Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB : PENGASAS AJARAN WAHHABI – SESAT LAGI MENYESATKAN…

Oleh Ustaz Yunan A Samad

FAKTA RINGKAS LAGI BENAR :
– Muhammad bin Abdul Wahhab 1206H merupakan pengasas ajaran Al-Wahhabiyyah yang mendorong pengikutnya mengkafirkan umat Islam dan menghalalkan darah mereka.

– Saudara kandungnya Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab sering memberi peringatan kepada umat Islam dizamannya agar tidak mengikut ajaran baru bawaan Muhammad bin Abdul Wahhab kerana ajaran itu jelas menghina ulama Islam serta mengkafirkan umat Islam. (Sila rujuk 2 kitab karangan Syeikh Sulaiman tersebut : “ Fashlul Khitob Fir Roddi ‘Ala Muhammad bin Abdul Wahhab” dan ” Sawaiqul Ilahiyah Fi Roddi ‘Ala Wahhabiyah”).

– Bapanya juga iaitu Abdul Wahhab turut memarahi anaknya Muhammad kerana enggan mempelajari ilmu islam dan beliau menyatakan kepada para ulama : “Kamu semua akan melihat keburukan yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahhab ini”. ( Sebagai bukti sila rujuk kitab “As-Suhubul Wabilah ‘Ala Dhoroihil Hanabilah” cetakan Maktabah Imam Ahmad m/s 275)

!!! – Sejarah membuktikan Wahhabi telah membunuh keturunan Rasulullah serta menyembelih kanak-kanak kecil di pangkuan ibunya ketikamana mereka mula-mula memasuki Kota Taif.
(Sila rujuk Kitab Umaro’ Al-bilaadul Haram m/s 297 – 298 cetakan Ad-Dar Al-Muttahidah Lin-Nasyr).

Kenyataan Para Mufti Perihal Wahhabi :
1. Mufti Mazhab Hambali Muhammad bin Abdullah bin Hamid An-Najdy 1225H menyatakan :
“ Apabila ulama menjelaskan hujah kepada Muhammad bin Abdullah Wahhab dan dia tidak mampu menjawabnya serta tidak mampu membunuhnya maka dia akan menghantar seseorang untuk membunuh ulama tersebut kerana dianggap sesiapa yang tidak sependapat dengannnya adalah kafir dan halal darahnya untuk dibunuh”.
(Rujukan : Kitab ‘As-Suhubul Wabilah ‘Ala Dhoroihil Hanabilah” – m/s 276)

2. Mufti Mazhab Syafi’e Ahmad bin Zaini Dahlan 1304H yang merupakan tokoh ulama Mekah pada zaman Sultan Abdul Hamid menyatakan : ” Wahhabiyah merupakan golongan pertama yang mengkafirkan umat Islam 600 tahun sebelum mereka dan Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : Aku membawa kepada kamu semua agama yang baru dan manusia selain pengikutku adalah kafir musyrik “.
(Rujukan : Kitab ” Ad-Durarus Saniyyah Fir Roddi ‘Alal Wahhabiyah – m/s 42)

WAHHABI MENGKAFIRKAN UMAT ISLAM DAN ULAMA ISLAM.
– Wahhabi Menghukum Sesat Dan Membid’ahkan Para Ulama’ Islam.
– Wahhabi bukan sahaja mengkafirkan umat Islam dan menghalalkan darah mereka tetapi
– Wahhabi turut membid’ahkan dan menghukum akidah ulama’ Islam sebagai terkeluar daripada Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Demikian kenyataan Wahhabi :

1. Di sisi Wahhabi Akidah Imam Nawawi Dan Ibnu Hajar Al-Asqolany Bukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
– Tokoh terkemuka ajaran Wahhabi iaitu Muhammad bin Soleh Al-Uthaimien menyatakan apabila ditanya mengenai Syeikh Imam Nawawi (Pengarang kitab Syarah Sohih Muslim) dan Amirul Mu’minien Fil Hadith Syeikh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany (Pengarang Fathul Bari Syarah Sohih Bukhari) lantas dia menjawab: “Mengenai pegangan Nawawi dan Ibnu Hajar dalam Asma’ Was Sifat (iaitu akidah)mereka berdua bukan dikalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”. Rujuk kitabnya Liqa’ Al-Babil Maftuh m/s 42-43 soal-jawab ke 373 cetakan Darul Watan Lin-Nasyr.

2. Wahhabi Menghukum Al-Asya’iroh Sebagai Sesat Dan Kafir.
– Tokoh Wahhabi Abdur Rahman bin Hasan Aal-As-Syeikh mengkafirkan golongan Al-Asya’iroh yang merupakan pegangan umat islam di Malaysia dan di negara-negara lain. Rujuk kitabnya Fathul Majid Syarh Kitab Al-Tauhid m/s 353 cetakan Maktabah Darus Salam Riyadh.
– Seorang lagi tokoh Wahhabi iaitu Soleh bin Fauzan Al-Fauzan turut menghukum golongan Al-Asya’iroh sebagai sesat akidah dan bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Rujuk kitabnya Min Masyahir Al-Mujaddidin Fil Islam m/s 32 cetakan Riasah ‘Ammah Lil Ifta’ Riyadh.

3. Wahhabi Mengkafirkan Umat Islam Yang Mengikut Mazhab.
– Wahhabi bukan sahaja menghukum sesat terhadap ulama’ Islam bahkan umat islam yang mengikut mazhab pun turut dikafirkan dan dihukum sebagai musyrik dengan kenyataannya

24/02/2017 Posted by | Bicara Ulama, Informasi | Leave a comment

Powernya Selawat Nabi

Allah memerintahkan kita shalat, tapi Dia tak shalat. Allah memerintahkan untuk berzakat, tapi Dia tak zakat. Allah memerintahkan untuk berhaji, tapi Dia tak berhaji. Tapi, Allah memerintahkan kita bershalawat untuk Nabi, Dia sendiri pun bershalawat untuk Nabi.

Sungguh shalawat adalah rahmat yang sempurna, kesempurnaan atas rahmat bagi kekasih-Nya. Disebut sebagai rahmat yang sempurna, karena tidak diciptakan shalawat, kecuali hanya pada Nabi Muhammad SAW.

Shalawat kita kepada Nabi adalah doa yang ditujukan pada Rasulullah SAW sebagai bukti rasa cinta, sayang, rindu, terima kasih dan hormat kita kepadanya.

Shalawat juga merupakan wujud doa dari para malaikat, bahkan Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mendoakan mereka yang bershalawat, sebagaimana yang terkandung dalam firman-Nya pada Surat AI-Ahzab ayat 56
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab [33]: 56).

Shalawat dari Allah SWT berarti memberi rahmat baginya. Shalawat dari malaikat berarti memohon ampunan (istighfar) baginya, dan shalawat dari orang mukmin berarti doa agar diberi rahmat seperti ungkapan:Allahmuma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad, berarti “Ya Allah, limpahkan- lah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad saw.”

Hanya shalawat, ibadah yang Allah SWT sendiri juga melakukannya. Shalawat sedemikian dahsyatnya hingga Allah SWT menjalankannya sendiri, dan memerintahkan malaikat dan manusia untuk bershalawat kepada Rasulullah saw.
“…Kelak di hari kiamat, seluruh manusia akan menghadap pada Rasulullah Saw sambil berucap, ‘Dengan kemuliaanmu Muhammad, selamatkan aku dari siksa-Nya.’ Saat itu, hanya syafaat Rasulullah Saw yang dapat menyelamatkan kita dari siksa-Nya…”

Shalawat merupakan jalinan hubungan Rasulullah SAW kepada Allah SWT dan rasa terima kasih kita pada Rasulullah Saw. Semakin banyak kita bershalawat, maka semakin bertambah cinta kita kepadanya, dan Allah SWT pun akan mencintai kita.

Dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Thabrani, Rasulullah SAW bersabda:
“Kalau seseorang bershalawat kepadaku, malaikat juga akan mendoakan keselamatan yang sama baginya. Untuk itu, bershalawatlah, meski sedikit atau banyak.”

Shalawat adalah ungkapan rasa terima kasih kita pada Rasulullah SAW atas segala jasa dan pengorbanannya yang telah menuntun kita ke jalan yang benar. Ia pengingat akan keistimewaannya dalam setiap langkah dalam kehidupan ini, sekaligus rasa syukur kita pada Allah SWT.

Kelak di hari kiamat, seluruh manusia akan menghadap pada Rasulullah Saw sambil berucap, “Dengan kemuliaanmu Muhammad, selamatkan aku dari siksa-Nya.” Saat itu, hanya syafaat Rasulullah Saw yang dapat menyelamatkan kita dari siksa-Nya. Syafaat yang merupakan bantuan Rasulullah Muhammad Saw dengan izin Allah SWT yang dapat meringankan, bahkan menghapus semua dosa kita.

Lalu, siapa lagi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam ini selain Nabi Muhammad saw? Sebagaimana firman-Nya yang terkandung dalam surat Al-Anbiya’ ayat 107. “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya’ [21]: 107)

Halim Ambiya
Pendiri dan Admin FB Tasawuf Underground

24/02/2017 Posted by | Tasauf | Leave a comment

Power Selawat Nabi SAW

Allah memerintahkan kita shalat, tapi Dia tak shalat. Allah memerintahkan untuk berzakat, tapi Dia tak zakat. Allah memerintahkan untuk berhaji, tapi Dia tak berhaji. Tapi, Allah memerintahkan kita bershalawat untuk Nabi, Dia sendiri pun bershalawat untuk Nabi.

Sungguh shalawat adalah rahmat yang sempurna, kesempurnaan atas rahmat bagi kekasih-Nya. Disebut sebagai rahmat yang sempurna, karena tidak diciptakan shalawat, kecuali hanya pada Nabi Muhammad SAW.

Shalawat kita kepada Nabi adalah doa yang ditujukan pada Rasulullah SAW sebagai bukti rasa cinta, sayang, rindu, terima kasih dan hormat kita kepadanya.

Shalawat juga merupakan wujud doa dari para malaikat, bahkan Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mendoakan mereka yang bershalawat, sebagaimana yang terkandung dalam firman-Nya pada Surat AI-Ahzab ayat 56
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab [33]: 56).

Shalawat dari Allah SWT berarti memberi rahmat baginya. Shalawat dari malaikat berarti memohon ampunan (istighfar) baginya, dan shalawat dari orang mukmin berarti doa agar diberi rahmat seperti ungkapan:Allahmuma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad, berarti “Ya Allah, limpahkan- lah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad saw.”

Hanya shalawat, ibadah yang Allah SWT sendiri juga melakukannya. Shalawat sedemikian dahsyatnya hingga Allah SWT menjalankannya sendiri, dan memerintahkan malaikat dan manusia untuk bershalawat kepada Rasulullah saw.
“…Kelak di hari kiamat, seluruh manusia akan menghadap pada Rasulullah Saw sambil berucap, ‘Dengan kemuliaanmu Muhammad, selamatkan aku dari siksa-Nya.’ Saat itu, hanya syafaat Rasulullah Saw yang dapat menyelamatkan kita dari siksa-Nya…”

Shalawat merupakan jalinan hubungan Rasulullah SAW kepada Allah SWT dan rasa terima kasih kita pada Rasulullah Saw. Semakin banyak kita bershalawat, maka semakin bertambah cinta kita kepadanya, dan Allah SWT pun akan mencintai kita.

Dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Thabrani, Rasulullah SAW bersabda:
“Kalau seseorang bershalawat kepadaku, malaikat juga akan mendoakan keselamatan yang sama baginya. Untuk itu, bershalawatlah, meski sedikit atau banyak.”

Shalawat adalah ungkapan rasa terima kasih kita pada Rasulullah SAW atas segala jasa dan pengorbanannya yang telah menuntun kita ke jalan yang benar. Ia pengingat akan keistimewaannya dalam setiap langkah dalam kehidupan ini, sekaligus rasa syukur kita pada Allah SWT.

Kelak di hari kiamat, seluruh manusia akan menghadap pada Rasulullah Saw sambil berucap, “Dengan kemuliaanmu Muhammad, selamatkan aku dari siksa-Nya.” Saat itu, hanya syafaat Rasulullah Saw yang dapat menyelamatkan kita dari siksa-Nya. Syafaat yang merupakan bantuan Rasulullah Muhammad Saw dengan izin Allah SWT yang dapat meringankan, bahkan menghapus semua dosa kita.

Lalu, siapa lagi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam ini selain Nabi Muhammad saw? Sebagaimana firman-Nya yang terkandung dalam surat Al-Anbiya’ ayat 107. “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya’ [21]: 107).

Semoga bermanfaat!
Salam

Halim Ambiya
Pendiri dan Admin Tasawuf Underground

24/02/2017 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Bid’ah Hasanah Yang Dilakukan Oleh Salafussoleh dan Ulamak Khalaf

Bid’ah Hasanah Yang Dilakukan Oleh Salafussoleh dan Ulamak Khalaf
Menetapkan/mengkhususkan/melazimkan amal soleh pada waktu dan hari tertentu telah lama dilakukan oleh salafussoleh dan ulamak khalaf.

Berikut ini sebahagian contoh-contoh bid’ah hasanah yang dilakukan para ulama salaf dan kholaf :
1. Bid’ah Hasanah imam Abu Hanifah : Sholat 300 rakaat tiap malam.
Al-‘Aththar dalam kitab at-Tadzkirah mengatakan :
كان ابو حنبفة يصلي في كل ليلة ثلاثمائة ركعة فمر يوما على جمع من الصبيان فقال بعضهم لبعض : هذا يصلي في كل ليلة الف ركعة ولا ينام بالليل. فقال ابو حنيفة : نويت ان اصلي في كل ليلة الف ركعة وان لا انام بالليل
“ Abu Hanifah konon melakukan sholat 300 roka’at tiap malam. Suatu hari ia berjalan melewati sekelompok anak kecil, maka seorang dari mereka berkata kepada temannya : “ Inilah orang yang melakukan sholat tiap malam 1000 roka’at dan tidak pernah tidur tiap malam “.
(Iqamah al-Hujjah, al-Kanawi : 80)
2. Bid’ah Hasanah Imam Malik : Sholat 800 raka’at tiap hari.
قَالَ أَبُوْ مُصْعَبٍ وَأَحْمَدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ مَكَثَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ سِتِّيْنَ سَنَةً يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا وَكَانَ يُصَلِّي فِي كُلِّ يَوْمٍ ثَمَانَمِائَةٍ رَكْعَةً
“Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail berkata: Malik bin Anas berpuasa sehari dan berbuka sehari selama 60 tahun dan ia salat setiap hari 800 rakaat ” (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/61///0)
3. Bid’ah Hasanah Imam asy-Syafi’i : Melafazkan Niat.
أخبرنا ابن خزيمة ، ثنا الربيع قال : « كان الشافعي إذا أراد أن يدخل في الصلاة قال : بسم الله ، موجها لبيت الله مؤديا لفرض الله عز وجل الله أكبر »
“Mengabarkan kepadaku Ibnu Khuzaimah, mengabarkan kepadaku Ar-Rabi’, ia berkata :” Imam Syafi’i ketika akan masuk dalam Shalat beliau mengucapkan : “Bismillah Aku menghadap ke Baitullah, menunaikkan kewajiban kepada Allah. Allahu Akbar.” (Al-Mu’jam, Ibnu Al-Muqri : 317)
4. Bid’ah Hasanah Mus’ab bin Tsabit bin Abdillah bin Zubair : Sholat 1000 roka’at tiap hari.
مُصْعَبُ بْنُ ثَابِتِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ وَكَانَ مُصْعَب يُصَلِّي فِي الْيَوْمِ وَالَّلْيَلَةِ أَلْفَ رَكْعَةٍ وَيَصُوْمُ الدَّهْرَ
“Mush’ab bin Tsabit bin Abdillah bin Zubair, ia salat dalam sehari semalam 1000 rakaat ” (Shifat ash-Shafwah, Ibnu Jauzi, 2/197 dan al-Ishabah, al-Hafidz Ibnu Hajar, 2/326)
5. Ali Zainal Abdin : Soolat 1000 roka’at tiap hari.
ذُوْ الثَّفَنَاتِ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ زَيْنُ الْعَابِدِيْنَ سُمِّيَ بِذَلِكَ لأَنَّهُ كَانَ يُصَلِّى كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ رَكْعَةٍ فَصَارَ فِي رُكْبَتَيْهِ مِثْلُ ثَفَنَاتِ الْبَعِيْرِ
“Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, hiasan ahli ibadah, disebut demikian karena ia solat dalam sehari semalam sebanyak 1000 rakaat, sehingga di lututnya terdapat benjolan seperti unta” (Tahdzib al-Asma’, al-Hafidz al-Mizzi, 35/41)
6. Abu Qilabah : Solat 400 roka’at tiap hari.
وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ كَامِلٍ الْقَاضِي: حُكِيَ أَنَّ أَبَا قِلاَبَةَ كَانَ يُصَلِّي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ أَرْبَعَمِائَةٍ رَكْعَةً
“Qadli Ahmad bin Kamil berkata: Diceritakan bahwa Abu Qilabah salat dalam sehari semalam sebanyak 400 rakaat ” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dzahabi, 2/120)
7. Sebahagian ulama salaf mengganti sholat Tahiyyatul Masjid dengan ucapan :
سبحان الله والحمد لله ولااله الا الله والله اكبر
Dibaca sebanyak empat kali di saat mereka tidak sempat melakukan sholat tahiyyatul masjid. Sebagaimana telah dinaqal oleh imam Nawawi dalam kitab al-Adzkarnya mukasurat : 32.
8. Bid’ah Hasanah Ibnu Mas’ud : Majlis setiap hari khamis.
Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (pendiri wahabi) mengatakan :
والمقصود بيان ما نحن عليه من الدين وأنه عبادة الله وحده لا شريك له فيها بخلع جميع الشرك، ومتابعة الرسول فيها نخلع جميع البدع إلا بدعة لها أصل في الشرع كجمع المصحف في كتاب واحد وجمع عمر رضي الله عنه الصحابة على التراويح جماعة وجمع ابن مسعود أصحابه عل القصص كل خميس ونحو ذلك فهذا حسن والله أعلم
“ Maksudnya adalah menjelaskan apa yang kami lakukan dari agama dan yang merupakan ibadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, di dalamnya melepas semua bentuk kesyirikan dan mengikuti Rasul di dalamnya, kami melepas semua bentuk bid’ah kecuali bid’ah yang memiliki asal dalam syare’at seperti mengumpulkan mushaf dalam satu kitab dan pengumpulan Umar radhiallahu ‘anhu kepada para sahabat atas sholat tarawih dengan berjama’ah, dan pengumpulan Ibnu Mas’ud kepada para sahabatnya atas majlis kisah-kisah setiap hari kamis dan semisalnya, semua ini adalah baik wa Allahu A’lam “ (Ar-Rasail asy-Syahsyiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab jilid 5 risalah yang keenam belas halaman : 103)
9. Bid’ah Hasanah imam Mujahid : Doa masuk rumah yang kosong.
Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :
روى الثوري عن عبد الكريم الجزري عن مجاهد : اذا دخلت بيتا ليس فيه احد فقل : بسم الله والحمد لله السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين
“ Sufyan ast-Tsauri meriwayatkan dari Abdul Karim al-Jazri dari Mujahid, “ Jika kamu hendak masuk rumah yang kosong, maka ucapkanlah “ Bsimillah wal hamdu lillah, as-salaamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shaalihin “. (Tafsir Ibnu Katsir : 4/406)
10. Bid’ah Hasanah Ma’ruf al-Khurkhi : Melazimkan (Mewajibkan) dirinya sholat 100 roka’at setiap hari sabtu, dis etiap satu roka’at ia membaca surat al-Ikhlas 10 kali. (Thabaqat al-Hanabilah : 2/488)
11. Bidaah Hasanah Khalid bin Mi’dan. Al-Hafidz Ibn Rajab al-Hanbali mengatakan, “ Sesunggguhn ya Khalid bin Mi’dan membaca tasbih setiap harinya sebanyak 40.000 kali selain membaca al-Quran “. Lihat kitab Jami’ al-Ulum : 1/446
12. Bidaah Hasanah Bisyr bin Mufadhdhal. Beliau melakukan sholat setiap harinya sebanyak 400 roka’at. Lihat kitab Tadzkirah al-Huffadz, adz-Dzahabi : 1/309
13. Bidaah Hasanah Ya’qub bin Yusuf al-Muthawwa’i. Wirid beliau setiap harinya membaca surat Qulhuwallahu Ahad (al-Ikhlash) sebanyak 31.000 kali atau terkadang 41.000 kali. Lihat sanad sahihnya dalam kitab al-Bidayah wa a n-Nihayah, Ibn Katsir : 11/84
14. Bidaah Hasanah Ubaid bin Umair. Beliau jika berada di pagi hari atau sore hari selalu mengucapkan doa berikut ini :
اللهم اني اسألك عند حضرة صلاتك وقيام دعاتك ان تغفر لي وترحمني
“ Ya Allah sesungguhnya aku memohon ketika menghadap sholatmu dan tegakknya pendakwahmu untuk Engkau mengampuniku dan merahmatiku “. Lihat kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah : 7/37
15. Bidaah Hasanah Urwah bin Zubair. Beliau ketika hendak makan selalu mengucapkan :
سبحانك ما احسن ما تبتلينا سبحانك ما احسن ما تعطينا ربنا ورب آبائنا الاولين
“ Maha suci Engkau, alangkah baiknya apa yang telah Engkau uji pada kami, dan alangkah baiknya apa yang telah Engkau berikan p ada kami wahai Tuhan kami Tuhan para datuk kami yang awal “. Kemudian beliau mengucapkan bismillah dan meletakkan tangannya. Lihat kitab Muhsannaf Ibnu Abi Syaibah : 6/73
16. Bidaah Hasanah Ma’ruf al-Kurkhi. Dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah disebutkan bahwasanya beliau melazimkan solat setiap hari sabtu 100 roka’at, dan di setiap roka’atnya membaca surat al-Ikhlash 10 kali. Lihat kitab Thabaqat al-Hanabilah : 2/488
Dan sungguh sangat banyak lagi bid’ah hasanah yang dilakukan para ulama kita sejak masa salaf hingga saat ini.

Oleh : Ustaz Ibnu Abdillah al Katiby
Di Nukil oleh FB Ibnu Nafis

Sumber : https://www.facebook.com/ibnu.alkatibiy/posts/1067839799902297

24/02/2017 Posted by | Ibadah, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Mandi Jenazah

Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan – JAWI

“Siapa yang pernah mandikan jenazah?”
“Siapa yang pernah bercita-cita ingin menguruskan jenazah ibu bapanya jika mereka meninggal dunia?”
Bagaimana yang meninggal itu kaum kerabat kita? Tiada siapa yang lebih afdal untuk menguruskan mereka, kalau bukan kita sebagai waris. Jangan gementar dan takut. Apa yang penting, kita mesti tahu apa yang perlu dilakukan apabila berhadapan dengan jenazah. Antaranya:
1. SETELAH MENINGGAL DUNIA
– Tutup matanya.
– Lembutkan sendi-sendinya.
– Ikat dagunya ke kepala supaya mulutnya tertutup.
– Baringkan ke arah kiblat.
– Tanggalkan pakaian yang dipakainya.
– Tutup keseluruhan tubuhnya dengan kain.
– Letakkan pemberat di atas perutnya.
2. SEBELUM MANDI
Sediakan peralatan mandi jenazah:
– Tempat mandi.
– Air mutlak.
– Air daun bidara.
– Kapas.
– Putik kapas.
– Sabun.
– Air Mawar.
– Minyak atar.
– Serbuk cendana.
– Kapur barus.
– Sarung tangan.
– Getah paip/ bekas menjirus air.
3. KETIKA MANDI
– Keluarkan kotoran daripada perut dengan menekan perutnya.
– Bersihkan sisa kotoran di mulut, hidung, telinga dan celah kukunya.
– Istinjakkan jenazah dengan air mutlak.
– Basuh seluruh anggotanya dengan sabun termasuklah rambut, belakang badan, jari tangan, ketiak dan pelipat lengan.
– Bilas dan niat memandikan jenazah.
– Tutupi jenazah dengan kain nipis dan jiruskan air kapur barus di atsnya.
– Wudukkan jenazah.
4. KETIKA KAFAN
– Ukur ketinggian jenazah.
– Potong kain kafan kepada tiga bahagian dan hamparkan.
– Hamparkan kapas gulung di atasnya dan taburkan serbuk cendana.
– Baringkan jenazah di atasnya.
– Tutupi kemaluan, siku tangan, dada, telinga dan kepala jenazah dengan kapas.
– Selimutkan jenazah dengan kain kafan dengan kemas serta ikat dengan tali kain dengan sempurna.
– Renjiskan air mawar dan sapukan minyak attar di atasnya.
5. SOLAT JENAZAH
– Niat.
– Takbir pertama – baca al-Fatihah.
– Takbir kedua – selawat.
– Takbir ketiga – doakan jenazah.
– Takbir keempat – beri salam.
6. PENGEBUMIAN JENAZAH
– Gali kubur secara melintang ke arah kiblat.
– Baringkan jenazah di atas lambung kanannya menghadap kiblat.
– Tutup liang lahad dengan papan dan kambus semula dengan tanah.
Hidup ini sementara. Kaya mana pun, kain kafan akan jadi pakaian diri. Kuat mana pun, kita tiada daya lagi untuk mengurus diri.
Jadi tiada apa yang perlu dibangga dan disombongkan. Berbaik-baiklah dengan orang di sekeliling, kelak merekalah yang akan mengurus jenazah kita!

Sumber: Majalah Gen-Q, Isu 40.

24/02/2017 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

   

%d bloggers like this: