Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Sifat Dasar Iblis Dalam Diri Manusia

Salah satu sifat dasar Iblis adalah “Saya lebih baik darinya”. “Kau telah menciptakan aku dari api dan telah menciptakannya dari tanah“, (Qur’an Surat al-A’raf: 12).

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Qur’an Surat al-A’raf: 12).

Ini kriteria sifat dasar iblis “Saya lebih baik darinya”, tapi kriteria sifat Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam adalah senantiasa bertambah ketakutan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertambah tawadhu’, bertambah kasih sayang, dan juga bertambah ramah terhadap sesama makhluk.

Apabila manusia itu bertambah kesholehannya, apakah dari jalan belajar atau beribadah, dengan belajar seperti membaca atau memahami masalah atau dengan beribadah seperti mengerjakan shalat malam dan berpuasa, bukti kejujuran amalannya itu tidak hanya ada pada penampilannya tapi akan terlihat jelas pada akhlaknya serta pergaulannya. Dan bukti ketidakjujuran amalannya itu adalah tidak terlihat pada akhlaknya bahkan sebaliknya. Setiap kali dia banyak melakukan ibadah, setiap kali itu pulalah ia banyak kepura-puraannya, semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah bertambah kerut wajahnya. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah dia membatasi dirinya dari beberapa kelompok manusia. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah banyaknya dia menghina kelompok-kelompok masyarakat. Setiap kali banyaknya dia berkomitmen dalam agama, setiap kali itulah dia bertambah kasar terhadap sesama keluarga terdekatnya yang kurang mentaati agama. Darimana datangnya semua hal ini? Bukanlah seperti ini sifat orang yang berkomitmen dalam beragama. Sebabnya tidak ada hubungan diantara cara ibadah yang dilakukannya atau cara ahli ilmu dengan hakikat yang sebenarnya yakni hubungan hati dengan Allah Subhanhu wa Ta’ala. Jadi kita memerlukan pergaulan dengan orang-orang shaleh agar kita dapat melihat kejujuran hati ini, agar dapat muhasabah diri ini dengan penuh kejujuran.

Duhai orang-orang yang telah dimuliakan Allah dengan selalu pulang pergi ke masjid, apakah yang kamu dapat darinya? Pandangan macam apakah yang kamu lihat kepada mereka yang ada di luar masjid? Kamu akan keluar dari masjid setelah majelis ini usai. Kamu akan temukan di jalanan pemuda-pemuda dengan kelakuan yang buruk. Ada yang kelakukannya meninggikan suara mengganggu orang di sekelilingnya dan tak mau peduli dengan suara-suara yang menegurnya. Bagaimanakah kamu akan melihatnya? Hah?! Adakah kamu akan melihatnya dengan pandangan belas kasihan serta kasih sayang? Tadi baru saja kamu mendengarkan nasihat-nasihat ini.

“Ya Allah sebagaimana Engkau telah dengarkan nasihat ini kepadaku serta memberi petunjuk kepadaku, maka dengarkanlah pula kepada mereka dan tunjukilah mereka”.

Apabila kamu melewati mereka, senyumlah kepada mereka dan ucapkan “Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh”. Kamu terus berjalan dengan tenang, berilah kesan di hati mereka agar mengikuti apa yang kamu lakukan itu.

Setelah kamu keluar dari majelis pengajian ini, kamu mungkin terasa diri penuh dengan kesholehan. Kamu telah banyak menelaah kitab, melakukan shalat jamaah, kemudian kamu keluar dan mendapati mereka-mereka ini. (Dengan sinisnya, kamu brerkata:) “Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. “Aku berlindung kepada Allah, eh apa ini?”. Kamu melihat mereka dengan pandangan kehinaan. Cara ini bukannya cara berlindung dari maksiat. Bukan begini cara menjauhinya, bukanlah seperti itu caranya. Berbeda antara ilmu yang diajari oleh Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dengan ilmu yang diajari oleh iblis.

Ada suatu kisah menyebutkan. Ada seorang penuntut ilmu sedang mengalami kebingungan dan keraguan, apakah akan masuk mengikuti majelis ini atau majelis yang itu. Dia melihat 2 kumpulan majelis pengajian ilmu yang berbeda. Kedua majelis sama-sama mengajarkan al-Qur’an dan al-Hadits. Dia bingung mau memilih dan mengikuti majelis yang mana. Lantas dia pergi kepada seorang yang sholeh untuk membuat pilihan baginya, lalu orang shaleh itu berkata: “Aku akan membawa kamu pergi menuju kedua majelis tersebut”.

Mereka kemudian masuk ke kumpulan majelis yang pertama dan berdiri. Orang shaleh ini sengaja berbuat demikian karena untuk mengetahui majelis mana yang harus dia ikuti. Mereka berdua berdiri di kumpulan majelis yang pertama dan ketika itu Sang Syaikh sedang mengajar. Di saat Syaikh itu melihat mereka berdua sedang berdiri, Syaikh berkata kepada mereka: “Duduk! Kenapa kamu berdiri?”. Orang shaleh ini menjawab: “Aku tidak ingin duduk di majelis kamu ini”. Syaikh itu bertanya: “Kenapa kamu tidak ingin duduk?”. Orang shaleh itu kembali menjawab: “Dalam hatiku ada rasa tak puas hati dengan kamu”. Syaikh berkata: “Dan aku juga sangat-sangat tak puas hati dengan kamu, keluarlah syaitan, dan jangan kamu merusak majelis ini..!”. Sang Pemuda berkata: “Ayo kita keluar dari sini sebelum kena pukul”.

Kemudian mereka berdua pergi ke kumpulan selanjutnya, majelis yang kedua, juga melakukan hal yang sama dalam keadaan berdiri. Ketika dalam majelis itu Syaikh melihat mereka yang berdiri dan berkata: “Mengapa kamu berdua tidak duduk?”. Nampak perbedaan dengan Syaikh yang tadi yang berkata “Duduk..!” dengan “Mengapa kamu berdua tidak duduk?”. Orang shaleh itu menjawab: “Aku tidak ingin duduk dalam majelismu ini”. Sang Syaikh kembali berkata: “Kenapa?’. Orang shaleh itu berkata: “Aku ada rasa tidak puas hati dengan kamu”. Lantas Syaikh itu menutup wajahnya lalu menangis dan berkata: “Innalillah wa inna ilaihi roji’un, astaghfirullohi wa atubu ilaih, mungkin Allah telah membukan kepada kamu aibku yang telah disembunyikan”. Dan Syaikh itu terus menangis sambil berkata: “Astaghfirullohi wa atubu ilaih… Astaghfirullohi wa atubu ilaih… Astaghfirullohi wa atubu ilaih… ”, (memohon ampunan Allah dan bertaubat kepadaNya). Dan orang shaleh yang berdiri itu menoleh kepada si pemuda yang bertanya kepadanya tadi: “Hai pemuda, majelis manakah yang akan kamu pilih? Di sini atau di sana?”.

Kriteria sifat orang yang shaleh itu akan tampak jelas pada akhlaknya yang shaleh pula. Jika kamu merasa harus membuat suatu pilihan. Dikatakan orang ini dalam kebenaran dan orang lain pula kata mereka dalam kebenaran, caranya lihatlah kepada akhlak mereka. Dimana ada tanda akhlak yang mulia, tandanya di situ ada agama. Dimana ada tanda akhlak yang mulia, tanda adanya juga di situ ilmu. Sekiranya di situ tidak ada akhlak yang mulia, maka di situ juga tidak ada agama dan ilmu. Tidak mungkin beragama itu tanpa ada akhlak yang mulia. Tidak mungkin ciri sifat kesholehan itu dengan tidak disertai akhlak yang mulia. Tidak mungkin adanya ilmu itu, dengan tanpa adanya akhlak yang mulia. Maka setiap yang berilmu dan yang beragama, jika tidak terdzahir (tampak) padanya akhlak yang mulia, maka di situ ada kecacatan pada orang yang berilmu dan yang beragama. Inilah kriterianya, janganlah kita berfikir melihat kepada orang lain tetapi pandanglah kepada diri kita sendiri, untuk memperbaiki diri diantara kita dengan Allah Subhanhu wa Ta’ala. Jadi, terjadinya kecacatan pada orang yang berilmu dan beragama mungkin karena terpisah darinya kefahaman makna kesholehan tentang akhlak pergaulan atau pun dengan sebab yang lain. Dengan sebab terpisahnya dia dari kelompok masyarakat yang memuliakan orang yang beragama dari yang lainnya, dan yang terakhir yaitu melihat kesan-kesan kesholehan pada diri kamu, yakni melihat terhadap hasil kesholehan yang lahir dalam diri kamu dan bagaimana kamu maju terhadapnya. Inilah kriteria sifat kesholehan, perhatikan dalam diri kamu, jangan kamu menilai dirimu ada sesuatu yang lebih baik dari orang lain.

Agama kita ini adalah agama yang beradab dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mencerminkan akhlak yang mulia terhadap makhlukNya. Jadi untuk itu kita muhasabah diri kita terhadap kesholehan yang kita peroleh ini, sebab jika kita muhasabah terhadap kesholehan diri ini, maka kita merasa membutuhkan kepada akhlak yang mulia. Kita memohon kepada Allah semoga kita mendapat kesempurnaan Taufiq. Ya Allah yang Maha Memberi Petunjuk kepada kebaikan dan membantu hambaNya ke arah kebaikan, berilah petunjuk kebaikan kepada kami dan bantu kami ke arahnya. Subhanallohi walhamdulillahi wa la ilaha illalloh wallohu akbar, berilah petunjuk kepada kami terhadap nasihat ini untuk senantiasa kembali kepadaMu, dan turunkanlah kepada kami pemberianMu serta lindungilah ahli kalimah la ilaha illalloh baik di Timur maupun di Barat dan hilangkanlah kegelisahan ahli la ilaha illalloh baik di Timur maupun di Barat. Amin…

(Disarikan dari majelis kuliah yang disampaikan oleh Sayyidil Habib Ali Zainal ‘Abidin bin ‘Abdurrahman al-Jufri Yaman).

Advertisements

18 May 2015 - Posted by | Bicara Ulama, Tasauf, Tazkirah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: