Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

JAWAPAN PERTANYAAN SALAFI

Oleh: Kiyai Nur Hidayat Muhammad

Kebiasaan salafi sering bertanya, mengapa orang-orang bermazhab Syafi’i jarang mengadakan kajian kitab Syarhus-Sunnah karangan Imam al-Muzani, murid terdekat Imam as-Syafi’i?

Kemudian Salafi itu berkata,… orang-orang yang mengaku bermazhab Syafi’i tapi tidak mengikuti imam syafie karena mereka lebih memilih akidah Asy’ariyyah dan sufiyah yang meyakini “Allah wujud tanpa tempat dan arah” atau “Allah ada di mana-mana” berbanding akidah Ahlussunnah yang dibawa Imam al-Muzani dalam kitab tersebut, karena beliau tegas menetapkan “ketinggian Allah” dan meyakini “Allah bersemayam di atas arsy”.

Jawapannya begini…

1. Kitab Syarhus Sunnah penisbatan nya kepada Imam al-Muzani masih meragukan, karena dalam sanad riwayat kitabnya terdapat beberapa perawi yang majhul “tidak diketahui biografinya”, seperti Syamsuddin Abul Izz Yusuf al-Hakkari, Hasan bin Ali al-Yazuri, dan Ali bin Abdillah al-Halwani.

2. “Allah ada di mana-mana” bukanlah akidah Ahlussunnah.

Sama seperti “Allah bersemayam “bermakna menempati”di atas arsy-Nya” dan bukan akidah Ahlussunnah. Akidah Ahlussunnah adalah “Allah wujud tanpa tempat dan arah” atau “Allah tinggi derajat dan kedudukannya” atau “Allah tinggi “uluw derajat dan kekuasaannya” di atas arsy”.

3. Dari pembacaan saya atas kitab Syarhus Sunnah yang sangat ringkas tersebut, yang hanya ditulis dalam beberapa lembar saja, “ditelaah dan ditahqiq oleh Jamal Azzun”, tidak ditemukan kalimat yang pelik atau menyelisihi akidah Ahlussunnah Asy’ariyyah atau Maturidiyyah secara umum.

Hanya ada beberapa kalimat yang diperlukan penjelasan atau syarah:

PERTAMA:
Pada pasal pertama, Imam al-Muzani memulai dengan pembahasan:

العلو : العالي [عال] على عرشه

Kalimat ini bukan masalah dalam akidah Ahlussunnah Asy’ariyyah, karena uluw Allah memang terdapat nash-nya.

Dan Ahlussunnah telah bersepakat methode tafwidh “serahkan makna yang dikehendaki kepada Allah” dan ta’wil sebagai pilihan manhaj interaksi nya dengan mutasyabihat.

Ta’wilnya adalah uluw makanah “ketinggian derajat, kekuasan dan kedudukan Allah” bukan uluw jihah atas atau tempat “arah dan tempat atas”, karena Allah bersih dari tempat dan arah.

Allah bersih dari tempat adalah ijma’ ulama’:

واجمعوا على انه لايحويه مكان

“Ulama’ Ahlussunnah ijma’ bahwa Allah tidak diliputi tempat” (Al-Farq Bainal Firaq).

Allah bersih dari arah adalah akidah salaf:

ولاتحويه الجهات الست

“Allah tidak diliputi arah enam “termasuk atas” (Akidah Thahawiyah).

Dalam naskah “manuskrip” Syarhus Sunnah yang lain, kata muhaqqiqnya Jamal Azzun, terdapat tambahan berikut:

العالي (عال) على عرشه في مجده بذاته

Lafaz ini populer juga diucapkan oleh Imam Ibn Abi Zaid al-Qairuwani.

Tetapi Imam adz-Dzahabi dalam al-Uluw tegas memberikan kritik atas penambahan kalimat tersebut dan menganggap fudhul “tidak semestinya”, karena ijma’ ulama’ tentang tidak bolehnya menambah-nambah kan sifat yang datang dari Allah dan Rasul-Nya tanpa tambahan.

Selain itu juga, penambahan tersebut masih meragukan “masykuk fih”, karena dalam dua manuskrip yang lain tidak ditemukan.

KEDUA:

Pada pertengahan pembahasan, Imam al-Muzani menyebut:

بائن من خلقه

Ucapan ini memang datang dari sebagian ulama’ salaf “tabi’it tabi’in” dan maknanya adalah “Allah tidak masuk ke dalam alam dan alam tidak masuk pada Allah” (al-Asma was Shifat, al-Baihaqi).

Walaupun penisbatan kalimat “bain” kepada Allah ini sedikit kontroversial, tetapi pengertian nya tidak bersilang dengan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah Asy’ariyyah.

4. Isu Imam al-Muzani menentang ilmu kalam.

Isu ini sebenarnya berada di luar topik pembahasan kitab Syarhus-Sunnah.

Ringkasnya, ilmu kalam ada dua,…
mamduh “terpuji” dan madzmum “tercela”.

Ketika disebutkan celaan ulama’ salaf terhadap ilmu kalam, maka maksudnya adalah ilmu kalam yang madzmum, karena catitan sejarah menyebutkan, ulama’-ulama’ salaf seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan lain-lain juga menggunakan hujjah kalamiyyah.

Dan sudah banyak jawapan ulama’ Ahlussunnah tentang ini.

Wallahu A’lam.

(Sumber: FB Ustaz Yunan A Samad)

26/06/2019 - Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), wahabi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: