Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Siapa Layak Menetapkan Hadis Sahih atau Dhaif?

Salam Ustaz,…Apakah kita orang awam boleh untuk menentukan (menetapkan) sesebuah status hadith itu sahih atau dhaif,..karena pada masakini ramai yang menjadi muhaddisin tanpa ilmu dan kepakarannya,…seperti orang yang mengaku diri kelulusan PhD hadith,..?.

Jawapan:

Wasalam,…sebenarnya pertanyaan ini sungguh berat untuk saye menjawab,..
dengan beberapa kekurangan pada diri saya,…namun saye cube menjelaskan menurut kemampuan yang saye pelajari,…Alhamdulillah.

1 . Yang boleh menetapkan status sebuah hadith bukanlah kita yang awam ini, melainkan para ulama hadith. Mereka saja yang mempunyai kapasiti, legelity, autoriti dan tools untuk melakukannya. Dan buat kita, cukuplah kita membaca karya-karya agung mereka melalui kitab-kitab hasil naqd (kritik) mereka.

Menetapkan status suatu hadith dikenal dengan istilah al-hukmu ‘alal hadith. Upaya ini adalah bagian dari kerja besar para ulama hadith (muhadditsin). Mereka punya sekian banyak kriteria dalam menentukan derajat suatu hadith.

Secara umum, studi ini dilakukan pada dua sisi. Yaitu sisi para perawinya dan juga sisi matan hadithnya, atau isi materinya. Jadi yang dinilai bukan hanya salah satunya saja, melainkan keduanya.

2 . Keshahihan suatu hadith akan dinilai pertama kali dari masalah siapa yang meriwayatkannya. Dan yang dinilai bukan hanya perawi pada urutan paling akhir saja. Akan tetapi mulai dari level pertama yaitu para shahabat, kemudian level kedua yaitu para tabi’in, kemudian level ketiga yaitu para tabi’it-tabi’in dan seterusnya hingga kepada perawi paling akhir atau paling bawah.
Nama para perawi paling akhir itu adalah yang sering kita dengar sebagai hadith yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah, At-Tirmiziy, Abu Daud dan lainnya. Akan tetapi, yang dijadikan ukuran bukan semata-mata para perawi di level paling bawah atau paling akhir saja.

Melainkan keadaan para perawi dari level paling atas hingga paling bawah dijadikan objek penelitian. Khususnya pada level di bawah para shahabat. Sebab para ulama sepakat bahwa para shahabat itu seluruhnya orang yang ‘adil dan tsiqah. Sehingga yang dinilai hanya dari level tabi’in ke bawah saja.

3 . Satu persatu biografi para perawi hadith itu diteliti dengan cermat. Penelitian dipusatkan (tumpuan) pada dua kriteria. Yaitu kriteria al-‘adalah dan kriteria adh-dhabth.

a. Kriteria al-‘adalah

Kriteria pertama adalah masalah ‘adalah. Maksudnya sisi nilai ketaqwaan, keIslaman, akhlaq, ke-wara’-an, kezuhudan dan kualiti pengamalan ajaran Islam. Kriteria ini penting sekali, sebab ternyata kebanyakan hadith palsu itu lahir dari mereka yang kualiti pengamalan keIslamannya kurang.

Misalnya mereka yang sengaja mengarang atau memalsukan hadith demi menjilat penguasa. Atau demi kepentingan politik dan kedudukan. Atau untuk sekadar mengejar kemasyhuran.

Orang-orang yang bermasalah dari segi al-‘adalah ini akan dicatat dan dicacat oleh sejarah. Mereka akan dimasukkan ke dalam daftar black-list bila ketahuan pernah melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan aqidah, akhlaq dan etika Islam.

Bahkan para ulama sampai melahirkan disiplin imu khusus yang disebut ilmu al-jarhu wa at-ta’dil.

Ilmu ini mengkhususkan diri pada database catatan hitam seseorang yang memiliki cacat atau kelemahan. Orang-orang yang dianggap cacat mendapatkan julukan khas dalam ilmu ini. Misalnya si fulan adalah akzabun nass (manusia paling pendusta), fulan kazzab (pendusta), si fulan matruk (haditsnya ditinggalkan) dan sebagainya.

b. Krieria adh-dhabth

Kriteria adh-dhabth adalah penilaian dari sisi kemampuan seorang perawi dalam menjaga originaliti hadith yang diriwayatkanya. Misalnya, adakah dia mampu menghafal dengan baik hadith yang dimilikinya. Atau mempunyai catatan yang rapi dan teratur. Sebab boleh jadi seorang perawi memiliki hafalan yang banyak, akan tetapi tidak dhabith atau tidak teratur, bahkan boleh jadi acak-acakan bercampur baur antara rangkaian perawi suatu hadith dengan rangkaian perawi hadith lainnya.

Biasanya dari sisi adh-dhabth ini para perawi memang orang yang shaleh. Tetapi kalau hafalan atau database periwayatan haditsnya bercampur baur, maka dia dikatakan tidak dhaabith. Cacat ini membuatnya menempati posisi lemah dalam daftar para perawi hadith.

Hadith yang diriwayatkan lewat dirinya boleh saja dinilai dha’if atau lemah.

4 . Keperluan pada Ensiklopedi Hadith Lengkap.

Untuk mendapatkan kumpulan hadith yang shahih, kita boleh membuka kitab yang disusun oleh para ulama. Di antara yang terkenal adalah kitab Ash-Shahih yang disusun oleh Al-Imam Al-Buhkari dan kitab Ash-Shahih yang disusun oleh Imam Muslim. Akan tetapi bukan bermakna semua hadith menjadi tidak shahih bila tidak terdapat di dalam kedua kitab ini.

Sesungguhnya, kedua kitab ini hanya menghimpun sebagian kecil dari hadith-hadith yang shahih. Di luar kedua kitab ini, masih banyak lagi hadith yang shahih lainnya.

5 . Keberadaan kedua kitab itu meski sudah banyak bermanfaat, namun masih diperlukan kerja keras para ulama untuk mengumpulkan semua hadith yang ada di muka bumi, lalu satu per satu diteliti para perawinya. Dan seluruhnya disusun di dalam suatu data simpanan.

Sehingga setiap kali kita menemukan suatu hadith, kita boleh lakukan searching, lalu tampil matan-nya beserta para perawinya dengan lengkap mulai dari tingkat shahabat hingga level terakhir, sekaligus juga catatan rekord tiap perawi itu secara legkap sebagaimana yang sudah ditulis oleh para ulama.

6 . Yang sudah ada sekarang ini baru program sebatas hadith-hadith yang ada di dalam 9 kitab saja, yang dikenal dengan kutubus-sittah.

Program ini sudah lumayan membantu, karena boleh dikemas dalam satu keping CD saja. Bahkan Kementerian Agama, Wakaf, Dakwah dan Irsyad Saudi Arabia membuka situs yang memuat data simpanan kesembian kitab hadits ini, sehingga boleh diakses oleh siapa saja dan dari mana saja di seluruh dunia secara gratis.

7 . Sayangnya, hadith-hadith yang ada di program ini masih terbatas pada 9 kitab hadith saja, meski sudah dilengkapi dengan kitab-kitab penjelasnya (syarah). Padahal ada begitu banyak hadith yang belum tercantum di dalam kutubus-sittah.

Lagi pula program itu pun belum dilengkapi dengan al-hukmu ‘alal hadith. Baru sekadar membuat data simpan hadith yang terdapat di 9 kitab itu.

Dan meski setiap hadith itu sudah dilengkapi nama-nama perawinya, namun belum ada hasil penelitian atas status para perawi itu,…Jadi hadith-hadith itu masih boleh dikatakan mentah.

8 . Projek ini cukup besar untuk dikerjakan oleh per-orangan. Harus ada kumpulan team yang terdiri dari ribuan ulama hadith dengan spesifikasi ekspert. Mereka harus bekerja full-time untuk jumlah jam kerja yang juga besar. Tentu saja masalah yang paling besar adalah anggaran.

Sampai hari ini, sudah ada beberapa lembaga yang merintisnya membuka jalan. Para ulama di Al-Azhar Mesir, para ulama di Kuwait, para ulama di Saudi dan di beberapa tempat lain, masing-masing sudah mulai mengerjakan……Sayangnya hasilnya belum juga nampak.

Berkemungkinan karena mereka bekerja sendiri-sendiri dan tidak melakukan sinergi. Padahal kalau semua potensi itu disatukan dalam sebuah managemen profesial, insyaa Allah kita boleh menyumbangkan sesuatu yang berharga di abad 15 hijriyah ini.

Hitung-hitung sebagai hamper untuk kebangkitan Islam yang sudah sejak lama didengung-dengungkan itu. Sebuah warisan pekerjaan dari generasi lampau untuk kita demi mencapai masterpiece.

Mohon maaf atas kekurangan,…semoga bermanfaat dan terjawab hendaknya.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh?

Sumber: Ustaz Zaref Shah Al HaQQy

04/04/2020 - Posted by | Bicara Ulama, Hadis, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: