Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Hukum Takbir Hari Raya Berjemaah

‎HUKUM TAKBIR HARI RAYA BERJAMA’AH
Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)

بسم الله الرحمن الرحيم  
الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على رسول الله سيدنا محمد بن عبد الله و على أله و صحبه و من والاه. أما بعد

1. Takbir di Malam Hari Raya

           Bertakbir di malam hari raya adalah merupakan sunnah Nabi Muhammad  yang amat perlu untuk di lestarikan dalam menampakkan dan mengangkat syi’ar Islam.Para ulama dari masa kemasa sudah biasa mengajak ummat untuk melakukan takbir baik setelah sholat (takbir muqoyyad) atau di luar sholat (takbir mursal).

            Lebih lagi takbir dengan mengangkat suara secara kompak yang bisa menjadikan suara semakin bergema dan berwibawa adalah yang biasa dilakukan ulama dan ummat dari masa ke masa.
             Akan tetapi ada sekelompok kecil dari orang yang hidup di akhir zaman ini begitu berani mencaci dan membid’ahkan takbir bersama-sama. Dan sungguh pembid’ahan ini tidak pernah keluar dari mulut para salaf (ulama terdahulu).

Mari kita cermati riwayat-riwayat berikut ini yang menjadi sandaran para ulama dalam mengajak bertakbir secara kompak dan bersama-sama.

A.  Berdasarkan Hadits dalam Shohih Imam Bukhori No 971  yang diriwayatkan oleh Ummi Athiyah, beliau berkata :

كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ، حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيّاَضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ.(رواه البخاري
            
  Artinya : “Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya sehingga para wanita-wanita yang masih gadispun diperintah keluar dari rumahnya,    begitu juga wanita-wanita yang sedang haid dan mereka berjalan dibelakang para manusia (kaum pria) kemudian para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia (kaum pria)dan berdoa dengan doanya para manusia serta mereka semua mengharap keberkahan dan kesucian hari raya tersebut”.

Di sebutkan dalam hadits tersebut

  فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ 

Para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia. Itu menunjukan  takbir  terjadi secara berjamaah atau bersamaan.

Bahkan dalam riwayat imam Muslim dengan kalimat”para wanita bertakbir bersama-sama orang-orang yang bertakbir”

  يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاس

B. Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari sayyidina Umar bin Khottob  dalam bab takbir saat di mina 

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا

Artinya : “Sahabat umar bertakbir di qubahnya yang berada di tanah mina lalu penduduk masjid mendengarnya dan kemudian mereka bertakbir  begitu penduduk pasar bertakbir sehingga tanah mina bergema dengan suara takbir”
 .
Ibnu Hajar Al Asqolani (pensyarah besar kitab shohih buhkori) mengomentari kalimat : 

   حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا 
Dengan

 "أي يَضْطَرِّبُ وَتَتَحَرَّكُ, وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رَفْعِ الصَّوْتِ"            

Bergoncang dan bergerak, bergetar  yaitu menunjukan kuatnya  suara yang  bersama-sama .
 
C. Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i ra dalam kitab Al’um  1/264 :

أَحْبَبْتُ أَنْ يَكُبِّرَ النَّاسُ جَمَاعَةً وَفُرَادًى فِي المَسْجِدِ وَالْأَسْوَاقِ وَالْطُرُقِ وَالْمَنَازِلِ والْمُسَافِرِيْنَ والْمُقِيْمِيْنَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَيْنَ كَانُوْا وَأَنَ يَظْهَرُوْا الْتَكْبِيْرَ "

               Artinya : “Aku senang(maksudnya adalah sunnah) orang-orang pada bertakbir secara bersama dan sendiri-sendiri, baik di masjid, pasar, rumah, saat bepergian atau rmukim dan setiap keadaan dan di manapun mereka berada  agar mereka menampakkan(syi’ar)  takbir”. 

D. Tidak pernah ada dari ulama terdahulu yang mengatakan takbir secara berjamaah adalah bid’ah. Bahkan yang ada adalah justru sebaliknya anjuran dan contoh  takbir bersama-sama dari ulama terdahulu .
 
Kesimpulan tentang takbir bersama-sama:
1. Pernah terjadi takbir barsama-sama pada zaman Rasulullah dan para sahabat
2. Anjuran dari Imam Syafi’i ra mewakili  ulama salaf  .
3. Tidak pernah ada larangan takbir bersam-sama dan juga tidak ada perintah takbir harus sendiri-sendiri.Yang ada adalah anjuran  takbir dan dzikir secara mutlaq baik secara  sendirian atau berjamaah.
4. Adanya pembid’ahan dan larangan takbir bersama-sama hanya terjadi pada orang-orang akhir zaman yang sangat bertentangan dengan salaf.

2. Menghidupkan malam hari raya dengan ibadah

Hukum menghidupkan malam hari raya dengan amal ibadah. Sudah disepakati oleh para ulama 4 madzhab bahwa disunnahkan untuk kita menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak ibadah. Imam nawawi dalam kitab majmu’ berkata sudah disepakati oleh ulama bahwa dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan ibadah dan pendapat seperti ini juga yang ada dalam semua kitab fiqh 4 madzhab. Artinya kita dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan sholat, berdzikir, dan membaca Al-Quran khususnya bertakbir.  Karena malam hari raya adalah malam bergembira, banyak sekali hamba-hamba yang lalai pada saat itu maka sungguh sangat mulia yang bisa mengingat Allah di saat hamba-hamba pada lalai.

3. Yang dilakukan Santri dan Jama’ah Al Bahjah 

1. Takbir keliling dalam upaya membesarkan syi’ar takbir.
2. Kunjung dari masjid ke masjid untuk melakukan sholat sunnah.
3. Menyimak tausyiah di beberapa masjid yang dikunjungi.
 
Yang semua itu dalam upaya menjalankan  sunnah yang dijelaskan oleh para ‘ulama tersebut di atas. Wallahu a’lam Bishshowaab.‎

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على رسول الله سيدنا محمد بن عبد الله و على أله و صحبه و من والاه. أما بعد

1. Takbir di Malam Hari Raya

Bertakbir di malam hari raya adalah merupakan sunnah Nabi Muhammad yang amat perlu untuk di lestarikan dalam menampakkan dan mengangkat syi’ar Islam.Para ulama dari masa kemasa sudah biasa mengajak ummat untuk melakukan takbir baik setelah sholat (takbir muqoyyad) atau di luar sholat (takbir mursal).

Lebih lagi takbir dengan mengangkat suara secara kompak yang bisa menjadikan suara semakin bergema dan berwibawa adalah yang biasa dilakukan ulama dan ummat dari masa ke masa.

Akan tetapi ada sekelompok kecil dari orang yang hidup di akhir zaman ini begitu berani mencaci dan membid’ahkan takbir bersama-sama. Dan sungguh pembid’ahan ini tidak pernah keluar dari mulut para salaf (ulama terdahulu).

Mari kita cermati riwayat-riwayat berikut ini yang menjadi sandaran para ulama dalam mengajak bertakbir secara kompak dan bersama-sama.

A. Berdasarkan Hadits dalam Shohih Imam Bukhori No 971 yang diriwayatkan oleh Ummi Athiyah, beliau berkata :

كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ، حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيّاَضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ.(رواه البخاري

Artinya : “Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya sehingga para wanita-wanita yang masih gadispun diperintah keluar dari rumahnya, begitu juga wanita-wanita yang sedang haid dan mereka berjalan dibelakang para manusia (kaum pria) kemudian para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia (kaum pria)dan berdoa dengan doanya para manusia serta mereka semua mengharap keberkahan dan kesucian hari raya tersebut”.

Di sebutkan dalam hadits tersebut

فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ

Para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia. Itu menunjukan takbir terjadi secara berjamaah atau bersamaan.

Bahkan dalam riwayat imam Muslim dengan kalimat ”para wanita bertakbir bersama-sama orang-orang yang bertakbir”  يُكَبِّرْنَ مَعَ ال

B. Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari sayyidina Umar bin Khottob dalam bab takbir saat di mina

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا

Artinya : “Sahabat umar bertakbir di qubahnya yang berada di tanah mina lalu penduduk masjid mendengarnya dan kemudian mereka bertakbir begitu penduduk pasar bertakbir sehingga tanah mina bergema dengan suara takbir”

.

Ibnu Hajar Al Asqolani (pensyarah besar kitab shohih buhkori) mengomentari kalimat :

حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا Dengan "أي يَضْطَرِّبُ وَتَتَحَرَّكُ, وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رَفْعِ الصَّوْتِ"

Bergoncang dan bergerak, bergetar yaitu menunjukan kuatnya suara yang bersama-sama .

C. Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i ra dalam kitab Al’um 1/264 :

أَحْبَبْتُ أَنْ يَكُبِّرَ النَّاسُ جَمَاعَةً وَفُرَادًى فِي المَسْجِدِ وَالْأَسْوَاقِ وَالْطُرُقِ وَالْمَنَازِلِ والْمُسَافِرِيْنَ والْمُقِيْمِيْنَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَيْنَ كَانُوْا وَأَنَ يَظْهَرُوْا الْتَكْبِيْرَ "

Artinya : “Aku senang(maksudnya adalah sunnah) orang-orang pada bertakbir secara bersama dan sendiri-sendiri, baik di masjid, pasar, rumah, saat bepergian atau rmukim dan setiap keadaan dan di manapun mereka berada agar mereka menampakkan(syi’ar) takbir”.

D. Tidak pernah ada dari ulama terdahulu yang mengatakan takbir secara berjamaah adalah bid’ah. Bahkan yang ada adalah justru sebaliknya anjuran dan contoh takbir bersama-sama dari ulama terdahulu .

Kesimpulan tentang takbir bersama-sama:

1. Pernah terjadi takbir barsama-sama pada zaman Rasulullah dan para sahabat

2. Anjuran dari Imam Syafi’i ra mewakili ulama salaf .

3. Tidak pernah ada larangan takbir bersam-sama dan juga tidak ada perintah takbir harus sendiri-sendiri.Yang ada adalah anjuran takbir dan dzikir secara mutlaq baik secara sendirian atau berjamaah.

4. Adanya pembid’ahan dan larangan takbir bersama-sama hanya terjadi pada orang-orang akhir zaman yang sangat bertentangan dengan salaf.

2. Menghidupkan malam hari raya dengan ibadah

Hukum menghidupkan malam hari raya dengan amal ibadah. Sudah disepakati oleh para ulama 4 madzhab bahwa disunnahkan untuk kita menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak ibadah. Imam nawawi dalam kitab majmu’ berkata sudah disepakati oleh ulama bahwa dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan ibadah dan pendapat seperti ini juga yang ada dalam semua kitab fiqh 4 madzhab. Artinya kita dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan sholat, berdzikir, dan membaca Al-Quran khususnya bertakbir. Karena malam hari raya adalah malam bergembira, banyak sekali hamba-hamba yang lalai pada saat itu maka sungguh sangat mulia yang bisa mengingat Allah di saat hamba-hamba pada lalai.

3. Yang dilakukan Santri dan Jama’ah Al Bahjah

1. Takbir keliling dalam upaya membesarkan syi’ar takbir.

2. Kunjung dari masjid ke masjid untuk melakukan sholat sunnah.

3. Menyimak tausyiah di beberapa masjid yang dikunjungi.

Yang semua itu dalam upaya menjalankan sunnah yang dijelaskan oleh para ‘ulama tersebut di atas. Wallahu a’lam Bishshowaab.

Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) di petik dari Pondok Habib

27 July 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Hukum meletakkan daun dan bunga di atas kubur

Kubur Bkt Teratai 1

Belum pun habis Ramadhan dah ada pula yang menyerang amalan umat Islam yang menaburkan bunga atas kubur. Dikata perbuatan tersebut menyerupai Kristian dan Yahudi dan bid’ah sesat.

JAWAPAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH :

Firman Allah : Bertasbih kepada Allah apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi (Surah at Taghabun 64:1)

1. Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar di atas kuburan diletakkan pelepah kurma sebagaimana dalam sebuah hadits

"Ingatlah, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa tetapi bukan kerana melakukan dosa besar. Seorang dari padanya disiksa kerana dahulu dia suka membuat fitnah dan seorang lagi disiksa kerana tidak menghindari diri daripada percikan air kencing. Kemudian baginda mengambil pelepah kurma yang masih basah lalu dibelahnya menjadi dua. Setelah itu baginda menanam salah satunya pada kubur yang pertama dan yang satu lagi pada kubur yang kedua sambil bersabda: Semoga pelepah ini dapat meringankan seksanya selagi ia belum kering." (Riwayat Bukhari, no: 1378 dan Muslim, no: 292)

2. Para Ulama menngqiyaskan/menyamakan pelepah kurma dalam hadits di atas dengan segala macam tumbuh-tumbuhan yang masih basah sebagaimana yang di jelaskan oleh Syaikh Al-Khathib Asy-Syarbini dalam kitab Mughni Al-Muhtaj

ويسن أيضا وضع الجريد الأخضر على القبر وكذا الريحان ونحوه من الشيء الرطب ولا يجوز للغير أخذه من على القبر قبل يبسه لأن صاحبه لم يعرض عنه إلا عند يبسه لزوال نفعه الذي كان فيه وقت رطوبته وهو الاستغفار ( و ) أن يوضع ( عند رأسه حجر أو خشبة ) أو نحو ذلك لأنه صلى الله عليه وسلم وضع عند رأس عثمان بن مظعون صخرة وقال أتعلم بها قبر أخي لأدفن إليه من مات من أهلي رواه أبو داود وعن الماوردي استحباب ذلك عند رجليه أيضا

“Disunnahkan menaruh pelepah kurma hijau (basah) di atas kuburan, begitu juga tumbuh-tumbuhan yang berbau harum dan semacamnya yang masih basah dan tidak boleh bagi orang lain mengambilnya dari atas kuburan sebelum masa keringnya karena pemiliknya tidak akan berpaling darinya kecuali setelah kering sebab telah hilangnya fungsi penaruhan benda-benda tersebut dimana selagi benda tersebut masih basah maka akan terus memohonkan ampunan padanya

3. Dalam kitab Fatawa al Hadithiah m/s 196 disebutkan :

" Para ulama beristinbath daripada perbuatan Nabi SallaLlahu ‘alaihi wasallam mencacakkan dua pelepah tamar di atas kubur, untuk bolehnya mencacak pokok dan bunga tetapi mereka tidak menerangkan caranya. Walau bagaimanapun, di dalam hadits sahih disebutkan bahawa Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam mencacak satu cacakan pada setiap kubur, maka bolehlah diambil pelajaran, ia merangkumi semua bahagian kubur. Maka tujuan yang boleh diambil daripadanya ialah di mana-mana bahagian kubur pun boleh. Abdul bin Humaid dalam Musnadnya bahawa Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam meletakkan pelepah itu di atas kubur di sisi kepala mayat di kubur tersebut "

4. Syeikh Atiyah Saqar (iaitu seorang Mufti Lajnah Fatwa al-Azhar) berkata: “Ini adalah masalah antara golongan mengharuskan dan golongan yang menegah. Saya melihat tiada tegahan pada perkara ini selagi mana ia beriktikad (menyakini) bahawa yang memberi manfaat dan mudarat itu hanyalah Allah SWT. Apa yang kita hadiahkan kepada si mati seperti doa, sedekah dan lain-lain lagi adalah ‘min babil asbab’ semata-mata mengharapkan rahmat Allah SWT.

Justeru, perbuatan menaburkan bunga sebagai menggantikan pelepah dan ranting basah adalah harus. Bagaimanapun, jika bunga itu dibeli dengan harga mahal semata-mata untuk melakukan perbuatan itu, dibimbangi ia akan jatuh kepada haram disebabkan membazir.

5. Menyiram air di atas kuburan dan meletakkan daun-daunan yang hijau (segar) hukumnya sunnah, khususnya untuk kuburan yang baru ditimbun. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw memerciki kuburan puteranya tercinta Ibrahim dengan air dan meletakkan daun-daunan yang segar di atasnya (Riwayat Imam Syafi’i, Nailul Authar : 4/84).

6. Di bolehkan menaburkan bunga-bunga segar yang masih basah di atas kuburan2 ,‘karena hal ini(menaburi bunga) dapat meringankan siksaan mayat akibat bacaan tasbih tanaman/bunga diatas pusara tersebut.Lihat ; I’aanah at-Thoolibiin : II/120

يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ

Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar.(I’anah al-Thalibin, juz II, hal. 119)

Wallahua’lam

Oleh: Ustaz Zamihan Al-Ghari

15 July 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Penggunaan ubat ketika berpuasa

Beberapa orang sahabat bertanya saya mengenai penggunaan ubat ketika berpuasa. Sebelum saya menjawab soalan ini, suka saya membawa beberapa ayat al-Quran berkaitan dengan puasa dan rukhsah meninggalkan puasa.

Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (183-184) bermaksud:

183- Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

184- Iaitu beberapa hari tertentu. Maka sesiapa di antara kamu sakit atau bermusafir (dalam perjalanan lalu tidak berpuasa), maka (hendaklah) menggantinya pada hari-hari lain (bukan pada bulan Ramadhan). Dan atas orang-orang yang tidak kuat (kerana lemah tua atau penyakit atau hamil) wajib membayar fidyah memberi makan orang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan , maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu sekiranya kamu mengetahui.

Kita sudah memahami bahawa setiap muslim aqil, baligh adalah diwajibkan berpuasa. Apabila berpuasa, secara lahirnya kita mengelakkan diri kita dari memasukkan sesuatu melebihi had-had tertentu pada rongga-rongga badan iaitu mulut, hidung, telinga dan dua saluran dubur dan qubul.

Apabila saya menyebut ‘had-had tertentu’ pada rongga-rongga tersebut kerana beberapa amalan memasukkan sesuatu dalam rongga-rongga tersebut masih dibenarkan ketika berpuasa selagi tidak melebehi had yang dibenarkan, contohnya:

i. Dibenarkan memasukkan air ke hidung (tidak melampau) sekadar membersihkan hidung untuk mendapatkan sunnah dan pahala ber ‘istinsyaq’ ketika mengambil wuduk.

ii. Dibenarkan mandi wajib selepas azan Subuh dan mandi wajib mewajibkan kita membasuh bahagian dalam lubang telinga yang zahir dan dubur yang zahir.

Ayat 184 pula menjelaskan bahawa sesiapa yang sakit, dibolehkan seseorang itu berbuka puasa. Sekiranya mereka masih mahu mengerjakan puasa, ia adalah baik untuk mereka selama mana puasa itu tidak memudaratkan diri mereka. Jika memudaratkan, mereka wajib berbuka berdasarkan larangan umum: Jangan kamu campakkan diri kamu dalam kebinasaan (al-Baqarah, ayat 195).

Masalah yang timbul dari persoalan orang-orang sakit ini ialah:

1. golongan yang tidak mahu berpuasa atas alasan sakit.

2. orang sakit yang sedang dalam proses berubat, mahu terus berpuasa dan masih menganggap dirinya sah puasa dan tidak memerlukannya qada’ (mengulang balik) ibadah puasa tersebut.

Bagi golongan pertama iaitu yang tidak mahu berpuasa berterusan kerana sakit, kita katakan pada mereka, ketetapan yang tidak mewajibkan mereka tidak boleh berpuasa bukan ditetapkan oleh diri mereka. Mereka wajib mendapatkan pandangan doktor perubatan muslim yang adil, warak untuk menentukan ketidakmampuan mereka. Sekiranya disahkan, mereka boleh tidak berpuasa tetapi masih wajib menjaga syiar-syiar puasa iatu tidak memakan ditempat umum.

Manakala bagi golongan kedua, sekiranya proses perubatan ketika berubat (dalam keadaan berpuasa) melebihi had-had memasukkan sesuatu ke dalam rongga, puasa adalah terbatal namun, mereka masih wajib menahan diri dari makan (imsak) dan puasa tersebut wajib diqada (diulang) berdasarkan dalil-dalil khusus puasa yang melarang memasukkan sesuatu ke dalam rongga-rongga tersebut.

Dalam banyak keadaan tersebut, saya bersetuju dengan Buku Panduan Berpuasa Pesakit terbitan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) yang saya ambil dari Berita Harian, 29 Ogos 2009:

Perkara berkaitan rawatan yang TIDAK MEMBATALKAN PUASA:

• Menggunakan ubat titis mata, titis telinga dan cucian telinga (dengan syarat tidak sampai batas gegendang telinga);

• Pil tablet nitroglycerin (GTN) atau ubat yang menyamainya yang diambil secara meletakkannya di bawah lidah tanpa ditelan bagi merawat kesakitan dada (angina pectoris) bagi pesakit jantung;

• Melakukan prosedur tampalan gigi, cabutan, pembersihan gigi atau memberus gigi dengan syarat individu yang berpuasa tidak menelan apa-apa bahan ketika prosedur rawatan itu;

• Semua bentuk suntikan sama ada melalui lapisan kulit, otot, sendi atau salur darah;

• Pendermaan atau pemindahan darah;

• Penggunaan ubat-ubatan dalam bentuk sapuan, balutan dan plaster pada permukaan kulit;

• Pengambilan sampel darah untuk ujian makmal;

• Memasukkan tiub kecil (catheter) melalui salur darah untuk tujuan pemeriksaan seperti prosedur angiogram untuk pemeriksaan jantung;

• Pemeriksaan laparoscop, iaitu pemeriksaan dalaman dengan menggunakan alat yang dimasukkan melalui dinding abdomen untuk pemeriksaan bahagian dalaman pesakit;

• Berkumur-kumur termasuk berkumur-kumur secara gargle (sehingga air hampir ke tekak), dan ubat teraputik semburan ke mulut yang tidak membabitkan proses menelan;

• Menjalani biopsy iaitu pengambilan spesimen atau cebisan yang diambil daripada hati atau organ lain untuk tujuan analisis makmal;

• Penggunaan ubat semburan (spray) hidung tanpa disedut;

• Rawatan dialisis untuk masalah pesakit buah pinggang sama ada hemodialisis atau peritonealdialisis;

• Menjalani rawatan bius setempat atau separuh (local) dengan semburan atau suntikan setempat; dan

• Penggunaan ubat buasir dengan memasukkan semula kawasan buasir pada tempatnya tanpa membabitkan kawasan rongga yang dalam.

Perkara berkaitan dengan rawatan perubatan yang MEMBATALKAN PUASA:

• Penggunaan alat sedutan (inhaler) untuk rawatan lelah (athma) atau penyakit paru-paru kronik;

• Memasukkan sebarang tiub kecil (pessary) atau ubat ke dalam faraj (vaginal suppository) termasuk prosedur cucian (wash), pemeriksaan dalaman vaginal (vaginoscope), atau pegawai perubatan memasukkan jari untuk melakukan pemeriksaan dalaman vagina wanita.

• Memasukkan sebarang tiub catheter, alat pemeriksaan dalam saluran kencing (uretroscope), barium atau ubat pencuci yang dimasukkan sama ada ke dalam saluran kencing bagi lelaki atau wanita (contohnya memasukkan `urinary catheter’ untuk rawatan sumbatan salur kencing);

• Penggunaan alat seperti enema, tiub suppository, teropong protoscope atau jari pegawai perubatan yang dimasukkan ke dalam dubur atau rectum untuk pemeriksaan;

• Penggunaan teropong usus (endoscope) atau teropong perut (gasteroscope) untuk tujuan pemeriksaan sistem penghadaman; dan

• Penggunaan bius menyeluruh yang membabitkan penggunaan gas.

Wallahu a’lam.

Oleh: Ustaz Dr Asmadi Mohamed Naim

29 June 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Cukai Ke Atas Khamar (Arak) dan Khinzir (Babi)

Menjawab persoalan ini, saya nukilkan dari kitab Ahkam Az-Zimmiyyin wal Musta’manin fi Daril Islam karangan Dr Abdul Karim Zaidan cetakan Mu’assasah Ar-Risalah pada muka surat 155 dan 156

Menurut pendapat Hanafiah pada zahir Riwayat,diwajibkan cukai perniagaan ke atas arak ( tetapi) tidak diwajibkan cukai ke atas khinzir,(manakala) menurut (Imam) Abi Yusuf diwajibkan jugacukai terhadap khinzir.

Manakala (menurut) pendapat (Imam) Zafar,telah berlaku pertentangan yang disebutkan daripada beliau di dalam kitab-kitab mazhab Hanafiah.Maka di dalam kitab Syarah As-Siru Al-Kabir :

Berkata (Imam) Zafar Rahimahullah Ta’ala “ Tidak dikenakancukai arak dan (juga) tidak dikenakan cukai khinzir ”.Manakala di Dalam kitab Al-Hidayah : Berkata (Imam) Zafar Rahimahullah ta’ala : Dikenakan cukai kedua-duanya (arak dan khinzir) untuk menyamakan kedua-duanya pada (pentakrifan arak dan khamar itu sebagai ) harta.

(*scene-r : Berlaku pertembungan perkataan Imam Zafar di dalam kitab-kitab mazhab Hanafiah sama ada dikenakan cukai ataupun tidak dikenakan cukai ke atas arak dan khinzir.Didalam kitab Syarah As-Siru Al-Kabir dinaqalkan bahawa Imam Zafar mengatakan: tidak dikenakan cukai arak dan babi manakala di dalam kitab Al-Hidayah pula menaqalkan bahawa Imam Zafar mengatakan: dikenakan cukai kedua-duanya)

Dan yang rajih menurutku (Dr.Abdul Karim Zaidan) perkataan (di dalam) kitab Al-Hidayah.Manakala apa yang terdapat di dalam kitab Syarah As-Siru Al-Kabir itu berkemungkinan tersalah cetak dengan penambahan kalimah ( لا) (tidak) pada kedua-dua tempat.Dan aku (Dr.Abdul Karim Zaidan) merajihkan ini (Kitab Al-Hidayah) kerana mengambil perkataan (Imam) Zafar : “Untuk menyamakan kedua-duanya pada (pentakrifan arak dan khamar itu sebagai ) harta di sisi mereka (Hanafiah) ” .Aku (Dr.Karim Zaidan) telah merujuk di dalam nuskhah yang lain daripada kitab Al-Hidayah (dari sudut adakah ada di sana) kesalahan dan percetakan (kemudian aku dapati) kesemuanya menyebutkan : Berkata (Imam) Zafar Rahimahullah ta’ala : Dikenakan cukai kedua-duanya (arak dan khinzir) untuk menyamakan kedua-duanya pada (pentakrifan arak dan khamar itu sebagai) harta menurut mereka (Hanafiah).

Dan Hujjah (Imam) Zafar (yang mengatakan) pada wajib dikenakan cukai perniagaan ke atas arak dan khinzir ialah : Kedua-duanya itu merupakan harta Mutaqawwim pada hak ahli zimmah,oleh yang demikian akan dikenakan dhaman ke atas muslim yang merosakkannya.

(*scene-r : Sebentar tadi kita telah mengetahui bahawa pendapat Imam Zafar menyamakan arak dan khinzir pada pentakrifan arak dan khinzir itu di sebut sebagai harta yang mutaqawwim pada hak ahli zimmah.Sebentar lagi kita akan melihat pula pendapat Zahir Hanafiah yang tidak menyamakan atau kata lain membezakan antara arak dan khinzir itu daripada pentakrifan harta)

Dan wajah (gambaran) zahir riwayat (menurut pendapat Hanafiah) iaitu perbezaan antara arak dan khinzir seperti berikut :

PERTAMA : Apa yang diriwayatkan daripada (Saidina) Umar bin Al-Khattab r.a telah menghimpunkan Amil-amilnya pada Al-Musim (pengumpulan harta ).Berkata (Saidina) Umar r.a kepada mereka (amil-amilnya) : Apa yang kamu ambil daripada ahli zimmi daripada apa yang berlalu ke atas kamu daripada arak? (Apa yang kamu ambil daripada orang kafir zimmi daripada penghasilan perniagaan atau penjualan arak mereka?)

Mereka menjawab : Setengah daripada satu persepuluh ( 5% ) daripada nilainya (sebagai cukainya)

(Kemudian Saidina) Umar r.a berkata : Berikan tauliah untuk menjualnya dan ambil setengah daripada satu bersepuluh ( 5 % ) daripada nilainya (sebagai cukainya).

KEDUA : Sesunguhnya arak itu lebih hampir daripada (pentakrifan) harta (berbanding) daripada khinzir (bukan harta)kerana ia (arak) itu bagi kami merupakan harta pada permulaannya ketika diperah dan akan menjadi harta semula pada akhirnya (iaitu) selepas (arak itu) berubah (menjadi cuka).Manakala khinzir (pula) menurut kami bukanlah (ditakrifkan sebagai) harta pada permulaannya dan tidak pula akan berubah menjadi harta pada penghujungnya.

KETIGA : Sesungguhnya arak itu dari kategori Al-Amthal,mengambil nilai pada apa (benda) yang mempunyai contoh daripada sejenisnya, tidak akan berdiri menggantikan tempatnya (maka nilai itu tidak berdiri di atas benda itu),maka mengambil qimah (nilai) arak tidak disamakan dengan mengambil arak.Manakala khinzir pula dari kategori Al-Qiyam,dan qimah(nilai) pada benda yang tiada contoh sebandaingnya akan berdiri di atas tempat itu,maka mengambil qimah (nilai khinzir samalah) seperti mengambilnya (zat khinzir).Dan ini tidak dibolehkan untuk orang muslim.

(*scene-r : Arak termasuk daripada kategori Al-Amthal iaitu ada benda lain sejenisnya atau pun sebanding dengannya sepertianggur atau perahan anggur .Berbeza dengan khinzir yang termasuk daripada kategori Al-Qiyam iaitu tiada yang sejenis atau yang sebanding dengannya yang boleh menggantikan tempatnya maka mengambil nilai khinzir sama dengan mengambil khinzir)

KEEMPAT : Sesungguhnya hak pengambilan untuk daulah dengan sebab pemeliharaan (penjagaan),dan bagi muslim itu penjagaan arak pada keseluruhannya, oleh yang demikian sekiranya (seorang muslim itu) mewarisi arak maka orang muslim itu perlu menjaga arak tersebut daripada orang lain untuk membiarkannya berubah (menjadi cuka).Maka bagi orang muslim itu wilayah (boleh melantik orang lain untuk) penjagaan arak selain daripada dirinya.Berbeza dengan khinzir,tidak boleh bagi seorang muslim memelihara (menjaga) khinzir,sehingga sekiranya (seorang muallaf) yang masuk Islam memiliki banyak khinzir,maka ketika itu dia (muallaf) tidak boleh memeliharanya bahkan dia perlu meninggalkannya,(dia) tidak boleh wilayah (melantik orang lain untuk ) penjagaan khinzir selain daripada dirinya.(muallaf tersebut tidak boleh memelihara khinzir dan tidak boleh melantik orang lain untuk memelihara khinzir)

(*scene-r : kita telah sebutkan sebentar tadi hujjah-hujjah daripada zahir riwayat Hanafiah yang membezakan antara arak dan khinzir dari pentakrifan harta.Sebentar lagi Dr.Abdul Karim Zaidan akan membahas semula hujjah-hujjah yang di sebutkan tadi)

Sebenarnya hujjah-hujjah ini tidak terselamat daripada pertentangan.(I’tiradh)

Apa yang diriwayatkan oleh Saidina Umar r.a (pada hujjah pertama) itu bukanlah menunjukkan (bahawa) tidak wajib cukai perniaagaan ke atas khinzir dengan hujjah tidak disebutkan kecuali arak.

([scene-r] : Di dalam hujjah pertama tadi hanya menyebutkan arak tetapi tidak disebutkan khinzir.Oleh yang demikian bukan bermakna tidak diwajibkan cukai perniagaan khinzir kerana tidak disebutkan khinzir di dalam riwayat tersebut)

Kerana tidak menyebutkan sesuatu bukan dalil yang menunjukkan melarang sesuatu.

Manakala perkataan yang mengatakan bahawa arak itu lebih dekat dengan pentakrifan harta berbanding khinzir (hujjah ke dua) tidak memberi kesan pada (penyelesaian) masalah kerana arak bukanlah dikategorikan sebagai harta yang Mutaqawwim pada hak muslim begitu juga dengan khinzir.

Dan mereka katakan sekiranya pengambilan – ataupun mengambil cukai – dengan sebab pemeliharaan, Seorang muslim baginya menjaga arak dengan keseluruhannya berbeza dengan khinzir,dan (untuk)menolak pendapat ini bahawa khinzir itu selagi ia merupakan harta yang mutaqawwim pada hak zimmi (samalah) seperti kambing (yang merupakan harta mutaqawwim) pada hak kita,sebagaimana pendapat Hanafiah,maka semestinya memasukkan pada pemeliharaan ,seperti (sebagai contoh) memasukkan arak pada pemeliharaannya dengan mengiktibarkannya sebagai harta yang mutaqawwim bagi (hak) zimmi.

Oleh yang demikian rajih menurutku (Dr.Abdul Karim Zaidan) adalah pendapat (Imam) Abi Yusuf dan (Imam) Zafar.(mengenakan cukai pada ke dua-dua perniagaan arak dan khinzir)

Manakala menurut Hanabilah dan Syafieah : Tidak dikenakancukai arak dan khinzir, juga tidak dikenakan nilai kedua-duanya kerana kedua-duanya itu (arak dan khinzir)bukanlah(dikategorikan sebagai) harta pada asalnya –Sesungguhnya (cukai) hanya di ambil daripada harta yang Mutaqawwim.

Rumusan :

Pendapat Hanafiah : Dikenakan cukai pada arak sahaja dantidak dikenakan pada khinzir

Mankala pendapat Imam Abi Yusuf dan Imam Zafar daripada ulama Hanafiah berpendapat : Dikenakan cukai pada arak dan khinzir.

Pendapat Hanabilah dan Syafieah : Tidak dikenakan cukai arak dan khinzir.

[scene-r ] :Bagi menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan harta yang mutaqawwim Dr.Abdul Karim Zaidan meletakkan nota kaki di dalam kitab yang sama pada muka surat 156 sebagaimana berikut :

Harta yang mutaqawwim itu merupakan apa yang terpelihara secara perbuatan (atau praktikal)nya dan boleh dimanfaatkan secara kebiasaan menurut syarak secara diusahakan atau secara ikhtiar (pilihan).

Manakala harta yang bukan mutaqawwim pula iaitu apa yangbukan dimiliki oleh seseorang atau, ia dimiliki secara perbuatantetapi tidak boleh dimanfaatkan secara kebiasaan yang diterima oleh syarak dan dibolehkan secara diusahakan dan secara pilihan seperti (contoh) arak dan khinzir (merupakan harta yang bukan mutaqawwim) bagi orang muslim.

Manakala arak dan khinzir bagi orang bukan muslim merupakanharta yang mutaqawwim selagi mereka berpegang bahawa sah bermuamalat dan mendapat manfaat dengannya secara kebiasaan,kerana syarak menyuruh kita membiarkan ahli zimmah dengan apa yang mereka anuti (menurut kepercayaan mereka) dan wajib bagi kita memberitahu mereka bahawa arak dan khinzir merupakan harta yang mutaqawwim bagi mereka(tetapi bukan harta yang mutaqawwim bagi kita).(Dr.Abdul Karim Zaidan merujuk dari Kitab Al-Fiqh Al-Islami Ustaznya Muhammad Salam Madkur ms 167)

[scene-r]:Harta Mutaqawwim bagi orang muslim merupakan apa sahaja yang dikira sebagai harta menurut syarak (suci,bermanfaat dsb sama ada diusahakan atau secara ikhtiar).Manakala harta yang bukan mutaqawwim bagi orang muslim adalah sesuatu yang tidak dikira sebagai harta yang boleh dimiliki (seperti khinzir tidak dikira sebagai harta menurut kita) atau ia dimiliki secara perbuatan (seperti contoh anggur boleh dimiliki dan dikategorikan sebagai harta) tetapi tidak boleh dimanfaatkan (seperti sudah diperah menjadi arak).

Manakala harta yang mutaqawwim bagi kafir zimmimerupakan apa sahaja yang menurut kepercayaan mereka dibenarkan bermuamalat dengannya dan menurut mereka harta tersebut adalah bermanfaat.Sekiranya mereka mengatakan bahawa khinzir itu dibenarkan oleh kepercayaan mereka maka khinzir merupakan harta yang mutaqawwim bagi mereka.

Apabila dikategorikan sebagai harta yang mutaqawwim bagi hak kafir zimmi maka kita tidak boleh merosakkannya,jika dilakukan juga akan dikenakan dhaman atau ganti rugi bagi orang yang merosakkannya.

Berbeza jika mereka mengatakan bahawa khinzir itu tidak bermanfaat menurut kepercayaan mereka;maka ketika itu khinzir adalah bukan harta mutaqawwim begitu juga kita boleh contohkan dengan arak pada mengklasifikasikan arak itu sebagai harta yang muatqawwim ataupun bukan.

Segalanya perlu merujuk kepercayaan mereka.Adakah kepercayaan mereka itu membolehkan atau tidak.Jika kepercayaan mereka membolehkan maka harta itu adalah harta mutaqawwim bagi hak mereka.Manakala, jika kepercayaan mereka juga tidak membenarkan maka harta itu bukan dikategorikan sebagai harta mutaqawwim.

Sebagai tambahan telah berkata Khalifah Umar Abdul Aziz :

الخمر لا يعشرها مسلم

Maksudnya : Arak itu tidak dikenakan cukai (ke atas perniagaan) oleh orang Muslim.(Rujuk Al-Mughni li Ibnu Qudamah jilid 13 ms 232 cet.Dar Alam Al-Kutub)

Seterusnya berkata Abu Ubaid : dan Makna perkataan Saidina Umar r.a :

ولُّوهم بيعها ، وخذوا أنتم من الثمن . أن المسلمين كانوا يأخذون من أهل الذمّة الخمر والخنازير من جزيتهم ، وخَراج أرضِهم بقيمَتِهما ،ثم يتولَّى المسلمون بيعها ، فأنكره عمر ، ثم رخَّصَ لهم أن يأخذوا من أثمانها ، إذا كان أهل الذمّة المتولِّين بيعَها، و روى بإسناده عن سويد بن غفلة ، أن بلالا قال لعمر : إن عمالك يأخذون الخمر والخنازير فى الخراج . فقال :لا تأخذوها منهم ، ولكن ولُّوهم بيعها ، وخذوا أنتم من الثمن.

Maksudnya: Tauliahkan kepada mereka untuk menjual,dan kamu ambillah daripada cukainya. Sesungguhnya orang-orang muslimin itu mengambil daripada ahli zimmah daripada cukai (yang dikenakan keatas) meraka,dan pengeluaran hasil bumi dengan nilainya.Kemudian orang-orang muslimin mentauliahkan untuk menjualnya,maka Saidina Umar r.a mengingkarinya kemudian merukhsahkan (meringankan atau membolehkan) untuk mereka mengambil nilainya,(dengan syarat) sekiranya ahli zimmi itu ditauliahkan untuk menjualnya.Dan diriwayatkan dengan sanadnya dari Suaid bin Ghaflah r.a, sesungguhnya Saidina Bilal r.a berkata pada Saidina Umar r.a :Sesungguhnya Ummal (amil-amil) kamu mengambil arak dan khinzir sebagai pengeluaran.Maka Saidina Umar r.a berkata : Janganlah kamu mengambil daripada mereka tetapi berikanlah tauliah kepada mereka dan ambillah cukainya. .(Rujuk Al-Mughni li Ibnu Qudamah jilid 13 ms 232/233 cet.Dar Alam Al-Kutub)

Berkata Imam Ibnu Qudamah pada muka surat 233

فصل : ويجوز أخذ ثمن الخمر والخنزير منهم عن جزية رءوسهم ، وخراج أرضهم، احتجاجا بقول عمر هذا : ولأنها من اموالهم التى نقرهم على اقتنائها والتصرف فيها ، فجاز أخذأثمانها منهم كثيابهم.

Maksudnya: Fasal : Dan dibolehkan mengambil nilai (cukai) arak dan khinzir daripada mereka melalui cukai kepala mereka, dan pengeluaran tanaman mereka,berhujjah dengan perkataan daripada Saidina Umar r.a ini : kerana ia merupakan daripada harta mereka yang kita tetapkan ke atas mereka (bahawa harta tersebut) menjadi miliknya dan boleh belanjakan (atau tasaruf jual beli) maka bolehlah mengambil nilainya (cukai) daripada mereka seperti baju-baju mereka (yang boleh dijual belikan).

[scene-r] : Mungkin boleh kita katakan pentauliahan kepada kafir zimmi sekarang ini dengan cara memberi lesen kepada mereka.Bagaimana lesen ini boleh diberikan kepada mereka itu terpulang kepada pemerintah untuk meletakkan syarat-syarat yang perlu dipenuhi oleh kafir zimmi, seperti contoh; Diberikan lesen kepada mereka yang menjual arak dengan syarat tidak boleh secara terbuka dan menetapkan kuantitinya begitu juga dengan ladang khinzir.Kemungkinan boleh di syaratkan untuk penternak khinzir menjaga kebersihan dan tidak membuat pencemaran serta menghadkan kuantiti ternakan atau apa sahaja syarat yang dilihat oleh pemimpin mengikut penilaian dan pertimbangan mereka.Manakala sekiranya ahli zimmi ini gagal memenuhi syarat maka boleh sahaja lesen itu ditarik balik ataupun sekiranya di dapati bahawa arak atau khinzir itu juga bukan harta mutaqawwim bagi ahli zimmi maka ketika itu tidak lagi dibolehkan untuk membiar dan membenarkan mereka menjalankan aktiviti penjualan arak atau khinzir.

Sumber: http://scene-r.blogspot.com/2008/04/cukai-ke-atas-khamar-arak-dan-khinzir.html

20 June 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

Kaedah Umum al-Balwa Dan Kesannya Kepada Perubahan Hukum Syarak

Oleh: Dr. Arieff Salleh bin Rosman, Felo Fatwa

Islam merupakan agama rahmat kepada sekalian alam. Hukum hakam yang ditetapkan dalam Islam adalah bertujuan untuk memenuhi kepentingan hidup manusia dan menjauhkan kemudaratan, termasuk menghilangkan kesulitan dan kesusahan. Firman Allah SWT, surah al-Haj ayat 78, "Dia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara agama."

Berdasarkan ayat tersebut, para pakar perundangan Islam menggariskan satu kaedah perundangan iaitu "Apabila berlaku kesulitan, maka perlu diberikan kemudahan atau keringanan". Antara konsep yang berkaitan dengan kaedah tersebut ialah UMUM AL-BALWA.

Kaedah Umum al-Balwa mempunyai peranan yang besar dalam proses mengeluarkan ijtihad. Ia merupakan salah satu justifikasi dalam menjelaskan sesuatu hukum Syarak berkaitan isu semasa. Kaedah Umum al-Balwa sering digunakan oleh para ulama; sama ada dalam disiplin ilmu usul fiqh atau fiqh. Ia dibincangkan dalam kerangka rukhsah dan keringanan yang dibenarkan dalam hukum Syarak.

Kebanyakan aplikasi Kaedah Umum al-Balwa dalam kitab fiqh dibincangkan berkaitan jenis-jenis najis yang dimaafkan. Ia biasanya dikaitkan dengan ciri sukar dikawal, sukar diasingkan, sukar dijauhi, kebanyakan orang mukallaf sukar mengelakkannya. Manakala illah (sebab) keringanan diberikan sama ada berkaitan dengan kesulitan, kesusahan, kerumitan dan sebagainya (lihat: Ibn Hazm, al-Muhalla, 1/221, 254; al-Sarakhsi, al-Mabsut, 1/60, 61, 79, 80; Ibn Qudamah, al-Mughni, 1/21, 22, 23, 62; al-Nawawi, al-Majmu’, 3/134, 135; al-Dusuqi, Hasyiah al-Dusuqi, 1/71, 73, 75).

Namun begitu, dalam bahagian fiqh yang lain juga dibincangkan Kaedah Umum al-Balwa (al-Suyuti, al-Ashbah wa al-naza’ir, 164-167). Kaedah Umum al-Balwa sangat berkait rapat dengan perkembangan semasa pada sesuatu zaman dan tempat. Kepentingan memahami konsep umum al-balwa dan aplikasinya dalam kehidupan seharian menjadi semakin penting dalam dunia sains dan teknologi serba canggih dewasa ini. Oleh itu, kaedah ini perlu difahami dengan sebaiknya, kerana perubahan hukum sesuatu boleh berlaku kesan daripada wujudnya Umum al-Balwa.

Menurut Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Umum al-Balwa bermaksud,"Berleluasanya sesuatu sehingga seseorang itu sukar untuk menyelamatkan diri daripadanya atau menjauhinya."(Nazariyah al-darurah al-Syar’iyah, 123). Dr. ‘Amir al-Zibari turut mengemukakan definisi yang sama (al-Tahrir fi qa’idah al-masyaqqah tajlib al-taysir, 82).

Manakala menurut Salih Yusuf, Umum al-Balwa bermaksud, "Apa-apa yang diperlukan pada keadaan yang umum, di mana berlakunya perkara tersebut sehingga sukar untuk dielakkan serta susah untuk dikawal dan jika dihalang ia akan menimbulkan kesulitan yang lebih."(al-Masyaqqah tajlib al-taysir, 232).

Dr. Salih bin ‘Abd Allah bin Humayd menjelaskan, "Umum al-Balwa itu merujuk kepada dua ciri:

1) Keperluan untuk sesuatu itu diberikan keringanan dalam keadaan umum, iaitu sukar untuk mengelakkannya dan jika tidak diberi keringanan akan menimbulkan kesulitan yang lebih besar.

2) Sesuatu itu sudah tersebar, iaitu seseorang mukallaf sukar untuk mengelakkan diri daripadanya, atau menghilangkannya, serta jika tidak diberi keringanan akan menimbulkan kesulitan yang lebih besar.

Bagi ciri pertama, keringanan perlu diberikan kerana untuk memenuhi keperluan orang mukallaf dan bagi ciri kedua, keringanan perlu diberikan kerana ia sukar untuk dihilangkan." (Raf’ al-haraj, 262).

Menurut Muslim bin Muhammad bin Majid al-Dusari, Umum al-Balwa bermaksud, "Isu yang berlaku secara menyeluruh ke atas orang mukallaf atau keadaan orang mukallaf yang berkaitan dengan pertanggungjawaban tertentu berkenaan isu tersebut, serta wujud kesukaran menghindarinya atau tidak mampu menghilangkannya melainkan dengan bertambah kesulitan yang memerlukan kemudahan dan keringanan." (Umum al-balwa: Dirasah nazariyah tatbiqiyah, 61)

Ciri umum al-balwa (al-Dusari, Umum al-balwa: Dirasah nazariyah tatbiqiyah, 62-64):

1) Isu yang berlaku secara menyeluruh, sama ada isu berkaitan dengan perbuatan mukallaf seperti kencing, atau berkaitan dengan keadaan mukallaf seperti umur tua dan seumpamanya, atau berkaitan dengan keadaan tertentu yang tidak berkaitan dengan mana-mana tingkahlaku mukallaf seperti debu jalan yang bercampur najis binatang terkena baju kerana bawaan angin.

2) Isu itu berlaku ke atas setiap individu mukallaf atau kebanyakan mereka, sama ada melibatkan keadaan yang bersifat umum atau khusus untuk keadaan tertentu sahaja. Manakala jika isu tersebut hanya melibatkan keadaan khusus untuk seorang individu sahaja atau sebilangan kecil, maka kaedah Umum al-Balwa tidak boleh diterima pakai untuk isu tersebut.

3) Isu tersebut berkaitan dengan pertanggungjawaban (taklif), contohnya asal darah kutu itu najis, tetapi atas alasan Umum al-Balwa, ia menjadi najis yang dimaafkan.

4) Isu tersebut sukar untuk dihindari atau ia hanya boleh dihilangkan dengan bertambahnya kesulitan.

Sebab umum yang mempengaruhi hukum kerana Umum al-Balwa (al-Dusari, Umum al-balwa: Dirasah nazariyah tatbiqiyah, 69):

1) Isu tersebut sukar dikawal atau wujud halangan untuk mengawalnya yang pada kebanyakan keadaannya seseorang mukallaf tidak mempunyai pilihan. Contohnya, seseorang pejalan kaki sukar untuk mengelakkan daripada debu jalan yang berkemungkinan besar bercampur debu najis daripada terkena pada pakaiannya. Debu tersebut termasuk dalam najis yang dimaafkan, maka sah solat jika pejalan kaki itu bersolat menggunakan pakaian tersebut (al-Suyuti, al-Ashbah wa al-naza’ir, 164).

2) Isu tersebut sukar dielakkan atau wujud halangan ketika hendak mengelakkan ia daripada berlaku yang pada kebanyakan keadaannya seseorang mukallaf mempunyai pilihan untuk melakukannya atau tidak. Tetapi jika tidak dilakukan perkara tersebut akan bertambah kesulitan. Contohnya kesilapan seseorang mujtahid ketika berijtihad, pada asalnya kesilapan itu adalah dosa kerana salah menjelaskan hukum Syarak, namun ia tidak dianggap dosa kerana terdapat Umum al-Balwa dalam kalangan mujtahid iaitu sukar mengelak kesilapan (rujuk hadis Nabi yang direkod oleh Imam al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, 5/340 hadis no. 2680).

Contoh berubah hukum kerana Umum al-Balwa:

1) Air liur kucing hukum asalnya ia adalah najis kerana kucing berkemungkinan makan benda najis. Namun, atas dasar umum balwa, iaitu kucing adalah binatang peliharaan yang hidup di persekitaran hidup manusia, jika dihukumkan bekas jilatan kucing pada bekas air dihukumkan najis, maka ia akan menimbulkan kesulitan kepada hidup masyarakat.

Maka hukum air daripada bekas jilatan kucing tidak menjadi najis (al-Suyuti, al-Ashbah wa al-naza’ir, 164)

2) Hukum asal menerima upah daripada amal soleh adalah haram. Contohnya, haram guru yang mengajar al-Quran daripada menerima gaji, juga gaji imam, bilal, dan sebagainya.

Namun atas alasan umum balwa, iaitu jika hukum itu kekal ia akan menjadikan tugas tersebut diabaikan serta guru al-Quran, imam, bilal dan seumpamanya akan terjejas keperluan hidup mereka, maka berubah hukum kepada harus menerima upah atau gaji (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 8/136)

3) Isu wanita menjadi orang gaji di rumah. Menurut hukum asal, seorang wanita diharamkan keluar rumah melainkan ditemani oleh mahramnya. Begitu juga seorang wanita diharamkan tinggal di rumah yang tiada mahramnya.

Namun, pada zaman kini, atas dasar Umum al-Balwa, maka diharuskan seorang wanita menjadi orang gaji di rumah orang lain tanpa ditemani oleh mahramnya, dengan syarat terhindar daripada fitnah (al-Dusari, Umum al-balwa: Dirasah nazariyah tatbiqiyah, 446)

Wallahu A’lam.

Sumber: Fatwa Malaysia

5 June 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah | | Leave a comment

Syarat aurat wanita dalam solat tanpa telekung

Wanita solat tanpa telekung

6 SYARAT AURAT SOLAT TANPA TELEKUNG

Terdapat segelintir wanita mengabaikan solat ketika leka membeli belah di Shopping Kompleks. Alasannya tak bawa telekung atau telekung yang disediakan di surau kat shopping kompleks kotor dan tak menyenangkan. Yang agak beragama pula memberikan jawapan yang terlalu menyimpang dari landasan agama, iaitu nak qada solat kat rumah nanti. Entah kitab mana yang dirujuk dan entah ulama mana yang dijadikan sandaran.

Sebenarnya, Qada solat adalah untuk orang yang meninggalkan solat tanpa sengaja seperti tertidur dan terlupa. Bagi yang meninggalkan solat secara sengaja,termasuk dengan alasan tidak bawa telekung hukumnya berdosa besar( malah sesetengah ulama menghukumnya sebagai kafir). Pelakunya mesti bertaubat dengan sebenar-benar taubat dan menqada solat yang ditinggalkan itu sesegera mungkin. Jadi dalam situasi sebegini, jika wanita tersebut telah memakai pakaian yang memenuhi kriteria menutup aurat sebagaimana yang telah dijelaskan, maka wanita tersebut boleh langsung bersolat dengan pakaian tersebut.

Wanita solat tanpa tudung

SYARAT 1 : Mestilah Menutup Dagu.

Ramai orang solat tanpa telekung tak bertutup lohong dagu dia. Kalau pakai tudung bawal, boleh pin kan bahagian tepi. Kalau pakai tudung sarung, kena la pakai dua lapis untuk tutup dagu tu. Gunalah style apapun, yang penting mesti tutup. Jangan lupa pin kan belakang tudung dengan baju! Nanti time sujud, boleh terselak tudung. Nanti nampak leher, batal pulak. Jangan lupa bab tu.

Isu dagu ni terdapat khilaf, canggah pendapat. Jadi, ikutlah mana yang rasa betul.

Wanita solat tutup lengan

SYARAT 2 : SEELOK-ELOKNYA PAKAI HANDSOCKS!

Yes, sebab time melakukan pergerakan solat, ada kemungkinan baju lengan kita boleh tersingkap dan nampak aurat. Memang kita boleh cepat-cepat betulkan, tapi solat kita akan jadi sangat tak selesa dan kita tak sedar kalau terbukak aurat So, kenalah pakai ok. Handsocks ni memang digalakkan.

Wanita solat tanpa telekung tutup lengan

SYARAT 3 : Memakai Baju Lengan Pendek Dengan Handsocks.

Ingat, syaratnya MENUTUP AURAT, bukan MEMBALUT AURAT. Kalau handsocks nya ketat, maka tak dikira menutup aurat sebab ketat. Paling selamat kalau pakai baju lengan pendek ni dipakai 3 lapis. Baju luar lengan pendek, baju lagi kat dalam lengan panjang, dan handsocks. Sanggup?

Jadi, tak boleh. Baju kenalah longgar semuanya. Tak boleh ada yang ketat, walaupun lengan tangan.

Wanita solat tanpa telekung ada kain di dalam

SYARAT 4 : Kain Tak Jarang Dan Nampak Dalam.

Seeloknya solat tanpa telekung biarlah pakai kain. Jadi bentuk kaki semua lagi yakin tertutup. Cuma, pakailah seluar kat dalam kain. Nanti time solat tersingkap kain tu, susah jugak. Baju rasanya tak perlu risau. Cuma perlu labuh dan longgar. Kalau pakai tudung labuh, lagi mudah. Dan tudung bawal ni kadang-kadang boleh nampak bayang-bayang leher kita, jadi pastikan takde bayang-bayang semua sebelum solat, ok. Nanti terbatal solat, sayang je kita solat.

Wanita solat longgarkan stoking

SYARAT 5 : Pakai Stokin Yang Tebal.

Pastikan stokin yang dipakai kenalah longgar dan tak nampak warna kulit kaki kita. Dan tak nampak bentuk jari antara kaki. Jadi, kita kena kasi longgar-longgar sikit stokin tu. Apapun, nampak jari kat stokin tu pun ada khilaf jugak, bercanggah pandangan. Ada yang kata nampak bentuk dimaafkan pada syarak. Allahhua’lam..Sebab tu la tak digalakkan pakai stokin terlalu pendek dan nipis. Nanti susah nak solat.

Wanita solat tanpa telekung pakai seluar longgar dan labuh

SYARAT 6 : Pakai Seluar?

Seeloknya, pakailah kain. Sebab khuatir seluar ketat dan time buat pergerakan solat akan tertimbul bahagian-bahagian yang tidak diingini. Kita boleh pakai seluar. Tapi seluar tu mestilah longgar dan baju yang kita pakai mestilah labuh hingga menutup punggung dan peha.

Banyak benda perlu berhati-hati kalau nak solat tanpa telekung, terutama bila lakukan pergerakan solat. Sebab tu pakaian semua perlu longgar dan tudung seeloknya labuh.

 

Sumber: http://www.inikalilah.org/2014/05/6-syarat-aurat-solat-tanpa-telekung.html

4 June 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

Konsep Umum Al-Balwa [ Musibah Yg Umum]

    "Umum al Balwa" bukan lah jalan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Ia adalah satu kekelonggaran yang bila mana sesuatu perkara itu susah dielakkan, maka kita mengambil pendirian paling memudahkan.

    Kita  lihat,  bagaimana  beberapa  perkara  yg  dimaafkan,  kerana  sukar untuk  menghindarinya;

    Contoh

  1. Percikan air kencing yang terlalu sedikit yang tidak dapat dilihat, oleh mata yang sihat penglihatannya (apabila ia mengenai pakaian atau badan), sama ada najis tersebut mughallazah, mukhaffafah atau mutawassitah.

  2. Darah, nanah, darah kutu anjing dan najis yang sedikit yang dibawa oleh lalat, selagi ia bukan perbuatan manusia dan bukan dengan sengaja.

  3. Darah atau nana luka walaupun banyak dengan syarat ia terjadi pada diri manusia itu sendiri, bukan hasil daripada perbuatannya dan bukan dengan sengaja. Disyaratkan supaya darah atau nanah tersebut tidak mengalir ke tempat lain.

  4. Tahi binatang yang mengenai biji-bijian ketika ia memijaknya. Begitu juga tahi binatang ternakan yang mengenai susu ketika diperah dengan syarat najis tersbut tudak banyak hingga mengubah keadaan susu tersebut.

  5. Tahi ikan di dalam air selagi air tersebut tidak berubah. Begitu juga tahi burung pada tempat-tempat yang selalu ia berluang alik padanya seperti kawasan tanah suci Makkah, kawasan tanah suci Madinah dan Jamek Umawi. Ini adalah disebabkab ‘umum al-balwa (musibah yang umun) dan sukar untuk dipelihara daripadanya.

  6. Darah yang mengenai baju tukang daging sekiranya tidak banyak.

  7. Darah yang ada pada daging.

  8. Mulut kanak-kanak yang terdapat najis muntah padanya apabila ia menghisap susu ibunya.

  9. Tanah jalan yang mengenai manusia.

  10. Bangkai yang tidak mengalir darahnya atau yang tidak berdarah apabila terjatuh ke dalam sesuatu cecair (air minuman) seperti lalat, lebah dan semut dengan syarat ia terjatuh dengan sendirinya (bukan dicampak) dan ia tidak mengubah keadaan cecair tersebut.

    1. Rujukan : Kitab Fikah Mazhab Syafie Jilid 1

      http://ahmadraje.blogspot.com/2012_04_01_archive.html

      30 May 2014 Posted by | Fiqh | | Leave a comment

      Jangan semberono haramkan GST

      GST Logo

      Oleh Dr Asyraf Wajdi Dusuki

      Polemik mengenai Cukai Barangan dan Perkhidmatan (GST) nampaknya bukan lagi setakat berlegar seputar hujah-hujah ekonomi dan sara hidup. Kini semakin ramai ‘mufti-mufti’ segera yang mengharamkan GST atas hujah simplistik dengan mengatakan Rasulullah SAW tidak pernah mengiktiraf sumber negara selain zakat dan sedekah.

      Jika semudah itulah hukum haram dijatuhkan kepada GST maka segala cukai-cukai yang selama ini dikutip kerajaan juga haramlah jawabnya. Ini kerana kaedah fekah menyebutkan “Apa yang diharamkan untuk dilakukannya, maka haram untuk mengambilnya".

      Justeru segala pendapatan juga jadi haram kerana lebih 70 peratus hasil negara hari ini bergantung pada cukai tidak kira cukai langsung seperti cukai pendapatan mahupun cukai tidak langsung termasuklah duti kastam, duti eksais, cukai perkhidmatan dan cukai barangan.

      Maka bukan sahaja kesan ‘haram’ ini terpakai kepada Kerajaan Persekutuan sahaja, malah kerajaan-kerajaan negeri yang diperintah Pakatan termasuklah negeri Kelantan, Pulau Pinang dan Selangor juga dianggap menerima pendapatan haram daripada pelbagai jenis cukai yang dikenakan termasuklah cukai tanah, cukai pintu, cukai perniagaan dan bermacam lagi.

      Sebab itulah dalam Islam, hukum halal-haram tidak boleh sewenang-wenangnya dijatuhkan berasaskan sentimen dan kefahaman dangkal mengenai satu-satu perkara. Malah menghalalkan yang haram mahupun mengharamkan yang halal boleh menjatuhkan seseorang kepada kekufuran.

      Berbalik kepada isu ‘fatwa-fatwa jadian’ mengenai pengharaman GST ini, persoalan asas yang perlu dibangkitkan, apakah benar cukai tidak dibenarkan dikutip oleh kerajaan?

      Sebelum mengupas lanjut, perlu difahami bahawa permasalahan cukai adalah termasuk dalam ruang-lingkup Siyasah Syariyyah iaitu pentadbiran hal-ehwal awam negara Islam yang perlu diteliti aspek mencapai kemaslahatan (kebaikan) dan menolak kemudaratan selagi tidak melanggar batas-batas Syariah dan prinsip-prinsip umumnya.

      Dalam konteks muamalah atau hal-ehwal keduniaan, Islam membuka ruang kepada pelbagai ijtihad dan pandangan yang boleh berubah mengikut zaman dan tempat kerana prinsip digariskan Allah: “Allah mengkehendaki kamu beroleh kemudahan dan Dia tidak mengkehendaki kamu menanggung kesukaran" (Al-Baqarah:185).

      Cukai dalam istilah Arab dipanggil ‘dharibah’. Malah ada juga ulamak yang mengaitkan istilah ‘al-maks’ juga membawa makna cukai berasaskan Hadis Nabi SAW: “Sesungguhnya penguasa yang mengenakan ‘Maks’ (cukai) adalah di dalam neraka" (Riwayat Ahmad).

      Sesetengah ulamak menggunakan dalil inilah bagi mengharamkan sebarang bentuk cukai yang dikenakan ke atas rakyat. Ini kerana dalam kaedah usul fiqh, sebarang ancaman neraka menerusi nas membawa pengertian bahawa perkara yang disebutkan adalah haram.

      Namun sebahagian ulama lain termasuklah Dr. Yusuf al-Qaradawi dan Dr Ali Muhydin Al-Qurrah Daghi mempunyai pandangan berbeza dengan menegaskan bahawa kalimah ‘Maks’ di dalam konteks hadis ini membawa maksud khusus iaitu “sejenis cukai yang diwajibkan oleh sebahagian pemerintah dan penyokong mereka untuk bersenang-lenang dengannya walaupun menyempitkan rakyat mereka" (Al-Qaradawi, Kitab Fiqh al-zakat).

      Pendekatan

      Justeru mereka berpandangan pengambilan cukai sebagai tambahan kepada zakat, sedekah, jizyah dan ushur adalah harus bagi memastikan kerajaan dapat mengurus kemaslahatan ummah seperti membangunkan kebajikan rakyat, bayaran gaji pekerja kerajaan dan penyedian infrastruktur untuk kemudahan rakyat.

      Pandangan ini berasaskan kaedah fekah yang masyhur iaitu: “Pendekatan atau tindakan seseorang pemerintah kepada rakyatnya adalah berasaskan kemaslahatan" (Imam As-Suyuuti, Kitab Al-Ashbah Wan Nazooir).

      Pendekatan inilah yang diambil oleh para sahabat khususnya Khalifah Umar al-Khatab yang antara terawal melakukan ijtihad baru mengenakan cukai Kharaj (cukai tanah). Ini kerana, Khalifah Umar RA mula melihat kemaslahatan atau keperluan untuk menjana pendapatan lain apabila wilayah kekuasaan Islam berkembang ke Iraq, Syam dan Mesir terutamanya bagi menampung keperluan perbelanjaan pertahanan, penggajian tentera dan kakitangan kerajaan yang menguruskan hal-ehwal rakyat.

      Ini dinukilkan oleh Imam Abu Yusuf dalam kitab Al-Kharaj yang ditulis beliau bagi memahamkan Khalifah Kerajaan Abbasiyyah paling berpengaruh dan dikenali sebagai raja yang warak iaitu Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 Masihi):

      “Khalifah Umar berijtihad untuk perkenalkan cukai Kharaj setelah bermesyuarat dengan pimpinan dari kalangan Ansar dan Muhajirin akan keperluan menampung perbelanjaan kerajaan yang telah meluaskan jajahannya sehingga Syam, Jazirah, Kufah, Basrah dan Mesir. Walaupun pada mulanya ditentang Abdur Rahman bin Auf, namun ijtihad Umar disokong Ali, Uthman, Talhah dan Ibnu Umar."

      Pandangan mengharuskan pengenalan cukai juga dikongsi oleh ulama-ulama Muktabar seperti Ibnu Hazim, Imam Haramain Al-Juwaini, Imam Al-Ghazali dan Imam As-Syatibi. Imam Ibnu Taimiyyah pula dalam kitabnya yang masyhur ‘Siyaasah as-Syariyyah fi Islah al-Ra’yi Wa al-Ra’iyyah’, mengharuskan pembayaran cukai berdalilkan qias aulawi:

      Katanya: “Jika sekiranya Allah mewajibkan ke atas para sahabat yang berjihad dengan harta dan jiwa raga mengeluarkan ushur atau cukai dari hasil tanaman mereka, maka sepatutnya lebih diwajibkan ke atas golongan yang berkemampuan yang tidak keluar berjihad mengeluarkan kewangan untuk menampung perbelanjaan jihad (untuk kepentingan umum)"

      Apa yang penting sebagaimana yang digariskan oleh para fukaha silam, sistem percukaian yang dibina hendaklah berasaskan keadilan dan dikenakan pada golongan berkemampuan hingga tidak membebankan rakyat. Cukai ini juga hendaklah dipungut oleh pemerintah bagi menampung perbelanjaan untuk menguruskan kepentingan rakyat dan kemaslahatan yang diperakui syarak.

      Hakikatnya GST bukanlah satu jenis cukai tambahan yang diperkenalkan kerajaan di kala ramai yang merasai terbeban dengan kos sara hidup yang semakin meningkat. Sebaliknya GST adalah satu penstrukturan percukaian baru bagi menggantikan skim cukai lama iaitu cukai barangan dan cukai perkhidmatan yang sudahpun dikenakan selama ini.

      Pengalaman 160 buah negara yang memperkenalkan GST selama ini telah membuktikan bahawa sistem cukai ini adalah lebih telus dan adil bahkan mampu mengelakkan daripada berlakunya ketirisan sumber perolehan negara yang amat penting bagi disalurkan kembali kepada rakyat.

      Bukan itu sahaja model GST Malaysia yang mengecualikan cukai ke atas barangan keperluan asas rakyat seperti beras, gula, garam, minyak masak dan lebih 1,000 senarai barangan keperluan lain termasuk segala barangan asas yang dijual di pasar basah seperti ikan, ayam, daging, sayuran dan buah-buahan tentunya tidak akan membebankan golongan berpendapatan rendah dan sederhana.

      Ini bermakna GST hanya dikenakan bagi mereka yang berkemampuan untuk menggunakan barangan dan perkhidmatan melebih keperluan asas. Peniaga-peniaga kecil yang pendapatan kurang daripada RM500,000 setahun juga dikecualikan GST.

      Justeru tidak timbul isu bahawa GST haram kerana turut mengenakan cukai kepada golongan miskin. Malah pendekatan baru struktur cukai ini bagi memastikan semua peringkat dalam rantaian penawaran (supply chain) berdaftar akan memudahkan kerajaan memantau harga barangan dengan lebih berkesan bagi mengelakkan peniaga menaikkan harga sesuka hati.

      GST tentunya dapat menjaga kemaslahatan rakyat yang sebelum ini seringkali dimangsakan dengan kenaikan harga barangan tanpa kawalan lantaran kos pengeluaran yang tidak dapat dipantau secara tuntas dan sikap peniaga meraih keuntungan sesuka hati.

      Sebaliknya melalui GST, setiap pengusaha daripada pembekal bahan mentah, pengilang, pemborang sehinggalah peniaga runcit perlu mendaftar dan mengeluarkan resit-resit bernombor siri GST yang sah. Ini bukan sahaja membantu pemerintah memantau harga bahkan mengurangkan ketirisan perolehan akibat sikap tidak bertanggungjawab golongan yang lari daripada cukai sebelum ini.

      Harga barangan tertentu yang dulunya mahal kerana dikenakan cukai berganda juga sepatutnya lebih murah apabila GST diperkenalkan kelak kerana setiap rantaian penawaran, hanya dikenakan cukai sekali sahaja dengan kadar 6 peratus iaitu terendah berbanding 160 negara lain.

      Justeru hujah-hujah semberono yang mem‘fatwa’kan GST haram dikutip kerajaan kerana menindas rakyat adalah satu tohmah dan pandangan dangkal tanpa memahami secara holitisk mekanisme GST ini.

      Apa yang mustahak kini ialah untuk kerajaan memastikan sistem dan operasi GST yang bakal diperkenalkan tahun hadapan benar-benar berfungsi dengan berkesan. Pada masa yang sama segala bentuk ketirisan dan pembaziran dalam perbelanjaan negara sebagaimana laporan Audit Negara perlu ditangani bagi mengembalikan keyakinan rakyat bahawa cukai yang dibayar tidak dipersia-siakan.

      Akhirnya falsafah cukai dalam Islam adalah bagi memenuhi prinsip adil dan saksama sehingga kekayaan dapat dikongsi oleh segenap lapisan masyarakat sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Al-Hasyr ayat 7: “Supaya harta itu tidak hanya berlegar sekitar orang kaya di kalangan kamu semata-mata".

      * PENULIS ialah yang Dipertua Yayasan Dakwah Islamiah (YADIM)

      Artikel Penuh: © Utusan Melayu (M) Bhd

      11 May 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Politik dan Dakwah | , | 2 Comments

      Apakah hukum untuk orang Islam menyebut “Rest In Peace – RIP”

      ISU:

      Apakah hukum untuk orang Islam menyebut “Rest In Peace – RIP” pada ketika mendengar seorang yang bukan Islam meninggal dunia? Adakah ia bergantung pada niat? Bagaimana jika ucapan itu hanya sebagai penghormatan sesama manusia?

      PENJELASAN:

      Secara dasarnya Islam membenarkan ucapan yang baik terhadap orang bukan Islam atas dasar kemanusiaan dan penghormatan terhadap hak mereka dalam melaksanakan agama mereka. Ini dapat dikiaskan dengan penghormatan Rasulullah s.a.w apabila Baginda berdiri menghormati jenazah seorang Yahudi yang lalu di hadapan Baginda.

      Dua (2) perkara penting dalam isu memberi ucapan kepada orang bukan Islam. Pertama, niat seseorang dalam memberikan ucapan tersebut. Sekiranya sesuatu ucapan diberikan dengan niat membenarkan kepercayaan sesuatu agama yang jelas bertentangan dengan Islam, maka ia adalah dilarang. Sementara sekiranya ia diucap sekadar penghormatan secara umum, maka ia adalah harus.

      Keduanya, latarbelakang tradisi istilah yang diucapkan. Sekiranya ia telah menjadi sebahagian dari amalan keagamaan maka ia adalah dilarang.

      Dalam konteks ucapan Rest in Peace, ia adalah satu bentuk ucapan doa yang biasa diucapkan dalam agama Kristian terutama dalam mazhab Katolik sejak abad ke-18. Ia juga biasanya diukir di batu nisan mereka yang telah meninggal dunia di kalangan masyarakat Kristian. Versi penuh ucapan tersebut yang berasal dari bahasa Latin itu ialah ‘May his soul and the souls of all the departed faithful by God’s mercy rest in peace.’

      Ia juga mengandaikan orang bukan Islam tersebut akan mendapat rahmat dari Tuhan sebagaimana doa asal yang disebut dalam bahasa Latin. Sedangkan dari sudut akidah Islam seseorang yang mati dalam kekufuran tidak akan mendapat keampunan dan rahmat dari Tuhan. Ini berdasarkan ayat al-Quran, Surah al-Taubah:113, “Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabatnya sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu ahli neraka.”

      Oleh yang demikian seorang Islam adalah amat tidak digalakkan untuk mengucapkannya kepada seorang bukan Islam.

      Walaubagaimanapun Islam tidak menghalang seseorang Islam mengucapkan simpati terhadap keluarga orang bukan Islam yang meninggal dunia dengan ucapan yang tidak memberi implikasi keagamaan seperti “Saya bersimpati dengan apa yang berlaku kepada anda “ atau “ kami mengucapkan kesedihan atas kehilangan si fulan dari keluarga anda”.

      Wallahu a’lam.

      SUMBER: e-fatwa JAKIM.
      http://www.e-fatwa.gov.my/blog/hukum-menyebut-rest-peace-rip-kepada-bukan-islam-meninggal-dunia

      17 April 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Masaalah bacaan Qunut Solat Subuh

      - Buya Yahya Menjawab -

APAKAH RASULULLAH SAW SHALAT SHUBUH PAKAI QUNUT

Assalamu ‘Alaikum WR. WB.
Buya saya mau Tanya tentang Qunut bagaimana awalnya kenapa ada yang pakai Qunut dan ada yang tidak pakai Qunut, bagaimana dengan Rasulullah SAW sendiri,  apakah Rasulullah menggunakan Qunut atau tidak ?

Wa'alaikum Salam WR. WB.
Qunut subuh adalah masalah khilafiyah, artinya para ulama berbeda pendapat dalam hal itu. Para ulama pengikut Imam Syafi’I mereka mengatakan bahwa qunut saat sholat subuh adalah sunnah.Ulama pengikut Imam Abu Hanifa mengatakan jika qunut subuh itu tidak sunnah. Masing-masing mempunyai hujjah yang bersumber dari Rasulullah SAW. Kalau kita kembali kepada ilmu para ulama ada banyak sebab perbedaan pendapat para ulama yang akan menjadikan orang yang sadar akan semakin kagum dengan kinerja para ulama terdahulu. Bahkan mereka senantiasa saling menghormati tanpa harus mencela yang berbeda denganya. Bagi kita adalah mengikuti mereka bukan mencela.Yang mencela orang yang tidak berqunut itu sama artinya mencela Imam Abu Hanifa, begitu sebaliknya yang mencela orang yang berqunut itu sama artinya mencela Imama Syafi’i. Menyikapi hal itu kita harus bijak, jangan membuat keanehan di masyarakat kita. Karena tidak semua orang awam tahu perbedaan ini. Maka jika anda hidup di Negeri orang tidak berqunut seperti India,maka anda jangan memaksa  mereka mengikuti anda yang  berQunut. Karena hal itu akan membuat resah ummat. Begitu juga jika anda pengikut Imam Abu Hanifa lalu anda ke Indonesia yang masyarakatnya pengikut Imam Syafi’i jangan anda membuat resah mereka dengan anda memaksa mereka untuk  tidak berqunut.

Wallahua’lam bishshowab.

      - Buya Yahya Menjawab -

      APAKAH RASULULLAH SAW SHALAT SHUBUH PAKAI QUNUT

      Assalamu ‘Alaikum WR. WB.

      Buya saya mau Tanya tentang Qunut bagaimana awalnya kenapa ada yang pakai Qunut dan ada yang tidak pakai Qunut, bagaimana dengan Rasulullah SAW sendiri, apakah Rasulullah menggunakan Qunut atau tidak ?

      Wa’alaikum Salam WR. WB.

      Qunut subuh adalah masalah khilafiyah, artinya para ulama berbeda pendapat dalam hal itu. Para ulama pengikut Imam Syafi’I mereka mengatakan bahwa qunut saat sholat subuh adalah sunnah.Ulama pengikut Imam Abu Hanifa mengatakan jika qunut subuh itu tidak sunnah. Masing-masing mempunyai hujjah yang bersumber dari Rasulullah SAW. Kalau kita kembali kepada ilmu para ulama ada banyak sebab perbedaan pendapat para ulama yang akan menjadikan orang yang sadar akan semakin kagum dengan kinerja para ulama terdahulu. Bahkan mereka senantiasa saling menghormati tanpa harus mencela yang berbeda denganya. Bagi kita adalah mengikuti mereka bukan mencela.Yang mencela orang yang tidak berqunut itu sama artinya mencela Imam Abu Hanifa, begitu sebaliknya yang mencela orang yang berqunut itu sama artinya mencela Imama Syafi’i. Menyikapi hal itu kita harus bijak, jangan membuat keanehan di masyarakat kita. Karena tidak semua orang awam tahu perbedaan ini. Maka jika anda hidup di Negeri orang tidak berqunut seperti India,maka anda jangan memaksa mereka mengikuti anda yang berQunut. Karena hal itu akan membuat resah ummat. Begitu juga jika anda pengikut Imam Abu Hanifa lalu anda ke Indonesia yang masyarakatnya pengikut Imam Syafi’i jangan anda membuat resah mereka dengan anda memaksa mereka untuk tidak berqunut.

      Wallahua’lam bishshowab.

      17 April 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Fatwa Mengenai Harta Haram

      Fatwa Mengenai Harta Haram

      17 April 2014 Posted by | Fatwa, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Hukum Shisha Menurut Pandangan Syarak


      Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

      Muzakarah Khas Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia yang bersidang pada 17 Julai 2013 telah membincangkan Hukum Shisha Menurut Pandangan Syarak. Muzakarah telah membuat keputusan seperti berikut:

      Setelah mendengar pembentangan dan penjelasan pakar-pakar daripada Kementerian Kesihatan Malaysia dan meneliti maklumat serta bukti-bukti perubatan dan saintifik terperinci yang dikemukakan dari dalam dan luar negara mengenai kesan dan kemudharatan besar yang dihadapi akibat daripada shisha terhadap kesihatan ummah, pembangunan ekonomi negara serta pembentukan generasi pada masa akan datang, maka Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa shisha adalah HARAM. Oleh itu, umat Islam adalah dilarang menghisap shisha atau menyediakan perkhidmatan menghisap shisha atau apa-apa aktiviti yang berkaitan dengan shisha.

      Muzakarah menegaskan bahawa pengharaman Shisha ini adalah berdasarkan nas-nas syarak daripada al-Quran dan Hadith serta Kaedah Fiqhiyyah bagi memastikan lima perkara asas bagi manusia yang terkandung dalam Maqasid Syari’yyah iaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta dapat dipelihara sepertimana tuntutan syarak, kerana Shisha jelas memudharatkan kesihatan, membazir dan mensia-siakan masa dan harta serta dikategorikan sebagai satu perkara buruk atau keji, berdasarkan nas-nas berikut:
      Firman Allah swt dalam Surah al-Baqarah, ayat 195 :

      “Dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan”.

      Firman Allah swt dalam Surah al-A’raf ayat 157;

      “ Dan ia menghalalkan bagi mereka segala benda yang baik dan mengharamkan kepada mereka segala benda yang buruk”.

      Sabda Rasulullah s.a.w :

      “Tidak boleh mudharatkan (diri sendiri) dan memberi kemudharatan (kepada orang lain)”. (Hadith riwayat Ahmad, Malik, Ibn Majah dan al-Daraqutni)

      Kaedah Usul Fiqh:

      سد الذريعة – iaitu “Menutup pintu kerosakkan”
      درء المفاسد مقدم على جلب المصالح – iaitu “menolak kerosakan adalah didahulukan daripada mencari kemaslahatan”.

      Sumber:http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-kebangsaan/hukum-shisha-menurut-pandangan-syarak

      14 April 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Hukum Penggunaan Peralatan Dan Perhiasan Berasaskan Abu Tulang Haiwan (Bone China)

      Hukum Penggunaan Peralatan Dan Perhiasan Berasaskan Abu Tulang Haiwan (Bone China)
-------------------
Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-99 yang bersidang pada 4-6 Mei 2012 telah membincangkan mengenai Hukum Penggunaan Peralatan Dan Perhiasan Berasaskan Abu Tulang Haiwan (Bone China). Muzakarah telah membuat keputusan seperti berikut:
 
Setelah meneliti keterangan, hujah-hujah dan pandangan yang dikemukakan, Muzakarah menegaskan bahawa berdasarkan mazhab Shafie, sifat kenajisan babi masih kekal dalam produk bone china dan sifat najis tersebut tidak akan hilang kerana proses istihalah dianggap tidak berlaku.
 
Muzakarah juga berpandangan bahawa sekiranya penggunaan produk bone china yang berasaskan abu tulang haiwan yang tidak halal mengikut Syarak ini diharuskan, maka ia akan membuka ruang kepada penggunaan produk-produk bersumberkan haiwan yang tidak halal mengikut syarak berleluasa.
 
Muzakarah juga berpandangan bahawa peralatan atau perhiasan bone china tidak mencapai tahap keperluan (darurah) kepada masyarakat untuk memiliki dan menggunakannya.
 
Sehubungan itu, Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa penggunaan bahan peralatan atau perhiasan yang dihasilkan daripada abu tulang haiwan (bone china) yang tidak halal mengikut syarak, termasuk haiwan yang halal dimakan tetapi tidak disembelih mengikut hukum syarak adalah tidak diharuskan.
 
Walaubagaimanapun, penggunaan peralatan dan perhiasan berasaskan abu tulang haiwan (bone china) yang halal dimakan dan disembelih mengikut hukum syarak adalah diharuskan.

Rujuk - http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-kebangsaan/hukum-penggunaan-peralatan-dan-perhiasan-berasaskan-abu-tulang-haiwan-bone-china

      Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

      Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-99 yang bersidang pada 4-6 Mei 2012 telah membincangkan mengenai Hukum Penggunaan Peralatan Dan Perhiasan Berasaskan Abu Tulang Haiwan (Bone China). Muzakarah telah membuat keputusan seperti berikut:

      Setelah meneliti keterangan, hujah-hujah dan pandangan yang dikemukakan, Muzakarah menegaskan bahawa berdasarkan mazhab Shafie, sifat kenajisan babi masih kekal dalam produk bone china dan sifat najis tersebut tidak akan hilang kerana proses istihalah dianggap tidak berlaku.

      Muzakarah juga berpandangan bahawa sekiranya penggunaan produk bone china yang berasaskan abu tulang haiwan yang tidak halal mengikut Syarak ini diharuskan, maka ia akan membuka ruang kepada penggunaan produk-produk bersumberkan haiwan yang tidak halal mengikut syarak berleluasa.

      Muzakarah juga berpandangan bahawa peralatan atau perhiasan bone china tidak mencapai tahap keperluan (darurah) kepada masyarakat untuk memiliki dan menggunakannya.

      Sehubungan itu, Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa penggunaan bahan peralatan atau perhiasan yang dihasilkan daripada abu tulang haiwan (bone china) yang tidak halal mengikut syarak, termasuk haiwan yang halal dimakan tetapi tidak disembelih mengikut hukum syarak adalah tidak diharuskan.

      Walaubagaimanapun, penggunaan peralatan dan perhiasan berasaskan abu tulang haiwan (bone china) yang halal dimakan dan disembelih mengikut hukum syarak adalah diharuskan.

      Rujuk – http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-kebangsaan/hukum-penggunaan-peralatan-dan-perhiasan-berasaskan-abu-tulang-haiwan-bone-china

       

      28 March 2014 Posted by | Fatwa, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Orang Hilang–MAFQUD

      Mafqud - Orang Hilang

      28 March 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh | , | Leave a comment

      Hukum Menggunakan Bakteria Yang Diambil Daripada Najis Bayi Sebagai Agen Pemangkin Dalam Yogurt

      Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

      Hukum Menggunakan Bakteria Yang Diambil Daripada Najis Bayi Sebagai Agen Pemangkin Dalam YogurtMuzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-62 yang bersidang pada 16 Mac 2004 telah membincangkan mengenai Hukum Menggunakan Bakteria Yang Diambil Daripada Najis Bayi Sebagai Agen Pemangkin Dalam Yogurt. Muzakarah telah memutuskan bahawa hukum menggunakan bakteria kultur yang dipencilkan daripada sebarang najis sebagai agen pemangkin dalam yogurt adalah harus dengan syarat telah melalui proses pengasingan dan penyucian yang sejajar dengan hukum syarak kerana bakteria yang terdapat di dalam najis bayi adalah mutanajjis.Keterangan/Hujah:  Bakteria adalah makhluk yang dijadikan oleh Allah SWT dan tiada nas yang menyebut tentang pengharaman atau statusnya sebagai najis. Walaupun bakteria selalu digambarkan menyebabkan penyakit namun kajian sains menyingkap satu lagi rahsia bukti kebesaran Allah SWT bahawa setiap sesuatu yang dijadikan di atas muka bumi ini tidak sia-sia. Berdasarkan kepada prinsip

      Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-62 yang bersidang pada 16 Mac 2004 telah membincangkan mengenai Hukum Menggunakan Bakteria Yang Diambil Daripada Najis Bayi Sebagai Agen Pemangkin Dalam Yogurt. Muzakarah telah memutuskan bahawa hukum menggunakan bakteria kultur yang dipencilkan daripada sebarang najis sebagai agen pemangkin dalam yogurt adalah harus dengan syarat telah melalui proses pengasingan dan penyucian yang sejajar dengan hukum syarak kerana bakteria yang terdapat di dalam najis bayi adalah mutanajjis.

      Keterangan/Hujah:

      Bakteria adalah makhluk yang dijadikan oleh Allah SWT dan tiada nas yang menyebut tentang pengharaman atau statusnya sebagai najis. Walaupun bakteria selalu digambarkan menyebabkan penyakit namun kajian sains menyingkap satu lagi rahsia bukti kebesaran Allah SWT bahawa setiap sesuatu yang dijadikan di atas muka bumi ini tidak sia-sia. Berdasarkan kepada prinsip ” setiap sesuatu pada asalnya adalah halal ” dan ” setiap sesuatu pada asalnya adalah harus ” maka memanipulasi bakteria baik untuk menafaat manusia adalah tidak bertentangan dengan syariat.

       

       

      24 March 2014 Posted by | Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Ibadah | | Leave a comment

      Hukum Memakan Daging/Isi Belangkas dan Telurnya

      Hukum Memakan Daging/Isi Belangkas dan Telurnya

Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-93 yang bersidang pada 21 Februari 2011 telah membincangkan Hukum Memakan Daging/Isi Belangkas dan Telurnya. Muzakarah telah memutuskan seperti berikut:
 
    - Setelah meneliti keterangan, hujah-hujah dan pandangan yang dikemukakan, Muzakarah berpandangan bahawa tiada nas qati’e yang mengharamkan manusia memakan belangkas. Pakar Haiwan Hidupan Air menyatakan bahawa belangkas adalah haiwan yang hidup di laut dalam dan hanya naik ke pantai untuk bertelur. Ia adalah sejenis haiwan satu alam yang hidup di laut masin dan sedikit di paya air tawar dan ia tidak boleh kekal hidup di darat kerana bernafas menggunakan insang.
     
    - Sehubungan itu, selaras dengan pandangan Jumhur Ulama’ yang menyatakan bahawa haiwan yang tinggal di dalam laut semata-mata dan tidak boleh hidup tanpa air adalah halal dimakan, maka Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa hukum memakan daging/isi dan telur belangkas adalah diharuskan (HALAL).
     
Rujuk : http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-kebangsaan/hukum-memakan-dagingisi-belangkas-dan-telurnya

      Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

      Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-93 yang bersidang pada 21 Februari 2011 telah membincangkan Hukum Memakan Daging/Isi Belangkas dan Telurnya. Muzakarah telah memutuskan seperti berikut:

      - Setelah meneliti keterangan, hujah-hujah dan pandangan yang dikemukakan, Muzakarah berpandangan bahawa tiada nas qati’e yang mengharamkan manusia memakan belangkas. Pakar Haiwan Hidupan Air menyatakan bahawa belangkas adalah haiwan yang hidup di laut dalam dan hanya naik ke pantai untuk bertelur. Ia adalah sejenis haiwan satu alam yang hidup di laut masin dan sedikit di paya air tawar dan ia tidak boleh kekal hidup di darat kerana bernafas menggunakan insang.

      - Sehubungan itu, selaras dengan pandangan Jumhur Ulama’ yang menyatakan bahawa haiwan yang tinggal di dalam laut semata-mata dan tidak boleh hidup tanpa air adalah halal dimakan, maka Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa hukum memakan daging/isi dan telur belangkas adalah diharuskan (HALAL).

      Rujuk : http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-kebangsaan/hukum-memakan-dagingisi-belangkas-dan-telurnya

      Like · · Share · 9059

      21 March 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Denda Lewat Bayar Di Bank Islam Riba?

      Denda Lambat Bayar Di Bank Islam Macam Konvensional?

      Soalan :

      Bolehkah ustaz jelaskan adakah apabila kita mengmbil pembiayaan secara islam dari bank-bank Islam, kemudian kita terlewat bayar kita dikenakan denda juga ? adakah ini tidak dikira Riba? Tolong jelaskan dengan sejelas-jelasnya. Dan jika ada cara tertentu, siapakah yang memantau pembahagiannya?

      Jawapan

      Telah saya sebutkan di web saya in juga dahulu  bahawa di dalam praktis perbankan Islam yang mengenakan sejumlah wang sebagai denda itu sebenarnya adalah di anggap bayaran kos rugi (ta’widh atau ‘compensation’) yang dihadapi oleh Bank akibat pelanggan tidak membayar hutangnya kepada bank dalam waktu yang telah dijanjikan, pembaca perlu membezakan bayaran ganti rugi yang dikenakan oleh Bank-bank Islam dengan penalti oleh Bank Konvensional.

      Ganti rugi atau compensation yang di kenakan oleh Bank Islam adalah terhasil dari proses jual beli dengan byaraan ansuran yang dijanjikan pada waktunya. Manakala penalti Bank Konvensional adalah hasil dari kontrak pinjaman semata-mata.

      Menurut sebahagian ulama seperti Syeikh Mustafa Az-Zarqa, Syeikh Muhammad Sadiq Ad-Dharir, Sheikh Abdullah Bin Mani’, Majlis Penasihat Shariah Bank islam Jordan, dan Fatwa Persidangan dallah Al-Barakah (Dr. Muhyidin Al-Qurra Daghi, Musykilat ad-Duyun al-Mutaakhirat, International Shariah Dialogue, BNM, 8 Nov 2006),

      Menurut mereka keharusan ini berdasarkan ‘Maslahat Mursalat’ dan tindakan mengenakan gantirugi ini adalah harus bagi menyekat orang ramai mempermainkan bank-bank Islam dengan sengaja tidak membayar atau melewatkan bayaran walaupun diketika mempunyai wang, ia dinamakan MUMATIL yang disebut oleh Nabi SAW :

      مطل الغني ظلم

      Ertinya : "Penangguhan sengaja (dari membayar hutang) oleh orang yang berkemampuan adalah satu Kezaliman" ( Riwayat Al-Bukhari, no 2167, 2/799 )

      Justeru, di ketika zaman lemahnya amanah manusia untuk membayar hutang mereka dan menyekat mudarata besar kepada dari berlaku kepada bank-bank Islam dan juga pemiutang, maka apabila bayaran ansuran yang dijanjikan tidak dilangsaikan pada waktunya, ta’widh (gantirugi) akan dikenakan.

      Sebahagian ulama mengharuskan jumlah gantirugi ini digunakan oleh Bank dengan syarat ianya adalah jumlah sebenar kerugian. Sebarang wang lebih dari kerugian sebenar tidak boleh digunakan oleh bank-bank Islam. 

      Manakala sebahagian besar ulama lain berpendapat bahawa ta’widh yang dikenakan oleh Bank Islam ini (menurut majoriti ulama sedunia) adalah tidak boleh dimasukkan di dalam pendapatan Bank Islam, malah mestilah di agihkan untuk tujuan kebajikan kepada orang miskin dan faqir sahaja. Inilah yang dilakukan oleh kebanyakan Bank-bank Islam di Malaysia seperti Asian Finance Bank Berhad, Kuwait Finance House, Ar-Rajhi Bank dan RHB Islamic Bank Berhad. Saya hanya menyebut nama-nama ini sahaja adalah kerana ini saya tidak mengetahui kaedah yang digunakan oleh bank-bank Islam lain.

      Bagi bank-bank Islam yang saya sebutkan namanya ini, mereka lebih cernderung untuk menuruti keputusan majoriti  ahli Majlis Kesatuan Fiqh Sedunia. Konsep yang digunakan adalah konsep sedeqahkan duit (ta’widh = compensation) kepada faqir miskin adalah dibuat atas konsep Iltizam at-tabarru’ yang disebut di dalam kitab Fiqh Mazhab Maliki.

      Ia bermakna semua pelanggan memberikan komitmen jika ia gagal memenuhi janji untuk membuat pembayaran hutangnya  kepada bank dalam waktu yang telah dipersetujui. Ia berjanji akan bersedeqah dan melantik pihak bank untuk mengagihkannya.

      Bagaimanapun, tidak dinafikan bahawa terdapat beberapa buah bank-bank Islam di Malaysia mengambil pandangan ulama yang lebih ringan, iaitu mereka tidak menghadkan penggunaan wang ta’widh (compensation) kepada faqir miskin sahaja. Justeru, sebahagian bank Islam mengambilnya dan digunakan untuk kegunaan mereka. Perkara ini mungkin telah disahkan harus oleh majlis penasihat Shariah masing-masing. Justeru, ia telah selesai dengan ijtihad majlis Penasihat masing-masing.

      Berkenaan pertanyaan ‘siapa yang memantau’

      Jawabnya, di kebanyakan Bank-bank Islam, Jabatan Shariah dan Majlis Penasihat Shariah yang akan memantau, malah keputusan Majlis Penasihat Shariah juga ,mewajibkan akaun yang diasingkan bagi tujuan ini. Hasilnya, setiap jumlah yang terkumpul dari ta’widh akan terus masuk ke akaun khas ‘charity’ sebagai contoh. Ia pula tidak boleh disalurkan kepada ‘charity’ kecuali setelah disahkan layak oleh Majlis Penasihat Shariah. Ini bagi mengelakkan berlakunya pilih kasih dan kronisme dalam pembahagian. Inilah yang dilakukan di Asian Finance Bank ( Qatar Islamic Bank Malaysia).

      Kesimpulannya, isu ini dibawa ke persidangan Fiqh Malaysia dan Sedunia, keputusannya bagi menyekat kecuaian sengaja ini, maka diharuskan mengenakan denda ta’widh dengan syarat ianya hanya 1 % sahaja, ia tidak bersifdat ‘compounding’. Pembaca perlu faham bahawa penalti yang dikenakan oleh Bank konvensional adalah compounding (ertinya) penalti ini akan dimasukkan dalam jumlah pinjaman dan jika kena penalti lagi, maka peratusan penalti akan disandarkan kepada jumlah pinjaman asal + penalti. Ini lah zalim dan amat menindas.

      Sekian

      Sumber: Ust Zaharuddin Abd Rahman

      http://www.zaharuddin.net/

      3 March 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

      Apakah hukum membunuh tikus dengan cara menjemurnya di dalam perangkap di tengah panas terik matahari sekitar 2-3 jam sehingga ia mati kepanasan?

      Fatwa Malaysia

      PENJELASAN:

      Membunuh tikus adalah diharuskan dalam Islam kerana ia termasuk dalam haiwan yang disifatkan sebagai ‘fawasiq’(haiwan yang terkeluar daripada hukum haiwan lain kerana menyakitkan dan merosakkan).

      Di dalam hadis sahih, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda: خَمْسٌ فَوَاسِقُ، يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: الْحَيَّةُ، وَالْغُرَابُ الْأَبْقَعُ، وَالْفَأْرَةُ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ، وَالْحُدَيَّا

      Maksudnya: “Lima haiwan fawasiq (yang terkeluar daripada hukum haiwan lain kerana menyakitkan dan merosakkan) yang boleh dibunuh di tanah halal dan di tanah haram; ular, gagak, tikus, anjing yang buas/serigala, dan helang”. (Riwayat Muslim, 2/856, no: 1198).

      Walau bagaimanapun, kaedah membunuh haiwan-haiwan tersebut hendaklah dengan cara yang tidak menyeksa. Kerana Islam memerintahkan supaya berlaku ihsan dalam setiap pembunuhan.

      Sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam: إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ

      Maksudnya:

      “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan berlaku ihsan dalam setiap sesuatu. Maka apabila kamu membunuh, maka elokkanlah cara pembunuhan. Dan jika kamu menyembelih maka elokkanlah cara penyembelihan”. (Riwayat Muslim, 3/1548, no: 1955).

      Maka tidak diharuskan membunuh tikus-tikus dengan cara menyeksanya seperti menjemurnya di tengah panas terik matahari dalam tempoh yang lama sedangkan terdapat banyak kaedah lain yang lebih baik seperti memukul hingga mati, menggunakan renjatan elektrik dan seumpamanya.

      Wallahu A’lam.

      21 February 2014 Posted by | Fatwa, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Memakai pakaian yang diperbuat daripada sutera tulen adalah haram dipakai bagi lelaki muslim.

      Walaubagaimanapun, dalam kepelbagaian proses pembuatan batik sutera ketika ini, Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan (MJKF) mengarahkan satu kajian terperinci bagi mengetahui kandungan sebenar bahan yang digunakan dalam pembuatan batik dan dibawa ke dalam Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan untuk diputuskan secara terperinci"

       

      KENYATAN MEDIA BERKENAAN
PEMAKAIAN BATIK SUTERA : 
"KAJIAN TERPERINCI JABATAN SEDANG DIJALANKAN"

Sukacita dimaklumkan bahawa Jakim telah mengadakan satu kajian terperinci berhubung pemakaian batik sutera melalui Panel Pakar Syariah (PPS) Jakim yang terdiri daripada para ilmuan dan cendekiawan. Antara perkara yang jelas kita persetujui adalah memakai pakaian yang diperbuat daripada sutera tulen adalah haram dipakai bagi lelaki muslim.

Walaubagaimanapun, dalam kepelbagaian proses pembuatan batik sutera ketika ini, Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan (MJKF) telah mengarahkan satu kajian terperinci dijalankan dengan penglibatan dan kombinasi pakar syariah dan pakar tekstil bagi mengetahui kandungan sebenar bahan yang digunakan dalam pembuatan batik. Kajian terperinci berkenaan perkara tersebut sedang di peringkat kajian dan kemudiaannya akan dibawa ke dalam Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan untuk diputuskan secara terperinci.

Jakim juga sebelum daripada ini pernah mengadakan perbincangan dengan pihak Kompleks Kraftangan Malaysia bagi mendapatkan penjelasan selanjutnya berhubung proses yang digunakan dalam penghasilan pelbagai jenis batik di Malaysia. Kerjasama ini akan memudahkan lagi kajian terperinci berhubung penentuan hukum dalam isu pemakaian batik sutera ini.

Suka Jakim mengingatkan dan memaklumkan bahawa sesuatu hukum yang hendak diputuskan tidak boleh dibuat melalui pandangan secara rambang dan mudah tetapi memerlukan kajian yang teliti dan bersungguh-sungguh.
Sekian, dimaklumkan

Terima kasih

‘Saya Yang Menurut Perintah’

DATO’ HAJI OTHMAN MUSTAPHA
21 Februari 2014

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

      KENYATAN MEDIA BERKENAAN

      PEMAKAIAN BATIK SUTERA :

      "KAJIAN TERPERINCI JABATAN SEDANG DIJALANKAN"

      Sukacita dimaklumkan bahawa Jakim telah mengadakan satu kajian terperinci berhubung pemakaian batik sutera melalui Panel Pakar Syariah (PPS) Jakim yang terdiri daripada para ilmuan dan cendekiawan. Antara perkara yang jelas kita persetujui adalah memakai pakaian yang diperbuat daripada sutera tulen adalah haram dipakai bagi lelaki muslim.

      Walaubagaimanapun, dalam kepelbagaian proses pembuatan batik sutera ketika ini, Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan (MJKF) telah mengarahkan satu kajian terperinci dijalankan dengan penglibatan dan kombinasi pakar syariah dan pakar tekstil bagi mengetahui kandungan sebenar bahan yang digunakan dalam pembuatan batik. Kajian terperinci berkenaan perkara tersebut sedang di peringkat kajian dan kemudiaannya akan dibawa ke dalam Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan untuk diputuskan secara terperinci.

      Jakim juga sebelum daripada ini pernah mengadakan perbincangan dengan pihak Kompleks Kraftangan Malaysia bagi mendapatkan penjelasan selanjutnya berhubung proses yang digunakan dalam penghasilan pelbagai jenis batik di Malaysia. Kerjasama ini akan memudahkan lagi kajian terperinci berhubung penentuan hukum dalam isu pemakaian batik sutera ini.

      Suka Jakim mengingatkan dan memaklumkan bahawa sesuatu hukum yang hendak diputuskan tidak boleh dibuat melalui pandangan secara rambang dan mudah tetapi memerlukan kajian yang teliti dan bersungguh-sungguh.

      Sekian, dimaklumkan

      Terima kasih

      ‘Saya Yang Menurut Perintah’

      DATO’ HAJI OTHMAN MUSTAPHA

      21 Februari 2014

      21 February 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Adakah merobohkan Masjid di bolehkan?

      roboh masjid

      Soalan:

      Boleh atau tidak sesebuah masjid yang telah dibina dan ditunaikan solat padanya bertahun-tahun lamanya termasuk solat Jumaat dengan sewenang-wenang dirobohkannya atas alasan tidak mengikut prosedur pembinaan yang sah. Mohon penjelasan menurut pandangan syarak, bukan pandangan politik. Terima kasih.

      Jawapan:

      BANGUNAN masjid atau mana-mana bangunan yang didirikan solat Jumaat padanya, adalah merupakan suatu institusi Islam yang disebut sebagai syiar agama.

      Amat penting dihormati dan dimuliakan. Firman Allah (mafhumnya): "Demikianlah (ajaran Allah); dan sesiapa yang menghormati syiar-syiar agama Allah maka (dialah orang yang bertaqwa) kerana sesungguhnya perbuatan itu satu kesan dari sifat-sifat taqwa hati orang mukmin." (al-Hajj: 32)

      Oleh yang demikian, sekiranya telah terbina masjid, kita perlu memuliakannya dengan menjaga kemaslahatannya dan mengimarahkannya.

      Adapun menggunakan alasan menyalahi prosiding yang dibuat oleh manusia, dengan alasan ia terpaksa dirobohkan kerana menyalahi prosiding, maka itu amat tidak wajar.

      Dengan kata lain, tindakan ini diharamkan oleh agama.

      Manusia membuat undang-undang yang mengatasi undang-undang Allah. Ketaatan kepada manusia mengikut syariat Islam, cuma terpakai selagi ia tidak bercanggah dengan hukum Allah.

      Jika bercanggah dengan hukum Allah, maka perintah taat kepada undang-undang manusia terbatal.

      Umat Islam, khususnya pemerintah yang beragama Islam, wajib mempertahankan hukum Allah dengan meletakkan kehendak manusia (undang-undang manusia) di bawah kehendak Allah (undang-undang Allah).

      Bukan dengan meletakkan kehendak Allah di bawah telunjuk manusia, sehingga melanggarinya kerana menuruti undang-undang manusia.

      Menjaga dan menghormati masjid, termasuk larangan merobohkannya atau dengan sewenang-wenang seperti persoalan yang anda ajukan adalah perintah oleh Allah.

      Firman Allah (mafhumnya): "Dan siapakah lebih zalim daripada orang-orang yang menyekat dan menghalangi daripada menggunakan masjid-masjid Allah untuk (sembahyang dan) menyebut nama Allah di dalamnya, dan ia berusaha pula untuk meruntuhkan masjid-masjid itu? Orang-orang yang sedemikian, tidak sepatutnya masuk ke dalam masjid-masjid itu melainkan dengan rasa penuh hormat dan takut kepada Allah (bukan secara yang mereka lakukan itu). Mereka (dengan perbuatan itu) akan beroleh kehinaan di dunia, dan di akhirat kelak mereka mendapat azab seksa yang amat besar." (al-Baqarah: 114)

      Al-Imam al-Qurtubi ketika membuat ulasan (tafsiran) ayat di atas pernah menyebutkan katanya (rujuk juzuk 2 halaman 77): "Maksud Kharab dalam ayat tadi, yang makna umumnya meruntuhkannya, bermaksud merosakkan secara hakiki. Atau merosakkan secara majazi (sindiran) iaitu menghalang manusia mengimarahkan masjid tersebut, seperti menghalang orang bersolat padanya, atau melarang orang daripada mengimarahkan padanya."

      Mafhum daripada ulasan ini, kita boleh menambah, iaitu melarang orang yang berzikir di dalamnya, yang bertazkirah (ceramah agama) di dalamnya, sedangkan perbuatan itu secara sahih termasuk dalam erti kata mengimarahkan masjid tersebut.

      Seterusnya al-Imam al-Qurtubi menambah: "Seterusnya al-Imam al-Qurtubi menambah: “Dan tidak boleh sama sekali dicegah atau dilarang membina masjid, di mana-mana jua yang diperlukan, melainkan dengan jelas, masjid ditubuhkan dengan tujuan kejahatan, seperti sengaja hendak memecah-belahkan umat Islam.

      Rasulullah saw melarang umat Islam menunaikan solat di Masjid Dhirar yang dibina sebagai saingan kepada masjid taqwa (Masjid Quba). Hal ini dijelaskan dalam firman Allah (mafhumnya): “Dan (di antara orang-orang munafik juga ialah) orang-orang yang membina masjid Dhirar dengan tujuan membahayakan (keselamatan orang-orang Islam), dan (menguatkan) keingkaran (mereka sendiri) serta memceh-belahkan perpaduan orang-orang yang beriman, dan juga untuk (dijadikan tempat) intipan bagi orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-nya sebelum itu. Dan (apabila tujuan mereka yang buruk itu ketara), mereka akan bersumpah dengan berkata: “Tidakkah yang kami kehendaki (dengan mendirikan masjid ini) melainkan untuk kebaikan semata-mata.” Padahal Allah menyaksikan, bahawa sesungguhnya mereka adalah berdusta.” (at-Taubah: 107)

      Masjid yang sedemikian itulah Allah melarang mengimarahkannya, sebagaimana firman Allah (mafhumnya): “Jangan engkau sembahyang di masjid itu selama-lamanya, kerana sesungguhnya masjid (Quba yang engkau bina wahai Muhammad), yang telah didirikan atas dasar taqwa dari mula (wujudnya), sudah sepatutnya engkau sembahyang padanya. Di dalam masjid itu ada orang-orang lelaki yang suka (mengambil berat) membersihkan (mensucikan) dirinya; dan Allah mengasihi orang-orang yang membersihkan diri mereka (zahir dan batin).” (at-Taubah: 108)

      Oleh yang demikian amatlah tidak wajar, masjid-masjid yang didirikan atas dasar taqwa untuk menunaikan dasar kepada ketaqwaan kepada Allah dirobohkannya.

      Takutlah kepada janji pembalasan Allah terhadap orang-orang yang berbuat demikian di hari akhirat kelak. Wallahua`lam.

      Sumber: Bersama Dato Dr Harun Din
      (via http://abuikhwan.blogspot.com/2011/05/perihal-roboh-masjid.html

      14 February 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Apa hukumnya jika kita bekerja di pasaraya yang kerja utamanya perlu menyusun arak?

      arak terbuka

       

      Fatwa Malaysia

      PENJELASAN:

      Hukum bekerja di pasaraya secara umumnya adalah dibenarkan walaupun pasaraya itu ada menjual arak dan benda haram lain.

      Namun, apabila bekerja secara langsung dengan arak seperti menyusun botol arak atau menjaga kaunter dan menguruskan jual beli arak, hukumnya adalah haram.

      Ini berpandukan hadis Nabi Muhammad saw: Anas bin Malik melaporkan, "Rasulullah saw melaknat sepuluh golongan yang terlibat dengan arak:

      1) Orang yang memerah arak.

      2) Orang yang diminta arak diperahkan untuknya.

      3) Orang yang meminumnya.

      4) Orang yang membawanya.

      5) Orang yang meminta dibawa arak kepadanya.

      6) Orang yang memberi minum arak kepada orang lain.

      7) Orang yang menjual arak.

      8) Orang yang mendapat hasil daripada arak.

      9) Orang yang membeli arak.

      10) Orang yang meminta dibelikan arak untuknya."

      Hadis direkodkan oleh Imam Ibnu Majah dan al-Tirmizi.

      Wallahu a’lam.

      9 February 2014 Posted by | Fatwa, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Adakah kita dibenarkan untuk menulis ayat al-Quran, hadith dan zikir dalam tulisan rumi?

      Fatwa Malaysia

      doa-murah-rezeki-ayat-seribu-dinar dalam rumi

       

      PENJELASAN:

      Firman Allah SWT dalam surah Fussilat ayat 3, yang bermaksud, "Sebuah Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya satu persatu; iaitu Al-Quran yang diturunkan dalam bahasa Arab bagi faedah orang-orang yang mengambil tahu dan memahami kandungannya."

      Para ulama sepakat mengatakan bahawa tidak dibenarkan menulis ayat al-Quran dalam tulisan selain tulisan Arab mushaf Uthmani. Imam Ibnu Hajar al-Haytami menjelaskan dalam kitab Fatwanya, para ulama sepakat melarang menulis ayat al-Quran dalam tulisan selain tulisan Arab walaupun dengan tujuan untuk mengajar. Dakwaan yang mengatakan jika ditulis ayat al-Quran menggunakan tulisan yang difahami oleh sesuatu masyarakat memudahkan mereka untuk belajar al-Quran, dakwaan itu adalah sesuatu pembohongan dan tidak mengikut amalan umat Islam terdahulu.

      al-Zurqani menjelaskan dalam kitabnya ‘Manahil al-’irfan’, para ulama melarang menulis ayat al-Quran menggunakan tulisan selaian tulisan Arab kerana ia membuka ruang yang luas kepada penyelewengan dan perubahan makna. Menurut fatwa yang dikeluarkan oleh Lujnah Fatwa al-Azhar, berkaitan menulis ayat al-Quran menggunakan tulisan rumi: Dilarang menulis ayat al-Quran menggunakan tulisan rumi, walaupun dikatakan ia boleh menyamai dengan konsep tulisan Arab (iaitu menggunakan transliterasi), kerana apabila menulis ayat al-Quran menggunakan tulisan rumi sudah pasti akan berlaku perubahan cara bacaan dan makna. Wajib menjaga al-Quran daripada sebarang bentuk perubahan atau penyelewengan.

      Fatwa di Malaysia turut menjelaskan bahawa haram menulis ayat al-Quran menggunakan tulisan rumi. Muzakatah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Agama Islam Malaysia Kali Ke-24 bersidang pada 5 dan 6 Jun 1989 bersamaan 2 dan 3 Zulkaedah 1409 telah mengambil keputusan bahawa: ‘Adalah haram ditulis atau digunakan mana-mana bahagian daripada al-Quran dengan tulisan yang bukan huruf Arab atau bukan sistem tulisan al-Quran. Memandangkan keadaan yang ada dalam masyarakat Islam di Malaysia, maka Muzakarah menasihatkan bahawa pelaksanaan fatwa ini hendaklah dijalankan secara berperingkat-peringkat dengan tidak menyusahkan mana-mana pihak.’

      Manakala menulis hadis, doa, atau zikir bahasa Arab dalam tulisan rumi, jika bertujuan untuk pembelajaran, maka ia dibenarkan, selagi mana ia tidak mengubah makna hadis, doa, atau zikir tersebut. Ia hanya untuk pembelajaran awal bagi golongan yang masih belum boleh membaca tulisan bahasa Arab. Namun, setelah boleh membaca dalam tulisan Arab, maka hendaklah membacanya dalam tulisan Arab. Ini bagi memastikan hadis, doa, atau zikir itu dibaca dengan betul.

      Wallahua’lam

      5 February 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Apakah hukum melakukan euthanasia pada haiwan yang berada dalam keadaan sakit (contohnya akibat kemalangan) dan tiada harapan sembuh?

      Fitrah Islami Online

      Fatwa Malaysia

      PENJELASAN:

      Islam adalah agama yang penuh dengan kerahmatan. Ia bukan sahaja membawa rahmat kepada manusia dan jin, malahan kerahmatannya turut melibatkan makhluk tidak berakal seperti haiwan. Justeru Islam tidak mengharuskan membunuh haiwan tanpa sebab. Di dalam hadis Abdullah bin Amru, katanya: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ إِنْسَانٍ قَتَلَ عُصْفُورًا فَمَا فَوْقَهَا بِغَيْرِ حَقِّهَا، إِلَّا سَأَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا حَقُّهَا؟ قَالَ: يَذْبَحُهَا فَيَأْكُلُهَا، وَلَا يَقْطَعُ رَأْسَهَا يَرْمِي بِهَا Maksudnya: Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang manusia membunuh seekor burung atau yang lebih daripada itu tanpa hak, kecuali Allah akan menyoalnya berkenaan burung itu”. Lalu baginda disoal, “Apakah haknya wahai Rasulullah?”. Sabda baginda, “Hendaklah dia menyembelihnya lalu memakannya, dan jangan memotong kepalanya lalu dibuangnya”. (Hadis riwayat Ahmad, 11/110, no: 6551; Al-Nasa’ie, 7/206, no: 4349. Dinilai sahih oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 4/261, no: 7574; dan dipersetujui oleh Al-Zahabi).

      Berdasarkan prinsip ini, sebahagian ulama termasuk ulama dari mazhab Syafie berpandangan bahawa tidak harus melakukan pembunuhan terhadap haiwan yang sakit demi untuk melepaskannya daripada kesakitan. Kecuali haiwan yang sakit adalah haiwan yang halal dimakan, maka ia boleh diselesaikan dengan cara penyembelihan untuk dimakan dagingnya. Al-Haitami mengatakan, “Dan haram menyembelih haiwan yang tidak boleh dimakan, sekalipun untuk tujuan merehatkannya (daripada kesakitan), seperti himar yang sakit berkekalan”. (Tuhfah al-Minhaj, 9/322).

      Pendapat yang sama diutarakan dalam mazhab Hanbali, seperti yang dinyatakan oleh Al-Buhuti, “Dan tidak harus juga menyembelihnya untuk tujuan lain seperti untuk merehatkanya (daripada kesakitan)”. (Kasyaf al-Qina’, 1/55).

      Daripada nukilan pendapat di atas, didapati bahawa hukum melakukan euthanasia terhadap haiwan yang sakit adalah tidak dibenarkan. Ini kerana ia tetap dikategorikan sebagai pembunuhan haiwan, dan ia tetap dianggap satu bentuk penyeksaan terhadapnya.

      Justeru selagi haiwan tersebut boleh dijaga dan dirawat, ia hendaklah dibiarkan hidup dan tidak dibunuh. Walau bagaimanapun, pertimbangan antara kemudaratan boleh dijadikan panduan di dalam isu ini. Ini kerana bagi sesetengah kes, membiarkan haiwan yang sakit kritikal tanpa dibunuh adalah lebih menyeksakan haiwan tersebut berbanding dengan melakukan euthanasia terhadapnya. Apatah lagi jika ia memerlukan kos penjagaan yang tinggi malahan berlipat kali ganda daripada harga haiwan tersebut. Dalam kes seumpama ini, pandangan yang mengharuskan euthanasia terhadap haiwan boleh dipakai dengan pertimbangan bahawa kemudaratan membiarkannya hidup lebih besar daripada kemudaratan melakukan euthanasia.

      Ini kerana, sekalipun euthanasia adalah satu bentuk pembunuhan atau penyeksaan terhadap haiwan, tetapi ia adalah penyeksaan yang lebih ringan berbanding dengan keseksaan haiwan tersebut jika tidak dibunuh. Maka dalam kes ini, boleh diaplikasikan kaedah feqah, “Menjalankan perkara yang lebih ringan kemudaratannya antara dua kemudaratan”. (Mawahib al-Jalil, 3/236).

      Wallahu A’lam.

      31 January 2014 Posted by | Fatwa, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Adakah seseorang itu dibenarkan memberi zakat kepada ahli keluarga yang miskin

      Zakat

      Fatwa Malaysia

      ISU:

      Adakah seseorang itu dibenarkan memberi zakat kepada ahli keluarga yang miskin dan menanggung hutang dengan ahli keluarga sendiri untuk menampung kehidupan seharian.

      PENJELASAN:

      Seseorang yang berada dalam kategori miskin termasuk dalam asnaf yang layak menerima zakat. Sekiranya beliau dalam keadaan menanggung hutang untuk keperluan hidup seharian, maka beliau berada dalam golongan gharimin (orang yang berhutang). Beliau layak menerima zakat daripada kedua-dua kategori.

      Ahli keluarga yang berkemampuan sangat digalakkan untuk memberikan zakat kepada keluarga sendiri yang miskin dan menanggung hutang berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw, "Pemberian zakat kepada orang miskin mendapat pahala kewajipan zakat, namun memberikan zakat kepada ahli keluarga yang miskin mendapat dua pahala iaitu kewajipan zakat dan menyambung tali sillaturrahim." Hadis direkodkan oleh Imam Ahmad, al-Tirmizi, dan Ibnu Majah. Syeikh al-Albani mengatakan, hadis ini sahih (al-Qaradawi, Fiqh al-Zakat, jil. 2, hlm. 734).

      Melupuskan hutang daripada orang yang berhutang dengan niat memberikan zakat kepadanya adalah dibenarkan menurut hukum Syarak. Tidak disyaratkan orang yang memberi hutang menyerahkan sejumlah wang sebagai zakat kepada orang yang berhutang , dan kemudian wang itu dibayar semula kepada pemberi hutang. Ini merupakan pendapat sebahagian ulama bermazhab Syafi’i dan ia juga merupakan pendapat Imam al-Hasan al-Basri dan ‘Ata’ (al-Nawawi, al-Majmu’, jil. 6, hlm. 210-211).

      Abu Sa’id al-Khudri melaporkan, "Pada zaman Rasulullah saw, seorang peniaga kerugian hasil perniagaan buah-buahan, lalu bertambah-tambah hutangnya. Rasulullah saw bersabda, ‘Berikan zakat saudara sekalian kepadanya.’ Lalu orang ramai pun menyerahkan harta zakat mereka kepada orang berhutang itu. Namun, harta zakat tersebut masih belum mencukupi untuk membayar semua hutang itu, lalu Nabi Muhammad saw bersabda kepada orang yang memberi hutang, ‘Ambillah semua harta zakat tersebut. Hanya itu sahaja untuk menyelesaikan hutang-hutang kamu itu.’" Hadis sahih direkodkan oleh Imam Muslim (al-Nawawi, Syarah sahih Muslim, jil. 10, hlm. 218)

      Contohnya dalam kes di mana seseorang itu memberi hutang kepada saudaranya(seperti abang/kakak atau adik ipar) dan saudaranya tersebut tidak mampu untuk membayar hutang disebabkan gagal dalam perniagaan atau sebagainya dan jatuh miskin, maka beliau boleh memberi zakat kepada orang yang berhutang tersebut dengan kaedah/ungkapan berikut : "disebabkan aku hendak membayar zakat kepada engkau (nyatakan jumlah hutang tersebut), maka hutang engkau kepada aku yang lepas itu tidak perlu dibayar."

      Dalam kes seperti ini kaedah ‘kontra’ adalah sudah memadai. Iaitu pemberi hutang sudah menyempurnakan kewajipan membayar zakat, dan ahli keluarga yang menanggung hutang sudah menyempurnakan kewajipan membayar hutang.

      Perbuatan seperti ini adalah termasuk dalam perkara yang dituntut oleh Allah SWT sebagaimana firmanNya dalam surah al-Baqarah ayat 280 yang bermaksud: "Dan jika orang yang berhutang itu sedang mengalami kesempitan hidup, maka berilah tempoh sehingga dia lapang hidupnya dan (sebaliknya) bahawa kamu sedekahkan hutang itu (kepadanya) adalah lebih baik untuk kamu, kalau kamu mengetahui (pahalanya yang besar yang kamu akan dapati kelak)."

      Wallahu a’lam.

      21 January 2014 Posted by | Fatwa, Fiqh, Ibadah | | Leave a comment

      Hukum berkaitan Aqiqah

      Fatwa Malaysia

      ISU:

      Mohon penjelasan hukum berkaitan aqiqah.

      PENJELASAN:

      Berikut dinukilkan penjelasan tentang persoalan aqiqah berpandukan kitab Matla’ al-badrayn karangan Syeikh Muhammad bin Ismail Daud al-Fatani:

      1) Hukum melakukan aqiqah adalah sunat muakkad. Tuntutan sunat ini ditujukan kepada orang yang wajib memberi nafkah kepada anak cucunya dengan hartanya, bukan harta kanak-kanak tersebut.

      2) Bermula tuntutan aqiqah sebaik-baik sahaja anak-anak itu sempurna dilahirkan. Yang afdal dilakukan pada hari ke tujuh dari tarikh hari kelahirannya.

      3) Bilangan binatang:

      a) Bagi kanak-kanak lelaki dan khunsa adalah afdal dengan dua kibash (kambing) atau dua pertujuh daripada binatang yang harus dijadikan tujuh bahagian seperti unta (lembu, kerbau).

      Walaupun begitu, jika hanya berkemampuan dilakukan dengan seekor kibash atau satu pertujuh daripada binatang yang harus dijadikan tujuh bahagian, berhasillah juga tuntutan sunat aqiqah ini.

      b) Bagi perempuan memadailah dengan seekor kibash atau satu pertujuh daripada binatang yang harus dijadikan kepada tujuh bahagian.

      Wallahu a’lam.

      19 January 2014 Posted by | Fatwa, Fiqh, Ibadah | | Leave a comment

      Pengurusan Jenazah

      Urus jenazah

      Ust Amir Muttaqin ( Bab Jenazah beserta kisah benar yg menarik).

      1. Org yg nak mati ni antara tandanya hidung jatuh,hidung kesat dan tdk berminyak.

      2. Tapak kaki menjadi flat dan tiada ruang di tgh.

      3. Nafaz in dan out menjadi lambat dan tersekat2.

      4. Antara rahmat Allah masa nak mati ,tanda nak mati itu, seseorg akan berubah perlakuan menjadi baik. Kbykkannya sebegitu dan amat jarang yg berubah mnjdi kjhatan.

      5. Lagi tanda ialah membuatkan kita benci kpd bakal si mati itu. Ada shj yg tdk kena dan membuat kita terasa dan sehingga tahap membenci. Akhirnya pergi dlm keadaan kita membenci dan menyesal. Yg ini kena hati2 ketika jaga ibu ayah kita. Bersabarlah dgn apa sekalipun sikap mereka kerana semua itu sementara. Jgn menyesal ketika mereka pergi, dlm keadaan kita membenci mereka.

      6. Manusia ini pada mulanya apa sahaja kita akan mkn. Lihat bayi,semua nak telan. Meningkat remaja sedikit,mula memilih mknn. Menjelang dewasa,dipilih pulak mknn. Yg ini boleh,yg ini tdk boleh. Akhirnya,hilang selera mkn. Antara nikmat awl yg Allah tarik ialah mkn.

      7. Mereka yg nazak,akan rasa sgt kehausan. Ambil kapas dan basahkan. Sapu dibibir. Jgn tuang air kerana itu bukan membantu hilangkan kehausan,tapi bantu utk bg mati.

      8. Ketika nazak,elakkan dari org luar berada bersama. Kerana kebiasaannya,org yg hampir mati,akan terkencing dan terberak. Utk elakkan fitnah,biarlah ahli keluarga shj yg ada keliling.

      9. Ajarlah ucap syahadah. Sejak zaman Nabi hingga kini, org yg paling sempurna syahadah ketika hendak mati ialah Saidina Abu Bakar. Kita ni jgn mimpilah,paling terbaik pun ucap Allah. Ada ulama benarkan jika tdk boleh ucap Allah,cukup sekadar tolong gerakkan kelopak mata dan bibir seperti sedang ucap Allah.

      10. Ajar ucap syahadah atau Allah hanya sekali shj. Lepas si nazak sebut,biarkan dia rehat. Jika si nazak tiba2 bercakap hal dunia balik. Ajarkan sekali lg. Kemudian rehatkan sehingga tdk berkata hal dunia lagi dan hembuskan nafas terakhir.

      11.. Jenazah yg dah mati hendaklah dibaringkan membelakangkan kiblat(kepala ke kiblat), yg sedang nazak dibaringkan hadap kiblat ( kaki lunjur ke kiblat).

      12. Tutupkan mata,ikat rongga seperti mulut. Letakkan pemberat di perut kerana org yg mati perutnya masuk angin dan boleh meletup dlm masa 12jam.

      13.. Melayu Islam kita ni paling lemah bab jenazah dan wasiyat. Hampir RM40 billion skrg berada di tgn Amanah Raya Bhd. 50% drpnya tdk terurus kerana masalah keluarga bergolak. Seorg tdk setuju,habis tidak selesai kerana tiadanya wasiat.

      14.. Ingatan kpd si mati yg penjawat awam, si waris sila buat pengesahan kematian dgn hospital kerajaan kerana senang utk urusan pencen dan sbgnya. Ada kes,si isteri suri rumah sepenuh masa. Akibat buat pengesahan dgn hosp swasta,terpaksa turun naik pejabat dan mahkamah selama hampir 4 tahun dan akhirnya baru selesai. Tapi selesai dlm keadaan rumah tergadai,kereta tergadai kerana tiada duit hendak bayar.

      15.. Ada satu kisah kemalangan. Kereta A dan kereta B. Kereta pemandunya Nepal Kristian dan kereta B melayu Muslim. Kedua2nya mati dan hancur separuh badan. Kedua2 keluarga diminta hadir utk pengecaman. Keluarga melayu Islam hadir dan buat pengecaman. Setelah itu,dikebumikan dulu kerana,keluarga Nepal mmg lama baru akan dtg Msia.Mayat yg dikatakan Nepal td disimpan dahulu dlm bilik mayat. Seminggu selepas itu, smpai keluarga Nepal. Keluarga Nepal buat pengecaman dan mengatakan itu bkn anaknya. Pggil kembali keluarga melayu Islam td dan camkan balik mayat yg dianggapkan mayat Nepal td. Ibunya dtg dan cam smbil menangis dan katakan kpd saya (ustaz). Bukan kah kita sudah kebumikan? Ah sudah, ini kes salah mayat ni. Terpaksalah digali kembali td kubur td setelah dpt pengesahan mahkamah. Kubur itu terletak di KL.Lalu ketika digali,bdk2 dbkl yg terlibat menggali dgn tiba2 lari. Rupanya tanah kubur itu sgt panas. Digali lagi,tanah itu seperti tanah terbakar dan hitam. Akhirnya dibuka liang lahad,mayat hanya tggal bhgian kaki dan berada dlm keadaan tenggelam dgn air dan berbau busuk. Nasib baik keluarga Nepal tdk menjadikan itu kes besar dan setelah pengecaman melalui kaki itu,mayat itu dipindahkan.

      16. Ketika jenazah yg baru mati juga,qiamkan tgn seperti solat. Ada 1 kisah psl qiam. Ada seorg imam ,umur muda dlm 30an. Dia meninggal setelah rebah pening ketika sudah khutbah Jumaat. Ketika mandikan jenazah,tgnnya yg didepakan utk kembali qiam dgn sendirinya. Kwn2 sy ada yg lari. Mana tdknya dlm keadaan mcm tu masa mandikan di bilik mayat. Inilah tandanya org yg jaga solat. Tgnnya akan qiam dgn sendirinya. Begitulah mereka yg tdk solat,tgn diikat mcm mne pun utk qiam,akan terbuka juga akhirnya. Oleh itu,utk elak fitnah,ikatlah dgn sebaik2 nya utk tgn diqiamkan. Ingtlah,amalan kita didunia ini lah yg akan menjd penentu kita di alam barzakh nanti.

      17. Antara kisah lain,tuan2 mesti dah biasa terbaca kisah tdk lama dulu tentang kubur yg digali semula di Johor. Media mengatakan mayat itu agamawan,tapi sbnrnya mayat itu dermawan. Sy salah seorg panelis utk kes gali kubur itu. Ketika sy smpai sana,hampir separuh sudah digali. Mayat itu tdi,dia seorg dermawan kerana setiap hari,kanak2 yg lalu ke sekolah akan diberinya wang saku. Ketika mlm,diwajibkan mereka hadir ke rumah utk mkn mlm. Sesudah itu diajar mengaji mengikut peringkat. Mayatnya sudah hampir 26 tahun ditanam. Ketika digali,tanah sudah berbau wangi. Tanah menjadi lembut. Kain kafannya bersih dan hanya sedikit kotor akibat tanah. Kain kafannya bersih mcm guna clorox. Dan ini kisah yg ramai org awam tdk tahu,hanya yg ada ketika itu tahu. Ketika sesi pengecaman,dipanggil anak saudara atau cucunya utk pengecaman. Apabila kain dibuka,cucunya mengatakan ini bukan datuk saya. Bayangkan tuan2, cucu tdk cam datuknya. Kami katakan inilah datuk kamu. Tahu kenapa? Wajahnya tdk seperti ketika datuknya meninggal,tapi kelihatan muda 20 tahun dari itu.

      18. Akhirnya, belajarlah bab jenazah. Pengakhiran terbaik bg kita ialah pabila bapa meninggal,anak2 dan isteri yg mandikan dan kafankan. Mak meninggal, bapa dan anak2 yg mandikan dan kafankan. Tdk malukah kita, jenazah diusik kemaluannya,dimandikan oleh org yg bukan darah daging kita? Mana maruah kita?Oleh itu, sahutlah seruan saya.

      Wallhua’alam.

      Sumber: Dakwah Bil Hikmah

      13 January 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah | | Leave a comment

      Apakah hukumnya jika surau atau masjid melaungkan azan menggunakan pita rakaman, bukannya melalui muazzin yang melaungkan azan.

      Azan

       

      Fatwa Malaysia

      PENJELASAN:

      Azan merupakan salah satu syiar dalam Islam yang disyariatkan sebagai tanda masuk waktu sembahyang fardu. Ia juga adalah satu ibadah kepada Allah Taala yang tidak sah dilakukan kecuali oleh muazzin yang mencukupi syarat-syaratnya.

      Justeru para ulama yang membincangkan berkenaan azan menegaskan bahawa tidak sah azan dilaungkan oleh orang bukan Islam atau orang yang tidak siuman kerana tidak mencukupi syarat-syaratnya. Al-Shirazi menyebut:

      ولا يصح الأذان إلا من مسلم عاقل فأما الكافر والمجنون فلا يصح أذانهما لأنهما ليسا من أهل العبادات

      Maksudnya: “Tidak sah azan kecuali daripada seorang muslim yang berakal. Manakala orang kafir dan gila tidak sah azan mereka, kerana mereka bukan dari kalangan ahli ibadat”. (Al-Muhazzab, 1/111).

      Oleh itu laungan azan dengan menggunakan pita rakaman, cakera padat, dan seumpamanya adalah tidak sah dan tidak dikira sebagai azan secara syar’ie. Azan secara syar’ie mestilah dilakukan oleh seseorang mukallaf yang mencukupi syarat-syaratnya.

      Beberapa badan fatwa negara Islam dan kesatuan fikah sedunia telah memutuskan bahawa azan melalui pita rakaman dan seumpamanya adalah tidak sah.

      Antaranya, Majmak al-Fiqh al-Islamiy (Islamic Fiqh Council) yang bernaung di bawah Muslim World League dalam persidangan ke-9 yang berlangsung di Makkah pada tahun 1406H telah meluluskan resolusi berikut:

      أن الاكتفاء بإذاعة الأذان في المساجد عند دخول وقت الصلاة بواسطة آلة التسجيل ونحوها لا يجزئ ولا يجوز في أداء هذه العبادة، ولا يحصل به الأذان المشروع، وأنه يجب على المسلمين مباشرة الأذان لكل وقت من أوقات الصلوات في كل مسجد على ما توارثه المسلمون من عهد نبينا ورسولنا محمد صلى الله علية وسلم إلى الآن.

      Maksudnya: “Laungan azan di masjid-masjid ketika masuk waktu solat dengan menggunakan peralatan rakaman adalah tidak memadai, tidak harus dalam menunaikan ibadah ini, dan tidak terhasil azan yang syar’ie. Adalah wajib ke atas orang Islam untuk melakukan azan secara sendiri setiap kali masuk waktu solat di setiap masjid, sebagaimana amalan yang diwarisi oleh umat Islam sejak zaman Nabi dan Rasul kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, hingga sekarang”.

      Dalam masalah kanak-kanak lelaki melaungkan azan, maka Mazhab Syafie dan Jumhur Ulama’ dari kalangan Hanafiah dan Hanabilah menegaskan azan tersebut adalah tidak sah melainkan dia sudah Mumaiyiz iaitu sekitar usia 11 hingga 12 tahun sebelum baligh. Maka mereka menyimpulkan bahawa kanak-kanak lelaki yang sudah Mumaiyiz boleh melaungkan azan dan sah azannya walaupun yang lebih utama azan tersebut dilaungkan oleh lelaki dewasa.

      Namun yang demikian para ulama Malikiyah berpendapat kanak-kanak sama ada yang belum baligh, diharamkan dari melaungkan azan sama ada sudah Mumaiyiz atau tidak (Hashiyah Al-Dasuki 1/344).

      Keterangan Jumhur Ulama’ dapat dilihat pada keterangan Al-Wazir Abul-Muzaffar Al-Syaibani: “Mereka (ulama’ Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah) sepakat bahwa azan dari anak yang sudah Tamyiz untuk jemaah dewasa statusnya sah” (Ikhtilaf a’immatil-Ulama 1/94).

      Azan oleh kanak-kanak yang belum Mumaiyiz statusnya tidak sah dan wajib diulang walaupun suara kanak-kanak itu seperti orang dewasa dan walaupun dia mempunyai bakat melaungkan azan. Al-Wazir Abul-Muzaffar Al-Syaibani menjelaskan:

      “Tidak sah azan kanak-kanak yang belum Mumaiyiz, dan laungannya tidak menggugurkan kewajiban azan satu kampung.” (Al-Fiqh ‘Alaa Al-Madzahib Al-Arba’ah, 1/463)

      Wallahu A’lam.

       

      20 December 2013 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

      Najis yang di maafkan tidak menjejaskan solat

      Seseorang yang hendak mendirikan sembahyang hendaklah terlebih dahulu memastikan dirinya, pakaiannya serta tempatnya bersembahyang suci daripada najis. Jika terdapat najis pada perkara-perkara yang disebutkan itu, maka hendaklah ianya dibersihkan terlebih dahulu sehingga tempat yang terkena najis itu menjadi suci. Salah satu daripada syarat sah sembahyang itu ialah suci tubuh badan, pakaian dan tempat sembahyang daripada najis yang tidak dimaafkan. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

      Tafsirnya: “Dan pakaianmu, maka hendaklah engkau bersihkan!” (Surah al-Muddatstsir: 4)

      Syarat suci daripada najis ketika di dalam sembahyang adalah juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

      Maksudnya: “Jika datang darah haid maka tinggalkanlah sembahyang, dan jika telah berlalu haidh itu maka bersihkanlah (darah) dari dirimu dan kerjakanlah sembahyang.” (Hadits riwayat al-Bukhari)

      Daripada ayat dan hadits di atas, jelas bahawa tidak sah sembahyang seseorang yang terdapat najis pada tubuh badan, pakaian atau tempatnya bersembahyang. Namun jika sekiranya najis itu merupakan najis yang dimaafkan, maka sembahyangnya adalah sah walaupun dia tidak menghilangkan najis dan menyucikan tempat yang terkena najis itu terlebih dahulu.

      Untuk memudahkan seseorang itu melaksanakan ibadatnya, adalah perlu dia mengetahui apakah perkara yang dikategorikan sebagai najis yang dimaafkan.

      Apakah Dia Najis Yang Dimaafkan itu?

      Menurut para ulama mazhab asy-Syafi‘e, kaedah umum yang boleh dirujuk untuk mengenal pasti najis-najis yang dimaafkan itu ialah suatu perkara yang susah untuk dielakkan daripadanya.

      Berikut adalah sebahagian contoh najis-najis yang dimaafkan:

      1. Najis yang tidak nampak pada pandangan mata kasar, walaupun ia daripada najis mughallazhah. Umpamanya darah yang terlalu sedikit atau air kencing yang terpercik sama ada pada tubuh badan, pakaian atau tempat bersembahyang yang tidak nampak oleh pandangan mata kasar.

      2. Najis yang sedikit seperti darah nyamuk, agas atau kutu yang tidak mengalir. Begitu juga darah yang keluar dari kudis, bisul, jerawat kecil, luka atau nanah pada badan seseorang, pakaian atau tempatnya bersembahyang yang bukan disebabkan perbuatannya sendiri.

      Jika darah tersebut keluar disebabkan oleh perbuatannya sendiri, umpamanya membunuh nyamuk yang ada pada bajunya atau memicit kudis atau jerawat sehingga mengeluarkan darah, maka darah tersebut tidak dikira sebagai najis yang dimaafkan.

      Darah atau nanah luka yang banyak juga termasuk najis yang dimaafkan dengan syarat, iaitu:-

      • Darah atau nanah tersebut merupakan darah/nanah dari orang itu sendiri
      • Darah atau nanah itu keluar bukan disebabkan perbuatannya atau disenghajakannya.
      • Darah atau nanah yang keluar itu tidak mengalir dari tempatnya, seperti darah yang banyak itu tidak mengalir daripada lukanya.

      3. Darah ajnabi iaitu darah orang lain yang terkena pada badan, kain atau tempat bersembahyang dengan kadar yang sedikit dengan syarat najis tersebut bukan dari najis mughallazhah iaitu daripada anjing dan babi. Jika ia berasal dari keduanya atau salah satu dari keduanya, tidaklah ia dimaafkan walaupun hanya sedikit.

      Menurut Imam al-Adzra‘ie Rahimahullah bahawa adalah termasuk juga darah yang terpisah daripada badan seseorang itu yang kemudiannya terkena semula padanya sebagai darah ajnabi.

      4. Darah yang sedikit yang keluar dari hidung atau darah yang keluar dari bahagian-bahagian tubuh seperti mata, telinga danyang seumpamanya, selain dari jalan tempat keluar najis seperti tempat keluar tahi.

      Jika darah keluar dari hidung seseorang sebelum dia melakukan sembahyang dan terus menerus keluar darah tersebut, dalam hal ini jika pendarahan itu diharapkan berhenti dengan keadaan waktu sembahyang yang masih panjang, maka hendaklah ditunggu. Akan tetapi jika sebaliknya, hendaklah dia membersihkan dahulu darah tersebut dan hidungnya (tempat keluar darah tersebut), kemudian menyumbatnya dengan kapas umpamanya dan melapisnya dengan kain jika perlu.

      5. Darah yang masih tinggal di tempat lukanya yang keluar hasil dari perbuatan mengeluarkan darah dengan tusukan atau berbekam, sekalipun banyak yang masih tinggal di tempat lukanya.

      6. Darah yang keluar dari gusi bila tercampur dengan air ludah sendiri. Sah sembahyang bagi orang yang gusinya berdarah sebelum dicucinya darah tersebut selagi dia tidak menelan air ludahnya ketika di dalam sembahyang.

      7. Sedikit tanah tempat laluan seperti jalanraya atau yang seumpamanya yang memang diyakini kenajisannya, dengan syarat najis tersebut tidak jelas di tempat itu dan dia telah pun berusaha untuk mengelak daripada terkena tempat laluan tersebut seperti tidak membiarkan hujung kain terkena tanah tempat laluan tersebut.

      Perhatian: Dasar menentukan kadar sedikit atau banyak yang dimaksudkan bagi najis itu ialah merujuk pada adat kebiasaannya, iaitu apa yang dianggap oleh adat kebiasaan sebagai sedikit, maka dikira sebagai sedikit dan begitulah sebaliknya. Jika ada syak darah tersebut banyak atau sedikit, maka dihukumkan sedikit dan dimaafkan.

      Sesungguhnya Islam adalah agama yang mengutamakan kebersihan. Kerana itu umat Islam diperintahkan untuk memelihara diri dari segala najis sehinggakan suci daripada najis pada tubuh badan, pakaian dan tempat dijadikan sebagai salah satu syarat sah sembahyang. Walau bagaimanapun Islam juga adalah agama yang tidak membebankan umatnya dengan kesukaran. Contohnya pengecualian terhadap najis yang dimaafkan yang tidak menjejaskan kesahihan sembahyang, kerana kesukaran menghilangkannya atau mengelak dari terkena najis tersebut.

       

      [Sumber: Islamituindah]

      19 December 2013 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

      Pekerjaan di sektor penjualan arak dan judi

      Fatwa Malaysia

      ISU: Apakah hukum jenis pekerjaan di sektor penjualan arak dan perjudian yang melibatkan individu beragama Islam seperti pelayan bar di kelab malam (bartender) dan pelbagai pekerjaan di premis perjudian berlesen.

      PENJELASAN: Tidak harus bagi seseorang Islam untuk bekerja dalam sektor yang melibatkan dirinya dalam hal-hal berkaitan dengan arak, seperti penjualan arak, pemprosesan arak, pengangkutan arak, penyimpanan arak dan seumpamanya.

      Larangan ini dinyatakan oleh Nabi S.A.W. dalam sebuah hadis:

      Maksudnya: “Allah melaknat arak, peminumnya, pemberi minumnya, penjualnya, pembelinya, tukang perahnya, orang yang meminta diperahnya, pembawanya, dan orang yang meminta dibawakan kepadanya”. (Abu Daud, 3/326, no: 3674).

      Justeru, bekerja di kelab malam dan premis-premis hiburan yang menghidangkan minuman keras dan menggalakkan aktiviti maksiat seperti pergaulan bebas lelaki dan perempuan adalah diharamkan.

      Begitu juga dengan sektor perjudian, orang Islam tidak dibenarkan untuk melibatkan diri dalam pekerjaan yang berkait dengan perjudian. Ini kerana perjudian adalah satu dosa besar yang dinaskan pengharamannya dalam Al-Quran dengan perintah supaya menjauhinya. Firman Allah Taala:

      Maksudnya: “Sesungguhnya arak, judi, pemujaan berhala dan mengundi nasib dengan batang-batang anak panah, adalah (semuanya) kotor (keji) dari perbuatan Syaitan. Oleh itu hendaklah kamu menjauhinya supaya kamu berjaya”. (Surah al-Maidah: ayat 90).

      Justeru, tidak harus bagi orang Islam untuk bekerja di premis-premis perjudian kerana ia dikira sokongan dan kerjasama dalam perkara maksiat. Dalam Islam, sokongan dan kerjasama atas sesuatu aktiviti maksiat adalah dikira sebagai maksiat. Kaedah ini berdasarkan firman Allah Taala:

      Maksudnya:“Dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa (maksiat) dan pencerobohan”(Al-Maidah: ayat 2).

       

      Wallahu A’lam.

      4 December 2013 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

      Menjual kepingan dinar yang ditulis ayat Quran

      Dinar tertulis ayat Quran

      Fatwa Malaysia

      ISU: Apakah Hukum Menjual Kepingan Dinar Yang Ditulis Ayat Suci Al-Quran Kepada Bukan Muslim

      PENJELASAN: Al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada umat manusia sebagai hidayah dan petunjuk ke jalan yang benar. Dengan statusnya sebagai kalam Allah, sebarang ayat daripada al-Quran wajib dimuliakan dan dijauhkan daripada perkara-perkara yang mencemari kemuliaannya. Justeru, adalah tidak digalakkan membuat cap pada mata wang sama ada dinar/dirham atau mata wang kertas dengan tulisan ayat-ayat al-Quran. Ini kerana ia boleh mendedahkan tulisan ayat-ayat al-Quran kepada perkara-perkara yang merendahkannya.

      Berkenaan hukum menjual kepingan dinar atau dirham yang bercap ayat-ayat suci al-Quran kepada orang bukan Muslim, sebahagian ulama berpendapat bahawa ia diharuskan sekiranya ia termasuk dalam kategori hajat dan keperluan umum yang tidak dapat dielakkan (umum balwa). Pendapat ini dinyatakan oleh sebilangan fuqaha mazhab Syafie. Antaranya:

       

      Al-Syarbini menyatakan, “Adalah satu keperluan umum yang tidak dapat dielakkan bahawa ahli zimmah (bukan Muslim) boleh mendapat pemilikan dinar-dinar dan dirham-dirham yang bercap padanya ayat-ayat al-Quran, tanpa ia diingkari oleh seorang pun dari kalangan salaf dan khalaf. Sebahagian ulama terkemudian pula berpendapat bahawa ia dimaafkan kerana keperluan”. (Mughni al-Muhtaj, 2/335).

      Yang dimaksudkan dengan keperluan dalam konteks di atas ialah keperluan orang bukan Muslim untuk turut menjalankan urus niaga dinar atau dirham tersebut, sebagai contoh dalam kondisi ia merupakan mata wang yang mudah diurus niaga, di mana jika mereka dihalang untuk menjalankan urus niaga tersebut, ia akan membawa kepayahan kepada mereka.

      Justeru, penjualan kepingan dinar dan dirham yang bercap ayat al-Quran kepada bukan Muslim adalah dibenarkan kerana ia boleh dimasukkan dalam umum balwa.

      Wallahu A’lam.

      15 November 2013 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

      Hukum memakan cuka arak putih

      white-wine-sauce-step-three

      Fatwa Malaysia

      ISU: Apakah hukum memakan cuka arak putih?

      Ini kerana, cuka daripada sumber apa pun apabila melalui proses penapaian (fermentation), ia tidak memabukkan. Cuma cuka arak putih mempunyai kandungan alkohol tetapi tidak memabukkan.

      PENJELASAN: Semua jenis cuka termasuk sejenis cuka yang dipanggil cuka arak putih (white wine vinegar) adalah halal, sekalipun ketika proses pembuatannya ia melalui satu fasa di mana ia menjadi arak sebelum proses penapaian sempurna berlaku sehingga bertukar menjadi cuka.

      Walau bagaimanapun jika sekiranya proses perubahan daripada arak kepada cuka adalah melalui proses campuran bahan-bahan luaran, maka mazhab Syafie serta kebanyakan ulama berpendapat bahawa ia haram dimakan.

      Hukum ini juga diputuskan oleh Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-73 yang bersidang pada 4-6 April 2006 yang memutuskan:

      “… bahawa haram menggunakan Cuka Wain (Wine Vinegar) yang diproses dan dicampur dengan bahan-bahan luar.

      Walaubagaimanapun, sekiranya perubahan daripada cuka wain kepada cuka berlaku dengan sendirinya, maka ia adalah halal”.

      Kesimpulannya, cuka arak putih yang terhasil melalui proses pembuatan yang tidak melibatkan campuran bahan luar, adalah halal.

      Wallahu A’lam.

      12 November 2013 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

      Adakah siput escargot halal atau haram dimakan oleh orang Islam?

      siput escargot halal ke haram

      Fatwa Malaysia

      ISU: Adakah siput escargot halal atau haram dimakan oleh orang Islam? Siput ini berasal dari Perancis dan diternak secara meluas di banyak negara Eropah termasuk US, England, Australia dan Bulgaria. Ia memiliki rupa yang sama seakan-akan siput babi tetapi daripada genus yang berbeza. Siput babi adalah helix aspersia manakala siput escargot adalah helix pomatia. Siput ini kini boleh didapati dalam menu di sebahagian kecil restoran dan hotel di negara ini.

       

      PENJELASAN:

      Escargot adalah perkataan dalam Bahasa Perancis yang merujuk kepada sejenis siput yang dikenali dalam Bahasa Malaysia sebagai siput babi. Walaupun kedapatan beberapa jenis siput babi seperti helix aspersia dan helix pomatia, tetapi kedua-duanya adalah tergolong dalam genus yang sama iaitu Genus Helix. Dalam Bahasa Arab, siput babi dikenali sebagai halazun (حلزون).

       

      Dalam fiqah, halazun/escargot adalah tergolong dalam kumpulan ‘hasyaraat’ iaitu haiwan kecil yang melata/menjalar. Dalam mazhab Syafie, secara umumnya haiwan yang tergolong dalam hasyaraat adalah haram dimakan kerana termasuk dalam haiwan yang dianggap keji (khabisah). Ini berdasarkan kepada firman Allah Taala:

      وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمْ الْخَبَائِثَ

      Maksudnya: “Dan dia menghalalkan bagi mereka segala benda yang baik dan mengharamkan kepada mereka segala benda yang buruk”. (Surah Al-A’raf: 157).

       

      Berdasarkan kaedah pengharaman haiwan-haiwan yang dianggap keji, maka mazhab Syafie dan majoriti ulama berpendapat bahawa halazun/escargot adalah haram dimakan.

      Pandangan ini disebut dalam keterangan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia yang bersidang pada 2 April 1998 dalam membincangkan tentang pembiakan siput babi. Antara lain, Muzakarah menyatakan:

      “Menurut Mazhab Shafie, siput babi dianggap sebagai khabisah kerana apabila ia mati ia tergolong sebagai bangkai.

       

      Dari segi kaedah ‘ilah dan ma’lul khabisah ialah ‘ilah kepada pengharaman. Oleh itu siput babi ini hukumnya haram dimakan. Dalam Mazhab Syafie juga, binatang-binatang yang halal dimakan hanyalah binatang-binatang yang telah disembelih sahaja, kecuali jenis ikan dan belalang”.

       

      Memandangkan isu halal atau haram memakan halazun/escargot adalah bersifat ijtihadiah kerana tidak ada nas qat’ie daripada al-Quran dan Sunah berkaitan dengannya, maka ada ulama yang mengharuskannya dan mereka berpegang kepada asal hukum makanan adalah halal sehingga ada nas yang mengharamkannya. Manakala majoriti ulama’ yang mengharamkannya berpendapat ia adalah hasyarat, dan ia bukan haiwan yang disembelih, maka jika ia mati, ia adalah bangkai.

      Wallahu A’lam.

      7 November 2013 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

      Sambutan Tahun Baru Hijrah Dan Keistimewaan Bulan Muharram


      Maal Hijrah 1435
      Fatwa Malaysia

      PENJELASAN:

      Amalan yang biasa dilakukan sempena menyambut bulan Muharram ialah bacaan doa akhir tahun dan doa awal tahun. Walaupun terdapat beberapa pandangan tentang bacaan doa ini, namun selagi ia merupakan doa yang tidak bercanggah dengan Al-Quran dan Al-Sunnah, maka ianya baik untuk umat Islam dan boleh diamalkan tanpa halangan. Begitu juga dengan sambutan Mawlid Rasul, Nuzul-Quran serta sambutan lain yang tidak disebutkan secara khusus dalam Al-Quran dan Al-Hadith. Namun, apakah hanya sekadar berdoa sahaja yang perlu dilakukan untuk mengiringi kedatangan Muharram? Apakah kelebihan yang terdapat dalam bulan Muharram? Bulan Muharram merupakan salah satu dari bulan-bulan ‘Haram’ di dalam Islam. Firman Allah swt dalam Surah Al-Taubah ayat 9 bermaksud: “Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Ketetapan yang demikian itu ialah agama yang betul dan lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar laranganNya) dan perangilah kaum kafir musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya dan ketahuilah sesungguhnya Allah berserta orang yang bertakwa.” Menurut Tafsir Al-Jalalayn, yang dimaksudkan dengan “di antaranya empat bulan yang dihormati” ialah: Zulkaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rejab. Allah swt telah mengurniakan kepada manusia empat bulan haram. Umat Islam diharamkan pergi berperang dalam bulan-bulan ini, kecualilah jika mereka diperangi.

      Manakala Hadith Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari daripada Abu Bakrah pula bermaksud:”Satu tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan yang dihormati , tiga bulan berturut-turut iaitu Zulkaedah, Zulhijah, dan Muharram, satu lagi Rejab berada antara bulan Jamadilakhir dan Syaaban.” Antara kemulian bulan-bulan haram ini ialah disunatkan berpuasa. Daripada Abu Hurairah dalam Hadith marfu’ telah berkata: Nabi ditanya: Apakah solat yang lebih afdhal selepas solat fardhu? dan apakah puasa yang lebih afdhal selepas bulan Ramadhan? Maka jawab Nabi: Sebaik-baik solat selepas solat yang telah difardhukan ialah solat pada pertengahan malam dan sebaik-baik puasa selepas bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan-bulan Allah (bulan-bulan haram). Hadith diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Daud, Al-Tirmizi, Al-Nasai’e dan Ibn Majah. Di samping itu, disunatkan juga kepada umat Islam untuk berpuasa pada 9 dan 10 Muharram. Ini kerana tarikh 10 Muharram (atau dinamakan hari ‘Asyura yang bermaksud sepuluh) mempunyai nilai sejarahnya yang tersendiri. Manakala disunatkan juga berpuasa pada 9 Muharram sebagai mukhalafah (membezakan) di antara kaum Yahudi yang turut berpuasa pada 10 Muharram. Diriwayatkan daripada Ibn Abbas katanya: Sewaktu Rasulullah tiba di Madinah, Baginda mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Ketika ditanya tentang puasa itu, mereka menjawab: Hari ini adalah hari kemenangan yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa dan kaum Bani Israel dari Firaun. Kami merasa perlu untuk berpuasa pada hari ini sebagai suatu pengagungan kami padanya. Lalu Rasulullah bersabda: Kami lebih berhak daripada kamu terhadap Nabi Musa dalam hal ini. Kemudian Baginda memerintahkan para Sahabat supaya berpuasa pada hari tersebut. – Hadith diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibn Majah dan Al-Tirmizi.

      Dalam Hadith yang lain, Ibn Abbas berkata: Apabila Rasulullah berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat berpuasa padanya, mereka berkata: Wahai Rasulullah, ini ialah hari yang dimuliakan oleh Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah berkata, “Pada tahun hadapan – Insya Allah- kita berpuasa pada hari kesembilan.” Maka tidak tibanya tahun hadapan itu sehingga wafatlah Rasulullah– Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud. Mungkin timbul persoalan, mengapakah Nabi mencontohi kaum Yahudi berpuasa pada 10 Muharram padahal Baginda sendiri melarangnya di dalam sabdanya yang bermaksud: “Berbezalah kamu dengan Yahudi serta Nasrani… berbezalah dengan Musyrikin”? Sebenarnya amalan berpuasa pada hari Asyura’ (10 Muharram) telah dilaksanakan oleh Rasulullah sebelum Baginda berhijrah ke Madinah lagi. Ini berdasarkan Hadith yang dinyatakan oleh Saidatina Aisyah yang bermaksud: ‘Sesungguhnya hari ‘Asyura merupakan hari yang berpuasa padanya kaum Quraisy di zaman Jahiliyyah. Rasulullah juga berpuasa padanya. Apabila Baginda memasuki Madinah, Baginda terus berpuasa dan memerintahkan manusia berpuasa. Apabila diwajibkan puasa Ramadhan, Baginda bersabda, “Sesiapa yang ingin berpuasa, teruskan, Sesiapa yang ingin meninggalkan (juga dibolehkan)’. – Muttafaq ‘Alaih. Di samping melaksanakan ibadah puasa sunat ini, sesuatu yang sewajarnya dijadikan pengiktibaran pada peristiwa yang berlaku pada 10 Muharram ialah Allah menenggelamkan Firaun ke dalam laut akibat keengkaran dan keangkuhannya. Firman Allah dalam Surah Yunus, ayat 90 bermaksud: Dan Kami bawakan Bani Israel ke seberang Laut Merah, lalu dikejar oleh Firaun dan tenteranya, dengan tujuan melakukan kezaliman dan pencerobohan, sehingga apabila Firaun hampir tenggelam berkatalah ia (pada saat yang genting itu): “Aku percaya, bahawa tiada Tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan aku adalah dari orang yang berserah diri (menurut perintah)”.

      Peristiwa lain yang dikatakan berlaku pada 10 Muharram ialah mendaratnya kapal Nabi Nuh di atas bukit Judiy sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas. Nabi Nuh kemudiannya berpuasa pada hari tersebut sebagai tanda kesyukuran kepada Allah. Selain itu, bagaimana pula dengan program membuat bubur ‘Asyura yang sering diadakan oleh masyarakat Melayu? Perlulah dijelaskan bahawa program membuat bubur tersebut tidak lebih dari program gotong-royong dan jamuan makan yang sememangnya digalakkan di dalam Islam. Di samping melaksanakan ibadah puasa sunat pada bulan Muharram, sesuatu yang amat penting untuk diingati dan dihayati ialah peristiwa hijrah Nabi Muhammad. Justeru, tidak hairanlah apabila Khalifah Umar Al-Khattab menetapkan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dengan sahabat-sahabatnya dari kota Mekah ke Madinah sejauh kira-kira 450 km itu sebagai tahun pertama dalam Islam yang dinamakan dengan tahun Hijrah.

      Penggunaan Takwim Hijrah yang digunakan pada masa sekarang telah bermula pada tahun ke 17 Hijrah, iaitu pada zaman pemerintahan Khalifah Umar Al-Khattab. Penetapan permulaan tarikh bagi Takwim Hijriyah ini, diambil sempena peristiwa penghijrahan Rasulullah yang bermula pada tanggal 2 Rabiulawal bersamaan 14 September 622 Masihi. Baginda sampai di Quba’ pada tanggal 8 Rabiulawal bersamaan 20 September 622 Masihi pada hari Isnin. Peristiwa hijrah perlu dikenang oleh umat Islam setiap tahun apatah lagi ketika menyambut sambutan awal Muharram, untuk menjadi pengajaran dan peringatan tentang pengorbanan Rasulullah saw dan sahabat-sahabat Baginda menegakkan Islam.

      Mudah-mudahan dengan sambutan ini dapat menimbulkan kesedaran di kalangan umat Islam bahawa kemuliaan Islam dan kewujudan negara Islam yang berdaulat bukanlah diperoleh dengan mudah. Sebaliknya ia telah melalui perjuangan yang gigih dan pengorbanan yang tinggi. Sesungguhnya sifat pengorbanan yang dimiliki dan diperlihatkan oleh Rasulullah saw dan umat Islam pada zaman Baginda merupakan bukti kesungguhan dan kecintaan mereka yang mendalam terhadap akidah Islam dan ketaatan yang tidak berbelah bahagi terhadap perintah Allah swt. Sifat seperti inilah yang sepatutnya ada dan diikuti oleh generasi umat Islam hari ini. Oleh yang demikian, apakah yang harus dilakukan oleh umat Islam ketika menyambut tahun baru hijrah ini? Adakah sudah memadai ia disambut dengan hanya mengirimkan ucapan selamat tahun baru, melalui sms atau email?

      Sambutan awal Muharram dan tahun baru hijrah ini hendaklah diikuti dengan usaha melakukan perubahan pada diri dan masyarakat dengan memperkukuhkan pegangan akidah dan syariah, akhlak dan jati diri serta pembangunan sosioekonomi negara dan ummah agar isu-isu kecelaruan akidah dan keruntuhan akhlak serta kemiskinan hidup umat Islam dapat dihapuskan dan Islam sebagai agama yang mulia dan tinggi dapat didaulatkan dan diletakkan di tempat yang sewajarnya. Sehubungan itu, tiada larangan kepada umat Islam untuk menyambut Tahun Baru Hijrah yang dilihat amat penting dan signifikan kepada umat Islam agar kecemerlangan dan kegemilangan Islam dapat dihayati dan dikembalikan kepada umat di zaman ini.

      5 November 2013 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab), Uncategorized | , | Leave a comment

      Bagaimana status alat bantuan perubatan yang tertanam dalam badan si mati

      Permasaalahan ada gajet dalam mayat

      Permasaalahan ada gajet dalam tubuh mayat

      Fatwa Malaysia

      ISU: Bagaimana status alat bantuan perubatan yang tertanam dalam badan si mati seperti injap jantung atau “chemo port” untuk pesakit kanser atau pun besi titanium bagi menggantikan tulang, adakah perlu dikeluarkan?

      PENJELASAN:

      Hukum asal pembedahan mayat adalah tidak diharuskan, kerana syarak mengiktiraf kehormatan seseorang Muslim sama ada ketika hidup ataupun selepas mati. Ini dinaskan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam di dalam hadis:

      Maksudnya: “Mematahkan tulang seseorang yang telah mati (dosanya) adalah seumpama mematahkan tulangnya semasa hidup”. (Diriwayatkan oleh Abu Daud, 2/1035, no: 3694; Ibn Majah, 1/516, no: 1616).

      Berdasarkan hadis tersebut, pembedahan mayat tidak dibenarkan dalam Islam kecuali terdapat keperluan yang sangat kuat, atau maslahat yang lebih besar. Ini juga telah diputuskan oleh Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-8 yang bersidang pada 24-25 Sep 1984, yang antara lain memutuskan:

      “… bahawa pembedahan mayat orang Islam hanya boleh dilakukan jika keadaan benar-benar memerlukan (darurat) sahaja seperti terlibat di dalam kes-kes jenayah yang sangat memerlukan post mortem atau simati tertelan benda yang berharga atau simati yang sedang mengandung sedangkan kandungannya masih hidup”.

      Justeru, adalah tidak diharuskan untuk melakukan pembedahan mayat bagi mengeluarkan apa-apa peralatan daripada badannya, kecuali jika terdapat keperluan yang sangat mendesak atau maslahat yang lebih kuat.

      Wallahu A’lam.

      5 November 2013 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Hukum Seseorang Muslim Menjadikan Kerjaya Sebagai Penyanyi Atau Pemuzik Sebagai Sumber Pendapatannya.

       

      Penyayi dan pemuzik

      Fatwa Malaysia
      PENJELASAN: Secara prinsip umum, status halal atau haramnya sumber pendapatan daripada suatu aktiviti adalah ditentukan dengan melihat kepada halal atau haramnya aktiviti tersebut.

      Berkenaan hukum bekerja sebagai penyanyi atau pemuzik, beberapa keputusan fatwa boleh dirujuk, antaranya:

      Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-2 yang bersidang pada 12-13 Mei 1981 telah membuat keputusan seperti berikut:

      1. Nyanyian yang senikatanya baik, tidak lucah, tidak biadap dan tidak mendorong kepada maksiat, tidak bercampur gaul antara lelaki dengan perempuan dan tidak membawa kepada fitnah adalah harus;

      2. Jika nyanyian senikatanya tidak baik, lucah, biadap, mendorong kepada maksiat, bercampur gaul lelaki dengan perempuan dan membawa kepada fitnah maka nyanyian itu adalah haram;

      3. Pancaragam yang melalaikan hukumnya haram;

      4. Mendengar nyanyian dan pancaragam adalah harus dengan syarat senikatanya baik, tidak lucah, tidak biadap, tidak bercampur lelaki dan perempuan dalam keadaan yang tidak menimbulkan fitnah; dan

      5. Menyanyi untuk menimbulkan semangat jihad adalah harus.

      Justeru, nyanyian yang menepati garis panduan di atas adalah diharuskan.

      Wallahu A’lam.

      1 November 2013 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

      Apa hukum jual beli melalui Online

      Jual Beli Online
      ISU: Apakah hukum jual beli sekiranya saya menjual barangan bukan milik saya dengan menjadi ajen atau reseller secara online. Adakah ini haram? Cara yang saya lakukan ialah mempromosikan produk melalui gambar dan sesiapa yang berminat akan memasukkan duit kepada saya. Kemudian saya akan memasukkan duit kepada pengeluar. Dan pengeluar akan menghantar terus produk kepada orang yang memesan produk itu.

      PENJELASAN: Antara bentuk perniagaan dalam talian (online) yang diminati pada hari ini ialah dengan cara menjadi reseller bagi sesetengah produk. Modus operandinya ialah reseller mempromosikan secara online produk daripada pembekal atau pengeluar melalui gambar dan perincian berserta harga. Pelanggan yang berminat dan bersetuju untuk membeli akan membayar harga yang dipersetujui kepada reseller dengan cara memindahkan wang ke dalam akaun reseller. Reseller seterusnya membuat pesanan kepada pembekal/pengeluar dan membuat pembayaran. Pembekal/pengeluar membuat penghantaran terus produk yang kepada pelanggan. Keuntungan reseller ialah perbezaan harga antara harga jualannya kepada pelanggan dan harga beliannya daripada pembekal/pengeluar.

      Melihat kepada modus operandi urus niaga di atas, prinsip fiqah yang perlu diambil perhatian ialah syarak melarang seseorang daripada menjual suatu barangan yang belum dimilikinya. Larangan ini dinaskan dalam hadis Hakim bin Hizam yang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, seorang lelaki datang kepada aku dan mahu membeli sesuatu daripada aku, sedangkan aku belum memilikinya. Adakah boleh aku membelinya untuknya dari pasar?” Baginda menjawab:

      لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ
      Maksudnya: “Jangan kamu menjual suatu yang kamu tidak miliki”. (Riwayat Abu Daud, 3/283, no: 3503; Tirmizi, 3/526, no: 1232; Nasaie, 7/289, no: 4613; Ibn Majah, 2/737, no: 2187).

      Justeru, dalam isu reseller menjual produk kepada pelanggan sebelum reseller membelinya daripada pembekal/pengeluar, sekiranya produk yang dijual adalah produk yang spesifik dan ditentukan unitnya, maka urus niaga tersebut adalah tidak sah kerana wujud unsur menjual sesuatu yang tidak dimilikinya. Sebagai contoh, jika produk tersebut ialah sebuah telefon bimbit yang telah ditentukan unitnya dan nombor sirinya.

      Manakala jika produk yang dijual adalah dalam bentuk spesifikasi tertentu tanpa ditentukan unit manakah ia, maka di sana terdapat kelonggaran untuk reseller menjualnya kepada pelanggan walaupun reseller belum membelinya daripada pembekal/pengeluar. Ini berasaskan kepada keharusan melakukan urus niaga salam.

      Secara ringkas, jual beli salam ialah jual beli secara tempahan di mana pembeli membuat bayaran penuh untuk mendapatkan barangan yang dinyatakan spesifikasinya dan akan diserahkan kemudian. Menurut Standard Accounting and Auditing Organisation for Islamic Financial Institutions (AAOIFI), antara barangan yang boleh dibeli melalui akad salam termasuklah produk-produk pembuatan yang boleh ditentukan spesifikasi secara jelas, tidak ada perbezaan ketara antara unit-unitnya, dan boleh didapati di pasaran. (Shari’a Standards, m/s 166).

      Dalam hal ini, pelanggan dikira menjalankan pembelian secara salam daripada reseller, dengan membuat pembayaran penuh untuk membeli produk yang ditetapkan spesifikasinya, yang akan diserahkan pada masa hadapan. Reseller kemudiannya membeli produk yang menepati spesifikasi tersebut daripada pembekal/pengeluar dan dia boleh meletakkan syarat kepada pembekal/pengeluar supaya produk tersebut dihantar terus kepada pelanggan pertama tadi.

      Dengan penyesuaian fiqah seperti ini, urus niaga tersebut adalah sah dengan syarat hendaklah menepati hukum-hakam jual beli salam.

      Selain penyesuaian fiqah tersebut, ada beberapa lagi bentuk penyesuaian fiqah yang mungkin boleh menjadi solusi kepada isu urus niaga mereka yang menjadi reseller secara online, seperti menggunakan prinsip seperti wakalah atau ju’alah.

      Wallahu A’lam.

      26 October 2013 Posted by | Fatwa, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

      Zulhijjah,IdilAdha dan Qurban

      KULLU ‘AM WA ANTUM BI KHAIRIN..

      BULAN ZULHIJJAH, khususnya sepuluh hari awalnya adalah merupakan peluang kedua selepas Ramadhan untuk umat Islam mendapatkan gandaan keredhaan, keampunan dan pahala amalan.

      Disebutkan oleh Nabi SAW :

      “Sebaik-baik hari di dunia adalah sepuluh hari itu” (Riwayat al-Bazzar ; Albani : Sohih).

      Allah SWT pula berfirman :

      “Demi Fajar dan hari-hari (malam-malam) yang sepuluh” ( Al-Fajr : 1).

      Majoriti ulama menyatakan malam sepuluh itu merujuk kepada hari pertama hingga sepuluh Zulhijjah dan bukannya sepuluh terakhir Ramadhan. (Zad Al-Ma’ad, Ibn Qayyim).

      Perlukan difahami di dalam lafaz bahasa arab, malam juga membawa maksud siang dalam konteks tertentu, demikian juga sebaliknya. Malah Imam Ibn Abbas sendiri menafsirkan perkataan malam itu dengan katanya

      Ertinya: dari Ibn Abbas juga beliau berkata : itu termasuk siang seluruhnya, dan itu jelas dari perkataan fajar yang dimulakan, dan siang terlebih dahulu. (Tafsir Al-Qurtubi)

      Ia juga disebut oleh Nabi SAW dalam hadith lain :

      “Tiada hari-hari yang lebih disukai oleh Allah SWT untuk hambanya memperbanyakkan amalan dari sepuluh hari ini” (Riwayat Al-Bukhari).

       

      AMALAN-AMALAN UTAMA

      Manakala amalan-amalan yang digalakkan sepanjang sepuluh awal Zulhijjah yang amat besar pahalanya ini antaranya :-

      a) Zikir : Iaitu dengan memperbanyakkan zikir Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha Illa Allah dan Allahu Akbar.

      Ia bersumber dari hadith riwayat At-Tabrani yang diakui sohih oleh Imam Al-Munziri. Allah SWT juga menyebut ertinya : “Supaya mereka menyaksikan berbagai perkara yang mendatangkan faedah kepada mereka serta memperingati dan menyebut nama Allah, pada hari-hari yang tertentu..” (Al-Hajj : 28).

      Ibn Abbas r.a mentafsirkan erti ‘hari-hari tertentu’ adalah sepuluh hari Zulhijjah ini dan inilah pendapat majoriti ulama jua.

      b) Berpuasa : Amat digalakkan berpuasa pada satu hingga sembilan Zulhijjah bagi orang yang tidak menunaikan Haji. Hari Arafah (9 Zulhijjah ) pula adalah hari yang terbaik untuk berpuasa.

      Nabi SAW bersabda tentang kelebihan hari Arafah :

      “Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya lebih dari hari Arafah” (Riwayat Muslim).

      Nabi SAW juga bila ditanya tentang kelebihan berpuasa pada hari Arafah ini menjawab, ia menghapuskan dosa yang lalu dan tahun kemudiannya.

      c) Melakukan lain-lain amalan seperti bersedeqah, membaca Al-Quran, solat sunat dan lain-lain. Ia semuanya termasuk di dalam umum hadith yang menunjukkan ianya amat disukai oleh Allah SWT.

      d) Menjauhi maksiat dan masa terbaik untuk memulakan tawbat bagi sesiapa yang masih berfikir-fikir dan menangguhnya. Amat biadap jika umat Islam bersukaria dengan melampaui batas haram di hari yang amat agung di sisi Allah SWT ini.

      Bertawbatlah dengan sebenar-benar tawbat dan sedarilah bahawa hidup ini sementara dan seluruh keseronokannya adalah tipu daya semata-mata.

      e) Bertakbir : Ibn Abi Shaibah menyebut bahawa `Ali KW menunjukkan bahawa permulaan takbir bermula sejurus selepas solat Subuh hari Arafah sehingga hujung waktu ‘Asar hari ketiga Tashriq.

      f)  Berkorban : Allah SWT berfirman : ertinya : “dan berdoalah dan berkorban”. Allah SWT juga menyebut :

      Ertinya : “Sesiapa yang membesarkan syiar Allah (berkorban) mala ia adalah dari tanda ketaqwaan hati” (Al-Hajj : 32)

      Sebuah hadis menyebut  :

      Ertinya : “Tiadalah amalan anak Adam yang lebih disukai oleh Allah SWT pada hari kurban kecuali berkorban ( dengan menyembelih binatang)” ( Riwayat At-Tirmidzi, Abu Daud ; Gharib, namun terdapat rawi yang dipertikaikan )

      POTONG KUKU, RAMBUT & HUKUM QURBAN

      Hukum berkorban adalah sunat muakkad (yang dituntut) bagi orang yang mempunyai lebihan dan kemudahan harta. Demikian pendapat majoriti ulama termasuklah sahabat besar seperti Abu Bakar as-Siddiq r.a, Umar al-Khattab r.a,  Ibn Mas’ud r.a dan lain-lain, kecuali Imam Abu Hanifah berpendapat ianya WAJIB bagi mereka yang berkemampuan.[1]

      Bagi menggandakan pahala korban, seseorang yang sudah berniat awal untuk melakukannya digalakkan menahan diri dari memotong rambut dan kuku. Ia berdasarkan hadith riwayat Muslim yang sohih, iaitu :-

      Ertinya : Barangsiapa yang ingin menyembelih ( berkurban ), dan telah masuk sepuluh awal Zulhijjah), maka janganlah dia memotong apa-apa rambut atau kukunya  SEHINGGALAH sampai korban dilaksanakan” ( Muslim, 3/39 )

      Justeru, majoriti ulama dari mazhab Maliki, Syafie dan sebahagian Hanbali menyatakan makruh hukumnya bagi melanggarnya.

      Bagaimanapun ia tiadalah termasuk dalam kategori haram kerana Aisyah r.a pernah meriwayatkan bahawa beliau pernah menempah (menandakan dan membeli binatang) dan diniatkan untuk dilakukan Qurban, dan Aisyah r.a menyebutkan, tiadalah Nabi SAW mengharamkan apa-apa (semasa menunggu masa untuk menyembelih) sehinggalah sampai waktu sembelihan. Hadis tersebut adalah sohih riwayat al-Bukhari dan Muslim.

      Oleh itu, adalah dibenarkan untuk memotong kuku jika ia boleh mengganggu kesempurnaan wudhu dan lain-lain kewajiban.

      QURBAN DENGAN BAYAR SEDEQAH DUIT TANPA WAKIL SEMBELIHAN

      TIDAK DIBENARKAN juga berkorban hanya dengan membayar harganya atau membeli daging lembu yang telah disembelih dari pasar lalu disedeqahkan atas niat Qurban. Tatkala itu, ia dianggap sedeqah biasa sahaja dan bukannya Qurban yang disyariatkan di hari raya Aidiladha.

      Pahala Qurban adalah jauh lebih hebat dari bersedeqah harganya sahaja. Ia adalah fatwa oleh majoriti ahli ilmu seperti Imam Abu Hanifah, Malik, Syafie, Ahmad dan lain-lain.  [2]

      Adalah diingatkan jua agar meniatkan Qurban itu adalah kerana Allah SWT semata-mata, menuruti sunnah Nabi SAW dan Nabi Ibrahim a.s dan bukannya untuk menyedeqahkan daging atau lain-lain niat.

      Firman Allah :

      Ertinya : Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-Hajj : 37)

      KONGSI LEMBU

      Harus hukumnya menurut majoriti ulama untuk berkongsi seekor lembu dengan dibahagikan kepada 7 bahagian atau seekor kambing berdasarkan hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Jabir r.a. [3]

      Adalah digalakkan juga untuk menyembelih sendiri (jika berkemampuan) atau menghadiri majlis sembelihan.

      Sebuah riwayat hadith pernah mencatatkan nasihat Nabi SAW kepada Fatimah yang ingin berqurban :

      Ertinya : “Hadirkanlah dirimu di waktu sembelihan, diampunkan bagimu dari titisan darah sembelihanmu yang pertama”

       

      MEMATAHKAN TULANG DAN TANDUK BINATANG QURBAN

      Majoriti ulama mengharuskannya mankala tegahan untuk mematahkan tulang hanya di dalam hal aqiqah dengan doa ia menjadi kebaikan kepada si bayi berdasarkan hadith riwayat Al-Bayhaqi

      Ertinya : Sunnah adalah dua ekor kambing bagi anak lelaki dan seekor bagi perempuan, dimasak dan TIADA dipecahkan tulangnya. ( Riwayat Al-Bayhaqi dan Al-Hakim)

      Namun tiada sebarang nas atau dalil yang menegah dalam bab sembelihan Qurban.

       

      BINATANG TERBAIK UNTUK KURBAN

      Yang terbaik adalah unta, diikuti oleh lembu, kerbau, kemudian biri-biri, kambing dan jika tidak mampu bolehlah 1/7 dari unta, lembu, kerbau.

      Yang terbaik sudah tentulah yang paling banyak dagingnya maka lebih ramai mendapat merasai dan manfaatnya.

       

      QURBAN DI LUAR KAWASAN

      • Hukum asal, yang terbaik adalah sembelih dengan tangan sendiri di dalam kawasan bagi manfaat orang sekeliling.
      • Namun, diHARUSKAN mewakilkan seseorang menyembelih di luar kawasan kerana hukum daging Qurban boleh disimpan dan diagihkan kepada sesiapa jua sama ada di dalam kawasan atau mereka yang di luar.
      • Pun begitu, ulama Mazhab Shafi’e TIDAK MEMBENARKAN dipindah keluar kawasan jika di dalam masih terdapat yang memerlukan. Demikian pendapat sebahagian ulama kontemporari (Ibn Uthaimin & Majlis Fatwa Kuwait) kerana kehilangan maslahat sebenar dari udhiyyah. bayangkan apabila kita mewakilkan seseorang lain melaksanakan qurban itu sudah menyebabkan kita terluput dari melaksanakan sunnah sembelihan dengan tangan sendiri sebagaimana Rasulullah TIDAK PERNAH mewakilkan sembelihan baginda kepada orang lain. Malah sewaktu hari raya Qurban berlangsung, bagi mereka yang mewakilkan kepada pihak lain, apakah yang dapat mereka rasakan dari ibadah Qurban kecuali hanya seolah menyedeqahkan wang sahaja, sepatuttnya Qurban MELEBIHI DARI hanya sekadar sedeqah wang dan makanan, ia adalah suatu ibadah khas menghidupkan syiar dalam komuniti dan diri.
       GABUNG QURBAN DAN AQIQAH
      • Mazhab Syafi’e, Maliki & Pandangan Ahmad : Tidak boleh kerana maksud keduanya berbeza. Qurban objektifnya untuk diri dan menaikkan syiar Allah, manakala aqiqah adalah tanda kesyukuran atas kurniaan anak. Imam Ibn Hajar Al-Haithami Al-Syafie :
                   Ertinya: Yang jelas dari perkataan ulama mazhab, iaitu jika diniatkan seekor kambing untuk qurban dan aqiqah sekaligus, TIADA DIPEROLEHI SALAH SATU ANTARA                KEDUANYA, kerana keduanya sunnah yang maqsudah atau khas pada tujuan tertentu.
      • Pun begitu, Mazhab Hanafi, Pandangan Ahmad, Alhasan Basri, Ibn Sirin & Qatadah serta Majlis Fatwa Kuwait : Harus di gabung semua dengan niat Qurban, atau sebahagian qurban dan sebahagian aqiqah.
      • Pandangan yang terpilih adalah tidak menggabungkannya jika punyai kemampuan.

      PEMBAHAGIAN DAGING

      Daging qurban yang telah siap dilapah bolehlah dibahagikan SEPERTI BERIKUT :

      1/3 (sepertiga) kepada tuan rumah yang berqurban,

      1/3 (sepertiga) kepada faqir miskin termasuklah jirannya dan saudara mara dan

      1/3 (sepertiga) lagi bagi sesiapa yang memintanya.

      Ia berdasarkan firman Allah SWT :

       

      Ertinya : “Dan makanlah ia, dan berikanlah ia kepada orang yang susah dan faqir.” (Al-Haj : 28) dan juga firman Allah :

      Ertinya “Dan makanlah ia, dan berikanlah kepada orang yang memintanya dan yang tidak memintanya” (Al-Haj : 36)

      Inilah yang dilakukan oleh Nabi SAW sebagaimana riwayat Ibn Abbas r.a dan Ibn Umar r.a. Namun demikian HARUS (DIBENARKAN) untuk tidak mengikut cara pembahagian ini SAMADA UNTUK MAKAN KESELURUHANNYA ATAU KEBANYAKKANNYA. [4]

       

      UPAH KEPADA TUKANG SEMBELIH DAN LAPAH SERTA JUAL DAGING QURBAN

      Bagaimanapun DILARANG untuk memberikan tukang-tukang lapah dan penyembelih upah atas usahanya (iaitu dengan ditetapkan dari awal), bagaimanapun ia harus jika dia termasuk dari kalangan faqir miskin atau diberikan secara sukarela orang ramai sebagai hadiah. Ini berdasarkan sebuah hadis

      وأمرني أن لا أعطي الجازر شيئا- البخاري

      Ertinya : Rasulullah mengarahkan aku agar TIDAK memberi pelapah sesuatu apa (upah) pun. ( Riwayat Al-Bukhari)

      Pun begitu, boleh diberikan daging qurban sebagaimana orang lain.

       

      TIDAK DIBENARKAN juga sepakat ulama untuk menjual dagingnya.

      Namun tidak sepakat berkenaan penjualan kulit, bulunya dan tulang hasil Korban. Majoriti mazhab termasuk Syafie tidak membenarkan. [5]

      DIBENARKAN untuk menyimpan daging-daging kurban walaupun melebihi 3 (tiga) hari berdasarkan hadis Nabi s.a.w yang diriwayatkan oleh Muslim.

       

      MEMBERI DAGING KORBAN KEPADA ORANG KAFIR

      Ulama berbeza pendapat dalam hal ini, sebahagian mazhab mengatakannya HARAM, ada yang mengatakannya MAKRUH dan Mazhab Hanbali, Hanafi mengatakannya sebagai HARUS kerana ia bukannya sedeqah wajib. [6]

      Namun tiada khilaf, mendahulukan umat Islam adalah lebih utama dalam hal ini.

       

      BERQURBAN ATAU MEMBAYAR HUTANG

      Bolehkah seorang yang dibebani hutang bank dan rakan berkorban sekali setahun demi tawaran pahalanya?.

      Saya telah banyak mengulas berkenaan hutang dan pendirian Islam berkenaannya. Sila rujuk di sini. Justeru, untuk menentukan keutamaan samada menjelaskan hutang atau melakukan ibadah kurban kita perlu melihat kepada jenis hutang, tempoh janji bayaran semula dan kemampuan orang yang berhutang.

      Jika ia adalah dari jenis hutang yang telah terancang pembayarannya seperti hutang bank dan selepas ditolak semuanya masih ada baki wang, tatkala itu individu tersebut sewajarnya melihat dan memikirkan berkenaan hutang tidak rasmi dari individu lain atau rakan-rakan serta tempoh yang dijanjikan.

      Jika tempoh langsaian hutang masih jauh dan diyakini pendapatan akan datangnya boleh menampung semunya tanggungjawab wajib itu. Di ketika itu  barulah ibadah kurban menjadi utama untuk dilaksanakan.

      Ia amat jelas kerana ibadah kurban hanya sunat muakkad sahaja menurut majoriti mazhab mankala langsai hutang dalam tempohnya adalah wajib.

      Jika disebabkan oleh ingin berkorban sehingga menyebabkan rakan pemberi hutang pula ‘TERKORBAN’, hubungan persaudaraan ‘terkorban’, atau hingga menyebabkan pihak bank mengenakan penalti kerana lewat bayar, tidak wajar sama sekali untuk berkorban juga. Keutamaan tetap bagi pelangsaian hutang berbanding berkorban. Demikian pandangan ringkas saya.

       

      SEMBELIH QURBAN GUNA AYAM

      • Asal hukum mesti bahimatul al-an’am sebagaimana disebut di dalam Al-Quran. Ayam tidak tergolong dalam kategori itu.
      • Bagi mereka yang tidak mampu, gugurkan kesunatan Qurban dari mereka, namun jika mereka ingin sembelih ayam sebagai ganti, ia hanya menjadi sedeqah biasa. Diriwayatkan Ibn Abbas pernah membeli daging dengan harga satu dirham dan berkata nah, inilah qurban Ibn Abbas, iaitu secara majaz.

       

      QURBAN OLEH ORGANISASI & SYARIKAT?

      Ramai yang bertanya dan ramai juga yang melakukan amalan ini. Adakah sebuah syarikat boleh mengeluarkan budjet tertentu untuk membeli dua puluh ekor lembu dan berkorban atas nama syarikat?

      Jawab ringkas saya:

      “tidak boleh !”

      Ibadah korban adalah ibadah yang dilakukan oleh individu tertentu atau untuk individu tertentu. Ia bukan untuk organisasi yang bukan manusia. Justeru, ia sebuah organisasi ingin melaksanakannya, ia MESTI menghadiahkannya kepada mana-mana Pengarah atau kakitangannya.

      Ketika itu korban barulah sah dan ia menjadi korban oleh individu yang ditentukan namanya sahaja dan bukan atas nama syarikat. Pihak syarikat terbabit boleh bergilir-gilir menghadiahkan lembu tertentu dan bahagiannya DIHADIAHKAN kepada kakitangan secara khusus UNTUK DILAKSANAKAN sembelihan atau korban, pahala korban akan hanya diperolehi oleh individu dan pihak organisasi pula (iaitu pemilik organisasi iaitu manusia) hanya mendapat pahala kerana ‘menghadiahkan’ lembu atau bahagiannya kepada kakitangan sahaja.

      Jika pihak syarikat tidak mahu berbuat demikian, bermakna ia mestilah meletakkan secara specific 20 ekor lembu itu, untuk para lembaga pengarahnya secara khusus juga. Ia bukan atas nama syarikat tetapi individu.

       

      BINATANG YANG DIKONGSI

       

      a) Yang boleh dikongsi : Lembu, Unta, Kerbau
      Dalilnya dari hadis :
      Ertinya: Rasulullah berkongsi sewaktu Hajinya bersama kaum Muslimin, seekor Lembu dibahagi tujuh bahagian. (Riwayat Ahmad)
      b) Yang tidak boleh dikongsi (Ijma’ ulama) : Kambing, kibash dan sepertinya. Adapun kongsi pahala, terdapat khilaf dan sebahagian mengHARUSkannya.
       KONGSI PAHALA QURBAN
       
      a) Ketua keluarga diHARUSkan menyembelih satu bahagian lembu atau kerbau atau unta dan diniatkan pahalanya kepada keluarganya. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh Baginda Nabi saw.
      b) Namun untuk kongsi pahala dengan seluruh syarikat atau negara, ia tidak dilakukan oleh shabat nabi. Hanya Nabi sahaja yang berqurban dan menyatakan “ini adalah untuk ummatku yang tidak berqurban. Disebutkan di dalam sebuah hadis bahawa Nabi membaca doa ini semasa ingin menyembelih:
      Ertinya: Nabi berkata : Dengan Nama Allah dan ya Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan ummatnya.

       

      SIAPA PATUT MULAKAN QURBAN?

      Jawabnya adalah imam di sesuau tempat tersebut dan diikuti dengan orang ramai, demikian sunnah Nabi s.a.w berdasarkan hadith :

       

      Ertinya: Berkata Ibn Umar r.a ertinya : Nabi melaksanakan sembelihan sedang baginda berada di kawasan solatnya.
      Ertinya: Berkata Imam Malik : Imam menyembelih di kawasan solat dan agar tiada yang menyembelih satu orang pun sebelumnya

       

       

      APAKAH HAJI AKBAR ?

      Nabi SAW menamakan hari sembelihan iaitu 10 Zulhijjah  sebagai Haji Akbar. (Riwayat Abu Daud dengan sanad sohih : Ibn Qayyim dan Albani).

      Sayyidina Ali Abi Talib juga pernah ditanya tentang apakah itu Haji Akbar, beliau menjawab:

      “Ia adalah hari sembelihan (iaitu haji raya pertama). (Riwayat at-Tirmidzi)

      Menurut Ulama itulah yang dimaskudkan di dalam ayat surat At-Taubah.

      Bagaimanapun sesetengah ulama membawakan hujah mereka mengatakan Haji Akbar itu adalah Hari Arafah [7]. Setengah ulama pula bersama sahabat seperti Ibn Abbas r.a dan Ibn Umar r.a yang menyatakan bahawa Haji Akbar itu adalah hari arafah yang jatuhnya pada hari Jumaat dan pahalanya disebut sehebat 70 kali pahala Haji biasa, Ia juga disebut oleh Imam al-Ghazzali, ini bermakna pada Haji Akbar, semua orang yang berada di Arafah akan diampunkan. Ia berdasarkan satu hadith yang diriwayat oleh Razin dalam Tajrid as-Sihhah, bagaimanapun al-Munawi menolak hadith itu dengan katanya “tiada asalnya”.

      Kesimpulannya : Terdapat para sahabat mengatakan Haji Akbar itu adalah hari Arafah yang jatuh pada hari jumaat, mankala Ali k.w pula mengatakan ia adalah hari Qurban pada 10 zulhijjah dan setengah yang lain pula menyebut ia adalah semua hari-hari wuquf di Mina ( hari Tasriq).

      Akhirnya, adalah amat perlu dipastikan bahawa tarikh hari raya ‘Idil adha ini menurut ijtihad pemerintah kerajaan Saudi bagi menyatukan umat Islam di seluruh dunia ( kecuali jika benar-benar sesebuah Negara itu mengikut rukyah), tanpa rukyah maka kiraan yang terbaik adalah dengan menuruti Saudi. Dengan itu, kekeliruan yang sering berlaku sebagaimana mencari Lailatul Qadar dan hariraya idilfitri akan berterusan. wallahu ‘alam

      Sekian

      Doha, Qatar

      27 Dis 2006 ( 7 Zulhijjah 1427 H)

      Kemaskini : 16 Disember 2007 ( 6 Zulhijjah 1428 H – Malaysia ; 7 Zulhijjah 1428 H – Saudi)

      KEMAS KINI : 29 Nov 2008 ( 1 Zulhijjah 1429 H )

      KEMAS KINI : 16 Oktober 2012 ( 30 ZulQaedah 1433 H)


      [1] Al-Mughni, Ibn Qudamah, 5/ 197

      [2] Al-Majmu, 8/425 ; Al-Mughni, 9/436

      [3] Al-Majmu, An-Nawawi, 8/313

      [4] Al-Mughni, Ibn Qudamah, 5/200

      [5] Bidayatul Mujtahid, Ibn Rusd Al-Hafid, 1/321 ( cet Maktabah al-Riyadh al-Hadithiyah) ; Rawdah At-Tolibin, An-Nawawi, 3/225

      [6] Al-Mughni, Ibn Qudamah, 5/201

      [7] Ahkam al-Quran, Al-Jassas

      Sumber: Ustaz Dr Zaharuddin Abdul Rahman

      6 October 2013 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , , , | Leave a comment

      Hukum pelihara anjing….

      anjing

       

      Renung-Renungkanlah semua…

      SEJAK kebelakangan ini terdapat ramai umat Islam di negara ini, terutamanya yang Melayu membela anjing walaupun haiwan itu termasuk dalam kategori najis mughalazzah iaitu jika terkena air liur atau terpegang badan anjing yang basah maka wajib dibasuh dengan air yang bercampur tanah sekali diikuti dengan enam kali air yang bersih.

      Antara alasan-alasan yang mereka beri:

      1) Tidak terdapat dalam al-Quran yang menyatakan orang Islam tidak boleh membela anjing.

      2) Rasullullah SAW tidak pernah mengharamkan orang Islam membela anjing.

      3) Anjing juga seperti haiwan-haiwan yang lain adalah makhluk Allah.

      4) Terdapat ramai pemimpin-pemimpin Islam di negara luar juga membela anjing malah ada yang membiarkan anjing mereka memasuki rumah dan bilik tidur.

      5) Ramai penganut-penganut Islam di negara-negara Arab, Pakistan dan Afghanistan membela anjing.

      6) Ada kisah yang menceritakan tentang tiga orang pemuda terkurung di dalam gua bersama seekor anjing selama 300 tahun, kemudian dibebaskan Allah yang mana dikatakan pemuda-pemuda tersebut termasuk anjing mereka dimasukkan Allah ke dalam syurga.

      7) Ada kisah di Amerika seorang penganut Islam yang buta kedua-dua matanya mempunyai seekor anjing penunjuk jalan untuk ke masjid.

      Terdapat sebilangan ustaz-ustaz dan guru-guru agama yang berpendapat tidak salah orang Islam membela anjing.

      Seperkara lagi, benarkah Rasullullah ada bersabda: "Tidak akan masuk Malaikat Rahmat ke dalam rumah seseorang Islam itu yang mana di rumah tersebut ada membela anjing."

      JAWAPAN

      Pada dasarnya, ketetapan najis bagi air liur anjing ini dipandang daripada dimensi yang bersifat ritual, bukan rasional, sehingga tidak harus ada alasan logik. Dimensi akal masih jauh daripada kesempurnaan untuk menganalisis secara teliti tentang najis air liur anjing.

      Memang, agama tidaklah diukur dengan akal. Sayidina Ali mengatakan: "Andaikan agama diukur dengan akal, maka mengusap sisi bawah muzah (sepatu) lebih utama daripada mengusap sisi atasnya. Dan Rasulullah SAW telah mengusap di atas dua sepatu." (riwayat Abu Dawud).

      Ada yang berpendapat apa salahnya memelihara anjing kerana ia juga makhluk ciptaan Allah SWT. Lagi pula, ia sangat taat pada tuannya. Sebab itu agama Islam tidak boleh dikias sesuka hati mengikut perasaan.

      Apa yang digaris oleh Islam dalam syariatnya ialah lebih kepada menjaga kemaslahatan penganutnya. Bukan sekadar menyuruh Muslim membuat itu dan meninggalkan ini, malahan lebih daripada itu.

      Sebagai pembuka perbincangan, suka saya nukilkan beberapa dapatan kajian saintifik yang kebanyakan kita tidak mengetahuinya.

      Walaupun sesuatu suruhan dan tegahan yang dinyatakan oleh Allah dan rasul-Nya pada awalnya diterima oleh sahabat dan para salaf soleh dengan tanpa bantahan, tanpa bertanya hikmah mahupun falsafah di sebaliknya. Tetapi mutakhir ini, kebanyakan tegahan dan suruhan dapat dibuktikan hikmah dan falsafahnya.

      Antaranya, kenapa najis kedua ini diwajibkan membasuhnya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah? Sains ada jawapannya.

      Sebanyak 79.7 peratus penderita barah payudara ternyata sering berdampingan dengan anjing seperti memeluk, mencium, menggendong, memandikan dan semua aktiviti perawatan anjing. Hanya 4.4 peratus pesakit yang tidak memiliki haiwan peliharaan. Di Norway, 53.3 peratus daripada 14,401 pemilik anjing mengidap barah.

      Ternyata barah pada anjing dan manusia disebabkan oleh virus yang sama iaitu mammary tumor virus (MMTV).

      Dalam satu kajian oleh para penyelidik Munich Universiti mengenai kuman yang dibawa oleh anjing dan kesannya pada manusia, menunjukkan 80 peratus punca penyakit payudara berpunca daripada kuman yang dibawa oleh anjing.

      Dari sudut fiqh, suka saya kemukakan pandangan Imam al-Syafie sebagai pandangan yang terpilih dengan beberapa alasan tanpa memperkecilkan pandangan mazhab lain. Ini kerana rakyat Malaysia berpegang dengan mazhab al-Syafie.

      Pendapat Pertama: Anjing adalah najis keseluruhannya, sama ada kecil atau besar adalah najis, berdasarkan adanya perintah mencuci bejana yang dijilatnya sebanyak tujuh kali. Bahkan, menurut pendapat Imam al-Syafie tentang najisnya anjing ini termasuk najis mughallazah (najis berat).

      Sebab mencuci bejana yang kena najis tersebut sampai tujuh kali dan satu kali di antaranya harus dicampuri dengan debu tanah. Ini adalah pendapat mazhab al-Syafie dan Hanbali yang amat ketat dalam persoalan anjing. Pendapat ini diikuti umumnya kaum Muslimin di Malaysia dan yang bermazhab al-Syafie.

      Terdapat dua dalil yang menjadi hujah bagi pendapat pertama ini. Dalil Pertama berdasarkan kaedah Qiyas.

      Menurut mereka anjing dan babi serta yang lahir daripada keduanya adalah najis, termasuk keringatnya. Suruhan Rasulullah SAW untuk membasuh bekas yang diminum oleh anjing adalah dalil bagi menunjukkan najisnya lidah, air liur dan mulut anjing.

      Memandangkan lidah dan mulut adalah anggota utama di mana tanpa lidah dan mulut haiwan tersebut akan mati kerana tidak boleh mendapatkan makanan dan minuman. Jika lidah dan mulut dikategorikan sebagai najis, maka sudah tentu lain-lain anggotanya adalah najis juga.

      Selain itu, air liur anjing terhasil daripada peluhnya sendiri, maka jika peluh yang keluar daripada mulut (air liur) adalah najis, maka sudah tentu peluh yang keluar daripada seluruh badannya adalah najis juga.

      Imam An-Nawawi menyebut di dalam Al-Minhaj: "Yang disebut najis itu adalah setiap cecair yang memabukkan, anjing babi dan apa-apa yang lahir daripada keduanya…" (Mughni Al-Muhtaj, Khatib Syarbini:1/110).

      Kata al-Qardhawi, hukum membela anjing sebagai binatang kesayangan (hobi) adalah haram, yakni diharamkan oleh Rasulullah. Dalilnya: Daripada Sufyan bin Abu Zuhair, bahawa Nabi SAW bersabda: Barang siapa memelihara anjing bukan untuk menjaga ladang atau ternak, maka setiap hari pahalanya berkurangan satu qirath. (riwayat Bukhari dan Muslim dan semua ahli hadis yang lain).

      Inilah juga pendapat majoriti mazhab Syafie, Hanbali, Maliki dan Zahiri (al-Majmuu’, IX/234)

      Daripada Abdullah bin Umar dia berkata: "Aku mendengar Nabi SAW bersabda: Sesiapa memelihara anjing selain anjing untuk berburu atau anjing menjaga binatang ternak, maka pahalanya akan berkurang dua qirath setiap harinya." (Riwayat Bukhari no. 5059 dan Muslim, no: 2940).

      Juga daripada Ibnu Umar RA berkata: "Rasulullah SAW memerintahkan supaya membunuh anjing kecuali anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga kambing atau menjaga haiwan ternak. (riwayat Muslim no. 1571)"

      Antara alasan-alasan fuqaha seperti Ibnu Hajar ialah :

      1. Ia menakutkan jiran dan orang lalu lalang di luar rumah atau orang yang mengunjunginya.

      2. Berkurangnya pahala kepada pemeliharanya.

      3. Keengganan Malaikat masuk rumah yang ada anjing.

      4. Ada anjing yang menjadi daripada jelmaan anjing (anjing hitam pekat).

      5. Tabiat anjing yang suka menjilat dan kenajisan jilatan itu mungkin menyukarkan pemeliharanya. (al-Fath, X/395)

      Ada pendapat yang mengatakan ia makruh sahaja kerana tiada larangan yang tegas, demikian kata Ibnu Abdil Barr (at-Tamhid, 14/221).

      Imam al-Nawawi berpendapat bahawa selain alasan untuk tiga tujuan membela anjing yang diharuskan melalui sabda baginda, iaitu boleh atau tidak membela anjing selain menjaga ternakan, menjaga tanaman dan memburu. Baginda mengharuskan sekiranya anjing itu dipelihara untuk menjaga keselamatan rumah dan tuan. Ini kerana alasan keharusan yang terdapat dalam hadis menunjukkan keperluan untuk membela anjing dengan adanya keperluan.

      Namun, ini tidak bermaksud anjing disimpan dalam rumah kerana Nabi SAW telah menegaskan bahawa Malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang terdapat anjing, sekali gus mengelak sebarang kemudaratan yang mungkin berlaku kerana anjing.

      Ini kerana tuan rumah tidak akan dapat memantau setiap gerak geri anjing sepanjang di dalam rumah. Juga dikhuatiri jilatan yang sukar dikesan bila kering. Justeru mengelak itu adalah lebih baik.

       

      [Posted by Melayu Berwawasan]

      3 August 2013 Posted by | Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | | Leave a comment

      Baca Yaasin Di Kuburan

      Baca Quran di kbuburanPerkuburan Ampang (3)

      Dalam bulan Ramadhan terutama sekali di hujung – hujungnya dan pada hari lebaran nanti, ramailah saudara-saudara kita mendatangi tanah – tanah perkuburan tempat persemadian insan-insan yang mereka sayangi. Bukanlah maksudnya bahawa menziarahi kubur itu hanya dihukumkan sunnat pada masa-masa tersebut sahaja. Ianya lebih kepada faktor masa yang terluang atau faktor suasana yang syahdu di hari yang mulia menghimbau ingatan kepada mereka-mereka yang telah tiada. Oleh itu, pada ketika itulah penuh segala pusara dengan para penziarah. Dalam ziarah biasanya akan dibaca surah Yaasin dan tahlil sebagai hadiah dan barakah kepada segala arwah tersebut. Jumhur ulama daripada keempat-empat mazhab Ahlus Sunnah wal Jama`ah, termasuklah mazhab asy-Syafi`iyyah dan al-Hanabilah, menghukumkan baik, mustahab, bahkan sunnat untuk membacakan al-Quran di sisi kubur. Syaikh al-Imam al-`Allaamah Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safaarini al-Hanbali rahimahullah (w. 1188H) dalam karya beliau "al-Buhur az-Zaakhirah fi `Uluum al-Akhirah" menyatakan, antara lain sebagai berikut:-

      Tanbih: Pembacaan al-Quran di kubur dipandang sebagai mustahab oleh para ulama Mazhab Syafi`i dan ulama lain. Imam an-Nawawi menyatakan dalam "Syarah al-Muhadzdzab" bahawa dimustahabkan bagi penziarah kubur untuk membaca apa-apa yang mudah daripada al-Quran dan mendoakan bagi mereka. Hal ini merupakan nas atau pandangan yang datang daripada Imam asy-Syafi`i sendiri. Di tempat lain, yakni dalam karangan lain, ditambah bahawa jika dikhatamkan sekalian al-Quran itu di atas kubur tersebut, maka ianya adalah afdhal. Dan adalah imam kita, Imam Ahmad RA, pada permulaannya mengingkari amalan sedemikian, namun kemudian beliau telah menarik balik pandangannya tersebut setelah sampai hadis yang menjadi sandaran amalan ini kepada beliau.

      Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, murid Ibnu Taimiyyah al-Harrani telah menukilkan sebuah kisah mengenai pembacaan yaasin di kubur dalam karyanya "ar-Ruh" pada halaman 18 sebagai berikut:-

      Telah mengkhabarkan kepadaku oleh al-Hasan bin al-Haitsam yang berkata: "Aku telah mendengar Abu Bakar bin al-Athrusy bin Bint Abi Nashr bin al-Tammar berkata: "Ada seorang lelaki yang selalu datang menziarahi kubur ibunya pada hari Jumaat lalu membaca surah Yaasin. Pada sebahagian hari-hari yang dia datang menziarahi kubur ibunya, dia akan membaca surah Yaasin. Selepas membaca Yaasin, dia berdoa: "Ya Allah, seandainya Engkau memberi pahala atas pembacaan surah ini, maka jadikannya bagi segala penghuni perkuburan ini". Tatkala datang Jumaat berikutnya, datang seorang wanita kepada si lelaki tadi seraya berkata: "Adakah engkau si fulan anak si fulanah?" Dia menjawabnya: "Ya." Wanita tersebut berkata lagi: " Adalah anak perempuanku telah meninggal dunia dan aku telah bermimpi melihatnya duduk di tepi kuburnya, lalu aku menyapanya: "Kenapa engkau duduk di sini?" Dia menjawab: "Sesungguhnya si fulan anak si fulanah telah datang menziarahi kubur ibunya dan membaca surah Yaasin serta menjadikan pahalanya bagi segala ahli kubur, maka kami telah diberi kesenangan daripada yang sedemikian atau kami telah diampuni atau yang seumpamanya (yakni para ahli kubur tersebut mendapat kesenangan daripada hadiah pahala bacaan surah Yaasin tersebut atau mendapat keampunan atau yang seumpamanya)."

      Oleh itu, janganlah kita membenci perbuatan saudara-saudara seagama yang membaca sesuatu daripada al-Quran di sisi kubur atau menghadiahkannya kepada mereka-mereka yang telah berpulang ke rahmat Allah. Rahmat Allah itu amat luas dan banyak jalan atau sebab untuk meraihnya.

       

      [Sumber: PONDOK HABIB]

      21 July 2013 Posted by | Fiqh, Ibadah, Tazkirah | , | Leave a comment

      Panduan Puasa Ramadan

      Oleh: Ustadz Abu Rasyid
      MUQADDIMAH

      Artinya: Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Apabila ada sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan dienmu, maka akulah tempat kembalinya (ikuti aku). (H.R Ahmad).

      Artinya : Dirwayatkan dari ‘Aisyah ra : Rasulullah saw. telah bersabda : Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak (tidak diterima). Dan dalam riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. Sementara dalam riwayat lain: Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak. (HR.Ahmad. Bukhary dan Abu Dawud).

      Kandungan dua hadits shahih di atas menerangkan dengan jelas dan tegas bahwa segala perbuatan, amalan-amalan yang hubungannya dengan dien/syari’at terutama dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran seolah-olah lebih baik. Diantara cara syaitan menggoda ummat Islam ialah membisikkan suatu tambahan dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan berbahaya.

      Sabda Rasul saw.: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. berkhutbah kepada manusia pada waktu haji Wada’ . Maka beliau bersabda : Sesungguhnya Syaithan telah berputus asa (dalam berusaha) agar ia disembah di bumimu ini. Tetapi ia ridha apabila (bisikannya) ditaati dalam hal selain itu; yakni suatu amalan yang kamu anggap remeh dari amalan-amalan kamu, berhati-hatilah kamu sekalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu, yangjika kamu berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu: Kitab Allah dan sunnah NabiNya. ” (HR. Hakim).

      Dengan demikian dapat difahami bagaimana Rasulullah saw. mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap provokasi setan untuk beramal dengan menyalahi tuntunan Nabi sekalipun hal itu nampak remeh. “Diriwayatkan dari Ghudwahaif bin Al-Harits ra: ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Setiap suatu kaum mengadakan Bid’ah, pasti saat itu diangkat (dihilangkan) sunnah semisalnya. Maka berpegang teguh kepda sunnah itu lebih baik daripada mengadakan bid’ah” (HR. Ahmad).

      Jadi, ketika amalan bid’ah ditimbulkan betapapun kecilnya, maka pada saat yang sama Sunnah telah dimusnahkan. Pada akhirnya lama kelamaan yang nampak dalam dien ini hanyalah perkara bid’ah sedangkan yang Sunnah dan original telah tertutup. Pada saat itulah ummat Islam akan menjadi lemah dan dikuasai musuh.

      Dalam menyambut kedatangan Ramadhan,dalam bulan yang penuh berkat ini kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh, yang mana hal tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam. Karenanya hal tersebut amat penting. Berkaitan dengan hal diatas, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menunaikan ibadah puasa ini sesempurna mungkin , benar-benar bebas dari bid’ah sesuai dengan panduan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw.

      Untuk keperluan itulah dalam risalah yang sederhana ini diterangkan beberapa hal yang berkaitan dengan amaliah puasa Ramadhan, zakat fithrah, dan Shalat ‘Ied berdasarkan Nash-nash yang Shariih (jelas). Dalil – dalil dan KESIMPULAN dibuat agar mudah difahami antara hubungan amal dengan dalilnya. Dan -tak ada gading yang tak retak- kata pepatah, sudah barang tentu risalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk menuju kesempurnaannya bantuan dari pemakai amat diharapkan. Semoga risalah ini diterima oleh Allah sebagai Amal Shalih yang bermanfaat terutama di akhirat nanti. Amien.

      I. MASYRU’IYAT DAN MATLAMAT PUASA RAMADHAN.

      1. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa “(QS Al-Baqarah: 183).

      2. “Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dengan yang bathil), karena itu barangsiapa diantara kamu menyaksikan (masuknya bulan ini), maka hendaklah ia puasa… ” (Al-Baqarah: 185).

      3. ” Telah bersabda Rasulullah saw. : Islam didirikan di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah. Mendirikan Shalat Mengeluarkan Zakat puasa di bulan Ramadhan Menunaikan haji ke Ka’bah. (HR.Bukhari Muslim).

      4. “Diriwayatkan dari Thalhah bin ‘ Ubaidillah ra. : bahwa sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Nabi saw. : ia berkata : Wahai Rasulullah beritakan kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah atas diriku. Beliau bersabda : puasa Ramadhan. Lalu orang itu bertanya lagi : Adakah puasa lain yang diwajibkan atas diriku ?. Beliau bersabda : tidak ada, kecuali bila engkau puasa Sunnah. “.

      KESIMPULAN: Dari ayat-ayat dan hadits-hadits diatas, kita dapat mengambil pelajaran :

      1. puasa Ramadhan hukumnya Fardu ‘Ain (dalil 1, 2, 3 dan 4).
      2. puasa Ramadhan disyari’atkan bertujuan untuk menyempurnakan ketaqwaan (dalil no 1).
      II. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN KEUTAMAAN BERAMAL DIDALAMNYA

      1. Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk puasa, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya (tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini). (HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).

      2. “Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat ‘Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. Ia berkata: maka ia menerangkan tentang puasa Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah (dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan.” (Riwayat Ahmad dan Nasai)

      3. ” Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum’at sampai Shalat Jum’at berikutnya, puasa Ramadhan sampai puasa Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi.” (H.R.Muslim)

      4. “Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: puasa dan Qur’an itu memintakan syafa’at seseorang hamba di hari Kiamat nanti. puasa berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa’at baginya. Dan berkata pula AL-Qur’an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari (karena membacaku), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat.” (H.R. Ahmad, Hadits Hasan).

      5. “Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut ” Rayyaan”. Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang puasa? (untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu.” (HR. Bukhary Muslim).

      6. Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa puasa Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang (HR.Bukhary Muslim).

      KESIMPULAN: Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, diantaranya :

      1. Bulan Ramadhan adalah:

      • Bulan yang penuh Barakah.
      • Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.
      • Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.
      • Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.
      • Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma’shiyat agar menahan diri. (dalil 1 & 2).

      2. Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain :

      • Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.
      • Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syafaa’t.
      • Khusus bagi yang puasa disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. (dalil 3, 4, 5 dan 6).
      III. CARA MENETAPKAN AWAL DAN AKHIR BULAN

      1. “Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata : Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya

      katakan : sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. puasa dan memerintahkan semua orang agar puasa.” (H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).(Hadits Shahih).

      2. “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah puasa karena melihat ru’yah dan berbukalah (akhirilah puasa Ramadhan) dengan melihat ru’yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban selama Tiga Puluh hari. “(HR. Bukhary Muslim).

      KESIMPULAN:

      • Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru’yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil (dapat dipercaya).
      • Jika bulan sabit (Hilal) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. (dalil 1 dan 2).
      • Pada dasarnya ru’yah yang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ‘ Ala Minhaajinnabiy sudah tegak (dalil 2).
      • Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru’yah yag nampak di negeri masing-masing. (ini hanya pendapat sebagian ulama).
      IV. RUKUN PUASA

      1. “… dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam…(AL-Baqarah :187).

      2. “Adiy bin Hatim berkata : Ketika turun ayat ; artinya (…hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam…), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas benang putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui Rasulullah saw. Dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang dimaksud adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar). ” (H.R. Bukhary Muslim).

      3. “Allah Ta’ala berfirman : ” Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan ketaatan untukNya ” (Al-Bayyinah :5)

      4. “Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan.” (H.R Bukhary dan Muslim).

      5. “Diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. : Barangsiapa yang tidak beniat (puasa Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya .” (HR. Abu Dawud) Hadits Shahih.

      KESIMPULAN: Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahawa rukun puasa Ramadhan adalah sebagai berikut:

      1. Berniat sejak malam hari (dalil 3,4 dan 5).
      2. Menahan makan, minum, koitus (Jima’) dengan isteri di siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (Maghrib), (dalil 1 dan 2).
      V. YANG DIWAJIBKAN PUASA RAMADHAN.

      1. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian untuk puasa, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa. ” (Al-Baqarah : 183)

      2. “Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata : Sesungguhnya nabi saw telah bersabda : telah diangkat pena (kewajiban syar’i/ taklif) dari tiga golongan .

      - Dari orang gila sehingga dia sembuh – dari orang tidur sehingga bangun – dari anak-anak sampai ia bermimpi / dewasa.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

      KESIMPULAN: Keterangan di atas mengajarkan kepada kita bahwa : yang diwajibkan puasa Ramadhan adalah: setiap orang beriman baik lelaki maupun wanita yang sudah baligh/dewasa dan sehat akal /sadar.

      VI. YANG DILARANG PUASA

      1. “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata : Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, kami dilarang puasa dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah mengqadha Shalat “(H.R Bukhary Muslim).

      KESIMPULAN: Keterangan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh dilarang puasa sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan puasanya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha puasa yag ditinggalkannya selama dalam haidh.

      VII. YANG DIBERI KELONGGARAN UNTUK TIDAK PUASA RAMADHAN

      1. “(Masa yang diwajibkan kamu puasa itu ialah) bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an, menjadi pertunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan pertunjuk, dan (menjelaskan) antara yang haq dengan yang bathil. Karenanya, siapa saja dari antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadhan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia puasa di bulan itu; dan siapa saja yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia berbuka, kemudian wajiblah ia puasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadhan), dan supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat pertunjukNya, dan supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah:185.)

      2. “Diriwayatkan dari Mu’adz , ia berkata : Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk puasa, maka DIA turunkan ayat (dalam surat AL-Baqarah : 183-184), maka pada saat itu barangsiapa mau puasa dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain (AL-Baqarah : 185), maka ditetapkanlah kewajiban puasa bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah (keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi oran yang sudah sangat tua dan tidak mampu puasa. ” (HR. Ahmad, Abu Dawud, AL-Baihaqi dengan sanad shahih).

      3. “Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy : Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku kuat untuk puasa dalam safar, berdosakah saya ? Maka beliau bersabda: Hal itu adalah merupakan kemurahan dari Allah Ta’ala, maka barangsiapa yang menggunakannya maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk terus puasa maka tidak ada dosa baginya ” (H.R.Muslim)

      4. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Kami bepergian bersama Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan puasa. Selanjutnya ia berkata : Kami berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada ditempat yang dekat dengan musuh kalian, dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, maka diantara kami ada yang masih puasa dan ada juga yang berbuka. Kemudian kami berhenti di tempat lain. Maka beliau juga bersabda: Sesungguhnya besok kamu akan bertemu musuh, berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu sekalian,maka berbukalah. Maka ini merupakan kemestian, kamipun semuanya berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami puasa .” (H.R Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).

      5. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yang puasa dan diantara kami ada yang berbuka . Yang puasa tidak mencela yang berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang puasa. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu puasa, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka,maka hal ini juga baik” (HR. Ahmad dan Muslim)

      6. “Dari Jabir bin Abdullah : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pergi menuju ke Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau puasa sampai ke Kurraa’il Ghamiim dan semua manusia yang menyertai beliau juga puasa. Lalu dilaporkan kepada beliau bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat , tetapi mereka tetap puasa karena mereka melihat apa yang tuan amalkan (puasa). Maka beliau meminta segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu sebagian berbuka dan sebagian lainnya tetap puasa. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih ada yang nekad untuk puasa. Maka beliaupun bersabda : mereka itu adalah durhaka.” (HR.Tirmidzy).

      7. “Ucapan Ibnu Abbas : wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak puasa dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin ” (Riwayat Abu Dawud). Shahih

      8. “Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya (tentang puasa Ramadhan), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka ia menjawab : Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha puasa .” (Riwayat Baihaqi) Shahih.

      9. “Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi ‘Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata : Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika puasa Ramadhan. Beliau berkata : Keduanya boleh berbuka (tidak puasa) dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha puasa” (HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syaratMuslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19).

      KESIMPULAN: Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas adalah : Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak puasa Ramadhan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah :

      1. Orang sakit yang masih ada harapan sembuh.
      2. Orang yang bepergian (Musafir). Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan puasa dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk puasa.

      Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan puasa dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan puasa karena:

      1. Umurnya sangat tua dan lemah.
      2. Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.
      3. Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya.
      4. Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh.
      5. Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil puasa, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan. (dalil 2,7,8 dan 9).
      VIII HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

      1. “…dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar), kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam…” (Al-Baqarah : 187).

      2. “Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda : Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum ” (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama’ah kecuali An-Nasai).

      3. Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang puasa – maka tidak wajib qadha (puasanya tetap sah), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha (puasanya batal). (H.R : Abu Daud dan At-Tirmidziy)

      4. Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata : Disaat kami berhaidh (datang bulan) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang puasa dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      5. Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk puasa (Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya. (H.R : Abu Daud) hadits shahih.

      6. Telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      7. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan puasa (Ramadhan), maka Rasulullah saw bersabda : Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan ? Ia menjawab : Tidak. Rasulullah saw bersabda : Mampukah kamu puasa dua bulan berturut-turut ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Beliau bersabda lagi : Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya : dimana orang yang bertanya tadi ? ambilah

      kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya : Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah ? Demi Allah tidak ada diantara sudut-sudutnya (Madinah) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda : Ambillah untuk memberi makan keluargamu. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      KESIMPULAN: Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas menerangkan kepada kita bahwa hal-hal yang dapat membatalkan puasa (Ramadhan) ialah sbb:

      • Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan minum di siang hari, maka tidak membatalkan puasa. (dalil : 2)
      • Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan puasa. (dalil :3)
      • Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka. (dalil : 5 dan 6)
      • Dengan sengaja menyetubuhi istri di siang hari Ramadhan, ini disamping puasanya batal ia terkena hukum yang berupa : memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.(dalil : 7)
      • Datang bulan di siang hari Ramadhan (sebelum waktu masuk Maghrib).(dalil : 4)
      IX. HAL-HAL YANG BOLEH DIKERJAKAN WAKTU IBADAH PUASA

      1. Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh sedang beliau sedang dalam keadaan puasa, kemudian mandi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      2. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya : Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan puasa karena haus dan karena udara panas. (H.R : Ahmad, Malik dan Abu Daud)

      3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan puasa. (H.R : Al-Bukhary).

      4. Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium (istrinya) sedang beliau dalam keadaan puasa dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya (tidak sampai bersetubuh) sedang beliau dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya. (H.R : Al-Jama’ah kecuali Nasa’i) hadits shahih.

      5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj : Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata : Sesungguhnya suami saya mencium saya sedang dia dan saya dalam keadaan puasa, bagaimana pendapatmu ? Maka ia menjawab : Adalah Rasulullah r pernah mencium saya sedang beliau dan saya dalam keadaan puasa. (H.R : Aththahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat Muslim).

      6. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah : Sesungguhnya Nabi saw bersabda : Apabila kamu beristinsyaaq (menghisap air ke hidung) keraskan kecuali kamu dalam keadaan puasa. (H.R :Ashhabus Sunan)

      7. Perkataan ibnu Abbas : Tidak mengapa orang yang puasa mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya (Ahmad dan Al-Bukhary).

      KESIMPULAN: Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa hal-hal tersebut di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan puasa :

      1. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari.
      2. Menta’khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh. (dalil : 1)
      3. Berbekam pada siang hari. (dalil : 3)
      4. Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari.(dalil 4 dan 5)
      5. Beristinsyak (menghirup air kedalam hidung)terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya. (dalil : 6)
      6. Disuntik di siang hari.
      7. Mencicipi makanan asal tidak ditelan.(dalil :7)
      ADAB-ADAB PUASA RAMADHAN.

      1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang matahari sudah terbenam, maka orang yang puasa boleh berbuka. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Manusia (ummat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk. (H.R : Abu Daud dan Al-Hakiem)

      4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu puasa hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih. (H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi)

      5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar : Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah. (H.R : Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan)

      6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu (yang sudah terhidang). (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah. (H.R : Al-Bukhary)

      8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw. bersabda : Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. (H.R : An-Nasa’i)

      9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata : Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat (Shubuh). saya berkata : Berapa saat jarak antara keduanya (antara waktu sahur dan waktu Shubuh)?Ia berkata : Selama orang membaca limapuluh ayat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata : Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. (H.R : Al-Baihaqi)

      11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya (makan/minum sahur)daripadanya. (H.R : Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem)

      12. Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata : Shalat telah di’iqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra. beliau bertanya : Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah ? Beliau r.a menjawab : ya, lalu ia meminumnya. (H.R Ibnu Jarir)

      13. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata :Adalah Rasulullah saw. orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau saw. al-qur’an dan benar-benar Rasulullah saw. lebih dermawan tentang kebajikan(cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim.(HR Al-Bukhary)

      14. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata :Adalah Rasulullah saw. menggalakkan qiyamullail (shalat malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib, maka beliau bersabda : Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu. (H.R : Jama’ah)

      15. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. apabila memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) beliau benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah) dan membangunkan istrinya (agar beribadah) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya). (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      16. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat malam pada sepuluh hari terakhir (di bulan Ramadhan) tidak seperti kesungguhannya dalam bulan selainnya. (H.R : Muslim)

      17. Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan ? maka ia menjawab : Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka’at baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, caranya : Beliau shalat empat raka’at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka’at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka’at. (H.R : Al-Bukhary,Muslim dan lainnya)

      18. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka’at yang ringan, kemudian shalat delapan raka’at, kemudian shalat witir. (H.R : Muslim)

      19. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata : Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata : Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam ? Maka Rasulullah r. menjawab : Shalat malam itu dua raka’at dua raka’at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka’at. (H.R : Jama’ah)

      20. Dari Aisyah ra. ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau (bermakmum di belakang), lalu beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda : Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar kepada kalian (untuk mengimami shalat) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      21. Dari Ubay bin Ka’ab t. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. shalat witir dengan membaca : Sabihisma Rabbikal A’la)dan (Qul ya ayyuhal kafirun) dan (Qulhu wallahu ahad). (H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa’i dan Ibnu Majah)

      22. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali t. ia berkata : Rasulullah saw. telah mengajarkan kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam qunut witir : (artinya) Ya Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri kesehatan yang sempurna, pimpinlah aku beserta orang yang telah Engkau pimpin, Berkatilah untukku apa yang telah Engkau berikan, peliharalah aku dari apa yang

      telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tiada yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau. (H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa’i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

      23. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda :Barang siapa yang shalat malam menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. (H.R : Jama’ah)

      24. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir. (H.R : Muslim)

      25. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Dinampakkan dalam mimpi seorang laki-laki bahwa lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh, maka Rasulullah saw. bersabda : Sayapun bermimpi seperti mimpimu, (ditampakkan pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia (lailatul qadar) pada malam-malam ganjil. (H.R : Muslim)

      26. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu ? Beliau bersabda : Bacalah (artinya) Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku. (H.R : At-Tirmidzi dan Ahmad)

      27. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      28. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila hendak beri’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat i’tikafnya………. (H.R :Jama’ah kecuali At-Tirmidzi)

      29. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila beri’tikaf , beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia (buang air, mandi dll…) (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      30. Allah ta’ala berfirman : (artinya) Janganlah kalian mencampuri mereka(istri-istri kalian) sedang kalian dalam keadaan i’tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas ketentuan Allah, maka jangan di dekati…(Al-Baqarah : 187)

      31. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, ia adalah untukku

      dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya puasa itu adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu puasa janganlah berbuat keji , jangan

      berteriak-teriak (pertengkaran), apabila seorang memakinya sedang ia puasa maka hendaklah ia katakan : ” sesungguhnya saya sedang puasa” . Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang puasa itu lebih wangi disisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan, apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena puasanya. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

      32. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat (untuk menerima) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya. (H.R: Jama’ah Kecuali Muslim) Maksudnya Allah tidak merasa perlu memberi pahala puasanya.

      33. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang sering di panggil Ummu Sinan : Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji bersama kami ? Ia menjawab : Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh ayahnya si fulan (suaminya) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di pakai untuk memberi minum anak-anak kami. Nabi pun bersabda lagi : Umrah di bulan Ramadhan sama dengan mengerjakan haji atau haji bersamaku. (H.R :Muslim)

      34. Rasulullah sw. bersabda : Apabila datang bulan Ramadhan kerjakanlah umrah karena umrah di dalamnya (bulan Ramadhan) setingkat dengan haji. (H.R : Muslim)

      KESIMPULAN:Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengamalkan puasa Ramadhan kita perlu melaksanakan adab-adab sbb :

      1. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib. (dalil: 6) Sunnah berbuka adalah sbb :

      1. Disegerakan yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan makanan yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat. (dalil: 2,3 dan 4)
      2. Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan shalat dahulu. (dalil : 6)
      3. Setelah berbuka berdo’a dengan do’a sbb : Artinya : Telah hilang rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah. (dalil: 5)

      2. Makan sahur. (dalil : 7 dan 8 ) Adab-adab sahur :

      • Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh. (dalil 9 dan 10)
      • Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur karena sudah masuk waktu Shubuh. (dalil 11 dan 12) * Imsak tidak ada sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi’in.

      3. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-qur’an (dalil : 13)

      4. Menegakkan shalat malam / shalat Tarawih dengan berjama’ah. Dan shalat Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir(20 hb. sampai akhir Ramadhan). (dalil : 14,15 dan 16) Cara shalat Tarawih adalah :

      1. Dengan berjama’ah. (dalil : 19)
      2. Tidak lebih dari sebelas raka’at yakni salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at. (dalil : 17)
      3. Dibuka dengan dua raka’at yang ringan. (dalil : 18)
      4. Bacaan dalam witir : Raka’at pertama : Sabihisma Rabbika. Roka’t kedua : Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka’at ketiga : Qulhuwallahu ahad. (dalil : 21)
      5. Membaca do’a qunut dalam shalat witir. (dalil 22)

      5. Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati lailatul qadar hendaklah lebih giat beribadah dan membaca : Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada keampunan maka ampunilah aku. (dalil : 25 dan 26)

      6. Mengerjakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir. (dalil : 27)

      Cara i’tikaf :

      • Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i’tikaf di masjid. (dalil 28)
      • Tidak keluar dari tempat i’tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak. (dalil : 29)
      • Tidak mencampuri istri dimasa i’tikaf. (dalil : 30)

      7. Mengerjakan umrah. (dalil : 33 dan 34)

      8. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran. (dalil : 31 dan 32)

      ___________________________________

      Maraji’ (Daftar Pustaka):

      1. Al-Qur’anul Kariem
      2. Tafsir Aththabariy.
      3. Tafsir Ibnu Katsier.
      4. Irwaa-Ul Ghaliel, Nashiruddin Al-Albani.
      5. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq.
      6. Tamaamul Minnah, Nashiruddin Al-Albani.
      Oleh Ustadz Abu Rasyid

      20 July 2013 Posted by | Fiqh, Ibadah | , | Leave a comment

      Kaji dan perbincangan Kitab berhubung Tahaluf Siyasi

      12 April 2013 Posted by | Bersama Tokoh, Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Video | | Leave a comment

      Cara mengurus uri bayi

       

      Uri bayi
      URI BAYI

      Soalan 1

      Salam

      Oleh kerana saya bakal menjadi ayah :clap, buleh tak tuan2 sheikh menjawab persoalan ini.

      Uri bayi itu bagaimana untuk menguruskannya, adakah amalan dari sunnah atau dari hukum fekah yang perlu saya patuhi. Ada yang saya dengar macam2, tak buleh bercakap masa menanamnya, tak boleh pandang sekelilinglah. Harap boleh bantu saya yer…

      Jazakallah

      Salam

      Tahniah ke atas rezeki yang Allah kurniaan kepada saudara. Kami di al-ahkam mendoakan agar saudara keluarga sentiasa berada di dalam bahagia dan tenang. Insya Allah..

      ——–

      Amalan sekitar uri itu tidak ada perbahasan langsung dalam kitab2 sunnah. Ia adalah adat Melayu sahaja yg tiada sandaran dari asSunnah.Uri adalah najis dan hendaklah di tanam sebaik sahaja diserahkan oleh bidan tanpa melakukan sebarang amalan sampingan kerana tidak ada keterangan dari alQur’an maupun asSunnah menyuruh berbuat demikian. WA.

      (Sumber)

      Soalan 2

      Assalamualaikum,
      Saya memerlukan makluman berkenaan uri bayi. Bagaimana kaedah ataupun cara-cara penanamannya? Terima kasih.

      Jawapan

      Waalaikumussalam.
      Panel mohon maaf diatas kelewatan menjawab permasaalahan anda. Tidak ada kaedah atau cara penanaman uri bayi yang ditetapkan dalam Islam. Ia hanya sebagai adat bagi menjaga uri tersebut yang dilahirkan bersama-sama bayi. Maka dinasihatkan agar uri tersebut hanya ditanam dimana-mana sahaja asal ia tidak dapat dikesan oleh binatang dikhuatiri kalau dimakan atau dimusnahkannya. Wallahuaklam.

      (Sumber: JAKIM)

      1 April 2013 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | 1 Comment

      Panduan berdoa menurut dalil dalil sohih

      pr0065

      Panduan berdoa menurut dalil-dalil sohih & hasan serta fatwa ulama yang terbaik. Semua yang saya senaraikan di bawah mempunyai dalil-dalilnya. Tiada wujud petik jari untuk menambah perisa ibadah berdoa yang khusus ini. Ringkasannya adalah

      a) Meyakini akan dimaqbulkan

      b) Faham apa yang dihajati sewaktu melafazkannya

      c) Bersihkan diri selalu dari dosa

      d) Mengangkat tangan serta rapatkan kedua belah telapak tangan sewaktu doa berdasarkan hadis dari Ibn Abbas. Sebahagin ulama berijtihad mengatakan tidak perlu angkat tangan ketika doa bagi situasi specifik pada sesuatu masa atau tempat contoh khatib berdoa atas mimbar.

      e) Bacalah doa dari al-Quran dan Hadis serta lainnya.

      f) Mulakan bacaan doa dengan pujian kepada Allah dan ditutupi juga dengan puji-pujian kepada Allah serta selawat & salam ke atas junjungan besar Nabi salla Allahu ‘alaihi wasallam.

      g) Berwudhu semasa doa.

      h) Menghadap kiblat sewaktu berdoa.

      i) Doa dengan suara yang rendah dan tersembunyi tetapi bukan di dalam hati.

      j) Tidak perlu berlagu berlebihan.

      k) Banyak doa di waktu senang dan selesa agar lebih mudah diterima sewaktu sukar dan derita.

      l) Tidak jemu dan berulang-ulangkan doa itu.

      m) Jangan sesekali mengatakan doaku tidak dimaqbulkan walau telah lama berdoa.

      n) Menggunakan katanama yang betul seperti aku untuk diri sendiri atau untuk orang ramai. Jangan baca untuk diri sendiri ketika berdoa untuk jamaah.

      o) Tidak mengangkat pandangan dan kepala ke langit sewaktu berdoa.

      Cukup sekadar itu, akan maqbul sama ada lewat atau cepat. Insha Allah.

      (Disediakan oleh Dr. Zaharuddin Abd Rahman)

      2 March 2013 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Tazkirah | | Leave a comment

      Boleh kah beri zakat kepada bukan Islam?

      Soalan: Prof Madya Dr Asri, saya ingin bertanya mengenai bolehkah orang bukan Islam mendapat peruntukan zakat. Saya difahamkan ada pendapat yang menyatakan golongan muallaf yang berhak dapat zakat itu, ada pendapat kata termasuk yang bukan muslim. Begitu juga fakir miskin. Tapi ada yang beritahu tidak boleh. Sehingga timbul isu politik. Saya rasa di Malaysia ini kita patut faham Islam dengan lebih luas. Harap tuan dapat berikan pencerahan kepada kami.

      Nuruddin, Selangor.

      Jawapan Prof Madya Dr MAZA: Terima kasih saudara yang bertanya. Usaha saudara dan rakan-rakan untuk memahami Islam dengan lebih luas adalah sesuatu yang terpuji. Apatah lagi dalam isu-isu muamalat yang membabit interaksi antara agama yang memberi impak kepada perkembangan Islam. Untuk menjawab persoalan saudara, di sini saya sebutkan beberapa perkara;

      1. Masalah bolehkah bahagian sadaqah wajib atau yang dinamakan zakat diberikan kepada bukan muslim adalah masalah khilafiyyah (perbezaan pendapat) dalam kalangan fuqaha (sarjana fekah). Al-Imam al-Syafi’i r.h (w. 204H) berpendapat tidak boleh. Pendapat yang sama dikeluarkan oleh fuqaha lain. Pendapat ini beliau sebutkan dalam karyanya yang terkenal al-Umm, katanya:

      “Golongan muallaf (mereka yang dijinakkan jantung hati) ialah sesiapa yang masuk ke dalam Islam. Tidak diberikan sadaqah (zakat) kepada musyrik untuk menjinakkannya dengan Islam. Jika ada yang berkata: Ketika peperangan Hunain Nabi telah berikannya kepada sebahagian muallaf dari kalangan musyrikin. (Jawapannya) itu adalah pemberian dari harta fai (harta rampasan), atau dari harta Nabi s.a.w sendiri. Bukan dari harta zakat”. (al-Umm, 2/338. Beirut: Dar Ihya al-Turath al-‘Arabi).

      2. Pendapat al-Imam al-Syafi’i r.h tersebut telah menjadi pegangan dalam Mazhab al-Syafi’i. Maka, kita dapati tokoh-tokoh dalam mazhab al-Syafi’i akan menegaskan hal yang sama. Ini seperti al-Imam al-Syirazi dalam al-Muhazzab, al-Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ dan lain-lain. Berdasarkan asas ‘kekufuran’ itu menghalang bukan muslim menerima peruntukan zakat, maka –dalam Mazhab al-Syafi’i mereka tidak boleh menerimanya samada atas tiket kefakiran ataupun muallaf.

      3. Adapun jika kita melihat pendapat yang lain, sebahagian para fuqaha menyatakan mereka boleh menerima zakat atas peruntukan ‘al-muallafah qulubuhum’ iaitu yang dijinakkan jantung hati mereka kepada Islam. Ini seperti yang dinaskan oleh al-Quran dalam Surah al-Taubah ayat 60. Peruntukan ini merangkumi mereka yang masih kafir dan yang telah menjadi muslim. Kata al-Imam Ibn Qudamah (w. 620):

      “Muallaf itu dua bahagian: kuffar dan muslimin yang mana mereka itu pemimpin yang ditaati dalam kaum dan keluarga mereka. Bahagian kuffar ini pula ada dua kelompok: pertama; orang yang diharapkan dia menganut Islam, maka diberikan zakat agar hasrat keislamannya bertambah dan jiwanya cenderung kepada Islam, lalu dia menjadi muslim…kelompok kedua; orang yang dibimbangi kejahatannya. Diharapkan dengan pemberian kepadanya akan menghalang kejahatannya dan mereka yang bersamanya..” (Ibn Qudamah, al-Mughni 9/317. Kaheran: Hijr).

      4. Inilah pendapat yang ditarjihkan (dinilai lebih kuat penghujahannya) oleh Dr Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh al-Zakah, Dr ‘Abd al-Karim Zaidan dalam al-Mufassal, juga Dr ‘Umar Sulaiman al-Asyqar dalam kertas Ta’lif al-Qulub ‘ala al-Islam bi Amwal al-Sadaqah dan lain-lain. Maka, berdasarkan pendapat ini boleh diberikan zakat bahagian muallaf kepada bukan muslim yang berpengaruh dalam kaum atau masyarakat mereka yang diharapkan pemberian itu menggalakkan dia atau pengikutnya menerima Islam, atau mengurangkan sikap permusuhan dengan Islam. Pendapat ini disokong oleh pelbagai riwayat yang mana Nabi s.a.w memberikan kepada pemimpin-pemimpin Arab yang masih kafir seperti Sofwan bin Umayyah. Sehingga Sofwan pernah berkata:

      “Demi Allah! Rasulullah s.a.w memberikan kepadaku begitu banyak. Dahulunya, dia adalah orang yang paling aku benci. Dia terus memberi kepadaku sehingga dia menjadi orang yang paling aku sayangi” (Riwayat Muslim).

      5. Walaupun Mazhab al-Syafi’i dan selainnya menyatakan bahawa nas Surah al-Taubah itu bermaksud mereka yang sudah menganut Islam dan kisah Nabi s.a.w memberikan harta kepada pembesar-pembesar Arab yang masih kafir itu diambil dari peruntukan selain zakat, namun di sana ada ayat al-Quran lain yang menunjukkan bahawa Nabi memberikan sadaqah (zakat) kepada bukan muslim. Firman Allah dalam Surah al-Taubah ayat 58-59: (maksudnya)

      “dan antara mereka ada yang mencelamu (wahai Muhammad) mengenai (pembahagian) sedekah-sedekah (zakat); oleh itu jika mereka diberikan sebahagian daripadanya (mengikut kehendak mereka) mereka suka, dan jika mereka tidak diberikan dari zakat itu (menurut kehendaknya), (maka) dengan serta merta mereka marah. Dan (alanglah baiknya) kalau mereka berpuas hati dengan apa yang diberikan oleh Allah dan RasulNya kepada mereka dan berkata: “cukuplah Allah bagi kami; Allah akan memberi kepada kami dari limpah kurniaNya, demikian juga RasulNya; Sesungguhnya kami sentiasa berharap kepada Allah”.

      Kata Dr ‘Umar Sulaiman al-Asyqar:

      “Nas ini amat jelas bahawa golongan ini yang mendapat sadaqat (zakat), pemberian tersebut adalah untuk menjinakkan jantung hati mereka kepada Islam. Pastinya belum menganut Islam jantung hati yang orang mencela Rasulullah s.a.w mengenai zakat”. (ibid).

      Ertinya, mereka itu belum menganut Islam, jika tidak, mana mungkin mereka mencela Rasulullah s.a.w kerana itu perbuatan yang kufur. Justeru, ayat ini memberi maksud Rasulullah s.a.w memberikan zakat kepada bukan muslim untuk dijinakkan jantung hati mereka pada zaman baginda.

      6. Bagi saya, pendapat yang membolehkan zakat bahagian muallaf diberikan kepada bukan muslim dengan tujuan dakwah adalah lebih kukuh dan sangat relevan untuk masa kini. Hari ini Islam disalahfahami dan dituduh sebagai agama yang negatif. Pemberian zakat kepada muallaf yang sudah muslim dan belum muslim dapat membantu memelihara keindahan Islam. Jika kita bimbang aktiviti dakwah agama lain yang menggunakan sumbangan kewangan dan bantuan, mengapa tidak kita mengamalkan pendapat para ulama yang membolehkan pemberian zakat muallaf kepada mereka yang bukan muslim untuk menarik minat mereka kepada Islam?!

      7. Selain dari peruntukan zakat kepada bukan muslim atas nama muallaf, para ulama juga berbeza pendapat tentang peruntukan zakat fakir miskin kepada bukan muslim. Jumhur (majoriti) berpendapat tidak boleh. Namun, Dr Yusuf al-Qaradawi mentarjihkan bahawa ia dibolehkan (lihat: Fiqh al-Zakat, 2/707) . Antara dalil dalam hal ini, Saidina ‘Umar ketika membaca firman Allah dalam Surah al-Taubah ayat 60 itu: (maksudnya)

      “Sesungguhnya sadaqat (zakat) itu untuk golongan fakir…”, beliau berkata: “Di zamanku ini mereka itu adalah Ahli Kitab (Yahudi dan Kristian)” (Riwayat Ibn Abi Syaibah).

      8. Para sarjana fekah bersepakat bahawa peruntukan zakat tidak boleh diberikan kepada kuffar yang memerangi Islam atau golongan kafir harbi. Ini berasaskan firman Allah: (maksudnya):

      “Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan memeberikan sumbangan harta kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana ugama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu; Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanyalah melarang kamu daripada menjadikan teman rapat orang-orang yang memerangi kamu kerana ugama (kamu), dan mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu, serta membantu (orang lain) untuk mengusir kamu. dan (ingatlah), sesiapa yang menjadikan mereka teman rapat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Surah al-Mumtahanah 8-9).

      Namun bagi yang tidak memerangi Islam; samada mereka warga negara umat Islam, atau yang ada perjanjian keamanan dengan kerajaan umat Islam, atau anak-anak dan kaum wanita kafir harbi yang bapa mereka memerangi tetapi mereka tidak terlibat, boleh diberikan peruntukan zakat muallaf atau fakir miskin ini.

      9. Institusi zakat sebenarnya, jika berperanan dengan betul akan membangun umat Islam, dakwah Islam dan membina imej yang baik untuk masyarakat Islam. Jika zakat diuruskan dengan baik, banyak yang dapat dilakukan. Hanya kepada Allah tempat kita mengadu!

      Oleh: Prof Madya Dr Mohd Asri bin Zainul Abidin

      26 February 2013 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Kalimah Allah Tidak Boleh Ganti Nama Tuhan Kristian (saperti nama ALLAH JESUS)

      logo Allah

      Maka timbul lah berbagai bagai kenyataan dari para ustaz, ustazah, ilmuwan dan ulama mengenainya.Rata rata mengatakan kalimah Allah boleh di guna oleh non muslim kerana tiada larangan keatasnya.

      Namun saya rasa ramai di antara kita telah salah faham dan tersasar dari  “isu” kalimah Allah yang sebenarnya (yang berlaku di Malaysia).

      Pokok perbincangan isu kalimah Allah bukan melibatkan persoalan bolehkah orang bukan Islam menyebut kalimah Allah, akan tetapi berkaitan persoalan bolehkah mereka dibenarkan untuk menamakan tuhan mereka dengan kalimah Allah.

      Demikian kenyataan Ustaz Muhammad Fauzi Asmuni yang melihat isu ini timbul atas desakan pihak Kristian yang mahu menggunakan kalimah Allah menggantikan nama tuhan mereka dalam kitab Injil Bahasa Melayu.

      “Isu besar yang berkait dengan maslahah ummah sebenarnya adalah bolehkah orang Kristian menamakan tuhan mereka dengan Allah? Maknanya dalam Bible mereka ada perkataan God, bolehkah God itu ditukar perkataannya kepada Allah. Dalam Bible mereka ada Jesus, ataupun Indonesia dia sebut Yesus, bolehkah itu ditukar perkataannya kepada Allah?

      “Bolehkah tuhan mereka yang triniti tu, ditukar perkataannya kepada Allah? Sebab isu ini sebenarnya adalah merupakan satu isu yang timbul hasil daripada permohonan untuk membenarkan Bible menggunakan Allah menggantikan perkataan tuhan dalam Bible.”

      Beliau berkata demikian semasa menyampaikan kuliah maghrib tentang isu kalimah Allah di Surau Bangi Perdana Ahad lalu.

      Menurutnya, isu pokok ini perlu difahami supaya mana-mana pihak tidak silap membuat kenyataan membenarkan penggunaan kalimah Allah bagi orang bukan Islam.

      Dalam kuliah tersebut, Ustaz Fauzi menjelaskan dengan terperinci asal-usul nama tuhan orang Kristian dan Allah bukanlah nama tuhan mereka.

      Menyentuh kenyataan seorang ahli politik yang membenarkan penggunaan kalimah Allah bagi orang bukan Islam berdasarkan dalil ayat Al-Quran, Ustaz Fauzi menolak pandangan tersebut kerana tidak mengikut kaedah bahasa Arab dan tafsir yang betul.

      Sebagai contoh dalam Surah Al-Hajj ayat 40, telah disebut perkataan Allah dalam masjid dan rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan Kristian, namun ketika itu agama tersebut masih belum diseleweng.

      “Jadi bila kita tengok tafsir itu, dia sama ada akan diterjemahkan berdasarkan kepada pandangan Ibnu Abbas bahawa nama Allah itu hanya disebut di masjid sahaja, ataupun berdasarkan pandangan ahli tafsir lain yang mengatakan nama Allah itu disebut di semua tempat ibadat itu tetapi tempat ibadat yang disebut dalam Al-Quran itu adalah tempat ibadat sebelum berlakunya penyelewengan agama tersebut.”

      Setiausaha Agung DAP, Lim Guan Eng dalam perutusan sempena Hari Krismas akhir tahun lalu mendesak kerajaan membenarkan penggunaan kalimah “Allah” dalam kitab Bible berbahasa Melayu sepertimana yang dibenarkan di Malaysia Timur sejak 50 tahun lalu dan telah digunakan ribuan tahun di Timur Tengah.

      Ustaz Fauzi menolak hujah Lim Guan Eng dengan berkata, sekalipun ia telah digunakan sekian lama, namun hukum syarak menolaknya, maka perkara itu perlu ditolak.

      “Adakah apa yang berlaku di Sabah Sarawak dan Indonesia itu betul lalu kita kata boleh guna? Jawapannya tidak, sebab di sana ada satu kaedah syarak, al-urful fasid la yughaiyiru haqaiqas syar’ie.

      “Maknanya uruf yang rosak tidak akan mengubah hakikat syarak yang merupakan suatu yang ditunjukkan di dalam Al-Quran.

      “Mana-mana penggunaan, uruf ataupun kebiasaan tetapi kebiasaan yang merosakkan tetap tidak akan mengubah hakikat syarak. Jadi walaupun telah diamalkan selama 10 kurun tetapi kalau syarak kata tak boleh, maka tetap tak boleh,” jelasnya.

      Katanya lagi, memang benar orang Arab Jahiliyah menggunakan kalimah Allah tetapi penggunaan itu merujuk kepada maksud yang sebenar iaitu zat yang Esa berdasarkan dalil Surah Luqman ayat ke-25.

      “Dalam konteks ini, mereka berhujah orang Arab dulu guna kalimah Allah, jadi maknanya kita boleh kias orang Kristian pun boleh menggunakan kalimah Allah.

      “Arab dulu dia guna kalimah Allah merujuk kepada zat yang tunggal di dalam penciptaan dan mentadbir alam, tetapi mereka mensyirikkan Allah SWT dari sudut hakimiyah dan perundangan.

      “Tetapi orang Kristian bukan begitu, bila dia sebut Jesus nak tukar kepada Allah, bila dia sebut God nak tukar kepada Allah, ataupun Lord nak tukar kepada Allah, dia merujuk kepada tuhan yang memang dari awal lagi adalah merupakan triniti.

      “Jadi dia nak namakan yang ini Allah. Maknanya kita tak boleh kias penggunaan orang Arab dengan penggunaan orang Kristian sebab digunakan dalam konteks berbeza.”

      Ustaz Fauzi yang ditemui wartawan ISMA selepas kuliah tersebut berkata, kalimah Allah tidak boleh digunakan oleh orang bukan Islam kerana ia merujuk kepada zat yang Esa dan tidak boleh ditafsirkan kepada perkara lain.

      “Perkataan Allah itu bukan satu perkataan yang boleh merujuk kepada itu atau ini, tapi telah digunakan oleh orang-orang Islam untuk merujuk kepada zat yang tunggal, yang Esa.

      “Jadi tak boleh nak ditafsirkan kepada tafsiran-tafsiran yang lain. Mereka tidak ada hak untuk mengatakan bahawa Allah itu bermaksud sekian sekian.”

      Beliau juga meminta semua pihak menyokong fatwa Majlis Fatwa Kebangsaan pada tahun 2008 yang tidak membenarkan penggunaan kalimah Allah oleh orang bukan Islam.

      “Memang majlis fatwa ketika membuat fatwa tersebut faham tentang implikasi bila digunakan kalimah Allah untuk menggantikan nama-nama tuhan Kristian, berdasarkan pengalaman yang boleh dilihat di Indonesia, Sabah Sarawak dan seumpamanya.

      “Sebab itu pada saya fatwa itu adalah merupakan satu fatwa yang memang sepatutnya kita kena sokong.”

      Selain Majlis Fatwa Kebangsaan, Jabatan Mufti Pulau Pinang telah mewartakan 40 perkataan yang tidak boleh digunakan oleh bukan Islam termasuk kalimah Allah, haji dan masjid.

      18 January 2013 Posted by | Aqidah, Berita dan Isu Semasa, Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Kalimah Allah : Mengapa Berpolimik Lagi ?

      Kritikan terhadap penulisan YB Dr Dzulkefly Ahmad, Ahli Parlimen Kuala Selangor, dalam kenyataan beliau yang bertajuk ; Kalimah Allah : Mengapa Berpolimik Lagi ?

      _____________

      Salam war wabt.

      Moga kalian semua sihat sejahtera. Berikut adalah kritikan saya terhadap penulisan YB Dr Dzulkefly Ahmad, Ahli Parlimen Kuala Selangor, dalam penulisan beliau yang bertajuk ; Kalimah Allah : Mengapa Berpolimik Lagi ?

      Saya akan cuba hurai sebaik mungkin, dari sudut Fiqh, Usul Fiqh dan Maqasid Syariah. Moga Allah memberikan kita hidayah-Nya dan menunjukkan kita jalan-Nya.

      Tulisan beliau boleh dibaca di sini.

      Khulasah penulisan Dr Dzul ;

      1. Ada dua sudut perkiraan dalam MT PAS – penjagaan akidah & dakwah non Muslim.

      2. Menggunakan al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber pertama untuk membuat hukum, baru kemudian merujuk kepada kaedah-kaedah seperti sad zarai’ dsb. Dengan itu beliau menggunakan dalil asal Al-Quran.

      3. Disengagement dan siege mentality yang ada dalam golongan ulamak penjaga akidah.

      4. Engagement dan berdakwah lebih utama, untuk elakkan pengasingan dengan non-Muslim

      5. Fiqh Nusus difahami dengan Fiqh Waqi’ (perlu lihat nusus kemudian disesuaikan dengan waqi’)

      Sebelum berkomentar, saya ingin berkongsi satu kaedah dalam disiplin ilmu syarak ; iaitu “Kata-kata orang jahil / bukan ahlinya, tidak dikira secara syarak”. Atas sebab itu ulama’ meletakkan disiplin dalam menjadi ahli ijtihad, agar manusia tidak bermudah-mudah mendakwa-dakwa dalam syarak apa yang tiada padanya.

      Antara syarat ijtihad adalah ;

      1. Menghafaz Ayat-ayat dan dalil Hukum

      2. Fasih berbahasa Arab

      3. Mengetahui ilmu fiqh dan usul fiqh

      4. Mengetahui nasakh dan mansukh

      5. Mengetahui sebab nuzul ayat Quran dan sebab turunnya Hadis

      6. Memahami maqasid syarak

      7. Dan beberapa syarat yang lain lagi.

      Ini seperti yang disebutkan kebanyakan ulamak seperti Asy-Syatibi, Al-Isnawi, Al-Ghazali dan ulamak-ulamak muktabar yang lain.

      Sebenarnya ini juga kebimbangan bagi para ulama’ yang telah menyatakan pendapat bahawa pintu ijtihad telah tertutup kerana wujudnya golongan yang memandai-mandai dalam urusan agama lalu menipu manusia dengan tipu muslihat mereka.

      Walaupun pendapat “pintu ijtihad telah tertutup” ini telah disangkal kuat oleh Imam As-Suyuti (911H) dalam kitabnya yang berjudul ‘Ar-Radd Ala Man Akhlada Ilal Ardh, wa Ankara bi annal Ijtihad fi Kulli Asr Fardh’, namun kerisauan itu sewajarnya dipertimbang agar agama ini tidak dipermainkan oleh orang-orang yang bukan ahlinya.

      Atas sebab itu Imam Asy-Syatibi (790H) menyebut ;

      “Sesuatu ijtihad itu jika ia berkaitan dengan nas-nas syarak, maka diperlukan padanya ilmu mengenai bahasa Arab, dan jika ia berkaitan dengan makna-makna syarak, maka diperlukan padanya ilmu mengenai Maqasid Syarak” – Al-Muwafaqat 4/126

      Kalaulah mereka ini ahlinya, maka komentar saya dari sudut Fiqh, Usul Fiqh dan Maqasid Syarak adalah sebegini ;

      1. Bila berlaku pertembungan antara dua aliran tadi, yang lebih tepat pandangannya di Malaysia adalah aliran yang ingin menjaga dan mempertahan akidah umat Islam;

      1- Kerana menjaga akidah umat Islam adalah daf’ mafsadah, dan berdakwah kepada non-Muslim adalah jalb maslhahah. Kaedah Fiqh menyatakan bahawa “Menolak mudharat lebih utama berbanding mendatangkan maslahat”.

      2- Memelihara akidah merupakan Maqasid (Tujuan) Utama dalam segala Maqasid yang lain. Ini disebut sendiri oleh Imam Al-Juwaini dalam Al-Burhan.

      3- Kaedah Sadd Adz-Dzarai’e yang bermaksud menutup pintu kepada keburukan, sekiranya keburukan itu jelas dan hakiki. Kaedah ini berasas dari kaedah “An-Nadzru fi Ma-alaatil Af’al Mu’tabarun Syar’an” (Melihat kepada penghujung sesuatu perbuatan adalah muktabar dari sudut syarak) – Al-Muwafaqat : 4/194

      4- Kalaupun dikira pertembungan antara dua maslahat (dakwah dan akidah), maslahah lebih besar adalah memelihara akidah umat Islam dengan kaedah “Mengambil Maslahah yang lebih besar dengan menolak maslahah yang kecil”.

      5- Maslahah Mursalah (yang tidak disebut secara spesifik dalam nas). Isu larangan penggunaan kalimah Allah boleh dimasukkan dalam bab ini. Ini seperti yang disebut oleh Al-Ghazali bahawa ; “Setiap maslahah yang merujuk kepada penjagaan maqasid syarak, yang diketahui ianya memang dikehendaki dalam Al-Quran, As-Sunnah dan Al-Ijma’, maka ia tidak terkeluar daripada usul ini (Al-Quran, Sunnah, Ijmak), namun ia bukanlah dinamakan Qiyas, tetapi disebut sebagai Maslahah Mursalah” – Imam Al-Ghazali, Al-Mustashfa : 1/311

      2. Kaedah fiqh yang sumber asalnya adalah nas al-quran dan sunnah, juga dikira sebagai nas yang qot’ie. Ini jelas difahami oleh sesiapa yang belajar Qawaid Fiqhiyyah, di mana terdapat perbincangan ulamak mengenai sejauhmana kaedah fiqh dikira sebagai hujjah.

      Ulama’ bersepakat bahawa mana-mana kaedah Fiqh yang mana sumbernya adalah nas syarak, maka ia adala hujjah, kerana berhujjah dengan kaedah tersebut secara realitinya adalah berhujjah dengan sumbernya.

      Oleh itu, mana-mana kaedah yang asasnya adalah dalil-dalil syarak, maka kedudukannya mengikut dalil tersebut. Contohnya kaedah Adh-Dhoror Yuzaal, ia adalah kaedah yang terpakai sekali bersama dengan dalil-dalil Al-Quran dan Sunnah yang muktabar.

      3. Adapun kaedah Sadd Adz-Dzara’ie adalah salah satu kaedah yang terpakai sekali dengan Al-Quran dan As-Sunnah, dengan dalil Allah mengharamkan perkara yang membawa kepada haram. Contoh ; La Taqrabuz Zina – berzina itu salah, mendekatinya pun salah kerana ia adalah jalan kepadanya.

      Contoh yang lain pula adalah arahan menundukkan pandangan dalam surah An-Nur ayat 30 ; “Katakanlah (wahai Muhamamd) kepada orang mukminin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka”

      Maka kaedah Sadd Adz-Dzara’ie juga terpakai dengan syarat ia membawa kepada mafsadah yang jelas dan hakiki, dan ia memang berlaku secara kebiasaannya.

      Pemberian kebenaran menggunakan kalimah Allah di Malaysia, terpakai padanya kaedah Sadd Adz-Dzara’ie, kerana mafsadah yang terhasil adalah JELAS dan HAKIKI iaitu memelihara agama. Apa yang menunjukkan ia membawa kepada mafsadah secara kebiasaannya, boleh kita lihat di negara jiran di Indonesia di mana penggunaan kalimah Allah berleluasa oleh non-Muslim.

      Adapun mahu membawa hukum ini kepada HARUS maka perlu ada MASLAHAT yang LEBIH KUAT daripada mafsadah itu tadi. Ini kerana ‘Apa yang diharamkan dengan Sadd Adz-Dzara’ie, boleh jadi HARUS sekiranya ada maslahat yang RAJIH’

      Contoh yang boleh diberi adalah, pada asalnya WAJIB menundukkan pandangan, namun ia boleh menjadi HARUS sekiranya yang dipandang itu adalah untuk tujuan berkahwin (bertunang), maka ia adalah keharusan yang sabit dengan hadis Nabi SAW.

      4. Engagement jika diistilahkan dalam Bahasa Arab untuk kita masukkan ia dalam hukum fiqh, sama ada ia adalah At-Ta’amul, ataupun At-Tahaaluf. Ta’amul ertinya adalah pergaulan dalam hidup bersama, kalau tahaaluf pula ertinya adalah sama-sama berjanji pada beberapa perkara tertentu.

      Hidup bersama dengan masyarakat majmuk, dasarnya adalah ayat surah Al-Mumtahanah ayat 8 ;

      “Allah tidak menghalang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang yang tidak memerangi kamu dalam agama, dan tidak menghalau kamu dari negeri kamu, sesungguhnya Allah menyukai orang yang berlaku adil”.

      Tujuan ayat tersebut memang adalah untuk menunjukkan tingginya rahmat Islam sehingga MEMBENARKAN dan MENGGALAKKAN untuk berbuat baik kepada orang kafir yang TIDAK MEMUSUHI umat Islam. Ia tidak melibatkan untung rugi kekuasaan Islam, tetapi ia adalah isu akhlak dan komunikasi harian serta membentuk masyarakat awam yang harmoni.

      Namun bagi prinsip tahaluf, kerana ia melibatkan politik, untung rugi, kuasa dan polisi-polisi (apatah lagi jika ia melibatkan prinsip akidah), maka prinsip ‘co-exist’ (hidup bersama) dalam ayat 8 tadi bukanlah dasar yang terpakai.

      Bahkan kalau kita perhatikan ayat seterusnya dalam surah yang sama ;

      “Sesungguhnya Allah melarang kamu untuk melantik dan berkawan dengan orang kafir yang memerangi kamu dalam agama, dan menghalau kamu keluar dari negara kamu, serta berkonspirasi untuk mengusirmu, sesiapa yang melantik mereka dan bersahabat dengan mereka maka sesungguhnya dia termasuk dalam golongan orang yang zalim”

      Oleh itu dalam hal ini, dalil-dalil yang terpakai bukanlah dalil berlembut dengan orang kafir, tetapi adalah ayat yang menyuruh untuk bertegas dalam pertahankan prinsip dan keuntungan umat Islam ;

      1- Al-Maidah ; ayat 54 – mereka itu (pembela agama Allah) berlembut dengan orang muslim dan berkeras dengan orang kafir

      2- Al-Fath ; ayat 29 – dan orang-orang yang bersama dia (Nabi SAW) adalah sangat bertegas dengan orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka

      3- Al-Nisa’ ; ayat 141 – dan Allah tidak akan memberikan jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan / menguasai orang beriman

      4- Al-Kafirun 1-4 ; – katakanlah (wahai Muhammad) ; Hai orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah, dan tidaklah aku menyembah apa yang kamu sembah, serta kamu tidak pula menyembah apa yang aku sembah. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.

      5- Al-Qalam ; ayat 9 – mereka berharap agar kamu bersikap lunak, maka mereka boleh bersikap lunak

      Ini kerana tujuan dalam Siyasah Syariah adalah meninggikan kalimah Allah, dan menjaga kekuasaan di tangan umat Islam seperti yang disebut oleh Imam Al-Juwaini dalam Al-Ghiyathi.

      “Sesungguhnya semua pemimpin itu mengambil tampuk kekuasaan mereka untuk menjadi wasilah untuk menegakkan agama” – Al-Ghiyathi

      Jadinya dalam bab ini orang Islam dan orang kafir (sekiranya dalam negara yang diistilahkan dengan negara Islam), maka ia tidak boleh dalam martabat yang sama. Bahkan Islam perlu dominan bagi memastikan maslahat untuk Islam lebih besar dari maslahat untuk golongan kafir.

      Saya kira maksud kedua lebih tepat digunakan dalam perihal ini, kerana ia melibatkan polisi dan undang-undang negara, bukan semata-mata tatacara kehidupan awam. Maka ia kembali kepada hukum bertahaluf dengan kumpulan orang kafir iaitu hukum asalnya tidak boleh atas hadis Nabi SAW yang melarang meminta pertolongan orang kafir, tanpa dharurat yang dibenarkan, dan mematuhi syarat-syarat yang cukup ketat.

      Jika mahu dikaitkan dengan Hilf Al-Fudhul yang melibatkan perkara-perkara nilai sejagat seperti keadilan dan menolak kezaliman, kes pembenaran penggunaan kalimah Allah ini langsung tidak sama dengan kisah Hilf Fudhul. Di manakah kezaliman atau menuntut keadilan dalam isu pembenaran penggunaan kalimah Allah ini ?

      Engagement yang berlaku hingga melibatkan kebenaran penggunaan kalimah Allah, lebih-lebih lagi dalam bentuk terbitan makalah, bible atau apa bentuknya, bukanlah perkara dharurat, dan ‘penjagaan hati orang kafir’ tidak termasuk dalam ‘masyaqqah’ muktabar hingga boleh menggunakan hukum rukhsah, apatah lagi dikira sebagai dharurah yang boleh menghalalkan benda yang haram.

      5. Kalaupun kita mahu katakan bahawa ENGAGEMENT itu adalah satu MASLAHAT DAKWAH yang lebih besar, maka kita harus ukur sejauhmana SYARAK mengiktiraf ia sebagai maslahat. Oleh itu ulama’ meletakkan DHAWABIT dalam menentukan sesuatu maslahat itu mengikut syarak ataupun tidak ;

      1- Satu maslahat yang hakiki, bukan andaian

      2- Maslahat itu adalah maslahat umum, bukan maslahat golongan tertentu

      3- Maslahat itu tidak bercanggah dengan maslahat lain yang lebih kuat

      4- Maslahat itu bertepatan dengan maqasid syarak

      Jadi jika kita ukur Engagement yang disebut-sebut dalam artikel Dr Dzul tadi, adakah semua paling kurang 4 ciri ini tercapai ?

      Yang pertama ; Benarkah ENGAGEMENT sebegitu rupa yang memasukkan manusia itu kepada Islam atau ia adalah muslihat orang kafir untuk mengelirukan orang Islam. Adakah ia satu perkara yang hakiki ? Sudah berapa ramai orang kafir mahu mengenali Islam hanya semata-mata mereka menggunakan kalimah Allah sebagai rujukan Tuhan ?

      Yang kedua ; Berapa ramaikah orang Islam yang mendapat manfaat daripada maslahat (kalau dikira maslahat pun) ini ? Atau semuanya pada keuntungan undi orang kafir lalu kita membuat perhitungan sebegini ? Ia lebih mencurigakan kerana YANG MEMINTA perkara ini (orang Kristian) adalah golongan yang TAK MASUK LANGSUNG dalam perkiraan membuat hukum, atau menentukan mana satu maslahat atau mudharat.

      Yang ketiga ; Secara jelas dan terang ia telah melanggar maslahat lain yang lebih kuat, iaitu sekatan terhadap dakyah Kristianisasi kepada golongan selepas ini. Berapa banyak lagi bukti-bukti yang HAKIKI yang kita peroleh, lebih-lebih lagi melihatkan jiran sebelah iaitu Indonesia yang mana perkataan Allah digunapakai sesuka hati oleh golongan kafir.

      Yang keempat ; Maslahat ini tiada dalam syarak, bukan mu’amalat, bukan juga ‘ibadat ataupun jinayaat, maka bagaimana pula ingin dikaitkan dengan MAQASID SYARAK. Bahkan ia bertentangan dengan Maqasid Syarak yang pertama dalam Islam iaitu Memelihara Agama.

      6. Siasah Syariah yang disalah erti. Al-Qardhawi ada menulis buku yang mudah difahami dalam memahami ruang lingkup siasah syariah ini, ataupun lebih mudah disebut sebagai politik berasaskan syarak.

      Beliau dalam kitabnya itu telah mensyarahkan usul ke-6 daripada 20 Usul yang ditulis oleh Imam Hasan Al-Banna. Ia berbunyi begini;

      “Dan pandangan pemerintah atau naibnya, terhadap apa yang tiada nas agama dalamnya, ataupun mempunyai banyak sisi pandang, ataupun maslahah mursalah, adalah terpakai (dari sudut syarak) selagimana ia tidak berlawanan dengan kaedah syarak”

      Jadinya, sekiranya kita mahu sebut isu ini adalah isu perbezaan pandangan, maka yang dikira adalah pandangan pemerintah (ataupun disebut sebagai yang berautoriti). Sekiranya kita mahu kata ia adalah maslahah mursalah, ia juga adalah terpakai kerana pihak pemerintah mengharamkan penggunaan tersebut untuk menjaga maslahat agama. Ia tidak boleh dikira sebagai bercanggah dengan Al-Quran dan As-Sunnah kerana isunya bukan pada ‘boleh sebut atau tak boleh sebut’ tapi isunya adalah penjagaan akidah umat Islam daripada dakyah-dakyah dan kekeliruan yang timbul oleh orang kafir.

      7. Saya meragui tulisan Dr Dzul yang mengatakan tujuan dakwah dan risalah itu adalah antaranya memupuk sikap saling mempercayai antara agama. Ini boleh kita fahami daripada tulisannya ;

      “Selain ia bakal menyuburkan rasa benci (larangan penggunaan kalimah Allah), ia juga akan menjadi baja kepada sikap saling tidak mempercayai di antara agama, iaitu sesuatu yang berlawanan sama sekali dengan tujuan Dakwah dan Risalah. Secara umum, ini tidak boleh dipertahankan, malah kelihatan serba songsang dengan mindset ‘Dakwah Islam’ dan ‘Islam yang Universal’”

      Saya tak tahu dari mana sumbernya kenyataan ini ? Adakah dari peti undi ataupun dari kitab-kitab dakwah yang muktabar ?

      Yang saya tahu ia bercanggah dengan banyak ayat Al-Quran ;

      1- Orang yahudi dan nasrani tidak akan redha sama sekali dengan kamu sehinggalah kamu mengikut agama mereka – surah Al-Baqarah : 120

      2- Mereka sentiasa akan memerangi kamu sehinggalah mereka mengeluarkan kamu dari agama kamu – surah Al-Baqarah : 217

      3- Dialah yang mengutuskan rasul-Nya dengan hidayah dan agama yang benar, untuk memenangkan Islam ke atas semua agama yang ada, WALAUPUN DIBENCI OLEH ORANG KAFIR – surah As-Shoff : 9

      8. Saya juga ingin berkomentar dalam perenggan terakhir kata-kata Dr Dzul ;

      “Benar, kami perlu memenangi hati-budi orang Islam-Melayu. Benar kami juga perlu mengambil jalan sederhana untuk mendapat sokongan ‘ruang tengah’. Namun lebih benar lagi ialah perjuangan kami untuk mencari keredhaan Allah terlebih dahulu dengan medukungi Kebenaran dan Keadilan dalam setiap waktu dan keadaan, meskipun bertentangan dengan kepentingan politik kepartaian kami sendiri.”

      Saya setuju bahawa kita perlu mencari keredhaan Allah terlebih dahulu sebelum keredhaan orang muslim yang lain. Saya juga suka kenyataan bahawa ia adalah bertentangan dengan kepentingan politik kepartaian sendiri. Kelihatan tulisan Dr Dzul kali ini bercanggah dengan tulisan balasnya terhadap Us Zaharuddin Muhammad mengenai politik dan dakwah sebelum ini, tapi saya menganggap mungkin Dr Dzul sudah mengubah pendiriannya.

      Namun keredhaan Allah juga tidak akan tercapai dengan keredhaan orang kafir kerana Allah selamanya tidak akan redha dengan orang kafir, dan orang kafir selamanya tidak akan redha dengan agama dan suruhan Allah, berdasarkan banyak nas-nas Al-Quran, antaranya yang telah disebutkan tadi.

      Jadi untuk mencapai keredhaan Allah adalah kita mengikut apa yang Allah tetapkan dalam syariat-Nya, serta mengikuti manhaj Nabi SAW dalam perjuangannya.

      Ini kerana apa yang disebut oleh Asy-Syatibi ;

      “Tujuan syarak dalam menetapkan syariah adalah mengeluarkan seseorang mukallaf dari tuntutan hawa nafsunya, hinggalah dia menjadi hamba Allah secara pilihan, sepertimana ia adalah hamba Allah secara terpaksa”

      9. Akhir kata, Dr Dzulkefly Ahmad adalah orang yang rapat dengan keluarga saya secara peribadi, dan beliau merupakan orang yang tidak asing lagi dalam hidup saya. Bahkan anak-anak beliau merupakan antara teman rapat dalam hidup saya. Namun seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Qayyim apabila mengkritik gurunya Ibnu Taimiyyah ;

      "Syeikh Ibnu Taimiyyah adalah mulia bagi kami, namun kebenaran itu lebih kami cintai"

      Maka di sini saya sebut, Dr Dzulkefly adalah orang yang terhormat bagi saya, namun kebenaran lebih saya cintai dan hormati. Tulisan ini hanyalah untuk melepaskan tanggungjawab kepada masyarakat awam untuk menjelaskan beberapa prinsip-prinsip syarak yang berkaitan.

      Apa yang baik datang daripada Allah, yang salah dan silap adalah dari kelemahan diri saya sendiri.

      Wallahua’lam.

      11 Januari 2013

      (Tulisan: Ustaz Ahmad Syamil Mohd Esa)

      12 January 2013 Posted by | Aqidah, Berita dan Isu Semasa, Fiqh, Politik dan Dakwah | , | Leave a comment

      Imam terlebih rakaat, apa perlu makmun lakukan?

      Soalan; Assalamualaikum wbt,Jika imam telebih satu rakaat sebagai contoh: Sembahyang isyak. Selepas rakaat keempat imam terlupa dan terus bangun( walaupun di tegur oleh makmum) untuk rakaat yang kelima dan setelah selesai tahiyad akhir imam terus sujud sahwi dan seterusnya memberi salam. Persaolan:

      1. Sabagai makmum adakah saya perlu terus mengikuti imam atau saya perlu berniat keluar drpd jemaah dan meneruskan tahiyad akhir saya pada rakaat yang keempat.

      Sekian Terima Kasih.

      Jawapan;

      1. Dalam kes seperti di atas, makmum hendaklah memperingatkan imam dengan mengucapkan tasbih (Subhanallah). Bagi perempuan, hendaklah memperingatkan imamnya dengan menepuk di atas belakang tangannya. Ini sebagaimana sabda Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam-; “Jika berlaku sesuatu di hadapan kamu ketika sedang solat[1] (dan kamu ingin memperingatkan/memberitahu tentangnya), hendaklah orang lelaki bertasbih, adapun perempuan hendaklah ia menepuk (di atas belakang tangannya)[2]” (HR Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idiy).

      2. Jika imam tidak memberi perhatian dengan peringatan yang diberikan (yakni ia tidak kembali duduk), hendaklah makmum berpisah dari imam (yakni berniat mufaraqah) dan menyempurnakan solat secara sendirian. Jika makmum terus mengikut imam, batallah solatnya kerana ia mengikuti imam pada perbuatan yang tidak dikira solat.

      Wallahu a’lam.

      Nota;

      [1] Maksud berlaku sesuatu di hadapan kamu ialah seperti imam lupa, ada seseorang memohon izin dari kita (dan dia tidak mengetahui kita sedang solat), kita melihat ada seorang buta yang hampir terjatuh ke dalam lubang atau kita ingin memberitahu sesuatu kepada orang lain dan sebagainya. Dalam semua keadaan tersebut, jika kita ingin memberitahu atau memperingatkan orang terbabit hendaklah dengan bertasbih atau dengan menepuk (bagi perempuan). (al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 4/92)

      [2] Iaitu tapak tangan kanan menepuk belakang tangan kiri. Dilarang menepuk antara kedua tapak tangan kanan dan kiri dan jika dengan tujuan bermain-main, batallah solat. (Syarah Soheh Muslim, Imam an-Nawawi).

      Rujukan;

      1. al-Majmu’, Imam an-Nawawi, jil. 4, hlm 92 (Kitab as-Solah, bab Ma Yufsidu as-Solah…) dan hlm. 208 (bab Solat al-Jamaah).

      2. Syarah Soheh Muslim, Imam an-Nawawi, juz. 4, kitab as-Solah, bab Taqdim al-Jamaah Man Yushalli bihim..

      3. Faidhul-Qadier, syarah hadis no. 3402.

      15 December 2012 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

      Solat dhuha dan panduan mengerjakannya

      Dhuha menurut ahli fekah adalah waktu di antara ketika matahari mulai naik sehingga ketika matahari mulai condong. Oleh itu solat Dhuha adalah solat sunat yang dikerjakan pada waktu tersebut.

      v HUKUM SOLAT DHUHA

      Pandangan para ulamak tentang hukum mengerjakan solat Dhuha adalah seperti berikut:

      1. Sunat secara mutlak dan dikerjakan setiap hari

      2. Sunat namun tidak didirikan setiap hari secara berterusan.

      3. Tidak disunatkan.

      4. Ianya disunatkan kerana faktor tertentu seperti bagi mereka yang tertinggal mengerjakan solat Qiyam al-Lail maka digantikan solat tersebut dengan mengerjakan solat pada waktu dhuha.

      Pendapat yang paling tepat serta dipegang oleh jumhur ulamak adalah solat Dhuha termasuk amal sunatmu’akkadah dan dianjurkan untuk diamalkan secara rutin. Ini adalah kerana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamselalu mengerjakannya, menganjurkan para sahabat untuk mengerjakannya malah baginda pernah mewasiatkan perlaksanaannya kepada beberapa sahabat. Daripada Abu Hurairah radhiallahu’ anh, dia berkata:

      أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ

      صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَام.َ

      Maksudnya:

      Kekasihku shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan kepadaku tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan sehingga akhir hayatku; berpuasa tiga hari setiap bulan (hijrah), mengerjakan dua rakaat solat Dhuha dan mengerjakan solat Witir sebelum tidur – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Shaum, no: 1981.

      Walaupun wasiat ini ditujukan kepada seorang sahabat tetapi anjuran tersebut merangkumi untuk seluruh umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali sekiranya terdapat lafaz yang menunjukkan ianya sememangnya khusus untuk sahabat tersebut. Ternyata lafaz tersebut berbentuk umum apatah lagi baginda juga pernah mewasiatkan perkara yang sama kepada Abu Darda’radhiallahu’ anh, dia berkata:

      أَوْصَانِي حَبِيبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ لَنْ أَدَعَهُنَّ مَا عِشْتُ

      بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلاَةِ الضُّحَى وَبِأَنْ لاَ أَنَامَ حَتَّى أُوتِرَ.

      Maksudnya:

      Kekasihku shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mewasiatkan kepadaku tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan sehingga akhir hayatku; berpuasa tiga hari setiap bulan (hijrah), mengerjakan solat Dhuha dan tidak tidur sebelum  mengerjakan solat Witir. – Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, KitabSholaatul Musaafiriin wa Qashruhaa, no: 722.

      KEUTAMAAN MENGERJAKAN SOLAT DHUHA

      Ianya Amalan Berbentuk Sedekah

      Bagi setiap anggota sendi serta ruas-ruas tulang perlu mengeluarkan sedekah bagi menunjukkan ketaatan kita kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala. Justeru itu solat Dhuha adalah amalan yang dapat menunaikan tanggung jawab tersebut. Daripada Abu Dzarr radhiallahu’ anh, daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, baginda bersabda:

      يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ

      وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ

      وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى.

      Maksudnya:

      Bagi tiap-tiap ruas dari anggota tubuh salah seorang di antara kalian harus dikeluarkan sedekahnya setiap pagi hari. Setiap tasbih (Subhaanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (Laa Ilaaha Illallah) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh untuk berbuat baik juga sedekah, dan mencegah kemungkaran juga sedekah. Dan semua itu boleh diganti dengan dua rakaat solat Dhuha. – Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatul Musaafiriin wa Qashruha, no: 720.

      Allah Memberi Rezeki Yang Cukup Sepanjang Siang Hari

      Bagi mereka yang mengerjakan solat Dhuha Allah Subhanahu wa Ta’ala sentiasa mencukupkan segala keperluan seseorang sepanjang siang hari. Daripada Nu’aim bin Hammar, dia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda Allah Azza Wa Jalla berfirman:

      يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تُعْجِزْنِي مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِي أَوَّلِ نَهَارِكَ أَكْفِكَ آخِرَهُ.

      Maksudnya:

      Wahai anak Adam, janganlah engkau sampai tertinggal untuk mengerjakan solat empat rakaat pada permulaan siang (waktu Dhuha), nescaya Aku akan memberi kecukupan kepadamu sampai akhir siang. - Hadis riwayat Imam Abu Dawud dalam Sunannya, Kitab al-Sholaah, no: 1097.

      q Mendapat Pahala Sebagaimana Mengerjakan Haji Dan Umrah

      Bagi mereka yang mengerjakan solat Subuh secara berjemaah lalu tetap berada dalam masjid dengan berzikir kepada Allah dan mengerjakan solat Dhuha pada awal terbitnya matahari maka dia mendapat pahala seperti mengerjakan haji dan umrah. Daripada Anas radhiallahu’ anh, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

      مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ

      ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

      تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ.

      Maksudnya:

      Barangsiapa mengerjakan solat Subuh secara berjemaah lalu sesudah itu dia tetap duduk (di masjid) untuk berzikir kepada Allah sehingga matahari terbit (dan meninggi), kemudian solat (Dhuha) dua rakaat maka dia akan mendapat pahala sebagaimana pahala haji dan umrah. Dia berkata (Anas), Rasulullah bersabda: Yang sempurna, Yang Sempurna, Yang Sempurna. – Hadis riwayat Imam al-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab al-Jumu’ah,no: 535.

       

      Ia Solat Bagi Orang Yang Bertaubat

      Solat Dhuha adalah termasuk bagi solat untuk orang-orang yang bertaubat (Sholat Awwabin). Daripada Zaid bin Arqam bahawasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju tempat Ahli Quba’ yang ketika itu mereka sedang mengerjakan solat Dhuha. Baginda lalu bersabda:

      صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ.

      Maksudnya:

      Solat Awwabin (orang-orang yang taubat) dilakukan pada saat teriknya matahari. - Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatul Musaafiriin wa Qashruhaa, no: 748.

      TATACARA PERLAKSANAAN SOLAT DHUHA

      Waktu Mengerjakan Solat Dhuha

      Waktu untuk mengerjakan solat Dhuha adalah sewaktu matahari mulai naik iaitu sebaik sahaja berakhirnya waktu yang diharamkan solat setelah solat Subuh (12 minit setelah matahari terbit atau untuk lebih berhati-hati laksanakannya setelah 15 minit) sehingga sebelum matahari condong atau tergelincir ketika tengahari (10 minit sebelum masuk waktu Zuhur atau untuk lebih berhati-hati laksanakannya sebelum 15 minit). Menurut Syaikh al-‘Utsaimin di dalam Asy-Syarhul Mumti’:

      Jika demikian, waktu solat Dhuha dimulai setelah keluar dari waktu larangan solat pada awal siang hari (pagi hari) sampai adanya larangan saat tengah hari.

      Namun demikian waktu yang afdal adalah pada saat matahari panas terik. Demikian adalah dalil-dalil tentang waktu mengerjakan solat Dhuha:

      Daripada Anas radhiallahu’ anh, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

      مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ

      ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

      تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ.

      Maksudnya:

      Barangsiapa mengerjakan solat Subuh secara berjemaah lalu sesudah itu dia tetap duduk (di masjid) untuk berzikir kepada Allah sehingga matahari terbit (dan meninggi), kemudian solat (Dhuha) dua rakaat…– Hadis riwayat Imam al-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab al-Jumu’ah, no: 535.

      Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

      صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ.

      Maksudnya:

      Solat Awwabin (orang-orang yang taubat) dilakukan pada saat teriknya matahari. - Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatul Musaafiriin wa Qashruha, no: 748.

      Jumlah Rakaat Solat Dhuha

      Jumlah rakaat solat Dhuha paling minimal adalah dua rakaat dan ia boleh dikerjakan tanpa batasan jumlah rakaat yang tertentu. Sebelum ini penulis telah memaparkan hadis-hadis berkaitan solat Dhuha yang dilaksanakan dengan dua dan empat rakaat. Berikut adalah dalil yang menunjukkan ianya juga boleh dikerjakan dengan sebanyak enam, lapan dan dua belas rakaat.

      Daripada Anas bin Malik radhiallahu’ anh bahawasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakan solat Dhuha sebanyak enam rakaat – Hadis riwayat Imam al-Tirmidzi dalam kitab al-Syamaail, Bab Sholat al-Dhuha, no: 273.

      أُمِّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا قَالَتْ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ

      فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ.

      Maksudnya:

      Daripada Ummu Hani’, dia berkata: Pada masa pembebasan kota Makkah, dia bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika baginda berada di atas tempat tertinggi di Makkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak menuju tempat mandinya lalu Fathimah memasang tabir untuk baginda. Selanjutnya Fathimah mengambilkan kain dan menyelimutkannnya kepada baginda. Setelah itu baginda mengerjakan solat Dhuha sebanyak lapan rakaat – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-Tahajjud, no: 1176.

      Di dalam Fathul Baari al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah telah membawa sebuah riwayat seperti dibawah:

      وَعِنْد اَلطَّبَرَانِيّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي اَلدَّرْدَاءِ مَرْفُوعًا مَنْ صَلَّى اَلضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ اَلْغَافِلِينَ ,

      وَمَنْ صَلَّى أَرْبَعًا كُتِبَ مِنْ اَلتَّائِبِينَ , وَمَنْ صَلَّى سِتًّا كُفِيَ ذَلِكَ اَلْيَوْمَ ,

      وَمَنْ صَلَّى ثَمَانِيًا كُتِبَ مِنْ اَلْعَابِدِينَ , وَمَنْ صَلَّى ثِنْتَيْ عَشْرَة بَنَى اَللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي اَلْجَنَّةِ

      Maksudnya:

      Dalam riwayat al-Thabarani daripada hadis Abu Darda’ secara marfu’ disebutkan: Barangsiapa solat Dhuha dua rakaat, maka tidak ditulis sebagai orang-orang lalai, barangsiapa solat Dhuha empat rakaat maka ditulis sebagai orang-orang yang bertaubat, barangsiapa solat Dhuha enam rakaat, maka dicukupkan untuknya pada hari itu, barangsiapa solat Dhuha lapan rakaat, maka ditulis dalam golongan ahli Ibadah, dan barangsiapa solat Dhuha dua belas rakaat maka dibangunkan untuknya rumah di syurga. – rujuk Fathul Baari, jilid 6, ms. 349 ketika al-Hafidz mensyarah hadis Shahih al-Bukhari no: 1176. Namun status hadis ini diperselisihkan olah para ulamak hadis. Musa bin Ya’qub al-Zami’i yang terdapat dalam sanad hadis ini telah didha’ifkan oleh Ibnu al-Madini namun dinilaitsiqah pula oleh Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban. Al-Hafidz sendiri berkata sanad hadis ini lemah namun diperkuatkan oleh hadis Abu Dzar yang diriwayatkan oleh al-Bazzar hanya sahaja sanadnya juga lemah dan apa yang lebih tepat hadis inidha’if. Wallahu’alam.

      Berkaitan dengan dalil yang menunjukkan jumlah rakaat solat Dhuha ini tidak ada batasan yang tertentu adalah:

      مُعَاذَةُ أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا:

      كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلاَةَ الضُّحَى؟

      قَالَتْ: أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ.

      Maksudnya:

      Daripada Mu’adzah, dia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah: Berapa rakaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan solat Dhuha?

      Dia menjawab: Sebanyak empat rakaat lalu baginda menambahnya lagi menurut yang dia kehendaki. – Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Sholaatil Musaafiriin wa Qashruhaa, no: 719.

      Ringkasan Tatacara Mengerjakan Solat Dhuha

      Rakaat Pertama

      1) Berniat di dalam hati untuk mengerjakan solat Dhuha

      2) Takbiratul Ihram

      3) Doa Iftitah

      4) Membaca surah al-Fatihah

      5) Membaca Surah al-Qur’an

      6) Rukuk

      7) Iktidal

      8) Sujud

      9) Duduk antara dua sujud

      10) Sujud kali kedua

      11) Bangun untuk rakaat kedua

      Rakaat Kedua

      1) Ulang seperti rakaat pada pertama dari nombor (4) hingga (10)

      2) Duduk untuk tahiyyat akhir

      3) Memberi salam ke kanan dan ke kiri

       

       

      (Sumber: http://www.hafizfirdaus.com/ebook/Solat%20sunat/12.htm)

       

      Kelebihan Sembahyang Dhuha

      Berkata Abu Murrah Ath-Tha’ifi r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. telah bersabda : Allah telah berfirman:

      “Wahai anak Adam! Bersembahyanglah untuk Aku di awal pagi, niscaya Aku akan mencukupimu di akhirnya.”(Riwayat Ahmad)

      Hadis Qudsi ini menganjurkan kita mengerjakan Solat Dhuha yang mana antara faedahnya, Allah Ta’ala memberi jaminan akan melaksanakan segala keperluan-keperluan keduniaan manusia setiap hari.

      Antara ibadat sunat yang dianjurkan dan menjadi amalan Rasullullah SAW sendiri ialah solat sunat Dhuha. Banyak hadis-hadis yang mengalakkannya dan menyatakan keutamaannya, antaranya dalam riwayat Abu Hurairah katanya:

      “Kekasihku Rasullullah SAW telah berwasiat kepadaku tiga perkara, aku tidak meninggalkannya, iaitu ; supaya aku tidak tidur melainkan setelah mengerjakan witir, dan supaya aku tidak meninggalkan dua rakaat solat Dhuha kerana ia adalah sunat awwabin, dan berpuasa tiga hari daripada tiap-tiap bulan”(Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

      Dalam riwayat yang lain Rasullullah SAW pernah bersabda yang maksudnya :

      “Pada tiap-tiap pagi lazimkanlah atas tiap-tiap ruas anggota seseorang kamu bersedekah; tiap-tiap tahlil satu sedekah, tiap-tiap takbir satu sedekah, menyuruh berbuat baik satu sedekah, dan cukuplah (sebagai ganti) yang demikian itu dengan mengerjakan dua rakaat solat Dhuha .”(Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

      Adapun kelebihan sembahyang Dhuha itu sepertimana di dalam kitab “An-Nurain” sabda Rasullullah SAW yang maksudnya : “Dua rakaat Dhuha menarik rezeki dan menolak kepapaan.”

      Dalam satu riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya : “Barangsiapa yang menjaga sembahyang Dhuhanya nescaya diampuni Allah baginya akan segala dosanya walaupun seperti buih dilautan.”(Riwayat Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

      Dan daripada Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata: “Barangsiapa yang mengerjakan sembahyang sunat Dhuha dua belas rakaat dibina akan Allah baginya sebuah mahligai daripada emas”(Riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi)

      Waktu sembahyang Dhuha ialah dari naik matahari sampai se-penggalah dan berakhir di waktu matahari tergelincir tetapi disunatkan dita’khirkan sehingga matahari naik tinggi dan panas terik.

      Cara menunaikannya pula adalah sama seperti sembahyang-sembahyang sunat yang lain iaitu dua rakaat satu salam. Boleh juga dikerjakan empat rakaat, enam rakaat dan lapan rakaat. Menurut sebahagian ulama jumlah rakaatnya tidak terbatas dan tidak ada dalil yang membatasi jumlah rakaat secara tertentu, sebagaimana sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah bermaksud :”Adalah Nabi SAW bersembahyang Dhuha empat rakaat dan menambahnya seberapa yang dikehedakinya.” (Hadis riwayat Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah)

      Dalam sebuah hadis yang lain Nabi SAW bersabda bermaksud : ” Barangsiapa yang menunaikan sembahyang sunat Dhuha sebanyak dua rakaat tidak ditulis dia daripada orang-orang yang lalai daripada mengingati Allah dan barangsiapa yang menunaikan nya sebanyak empat rakaat ditulis akan dia daripada orang-orang yang suka beribadat dan barangsiapa yang menunaikannya sebanyak enam rakaat dicukupkan baginya pada hari tersebut, barangsiapa menunaikanyan sebanyak lapan rakaat Allah menulis baginya daripada orang-orang yang selalu berbuat taat, barang siapa yang menunaikannya sebanyak dua belas rakaat Allah akan membina baginya mahligai didalam syurga dan tidak ada satu hari dan malam melainkan Allah mempunyai pemberian dan sedekah kepada hamba-hambaNya dan Allah tidak mengurniakan kepada seseorang daripada hamba-hambaNya yang lebih baik daripada petunjuk supaya sentiasa mengingatiNya,” (Riwayat At-Thabarani ).

       

      (Sumber: http://www.islam2u.net)

      4 December 2012 Posted by | Fiqh, Ibadah | , | Leave a comment

      Haram kah membaca surah tidak ikut susunan di dalam solat?

      Jika solat sendirian, baca lah surah mana yang kita suka , pendek atau panjang ikut kemampuan kita.Sebab Nabi SAW tidak menentukan mana mana surah yang perlu di baca ketika solat fardhu kecuali solat Jumaat, Idil Fitri dan Idil Adha sahaja.

      Nabi SAW membaca surah dengan menghabiskan satu surah dalam satu solat samada panjang atau pendek.Baginda juga kadang kadang menggunakan dua rakaat bagi menamatkan sesuatu surah agar tidak terlalu panjang. Adakalanya juga Baginda membaca awal, tengah dan akhir surah.Baginda juga memanjangkan bacaan dalam solat subuh kerana bacaan ketika itu dipersaksikan oleh para malaikat. (Al- Mughni, jil 2, hlm 42)

      Lebih elok membaca surah mengikut tertib susunan suran al Quran.Ini kerana susunan itu datang daripada Allah s.w.t.Malah terdapat athar yang menunjukkan kurang elok mengabaikan susunan tertib surah ini, sebagaimana disebutkan daripada Ibn Mas’ud: “Sesungguhnya ditanyakan kepada Umar al Khatab r.a berkenaan mereka yang membaca al Quran yang tidak mengikut susunan (dalam solat).Jawab Umar: “ Itu orang yang terbalik hatinya.” (HR Tabarani)

      Bagaimanapun, jika ada yang membaca tidak mengikut susunan, ia tidaklah HARAM.Ini jelas daripada sebuah dalil yang menunjukkan Nabi S.A.W sendiri pernah membaca tidak mengikut susunan.Justeru, mengikut tertib ini kekal sebagai perkara yang digalakkan dan sunat sahaja.

      (Sumber: Majalah Solusi No 36 yang di petik dari Buku Formula Solat oleh Ustaz Zaharuddin Abdu Rahman)

      30 November 2012 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

      Pengertian Kifarah dan Fidyah

      PENGERTIAN

      Kafarah

      Dari sudut bahasa (al-Kafru) yang bermaksud menutup. Dinamakan kafarah kerana ia menutup dosa dan mendapat keringanan daripada Allah s.w.t.

      • Dari sudut Istilah ia bermaksud perbuatan yang boleh menghapus dosa yang berupa membebaskan hamba, bersedekah dan puasa dengan syarat-syarat tertentu. Ia juga suatu penampal kecuaian yang dilakukan oleh manusia dalam tindakkannya.
      Fidyah

      Ia merupakan satu kadar tertentu yang wajib dikeluarkan sebagai suatu pemberian sebahagian harta (makanan) kepada fakir miskin diatas sebab-sebab tertentu.

      JENIS-JENIS KAFARAH YANG BERKAITAN DENGAN MEMBERI MAKAN KEPADA FAKIR MISKIN (BERSEDEKAH)

      Kafarah merosakkan puasa kerana berjimak pada bulan Ramadhan.

      • Wajib menqadhakan puasanya dan
      • Wajib memberi makan 60 orang Fakir miskin sekira tidak mampu berpuasa 2 bulan berturut-turut.

      Kafarah musafir dan pesakit yang tidak mengqadhakan puasa pada tahun ia tinggalkan.

      • Wajib menqadhakan puasanya dan
      • Fidyah dengan memberi secupak manakan kepada fakir miskin mengikut hari yang ditinggalkan dan bertambahnya kafarah dengan bertambahnya tahun.

      Kafarah orang tua yang tidak mampu berpuasa

      • Fidyah dengan memberi secupak manakan kepada fakir miskin mengikut hari yang ditinggalkan

      Kafarah wanita hamil dan wanita menyusukan anak apabila berbuka kerana bimbangkan keselamatan anaknya.

      • Wajib menqadhakan puasanya dan
      • Fidyah dengan memberi secupak manakan kepada fakir miskin mengikut hari yang ditinggalkan

      Kafarah Sumpah

      • Memberi makan sehingga kenyang 10 orang fakir miskin atau
      • Memberi pakaian kepada fakir miskin

      Kafarah Nazar

      • Sama Kafarah Sumpah
      • Wajib menqadhakan puasanya dan
      • Wajib memberi makan 60 orang Fakir miskin sekira tidak mampu berpuasa 2 bulan berturut-turut.

      Kafarah Zihar

      Memberi makan 60 orang fakir miskin sekiranya tidak mampu berpuasa 2 bulan berturut-turut disebabkan sakit atau tua.

      TAKSIRAN

      1 Cupak beras = ¼ gantang Baghdad1 Gantang Baghdad bersamaan dengan 2.7kg Kadar Nilaian yang telah ditetapkan oleh Majlis Agama Islam Wilayah Persekutuan pada tahun 2009 secupak beras = RM1.75

      Contoh :Kafarah

      Sekiranya seseorang tidak mampu berpuasa 60 hari berturut-turut disebabkan sakit atau tua hendaklah memberi makan 60 orang fakir miskin. Bersamaan 60 x 1.75 = RM 105.00

      Fidyah

      Sekiranya seseorang meninggalkan puasa 3 hari dan tidak mengqadhakan sehingga masuk Ramadhan berikutnya, wajid keatasnya mengqadhakan puasanya serta membayar fidyah (3 hari x 2 tahun x RM1.75 = RM10.50)

       

      (Sumber: Mutiara Islam)

      11 November 2012 Posted by | Fiqh, Ibadah | , | Leave a comment

      Follow

      Get every new post delivered to your Inbox.

      Join 147 other followers

      %d bloggers like this: