Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Penetapan Awal dan Akhir Ramadhan

Sebagai bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan, bulan Ramadhan selalu dinantikan kehadirannya oleh umat Islam. Namun sayangnya, momentum penting itu hampir selalu diwarnai perbedaan di antara umat Islam dalam mengawali dan mengakhirinya. Patut dicatat, problem tersebut itu tidak hanya terjadi di tingkat nasional, namun juga dunia Islam pada umumnya. Bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut?

Sebab Pelaksanaan Puasa: Ru’yah Hilal

Telah maklum bahwa puasa Ramadhan merupakan ibadah yang wajib ditunaikan setiap mukallaf. Allah Swt berfirman bermkasud:

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS al-Baqarah [2]: 183-185).
Rasulullah saw bersabda bermaksud:

“Islam dibangun atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji, dan berpuasa Ramadhan”. (HR al-Bukhari no. 7; Muslim no. 21; al-Nasa’i no. 4915; Ahmad no. 4567, dari Ibnu Umar ra ).

Berdasarkan ayat dan Hadits ini, serta dalil-dalil lainnya, puasa Ramadhan merupakan suatu ibadah yang wajib ditunaikan. Sebagai layaknya ibadah, syara’ tidak hanya menjelaskan status hukumnya –bahwa puasa Ramadhan adalah fardhu ‘ain–, tetapi juga secara gamblang dan rinci menjelaskan tentang tata cara pelaksanaannya, baik berkenaan dengan al-sabab, al-syarth, al-mâni’, al-shihah wa al-buthlân, dan al-‘azhîmah wa al-rukhshah-nya.

Berkenaan dengan sabab (sebab dilaksanakannya suatu hukum) puasa Ramadhan, syara’ menjelaskan bahwa ru’yah al-hilâl merupakan sabab dimulai dan diakhirinya puasa Ramadhan. Apabila bulan tidak bisa diru’yah, maka puasa dilakukan setelah istikmâl bulan Sya’ban. Ketetapan ini didasarkan banyak dalil. Beberapa di antaranya adalah Hadits-hadits berikut :

“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang), maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari”. (HR. Bukhari no. 1776 dari Abu Hurairah).

“Apabila kamu melihatnya (hila)l, maka berpuasalah; dan apabila kamu melihatnya, maka berbukalah. Jika ada mendung menutupi kalian, maka hitunglah”. (HR al-Bukhari no. 1767 dari Abu Hurairah)

“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian terhalang mendung, maka hitunglah tiga puluh bulan hari “.(HR Muslim no.1810, dari Abu Hurairah ra.)

“Janganlah kalian puasa hingga melihat hilal, jangan pula kalian berbuka hingga melihatnya, jika kalian terhalangi awan, maka sempurnakanlah hitungannya menjadi tiga puluh hari”. (HR. Bukhari no. 1773, Muslim no. 1795, al-Nasai no. 2093; dari Abdullah bin Umar ra.).

“Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang di antara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya (hilal Syawal). Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari”. (HR. Abu Dawud no. 1982, al-Nasa’i 1/302, al-Tirmidzi 1/133, al-Hakim 1/425, dari Ibnu Abbas dan di shahih kan sanadnya oleh al-Hakim dan disetujui oleh al-Dzahabi.)

“Sesungguhnya bulan itu ada dua puluh sembilah hari, maka janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya. Dan janganlah kalian berbuka hingga melihatnya. Apabila mendung menutupi kalian, maka perkirakanlah.” (HR. Muslim 1797, HR Ahmad no. 4258, al-Darimi no. 1743, al-Daruquthni no. 2192, dari Ibnu Umar ra).

Berdasarkan Hadits-hadits tersebut, para fuqaha berkesimpulan bahwa penetapan awal dan akhir Ramadhan didasarkan kepada ru’yah al-hilâl. Imam al-Nawawi menyatakan, “Tidak wajib berpuasa Ramadhan kecuali dengan melihat hilal. Apabila mereka tertutup mendung, maka mereka wajib menyempurnakan Sya’ban (menjadi tiga puluh hari), kemudian mereka berpuasa.[1]

Ali al-Shabuni berkata, “Bulan Ramadhan ditetapkan dengan ru’yah hilal, meskipun berasal dari seroang yang adil atau dengan menyempurnakan hitungan Sya’ban menjadi tiga puluh hari; dan tidak dianggap dengan hisab dan astronomi; berdasarkan sabda Rasulullah saw. ‘Shumû li ru’yatihi wa afthirû li ru’yatihi…”.[2]

Menurut pendapat Jumhur, kesaksian ru’yah hilal Ramadhan dapat diterima dari seorang saksi Muslim yang adil.[3] Ketetapan itu didasarkan oleh beberapa Hadits Nabi saw. Dari Ibnu Umar ra:
“Orang-orang melihat hilal, kemudian saya sampaikan Rasulullah saw, “Sesungguhnya saya melihatnya (hilal). Kemudian beliau berpuasa dan memrintahkan orang-orang untuk berpuasa”. (HR Abu Dawud no. 1995; al-Darimi no, 1744; dan al-Daruquthni no. 2170).

Dalam Hadits ini, Rasulullah saw berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa berdasarkan kesaksian Ibnu Umar ra. Itu artinya, kesaksian seorang Muslim dalam ru’yah hilah dapat diterima.

Dari Ibnu Abbas bahwa:
Telah datang seorang Arab Badui kepada Nabi Muhammad saw kemudian berkata, “Sungguh saya telah melihat hilal¤. Rasulullah bertanya, “Apakah anda bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah?” Orang tersebut menjawab, “Ya”. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal, umumkan kepada manusia (khalayak) agar mereka berpuasa besok.” (HR Imam yang lima, disahihkan oleh Khuzaimah & Ibnu Hiban).

Dalam Hadits tersebut dikisahkan, Rasulullah saw tidak langsung menerima kesaksian seseorang tentang ru’yah. Beliau baru mau menerima kesaksian ru’yah orang itu setelah diketahui bahwa dia adalah seorang Muslim. Andaikan status Muslim tidak menjadi syarat diterimanya kesaksian ru’yah Ramadhan, maka Rasulullah saw tidak perlu melontarkan pertanyaan yang mempertanyakan keislamannya

Tidak Terikat dengan Mathla’
Persoalan berikutnya adalah mathla’ (tempat lahirnya bulan). Sebagian ulama Syafi’iyyah berpendapat, jika satu kawasan melihat bulan, maka daerah dengan radius 24 farsakh dari pusat ru’yah bisa mengikuti hasil ru’yat daerah tersebut. Sedangkan daerah di luar radius itu boleh melakukan ru’yah sendiri, dan tidak harus mengikuti hasil ru’yat daerah lain.

Pendapat tersebut disandarkan kepada Hadits yang diriwayatkan dari Kuraib:

Bahwa Ummul Fadl telah mengutusnya untuk menemui Muawiyyah di Syam. Kuraib berkata, “Aku memasuki Syam lalu menyelesaikan urusan Ummul Fadhl. Ternyata bulan Ramadhan tiba sedangkan aku masih berada di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jumat. Setelah itu aku memasuki kota Madinah pada akhir bulan Ramadhan. Ibnu ‘Abbas lalu bertanya kepadaku dan menyebut persoalan hilal’. Dia bertanya, ‘Kapan kalian melihat hilal?’ Aku menjawab, ‘Kami melihatnya pada malam Jum’at.’ Dia bertanya lagi, ‘Apakah kamu sendiri melihatnya?’ Aku jawab lagi, ‘Ya, dan orang-orang juga melihatnya. Lalu mereka berpuasa, begitu pula Muawiyyah.’ Dia berkata lagi, ‘Tapi kami (di Madinah) melihatnya pada malam Sabtu. Maka kami terus berpuasa hingga kami menyempurnakan bilangan tiga puluh hari atau hingga kami melihatnya.’ Aku lalu bertanya, ‘Tidak cukupkah kita berpedoman pada ru’yat dan puasa Muawiyyah?’ Dia menjawab, ‘Tidak, (sebab) demikianlah Rasulullah Saw telah memerintahkan kepada kami’. ( HR. Muslim no. 1819; Abu Dawud no. 1985; al-Tirmidzi 629; al-Nasa’i no. 2084; Ahmad no. 2653).

Hadits yang diriwayatkan Kuraib ini dijadikan sebagai dalil bagi absahnya perbedaan awal dan akhir Ramadhan karena perbedaan mathla’. Apabila dikaji lebih teliti, sesungguhnya pendapat ini mengandung sejumlah kelemahan.

Di antaranya:
Pertama, dalam Hadits ini terdapat syubhat, apakah Hadits ini tergolong Hadits marfû’ atau mawqûf. Ditilik dari segi lafazhnya, perkataan Ibnu ‘Abbas, “Hakadzâ amaranâ Rasûlullâh saw” (demikianlah Rasulullah saw memerintahkan kepada kami), seolah-olah menunjukkan sebagai Hadits marfû’. Namun jika dikaitkan dengan munculnya perkataan itu, kesimpulan sebagai Hadits marfu’ perlu dipertanyakan.

Jika dicermati, perkataan “Lâ, hakadzâ amaranâ Rasûlullâh saw” merupakan jawaban Ibnu Abbas atas pertanyaan Kuraib dalam merespon suatu peristiwa yang terjadi pada masa beliau. Yakni terjadinya perbedaan antara penduduk Madinah dan penduduk Syam dalam mengawali puasa. Penduduk Syam melihat hilal pada malam Jumat, sementara penduduk Madinah melihatnya pada malam Sabtu. Ketika kejadian itu ditanyakan kepada Ibnu Abbas, mengapa penduduk Madinah tidak mengikuti ru’yah penduduk Syam saja, kemudian keluarlah jawaban Ibnu Abbas tersebut.

Bertolak dari kisah tersebut, maka ke-marfu-an Hadits ini perlu dipertanyakan: “Apakah peristiwa serupa memang pernah terjadi pada masa Rasulullah saw dan demikianlah keputusan beliau saw dalam menyikapi perbedaan itu?” “Ataukah itu merupakan kesimpulan Ibnu Abbas atas sabda Rasulullah saw mengenai penentuan awal dan akhir Ramadhan, sehingga perkataan Ibnu Abbas itu adalah penerapan hasil ijtihad beliau terhadap kasus ini?”

Di sinilah letak syubhat Hadits ini, apakah tergoloh marfû’ atau mawqûf. Agar lebih jelas, kita bisa membandingkan Hadits ini dengan Hadits lain yang tidak mengandung syubhat, yang sama-sama menggunakan ungkapan “amaranâ Rasûlullâh saw”. Hadits dari Ibnu Umar yang berkata:

“Rasulullah saw memerintahkan kami dalam zakat fithri agar ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang untuk shalat”. (HR Abu Dawud).

Hadits ini tidak diragukan sebagai Hadits marfû’. Sebab, Hadits ini berisi sebuah ketentuan hukum atas suatu perbuatan. Berbeda halnya dengan Hadits Ibnu Abbas di atas, yang berisi jawaban beliau mengenai suatu kasus yang terjadi masa beliau. Tampak bahwa perkataan Ibnu Abbas tersebut merupakan ijtihad beliau dalam menyikapi kejadian yang terjadi pada saat itu. Kesimpulan demikian juga disampaikan oleh sebagian ulama, seperti al-Syaukani yang menggolongkan Hadist ini sebagai ijtihad Ibnu Abbas.[4]

Sebagai sebuah ijtihad, kaum Muslim diperbolehkan untuk taklid kepada ijtihad Ibnu Abbas. Namun jika untuk dijadikan sebagai dalil syara’, yang darinya digali hukum-hukum syara’, jelas tidak diperbolehkan. Sebab, sahabat bukanlah orang yang ma’shum. Ijtihadnya tidak termasuk dalam dalil syara’.[5]

Kedua, jika dalam Hadits ini kaum Muslim diizinkan untuk mengikuti ru’yah di masing-masing daerahnya, pertanyaan yang muncul adalah: “Berapa jarak minimal antara satu daerah dengan daerah lainnya yang mereka diperbolehkan berbeda?” “Jika dalam Hadits ini jarak antara Madinah dengan Syam diperbolehkan bagi penduduknya untuk berbeda mengawali dan mengakhiri puasa, bagaimana jika jaraknya lebih dekat?” Hadits ini juga tidak memberikan jawabannya. Oleh karena itu, para ulama yang mengamalkan Hadits Kuraib ini pun berbeda pendapat mengenai jarak minimalnya.

Ada yang menyatakan, jarak yang diperbolehkan berbeda puasa itu adalah perbedaan mathla’. Ini ditegaskan oleh ulama Iraq dan dibenarkan oleh al-Nawawi dalam al-Rawdhah dan Syarh al-Muhadzdzab. Ada pula yang menggunakan ukuran jarak mengqashar shalat. Hal ini ditegaskan Imam al-Baghawi dan dibenarkan oleh al-Rafi’i dalam al-Shaghîr dan al-Nawawi dalam Syarh al-Muslim. Lainnya mendasarkan pada perbedaan iklim. Dan sebagainya. Patut dicatat, semua batasan jarak itu tidak ada yang didasarkan pada nash yang sharih.

Bertolak dari dua alasan itu, maka Hadits Kuraib tidak bisa dijadikan sebagai dalil bagi absahnya perbedaan penetapan awal dan akhir puasa berdasarkan perbedaan mathla’. Dalam penetapan awal dan akhir puasa akan lebih tepat jika menggunakan dalil-dalil Hadits yang jelas marfu’ kepada Nabi saw. Imam al-Amidi mengatakan, “Hadits yang telah disepakati ke-marfu’-annya lebih dikuatkan daripada hadits yang masih diperselisihkan ke-marfu’-annya. Hadits yang dituturkan dengan lafadz asli dari Rasulullah Saw lebih dikuatkan daripada hadits yang diriwayatkan bil makna.”[6]
Berkait dengan Hadits dari Ibnu Abbas, terdapat Hadits yang diriwayatkan oleh beliau sendiri yang tidak diragukan ke-marfu’-annya, seperti Hadits:

Dari Ibnu ‘Abbas ra yang berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian berpuasa sebelum Ramadhan. Berpuasalah karena melihatnya dan berkulah karena melihatnya. Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari.” (HR al-Tirmidzi no. 624; Ibnu Hibban no. 2301)

Juga Hadits-hadits lainnya yang tidak diragukan ke-marfu’-annya. Dalam Hadits-Hadits itu kaum Muslim diperintahkan untuk berpuasa dan berbuka karena adanya ru’yah hilal. Semua perintah dalam Hadits tersebut berbentuk umum. Hal itu terlihat seruan Hadits-Hadits itu yang menggunakan kata shûmû dan afthirû (dhamîr jamâ’ah, berupa wâwu al-jamâ’ah). Pihak yang diseru oleh Hadits tersebut adalah seluruh kaum Muslim. Karena berbentuk umum, maka seruan hadits ini berlaku umum untuk seluruh kaum Muslim, tanpa ada perbedaan antara orang Syam dengan orang Hijaz, antara orang Indonesia dengan orang Irak, orang Mesir dengan Pakistan.

Demikian juga, kata li ru’yatihi (karena melihatnya). Kata ru’yah adalah ism al-jins. Ketika ism al-jins itu di-mudhaf-kan, termasuk kepada dhamîr (kata ganti), maka kata itu termasuk dalam shighah umum, [7] yang memberikan makna ru’yah siapa saja. Itu berarti, apabila sudah ada yang melihat hilal, siapa pun dia asalkan Muslim yang adil, maka kesaksian itu mewajibkan kepada yang lain untuk berpuasa dan berbuka. Terlihatnya hilal Ramadhan atau hilal Syawal oleh seorang Muslim di mana pun ia berada, maka ru’yah itu mewajibkan kepada seluruh kaum Muslim untuk berpuasa dan berbuka, tanpa terkecuali. Tidak peduli apakah ia tinggal di negeri yang dekat atau negeri yang jauh dari tempat terjadinya ru’yah.

Imam al-Syaukani menyatakan, “Sabda beliau ini tidaklah dikhususkan untuk penduduk satu daerah tertentu tanpa menyertakan daerah yang lain. Bahkan sabda beliau ini merupakan khitâb (seruan) yang ditujukan kepada siapa saja di antara kaum Muslim yang khitab itu telah sampai kepadanya. ‘Apabila penduduk suatu negeri telah melihat hilal, maka (dianggap) seluruh kaum Muslim telah melihatnya. Ru’yah penduduk negeri itu berlaku pula bagi kaum Muslim lainnya’.”

Imam al-Syaukani menyimpulkan, “Pendapat yang layak dijadikan pegangan adalah, apabila penduduk suatu negeri telah melihat bulan sabit (ru’yatul hilal), maka ru’yat ini berlaku pula untuk seluruh negeri-negeri yang lain.”[8]
Imam al-Shan’ani berkata, “Makna dari ucapan ‘karena melihatnya’ adalah “apabila ru’yah didapati di antara kalian”. Hal ini menunjukkan bahwa ru’yah pada suatu negeri adalah ru’yah bagi semua penduduk negeri dan hukumnya wajib.”[9]
Pemahaman tersebut juga dikuatkan oleh beberapa Hadits yang menunjukkan tidak berlakunya perbedaan mathla’. Diriwayatkan dari sekelompok sahabat Anshor:

“Hilal bulan Syawal tertutup oleh mendung bagi kami sehingga kami tetap berpuasa pada keesokan harinya. Menjelang sore hari datanglah beberapa musafir dari Mekkah ke Madinah. Mereka memberikan kesaksian di hadapan Nabi saw bahwa mereka telah melihat hilal kemarin (sore). Maka Rasulullah saw memerintahkan mereka (kaum Muslim) untuk segera berbuka dan melaksanakan sholat ‘Ied pada keesokan harinya”. (HR. Ahmad dishahihkan oleh Ibnu Mundir dan Ibnu Hazm).

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan kaum Muslim untuk membatalkan puasa setelah mendengar informasi ru’yah hilal bulan Syawal dari beberapa orang yang berada di luar Madinah al-Munawarah. Peristiwa itu terjadi ketika ada serombongan orang dari luar Madinah yang memberitakan bahwa mereka telah melihat hilal Syawal di suatu tempat di luar Madinah al-Munawarah sehari sebelum mereka sampai di Madinah. Dari Ibnu ‘Abbas:

“Datang seorang Badui ke Rasulullah SAW seraya berkata: Sesungguhnya aku telah melihat hilal. (Hasan, perawi hadits menjelaskan bahwa hilal yang dimaksud orang Badui itu adalah hilal Ramadhan). Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?” Dia berkata, “Benar.” Beliau meneruskan pertanyaannya seraya berkata, “Apakah kau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Dia berkata, “Ya benar.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal umumkan kepada orang-orang untuk berpuasa besok.” (HR Abu Daud and al-Tirmidzi, disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Dalam Hadits tersebut, Rasulullah saw tidak menanyakan asal si saksi, apakah dia melihatnya di daerah mathla’ yang sama dengan beliau atau berjauhan. Akan tetapi beliau langsung memerintahkan kaum Muslim untuk berpuasa ketika orang yang melakukan ru’yah itu adalah seorang Muslim.

Bertolak dari beberapa argumentasi tersebut, maka pendapat yang rajih adalah pendapat yang tidak mengakui absahnya perbedaan mathla’. Pendapat ini pula yang dipilih oleh jumhur ulama, yakni dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hanabilah. Mereka tidak menganggap adanya perbedaan penentuan awal dan akhir puasa karena perbedaam mathla’.[10] Ketiga madzhab (Abu Hanifah, Maliki, Ahmad) itu berpendapat bahwa awal Ramadhan ditetapkan berdasarkan ru’yah, tanpa mempertimbangkan perbedaan mathla’.

Sayyid Sabiq menyatakan, “Menurut jumhur, tidak dianggap adanya perbedaan mathla’ (ikhtilâf al-mathâli’). Oleh karena itu kapan saja penduduk suatu negeri melihat hilal, maka wajib atas seluruh negeri berpuasa karena sabda Rasulullah saw, ”Puasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” Seruan ini bersifat umum mencakup seluruh ummat. Jadi siapa saja di antara mereka yang melihat hilal; di tempat mana pun, maka ru’yah itu berlaku bagi mereka semuanya.”[11]

Abdurahman al-Jaziri menuturkan, “Apabila ru’yah hilal telah terbukti di salah satu negeri, maka negeri-negeri yang lain juga wajib berpuasa. Dari segi pembuktiannya tidak ada perbedaan lagi antara negeri yang dekat dengan yang jauh apabila (berita) ru’yah hilal itu memang telah sampai kepada mereka dengan cara (terpercaya) yang mewajibkan puasa. Tidak diperhatikan lagi di sini adanya perbedaan mathla’ hilal secara mutlak. Demikianlah pendapat tiga imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Ahmad). Para pengikut madzhab Syafi’i berpendapat lain. Mereka mengatakan, ‘Apabila ru’yah hilal di suatu daerah telah terbukti, maka atas dasar pembuktian ini, penduduk yang terdekat di sekitar daerah tersebut wajib berpuasa. Ukuran kedekatan di antara dua daerah dihitung menurut kesamaan mathla’, yaitu jarak keduanya kurang dari 24 farsakh. Adapun penduduk daerah yang jauh, maka mereka tidak wajib berpuasa dengan ru’yah ini, kerana terdapat perbedaan mathla’.”[12].

Al-Qurthubi menyatakan, “Menurut madzhab Malik rahimahullah –diriwayatkan oleh Ibnu Wahab dan Ibnu al-Qasim– apabila penduduk kota Basrah (Irak) melihat hilal Ramadhan, lalu berita itu sampai ke Kufah, Madinah, dan Yaman, maka wajib atas kaum Muslimin, berpuasa berdasarkan ru’yah tersebut. Atau melakukan qadha puasa jika berita itu datangnya terlambat.”[13]

Tentang pendapat madzhab Hanafi, Imam Hashfaky menyatakan, “Bahwasanya perbedaan mathla’ tidak dapat dijadikan pegangan. Begitu juga melihat bulan sabit di siang hari, sebelum dhuhur, atau menjelang dhuhur. Dalam soal ini, penduduk di wilayah Timur (benua Asia) harus mengikuti (ru’yat kaum Muslimin) yang ada di Barat (Timur Tengah), jika ru’yat mereka dapat diterima (syah) menurut Syara’ “.[14]

Tak jauh berbeda, menurut Madzhab Hanbali, apabila ru’yat telah terbukti, di suatu tempat yang jauh atau dekat, maka seluruh kaum Muslimin harus ikut melakukan puasa Ramadhan.[15]

Sebagian pengikut Madzhab Maliki, seperti Ibnu al Majisyun, menambahkan syarat, ru’yat itu harus diterima oleh seorang khalifah. “Tidak wajib atas penduduk suatu negeri mengikuti rakyat negeri lain, kecuali hal itu telah terbukti diterima oleh al-imâm al-a’dham (khalifah). Setelah itu, seluruh kaum Muslimin wajib berpuasa. Sebab, seluruh negeri bagaikan satu negeri. Dan keputusan khalifah berlaku bagi seluruh kaum Muslim” [16]

Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ al-Fatawa berkata, “Orang-orang yang menyatakan bahwa ru’yah tidak digunakan bagi semuanya (negeri-negeri yang lain) seperti kebanyakan pengikut-pengikut madzhab Syafi’i; dan di antara mereka ada yang membatasi dengan jarak qashar shalat, ada yang membatasi dengan perbedaan mathla’ seperti Hijaz dengan Syam, Iraq dengan Khurasan”, sesungguhnya kedua-duanya lemah (dha’if) karena jarak qashar shalat tidak berkaitan dengan hilal…Apabila seseorang menyaksikan pada malam ke 30 bulan Sya’ban di suatu tempat, dekat maupun jauh, maka ia wajib berpuasa. Demikian juga kalau ia menyaksikan hilal pada waktu siang menjelang maghrib maka ia harus imsak (berpuasa) untuk waktu yang tersisa, sama saja baik satu iklim atau banyak iklim.”[17]

Jelaslah, menurut pendapat yang rajih dan dipilih jumhur, jika penduduk negeri-negeri Timur (benua Asia) jauh melihat bulan sabit Ramadhan, maka ru’yah wajib diikuti oleh kaum Muslimin yang berada di negeri-negeri belahan Barat (Timur Tengah), tanpa kecuali. Siapapun dari kalangan kaum muslimin yang berhasil melakukan ru’yatuh hilal maka ru’yah tersebut merupakan hujjah bagi orang yang tidak melihatnya. Kesaksian seorang muslim di suatu negeri tidak lebih utama dari kesaksian seorang muslim di negeri yang lain.

Akibat Nasionalisme dan Garis Batas Nation State
Patut digarisbawahi, perbedaan awal dan akhir puasa yang terjadi di negeri-negeri Islam sekarang ini bukan disebabkan oleh perbedaan mathla’ sebagaimana dibahas oleh para ulama dahulu. Pasalnya, pembahasan ikhtilâf al-mathâli’ (perbedaan mathla’) oleh fuqaha’ dahulu berkaitan dengan tempat terbit bulan. Sehingga yang diperhatikan adalah jarak satu daerah dengan daerah lainnya. Apabila suatu daerah itu berada pada jarak tertentu dengan daerah lainnya, maka penduduk dua daerah itu tidak harus berpuasa dan berbuka puasa. Sama sekali tidak dikaitkan dengan batas begara.
Berbeda halnya dengan saat ini. Perbedaan mengawali dan mengakhiri Ramadhan diakibatkan oleh pembagian dan batas-batas wilayah negeri-negeri Islam. Di setiap negeri Islam terdapat institusi pemerintah yang memiliki otoritas untuk menentukan itsbât (penetapan) awal dan akhir Ramadhan. Biasanya, sidang itsbât tersebut hanya mendengarkan kesaksian ru’yah hilal orang-orang yang berada dalam wilayah negeri tersebut. Apabila di negeri itu tidak ada seorang pun yang memberikan kesaksiannya tentang ru’yah hilal, maka langsung digenapkan, tanpa menunggu terlebih dahulu apakah di negeri-negeri lainnya –bahkan yang berada di sebelahnya sekalipun– terdapat kesaksian dari warganya yang telah melihat hilal atau belum. Hasil keputusan tersebut lalu diumumkan di seluruh negeri masing-masing. Akibatnya, terjadilah perbedaan dalam mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan antara negeri-negeri muslim.

Kaum Muslim di Riau tidak berpuasa bersama dengan kaum Muslim di Kuala Lumpur. Padahal perbedaan waktu antara kedua kota itu tidak sampai satu jam. Padahal, pada saat yang sama kaum Muslim di Acah bisa berpuasa bersama dengan kaum Muslim di Papua. Tentu saja ini sesuatu yang amat janggal. Penentuan awal dan akhir Ramadhan berkait erat dengan peredaran dan perputaran bumi, bulan, dan matahari. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan batas negara yang dibuat manusia dan bisa berubah-ubah. Jelaslah, perbedaan awal dan akhir puasa yang saat ini terjadi lebih disebabkan oleh batas khayal yang dibuat oleh negara-negara kafir setelah runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyyah. Garis batas negara bangsa itu pula yang mengoyak-oyak kesatuan Muslim dalam naungan satu khilafah menjadi lebih dari lima puluh negara-negara kecil.

Khatimah
Perbedaan awal dan akhir puasa di negeri-negeri Islam hanya merupakan salah satu potret keadaan kaum Muslim. Kendati mereka satu ummat, namun secara kongkrit umat Islam terpecah-pecah. Di samping masih mengeramnya paham nasionalisme yang direalisasikan dalam bentuk nation state di negeri-negeri Islam, keberadaan khilafah sebagai pemersatu ummat Islam hingga sekarang belum berdiri (setelah khilafah Islamiyyah terakhir di Turki diruntuhkan oleh kaum kuffar). Ketiadaan khilafah inilah menjadikan kaum muslimin berpecah-pecah menjadi lebih dari lima puluh negara kecil-kecil, yang masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Karena itu, solusi mendasar yang benar untuk menyelesaikan semua prob¬lematika kaum muslimin tersebut sesungguhnya ada di tangan mere¬ka. Yaitu, melakukan upaya dengan sungguh-sungguh bersama dengan para pejuang yang mukhlish untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam dengan mengembalikan keberadaan Daulah Khilafah, mengangkat seorang khalifah untuk menyatukan negeri-negeri mereka dan mener¬apkan syariْat Allah atas mereka. Sehingga kaum muslimin bersama khalifah, dapat mengemban risalah Islam dengan jihad kepada seluruh ummat manusia. Dengan demikian kalimat-kalimat orang kafir menjadi rendah dan hina. Dan sebaliknya, kalimat-kalimat Allah Swt menjadi tinggi dan mulia. Kaum muslim¬in hidup dengan terhormat dan mulia di dunia, mendapatkan ridha Allah Swt dan mendapatkan pahalanya di akhirat nanti. Allah Swt berfirman bermaksud:

“Dan katakanlah bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah Swt) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Taubah [9]: 105).

(Sumber)
________________________________________
[1] al-Nawawi, al-Majmû’Syarh al-Muhadzdzab,6/269
[2] Ali al-Shabuni, Rawâi’ al-Bayân, 1/210
[3] Mahmud bin Abdul Lathif, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Shalâh, 28; Ali al-Shabuni, Rawâi’ al-Bayân, 1/210
[4] al-Syaukani, Nayl al-Awthâr,7/25
[5] Dalil syara yang mu’tabar adalah al-Kitab, al-Sunnah, Ijma’ Sahabat, dan Qiyas.
[6] al-Amidi, al-Ihkâm fi Ushûl al-Ahkâm, jld. 2/364.
[7] al-Amidi, al-Amidi, al-Ihkâm fi Ushûl al-Ahkâm, 1/329
[8] Lihat pula pendapat Imam Ibnu Hajar al-Asqalani; Fath al-Bârî; Bab Shiyâm.
[9] Al-Shan’ani, Subul al-Salâm, jld. 2, hal. 310.
[10] al-Shabuni, Rawâi’ al-Bayân, 1/210
[11] Sayyid Sabiq, Fiqh al- Sunnah, 1/368.
[12] al-Jaziri, al-Fiqh ‘alâ al-Madzhâhib al-Arba’ah, 1/550
[13] al-Qurthuby, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 2/296.
[14] al-Hashfaky, “al-Durr al-Mukhtâr wa Radd al-Muhtâr”, 2/131-132
[15] Mughn al-Muhtâj, 2/223-224
[16] al-Syaukani, Nayl al- Authar, 2/ 218.
[17] Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, 25/104-105.

13/07/2011 Posted by | Ibadah | Leave a comment

BERSIH dalam kotor!

Seperti yang saya sebut dalam program Bicara Rakyat, secara langsung TV1, Jumaat lalu, dalam sistem demokrasi, rakyat mempunyai hak untuk menyuarakan pendapat melalui pelbagai saluran. Tidak salah berdemonstrasi kerana ia dibenarkan oleh perlembagaan. Asas demokrasi adalah kerajaan dari rakyat, untuk rakyat. Tetapi satu perkara kita harus ingat, jika kebebasan tersebut boleh menjejaskan kesejahteraan dan keselamatan rakyat, maka demonstrasi perlu difikirkan kembali. Apakah sudah tidak ada altenatif lain pada zaman globalisasi ini dalam menyuarakan pendapat selain berdemonstrasi? 

Kenapa tidak dibuat demonstrasi tersebut secara tertutup seperti di stadium? Kenapa harus di jalanan? Adakah suara demonstrasi di kawasan tertutup tidak didengari? Pada saya, di mana jua demonstrasi diadakan, impaknya pasti ada, tidak semestinya di jalanan. Tempat yang paling sesuai untuk berdemo adalah di negeri-negeri yang dikuasai oleh Pakatan Rakyat terutama di Selangor, berhampiran Kuala Lumpur. Bandaraya Kuala Lumpur tidak sesuai disebabkan oleh kepadatan dan kesesakan yang telah sedia ada.

Saya masih teringat minggu lalu ketika berlangsungnya acara Kuala Lumpur Marathon 2011, bermula dari jam 5.30, apabila sesetengah jalan ditutup, kesesakan jalan raya amat dirasai. Kebetulan saya berada di dalam bas ketika itu daripada Pulau Pinang. Lebih satu jam bas berlegar-legar di sekitar bandaraya kerana pemandu tidak dapat menurunkan penumpang. Akhirnya saya turun sahaja di tepi jalan untuk balik ke rumah sebagai persiapan untuk memberi ceramah motivasi di Memorial Tun Hussein Onn, pada jam 10.30 pagi. Ceramah motivasi tertunda kerana semua peserta terperangkap dalam kesesakan jalan raya. Dalam hati saya berkata, “ini baru Marathon, bayangkan jika demonstrasi Bersih menjadi kenyataan”.

Saya cadangkan jika Marathon yang sama hendak diadakan tahun hadapan, cukuplah sekadar mengelilingi Tasik Perdana (Botani) berkali-kali, tidak perlulah menutup banyak jalan sehingga berlaku kesesakan dan menyusahkan rakyat. Masa dan tenaga (termasuk petrol) banyak terbuang. Tidakkah masa yang terbuang itu lebih sesuai dimanfatkan untuk anak isteri di rumah. Bayangkan juga, tenaga petrol yang digunakan akibat kesesakan. Jika dikumpulkan semua tenaga yang terbazir dan disedekahkan kepada fakir miskin dan ibu tunggal, bukankah banyak pahala yang dapat kerana dapat membantu mereka yang memerlukan.

Lagi pula terdapat begitu banyak tempat strategik yang lain seperti Stadium Melawati, Shah Alam atau mungkin juga Bukit Jalil, kenapa Bersih masih berdegil untuk berada di tengah Bandaraya Kuala Lumpur? Saya yakin, mereka tahu, jika dibuat di luar Kuala Lumpur, sambutannya sudah pasti tidak memberansangkan.

Mereka tidak mahu melihat seolah-olah demonstrasi tidak ada orang. Maka untuk melihat ramai, medan orang ramai digunakan. Dengan harapan, dengan berada di sana bersama orang ramai, mereka akan kelihatan ramai. Maka tercapailah hasrat untuk menghimpun ratusan ribu orang. Wal hal yang datang tidak seberapa. Inilah laba politik yang ingin dicapai. Mereka mahu memperlihatkan demonstrasi tersebut benar-benar mendapat sambutan, walaupun hakikat sebenar tidaklah sedemikian.

Saya amat mengharapkan Perkasa, Pemuda Umno dan Pertubuhan Silat Melayu, yang semuanya umat Islam yang ingin turun sama berdemonstrasi, tidak bersikap seperti mereka. Apa bezanya kita jika sama seperti mereka. Dua kali lima sahaja. Amat hina sekali melihat pertembungan sesama umat Islam. Biarlah kumpulan ini ditangani oleh polis dan tentera.

Kita selalu membandingkan situasi kita dengan demonstrasi di di Thailand. Politik di sana berbeza dengan negara kita. Thailand adalah negara sebangsa, budaya dan cara hidup mereka sama. Begitu juga di Indonesia. Mereka hanya ada dua kumpulan, pro dan anti kerajaan. Berbanding kita, kita adalah sebuah negara berbilang bangsa, agama, budaya dan cara hidup. Politik kepartian amat kuat dan ekstrem. Parti politik berasaskan bangsa. Keadaan kita jauh lebih kompleks. Sudah pasti dalam banyak perkara kita tidak sehati sejiwa. Apakah kita tidak menjangka ada orang yang akan mengambil kesempatan. Wahai umat Islam! Janganlah mudah untuk diperalatkan.

Tidakkah kita terfikir dengan banyaknya perbezaan ini, ada pihak-pihak tertentu yang akan mengambil kesempatan untuk memecah-belahkan kita dengan melakukan pelbagai provokrasi. Mereka mahu kita berantakan, kerana itu adalah salah satu perancangan mereka. Kita selalu menuding jari kepada polis yang melakukan provokasi. Saya yakin di luar sana masih ramai kafir harbi yang sedang menunggu kesempatan.

Cuba buat perbandingan, sedangkan perhimpunan sukan secara tertutup pun pergaduhan berlaku macam seolah-olah tidak kenal saudara. Inikan pula perhimpunan terbuka. Masihkah kita ingat siri perlawanan bola sepak di antara pasukan negeri Kelantan dengan Negeri Sembilan dan Selangor. Kerusi stadium, trak polis dibakar dan macam-macam lagi perkara menyedihkan berlaku, termasuk kematian akibat balingan botol (Stadium Melawati). Kekecohan ini juga berlaku di hadapan tok guru. Bayangkan jika yang memimpin demonstrasi ini begitu jauh sifatnya dengan tok guru. Beliau bukan sahaja tidak ada status tok guru, malahan sikap anti Islamnya begitu terserlah ketika menjadi memimpin Majlis Peguam.

Persoalan yang tidak dapat dijawab oleh panelis PAS dalam Bicara Rakyat tempoh hari, apakah jaminan perhimpunan tersebut akan berlangsung dalam suasana dan keadaan aman? Siapakah yang boleh memberi jaminan tersebut? Apakah pemimpin Bersih begitu berwibawa boleh mengawal manusia yang katakan bilangannya begitu ramai? Bagaimana pula jika ada kalangan mereka yang mengambil kesempatan untuk mencetuskan pergaduhan? Minta maaf cakap, dalam keadaan masyarakat yang terlalu banyak perbezaannya, saya tidak percaya bahawa semuanya anggota Bersih yang turun akan bertindak seperti malaikat?

Kumpulan yang mengambil kesempatan berada di mana-mana, mereka hanya menunggu masa yang sesuai untuk mencetuskan pergaduhan. Janganlah terlalu menuding jari kepada polis. Bayangkan jika bukan polis yang mengawal keselamatan dan kesesakan jalan raya. Apa akan jadi dengan bandaraya ini.

Wahai umat Islam, jangan mudah tertipu dan akhirnya kita akan ditipu. Lagipun beliau bukan ahli politik. Jika masalah daftar pemilih pilihan raya yang menjadi isu utama. Yang sepatutnya lebih sensitif adalah parti-parti politik kerana mereka yang akan bertanding. Bukannya NGO seperti yang didakwa. Apa kepentingan NGO dalam daftar pilihan raya kalau bukan untuk mencari publisiti? Beliau cuma mahu mencari publisiti untuk bertanding dalam pilihan raya akan datang. Kesempatan ini digunakan untuk mempopularkan dirinya. Jangan terpedaya dengan permainan silap mata ini.

Perkembangan terbaharu meyakinkan lagi saya mengapa kumpulan ultra kiasu ini harus ditolak dan tidak boleh dipercayai dan ditolak. Walaupun isu yang saya bangkitkan agak sedikit lari daripada tajuk, tetapi ia mempunyai kaitan rapat dalam menilai integriti atau meletakkan kepercayaan terhadap seseorang. Saya tidak nafikan hak rakyat untuk berhimpun. Tetapi bukan diketuai oleh ultra kiasu ini. Tuhan sahaja yang tahu sama ada mereka benar-benar ikhlas atau sebaliknya. Sudah tidak ada orang Islam lainkah yang boleh dijadikan pengantara atau rujukan? Atau sekurang-kurang carilah bukan Melayu yang begitu memahami jiwa, sensitiviti dan perasaan umat Melayu Islam? Janganlah berketuakan pengantara yang pernah menghina dan menginjak-injak Islam. Lina murtad Lina Joey dan penghinaan terhadap mahkamah syariah masih terngiang-ngiang di telinga dan amat sukar dipadamkan dalam lipatan sejarah.

Apatah lagi, saya cukup sedih apabila kehadiran 12 wakil rakyat parti ultra kiasu yang tidak mengenakan pakaian rasmi dan songkok pada Upacara Pembukaan Persidangan Penggal Pertama Dewan Undangan Negeri (DUN) Sarawak Ke-17. Tindakan ini boleh disifatkan sebagai ‘kurang ajar’ kerana tidak menghormati majlis. Memang benar, pakaian rasmi tidak diwajibkan, mematuhi etika pemakaian pada upacara berkenaan secara zahirnya menunjukkan seseorang itu menghormati negeri, ketuany aserta DUN itu sendiri.Tindakan, tabiat dan tingkah laku ini boleh dikatakan berlaku di mana-mana sahaja negeri mereka berada.

Jelas dan terang, pemakaian songkok pula bukan simbol agama, masyarakat di India pun pakai songkok walaupun mereka bukan Muslim.Songkok hanya melengkapkan pakaian seragam. Parti ultra kiasu sama ada di Semenanjung Sabah dan Sarawak telah lama mempersoalkan pemakaian seragam rasmi dan songkok pada upacara pembukaan persidangan kerana menyifatkan ia menafikan kebebasan beragama di samping membazir wang rakyat. Berapa sen sangatlah harga songkok dan baju Melayu berbanding dengan harga pakaian barat yang dibanggakan itu? Di Indonesia berapa ramai orang Kristian yang memakai songkok. Kenapa mereka begitu selesa sedangkan kita terlalu sensitif. Sebenarnya, kita terlalu memandang rendah kepada bangsa lain. Kita tidak mahu dipandang rendah sama. Tidakkah lebih baik kita lebih memahami Melayu daripada Mat Salleh?

Kenapa kita boleh begitu berlagak dan berbangga dengan pakaian barat blazer, jacket, dan tie tetapi, bila ada konotasi dengan Melayu kita memandang hina. Adakah ini wajar? Bila orang Melayu memakai pakaian Cina, kita seronok. Kenapa kita tidak ‘raikan’ Melayu dengan memakai pakaian Melayu. Adakah ‘budaya Melayu’ ini begitu hina?Kita begitu berbangga dengan pakaian skirt yang begitu pendek sehingga ternampak yang tersurat dan tersirat. Tetapi memandang hina pakaian yang ada konotasi dengan Islam.

Kenapa kita terlalu obses dengan bangsa yang begitu jauh dengan kita, sedangkan bangsa yang terdekat dan merupakan penduduk induk di negara ini tidak dipandang endah, malah dihina lagi? Tidakkah semua agama menganjurkan pakaitan yang bersopan? Dari mana datangnya sumber memakai yang seksi-seksi ini jika bukan dari barat? Hina sungguh kita. Sanggup ketepikan budaya masyarakat tempatan kerana terlalu obses dengan barat. Sanggup ketepikan bahasa kebangsaan, kerana terlalu mengejarkan bahasa Inggeris. Adakah tindakan ini wajar dan mampu menjamin keluhuran pembangunan sebuah negara bangsa?

Pelik sungguh, bila tiada kepentingan, mereka begitu angkuh. Namun, bila ada kepentingan, misalnya penerimaan anugerah bintang dan pingat, kumpulan muka tidak tahu malu ini, tidak segan-segan mula mengenakan ‘pakaianMelayu’.

Berasaskan kepada hujah-hujah ini, apakah kita boleh menaruh kepercayaan kepada Bersih? Tidak. Sebenarnya mereka adalah bersih dalam kotor. Nampak suci tetapi berdebu. Pada saya, selagi mana mereka tidak hormat budaya bangsa induk negara ini, selagi itulah golongan ini tidak boleh dipercayai. Mereka ini ibarat duri dalam daging atau api dalam sekam. Sentiasa mencari kesempatan atau menangguh di air yang keroh.

Saya tidak yakin demonstrasi Bersih ini akan menjadi kenyataan jika tidak disokong oleh umat Islam. Mereka tidak akan berani mengangkat muka pun jika kita tidak bersama mereka. Kenapa mereka begitu bongkak? Jawapannya, amat mudah, kerana mereka tahu, kita tidak sehati sejiwa, kita berpecah, kita terlalu mabuk kuasa, kita sanggup menabur pasir di periuk saudara sendiri, kita menikam sesama sendiri dan terlalu banyak kelemahan kita.

Peluang keemasan sebegini mungkin mereka tidak akan dapat pada masa akan datang, maka kelemahan umat Islam hari ini dimanipulasikan sepenuh untuk mendapatkan apa yang selama ini dicita-citakan. Moga dijauhkan Allah SWT daripada perancangan jahat dan licik sebegini. Wahai umat Islam! kita sudah tidak ada banyak masa, bangunlah, buka mata dan buka minda, sebelum terlambat atau nasi menjadi bubur. Yakinlah, apabila nasi sudah menjadi bubur, apa cara juga yang digunakan, bubur tidak akan menjadi nasi semula. Ketika itu orang lain sudah menjadi terlalu berkuasa. Mereka mempunyai rakan-rakan sebangsa yang begitu ramai di luar sana yang sedang ternanti-nanti untuk masuk ke dalam wilayah atau kawasan kita.

Sumber: Dr Ridhuan Tee Abdullah

13/07/2011 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | 4 Comments

Demonstrasi BERSIH 2.0 – Jangan terperangkap

Minggu lalu saya membahaskan beberapa ciri atau petanda bangsa yang akan pupus. Antara perkara besar yang belum sempat dibahaskan dengan panjang lebar adalah perpecahan yang amat menakutkan berlaku kalangan umat Islam. Perpecahan bukan setakat kalangan parti-parti politik dan ahli politik. Lebih menakutkan ia turut terbawa-bawa dalam kalangan penjawat awam, pertubuhan bukan kerajaan (NGO) dan sebagainya. Masing-masing mahu menjadi jaguh dan mendapat jawatan yang lebih tinggi. 

Pendek kata, di mana sahaja ada umat Islam, perkataan pecah sudah sinonim. Masing-masing mempunyai agenda dan kepentingan diri, terutama untuk mendapat habuan dunia yang bersifat sementara. Kita sengaja mewujudkan kumpulan dalam kumpulan atau klik atau ‘orang kita’. Bukan tidak boleh, tetapi jangan sampai menikam dari belakang atau menaruh pasir dalam periuk sesama saudara. Akibatnya, kita juga yang akan rugi. Orang lain bertepuk tangan. Menunggu masa untuk mengambil kesempatan.

Umat Islam sepatutnya bersifat rasional dan profesional, bukan emosional. Tindakan terlalu beremosi hanya akan mengundang kepupusan menjadi lebih cepat. Pada saya, pertembungan sesama umat Islam mesti dielakkan kerana tidak ada sesiapapun yang akan menang. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Walaupun Pengerusi Bersih berkata perhimpunan ini tidak ada kaitan politik, takkan kita masih tidak dapat membaca makna tersurat dan tersirat. Beliau hanya mahu memperalatkan umat Islam. Jika tidak percaya, umat Islam jangan turun, biarlah kita lihat berapa kerat bukan Melayu akan turun menunaikan niat ‘bersih’ mereka.

Sebagai pengalisis politik dan strategi, saya sudah dapat mencium baunya. Tidak perlulah berselindung atas nama NGO, berpura-pura atau nampak seolah-olah tidak dipengaruhi mana-mana pihak. Agenda ada udang di sebalik batu amat terserlah. Kenapa umat Islam masih buta? Kita boleh berkawan dengan kafir zimmi, tetapi mesti berhati-hati dengan kafir harbi yang ingin merosak dan meruntuhkan Islam dengan berbagai strategi dan silap mata. Kajilah sejarah sepanjang beliau sepanjang memimpin Majlis Peguam. Apa pandangan dan sumbangannnya terhadap Islam.

Jika umat Islam terus berdegil, ditakdirkan berlaku pertembungan, siapakah yang akan rugi? Kita semua bersaudara. Takkan kita sanggup berbunuhan sesama sendiri. Jika itu yang berlaku, saya bimbang kita akan menyesal tidak sudah nanti.

Kenapa sesama bangsa dan seagama perlu berpecah? Ambillah pengajaran penyatuan budaya bangsa lain. Satu bangsa, berbagai agama, ada yang beragama Buddha, Taoism, Konfucius, Kristian dan Hindu, mereka tetap bersatu atas nama satu bangsa. Pada mereka, agama tidaklah terlalu penting. Apa yang penting, ketuanan bangsa mesti ditegakkan. Agama boleh datang dan pergi, sedangkan bangsa akan terus kekal. Untuk pastikan kemegahan bangsa terus kekal, maka ia mesti dipertahankan bersama-sama jati diri bermati-matian. Maka tidak hairan mereka menolak sama sekali identiti Melayu seperti bersongkok dan berbaju Melayu, kerana takut diMelayukan. Berbeza dengan kita, agama mesti ditegakkan kerana atas terus kekal. Bangsa sudah tidak penting apabila bertembung dengan agama, kerana agama mendapat perlindungan Allah, bangsa belum tentu akan kekal.

Di negara maju, kewujudan pelbagai parti politik dan pertubuhan adalah perkara biasa. Mereka amat profesional. Setiap pertubuhan akan bertindak sebagai check and balance, kerana itu adalah antara asas demokrasi. Pimpinan kerajaan bertukar tangan adalah perkara biasa seperti yang berlaku di Amerika Syarikat dan Britian. Tetapi tidaklah sampai berlaku perpecahan sehingga ke akar umbi, seterusnya terbawa-bawa ke pejabat kerana ia akan menjejaskan kualiti dan produktiviti. Mereka begitu professional, meraikan perbezaan.

Tidak seperti kita, tidak cukup dengan perpecahan, kita amalkan cucuk sana, cucuk sini seperti politik satay dan saling jatuh-menjatuh. Apa yang kita dapat hasil semua ini? Umat Islam di negara ini perlu menyedari bahwa perpecahan dan pertelagahan itu adalah sesuatu yang hina. Perbezaan ideologi politik tidak seharusnya menjadikan kita saling menghina dan bermusuhan. Tidakkah lebih baik perbezaan ini dimanfaatkan untuk berlumba-lumba melakukan kebajikan demi kemajuan umat dan negara. Firman Allah SWT:

Dan bagi tiap-tiap umat ada arah (kiblat) yang masing-masing menujunya; oleh itu berlumba-lumbalah kamu mengerjakan kebaikan; kerana di mana sahaja kamu berada maka Allah tetap akan membawa kamu semua (berhimpun pada hari kiamat untuk menerima balasan) (surah Al-Baqarah: 48).

Kewujudan pelbagai pertubuhan tidak salah. Tidak perlu dibubarkan. Apa yang lebih penting adalah aktiviti (amal) yang lakukan (Surah at-Taubah:105). Jangan sampai kita tidak boleh duduk semeja membincangkan perkara-perkra yang boleh membangunkan umat kerana sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi manfaat bagi orang lain, itulah pesanan Nabi kita.

Ingatlah umatku, cabaran dan tentangan yang sedang kita diharungi dan akan kita hadapi masa akan datang amatlah berat. Musuh-musuh Islam sentiasa merancang untuk memusnahkan kita. Justeru, perlu wujud pertubuhan yang bertindak sebagai kumpulan pendesak dan menyuarakan hak-haknya. Namun, itu bukan bermakna kita tidak boleh kerjasama. Dialog atau musyawarah perlu dilakukan dari masa ke semasa untuk untuk membicarakan agenda bersama. Janganlah terlalu berprasangka buruk.

Ambillah pengajaran perpecahan politik umat Islam yang berlaku pada masa lalu yang amat merugikan sehingga menjadi al-Fitnah al-Kubra (bencana besar). Ketika itu umat Islam berpecah kepada tiga kumpulan. Pertama: kelompok Saidina Ali, kedua: kelompok Muawiyah, dan ketiga: kumpulan neutral yang tidak berpihak kepada salah satu dari dua kelompok tersebut.

Kedua-dua kumpulan pertama memiliki pengikut yang banyak. Manakala kumpulan neutral tidak kurang juga hebatnya. Antara para sahabat yang bergabung di dalam kumpulan ini adalah, Abdullah bin Umar (Ibnu Umar), Saad bin Malik, Saad bin Abi Waqqas, Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, dan lain-lain.

Pertembungan dan pertentangan antara kumpulan Muawiyah dan Ali sampai kepada kemuncak sehingga membawa kepada perang Siffin. Melihat kepada kumpulan Muawiyah hampir kalah, mereka bersetuju menyelesaikan konflik melalui rundingan. Perundingan diberlaku pada bulan Ramadhan tahun 37 Hijrah. Kelompok Muawiyah diwakili oleh Amru bin Ash, manakala kelompok Ali diwakili oleh Abu Musa Al-Asy’ari. Namun, ia hanya bersifat sementara. Kumpulan neutral pun tidak dapat menyelesaikannya. Umat Islam berpecah semula selepas itu, malah bertambah tenat. Mereka tidak pernah mengambil pengajaran sehinggalah bencana besar menimpa kerana mereka sentiasa berprasangka dan saling tidak percaya-mempercayai antara satu sama lain.

Perundingan tersebut bukan sahaja tidak menyelesaikan konflik, tetapi malah menimbulkan kelompok baharu. Kumpulan Ali terpecah kepada dua; Pertama, yang tetap setia kepadanya (syiah); Kedua, yang memberontak, keluar dari kumpulan Ali dan berbalik menjadi musuhnya, karena tidak puas dengan keputusan Ali untuk mengikuti perundingan diatas. Kumpulan ini dikenali sebagai Khawarij. Penyatuan semakin sukar, umat Islam semakin berpecah kepada tiga iaitu kumpulan Muawiyah, kumpulan Ali dan kumpulan Khawarij (Fikri Mahmud, 20 Jun 2011).

Kumpulan Khawarij mengkafirkan kumpulan Ali dan Muawiyah. Mereka menghalalkan darah orang Islam yang tidak sependapat dengan mereka. Mereka memerangi kumpulan Ali dan Muawiyah. Perancangan dibuat untuk membunuh Ali, Muawiyah dan Amru bin Ash. Muawiyah dan Amru selamat dari pembunuhan, sedangkan Ali terbunuh di tangan Abdul Rahman bin Muljam pada tahun 40 Hijrah.

Kedudukan umat Islam semakin meruncing sehingga sanggup berbunuh sesama sendiri. Setelah kematian Ali, anak lelakinya bernama Hassan, dilantikmenggantikan ayahandanya. Hasan melihat bahawa pertentangan politik ini hanya akan merugikan umat Islam secara keseluruhan. Lantaran Hassan mencadangkan perdamaian dengan Muawiyah bagi mengelakkan pertumpahan darah sesama umat Islam.

Hasan bertindak meletakkan jawatan pada tahun 41 Hijrah dan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah. Hasan meminta agar Muawiyah menyerahkan urusan khilafah kepada rakyat apabila ia meninggal nanti. Hasan juga meminta agar kumpulan Muawiyah berhenti menghina Ali atau menikam dari belakang. Gerakan perdamaian ini mendapat sokongan oleh masyarakat Islam ketika itu. Malangnya, perjanjian tersebut tidak ditepati. Umat Islam mungkir. Akhirnya membawa kepada meninggalnya Hassan di Madinah kerana diracun pada tahun 50 Hijrah. Kumpulan Syiah melantik Husein, putra Ali kedua, menggantikan abangnya.

Sebelum Muawiyah meninggal,beliau melantik anaknya Yazid menggantikannya. Perlantikan ini menimbulkan kemarahan kumpulan Syiah kerana Muawiyah telah melanggar perjanjian damai yang telah dipersetujui dengan Hasan yakni untuk memulang kuasa kepada rakyat. Namun begitu, rakyat jelata tidak dapat berbuat apa-apa, kerana Muawiyah memerintah dengan kejam dan kuku besi.

Akibatnya, permusuhan antara kumpulan-kumpulan ini semakin menjadi-jadi. Pertumpahan darah sesama umat Islam berlaku dengan dahsyat. Husein terbunuh di Karbala. Kepalanya dipenggal dan dibawa ke hadapan Yazid sebagai persembahan. Walaupun pimpinan kalangan Bani Umayah silih berganti, permusuhan dengan kumpulan tidak pernah reda. Dendam kesumat begitu mendalam. Penghinaan terus berlaku dan berleluasa. Kalangan pemimpin Bani Umayah yang berhati mulia seperti Abdul Malik bin Marwan,yang berusaha untuk menyatukan semula umat Islam, tetap gagal kerana perpecahan seolah-olah tidak boleh dibaiki lagi.

Abdul Malik mengambil pendekatan meraikan semua kumpulan. Khalifah empat iaituAbu Bakar, Umar, Usman dan Ali dijadikan payung penyatuan umat supaya jangan hidup berpuak-puak. Sebelum ini kumpulan Umayah hanya mengakui Abu Bakar, Umar, Usman dan Muawiyah, mereka tidak mengakui Ali. Manakala Kelompok Khawarij hanya mengakui Abu Bakar dan Umar. Sementara, kumpulan Syiah hanya mengakui Ali sahaja dengan alasan masing-masing. Setiap kumpulan saling hina menghina antara satu sama lain.

Abdul Malik menyeru Umat Islam supaya tidak taksub kepada para sahabat atau khalifah empat tetapi hanya menjadikan Rasululullah SAW sebagai satu rujukan yang unggul. Pendekatan Abdul Malik mendapat sokongan dari masyarakat Islam. Di antara tokoh kelompok Moderat yang masih hidup dan menyokong Abdul Malik adalah Ibnu Umar. Umat Islam yang menyokong saranan ini dikenali seabgai Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah.

Istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, sebenarnya lahir dari proses sejarah yang bertujuan untuk mempersatukan umat yang sudah berpecah belah. Oleh kerana itu, sering kita terjumpa bahawa kumpulanAhlus Sunnah Wal Jamaah sentiasa berusaha untuk mempertemukan aliran pemikiran berbagai kumpulan yang saling bertentangan.

Tetapi usaha untuk mempersatukan umat itu tidak mendatangkan hasil kerana persaingan antara kumpulan masih aktif. Kumpulan Syiah, tetap tidak mahu bergabung dalam kumpulan ini. Menurut Syiah, hak untuk memegang jawatan khalifah hanyalah untuk Ali dan keturunannya. Kumpulan Syiah menganggap bahawa Ahlus Sunnah Wal-Jamaah hanyalah penyokong dan merupakan tali barut dari kumpulan Umaiyah. Tidak semena-mena, kumpulan Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah menjadi mangsa, sedangkan mereka amat tulus dan ikhlas.

Peristiwa yang dijelaskan ini sepatutnya menjadi contoh dan iktibar kepada umat Islam, supaya jangan mengulangi kelemahan dan keburukan yang sama. Malang sekali, sehingga hari ini perpecahan tersebut terus terbawa-bawa tanpa penyelesaian. Masalah politik telah menyebabkan umat Islam berpecah-belah dalam berbagai kumpulan dan puak-puak. Perpecahan politik juga turut terbawa-bawa dalam perbezaan pendapat budaya hidup sepertiakidah, syariah, penafsiran dan pemahaman hadis, tafsir, tasawuf dan sebagainya. Pendek kata, di mana ada umat Islam, jawapannya, pecah, pecah dan pecah, akhirnya kita akan diperintah.

Umat Islam di negara ini perlu menyedari bahawa perbezaan yang membawa kepada perselisihan dan pertengkaran sesama sendiri adalah sesuatu yang amat hina. Perbezaan organisasi politik dan keagamaan hendaklah tidak dijadikan untuk saling menghina dan memusuhi, tetapi dimanfaatkan sebagai saranan untuk berlumba-lumba bagi membuat kebajikan demi kemajuan umat dan negara (Q.S.2:148). Apa yang akan dilihat oleh Allah SWT bukanlah organisasi yang kita miliki, tetapi adalah aktiviti (amal) yang kita lakukan (Q.S.9:105). Rasul bersabda: Sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi manfaat bagi orang lain. Cabaran dan tentangan yang akan dihadapi mendepani globalisasi amatlah menakutkan (Fikri Mahmud, 20 Jun 2011).

Justeru,penyatuan dan kerjasama sudah sampai ke peringkat wajib, tidak boleh tidak.Penyatuan dan kerjasama yang wajib dilaksanakan, bukanlah membubarkan organisasi atau kumpulan yang sedia wujud, tetapi mesti ada permuafakatan bersama meskipun berlainan latar belakang. Setiap daripada kita bertanggungjawab memastikan kekuatan dan kesejahteraan umat terpelihara, tanpa diganggu-gugat.

Langkah pertama, perlu ada dialog atau musyawarah antara kumpulan-kumpulan ini mencari persamaan membicarakan agenda bersama melibatkan kepentingan umat Islam. Jika kumpulan atau organisasi sedia wujud tidak diyakini, maka kumpulan moderat atau neutral perlu mengambil inisiatif mengadakan dialog tersebut. Selaku Cina Muslim dari Persatuan Cina Muslim Malaysia yang tidak mempunyai apa-apa kepentingan, kami bersedia untuk membuka jalan pertemuan ini.

Ini bagi memastikan tragedi pahit daripada terus berulang. Sepatutnya sejarah menjadi iktibar. Yang baik dijadikan teladan, yang buruk dijadikan sempatan. Namun, keadaan sebaliknya berlaku seolah-olah yang baik ditinggalkan, yang buruk diamalkan. Petanda kepupusan semakin hampir, jangan sampai terperangkap.

Sumber:
Dr Ridhuan Tee Abdullah

13/07/2011 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Politik dan Dakwah | 1 Comment

Beza penyatuan Melayu dengan bukan Melayu


Satu pandangan Dr Ridhuan Tee Abdullah

Saya sudah naik muak untuk mengulas mengenai Bersih kerana kita semua tahu tujuan yang tersurat dan tersirat mereka. Itupun umat Islam masih lagi buta. Masih terus mahu menyusahkan rakyat. Kepentingan politik mengatasi segala. Saya juga yakin kemenangan parti pembangkang Thailand dalam pilihan raya umum 2011 minggu lalu, menjadikan sumber inspirasi mereka, semakin nekad menguasai Putrajaya. Mereka tetap mahu berdemonstrasi.

Kemenangan parti Pheu Thai pimpinan adik bekas perdana menteri, Yingluck Shinawatra akan menjadi sejarah Thailand berperdanamenterikan seorang wanita. Apakah Yingluck boleh disamakan dengan ketua Bersih yang diperalatkan imej kewanitaannya bagi memenuhi nafsu serakah tersebut? Sama-sama kita saksikan.

Di Thailand, tindakan mereka amat professional, bila selesai pilihan raya, maka dikira selesai. Selepas itu, mereka akan tunggu 5 tahun lagi untuk membuat keputusan menukar pemimpin. Yang kalah, menerima kekalahan, yang menang meneruskan perjuangan agenda negara. Thailand tidak menghadapi banyak, kerana mereka hanya ada dua kumpulan, satu pro kerajaan dan satu lagi pembangkang.

Lagi pula, Thailand adalah negara sebangsa, 1bangsa, 1bahasa dan 1budaya, manakala Malaysia pula berbagai bangsa, berbagai bahasa dan berbagai budaya. Tidak banyak yang bersifat 1, kecuali gagasan perpaduan 1Malaysia yang cuba diketengahkan oleh Perdana Menteri. Itupun terlalu banyak disalahfahamkan dan dipolitikkan.

Dalam banyak hal semuanya mereka mahukan satu iaitu sama rata dan sama rata. Tetapi tidak dalam isu 1bangsa, 1bahasa dan 1budaya. 1sekolah tidak boleh dibincangkan kerana akan ditentang habis-habisan. Bolehkah kita mempercayai mereka untuk berdemonstrasi secara aman? Saya bimbang mereka akan mengambil kesempatan untuk memperlagakan sesama umat Islam.

Selama ini kita telahpun diperlagakan. Dendam kesumat tidak pernah habis. Kita sentiasa mencari kelemahan orang lain. Dahulu pembangkang mengutuk Umno Barisan Nasional. Kini, apabila mereka memerintah, sepatutnya mereka menjadi lebih baik dalam segala hal, tetapi nampaknya tidak banyak perubahan. Persaudaraan sesama saudara seagama diletak ketepi, yang penting kroni.

Pemilihan ahli majlis perbandaran masih sama. Cuma dibuat lebih teratur supaya tidak kelihatan seperti Umno Barisan Nasional. Dahulu mereka mencadangkan supaya pilihan raya dibuat untuk memilih ahli majlis. Namun, bila mereka memerintah, keadaan balik asal. Ahli majlis mereka mewakili parti politik juga. Mereka berebut-rebut projek dan tender untuk dibahagi-bahagikan kepada kroni-kroninya. Jangan pergi jauh, datanglah ke Majlis Perbandaran Ampang Jaya. Kenapa jadi sebegini? Belajarlah dari bangsa lain.

Saya ingin membawa pembaca meneliti isu ini untuk dijadikan iktibar. Minggu lalu, Persatuan Editor Akhbar Cina Malaysia mengutuk hebat Speaker Dewan Undangan Negeri (DUN) Selangor Teng Chang Kim, kerana pandangannya mengkritik akhbar Cina yang disifatkan terlalu ultra kiasu seperti yang telah saya sebut sebelum ini. Teng dilaporkan berkata bahawa wartawan akhbar Cina berperangai buruk dan penguasaan bahasa Cina mereka juga tidak sebegitu baik. Teng turut membidas mereka kerana tidak dapat membezakan antara benar dan salah dalam pemberitaannya. Tanpa menyiasat maksud Teng, Persatuan akhbar tersebut terus menyerang Teng.

Saya mengikuti peribadi saudara Teng sejak dahulu lagi. Beliau agak berbeza dengan ultra kiasu yang lain. Beliau agak terbuka dan banyak bergaul dengan orang Melayu. Malah beliau tidak segan silu memakai songkok ketika pembukaan parlimen dan tugasnya sebagai speaker. Banyak buku Islam yang dibacanya. Dengan sebab itu, dia agak tidak disukai oleh sesetengah pihak terutama akhbar ultra kiasu ini dan golongan ortodoks ultra kiasu. Maka tidak hairan jika beliau tidak terpilih untuk mengetuai parti ultra kiasu negeri Selangor.

Ketua Pemuda MCA seperti cacing kepanasan membidas saudara Teng untuk mencari publisiti murahan. Saya harap umat Islam di kawasan parlimen Ayer Hitam dapat membuka mata siapa wakil rakyat mereka sebenarnya. Sepatutnya akhbar Cina perlu melakukan muhasabah diri. Apakah selama ini pemberitaan akhbar mereka benar-benar membina negara bangsa berasaskan kepada gagasan 1Malaysia atau akhbar ini mengapi-api semangat perkauman. Mereka melabelkan akhbar Utusan Malaysia rasis. Akhbar mereka sahaja yang tidak rasis. Mereka tidak boleh disentuh langsung, keballah katakan. Baca artikel saya sebelum ini bertajuk rukun politik Cina bagaimana mereka menjaga bangsa mereka.

Bukan seperti kita, tidak pernah habis bertelingkah dalam apa jua isu hatta sampai ke dalam surau masjid. Peristiwa tiba-tiba makmum bangun menempelak khatib ketika sedang membaca khutbah solat Jumaat dua minggu lalu di masjid Ubudiah, Ampang, Selangor, menarik perhatian saya untuk memberikan sedikit pandangan. Khatib begitu syok sendiri dengan khutbah ciptaannya. Yang ‘menyeronokkan’ adalah khatib tersebut turut sama menempelak makmum tersebut dengan mengatakan dia jahil ketika berkhutbah. Rupa-rupa makmum dan khatib dua kali lima sahaja.

Sepatutnya, khatib tersebut tidak melayan sikap makmum tersebut dan meneruskan khutbahnya. Ini tidak, khatib tersebut turut tumpang semangkok. Saya tidak mengatakan tindakan makmum itu betul. Salah tetap salah. Saya mengharapkan khatib tersebut bertindak betul, rupanya salah.

Insiden seperti ini bukan perkara baharu, tetapi ia berlaku di masjid-masjid yang dikuasai oleh parti-parti tertentu. Mereka menjadikan mimbar untuk membalas dendam, bukan untuk mendidik. Kita semakin berpecah. Kita sepatutnya tidak mengambil pendekatan mengajar, tetapi mendidik dengan mengetuk pintu hati mereka. Jika Pas benar-benar ikhlas, sepatutnya Pas mengambil pendekatan mendidik Umno melalui nilai-nilai Islam yang ‘diperjuangkan’, bukannya menghamburkan kata-kata dan sindirin-sindiran tajam yang menyakitkan hati.

Saya amat pelik kenapa kita tidak selantang ini apabila berhadapan dengan musuh kita yang begitu jelas menentang kita dan mengenepikan agenda nasional. Baru-baru ini saya berforum dalam Majlis Pengetua Sekolah Malaysia yang dihadiri oleh hampir 1000 orang pengetua. Yang saya hairan, Majlis Pengetua Sekolah begitu besar persatuannya, tetapi kenapa suara mereka tenggelam dengan NGO yang lebih kecil seperti Dong Zong, Jiao Zong dan Dong Jiao Zong. Ketiga-tiga persatuan ini mempunyai kaitan langsung dengan pendidikan Cina, tetapi suara mereka boleh menggegarkan negara. Manakala, Majlis Pengetua Sekolah Malaysia dan begitu juga Majlis Guru Besar Malaysia (Sekolah Rendah), nampak hebat, tetapi tiada taring. Bukan mereka tidak mahu atau tidak boleh bersuara, tetapi suara mereka disenyapkan. Mereka terpaksa ikut kata boss.

Majlis Pengetua dan Majis Guru Besar ini sepatutnya diberikan kebebasan untuk berhadapan dengan Dong Zong, Jiao Zong dan Dong Jiao Zong, baharulah terserlah kepengetuaannya dan kegurubesarannya. Saya harap istilah ini boleh digunakan.

Inilah beza penyatuan antara Melayu dengan bukan Melayu. Bukan Melayu bersatu atas perkara asas atau perkara berkaitan hidup mati atau masa depan mereka. Manakala penyatuan kita, usahkan perkara besar, perkara kecilpun kita tidak boleh selesaikan. Malahan terus berpecah seolah-olah tidak ada penghujung. Lebih menyedihkan lagi tindakan kita sering menimbulkan beban dan masalah kepada rakyat jelata.

Demonstrasi haram Bersih meninggal kesan yang amat mendalam. Sejak hari khamis saya tidak dapat pulang ke rumah sehingga hari Ahad, saya hanya bermalam di hotel kerana terperangkap dalam kesesakan jalan yang amat dahsyat, sehingga saya mengambil keputusan berpatah balik bagi mengelakkan ceramah-ceramah hujung minggu yang telah diaturkan tidak tergendala. Terpaksalah saya memakai baju yang kotor selama dua hari disebabkan oleh tidak ada lagi pakaian Bersih.

Lebih hiba lagi mendengar ada yang terpaksa menunda tarikh perkahwinan yang telah diatur sejak setahun yang lalu, dan banyak lagi perkaraa penting terpaksa dibatalkan serta kerugian yang ditanggung gara-gara demonstrasi ini Bersih ini. Hati begitu tersentuh membaca berita ada seorang yang meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Takziah saya ucapkan, moga roh allahyarham dicucuri rahmat Allah SWT, tidak kiralah sama ada penyokong Bersih atau tidak. Paling penting kita tetap umat Islam tetap bersaudara, walaupun mungkin kita berbeza.

Seperti yang selalu saya sebut, yang menjadi menjadi mangsa adalah umat Islam. Saya tidak nampak begitu ramai bilangan bukan Islam yang turun. Rata-ratanya adalah kulit sawo matang. Kalau adapun bukan Melayu, sengaja dialihkan kamera ke sana supaya ada warna warninya, wal hal sebenarnya tidak. Inilah nasib Melayu di bumi Melayu. Sesama sendiri bercakaran. Orang lain bertepuk tangan. Silap-silap haribulan, Melayu hilang ditelan zaman. Hanya kerana sengketa yang tidak berkesudahan, tanpa penyelesaian. Titik pertemuan masih jauh kelihatan. Perubahan yang dilaksanakan tidak banyak menguntungkan.

Misalnya, apabila Kerajaan memberi biasiswa atau bantuan kepada orang Melayu (Bumiputera), maka tindakan ini dimanipulasikan dengan kata-kata memberi tongkat. Namun demikian, apabila bukan Melayu mendapat hak yang sama, maka ia dikatakan meritokrasi dan mereka berhak? Tidakkah kita sedar berapa ramai pelajar bukan Melayu yang dihantar di universiti di luar negeri melalui yayasan-yayasan berasaskan kaum yang diwujudkan dan sejumlah wang parti-parti politik perkauman yang tidak kurang banyaknya. Ini tidak termasuk individu-individu bukan Melayu yang terkaya membantu anak bangsa mereka.

Pendek kata, ada atau tidak Dasar ekonomi Baharu (DEB), bukan Melayu langsung tidak rugi. Tindakan cuba melonggarkah DEB itulah yang semakin merugikan anak bangsa ini.

Saya ingin memetik kata-kata A. Kadir Jasin, apabila orang Melayu (bumiputera) berjaya dalam perniagaan dia dituduh kroni. Tetapi apabila korporat Cina dan India menjadi raksasa kerana kontrak, francais dan lesen kerajaan ia dikatakan meritokrasi? Siapa yang memegang monopoli gula sampai hari ini atau menjadi kaya raya kerana lesen judi, lesen TV satelit, lesen Independent Power Producers (IPP) dan kontrak berbilion ringgit membina hospital, kereta api laju dan sekolah? Tidak ramai yang ingat bagaimana Tun Abdul Razak Hussein terpaksa “menyelamatkan” Malayan Banking pada tahun 1965 apabila pengasasnya, mendiang Khoo Teck Puat, disingkirkan atas tuduhan menyalahgunakan wang bank itu kepada syarikat persendiriannya di Singapura?

Begitulah juga dengan pengambilan oleh IPTA. Apabila keutamaan diberikan kepada Bumiputera, bukan Melayu merungut. Tetapi apabila Kerajaan membenarkan penubuhan IPTS yang majoriti pelajarnya bukan Melayu, berasaskan kaum maka tiada siapa pun nampak bahawa keuntungannya tidak kepada Melayu, tetapi kepada bukan Melayu.

Hari ini, terdapat 20 Institusi Pengajian Tinggi Awam (IPTA) yang di punyai oleh kerajaan, tidak termasuk 24 politeknik. Bilangan Institusi Pengajian Tinggi Swasta (IPTAS) pula melebihi 500 buah. Atas desakan, kerajaan telah membuka pengambilan bukan Bumiputera yang semakin ramai ke IPTA dan kemasukan ke IPTS yang terus dimonopoli oleh bukan Bumiputera, bilangan yang lebih ramai mendapat pendidikan pengajian tinggi adalah bukan Melayu. Kerajaan turut membantu IPTS yang dipunyai oleh bukan Melayu (parti politik), tidak cukup dengan itu bantuan melimpah ruah turut diberikan oleh syarikat swasta bukan Melayu kerana ada pelepasan cukai.

Kesimpulannya, saya yakin, suatu hari ini, kita tidak akan mampu lagi bersaing, apabila apa yang sedia ada semakin hilang. Misalnya, IPTA tidak akan mampu bersaing dengan IPTS kerana bangsa yang kuat ekonominya pasti hanya akan membantu universiti bangsanya sahaja. Ringkasnya, apa jua peristiwa yang berlaku, sebanyak manapun demonstrasi Bersih, dan polisi yang digubal, orang Islam akan terus rugi, yang untung adalah bukan Melayu. Inilah yang membezakan antara konsep penyatuan Melayu dengan bukan Melayu.

13/07/2011 Posted by | Bicara Ulama, Politik dan Dakwah | Leave a comment

Kategori mereka yg menuntut hak melalui demonstrasi jalanan


Ramai daripada umat Islam kini begitu mudah terpanggil menyertai demonstrasi jalanan dalam menuntut hak? Di mana kita lihat rata rata cara mereka bertindak terkeluar dari nilai nilai agama.Jika kita melihat kepada gelagat mereka dari segi i’tikad, kelakuan dan tindakkan, kita boleh bahagikan mereka kepada 3 jenis atau kelompok manusia.

Golongan Pertama:

Mereka adalah orang yang dengan terang-terang mengagungkan kebebasan berfikir dan bertindak. Mereka hanya berpegang kepada pendapat mereka sendiri dan hanya yakin pada apa yang diputuskan oleh akal fikiran mereka. Cara mereka bertindak ialah apa yang pada pandangan mereka betul. Mereka ini tenggelam dalam kebebasan sehingga mereka tidak mengetahui sempadan yang sebenarnya. Kebebasan berfikir dan bertindak seperti ini juga merbahaya bagi sesuatu negara/ masyarakat. Kerana kebebasan berfikir ertinya seseorang itu tidak akan percaya kecuali apa yang betul menurut fikirannya dan tidak akan menurut suatu jalan kecuali apa yang ditunjukkan oleh akalnya. Sedangkan mengikut kehendak masyarakat pula kebalikan dari itu; iaitu setiap individu yang berada didalam sesuatu masyarakat wajiblah mengikut prinsip-prinsip dan dasar-dasar pokok yang terdapat dalam masyarakat itu. Tindak-tanduknya mestilah bersesuaian dengan adat dan kebudayaan serta undang-undang yang mengatur kehidupan masyarakat.

Sesungguhnya kebebasan seperti ini sering mencetuskan sifat-sifat keakuan, keegoan dan kekacauan di kalangan individu, sedangkan masyarakat & negara menghendaki mereka supaya patuh, taat dan setia, dan mengorbankan sedikit daripada kebebasan demi keuntungan yang lebih banyak untuk negara/masyarakat.

Golongan Kedua:

Terdiri dari mereka yang zahirnya berpegang pada agama, tetapi pada hakikatnya mereka mematuhi pendapat dan fikiran mereka sendiri. Mereka tidak merujuk kepada agama sebagai pegangan dalam tindakkan. Mereka jenis yang ikut agama suku suku, yang mana sesuai mengikut kehendak hawa nafsu dan yang selari dengan fikiran mereka sahaja.Pada hakikatnya mereka bukan ikut agama tetapi menjadikan agama pengikut hawa nafsu mereka.

Golongan ini adalah lebih buruk keadaannya dari golongan pertama. Golongan pertama hanya sesat sahaja, tetapi golongan kedua pendusta, penipu serta munafik. Mereka jenis yang mempunyai prinsip dan tindakkan yang terang-terang menyalahi ajaran agama, namun mereka tetap menganggap bahawa fikiran mereka yang betul sedang ajaran agama itu salah, kemudian mereka cuba pula mengolah ajaran agama (menghalalkan cara) supaya sesuai dengan fikiran dan tindakkan mereka; maka mereka yang serupa ini adalah pendusta dan pembohong.

Golongan Ketiga:

Terdiri dari golongan yang tidak mempergunakan akal mereka. Lalu mereka pun merangkaklah di belakang manusia dengan mengikut mereka secara membabi-buta.Mereka adalah jenis apa yang kita panggil taklid buta.

Wallahu’alam.

(Rujukan: Terjemahan Kitab – Apa ertinya anda seorang Muslim oleh Sayyid Abu al-A’la Al- Maududi)


13/07/2011 Posted by | Politik dan Dakwah | 7 Comments

   

%d bloggers like this: