Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

IMAM SYAFIE (IMAM SUNNAH SALAFUS SOLEH) MENGGALAKKAN MEMBACA AL-QURAN DI KUBUR APABILA BERLAKU KEMATIAN

16681824_1246248725456091_4190941432261806077_n

قَالَ الشَّافِعِي وَاْلأَصْحَابُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَؤُوْا عِنْدَهُ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ قَالُوْا فَإِنْ خَتَمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ كَانَ حَسَنًا (الأذكار النووية 1 / 162 والمجموع للشيخ النووي 5 / 294)

“Imam Syafie dan ulama Syafi’iyah berkata: Disunnahkan membaca sebahagian dari al-Quran di dekat kuburnya. Mereka berkata: Jika mereka mengkhatamkan al-Quran keseluruhan, maka hal itu dinilai bagus” (al-Azkar I/162 dan al-Majmu’ V/294)

Murid Imam Syafie yang juga perawi Qaul Qadim, al-Za’farani, berkata:

وَقَالَ الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحُ الزَّعْفَرَانِي سَأَلْتُ الشَّافِعِيَّ عَنِ اْلقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ لاَ بَأْسَ بِهَا (الروح لابن القيم 1 / 11)

“Al-Za’farani (perawi Imam Syafii dalam Qaul Qadim) bertanya kepada Imam Syafie tentang membaca al-Quran di kubur. Beliau menjawab: Tidak apa-apa” (al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)

Al-Hafiz Ibnu Hajar memberi komen riwayat al-Za’farani dari Imam Syafie ini:

وَهَذَا نَصٌّ غَرِيْبٌ عَنِ الشَّافِعِي وَالزَّعْفَرَانِي مِنْ رُوَاةِ الْقَدِيْمِ وَهُوَ ثِقَةٌ وَإِذَا لَمْ يَرِدْ فِي الْجَدِيْدِ مَا يُخَالِفُ مَنْصُوْصَ الْقَدِيْمِ فَهُوَ مَعْمُوْلٌ بِهِ (الإمتاع بالأربعين المتباينة السماع للحافظ أحمد بن علي بن محمد بن علي بن حجر العسقلاني 1 / 85)

“Ini penjelasan yang asing dari al-Syafie. Al-Za’farani adalah perawi Qaul Qadim, ia orang yang dipercayai. Dan jika dalam Qaul Jadid tidak ada yang bertentangan dengan penjelasan Qaul Qadim, maka Qaul Qadim inilah yang diamalkan (iaitu boleh membaca al-Quran di kuburan)” (al-Imta’, al-Hafiz Ibnu Hajar, I/11)

Qoul Qadim adalah pendapat Imam Syafie ketika di Iraq. Para perawinya adalah al-Karabisi, al-Za’farani, Abu Tsaur dan Ahmad bin Hanbal.

Sedangkan Qaul Jadid adalah pendapat ‘semakan’ Imam Syafie setelah menetap di Mesir 90 H. Para perawinya adalah al-Muzani, al-Buwaithi, Rabi’ al-Jaizi dan Rabi’ al-Muradi, perawi kitab al-Umm ( Hasyiah al-Qulyubi I/14)

ABU SUNNAH
AHLI SUNNAH WALJAMAAH NEGERI SEMBILAN

10/02/2017 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

AKAL SIAPA YANG PALING BAGUS?

Ada perbezaan antara Wahabi, Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan Syi’ah-Mu’tazilah dalam penggunaan akal.

Kalau Ahlussunnah Wal-Jama’ah dalam berakidah menggabungkan antara dalil naqli (al-Qur’an dan Hadits) dengan akal.

Kalau Syi’ah-Mu’tazilah dalam berakidah hanya berlandaskan akal saja.

Kalau Wahabi dalam berakidah hanya kaku terhadap dalil naqli dan tidak memfungsikan akal sama sekali.

Terkait dengan metodologi Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang menggabungkan antara naql dengan akal tersebut, para ulama memberikan perumpamaan begini.

Akal diumpamakan dengan mata yang dapat melihat. Sedangkan dalil-dalil syara’ atau naql diumpamakan dengan Matahari yang dapat menerangi. Orang yang hanya menggunakan akal tanpa menggunakan dalil-dalil syara’ seperti halnya orang yang keluar pada waktu malam hari yang gelap gulita. Ia membuka matanya untuk melihat apa yang ada di sekelilingnya, antara benda yang berwarna putih, hitam, hijau dan lain-lain. Ia berusaha untuk melihat semuanya. Tetapi selamanya ia tidak akan dapat melihatnya, tanpa ada Matahari yang dapat meneranginya, meskipun ia memiliki mata yang mampu melihat. Sedangkan orang yang menggunakan dalil-dalil syara’ tanpa menggunakan akal, seperti halnya orang yang keluar di siang hari dengan suasana terang benderang, tetapi dia tuna netra, atau memejamkan matanya. Tentu saja ia tidak akan dapat melihat mana benda yang berwarna putih, hijau, merah dan lain-lainnya. (Lihat, Syits bin Ibrahim al-Maliki, Hazz al-Ghalashim fi Ifham al-Mukhashim, Beirut: Dar al-Kutub al-Tsaqafiyah, hlm. 94.).

Ahlussunnah Wal-Jama’ah laksana orang yang dapat melihat dan keluar di siang hari yang terang benderang, sehingga semuanya tampak kelihatan dengan nyata, dan akan selamat dalam berjalan mencapai tujuan.

Sekarang kalau pertanyaan, akal siapa yang telah rusak? Jelas akalnya Syi’ah-Mu’tazilah. Lalu akal siapa yang masih original laksana barang yang masih dalam kemasan plastik dan belum pernah digunakan? Jelas akalnya orang Wahabi. Akal Ahlussunnah Wal-Jama’ah selalu digunakan, tetapi selalu diservis dengan dalil-dalil naqli al-Qur’an dan Hadits, karenanya akal mereka masih bagus dan berfungsi dengan efektif. Wallahu a’lam.

Kyai Idrus Ramli

10/02/2017 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

   

%d bloggers like this: