Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

>MASAALAH HATI : ISU SEMASA YANG SERING DIABAIKAN

>

Dalam kehidupan ini, kita seringkali didogmakan dengan isu yang
berkaitan dengan ekonomi, politik, sosial, alam sekitar, kepimpinan,
dan sebagainya. Namun sering kita terlupa bahawa sebenarnya isu-isu
yang disebut di atas adalah berpunca dari isu kemanusiaan dan keinsanan
manusia itu sendiri. Ringkasnya, ia adalah soal dalaman dalam diri
manusia itu sendiri. Kerana itu Allah SWT dalam firmanNya ada menyebut :

Terjemahan : (Surah Ar-Ra’d [13:11]

Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum
sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri
dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala
bencana (disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada sesiapapun
yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu dan tidak
ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain
daripadaNya

Di dalam hendak mengubah nasib kaum, ayat tersebut sebenarnya mahukan kita
mengubah apa yang ada dalam diri kita. Iaitu kalau kita tidak beriman,
ubah supaya kita jadi beriman. Kalau kita tidak taat kepada agama, ubah
supaya kita jadi taat dengan ajaran dan hukum-hakam agama. Kalau kita
tidak takutkan Allah, ubah supaya kita jadi bertaqwa. Kalau kita banyak
sifat-sifat keji dan mazmumah dalam hati, maka kenalah kita
bermujahadah dan memperbaiki diri dan memenuhkan hati kita dengan
segala sifat-sifat mahmudah dan terpuji. Kalau fitrah kita kotor dan
tercemar hendaklah kita bersihkannya supaya ia kembali kepada keadaan
asal semula jadinya yang bersih dan suci murni.
Pokoknya kita kena bina insan kita.
Kita kena bina akal, hati dan nafsu kita seperti mana yang diajarkan oleh agama.

Selepas segala itu kita lakukan maka Allah akan tunjukkan jalan dan
akan datangkan bantuan dan akan memperbaiki nasib kita. Apa sahaja yang
kita buat selepas itu semuanya akan tepat, berkesan dan dibantu Allah.
Allah ada berjanji:

“Dan Allah itu pembela bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Selagi kita tidak mengubah apa yang ada dalam diri kita, selagi kita
abaikan agama, selagi kita abaikan proses membaiki diri, kita abaikan
Tuhan dan kita tidak mahu kembali dan merujuk kepada Tuhan, selagi
itulah kita akan tersasar. Kita akan bertambah rosak dan bertambah
rosak hingga kaum dan bangsa kita akan hancur-lebur dengan sendirinya
tanpa perlu diganggu-gugat oleh musuh seperti mana yang kita lihat
sedang berlaku sekarang ini. Ukhwah hilang, kasih sayang rosak,
perpaduan runtuh, amanah sudah tidak ada, masing-masing tidak boleh
dipercayai, rasuah, berkepentingan diri, nepotisme, runtuh moral,
runtuh akhlak dan berbagai-bagai lagi.

Pendek kata, krisis paling parah yang terjadi di seluruh penjuru bumi
adalah krisis moral dan akhlak, yang mengakibatkan munculnya berbagai
penyakit batin dalam diri manusia. Sejalan dengan melemahnya iman umat
Islam maka penyakit batin tersebut makin bermaharajalela di tengah
masyarakat, membuat manusia hilang kasih sayang, saling caci maki,
tuduh menuduh, hujah menghujah dan saling menghina. Masyarakat hidup
bersama tapi tidak ada kebersamaan. Dosa-dosa lahir dan batin, berbagai
macam maksiat dan kejahatan telah mencapai puncaknya.

Masing-masing hidup dalam rasa tidak puas. Orang miskin tidak redha
dengan kemiskinannya, rakyat tidak puas dengan pemimpinnya, murid tidak
senang dengan pendidiknya dan sebagainya berlaku setiap hari dalam
kehidupan kita. Masing-masing saling menyalahkan namun jalan keluar
yang diberikan hanya menyentuh lahiriah saja. Maka alangkah baiknya
bila kita menilik diri dan hati kita masing-masing.
Segala perbaikan berawal dari diri kita
.
Tidak mungkin kita mengharapkan orang lain baik,
kalau kita sendiri tidak berusaha untuk memperbaiki diri.

Oleh itu mari kita sama-sama merenung ke dalam hati kita sendiri dan
menjawab dengan sejujur-jujurnya kepada QUIZ ISU SEMASA di bawah ini :

1. Ketika kita solat, secara lahir kita berdiri, rukuk dan sujud dengan
mulut memuji dan berdoa pada Allah, tetapi kemanakah hati kita (ingatan
dan fikiran)?

Apakah juga menghadap Allah, khusyuk dan tawadhuk serta rasa rendah dan
hina diri dengan penuh pengabdian dan harapan serta malu dan takut
kepada Allah SWT? Ataukah hati terbang menerawang ke mana-mana, tidak
menghiraukan Allah Yang Maha Perkasa yang sedang disembah?

Begitu juga ketika sedang membaca Al Quran, bertahlil, zikir dan wirid,
berselawat dan bertakbir, bertasbih dan bertahmid. Adakah roh kita
turut menghayatinya? Atau waktu itu roh sedang merasakan satu perasaan
yang tidak ada sangkut pautnya dengan amalan lahir yang sedang
dilakukan?

2. Pernahkah kita merasa indah bila sendirian di tempat sunyi kerana
mengingat Allah dan menumpukan perhatian sepenuhnya pada-Nya, merasa
rendah dan hina diri, menyesali dosa dan kelalaian, mengingati-Nya
sambil berniat dengan sungguh-sungguh untuk memperbanyak amal bakti
pada-Nya?

3. Kalau ada orang Islam yang sakit menderita atau miskin, adakah hati
kita merasa belas kasihan untuk membantu atau menolong mendoakan dari
jauh agar dia selamat?

4. Pernahkah pula kita menghitung dosa-dosa lahir dan batin sambil
menangis kerana istighfar kita terlalu sedikit dibandingkan dengan dosa
kita yang menyebabkan kita nanti jadi bahan bakar api neraka?

5. Selalukah hati kita sentiasa ingat pada mati yang boleh saja
mendatangi kita sebentar lagi, keranaa memang Tuhan dapat berbuat
begitu. Kalau pun kita belum dimatikan, ertinya Tuhan menginginkan kita
mencuba lagi untuk mencari jalan mendekatkan diri pada-Nya?

6. Pernahkah kita menghitung berapa banyak harta kita, wang kita, rumah
kita, kenderaan kita, perabot kita, pakaian kita, sepatu kita, makanan
kita dan simpanan kita yang lebih dari keperluan kita walaupun
diperoleh dengan cara yang halal? Semua itu akan diperkirakan, dihisab
dan ditanya, dicerca dan dihina oleh Allah di padang mahsyar nanti
kerana kita membesarkan dunia dan mengecilkan akhirat.

7. Pernahkah kita renungkan orang-orang yang pernah kita perlakukan
secara kasar, kita umpat, kita tipu, kita fitnah, kita hina dan kita
aniaya. Baik mereka itu adalah suami kita, isteri kita, ibu bapa kita,
kaum keluarga kita, sahabat kita, tetangga kita atau siapa saja.
Sudahkah kita meminta maaf dan membersihkan dosa dengan manusia di
dunia tanpa menunggu tibanya hari yang dahsyat (hari kiamat)?

8. Apabila Allah memberikan rasa sakit pada kita atau pada orang lain
yang kita kasihi (apa pun jenis penyakit itu), dapatkah kita tenangkan
hati dengan rasa kesabaran dan kesadaran bahwa sakit adalah kifarah
(pengampunan) dosa atau sebagai peningkatan darjat dan pangkat di sisi
Allah SWT?

9. Ketika menerima takdir atau rezeki yang tidak sesuai dengan kehendak
kita, dapatkah kita merasa redha, karena itulah satu pemberian Allah
yang sesuai untuk kita?

10. Di saat sesuatu yang kita inginkan dan cita-citakan tidak kita
peroleh, dapatkah kita tenangkan perasaan kita dengan rasa insaf akan
kelemahan dan kekurangan diri sebagai hamba Allah yang hina dina, yang
menggantungkan hidup mati dan rezeki sepenuhnya pada Allah?

11. Di waktu mendapat nikmat, terasakah di hati bahwa itu adalah
sebagai pemberian Allah lalu timbul rasa terima kasih (syukur) pada
Allah dan rasa takut kalau-kalau nikmat itu tidak dapat digunakan
kerana Allah dan berniat sungguh-sungguh untuk menggunakan nikmat itu
hanya untuk Allah?

12. Kalau kita miskin dapatkah kita merasa bahagia dengan kemiskinan
itu dan merasa lega karena tidak perlu lagi mengurus nikmat Allah?
Adakah kita merasa bahwa kemiskinan itu menyebabkan kita tidak perlu
lagi mengadu dan meminta pada manusia kecuali pada Allah?

13. Kalau ada orang mencerca kita bolehkah hati kita merasa senang dan
tenang lalu kita bersikap diam tanpa sakit, susah hati dan dendam.
Bahkan kita memaafkan orang itu sambil mendoakan kebaikan untuknya
sebab kita merasa bahwa ia telah memberi pahala pada kita melalui
cercaannya itu?

Imam As Syafie berpuisi:

“Apabila seorang yang jahat mencerca aku, bertambah tinggilah
kehormatanku. Tidak ada yang lebih hina kecuali kalau aku yang
mencercanya.”

14. Begitu juga kalau orang menipu, menganiaya dan mencuri harta kita,
mampukah kita relakan saja atas dasar kita ingin mendapat pahala kerana
menanggung kerugian itu?

15. Di waktu kita merasa bersalah dengan seseorang, apakah datang rasa
takut akan kemurkaan Allah pada kita dan sanggupkah kita minta maaf
sambil mengakui kesalahan kita?

16. Setelah kita melakukan usaha dan ikhtiar dengan kerja-kerja kita,
apakah kita dapat melupakan usaha kita itu dan menyerahkannya kepada
Allah? Ataukah kita merasa besar dan terikat dengan usaha itu hingga
kita merasa senang dan tenang dengan usaha itu?

17. Kalau orang lain mendapat kesenangan dan kejayaan dapatkah kita
merasa gembira, turut bersyukur dan mengharapkan kekalnya nikmat itu
bersamanya tanpa hasad dengki dan sakit hati?

18. Setiap kali orang bersalah, lahirkah rasa kasihan kita padanya, di
samping ingin membetulkannya tanpa menghina dan mengumpatnya?

19. Kalau ada orang memuji kita, adakah kita merasa susah hati sebab
pujian itu dapat merosakkan amalan kita? Dapatkah kita bendung hati
dari rasa bangga dan sombong, kemudian mengembalikan pujian pada Allah
yang patut menerima pujian dan yang mengurniakan kemuliaan itu?

20. Bolehkah kita menunjukkan rasa kasih sayang dan ramah tamah
dengan semua orang sekalipun kepada orang bawahan kita?

21. Selamatkah kita dari jahat (buruk) sangka dan prasangka pada orang lain?

22. Kalau kita diturunkan dari jawatan atau kekayaan kita hilang,
selamatkah kita dari rasa kecewa dan putus asa keranaa merasakan
pemberian jawatan dan penurunannya adalah ketentuan Allah? Sebab itu
kita merasa redha.

23. Sanggupkah kita bertenggang rasa dengan orang lain di waktu orang
itu juga memerlukan apa yang kita perlukan?

24. Apakah kita sentiasa puas dan cukup dengan apa yang ada tanpa
mengharapkan apa yang tidak ada?

Sumber:http://ikhwantoday.com/isusemasa/isu.php?recordID=147

11/12/2008 Posted by | Berita dan Isu Semasa | Leave a comment

   

%d bloggers like this: