Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

HATI-HATI DALAM MENILAI HADIS PALSU

Oleh : Ustaz Umar Muhammad Noor

Setiap kali saya melihat sebuah hadis yang dinilai mawdhu’ [palsu] oleh ulama mutaakhirin dan kontemporari, berbagai soalan segera timbul di pikiran saya, “Apa yang menyebabkan hadis ini dinilai seperti itu?” Jika alasannya adalah seorang perawi pendusta [kadzzab] yang terdapat di dalam sanad, maka “apakah setiap hadis yang diriwayatkan seorang pendusta maka otomatik mawdhu’? Apa bukti yang menunjukkan bahawa pendusta ini tengah berdusta?”

Soalan ini tersimpan di kepala saya sejak bertahun-tahun yang lalu. Saya memang berusaha untuk selalu berhati-hati menilai sebuah hadis, samada menilainya sahih atau lemah, apalagi palsu. Sebab perkara ini bukan ringan. Penilaian kita terhadap suatu hadis sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kepercayaan dan amalan yang akan mewarnai wajah agama kita.

Khas berkenaan dengan hadis palsu ini, saya melihat orang-orang tertentu yang sangat ringan mengucapkannya. Mereka menilai sesebuah hadis dengan palsu meskipun tidak tahu apa faktor [‘illat] yang membawa kepada penilaian tersebut. Apabila ia berlindung di sebalik nama seorang pakar hadis [samada seorang ulama terdahulu atau semasa], saya perhatikan jarang sekali yang mencari pendapat ulama lain [second opinion] untuk membuka peluang perbezaan pendapat.

Sikap Ahli Hadis

Padahal, jika kita kembalikan masalah ini kepada ahli hadis, kita akan melihat sikap yang sangat matang tentang hal ini. Mereka tidak menilai palsu sebuah hadis kecuali selepas mengkajinya dari berbagai aspek. Dan status seorang perawi [meskipun ia seorang pendusta] bukan satu-satunya aspek yang menentukan sesebuah hadis mawdhu ataukah tidak?

Berkata Al-Hafiz Al-Sakhawi dalam “Fathul Mughits” 1/297:

“… demikianlah, dan sekadar tafarrud seorang pendusta, bahkan seorang pemalsu hadis, meskipun penilaian itu selepas kajian yang sangat sempurna dari seorang hafiz yang menguasai [ilmu hadis] dan peneliti yang akurat, tidak melazimkan hal tersebut [yakni hadis mawdu’]. Akan tetapi, kondisi itu mesti disokong oleh beberapa aspek lain yang akan dijelaskan nanti.”

Mengapa Al-Sakhawi berkata seperti itu? Jawabannya pernah saya jelaskan dalam artikel saya yang bertajuk “Membandingkan Metode Mutaqaddmin dan Mutaakhirin dalam Kritik Hadis”. Dalam tulisan tersebut, saya pernah menegaskan bahwa seorang perawi jujur boleh keliru, dan seorang pendusta boleh jujur. Maka tidak semua hadis yang sanadnya terdiri daripada perawi-perawi yang jujur otomotik sahih, dan sekarang saya harus menegaskan kebalikannya, iaitu tidak semua hadis yang terdapat di dalam sanadnya perawi yang pendusta mesti dinilai palsu.

Berkata Ibn Al-Jawzi di mukadimah kitabnya yang terkenal “Al-Mawdhu’at” 1/65 :

“Kadangkala sebuah sanad [terdiri dari] perawi-perawi yang kesemuanya tsiqat, akan tetapi hadisnya palsu, maqlub atau terjadi tadlis di dalamnya. Dan ini adalah kes yang paling berat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali pakar-pakar kritik.”

Terbuka untuk Khilaf

Bagi saya, menilai status hadis bukan untuk sembarang ulama, apalagi sembarang orang yang baru belajar ilmu hadis. Tugasan ini terlalu besar dan berbahaya. Untuk orang-orang seperti kita, sebaiknya kita “mentaqlid” sahaja penilaian pakar-pakar hadis yang diakui keilmuan dan kepakarannya di bidang ini.

Maka, apabila anda menemukan pakar hadis menilai palsu sesuatu hadis, maka jangan cepat-cepat memastikan hukum tersebut menjadi satu-satu hukum muktamad yang wajib diterima semua orang. Anda mesti memastikan terlebih dahulu, adakah hukum ini disepakati semua ulama, ataukah masih terjadi khilaf di dalamnya? Jika ada khilaf, maka maka jauhi kalimat “hadis palsu”. Anda boleh katakan hadis ini lemah atau munkar, tapi jangan katakan “hadis ini palsu” selama terdapat perbezaan pendapat di kalangan ahli hadis.

Berkata Al-Hafiz Abu Abdillah Al-Dzahabi dalam kitab “Al-Muqizah” hal. 36:

“Hadis mawdu adalah [hadis] yang matannya bertentangan dengan prinsip-prinsip agama dan perawinya pendusta. Seperti kitab “Arbain Al-Wad’aniah” dan naskah Ali Ridha yang didustakan atasnya. Hadis mawdu ini ada beberapa tingkatan. Antaranya, hadis yang disepakati bahawa ianya dusta. Perkara ini diketahui dengan pengakuan pembuatnya, dengan percobaan dusta daripadanya, atau lain-lain. Di antaranya juga, hadis dusta menurut kebanyakan ulama, sementara sebahagian yang lain menilainya sebagai sangat lemah atau mesti dibuang [saqith matruh]. Kami tidak berani menyebutnya sebagai mawdhu. Di antaranya juga, hadis yang dinilai lemah oleh jumhur, sementara sebahagian kecil ulama menilainya dusta.”

Jelas dari penjelasan Al-Dzahabi ini, hanya hadis yang disepakati oleh semua ahli hadis sebagai palsu sahaja yang boleh disebut mawdhu’. Sementara yang terjadi khilaf di dalamnya, maka ia boleh disebut dengan berbagai istilah lain yang menunjukkan kelemahannya, selain istilah mawdhu.

Khilaf siapa?

Namun, ucapan ini bukan membuka pintu khilaf selebar-lebarnya. Kita mesti teliti dalam melihat setiap khilaf yang terjadi di sekitar penilaian hadis ini. Tidak semua pendapat boleh dijadikan sandaran, dan tidak semua khilaf diterima sebagai khilaf. Hanya pendapat ulama yang benar-benar pakar dalam hadis sahaja yang boleh diambil kira dalam perdebatan ini. Iaitu para pakar hadis seperti Ibn Mahdi, Yahya Al-Qattan, Syu’bah, Ahmad, Ibn Al-Madini, Ibn Ma’in, Al-Bukhari, Muslim, Al-Daruqutni dan para ulama mutaqaddimin lainnya. Wallahu a’lam.

***Latarbelakang pendidikan :

Lahir di Bekasi, Indonesia. Lulusan B.A Usuluddin (Tafsir-Hadis) dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan M.A Usuluddin (Hadis) di Unversiti Omm Durman, Sudan. Menimba ilmu hadis di Damaskus Syria, sejak tahun 2002 hingga 2007.


24 August 2015 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: