Fitrah Islami Online

Penyebar Ilmu dan Maklumat Islami

Perkara yang merosakkan Ukhwah

" Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu ( yang bertelingkah ) itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat. "
Q.S Al-Hujuraat : 10


" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing."
Q.S Al-Hijr : 47


Berapa banyak kehidupan yang berubah menjadi keras ketika ikatan persaudaraan telah pupus, ketika sumber-sumber kecintaan kerana Allah telah kering, ketika individualisme telah menggeser nilai-nilai persaudaraan, saat itu setiap individu berada dalam kehidupan yang sukar, merasa terpisah menyendiri dari masyarakatnya.


Kebanyakan manusia pada umumnya, perilaku mereka telah tercemar oleh perkara-perkara yang dapat merosakkan persaudaraan, yang terkadang mereka menyedari perkara tersebut, dan terkadang tidak menyedarinya.
Oleh sebab itu, kami akan mencuba memaparkan beberapa perkara yang dapat merosakkan persahabatan dan persaudaraan. Sebelumnya, akan kami kemukakan terlebih dahulu beberapa hadith dan perkataan para ulama’ salaf mengenai
hubungan persaudaraan.


Dalam sebuah hadith yang menerangkan tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari tiada naungan kecuali naungan Allah, Rasulullah s.a.w. menyebutkan salah satu di antaranya adalah,


" Dan dua orang lelaki yang saling mencintai kerana Allah, mereka berkumpul dan berpisah keranaNya. "
HR Bukhari dan Muslim


Dan di dalam sebuah hadith qudsi, Allah berfirman;

" Orang-orang yang saling mencintai keranaKu, berhak atas kecintaanKu "
HR Malik dan Ahmad

Muhammad bin Munkadir ketika ditanya tentang kenikmatannya dalam kehidupan ini, beliau menjawab, " Ketika bertemu dengan saudara-saudara ( sahabat-sahabat ), dan membahagiakan mereka."

Al-Hasan berkata, " Kami lebih mencintai sahabat-sahabat kami dari pada keluarga kami, kerana sahabat-sahabat kami mengingatkan kami akan kehidupan akhirat, sedangkan keluarga kami mengingatkan kami akan kehidupan dunia."
Khalid bin Shafwan berkata, " Orang yang lemah adalah yang sedikit menjalin persaudaraan. "
Perhatikanlah beberapa perkataan di atas, baik dari ayat-ayat Allah, hadith, mahupun perkataan para ulama, kemudian lihatlah pada kenyataan tentu akan menunjukkan kebenarannya. Siapakah yang menolongmu untuk mampu tetap teguh
memegangi hidayah? Siapakah yang meneguhkan kamu untuk tetap istiqamah? Siapakah yang menemani kamu ketika dirundung bencana dan malapetaka? Kerana itu Umar pernah berkata, " Bertemu dengan para ikhwan dapat menghilangkan kegalauan dan kesedihan hati. "
Jika demikian, bagaimana mungkin seorang yang berakal akan mengesampingkan ukhuwah dan lebih memilih kehidupan yang kacau dan hingar bingar.
Perkara-Perkara Yang Dapat Merosakkan Ukhuwah, Di Antaranya Adalah :
1. Tamak Dan Rakus Terhadap Dunia, Terhadap Apa-Apa Yang Dimiliki Orang Lain.
Rasulullah s.a.w. bersabda;


" Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintai kamu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, mereka akan mencintai kamu. "
HR Ibnu Majah
Jika kamu tertimpa musibah, mintalah musyawarah kepada saudaramu dan jangan
meminta apa yang engkau perlukan. Sebab jika saudara atau temanmu itu memahami keadaanmu, ia akan terketuk hatinya untuk menolongmu, tanpa harus meminta atau menitiskan airmata.
2. Maksiat Dan Meremehkan Keta’atan.
Jika di dalam pergaulan tidak ada nuansa zikir dan ibadah, saling menasihati, mengingatkan dan memberi pelajaran, bererti pergaulan atau ikatan persahabatan itu telah gersang disebabkan oleh kerasnya hati dan perkara ini boleh mengakibatkan terbukanya pintu-pintu kejahatan sehingga masing-masing akan saling menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Padahal Rasulullah s.a.w. bersabda;


" Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak menzaliminya dan tidak menghinakannya. Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, Tidaklah dua orang yang saling mengasihi, kemudian dipisahkan antara keduanya kecuali hanya kerana satu dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya. "
HR Ahmad
Ibnu Qayim, dalam kitab "Al-Jawabul Kafi" mengatakan, " Di antara akibat dari perbuatan maksiat adalah rasa gelisah ( takut dan sedih ) yang dirasakan oleh orang yang bermaksiat itu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya. "
Orang-orang ahli maksiat dan kemungkaran, pergaulan dan persahabatan mereka tidak dibangun atas dasar ketakwaan melainkan atas dasar kebendaan sehingga akan dengan mudah berubah menjadi permusuhan. Bahkan perkara itu nanti akan menjadi beban di hari kiamat. Allah s.w.t. berfirman;

" Pada hari itu sahabat-sahabat karib: Setengahnya akan menjadi musuh kepada
setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan takwa ( iman dan amal soleh ). "

Q.S Az-Zukhruf : 67.

Sedangkan persahabatan kerana Allah, akan terus berlanjutan sampai di syurga;

" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing. "
Q.S Al-Hijr : 47

3. Tidak Menggunakan Adab Yang Baik (Syar’i) Ketika Berbicara.
Ketika berbicara dengan saudara atau kawan, hendaknya seseorang memilih perkataan yang paling baik. Allah berfirman;

" Dan katakanlah ( wahai Muhammad ) kepada hamba-hambaKu ( yang beriman ), supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat baik ( kepada orang-orang yang menentang kebenaran ); sesungguhnya Syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka ( yang mukmin dan yang menentang ); sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia. "
Q.S Al-Israa : 53

Dalam sebuah hadith Nabi s.a.w. bersabda;

" Kalimah thayibah adalah shadaqah. "
HR Bukhari

4. Tidak Memperhatikan Apabila Ada Yang Mengajak Berbicara Dan Memalingkan Muka Darinya.
Seorang ulama salaf berkata, " Ada seseorang yang menyampaikan hadith sedangkan aku sudah mengetahui perkara itu sebelum ia dilahirkan oleh ibunya. Akan tetapi, akhlak yang baik membawaku untuk tetap mendengarkannya hingga ia selesai berbicara. "

5. Banyak Bercanda Dan Bersenda Gurau.
Berapa ramai orang yang putus hubungan satu sama lainnya hanya disebabkan oleh canda dan senda gurau.

6. Banyak Berdebat Dan Berbantah-Bantahan.
Terkadang hubungan persaudaraan terputus kerana terjadinya perdebatan yang sengit yang boleh jadi itu adalah tipuan syaitan. Dengan alasan mempertahankan aqidah dan prinsipnya padahal sesungguhnya adalah mempertahankan dirinya dan kesombongannya. Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah yang keras dan besar permusuhannya. "
HR Bukhari dan Muslim

Orang yang banyak permusuhannya adalah yang suka mengutarakan perdebatan, perbalahan dan pendapat.
Tetapi debat dengan cara yang baik untuk menerangkan kebenaran kepada orang yang kurang faham, dan kepada ahli bid`ah, perkara itu tidak bermasalah. Tetapi, jika sudah melampaui batas, maka perkara itu tidak diperbolehkan. Bahkan jika perdebatan itu dilakukan untuk menunjukkan kehebatan diri, perkara itu malah menjadi bukti akan lemahnya iman dan sedikitnya pengetahuan.
Jadi, boleh juga dengan perdebatan ini, tali ukhuwah akan terurai dan hilang. Sebab masing-masing merasa lebih lebih kuat hujjahnya dibanding yang lain.

7. Berbisik-Bisik ( Pembicaraan Rahsia )
Berbisik-bisik adalah merupakan perkara yang remeh tetapi mempunyai pengaruh yang dalam bagi orang yang berfikiran ingin membina ikatan persaudaraan.

Allah s.w.t. berfirman;

" Sesungguhnya perbuatan berbisik ( dengan kejahatan ) itu adalah dari ( hasutan ) Syaitan, untuk menjadikan orang-orang yang beriman berdukacita; sedang bisikan itu tidak akan dapat membahayakan mereka sedikitpun melainkan dengan izin Allah; dan kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman berserah diri. "
Q.S Al-Mujaadalah : 10

Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang di antaranya berbisik-bisik tanpa mengajak orang yang ketiga kerana itu akan dapat menyebabkannya bersedih. "
HR Bukhari dan Muslim

Para ulama berkata, " Syaitan akan membisikkan kepadanya dan berkata, ‘ Mereka itu membicarakanmu’." Maka dari itu para ulama mensyaratkan agar meminta izin terlebih dahulu jika ingin berbisik-bisik ( berbicara rahsia ). Wallahu?alam Bisshawab

Kredit: Blog Tok Wan

28 August 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

Perkara Yang Merusakkan Ukhuwah

" Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu ( yang bertelingkah ) itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat. "
Q.S Al-Hujuraat : 10
" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing."
Q.S Al-Hijr : 47
Berapa banyak kehidupan yang berubah menjadi keras ketika ikatan persaudaraan telah pupus, ketika sumber-sumber kecintaan kerana Allah telah kering, ketika individualisme telah menggeser nilai-nilai persaudaraan, saat itu setiap individu berada dalam kehidupan yang sukar, merasa terpisah menyendiri dari masyarakatnya.


Kebanyakan manusia pada umumnya, perilaku mereka telah tercemar oleh perkara-perkara yang dapat merosakkan persaudaraan, yang terkadang mereka menyedari perkara tersebut, dan terkadang tidak menyedarinya.
Oleh sebab itu, kami akan mencuba memaparkan beberapa perkara yang dapat merosakkan persahabatan dan persaudaraan. Sebelumnya, akan kami kemukakan terlebih dahulu beberapa hadith dan perkataan para ulama’ salaf mengenai
hubungan persaudaraan.
Dalam sebuah hadith yang menerangkan tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari tiada naungan kecuali naungan Allah, Rasulullah s.a.w. menyebutkan salah satu di antaranya adalah,

" Dan dua orang lelaki yang saling mencintai kerana Allah, mereka berkumpul dan berpisah keranaNya. "
HR Bukhari dan Muslim


Dan di dalam sebuah hadith qudsi, Allah berfirman;

" Orang-orang yang saling mencintai keranaKu, berhak atas kecintaanKu "
HR Malik dan Ahmad

Muhammad bin Munkadir ketika ditanya tentang kenikmatannya dalam kehidupan ini, beliau menjawab, " Ketika bertemu dengan saudara-saudara ( sahabat-sahabat ), dan membahagiakan mereka."
Al-Hasan berkata, " Kami lebih mencintai sahabat-sahabat kami dari pada keluarga kami, kerana sahabat-sahabat kami mengingatkan kami akan kehidupan akhirat, sedangkan keluarga kami mengingatkan kami akan kehidupan dunia."
Khalid bin Shafwan berkata, " Orang yang lemah adalah yang sedikit menjalin persaudaraan. "

Perhatikanlah beberapa perkataan di atas, baik dari ayat-ayat Allah, hadith, mahupun perkataan para ulama, kemudian lihatlah pada kenyataan tentu akan menunjukkan kebenarannya. Siapakah yang menolongmu untuk mampu tetap teguh
memegangi hidayah? Siapakah yang meneguhkan kamu untuk tetap istiqamah? Siapakah yang menemani kamu ketika dirundung bencana dan malapetaka? Kerana itu Umar pernah berkata, " Bertemu dengan para ikhwan dapat menghilangkan kegalauan dan kesedihan hati. "
Jika demikian, bagaimana mungkin seorang yang berakal akan mengesampingkan ukhuwah dan lebih memilih kehidupan yang kacau dan hingar bingar.

Perkara-Perkara Yang Dapat Merosakkan Ukhuwah, Di Antaranya Adalah :

1. Tamak Dan Rakus Terhadap Dunia, Terhadap Apa-Apa Yang Dimiliki Orang Lain.
Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintai kamu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, mereka akan mencintai kamu. "
HR Ibnu Majah
Jika kamu tertimpa musibah, mintalah musyawarah kepada saudaramu dan jangan
meminta apa yang engkau perlukan. Sebab jika saudara atau temanmu itu memahami keadaanmu, ia akan terketuk hatinya untuk menolongmu, tanpa harus meminta atau menitiskan airmata.


2. Maksiat Dan Meremehkan Keta’atan.
Jika di dalam pergaulan tidak ada nuansa zikir dan ibadah, saling menasihati, mengingatkan dan memberi pelajaran, bererti pergaulan atau ikatan persahabatan itu telah gersang disebabkan oleh kerasnya hati dan perkara ini boleh mengakibatkan terbukanya pintu-pintu kejahatan sehingga masing-masing akan saling menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Padahal Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak menzaliminya dan tidak menghinakannya. Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, Tidaklah dua orang yang saling mengasihi, kemudian dipisahkan antara keduanya kecuali hanya kerana satu dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya. "
HR Ahmad

Ibnu Qayim, dalam kitab "Al-Jawabul Kafi" mengatakan, " Di antara akibat dari perbuatan maksiat adalah rasa gelisah ( takut dan sedih ) yang dirasakan oleh orang yang bermaksiat itu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya. "
Orang-orang ahli maksiat dan kemungkaran, pergaulan dan persahabatan mereka tidak dibangun atas dasar ketakwaan melainkan atas dasar kebendaan sehingga akan dengan mudah berubah menjadi permusuhan. Bahkan perkara itu nanti akan menjadi beban di hari kiamat.

Allah s.w.t. berfirman;

" Pada hari itu sahabat-sahabat karib: Setengahnya akan menjadi musuh kepada
setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan takwa ( iman dan amal soleh ). "

Q.S Az-Zukhruf : 67

Sedangkan persahabatan kerana Allah, akan terus berlanjutan sampai di syurga;

" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing. "
Q.S Al-Hijr : 47

3. Tidak Menggunakan Adab Yang Baik (Syar’i) Ketika Berbicara.
Ketika berbicara dengan saudara atau kawan, hendaknya seseorang memilih perkataan yang paling baik. Allah berfirman;

" Dan katakanlah ( wahai Muhammad ) kepada hamba-hambaKu ( yang beriman ), supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat baik ( kepada orang-orang yang menentang kebenaran ); sesungguhnya Syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka ( yang mukmin dan yang menentang ); sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia. "
Q.S Al-Israa : 53

Dalam sebuah hadith Nabi s.a.w. bersabda;

" Kalimah thayibah adalah shadaqah. "
HR Bukhari

4. Tidak Memperhatikan Apabila Ada Yang Mengajak Berbicara Dan Memalingkan Muka Darinya.
Seorang ulama salaf berkata, " Ada seseorang yang menyampaikan hadith sedangkan aku sudah mengetahui perkara itu sebelum ia dilahirkan oleh ibunya. Akan tetapi, akhlak yang baik membawaku untuk tetap mendengarkannya hingga ia selesai berbicara. "

5. Banyak Bercanda Dan Bersenda Gurau.
Berapa ramai orang yang putus hubungan satu sama lainnya hanya disebabkan oleh canda dan senda gurau.

6. Banyak Berdebat Dan Berbantah-Bantahan.
Terkadang hubungan persaudaraan terputus kerana terjadinya perdebatan yang sengit yang boleh jadi itu adalah tipuan syaitan. Dengan alasan mempertahankan aqidah dan prinsipnya padahal sesungguhnya adalah mempertahankan dirinya dan kesombongannya. Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah yang keras dan besar permusuhannya. "
HR Bukhari dan Muslim

Orang yang banyak permusuhannya adalah yang suka mengutarakan perdebatan, perbalahan dan pendapat.
Tetapi debat dengan cara yang baik untuk menerangkan kebenaran kepada orang yang kurang faham, dan kepada ahli bid`ah, perkara itu tidak bermasalah. Tetapi, jika sudah melampaui batas, maka perkara itu tidak diperbolehkan. Bahkan jika perdebatan itu dilakukan untuk menunjukkan kehebatan diri, perkara itu malah menjadi bukti akan lemahnya iman dan sedikitnya pengetahuan.
Jadi, boleh juga dengan perdebatan ini, tali ukhuwah akan terurai dan hilang. Sebab masing-masing merasa lebih lebih kuat hujjahnya dibanding yang lain.

7. Berbisik-Bisik ( Pembicaraan Rahsia )
Berbisik-bisik adalah merupakan perkara yang remeh tetapi mempunyai pengaruh yang dalam bagi orang yang berfikiran ingin membina ikatan persaudaraan.


Allah s.w.t. berfirman;

" Sesungguhnya perbuatan berbisik ( dengan kejahatan ) itu adalah dari ( hasutan ) Syaitan, untuk menjadikan orang-orang yang beriman berdukacita; sedang bisikan itu tidak akan dapat membahayakan mereka sedikitpun melainkan dengan izin Allah; dan kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman berserah diri. "
Q.S Al-Mujaadalah : 10


Rasulullah s.a.w. bersabda;

" Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang di antaranya berbisik-bisik tanpa mengajak orang yang ketiga kerana itu akan dapat menyebabkannya bersedih. "
HR Bukhari dan Muslim

Para ulama berkata, " Syaitan akan membisikkan kepadanya dan berkata, ‘ Mereka itu membicarakanmu’." Maka dari itu para ulama mensyaratkan agar meminta izin terlebih dahulu jika ingin berbisik-bisik ( berbicara rahsia ). Wallahu ‘alam.


Kredit: Blog Tok Wan



 

27 August 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

Pandangan syarak terhadap perbuatan memboikot produk orang kafir

Dalam keadaan Umat Islam dihina, ditindas dan diperangi oleh musuh-musuhnya daripada kalangan orang kafir seperti mana di Palestin dan di tempat-tempat yang lain, timbul persoalan di kalangan mereka yang cintakan Islam dan ingin membantu saudara Islam mereka yang dizalimi tentang apakah tindakan yang boleh diambil oleh Umat Islam dalam hal ini.

Antara yang sering dilaungkan adalah memboikot barangan orang kafir sebagai hukuman buat mereka dan supaya ekonomi mereka terkesan dan menjadi lemah. Ia akan membuatkan mereka takut dan menghentikan penindasan mereka.

Sejauh manakah kebenaran dakwaan ini dan jika ia berkesan, apakah garis panduan yang perlu diraikan dalam melaksanakannya?

DEFINASI BOIKOT

Enggan berurus dengan seseorang, organisasi, negara dan lain-lain; memulaukan (Kamus Dewan).

DEFINASI BARANGAN

Benda atau perkhidmatan yang dijualbelikan (Kamus Dewan).

PRINSIP-PRINSIP ASAS

Prinsip Pertama: Syarak Membolehkan Bermuamalah (Berurusan) Dengan Orang Kafir dalam Jual Beli

Tidak kira sama ada mereka Kafir Zimmi, Kafir Mu’ahad, Kafir Musta’man mahupun Kafir Harbi[1] selagi mana ia membabitkan suatu yang halal di sisi Syarak. Hal ini tidak dianggap sebagai wala’ (taat setia) terhadap mereka.

Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Sahihnya ada menyebutkan bab berjudul ‘Bab Jual Beli dengan Orang Musyrikin dan Golongan Kafir Harbi’.

Ibnu Abbas radiallahu anhuma meriwayatkan bahawa:

“Rasulullah sallalahu alaihi wasallam telah wafat sedang baju perisainya tergadai dengan seorang Yahudi dengan sebanyak tiga puluh gantang barli untuk keluarganya” (Sahih. Riwayat Al-Nasaai).

Aisyah radiallahu anha pula meriwayatkan bahawa:

“Nabi sallalahu alaihi wasallam telah membeli makanan daripada seorang Yahudi secara hutang”  (Bukhari dan Muslim).

Jual beli dengan orang kafir dibolehkan sama ada dengan cara orang Islam pergi ke negara kafir atau orang kafir datang ke negara Islam.

Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:

“Sekiranya seseorang itu pergi ke negara orang Kafir Harbi untuk membeli daripada sana hal ini dibolehkan di sisi kami. Ini sebagaimana yang dapat difahami daripada perbuatan perniagaan Abu Bakar radiallahu anhu berniaga ke Tanah Syam semasa hidup Rasulullah sallalahu alaihi wasallam sedangkan ketika itu ia adalah negara  Kafir Harbi, dan di samping hadis-hadis yang lain” (Iqtidha’ Al-Siratal Mustaqim, 2/15).

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah:

“Dibolehkan bermuamalah dengan orang kafir dalam hal-hal yang tidak sabit haramnya, dan rosaknya akidah kepercayaan mereka dan cara muamalah mereka sesama mereka tidak diambil kira dalam hal ini” (Fathul Bari, 9/280).

Ini adalah prinsip asasnya dalam bermuamalah dengan orang kafir. Walau bagaimanapun, terdapat pengecualian dalam hal ini iaitu:

Tidak dibolehkan bagi orang Islam untuk menjual kepada orang kafir apa yang mereka boleh gunakan untuk memerangi orang Islam. Ini berdasarkan firman Allah,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong menolonglah dalam perkara-perkara kebaikan dan ketakwaan dan jangan tolong menolong dalam hal-hal dosa dan permusuhan” (Al-Maa’idah, 2).

Prinsip Kedua: Cara-Cara Jual-Beli dengan Orang Kafir

Terdapat pelbagai cara barangan orang kafir dibeli pada hari ini. Cara-cara ini perlu dikenal pasti agar hukum yang tepat dapat dikeluarkan buatnya. Dapat disimpulkan bahawa barangan orang kafir dibeli melalui salah satu cara yang berikut:

Barangan itu dibeli terus daripada orang kafir yang menjualnya atau yang mengeluarkannya;

Barangan itu dibeli melalui wakilnya yang muslim yang bertindak mencari pembeli lalu dia menghubungkan antara pembeli dan penjual. Si wakil muslim itu akan menerima imbuhan daripada syarikat atau kilang jualan itu.

Dalam cara ini, pembeli membayar terus kepada penjual asli. Maka ia adalah seperti cara yang pertama daripada sudut manfaat yang diperolehi daripada jualan atau mudarat yang dihadapi akibat boikot yang akan dirasai oleh syarikat kafir itu secara langsung;

Barangan dibeli daripada agen jualan muslim yang mengimport barangan itu atas nama syarikatnya dengan modalnya sendiri.

Apa yang membezakan antara cara ini dan cara yang sebelumnya adalah pengimport muslim ini akan membeli barangan itu lalu menjualnya atas namanya. Berbeza dengan yang sebelumnya, si wakil muslim itu hanya menjadi penghubung antara pembeli dan penjual. Itu sahaja peranannya.

Berbeza dengan dua cara yang sebelum ini, agen jualan muslim ini akan mendapat manfaat daripada jualan atau mudarat daripada boikot secara langsung; dan

Belian barangan francais yang pada asalnya dikeluarkan oleh orang kafir lalu kilang atau kedainya dibuka di negara Islam di bawah pemiliknya yang muslim yang memiliki hak atau kebenaran istimewa daripada syarikat induk atas bayaran tertentu yang perlu dibayar kepada syarikat pengeluar induk tersebut secara berkala.

Syarikat muslim ini akan mendapat manfaat daripada jualan atau mudarat daripada boikot secara langsung. Berbeza dengan syarikat kafir pengeluar induk yang hanya mendapat mudarat secara tidak langsung akibat tidak lagi menerima bayaran untuk hak-hak francais tersebut.

Prinsip Ketiga: Jenis Barangan Jualan Orang Kafir

Barangan-barangan jualan secara amnya sama ada yang dijual oleh orang Islam atau kafir tidak lari daripada tiga jenis: 1. Barangan keperluan asas; 2. Keperluan sampingan; atau 3. Kelengkapan.[2]

Tidak dinafikan adanya perbezaan ketara antara ketiga-tiga kategori ini. Syariat Islam membezakan antara keperluan asas dan selainnya. Bahkan sehingga mengharuskan yang haram tatkala darurat dan dalam keadaan mendesak sekiranya nyawa sudah terancam.

Firman Allah,

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Dia telah menjelaskan apa yang haram buat kamu kecuali apa yang kamu terdesak kepadanya” (Al-An’aam, 119).

Berdasarkan banyak nas-nas Al-Quran dan Hadis, para ulama telah menetapkan kaedah:

الضَرُورَةُ تُبِيحُ المحضُورَة

“Keadaan Terdesak (Darurat) Akan Mengharuskan yang Terlarang (Haram)” (Al-Asybaah Wa Al-Nadhaa’ir oleh Imam Sayuti, 93).

Mereka juga menetapkan bahawa keperluan akan mengambil tempat darurat sekiranya ia melibatkan perkara-perkara yang umum (الحَاجَة تُنَزَّل مَنْزِلَةَ الضَّرُورَة)   (Al-Asybaah Wa Al-Nadhaa’ir oleh Imam Sayuti, 97).

Oleh itu, kita perlu membezakan antara barangan keperluas asas seperti beras, barangan keperluan sampingan seperti kenderaan atau barangan kehendak seperti kereta mewah dan seumpamanya.

Perbuatan memboikot barangan keperluan asas jelas boleh mengancam nyawa orang Islam berbanding memboikot barangan sampingan dan kehendak.

Prinsip Keempat: Menutup Jalan Kerosakan ( سَدُّ الذَّرِيعَة )

Ia adalah antara kaedah yang digunakan oleh para ulama. Apa yang dimaksudkan dengan kaedah ini adalah perkara-perkara yang pada asalnya  harus boleh menjadi haram sekiranya ia membawa kepada mudarat.

Jalan-jalan yang boleh membawa kepada mudarat ini sama ada ia pasti (قطعي), samar-samar (ظني)  atau suatu yang jarang berlaku (نادر) dengan erti kata ia jarang menyebabkan mudarat.

Sekiranya ia pasti (قطعي) membawa mudarat maka para ulama sepakat menyatakan ia haram. Jika ia jarang (نادر) menyebabkan mudarat maka para ulama juga sepakat dalam menyatakan bahawa ia tidak haram dan ia kekal pada hukum asalnya iaitu harus.

Adapun sekiranya ia samar-samar(ظني)  iaitu boleh jadi tidak membawa kepada mudarat,  di sini para ulama berbeza pendapat sama ada ia haram atau tidak (Ihkaam Al-Fusuul oleh Al-Baji, 690).

Boleh kita simpulkan bahawa dalam keadaan samar-samar (ظني) ia kembali kepada kebaikan (maslahat) dan keburukan (mafsadah) suatu perbuatan itu.

Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah :

“Jalan-Jalan ini sekiranya ia secara kebiasaannya akan membawa kepada yang haram maka Syarak mengharamkannya secara mutlak… Sekiranya ia hanya kadang-kadang membawa kepada yang haram maka jika tidak ada maslahat yang lebih pada jalan-jalan ini Syarak akan mengharamkannya juga” (Al-Fatawa Al-Kubra, 3/257).

Apa yang dimaksudkan di sini adalah, Syarak sentiasa melihat kepada jalan (cara) yang digunakan untuk sampai kepada sesuatu dalam menentukan hukumnya. Maka jalan-jalan yang membawa kepada yang haram atau makruh akan mengambil hukum yang serupa.

Oleh itu para ulama mengingatkan bahawa dalam menentukan hukum suatu perbuatan manusia, ia hanya boleh ditentukan setelah melihat natijah hasil perbuatan tersebut daripada sudut kebaikan atau keburukannya. Maka suatu perbuatan tidak akan diizinkan walaupun ia boleh mendatangkan maslahat melainkan setelah dilihat kesudahannya agar jangan kebaikan (maslahat) yang diperolehi turut mendatangkan keburukan (mafsadah) yang sama atau lebih daripadanya (Al-Muawaqaat oleh Imam Syatibi, 4/194).

Terdapat dua kaedah yang menjadi sandaran dalam menilai kebaikan dan keburukan sesuatu perbuatan. Dua kaedah ini ialah:

Sekiranya suatu perbuatan menjurus kepada keburukan (mafsadah) dan tidak ada kebaikan (maslahat) yang mendominasi perbuatan itu, maka ia dilarang.

Ini kerana Syarak menitip beratkan langkah berjaga-jaga ( الاحتياط ), mengambil langkah tegas ( الأخذ بالحزم ) serta mengelak daripada jalan-jalan yang membawa kepada kerosakan dan keburukan (mafsadah) ( سد الذريعة ) (Al-Muawaqaat oleh Imam Syatibi, 2/364).

Terdapat banyak contoh dalam Al-Quran dan Sunnah tentang hal ini. Seperti mana larangan Syarak membuat binaan atas kubur, wanita bermusafir tanpa mahram, khalwat antara lelaki dan perempuan bukan mahram, berhias buat wanita yang kematian suaminya dalam tempoh iddah, pembunuh mewarisi harta saudaranya yang dibunuh dan lain-lain.

Sebaliknya, sekiranya suatu perbuatan yang secara dasarnya adalah haram tetapi dalam suatu situasi yang tertentu ia boleh membawa kepada kebaikan (maslahat) yang mendominasi perbuatan tersebut, ia dibolehkan.

Contohnya memberi wang tebusan kepada kafir harbi untuk membebaskan orang Islam yang mereka tawan, atau memberi wang kepada seorang yang akan menggunakannya pada jalan yang haram sesudah dia mengugut akan membunuh jika wang tersebut tidak diberikan kepadanya.

2. Dalam menilai kebaikan (maslahat) atau keburukan (mafsadah) suatu perbuatan, cukup dengan sangkaan kuat (غلبة الظن). Tidak perlu sampai yakin (يقين) akan kebaikan atau keburukan yang terhasil daripada perbuatan itu.

Ini kerana menilai kebaikan atau keburukan sesuatu perbuatan hanya dapat dilakukan secara andaian atau anggaran. Adapun menilainya secara tepat, kebiasaannya ia adalah sukar.

Berkata Al-Izz bin Abdul Salam:

“Kebanyakan maslahat dan mafsadah tidak dapat ditentukan kedudukannya secara tepat. Ia hanya dapat ditetapkan secara andaian mengenangkan betapa susahnya menetapkannya secara tepat” (Al-Qawaa’id Al-Sughra, 100).

Prinsip Kelima : Merosakkan Ekonomi Musuh adalah antara Cara Jihad yang Syarie

Nabi sallalahu alaihi wasallam telah menggunakan cara tekanan ekonomi melalui pasukan-pasukan tentera yang diutus untuk menyerang kafilah-kafilah perniagaan orang kafir Quraisy.

Sebagaiman dalam peristiwa Nabi sallalahu alaihi wasallam mengutus 300 anggota tentera berkuda yang dikepalai oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah radiallahu anhu untuk menyerang kafilah Quraisy (Sahih. Riwayat Abu Daud).

Begitu juga dalam Peperangan Badar yang pada asalnya berlaku akibat Nabi sallalahu alaihi wasallam keluar daripada Madinah untuk mendapatkan kafilah Abu Sufyan (Riwayat Muslim).

Lebih daripada itu, ketika di Mekkah Nabi sallalahu alaihi wasallam pernah mendoakan atas kaum Quraisy agar mereka ditimpakan kemarau dan agar kehidupan mereka menjadi susah.

Berkata Abdullah bin Masud radiallahu anhu:

Apabila Kaum Quraish bertindak derhaka terhadap Rasulullah sallalahu alaihi wasallam dan enggan menerima Islam Baginda berdoa,

اللَّهُمَّ أعِنِّي عَلَيْهِمْ بِسَبْعٍ كَسَبْعِ يُوسُف

“Ya Allah, bantulah aku dengan kemarau seperti mana kemarau (Nabi) Yusof”

Akibatnya penduduk Mekah kekurangan makanan yang teramat sangat sehingga ada yang memakan bangkai. Hal ini berterusan sehingga Nabi sallalahu alaihi wasallam diminta supaya berdoa kepada Allah agar kemarau dihentikan  (Sahih. Riwayat Tirmizi).

Jika perkara ini sudah jelas, adalah penting untuk kita kenal pasti bidang-bidang perniagaan atau produk-produk jualan yang boleh dijadikan sebagai fokus dalam boikot agar ia benar-benar memberi impak dan kesan yang diharapkan untuk melemahkan orang kafir yang menindas Umat Islam.

Amat malang sekiranya produk-produk kafir yang perlu diboikot tidak diboikot sebaliknya syarikat francais yang dimiliki muslim pula yang menjadi mangsa. Akhirnya pihak yang sepatutnya dihukum terus bermaharajalela manakala orang yang tidak bersalah pula dizalimi.

Apa yang pasti, bank-bank riba serta syarikat-syarikat media dan hiburan antarabangsa yang sememang dikuasai oleh Yahudi dan Nasrani perlu diboikot. Ini kerana ia menjadi asas kekuatan dan pengusaan mereka terhadap dunia di samping menjadi alat propaganda untuk terus melemahkan Umat Islam. Mata wanga Dolar juga sewajarnya diboikot.

Prinsip Keenam: Boikot Berkait Rapat dengan Izin Pemerintah

Antara prinsip yang menjadi pegangan Ahli Sunnah Wal Jama’ah adalah ‘Kewajipan Taat dan Patuh Terhadap Pemerintah Islam dalam Hal-Hal yang Makruf’.

Badan Pembesar Ulama dan Jawatankuasa Tetap Kajian Ilmiah dan Fatwa, Arab Saudi telah diajukan soalan yang berikut:

“Kini kedengaran seruan supaya memboikot barangan dagangan Amerika seperti Pizza Hut, McDonalds dan lain-lain. Adakah kita perlu menyahut seruan ini? Dan adakah urusan jual beli dengan orang kafir di negara kafir harbi dibolehkan? Atau adakah ia hanya dibolehkan dengan orang kafir mu’ahad, zimmi dan musta’man di negara kita sahaja?”

Jawapan:

“Dibolehkan membeli barangan yang halal tidak kira daripada mana jua ia dikeluarkan selagi mana pemerintah tidak memerintahkan supaya ia diboikot demi maslahat Islam dan orang Islam. Ini kerana asal hukum jual beli adalah harus sebagaimana firman Allah, “Dan Allah menghalalkan jual beli” (Al-Baqarah, 275) dan Nabi sallalahu alaihi wasallam telah membeli daripada orang Yahudi” (Fatwa no. 21776 bertarikh 25.12.1421H).

===============================================

Syeikh Soleh Fauzan Al-Fauzan hafidahullah, Anggota Badan Pembesar Ulama dan Jawatankuasa Tetap Kajian Ilmiah dan Fatwa, Arab Saudi telah ditanya dengan soalan yang berikut:

“Kini tersebar di akhbar laungan supaya diboikot barangan Amerika dan tidak membeli atau menjualnya. Antaranya apa yang ditulis di salah satu akhbar hari ini bahawa para ulama Islam menyeru kepada boikot dan bahawa hal ini adalah fardu ain wajib atas setiap seorang muslim manakala membeli barangan ini adalah haram dan pelakunya melakukan dosa besar kerana membantu golongan Yahudi dalam memerangi orang Islam. Mohon agar Syeikh menjelaskan hal ini dan adakah seseorang itu akan mendapat pahala kerana melakukannya?

Jawapan:

“Pertama: Saya minta agar diberi satu salinan atau potongan daripada akhbar yang menyebutkan tentang perkara yang dinyatakan oleh si penanya.

Kedua: Ini tidak benar. Para ualam yang muktabar tidak mengeluarkan fatwa melarang membeli barangan dagangan Amerika. Barangan dagangan Amerika masih diimport dan dijual di pasaran orang Islam.

Barangan dagangan ini tidak akan diboikot kecuali jika ada arahan daripada pemerintah menuntut supaya ia diboikot dan supaya mana-mana negara diboikot. Dalam keadaan ini barulah ia perlu diboikot.

Adapun sekadar laungan individu mengharamkan (barangan tertentu); perbuatan ini termasuk dalam mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Ia tidak dibolehkan” (Al-Fatawa Al-Muhimmah fi Tabsiir Al-Ummah, oleh Jamal bin Furaihan Al-Harithi, 110).

Boikot yang dilakukan dengan izin pemerintah sesudah maklumat dan langkah yang tepat dikenal pasti akan menjamin keberkesanan boikot tersebut di samping memperoleh kerja sama daripada semua pihak; sama ada rakyat jelata yang terdiri daripada pengguna dan pembeli, pihak pengimpot dan penjual, serta penguatkuasaan arahan boikot daripada pemerintah.

Adapun laungan individu atau badan-badan bukan kerajaan supaya diboikot barangan-barangan tertentu, ia hanya akan mengakibatkan perselisihan dan perbalahan di kalangan masyarakat Islam. Bahkan berkemungkinan besar langkah yang tidak tepat akan diambil akibat kurang data dan maklumat di mana akhirnya ia lebih merugikan orang Islam berbanding orang kafir.

HUKUM BOIKOT BARANGAN ORANG KAFIR

Dapat kita simpulkan bahawa hukum boikot berbeza antara satu situasi dengan situasi yang lain iaitu:

Keadaan Pertama: Jika Ia Diarahkan oleh Pemerintah

Jika pemerintah sebuah negara Islam memerintahkan supaya barangan tertentu atau barangan negara-negara tertentu diboikot maka rakyat negara tersebut wajib mentaati arahan tersebut.

Firman Allah,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah RasulNya dan para pemerintah daripada kalangan kamu” (Al-Nisaa’, 59).

Kisah Ka’ab bin Malik radiallahu anhu diboikot (dipulau) oleh penduduk Madinah atas arahan Nabi sallalahu alaihi wasallam dalam riwayat Bukhari dan Muslim boleh dijadikan hujjah dalam hal ini.

Keadaan Kedua: Sekiranya Tiada Arahan daripada Pemerintah

Keadaan ini tidak lari daripada dua situasi:

Dia mengetahui secara pasti bahawa harga barangan yang dibeli itu akan membantu orang kafir memerangi orang Islam. Dalam situasi ini, haram untuknya membeli daripada orang kafir tersebut. Ini kerana ia jelas menjurus kepada membantu orang kafir dalam perkara dosa dan permusuhan yang ditegah Syarak, dan sejajar dengan kaedah menutup jalan-jalan yang membawa kepada yang haram.

Sebagaimana Syarak melarang jualan anggur kepada mereka yang menggunakannya untuk membuat arak, menjual senjata pada zaman fitnah apabila berlaku kekacauan sesama orang Islam dan memberi pinjaman kepada mereka yang akan menggunakannya untuk perkara yang haram.

Hukum ini khas kalau sekiranya dia mengetahui secara pasti sama ada berdasarkan pengetahuannya secara langsung, melalui berita orang yang dipercayainya dan seumpamanya.

Di samping pengetahuan secara pasti (yakin), sangkaan kuat juga mengambil hukum yang sama sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini.

2. Dia tidak mengetahui secara pasti sama ada harga barangan yang dibeli itu akan menjurus kepada yang haram atau tidak.

Di sini kita mengingatkan bahawa Syarak secara dasarnya membolehkan orang Islam berjual beli dengan orang kafir walaupun dengan kafir harbi yang diperangi.

Di samping itu perlu dilihat kebaikan (maslahat) atau keburukan (mudarat) yang akan terhasil daripada boikot tersebut. Boikot hanya dibolehkan sekiranya kebaikan dan maslahat mendominasi keburukan dan mudarat.

Adapun memboikot barangan orang kafir yang dijual oleh agen jualan muslim atau barangan francais orang kafir yang kilang atau kedainya dimiliki oleh orang muslim, ia jelas memudaratkan peniaga muslim itu berbanding orang kafir.

Tidak dinafikan bahawa terdapat kemungkinan bahawa syarikat pengeluar induk kafir juga akan terkesan sedikit sebanyak. Tetapi di sini kita mengingatkan bahawa kesan mudarat boikot akan dirasai oleh peniaga muslim secara langsung dan secara pasti berbanding syarikat induk kafir yang mungkin akan terkesan dan mungkin tidak. Di sini perkara yang yakin dan pasti perlu diraikan dan didahulukan berbanding perkara yang tidak pasti. Dalam keadaan ini boikot tidak wajar dilakukan kerana mudaratnya lebih kepada orang Islam berbanding orang kafir.

PENUTUP

Semoga dengan penjelasan ini ia akan dapat memberi sedikit sebanyak panduan buat Umat Islam dalam memboikot barangan orang kafir. Orang-orang kafir Yahudi dan Nasrani adalah musuh ketat Umat Islam sejak dahulu hingga sekarang. Dalam masa yang sama Umat Islam perlu bertindak bijak dalam apa jua rancangan dan tindakan mereka. Panduan dan petunjuk Syarak perlu didahulukan dan bukan emosi dan perasaan. Bertindak melulu semata-mata atas perasaan marah dan benci tentu membawa kesan yang buruk. Akhirnya apa yang diharapkan tidak kecapaian mudarat pula yang mendatang.

وَصلَّى الله عَلى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم

Kajang, 24 Ramadan 1435H / 22 Julai 2014

Idrissulaiman@yahoo.com

[1] Kafir Zimmi adalah orang kafir yang menetap di negara Islam secara tetap dengan keamanan yang diberikan kepadanya secara berterusan;

Kafir Mu’ahad adalah orang kafir yang ada perjanjian dengan orang Islam untuk tidak berperang untuk tempoh yang tertentu;

Kafir Musta’man adalah orang Kafir Harbi yang memasuki negara Islam dengan keamanan sementara yang diberikan kepadanya untuk tujuan yang tertentu; dan

Kafir Harbi adalah orang kafir yang diperangi dan tidak ada perjanjian perdamaian antara mereka dan orang Islam.

[2] Barangan Keperluan Asas adalah barangan yang ketiadaannya akan mengancam kehidupan manusia.

Barangan Keperluan Sampingan adalah barangan yang ketiadaannya akan menyebabkan kesempitan dan kesukaran buat manusia.

Barangan Kehendak adalah barangan yang ketiadaannya akan menyebabkan manusia tidak dapat hidup selesa (Al-Muawaqaat oleh Imam Al-Syatibi, 2/8) .

 

Oleh : Ustaz Idris Sulaiman

5 August 2014 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Larangan hidup membujang

Membujang

 

Erti tabattul (membujang), Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: "Tabattul di sini ialah menjauhkan diri dari wanita dan tidak menikah kerana ingin terus beribadah kepada Allah."[1]

Hadis-hadis yang melarang hidup membujang cukup banyak, diantaranya :

1. Hadis yang diriwayatkan al-Bukhari dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu anhu, dia mengatakan: "Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam menolak hal itu pada ‘Utsman bin Mazh’un. Seandainya baginda membolehkan kepadanya untuk hidup membujang, nescaya kami membujang."[2]

2. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, dia mengatakan: "Aku mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, aku adalah seorang pemuda dan aku takut memberatkan diriku, sedangkan aku tidak mempunyai sesuatu untuk menikahi wanita.’ Tetapi baginda mendiamkanku. Kemudian aku mengatakan seperti itu lagi kepada baginda, tapi baginda mendiamkanku. Kemudian aku mengatakan seperti itu lagi, maka Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah, pena telah kering dengan apa yang engkau temui (alami); mengebirilah atau tinggal-kan.’"[3]

Syeikh Mushthafa al-‘Adawi berkata -memberi komentar diatas sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam:

"Mengebirilah atau tinggalkan"-: "Ini seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

‘Maka barangsiapa yang (ingin) beriman hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang (ingin) kafir biarlah dia kafir.’ [Al-Kahfi/18: 29]

Dan ayat ini bukannya membolehkan kekafiran."[4]

Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiallahu anhuma, ditemui oleh Sa’id bin Hisyam seraya bertanya kepadanya:

"Aku ingin bertanya kepadamu tentang hidup membujang; bagaimana menurutmu?" Dia Aisyah Radhiallahu anhuma menjawab: "Jangan lakukan! Bukankah engkau mendengar Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

‘Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum-mu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan…’ [Ar-Ra’d/13: 38]

Oleh kerana itu, janganlah engkau hidup membujang."[5]

Tidak Ada istilah Rahib Dalam Islam.

‘Aisyah Radhiallahu anhuma mengatakan “Aku menjenguk Khuwailah binti Hakim bin Umayyah bin Haritsah bin al-Auqash as-Salamiyyah, dan dia adalah isteri ‘Utsman bin Mazh’un.” Ia melanjutkan: “Ketika Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam melihat keadaan tubuhnya yang buruk, baginda bertanya kepadaku: ‘Wahai ‘Aisyah, apa yang memperburuk keadaan Khuwailah?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, dia seorang wanita yang mempunyai suami yang selalu berpuasa di siang hari dan bangun malam (untuk solat). Ia seperti orang yang tidak mempunyai suami. Oleh kerananya, dia membiarkan dirinya dan mensia-siakannya.’

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada ‘Utsman bin Mazh’un (agar dia datang menghadap). Ketika dia datang kepada baginda, maka baginda bertanya: ‘Wahai ‘Utsman, apakah engkau membenci Sunnahku?’ Ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, bahkan Sunnahmu yang aku cari.’ Baginda bersabda: ‘Sesungguhnya aku tidur, solat, puasa, berbuka, dan menikahi beberapa orang wanita; maka bertakwalah kepada Allah wahai ‘Utsman, kerana isterimu mempunyai hak atasmu, tamumu mempunyai hak atasmu, dan dirimu mempunyai hak atasmu. Oleh kerananya, berpuasalah dan berbukalah, solatlah dan tidurlah.’"[6]

Asy-Sya’bi meriwayatkan: Ka’ab bin Sur pernah duduk di sisi ‘Umar bin al-Khaththab Radhiallahu anhu, lalu seorang wanita datang seraya berkata: "Wahai Amirul Mukminin, aku tidak melihat seorang pun yang lebih baik daripada suamiku. Demi Allah, dia senantiasa beribadah pada malam harinya dan senantiasa berpuasa pada siang harinya." Mendengar hal itu ‘Umar memohonkan ampunan untuknya dan memujinya, tetapi wanita ini merasa malu dan beranjak pulang. Ka’ab berkata: "Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau membantu wanita ini (mendapatkan hak) atas suaminya. Sebab, dia telah menyampaikan keluhannya kepadamu." ‘Umar berkata kepada Ka’ab: "Putuskanlah perkara di antara keduanya, kerana engkau memahami urusan apa yang tidak aku fahami." Ia mengatakan: "Aku melihat sepertinya dia seorang wanita bersama tiga isteri lainnya, dan dia keempatnya. Oleh kerananya, aku memutuskan tiga hari tiga malam di mana dia (lelaki ini) beribadah di dalamnya, dan untuknya (wanita ini) sehari semalam." ‘Umar berkata: "Demi Allah, pendapatmu yang pertama tidak lebih mengagumkan dari-pada yang terakhir. Pergilah! Engkau menjadi qadhi (hakim) atas Bashrah. Sebaik-baik qadhi adalah dirimu."[7]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Wahai ‘Abdullah, benarkah apa yang aku dengar bahawa engkau selalu berpuasa di siang hari dan mengerjakan solat malam?" Aku menjawab: "Benar, wahai Rasulullah." Baginda bersabda: "Jangan engkau lakukan! Berpuasa dan berbukalah, bangun dan tidurlah, kerana tubuh mempunyai hak atasmu, kedua matamu mempunyai hak atasmu, isterimu mempunyai hak atasmu, dan tamumu mempunyai hak atasmu. Cukuplah engkau berpuasa tiga hari dalam sebulan, kerana engkau akan mendapatkan pada setiap kebajikan sepuluh kali lipat gandanya. Jadi, itu seperti puasa sepanjang masa." Ketika aku berkeras, maka aku sendiri yang akhirnya kesulitan. Aku mengatakan: "Wahai Rasulullah, aku masih memiliki kesanggupan." Baginda bersabda: "Kalau begitu berpuasalah dengan puasa Daud Alaihissallam dan jangan menambahnya." Aku bertanya: "Bagaimana puasa Nabi Allah Daud Alaihissallam?" Baginda menjawab: "Separuh masa." ‘Abdullah berkata setelah tua: "Duhai sekiranya aku menerima keringanan dari Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam."[8]

Al-Marwazi mengatakan: Abu ‘Abdillah -yakni Ahmad bin Hanbal- berkata: "Hidup membujang sama sekali bukan dari ajaran Islam. Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi 14 isteri, dan baginda wafat meninggalkan sembilan isteri. Seandainya Basyar bin al-Harits menikah, niscaya urusannya menjadi sempurna. Seandainya manusia tidak menikah, niscaya tidak ada peperangan, tidak ada haji, dan tidak ada begini dan begitu. Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam menikah, sedangkan mereka tidak memiliki apa-apa, dan baginda wafat meninggalkan 9 isteri serta memilih menikah dan menganjurkan akan hal itu. Baginda melarang hidup membujang. Barangsiapa yang membenci Sunnah Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia berada di atas selain kebenaran. Ya’qub, dalam kesedihannya, masih menikah dan mendapatkan anak. Dan Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Dimasukkan ke dalam hatiku kecintaan kepada para wanita."[9]

Aku mengatakan kepadanya, diceritakan dari Ibrahim bin Ad-ham bahawa dia mengatakan: "Sungguh, rasa takut seorang lelaki yang menanggung beban keluarga yang berat…" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba dia (memotongnya serta) berteriak kepadaku dan mengatakan: ‘Kita terperangkap di jalan-jalan yang sempit.’ Lihatlah -semoga Allah menyelamatkanmu- apa yang dilakukan oleh Nabi-Nya, Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya." Kemudian dia mengatakan: "Sungguh tangisan anak di hadapan ayahnya kerana meminta roti kepadanya, itu lebih baik daripada demikian dan demikian. Bagaimana mungkin ahli ibadah yang membujang bisa menyamai orang yang menikah?"[10]

Syubhat:

Makna Tabattul Dalam Al-Qur-an.

Syeikh Muhammad bin Isma’il berkata: Di antara hal yang patut untuk disebutkan bahawa al-Qur-an memerintahkan tabattul dalam firman-Nya :

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

“Sebutlah Nama Rabb-mu, dan bertabattullah (beribadahlah) kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” [Al-Muzzammil/73: 8].

Makna ayat ini adalah perintah agar menggunakan seluruh waktunya untuk Allah dengan ibadah yang ikhlas. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (men-jalankan) agama yang lurus…” [Al-Bayyinah/98: 5].

Sementara ada larangan tabattul dalam Sunnah. Dan yang dimaksud dengannya ialah memutuskan hubungan dari manusia dan komuniti, menempuh jalan kependetaan untuk meninggalkan pernikahan, dan menjadi pendeta di tempat-tempat sembahyang. Jadi, tabattul seperti ini tidak diperintahkan dalam al-Qur-an dan dilarang dalam Sunnah. Kaitan perintah berbeza dengan kaitan larangan; maka keduanya tidak kontradiktif. Dan Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah diutus untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diturunkan kepada mereka

.

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq. Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir - Bogor]

_______

Nota kaki :

[1]. HR. Muslim, Syarh an-Nawawi (III/549).

[2]. HR. Al-Bukhari (no. 5074) kitab an-Nikah, Muslim (no. 1402) kitab an-Nikah, at-Tirmidzi (no. 1086) kitab an-Nikah, an-Nasa-i (no. 3212) kitab an-Nikah, Ibnu Majah (no. 1848) kitab an-Nikah, Ahmad (no. 1517).

Faedah: Apakah boleh mengebiri binatang? Kalangan yang membolehkan mengebiri binatang berargumentasi dengan hadis dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahawa baginda menyembelih dua kibas yang dikebiri. Mereka berkata: “Seandainya mengembiri haiwan yang dapat dimakan itu diharamkan, niscaya baginda tidak menyembelih kibas yang dikebiri sama sekali.” Ibnu Qudamah berkata dalam al-Mughni (VIII/ 625): “Mengembiri haiwan diperbolehkan kerana Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua ekor kibas yang dikebiri.” Al-waj’ ialah menghancurkan kedua buah zakar, dan apa yang dipotong kedua zakarnya, atau dicabut, maka dia seperti dikekang, kerana semakna. Kerana mengembiri adalah menghilangkan bahagian yang tidak sedap sehingga membuat dagingnya sedap dengan hilangnya bahagian itu dapat memperbanyak dan menggemukkan. Asy-Sya’bi berkata: "Apa yang bertambah pada daging dan lemaknya lebih banyak daripada yang hilang darinya. Demikianlah pendapat al-Hasan, ‘Atha’, asy-Sya’bi, an-Nakha’i, Malik dan asy-Syafi’i, dan saya tidak melihat perselisiahan di dalamnya.

[3]. HR. Al-Bukhari (no. 5076) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1404) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 3642) lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 7832).

[4]. Jaami’ Ahkaamin an-Nisaa’, al-‘Adawi (III/20).

[5]. HR. At-Tirmidzi (no. 1982) kitab an-Nikaah, Ibnu Majah (no. 1849) kitab an-Nikaah, dan disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Ibni Majah (no. 1499).

[6]. HR. Ahmad (no. 25776), yang di dalamnya terdapat ‘Abdullah bin Sa’id, ia adalah shaduq, dan para perawi lainnya adalah tsiqah, Abu Daud (no. 1369) kitab ash-Shalaah.

[7]. Majmuu’ al-Fataawaa Ibni Taimiyyah (XXXIV/85), al-Mughni (VII/30), dan disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Irwaa’ (VII/80).

[8]. HR. Al-Bukhari (no. 1975) kitab ash-Shaum, Muslim (no. 1159) kitab ash-Shaum, at-Tirmidzi (no. 770) kitab ash-Shaum, an-Nasa-i (no. 1630) kitab ash-Shaum, Ibnu Majah (no. 1712) kitab ash-Shaum, Ahmad (no. 6441), ad-Darimi (no. 1752).

[9]. HR. An-Nasa-i (VII/61) dalam ‘Isyratun Nisaa’, bab Hubbun Nisaa’, Ahmad (III/128), al-Hakim (II/160) dan ia menilainya sebagai hadits shahih sesuai syarat Muslim, dan disetujui oleh adz-Zahabi. Al-Hafiz al-‘Iraqi menilai sanadnya baik, dan Ibnu Hajar menilainya sebagai hadis hasan.

[10]. Raudhatul Muhibbiin (hal. 214).

 

Oleh : Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq

31 July 2014 Posted by | Ibadah, Tazkirah | , | Leave a comment

Hukum binaan di Kubur

(Menjawab Isu Yang Dibangkitkan)

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول لله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم الى يوم

القيامة , أما بعد:

1. Disusunkan artikel ini bertujuan menerangkan kepada masyarakat tentang beberapa hukum yang dikelirukan oleh sesetengah pihak yang menggunakan zahir lafaz hadis tanpa merujuk kepada huraian ulama mujtahid yang berkelayakkan dalam menghuraikan hukum-hakam yang tersirat di dalam sesebuah hadis. Para ulama yang muktabar memperincikan lagi maksud sebenar huraian imam ikutan mereka itu. Maka mantaplah segala hukum dan terhindar daripada huraian mengikut hawa nafsu, ilmu yang cetek serta akal yang dangkal. Ini kerana, tidak semua diberikan ilmu yang seperti ulama-ulama tersebut. Merekalah pewaris nabi yang beramanah dalam menjaga agama ini.

ان العلماء ورثة الأنبياء ورثوا علما…

Ertinya: “ Sesungguhnya para ulama adalah pewaris kepada para anbia dan mereka itu mewarisi keilmuan.…” (Al-Hadis)

2. Hukum Binaan Di atas Kubur

Tentang hadis larangan binaan di atas kubur, Imam Syafie menerangkan hukum dan sebab larangan tersebut di dalam kitab Ummnya (bab jenazah):

” ورأيت من الولاة (بمكة) من يهدم ما يبنى فيها ولم أر فقهاء يعيبون عليه ذلك ولأن في ذلك تضييقا على الناس “

Ertinya: “ Aku melihat pembesar di Mekah meruntuhkan binaan-binaan kubur yang ada padanya dan aku tidak melihat para Fuqaha (Mujtahid) yang mencela perbuatan pembesar tersebut dan kerana pada binaan itu menyempitkan tanah perkuburan ke atas orang ramai.”

3. Katanya lagi: ” فان كانت القبور في الأرض يملكها الموتى في حياتهم أو ورثتهم بعدهم , لم يهدم شىء يبنى منها وانما يهدم ان هدم ما لا يملكه أحد فهدمه لئلا يحجر على الناس “

Ertinya: “ Maka jika adalah perkuburan di dalam tanah yang dimiliki oleh orang-orang mati semasa hidup mereka atau diwarisi oleh pewaris selepas kematian mereka, nescaya tidak boleh diruntuhi sesuatu binaan di dalamnya. Hanya diruntuhi sesuatu binaan di dalam tanah yang tidak dimiliki oleh sesiapa pun maka hendaklah diruntuhinya supaya tidak menegah orang ramai untuk tanam mayat yang lain.”

4. Bila ditanyakan fatwa kepada Ibnu Hajar Haitami tentang suatu binaan, beliau menghukumkan haram binaan itu dan menyatakan sebab ( ألعلة ) pengharaman tersebut dengan katanya (Fatawa Kubra, bab jenazah):

” ولوجود علة تحريم البناء في ذلك وهى تحجير الأرض على من يدفن بعد بلاء الميت اذ الغالب أن البناء يمكث الى ما بعد البلى وأن الناس يهابون فتح القبر المبني فكان في البناء تضييق للمقبرة ومنع الناس من الانتفاع بها فحرم “

Ertinya: “Kerana terdapat sebab pengharaman binaan pada binaan yang berkenaan iaitu menegah tanah kubur daripada ditanamkan mayat lain selepas hancur mayat di dalam kubur itu. Ini kerana, kebiasaannya binaan di atas kubur menjadi kekal sehinggakan selepas masa hancurnya mayat, dan orang ramai takut hendak membuka kubur yang dibinakan di atasnya. Maka binaan itu menyempitkan tanah perkuburan dan menegah orang ramai daripada mengambil manfaat dengannya lalu ia menjadi haram.”

5. Beberapa perkara yang difahami daripada huraian Imam Syafie adalah:-

1) Binaan di dalam tanah perkuburan milik sendiri

2) Binaan di dalam tanah perkuburan disabilkan

3) Binaan yang menyebabkan:

a) terhalang daripada ditanamkan mayat lain (bila berlaku kesesakan)

b) menyempitkan tanah perkuburan dengan perkara yang berlebih-lebihan

6. Para ulama yang mengikuti Imam Syafie menghuraikan maksud sebenar perkataan Imam mereka tentang Hukum Binaan tersebut, adalah seperti berikut:-

Maksud sebenar Binaan tersebut dan dimakruhkan di tanah perkuburan milik sendiri

Binaan yang di maksudkan itu ialah binaan yang sama betul dengan liang lahad mayat (tidak memakan ruang yang terlebih luas) dan juga binaan yang memakan ruang yang terlebih luas daripada itu seperti kubah, masjid, bilik dan lain-lain. Binaan tersebut dimakruhkan di dalam kawasan tanah kubur milik persendirian. Ini adalah pendapat yang muktamad dalam mazhab Syafie.

7. Tersebut di dalam kitab Tuhfah bagi Ibnu Hajar Haitami ketika mensyarahkan matan Minhaj Imam Nawawi (bab jenazah) :

” (ويكره تجصيص القبر والبناء) عليه في حريمه وخارجه, نعم ان خشي نبش أو حفر سبع أو هدم سيل لم يكره “

Ertinya: “{Dimakruhkan (dalam tanah perkuburan milik sendiri) memutihkan kubur dengan kapur dan membuat binaan} di atas kubur pada permukaan liang lahadnya dan ruang yang terlebih luas daripada itu, sungguh pun begitu tiada makruh jika takut dibongkari (oleh pencuri kain kapan atau dibongkari untuk ditanam jenazah lain sebelum hancur jasadnya), digali binatang buas atau diruntuhi air banjir yang deras.”

As-Syarwani menjelaskan lagi perkataan Ibnu Hajar itu di dalam Hasyiahnya:

” أي ويكره على القبر في حريمه وهو ما قرب منه جدا وخارج الحريم هذا في غير المسبلة “

Ertinya: “ Iaitu dimakruhkan binaan di atas kubur pada permukaan liang kubur iaitu ruang atau tanah yang betul-betul hampir dengan liang lahad kubur dan dimakruhkan juga pada ruang atau tanah yang terlebih luas daripada liang kubur tersebut. Hukum makruh terbabit adalah di dalam tanah perkuburan yang bukan disabilkan

( iaitu tanah perkuburan milik sendiri).”

8. Terdapat Pendapat yang lemah di dalam mazhab Syafie yang menyatakan bahawa dimakruhkan binaan yang tidak memakan ruang yang terlebih luas daripada permukaan liang lahad kubur dan diharamkan binaan yang memakan ruang yang terlebih luas daripadanya, sama ada binaan berkenaan di dalam tanah perkuburan milik sendiri atau tanah perkuburan yang disabilkan.

Di dalam kitab Murghni Muhtaj, bab jenazah: “ Sesetengah ulama mazhab Syafie menyesuaikan perkataan Imam Nawawi di dalam matan Minhaj dan perkataannya di dalam Majmuk dan lain-lain, dengan memberi maksud bahawa dimakruhkan apabila dibina hanya di atas kubur, dengan makna adalah binaan itu berada sama betul dengan permukaan liang kubur. Diharamkan binaan itu apabila didirikan di atas kubur kubah atau bilik yang didiami. Pendapat yang muktamad adalah haram semata-mata (tanpa membezakan di antara binaan sama betul dengan liang lahad dan binaan yang terlebih luas daripada itu).”

9. Di atas kubur para nabi, wali, ulama dan syuhada di dalam tanah perkuburan milik sendiri

Binaan seperti kubah, bilik, masjid dan lain-lain, tiada haram serta tiada makruh sekiranya dibina di atas kubur para nabi, wali, ulama dan syuhada di dalam tanah perkuburan milik sendiri. Tujuan didirikan binaan tersebut adalah untuk menggalakkan orang ramai datang menziarahi kubur mereka dan sempena mengambil berkat.

Berkata Ibnu Hajar di dalam Tuhfahnya, bab jenazah (jilid 3, m/s 226):

” قال بعضهم الا في صحابي ومشهور الولاية فلا يجوز وان انمحق ويؤيده تصريحهم بجواز الوصية بعمارة قبور الصلحاء أي في غير المسبلة على ما يأتي في الوصية لما فيه من احياء الزيارة والتبرك “

Ertinya: “ Sesetengah ulama syafie berkata: “ Melainkan pada kubur sahabat dan mereka yang masyhur dengan kewalian maka tiada harus membongkarkan kuburnya, sekalipun telah hancur jasadnya. Pendapat mereka dikuatkan dengan kenyataan fuqaha bahawa diharuskan berwasiat supaya dibangunkan binaan di atas kubur orang yang soleh, iaitu di dalam tanah perkuburan yang bukan disabilkan, mengikut keterangan yang akan datang pada bab wasiat. Keharusan itu bertujuan memakmurkan kubur mereka dengan ziarah dan sempena mengambil berkat.”

10. Binaan di dalam tanah perkuburan yang disabilkan

Di dalam tanah perkuburan yang disabilkan atau diwakafkan, haram membina kubah, bilik, rumah atau masjid di atasnya. Wajib diruntuhkan binaan tersebut walaupun didirikan atas kubur para nabi, wali, ulama dan syuhada. Ini adalah pendapat yang muktamad di dalam mazhab syafie.

Tersebut di dalam kitab Nihayah bagi Syeikh Ramli ketika mensyarahkan Minhaj Imam Nawawi, bab jenazah:

“( ولو بني في مقبرة مسبلة, هدم) البناء وجوبا لحرمته ولما فيه من تضييق على الناس وسواء أبني قبة أو بيتا أو مسجدا أم غيرها “

Ertinya: “ (Jika dibinakan di atas kubur di dalam kawasan perkuburan yang disabilkan nescaya mesti diruntuhkan) binaan itu sebagai hukum yang wajib. Ini kerana binaan tersebut adalah haram dan kerana terdapat padanya sebab (العلة) pengharaman iaitu menyempitkan (tanah perkuburan yang disabilkan). Hukumnya tetap seperti itu, sama ada dibinakan kubah, bilik (rumah), masjid atau lainnya.”

Diharamkan binaan tersebut walaupun di atas kubur para nabi, wali, ulama dan lain-lain di dalam tanah perkuburan yang disabilkan sebagaimana kenyataan Ibnu Hajar di dalam Tuhfahnya, bab jenazah (jilid 3, m/s 226) yang telah lalu mengikut beliau binaan seperti kubah, bilik, rumah dan masjid tidak dimakruhkan di atas kubur mereka sekiranya di dalam kawasan tanah perkuburan milik persendirian. Maka difahami daripada perkataan beliau bahawa binaan tersebut diharamkan di dalam tanah perkuburan yang disabilkan.

11. Binaan yang diharuskan di atas kubur para nabi, wali, ulama dan seumpamanya di dalam tanah perkuburan di sabilkan

Binaan yang diharuskan di atas kubur para nabi, wali, ulama dan seumpamanya di dalam tanah perkuburan di sabilkan ialah hanya binaan seperti simen, marmar dan lain-lain dimana binaan itu tidak memakan ruang yang terlebih luas daripada liang lahad kubur.

Ini ada dinyatakan di dalam Nihayah karangan Syeikh Ramli bab jenazah (jili 3, m/s 41,عند قول المتن لا للتكفين على الأصح ) ketika membahaskan larangan membongkar kubur sahabat dan wali setelah hancur jasad mereka untuk ditanam jenazah lain. Kerana larangan inilah, diharuskan binaan di atas liang lahad kubur mereka supaya tidak dibongkarkan untuk ditanam jenazah lain.Beliau menukilkan perkataan Muwaffiq bin Hamzah yang mengharuskan berwasiat untuk membina binaan di atas kubur sahabat dan wali bertujuan memakmurkan kubur mereka dengan menziarahi dan mengambil berkat.

Binaan yang dimaksudkan oleh nukilan Syeikh Ramli itu ialah hanya binaan di atas liang lahad kubur para nabi, wali, ulama dan seumpamanya sahaja seperti disimen dan dipasangkan marmar, bukan binaan yang memakan ruang lebih luas daripada itu, seperti kubah, bilik, rumah, masjid dan lain-lain. Ini sebagaimana yang telah diterangkan oleh Al-Allamah Ali Syabramalisi di dalam Hasyiah Nihayah (jilid 3 : m/s 41 bab jenazah) dengan katanya:

” والمراد بعمارة ذلك بناء محل الميت فقط لا بناء القباب ونحوها “

Ertinya: “ Dimaksudkan dengan mendirikan binaan tersebut ialah binaan di tempat liang lahad simati (nabi, wali, ulama dan seumpamanya) sahaja, bukannya binaan segala kubah dan seumpamanya.”

Al-Allamah Ali Syabramalisi di dalam Hasyiah Nihayah juga menegaskan:

“ Pendapat yang muktamad ialah apa yang dikatakan oleh Syeikh Ramli di dalam bab jenazah iaitu harus berwasiat untuk meratakan tanah kubur para nabi dan orang soleh serta membangunkan binaan (yakni binaan seperti simen, marmar) di atas kubur mereka di dalam tanah kubur yang disabilkan.”

(حاشية الشرواني على التحفة : كتاب الوصايا وما يتعلق به عند قول المتن واذا أوصى لجهة عامة فالشرط أن لا تكون معصية : ج 3/ ص 6)

Terdapat pendapat yang lemah di dalam mazhab syafie bahawa diharuskan binaan yang memakan ruang yang terlebih luas seperti kubah, bilik dan lain-lain di atas kubur para nabi, wali, ulama dan seumpamanya di dalam tanah perkuburan yang disabilkan sebagaimana yang tersebut di dalam kitab ‘Iaanah AtThalibin (Fasal : solat ke atas simati, jilid 2 : m/s120) :

” وقال البجيرمي : واستثنى بعضهم قبور الأنبياء والشهداء والصالحين ونحوها (برماوي) , وعبارة الرحماني : نعم قبور الصالحين يجوز بناؤها ولو قبة لاحياء الزيارة والتبرك , قال الحلبي : ولو في مسبلة وأفتى به وقد أمر به الشيخ الزيادي مع ولايته…”

Ertinya: “ Al-Bujairimi berkata: Sesetengah ulama mazhab syafie mengecualikan (daripada hukum haram) kubur para nabi, syuhada, orang-orang soleh dan seumpamanya (nukilan Barmawi). Teks Ar-Rahmani menyebut: Sungguhpun begitu, kubur orang-orang soleh diharuskan membina di atasnya, sekalipun binaan kubah bertujuan memakmurkan dengan ziarah dan mengambil berkat. Al-Halabi berkata: Walaupun di dalam tanah perkuburan yang disabilkan dan beliau berfatwa sebegitu. Sesungguhnya Syeikh Ziyadi memerintahkan supaya didirikan binaan tersebut ketika beliau berkuasa…..”

Sumber : http://www.al-bakriah.com.my/index.php?option=com_content&view=article&id=28%3Ahukum-binaan-di-atas-kubur&catid=9%3Asoal-jawab-agama&Itemid=25

12. Fatwa Negeri Kedah

http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/binaan-di-atas-tanah-perkuburan

13. Fatwa Brunei Darussalam

http://infad.usim.edu.my/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=11168&newlang=mas

Oleh: Oleh : Ustaz Nik Nazimuddin

14. [LIHAT GAMBAR] Binaan Kubur Saidina Ibrahim (anak Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam)

‎HUKUM BINAAN DI KUBUR<br /><br />
(Menjawab Isu Yang Dibangkitkan Hafiz Hamidun)</p><br />
<p>Oleh : Ustaz Nik Nazimuddin</p><br />
<p>الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول لله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم الى يوم</p><br />
<p>القيامة , أما بعد:</p><br />
<p>1. Disusunkan artikel ini bertujuan menerangkan kepada masyarakat tentang beberapa hukum yang dikelirukan oleh sesetengah pihak yang menggunakan zahir lafaz hadis tanpa merujuk kepada huraian ulama mujtahid yang berkelayakkan dalam menghuraikan hukum-hakam yang tersirat di dalam sesebuah hadis. Para ulama yang muktabar memperincikan lagi maksud sebenar huraian imam ikutan mereka itu. Maka mantaplah segala hukum dan terhindar daripada huraian mengikut hawa nafsu, ilmu yang cetek serta akal yang dangkal. Ini kerana, tidak semua diberikan ilmu yang seperti ulama-ulama tersebut. Merekalah pewaris nabi yang beramanah dalam menjaga agama ini.</p><br />
<p>ان العلماء ورثة الأنبياء ورثوا علما…</p><br />
<p>Ertinya: “ Sesungguhnya para ulama adalah pewaris kepada para anbia dan mereka itu mewarisi keilmuan.…” (Al-Hadis)</p><br />
<p>2. Hukum Binaan Di atas Kubur</p><br />
<p>Tentang hadis larangan binaan di atas kubur, Imam Syafie menerangkan hukum dan sebab larangan tersebut di dalam kitab Ummnya (bab jenazah):</p><br />
<p>” ورأيت من الولاة (بمكة) من يهدم ما يبنى فيها ولم أر فقهاء يعيبون عليه ذلك ولأن في ذلك تضييقا على الناس “<br /><br />
Ertinya: “ Aku melihat pembesar di Mekah meruntuhkan binaan-binaan kubur yang ada padanya dan aku tidak melihat para Fuqaha (Mujtahid) yang mencela perbuatan pembesar tersebut dan kerana pada binaan itu menyempitkan tanah perkuburan ke atas orang ramai.”</p><br />
<p>3. Katanya lagi: ” فان كانت القبور في الأرض يملكها الموتى في حياتهم أو ورثتهم بعدهم , لم يهدم شىء يبنى منها وانما يهدم ان هدم ما لا يملكه أحد فهدمه لئلا يحجر على الناس “<br /><br />
Ertinya: “ Maka jika adalah perkuburan di dalam tanah yang dimiliki oleh orang-orang mati semasa hidup mereka atau diwarisi oleh pewaris selepas kematian mereka, nescaya tidak boleh diruntuhi sesuatu binaan di dalamnya. Hanya diruntuhi sesuatu binaan di dalam tanah yang tidak dimiliki oleh sesiapa pun maka hendaklah diruntuhinya supaya tidak menegah orang ramai untuk tanam mayat yang lain.”</p><br />
<p>4. Bila ditanyakan fatwa kepada Ibnu Hajar Haitami tentang suatu binaan, beliau menghukumkan haram binaan itu dan menyatakan sebab ( ألعلة ) pengharaman tersebut dengan katanya (Fatawa Kubra, bab jenazah):</p><br />
<p>” ولوجود علة تحريم البناء في ذلك وهى تحجير الأرض على من يدفن بعد بلاء الميت اذ الغالب أن البناء يمكث الى ما بعد البلى وأن الناس يهابون فتح القبر المبني فكان في البناء تضييق للمقبرة ومنع الناس من الانتفاع بها فحرم “<br /><br />
Ertinya: “Kerana terdapat sebab pengharaman binaan pada binaan yang berkenaan iaitu menegah tanah kubur daripada ditanamkan mayat lain selepas hancur mayat di dalam kubur itu. Ini kerana, kebiasaannya binaan di atas kubur menjadi kekal sehinggakan selepas masa hancurnya mayat, dan orang ramai takut hendak membuka kubur yang dibinakan di atasnya. Maka binaan itu menyempitkan tanah perkuburan dan menegah orang ramai daripada mengambil manfaat dengannya lalu ia menjadi haram.”</p><br />
<p>5. Beberapa perkara yang difahami daripada huraian Imam Syafie adalah:-</p><br />
<p>1) Binaan di dalam tanah perkuburan milik sendiri</p><br />
<p>2) Binaan di dalam tanah perkuburan disabilkan</p><br />
<p>3) Binaan yang menyebabkan:</p><br />
<p>a) terhalang daripada ditanamkan mayat lain (bila berlaku kesesakan)</p><br />
<p>b) menyempitkan tanah perkuburan dengan perkara yang berlebih-lebihan</p><br />
<p>6. Para ulama yang mengikuti Imam Syafie menghuraikan maksud sebenar perkataan Imam mereka tentang Hukum Binaan tersebut, adalah seperti berikut:-</p><br />
<p>Maksud sebenar Binaan tersebut dan dimakruhkan di tanah perkuburan milik sendiri</p><br />
<p>Binaan yang di maksudkan itu ialah binaan yang sama betul dengan liang lahad mayat (tidak memakan ruang yang terlebih luas) dan juga binaan yang memakan ruang yang terlebih luas daripada itu seperti kubah, masjid, bilik dan lain-lain. Binaan tersebut dimakruhkan di dalam kawasan tanah kubur milik persendirian. Ini adalah pendapat yang muktamad dalam mazhab Syafie.</p><br />
<p>7. Tersebut di dalam kitab Tuhfah bagi Ibnu Hajar Haitami ketika mensyarahkan matan Minhaj Imam Nawawi (bab jenazah) :</p><br />
<p>” (ويكره تجصيص القبر والبناء) عليه في حريمه وخارجه, نعم ان خشي نبش أو حفر سبع أو هدم سيل لم يكره “<br /><br />
Ertinya: “{Dimakruhkan (dalam tanah perkuburan milik sendiri) memutihkan kubur dengan kapur dan membuat binaan} di atas kubur pada permukaan liang lahadnya dan ruang yang terlebih luas daripada itu, sungguh pun begitu tiada makruh jika takut dibongkari (oleh pencuri kain kapan atau dibongkari untuk ditanam jenazah lain sebelum hancur jasadnya), digali binatang buas atau diruntuhi air banjir yang deras.”</p><br />
<p>As-Syarwani menjelaskan lagi perkataan Ibnu Hajar itu di dalam Hasyiahnya:</p><br />
<p>” أي ويكره على القبر في حريمه وهو ما قرب منه جدا وخارج الحريم هذا في غير المسبلة “<br /><br />
Ertinya: “ Iaitu dimakruhkan binaan di atas kubur pada permukaan liang kubur iaitu ruang atau tanah yang betul-betul hampir dengan liang lahad kubur dan dimakruhkan juga pada ruang atau tanah yang terlebih luas daripada liang kubur tersebut. Hukum makruh terbabit adalah di dalam tanah perkuburan yang bukan disabilkan</p><br />
<p>( iaitu tanah perkuburan milik sendiri).”</p><br />
<p>8. Terdapat Pendapat yang lemah di dalam mazhab Syafie yang menyatakan bahawa dimakruhkan binaan yang tidak memakan ruang yang terlebih luas daripada permukaan liang lahad kubur dan diharamkan binaan yang memakan ruang yang terlebih luas daripadanya, sama ada binaan berkenaan di dalam tanah perkuburan milik sendiri atau tanah perkuburan yang disabilkan.</p><br />
<p>Di dalam kitab Murghni Muhtaj, bab jenazah: “ Sesetengah ulama mazhab Syafie menyesuaikan perkataan Imam Nawawi di dalam matan Minhaj dan perkataannya di dalam Majmuk dan lain-lain, dengan memberi maksud bahawa dimakruhkan apabila dibina hanya di atas kubur, dengan makna adalah binaan itu berada sama betul dengan permukaan liang kubur. Diharamkan binaan itu apabila didirikan di atas kubur kubah atau bilik yang didiami. Pendapat yang muktamad adalah haram semata-mata (tanpa membezakan di antara binaan sama betul dengan liang lahad dan binaan yang terlebih luas daripada itu).”</p><br />
<p>9. Di atas kubur para nabi, wali, ulama dan syuhada di dalam tanah perkuburan milik sendiri</p><br />
<p>Binaan seperti kubah, bilik, masjid dan lain-lain, tiada haram serta tiada makruh sekiranya dibina di atas kubur para nabi, wali, ulama dan syuhada di dalam tanah perkuburan milik sendiri. Tujuan didirikan binaan tersebut adalah untuk menggalakkan orang ramai datang menziarahi kubur mereka dan sempena mengambil berkat.</p><br />
<p>Berkata Ibnu Hajar di dalam Tuhfahnya, bab jenazah (jilid 3, m/s 226):</p><br />
<p>” قال بعضهم الا في صحابي ومشهور الولاية فلا يجوز وان انمحق ويؤيده تصريحهم بجواز الوصية بعمارة قبور الصلحاء أي في غير المسبلة على ما يأتي في الوصية لما فيه من احياء الزيارة والتبرك “<br /><br />
Ertinya: “ Sesetengah ulama syafie berkata: “ Melainkan pada kubur sahabat dan mereka yang masyhur dengan kewalian maka tiada harus membongkarkan kuburnya, sekalipun telah hancur jasadnya. Pendapat mereka dikuatkan dengan kenyataan fuqaha bahawa diharuskan berwasiat supaya dibangunkan binaan di atas kubur orang yang soleh, iaitu di dalam tanah perkuburan yang bukan disabilkan, mengikut keterangan yang akan datang pada bab wasiat. Keharusan itu bertujuan memakmurkan kubur mereka dengan ziarah dan sempena mengambil berkat.”</p><br />
<p>10. Binaan di dalam tanah perkuburan yang disabilkan</p><br />
<p>Di dalam tanah perkuburan yang disabilkan atau diwakafkan, haram membina kubah, bilik, rumah atau masjid di atasnya. Wajib diruntuhkan binaan tersebut walaupun didirikan atas kubur para nabi, wali, ulama dan syuhada. Ini adalah pendapat yang muktamad di dalam mazhab syafie.</p><br />
<p>Tersebut di dalam kitab Nihayah bagi Syeikh Ramli ketika mensyarahkan Minhaj Imam Nawawi, bab jenazah:</p><br />
<p>“( ولو بني في مقبرة مسبلة, هدم) البناء وجوبا لحرمته ولما فيه من تضييق على الناس وسواء أبني قبة أو بيتا أو مسجدا أم غيرها “<br /><br />
Ertinya: “ (Jika dibinakan di atas kubur di dalam kawasan perkuburan yang disabilkan nescaya mesti diruntuhkan) binaan itu sebagai hukum yang wajib. Ini kerana binaan tersebut adalah haram dan kerana terdapat padanya sebab (العلة) pengharaman iaitu menyempitkan (tanah perkuburan yang disabilkan). Hukumnya tetap seperti itu, sama ada dibinakan kubah, bilik (rumah), masjid atau lainnya.”</p><br />
<p>Diharamkan binaan tersebut walaupun di atas kubur para nabi, wali, ulama dan lain-lain di dalam tanah perkuburan yang disabilkan sebagaimana kenyataan Ibnu Hajar di dalam Tuhfahnya, bab jenazah (jilid 3, m/s 226) yang telah lalu mengikut beliau binaan seperti kubah, bilik, rumah dan masjid tidak dimakruhkan di atas kubur mereka sekiranya di dalam kawasan tanah perkuburan milik persendirian. Maka difahami daripada perkataan beliau bahawa binaan tersebut diharamkan di dalam tanah perkuburan yang disabilkan.</p><br />
<p>11. Binaan yang diharuskan di atas kubur para nabi, wali, ulama dan seumpamanya di dalam tanah perkuburan di sabilkan</p><br />
<p>Binaan yang diharuskan di atas kubur para nabi, wali, ulama dan seumpamanya di dalam tanah perkuburan di sabilkan ialah hanya binaan seperti simen, marmar dan lain-lain dimana binaan itu tidak memakan ruang yang terlebih luas daripada liang lahad kubur.</p><br />
<p>Ini ada dinyatakan di dalam Nihayah karangan Syeikh Ramli bab jenazah (jili 3, m/s 41,عند قول المتن لا للتكفين على الأصح ) ketika membahaskan larangan membongkar kubur sahabat dan wali setelah hancur jasad mereka untuk ditanam jenazah lain. Kerana larangan inilah, diharuskan binaan di atas liang lahad kubur mereka supaya tidak dibongkarkan untuk ditanam jenazah lain.Beliau menukilkan perkataan Muwaffiq bin Hamzah yang mengharuskan berwasiat untuk membina binaan di atas kubur sahabat dan wali bertujuan memakmurkan kubur mereka dengan menziarahi dan mengambil berkat.</p><br />
<p>Binaan yang dimaksudkan oleh nukilan Syeikh Ramli itu ialah hanya binaan di atas liang lahad kubur para nabi, wali, ulama dan seumpamanya sahaja seperti disimen dan dipasangkan marmar, bukan binaan yang memakan ruang lebih luas daripada itu, seperti kubah, bilik, rumah, masjid dan lain-lain. Ini sebagaimana yang telah diterangkan oleh Al-Allamah Ali Syabramalisi di dalam Hasyiah Nihayah (jilid 3 : m/s 41 bab jenazah) dengan katanya:</p><br />
<p>” والمراد بعمارة ذلك بناء محل الميت فقط لا بناء القباب ونحوها “<br /><br />
Ertinya: “ Dimaksudkan dengan mendirikan binaan tersebut ialah binaan di tempat liang lahad simati (nabi, wali, ulama dan seumpamanya) sahaja, bukannya binaan segala kubah dan seumpamanya.”</p><br />
<p>Al-Allamah Ali Syabramalisi di dalam Hasyiah Nihayah juga menegaskan:</p><br />
<p>“ Pendapat yang muktamad ialah apa yang dikatakan oleh Syeikh Ramli di dalam bab jenazah iaitu harus berwasiat untuk meratakan tanah kubur para nabi dan orang soleh serta membangunkan binaan (yakni binaan seperti simen, marmar) di atas kubur mereka di dalam tanah kubur yang disabilkan.”</p><br />
<p>(حاشية الشرواني على التحفة : كتاب الوصايا وما يتعلق به عند قول المتن واذا أوصى لجهة عامة فالشرط أن لا تكون معصية : ج 3/ ص 6)</p><br />
<p>Terdapat pendapat yang lemah di dalam mazhab syafie bahawa diharuskan binaan yang memakan ruang yang terlebih luas seperti kubah, bilik dan lain-lain di atas kubur para nabi, wali, ulama dan seumpamanya di dalam tanah perkuburan yang disabilkan sebagaimana yang tersebut di dalam kitab ‘Iaanah AtThalibin (Fasal : solat ke atas simati, jilid 2 : m/s120) :</p><br />
<p>” وقال البجيرمي : واستثنى بعضهم قبور الأنبياء والشهداء والصالحين ونحوها (برماوي) , وعبارة الرحماني : نعم قبور الصالحين يجوز بناؤها ولو قبة لاحياء الزيارة والتبرك , قال الحلبي : ولو في مسبلة وأفتى به وقد أمر به الشيخ الزيادي مع ولايته…”</p><br />
<p>Ertinya: “ Al-Bujairimi berkata: Sesetengah ulama mazhab syafie mengecualikan (daripada hukum haram) kubur para nabi, syuhada, orang-orang soleh dan seumpamanya (nukilan Barmawi). Teks Ar-Rahmani menyebut: Sungguhpun begitu, kubur orang-orang soleh diharuskan membina di atasnya, sekalipun binaan kubah bertujuan memakmurkan dengan ziarah dan mengambil berkat. Al-Halabi berkata: Walaupun di dalam tanah perkuburan yang disabilkan dan beliau berfatwa sebegitu. Sesungguhnya Syeikh Ziyadi memerintahkan supaya didirikan binaan tersebut ketika beliau berkuasa…..”</p><br />
<p>Sumber : <a href=http://www.al-bakriah.com.my/index.php?option=com_content&view=article&id=28%3Ahukum-binaan-di-atas-kubur&catid=9%3Asoal-jawab-agama&Itemid=25</p&gt;
<p>12. Fatwa Negeri Kedah<br />

http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/binaan-di-atas-tanah-perkuburan</p&gt;

<p>13. Fatwa Brunei Darussalam</p>
<p>http://infad.usim.edu.my/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=11168&newlang=mas</p&gt;
<p>14. [LIHAT GAMBAR] Binaan Kubur Saidina Ibrahim (anak Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam)‎” width=”470″ height=”354″ />

31 July 2014 Posted by | Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

Batu Terapung Palsu di internet

Setiap kali kedatangan tarikh peristiwa Isra’ Mikraj , pasti gambar-gambar ini disebarkan ke serata dunia maya dan hasilnya, ramailah yang mempercayainya.. Berikut adalah gambar-gambar palsu yang kononnya ia adalah Batu Terapung atau Batu Tergantung seperti yang tercatat dalam peristiwa Israk Mikraj, tersebar meluas di dalam internet. Dan juga.. Ia diguna pakai dalam khutbah multimedia di masjid-masjid di KL..!

 

batu-terapung-palsu-1

Palsu

 

batu-terapung-isra-mikraj - foto asli

Batu Terapung sebenarnya yang dicerita dalam Israk Mikraj

SOALAN: Dato’, saya telah melihat gambar dalam internet dan mendengar beberapa ceramah Israk Mikraj, ada penceramah menunjukkan gambar batu besar yang tergantung-gantung di Masjidil Aqsa, Baitulmaqdis. Adakah benar batu itu tergantung-gantung (tidak berpihak di bumi) dan terlepas daripada tarikan graviti. Pohon Dato’ perjelaskan apakah yang sebenarnya. – ZAINAL AHMAD

JAWAPAN Dato’ Dr Haron Din:
Tempat Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam Dimikrajkan

Ulama umumnya berpendapat Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bermikraj dari satu tempat di Baitulmaqdis yang disebut sebagai Qubbatul Mikraj (kubah tempat dimikrajkan). Tempat itu juga dikenali sebagai Sakhrah Baitulmaqdis.
Pengalaman Al-Imam Abu Bakar Ibnul ‘Arabi
Dalam kitab al-Israk wal-Mikraj oleh Khalid Saiyyid Ali di halaman 82, atas tajuk yang bermaksud ‘Tempat Nabi bermikraj’, disebut di bawahnya suatu penulisan (yang bermaksud): “Berkatalah al-Imam Abu Bakar Ibnul ‘Arabi, ketika membuat penjelasan (syarah) Kitab al-Muwattak oleh Imam Malik disebutkan, batu besar di Baitulmaqdis adalah suatu keajaiban Allah SWT.

“Batu itu berdiri sendiri di tengah-tengah Masjidil Aqsa, tergantung-gantung dan terpisah daripada semua bahagiannya dengan bumi. Tidak ada yang memegangnya, melainkan Yang Memegang langit, daripada jatuh menimpa bumi.”
“Di puncaknya dari arah selatan, itulah tempat kaki Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berpijak untuk menaiki Buraq, di sebelah itu agak condong. Dikatakan kerana kegerunannya atas kehebatan baginda Sallallahu ‘Alaihi Wasallam maka batu itu tergantung, saya sendiri takut untuk berada di bawahnya, kerana takut batu itu menghempap saya kerana dosa-dosa saya.”
“Setelah beberapa ketika kemudian, saya pun memberanikan diri dan masuk berteduh di bawahnya, maka saya dapat melihat pelbagai keajaiban. Saya dapat menyaksikan ia dari semua arah. Saya benar-benar melihatnya terpisah dari bumi. Ada arah yang lebih jauh terpisah dari bumi daripada arah yang lain.”

Baca seterusnya di sini: http://u-jam.blogspot.com/2011/06/rahsia-sebenar-batu-terapung-israk.html?spref=bl

31 July 2014 Posted by | Informasi, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Hukum Takbir Hari Raya Berjemaah

‎HUKUM TAKBIR HARI RAYA BERJAMA’AH
Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)

بسم الله الرحمن الرحيم  
الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على رسول الله سيدنا محمد بن عبد الله و على أله و صحبه و من والاه. أما بعد

1. Takbir di Malam Hari Raya

           Bertakbir di malam hari raya adalah merupakan sunnah Nabi Muhammad  yang amat perlu untuk di lestarikan dalam menampakkan dan mengangkat syi’ar Islam.Para ulama dari masa kemasa sudah biasa mengajak ummat untuk melakukan takbir baik setelah sholat (takbir muqoyyad) atau di luar sholat (takbir mursal).

            Lebih lagi takbir dengan mengangkat suara secara kompak yang bisa menjadikan suara semakin bergema dan berwibawa adalah yang biasa dilakukan ulama dan ummat dari masa ke masa.
             Akan tetapi ada sekelompok kecil dari orang yang hidup di akhir zaman ini begitu berani mencaci dan membid’ahkan takbir bersama-sama. Dan sungguh pembid’ahan ini tidak pernah keluar dari mulut para salaf (ulama terdahulu).

Mari kita cermati riwayat-riwayat berikut ini yang menjadi sandaran para ulama dalam mengajak bertakbir secara kompak dan bersama-sama.

A.  Berdasarkan Hadits dalam Shohih Imam Bukhori No 971  yang diriwayatkan oleh Ummi Athiyah, beliau berkata :

كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ، حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيّاَضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ.(رواه البخاري
            
  Artinya : “Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya sehingga para wanita-wanita yang masih gadispun diperintah keluar dari rumahnya,    begitu juga wanita-wanita yang sedang haid dan mereka berjalan dibelakang para manusia (kaum pria) kemudian para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia (kaum pria)dan berdoa dengan doanya para manusia serta mereka semua mengharap keberkahan dan kesucian hari raya tersebut”.

Di sebutkan dalam hadits tersebut

  فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ 

Para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia. Itu menunjukan  takbir  terjadi secara berjamaah atau bersamaan.

Bahkan dalam riwayat imam Muslim dengan kalimat”para wanita bertakbir bersama-sama orang-orang yang bertakbir”

  يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاس

B. Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari sayyidina Umar bin Khottob  dalam bab takbir saat di mina 

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا

Artinya : “Sahabat umar bertakbir di qubahnya yang berada di tanah mina lalu penduduk masjid mendengarnya dan kemudian mereka bertakbir  begitu penduduk pasar bertakbir sehingga tanah mina bergema dengan suara takbir”
 .
Ibnu Hajar Al Asqolani (pensyarah besar kitab shohih buhkori) mengomentari kalimat : 

   حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا 
Dengan

 "أي يَضْطَرِّبُ وَتَتَحَرَّكُ, وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رَفْعِ الصَّوْتِ"            

Bergoncang dan bergerak, bergetar  yaitu menunjukan kuatnya  suara yang  bersama-sama .
 
C. Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i ra dalam kitab Al’um  1/264 :

أَحْبَبْتُ أَنْ يَكُبِّرَ النَّاسُ جَمَاعَةً وَفُرَادًى فِي المَسْجِدِ وَالْأَسْوَاقِ وَالْطُرُقِ وَالْمَنَازِلِ والْمُسَافِرِيْنَ والْمُقِيْمِيْنَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَيْنَ كَانُوْا وَأَنَ يَظْهَرُوْا الْتَكْبِيْرَ "

               Artinya : “Aku senang(maksudnya adalah sunnah) orang-orang pada bertakbir secara bersama dan sendiri-sendiri, baik di masjid, pasar, rumah, saat bepergian atau rmukim dan setiap keadaan dan di manapun mereka berada  agar mereka menampakkan(syi’ar)  takbir”. 

D. Tidak pernah ada dari ulama terdahulu yang mengatakan takbir secara berjamaah adalah bid’ah. Bahkan yang ada adalah justru sebaliknya anjuran dan contoh  takbir bersama-sama dari ulama terdahulu .
 
Kesimpulan tentang takbir bersama-sama:
1. Pernah terjadi takbir barsama-sama pada zaman Rasulullah dan para sahabat
2. Anjuran dari Imam Syafi’i ra mewakili  ulama salaf  .
3. Tidak pernah ada larangan takbir bersam-sama dan juga tidak ada perintah takbir harus sendiri-sendiri.Yang ada adalah anjuran  takbir dan dzikir secara mutlaq baik secara  sendirian atau berjamaah.
4. Adanya pembid’ahan dan larangan takbir bersama-sama hanya terjadi pada orang-orang akhir zaman yang sangat bertentangan dengan salaf.

2. Menghidupkan malam hari raya dengan ibadah

Hukum menghidupkan malam hari raya dengan amal ibadah. Sudah disepakati oleh para ulama 4 madzhab bahwa disunnahkan untuk kita menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak ibadah. Imam nawawi dalam kitab majmu’ berkata sudah disepakati oleh ulama bahwa dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan ibadah dan pendapat seperti ini juga yang ada dalam semua kitab fiqh 4 madzhab. Artinya kita dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan sholat, berdzikir, dan membaca Al-Quran khususnya bertakbir.  Karena malam hari raya adalah malam bergembira, banyak sekali hamba-hamba yang lalai pada saat itu maka sungguh sangat mulia yang bisa mengingat Allah di saat hamba-hamba pada lalai.

3. Yang dilakukan Santri dan Jama’ah Al Bahjah 

1. Takbir keliling dalam upaya membesarkan syi’ar takbir.
2. Kunjung dari masjid ke masjid untuk melakukan sholat sunnah.
3. Menyimak tausyiah di beberapa masjid yang dikunjungi.
 
Yang semua itu dalam upaya menjalankan  sunnah yang dijelaskan oleh para ‘ulama tersebut di atas. Wallahu a’lam Bishshowaab.‎

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على رسول الله سيدنا محمد بن عبد الله و على أله و صحبه و من والاه. أما بعد

1. Takbir di Malam Hari Raya

Bertakbir di malam hari raya adalah merupakan sunnah Nabi Muhammad yang amat perlu untuk di lestarikan dalam menampakkan dan mengangkat syi’ar Islam.Para ulama dari masa kemasa sudah biasa mengajak ummat untuk melakukan takbir baik setelah sholat (takbir muqoyyad) atau di luar sholat (takbir mursal).

Lebih lagi takbir dengan mengangkat suara secara kompak yang bisa menjadikan suara semakin bergema dan berwibawa adalah yang biasa dilakukan ulama dan ummat dari masa ke masa.

Akan tetapi ada sekelompok kecil dari orang yang hidup di akhir zaman ini begitu berani mencaci dan membid’ahkan takbir bersama-sama. Dan sungguh pembid’ahan ini tidak pernah keluar dari mulut para salaf (ulama terdahulu).

Mari kita cermati riwayat-riwayat berikut ini yang menjadi sandaran para ulama dalam mengajak bertakbir secara kompak dan bersama-sama.

A. Berdasarkan Hadits dalam Shohih Imam Bukhori No 971 yang diriwayatkan oleh Ummi Athiyah, beliau berkata :

كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ، حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيّاَضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ.(رواه البخاري

Artinya : “Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya sehingga para wanita-wanita yang masih gadispun diperintah keluar dari rumahnya, begitu juga wanita-wanita yang sedang haid dan mereka berjalan dibelakang para manusia (kaum pria) kemudian para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia (kaum pria)dan berdoa dengan doanya para manusia serta mereka semua mengharap keberkahan dan kesucian hari raya tersebut”.

Di sebutkan dalam hadits tersebut

فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ

Para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia. Itu menunjukan takbir terjadi secara berjamaah atau bersamaan.

Bahkan dalam riwayat imam Muslim dengan kalimat ”para wanita bertakbir bersama-sama orang-orang yang bertakbir”  يُكَبِّرْنَ مَعَ ال

B. Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari sayyidina Umar bin Khottob dalam bab takbir saat di mina

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا

Artinya : “Sahabat umar bertakbir di qubahnya yang berada di tanah mina lalu penduduk masjid mendengarnya dan kemudian mereka bertakbir begitu penduduk pasar bertakbir sehingga tanah mina bergema dengan suara takbir”

.

Ibnu Hajar Al Asqolani (pensyarah besar kitab shohih buhkori) mengomentari kalimat :

حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا Dengan "أي يَضْطَرِّبُ وَتَتَحَرَّكُ, وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رَفْعِ الصَّوْتِ"

Bergoncang dan bergerak, bergetar yaitu menunjukan kuatnya suara yang bersama-sama .

C. Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i ra dalam kitab Al’um 1/264 :

أَحْبَبْتُ أَنْ يَكُبِّرَ النَّاسُ جَمَاعَةً وَفُرَادًى فِي المَسْجِدِ وَالْأَسْوَاقِ وَالْطُرُقِ وَالْمَنَازِلِ والْمُسَافِرِيْنَ والْمُقِيْمِيْنَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَيْنَ كَانُوْا وَأَنَ يَظْهَرُوْا الْتَكْبِيْرَ "

Artinya : “Aku senang(maksudnya adalah sunnah) orang-orang pada bertakbir secara bersama dan sendiri-sendiri, baik di masjid, pasar, rumah, saat bepergian atau rmukim dan setiap keadaan dan di manapun mereka berada agar mereka menampakkan(syi’ar) takbir”.

D. Tidak pernah ada dari ulama terdahulu yang mengatakan takbir secara berjamaah adalah bid’ah. Bahkan yang ada adalah justru sebaliknya anjuran dan contoh takbir bersama-sama dari ulama terdahulu .

Kesimpulan tentang takbir bersama-sama:

1. Pernah terjadi takbir barsama-sama pada zaman Rasulullah dan para sahabat

2. Anjuran dari Imam Syafi’i ra mewakili ulama salaf .

3. Tidak pernah ada larangan takbir bersam-sama dan juga tidak ada perintah takbir harus sendiri-sendiri.Yang ada adalah anjuran takbir dan dzikir secara mutlaq baik secara sendirian atau berjamaah.

4. Adanya pembid’ahan dan larangan takbir bersama-sama hanya terjadi pada orang-orang akhir zaman yang sangat bertentangan dengan salaf.

2. Menghidupkan malam hari raya dengan ibadah

Hukum menghidupkan malam hari raya dengan amal ibadah. Sudah disepakati oleh para ulama 4 madzhab bahwa disunnahkan untuk kita menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak ibadah. Imam nawawi dalam kitab majmu’ berkata sudah disepakati oleh ulama bahwa dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan ibadah dan pendapat seperti ini juga yang ada dalam semua kitab fiqh 4 madzhab. Artinya kita dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan sholat, berdzikir, dan membaca Al-Quran khususnya bertakbir. Karena malam hari raya adalah malam bergembira, banyak sekali hamba-hamba yang lalai pada saat itu maka sungguh sangat mulia yang bisa mengingat Allah di saat hamba-hamba pada lalai.

3. Yang dilakukan Santri dan Jama’ah Al Bahjah

1. Takbir keliling dalam upaya membesarkan syi’ar takbir.

2. Kunjung dari masjid ke masjid untuk melakukan sholat sunnah.

3. Menyimak tausyiah di beberapa masjid yang dikunjungi.

Yang semua itu dalam upaya menjalankan sunnah yang dijelaskan oleh para ‘ulama tersebut di atas. Wallahu a’lam Bishshowaab.

Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) di petik dari Pondok Habib

27 July 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

Sifat sifat buruk Yahudi yang di sebut dalam Quran dan Kitab Talmut mereka yang diubahsuai

    Al-Quran banyak menceritakan kedegilan bangsa Yahudi seperti bagaimana orang Yahudi mengingkari perintah Allah SWT walaupun sebahagian besar Rasul dan Nabi adalah dari kalangan kaum itu.

    Allah SWT melalui wahyunya dalam Al-Quran telah menggambarkan sifat buruk orang Yahudi yang zalim, membuat kerusakan di muka bumi, dan memusuhi bangsa lain, terutama sekali kaum Muslimin.

    Berikut merupakan 22 sifat buruk bangsa Yahudi seperti yang disebut di dalam Al-Quran:

  1. Keras hati dan zalim (Al-Baqarah:75,91,93,120,145,170; An-Nisa:160; Al-Maidah:41)

  2. Kebanyakan fasik dan sedikit beriman kepada Allah SWT (Ali Imran:110; An-Nisa:55)

  3. Musuh yang paling bahaya bagi orang-orang Islam (Al-Maidah:82)

  4. Amat mengetahui kekuatan dan kelemahan orang-orang Islam seperti mereka mengenal anak mereka sendiri (Al-An’am:20)

  5. Mengubah dan memutarbelitkan kebenaran (Al-Baqarah:75,91,101,140,145,211; Ali Imran:71,78;  An-Nisa:46; Al-Maidah:41)

  6. Menyembunyikan bukti kebenaran (Al-Baqarah:76,101,120,146; Ali Imran:71)

  7. Hanya menerima perkara-perkara atau kebenaran yang dapat memenuhi cita rasa atau nafsu mereka (Al-Baqarah:87,101,120,146; Al-Maidah:41)

  8. Ingkar dan tidak dapat menerima keterangan dan kebenaran Al-Quran (Al-Baqarah:91,99; Ali Imran:70)

  9. Memekakkan telinga kepada seruan kebenaran, membisukan diri untuk mengucapkan perkara yang benar, membutakan mata terhadap bukti kebenaran dan tidak menggunakan akal untuk menimbangkan kebenaran (Al-Baqarah:171)

  10. Mencampur adukkan yang benar dan yang salah, yang hak dan yang batil (Ali Imran:71)

  11. Berpura-pura mendukung orang Islam tetapi apabila ada di belakang orang-orang Islam, mereka mengutuk dengan sekeras-kerasnya (Al-Baqarah:76; Ali Imran:72,119)

  12. Hati mereka sudah tertutup akan Islam kerana dilaknat oleh Allah SWT yang disebabkan oleh kekufuran mereka sendiri (Al-Baqarah:88,120,145,146)

  13. Kuat berpegang pada semangat kebangsaan mereka dan mengatakan bahawa mereka adalah bangsa yang istimewa yang dipilih oleh Tuhan dan meyakini agama yang selain daripada Yahudi adalah salah (Al-Baqarah:94,111,113,120,135,145; Al-Maidah:18)

  14. Tidak akan ada kebaikan untuk seluruh manusia jika mereka memimpin (An-Nisa:53)

  15. Tidak suka, dengki, iri hati terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:90,105,109,120)

  16. Mencintai kemewahan dan kehidupan dunia, bersifat tamak dan rakus, menginginkan umur yang panjang dan mengejar kesenangan serta takut akan kematian (Al-Baqarah:90,95,96,212)

  17. Berkata bohong, mengingkari janji dan melampaui batas (Al-Baqarah:100,246,249 Ali Imran:183,184; An-Nisa:46)

  18. Berlindung di sebalik mulut yang manis dan perkataan yang baik (Al-Baqarah:204,246; Ali Imran:72; An-Nisa:46)

  19. Mengada adakan perkara-perkara dusta dan suka kepada perkara-perkara dusta (Ali Imran:24,94,183,184; Al-Maidah:41)

  20. Berlaku sombong dan memandang rendah terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:206,212,247)

  21. Tidak amanah dan memakan hak orang lain dengan cara yang salah (Ali Imran:75,76; At-Taubah:34)

  22. Selalu melakukan kerusakan dan menganjurkan peperangan (Ali Imran:64). [foren]

    Sumber: Berita Palestina

    Berikut merupakan Sifat buruk bangsa Yahudi seperti yang disebut di dalam Kitab Talmut / taurat yg di ubahsuai spt juga injil yg di ubahsuai oleh pendita nasrani:

    “Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang bukan Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang belaka.” (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a)

    “Orang-orang bukan Yahudi diciptakan sebagai budak/hamba abdi untuk melayani orang-orang Yahudi.”(Midrasch Talpioth 225)

    “Angka kelahiran orang-orang bukan Yahudi harus dikurangkan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4b)

    “Orang-orang bukan Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)

    “Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang bukan Yahudi.” (Talmud IV/8/4a)

    “Di mana saja mereka (orang-orang Yahudi) datang, mereka akan menjadi pangeran raja-raja.”(Sanhedrin 104a)

    “Terhadap seorang bukan Yahudi tidak menjadikan orang Yahudi berzina. Bisa terkena hukuman bagi orang Yahudi hanya bila berzina dengan Yahudi lainnya, yaitu isteri seorang Yahudi. Isteri bukan Yahudi tidak termasuk.” (Talmud IV/4/52b)

    “Tidak ada isteri bagi bukan Yahudi, mereka sesungguhnya bukan isterinya.” (Talmud IV/4/81 dan 82ab)

    “Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipudaya orang-orang bukan Yahudi.” (Zohar I, 168a)

    “Jika dua orang Yahudi menipu orang bukan Yahudi, mereka harus membahagi keuntungannya.” (Choschen Ham 183, 7)

    “Tetaplah terus berjual beli dengan orang-orang bukan Yahudi, jika mereka harus membayar uang untuk itu.” (Abhodah Zarah 2a T)

    “Tanah orang bukan Yahudi, kepunyaan orang Yahudi yang pertama kali menggunakannya.”(Babba Bathra 54b)

    “Setiap orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan dan sumpah palsu untuk membawa seorang bukan Yahudi kepada kejatuhan.” (Babha Kama 113a)

    “Kepemilikan orang bukan Yahudi seperti padang pasir yang tidak dimiliki; dan semua orang (setiap Yahudi) yang merampasnya, berarti telah memilikinya.” (Talmud IV/3/54b)

    “Orang Yahudi boleh mengeksploitasi kesalahan orang bukan Yahudi dan menipunya.” (Talmud IV/1/113b)

    “Orang Yahudi boleh mempraktikkan riba terhadap orang bukan Yahudi.” (Talmud IV/2/70b)

    “Ketika Messiah (Raja Yahudi Terakhir atau Ratu Adil) datang, semuanya akan menjadi budak-budak orang-orang Yahudi.” (Erubin 43b)

  23. 22 July 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | | Leave a comment

    Ciri ciri orang yang memutuskan silaturrahim

    Segala puji atas Zat yang menjadikan kita berbangsa dan berbahasa, Hingga terjalinnya ukhuwah dalam Silahrarim yang Di dalamnya tersimpan rahasia agung untuk menjadi hamba yang baik dalam pada pandangan Allah.

    Selawat serta salam sentiasa kita curahkan kepada Rasulullah SAW.

    Begitu banyak orang-orang yang tertipu akan tipu daya tipu daya syaitan yang berkaitan dengan asas dalam ajaran Islam, dalam hal ini adalah menjaga tali persaudaraan (Silah Rahim)

    Sunguh sangat menyedihkan bila kita mengetahui secara komprehensif akan ancaman bagi orang-orang yang memutuskan tali persaudaraan namun kita tidak menghiraukan akan ancaman tersebut.

    “Dari Abdullah bin Abi Aufa r.a, beliau berkata, suatu petang di hari Arafah, pada waktu kami duduk mengelilingi Rasulullah saw, tiba-tiba beliau bersabda, “Jika di majis ini ada orang yang memutuskan silaturahim, silahkan berdiri, jangan duduk bersama kami”

    Hadis ini menerangkan secara terus terang bahwa rasulullah tidak menerima orang-orang yang memutuskan tali persaudaraan (Silaturahim) sebagai golongannya, Nauzubillah min dzalik..

    Hukum memutuskan silaturrahim

    Memutuskan silaturrahim pula hukumnya haram dan dikira melakukan maksiat besar sehingga mendapat laknat dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala, Sebagaimana firmanNya:

    Maksudnya: “(Kalau kamu tidak mematuhi perintah) maka tidakkah kamu harus dibimbang dan dikhuatirkan-jika kamu dapat memegang kuasa-kamu akan melakukan kerosakan di muka bumi, dan memutuskan hubungan silaturrahim dengan kaum kerabat?. (Orang-orang yang melakukan perkara-perkara yang tersebut) merekalah yang dilaknat oleh Allah serta ditulikan pendengaran mereka, dan dibutakan penglihatannya.” (Surah Muhammad: Ayat 22-23)

    Apatah lagi orang yang memutuskan silaturrahim ini tidak masuk syurga, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    َMaksudnya:

    “Tidak masuk syurga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.” (Hadits riwayat Muslim)

    Bagaimana kita mengetahui bahwa diri kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang memutuskan silaturahim yang telah nyata tidak di akui oleh Rasulullah sebagai ummatnya?

    Berikut Ciri-ciri Orang yang memutuskan tali persaudaraan :

    Gelisah akan hadiranya orang yang berniat untuk menjaga tali persaudaan

    Tentu orang yang memutuskan tali persaudaraan tidak akan senang dengan kehadiran orang yang telah di putus tali persaudaraanya, Bahkan sebelum datang kehadriannya (Orang yang di putuskan tali persaudaraannya) hatinya akan merasa tidak tenang, ia akan merasa gelisah ketika mendengar nama orang yang ia putuskan silaturahim.

    Bertolak Atau Berusaha menghindari sesama muslim dengan Alasan Yang mengatas namakan Kebaikan/Agama

    Pemahaman yang kurang begitu memadai tentang suatu masalah boleh menjadi masalah tambahan dalam suatu perkara, hal ini seringkali terjadi kepada orang yang tengah memutuskan silaturahim, dengan argument yang tidak begitu kuat dan faktual dengan referensi yang ada, membuatnya lebih jauh tehanyut oleh tipuan syaitan.

    Sentiasa acuh-takacuh dengan apa yang terjadi kepada saudaranya sesama muslim

    Diantara penyebab orang memutuskan tali persaudaraan adalah adanya sengketa pemahaman/masalah yang membuatnya terjatuh akan lembah kehinaan, jika di biarkan maka hal ini akan semakin berbahaya, tidak hanya untuk dirinya sendiri namun bisa berdampak kepada orang di sekitarnya.

    Merasa paling benar dengan apa yang dilakukan tanpa melihat esensi yang sebenarnya

    Orang yang memutuskan tali persaudaraan biasanya dirinya di kuasai nafsu yang bersarang di dalam hatinya, maka pada saat itu segala macam penyakit hati akan semakin bertumpuk berdatangan dan bersarang di dalamnya termasuk Merasa Paling betul, dan sungguh sangat membahayakan bagi dirinya juga orang (Jika lemah pemahaman) di sekitarnya.

    Mudah melupakan apa yang pernah terjadi kepada dirinya bersama saudaranya sesama muslim

    Kesan Atau mungkin boleh di katakan sebagai fakta bagi orang yang memutuskan tali persaudaraan adalah permusuhan, hingga ketika ia berpisah (memutus silaturahim) maka ia akan berusaha melupakan segala sesuatu yang pernah di lewainya bersama orang yang ia putus tali persaudaraannya.

    sekilas kita memang sangat menganggap hal itu wajar untuk di lakukan, bahkan mungkin sebagian dari kita menganggap memang sudah seharusnya untuk di lakukan, namun bagaimana bila hal yang di lalui adalah suatu momentum yang memiliki dampak besar jika di lakukan (Melupakannya), yang berkaitan hubungan vertikal antara ia dengan orang yang di putuskan silaturahimnya Dan Allah.

    Menganggap dan meringankan akan Dosa

    Bagaimana tidak, orang yang memutuskan tali persaudaraan menganggap dosa itu sangat kecil sedangkan rasulullah SAW Pernah Bersabda :“Tidak akan pernah masuk kedalam syurga bagi orang yang memutuskan tali persaudaraan” (bukhrori muslim) sedangkan orang yg memutuskan silaturrahim tidak menghiraukan hadist tersebut.

    Na’uzubillah….

    Barokallah…

    Oleh: Siti Rahmah

    16 July 2014 Posted by | Ibadah, Muamalat (Keluarga) | | Leave a comment

    Penyakit RIAK

    Perkara yang paling aku takut sekali ketika berjihad ialah penyakit hati iaitu RIAK… RIAK dalam keadaan sedar atau tidak sedar… sengaja atau tidak sengaja…

    Rasulullah SAW sendiri takut akan penyakit ini menimpa umatnya kerana ia boleh berlaku dalam pelbagai keadaan…

    Kerisauan itu dinyatakan Rasulullah SAW dalam sabda bermaksud: "Sesungguhnya yang paling ditakutkan daripada apa yang aku takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil)….

    Sahabat bertanya: "Apakah dimaksudkan syirik kecil itu? Baginda menjawab: Riak." (Hadis riwayat Imam Ahmad)

    Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fathul Baari berkata: "Riak ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia… lalu mereka memuji pelaku amalan itu."

    Kerisauan Rasulullah SAW terhadap sifat riak disebabkan penyakit hati ini mudah menyerang setiap insan kerana jiwa manusia memiliki kecenderungan suka menerima puji dan kedudukan tinggi di hadapan orang lain… Al-Muhasibi menjelaskan penyebab riak: "Senang dipuji dan takut dicela, tunduk kepada dunia dan tamak kepada perkara dimiliki orang lain."

    Riak juga berbahaya kerana meresap dalam amalan umat Islam dalam keadaan samar. Mereka yang dihinggapi penyakit riak tidak menyedari ibadah sudah tercemar kerana hilang keikhlasan…

    Riak dianggap Rasulullah SAW sebagai amalan syirik kecil kerana bagi seseorang yang sudah dihinggapi sifat ini ibadahnya tidak lagi ikhlas untuk mendapat keredaan Allah… sebaliknya menempatkan insan lain sebagai tandingan bagi Allah kerana amalnya bertujuan menarik perhatian insan itu…

    Justeru, riak bukan sekadar boleh menyebabkan seorang terjebak dalam dosa… ia sebenarnya boleh menyebabkan amalan tidak diterima Allah… ini yang paling aku takut…

    Imam Ibnu Taymiyyah berkata: "Sesungguhnya bagi seseorang yang bersikap riak dalam ibadah… bukan saja ibadahnya batal… malah dia turut mendapatkan dosa daripada perbuatannya itu yang dianggap syirik kecil…"

    Apabila suatu amalan dilaksanakan dengan ikhlas kerana Allah… ia akan diterima oleh-Nya… Sebaliknya… apabila amalan diniatkan untuk mendapat perhatian… pujian atau meraih keuntungan duniawi… maka ia tidak diterima Allah… contoh terdekat memuat naik gambar atau video didalam facebook sambil berperang atau memegang senjata yang kononnya hebat dan berniat untuk mendapat pujian dan LIKE yang banyak… ini yang aku takut… takut akan perkongsian tersalah tafsir dengan sendirinya…

    Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya… dan sesungguhnya amalan seseorang dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan." (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)

    Allah berfirman bermaksud: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus… dan supaya mereka mendirikan solat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus…" (Surah Al-Bayyinah, ayat 5)

    Imam Ibnu al-Qayyim ketika menafsirkan ayat itu menyatakan: "Seperti Allah adalah satu dan tiada Tuhan selain-Nya begitu pula hendaklah amal ibadah itu layak dipersembahkan hanya untuk-Nya dan tiada sekutu… demikian juga halnya jika hanya dia sebagai sembahan… maka wajiblah mengesakannya dalam perhambaan kerana amal yang salih adalah amal yang bersih daripada riak dan terikat dengan sunah."

    Amal seseorang diterima Allah harus memenuhi dua syarat iaitu niat ikhlas semata-mata demi Allah dan dilakukan sesuai dengan tuntutan syariat (mengikuti sunnah Nabi).

    Rasulullah SAW mengajar umatnya memohon perlindungan dengan membaca doa: "Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu daripada perbuatan syirik yang kami ketahui. Kami memohon ampunan kepada-Mu daripada dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya." (Hadis riwayat Ahmad)

    Pada akhirat nanti… bagi mereka yang riak akan menerima pembalasan dengan dibongkarkan niatnya yang buruk itu di depan seluruh makhluk seperti sabda Rasulullah SAW bermaksud: "Siapa beramal kerana sumah (ingin didengari manusia) Allah akan membalasnya dengan diperdengarkan kejelekannya… Siapa berbuat riak… maka Allah akan menampakkan sifat riaknya itu (di depan makhluk)." (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)

    Ya Allah… aku memohon perlindungan dari penyakit hati yang kotor … ampunilah dosaku yang sebelumnya moga aku tidak mengulangi segala niat dan perbuatan yang Engkau laknati…

     

    Wallahualam…

    Oleh: Ahmad Salman Abdul Rahim

    16 July 2014 Posted by | Ibadah, Tasauf | Leave a comment

    Hukum meletakkan daun dan bunga di atas kubur

    Kubur Bkt Teratai 1

    Belum pun habis Ramadhan dah ada pula yang menyerang amalan umat Islam yang menaburkan bunga atas kubur. Dikata perbuatan tersebut menyerupai Kristian dan Yahudi dan bid’ah sesat.

    JAWAPAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH :

    Firman Allah : Bertasbih kepada Allah apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi (Surah at Taghabun 64:1)

    1. Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar di atas kuburan diletakkan pelepah kurma sebagaimana dalam sebuah hadits

    "Ingatlah, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa tetapi bukan kerana melakukan dosa besar. Seorang dari padanya disiksa kerana dahulu dia suka membuat fitnah dan seorang lagi disiksa kerana tidak menghindari diri daripada percikan air kencing. Kemudian baginda mengambil pelepah kurma yang masih basah lalu dibelahnya menjadi dua. Setelah itu baginda menanam salah satunya pada kubur yang pertama dan yang satu lagi pada kubur yang kedua sambil bersabda: Semoga pelepah ini dapat meringankan seksanya selagi ia belum kering." (Riwayat Bukhari, no: 1378 dan Muslim, no: 292)

    2. Para Ulama menngqiyaskan/menyamakan pelepah kurma dalam hadits di atas dengan segala macam tumbuh-tumbuhan yang masih basah sebagaimana yang di jelaskan oleh Syaikh Al-Khathib Asy-Syarbini dalam kitab Mughni Al-Muhtaj

    ويسن أيضا وضع الجريد الأخضر على القبر وكذا الريحان ونحوه من الشيء الرطب ولا يجوز للغير أخذه من على القبر قبل يبسه لأن صاحبه لم يعرض عنه إلا عند يبسه لزوال نفعه الذي كان فيه وقت رطوبته وهو الاستغفار ( و ) أن يوضع ( عند رأسه حجر أو خشبة ) أو نحو ذلك لأنه صلى الله عليه وسلم وضع عند رأس عثمان بن مظعون صخرة وقال أتعلم بها قبر أخي لأدفن إليه من مات من أهلي رواه أبو داود وعن الماوردي استحباب ذلك عند رجليه أيضا

    “Disunnahkan menaruh pelepah kurma hijau (basah) di atas kuburan, begitu juga tumbuh-tumbuhan yang berbau harum dan semacamnya yang masih basah dan tidak boleh bagi orang lain mengambilnya dari atas kuburan sebelum masa keringnya karena pemiliknya tidak akan berpaling darinya kecuali setelah kering sebab telah hilangnya fungsi penaruhan benda-benda tersebut dimana selagi benda tersebut masih basah maka akan terus memohonkan ampunan padanya

    3. Dalam kitab Fatawa al Hadithiah m/s 196 disebutkan :

    " Para ulama beristinbath daripada perbuatan Nabi SallaLlahu ‘alaihi wasallam mencacakkan dua pelepah tamar di atas kubur, untuk bolehnya mencacak pokok dan bunga tetapi mereka tidak menerangkan caranya. Walau bagaimanapun, di dalam hadits sahih disebutkan bahawa Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam mencacak satu cacakan pada setiap kubur, maka bolehlah diambil pelajaran, ia merangkumi semua bahagian kubur. Maka tujuan yang boleh diambil daripadanya ialah di mana-mana bahagian kubur pun boleh. Abdul bin Humaid dalam Musnadnya bahawa Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam meletakkan pelepah itu di atas kubur di sisi kepala mayat di kubur tersebut "

    4. Syeikh Atiyah Saqar (iaitu seorang Mufti Lajnah Fatwa al-Azhar) berkata: “Ini adalah masalah antara golongan mengharuskan dan golongan yang menegah. Saya melihat tiada tegahan pada perkara ini selagi mana ia beriktikad (menyakini) bahawa yang memberi manfaat dan mudarat itu hanyalah Allah SWT. Apa yang kita hadiahkan kepada si mati seperti doa, sedekah dan lain-lain lagi adalah ‘min babil asbab’ semata-mata mengharapkan rahmat Allah SWT.

    Justeru, perbuatan menaburkan bunga sebagai menggantikan pelepah dan ranting basah adalah harus. Bagaimanapun, jika bunga itu dibeli dengan harga mahal semata-mata untuk melakukan perbuatan itu, dibimbangi ia akan jatuh kepada haram disebabkan membazir.

    5. Menyiram air di atas kuburan dan meletakkan daun-daunan yang hijau (segar) hukumnya sunnah, khususnya untuk kuburan yang baru ditimbun. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw memerciki kuburan puteranya tercinta Ibrahim dengan air dan meletakkan daun-daunan yang segar di atasnya (Riwayat Imam Syafi’i, Nailul Authar : 4/84).

    6. Di bolehkan menaburkan bunga-bunga segar yang masih basah di atas kuburan2 ,‘karena hal ini(menaburi bunga) dapat meringankan siksaan mayat akibat bacaan tasbih tanaman/bunga diatas pusara tersebut.Lihat ; I’aanah at-Thoolibiin : II/120

    يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ

    Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar.(I’anah al-Thalibin, juz II, hal. 119)

    Wallahua’lam

    Oleh: Ustaz Zamihan Al-Ghari

    15 July 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

    Adab berbuka cara Rasulullah SAW

    Antara tujuan berpuasa adalah agar Muslim dapat berasakan kesukaran yang dilalui fakir miskin yang benar-benar kekurangan makanan.

    Jadi puasa sepatutnya bukan setakat berlapar dan dahaga hanya pada siang hari namun sepanjang hari. Ini bermakna jika berbuka puasa, makan sepatutnya secara ala kadar. Bukan selagi boleh muat perut.

    Puasa Ramadan adalah tuntutan syariat di mana turutannya ialah yang ketiga selepas mengucap dua kalimah syahadah dan solat lima waktu.

    Rukun Islam adalah pelengkap kepada Rukun Iman di mana kedua-duanya wajib difahami dan dipraktikkan secara bersungguh-sungguh.

    Sebagai Muslim yang mengaku beriman dan cintakan ALLAH SWT, sewajarnya contohi sunnah Rasulullah SAW.

    ALLAH berfirman yang bermaksud: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai ALLAH, ikutilah aku, nescaya ALLAH mengasihi dan mengampuni dosa-dosa mu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Ali Imran: 31)

    Ibnu Katsir (701-704H) mentafsir ayat ini dalam kitab tafsirnya Tafsir Ibnu Katsir dengan menyatakan, “Ayat ini menjadi bukti, “Siapa saja yang mengaku mencintai ALLAH SWT, namun ia tidak berjalan sesuai dengan jalan yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW, maka orang tersebut hanya berdusta saja. Dirinya diakui benar-benar mencintai ALLAH, tatkala dia mengikuti ajaran yang dibawa Muhammad SAW, baik dalam perkataan, perbuatan, dan persetujuan beliau SAW.”

    Islam utamakan kualiti

    Sesungguhnya Islam mengutamakan kualiti berbanding kuantiti. Ibadah berkualiti hanya boleh didapati dengan menuruti perintah dan larangan ALLAH SWT dan sunnah Rasulullah SAW.

    Muslim yang memiliki akal yang sihat sewajarnya membandingkan sesuatu ibadah yang dipelajari daripada ustaz, tok imam atau buku dengan hadis sahih yang membicarakan ibadah berkaitan sesuatu perkara. Hadis tersebut boleh dipelajari dengan guru berkelayakan dalam bidang berkaitan.

    Kitab Nailul Authar (172 – 250H) susunan Imam Syaukani adalah kitab yang sesuai dijadikan bahan rujukan untuk perkara berkaitan ibadah dari bab air, solat, puasa dan seterusnya kerana ia mengandungi hadis yang secara keseluruhannya berdarjat sahih sungguh pun terdapat beberapa derajat hadis yang diperdebatkan ulama.    

    ALLAH SWT berfirman maksudnya “Dan sesiapa yang taat kepada ALLAH dan Rasul-Nya, akan dimasukkan ALLAH ke dalam syurga yang mengalir dari bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya, dan itulah kejayaan yang amat besar.” (Surah An-Nisaa’ : 13)

    “Sesiapa yang taat kepada Rasulullah, maka sesungguhnya dia telah taat kepada ALLAH, dan sesiapa yang berpaling ingkar, maka maka (janganlah berdukacita wahai Muhammad), kerana kami tidak mengutus mu untuk menjadi pengawal (yang memelihara mereka daripada melakukan kesalahan).” (Surah An-Nisaa’ : 80)

    Maksudnya sesiapa yang taat kepada Rasulullah SAW secara automatik mereka taat kepada ALLAH SWT.

    Jadi, seseorang yang mengaku beriman sewajarnya menuruti sunnah Rasulullah SAW, bukan setakat ikut cakap-cakap ustaz itu atau tok imam ini.

    Setiap pelajaran ugama berkaitan ibadah yang diajar mereka yang bukan berstatus rasul ini (dan tidak maksum) sewajarnya dibandingkan dengan perintah atau larangan ALLAH SWT dan sunnah Rasulullah SAW menggunakan hadis sahih sebagai neraca. Jika benar menurut kedua-dua sumber itu ambil dan amalkan.Jika tidak, maka tinggalkan sahaja.

    ALLAH SWT berfirman maksudnya: “Wahai orang yang beriman, taatlah ALLAH dan taatlah Rasul-Nya dan Ulil-Amri (Pemimpin) kalangan kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada ALLAH dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi mu), dan lebih baik akibatnya.” (Surah An-Nisaa : 59)

    ALLAH SWT secara tegas berfirman maksudnya: “Dan apa jua perintah yang dibawa Rasulullah SAW kepada kamu maka terimalah serta amalkan, dan apa jua yang dilarang-Nya kamu melakukannya maka patuhilah larangan-Nya. (Surah al-Haysr: 07)

    Amalan ketika berbuka

    Berikut adalah beberapa adab yang dipraktikkan Rasulullah SAW ketika berbuka puasa yang penulis kaitkan dengan isi artikel ini. Rasulullah SAW menyegerakan berbuka puasa.

    Rasulullah SAW bersabda, “Manusia itu sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah SAW berdoa ketika berbuka, baginda bersabda yang bermaksud:“Sesungguhnya doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak ketika dia berbuka.”(Ibnu Majah)

    Menurut hadis sahih, Baginda juga baca bismillah sebelum makan dan membaca doa setelah selesai makan. Baginda berbuka dengan makanan yang mudah dimakan dan mudah dicerna.

    Daripada Anas RA berkata, "Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa biji rutab (tamar basah) sebelum solat, jika tiada rutab Baginda berbuka dengan tamar, dan sekiranya tamar tiada baginda akan berbuka dengan air." (Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Kata Tirmidzi ia hadis hasan]

    "Rasulullah SAW menyegerakan solat maghrib berdasarkan apa yang dinyatakan dalam hadis di atas iaitu baginda berbuka puasa dengan beberapa biji rutab sebelum solat.

    Jika makanan telah dihidangkan? Menyentuh hal ini baginda bersabda, “Apabila dihidangkan makanan maka mulailah dengannya (makanan itu) sebelum kamu solat Maghrib dan janganlah kamu tergopoh-gapah ketika makan." (Riwayat Bukhari dan Muslim) 

    Mereka yang berbuka dengan rutab, tamar atau air dan terus solat dan terus solat maghrib sedangkan makanan telah terhidang dikatakan oleh ulama yang mengamalkan sunnah di atas sebagai pengamal bidaah iaitu tidak mengikuti contoh yang ditunjukkan Rasulullah SAW. ‘

    Mengenai kuantiti makanan memadai seseorang menuruti hadis ini yang menunjukkan adab/akhlak baginda yang tinggi, Baginda bersabda yang bermaksud: "Tidaklah anak Adam itu mengisi satu bekas yang lebih buruk daripada perutnya.

    Sudah cukuplah bagi anak Adam itu dengan beberapa suap (makanan) yang dapat meluruskan tulang belakangnya (sekadar memberi tenaga), jika tidak boleh, maka satu pertiga untuk makanannya, satu pertiga untuk minumannya dan satu pertiga untuk pernafasan." (Riwayat Ibnu Majah dan Tirmizi. Kata al-Tirmizi: hadis hasan sahih)

    Fikir-fikirkanlah setakat mana iman kita kepada Rasulullah SAW. Adakah kita benar-benar menuruti sunnahnya, beribadah secara berlebihan dengan melakukan bidaah atau meremehkan sunnahnya?

    Sumber: Sinar Harian

    5 July 2014 Posted by | Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

    Perkara-perkara sunat ketika puasa di Bulan Ramadhan :

    1) Menyegerakan berbuka jika telah yakin matahari telah terbenam. Berbeza jika dia hanya merasa syak, maka wajib ke atasnya berjaga-jaga dan melewatkan berbuka.


    2) Bersahur walaupun dengan seteguk air, walaupun telah kenyang

    - waktu sahur bermula dari tengah malam

    - hikmahnya adalah untuk menguatkan badan dan menyalahi perbuatan ahli kitab yang tidak bersahur.

    3) Melambatkan bersahur tetapi tidak terlalu lambat. Dan disunatkan imsak (menahan diri) dari memakan sesuatu sekitar tempoh bacaan 50 ayat (lebih kurang 15 minit) sebelum terbit fajar.

    4) Berbuka dengan rutob (kurma basah) dengan angka ganjil. Jika tiada, maka dengan busr (kurma segar). Jika tiada, maka dengan tamr (kurma kering) . Jika tiada, maka dengan air zam. Jika tiada, maka dengan makanan manis (tidak disentuh api) seperti madu dan kismis . Jika tiada, maka dengan masakan manis (disentuh api) seperti kuih-muih.


    5) Membaca doa berikut :

    (اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ. ذَهَبَ الظَمَأُ، وَابْتَلَّتْ العُرُوْقُ، وَثَبَتَ الْأجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

    الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِيْ فَأَفْطَرْتُ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَلِيْ)

    Kemudian, berdoa dengan apa sahaja yang dimahukan.

    Ertinya : “Ya Allah! KeranaMu aku berpuasa. DenganMu aku beriman. Dengan rezekiMu aku berbuka. Hilanglah dahaga, basahlah tekak dan tetaplah ganjarannya jika dimahukan Allah. Segala puji bagi Allah yang membantuku hingga aku dapat berpuasa, yang memberiku rezeki hingga aku dapat berbuka. Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepadaMu, dengan rahmatMu yang meliputi segala perkara, agar Engkau ampunkanlah aku”.

    [ Doa ini diriwayatkan awalnya oleh Abu Daud dan akhirnya oleh Ibnus Sunni ]

    6) Menjamu orang berbuka puasa, kerana padanya pahala yang besar.

    Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam : ((Barangsiapa yang menjamu orang berbuka puasa, nescaya dia beroleh sama pahala seperti orang yang dijamu itu, tanpa berkurang sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu)). Riwayat Tirmidzi (dan beliau mentashihkannya), Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban,

    7) Mandi janabah (jika ada) sebelum fajar, untuk mengelak dari khilaf yang ada dan supaya dia dapat memulakan puasanya dalam keadaan suci.

    8) Mandi setiap malam di Bulan Ramadhan selepas maghrib supaya dia cergas untuk melakukan ibadah qiam.

    9) Berterusan melakukan Solat Tarawih dari malam pertama hingga malam terakhir. Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam : ((Barangsiapa yang berqiam (mendirikan Solat Tarawih) di Bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan menghitung ganjaran, nescaya diampunkan baginya dosanya yang telah lalu)). Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

    10) Tuntutan yang kuat untuk berterusan melakukan Solat Witr. Solat Witr di Bulan Ramadhan mempunyai 3 keistimewaan berbanding di bulan lain :

    10.1 disunatkan berjemaah

    10.2 disunatkan untuk menyaringkan bacaan

    10.3 disunatkan padanya bacaan Doa Qunut di sebahagian akhir Bulan Ramadhan mengikut pandangan yang muktamad

    11) Memperbanyakkan bacaan Al-Quran sambil bertadabbur (menghayati) maknanya.

    Disebut di dalam satu athar : “Ramadhan adalah Bulan Al-Quran”.

    12) Memperbanyakkan amalan-amalan sunat, seperti solat rawatib, solat dhuha, solat tasbih dan solat awwabin.

    13) Memperbanyakkan amalan-amalan soleh, seperti bersedekah, menyambung talian persaudaraan, menghadiri majlis ilmu, beri’tikaf, melakukan umrah, sentiasa menyedari kewujudan Allah dengan menjaga hati dan anggota badan serta banyak membaca doa-doa yang ma’thur iaitu yang datang daripada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.

    14) Lebih bersungguh dalam beribadat di sepuluh malam terakhir disamping mencari Lailatul, lebih-lebih lagi di malam-malam yang ganjil.

    15) Memastikan berbuka puasa dengan santapan yang halal.

    16) Melebihkan layanan kepada anak-anak.

    17) Meninggalkan perkara sia-sia dan perbuatan memaki-hamun. Sekiranya dia dimaki seseorang, maka hendaklah dia mengingati dihatinya bahawa di sedang berpuasa, agar dia mengelak diri dari mencacatkan puasanya. Dan sunat juga untuk melafazkannya dilidah jika dia tidak takut berlaku riya’, sebagai amaran dan jawapan terbaik kepada musuhnya.

    (Kitab Taqrirat Sadidah – m/s 444-446)

    Semoga bermanfaat

    Dari: Lau Laa Murabbi Maa ‘Araftu Rabbi

    1 July 2014 Posted by | Ibadah | , , | Leave a comment

    Yaqazah amalan Ahli Sunnah wal Jamaah

    Yaqazah iaitu bertemu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan jaga bukanlah suatu yang mustahil dengan keizinan dari Allah. Namun untuk bertemu dengan baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan jaga bukanlah suatu yang mudah.

    Asas dalil kepada yaqazah adalah

    zahir hadis berikut yang menunjukkan seseorang yang soleh boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w., tetapi dengan syarat mestilah pernah bertemu dahulu secara mimpi (ru’ya) dengan baginda s.a.w. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

    « من رآني في المنام فسيراني في اليقظة، ولا يتمثل الشيطان بي»

    “Sesiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka dia akan melihatku secara yaqazah (di dalam keadaan jaga), kerana syaitan tidak boleh

    menyerupaiku”.

    [Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad. Lafaznya dari al-Bukhari]

     

    Selain dariapada itu, ramai ulama yang mengatakan atau mengiktiraf kemungkinan boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. antaranya adalah :

    1. Imam Ibn Abi Jamrah al-Maliki dalam Bahjah al-Nufus.

    2. Al-‘Allamah Ahmad al-Nafrawi al-Maliki dalam Syarh Risalah Ibn Abi Zayd.

    3. al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari.

    4. al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti dalam Tanwir al-Halak fi Imkan Ru’yah an-Nabi wa al-Malak.

    5. Imam al-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim.

    6. Imam al-Ghazali dalam al-Munqiz min al-Dhalal.

    7. Imam Syihabuddin al-Qarafi,

    8. Imam ‘Afif al-Din al-Yafi‘i al-Syafi‘i dalam (روض الرياحين).

    9. Al-‘Allamah Ibn al-Haj al-Maliki dalam al-Madkhal.

    10. Al-Qadhi Ibnu al-‘Arabi al-Maliki dalam kitabnya (قانون التأويل).

    11. Imam Ibn ‘Ata’illah al-Sakandari (w. 709H) dalam kitab Lata’if al-Minan.

    12. Al-Qadhi Syaraf al-Din al-Barizi dalam (توثيق عرى الإيمان).

    13. Imam Tajuddin al-Subki.

    14. Imam al-Qurtubi dalam (التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة).

    15. Al-‘Allamah Ibn Battal al-Maliki

    16. Al-‘Allamah Ibn al-Tin

    17. Imam ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam dalam al-Qawa’id al-Kubra.

    18. Al-‘Allamah Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Syama’il.

    19. Al-Qadhi Ibn al-Munayyir.

    20. Imam Ibn Daqiq al-‘Id.

    21. Imam ‘Abd al-Wahhab al-Sya‘rani dalam beberapa kitabnya.

    22. Imam Ibn Hajar al-Haytami al-Makki dalam al-Fatawa al-Hadithiyyah.

    23. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ra’uf al-Munawi dalam Faydh al-Qadir.

    24. Syeikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdullah al-‘Idrus (w. 1038H) dalam kitabnya al-Nurus Safir ‘an Akhbaril Qarnil ‘Asyir.

    25. Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi dalam al-Mufhim.

    26. Imam al-Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah.

    27. Imam al-Baqillani.

    28. Al-‘Allamah Sadruddin al-Qunawi dalam Syarh al-Arba‘in.

    29. Al-‘Allamah Burhanuddin al-Biqa’i dalam al-Hawi.

    30. Al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki.

    31. Al-‘Allamah al-Maziri.

    32. Al-‘Allamah Nuruddin al-Iji.

    33. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ghani al-Nabulsi dalam Syarh Salawat al-Jaylani.

    34. Syeikh Ahmad ibn ‘Ajibah al-Hasani (w. 1224H) dalam al-Futuhat al-Ilahiyyah.

    35. Al-‘Allamah Syeikh Ibn ‘Allan al-Siddiqi.

    36. Al-‘Allamah Najmuddin al-Ghazi dalam kitabnya al-Kawakib al-Sa’irah.

    37. Imam Syah Waliy Allah al-Dihlawi dalam al-Durr al-Thamin.

    38. Al-‘Allamah al-Alusi dalam tafsir Ruh al-Ma’ani.

    39. Sayyid ‘Abdul Rahman al-‘Idrus dalam kitab Syarh Salawat al-Badawi.

    40. Syeikh ‘Ali al-Ajhuri al-Maliki dalam al-Nur al-Wahhaj.

    41. Syeikh Muhammad al-Khalili dalam al-Fatawa.

    42. Syeikh ‘Abdullah Sirajuddin al-Halabi dalam al-Solat ‘ala al-Nabiy.

    43. Al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani dalam Sa‘adah al-Darayn, Syawahidul Haq dan Jami‘ Karamatil Auliya’.

    44. Syeikh Badi‘ al-Zaman Sa‘id al-Nursi.

    45. Syeikh Ibrahim al-Bajuri dalam Syarh al-Syama’il.

    46. Syeikh Muhammad Hasanain Makhluf.

    47. Syeikh Abu al-Qasim Muhammad al-Hafnawi dalam Ta’rif al-Khalaf.

    48. Al-‘Allamah Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, Syeikhul Azhar.

    49. Al-‘Allamah Sayyid ‘Abdullah al-Siddiq al-Ghumari dalam kitabnya Fadha’ilun Nabi SAW.

    50. Al-‘Allamah Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah.

    51. Al-‘Allamah Dr. Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buti.

    52. Al-Allamah Dr. ‘Ali Jum‘ah, Mufti Mesir dalam al-Bayan.

    53. Dr. ‘Umar ‘Abdullah Kamil,

    54. Dr. Mahmud al-Zayn.

    55. Datuk Seri Maharaja Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz, Mufti Brunei.

    Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni dari Institut Kajian Hadith Selangor telah panjang lebar menerangkan mengenai yaqazah di sini :

    http://sawanih.blogspot.com/2012/07/blog-post.html

    Malahan JAKIM juga memperakui adanya yaqazah berbeza dengan yaqazah yang dipercayai oleh al Arqam :

    http://www.islam.gov.my/sites/default/files/menjawab_dakwaan_yaqazah_sesat_jemaah_al-arqam.pdf

     

    Wallahua’lam bissowab

    1 July 2014 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tasauf | | Leave a comment

    Penggunaan ubat ketika berpuasa

    Beberapa orang sahabat bertanya saya mengenai penggunaan ubat ketika berpuasa. Sebelum saya menjawab soalan ini, suka saya membawa beberapa ayat al-Quran berkaitan dengan puasa dan rukhsah meninggalkan puasa.

    Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (183-184) bermaksud:

    183- Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

    184- Iaitu beberapa hari tertentu. Maka sesiapa di antara kamu sakit atau bermusafir (dalam perjalanan lalu tidak berpuasa), maka (hendaklah) menggantinya pada hari-hari lain (bukan pada bulan Ramadhan). Dan atas orang-orang yang tidak kuat (kerana lemah tua atau penyakit atau hamil) wajib membayar fidyah memberi makan orang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan , maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu sekiranya kamu mengetahui.

    Kita sudah memahami bahawa setiap muslim aqil, baligh adalah diwajibkan berpuasa. Apabila berpuasa, secara lahirnya kita mengelakkan diri kita dari memasukkan sesuatu melebihi had-had tertentu pada rongga-rongga badan iaitu mulut, hidung, telinga dan dua saluran dubur dan qubul.

    Apabila saya menyebut ‘had-had tertentu’ pada rongga-rongga tersebut kerana beberapa amalan memasukkan sesuatu dalam rongga-rongga tersebut masih dibenarkan ketika berpuasa selagi tidak melebehi had yang dibenarkan, contohnya:

    i. Dibenarkan memasukkan air ke hidung (tidak melampau) sekadar membersihkan hidung untuk mendapatkan sunnah dan pahala ber ‘istinsyaq’ ketika mengambil wuduk.

    ii. Dibenarkan mandi wajib selepas azan Subuh dan mandi wajib mewajibkan kita membasuh bahagian dalam lubang telinga yang zahir dan dubur yang zahir.

    Ayat 184 pula menjelaskan bahawa sesiapa yang sakit, dibolehkan seseorang itu berbuka puasa. Sekiranya mereka masih mahu mengerjakan puasa, ia adalah baik untuk mereka selama mana puasa itu tidak memudaratkan diri mereka. Jika memudaratkan, mereka wajib berbuka berdasarkan larangan umum: Jangan kamu campakkan diri kamu dalam kebinasaan (al-Baqarah, ayat 195).

    Masalah yang timbul dari persoalan orang-orang sakit ini ialah:

    1. golongan yang tidak mahu berpuasa atas alasan sakit.

    2. orang sakit yang sedang dalam proses berubat, mahu terus berpuasa dan masih menganggap dirinya sah puasa dan tidak memerlukannya qada’ (mengulang balik) ibadah puasa tersebut.

    Bagi golongan pertama iaitu yang tidak mahu berpuasa berterusan kerana sakit, kita katakan pada mereka, ketetapan yang tidak mewajibkan mereka tidak boleh berpuasa bukan ditetapkan oleh diri mereka. Mereka wajib mendapatkan pandangan doktor perubatan muslim yang adil, warak untuk menentukan ketidakmampuan mereka. Sekiranya disahkan, mereka boleh tidak berpuasa tetapi masih wajib menjaga syiar-syiar puasa iatu tidak memakan ditempat umum.

    Manakala bagi golongan kedua, sekiranya proses perubatan ketika berubat (dalam keadaan berpuasa) melebihi had-had memasukkan sesuatu ke dalam rongga, puasa adalah terbatal namun, mereka masih wajib menahan diri dari makan (imsak) dan puasa tersebut wajib diqada (diulang) berdasarkan dalil-dalil khusus puasa yang melarang memasukkan sesuatu ke dalam rongga-rongga tersebut.

    Dalam banyak keadaan tersebut, saya bersetuju dengan Buku Panduan Berpuasa Pesakit terbitan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) yang saya ambil dari Berita Harian, 29 Ogos 2009:

    Perkara berkaitan rawatan yang TIDAK MEMBATALKAN PUASA:

    • Menggunakan ubat titis mata, titis telinga dan cucian telinga (dengan syarat tidak sampai batas gegendang telinga);

    • Pil tablet nitroglycerin (GTN) atau ubat yang menyamainya yang diambil secara meletakkannya di bawah lidah tanpa ditelan bagi merawat kesakitan dada (angina pectoris) bagi pesakit jantung;

    • Melakukan prosedur tampalan gigi, cabutan, pembersihan gigi atau memberus gigi dengan syarat individu yang berpuasa tidak menelan apa-apa bahan ketika prosedur rawatan itu;

    • Semua bentuk suntikan sama ada melalui lapisan kulit, otot, sendi atau salur darah;

    • Pendermaan atau pemindahan darah;

    • Penggunaan ubat-ubatan dalam bentuk sapuan, balutan dan plaster pada permukaan kulit;

    • Pengambilan sampel darah untuk ujian makmal;

    • Memasukkan tiub kecil (catheter) melalui salur darah untuk tujuan pemeriksaan seperti prosedur angiogram untuk pemeriksaan jantung;

    • Pemeriksaan laparoscop, iaitu pemeriksaan dalaman dengan menggunakan alat yang dimasukkan melalui dinding abdomen untuk pemeriksaan bahagian dalaman pesakit;

    • Berkumur-kumur termasuk berkumur-kumur secara gargle (sehingga air hampir ke tekak), dan ubat teraputik semburan ke mulut yang tidak membabitkan proses menelan;

    • Menjalani biopsy iaitu pengambilan spesimen atau cebisan yang diambil daripada hati atau organ lain untuk tujuan analisis makmal;

    • Penggunaan ubat semburan (spray) hidung tanpa disedut;

    • Rawatan dialisis untuk masalah pesakit buah pinggang sama ada hemodialisis atau peritonealdialisis;

    • Menjalani rawatan bius setempat atau separuh (local) dengan semburan atau suntikan setempat; dan

    • Penggunaan ubat buasir dengan memasukkan semula kawasan buasir pada tempatnya tanpa membabitkan kawasan rongga yang dalam.

    Perkara berkaitan dengan rawatan perubatan yang MEMBATALKAN PUASA:

    • Penggunaan alat sedutan (inhaler) untuk rawatan lelah (athma) atau penyakit paru-paru kronik;

    • Memasukkan sebarang tiub kecil (pessary) atau ubat ke dalam faraj (vaginal suppository) termasuk prosedur cucian (wash), pemeriksaan dalaman vaginal (vaginoscope), atau pegawai perubatan memasukkan jari untuk melakukan pemeriksaan dalaman vagina wanita.

    • Memasukkan sebarang tiub catheter, alat pemeriksaan dalam saluran kencing (uretroscope), barium atau ubat pencuci yang dimasukkan sama ada ke dalam saluran kencing bagi lelaki atau wanita (contohnya memasukkan `urinary catheter’ untuk rawatan sumbatan salur kencing);

    • Penggunaan alat seperti enema, tiub suppository, teropong protoscope atau jari pegawai perubatan yang dimasukkan ke dalam dubur atau rectum untuk pemeriksaan;

    • Penggunaan teropong usus (endoscope) atau teropong perut (gasteroscope) untuk tujuan pemeriksaan sistem penghadaman; dan

    • Penggunaan bius menyeluruh yang membabitkan penggunaan gas.

    Wallahu a’lam.

    Oleh: Ustaz Dr Asmadi Mohamed Naim

    29 June 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , | Leave a comment

    Kenapa “ELERGIK PERDANA” dengan ‘SELAWAT PERDANA”?

    Himpunan muslimin di Putra jaya utk berselawat

    Saya melihat semacam suatu ‘alergik perdana’ kepada mereka yang menegatifkan program-program Selawat Perdana. Mereka yang elergik ini terlajak sehingga menerbitkan kalimah-kalimah takfir, sesat dan bid’ah kepada masyarakat yang mengikuti atau menghadirinya. Saya suka menyorot kembali elergik perdana mereka ini:

    1. Majlis selawat sebegini suatu yang bid’ah sesat masuk neraka sebab Nabi SAW tidak pernah buat. MasyaalLah, mereka masih berpegang secara literal hadis bid’ah walhal telah dijawab oleh banyak ulama mengenai perkara itu. Majlis ini tidak menambah sebarang rukun solat, atau mana-mana ajaran baru di dalam Islam. Bahkan di dalamnya ada peringatan-peringatan dan tausiyyah untuk pesertanya.

    2. Majlis ini syirik kerana mengagungkan Nabi Muhammad SAW? Pengamatan saya, adakah dengan berselawat sebegitu sudah berubah pula penyembahan kepada Nabi SAW? Tidak pula majlis ini menjadikan Nabi SAW kita berubah menjadi orang yang disembah. Tinggal lagi ia memperingatkan kepada kita sepatutnya idola kita ialah manusia yang sempurna ini.

    3. Majlis ini majlis yang sia-sia kerana turut dihadiri oleh mereka-mereka yang juga turut meluluskan konsert-konsert yang mungkar? Pada saya, sepatutnya kita gembira apabila mereka masih melihat majlis-majlis yang baik untuk dihadiri. Sekiranya para habaib itu hanya senyap terhadap perlakuan mungkar pemimpin, adakah dengan senyap menunjukkan mereka bersetuju? Tidak! Sebaliknya mendatangkan program alternatif adalah jawapan kepada program mungkar tersebut. Itu adalah jawapan yang lebih tajam daripada melafazkan kata-kata melarang mereka. Bahkan inilah jalan yang lebih berhikmah.

    4. Program ini membazir kerana jumlah wang yang sedemikian boleh digunakan untuk majlis dakwah yang lain. Pengamatan saya, kenapa saudara tidak melihat ini sebagai sebahagian daripada aktiviti dakwah iaitu memenuhi keperluan hiburan golongan muda. Golongan muda memang sentiasa memerlukan alunan-alunan muzik sebagaimana mereka menjadi pengikut kepada ramai artis yang menerbitkan album secara berterusan. Maka Selawat Perdana yang pelbagai boleh memenuhi keperluan mereka ini. Bahkan perlu diingat, sekiranya Selawat Perdana ini tidak dibuat, kita tidak pasti juga adakah wang ini akan dikhususkan untuk program dakwah yang lain.

    5. Qasidah dan berzanji mengagungkan Nabi Muhammad SAW sehingga syirik? Pengamatan saya, ini suatu konklusi yang buruk. Ungkapan-ungkapan qasidah penuh dengan bunga-bunga bahasa. Maknanya tidak terkeluar daripada makna kemanusiaan dan mengharap syafaat Nabi SAW. Mereka yang tidak tahu seni, memang sukar memahami kelembutan dan alunan bunga-bunga bahasa.

    Semoga kita semua terhindar dengan ketaksuban sesuatu pandangan khususnya aliran yang cepat mengkafirkan dan membid’ahkan umat Islam yang lain.

    Oleh: Us Asmadi Mohamed Naim

    29 June 2014 Posted by | Politik dan Dakwah | | Leave a comment

    Cukai Ke Atas Khamar (Arak) dan Khinzir (Babi)

    Menjawab persoalan ini, saya nukilkan dari kitab Ahkam Az-Zimmiyyin wal Musta’manin fi Daril Islam karangan Dr Abdul Karim Zaidan cetakan Mu’assasah Ar-Risalah pada muka surat 155 dan 156

    Menurut pendapat Hanafiah pada zahir Riwayat,diwajibkan cukai perniagaan ke atas arak ( tetapi) tidak diwajibkan cukai ke atas khinzir,(manakala) menurut (Imam) Abi Yusuf diwajibkan jugacukai terhadap khinzir.

    Manakala (menurut) pendapat (Imam) Zafar,telah berlaku pertentangan yang disebutkan daripada beliau di dalam kitab-kitab mazhab Hanafiah.Maka di dalam kitab Syarah As-Siru Al-Kabir :

    Berkata (Imam) Zafar Rahimahullah Ta’ala “ Tidak dikenakancukai arak dan (juga) tidak dikenakan cukai khinzir ”.Manakala di Dalam kitab Al-Hidayah : Berkata (Imam) Zafar Rahimahullah ta’ala : Dikenakan cukai kedua-duanya (arak dan khinzir) untuk menyamakan kedua-duanya pada (pentakrifan arak dan khamar itu sebagai ) harta.

    (*scene-r : Berlaku pertembungan perkataan Imam Zafar di dalam kitab-kitab mazhab Hanafiah sama ada dikenakan cukai ataupun tidak dikenakan cukai ke atas arak dan khinzir.Didalam kitab Syarah As-Siru Al-Kabir dinaqalkan bahawa Imam Zafar mengatakan: tidak dikenakan cukai arak dan babi manakala di dalam kitab Al-Hidayah pula menaqalkan bahawa Imam Zafar mengatakan: dikenakan cukai kedua-duanya)

    Dan yang rajih menurutku (Dr.Abdul Karim Zaidan) perkataan (di dalam) kitab Al-Hidayah.Manakala apa yang terdapat di dalam kitab Syarah As-Siru Al-Kabir itu berkemungkinan tersalah cetak dengan penambahan kalimah ( لا) (tidak) pada kedua-dua tempat.Dan aku (Dr.Abdul Karim Zaidan) merajihkan ini (Kitab Al-Hidayah) kerana mengambil perkataan (Imam) Zafar : “Untuk menyamakan kedua-duanya pada (pentakrifan arak dan khamar itu sebagai ) harta di sisi mereka (Hanafiah) ” .Aku (Dr.Karim Zaidan) telah merujuk di dalam nuskhah yang lain daripada kitab Al-Hidayah (dari sudut adakah ada di sana) kesalahan dan percetakan (kemudian aku dapati) kesemuanya menyebutkan : Berkata (Imam) Zafar Rahimahullah ta’ala : Dikenakan cukai kedua-duanya (arak dan khinzir) untuk menyamakan kedua-duanya pada (pentakrifan arak dan khamar itu sebagai) harta menurut mereka (Hanafiah).

    Dan Hujjah (Imam) Zafar (yang mengatakan) pada wajib dikenakan cukai perniagaan ke atas arak dan khinzir ialah : Kedua-duanya itu merupakan harta Mutaqawwim pada hak ahli zimmah,oleh yang demikian akan dikenakan dhaman ke atas muslim yang merosakkannya.

    (*scene-r : Sebentar tadi kita telah mengetahui bahawa pendapat Imam Zafar menyamakan arak dan khinzir pada pentakrifan arak dan khinzir itu di sebut sebagai harta yang mutaqawwim pada hak ahli zimmah.Sebentar lagi kita akan melihat pula pendapat Zahir Hanafiah yang tidak menyamakan atau kata lain membezakan antara arak dan khinzir itu daripada pentakrifan harta)

    Dan wajah (gambaran) zahir riwayat (menurut pendapat Hanafiah) iaitu perbezaan antara arak dan khinzir seperti berikut :

    PERTAMA : Apa yang diriwayatkan daripada (Saidina) Umar bin Al-Khattab r.a telah menghimpunkan Amil-amilnya pada Al-Musim (pengumpulan harta ).Berkata (Saidina) Umar r.a kepada mereka (amil-amilnya) : Apa yang kamu ambil daripada ahli zimmi daripada apa yang berlalu ke atas kamu daripada arak? (Apa yang kamu ambil daripada orang kafir zimmi daripada penghasilan perniagaan atau penjualan arak mereka?)

    Mereka menjawab : Setengah daripada satu persepuluh ( 5% ) daripada nilainya (sebagai cukainya)

    (Kemudian Saidina) Umar r.a berkata : Berikan tauliah untuk menjualnya dan ambil setengah daripada satu bersepuluh ( 5 % ) daripada nilainya (sebagai cukainya).

    KEDUA : Sesunguhnya arak itu lebih hampir daripada (pentakrifan) harta (berbanding) daripada khinzir (bukan harta)kerana ia (arak) itu bagi kami merupakan harta pada permulaannya ketika diperah dan akan menjadi harta semula pada akhirnya (iaitu) selepas (arak itu) berubah (menjadi cuka).Manakala khinzir (pula) menurut kami bukanlah (ditakrifkan sebagai) harta pada permulaannya dan tidak pula akan berubah menjadi harta pada penghujungnya.

    KETIGA : Sesungguhnya arak itu dari kategori Al-Amthal,mengambil nilai pada apa (benda) yang mempunyai contoh daripada sejenisnya, tidak akan berdiri menggantikan tempatnya (maka nilai itu tidak berdiri di atas benda itu),maka mengambil qimah (nilai) arak tidak disamakan dengan mengambil arak.Manakala khinzir pula dari kategori Al-Qiyam,dan qimah(nilai) pada benda yang tiada contoh sebandaingnya akan berdiri di atas tempat itu,maka mengambil qimah (nilai khinzir samalah) seperti mengambilnya (zat khinzir).Dan ini tidak dibolehkan untuk orang muslim.

    (*scene-r : Arak termasuk daripada kategori Al-Amthal iaitu ada benda lain sejenisnya atau pun sebanding dengannya sepertianggur atau perahan anggur .Berbeza dengan khinzir yang termasuk daripada kategori Al-Qiyam iaitu tiada yang sejenis atau yang sebanding dengannya yang boleh menggantikan tempatnya maka mengambil nilai khinzir sama dengan mengambil khinzir)

    KEEMPAT : Sesungguhnya hak pengambilan untuk daulah dengan sebab pemeliharaan (penjagaan),dan bagi muslim itu penjagaan arak pada keseluruhannya, oleh yang demikian sekiranya (seorang muslim itu) mewarisi arak maka orang muslim itu perlu menjaga arak tersebut daripada orang lain untuk membiarkannya berubah (menjadi cuka).Maka bagi orang muslim itu wilayah (boleh melantik orang lain untuk) penjagaan arak selain daripada dirinya.Berbeza dengan khinzir,tidak boleh bagi seorang muslim memelihara (menjaga) khinzir,sehingga sekiranya (seorang muallaf) yang masuk Islam memiliki banyak khinzir,maka ketika itu dia (muallaf) tidak boleh memeliharanya bahkan dia perlu meninggalkannya,(dia) tidak boleh wilayah (melantik orang lain untuk ) penjagaan khinzir selain daripada dirinya.(muallaf tersebut tidak boleh memelihara khinzir dan tidak boleh melantik orang lain untuk memelihara khinzir)

    (*scene-r : kita telah sebutkan sebentar tadi hujjah-hujjah daripada zahir riwayat Hanafiah yang membezakan antara arak dan khinzir dari pentakrifan harta.Sebentar lagi Dr.Abdul Karim Zaidan akan membahas semula hujjah-hujjah yang di sebutkan tadi)

    Sebenarnya hujjah-hujjah ini tidak terselamat daripada pertentangan.(I’tiradh)

    Apa yang diriwayatkan oleh Saidina Umar r.a (pada hujjah pertama) itu bukanlah menunjukkan (bahawa) tidak wajib cukai perniaagaan ke atas khinzir dengan hujjah tidak disebutkan kecuali arak.

    ([scene-r] : Di dalam hujjah pertama tadi hanya menyebutkan arak tetapi tidak disebutkan khinzir.Oleh yang demikian bukan bermakna tidak diwajibkan cukai perniagaan khinzir kerana tidak disebutkan khinzir di dalam riwayat tersebut)

    Kerana tidak menyebutkan sesuatu bukan dalil yang menunjukkan melarang sesuatu.

    Manakala perkataan yang mengatakan bahawa arak itu lebih dekat dengan pentakrifan harta berbanding khinzir (hujjah ke dua) tidak memberi kesan pada (penyelesaian) masalah kerana arak bukanlah dikategorikan sebagai harta yang Mutaqawwim pada hak muslim begitu juga dengan khinzir.

    Dan mereka katakan sekiranya pengambilan – ataupun mengambil cukai – dengan sebab pemeliharaan, Seorang muslim baginya menjaga arak dengan keseluruhannya berbeza dengan khinzir,dan (untuk)menolak pendapat ini bahawa khinzir itu selagi ia merupakan harta yang mutaqawwim pada hak zimmi (samalah) seperti kambing (yang merupakan harta mutaqawwim) pada hak kita,sebagaimana pendapat Hanafiah,maka semestinya memasukkan pada pemeliharaan ,seperti (sebagai contoh) memasukkan arak pada pemeliharaannya dengan mengiktibarkannya sebagai harta yang mutaqawwim bagi (hak) zimmi.

    Oleh yang demikian rajih menurutku (Dr.Abdul Karim Zaidan) adalah pendapat (Imam) Abi Yusuf dan (Imam) Zafar.(mengenakan cukai pada ke dua-dua perniagaan arak dan khinzir)

    Manakala menurut Hanabilah dan Syafieah : Tidak dikenakancukai arak dan khinzir, juga tidak dikenakan nilai kedua-duanya kerana kedua-duanya itu (arak dan khinzir)bukanlah(dikategorikan sebagai) harta pada asalnya –Sesungguhnya (cukai) hanya di ambil daripada harta yang Mutaqawwim.

    Rumusan :

    Pendapat Hanafiah : Dikenakan cukai pada arak sahaja dantidak dikenakan pada khinzir

    Mankala pendapat Imam Abi Yusuf dan Imam Zafar daripada ulama Hanafiah berpendapat : Dikenakan cukai pada arak dan khinzir.

    Pendapat Hanabilah dan Syafieah : Tidak dikenakan cukai arak dan khinzir.

    [scene-r ] :Bagi menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan harta yang mutaqawwim Dr.Abdul Karim Zaidan meletakkan nota kaki di dalam kitab yang sama pada muka surat 156 sebagaimana berikut :

    Harta yang mutaqawwim itu merupakan apa yang terpelihara secara perbuatan (atau praktikal)nya dan boleh dimanfaatkan secara kebiasaan menurut syarak secara diusahakan atau secara ikhtiar (pilihan).

    Manakala harta yang bukan mutaqawwim pula iaitu apa yangbukan dimiliki oleh seseorang atau, ia dimiliki secara perbuatantetapi tidak boleh dimanfaatkan secara kebiasaan yang diterima oleh syarak dan dibolehkan secara diusahakan dan secara pilihan seperti (contoh) arak dan khinzir (merupakan harta yang bukan mutaqawwim) bagi orang muslim.

    Manakala arak dan khinzir bagi orang bukan muslim merupakanharta yang mutaqawwim selagi mereka berpegang bahawa sah bermuamalat dan mendapat manfaat dengannya secara kebiasaan,kerana syarak menyuruh kita membiarkan ahli zimmah dengan apa yang mereka anuti (menurut kepercayaan mereka) dan wajib bagi kita memberitahu mereka bahawa arak dan khinzir merupakan harta yang mutaqawwim bagi mereka(tetapi bukan harta yang mutaqawwim bagi kita).(Dr.Abdul Karim Zaidan merujuk dari Kitab Al-Fiqh Al-Islami Ustaznya Muhammad Salam Madkur ms 167)

    [scene-r]:Harta Mutaqawwim bagi orang muslim merupakan apa sahaja yang dikira sebagai harta menurut syarak (suci,bermanfaat dsb sama ada diusahakan atau secara ikhtiar).Manakala harta yang bukan mutaqawwim bagi orang muslim adalah sesuatu yang tidak dikira sebagai harta yang boleh dimiliki (seperti khinzir tidak dikira sebagai harta menurut kita) atau ia dimiliki secara perbuatan (seperti contoh anggur boleh dimiliki dan dikategorikan sebagai harta) tetapi tidak boleh dimanfaatkan (seperti sudah diperah menjadi arak).

    Manakala harta yang mutaqawwim bagi kafir zimmimerupakan apa sahaja yang menurut kepercayaan mereka dibenarkan bermuamalat dengannya dan menurut mereka harta tersebut adalah bermanfaat.Sekiranya mereka mengatakan bahawa khinzir itu dibenarkan oleh kepercayaan mereka maka khinzir merupakan harta yang mutaqawwim bagi mereka.

    Apabila dikategorikan sebagai harta yang mutaqawwim bagi hak kafir zimmi maka kita tidak boleh merosakkannya,jika dilakukan juga akan dikenakan dhaman atau ganti rugi bagi orang yang merosakkannya.

    Berbeza jika mereka mengatakan bahawa khinzir itu tidak bermanfaat menurut kepercayaan mereka;maka ketika itu khinzir adalah bukan harta mutaqawwim begitu juga kita boleh contohkan dengan arak pada mengklasifikasikan arak itu sebagai harta yang muatqawwim ataupun bukan.

    Segalanya perlu merujuk kepercayaan mereka.Adakah kepercayaan mereka itu membolehkan atau tidak.Jika kepercayaan mereka membolehkan maka harta itu adalah harta mutaqawwim bagi hak mereka.Manakala, jika kepercayaan mereka juga tidak membenarkan maka harta itu bukan dikategorikan sebagai harta mutaqawwim.

    Sebagai tambahan telah berkata Khalifah Umar Abdul Aziz :

    الخمر لا يعشرها مسلم

    Maksudnya : Arak itu tidak dikenakan cukai (ke atas perniagaan) oleh orang Muslim.(Rujuk Al-Mughni li Ibnu Qudamah jilid 13 ms 232 cet.Dar Alam Al-Kutub)

    Seterusnya berkata Abu Ubaid : dan Makna perkataan Saidina Umar r.a :

    ولُّوهم بيعها ، وخذوا أنتم من الثمن . أن المسلمين كانوا يأخذون من أهل الذمّة الخمر والخنازير من جزيتهم ، وخَراج أرضِهم بقيمَتِهما ،ثم يتولَّى المسلمون بيعها ، فأنكره عمر ، ثم رخَّصَ لهم أن يأخذوا من أثمانها ، إذا كان أهل الذمّة المتولِّين بيعَها، و روى بإسناده عن سويد بن غفلة ، أن بلالا قال لعمر : إن عمالك يأخذون الخمر والخنازير فى الخراج . فقال :لا تأخذوها منهم ، ولكن ولُّوهم بيعها ، وخذوا أنتم من الثمن.

    Maksudnya: Tauliahkan kepada mereka untuk menjual,dan kamu ambillah daripada cukainya. Sesungguhnya orang-orang muslimin itu mengambil daripada ahli zimmah daripada cukai (yang dikenakan keatas) meraka,dan pengeluaran hasil bumi dengan nilainya.Kemudian orang-orang muslimin mentauliahkan untuk menjualnya,maka Saidina Umar r.a mengingkarinya kemudian merukhsahkan (meringankan atau membolehkan) untuk mereka mengambil nilainya,(dengan syarat) sekiranya ahli zimmi itu ditauliahkan untuk menjualnya.Dan diriwayatkan dengan sanadnya dari Suaid bin Ghaflah r.a, sesungguhnya Saidina Bilal r.a berkata pada Saidina Umar r.a :Sesungguhnya Ummal (amil-amil) kamu mengambil arak dan khinzir sebagai pengeluaran.Maka Saidina Umar r.a berkata : Janganlah kamu mengambil daripada mereka tetapi berikanlah tauliah kepada mereka dan ambillah cukainya. .(Rujuk Al-Mughni li Ibnu Qudamah jilid 13 ms 232/233 cet.Dar Alam Al-Kutub)

    Berkata Imam Ibnu Qudamah pada muka surat 233

    فصل : ويجوز أخذ ثمن الخمر والخنزير منهم عن جزية رءوسهم ، وخراج أرضهم، احتجاجا بقول عمر هذا : ولأنها من اموالهم التى نقرهم على اقتنائها والتصرف فيها ، فجاز أخذأثمانها منهم كثيابهم.

    Maksudnya: Fasal : Dan dibolehkan mengambil nilai (cukai) arak dan khinzir daripada mereka melalui cukai kepala mereka, dan pengeluaran tanaman mereka,berhujjah dengan perkataan daripada Saidina Umar r.a ini : kerana ia merupakan daripada harta mereka yang kita tetapkan ke atas mereka (bahawa harta tersebut) menjadi miliknya dan boleh belanjakan (atau tasaruf jual beli) maka bolehlah mengambil nilainya (cukai) daripada mereka seperti baju-baju mereka (yang boleh dijual belikan).

    [scene-r] : Mungkin boleh kita katakan pentauliahan kepada kafir zimmi sekarang ini dengan cara memberi lesen kepada mereka.Bagaimana lesen ini boleh diberikan kepada mereka itu terpulang kepada pemerintah untuk meletakkan syarat-syarat yang perlu dipenuhi oleh kafir zimmi, seperti contoh; Diberikan lesen kepada mereka yang menjual arak dengan syarat tidak boleh secara terbuka dan menetapkan kuantitinya begitu juga dengan ladang khinzir.Kemungkinan boleh di syaratkan untuk penternak khinzir menjaga kebersihan dan tidak membuat pencemaran serta menghadkan kuantiti ternakan atau apa sahaja syarat yang dilihat oleh pemimpin mengikut penilaian dan pertimbangan mereka.Manakala sekiranya ahli zimmi ini gagal memenuhi syarat maka boleh sahaja lesen itu ditarik balik ataupun sekiranya di dapati bahawa arak atau khinzir itu juga bukan harta mutaqawwim bagi ahli zimmi maka ketika itu tidak lagi dibolehkan untuk membiar dan membenarkan mereka menjalankan aktiviti penjualan arak atau khinzir.

    Sumber: http://scene-r.blogspot.com/2008/04/cukai-ke-atas-khamar-arak-dan-khinzir.html

    20 June 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

    Mengenali Ideologi Aliran Khawarij

    khawarij (1)

    (Gabungan artikel dari tulisan di blog Insan Berdakwah dan tulisan Dr. Umar Abdullah Kamil)

    Firman Allah سبحانه وتعالى :

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ

    “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak berprasangka; Sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang mengumpat sebahagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.”

    (Surah Al-Hujurat, 49; Ayat 12)

    Kaum Khawarij telah dibuktikan menjadi golongan yang paling mudah berburuk sangka. Dalam catatan sejarah, mereka berburuk sangka terhadap Rasulullah s.a.w dalam pembahagian ghanimah, bahkan sehingga sanggup menuduh Rasulullah s.a.w tidak mencari keredhaan Allah Taala. Mereka tidak sabar-sabar untuk membuat kesimpulan daripada sebab Rasulullah s.a.w melebih-lebihkan pembesar berbanding golongan marhein. Padahal apa yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w adalah dalam rangkai dakwah dan ta’liful qulub. Mereka juga menuduh Syaidina Uthman Affan r.a sebagai pengamal nepotisme dan menuduh Syaidina Ali r.a sebagai pemimpin yang tidak berwawasan.

    Dzul Khuwaishirah si bodoh yang melemparkan tuduhannya yang mengatakan bahawa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ikhlas dengan berkata :

    "Ertinya : Demi Allah, sesungguhnya ini adalah suatu pembahagian yang tidak adil dan tidak dikehendaki di dalamnya wajah Allah". [Hadis Riwayat Muslim II/739, No. 1062, Ahmad IV/321].

    Dzul Khuwaishirah ketika melihat Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam membahagi harta kepada orang-orang kaya, bukan kepada orang-orang miskin, dia tidak menerimanya dengan prasangka yang baik atas pembahagian tersebut.

    Ini adalah sesuatu yang menghairankan. Kalaulah tidak ada alasan selain pelaku pembahagian itu adalah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam cukuplah hal itu mendorong untuk berbaik sangka. Akan tetapi Dzul Kuwaishirah enggan untuk itu, dan berburuk sangka disebabkan jiwanya yang sakit. Lalu dia berusaha menutupi alasan ini dengan keadilan. Yang demikian ini mengundang tertawanya iblis dan terjebak dalam perangkapnya.

    Seharusnya seseorang itu introspeksi, meneliti secara cermat dorongan, tindak tanduk dan maksud tujuan serta waspada terhadap hawa nafsunya. Hendaklah dia berjaga-jaga terhadap ‘pendorong-pendorong’ iblis, kerana dia banyak menghias-hiasi perbuatan buruk dengan dibungkus secara indah dan rapi, dan membaguskan tingkah laku yang keji dengan nama dasar-dasar kebenaran yang mengundang seseorang untuk menentukan sikap menjaga diri dan menyelamatkan diri dari tipu daya syaitan dan perangkap-perangkapnya.

    Jika Dzul Khuwaishirah mempunyai sedikit saja ilmu atau sekelumit pemahaman, tentu tidak akan terjatuh dalam kumbangan ini.

    Berikut kami paparkan penjelasan dari para ulama mengenai keagungan pembahagian Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam dan hikmahnya yang tinggi dalam menyelesaikan perkara.

    Berkata Syaikh Islam Ibnu Taimiyah :" Pada tahun peperangan Hunain, Baginda Sallallahu ‘alaihi wa sallam membahagikan ghanimah (harta rampasan perang) Hunain pada orang-orang yang hatinya lemah (muallafah qulubuhum) dari penduduk Najd dan bekas tawanan Quraisy seperti ‘Uyainah bin Hafsh, dan beliau tidak memberi kepada para Muhajirin dan Anshar sedikitpun.

    Maksud Baginda, dengan memberikan harta rampasan perang kepada mereka, secara halusnya sebagai untuk mengikat hati mereka dengan Islam, kerana keterkaitan hati mereka dengannya merupakan maslahat umum bagi kaum muslimin. Sedangkan yang tidak baginda berikan adalah kerana mereka lebih baik di mata Baginda dan mereka adalah wali-wali Allah yang bertaqwa dan seutama-utamanya hamba Allah yang soleh setelah para Nabi dan Rasul.

    Jika pemberian itu tidak dipertimbangkan untuk maslahat umum, maka Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi pada aghniya’, para pemimpin yang ditaati dalam perundangan dan akan memberikannya kepada Muhajirin dan Anshar yang lebih memerlukan dan lebih perlu diberikan keutamaan.

    Oleh sebab inilah orang-orang Khawarij mencela Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam dan dikatakan kepada baginda oleh pelopornya :" Wahai Muhammad, berbuat adillah. Sesungguhnya engkau tidak berlaku adil ". dan perkataannya :" Sesungguhnya pembahagian ini tidak dimaksudkan untuk wajah Allah …..". Mereka, meskipun banyak shaum (berpuasa), solat, dan bacaan Al-Qur’annya, tetapi keluar dari As-Sunnah dan Al-Jama’ah.

    Memang mereka dikenal sebagai kaum yang suka beribadah, wara’ dan zuhud, akan tetapi tidak disertai ilmu, sehingga mereka memutuskan bahawa pemberian itu semestinya tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang berhajat, bukan kepada para pemimpin yang ditaati dan orang-orang kaya itu, jika di dorong untuk mencari keredhaan selain Allah -menurut perasangka mereka-.

    Inilah kebodohan mereka. Kerana sesungguhnya pemberian itu menurut kadar maslahah agama Allah. Jika pemberian itu akan semakin mengundang keta’atan kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi agama-Nya, maka pemberian itu jauh lebih utama. Pemberian kepada orang-orang yang memerlukan untuk menegakkan agama, menghinakan musuh-musuhnya, memenangkan dan meninggikannya lebih agung daripada pemberian yang tidak demikian itu, walaupun yang kedua lebih memerlukan". [Lihat Majmu' Fatawa : XXVIII/579-581, dengan sedikit ringkasan].

    Sebenarnya pemberian ini dibuat diatas kepentingan agama Islam. Kerana itu setiap kali sesuatu perbuatan anugerah pemberian yang dilakukan itu mendatangkan ketaatan yang lebih kepada Allah dan kemanfaatan kepada agama maka perbuatan itu adalah lebih aula atau lebih utama. Sesuatu anugerah pemberian itu amatlah berharga nilainya dalam usaha mendirikan ugama Allah, menewaskan musuh, menzahir dan mempropagandakan Islam itu, maka ia  adalah lebih utama daripada memberi kepada golongan yang tidak memberi timbal balik faedah yang banyak. 

    Oleh kerana itu anugerah pemberian kepada golongan yang memberi timbal balik yang lebih besar itu lebih wajar walaupun kedudukan golongan yang kedua dari kalangan orang mukmin itu lebih memerlukan pemberian tersebut. Memang menjadi kewajipan kepada setiap individu agar memiliki sifat kebijaksanaan , memahami ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan fiqh al-dakwah serta memahami maqasid al-syariah agar tidak terumbang ambing di dalam perkara yang samar  dan belum ditentukan tentang kedudukan hukumnya.

    Sekiranya seseorang itu tidak memiliki ciri-ciri tersebut  maka ia akan menghadapi suatu keadaan yang terkebil-kebil tidak menentu lalu ditimpa pula dengan kerosakan dan membawa kepada hilang pedoman hidup. Setelah itu individu tersebut  akan ditimpa oleh sifat buruk sangka, kecelaan dan pada masa yang sama juga ianya telah melakukan pelbagai perkara kebaikan yang wajar diberi pujian dan ucapan terima kasih.

    Fenomena ini sedang berjalan dengan giatnya di negara kita. Sikap buruk sangka sudah menjadi sebahagian daripada rangka dakwah atau pengembangan pengaruh. Sebarang keburukan yang membabitkan kaum yang disokongnya, segera dikatakan sebagai berita palsu atau adu-domba dan fitnah sekalipun dia belum lagi melakukan siasatan yang membenarkan sangkaannya.

    Read more: http://www.penaminang.com/2014/06/ideologi-khawarij-ada-pada-ahli.html#ixzz352qEWcfH

    19 June 2014 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Ibadah, Informasi, Politik dan Dakwah | | Leave a comment

    Hukum mengambil upah membaca Al Quran


    Soalan :

    Apakah hukum mengambil upah dengan membaca al Quran ? Begitu juga dengan sesetengah tempat selepas kematian tuan rumah akan memanggil sekumpulan Huffaz al Quran untuk membaca al Quran. Setelah itu mereka akan dihidangkan makanan dan diberi sagu hati berupa wang. Tujuannya ialah untuk bersedekah bagi pihak roh simati dengan harapan agar Allah memberi keringanan kepadanya. Apakah hukum perkara tersebut ?

    Jawapan 1 :

    Jawapan diberikan oleh Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi (bekas Mufti Iraq) dalam bukunya : Al Bid’ah fi al Mafhum al Islamy ad Daqiq – (Salah faham terhadap Bid’ah) menyebutkan :

    Membaca al Quran adalah ibadah. Para ulama berselisih pendapat, adakah dibolehkan mengambil upah atau imbalan ke atas ibadah yang dilakukan termasuk di antaranya ialah membaca al quran dan mengajarnya. Sebahagian fuqaha’ berpendapat mengambil upah hasil pembacaan al Quran adalah tidak harus.

    Ini adalah salah satu pendapat yang dikemukakan oleh Imam Ahmad, para ulama bermazhab Hanafi yang terawal dan Ishaq bin Rahawaih. Manakala para ulama Hanafiyyah yang terkemudian mengharuskan pengambilan upah hasil menjadi imam, mengajar dan muazzin. Alasan mereka ialah sekiranya dipegang pendapat yang melarang pengambilan upah maka ia akan menyebabkan tugas-tugas tersebut terabai kerana mereka yang layak untuk melaksanakan tugas tersebut terpaksa meninggalkannya untuk mencari sara hidup, seterusnya menyebabkan tugas tersebut terabai atau berlaku kepincangan.

    Manakala sebahagian ulama yang lain seperti Imam Malik, Asy Syafie, Ibnu Al Munzir dan Ahmad pada satu riwayat yang lain mengharuskan pengambilan upah hasil membaca al Quran. Mereka berdalilkan dengan sebuah hadith yang diriwayatkan oleh AlBukhari bahawa Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang bererti) :

    Yang paling berhak kamu mengambil upah ke atasnya adalah Kitab Allah (Al Quran)

    kerana Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam tidak membantah ke atas para sahabat yang mengambil upah hasil jampian dengan al Quran. Namun bagi para ulama yang mengharuskannya kesemua mereka bersepakat bahawa sekiranya seorang qari (yang membaca al Quran) membaca dengan niat untuk mendapat upah dan mengaut harta, maka dia tidak akan mendapat pahala dan berkemungkinan dia berdosa kerana dia membaca Al Quran bukan kerana Allah subahanahu wa ta’ala (ikhlas kerana Allah).

    Mereka juga berpendapat sekiranya pembacaan Al Quran dijadikan sebagai kerja untuk mengaut keuntungan dan harta yang banyak maka hukumnya adalah haram yang tidak diakui oleh syarak.

    Jawapan 2 :

    Membaca al Quran adalah sangat dianjurkan. Begitu juga bersedekah. Mengambil upah untuk tugas-tugas keagamaan seperti membaca al Quran , menjadi imam, membaca khutbah jumaat, azan, mengajar ilmu-ilmu syariah, telah menjadi kebiasaan diamalkan umat Islam di negara-negara Islam sejak zaman berzaman. Adapun mengambil upah membaca alQuran ia termasuk dalam keumuman hadith RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallan (yang bererti) :

    Yang paling berhak kamu mengambil upah ke atasnya adalah Kitab Allah (Al Quran)

    (Riwayat Bukhari)

    Hadith ini adalah bahagian akhir hadith yang panjang riwayat Al Bukhari dari Ibn Abbas iaitu :

    Bahawasanya satu jama’ah para sahabat Nabi melalui di tempat yang ada air yang ada di sana seseorang bernama Ladigh atau Salim (perawi tidak pasti antara keduanya yang kena sengat binatang ), Datanglah seorang lelaki dari tempat air itu lalu berkata : Adakah di antara kamu yang pandai menjampi kerana sesungguhnya di tempat air itu ada seorang lelaki yang disengat binatang bisa. Lalu ada seorang dari mereka lalu membaca Surah al fatihah dengan pembayaran beberapa ekor kambing. Lalu (selepas menjampi) dia membawa kambing tersebut kepada kawan-kawannya. Kawan-kawannya tidak suka dengan perkara tersebut. Mereka berkata : Apakah kamu mengambil upah dengan membaca kitab Allah? (perkara ini berlarutan) sehinggalah mereka sampai di Madinah, lalu mereka berkata : Ya Rasulullah, dia telah mengambil upah melalui kitab Allah. Rasulullah sallaLlahu ‘alaihi wasallam lalu mengatakan : Sesungguhnya yang paling berhak kamu mengambil upah ke atasnya ialah kitab Allah (Al Quran)

    Imam Nawawi berkata dalam Raudhah ath Tholibin : Dari al Qadhi Husain di dalam Al Fatawa, menyebutkan :

    Sesungguhnya mengupah membaca al Quran di atas kubur pada tempoh tertentu adalah dibolehkan sebagaimana (dibolehkan) mengupah orang untuk azan dan mengajar al Quran

    (lihat Fath al Mu’in m/s 84, Lihat Minhaj al Wadhih (Soal Jawab Agama membahaskan Masalah Terkini dalam Feqah)

    Mengikut Bughyah al Mustarsyidin, sah (boleh) upah membaca al Quran di atas kubur dan mendoakannya kerana bacaan itu boleh memberi manfaat dan dihadiahkan pahalanya kepada si mati. Dalil dari hadith dan pendapat-pendapat para ulama’ mu’tabar di atas memberi penjelasan bahawa tidak mengapa mengambil upah membaca al Quran kepada si mati.

    Rujukan :

    1. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Al Bid’ah fi al Mafhum al Islamy ad Daqiq – Salah faham terhadap Bid’ah

    2. Muhadir bin Hj Joll, Persoalan Khilafiyyah dan Penjelasan Ulama, Inilah Jawapannya, m/s 660-661, Cet Pertama 2011, Mawleed Publishing, Selangor

    Oleh: Ustaz Zamihan Al-Ghari

    16 June 2014 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

    Kaedah Umum al-Balwa Dan Kesannya Kepada Perubahan Hukum Syarak

    Oleh: Dr. Arieff Salleh bin Rosman, Felo Fatwa

    Islam merupakan agama rahmat kepada sekalian alam. Hukum hakam yang ditetapkan dalam Islam adalah bertujuan untuk memenuhi kepentingan hidup manusia dan menjauhkan kemudaratan, termasuk menghilangkan kesulitan dan kesusahan. Firman Allah SWT, surah al-Haj ayat 78, "Dia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara agama."

    Berdasarkan ayat tersebut, para pakar perundangan Islam menggariskan satu kaedah perundangan iaitu "Apabila berlaku kesulitan, maka perlu diberikan kemudahan atau keringanan". Antara konsep yang berkaitan dengan kaedah tersebut ialah UMUM AL-BALWA.

    Kaedah Umum al-Balwa mempunyai peranan yang besar dalam proses mengeluarkan ijtihad. Ia merupakan salah satu justifikasi dalam menjelaskan sesuatu hukum Syarak berkaitan isu semasa. Kaedah Umum al-Balwa sering digunakan oleh para ulama; sama ada dalam disiplin ilmu usul fiqh atau fiqh. Ia dibincangkan dalam kerangka rukhsah dan keringanan yang dibenarkan dalam hukum Syarak.

    Kebanyakan aplikasi Kaedah Umum al-Balwa dalam kitab fiqh dibincangkan berkaitan jenis-jenis najis yang dimaafkan. Ia biasanya dikaitkan dengan ciri sukar dikawal, sukar diasingkan, sukar dijauhi, kebanyakan orang mukallaf sukar mengelakkannya. Manakala illah (sebab) keringanan diberikan sama ada berkaitan dengan kesulitan, kesusahan, kerumitan dan sebagainya (lihat: Ibn Hazm, al-Muhalla, 1/221, 254; al-Sarakhsi, al-Mabsut, 1/60, 61, 79, 80; Ibn Qudamah, al-Mughni, 1/21, 22, 23, 62; al-Nawawi, al-Majmu’, 3/134, 135; al-Dusuqi, Hasyiah al-Dusuqi, 1/71, 73, 75).

    Namun begitu, dalam bahagian fiqh yang lain juga dibincangkan Kaedah Umum al-Balwa (al-Suyuti, al-Ashbah wa al-naza’ir, 164-167). Kaedah Umum al-Balwa sangat berkait rapat dengan perkembangan semasa pada sesuatu zaman dan tempat. Kepentingan memahami konsep umum al-balwa dan aplikasinya dalam kehidupan seharian menjadi semakin penting dalam dunia sains dan teknologi serba canggih dewasa ini. Oleh itu, kaedah ini perlu difahami dengan sebaiknya, kerana perubahan hukum sesuatu boleh berlaku kesan daripada wujudnya Umum al-Balwa.

    Menurut Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Umum al-Balwa bermaksud,"Berleluasanya sesuatu sehingga seseorang itu sukar untuk menyelamatkan diri daripadanya atau menjauhinya."(Nazariyah al-darurah al-Syar’iyah, 123). Dr. ‘Amir al-Zibari turut mengemukakan definisi yang sama (al-Tahrir fi qa’idah al-masyaqqah tajlib al-taysir, 82).

    Manakala menurut Salih Yusuf, Umum al-Balwa bermaksud, "Apa-apa yang diperlukan pada keadaan yang umum, di mana berlakunya perkara tersebut sehingga sukar untuk dielakkan serta susah untuk dikawal dan jika dihalang ia akan menimbulkan kesulitan yang lebih."(al-Masyaqqah tajlib al-taysir, 232).

    Dr. Salih bin ‘Abd Allah bin Humayd menjelaskan, "Umum al-Balwa itu merujuk kepada dua ciri:

    1) Keperluan untuk sesuatu itu diberikan keringanan dalam keadaan umum, iaitu sukar untuk mengelakkannya dan jika tidak diberi keringanan akan menimbulkan kesulitan yang lebih besar.

    2) Sesuatu itu sudah tersebar, iaitu seseorang mukallaf sukar untuk mengelakkan diri daripadanya, atau menghilangkannya, serta jika tidak diberi keringanan akan menimbulkan kesulitan yang lebih besar.

    Bagi ciri pertama, keringanan perlu diberikan kerana untuk memenuhi keperluan orang mukallaf dan bagi ciri kedua, keringanan perlu diberikan kerana ia sukar untuk dihilangkan." (Raf’ al-haraj, 262).

    Menurut Muslim bin Muhammad bin Majid al-Dusari, Umum al-Balwa bermaksud, "Isu yang berlaku secara menyeluruh ke atas orang mukallaf atau keadaan orang mukallaf yang berkaitan dengan pertanggungjawaban tertentu berkenaan isu tersebut, serta wujud kesukaran menghindarinya atau tidak mampu menghilangkannya melainkan dengan bertambah kesulitan yang memerlukan kemudahan dan keringanan." (Umum al-balwa: Dirasah nazariyah tatbiqiyah, 61)

    Ciri umum al-balwa (al-Dusari, Umum al-balwa: Dirasah nazariyah tatbiqiyah, 62-64):

    1) Isu yang berlaku secara menyeluruh, sama ada isu berkaitan dengan perbuatan mukallaf seperti kencing, atau berkaitan dengan keadaan mukallaf seperti umur tua dan seumpamanya, atau berkaitan dengan keadaan tertentu yang tidak berkaitan dengan mana-mana tingkahlaku mukallaf seperti debu jalan yang bercampur najis binatang terkena baju kerana bawaan angin.

    2) Isu itu berlaku ke atas setiap individu mukallaf atau kebanyakan mereka, sama ada melibatkan keadaan yang bersifat umum atau khusus untuk keadaan tertentu sahaja. Manakala jika isu tersebut hanya melibatkan keadaan khusus untuk seorang individu sahaja atau sebilangan kecil, maka kaedah Umum al-Balwa tidak boleh diterima pakai untuk isu tersebut.

    3) Isu tersebut berkaitan dengan pertanggungjawaban (taklif), contohnya asal darah kutu itu najis, tetapi atas alasan Umum al-Balwa, ia menjadi najis yang dimaafkan.

    4) Isu tersebut sukar untuk dihindari atau ia hanya boleh dihilangkan dengan bertambahnya kesulitan.

    Sebab umum yang mempengaruhi hukum kerana Umum al-Balwa (al-Dusari, Umum al-balwa: Dirasah nazariyah tatbiqiyah, 69):

    1) Isu tersebut sukar dikawal atau wujud halangan untuk mengawalnya yang pada kebanyakan keadaannya seseorang mukallaf tidak mempunyai pilihan. Contohnya, seseorang pejalan kaki sukar untuk mengelakkan daripada debu jalan yang berkemungkinan besar bercampur debu najis daripada terkena pada pakaiannya. Debu tersebut termasuk dalam najis yang dimaafkan, maka sah solat jika pejalan kaki itu bersolat menggunakan pakaian tersebut (al-Suyuti, al-Ashbah wa al-naza’ir, 164).

    2) Isu tersebut sukar dielakkan atau wujud halangan ketika hendak mengelakkan ia daripada berlaku yang pada kebanyakan keadaannya seseorang mukallaf mempunyai pilihan untuk melakukannya atau tidak. Tetapi jika tidak dilakukan perkara tersebut akan bertambah kesulitan. Contohnya kesilapan seseorang mujtahid ketika berijtihad, pada asalnya kesilapan itu adalah dosa kerana salah menjelaskan hukum Syarak, namun ia tidak dianggap dosa kerana terdapat Umum al-Balwa dalam kalangan mujtahid iaitu sukar mengelak kesilapan (rujuk hadis Nabi yang direkod oleh Imam al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, 5/340 hadis no. 2680).

    Contoh berubah hukum kerana Umum al-Balwa:

    1) Air liur kucing hukum asalnya ia adalah najis kerana kucing berkemungkinan makan benda najis. Namun, atas dasar umum balwa, iaitu kucing adalah binatang peliharaan yang hidup di persekitaran hidup manusia, jika dihukumkan bekas jilatan kucing pada bekas air dihukumkan najis, maka ia akan menimbulkan kesulitan kepada hidup masyarakat.

    Maka hukum air daripada bekas jilatan kucing tidak menjadi najis (al-Suyuti, al-Ashbah wa al-naza’ir, 164)

    2) Hukum asal menerima upah daripada amal soleh adalah haram. Contohnya, haram guru yang mengajar al-Quran daripada menerima gaji, juga gaji imam, bilal, dan sebagainya.

    Namun atas alasan umum balwa, iaitu jika hukum itu kekal ia akan menjadikan tugas tersebut diabaikan serta guru al-Quran, imam, bilal dan seumpamanya akan terjejas keperluan hidup mereka, maka berubah hukum kepada harus menerima upah atau gaji (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 8/136)

    3) Isu wanita menjadi orang gaji di rumah. Menurut hukum asal, seorang wanita diharamkan keluar rumah melainkan ditemani oleh mahramnya. Begitu juga seorang wanita diharamkan tinggal di rumah yang tiada mahramnya.

    Namun, pada zaman kini, atas dasar Umum al-Balwa, maka diharuskan seorang wanita menjadi orang gaji di rumah orang lain tanpa ditemani oleh mahramnya, dengan syarat terhindar daripada fitnah (al-Dusari, Umum al-balwa: Dirasah nazariyah tatbiqiyah, 446)

    Wallahu A’lam.

    Sumber: Fatwa Malaysia

    5 June 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah | | Leave a comment

    Jangan kamu berkahwin dengan perempuan yang bersifat dengan 6 sifat ini.

    Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin (kitab Tassawuf yang terkenal) ada mengatakan ungkapan arab yang bermaksud: "Janganlah kamu menikahi 6 jenis perempuan iaitu:

    1. Al-Annanah (suka mengeluh) ialah : perempuan yang banyak mengeluh dan mengadu, selalu membalut kepalanya sebagai tanda sakit. (menandakan dia rasa terbeban dengan tugasan hariannya, kerana malas atau memang sifat semulajadinya suka mengeluh walaupun disebabkan perkara kecil. Perempuan tersebut berpura-pura sakit supaya suaminya tidak membebaninya dengan tugasan harian). Menikahi perempuan yang sengaja buat-buat sakit tidak ada faedah padanya.

    2. Al-Mananah: perempuan yang memberikan sesuatu kepada suaminya (suka mengungkit-ngungkit). Sampai satu masa dia akan mengatakan : saya telah melakukan untuk kamu itu ini.

    3. Al-Hananah : perempuan yang suka merindui dan mengingati bekas suami atau anak daripada bekas suami. (Perempuan seperti ini tidak akan menghargai suaminya walaupun suaminya berusaha memuaskan segala kemahuannya)

    4. Al-Haddaqah : menginginkan setiap perkara dalam perbelanjaannya (boros) dan suka membeli belah sehingga membebankan suaminya untuk membayar pembeliaannya.

    5. Al-Barraqah : terdapat dua makna yang pertama, suka berhias sepanjang masa (melampau dalam berhias) supaya wajahnya nampak lebih anggun dan mempersona, kat suami xbuat pun! Makna kedua ialah : perempuan yang tidak mahu makan, maka dia tidak akan makan kecuali bila bersendirian dan dia akan menyimpan bahagian tertentu untuk dirinya sendiri.

    6. Al-Syaddaqah : perempuan yang banyak cakap

    Sumber: PONDOK HABIB

    4 June 2014 Posted by | Tasauf, Tazkirah | , , | Leave a comment

    Syarat aurat wanita dalam solat tanpa telekung

    Wanita solat tanpa telekung

    6 SYARAT AURAT SOLAT TANPA TELEKUNG

    Terdapat segelintir wanita mengabaikan solat ketika leka membeli belah di Shopping Kompleks. Alasannya tak bawa telekung atau telekung yang disediakan di surau kat shopping kompleks kotor dan tak menyenangkan. Yang agak beragama pula memberikan jawapan yang terlalu menyimpang dari landasan agama, iaitu nak qada solat kat rumah nanti. Entah kitab mana yang dirujuk dan entah ulama mana yang dijadikan sandaran.

    Sebenarnya, Qada solat adalah untuk orang yang meninggalkan solat tanpa sengaja seperti tertidur dan terlupa. Bagi yang meninggalkan solat secara sengaja,termasuk dengan alasan tidak bawa telekung hukumnya berdosa besar( malah sesetengah ulama menghukumnya sebagai kafir). Pelakunya mesti bertaubat dengan sebenar-benar taubat dan menqada solat yang ditinggalkan itu sesegera mungkin. Jadi dalam situasi sebegini, jika wanita tersebut telah memakai pakaian yang memenuhi kriteria menutup aurat sebagaimana yang telah dijelaskan, maka wanita tersebut boleh langsung bersolat dengan pakaian tersebut.

    Wanita solat tanpa tudung

    SYARAT 1 : Mestilah Menutup Dagu.

    Ramai orang solat tanpa telekung tak bertutup lohong dagu dia. Kalau pakai tudung bawal, boleh pin kan bahagian tepi. Kalau pakai tudung sarung, kena la pakai dua lapis untuk tutup dagu tu. Gunalah style apapun, yang penting mesti tutup. Jangan lupa pin kan belakang tudung dengan baju! Nanti time sujud, boleh terselak tudung. Nanti nampak leher, batal pulak. Jangan lupa bab tu.

    Isu dagu ni terdapat khilaf, canggah pendapat. Jadi, ikutlah mana yang rasa betul.

    Wanita solat tutup lengan

    SYARAT 2 : SEELOK-ELOKNYA PAKAI HANDSOCKS!

    Yes, sebab time melakukan pergerakan solat, ada kemungkinan baju lengan kita boleh tersingkap dan nampak aurat. Memang kita boleh cepat-cepat betulkan, tapi solat kita akan jadi sangat tak selesa dan kita tak sedar kalau terbukak aurat So, kenalah pakai ok. Handsocks ni memang digalakkan.

    Wanita solat tanpa telekung tutup lengan

    SYARAT 3 : Memakai Baju Lengan Pendek Dengan Handsocks.

    Ingat, syaratnya MENUTUP AURAT, bukan MEMBALUT AURAT. Kalau handsocks nya ketat, maka tak dikira menutup aurat sebab ketat. Paling selamat kalau pakai baju lengan pendek ni dipakai 3 lapis. Baju luar lengan pendek, baju lagi kat dalam lengan panjang, dan handsocks. Sanggup?

    Jadi, tak boleh. Baju kenalah longgar semuanya. Tak boleh ada yang ketat, walaupun lengan tangan.

    Wanita solat tanpa telekung ada kain di dalam

    SYARAT 4 : Kain Tak Jarang Dan Nampak Dalam.

    Seeloknya solat tanpa telekung biarlah pakai kain. Jadi bentuk kaki semua lagi yakin tertutup. Cuma, pakailah seluar kat dalam kain. Nanti time solat tersingkap kain tu, susah jugak. Baju rasanya tak perlu risau. Cuma perlu labuh dan longgar. Kalau pakai tudung labuh, lagi mudah. Dan tudung bawal ni kadang-kadang boleh nampak bayang-bayang leher kita, jadi pastikan takde bayang-bayang semua sebelum solat, ok. Nanti terbatal solat, sayang je kita solat.

    Wanita solat longgarkan stoking

    SYARAT 5 : Pakai Stokin Yang Tebal.

    Pastikan stokin yang dipakai kenalah longgar dan tak nampak warna kulit kaki kita. Dan tak nampak bentuk jari antara kaki. Jadi, kita kena kasi longgar-longgar sikit stokin tu. Apapun, nampak jari kat stokin tu pun ada khilaf jugak, bercanggah pandangan. Ada yang kata nampak bentuk dimaafkan pada syarak. Allahhua’lam..Sebab tu la tak digalakkan pakai stokin terlalu pendek dan nipis. Nanti susah nak solat.

    Wanita solat tanpa telekung pakai seluar longgar dan labuh

    SYARAT 6 : Pakai Seluar?

    Seeloknya, pakailah kain. Sebab khuatir seluar ketat dan time buat pergerakan solat akan tertimbul bahagian-bahagian yang tidak diingini. Kita boleh pakai seluar. Tapi seluar tu mestilah longgar dan baju yang kita pakai mestilah labuh hingga menutup punggung dan peha.

    Banyak benda perlu berhati-hati kalau nak solat tanpa telekung, terutama bila lakukan pergerakan solat. Sebab tu pakaian semua perlu longgar dan tudung seeloknya labuh.

     

    Sumber: http://www.inikalilah.org/2014/05/6-syarat-aurat-solat-tanpa-telekung.html

    4 June 2014 Posted by | Fiqh, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | , , | Leave a comment

    Jalan kita bukan jalan melaknat, menuduh dan mencaci maki

    “Taushiyyah Al-Habib Umar bin Hafidz yang Meruntuhkan Penyakit Hati”

    Di hadapan kita ada qudwah (teladan), Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang mukmin tidak melaknat, menuduh dan berkata keji.” “Aku tidak diutus sebagai pelaknat ataupun berteriak-teriak di pasar.”

    Baginda Saw. bukan pencaci, bukan pula pelaknat. Begitu juga dengan pengikut baginda dari kalangan ulama, tidak ada diantara mereka pelaknat yang suka melaknat orang. Bukan juga pencaci, yang mencaci bahkan terhadap orang awam. Apatah lagi terhadap para ulama, terlebih lagi para sahabat Nabi Saw. dan tabi’in. Mereka (para sahabat dan tabi’in) adalah sumurnya penghargaan, asas kehormatan.

    Metode (dakwah) yang baik dan benar tidak ada caci maki sama sekali. Nabi Saw. tidak diutus untuk mencaci dan memaki. Tidak pula seorang wali Allah bertugas untuk mencaci atau memaki. Tidak pula berdiri hakikat ilmu dengan caci maki sama sekali!

    Tidaklah berdiri suatu madzhab dengan caci maki kecuali madzhab iblis dan madzhab pengikut iblis, pada setiap waktu dan masa. Merekalah yang terbiasa meneruskan tradisi caci maki terhadap manusia, melaknat manusia, memancing emosi dan menanam kebencian di antara umat Islam.

    Adapun para Nabi, para ulama dan para wali, mereka menebar kasih, menyebar persaudaraan, menyebarkan akhlaq, menyebarkan kesucian hati, menyebarkan sikap menghargai, selalu menetapkan batasan, mengekang hawa nafsu, bersifat sabar dan menahan amarah. Inilah jalan yang ditempuh para nabi, para wali, para ulama dan orang-orang shaleh.

    Sumber: Pondok Habib

    31 May 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tazkirah | , , | Leave a comment

    Konsep Umum Al-Balwa [ Musibah Yg Umum]

      "Umum al Balwa" bukan lah jalan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Ia adalah satu kekelonggaran yang bila mana sesuatu perkara itu susah dielakkan, maka kita mengambil pendirian paling memudahkan.

      Kita  lihat,  bagaimana  beberapa  perkara  yg  dimaafkan,  kerana  sukar untuk  menghindarinya;

      Contoh

    1. Percikan air kencing yang terlalu sedikit yang tidak dapat dilihat, oleh mata yang sihat penglihatannya (apabila ia mengenai pakaian atau badan), sama ada najis tersebut mughallazah, mukhaffafah atau mutawassitah.

    2. Darah, nanah, darah kutu anjing dan najis yang sedikit yang dibawa oleh lalat, selagi ia bukan perbuatan manusia dan bukan dengan sengaja.

    3. Darah atau nana luka walaupun banyak dengan syarat ia terjadi pada diri manusia itu sendiri, bukan hasil daripada perbuatannya dan bukan dengan sengaja. Disyaratkan supaya darah atau nanah tersebut tidak mengalir ke tempat lain.

    4. Tahi binatang yang mengenai biji-bijian ketika ia memijaknya. Begitu juga tahi binatang ternakan yang mengenai susu ketika diperah dengan syarat najis tersbut tudak banyak hingga mengubah keadaan susu tersebut.

    5. Tahi ikan di dalam air selagi air tersebut tidak berubah. Begitu juga tahi burung pada tempat-tempat yang selalu ia berluang alik padanya seperti kawasan tanah suci Makkah, kawasan tanah suci Madinah dan Jamek Umawi. Ini adalah disebabkab ‘umum al-balwa (musibah yang umun) dan sukar untuk dipelihara daripadanya.

    6. Darah yang mengenai baju tukang daging sekiranya tidak banyak.

    7. Darah yang ada pada daging.

    8. Mulut kanak-kanak yang terdapat najis muntah padanya apabila ia menghisap susu ibunya.

    9. Tanah jalan yang mengenai manusia.

    10. Bangkai yang tidak mengalir darahnya atau yang tidak berdarah apabila terjatuh ke dalam sesuatu cecair (air minuman) seperti lalat, lebah dan semut dengan syarat ia terjatuh dengan sendirinya (bukan dicampak) dan ia tidak mengubah keadaan cecair tersebut.

      1. Rujukan : Kitab Fikah Mazhab Syafie Jilid 1

        http://ahmadraje.blogspot.com/2012_04_01_archive.html

        30 May 2014 Posted by | Fiqh | | Leave a comment

        Majlis Ilmu


        Kelas Agama UKE
        Suatu hari Nabi Muhammad s.a.w. bertemu dua kumpulan muslimin . Satu kumpulan sedang beribadah sambil bermohon dan berdoa kepada Allah s.w.t. , manakala satu kumpulan lagi sedang mengadakan majlis ilmu . Kedua-duanya baik , tetapi Nabi memilih yang terlebih baik .

        Nabi s.a.w. memilih majlis ilmu yang sedang berlangsung . Baginda duduk bersama-sama kumpulan kaum Muslimin yang hadir dalam majlis tersebut . Walaupun Baginda seorang Nabi dan orang yang alim serta paling berilmu di kalangan sekalian manusia , Nabi tetap cinta kepada ilmu pengetahuan .

        Malah pada bulan Ramadan , Nabi s.a.w. akan bertadarus al-Quran dengan Malaikat Jibril a.s. Nabi membaca dan Malaikat Jibril a.s. mendengar sambil menyemak bacaan Nabi . Ia juga termasuk dalam proses belajar .

        Nabi s.a.w. bersabda , " Ilmu itu merupakan khazanah (perbendaharaan) anak kuncinya ialah bertanya . Kerana itu bertanyalah kamu, kerana dengan bertanya itu akan diberikan ganjaran empat golongan . ( Iaitu ) orang yang bertanya , orang yang mengajar , orang yang mendengar dan orang yang mencintainya ." ( Riwayat Abu Na’im daripada Sayidina Ali )

        Hadith : Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:”Jadikanlah dirimu orang alim (berilmu) atau orang yang menuntut ilmu atau orang yang selalu mendengar pengajaran atau orang yang mencintai (tiga golongan yang tersebut) dan janganlah engkau menjadi dari golongan yang kelima, yang dengan sebabnya engkau akan binasa.”

        (Riwayat al-Bazzar).

        Pengajaran hadis:

        i) Ilmu menduduki darjat yang tinggi di sisi manusia dan juga di sisi Allah S.W.T. Orang yang berilmu akan dimuliakan oleh penduduk langit dan bumi sebaliknya bagi orang yang tidak berilmu. Oleh itu setiap mukmin hendaklah berusaha mempertingkatkan kemajuan dirinya sama ada :

        a) Menjadikan dirinya orang alim (berilmu) yang mengajarkan ilmunya kepada orang lain

        b) Menjadi orang yang belajar (menuntut ilmu)

        c) Mendengar atau mengikuti majlis-majlis ilmu.

        d) Menghormati atau mencintai salah satu atau ketiga-tiga golongan di atas dengan menurut jejak langkah mereka.

        ii) Dengan adanya sifat-sifat yang disebutkan di atas maka kehidupan seseorang itu akan sentiasa terjamin untuk mendapat keselamatan dan kebahagiaan jasmani atau rohani kerana ia sentiasa berada dalam jagaan ilmu pengetahuan yang memimpinnya ke jalan yang benar dan memberinya kesedaran untuk memilih antara yang baik dan yang buruk.

        iii) Manakala mereka yang tidak termasuk dalam golongan tersebut atau yang dipanggil masyarakat sebagai ‘bodoh sombong’ maka mereka adalah golongan yang bakal mendapat kebinasaan kerana mereka tidak ada pimpinan yang dengannya dapat memandu kepada kebaikan melainkan hidup terumbang ambing dan tenggelam dalam kesesatan.

        Wassalam

        Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

        25 May 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

        Mujahadah- Pahit yang Awal, Manis di Penghujung

        Mujahadah itu amat payah kerana Syurga Allah itu sangat indah. Mujahadah itu pahit pada permulaannya sahaja. Kemanisannya akan dirasai saat kaki sudah bertapak di Syurga Ilahi nanti. (Allahumma Ameen!). Pernahkah kita merasai gula-gula yang pahit pada mula kita menggigitnya, namun, manis bila kita sudah mengunyahnya? Begitulah mujahadah. Hanya pada permulaannya saja, mungkin, kita akan rasa keperitan dan kepahitan. Kerana, Allah mahu menguji, apa benar mujahadah kita kerana-Nya? Sebab itu, Dia datangkan ujian dan cubaan untuk kita, yang bergelar hamba-Nya.

        “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Surah al-Ankabuut : 2)

        Bagaimana mungkin kita hanya bergoyang kaki saja di dunia ini, kemudian, mati dan terus boleh masuk Syurga? Andai begitu, senangnya mahu masuk Syurga! Tidak perlu kepada mujahadah dan sebagainya. Namun, hakikatnya adalah sebaliknya. Syurga Allah itu terlalu mahal dan untuk mendapatkan sesuatu yang mahal, perlu kepada pengorbanan yang bersungguh-sungguh. Iaitu, mujahadah!

        Andai kita selak kisah cinta dalam lipatan sejarah, pasti kita akan bertemu dengan nama insan-insan hebat yang mana, Syurga menunggu kehadirannya. Bagaimana mereka bertemu dengan kebenaran setelah menentang Islam itu sendiri? Bagaimana hati mereka diketuk dengan sapaan hidayah-Nya, setelah mereka membunuh ramai insan yang tidak berdosa?

        Kita ini sering leka dengan maksiat. Kita ini sering terlupa dengan nikmat yang dibuai dunia. Kita ini sering alpa dengan dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Hingga semua itu, menutup mata hati kita untuk melihat dan mengenal cinta Allah yang sebenar.

        “Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (Surah al-Israa’ : 72)

        Biarlah permulaan penghijrahan hidup kita dihiasi dengan ujian, dugaan dan cubaan sepanjang kita menuju ke arah mujahadah kerana-Nya. Asalkan di akhir natijah hidup kita nanti, Syurga Allah yang bakal kita kecapi. InsyaAllah.

        Jika kita yakin dan percaya dengan rahmat dan kasih sayang Allah, maka, kita akan dihinggapi rasa ketenangan sentiasa. Tidak ada gundah yang tidak berpenghujung. Tidak ada rasa sedih dan resah yang tidak akan berakhir. Ujian dan dugaan akan terus datang untuk menguji kita. Semua itu hanya akan berakhir bilamana nafas kita di dunia ini juga berakhir.

        “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Surah al-Mulk : 2)

        Imam Hambali pernah ditanya oleh anaknya, “Ayah, bila kita boleh berehat?”

        Maka, jawab Imam Hambali, “Kita hanya akan berehat bila kita benar-benar sudah menjejak ke Syurga”.

        MasyaAllah! Jadi, dunia ini adalah tempat untuk kita berpenat! Kerana Syurga adalah tempat rehat kita yang sebenar-benarnya!

        Imam al-Ghazali pernah mengatakan bahawa seseorang tidak akan dapat menjadi hamba Allah dengan sebenarnya jika masih mencintai dunia.

        Allah s.w.t. mengingatkan kita “dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan yang sia-sia dan hiburan yang melalaikan.” (Surah Al-An’am, 6:32)

        Wassalam

        Sumber: JAKIM

        24 May 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

        Munafik – Bercakap bohong, mungkir janji…

         

        ISTILAH munafik, pastinya bukanlah sesuatu yang baru di dalam masyarakat Islam. Banyak terdapat ayat-ayat al-Quran dan hadis yang berkaitan dengan bahayanya sifat munafik ini.

        Firman Allah s.w.t.: Di antara orang-orang Badwi yang ada di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka melampau dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami seksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (at-Taubah: 101)

        Namun, masih kurang di kalangan umat Islam khususnya, yang berusaha menghayati, memahami serta prihatin terhadap ancaman yang berpunca daripada ciri-ciri golongan munafik ini.

        Menurut Timbalan Dekan (Hal Ehwal Pelajar), Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Prof. Datuk Dr. Mohammed Yusoff Hussain, munafik atau nifaq adalah perkataan yang berasal daripada bahasa Arab.

        “Dari segi bahasa, munafik membawa maksud berpura-pura. Manakala dari segi istilahnya, nifaq atau munafik ini bermakna golongan yang berpura-pura menjadi Islam atau bergelar Muslim tetapi sebenarnya tindakan, perkataan dan perbuatan mereka adalah bertujuan meruntuhkan Islam,” terang bekas Mufti Wilayah Persekutuan ini secara ringkas akan pengertian munafik sebagai pembuka bicara, petang itu.

        Tambah Mohammed Yusoff, pada zaman Rasulullah s.a.w., golongan munafik ini mendapat sokongan dari luar seperti kaum Musyrikin.

        Menyedari tindakan dari luar tidak berkesan, maka taktik untuk merosakkan perpaduan umat Islam melalui jalan dalam digunakan, iaitu berpura-pura seperti seorang Muslim tetapi dalam masa yang sama menikam dari belakang.

        “Golongan munafik ini begitu licik sehinggakan keakraban yang wujud antara mereka dengan orang Islam yang tulen, menyebabkan orang-orang Islam yang berpegang di jalan yang benar, menganggap golongan munafik ini sebagai sebahagian daripada mereka.

        Mengaburi

        “Ini dibuktikan melalui kisah kesungguhan golongan munafik ini mendirikan sebuah masjid baru bagi mengaburi penglihatan umat Islam pada masa itu,” katanya antara salah satu langkah awal cara golongan munafik ini mempengaruhi dan memperoleh kepercayaan umat Islam, sebelum meneruskan misi meracuni pemikiran mereka.

        Malah jelas beliau, golongan munafik ini semakin terserlah pada zaman Abu Bakar apabila mereka ingkar membayar zakat.

        “Satu contoh kemunafikan yang paling terang berlaku pada zaman pemerintahan para sahabat, Abdullah bin Saba’ iaitu seorang munafik yang terkenal.

        “Abdullah memfitnah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib hanya kerana dia tidak menerima kepimpinan dua sahabat Nabi,” kata tokoh agama yang berpengalaman ini.

        Yang pastinya, ujar Mohammed Yusoff, matlamat golongan sebegini ialah untuk menggoncangkan keyakinan umat Islam, orang yang baru memeluk agama Islam dan mereka yang masih belum kukuh keyakinannya kepada agama Islam.

        Tambah beliau lagi, pada zaman pemerintahan Rasulullah s.a.w., baginda tidak menguar-uarkan kemunafikan golongan ini kerana tidak mahu menimbulkan suasana huru-hara dari segi hubungan kemanusiaan.

        “Ini menunjukkan kepada kita bahawa bukan mudah untuk menghadapi golongan munafik, dan Nabi sendiripun tidak dapat menghadapinya secara terang-terangan kerana dibimbangi tindakan baginda dieksploitasi oleh golongan munafik sehingga boleh menjatuhkan imej Rasulullah s.a.w. sendiri kerana dituduh tidak mempercayai atau berprasangka buruk terhadap para sahabat,” terang Mohammed Yusoff yang ditemui di pejabatnya, baru-baru ini.

        Malah akui beliau, golongan munafik ini lebih sukar dihadapi daripada musuh yang sebenar. Golongan ini diumpamakan seperti musuh di dalam selimut.

        Subversif

        Jelas beliau lagi, golongan munafik ini dalam istilah moden boleh disebut golongan subversif ataupun merosakkan dari dalam.

        Menjelaskan sifat munafik yang telah disebutkan oleh Rasulullah s.a.w.: Sesiapa yang mempunyai tiga perkara ini, maka dia adalah seorang munafik walaupun dia berpuasa, sembahyang, menunaikan haji, umrah dan mengatakan dirinya seorang Muslim.

        Para sahabat bertanya, “Apakah tiga perkara ini?” Jawab baginda: Iaitu apabila bercakap dia berbohong, apabila berjanji dia tidak menepati janjinya dan apabila diberi amanah dia mengkhianatinya. (Riwayat Muslim)

        Namun pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Mohammed Yusoff menjelaskan, hadis kedua ini memberikan tambahan kepada tanda-tanda orang munafik iaitu: Empat sifat, sesiapa yang bersifat dengannya bererti dia seorang munafik yang nyata, dan siapa yang mempunyai salah satu daripada sifat-sifat itu bererti dia mempunyai satu sifat munafik sehingga dia meninggalkan sifat itu.

        Sifat tersebut ialah: Apabila bercakap dia berdusta, apabila berjanji dia memungkiri janjinya, apabila diberi amanah dia mengkhianatinya dan apabila berbalah (bertengkar) dia melampaui batas.

        Namun, tegas beliau, ini adalah ciri-ciri yang umum. Hakikatnya, di dalam dunia yang moden ini ciri-ciri tersebut hanya menjadi panduan.

        Antara ciri-ciri lain yang boleh dikategorikan dalam persoalan munafik, jelas Muhammad Yusoff ialah:

        1. Mereka yang bercakap tentang Islam tetapi menyimpan niat buruk untuk menghancurkan Islam.

        Mereka mendabik dada mengakui mereka memperjuangkan Islam tetapi apa yang dilakukan itu sebaliknya meruntuhkan Islam.

        2.Bercakap perkara yang menimbulkan keraguan umat Islam terhadap ajaran Islam.

        3.Golongan yang bertindak mengadu domba umat Islam berpandukan kepada tafsiran-tafsiran tentang ajaran Islam. Bagi yang berkeyakinan mereka akan berbalahan antara satu sama lain.

        Contohnya, mengatakan bahawa sesuatu ajaran Islam itu hanya untuk satu golongan sahaja, sedangkan ia adalah ajaran Islam yang universal.

        4.Bercakap tentang Islam tetapi sebenarnya meniru argumentasi musuh Islam yang jelas.

        Misalnya bercakap tentang Islam tetapi menggunakan pandangan orientalis. Sedangkan kita ketahui bahawa golongan Orientalis adalah musuh Islam.

        Golongan ini memang menolak pandangan ulama, pejabat agama kerana menganggap golongan ini kolot dan banyak lagi pandangan negatif.

        “Ini boleh dikategorikan semi-munafik kerana membelakangkan mereka yang pakar dalam sesuatu bidang itu.

        “Contohnya, sekiranya kita hendak membina rumah, tentunya kita meminta pandangan daripada pakar yang berkaitan bukannya meminta pandangan daripada orang agama,” seloroh beliau.

        Terang Mohammed Yusoff lagi, apa yang berlaku dalam masyarakat kini ialah golongan yang kononnya mengembangkan Islam dan mengubah pemikiran rakyat tetapi tidak berpunca daripada kitab yang muktabar dan tidak berdasarkan hadis.

        Konteks

        Kalaupun berdasarkan al-Quran dan hadis, tetapi tidak melihat dua sumber ini dalam konteksnya atau secara menyeluruh atau daripada sudut pandangan golongan lain.

        “Di dalam pekerjaan misalnya, kita telah diamanahkan memegang sesuatu tugas tidak kiralah jawatan besar mahupun kecil, di sisi Allah s.w.t. adalah sama. Di dunia, besar jawatan dan tugas imbuhannya dilihat pada sumber pendapatan.

        “Allah tidak melihat pada gaji tetapi Allah melihat apabila seseorang itu menerima amanah tidak kira kecil atau besar, ia mestilah ditunaikan.

        “Gaji bukan ukuran Allah tetapi sifat amanah seseorang hamba, itulah yang utama di sisi Allah,” terang beliau.

        Senario sekarang ulas Mohammed Yusoff, ramai di kalangan umat Islam yang tidak takut diri memiliki ciri-ciri munafik.

        “Ini kerana, dosa dan pahala itu boleh dikompromi. Contohnya rasuah, waktu mula-mula berkerja, dia sanggup melafazkan aku janji yang dikira amanah yang terpikul di bahu tetapi apabila bekerja kita sanggup melakukan pembohongan, mencuri masa kerja dan pelbagai lagi.

        “Dari segi istilah, ini sudah dikira munafik. Lebih-lebih lagi, kesalahan tersebut dilakukan secara terang-terangan seperti penipuan, rasuah, menggelapkan duit syarikat dan banyak lagi,” katanya sifat munafik ini, mampu merosakkan institusi kekeluargaan, masyarakat, sekali gus melumpuhkan sistem pemerintahan sesebuah negara itu.

        (Oleh ZUARIDA MOHYIN)

        Artikel Penuh: http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2005&dt=0624&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm#ixzz32PaKdN2u

        22 May 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

        Kau yang Zalim!

        AL-asfahani dalam al-Mufradat fi Gharib al-Quran menjelaskan makna zalim dari sudut bahasa dan kebanyakan ilmuwan ialah menetapkan sesuatu bukan pada tempat yang sepatutnya, sama ada dengan mengurangkannya atau membuat penambahan.

        Berdasarkan pengertian ini, maka semua perbuatan yang mengundang dosa dan maksiat kepada ALLAH sama ada melakukan perkara yang haram atau meninggalkan perkara yang wajib termasuk dalam perbuatan zalim. Ini kerana dia telah melakukan perkara bukan pada tempat yang ALLAH reda.

        ALLAH dengan sifatnya Maha Adil sama sekali tidak akan melakukan kezaliman kepada makhluk ciptaanNya. Namun, manusia itu sendiri yang menzalimi diri sendiri. ALLAH menegaskan: “Sesungguhnya ALLAH tidak menzalimi manusia sesuatu apa pun, tetapi manusia itu sendirilah yang menzalimi diri mereka sendiri.”. (Surah Yunus: 44).

        Dalam hadis qudsi, ALLAH secara jelas menegah diriNya dari sifat zalim. Rasulullah berkata: ALLAH berfirman: “Wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman ke atas diriku, dan aku jadikannya haram juga dalam kalangan kamu, maka janganlah kamu berlaku zalim…”. (Riwayat Muslim)

        Apabila ALLAH mengharamkan diriNya melakukan kezaliman ke atas hambaNya, maka ALLAH juga mengharamkan manusia melakukan kezaliman ke atas manusia lain. Bahkan ditegaskan supaya berlaku adil dan menegakkan keadilan sesama manusia.

        “Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang yang menegakkan keadilan kerana ALLAH, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada takwa. dan bertakwalah kepada ALLAH, Sesungguhnya ALLAH Maha mengetahui Dengan mendalam akan apa Yang kamu lakukan”. (Surah al-Maidah: 8)

        Secara asasnya, zalim boleh dibahagikan kepada dua jenis: kezaliman yang besar dan kezaliman yang kecil. Kezaliman yang besar ialah apabila seseorang menzalimi dirinya sendiri dengan kufur dan syirik kepada ALLAH.

        Kezaliman yang kecil ialah selain daripada perbuatan syirik dan ia boleh dilihat dari dua aspek. Pertama; seseorang itu menzalimi diri sendiri dengan perbuatan maksiat di antara dirinya dengan ALLAH. Kedua; seseorang itu melakukan perbuatan zalim ke atas orang lain dan mencabuli hak-hak mereka.

        Syirik adalah kezaliman yang terbesar. Manusia yang syirik dikira melakukan kezaliman kerana dia meletakkan ibadahnya kepada selain dari ALLAH. ALLAH menjelaskan “Sesungguhnya syirik itu kezaliman yang besar”. (Surah Luqman: 13)

        Dalam sebuah hadis, Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Rasulullah: Dosa apakah yang paling besar? Rasulullah menjawab: Kamu jadikan sekutu bagi ALLAH, sedangkan Dia yang menciptakan kamu”. (Riwayat Bukhari & Muslim)

        Dosa kezaliman yang terbesar ini tidak akan diampunkan melainkan dengan taubat nasuha sebelum ajal datang menjelma. Sesiapa yang mati dalam keadaan kufur dan syirik kepada ALLAH, maka dosanya tidak akan diampunkan dan kekal di dalam neraka.

        Seseorang yang melakukan maksiat kepada ALLAH, sebenarnya dia terjebak dengan kezaliman yang kecil. Dia menzalimi dirinya sendiri. Namun begitu, peluang yang disediakan baginya untuk kembali memperbetulkan diri sangat luas. Perbanyakan istighfar dan segera bertaubat. ALLAH sedia menanti untuk menerima taubat dan mengampunkan dosa.

        Selain itu, kezaliman juga berlaku antara manusia ke atas manusia lain. Kezaliman boleh berlaku dalam dua keadaan sama ada dengan menafikan hak-hak yang sepatutnya mereka berhak perolehi atau melakukan sesuatu yang mendatangkan kesusahan dan  mudarat ke atas diri mereka.

        Antara contoh kezaliman ini ialah:

        • Kezaliman anak kepada ibu bapa

        ALLAH meletakkan perintah taat dan berbuat baik kepada ibu bapa di tempat yang tertinggi selepas perintah tauhid dan ibadat kepada ALLAH. Menderhakai ibu bapa pula adalah dosa besar selepas dosa syirik. “ dan hendaklah kamu beribadat kepada ALLAH dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua; dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapa”. (Surah al-Nisa’: 36).

        • Kezaliman ibu bapa kepada anak

        Ibu bapa mempunyai tanggungjawab dan kewajipan ke atas anak-anak. Antaranya ialah kewajipan nafkah, memberi pendidikan terutamanya yang berkaitan urusan agama, mendidik dengan peribadi dan akhlak mulia dan sebagainya. Mana-mana ibu bapa yang mengabaikan tanggungjawab sebenarnya mereka telah berlaku zalim kepada anak-anak.

        • Kezaliman suami kepada isteri

        Suami wajib menunaikan tanggungjawabnya yang diperintahkan ke atas isterinya. Menyediakan nafkah, tempat tinggal dan pakaian merupakan kewajipan asas yang perlu diambil berat oleh suami. Di samping itu, kewajipan yang lebih besar ialah membimbing dan mengingatkan isteri agar menjadi isteri yang solehah, tidak melakukan perkara yang boleh menjerumuskan dirinya ke neraka. Suami yang membiarkan isterinya melakukan kemaksiatan dan tidak pula ditegurnya, maka itulah dayus yang sebenar. Mana-mana suami yang mengabaikan tanggungjawab ini maka dia telah berlaku zalim kepada isterinya.

        •  Kezaliman isteri kepada suami

        Kezaliman isteri kepada suami boleh berlaku dalam beberapa keadaan. Antaranya ialah tidak mentaati perintah suami dalam perkara kebaikan dan tidak melanggar syariat. Isteri yang enggan memenuhi keinginan suami untuk melakukan hubungan, tanpa ada sebarang keuzuran, maka dia telah berlaku zalim kepada suaminya. Keluar rumah tanpa izin suami, berkelakuan buruk dengan suami, menyebarkan keaiban suami kepada orang lain, meminta talak dari suami tanpa ada sebab yang diiktiraf oleh syariat.

        Ini adalah contoh-contoh bagaimana kezaliman dari isteri ke atas suaminya.

        •  Kezaliman ahli ilmu dan pendakwah

        Ahli ilmu dan pendakwah sepatutnya menjadi contoh tauladan kepada masyarakat lain. Tidak sepatutnya mereka ini terjebak dalam kancah kezaliman kerana ianya boleh mencemarkan kredibiliti mereka di mata masyarakat. Namun, amat malang dan menyedihkan apabila ada di kalangan mereka yang terlibat dalam dunia dakwah, turut melakukan kezaliman. Contoh kezaliman yang dilakukan ialah apabila adanya perasaan hasad dengki, cemburu dan iri hati sesama mereka.

        Akibatnya ada yang sanggup menyebarkan fitnah, membuka keaiban bahkan ada yang sengaja mencari-cari kesalahan pendakwah atau ahli ilmu yang lain. Selain itu, menyembunyikan fakta kebenaran demi meraih sokongan dan menarik minat masyarakat kepadanya juga merupakan suatu kezaliman. Berdiam diri dengan kemungkaran yang jelas bahkan menyokong pula kemungkaran tersebut adalah kezaliman yang tidak sepatutnya dilakukan oleh ahli ilmu dan pendakwah.

        Inilah sebahagian contoh kezaliman yang melibatkan hak manusia dengan manusia yang lain. Kezaliman juga berlaku daripada pihak pemerintah terhadap rakyatnya. Hak-hak dan kebajikan yang sepatutnya dinikmati oleh rakyat namun dinafikan oleh pihak pemerintah yang berkuasa, maka ini adalah kezaliman. Pemerintah yang dilantik untuk memegang tampuk kekuasaan bukanlah tiket untuk mereka mengaut keuntungan dan mengumpul harta kekayaan dengan melakukan penindasan dan kezaliman. Rakyat diminta untuk berjimat cermat, sedangkan mereka berbelanja bagai tiada had. Rakyat tertekan dan menderita disebabkan kenaikan harga, sedangkan mereka sedikit pun tidak terasa. Bahkan terus sombong dan megah dengan pangkat dan kuasa.

        Jika kita terlibat dalam dosa melakukan kezaliman sama ada kezaliman kepada Sang Pencipta atau sesama makhluk ciptaanNya, rebutlah peluang memohon ampun, selagi pintu taubat masih terbuka. Sesungguhnya kezaliman adalah penyesalan di hari akhirat kelak. Biar menyesal di dunia, jangan sampai dibawa ke akhirat sana kerana itulah kerugian yang nyata.

        “dan Segala muka akan tunduk dengan berupa hina kepada ALLAH Yang tetap hidup, lagi yang kekal mentadbirkan makhluk selama-lamanya; dan sesungguhnya telah rugi dan hampalah orang yang menanggung dosa kezaliman”. (Surah Toha: 111)

        ALLAH tidak pernah menzalimi hamba-hambaNya sedikit pun, tetapi kitalah yang menzalimi diri kita sendiri. “Sesungguhnya ALLAH tidak menganiaya manusia sedikit pun, akan tetapi manusia jualah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (Surah Yunus: 44)

        Abd Razak Muthalib – Perunding motivasi di RK Training & Management merangkap pensyarah di International Islamic College.

        Sumber: Sinar Harian

        18 May 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

        Hukum melintas di depan orang sedang solat

        Amat menaikkan darah apabila sedang solat tiba-tiba ada orang melintas di depan kita. Jahilkah si dia ?. Biadap sungguh. Agak kerap berlaku, ketika kita menunaikan solat sunat selepas Jumaat, manusia-manusia biadap ini dengan selambanya melintas tanpa ambil kisah kita sedang menunaikan solat.

        Amat perlu kita semua menasihatkan diri dan semua yang dikenali agar menjauhi sikap melintas di hadapan orang solat, terutamanya bagi mereka yang amat prihatin dalma hal solat. Salah satu tanda keperihatinan seseorang itu dengan solatnya adalah apabila ia meletakkan ‘penghadang’ khusus di depannya ketika solat sunat seorang diri.

        Tegahan melintas di hadapn orang solat ini disebut dalam dua hadis ini, sabda Nabi s.a.w  :-

        لو يَعْلَمُ الْمَارُّ بين يَدَيْ الْمُصَلِّي مَاذَا عليه لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا له من أَنْ يَمُرَّ بين يَدَيْهِ قال أبو النَّضْرِ لَا أَدْرِي أَقَالَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا أو شَهْرًا أو سَنَةً

        Ertinya : Sekiranya seorang yang melalui di hdapan orang yang sedang bersolat ini mengetahui apa jenis dosanya (lalu di hadapan orang solat) nescaya untuk berhenti menunggu empat puluh lebih baik dari lalu di hadapan orang solat ini, berkata perwai : aku tidak tahu samada Nabi menyebut EMPAT PULUH hari atau bulan atau tahun" ( Riwayat Al-Bukhari) [1]

        Dan sebuah lagi hadis menunjukkan besarnya dosa lalu dihadapan orang solat :-

        إذا صلى أحدكم إلى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ من الناس فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بين يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هو شَيْطَانٌ

        Ertinya : Apabila seorang kamu sedang solat dan mempunyai sutrah menghalangnya, dan jika tiba-tiba ada orang yang ingin mencerobohi hadapannya maka hendaklah ingin menegahnya, jika ia (yang ingin menyeberang) enggan berhenti, hendaklah kamu bersungguh menghalangnya kerana ia adalah Syaitan" ( Riwayat Al-Bukhari) [2]

        Jelas dari dalil-dalil ini, sangat perlu untuk kita meletakkan sutrah (penghadang) agar tiada individu yang mendapat dosa kerana melalui di hadapan kita selain merosakkan solat kita. Selain itu, amat perlu juga kita menahan sekiranya terdapat individu ingin melintas sewaktu kita menunaikan solat.

        Ada yang bertanya kepada saya, mengapakah dosa melintas ini kelihatan terlalu besar?. Jawabnya mudah.

        Anggaplah apabila anda melintas di hadapan orang yang solat, individu tersebut telah menunjukkan kebiadapannya terhadap Allah s.w.t, tiada hormat kepada Allah yang sedang berhadap kepada orang yang solat. Keadaan ini jelas dari sabdaan baginda nabi s.a.w :-

        فإذا صَلَّيْتُم فَلا تَلتَفِتُوا , فإنّ اللهَ يَنْصِبُ وَجْهُه لِوَجْهِ عَبْدِهِ فِي

        صَلاتِهِ مَا لمْ يَلتَفِتْ

        Ertinya : "Apabila kamu solat, janganlahkamu menoleh (ke sana sini yakni tidak fokuskan pandangan), kerana Allah SWT mengarahkan wajahNya ke wajah hambanya yang sedang bersolat selagi mana hambanya tidak menoleh ke lain" ( Al-Bukhari dan Abu Daud) [3]

        Jelas, individu yang lalu TANPA HORMAT kepada Allah dan orang yang bersolat melintas.  Secara langsung juga, individu itu juga biadap kepada orang yang sedang solat.

        Kesimpulannya, jauhilah sifat buruk dan dosa ini. Adapun ketika di Mekah yang terlalu ramai manusianya yang pelbagai ragam dan sikap, mungkin ada keringanan sedikit disebabkan keadaan yang tidak amat sukar dikawal, namun demikian saya yakin keadaan tersbeut boleh dikawal di Malaysia.  Jangan jadikan diri sebahgaian dari kumpulan biadap ini.

        Sekian

        Sumber: Ustaz Zaharuddin Abd Rahman

        www.zaharuddin.net

        13 May 2014 Posted by | Ibadah | | Leave a comment

        Rebutlah peluang meraih pahala haji dan umrah selepas Solat Subuh berjamaah.

        [Lihat Penjelasannya di sini: AAM (Riyadh As-Solihin); MAKSUD WAKTU SYURUQ DAN HUKUM SOLAT SUNAT ISYRAQ. http://www.youtube.com/watch?v=SKDBcYBqvrk]

        13 May 2014 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Tazkirah | Leave a comment

        Kemanakah Kita Esok?

        Mati itu benar

         

        Perit untuk kita dengar tentang kisah kematian,tapi itu adalah lumrah kehidupan sekarang,tiap2 hari pasti ada khabar kematian,di akhbar,di mulut2,di mana2 sahaja..kerana kematian itu adalah lumrah kehidupan..

        Ali Imran surah 3 yang bermaksud :

        "145. dan (tiap-tiap) makhluk Yang bernyawa tidak akan mati melainkan Dengan izin Allah, Iaitu ketetapan (ajal) Yang tertentu masanya (yang telah ditetapkan oleh Allah). dan (dengan Yang demikian) sesiapa Yang menghendaki balasan dunia, Kami berikan bahagiannya dari balasan dunia itu, dan sesiapa Yang menghendaki balasan akhirat, Kami berikan behagiannya dari balasan akhirat itu; dan Kami pula akan beri balasan pahala kepada orang-orang Yang bersyukur."

        Gusar hati mengenangkan mati,kerana mati itu adalah pasti..tidak kira apa2 sekali,yakni malaikat,manusia,haiwan..dan apa2 benda yang hidup pastikan merasa mati..semuanya dengan kehendak ALLAH. Dalam Surah An-Biyaa’ ayat ke 35 yang bermaksud :

        "tiap-tiap diri akan merasai mati, dan Kami menguji kamu Dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cubaan; dan kepada Kamilah kamu semua akan dikembalikan."

        kita sekian lama hidup tidak mengenang sekalipun asal usul kematian…kematian itu adalah pasti,kerana itulah ALLAH mengirimkan kita khabar2 kematian hari2 bagi supaya kita bersiap siaga untuk berhadapan dengan NYa.

        kerana ALLAH telah berfirman dalam surah Yassin ayat ke 83 yang bermaksud :

        "oleh itu akuilah kesucian Allah (dengan mengucap: Subhaanallah!) – Tuhan Yang memiliki dan Menguasai tiap-tiap sesuatu, dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan."

        dan Jika kita tidak percaya sekalipun terhadap kematian yang bakal menjemput kita,cukuplah kita duduk di hospital sepanjang hari,boleh dikira hari2 kita berjumpa insiden atau mana2 manusia yang dijemput untuk mengadap Ilahi…

        dan ingatlah ketika itu kita akan dihitung,dihadapkan ke arah neraka bagi yang menderhaka,dan bagi yang taat insyaALLAH syurgalah tempatnya..

        firman ALLAH dalam surah Yassin ayat ke 63 yang bermaksud :

        ""Yang kamu saksikan sekarang ialah neraka Jahannam, Yang kamu selalu diancam memasukinya (kalau kamu tidak taatkan perintah Allah)."

        Jsdi sebagai insan,kita wajib diingatkan terhadap mati,kerana itu kita kena bersiap siaga menghadap mati,biarpun bukan kita,mungkin esok harinya adalah kita?kita tidak tahu ajal kita…kerana mengenai ajal maut hanyalah ALLAH.

        Mari kita renungi diri kita, adakah cukup amal kita untuk berhadapan dengan ALLAH.

        kerana janji janji kita sebelum kita dijadikan manusiapada ketika alam ruh lagi kepada ALLAH telahpun dirakam di dalam Al Quran dalam surah al A’raaf ayat 172 yang bermaksud :

        "dan (ingatlah Wahai Muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan zuriat anak-anak Adam (turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka, dan ia jadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri, (sambil ia bertanya Dengan firmanNya): "Bukankah Aku Tuhan kamu?" mereka semua menjawab: "Benar (Engkaulah Tuhan kami), Kami menjadi saksi". Yang demikian supaya kamu tidak berkata pada hari kiamat kelak: "Sesungguhnya Kami adalah lalai (tidak diberi peringatan) tentang (hakikat tauhid) ini". Itulah selalunya diperingatkan kita pada notis2 di masjid-masjid,di surau-surau.

        "Solatlah kamu sebelum kamu disolatkan"

        sebelum kaki berhenti melangkah,tangan terputus nikmat,lidah menjadi kelu,mata menjadi buta,jantung berhenti berdegup,badan menjadi kaku…ada baiknya kita bermusahabah diri….merenung siapa sebenarnya diri kita…apa tujuan hidup kita…kenapa kita diciptakan di dunia ini..kenapa harus kita bersembahyang…cukupkah masa untuk kita bertaubat dan beramal..sebelum kita terlambat. Marilah..pintu rahmat ALLAH itu sentiasa terbuka..

        ALLAH itu maha pengampun lagi maha pemurah…

        Wassalam

        Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

        12 May 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

        Jangan semberono haramkan GST

        GST Logo

        Oleh Dr Asyraf Wajdi Dusuki

        Polemik mengenai Cukai Barangan dan Perkhidmatan (GST) nampaknya bukan lagi setakat berlegar seputar hujah-hujah ekonomi dan sara hidup. Kini semakin ramai ‘mufti-mufti’ segera yang mengharamkan GST atas hujah simplistik dengan mengatakan Rasulullah SAW tidak pernah mengiktiraf sumber negara selain zakat dan sedekah.

        Jika semudah itulah hukum haram dijatuhkan kepada GST maka segala cukai-cukai yang selama ini dikutip kerajaan juga haramlah jawabnya. Ini kerana kaedah fekah menyebutkan “Apa yang diharamkan untuk dilakukannya, maka haram untuk mengambilnya".

        Justeru segala pendapatan juga jadi haram kerana lebih 70 peratus hasil negara hari ini bergantung pada cukai tidak kira cukai langsung seperti cukai pendapatan mahupun cukai tidak langsung termasuklah duti kastam, duti eksais, cukai perkhidmatan dan cukai barangan.

        Maka bukan sahaja kesan ‘haram’ ini terpakai kepada Kerajaan Persekutuan sahaja, malah kerajaan-kerajaan negeri yang diperintah Pakatan termasuklah negeri Kelantan, Pulau Pinang dan Selangor juga dianggap menerima pendapatan haram daripada pelbagai jenis cukai yang dikenakan termasuklah cukai tanah, cukai pintu, cukai perniagaan dan bermacam lagi.

        Sebab itulah dalam Islam, hukum halal-haram tidak boleh sewenang-wenangnya dijatuhkan berasaskan sentimen dan kefahaman dangkal mengenai satu-satu perkara. Malah menghalalkan yang haram mahupun mengharamkan yang halal boleh menjatuhkan seseorang kepada kekufuran.

        Berbalik kepada isu ‘fatwa-fatwa jadian’ mengenai pengharaman GST ini, persoalan asas yang perlu dibangkitkan, apakah benar cukai tidak dibenarkan dikutip oleh kerajaan?

        Sebelum mengupas lanjut, perlu difahami bahawa permasalahan cukai adalah termasuk dalam ruang-lingkup Siyasah Syariyyah iaitu pentadbiran hal-ehwal awam negara Islam yang perlu diteliti aspek mencapai kemaslahatan (kebaikan) dan menolak kemudaratan selagi tidak melanggar batas-batas Syariah dan prinsip-prinsip umumnya.

        Dalam konteks muamalah atau hal-ehwal keduniaan, Islam membuka ruang kepada pelbagai ijtihad dan pandangan yang boleh berubah mengikut zaman dan tempat kerana prinsip digariskan Allah: “Allah mengkehendaki kamu beroleh kemudahan dan Dia tidak mengkehendaki kamu menanggung kesukaran" (Al-Baqarah:185).

        Cukai dalam istilah Arab dipanggil ‘dharibah’. Malah ada juga ulamak yang mengaitkan istilah ‘al-maks’ juga membawa makna cukai berasaskan Hadis Nabi SAW: “Sesungguhnya penguasa yang mengenakan ‘Maks’ (cukai) adalah di dalam neraka" (Riwayat Ahmad).

        Sesetengah ulamak menggunakan dalil inilah bagi mengharamkan sebarang bentuk cukai yang dikenakan ke atas rakyat. Ini kerana dalam kaedah usul fiqh, sebarang ancaman neraka menerusi nas membawa pengertian bahawa perkara yang disebutkan adalah haram.

        Namun sebahagian ulama lain termasuklah Dr. Yusuf al-Qaradawi dan Dr Ali Muhydin Al-Qurrah Daghi mempunyai pandangan berbeza dengan menegaskan bahawa kalimah ‘Maks’ di dalam konteks hadis ini membawa maksud khusus iaitu “sejenis cukai yang diwajibkan oleh sebahagian pemerintah dan penyokong mereka untuk bersenang-lenang dengannya walaupun menyempitkan rakyat mereka" (Al-Qaradawi, Kitab Fiqh al-zakat).

        Pendekatan

        Justeru mereka berpandangan pengambilan cukai sebagai tambahan kepada zakat, sedekah, jizyah dan ushur adalah harus bagi memastikan kerajaan dapat mengurus kemaslahatan ummah seperti membangunkan kebajikan rakyat, bayaran gaji pekerja kerajaan dan penyedian infrastruktur untuk kemudahan rakyat.

        Pandangan ini berasaskan kaedah fekah yang masyhur iaitu: “Pendekatan atau tindakan seseorang pemerintah kepada rakyatnya adalah berasaskan kemaslahatan" (Imam As-Suyuuti, Kitab Al-Ashbah Wan Nazooir).

        Pendekatan inilah yang diambil oleh para sahabat khususnya Khalifah Umar al-Khatab yang antara terawal melakukan ijtihad baru mengenakan cukai Kharaj (cukai tanah). Ini kerana, Khalifah Umar RA mula melihat kemaslahatan atau keperluan untuk menjana pendapatan lain apabila wilayah kekuasaan Islam berkembang ke Iraq, Syam dan Mesir terutamanya bagi menampung keperluan perbelanjaan pertahanan, penggajian tentera dan kakitangan kerajaan yang menguruskan hal-ehwal rakyat.

        Ini dinukilkan oleh Imam Abu Yusuf dalam kitab Al-Kharaj yang ditulis beliau bagi memahamkan Khalifah Kerajaan Abbasiyyah paling berpengaruh dan dikenali sebagai raja yang warak iaitu Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 Masihi):

        “Khalifah Umar berijtihad untuk perkenalkan cukai Kharaj setelah bermesyuarat dengan pimpinan dari kalangan Ansar dan Muhajirin akan keperluan menampung perbelanjaan kerajaan yang telah meluaskan jajahannya sehingga Syam, Jazirah, Kufah, Basrah dan Mesir. Walaupun pada mulanya ditentang Abdur Rahman bin Auf, namun ijtihad Umar disokong Ali, Uthman, Talhah dan Ibnu Umar."

        Pandangan mengharuskan pengenalan cukai juga dikongsi oleh ulama-ulama Muktabar seperti Ibnu Hazim, Imam Haramain Al-Juwaini, Imam Al-Ghazali dan Imam As-Syatibi. Imam Ibnu Taimiyyah pula dalam kitabnya yang masyhur ‘Siyaasah as-Syariyyah fi Islah al-Ra’yi Wa al-Ra’iyyah’, mengharuskan pembayaran cukai berdalilkan qias aulawi:

        Katanya: “Jika sekiranya Allah mewajibkan ke atas para sahabat yang berjihad dengan harta dan jiwa raga mengeluarkan ushur atau cukai dari hasil tanaman mereka, maka sepatutnya lebih diwajibkan ke atas golongan yang berkemampuan yang tidak keluar berjihad mengeluarkan kewangan untuk menampung perbelanjaan jihad (untuk kepentingan umum)"

        Apa yang penting sebagaimana yang digariskan oleh para fukaha silam, sistem percukaian yang dibina hendaklah berasaskan keadilan dan dikenakan pada golongan berkemampuan hingga tidak membebankan rakyat. Cukai ini juga hendaklah dipungut oleh pemerintah bagi menampung perbelanjaan untuk menguruskan kepentingan rakyat dan kemaslahatan yang diperakui syarak.

        Hakikatnya GST bukanlah satu jenis cukai tambahan yang diperkenalkan kerajaan di kala ramai yang merasai terbeban dengan kos sara hidup yang semakin meningkat. Sebaliknya GST adalah satu penstrukturan percukaian baru bagi menggantikan skim cukai lama iaitu cukai barangan dan cukai perkhidmatan yang sudahpun dikenakan selama ini.

        Pengalaman 160 buah negara yang memperkenalkan GST selama ini telah membuktikan bahawa sistem cukai ini adalah lebih telus dan adil bahkan mampu mengelakkan daripada berlakunya ketirisan sumber perolehan negara yang amat penting bagi disalurkan kembali kepada rakyat.

        Bukan itu sahaja model GST Malaysia yang mengecualikan cukai ke atas barangan keperluan asas rakyat seperti beras, gula, garam, minyak masak dan lebih 1,000 senarai barangan keperluan lain termasuk segala barangan asas yang dijual di pasar basah seperti ikan, ayam, daging, sayuran dan buah-buahan tentunya tidak akan membebankan golongan berpendapatan rendah dan sederhana.

        Ini bermakna GST hanya dikenakan bagi mereka yang berkemampuan untuk menggunakan barangan dan perkhidmatan melebih keperluan asas. Peniaga-peniaga kecil yang pendapatan kurang daripada RM500,000 setahun juga dikecualikan GST.

        Justeru tidak timbul isu bahawa GST haram kerana turut mengenakan cukai kepada golongan miskin. Malah pendekatan baru struktur cukai ini bagi memastikan semua peringkat dalam rantaian penawaran (supply chain) berdaftar akan memudahkan kerajaan memantau harga barangan dengan lebih berkesan bagi mengelakkan peniaga menaikkan harga sesuka hati.

        GST tentunya dapat menjaga kemaslahatan rakyat yang sebelum ini seringkali dimangsakan dengan kenaikan harga barangan tanpa kawalan lantaran kos pengeluaran yang tidak dapat dipantau secara tuntas dan sikap peniaga meraih keuntungan sesuka hati.

        Sebaliknya melalui GST, setiap pengusaha daripada pembekal bahan mentah, pengilang, pemborang sehinggalah peniaga runcit perlu mendaftar dan mengeluarkan resit-resit bernombor siri GST yang sah. Ini bukan sahaja membantu pemerintah memantau harga bahkan mengurangkan ketirisan perolehan akibat sikap tidak bertanggungjawab golongan yang lari daripada cukai sebelum ini.

        Harga barangan tertentu yang dulunya mahal kerana dikenakan cukai berganda juga sepatutnya lebih murah apabila GST diperkenalkan kelak kerana setiap rantaian penawaran, hanya dikenakan cukai sekali sahaja dengan kadar 6 peratus iaitu terendah berbanding 160 negara lain.

        Justeru hujah-hujah semberono yang mem‘fatwa’kan GST haram dikutip kerajaan kerana menindas rakyat adalah satu tohmah dan pandangan dangkal tanpa memahami secara holitisk mekanisme GST ini.

        Apa yang mustahak kini ialah untuk kerajaan memastikan sistem dan operasi GST yang bakal diperkenalkan tahun hadapan benar-benar berfungsi dengan berkesan. Pada masa yang sama segala bentuk ketirisan dan pembaziran dalam perbelanjaan negara sebagaimana laporan Audit Negara perlu ditangani bagi mengembalikan keyakinan rakyat bahawa cukai yang dibayar tidak dipersia-siakan.

        Akhirnya falsafah cukai dalam Islam adalah bagi memenuhi prinsip adil dan saksama sehingga kekayaan dapat dikongsi oleh segenap lapisan masyarakat sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Al-Hasyr ayat 7: “Supaya harta itu tidak hanya berlegar sekitar orang kaya di kalangan kamu semata-mata".

        * PENULIS ialah yang Dipertua Yayasan Dakwah Islamiah (YADIM)

        Artikel Penuh: © Utusan Melayu (M) Bhd

        11 May 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Politik dan Dakwah | , | 2 Comments

        Manusia terbahagi kepada 4 macam

        MANUSIA TERBAGI MENJADI 4 MACAM

        Di dalam urusan dunia dan agama, manusia terbahagi menjadi 4 macam:

        1. Ahli yakin                                                        : orang yang dimudahkan urusan dunia dan agamanya.

        2. Pewaris para Nabi                                        : orang yang dimudahkan urusan agama akan tetapi urusan dunianya susah.

        3. Mustadroj (dimanjakan di dunia saja) : orang yang dimudahkan urusan dunia akan tetapi urusan agamanya susah.

        4. Dimurkai                                                           : orang yang urusan agama dan dunianya susah semua.

        Perhatikanlah wahai saudaraku,,,

        KITA TERMASUK GOLONGAN NOMBOR BERAPA?

        Apabila engkau termasuk golongan 1 atau 2, engkau telah berhasil dan mendapatkan keuntungan kebaikan dunia dan akhirat dan termasuk orang yang berhasil dan sukses.

        Apabila engkau termasuk golongan 3 atau 4,,,celaka,,,celaka,,,celakalah engkau. Perbaikilah dirimu sebelum ajal menjemput.

        Pergunakanlah sisa umurmu untuk kebaikan dan kembalilah kepada jalan Allah sekarang juga.

        Mohonlah pertolongan-Nya dan menangislah di hadapan-Nya supaya Dia memudahkan urusan agamamu.

        Oleh: Al Allamah Hb Zain bin Sumait

        Sumber: PONDOK HABIB

        10 May 2014 Posted by | Tazkirah | | Leave a comment

        Adakah wajib jawab salam non muslim?

        ISU:

        Apabila orang bukan Islam mengucapkan salam kpd kita, adakah kita boleh menjawab salam tersebut dan apabila orang bukan Islam tersebut bersin bolehkah kita mengucapkan "bless you".

        PENJELASAN:

        Harus kita menjawab salam dari seorang yang bukan Islam. Ini berdasarkan ayat al-Qur’an yang menyebut : وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُ‌دُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا Maksudnya “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (Surah al-Nisa’:86).

        Ayat ini merupakan ayat yang umum. Frasa dalam ayat وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ, maksudnya “apabila kamu diberi penghormatan”, ia tidak menyatakan إذا حياكم المسلمون , maksudnya “apabila orang Islam memberi penghormatan kepada kamu”, mengkhususkan orang Islam sahaja memberi salam atau penghormatan. Jawapan yang dianjurkan ialah dengan lafaz وعليكم . ini berdasarkan hadis Nabi yang menyebut “Apabila kamu diberi salam oleh ahli kitab jawablah “wa’alaykum” (riwayat Bukhari dan Muslim).

        Walaubagaimanapun, orang Islam tidak boleh dahulu memberi salam kepada bukan Islam. Ini berdasarkan sabda Nabi “Jangan memulakan salam kepada Yahudi dan Nasara jika kamu berjumpa salah seorang daripada mereka di jalan (Riwayat Muslim).

        Namun seperti saranan Imam Nawawi, orang Islam boleh memberikan ucapan-ucapan yang lain kepada bukan Islam yang menandakan penghormatan seperti selamat pagi, hari yang baik, moga Tuhan berikan kamu kebahagiaan di hari ini dan lain-lain yang seumpamanya. (al-Nawawi, al-Azkar) Dan sekiranya lafaz salam yang diberikan oleh mereka tidak jelas dan bimbang ia merupakan lafaz yang tidak baik seperti “maut atas kamu” (السام عليكم), seperti dilakukan Yahudi kepada Rasulullah s.a.w. dahulu, maka jawablah sekadar “atas kamu juga” (وعليكم) .

        Adapun lafaz ‘bless you’ kepada orang bukan Islam yang bersin, sekiranya dilafazkan dalam makna yang umum, adalah diharuskan.

        Wallahu a’lam

         

        (Sumber: Fatwa Malaysia)

        7 May 2014 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah, Q & A (Soal Jawab) | Leave a comment

        Ganjaran membaca Al Quran

        6 May 2014 Posted by | Ibadah, Tazkirah | | Leave a comment

        7 Zikir Pembuka pintu Rezeki

         

        1. Memperbanyak Membaca – La hawla Wala Quwwata Illa billah – Barangsiapa yang lambat datang Rezekinya hendaklah banyak mengucapkan – La hawla Wala Quwwata Illa billah (HR. At- Tabrani)

        2. Membaca – La Ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin – Barangsiapa setiap hari membaca La ilaha illallahul malikul haqqul mubin maka bacaan itu akan menjadi Keamanan dari Kefakiran dan menjadi Penenteram dari rasa Takut dalam Kubur (HR. Abu Nu’aim dan Ad Dailami).

        3. Membaca – Subhanallah wabihamdihi Subhanallahil adziim . Dari setiap Kalimat itu seorang MALAIKAT yang BERTASBIH kepada ALLAH Ta’ala sampai hari Kiamat yang Pahala Tasbihnya itu diberikan Untukmu.

        (HR. Al-Mustagfiri dalam Ad-Da’awat)

        4. Membaca Surat Al-IKHLA S: Barangsiapa membaca Surat AlIkhlas ketika masuk rumah maka berkah bacaan Menghilangkan Kefakiran dari penghuni rumah dan tetangganya (HR. AtTabrani)

        5. Membaca Surat Al-WAQIA’AH : Barangsiapa membaca surat Al-Waqiaah setiap malam…maka TIDAK akan diTimpa Kesempitan Hidup” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman)

        6. Memperbanyak SELAWAT KEATAS NABI : Dari Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda bersabda: Barangsiapa Berselawat kepadaku satu kali Selawat maka ALLAH akan membalas sepuluh kali Selawat dan Mengangkatnya Sepuluh DARJAT. (Dikeluarkan Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Abu Syaibah…al-Bazzar….Ibnu Syahiin dan al-Ismaili dengan sanad ma’lul)

        7. Melazimkan BERISTIGHAFAR : Barangsiapa melazimkan Beristighfar nescaya ALLAH akan Mengeluarkan dia dari segala Kesusahan dan Memberikan Rezki dari arah yang tidak diDuga-Duga” (HR. Ahmad, Abu

        Dawud dan Ibnu Majjah)

        Ya ALLAH berikanlah kami Rezki yang Luas… yang Halal lagi Baik tanpa Memberatkan kami….Jika Rezki kami ada diLangit maka Turunkanlah.

        Jika ada diBumi maka Keluarkanlah. Jika jauh maka Dekatkanlah.

        Jika Dekat maka Mudahkan lah.

        Jika sedikit maka Banyakanlah.

        Jika banyak maka BERKATI LAH agar kami dapat menolong ANAK-ANAK YATIM – FAKIR MISKIN – MEREKA YANG DALAM KESUSAHAN & KEDHAIFAN.

        YA ALLAH……Kabulkanlah doa kami…Aamiiin YA ALLAH Ya Robbal ‘Alamin.

        Semoga ALLAH Mengabulkan Do’a kita.

        Semoga Bermanfaat. InshaaALLA

        (Sumber: KBU -https://www.facebook.com/KamiBersamaUlamakKbu?fref=nf)

        5 May 2014 Posted by | Bicara Ulama, Tasauf | | Leave a comment

        Petikan kata kata Tuan Guru Sheikh Nuruddin Al-Banjari Al Makki

        5 May 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tasauf, Tazkirah | | Leave a comment

        Wahai hambu ku………

        5 May 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | | Leave a comment

        Petikan Syarah Syeikh Habib Ali Zaenal Abidin

        5 May 2014 Posted by | Renungan & Teladan, Tazkirah | Leave a comment

        Akhir zaman telah mempersembahkan kepada kita adanya segolongan Ulama Su’ yang kerjanya mengkafirkan orang lain

        AKHIR ZAMAN TELAH MEMPERSEMBAHKAN KEPADA KITA ADANYA SEGOLONGAN ULAMA SU YANG KERJA MEREKA MENGKAFIRKAN ORANG……..

        Di Malaysia kita biasa mendengar kenyataan dan fatwa dari segolongan ulama yg mengaku pejuang Islam mengkafirkan berjuta umat Islam atas dasar perbezaan fahaman politik.

        Lain pula dengan seorang pendakwah hebat dari Kuwait ini iaitu Sheikh Dr. Abdul Rahman Al Sumait, 29 tahun menyebarkan Islam di Afrika, mengislamkan 11 juta orang, membina lebih 5000 buah masjid, 860 buah sekolah, 124 buah Hospital, mencetak 6 juta mushaf dan lain-lain.

        Semoga Allah qabulkan semua amalan baiknya, dan diganjari dengan pahala yang besar….

        5 May 2014 Posted by | Politik dan Dakwah, Renungan & Teladan | , | Leave a comment

        Kerajaan tidak pernah menghalalkan judi dan arak

        DALAM Islam, larangan meminum arak adalah untuk memartabatkan kehidupan ummah. Larangan itu dilaksanakan secara bertahap. Peringkat pertama, meminum arak dilarang secara perbandingan dan berunsur sindiran, sebagaimana yang termaktub dalam ayat-ayat yang diturunkan di Madinah. Ketika itu, sebuah masyarakat baru Islam sedang dalam proses pembinaan. Surah itu adalah surah al-Baqarah, ayat 219.

        Pada peringkat kedua, Allah SWT menurunkan ayat selanjutnya, iaitu ayat 43, surah al-Nisa. Antara kandungannya ialah Allah melarang orang Islam menunaikan solat ketika mereka mabuk, sehinggalah mereka benar-benar mengetahui apa yang mereka bacakan. Pada tahap itu, arak dan judi masih belum diharamkan secara tegas .

        Akhirnya, Allah menurunkan firman-Nya dalam surah al-Maidah, ayat 90 yang dengan tegas mengatakan bahawa arak, judi, menyembelih korban untuk berhala dan nujum adalah lebih keji dan lahir daripada perbuatan syaitan.

        Berdasarkan urutan turunnya ayat-ayat itu, jelaslah bahawa Allah tidak membuat larangan secara sekali gus, tetapi berperingkat sesuai dengan tahap dan pembangunan ummah pada ketika itu. Lagi pun, di peringkat akhir, meminum arak pada ketika itu sudah bertukar menjadi satu kebiasaan, bahkan menjadi amalan dan lumrah.

        Melihat proses pengharaman arak yang dilakukan secara tadrij (berperingkat), ia menggambarkan Islam mementingkan pendidikan daripada paksaan dan bukannya untuk menunjukkan kuasa mutlak ke atas umatnya atau kaum-kaum lain.

        Pernah berlaku di zaman Rasulullah SAW, beberapa sahabat memecahkan tempat menyimpan arak milik bukan Islam. Rasulullah telah meminta supaya para sahabat berkenaan membayar diat (ganti rugi) yang jumlahnya setimpal dengan nilai barangan yang telah dirosakkan.

        Ini boleh dijadikan asas bahawa orang bukan Islam boleh meminum minuman yang memabukkan atau memprosesnya selagi tidak memudaratkan orang lain. Namun, mereka perlu sedar bahawa perbuatan tersebut bercanggah dengan ajaran umat Islam. Jika mereka hendak meneruskan juga perbuatan itu, maka hendaklah dilakukan secara yang tidak mengganggu umat Islam seperti di tempat-tempat khusus dan tersembunyi.

        Pengajaran dan pembinaan hukum Islam seperti dalam kes pengharaman arak ini amat sesuai dengan situasi yang wujud di Malaysia, iaitu umat Islam dan bukan Islam hidup bersama dalam sebuah entiti negara.

        Sebelum menghuraikan kesesuaian ini, kita perlu maklum bahawa dalam pemikiran politik pentadbiran Islam, terdapat satu prinsip yang perlu dipatuhi oleh pemimpin apabila mereka ingin memutuskan sesuatu tindakan atau dasar terhadap rakyatnya.

        Prinsip itu terkandung dalam siasah syariah. Imam Syafie r.a. dalam kitabnya Asybah Wa al-Nazair ada membincangkan satu kaedah yang bermaksud: Pemimpin seharusnya bertindak ke atas rakyatnya berdasarkan kesesuaian maslahah (kebajikan dan kepentingan umum).

        Berbalik kepada isu arak di Malaysia, para ummah tertanya-tanya apakah hukum ke atas satu pemerintahan yang menghalalkan pengimportan arak dan membenarkan rakyat bukan beragama Islam meminum arak secara berlesen? Begitu juga tentang cukai yang dikenakan ke atas najis tersebut.

        Ada pendapat mengatakan cukai itu halal, sekiranya cukai berkenaan bercampur dengan cukai-cukai barangan halal lain. Pendapat ini, seolah-olah menyamakan arak itu dengan air mutanajjis. Air tersebut ialah air yang bercampur antara najis dengan air mutlak dan campurannya pula melebihi dua kolah. Air ini dikira boleh digunakan untuk keperluan bersuci seperti wuduk, mandi dan sebagainya.

        Jika inilah kiasannya, maka ia tidak tepat dan tidak sesuai. Ini kerana dalam masalah air mutanajjis ini, air berkenaan benar-benar bercampur dan tidak boleh dipisahkan lagi. Walhal, dalam kes cukai, jumlahnya boleh dipisahkan di antara satu cukai dengan cukai yang lain. Ini bererti pendapatan hasil daripada cukai arak boleh dipisahkan dan dimasukkan ke dalam kumpulan wang yang khusus.

        Dalam soal hukum ke atas pemerintahan yang membenarkan pengimportan arak adalah berbeza. Perlu diketahui bahawa mereka yang mengimport arak bukanlah golongan orang Islam. Bagi bukan Islam, meminum arak adalah satu budaya. Sudah pasti mereka akan membawa masuk arak sama ada secara diizinkan oleh pemerintah ataupun tidak.

        Jika pemerintah mengizinkan, bererti pemerintah dapat mengawal dan memantau kegiatan membekal, menyimpan, menjual dan meminum arak, selain mendapat hasil daripadanya.

        Pada masa pemerintahan Khalifah Umar Al-Khattab, beliau pernah mengenakan cukai import ke atas minuman keras yang dibawa masuk dari luar negara. Hasil kutipan tersebut dimasukkan ke dalam sumber am negara dan dibelanjakan untuk pengurusan infrastruktur seperti jalan raya.

        Ini menggambarkan suatu pemerintahan yang bijaksana apabila pengimportan najis tersebut dibenarkan dan dikawal. Maksudnya, pemerintah telah mengambil langkah memilih bahaya (kemudaratan) yang sedikit daripada bahaya yang lebih besar.

        Ini adalah satu lagi prinsip yang terdapat dalam usul fikah, yang mengizinkan kewajaran ke atas sesuatu tindakan. Malah dalam usul fikah juga terdapat perkara yang menekankan menangani bahaya yang khusus adalah lebih diutamakan daripada bahaya yang umum (yang boleh melibatkan kemudaratan yang lebih besar).

        Dalam hal ini, kerajaan Malaysia tidak memberi kebebasan sewenang-wenangnya terhadap arak, baik dari segi iklan atau penjualan kepada rakyatnya. Pada masa yang sama, kerajaan juga tidak memaksa rakyat bukan Islam meninggalkan budaya minum arak kerana melakukan sesuatu secara paksaan akan hanya mengundang keburukan. Lebih penting daripada itu, kerajaan juga mengambil langkah mendidik warganya supaya jangan terjebak ke dalam lembah judi dan arak.

        Inilah persepsi yang sepatutnya difahami apabila kerajaan mengizinkan pengimportan ke atas arak, atau mengeluarkan lesen judi. Kerajaan juga tidak menghalalkan arak dan judi atau mendorong dan menggalakkan rakyatnya berjudi dan meminum arak.

        Tegasnya arak dan judi adalah untuk mereka yang bukan beragama Islam, yang menjadikan judi dan arak itu sebagai lumrah dalam kehidupan mereka. Lagi pun undang-undang dalam enakmen syariah di setiap negeri ada memperuntukkan fasal-fasal yang menjatuhkan hukuman ke atas kegiatan dan penglibatan umat Islam dalam kes judi dan arak.

        Begitu juga dengan persoalan yang sering diajukan oleh mereka yang tidak berpuas hati dengan cara kerajaan membelanjakan wang-wang haram itu. Mereka tidak sedar bahawa Rasulullah sendiri pernah mengambil cukai daripada masyarakat Yahudi Madinah, atau masyarakat zimmi. Sudah pasti wang cukai yang dibayar oleh masyarakat itu bergelumang dengan sumber-sumber yang haram di sisi ajaran dan syariat Islam.

        Dalam satu riwayat Imam Bukhari r.a yang dipetik dari Ibnu Umar r.a., ketika Rasulullah membuat perjanjian perdamaian dengan penduduk Khaibar, timbul satu permohonan dari Sayah yang telah meminta harta Huyai. Rasulullah menjawab:

        Harta Huyai telah tiada (harta tersebut) telah dibelanjakan untuk keperluan perang.

        Dengan itu, adalah jelas Rasulullah pernah menggunakan harta orang Yahudi. Dalam hal itu, individunya ialah Huyai bin Akhthab bin Sayah – bapa mertua Nabi SAW sendiri. Kegunaannya ialah untuk kepentingan negara iaitu perang.

        Imam Malik menyebut, tindakan menggunakan harta untuk kepentingan negara sebagai maslahah al-‘ammah atau keperluan umum. Hikmahnya adalah jika harta tersebut tidak diambil atau digunakan, harta itu akan jatuh ke satu pihak yang mungkin menggunakannya untuk mencemarkan nama baik negara, menentang kerajaan, atau untuk keperluan yang manfaatnya tidak dapat diperoleh oleh masyarakat umum.

        [Oleh: Mohd. Shauki Abd Majid ialah PengurusPenyelidikan Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia.Terbitan Utusan Malaysia

        4 May 2014 Posted by | Politik dan Dakwah | , | Leave a comment

        Taufiq dan Hidayah

        "Wabillahi taufiq wal hidayah…" Biasa kita dengar…tapi tak biasa kita memahami maksudnya. Atau "Wabilhidayah wattaufiq…" Yang mana satu dulu ni… taufiq dulu baru hidayah ke atau hidayah dulu baru taufiq ? Apa dia taufiq dan apa dia hidayah ?

        Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, bahawa taufiq itu ialah iradat Allah yang datang dari-Nya sendiri terhadap hamba-Nya untuk melakukan yang baik, diberinya keizinan untuk melakukan perbuatan yang diredhai-Nya, didorong oleh kecintaan kepada-Nya.

        Menurut kitab Jauharah Tauhid, pengertian taufiq ialah sesuatu yang diciptakan oleh Allah SWT yang mendorong seseorang itu untuk melakukan kebaikan jika perkara tersebut berada di dalam dirinya.

        Taufiq tidak akan diberikan oleh Azza Wajalla melainkan hanya kepada mereka yang bersungguh-sungguh mengabdikan diri dengan rasa kehambaan demi mendekatkan diri kepada-NYA. Ianya berdalilkan firman Allah SWT yang mafhumnya :

        “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berusaha di dalam agama Kami, nescaya Kami akan beri petunjuk kepada mereka akan jalan-jalan kami.” (Surah Al-Ankabut : ayat 69)

        Secara ringkasnya ia memberi faham kepada kita bahawa dengan adanya taufiq, manusia akan cenderung untuk melakukan kebaikan terus menerus sehingga ke akhirnya.

        Adapun hidayah pada lughah ialah petunjuk, pada istilah syarak pula ialah petunjuk dan pimpinan @ bimbingan dari Allah kepada hamba-Nya yang dikehendaki sahaja untuk menerima kebenaran.

        Imam Ghazali r.a memberikan kupasan yang menyeluruh, maka dari kata taufiq lahirlah kata-kata lain yang penting untuk dimiliki oleh setiap orang antaranya taufiq, hidayah, inayah, tasdid dan ta’yid. Tapi didalam masyarakat yang popular hanya tiga saja, iaitu taufiq, hidayah dan inayah, sedang ta’yid dan tasdid jarang kita dengar.

        JENIS-JENIS HIDAYAH

        Hidayah itu ada dua jenis:

        1. Hidayah berupa keterangan (hidayatul irsyad wal bayan)

        2. Hidayah berupa pertolongan (hidayatut taufiq wal ilham).

        Kedua-dua hidayah ini dapat dirasakan oleh orang yang bertakwa. Adapun selain mereka hanya mendapatkan hidayatul bayan saja. Ertinya mereka tidak mendapatkan taufiq dari Allah untuk mengamalkan ilmu dan petunjuk yang sampai kepada dirinya. Padahal, hidayatul bayan tanpa disertai taufiq untuk beramal bukanlah petunjuk yang hakiki dan sempurna.

        Hidayah juga merupakan keimanan yang menetap di dalam hati seseorang. Keimanan yang mencakup tiga aspek i’tiqadiy (keyakinan di dalam hati), Iqrariy (pengikraran dengan lisan), dan ‘amaliy (realisasi dengan anggota badan). Termasuk Hidayah Taufiq adalah kemudahan di dalam merealisasikan ilmu dalam amal tersebut.

        Hidayah dalam pengertian ini adalah Hidayah Taufiq, hanya Allah yang mampu menciptakannya di dalam hati seseorang. Hidayah ini hanya untuk orang-orang yang bertakwa.

        KESIMPULAN :

        Hidayah bermakna petunjuk atau bimbingan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.Taufik adalah keizinan Allah berupa terwujudnya amal-amal baik. Dan Inayah pula bererti bantuan dan pertolongan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang terpilih untuk melakukan kebaikan itu. Keseluruhan dari kata-kata tersebut maknanya perlu disandarkan kepada Allah jua.

        Itulah juga kata-kata yang selalu menjadi penutup kata di setiap khutbah, ceramah, kuliah atau dalam setiap majlis ucapan.

        Wassalam

         

        Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

        2 May 2014 Posted by | Bicara Ulama, Ibadah | , | Leave a comment

        Fahamkah mereka apa itu GST? Atau sekadar membangkang kerana mereka itu Pembangkang?

        [Dari Yang Dipertua Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (Yadim), Datuk Dr. Asyraf Wajdi Dusuki]

        Pelaksanaan cukai barangan dan perkhidmatan (GST) menepati prinsip dalam Islam iaitu memastikan sumber-sumber berlebihan daripada mereka yang berkeupayaan dapat disalurkan semula kepada masyarakat secara keseluruhan.

        Yang Dipertua Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (Yadim), Datuk Dr. Asyraf Wajdi Dusuki berkata, pelaksanaan cukai itu memboleh­kan kerajaan memperoleh sumber pendapatan bagi mengurus serta mentadbir negara dengan lebih berkesan.

        Menurutnya, pengenalan cukai juga bukan sesuatu yang baharu dalam sejarah tamadun Islam yang mana Saidina Umar al-Khattab sendiri pernah memperkenal cukai tertentu sewaktu zaman pemerintahan beliau sebagai perolehan membangunkan empayarnya.

        “GST merupakan sebahagian sumber kerajaan untuk dikembalikan semula kepada rakyat dalam bentuk pembangunan prasarana, kemudahan awam, gaji kakitangan awam dan sebagainya.

        “Sebab itu, saya tidak setuju apabila terdapat pihak tertentu dengan mudah menjatuhkan hukum kononnya GST haram sedangkan cukai seperti ini bukan baharu diperkenalkan," katanya.

        Beliau ditemui pemberita selepas menghadiri Program Dakwah Negara dan Sambutan Bulan-Bulan al-Quran Peringkat Negeri Pulau Pinang di sini hari ini.

        Program itu dirasmikan Yang Dipertua Negeri, Tun Abdul Rahman Abbas.

        Menurut Asyraf Wajdi, GST me­rupakan cukai yang lebih adil kerana pihak yang sepatutnya membayar cukai terutama dalam kalangan pemain industri tidak terlepas daripada melaksana tanggungjawab itu.

        Daripada sudut keuntungan kepada rakyat pula, kata beliau, GST akan memastikan harga akhir barangan menjadi lebih murah kerana cukai yang dikenakan hanya sekali berbanding cukai di setiap peringkat pemprosesan seperti sebelum ini.

        “Malah pihak yang terlibat dalam setiap rantaian ekonomi itu juga perlu mendaftar dengan kerajaan untuk mendapatkan rebat sekali gus mengelak mereka memindahkan kos operasi kepada pengguna," katanya.

        Tambah beliau, secara logik sekiranya GST membebankan pengguna, kaedah percukaian itu tidak akan diteruskan di lebih 160 buah negara seperti ketika ini.

        Malah Asyraf Wajdi yang juga Ahli Majlis Tertinggi UMNO turut menempelak pembangkang yang berterusan menghasut rakyat menentang pelaksanaan GST dengan menyembunyikan fakta sebenar.

        “Jika benar pembangkang menentang pelaksanaan GST, mereka sepatutnya menarik balik semua cukai-cukai yang dikenakan di ne­geri yang ditadbir mereka," katanya.

         

         

        (Artikel Penuh: http://utusan.com.my/utusan/Dalam_Negeri/20140501/dn_19/Pelaksanaan-GST-menepati-prinsip-dalam-Islam#ixzz30QvNtEwV
        © Utusan Melayu (M) Bhd)

        1 May 2014 Posted by | Politik dan Dakwah | | Leave a comment

        Hakikat Dosa

        Padam dosa

        Seorang hamba Allah, dikira berdosa, apabila dia tidak melakukan kerja atau tindakan taat kepada Allah Taala.

        Seseorang hamba Allah itu dikatakan tidak melakukan kerja taat kepada Allah apabila tidak mengerjakan suruhan Allah atau melakukan kerja haram (perbuatan maksiat, kemungkaran atau sebarang larangan dalam agama Islam).

        Setiap hamba Allah yang berdosa akan ditimpakan pembalasan seksaan (azab) daripada Allah s.w.t sama ada di akhirat, mahu pun di dunia.

        Hamba Allah yang perbuatan dosanya tidak / belum mendapat keampunan Allah Taala atau dalam proses keampunan, sedang dalam pengkifaratan dosa misalnya, akan menerima pembalasan awal (terdekat) di dunia yang merupakan seksaan atau kecelakaan. Pembalasan dosa akan membinasakan diri, seterusnya menjejaskan iman dan melupuskan takwa.

        Berkata Imam al-Ghazali, maksudnya : Perbuatan maksiat itu adalah sebagai makanan yang memudharatkan badan manusia. Dosa-dosa yang terkumpul dalam diri manusia akhirnya meracuni jiwa keimanannya. Perbuatan dosa akan mengakibatkan kegelapan dalam hati kerana dosa itu menjadi kotoran atau karat di hati.

        Karat dosa ini, jika tidak dikikis dengan taubat, lama-kelamaan akan bertambah tebal lalu menutup pintu hati dan sukar atau tidak mungkin dihapuskan lagi. Orang yang demikian hatinya, jika tidak mendapat rahmat Allah, akan hidup dan mati dalam kesesatan. Na’uzu billahi min zalik.

        Demikianlah dosa itu akan menjadi hijab yang mendindingi perhubungan seseorang dengan Allah Taala, terjauh daripada rahmat Allah, tidak mendapat taufik dan hidayah-Nya untuk berbuat amal kebajikan. Orang yang banyak dosa dan berterusan dengan perlakuan dosa itu sehingga berkarat tebal adalah sukar untuk kembali ke jalan yang benar, malah sukar juga untuk memulakan taubat. Sebaliknya, dosa itu akan mendorong kepada perbuatan dosa yang lain, sama ada dilakukan dengan anggota badan (dosa zahir) atau dengan hati (dosa batin). Dosa yang baru ini mungkin lebih besar kecelakaannya. Secara lambat atau segera, hamba Allah yang berdosa itu akan menerima pembalasan di dunia :

        (a) ditimpa penyakit,

        (b) ditahan rezeki,

        (c) merasakan diri terlepas daripada sebarang pembalasan kerana masih berterusan mendapat kemewahan dan keni’matan hidup, walaupun berterusan melakukan dosa, akan tetapi semuanya ini merupakan tindakan istidraj (pembalasan secara perlahan, sedikit demi sedikit) daripada Allah Taala yang tidak disedari oleh hamba Allah yang berkenaan.

        Demikianlah kecelakaan akibat dosa yang perlu diketahui. Berkata Imam al-Ghazali, "Apabila kita dapat memahami semuanya ini, nescaya akan timbul di dalam hati rasa takut. Jika perasaan takut telah bertakhta di hati, akan mudahlah kita menanggung kesabaran dengan berkatnya. Pertolongan Allah Taala dan taufik-Nya akan menyusul sesudah itu".

        Wassalam

        Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

        30 April 2014 Posted by | Aqidah, Bicara Ulama, Tasauf | | Leave a comment

        Hiburan di benarkan mengikut syarak

                                                                                                                                           

        Istilah konsert pada kebiasaannya dikhaskan untuk persembahan yang dipertunjukkan oleh suatu kumpulan ahli muzik. Menurut kamus dewan bahasa dan pustaka edisi ke-empat mentakrifkan konsert sebagai pertunjukan atau persembahan muzik di khalayak ramai. Kamus Oxford pula menterjemahkan sebagai persembahan muzik yang dipersembahkan kepada khalayak oleh beberapa orang artis atau penghibur.

        Pada dasarnya, Islam mengharuskan hiburan dan Islam adalah agama yang selari dengan fitrah kehidupan manusia. Fitrah kehidupan manusia seperti makan minum, berkeluarga, bersosial, mempunyai perasaan cinta termasuklah berhibur dan suka kepada hiburan.

        Hal ini berdasarkan Firman Allah di dalam surah Ar-Rum ayat 30 yang bermaksud “maka hadapkanlah wajahmu ke arah agama yang hanif (yang menyembah Allah yang Esa) itu agama Allah yang fitrah yang DIA ciptakan manusia di atasnya. Tiada sebarang perubahan pada ciptaan Allah itu; itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

        Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadith yang diriwayatkan oleh Aisyah R.A yang bermaksud, “Sesugguhnya Abu Bakar masuk kepadaku, sedang di sampingku ada dua gadis hamba daripada orang Ansar sedang menyanyi dengan nyanyian yang dinyanyikan oleh orang Ansar pada hari peperangan Bu’ath. Aku berkata, kedua-dua orang ini bukanlah penyanyi. Abu Bakar berkata, adakah di rumah nabi ini terdapat syaitan? Sedangkan pada hari ini adalah hari raya idul fitri. Rasulullah bersabda, wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kamu ada hari rayanya dan ini adalah hari raya kita”. Hadith riwayat Ibnu Majah.

        Hadith ini secara terang menjelaskan bahawa hiburan yang menghiburkan jiwa diharuskan oleh Islam. Islam tidak mewajibkan manusia agar semua perkataan yang keluar dari mulut hanyalah zikir, semua pendengarannya hanyalah Al-quran, semua masa lapangnya berada di masjid tetapi Allah menciptakan manusia supaya mereka bersenang, bermain, ketawa sesuai dengan fitrah kejadiannya.

        Walau bagaimanapun, hiburan nyanyian ini diharuskan oleh Islam dengan syarat ia tidak bercampur kata-kata kotor, keji atau yang boleh memrangsangkan kepada perbuatan dosa. Hal ini berdasarkan pandangan Profesor Dr Al-Sheikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab Al-Halal wa haram fil Islam.

        Isu yang sedang hangat diperkatakan tentang penganjuran konsert yang boleh membawa kepada kemaksiatan. Tidak semua konsert adalah acara yang tidak baik kerana ada konsert yang baik dan dibenarkan oleh Islam sebagai contoh konsert nasyid, konsert yang mengandungi lagu-lagu berunsur nasihat yang tidak bercanggah dengan syariat. As Aheikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab Seni dalam Islam amat berhati-hati dalam memberi pandangan tentang nyanyian dan muzik menurut Islam.

        Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia dalam muzakarah kali ke-2 pada 12 hingga 13 Mei 1981 telah membuat beberapa ketetapan sebagai panduan kepada semua pihak sama ada penganjur atau penonton berkaitan hiburan. Oleh itu, sepatutnya setiap umat Islam yang menganjur konsert atau program hiburan atau ingin masuk ke konsert-konsert atau apa jua program hiburan harus mematuhi garis panduan yang telah diputuskan oleh badan berautoriti fatwa di Malaysia.

        Keputusan muzakarah fatwa menyebut perkara-perkara berikut :

        1. Nyanyian yang seni katanya baik, tidak lucah, tidak biadap dan tidak mendorong kepada maksiat, tidak bercampur gaul antara lelaki dengan perempuan dan tidak membawa kepada fitnah adalah harus.
        2. Jika nyanyian seni katanya tidak baik, lucah, biadap, mendorong kepada maksiat, bercampur gaul lelaki dengan perempuan dan membawa kepada fitnah maka hukumnya adalah haram.
        3. Pancaragam atau alat muzik yang melalaikan seperti lalai menunaikan solat dan sebagainya hukumnya haram.
        4. Mendengar nyanyian dan pancaragam adalah harus dengan syarat seni katanya baik, tidak lucah, tidak biadap, tidak bercampur lelaki dengan perempuan dalam keadaan yang tidak menimbulkan fitnah.
        5. Menyanyi untuk menimbulkan semangat jihad adalah harus.

        Selain itu, program-program hiburan atau konsert mesti bermatlamatkan kebaikan dan kesejahteraan. Paling penting program-program hiburan itu tidak disertai dengan perbuatan haram atau maksiat seperti minum arak, gaya tari yang memberahikan, pakaian yang tidak menutup aurat dan seksi, serta mengandungi unsur-unsur pemujaan yang membawa syirik kepada Allah.

        Lebih membimbangkan program-program hiburan atau konsert disertai dengan perkara-perkara yang haram dan membawa unsur-unsur jenayah seperti penyalahgunaan dadah, pil-pil khayal, arak dan sebagainya. Kesepakatan ulama’ juga dalam pengharaman nyanyian apabila disertai dengan perkara-perkara yang haram seperti pesta seks, minum arak, tarian-tarian lucah dan sebagainya. Apa jua nama yang diberikan sama ada pesta, festival, konsert, simfoni atau apa-apa judulnya tetapi mengandungi unsur-unsur maksiat maka hukumnya tetap haram.

        Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud “akan datang masanya di mana orang-orang dari kaumku akan meminum arak yang kemudian dinamakannya dengan nama-nama lain, diri mereka akan dihiburkan dengan rentak dan nyanyian para wanita, maka Allah SWT akan tenggelamkan mereka ke dalam bumi dan menjadikan mereka monyet-monyet dan khinzir”. Hadith riwayat Ibnu Majah.

        Oleh itu, sebagai umat akhir zaman yang sedang berdepan dengan pelbagai ujian dan cabaran semasa didunia tanpa sempadan ini perlu sentiasa pergegang teguh dengan ajaran Islam. Menjadi tanggungjawab semua pihak untuk memainkan peranan masing-masing bagi membendung gejala sosial dan jenayah berlaku di dalam Negara Malaysia. Maka beruntunglah orang-orang yang kekal teguh imannya kepada Allah dan rasul-Nya dikala orang lain menikmati lautan maksiat yang melalaikan.

        Rasulullah bersabda yang bermaksud “Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu”. Hadith riwayat Muslim.

        Oleh : Ust Mohd Hariri Mohamad Daud (Bhgn Dakwah, Jakim) Penolong Pengarah, bahagian Dakwah, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim).

        22 April 2014 Posted by | Bicara Ulama, Tazkirah | | Leave a comment

        Apakah hukum untuk orang Islam menyebut “Rest In Peace – RIP”

        ISU:

        Apakah hukum untuk orang Islam menyebut “Rest In Peace – RIP” pada ketika mendengar seorang yang bukan Islam meninggal dunia? Adakah ia bergantung pada niat? Bagaimana jika ucapan itu hanya sebagai penghormatan sesama manusia?

        PENJELASAN:

        Secara dasarnya Islam membenarkan ucapan yang baik terhadap orang bukan Islam atas dasar kemanusiaan dan penghormatan terhadap hak mereka dalam melaksanakan agama mereka. Ini dapat dikiaskan dengan penghormatan Rasulullah s.a.w apabila Baginda berdiri menghormati jenazah seorang Yahudi yang lalu di hadapan Baginda.

        Dua (2) perkara penting dalam isu memberi ucapan kepada orang bukan Islam. Pertama, niat seseorang dalam memberikan ucapan tersebut. Sekiranya sesuatu ucapan diberikan dengan niat membenarkan kepercayaan sesuatu agama yang jelas bertentangan dengan Islam, maka ia adalah dilarang. Sementara sekiranya ia diucap sekadar penghormatan secara umum, maka ia adalah harus.

        Keduanya, latarbelakang tradisi istilah yang diucapkan. Sekiranya ia telah menjadi sebahagian dari amalan keagamaan maka ia adalah dilarang.

        Dalam konteks ucapan Rest in Peace, ia adalah satu bentuk ucapan doa yang biasa diucapkan dalam agama Kristian terutama dalam mazhab Katolik sejak abad ke-18. Ia juga biasanya diukir di batu nisan mereka yang telah meninggal dunia di kalangan masyarakat Kristian. Versi penuh ucapan tersebut yang berasal dari bahasa Latin itu ialah ‘May his soul and the souls of all the departed faithful by God’s mercy rest in peace.’

        Ia juga mengandaikan orang bukan Islam tersebut akan mendapat rahmat dari Tuhan sebagaimana doa asal yang disebut dalam bahasa Latin. Sedangkan dari sudut akidah Islam seseorang yang mati dalam kekufuran tidak akan mendapat keampunan dan rahmat dari Tuhan. Ini berdasarkan ayat al-Quran, Surah al-Taubah:113, “Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabatnya sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu ahli neraka.”

        Oleh yang demikian seorang Islam adalah amat tidak digalakkan untuk mengucapkannya kepada seorang bukan Islam.

        Walaubagaimanapun Islam tidak menghalang seseorang Islam mengucapkan simpati terhadap keluarga orang bukan Islam yang meninggal dunia dengan ucapan yang tidak memberi implikasi keagamaan seperti “Saya bersimpati dengan apa yang berlaku kepada anda “ atau “ kami mengucapkan kesedihan atas kehilangan si fulan dari keluarga anda”.

        Wallahu a’lam.

        SUMBER: e-fatwa JAKIM.
        http://www.e-fatwa.gov.my/blog/hukum-menyebut-rest-peace-rip-kepada-bukan-islam-meninggal-dunia

        17 April 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Ibadah, Politik dan Dakwah, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

        Masaalah bacaan Qunut Solat Subuh

        - Buya Yahya Menjawab -

APAKAH RASULULLAH SAW SHALAT SHUBUH PAKAI QUNUT

Assalamu ‘Alaikum WR. WB.
Buya saya mau Tanya tentang Qunut bagaimana awalnya kenapa ada yang pakai Qunut dan ada yang tidak pakai Qunut, bagaimana dengan Rasulullah SAW sendiri,  apakah Rasulullah menggunakan Qunut atau tidak ?

Wa'alaikum Salam WR. WB.
Qunut subuh adalah masalah khilafiyah, artinya para ulama berbeda pendapat dalam hal itu. Para ulama pengikut Imam Syafi’I mereka mengatakan bahwa qunut saat sholat subuh adalah sunnah.Ulama pengikut Imam Abu Hanifa mengatakan jika qunut subuh itu tidak sunnah. Masing-masing mempunyai hujjah yang bersumber dari Rasulullah SAW. Kalau kita kembali kepada ilmu para ulama ada banyak sebab perbedaan pendapat para ulama yang akan menjadikan orang yang sadar akan semakin kagum dengan kinerja para ulama terdahulu. Bahkan mereka senantiasa saling menghormati tanpa harus mencela yang berbeda denganya. Bagi kita adalah mengikuti mereka bukan mencela.Yang mencela orang yang tidak berqunut itu sama artinya mencela Imam Abu Hanifa, begitu sebaliknya yang mencela orang yang berqunut itu sama artinya mencela Imama Syafi’i. Menyikapi hal itu kita harus bijak, jangan membuat keanehan di masyarakat kita. Karena tidak semua orang awam tahu perbedaan ini. Maka jika anda hidup di Negeri orang tidak berqunut seperti India,maka anda jangan memaksa  mereka mengikuti anda yang  berQunut. Karena hal itu akan membuat resah ummat. Begitu juga jika anda pengikut Imam Abu Hanifa lalu anda ke Indonesia yang masyarakatnya pengikut Imam Syafi’i jangan anda membuat resah mereka dengan anda memaksa mereka untuk  tidak berqunut.

Wallahua’lam bishshowab.

        - Buya Yahya Menjawab -

        APAKAH RASULULLAH SAW SHALAT SHUBUH PAKAI QUNUT

        Assalamu ‘Alaikum WR. WB.

        Buya saya mau Tanya tentang Qunut bagaimana awalnya kenapa ada yang pakai Qunut dan ada yang tidak pakai Qunut, bagaimana dengan Rasulullah SAW sendiri, apakah Rasulullah menggunakan Qunut atau tidak ?

        Wa’alaikum Salam WR. WB.

        Qunut subuh adalah masalah khilafiyah, artinya para ulama berbeda pendapat dalam hal itu. Para ulama pengikut Imam Syafi’I mereka mengatakan bahwa qunut saat sholat subuh adalah sunnah.Ulama pengikut Imam Abu Hanifa mengatakan jika qunut subuh itu tidak sunnah. Masing-masing mempunyai hujjah yang bersumber dari Rasulullah SAW. Kalau kita kembali kepada ilmu para ulama ada banyak sebab perbedaan pendapat para ulama yang akan menjadikan orang yang sadar akan semakin kagum dengan kinerja para ulama terdahulu. Bahkan mereka senantiasa saling menghormati tanpa harus mencela yang berbeda denganya. Bagi kita adalah mengikuti mereka bukan mencela.Yang mencela orang yang tidak berqunut itu sama artinya mencela Imam Abu Hanifa, begitu sebaliknya yang mencela orang yang berqunut itu sama artinya mencela Imama Syafi’i. Menyikapi hal itu kita harus bijak, jangan membuat keanehan di masyarakat kita. Karena tidak semua orang awam tahu perbedaan ini. Maka jika anda hidup di Negeri orang tidak berqunut seperti India,maka anda jangan memaksa mereka mengikuti anda yang berQunut. Karena hal itu akan membuat resah ummat. Begitu juga jika anda pengikut Imam Abu Hanifa lalu anda ke Indonesia yang masyarakatnya pengikut Imam Syafi’i jangan anda membuat resah mereka dengan anda memaksa mereka untuk tidak berqunut.

        Wallahua’lam bishshowab.

        17 April 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

        Fatwa Mengenai Harta Haram

        Fatwa Mengenai Harta Haram

        17 April 2014 Posted by | Fatwa, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

        Hukum Shisha Menurut Pandangan Syarak


        Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

        Muzakarah Khas Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia yang bersidang pada 17 Julai 2013 telah membincangkan Hukum Shisha Menurut Pandangan Syarak. Muzakarah telah membuat keputusan seperti berikut:

        Setelah mendengar pembentangan dan penjelasan pakar-pakar daripada Kementerian Kesihatan Malaysia dan meneliti maklumat serta bukti-bukti perubatan dan saintifik terperinci yang dikemukakan dari dalam dan luar negara mengenai kesan dan kemudharatan besar yang dihadapi akibat daripada shisha terhadap kesihatan ummah, pembangunan ekonomi negara serta pembentukan generasi pada masa akan datang, maka Muzakarah bersetuju memutuskan bahawa shisha adalah HARAM. Oleh itu, umat Islam adalah dilarang menghisap shisha atau menyediakan perkhidmatan menghisap shisha atau apa-apa aktiviti yang berkaitan dengan shisha.

        Muzakarah menegaskan bahawa pengharaman Shisha ini adalah berdasarkan nas-nas syarak daripada al-Quran dan Hadith serta Kaedah Fiqhiyyah bagi memastikan lima perkara asas bagi manusia yang terkandung dalam Maqasid Syari’yyah iaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta dapat dipelihara sepertimana tuntutan syarak, kerana Shisha jelas memudharatkan kesihatan, membazir dan mensia-siakan masa dan harta serta dikategorikan sebagai satu perkara buruk atau keji, berdasarkan nas-nas berikut:
        Firman Allah swt dalam Surah al-Baqarah, ayat 195 :

        “Dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan”.

        Firman Allah swt dalam Surah al-A’raf ayat 157;

        “ Dan ia menghalalkan bagi mereka segala benda yang baik dan mengharamkan kepada mereka segala benda yang buruk”.

        Sabda Rasulullah s.a.w :

        “Tidak boleh mudharatkan (diri sendiri) dan memberi kemudharatan (kepada orang lain)”. (Hadith riwayat Ahmad, Malik, Ibn Majah dan al-Daraqutni)

        Kaedah Usul Fiqh:

        سد الذريعة – iaitu “Menutup pintu kerosakkan”
        درء المفاسد مقدم على جلب المصالح – iaitu “menolak kerosakan adalah didahulukan daripada mencari kemaslahatan”.

        Sumber:http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-kebangsaan/hukum-shisha-menurut-pandangan-syarak

        14 April 2014 Posted by | Bicara Ulama, Fatwa, Fiqh, Q & A (Soal Jawab) | | Leave a comment

        Siapa orang yang Allah sayang?

        Siapa lah Allah sayang

         

        SIAPA ORANG YANG ALLAH SAYANG?

        1- Orang yang bertaubat : Surah Al-Baqarah ayat 222

        2- Orang yang suka berbuat baik : Surah Al-Baqarah ayat 195

        3- Orang yang bertawakkal : Surah Ali-Imran ayat 159

        Ayuh ubah diri dan keluarga ke arah pembinaan masyarakat yang lebih baik.

         

        Bahagian Dakwah, JAKIM

        11 April 2014 Posted by | Tazkirah | Leave a comment

        Follow

        Get every new post delivered to your Inbox.

        Join 149 other followers

        %d bloggers like this: