Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Sedekah dan Doa untuk Ahli Kubur


Kehidupan kita di dunia ini hanya sekejap sahaja. Kita dihantar oleh Allah untuk menjadi Khalifahnya, untuk beriman dan bertakwa kepadanya, namun, alangkah malunya untuk menghadapi Allah sekiranya kita tidak menunaikan amanah dan tanggungjawab yang telah diberikan kepada kita.

Kali ini saya ingin berkongsi dengan anda semua mengenai tanggungjawab kita terhadap orang yang telah meninggalkan kita di alam dunia ini. Artikel ini dipetik dari kitab Manâzilul âkhirah karya Syeikh Abbas Al-Qumi. Semoga ianya menjadi panduan keinsafan untuk kita semua. Insya Allah.

Alam Barzakh adalah satu perjalanan Akhirat ketiga yang menakutkan. Tentang alam Barzakh banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadis, tersurat dan tersirat. Di dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman:

وَمِنْ وَرائِهِمْ بَرْزَخٌ إلى يَوْمِ يُبْعَثُون

“Dan di belakang mereka ada Barzakh sampai hari kiamat.” (Al-Mukminun: 100).

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Demi Allah, yang kutakutkan atasmu adalah alam Barzakh.” Sahabatnya bertanya: Apakah Barzakh itu? Beliau menjawab: “Alam kubur sejak kematian hingga hari kiamat.” (Al-Bihar 6: 267)

Panggilan Sedih Penghuni Kubur

Di dalam kitabnya Lubb al-Lubab Ar-Rawandi mengatakan:

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa orang-orang yang telah meninggal, mereka datang setiap Jumaat pada bulan Ramadhan. Mereka berdiri dan masing-masing mereka memanggil dengan suara sedih dan menangis:

“Wahai keluargaku, wahai anak-anakku, wahai kerabatku, sayangi aku dengan sesuatu semoga Allah menyangimu. Ingatlah kami, jangan lupakan kami dengan doa. Sayangi kami dan keterasingan kami. Kami telah diabadikan di penjara yang sempit, kesedihan dan penderitaan yang lama masanya. Maka sayangi kami, jangan bakhil kepada kami dengan doa dan sedekah untuk kami. Semoga Allah menyayangi kita sebelum kalian seperti kami.

Alangkah sedihnya kami! Kami sebenarnya mampu sebagaimana kalian mampu.
Wahai hamba-hamba Allah, dengarlah bicara kami, jangan lupakan kami, kerana kalian pasti akan mengetahui dan merasakan besok. Infakkan apa yang kalian miliki. Dahulu kami juga miliki, tetapi kami tidak menginfakkan di jalan ketaatan kepada Allah, kami menahannya di jalan kebenaran, sehingga kurnia itu menjadi malapetaka bagi kami dan bermanfaat bagi orang lain. Sayangi kami walaupun dengan satu dirham, sepotong roti atau segelas minuman.”

Kemudian mereka memanggil: “Cepatlah kalian menangisi diri kalian, menangisi segala yang tidak bermanfaat bagi kalian sebagaimana kami menangisi diri kami dan segala yang tidak bermanfaat bagi kami. Bersungguh-sungguhlah kalian sebelum kalian seperti kami.”

(Mustadrak Al-Wasail 2: 162, bab 39, hadis ke 697)

Pentingnya Sedekah dan Doa untuk Ahli Kubur

Dalam kitab Jami’ul Akhbar disebutkan, sebagian sahabat berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Berikan hadiah untuk keluargamu yang telah meninggal.” Kami bertanya: Ya Rasulallah, apa hadiah untuk orang-orang yang telah meninggal? Rasulullah saw menjawab: “Sedekah dan doa.” Selanjutnya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap hari Jum’at arwah orang-orang yang beriman datang ke langit dunia vertikal dengan rumah mereka. Masing-masing mereka memanggil dengan suara yang sedih sambil menangis: Wahai keluargaku, wahai anak-anakku, wahai ayahku, wahai ibuku, wahai keluargaku, sayangi kami semoga Allah menyayangi kalian dengan apa yang telah dihadiahkan kepada kami. Celakalah kami, hisab (perhitungan) dibebankan pada kami, sementara yang memanfaatkan orang lain.

Mereka memanggil keluarganya: “Sayangi kami walaupun dengan satu dirham, atau sepotong roti atau sehelai pakaian. Semoga Allah memberi pakaian dari pakaian surga.”

Kemudian Nabi saw menangis, dan kami pun ikut menangis bersama Nabi saw, sehingga Nabi tidak mampu bercakap kerana banyaknya menangis. Kemudian beliau bersabda:
“Mereka adalah saudara-saudara kalian dalam agama. Mereka telah dihancurkan oleh tanah sesudah mereka memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan di dunia. Mereka memanggil dengan kata-kata celaka dan penyelasan atas diri mereka. Mereka berkata: Celakalah kami, sekiranya apa yang kami miliki kami infakkan dalam ketaatan dan keredhaan Allah, nescaya kami tidak menyusahkan kalian. Kemudian mereka kembali dengan sedih dan menyesal. Kerana itu, segeralah kamu bersedekah untuk keluarga kalian yang telah meninggal.” (Jami’ul Akhbar: 169)

Dalam hadis yang lain disebutkan:
“Tidaklah kamu bersedekah untuk orang yang telah meninggal, kecuali malaikat  mengambilnya di puncak cahaya yang sinarnya memancar sampai ke tujuh langit, kemudian ia berdiri di tepi liang kuburnya seraya memanggil: Assalamu’alaikum wahai penghuni kubur, keluargamu memberikan hadiah ini untukmu, lalu penghuni kubur itu mengambilnya dan membawanya ke kuburnya, sehingga menjadi luaslah tempat pembaringannya.” Kemudian Imam (sa) berkata: “Ingatlah, barangsiapa yang menyayangi orang yang telah meninggal dengan sedekah, ia memiliki pahala di sisi Allah sama dengan pahala orang yang berperang di perang uhud; dan pada hari kiamat nanti ia akan mendapat naungan arasy Allah, hari tidak ada naungan kecuali naungan arasy. Dengan sedekah orang yang hidup, yang meninggal dapat diselamatkan.” (Jami’ul Akhbar: 169)

Dalam kitabnya Zadul Ma’ad Allamah Al-Majlisi berkata: Hendaknya yang hidup tidak melupakan orang-orang yang telah meninggal, kerana mereka sangat terbatas untuk memperoleh amal yang baik. Mereka mengharap dan mengintip kebaikan dari anak-anaknya, kerabat, dan saudara-saudaranya yang beriman. Khususnya doa-doa mereka dalam solat-soat malam mereka, sesudah solat-solat fardhu, dan doa-doa mereka di kuburan-kuburan suci. Hendaknya seorang anak mendoakan ayah dan ibunya lebih banyak daripada terhadap orang lain, dan beramal kebajikan untuk mereka.

Dalam suatu hadis dikatakan: “Sungguh ada seorang hamba yang tercatat sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya ketika mereka masih hidup, kemudian keduanya meninggal, tetapi ia tidak melaksanakan apa yang mereka tinggalkan dalam agamanya dan tidak memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah azza wa jalla mencatatnya sebagai anak yang durhaka. Ada juga seorang hamba yang tercatat sebagai anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya dan tidak berbakti kepada mereka ketika mereka masih hidup, tetapi setelah mereka meninggal ia melaksanakan apa yang mereka ditinggalkan dalam agamanya, dan memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah azza wa jalla mencatatnya sebagai anak yang berbakti.” (Al-Kafi 2: 163, hadis ke 21)

Di antara kebaikan yang terpenting bagi kedua orang tua dan seluruh kerabat yang telah meninggal adalah menunaikan perintah agama yang mereka tinggalkan saat hidupnya, melepaskan mereka dari hak-hak Allah dan mahluk-Nya, mengqadha’ apa yang mereka tinggalkan, haji dan seluruh ibadahnya, dengan cara membayar atau bersedekah.

Dalam riwayat yang shahih dikatakan bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) melakukan shalat untuk anak-anaknya setiap malam dua rakaat, dan untuk kedua orang tuanya setiap hari dua rakaat; pada rakaat yang pertama setelah Fatihah membaca surat Al-Qadar, dan rakaat kedua surat Al-Kautsat. (Al-Bihar 82: 63)

Umar bin Yazid berkata bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) melakukan shalat untuk puteranya setiap malam dua rakaat, dan untuk orang tuanya setiap siang hari dua rakaat.” Kemudian aku bertanya kepadanya: Mengapa shalat untuk anak dilakukan di malam hari? Beliau menjawab: Karena permadani untuk anakku. (At-Tahdzib 1: 467, hadis ke 178)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:

“Sesungguhnya seorang mayat yang berada dalam himpitan kubur, kemudian Allah meluaskan kuburnya dan memberikan kurnia kepadanya. Lalu dikatakan kepadanya: Kamu diringankan dari himpitan kubur kerana solat Fulan saudaramu untukmu. Kemudian ditanyakan kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bolehkah solat dua rakaat itu untuk dua orang? Beliau menjawab: Boleh.

Selanjutnya beliau berkata: “Sesungguhnya seorang mayyit, ia merasakan bahagia akibat kasih sayang yang dihadiahkan kepadanya dan permohonan ampunan untuknya, sebagaimana orang yang hidup bahagia dengan hadiah yang diberikan kepadanya. (Al-Faqih 1: 117, hadis ke 554)

Rasulullah saw bersabda:

يدخل على الميت في قبره الصلاة والصوم والحجّ والصدقة والبر والدعاء ويكتب أجره للذي يفعله وللميت

“Masuklah pada mayyit di kuburnya shalat, puasa, haji, sedekah, kebajikan, dan doa; dan pahalanya dicatat untuk orang yang melakukan dan juga untuk mayyit. (A-Faqih 1: 117, hadis ke 557)

Rasulullah saw juga bersabda:

مَنْ عمل مِنَ المسلمين عن ميت عملا صالحاً اضعف له أجره ونفع الله به الميت

“Barangsiapa dari kalangan muslimin yang melakukan amal soleh untuk orang yang telah meninggal, Allah melipatgandakan pahala baginya dan dengannya memberi manfaat pada orang yang telah meninggal.” (Al-Faqih 1: 117, hadis ke 556)

Dalam suatu riwayat dikatakan: Jika seseorang bersedekah dengan diniatkan untuk orang yang telah meninggal, Allah memerintahkan kepada malaikat Jibril agar datang membawa seribu malaikat ke kuburnya, dan masing-masing malaikat membawa tempat makanan dan berkata: “Salam atasmu wahai kekasih Allah, ini hadiah dari Fulan bin Fulan untukmu.”

“Kemudian bercahayalah kuburnya, dan Allah memberikan kepadanya seribu kota di surga, mengawinkannya dengan seribu bidadari, memberinya seribu pakaian yang baru, dan menunaikan baginya seribu keinginan.” (Al-Bihar 82: 63, hadis ke 7)

Sumber: http://ahmadhumaizi.com/agama/sedekah-dan-doa-untuk-ahli-kubur/

09/12/2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Haji dan Umrah: Layakkah aku menjadi Tetamu Allah?

 

 

 


 

Musim cuti sekolah selain sinonim dengan majlis perkahwinan dan kenduri untuk meraikan pasangan yang telah diijab-kabulkan, ianya juga dikaitkan dengan program Umrah dan Ziarah bagi mereka yang berkemampuan untuk mengunjungi Makkah al-Mukarramah. Malah program umrah dan ziarah ini menjadi agenda tahunan bagi mereka yang telah mendapat nikmat melalui kunjungan ke Tanah Suci dan ibadah yang dilakukan di sana. Pelbagai tujuan dan gelagat manusia yang tersingkap disebalik keghairahan untuk mengunjungi Kota Suci ini. Ada yang pergi kerana ingin melancong dan melihat dengan lebih dekat disamping merasai sendiri kemuliaan Tanah Haram sebagaimana yang sering menjadi buah mulut para jemaah yang telah pernah mengunjunginya. Ada juga yang berazam untuk mengambil pengalaman pertama sebelum dijemput untuk menunaikan ibadah haji yang difardhukan.

 Walaupun kunjungan kita ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah Umrah yang sunat, namun harus difahami ibadah umrah juga adalah ibadah yang penting untuk dihayati, dipelajari manasiknya (cara perlaksanaannya) dan dimurnikan tujuan serta niat untuk melaksanakannya. Janganlah pula keghairahan itu nanti menjadi penyebabkan kepada kita terjebak dalam maksiat yang berganda disebabkan kejahilan yang kita bawa apabila melangkahkan kaki ke sana.

Kategori Tetamu Allah

Saudaraku, fahamilah bahawa ibadah umrah juga adalah ibadah utama bagi yang mampu dan telah terpanggil untuk menunaikannya. Daripada Abu Hurairah RA bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Orang-orang yang menunaikan haji dan umrah adalah tetamu Allah. Apabila mereka memohon kepadanya, pasti diperkenankan. Dan apabila mereka memohon keampunan kepadaNya, pasti diampunkan.” (Riwayat Nasa’i, ibnu Hibban dan Hakim).

Orang-orang yang menunaikan haji dan umrah adalah para tetamu Allah. Manakala kedudukan dan tahap kesempurnaan jemputannya pula dapat ditentukan berdasarkan kepada ciri-ciri keutamaan dan keadaan persiapan seseorang jemaah sebelum terpilih dan dipilih untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Secara umumnya para tetamu Allah tergolong kepada tiga kategori;

  1. Tetamu yang dijemput dengan rahmat dan keredhaanNya
  2. Tetamu yang diterima dalam keadaan kemurkaanNya.
  3. Tetamu yang diterima tetapi tidak jelas kedudukannya.

Ketiga-tiga golongan ini termasuk dalam jaminan Allah SWT, iaitu doa dan taubat mereka akan dikabulkan Allah SWT jika mereka memohon bersungguh-sungguh kepada-Nya serta memenuhi segala syaratnya. Namun terdapat perbezaan dari segi layanan Allah SWT kepada mereka setelah mana mereka tersenarai dalam jemputan-Nya itu.

a.      Tetamu yang dijemput dengan rahmat dan keredhaanNya

Golongan pertama ialah tetamu yang dijemput dengan rahmat dan keredhaanNya adalah dikalangan mereka yang telah membuat persiapan seawal niat dan azam untuk menunaikan haji serta umrah lagi. Antara persiapan yang telah mereka persiapkan;

  1. Membersihkan jiwa batiniah melalui taubat yang bersungguh-sungguh disamping memperbanyakkan doa-doa khusus supaya dijemput sebagai tetamu-Nya.
  2. Mempersiapkan diri dengan ilmu amali ibadah haji dan umrah seawal mungkin agar jelas difahami dengan rasa penuh keyakinan di dalam hati pada perlaksanaan dan penghayatan serta hikmahnya.
  3. Memberi tumpuan dan meningkatkan kualiti ibadah fardu seperti solat, zakat serta puasa malah diperkemaskan dan ditunaikan berserta amalan sunat dengan sebaik mungkin.
  4. Hubungan sesama manusia diperbaiki, jika ada dosa dan pernah membuat kejahatan kepada sesama insan maka ia akan bersegera memohon kemaafan kepada mereka.
  5. Dilangsaikan segala hutang yang mampu dijelaskan disamping membuat perancangan dengan teliti agar tidak membebankan mereka yang ditinggalkan.
  6. Mempersiapkan semua keperluan yang patut bagi meringankan segala bebanan dan tanggungjawab yang bakal ditinggalkan dengan secara yang halal. Mereka ikhlas melakukan yang demikian demi mencari redhanya Tuhan.

Keikhlasan mereka itu adalah antara penyebab kepada segala urusan mereka dipermudahkan Allah SWT. Malah sepanjang menunaikan ibadah haji dan umrah juga akan berada dalam ketenangan dan dilimpahi bantuan daripada Allah SWT. Mereka ini telah benar-benar menghayati dan mempraktikkan suruhan Allah SWT sebagai bekalan menuju kepada keredhaan-Nya, sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan hendaklah kamu membawa bekal dengan secukupnya, kerana sebaik-baik bekal itu ialah Takwa (memelihara diri), dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal (yang dapat memikir dan memahaminya).”(Surah al-Baqarah: 197)

 

Bekalan takwa mereka ialah pemeliharan diri daripada sifat-sifat mazmumah yakni sifat-sifat keji, memiliki ilmu serta praktikal ibadah yang sempurna. Disamping itu juga, mereka mempunyai kefahaman dalam ertikata yang sebenarnya dalam meningkatkan penghayatan pada ibadah dengan belajar untuk memperbaiki diri dalam setiap praktik amalan haji dan umrah. Memperelokkan hubungan mereka dengan Allah SWT melalui penyempurnaan iman dan kecintaan yang hakiki kepada Ilahi, serta menyantuni manusia dalam semua keadaan sebagai pelengkap keindahan akhlak dan adab melalui hablum minannas, hubungan mereka semasa manusia.

 

b.     Tetamu yang diterima dalam keadaan kemurkaanNya.

Manakala golongan kedua iaitu tetamu yang diterima dalam keadaan kemurkaan Allah SWTialah mereka yang sebaliknya.  Ada yang pergi ke Makkah dengan niat hanya untuk berziarah atau melancong dan mengalami sendiri pengalaman sebagaimana yang digembar-gemburkan oleh kebanyakkan orang yang telah menziarahinya.

Ada juga yang dalam keadaan terpaksa mengerjakan ibadah haji kerana mengikut suami, ibu bapa, keluarga, majikan, kelab atau jemaah tertentu. Ada juga yang merasai kewajipan itu pada dirinya lantas ia berusaha melayakkan dirinya, namun pelbagai niat dan persepsi yang dilahirkan hanya sekadar ‘melepaskan batuk di tangga sahaja’ tanpa membuat persiapan yang menyeluruh merangkumi niat, bekalan ilmu, iman dan amalan. Kebanyakkannya benar-benar berharap mendapat yang terbaik tetapi tidak menepati syarat. Tidak kurang juga yang hanya tangkap muat, asal terlaksana ibadah haji dan umrah sudah dianggap memadai.

Satu ketika seorang sahabat Nabi SAW, Abdullah Bin Umar RA apabila melihat rombongan haji sedang melewati satu jalan, beliau berkata: “Pada hari ini, para jemaah haji menjadi semakin berkurangan dan pengembara-pengembara semakin bertambah ramai.”

Ungkapan beliau itu bermaksud, para kekasih Allah SWT yang sebenar semakin sedikit. Iaitu mereka yang pergi menunaikan ibadah haji kerana Allah SWT disamping untuk mengambil faedah dan tarbiah daripadanya semakin berkurangan. Sementara dikalangan mereka yang tidak ikhlas telah bertambah dengan hebatnya. Justeru ia menyeru ke arah kesederhanaan dan menjauhkan segala kemewahan dan keseronokan.

Mana tidaknya, jemaah haji sekarang ini lebih didedahkan kepada segala kemudahan yang tersedia bermula dari bimbingan ibadah haji sehinggalah kepada pakej-pakej yang ditawarkan. Malah persekitaran dan aktiviti di tanah suci juga telah menampakkan kemewahan dan bersifat keduniaan. Perkara ini sedikit sebanyak akan mempengaruhi sikap dan tindakan dalam persiapan dan keadaan sebagai tetamu Allah.

Inilah cabaran terbesar di zaman kita ini. Justeru, para jemaah haji hendaklah menunjukkan tanda keghairahan cinta kepada Allah SWT, dan bukannya tanda cinta kepada kemewahan, kesenangan atau kecantikan yang bersifat keduniaan. Membuktikan bahawa pemergiannya untuk menunaikan ibadah haji itu semata-mata mencari keredhaan Allah SWT agar tidak tergolong dalam salah satu daripada golongan yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Akan datang kepada manusia suatu masa, umatku melakukan haji kerana empat perkara: Orang kaya melaksanakan ibadah haji kerana melancong. Orang pertengahan menunaikan haji kerana berniaga. Orang miskin menunaikan haji kerana meminta-minta. Orang qari dan para ilmuaan menunaikan haji kerana riya’ dan nama.”  (Riwayat al-Dailamy)

Ujian adalah kifarah        

Namun sifat pengampunnya Allah SWT masih memberi ruang dan peluang untuk para hamba-Nya bertaubat dan menginsafi diri. Walaupun hadirnya mereka mengundang kemurkaan Allah SWT disebabkan sikap yang ada pada diri mereka iaitu memberi keutamaan kepada nafsu dan bukannya untuk menyatakan ketaatan kepada Allah SWT. Tetapi Maha Pengasihnya Allah SWT masih membuka tawaran keampunan untuk hamba-hamba-Nya bertaubat dan menginsafi diri.

Justeru kepayahan, kesakitan, tekanan yang wujud semasa, sebelum atau selepas menunaikan haji dan umrah adalah kifarat serta ujian Allah SWT untuk para hamba-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadis sahih daripada Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudri, bahawa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Tidaklah seorang mukmin dilanda kecemasan, kelelahan dan kesedihan, melainkan Allah SWT akan menghapuskan segala kesalahannya.”(Riwayat Muslim)

 

 Inilah hakikatnya komunikasi tanpa suara antara Tuhan dengan para hamba-Nya. Ujian terkecil malah yang terbesar adalah takdir Allah SWT. Ia mempunyai maksud tertentu untuk dibuat penilaian. Bagi para tetamu Allah khususnya, ia adalah sebagai ingatan atau kifarat daripada dosa moga hamba-Nya itu akan segera bertaubat, menyedari segala kesilapan sama ada dengan Allah SWT ataupun sesama manusia. Ujian juga bermaksud qisas (pembalasan) ke atas dosa-dosa kita. Setiap perbuatan dosa mesti dihukum, sama ada di dunia ataupun di akhirat, kecuali jika kita telah bertaubat bersungguh-sungguh sehingga Allah SWT mengampuni dosa-dosa tersebut.

Ujian sebenarnya melatih kita untuk mengubah ketrampilan diri bagi mendapat sifat-sifat terpuji. Sabar, redha, tawakal, baik sangka, mengakui diri sebagai sebagai hamba yang lemah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, harapkan pertolongan Allah SWT, merasai dunia hanya nikmat sementara dan sebagainya. Semuanya ini tidak dapat kita bezakan melainkan melalui ujian yang disediakan Allah SWT mengikut tahap keimanan kita bagi mencetuskan segala sifatmahmudah dalam diri.

Natijahnya apabila mampu membuat diri terasa berdosa ianya juga adalah hasilan dari sifat terpuji yang telah kita miliki. Kadang-kala Allah SWT dedahkan dosa yang dilakukan hingga ramai orang tahu. Bukannya untuk menghina tetapi untuk memberi ingatan agar kita segera bertaubat dan tidak meneruskan dosa itu sampai bila-bila.

Banyak kisah pengalaman dari para jemaah haji atau umrah yang bertemu dengan pelbagai keadaan manusia yang dibukakan keaibannya oleh Allah SWT.  Mungkin itulah dia kifarat yang kadang-kala sehingga mencederakan perlaksanaan ibadah haji dan umrahnya. Bagaimana pula status haji atau umrahnya itu? Hanya Allah SWT sahaja yang mengetahuinya. Kita hanya mampu bersangka baik dan menilai dari lahiriah perbuatannya sahaja. Bila sah pada syarak maka sahlah hajinya. Terpulanglah kepada Allah SWT untuk menentukan nilai penerimaannya berdasarkan keikhlasan yang telah ditunjukkan sepanjang proses perlaksanaan ibadah tersebut.

Bagi mereka yang dikasihi Allah SWT, di dunia lagi Allah SWT hukum, tidak di akhirat, dengan didatangkan kesusahan, penderitaan, kesakitan dan sebagainya. Sekiranya kita boleh sabar dan redha, tentulah ada ganjaran pahala untuk kita. Sebaliknya kalau kita tidak boleh bersabar dan tidak redha malah merungut-rungut, mengeluh dan memberontak, ianya hanya akan menambah dosa pada diri kita. Begitulah Allah Yang Maha Pengasih kepada para hambaNya, tidak mahu menghukum kita di akhirat kerana penderitaan di akhirat yakni di neraka berpuluh-puluh kali ganda lebih dahsyat daripada penderitaan di dunia.

Ujian juga adalah untuk menilai sejauhmana keyakinan kita kepada Allah SWT. Semakin diuji sepatutnya semakin bertambah iman, dan semakin hampir kita dengan Allah SWT. Firman Allah yang bermaksud;

“Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, pada hal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang bersabar.”

(Surah ali-Imran: 142)

Namun begitu, kegagalan dalam menghayati hikmah ini menyebabkan kita bertambah jauh dengan Allah SWT; mengeluh dan menyesali takdir Allah SWT. Apatah lagi ianya akan menjauhkan kita untuk mengapai kesempurnaan haji dan umrah yang mabrur lagi bertadabbur.

c.      Tetamu yang diterima tetapi tidak jelas kedudukannya.

Seterusnya golongan ketiga iaitu tetamu yang diterima tetapi tidak jelas kedudukannya.Mereka dalam kategori ini pergi menunaikan haji dan umrah hanyalah sekadar kebetulan. Sekadar memenuhi kehendak semasa ataupun dalam keadaan terpaksa apabila sering disapa orang, rakan-rakan atau sanak saudara yang telah pergi menunaikannya. Seolah-olahnya hanya sebagai menyahut cabaran.

Suatu ketika saya pernah ditanya berkenaan dengan adanya dikalangan jemaah haji yang datang ke Makkah untuk menunaikan haji dan umrah sedangkan sebelum itu dia telah banyak melakukan dosa. Malah setelah pulang dari menunaikan haji pun ia masih lagi meneruskan amalan-amalan dosa yang pernah dilakukannya malah lebih hebat lagi. Bila ditanya, dia seolah-olah mempermain-mainkan saja teguran tersebut.

Ada antara mereka yang menjawab dengan angkuh; “Kau tengok aku. Aku nampak Kaabah, tak terasa panas, tak pernah sesat macam orang yang aku selalu dengar kisah-kisah aneh di Makkah tu. Itu menunjukkan aku okeylah. Tuhan merestui aku. Kalau aku jahat tentu aku ditimpa macam-macam insiden malang seperti yang diceritakan dalam kisah-kisah aneh tu. Ini tidak. Aku okey, okey saja..'”

Tidak mustahil, ada juga jemaah haji setelah pulang ke tanah air dengan keadaan selamba berterusan membuat dosa seperti membeli nombor ekor atau ramalan (loteri), mendedahkan aurat, menipu, rasuah, khianat dan sebagainya. Inilah sebuah realiti yang berlaku dikalangan para jemaah yang tidak memahami tujuan kefarduan ibadah haji dan umrah yang terdapat padanya latihan, hikmah serta pengajaran.

Perlu diingat, kisah-kisah misteri atau bala kesusahan bukanlah satu kemestian berlaku kepada setiap orang yang berdosa atau yang tidak betul niat dan tujuannya. Ia hanyalah tarbiah Allah SWT untuk mendidik para tetamu-Nya yang datang serta memiliki keazaman dan niat mengabdikan diri kepadaNya. Kadang-kala ianya bermanfaat sebagai pengajaran supaya hamba-hamba-Nya yang ikhlas itu sedar dan ingat untuk kembali bertaubat.

Namun hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala tujuan yang tersirat di dalam hati-hati manusia, ikhlas ataupun tidak. Boleh jadi Allah SWT akan membiarkan orang yang penuh dengan dosa dan leka akan terus lalai dengan kehidupannya. Na’uzubillahi min zalik. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah (Allah) Ar-Rahman melanjutkan baginya satu tempoh yang tertentu, hingga apabila mereka melihat apa yang dijanjikan kepada mereka, – sama ada azab sengsara dunia ataupun azab kiamat.”(Surah Maryam: 75)

Kesan dari pengabaian kepada dosa mengakibatkan akalnya sudah tidak mampu lagi membezakan antara ibadah dan adat. Biasanya apabila akal tidak berfungsi dengan sempurna sebagaimana sepatutnya, ingatan serta nasihat sudah tidak berguna lagi. Akal pada saat itu telah diseliputi nafsu yang akan membinasakan dirinya sendiri.  Keadaan beginilah yang seharusnya kita takuti dan berusaha menjauhinya. Bila dosa sudah dianggap nikmat serta mengaburi pandangan mata hati maka Allah SWT akan membiarkan kita terus leka dengan kehidupan di dunia ini tanpa hidayah-Nya.

Tanpa mengenali baik dan buruk yang terdapat dalam diri, akan menyebabkan kita hanyut dalam khayalan sendiri tanpa petunjuk dan bimbingan daripada Ilahi. Inilah pentingnya “Tazkiyatul Nafs” yakni membersihkan hati dan jiwa dari sifat-sifat keji dan dari segala penyakit serta keaiban yang akan menyebabkan kita buta dari mengenali Allah SWT dan perkara-perkara kebaikan dalam kehidupan.

Justeru jika tidak dibendung dan diperbaiki, mereka yang termasuk dalam golongan ketiga ini mungkin akan menjadikan amalan haji atau umrah ini hanya sekadar kebanggaan untuk ditunjuk-tunjuk bahawa mereka juga bertaubat serta beribadah. Namun hakikat sebaliknya, taubat mereka hanyalah kepura-puraan, tagis mereka hanyalah kemunafikan lantas mereka pulang ke tanah air dalam keadaan angkuh dengan Allah SWT dan riak sesama manusia.

Mereka kekal menjadi manusia yang derhaka kepada Allah SWT. Ibadah haji dan umrah dapat dilaksanakan dengan sempurna tetapi kewajipan menutup aurat masih diabaikan, segala perintah dan hukum Allah SWT masih dipertikai, malah segala perkara yang merupakan ibadah masih dicuai. Sesungguhnya mereka ini adalah insan malang yang tersungkur di hadapan pintu syurga.  “Ya Allah selamatkanlah kami dari keadaan ini.”

Sesungguhnya tidak ada ibadah yang paling buruk melebihi ibadahnya seorang yang fasiq(pelaku dosa besar dan dosa kecil yang terus menerus) tanpa taubat sebelumnya. Adakah kita berharap rahmat dan redha-Nya sedangkan kita tidak menjauhi larangan-Nya? Ketahuilah, bahawa syarat daripada ibadah yang diterima Allah SWT semestinya diawali dengan taubatan nasuha, taubat yang bersungguh-sungguh lahir dari hati yang penuh penyesalan, berhenti daripada segala kelakuan yang jahat, tinggalkan segala bentuk maksiat, sedangkan perkara itu semua merupakan penghalang kepada ibadah kita.

 

Kesimpulan

Saudaraku, layakkah bagi kita melakukan perjalanan panjang menuju Baitullah al-Haram untuk memenuhi panggilan-Nya sedangkan kita masih dalam keadaan zalim pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita? Tidakkah kita malu sebagai pelaku maksiat mendatangi Baitullah al-Haram hanya untuk diusir dan ditolak amalan serta doa? Maka jika kita ingin diterima atas panggilan ibadah haji atau umrah, bersihkanlah diri dari noda dan dosa, serta penuhilah perintah dan jauhi larangan-Nya sebelum keberangkatan kita menuju tanah yang Allah SWT muliakan.

Dengan membuang semua perkara yang dapat menghalangi ibadah haji dan umrah kita, bererti kita telah mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan-Nya, maka bersiaplah sebagaimana persiapan orang yang akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Tinggalkan wasiat kepada keluarga, anak dan isteri, kerana seorang musafir sangat dekat dengan musibah kecuali bagi orang yang mendapat perlindungan Allah SWT sahaja.

 
Sumber:
Mohamad Zaki Hilmi

09/12/2015 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

Nabi Sedih Umat Cuai Solat


Ketahuilah bahawa bencana dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib adalah berpunca daripada kurangnya perhatian masyarakat terhadap mengerjakan ibadah solat lima waktu, solat Jumaat, solat jemaah dan solat sunat yang lainnya.

Pada hal semua itu adalah ibadah yang dengannya Allah SWT meninggikan darjat dan menghapuskan dosa maksiat seseorang. Ibadah solat adalah cara ibadah seluruh penghuni langit dan bumi.

Cuai kerana urusan dunia

Rasulullah SAW bersabda bermaksud:

 

“Langit merintih dan memang ia patut merintih, kerana pada setiap tempat untuk berpijak terdapat malaikat yang bersujud atau berdiri (solat) kepada Allah Azzawajalla.” (Riwayat Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Orang yang meninggalkan ibadah solat kerana cuai oleh urusan dunia akan malang nasibnya, berat seksaannya, rugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya. Firman Allah SWT bermaksud: “Sesungguhnya solat itu adalah kewajipan yang ditentukan waktunya bagi orang yang beriman.”(An-Nisa : 103)

 

Abu Hurairah RA meriwayatkan: “Selepas Isyak aku bersama Umar bin Khattab ra pergi ke rumah Abu Bakar as-Siddiq untuk suatu keperluan. Sewaktu melalui pintu rumah Rasulullah SAW, kami mendengar suara rintihan. Kami pun berhenti sejenak. Kami dengar beliau menangis dan meratap: “Ah…andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap solat. Ah…aku sungguh menyesali umatku.”

Rasulullah menangis
“Wahai Abu Hurairah, mari kita ketuk pintu ini,” kata Umar dan kemudian mengetuk pintu. “Siapa?” tanya Aisyah. “Aku bersama Abu Hurairah.” Kami meminta izin untuk masuk dan beliau mengizinkannya. Setelah masuk, kami lihat Rasulullah SAW sedang bersujud dan menangis sedih, beliau berkata dalam sujudnya: “Wahai Tuhanku, Engkau adalah pengawalku bagi umatku, maka perlakukanlah mereka sesuai dengan sifat-sifat-Mu dan jangan perlakukan mereka sesuai perbuatan mereka.”

“Ya Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Apa gerangan yang terjadi, mengapa engkau begitu sedih?”

“Wahai Umar, dalam perjalananku ke rumah Aisyah selepas mengerjakan solat di masjid, Jibril mendatangiku dan berkata: “Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Benar mengucapkan salam kepadamu, kemudian ia berkata, bacalah.” “Apa yang harus kubaca?” “Bacalah firman Allah yang bermaksud: “Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang buruk) yang mensia-siakan solat dan menurutkan hawa nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam : 59).

“Wahai Jibril, apakah sepeninggalanku nanti umatku akan mencuaikan solat?”
“Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia daripada umatmu yang mencuaikan solat, mengakhirkan solat (hingga keluar dari waktunya), dan menurutkan hawa nafsu. Bagi mereka satu dinar lebih berharga daripada solat.” (Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar).

Abu Darda’ berkata: “Hamba Allah yang terbaik adalah yang memperhatikan matahari, bulan dan awan untuk berzikir kepada Allah, yakni untuk mengerjakan solat.” Diriwatkan pula bahawa amal yang pertama kali diperhatikan oleh Allah ialah solat. Jika solat seseorang cacat, maka semua amalnya akan ditolak.

Perintah ahli keluarga bersolat

Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu untuk solat, kerana Allah akan memberimu rezeki dari arah yang tidak pernah kamu duga.”

“Barang siapa meninggalkan solat dengan sengaja, maka ia telah kafir.” (Riwayat al-Bazzar dari Abu Darda’). Sabda Rasulullah SAW lagi bermaksud: “Barang siapa bertemu Allah sedang ia mencuaikan solat, maka Allah sama sekali tidak akan mempedulikannya.” (Riwayat Tabarani).

 
 

Sumber: http://epondok.wordpress.com/

09/12/2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

   

%d bloggers like this: