Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Akhir zaman orang jahil gemar berfatwa

Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam, sahabat, tabi’ien dan tabi’ut tabi’ien, orang yang mampu berijtihad dan dijadikan rujukan amat sedikit. Bahkan di antara ulamak salafussoleh sendiri amat takut untuk berfatwa walaupun menguasai disiplin ilmu yang cemerlang dan diperakui para alim ulamak muktabar di zamannya. .

Apabila ada yang bertanya sesuatu persoalan, ada yang menunding menyuruh bertanyakan kepada mereka yang lebih arif kerana takut untuk mengeluarkan fatwa.

Ada juga yang ditanyakan banyak persoalan, tetapi ulamak salafussoleh hanya menjawab beberapa persoalan sahaja dan mereka lebih menyenangi perkataan Wallahua’lam kerana risau akan tersalah mengeluarkan fatwa.

Akhir zaman ini pula terbalik, makin ramai pula yang berebut-rebut hendak memberi fatwa, ada yang setiap hari mengeluarkan fatwanya mengulas isu-isu semasa hingga mentohmah umat Islam yang lain, ada pula yang jahil tukil dengan latarbelakang pendidikan agama yang sangat lemah merendah-rendahkan alim ulamak, berani menulis beberapa buku aqidah dan syariat dengan kaedah ‘copy paste’ semata-mata kemudian mencabar ilmuwan agama menjawab bukunya, ada pula yang fasih menukil kalam ulamak mazhab tetapi banyak kesilapan dan dengan kefahaman yang batil. Dan mereka ini pula diikuti oleh orang awam dan diangkat sebagai pemimpin.

Allahu ! Gerunnya memikirkan akhir zaman, Islam semakin asing.

19/01/2016 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

PANDANGAN ULAMA FIQH, HADITH DAN SEJARAH TENTANG PUJI-PUJIAN/SELAWAT SEBELUM SOLAT

Pada dasarnya, membaca pujian di Masjid atau di Mushalla menjelang shalat bukanlah tradisi Muslim Indonesia, akan tetapi tradisi umat Islam berbagai belahan dunia sebelum datangnya aliran Wahabi. Berikut ini akan kami paparkan melalui kronologi kesejarahan.

1. Pembacaan Tasbih Pada Waktu Sahur

Dalam kitab-kitab sejarah diterangkan, bahwa pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu Maslamah bin Makhlad radhiyallahu ‘anhu, Gubernur yang diangkat oleh Muawiyah, melakukan i’tikaf pada malam hari di Masjid Jami’ Amr bin al-‘Ash di Mesir. Lalu ia mendengar suara gong atau lonceng gereja-gereja Koptik yang sangat keras. Ia mengadukan hal tersebut kepada Syurahbil bin Amir, Kepala para muadzin di Masjid tersebut. Kemudian Maslamah memerintahkan para muadzin mengumandangkan pembacaan tasbih pada waktu pertengahan malam (nishful-lail, atau sekitar jam 12 malam ke atas) di tempat-tempat adzan, sampai menjelang waktu shubuh. Kemudian tradisi pembacaan tasbih tersebut berlangsung di berbagai negeri Islam. (Syaikh Abdul Aziz al-Tsa’alibi, al-Risalah al-Muhammadiyyah, hal. 140). Tanpa ada seorang pun ulama yang menganggapnya bid’ah tercela atau haram.

3. Pembacaan Selawat menjelang waktu solat maktubah

Sebelum Sultan Shalahuddin al-Ayyubi menguasai Mesir, selama dua ratus tahun lebih Mesir dan sekitarnya dikuasai oleh Dinasti Fathimi yang beraliran Syiah Isma’iliyah. Dinasti Fathimi menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyah melalui mesin kekuasaan. Setelah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi menguasai Mesir, maka seluruh daerah Mesir dan Syam, yang meliputi Syria, Lebanon dan Palestina, berada di bawah kekuasaanya, setelah mengusir pasukan Salibis Kristen dari Baitul Maqdis di Palestina. Untuk memberantas ajaran Syiah Ismailiyah yang dianut oleh banyak penduduk Mesir dan Syam, Sultan Shalahuddin memerintahkan para muadzin untuk membacakan kitab al-‘Aqidah al-Mursyidah, sebuah nazham yang ditulis oleh Ibnu Hibatillah al-Makki, isinya tentang Akidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah sesuai dengan madzhab al-Asy’ari. Dengan membacakan kitab tersebut setiap malam, Sultan Shalahuddin berhasil memberantas ajaran Syiah dan menyebarkan ajaran Ahlussunnah Wal-Jama’ah. (Syaikh Abdul Aziz al-Tsa’alibi, al-Risalah al-Muhammadiyyah, hal. 140). Tradisi ini kemudian diikuti oleh umat Islam di Indonesia, dengan membacakan kitab nazham ‘Aqidah al-‘Awam karya Sayyid al-Marzuqi setiap menjelang waktu shalat maktubah.

3. Pembacaan Shalawat Menjelang Shalat Maktubah
Pembacaan shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang shalat maktubah lima waktu berlangsung sejak masa Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dan atas instruksi beliau. Hal ini beliau lakukan, karena sebelum itu, ketika Khalifah al-Hakim bin al-‘Aziz, penguasa dinasti Fathimi di Mesir yang beraliran Syiah Ismailiyah, terbunuh, saudarinya yang bernama Sittul Malik, memerintahkan para muadzin agar mengucapkan salam kepada putra al-Hakim, yaitu Khalifah al-Zhahir dengan mengucapkan as-Salam ‘ala al-Imam al-Zhahir (salam sejahtera kepada Imam al-Zhahir). Kemudian ucapan salam tersebut terus dilakukan kepada para khalifah Fathimi sesudahnya dari generasi ke generasi, hingga akhirnya Sultan Shalahuddin al-Ayyubi membatalkannya, dan menggantinya dengan membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Para ulama menganggap kebijakan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi tersebut sebagai kebijakan yang bagus dan layak didoakan agar diberi balasan pahala oleh Allah subhanahu wata’ala. (Al-Hafizh al-Sakhawi, al-Qaul al-Badi’ fi al-Shalat ‘ala al-Habib al-Syafi’, hal. 279-280; al-Imam Ibnu ‘Allan al-Shiddiqi, al-Futuhat al-Rabbaniyyah juz 2 hal. 113).

Pandangan Para Ulama

Para ulama memandang tradisi pujian menjelang shalat di atas sebagai tradisi yang baik dan termasuk bid’ah hasanah yang mendatangkan pahala bagi pelakunya. Al-Hafizh as-Sakhawi berkata:

وَقَدِ اخْتُلِفَ فِيْ ذَلِكَ هَلْ هُوَ مُسْتَحَبٌّ أَوْ مَكْرُوْهٌ أَوْ بِدْعَةٌ أَوْ مَشْرُوْعٌ وَأسْتُدِلَّ لِلأَوَّلِ بِقَوْلِهِ تَعَالىَ : وَافْعَلُوا الْخَيْرَ ، وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ الصَّلاَةَ وَالسَّلاَمَ مِنْ أَجَلِّ الْقُرَبِ لاَ سِيَّمَا وَقَدْ تَوَارَدَتْ اْلأَخْبَارُ عَلىَ الْحَثِّ عَلىَ ذَلِكَ مَعَ مَا جَاءَ فِي فَضْلِ الدُّعَاءِ عَقِبَ اْلأَذَانِ وَالثُّلُثِ اْلأَخِيْرِ مِنَ اللَّيْلِ وَقُرْبِ الْفَجْرِ وَالصَّوَابُ أَنَّهُ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ يُؤْجَرُ فَاعِلُهُ بِحُسْنِ نِيَّتِهِ. (الحافظ السخاوي، القول البديع في الصلاة على الحبيب الشفيع، 280).
“Pembacaan shalawat menjelang shalat tersebut diperselisihkan, apakah dihukumi sunnah, makruh, bid’ah atau disyari’atkan? Pendapat yang pertama berdalil dengan firman Allah: “Kerjakanlah semua kebaikan.” Telah dimaklumi bahwa membaca shalawat dan salam termasuk ibadah sunnah yang paling agung, lebih-lebih telah datang sekian banyak hadits yang mendorong hal tersebut, serta hadits yang datang tentang keutamaan berdoa setelah adzan, sepertiga malam dan menjelang fajar. Pendapat yang benar adalah, bahwa hal tersebut bid’ah hasanah, yang pelakunya diberi pahala dengan niatnya yang baik.” (Al-Hafizh as-Sakhawi, al-Qaul al-Badi’, hal. 280).
Pernyataan senada juga dikemukakan oleh al-Imam Syihabuddin Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya, al-Durr al-Mandhud, hal. 209, dengan mengutip fatwa gurunya Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari, yang menyimpulkan bahwa dzikir bersama dan membaca shalawat menjelang shalat maktubah adalah bid’ah hasanah yang mendatangkan pahala. Hal tersebut juga diperkuat oleh pernyataan Ibnu Qayyimil Jauziyah, ulama panutan kaum Wahabi yang berkata, dalam kitabnya Jala’ al-Afham, bahwa di antara tempat yang dianjurkan membaca shalawat, adalah ketika berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, berdasarkan hadits berikut:

لِحَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ أَنَّ للهِ سَيَّارَةً مِنَ الْمَلاَئِكَةِ إِذَا مَرُّوْا بِحِلَقِ الذِّكْرِ قَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ اُقْعُدُوْا فَإِذَا دَعَا الْقَوْمُ اَمَّنُوْا عَلىَ دُعَائِهِمْ فَإِذَا صَلَّوْا عَلىَ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّوْا مَعَهُمْ حَتَّى يَفْرَغُوْا ثُمَّ يَقُوْلُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ طُوْبَى لِهَؤُلاَءِ يَرْجِعُوْنَ مَغْفُوْرًا لَهُمْ
“Karena hadits Abu Hurairah radhiayallahu ‘anh, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang selalu berjalan. Apabila mereka menjumpai majlis dzikir, sebagian mereka berkata: “Duduklah”. Apabila kaum itu berdoa, para malaikat itu membaca amin atas doa mereka. Apabila mereka bershalawat, merekapun bershalawat bersama mereka sampai selesai. Kemudian mereka berkata: “Beruntung kaum itu, pulang dengan memperoleh ampunan Allah.” (Ibnu Qayyimil Jauziyyah, Jala’ al-Afham, hal. 237)
Hadits tersebut bernilai hasan, diriwayatkan oleh al-Bazzar. Asal hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya [2689], sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim. Lihat pula, as-Sakhawi, dalam al-Qaul al-Badi’, hal. 180 dan 348.

Beberapa pernyataan ulama di atas memberikan kesimpulan bahwa tradisi pujian pada waktu menjelang subuh, dan setelah adzan shalat maktubah, pada dasarnya tradisi positif, bid’ah hasanah yang mendatangkan pahala bagi pelakunya. Bukan perbuatan haram dan bid’ah tercela yang mendatangkan dosa. Bahkan memiliki dasar hadits yang sangat kuat. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh:
Muhammad Idrus Ramli

19/01/2016 Posted by | Bicara Ulama, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

Bertindik Telinga, Lidah dan Pusat

image

Hukum asal bagi perhiasan sama ada yang berada pada tubuh badan, pakaian atau tempat tinggal adalah halal dan dibenarkan. Ini berdasarkan kepada dalil-dalil yang menyatakan tentang nikmat kurniaan Allah kepada hamba-hambaNya. Dalam surah al-Baqarah ayat 29 :

“(maksudnya): Dialah (Allah) yang menjadikan untuk kamu apa yang ada di bumi kesemuanya”

Antara salah satu contoh perhiasan yang diamalkan ialah menindik anggota badan dengan meletakkan barang perhiasan, samada berbentuk emas, perak berlian dan sebagainya.

Amalan bertindik merupakan satu amalan yang mula menjadi trend remaja masakini. Kebiasaan masyarakat Melayu di Malaysia sejak dahulu mengenali amalan bertindik ini hanya terbatas di bahagian telinga. Namun, masa merubah segala dengan perkembangan teknologi dan pengaruh budaya luar membuatkan semakin ramai yang bertindik di bahagian selain dari telinga, seperti di pusat, lidah, bibir dan kening. Malah ianya sudah mula melarat kepada golongan lelaki.

Sebenarnya perbuatan bertindik ini merupakan suatu amalan yang sudah dikenali pada zaman Rasulullah SAW. Ini dapat dilihat pada hadis riwayat al-Bukhari daripada Ibn Abbas katanya :

Pada suatu hari raya, selepas baginda Nabi SAW solat dan berkhutbah, Baginda SAW pergi menuju ke kawasan perempuan dan memberi tazkirah khas kepada golongan wanita. Sambil Baginda SAW menyeru supaya mereka semua bersedekah. Ibn Abbas mengatakan bahawa : Aku melihat mereka mengisyaratkan kepada telinga-telinga mereka dan leher mereka. Lalu menyerahkan ( barang perhiasan mereka ) kepada Bilal RA.

Di dalam hadis berkenaan, isyarat yang diberikan oleh wanita-wanita (sahabiyyah ) berkenaan adalah anting-anting. Ianya merupakan perhiasan yang sudah diketahui umum merupakan perhiasan sejak dari zaman awal Islam. Dan perhiasan ini merupakan perhiasan khusus kepada golongan wanita.

Disebabkan itulah golongan lelaki dilarang dari menindik telinga mereka kerana ianya dengan jelas menyalahi kebiasaan perhiasan bagi lelaki. Kerana anting-anting itu sudah menjadi perhiasan khusus kepada wanita. Penyerupaan lelaki dengan mengenakan perhiasan wanita adalah suatu yang dilarang di dalam Islam. Ini berdasarkan kepada hadis Nabi SAW riwayat al-Bukhari dari Ibnu Abbas mengatakan: “Nabi SAW melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki.” Pendapat ini juga disokong oleh Syeikh Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitab karangan beliau Tuhfatul Muhtaj yang mana beliau mengharuskan tindik itu bagi perempuan dan haram bagi lelaki .

Begitu juga pandangan ulama kontemporari seperti Dr Mustafa al-Khin dan Dr Mustafa al-Bugha dalam kitab mereka Fiqh Manhaji ‘Ala Mazhab al-Imam al-Syafie’, yang meletakkan contoh khusus perbuatan lelaki menyerupai wanita adalah dengan mengenakan anting-anting di telinga.

Itu permasalahan menindik telinga. Bagaimana pula dengan keadaan orang yang menindik di kawasan selain telinga? Boleh atau tidak.

Perbuatan menindik selain dari kawasan telinga tidak pernah didengari pada zaman Nabi dan Salafussaleh. Namun ianya bukanlah jawapan yang menunjukkan keharusan amalan ini. Walaupun ianya tidak dibincangkan secara khusus didalam nas yang jelas, namun perkembangan fiqh Islam tetap berkembang dalam menjawab setiap persoalan baru yang timbul hasil ijtihad para ulama semasa.

Islam mendatangkan kaedah umum dalam etika berhias. Antaranya ialah, perhiasan yang dikenakan oleh mana Muslim mestilah tidak digambarkan seolah-olah ianya meniru atau menyerupai orang kafir atau golongan fasiq.
Dalil bagi syarat ini ialah sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud :

“Sesiapa yang menyerupai suatu golongan itu, maka ia tergolong dari golongan tersebut”. (Riwayat Imam Abu Daud dari Ibnu ‘Umar r.a.)

Menurut Imam Ibnu Kathir, hadis ini merupakan larangan keras terhadap perbuatan meniru orang kafir sama ada dalam ucapan, perbuatan, pakaian, perayaan, ibadah dan sebagainya yang tidak disyariatkan untuk kita (umat Islam).
Ia bukan sahaja mengkhususkan kepada penyerupaan dengan orang kafir sahaja. Namun termasuk juga disini dalam meniru perbuatan orang yang fasiq (iaitu orang yang biasa dalam melakukan maksiat). Jelasnya disini, amalan bertindik selain anggota telinga ini merupakan amalan yang diambil bukan daripada golongan para solehin. Apatah lagi ianya hasil dari ikutan budaya negatif remaja di barat yang jelas jauh dari adat budaya tatasusila seorang Muslim.

Islam melarang kita untuk meniru kebiasaan dan gaya hidup tertentu yang dilakukan oleh orang lain tanpa membawa manfaat yang jelas. Apatah lagi ianya menyeksa diri dan juga dibuktikan boleh memberi kesan sampingan terhadap kesihatan tubuh badan dan mampu mendekatkan si pelaku dengan jangkitan Hepatitis B (rujuk ; http://www.bphealthcare.com, 2 Mac 2007 )

Sebenarnya permasalahan ini sudahpun dijawab dalam Keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam, terbitan Bahagian Pengurusan Fatwa, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia, Cetakan Pertama 2009, hal. 51, dengan menyatakan bahawa : “Perbuatan berhias secara aneh dan berlebih-lebihan seperti bertindik anggota badan selain daripada cuping telinga adalah dilarang oleh Islam.

Apapun di sini, etika berhias yang terbaik adalah pakaian taqwa. Semoga dengan mengikut suri teladan terbaik iaitu baginda Nabi SAW, maka membuatkan kita terselamat dari segala kecintaan melebihi dari cinta kepada Baginda.

Sumber: http://www.imamudasyraf.com/

19/01/2016 Posted by | Ibadah | Leave a comment

   

%d bloggers like this: