Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

TRADISI CIUM TANGAN DAN KAKI

Dua orang Yahudi bertanya kepada Rasulullah SAW. tentang 9 Ayat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW. menjelaskan dengan Rinci tanpa kurang Satu Ayatpun.
Kemudian Kedua Orang Yahudi tersebut mencium Tangan dan Kaki Baginda SAW.
(HR. An Nasa’i, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Dari Sahabat Nabi Ka’ab bin Malik, bahwa Dia berkata :
“Ketika turun Ayat tentang (diterimanya) Taubatku, Aku mendatangi Rasulullah, dan mencium Tangan dan Lututnya”.
(HR. Abu Asy Syaikh dan Ibnu Mardawaih)

Dari Sahabat Nabi Buraidah RA, Dia berkata :
“Sesungguhnya seorang Laki-laki telah Datang kepada Rasulullah SAW., lalu mencium Tangan dan Kaki Beliau SAW”.
(HR. Al-Hakim dalam Kitab al-Mustadrak, dan men-shahih-kannya)

Dari Imam as-Saddi berkenaan dengan Firman Allah SWT :
“Wahai Orang-orang yang Beriman, janganlah Kamu bertanya (kepada Nabi SAW) tentang Perkara-perkara yang jika diterangkan, akan menyusahkan Kamu”.
(QS. Al Maidah : 101)

Setelah mendengar Ayat ini, Sayidina Umar bin Khaththab RA. Bangun menuju Nabi SAW, dan mencium Kaki Baginda Rasulullah SAW.
(HR. Ibnu Jarir Ath Thabari dan Ibnu Hatim)

Di dalam Kitab Sharim al-Maslul, Ibnu Taimiyyah berkata :
“Sesungguhnya seorang Lelaki menyaksikan Mukjizat sebatang Pohon yang datang kepada Rasulullah SAW., kemudian kembali ketempat semula.
Lelaki itu berkata sambil Berdiri, kemudian mencium Kepala, Tangan, dan Kaki Rasulullah SAW.”
(HR. Ibnu Al ‘Arabi dan Al Bazzar)

Menurut Riwayat Ibnu al-Arabi :
“Lelaki tersebut meminta Izin kepada Nabi SAW. untuk mencium Beliau.
Nabi SAW pun mengizinkan.
Maka Lelaki tersebut kemudian mencium Kepala dan Kaki Baginda SAW”.

Disamping Takdzim kepada Nabi, dengan mencium Tangan dan Kaki Nabi, diantara Sesama Sahabat Nabi juga melakukan Hal yang sama.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Kitab al-Adab al-Mufrad (Hadist Nomor 976) dengan Sanad Shahih, bahwa Sahabat Ali bin Abi Thalib mencium Tangan dan Kaki Abbas bin Abdul Muththalib.
Padahal Sayidina Ali juga termasuk Sahabat yang Mulia, karena Sayidina Abbas disamping Pamannya sendiri, juga Beliau termasuk Orang yang Shaleh.

Dari Sahabat Nabi, yaitu Shuhaib RA., Dia berkata :
“Saya melihat Ali bin Abi Thalib mencium Tangan dan Kaki Abbas bin Abdul Muththalib”.
(HR. Bukhari)

Dari Imam Ibnu Jad’an, Dia berkata kepada Sahabat Nabi Anas bin Malik :
“Apakah Anda pernah memegang Nabi dengan Tangan ini?”.
Anas berkata :
“Iya”.
Lalu Imam Ibnu Jad’an mencium Tangan Anas tersebut.
(HR. Bukhari dan Ahmad)

Masih ada Riwayat lain tentang Sikap Ta’dzim Para Sahabat Nabi kepada Sahabat yang lain, dan Tradisi ini diwariskan secara Terus menerus, sampai kepada Zaman Kita Sekarang.

Diriwayatkan dengan Sanad yang Shahih, bahwa Imam Muslim mencium Tangan Imam Bukhari.
Imam Muslim berkata :
“Seandainya Anda mengizinkan, pasti Saya akan Cium Kaki Anda”.

Inilah Jawaban Lembut Habib Umar bin Hafiz pada Seorang yang anggap Syirik Cium Tangan Guru.

Hal ini karena ada seorang pemuda bertanya kepada Habib Umar: “Kenapa engkau membiarkan murid-muridmu menundukkan badannya dan mencium tanganmu berbolak balik?”

Pemuda itu melanjutkan, “Tidak tahukah engkau itu perbuatan yang syirik? Engkau seolah-olah membuat murid-muridmu menyembah sesama mahkluk? Tidakkah hanya Allah lah yang layak disembah? Tunduk atau menunduk kepada makhluk adalah perbuatan syirik.”

Habib Umar hanya tersenyum mendengar pertanyaan dan ucapan dari seorang pemuda tersebut. Lantas Habib Umar memanggil pemuda tadi dan mendekatinya….Habib Umar mengambil pena yang ada di dalam saku baju pemuda tersebut kemudian menjatuhkannya ke bawah.

Ketika si pemuda ini menundukkan kepala dan badannya ke bawah guna mengambil pena tersebut, Habib Umar menahannya dan berkata:

“Engkau tidak boleh menunduk ke bawah menyembah pena, yang kita sembah hanyalah Allah SWT,” jawab Habib Umar.

“Tidak, aku hanya ingin mengambil penaku di bawah.”

Lantas Habib Umar tersenyum dan berkata:

“”Begitu pula anak-anak muridku. Mereka hanya bersalaman dengan menundukkan badan bukan karena ingin menyembahku. Namun mereka cuma ingin menghormatiku sebagai guru mereka, meskipun aku tidak meminta mereka seperti itu.”

Jawaban singkat itu membuat lelaki tersebut puas dan mengerti makna yang sebenarnya. Sungguh indah jawaban untuk seseorang yang agak kurang mengerti makna penghormatan yang baginya sama dengan menyembah.

Diceritakan dari Al-habib Umar bin Agil Al-Hamid.

Sumber.

05/02/2019 Posted by | Hadis, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | Leave a comment

   

%d bloggers like this: