Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Kenali berbagai-bagai tabiat haiwan yang ada di dalam jiwa insan, agar kita tidak bersifat demikian.

 

1. Tabiat babi, buruk makan dan sangat membawa dan menyebar kekotoran.

2. Tabiat anjing adalah tamak, apa sahaja hendak dijadikan rebutan. Akhirnya berkelahi sesama manusia macam anjing berebut tulang.

3. Tabiat kuda, suka menendang. Menggambarkan keangkuhan dan kesombongannya.

4. Tabiat lembu atau kerbau bodohnya dan bebal payah diajar. Di dalam bodoh-bodoh pun suka menanduk sekalipun tuannya sendiri.

5. Tabiat musang, suka menipu daya. Kerja musang mencuri dan memakan ayam-ayam dan buah-buahan di kebun orang. Begitulah manusia yang bersifat musang suka sahaja menipu orang.

6. Tabiat singa, garang dan menerkam. Itulah gambaran manusia yang suka menzalim dan menganiaya orang tanpa belas kasihan. Yang penting dapat memakan mangsanya agar perut kenyang.

7. Tabiat ular sawa, apabila sudah kenyang, tidak dapat aktif lagi. Suka tidur-tidur sahaja. Begitulah manusia, apabila terlalu kenyang malas pun tiba. Suka tidur dan rehat-rehat sahaja.

 

Sumber: Mohd Fadli Yusof

21 October 2014 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , , , , , , | Leave a comment

Perkara yang merosakkan Ukhwah

" Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu ( yang bertelingkah ) itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat. "
Q.S Al-Hujuraat : 10


" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing."
Q.S Al-Hijr : 47


Berapa banyak kehidupan yang berubah menjadi keras ketika ikatan persaudaraan telah pupus, ketika sumber-sumber kecintaan kerana Allah telah kering, ketika individualisme telah menggeser nilai-nilai persaudaraan, saat itu setiap individu berada dalam kehidupan yang sukar, merasa terpisah menyendiri dari masyarakatnya.


Kebanyakan manusia pada umumnya, perilaku mereka telah tercemar oleh perkara-perkara yang dapat merosakkan persaudaraan, yang terkadang mereka menyedari perkara tersebut, dan terkadang tidak menyedarinya.
Oleh sebab itu, kami akan mencuba memaparkan beberapa perkara yang dapat merosakkan persahabatan dan persaudaraan. Sebelumnya, akan kami kemukakan terlebih dahulu beberapa hadith dan perkataan para ulama’ salaf mengenai
hubungan persaudaraan.


Dalam sebuah hadith yang menerangkan tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari tiada naungan kecuali naungan Allah, Rasulullah s.a.w. menyebutkan salah satu di antaranya adalah,


" Dan dua orang lelaki yang saling mencintai kerana Allah, mereka berkumpul dan berpisah keranaNya. "
HR Bukhari dan Muslim


Dan di dalam sebuah hadith qudsi, Allah berfirman;

" Orang-orang yang saling mencintai keranaKu, berhak atas kecintaanKu "
HR Malik dan Ahmad

Muhammad bin Munkadir ketika ditanya tentang kenikmatannya dalam kehidupan ini, beliau menjawab, " Ketika bertemu dengan saudara-saudara ( sahabat-sahabat ), dan membahagiakan mereka."

Al-Hasan berkata, " Kami lebih mencintai sahabat-sahabat kami dari pada keluarga kami, kerana sahabat-sahabat kami mengingatkan kami akan kehidupan akhirat, sedangkan keluarga kami mengingatkan kami akan kehidupan dunia."
Khalid bin Shafwan berkata, " Orang yang lemah adalah yang sedikit menjalin persaudaraan. "
Perhatikanlah beberapa perkataan di atas, baik dari ayat-ayat Allah, hadith, mahupun perkataan para ulama, kemudian lihatlah pada kenyataan tentu akan menunjukkan kebenarannya. Siapakah yang menolongmu untuk mampu tetap teguh
memegangi hidayah? Siapakah yang meneguhkan kamu untuk tetap istiqamah? Siapakah yang menemani kamu ketika dirundung bencana dan malapetaka? Kerana itu Umar pernah berkata, " Bertemu dengan para ikhwan dapat menghilangkan kegalauan dan kesedihan hati. "
Jika demikian, bagaimana mungkin seorang yang berakal akan mengesampingkan ukhuwah dan lebih memilih kehidupan yang kacau dan hingar bingar.
Perkara-Perkara Yang Dapat Merosakkan Ukhuwah, Di Antaranya Adalah :
1. Tamak Dan Rakus Terhadap Dunia, Terhadap Apa-Apa Yang Dimiliki Orang Lain.
Rasulullah s.a.w. bersabda;


" Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintai kamu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, mereka akan mencintai kamu. "
HR Ibnu Majah
Jika kamu tertimpa musibah, mintalah musyawarah kepada saudaramu dan jangan
meminta apa yang engkau perlukan. Sebab jika saudara atau temanmu itu memahami keadaanmu, ia akan terketuk hatinya untuk menolongmu, tanpa harus meminta atau menitiskan airmata.
2. Maksiat Dan Meremehkan Keta’atan.
Jika di dalam pergaulan tidak ada nuansa zikir dan ibadah, saling menasihati, mengingatkan dan memberi pelajaran, bererti pergaulan atau ikatan persahabatan itu telah gersang disebabkan oleh kerasnya hati dan perkara ini boleh mengakibatkan terbukanya pintu-pintu kejahatan sehingga masing-masing akan saling menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Padahal Rasulullah s.a.w. bersabda;


" Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak menzaliminya dan tidak menghinakannya. Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, Tidaklah dua orang yang saling mengasihi, kemudian dipisahkan antara keduanya kecuali hanya kerana satu dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya. "
HR Ahmad
Ibnu Qayim, dalam kitab "Al-Jawabul Kafi" mengatakan, " Di antara akibat dari perbuatan maksiat adalah rasa gelisah ( takut dan sedih ) yang dirasakan oleh orang yang bermaksiat itu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya. "
Orang-orang ahli maksiat dan kemungkaran, pergaulan dan persahabatan mereka tidak dibangun atas dasar ketakwaan melainkan atas dasar kebendaan sehingga akan dengan mudah berubah menjadi permusuhan. Bahkan perkara itu nanti akan menjadi beban di hari kiamat. Allah s.w.t. berfirman;

" Pada hari itu sahabat-sahabat karib: Setengahnya akan menjadi musuh kepada
setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan takwa ( iman dan amal soleh ). "

Q.S Az-Zukhruf : 67.

Sedangkan persahabatan kerana Allah, akan terus berlanjutan sampai di syurga;

" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing. "
Q.S Al-Hijr : 47

3. Tidak Menggunakan Adab Yang Baik (Syar’i) Ketika Berbicara.
Ketika berbicara dengan saudara atau kawan, hendaknya seseorang memilih perkataan yang paling baik. Allah berfirman;

" Dan katakanlah ( wahai Muhammad ) kepada hamba-hambaKu ( yang beriman ), supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat baik ( kepada orang-orang yang menentang kebenaran ); sesungguhnya Syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka ( yang mukmin dan yang menentang ); sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia. "
Q.S Al-Israa : 53

Dalam sebuah hadith Nabi s.a.w. bersabda;

" Kalimah thayibah adalah shadaqah. "
HR Bukhari

4. Tidak Memperhatikan Apabila Ada Yang Mengajak Berbicara Dan Memalingkan Muka Darinya.
Seorang ulama salaf berkata, " Ada seseorang yang menyampaikan hadith sedangkan aku sudah mengetahui perkara itu sebelum ia dilahirkan oleh ibunya. Akan tetapi, akhlak yang baik membawaku untuk tetap mendengarkannya hingga ia selesai berbicara. "

5. Banyak Bercanda Dan Bersenda Gurau.
Berapa ramai orang yang putus hubungan satu sama lainnya hanya disebabkan oleh canda dan senda gurau.

6. Banyak Berdebat Dan Berbantah-Bantahan.
Terkadang hubungan persaudaraan terputus kerana terjadinya perdebatan yang sengit yang boleh jadi itu adalah tipuan syaitan. Dengan alasan mempertahankan aqidah dan prinsipnya padahal sesungguhnya adalah mempertahankan dirinya dan kesombongannya. Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah yang keras dan besar permusuhannya. "
HR Bukhari dan Muslim

Orang yang banyak permusuhannya adalah yang suka mengutarakan perdebatan, perbalahan dan pendapat.
Tetapi debat dengan cara yang baik untuk menerangkan kebenaran kepada orang yang kurang faham, dan kepada ahli bid`ah, perkara itu tidak bermasalah. Tetapi, jika sudah melampaui batas, maka perkara itu tidak diperbolehkan. Bahkan jika perdebatan itu dilakukan untuk menunjukkan kehebatan diri, perkara itu malah menjadi bukti akan lemahnya iman dan sedikitnya pengetahuan.
Jadi, boleh juga dengan perdebatan ini, tali ukhuwah akan terurai dan hilang. Sebab masing-masing merasa lebih lebih kuat hujjahnya dibanding yang lain.

7. Berbisik-Bisik ( Pembicaraan Rahsia )
Berbisik-bisik adalah merupakan perkara yang remeh tetapi mempunyai pengaruh yang dalam bagi orang yang berfikiran ingin membina ikatan persaudaraan.

Allah s.w.t. berfirman;

" Sesungguhnya perbuatan berbisik ( dengan kejahatan ) itu adalah dari ( hasutan ) Syaitan, untuk menjadikan orang-orang yang beriman berdukacita; sedang bisikan itu tidak akan dapat membahayakan mereka sedikitpun melainkan dengan izin Allah; dan kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman berserah diri. "
Q.S Al-Mujaadalah : 10

Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang di antaranya berbisik-bisik tanpa mengajak orang yang ketiga kerana itu akan dapat menyebabkannya bersedih. "
HR Bukhari dan Muslim

Para ulama berkata, " Syaitan akan membisikkan kepadanya dan berkata, ‘ Mereka itu membicarakanmu’." Maka dari itu para ulama mensyaratkan agar meminta izin terlebih dahulu jika ingin berbisik-bisik ( berbicara rahsia ). Wallahu?alam Bisshawab

Kredit: Blog Tok Wan

28 August 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

Perkara Yang Merusakkan Ukhuwah

" Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu ( yang bertelingkah ) itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat. "
Q.S Al-Hujuraat : 10
" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing."
Q.S Al-Hijr : 47
Berapa banyak kehidupan yang berubah menjadi keras ketika ikatan persaudaraan telah pupus, ketika sumber-sumber kecintaan kerana Allah telah kering, ketika individualisme telah menggeser nilai-nilai persaudaraan, saat itu setiap individu berada dalam kehidupan yang sukar, merasa terpisah menyendiri dari masyarakatnya.


Kebanyakan manusia pada umumnya, perilaku mereka telah tercemar oleh perkara-perkara yang dapat merosakkan persaudaraan, yang terkadang mereka menyedari perkara tersebut, dan terkadang tidak menyedarinya.
Oleh sebab itu, kami akan mencuba memaparkan beberapa perkara yang dapat merosakkan persahabatan dan persaudaraan. Sebelumnya, akan kami kemukakan terlebih dahulu beberapa hadith dan perkataan para ulama’ salaf mengenai
hubungan persaudaraan.
Dalam sebuah hadith yang menerangkan tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari tiada naungan kecuali naungan Allah, Rasulullah s.a.w. menyebutkan salah satu di antaranya adalah,

" Dan dua orang lelaki yang saling mencintai kerana Allah, mereka berkumpul dan berpisah keranaNya. "
HR Bukhari dan Muslim


Dan di dalam sebuah hadith qudsi, Allah berfirman;

" Orang-orang yang saling mencintai keranaKu, berhak atas kecintaanKu "
HR Malik dan Ahmad

Muhammad bin Munkadir ketika ditanya tentang kenikmatannya dalam kehidupan ini, beliau menjawab, " Ketika bertemu dengan saudara-saudara ( sahabat-sahabat ), dan membahagiakan mereka."
Al-Hasan berkata, " Kami lebih mencintai sahabat-sahabat kami dari pada keluarga kami, kerana sahabat-sahabat kami mengingatkan kami akan kehidupan akhirat, sedangkan keluarga kami mengingatkan kami akan kehidupan dunia."
Khalid bin Shafwan berkata, " Orang yang lemah adalah yang sedikit menjalin persaudaraan. "

Perhatikanlah beberapa perkataan di atas, baik dari ayat-ayat Allah, hadith, mahupun perkataan para ulama, kemudian lihatlah pada kenyataan tentu akan menunjukkan kebenarannya. Siapakah yang menolongmu untuk mampu tetap teguh
memegangi hidayah? Siapakah yang meneguhkan kamu untuk tetap istiqamah? Siapakah yang menemani kamu ketika dirundung bencana dan malapetaka? Kerana itu Umar pernah berkata, " Bertemu dengan para ikhwan dapat menghilangkan kegalauan dan kesedihan hati. "
Jika demikian, bagaimana mungkin seorang yang berakal akan mengesampingkan ukhuwah dan lebih memilih kehidupan yang kacau dan hingar bingar.

Perkara-Perkara Yang Dapat Merosakkan Ukhuwah, Di Antaranya Adalah :

1. Tamak Dan Rakus Terhadap Dunia, Terhadap Apa-Apa Yang Dimiliki Orang Lain.
Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintai kamu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, mereka akan mencintai kamu. "
HR Ibnu Majah
Jika kamu tertimpa musibah, mintalah musyawarah kepada saudaramu dan jangan
meminta apa yang engkau perlukan. Sebab jika saudara atau temanmu itu memahami keadaanmu, ia akan terketuk hatinya untuk menolongmu, tanpa harus meminta atau menitiskan airmata.


2. Maksiat Dan Meremehkan Keta’atan.
Jika di dalam pergaulan tidak ada nuansa zikir dan ibadah, saling menasihati, mengingatkan dan memberi pelajaran, bererti pergaulan atau ikatan persahabatan itu telah gersang disebabkan oleh kerasnya hati dan perkara ini boleh mengakibatkan terbukanya pintu-pintu kejahatan sehingga masing-masing akan saling menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Padahal Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak menzaliminya dan tidak menghinakannya. Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, Tidaklah dua orang yang saling mengasihi, kemudian dipisahkan antara keduanya kecuali hanya kerana satu dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya. "
HR Ahmad

Ibnu Qayim, dalam kitab "Al-Jawabul Kafi" mengatakan, " Di antara akibat dari perbuatan maksiat adalah rasa gelisah ( takut dan sedih ) yang dirasakan oleh orang yang bermaksiat itu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya. "
Orang-orang ahli maksiat dan kemungkaran, pergaulan dan persahabatan mereka tidak dibangun atas dasar ketakwaan melainkan atas dasar kebendaan sehingga akan dengan mudah berubah menjadi permusuhan. Bahkan perkara itu nanti akan menjadi beban di hari kiamat.

Allah s.w.t. berfirman;

" Pada hari itu sahabat-sahabat karib: Setengahnya akan menjadi musuh kepada
setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan takwa ( iman dan amal soleh ). "

Q.S Az-Zukhruf : 67

Sedangkan persahabatan kerana Allah, akan terus berlanjutan sampai di syurga;

" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing. "
Q.S Al-Hijr : 47

3. Tidak Menggunakan Adab Yang Baik (Syar’i) Ketika Berbicara.
Ketika berbicara dengan saudara atau kawan, hendaknya seseorang memilih perkataan yang paling baik. Allah berfirman;

" Dan katakanlah ( wahai Muhammad ) kepada hamba-hambaKu ( yang beriman ), supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat baik ( kepada orang-orang yang menentang kebenaran ); sesungguhnya Syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka ( yang mukmin dan yang menentang ); sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia. "
Q.S Al-Israa : 53

Dalam sebuah hadith Nabi s.a.w. bersabda;

" Kalimah thayibah adalah shadaqah. "
HR Bukhari

4. Tidak Memperhatikan Apabila Ada Yang Mengajak Berbicara Dan Memalingkan Muka Darinya.
Seorang ulama salaf berkata, " Ada seseorang yang menyampaikan hadith sedangkan aku sudah mengetahui perkara itu sebelum ia dilahirkan oleh ibunya. Akan tetapi, akhlak yang baik membawaku untuk tetap mendengarkannya hingga ia selesai berbicara. "

5. Banyak Bercanda Dan Bersenda Gurau.
Berapa ramai orang yang putus hubungan satu sama lainnya hanya disebabkan oleh canda dan senda gurau.

6. Banyak Berdebat Dan Berbantah-Bantahan.
Terkadang hubungan persaudaraan terputus kerana terjadinya perdebatan yang sengit yang boleh jadi itu adalah tipuan syaitan. Dengan alasan mempertahankan aqidah dan prinsipnya padahal sesungguhnya adalah mempertahankan dirinya dan kesombongannya. Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah yang keras dan besar permusuhannya. "
HR Bukhari dan Muslim

Orang yang banyak permusuhannya adalah yang suka mengutarakan perdebatan, perbalahan dan pendapat.
Tetapi debat dengan cara yang baik untuk menerangkan kebenaran kepada orang yang kurang faham, dan kepada ahli bid`ah, perkara itu tidak bermasalah. Tetapi, jika sudah melampaui batas, maka perkara itu tidak diperbolehkan. Bahkan jika perdebatan itu dilakukan untuk menunjukkan kehebatan diri, perkara itu malah menjadi bukti akan lemahnya iman dan sedikitnya pengetahuan.
Jadi, boleh juga dengan perdebatan ini, tali ukhuwah akan terurai dan hilang. Sebab masing-masing merasa lebih lebih kuat hujjahnya dibanding yang lain.

7. Berbisik-Bisik ( Pembicaraan Rahsia )
Berbisik-bisik adalah merupakan perkara yang remeh tetapi mempunyai pengaruh yang dalam bagi orang yang berfikiran ingin membina ikatan persaudaraan.


Allah s.w.t. berfirman;

" Sesungguhnya perbuatan berbisik ( dengan kejahatan ) itu adalah dari ( hasutan ) Syaitan, untuk menjadikan orang-orang yang beriman berdukacita; sedang bisikan itu tidak akan dapat membahayakan mereka sedikitpun melainkan dengan izin Allah; dan kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman berserah diri. "
Q.S Al-Mujaadalah : 10


Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang di antaranya berbisik-bisik tanpa mengajak orang yang ketiga kerana itu akan dapat menyebabkannya bersedih. "
HR Bukhari dan Muslim

Para ulama berkata, " Syaitan akan membisikkan kepadanya dan berkata, ‘ Mereka itu membicarakanmu’." Maka dari itu para ulama mensyaratkan agar meminta izin terlebih dahulu jika ingin berbisik-bisik ( berbicara rahsia ). Wallahu ‘alam.


Kredit: Blog Tok Wan



 

27 August 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

Larangan hidup membujang

Membujang

 

Erti tabattul (membujang), Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: "Tabattul di sini ialah menjauhkan diri dari wanita dan tidak menikah kerana ingin terus beribadah kepada Allah."[1]

Hadis-hadis yang melarang hidup membujang cukup banyak, diantaranya :

1. Hadis yang diriwayatkan al-Bukhari dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu anhu, dia mengatakan: "Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam menolak hal itu pada ‘Utsman bin Mazh’un. Seandainya baginda membolehkan kepadanya untuk hidup membujang, nescaya kami membujang."[2]

2. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, dia mengatakan: "Aku mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, aku adalah seorang pemuda dan aku takut memberatkan diriku, sedangkan aku tidak mempunyai sesuatu untuk menikahi wanita.’ Tetapi baginda mendiamkanku. Kemudian aku mengatakan seperti itu lagi kepada baginda, tapi baginda mendiamkanku. Kemudian aku mengatakan seperti itu lagi, maka Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah, pena telah kering dengan apa yang engkau temui (alami); mengebirilah atau tinggal-kan.’"[3]

Syeikh Mushthafa al-‘Adawi berkata -memberi komentar diatas sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam:

"Mengebirilah atau tinggalkan"-: "Ini seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

‘Maka barangsiapa yang (ingin) beriman hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang (ingin) kafir biarlah dia kafir.’ [Al-Kahfi/18: 29]

Dan ayat ini bukannya membolehkan kekafiran."[4]

Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiallahu anhuma, ditemui oleh Sa’id bin Hisyam seraya bertanya kepadanya:

"Aku ingin bertanya kepadamu tentang hidup membujang; bagaimana menurutmu?" Dia Aisyah Radhiallahu anhuma menjawab: "Jangan lakukan! Bukankah engkau mendengar Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

‘Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum-mu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan…’ [Ar-Ra’d/13: 38]

Oleh kerana itu, janganlah engkau hidup membujang."[5]

Tidak Ada istilah Rahib Dalam Islam.

‘Aisyah Radhiallahu anhuma mengatakan “Aku menjenguk Khuwailah binti Hakim bin Umayyah bin Haritsah bin al-Auqash as-Salamiyyah, dan dia adalah isteri ‘Utsman bin Mazh’un.” Ia melanjutkan: “Ketika Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam melihat keadaan tubuhnya yang buruk, baginda bertanya kepadaku: ‘Wahai ‘Aisyah, apa yang memperburuk keadaan Khuwailah?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, dia seorang wanita yang mempunyai suami yang selalu berpuasa di siang hari dan bangun malam (untuk solat). Ia seperti orang yang tidak mempunyai suami. Oleh kerananya, dia membiarkan dirinya dan mensia-siakannya.’

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada ‘Utsman bin Mazh’un (agar dia datang menghadap). Ketika dia datang kepada baginda, maka baginda bertanya: ‘Wahai ‘Utsman, apakah engkau membenci Sunnahku?’ Ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, bahkan Sunnahmu yang aku cari.’ Baginda bersabda: ‘Sesungguhnya aku tidur, solat, puasa, berbuka, dan menikahi beberapa orang wanita; maka bertakwalah kepada Allah wahai ‘Utsman, kerana isterimu mempunyai hak atasmu, tamumu mempunyai hak atasmu, dan dirimu mempunyai hak atasmu. Oleh kerananya, berpuasalah dan berbukalah, solatlah dan tidurlah.’"[6]

Asy-Sya’bi meriwayatkan: Ka’ab bin Sur pernah duduk di sisi ‘Umar bin al-Khaththab Radhiallahu anhu, lalu seorang wanita datang seraya berkata: "Wahai Amirul Mukminin, aku tidak melihat seorang pun yang lebih baik daripada suamiku. Demi Allah, dia senantiasa beribadah pada malam harinya dan senantiasa berpuasa pada siang harinya." Mendengar hal itu ‘Umar memohonkan ampunan untuknya dan memujinya, tetapi wanita ini merasa malu dan beranjak pulang. Ka’ab berkata: "Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau membantu wanita ini (mendapatkan hak) atas suaminya. Sebab, dia telah menyampaikan keluhannya kepadamu." ‘Umar berkata kepada Ka’ab: "Putuskanlah perkara di antara keduanya, kerana engkau memahami urusan apa yang tidak aku fahami." Ia mengatakan: "Aku melihat sepertinya dia seorang wanita bersama tiga isteri lainnya, dan dia keempatnya. Oleh kerananya, aku memutuskan tiga hari tiga malam di mana dia (lelaki ini) beribadah di dalamnya, dan untuknya (wanita ini) sehari semalam." ‘Umar berkata: "Demi Allah, pendapatmu yang pertama tidak lebih mengagumkan dari-pada yang terakhir. Pergilah! Engkau menjadi qadhi (hakim) atas Bashrah. Sebaik-baik qadhi adalah dirimu."[7]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Wahai ‘Abdullah, benarkah apa yang aku dengar bahawa engkau selalu berpuasa di siang hari dan mengerjakan solat malam?" Aku menjawab: "Benar, wahai Rasulullah." Baginda bersabda: "Jangan engkau lakukan! Berpuasa dan berbukalah, bangun dan tidurlah, kerana tubuh mempunyai hak atasmu, kedua matamu mempunyai hak atasmu, isterimu mempunyai hak atasmu, dan tamumu mempunyai hak atasmu. Cukuplah engkau berpuasa tiga hari dalam sebulan, kerana engkau akan mendapatkan pada setiap kebajikan sepuluh kali lipat gandanya. Jadi, itu seperti puasa sepanjang masa." Ketika aku berkeras, maka aku sendiri yang akhirnya kesulitan. Aku mengatakan: "Wahai Rasulullah, aku masih memiliki kesanggupan." Baginda bersabda: "Kalau begitu berpuasalah dengan puasa Daud Alaihissallam dan jangan menambahnya." Aku bertanya: "Bagaimana puasa Nabi Allah Daud Alaihissallam?" Baginda menjawab: "Separuh masa." ‘Abdullah berkata setelah tua: "Duhai sekiranya aku menerima keringanan dari Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam."[8]

Al-Marwazi mengatakan: Abu ‘Abdillah -yakni Ahmad bin Hanbal- berkata: "Hidup membujang sama sekali bukan dari ajaran Islam. Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi 14 isteri, dan baginda wafat meninggalkan sembilan isteri. Seandainya Basyar bin al-Harits menikah, niscaya urusannya menjadi sempurna. Seandainya manusia tidak menikah, niscaya tidak ada peperangan, tidak ada haji, dan tidak ada begini dan begitu. Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam menikah, sedangkan mereka tidak memiliki apa-apa, dan baginda wafat meninggalkan 9 isteri serta memilih menikah dan menganjurkan akan hal itu. Baginda melarang hidup membujang. Barangsiapa yang membenci Sunnah Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia berada di atas selain kebenaran. Ya’qub, dalam kesedihannya, masih menikah dan mendapatkan anak. Dan Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Dimasukkan ke dalam hatiku kecintaan kepada para wanita."[9]

Aku mengatakan kepadanya, diceritakan dari Ibrahim bin Ad-ham bahawa dia mengatakan: "Sungguh, rasa takut seorang lelaki yang menanggung beban keluarga yang berat…" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba dia (memotongnya serta) berteriak kepadaku dan mengatakan: ‘Kita terperangkap di jalan-jalan yang sempit.’ Lihatlah -semoga Allah menyelamatkanmu- apa yang dilakukan oleh Nabi-Nya, Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya." Kemudian dia mengatakan: "Sungguh tangisan anak di hadapan ayahnya kerana meminta roti kepadanya, itu lebih baik daripada demikian dan demikian. Bagaimana mungkin ahli ibadah yang membujang bisa menyamai orang yang menikah?"[10]

Syubhat:

Makna Tabattul Dalam Al-Qur-an.

Syeikh Muhammad bin Isma’il berkata: Di antara hal yang patut untuk disebutkan bahawa al-Qur-an memerintahkan tabattul dalam firman-Nya :

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

“Sebutlah Nama Rabb-mu, dan bertabattullah (beribadahlah) kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” [Al-Muzzammil/73: 8].

Makna ayat ini adalah perintah agar menggunakan seluruh waktunya untuk Allah dengan ibadah yang ikhlas. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (men-jalankan) agama yang lurus…” [Al-Bayyinah/98: 5].

Sementara ada larangan tabattul dalam Sunnah. Dan yang dimaksud dengannya ialah memutuskan hubungan dari manusia dan komuniti, menempuh jalan kependetaan untuk meninggalkan pernikahan, dan menjadi pendeta di tempat-tempat sembahyang. Jadi, tabattul seperti ini tidak diperintahkan dalam al-Qur-an dan dilarang dalam Sunnah. Kaitan perintah berbeza dengan kaitan larangan; maka keduanya tidak kontradiktif. Dan Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah diutus untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diturunkan kepada mereka

.

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq. Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir - Bogor]

_______

Nota kaki :

[1]. HR. Muslim, Syarh an-Nawawi (III/549).

[2]. HR. Al-Bukhari (no. 5074) kitab an-Nikah, Muslim (no. 1402) kitab an-Nikah, at-Tirmidzi (no. 1086) kitab an-Nikah, an-Nasa-i (no. 3212) kitab an-Nikah, Ibnu Majah (no. 1848) kitab an-Nikah, Ahmad (no. 1517).

Faedah: Apakah boleh mengebiri binatang? Kalangan yang membolehkan mengebiri binatang berargumentasi dengan hadis dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahawa baginda menyembelih dua kibas yang dikebiri. Mereka berkata: “Seandainya mengembiri haiwan yang dapat dimakan itu diharamkan, niscaya baginda tidak menyembelih kibas yang dikebiri sama sekali.” Ibnu Qudamah berkata dalam al-Mughni (VIII/ 625): “Mengembiri haiwan diperbolehkan kerana Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua ekor kibas yang dikebiri.” Al-waj’ ialah menghancurkan kedua buah zakar, dan apa yang dipotong kedua zakarnya, atau dicabut, maka dia seperti dikekang, kerana semakna. Kerana mengembiri adalah menghilangkan bahagian yang tidak sedap sehingga membuat dagingnya sedap dengan hilangnya bahagian itu dapat memperbanyak dan menggemukkan. Asy-Sya’bi berkata: "Apa yang bertambah pada daging dan lemaknya lebih banyak daripada yang hilang darinya. Demikianlah pendapat al-Hasan, ‘Atha’, asy-Sya’bi, an-Nakha’i, Malik dan asy-Syafi’i, dan saya tidak melihat perselisiahan di dalamnya.

[3]. HR. Al-Bukhari (no. 5076) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1404) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 3642) lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 7832).

[4]. Jaami’ Ahkaamin an-Nisaa’, al-‘Adawi (III/20).

[5]. HR. At-Tirmidzi (no. 1982) kitab an-Nikaah, Ibnu Majah (no. 1849) kitab an-Nikaah, dan disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Ibni Majah (no. 1499).

[6]. HR. Ahmad (no. 25776), yang di dalamnya terdapat ‘Abdullah bin Sa’id, ia adalah shaduq, dan para perawi lainnya adalah tsiqah, Abu Daud (no. 1369) kitab ash-Shalaah.

[7]. Majmuu’ al-Fataawaa Ibni Taimiyyah (XXXIV/85), al-Mughni (VII/30), dan disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Irwaa’ (VII/80).

[8]. HR. Al-Bukhari (no. 1975) kitab ash-Shaum, Muslim (no. 1159) kitab ash-Shaum, at-Tirmidzi (no. 770) kitab ash-Shaum, an-Nasa-i (no. 1630) kitab ash-Shaum, Ibnu Majah (no. 1712) kitab ash-Shaum, Ahmad (no. 6441), ad-Darimi (no. 1752).

[9]. HR. An-Nasa-i (VII/61) dalam ‘Isyratun Nisaa’, bab Hubbun Nisaa’, Ahmad (III/128), al-Hakim (II/160) dan ia menilainya sebagai hadits shahih sesuai syarat Muslim, dan disetujui oleh adz-Zahabi. Al-Hafiz al-‘Iraqi menilai sanadnya baik, dan Ibnu Hajar menilainya sebagai hadis hasan.

[10]. Raudhatul Muhibbiin (hal. 214).

 

Oleh : Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq

31 July 2014 Posted by | Ibadah, Tazkirah | , | Leave a comment

Sifat sifat buruk Yahudi yang di sebut dalam Quran dan Kitab Talmut mereka yang diubahsuai

    Al-Quran banyak menceritakan kedegilan bangsa Yahudi seperti bagaimana orang Yahudi mengingkari perintah Allah SWT walaupun sebahagian besar Rasul dan Nabi adalah dari kalangan kaum itu.

    Allah SWT melalui wahyunya dalam Al-Quran telah menggambarkan sifat buruk orang Yahudi yang zalim, membuat kerusakan di muka bumi, dan memusuhi bangsa lain, terutama sekali kaum Muslimin.

    Berikut merupakan 22 sifat buruk bangsa Yahudi seperti yang disebut di dalam Al-Quran:

  1. Keras hati dan zalim (Al-Baqarah:75,91,93,120,145,170; An-Nisa:160; Al-Maidah:41)

  2. Kebanyakan fasik dan sedikit beriman kepada Allah SWT (Ali Imran:110; An-Nisa:55)

  3. Musuh yang paling bahaya bagi orang-orang Islam (Al-Maidah:82)

  4. Amat mengetahui kekuatan dan kelemahan orang-orang Islam seperti mereka mengenal anak mereka sendiri (Al-An’am:20)

  5. Mengubah dan memutarbelitkan kebenaran (Al-Baqarah:75,91,101,140,145,211; Ali Imran:71,78;  An-Nisa:46; Al-Maidah:41)

  6. Menyembunyikan bukti kebenaran (Al-Baqarah:76,101,120,146; Ali Imran:71)

  7. Hanya menerima perkara-perkara atau kebenaran yang dapat memenuhi cita rasa atau nafsu mereka (Al-Baqarah:87,101,120,146; Al-Maidah:41)

  8. Ingkar dan tidak dapat menerima keterangan dan kebenaran Al-Quran (Al-Baqarah:91,99; Ali Imran:70)

  9. Memekakkan telinga kepada seruan kebenaran, membisukan diri untuk mengucapkan perkara yang benar, membutakan mata terhadap bukti kebenaran dan tidak menggunakan akal untuk menimbangkan kebenaran (Al-Baqarah:171)

  10. Mencampur adukkan yang benar dan yang salah, yang hak dan yang batil (Ali Imran:71)

  11. Berpura-pura mendukung orang Islam tetapi apabila ada di belakang orang-orang Islam, mereka mengutuk dengan sekeras-kerasnya (Al-Baqarah:76; Ali Imran:72,119)

  12. Hati mereka sudah tertutup akan Islam kerana dilaknat oleh Allah SWT yang disebabkan oleh kekufuran mereka sendiri (Al-Baqarah:88,120,145,146)

  13. Kuat berpegang pada semangat kebangsaan mereka dan mengatakan bahawa mereka adalah bangsa yang istimewa yang dipilih oleh Tuhan dan meyakini agama yang selain daripada Yahudi adalah salah (Al-Baqarah:94,111,113,120,135,145; Al-Maidah:18)

  14. Tidak akan ada kebaikan untuk seluruh manusia jika mereka memimpin (An-Nisa:53)

  15. Tidak suka, dengki, iri hati terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:90,105,109,120)

  16. Mencintai kemewahan dan kehidupan dunia, bersifat tamak dan rakus, menginginkan umur yang panjang dan mengejar kesenangan serta takut akan kematian (Al-Baqarah:90,95,96,212)

  17. Berkata bohong, mengingkari janji dan melampaui batas (Al-Baqarah:100,246,249 Ali Imran:183,184; An-Nisa:46)

  18. Berlindung di sebalik mulut yang manis dan perkataan yang baik (Al-Baqarah:204,246; Ali Imran:72; An-Nisa:46)

  19. Mengada adakan perkara-perkara dusta dan suka kepada perkara-perkara dusta (Ali Imran:24,94,183,184; Al-Maidah:41)

  20. Berlaku sombong dan memandang rendah terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:206,212,247)

  21. Tidak amanah dan memakan hak orang lain dengan cara yang salah (Ali Imran:75,76; At-Taubah:34)

  22. Selalu melakukan kerusakan dan menganjurkan peperangan (Ali Imran:64). [foren]

    Sumber: Berita Palestina

    Berikut merupakan Sifat buruk bangsa Yahudi seperti yang disebut di dalam Kitab Talmut / taurat yg di ubahsuai spt juga injil yg di ubahsuai oleh pendita nasrani:

    “Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang bukan Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang belaka.” (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a)

    “Orang-orang bukan Yahudi diciptakan sebagai budak/hamba abdi untuk melayani orang-orang Yahudi.”(Midrasch Talpioth 225)

    “Angka kelahiran orang-orang bukan Yahudi harus dikurangkan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4b)

    “Orang-orang bukan Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)

    “Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang bukan Yahudi.” (Talmud IV/8/4a)

    “Di mana saja mereka (orang-orang Yahudi) datang, mereka akan menjadi pangeran raja-raja.”(Sanhedrin 104a)

    “Terhadap seorang bukan Yahudi tidak menjadikan orang Yahudi berzina. Bisa terkena hukuman bagi orang Yahudi hanya bila berzina dengan Yahudi lainnya, yaitu isteri seorang Yahudi. Isteri bukan Yahudi tidak termasuk.” (Talmud IV/4/52b)

    “Tidak ada isteri bagi bukan Yahudi, mereka sesungguhnya bukan isterinya.” (Talmud IV/4/81 dan 82ab)

    “Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipudaya orang-orang bukan Yahudi.” (Zohar I, 168a)

    “Jika dua orang Yahudi menipu orang bukan Yahudi, mereka harus membahagi keuntungannya.” (Choschen Ham 183, 7)

    “Tetaplah terus berjual beli dengan orang-orang bukan Yahudi, jika mereka harus membayar uang untuk itu.” (Abhodah Zarah 2a T)

    “Tanah orang bukan Yahudi, kepunyaan orang Yahudi yang pertama kali menggunakannya.”(Babba Bathra 54b)

    “Setiap orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan dan sumpah palsu untuk membawa seorang bukan Yahudi kepada kejatuhan.” (Babha Kama 113a)

    “Kepemilikan orang bukan Yahudi seperti padang pasir yang tidak dimiliki; dan semua orang (setiap Yahudi) yang merampasnya, berarti telah memilikinya.” (Talmud IV/3/54b)

    “Orang Yahudi boleh mengeksploitasi kesalahan orang bukan Yahudi dan menipunya.” (Talmud IV/1/113b)

    “Orang Yahudi boleh mempraktikkan riba terhadap orang bukan Yahudi.” (Talmud IV/2/70b)

    “Ketika Messiah (Raja Yahudi Terakhir atau Ratu Adil) datang, semuanya akan menjadi budak-budak orang-orang Yahudi.” (Erubin 43b)

  23. 22 July 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

    Jangan kamu berkahwin dengan perempuan yang bersifat dengan 6 sifat ini.

    Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin (kitab Tassawuf yang terkenal) ada mengatakan ungkapan arab yang bermaksud: "Janganlah kamu menikahi 6 jenis perempuan iaitu:

    1. Al-Annanah (suka mengeluh) ialah : perempuan yang banyak mengeluh dan mengadu, selalu membalut kepalanya sebagai tanda sakit. (menandakan dia rasa terbeban dengan tugasan hariannya, kerana malas atau memang sifat semulajadinya suka mengeluh walaupun disebabkan perkara kecil. Perempuan tersebut berpura-pura sakit supaya suaminya tidak membebaninya dengan tugasan harian). Menikahi perempuan yang sengaja buat-buat sakit tidak ada faedah padanya.

    2. Al-Mananah: perempuan yang memberikan sesuatu kepada suaminya (suka mengungkit-ngungkit). Sampai satu masa dia akan mengatakan : saya telah melakukan untuk kamu itu ini.

    3. Al-Hananah : perempuan yang suka merindui dan mengingati bekas suami atau anak daripada bekas suami. (Perempuan seperti ini tidak akan menghargai suaminya walaupun suaminya berusaha memuaskan segala kemahuannya)

    4. Al-Haddaqah : menginginkan setiap perkara dalam perbelanjaannya (boros) dan suka membeli belah sehingga membebankan suaminya untuk membayar pembeliaannya.

    5. Al-Barraqah : terdapat dua makna yang pertama, suka berhias sepanjang masa (melampau dalam berhias) supaya wajahnya nampak lebih anggun dan mempersona, kat suami xbuat pun! Makna kedua ialah : perempuan yang tidak mahu makan, maka dia tidak akan makan kecuali bila bersendirian dan dia akan menyimpan bahagian tertentu untuk dirinya sendiri.

    6. Al-Syaddaqah : perempuan yang banyak cakap

    Sumber: PONDOK HABIB

    4 June 2014 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , | Leave a comment

    Jalan kita bukan jalan melaknat, menuduh dan mencaci maki

    “Taushiyyah Al-Habib Umar bin Hafidz yang Meruntuhkan Penyakit Hati”

    Di hadapan kita ada qudwah (teladan), Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang mukmin tidak melaknat, menuduh dan berkata keji.” “Aku tidak diutus sebagai pelaknat ataupun berteriak-teriak di pasar.”

    Baginda Saw. bukan pencaci, bukan pula pelaknat. Begitu juga dengan pengikut baginda dari kalangan ulama, tidak ada diantara mereka pelaknat yang suka melaknat orang. Bukan juga pencaci, yang mencaci bahkan terhadap orang awam. Apatah lagi terhadap para ulama, terlebih lagi para sahabat Nabi Saw. dan tabi’in. Mereka (para sahabat dan tabi’in) adalah sumurnya penghargaan, asas kehormatan.

    Metode (dakwah) yang baik dan benar tidak ada caci maki sama sekali. Nabi Saw. tidak diutus untuk mencaci dan memaki. Tidak pula seorang wali Allah bertugas untuk mencaci atau memaki. Tidak pula berdiri hakikat ilmu dengan caci maki sama sekali!

    Tidaklah berdiri suatu madzhab dengan caci maki kecuali madzhab iblis dan madzhab pengikut iblis, pada setiap waktu dan masa. Merekalah yang terbiasa meneruskan tradisi caci maki terhadap manusia, melaknat manusia, memancing emosi dan menanam kebencian di antara umat Islam.

    Adapun para Nabi, para ulama dan para wali, mereka menebar kasih, menyebar persaudaraan, menyebarkan akhlaq, menyebarkan kesucian hati, menyebarkan sikap menghargai, selalu menetapkan batasan, mengekang hawa nafsu, bersifat sabar dan menahan amarah. Inilah jalan yang ditempuh para nabi, para wali, para ulama dan orang-orang shaleh.

    Sumber: Pondok Habib

    31 May 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | , , | Leave a comment

    Majlis Ilmu


    Kelas Agama UKE
    Suatu hari Nabi Muhammad s.a.w. bertemu dua kumpulan muslimin . Satu kumpulan sedang beribadah sambil bermohon dan berdoa kepada Allah s.w.t. , manakala satu kumpulan lagi sedang mengadakan majlis ilmu . Kedua-duanya baik , tetapi Nabi memilih yang terlebih baik .

    Nabi s.a.w. memilih majlis ilmu yang sedang berlangsung . Baginda duduk bersama-sama kumpulan kaum Muslimin yang hadir dalam majlis tersebut . Walaupun Baginda seorang Nabi dan orang yang alim serta paling berilmu di kalangan sekalian manusia , Nabi tetap cinta kepada ilmu pengetahuan .

    Malah pada bulan Ramadan , Nabi s.a.w. akan bertadarus al-Quran dengan Malaikat Jibril a.s. Nabi membaca dan Malaikat Jibril a.s. mendengar sambil menyemak bacaan Nabi . Ia juga termasuk dalam proses belajar .

    Nabi s.a.w. bersabda , " Ilmu itu merupakan khazanah (perbendaharaan) anak kuncinya ialah bertanya . Kerana itu bertanyalah kamu, kerana dengan bertanya itu akan diberikan ganjaran empat golongan . ( Iaitu ) orang yang bertanya , orang yang mengajar , orang yang mendengar dan orang yang mencintainya ." ( Riwayat Abu Na’im daripada Sayidina Ali )

    Hadith : Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:”Jadikanlah dirimu orang alim (berilmu) atau orang yang menuntut ilmu atau orang yang selalu mendengar pengajaran atau orang yang mencintai (tiga golongan yang tersebut) dan janganlah engkau menjadi dari golongan yang kelima, yang dengan sebabnya engkau akan binasa.”

    (Riwayat al-Bazzar).

    Pengajaran hadis:

    i) Ilmu menduduki darjat yang tinggi di sisi manusia dan juga di sisi Allah S.W.T. Orang yang berilmu akan dimuliakan oleh penduduk langit dan bumi sebaliknya bagi orang yang tidak berilmu. Oleh itu setiap mukmin hendaklah berusaha mempertingkatkan kemajuan dirinya sama ada :

    a) Menjadikan dirinya orang alim (berilmu) yang mengajarkan ilmunya kepada orang lain

    b) Menjadi orang yang belajar (menuntut ilmu)

    c) Mendengar atau mengikuti majlis-majlis ilmu.

    d) Menghormati atau mencintai salah satu atau ketiga-tiga golongan di atas dengan menurut jejak langkah mereka.

    ii) Dengan adanya sifat-sifat yang disebutkan di atas maka kehidupan seseorang itu akan sentiasa terjamin untuk mendapat keselamatan dan kebahagiaan jasmani atau rohani kerana ia sentiasa berada dalam jagaan ilmu pengetahuan yang memimpinnya ke jalan yang benar dan memberinya kesedaran untuk memilih antara yang baik dan yang buruk.

    iii) Manakala mereka yang tidak termasuk dalam golongan tersebut atau yang dipanggil masyarakat sebagai ‘bodoh sombong’ maka mereka adalah golongan yang bakal mendapat kebinasaan kerana mereka tidak ada pimpinan yang dengannya dapat memandu kepada kebaikan melainkan hidup terumbang ambing dan tenggelam dalam kesesatan.

    Wassalam

    Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

    25 May 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Mujahadah- Pahit yang Awal, Manis di Penghujung

    Mujahadah itu amat payah kerana Syurga Allah itu sangat indah. Mujahadah itu pahit pada permulaannya sahaja. Kemanisannya akan dirasai saat kaki sudah bertapak di Syurga Ilahi nanti. (Allahumma Ameen!). Pernahkah kita merasai gula-gula yang pahit pada mula kita menggigitnya, namun, manis bila kita sudah mengunyahnya? Begitulah mujahadah. Hanya pada permulaannya saja, mungkin, kita akan rasa keperitan dan kepahitan. Kerana, Allah mahu menguji, apa benar mujahadah kita kerana-Nya? Sebab itu, Dia datangkan ujian dan cubaan untuk kita, yang bergelar hamba-Nya.

    “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Surah al-Ankabuut : 2)

    Bagaimana mungkin kita hanya bergoyang kaki saja di dunia ini, kemudian, mati dan terus boleh masuk Syurga? Andai begitu, senangnya mahu masuk Syurga! Tidak perlu kepada mujahadah dan sebagainya. Namun, hakikatnya adalah sebaliknya. Syurga Allah itu terlalu mahal dan untuk mendapatkan sesuatu yang mahal, perlu kepada pengorbanan yang bersungguh-sungguh. Iaitu, mujahadah!

    Andai kita selak kisah cinta dalam lipatan sejarah, pasti kita akan bertemu dengan nama insan-insan hebat yang mana, Syurga menunggu kehadirannya. Bagaimana mereka bertemu dengan kebenaran setelah menentang Islam itu sendiri? Bagaimana hati mereka diketuk dengan sapaan hidayah-Nya, setelah mereka membunuh ramai insan yang tidak berdosa?

    Kita ini sering leka dengan maksiat. Kita ini sering terlupa dengan nikmat yang dibuai dunia. Kita ini sering alpa dengan dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Hingga semua itu, menutup mata hati kita untuk melihat dan mengenal cinta Allah yang sebenar.

    “Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (Surah al-Israa’ : 72)

    Biarlah permulaan penghijrahan hidup kita dihiasi dengan ujian, dugaan dan cubaan sepanjang kita menuju ke arah mujahadah kerana-Nya. Asalkan di akhir natijah hidup kita nanti, Syurga Allah yang bakal kita kecapi. InsyaAllah.

    Jika kita yakin dan percaya dengan rahmat dan kasih sayang Allah, maka, kita akan dihinggapi rasa ketenangan sentiasa. Tidak ada gundah yang tidak berpenghujung. Tidak ada rasa sedih dan resah yang tidak akan berakhir. Ujian dan dugaan akan terus datang untuk menguji kita. Semua itu hanya akan berakhir bilamana nafas kita di dunia ini juga berakhir.

    “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Surah al-Mulk : 2)

    Imam Hambali pernah ditanya oleh anaknya, “Ayah, bila kita boleh berehat?”

    Maka, jawab Imam Hambali, “Kita hanya akan berehat bila kita benar-benar sudah menjejak ke Syurga”.

    MasyaAllah! Jadi, dunia ini adalah tempat untuk kita berpenat! Kerana Syurga adalah tempat rehat kita yang sebenar-benarnya!

    Imam al-Ghazali pernah mengatakan bahawa seseorang tidak akan dapat menjadi hamba Allah dengan sebenarnya jika masih mencintai dunia.

    Allah s.w.t. mengingatkan kita “dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan yang sia-sia dan hiburan yang melalaikan.” (Surah Al-An’am, 6:32)

    Wassalam

    Sumber: JAKIM

    24 May 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Munafik – Bercakap bohong, mungkir janji…

     

    ISTILAH munafik, pastinya bukanlah sesuatu yang baru di dalam masyarakat Islam. Banyak terdapat ayat-ayat al-Quran dan hadis yang berkaitan dengan bahayanya sifat munafik ini.

    Firman Allah s.w.t.: Di antara orang-orang Badwi yang ada di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka melampau dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami seksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (at-Taubah: 101)

    Namun, masih kurang di kalangan umat Islam khususnya, yang berusaha menghayati, memahami serta prihatin terhadap ancaman yang berpunca daripada ciri-ciri golongan munafik ini.

    Menurut Timbalan Dekan (Hal Ehwal Pelajar), Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Prof. Datuk Dr. Mohammed Yusoff Hussain, munafik atau nifaq adalah perkataan yang berasal daripada bahasa Arab.

    “Dari segi bahasa, munafik membawa maksud berpura-pura. Manakala dari segi istilahnya, nifaq atau munafik ini bermakna golongan yang berpura-pura menjadi Islam atau bergelar Muslim tetapi sebenarnya tindakan, perkataan dan perbuatan mereka adalah bertujuan meruntuhkan Islam,” terang bekas Mufti Wilayah Persekutuan ini secara ringkas akan pengertian munafik sebagai pembuka bicara, petang itu.

    Tambah Mohammed Yusoff, pada zaman Rasulullah s.a.w., golongan munafik ini mendapat sokongan dari luar seperti kaum Musyrikin.

    Menyedari tindakan dari luar tidak berkesan, maka taktik untuk merosakkan perpaduan umat Islam melalui jalan dalam digunakan, iaitu berpura-pura seperti seorang Muslim tetapi dalam masa yang sama menikam dari belakang.

    “Golongan munafik ini begitu licik sehinggakan keakraban yang wujud antara mereka dengan orang Islam yang tulen, menyebabkan orang-orang Islam yang berpegang di jalan yang benar, menganggap golongan munafik ini sebagai sebahagian daripada mereka.

    Mengaburi

    “Ini dibuktikan melalui kisah kesungguhan golongan munafik ini mendirikan sebuah masjid baru bagi mengaburi penglihatan umat Islam pada masa itu,” katanya antara salah satu langkah awal cara golongan munafik ini mempengaruhi dan memperoleh kepercayaan umat Islam, sebelum meneruskan misi meracuni pemikiran mereka.

    Malah jelas beliau, golongan munafik ini semakin terserlah pada zaman Abu Bakar apabila mereka ingkar membayar zakat.

    “Satu contoh kemunafikan yang paling terang berlaku pada zaman pemerintahan para sahabat, Abdullah bin Saba’ iaitu seorang munafik yang terkenal.

    “Abdullah memfitnah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib hanya kerana dia tidak menerima kepimpinan dua sahabat Nabi,” kata tokoh agama yang berpengalaman ini.

    Yang pastinya, ujar Mohammed Yusoff, matlamat golongan sebegini ialah untuk menggoncangkan keyakinan umat Islam, orang yang baru memeluk agama Islam dan mereka yang masih belum kukuh keyakinannya kepada agama Islam.

    Tambah beliau lagi, pada zaman pemerintahan Rasulullah s.a.w., baginda tidak menguar-uarkan kemunafikan golongan ini kerana tidak mahu menimbulkan suasana huru-hara dari segi hubungan kemanusiaan.

    “Ini menunjukkan kepada kita bahawa bukan mudah untuk menghadapi golongan munafik, dan Nabi sendiripun tidak dapat menghadapinya secara terang-terangan kerana dibimbangi tindakan baginda dieksploitasi oleh golongan munafik sehingga boleh menjatuhkan imej Rasulullah s.a.w. sendiri kerana dituduh tidak mempercayai atau berprasangka buruk terhadap para sahabat,” terang Mohammed Yusoff yang ditemui di pejabatnya, baru-baru ini.

    Malah akui beliau, golongan munafik ini lebih sukar dihadapi daripada musuh yang sebenar. Golongan ini diumpamakan seperti musuh di dalam selimut.

    Subversif

    Jelas beliau lagi, golongan munafik ini dalam istilah moden boleh disebut golongan subversif ataupun merosakkan dari dalam.

    Menjelaskan sifat munafik yang telah disebutkan oleh Rasulullah s.a.w.: Sesiapa yang mempunyai tiga perkara ini, maka dia adalah seorang munafik walaupun dia berpuasa, sembahyang, menunaikan haji, umrah dan mengatakan dirinya seorang Muslim.

    Para sahabat bertanya, “Apakah tiga perkara ini?” Jawab baginda: Iaitu apabila bercakap dia berbohong, apabila berjanji dia tidak menepati janjinya dan apabila diberi amanah dia mengkhianatinya. (Riwayat Muslim)

    Namun pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Mohammed Yusoff menjelaskan, hadis kedua ini memberikan tambahan kepada tanda-tanda orang munafik iaitu: Empat sifat, sesiapa yang bersifat dengannya bererti dia seorang munafik yang nyata, dan siapa yang mempunyai salah satu daripada sifat-sifat itu bererti dia mempunyai satu sifat munafik sehingga dia meninggalkan sifat itu.

    Sifat tersebut ialah: Apabila bercakap dia berdusta, apabila berjanji dia memungkiri janjinya, apabila diberi amanah dia mengkhianatinya dan apabila berbalah (bertengkar) dia melampaui batas.

    Namun, tegas beliau, ini adalah ciri-ciri yang umum. Hakikatnya, di dalam dunia yang moden ini ciri-ciri tersebut hanya menjadi panduan.

    Antara ciri-ciri lain yang boleh dikategorikan dalam persoalan munafik, jelas Muhammad Yusoff ialah:

    1. Mereka yang bercakap tentang Islam tetapi menyimpan niat buruk untuk menghancurkan Islam.

    Mereka mendabik dada mengakui mereka memperjuangkan Islam tetapi apa yang dilakukan itu sebaliknya meruntuhkan Islam.

    2.Bercakap perkara yang menimbulkan keraguan umat Islam terhadap ajaran Islam.

    3.Golongan yang bertindak mengadu domba umat Islam berpandukan kepada tafsiran-tafsiran tentang ajaran Islam. Bagi yang berkeyakinan mereka akan berbalahan antara satu sama lain.

    Contohnya, mengatakan bahawa sesuatu ajaran Islam itu hanya untuk satu golongan sahaja, sedangkan ia adalah ajaran Islam yang universal.

    4.Bercakap tentang Islam tetapi sebenarnya meniru argumentasi musuh Islam yang jelas.

    Misalnya bercakap tentang Islam tetapi menggunakan pandangan orientalis. Sedangkan kita ketahui bahawa golongan Orientalis adalah musuh Islam.

    Golongan ini memang menolak pandangan ulama, pejabat agama kerana menganggap golongan ini kolot dan banyak lagi pandangan negatif.

    “Ini boleh dikategorikan semi-munafik kerana membelakangkan mereka yang pakar dalam sesuatu bidang itu.

    “Contohnya, sekiranya kita hendak membina rumah, tentunya kita meminta pandangan daripada pakar yang berkaitan bukannya meminta pandangan daripada orang agama,” seloroh beliau.

    Terang Mohammed Yusoff lagi, apa yang berlaku dalam masyarakat kini ialah golongan yang kononnya mengembangkan Islam dan mengubah pemikiran rakyat tetapi tidak berpunca daripada kitab yang muktabar dan tidak berdasarkan hadis.

    Konteks

    Kalaupun berdasarkan al-Quran dan hadis, tetapi tidak melihat dua sumber ini dalam konteksnya atau secara menyeluruh atau daripada sudut pandangan golongan lain.

    “Di dalam pekerjaan misalnya, kita telah diamanahkan memegang sesuatu tugas tidak kiralah jawatan besar mahupun kecil, di sisi Allah s.w.t. adalah sama. Di dunia, besar jawatan dan tugas imbuhannya dilihat pada sumber pendapatan.

    “Allah tidak melihat pada gaji tetapi Allah melihat apabila seseorang itu menerima amanah tidak kira kecil atau besar, ia mestilah ditunaikan.

    “Gaji bukan ukuran Allah tetapi sifat amanah seseorang hamba, itulah yang utama di sisi Allah,” terang beliau.

    Senario sekarang ulas Mohammed Yusoff, ramai di kalangan umat Islam yang tidak takut diri memiliki ciri-ciri munafik.

    “Ini kerana, dosa dan pahala itu boleh dikompromi. Contohnya rasuah, waktu mula-mula berkerja, dia sanggup melafazkan aku janji yang dikira amanah yang terpikul di bahu tetapi apabila bekerja kita sanggup melakukan pembohongan, mencuri masa kerja dan pelbagai lagi.

    “Dari segi istilah, ini sudah dikira munafik. Lebih-lebih lagi, kesalahan tersebut dilakukan secara terang-terangan seperti penipuan, rasuah, menggelapkan duit syarikat dan banyak lagi,” katanya sifat munafik ini, mampu merosakkan institusi kekeluargaan, masyarakat, sekali gus melumpuhkan sistem pemerintahan sesebuah negara itu.

    (Oleh ZUARIDA MOHYIN)

    Artikel Penuh: http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2005&dt=0624&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm#ixzz32PaKdN2u

    22 May 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

    Kau yang Zalim!

    AL-asfahani dalam al-Mufradat fi Gharib al-Quran menjelaskan makna zalim dari sudut bahasa dan kebanyakan ilmuwan ialah menetapkan sesuatu bukan pada tempat yang sepatutnya, sama ada dengan mengurangkannya atau membuat penambahan.

    Berdasarkan pengertian ini, maka semua perbuatan yang mengundang dosa dan maksiat kepada ALLAH sama ada melakukan perkara yang haram atau meninggalkan perkara yang wajib termasuk dalam perbuatan zalim. Ini kerana dia telah melakukan perkara bukan pada tempat yang ALLAH reda.

    ALLAH dengan sifatnya Maha Adil sama sekali tidak akan melakukan kezaliman kepada makhluk ciptaanNya. Namun, manusia itu sendiri yang menzalimi diri sendiri. ALLAH menegaskan: “Sesungguhnya ALLAH tidak menzalimi manusia sesuatu apa pun, tetapi manusia itu sendirilah yang menzalimi diri mereka sendiri.”. (Surah Yunus: 44).

    Dalam hadis qudsi, ALLAH secara jelas menegah diriNya dari sifat zalim. Rasulullah berkata: ALLAH berfirman: “Wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman ke atas diriku, dan aku jadikannya haram juga dalam kalangan kamu, maka janganlah kamu berlaku zalim…”. (Riwayat Muslim)

    Apabila ALLAH mengharamkan diriNya melakukan kezaliman ke atas hambaNya, maka ALLAH juga mengharamkan manusia melakukan kezaliman ke atas manusia lain. Bahkan ditegaskan supaya berlaku adil dan menegakkan keadilan sesama manusia.

    “Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang yang menegakkan keadilan kerana ALLAH, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada takwa. dan bertakwalah kepada ALLAH, Sesungguhnya ALLAH Maha mengetahui Dengan mendalam akan apa Yang kamu lakukan”. (Surah al-Maidah: 8)

    Secara asasnya, zalim boleh dibahagikan kepada dua jenis: kezaliman yang besar dan kezaliman yang kecil. Kezaliman yang besar ialah apabila seseorang menzalimi dirinya sendiri dengan kufur dan syirik kepada ALLAH.

    Kezaliman yang kecil ialah selain daripada perbuatan syirik dan ia boleh dilihat dari dua aspek. Pertama; seseorang itu menzalimi diri sendiri dengan perbuatan maksiat di antara dirinya dengan ALLAH. Kedua; seseorang itu melakukan perbuatan zalim ke atas orang lain dan mencabuli hak-hak mereka.

    Syirik adalah kezaliman yang terbesar. Manusia yang syirik dikira melakukan kezaliman kerana dia meletakkan ibadahnya kepada selain dari ALLAH. ALLAH menjelaskan “Sesungguhnya syirik itu kezaliman yang besar”. (Surah Luqman: 13)

    Dalam sebuah hadis, Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Rasulullah: Dosa apakah yang paling besar? Rasulullah menjawab: Kamu jadikan sekutu bagi ALLAH, sedangkan Dia yang menciptakan kamu”. (Riwayat Bukhari & Muslim)

    Dosa kezaliman yang terbesar ini tidak akan diampunkan melainkan dengan taubat nasuha sebelum ajal datang menjelma. Sesiapa yang mati dalam keadaan kufur dan syirik kepada ALLAH, maka dosanya tidak akan diampunkan dan kekal di dalam neraka.

    Seseorang yang melakukan maksiat kepada ALLAH, sebenarnya dia terjebak dengan kezaliman yang kecil. Dia menzalimi dirinya sendiri. Namun begitu, peluang yang disediakan baginya untuk kembali memperbetulkan diri sangat luas. Perbanyakan istighfar dan segera bertaubat. ALLAH sedia menanti untuk menerima taubat dan mengampunkan dosa.

    Selain itu, kezaliman juga berlaku antara manusia ke atas manusia lain. Kezaliman boleh berlaku dalam dua keadaan sama ada dengan menafikan hak-hak yang sepatutnya mereka berhak perolehi atau melakukan sesuatu yang mendatangkan kesusahan dan  mudarat ke atas diri mereka.

    Antara contoh kezaliman ini ialah:

    • Kezaliman anak kepada ibu bapa

    ALLAH meletakkan perintah taat dan berbuat baik kepada ibu bapa di tempat yang tertinggi selepas perintah tauhid dan ibadat kepada ALLAH. Menderhakai ibu bapa pula adalah dosa besar selepas dosa syirik. “ dan hendaklah kamu beribadat kepada ALLAH dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua; dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapa”. (Surah al-Nisa’: 36).

    • Kezaliman ibu bapa kepada anak

    Ibu bapa mempunyai tanggungjawab dan kewajipan ke atas anak-anak. Antaranya ialah kewajipan nafkah, memberi pendidikan terutamanya yang berkaitan urusan agama, mendidik dengan peribadi dan akhlak mulia dan sebagainya. Mana-mana ibu bapa yang mengabaikan tanggungjawab sebenarnya mereka telah berlaku zalim kepada anak-anak.

    • Kezaliman suami kepada isteri

    Suami wajib menunaikan tanggungjawabnya yang diperintahkan ke atas isterinya. Menyediakan nafkah, tempat tinggal dan pakaian merupakan kewajipan asas yang perlu diambil berat oleh suami. Di samping itu, kewajipan yang lebih besar ialah membimbing dan mengingatkan isteri agar menjadi isteri yang solehah, tidak melakukan perkara yang boleh menjerumuskan dirinya ke neraka. Suami yang membiarkan isterinya melakukan kemaksiatan dan tidak pula ditegurnya, maka itulah dayus yang sebenar. Mana-mana suami yang mengabaikan tanggungjawab ini maka dia telah berlaku zalim kepada isterinya.

    •  Kezaliman isteri kepada suami

    Kezaliman isteri kepada suami boleh berlaku dalam beberapa keadaan. Antaranya ialah tidak mentaati perintah suami dalam perkara kebaikan dan tidak melanggar syariat. Isteri yang enggan memenuhi keinginan suami untuk melakukan hubungan, tanpa ada sebarang keuzuran, maka dia telah berlaku zalim kepada suaminya. Keluar rumah tanpa izin suami, berkelakuan buruk dengan suami, menyebarkan keaiban suami kepada orang lain, meminta talak dari suami tanpa ada sebab yang diiktiraf oleh syariat.

    Ini adalah contoh-contoh bagaimana kezaliman dari isteri ke atas suaminya.

    •  Kezaliman ahli ilmu dan pendakwah

    Ahli ilmu dan pendakwah sepatutnya menjadi contoh tauladan kepada masyarakat lain. Tidak sepatutnya mereka ini terjebak dalam kancah kezaliman kerana ianya boleh mencemarkan kredibiliti mereka di mata masyarakat. Namun, amat malang dan menyedihkan apabila ada di kalangan mereka yang terlibat dalam dunia dakwah, turut melakukan kezaliman. Contoh kezaliman yang dilakukan ialah apabila adanya perasaan hasad dengki, cemburu dan iri hati sesama mereka.

    Akibatnya ada yang sanggup menyebarkan fitnah, membuka keaiban bahkan ada yang sengaja mencari-cari kesalahan pendakwah atau ahli ilmu yang lain. Selain itu, menyembunyikan fakta kebenaran demi meraih sokongan dan menarik minat masyarakat kepadanya juga merupakan suatu kezaliman. Berdiam diri dengan kemungkaran yang jelas bahkan menyokong pula kemungkaran tersebut adalah kezaliman yang tidak sepatutnya dilakukan oleh ahli ilmu dan pendakwah.

    Inilah sebahagian contoh kezaliman yang melibatkan hak manusia dengan manusia yang lain. Kezaliman juga berlaku daripada pihak pemerintah terhadap rakyatnya. Hak-hak dan kebajikan yang sepatutnya dinikmati oleh rakyat namun dinafikan oleh pihak pemerintah yang berkuasa, maka ini adalah kezaliman. Pemerintah yang dilantik untuk memegang tampuk kekuasaan bukanlah tiket untuk mereka mengaut keuntungan dan mengumpul harta kekayaan dengan melakukan penindasan dan kezaliman. Rakyat diminta untuk berjimat cermat, sedangkan mereka berbelanja bagai tiada had. Rakyat tertekan dan menderita disebabkan kenaikan harga, sedangkan mereka sedikit pun tidak terasa. Bahkan terus sombong dan megah dengan pangkat dan kuasa.

    Jika kita terlibat dalam dosa melakukan kezaliman sama ada kezaliman kepada Sang Pencipta atau sesama makhluk ciptaanNya, rebutlah peluang memohon ampun, selagi pintu taubat masih terbuka. Sesungguhnya kezaliman adalah penyesalan di hari akhirat kelak. Biar menyesal di dunia, jangan sampai dibawa ke akhirat sana kerana itulah kerugian yang nyata.

    “dan Segala muka akan tunduk dengan berupa hina kepada ALLAH Yang tetap hidup, lagi yang kekal mentadbirkan makhluk selama-lamanya; dan sesungguhnya telah rugi dan hampalah orang yang menanggung dosa kezaliman”. (Surah Toha: 111)

    ALLAH tidak pernah menzalimi hamba-hambaNya sedikit pun, tetapi kitalah yang menzalimi diri kita sendiri. “Sesungguhnya ALLAH tidak menganiaya manusia sedikit pun, akan tetapi manusia jualah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (Surah Yunus: 44)

    Abd Razak Muthalib – Perunding motivasi di RK Training & Management merangkap pensyarah di International Islamic College.

    Sumber: Sinar Harian

    18 May 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Rebutlah peluang meraih pahala haji dan umrah selepas Solat Subuh berjamaah.

    [Lihat Penjelasannya di sini: AAM (Riyadh As-Solihin); MAKSUD WAKTU SYURUQ DAN HUKUM SOLAT SUNAT ISYRAQ. http://www.youtube.com/watch?v=SKDBcYBqvrk]

    13 May 2014 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

    Kemanakah Kita Esok?

    Mati itu benar

     

    Perit untuk kita dengar tentang kisah kematian,tapi itu adalah lumrah kehidupan sekarang,tiap2 hari pasti ada khabar kematian,di akhbar,di mulut2,di mana2 sahaja..kerana kematian itu adalah lumrah kehidupan..

    Ali Imran surah 3 yang bermaksud :

    "145. dan (tiap-tiap) makhluk Yang bernyawa tidak akan mati melainkan Dengan izin Allah, Iaitu ketetapan (ajal) Yang tertentu masanya (yang telah ditetapkan oleh Allah). dan (dengan Yang demikian) sesiapa Yang menghendaki balasan dunia, Kami berikan bahagiannya dari balasan dunia itu, dan sesiapa Yang menghendaki balasan akhirat, Kami berikan behagiannya dari balasan akhirat itu; dan Kami pula akan beri balasan pahala kepada orang-orang Yang bersyukur."

    Gusar hati mengenangkan mati,kerana mati itu adalah pasti..tidak kira apa2 sekali,yakni malaikat,manusia,haiwan..dan apa2 benda yang hidup pastikan merasa mati..semuanya dengan kehendak ALLAH. Dalam Surah An-Biyaa’ ayat ke 35 yang bermaksud :

    "tiap-tiap diri akan merasai mati, dan Kami menguji kamu Dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cubaan; dan kepada Kamilah kamu semua akan dikembalikan."

    kita sekian lama hidup tidak mengenang sekalipun asal usul kematian…kematian itu adalah pasti,kerana itulah ALLAH mengirimkan kita khabar2 kematian hari2 bagi supaya kita bersiap siaga untuk berhadapan dengan NYa.

    kerana ALLAH telah berfirman dalam surah Yassin ayat ke 83 yang bermaksud :

    "oleh itu akuilah kesucian Allah (dengan mengucap: Subhaanallah!) – Tuhan Yang memiliki dan Menguasai tiap-tiap sesuatu, dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan."

    dan Jika kita tidak percaya sekalipun terhadap kematian yang bakal menjemput kita,cukuplah kita duduk di hospital sepanjang hari,boleh dikira hari2 kita berjumpa insiden atau mana2 manusia yang dijemput untuk mengadap Ilahi…

    dan ingatlah ketika itu kita akan dihitung,dihadapkan ke arah neraka bagi yang menderhaka,dan bagi yang taat insyaALLAH syurgalah tempatnya..

    firman ALLAH dalam surah Yassin ayat ke 63 yang bermaksud :

    ""Yang kamu saksikan sekarang ialah neraka Jahannam, Yang kamu selalu diancam memasukinya (kalau kamu tidak taatkan perintah Allah)."

    Jsdi sebagai insan,kita wajib diingatkan terhadap mati,kerana itu kita kena bersiap siaga menghadap mati,biarpun bukan kita,mungkin esok harinya adalah kita?kita tidak tahu ajal kita…kerana mengenai ajal maut hanyalah ALLAH.

    Mari kita renungi diri kita, adakah cukup amal kita untuk berhadapan dengan ALLAH.

    kerana janji janji kita sebelum kita dijadikan manusiapada ketika alam ruh lagi kepada ALLAH telahpun dirakam di dalam Al Quran dalam surah al A’raaf ayat 172 yang bermaksud :

    "dan (ingatlah Wahai Muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan zuriat anak-anak Adam (turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka, dan ia jadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri, (sambil ia bertanya Dengan firmanNya): "Bukankah Aku Tuhan kamu?" mereka semua menjawab: "Benar (Engkaulah Tuhan kami), Kami menjadi saksi". Yang demikian supaya kamu tidak berkata pada hari kiamat kelak: "Sesungguhnya Kami adalah lalai (tidak diberi peringatan) tentang (hakikat tauhid) ini". Itulah selalunya diperingatkan kita pada notis2 di masjid-masjid,di surau-surau.

    "Solatlah kamu sebelum kamu disolatkan"

    sebelum kaki berhenti melangkah,tangan terputus nikmat,lidah menjadi kelu,mata menjadi buta,jantung berhenti berdegup,badan menjadi kaku…ada baiknya kita bermusahabah diri….merenung siapa sebenarnya diri kita…apa tujuan hidup kita…kenapa kita diciptakan di dunia ini..kenapa harus kita bersembahyang…cukupkah masa untuk kita bertaubat dan beramal..sebelum kita terlambat. Marilah..pintu rahmat ALLAH itu sentiasa terbuka..

    ALLAH itu maha pengampun lagi maha pemurah…

    Wassalam

    Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

    12 May 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

    Manusia terbahagi kepada 4 macam

    MANUSIA TERBAGI MENJADI 4 MACAM

    Di dalam urusan dunia dan agama, manusia terbahagi menjadi 4 macam:

    1. Ahli yakin                                                        : orang yang dimudahkan urusan dunia dan agamanya.

    2. Pewaris para Nabi                                        : orang yang dimudahkan urusan agama akan tetapi urusan dunianya susah.

    3. Mustadroj (dimanjakan di dunia saja) : orang yang dimudahkan urusan dunia akan tetapi urusan agamanya susah.

    4. Dimurkai                                                           : orang yang urusan agama dan dunianya susah semua.

    Perhatikanlah wahai saudaraku,,,

    KITA TERMASUK GOLONGAN NOMBOR BERAPA?

    Apabila engkau termasuk golongan 1 atau 2, engkau telah berhasil dan mendapatkan keuntungan kebaikan dunia dan akhirat dan termasuk orang yang berhasil dan sukses.

    Apabila engkau termasuk golongan 3 atau 4,,,celaka,,,celaka,,,celakalah engkau. Perbaikilah dirimu sebelum ajal menjemput.

    Pergunakanlah sisa umurmu untuk kebaikan dan kembalilah kepada jalan Allah sekarang juga.

    Mohonlah pertolongan-Nya dan menangislah di hadapan-Nya supaya Dia memudahkan urusan agamamu.

    Oleh: Al Allamah Hb Zain bin Sumait

    Sumber: PONDOK HABIB

    10 May 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Ganjaran membaca Al Quran

    6 May 2014 Posted by | Ibadah, Tazkirah | | Leave a comment

    Petikan kata kata Tuan Guru Sheikh Nuruddin Al-Banjari Al Makki

    5 May 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

    Wahai hambu ku………

    5 May 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

    Petikan Syarah Syeikh Habib Ali Zaenal Abidin

    5 May 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

    Hiburan di benarkan mengikut syarak

                                                                                                                                       

    Istilah konsert pada kebiasaannya dikhaskan untuk persembahan yang dipertunjukkan oleh suatu kumpulan ahli muzik. Menurut kamus dewan bahasa dan pustaka edisi ke-empat mentakrifkan konsert sebagai pertunjukan atau persembahan muzik di khalayak ramai. Kamus Oxford pula menterjemahkan sebagai persembahan muzik yang dipersembahkan kepada khalayak oleh beberapa orang artis atau penghibur.

    Pada dasarnya, Islam mengharuskan hiburan dan Islam adalah agama yang selari dengan fitrah kehidupan manusia. Fitrah kehidupan manusia seperti makan minum, berkeluarga, bersosial, mempunyai perasaan cinta termasuklah berhibur dan suka kepada hiburan.

    Hal ini berdasarkan Firman Allah di dalam surah Ar-Rum ayat 30 yang bermaksud “maka hadapkanlah wajahmu ke arah agama yang hanif (yang menyembah Allah yang Esa) itu agama Allah yang fitrah yang DIA ciptakan manusia di atasnya. Tiada sebarang perubahan pada ciptaan Allah itu; itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

    Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadith yang diriwayatkan oleh Aisyah R.A yang bermaksud, “Sesugguhnya Abu Bakar masuk kepadaku, sedang di sampingku ada dua gadis hamba daripada orang Ansar sedang menyanyi dengan nyanyian yang dinyanyikan oleh orang Ansar pada hari peperangan Bu’ath. Aku berkata, kedua-dua orang ini bukanlah penyanyi. Abu Bakar berkata, adakah di rumah nabi ini terdapat syaitan? Sedangkan pada hari ini adalah hari raya idul fitri. Rasulullah bersabda, wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kamu ada hari rayanya dan ini adalah hari raya kita”. Hadith riwayat Ibnu Majah.

    Hadith ini secara terang menjelaskan bahawa hiburan yang menghiburkan jiwa diharuskan oleh Islam. Islam tidak mewajibkan manusia agar semua perkataan yang keluar dari mulut hanyalah zikir, semua pendengarannya hanyalah Al-quran, semua masa lapangnya berada di masjid tetapi Allah menciptakan manusia supaya mereka bersenang, bermain, ketawa sesuai dengan fitrah kejadiannya.

    Walau bagaimanapun, hiburan nyanyian ini diharuskan oleh Islam dengan syarat ia tidak bercampur kata-kata kotor, keji atau yang boleh memrangsangkan kepada perbuatan dosa. Hal ini berdasarkan pandangan Profesor Dr Al-Sheikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab Al-Halal wa haram fil Islam.

    Isu yang sedang hangat diperkatakan tentang penganjuran konsert yang boleh membawa kepada kemaksiatan. Tidak semua konsert adalah acara yang tidak baik kerana ada konsert yang baik dan dibenarkan oleh Islam sebagai contoh konsert nasyid, konsert yang mengandungi lagu-lagu berunsur nasihat yang tidak bercanggah dengan syariat. As Aheikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab Seni dalam Islam amat berhati-hati dalam memberi pandangan tentang nyanyian dan muzik menurut Islam.

    Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia dalam muzakarah kali ke-2 pada 12 hingga 13 Mei 1981 telah membuat beberapa ketetapan sebagai panduan kepada semua pihak sama ada penganjur atau penonton berkaitan hiburan. Oleh itu, sepatutnya setiap umat Islam yang menganjur konsert atau program hiburan atau ingin masuk ke konsert-konsert atau apa jua program hiburan harus mematuhi garis panduan yang telah diputuskan oleh badan berautoriti fatwa di Malaysia.

    Keputusan muzakarah fatwa menyebut perkara-perkara berikut :

    1. Nyanyian yang seni katanya baik, tidak lucah, tidak biadap dan tidak mendorong kepada maksiat, tidak bercampur gaul antara lelaki dengan perempuan dan tidak membawa kepada fitnah adalah harus.
    2. Jika nyanyian seni katanya tidak baik, lucah, biadap, mendorong kepada maksiat, bercampur gaul lelaki dengan perempuan dan membawa kepada fitnah maka hukumnya adalah haram.
    3. Pancaragam atau alat muzik yang melalaikan seperti lalai menunaikan solat dan sebagainya hukumnya haram.
    4. Mendengar nyanyian dan pancaragam adalah harus dengan syarat seni katanya baik, tidak lucah, tidak biadap, tidak bercampur lelaki dengan perempuan dalam keadaan yang tidak menimbulkan fitnah.
    5. Menyanyi untuk menimbulkan semangat jihad adalah harus.

    Selain itu, program-program hiburan atau konsert mesti bermatlamatkan kebaikan dan kesejahteraan. Paling penting program-program hiburan itu tidak disertai dengan perbuatan haram atau maksiat seperti minum arak, gaya tari yang memberahikan, pakaian yang tidak menutup aurat dan seksi, serta mengandungi unsur-unsur pemujaan yang membawa syirik kepada Allah.

    Lebih membimbangkan program-program hiburan atau konsert disertai dengan perkara-perkara yang haram dan membawa unsur-unsur jenayah seperti penyalahgunaan dadah, pil-pil khayal, arak dan sebagainya. Kesepakatan ulama’ juga dalam pengharaman nyanyian apabila disertai dengan perkara-perkara yang haram seperti pesta seks, minum arak, tarian-tarian lucah dan sebagainya. Apa jua nama yang diberikan sama ada pesta, festival, konsert, simfoni atau apa-apa judulnya tetapi mengandungi unsur-unsur maksiat maka hukumnya tetap haram.

    Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud “akan datang masanya di mana orang-orang dari kaumku akan meminum arak yang kemudian dinamakannya dengan nama-nama lain, diri mereka akan dihiburkan dengan rentak dan nyanyian para wanita, maka Allah SWT akan tenggelamkan mereka ke dalam bumi dan menjadikan mereka monyet-monyet dan khinzir”. Hadith riwayat Ibnu Majah.

    Oleh itu, sebagai umat akhir zaman yang sedang berdepan dengan pelbagai ujian dan cabaran semasa didunia tanpa sempadan ini perlu sentiasa pergegang teguh dengan ajaran Islam. Menjadi tanggungjawab semua pihak untuk memainkan peranan masing-masing bagi membendung gejala sosial dan jenayah berlaku di dalam Negara Malaysia. Maka beruntunglah orang-orang yang kekal teguh imannya kepada Allah dan rasul-Nya dikala orang lain menikmati lautan maksiat yang melalaikan.

    Rasulullah bersabda yang bermaksud “Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu”. Hadith riwayat Muslim.

    Oleh : Ust Mohd Hariri Mohamad Daud (Bhgn Dakwah, Jakim) Penolong Pengarah, bahagian Dakwah, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim).

    22 April 2014 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | | Leave a comment

    Siapa orang yang Allah sayang?

    Siapa lah Allah sayang

     

    SIAPA ORANG YANG ALLAH SAYANG?

    1- Orang yang bertaubat : Surah Al-Baqarah ayat 222

    2- Orang yang suka berbuat baik : Surah Al-Baqarah ayat 195

    3- Orang yang bertawakkal : Surah Ali-Imran ayat 159

    Ayuh ubah diri dan keluarga ke arah pembinaan masyarakat yang lebih baik.

     

    Bahagian Dakwah, JAKIM

    11 April 2014 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

    Gelaran boleh membuat seseorang terjerumus ke dalam neraka

    Seperti yg diceritakan oleh Syeikh Nazrul Nasir al Azhary kita akan dipertanggungjawabkan atas gelaran yg kita terima.

    Kisah al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu. Satu hari ketika beliau sedang berjalan, tiba-tiba ternampak oleh beliau seorang kanak-kanak sedang berjalan dengan memakai kasut kayu. Beliau seraya menegur budak tersebut dengan mengatakan : " Wahai budak, jaga-jaga dengan kasut kayumu itu. Bimbang engkau akan tergelincir nanti "

    Budak tersebut mengucapkan terima kasih di atas perhatian al-Imam kepadanya. Budak itu tiba-tiba bertanya : "Wahai Tuan, siapakah nama tuan?" Al-Imam Abu Hanifah lalu menjawab : " Namaku Nu’man " "Oh, rupa-rupanya tuanlah yang digelar al-Imam al-A’dzam ( Imam Yang Sangat Hebat) itu?"budak itu bertanya kembali kepada al-Imam Abu Hanifah.

    al-Imam Abu Hanifah lalu menjawab : "Bukan aku yang meletakkan gelaran tersebut. Namun orang ramai yang bersangka baik denganku meletakkannya"

    Budak itu lalu menjawab : "Wahai Imam, janganlah engkau sampai tergelincir ke dalam api neraka disebabkan gelaranmu itu, aku hanya memakai kasut kayu yang jika aku tergelincir sekalipun hanya di dunia semata-mata.. Namun gelaranmu itu terkadang membuatkan seseorang akan tergelincir ke dalam neraka Allah taala lantaran angkuh dan berbangga-bangga"

    Menangis al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu mendengar nasihat daripada kanak-kanak kecil tersebut. Allahu Allah.

     

    Sumber: Tazkiratul Awliya

    7 April 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Mencari Sahabat

    Wahai saudara, awas dan ingatlah jangan sekali-kali mencintai dan bersahabat selain orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala, orang-orang yang berilmu dan berzuhud di dunia daripada hamba-hamba Allah yang soleh dan para pencintaNya yang Mukminin.

    Sebab seseorang itu akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya di dunia dan di akhirat.

    Rasulullah SAW pernah bersabda yang bermaksud: Seseorang itu (dipandang) dengan siapa yang duduk bersamanya, dan seseorang itu (diukur) dengan siapa yang berjalan dengannya, oleh itu hendaklah anda memerhatikan siapa yang hendak dijadikan kawan.

    Persahabatan dan duduk bersama-sama orang-orang yang bertaqwa dan soleh dikira sebagai suatu pendekatann diri kepada Allah Ta’ala dan itulah yang disebut persahabatan yang dipuji dan disyukuri.

    Persahabatan dengan orang-orang yang jahat dan orang-orang yang tiada faedah persahabatannya di antara orang-orang lalai dan membelakangi perintah-perintah Tuhan, dan tidak mengendahkan janji tentang Hari Akhirat; itulah persahabatan yang dicela dan yang dikutuk, kerana orang-orang yang suka melakukan bencana dan kerosakan itu memang dituntut untuk membencinya kerana Allah.

    Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: Seteguh-teguh pegangan iman, ialah cinta kerana Allah dan benci kerana Allah.

    Sabda lain Rasulullah SAW yang bermaksud: Seutama-utama amalan ialah cinta kerana Allah dan benci kerana Allah.

    Sabda lain Rasulullah SAW yang bermaksud: Hanyasanya agama itu ialah cinta kerana Allah dan benci kerana Allah.

    Jangan anda bersahabat kecuali seorang Mukmin dan jangan anda membiarkan makanan anda dimakan kecuali seorang yang bertaqwa.

    Kata Penyair: Jangan terburu mengukur orang, Ukurlah dahulu teman sejawatnya, Sifatnya akan menjadi terang, Bila dilihat teman bersamanya.

    Kata Penyair: Orang yang sihat boleh dijangkiti kurap apabila sering bergaul dengan orang yang mempunyai kurap.

    Betapa banyak faedahnya apabila anda bercampur-gaul dengan orang-orang yang baik dan orang-orang yang lurus perjalanannya, sama ada faedah dan manfaat itu dapat dikesan secara spontan, mahupun pada masa yang akan datang.

    - Al-Arifbillah Al-Qutb Al-Habib Abdullah Bin Alawi Al-Haddad

    Sumber: Jom Dakwah Bersama Ulama

    6 April 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    PERINGATAN RASULULLAH S.A.W: HIBURAN HEDONISTIK MENJADIKAN MANUSIA UMPAMA KERA DAN BABI

    Fatwa Malaysia

    Emosi manusia dipengaruhi oleh apa yang berada di dalam hatinya. Emosi manusia terkadang ceria, sedih, marah, bosan, dan sebagainya. Apa yang didengar dan dilihat oleh manusia akan mempengaruhi emosinya. Hati perlukan ketenangan untuk menjadi ceria dan gembira. Manusia memerlukan hiburan bagi menceriakan dan menggembirakan hati.

    Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT, sesuai dan menepati fitrah manusia. Manusia memerlukan hiburan, maka Islam membenarkan manusia berhibur. Namun Islam memberikan garis panduan agar hiburan yang dilihat dan didengar oleh manusia itu, betul-betul mendatangkan manfaat kepada kehidupan manusia.

    Prof Dr Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan, "Islam tidak mewajibkan manusia agar semua perkataan yang diucapkan sehari-hari sebagai zikir, semua renungannya sebagai berfikir, semua pendengarannya hanyalah al-Quran dan semua masa lapangnya mesti berada di dalam masjid. Bahkan Islam mengiktiraf kewujudan manusia itu dengan fitrah dan tabiatnya yang tersendiri sebagaimana yang diciptakan Allah SWT buat mereka. Allah menciptakan manusia supaya mereka senang, ketawa dan bermain-main sebagaimana diciptakan bagi manusia itu keinginan untuk makan dan minum." (Halal dan haram dalam Islam, hlm. 479)

    Seorang sahabat Nabi Muhammad saw bernama Hanzalah al-Usaidi melaporkan, "Pada suatu hari, ketika saya sedang berjalan-jalan, saya bertemu dengan Abu Bakar. Beliau bertanya, ‘Apa khabar kamu, wahai Hanzalah?’ Saya pun menjawab, ‘Hanzalah ini sudah menjadi seperti orang munafik!’ Abu Bakar terperanjat, lalu bertanya lagi, ‘Maha suci Allah! Kenapa kamu berkata sedemikian wahai Hanzalah?’ Saya menjawab, ‘Bagaimana saya tidak jadi seperti orang munafik! Apabila kita berada di sisi Nabi Muhammad saw, baginda mengingatkan kita tentang neraka dan syurga sehingga seolah-olahnya kita dapat melihatnya di hadapan mata kita. Tetapi, apabila kita beredar meninggalkan baginda, kita telah dilalaikan dengan anak pinak dan harta benda kita, sehingga kita melupakan peringatan yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad itu.’ Abu Bakar menjawab, ‘Memang benar apa yang kamu katakan itu wahai Hanzalah. Saya pun merasakan seperti itu.’ Selepas itu, kami berdua pergi berjumpa dengan Nabi Muhammad. Kami duduk di hadapan Nabi Muhammad, lalu saya berkata, ‘Wahai Utusan Allah. Hanzalah sudah jadi seperti orang munafik!’ Baginda bertanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan wahai Hanzalah!’ Saya pun menjelaskan, ‘Wahai Utusan Allah. Apabila kami berada di sisi tuan, tuan mengingatkan kami tentang neraka dan syurga sehingga seolah-olahnya kami dapat melihatnya di hadapan mata kami. Tetapi, apabila kami beredar meninggalkan tuan, kami telah dilalaikan dengan anak pinak dan harta benda kami, sehingga kami melupakan peringatan yang telah disampaikan oleh tuan itu.’ Lantas Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya. Sesungguhnya jika kamu menepati keadaan seperti yang kamu biasanya berada di sisiku dan ketika dalam berzikir, nescaya kamu akan disamakan dengan malaikat di tempat-tempat duduk kamu dan di jalan-jalan kamu. Tetapi wahai Hanzalah, sesaat begini dan sesaat begitu. Sesaat begini dan sesaat begitu. Sesaat begini dan sesaat begitu.’" (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Muslim.)

    Imam al-Nawawi menjelaskan bahawa hadis tersebut menunjukkan bahawa sebagai seorang Muslim kita dituntut untuk memperbanyakkan berzikir kepada Allah dan mengingati serta berhati-hati dengan persoalan akhirat. Namun begitu, pada sela waktu tertentu kita dibenarkan untuk meninggalkan perkara tersebut untuk menikmati nikmat-nikmat yang Allah sediakan di dunia ini (Syarah sahih Muslim, jil. 17, hlm. 65).

    Walaupun manusia dibenarkan oleh Allah untuk mencari hiburan agar hati menjadi tenang dan mendatangkan keceriaan serta kegembiraan dalam hidup, namun manusia tidak dibiarkan menentukan apa sahaja atas nama hiburan. Apa yang dilihat dan didengar manusia memerlukan panduan daripada Allah; Tuhan pencipta sekalian alam, yang maha mengetahui apa yang mendatangkan manfaat atau mudarat kepada manusia dan kehidupan. Jika dibiarkan manusia bebas memilih bentuk hiburan yang disukai oleh nafsunya, maka kehidupan akan menjadi rosak dan porak peranda.

    Hiburan di zaman moden kini yang berteraskan falsafah hedonisme, telah jauh terpesong daripada garis panduan Islam berkaitan hiburan. Hedonisme merupakan satu aliran falsafah yang menjelaskan bahawa keseronokan merupakan matlamat utama dalam hidup. Ia merupakan ajaran atau pandangan bahawa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia (http://en.wikipedia.org/wiki/Hedonism).

    Aliran falsafah hedonisme mula berkembang di Eropah Barat sekitar kurun 14M dan kemudian menjalar ke seluruh dunia (Wade, I.O, The clandestine organisation and diffusion of philosophic ideas in France from 1700 to 1750, 1967). Pemikiran kafir ini telah lahirkan manusia yang hidup dalam kelalaian, mengamalkan gaya hidup bebas sehingga mengorbankan nilai akhlak mulia yang berteraskan agama.

    Hasil pemikiran kafir ini juga melahirkan manusia yang menjadikan keseronokan dan kemewahan yang berlebihan sebagai keutamaan dalam kehidupan seharian. Konsep hiburan yang lahir daripada hedonisme bukan sahaja gagal memberi ketenangan jiwa dan kedamaian dalam sanubari manusia, bahkan mencetuskan masalah dan kecelaruan dalam kehidupan.

    Penganut hedonisme menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan yang disembah. Oleh sebab itu, hiburan hedonistik bukan sahaja gagal mendidik jiwa, malahan mendorong kepada kelalaian, maksiat dan pergaulan bebas yang akhirnya mengundang kepada gejala sosial yang merosakkan kesejahteraan hidup umat Islam. Arak, dadah, dan wanita seksi yang menjadi teras hiburan hedonistik telah menjadikan kehidupan manusia masa kini punah ranah.

    Firman Allah SWT dalam al-Quran; Surah al-Jathiyah ayat 23 yang bermaksud, "Dengan yang demikian, bagaimana fikiranmu (wahai Muhammad) terhadap orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan yang dipatuhinya, dan dia pula disesatkan oleh Allah kerana diketahuiNya (bahawa dia tetap kufur ingkar). Dan dimeteraikan pula atas pendengarannya dan hatinya, serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yang dapat memberi hidayah petunjuk kepadanya sesudah Allah (menjadikan dia berkeadaan demikian)? Oleh itu, mengapa kamu (wahai orang yang ingkar) tidak ingat dan insaf?"

    Nabi Muhammad saw telah memberikan peringatan, akan ada dalam kalangan orang Islam di akhir zaman yang berhibur melampaui batas agama. Mereka ini dilabel oleh Nabi Muhammad sebagai ‘manusia berperangai kera dan babi’. Abu Malik al- Asy’ari melaporkan, "Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Sesungguhnya sebahagian daripada umatku akan meminum arak dan menamakannya dengan bukan nama asalnya dan dialunkan muzik kepada mereka serta dihiburkan oleh penyanyi-penyanyi perempuan. Allah akan membenamkan mereka ke dalam perut bumi dan Allah akan menjadikan mereka kera dan babi.’” (Hadis diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah)

    Oleh itu, umat Islam wajib mengembalikan seluruh aspek kehidupan termasuk hiburan, kepada panduan Islam. Hiburan yang dibenarkan Islam adalah hiburan yang mendatangkan manfaat kepada hidup manusia. Sebaliknya, hiburan yang bertentangan dengan Islam, seperti hiburan hedonistik, adalah hiburan yang mendatangkan mudarat kepada hidup manusia.

    Info:

    Program hiburan yang dibenarkan menurut Perundangan Islam perlu memenuhi ciri berikut:

    1) Bermatlamatkan kebaikan dan kesejahteraan.

    2) Diadakan di tempat yang bersesuaian supaya tidak mengganggu ketenteraman awam dan orang ramai.

    3) Mengambil kira masa yang bersesuaian dengan sensitiviti masyarakat dan ajaran Islam.

    4) Tidak disertai oleh perbuatan haram atau maksiat

    5) Tidak mengandungi acara yang bersifat provokasi yang boleh menimbulkan sikap prejudis atau permusuhan

    6) Tidak mengandungi unsur-unsur pemujaan atau penyembahan yang bertentangan dengan ajaran Islam

    Ciri persembahan muzik yang dibenarkan:

    1) Tidak menimbulkan gerak geri liar

    2) Tidak mendorong kepada perbuatan maksiat

    3) Tidak melalaikan

    Ciri persembahan artis yang dibenarkan:

    1) Berinteraksi dengan penonton secara sopan dan disertai kata-kata yang boleh membina nilai-nilai kemanusiaan.

    2) Berpakaian kemas, sopan serta tidak memakai pakaian yang boleh mendedahkan diri kepada eksploitasi penonton dan tidak bercanggah dengan kehendak Islam

    3) Tidak melakukan gerak geri dan perkataan yang boleh menimbulkan perasaan yang mendorong kepada maksiat dan menghina Islam.

    4) Tidak mengucapkan kata-kata yang menggalakkan perbuatan maksiat atau menghina agama Islam.

    Ciri persembahan tarian yang dibenarkan:

    1) Berpakaian kemas, sopan serta tidak memakai pakaian yang boleh mendedahkan kepada eksploitasi penonton dan tidak bercanggah dengan kehendak Islam.

    2) Gerak tari yang dipersembahkan tidak menimbulkan fitnah.

    3) Tidak berlaku percampuran antara lelaki dengan perempuan yang boleh menimbulkan fitnah. 4) Tidak bertujuan pemujaan atau penyembahan

    5) Tidak dipersembahkan dengan gaya yang memberahikan. (JAKIM, Garis Panduan Hiburan Dalam Islam, 2005)

     

    OLEH:

    DR. ARIEFF SALLEH BIN ROSMAN,FELO FATWA

    24 March 2014 Posted by | Fatwa, Tazkirah | | Leave a comment

    Bagaimana Ibadah Boleh Melahirkan Kemajuan

    Kita beribadah dengan tujuan menyembah Allah yang memang patut disembah. Jangan pula kita beribadah itu untuk menyembah nafsu kita dengan cara membina mazmumah.

    Setelah memahami bahwa tujuan manusia adalah menyembah Allah, perlu kita pelajari bagaimana cara-cara manusia menyembah Allah. Kemajuan lahir dan batin manusia tidak terpisah. Dengan manusia menyembah Allah secara lengkap dan tepat, maka ajaran Islam akan terlihat cantik.

    Cara menyembah Allah ada 3 bahagian, iaitu

    1.) Ibadah yang asas : mempelajari, memahami, meyakini, rukun iman, serta mempelajari, memahami dan melaksanakan rukun islam.

    2.) Ibadah fadhailul amal : Amalan-amalan yang utama seperti puasa Isnin & Khamis, solat tahajud, solat sunat rawatib, membaca ayat-ayat tasbih, tahmid, tahlil, membaca selawat, dan lain-lain

    3.) Ibadah yang umum, yang lebih luas, seluas dunia, iaitu ibadah yang mubah(harus) jadi ibadah asalkan menempuh lima syarat ibadah

    Lima syarat ibadah untuk ibadah umum adalah seperti berikut:

    1. Niat mesti betul

    2. Perkara yang kita buat dibenarkan syariat

    3. Pelaksanaan sesuai dengan syariat

    4. Natijah (hasil) digunakan sesuai syariat

    5. Jangan tertinggal ibadah yang asas

    Ibadah yang asas, serta ibadah yang fardhu, kalau kita dapat amalkan sungguh-sungguh lahir dan batin, dengan penuh khusyuk, dapat membuahkan akhlak yang mulia, budi pekerti yang baik, khusnul khulq. Akhlak yang mulia ini merupakan buah ibadah. Sebab itulah Allah menilai ibadah manusia bukan atas dasar banyak tetapi sejauh mana memberi hasil, dapat membuahkan akhlak. Seharusnya makin banyak beribadah, makin halus akhlaknya. Itu yang disebut amal taqwa, amal soleh. Tetapi kalau ibadah banyak tidak membuahkan akhlak mulia, masih lagi dihukum di neraka.

    Pernah Rasulullah SAW berkumpul bersama dengan para sahabat, kemudian Rasulullah berkata, saya memiliki seorang tetangga wanita, dia berpuasa siang harinya dan di malam harinya shalat tahajjud, tetapi ia ahli neraka. Sahabat bertanya, bagaimana wanita itu ya Rasulullah, jawab baginda Rasulullah SAW, wanita itu selalu menyakiti tetangga dengan lidahnya. (Tidak ada kebaikan lagi baginya) dia adalah ahli neraka. Kenapa? Sebab ibadah tidak berbuah. Jadi orang yang menyakiti orang lain, ibadahnya tidak melahirkan akhlak.

     

    Sumber:
    FB JAKIM
    JAKIM Logo

    14 March 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Hati tempat tumbuhnya Iman dan Kekufuran

    hati1

    Mengapa Ahli Ma’rifat sangat menitikberatkan soal hati?. Mengapa mereka lebih menitikberatkan soal pembersihan hati daripada segala hal ehwal perlakuan, ucapan, perkataan samada berbetuk ibadah atau muamalat? Kerana didalamnya Allah swt meletakkan cahaya keimanan.

    Apabila seseorang itu beriman kepada Allah swt, dia akan mendapat satu nur yang kecil didalam hatinya (jantung sanubari). Kedudukan nur Iman ini adalah didalam darah hitam dibilik jantung sanubari.

    Nur Iman ini yang menggerakkan seseorang itu patuh dan ta’at kepada Allah swt. Nur Iman ini yang membolehkan seseorang itu mengakui kewujudan dan kebesaran Allah swt. Nur Iman ini juga menjadi "mata" pembukaan ma’rifat keTuhanan.

    Kuat lemahnya seseorang itu didalam agama bergantung kepada sejauh mana nur keimanan ini bercahaya didalam hatinya. Apabila hidup hati itu dengan zikrullah maka akan bercahaya seluruh hati itu dan melimpah keseluruh tubuhnya. Sehingga menjadikannya ta’at kepada perintah Allah swt.

    Apabila hati itu tidak berzikir, maka pelita iman yang kecil akan makin malap, makin malap dan akhirnya padam. Wal Iyazhubillah.! Keadaan ini tidak disedari kerana ianya berlaku didalam keadaan yang perlahan2 dan beransur-ansur. Apa lagi jika keadaan diri orang ini terdedah kepada suasana kemungkaran dan kefasikan, maka akan cepatlah padam nur hatinya!

    Awaslah wahai tuan2 yang budiman. Peliharalah pelita hati yang telah di anugerahkan Allah swt.

    Firman Allah swt.

    Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (as-syam 9)

    Setiap suatu ada alat pencucinya. Alat pencuci bagi hati adalah zikrullah.

    Hati adalah laksana cermin yang menangkap berbagai gambaran dan rupa yang dilihat oleh mata. Lazimnya gambaran dan rupa ini menjadikan hati itu di lutupi debu2 kekotoran dunia dan segala perhiasannya. Semakin banyak pemandangan,semakin tebal debu2 kekotoran menutupi cermin hati. Jika dibiarkan, maka akhirnya muka hati itu akan terus gelap.

    Kesombongan nafsu menyebabkan ia dibenam di dalam api neraka selama 100 tahun dan apabila ia dikeluarkan daripada api neraka dan ditanya soalan yang sama, nafsu masih sombong dan angkuh dengan memberi jawapan yang sama lalu ia dibenam lagi dalam api neraka selama 100 tahun. Sebanyak 4 kali, nafsu dibenam di dalam api neraka sehingga akhirnya nafsu sendiri menyerah kalah dan mengaku Keesaan Tuhan. Di sini, jika kita mengkaji sifat kejadian nafsu dapatlah kita simpulkan bahawa nafsu sejak azali iaitu sejak ia berada di alam Lahut (Alam Ketuhanan) telah menjadi dalang utama segala kemelut dan haru-biru kerana keengganannya mengakui Keesaan Tuhan.

    Nafsu boleh ditingkatkan dengan zikir dan mujahadah. Berzikir tanpa bermujahadah melambatkan proses pembersihan hati, begitu juga bermujahadah tanpa berzikir juga tidak memberi kematangan pada diri kamu dalam perjalanan ini. Kesan dari zikir dan mujahadah yang bersungguh-sungguh akan membantu berlakunya peningkatan kepada kerohanian. Kamu akan merasa perubahan pada jiwa dan yang paling penting hati telah hidup dengan Allah dan jiwa kamu boleh melihat keaiban diri sendiri.

    Bersungguh-sungguhlah dengan latihan ini, walaupun pada permulaannya terasa payah, tetapi ingatlah janji Allah swt.Barang siapa yang bersungguh sungguh dijalan-Ku nescaya Aku tunjukan jalan baginya.

    Dari: Ustaz Syibli Sufi

    (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=214266385432974&set=a.117013078491639.1073741828.100005488417442&type=1)

    4 March 2014 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

    Ilmu Hadis ?

    Setiap sesuatu yang berlaku pasti ada hikmahnya. Bila timbul isu anti hadis, maka timbullah minat masyarakat untuk mengetahui ilmu tentang hadis. Mamahami ilmu hadis, membolehkan kita beramal dengan hadis yang sahih, menolak tuduhan golongan anti hadis dan dapat mengetahui unsur-unsur israilliat dalam pentafsiran Al-Quran.

    Apakah pengertian Hadis? Hadis ialah perkataan, perbuatan, perkhabaran, taqrir dan sifat yang disandarkan kepada Rasulullah s.a.w. Diantara fungsi hadis ialah mengukuhkan hukum yang telah ditentukan di dalam Al-Quran, mentafsir ayat Al-Quran yang mujmal, mentaqyidkan ayat Al-Quran yang mutlak, mentakhsiskan ayat Al-Quran yang umum dan menetapkan hukum yang tiada dalam Al-Quran. Terdapat begitu banyak pembahagian hadis dan jenis-jenisnya, antaranya ;

    1. Apakah makna Hadis Qudsi ? Ialah sesuatu yang dikhabarkan oleh Allah kepada Rasulullah s.a.w melalui ilham atau mimpi kemudian baginda menyampaikan dengan menggunakan perkataan baginda sendiri. Contoh :

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” قَالَ اللَّهُ: أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ، أُنْفِقْ عَلَيْكَ

    Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “Allah SWT berfirman, berinfaklah wahai anak adam, (jika kamu berbuat demikian) Aku memberi infak kepada kalian."

    (HR : Bukhari dan Muslim)

    2. Hadis Mutawatir ialah hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh ramai sahabat. Diantara syarat-syarat Hadis Mutawatir ialah diriwayatkan oleh perawi yang ramai yang mencapai satu tahap mustahil untuk mendustakan hadis Rasullah s.a.w. Jumlah perawi seimbang pada setiap peringkat dan hadis diterima melalui pendengaran dan penglihatan. Maka, kita wajib beriman dengan Hadis Mutawatir dan menolaknya adalah jatuh kafir @ kufur.

    3. Hadis Ahad pula ialah hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi atau dua orang atau lebih yang tidak memenuhi syarat-syarat Hadis Mutawatir. Hukum beramal dengan Hadis Ahad ialah wajib beramal dan berhujah pada setiap Hadis Ahad tetapi tidak kufur sesiapa yang menolaknya.

    4. Masih ada lagi jenis hadis seperti Hadis Aziz, Hadis Gharib dan Hadis Masyhur. Hadis Aziz ialah suatu hadis yang diriwayatkan oleh dua orang perawi pada setiap peringkat manakala Hadis Gharib ialah suatu hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi pada mana-mana peringkat sanad. Hadis Mashyur pula ialah hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi @ lebih pada setiap peringkat tetapi tidak sampai had dan tahap Hadis Mutawatir.

    5. Bagaimana pula dengan Hadis Sahih, Hadis Hasan dan Hadis Dhaif ? Hadis menjadi Hadis Sahih sekiranya menepati syarat Hadis Sahih seperti perawi bersifat adil, bersambung sanad, tiada syaz, tiada I’llah dan bersifat dhabit (kuat ingatan). Sekiranya kurang satu daripada syarat-syarat di atas jatuhlah dia sebagai Hadis Hasan. Walaubagaimanapun, kedua-dua martabat hadis ini wajib beriman dengannya dan hadis ini boleh dijadikan hujah. Sifat perawi yang adil adalah islam, baligh, berakal, tidak fasik dan tidak melakukan perkara yang menjatuhkan maruah diri.

    6. Hadis Dhaif pula merupakan hadis yang lemah. Walaupun begitu, kita dibolehkan untuk beramal dengan Hadis Dhoiif tetapi hadis ini tidak boleh dijadikan hujah dlm menentukan halal dn haram. Cara untuk beramal dengan Hadis Dhaif ialah hadis itu mestilah berkaitan dengan fadhailul amal (fadhilat beramal) sahaja, faktor kedhaifan bersifat sederhana dan mafhum Hadis Dhaif ada pada nas-nas syara’ yang sahih.

    7. Hadis Maudhu’ ialah hadis palsu, apa-apa yang direka dan disandarkan kepada Nabi saw atau selainnya dari segi perkataan, perbuatan, pengakuan atau sifat baginda tetapi secara dusta.

    KESIMPULAN :

    Sekurang-kurangnya selepas ini, apabila disebut hadis kita tahu serba sedikit. Bukan semestinya kita wajib ingat semuanya, memahami sudah memadai sebagai seorang yang mengaku Islam.

    Wallahu a’lam….

    Sumber: Ust Hazri Hashim AlBindany‬#

    3 March 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Bencana…Amaran dari Allah SWT untuk Manusia Bermuhasabah

    FIRMAN Allah yang bermaksud: “Sudah timbul pelbagai kerosakan dan bala bencana di darat dan di laut dengan sebab apa yang dilakukan oleh tangan manusia. Timbulnya demikian kerana Allah hendak merasakan mereka sebahagian dari balasan perbuatan buruk yang mereka lakukan supaya mereka kembali insaf dan bertaubat.” (Surah al-Rum, ayat 41)

    Menjadi keyakinan setiap Muslim yang beriman kepada Allah bahawa setiap rahmat dan musibah, kejayaan dan kegagalan, keuntungan dan kerugian, berasal daripada Allah. Bahkan Allah saja yang Maha Mengetahui bila ia akan melimpah atau menimpa kepada seseorang atau sesuatu bangsa.

    Setiap Muslim wajib meyakini bahawa Allah adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Oleh itu, adalah mustahil bagi Allah untuk berlaku zalim terhadap manusia dan makhluk lain yang menghuni alam semesta ini.

    Rahmat Allah dan keampunan-Nya lebih luas daripada azab dan murka-Nya. Sehubungan itu, Allah berfirman yang maksudnya: “Dengan demikian, maka Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiayai diri sendiri.” (Surah al-Rum, ayat 9)

    Keimanan dan ketakwaan yang bertapak kukuh dalam jiwa setiap Muslim akan menjadi faktor utama turunnya kerahmatan dan keberkatan daripada Allah. Sebaliknya, kekufuran, kesyirikan, kemaksiatan, kefasikan, pendustaan terhadap Allah menjadi punca turunnya azab dan malapetaka tidak diundang.

    Bukankah Allah berfirman yang bermaksud: “Dan (Tuhan berfirman lagi): Jika penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, tentu Kami akan membuka kepada mereka (pintu pengurniaan) yang melimpah-limpah berkatnya dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (Rasul Kami), lalu Kami timpakan mereka dengan azab seksa disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Surah al-A’raf, ayat 96)

    Justeru, apa pun musibah dan bencana yang menimpa manusia mewajarkan satu renungan dan muhasabah diri. Muslim wajar merenung apakah kesilapan atau kecuaian pernah dilakukannya sehingga mengundang bala bencana daripada Allah itu.

    Maka tepatlah sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: Tidak ada kebaikan dalam kehidupan ini melainkan orang yang benar-benar mahu mendengar dan merenung diri atau orang yang berilmu dan berkata benar. Wahai manusia! Kalian semua berada pada satu zaman yang penuh dengan kemelut dan krisis. Di samping itu, masa juga berjalan begitu pantas. Pada waktu itu, kalian semua yang menyaksikan sesuatu yang asing dan baru akan berlaku silih berganti siang malam serta sesuatu yang jauh akhirnya menjadi lebih dekat di samping berselang-selang satu demi satu apa yang dijanjikan Allah.” (Hadis riwayat Ibnu ‘Asakir)

    Imam Baidawi berkata, yang dimaksudkan dengan kerosakan adalah cuaca kering kontang, kebakaran, banjir besar, hilangnya keberkatan dan banyaknya kebuluran, adalah akibat kemaksiatan dan perbuatan dosa manusia.

    Manakala Imam Ibnu Kathir pula mentafsirkan kerosakan dengan berkurangnya hasil pertanian dan buah-buahan kerana kemaksiatan manusia. Baiknya bumi dan langit adalah bergantung dengan ketaatan penghuninya.

    Menjadi kewajipan setiap Muslim yang beriman supaya bersabar mendepani segala musibah dan malapetaka melanda. Jangan berasa lemah semangat, berduka cita, berputus asa, bersedih secara berlebihan, apatah lagi menyalahkan takdir terhadap apa yang berlaku.

    Wassalam

     

    Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

     

    2 March 2014 Posted by | Tazkirah | , | Leave a comment

    Kisah Lelaki Yang Bersedekah Kepada Pencuri, Penzina dan Orang Kaya.

     

    rahasia sedekah

     

    Ini kisah di mana seorang lelaki yang tersalah bersedekah kepada pencuri, penzina dan orang kaya yang disangkannya mereka itu ialah orang miskin. Abu Hurairah r.a menerangkan bahawasanya Rasulullah sollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda maksudnya:

    “Seorang lelaki berkata: Demi Allah saya akan memberi sedekah. Maka dia keluar membawa sedekahnya lalu diletakkannya di dalam tangan pencuri. Maka pada paginya, orang ramai pun memperkatakan hal tersebut. Mereka berkata: Telah diberi sedekah kepada pencuri. Si pemberi itu berkata: Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian. Demi Allah, saya akan sedekahkan satu sedekah lagi.

    Maka dia keluar membawa sedekahnya lalu diletakkan di tangan wanita penzina. Pada pagi hari itu orang ramai pun memperkatakan hal tersebut. Mereka berkata: Telah diberikan sedekah kepada wanita penzina. Orang tersebut berkata: Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian.

    Demi Allah saya akan memberikan satu sedekah lagi. Maka dia keluar membawa sedekahnya lalu diletakkan di tangan orang kaya. Pada pagi hari itu orang ramai memperkatakan hal tersebut. Mereka berkata: Telah diberikan sedekah kepada orang kaya. Orang itu berkata: Wahai Tuhan ku, hanya untuk Engkaulah segala puji-pujian terhadap si pencuri, si penzina dan terhadap si kaya.

    Kemudian datanglah seseorang kepadanya dalam tidurnya lalu berkata kepadanya: Sedekah mu kepada si pencuri, mudah-mudahan ia akan memelihara dirinya daripada mencuri, manakala kepada wanita penzina mudah-mudahan ia akan memelihara dirinya daripada berzina dan orang kaya mudah-mudahan ia akan mengambil ibarat lalu menafkahkan sebahagian harta yang telah Allah berikan kepadanya.” (Hadis Sahih riwayat Bukhari dan Muslim)

    Ringkasan kisah
    Dalam hadith ini Rasulullah sollallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kita bagaimana ada seorang lelaki yang soleh di mana dia ingin memberi sedekah kepada mereka yang memerlukannya. Memanglah bagi mereka yang telah subur dalam diri mereka kemanisan iman dan juga sentiasa beramal soleh sentiasa memikirkan bagaimana mahu menambahkan amal kebajikan bagi mengejar keredhaan Allah. Lelaki ini merupakan salah seorang daripadanya di mana telah timbul dalam hatinya untuk bersedekah.Lelaki ini mahu bersedekah dalam keadaan sembunyi di mana tidak siapa pun akan mengetahuinya melainkan Allah. Ini adalah kerana hanya sedekah secara sembunyi sahaja mampu memadamkan api kemurkaan Allah dan sedekah secara sembunyi juga merupakan selebih-lebih sedekah berbanding sedekah secara terang-terangan.

    Pada suatu malam lelaki ini telah keluar bertujuan untuk memberi sedekah dan dia telah memberi sedekahnya itu kepada seseorang yang mana pada anggapannya dia merupakan seorang yang miskin sedangkan pada hakikatnya dia merupakan seorang pencuri. Pada keesokan harinya pencuri itu menceritakan kepada orang ramai bahawa ada seorang lelaki yang tidak dikenalinya telah memberi sedekah kepadanya. Mendengar cerita itu menyebabkan keadaan menjadi gempar di mana masing-masing menceritakan bagaimana ada seorang lelaki telah memberi sedekah kepada seorang pencuri.

    Akhirnya berita mengenai sedekahnya kepada seorang pencuri telah sampai ke telinganya sedangkan ketika dia memberikan sedekahnya itu dia menganggap bahawa orang itu miskin. Mendengar berita itu menyebabkan lelaki itu merasa kecewa dan sedih lalu mengucap: Wahai Tuhanku! Segala pujian untukMu. Aku telah terbahagi sedekahku kepada pencuri.

    Dia berazam untuk melakukan sedekah seterusnya kerana dia merasakan bahawa sedekahnya kepada pencuri itu menjadi suatu perkara sia-sia dan tidak akan dinilai oleh Allah. Pada malam yang kedua dia keluar dari rumahnya bertujuan untuk bersedekah dan dia telah memberi sedekahnya itu kepada seorang perempuan yang dianggap miskin sedangkan pada hakikatnya dia merupakan seorang pelacur. Pada keesokan harinya pelacur itu menceritakan kepada oarng ramai bahawa ada seorang lelaki yang tidak dikenalinya telah memberi sedekah kepadanya. Mendengar cerita itu menyebabkan keadaan menjadi gempar di mana masing-masing menceritakan bagaimana ada seorang lelaki telah memberi sedekah kepada seorang pelacur. Akhirnya berita mengenai sedekahnya kepada seorang pelacur telah sampai ke telinga lelaki tadi sedangkan ketika dia memberikan sedekahnya itu dia menganggap bahawa orang itu miskin.

    Mendengar berita itu menyebabkan lelaki itu merasa bertambah kecewa dan sedih lalu mengucap: Wahai Tuhanku! Segala pujian untukMu. Aku telah terbahagi sedekahku kepada pelacuri.Dia berazam untuk melakukan sedekah seterusnya kerana dia merasakan bahawa sedekahnya kepada pencuri itu menjadi suatu perkara sia-sia dan tidak akan dinilai oleh Allah.

    Pada malam yang ketiga dia keluar dari rumahnya bertujuan untuk bersedekah dan dia telah memberi sedekahnya itu kepada seorang lelaki yang dianggap miskin sedangkan pada hakikatnya dia merupakan seorang kaya. Apabila dia mengetahui perkara sebenar buat kali ketiga, maka bertambah sedihlah lelaki ini sehingga dia mengucapkan: “Wahai Tuhanku! bagi Engkau segala pujian itu. Aku telah tersilap bahagi sedekah kepada pencuri, pelacur dan juga si kaya”.

    Lelaki ini tidak tahu bagaimana Allah tetap menerima segala amalan sedekahnya walaupun dia merasakan bahawa sedekahnya itu ditolak oleh Allah.Akhirnya melalui pemberitahuan dalam mimpinya maka dia dapat tahu bahawa sedekahnya telah dibalas oleh Allah dengan pahala yang setimpal dengan amalannya itu. Allah juga memberitahunya bagaimana setiap sedekahnya telah membawa hikmah iaitu pencuri akan berhenti daripada mencuri, pelacur akan bertaubat daripada berzina dan si kaya akan turut bersedekah dengan harta yang dianugerahkan kepadanya oleh Allah.

    Sesungguhnya sedekah yang diberikan dengan niat yang baik akan diterima Allah walaupun tidak jatuh kepada orang yang selayaknya. Bukan hasil yang dilihat (material atau keputusan zahir) tetapi usaha dan amalan untuk melakukannya itu yang dilihat.

    “dan bahawasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).” (An-Najm : 40)

    Sumber: Radio IKIM dan teks dari Hafism.com

    18 February 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

    Ambillah Madu dan Jangan Rosakkan Sarangnya

    Dimanapun kelembutan itu berada, ia akan menghiasi tempat itu. Demikian halnya bila ia dicabut dari suatu tempat; ia akan mengotorinya.Kelembutan tuturkata, semyuman tulus dibibir, dan sapaan-sapaan yang terpuji saat bersua merupakan hiasan-hiasan yang selalu dikenakan oleh orang-orang mulia.

    Semua itu merupakan sifat seorang mukmin yang akan menjadikan nya seperti seekor lebah; makan dari makanan yang baik dan menghasilkan madu yang baik. Dan bila hinggap pula pada setangkai bunga, ia tidak akan merosakkannya. Itu kerana Allah menganugerahkan pada kelembutan sesuatu yang tidak DIA berikan pada kekerasan.

    Diantara manusia terdapat orang-orang istimewa yang membuat banyak kepala tunduk hormat menyambut kedatangannya, orang datang berduyun-duyun kerana ingin melihat mukanya, banyak hati bersimpati padanya dan banyak jiwa memujanya. Dan mereka itu tidak lain adalah orang-orang yang banyak dicintai dan dibicarakan manusia kerana dermawan, jujurnya, sopan santunnyadan keramahannya dalam pergaulan.

    Mencari banyak teman merupakan tuntunan dalam hidup yang selalu dicontohkan oleh orang-orang terhormat kerana akhlaqnya, perilakunya yang terpuji. Mereka itulah orang-orang yang selalu berada ditengah-tengah kerumunan manusia dengan semyuman yang merekah, keramahan yang mententeramkan dan sopan santun yang menyejukkan. Dan kerana itu, mereka selalu ditanyakan dan didoakan ketika tidak kelihatan.

    Orang-orang yang bahagia memiliki tuntunan akhlaq yang secara garis besar tercakup dalam slogan:

    … … tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia (Fushshilat:34)

    Begitulah; mereka dapat menghapuskan rasa dengki dengan emosi yang terkawal, kesabaran yang menyejukan, dan mudah memaafkan yang mententeramkan. Mereka adalah orang-orang yamg mudah melupakan kejahatan dan mengingati kebaikan orang lain. Kerana itu, tatkala kata-kata kotor dan keji terlontar untuk mereka, telinga mereka tidak akan menjadi merah dibuatnya. Bahkan mereka memandang kata-kata itu sebagai angin lalu yang tidak pernah kembali.

    Mereka itulah orang-orang yang selalu berada dalam kedamaian, orang-orang yang berada disekitar mereka merasa aman dan kaum Muslimin yang bersama mereka akan merasa tenteram.

    Orang muslim adalah orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya. Orang mukmin adalah orang yang orang-orang lainnya merasa aman dari gangguannya, baik dalam jiwa maupun harta mereka. (Hadith)

    Sesungguhnya Allah telah menyuruhku untuk menyambung tali silaturrahim dengan orang yang telah menutuskanya dariku, memaafkan orang yang telah menzalimiku, dan memberikan harta kepada orang yang tidak memberikan harta kepada ku. (Al-Hadith)

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

    Dan, orang-orang yang menahan rasa marahnya dan memaafkan (kesalahan) (Ali Imran: 134)

    Sampaikan khabar gembira kepada meraka bahawa, balasan Allah atas ketenangan, ketenteraman dan kedamaian mereka adalah akan disegerakan. Khabarkan pula sebuah khabar gembira kepada meraka bahawa, mereka juga akan mendapat balasan besar di akhirat berupa syurga-syurga dab sungai-sungai yang indah disisi Rabb mereka kelak. Yakni:

    Ditempat yang disenangi di sisi Rabb Yang Berkuasa. ( Al-Qamar: 55)

    Di nukil dari: Don’t Be Sad (Kitab Jangan Bersedih)

    12 February 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Menyingkap kehidupan di alam kubur

    Bila ajal datang

    Kehidupan yang dialami oleh seorang manusia di dunia ini bukanlah sebuah kehidupan yang terus-menerus tiada berujung dan tiada penghabisan. Ia adalah sebuah kehidupan yang terbatas, berujung dan akan ada pertanggungjawabannya. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

    Setiap jiwa yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (Ali ‘Imran: 185)

    Maha Benar Allah Subhanallahu wa Ta’ala dengan segala firman-Nya! Kita dengar dan saksikan kilas kehidupan yang silih berganti dari masa ke masa. Perjalanan hidup umat manusia merupakan bukti bahwa seorang manusia, setinggi apapun kedudukannya dan sebanyak apapun hartanya, akan mengalami kematian dan akan meninggalkan kehidupan yang fana ini menuju kehidupan setelah kematian.

    Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman tentang Rasul-Nya Shalallahu ‘alahi wa Sallam dan manusia yang lainnya dari generasi pertama sampai yang terakhir (artinya):

    Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati dan mereka juga akan mati.” (Az Zumar: 30)

    Bukanlah berarti dengan kedudukan sebagai Rasulullah (utusan Allah) kemudian mendapatkan keistimewaan dengan hidup selamanya, akan tetapi sudah merupakan ketetapan dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala atas seluruh makhluk-Nya yang bernyawa mereka akan menemui ajalnya. Semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala merahmati kita semua. Pernahkah sejenak saja kita merenungkan bagaimana ketika maut sudah di hadapan kita? Ketika malaikat yang Allah Subhanallahu wa Ta’ala utus untuk mencabut nyawa sudah berada dihadapan kita. Tidak ada tempat bagi kita untuk menghindar walaupun ke dalam benteng berlapis baja, walaupun banyak penjaga yang siap melindungi kita.

    Sungguh tidak bisa dibayangkan kengerian dan dahsyatnya peristiwa yang bisa datang dengan tiba-tiba itu. Saat terakhir bertemu dengan orang-orang yang kita cintai, saat terakhir untuk beramal kebaikan, dan saat terakhir untuk melakukan berbagai kegiatan di dunia ini. Saat itu dan detik itu juga telah tegak kiamat kecil bagi seorang manusia yaitu dengan dicabut ruhnya dan meninggalkan dunia yang fana ini. Allahul Musta’an (hanya Allah Subhanallahu wa Ta’ala tempat meminta pertolongan).

    Manusia yang beriman kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya akan mendapatkan tanda-tanda kebahagiaan kelak di akhirat dengan akan diberi berbagai kemudahan ketika meninggal. Adapun orang-orang kafir yang ingkar, mendustakan Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan tanda-tanda kejelekan ketika meninggal dunia dan bahkan akan ditimpakan adzab di alam kubur.

    Alam Kubur Setelah seorang hamba meregang nyawa dan terbujur kaku, maka ia akan diantarkan oleh sanak saudara dan teman-temannya menuju “tempat peristirahatan sementara” dan akan ditinggal sendirian di sebuah lubang yang gelap sendirian. Sebuah tempat penantian menuju hari dibangkitkan dan dikumpulkannya manusia di hari kiamat kelak, pembatas antara alam dunia dan akhirat, Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

    Dan dihadapan mereka ada dinding (alam kubur/barzakh) sampai mereka dibangkitkan.”(Al-Mukminun: 100)

    Di antara peristiwa yang akan dialami oleh setiap manusia di alam kubur adalah:

    1. Fitnah Kubur

    Pertanyaan dua malaikat kepada mayit tentang siapa Rabbmu (Tuhanmu)?, apa agamamu?, dan siapa Nabimu? Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:

    إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ – أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ – أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ

    Apabila mayit telah dikuburkan – atau beliau bersabda: (apabila) salah seorang dari kalian (dikuburkan)- dua malaikat yang berwarna hitam kebiru-biruan akan mendatanginya salah satunya disebut Al-Munkar dan yang lainnya An-Nakir.” (At-Tirmidzi no. 1092)

    Adapun seorang hamba yang mukmin, maka ia akan menjawab pertanyaan tersebut sebagaimana dalam potongan hadits Al-Barra’ bin ‘Azib radliyallahu ‘anhu yang panjang:

    Maka dua malaikat mendatanginya (hamba yang mukmin) kemudian mendudukkannya dan bertanya: “Siapa Rabbmu (Tuhanmu)? Ia menjawab: “Allah Rabbku; kemudian kedua malaikat itu bertanya lagi: “Apa agamamu? Ia menjawab: “Islam agamaku; kemudian keduanya bertanya lagi: “Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian ini? Ia menjawab: “Dia Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa Sallam

    Maka itu adalah firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (artinya):

    ﴾يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ﴿٢٧

    Allah menetapkan (pendirian) orang-orang yang beriman dengan kalimah yang tetap teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang berlaku zalim (kepada diri mereka sendiri) dan Allah berkuasa melakukan apa yang dikehendakiNya. (Ibrahim: 27).

    Maksud kalimah yang tetap teguh dalam ayat di atas adalah kalimah tauhid (Laa ilaaha illallaah) yang menghunjam dalam dada seorang mukmin. Allah Subhanallahu wa Ta’ala meneguhkan seorang mukmin dengan kalimat tersebut di dunia dengan segala konsekuensinya, walaupun diuji dengan berbagai halangan dan rintangan.

    Adapun di akhirat, Allah Subhanallahu wa Ta’ala akan meneguhkannya dengan kemudahan menjawab pertanyaan dua malaikat di alam kubur. Sedangkan seorang kafir dan munafik, ketika ditanya oleh dua malaikat:

    “Siapa Rabbmu (Tuhanmu)? Ia menjawab: “Ha…Ha, saya tidak tahu; kemudian ia ditanya: “Apa agamamu? Ia menjawab: “Ha…Ha, saya tidak tahu, kemudian ia ditanya: “Siapa laki-laki yang telah diutus kepada kalian ini? Ia menjawab: “Ha…Ha, saya tidak tahu. Kemudian terdengar suara dari langit: “Dia telah berdusta! Bentangkan baginya alas dari neraka! Bukakan baginya pintu yang menuju neraka!;Kemudian panasnya neraka mendatanginya, dipersempit kuburnya hingga terjalin tulang-tulang rusuknya karena terhimpit kubur.”

    Itulah akibat mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Walaupun di dunia ia adalah orang yang paling fasih dan pintar bicara, namun jika ia tidak beriman, maka ia tidak akan dapat menjawab pertanyaan dua malaikat tersebut. Kemudian ia akan dipukul dengan pemukul besi sehingga ia menjerit dengan jeritan yang keras yang didengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia.

    Semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala merahmati kita semua. Kejadian di atas mempunyai hikmah besar tentang keimanan kepada yang ghaib, yang tidak dapat dilihat oleh mata dan tidak dapat ditangkap oleh pancaindra kita. Apabila jin dan manusia boleh mendengar dan melihatnya, niscaya mereka akan beriman dengan sebenar-benar keimanan.

    Oleh kerana itu, Allah Subhanallahu wa Ta’ala menjelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa diantaranya adalah beriman dengan yang ghaib. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman :

    ﴾الم ﴿١﴾ ذَ‌ٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣

    Alif Lam Mim, Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib…” (Al-Baqarah: 1-3)

    2. Adzab dan Nikmat Kubur

    Setelah mayit mengalami ujian dengan menjawab pertanyaan dua malaikat di alam kubur, jika berhasil, ia akan mendapatkan kenikmatan di alam kubur; dan jika tidak, ia akan mendapatkan siksa kubur. Bagi yang dapat menjawab pertanyaan kedua malaikat tersebut, ia akan mendapatkan kenikmatan di kuburnya. Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa Sallam melanjutkan sabdanya:

    Kemudian terdengar suara dari langit: “Telah benar hamba-Ku! Maka bentangkan baginya kasur dari surga! Pakaikan padanya pakaian dari syurga! Bukakan baginya pintu yang menuju syurga!; Kemudian aroma wangi surga mendatanginya, diperluas kuburnya sampai sejauh mata memandang, dan seorang laki-laki yang berwajah ceria dan bajunya serta wangi aroma tubuhnya mendatanginya dan berkata: “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu! Ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu.

    Maka ia berkata: “Siapa engkau? Wajahmu mendatangkan kebaikan. Laki-laki itu menjawab: “Saya adalah amalan solehmu. Kemudian dibukakan pintu surga dan pintu neraka, dan dikatakan: “Ini adalah tempatmu jika engkau bermaksiat kepada Allah, Allah akan mengganti dengannya. Ketika melihat segala sesuatu yang ada di surga, ia berkata: “Wahai Rabb-ku, segerakan hari kiamat! Agar aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku.

    Adapun orang yang tidak dapat menjawab pertanyaan dua malaikat, maka ia akan mendapatkan siksa kubur, sebagaimana kelanjutan dari hadits di atas:

    Kemudian terdengar suara dari langit: “Dia telah berdusta! Bentangkanlah baginya alas dari neraka! Bukakanlah baginya pintu menuju neraka!; Kemudian panasnya neraka mendatanginya, dipersempit kuburnya hingga terjalin tulang-tulang rusuknya karena terhimpit kuburnya. Kemudian seorang laki-laki yang berwajah buruk dan bajunya, serta busuk aroma tubuhnya mendatanginya dan mengatakan: “Bersedihlah dengan segala sesuatu yang menyusahkanmu! Ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu. Maka ia berkata: “Siapa engkau? Wajahmu mendatangkan keburukan.

    Laki-laki itu menjawab: “Saya adalah amalan burukmu, Allah membalasmu dengan keburukan, kemudian Allah mendatangkan baginya seorang yang buta, tuli, bisu, dengan memegang sebuah pemukul, yang jika dipukulkan ke gunung niscaya akan hancur menjadi debu. Kemudian ia dipukul dengan sekali pukulan sampai menjadi debu. Kemudian Allah mengembalikan tubuhnya utuh seperti semula, dan dipukul lagi dan ia menjerit hingga didengar seluruh makhluk kecuali jin dan manusia. Kemudian dibukakan pintu neraka baginya, sehingga ia berkata: “Wahai Rabb-ku, jangan tegakkan hari kiamat!” (HR. Abu Dawud, Al-Hakim, Ath-Thayalisi, dan Ahmad)

    Hadits Al-Barra’ bin ‘Azib radliyallahu ‘anhu di atas dengan jelas menerangkan tentang segala sesuatu yang akan dialami oleh manusia di alam kuburnya. Wajib bagi kita untuk beriman dengan berita tersebut dengan tidak menanyakan tata cara, bentuk, dan yang lainnya, kerana hal tersebut tidak terjangkau oleh akal-akal manusia dan merupakan hal gaib yang hanya diketahui oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Sangat sedikit dari hal ghaib tersebut yang diperlihatkan kepada para Nabi ‘alaihimussalam. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:

    ﴾عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا ﴿٢٦﴾ إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا ﴿٢٧

    (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.(Al-Jin: 26-27)

    Maka dari itu, apa yang diyakini oleh kaum Mu’tazilah dan yang bersamanya, bahawa adzab kubur dan nikmat kubur tidak ada, merupakan kesalahan dalam hal aqidah, kerqna hadits tentang masalah ini sampai pada tingkatan mutawatir (bukan ahad). Bahkan dalam Al-Qur`an telah disebutkan ayat-ayat tentangnya, seperti firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala ;

    Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azdab yang sangat keras (seksaannya).” (Al-Mu’min: 46)

    Kemudian firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (ertinya):

    Dan sesungguhya Kami merasakan kepada mereka sebahagian adzab yang dekat sebelum adzab yang lebih besar.” (As-Sajdah: 21)

    Sebahagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan adzab yang dekat dalam ayat tersebut adalah adzab kubur. Sebagai penutup, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala merahmati kita semua. Penjelasan di atas hanyalah sekelumit dari apa yang akan dialami manusia di alam kubur nanti. Pastilah seorang hamba yang beriman dan bijak akan bersiap-siap dengan berbagai amalan soleh sebagai bekal di akhirat kelak, termasuk ketika di alam kubur. Dan memperbanyak do’a memohon perlindungan dari adzab kubur dengan do’a:

    اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ.

    Ya Allah sesungguhnya aku meminta perlindungan dari adzab kubur, dari adzab neraka, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Al-Bukhari no.1377)

    Semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala senantiasa melindungi kita dari berbagai ujian, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, hingga kita menghadap-Nya, dan memberikan kepada kita kecintaan untuk bertemu dengan-Nya ketika kita akan meninggalkan kehidupan yang fana ini menuju kehidupan kekal abadi. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

    MUTIARA HADITS SHAHIH

    Pernah Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa Sallam ketika melewati dua buah kuburan, lalu bersabda:

    أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِى بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ» و ﰲ رواية: لاَ يَسْتَنزِهُ مِن بَوْلِهِ

    Ingatlah! Sesungguhnya kedua orang ini sedang diadzab; dan tidaklah mereka diadzab disebabkan dosa besar (menurut persangkaan mereka). Adapun salah satunya, semasa hidupnya ia melakukan namimah (mengadu domba); sedangkan yang satunya, semasa hidupnya ia tidak menjaga auratnya ketika buang air kecil.” (HR. Muslim no.703 dari shahabat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma) Dalam riwayat lain: “tidak bersih ketika bersuci dari buang air kecil.”

    Waallahu ‘alam.

    Sumber :

    Penulis: Buletin Islam AL-ILMU Edisi: 38 / X / VIII / 1431

    10 February 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

    Tanda Ilmu tidak Berkat

    Tanda Ilmu tak berkat

    2 February 2014 Posted by | Mutiara Kata, Tazkirah | , | Leave a comment

    Berpuasa,bersolat, berzikir – Tapi masih bersifat keji – Mengapa?

    SONY DSC

    Mari kita menyuluh diri kita sejauh mana ibadah kita memberi kesan pada diri kita setakat ini. Lihat pada hadith berikut yang bermaksud: “Ditanya orang kepada Rasulullah S.A.W., “Wahai Rasulullah, si polan itu (perempuan) siang hari berpuasa, malam hari dia bangun kerana mengerjakan ibadah. Cuma dia ada sedikit cacat. Akhlaknya rosak iaitu dia menyakiti jirannya dengan lidahnya”. Lantas dijawab oleh Rasulullah, “Tidak ada kebaikan lagi pada wanita itu bahkan dia adalah menjadi ahli neraka.”

    Hadith ini meriwayatkan perbualan seorang sahabat dengan Rasulullah dalam mana sahabat itu tertanya kepada Rasulullah tentang seorang perempuan yang dikenalinya. Perempuan itu amat kuat beribadah kerana pada siang harinya dia berpuasa manakala di malam hari dia bangun bertahajjud. Perempuan itu sudah boleh dikatakan ahli ‘abid kerana seseorang yang mampu berpuasa siang hari dan bangun bertahjud malam hari dia sudah boleh dikatakan ‘abid. Cuma dia belum tentu orang bertaqwa atau orang soleh boleh kita panggil ‘abid atau ahli ibadah saja. Dan perempuan yang diceritakan oleh sahabat itu kepada Rasulullah adalah seorang ‘abidah, kerana dia kuat berpuasa dan tahajjud malam. Tentulah selepas dia bertahajjjud dia juga membaca Al-Quran, berwirid, berzikir, berdoa dan sebagainya.

    Di sini kita dapati sahabat tadi menceritakan perihal perempuan itu kepada Rasulullah supaya Baginda dapat menilai bagaimana kedudukan wanita ini iaitu sama ada dia boleh dianggap orang yang soleh atau tholeh, sama ada dia boleh dianggap orang yang berbakti atau tidak berbakti dan sama ada dia boleh dianggap orang yang baik atau tidak. Sebab itu sahabat itu menceritakan tentang kuatnya dia berpuasa dan bertahajjud cuma dia ada sedikit kecacatannya iaitu akhlaknya rosak. Itu pun bukan semua bentuk akhlaknya yang cacat.

    Di antara akhlak-akhlak jahat yang banyak, dia hanya jahat dalam satu perkara sahaja iaitu dia menyakiti jirannya dengan lidahnya. Mungkin dia selalu mengumpat jirannya atau dia berkasar dengan jirannya atau boleh jadi dia selalu membahasakan jirannya dengan lidahnya. Dalam hal inilah sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang bagaimana kedudukan wanita itu. Dan ketika itu Rasulullah menjawab mengatakan bahawa, tidak ada lagi kebaikan pada wanita itu bahkan dia adalah menjadi penghuni neraka.

    Di dalam riwayat hadith ini kita digambarkan mengenai seorang wanita yang begitu kuat amal ibadahnya, cuma dia tidak berakhlak. Dan itu pun hanya satu sahaja akhlaknya yang cacat iaitu lidahnya kasar yang mana selalu menyakiti jirannya. Walaupun demikian, Rasulullah mengatakan yang amal ibadahnya yang begitu banyak tidak ada harga lagi di sisi Allah S.W.T. Dia dianggap tidak ada membuat kebaikan, bahkan dia adalah penghuni neraka. Jadi hadith ini memberitahu kepada kita betapa seorang ahli ibadah menjadi penghuni neraka kerana dia tidak berakhlak.

    Mengapakah seorang ahli ibadah boleh menjadi penghuni neraka kerana dia tidak berakhlak? Kita sendiri pun tidak sanggup bertahajjud malam, manakala puasa hari Isnin dan Khamis pun susah hendak dibuat. Sedangkan perempuan itu kuat berpuasa dan bertahajjud. Cuma akhlaknya sahaja yang cacat. Dan kerana itu dia menjadi ahli neraka. Dia telah menjadi ahli neraka adalah kerana ibadahnya tidak berbuah. Seseorang yang melakukan ibadah yang bermacam-macam bentuk sama ada yang berbentuk fardu ain mahupun fardHu kifayah, sama ada yang berbentuk sunat muakkad atau ghairu muakkad sama ada ibadah melalui puasa, sembahyang, membaca Al-Quran, berdoa, berwirid, zikir dan lain-lainnya, semuanya adalah dengan tujuan agar ibadah-ibadah itu dapat melahir atau membuahkan sifat taqwa dan akhlak. Bererti bahawa sifat taqwa serta akhlak itu adalah buah daripada ibadah yang seseorang itu lakukan. Sebab itulah semakin banyak seseorang itu beribadah, semakin halus budi pekerti dan akhlaknya.

    Jadi, kalau seseorang itu banyak beribadah tetapi akhlaknya masih jahat, maka berertilah ibadahnya tidak berbuah. Ini juga menunjukkan bahawa walaupun dia banyak beribadah, tetapi ibadahnya tidak diterima oleh Allah S.W.T. Dan sebab itulah, walaupun dia banyak beribadah, dia tetap menjadi penghuni neraka kerana ibadah-ibadahnya tidak ada nilai kebaikan di sisi Allah S.W.T. Ibadah yang tidak menghasilkan buah ini samalah seperti orang menanam pokok tetapi tidak berbuah. Banyak saja pokok-pokok yang ditanam tetapi pokok-pokoknya tidak berbuah. Begitu juga, kalau seseorang itu beribadah tetapi tidak juga lahir akhlak yang baik, maka ibadahnya tidak berbuah. Dia tetap menjadi penghuni neraka.

    Berdasarkan hadith ini, kita sepatutnya ada sebab untuk berasa bimbang dengan diri kita kerana adakah kita sudah beribadah sepertimana perempuan yang diceritakan di dalam hadith itu iaitu kuat berpuasa, kuat tahajjud, banyak baca Al-Quran, banyak wirid, zikir dan sebagainya. Sudahlah ibadah kita tidak banyak, akhlak kita pun tidak baik. Sedangkan perempuan yang banyak ibadah itu pun, kerana akhlaknya cacat sedikit sahaja dia telah menjadi penghuni neraka, betapalah dengan kita ini. Maka tentulah kita berada dalam keadaan, yang lebih teruk dari wanita itu. Sebab itulah, maka hendaklah kita banyakkan ibadah dengan tujuan mendapatkan akhlak yang baik. Janganlah kita hendak banyakkan ibadah sahaja tetapi tidak menginginkan akhlak yang baik. Jadi kita membanyakkan ibadah itu adalah dengan tujuan supaya kita dapat menghalusi budi pekerti kita agar kita dapat memiliki akhlak yang baik dengan sebanyak-banyaknya.

    Hadith yang kedua membawa maksud berikut:

    Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah S.W.T. telah membersihkan agama ini (iaitu agama Islam) untuk diriNya (iaitu Allah). Agama itu tidak akan menjadi baik melainkan kalau ada pada kita sifat pemurah dan baik akhlak. Oleh demikian hendaklah kamu hiasi agama kamu itu dengan keduanya (iaitu dengan sifat pemurah dan dengan akhlak yang baik).

    Hadith ini menceritakan kepada kita bahawa setiap orang yang hendak menegakkan agama Islam itu, sama ada yang hendak ditegakkannya itu berbentuk fardhu ain mahupun yang berbentuk fardhu kifayah, yang berbentuk sunat muakkad mahupun yang berbentuk ghairi muakkad tujuannya adalah untuk dihadiahkan kepada Allah S.W.T. Ertinya, keseluruhan agama Islam yang ditegakkan itu walau di bidang mana sekalipun, semuanya adalah untuk dipersembahkan kepada Allah S.W.T. Dan Allah pula tidak akan menerima sesuatu hadiah yang tidak bersih dan yang tidak suci murai. Jadi hadiah yang hendak kita persembahkan kepada Allah itu mestilah yang bersih dan suci murni. Dalam ertikata yang lain, setiap bidang agama Islam yang kita amal dan yang kita buat itu sama ada di bidang fardu dan di bidang sunatnya, ia mestilah suci bersih. Tetapi di dalam hadith ini, kita diingatkan bahawa agama Islam yang kita tegakkan itu sebagai hadiah kita kepada Allah, ia tidak akan suci bersih kalau di dalam diri kita tidak ada dua perkara iaitu sifat pemurah dan akhlak yang baik. Jadi kalau seseorang itu ada memiliki sifat pemurah dan akhlak-akhlak yang baik, maka agama Islam yang didirikan dan dibangunkannya itu adalah suci murni. Dan manakala dia mempersembahkannya kepada Allah S.W.T., maka Allah akan menerimanya.

    Daripada sini, fahamlah kita bahawa agama Islam yang hendak kita jadikan hadiah kepada Allah S.W.T. itu, akan menjadi kotor kalau kita memiliki sifat di sebaliknya iaitu sifat bakhil dan akhlak yang jahat. Dengan adanya dua sifat ini di dalam diri kita, agama Islam yang kita dirikan itu akan menjadi suci dan murni. Oleh sebab itu, bagaimana kuat pun kita beribadah iaitu mungkin kita boleh berpuasa dan bertahajjud malam, mungkin baca Al-Quran kita kuat hingga boleh buat 10 juz satu hari, wirid, zikir kita berpuluh-puluh ribu satu hari, doa kita berjela-jela manakala selawat pula ribuan kita baca, semuanya itu masih belum bersih di sisi Allah kalau kita ada sifat bakhil dan kalau akhlak kita masih rosak. Maka dengan sebab itulah kita disuruh menghiasi agama yang kita dirikan itu dengan sifat pemurah dan dengan akhlak yang baik. Apabila kita dapat memiliki sifat pemurah dan akhlak yang baik itu, maka agama yang kita dirikan akan menjadi suci dan bersih dan apabila kita persembahkan agama yang suci bersih itu kepada Allah S.W.T., maka Allah akan menerimanya.

    Sehubungan dengan ini, pepatah Arab ada berkata yang maksudnya: Bukanlah yang dikatakan kecantikan pada diri seseorang itu pakaian yang menghiasi diri tetapi yang dikatakan cantik dan indah itu ialah ilmu yang ada padanya dan budi pekerti yang baik. Jadi ilmu yang sah di sisi Allah S.W.T. dan akhlak yang baik yang ada pada diri kita, itulah yang dikatakan hiasan pada diri kita. Itulah kecantikan yang ada pada diri kita dan itulah bunga pada diri kita yang Allah memberikan perhatianNya dan yang juga boleh menarik perhatian orang ramai. Bererti, dengannya, Allah pun suka dan orang ramai pun suka. Sebaliknya, kalau pakaian kita saja yang cantik dan indah tetapi akhlak kita tidak baik, tidak ada siapa yang suka. Tetapi walaupun buruk mana pakaian kita, kalau akhlak kita baik, orang tetap akan suka. Bukan saja orang suka, tetapi Allah juga akan suka dan cinta. Sebab itulah akhlak itu dikatakan bunga diri yang mana bunga itu adalah menjadi hiasan di tengah majlis, kerana sudah menjadi fitrah semula jadi manusia, sukakan bunga. Semua orang gemar melihatnya dan berasa tenang bila ada bunga di atas meja. Lebih-lebih lagilah sukanya orang ramai kalau bunga itu berbau harum. Ia adalah merupakan daya tarikan atau besi berani dalam diri seseorang hingga menyebabkan orang tertarik padanya. Sebab itu, kalau daya tarikan sudah tidak ada dalam diri seseorang kerana dia tidak memiliki akhlak yang baik, apa saja yang dianjurkannya, orang ramai tidak akan tertarik dan tidak akan menyertainya. Oleh yang demikianlah, kita disuruh menghiasi diri kita atau agama yang kita bina itu dengan sifat pemurah dan dengan akhlak yang baik. Dan apabila kita telah hiaskan agama kita, maka ia akan menjadi suci bersih yang mana apabila kita persembahkannya kepada Allah, lantas Allah akan menerimanya.

    Ditanya orang kepada Rasulullah, “Mana satu orang mikminkah, ya Rasulullah yang iman mereka itu paling utama. ” Jawab Rasulullah, “Ialah mereka yang paling baik akhlaknya.”

    Di sini ingin kita bahaskan sedikit tentang sifat pemurah yang disebutkan di dalam hadith tadi. Mengapakah di dalam hadith itu sifat pemurah ini dikhususkan sedangkan ia di dalam lingkungan akhlak yang baik, sifat pemurah itu sendiri adalah termasuk di antaranya. Misalnya, pemaaf, merendah diri, tidak sombong dan sebagainya adalah beberapa contoh akhlak yang baik. Manakala di antaranya juga adalah sifat pemurah. Tetapi mengapakah sifat pemurah dikhususkan di dalam hadith tadi iaitu sebagai salah satu daripada dua perkara yang boleh mensucikan agama yang kita dirikan. Sedangkan kalau disebut saja akhlak yang baik, pemurah sudah terangkuman di dalamnya. Ini adalah kerana, di antara akhlak-akhlak yang baik, sifat pemurah adalah yang paling menonjol. Kalau seseorang itu ada memiliki sifat pemurah, sifat ini amat menonjol dalam dirinya hingga sifat itu boleh menarik perhatian orang ramai yang menyebabkan orang ramai kasih sayang kepadanya. Dari sifat pemurah di dalam diri seseorang, ia boleh menimbulkan perpaduan dan menghilangkan perasaan hasad dengki di kalangan fakir miskin. Mereka akan berasa senang hati kalau adanya orang yang bersifat pemurah. Bererti sifat pemurah ini boleh membantu dalam melahirkan kedamaian dan keamanan di dalam masyarakat. Jadi kita dapati sifat ini cepat memberi kesan kepada jiwa orang ramai. Sebab itulah di dalam hadith ini, sifat pemurah ini dikhususkan sebutannya sedangkan ia adalah sudah termasuk di dalam lafaz husnul khulk atau akhlak yang baik. Dan dengan demikian juga, kalau kita rasa amat payah melahirkan akhlak-akhlak baik yang lain, cubalah kita usahakan sifat pemurah ini.

    Bila kita ada sifat pemurah, Allah suka kepada kita dan orang ramai pun suka kepada kita. Dan ia pula boleh menghindarkan timbulnya hasad dengki di kalangan orang miskin kerana apabila orang- orang kaya sudah bersifat pemurah, maka orang-orang fakir miskin akan tertarik kepadanya. Kerana timbulnya hasad dengki di kalangan fakir miskin ialah orang-orang senang tidak pemurah. Sudahlah tidak pemurah, mereka bersifat tamak pula. Maka timbullah usaha hendak menganiaya dan hendak memusnahkan orang lain hingga timbullah kekacauan di tengah masyarakat. Kalau masyarakat sudah kacau-bilau dan huru-hara, bukan seorang saja yang susah, malah semua orang akan susah termasuklah orang yang baik pun turut susah sama. Dan sebab itulah sifat pemurah ini amat menonjol sekali di antara bentuk-bentuk akhlak yang baik.

    Selain daripada itu, seorang yang memiliki sifat pemurah, secara automatik dia memiliki sifat syukur kepada Allah. Ini adalah kerana orang yang bersyukur kepada Allah itu menggunakan hartanya untuk Allah. Dan apabila seseorang itu membuat kebaikan dengan melahirkan sifat pemurah, maka tandanya orang itu bersyukur kepada Allah, disebabkan dia membelanjakan harta dan kesenangannya di jalan Allah. Kerana apabila pemurah saja seseorang itu, bererti dia juga memiliki sifat syukur kepada Allah S.W.T. Dan sifat bersyukur kepada Allah adalah satu sifat yang baik yang mesti ada pada diri setiap orang.

    Kemudian hadith yang ketiga memberikan maksud berikut:

    Ditanya orang kepada Rasulullah, “Mana satu orang mikminkah, ya Rasulullah yang iman mereka itu paling utama. ” Jawab Rasulullah, “Ialah mereka yang paling baik akhlaknya.”

    Hadith ini meriwayatkan kisah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah. Ertinya, bila sebuah hadith mengisahkan ‘orang’ bertanya kepada Rasulullah, ‘orang’ yang dimaksudkan itu ialah sahabat. Tidak mungkin orang di zaman kita atau orang di zaman tabi’in. Jadi bila kita baca hadith yang mengatakan Rasulullah pernah ditanya orang, maksudnya, yang bertanya itu ialah sahabat. Sahabat adalah orang yang beriman di zaman Rasulullah dan bertemu dengan Rasulullah. Manakala tabi’in ialah orang yang beriman yang bertemu dengan sahabat. Dan tabi’it tabi’in ialah orang yang beriman yang bertemu dengan orang yang bertemu dengan sahabat. Jadi, kita dapatlah memahami apa dia sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. Kita ini sudah tidak dapat hendak dihitung berapa kali tabi’it-tabi’it tabi’innya. Kita ini sudah di luar kira yang mana kalaulah kita dapat beijumpa dengan Rasulullah di dalam mimpi sahaja pun sudah memadai. Itu pun entah-entah kerana maklumlah, orang-orang seperti kita ini, jiwanya terlalu kotor. Tak mungkin dapat bermimpi Rasulullah walau sekali dalam seumur hidup. Jangan kan mimpikan Rasulullah, mungkin hendak mimpikan hidung Rasulullah pun atau mata Rasulullah pun, itu pun jauh sekali. Tidak pernah dapat kita alami.

    Berhubung dengan hadith ini, kita diriwayatkan Rasulullah ditanya orang. Dan orang itu sudah maklum adalah sahabat. Sahabat itu bertanya kepada Rasulullah tentang manakah orang mukmin yang paling utama imannya. Rasulullah menyatakan bahawa itulah orang yang paling baik akhlaknya. Jadi daripada hadith ini dapatlah kita fahamkan bahawa siapa-siapa daripada orang mukmin yang paling baik akhlaknya, maka itulah orang mukmin yang paling utama imannya. Walaupun seseorang itu membuat amal ibadah yang fardhu-fardhu sahaja tetapi oleh kerana akhlaknya paling baik, maka dia memiliki iman yang paling baik. Di sini kita dapati yang walaupun seseorang itu hanya dapat membuat amal ibadah yang fardhu-fardhunya sahaja tetapi dia dapat memiliki akhlak yang baik hingga imannya menjadi yang paling utama.

    Ini menunjukkan bahawa ibadahnya itu telah berbuah kerana akhlak yang baik itu adalah buah daripada ibadah. Walaupun dia hanya membuat ibadah yang fardhu sahaja tetapi ia menghasilkan buah. Samalah seperti orang yang menanam dua tiga batang pokok buah-buahan tetapi setiap musim ia berbuah. Tentulah lebih baik daripada orang yang membuat estet rambutan tetapi tidak berbuah. Walaupun dia mempunyai 1,000 ekar pokok rambutan, namun kalau pokok itu tidak berbuah, maka tidaklah memberi apa-apa faedah kepadanya. Biarlah orang yang hanya mempunyai sebatang atau dua batang pokok sahaja tetapi setiap musim, iaberbuah. Jadi, walaupun dia itu hanya memuat ibadah-ibadah yang fardhu sahaja tetapi oleh kerana ibadahnya itu berbuah hingga dapat ia memiliki akhlak yang paling baik, maka itu adalah lebih baik kalau dibandingkan dengan orang yang banyak membuat ibadah sama ada yang fardhu mahupun yang sunat tetapi ibadahnya tidak berbuah atau kalau pun berbuah hanya satu dua akhlak yang baik saja dimilikinya. Maka orang yang paling baik akhlaknya itulah orang yang paling sempurna imannya.

    Tujuan ibadah fardhu dan sunat hendak mendapatkan Tuhan. Dari ibadah hendak menyuburkan takut dan cintakan Tuhan. Dari situ akan sentiasa hidup rasa bertuhan ini di dalam jiwa di dalam kehidupan. Di mana pergi teringat-ingatkan sahaja Tuhan di dalam jiwa. Rasa bertuhan itulah jiwa mempunyai kekuatan…

    Dalam soal ini kita dapati yang manusia ini ada mempunyai dua bentuk ibadah kepada Allah S.W.T., iaitu ibadah yang berbentuk zahir dan ibadah yang berbentuk batin. Ibadah zahir adalah seperti sembahyang, berpuasa, berwirid, berzikir dan sebagainya. Manakala ibadah batin adalah yang lahir dari jiwa seseorang seperti melahirkan akhlak yang baik dan memiliki sifat pemurah. Di antara dua ibadah ini, ibadah batin lebih utama daripada ibadah zahir tetapi untuk mendapatkan kesempurnaan iman, kedua-dua ibadah itu mesti dilaksanakan. Ertinya, kita tidak boleh melaksanakan yang satu dan meninggalkan yang lain. Cuma dari segi nilaian di sisi Allah S.W.T., ibadah batin adalah lebih utama daripada ibadah zahir. Dan orang yang memiliki akhlak yang baik bererti dia telah memiliki ibadah batin. Sebab itu, orang yang dapat memiliki akhlak yang baik walaupun ibadah zahirnya sederhana sahaja, orang itu dikatakan memiliki iman yang utama. Orang ini pula adalah lebih baik daripada orang lain yang banyak ibadah zahirnya tetapi tidak ada ibadah batin kerana dia tidak memiliki akhlak yang baik.

    Dalam hal ini, ada suatu keterangan hadith yang maksudnya: “Allah S.W.T. tidak melihat gambaran zahir kamu tetapi Allah melihat hati-hatimu.”

    Maksud keterangan hadith ini ialah, sesungguhnya Allah tidak memandang ibadah zahir yang kita lakukan seperti banyaknya sembahyang, puasa dan sebagainya tetapi untuk menilai iman seseorang itu Allah memandang kepada hati-hati manusia. Maksud hati di sini ialah ibadah batin yang dilakukan oleh orang itu. Jadi hadith ini menunjukkan kepada kita bahawa apabila Allah hendak menilai iman seseorang itu Allah tak pandang pada sembahyangnya banyak walaupun disuruh sembahyang banyak Allah juga tidak memandang kepada puasanya walaupun disuruh berpuasa dan Allah juga tidak memandang kepada banyak membaca Al-Qurannya, doanya, wirid, zikirnya dan lain-lain tetapi Allah lebih memandang ibadah yang ke duanya iaitu ibadah hati. Kalau ibadah hati manusia itu rosak, Allah tidak nilai lagi ibadah yang zahir itu. Kalau pun Allah nilai, itu adalah setelah dia niasuk neraka lebih dahulu. Ertinya, Allah tidak akan kecewakan juga ibadahnya itu tetapi setelah dia masuk neraka, barulah dibalas. Inilah tafsir hadith yang disebutkan di atas.

    Dalam pada itu, ada orang yang mentafsirkan hadith itu dengan mengatakan bahawa Allah tidak memandang kepada pakaian seseorang itu tetapi Allah memandang pada hatinya. Mereka mentafsirkan maksud zahir itu sebagai pakaian. Jadi, apabila seseorang itu mendedahkan aurat, dia nanti akan berkata, “Allah tidak pandang yang zahir, Allah pandang hati seseorang itu.” Baginya, seolah-olah walaupun dia mendedahkan aurat tetapi hatinya baik dan tentunya Allah lebih menilai hatinya. Tetapi cuba kita fikirkan sejenak, “Apakah orang yang telanjang atau yang hampir telanjang itu baik hatinya?” Masakan baik, kerana kebaikan terletak pada hati dan orang yang bertelanjang atau yang hampir telanjang itu adalah disuruh oleh hatinya bukan hidung atau matanya. Jadi kalau hatinya yang menyuruh dia mendedahkan aurat, apakah hati semacam itu dikatakan hati yang baik? Jadi kalau hatinya menyuruh dia telanjang atau mendedahkan aurat bererti hatinya juga telanjang. Sedangkan iman adalah di dalam hati. Kalaulah hatinya telanjang, bererti imannya juga adalah telanjang sama.

    Oleh yang demikian, di antara dua ibadah ini, Allah tidak terus menilai ibadah yang zahir walaupun ia diperintahkan dan tidak boleh kita cuaikan langsung, tetapi Allah menilai lagi ibadah batin, sama ada cacat atau tidak. Kalau ia cacat, maka tidak ada harga lagi ibadah yang pertama tadi tetapi kalau ibadah batinnya baik walaupun ibadah yang pertama itu kurang iaitu dia hanya melaksanakan semua perintah-perintah yang wajib saja, maka itu lebih besar nilainya di sisi Allah. Ini adalah kerana orang yang baik ibadah batinnya adalah memiliki akhlak yang baik. Bererti akhlak yang baik adalah daripada hati yang bersih dan daripada iman yang kuat. Dan orang yang berakhlak baik, boleh memberi kesan yang amat kuat kepada masyarakat iaitu dia boleh melahirkan ukhuwah yang akhirnya boleh membawa kepada perpaduan. Manakala yang membawa kepada kacau-bilau kehidupan di tengah masyarakat adalah berpunca daripada akhlak yang rosak di kalangan anggota masyarakat. Mengumpat, memfitnah, kata-mengata dan sebagainya, semuanya membawa kepada pergeseran di tengah masyarakat. Kerana itu masyarakat boleh berpecah-belah.

    Jadi, akhlak yang baik sahaja yang boleh mencetuskan perpaduan dan apabila masyarakat telah berpadu, maka mudahlah masyarakat berhadapan dengan musuh-musuhnya. Dan apabila masyarakat Islam itu dapat berpadu, maka dapat jugalah masyarakat Islam itu melahirkan tamadunnya sendiri serta dapat pula membangunkan kemajuannya sendiri tanpa lagi bersandar dengan kemajuan yang dibangunkan oleh orang kafir. Dengan demikian, umat Islam akan menjadi hebat dan akan ditakuti oleh bangsa-bangsa lain. Ini berlaku di zaman Rasulullah, di zaman sahabat-sahabat serta zaman tabi’in. Orang-orang kafir amat gerun dan gentar terhadap umat Islam.

    Betapalah kalau umat Islam itu berjuang terhadap mereka. Tetapi di zaman ini, orang-orang kafir tidak lagi gentar dan gerun kepada umat Islam. Malah mereka lebih mentertawakan umat Islam. Ini adalah kerana umat Islam ini tidak ada kehebatan lagi. Sebabnya umat Islam tidak hebat ialah kerana umat Islam tidak berpadu dan tidak berpadunya umat Islam adalah kerana umat Islam sudah tidak berakhlak. Banyak saja bilangan umat Islam di zaman ini tetapi mereka sudah tidak berpadu lagi. Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah di dalam hadithnya yang bermaksud, di akhir zaman nanti umat Islam ini bilangannya sahaja yang banyak tetapi mereka adalah ibarat buih di atas air laut. Maknanya, kekuatan umat Islam ini hanya seperti buih yang mana besarnya saja yang seperti gunung tetapi ranting kayu saja yang jatuh, ia boleh pecah. Dan kalau sebuah kapal lalu melanggarnya, habis berkecai. Ataupun juga, dikatakan banyaknya umat Islam ini di akhir zaman adalah ibarat bumbungan pasir yang tinggi. Timbunan pasirnya besar seperti gunung tetapi apabila turun sahaja hujan, pasir yang banyak itu tadi habis dilarikan air hingga menjadi paras bumi semula.

    Hadith ini menunjukkan bahawa Rasulullah dapat mengetahui tentang keadaan umatnya di akhir zaman melalui mukasyafahnya yang mana umatnya itu bilangan mereka sahaja yang ramai tetapi sudah tidak ada perpaduan lagi. Tidak adanya perpaduan di kalangan umatnya adalah kerana mereka sudah tidak berakhlak. Manakala orang yang tidak ada akhlak adalah orang yang cintakan dunia dan orang yang takut mati. Bila cinta dunia ada di hati mulalah manusia itu bersikap bakhil. Tidak adalah pemurah lagi di dalam hatinya. Bakhil itu adalah akhlak yang tidak baik sedangkan pemurah itu adakah akhlak yang baik.

    Jadi, apabila umat Islam itu berakhlak maka akan timbullah perpaduan dan apabila timbul perpaduan dengan sendirinya umat Islam itu mempunyai kehebatan. Dengan kehebatan yang ada itu, maka musuh akan berasa takut kepada umat Islam. Ertinya, mereka tidak akan berani hendak mempermain-mainkan umat Islam ini. Dengan sebab itulah akhlak yang baik perlu kita miliki sesungguh-sungguhnya kerana akhlak yang baik ini akan membersihkan agama kita dan akan menjadi bunga serta perhiasan diri kepada diri kita. Dan apabila kita dapat memiliki akhlak yang baik ini, Allah akan mencintai kita dan manusia juga akan suka kepada kita.

    Untuk mendapatkan akhlak yang mulia ini, kita mesti jadikan ia sebagai matlamat kita di dalam kita melaksanakan ibadah kita kepada Allah S.W.T. walau di bidang apa sekalipun. Untuk ini juga, hendaklah kita laksanakan ibadah kita dengan tujuan ia akan menghasilkan buah. Biarlah kita hanya melaksanakan ibadah yang fardhu-fardhu sahaja tetapi ibadah kita itu dapat membuahkan akhlak yang baik daripada kita beribadah banyak tetapi ibadah kita tidak berbuah. Namun, yang paling baik ialah ibadah kita banyak, akhlak yang baik pun banyak terhasil darinya. Tetapi kalau kita tidak dapat melaksanakan ibadah yang banyak, jadilah kalau kita dapat membuat ibadah yang sederhana sahaja yang tidak meninggalkan ibadah yang fardhu tetapi ibadah kita itu menghasilkan akhlak yang baik. Jadi sebab itulah, kalau kita beribadah sedangkan ibadah kita tidak membuahkan akhlak yang baik, ia tidak boleh memberi kesan kepada kehidupan masyarakat. Umat Islam ini tidak akan berpadu dan akibatnya umat Islam ini tidak akan kuat dan ia tidak akan dapat membantu melahirkan keselamatan dan keamanan di tengah masyarakat. Hanya akhlak yang baik yang dapat dimiliki oleh seseorang itu sahaja yang dapat membantu melahirkan keamanan dan keselamatan di tengah masyarakat.

    Sumbe: Usaha Taqwa

    25 January 2014 Posted by | Tazkirah | , , , | Leave a comment

    Ancaman terhadap orang yang mujaharah (berterang terang) melakukan maksiat.

    Fatwa Malaysia

    Terdapat sebuah hadis yang menyebutkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Semua umatku akan diampunkan dosanya kecuali orang yang bermujaharah (terang-terangan dalam berbuat dosa) dan yang termasuk mujaharah adalah seorang yang melakukan perbuatan dosa pada malam hari, kemudian hingga pagi hari Allah telah menutupi dosa tersebut, kemudian dia berkata: "Wahai fulan semalam saya berbuat ini dan berbuat itu." Padahal Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tapi pada pagi hari dia telah membuka sendiri akan dosa tersebut." (H.R. Bukhari dan Muslim). Mohon dapat diberikan pencerahan mengenai hadis ini dan adakah perbuatan merokok boleh tergolong dalam hadis ini.

    PENJELASAN:

    Hadis tersebut mengandungi ancaman terhadap orang yang mujaharah (berterang-terangan) melakukan maksiat. Perbuatan berterang-terangan dalam melakukan dosa meliputi orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan di khalayak, ataupun orang yang melakukan dosa secara tersembunyi kemudian sengaja menyebarkan maksiatnya di khalayak.

    Ancaman tersebut adalah kerana perbuatan menzahirkan dosa merupakan satu maksiat. Jadi orang yang melakukan dosa secara terang-terangan di hadapan khalayak sekurang-kurangnya telah melakukan dua dosa, iaitu (i) dosa perbuatan maksiat; (ii) dosa menzahirkan maksiat. Ibn ‘Abidin mengatakan, "Menzahirkan suatu maksiat adalah maksiat". (Rad dal-Muhtar, 2/77).

    Orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan serta sengaja untuk mendedahkan dan menzahirkan maksiatnya di hadapan khalayak adalah lebih dahsyat hukumnya daripada orang yang melakukan maksiat secara tersembunyi dan tidak diketahui orang lain kerana ia boleh mengundang kemurkaan Allah. Ibn Hajar mengatakan, "Sesiapa yang secara niat mahu menzahirkan maksiat dan berterang-terangan dengan maksiat tersebut, dia telah mengundang kemurkaan Tuhannya". (Fathul Bari, 10/488).

    Oleh sebab merokok adalah perbuatan yang telah difatwakan pengharamannya oleh banyak badan-badan fiqh dan fatwa di semua peringkat sama ada di Malaysia atau di peringkat antarabangsa kerana telah jelas perbuatan tersebut mengandungi kemudaratan, maka perbuatan merokok adalah satu dosa dan maksiat.

    Justeru perokok (atau sesiapa yang melakukan perbuatan haram) yang mengetahui hukumnya haram, kemudian sengaja menzahirkan perbuatannya di hadapan khalayak boleh termasuk di dalam mereka yang melakukan mujaharah (berterang-terangan) dalam melakukan maksiat, lebih-lebih lagi jika perbuatan tersebut dilakukan secara terang-terangan dan berbangga-bangga serta bermegah-megah dengan perbuatan yang dilakukan.

    Wallahu A’lam.

    19 January 2014 Posted by | Fatwa, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | Leave a comment

    Apa Sebab Islam Dihina

    hina islamHina Islam dgn logo halalHina Islam 1

    Sejak akhir-akhir ini kita sering didengari dan didendangkan pelbagai isu terutamanya penghinaan musuh Islam terhadap umat Islam. Majoriti umat Islam marah dan keluar beramai-ramai dengan hasrat membantah penghinaan yang dibuat oleh musuh Islam terhadap Islam. Ada juga segelintir kecil yang mengambil kesempatan untuk mempopularkan diri kononnya menyokong kebangkitan umat Islam menentang penghinaan tersebut, tetapi malang semua pekerjaan, masa, tenaga, duit dan apa sahaja tidak ada nilai di sisi Allah malah itu semua ibarat sampah yang dicampak di dalam tong sampah.

    Adakah kita fikir sebelum ini kenapa berlaku ini semua? Jawapan saya tidak lain tidak bukan kerana umat Islam sangat lemah dari segi penghayatan dan pegangan Islam yang sebenar. Perkara ini tidak pernah berlaku semasa zaman kegemilangan Islam dahulu, kerana Islam sangat kuat dari segala aspek. Bila berlaku sahaja penghinaan atau peperangan, maka khalifah pada waktu itu terus mengirim ribuan pasukan tentera untuk memerangi ancaman tersebut. Setiap kali perancangan jahat dibuat oleh musuh Islam, mereka akan mempertimbangkan dahulu resiko dan musibah yang akan dilalui oleh mereka.

    Zaman sekarang tidak, mereka bersuka ria membuat penghinaan itu dan ini, kerana mereka kurang mendapat tentangan dan banyak lagi negara-negara umat Islam yang berkiblatkan mereka. Mereka juga sedar, semua ini berlaku hanya seketika sahaja dan tiada industri mereka yang rugi dan bangkrap kerana dipulai oleh masyarakat Islam. Contoh yang dapat diperhatikan sekarang ialah rokok dari produk mereka masih diambil oleh umat Islam, perdagangan, urusan ekonomi dan banyak lagi.

    Asas Pengangan Umat Islam

    Bagi mengatasi masalah ini, kita semua perlu kembali semula kepada asas pengangan umat Islam iaitu Al-Quran dan As-Sunnah, kerana di situ terdapat segala asas pembentukkan jati diri umat Islam dan juga terdapat asas pembentukkan sebuah negara yang berdaulat serta jauh dari anasir-anasir luar yang jelas merosakkan umat Islam. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud :

    “Aku tinggalkan dalam kalangan kamu dua perkara yang kamu tidak sekali-kali akan sesat selagi kamu berpegang teguh kepada keduanya, iaitu kitab Allah dan sunnah Rasulullah SAW,”. (Riwayat Imam Malik)

    Sangat tidak betul bagi mereka yang mengatakan bahawa Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW itu tidak sesuai lagi diamalkan dan ia sesuai pada zaman dahulu sahaja. Sesiapa yang berkata dan berniat sedemikian rupa, maka cepat-cepatlah bertaubat, beristiqfar dan syahadah kembali kerana ia jelas merosakkan akidah.

    Tuntut Ilmu Allah

    Penuhkan dada-dada umat Islam dengan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Iman, Islam dan Ehsan, kerana ketiga-tiga ini akan membuatkan umat Islam itu sentiasa mempunyai pedoman hidup. Setiap apa yang dilakukan olehnya akan dinilai dahulu adakah pekerjaan ini baik dan mendatangkan manfaat kepadanya. Jika baik, maka teruskan membuatnya. Jika tidak, ia akan tinggalkannya.

    Setiap inovasi yang dibuat olehnya adalah bertujuan mendatangkan manfaat kepada seluruh umat manusia dan Islam. Tetaapi bukan inovasi yang direka olehnya untuk menjahanamkan manusia. Ini semua berlaku apabila ia faham tentang Islam, jikalau tidak ia akan melakukan perkara-perkara yang ditegah oleh Islam seperti rasuah, ponteng kerja, curi tulang, cetak rompak dan sebagainya. Contoh apabila seseorang itu memiliki ilmu agama dan akademik menjalankan tugas sebagai pegawai bank. Beliau tidak akan melakukan pecah amanah, kerana fikirannya akan ingat Allah marah, perbuatan tersebut dosa, haram dan dimasukkan ke dalam neraka Allah yang sangat pedih azabnya.

    Wujudkan Rasa Persaudaraan Sesama Islam

    Kembalikan rasa persaudaraan sesama Islam walaupun berlainan keturunan, bangsan dan warna kulit, selagimana ia berada di bawah akidah yang sama, maka selagi itulah ia bersaudara dengan kita walaupun berbeza Negara. Firman Allah yang bermaksud :

    “Sesungguhnya mukmin itu bersaudara” (Al-Hujuraat : 10)

    Pernah perlaku pada zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang cedera di dalam peperangan, beliau meminta segelas air untuk diminum, setelah dibawakan air kepadanya untuk diminum, ada seorang sahabat yang cedera juga disebelahnya meminta air, lalu diberikan air itu kepada sahabatnya untuk diminum lalu ia  berkata awak lebih memerlukan dari saya. Sahabatnya menerima air darinya untuk diminum, kemudian ada pula disebelah sahabatnya sahabat yang lain memerlukan air untuk diminum. Sabahatnya juga melakukan perbuatan yang sama dan diserahkan air tersebut kepada sahabat yang lain itu. Kemudian sahabat tersebut tidak sempat untuk minum dan meninggal dunia, lalu air itu dibawa semula kepada sahabat-sahabat tersebut dan mereka juga telah meninggal dunia tanpa meminum air yang diminta oleh mereka.

    Pengajaran dari cerita di atas ini ialah kehebatan sifat bersatu dan bersaudara yang ditunjukkan oleh sahabat Rasulullah sehingga waktu ajal tiba juga sanggup mengutamakan orang lain. Dengan sifat ini jugalah terdirinya Negara Islam yang pertama iaitu Madinah. Sifat ini jugalah tentera Islam menang di dalam medan peperangan kerana semua tentera Islam bergandingan tangan, seorang mara mesti yang lain juga ikut mara tanpa menghiraukan ajal maut dan bahaya. Sifat ini jugalah musuh Islam tidak berani meyentuh atau membuli orang-orang Islam. Kalau berlaku penindasan umat Islam, Khalifah mengirimkan satu grombolan tentera untuk memerangi mereka sehingga ke lubang cacing.

    Matikan Sikap Pentingkan Diri Sendiri

    Buang jauh-jauh sikap mementingkan diri sendiri, orang yang mementingkan diri sendiri ini adalah orang yang rugi dan orang yang tidak bertamadun. Orang sebegini sepatutnya kembali ke zaman batu, duduk di dalam gua-gua bersama keluarganya sahaja tanpa mengetahui apa yang berlaku di luar sana. Selalunya mereka ini bila ada kepentingan peribadi barulah mereka bersama dengan orang lain tunjuk baik dan buat itu dan ini. Tetapi malangnya apa yang mereka buat itu bukan semuanya kerana Allah malah kerana untuk mengenyangkan perut masing-masing. Sebab itulah masyarakat Islam tidak boleh maju dan tidak boleh bersatu kerana kepentingan perut lebih penting dari kepentingan pembangunan ummah. Sebenarnya inilah senjata musuh-musuh Islam untuk menjatuhkan Islam, mereka yakin selagimana umat Islam bersikap individual, maka selagi itulah Islam menjadi lemah. Kuatnya Islam adalah berjamaah kerana bersatu dalam jemaah itulah senjata kekuatan umat Islam dan ia tidak mudah untuk ditumpaskan oleh musuh-musuh Islam.

    Perkara ini semua telah dibuktikan oleh Rasulullah dan para sahabat, setiap apa-apa keputusan Baginda akan bermusyawarah dahulu bersama para sahabatnya, setiap keputusan yang baik akan digunakan oleh Baginda walaupun keputusan itu bukan dari dirinya. Keputusan-keputusan yang wujud dalam rapat tersebut adalah semata-mata untuk kepentingan pembangunan ummah dan tidak ada langsung kepentingan peribadi.

    Betapa hebatnya sirah-sirah Rasulullah mendidik para sahabatnya dalam semua bab terutamanya persatuan umat Islam. Ibarat kata cubit paha kanan paha kiri pun turut terasa, inilah kekuatan sebenarnya umat Islam. Pernah suatu ketika pemimpin Yahudi berikrar dengan berkata “Selagimana umat Islam tidak bersatu dibawa satu panji Al-Quran dan Sunnah, maka selagi itulah umat Islam boleh dibuli dan boleh diperangi dan mereka tidak sesekali akan memenagi peperangan tersebut”.

    Kesimpulannya

    Bila ada semua perkara yang saya berikan di atas ini, maka ia tidak akan berlaku penghinaan terhadap Islam, kerana mereka sedar Islam adalah satu kuasa yang besar dan ajaib. Apabila umat Islam marah, ia boleh membinasakan semua musuh-musuh Islam yang terlibat di dalam penghinaan tersebut. Selain dari itu, semua perkara ini adalah senjata dakwah fardi’ah kita kepada semua orang bukan Islam, kerana mereka melihat betapa hebatnya perpaduan umat Islam. Malah umat Islam juga dijadikan contoh umat yang terbaik kerana sukses ke semua bidang kehidupan yang meliputi aspek dunia dan akhirat. Sangat hebat sebenarnya Islam ini, ia menjadi tidak hebat apabila kita tidak faham hakikat sebenarnya.

    Sumber: Ustaz Nor Amin

    16 January 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

    Fahami fundamental Islam – Yang Haram tetap Haram

    Haram tetap haram, maksiat tetap maksiat, tidak kiralah jika yang perkara tersebut dilakukan berdekatan dengan masjid (Putrajaya) atau tempat beribadah, atau tidak, hatta di dalam hutan sekalipun. Apakah kita beranggapan, Allah tidak suka maksiat dilakukan berdekatan masjid atau Putrajaya, tetapi Allah suka ianya dilakukan jika berjauhan dengan tempat tersebut? Seolah-olah Allah ada di masjid atau Putrajaya, dan tidak ada di tempat lain? Fahami Islam dengan betul wahai pemimpin negaraku.

    Kini, heboh isu pembukaan Restoran Hard Rock Cafe di Putrajaya yang mendapat tentangan daripada pelbagai pihak kerana disifatkan tidak bersesuaian dengan imej bandar tersebut sebagai Pusat Pentadbiran Kerajaan Persekutuan.

    Isunya adalah maksiat, arak, judi, zina, pergaulan bebas lelaki perempuan, diharamkan oleh semua agama, bukan sahaja agama Islam. Persoalannya, kenapa pemimpin yang meluluskannya begitu jahil dalam soal ini? JAKIM ada di sana, kenapa tidak dirujuk?

    Kenapa bertindak sesuka hati bila ada kuasa? Bila jahil, bertanyalah. Nescaya ada jawapannya. Ini tidak, memandai-mandai seolah-olah Putrajaya bapak kita yang empunya. Ingatlah, Putrajaya dibina atas duit rakyat. Rakyat yang cintakan agama mahukan ianya ditadbir mengikut lunas-lunas agama dan hidup bertuhan.

    Persoalan yang ditimbulkan oleh segelintir pemimpin yang menentang adalah, restoran tersebut tidak seharusnya dibenarkan beroperasi di Putrajaya kerana lebih 95 peratus penduduknya merupakan umat Islam. Putrajaya adalah pusat pentadbiran negara bukan tempat hiburan. Bandar raya ini juga adalah bandar raya Islam contoh kerana hampir kesemua bangunannya bercirikan kesenian Islam.

    Apa maksud semua ini? Adakah perkara haram dibenarkan di kawasan jauh dari Putrajaya? Apakah maksud senibina Islam?

    Adakah kubah itu seni bina Islam? Begitu juga lambang bulan (sabit) dan bintang? Apakah senibina lain, termasuk senibina Melayu tidak Islamik? Nampak sangat kita jahil. Kubah atau bentuk bawang adalah senibina Moorish Indian.

    Islam tidak tetapkan bentuk bagaimana masjid atau bangunan hendak dibina. Semuanya senibina adalah Islamik, jika tidak bertentangan dengan asas Islam, termasuk senibina Pagoda. Jika ada dalam minda kita, bahawa kubah itu Islamik, yang tidak kubah, tidak Islamik, maka saya syorkan pergilah mengaji lebih lagi mengenai universaliti Islam.

    Cubalah fahami isu-isu fundamental Islam. Saya amat bimbang, jika pemahaman kita mengenai perkara-perkara yang bersifat Islamik itu hanya bersifat nama dan lambang. Bila buat dosa, atau teringat sudah banyak berdosa, maka pergilah buat umrah dan haji untuk mencuci dosa.

    Jika itu pemikirannya, kita ini amat jahil. Rugilah jadi orang miskin atau masuk nerakalah mereka, sebab tidak boleh mengerjakan umrah dan haji berkali-kali berbanding orang kaya. Allah tidak adil meletakkan kaabah di Mekah, kerana hanya orang Arab sahaja yang berdekatan. Maka yang berjauhan, sudah tentu masuk neraka. Wahai pemimpinku, ingatlah… Islam tidak begitu sifatnya.

    Perkara asas Islam adalah akidah, tauhid, akhlak dan syariat. Fahamilah perkara ini terlebih dahulu. Kita tetap akan masuk syurga, walaupun tidak pernah menjejak kaki mengerjakan umrah dan haji.

    Jika kita kata senibina di Putrajaya itu Islamik, maka malang sungguh Allah menjadikan umat Islam dan manusia lain seperti di China, Jepun, Korea dan sebagainya. Maklumlah masjid di sana tidak ada senibina kubah atau berbentuk bawang.

    Jika kita mengatakan bahawa Putrajaya itu kota Firdaus, bermakna, maksiat atau perkara haram tidak boleh dilakukan maka, di luar Putrajaya atau di mana-mana sekalipun, termasuk di Kuala Lumpur, tetap tidak boleh dilakukan kerana, haram tetap haram, maksiat tetap maksiat, Ia ditentang semua agama.

    Jangan rosakkan imej Islam, sekejap boleh, sekejap tak boleh. Ada bandar Islam Islam, ada bandar tidak Islam. Islam itu Islamlah. Seperti kontroversi Islam Hadhari. Ada Islam Hadhari, ada yang tidak hadhari. Islam itu Islamlah. Ia mesti didaulatkan di mana sahaja kita berada.

    Kalaulah saya yang menguruskan Putrajaya, sudah lama tanda-tanda nama saya jawikan. Hard Rock Café boleh beroperasi dengan syarat, ikut garis panduan bandaraya Islam, termasuk menjawikan kafe tersebut. Saya masih yakin, umat Islam apabila terpandang huruf-huruf Allah, hatinya akan gementar. Jika tidak gementar, maknanya hatinya telah mati. Eloklah cari hati lain.

    Saya pelik, adakah pemimpin yang menguruskan Putrajaya sudah buta? Mendengar nama Hard Rock itu sudah mencerminkan isi kandungannya. Kenapa begitu jahil? Tidakkah Hard Rock Café, sudah dikenali sebagai sebuah restoran tempat berhibur tanpa batasan dengan minuman keras serta muzik bising yang menjadi tarikan. Adakah kita tidak nampak siapa lagi selain umat Islam yang bakal menjadi pelanggan sasarannya?

    Nasihat saya terutama kepada pemimpin yang dilantik, tidak kira pemimpin atasan atau pemimpin diperingkat organisasi. Jika jahil, pergi belajar. Paling kurang, bertanyalah kepada yang pakar, terutama JAKIM yang sudah lama sedia wujud di sana.

    Janganlah bertindak sendirian jika jahil. Kita bimbang kita akan menjadi semakin jahil atau menjadi jahil murakab, sejahil-jahilnya. Jika asas ini tidak dibetulkan, apa jua tindakan kita seterusnya akan terus salah dan salah…

    Sumber: Ustaz Prof Dr  RIDHUAN TEE

    13 January 2014 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Politik dan Dakwah, Tazkirah | , | Leave a comment

    Jika tidak mampu buat semua jangan tinggal semua

    Jika takmampu buat semua

     

    Sumber:

    Renung-renungkan Dan Jangan Termenung

    13 January 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

    Berilah Kemaafan

    Kebanyakan dari kita dan termasuk hamba biasa dengar perkataan ‘maaf’ bukan? Ya! Bahkan kita selalu menyebut akan perkataan itu. Kadangkala ia keuar tanpa kita sedari dan tanpa niat kerana sudah terbiasa dengan perkataan berharga ‘maaf’ itu.

    Anda mahu tahu apa itu maaf? Kata maaf itu sebenarnya kata akar daripada Al-‘Afw yang bermaksud berlebihan. Kalimat Al-‘Afw diulang sebanyak 34 kali di dalam al-Quran. Contoh ayat al-Quran yang menerangkan tentang al-‘Afw yang telah hamba copy and paste sedikit sebanyak :

    Mereka bertanya kepadamu tentang hal yang mereka nafkahkan (kepada orang). Katakanlah, "al-‘afw" (yang berlebih dari keperluan) (QS Al-Baqarah [2]: 219).

    Yakni menjadikan sesuatu yang tadinya berada di dalam yakni dimiliki menjadi tidak di dalam dan tidak dimiliki lagi.

    Akhirnya kata al-‘afw berkembang maknanya menjadi keterhapusan. Memaafkan, berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati.

    Jika dibandingkan ayat-ayat yang berbicara tentang taubat dan maaf, kita akan ditemukan bahwa kebanyakan ayat tersebut didahului oleh usaha manusia untuk bertaubat. Sebaliknya, tujuh ayat yang menggunakan kata ‘afa, dan berbicara tentang pemaafan semuanya

    dikemukakan tanpa adanya usaha terlebih dahulu dari orang yang bersalah.

    Perhatikan ayat-ayat berikut:

    "Allah mengetahui bahwa kamu mengkhianati dirimu sendiri ( dengan tidak dapat menahan nafsumu sehingga bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan dengan dugaan

    bahwa itu haram) maka Allah memaafkan kamu" (QS Al-Baqarah [2]: 187).

    "Allah memaafkan kamu, mengapa engkau memberi izin kepada mereka, sebelum engkau mengetahui orang-orang yang benar (dalam alasannya) dan sebelum engkau

    mengetahui pula para pembohong?" (QS Al-Tawbah [9]: 43).

    "Balasan terhadap kejahatan adalah pembalasan yang setimpal, tetapi barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah" (QS Al-Syura [42]: 40).

    Perhatikan juga firman-Nya dalam surah Ali-‘Imran ayat 152 dan 155, juga Al-Maidah ayat 95 dan 101. Ternyata tidak ditemui satu ayat pun yang menganjurkan agar meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf.

    "Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada

    Tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?" (QS Al-Nur [24): 22).

    Kesan yang disampaikan oleh ayat-ayat ini adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah, melainkan hendaknya memberi maaf sebelum diminta. Mereka yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dan Allah Swt. Tidak ada alasan untuk berkata, "Tiada maaf bagimu", kerana segalanya telah dijamin dan ditanggung oleh Allah Swt.

    Perlu dingatkan juga, bahawa pemaafan yang dimaksud bukan hanya bersangkutan dengan dosa atau kesalahan kecil, tetapi juga untuk dosa dan kesalahan-kesalahan besar.

    Dalam surah Al-Baqarah ayat 51-52, berbicara tentang kemaafan Allah bagi umat Nabi Musa a.s. yang mempertuhankan lembu:

    "Dan (ingatlah) ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah empat puluh hari, lalu kamu menjadikan anak lembu (yang dibuat dari emas) untuk disembah sepeninggalnya, dan kamu adalah orang-orang yang zalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan

    kesalahanmu, agar kamu bersyukur" (QS Al-Baqarah [2]: 51-52).

    Oleh:


    Ustaz Al-Mubtasim

    8 January 2014 Posted by | Tazkirah | , | Leave a comment

    Ideologi moden perosak akidah

    Ideologi seleweng akidah

     

    Ibu bapa berperanan didik anak menghayati Islam

    AJARAN Islam membawa sinar melenyapkan penyelewengan fahaman bangsa Arab di zaman jahiliah. Namun, jika diperhatikan masa ini sinar Islam seakan tenggelam apabila akidah umat Islam lemah.

    Ramai dalam kalangan umat Islam yang mengaku sebagai orang Islam, namun realiti kehidupan mereka langsung tidak mencerminkan keperibadian seorang Islam.

    Benarlah seperti digambarkan Rasulullah SAW ketika ditanya sahabat mengenai keadaan umat Islam pada akhir zaman seperti makanan dikerumuni pelahap.

    Sahabat bertanya: “Bagaimanakah keadaan umat Islam pada waktu itu? Baginda menjawab: Umat Islam ramai tetapi ibarat buih yang berada di lautan. Rapuhnya akidah mereka terhadap Allah SWT.”

    Persoalan besar timbul kenapa ini berlaku kepada umat Islam? Berdasarkan pemerhatian, antara penyebabnya ialah sifat umat Islam sendiri yang terlalu cintakan dunia, takutkan kematian serta kelemahan iman mereka dan kemiskinan kehidupan.

    Kesan kemiskinan ini boleh membawa kualiti hidup yang lemah, mudah terjebak dalam kegiatan sosial dan membawa kekufuran. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Hampir saja kemiskinan itu membawa kepada kekufuran.” (Hadis riwayat Abu Naim)

    Asas akidah ialah beriman kepada Allah SWT iaitu kepercayaan kepada keesaan-Nya dan kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW. Islam amat mengambil berat dan menyeru kepada mentauhidkan Allah SWT secara ilmu dan amal serta menjelaskan perkara membawa kepada syirik sama ada secara i’tiqad atau tingkah laku.

    Islam agama diiktiraf di sisi Allah SWT, menjamin umat Islam kebahagiaan di dunia dan akhirat.

    Firman Allah SWT yang bermaksud: “Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam. Dan orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberikan Kitab itu tidak berselisih kecuali setelah sampai kepada mereka pengetahuan kerana hasad dengki di kalangan mereka. Dan (ingatlah), sesiapa yang kufur ingkar akan ayat Allah, maka sesungguhnya Allah amat segera hitungan hisab-Nya.” (Surah Ali-Imran, ayat 19)

    Firman-Nya lagi yang bermaksud: “Dan sesiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima daripadanya, dan ia pada hari Akhirat kelak dari orang yang rugi.” (Surah Ali-Imran, ayat 85)

    Dalam kemajuan dan globalisasi, umat Islam terdedah cabaran yang menguji kekuatan akidah. Pelbagai fahaman, ideologi moden seperti kapitalisme, materialisme, humanisme dan unsur negatif mempengaruhi umat Islam dengan mudah.

    Kita juga dikejutkan dengan fahaman liberalisme, pluralisme serta komunisme yang diperkatakan semula hari ini. Kita juga digemparkan dengan isu murtad dan cubaan memurtadkan umat Islam. Kita dihimpit budaya songsang black metal, punk, gejala gay, seks bebas serta sukan judi.

    Kepincangan hidup berkeluarga juga menyelubungi umat Islam, ada anak yang sanggup menghina kibu bapa bahkan lebih malang lagi menderhaka kepada mereka.

    Gejala ini disebabkan lemah keimanan anggota keluarga terutama ibu bapa sebagai ketua keluarga sedangkan ibu bapalah yang paling utama mendidik anak menghayati ajaran dan akidah Islam.

    Kelemahan akidah turut mendedahkan mereka kepada amalan khurafat seperti bertenung nasib, sihir dan ilmu guna-guna. Semua gejala keruntuhan akidah sebenarnya menjatuhkan kemuliaan dan darjat manusia. Akibat lebih buruk ialah azab seksa yang pedih di akhirat menanti golongan ingkar.

    Sebagai umat Islam kita perlu sedar dan bangkit mempertahankan akidah Islam kerana ia adalah asas kekuatan menghadapi musuh yang mahu menghancurkan Islam dan umatnya. Umat Islam memerlukan penghayatan Islam secara menyeluruh melalui pelaksanaan ibadat umum dan khusus.

    Di samping itu, umat Islam perlu membina kekuatan dari sudut ilmu dan teknologi supaya maklumat yang diperoleh adalah benar dan tepat. Ibu bapa hendaklah berperanan mendidik anak ajaran Islam yang sebenar supaya menjadi generasi yang diredai oleh Allah SWT dan menjauhi seksa neraka.

    Firman Allah yang bermaksud: “Wahai orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarannya manusia dan batu; Penjaganya malaikat yang keras kasar; tidak menderhaka kepada Allah dalam segala yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan mereka pula tetap melakukan segala yang diperintahkan.” (Surah al-Tahrim, ayat 6)

    Sumber: BH

    19 December 2013 Posted by | Aqidah, Tazkirah | , | Leave a comment

    Bagaimana cara berzikir ketika sibuk bekerja?

    Tasbih

    Zikir ialah ibadat paling ringan tetapi amat berat timbangan pahalanya. Walaupun mudah dan ringan diamalkan, kebanyakan muslim lupa melakukannya disebabkan tidak dilatih berbuat demikian.

    Pengarang kitab Shafwah al-Shafwah menceritakan tentang seorang ahli ibadah melihat seekor burung yang selalu membawa sepotong daging setiap hari. Burung itu hinggap di atas pokok kurma. Ahli ibadah itu merasa hairan kerana tidak ada seekor burungpun yang mempunyai sarang di situ. Beliau berkata: “Saya memanjat pokok itu, saya melihat di sana ada seekor ular yang buta matanya. Setiap kali burung itu mendekatinya iapun bersuara lalu ular itu membuka mulutnya, sang burung meletakkan sepotong daging itu ke mulut ular dan kemudian terbang. Perbuatan itu dilakukannya setiap hari.”

    Kisah tersebut mengajar kepada kita bahawa kemuliaan itu terletak pada seberapa besar manfaat yang boleh anda berikan kepada orang lain. Manakala kehinaan itu adalah kerana mensia-siakan potensi dan kekuatan jasmani dan rohani yang telah Allah SWT kurniakan kepada kita. Sedangkan binatang bekerja mencari makanan tanpa tangan dan kaki yang sempurna. Tetapi manusia masih lagi diulit mimpi angan-angan yang panjang. Binatang dan alam semesta semuanya berzikir kepada Allah SWT, tetapi manusia sibuk melupakan Allah SWT.

    Allah SWT berfirman menyeru kepada orang-orang yang mengaku beriman yang maksudnya:”Bekerjalah kamu, nescaya Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Surah al-Taubah Ayat 105)

    Bekerja adalah ibadat. Bahkan nafkah yang dihulurkan kepada ahli keluarga adalah sedekah yang paling utama. Tetapi sifat malas sering timbul sewaktu melakukan jihad ini. Ia sentiasa hadir dalam kehidupan para pekerja yang beriman. Di manakah kelemahannya hingga semangat bertempur untuk mendapatkan keuntungan dunia yang halal itu menjadi kendur? Padahal Rasulullah SAW telah bersabda yang maksudnya: ”Jika datang hari kiamat dan di tangan seorang daripada kamu ada satu bijian tanaman, maka jika dia mampu menanamnya, hendaklah dia melakukannya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari dan Ahmad)

    Semangat kerja Nabi Allah Idris AS patut dicontohi. Baginda adalah seorang tukang jahit yang mencari nafkah dengan hasil usaha tangannya sendiri. Pada suatu hari Allah SWT berfirman yang maksudnya:“Wahai Idris, tahukah kamu mengapa Aku mengangkat darjatmu hingga ke tempat yang sangat tinggi? Sebagaimana firman Allah yang bermaksud: “Dan kami mengangkatnya ke kedudukan yang tertinggi.” (Surah Maryam; Ayat 57). Nabi Idris menjawab: “Saya tidak tahu wahai Tuhanku.” Allah berfirman: “Setiap hari amalanmu terangkat ke sisi-Ku seperti setengah amalan penduduk dunia ini kerana kamu banyak berzikir.” Allah berfirman yang maksudnya: “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang soleh.” (Surah Fatir: Ayat 10)

    Demikianlah keutamaan Nabi Idris AS kerana setiap kali baginda menusukkan jarumnya, pasti kalimah zikrullah yang empat diucapkan iaitu; Subhanallah, Walhamdulillah, Walailahaillallah, wa Allahu Akbar. Pekerjaan yang dilakukan sambil berzikir sungguh berat timbangannya di sisi Allah dan boleh menyuntikkan semangat untuk berjaya semata-mata kerana keredaan Allah.

    Zikir adalah amalan yang paling mudah dan ringan tetapi amat berat pahalanya. Syaikh al-Islam al-Imam Ibnu Taimiyah dalam kitab agungnya, Majmu’ al-Fatawa menyatakan; Amalan yang paling utama selepas amalan yang fardhu adalah zikrullah. Dalam hadis sahih riwayat al-Imam Ahmad dan al-Tirmizi, Rasulullah SAW bersabda: “Mahukah kamu aku tunjukkan amalan yang paling utama dan yang paling bersih di sisi Allah? Lebih baik daripada kamu bertemu dengan musuh-musuhmu lalu kamu memenggal leher mereka dan mereka juga memenggal leher-lehermu? Para sahabat menjawab: Tentu wahai Rasulullah. Rasulullah bersabda: Zikrullah.”

    Demikianlah zikir yang dilakukan. Ia tidak memerlukan wuduk atau menutup aurat. Ia tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Di mana dan bila-bila sahaja dan dalam keadaan apapun ibadat ini boleh dilakukan. Sungguh senang tetapi ramai manusia yang meninggalkannya.

    Al-Imam Ibnu al-Qayyim menyatakan: “Baginda memberi petunjuk supaya berzikir dalam setiap ucapan, tindakan, tarikan nafas, kala berdiri, duduk dan berbaring, gerak geri baginda adalah zikir kepada Allah.”

    Rasulullah SAW adalah seorang manusia yang paling sibuk dengan dunianya dan paling bersedia untuk bekalan akhiratnya. Baginda adalah seorang Ketua Negara yang amanah, Mahaguru yang dihormati, pakar motivasi, Jeneral perang dan penganalisis politik yang hebat, ketua rumah tangga yang adil, pendakwah yang karismatik, ayah yang penyayang, saudara lelaki yang penyantun. Seluruh masa dan tenaga dikerahkan untuk memastikan mereka yang hidup di sisi baginda mendapat kebahagiaan dunia akhirat. Begitu juga dengan kita yang memenuhi hari-hari dengan kerja dan zikrullah, pastikanlah ianya tidak terhenti kecuali kedua kaki ini telah sampai di pintu kenikmatan tertinggi, syurga yang abadi!

    Oleh : Dr Juanda (Mufti Perlis)

    17 December 2013 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | | Leave a comment

    Hukum Menggunakan Telefon Bimbit Ketika Khutbah Jumaat

    Matikan talipon

    Adapun perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khatib membaca khutbah Jumaat boleh diqiyaskan kepada maksud sebuah hadits sahih yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

    Maksudnya: “Sesiapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian dia (pergi ke masjid) untuk menunaikan Sembahyang Fardhu Jumaat, lalu mendengar dan tidak bercakap (ketika khutbah disampaikan), maka diampuni dosa-dosanya yang ada di antara hari Jumaat itu dan hari Jumaat berikutnya dan ditambah tiga hari lagi. Dan sesiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu (ketika khutbah), maka dia telah berbuat sia-sia”. (Hadits riwayat Muslim)

    Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan jelas telah menegaskan bahawa barangsiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu ketika khutbah Jumaat itu telah melakukan suatu perbuatan yang sia-sia. Maksud “sia-sia” dalam hadits ini sepertimana yang telah diterangkan sebelum ini ialah bertentangan dengan sunnah, adab dan mengakibatkan rugi pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat walaupun sembahyangnya masih dikira sah.

    Menurut ulama, larangan dalam hadits tersebut tidak hanya terbatas terhadap bermain dengan anak batu sahaja, bahkan larangan tersebut menyeluruh terhadap semua perbuatan yang boleh menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat.

    Jika dinilai dan diteliti, perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khutbah dibacakan ini adalah lebih buruk lagi daripada perbuatan bermain dengan anak batu kerana perbuatan seperti bermain game, melayari halaman internet, berkomunikasi melalui halaman rangkaian sosial dan sebagainya itu adalah sangat jelas lebih menghilangkan kekhusyukan dan menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat.

    Jadi sangat jelas di sini bahawa perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khatib membaca khutbah Jumaat adalah suatu perbuatan yang bertentangan dengan sunnah dan adab yang menuntut kita supaya diam dan meninggalkan segala perbuatan yang boleh menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat. Oleh itu, perbuatan ini sayugianya ditinggalkan kerana ianya mengakibatkan kerugian yang sangat besar, iaitu kehilangan pahala dan kelebihan-kelebihan Sembahyang Fardhu Jumaat.

    Perhimpunan Sembahyang Fardhu Jumaat itu bukannya lama, tidak ada kerugian apa-apa jika telefon bimbit ditutup seketika atau langsung tidak perlu di bawa ke dalam masjid. Tinggalkanlah buat seketika segala perkara dan urusan duniawi yang kurang penting apatah lagi yang sia-sia. Hadirkanlah hati dan seluruh anggota tubuh badan zahir dan batin, dan isikan seluruh jiwa raga dengan perisian rasa khusyu‘, taat, taqwa dan penghambaan yang mutlak terhadap Allah Subhanahu wa Ta‘aala untuk mendengarkan khutbah dan seterusnya mendirikan Sembahyang Fardhu Jumaat.

    Sumber: Mufti Brunei

    13 December 2013 Posted by | Fatwa, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Tazkirah | , | Leave a comment

    Redha dan Syukur

    Syukur pagi pagi

    [Sumber: Dato' Dr Hasan bin Mohamed Ali ]

     

     

     

     

     

     

    11 December 2013 Posted by | Madah dan Sajak, Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

    Sifat-sifat Yang Perlu Dijauhi

     Sifat-sifat Yang Perlu Dijauhi Berdasarkan Firman Allah swt dalam Surah Al-Baqarah ayat 1-5.

    Maksudnya: “Alif laam miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

    InsyaAllah, berikut merupakan sifat-sifat yang perlu dijauhi berdasarkan surah Al-Baqarah ayat 1-5. Marilah sama-sama kita berusaha untuk mengaplikasikan dan mengelakkan sifat-sifat ini daripada ada di dalam hidup kita.

    1. Merasa diri serba mengetahui. Allah swt memulakan surah Al-Baqarah dengan lafaz yang tidak diketahui maknanya oleh manusia. Oleh itu, umat manusia perlu menginsafi bahawa mereka tidak mengetahui semua perkara yang berlaku di dunia ini.

    2. Menterjemahkan kalimah yang tidak difahami tanpa asas. Kita perlu menyedari hakikat bahawa kita tidak sepatutnya menterjemahkan kalimah-kalimah yang tidak kita fahami. Kalimah-kalimah ini termasuklah kalimah Allah swt, kalimah Nabi saw dan kalimah sahabat radhiallahu anhum ajma’in. Namun, kalimah-kalimah manusia biasa juga perlu dielakkan daripada diterjemahkan menurut cita-rasa kita.

    3. Meletakkan ragu-ragu terhadap apa-apa yang didatangkan kepada kita oleh Rasulullah saw. Kepercayaan merupakan asas dalam beragama. Amatlah sukar untuk menetapkan diri kita pada jalan Allah swt, jika kita mempunyai sifat “ragu-ragu” terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah saw. Hendaklah kita berusaha menjadi seperti Abu Bakar As-Siddiq yang mempercayai Rasulullah saw tanpa ragu-ragu. Lagipun, kejujuran Rasulullah saw sendiri diperakui oleh orang-orang yang menentang baginda, jadi, kenapakah kita yang bersama baginda tidak mempercayai baginda pula?

    4. Tidak berusaha untuk mendapatkan petunjuk yang sudah disediakan oleh Allah swt dalam al-Quran. Salah satu kesilapan yang dilakukan oleh orang-orang yang lalai adalah melupakan al-Quran sebagai punca petunjuk oleh Allah swt. Al-Quran merupakan petunjuk paling agung yang mana ia tidak akan berubah selama-lamanya. Jadi, jangan kita berpaling kepada buku-buku “mencari Tuhan” yang tidak berasas, sedangkan kita melupakan Al-Quran.

    5. Tidak mempercayai perkara-perkara ghaib yang disebutkan secara sahih daripada Rasulullah saw. Rasulullah saw tidak pernah menipu, itu adalah salah satu daripada sifat Rasulullah saw. Jadi, setiap perkara yang diucapkan oleh baginda perlu dipercayai semuanya. Ini termasuklah cerita-cerita ghaib seperti isra’ mi’raj, kisah jin yang mendengar bacaan Al-Quran, janji syurga, malaikat-malaikat, turunnya wahyu, mukjizat baginda dan lain-lain.

    6. Tidak berusaha sedaya upaya mendirikan solat. Ini merupakan kesilapan yang banyak berlaku kepada orang ramai. Mereka melengah-lengahkan sembahyang sehingga mereka terlupa.

    7. Kedekut dalam menafkahkan harta sebagaimana yang disuruh oleh Allah swt. Zakat merupakan kewajipan agama. Ia merupakan salah satu asas untuk mengelakkan sifat buruk daripada bersarang dalam diri (iaitu kedekut) dan ia juga merupakan salah satu cara memastikan kestabilan ekonomi negara. Kewajipan ini merupakan kewajipan yang kurang dititik-beratkan dalam masyarakat pada zaman ini. Sebagai pelajar dan bakal pekerja, adalah wajib untuk kita mempelajari sekitar zakat, kerana kita merupakan future zakat payee. Janganlah kita melupai tanggungjawab sebagaimana yang sepatutnya ditunaikan.

    8. Tidak mengimani apa yang ada dalam Al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya. Kita perlu mengimani perkara-perkara yang dibawa oleh Al-Quran. Antara perkara yang perlu diimani adalah hukuman-hukuman jenayah yang telah diperuntukkan secara nas dalam Al-Quran. Umat Islam perlu mendabik dada dan berani berkata “Undang-undang Islam pasti akan menyelesaikan segala masalah di dunia” dan semua perlu meyakininya. Jika undang-undang ditegakkan namun, kemaksiatan masih berleluasa, maka, itu bukan menunjukkan undang-undang Islam tidak berupaya menyelesaikan masalah, tetapi, ia menunjukkan bahawa ada lagi bahagian-bahagian di dalam Islam yang tidak diletakkan pada tempatnya. Islam itu ibarat sebuah mesin. Ia saling memerlukan, barulah ia mampu memberikan kebaikan yang diinginkan. Tidaklah sebuah kereta boleh bergerak jika ia hanya mempunyai tayar, tetapi enjin tidak dihidupkan. Justeru, perlulah seluruh komponen Islam dihidupkan untuk memastikan negara aman dan damai. Namun, janganlah berputus asa jika kita tidak mampu untuk menghidupkan semua sekali pada satu-satu masa, setelah kita berusaha sedaya upaya. Islam itu ibarat ubat (vitamin), ia tetap mendatangkan kebaikan kepada badan, walaupun keputusannya bukanlah seperti yang diharapkan. Ini bukannya satu seruan supaya mengamalkan Islam secara tidak menyeluruh, sebaliknya ini adalah galakan kepada orang-orang yang sudah berusaha sedaya upaya menegakkan Islam secara kaffah (namun tidak mampu), supaya tidak berputus asa mengaplikasikan Islam ke dalam hidup mereka.

    9. Tidak meyakini kewujudan hari kiamat. Meyakini kewujudan hari kiamat merupakan satu ciri besar yang perlu ada di dalam diri manusia. Jika kita melupakan perkara ini, kita akan senang melakukan apa sahaja kerana tiada yang akan mengadili kita pada hari kiamat. Oleh itu, selalulah mengingati hakikat hari kiamat.

    10. Melakukan sesuatu yang menyebabkan diri tergolong dalam golongan yang tidak mendapat petunjuk dan tidak beruntung.

    Semoga kita mampu berusaha memastikan keberjayaan kita di dunia dan akhirat. Amin.

     

    [Perkongsian dari http://sebarislam.blogspot.com/2013/03/sifat-sifat-yang-perlu-dijauhi.html]

    9 December 2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | Leave a comment

    Peringatan Kepada Golongan Pencaci Dan Pembuat Fitnah

    Sedikit tazkirah ataupun peringatan kepada masyarakat Islam di zaman yang kita hidup; di saat kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah dan pancaroba ini. Kita lihat hari ini, tersebarnya fitnah yang begitu dasyat di kalangan kita. Ada orang yang menyebarkan tulisan-tulisan, membuat tuduhan kepada orang (secara) sembarangan. Ada orang yang menyebarkan melalui alat-alat media, melalui youtube, video, dalam TV, dalam radio. Kita kena ingat, bahawa jiwa seorang Muslim, seorang yang beriman kepada Allah swt itu, bukanlah jiwa yang dibiarkan begitu sahaja. (Jiwa orang Muslim itu adalah) jiwa yang mempunyai harga yang begitu mahal.

    Darah kamu, harta kamu, kehormatan kamu, haram atas diri kamu. Hari ini kita lihat, kehormatan diri manusia telah menjadi mainan, (hanya) kerana perbezaan ideologi, perbezaan pandangan, samada pandangan politik, pandangan pemikiran mazhab, pandangan yang tidak serupa dengan kita sahajalah senang, terus akan dijatuhkan hukuman yang begitu dasyat. Bahkan sanggup mengatakan seseorang ini ahli neraka, orang ini ahli sesat, yang begitu mudah sekali kita lemparkan tuduhan-tuduhan. Kadang-kadang yang menjadi mangsa ini, bukan orang-orang yang biasa. Samada orang politik sesama mereka, itu kita anggap orang biasa. Tapi, tuduhan ini dilemparkan ke atas para pendakwah, bahkan orang yang boleh dianggap sebagai alim ulama’, orang yang wara’ (yang) kita lihat pada zahirnya, (kita) tuduh bermacam-macam, (kemudian tuduhan ini) disebar melalui video, melalui internet. Gambar-gambar yang telah diedit, (di)masuk(kan ke dalam internet).

    Kamu kena ingat, Allah swt telah menyebut dalam Al-Quran Al-Karim dalam surah An-Nur ayat 15:

    (Maksudnya: Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.)

    Ingatlah, ketika kamu menerima berita itu dari mulut ke mulut, kita dengar berita orang buat, kita tengok dalam youtube, orang ini jahat, scandal – tidak kira, skandal seks ke, skandal balak ke, skandal apa benda lah – ataupun pendakwah ini dituduh membawa ajaran sesat contohnya, kerana perkara-perkara yang tertentu, وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم kamu juga kata dengan lidah kamu, dengan mulut kamu. Samada mulut kita yang kita bercakap ataupun tangan yang kita tulis tulisan kita. مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٌ۬ Sedangkan kamu tidak mempunyai ilmu, maklumat yang tepat tentang peristiwa yang ada itu, وَتَحۡسَبُونَهُ ۥ هَيِّنً۬ا kamu ingat main-main sahaja, suka-suka sahaja. Like dalam facebook, gelak-gelak, suka-suka sahaja, buat ceramah masuk kampung dan bandar mencerca orang (dan) sebagainya, وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ۬ perbuatan ini merupakan perbuatan yang sangat besar di sisi Allah azza wa jalla.

    Nabi saw dalam hadis yang panjang, tentang yang menyebut tentang peristiwa muflis,

     (Maksudnya: Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud: “Tahukah kamu siapakah orang yang muflis?” Sahabat-sahabat Baginda menjawab: “Orang yang muflis di antara kami ya Rasulullah ialah orang yang tidak mempunyai wang dinar dan dirham (ringgit) dan tiada harta benda.” Nabi s.a.w seterusnya bersabda: “Sebenarnya orang yang muflis daripada kalangan umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat membawa solat, puasa dan zakat, sedangkan datangnya itu dengan kesalahan memaki hamun orang, dan menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu dan juga memukul orang; maka akan diambil daripada amalan kebajikannya serta diberi kepada orang ini dan orang itu. Kemudian apabila habis amalan kebajikannya sebelum habis dibayar kesalahan-kesalahan yang ditanggungnya, akan diambil pula daripada kesalahan-kesalahan orang yang dianiaya serta ditimpakan ke atasnya. Kemudian, ia dihumban ke dalam neraka.”)

    Nabi saw (ber)kata di antara sahabat, “Siapa di antara kamu orang muflis?” أتدرون من المفلس Nabi kata, “Kamu tahu apa itu muflis?” Sahabat kata “Muflis ini orang yang tiada harta, yang hutang banyak, duit untuk bayar takde, itu muflis”. Nabi kata, إن المفلس من أمتي orang muflis dalam kalangan umat aku ini يأتي يوم القيامة mereka datang pada hari kiamat bawa amalan dia, solat ada, puasa ada, zakat ada, tapi, mulut dia juga telah maki orang perli orang telah ambil harta orang telah memukul orang, apa jadi (kepada orang sebegini)? Maka akan diambil kebajikannya diberi kepada orang yang difitnahnya tadi, orang yang dia zalim tadi. Kalau habis pahala orang tadi, akan diambil dosa dan dicampak ke atas kepala. ثم طرح في النار kemudian akan dicampak ke dalam neraka.

    Ini pesanan oleh Nabi yang begitu besar kepada kita. Kerana itulah, saya memberi peringatan, (dan saya memberi) tazkirah ini kepada semua muslimin dan muslimat. Tidak kira apa jenis kita ini, blogger ke, baru-baru nak belajar menulis ke, ahli-ahli facebook ke, wartawan ke, pembaca berita tak kira tv apa, semua kamu ingat, apa yang kamu kata, apa yang kamu tulis, kamu ingat main-main, “saya cuma baca skrip”, وَتَحۡسَبُونَهُ ۥ هَيِّنً۬ا kamu ingat benda itu main-main, وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ۬ tapi, ia besar di sisi Allah.

    Kamu nak jadi orang muflis di akhirat? Dengan permainan-permainan alat-alat moden yang ada hari ini, duk reka cerita, ambil gambar orang, potong sana potong sini, akhir sekali keluar fitnah.

    Kamu ingat orang (yang) kena fitnah ini boleh tidur malam? Kamu ingat orang (yang) kena fitnah berdiam diri begitu sahaja? لا (tidak)

    Orang (yang kena) fitnah, orang yang kena zalim, doa orang yang kena zalim ini mustajab.

    Allah swt sebut لأنصرنّك ولو بعد حين (ertinya) “Aku akan memberi pertolongan, walaupun selepas beberapa ketika”. Hari ini kita lihat, tidak kira orang hidup ataupun orang mati, semua tak selamat. Orang mati pun tidak selamat. Apabila ada tokoh ulama mati, semua orang mengeluarkan kenyataan, statement yang begitu dasyat. Tulis macam-macam kepada orang ini.

    Kita kena ingat, kita boleh keluarkan pandangan mereka yang bercanggah daripada kebenaran tapi jangan mencerca mereka.

    Dalam hadis Nabi saw berkata, لا تسبوا الأموات (ertinya) jangan kamu maki orang yang telah mati, فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا (ertinya) mereka telah pergi bawa apa yang mereka bawa. (Hadis riwayat Bukhari daripada Aisyah)

    Kalau dia bawa yang tak baik, dia berjumpalah dengan malaikat dalam kubur. Tak payah kamu yang jatuh hukum, biarkan mereka dengan amalan mereka. Kita tak payah jadi hakim, biarlah Allah azza wa jalla.

    Banyak hadis-hadis nabi yang mengarahkan kepada kita supaya jaga lidah. Nabi kita sendiri saw kata,

    (“إن اللعانين لا يكونون شفعاء ولا شهداء يوم القيامة” Dikeluarkan oleh Imam Muslim.)

    إن اللعانين orang yang suka melaknat orang, mencelaka orang لا يكونون شفعاء ولا شهداء يوم القيامة orang ini tidak boleh jadi saksi dan tidak boleh bagi syafaat pada hari kiamat.

    Dan hadis lain lagi, Nabi saw berkata, ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذيء orang mukmin bukan suka membuat tuduhan kepada orang.

    Hari ini, kita tengok penceramah-penceramah, masuk kampung-kampung dengan serban mereka, membuat tuduhan, maki orang, pagi sampai gelap, sekali-sekali boleh masuk dalam TV, buat cercaan kepada orang, subhanallahil ‘azim. Kita boleh berbeza pandangan, kadang-kadang tuduhan yang dia tuduh bukan tuduhan yang besar. Benda yang masih dalam skop yang boleh berikhtilaf dalam kalangan ulama. Ulama-ulama besar boleh ikhtilaf dalam masalah ini, tapi, kita ulama kecil, kadang-kadang tidak ulama pun, tapi orang angkat sebagai ulama sebab boleh digunakan orang ini, maka kita bercakap lebih daripada para ulama. Mujtahidun pun tidak bercakap lebih daripada itu.

    Nabi kata (seperti hadis di atas), (adalah) bukan mukmin orang yang الطعان (iaitu) orang yang suka membuat tuduhan, ولا اللعان bukan juga orang yang suka melaknat orang, ولا الفاحش orang yang suka bercakap keji, cakap kotor, apa lagi hari ini duduk menyebarkan kekotoran, tunjuk video lucah sana-sini, tulis dalam surat khabar, sampai budak-budak pun pening, dia kata, “Apa cerita orang Malaysia ini?” Itu fitnah yang berlaku. Itu hadis At-Tirmidzi, ولا البذيء orang bercakap yang tidak baik.

    Dalam hadis lain, Nabi saw berkata,

    لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم سباباً ولا فحّاشاً ولا لعّاناً

    Nabi sendiri bukanlah seorang yang suka melaknat, bukan orang yang suka memaki, mencerca orang, tidak (Nabi bukan begitu).

    Jadi, kita belajarlah, banyak hadis yang mengatakan; dalam hadis Abu Daud mengatakan,

    يا معشر المسلمين wahai orang beriman, ataupun dalam riwayat (lain) يا معشر من آمن بلسانه wahai orang beriman dengan lidah dia, tapi tidak masuk dalam hati dia. (يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ)

    لا تتبعوا عورات المسلمين jangan sekali-kali mencari keaiban orang. Sesiapa yang suka mencari keaiban orang, duk memburukkan orang, duk menjatuhkan orang, يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ Allah akan mendedahkan keaibannya walau dalam rumahnya sendiri.

    Kita tengok hari ini macam mana, orang yang buat perbuatan-perbuatan seperti ini. Cuba kembali kepada sejarah. Kita lihat. Bila dia duduk sebelah ini, dia duduk kafirkan orang sebelah sini. Orang itu kafir, murtad, pergi ke jirat, hari ini dia duduk sebelah ini, dia kafirkan orang sebelah ini pula. Orang ini, mulut dia, kalau tak sebut kafir, tidak boleh duduk, boleh jadi tidak boleh makan puak-puak ini. Kita pula duk angkat, “Inilah tokoh pejuang, tokoh (lain-lain)” pejuang apa? Pejuang maki orang? Pejuang kutuk orang? Ini bukan pejuang, ini peruntuh agama. Duduk di mana-mana pun ghuluw. Nabi kata إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ, (lafaz penuh adalah إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ؛ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ) “Aku beri peringatan kepada kamu, jangan melampau dalam agama. Binasanya orang dulu-dulu, kerana melampau dalam agama.” kononnya nak membela Islam, tapi, kita meruntuhkan Islam dengan adab kita, dengan akhlak kita, dengan sikap kita.

    Hari ini hendak mendakwa kalimah Allah swt, kononnya orang yang menyokong kalimah Allah swt ini kafir harbi, kafir harbi. Apakah kalimah Allah swt yang kamu hendak sokong? Sekadar tulisan? Kalau hendak sokong sungguh, ini perjuangan Islam.

    من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله

    Nabi kata, sesiapa yang berjuang menegakkan kalimah Allah, untuk meninggikan agama Allah, فهو في سبيل الله inilah barulah orang (yang bersikap) pejuang. Kalau setakat tulisan, itu bukan pejuang namanya. Dengan adab-adab dan akhlak yang kamu tunjuk, ini bukan pejuang kalimah, tapi orang yang nak meruntuhkan agama, sebenarnya. (Hadis sahih Muslim)

    Maka, berhati-hatilah. Mana-mana golongan yang melampau, melampau dalam membuat tuduhan kepada orang, samada mengkafirkan orang, menyesatkan orang, mengata itu mengata ini, semua ini kita perhatikan, tengok gelagat mereka, tengok tingkah laku mereka, apa perjuangan yang dia hendak sebenarnya.

    Tidak kira, pejuang Melayu, pejuang Arab, sama sahaja. Nabi saw kata Nabi kita larang daripada perjuangan bangsa, Nabi sebut دعوها فإنها منتنة orang ini dikira orang yang busuk, orang yang menyeru kepada perkauman. (Hadis riwayat Bukhari)

    Jadi, alhamdulillah, dalam Islam, banyak adab yang mengajar kepada kita. Yang pertama, jaga lidah. ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد Tidak ada satu lafaz, tidak ada perkataan yang kita tulis, tidak ada tuduhan yang dibuat, semuanya ada rakib atid, ada malaikat yang menulis amalan dan semuanya akan dikira di hadapan Allah azza wa jalla. (Surah Qaf ayat 18)

    Pernah seorang datang menemui syeikh Abdullah ibnu Al-Mubarak. Dia duduk (men)cerca seseorang di hadapan Syeikh Ibnu Al-Mubarak. Syeikh (Ibnu Al-Mubarak) itu pun (ber)kata, “Hei saudara, kamu pernah pergi berperang melawan Rom?” Lelaki ini kata “Tidak”. (Syeikh Ibnu Al-Mubarak kata), “kamu pernah pergi berperang melawan Parsi?” Dia kata “Tidak”. Syeikh Ibnu Al-Mubarak kata, “Subhanallah, orang kafir (iaitu) Rom dan Parsi selamat daripada kamu, tapi saudara kamu orang Islam tidak selamat daripada kamu.”

    Hati-hatilah kita para jemaah, daripada menjadi orang yang tidak selamat (seperti yang disebut dalam hadis) المسلم من سلم الناس من لسانه ويده. (Maksudnya:) Orang Islam itu, (adalah) orang yang orang Islam lain selamat daripada lisannya dan tangannya. (Petikan hadis riwayat Ahmad, disahihkan oleh Syeikh Arnaut) Kalau kita menjadi orang Islam yang mencerca, memaki orang, maka kita belum lagi benar-benar seorang Islam.

    Semoga tazkirah saya ini, memberi kesedaran kepada diri saya sendiri, supaya bersikap adil dalam menangani masalah dalam umat ini. Dan para pendengar bersikap adillah kita dalam membuat penilaian. Jangan melampau dalam perkara ini, kerana binasa umat dahulu kerana melampau, dan binasa umat ini juga kerana melampau. Janganlah kita mendedahkan keaiban orang , janganlah sampai Allah mendedahkan keaiban kita walaupun dalam rumahnya.

    [ Di petik dari syarah Ustaz Dr Abdul Basit Abdul Rahman -http://www.youtube.com/watch?v=Gz70T-V_r2U]

    Assalamualaikum wbth.

    Perkongsian dari Sebar IslamBlogspot

    6 December 2013 Posted by | Ibadah, Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

    Kenderaan ke Alam Barzakh

    Kenderaan kealam barzakh

    2 December 2013 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

    Rezeki di tangan Tuhan

    Rezeki jaminan AllahPada tahun 218H, puak Muktazilah berjaya menghasut khalifah al Makmun untuk memaksa semua ulama mengakui al Quran adalah makhluk dan bukan firman Allah seperti pegangan semua ulama semenjak zaman salaf.

    Imam Tajuddin al Subki bercerita: “Ulama pertama yang diuji dalam fitnah ini ialah “Affan bin Muslim, seorang ahli hadis di Basrah.Beliau menolak paksaan itu dengan tegas.Akibatnya khalifah menghentikan elaun sara hidup bulanan berupa wang seribu dinar yang biasa  diberi kepadanya.

    “Affan bin Muslim tetap teguh dengan pendiriannya meskipun beliau mempunyai tanggungan ahli keluarga yang ramai.Beliau berkata dengan yakin:”Rezeki kita datang dari Allah!”

    Pada malamnya seorang mengetuk pintu rumah “Affan.Orang itu memberi seribu dinar dan berkata:”Aku akan memberimu seribu dinar setiap bulan.Semoga Allah meneguhkan dirimu sebagaimana engkau meneguhkan agama ini.”

    [Sumber: Majallah al Ustaz Bil 14 petikan Kitab Tabaqat al-Syafiiyyah al Kubra].

    13 November 2013 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

    Celakalah Umar Al Khatab

    Umar al Khatab

    Suatu hari Saiyidina Umar bin Al Khatab dalam perjalanannya pulang dari Syam ke Madinah.Khalifah yang sangat terkenal ini baru sahaja memeterai perjanjian dengan pihak kristian di Baitulmaqadis.

    Ketika melintasi padang pasir,Umar melihat sebuah khemah kediaman seorang wanita tua dan miskin.Umar memberi salam kepadanya.

    Setelah menjawab salamnya wanita tua yang tidak mengenali Saiyidina Umar ini bertanya:

    “Wahai pemuda, apa khabar Umar bin al Khatab?”

    Umar menjawab: “Dia sedang dalam perjalanan pulang dari Syam ke Madinah.”

    “Semoga Allah tidak memberikan kebaikan kepadanya.” Doa wanita itu.

    Umar sangat terkejut.Beliau bertanya: “Mengapa kamu berdoa seperti itu?”

    Ia menjawab:”Sejak Umar memimpin, aku belum pernah menerima bantuan daripadanya .”

    Umar berkata lagi:” Mungkin kerana Umar tidak tahu tempat tinggalmu yang terpencil di tengah padang pasir ini.”

    Wanita itu berkata:”Subhanallah.Aku tidak pernah menyangka sesorang menjadi pemimpin suatu negara, namun tidak mengetahui tentang semua rakyatnya.”

    Umar menangis dan meratap, “Aduhai celaka Umar.Apa yang akan engkau katakan untuk menjawab ucapan wanita ini di akhirat nanti?”.

    [Sumber: Majalah al Ustaz Bil 14 dari Kitab Al Muntazam]

    PENGAJARAN:

    KEPIMIPINAN BUKAN KELEBIHAN TETAPI AMANAH.PEMIMPIN WAJIB MENJAGA KESEJAHTERAAN SETIAP ORANG DARIPADA RAKYATNYA TANPA TERKECUALI.SETIAP HAK YANG DIZALIMI AKAN DIPERSOALKAN DIAKHIRAT NANTI.

    13 November 2013 Posted by | Bersama Tokoh, Renungan & Teladan, Tazkirah | , | Leave a comment

    Bersikap lah dengan sewajarnya

    BERSIKAPLAH DENGAN SEWAJARNYA.
    BERLAKU JUJUR dan ADIL LAH KEPADA DIRI SENDIRI dan ORANG LAIN.

    MANUSIA yang paling sengsara adalah mereka yang menjalankan kehidupan ini dengan hanya mengikuti hawa nafsu dan menuruti setiap dorongan emosi serta keinginan hatinya.Pada keadaan yang demikian itu, manusia akan merasa setiap peristiwa yang berlaku di sekelilingnya menjadi sedemikian berat dan sangat membebani,seluruh sudut kehidupan ini menjadi semakin GELISAH,GELAP GELITA, dan KEBENCIAN,KEDENGKIAN,serta DENDAM KESUMAT pun mudah bergolak didalam hatinya.

    Dan akibatnya,semua itu membuat seseorang itu hidup dalam dunia khayalan dan ilusi.Ia akan memandang setiap hal didunia ini musuhnya.Ia menjadi mudah curiga dan merasa setiap orang disekelilingnya sedang berusaha menyingkirkan dirinya.Dan ia akan sentiasa di bayangi rasa was was dan bimbang bahawa dunia ini setiap saat akan merenggut kebahagiannya.

    Demikianlah betapa malangnya orang seperti itu sentiasa hidup dibawah naungan awan hitam KECEMASAN,KEGELISAHAN,dan KEGUNDAHAN.

    Sumber: Kitab La Tahzan

    3 October 2013 Posted by | Renungan & Teladan, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

    Kelebihan berselawat keatas Nabi Muhammad S.A.W

    Sudah kah anda Berselawat hari inijpg

    Makna perkataan: “Selawat”. Perkataan selawat berasal daripada perkataan solat yang bererti doa atau pujian.

    Selawat Allah SWT ialah pujian-Nya di sisi para malaikat. Selawat malaikat ialah doa memohon tambahan gandaan pahala. Dan selawat orang mukmin ialah berdoa memohon supaya Allah SWT melimpahkan rahmat, menambahkan kemuliaan, kehormatan dan kepujian kepada penghulu kita Nabi Muhammad SAW.

    Makna selawat dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemulian dan keberkatan daripada-Nya. [Lihat kitab “Zadul Masir”, 6/398].

    Ada juga yang mengatakan ia bererti taufik daripada Allah Ta’ala untuk mengeluarkan hamba-Nya daripada kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya:

    “Dialah yang berselawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan keampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu daripada kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”. (Surah al-Ahzab: ayat 43).

    Hukum berselawat

    Para ulama’ telah sepakat menetapkan hukum berselawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah wajib pada keseluruhannya, tetapi mereka tidak sepakat (ijma’) tentang bilakah masa wajib berselawat dan berapakah bilangannya. Antaranya:
    1.  Wajib berselawat dalam masa mengerjakan solat.
    2.  Membaca Tasyahud (tahiyyat).
    3.  Membaca Tasyahud kedua/tahiyyat akhir.
    4. Setiap kali menyebut, mendengar atau menulis nama Nabi Muhammad SAW, ganti namanya atau pangkat kerasulan dan kenabian Baginda SAW.

    Arahan Membaca Selawat

    Dalam semua perintah mengerjakan ibadat, Allah SWT menyuruh hamba-Nya beribadat. Sebagaimana dalam firman-Nya di atas tadi, Allah sendiri memulakan selawat ke atas Nabi, diikuti malaikat kemudian dianjurkan kepada Muslimin mengamalkannya. Hal ini bermakna membaca selawat itu sangat utama.

    Kelebihan Selawat

    Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesiapa yang mengucapkan selawat kepadaku satu kali, maka Allah akan berselawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh darjat/tingkatan (di syurga kelak).” [HR An-Nasa’i No. 1297, Ahmad, sahih.]

    Hadis yang agung ini menunjukkan keutamaan berselawat kepada Nabi SAW dan anjuran memperbanyakkan selawat tersebut.

    Banyak berselawat kepada Rasulullah SAW merupakan tanda cinta seorang muslim kepada Baginda SAW, kerana para ulama’ mengatakan: “Sesiapa yang mencintai sesuatu maka dia akan sering menyebutnya”.

    Selawat Paling Afdhal

    Membaca selawat untuk Nabi SAW adalah ibadat yang agung dan merupakan salah satu tanda kecintaan kepada Nabi SAW sekaligus menjadi faktor utama untuk mencapai syafaat Nabi SAW di hari Kiamat kelak. Perintah kepada umat Islam untuk membaca selawat untuk Nabi SAW datang setelah Allah Ta’ala memberitahu bahawa Dia berselawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana firman-Nya:

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi (Muhammad SAW). Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan.” (Surah al-Ahzab: ayat 56).

    Ayat di atas tidak menjelaskan satu bentuk nas selawat tertentu untuk dibaca apabila seorang Muslim hendak membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW.

    Namun demikian, terdapat beberapa riwayat yang menukilkan bahawa beberapa orang sahabat Nabi saw telah bertanya Rasulullah SAW cara atau kaifiyat untuk berselawat ke atas Baginda SAW, maka diajarnya kepada mereka.

    Antaranya ialah riwayat dalam Sahih al-Bukhari no. 2497 daripada Ka’ab bin ‘Ujrah RA. Sahabat yang mulia ini menceritakan bahawa para sahabat pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang bagaimana cara berselawat kepada beliau.

    Baginda menjawab dengan mengatakan: “Katakanlah: (*rujuk laman web asal)

    Inilah antara kaifiyat berselawat yang diajarkan Nabi SAW kepada para sahabat RA sebagai jawaban kepada pertanyaan mereka mengenai cara berselawat untuk Baginda. Maka adalah logik untuk dikatakan lafaz ini sebagai lafaz paling afdhal dalam berselawat.

    Al-Imam Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

    “Yang disampaikan oleh Nabi SAW kepada para Sahabat RA tentang kaifiyah (dalam membaca selawat) ini setelah mereka menanyakannya, menjadi petunjuk bahawa itu adalah nas selawat yang paling utama kerana Baginda SAW tidaklah memilih bagi dirinya kecuali yang paling mulia dan paling sempurna.” [Fathul Bari: 11/66].

    Menurut Kitab Mestika Hadis 1/259: “Dan yang seafdhal-afdhalnya ialah selawat yang biasa dibaca selepas tasyahud akhir setiap solat. Hal ini kerana para ulama telah menetapkan bahawa sesiapa yang bersumpah atau bernazar hendak berselawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan seafdhal-afdhal selawat, tidak dihukum terlepas daripada wajib menepati sumpah atau nazarnya itu melainkan dengan membaca selawat itu.”

    Maka adalah lebih baik apabila lafaz selawat ini yang diamalkan dalam membaca selawat untuk Nabi SAW, bukan lafaz-lafaz selawat susunan seseorang, meskipun bukan larangan untuk menyusun bentuk teks selawat sendiri. Selawat-selawat selain yang diajarkan oleh Nabi SAW kadang-kadang tidak terlepas daripada kekeliruan, baik dalam pemilihan bahasa, mahupun –dan ini yang paling parah– kesalahan dalam akidah.

    Lafaz Selawat yang sahih

    Lafaz bacaan selawat yang paling ringkas yang sesuai dengan dalil-dalil yang sahih adalah:

    Dari hadis: [An-Nasae’i: 1292, sahih] (*Lihat web asal)

    Ya Tuhan kami, selawatkanlah ke atas Nabi Muhammad dan ke atas keluarganya.

    Kemudian terdapat riwayat-riwayat yang sahih dalam lapan riwayat, iaitu:

    1.   Dari Ka’ab bin ‘Ujrah RA:
    “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah berselawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya Allah, Berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR Bukhari dan Muslim]

    2. Dari Abu Humaid As Saa’diy RA:
    “Ya Allah,berilah selawat kepada Muhammad dan kepada isteri-isteri beliau dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah berselawat kepada keluarga Ibrahim. Ya Allah, berkatilah Muhammad dan isteri-isteri beliau dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR Bukhari dan Muslim].

    3.   Dari Abi Mas’ud Al-Ansori RA:
    “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah berselawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim atas sekalian alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR Muslim]

    4. Dari Abi Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Ansori RA (jalan kedua):
    “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad nabi yang ummi dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan berkatilah Muhammad, nabi yang ummi sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR Abu Daud no. 981, sahih]

    5. Dari Abi Sa’id Al-Khudri RA:
    “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu, sebagaimana Engkau telah berselawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim.” [HR Bukhari]

    6. Dari seorang lelaki, sahabat Nabi SAW:
    “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad dan kepada ahli baitnya (keluarganya) dan isteri-isterinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah berselawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Dan berkatilah Muhammad dan kepada ahli baitnya dan isteri-isterinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR Ahmad, sahih].

    7. Dari Abu Hurairah RA:
    “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah berselawat dan memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR At-Tohawi dalam "Musykil al-Athar" 3/75, An Nasa-i dalam "Amalul Yaum wal Lailah" no 47. Sahih]

    8. Dari Tolhah bin ‘Ubaidullah RA:
    “Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah berselawat kepada Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah telah memberkati keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR Imam Ahmad, sahih].

    Waktu Afdhal Berselawat

    •Ketika mendengar orang menyebut nama Nabi SAW.
    •Sesudah menjawab azan dan sebelum membaca doa azan.
    •Selesai berwuduk, sebelum membaca doa.
    •Pada permulaan, pertengahan dan penutup doa.
    •Di akhir qunut dalam solat.
    •Di dalam solat jenazah.
    •Ketika masuk dan keluar dari masjid.
    •Setiap waktu pagi dan petang.
    •Hari Khamis malam Jumaat.
    •Sepanjang hari Jumaat.
    •Ketika berada di mana-mana tempat perhimpunan orang ramai.

    Demikianlah perbincangan ringkas tentang lafaz selawat ke atas Nabi Muhammad SAW yang dapat dikumpulkan, berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih. Sebagai panduan untuk beramal dengan Sunnah dan selawat yang mempunyai kekuatan sanad yang benar dan sahih daripada Nabi SAW.

    (Sumber: http://www.abuanasmadani.com)

    20 September 2013 Posted by | Ibadah, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

    Kasih Sayang Ku Mengatasi Kemurkaan Ku

    Murka Allah adalah suatu sifat Alah yang kita tidak akan dapat melarikan diri daripadanya kecuali bagi orang yang telah benar-benar dapat membersihkan hatinya. Di dalam Al Quran, murka atau marah Allah disebutkan sebagai  Zuntiqam yang bermaksud  Pembalas segala kejahatan dengan azab seksa.  Juga disebutkan sebagai Syadiidul ‘Iqab yang membawa maksud amat pedih seksaan-Nya.

    Di dalam Al Quran telah berulang-ulang diingatkan akan sifat murka Allah SWT ini.  Antaranya:Mahukah kamu Aku tunjukkan tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya daripada (orang-orang fasiq) itu di sisi Allah, iaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi iaitu orang-orang yang menyembah berhala. Merekalah orang yang paling buruk kedudukannya, paling sesat dari jalan yang lurus.” – Al Maidah : 60

    “Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahanam.”- Al Fath : 6

    Sifat marah atau murka Allah tidak tergolong di dalam salah satu daripada Asmaul Husna-Nya seperti sifat-sifat Ar Rahman, As Syabur, Al Ghafur, Al Wali dll. Sifat-sifat Pengasih, Penyabar, Pemaaf, Pemelihara itu adalah sifat-sifat yang sentiasa, tetap dan kekal adanya pada Zat Allah sehingga dijadikanlah nama-nama indah bagi-Nya. Sedangkan sifat murka atau marah Allah bukan satu suatu sifat yang tetap bagi-Nya.

    Maknanya, Allah bersifat murka atau marah hanya pada waktu-waktu atau pada tempoh-tempoh yang tertentu. Allah akan murka dan marah hanya apabila hambaNya melakukan kejahatan dan dosa. Bila hamba yang berbuat kejahatan itu sedar kembali lantas bertaubat, akan segera hilang marah dan murka Allah. Allah terus memaafkan dan kembali melahirkan kasih sayang-Nya kepada si hamba tadi.

    Tetapi lain pula keadaannya terhadap orang-orang kafir. Murka Allah kepada mereka akan kekal selama mana mereka mengekalkan dosa mensyirikkan Allah. Namun akan hilang juga murka Allah kepada mereka yang bertaubat dan kembali meng-Esakan Tuhan dengan menganut agama Islam.

    Sepertilah seorang ibu yang begitu sayang kepada anaknya. Apa saja permintaan si anak, ibu akan berusaha memenuhi kehendaknya. Cuma kadangkala apabila anaknya berbuat kesalahan atau kejahatan, akan timbul rasa marah, kecil hati dan tidak suka pada tingkah laku anaknya. Tetapi apabila si anak meminta maaf serta mengubah kelakuannya pasti ibu akan segera memaafkan. Si ibu akan kembali melahirkan kasih dan sayang terhadap anaknya.

    Kemarahan si ibu hanya sekali sekala iaitu apabila anaknya melakukan kesalahan. Kemarahan tersebut bukanlah suatu sifat yang tetap dan sentiasa ada tetapi datangnya sesekali.

    Begitulah hakikatnya murka Allah sebenarnya adalah diselaputi Rahmat ( Kasih Sayang) Tuhan yang Maha Perkasa. Ada rahmat dan hikmah yang tersembunyi di sebalik setiap bencana yang menimpa akibat kemurkaan Allah.

    Murka Allah bukanlah sengaja di ada-adakan, tetapi ada sebab-sebabnya. Sekiranya kita tergolong di kalangan orang yang sentiasa mengingati Allah sewaktu ditimpa kesusahan, kegelisahan dan bala, pasti kita akan dapat rasakan belaian kasih sayang Allah yang tersembunyi di sebalik setiap kesusahan yang menimpa kita. Hanya orang-orang yang tidak pernah pedulikan Allah sahaja yang merasakan ujian dan bala yang menimpa itu adalah untuk menyusahkan dan menyiksa diri mereka.

    Begitu baiknya Allah terhadap makhluk-Nya. Marah Allah adalah kerana sayang bukan kerana benci. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah setelah menciptakan makhluk, Dia tulis suatu tulisan di samping-Nya di ‘ Arasy:  Kasih SayangKu mengatasi kemurkaanKu.”

    Sumber: Usaha Taqwa

    11 September 2013 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , | Leave a comment

    Mukjizat

    Mukjizat ialah hal-hal atau kejadian-kejadian yang berlaku yang Allah kurniakan pada rasul-rasul atau nabi-nabi yang menyalahi adat kebiasaan - khawariqul ‘adah (atau ia berlaku di luar logik akal). Tujuannya untuk kemuliaan dan kebenaran di pihak para rasul dan nabi dan juga untuk melemahkan musuh-musuhnya.

    Mukjizat itu terbahagi kepada dua bentuk iaitu:

    1. Mukjizat lahir

    2. Mukjizat batin (maknawiah)

    MUKJIZAT LAHIR

    Ia adalah perkara yang mencarik adat yang berlaku pada seseorang rasul dan nabi, yang dapat dilihat dengan mata lahir. Antara contohnya, tongkat dicampak bertukar menjadi ular, manusia atau binatang mati dihidupkan, penyakit kusta dan sopak dapat disembuhkan, mata buta dapat dicelikkan, air yang sedikit dapat diminum oleh ratusan orang, dibakar tidak hangus, tongkat dipukul ke batu menghasilkan pancutan air, bulan terbelah dua, tongkat dapat membelah lautan dan sebagainya.

    MUKJIZAT BATIN (MAKNAWIAH)

    Mukjizat ini hanya pada makna sahaja, tidak pada rupa. Terasa adanya dan boleh dinilai oleh mata hati (basyirah) sahaja. Tidak dapat dilihat oleh mata lahir. Antara contohnya ialah wahyu-wahyu yang disampaikan kepada rasul dan nabi yang mengandungi bermacam-macam ilmu pengetahuan dan hukum-hakam tanpa mereka belajar seperti manusia biasa. Umpamanya Al Quran, Injil, Taurat, Zabur dan Suhuf-Suhuf, ianya tidak dapat dilihat dengan mata kepala kecuali setelah ditulis.

    Mukjizat batiniah yang lain ialah:

    .             dapat tundukkan nafsu tanpa mujahadah

    .             Allah kurniakan bersih dari dosa dan kesalahan

    .             hati tidak terpaut dengan dunia dan kelazatan serta keindahannya

    .             mendapat ilmu dan tarbiah terus dari Allah atau mendapat wahyu

    .             manusia jatuh hati dan cinta luar biasa padanya

    .             musuh merasa gerun dengan kehebatannya

    .             sangat sabar dengan ujian-ujian dari kaumnya

    .             azamnya terlalu kuat, hati terlalu teguh, cintanya dengan Allah terlalu tinggi dan lain-lain lagi.

    Mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada nabi dan rasul bukan diberi mengikut kehendak para rasul dan nabi itu sendiri. Tetapi dicatu sesuai dengan hal semasa dan keperluan seseorang nabi dan rasul itu. Dan ia tidak boleh dipelajari tetapi hadiah atau mauhibbah atau wahbiah dari Allah. Dalam sejarah rasul-rasul dan nabi-nabi, mukjizat-mukjizat yang pernah diberikan kepada mereka tidak sama di antara satu sama lain. Kebiasaannya mereka diberi mukjizat di kedua-dua peringkat. Kalau dia seorang nabi; ertinya dia bukan seorang pemimpin yakni bukan untuk masyarakat; maka Allah berikan mukjizat yang sesuai dengan wataknya sebagai seorang abid. Mungkin mukjizat lahir atau batin yang diberikan itu sesuai dengan keperluannya sebagai abid.

    Tetapi pada seorang Rasul yang dia adalah pemimpin umatnya, maka Allah kurniakan mukjizat lahir dan batin (maknawiah), sesuai dengan keperluannya berdepan dengan umat yang dipimpinnya. Rasul-rasul yang paling banyak mendapat mukjizat ialah rasul-rasul yang mendapat pangkat Ulul Azmi kerana mereka ini paling tahan, paling sabar berhadapan dengan ujian-ujian berat daripada kerenah kaumnya. Pemberian mukjizat pada nabi-nabi dan rasul-rasul ini tidak sama kerana keperluan mereka juga berbeza antara satu sama lain. Adakalanya mereka tidak boleh ikut-mengikut di antara satu sama lain.

    Mukjizat Nabi Musa a.s. tidak sama dengan mukjizat Nabi Khaidir a.s. Padahal Nabi Musa a.s. itu lebih besar darjat dan keutamaannya dari Nabi Khaidir a.s. Nabi Musa salah seorang Ulul Azmi sedangkan Nabi Khaidir a.s. hanya nabi, bukan rasul. Bahkan sesetengah ulama masih mempertikaikan tentang kenabian Nabi Khaidir. Ada yang menganggap beliau hanya orang soleh yang bertaraf wali sahaja. Tetapi antara mereka berdua di suatu ketika, Nabi Khaidir diberi mukjizat maknawiah (batin). Walhal di waktu itu tidak diberi kepada Nabi Musa. Tiga hari saja mereka dapat berkawan. Sedangkan sebelum itu Nabi Khaidir sudah ingatkan Nabi Musa, “Kau takkan sanggup ikut aku, kau takkan tahan sabar.” Ini kerana peranan antara nabi dengan rasul itu berbeza. Nabi bukan pemimpin sedangkan rasul adalah pemimpin. Nabi mengikut takrifnya ialah seorang lelaki Islam yang merdeka, baligh dan berakal yang diberi wahyu tetapi hanya untuk dirinya sendiri dan tidak wajib menyampaikannya kepada orang lain. Bila tidak wajib menyampaikan, maknanya dia bukan seorang pemimpin.

    Sedangkan rasul, seorang lelaki Islam yang merdeka, baligh dan berakal yang diberi wahyu dan dia wajib mengamalkannya dan wajib menyampaikan kepada umatnya. Maknanya, dia pemimpin dan pendidik. Nabi Musa a.s. seorang rasul, dia memimpin dan mendidik kaumnya. Antara mukjizat maknawiyah yang ada pada Nabi Musa a.s. ialah tahan sabar, kuat azam, kuat jiwa berhadapan dengan Firaun. Sangat sabar bila disusah-susahkan oleh kerenah pengikutnya serta tahan berpindah-randah di tanah gurun panas yang mencengkam itu atau bila sejuk terlalu dingin. Ketabahan hatinya itu Allah nilai. Akhirnya Allah marah kepada Bani Israil dengan disesatkan mereka selama 40 tahun dan dibiarkan terumbang-ambing di Padang Teh. Nabi Musa juga turut sama teruji bersama-sama pengikutnya itu. Walhal kesalahan itu bukan dibuat olehya. Tetapi kerana Allah hendak menghukum orang lain, dia juga turut sama terhukum. Walau bagaimanapun dia tetap tahan menderita dan sabar dengan ujian yang sangat menyeksakan itu. Tahan jiwa, tahan sabar, kuat azam, teguh hati dan tabahnya dengan ujian yang berat yang datang dari perangai jahat umatnya. Ini mukjizat maknawiyah yang berlaku padanya. Tetapi pada kebanyakan orang, bentuk-bentuk ini tidak dianggapnya sebagai mukjizat kerana tidak dapat dilihat dengan mata kepala.

    Manakala mukjizat maknawiah (batin) yang berlaku pada Nabi Khaidir lain pula bentuknya yakni dikasyafkan. Dia nampak apa yang bakal berlaku iaitu kapal akan dimusnahkan oleh perompak. Langsung kapal itu ditenggelamkannya. Cuba bayangkan kalau Nabi Musa pun dapat mukjizat maknawiah begitu? Dia juga kemudiannya akan tenggelamkan kapal itu. Walhal dia pemimpin umatnya. Tentulah pengikutnya lebih sulit hendak mengikut kepimpinannya dan akan mempertikaikan perbuatannya. Dia dianggap pula sebagai perosak dan penzalim.

    Macamlah pemimpin sekarang ini, kalau Allah kurniakan dia keramat maknawiah, katalah dia membakar Mercedes atau bunuh orang. Sebab dia nampak batin orang itu akan merompak dengan menggunakan Mercedes itu. Apa yang akan terjadi? Bolehkah orang ramai terima kepimpinan begitu? Tentu orang akan tolak bahkan boleh jadi orang akan tuduh dia sebagai pembunuh! Jadi Nabi Khaidir diberi mukjizat bentuk itu kerana dia tidak memimpin ummah.

    Manakala Nabi Musa a.s. tidak diberikan mukjizat maknawiah seperti Nabi Khaidir a.s. di waktu itu. Kalaulah Nabi Musa diberi kasyaf, nampak apa yang akan terjadi sepertimana Nabi Khaidir, tentulah haru-biru masyarakat. Ada yang akan marah dan mengamuk kerana harta benda mereka dijahanamkan. Walhal mengenai strategi perang atau berkait dengan halhal keselamatan ummah, Allah kurniakan mukjizat lahir pada Nabi Musa a.s. Bukan untuk dirinya tetapi untuk keselamatan umum. Buktinya, sewaktu tali-tali ahli-ahli sihir Firaun bertukar menjadi ular, tongkat Nabi Musalah yang berperanan menjadi ular besar yang menelan habis kesemua ular-ular Firaun itu.

    Bukankah ini di luar logik, di luar kebiasaan. Inilah mukjizat zahir. Allah lakukan sihir itu tidak memberi kesan langsung dan tongkat mampu menjadi ular besar yang menelan seluruh ular-ular itu. Ini menunjukkan mukjizat bentuk itu amat perlu di waktu itu untuk meyakinkan orang ramai yang menyaksikan tentang keagungan Allah dan demi menyelamatkan keyakinan umat. Di atas kejadian-kejadian inilah akhirnya ahli-ahli sihir itu turut beriman kepada Allah dan kepada Nabi Musa. Firman Allah SWT: “Lalu ahli-ahli sihir itu bersujud seraya berkata: ‘Kami telah beriman dengan Tuhan Harun dan Musa’.”(At Taha: 70)

    Begitu juga mukjizat tongkat Nabi Musa dapat membelah laut sewaktu dikejar Firaun dan tentera-tenteranya. Ini perlu di waktu itu untuk keselamatan Nabi Musa dan kaumnya. Sekali-gus membunuh mati penentang-penentang Allah itu. Ini juga luar biasa dan di luar logik. Mana mungkin hanya sebatang tongkat bisa membelah lautan? Mustahil. Tetapi itulah yang terjadi dan telah berlaku. Inilah mukjizat lahir Nabi Musa yang berlaku yang sangat diperlukan oleh Nabi Musa demi untuk menyelamatkan umatnya. Allah lakukan ini semua untuk keselamatan kekasih-Nya dan meyakinkan lagi kaumnya.

    Contoh mukjizat Nabi Ibrahim pula, Raja Namrud dan rakyatnya kerana terlalu marah dengan pegangan dan perjuangan Nabi Ibrahim lantas menangkap dan mahu membunuhnya. Dicampakkan ke dalam api yang menjulang tinggi laksana gunung. Api mengikut kebiasaan adatnya membakar. Tetapi aneh! Api di waktu itu tidak pun membakar Nabi Ibrahim. Bahkan berlaku sebaliknya. Nabi Ibrahim terasa sejuk. Ini berlaku di luar kebiasaan atau di luar logik. Inilah mukjizat zahir. Allah lakukan api sebesar itu tidak menjadi sebab membakar Nabi Ibrahim. Hal ini amat perlu di waktu itu. Kalau tidak, tentunya Nabi Ibrahim sudah terbakar hangus.

    Pada Rasulullah SAW pula, antara mukjizat yang berlaku padanya ialah diberi ilmu tanpa belajar. Pernah musuh-musuh baginda di kalangan orang-orang Yahudi telah menghantar pendita-penditanya untuk menguji Baginda. Mereka menyoal baginda dengan tujuan memberi malu, menjatuhkan maruah dan kewibawaan Baginda.

    Biasanya seorang yang tidak pernah belajar di mana-mana sekolah, yang tidak tahu membaca dan menulis pula, tentulah tidak dapat menjawab soalan-soalan yang dikemukakan. Tetapi yang anehnya, semua soalan yang diajukan walau apa bentuk masalah atau persoalannya, semuanya dapat dijawab oleh Rasulullah SAW dengan baik dan tepat. Dan ini sangat memeranjatkan musuh. Bahkan mereka pula yang malu dan akur dengan jawapan-jawapan Baginda itu. Akhirnya mereka pulang dengan hampanya kerana ketua pendita mereka sendiri telah memeluk Islam, setelah mendapati kebenaran Rasulullah SAW. Ini berlaku di luar logik.

    Inilah yang dikatakan mukjizat maknawiah. Allah kurniakan mukjizat ini menunjukkan perlu di waktu itu dan sesuai pula dengan hal-hal semasa kerana yang datang itu semuanya cerdik pandai yang hendak menguji keilmuan Rasulullah SAW. Kalau tidak tentulah kebenaran Allah dan Rasul-Nya akan ditolak oleh musuh buat selama-lamanya.

    Daripada huraian-huraian di atas, nyatalah Allah kurniakan mukjizat pada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya bukan sesuka hati, tetapi dicatu mengikut keperluan semasa. Untuk tujuan kemudahan, keindahan dan keselamatan ummah. Kebanyakan nabi-nabi dan rasul-rasul diberikan mukjizat maknawiah lebih daripada mukjizat lahiriah. Rasul-rasul yang paling banyak mendapat mukjizat lahiriah dan maknawiah ialah di kalangan lima orang yang berpangkat Ulul Azmi sahaja. Iaitu Rasulullah SAW, Nabi Ibrahim, Nabi Isa, Nabi Musa dan Nabi Nuh a.s. Mereka ini semuanya terlalu kuat azam, hati teguh, hati terlalu kuat bergantung dengan Allah, sabar dan tabah dalam meng-hadapi ujian-ujian dan kedegilan kaum-kaum mereka. Demi-kianlah huraian secara ringkas tentang mukjizat. Moga-moga kita sama-sama memahaminya.

    Oleh:  Usaha Taqwa

    8 September 2013 Posted by | Aqidah, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Join 152 other followers

    %d bloggers like this: