Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Berilmu tetapi tak berakhlak

Ada seorang pelajar baru memasuki kuliah ilmu, lalu belajarlah ia dua, tiga hadith dari gurunya. Kemudian dia sudah menghafaz sedikit sebanyak ayat al Quran. Gurunya itulah satu-satunya yang dijadikan sumber rujukan. Segala-galanya yang betul datangnya dari gurunya. Pasti tiada salah. Lalu ia mula bermain dengan persoalan hukum. Sebab dirasanya diri sudah cukup ilmu untuk berfatwa. Mana-mana yang tidak berkenan atau bercanggah dengan pendapatnya dia mengatakan itu adalah sesat barat.

Sehinggakan habis dihukum ulamak yang muktabar, mujtahid adalah tersilap pandangan mereka. Dengan memberi alasan yang dirasanya paling kukuh – ulamak tidak maksum, berhujjah mestilah mengikut dalil yang paling sahih dan terkuat.

Malangnya – yang betul baginya adalah ulamak yang ia ikut, tetapi ulamak yang lain pasti salah. Pasti salah hadithnya, dan berkemungkinan aqidah ulamak itu terkeluar dari ahlu sunnah wal jama’ah. Manakala dalil yang terkuat baginya – juga sebenarnya adalah dari apa yang ia dapat sendiri dari kitab yang ia baca. Tentunya dalil itu juga dari ulamak yang ia taksubkan.

Bermulalah era baru yang dizikirkan di bibirnya adalah – itu haram, ini bid’ah, engkau munafiq!, engkau sesat!

Hakikat Ilmu Yang Kita Ada

ALLahu..ALlah..

Adab sebagai pelajar, jika ilmu masih sedikit (hakikatnya ilmu manusia tiada yang banyak melainkan ALLah yang Empunya Ilmu), masih bertatih tahulah berakhlaq. Sedangkan para ulamak yang faqih, berkelana di bumi ALLah untuk mencari ribuan guru, bahkan menulis kitab-kitab yang menjadi rujukan hingga kini amat menjaga akhlaq sesama guru dan ulama yang lain. Sehinggakan sifat yang tercerna dari diri mereka menjadi ikutan bagi ulama yang takutkan ALLah.

“Sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun”. (Surah al Fatir : 28)

Oleh itu wahai pelajar, jika para ulama yang hebat ilmunya itu sendiri amat menjaga tutur katanya, tidak bermudah-mudah berhukum dengan apa yang tidak mereka ketahui. Mengapa kita sendiri yang amat sedikit ilmu tidak belajar untuk merendahkan diri? Adakah akhlaq itu tidak termasuk di dalam halal dan haram di dalam perhubungan sesama manusia? Sudah bolehkah kita berlaku sombong dengan ilmu yang sedikit sedangkan kita lupa ilmu yang kita ada juga boleh ditarik pada bila-bila masa?

Ilmu tanpa akhlaq menunjukkan kita sendiri menghina ilmu yang diberi oleh ALlah.

(tulisan oleh Ibnu Nafis)

28/08/2011 - Posted by | Renungan & Teladan | ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: