Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

WAHAI PARA PENDAKWAH

1) Orang yang berdakwah, yang ingin membela agama Allah tapi dia lalai dalam solatnya, dia tak peduli pun bila tertinggal solat berjemaah, tidak mengambil berat akan solat rawatib, solat witir, tidak ambil berat hal solat ahli keluarganya, walaupun dia memiliki kejayaan dalam ceramahnya, ramai pengikut, tapi dia tak tergolong dalam orang yang menolong agama Allah.

2) Peringatan kepada orang berilmu
Sesungguhnya seseorang yang mencari ilmu, mereka perlu ambil berat apa yang diperolehnya, kerana Allah tak beri sesuatu kecuali untuk seseorang itu menjaganya.

• Nasihat الحبيب عمر بن حفيظ – Habib Omar di Musalla Al-Abrar, Sungai Penchala | 30 September 2018

Sumber: Grup dakwah Telegram

17/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Tazkirah | Leave a comment

BOLEHKAH MELIHAT ALLAH DIDUNIA

Muhammad Zaini:

Di kalangan Al-Asy’ari (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) masih dipertanyakan, apakah melihat Allah hanya khusus di akhirat saja ?. Dalam membahas hal tersebut ulama telah menyatakan bahawa melihat Allah hanya bukan di akhirat saja tetapi juga dapat melihat Allah selagi di dunia ini, yaitu dengan “mata batin atau mata hati” (basirah).

Pendapat tersebut didasari dengan alasan : bahwa Rasulullah SAW pada waktu melakukan Isra Mi’raj benar-benar melihat Allah, sehingga Sayidina Hasan bin ‘Ali r.a berani bersumpah sewaktu menerangkan hal itu. Demikian pula dengan Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu ‘Abbas r.a, yang oleh Imam Nawawi disimpulkan: “Kesimpulannya, Sesungguhnya rajih (alasan kuat) menurut sebagian Ulama bahwa Rasulullah SAW. melihat Tuhannya dengan nyata / mata, pada malam Isra berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas dan lain-lain”.

Menurut Syeikh Ibnu Hajar Haitami tentang Rasulullah melihat Tuhan di malam Isra : “Dikalangan Ahlus Sunnah telah terjadi kesepakatan tentang mukjizat Rasulullah melihat Allah di malam Mi’raj dengan nyata / mata”. Para Auliya pula mendapat kurnia Allah melihat Allah dengan mata batinnya, sebagai suatu “Karomah” untuk mereka, seperti juga mukjizat untuk Rasulullah SAW.

Untuk melihat Allah didunia dengan mata hati adalah termasuk dalam rukun agama yang ketiga iaitu maqam IHSAN yang bererti “Kamu beribadah seolah-olah kamu melihat Allah…” (Hadis Jibril: Bukhari dan Muslim). Ia adalah matlamat akhir dan tujuan teragung seorang hamba Allah dalam menjalani kehidupan ibadahnya didunia ini.

Syeikh Abdul Qadir Jailani mengakui hal itu, dan Ulama Sufi umumnya mengemukakan : “Apabila rohaniyah dapat menguasai basyariyah (fizikal) maka pandangan mata berlawanan dengan mata batin. Mata tidak akan melihat, kecuali hanya dengan pengertian-pengertian yang terlihat oleh mata batin” Pengertian “rohaniyah dapat menguasai basyariyat” dapat diambil misal, seorang yang sangat takut dengan hantu. Rasa takut tersebut akan sangat mempengaruhi jiwanya, sehingga apabila ia berjalan pada malam hari, kemudian tiba-tiba ia melihat pohon atau daun pisang yang bergerak tertiup angin, maka ia akan berlari ketakutan karena dikiranya hal itu adalah lembaga hantu yang menakutkan.

Boleh juga terjadi melihat Allah di dalam mimpi. Dalam kitab Sirajut-Tholibin disebutkan : “Adapun di dalam tidur, sepakat sebagian besar Ulama Sufi kemungkinan terjadi melihat Tuhan”. Dikalangan ulama Sufi terdapat keyakinan bahwa “melihat Tuhan bisa terjadi dengan pandangan mata batin yang mendapat nur dari Allah SWT, yang oleh Syeikh Junaid disebut Nurul Imtinan.

Syeikh Junaid al-Baghdadi terkenal sebagai seorang yang amat waro’ (tekun ibadat), seorang Waliyullah, seorang Sufi besar pada zamannya, yang tetap teguh memegang syariat. Banyak sekali tokoh-tokoh Sufi besar adalah murid-murid beliau. Antara lain, Abu ‘Ali Ad-Daqaq, Abu Bakar Al-Atthar, Al-Jurairi, ‘Athowi dan lain-lain. Diceritakan saat beliau mendekati akhir hayatnya, secara terus menerus mendirikan sembahyang dan membaca Al-Qur’an. Beliau wafat pada hari Jum’at tahun 297 Hijriyah, setelah selesai membaca ayat ke 70 Surat. Al-Baqarah.

Ketika hidupnya sehubungan dengan ucapan beliau tentang Allah, murid beliau bertanya :“Ya Abal Qosim, apakah engkau dapat melihat Allah pada waktu engkau menyembah-Nya ? Beliau menjawab : “Kami (Para Arif) tidak akan menyembah-Nya bila kami tidak melihat-Nya. Kami juga tidak akan bertasbih untuk-Nya bila kami tidak mengenal-Nya”.

Kesimpulannya adalah, bahwa melihat Allah di dunia sepanjang pendapat para ‘Arif boleh saja terjadi, dengan Nur Mukhasyafah didalam hatinya.

Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah, bahwa yang dimaksud dengan “melihat” bukan bererti melihat Kunhi Dzat-Nya (keadaan rupa, bentuk atau warnanya dari Zat Tuhan), yang mereka istilahkan “bi ghoiri kaifin wa hashrin wa dhorbin min mistalin”. Selain itu mereka pun mengakui bahwa penglihatan kelak diakhirat jauh lebih jelas dan lebih nyata dibanding apa yang mereka lihat di dunia sekarang. “

Imam Qurtubi berkata : “Melihat Allah SWT di dunia (dengan mata hati) dapat diterima akal. Kalau sekiranya tidak boleh, tentulah permintaan Nabi Musa a.s. untuk melihat Allah adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin seorang Nabi tidak mengerti apa yang boleh dan dan apa yang tidak boleh bagi Allah. Bahkan (seandainya) Nabi Musa tidak meminta, hal ini boleh terjadi dan bukan mustahil”.(Al-Jami’ul Ahkamul-Qur’an) “

Dan firman Allah : “Tatkala Tuhan tajalli( manifestasi/zahir/tampak/nyata) pada gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur” Maka apabila Allah bertajalli pada gunung, padahal gunung itu adalah benda padat, kenapa tidak mungkin Allah “tajalli” pada Rasul-Rasul-Nya dan Wali-WaliNya ?” (Kawasyiful-Jilliyah).

Berbicara tentang permohonan Nabi Musa a.s. untuk melihat Allah SWT. Sebaiknya kita perhatikan dahulu firman Allah :

“Dan tatkala Musa datang untuk bermunajat pada waktu yang kami tentukan, dan Tuhan-Nya berbicara kepadanya, maka Musa berkata : Ya Tuhanku, nampakkan (Dirimu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu”. “Tuhan berfirman: “Kamu tidak akan dapat melihat-Ku, tetapi lihatlah bukit itu, bila bukit itu tetap di tempatnya (seperti semula) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhan tajalli / tampak pada bukit itu, kejadian itu menyebabkan bukit itu hancur dan Musa pun pengsan. Setelah Musa sedar kembali dia berkata : “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang pertama yang beriman”. (QS. Al-Araf 7 : 143)

Dalam ayat ini terdapat kata-kata yang perlu di kaji lebih dalam yaitu :

1.Tidak akan melihat Aku

2.Tuhan tajalli pada gunung / bukit.

3.Bukit / gunung hancur, dan

4.Nabi Musa a.s pengsan.

Tidak akan melihat Aku, suatu pernyataan dari Allah, bahwa bagaimanapun juga mata kepala yang berbentuk bola mata yang terletak pada rongga soket mata dengan daya lihatnya, tidak akan mampu melihat Allah. TETAPI tidak bererti menutup kemungkinan untuk dilihat dengan mata hati. Bila mata hati itu dilengkapi oleh Allah dengan Nur-Nya yang kemudian disebut dengan “nurul basirah” (Cahaya pandangan batin) dan kemudian terdapat pancaran dan nyala pandangan batin yang disebut (bashar) yang kemudian mata kepala sama sekali tidak berfungsi termasuk tidak berfungsinya daya fikir dan seluruh kemampuan fizikal (jasmani) yang oleh orang Sufi digambarkan dengan “fana-zauqi”, maka pada keadaan itulah terjadinya melihat Allah.

“Ramai orang-orang Sufi berkata : “ Aku melihat Allah’. Diceritakan orang tentang ucapan Ja’far bin Muhammad (As-Shadiq) ketika beliau ditanya : “Apakah anda melihat Allah ?” Ja’far menjawab “Aku melihat Allah dan akupun menyembah-Nya”. Si penanya berkata lagi : Bagaimana anda melihat-Nya ?” Beliau menjawab : Tidak mungkin mata kepala dapat melihat-Nya dengan keterbatasannya itu, tetapi Allah dapat dilihat dengan mata hati yang Haqqul Yaqin (keyakinan sebenarnya)”

Tafsir Imam Qurtubi sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah tersebut. Allah tajalli pada gunung , bukanlah bererti “Allah menampakan diri-Nya mengambil tempat pada gunung kerana Allah Yang Maha Esa, Maha Meliputi, Pencipta ruang dan tempat, mustahil bagi-Nya menempati ruang dan tempat.

Saidina ‘Ali berkata : “Allah wujud tidak bertempat, Dialah yang menciptakan waktu dan tempat”. (Alqozhul Himam) Pengertian tajali menurut pandangan Sufi / ‘Arif Billah adalah:

DIA MENAMPAKKAN DIRINYA SENDIRI TANPA ADANYA YANG LAIN DARI DIA, DENGAN KESEMPURNAAN SIFAT-SIFATNYA, NURNYA, YANG LAISA KAMISTLIHI SYAI’UN.

Laisa kamistlihi syai’un tidak ada sesuatu dan satu pun yang seumpama / menyamai-Nya,- tiada pena yang dapat melukiskan dan tak ada kata yang dapat diucapkan, tak ada pula huruf yang dapat dirangkai.

Tajalli Allah pada gunung, merupakan isyarat bahwa Allah boleh saja bertajalli pada benda apapun juga, lebih-lebih kepada Rasul / Nabi-Nabi dan para Wali-Nya atau kepada siapun yang Ia kehendaki. Apabila Allah tajalli pada hambanya yang Ia kasihi, maka Allah akui bahawa tangan, kaki, mata, telinga, hati dan seluruh yang ada pada diri si hamba adalah tangan dan kakinya Allah SWT sebagai sebuah makna kebersamaan(ma’iyatullah).

Banyak Hadits yang merupakan dalil dan keterangan yang menguatkan hal itu. Antara lain hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abi Umamah dalam Kitab Al-Kabir : “Hamba-Ku yang selalu merasa dekat pada-Ku dengan melaksanakan amalan-amalan nawafil / sunnat / tambahan, sehingga Aku mencintainya. Akulah yang jadi pendengarannya yang dengan itu ia mendengar, Akulah yang jadi matanya yang dengan itu dia melihat, Akulah yang menjadi lidahnya yang dengan itu ia bicara, Aku pula yang menjadi hatinya yang dengan itu ia bercita-cita. Bila ia meminta / memohon kepada-Ku, Aku perkenankan doanya, dan bila ia meminta tolong kepada-Ku, Aku tolong dia. Aku amat suka kepada hamba-Ku yang mempersembahkan ibadahnya kepada-Ku dengan penuh keikhlasan” (HR. Thobrani dari Umamah r.a.).

Untuk mencapai tajalli, harus melalui beberapa lembah dan jurang, perjuangan demi perjuangan, kesungguhan dan ketekunan, jurang fana, fana-ul fana, fana fillah wa baqa billah. Pada teori lain diistilahkan; takhalli, tahalli, seterusnya sampai tajalli. Takhalli berarti pengosongan dari segala sifat-sifat yang tercela. Kemudian menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji, disebut Tahalli. Jadi takhalli adalah pengosongan fikiran dan hati dari segala macam persoalan duniawi dan tahalli adalah menghiasinya dengan hanya semata-mata “zikirullah”.

Pengosongan dalam erti “fana segala yang fana” akan menyebabkan hati dan pikir itu pun menjadi fana, lalu terasa kemanisan, keindahan yang tiada tara. Dalam Istilah kitab kuning hal itu disebut dengan : “rasa yang tiada berasa”. Semua sudah terbentang, semua sudah jelas, semua sudah nyata, maka itulah tajalli atau “mukasyafah”.

Disitulah tajalli Ke-Esa-an, laksana Musa yang pengsan dan gunung yang hancur berantakan. Nabi Musa a. s. tidak mampu untuk berbicara, mana Musa ? Mana gunung?, akhirnya seperti apa yang dikatakan oleh Syeikh Junaid “Hakikat Tauhid (sebenar-benarnya tauhid) tiada lagi tanya: kenapa dan bagaimana”. Allah berfirman:

“Segala sesuatu hilang hancur tiada erti, kecuali wajah-Nya / Zat-Nya (QS. Al-Qashas 28 : 88)

“Semua pasti lenyap, sedang yang kekal abadi hanya wajah Tuhanmu Yang Maha memiliki kebesaran dan kemuliaan” (QS. Rahman 55 : 26-27)

“Apa yang ada padamu akan hancur, dan apa yang ada pada Allah kekal abadi” (S. An-Nahl 16 : 96)

Disinilah makna hancurnya gunung dan pengsannya Nabi Musa a.s. Seorang yang berjiwa Sufi, bila merenungkan ayat ini (QS 7 :143) akan bahagia dan menitiskan air mata dan berkata “Betapa bahagia wahai gunung, betapa besar engkau, betapa kerasnya engkau, betapapula tegarnya engkau, wahai gunung batu, namun engkau rela menerima kehancuran, kefanaan dihadapan Allah. Dikefanaanmu, kau rasakan keindahan dan kenikmatan yang tiada taranya.

Sumber: Telegram Grup Aqidah MSO 12 – Ustaz iqbal

17/03/2019 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Uncategorized | Leave a comment

KENAPA ULAMA SYAFI’IYYAH TERKEMUDIAN TIDAK MEMBACA AL-UMM DAN KITAB-KITAB ASHABUL WUJUH SEBELUM ZAMAN IMAM AL-RAFI’IY DAN IMAM AL-NAWAWI?

Olih: [ Ahmad ] Nur ‘ala Nur:

Semasa belajar 4 thanawi dahulu, guru-guru pondok memberitahu bukan level kita untuk membaca kitab induk Imam al-Syafi’i. Cukuplah membaca kitab mukhtasarat seperti al-Ghayah wa al-Taqrib, Fathul Qarib, Matan Zubad atau Safinatunjjah saja. Lepas habis itu, boleh baca pula al-Iqna’, Mughniy al-Muhtaj atau Qalyubi wa Umairah. Tidak perlulah membaca al-Majmuk kerana ia adalah kitab rujukan fuqaha maqam tinggi. Tuan Guru pesan, bukan tidak boleh baca al-Umm atau al-Majmuk. Cuma takut hampa tak faham dan tersalah faham.

Selepas berada di pengajian tinggi. saya cuba memahami semula apa maksud “Tak payahlah baca al-Umm dan al-Majmuk?”. Fikir saya, kalau itu adalah kitab induk pembinaan fatwa mazhab Syafi’I, kenapa saya sebagai pengikut mazhab mesti disekat membacanya?… Selepas menelaah sejarah perkembangan mazhab Syafi’i dan cuba belek sikit-sikit usul istinbat mazhab Syafi’i, barulah saya faham kenapa larangan tersebut diwar-warkan. Rupa-rupanya bukan tok-tok guru pondok yang sebut tetapi, para fuqaha mutaa’khirin Syafi’iyyah yang muktabar menyatakannya (al-Kurdi, 2011).

Mazhab Syafie melalui 4 fasa perkembangan bermula zaman kelahiran (ta’sis), periwayatan (naql), suntingan (tahrir) dan kestabilan (istiqrar) mazhab. Zaman kestabilan ialah saat sempurnanya analisis tarjih terhadap semua khazanah fatwa mazhah Syafie yang bercambah dan berikhtilaf sejak zaman ta’sis (fatwa-fatwa Imam al-Syafi’i-qaul jadid/qaul qadim) dan zaman naql (perbezaan fatwa aliran Iraqiyyun vs Khurasaniyyun vs gabungan dua aliran), sebagai qaul atau fatwa muktamad dalam mazhab Syafi’i. Kegiatan ijtihad dalam mazhab Syafie amat progresif dan bagi orang awam (muqallid mazhab), mereka tidak perlu berkhilaf kerana yang diperlukan hanyalah satu keputusan fatwa yang patut diikut. Dengan izin Allah, hasil suntingan (zaman tahrir) Imam al-Rafi’I dan al-Nawawi berjaya menyatupadukan fatwa-fatwa mazhab supaya selaras dan tidak berkecamuk seperti dua fasa sebelumnya.

Perlu ditegaskan bahawa himpunan fatwa-fatwa imam al-Syafi’i sebahagiannya terdapat dalam kitab atas nama beliau seperti al-Umm dan sebahagian lagi dalam catatan mukhtasarat murid-murid beliau seperti al-Buwayti, al-Muzani dan al-Rabi’. Maka sebab itu, bukan semua fatwa beliau dalam al-Umm boleh dianggap muktamad kerana terdapat fatwanya dalam riwayat lain dianggap lebih kuat.

Sebagai contoh pendapat tidak muktamad dalam kitab al-Umm seperti status kesucian anggota manusia yang terpisah ketika hidup.

وإذا كسر للمرأة عظم فطار فلا يجوز أن ترقعه إلا بعظم ما يؤكل لحمه ذكيا وكذلك إن سقطت سنة صارت ميتة فلا يجوز له أن يعيدها بعد ما بانت فلا يعيد سن شيء غير سن ذكي يؤكل لحمه .وإن رقع عظمه بعظم ميتة، أو ذكي لا يؤكل لحمه أو عظم إنسان فهو كالميتة فعليه قلعه وإعادة كل صلاة صلاها وهو عليه

Maksudnya: “Jika patah tulang seorang perempuan lalu hilang, maka dia tidak boleh membaiki(menyambung) ia melainkan dengan tulang yang dimakan dagingnya yang telah disembelih. Begitu juga jika terjatuh giginya maka gigi itu menjadi bangkai, maka dia tidak boleh mengembalikan ia (memasang) semula setelah ternyata ia tercabut. Dia tidak boleh menyambung melainkan dengan gigi binatang boleh dimakan dagingnya yang melalui penyembelihan. Jika seseorang itu membaiki(menyambung) tulangnya dengan tulang bangkai atau binatang yang disembelih tetapi tidak halal dagingnya untuk dimakan atau tulang manusia, maka (hukum)nya seperti bangkai dan dia wajib menanggalkannya dan mengulangi semua solat yang telah dia kerjakan sebelum ini dan ia diwajibkan ke atasnya.”(Al-Syafi’i,1990)

Menurut catatan di atas, fatwa Imam al-Syafi’i menyatakan bahawa mana-mana anggota tubuh badan manusia yang terpisah dari tuannya ketika hidup dikira sebagai najis maka tidak boleh dimanfaatkan sama sekali.

Sesiapa yang mempelajari fiqh mazhab Syafi’i samada turath (tradisional) atau moden akan mendapati hukum mana-mana anggota badan manusia yang terpisah atau terputus ketika hidup adalah suci, bukan najis. Begitu juga mayat manusia tidak diketogarikan sebagai najis seperti bangkai menurut pendapat muktamad dalam mazhab. Jadi ia menggambarkan bahawa fatwa di atas bukan pendapat yang muktamad (kuat) di dalam mazhab Syafi’i dan perkara ini dijelaskan oleh Imam al-Nawawi di dalam kitab al-Majmu’:

لو انقلعت سنه فردها موضعها قال أصحابنا العراقيون لا يجوز لأنها نجسة وهذا بناء على طريقتهم أن عضو الآدمي المنفصل في حياته نجس وهو المنصوص في الأم ولكن المذهب طهارته وهو الأصح عند الخراسانيين وقد سبق إيضاحه في باب إزالة النجاسة

Maksudnya: “Jika tercabut sebatang gigi lalu dikembalikan(dicantum semula) pada tempat asalnya, maka menurut ulama-ulama kami dari kalangan ahli Iraq bahawa hukumnya tidak boleh kerana ia dikira sebagai najis . Ini berdasarkan riwayat mereka(ahli Iraq) mengenai pandangan mazhab bahawa anggota manusia yang terpisah(tercabut) ketika masih hiduphukumnya adalah najis dan ia termaktub di dalam kitab “al-Umm”. Akan tetapi menurut al-mazhab (pendapat yang muktamad) ia adalah suci dan pendapat ini adalah yang paling sahih di sisi ulama (mazhab Syafi’ie) dari kalangan ahli Khurasan. Perkara ini telah dijelaskan di dalam bab membersihkan najis” (Al-Nawawi, t.t).

Selain itu, terdapat banyak fatwa-fatwa Imam al-Syafi’i di Mesir telah diubah oleh beliau sendiri tetapi tidak sempat dirombak di dalam al-Umm, namun terdapat riwayat-riwayat dari anak murid kanan beliau yang meriwayatkan fatwa-fatwa terbaru Imam al-Syafi’i, kemudian ditambah atau ditulis oleh Imam al-Rabi’ bin Sulaiman di dalam al-Umm sebagai penjelasan. Sebagai contoh:

قال الشافعي : وإذا وجد الرجل المسافر ماء لا يطهر أعضاءه كلها لم يكن عليه أن يغسل منها شيئا. قال الربيع: وله قول آخر أنه يغسل بما معه من الماء بعض أعضاء الوضوء ويتيمم بعد ذلك
Maksudnya: Al-Syafi’i berkata, “Apabila seorang lelaki yang bermusafir menemui air, maka dia tidak perlu menyucikan semua anggota-anggota (wudu’)nya dan dia tidak perlu membasuh sedikit pun atau apa-apa darinya(anggota-anggota)”. Al-Rabi’ berkata, “Terdapat pendapat beliau (Imam al-Syafi’i) yang lain iaitu si musafir itu mesti membasuh sebahagian anggota-anggota wudu’ dengan air yang ada padanya dan bertayammum selepas itu (baki anggota yang tidak dikenakan air wudu’)” (Al-Syafi’i, 1990).

Berdasarkan kenyataan di atas, pada asalnya Imam al-Syafi’i berfatwa bahawa apabila seseorang hendak mengerjakan solat dan dia mendapati air yang ada padanya cukup untuk menyucikan sebahagian anggota-anggota wuduk sahaja, maka Imam berfatwa tidak perlu menggunakan air itu untuk berwuduk sama sekali walaupun sebahagian anggota, malah hanya terus bertayammum. Kemudian Imam al-Syafi’i telah merubah fatwa tersebut bahawa seseorang itu wajib berwuduk dengan kadar air yang ada padanya walaupun untuk sebahagian anggota wuduk dan bagi anggota yang tidak dapat disucikan dengan air hendaklah digantikan dengan tayammum.

Kita tahu bahawa qaul qadim Imam al-Syafi’I sewaktu di Iraq telah dirujuk dan dihukum marjuh dengan qaul jadidnya sewaktu di Mesir. Namun antara qaul jadid beliau juga wujud percanggahan fakta yang diriwayatkan oleh anak-anak murid beliau di Mesir.

Satu contoh yang dipetik daripada Mukhtasar al-Buwaiti:
قال الشافعي: من تمضمض واستنشق في غرفة واحدة أجزأه ذلك، وتفريقهما أحب إلي

Maksudnya: “Sesiapa yang berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung dengan satu cedokan maka sah hukumnya, namun mengasingkan kedua-duanya lebih aku sukai” (Al-Buwaiti, 2015: 64).

Manakala di dalam kitab al-Umm mempamerkan fakta yang berlainan, yang mana Imam al-Syafi’i berkata:
وأحب إلي أن یبدأ المتوضئ بعد غسل یدیيه أن یتمضمض ویستنشق ثلاثا یأخذ بكفه غرفة لفيه وأنفه
Maksudnya: “Aku lebih suka seseorang yang berwuduk memulakan wuduk selepas membasuh kedua-dua tangannya dengan berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung sebanyak 3 kali iaitu mengambil air dengan satu tapak tangannya untuk mulutnya dan hidungnya” (Al-Syafi’i, 1990).

Fakta yang sama seperti di dalam al-Umm juga diriwayatkan oleh al-Muzani daripada gurunya di dalam Mukhtasar beliau (Al-Muzani, 1990). Jelas di sini wujud pertentangan riwayat antara kitab al-Umm dan Mukhtasar, di mana para muhaqqiq mazhab memainkan peranan dalam mentarjihkan antara kedua-dua riwayat.

Hasilnya, qaul yang disebut di dalam Mukhtasar al-Buwaiti ditarjihkan oleh Imam al-Rafi’i (Al-Rafi’i, 1997), manakala qaul yang disebut di dalam kitab al-Umm dan Mukhtasar al-Muzani ditarjihkan oleh Imam Nawawi (Al-Nawawi, 2005). Justeru, yang muktamad di sisi fuqaha Syafi’iyyah terkemudian, ialah pentarjihan Imam Nawawi kerana kekuatan dalilnya berdasarkan hadis sahih.

Ini antara contoh menunjukkan kenapa orang awam atau belajar fiqh sekerat TIDAK SESUAI membaca al-Umm, begitu juga al-Majmuk. Kerana dikhuatiri menuduh pengikut Syafie hari ini tidak mengikut fatwa imam mereka. Kekeliruan ini biasanya ditimbulkan oleh mereka yang tidak menguasai disiplin syariah khususnya metodologi ijtihad mazhab Syafie. Mereka ini tidak mahu bertaqlid mazhab, tetapi ingin merujuk fatwa-fatwa Syafi’iyyah dan hasilnya sering melakukan tasykik fatwa mazhab Syafie kepada orang ramai.

Nanti saya berikan pula penerangan kenapa rujukan mazhab Syafie tidak bergantung kepada kitab al-Majmuk, syarahan kepada kitab al-Muhazzab (Imam al-Shirazi).

Ini antara subbab yang dibincangkan dalam buku MEMAHAMI PROSES ISTINBAT HUKUM SYARAK EDISI KEMASKINI. Dapatkan bacaan lanjut untuk memahami disiplin pengajian syariah sebenar.

Kredit : Sebahagian subtajuk ini diadaptasi daripada penulisan sahabat saya al-Fadhil Ust Syed Shahrizan Ben Mohamed.

17/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Baiki Cara Solat kita … [ 10 Kesilapan Biasa Sering Dilakukan Khas Buat Perempuan].

Image result for Solat muslimah

Baru saja lepas mendengar ceramah Ustazah Hjh Siti Khadijah Din,sebentar tadi. Rasa terlalu bernilai ilmu yg dicurahkan beliau, rugi kalau tak dikongsi bersama. Topik adalah mengenai adab2 solat. Setelah mengikuti kuliah beliau (2 minggu sekali) selama beberapa bulan yg lepas, baru kini timbul kesedaran betapa solat yg saya dirikan terlalu rendah kualitinya. Bagaimana bisa solat berkenaan diterima Allah…umur dah lanjut macam ni pun solat masih di peringkat mediocre, itu pun kalau boleh di kategorikan begitu.

Secara ringkasnya, sebelum memulakan solat, penceramah mencadangkan kita mengambil 2 minit untuk “menyediakan diri ” sebelum menghadap Yg Esa;

Dua perkara yg elok dilakukan sebelum berniat utk solat…sewaktu kita berdiri tegak sebelum lafaz niat:

Minit Pertama –
Membangkitkan rasa KEHAMBAAN dlm diri kita. Kenangkan kembali dosa2 kita, betapa kerdil dan hinanya kita, seolah2 tak layak untuk diberi peluang menghadap yang Esa. Pendek kata, kutuk diri sendiri dan menyesal lah.

Minit Kedua –
Membangkitkan rasa BERTUHAN. Betapa kita diciptakan oleh yg Esa utk beribadat kepadaNya. Kenangkan betapa bersyukurnya kita dijadikan sbg seorg Islam, mempunyai Tuhan yg begitu menyayangi hamba2Nya yg hina ini lebih daripada seorg ibu menyayangi anaknya.

Setelah dilakukan kedua2 perkara ni, barulah kita niat solat dan mengangkat takbir. Berniatlah dlm keadaan berdiri tegak, bukan sambil membetul2kan kain sembahyang, telekung dan sebagainya. Fokus.
Setelah bertakbir, penceramah menunjukkan pula cara2 solat yg betul,
penuh adab dan sopan, sesuai dgn keperibadian kita sebagai wanita dan selayak2nya adab untuk menghadap Tuhan.

1) Mengangkat takbir – ada 3 cara mengangkat takbir

i. Dgn meletakkan kedua2 ibu jari di bawah cuping telinga

ii. Dgn meletakkan kedua2 jari telunjuk di bawah cuping telinga

iii. Mengangkat kedua2 tangan sehingga ke paras dada (bukan telinga).

Perlu diingatkan, kedua2 lengan hendaklah dirapatkan ke badan.
Menurut penceramah, syaitan2 yg berupa kambing hitam
gemar bergayut2 dicelah lengan (bawah ketiak) utk mengganggu solat kita,
oleh itu sekiranya kedua2 lengan dirapatkan, tiada ruang utk mereka.

2) Qiyyam – cara qiyyam yg betul ialah memposisikan tgn kiri ke atas sikit
dari pusat (bukan menutup pusat) sambil ibu jari dihalakan ke atas, seolah2
menyentuh ulu hati. Tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri agak2
selesa. Pastikan kedua2 lengan adalah rapat mendekati badan.

3) Rukuk – peralihan dari posisi qiyyam kepada rukuk dilakukan dgn penuh tertib dan sopan. Kedua2 tangan melurut peha dgn perlahan dan berhenti di atas lutut.Pastikan badan kita di dlm posisi sudut tepat (90 darjah). Siku jugadirapatkan ke badan dan sudut tepat.

4) ‘Iktidal – tegakkan badan semasa membaca “Sami Allahuliman hamidah..”; dan mengangkat tangan posisi takbir ketika membaca “…rabbanaa lakal hamdu”

5) Sujud – sujud dari segi istilah ialah “penyerahan diri yang tertinggi”.
Tertib sujud ialah dengan meletakkan kedua2 lutut ke lantai, baru diikuti tapak tangan dan seterusnya dahi. Kedua2 tangan dirapatkan di bhgn bawah sedikit dari ibu jari, di mana ada sedikit ruang terbuka di antara kedua2 tangan dan di situlah dahi diletakkan. Jgn sujud terlalu jauh ke hadapan kerana dikhuatiri akan melebihi lebih dari anggota sujud yg 7 iaitu dahi, kedua tapak tangan, kedua lutut and kedua belah kaki (setakat jari shj). Ibu jari kaki dilentur sedikit agar menghala ke kiblat.

6) Duduk antara 2 sujud – ada 2 cara :

i. Papan punggung diletakkan di atas kedua2 kaki

ii. Papan punggung lebih diberatkan atas kaki kiri ,dan kaki kanan dilentur agar ibu jari menghadap kiblat.

7) Bangun selepas sujud – duduk sebentar sebelum bangun, bukan dlm keadaan bangun menungging. Sekiranya menghadapi kesulitan utk bangun, gunalah tgn kanan utk membantu kita bangun atau kedua2 tangan.

8) Tahiyyat – mengangkat telunjuk pada ketika menyebut “…illallahh. ..”;
(semasa membaca “laa ilaa ha ILLALLAH”). Jari telunjuk itu jangan diturunkan sehingga memberi salam.

9) Salam – tidak perlu ditundukkan muka sebelum memberi salam. Menoleh sejauh mungkin sehingga 180 darjah ke belakang kerana malaikat ramai di sekeliling kita. Begitu juga ketika menoleh ke kiri. Tidak salah jika bahu dialihkan sedikit bagi membolehkan kita menoleh sehingga 180 darjah. Semasa menolehke kanan, alihkan sedikit bahu kiri dan sebaliknya.

10) Berdoa sesudah solat – seelok2 duduk ialah dgn melapikkan papan punggung dgn kedua2 kaki. Tgn diangkat separas dada dan berdoalah dlm keadaan tunduk sedikit kerana sekiranya kita berdoa dgn tgn yg tinggi dan mendongak ke langit, itu melambangkan sifat bongkak. Ingatlah, kita sedang menghadap yg Esa.

Seterusnya sebelum selesai ceramah, Ustazah sempat mengingatkan
para hadirin bahawa kain yg digunakan utk solat juga perlu menepati ciri2 yg tertentu. Antaranya:-

1) Tidak jarang.

Rata2 kain telekung masa kini adalah jarang. Sekiranya kita memakai kain yg jarang dan dapat dilihat tengkuk dan warna kulit, maka solat kita
tidak sah. Seelok2nya carilah kain telekung yg tidak jarang (antara caranya ialah dgn menggunakan lapis kain ataupun, pakailah anak telekung atau tudung labuh di dalam dan pastikan sewaktu di rumah, apabila kita solat cuma dgn berbaju sleeveless di dlm telekung, pastikan bahu dan tangan tidak kelihatan warna kulit jika diamati dari luar telekung.

2) Kadang2 sewaktu musafir, ada muslimah yg malas membawa kain solat, sekadar membawa telekung sahaja (tak payah org lain, saya pun begini). Apabila tiba waktu solat, cuma kain di badan sahaja digunakan dan bagi menutupi kaki, kita memakai stokin. Cara ini memang tidak salah, tapi pastikan stokin yg dipakai tidak jarang.

Ingatlah sewaktu kita sujud, kain stokin itu akan menegang (stretch) dan manalah tahu, terdedah aurat kita ketika itu lalu tidak sahlah solat. Sebaik2nya pakai stokin yg tebal (Ustazah mencadangkan stokin yg lazim dipakai ketika bersukan) ataupun jika tiada, pakai 2 lapis.

3) Ada kain telekung yg indah bersulam dan berkerawang.

Ada yg berlubang2 sehingga di belakang telekung. Adakalanya, bagi mereka
yg rambut panjang, jika tidak ditutup betul2 dgn serkup/anak telekung,
rambut2 ini akan terkeluar2 di celah2 kerawang telekung. Oleh itu, berhati2lah.

Sama2lah kita berusaha memperbaiki solat kita kerana ia adalah tiang
agama. Pertama sekali yg akan dihisab di akhirat kelak ialah solat
kita. Solat yg baik akan melahirkan peribadi yg baik. Saya akui, terasa
agak berat.

Pengalaman saya, oleh kerana telekung saya agak jarang, saya kini
memakai tudung labuh di dlm telekung setiap kali solat sambil berazam
utk membeli telekung yg lebih baik kualitinya. Walaupun kadang2 terasa panas ketika solat saya gagahkan juga. Yg penting, saya mencuba seboleh2nya untuk mendapatkan solat yg diterima Allah, walaupun dari segi khusyuk solat, saya masih merangkak. Yg penting, kita kena ingat,inilah sebahagian persediaan kita utk akhirat, jadi biarlah berbaloi.

Jangan pula nanti kita dihisab pula kerana solat yg tak sempurna. Biar susah sekarang, jgn susah di alam baqa’.

Sekian saja yg dapat saya kongsi bersama. Sekira2 ada salah dan silap, harap dimaafkan. Segala yg baik itu datang dari Allah s.w.t. dan yg buruk itu dari saya.

Wassalam.

Dari Abdullah bin ‘Amr r.a., Rasulullah S.A.W. bersabda, Sampaikanlah pesanKu
biarpun satu ayat.

Sumber: E

17/03/2019 Posted by | Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | Leave a comment

Kedudukan Kanak-kanak Dalam Saf

Soalan :

Sekarang ni di masjid/surau timbul isu berkaitan kedudukan anak-anak dalam saf ketika solat berjemaah.

Boleh bantu beri pandangan?

Jawapan Oleh Ustaz Mohd Khafidz

بسم الله وبه نستعين

1. Asalnya masyarakat telah pun sedia mengikut apa yang telah diajarkan oleh para ulama kita mazhab Syafii, mengikut sepertimana yang telah dihuraikan dalam kitab-kitab besar fiqh Syafii. Namun, lama kelamaan apabila setengah kita makin jauh dari mendalami ilmu & mempelajari kitab-kitab besar mazhab Syafii ini, kita mula keliru apabila ada golongan yang datang kemudian gemar mengatakan “ini sunnah”, “ini bidaah”. Sedangkan di dalam kitab2 itu telah pun diterangkan secara terperinci hukum hakamnya, mana yang sah, mana yang batal, mana yang sunnah, mana yang makruh, mana yang harus, mana yang afdhal/terlebih sempurna, mana yang syarat dan bukan syarat dan sebagainya.

2. Perbincangan dalam kitab-kitab fiqh sebenarnya lebih harmoni dan halus, tidak sekadar “ini sunnah”, “ini bidaah”. Golongan tersebut sebenarnya keliru & mengelirukan. Lebih merumitkan apabila mereka mengambil fatwa itu daripada ulama negara lain yang boleh menerima pandangan itu menurut usul mazhab mereka barangkali, lalu dibawa ke negara kita yang sudah sedia ada ulamanya yang mengikut usul mazhab sendiri. Barangkali tidak ada apa-apa jika fatwa yang datang dari luar itu sekadar diamal oleh pembawanya, namun yang meresahkan ialah apabila si pembawa itu kurang ilmu lalu menyalah-nyalahkan pandangan mazhab tempatan yang sudah sedia lama diamalkan. Golongan keliru ini hanya tahu menghukum “ini sunnah”, “ini bidaah”.

3. Dalam mazhab Syafii, sunnah kedudukan saf yang sempurna ketika solat berjemaah ialah sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam an-Nawawi (w. 676H) dalam al-Minhaj: “Hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Pernyataan ini umum dan jika ada masalah-masalah yang datang kemudian perlulah dihuraikan sesuai mengikut situasinya. (Dalam setengah kitab seperti Asna al-Matalib oleh Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari (w. 926H) dinyatakan; yang berdiri di belakang imam, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian khunsa, kemudian perempuan)

4. Semua ulama yang mensyarahkan kata-kata tersebut tidak pun menafikannya dengan mengatakan “kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan orang dewasa” dan sebagainya. Boleh rujuk seperti Tuhfah al-Muhtaj oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Hasyiah Qalyubi (w. 1069H) & Umairah (w. 957H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan lain-lain.

.5. Dalil mereka adalah hadis sahih:

لِيَلِيَنِّي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ. (أخرجه مسلم وأبو داود والنسائي في الكبرى وابن ماجه)

“Hendaklah berdiri di belakangku dari kalangan kamu orang-orang yang matang/baligh dan faham/berakal, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka, kemudian orang-orang yang hampir dengan mereka”.

6. Bahkan ada diriwayatkan hadis dengan sanad hasan yang menyebut secara jelas susunan saf tersebut iaitu:

عَن أبي مَالك الْأَشْعَرِيّ قَالَ: أَلَا أُحَدِّثُكُمْ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَصَفَّ الرِّجَالَ وَصَفَّ خَلْفَهُمُ الْغِلْمَانَ، ثُمَّ صَلَّى بِهِمْ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَاد حسن، قاله النووي في خلاصة الأحكام)

Daripada Abu Malik al-Asya‘ri RA katanya: “Mahukah aku khabarkan kamu tentang solat Nabi SAW, iaitu baginda mendirikan solat dan menyusun saf kaum lelaki dan menyusun di belakang mereka saf kanak-kanak, kemudian baru baginda mengimami mereka”. Dalam versi lain:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلِيهِ فِي الصَّلَاةِ الرِّجَالُ، ثُمَّ الصِّبْيَانُ، ثُمَّ النِّسَاءُ. (رَوَاه الْبَيْهَقِيُّ في السنن الكبرى وضَعَّفَهُ)

“Telah berdiri di belakang Rasulullah SAW di dalam solat, kaum lelaki, kemudian kanak-kanak, kemudian perempuan”. Sanad hadis ini daif, namun dikuatkan dengan hadis-hadis di atas.

7. Hadis-hadis ini tidaklah menunjukkan hukum wajib dan hanya menunjukkan kesempurnaan serta yang afdhal. Jika ada kanak-kanak yang berdiri di dalam saf orang dewasa dan tidak bermain-main, tidaklah perlu dihalang dan ditegah.

8. Kata Syeikhul Islam Zakariya al-Ansari dalam Asna al-Matalib:

“Kata al-Azra‘i: Dikemudiankan saf kanak-kamak daripada kaum lelaki adalah jika sudah tidak muat saf kaum lelaki. Jika tidak (yakni masih ada ruang), dipenuhkan saf itu dengan kanak-kanak, tiada masalah. Semuanya ini adalah mustahab, bukannya syarat. Sekiranya mereka menyalahi (susunan ini), sah solat mereka itu berserta makruh.” Katanya lagi: “Dan jangan ditukarkan kanak2 yang hadir dahulu untuk kaum lelaki yang hadir kemudian…”.

Ini kerana mereka lebih berhak berdiri di situ, walaupun pada saf pertama, sepertimana yang disebut dlm al-Minhaj al-Qawim, Mughni al-Muhtaj dan lain-lain.

9. Disebut dalam I’anah at-Talibin oleh Syekh Abu Bakr Syata (w. 1310H):

“Disunatkan jika ada berbagai-bagai peringkat makmum, hendaklah berdiri di belakang imam, kaum lelaki, walaupun hamba sahaya, kemudian sesudahnya – jika telah penuh saf mereka – kanak-kanak, kemudian sesudah mereka– walaupun tidak penuh saf mereka – kaum perempuan”. Kata beliau lagi: “Apabila susunan tersebut disalahi, ianya makruh”.

Rujuk juga perinciannya di dalam Tuhfah al-Muhtaj & al-Minhaj al-Qawim oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami (w. 974H), Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syirbini (w. 977H), Nihayah al-Muhtaj oleh Imam ar-Ramli (w. 1004H), dan laun-lain.

10. Pandangan yang mengatakan kanak-kanak tidak perlu dipisahkan dengan org dewasa dengan erti kata diselang selikan atau setiap kanak-kanak mesti berdiri di sebelah bapanya adalah pandangan yang janggal dan mengelirukan. Lebih parah lagi didakwa itu adalah sunnah dan selainnya adalah bidaah! Kita tidak tahu ada ulama-ulamak muktabar terdahulu yang mengeluarkan fatwa sedemikian.

Wallahu a’lam.

Sumber :

17/03/2019 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

   

%d bloggers like this: