Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

SUKAKAH KAMU DIKENCING OLEH SYAITAN?

Solat yang paling afdal setelah solat wajib adalah solat malam yakni solat tahajud ataupun solat yang mana dilakukan pada waktu malam hari. Syaitan mengikatkan simpul di belakang badan seseorang jika ia tidak bangun mengerjakan solat malam.
Diriwayatkan daripada Saidina Abu Hurairah Radhiyallahu’Anhu. Rasulullah ﷺ bersabda “Pada saat kamu tidur, syaitan mengikatkan 3 simpul pada bahagian belakang kepalamu.” Pada setiap simpul itu dibacakan kata-kata berikut yakni mantera/jampi syaitan. Macam mana diikatkan? Dengan apa diikatkan?

Bomoh itu tukang sihir itu bilamana ingin melakukan sihir ia akan meletakkan sesuatu dan diikat. Lebih kurang itu syaitan jampinya. Syaitan mengikat sesuatu yang ikatan itu adalah simpul kepada sesuatu yang diikat akan menjadi ketat yang di dalam tak boleh keluar dan yang di luar tak boleh masuk.

Diikatkan di belakang kepala supaya otak berfikir malam masih panjang maka diikat. Kalau malam panjang tidurnya lagi panjang juga. Tak cukup 1 ikatan di bagi lagi 2 ikatan lagi yang mana setiap ikatan itu dikatakan panjang lagi waktu malam, masih panjang diikat.

Itu adalah bisikan syaitan yang mana perkara ikatan syaitan adalah simbolik kepada usaha syaitan menganggu bisikan melalui belakang kepala yang mana merupakan tempat, bahagian penting manusia.

Kata Baginda Rasulullah ﷺ “Syaitan mengikatkan 3 simpul di bahagian belakang kepala. Di setiap simpul dibacakan malam masih panjang maka teruskanlah tidur kamu.” Yakni bilamana kita nak bangkit, kita terasa lamanya nak masuk waktu subuh jadi kita baring balik sehingga kita tak sedarkan diri dan kita bangkit waktu dah azan maka dah terlepas untuk solat malam.

Baginda Rasulullah ﷺ
mengajar kita cara untuk membuka 3 ikatan sampul syaitan ini.

1)Apabila kamu bangun mengingati Allah dan membaca doa bangun tidur maka simpul pertama lepas.

2)Apabila orang itu berwudhuk maka simpul kedua lepas.

3)Apabila dia menunaikan solat maka simpul yang ketiga lepas.

Dan pada pagi harinya waktu subuh dia akan bangun dengan semangat dan suasana hati yang tenang. Sebaliknya sekiranya tidak melakukan begitu yakni tidak bangkit mengingati Allah maka ikatan itu kekal
berada di belakang kepalanya. Ianya akan bangun dalam suasana hati yang buruk dan juga malas.

(Allah!! Kita ini biasa bangun tidur handphone yang kita ingat dulu yang kita cari dulu, tidak berwudhuk, selalu lupa nak bersiwak dan tidak menyegerakan solat. Malas dan susah nak ingat Allah, malas dan suka nak tangguh-tangguh solat, malas nak berzikir, malas nak berselawat dan melakukan amal ketaatan kepada Allah.)

Dikatakan orang yang terlepas bangun subuh sementara dia mampu untuk bangun MAAF CAKAP!!! SYAITAN TELAH KENCING PADANYA!! Kalau sehari tak apa tapi kalau setiap hari bagaimana? Jangan jadikan diri kita seperti tandas bagi syaitan, dikencing oleh syaitan.

Sudahlah taat dengan bisikan syaitan. Selepas itu mendapat penghinan pula dikencing oleh syaitan. Alangkah hinanya orang itu di mata syaitan sendiri. Apatah lagi di sisi Allah سبحانه وتعالى.

Ketahuilah yang PALING BERAT bagi ORANG MUNAFIK itu adalah MENUNAIKAN SOLAT ISYAK dan SUBUH. Sesungguhnya orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka.

Nauzubillah min zalik!!! Semoga kita semua tidak tergolong dalam golongan orang munafik yang berat menunaikan solat fardhu isyak dan subuh dan moga-moga kita tidak akan terus membiarkan diri kita lalai dengan bisikan syaitan, kerap dikencing oleh syaitan.

#MutiaraKata[HABIB ALI ZAENAL ABIDIN BIN ABU BAKAR AL-HAMID HAFIDZOHULLAH]

Facebook : The Capal
Instagram : The Capal

5 July 2017 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

TAHUKAH ANDA: Surah- Surah Al-Qur’an Turun Ke Bumi Tanpa Nama, Jadi Siapakah Yang Memberi Nama Kepada Surah- Surah Dalam Al-Qur’an??? 

Pertanyaan:
Siapakah yang memeberi nama surat dalam al-Quran? Nabi ataukah sahabat?

Jawapan:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat beberapa hadis shahih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nama beberapa surat al-Quran, diantaranya: al-Fatihah, al-Baqarah, Ali Imran, dan al-Kahfi.

Sementara itu, ulama berbeda pendapat, apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nama seluruh surat dalam al-Quran? Ataukah ada sebagian surat yang pemberian namanya berdasarkan ijtihad sahabat? Ada dua pendapat ulama dalam masalah ini,

Pertama, semua surat dalam al-Quran, yang memberi nama adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Diantaranya, Imam Ibnu Jarir at-Thabari (w. 310 H), beliau mengatakan,

لِسوَر القرآن أسماءٌ سمّاها بها رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Semua surat-surat dalam al-Quran memiliki nama yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran, 1/100)

Demikian pula pendapat Syaikh Sulaiman al-Bajirami (w. 1221 H). Beliau mengatakan,

أسماء السور بتوقيف من النبيّ صلى الله عليه وسلم ؛ لأن أسماء السور وترتيبها وترتيب الآيات كل من هذه الثلاثة بتوقيف من النبيّ صلى الله عليه وسلم ، أخبره جبريل عليه السلام بأنها هكذا في اللوح المحفوظ

Nama-nama surat, berdasarkan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena nama-nama surat, urutan surat, dan urutan ayat-ayat, tiga hal ini, semuanya berdasarkan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas bimbingan Jibril ’alaihis salam bahwa sistematika al-Quran di Lauhul Mahfudz adalah seperti itu. (Tuhfah al-Habib ’ala Syarh al-Khatib, 4/222).

Bahkan as-Suyuthi (w. 911 H) menegaskan, bahwa semua penamaan surat dalam al-Quran telah ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan semuanya berdasarkan hadis shahih. Beliau mengatakan,

وقد ثبتت جميع أسماء السور بالتوقيف من الأحاديث والآثار ، ولولا خشية الإطالة لبينت ذلك

”Terdapat hadis dan atsar yang shahih bahwa semua nama surat dalam al-Quran berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andaikan tidak khawatir berpanjang lebar, saya bisa sebutkan semua hadis itu.” (al-Itqan fi Ulum al-Quran, 1/186).

Pendapat Kedua, tidak semua nama surat dalam al-Quran diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada sebagian surat yang namanya diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ada sebagian nama yang itu dari hasil ijtihad para sahabat.

Dalam Fatwa Lajnah Daimah dinyatakan,
لا نعلم نصا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم يدل على تسمية السور جميعها ، ولكن ورد في بعض الأحاديث الصحيحة تسمية بعضها من النبي صلى الله عليه وسلم ، كالبقرة ، وآل عمران ، أما بقية السور فالأظهر أن تسميتها وقعت من الصحابة رضي الله عنهم

”Kami tidak mengetahui adanya dalil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa beliau memberi nama seluruh surat. Hanya saja, terdapat beberapa hadis shahih yang menyebutkan nama beberapa surat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti al-Baqarah, atau Ali Imran. Sementara nama surat-surat lainnya, yang lebih dekat, itu dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum.” (Fatawa Lajnah Daimah, 4/16).

Pendapat kedua inilah yang dinilai kuat oleh Dr. Munirah ad-Dausiri dalam risalah beliau yang berjudul Asma Suwar al-Quran al-Karim wa Fadhailuha (Nama-nama surat dalam al-Quran dan keutamaannya). (Fatwa Islam, no. 131664)

Allahu a’lam

(Sumber)

5 July 2017 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

12 GOLONGAN MANUSIA YANG DIDOAKAN MALAIKAT

1. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam solat berjamaah
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan.”
(Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra’ bin ‘Azib)
2. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci
” Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.”
(HR Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar)
3. Orang yang sedang duduk menunggu waktu solat
” Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu solat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’.”
(HR Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim 469).
4. Orang yang duduk di tempat sholatnya setelah melakukan solat
“Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat solat dimana ia melakukan solat, selama ia belum batal wudhunya,(para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.’”
(HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106)
5. Orang yang menyambung shaf solat berjamaah (tidak membiarkan kosong di dalam shaf)
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf.” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah)
6. Para malaikat mengucapkan ‘aamin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah
“Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu
bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.”
(HR Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 782)
7. Orang-orang yang berinfak
” Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit (bakhil).’”
(HR Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari1442 dan Shahih Muslim 1010)
8. Orang-orang yang melakukan sholat shubuh dan ‘asar secara berjama’ah
” Para malaikat berkumpul pada saat solat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu solat ‘asar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga solat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan solat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan solat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.’”
(HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 9140)
9. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikatyang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’”
(HR Imam Muslim dari Ummud Darda’, Shahih Muslim 2733)
10. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain
” Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.”
(HR Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily)
11. Orang yang sedang makan sahur
” Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa) kepada orang-orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah”. (HR Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar)
12. Orang yang sedang menjenguk orang sakit
” Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70,000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.”
(HR Imam Ahmad dari ‘Ali bin Abi Thalib, Al Musnad 754

5 July 2017 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

ASY’ARIYYAH SESAT ?


Ustadz saya banyak baca artikel yang mengatakan bahwa aqidah asyariyyah itu sesat, banyak ulama yang menyatakan itu ? Yang benar aqidah yang lurus itu aqidah salaf yang dijelaskan oleh ulama seperti Syekh Muhammad bin abdul wahab, benarkah demikian ?


Jawaban :

Asyariyyah adalah aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Aqidah yang dipegang oleh mayoritas muslimin dari sejak generasi salaf hingga sekarang. Deretan nama ulama yang hari ini ilmunya kita rujuk dan para pejuang Islam yang jasanya kita nikmati sampai hari ini sebagian besarnya beraqidah ahlussunnah dengan mazhab asy’ariyyah.

Hari ini lemparkanlah pandangan kesemua penjuru bumi Allah, lihat madrasah dan lembaga pendidikan umat, maka kita akan sepakat disana aqidah ahlussunnah diajarkan lewat metode mazhab Asy’ariyyah.

Adanya ulama yang mengkritik mazhab Asy’ari dan mazhab ahlusunnah lainnya itu lumrah adanya. Dalam tradisini kelimuan kita, mengkritik dan dikritik itu hal biasa dikalangan ulama. Tidak adasatupun ulama termasuk mazhab fiqih maupun aqidah yang selamat dari kritikan. Karena tidak ada satupun manusia yang ma’shum dan tidak ada yang sempurna kecuali wahyu ilahi.
Selama itu interpretasi manusia, baik dalam ilmu fiqih, tafsir ayat, syarah hadits dan termasuk furu’ Aqidah maka koreksi dan kritisi pendapat itu sah-sah saja. 

Namun, bila kritik sudah tidak sehat dengan main vonis sesat, asyariyyah disesatkan itu berarti sama dengan mengatakan mayoritas kaum muslimin bahkan jumhur ulama adalah ahli neraka, ini jelas kekurangajaran yang nyata.

Maka ini sudah wajib diluruskan didebat dan dibantah. Lewat tulisan sederhana ini kami akan menjawab fitnahan keji yang sering dialamatkan ke mazhab aqidah mayoritas muslimin ini, insyaallah.

Apakah asy’ariyyah saja yang dikritik ?

Jika kritikan sama dengan kesesatan, maka sudah dapat dipastikan mazhab Wahabiyyah akan lebih pantas divonis sesat. Karena jumlah kritikan ulama kepada mazhab aqidah yang satu ini bukan hanya satu dua kitab, tiga empat ulama namun ratusan bahkan ribuan.

Ada deretan kitab ulama yang mendebat, mengkritik dan membantah balik mazhab Wahabiyyah baik yang disusun oleh Syaikh Muhammad bin abdul Wahab maupun versi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahumallah.

Namun demikian, kami selalu menghargai perbedaan furu’, sehingga dalam pendapat resmi ulama-ulama kami, mereka tidaklah disesatkan. Bahkan pendapat dan fatwa syaikhul Islam dinukil dalam kitab-kitab fiqih mazhab yang empat yang notabene asy’ariyyah tulen.

Karena dalam adab yang diajarkan oleh guru-guru kami, ulama ribut itu biasa, mereka bedebat dengan ilmu dan adab. Yang awam jangan ikut-ikutan, karena kalau kita yang faqir ilmu sok ikut ribut, selain ilmunya nggak ada, adabnya juga nggak keikut. Hasilnya hanya saling sikut dan main vonis sesat. Na’udzubullah.

Berikut sebagian saja kitab dan tulisan ulama yang mendebat pemahaman mazhab Wahabiyyah. Ingat ini kitab, bukan artikel diinternet :

*KITAB ULAMA YANG MENGCOUNTER WAHABIYYAH*

1. Ithâf al-Kirâm Fî Jawâz at-Tawassul Wa al-Istighâtsah Bi al-Anbiyâ’ al-Kirâm karya asy-Syaikh Muhammad asy-Syadi.
2. Ithâf Ahl az-Zamân Bi Akhbâr Mulûk Tûnus Wa ‘Ahd al-Amân karya asy-Syaikh Ahmad ibn Abi adl-Dliyaf.
3. Itsbât al-Wâsithah al-Latî Nafathâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandarani.
4. Ajwibah Fî Zayârah al-Qubûr karya asy-Syaikh al-Idrus. Tulisan manuskripnya berada di al-Khizanah al-‘Ammah di Rabath pada nomor 4/2577.
5. al-Ajwibah an-Najdiyyah ‘An al-As-ilah an-Najdiyyah karya Abu al-Aun Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad ibn Salim an-Nabulsi al-Hanbal.
6. al-Ajwibah an-Nu’mâniyyah ‘An al-As-ilah al-Hindiyyah Fî al-‘Aqâ-id karya Nu’man ibn Mahmud Khairuddin yang dikenal dengan sebutan Ibn al-Alusi al-Baghdadi al-Hanafi.
7. Ihyâ’ al-Maqbûr Min Adillah Istihbâb Binâ’ al-Masâjid Wa al-Qubab ‘Alâ al-Qubûr karya al-Imâm al-Hâfizh as-Sayyid Ahmad ibn ash-Shiddiq al-Ghumari.
8. Al-Ishâbah Fî Nushrah al-Khulafâ’ ar-Rasyidîn karya asy-Syaikh Hamdi Juwaijati ad-Damasyqi.
9. al-Ushûl al-Arba’ah Fî Tardîd al-Wahhâbiyyah karya Muhammad Hasan Shahib as-Sarhandi al-Mujaddidi.
10. Izh-hâr al-‘Uqûq Min Man Mana’a at-Tawassul Bi an-Nabiyy Wa al-Walyy ash-Shadûq karya asy-Syaikh al-Musyrifi al-Maliki al-Jaza-iri.
11. al-Aqwâl as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Mudda’i Nushrah as-Sunnah al-Muhammadiyyah disusun oleh Ibrahim Syahatah ash-Shiddiqi.
12. al-Aqwâl al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Atha al-Kasam ad-Damasyqi al-Hanafi.
13. al-Intishâr Li al-Awliyâ’ al-Abrâr karya al-Muhaddits asy-Syaikh Thahir Sunbul al-Hanafi.
14. al-Awrâq al-Baghdâdiyyah Fî al-Jawâbât an-Najdiyyah karya asy-Syaikh Ibrahim ar-Rawi al-Baghdadi ar-Rifa’i.
15. al-Barâ-ah Min al-Ikhtilâf Fî ar-Radd ‘Alâ Ahl asy-Syiqâq Wa an-Nifâq Wa ar-Radd ‘Alâ al-Firqah al-Wahhâbiyyah adl-Dlâllah karya asy-Syaikh Ali Zain al-Abidin as-Sudani.
15. al-Barâhîn as-Sâthi’ah Fî ar-Radd Ba’dl al-Bida’ asy-Syâ’i-ah karya asy-Syaikh Salamah al-Uzami.
16. al-Bashâ-ir Li Munkirî at-Tawassul Bi Ahl al-Maqâbir karya asy-Syaikh Hamdullah ad-Dajwi al-Hanafi al-Hindi.
17. Târîkh al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ayyub Shabri Basya ar Rumi.
18. Tabarruk ash-Shahâbah Bi Âtsâr Rasulillâh karya asy-Syaikh Muhammad Thahir ibn Abdillah al-Kurdi.
19. Tabyîn al-Haqq Wa ash-Shawâb Bi ar-Radd ‘Alâ Atbâ’ Ibn Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Taufiq Sauqiyah ad-Damasyqi.
20. Tajrîd Sayf al-Jihâd Li Mudda’î al-Ijtihâd karya asy-Syaikh Abdullah ibn Abd al-Lathif asy-Syafi’i.
21. Tahdzîr al-Khalaf Min Makhâzî Ad’iyâ’ as-Salaf karya al-Imâm al-Muhaddits asy-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari.
22. at-Tahrîrât ar-Râ-iqah karya asy-Syaikh Muhammad an-Nafilati al-Hanafi, mufti Quds Palestina.
23. Tahrîdl al-Aghbiyâ ‘Alâ al-Istighâtsah Bi al-Anbiyâ Wa al-Awliyâ karya asy-Syaikh Abdullah al-Mayirghini al-Hanafi.
24. At-Tuhfah al-Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman al-Baghdadi al-Hanafi.
25. Tath-hîr al-Fu-âd Min Danas al-I’tiqâd karya asy-Syaikh Muhammad Bakhith al-Muthi’i al-Hanafi.
26. Taqyîd Hawla at-Ta’alluq Wa at-Tawassul Bi al-Anbiyâ Wa ash-Shâlihîn karya asy-Syaikh Ibn Kairan.
27. Taqyîd Hawla Ziyârah al-Auliyâ Wa at-Tawassul Bihim karya Ibn Kairan.
28. Tahakkum al-Muqallidîn Biman Idda’â Tajddîd ad-Dîn karya asy-Syaikh Muhammad ibn Abd ar-Rahman al-Hanbali.
29. at-Tawassul karya asy-Syaikh Muhammad Abd al-Qayyum al-Qadiri al-Hazarawi.
30. at-Tawassul Bi al-Anbiyâ’ Wa ash-Shâlihîn karya asy-Syaikh Abu Hamid ibn Marzuq ad-Damasyqi asy-Syami.
31. at-Taudlîh ‘An Tauhîd al-Khilâq Fî Jawâb Ahl al-‘Irâq ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Abdullah Afandi ar-Rawi.
32. Jalâl al-Haqq Fî Kasyf Ahwâl Asyrâr al-Khalq karya asy-Syaikh Ibrahim Hilmi al-Qadiri al-Iskandari.
33. al-Jawâbât Fî az-Ziyârât karya asy-Syaikh Ibn Abd ar-Razzaq al-Hanbali.
34. Hâsyiyah ash-Shâwî ‘Alâ Tafsîr al-Jalâlain karya asy-Syaikh Ahmad ash-Shawi al-Maliki.
35. al-Hujjah al-Mardliyyah Fî Itsbât al-Wâsithah al-Latî Nafathâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandari.
36. al-Haqâ-iq al-Islâmiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Mazâ’im al-Wahhâbiyyah Bi Adillah al-Kitâb Wa as-Sunnah an-Nabawiyyah karya asy-Syaikh Malik ibn asy-Syaikh Mahmud.
37. al-Haqq al-Mubîn Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyîn karya asy-Syaikh Ahmad Sa’id al-Faruqi as-Sarhandi.
38. al-Haqîqah al-Islâmiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Ghani ibn Shaleh Hamadah.
39. ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.
40. ad-Dalîl al-Kâfi Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbi karya asy-Syaikh Misbah ibn Ahmad Syibqilu al-Bairuti.
41. ar-Râ-’iyyah ash-Shughrâ Fî Dzamm al-Bid’ah Wa Madh as-Sunnah al-Gharrâ’, bait-bait sya’ir karya asy-Syaikh Yusuf ibn Isma’il an-Nabhani al-Bairuti.
42. ar-Rihlah al-Hijâziyyah karya asy-Syaikh Abdullah ibn Audah.Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr karya asy-Syaikh Muhammad Amin.
43. ar-Radd ‘Alâ Ibn ‘Abd al-Wahhâb karya Syaikh al-Islâm Isma’il at-Tamimi al-Maliki.
44. Radd ‘Alâ Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Ahmad al-Mishri al-Ahsa-i.Radd ‘Alâ Ibn Abd al-Wahhâb karya al-‘Allâmah asy-Syaikh Barakat asy-Syafi’i al-Ahmadi al-Makki.
45. ar-Rudûd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya al-Muhaddits asy-Syaikh Shaleh al-Fulani al-Maghribi.
46. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Shaleh al-Kawasy at-Tunisi.
47. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Muhammad Shaleh az-Zamzami asy-Syafi’i.ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ibrahim ibn Abd al-Qadir ath-Tharabulsi ar-Riyahi at-Tunusi al-Maliki.
48. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Muhsin al-Asyikri al-Hanbali.
49. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh al-Makhdum al-Mahdi.
50. Ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi asy-Syafi’i.
51. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya Abu Hafsh Umar al-Mahjub. Karya manuskripnya berada di Dar al-Kutub al-Wathaniyyah Tunisia pada nomor 2513.
53. Ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ibn Kairan.
54. Ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Abdullah al-Qudumi al-Hanbali an-Nabulsi.
55. Risâlah as-Sunniyyîn Fî ar-Radd ‘Alâ al-Mubtadi’în al-Wahhâbiyyîn Wa al-Mustauhibîn karya asy-Syaikh Musthafa al-Karimi ibn Syaikh Ibrahim as-Siyami.
56. Risâlah Fî Ta-yîd Madzhab ash-Shûfiyyah Wa ar-Radd ‘Alâ al-Mu’taridlîn ‘Alayhim karya asy-Syaikh Salamah al-Uzami.
57. Risâlah Fî Tasharruf al-Auliyâ’ karya asy-Syaikh Yusuf ad-Dajwa.Risâlah Fî Jawâz at-Tawassul Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya al-‘Allâmah asy-Syaikh Mahdi al-Wazinani.
58. Risâlah Fî Jawâz al-Istigâtsah Wa at-Tawassul karya asy-Syaikh as-Sayyid Yusuf al-Bithah al-Ahdal az-Zabidi.
59. Risâlah Fî Hukm at-Tawassul Bi al-Anbiyâ’ Wa al-Awliyâ’ karya asy-Syaikh Muhammad Hasanain Makhluf al-Adawi al-Mishri.
60. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Qasim Abu al-Fadl al-Mahjub al-Maliki.
61. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Musthafa ibn asy-Syaikh Ahmad ibn Hasan asy-Syathi ad-Damasyqi al-Hanbali.

Sumber

5 July 2017 Posted by | Aqidah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

   

%d bloggers like this: