Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Jangan Fitnah Rasulullah Begitu

57379381_852948081708986_7968515835733999616_n

Foto: Aisah Abdul Jalil

1. Ada seorang feminis liberal mendakwa Rasulullah bersenang-senang beribadah di Gua Hira dengan meninggalkan isteri dan anak Baginda di rumah. Sehingga menyatakan bahawa perlakuan Baginda Nabi inilah yang dituruti oleh sebahagian Muslim hari ini yang meninggalkan keluarga mereka untuk keluar atas jalan Allah. Ini adalah satu fitnah yang berat!

2. Pertamanya, pemergian Rasulullah bukanlah untuk bersenang-senang beribadah sahaja, bahkan berdasarkan riwayat Ibn Ishaq, Baginda turut menjalankan kerja kebajikan sosial buat orang-orang miskin di Mekah. Kata Ibn Ishaq:

فَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُجَاوِرُ ذَلِكَ الشَّهْرَ مِنْ كُلَّ سَنَةٍ يُطْعِمُ مَنْ جَاءَهُ مِنَ الْمَسَاكِينِ

“Sesungguhnya Rasulullah berjiwar (beriktikaf) pada bulan Ramadan (di Gua Hira) pada setiap tahun dan Baginda turut memberi makan kepada orang miskin yang datang kepadanya.”

3. Bahkan tindakan Nabi yang beribadah di Gua Hira ini adalah satu rutin yang Baginda sering lakukan yang telah menjadi kebiasaan yang difahami oleh isteri Baginda. Kata Ibn Ishaq:

في رواية ابن إسحاق أنه صلى الله عليه وسلم كان يُجاور -أي يعتكف- في غار حراء في شهر رمضان من كل سنة

“Dan di dalam riwayat yang dinyatakan oleh Ibn Ishaq, Baginda Nabi “berjiwar” (beriktikaf) di dalam Gua Hiran pada bulan Ramadan setiap tahun.”

4. Jadi jelas di sini bahawa pemergian Rasulullah ke Gua Hira bukanlah untuk bersenang-senang atas kepentingan peribadi Baginda bahkan Baginda menjalankan khidmat sosial dengan membantu orang miskin. Malah Khadijah turut memahami keadaan Baginda yang beriktikaf tersebut sehingga Khadijah sendiri yang menyediakan makanan buat Baginda Nabi. Ini seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari yang menyebutkan:

وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ -وَهُوَ التَّعَبُّدُ- اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ

“Sesungguhnya Rasulullah bersendirian di Gua Hira (untuk beribadah) beberapa malam sebelum Baginda pulang ke rumah untuk bertemu dengan ahli keluarganya dan menambah bekalan untuk beribadah semula. Kemudian Baginda berjumpa semula dengan Khadijah, dan Khadijah menyediakan bekalan buat Rasulullah sama seperti sebelumnya, sehingga diturunkan kepada Baginda wahyu.” (HR al-Bukhari).

5. Lihatlah bagaimana indahnya kehidupan rumah tangga Nabi. Mereka adalah pasangan yang saling memahami dan saling membantu atas urusan kebaikan. Si isteri menyediakan bekalan makanan, dan si suami bukan sahaja pergi beribadah, malah kembali kepada keluarga dan membantu orang miskin.

6. Bahkan sekiranya kita teroka kisah-kisah dalam al-Quran, pengalaman yang sama turut dilalui oleh Nabi Ibrahim. Baginda terpaksa meninggalkan anak dan isteri ditanah yang kering yang tidak mempunyai tanaman. Sehingga Nabi Ibrahim memanjatkan doa kepada Allah agar Allah memelihara keluarga Baginda. Firman Allah:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ

(Nabi Ibrahim berdoa) “Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian dari zuriat keturunanku di sebuah lembah (Tanah Suci Makkah) yang tidak tanaman padanya, di sisi Baitul Haram. Wahai Tuhan kami, (mereka ditempatkan di situ) supaya mereka mendirikan sembahyang (dan memakmurkannya dengan ibadat).”

7. Pengorbanan Nabi Ibrahim lebih dahsyat dalam situasi ini. Namun atas pengorbanan Nabi Ibrahim inilah agama Allah dibangunkan. Dan atas pengorbanan Rasulullah inilah Islam sampai kepada kita hari ini. Hairannya ada pula dikalangan liberal yang menolak untuk menjadikan kehidupan mereka sebagai contoh.

8. Apa yang diungkapkan oleh pejuang liberal ini adalah satu fitnah buat Rasulullah. Baginda hanya digambarkan bersenang-senang sedangkan bukan ini yang berlaku pada hakikatnya.

Moga Allah membimbing kita semua.

Dr. Ahmad Sanusi Azmi

16/04/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

Orang kafir Tidak Akan Pernah Ridha dengan Umat Islam Selama Lama nya.

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan Ridho kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah : 120)

Menurut Buya Hamka dalam tafsir Al-azharnya, kata “lan” di dalam ayat itu berarti bahwa orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan pernah ridha terhadap agama islam untuk selama-lamanya, kecuali orang islam mau mengikuti millah mereka. Ayat ini bukanlah ayat yang mengajarkan kita untuk membenci orang-orang yahudi dan nasrani, melainkan agar kita menjalankan hidup dengan penuh kewaspadaan dan mata terbuka. Ayat ini adalah sebuah ayat tentang realita yang tidak akan pernah berubah hingga hari kiamat. Konten ayat ini juga sangat masuk akal apabila kita mau merenungi lebih dalam. Bagaimana mungkin orang yahudi dan nasrani akan ridha terhadap islam? Kitab suci Al-Qur’an saja, di awal-awal suratnya sudah banyak sekali menyampaikan “aib-aib” orang-orang yahudi dan nasrani. Bahkan dalam surat Al-Fatihah yang kita baca sebanyak 17 kali sehari minimal, berisi doa tentang sikap bara’ kita terhadap jalan yang ditempuh oleh orang-orang yahudi dan nasrani.

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (Al-Fatihah : 7)

Label “orang kafir” yang Al-Qur’an lekatkan pada mereka pun, senantiasa menjadikan kuping mereka panas dan tidak terima jika muslimin menyebut mereka dengan sebutan yang sama. Ya mau bagaimana lagi, kita hanya mengikuti Al-Qur’an, tidak kurang, tidak lebih. Lalu beberapa ayat yang menelanjangi kejahatan-kejahatan dan kezaliman-kezaliman yang diperbuat orang-orang yahudi di masa lalu,

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (Al-Baqarah : 61)

Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. (Al-Baqarah : 72)

Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dengan angan-angan dan mereka hanya menduga-duga. (Al-Baqarah :79)

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (Al-Baqarah :80)

Sedangkan beberapa ayat yang “menyerang” prinsip dasar agama nasrani.

Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. (Al-Baqarah : 116)

Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan (Al-Maidah : 15)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, (At-Taubah : 54)

Dan beberapa ayat yang yang “menyerang” yahudi dan nasrani sekaligus,

Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (Al-Baqarah : 113

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (Al-Baqarah :111)

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. (Al-Baqarah :135)

Lalu, kenapa hanya agama yahudi dan nasrani yang disebut? Itu akan dibahas pada part selanjutnya. Untuk part 1 ini, penulis ingin memantapkan paradigma pembaca agar makin meyakini dalam hati bahwa Al-Baqarah : 120 bukanlah ayat penebar kebencian. Lalu, bagaimana bila ada pertanyaan? “tapi tidak semua orang yahudi dan nasrani peduli terhadap urusan islam? Berarti ayatnya tidak mutlak benar?”. Ingat, Allah itu Maha Benar, maka jangan pernah berprasangka yang tidak-tidak kepada Allah. Ayat ini memang berlaku untuk mewakili kondisi mayoritas dan rata-rata dari orang-orang yahudi dan nasrani, bukan menjudge 100% kuantitas karakter orang yahudi dan nasrani.

Penulis juga merasa perlu untuk menulis tadabbur tentang ayat ini, karena penulis pernah mendapati seorang profesor muslim indonesia di Australia, yang memiliki banyak follower di dunia maya, menulis tafsiran tentang ayat ini yang tidak pada tempatnya. Maka semoga dengan beberapa argumen yang dijabarkan di atas, bisa membuatkan kita paham tentang tujuan ayat ini turun dan sampai kepada kita.

Allahu a’lam bishshawab

Sumber

16/04/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

FIQIH BID’AH HASANAH

Hadis nabi yg menyebut “ikutilah sunnahku dan sunnah khulafa Al Rasyidin yg mendapat petunjuk sesudah ku… ” Itu bukanlah pemberian legalitas bahawa apa yg khulafa Al Rasyidin lakukan itu bukan bid’ah atau tidak boleh dinamakan bid’ah.Ketika Sayyidina Umar ra mencadangkan supaya Sayyidina Abu Bakar ra mengumpulkan Al Quran Abu Bakar sendiri mengatakan “Kalaulah kamu menyuruh daku memindahkan sebuah gunung dari tempatnya ke tempat yg lain maka sudah tentu itu adalah terlebih ringan bagiku.Mengapa kamu menyuruh daku melakukan suatu perkara yg tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah?”Kemudian Sayyidina Umar bersungguh sungguh meyakinkan bahawa ianya baik.Kata Umar ” wallahi, hua khair..”

Daripada peristiwa tersebut kita mengetahui beberapa perkara:
1)Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memberi legalitas kepada mana mana sahabat termasuk khulafa Al Rasyidin utk membuat bid’ah jika bid’ah yg dilakukan itu bertentangan dengan prinsip prinsip syar’iyyah.Jika tidak masakan Abu Bakar ra keberatan pada mulanya.

2)Masalah bid’ah mencakupi seluruh kehidupan manusia samada ibadah atau bukan ibadah termasuklah sarana jika tidak ada dalilnya maka ia adalah bid’ah.Masalah mengumpulkan Al Quran seperti contoh di atas bukan masalah ibadah.Ia hanya sarana.Itu pun Abu Bakar keberatan kerana yg beliau faham bahawa bid’ah ialah apa sahaja yg tidak ada dalilnya baik khusus mau pun secara umum.Tetapi Umar meyakinkan ianya baik.Ini adalah berdasarkan prinsip prinsip syar’iyyah tentunya(dalil dalil umum)

3)Bid’ah hasanah adalah perkara perkara yg tidak pernah dilakukan oleh nabi dan nabi tidak pernah mencontohkannya.Jika dipandang dari segi ini ianya adalah bid’ah.Tetapi apabila dipandang dari segi ianya tidak bertentangan dengan prinsip prinsip syar’iyyah maka ianya adalah hasanah.Atau menurut pemahaman lain ianya bukan bid’ah dari segi istilah hanya bid’ah dari segi bahasa kerana tidak bertentangan dengan prinsip prinsip syara’..Samada anda memanggilnya bid’ah hasanah atau anda memanggilnya bid’ah dari segi bahasa ternyata sama sahaja.

4)Dikiaskan dengan masalah pengumpulan Al Quran ini apa sahaja perkara baru yg tidak bertentangan dengan prinsip syara’ seperti maulidan,baca yasin malam jumaat,tahlilan, dqn lain lain sebagainya itu adalah bid’ah hasanah.Mau dibilang bukan bid’ah istilahiah hanya bid’ah lughawiyah juga tidak ada apa apa .Sama aja.

5)Harus diingat Sayyidina Abu Bakar pada akhirnya bersetuju mengumpulkan Al Quran seperti cadangan dari Umar ialah kerana ianya tidak bertentangan dengan prinsip prinsip syara’ bukannnya kerana dia adalah seorang khulafa Al Rasyidin.Diulangi sekali lagi..”kerana ianya tidak bertentangan dengan prinsip prinsip syara’ bukannnya kerana dia adalah seorang khulafa Al Rasyidin”..diulangi sekali lagi kerana ianya tidak bertentangan dengan prinsip prinsip syara’ bukannnya kerana dia adalah seorang khulafa Al Rasyidin…diulangi sekali lagi..kerana ianya tidak bertentangan dengan prinsip prinsip syara’ bukannnya kerana dia adalah seorang khulafa Al Rasyidin..Tidak mengapa sebab saya maklum wahhabi bebal maka saya ulangi lagi…kerana ianya tidak bertentangan dengan prinsip prinsip syara’ bukannnya kerana dia adalah seorang khulafa Al Rasyidin

6)Hadis nabi ikutilah sunnahku dan sunnah khulafa Al Rasyidin sesudahku hanya utk memberitahu bahawa ijtihad para khulafa Al Rasyidin itu betul bukan hendak memberitahu bahawa mereka diberikan legalitas utk membuat bid’ah hasanah.

Olih : Ilham Othmany

16/04/2019 Posted by | Politik dan Dakwah, wahabi | Leave a comment

   

%d bloggers like this: