Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

AL-DZAHABI DAN IBNU TAIMIYAH – Jawaban terhadap Wahabi

Oleh: Kiyai Idrus Ramli

Kaum Wahabi itu tidak memiliki hujjah dan dalil yang kuat terkait dengan ajaran-ajaran dan pandangan mereka yang berbeda dengan mayoritas umat Islam. Setiap tokoh Wahabi mengeluarkan hujjah dan dalil tentang ajarannya, pasti bantahan para ulama lebih kuat dan mematikan.

Tapi meskipun demikian, menghadapi bantahan ulama yang sangat kuat dan mematikan, tokoh Wahabi akan mengeluarkan jawaban atau bantahan, meskipun bantahannya lemah, dan tidak jarang jawaban mereka keluar dari persoalan yang dibahas. Bagi ulama Wahabi, yang penting terkesan kepada pengikutnya yang awam, bahwa mereka telah menjawab bantahan kaum Ahlussunnah Wal-Jamaah.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengomentari sebagian sumber rujukan akidah kaum Wahabi. Antara lain kitab al-Radd ‘ala al-Jahamiyah wa al-Zanadiqah yang dinisbatkan kepada al-Imam Ahmad bin Hanbal. Lalu saya sampaikan melalui tulisan di facebook ini, bahwa al-Dzahabi, murid kesayangan Ibnu Taimiyah, menafikan penisbatan kitab tersebut kepada Ahmad bin Hanbal. Menurut al-Dzahabi, kitab tersebut kitab palsu yang dinisbatkan kepada Ahmad bin Hanbal. Tentu saja al-Dzahabi punya alasan-alasan yang kuat dan dipertanggungjawabkan terkait pendapatnya tersebut.

Belakangan setelah membaca tulisan saya, ada Wahabi yang menjawab melalui rekaman di internet, bahwa pendapat al-Dzahabi tidak mu’tabar, tidak dapat menjadi rujukan dalam hal tersebut. Tentu alasan Ustadz Wahabi tersebut sangat tidak masuk akal. Pendapat al-Dzahabi sangat kuat terkait penafian kitab di atas yang dinisbatkan secara palsu kepada Ahmad bin Hanbal. Ada beberapa alasan yang menjadi pertimbangan kita mengenai pendapat al-Dzahabi:

Pertama, al-Dzahabi adalah murid Ibnu Taimiyah, sebagaimana diakui oleh Ustadz Wahabi yang berinisial MAS tersebut. Kalau pendapat al-Dzahabi tidak mu’tabar, lalu apakah pendapat gurunya, yaitu Ibnu Taimiyah yang akan dianggap mu’tabar? Tentu saja tidak. Dalam ilmu kritik sanad, al-Dzahabi diakui lebih mu’tabar oleh para ulama daripada gurunya, Ibnu Taimiyah yang cenderung mujazafah dan berlebih-lebihan dalam menilai hadits-hadits. Al-Dzahabi selalu berusaha moderat dan netral dalam menghukumi sanad suatu kitab atau hadits. Sementara Ibnu Taimiyah, terkadang mendha’ifkan hadits shahih yang mutawatir, dan banyak menafikan hadits-hadits shahih yang terdapat dalam kitab-kitab hadits yang terkenal, hanya karena isi hadits tersebut bertentangan dengan akidah Ibnu Taimiyah. Hal ini sudah maklum di kalangan para ulama.

Kedua, Ibnu Taimiyah tidak dikenal sebagai ulama yang memiliki perhatian dan ketelitian terhadap sanad-sanad kitab. Dalam hal ini, al-Dzahabi memiliki perhatian dan ketelitian terhadap sanad-sanad kitab. Dalam fatwa-fatwa dan kitab-kitabnya, tidak jarang Ibnu Taimiyah menyampaikan kisah palsu terkait persoalan yang dapat menjatuhkan akidah lawan polemiknya. Hal ini yang tidak dilakukan oleh al-Dzahabi.

Ketiga, masa hidup al-Dzahabi lebih akhir daripada Ibnu Taimiyah. Seorang ulama yang lebih akhir, biasanya menghasilkan kesimpulan hukum yang lebih bagus daripada ulama sebelumnya, karena telah meneliti kembali hasil penelitian ulama sebelumnya, disamping penelitiannya sendiri dengan tambahan hujjah dan argumen.

Keempat, Ibnu Taimiyah yang diberi gelas Syaikhul-Islam, tidak berhasil mengajak murid-muridnya mengikuti akidah dan semua ajaran Ibnu Taimiyah sendiri. Hal ini sebagaimana diakui oleh al-Dzahabi dalam al-Nashihah al-Dzahabiyyah, bahwa beliau berbeda dengan gurunya, Ibnu Taimiyah dalam banyak masalah furu’iyah (fiqih) dan ushuliyyah (akidah). Al-Dzahabi tidak mengikuti akidah gurunya, yang merujuk kepada kitab al-Radd’ ‘ala al-Jahamiyah. Sebagian ulama kontemporer di Makkah yang pakar dalam bidang hadits, yaitu Syaikh Sayyid Nabil bin Hasyim al-Ghamri, setelah meneliti semua kitab-kitab al-Dzahabi bertahun-tahun, memberikan kesimpulan bahwa al-Dzahabi mengikuti madzhab al-Asy’ariyah. Kesimpulan ini beliau tuangkan beserta bukti-buktinya dalam kitabnya yang berjudul Ghayat al-I’tizaz wa al-Amani bi-Takhrij Asanid wa Marwiyyat Ibn Qayimaz al-Turkumani.

Kesimpulan Sayyid Nabil al-Ghamri tersebut, sesuai dengan kesimpulan ulama dahulu yang dekat dengan masa al-Dzahabi, yaitu al-Imam al-Hafizh Taqiyyuddin al-Fasi (lahir 775H dan wafat 832 H) dalam kitabnya, Ithaf Dzawi al-‘Ula biman Lam Yadzkurhu al-Dzahabi fi al-Nubala, halaman 49-50, bahwa al-Hafizh Jamaluddin al-Mizzi dan al-Hafizh Syamsuddin al-Dzahabi mengikuti madzhab al-Asy’ariyyah.

Wallahu a’lam.

02/04/2019 - Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Informasi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: