.

Rumah orang yang memakan harta anak yatim secara haram.

Rumah yang memelihara anjing.

Rumah yang banyak menyimpan gambar yang mencerca Para Sahabat Nabi, orang yang telah mati dan sebagainya.

Rumah yang mengumandangkan nyanyian yang memuja selain daripada Allah SWT.

Rumah yang sering meninggikan suara.

Rumah yang didiami mereka yang syirik kepada Allah SWT seperti tukang tilik, ahli sihir dan nujum.

Rumah yang menggunakan perhiasan daripada emas seperti pinggan dan mangkuk daripada emas.

Rumah yang makan makanan yang berbau seperti bauan rokok, perokok, penagih dadah .

Rumah yang didiami mereka yang sentiasa bergelombang dengan maksiat.

Rumah yang didiami mereka yang melakukan dosa-dosa besar.

Rumah yang didiami mereka yang derhaka kepada kedua ibu bapa.

Rumah pemakan riba, interest.
Rumah yang mengamalkan budaya syaitan seperti kumpulan rock black metal.

Rumah yang memiliki patung-patung.

Rumah yang memiliki loceng seperti loceng gereja.

Rumah yang didiami peminum arak.

Rumah yang mempercayai tukang tilik.

Rumah yang didiami mereka yang mendapat laknat Allah SWT, pemakan rasuah, pemberi rasuah dan mereka yang mengubah kejadian Allah SWT seperti wanita yang mencukur bulu kening, wanita yang memakai gelang atau rantai di kaki.

Rumah yang didiami mereka yang berhadas besar tanpa mandi Janabah/Junub.

Rumah yang melakukan pembaziran ( berhias dengan berlebihan ).

Rumah yang melakukan maksiat di dalamnya.

Nota Editor: Artikel ini asalnya telah dikongsikan oleh Ustaz Abu Basyer di Blog Tanyalah Ustaz.

21 October 2015 Posted by | Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

Penawar bagi Hati – Jauhi 3 Perkara | Nasbun Nurain

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani. (Hujurat:12)

Rasulullah saw juga telah bersabda yang bermaksud,“Berhati-hatilah kamu dengan berprasangka kerana sesungguhnya berprasangka itu adalah sebohong-bohong ucapan. dan janganlah kamu mengintip dan janganlah kamu saling dengki mendengki, dan janganlah kamu saling benci membenci, dan janganlah kamu saling jerumus menjerumuskan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara” (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

Jangan Berprasangka atau Sangka Buruk

Al-Hujurat [12] Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa

Walaupun luaran (perbuatan) itu asalnya daripada dalaman (hati), bersangka baiklah dengan orang lain. Ada juga manusia yang terpaksa melakukan kejahatan kerana terpaksa dan dia sendiri tidak menyukainya. Ada juga manusia yang menyembunyikan kebaikannya daripada pandangan mata manusia.

Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan ahli neraka pada pandangan mata manusia, padahal sebenarnya dia adalah ahli syurga. Dan sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan ahli syurga pada pandangan mata manusia, padahal dia sebenarnya adalah ahli neraka” (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

Janganlah Mengintip Untuk Mencari Kesalahan

Al-Hujurat [12] dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang…

Bahkan Islam melarang seseorang melihat atau memandang ke dalam rumah orang lain sebelum diizinkan. Dalam sebuah hadith Rasulullah s.a.w bersabda:Sesiapa yang mengintip ke dalam rumah sebelum diberi izin untuk masuk ke dalam, maka sesungguhnya dia tidak meminta izin (Hadith Riwayat Abu Daud).

Abu Hurairah r.a melaporkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, “Tidaklah kamu bersalah jika seseorang mengintip ka dalam rumahmu tanpa izin dan kamu memukulnya mengunakan batu dan mencederai matanya.” (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim).

Intipan yang dibenarkan hanyalah intipan oleh pihak yang menjaga keselamatan negeri atau negara.

Jauhi Daripada Mengumpat

Jauhilah kamu daripada mengumpat kerana dosa mengumpat itu lebih besar bahayanya daripada zina. Sesungguhnya seseorang lelaki itu terkadang dia berzina lalu bertaubat maka Allah menerima akan taubatnya. Dan sesungguhnya orang yang mengumpat itu tidak diampuni baginya sehingga dimaafkan oleh orang yang diumpatnya. (Diriwayatkan oleh Abu Asy-Syeikh dari Jabir r.a.)

Zina adalah dosa seorang manusia itu dengan Allah SWT dan terampun dengan bertaubat (melainkan zina yang dilakukan dengan isteri orang, maka perlu dimaafkan oleh si-suami). Mengumpat juga adalah satu dosa besar tetapi hanya orang yang diumpat sahaja boleh memaafkan dosa mengumpat itu. Kesan daripada perbuatan mengumpat adalah sangat buruk. Diantara contohnya ialah; boleh memusnahkan sesebuah rumah tangga atau merosakkan imej seseorang.

Mengumpat ialah menceritakan keburukan seseorang di belakangnya, walaupun perkara itu benar.

Salah seorang sahabat Nabi (saw) bertanya: “Apakah itu mengumpat?” Rasulullah (saw) menjawab: “Menyebut sesuatu mengenai saudaramu di belakangnya yang dia tidak suka.” Selanjutnya Sahabat itu bertanya: “Dan masihkah dikatakan mengumpat sekiranya apa yang disebutkan mengenainya itu benar terdapat padanya?” Rasulullah (saw) menjawab: “Dalam hal demikian (iaitu jika yang disebutkan itu memang benar) maka sebenarnya itulah mengumpat; tetapi jika apa yang disebutkan itu palsu, maka kamu telah memfitnahnya.

Mengumpat hanya dibenarkan sekiranya perlu untuk menyelamatkan seseorang daripada sesuatu penipuan atau kejahatan, namun kejahatan itu tidak boleh diceritakan secara terus-terang.

An-Nisaa [148]….Allah tidak suka kepada perkataan-perkataan buruk yang dikatakan dengan berterus-terang (untuk mendedahkan kejahatan orang); kecuali oleh orang yang dianiayakan. Dan (ingatlah) Allah sentiasa Mendengar, lagi Maha Mengetahui.

Hukum mengumpat itu haram melainkan pada 6 tempat yang diharuskan mengumpat padanya iaitu :

1. Orang yang mengadu pada penguasa tentang kezaliman seseorang dengan menyebut nama orang zalim itu dan perbuatannya bertujuan untuk menghentikan kezalimannya

2. Orang meminta tolong bagi menghilang maksiat pada sesuatu tempat kepada yang berkemampuan dengan menyebut nama pelaku maksiat dan kesalahannya bertujuan untuk menghentikan maksiat itu

3.Orang yang meminta fatwa daripada yang berkelayakan tentang sesuatu masalah yang terpaksa menyebut nama dan kelakuan seperti seorang isteri bertanya tentang hal suaminya dan sikapnya yang buruk

4. Orang yang menakutkan orang Islam lain tentang kejahatan seseorang supaya terselamat daripada keburukan orang itu seperti menyebut kelakuan jahat seseorang perempuan yang diingini untuk dikahwini bila ditanya agar bakal suaminya tidak tertipu dan selamat

5. Menyebut nama seseorang yang masyhur dengan nama buruk seperti Amin Tempang dan sebagainya

6.Menyebut nama orang yang menzahirkan kejahatannya bertujuan supaya orang lain berhati-hati dengannya dan juga agar dia menghentikan kesalahannya itu.

Sumber: Tuan Guru Maulana

21 October 2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

Persoalan hukum tepuk tangan | Tinta IM Asyraf Mobile

Haram ketika solat, diharus bagi meriahkan majlis

KEBIASAANNYA bertepuk tangan disaksikan ketika menghadiri majlis keramaian dan persembahan. Sudah menjadi kebiasaan majlis berbentuk Islam sunyi daripada tepukan gemuruh penontonnya. Bahkan suasana sedemikian menampakkan kesuraman sesuatu program.

Apabila diteliti permasalahan ini, timbul beberapa perbahasan dalam kalangan sesetengah orang agama bahawa bertepuk tangan itu diharamkan. Ada pula mengeluarkan pendapat pelik ia boleh menyebabkan syaitan melahirkan anaknya.

Bertepuk tangan di majlis keramaian adalah harus pada hukum syarak. Yang ditegah adalah sewaktu solat ataupun mengaitkannya dengan ibadah
Malah ada yang mencadangkan jika ingin menepuk tangan maka tepuklah dengan belakang tapak tangan sebagai isyarat gantian. Persoalannya adakah ini sesuatu ditetapkan agama.

Walaupun ada dibahaskan dalam bab solat oleh ulama asy-Syafi’iyyah seperti Imam Ramli dan al-Bajuri, namun ia tidak membabitkan hukum menepuk tangan di luar solat. Maka, ada pendapat mengharamkannya berasaskan penghujahan dalil tertentu.

Firman Allah SWT bermaksud: “Tiadalah solat atau ibadah mereka di Masjidil Haram selain muka’ (siulan) dan tashdiyyah (tepuk tangan). Maka rasakan azab disebabkan kekafiran kamu.” (Surah al-Anfal ayat 35)

Pentafsir mentafsirkan ayat ini mengatakan perkataan al-muka’ (siulan) dan al-tashdiyyah (tepuk tangan) yang dimaksudkan dalam surah al-Anfal ialah perbuatan orang kafir yang mengganggu solat dan bacaan al-Quran Rasulullah serta kaum muslimin.

Tepukan dan siulan itu mendatangkan rasa tidak senang kepada Rasulullah dan orang Islam sehingga Rasulullah menegah perbuatan berkenaan. Ini pandangan paling tepat dalam menceritakan sebab turunnya ayat menurut Imam Jalaluddin as-Suyuti.

Al Qurtubi pula merujuk kepada pendapat Ibnu Abbas mengatakan, masyarakat Quraisy jahiliah melakukan tawaf di Masjidil Haram dengan bertelanjang, bertepukan dan bersiulan. Pada pandangan mereka ia adalah ibadat. Ini juga pandangan Mujahid, As Suddi dan Ibnu Umar.

Merujuk sebab turun dan kisah di sebalik ayat 35 surah al-Anfal ini, jelas pengharaman tepuk tangan secara umumnya adalah kepada orang yang meniru perbuatan orang kafir dalam melakukan ibadah. Jika ibadah solat diselang-selikan dengan bertepuk tangan maka secara jelas diharamkan.

Bagaimanapun, mengharamkan hukum menepuk tangan ketika di luar solat adalah pengambilan dalil yang bukan pada tempatnya kerana ayat berkenaan tertuju kepada mereka yang melakukan ibadat dengan cara bertepuk tangan.

Sudah jelas kepada kita bertepuk tangan dalam solat seperti orang jahiliah adalah dilarang. Namun, menepuk tangan di dalam solat dan di luar solat berbeza. Maka penyabitan hukumnya juga berbeza.

Begitu juga sebahagian pendapat mengatakan menepuk tangan diharamkan kepada lelaki berasaskan dalil hadis sahih yang bermaksud: “Barang siapa yang ingin membaiki kesalahan dalam solat hendaklah dia bertasbih (dengan berkata subhanallah). Sesungguhnya apabila dia berkata demikian, imam akan berpaling kepadanya (memberi perhatian). Dan sesungguhnya bertepuk tangan itu adalah khusus untuk wanita.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Perbuatan itu dilarang kerana termasuk dalam tasyabbuh (menyerupai) wanita seperti dinyatakan hadis bahawa hal semacam itu hanya khusus bagi wanita ketika memperingatkan imam yang tersilap dalam solat sementara lelaki disuruh mengingatkan imam dengan ucapan tasbih.

Hadis ini khusus mengenai bertepuk tangan dalam solat. Kes berlaku apabila seorang imam melakukan kesilapan maka makmum wanita hanya boleh menepuk tangan sebagai isyarat membetulkan imam. Ia tidak boleh menjadi dalil menegah bertepuk di luar solat seperti disebut oleh Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami.

Pengharaman hukum menepuk tangan dalam sesuatu majlis itu tertolak kerana masih lagi didasari dalil agak lemah. Penulis cenderung kepada pandangan beberapa ulama yang membenarkannya seperti Syeikh Atiyyah Saqr, yang mengharuskannya kerana tiada dalil mengharamkan.

Menurut kaedah fiqh Islam, asal sesuatu perkara adalah harus. Maksudnya, sesuatu perkara yang tidak diberitakan oleh syariat dipandang harus hukumnya. Namun, ia boleh menjadi haram mahupun wajib jika disertakan dalil yang menyuruh.

Pengarang kitab al-Hafl al-Zifaf fi al-Fiqh Islam, Syeikh Rafiq Abd Aziz As-Sobbagh, berkata tepuk tangan perbuatan manusia yang biasa. Hukumnya berdasarkan faktor ia dilakukan.

Hukum bertepuk tangan dalam majlis asalnya mubah (perkara diharuskan) sebab bertepuk tangan termasuk perbuatan jibiliyah (af’al jibiliyyah) yang hukum asalnya mubah, sepanjang tidak ada dalil mengharamkan.

Perbuatan jibiliyah adalah perbuatan secara alamiah (fitrah) dilakukan manusia sejak penciptaannya dan menjadi bahagian yang tidak terpisah dari sifat kemanusiaannya seperti berfikir, bercakap, berjalan, berlari, melompat, duduk, makan, minum, mendengar, melihat dan seterusnya.

Menepuk tangan itu sesuatu yang diharuskan syarak. Ia boleh menceriakan sesuatu majlis terutama bagi menggembirakan kanak-kanak. Walaupun begitu, hukumnya boleh menjadi haram apabila bertepuk tangan dalam pertunjukan hiburan yang tidak syarak, pembukaan aurat atau menghina serta mengejek orang lain.

Bertepuk tangan di luar solat sama ada di majlis keramaian adalah harus pada hukum syarak. Yang ditegah adalah sewaktu solat ataupun mengaitkannya dengan ibadah. Begitu juga niat orang yang bertepuk tangan untuk mengejek, menghina ataupun memuji orang yang tidak sepatutnya.

Tegakkan hukum agama atas dasar hujah dan dalil kerana agama tertegak bersandarkan kepada al-Quran dan sunnah, bukannya dakwaan atau sangkaan semata-mata tanpa menilai dari mana asal usulnya.

Oleh: Imam Muda Asyraf

21 October 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Adab Masuk Rumah Baru Dalam Islam

image

(Nota : Artikel ini asalnya telah dikongsikan oleh Ustaz Abu Basyer di Blog Tanyalah Ustaz).

Abu Malik al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ada bersabda:
Maksudnya: “Apabila seorang lelaki hendak masuk ke rumahnya maka hendaklah dia Berkata: “Ya Allah! Aku memohon kepadaMu sebaik-baik tempat masuk dan sebaik-baik Tempat keluar. Dengan nama Allah kami masuk dan dengan nama Allah kami keluar dan kepada Allah Tuhan kami, kami berserah”. Kemudian hendaklah seseorang itu memberi salam ke Atas keluarganya.” (Hadis riwayat Abu Daud)

Jika rumah yang hendak dimasuki itu tidak ada orang yang berada di dalamnya, maka berilah Salam ke atas diri sendiri dengan mengucapkan
Ertinya: “Salam sejahtera ke atas kami dan ke atas hamba-hamba Allah yang sahih.”

Adapun salah satu hikmat membaca atau menyebut nama Allah ketika hendak masuk rumah Itu adalah supaya mengindarkan syaitan turut masuk dan bermalam di dalam rumah.

Berikut adalah beberapa perkara yang sepatutnya diamalkan serta sesuai dengan ajaran Islam serta sunnah Rasulullah SAW ketika melangkah memasuki rumah baru :-

1. Azan.

Melaungkan azan ketika pertama kali masuk opis/umah baru. Ia juga baik bg bangunan yg telah lama ditinggalkan dan tidak dihuni oleh sesiapa.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah s.a.w. pernah memberitahu bahawa sekiranya sesebuah bangunan (premis/rumah) itu terlalu lama dikosongkan (tanpa penghuni) ianya akan dimasuki sejenis makhluk halus (jin yg dikenali sbgai Al-’Ammar) yg suka tinggal di umah yg tidak berpenghuni.

2. Membaca surah Al-Baqarah.

Sebuah hadis yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW. bersabda yg bermaksud; “Jangan lah kamu jadikan rumahmu seperti kubur (hanya utk tidur), sesungguhnya syaitan akan lari dari rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah.”

3. Banyakkan solat dan membaca Al-Quran.

Dlm sebuah hadis lain pula, Rasulullah SAW. juga menggalakkan agar kita memperbanyakkan solat dan membaca Al-Quran di dalam rumah atau bangunan yang baru diduduki. Baginda bersabda yg bermaksud;
“Sinarilah rumahmu dengan memperbanyakkan solat dan membaca Al-Quran.” (Hadis Riwayat Al-Baihaqi)

4. Baca Surah yassin, Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.

Amalkan membaca surah Yassin setiap malam terutamanya tujuh malam pertama anda menduduki rumah atau bangunan. Baca juga surah Al-Fatihah sebanyak satu kali, surah Al-Ikhlas 3 kali, selawat ke atas nabi senayak 7 kali, ayat Kursi sekali, tetapi di ayat terakhir bacalah sebanyak 7 kali.

5. Pagar rumah cara menggunakan ayat-ayat al-Quran ..

Perbuatan memagar rumah dengan menanam atau menggantung sesuatu di penjuru atau sudut2 tertentu di rumah atau bangunan yg diduduki dgn kepercayaan bhw benda tersebut akan menjaga dan memelihara keselamatan penghuninya adalah perbuatan yang bertentangan di sisi Islam. Bgmanapun ada cara yg dibolehkan dan digalakkan mengikut ajaran Islam.

Caranya dengan dengan membaca surah yasin kemudian baca surah Al-Fatihah, ayat Kursi, Surah 3 Kul (Al-Ikhlas, Al-Falaq dan Al-Nas). kemudian tiup ke dalam air tersebut perlahan2 hingga habis nafas. Setelah itu, renjis keliling rumah dan renjiskan air tersebut ke setiap penjuru dalam rumah dengan mulai dengan penjuru yg terletak di sebelah kanan dan penjuru seterusnya mengikut arah berlawanan jarum jam. Membaca ayat kursi semasa merenjiskan air tersebut. Air jampi yang telah di bacakan ayat-ayat al-Quran mengandungi gelombang yang laju dan sangat tak di sukai oleh syaitan dan jin kafir.

Islam tidaklah menekankan amalan yang hanya khusus ketika masuk rumah, tetapi amalan-amalan yang berterusan yang perlu dihidupkan di dalam rumah, antaranya;

1.1. Memasuki rumah dengan membaca Bismillah dan doa yang makthur dari Nabi SAW. Begitu juga ketika keluar dari rumah.

1.2. Menjaga ahli rumah agar sentiasa berada dalam ketaatan dan menjauhi maksiat dan munkar. Firman Allah (bermaksud); “Wahai orang-orang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu…” (Surah at-Tahrim ayat 6). Berkata Imam Qatadah (tatkala menghurai ayat ini); ‘yakni kamu menyuruh mereka supaya mentaati Allah dan menegah mereka dari memaksiatiNya serta kamu melaksanakan tanggungjawab kamu terhadap mereka dengan agama Allah, kamu memerintahkan mereka dengannya dan membantu mereka untuk melaksanakannya. Apabila kamu melihat mereka melakukan maksiat, tegahlah mereka”. Menurut Imam Muqatil; “Menjadi suatu kewajipan ke atas setiap lelaki muslim untuk mengajar ahli-ahli keluarganya (isteri dan anak-anaknya) apa yang difardhukan Allah ke atas mereka dan apa yang ditegah Allah dari mereka”. (Rujuk: Tafsir Ibu Kathir)

1.3. Setiap ahli rumah menunaikan kewajipan masing-masing mengikut agama; kewajipan sebagai suami dan bapa, kewajipan sebagai isteri dan ibu dan kewajipan sebagai anak. Sabda Nabi SAW.; “Setiap kamu adalah penjaga dan setiap kamu akan ditanya tentang orang-orang di bawah jagaannya. Pemimpin Negara adalah penjaga bagi rakyatnya dan dia akan ditanya berkenaan orang di bawah jagaannya (yakni rakyatnya). Seorang lelaki adalah penjaga bagi ahli keluarganya dan dia akan ditanya tentang ahli keluarga di bawah jagaannya. Seorang wanita adalah penjaga bagi rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang berada di bawah jagaannya…”. (HR Imam al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar r.a.).

2. Menghidupkan bi-ah Islam di dalam rumah, antaranya dengan;

a) Membaca al-Quran di dalam rumah. Sabda Nabi SAW.; “Jangan kamu jadikan rumah-rumah kamu sebagai kubur. Sesungguhnya syaitan melarikan diri dari rumah yang dibacakan di dalamnya surah al-Baqarah” (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

b) Mengerjakan solat-solat sunat di dalam rumah. Sabda Nabi SAW.; “Kerjakanlah solat –wahai manusia- di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya solat yang paling afdhal ialah seseorang mengerjakan solat di rumahnya kecuali solat yang fardhu” (HR Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Thabit r.a.). Dalam hadis yang lain baginda bersabda; “Kerjakanlah sebahagian solat kamu dirumah kamu. Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu ibarat kubur”. (HR Imam Muslim dari Jabir r.a.)

c) Mengajak ahli keluarga bersama-sama beribadah. Sabda Nabi SAW.; “Jika seorang lelaki mengejutkan ahli keluarganya pada waktu malam, lalu mereka mengerjakan solat dua rakaat bersama-sama, nescaya mereka berdua akan ditulis/disenaraikan di kalangan lelaki-lelaki yang banyak berzikir dan perempuan-perempuan yang banyak berzikir” (HR Imam Abu Daud dari Abi Said r.a.). Dalam hadis yang lain, Rasulullah s.a.w. bersabda; “Allah mengasihi seorang lelaki yang bangun menunaikan solat malam, kemudian ia mengejutkan isterinya…Begitu juga, Allah mengasihi seorang perempuan yang bangun menunaikan solat malam, kemudian ia mengejutkan suaminya…” (HR Abu Daud dari Abu Hurairah r.a.).

d) Hidupkan budaya memberi salam. Anas r.a. menceritakan bahawa Rasulullah SAW. bersabda kepadanya; “Wahai anakku! Jika kamu masuk menemui ahli keluargamu (di rumah kamu) maka berilah salam kepada mereka, nescaya akan dilimpahi keberkatan ke atas kamu serta ahli rumah kamu” (HR Imam at-Tirmizi dari Anas r.a.). Rasulullah s.a.w. pernah bertanya para sahabat baginda; “Mahukah aku tunjukkan kepada kamu suatu amalan yang jika kamu lakukan nescaya kamu akan saling berkasih-sayang?”. Jawab mereka; “Ya”. Lalu baginda bersabda; “Hidupkan budaya memberi salam antara sesama kamu” (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.).

e) Mempraktikkan adab-adab Islam di dalam rumah. Antara adab-adab Islam yang perlu dipraktikkan oleh ibu-bapa serta ahli keluarga di rumah ialah adab ketika makan, adab ketika masuk dan keluar tandas, adab berpakaian, adab anak-anak ketika hendak masuk ke bilik ibu-bapa (terutamanya apabila anak-anak telah mumayyiz), adab keluar dan masuk rumah, adab tidur dan bangun dari tidur dan sebagainya. Adab-adab ini amat penting kerana ia melibatkan amalan dan rutin harian yang boleh memberi contoh berkesan kepada anak-anak dalam meningkatkan roh keislaman mereka. Umar bin Abi Salamah r.a. menceritakan: “Semasa saya masih kanak-kanak di bawah jagaan Rasulullah SAW., suatu ketika saya makan dalam keadaan tangan saya bergerak sana sini mengambil makanan yang ada di dalam talam (sedang orang makan bersama). Lalu Rasulullah s.a.w. menasihatkan saya; “Wahai anakku! Mulakan makan dengan menyebut nama Allah (membaca Bismillah), kemudian makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari makanan yang berada di depanmu”. (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim).

3) Jika ingin memohon perlindungan untuk rumah, lakukanlah sebagaimana yang diajar oleh Nabi SAW, antaranya ialah dengan membaca al-Quran dan doa-doa perlindungan yang makthur dari baginda. Sabda Nabi s.a.w.; “Janganlah kamu menjadikan rumah-rumah kamu ibarat kubur.

Sesungguhnya rumah yang dibacakan di dalamnya surah al-Baqarah, rumah itu tidak akan dimasuki Syaitan” (HR Imam Muslim dan at-Tirmizi dari Abu Hurairah r.a.). Sabda Nabi s.a.w.; “Sesiapa singgah/berhenti di satu tempat, lalu ia membaca “أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرّ مَا خَلَقَ” (Aku berlindung dengan kalimah-kalimah Allah yang sempurna dari kejahatan segala makhluk ciptaannya), nescaya tidaka ada sesuatupun dapat memudaratkannya hingga ia berpindah” (HR Imam Muslim dari Khaulah binti Hakim r.a.)

4. Demikianlah sebahagian dari amalan-amalan di dalam rumah yang digalakkan oleh Islam yang sabit dari hadis-hadis yang soheh dari Nabi s.a.w.. Dengan melakukan amalan-amalan tersebut, Insya Allah rumah kita akan sentiasa dilindungi dari Iblis dan Syaitan dan ahli keluarga kita akan senantiasa diberkati Allah.

Wallahu a’lam.

20 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Wahhabi kata orang jaya boleh masuk dengan duit

Wahhabi : Untunglah orang kaya boleh upah membaca al Quran untuk simati.

Si Cerdik : Baguslah sepatutnya, orang kaya boleh upah orang yang tidak berduit namun amat baik bagus membaca al Quran untuk dibacakan bagi simati. Ini dapat membantu orang miskin dari sudut ekonomi mereka. Dah ada sandaran dari hadith harusnya mengambil upah membaca al Quran.

Wahhabi : Upah membaca al Quran menggalakkan orang agar tidak belajar mengaji.

Si Cerdik: Tak perlu buat cerita mitos, dongeng lagi maudhuk, perkara yang tak wujud tak perlu direka-reka sampai terdesak begini sekali.

Tanpa wujud isu inipun yang suka berzikir bid’ah, syirik kafir ramai juga masih tak tahu mengaji dengan betul. Tapi amat mahir sekali soal hadith sahih dan palsu. Pelik kan ?

Bahkan bukankah kamu yang mengajar umat Islam jauh dari al Quran ?. Umat Islam di Malaysia amat dekat dengan bacaan Surah Yaasin tiap malam Jumaat. Kamu kata sesat masuk neraka, maka umat Islam yang terikut dengan hasutan tinggalkan bacaan sebahagian dari al Quran yang telah diamalkan selama ini.

Padahal dalam buku Surah Yaasin itu mengandungi surah Al fatihah, surah Al Ikhlas, Surah Al Falaq, Surah An Nas, sebahagian Surah al Baqarah, zikir, doa, selawat.

Bila mereka ingin baca surah al Kahfi, kamu pula kata ini hadith dhoief ! Maka mereka pun tinggalkan bacaan sebahagian dari al Quran.

Bila umat Islam suka baca mathurat, kamu pun kata juga ini bid’ah.

Di TV pula banyak perkara yang melalaikan untuk ditonton dan lagi mudah diikuti. Maka slogan kamu seterusnya MAKSIAT LEBIH BAIK DARI BID’AH mengikut kefahaman batil kamu. Nampak tak jahatnya kamu ini kat mana ?

Wahhabi : Mudahlah orang kaya masuk syurga ! sebab boleh transfer pahala kepada kaum keluarganya yang kata raya.

Si Cerdik : Soal pahala dan dosa itu urusan Allah. Ini asas aqidah dan sepatutnya kamu tahu dan belajar mengenainya. Allah suruh kita berdoa.. maka menurut Imam an Nawawi (Mujtahid Fatwa dalam Mazhab Asy Syafie) dalam kitab al Azkar – Dan sebaiknya orang yang membaca al-Qur’an selepas selesai membacanya hendaklah berdoa: “Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaanku ini kepada Fulan…” dan juga disunatkan memuji dan menyebut kebaikannya.
Serahkan urusan itu kepada Allah. Dan kamu tak perlu isukan perkara ini dengan tujuan supaya umat Islam lari dari beramal soleh.

Wahhabi : …… Memang bid’ah tu sesat ! Masuk neraka ! bla bla bla…

Si Cerdik : Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kamu dan kita semua umat Islam.

Akhir Zaman… Islam semakin asing..

Olih Ibnu Nafis

20 October 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Hendak 1000 daya Tak hendak 1000 satu Dalih

Bila ada seminar agama berbayar – dihentam, atau tidak mampu..diminta yang percuma

Bila dibuat yang percuma – dikata jauh
dari tempatnya..diminta yang dekat

Bila dibuat dekat – dikata tarikh tidak free..diminta dirakam ceramah

Bila sudah dirakam – dikata tak jumpa..diminta upload ke youtube

Bila sudah diupload – dikata panjang sangat..diminta buat pendek-pendek

Bila sudah dipecah-pecah – dikata tak jelas..diminta buat ikut tajuk

Bila sudah dibuat ikut tajuk – dikata bosan..diminta guna tajuk catchy

BIla sudah dibuat catchy – dikata tak jumpa..diminta link

Bila sudah diberi link – dikata belum sempat dengar..diminta tunggu

Bila sudah lama tunggu – sudah dengar namun dengar separuh saja kerana bosan..diminta lawak dan penceramah perlu itu ini itu ini untuk menarik..

Bila penceramah sudah itu itu itu ini – dikata penceramah dah jadi retis kurang isi, lawak je pandai.

Ada sesiapa berada di mana-mana tahap seperti di atas?

Itulah masalah hati..masalah sendiri yang perlukan pembersihan, bukan masalah penceramah dan majlis ceramah. Hendak seribu daya, tidak hendak seribu dalih.

Dipetik dari FB Dr. Zaharuddin Abd Rahman

Sumber: Jakim

20 October 2015 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Politik dan Dakwah | Leave a comment

APA ADA PADA SOLAT?

Antaranya:
1) Dalam solat ada membesarkan Allah
Setiap bacaan solat adalah untuk membesarkan Allah. Ia bermula dengan takbiratul ihram lagi. Kita lafazkan bahawa Allah yang maha agong dan maha besar.
Jika orang membesarkan Allah, dia akan menjadi mausia yang mengaggap kecil pada dunia. Dan jika seseorang itu telah mengaggap kecil pada dunia, maka dia tidak akan takut dan gentar pada urusan dunia.
2) Dalam solat ada meminta petunjuk
Petunjuk jalan yang lurus bukan sahaja dalam bab agama, tetapi dalam setiap keputusan hidup kita. Allah letakkan doa itu di dalam surah al-Fatihah iaitu “Ihdinas Siratal Mustaqim”.
3) Dalam solat ada minta ampun pada dosa.
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud. “Rabbigfirli…… (ampunkan aku)
4) Dalam solat ada minta kasih sayang dari Allah
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “warhamni…. (kasihanilah aku)
5) Dalam solat ada meminta cukup bagi keperluan kita
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “wajburni… (cukupkan aku..)
6) Dalam solat ada minta kemuliaan
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “warfa’ni…(angkatlah darjat aku…)
7) Dalam solat ada minta rezki
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud. “warzukni….( rezkikanlah aku…)
8) Dalam solat ada minta kesihatan.
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “wa’aafini,,” (afiatkan aku…)
9) Dalam solat ada ucapan syahadah
Ia sebagai mengingatkan perjanjian kita pada dua syahadah iaitu penyaksian bahawa tiada yang disembah melainkan Allah dan Nabi Muhamad itu adalah pesuruh Allah. Ia diletakkan dalam tahyat awal dan tahyat akhir
10) Dalam solat ada selawat pada Nabi SAW
Nabi mengatakan bahawa, barangsiapa berselawat pada ku sekali, pasti Allah akan berselawat dan memberikan keselamatan padanya 10 kali. Allah letakkanselawat ini di dalam tahyat awal dan tahyat akhir.
Maha suci Allah yang menganugerahkan pada kita solat dan kebaikan solat itu kembali pada kita. Jika manusia tidak bersolat, ia tidak sekali-kali mengurangkan kebesaran dan keagongan Allah bahkan akan berlakulah kehinaan terhadap orang tersebut.

Sumber : Jakim

20 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Kisah Bidadari Syurga

Di kota Suffah tinggallah seorang pemuda bernama Zahid. Ia hidup pada zaman Rasulullah SAW. Setiap hari ia tinggal di Masjid Madinah. Zahid memang bukan pemuda tampan. Di usianya yang ke-35, ia belum juga menikah.

Suatu hari, ketika Zahid sedang mengasah pedangnya, tiba-tiba Rasulullah datang dan mengucapkan salam kepadanya.

Zahid terkejut dan menjawabnya dengan gugup. “Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau tampak sendiri saja”, sapa Rasulullah SAW.

“Allah bersamaku, wahai Rasulullah”, jawab Zahid.

“Maksudku, mengapa selama ini engkau masih bujang..? apakah tak ada dalam benakmu keinginan untuk menikah..?”, tanya beliau lagi.

Zahid menjawab, “Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, apalagi wajahku sangat tak memenuhi syarat, siapa wanita yang mau denganku..?”.

“Mudah saja kalau kau mau..!” kata Rasulullah menimpali.

Zahid hanya termangu. Tak lama kemudian Rasulullah memerintahkan pembantunya untuk membuat surat lamaran untuk melamar wanita bernama Zulfah binti Said. Ia anak bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan cantik jelita. Surat itupun diberikan kepada Zahid untuk kemudian diserahkan kepada Said. Setiba di sana ternyata Said tengah menerima tamu. Maka usai mengucapkan salam, Zahid menyerahkan surat tersebut tanpa masuk ke dalam rumah.

“Said saudaraku, aku membawa surat untukmu dari Rasulullah yang mulia”, kata Zahid.

Said menjawab, “Ini adalah kehormatan buatku”.

Surat itu dibuka dan dibacanya.

Alangkah terkejutnya Said usai membaca surat tersebut. Tak heran karena dalam tradisi bangsa Arab selama ini, perkawinan yang biasanya terjadi adalah seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan pula. Orang yang kaya harus kawin dengan si kaya juga. Itulah yang dinamakan “sekufu” (sederajad).

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah..?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihatku berbohong..?”

Dalam suasana demikian, Zulfah datang dan bertanya, “Ayah.. mengapa engkau tampak tegang menghadapi tamu ini..? Apa tak lebih baik bila ia disuruh masuk..?”

“Anakku, Ia adalah seorang pemuda yang sedang melamarmu. Dia akan menjadikan engkau istrinya”, kata Said kepada anaknya.

Di saat itulah Zulfah melihat ayahnya, ia pun menangis sejadi-jadinya. “Ayah banyak pemuda yang lebih tampan dan kaya raya, semuanya menginginkan aku. Aku tak mau, Ayah..!” jawab Zulfah merasa terhina.

Said pun berkata kepada Zahid, “Saudaraku, engkau tahu sendiri anakku merasa keberatan. Bukannya aku hendak menghalanginya. Maka sampaikanlah kepada Rasulullah SAW bila lamaranmu di tolak”.

Mendengar nama Rasulullah SAW disebut sang ayah, Zulfah berhenti menangis dan bertanya, “Mengapa ayah membawa-bawa nama Rasulullah SAW..?”

Said menjawab, “Lelaki yang datang melamarmu ini adalah karena perintah Rasulullah.”

Serta merta Zulfah mengucap istigfar berulang kali dan menyesali kelancangan perbuatannya itu. Terus, wanita muda itu berkata kepada sang ayah, “Mengapa ayah tidak mengatakannya sejak tadi bila yang melamarkan lelaki itu adalah Rasulullah SAW. Kalau begitu keadaanya, nikahkan saja aku dengannya. Karena aku teringat firman Allah : ‘Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil Allah dan Rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.’ (An-Nur : 51).”

Hati Zahid bagai melambung entah ke mana. Ada semburat suka cita yang tergambar dalam rona wajahnya. Bahagia, itu yang pasti ia rasakan saat itu. Setiba di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid..?” tanya Rasulullah.

“Alhamdulillah diterima, wahai Rasulullah,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan..?” tanya Rasulullah lagi.

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Rasulullah.. aku tidak memiliki apa-apa.”

Rasulullah pun menyuruhnya pergi ke rumah Abu Bakar, Utsman dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan sejumlah uang yang cukup, Zahid pergi ke pasar untuk belanja persiapan pernikahan. Bersamaan dengan itu Rasulullah menyeru umat Islam untuk berperang menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, ia melihat kaum muslimin telah bersiap dengan persenjataanya. Zahid bertanya, “Ada apa ini..?”
Shahabat menjawab, “Zahid.., hari ini orang kafir akan menghancurkan kita. Apakah engkau tidak mengetahuinya..?”
Zahid pun beristigfar beberapa kali sambil berkata, “Wah, kalau begitu aku lebih baik menjual perlengkapan perkawinan ini dan aku akan membeli kuda terbaik.”

“Tetapi Zahid, malam nanti adalah bulan madumu. Apakah engkau akan pergi juga..?” kata para shahabat menasehati.

“Tidak mungkin aku berdiam diri..!” jawab Zahid tegas.

Lalu Zahid membaca ayat, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah : 24).

Akhirnya Zahid melangkah ke medan pertempuran sampai ia gugur.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.” Lalu Rasulullah membacakan surat Ali Imran ayat 169 – 170.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) telah mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Para Shahabat pun meneteskan air mata. Bagaimana dengan Zulfah..?

Mendengar kabar kematian Zahid, ia tulus berucap, “Ya.. Allah.. alangkah bahagianya calon suamiku itu. Andai aku tak dapat mendampinginya di dunia, izinkanlah aku mendampinginya di akhirat kelak.” Demikian pintanya, sebuah ekspresi cinta sejati dari dunia hingga akhirat. Cinta yang bersemi oleh ketaatan kepada titah Rasulullah SAW, meski semula hati berontak.

(Dikutip dari buku “Ayat-Ayat Pedang – Kisah Kisah Pembangun Semangat Juang” Oleh : Layla TM)

Sumber: KIsah Islami

20 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Membeli Matawang Asing Ketika Nilai Ringgit Jatuh

image

Membeli Matawang Asing Ketika Nilai Ringgit Jatuh

Q&A BERSAMA PAKAR MUAMALAT PROF MADYA DR AZMAN (UIA)

Membeli Matawang Asing Ketika Nilai Ringgit Jatuh

Salam. Tuan, saya mohon penjelasan. Halal or haram jika ada seorang ni dia pergi ke money changer dan tukar duit malaysia ke duit singapura. Lepas berlalu tempoh masa nilai wang malaysia ni jatuh. Dia pun tukar balik duit singapura ke duit Malaysia sebab nilai dia dah meningkat. Boleh ker? Adakah ini trglng dln forex jugak? Jika haram, apakah faktor pengharamannya?

Jawapan

Menukar duit atau membeli matawang asing adalah harus. Ia dipanggil al-sarf. Dahulunya dinar ditukar dengan dirham. Pada zaman Rasulullah harga 1 dinar sama dengan 8 atau 10 atau 12 dirham. Bahkan ada banyak riwayat berkenaan pertukaran dirham dan dinar beserta pembayaran dalam dirham bagi jualan tangguh bayaran yang mana harganya dipersetujui dalam dinar. Begitulah disebaliknya, sesuatu dijual dengan dirham secara tangguh, dilunaskan dengan dinar sebagaiman yang disebut dengan jelas oleh Abdullah bin Omar.”Daku menjual unta dengan dirham (perak) dan menerima bayaran (credit/ansuran) di dalam dinar dan adakalanya daku menjual unta dengan harga dinar (emas), dan menerima bayaran dengan dirham. Aku bertanya Rasulullah SAW berkenaan dengan transaksi tersebut. Baginda menjawab, tidak mengapa asalkan ia dilunaskan berdasarkan harga matawang pada hari bayaran tersebut.”

Berbalik kepada persoalan di atas, sekiranya seseorang membeli USD kerana takut RM jatuh atau kerana apa apa tujuan, maka ia adalah harus dengan syarat pertukaran berlaku secara tunai dan pertukaran dibuat dalam majlis aqad tanpa sebarang penagguhan serahan mana mana matawang yang ditukarkan/dibeli. Tetapi dia juga perlu sedar tidak semestinya USD sentiasa naik, dengan itu ia bukannya menjamin keuntungan. Harga matawang sentiasa berubah rubah. Peniaga matawang juga sentiasa berdepan dengan risiko naik turun matawang yang diniagakan.

Wallahua’lam

Oleh Pakar Muamalat Prof Madya Dr Azman UIA Rujukan http://drazman.net/2015/10/tukar-duit/

20 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Muamalat (Harta), Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Mari semak Mandi Wajib Kita – Adakah selama ini menepati syarat sah?

image

Bagaimana hendak Mandi wajib yang betul dengan guna shower.

Bagi memastikan mandi wajib itu sah, maka perlu dipenuhi dua rukun iaitu berniat mandi hadas dan meratakan air ke seluruh badan. Jika seseorang mandi dengan menyempurnakan dua rukun tersebut, sahlah mandi wajibnya. Pertama, dia berniat di dalam hati ketika mandi itu bahawa mandi yang dilakukannya itu adalah bertujuan untuk menghilangkan hadas (bukan mandi biasa). Kedua, dia meratakan air ke seluruh badannya termasuk celah-celah rambut dan kawasan-kawasan yang berlipat di badan. Cara bagaimana dia mandi (sama ada dengan menyelam atau menjirus atau berdiri di bawah shower atau air terjun) tidaklah menjadi syarat asalkan air merata ke seluruh badan (dari hujung rambut hingga ke hujung kaki).

Bagi memastikan air merata pada bahagian kemaluan hadapan dan belakang, maka antara caranya ialah mencangkung sambil menyampaikan air ke bahagian yang sukar air sampai. Begitu juga, tidak disyaratkan bilangan jirusan tertentu. Jika dengan sekali jirusan sudah dapat meratakan air ke seluruh badan, memadai dengannya. Jika tidak, perlulah diulangi jirusan hingga diyakini air telah sampai ke serata badan. Namun, makruh mandi dengan terlalu banyak air hingga menimbulkan pembaziran.

Namun, bagi menyempurnakan pahala mandi wajib, maka digalakkan melakukan juga perbuatan-perbuatan yang disunatkan semasa mandi. Menurut mazhab Syafi’i, antara perbuatan yang disunatkan ketika mandi wajib ialah:

1. Membaca Bismillah.
2. Dimulai dengan membasuh kedua tangan.
3. Menggunakan tangan kiri ketika membasuh kemaluan dan ketika menghilangkan najis di badan jika ada.
4. Mengambil wuduk sebelum mula mandi.
5. Mandi dari atas ke bawah; yakni dari kepala turun ke kaki.
6. Menggosok celah-celah rambut dengan air, kemudian menjirus air ke kepala dengan tiga kali cebukan air.
7. Mandi dari sebelah kanan, kemudian baru kiri, yakni menjirus badan sebelah kanan dahulu, baru sebelah kiri.
8. Mengulangi mandi sebanyak tiga-tiga kali bagi setiap anggota.
9. Menggosok-gosok badan dengan tangan ketika mandi.
10. Menyelati celah-celah jari tangan dan kaki (jika dikhuatiri air tidak sampai tanpa diselati, wajiblah melakukannya).
11. Membaca doa apabila selesai mandi sebagaimana doa selepas mengambil wuduk.

Wallahua’lam

Rujukan:http://www.e-fatwa.gov.my/blog/Mandi-wajib-guinea-shower

20 October 2015 Posted by | Fiqh, Ibadah | Leave a comment

Ujian Musibah Tanda Hamba Dikasihi

Daripada Anas RA katanya, telah bersabda Rasulullah SAW,
“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang hambanya, disegerakan bagi hamba itu balasan sewaktu di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki dengan hambanya keburukan ditangguh pembalasan itu supaya disempurnakannya di hari kiamat. Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya besarnya pahala itu bergantung pada besarnya ujian, sesungguhnya Allah itu apabila dia mengasihi sesuatu kaum dia menguji mereka dengan kesusahan. Sesiapa yang reda dengan kesusahan itu akan mendapat keredhaan Allah dan siapa yang tidak redha maka dia akan menerima kemurkaan Allah.”
(At-Tirmizi)

Huraian Hadith:
Orang beriman akan diuji menurut tahap keimanan dan kedudukan mereka di sisi Allah.

Bersabar menghadapi bala atau penyakit akan menghapuskan dosa.
Di antara tanda-tanda seseorang itu disayangi Allah ialah bala ujian yang ditimpakan ke atasnya.

Oleh itu kita wajib bersabar atas kesusahan yang menimpa kita agar tidak ditimpa bala dua kali, yang keduanya ialah kerugian luput pahala.
Seseorang yang sabar menghadapi kesusahan hidup adalah sebagai tanda bahawa dia dikasihi Allah. Orang yang tidak dikasihi Allah dilambatkan balasannya iaitu sampai ke hari kiamat.
Seseorang yang bersabar menghadapi kesusahan akan diberi ganjaran yang setimpal dengan kesusahan yang dihadapi itu.

Seseorang yang ingin menjadi hamba yang dikasihi Allah dia hendaklah bersedia menerima ujian yang diturunkan Allah kepadanya, sebaliknya seseorang yang tidak redha menerima ujian Allah dia akan dibenci Allah.

Sumber Jakim

20 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Ucapan Datuk Seri Anwar Ibrahim bertajuk “Religion and Pluralism in a Divided World” di London School of Economic (LSE) pada 18 Mac 2010.

12 Dalil Ucapan Anwar Bercanggah Akidah Islam

Sekurang-kurang 12 Dalil ucapan Datuk Seri Anwar Ibrahim bertajuk “Religion and Pluralisme in a Divided World”(Agama dan Pluralisme Dalam Dua Dunia), pada 18 Mac 2010, di London School of Economic (LSE) perlu dinilai semula kerana dibimbangi bercanggah dengan akidah Islam.

Demikian penegasan yang dibuat oleh Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady, Felo Amat Utama, International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) dalam kertas kerjanya “Pluralisme Agama dan Anwar : Beberapa persoalan dilihat dari pandangan arus perdana Islam” yang diedarkan kepada semua peserta Wacana Sehari anjuran bersama Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), Jabatan Agama Islam Selangor(JAIS), Pertubuhan Muafakat Sejahtera Masyarakat Malaysia ( MUAFAKAT), Majlis permuafakatan Badan Amal Islam Wilayah Persekutuan, Allied Coordinating Committee of Islamic NGO (ACCIN) dan Yayasan Dakwah Islamiyah Malaysia (YADIM) di di Masjid Wilayah Kuala Lumpur.

Setiap peserta dibekalkan kompilasi ucapan Datuk Seri Anwar Ibrahim di LSE, London (18 Mac 2010) dalam dwi-bahasa,tekd asal dalam Bahasa Inggeris dan teks ucapan yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu. Manakala untuk menjawab teks ucapan Anwar itu, turut dilampirkan bersama kertas kerja Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady.
“Kompilasi ringkas ini adalah bagi menunjukkan satu contoh penyebaran luas fahaman Pluralisme Agama serta menjawab fahaman salah mereka yang mengusung idea yang ingin menyamaratakan semua agama”, ditulis dimuka depan kompilasi bertajuk “Menyanggah Pluralisme Agama Menyelamatkan Umat Islam Di Malaysia” itu.

12 Dalil kesalahan-kesalahan Anwar yang dikupas oleh Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady adalah seperti berikut :

1. Persoalan Ekslusif Agama (Religious Exclusivism) – hanya satu agama sahaja yang benar, manakala agama lain adalah salah.

Anwar Ibrahim : Golongan-golongan agama tertentu yang menganggap hanya satu ajaran asasi tertentu (fundamental doctrines) sahaja yang membawa ke jalan keselamatan/syurga (salvation) adalah pandangan yang silap dan tertutup. Agama-agama lain juga benar. Maka Pluralisme Agama adalah jalan penyelesaian terbaik untuk mengelakkan perpecahan tersebut.

Uthman El-Muhammady : Pluralisme yang mengajar penganutnya tentang tidak ada kebenaran mutlak dan tidak ada ajaran asasi yang menjamin keselamatan/kebahagian/syurga, tidak boleh diterima, malah ditolak dalam agama Islam. Sekiranya diterima anjuran Pluralisme itu maka tiada ertinya firman-firman Al Quran yang menyebut bahawa ia datang membawa al-haq (kebenaran) dan dengan itu kebatilan akan hilang.

2. Persoalan Pendapat Ahli Sufi Jelaluddin al-Rumi

Anwar Ibrahim : Pluralisme Agama dianjurkan sejak dari abad ke-13 lagi. Buktinya kata-kata oleh penyair sufi, Jelaluddin al-Rumi yang menyebut; “Lampu-lampunya berlainan, tetapi Cahaya itu sama, ia datang dari seberang sana; kalau anda terus menerus melihat pada lampu, kamu tersesat; kerana dari sana timbul rupa lahir pada bilangan dan kemajmukan”(The lamps are different but the Light is the same, it comes from Beyond; If thou keep looking at the lamp, thou art lost; for thence arises the appearance of number and plurality).

Uthman El-Muhammady : Pandangan ini tidak benar kerana Jelaluddin al-Rumi adalah seorang Muslim, Sunni, bermazhab Hanafi yang bersyair dalam konteks kerangka Islam dan bukannya di luar konteks Islam. Bukannya antara agama Islam dengan agama-agama lain. Tentang simbolik ‘cahaya’ dan ‘lampu’ itu perlu dilihat dari segi amalannya sebagai seorang sufi yang bersyair dalam kerangka Islam. Ia berbicara tentang manusia yang perlu ‘menyeberangi’ sebelah sana bentuk rupa dalam syariat, menuju ke alam hakikat. Namun begitu, mesti berpegang kepada syariat dan bukan meninggalkannya.

3. Persoalan Konsep Agama Adalah Universal
Anwar Ibrahim : Semua agama mempunyai pertanyaan yang sama iaitu dari mana datangnya manusia? Apa matlamat hidupnya? Apa yang berlaku bila ia meninggal dunia? yang bermaksud persamaan universal (universal concepts) antara semua agama untuk mencari kebenaran, keadilan dan sifat keunggulan.
Uthman El-Muhammady : Konsep ini berlawanan dengan anjuran Al Quran. Kebenaran Islam adalah satu. Yang benar adalah apa yang Allah utuskan kepada Nabi dan Rasul terakhir, Nabi Muhammad SAW.

4. Persoalan Pendapat Dante, Penyair Kristian abad ke-14
Anwar Ibrahim – Dante, penyair Kristian di Itali pada abad ke-14 menganjurkan untuk mencapai kebahagian di dunia dan akhirat bukan semata-mata dengan ‘Kuasa’ tetapi juga dengan ‘Akal’. Visi Dante ini sama dan boleh dihubungan dengan visi tokoh-tokoh Islam termasuk al Farabi dan Ibn Rush :

Uthman El-Muhammady : Dante tidak menganjurkan pluralisme agama. Beliau hanya menerima agamanya (Kristian) dan menolak agama lain. Dalam epik puisi ‘The Divine Comedy’, karya Dante, beliau meletakkan Nabi Muhammad SAW dan Saidina Ali rd ke dalam neraka. Dalam ajaran Islam, setelah turunnya al Quran maka mansuhlah semua sistem kepercayaan lain, dan ajaran Quran adalah universal. Dalam Islam, ‘Akal’ semata-mata bukan penentu kepada kesejahteraan tetapi juga bergantung kepada kepercayaan ‘Wahyu’ dan ‘Syariat’. Sebab itu al Farabi dan Ibn Rush tidak bergantung kepada ‘Akal’ tetapi beriman kepada ‘Wahyu’ Al Quran dan Syariat Nabi Muhammad SAW.

5. Persoalan Konsep Kebebasan Beragama VS Pluralisme Agama
Anwar Ibrahim : Pada hari ini wujud kebebasan beragama (freedom of religion) tetapi mengenepikan Pluralisme Agama (Religious Pluralism) yang sepatutnya kedua-duanya diperteguhkan sebagai konsep kebebasan di negara-negara yang mengamalkan demokrasi. Memihak kepada satu agama dan mengenepikan agama-agama lain adalah bertentangan dengan semangat Pluralisme Agama. Perkara ini lebih ketara di Timur Tengah dan Asia Tenggara.

Uthman El-Muhammady : Jika negara-negara Islam, adalah wajar kerajaannya berpihak kepada Islam dan memelihara syariat-syariatnya. Dalam Islam, kerajaan tidak boleh menganggap bahawa tidak ada kebenaran yang mutlak, kerana kebenaran itu tetap ada, dan negara itu mesti berpegang kepada kebenaran tersebut. Sebab itu, al-Mawardi di Baghdad pada zamannya memastikan pihak kerajaan memperbetulkan kesilapan-kesilapan orang ramai apabila berlaku penyelewengan akidah ajaran Islam. Tetapi pihak kerajaan tidak boleh menganiayai pihak yang bukan Islam, mereka tetap diberi hak untuk mengamalkan agama mereka.

6. Persoalan Firman Allah, ‘Tidak Ada Paksaan Dalam Agama’
Anwar Ibrahim : Al Quran sendiri menganjurkan Pluralisme Agama seperti dalam firman ‘tidak ada paksaan dalam agama’, maka mestilah perbuatan memaksakan kepercayaan seseorang ke atas orang lain bukan bersifat Islamik. Jika ayat ini ditolak maka kenyataan Al Quran itu tidak mempunyai apa-apa erti.

Uthman El-Muhammady :Tidak ada paksaan dalam agama’ (2:256) dalam Islam bermaksud bahawa umat Islam tidak boleh memaksa bukan Islam supaya memeluk Islam. Ia terletak pada pilihannya. Tetapi apabila seseorang itu sudah Islam maka ia tertakluk kepada undang-undang Islam, termasuk berkenaan larangan murtad daripada agama Islam. Kita tidak menafsir kebebasan beragama itu bermakna kebebasan untuk murtad bagi orang Islam.

Maka umat Islam tidak seharusnya mengikuti falsafah lain tentang kebebasan manusia dan agama apabila falsafah itu sendiri bercanggah dengan Quran. Dalam Islam ‘freedom of conscience’ (kebebasan jiwa) bukannya kebebasan ala Barat tetapi harus tunduk dengan akidah dan syarak Islam.

7. Persoalan Konsep Menuju Kepada Yang Satu

Anwar Ibrahim : Guru Granth Sahib, Kitab Agama Sikh memberitahu kepada semua manusia bahawa seseorang yang mampu melihat semua jalan-jalan kerohanian (spiritual paths) akan membawa kepada Yang Satu dan akan menjadi bebas merdeka tetapi orang yang menyatakan kepalsuan akan turun ke dalam api neraka dan terbakar di dalamnya. Orang yang berbahagia ialah orang yang disucikan dan mereka akan berterusan tenggelam dalam nikmat Kebenaran.

Uthman El-Muhammady : Dalam Islam konsep ‘Menuju Kepada Yang Satu’ perlu dilihat dalam konteks Quran. Tentang sistem kepercayaan lain yang menyebut semua jalan membawa kepada Yang Satu, kalau Yang Satu itu membawa kepada kekaburan, itu akan mengundang masalah. Penyembahan Berhala bukan Yang Satu, Penyembahan Tuhan yang bukan secara tauhid juga bukannya Yang Satu, begitu juga kepercayaan tentang sesuatu kuasa ghaib yang kabur, mengatasi yang lain, juga bukan Yang Satu dalam Al Quran.

8. Persoalan Semua Kepercayaan Agama Adalah Sama

Anwar Ibrahim : Apa juga agamanya, sama ada Islam, Kristian, Sikh, Hindu serta yang lain, saya percaya bahawa kebenaran-kebenaran yang paling tinggi (higher truths) akan mengatasi amalan- amalan semata-mata (mere practice) dan semua ibadatnya berpusat kepada kebenaran yang satu itu (singular truth): bahawa dari Allah kita datang dan kepada Allah kita kembali.

Uthman El-Muhammady : kebenaran-kebenaran yang tertinggi (higher truths) yang mengatasi amalan-amalan semata-mata (mere practice) dan semua ibadatnya berpusat kepada kebenaran yang satu itu (singular truth) juga perlu dilihat dalam konteks Al Quran. Apabila diturunnya Al Quran, maka terputuslah kebenaran agama-agama lain (‘muhaiminan ‘alaih). Menurut Islam tidak ada yang benar, melainkan ajaran al-Quran.

9. Persoalan Perintah- Perintah Eksklusif (Exclusivist Claims)
Anwar Ibrahim : Hari ini, terdapat pemimpin-pemimpin agama-agama dunia tertentu yang terus menerus membuat Perintah-Perintah Eksklusif (exclusivist claims) tentang mereka memiliki kebenaran yang kekal abadi berbanding dengan penerimaan perkara-perkara yang disepakati bersama (commonality) yang mampu menghubungkan semua manusia. Kalaulah kita menerima hakikat bahawa memang terdapat kepelbagaian, maka Pluralisme Agama adalah jawapannya kerana mampu menyatukan. Itulah jalannya untuk membawa keluar daripada kegelapan kepada cahaya, daripada perang kepada damai, daripada kebencian dan kejahatan kepada kasih-sayang dan kebaikan.

Uthman El-Muhammady : Adalah janggal sekiranya umat Islam menerima Bible dan kitab-kitab lain selain Al Quran sebagai ‘wahyu’. Teori John Hick yang mengatakan hanya Pluralisme Agama yang membawa kebahagian dan syurga tidak akan mempengaruhi umat Islam yang setia dengan wahyu Al Quran.

10. Persoalan Konsep Kebebasan
Anwar Ibrahim : kaum muslimin masih lagi berterusan berprejudis; menolak nilai kebebasan bersuara (free speech), kebebasan media (free press), demokrasi, dan kebebasan hati naluri (freedom of conscience). Mereka memandang budaya Pluralisme Agama sebagai satu bentuk konspirasi teragung oleh ‘pihak lain’, terutamanya Kristian, untuk mengembangkan ajarannya dan menjadikan muslimin memeluk agama Kristian. Pluralisme juga dilihat sebagai jerat untuk menyeluduk masuk demokrasi ala Barat melalui pintu belakang.

Tetapi sebenarnya ini merupakan suatu penyelewengan apabila dilihat menurut perlaksanaan hukum Islam. Di luar daripada kepentingan polisi awam, memang tidak ada kewajipan agama untuk orang Islam mengenakan undang-undang dan nilai-nilai umat Islam ke atas seluruh masyarakat.
Dari segi ideologi, sikap beku dalam pemikiran (rigidity) masih berupa penghalang kepada kemajuan dan islah. Muslimin hendaklah membebaskan diri daripada amalan-amalan lama menggunakan klise dan menjaja-jajanya (cliche-mongering) serta mengenakan label-label kepada orang, dan bergerak melewati kepentingan-kepentingan kelompok yang sempit. Penemuan semula garapan terhadap pluralisme yang asal dalam Islam sangat-sangat diperlukan.

Uthman El-Muhammady : Tentang pengamatan demikian ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan. Antaranya ialah nilai-nilai kebebasan bersuara, kebebasan media dan yang sepertinya tentang demokrasi dan kebebasan hati naluri (freedom of conscience), pada muslimin adalah perkara-perkara yang mesti tunduk kepada orientasi Syara’: Kalau kebebasan itu tidak bertentangan dengan Syara’, maka kebebasan itu dialu-alukan, tetapi sekiranya kebebasan itu bertentangan dengan Syara’ maka ia perlu dijauhi.
Sudah tentu bagi Muslimin, Syara’ mengatasi bahan pemikiran para pemikir semata-mata. Kalau diletakkan pemikiran-pemikiran dari para pemikir mengatasi Syara’ dan ijma’, itu adalah malapetaka intelektual dan rohaniah. Pihak yang berbicara tentang nilai kebebasan manusia sejagat perlu juga menghormati manusia beragama dalam mengamalkan agamanya dan bukannyahendak membatalkan amalan pihak lain dan mempromosikan haknya semata-mata. Itu pun bercanggah dengan nilai hak-hak asasi manusia.

11. Persoalan Syariat Islam
Anwar Ibrahim : Syariat itu bukannya hanya tertulis di atas batu, dan ia mengalami evolusi (perubahan) secara dinamik. Demi untuk mempertahankan moderat, maka unsur utama dalam metodologi Islam mesti dipandang dalam perspektif yang menyeluruh (holistic) yang akan menjadi lebih menarik, mengikut kaedah yang bersifat universal dan kekal abadi.
Dikatakan bahawa pluralisme dalam dunia yang terbahagi-bahagi ini akan menambah lagi perpecahan kepuakan yang membawa pula kepada suara yang diulang-ulang tentang ‘pertembungan tamadun’ yang telah dan masih meletihkan yang seperti ianya sama dengan pukulan ‘gendang purba’ itu. Bagaimanapun, sebagaimana yang dinyatakan oleh Eliot: Sejarah boleh berupa sebagai perhambaan, sejarah boleh pula berupa sebagai kebebasan.

Oleh itu, kita mesti membebas diri kita daripada penipuan konsep tentang pertembungan tamadun dan menumpukan semula perhatian kita kepada pertembungan yang menggelegak (bahaya) dalam umat Islam itu sendiri. Kita boleh melihat suatu pertembungan yang lebih merbahaya dan membimbangkan yang berlaku dalam tamadun yang sama(Islam), antara yang lama dan baharu (the old and the new), yang lemah dan kuat (the weak and the strong), moderat (liberal) dan fundamentalist (the moderates and the fundamentalists), dan antara modernis dan traditionalis (the modernists and the traditionalists).

Turki dan Indonesia dengan terang sedang merintis jalan demokrasi bagi umat Islam untuk ikutan mereka. Kemasukan Turki ke dalam Kesatuan Eropah yang segera akan berlaku juga berupa suatu kenyataan yang jelas tentang tahap demokrasi liberal dapat dicapai, walaupun, sayangnya, hambatan-hambatan yang dibentangkan di hadapannya oleh setengah negara-negara ahli itu sangat nyata memberi isyarat tentang Islamophobia yang ada. Di Asia Tenggara, Indonesia sudahpun mencapai garis penyudah [dalam amalan demokrasinya] manakala jiran-jirannya yang muslimin dalam negara masing-masing masih lagi terlekat dalam tahap permulaan jalannya.

Uthman El-Muhammady : Kita perlu melihat kenyataan ini dalam suluhan ajaran Islam tentang ada bahagian-bahagian Syara’ yang kekal dan ada yang berubah-ubah, dan bukan semuanya berubah-ubah. Akidah Ahli Sunnah tidak berubah; perincian-perincian Syara’ berkenaan dengan perkara-perkara baru yang tidak ada dalam nas secara terang-nyata dari fatwa-fatwa zaman berzaman boleh berubah. Tetapi kalau perubahan itu melibatkan seperti menghalalkan persetubuhan haram, judi, zina, menghalalkan yang haram dalam ijma’, kerana terpengaruh dengan ‘penemuan-penemuan’ para pemikir, ini tidak dibolehkan.

12. Persoalan Jihad

Anwar Ibrahim : Hari ini jihad dilaungkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengesahkan perbuatan-perbuatan keganasan dalam pelbagai bentuk dan rupanya, tetapi akhirnya menjadi kabur antara garis jihad dan keganasan. Mujurlah adanya pentadbiran Obama, maka kita telah melihat sesetengah perubahan berbanding polisi Bush yang mengamalkan sifat percanggahan dan memilih bulu, dalam memerangi keganasan, dengan memberi sokongan kepada para autokrat (penguasa kuku besi) di dunia Islam di satu pihaknya, dan menjadi jaguh kebebasan dan demokrasi di satu pihak lain pula. Walaupun selepas lebih setahun semenjak pentadbirannya (Obama) itu, kita masih lagi menanti untuk melihat perubahan-perubahan yang penting (substantive) dalam isi (substance) polisi luar negara Amerika dalam hubungan dengan Dunia Islam.

Uthman El-Muhammady : Kalau dalam suasana semasa ada penafsiran jihad yang tersasul dalam setengah umat Islam (kerana faktor-faktor sejarah yang mendesak dan tidak patut diremehkan) itu tidak boleh dijadikan dalil untuk penafsiran yang menyeluruh mewakili arus perdana umat Islam. Bagaimanapun, ini juga perlu dilihat dalam konteks pihak-pihak lepas, mahupun sekarang, memanipulasikan maklumat untuk kepentingan hegemoninya.

Agenda Pluralisme : Gagal Jawab Surat Amaran JAKIM, Anwar Tarik Balik Ucapan di Blog

Lampiran :
1. Ucapan Datuk Seri Anwar Ibrahim bertajuk “Religion and Pluralism in a Divided World” di London School of Economic (LSE) pada 18 Mac 2010. Versi English [Klik di sini] ; Versi Melayu [Klik di sini]; Audio [Klik di sini]
2. Rencana Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady bertajuk  “Pluralisme Agama Dan Anwar: Beberapa Persoalan Dilihat Dari Pandangan Arus Perdana Islam”
Sayu tidak terkira hati kita mengingatkan bahawa asalnya tokoh dakwah Islam yang berfikiran kebangsaan, menjadi aktivis dakwah, penerajunya, gerakan Islam (dengan pemikiran dipengaruhi Maududi, Hassan al-Banna, Syed Qutb dan yang sepertinya), akhirnya menjadi pendokong aliran John Hick dengan aliran pluralisme agama dengan implikasi-implikasi rohaniah terakhirnya. Allahumma sallimna wa’I-Muslimin. Amin.
Pluralisme yang ditakrifkan sebagai kenyataan pluralisme (‘sheer fact of pluralism’) (seperti dalam laman web projek pluralisme Universiti Harvard, antara lainnya) [1] sebagai keberadaan pelbagai agama dalam sesebuah negara atau masyarakat – dalam erti ini pluralisme diamalkan dalam Islam walaupun di Madinah di zaman Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam dan kemudiannya seperti di Andalusia dan kerajaan Othmaniah Turki.
Demikian pula pluralisme agama dalam erti adanya ruang awam di mana para penganut pelbagai agama bertemu dan berhubung serta mengadakan interaksi untuk saling memahami antara satu sama lain, itu juga sesuatu yang diterima dalam Islam, kerana kelainan umat manusia dalam kelompok-kelompok dan bangsa wujud untuk saling kenal mengenali antara sesama mereka sebagai bani Adam [2]; ini juga diterima dalam Islam semenjak zaman Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam, dan ia harmonis dengan ajaran Islam.
Tetapi pluralisme dalam erti kenisbian dalam kebenaran hakiki dan mutlak, yang mengajarkan tidak ada kebenaran mutlak yang boleh dicapai, dan tidak ada ajaran asasi yang menjamin keselamatan dan kebahagiaan, itu tidak diterima, bahkan ditolak dalam agama Islam. Kalau tidak ada erti kenyataan Qur’an yang menyebut bahawa ia datang membawa al-haq, kebenaran, dan dengan itu kebatilan hilang, kerana kebatilan memang mesti hilang [3].
Agama Islam datang dalam pusingan nubuwwah terakhir dalam sejarah umat manusia, yang selepas daripadanya tidak ada lagi nubuwwah dan kerasulan [4]; dan ia datang sebagai saksi atas sekalian ajaran di dunia, dan Nabi Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam datang sebagai saksi atas umat ini [5]. Peranan sebagai saksi atas umat manusia tentang kebenaran tidak mungkin terjadi pada orang yang mempunyai pegangan tentang ‘kebenaran yang pelbagai’ (multiple truths).
Pluralisme agama dalam erti yang dibentangkan dalam gagasan Prof Hick yang meninggalkan sikap eksklusif Khatolik, dan yang sepertinya, menganggap semua agama-agama membawa kepada ‘salvation’, menunjukkan pemikirnya tidak ada keyakinan terhadap agamanya dalam erti yang sebenarnya. Ia timbul daripada pengalaman peradaban dan budaya serta perkembangan pemikiran keagamaan Barat yang pahit dalam sejarahnya.
Tidak masuk akal sejahtera bagi orang Islam yang berimamkan Quran boleh mengikut aliran yang kemuflisan dari segi rohani dan penaakulan berasaskan tauhid seperti ini. Islam mengajarkan semua pengikut autentik para nabi selamat, pengikut Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam selamat, ahli fatrah yang tidak ada nabi pada zamannya, zaman antara dua nabi, selamat [6], mereka yang ‘tidak sampai seru’ selamat [7].
Orang yang berkepercayaan seperti John Hick dan yang sepertinya ini mungkin akan menjadi ‘lukewarm’ dalam keyakinannya, tidak lagi ia ‘minal-muqinin’ [8] dari kalangan orang-orang yang yakin; mungkin akhirnya ia menjadi agnostic, dijauhkan Allah, walaupun tidak disuarakannya.
Pegangan seperti ini membawa kita kepada perkara-perkara yang menjadi persoalan dalam kalangan mereka yang terpengaruh dengan aliran ini ialah seperti berikut:
1. Dalam menyebut tentang sikap eksklusif dalam agama yang membawa kepada pertelingkahan, disebut oleh setengah pihak sikap eksklusif itu ada dalam Islam Syiah-Sunni-dan dalam agama Kristian yang ada pecahan-pecahannya.
Dalam Islam wacana Sunni adalah arus perdana, sebagaimana yang ternyata dalam ijma’ selepas daripada Quran dan Sunnah; maka manusia perlu menggunakannya sebagai neraca, untuk membezakan apa yang boleh diterima dan apa yang tidak dari segi intelektual dan rohaniah, bukan yang lain, kalau pihak yang bukan Islam, mereka dengan agama mereka, tetapi perlu ada toleransi dan sikap hidup bersama dengana aman, kecuali berlaku pengkhianatan.
Tentang menyebut golongan Sufi seolah-olah lain daripada Ahli Sunnah itu tidak sepatutnya berlaku, sebab, sebagaimana yang dinyatakan dalam ‘al-Farqu bainal-Firaq’ antara lainnya [9] golongan Sufi adalah sebahagian yang tidak terpisah daripada Ahli Sunnah wal-Jamaah. Dengan itu maka tidak boleh mereka itu dianggap sebagai terpisah daripada epistemologi Sunni, bahkan ia intinya.
2. Ada di kalangan mereka yang terpengaruh dengan pluralisme dengan menyebut bait-bait Jalaluddin Rumi untuk ‘mengesahkan’ aliran pluralisme agama itu. Antaranya bait yang seperti di bawah:

Lampu-lampunya berlainan, tetapi cahaya itu sama, ia datang dari seberang sana; kalau anda terus menerus melihat pada lampu, kamu tersesat; kerana dari sana timbul rupa lahir pada bilangan dan kemajmukan.

Ini boleh difahami sebenarnya bila diingatkan bahawa Rumi adalah seorang Sunni yang berpegang kepada Mazhab Hanafi, dan ia taat kepada syariat. Ia ada menyebut perkara-perkara yang tidak disetujuinya berkenaan dengan Musyrikin, Kristian dan Yahudi. Bahkan suatu masa bila ia ditanya berkenaan dengan Jesus sebagai Tuhan, ia dengan keheranan bertanya, adakah munasabah orang kurus sedemikian yang tingginya beberapa meter yang dikejar-kejar orang untuk dibunuh ke sana ke mari, ia Tuhan Pencipta sekalian alam?
Kalau ia tokoh pluralisme sebagaimana yang disangka oleh mereka yang terpengaruh dengan aliran itu ia tidak demikian.

Adapun baitnya yang menyebut tentang cahaya dan lampu itu perlu dilihat dari segi ajarannya sebagai sufi, ini bukan kenyataannya tentang falsafahnya, ini bicara tentang manusia yang perlu ‘menyeberangi’ sebelah sana bentuk rupa dalam syariat, pergi kepada hakikat, tetapi mesti berpegang kepada syariat, bukan meninggalkannya, dan menganggap ‘semua benar.’ Ertinya ia berpartisipasi dalam syariat tetapi merealisasi ‘penyaksian rohaniah’ tentang kebenaran dalam agama. Ia bukannya mengatakan ‘ya’ kepada semua sistem kepercayaan.
Ertinya ia orang yang mencapai ma’rifat kepada Allah sebenarnya dan menyedari hakikat agama yang sebenar, ia bukan semata-mata terbatas kepada mazhab-mazhab seperti dalam Ahli Sunnah ada mazhab yang empat itu, tetapi di samping menerima mazhab itu dan beramal dengannya ia mencapai musyahadah secara rohaniah dan ‘menyaksikan’ perkara sebenar agama dengan penyaksian batin sendirinya. Itulah cahaya itu; ia bukan bererti bahawa pegangannya ialah semua seistem kepercayaan membawa kepada kebenaran dan kepada syurga.

3. Berkenaan dengan adanya soalan-soalan yang kelihatan ada persamaan antara manusia seperti dari mana datangnya manusia? Apa matlamat hidupnya? Apa yang berlaku bila ia meninggal dunia? Jalan kerohanian membawa kita kepada satu pencarian sarwajagat tentang kebenaran dan usaha untuk mencapai keadilan dan sifat keunggulan, ini semua bukan bererti bahawa semua agama membawa kepada ‘salvation’ dalam erti yang diajarkan oleh Quran; kebenaran Islam adalah satu. Yang benar adalah apa yang datang terakhir sebagai ajaran sarwajagat untuk semua manusia (kaffatan linnas). Kalau tidak sejarah anbia dan sejarah Nabi Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam tidak ada erti apa-apa.

4. Tentang ada pendapat Dante yang menulis di zamannya dalam Monarchia yang menyatakan tujuan terakhir hidup ini ada dua – kebahagiaan dalam dunia ini dan juga kebahagiaan dalam akhirat dengan berada dalam limpahan nur melihat Wajah Tuhan. Mencapai dua matlamat agung ini berlaku dengan menghadapi kesukaran yang besar.

Kejayaan itu boleh tercapai:
‘hanya bila gelombang-gelombang kerakusan yang menggoda itu ditenangkan dan umat manusia berehat santai dalam ketenangan dan keamanan’

Kenyataan itu benar dari segi jiwa manusia perlu ditundukkan supaya ia menyerah kepada kebenaran dan ia berpegang kepada sifat-sifat unggul, itulah yang membawa kepada kedamaian manusia dan hilangnya konflik. Tetapi ini bukan hujah untuk pluralisme agama dalam erti Hick, yakni bahawa semuanya membawa jalan ke syurga, dan tidak ada sistem kepercayaan yang dimansuhkan kebenarannya bila datang Quran.
Pada umat Quran dengan datangnya Quran berlakulah pemansuhan semua sistem kepercayaan, dan ajaran Quran adalah sarwajagat. Lagi pula kalau ini difahami sebagai hakikat bahawa manusia menjadi sejahtera bila ia tunduk kepada otaritas ilmu dan akal, maka bukannya ini membawanya ‘bertemu’ dengan Ibn Rushd dan al-Farabi, sebab kedua-duanya tunduk kepada Shariat Muhammad s.a.w dan Quran, tetapi Dante, walaupun selepas Quran datang, ia tidak tunduk kepadanya. Ertinya ia bukan berpegang kepada pluralisme agama dalam maman seperti Hick itu.

Bahkan dalam ‘Purgatio’ dalam ‘Divine Comedy’ nya Dante meletakkan Nabi Muhammad dan Saidina Ali rd dalam neraka [10]. Dijauhkan Allah. La haula wa la quwwata illa billah.

5. Kalaulah dikatakan sekarang keadaannya ialah bahawa kebebasan beragama yang tanpanya tidak ada pluralisme agama, adalah suatu kebebasan yang tertanam teguh sebagai kebebasan dalam perlembagaan dalam negara-negara demokrasi yang terkenal dan teguh kedudukannya, itu bukan bermakna bahawa di negeri-negeri Islam Muslimin dan kerajaannya tidak boleh memihak kepada Islam. Ini kerana dalam Islam kewajipan kerajaan Islam ialah melaksanakan ajaran Islam sampai sebaik-baiknya dan apa yang menggangu kejayaannya secara tidak patut mesti diselesaikan.
Dalam Islam kerajaan tidak boleh memilih untuk menganggap bahawa tidak ada kebenaran yang mutlak, kebenaran itu mesti ada, dan negara itu mesti berpegang kepada kebenaran itu.

Sebab itu al-Mawardi di Baghdad pada zamannya memastikan pihak berotoriti Islam memperbetulkan kesilapan-kesilapan orang ramai bila berlaku penyelewengan daripada ajaran Islam yang benar (kecuali orang yang berkenaan bukan Muslimin) [11]. Tetapi pihak berkuasa Muslimin tidak boleh menganiayai pihak yang bukan Islam, mereka ini diberi hak untuk mengamalkan agama mereka.

6. Tentang pendapat yang menyatakan bahawa kebebasan beragama yang terkandung dalam ayat yang bermaksud ‘Tidak ada paksaan dalam agama’ (2:256) itu dalam Islam memaksudkan bahawa kita tidak boleh memaksa orang supaya memeluk Islam, itu terletak pada pilihannya; tetapi bila ia sudah Islam tertakluk kepada undang-undang Islam, termasuk berkenaan larangan murtad daripada agama ini. Kita tidak menafsirkan kebebasan beragama itu kebebasan untuk murtad bagi orang Islam. Tidak ada pendirian itu dalam sejarah dan ilmu Islam.

Kalau hendak disebutkan perbandingan kita tidak memaksa orang untuk menjadi warganegara kita, tetapi bila ia menjadi warganegara ia tertakluk kepada undang-undang negara, ia tidak boleh berontak menentang negara itu. Dan tidak ada ‘pemberontakan’ yang melebihi ‘pemberontakan’ melawan Tuhan. Dijauhkan Allah.

Maka kita tidak seharusnya mengikut falsafah lain tentang kebebasan manusia dan agama bila falsafah itu bercanggah dengan Quran, walaupun ianya dianggap sebagai antarabangsa dan sebagainya. Demikian pula dengan kebebasan dhamir, freedom of conscience, kita memandangnya dalam konteks ajaran Syara’, kita tidak membuka ruang untuk kebebasan dhamir berjalan bila ia bercanggah dengan akidah dan aturan Syarak. Sangkaan bahawa kebebasan dhamir berjalan tanpa disiplin tidak ada dalam ajaran Islam. Kalau itu ada dalam ajaran lain itu pilihan pihak lain, bukan pilihan umat ini.

7. Berkenaan dengan orang lain yang mempunyai kepercayaan yang selain daripada Islam, kita tidak disuruh memilih untuk ‘menyerang’nya, bahkan kita dilarang ‘memaki’ apa yang menjadi pujaannya selain daripada Allah, walaupun yang secara kelihatan lembut dan berbudi, kalau tidak ia akan memaki Allah pula dalam perseteruan dan kejahilannya [12].

Kita diajarkan untuk menyeru manusia dengan hikmah kebijaksanaan (bukan putar belit), bila pihaknya sesuai digunakan kaedah itu, kemudian dengan nasihat yang baik, dan akhirnya kalau perlu berhujah, sebab pihak yang berkenaan itu degil, kita disuruh berhujah dengan ‘cara yang paling cantik’ [13].

Kita hidup dengan aman damai dan tidak mengganggunya, kecuali ia mengganggu kententeraman orang ramai. Dan kita lakukan demikian bukan untuk menjayakan pluralisme agama dalam erti John Hick tetapi dalam erti ‘bagi kamu agama kamu bagiku agamaku’ dalam surah al-Kaafirun, dan dalam erti yang diajarkan dalam Perlembagaan Madinah, sebagaimana yang tercatit dalam ‘Sirah ibn Ishaq’ yang di dalamnya orang Yahudi mengamalkan agama mereka dan orang Kristian mengamalkan agama mereka, tetapi mereka adalah ‘umat yang satu lain daripada manusia lain’ (dalam erti entiti siasah dan bernegara).

8. Adapun berkenaan dengan ayat tentang kejadian manusia berkaum-kaum dan bersuku-suku untuk kenal mengenali antara satu sama lain (bukan untuk bermusuh), itu memang benar, dan dihujungnya dinyatakan dengan terang dan tegas bahawa yang paling mulia di kalangan manusia ialah mereka yang paling bertaqwa (dalam erti paling menjaga suruhan dan larangan Allah) [14].

Ayat ini tidak boleh digunakan untuk memberi keabsahan kepada teori Hick tentang pluralisme agama dalam erti semuanya membawa kepada ‘salvation’.

9. Tentang adanya kenyataan dalam kitab agama lain yang menyatakan bahawa orang yang mampu melihat bahawa semua jalan membawa kepada Yang Satu, itupun perlu dilihat dalam konteks Quran sebagai ‘muhaiminan ’alaih [15] dalam erti ia menjaga erti-erti asasi dalam ajaran agama dan ‘membenarkan [kebenaran] yang terdahulu daripadanya [di kalangan anbia])’. Jalan yang dimaksudkan itu, kalau dalam Islam ialah jalan-jalan rohani yang sahih dalam ajaran para imam dan benar, bukan ‘jalan pemikiran’ para ‘pemikir’ dalam erti Barat yang tidak mempercayai wahyu dan nubuwwah serta tauhid, apa lagi kalau dalam pascamodenisme.

Tentang sistem kepercayaan lain yang menyebut semua jalan membawa kepada Yang Satu, kalau Yang Satu itu ialah kebenaran tauhid dalam Islam, maka itu tidak menjadi masalah; tetapi kalau semua sistem kepercayaan difahami membawa kepada Yang Satu yang kabur, itu menjadi masalah.

Penyembahan Berhala bukan Yang Satu, Penyembahan Tuhan yang bukan secara tauhid bukannya Yang Satu; kepercayaan tentang sesuatu kuasa ghaib yang kabur, mengatasi yang lain, bukan Yang Satu dalam Quran.

Pokoknya bergantung kepada kedudukan Quran sebagai ‘muhaiminan ‘alaih’ yang berupa pengawal kebenaran dalam erti-erti pengajaran agama, sebagaimana yang dihuraikan oleh teks-teks arus perdananya.

10. Tentang pandangan yang mengatakan bahawa apa juga agamanya, sama ada ia itu Islam, Kristian, Sikh, Hindu dan banyak lagi yang lain, dipercayai ialah bahawa kebenaran-kebenaran yang lebih tinggi (higher truths) yang mengatasi amalan-amalan semata (mere practice) dan ibadat semuanya terpusat atas kebenaran yang satu itu (singular truth): bahawa dari Allah kita datang dan kepada Allah kita kembali, ini juga perlu dilihat dalam rangka Quran sebagai ‘muhaiminan ‘alaih’.

Bila ini diambil sebagai neraca maka yang diambil kira bukan sahaja ‘kebenaran yang satu (secara tauhid yang sebenar)’ tetapi juga bentuk-bentuk amalan yang dilakukan, adakah ia sesuai dengan ajaran Quran atau tidak. Kalau tidak, maka kedudukannya adalah memang demikian.

Keringanan boleh berlaku bila itu adalah natijah daripada tidak sampai dakwah secara benar, atau tidak terdedahnya pihak yang berkenaan daripada kebenaran yang sebenar, atau orangnya berada dalam zaman fatrah yang tidak ada Rasul yang membawa kebenaran. Ajaran tentang semua ini kekal hingga ke akhir zaman. Tidak ada pemikiran falsafah dan penemuan akademik yang membatalkannya, bagaimana juga cerdik dan pintar orangnya. Selamat dan berbahagialah mereka yang tunduk kepada dan menerima kebenaran serta mengamalkannya, lebih-lebih lagilah merealisasinya dengan tahkiknya.

Amin.

11. Tentang pandangan yang menyatakan bahawa ada pemimpin-pemimpin tertentu agama-agama dunia yang terus menerus membuat dakwaan yang eksklusif (exclusivist claims) tentang mereka memiliki kebenaran yang kekal abadi dan tidak sangat menerima perkara-perkara yang sama (commonality) yang menghubungkan manusia semua dalam pelbagai agama, dan bahawa kalaulah diterima dasar persatuan dalam kepelbagaian, maka pluralisme agama menjadi satu tenaga penyatuan, bukan sebab bagi perpecahan, dan dinyatakan bahawa itu jalannya untuk menarik kita keluar daripada kegelapan kepada cahaya, daripada perang kepada damai, daripada kebencian dan kejahatan kepada kasih-sayang dan kebaikan, ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan secara serius.

Pertamanya, kalau dilihat dari segi Islam pengakuan itu dibuat oleh Muslimin daripada pengakuan Tuhan sendiri yang menyatakan bahawa Islam ini kebenaran sediakala yang ada dalam ajaran semua anbia dalam sejarah manusia, dan kedatangan Islam adalah untuk membenarkan kebenaran yang sediakala itu; kemudian ia datang untuk membuat pembetulan terhadap unsur-unsur yang terubah dalam ajaran agama-agama, dengan itu ia membuat koreksi. Maka Muslimin membuat kenyataan itu atas perintah Tuhan dalam wahyuNya.
Adalah janggal tidak terkira lagi kalau ada orang yang menerima Bible atau sebagainya sebagai ‘wahyu’ tetapi dalam masa yang sama menafikan yang demikian dalam hubungan dengan Quran, walhal Quran datang dalam suluhan sejarah yang terang benderang (in the full day light of history). Dalam erti ini pengakuan Muslimin adalah pengakuan yang setia dengan agama para anbia, tidak dipengaruhi oleh andaian-andaian (zann yang disebut dalam Quran) para pemikir, bagaimana bijak dan pintar mereka itu sekalipun. Maka pengakuan ini mesti dibuat dan dipertahankan; dan teori John Hick tentang pluralisme agama yang menjamin syurga untuk semua tidak mempengaruhi Muslimin yang setia dengan wahyu Qurannya.
Dan keduanya Muslimin terus menerus menegaskan bahawa keadaan damai ialah bila manusia berakhlak mulia dan tidak berkhianat dalam akhlaknya, serta tidak mengamalkan nilai ganda (double standard), untuk diri lain untuk orang lain, lain. Dan manusia boleh aman kalau mereka mengamalkan apa yang disuruh oleh Nabi s.a.w. Sebab itu baginda menunjukkan jalan itu antaranya dalam Perlembagaan Madinah. Tetapi bila pihak yang satu lagi belot, maka berlakulah apa yang telah berlaku itu. Allahumma sallimna wal-Muslimin.

12. Pengamatan yang menyebutkan bagaimana masih ada pula pendapat yang menyebut tentang Muslimin bahawa masih berterusan adanya masalah mereka yang menolak nilai kebebasan bersuara, kebebasan media, demokrasi dan kemerdekaan dhamir (freedom of conscience). Mereka memandang budaya pluralisme agama sebagai satu bahagian daripada konspirasi agung oleh ‘pihak lain’, terutamanya Kristian, untuk mengembangkan ajarannya dan menjadikan Muslimin memeluk agama Kristian. Pluralisme juga adalah jerat bagi menyeludup masuk demokrasi ala Barat melalui pintu belakang.
Tentang pengamatan demikian ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan. Antaranya ialah nilai-nilai kebebasan bersuara, kebebasan media dan yang sepertinya tentang demokrasi dan kebebasan dhamir, itu semua pada Muslimin adalah perkara-perkara yang mesti tunduk kepada otaritas Syara’: Kalau kebebasan bersuara itu sesuai dengan Syara’, tidak membawa kepada yang terlarang, kebebasan dhamir, demikian seterusnya, kalau tidak bercanggah dengan Syara’, bahkan lebih-lebih lagi menjayakan Syara’, maka sudah tentu itu tidak ditentang.
Sudah tentu bagi Muslimin Syara’ mengatasi bahan pemikiran para pemikir semata; lainlah kalau petkara yang demikian datang daripada mujadid yang diakui dalam Ahli Sunnah. Kalau diletakkan pemikiran-pemikiran dari para pemikir mengatasi Syara’ dan ijma’, itu adalah malapetaka intelektual dan rohaniah, dijauhkan Allah.

Soalnya bukan menolak seratus peratus dan menerima seratus peratus; apa yang baik diambil apa yang tidak baik tidak diambil. Pihak yang berbicara tentang kebebasan manusia sejagat perlu menghormati manusia beragama mengamalkan agamanya dan bukannya hendak membatalkan amalan pihak lain dan mempromosikan haknya semata. Itu bercanggah dengan hak asasi manusia.

13. Berhubungan dengan kemungkinan adanya persamaan antara amalan ‘mantra’ dan ‘Lords Prayer’ dan apa juga, maka bagi Muslimin itu perlu dilihat dalam rangka Quran sebagai penjaga atas erti-erti ajaran suci dalam sejarah manusia, tuntutan Syara’ dan Ijma’. Kalau ada persamaan itu, maka masih kelihatan ada peninggalan-peninggalan tentang persamaan itu. Tetapi kebenaran dengan kepenuhan, kedalaman serta kesempurnaannya ada pada wahyu terakhir dalam sejarah umat manusia. Selamatlah mereka yang menerimanya beramal dengannya.
Mereka yang lain daripadanya bertanggungjawab atas perbuatan mereka, apa jua alasan-alasan yang dikemukakan untuk mempertahankannya. Dalam bermuamalah dengan para pemeluk sistem kepercayaan lain, Muslimin mesti mengamalkan akhlak yang mulia dan menghormati pihak lain itu, dan jangan sekali-kali menunjukkan penghinaan terhadap pihak lain dengan apa cara sekalipun.

14. Tentang pendapat yang menyebut Syariat bukan tertulis ‘pada batu’ dan ia mengalami evolusi yang dinamis (the Shari’ah was never cast in stone and evolves continuously through this dynamic process), maka kita perlu melihat kenyataan ini dalam suluhan ajaran Islam tentang ada bahagian-bahagian Syara’ yang kekal dan ada yang berubah-ubah, dan bukan semuanya berubah-ubah. Akidah Ahli Sunnah tidak berubah; perincian-perincian Syara’ berkenaan dengan perkara-perkara baru yang tidak ada dalam nas secara terang-nyata dari fatwa-fatwa zaman demi zaman boleh berubah. Kalau ini difahami demikian maka tidak ada masalah.

Tetapi kalau itu melibatkan perubahan-perubahan seperti menghalalkan persetubuhan haram, judi, zina, menghalalkan yang haram dalam ijma’, kerana terpengaruh dengan ‘penemuan-penemuan’ para pemikir, ini tidak dibolehkan. Kalau itu membawa kepada pendirian bahawa posisi Quran terinjak kerana pemikiran orang-orang seperti John Hick dan yang sepertinya, itu tidak dibolehkan.

15. Kalau dalam suasana semasa ada penafsiran jihad yang tersasul dalam setengah kalangan (kerana faktor-faktor sejarah yang mendesak dan tidak patut diremehkan) itu tidak boleh menjadi dalil bagi sesiapa melihatnya sebagai penafsiran yang menyeluruh mewakili arus perdana umat. Bagaimanapun ini juga perlu dilihat dalam konteks pihak-pihak, yang dalam sejarah, juga sekarang, memanipulasikan maklumat untuk kepentingan hegemoninya.

16. Akhirnya kita mesti kembali kepada wacana arus perdana umat khaira ummatin ukhrijat linnas, yang hakikatnya, tidak ada wacana yang mengatasi kebenarannya, apa pun yang dikatakan oleh pihak postmodernis, Islam Liberalis, pluralis agama, pihak perennalists dan sesiapa pun yang seperti mereka. Tetapi kita kena mengetahui perbezaan-perbezaan, persamaan-persamaan, beradab, berdisiplin, menghormati orang lain dan dalam batasan-batasan yang wajar.
Dari Allah kita datang kepadaNya kita kembali. Wallahu a’lam. Selawat dan salam kepada baginda, ahli keluarganya dan para sahabatnya dan semua mereka yang mengikutnya dalam ihsan hingga ke hari penghabisan. Segala puji-pujian tertentu bagi Tuhan Pentadbir sekalian alam.

Antara sumber-sumber rujukan mengenai tajuk ini ialah:

1. Abdul Rashid Moten, “Religious Pluralism in Democratic Societies: Challenges and Prospects for Southeast Asia, Europe, and the United States in the New Millenmium.” Contemporary Southeast Asia. Journal Volume: 29, Issue: 1. 2007. pp 204 ff, 2007 Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS).
2. Brad Stetson, Pluralism and Particularity in Religious Belief. Praeger Publisher. Westport, CT. 1994.
3. Jeannine Hill Fletcher, Article Religious Pluralism in an Era of Globalization: The Making of Modern Religious Identity.” Journal: Theological Studies. Volume: 69. Issue: 2, 2008. pp. 394 ff.
4. J. Gordon Melton, Article: “Religious Pluralism : Probelems and Prospects” Journal: Brigham Young University Law Review. Volume: 2001 Issue: 2, 2001.
5. Jung H. Lee, Article: “Problems of Religious Pluralism: in a Zen Critique of John Hick’s Ontological Monomorphism” Journal: Philosophy East & West. Volume: 48 Issue: 3. Publication Year: 1998.p. 453+.
6. Lucas Swaine, The Liberal Conscience: Politics and Principle in a World of Religious Pluralism. Columbia University Press. New York. 2004.
7. Micheal Jinkins – Christianity, Tolerance and Pluralism: A Theological Engagement with Isaiah Berlin’s Social Theory. Routledge. New York. 2004.
8. Peter G. Danchin – editor, Elizabeth A. Cole – editor, Protecting the Human Rights of Religious Minorities in Eastern Europe. Columbia University Press. New York. 2002.
9. Richard E. Wentz, The Culture of Religious Pluralism, Westview Press, 1998.
10. Richard Hughes Seager edit with the assistance of Foreword by Ronald R. Kidd Diana L. Eck, The Dawn of Religious Pluralism Voices from the World’s Parliament of Religions, 1983, published in Association with The Council for a Parliament of the World’s Religions.
11. S. Wesley Ariarajah, “Kenneth Cracknell, in Good and Generous Faith: Christian Response to Religious Pluralism.” Journal The Ecumenical Review. Volume: 58 Issue: 3 – 4. 2006.pp 400 ff.
12. William C. Allen, “Stephen Kaplan, Different Paths, Different Summits: A Model for Religious Pluralism,” Journal of Ecumenical Studies. Volume: 41 Issue: 1, 2004. p 102.
13. Harvard Pluralism Project:
http://www.pluralism.org/articles/eck_1993_challenge_of_pluralism?from=articles_index
14. Khalif Muammar, Atas Nama kebenaran, Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, edisi kedua, ATMA, UKM, Bangi, 2009.
Nota akhir:
[1] http://www.pluralism.org
[2] Al-Hujurat:13
[3] Bani Isra’il:81
[4] Al-Ahzab:40

18 October 2015 Posted by | Aqidah, Berita dan Isu Semasa, Politik dan Dakwah | Leave a comment

Banyak ulama, banyak pendapat ulama ini menyusahkan

Catitan daripada Daurah hadits Kitab Sunan Tirmidzi bersama Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi di Pondok Ledang, Bandar Baru Uda, Johor Bahru semalam (6 September 2014)..

Telah hadir seorang hamba Allah kepada Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi dan berkata ia, “banyak pendapat ulama ni, menyusahkan dih..banyak mazhab ni, menyusahkan dih..”

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi menjawab, “kenapa kamu tak salahkan Allah (Subhanahu wata’ala) terus? atau pun tak salahkan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) terus?”

Terkejut dia mendengar jawapan itu, dan berkata, “kenapa kata gitu?”

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi menjawab, “para Imam Mazhab, para ulama ni bukan suka-suka nak berbeza pendapat, tetapi mereka hanya menyatakan sesuatu hukum di perintah oleh Allah Subhanahu wata’ala daripada ayat al-Quran..

Ada ayat al-Quran itu, Allah Subhanahu wata’ala datangi ia dengan kalimah bahasa arab yang apabila di terjemahkan keluar lebih daripada satu makna, seperti ;

firman Allah Subhanahu waTa’ala :

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوَءٍ

“Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu dengan menahan diri mereka (iaitu dalam iddah) selama tiga qurru.”

Daripada kalimah ثَلاَثَةَ قُرُوَءٍ ini, Imam Syafie dan Imam Hanafi telah berbeza dalam menafsirkannya, Imam Syafie menafsirkannya dengan makna “3 kali suci”, manakala Imam Hanafi menafsirkanya dengan makna “3 kali haid”..

Apabila di tafsirkanya berbeza, maka hukumnya berbeza..

3 kali suci maknanya ;

haid datang : tak kira,
suci dari haid : 1 qurru,
haid datang : tak kira,
suci dari haid : 2 qurru,
haid datang : tak kira,
suci dari haid : 3 qurru,

Ini pendapat Imam Syafie dalam menafsirkan ia dengan makna 3 kali suci, barulah seseorang wanita itu habis iddahnya..

Ada pun Imam Hanafi pula ;

haid datang : 1 qurru,
suci dari haid : tak kira,
haid datang : 2 qurru,
suci dari haid : tak kira,
haid datang : 3 qurru.

Apabila makna ini berbeza bagi Imam Syafie dan Imam Hanafi, maka daripada makna berbeza ini keluar daripadanya 8 hukum hanya berkisah tentang ini sahaja..

Maka kamu nak salah kat siapa sekarang ini? kamu nak salahkan Imam Syafie dan Imam Hanafi yang menafsir berbeza ke? kenapa tak salahkan Allah yang datangkan ayat al-Quran dengan kalimah bahasa Arab yang memberi makna lebih daripada satu? kalau Allah datangkan ayat al-Quran dengan maknanya satu sahaja, jelas maknanya, maka tak berbezalah pendapat banyak ni, jadi kenapa tak salahkan Allah??”

Terdiam pucat lelaki itu..

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi menyambung, “kamu salahkan para Imam Mazhab kerana banyak pendapat tentang sesuatu hukum, kamu katakan mereka menyusahkan, kenapa kamu tak salahkan juga Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam)?

Ada perbuatan yang Rasulullah buat, tetapi kemudian Rasulullah larang..ada perbuatan yang Rasulullah larang, tetapi kemudian Rasulullah buat..ada perbuatan yang para sahabat buat dan Rasulullah tak pernah lakukannya, tetapi Rasulullah tak larang dan tak suruh..dan lain-lain lagi..

Jadi daripada perbuatan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) dan para sahabat ini, maka para Imam Mazhab, para ulama yang ada ilmunya, mereka berbeza pendapat di dalam memahaminya dan menyatakan sesuatu hukum tentangnya..

Lalu kamu nak salah kat siapa sekarang ni? kat Imam Mazhab? kat ulama?

Kenapa tak salahkan Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) yang buat perbuatan berbeza beza? kenapa Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) tak buat satu perbuatan sahaja untuk sesuatu ibadat? kan senang, tetapi kenapa Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasahbihi wasallam) buat begitu? kenapa tak salahkan baginda Nabi?”

Bertambah terdiam pucat lelaki itu..

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi menyambung lagi, “para Imam Mazhab, para ulama yang ahlinya ini, mereka ini dah memudahkan kita, mereka telah berusaha siang dan malam mengkaji ayat al-Quran dan hadits bagi menyatakan sesuatu hukum, menyusun sesuatu ibadat itu..untuk siapa? untuk kita, sepatutnya kita mengucapkan terima kasih kepada mereka..tetapi kita pula marah kepada mereka, kita pula salahkan mereka..”

Terdiam seketika lelaki itu, dan berkata, “ya, saya salah dalam hal ini..”

Tuan Guru Maulana Hussein Abdul Kadir Yusufi berkata lagi, “sepatutnya kamu tak boleh cakap macam tu, kamu tak faham pendapat ulama berbeza itu kerana kamu tak berusaha belajar tentangnya, kalau kamu belajar tentangnya, baru lah kamu faham betapa adanya pendapat mereka ini memudahkan kehidupan kita, perbezaan pendapat itu nampak zahirnya seperti rumit dan menyusahkan, tetapi jika kita mempelajarinya dengan betul betul, kita akan dapati perbezaan pendapat itu lagi memudahkan kita, ada gunanya dan ada hikmahnya..”

Wallahua’lam..

Oleh Nazri Radzi

16 October 2015 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Tazkirah | Leave a comment

Ciri-ciri dosa yang tidak diampuni Allah SWT

Disaat kita hidup aman cukup makan tidur selesa, pernahkah kita berfikir tentang dosa kita? Dosa besar dan kecil. Kita meminta diampunkan dosa kepada Allah, namun terdapat dosa yang tidak akan diampun oleh Allah. Mari baca 6 dosa yang tidak diampun ini.

1- Makan harta anak yatim secara haram.
( untuk menghapuskan dosa tersebut pemakan harta anak yatim mesti membayar kembali harta yang telah digunakan serta memohon maaf kepada anak yatim tersebut . Jika anat yatim tersebut memaafkan perbuatannya, barulah boleh bertaubat kepada Allah SWT. Seandainya anak yatim tersebut tidak memaafkan perbuatannya maka dosanya tidak terhapus).

2- Menuduh wanita solehah berzina.
( Orang yang menuduh wanita solehah hendaklah memohon maaf kepada wanita tersebut, jika wanita solehah tersebut memaafkan, maka terhapuslah dosa tersebut dan bolehlah penuduh bertaubat kepada Allah SWT. sekiranya wanita solehah tidak memaafkannya maka dosa tidak terhapus dan tidak boleh bertaubat kepada Allah SWT ).

3- Lari dari medan Jihad yang memperjuangkan kalimah Allah SWT.
( Mereka yang lari dari medan jihad adalah mereka yang dayus dan tidak layak memasuki Syurga, cuba kaji dalam sejarah Islam hukuman mereka yang lari dari medan Jihad sehingga Rasulullah SAW terpaksa menunggu Arahan Allah SWT untuk memaafkan kesalahan tersebut ).

4- Melakukan sihir.
( Mereka belayar sihir dan pengamal sihir adalah mereka yang Syirik kepada Allah SWT, memang tidak layak bertaubat kepada Allah SWT melainkan mengucap kembali kalimah Syahadah dan mesti menyerah kepada kerajaan Islam untuk melaksanakan hukuman yang sewajarnya ).

5- Bersyirik kepada Allah SWT atau menyamakan kedudukan Allah SWT dengan makhluk.
( Dosa syirik atau menyamakan Allah SWT dengan makhluk samada melalui niat,percakapan dan perbuatan yang disedari atau tidak disedari maka dosa ini tidak boleh bertaubat kecuali dengan mengucap kembali kedua Kalimah Syahadah dan pemerintah Islam mesti melaksanakan hukuman hudud barulah Allah SWT rela menerima kembali amal ibadat seseorang hamba yang telah menduakan Allah SWT atau menyamakan Allah SWT atau menyengutukan Allah SWT).

6- Membunuh Para Nabi yang diutuskan oleh Allah SWT.
( Mereka yang membunuh Para Nabi hendaklah dihukum bunuh dan terserah kepada Allah SWT untuk mengazab mereka. Rasulullah SAW pernah mengutuskan utusan untuk membuuh mereka yang menghina atau mengejek Allah SWT dan Rasulullah SAW semasa penubuhan Negara Islam Madinah).

Kitab Tanbihul Ghafilin , Jilid 1 & 2. M/S : 532

8 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Menyapu Muka

Sunat menyapu dahi dan muka setelah selesai solat berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Saidina Anas bin Malik , katanya:

“Adalah Rasulullah ﷺ apabila selesai daripada solat, baginda menyapu dahinya dengan tangan kanan sambil mengucapkan: “Aku naik saksi bahawasanya tiada tuhan yang disembah selain Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih. Ya Allah, hilangkanlah daripadaku segala kegundahan dan kedukaan.”

Hadis ini diriwayatkan para ulamak di dalam kitab-kitab mereka antaranya;

1. Ibnu ‘Ady di dalam kitab Al-Kamil fi Dhu’afa’, 7/199

2. Ibnu Al-Qaisrani di dalam kitab Dzakhirat al-Huffadz, 3/1757

3. At-Tabarny di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Awshat, 3/66

4. Ibn Rejab Al-Hanbali dalam kitab Fath Al-Bari, 5/202

5. Abu Nu’aim dalam kitab Hilyah Al-Auliya’, 2/342

6. Al-Haitsami dalam kitab Majma’ Az-Zawa’id, 10/113

7. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Nata’ij Al-Afkar, 2/301

8. Ibn ‘Allan dalam kitab Futuhat Al-Rabbaniyah, 3/57

Dan banyak lagi, termasuk dalam kitab ‘Amal Al-Yaum Wa Al-Laylah karangan Ibnu Sunni, Al-Azkar karangan Imam Nawawi, dalam dinaqalkan oleh para ulamak mazhab Syafi’e di dalam kitab-kitab mereka sebagai amalan.

Adapun kenapa ianya tidak terdapat dalam kitab-kitab muktamad mazhab Syafi’e kerana hadis yang diriwayatkan oleh Saidina Anas bin Malik ini termasuk dalam kategori hadis Dha’if. Berkenaan hadis Dhai’f dan hukum beramal dengannya boleh rujuk tulisan berikut https://www.facebook.com/notes/dhiya-zaid/hadith-dhaif/832481713458980

8 October 2015 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

KEBAHAGIAAN itu bukanlah terletak pada banyaknya harta

KEBAHAGIAAN itu bukanlah terletak pada banyaknya harta wang ringgit, bukan pada besarnya rumah kediaman, bukan pada hebatnya kenderaan yang dimiliki, bukan pada tingginya jawatan kau perolehi ataupun bukan pada apa jua yang kau idam-idamkan, angan-angankan, harap-harapkan, cita-citakan di dalam dunia yang fana ini..

TETAPI KEBAHAGIAAN hakiki itu terletak pada jiwa nurani yang sentiasa berusaha mendekatkan diri pekerti kepada Allah Subhanahu Wa Taala, bila diri dekat dengan Allah s.w.t jiwa akan rasa tenang bila diri semakin jauh dengan Allah s.w.t (kerna angkara dosa/maksiat) hati mula rasa gundah-gulana dan hilang punca dan arah…
Marilah kita dekatkan diri dengan Allah s.w.t sentiasa…Kasih sayang Allah s.w.t sentiasa melangit luas tiada sempadan buat kita semua…Hanya kepada Allah s.w.t tempat kita mengadu dan meminta apa jua pertolongan…

7 Indikator kebahagian di dunia ini :
1. Hati yang selalu bersyukur
2. Pasangan hidup yang soleh/solehah
3. Anak-anak yang soleh, cerdik dan hebat
4. Lingkungan hidup yang kondusif untuk iman kita
5. Memiliki harta yang halal
6. Semangat untuk memahami/mendalami agama Islam
7. Dikurnia umur yang berkat

We love Allah..We love Rasulullah…

‪Bahagian Dakwah JAKIM

7 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Tasawwuf, Tariqah & Sufi

Akhir-akhir ini sering kita mendengar tomahan-tomahan daripada beberapa pihak yang cuba mengaitkan tasawwuf, tariqah dan sufi sebagai sebahagian daripada ajaran fahaman syiah tanpa mengemukakan bukti-bukti yang nyata.

Ingin penulis menukil kata-kata Tuan Guru Syeikh Nuruddin al Banjari hafizahullah :
(Hanya segelintir sahaja yang mampu meneliti secara adil. Bahkan sikap keterlaluan mereka, telah sanggup menjadikan tasawwuf sebahagian sifat yang tercela dan dicaci. Dengan sebabnya boleh menggugurkan sifat-sifat tercela dan dicaci. Dengan sebabnya boleh menggugurkan kelayakan seseorang untuk menjadi saksi dan menghilangkan sifat ‘adalah (tidak fasiq). Sehingga dik “Apabila dipersoalkan, kenapa? Maka dijawabnya : “Kerana beliau seorang sufi.”

Apa yang pelik dan menghairankan ialah apabila kita perhatikan terdapat segelintir golongan yang mencela tasawwuf, jelas menentang, malah bermusuhan terhadap pengamalnya dan juga yang sering mengingkarinya, mereka ini telah melakukan perkara yang dilakukan oleh ahli Tasawwuf. Setelah itu tanpa segan silu telah memetik ungkapan kata-kata tokoh-tokoh sufi di dalam ucapan dan khutbah mereka di atas mimbar Jumaat serta halakah pengajian. Ada yang penuh bangga dan angkuh berucap : “Berkata al Fudhail bin Iyadh, berkata al-Junaid, berkata Hasaan al-Basri, berkata Sahl al-Tustari, berkata al-Muhasibi dan berkata Bishru al-Hafi.

Kesemua mereka itu merupakan imam-imam, paksi, tiang, tonggak dan binaan tasawuf. Kitab-kitab tasawuf dipenuhi dengan ucapan-uacapan, kisah-kisah, moral dan kesempurnaan mereka. Saya tidak pasti adakah dia tidak mengetahui atau sengaja berpura-pura tidak tahu, buta atau sengaja memejamkan mata?)

Perbezaan Tariqah dengan Tasawwuf

Walaupun kedua-dua istilah, tariqah dan tasawwuf itu sama pengertian atau maksudnya, namun jika diteliti secara terperinci, maka kita akan dapati masih ada juga sedikit perbezaan antara kedua-duanya.

Misalnya, apabila kita mahu menjelaskan sesuatu aliran dhikr, maka biasanya kita akan menyebut : Tariqah Ahmadiyah atau Tariqah Qadiriyyah atau Tariqah Naqsyabandiyyah atau sebagainya lagi. Kita tidak pernah mendengar orang menyebut atau melihat orang menuliskan : Tasawwuf Ahmadiyyah atau Tasawwuf Qadariyyah atau Tasawwuf Naqsyabandiyyah atau sebagainya lagi. Apa yang pernah kita dengar dan temui dalam tulisan-tulisan ialah : Tasawwuf Salafi, Tasawwuf Falsafi atau seumpamanya lagi. Keadaan ini membuktikan adanya perbezaan sedikit antara tariqah dengan tasawwuf.

Definisi tariqah oleh Maulana Zakariyya al Kandahlawi rahimahullah di dalam kitabnya al-Syari’ah wa al-Tariqah menjelaskan bahawa tariqah itu ialah jalan yang boleh menyampaikan seseorang mukmin ke darjat ihsan itu ialah tasawwuf, maka amat nyatalah bagi kita bahawa tariqah itu ialah jalan mujahadahnya, sedangkan tasawwuf itu pula adalah natijahnya atau hasil mujahadah itu sendiri.

Jadi, dengan mempelajari ilmu tasawwuf kita dapat mengenal penyakit-penyakit mazmumah dan mengubati penyakit-penyakit tersebut dengan ubatnya iaitu sifat-sifat mahmudah. Penyakit-penyakit ini tidak dapat dihukum dengan hukum Feqah kerana penyakit ini tempatnya di hati manakala hukum Feqah itu bersifat fi’liyah (perbuatan/perlakuan) seharian kita baik dalam bab ibadat mahupun muamalat.

Golongan sufi.

Siapakah golongan sufi yang sering disalahfahami oleh golongan yang menolak ajaran tasawuf ini?

Dipetik dari kitab al Ghunyah Lithalibi Thariq al-Haq karangan Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah :
Istilah sufi sendiri menurut asal-usulnya berasal dari kata “al-mushafah” yang bermaksud hamba yang dibersihkan oleh Allah. Kerana itulah sufi didefinisikan sebagai orang yang bersih (suci) dari jebakan-jebakan nafsu, terhindar dari cela-cela diri, menempuh jalan terpuji, istiqamah menjalani kenyataan hakiki (haqaiq) dan tak merasakan ketenteraman hati dengan seorang pun dari kalangan makhluk (khalaiq). Ada juga yang mendefinisikan tasawwuf dengan “berkata dan berlaku benar dengan Allah dan berbudi baik dengan makhluk”.

Manakala orang awam seperti kita yang menempuh jalan salik (jalan yang pernah ditempuh oleh para sufi) disebut sebagai “Mutashawwif iaitu orang yang berusaha menjadi sufi. Kesimpulannya, para sufi itu terdiri dari golongan wali-wali Allah.

Apa kaitannya Tasawwuf, Tariqah dan Sufi dengan ajaran Syiah?

Ini adalah satu dakwaan yang pelik kerana Ajaran Syiah itu salah satu daripada pecahan-pecahan firqah yang disebut dalam sebuah hadith Baginda salallahu alaihi wasallam yang bermaksud :
“Demi Tuhan yang memgang jiwa Muhammad ditanganNya, akan berfirqah umatKu sebanyak 73 golongan, yang satu masuk syurga dan yang lain masuk neraka.”
Bertanya para sahabat : “ Siapakah golongan yang tidak masuk neraka itu ya Rasulullah?”
Nabi menjawab : “Ahlussunnah wal Jamaah”
(Hadith Riwayat Imam Thabrani)

Setelah dikaji oleh para ulama Usuluddin, pembahagian 73 itu ialah seperti berikut secara ijma’ :
Syiah 22 aliran
Khawarij 20 aliran
Muktazilah 20 aliran
Murjiah 5 aliran
Najariah 3 aliran
Jabariah 1 aliran
Musyabihah 1 aliran
Ahlussunnah wal Jamaah 1 aliran.

Kita semua sedia maklum bahawa semua tokoh-tokoh sufi adalah berfahaman Ahlussunah wal Jamaah. Erti Ahlussunnah ialah penganut Sunnah Nabi dan erti wal Jamaah ialah penganut i’tiqad sebagai i’tiqad Jamaah sahabat-sahabat Nabi. I’tiqad Nabi dan para sahabat telah lama termaktub dalam Al Quran dan dalam Sunnah Rasul secara terpisah-pisah, belum tersusun secara rapi dan teratur, kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh ulama Usuluddin yang besar iaitu, Syeikh Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari (260-324H) kemudian orang menamakan kaum pegangan ahlussunnah wal Jamaah sebagai Asya’irah.

Di dalam kitab “Ihtihaf Sadatul Muttaqin” karangan Imam Muhammad bin Muhammad al Husni az Zabidi, iaitu kitab syarah dari kitab “Ihya Ulumuddin” karangan Imam Ghazali yang bermaksud ;
“Apabila disebut kaum Ahlussunnah wal Jamaah, maka maksudnya ialah golongan yang mengikut fahaman Asyari dan fahaman Abu Mansur al Maturidi.”

Ciri-ciri ringkas fahaman Syiah

1. Mengatakan Sayyidina Ali radiyallahuanhu adalah khalifah yang sepatutnya dilantik selepas kewafatan Rasulullah salallhu alaihi wasslam dengan bersandarkan hadith “Ghadir Khum.”

2. Menggantikan nama ‘khalifah’ kepada ‘Imam’.. Ahlussunnah wal jamaah merujuk Imam untuk para ulama muktabar.

3. Pengertian ‘Ahli Bait’ bagi kaum SYIAH ialah Siti Fatimah, saidina Ali, saidina Hasan & Husein, menantu dan cucu cucu Nabi. Isteri-isteri Nabi s.a.w menurut mereka bukan Ahli Bait (keluarga baginda s.a.w).

4. Orang berfahaman SYIAH percaya kepada silsilah 12 Imam dan imam yang ke-12 ialah Imam Mahdi. Menurut kepercayaan mereka, Imam yang ke 12 tidak wafat tapi melainkan lenyap bersembunyi di suatu tempat persembunyian di sebuah rumah di kota Samara’ (Iraq). Hingga kini mereka yang di Samara’ berkumpul tiap malam di rumah tersebut di depan lubang yang ada dalam rumah itu dan memanggil-memanggil agar Imam itu keluar.

5. Pandangan sebahagian kaum SYIAH terhadap Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar & Sayyidina Uthman radiyallahu anhu adalah perompak/perampas terkutuk bahkan ada yang mengkafirkan mereka. Nauzubillah. Walaupun SYIAH aliran Zaidiyyah tidak mengutuk mereka, fahaman tersebut tergelincir daripada aqidah yang haq (benar).

6. Persoalan Imam yang lenyap adalah perkara pokok dalam fahaman SYIAH. Fahaman Imamah percaya, bahawa Imam yang ke-12 telah lenyap dan akan muncul kembali. Syiah Ismailiyah pula berkeyakinan Imamnya yang ke-7 yakni Ismail Bib Jaafar Shadiq telah lenyap & akan lahir pada akhir zaman. Manakala Syiah lain beranggapan yang imam yang ke-5 akan muncul pada akhir zaman.

7. Antara aliran-aliran Syiah ada terdapat Sabaiyah yakni aliran Abdullah bin Saba’. Dia pernah mengatakan bahawa dalam kitab Taurat, setiap Nabi mempunyai Washi (semacam putera mahkota) dan Sayyidina Ali ialah putera mahkota dari Nabi Muhammad s.a.w.

Menurut dia lagi, Sayyidina Ali diangkat ke langit ketika terbunuh dan yang terbunuh itu bukan Saiyyidina Ali. Akan tetapi hanyalah orang yang menyerupai beliau sebagaimana cerita Nabi Isa a.s. Manakala kononnya suara-suara guruh adalah suara Sayyidina Ali yang marah dengan tindak tanduk Sayyidina Muawiyah. Mereka akan mengucap ‘Assalamualaikum ya Amirul Mukminin’ apabila mendengar bunyi guruh.

8. Sebahgian daripada mereka percaya bahawa ruh Imam-imam itu turun-menurun dari Imam Ali hingga ke imam ke-12 sehingga roh menjadi sangat suci.

9. Fahaman Syiah Beri’tiqad (percaya / berpegang) dengan at-Taqiyah, yakni menyembunyikan

10. Tidak menerima Ijma’ kerana bagi mereka membenarkan ijma bermaksud mendengar pendapat orang diluar faham Syiah. Fahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah menerima qias & ijma’ sebagai sumber hukum selepas al-Quran & Sunnah.

11. Nikah Muta’ah adalah halal menurut fahaman Syiah. Menurut para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, pernikahan muta’ah adalah tidak sah. Maka bagaimana mereka mengaku mereka adalah Ahlul Bait (keluarga baginda Nabi Muhammad s.aw) sedangkan nasab mereka putus kerana pernikahan yang tidak sah?

Inilah fahaman syiah yang perlu diketahui serba sedikit secara ringkas agar kita menjauhi fahaman ini.

Keterangan yang keliru : Fahaman ini bukan diasaskan oleh Sayyidina Ali radiyallahu anhu. Selain daripada itu, ada orientalis menerangkan bahawa fahaman syiah itu iallah fahaman yang mencintai saiyidina Ali atau golongan yang mencintai ahlul bait Rasulullah. Ia satu keterangan yang sangat keliru kerana Ahlus sunnah wal Jamaah dan seluruh umat islam mencintai ahlul bait khususnya sayidina Ali radiyallahu anhu.

Kesimpulannya, tuduhan mengaitkan tasawwuf, tariqah dan sufi dengan ajaran syiah merupakan satu tuduhan yang bersifat terburu-buru tanpa meneliti dengan adil yakni bertanya atau merujuk terlebih dahulu kepada ahlinya sendiri. Ajaran ini sudah ada semenjak dari zaman Rasulullah salallahu alaihi wasallam, tinggal lagi ia tidak diberi nama tasawwuf sebagaimana ilmu-ilmu yang lain seperti feqah, usulluddin, ilmu tajwid, ilmu nahu dan banyak lagi untuk dinyatakan. Wallahua’lam ,

Oleh ,

Ust Uthman Daud
— with Ahyarrudin Yusof

7 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

MILIK AYAH & IBU…RAMAI YANG TAK TAHU…

Terdapat sebuah pertanyaan di suatu Majlis Taklim pada sesi tanya jawab pengajian.

Penanya: Wahai Syeikh, Ibuku tinggal menumpang bersamaku dirumahku dan terjadi masalah antara Beliau dengan isteriku.

Syeikh: Ulangi pertanyaanmu..!!

Penanya: Ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku.

Syeikh: Cuba ulangi pertanyaanmu..!!

Penanya: Ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku.

Syeikh: Ulangi lagi pertanyaanmu..!!

Penanya: Ibuku tinggal menumpang bersamaku.

Syeikh: Ulangi sekali lagi pertanyaanmu..!!

Penanya: Wahai Syeikh, tolong biarkan aku menyelesaikan dulu pertanyaanku, jangan anda potong.

Syeikh: Pertanyaanmu salah, yang benar engkaulah yang hidup menumpang pada ibumu, meski rumah itu milikmu dan atas namamu..

Penanya: Iya Syeikh, kalau demikian selesai sudah permasalahannya..

Syeikh: Jangan derhaka wahai anak, jangan derhaka wahai menantu..!!
Kamu dengan seluruh hartamu adalah milik ibumu.

RasululLah SAW bersabda: “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayah Ibumu” [HR. Ibnu Majah no. 2291]

1. Setitik air mata ibu jatuh, 10 kebajikan anak hilang, ibu-ibu jangan jatuh air mata dan anak jangan bagi ibu jatuh air mata. Biarlah Ibu menangis kerana Anak Berjaya dan bukan sedih kerana Angkara Anak.

2. Kalau balik tengah malam, buka lampu tengok dan tatap muka Ibu/anak, sebab wajah orang tidur akan menampakkan segalanya

ADA 3 MATA YG TIDAK DIJILAT API NERAKA..

» Melihat kaabah sehingga menitis air mata.
» Membaca Al-Qur’an sehingga menitis air mata.
» Memandang wajah Ibu yang sedang tidur /sedar hingga berlinangan air mata.

Orang yang kita kena tengok dan selalu pandang dalam hidup, tengok masa tidur.

» Anak
» Ibu
» Suami /Isteri

1. Adalah menjadi satu dosa jika kita mengguna jari telunjuk untuk menunjukkan sesuatu pada Ibu/bapa.

2. Barang siapa yang tidak mendoakan ibu/bapa selepas sembahyang buat ibu yang sudah meninggal maka dikira dia anak derhaka walaupun pada waktu ibu/bapanya hidup dia tak pernah menderhaka. Maksudnya jika ibu/bapa masih hidup atau telah tiada, selepas setiap solat kita mesti mendoakannya.

3. Doa orang yang masih hidup makbul untuk orang yang hidup dan mati. Jadi doakanlah Ibu/bapa kita yang telah tiada.

4. Ketika melalui kubur, perlahankan kenderaan (jika sedang menaiki kenderaan) dan beri salam, mereka akan doakan kita “berkatilah si pulan ini” dan jika tak bagi salam, mereka akan kata “celakahlah orang ini” Jadi, jangan lupa bagi salam.

5. Tanda-tanda siksa Allah atas muka bumi ini antara lain simpan harta sampai mati tak pernah keluarkan zakat.

6. Sesiapa yang bersedekah selalu, takkan miskin orang itu selamanya.

7. Jika mak ayah kita sudah meninggal dan semasa hayatnya kita ada peruntukkan wang untuk dia, bila mak kita dah takde teruskan memberi peruntukkan itu sebagai sedekah.
“Ya Allah, aku sedekahkan bagi pihak ibu/bapaku, semoga pahala sedekah ni sampai kepada ibu/bapaku”.
Itu yang yang buat ibu/bapa kita bahagia di sana.

8. Kalau kita susah nak bersedekah, bayangkan wajah Ibu/bapa kita baru kita ringan tangan nak bersedekah.

9. Allah panjangkan usia Ibu/bapa supaya mereka sakit dan nyanyuk untuk beri syurga pada anak2nya. Jagalah mereka dengan baik In shaa Allah, syurga balasannya. Jadi kalau tahu ibu/bapa sakit, berebutlah menjaga ibu/bapa kita. Besar sangat pahalanya.

10. Allah kalau boleh tak nak kita masuk neraka jadi Allah takkan matikan seseorang dalam keadaan kotor dan berdosa jadi dia bagi kita sakit/malu/miskin untuk mmbersihkan kita sebelum dia mengambil kita.
Ya Allah jadikan hari-hari kami penuh dengan bakti kami kepada orangtua kami dan berkatilah kehidupan kami..Aamiin Ya Rabbal A’lamiin.

7 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Letakkan ADAB lebih ke hadapan daripada ILMU

Ulama Muda Utara
Usrah Asar

Letakkan ADAB lebih ke hadapan daripada ILMU.. Begitulah pesanan Guru Kami.. Semua orang ada guru masing-masing.. Walaupun para guru kita ada yang berbeza pandangan dan berbeza pendapat, tapi antara mereka tidak ada langsung pertelagahan kerana mereka meletakkan ADAB dihadapan mendahului ILMU.. Namun, anak murid di bawah ini yang langsung tidak ada sikap tasammuh yakni berlapang dada bertikam lidah siang dan malam semata-mata nak tunjuk guru mereka sahaja yang betul, dan guru orang lain yang salah.. Isu khilafiah ini sudah berabad lamanya telah diselesaikan dan dihuraikan dengan panjang dan mendalam oleh para ‘alim ulama’ terdahulu.. Jadi mengapakah kita nak kata pandangan ulama’ terdahulu salah dan menyimpang manakala pendapat guru kita sahaja yang betul.. Jangan sesekali ada sikap tercela ini yakni sikap ‘ASOBIYYAH bererti beranggapan bahawa guru kepada orang lain yang salah manakala guru kita sahaja yang betul semuanya..

Sebab itu kena mengaji ADAB dahulu sebelum mengaji ILMU.. ILMU tanpa ADAB ibarat burung yang bercita-cita untuk terbang tinggi namun langsung takdak bulu pelepah.. Maka, lebih baik berdiam daripada bercakap tentang perkara yang kita tak tahu menahu.. Tak perlu untuk turut serta berdebat tentang hal yang memang bukan bidang kita seolah-olah kita lagi hebat daripada Mufti.. Tengoklah para ‘alim ulama’ kita, mereka menghormati antara satu sama lain walaupun ada yang berbeza pandangan dan pendapat.. Apa salahnya kita sebagai anak murid, mencontohi sikap mereka.. Para Guru kita sangat² menjaga diri mereka daripada fitnah, tetapi adakala anak² muridnya sendirilah yang menyebabkan fitnah menimpa kepada Guru mereka.. Ambik paham bab nie.. Pesanan khas untuk diri sendiri yang cukup² jahil takdak ilmu, takdak adab, lagho & hina dina..

Al-Faqir Ilallah, Abu Fadhil Ridhauddin
21 Zulhijjah 1436 H

5 October 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

KISAH SAYYID AHMAD SIDDIQ AL-GHUMARI BERSAMA KAUM WAHABI

Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani adalah ulama ahli hadits yang terakhir menyandang gelar al-hafizh (gelar kesarjanaan tertinggi dalam bidang ilmu hadits).

Ia memiliki kisah perdebatan yang sangat menarik dengan kaum Wahhabi. Dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar, sebuah autobiografi yang melaporkan perjalanan hidupnya, beliau mencatat kisah berikut ini.

“Pada tahun 1356 H ketika saya menunaikan ibadah haji, saya berkumpul dengan tiga orang ulama Wahhabi di rumah Syaikh Abdullah al-Shani’ di Mekkah yang juga ulama Wahhabi dari Najd.

Dalam pembicaraan itu, mereka menampilkan seolah-olah mereka ahli hadits, amaliahnya sesuai dengan hadits dan anti taklid. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan ketinggian tempat Allah subhanahu wa ta‘ala dan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai dengan ideologi Wahhabi.

Mereka menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara literal (zhahir) mengarah pada pengertian bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai keyakinan mereka.

Akhirnya saya (al-Ghumari) berkata kepada mereka: “Apakah ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi termasuk bahagian dari al-Qur’an?”

Wahhabi menjawab: “Ya.”

Saya berkata: “Apakah meyakini apa yang menjadi maksud ayat-ayat tersebut dihukumi wajib?”

Wahhabi menjawab: “Ya.”

Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ). (الحديد : ٤)
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”
(QS. al-Hadid : 4).

Apakah ini termasuk al-Qur’an?”

Wahhabi tersebut menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”

Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:
مَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ وَهُوَ رَابِعُهُمْ. (المجادلة : ٧).
“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya….” (QS. al-Mujadilah : 7).

Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?”

Wahhabi itu menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”

Saya berkata: “(Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit). Mengapa Anda menganggap ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi yang menurut asumsi Anda menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat yang saya sebutkan yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit?
Padahal kesemuanya juga dari Allah subhanahu wa ta‘ala?”

Wahhabi itu menjawab: “Imam Ahmad mengatakan demikian.”

Saya berkata kepada mereka: “Mengapa kalian taklid kepada Ahmad dan tidak mengikuti dalil?”

Tiga ulama Wahhabi itu pun terbungkam. Tak satu kalimat pun keluar dari mulut mereka. Sebenarnya saya menunggu jawaban mereka, bahwa ayat-ayat yang saya sebutkan tadi harus dita’wil, sementara ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit tidak boleh dita’wil.

Seandainya mereka menjawab demikian, tentu saja saya akan bertanya kepada mereka, siapa yang mewajibkan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan dan melarang menta’wil ayat-ayat yang kalian sebutkan tadi?

Seandainya mereka mengklaim adanya ijma’ ulama yang mengharuskan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan tadi, tentu saja saya akan menceritakan kepada mereka informasi beberapa ulama seperti al-Hafizh Ibn Hajar tentang ijma’ ulama salaf untuk tidak menta’wil semua ayat-ayat sifat dalam al-Qur’an, bahkan yang wajib harus mengikuti pendekatan tafwidh (menyerahkan pengertiannya kepada Allah subhanahu wa ta‘ala).”

Demikian kisah al-Imam al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dengan tiga ulama terhebat kaum Wahhabi.

GAmbar: Sayyid Ahmad Siddiq al-Ghumari

4 October 2015 Posted by | Aqidah, Bersama Tokoh | Leave a comment

JAWAPAN ISU BACAAN LAIN SELAIN AZAN DI SPEAKER- SIRI 1

Oleh : Ustaz Mohd Khafidz Bin Soroni

Isu Pembesar Suara

Isunya adalah tentang bacaan-bacaan – selain azan – yang menggunakan pembesar suara sehingga mengganggu orang ramai, yang kononnya telah mengelirukan orang bukan Islam sehingga mereka menyangka ia azan. Objektif penulisnya barangkali ialah untuk menjaga hati orang bukan Islam dan agar agama Islam tidak dipandang serong oleh mereka. Namun huraian, penghujahan dan konklusi yang diketengahkan olehnya memerlukan kepada sedikit penilaian semula.Alat pembesar suara sudah tentu tidak wujud pada zaman Nabi SAW, namun apa yang ditinggalkan oleh baginda kepada kita ialah hukum mengangkat dan merendahkan suara, yang akan dibincangkan dalam artikel ini.

Antara ‘penyakit’ sesetengah ahli ilmu ialah terburu-buru dalam mengeluarkan hukum atau fatwa tanpa melihat terlebih dahulu dengan teliti dan mendalam terhadap masalah yang dibahaskan.Hanya mengguna pakai sebuah dalil sahaja tanpa melihat dalil-dalil yang lain atau meninggalkan dalil-dalil yang lain, maka terus diputuskan hukum atau fatwa darinya. Kebelakangan, perkara sebegini semakin kerap berlaku baik di kaca tv, radio, akhbar, internet, masjid, dan lain-lain.

Dalil-Dalil Larangan dan Ulasannya

Saya tidak akan mengupas atau mengulas satu persatu isi kandungan artikel tersebut kerana ia akan mengambil ruang yang panjang. Apa yang akan kita bincangkan di sini ialah dari sudut pendalilan yang diguna pakai iaitu tentang kadar suara dalam melaksanakan ibadah, seumpama solat, membaca al-Quran, zikir, doa, azan dan sebagainya.

Antara hujah yang dibangkitkan oleh mereka yang melarang dari mengangkat suara dalam beribadah ialah hadis sahih riwayat Abu Dawud dalam Sunannya (no. 1135):

Dari Abu Sa’id al-Khudri katanya: “Pernah Nabi Muhammad SAW beriktikaf dalam masjid, lalu baginda mendengar mereka mengangkat suara bacaan (al-Quran atau solat) lalu baginda mengangkat tirai dan bersabda: “Ketahui sesungguhnya setiap kamu bermunajat kepada Tuhannya, jangan sebahagian kamu menyakiti sebahagian yang lain. Jangan sebahagian kamu mengangkat suara melebihi sebahagian yang lain dalam bacaan, atau sabdanya: dalam solat”. Dalam riwayat Musnad Ahmad dan Musannaf ‘Abd al-Razzaq ditambah: “Sedangkan ketika itu baginda berada di qubbah (tempat ibadah) baginda, lalu baginda pun menyingkap tirai-tirai…”.

Hadis ini perlu diteliti dari pelbagai aspek. Selain tekstual hadis perlu juga dilihat dari sudut kontekstual hadis. Perlu juga ditinjau dengan membuat komparatif dengan nas-nas lain, serta situasi ‘urf. Demikian kaedah yang perlu dipraktikkan bagi mengeluarkan sebuah hukum atau fatwa, tidak semata-mata berpegang kepada sebuah teks yang terhad. Adakalanya teks yang terhad hanya mampu menghasilkan pedoman dan panduan semata-mata, tetapi belum dapat membentuk sebuah hukum yang releven dan fatwa yang autentik.

Tanda-tanda pada zahir hadis tersebut seperti sedang beriktikaf, bermunajat, dan kadar suara yang mengganggu menunjukkan bahawa situasi pada masa itu ialah waktu malam yang bersuasana sunyi dan hening. Penulis berpendapat, agak jauh untuk dikatakan hadis tersebut diucapkan pada waktu siang kerana suasananya agak berlainan dan kadar suara biasanya tidak begitu mengganggu. Siang adalah masa berkerja dan malam adalah masa beristirehat, maka amat sesuailah pada masa itu dielakkan sebarang gangguan dan amat tepatlah teguran Nabi SAW kepada para sahabatnya itu. Justeru menggunakan hadis ini bagi mengeluarkan hukum umum tanpa ada sebarang pengecualian atau perbezaan perlulah diteliti semula.

Realiti yang berlaku pasa masa kini, penggunaan pembesar suara biasanya selesai pada atau selepas waktu isyak, atau lebih sedikit jika ada penceramah yang melanjutkan celotehnya, dan bermula semula pada waktu pagi sebelum atau pada waktu fajar.Justeru, tidak berlaku sebarang gangguan pembesar suara antara waktu isyak sehingga subuh. Bagaimana situasi sedemikian dapat dikiaskan dengan hadis di atas yang barangkali ditujukan pada waktu dua pertiga malam, atau separuh malam ataupun sepertiga malam.

Manakala hadis yang berbunyi:

Dari Abu Musa al-Asy’ari RA katanya: Ketika Rasulullah SAW memerangi Khaybar, atau katanya: Ketika Rasulullah SAW menuju kepadanya, orang-orang telah melihat sebuah wadi, lalu mereka mengangkat suara mereka bertakbir; Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha illa Allah… Maka sabda Rasulullah SAW: Kasihanilah diri kamu sekalian, sesungguhnya kamu tidak menyeru yang tuli mahupun yang ghaib, sesungguhnya kamu menyeru Yang Maha Mendengar lagi Dekat, dan Dia bersama kamu sekalian…”.

Zahir hadis ini menunjukkan bahawa teguran tersebut adalah disebabkan kadar suara yang berlebih-lebihan dan melampaui had dalam mengeras dan meninggikannya. Nabi SAW sentiasa membimbing umatnya kepada sikap bersederhana, maka amat wajar baginda memberi teguran tersebut.

Kata Imam al-Nawawi: Maknanya ialah kasihanilah diri kamu dan rendahkanlah suara kamu. Perbuatan mengangkat suara biasanya dilakukan orang kerana jauhnya orang yang diajak bicara agar ia mendengarnya, sedangkan kamu menyeru Allah Taala dan Dia bukanlah pekak mahupun ghaib, bahkan Dia Maha Mendengar lagi Dekat, dan Dia bersama kamu dengan ilmu dan liputan pengetahuan-Nya. Maka pada hadis ini terdapat galakan agar merendahkan suara ketika berzikir jika keperluan tidak mendesak untuk mengangkatnya. Sekiranya suara direndahkan, itu lebih beradab dalam memuliakan dan mengagungkan-Nya. Manakala jika keperluan perlu untuk mengangkatnya, barulah diangkat sebagaimana yang terdapat dalam hadis-hadis (seperti talbiah dan sebagainya).

Dalam hadis yang lain:

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir katanya: Sabda Rasulullah SAW: “Orang yang membaca kuat dengan al-Quran seperti orang yang berterang-terangan dalam bersedekah. Dan orang yang membaca perlahan dengan al-Quran pula seperti orang yang bersembunyi-sembunyi dalam bersedekah”.

Makna hadis ini menunjukkan kepada keutamaan (keafdalan) dalam membaca al-Quran dan bukannya menunjukkan kepada larangan meninggikan suara. Sedangkan Nabi SAW pernah memerintahkan Abu Bakar al-Siddiq RA agar meninggikan suara:

Dari Abu Qatadah RA bahawa Nabi SAW bersabda kepada Abu Bakar RA: Aku telah melintasi kamu ketika kamu sedang membaca, dan kamu merendahkan suara. Jawab beliau: Sesungguhnya aku hanya memperdengarkan kepada Siapa yang aku bermunajat kepada-Nya. Balas baginda: Angkatlah sedikit (suaramu). Dan baginda juga bersabda kepada ‘Umar RA: Aku telah melintasi kamu ketika kamu sedang membaca, dan kamu mengangkatkan suara. Jawab beliau: Sesungguhnya aku ingin membangkitkan orang yang mengantuk dan mengusir syaitan. Balas baginda: Rendahkan sedikit (suaramu). Dalam riwayat lain: “Wahai Abu Bakar, angkatlah suaramu sedikit, dan baginda bersabda kepada ‘Umar: Rendahkanlah suaramu sedikit”.

Di sini, Nabi SAW menyuruh mengangkat suara jika ianya terlalu perlahan atau tidak dapat dimanfaatkan oleh orang lain, dan melarang mengangkatkan suara jika ianya melebihi had, atau kerana ia dapat menimbulkan sifat riyak dan ujub yang ditegah oleh syarak. Secara mafhumnya, baginda mengajarkan bahawa bersederhana itulah yang lebih utama.

Selain hadis Abu Bakar RA tersebut terdapat beberapa hadis lain yang membenarkan mengangkat suara seperti;

Dari Abu Hurairah RA katanya: Sabda Rasulullah SAW: Allah tidak mengizinkan (meredhai) bagi sesuatu, apa yang telah diizinkan kepada Nabi agar berlagu dengan al-Quran, serta mengangkat suara dengannya”.

Kata Imam al-Nawawi dalam kitab al-Azkar berkenaan dalil-dalil yang zahirnya saling bercanggahan ini: Pengharmonian antara kedua-duanya ialah bahawa suara perlahan itu lebih jauh dari sifat riyak, dan ianya adalah afdal bagi orang yang takutkan demikian. Jika tidak takut riyak pula, maka suara kuat itu lebih afdal dengan syarat tidak menyakiti orang lain seperti orang yang bersolat, tidur dan sebagainya. Maksudnya suara perlahan itu lebih afdal jika takutkan riyak atau menyakiti orang yang bersolat atau tidur dengan suara kuatnya. Suara kuat pula afdal dalam hal yang selain itu kerana amalan tersebut lebih besar, dan manfaatnya dapat dikongsi oleh orang lain sama ada dengan mendengar (dan banyak dalil menunjukkan ianya sebagai ibadah), belajar, mengikut, insaf atau ianya sebagai syiar agama. Ia juga dapat mengetuk hati si-pembaca, menumpukan perhatiannya untuk berfikir dan memfokuskan pendengarannya sendiri. Ia juga dapat menghalang rasa mengantuk, menambah rasa cergas, membangunkan orang lain yang tidur dan lalai serta menyegarkannya. Maka bila hadir salah satu niat-niat ini, maka suara kuat itu adalah lebih afdal.

Ada diriwayatkan oleh al-Daylami dalam Musnad al-Firdaus dari Ibn ‘Umar secara marfu’:
Maksudnya: “Cara sembunyi itu lebih afdal dari cara terang-terangan, dan cara terang-terangan pula lebih afdal bagi orang yang mahu agar dicontohi”.

Maka kesimpulannya, tinggi atau rendah suara itu semua adalah bergantung kepada situasi, suasana, tuntutan dan juga keadaan. Selain perlu menitikberatkan kesederhanaan dalam semua aspek.

Sila rujuk dengan lebih lanjut tentang mengangkat suara dalam ibadah kepada kitab Sibahah al-Fikr fi al-Jahr bi al-Zikr oleh Imam ‘Abd al-Hayy al-Laknawi (w. 1304H), tahkik Syeikh ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah, dan kitab Natijah al-Fikr fi al-Jahr bi al-Zikr oleh Imam al-Suyuti (w. 911H). Namun menurut Syeikh Abu Ghuddah, kitab Imam al-Laknawi lebih detail dan lengkap perbahasannya.

Menangani Isu Sebenar

Isu sebenarnya bukan masalah penyalahgunaan pembesar suara, atau benarkan hanya azan sahaja di pembesar suara, tetapi adalah masalah kefahaman orang (terutama AJK masjid/surau) terhadap situasi yang mereka duduki. Kita ada pelbagai situasi, ada masjid yang jauh dari kawasan perumahan dan ada yang dekat, malah sebahagiannya berhimpit-himpit dengan rumah orang atau kedai.Ada masjid yang berdekatan dengan pusat maksiat. Ada masjid yang berdekatan dengan hospital. Ada masjid yang berada di kawasan yang majoritinya bukan Islam. Ada masjid bandar, dan ada masjid kampung. Ada masjid yang penduduk sekitarnya bersatu hati, dan ada masjid yang penduduk sekitarnya berbalah sesama sendiri. Suasana bandar yang sibuk pastinya berbeza dengan suasana kampung yang lebih tenang.

Peralatan pembesar suara juga perlu diambil kira. Ada pembesar suara yang mahal dan mengeluarkan suara yang enak dan merdu. Ada pembesar suara yang murah dan mengeluarkan suara yang ‘serak’ dan berdesing sekali-sekala. Begitu juga hal dengan tugas bilal, ada bilal yang bersuara merdu dan sedap didengar, dan ada bilal yang bersuara kurang lemak merdu. Ada bilal yang melaungkan (atau memasang kaset) bacaan al-Quran atau zikir setiap lima waktu sebelum azan, dan ada bilal yang melaungkan (atau memasang kaset) bacaan al-Quran atau zikir pada waktu tertentu sahaja sebelum azan seperti waktu subuh dan maghrib misalnya. Dan sebagainya lagi.

Bayangkan sekiranya masjid tersebut terletak di kawasan yang majoritinya bukan Islam, atau sangat berhampiran dengan hospital, dan alat pembesar suaranya pula sering ‘terbatuk-batuk’, dipasang pula alunan bacaan al-Quran atau zikir setiap lima waktu sebelum azan dan bilalnya pula bersuara ‘serak-serak basah’. Apakah agaknya reaksi dan pendapat anda, jika dibandingkan dengan masjid yang terletak di kampung yang penduduknya sekitarnya bersatu hati dan sudah biasa dengan alunan bacaan al-Quran atau zikir pada waktu sebelum subuh dan maghrib, manakala bilalnya pula bersuara lemak merdu. Apakah sama situasinya?

Bagaimana pula sekiranya masjid tersebut berhampiran dengan pusat maksiat yang pengunjungnya tidak pernah menjejakkan kaki ke masjid. Apakah tidak rugi jika semua ceramah-ceramah yang dijalankan di masjid itu hanya untuk orang di dalam masjid sahaja dan suara tidak keluar melebihi pintunya? Semuanya ini perlu diambil kira, bukannya mengeluarkan hukum secara pukul rata.

Iktibar Dengan Situasi

Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya dari Ghudhaif bin al-Harith, beliau pernah bertanya kepada ‘A’isyah RA antaranya:
Adakah puan pernah melihat Rasulullah SAW mengangkat suara dengan al-Quran ataupun memperlahankannya? Jawab beliau: Adakalanya baginda mengangkat suara dengannya dan adakalanya baginda memperlahankannya. Aku berkata: Allahu akbar, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dalam urusan (agama) ini keluasan.

Kata al-‘Allamah Badr al-Din al-‘Aini (w. 855H) mengulas hadis di atas:

Sabit pilihan bagi si-pembaca (al-Quran atau zikir) sama ada antara mengangkat suara dengannya dan juga memperlahankannya. Diperkatakan, mengangkat suara lebih afdal. Juga diperkatakan, memperlahankan suara lebih afdal. Namun yang benar ialah; ianya terikat menurut iktibar dari segi masa si-pembaca, kedudukannya dan juga situasinya. Maka hendaklah dipelihara mengangkat suara dan memperlahankan suara berdasarkan iktibar tersebut.

Kata-kata Ghudhaif bin al-Harith RA: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dalam urusan (agama) ini keluasan”, wajar direnung dan diambil iktibar. Perbezaan ‘urf dan situasi kerana peredaran zaman perlu juga diambil kira. Apa yang penting, bukan hukum menggunakan pembesar suara yang sudah menjadi ‘urf pada masa kini, tetapi adalah kefahaman orang (terutama AJK masjid/surau serta para pengunjung masjid/surau juga) terhadap situasi yang mereka duduki. Dan perbincangan ini secara umum meliputi situasi dalam dan juga luar masjid. Persoalannya, bagaimanakah harus mereka mengendalikannya? Jika penulis artikel tersebut menyemak semula masalah ini dan memikirkan semua faktor-faktor yang dijelaskan, pasti dia akan memperbetulkan semula kenyataannya atau menambah apa-apa kenyataan yang wajar dan lebih diterima. Mengeluarkan sesuatu kenyataan atau hukum secara terburu-buru bukanlah suatu tindakan yang bijak.

Sumber : http://sawanih.blogspot.com/…/01/kadar-suara-dalam-ibadah.h…

3 October 2015 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Politik dan Dakwah | Leave a comment

Hukum Menggunakan Telefon Bimbit Ketika Khutbah Jumaat

Dalam era perkembangan sains dan teknologi zaman ini, berbagai-bagai peralatan baru dan canggih muncul bagaikan cendawan. Salah satu daripada peralatan tersebut, yang dimiliki oleh kebanyakan orang pada masa kini ialah telefon bimbit.

Tidak dinafikan bahawa tuntutan keperluan hidup di zaman yang serba canggih dan moden ini menjadikan penggunaan telefon bimbit seakan-akan satu kemestian kerana kewujudannya banyak membantu mempermudahkan tugas dan pekerjaan. Di samping itu, ia juga mampu mempermudahkan perhubungan sesama kaum keluarga, sanak-saudara, rakan-taulan dan sebagainya. Selain aplikasi-aplikasi perhubungan, terdapat juga berbagai jenis dan bentuk aplikasi yang lain seperti aplikasi-aplikasi peringatan waktu sembahyang, penunjuk arah qiblat, maklumat, berita, permainan game dan sebagainya yang boleh diakses dengan beberapa petikan jari sahaja.

Penggunaan telefon bimbit ini tidaklah menjadi kesalahan selama mana kemudahannnya tidak digunakan ke arah sesuatu yang menyalahi hukum Syara’. Namun apa yang merungsingkan, keghairahan terhadap penggunaan telefon bimbit ini ada kalanya boleh menyebabkan sebilangan orang lalai dan terlalu asyik sehingga mereka sentiasa membawa dan menggunakannya tanpa mengira kesesuaian masa dan tempat. Bahkan ada kalanya ketika sembahyang pun telefon bimbit ini akan dibawa bersama tanpa mematikan (switch off) atau menutup bunyinya terlebih dahulu. Maka akan kedengaranlah bunyi-bunyi nada dering dan sebagainya yang pastinya akan mengganggu kekhusyukan pemiliknya dan kekhusyukan jemaah yang lain jika bersembahyang jemaah. Bukti yang paling nyata dapat dilihat dengan jelas ketika perhimpunan Sembahyang Fardhu Jumaat. Ketika khatib sedang membacakan khutbah Jumaat, akan kelihatan segelintir jemaah tanpa rasa segan silu menggunakan telefon bimbit untuk menghantar pesanan ringkas (sms), berkomunikasi melalui halaman rangkaian sosial, melayari halaman internet, bermain game dan sebagainya. Apakah pandangan Syara’ mengenai perkara ini?

Tuntutan Diam Ketika Khatib Membaca Khutbah Jumaat

Khutbah merupakan salah satu daripada lima syarat sah Sembahyang Fardhu Jumaat. Ia adalah wasilah terbaik untuk menyampaikan dan menerima nasihat, peringatan serta mesej-mesej ukhrawi dan duniawi kepada masyarakat Islam. Ini kerana pada hari Jumaat, kaum muslimin duduk berhimpun dan sembahyang bergandingan di antara satu dengan yang lain, tanpa mengira bangsa, pangkat ataupun rupa.

Sunat bagi orang yang menghadiri Sembahyang Fardhu Jumaat menghadapkan muka ke arah imam (ke arah qiblat) kerana menurut Imam Khatib Asy-Syarbini Rahimahullah, ini adalah adab, dan selain itu ianya sekaligus membolehkan mereka tetap menghadap qiblat. Perbuatan ini juga sekaligus lebih mempermudahkan seseorang itu untuk menumpukan sepenuh
perhatian terhadap khutbah Jumaat yang disampaikan oleh khatib.

Disunatkan juga bagi jemaah untuk diam dan mendengar khutbah Jumaat dan makruh bagi mereka berkata-kata sepertimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam telah bersabda:

Maksudnya: “Jika engkau mengatakan kepada sahabatmu “dengarkanlah (khutbah)” padahal imam pada waktu itu sedang berkhutbah, maka sesungguhnya engkau benar-benar telah berkata sia-sia.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Maksud “sia-sia” di sini ialah bertentangan dengan sunnah, adab, dan mengakibatkan rugi pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat walaupun sembahyangnya masih dikira sah.

Dapatlah difahami daripada hadits ini bahawa apa pun jenis katakata mahupun perbualan adalah dilarang sama sekali ketika khutbah Jumaat sedang dibacakan atau disampaikan. Ini kerana jika kata-kata seorang jemaah yang menyuruh seorang jemaah yang lain supaya diam dan mendengar khutbah itu pun sudah dikategorikan sebagai sia-sia, sedangkan perbuatan itu merupakan satu suruhan ke arah kebaikan, maka apatah lagi kata-kata biasa atau perbualan kosong semata-mata.

Akan tetapi tidak makruh ke atas orang yang mendengar khutbah Jumaat itu berkata-kata jika terdapat darurat, misalnya kerana hendak menyelamatkan orang buta yang hampir terjatuh ke dalam parit atau ternampak binatang berbisa seperti kala jengking atau ular menghampiri seseorang. Maka dalam hal seperti ini, tidaklah dilarang orang yang mendengar khutbah Jumaat itu berkata-kata, bahkan wajib baginya melakukan demikian. Akan tetapi lebih baik (sunat) baginya untuk menggunakan isyarat sahaja jika dia mampu mengelakkan daripada berkata-kata.

Menurut Imam An-Nawawi Rahimahullah, bagi mereka yang dapat mendengar khutbah, diam mendengarkan khutbah Jumaat itu adalah lebih utama daripada membaca al-Qur’an, berzikir dan sebagainya. Ini kerana terdapat qaul (pendapat) yang mengatakan bahawa diam untuk mendengar khutbah Jumaat itu adalah wajib.

Adapun bagi orang yang tidak dapat mendengar khutbah pula, misalnya kerana duduk jauh daripada imam ataupun suara imam tidak dapat didengar, maka adalah lebih utama baginya pada ketika itu membaca al-Qur’an terutamanya Surah Al-Kahfi, bersalawat, bertasbih, berzikir dan sebagainya dengan suara yang perlahan supaya tidak mengganggu jemaah-jemaah yang lain.

Hukum Menggunakan Telefon Bimbit Ketika Khutbah Jumaat

Adapun perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khatib membaca khutbah Jumaat boleh diqiyaskan kepada maksud sebuah hadits sahih yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

Maksudnya: “Sesiapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian dia (pergi ke masjid) untuk menunaikan Sembahyang Fardhu Jumaat, lalu mendengar dan tidak bercakap (ketika khutbah disampaikan), maka diampuni dosa-dosanya yang ada di antara hari Jumaat itu dan hari Jumaat berikutnya dan ditambah tiga hari lagi. Dan sesiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu (ketika khutbah), maka dia telah berbuat sia-sia”. (Hadits riwayat Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan jelas telah menegaskan bahawa barangsiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu ketika khutbah Jumaat itu telah melakukan suatu perbuatan yang sia-sia. Maksud “sia-sia” dalam hadits ini sepertimana yang telah diterangkan sebelum ini ialah bertentangan dengan sunnah, adab dan mengakibatkan rugi pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat walaupun sembahyangnya masih dikira sah.

Menurut ulama, larangan dalam hadits tersebut tidak hanya terbatas terhadap bermain dengan anak batu sahaja, bahkan larangan tersebut menyeluruh terhadap semua perbuatan yang boleh menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat.

Jika dinilai dan diteliti, perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khutbah dibacakan ini adalah lebih buruk lagi daripada perbuatan bermain dengan anak batu kerana perbuatan seperti bermain game, melayari halaman internet, berkomunikasi melalui halaman rangkaian sosial dan sebagainya itu adalah sangat jelas lebih menghilangkan kekhusyukan dan menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat.

Jadi sangat jelas di sini bahawa perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khatib membaca khutbah Jumaat adalah suatu perbuatan yang bertentangan dengan sunnah dan adab yang menuntut kita supaya diam dan meninggalkan segala perbuatan yang boleh menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat. Oleh itu, perbuatan ini sayugianya ditinggalkan kerana ianya mengakibatkan kerugian yang sangat besar, iaitu kehilangan pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat.

Perhimpunan Sembahyang Fardhu Jumaat itu bukannya lama, tidak ada kerugian apa-apa jika telefon bimbit ditutup seketika atau langsung tidak perlu di bawa ke dalam masjid. Tinggalkanlah buat seketika segala perkara dan urusan duniawi yang kurang penting apatah lagi yang sia-sia. Hadirkanlah hati dan seluruh anggota tubuh badan zahir dan batin, dan isikan seluruh jiwa raga dengan perisian rasa khusyu’, taat, taqwa dan penghambaan yang mutlak terhadap Allah Subhanahu wa Ta’aala untuk mendengarkan khutbah dan seterusnya mendirikan Sembahyang Fardhu Jumaat.

Sumber: Mufti Brunei
Di petik dari Blog Islamituindah

 

2 October 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

Aurat Lelaki Yang Jarang Dibincangkan

Aurat lelaki seperti yang dinyatakan sebelum ini agak longgar kerana selain waktu bersendiri dan bersama isteri, aurat lelaki hanya antara pusat dan lutut sahaja. Maknanya kalau seseorang itu hendak melakukan solat, auratnya ialah cukup antara pusat dengan lutut, begitu juga kalau dia berada di khalayak ramai.

Berdasarkan itu, ramailah orang lelaki mengambil mudah dengan menyatakan harus kita berada dalam sesuatu majlis dengan hanya memakai seluar pendek sampai ke paras lutut. Sebab itulah barangkali kita sering melihat orang lelaki suka memakai seluar pendek ketika membasuh kereta di luar rumah.

Benar, jika mengikut hukum asal tidak salah memakai seluar pendek yang sampai ke paras lutut kerana itulah sahaja aurat bagi lelaki. Tetapi jangan lupa bahawa hukum itu perlu juga mengambil kira waktu berjalan dan duduk. Apakah ketika itu aurat lelaki tersebut masih terpelihara?

Bayangkan seorang lelaki yang hanya memakai kain sarung yang menutup pusatnya dan lutut. Solatnya sah kerana aurat bagi lelaki dalam solat ialah antara pusat dengan lutut. Tetapi bagaimana kalau dia rukuk, sujud, dan duduk antara dua sujud? Tidaklah lututnya ternampak? Sahkah solatnya ketika itu? Jawapannya ialah tidak sah.

Bagaimanapun pula kalau dia membasuh kereta dengan pakaian yang sama, sesekali dia akan tunduk juga. Adakah ketika itu tidak terbuka auratnya iaitu lutut? Kalaupun dia memakai seluar pendek yang labuh hingga ke paras lutut, waktu dia mencangkung akan ternampak lututnya. Tidak berdosakah dia ketika itu? Jawabnya tentu berdosa. Ya, kalau dalam solat tidak sah maka pada ketika waktu lain dia berdosa.

Bagi masyarakat kampung pula, mereka suka pakai kain pelakat yang digulung sampai ke paras lutut. Malah kadang-kadang ternampak pusatnya sewaktu terlondeh. Waktu berborak dengan kawan-kawan di serambi pasti tersingkap juga auratnya.

Bagaimana kalau dia melakukan solat dengan kain itu walaupun dilabuhkan di bawa lutut? Waktu rukuk dan sujud setidak-tidaknya akan ternampak pahanya oleh orang yang di belakangnya. Sahkah solatnya?

Begitu juga kalau si ayah memakai kain pelakat di dalam rumah bersama anak-anak, lalu pada waktu duduk terselak bahagian lututnya. Agaknya berdosa atau tidak ketika itu? Jawapannya sudah tentu berdosa kerana aurat ketika bersama mahram ialah antara pusat dengan lutut.

Kalau berdasarkan keterangan di atas adalah haram hukumnya, bagaimana keadaannya anak-anak muda yang suka memakai seluar pendek di dalam rumah, bersukan, main bola dan sebagainya? Seluar pendek yang dipakai mereka adalah di atas lutut, maka dalam keadaan itu dia bukan sahaja mendedahkan lututnya malah mendedahkan pahanya.

Nampaknya lelaki secara berleluasa mendedahkan aurat mereka tatkala bersukan. Apakah atas alasan bersukan aurat boleh didedahkan? Ya, kalau berhadapan dengan Allah sewaktu bersolat pun salah, betapa ketika berhadapan dengan orang ramai. Pada zaman ini, bukan sahaja orang yang dalam stadium yang melihatnya tetapi seluruh dunia melihatnya. Bayangkan berapa besar dosanya ketika itu.

Pakaian sukan tajaan Barat memang begitu. Hal ini kerana dalam teori sains, mereka yang memakai pakaian longgar dan menutup tubuh boleh melambatkan pergerakan. Tetapi teori itu ternyata tidak tepat apabila pelari pecut wanita Islam (dari Bahrain-kalau tak salah penulis) dapat mengalahkan pelari lain yang hanya sekadar memakai cawat dalam sukan bertaraf dunia baru-baru ini.

Selain itu, kalau benarlah teori itu, mengapa perlu pakaian itu diperkenalkan kepada pemain boling. Sukan itu tidak memerlukan pergerakan pantas.

Barat menipu kita dan kita hanya menurut sahaja tanpa mahu membantah. Kita akur dengan peraturan itu demi sukan padahal kita belum berani berbincang secara serius untuk mohon pengecualian bagi atlet Muslim.

Bayangkan sudah berapa lama umat Islam melakukan dosa mendedahkan aurat dalam bidang sukan. Jika dalam hal ini kita sudah berdosa dengan Allah, bagaimana usaha kita untuk membentuk perpaduan melalui sukan seperti yang sering diuar-uarkan. Mahukah Allah merestuinya?

Pada pandangan penulis, cara berpakaian dalam sukan itulah yang menjadi sebab mengapa kurang penyertaan orang Islam dalam sukan. Sebenarnya mereka masih berminat untuk bersukan tetapi mereka tiada pilihan untuk bersukan. Akhirnya sukan dikuasai oleh orang bukan Islam.

Dalam hal ini, alangkah baiknya bagi Negara Malaysia menjadi model menganjurkan sukan yang mempunyai konsep pakaian sukan Islam. Jika mereka berjaya, pasti dunia akan melihat dan lambat laun mereka akan mencontohinya.

– Artikel iluvislam.com

Ustaz Ahmad Baei Jaafar

2 October 2015 Posted by | Ibadah | Leave a comment

Lafaz Takbir Dua Hari Raya

image

23 September 2015 Posted by | Informasi | Leave a comment

Dua Ancaman Melengahkan Taubat

MANUSIA dilahirkan dalam keadaan fitrah tetapi kerana perbuatannya sendiri yang berlawanan dengan acuan ajaran Islam atau perintah Allah, maka terpalit dosa.

Kita sebagai manusia biasa harus menerima hakikat kita tidak pernah terlepas daripada kesalahan serta kekhilafan yang dipengaruhi oleh suasana lingkungan, bisikan syaitan dan kehendak nafsu. Disebabkan itu, apabila melakukan kesalahan, kita perlu segera bertaubat.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Setiap Bani Adam itu bersalah dan berdosa, dan sebaik-baik orang yang bersalah ialah mereka yang bertaubat.”

Bagi hati yang dipenuhi keinsafan, sudah tentu tidak mahu berterusan berada dalam dosa, sepanjang waktu berusaha mencari jalan membersihkan diri dengan bertaubat supaya dapat beralih daripada kegelapan kepada cahaya hidayah.

Bertaubat adalah suruhan Allah dan amalan rutin Rasulullah SAW yang wajib dilaksanakan segera tanpa berlengah. Malangnya suruhan ini dipandang sepi dengan alasan ‘masa masih panjang lagi.’

Alasan itu sangat dangkal dan jahil kerana taubat bukan khusus untuk golongan tua kerana kematian tidak mengira usia. Persoalannya apakah kita boleh hidup sampai tua? Kita sedia maklum orang yang sengaja melambat-lambatkan memohon ampun dan bertaubat akan berdepan dua bahaya besar.

Pertama, hatinya penuh dengan karat akibat perbuatan maksiat atau keingkaran dilakukan tanpa henti kepada Allah sehingga menjadi sangat susah untuk mengikis dan menghapuskannya.

Kedua, maut atau penyakit datang sebelum sempat ia membersihkan karat di hati, ia menemui Allah SWT dalam keadaan hatinya penuh kekotoran dosa dan pasti menyeretnya kepada suasana hidup tidak selamat di akhirat nanti.

Oleh itu, apabila menyedari telah melakukan dosa, maka segeralah minta ampun daripada Allah SWT dengan bertaubat. Orang yang bertaubat atas dasar kerelaan, keinsafan, ikhlas hati dan bersungguh-sungguh hendaklah yakin Allah SWT pasti menerima taubatnya.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Barang siapa yang bertaubat sesudah melakukan kejahatan, memilih jalan lurus, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya dan Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Surah AI-Maidah, ayat 39)

Ni’mat Shidqi dalam bukunya Pembalasan: Syurga atau Neraka berkata, ayat 82 surah Toha meletakkan syarat mengenai taubat iaitu memilih jalan yang benar, mengerjakan amalan soleh untuk menebus kesalahan lalu, meninggalkan kejahatan dan menukar sikap dari buruk kepada baik.

Sebelum penyesalan menjadi tidak berguna dan tangisan menjadi sia-sia, kita hendaklah bersikap positif iaitu segera bertaubat dan terus giat melakukan kebaikan secara berterusan.

Sumber: IslamItuIndah.My

23 September 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

HANG TUAH IS NOT CHINESE

[ENGLISH TRANSLATED AND EDITED ARTICLE] HANG TUAH IS NOT CHINESE

Whenever we speak about Hang Tuah, many history blind fools will claim that this famous Malay warrior is Chinese. In fact, they brought up points and information to “further prove” that Hang Tuah is Chinese. Thus, we write this article to rebut these ridiculous points and give you REAL facts about Hang Tuah.

1) Question/points: ‘Hang’ is not a common name used by the Malays. Only Hang Tuah and the five brothers are known in local history to be the only people to use the name ‘Hang’. The Malays don’t have any family name or surname. So, Hang Tuah’s real name is Hang Too Ah, Hang Jebat’s real name is Hang Jee Fat/Hang Jew Fat, Hang Lekir’s real name is Hang Liew Kier and Hang Lekiu’s real name is Hang Lee Kiew. So this proves that ‘Hang’ is a Chinese family name/surname.

Answer: Whoever wrote this, or agreed to whatever this guy just said, I don’t think you have ever mixed or socialised with any Malay people. Here, let me teach you something that you don’t know about names in the Malay culture.
In some states, there are many Malays who share the same first name.

In Kelantan, it is common for the Malays to have the name ‘Nik’ or ‘Wan’ as their first name. ‘Daeng’ on the other hand is a common first name used by the Malay Bugis. ‘Raden’ is a common first name used by the Javanese. ‘Meor’ is a common first name used by the Malays in Perak. While the Malays who have mixed Malay-Arab or descendants of the Prophet’s (pbuh) family would commonly use ‘Sharif’ or ‘Sayyid/Syed’ as the first name for a boy and ‘Syarifah’ for girls.

Back to the ridiculous claim that ‘Hang’ is a Chinese surname and is not used by the Malays, let me give you this trick question: Alright the claim twisted Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekir and Hang Lekiu’s name, but what about Hang Kasturi? When we ask them this question, they suddenly shut their mouths. Why? What’s the matter? You can’t find or make up words to change Hang Kasturi’s name into a Chinese name?

The truth is, these people who make claims that Hang Tuah and the five brothers are Chinese have literally never read any history books. These names are purely of Malay origin and not Chinese. ‘Tuah’ means ‘Luck’ , ‘Jebat’ means ‘Body odour/Body smell’ , ‘Kasturi’ is known to many as ‘perfume’ , ‘Lekir’ is a type of ‘ubi’, while ‘Lekiu’ is from the old classic Malay language which literally means ‘sticky’.

These blind history fools, would try to further prove Hang Tuah is Chinese by claiming that Hang Tuah came to Malacca from China with Hang Li Po’s envoy. The truth is, the story and origin of Hang Tuah dates back older than the event of Hang Li Po’s arrival to Malacca.

Other than that, some Malay families use the same first name as a family surname. For example, the most common names used as first names in the Malay society is ‘Tun’, ‘Wan’ , ‘Nik’, ‘Long’, ‘Che’ and many more.

Back to the claim that ‘Hang’ is a Chinese family surname and not used in Malay society, the Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu/The Malay Annals) says otherwise:

“Adapun ‘Perhangan’ ke bawah duli Sultan Mansur Syah yang setelah sudah pilihan delapan orang, iaitu Hang Jebat, dan Hang Kasturi, dan Hang Iskandar, dan Hang Hassan, Hang Hussin; dan tua-tuanya Tun Bija Sura, menjadi Sembilan dengan Hang Tuah.

Sekaliannya berkasih-kasihan, muafakat, sama berilmu, tetapi kepada barang main tewas semuanya oleh Hang Tuah. Demikianlah diceritakan oleh yang empunya ceritera”.
-Sulalatus Salatin versi A.Samad Ahmad dan Shellbear.

With the sentence given above, it is proven that ‘Hang’ was a common and classical name used during the era of the Sultanate of Malacca.

It is known to us that Hang Tuah and the five brothers were highly ranked warriors who were given the duty to protect Malacca and were often called to the palace. Sultan Mansur Syah had given the name ‘Hang’ to the 9 individuals including Hang Tuah.

Besides these 9 individuals, there were many other famous warriors and ministers during that era who used the name ‘Hang’ such as Hang Ali, Hang Iskandar, Hang Hassan and Hang Husin. In fact, after the fall of the Sultanate of Malacca, the name ‘Hang’ was used by a famous warrior; he was none other than Laksamana Hang Nadim.

The claim of Hang Tuah’s real name as ‘Hang Too Ah’ is ridiculous. We have given you proof straight from Sulalatus Salatin which is our main source to rebut this claim.

2) Question/point: There are no records proving that Hang Tuah existed before the arrival of Hang Li Po. This proves that Hang Tuah came with Hang Li Po’s envoy.

Answer: Seriously? Do you really think so? Have you ever heard of Hikayat
Hang Tuah? Sulalatus Salatin? Ever heard of the story of the young Hang Tuah saving the Bendahara from an ‘amok’ mob? No? What about the story of young Hang Tuah and his friends who fought pirates that were chasing after them?

The story of Hang Tuah saving the Bendahara Tun Perak from the ‘amok’ mob and the story of how the Bendahara brought Hang Tuah and the five brothers to face the Sultan is older than the arrival of Hang Li Po. This further proves the existence of Hang Tuah even before the arrival of Hang Li Po.

3) Question/point: Okay, you got me. But explain to me: How did Princess Hang Li Po get ‘Hang’ in her first name?

Answer: Oh it’s simple. The name ‘Hang’ was bestowed on the princess by the Sultan of Malacca. Also fun fact! The Princess’s surname is Li (Lee). ‘Li’ is common and respected surname used by Chinese families. So won’t it be awkward if people claim that ‘Hang’ is a surname as well? I mean think about it! How could someone have 2 different surnames at once? You can’t use both ‘Hang’ and ‘Li’ at the same time on one person.

4) Question/point: Okay! Okay! So Hang Tuah isn’t Chinese. Now prove to me that he’s real!

Answer: Hang Tuah’s name has been mentioned in as many as 7 Chapters in the Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu/ The Malay Annals). If Hang Tuah is indeed a legend, then why would the writer write 7 Chapters about Hang Tuah’s history?

Hikayat Hang Tuah has been recognized as a UNESCO World Heritage in terms of literature. If you deny the existence of Hang Tuah, it is just the same as denying the existence of Malacca. This is because the main source which tells the history of Hang Tuah is Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu/ The Malay Annals). In fact, the name Hang Tuah has been mentioned as many as 170 times in the texts of Sejarah Melayu.

Other than that, ever heard of the Keris ‘Taming Sari’? This keris was the same keris that Hang Tuah took as trophy after fighting a Majapahit warrior. If Hang Tuah didn’t exist, how did the keris get into the hands of the Sultanate of Perak?

Extra info by translator: There is actually a whole book discussing about Hang Tuah and the misunderstanding of his history. This article is pretty much a “skim through”. You can read up ‘Membongkar Rahsia Dunia Melayu’ by Srikandi and Al-Semantani Ibnu Rusydi (pg 192-207) to understand and read up more about the misunderstanding of Hang Tuah’s name and history. Other than that, I just want to apologise if I have any grammatical mistakes in this article. If I do, I will quickly fix it.

Original article written by: -HE- , Srikandi, and Al-Semantani Ibnu Rusydi.
Translated and edited by: -OF-

Sources:
1) Membongkar Rahsia Dunia Melayu (pg 192 -207) by Srikandi, Al-Semantani Ibnu Rusydi
2) Hikayat Hang Tuah
3) Mohd Yusoff Hashim (2008) “Hang Tuah Wira Melayu”, Institut Kajian Sejarah dan Patriotisme Malaysia.
4) Sulalatus Salatin versi A.Samad Ahmad dan Shellbear
5) Concept of a Hero in Malay Society by Shaharuddin Maaruf

The picture given is not mine and does not belong to any of the admins of the Patriots. The picture is purely used for decoration. You can find the original artist in the link below.

Credit to artist: http://zamzami.deviantart.com/

22 September 2015 Posted by | Informasi | Leave a comment

Tabiat Wanita yg menjurus ke Neraka

image

Sebagai peringatan untuk para wanita dipaparkan suatu peristiwa di suatu Eid, di mana seorang wakil telah dilantik dari kaum wanita untuk bertemu dengan Rasulullah SAW untuk meminta baginda SAW memberi ucapan khusus untuk kaum wanita.

Baginda bersetuju dan menyuruh mereka berkumpul di Baabun Nisaa’.

Setelah kaum wanita berkumpul, Bilal pergi memanggil Rasulullah SAW. Baginda pun pergi ke sana , dan memberi salam dan memberi tazkirah seperti berikut:

“Assalamu’alaikum, wahai kumpulan/kaum wanita. Wahai kaum wanita, Aku lihat kamu ini lebih banyak di neraka”.

Seorang wanita lalu bangun bertanya, “Apakah yang menyebabkan yang demikian? Adakah sebab kami ini kufur?’
Rasulullah SAW menjawab, “Tidak. Bukan begitu. Tetapi ada dua tabiat kamu yang tidak elok yang boleh menjerumuskan kamu ke dalam neraka:

1.Kamu banyak mengutuk/menyumpah.
2.Kamu suka kufurkan ( nafikan) kebaikan suami

Kemudian baginda SAW mengingatkan kumpulan wanita supaya:
Banyak beristighfar dan bersedekah

Keterangan:
Yang dimaksudkan dengan mengutuk/menyumpah ialah seperti contoh di bawah:

Contoh 1 – Katakan kita lama menunggu bas. Tetapi bas masih tak kunjung tiba, akibat geram dan marah kita mungkin berkata, “Driver bas ni dah mampus agaknya.” Perkataan mampus itu termasuk dalam erti kata menyumpah. Lisan wanita memang terlalu cepat menyumpah. Kadang-kadang pakaian, perkakas rumah, hatta suami pun kena sumpah.

Contoh 2 – Tengah memasak gas habis. Kita mungkin berkata “Celaka punya gas. Masa ni jugak nak habis.” Yang dimaksudkan kufur di sini bukan kufur I’tiqad tetapi bererti tidak mengiktiraf Kebaikan di sini bermaksud tanggungjawab yang telah ditunaikan oleh suami.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah pernah ditanya oleh seorang suami yang kurang faham apa yang dimaksudkan dengan ‘kufurkan kebaikan suami’.

Rasulullah SAW berkata,”Tidakkah pernah engkau jumpa, seorang isteri, jika seumur hidup engkau, engkau berbuat baik kepadanya, tetapi di suatu ketika, disebabkan dia tidak mendapat sesuatu yang dia kehendaki, maka dia akan berkata ,”Awak ini, saya tak nampak satu pun kebaikan awak”

(Dalam masyarakat kita kata-kata di atas mungkin boleh dikaitkan dengan perkataan seperti berikut:
”Selama hidup dengan awak, apa yang saya dapat?”.Tak guna sesen pun’).

Rasulullah SAW sambung lagi ,
’Mana-mana isteri yang berkata, “Awak ini, saya tak nampak satu pun kebaikan awak”, maka akan gugur pahala-pahala amalannya.’

Saranan Rasulullah SAW yang seterusnya ialah menyuruh kaum wanita banyak beristighfar dan bersedekah, kerana ia dapat menyelamatkan kita dari dua perkara yang boleh menjerumuskan kita ke dalam api neraka seperti yang disebutkan tadi.

Sumber: Islam itu Indah

22 September 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

WALI SONGO UTUSAN KHALIFAH

image

Boleh dikatakan tak akan ada Islam di Indonesia tanpa peranan khilafah.

Orang sering mengatakan bahwa Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa disebarkan oleh Walisongo. Tapi tak banyak orang tahu, siapa sebenarnya Walisongo itu? Dari mana mereka berasal? Tidak mungkin to mereka tiba-tiba ada, seolah turun dari langit?

Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.

Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 6 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang.

Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.

Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem).
Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak khilafah. Itu sama artinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para ulama yang diutus oleh para khalifah.

Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1H), jauh sebelum penjajah datang. Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku (Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di Kalimantan.
Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu.

Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik dalam kesultanan-kesultanan tersebut.

PERIODE DAKWAH WALI SONGO
Kita sudah mengetahui bahwa mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.

Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati).

Mulai tahun 1463M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang); dan Raden Qasim Dua (Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit.
Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu.

Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard Lewis menyebutkan bahwa pada tahun 1563M, penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka.

Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung.
Namun, sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis.

Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki.
Hubungan ini nampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan diantaranya Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu. Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M ) dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M, sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah.
Hasil misi ke Mekah ini sangat sukses, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten sejak awal memang meganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari Syarif mekah.

Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajari cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922).
Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.

Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang Turki beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. Tahun 1567, Sultan Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatera, meski armada itu lalu dialihkan ke Yaman. Bahkan Snouck Hourgroye menyatakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.” Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki.

Di istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili yang pada halaman depannya tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam”. Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki.

Pada masa itu, yang disebut-sebut Sultan Turki tidak lain adalah Khalifah, pemimpin Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu, Snouck Hurgrounye sebagaimana dikutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah air, melihat stambol (Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah) masih senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang mukmin yang kekuasaannya mungkin agaknya untuk sementara berkurang oleh adanya kekuasaan orang-orang kafir, tetapi masih dan tetap [dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia. Mereka juga berpikir bahwa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani.

Dengan demikian, keterkaitan Nusantara sebagai bagian dari Khilafah, baik saat Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah.

Dengan mengacu pada format sistem kehilafahan saat itu, Syarif Mekkah adalah Gubernur (wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi, wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata penganugerahan gelar melainkan pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan artinya penguasa. Karenanya, penganugerahan gelar sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam.

Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah Utsmaniyah di Turki.

KESIMPULAN
Jumlah dai yang diutus ini tidak hanya sembilan (Songo). Bahkan ada 6 angkatan yang dikirimkan, masing-masing jumlanya sekitar sembilan orang. (Versi lain mengatakan 7 bahkan 10 angkatan karena dilanjutkan oleh anak / keturunannya)

Para Wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki. Beliau ini ahli politik & irigasi, wafat di Gresik.

– Maulana Malik Ibrahim ini menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.
– Seangkatan dengan beliau ada 2 wali dari Palestina yg berdakwah di Banten; salah satunya Maulana Hasanudin, beliau kakek Sultan Ageng Tirtayasa.
– Juga Sultan Aliyudin, beliau dari Palestina dan tinggal di Banten. Jadi masyarakat Banten punya hubungan darah & ideologi dg Palestina.
– Juga Syaikh Ja’far Shadiq & Syarif Hidayatullah; dikenal disini sebagai Sunan Kudus & Sunan Gunung Jati; mereka berdua dari Palestina.
– Maka jangan heran, Sunan Kudus mendirikan Kota dengan nama Kudus, mengambil nama Al-Quds (Jerusalem) & Masjid al-Aqsha di dalamnya.
(Sumber Muhammad Jazir, seorang budayawan & sejarawan Jawa , Pak Muhammad Jazir ini juga penasehat Sultan Hamengkubuwono X).
Adapun menurut Berita yang tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi.
Sultan Muhammad I itu membentuk tim beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa dimulai pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki.
Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.
Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina
8. Maulana ‘Aliyuddin, asal Palestina
9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.
Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Syamsul Arifin, berbagai sumber

SELAMATKAN GENERASI MUSLIM DARI PEMBODOHAN DAN KEBOHONGAN SEJARAH !!!

Awal Masuk Islam di Indonesia
Sebelum kita mengenal beberapa teori tentang penyebaran Islam di Nusantara, perlu di perhatikan bahwa Politik Luar Negeri Negara Khilafah terdiri dari dua; Da’wah dan Jihad.

Awalnya negeri yang di targetkan akan di beri da’wah, ketika menerima maka tidak ada perang di sana. Namun, ketika menolak, maka akan terjadi Jihad dan Futuhat (Pembebasan). Dua hal ini adalah politik Luar Negeri, dimana di setiap perkembangan akan di sampaikan kepada Khalifah.
Itu pula yang terjadi di Indonesia. Jika penyebaran Islam di lakukan oleh pedagang semata, bukan Da’i atau utusan, maka apakah akan ada laporan kepada Khalifah? Lalu, apakah penyebaran lewat jalur perdagangan merupakan Politik Luar Negeri? Apakah penyebaran Islam dengan jalur perdagangan hanya propaganda untuk menutupi bahwa Nusantara pernah menjadi fokus Da’wah Islam dan menjadi bagian dari Khilafah?

Dari teori Islamisasi oleh Arab dan China, Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam Indonesia, mengaitkan dua teori Islamisasi tersebut. Islam datang ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Penyebarannya pun bukan dilakukan oleh para pedagang dari Persia atau India, melainkan dari Arab. Sumber versi ini banyak ditemukan dalam literatur-literatur China yang terkenal, seperti buku sejarah tentang China yang berjudul Chiu Thang Shu.

Menurut buku ini, orang-orang Ta Shih, sebutan bagi orang-orang Arab, pernah mengadakan kunjungan diplomatik ke China pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama menerima delegasi dari Tan Mi Mo Ni’, sebutan untuk Amirul Mukminin. Selanjutnya, buku itu menyebutkan, bahwa delegasi Tan Mi Mo Ni’ itu merupakan utusan yang dikirim oleh khalifah yang ketiga. Ini berarti bahwa Amirul Mukminin yang dimaksud adalah Khalifah Utsman bin Affan.

Pada masa berikutnya, delegasi-delegasi muslim yang dikirim ke China semakin bertambah. Pada masa Khilafah Umayyah saja, terdapat sebanyak 17 delegasi yang datang ke China. Kemudian pada masa Dinasti Abbasiyah, ada sekitar 18 delegasi yang pernah dikirim ke China.

Bahkan pada pertengahan abad ke-7 Masehi, sudah terdapat perkampungan-perkampungan muslim di daerah Kanton dan Kanfu. Sumber tentang versi ini juga dapat diperoleh dari catatan-catatan para peziarah Budha-China yang sedang berkunjung ke India. Mereka biasanya menumpang kapal orang-orang Arab yang kerap melakukan kunjungan ke China sejak abad ketujuh. Tentu saja, untuk sampai ke daerah tujuan, kapal-kapal itu melewati jalur pelayaran Nusantara.
Beberapa catatan lain menyebutkan, delegasi-delegasi yang dikirim China itu sempat mengunjungi Zabaj atau Sribuza, sebutan lain dari Sriwijaya. Mereka umumnya mengenal kebudayaan Budha Sriwijaya yang sangat dikenal pada masa itu. Kunjungan ini dikisahkan oleh Ibnu Abd al-Rabbih, ia menyebutkan bahwa sejak tahun 100 hijriah atau 718 Masehi, sudah terjalin hubungan diplomatik yang cukup baik antara Raja Sriwijaya, Sri Indravarman dengan Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz.

Lebih jauh, dalam literatur China itu disebutkan bahwa perjalanan para delegasi itu tidak hanya terbatas di Sumatera saja, tetapi sampai pula ke daerah-daerah di Pulau Jawa. Pada tahun 674-675 Masehi, orang-orang Ta Shi (Arab) yang dikirim ke China itu meneruskan perjalanan ke Pulau Jawa. Menurut sumber ini, mereka berkunjung untuk mengadakan pengamatan terhadap Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga, yang terkenal sangat adil itu.

Pada periode berikutnya, proses Islamisasi di Jawa dilanjutkan oleh Wali Songo. Mereka adalah para muballig yang paling berjasa dalam mengislamkan masyarakat Jawa. Dalam Babad Tanah Djawi disebutkan, para Wali Songo itu masing-masing memiliki tugas untuk menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Jawa melalui tiga wilayah penting. Wilayah pertama adalah, Surabaya, Gresik, dan Lamongan di Jawa Timur.

Wilayah kedua adalah, Demak, Kudus, dan Muria di Jawa Tengah. Dan wilayah ketiga adalah, Cirebon di Jawa Barat. Dalam berdakwah, para Wali Songo itu menggunakan jalur-jalur tradisi yang sudah dikenal oleh orang-orang Indonesia kuno. Yakni melekatkan nilai-nilai Islam pada praktik dan kebiasaan tradisi setempat. Dengan demikian, tampak bahwa ajaran Islam sangat luwes, mudah dan memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa.

Selain berdakwah dengan tradisi, para Wali Songo itu juga mendirikan pesantren-pesantren, yang digunakan sebagai tempat untuk menelaah ajaran-ajaran Islam, sekaligus sebagai tempat pengaderan para santri. Pesantren Ampel Denta dan Giri Kedanton, adalah dua lembaga pendidikan yang paling penting di masa itu. Bahkan dalam pesantren Giri di Gresik, Jawa Timur itu, Sunan Giri telah berhasil mendidik ribuan santri yang kemudian dikirim ke beberapa daerah di Nusa Tenggara dan wilayah Indonesia Timur lainnya.
Penjajah Belanda Menghapuskan Jejak Khilafah

Pada masa penjajahan, Belanda berupaya menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekular melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama.

Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara.

Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial.

Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.

Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye.
Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar.
Demikianlah, syariah Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekular. Hukum-hukum sekular ini terus berlangsung hingga sekarang. Walhasil, tidak salah jika dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari penjajah; sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda

21 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Mahir Ilmu Hadith Semata-mata Tidak Cukup Untuk Berfatwa!

Oleh Raja Ahmad Mukhlis.

Keinginan umat Islam kini untuk kembali kepada Islam merupakan suatu khabar gembira buat kita. Ia sesuatu yang jelas berlaku di setiap tempat walaupun kebanyakan daripada mereka mendapat tentangan yang hebat.

Kebangkitan Islam dapat dilihat dari pelbagai sudut, terutamanya dalam sudut pengurusan negara Islam, harta, penubuhan syarikat-syarikat Islam, pertubuhan-pertubuhan Islam, penerbitan buku-buku yang membincangkan tentang pengharaman sistem riba dan sebagainya, di kebanyakkan tempat (terutamanya di negara-negara Islam).

Suatu khabar gembira yang lebih bernilai ialah, kebangkitan Islam dari sudut ilmiah; iaitu perbincangan mengenai “Seruan untuk kembali kepada sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam”. Begitu banyak sekali buku-buku yang diterbitkan mengenai hadith-hadith Rasulullah yang terkenal mahu pun yang tidak terkenal. Kebanyakan daripada buku-buku tersebut, tidak disyarah dan diperjelaskan oleh para ulama fiqh, secara terperinci mengenainya.

Oleh yang demikian hal ini menyebabkan sebahagian pembaca yang tidak mempunyai bekalan ilmu fiqh yang mantap, atau pun yang tidak belajar dari mana-mana ulama terlebih dahulu, akan terkeliru dan seterusnya pemahamannya akan bercanggah dengan maksud sebenar hadith-hadith yang dibacanya itu.

Kemungkinan besar juga si pembaca tersebut akan terdorong untuk mengamalkan seluruh hadith-hadith yang dinilai sebagai sahih oleh segolongan ahli hadith (tanpa menilai adakah ia digunakan atau pun tidak oleh para ulama).

Kemungkinan juga si pembaca yang cetek ilmu tersebut akan berkata kepada dirinya: “Kami beramal dengan hadith ini untuk satu ketika, dan satu ketika yang lain, ditinggalkan hadith ini (tidak beramal dengan hadith tersebut)”. Si pembaca yang kurang ilmunya itu tidak bertanya terlebih dahulu kepada ulama-ulama yang khusus dalam bidang syariah yang masih hidup, mahu pun membaca ulasan-ulasan pada buku-buku karangan para ulama muktabar yang telah tiada, mengenai hadith-hadith yang dibacanya seperti Fathul Bari karangan Imam Ibn Hajar al-Asqalani, Syar Sahih Muslim oleh Imam an-Nawawi dan sebagainya.

Dia juga tidak mempelajari tentang ilmu al-Arjah (hadith-hadith yang paling kuat untuk digunakan dalam berhujah pada masalah syariat), tidak mengetahui yang mana hadith yang diriwayatkan terlebih dahulu dan yang mana yang diriwayatkan kemudian, yang mana hadith yang khusus dan yang mana hadith yang diriwayatkan khas untuk keadaaan tertentu; yang mana ilmu-ilmu tersebut amat penting dalam memahami dan mengkaji maksud sebenar sesuatu hadith.

Ada kalanya para pembaca buku-buku hadith yang masih kurang ilmunya, apabila telah jelas sesuatu hadith, dia menyangka bahawa Rasulullah kadang-kadang terlupa apa yang pernah Baginda sabdakan, kemudian menukar perkataan Baginda yang berlainan dengan kata-kata Baginda sebelum itu; walaupun pada hakikatnya Baginda seorang yang ma’shum (tidak berdosa dan melakukan kesalahan). Allah juga pernah berfirman: “Kami akan bacakan (beri wahyu) kepadamu (Hai Muhammad), maka janganlah Kamu melupainya”.

Maka para penuntut ilmu yang ingin mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah melalui hadith-hadith Baginda yang diriwayatkan oleh para ulama hadith dalam kitab-kitabnya, perlu juga merujuk kepada kitab-kitab fiqh yang dikarang oleh ulama-ulama fiqh. Ini kerana di dalamnya terdapat adunan-adunan daripada hadith-hadith Rasulullah dalam bentuk praktikal yang dikenali sebagai ilmu fiqh.

Seperti yang dapat dilihat dari kaca mata sejarah, sebahagian ulama-ulama hadith yang agung di zaman salaf, amat menghormati dan memuliakan para ulama fiqh yang turut mahir dalam bidang hadith; yang Allah pelihara mereka daripada bercanggah dengan hadith Nabi. Bahkan, mereka turut mempelajari makna-makna hadith yang mereka riwayatkan daripada ulama-ulama fiqh yang muktabar.

Abdullah bin Mubarak (seorang ulama hadith dari Khurasan) pernah berkata:

Jika Allah tidak membantu saya dengan perantaraan Abu Hanifah dan Sufian (dua ulama’ fiqh), nescaya aku sama sahaja seperti orang awam (yang tidak memahami hadith-hadith Nabi (sallallahu ‘alaihi wasallam). [1]

Sufian bin ‘Uyainah pula pernah berkata:

Orang yang pertama membantu saya dalam memahami hadith dan menjadikan saya seorang ahli hadith ialah Imam Abu Hanifah (seorang ulama’ fiqh). [2]

Abdullah bin Wahab (seorang ahli hadith juga sahabat Imam Malik) pernah berkata:

Saya telah berjumpa dengan 360 orang ulama; (bagi saya) tanpa Imam Malik dan Imam Laith (ulama-ulama fiqh), nescaya saya akan sesat dalam ilmu. [3]

Beliau juga diriwayatkan pernah berkata:

Kami mengikuti empat orang ini dalam ilmu, dua di Mesir dan dua orang lagi di Madinah. Imam al-Laith bin Sa’ad dan Amr bin al-Harith di Mesir, dan dua orang lagi di Madinah ialah Imam Malik dan al-Majishun. Jika tidak kerana mereka, nescaya kami akan sesat.

Imam al-Kauthari berkata di dalam kitab al-Intiqa’ karangan Ibn Abdil Bar, telah berkata Abdullah bin Wahab (dari sanad Ibn ‘Asakir):

Jika tiada Imam Malik bin Anas dan Imam al-Laith Sa’ad, nescaya saya akan binasa. Dahulu saya menyangka setiap yang datang dari Rasulullah (iaitu as-sunnah dan al-hadith), perlu diamalkan.

Maksud kesesatan dalam perkataan beliau ialah: percanggahan dengan maksud hadith Nabi. Kemudian Imam al-Kauthari mengulas:

Kesesatan yang dimaksudkan seperti mana berlaku pada kebanyakan manusia yang jauh dari ilmu fiqh dan tidak dapat membezakan tentang hadith yang diamalkan dan selainnya. [4]

al-Qodhi ‘Iyadh pula meriwayatkan bahawa Ibn Wahab juga pernah berkata:

“Andai Allah tidak menyelamatkan saya dari kesesatan melalui Imam Malik dan al-Laith, nescaya saya akan sesat.”

Beliau ditanya: “Mengapa begitu?”

Beliau menjawab: “Saya telah menghafal banyak hadith-hadith Nabi, sehingga timbul pelbagai persoalan. Kemudian saya pergi ke Imam Malik dan al-Laith untuk bertanya mengenainya. Maka mereka berkata kepada saya: Hadith ini kamu amalkan dan ambil ia sebagai hujah dan hadith yang ini pula kamu tinggalkan (tidak perlu menggunakannya)“. [5]

Sufian bin ‘Uyainah pernah berkata:

Hadith itu menyesatkan kecuali kepada al-Fuqoha’ (ulama Fiqh). Kadang-kala suatu hadith itu tidak boleh dipegang secara zahir sahaja, malah ada ta’wilannya. Kadang-kala, sesuatu hadith itu pula ada maksud yang tersembunyi. Ada juga hadith yang perlu ditinggalkan dengan sebab-sebab tertentu, yang mana, semua itu hanya diketahui oleh orang yang mahir dan berilmu luas khususnya dalam fiqh (kefahaman). [6]

Ibn Rusyd pernah ditanya tentang kata-kata: “Hadith itu menyesatkan kecuali bagi ahli Fiqh”. Beliau ditanya lagi: “Bukankah seorang ahli Fiqh itu juga perlu tahu mengenai hadith terlebih dahulu?” 

Beliau menjawab:

Kata-kata itu bukanlah dari Rasulullah, ia merupakan kata-kata Ibn ‘Uyainah dan ahli-ahli fiqh yang lain. Maksud kata-kata itu tepat, kerana kadang-kala sesuatu hadith itu diriwayatkan dalam sesuatu keadaaan yang khusus, tetapi maknanya umum, begitu juga sebaliknya. Ada juga hadith yang nasikh dan hadith yang mansukh (tidak digunakan lagi).

Kadang-kala pula ada hadith yang secara zahirnya seolah-olah menyerupakan Allah dengan makhluk (tasybih). Ada juga hadith yang maksudnya hanya diketahui oleh para ahli fiqh sahaja. Barang siapa yang hanya mengumpul hadith tetapi tidak memahaminya, maka dia tidak dapat membezakan di antara hadith-hadith yang membawa maksud umum dan khusus.

Oleh kerana itu ahli fiqh bukanlah orang yang sekadar mengetahui tentang hadith-hadith Nabi sahaja, bahkan memahaminya secara mendalam. Jika seseorang itu tidak mampu memahami secara mendalam dalam masalah hadith mahu pun fiqh, maka dia bukanlah seorang ahli fiqh (faqih), walaupun dia mengumpul banyak hadith-hadith Nabi.

Inilah sebenarnya maksud kata-kata Sufian bin ‘Uyainah. [7]

Abdullah bin Mubarak pernah berkata mengenai fiqh Imam Abu Hanifah:

Jangan kamu katakan fiqh ini (mazhab Imam Abu Hanifah) merupakan pendapat beliau, tetapi katakanlah, ia (mazhab Abu Hanifah) merupakan tafsiran bagi hadith Nabisallallahu ‘alaihi wasallam. [8]

Sebahagian orang hanya membaca matan-matan hadith Nabi sahaja, tanpa menghiraukan ulasan-ulasan para ahli fiqh yang bergiat secara khusus dalam mengkaji hadith-hadith tersebut. Mereka berfatwa dan mengemukakan hadith-hadith yang diragui kesahihannya di sisi imam-imam terdahulu yang alim, dalam masalah hukum dan percakapan mereka.

Kadang-kala mereka turut menolak ulasan-ulasan para ulama yang alim, mengenai kedudukan sesebuah hadith Nabi dan bersangka-buruk pula kepada mereka. Ada di kalangan mereka pula, yang melemparkan tohmahan ke atas para ulama muktabar tersebut serta pengikut-pengikut mereka dan mengatakan bahawa mereka (iaitu ulama-ulama terdahulu dan para pengikutnya) jahil tentang hadith Nabi. Alangkah buruknya tohmahan mereka itu!

Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata (seperti yang diriwayatkan oleh anaknya Soleh):

Seseorang yang ingin memberi fatwa perlulah terlebih dahulu memahami keseluruhan al-Qur’an, mengetahui sanad-sanad hadith Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan mengetahui sunnah-sunnah. [9]

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata:

Saya pernah bertanya kepada ayah saya (Ahmad bin Hanbal), tentang seorang pemuda yang memiliki banyak kitab-kitab mengenai hadith Nabi dan himpunan kata-kata para sahabat dan para tabi’in, tetapi tidak mengetahui tentang kedudukan sesuatu hadith tersebut sama ada sahih atau sebaliknya, adakah dia boleh beramal sesuka hatinya?

Atau pun adakah dia layak memilih hadith mana yang dia mahu gunakan, dan memberi fatwa atau beramal dengannya?

Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “Tidak! Sehinggalah dia bertanya kepada ulama mengenai hadith mana yang boleh digunakan. Kemudian barulah dia boleh beramal dengannya (hadith yang disahkan kesahihannya oleh ulama yang ditanya mengenainya).” [10]

Imam as-Syafi’e pernah menegaskan:

Seseorang tidak boleh memberi fatwa dalam agama Allah kecuali dia mengetahui keseluruhan al-Qur’an dan ilmu-ilmunya seperti nasikh dan mansukh, ayat muhkamdan mutasyabihta’wil dan tanzil, ayat makkiyah atau madaniyyah.

Dia juga perlu mengetahui tentang hadith-hadith Nabi berserta ilmu-ilmunya (‘ulumul hadith) seperti nasikh dan mansukh, dan lain-lain.

Setelah itu dia juga perlu menguasai bahasa Arab, sya’ir-sya’ir Arab, dan sastera-sasteranya (kerana al-Qur’an dan hadith adalah di dalam bahasa Arab dan mengandungi elemen sastera).

Setelah itu dia juga perlu mengetahui perbezaan bahasa Arab di kalangan setiap ahli masyarakat Arab. Jika dia sudah menguasai keseluruhan perkara-perkara tersebut, barulah dia layak memberi fatwa mengenai halal dan haram. Jika tidak, dia tidak layak berfatwa. [11]

Khalaf bin Umar telah berkata:

Saya mendengar Malik bin Anas berkata: “Saya tidak pernah duduk untuk memberi fatwa sehinggalah saya bertanya terlebih dahulu kepada orang yang lebih alim dari saya tentang kelayakan saya untuk berfatwa.

Saya pernah bertanya terlebih dahulu kepada Rabi’ah dan Yahya bin Sa’id, sedangkan mereka menyuruh saya untuk berfatwa. Maka, saya menegaskan: “Wahai Aba Adullah, adakah tidak mengapa untuk saya berfatwa sedangkan kamu ada di sini?”

Beliau menjawab: “Saya tidak layak berfatwa. Tidak layak bagi seseorang itu, menganggap dirinya layak untuk sesuatu perkara, sehinggalah dia bertanya kepada seseorang yang lebih mengetahui darinya.” [12]

Maka jelaslah dengan berdasarkan kepada kata-kata para ulama salaf yang dinukilkan oleh Sheikh Habib al-Kairanawi ini, ia mampu menolak pendapat sesetengah golongan yang mewajibkan setiap orang untuk melakukan ijtihad. Kemungkinan, mereka tersalah faham terhadap perkataan-perkataan sesetengah ulama dalam hasil karangan mereka, padahal kefahaman yang salah itu adalah amat bercanggah dengan kefahaman jumhur ulama.

Kemudian golongan tersebut memperjuangkan kefahaman yang salah ini, dan mengajak seluruh umat Islam mengikuti pendapat tersebut (walaupun pada hakikatnya ia amat bercanggah dengan kefahaman yang sebenar). Akhirnya terjadilah kekacauan dan pertelingkahan di kalangan umat Islam disebabkan oleh perjuangan terhadap fahaman yang salah ini (yang mewajibkan setiap orang berijtihad). Na’uzubillah min zalik.

Salah faham ini sebenarnya membawa kepada perpecahan di kalangan para penuntut ilmu dan akhirnya membawa kepada permusuhan dan saling menjauhi antara satu sama lain. Hal ini akan menyebabkan terputusnya tali persaudaraan yang Allah perintahkan ke atas kita untuk menjaganya dengan baik.

Kita perlu mempelajari ilmu dari ahlinya yang muktabar, bukan sekadar membaca buku-buku ilmiah tanpa dibimbing oleh seorang guru yang alim. Ini kerana barang siapa yang tiada guru yang membimbingnya dalam mendalami samudera ilmu Islam dalam kitab-kitab, maka syaitanlah yang akan menjadi pembimbingnya. Bahkan para ulama muktabar turut menyeru agar ilmu agama dipelajari oleh kaedah isnad, di mana kefahaman tentang Islam diambil dari para ulama yang jelas sanad ilmunya bersambung kepada Rasulullah.

Nas-nas di dalam al-Quran dan as-Sunnah bagaikan bahan mentah bagi syariat Islam. Ia perlulah diadun dengan acuan ilmu-ilmu Islam yang lain seperti ilmu asbabun nuzul, asbabul wurud, ilmu rijal, ulumul Quran, ulumul hadithusul Fiqh dan sebagainya.

Sheikhuna as-Syarif, al-Habib Yusuf al-Hasani pernah menyebut bahawa:

Sesiapa yang tidak menguasai ilmu-ilmu tersebut, namun cuba mengamalkan hadith-hadith yang dibacanya tanpa bimbingan guru-guru yang alim, maka dia bagaikan mengambil daging mentah dari peti sejuk dan memakannya begitu sahaja. Bukankah ia memudaratkan diri sendiri?

Jika kita di kalangan orang awam (bukan ahli ilmu), maka bertanyalah kepada orang yang lebih alim dan janganlah berijtihad sendiri terhadap nas-nas. Allah telah berfirman:

فسئلوا
أهل
الذكر
ان
كنتم
لا
تعلمون

Maksudnya: Bertanyalah kepada yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui (akan sesuatu perkara).

Wallahu’alam.

Nota Kaki

[1] Kitab “Tibyiidh As-Shohafiyyah” m/s 16

[2] Kitab “Jawahir Al-Mudhiyah” jilid 1 m/s 31

[3] Ibn Hibban, muqoddimah Kitab “Al-Majruhin”

[4] Ktab “Al-Intiqa’ fi Fadhail Al-A’immah Ath-Thalathah Al-Fuqoha'” m/s 27-28

[5] Kitab “Tartib Al-Madarik” jilid 2 m/s 427

[6] Imam ibn Abi Zaid Al-Qairawani, “Al-Jami'” m/s 118

[7] Abu ‘Abbas Al-Wansyarishi “Al-Mi’yar Al-Mu’rab” jilid 12 m/s 314

[8] Kitab “Manaqib Al-Muaffaq Al-Makki” m/s 234

[9] Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah, “I’lamul Muaqi’iin”, jilid 2 m/s 252

[10] Al-Faqih Shiekh Habib Ahmad Al-Kairanawi m/s 5, dipetik dari “I’lamul Muaqi’iin”

[11] Ibid m/s 6 dipetik dari kitab “Al-Faqih wal Mutafaqqih” karangan Al-Khatib Al-Baghdadi.

[12] Ibid m/s 6, dipetik dari kitab “Tazyiin Al-Mamalik” karangan Imam As-Suyuti m/s 7-8


Nota dari Admin: Beberapa ejaan, format dan struktur ayat sebenar bagi artikel ini telah diubah bagi memudahkan lagi pembacaan. Namun ia tidaklah mempengaruhi maksudnya yang sebenar. Harap maklum.

Sumber: Pro Tajdid Blog Spot

19 September 2015 Posted by | Bicara Ulama | Leave a comment

Ada PhD bahkan mahir hadith bukanlah lesen untuk memandai-mandai mengeluarkan hukum.

Imam As-Syafi’e r.h.l. pernah menegaskan:

“Seseorang tidak boleh memberi fatwa dalam agama Allah kecuali dia mengetahui keseluruhan Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya seperti nasikh dan mansukh, ayat muhkam dan mutasyabih, ta’wil dan tanzil, ayat makkiyah atau madaniyyah. Dia juga perlu mengetahui tentang hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam), serta ilmu-limunya (‘ulumul hadis) seperti nasikh dan mansukh, dan lain-lain. Setelah itu, dia juga pelu menguasai Bahasa Arab, Sya’ir-sya’ir Arab, dan sastera-sasteranya (kerana Al-Qur’an dan Hadis dalam Bahasa Arab dan mengandungi kesasteraannya. Setelah itu, dia juga pelu mengetahui perbezaan Bahasa Arab di kalagan setiap ahli masyarakat Arab. Jika dia sudah menguasai keseluruhan pekara-perkara tersebut, barulah dia layak memberi fatwa mengenai halal dan haram. Jika tidak, dia tidak layak untuk memberi fatwa.”[11]
[11] Ibid m/s 6 dipetik dari kitab “Al-Faqih wal Mutafaqqih” karangan Al-Khatib Al-Baghdadi.

Orang yang berakal pun takkan berani tandatangan surat bedah jika yang membedah itu bukan doktor pakar bedah. Inikan pula soal urusan hukum hakam agama.

Sumber: Tahu Faham Dan Amal

19 September 2015 Posted by | Informasi | Leave a comment

15 Soal Jawab Orang Kafir Yang Persoalkan Kebenaran Islam

Sewaktu Nabi Muhammad saw wafat, telah sempurna Islam itu. Maka, semua persoalan dan keraguan tentang Islam, pasti akan ada jawapannya. Hanya ilmudi dada sebagai penentu, jawapan apa yang perlu diberi bagi membidas kembali persoalan dan keraguan yang sengaja ditimbulkan oleh orang bukan Islam pada orang Islam. Ada di antara mereka yang bertanya bukan kerana hendak tahu, tapi kerana hendak membuatkan orang Islam yang ilmu hanya ala kadar berasa was-was dengan Islam dan akhirnya orang Islam akan berasa was-was dengan agama yang dianutinya. Nauzubillah.

Soalan-soalan yang dinyatakan di bawah, sebenarnya memang benar-benar pernah ditanya oleh orang bukan Islam secara spontan pada orang Islam. Jadi jawapan yang disampaikan di bawah ini diharap dapat membantu membidas persoalan tersebut.

1) Nama Nabi Isa as disebut 25 kali dalam Al-Quran, tetapi berapa kali nama Nabi Muhammad saw disebut dalam Al-Quran?

Nama Nabi Muhammad saw hanya disebut 5 kali sahaja di dalam Al-Quran. Manakala nama Nabi Isa as disebut 25 kali. Mengapa? Kerana Al-Quran diwahyukan pada Nabi Muhammad saw, sebab itu nama Nabi Muhammad saw jarang disebut. Al-Quran diturunkan bukan semata-mata untuk memaparkan kisah Nabi Muhammad saw tapi adalah sebagai panduan perjalanan hidup umat Islam.

2) Nama Nabi Isa lebih banya disebut daripada nama Nabi Muhammad saw dalam Al-Quran. Tentu sahaja Nabi Isa lebih hebatkan?

Dalam Bible, nama syaitan lebih banyak daripada nama Nabi Isa. Jadi, adakah syaitan lebih hebat daripada Nabi Isa? Sebenarnya Allah tidak bezakan tentang kehebatan Nabi dan RasulNya. Walaubagaimanapun, Allah lebih Maha Mengetahui.

3) Dalam Islam percaya yang Nabi Isa as diangkat ke langit, sedangkan Nabi Muhammad saw wafat. Jadi, bila Nabi Isa as dibawa ke langit, tentu sahaja Nabi Isa itu Tuhan kan?

Dalam banyak-banyak kaum, hanya kaum Nasrani sahaja yang telah salah anggap tentang nabi yang diutuskan kepadanya sebagai Tuhan (Nabi Isa). Sedangkan, dalam Bible juga ada menyatakan bahawa Jesus (Nabi Isa) berkata “Siapa yang taat pada Allah akan masuk Syurga, siapa yang menganggap Jesus sebagai tuhan akan masuk neraka”. (Kitab Injil yang menjadi rujukan pengganut Kristian sekarang ini sebenarnya telah dimanipulasi isi kandungannya)

4) Dalam Islam, Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir. Tapi, di akhir zaman nanti Nabi Isa as akan turun. Kenapa tidak dikatakan Nabi Isa as yang terakhir?

Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir berdasarkan tahun kelahirannya. Contohnya, jika anak bongsu meninggal dunia, sedangkan anak sulung masih hidup, anak sulung tetap kekal pangkatnya sebagai yang sulung.

5) Nabi Isa as disembah sebagai anak Tuhan kerana dianggap mulia sebab lahir tanpa bapa.

Antara ibu dan anak, mana yang lagi mulia? Tentu ibu kan? Jadi, kenapa orang Kristian tidak menyembah Mariam saja? Bukankah Mariam itu ibu, tentu lagi mulia. Nabi Adam merupakan manusia pertama juga lahir tanpa bapa, malah tanpa ibu juga. Jadi, kenapa tidak disembah Adam saja?

Firman Allah swt : “Sesungguhnya perbandingan (kejadian) Nabi Isa di sisi Allah adalah sama seperti (kejadian) Nabi Adam. Allah telah menciptakan Adam dari tanah lalu berfirman kepadanya: “Jadilah engkau!” maka menjadilah ia. -Surah Al-Imran, ayat-59.

6) Jika membaca tafsir, Allah berfirman sekejap guna ‘Aku’, sekejap guna ‘Kami’. Kenapa? Bukankah maksud ‘Kami’ itu mewakili ‘Tuhan + Mariam + Anak Tuhan (Isa)’?

Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab. ‘Aku’ kata jamaknya ‘Kami’ yang menggambarkan tentang ‘Allah dan keagunganNya’ . Bukankah Queen Elizebeth ketika bertitah, beliau guna ‘We’ bukan ‘I’?

7) Orang Sikh Punjabi bertanya, kenapa Islam perlu potong rambut? Bukankah rambut itu anugerah tuhan yang perlu disimpan?

Kita jawab dengan soalan ini, kuku juga anugerah tuhan, kenapa orang Sikh Punjabi potong kuku?

8) Sami Buddha vegetarian bertanya, kenapa Islam disuruh membunuh binatang untuk dimakan? Bukankah itu zalim kerana membunuh hidupan bernyawa?

Sains telah membuktikan bahawa sayur dan pokok turut mempunyai nyawa. Malah, apabila kita basuh tangan pun, ada banyak nyawa kuman yang kita bunuh. Itu tidak kejam? Apabila kita membunuh (sembelih) seekor lembu, sebenarnya kita telah menyelamatkan banyak nyawa manusia daripada mati kelaparan.

9) Sami Buddha menjawab “Bunuh sayur dosa kecil sebab sayur kurang deria. Bunuh binatang dosa besar”

Habis tu, adakah kita cuma berdosa kecil jika membunuh orang yang pekak, buta, dan bisu hanya kerana dia tidak ada deria?

10) Sami Buddha menjawab lagi “Jika kita bunuh sayur, sayur akan tumbuh balik”

Jadi, makanlah ekor cicak kerana ekor cicak akan tumbuh semula selepas putus.

11) Sami Buddha berkata lagi, “Makan binatang akan dapat banyak penyakit”

Sebenarnya, penyakit datang kerana kita banyak makan. Bukan kerana makan binatang. Allah suruh makan secara sederhana. Nabi juga suruh berhenti makan sebelum kenyang. Lagipun, Allah dah beri gigi taring dan gigi kacip untuk manusia makan binatang dan sayuran. Bukankah tembakau dan ganja itu juga berasal dari tumbuhan? Lagi besar penyakitnya. Lembu yang ragut rumput hari-hari pun boleh jadi lembu gila. Sebenarnya, tak kesah pun kalau kita tak nak makan daging, tapi jangan lah cakap haram apa yang telah Allah halalkan.

12) Kan babi itu ciptaan Allah, kenapa Islam tak makan babi?

Sebab bukan semua ciptaan Allah adalah untuk dimakan. Jika begitu, batu dan kayu juga ciptaan Allah. Manusia juga ciptaan Allah. Nak jadi kanibal?

13) Islam cakap Hindu sembah berhala tetapi Islam hari-hari sembah Kaabah.

Islam bukan sembah Kaabah. Tapi Kaabah itu adalah Kiblat untuk satukan umat. Dalam Islam dah sebut, siapa sembah Kaabah akan masuk neraka kerana Islam sembah Allah, kaabah cuma kiblat. Ada bezanya. Bukti, orang yg sembah berhala tidak akan pijak berhala, tapi orang Islam pijak Kaabah untuk melaungkan azan. Orang Hindu tak akan pijak gambar berhala tapi orang Islam hari-hari pijak gambar Kaabah di sejadah. Jika ada sepanduk gambar Kaabah direntangkan di KLCC sekalipun, orang Islam tetap solat menghadap Kaabah di Mekah kerana itu kiblat kita untuk sembah Allah. Bukan sembah Kaabah!

14) Kenapa perlu ikut Nabi Muhammad saw? Nabi dan Rasul sebelum baginda itu sesatkah?

Nabi sebelum Nabi Muhammad saw diutus untuk kaum dan zaman tertentu sahaja. Sedangkan Nabi Muhammad saw diutus untuk semua kaum dan sepanjang zaman.

15) Apa bukti Allah wujud? Mana Allah? Tak nampak pun.

(Tampar beliau!) Kemudian cakap, sakit itu wujud dan boleh dirasa, tapi adakah kita nampak sakit itu? Begitu juga dengan kewujudan Allah. Allah itu wujud dan kita boleh rasa nikmat pemberian-Nya, tapi kita tak boleh nampak Allah.

Sumber: Islam itu Indah

19 September 2015 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

Senarai Ulamak, asatizah, ilmuwan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Malaysia.

Di antaranya ialah :

1. Maulana Aswadi (hadith) 
2. Maulana Abdullah Amir (hadith) 
3. Maulana Hussein Abdul Qadir (hadith) 
4. Sheikh Wan Izzuddin (hadith) 
5. Baba Li Sepanjang (aqidah, feqh)
6. Sheikh Husni Ginting (aqidah, sirah, hadith) 
7. Maulana Hasnul Hizam (hadith) 
8. Tuan Guru Hj Salleh Pondok Sik Kedah (aqidah, feqh) 
9. Sheikh Fahmi Zamzam (aqidah, feqh, tasawuf) 
10. Sheikh Nuruddin al Banjari (feqh, tasawwuf)
11. Dato’ Wan Zahidi – Mantan Mufti Wilayah Persekutuan (Aqidah, feqh)
12. Dato Haji Mohd Salleh Hj Ahmad – (Aqidah, feqh)
13. Ustaz Jahid Sidek (aqidah, feqh, tasawuf) 
14. Syed Muhammad Naquib al-Attas (aqidah, falsafah, pemikir Islam)
15. Syeikh Muhammad Fuad bin Kamaluddin Al-Maliki (aqidah, tasawuf,hadis)
16. Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni (hadith)
17. Ustaz Syed Abdul Kadir Al Joofre (feqh)
18. Ustaz Nazrul Nasir (aqidah, feqh, tasawuf)
19. Ustaz Rashidi Abdul Wahab (aqidah, feqh)
20. Ustaz Khalif Muammar (aqidah, falsafah)
21. Ustaz Nik Roskiman (aqidah, tasawwuf)
22. Ustaz Wan Suhaimi Wan Abdullah (Aqidah, falsafah) 
23. Habib Ali Zaenal Abidin (sirah, tasawwuf)
24. Ustaz Muhadir bin Hj Joll (aqidah, feqh) 
25. Ustaz Asmadi Mohamed Naim (aqidah, feqh) 
26. Syeikh Hj Abdul Raof Bin Nurin (aqidah, feqh, tasawuf)
27. Ustaz Raja Ahmad Mukhlis (aqidah, tasawwuf, tafsir, hadith)
28. Ustaz Ellyeen Aminen (aqidah)
29. Ustaz Al-Amin Daud (aqidah) 
30. Ustaz Abdul Rahman ar Raniri (hadith) 
31. Ustaz Hairul Nizam Mat Hussain (feqh)
32. Ustaz Nik Nazimuddin – mudir madrasah khairuummah (feqh)
33. Ustaz Muhammad Subki Abd Rahman – mudir pondok repek pasir mas (feqh)
34. Ustaz Mazrisyam (feqh) 
35. Ustaz zamihan al Ghari (aqidah, feqh) 
36. Ustaz Engku Ahmad Fadzil (feqh) 
37. Ustaz Basir Mohamed al Azhari (aqidah, feqh) 
38. Ustaz Abdullaah Jalil (feqh) 
39. Ustaz Abu Zahrah Abdullah Tohir (aqidah, feqh) 
40. Ustaz Umar Mohammad Noor (hadis)
41. Ustaz Ayman al Akiti (aqidah, feqh)
42. Ustaz Afifi al Akiti (aqidah, feqh, falsafah)
43. Ustaz Fauzi Hamat (aqidah) 
44. Ustaz Luqman Hakim – madrasah rahmaniah pondok lubuk tapah (feqh)
45. Ustaz Hafiz Mansor (aqidah, feqh)
46. Ustaz Ibrahim Masran – pondok ledang (Aqidah, feqh, tasawuf)
47. Ustaz Wan Haslan Khairuddin (Aqidah, dakwah)
48. Ustaz Mohammad Elias Al Malakawi – madrasah Khairuummah (aqidah, feqh)
49. Ustaz Shahul Hamid (dakwah) 
50. Ustaz Faiz al idrus (dakwah)

Dan ramai lagi

Para ulamak,asatizah,ilmuwan agama ini ada di kalangannya yang mempunyai master, PhD, bergelar profesor dalam bidang masing-masing malah diiktiraf pula oleh ulamak di luar negara namun masih tetap melazimi majlis ilmu dan bertalaqqi dengan alim ulamak Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Barakallahufikum.

18 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT.

 

Ini kerana Allah ta’ala tidak memerlukan kepada makhluk-makhlukNya,azali dan abadinya Allah Tidak memerlukan kepada selainNya.
Maka Allah tidak memerlukan kepada tempat untuk diduduki dan tidak merlukan kepada benda untuk diliputiNya dan Dia tidak memerlukan kepada arah. Cukup sebagai dalil pada mensucikan Allah dari bertempat atau berarah itu dengan firman Allah ta’ala yang bermaksud:

” Tiada sesuatupun yang menyerupai Allah”.

Sekiranya Allah bertempat maka sudah pasti bagiNya persamaan dan berukuran tinggi lebar, dalam, dan sesuatu yang sedimikian pastinya adalah makhluk dan memerlukan kepada yang lain menetapkan ukuran panjangnya, lebarnya, dalamnya. Demikian tadi dalil ‘Allah Wujud Tanpa Bertempat’ dari Al-Quran.

Manakala dalil dari hadith Nabi pula adalah apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan selainya dengan sanad yang sohih bahawa Rasulullah (selawat dan salam keatasnya) bersabda yang bermaksud:

“Allah telah sedia wujud (azali) dan selain Allah tiada sesuatupun yang sedia wujud (azali)”.

Makna hadith Nabi tadi adalah Allah telah sedia ada pada azal lagi, tidak ada bersama Allah selainNya, air belum ada lagi, udara belum ada lagi, bumi belum wujud lagi, langit belum wujud lagi, kursi belum ada lagi, arasy belum ada lagi, manusia belum wujud lagi, jin belum wujud lagi, malaikat belum ada lagi, masa belum ada lagi, tempat belum wujud lagi dan arah juga belum wujud lagi.

Manakala Allah telah sedia wujud tanpa tempat sebelum tempat dicipta dan Allah tidak sama sekali memerlukan kepada tempat. Inilah yang dinyatakan dari Hadith Nabi tadi. Saidina Ali (semoga Allah meredhoinya) berkata:

” Allah telah sedia ada tidak bertempat dan Allah sekarang juga atas sediakalaNya tanpa bertempat”.
Diriwayatkan oleh Imam Abu Mansour Al-Baghdady dalam kitabnya Al-farqu Bainal Firaq.

Dari segi akal, sebagaimana diterima akan kewujudan Allah ta’ala itu tanpa tempat dan tanpa arah sebelum adanya tempat dan arah maka benarlah kewujudan Allah itu setelah mencipta tempat Dia tidak bertempat dan tidak memerlukan arah. 
Dalil ini semua, bukanlah menafikan kewujudanNya sepertimana yang dituduh oleh ajaran yang menjisimkan dan menyamakan Allah dengan makhluk pada zaman ini iaitu ajaran Wahhabiyah.

Kita mengangkat tangan ke langit ketika berdoa bukanlah kerana Allah berada dilangit akan tetapi kita mengangkat tangan ke langit kerana langit merupakan kiblat bagi doa, tempat terkumpulnya banyak rahmat dan berkat. Sepertimana kita menghadap ke arah ka’bah ketika solat tidaklah bererti Allah itu berada di ka’bah akan tetapi kerana ka’bah itu kiblat bagi solat. Inilah yang telah dinyatakan oleh para ulama Islam.

Saidina Ali (semoga Allah meredhoinya) turut menjelaskan: 
” Akan kembali satu kaum dari umat ini ketika hampir hari kiamat kelak mereka menjadi kafir, lantas sesorang lelaki bertanya: ‘ Wahai amirul mu’minin! Kekufuran mereka itu disebabkan apa? kerana mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama atau mengingkari sesuatu dalam agama?’ Saidina Ali menjawab: Kekufuran mereka kerana mengingkari sesuatu dalam agama iaitu mereka mengingkari Pencipta mereka dengan menyifatkan Pencipta itu berjisim dan beranggota”. Diriwakan oleh Ibnu Al-Mu’allim Al-Qurasyi dalam kitabnya berjudul Najmul Muhtady Wa Rojmul Mu’tady.
Berkata Imam Zainul Abidin (semoga Allah meredhoinya): ” Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”. Diriwayat oleh Al-Hafiz Az-Zabidy.

Imam Abu Hanifah menyatakan dalam kitabnya Fiqhul Absat: ” Allah ta’ala telah sedia ada tanpa tempat, Allah telah sedia wujud sebelum mencipta makhluk, dimana sesuatu tempat itu pun belum wujud lagi, makhluk belum ada lagi sesuatu benda pun belum ada lagi, dan Allah lah yang mencipta setiap sesuatu.

Dinyatakan dengan sanad yang sohih oleh Imam Baihaqi dari Abdullah bin Wahb berkata: 
” Ketika kami bersama dengan Imam Malik, datang seseorang lelaki lantas bertanya: ‘Wahai Abu Abdillah Imam Malik! ‘Ar-Rahman ‘Alal Arasyi Istawa’ bagaimana bentuk istiwa Allah? maka Imam Malik kelihatan merah mukanya kemudian beliau mengangkat wajahnya lantas berkata: ‘Ar-Rahman ‘Alal Arasyi Istawa’ ianya sepertimana yang telah disifatkanNya dan tidak boleh ditanya bentukNya kerana bentuk itu bagi Allah adalah tertolak dan aku tidak dapati engkau melainkan seorang pembuat bid’ah! maka keluarkan dia dari sini”. 
Manakala riwayat yang berbunyi ‘dan bentuk bagi Allah itu adalah dijahili’ ianya riwayat yang tidak sohih.

Imam kita Imam Syafie (semoga Allah meredhoinya) telah berkata: ” Barangsiapa mempercayai Allah itu duduk di atas Arasy maka dia telah kafir”. Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mu’allim Al-Qurasyi dalam kitabnya Najmul Muhtady Wa Rojmul Mu’tadi.

Berkata juga Imam Ahmad bin Hambal (semoga Allah meredhoinya) : ” Barangsipa yang mengatakan Allah itu jisim tidak seperti jisim-jisim maka dia juga jatuh kafir”.Diriwayat oleh Al-Hafiz Badruddin Az-Zarkasyi dalam kitabnya Tasynif Al-Masami’.

Berkata Imam Ahli Sunnah Wal jamaah Imam Abu Hasan Al-Asy’ary dalam kitabnya berjudul An-Nawadir: ” Barangsiapa yang mempercayai Allah itu jisim maka dia tidak mengenali Tuhannya dan sesungguhnya dia mengkufuri Allah”. 
Maka jelaslah dari kenyataan Imam Al-Asy’ary tadi bahawa kitabnya yang berjudul Al-Ibanah pada hari ini telah ditokok tambah.

Berkata Imam Abu Ja’far At-Tohawi yang mana beliau ini merupakan ulama As-Salaf As-Soleh: ” Maha suci Allah dari mempunyai ukuran, penghujung, sendi, anggota dan benda-benda kecil dan Allah tidak diliputi dengan mana-amana arah enam sepertimana makhlukNya”.
Beliau berkata lagi: ” Barangsiapa yang menyifatkan Allah dengan sifat-sifat makhluk maka dia jatuh kafir”.
Antara sifat makhluk adalah bergerak,duduk diam, turun, naik, bersemayam, duduk, berukuran, bercantum,berpisah,berubah, berada di tempat,berarah, berkata-kata dengan huruf, suara, bahasa dan lain-lain.

Telah dinukilkan oleh Imam Al-Qorofy dan Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitamy dan selainya menukilkan kenyataan bahawa: ” Imam Syafie, Imam Malik Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah (semoga Allah meredhoi mereka) berkata bahawa jatuh hukum kufur bagi sesiapa yang berkata Allah itu ber-arah dan berjisim dan benarlah penghukuman Imam-imam tadi”.

Wahai seluruh orang-orang muslim.
Kami mengakhiri penjelasan ini dengan ungkapan kaedah yang dinyatakan oleh Imam Ahmad Bin Hambal (semoga Allah meredhoinya): ” Segala yang terbayang dibenak fikiranmu maka ketahuilah bahawa Allah tidak sedemikian” . Dan ini merupaka kaedah yang telah disepakati disisi seluruh ulama Islam.

Berkata Imam kita Abu Bakar (semoga Allah meredhoinya): “Merasai diri itu lemah dari membayangi zat Tuhan maka itulah tauhid mengenal Tuhan dan memcari-cari serta membayangkan zat Tuhan itu pula adalah kufur dan syirik”.

Alhamdulillah kita berada dalam akidah yang benar ini, memohon kepada Allah ta’ala agar mematikan kita diatas pegangan ini. Amin ya Arhamar Rohimin Wa akhiru da’wana ‘anil hamdulillahi robbil ‘alamin.

(PONDOK HABIB shared Rahmat Rahman‘s photo).

18 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

TRAGEDI 3 MAC YANG PERLU DIKETAHUI OLEH SETIAP MUSLIM DAN MELAYU

Alhamdulillah,pada hari ini genap 3 Mac,kita masih lagi dapat menghirup udara segar kurniaan Allah dan boleh menjalankan aktiviti seperti biasa.Tiada apa-apa yang teruk berlaku pada Malaysia buat sementara ini.Sesungguhnya,admin serius merasakan umat Islam yang tinggal di Malaysia ini adalah antara umat Islam paling bertuah sekali di dunia ini berbanding umat Islam lain di kawasan lain di dunia ini.

Tentu anda tertanya tanya apa yang istimewanya 3hb Mac ini?

Mestilah ada istimewanya…..

Sebenarnya kalau kita selak lembaran sejarah,ada dua peristiwa besar dan penting yang telah berlaku pada hari ini,yakni pada 3 Mac.Dua peristiwa ini yang berlaku satu di negara jiran kita iatu di Indonesia,manakala satu lagi di Turki,bagi admin,merupakan peristiwa yang sangat memberi kesan kepada admin sendiri,sepanjang admin membuka lembaran dan helaian sejarah umat Islam dan Melayu.

Peristiwa ini,bagi admin sangat menyentuh hati admin dan sangat banyak pengajaran yang boleh kita ambil dari kedua dua peristiwa ini.Admin akan ceritakan semula peristiwa peristiwa ini untuk dijadikan iktibar dan pengajaran berguna kepada umat Islam,terutamanya bangsa Melayu masa kini.

Orang Melayu yang beragama Islam mesti ambil pengajaran dari kedua dua peristiwa ini kerana keamanan yang berlaku di negara kita boleh ditarik balik bila bila masa sahaja.Pihak luar yang berniat jahat kepada kita boleh sahaja memasukkan jarumnya dan mula campur tangan dalam hal ehwal negara kita bila bila masa sahaja,seterusnya menimbulkan kekeacauan dan perpecahan masyarakat di negara kita.

Tanpa melengahkan masa lagi,admin memulakan penceritaan mengenai kedua dua peristiwa ini secara ringkas.

Peristiwa 1:

KEJATUHAN INSITUSI KHALIFAH ISLAM,3 MAC 1924

Tarikh 3 Mac 1924 bersamaan 28 Rejab 1342 Hijrah.

Tarikh ini menyimpan satu sejarah hitam bagi umat Islam keseluruhannya,apabila umat Islam pada tarikh itu kehilangan tonggak yang memayungi mereka selama 1300 tahun lamanya,iatu sistem Khilafah Islam.

Khalifah terakhir umat Islam,Khalifah Abdulmecid II bersama keluarga dihalau keluar dari istananya oleh Dewan Perhimpunan Republik Turki di bawah pimpinan Ghazi Mustafa Kemal Ataturk.

Akibat dasar sekularisme yang dibawa oleh Mustafa Kemal untuk memajukan Turki ketika itu,jawatan Khalifah dan Syeikhul Islam dihapuskan dan peranan menjaga hal ehwal agama Islam di Turki ketika itu diuruskan oleh jabatan lain.

Khalifah Abdulmecid II akhirnya mangkat di Paris,Perancis pada 23 August 1944 dan baginda mangkat apabila bandaraya itu bebas dari penjajahan tentera Nazi Jerman,yang menguasai sebahagian besar Eropah ketika zaman Perang Dunia Kedua,termasuk Perancis.Baginda dimakamkan di Jannatul Baqi di Madinah.

Sebenarnya sebelum itupun,kuasa khalifah semakin lemah berikutan pengaruh dari Barat dan dasar pemodenan oleh khalifah khalifah Uthmaniah terdahulu.Ini disebabkan oleh kelemahan kepimpinan khalifah khalifah terdahulu dan pengaruh sekularisma Barat mula menular di sekitar wilayah Turki oleh gerakan Pemuda Turki.

Disebabkan kerajaan Uthmaniah terlibat dalam Perang Dunia Pertama dan kalah dalam peperangan itu,wilayah Uthmaniah dikecilkan sehingga ke hari ini.Peranan Kaum Pemuda Turki yang membawa reformasi Barat ke Turki juga akhirnya melemahkan kuasa pemerintah Uthmaniah.

Dewan Perhimpunan Kebangsaan Turki pada tahun 1922 telah menghapuskan jawatan Sultan Uthmaniah dalam pentadbiran Turki.Sultan terakhir,Sultan Mehmed VI Wahiduddin diusir dari istananya,berlayar ke Malta dengan menaiki kapal HMS MALAYA dan hidup dalam buangan di sana.

Turki diistiharkan sebagai republlik oleh Mustafa Kemal Ataturk pada tahun 1923.

Walaubagaimanapun,jawatan Khalifah Islam masih dikekalkan oleh pihak Republik Turki dan melantik Abdulmecid II sebagai Khalifah Islam.Namun khalifah hanya berperanan sebagai ketua keluarga Uthmaniah dan simbol penyatuan umat Islam,tidak lebih dari itu.

Setelah setahun Mustafa Kemal menunggu peluang,akhirnya beliau kemudiannya mengistiharkan penghapusan jawatan Khalifah dan Syeikhul Islam pada tarikh 3 Mac 1924,sekaligus berakhirnya insitusi khalifah yang menaungi umat Islam sejak kewafatan Rasulullah s.a.w,selama 1300 tahun lamanya.

Peristiwa 2:

PEMBUNUHAN BESAR BESARAN RAJA RAJA MELAYU DI SUMATERA TIMUR,3 MAC 1946.

Tarikh 3 Mac 1946 bersamaan 27 Rabiulawwal 1365 Hijrah.

Berpuluh puluh tahun kemudian di wilayah Sumatera Timur di Indonesia,berlaku satu peristiwa penumpahan darah beramai ramai akibat hasutan sesetengah pihak,yang akhirnya mengorbankan sultan-sultan Melayu yang menguasai wilayah Sumatera Timur,para kerabat diraja,bangsawan dan orang Melayu di sana.

Semuanya berlaku akibat hasutan dari Parti Komunis Indonesia didalangi oleh Karim Marah Sutan dan Luat Siregar,kepada pekerja pekerja etnik Jawa yang bekerja di ladang ladang dan estet estet milik pemerintah Melayu di kawasan itu.
Ada yang mengaitkan peristiwa ini dengan persengketaan antara etnik peribumi di Sumatera,iatu Melayu Sumatera,Batak dan Simalungun dengan etnik etnik imigran yang bekerja sebagai pekerja kepada pemerintah Melayu seperti Jawa,Madura,Sunda dan lain lain lagi.

Kesultanan dan kerajaan Melayu yang menjadi mangsa peristiwa ialah seperti berikut;

Kesultanan Deli Darul Maimon

Kesultanan Serdang Darul Arif

Kesultanan Asahan

Kesultanan Langkat Darul Aman

Kerajaan Panai

Kerajaan Tanah Karo dan Simalungun

Pada malam itu,pemberontak yang rata ratanya telah dipengaruhi oleh dakyah komunis telah menyerang istana sultan sultan Melayu.Istana Sultan Asahan diserang dan ramai kerabat bangsawan dan orang Melayu di luar istana dibunuh ketika berlawan dengan pemberontak terbabit.Sultan Asahan sempat melarikan diri ke belakang istananya.

Istana Kesultanan Deli turut dilanggar kumpulan pemberontak namun Sultan Deli selamat dengan bantuan tentera sepahi Inggerisnya.Namun,seperti biasa,banyak orang awam terbunuh.

Raja Kerajaan Panai turut dipenggal kepalanya bersama anggoota keluarganya.

Tetapi tiada yang lebih menyayat hati berbanding apa yang menimpa Sultan Langkat dan kerajaanya.Istananya diceroboh masuk,dirompak segala barangannya.Sebahagian besar kerabat bangsawan dibunuh dan dipenggal kepalanya dengan kejam,termasuklah seorang pujangga ulung Melayu,Tengku Amir Hamzah turut terkorban.

Tengku Mahkota Sultan masih hilang sehingga kini,dan yang lebih perit lagi,puteri-puteri Sultan dirogol oleh pemberontak di hadapan mata baginda Sultan sendiri!

Kesultanan Langkat merupakan mangsa keadaan paling teruk sepanjang berlakunya Revolusi Sosial itu.Banyak nyawa yang tidak berdosa menjadi mangsa.

Namun,apa yang emnariknya selepas kejadian tersebut,kebanyakan rakyat tempatan seboleh mungkin menyembunyikan identiti ‘Melayu’ mereka bagi mengelakkan diserang oleh para ‘Nasionalis Indonesia’. Malahan, sebahagian kaum Batak Karo dan Simalungun yang telah memeluk Islam dan mengamalkan cara hidup Melayu, kembali memakai nama asal Batak mereka dan mengelakkan dilihat sebagai Melayu.

Kini, etnik Melayu hanya menjadi kaum minoriti yang tidak berkuasa di negerinya sendiri di dalam Propinsi Sumatera Utara. Para waris Raja-raja Melayu pada hari ini cuba menghidupkan kembali warisan dan takhta Kerajaan mereka yang hilang, namun hanya atas dasar melestarikan kebudayaan tempatan semata-mata, iaitu bagi mengelakkan salah faham daripada Pemerintah Indonesia.

DARI DUA PERISTIWA INI,KITA DAPAT BANYAK PENGAJARAN

1.Perlunya orang Melayu dan masyarakat Islam di Malaysia menjaga insitusi diraja dengan sebaiknya.Raja dan sultan,selain menjadi ketua agama Islam,ianya juga merupakan simbol penyatuan dan pertahanan warisan kebudayaan Bangsa Melayu.Mungkin ada yang melihat tiada untungnya memelihara raja raja yang dianggap pembazir duit rakyat dan berhala semata mata,namun di sini,kita ingin membicarakan mengenai insitusi kesultanan.Diulangi INSITUSI bukannya peribadi raja tersebut.

2.Perlunya rakyat menasihati pemerintah.Pemerintah adalah orang yang telah dipertanggungjawabkan untuk menjaga kemaslahatan rakyat.Amanah menjadi seorang pemimpin ini semestinyalah berat.Pemimpin juga tidak lepas dari kesilapan kerana mereka juga manusia.jadi,di sinilah pentingnya rakyat untuk menegur peribadi pemerintah sekiranya pemerintah melakukan kesilapan atau terpesong dari amanahnya.Dalam Islam,menjatuhkan pemimpin hanya kerana rasa tidak puas hati terhadap mereka adalah dilarang sama sekali.

3.Sentiasa berwaspada terhadap tangan tangan asing.Keharmonian negara kita ini bila bila masa sahaja boleh dicabut begitu sahaja.banyak pihak yang cemburu dan dengki akan limpahan rahmat ke atas tanah air kita,menunggu masa untuk mencucukkan jarum-jarumnya di sini.Jadi,adalah perlu sesekali sekala bagi seorang rakyat Malaysia memerhatikan ancaman ancaman yang akan datang di Malaysia ini,samada terang terangan mahupun sembunyi.

Sekian sahajalah penjelasan dan cerita ringkas dari admin.Sebarang kesilapan mohon diperbetulakn

Wallahualam

Gambar 1 menunjukkan Khalifah Abdul Mecid II (berjambang) sedang bergambar dengan pengawalnya di Istanbul,tiga hari sebelum 3hb Mac,di mana jawatan khalifah dihapuskan dan baginda dihalau keluar dari bumi Turki.

Gambar 2 menunjukkan Sultan dan pemerintah Melayu di Sumatera Timur,yang menjadi mangsa dalam tragedi Revolusi Sosial itu.Kiri sekali ialah gambar Raja Panai(yang dipenggal kepalanya),Sultan Asahan,Sultan Serdang dan Sultan Langkat.Semoga Allah mencucuri rahmat dan meletakkan mereka ke dalam golongan yang diredhai olehNya.

Sumber:The Patriot

 

18 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Tangisan Rasulullah SAW Akan Nasib Kaum Wanita

Postingan artikel ini bukan untuk memojokan kaum wanita atau menakut-nakuti tapi semata mata untuk saling mengingati. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.

Syaidina Ali ra suatu ketika melihat Rasulullah saw menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu dia bertanya mengapa Rasulullah saw menangis. Beliau menjawab; “Pada malam aku di-isra’- kan, aku melihat perempuan-perempuan sedang disiksa dengan berbagai siksaan didalam neraka. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena menyaksikan mereka disiksa dengan sangat berat dan mengerikan. Putri Rasulullah saw kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. “Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.
Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.
Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan gada dari api neraka,” kata Nabi saw.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?

Rasulullah menjawab, “Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.”

Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.

Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang lain yang bukan muhrim dan dia bersolek supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Betapa wanita itu digambarkan sebagai tiang negara, rusak tiang, maka rusak pula negara, akhlak dan moral.

Meski demikian, laki-laki yang bermaksiat kepada Allah juga tidak sedikit yang masuk neraka. Ayah-ayah yang membiarkan anak perempuanya tidak memakai kerudung dan mengumbar aurat didepan orang lain.

Surga dan Neraka adalah soal pilihan. Tergantung bagaimana manusia menjalani hidupnya dialam jagad raya. kalau mau selamat, maka patuhlah kepada Al-Qur’an dan hadist, balasanya adalah surga dengan segala kenikmatan didalamnya. Kalau mau celaka dengan mendurhakai Al Qur’an dan hadist, maka Allah sudah menyediakan penjara yang sangat mengerikan, yaitu neraka dengan api dan siksaan yang sangat pedih dan tidak terbayangkan oleh manusia sebelumnya.

( Hadist – Hadist )

Dalam sebuah hadist yang diwirayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda:

“Neraka diperlihatkan kepadaku. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita..” (HR Ahmad)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) Syaithan akan mengikutinya (menghiasainya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaanya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allah Azza wa Jalla) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”. [HR Ibnu Khuzaimah (no. 1685), Ibnu Hibban (no. 5599) dan at-Thabrani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 2890), dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban]

Tabarruj akan membawa laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan ada di akhir umatku (nanti) wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, di atas kepala mereka (ada perhiasan) seperti punuk unta, laknatlah mereka karena (memang) mereka itu terlaknat (dijauhkan dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala)” [HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamush shagiir” (hal. 232) dinyatakan shahih sanadnya dalam kitab “ilbaabul mar-atil muslimah” (hal. 125).

( Ayat Al – Quran )

Allah Azza wa Jalla berfirman,maksudnya:

“Dan janganlah kalian (para wanita) bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” (QS. al-Ahzaab:33)

Allah Jalaa Jalaaluh berfirman,maksudnya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. al-Ahzaab: 59)

Allah Jalaa Jalaaluh berfirman,bermaksud:

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh Syaitan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu (Adam dan Hawa) dari Surga, dia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya” (QS. al a’raf : 27)

 

Kiriman: Abdul Rahim

 

Top of Form

12 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

4 (EMPAT) MALAIKAT YANG MENDATANGI ORANG SAKIT

Kalau kita tahu sebenarnya tak ada alasan untuk sedih dan mengeluh ketika kita sakit, karena sebenarnya sakit itu adalah kasih sayang Allah SWT pada kita, sewajarnya kita mengeluh ketika sakit karena kita tak tahu rahasianya. Adalah ternyata  sakit itu harus disyukuri karena itu adalah bukti kasih sayang Allah pada kita, hal ini disebabkan oleh karena  Allah SWT  mengutus 4 (empat) malaikat untuk selalu menjaga kita dalam keadaan sakit.

Rasulullah saw bersabda:
“ Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”

Sabda Rasulullah saw tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al-Bahili dan dalam hadist yang lain Rasulullah saw bersabda :
“ Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 (empat) malaikat untuk datang padanya.”
Allah SWT memerintahkan :

1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya.
3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah SWT memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba mukmin, namun untuk malaikat ke 4, Allah SWT tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin, maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah SWT seraya berkata :

“ Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan? ”
Allah SWT menjawab: “ Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”

Dengan hal demikian, maka kelak si sakit itu akan berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia fana ini dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah saw :

“ Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

Subhanallaah … Subhanallaah … Subhanallaah !!

“ Tiada seorang mukmin yang ditimpa oleh lelah atau penyakit atau risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan di jadikan penebus dosanya oleh Allah. ”
(HR Bukhari-Muslim)

“ Jika sakit seorang hamba hingga tiga hari, maka keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya.”
(HR Ath-Thabarani)

“ Penyakit panas itu menjaga tiap mukmin dari neraka dan panas semalam cukup dapat menebus dosa setahun.”
(HR Al-Qadha’i)

10 September 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

10 PENYAKIT PENGAMAL TAREKAT (Yang Tersasar)

Terdapat berbagai penyakit batin yang sukar disedari oleh pengamal tarekat yang boleh membinasakan perjalanan zahir dan batin mereka kepada Allah. Antaranya ialah:

1. TERASA ADA AMALAN

Maksudnya seseorang itu merasakan bahawa dirinya itu telah banyak berbuat amal soleh; banyak sembahyang, puasa, zikir, banyak sedekah dan sebagainya lagi. Jika ada rasa demikianmaka rosaklah perjalanan keruhaniannya. Rasa yang demikian itu bukan sahaja akan menimbulkan sifat riak, ujub dan sebagainya tetapi ianya boleh menyebabkan syirik atau menyengutukan Allah. Oleh kerana itu seseorang salik itu dikehendaki merasa-rasakan secara bersungguh-sungguh bahawa segala amalnya yang soleh itu adalah kurnia Allah semata-mata, hal Allah semata-mata, dari Allah semata-mata.

Setelah rasa begitu dapat dihayati sebenar-benarnya, maka InsyaAllah ia akan dikurniakan oleh Allah Tauhid Af’al atau tauhid pada perbuatan Allah, di mana seorang itu pada peringkat tersebut dapat melihat keesaan perbuatan Allah semata-mata akan tercapailah ketiga-tiga syarat bagi penerimaan amal iaitu ikhlas, fana’ (amalan diri dalam perbuatan Allah) dan benar-benar berasa bahawa tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah semata-mata.Kesimpulannya: Bila terasa ada amal maka Tauhid Af’al tidak akan tercapai.

2. PANJANG ANGAN-ANGAN NAFSU KEDUNIAANNYA

Khalifah Ali (r.a.) pernah menyebutkan bahawa panjang angan-angan nafsu keduniaan itu adalah punca segala kesalahan atau dosa. Orang yang panjang angan-angan nafsu keduniaannya itu sentiasa lena dihayun oleh berbagai jenis angan-angannya itu. Pada setiap saat hatinya berkata-kata: “Aku akan buat ini, buat itu. Kalau aku buat ini akan jadi begini dan kalau aku buat yang lain akan jadi begitu…”

Tegasnya ia akan dilamun oleh berbagai fikiran dan rancangannya sendiri yang tidak akan ada titik perhentiannya sama sekali. Hal demikian adalah mengambarkan bahawa orang tersebut jahil terhadap Tauhid, sebab orang yang jahil Tauhid menurut Ibn Ata’illah hatinya sentiasa berkata: “Apakah yang akan aku buat”.

Orang yang benar Tauhidnya pula menurut beliau, hatinya sentiasa berkata:”Apakah yang Allah akan buat terhadap dirinya itu”. Di samping itu orang yang panjang angan-angan keduniaan itu hatinya akan menjadi gelap disebabkan berbagai gambaran kebendaan sentiasa memenuhi ruang di hatinya sehingga Allah tidak akan mendapat ruang di hati lagi, pada hal hati itu untuk Allah. Nabi bersabda, ertinya: “Hati itu rumah Allah” Maksudnya hati itulah tempat yang dipilih dan dibersihkan oleh Allah dan dimuliakan sebagai jalan perhubungan antara Allah dengan hambaNya. Oleh itu hati itu tidak boleh dimasuki sesuatu yang lain dari Allah.

Samalah keadaan hati itu seperti Kaabah, kerana Kaabah itu adalah dikatakan sebagai Rumah Allah. Kalau Kaabah itu mesti bersih dari perkara-perkara yang boleh menjatuhkan kesuciannya, maka begitu jugalah dengan hati, ia mesti bersih dari sesuatu yang mengotori ruang hati serta mengelapkannya.

Dari angan-angan keduniaan itu maka akan timbullah berbagai sifat tercela seperti tamak, hasad dengki, gemar kemasyhuran dan sebagainya. Perlu diingatkan bahawa sebahagian daripada angan-angan keduniaan itu ialah angan-angan seorang itu mengenai akhirat, tetapi cita-cita dan angan-angan itu telah dikotori oleh berbagai kehendak nafsunya.

Ramai orang terjerat di dalam perangkap ini tidak dapat menyedari dirinya itu sendiri. Misalnya, seorang itu membanyakkan usahanya berzikir siang dan malam, tetapi hati kecilnya terlintas bahawa dengan berbuat demikan maka ia akan cepat menjadi wali atau menjadi seorang Syeikh atau lekas fana’ dan sebagainya.

Sepatutnya ia bercita-cita supaya dapat ma’rifatullah dan keredhaanNya. Demikian juga seorang salik yang berhenti dari kerja mencari rezeki atau berhenti dari belajar Ilmu Islam kerana didorong supaya cepat naik maqam atau cepat mencapai matlamat perjalanannya; kononnya jika ia menumpukan zikir dan beramal ibadat sahaja maka cepatlah sampai kepada matlamat yang dituju. Sebenarnya hal demikian itu masih dipenuhi nafsu keduniaan yang pada zahirnya macam cita-cita akhirat.

3. HATI BERKATA ATAU TERLINTAS BAHAWA DIRINYA TELAH MENCAPAI TARAF WALI

Sifat demikian adalah berlawanan dengan kehendak Allah, kerana Allah melarang seseorang itu dari perbuatan mengaku diri sendiri itu suci dan bersih. Allah berfirman, maksudnya :”Maka janganlah kamu mengaku bahawa diri kamu itu suci. Dialah (Allah) yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa”.

Nabi bersabda yang bermaksud: “Tanda kecelakaan (masuk neraka) itu empat perkara: (Pertama), Lupakan dosa-dosa yang dilakukan, pada hal dosa-dosa itu masih utuh di sisi Allah. (Kedua), Ingatkan berbagai kebaikan yang dilakukan, pada hal ia tidak tahu samada kebaikan itu diterima atau ditolak oleh Allah. (Ketiga), Memandang orang yang di atas mengenai hal keduniaan. (Keempat), Memandang orang yang di bawah (lebih rendah) mengenai hal-hal agama. maka Allah berfirman (kepada orang ini): “Aku mahukan orang ini, tetapi ia tidak mahukan Aku, maka Aku pun tinggalkan sahaja”

Sebenarnya, bila seseorang itu tinggi darjatnya di sisi Allah, maka ia akan terasa rendah; bila ruhaninya bersih, maka ia terasa kotor dan banyak dosa; bila telah menjadi wali, maka terasa dirinya masih jauh dari kecintaan Allah. Sebaliknya, orang yang masih bergelumang dengan dosa itu biasanya merasakan dirinya sudah bersih, sudah menjadi wali Allah. Oleh yang demikian seseorang itu yang terasa telah menjadi wali itu telah tersimpang jauh dari arah perjalanannya yang sebenar. Ia tidak akan sampai ke matlamat yang dituju dan ia tetap jatuh tersungkur yang sukar untuk bangun semula.

4. SUKA DAN SENANG HATI BILA DIKERUMUNI OLEH ORANG RAMAI.

Bila ramai orang berada di sekelilingnya, kerana menyokong dan menyukainya maka ia berasa seronok, suka dan senang hati. Sebaliknya, bila orang ramai menjauhkan diri daripadanya maka ia berasa susah hati. Sifat demikian boleh merosakkan keruhanian seseorang salik, kerana pada hakikatnya ia masih memandang makhluk dan tidak memandang Allah. Di samping itu, sifat demikian itu menunjukkan bahawa ia masih sukakan kemasyhuran, kemuliaan, keagungan dan sifat-sifat lain yang seumpamanya.

Semua sifat tersebut adalah pakaian Allah bukan pakaian makhluk atau manusia. Ibrahim bin Adham berkata: “Seseorang yang tidak meninggalkan kemuliaan kepada kehinaan, ia tidak akan sampai ke darjat orang yang solihin”. Seorang murid Syeikh Abu Yazid Al-Bustami pernah mengadu kepadanya bahawa ia telah beramal di bawah pimpinan Syeikh Abu Yazid selama 30 tahun, tetapi ia terasa tidak mendapat apa-apa perubahan, masih tetap di tahap dahulu juga, maka apakah yang menyebabkan jadi begitu? Syeikh Abu Yazid Al-Bustami menjelaskan bahawa jika muridnya itu beramal selama 1,000 tahun lagi pun, tetap tidak akan berubah keadaan dirinya itu, kecuali ia membuang semua sifat berasa mulia dan tinggi di mata masyarakat itu.

Seorang itu dikehendaki menjadi hamba Allah, bukan hamba manusia. Bila seseorang itu suka kepada manusia, maka ia jadi hamba manusia, bukan hamba Allah. Seorang hamba Allah hanya sibuk dengan Allah, senang dengan Allah, cinta hanya terhadap Allah, harapannya hanya pada Allah dan tidak kepada yang lain.

5. BERASA PUAS HATI DENGAN BERBAGAI BAYANGAN MIMPI

Sifat tersebut akan mendorongkannya untuk berpegang terhadap berbagai tafsiran mimpi yang dialaminya itu. Lama kelamaan ia akan disesatkan oleh syaitan menerusi tafsiran-tafsiran mimpi itu sendiri, tanpa dapat menyedari kesalahan dirinya itu sampai bila-bila. Malahan setiap ia beramal, maka ia mengharapkan untuk mendapat mimpi yang baik-baik atau yang ia anggap dapat menguntungkan dirinya.

Bagaimana akibatnya nanti bila dia itu bermimpi bahawa si pulan itu berzina, si pulan bin pulan itu mesti dibunuh dan sebagainya lagi? Tentu akan menimbulkan fitnah besar di dalam masyarakat. Ternyata orang yang berpegang terhadap mimpi itu telah hanyut dari tujuan perjalanannya yang dirumuskan dalam doa munajatnya sendiri.

6. BERASA JINAK, SERONOK TERHADAP WIRID ATAU ZIKIR YANG DILAKUKAN

Sifat ini juga dilarang, kerana ianya boleh melalaikan seseorang itu dari mengingati Allah yang sebenar. Apa yang disuruh oleh Allah ketika berzikir atau berwirid itu ialah mengingati Allah, seronok dan senang hati terhadap Allah, bukan terhadap wirid dan zikir yang dibaca itu. Jika seronok dan senang hati dengan wirid dan zikir yang dibacakan itu, maka samalah juga ia seronok mendengar lagu atau nyanyian dari penyanyi.

Sifat tersebut akan menjadi hijab, kerana seseorang akan terhenti di tahap wirid dan zikirnya itu sahaja, sedang perjalanannya yang sebenar masih jauh lagi.

Bagaimana jika seseorang itu mendapat mimpi ? Jika mimpi itu baik maka hendaklah ia bersyukur dan jika sebaliknya maka hendaklah ia berlindung dengan Allah, jalan terus, jangan dihiraukan sangat mimpi itu.

7. BERASA LAZAT DAN PUAS HATI TERHADAP NATIJAH-NATIJAH ZIKIR AL-WARIDAT

Demikian juga berbagai pemandangan ruh atau mata hati terhadap rahsia-rahsia perjalanan menuju Allah itu adalah juga termasuk di dalam makna al-waridat itu. Di kalangan ahli Tariqat di Malaysia ini, al-waridat itu di istilahkan sebagai natijah-natijah zikir. Al-Imam Al-Ghazali mengibaratkan orang yang berasa seronok dan lazat dengan al-waridat itu seperti anak-anak kecil yang menangis, lalu diberikan gula-gula atau anak -anak patung, maka iapun merasa seronok lalu diam dan berhenti dari menangis, kerana ia puas hati dengan gula-gula atau anak-anak patung itu.

Al-Imam Al-Ghazali juga mengambarkan bahawa perjalanan ruhani seseorang menuju Allah itu dapat disamakan dengan perjalanan seseorang menemui raja yang bersemayam di atas singgahsana di dalam istananya; bila seseorang yang mahu menemuinya maka keluar dari rumahnya untuk menemui raja itu, sudah tentu akan mengambil masa yang lama disebabkan perjalanannya yang jauh itu; dalam perjalanannya itu tentu ada kampung, kebun, ladang, dan berbagai pemandangan lagi; bila sampai di kawasan istana pula tentulah pemandangan lebih menarik dan indah. Jika seseorang salik itu tertarik dengan pemandangan-pemandangan itu semua dan berasa seronok, sudah tentulah ia akan terlupa tujuan asal untuk menemui raja itu.

Apa yang paling membahayakan ialah seseorang itu berasa telah sampai kepada raja yang dituju, pada hal ia masih jauh lagi dari istana atau mungkin juga ia masih berlegar-legar di halaman istana. Oleh yang demikian, maka sifat berasa lazat, seronok dengan al-waridat itu menjadi hijab hati atau ruhani yang merosakkan perjalanannya. Lebih hebat lagi bila seseorang itu telah dihantui dan dicandui oleh perasaan seronok dan lazat dengan al-waridat tersebut. Di tahap tersebut, orang tersebut akan dihanyutkan oleh al-waridat itu sendiri, sehingga bila satu masa nanti al-waridat terasa tidak ada maka hati kecilnya mula berperangsangka buruk terhadap Allah, dirinya sendiri, terhadap gurunya dan para sahabatnya.

Bagaimana mahu menerima al-waridat itu? Terimalah dengan bersyukur kepada Allah, jika ianya tidak berlawanan dengan Al-Quran dan sunnah Nabi dan jika tidak berlawanan dengan kata-kata ulama yang arif billah. Tetapi janganlah dihiraukan sangat al-waridat tersebut. Jika al-waridat tersebut berlawanan dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi atau pandangan ulama arif billah, maka hendaklah ianya kita sisihkan sahaja, jangan pandang langsung.

Di sinilah letaknya bahawa seseorang itu mesti terus menimba ilmu, tauhid, feqah dan tasauf, kerana tanpa ilmu sukar untuk menentukan al-waridat itu hak atau batil.Seorang yang tidak mahu mengerjakan sembahyang, tidak mahu menceburkan diri dalam masyarakat atau sebagainya, pada hal gurunya tidak ada mengajarkan demikian adalah berpunca dari kesilapannya sendiri iaitu terlalu berpegang terhadap al-waridat, walaupun ia jahil mengenai Al-Quran, Sunnah Nabi dan pandangan para ulama yang sebenarnya.

8. DIAM, NEGATIF TIDAK POSITIF TERHADAP JANJI-JANJI BAIK ALLAH

Allah menyuruh hamba-hambaNya untuk berbuat baik, malahan Allah menyuruh supaya para hambaNya itu berlumba-lumba untuk berbuat berbagai kebaikan. Allah berfirman, maksudnya: “Hendaklah kamu berlumba-lumba untuk membuat berbagai kebaikan”. (Surah Al-Anbia: Ayat 90)

Kebaikan yang Allah perintahkan untuk dilakukan selain daripada perkara-perkara yang difardhukan adalah terlalu banyak. Oleh itu seseorang itu, setelah menunaikan yang difardhukan, maka hendaklah ia aktif, cergas dan bersegera berbuat kebaikan itu.

Ingatlah bahawa orang yang berhenti (waqif) itu adalah orang yang masih mula berjalan, seorang salik pula adalah berjalan terus (sair) sedang seorang yang telah sampai kepada hakikat (wasil) pula adalah sentiasa terbang, bukan hanya ruhaniyahnya tetapi juga aspek zahirnya.

Contoh kita ialah Nabi Muhammad S.A.W. Tidakkah Baginda itu sentiasa aktif, cergas dalam hidupnya untuk berbuat kebaikan yang sebaik-baiknya. Sebab itulah Allah menyatakan bahawa hamba – hamba Allah yang sebenarnya itu ialah mereka yang mendengar ajaran Allah lalu melakukan yang terbaik sekali.

Maksudnya:
“Hamba-hamba Allah yang sebenar itu ialah mereka yang mendengar ajaran Allah lalu diikuti (dibuat) yang lebih dalam lagi dalam perkara- perkara yang membantu menyempurnakan amalan salik”.

9. BERPADA DENGAN BERPEGANG KEPADA SANGKAAN-SANGKAAN SAHAJA

Perjalanan ruhaniyah adalah amat sulit dan banyak liku-likunya yang mudah menyesatkan, lebih sulit dan lebih bahaya lagi jika dibandingkan dengan perjalanan di dalam hutan dara yang terlalu tebal. Oleh itu ia perlukan ilmu yang tepat dan benar sebagaimana yang ada di dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi serta yang terdapat di dalam kitab-kitab yang mu’tabar.

Jika seseorang hanya berpandu kepada sangkaan-sangkaannya sahaja, sudah tentulah ia akan sesat. Dari sudut yang lain pula dapat kita gambarkan bahawa jalan keruhanian itu seperti sebuah cermin yang bersih, tetapi ada garis pembahagi sebelah kiri dan kanan; sebelah kiri adalah iblis dan kesesatan sedang sebelah kanan adalah yang hak atau yang benar yang dikehendaki oleh Allah.

Tetapi garis pembahagi di cermin yang memisahkan kiri dan kanan itu tidak Nampak dan terlalu sukar untuk dilihat sehingga orang yang berjalan di atasnya telah jauh terseleweng ke kiri, tetapi ia masih yakin berada di sebelah kanan (Ia telah sesat, tetapi ia merasakan masih berada di dalam kebenaran).

Hanya bila kita berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah serta pandangan ulama yang arif billah sahajalah yang dapat menyedarkan diri samada kita telah sesat atau berada di dalam kebenaran Allah.Kebanyakan kesesatan dan tindakan serta tingkah laku pengamal-pengamal ilmu tasauf yang menyalahi syariat Islam adalah berpunca
dari sangkaan-sangkaan mereka sendiri seperti yang disebutkan itu.

10. MENIPU ALLAH

Perbuatan menipu Allah ini banyak berlaku di kalangan orang-orang yang jahil, terutamanya seseorang yang jahil murakkab iaitu ia jahil dan tidak mahu belajar serta tidak mahu mendengar kebenaran yang disampaikan kepadanya, malahan ia bersikap bodoh sombong dengan sifat kejahilan dirinya itu.

Contoh – contoh perbuatan menipu Allah itu ialah seperti tidak mahu sembahyang kononnya ia telah melakukan sembahyang daim (hatinya terus sembahyang tanpa putus) , berjudi itu rezeki yang Allah beri juga seperti sumber-sumber rezeki lainnya, kerana hakikat rezeki itu datangnya dari Allah belaka; berdoa itu syirik kerana bila berdoa bererti menuduh Allah tidak tahu untuk mengurus diri para makhluknya, sembahyang itu syirik kerana ada niat sengaja aku sembahayang, tidak sembahyang dosa besar, dosa besar diampunkan, tetapi syirik tidak diampunkan.

Oleh itu tidak buat sembahyang adalah lebih baik daripada melakukannya. Kata-kata si jahil seperti itu adalah merupakan kata-kata loyar buruk semata-mata. Mereka akan dimasukkan ke neraka oleh Allah dengan cara yang amat menyakitkan hatinya.

Tegasnya Allah akan berloyar buruk terhadap mereka. Misalnya, orang itu akan dimasukkan di dalam satu bekas dan bekas itu dimasukkan ke neraka; bila mereka bertanya mengapa mereka dimasukkan ke neraka, maka Allah menjawab bahawa Allah tidak membakar mereka tetapi hanya mahu membakar bekas itu sahaja!

Wallahu a’lam.

(Oleh: Tuan Guru Dr Hj Jahid Bin Hj Sidek al – Khalidi)

(Ahli Turuq Jilsah Jabatan Mufti Negeri Sembilan, Malaysia)

 

8 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

TUBUH TIDAK SIMPATI PADA DIRI SENDIRI

ADALAH lumrah sekiranya berlaku persengketaan atau perbalahan antara dua individu atau dua kumpulan individu kerana manusia tidak selamanya bersependapat atau sealiran fikiran. Akan tetapi agak sukar difahami sekiranya manusia terpaksa berkrisis atau bersengketa dengan dirinya sendiri. Tidak mungkin sesuatu perbuatan dilakukan oleh seseorang tanpa persetujuan perasaan dan fikirannya. Jika sesuatu tindakan telah dipersetujui, tidak mungkin jasad akan dipersalahkan kerana melakukannya. Oleh itu, perbalahan dengan diri sendiri tentunya tidak akan terjadi.

Walau bagaimanapun, Allah SWT akan membuktikan bahawa saat manusia terpaksa berbalah dengan diri sendiri pasti tiba. Setiap anggota tubuh manusia akan saling mendedahkan rahsia diri yang selama ini tidak pernah didedahkan atau diketahui oleh sesiapa pun.

Firman Allah SWT :
“Pada hari ini ( Hari Kiamat ), Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dilakukan oleh mereka dahulu.”  (Yaasiin : 65 )

Ayat tersebut menunjukkan bahawa pada Hari Kiamat kelak, tangan dan kaki tidak akan bersekongkol dengan mulut untuk mempertahankan sesuatu, sebaliknya akan mendedahkan segala amal yang telah dilakukan, sama ada baik atau pun buruk.

Firman-Nya lagi :
“Pada hari ( ketika ) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa-apa yang dikerjakan oleh mereka dahulu.” ( An-Nur : 24 )

Ayat ini juga menjelaskan bahawa anggota lidah, tangan dan kaki akan menjadi saksi terhadap apa-apa yang dilakukan oleh mereka dahulu. Lidah adalah anggota yang dianggap lebih tajam daripada pedang kerana ia boleh menuturkan kata-kata keji dan fitnah, merumpat, berdusta dan sebagainya.

Semua anggota tersebut akan berperanan sebagai saksi kepada diri sendiri. Sesungguhnya saksi amat penting dalam sesuatu perbicaraan. Kesahihan saksi akan mensabitkan sesuatu pertuduhan.

Firman Allah Taala lagi :
Dan mereka berkata kepada kulit mereka : “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab :”Allah yang menjadikan sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” ( Fussilat : 21 )

Ayat ini menambahkan dalil yang menunjukkan bahawa satu lagi anggota tubuh yang akan menjadi saksi ialah kulit dan manusia akan berasa hairan mengapa ia pula menjadi saksi? Akan tetapi kulit bakal menjelaskan bahawa Allah SWT yang menjadikannya boleh bertutur sebagaimana Dia mencipta mulut yang boleh bertutur.

Kulit akan menjadi saksi kerana ia juga berperanan dalam kehidupan manusia. Kulit mempunyai deria sentuhan. Di Akhirat kelak, kulit dijadikan makhluk yang boleh bertutur bagi menjadi saksi terhadap apa-apa jua kegiatan yang melibatkannya. Sekiranya kegiatan itu negetif, pasti kulit akan memecahkan tembelang yang menyebabkan diri manusia tergugat.

Abu Bakar bin Abi Syaibah meriwayatkan sebuah hadis daripada Muawiah bin Haidar al-Kurasi, katanya, Rasulullah SAW bersabda, yang bermaksud : “Manusia akan datang ke Akhirat dengan mulutnya terpasang alat pengekang ( tidak boleh bercakap ). Anggota tubuh yang mula-mula bercakap di Akhirat ialah peha dan tapak tangan.”

Lazimnya mulut yang dipasang dengan alat pengekang ialah mulut binatang ganas seperti anjing, yang dengan itu ia tidak boleh mengigit orang. Apabila mulut manusia pula dipasang dengan alat yang sama, tujuannya juga serupa, iaitu menghalang mulut daripada berkata-kata, berdalih atau berbohong.

Dalam ayat Al-Kurasi itu, Rasulullah SAW memberitahu bahawa dua anggota yang akan berkata-kata pada Hari Akhirat ialah peha dan tapak tangan. Ia akan bercakap bersama-sama anggota lain seperti dijelaskan oleh tiga ayat Al-Quran di atas. Semua anggota akan bercakap menjelaskan dan menjadi saksi terhadap amal yang dilakukan oleh mereka, sama ada amal baik atau amal

8 September 2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Diam Lebih Baik

Diam lebih Baik; “Sekiranya kita tidak tahu tentang sesuatu permasalahan itu atau pertanyaan yang diajukan kepada kita maka diam itu adalah lebih baik. Kerana agar kita tidak memberikan jawapan yang salah ataupon mengelirukan orang lain. Dan juga supaya tidak menunjukkan kejahilan diri sendiri. Makanya diam itu lebih baik.”

“Dan ketahuilah dengan menperkatakan Wallahua’alam. Saya tidak tahu itu jauh lebih baik kerana itu juga adalah sebahagian daripada ilmu. Jika kita mahu bertanya suatu masalah agama yang melibatkan hukum hakam dan inginkan kepastian. Maka carilah ahlinya. Dan jangan biasakan diri kita ini untuk bertanya pada google, facebook dan sebagainya.”

“Sepertimana bila kita sakit, kita jumpa doktor. Jumpa pada ahlinya, inikan pula urusan agama. Masalah hukum hakam. Tak kanlah mau sendiri pandai pandai sendiri. Lebih cantik lagi kalau kita menghadiri pengajian, kuliah, hadir majlis ilmu.
Kita berjumpa terus dengan mereka yang merupakan ahlinya. Yang mana ilmunya itu diiktiraf oleh ulama dan mempunyai rantaian sanad ilmunya.”

“Satu kisah. Pada suatu hari, datang seorang lelaki. MashaAllah Tabarakallah yang jubahnya, imamahnya, perhiasannya,
penampilannya datang masuk ke majlis Al-Imam Abu Hanifah Rahimahullah maka dengan Imam Abu Hanifah pada saat ketika tengok orang yang berpakaian seperti Ulama tadi itu memasuki majlis pengajian beliau maka Imam Abu Hanifah yang pada mulanya duduk keadaan santai bersama dengan murid-muridnya.”

“Begitu melihat seorang yang berpakaian seperti seorang yang alim besar tadi itu masuk maka Imam Abu Hanifah duduk kemaskan pakaian, duduk hormat takzim memberikan penghormatan kepada tetamu yang baru datang tadi itu yang duduk mendengarkan penjelasan, ulasan
penerangan Imam Abu Hanifah yang pada ketika itu perbualan beliau membicarakan tentang hukum hakam yang berkenaan dengan puasa.”

“Di antaranya yang apabila matahari sudah terbenam maka dengan puasa seseorang itu sudah berakhir. Puasa itu bermula daripada terbit fajar dan akan berakhir selepas matahari tenggelam. Jadi bersahur ataupun juga tidak bersahur, makan ataupun juga tidak makan, iftar ataupun juga tidak iftar. Yang namanya puasa itu sudah tamat.”

“Jadi Imam Abu Hanifah Rahimahullah yang menjelaskan tentang hukum hakamnya puasa itu bermula daripada terbit fajar dan berakhir dengan terbenamnya matahari. Lalu orang yang berpakaian alim itu mengangkat tangan dan mengatakan “Tok Guru. Tumpang tanya.”Jawab Imam Abu Hanifah “Silakan.”

“Beliau menanyakan “Macam mana Tok Guru seandainya matahari itu tidak terbenam saat pada pukul dua belas malam?” Pada mulanya Imam Abu Hanifah yang memberikan penghormatan, takzim kepada orang tadi itu kerana merasakan orang itu lebih besar lebih alim daripada beliau yela mana tidaknya dengan penampilannya sebegitu.”

“Kemudian Imam Abu Hanifah mengatakan; “Kalau seandainya matahari tidak terbenam melainkan selepas tengah malam maka lebih elok Nukman Bin Thabit duduk santai semacam tadi daripada aku memberikan penghormatan kepada orang yang jahil tidak tahu apa-apa.”

“Kalau seandainya dia senyap saja orang tidak tahu yang orang tadi itu tidak tahu. Tentang hukum hakam. Mana mungkin matahari tidak terbenam melainkan selepas tengah malam. Dari mana datangnya malam kalau matahari itu belum tenggelam lagi.”

“Kalau seandainya kita mengatakan “Wallahu’Alam. Saya tidak tahu permasalah yang semacam itu.Saya tidak tahu maka jawapannya selesai.” Ulama mengatakan ucapan Wallahu’Alam saya tidak tahu itu adalah sebahagian daripada ilmu. Pada saat ketika saya katakan Wallahu’Alam saya tidak tahu maka orang akan mempertanyakan kepada orang yang lebih tahu daripada saya.”

“Akan tetapi seandainya kita pandai-pandai ingin cuba menjawabnya juga sedangkan kita tidak yakin, tidak pasti apatah lagi kita tidak tahu dan ternyata jawapan yang kita berikan itu salah dan silap sehingga boleh mengelirukan dan menyesatkan kepada orang lain maka itu adalah sesuatu yang amat teruk. Akan dinampak kejahilan diri peribadi kita dan ternyata kita akan mendapatkan dosa dengan begitu mudah sahaja.”

Daripada TG Sheikh Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki.

Sumber: Raudhatul Muhibbin

 

7 September 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

BONGKAK DAN SOMBONG

1 ) Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS Al-Baqarah : 34)

2) “Wahai Muhammad, pada hari kiamat kelak, kamu akan menyaksikan orang-orang yang ketika didunia berdusta atas nama agama Allah. Engkau saksikan wajah-wajah mereka hitam kelam. Bukankah neraka Jahanam adalah tempat tinggal bagi orang-orang yang sombong” (QS. Az-Zumar: 60)

3) “Janganlah kamu berjalan dengan sombong di muka bumi. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus ke dasar bumi dan tidak dapat menandingi ketinggian gunung [QS Al Israa’:37]

4) Wahai anakku tersayang, janganlah kamu bersikap sombong kepada manusia. Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sikap sombong, sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri [QS Luqman:18]

5) “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”(HR Muslim)

“Sombong adalah keadaan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri. Memandang dirinya lebih besar dari pada orang lain, Kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan menolak kebenaran dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan ataupun mengesakan-Nya”. (Fathul Bari’ 10/601)

6) Rasul saw bersabda :”Tidak akan masuk syurga orang yang dalam hatinya ada sifat sombong, walaupun hanya seberat biji sawi” (HR Muslim)

7) “Janganlah kamu berjalan dengan sombong di muka bumi. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus ke dasar bumi dan tidak dapat menandingi ketinggian gunung [QS Al Israa’:37] –

8) Dalam hadits dari Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

9) “Mahukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur (sombong).” (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853)

Tanyakan kepada orang yang sombong ini, siapakah di kalangan ulamak yang mengiktiraf keilmuannya, apakah disiplin ilmu yang telah dikuasainya untuk menulis buku-bukunya sebanyak 13 buah buku.

Kerana Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda tentang orang yang jahil dan berani berfatwa tanpa disiplin ilmu adalah sesat dan menyesatkan :

Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

ALLah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan.

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Imam Ali bin Abi Thalib / Muhammad bin Ibnu Sirin

إِنَّ
هَذَا
الْعِلْمَ
دِيْنٌ،
فَانْظُرُوْا
عَمَّنْ
تَأْخُذُوْنَ
دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agama kamu”.

(Lihat: Mukadimah Sahih Muslim 1/14. الكفاية. Hlm. 121. Al-Khatib al-Baghdadi).


 

 

28 August 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Apakah hukum mencium tangan para ulama dan orang soleh? Adakah ia suatu bid’ah atau ia dianjurkan oleh syarak?


Jawapan :

Mencium tangan ulama, orang-orang soleh dan pemimpin yang adil adalah sunat dan bukanlah suatu yang bid’ah selagi mana ia tidak menyebabkan mereka yang dicium tangan itu tertipu (ghurur). Sekiranya keadaan itu terjadi, dosa dibebankan kepada orang yang diciumkan tangannya dan bukannya kepada orang yang mencium, kerana yang mencium itu hanya bermaksud untuk memuliakan dan menghormatinya.

Dalil bagi masalah ini adalah seperti berikut :

1. Sebuah hadith yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Abu Daud dengan sanad yang hasan sahih daripada Safwan bin ‘Assal radiyaLLahu ‘anhu katanya : “Seorang Yahudi berkata kepada sahabatnya: “Mari kita pergi bertemu dengan nabi ini.” Lalu mereka berdua pergi menemui Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam dan bertanyakan kepadanya sembilan tanda yang nyata. Maka RasuluLlah pun menjawab : “Janganlah kamu mensyirikkan ALLah dengan sesuatu apapun, jangan kamu mencuri, jangan kamu berzina, jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan ALLah melainkan dengan haknya, jangan kamu berjalan dengan bebas kepada seorang yang mempunyai kekuasaan lalu dia membunuh kamu, jangan kamu mengamalkan sihir, jangan kamu memakan riba, jangan kamu menuduh melakukan zina kepada seorang wanita yang suci, jangan kamu berpaling tadah (berundur) dari medan peperangan, jangan kamu bekerja pada hari sabtu.”

Safwan berkata: “Lalu kedua Yahudi itu mencium tangan dan kaki baginda sallaLLahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Kami bersaksi bahawa engkau adalah seorang nabi.” Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah yang menghalang kamu daripada mengikutiku?” Salah seorangnya menjawab : “Sesungguhnya Nabi Daud ‘alaihissalam pernah berdoa kepada Tuhannya supaya sentiasa mengutuskan nabi di kalangan zuriatnya, dan kami takut sekiranya kami mengikutimu, kami akan dibunuh oleh orang-orang Yahudi.”

2. Hadith yang diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahawa Ummu Aban binti Wazei’ bin Zarei’ daripada datuknya Zarei’ radiyaLLahu ‘anhu dan beliau bersama-sama di dalam rombongan qabilah Abdul Qais katanya: “Tatkala kami tiba di Madinah, kami segera meninggalkan kenderaan-kenderaan kami, lalu kami mengucup tangan dan kaki RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam. Tetapi al Munzir al Arsyah menunggu sehingga tibanya Utbah, lalu beliau memakai kedua pakaiannya, kemudian pergi menemui Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam. Nabi bersabda kepadanya :

“Sesungguhnya pada kamu ada dua sifat yang dikasihi oleh ALLah iaitu : sabar dan lemah lembut.” Al Munzir bertanya : “Wahai RasuluLLah adakah aku yang berusaha untuk berakhlak dengan kedua-dua sifat itu atau ianya dikurniakan oleh ALlah? RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam menjawab : Ia dikurniakan oleh ALlah kepada kamu.” Lalu Munzir mengucap: “AlhamduliLlah yang telah mengurniakan kepadaku dua sifat yang dicintai ALlah dan rasul-Nya.”

Jika terdapat dakwaan mengatakan ia hanya dikhususkan kepada Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam. Maka kami akan menjawab begini : Dakwaan ini perlulah dikemukakan bersama dalil yang menyatakan mengucup tangan dan kaki hanya khusus untuk RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam tetapi tidak ada satupun dalil mengenai perkara tersebut.

Prinsip asalnya ialah setiap sesuatu yang diakui oleh RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam atau dilakukan dan diucapkan oleh baginda menjadi syariat untuk baginda dan umatnya selagimana tiada dalil yang menyatakan ia dikhususkan untuk RasuluLLah sallaLlahu ‘alaihi wasallam.

Manakala pendapat yang mengatakan sekiranya diharuskan mengucup tangan atau kaki, nescaya ia membawa kepada tunduk yang dilarang. Maka jawapannya begini : Bukan semestinya setiap bentuk tunduk itu ditegah syarak, tetapi yang ditegah ialah tunduk untuk tujuan mengagungkan dan rukuk. Bukankah apabila sesuatu barang kamu jatuh ke tanah, maka kamu menundukkan badan untuk mengambilnya? Jadi, begitulah juga menundukkan badan di sini adalah untuk mengucup tangan atau kaki, bukannya untuk menyembah atau mengagungkan.

Sumber Ambilan : Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur


 

28 August 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Bolehkah mengamalkan ilmu yang diperolehi daripada mimpi?

 

Dipetik dari kitab: “Menjawab Persoalan Makhluk Halus : Kaitannya Dengan Penyakit Dan Pengubatan – Bersama Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din“.

Mimpi adalah permainan tidur. Kebanyakan mimpi berlaku hasil daripada khayalan, imaginasi manusia tentang sesuatu hal dan gambaran yang amat diingini atau ditakutinya. Mimpi juga biasanya mainan syaitan yang ingin menyesatkan manusia melalui mimpi. Sesuatu yang berlaku dalam mimpi itu jarang sekali menggambarkan yang sah ataupun yang sebenar.

Dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Muslim daripada Ibn Abbas RA bahawa Rasulullah SAW bersabda, maksudnya:

“Tidak tinggal daripada nubuwwah (kenabian) melainkan mimpi-mimpi yang benar (al-Ru’ya al-Sadiqah).”

Mimpi-mimpi yang benar ini amat jarang berlaku. Kadangkala dilihat sebagai benar, namun apabila diteliti ia tidak benar sama sekali. Mimpi manusia biasa tidak serupa dengan mimpi Anbia dan al-Mursalin. Mimpi para Anbia dan al-Mursalin adalah benar sedangkan mimpi manusia biasa lebih banyak terdedah kepada pelbagai penipuan Iblis.

Persoalannya :
Bolehkah mengamalkan ilmu yang diperolehi daripada mimpi?

Secara umumnya Islam meletakkan saluran yang tertentu untuk menyebarkan ilmu. Firman Allah SWT dalam surah an-Nahl ayat 43, maksudnya:

“Kami tidak mengutus Rasul sebelummu wahai Muhammad, melainkan daripada kalangan oranglelaki yang kami wahyukan kepada mereka. Oleh itu bertanyalah kamu kepada orang-orang berpengetahuan agama jika kamu tidak mengetahui.”

Istilah yang digunakan dalam ayat ini adalah ahl al-Dhikr, iaitu orang yang dapat mengingatkan kamu kepada Allah SWT. Siapa lagi kalau bukan ulama yang muktabar. Salah satu tuntutan syarak ialah kita mengambil ilmu daripada ulama yang muktabar.

Dalam konteks ini, sudah ramai ulama dalam masyarakat yang boleh membantu anda melakukan ibadah. Jika anda memerlukan kepada orang yang boleh mendampingi dan menunjuk ajar ilmuperubatan sama ada perubatan alopati atau berasaskan doa dan ayat-ayat al-Quran, anda boleh mendapatkannya dengan mudah. Jangan mengambil ilmu daripada mimpi yang anda sendiri tidak pasti siapakah yang ditemui dalam mimpi itu.

Oleh yang demikian, ada dua kemungkinan sama ada arahan di dalam mimpi itu benar daripada orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT atau berkemungkinan hanya lakonan Iblis. Anda dinasihatkan jangan mengambil risiko kerana mentaati mimpi amat terdedah kepada risiko yang begitu besar, iaitu melakukan ibadah bukan kerana Allah SWT tetapi kerana syaitan.

Wallahu a’lam.

27 August 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

LARANGAN NAMIMAH (BERGOSSIP/MENYEBAR KHABAR ANGIN/MENGADU DOMBA)

image

Allah berfirman yang bermaksud:
“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa”.
(Al-Qalam: 10-12)

Di antara bahaya lisan yang tak boleh dihiraukan adalah namimah, atau dikenal dengan istilah mengadu domba. Namimah ini sama dengan rasa benci dan permusuhan. Mungkin sebahagian dari kita yang mengetahui bahaya namimah akan mengatakan, “Ah, saya tak mungkin berbuat demikian…” Namun, jika kita tidak benar-benar menjaga hati dan lisan ini, kita akan mudah tergelincir. Apalagi ketika rasa benci dan hasad dengki telah memenuhi hati. Bahkan, saat kita menjaga lisan ini dari  namimah, tanpa disedari kita terpengaruh oleh namimah  yang dilakukan seseorang.

Jangan pernah ada rasa tidak suka atau rasa dengki kita kepada seseorang yang menjadikan kita berlaku jahat dan berlaku tidak adil kepadanya, termasuk berbuat namîmah. Sebab, betapa banyak perbuatan  namimah yang terjadi kerana timbulnya rasa dengki di hati. Apalagi kepada saudara sesama Islam, hendaknya kita tidak menyimpan rasa dengki. Dengki dan mengadu domba adalah akhlak tercela yang dibenci Allah kerana boleh menimbulkan permusuhan, sedangkan Islam memerintahkan agar umatnya bersaudara dan bersatu seperti bangunan yang kukuh.

Nabi SAW bersabda:
“Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bermusuhan, dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain, dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara”.
(Hadith Riwayat Muslim)

Nabi SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

“Tidak akan masuk surga, orang yang qattat (yakni ahli namimah)”.
(Hadith Riwayat Al-Bukhari dari Hudzaifah)

Berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tak berguna, apatah lagi dari perkataan yang menyebabkan saudara kita rasa disakiti dan dizalimi. Bukankah mulut seorang mukmin tak akan berkata kecuali yang baik.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang rugi di akhirat disebabkan tidak menjaga lisan.

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku, dan kejahatan maniku.

Sumber

26 August 2015 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

HATI-HATI DALAM MENILAI HADIS PALSU

Oleh : Ustaz Umar Muhammad Noor

Setiap kali saya melihat sebuah hadis yang dinilai mawdhu’ [palsu] oleh ulama mutaakhirin dan kontemporari, berbagai soalan segera timbul di pikiran saya, “Apa yang menyebabkan hadis ini dinilai seperti itu?” Jika alasannya adalah seorang perawi pendusta [kadzzab] yang terdapat di dalam sanad, maka “apakah setiap hadis yang diriwayatkan seorang pendusta maka otomatik mawdhu’? Apa bukti yang menunjukkan bahawa pendusta ini tengah berdusta?”

Soalan ini tersimpan di kepala saya sejak bertahun-tahun yang lalu. Saya memang berusaha untuk selalu berhati-hati menilai sebuah hadis, samada menilainya sahih atau lemah, apalagi palsu. Sebab perkara ini bukan ringan. Penilaian kita terhadap suatu hadis sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kepercayaan dan amalan yang akan mewarnai wajah agama kita.

Khas berkenaan dengan hadis palsu ini, saya melihat orang-orang tertentu yang sangat ringan mengucapkannya. Mereka menilai sesebuah hadis dengan palsu meskipun tidak tahu apa faktor [‘illat] yang membawa kepada penilaian tersebut. Apabila ia berlindung di sebalik nama seorang pakar hadis [samada seorang ulama terdahulu atau semasa], saya perhatikan jarang sekali yang mencari pendapat ulama lain [second opinion] untuk membuka peluang perbezaan pendapat.

Sikap Ahli Hadis

Padahal, jika kita kembalikan masalah ini kepada ahli hadis, kita akan melihat sikap yang sangat matang tentang hal ini. Mereka tidak menilai palsu sebuah hadis kecuali selepas mengkajinya dari berbagai aspek. Dan status seorang perawi [meskipun ia seorang pendusta] bukan satu-satunya aspek yang menentukan sesebuah hadis mawdhu ataukah tidak?

Berkata Al-Hafiz Al-Sakhawi dalam “Fathul Mughits” 1/297:

“… demikianlah, dan sekadar tafarrud seorang pendusta, bahkan seorang pemalsu hadis, meskipun penilaian itu selepas kajian yang sangat sempurna dari seorang hafiz yang menguasai [ilmu hadis] dan peneliti yang akurat, tidak melazimkan hal tersebut [yakni hadis mawdu’]. Akan tetapi, kondisi itu mesti disokong oleh beberapa aspek lain yang akan dijelaskan nanti.”

Mengapa Al-Sakhawi berkata seperti itu? Jawabannya pernah saya jelaskan dalam artikel saya yang bertajuk “Membandingkan Metode Mutaqaddmin dan Mutaakhirin dalam Kritik Hadis”. Dalam tulisan tersebut, saya pernah menegaskan bahwa seorang perawi jujur boleh keliru, dan seorang pendusta boleh jujur. Maka tidak semua hadis yang sanadnya terdiri daripada perawi-perawi yang jujur otomotik sahih, dan sekarang saya harus menegaskan kebalikannya, iaitu tidak semua hadis yang terdapat di dalam sanadnya perawi yang pendusta mesti dinilai palsu.

Berkata Ibn Al-Jawzi di mukadimah kitabnya yang terkenal “Al-Mawdhu’at” 1/65 :

“Kadangkala sebuah sanad [terdiri dari] perawi-perawi yang kesemuanya tsiqat, akan tetapi hadisnya palsu, maqlub atau terjadi tadlis di dalamnya. Dan ini adalah kes yang paling berat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali pakar-pakar kritik.”

Terbuka untuk Khilaf

Bagi saya, menilai status hadis bukan untuk sembarang ulama, apalagi sembarang orang yang baru belajar ilmu hadis. Tugasan ini terlalu besar dan berbahaya. Untuk orang-orang seperti kita, sebaiknya kita “mentaqlid” sahaja penilaian pakar-pakar hadis yang diakui keilmuan dan kepakarannya di bidang ini.

Maka, apabila anda menemukan pakar hadis menilai palsu sesuatu hadis, maka jangan cepat-cepat memastikan hukum tersebut menjadi satu-satu hukum muktamad yang wajib diterima semua orang. Anda mesti memastikan terlebih dahulu, adakah hukum ini disepakati semua ulama, ataukah masih terjadi khilaf di dalamnya? Jika ada khilaf, maka maka jauhi kalimat “hadis palsu”. Anda boleh katakan hadis ini lemah atau munkar, tapi jangan katakan “hadis ini palsu” selama terdapat perbezaan pendapat di kalangan ahli hadis.

Berkata Al-Hafiz Abu Abdillah Al-Dzahabi dalam kitab “Al-Muqizah” hal. 36:

“Hadis mawdu adalah [hadis] yang matannya bertentangan dengan prinsip-prinsip agama dan perawinya pendusta. Seperti kitab “Arbain Al-Wad’aniah” dan naskah Ali Ridha yang didustakan atasnya. Hadis mawdu ini ada beberapa tingkatan. Antaranya, hadis yang disepakati bahawa ianya dusta. Perkara ini diketahui dengan pengakuan pembuatnya, dengan percobaan dusta daripadanya, atau lain-lain. Di antaranya juga, hadis dusta menurut kebanyakan ulama, sementara sebahagian yang lain menilainya sebagai sangat lemah atau mesti dibuang [saqith matruh]. Kami tidak berani menyebutnya sebagai mawdhu. Di antaranya juga, hadis yang dinilai lemah oleh jumhur, sementara sebahagian kecil ulama menilainya dusta.”

Jelas dari penjelasan Al-Dzahabi ini, hanya hadis yang disepakati oleh semua ahli hadis sebagai palsu sahaja yang boleh disebut mawdhu’. Sementara yang terjadi khilaf di dalamnya, maka ia boleh disebut dengan berbagai istilah lain yang menunjukkan kelemahannya, selain istilah mawdhu.

Khilaf siapa?

Namun, ucapan ini bukan membuka pintu khilaf selebar-lebarnya. Kita mesti teliti dalam melihat setiap khilaf yang terjadi di sekitar penilaian hadis ini. Tidak semua pendapat boleh dijadikan sandaran, dan tidak semua khilaf diterima sebagai khilaf. Hanya pendapat ulama yang benar-benar pakar dalam hadis sahaja yang boleh diambil kira dalam perdebatan ini. Iaitu para pakar hadis seperti Ibn Mahdi, Yahya Al-Qattan, Syu’bah, Ahmad, Ibn Al-Madini, Ibn Ma’in, Al-Bukhari, Muslim, Al-Daruqutni dan para ulama mutaqaddimin lainnya. Wallahu a’lam.

***Latarbelakang pendidikan :

Lahir di Bekasi, Indonesia. Lulusan B.A Usuluddin (Tafsir-Hadis) dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan M.A Usuluddin (Hadis) di Unversiti Omm Durman, Sudan. Menimba ilmu hadis di Damaskus Syria, sejak tahun 2002 hingga 2007.


24 August 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Apakah pendirian al Qardhawi tentang Wahhabi ?

Kadang-kala, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi ada memanggil golongan pengaku salafi ini sebagai wahabi juga sepertimana dalam satu wawancara di mana beliau berkata:

من كفر السلفية أو الوهابية من كفر الصوفية من كفر الشيعة هذا موجود فعلا

Maksudnya: “Ada orang yang mengkafirkan As-Salafiyyah atau Al-Wahhabiyyah, ada orang yang mengkafirkan Sufiyyah dan ada orang yang mengkafirkan Syiah. Ini memang berlaku secara realitinya”.

Rujukan: http://qaradawi.net/…/220-2014-01-2…/2014-01-26-18-26-08/847

Perkembangan Wahabi

Beliau menulis dalam kitabnya berjudul “Ummatuna Bain Qarnain”:

“Dan di Al-Mamlakah Al-Arabiyyah As-Saudiyyah (Republik Arab Saudi) muncul gerakan As-Salafiyyah yang mengajak kepada Tauhid yang berunsurkan tiga unsur iaitu: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Al-Asma’ wa As-Shifat. Mereka menumpukan usaha untuk membebaskan tauhid daripada khurafat (menurut mereka), syirik (menurut mereka), quburiyat (menurut mereka) dan mengingkari ta’wil. Mereka terlalu keras (tasyaddud) dalam ingkar terhadap mereka yang menta’wilkan sifat-sifat Allah yang dikhabarkan (padahal dalam bentuk zhanni ad-dilalah) dari kalangan para Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah. Mereka merujuk kepada turath Sheikhul Islam Ibn Taimiyyah dan muridnya Imam Ibn Al-Qayyim untuk menjadi rujukan dalam dakwah dan perdebatan begitu juga daripada turath Mujaddid Al-Jazirah Sheikh Muhammad Abdul Wahab.

“Bagi gerakan (pemikiran) ini juga ada pengaruhnya yang berkembang di Mesir yang dikembangkan oleh Sheikh Muhammad Hamid Al-Fiqi dan Jemaah Anshar As-Sunnah, di Syam oleh Al-Muhaddith Sheikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, di India dan Pakistan oleh jemaah Ahli Hadith (Lihat isyarat Dr. Al-Qaradhawi tentang perkembangan Wahabi/pengaku Salafi di negara-negara berikut- penulis). Kebanyakan mereka dikenali sebagai golongan Mutasyaddid (keras) dalam masalah furu’ (cabang), berpegang kepada Zahir (nas), kurang melihat Maqasid Syari’iyyah, kurang melihat perubahan masa dan tempat, sibuk dalam perkara-perkara khilaf berbanding perkara-perkara yang disepakati dan mereka dalam zaman kita ini lebih dari satu kelompok (banyak jenis).

“Antara mereka (pengaku salafi) adalah golongan Al-Jamiyyun di Madinah Munawwarah -Rabi’e Al-Madkhali dan pengikutnya- yang mana mereka mengisytiharkan perang kepada semua pihak yang berbeza (pemikiran) dengan mereka samada golongan terdahulu (ulama’ silam) mahupun golongan yang yang hidup sezaman dengan mereka. Tiada seorangpun yang sejahtera daripada serangan mereka termasuklah Imam An-Nawawi dan Al-Hafiz Ibn Hajar dan sebagainya, apatah lagi para ulama’ sezaman dengan mereka seperti Imam Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb, Al-Maududi, Al-Ghazali, Fahmi Huwaidi, Muhammad Immarah, Yusuf Al-Qaradhawi (dirinya sendiri) dan sebagainya yang tidak mengikut manhaj Imam Ibn Taimiyyah dan Imam Ibn Al-Qayyim.

“Antara mereka dikenali sebagai As-Salafiyyun Al-Judud yang mereka juga dinamakan sebagai As-Sururiyyun… Antara mereka adalah seperti Sheikh Fahd Sulaiman Al-‘Audah, Safr Al-Hawali dan Aidh Al-Qarni.

“Sebahagian mereka (pengaku salafi) sangat kagum kepada Sheikh ibn Baz rhl, Sheikh Ibn Uthaimin dan ulama’-ulama’ Saudi lalu mereka ini menganggap hanya ulama’-ulama’ tersebut sahaja rujukan utama (dalam agama) buat mereka, dan mereka tidak menerima ilmu melainkan selain daripada mereka (ulama’ Saudi).

“Sebahagian daripada mereka (pengaku salafi) mengikut Sheikh Al-Albani dan bertaqlid dengan mazhabnya. Tatkala dia (Al-Albani) mengingkari (taqlid) mazhab-mazhab yang sedia ada (mazhab imam empat) namun dalam masa yang sama mereka (pengikut Al-Albani dari kalangan pengaku Salafi) menjadikannya (pemikiran dan manhajnya) sebagai mazhab kelima… Sebahagian daripada mereka…dan sebahagian daripada mereka (maksudnya banyak lagi pecahan, sudah sampai ke Nusantara pun ada)”. [m/s: 73-74]

Wahabi Sebagai Madrasah Satu Pendapat Sahaja

Janganlah menyangka bahawa saya (Al-Qaradhawi) mengingkari ke atas mereka (pengaku salafi) pada dakwah mereka agar mengikut nas, atau ijtihad mereka dalam memahami nas, kerana ianya adalah hak setiap muslim yang sudah mencapai syarat berijtihad dan alat-alat ijtihad. Maka, tiada seseorangpun boleh menutup pintu ijtihad yang dibuka oleh Rasulullah s.a.w. kepada Ummah.

Tetapi saya mengingkari mereka (pengaku salafi aka wahabi) kebiadaban (keterlampauan) mereka terhadap manhaj ulama’ Islam, memperkecilkan fiqh yang telah diwarisi (fiqh empat mazhab), dakwaan mereka yang berjela-jela tentang merekalah satu-satunya yang benar sedangkan selain daripada mereka salah dan sesat, khayalan mereka bahawa dengan upaya mereka untuk melenyapkan khilaf dapat menyatukan manusia dalam satu pandangan iaitulah pandangan mereka”.

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata lagi:

Seorang pelajar yang ikhlas dari kalangan madrasah ini (pengaku salafi) iaitu madrasah “satu pendapat”: “Mengapa semua manusia tidak mahu bersatu terhadap suatu pendapat yang mempunyai sandaran nas?”

Maka saya menjawab: “Nas itu sendiri perlulah sahih (dari sudut sanad) dan diterima oleh seluruhnya (ulama’). Bahkan, Nas tersebut juga mestilah bersifat maknanya jelas/putus terhadap makna yang dikehendaki oleh Allah s.w.t. (shorih ad-dilalah). Bahkan, Nas tersebut hendaklah tidak bertentangan dengan nas yang lebih kuat dari kalangan nas-nas syariah samada yang cabang mahupun yang menyeluruh. Kadang-kala, berlaku di mana sesuatu nas itu sahih di sisi seseorang ulama’ dan dha’if di sisi ulama’ yang lain. Kadang-kala juga hadith itu sahih tetapi maknanya tidak jelas terhadap maksud yang disampaikan dalam nas tersebut. Boleh jadi sesuatu nas itu umum menurut seorang ulama’ dan si sisi ulama’ lain ianya bersifat khusus. Boleh jadi sesuatu nas itu mutlak di sisi seseorang ulama’ sedangkan di sisi ulama’ lain ianya bersifat muqoyyad (tergantung kepada sesuatu pergantungan). Boleh jadi juga sesuatu nas itu menunjukkan hukum wajib atau haram di sisi seseorang ulama’ sedangkan di sisi ulama’ lain, ianya menunjukkan hukum sunat/mustahab atau makruh. Sebahagian ulama’ mungkin menilai sesuatu nas itu muhkam (dihukumkan dengannya) sedangkan sebahagian ulama’ lain menilainya sebagai mansukh (tidak lagi diamalkan dengannya)…”

Rujukan: http://www.ikhwan.net/vb/showthread.php?t=22755

Antara Ciri-ciri Zhahiriyyah Al-Judud: Hanya Ikut Hadith Sahih menurut Ukuran Mereka secara Literal

Dalam satu wacana, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi pernah membincangkan tentang golongan perpegang dengan zahir hadith dan hanya guna hadith sahih sahaja.

Moderator rancangan tersebut bertanya kepada Dr. Al-Qaradhawi:

“Kamu telah menyebut tentang Maqasid Ammah bagi pensyariatan syariat Islam (Maqasid Ammah Li At-Tasyri’e), tetapi di sana ada suatu fenomena di mana boleh kita namakan sebagai ahl-hadith judud (moden), yang mana kebiasaannya mereka sekadar ingin mengamalkan hadith yang benar-benar sahih sahaja, yang tiada kecelaan (sanad)nya.”

Al-Qaradhawi menjawab:

“Mereka itulah yang kami namakan sebagai Az-Zhahiriyyah Al-Judud ia (kumpulan tersebut) hanya tertumpu kepada zahir (nas) dan kepada harfiyyah (secara literal)”.

Kepincangan Golongan Ini di Sisi Dr. Yusuf Al-Qaradhawi

Pertama: Kejumudan dan Tidak Mengutamakan Apa yang Lebih Utama

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata:

“(Antara kumpulan dalam kebangkitan Islam) Ketiga: Kumpulan atau golongan jenis Tasyaddud (keras) dan Jumud yang membekukan kefahaman Islam. Maka, saya telah namakan mereka sebagai Az-Zhahiriyyah Al-Judud. Di sana ada golongan Zhahiriyyah Qudama (silam) seperti Daud dan Ibn Hazm tetapi mereka mempunyai ilmu yang luas. Adapun mereka (Az-Zhahiriyyah Al-Judud), mereka tidak memiliki ilmu golongan Zhahiriyyah, tetapi memiliki kejumudan golongan Zhahiriyyah dan Tasyaddud (kekerasan) golongan Zhahiriyyah. Mereka lebih mengutamakan bentuk daripada intipati sesuatu, lebih sibuk mengutamakan perkara-perkara khilaf daripada perkara yang disepakati, mereka mengutamakan usaha negatif (menyalahkan, membid’ahkan meruntuhkan sesuatu tradisi) daripada usaha positif (membina, progresif, pro-akfif dan sebagainya). Mereka lebih mengutamakan membahaskan perkara-perkara sunat berbanding yang wajib…

Rujukan:

http://qaradawi.net/n…/library2/268-2014-01-26-18-46-39/2563

Kedua: Mendalami Perbahasan Hadith tanpa Kefahaman Sahih

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi berkata:

"Madrasah Nashiyyah Harfiyyah ini, yang mana saya namakan mereka sebagai Az-Zhahiriyyah Al-Judud, kebanyakan mereka dari kalangan orang yang sibuk dengan hadith (membahaskan kedudukan hadith dan matan zahirnya) tetapi tidak menguasai kefahaman (fiqh) dan usul (asas) fiqh (kefahaman syariat), mereka tidak mengetahui sebab-sebab para ulama’ berbeza pendapat dan hujah mereka dalam istinbath (penggalian hukum), mereka hampir tidak mementingkan Maqasid Syar’iyyah dan faktor di sebalik ketentuan hukum, tidak merai maslahat, perubahan fatwa dengan perubahan masa, tempat dan keadaan”.

Sumber:

http://qaradawi.net/n…/library2/268-2014-01-26-18-46-39/2563

9 August 2015 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

AKAUN BANK ATAS NAMA SAIDINA UTHMAN MASIH WUJUD HINGGA KINI

image

Salah seorang sahabat nabi, Khalifah Sayyidina Uthman bin Affan (عثمان بن عفان) adalah seorang ahli perniagaan yang kaya raya, baik hati, pemurah dan seorang yang dermawan. Beliau juga berjasa dalam membukukan Al-Quran. Ternyata sehingga sekarang beliau masih memiliki akaun di salah sebuah bank di Arab Saudi. Malah akaun dan bil elektriknya juga masih atas nama beliau…

Bagaimanakah cerita Khalifah ketiga yang memerintah daripada tahun 644 (umur 69-70 tahun) hingga 656 (selama 11-12 tahun) yang sehingga kini beliau mampu memiliki hotel berhampiran Masjid Nabawi?

Diriwayatkan semasa zaman Nabi Muhammad ﷺ, kota Madinah pernah mengalami zaman kemarau sehingga sukar bagi mendapatkan air bersih. Satu-satunya sumber air yang tinggal ketika itu adalah sebuah telaga bernama ‘Bi’ru Rummah’ (telaga pemanah) yang sangat besar dan dalam serta airnya tidak pernah kering. Rasanya sama seperti air dari telaga zam-zam.
Oleh kerana orang Islam (kaum Muhajirin) sudah terbiasa minum air zam-zam di Makkah. Mereka sangat berhajat kepada air itu dan sering ke telaga yang dimiliki oleh seorang Yahudi. Maka Yahudi tersebut telah bertindak menjual air dengan harga yang sangat mahal. Kaum Muslimin dan penduduk Madinah dengan tiada pilihan lain, terpaksa membeli air bersih dari orang Yahudi itu.
Prihatin atas keadaan umatnya, Rasulullah ﷺ kemudian bersabda : “Wahai Sahabatku! Sesiapa sahaja di antara kamu yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan telaga itu, lalu mendermakannya untuk umat, maka akan mendapat Syurga Allah سبحانه وتعالى.” (HR. Muslim).
.
Akhirnya perkara itu sampai ke pengetahuan Sayyidina Uthman Bin Affan RA yang kemudian mula bertindak ingin membebaskan telaga ‘Rummah’ itu. Sayyidina Uthman RA segera bertemu dengan orang Yahudi pemilik telaga dan menawar untuk membeli ‘Bi’ru Rummah’ dengan harga yang tinggi.

Namun begitu, walau sudah ditawarkan dengan harga yang tertinggi sekalipun, orang Yahudi pemilik telaga tetap menolak dan tidak mahu menjualnya kerana dia telah meraih keuntungan besar, “Seandainya telaga ini saya jual kepadamu wahai Uthman, maka aku tidak mempunyai pendapatan yang boleh aku perolehi setiap hari.” Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya.
Sayyidina Uthman bin Affan RA yang amat teringin mendapatkan balasan pahala berupa Syurga Allah سبحانه وتعالى, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini. Beliau lantas minta untuk membeli separuh sahaja daripada telaga itu.
“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari telagamu.” Sayyidina Uthman RA, melancarkan kemahiran rundingannya.
“Maksud kamu?” tanya orang Yahudi kehairanan.
Sayyidina Uthman bin Affan RA menawarkan 12,000 dirham supaya orang Yahudi tersebut bersetuju menjual setengah saja daripada telaga ‘Rummah’.
“Begini, jika engkau setuju, maka kita akan memiliki telaga ini bergilir-gilir. Satu hari telaga ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikianlah seterusnya berganti berselang hari. Bagaimana?” jelas Sayyidina Uthman RA.
Orang Yahudi itupun segera berfikir.… Yahudi sangka dia cerdik kerana Sayyidina Uthman RA memang peniaga yang termasyhur dan dikenali oleh orang Arab, tentulah perniagaannya akan lebih berkembang dan harga air boleh dinaikkan. “Aku mendapatkan wang besar daripada Uthman tanpa kehilangan telaga milikku.”
Akhirnya orang Yahudi tersebut pun bersetuju menerima tawaran Sayyidina Uthman RA tadi dan disepakati juga bahawa pada hari tersebut telaga ‘Rummah’ adalah milik Sayyidina Uthman bin Affan RA.

Sayyidina Uthman RA pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mahu mengambil air di telaga ‘Rummah’, dipersilakan mengambil air untuk keperluan mereka secara percuma kerana hari ini ‘Bi’ru Rummah’ adalah miliknya. Beliau juga mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, kerana hari esoknya telaga itu bukan lagi milik Sayyidina Uthman RA.

Keesokan hari Yahudi mendapati telaga miliknya lengang, sebab penduduk Madinah masih mempunyai simpanan air di rumah. Rupa-rupanya Allah سبحانه وتعالى takdirkan sebaliknya apabila orang tidak lagi membeli air daripada Yahudi itu kerana pada hari milik Sayyidina Uthman RA, beliau memberi air percuma kepada orang ramai termasuk kepada kaum bukan Islam… maka tiba pada hari giliran Yahudi, tiada sesiapa pun yang mahu membelinya.
Orang Yahudi itu pun berasa kerugian besar lalu dia pergi bertemu dengan Sayyidina Uthman RA dan berkata, “Wahai Uthman! Belilah setengah lagi telagaku ini dengan harga 8,000 dirham.”
Sayyidina Uthman RA pun bersetuju, lalu dibelinya dengan harga tersebut, maka dengan nilai 20,000 dirham (12,000 dirham + 8,000 dirham), ‘Bi’ru Rummah’ pun secara mutlak menjadi milik Sayyidina Uthman RA.

Kemudian datang seorang sahabat lain yang juga hartawan minta untuk membeli telaga ‘Rummah’ itu daripada Sayyidina Uthman bin Affan RA. Beliau pun bertanya hartawan tersebut, “Berapakah harga yang kamu sanggup bayar?”
Hartawan menjawab bahawa dia sanggup membayar 3 (tiga) kali ganda daripada harga yang dibeli oleh Sayyidina Uthman bin Affan RA. Tetapi Sayyidina Uthman RA tidak setuju dan bertanya lagi, “Berapa harga yang kamu sanggup?”
Hartawan menjawab, “Sembilan (9) kali ganda harga yang Tuan beli.”
Sayyidina Uthman RA masih tidak setuju. Hartawan bertanya kehairanan.. “Siapa lagikah yang sanggup membeli dengan harga yang lebih mahal daripada aku?”
Maka Sayyidina Uthman bin Affan RA menjawab, “ALLAH!”
.
Akhirnya kaum Muslimin dapat minum air telaga itu secara percuma kerana kemudian Sayyidina Uthman bin Affan RA telah mewakafkan ‘Bi’ru Rummah’. Sejak dari hari itu telaga ‘Bi’ru Rummah’ dapat dimanfaatkan oleh sesiapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya.

Dengan takdir Allah sesudah telaga itu diwakafkan untuk kaum Muslimin dan selepas beberapa tahun kemudian, tumbuhlah di sekitar telaga tersebut beberapa pokok kurma dan terus membiak. Kemudian Daulah Khalifah Uthmaniyah (empayer kerajaan Uthmaniyah Turki) memeliharanya hingga semakin berkembang biak dan seterusnya juga turut dipelihara oleh kerajaan Arab Saudi sehingga mencapai jumlah 1550 batang pokok dan berbuah dengan sangat lebat. Mereka telah menjaga ladang kurma dan hasil jualan kurma2 itu serta menyimpannya sehinggalah wujudnya kerajaan Saudi.

Ladang kurma tersebut kemudiannya dipajak kepada Kementerian Pertanian cawangan Madinah sejak 1372 dengan kontrak tahunan diperbaharui pada awal setiap tahun.

Seterusnya kerajaan Arab Saudi, melalui Kementerian Pertanian Saudi menjual hasil ladang kurma ini ke pasaran sehingga banyak wang yang terkumpul. Setengah daripada keuntungan itu diinfaqkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin. Manakala separuh lagi dibuat tabungan dan disimpan dalam bentuk akaun khas milik beliau di salah sebuah bank atas nama Uthman bin Affan, di bawah pengawasan Kementerian Wakaf Arab Saudi.
Begitulah seterusnya, sedekah Sayyidina Uthman bin Affan RA terus bercambah dan membiak membuak-buak tanpa hentinya sehingga dana terkumpul yang di bank itu mampu untuk membeli sebidang tanah dan membangunkan hotel yang cukup besar di salah satu tempat strategik berhampiran Masjid Nabawi.
Bangunan hotel itu sudah pada tahap penyelesaian dan akan disewakan sebagai hotel 5 bintang. Dianggarkan keuntungannya sekitar RM50 juta setahun. Setengahnya untuk anak-anak yatim dan fakir miskin dan setengah lagi tetap disimpan dan ditabung di bank atas nama Sayyidina Uthman bin Affan Radhiyallahu anhu.
Oleh yang demikian itu, maka Nabi ﷺ pernah bersabda,
لِکُلِّ نَبِيٍّ رَفِيْقٌ وَرَفِيْقِيْ يَعْنِيْ فِي الْجَنَّةِ عُثْمَانُ.
“Tiap-tiap Nabi mempunyai teman dan sahabatku di Jannah (syurga) adalah Uthman.” (Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi dan Ibn Majah)
.
Subhanallah,… Selepas 14 kurun sedekah Sayyidina Uthman bin Affan RA melalui wakaf telaga ‘Bi’ru Rummah’ masih berterusan. Jelaslah tidak akan rugi berniaga dengan Allah سبحانه وتعالى, malah akan sentiasa mendatangkan keuntungan berterusan…
Ini adalah salah satu bentuk sedekah jariah, yang pahalanya terus mengalir, walaupun orangnya sudah lama meninggal..
Disebutkan di dalam hadis sahih dari Abi Hurairah RA bahawasanya Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat atau anak soleh yang mendoakannya.” (Hadis Riwayat Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)
.
Inilah kelebihan sedekah dan menginfakkan harta… Oleh kerana itu, marilah sama sama kita ringankan lidah dan tangan mencerita serta menyebarkan kisah ini sebagai suatu motivasi diri dan pihak lain untuk menginfaq dan bersedekah sedikit daripada harta, pendapatan dan keupayaan yang ada dengan ikhlas kerana Allah سبحانه وتعالى… InsyaAllah antum akan dapat pahala sedekah yang berganda.
Daripada Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya selepas kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak soleh yang ditinggalkannya, mushhaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk kegunaan awam, atau sedekah yang dikeluarkannya daripada hartanya di waktu sihat dan semasa hidupnya. Semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi)

Sumber: Bahagian Falak Dan Sumber Maklumat – Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan.

6 August 2015 Posted by | Informasi, Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | Leave a comment

SOAL JAWAB : SERBAN NABI

SOALAN: ADAKAH DALIL SAHIH TENTANG SERBAN, BUKANKAH ITU HANYALAH PAKAIAN ORANG ARAB?

JAWAPAN: Dijawab oleh Al-Allamah Al-Muhaddith Al-Habib Munzir Al-Musawa sebagaimana berikut,

1. dari Amr bin Umayyah ra dari ayahnya berkata : Kulihat Rasulullah saw mengusap surbannya dan kedua khuffnya (Shahih Bukhari Bab Wudhu, Al Mash alalKhuffain).

2. dari Ibnul Mughirah ra, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw mengusap kedua khuffnya, dan depan wajahnya, dan atas surbannya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

3. para sahabat sujud diatas Surban dan kopyahnya dan kedua tangan mereka disembunyikan dikain lengan bajunya (menyentuh bumi namun kedua telapak tangan mereka beralaskan bajunya krn bumi sangat panas untuk disentuh). saat cuaca sangat panas. (Shahih Bukhari Bab Shalat).

4. Rasulullah saw membasuh surbannya (tanpa membukanya saat wudhu) lalu mengusap kedua khuff nya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

TAMBAHAN:

1. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Jabir dikemukakan: “Nabi saw memasuki kota Makkah pada waktu Fathu Makkah beliau mengenakan serban (‘imamah) hitam.” (HR. At-Tarmidzi. Hadits ini diriwayatan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadits ini pun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir ra.)

2. ‘Amr bin Huraits berkata: “Aku melihat serban hitam di atas kepala Rasulullah saw.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar, dari Sufyan, dari Musawir al-Waraq, dari Ja’far bin ‘Amr bin Huraits, yang bersumber dari bapaknya.)

3. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Umar ra. dikemukakan : “Apabila Nabi memakai sorban, maka dilepaskannya ujung serbannya di antara kedua bahunya.” Kemudian Nafi’ berkata: “Ibnu ‘Umar juga berbuat begitu.” ‘Ubaidullah berkata: “Kulihat al-Qasim bin Muhammad dan Salim, keduanya juga berbuat demikian.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al Hamdzani, dari Yahya bin Muhammad al-Madini, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Nafi’, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar.)

4. Ibnu ‘Abbas ra. mengemukakan: “Sesungguhnya Nabi Muhammad berpidato di hadapan ummat. Waktu itu beliau mengenakan serban, dan serbannya terkena minyak rambut.” (HR. At-Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Yusuf bin ‘Isa, dari Waki’, dari Abu Sulaiman, yaitu ‘Abdurrahman bin Ghasail, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas)

KOMEN:

“Barangsiapa yg tak menyukai sunnahku maka ia bukan dari golonganku”
(Shahih Bukhari).

Oleh: Ibnu Ibrahim

6 August 2015 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

HUKUM SHISHA MENURUT PANDANGAN SYARAK

Muzakarah Khas Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia yang bersidang pada 17 Julai 2013 telah membincangkan Hukum Shisha Menurut Pandangan Syarak. Muzakarah telah membuat keputusan seperti berikut:

Setelah mendengar pembentangan dan penjelasan pakar-pakar daripada Kementerian Kesihatan Malaysia dan meneliti maklumat serta bukti-bukti perubatan dan saintifik terperinci yang dikemukakan dari dalam dan luar negara mengenai kesan dan kemudharatan besar yang dihadapi akibat daripada shisha terhadap kesihatan ummah, pembangunan ekonomi negara serta pembentukan generasi pada masa akan datang, maka Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa shisha adalah HARAM. Oleh itu, umat Islam adalah dilarang menghisap shisha atau menyediakan perkhidmatan menghisap shisha atau apa-apa aktiviti yang berkaitan dengan shisha.

Muzakarah menegaskan bahawa pengharaman Shisha ini a