Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

PENGETAHUAN,.. AHLUSSUNNAH BUKAN KONGKONGAN WAHHABI,SYIAH,MUSYABIHAH,MUJASIMAH DLL.

“Muhammad Izzat Al-Kutawi terdesak klaim jenama Ahlussunnah” kepada wahhabiyyah.

“Muhammad Izzat Al-Kutawi terdesak klaim jenama Ahlussunnah” kepada wahhabiyyah.

Ahlussunnah atau nama lengkapnya Ahlussunnah wal jamaah (ASWJ) bukan untuk dikong-kong oleh kelompok yang kehausan nama ini.

Ahlussunnah adalah satu-satu nya manhaj yang benar diatas jalan yang benar iaitu jalan para Nabi,sahabat dan seterusnya.

Bukti-Bukti Kebenaran Akidah Asy’ariyyah
Sebagai Akidah Ahlussunnah.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa di antara mukjizat Rasulullah adalah beberapa perkara atau peristiwa yang beliau ungkapkan dalam hadits-haditsnya, baik peristiwa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.

Juga sebagaimana telah kita ketahui bahwa seluruh ucapan Rasulullah adalah wahyu dari Allah, artinya segala kalimat yang keluar dari mulutmuliabeliau bukan semata-mata timbul dari hawa nafsu.

Dalam pada ini Allah berfirman:

Maknanya: “Dan tidaklah dia-Muhammad- berkata-kata dari hawa nafsunya, sesungguhnya tidak lain kata-katanya tersebut adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya” (QS. An-Najm: 3-4).

Di antara pemberitaan Rasulullah yang merupakan salah satu mukjizat beliau adalah sebuah hadits yang beliau sabdakan bahwa kelak dari keturunan Quraisy akan datang seorang alim besar yang ilmu-ilmunya akan tersebar diberbagai pelusuk dunia,beliau bersabda:

Maknanya: “Janganlah kalian mencaci Quraisy karena sesungguhnya-akan datang- seorang alim dari keturunan Quraisy yang ilmunya akan memenuhi seluruh pelusuk bumi” (HR. Ahmad).

Terkait dengan sabda ini para ulama kemudian mencari siapakah yang dimaksud oleh Rasulullah dalam haditsnya tersebut?

Para Imam mazhab terkemuka yang ilmunya dan para muridnya serta para pengikutnya banyak tersebur paling tidak ada empat orang; al-Imâm Abu Hanifah, al-Imâm Malik, al-Imâm asy-Syafi’i, dan al-Imâm Ahmad ibn Hanbal.

Dari keempat Imam yang agung ini para ulama menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadits Rasulullah di atas adalah al- Imâm asy-Syafi’i, sebab hanya beliau yang berasal dari keturunan Quraisy.
Tentunya kesimpulan ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa mazhab al-Imâm asy-Syafi’i telah benar-benar tersebar di berbagai belahan dunia Islam hingga sekarang ini.

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:

Maknanya: “Hampir-hampir seluruh orang akan memukul punuk-punuk unta (artinya mengadakan perjalan mencari seorang yang alim untuk belajar kepadanya), danternyata mereka tidak mendapati seorangpun yang alim yang lebih alim dari orang alim yang berada di Madinah”. (HR. Ahmad).

Para ulama menyimpulkan bahwa yang maksud oleh Rasulullah dalam haditsnya ini tidak lain adalah al-Imâm Malik ibn Anas, perintis Madzhab Maliki; salah seorang guru al-Imâm asy-Syafi’i. Itu karena hanya al-Imâm Malik dari Imam madzhab yang empat yang menetap di Madinah, yang oleh karenanya beliaudigelari dengan Imâm Dâr al-Hijrah (Imam Kota Madinah). Kapasitas keilmuan beliau tentu tidak disangsikan lagi, terbukti dengan eksisnya ajaran madzhab yang beliau rintis hingga sekarang ini.

Tentang al-Imâm Abu Hanifah, demikian pula terdapat dalil tekstual yangmenurut sebagian ulamamenunjukan bahwa beliau adalah sosok yang dimaksud oleh Rasulullah dalam sebuah haditsnya, bahwa Rasulullah bersabda:

Maknanya: “Seandainya ilmu itu tergantung di atas bintang-bintang Tsurayya maka benar-benar ia akan diraih oleh orang-orang dari keturunan Persia” (HR. Ahmad).

Sebagian ulama menyimpulkan bahwa yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah al-Imâm Abu Hanifah, oleh karena hanya beliau di antara Imam mujtahid yang empat yang berasal dari daratan Persia.

Al-Imâm Abu Hanifah telah belajar langsung kepada tujuh orang sahabat Rasulullah dan kepada sembilan puluh tiga ulama terkemuka dari kalangan tabi’in.

Tujuh orang sahabat Rasulullah tersebut adalah; Abu ath-Thufail Amir ibn Watsilah al-Kinani, Anas ibn Malik al-Anshari, Harmas ibn Ziyad al-Bahili, Mahmud ibn Rabi’ al-Anshari, Mahmud ibn Labid al-Asyhali, Abdullah ibn Busyr al-Mazini, dan Abdullah ibn Abi al-Awfa al-Aslami.

Demikian pula dengan al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, para ulama kita menetapkan bahwa terdapat beberapa dalil yang menunjukan kebenaran akidah Asy’ariyyah.

Ini menunjukan bahwa rumusan akidah yang telah dibukukan oleh al-Imâm Abu al-Hasan sebagai akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah; adalah keyakinan majoriti umat Nabi Muhammad sebagai al-Firqah an- Nâjiyah; kelumpuk yang kelak di akhirat akan selamat kelak.

Al-Imâm al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Mufatrî menuliskan satu bab yang ia namakan: “Bab beberapa riwayat dari Rasulullah tentang kabar gembira dengan kedatangan Abu Musa al-Asy’ari dan para penduduk Yaman yang merupakan isyarat dari Rasulullah secara langsung akan kedudukan ilmu Abu al-Hasan al-Asy’ari”.

Bahkan kabar gembira tentang kebenaran akidah Asy’ariyyah ini tidak hanya dalam beberapa hadits saja, tapi juga terdapat dalam al-Qur’an.

Dengan demikian hal ini merupakan bukti nyata sekaligus sebagai kabar gembira dari Rasulullah langsung untuk orang-orang pengikut al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Mari dengan mengenal keutamaan sahabat Abu Musa al-Asy’ari yang merupakan moyang dari al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Bahwa terdapat banyak sekali hadits-hadits Rasulullah yang menceritakan keutamaan sahabat Abu Musa al-Asy’ari ini, beliau adalah salah seorang Ahl ash-Shuffah dari para sahabat Muhajirin yang mengabdi seluruh waktunya hanya untuk menegakan ajaran Rasulullah.

Sebelum kita membicarakan keutamaan- keutamaan sahabat mulia ini ada beberapa catatan penting yang handak penulis ungkapkan dalam permulaan ini; adalah sebagai berikut:

Satu: Al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî mengutip hadits mauqûf dengan sanad dari sahabat Hudzaifah ibn al-Yaman, bahwa ia (Hudzaifah) berkata:

Maknanya:“Sesungguhnya keberkahan doa Rasulullah yang beliau peruntukan bagi seseorang tidak hanya mengenai orang tersebut saja, tapi juga mengenai anak-anak orang itu, cucu-cucunya, dan bahkan seluruh orang dari keturunannya”. (HR Ibn Asakir).

Pernyataan sahabat Hudzaifah ini benar adanya, setidaknya al-Hâfizh Ibn Asakir mengutip hadits sahabat Hudzaifah ini dengan tiga jalur sanad yang berbeda. Sanad-sanad hadits tersebut menguatkan satu atas yang lainnya.

Dua: Sejalan dengan hadits mauqûf di atas terdapat sebuah hadits marfû’; artinya hadits yang langsung berasal dari pernyataan Rasulullah sendiri, yaitu hadits dari sahabatAbdullah ibn Abbas, bahwa Rasulullah bersabda:

Maknanya:“Sesungguhnya Allah benar-benar akan mengangkat derajat keturunan-keturunan seorang mukmin hingga semua keturunan orang tersebut bertemu dengan orang itu sendiri.

Sekalipun orang-orang keturunannya tersebut dari sudut amalan jauh berada di bawah orang itu (moyang mereka), agar supaya orang itu merasa gembira dengan keturunan-keturunannya tersebut” (HR.Ibn Asakir).

Setelah menyampaikan hadits ini kemudian Rasulullah membacakan firman Allah dalam QS. ath-Thur: 21:ََ

Maknanya:”Sesungguhnya mereka yang beriman dan seluruh keturunan mereka yang mengikutinya dalam keimanan akan kami Kami(Allah)pertemukan mereka itu (moyang-moyangnya) dengan seluruh keturunannya” (QS. Ath-Thur: 21).

Hadits ini diriwayatkan oleh Huffâzh al-Hadîts, di antaranya selain oleh Ibn Asakir sendiri dengan sanad-nya dari sahabat Abdullah ibn Abbas, demikian pula diriwayatkan oleh al-Imâm Sufyan ats-Tsauri dari Amr ibn Murrah, hanya saja hadits dengan jalur sanad dari al-Imâm Sufyan ats-Tsauri tentang ini adalah mauqûf dari sahabat Abdullah ibn Abbas.

Dalam pada ini, lanjutan firman Allah dalam QS. ath-Thur: 21 di atas “… Wa Mâ Alatnâhum”, ditafsirkan oleh Ibn Abbas;

“Wa Mâ Naqashnâhum”, artinya tidak akan dikurangi dari mereka suatu apapun, atau bahwa mereka semua; antara moyang dan keturunan-keturunannya akan disejajarkan.

Tiga: Diriwayatkan pula dari sahabat Abdullah ibn Abbas tentang firman Allah: ”Wa An Laysa Lil-Insân Illâ Mâ Sa’â” (QS. An-Najm: 39),

artinya bahwa tidak ada apapun bagi seorang manusia untuk ia miliki dari kebaikan kecuali apa yang telah ia usahakannya sendiri. Setelah datang ayat ini kemudian turun firman Allah: ”Alhaqnâ Bihim Dzurriyatahum Bi-Imân” (QS. Ath-Thur: 21),

artinya bahwa orang-orang mukmin terdahulu akan dipertemukan oleh Allah dengan keturunan- keturunan mereka karena dasar keimanan.

Dalam pentafsiran ayat ini sahabat Abdullah ibn Abbas berkata: “Kelak Allah akan memasukan anak-anak ke dalam surga karena kesalehan ayah-ayah mereka”.

Empat: Terkait dengan firman Allah: ”Alhaqnâ Bihim Dzurriyatahum Bi-Imân” (QS. Ath-Thur:21)

diriwayatkan pula dari al-Imâm Mujahid; salah seorang pakar tafsir murid sahabatAbdullah ibn Abbas, bahwa dalam menafsirkan firman Allah tersebut beliau berkata: “Sesungguhnya karena kebaikan dan kesalehan seorang ayah maka Allah akan memperbaiki dan menjadikan saleh anak- anak dan cucu-cucu (keturunan) orang tersebut”.

Dari beberapa bukti di atas dapat kita faham bahwa sebenarnya kesalehan, keilmuan, keberanian, kezuhudan, dan berbagai sifat terpuji lainnya yang ada pada sosok al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah sifat-sifat yang memang secara turun-temurun beliau warisi dari kakek-kekeknya terdahulu.

Dalam hal ini termasuk salah seorang moyang terkemuka beliau yang paling ”penting” adalah sahabat dekat Rasulullah; yaitu Abu Musa al-Asy’ari.

Ini semua tentunya ditambah lagi dengan kepribadian-kepribadian saleh dari kakek-kakek beliau lainnya.

Berikut ini akan kita kupas satu persatu beberapa bukti yang menunjukan keutamaan sahabat Abu Musa al-Asy’ari, yang hal ini sekaligus memberikan petunjuk tentang keutamaan al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Beberapa hadits terkait dengan keutamaan (fadhâ-il) sahabat Abu Musa al-Asy’ari telah dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa hal itu memberikan isyarat akan keutamaan (fadhâ-il) al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari dan menunjukan bagi kebenaran akidah yang telah beliau rumuskan, yaitu akidah Asy’ariyyah yang khusus akidah Ahlussunnah; akidah yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, di antaranya sebagai berikut:

A.Satu: Firman Allah QS. Al Ma’idah: 54
Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

Maknanya: “Wahai sekalian orang beriman barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah, mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada sesama orang mukmin dan sangat kuat-ditakuti- oleh orang-orang kafir.
Mereka berjihad dijalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap cacian orang yang mencaci”. (QS. Al-Ma’idah: 54).

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika turun ayat ini, Rasulullah memberitakannya sambil menepuk pundak sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya bersabda: “Mereka (kaum tersebut) adalah kaum orang ini!!”.

Dari hadits ini para ulama menyimpulkan bahwa kaum yang dipuji dalam ayat di atas tidak lain adalah kaum Asy’ariyyah, karena sahabat Abu Musa al-Asy’ari adalah moyang dari al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, sebagaimana telah kita tulis dalam biografiringkas al-Imâm Abu al-Hasan sendiri.

Dalam penafsiran firman Allah di atas: “Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah….” (QS. Al-Ma’idah: 54),al-Imâm Mujahid berkata: “Mereka adalah kaum dari negeri Saba’ (Yaman)”.

Kemudian al- Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî menambahkan: “Dan orang-orang Asy’ariyyah adalah kaum yang berasal dari negeri Saba’”.

Penafsiran ayat di atas bahwa kaum yang dicintai Allah dan mencintai Allah tersebut adalah kaum Asy’ariyyah telah dinyatakan pula oleh para ulama terkemuka dari para ahli hadits.

Lebih dari cukup bagi kita bahwa hal itu telah dinyatakan oleh orang sekelas al-Imâm al-Hâfizh Ibn Asakir dalam kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî.

Beliau adalah seorang ahli hadits terkemuka (Afdlal al-Muhaditsîn) di seluruh daratan Syam pada masanya.

Al-Imâm Tajuddin as-Subki dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah menuliskan: “Ibn Asakir adalah termasuk orang-orang pilihan dari umat ini, baik dalam ilmunya, agamanya, maupun dalam hafalannya. Setelah al-Imâm ad-Daraquthni tidak ada lagi orang yang sangat kuat dalam hafalan selain Ibn Asakir.

Semua orang sepakat dalam hal ini, baik mereka yang sejalan dengan Ibn Asakir sendiri, atau mereka yang memusuhinya”.

Lebih dari pada itu Ibn Asakir sendiri dalam kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî telah mengutip pernyataan para ulama hadits terkemuka (Huffâzh al-Hadîts) sebelumnya yang telah metafsirkan ayat tersebut demikian, di antaranya ahli hadits terkemuka al- Imâm al-Hâfizh Abu Bakar al-Bayhaqi penulis kitab Sunan al-Bayhaqi dan berbagai karyabesar lainnya.

Al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî menuliskan pernyataan al- Imâm al-Bayhaqi dengan sanad-nya dari Yahya ibn Fadlillah al-Umari, dari Makky ibn Allan, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami al-Hâfizh Abu al-Qasim ad- Damasyqi, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Syaikh Abu Abdillah Muhammad ibn al-Fadl al-Furawy, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami al- Hâfizh Abu Bakar Ahmad ibn al-Husain ibn Ali al-Bayhaqi, bahwa ia (al-Bayhaqi) berkata:

berisyarat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya berkata: “Mereka adalah kaum orang ini”. Dalam hadits ini terdapat isyarat akan keutamaan dan derajat mulia bagi al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, karena tidak lain beliau adalah berasal dari kaum dan keturunan sahabat Abu Musa al-Asy’ari.

Mereka adalah kaum yangdiberi karunia ilmu dan pemahaman yang benar. Lebih khusus lagi mereka adalah kaum yang memiliki kekuatan dalam membela sunah-sunnah Rasulullah dan memerangi berbagai macam bid’ah. Mereka memiliki dalil-dalil yang kuat dalam memerangi bebagai kebatilan dan kesesatan.

Dengan demikian pujian dalam ayat di atas terhadap kaum Asy’ariyyah, bahwa mereka kaum yang dicintai Allah dan mencintai Allah, adalah karena telah terbukti bahwa akidah yang mereka yakini sebagai akidah yang hak, dan bahwa ajaran agama yang mereka bawa sebagai ajaran yang benar, serta terbukti bahwa mereka adalah kaum yang memiliki kayakinan yang sangat kuat.

Maka siapapun yang di dalam akidahnya mengikuti ajaran-ajaran mereka, artinya dalam konsep meniadakan keserupaan Allah dengan segala makhluk-Nya, dan dalam metode memegang teguh al-Qur’an dan Sunnah, sesuai dan sejalan dengan faham-faham Asy’ariyyah maka ia berarti termasuk dari golongan mereka”.

Al-Imâm Tajuddin as-Subki dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah mengomentari pernyataan al-Imâm al-Bayhaqi di atas, berkata:

“Kita katakan;-tanpa kita memastikan bahwa ini benar-benar maksud Rasulullah-, bahwa ketika Rasulullah menepuk punggung sahabat Abu Musa al- Asy’ari, sebagaimana dalam hadits di atas, seakan beliau sudah mengisyaratkan akan adanya kabar gembira bahwa kelak akan lahir dari keturunannya yang ke sembilan al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Sesungguhnya Rasulullah itu dalam setiap ucapannya terdapat berbagai isyarat yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang yang mendapat karunia petunjuk Allah. Dan mereka itu adalah orang yang kuat dalam ilmu (ar-Râsikhûn Fi al-‘Ilm) dan memiliki mata hati yang cerah.

Firman Allah: “Seorang yang oleh Allah tidak dijadikan petunjuk baginya, maka sama sekali ia tidak akan mendapatkan petunjuk” (QS. An-Nur: 40)”

Ke-tamaan Asy’ariyyah.

Satu: Hadits Shahih Riwayat al-Bukhari Dan Muslim Dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari
Dari sahabat Abu Musa al-‘Asy’ari-semoga ridla Allah selalu terlimpah baginya- dari Rasulullah bersabda:

Maknanya: “Sesungguhnya orang-orang Asy’ariyyah apa bila mereka telah turun ke medan perang, atau apa bila persediaan makanan mereka di Madinah sangat sedikit maka mereka akan mengumpulkan seluruh makanan yang mereka milikidalam satu wadah, kemudian makanan tersebut dibagi-bagikan di antara mereka secara merata. Mereka adalah bagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari diri mereka”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sabda Rasulullah ini memberikan penjelasan tentang sifat-sifat para sahabatnya dari kaum Asy’ariyyah, yaitu para sahabat yang datang dari wilayah Yaman.

Dalam hadits ini Rasulullah memuji mereka, bahkan hingga beliau mengatakan “Mereka adalah bagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari diri mereka”. Anda perhatikan dan resapi sabda Rasulullah bagian terakhir ini. Ucapan beliau pada penggalan terakhir tersebut adalah bukti yang sangat kuat tentang keutamaan orang-orang Asy’ariyyah dari kalangan sahabat Rasulullah. Ini menunjukan bahwa moyang al-Imâm Abu al- Hasanal-Asy’ari dan kaumnya adalah orang-orang yang sangat dekat dengan Rasullah, mereka semua telah benar-benar mendapatkan tempat dalam hati Rasulullah.

Tentu sabda Rasulullah ini tidak hanya berlaku bagi kaum Asy’ariyyah dari para sahabat saja, namun juga mencakup bagi kaum Asy’ariyyah dari generasi berikutnya yang berasal dari keturunan mereka, karena sebagaimana telah kita jelaskan di atas bahwa doa dan berkah dari Rasulullah bagi seseorang akan mengenai keturunan-keturunan orang itu sendiri.

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al- Muftarî setidaknya dari dua jalur sanad yang berbeda. Selain oleh Ibn Asakir, hadits ini diriwayatkan oleh banyak perawi hadits lainnya, di antaranya oleh al-Imâm al-Bukhari dan al-Imâm Muslim dalam dua kitab Shahîh-nya.

Dengan demikian telah nyata bagi kita bahwa hadits ini adalah hadits shahih yang sama sekali tidak perlu diperselisihkan.

Wallahu’alam.

19/08/2019 - Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab), wahabi |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: